إملاء من كتاب أشهب ومن اختلاف أبي حنيفة وأهل المدينة بَابُ صِفَةِ الصَّائِدِ مِنْ كلبٍ وَغَيْرِهِ وَمَا يحل من الصيد وما يحرم

Imla’ dari Kitab Asyhab dan dari perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan penduduk Madinah: Bab tentang sifat pemburu, baik dengan anjing maupun selainnya, serta apa saja yang halal dari hasil buruan dan apa yang haram.

قال الشافعي رحمه الله تعالى كُلُّ مُعَلَّمٍ مِنْ كلبٍ وفهدٍ ونمرٍ وَغَيْرِهَا مِنَ الْوَحْشِ وَكَانَ إِذَا أُشْلِيَ اسْتَشْلَى وَإِذَا أَخَذَ حَبَسَ وَلَمْ يَأْكُلْ فَإِنَّهُ إِذَا فَعَلَ هَذَا مَرَةً بَعْدَ مَرَّةٍ فَهُوَ مُعَلَّمٌ وَإِذَا قَتَلَ فَكُلْ مَا لَمْ يَأْكُلْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Setiap hewan yang telah diajari, baik itu anjing, cheetah, harimau, maupun selainnya dari binatang buas, apabila ketika dilepaskan ia segera berlari, dan ketika menangkap buruan ia menahannya serta tidak memakannya, maka jika ia melakukan hal ini berulang kali, ia dianggap sebagai hewan yang telah diajari. Dan jika ia membunuh buruan, maka makanlah selama ia tidak memakannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْأَصْلُ فِي إِبَاحَةِ الصَّيْدِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَإِجْمَاعُ الْأُمَّةِ

Al-Mawardi berkata, “Dasar kebolehan berburu adalah al-Kitab, as-Sunnah, dan ijmā‘ umat.”

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَفِي قَوْله تَعَالَى أَوْفُوا بِالْعُقُودِ فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian hewan ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang berihram.” Dalam firman-Nya Ta‘ala “penuhilah akad-akad itu” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا الْعُقُودُ الَّتِي يَتَعَاقَدُهَا النَّاسُ بَيْنَهُمْ مِنْ بَيْعٍ أَوْ نِكَاحٍ أَوْ يَعْقِدُهَا الْمَرْءُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ نذرٍ أَوْ يمين [وهذا قول ابن زيد]

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud adalah akad-akad yang dilakukan oleh manusia di antara mereka, seperti jual beli atau pernikahan, atau akad yang dilakukan seseorang atas dirinya sendiri, seperti nazar atau sumpah [dan ini adalah pendapat Ibnu Zaid].

وَالثَّانِي إِنَّهَا الْعُقُودُ الَّتِي أَخَذَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ فِيمَا أَحَلَّهُ لَهُمْ وَحَرَّمَهُ عَلَيْهِمْ وأمرهم به ونهاهم عنه [وهذا قول ابن عباس]

Kedua, bahwa yang dimaksud adalah akad-akad yang Allah Ta‘ala ambil dari hamba-hamba-Nya terkait apa yang dihalalkan bagi mereka dan yang diharamkan atas mereka, serta apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan yang Dia larang atas mereka. [Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas]

وَالْعَقْدُ أَوْكَدُ مِنَ الْعَهْدِ لِأَنَّ الْعَقْدَ مَا كَانَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَالْعَهْدَ قَدْ يَنْفَرِدُ بِهِ الْإِنْسَانُ فِي حَقِّ اللَّهِ وَحَقِّ نَفْسِهِ

Akad lebih kuat daripada janji, karena akad adalah sesuatu yang terjadi antara dua pihak, sedangkan janji bisa dilakukan sendiri oleh seseorang dalam hak Allah maupun hak dirinya sendiri.

وَفِي بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ تَأْوِيلَانِ

Pada istilah “bahīmatul-an‘ām” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ أَجِنَّةُ الْأَنْعَامِ الَّتِي تُوجَدُ مَيْتَةً فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِهَا إِذَا ذُبِحَتْ وَهَذَا قول ابن عباس [وابن عمر]

Salah satunya adalah janin hewan ternak yang ditemukan mati di dalam perut induknya ketika induknya disembelih, dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

وَالثَّانِي إِنَّهَا وَحْشِيُّ الْأَنْعَامِ مِنَ الظِّبَاءِ وَبَقَرِ الْوَحْشِ وَجَمِيعِ الصَّيْدِ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي صَالِحٍ وفي تسميتها بهيمة تأويلان

Yang kedua adalah bahwa yang dimaksud adalah hewan liar dari jenis kijang, sapi liar, dan seluruh hewan buruan. Ini adalah pendapat Abu Shalih. Mengenai penamaan hewan-hewan tersebut sebagai bahīmah, terdapat dua penafsiran.

أحدهما لأنها أُبْهِمَتْ عَنِ الْفَهْمِ وَالتَّمْيِيزِ

Salah satunya karena ia disamarkan dari pemahaman dan pembedaan.

وَالثَّانِي إِنَّهَا أُبْهِمَتْ عَنِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ

Yang kedua, bahwa ia disamarkan dari perintah dan larangan.

وَفِي قَوْله تَعَالَى إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرُ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرٌمٌ يُرِيدُ به جميع الوحشي مِنْ صَيْدِ الْبَرِّ يَحْرُمُ فِي الْحُرُمِ وَالْإِحْرَامِ وفي قوله تعالى وَأَنْتُمْ حَرُمٌ تَأْوِيلَانِ

Dalam firman-Nya Ta‘ala: “kecuali apa yang dibacakan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram,” yang dimaksud adalah seluruh hewan liar dari buruan darat yang diharamkan pada masa haram dan dalam keadaan ihram. Dan pada firman-Nya Ta‘ala: “sedang kamu dalam keadaan ihram” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا فِي الْحَرَمِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ

Salah satunya di dalam Haram, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي فِي الْإِحْرَامِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي صالح إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ تأويلان

Yang kedua berkaitan dengan ihram, yaitu pendapat Abu Shalih bahwa Allah menetapkan hukum sesuai kehendak-Nya, memiliki dua penafsiran.

أحدهما يقضي ما يريد عَفْو وَانْتِقَام

Salah satunya memutuskan apa yang diinginkannya, baik berupa ampunan maupun pembalasan.

وَالثَّانِي يَأْمُرُ بِمَا يُرِيدُ مِنْ تَحْلِيلٍ وَتَحْرِيمٍ وَهَذِهِ أَعَمُّ آيَةٍ فِي إِبَاحَةِ الْأَنْعَامِ وَالصَّيْدِ فِي حَالَيْ تَحْلِيلٍ وَتَحْرِيمٍ

Dan yang kedua adalah bahwa Dia memerintahkan apa yang Dia kehendaki berupa penghalalan dan pengharaman, dan ini adalah ayat yang paling umum dalam membolehkan hewan ternak dan buruan, baik dalam keadaan halal maupun haram.

وَقَالَ الله تَعَالَى أُحِلَّ لَكُمْ صَيدُ البَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَكُمْ يَعْنِي مَا عَاشَ فِيهِ من سمكه وحيتانه وطعامه مَتَاعاً لَكُمْ وَللسَّيَّارَةِ فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Allah Ta‘ala berfirman: “Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanannya sebagai kesenangan bagi kalian,” maksudnya adalah segala yang hidup di dalamnya, seperti ikan-ikannya dan pausnya, serta makanannya sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi para musafir. Dalam ayat ini terdapat dua tafsiran.

أَحَدُهُمَا مَمْلُوحه

Salah satunya adalah yang diasinkan.

وَالثَّانِي طَافِيه

Dan yang kedua adalah yang mengapung.

وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ البَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُماً فَدَلَّ عَلَى إِبَاحَتِهِ لِغَيْرِ الْمُحْرِمِ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَهَذَا وَإِنْ كَانَ أَمْرًا وَهُوَ بَعْدَ حَظْرٍ فَدَلَّ عَلَى الْإِبَاحَةِ دُونَ الْوُجُوبِ

Dan diharamkan atas kalian berburu hewan darat selama kalian dalam keadaan ihram, maka ini menunjukkan kebolehannya bagi selain orang yang sedang ihram, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila kalian telah bertahallul, maka berburu lah.” Dan perintah ini, meskipun berupa perintah dan datang setelah larangan, maka menunjukkan kebolehan (ibāhah) dan bukan kewajiban (wujūb).

وَقَالَ تَعَالَى يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ وَفِي مُرَادِهِ بِالطَّيِّبَاتِ تَأْوِيلَانِ

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu, ‘Apa yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik dan (hewan buruan) yang telah kalian ajari dari binatang pemburu dengan melatihnya.’” Mengenai maksud dari “yang baik-baik” (ath-thayyibāt), terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا مَا اسْتَطَبْتُمُوهُ مِنَ اللُّحْمَانِ سِوَى مَا خُصَّ بِالتَّحْرِيمِ

Salah satunya adalah segala jenis daging yang kalian sukai, kecuali yang secara khusus diharamkan.

وَالثَّانِي إِنَّهُ أَرَادَ بِالطَّيِّبَاتِ الْحَلَالَ سَمَّاهُ طَيِّبًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُسْتَلَذًّا تَشْبِيهًا بِمَا يُسْتَلَذُّ لِأَنَّهُ فِي الدِّينِ مُسْتَلَذٌّ

Yang kedua, sesungguhnya yang dimaksud dengan “thayyibāt” adalah yang halal; ia disebut thayyib (baik) meskipun tidak terasa lezat, sebagai penyerupaan dengan sesuatu yang lezat, karena dalam agama, ia dianggap lezat.

وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ يَعْنِي وَصَيْدُ مَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ فَأَضْمَرَهُ لِدَلَالَةِ الْمَظْهَرِ عَلَيْهِ

Dan apa yang kalian ajarkan dari binatang buruan yang telah kalian latih, yaitu hasil buruan dari apa yang kalian ajarkan dari binatang buruan, maka kata “hasil buruan” disamarkan karena petunjuk lafaz yang tampak telah menunjukkan maknanya.

وَالْجَوَارِحُ مَا صِيدَ بِهِ مِنْ سِبَاعِ الْبَهَائِمِ وَالطَّيْرِ وَفِي تَسْمِيَتِهَا بِالْجَوَارِحِ تَأْوِيلَانِ

Dan al-jawāriḥ adalah hewan buas dari binatang darat dan burung yang digunakan untuk berburu. Terdapat dua penafsiran mengenai penamaan mereka dengan istilah al-jawāriḥ.

أَحَدُهُمَا لِأَنَّهَا تَجْرَحُ مَا صَادَتْ فِي الْغَالِبِ

Salah satunya adalah karena hewan buruan itu pada umumnya melukai apa yang diburunya.

وَالثَّانِي لِكَسْبِ أَهْلِهَا بِهَا مِنْ قَوْلِهِمْ فُلَانٌ جَارِحَةُ أَهْلِهِ أَيْ كَاسِبُهُمْ

Dan yang kedua adalah untuk mencari nafkah bagi keluarganya, berdasarkan ungkapan mereka: “Fulan adalah jārihah keluarganya,” yaitu orang yang menafkahi mereka.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ أَيْ كسبتم

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan di siang hari,” yaitu apa yang kalian peroleh.

وفي قوله تعالى مُكَلِّبِينَ تأويلان أَحَدُهُمَا إِنَّهَا الْكِلَابُ وَحْدَهَا وَلَا يَحِلُّ صَيْدُ غَيْرِهَا وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عُمَرَ وَالضَّحَّاكِ وَالسُّدِّيِّ

Dalam firman Allah Ta‘ala “mukallibīn” terdapat dua penafsiran. Pertama, yang dimaksud adalah anjing saja, dan tidak halal hasil buruan selain anjing. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, adh-Dhahhak, dan as-Suddi.

وَالثَّانِي إِنَّ التَّكْلِيبَ مِنْ صِفَاتِ الْجَوَارِحِ مِنْ كلب وغيره وفيه تأويلان

Yang kedua, bahwa perintah untuk melatih (takyīb) adalah termasuk sifat-sifat hewan pemburu, baik anjing maupun selainnya, dan dalam hal ini terdapat dua penafsiran.

أحدهما أنه الضرواة عَلَى الصَّيْدِ وَمَعْنَاهُ مُضْرِينَ عَلَيْهِ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ

Salah satunya adalah bahwa maknanya adalah mendorong hewan buruan, yaitu membuatnya terdesak, dan inilah pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي إِنَّهُ التَّعْلِيمُ وَهُوَ أَنْ يمسك ولا يأكل

Yang kedua adalah bahwa itu merupakan pengajaran, yaitu dengan menahan diri dan tidak makan.

ثم قال تعالى تُعَلِّمُونَهُمْ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Kalian mengajarkan kepada mereka sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepada kalian.” Dalam ayat ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا تُرْسِلُوهُنَّ عَلَى مَا أَحَلَّهُ اللَّهُ لَكُمْ دُونَ ما حرمه عليكم

Salah satunya adalah kalian membiarkan mereka pada apa yang telah dihalalkan Allah bagi kalian, dan tidak pada apa yang telah diharamkan-Nya atas kalian.

والثاني تعلمونهم مِنْ طَلَبِ الصَّيْدِ لَكُمْ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ مِنَ التَّأْدِيبِ الَّذِي عَلَّمَكُمْ وَهُوَ تَعْلِيمُهُ أَنْ يَسْتَشْلِيَ إِذَا أُشْلِيَ وَيُجِيبَ إِذَا دُعِيَ وَيُمْسِكَ إِذَا أَخَذَ

Dan yang kedua, kalian mengajarkan kepada mereka untuk berburu bagi kalian dari apa yang Allah ajarkan kepada kalian berupa adab yang telah Dia ajarkan kepada kalian, yaitu mengajarkan agar ia (hewan buruan) mau pergi ketika dilepaskan, menjawab ketika dipanggil, dan menahan (tidak memakan hasil buruan) ketika telah menangkap.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى فَكُلُوا مَمَّا أَمْسَكَ عَلَيْكُمْ فَكَانَ هَذَا نَصًّا فِي الْإِبَاحَةِ وَفِي سَبَبِ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ قَوْلَانِ

Kemudian Allah Ta‘ala berfirman: “Maka makanlah dari apa yang ditangkap untuk kalian.” Maka ini merupakan nash dalam hal kebolehan, dan mengenai sebab turunnya ayat ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا مَا رَوَاهُ أَبُو رَافِعٍ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَرَادَ الدُّخُولَ عَلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَرَأَى كَلْبًا فَرَجَعَ وَقَالَ إِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كلبٌ

Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Rafi‘, bahwa Jibril ‘alaihis salam ingin masuk menemui Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia melihat seekor anjing sehingga ia kembali dan berkata, “Sesungguhnya kami tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing.”

قَالَ أَبُو رَافِعٍ فَأَمَرَنِي بِقَتْلِ الْكِلَابِ فَقَتَلْتُهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَحِلُّ لَنَا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الَّتِي أَمَرْتَ بِقَتْلِهَا؟ فَسَكَتَ حَتَى نَزَلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ

Abu Rafi‘ berkata, “Beliau memerintahkanku untuk membunuh anjing-anjing, maka aku pun membunuhnya. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa yang halal bagi kami dari jenis ini yang engkau perintahkan untuk dibunuh?’ Maka beliau diam hingga turun ayat ini kepadanya.”

وَالثَّانِي إِنَّ زَيْدَ الْخَيْلِ وَفَدَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَقَالَ لَهُ فِينَا رَجُلَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا دُرَيْعٌ وَالْآخَرُ يُكَنَّى أَبَا دُجَانَةَ وَلَهُمَا أَكْلُبٌ خَمْسَةٌ تَصِيدُ الظِّبَاءَ فَمَا تَرَى فِي صَيْدِهَا؟

Yang kedua, sesungguhnya Zaid al-Khail datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata kepadanya, “Di antara kami ada dua orang, salah satunya bernama Durai‘ dan yang lain dipanggil Abu Dujanah. Keduanya memiliki lima ekor anjing yang digunakan untuk berburu kijang. Bagaimana pendapatmu tentang hasil buruan anjing-anjing itu?”

وَحَكَى هِشَامٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ أَسْمَاءَ هَذِهِ الْكِلَابِ الْخَمْسَةِ الَّتِي لِدُرَيْعٍ وَأَبِي دُجَانَةَ الْمُخْتَلِسُ وَغَلَّابٌ وَسَهْلَبٌ وَالْغُنَيْمُ وَالْمُتَعَاطَى فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ وَأَمَّا السُّنَّةُ فَرَوَى أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ ماشيةٍ أو صيدٍ أو زرعٍ انتقض مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قيراطٌ

Hisyam meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa nama-nama lima anjing ini milik Dura’i dan Abu Dujanah, yaitu: Al-Mukhtalis, Ghallab, Sahlab, Al-Ghunaym, dan Al-Muta‘atha. Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat ini. Adapun dari sunnah, Abu Salamah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa memelihara anjing kecuali anjing penjaga ternak, atau anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman, maka pahalanya akan berkurang setiap hari satu qirath.”

وَرَوَى أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كل ما ردت عليك فرسك وَكَلْبُكَ

Abu Idris al-Khaulani meriwayatkan dari Abu Tsa‘labah al-Khusyani, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segala sesuatu yang dikembalikan kepadamu oleh kudamu dan anjingmu…”

وَرَوَى عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ أَبِي حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقُلْتُ إِنَّا قومٌ نَصِيدُ بِهَذِهِ الْكِلَابِ فَقَالَ إِذَا أَرْسَلْتَ كِلَابَكَ الْمُعَلَّمَةَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُلْ مَا أَمْسَكَ عَلَيْكَ وَإِنَ قَتَلَ إِلَّا أَنْ يَأْكُلَ الْكَلْبُ فَلَا تَأْكُلْ فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُوَنَ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ وَإِنْ خَالَطَتهَا كلابٌ غَيْرهَا فَلَا تَأْكُلْ

‘Amir asy-Sya‘bi meriwayatkan dari ‘Adi bin Abi Hatim, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang berburu dengan anjing-anjing ini.” Beliau bersabda, “Jika engkau melepaskan anjing-anjingmu yang telah terlatih dan engkau menyebut nama Allah, maka makanlah apa yang ditangkap untukmu, meskipun ia membunuhnya, kecuali jika anjing itu memakannya, maka janganlah engkau makan. Karena aku khawatir ia hanya menangkap untuk dirinya sendiri. Dan jika anjing-anjing lain bercampur dengannya, maka janganlah engkau makan.”

قَالَ وَسَأَلْتُهُ عَنْ صَيْدِ الْبَازِي فَقَالَ مَا أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَكُلْ قَالَ وَسَأَلْتُهُ عَنِ الصَّيْدِ إِذَا رَمَيْتُهُ فَقَالَ إِذَا رَمَيْتَ سَهْمَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ فَإِنْ وَجَدْتَهُ قَدْ قَتَلْتَهُ فَكُلْهُ إِلَّا أَنْ تَجِدَهُ قَدْ وَقَعَ فِي ماءٍ فَمَاتَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي الْمَاءُ قَتَلَهُ أَوْ سَهْمُكَ

Ia berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang buruan yang ditangkap oleh elang, maka ia menjawab, ‘Apa yang ditangkap untukmu, maka makanlah.’ Ia juga berkata, ‘Aku bertanya kepadanya tentang buruan jika aku memanahnya.’ Ia menjawab, ‘Jika engkau memanah dengan panahmu, maka sebutlah nama Allah. Jika engkau mendapatinya telah mati karena panahmu, maka makanlah, kecuali jika engkau mendapatinya telah jatuh ke dalam air lalu mati, maka janganlah engkau makan, karena engkau tidak tahu apakah ia mati karena air atau karena panahmu.’”

وَقَالَ وَسَأَلْتُهُ عَنْ سَهْمِ الْمِعْرَاضِ فَقَالَ ما أصاب بجده فَكُلْ وَمَا أَصَابَ بِعَرْضِهِ فَهُوَ وقيزٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ يَسْتَوْعِبُ إِبَاحَةَ الصَّيْدِ بِجَمِيعِ آلَتِهِ

Dan ia berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang anak panah yang tidak bermata tajam.” Ia menjawab, “Apa yang mengenai (hewan buruan) dengan ujungnya, maka makanlah; dan apa yang mengenai dengan sisinya, maka itu adalah bangkai.” Hadis ini mencakup kebolehan berburu dengan seluruh alatnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ ثَبَتَ إِبَاحَةُ الصَّيْدِ جَازَ صَيْدُهُ بِجَمِيعِ الْجَوَارِحِ الْمُعَلَّمَةِ مِنْ ضَوَارِي الْبَهَائِمِ كَالْكَلْبِ وَالْفَهْدِ وَالنَّمِرِ وَكَوَاسِرِ الطَّيْرِ كَالْبَازِي وَالصَّقْرِ وَالْعُقَابِ وَالنَّسْرِ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ كل الصيد يجمعها إِلَّا بِالْكَلْبِ الْأَسْوَدِ الْبَهِيمِ

Jika telah tetap kebolehan berburu, maka boleh berburu dengan semua hewan pemburu yang terlatih dari binatang buas seperti anjing, cheetah, harimau, dan burung pemangsa seperti elang, falcon, rajawali, dan burung nasar. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Al-Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha‘i, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaih berkata: Semua hewan pemburu boleh digunakan kecuali anjing hitam legam.

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بن عمر مجاهد وَالسُّدِّيُّ لَا يَحِلُّ إِلَّا صَيْدُ الْكَلْبِ وَحْدَهُ ويحرم الِاصْطِيَادُ بِمَا عَدَاهُ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ وَاسْتَدَلَّ الْحَسَنُ بِرِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَوْلَا أَنَّ الْكِلَابَ أمةٌ مِنَ الْأُمَمِ لَأَمَرْتُ بِقَتْلِهَا فَاقْتُلُوا مِنَهَا الْأَسْوَدَ الْبَهِيمَ

Abdullah bin Umar, Mujahid, dan As-Suddi berkata bahwa tidak halal kecuali hasil buruan anjing saja, dan diharamkan berburu dengan selainnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang telah kalian ajarkan dari binatang pemburu yang telah kalian latih.” Al-Hasan berdalil dengan riwayat Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anjing bukan termasuk salah satu umat dari umat-umat, niscaya aku perintahkan untuk membunuhnya. Maka bunuhlah dari jenis anjing itu yang berwarna hitam legam.”

وَفِيمَا قَدَّمْنَاهُ دَلِيلٌ عَلَى الْفَرِيقَيْنِ وَلِأَنَّ مَا وُجِدَتْ فِيهِ شُرُوطُ التَّعْلِيمِ جَازَ الِاصْطِيَادُ بِهِ كَالْكَلْبِ الْأَبْيَضِ

Pada penjelasan yang telah kami sampaikan terdapat dalil bagi kedua kelompok, dan karena apa saja yang terdapat padanya syarat-syarat pelatihan, maka boleh digunakan untuk berburu, seperti anjing yang berwarna putih.

فَصْلٌ

Bab

فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ الِاصْطِيَادِ بِجَمِيعِهَا فَلَا يَخْلُو حَالُ الصَّيْدِ أَنْ يُدْرَكَ حَيًّا أَوْ مَيْتًا فَإِنْ أُدْرِكَ حَيًّا قَوِيَّ الْحَيَاةِ فَلَا اعتبار بصفة ما صاره مِنْ مُعَلَّمٍ أَوْ غَيْرِ مُعَلَّمٍ عَنْ إِرْسَالٍ وَاسْتِرْسَالٍ وَهُوَ حَلَالٌ إِذَا ذُكِّيَ فَإِنْ فَاتَتْ ذَكَاتُهُ حَتَّى مَاتَ فَهُوَ حَرَامٌ وَإِنْ أَدْرَكَ الصَّيْدَ مَيْتًا اعْتَبَرَ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ تَكَامُلَ خَمْسَةِ شُرُوطٍ إِذَا تَكَامَلَتْ حَلَّ وَإِذَا لَمْ تَتَكَامَلْ حَرُمَ

Jika telah tetap kebolehan berburu dengan seluruh alat tersebut, maka keadaan hasil buruan tidak lepas dari dua kemungkinan: didapati masih hidup atau sudah mati. Jika didapati masih hidup dengan kehidupan yang kuat, maka tidak dipertimbangkan lagi sifatnya, apakah ia hasil buruan hewan terlatih atau tidak, baik dilepas dengan sengaja atau dibiarkan, dan ia halal jika disembelih. Namun jika tidak sempat disembelih hingga mati, maka ia haram. Jika didapati hasil buruan sudah mati, maka untuk membolehkan memakannya harus terpenuhi lima syarat; jika kelima syarat itu terpenuhi, maka halal, dan jika tidak terpenuhi, maka haram.

أَحَدُهَا أَنْ يَسْتَرْسِلَ الْجَارِحُ عَنْ أَمْرِ مُرْسِلِهِ فَإِنِ اسْتَرْسَلَ بِنَفْسِهِ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ فَلَمْ يُحِلَّ مَا أَمْسَكَهُ عَلَى نَفْسِهِ

Salah satunya adalah jika hewan pemburu bertindak sendiri tanpa perintah dari pengirimnya. Jika ia berburu atas kehendaknya sendiri, maka daging hasil buruannya tidak halal untuk dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untukmu,” sehingga tidak dihalalkan apa yang ditangkapnya untuk dirinya sendiri.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْمُرْسِلُ مِمَّا تَحِلُّ ذَكَاتُهُ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا تَحِلُّ ذَكَاتُهُ حَرُمَ لِأَنَّ إِرْسَالَهُ كَالذَّكَاةِ

Kedua, hewan yang dilepas haruslah termasuk hewan yang sah untuk disembelih secara syar‘i. Jika hewan tersebut termasuk hewan yang tidak sah untuk disembelih, maka hukumnya haram, karena melepasnya dianggap seperti melakukan penyembelihan.

وَالثَّالِثُ أَنْ لَا يَغِيبَ عَنْ عَيْنِ مُرْسِلِهِ فَإِنْ غَابَ عَنْ عَيْنِ مُرْسِلِهِ لَمْ يَحِلَّ لِأَنَّهُ قَدْ يَحْدُثُ بَعْدَ مَغِيبِهِ مَا يَمْنَعُ مِنْ إِبَاحَتِهِ

Ketiga, barang itu tidak boleh hilang dari pandangan orang yang mengirimkannya. Jika barang itu hilang dari pandangan orang yang mengirimkannya, maka tidak halal, karena bisa saja terjadi sesuatu setelah barang itu hilang yang menghalangi kehalalannya.

وَالرَّابِعُ أَنْ لَا يُشْرِكَهُ فِي قَتْلِهِ مَنْ لَا يَحِلُّ صَيْدُهُ وَإِنْ شَرَكَهُ فِيهِ لَمْ يَحِلَّ

Keempat, tidak boleh ada yang turut serta dalam membunuhnya selain orang yang halal buruanya. Jika ada yang turut serta yang tidak halal buruanya, maka buruan itu menjadi tidak halal.

وَالْخَامِسُ أَنْ يكون الجارح المرسل معلماً لقوله تعالى تُعَلِّمُونَهُمْ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُعَلَّمٍ لَمْ يَحِلَّ

Kelima, bahwa hewan pemburu yang dilepas haruslah hewan yang terlatih, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kalian mengajarkan kepada mereka sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kalian.” Maka jika hewan tersebut tidak terlatih, hasil buruannya tidak halal.

وَتَعْلِيمُهُ يَكُونُ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ

Pengajarannya dilakukan dengan empat syarat.

أَحَدُهَا أَنْ يَسْتَشْلِيَ إذا أشلي وهو أن يُرْسَلَ فَيَسْتَرْسِلَ

Salah satunya adalah an yastashliya jika dikatakan asyli, yaitu ketika dilepaskan lalu ia terus berlari.

وَالثَّانِي أَنْ يُجِيبَ إِذَا دُعِيَ وهو أن يَعُودَ إِذَا طُلِبَ وَيُزْجَرَ إِذَا زَجَرَهُ

Yang kedua adalah hendaknya ia menjawab ketika dipanggil, yaitu ia kembali jika diminta dan berhenti jika dilarang.

وَالثَّالِثُ أن يحبس ما أمسكه لا يَأْكُلُهُ

Dan yang ketiga adalah menahan apa yang ditangkapnya tanpa memakannya.

وَالرَّابِعُ أَنْ يَتَكَرَّرَ ذَلِكَ مِنْهُ مِرَارًا حَتَّى تَصِيرَ لَهُ عَادَةً وَلَا يَصِيرُ بِالْمَرَّةِ وَالْمَرَّتَيْنِ مُعَلَّمًا

Keempat, perbuatan itu harus dilakukan berulang kali olehnya hingga menjadi kebiasaan baginya, dan seseorang tidak disebut sebagai mu‘allim hanya dengan sekali atau dua kali melakukannya.

قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ يَصِيرُ بِالْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ مُعَلَّمًا

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Seseorang bisa menjadi alim hanya dengan satu kali pengalaman.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَصِيرُ بِالْمَرَّتَيْنِ معلماً لأن الثانية من الإرسال فَتَصِيرُ عَادَةً وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ فِي تَكَامُلِ التَّعْلِيمِ غَيْرَ مَقْنَعٍ فِي الْعُرْفِ وَلِأَنَّهُ لَا يمتنع أن يكون بسبب امتناعه في الأولة مَوْجُودًا فِي الثَّانِيةِ وَإِذَا تَكَرَّرَ مَعَ اخْتِلَافِ أَحْوَالِهِ زَالَ وَلِأَنَّ مَقْصُودَ التَّعْلِيمِ هُوَ أَنْ ينتقل عن طبعه إلى اختيار مرسله وهو لا ينتقل عنه إلا بالمرون عَلَيْهِ فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ عَبَّرَ الشَّافِعِيُّ عَنْ إِرْسَالِهِ بِإِشْلَائِهِ وَهَذَا خَطَأٌ فِي اللُّغَةِ لِأَنَّهُ يقال أشليت كلبي إذا دعوته وأشليته إِذَا أَرْسَلْتُهُ وَاسْتَعْمَلَ الْإِشْلَاءَ فِي ضِدِّ مَعْنَاهُ فَعَنْهُ ثَلَاثَةُ أَجْوِبَةٍ

Abu Hanifah berpendapat bahwa dengan dua kali (anjuran), seseorang menjadi terdidik, karena yang kedua merupakan pengulangan, sehingga menjadi kebiasaan. Namun, pendapat ini tidak tepat, karena dalam penyempurnaan pendidikan belum dianggap cukup menurut kebiasaan. Selain itu, tidak mustahil bahwa karena penolakannya pada yang pertama, hal itu baru terjadi pada yang kedua. Jika pengulangan terjadi dengan keadaan yang berbeda-beda, maka hal itu hilang (tidak dianggap). Maksud dari pendidikan adalah agar seseorang berpindah dari tabiatnya kepada memilih untuk melepaskannya, dan ia tidak akan berpindah kecuali dengan pengulangan atasnya. Jika dikatakan: Syafi‘i telah mengekspresikan pelepasan itu dengan istilah “isylā’”, padahal ini adalah kesalahan dalam bahasa, karena dikatakan “asylaitu kalbī” jika aku memanggil anjingku, dan “asylaytuhu” jika aku melepaskannya, maka penggunaan “isylā’” di sini bertentangan dengan maknanya. Maka, ada tiga jawaban atas hal ini.

أَحَدُهَا أَنَّهُ مِنْ أَسْمَاءِ الْأَضْدَادِ يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الْأَمْرَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa kata tersebut termasuk dalam asma’ al-aḍḍād, sehingga boleh digunakan untuk dua makna yang berlawanan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يستعمل في الدعاء وحده لكنه دَعَاهُ إِلَى الصَّيْدِ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ مُشْلِيًا لَهُ كَمَا لَوْ دَعَاهُ إِلَى نَفْسِهِ كَمَا قال الشاعر

Kedua, bahwa ia digunakan dalam doa saja, namun ia memanggilnya untuk berburu, maka boleh baginya menjadi musylī baginya sebagaimana jika ia memanggilnya kepada dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan oleh penyair.

أشليت غَيْرِي وَمَسَحْتُ عَقْبِي

Aku membasuh anggota wudhu orang lain dan mengusap tumitku.

وَالثَّالِثُ أَنَّ الْإِشْلَاءَ هُوَ الْإِغْرَاءُ فَبِأَيِّ شَيْءٍ أَغْرَاهُ كَانَ مُشْلِيًا لَهُ كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ

Ketiga, bahwa isylā’ adalah menghasut, maka dengan apa pun ia menghasutnya, ia telah menjadi musylī baginya, sebagaimana dikatakan oleh penyair.

صَددت وَلَمْ يَصْدُدْنَ خَوْفًا لريبةٍ وَلَكِنْ لِإِتْلَافِ الْمُحَرِّشِ وَالْمُشْلَى

Mereka berpaling bukan karena takut akan kecurigaan, tetapi untuk membinasakan si penghasut dan si penyulut.

أَيِ الْمُغْرَى والله أعلم

Yang dimaksud adalah orang yang diberi motivasi, dan Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى فَإِنْ أَكَلَ فَلَا تَأْكُلْ فَإِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ وَذَكَرَ الشَّعْبِيُّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يقول فإن أكل فلا تأكل قال وإذا جمع البازي أو الصقر أو العقاب أو غيرها مما يصيد أن يدعى فيجيب ويشلى فيطير ويأخذ فيحبس مرةً بعد مرةٍ فهو معلمٌ فإن قتل فكل وإذا أكل ففي القياس أنه كالكلب قال المزني رحمه الله ليس البازي كالكلب لأن البازي وصفه إنما يعلم بالطعم وبه يأخذ الصيد والكلب يؤدب على ترك الطعم والكلب يضرب أدباً ولا يمكن ذلك في الطير فهما مختلفان فيؤكل ما قتل البازي وإن أكل ولا يؤكل ما قتل الكلب إذا أكل لنهي النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عن ذلك

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika ia (hewan pemburu) memakan (hasil buruan), maka janganlah engkau memakannya, karena ia hanya menahan (buruan) itu untuk dirinya sendiri.” Asy-Sya‘bi meriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika ia memakan (hasil buruan), maka janganlah engkau memakannya.” Ia berkata: “Apabila burung elang, rajawali, burung pemangsa, atau selainnya dari hewan pemburu dikumpulkan, lalu dipanggil maka ia datang, dilepaskan maka ia terbang, menangkap (buruan) lalu menahan (buruan) itu berulang kali, maka ia termasuk hewan pemburu yang terlatih. Jika ia membunuh (buruan), maka makanlah. Namun jika ia memakan (hasil buruan), maka menurut qiyās hukumnya seperti anjing.” Al-Muzani rahimahullah berkata: “Burung elang tidak sama dengan anjing, karena burung elang sifatnya memang dilatih dengan makanan, dan dengan itu ia menangkap buruan, sedangkan anjing dididik untuk meninggalkan makanan, dan anjing dipukul sebagai pendidikan, sedangkan hal itu tidak mungkin dilakukan pada burung. Maka keduanya berbeda. Oleh karena itu, boleh dimakan hasil buruan burung elang meskipun ia memakannya, sedangkan hasil buruan anjing tidak boleh dimakan jika ia memakannya, karena larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap hal itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا أُرْسِلَ الْجَارِحُ الْمُعَلَّمُ عَلَى صَيْدٍ فَقَتَلَهُ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ حَلَّ أَكْلُهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ

Al-Mawardi berkata: Jika binatang pemburu yang terlatih dilepaskan untuk memburu lalu membunuh buruan tersebut dan tidak memakannya, maka halal memakan buruan itu, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang ditangkap untuk kalian.”

وَإِنْ أَكَلَ الْجَارِحُ مِنَ الصَّيْدِ الَّذِي قَتَلَهُ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ قَوْلَانِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ كَوَاسِبِ الْبَهَائِمِ أَوْ كَوَاسِرِ الطَّيْرِ

Jika hewan pemburu memakan hasil buruan yang dibunuhnya, terdapat dua pendapat mengenai kebolehan memakan daging buruan tersebut, baik hewan pemburu itu berasal dari jenis binatang buas maupun dari jenis burung pemangsa.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْقَدِيمِ يَحِلُّ أَكْلُهُ

Salah satunya adalah ucapannya pada pendapat lama: halal memakannya.

وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ

Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat seperti Abdullah bin Umar, Sa‘d bin Abi Waqqash, dan Salman al-Farisi.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ وَأَبُو ثَوْرٍ وَدَاوُدُ

Di antara para fuqaha adalah Malik, Abu Tsaur, dan Dawud.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَبِهِ قَالَ فِي الْجَدِيدِ لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ

Pendapat kedua, yang juga beliau sampaikan dalam pendapat barunya, adalah tidak halal memakannya.

وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ

Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat, yaitu Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ أَهْلُ الْعِرَاقِ

Dan di antara para fuqaha adalah ahli Irak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْمُزَنِيُّ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيُّ إِنَّ مَا كَانَ مِنْ كَوَاسِبِ الْبَهَائِمِ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ كَوَاسِرِ الطَّيْرِ يُعْلَمُ بِالْأَكْلِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ عَلَى الْقَوْلَيْنِ لِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah dan al-Muzani, yang juga merupakan mazhab asy-Sya‘bi dan an-Nakha‘i, berpendapat bahwa hewan pemburu dari jenis binatang berkaki empat tidak halal dimakan, dan jika berasal dari burung pemangsa, maka diketahui kehalalannya dengan cara memakannya. Tidak ada perbedaan antara keduanya menurut asy-Syafi‘i dalam dua pendapatnya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْبَازِيَ يُعَلَّمُ بالأكل من مَبَادِئِ التَّعْلِيمِ وَبِالِامْتِنَاعِ مِنَ الْأَكْلِ عَن اسْتِكْمَالِهِ وَلَوْ كَانَ تَعْلِيمُهُ بِالْأَكْلِ فِي الْحَالَيْنِ لَمَا صَحَّ تَعْلِيمُهُ إِذَا امْتَنَعَ مِنَ الْأَكْلِ وَلَكَانَ أَكْلُهُ مِنْهُ شَرْطًا فِي إِرَادَةِ أَكْلِهِ وَهَذَا مَدْفُوعٌ

Salah satunya adalah bahwa burung elang diajari dengan diberi makan pada tahap awal pelatihan, dan dengan menahan makan setelah pelatihan selesai. Jika pelatihannya selalu dengan diberi makan pada kedua keadaan tersebut, maka pelatihannya tidak sah ketika ia menolak makan, dan makanannya dari hasil tangkapannya menjadi syarat dalam keinginannya untuk makan, dan hal ini tertolak.

وَالثَّانِي إِنَّهُ يُعَلَّمُ بِالْأَكْلِ مِنْ يَدِ معلمه ولا يعلم من أكل ما صاده

Yang kedua, hewan itu diajari dengan makan dari tangan pelatihnya, dan tidak dianggap diajari jika ia memakan hasil tangkapannya.

وَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا فَرْقٌ عَلَى الْقَوْلَيْنِ فَإِنْ قِيلَ بِقَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ أَنَّهُ يَحِلُّ أَنْ يُؤْكَلَ مَا أَكَلَ مِنْهُ فَدَلِيلُهُ حَدِيثُ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ

Dan jika tidak ada perbedaan antara keduanya menurut dua pendapat, maka jika dikatakan dengan pendapatnya yang lama bahwa boleh memakan apa yang telah dimakan darinya, maka dalilnya adalah hadis Abu Tsa‘labah al-Khusyani.

رَوَى عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَجُلًا آتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يُقَالُ لَهُ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي كِلَابًا مكلبةٌ فَأَفْتِنِي فِي صَيْدِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنْ كَانَتِ الْكِلَابُ مكلبةٌ فَكُلْ مِمَا أَمْسَكْنَ عَلَيْكَ قَالَ ذكيٌ وَغَيْرُ ذَكِيٍّ؟ قَالَ ذكيٌّ وَغَيْرُ ذكيٍّ قَالَ وَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ؟ فَقَالَ وَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang laki-laki yang dipanggil Abu Tsa‘labah datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki beberapa anjing yang telah dilatih, maka berilah aku fatwa tentang hasil buruan mereka.” Nabi ﷺ bersabda, “Jika anjing-anjing itu telah dilatih, maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untukmu.” Ia bertanya, “Apakah yang disembelih dan yang tidak disembelih?” Beliau menjawab, “Baik yang disembelih maupun yang tidak disembelih.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana jika anjing itu memakannya?” Beliau menjawab, “Walaupun anjing itu memakannya.”

وَرَوَى أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ الْمُكَلَّبَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ وَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ فَهَذَا نَصٌّ

Abu Idris al-Khaulani meriwayatkan dari Abu Tsa‘labah al-Khusyani dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Jika engkau melepaskan anjingmu yang telah terlatih dan engkau menyebut nama Allah atasnya, maka makanlah (hasil tangkapannya), meskipun anjing itu memakannya, maka ini adalah nash.”

وَلِأَنَّ مَا حَلَّ أَكْلُهُ بِفَوَاتِ نَفْسِهِ لَمْ يَحْرُمْ بِحُدُوثِ أَكْلِهِ كَالْمُذَكَّى وَلِأَنَّ مَا حَلَّ مِنْ صَيْدِهِ إِذَا لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ حَلَّ وَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ كَمَا لَوْ تَرَكَهُ بَعْدَ صَيْدِهِ ثُمَّ عَادَ فَأَكَلَ مِنْهُ وَلِأَنَّهُ لَوْ أَكَلَ مِنْ غَيْرِ صَيْدِهِ وَأَكَلَ غَيْرُهُ مِنْ صَيْدِهِ لَمْ يَحْرُمْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْأَكْلَ لَا يُوجِبُ التَّحْرِيمَ

Karena sesuatu yang halal dimakan karena hilangnya nyawanya tidak menjadi haram hanya karena terjadi peristiwa memakannya, seperti hewan yang disembelih secara syar‘i. Dan karena bagian yang halal dari hasil buruan, jika belum dimakan oleh hewan pemburu, maka tetap halal, dan jika telah dimakan pun tetap halal, seperti jika hewan pemburu meninggalkannya setelah memburunya lalu kembali dan memakannya. Dan karena jika hewan pemburu memakan selain hasil buruannya, dan hewan lain memakan hasil buruannya, maka tidak ada satu pun dari keduanya yang menjadi haram. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa memakan itu sendiri tidak menyebabkan keharaman.

وَإِنْ قِيلَ بِقَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ إِنْ أَكَلَ مَا أَكَلَ مِنْهُ حرام فَدَلِيلُهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَمَا أَكَلَ مِنْهُ فَقَدْ أَمْسَكَهُ عَلَى نَفْسِهِ لَا عَلَى مُرْسِلِهِ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ وَهُوَ أَثْبَتُ مِنْ حَدِيثُ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ الْمُعَلَّمَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ وَإِنْ قَتَلَ إِلَّا أَنْ يَأَكُلَ مِنْهُ فَلَا تَأَكُلْ وَهَذَا نَصٌّ

Dan jika dikatakan menurut pendapatnya dalam qaul jadid: jika hewan buruan itu memakan sebagian dari buruan tersebut, maka hukumnya haram, dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang ditangkap untuk kalian,” dan apa yang dimakan oleh hewan buruan itu berarti ia menangkapnya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang yang melepaskannya. Hal ini juga didukung oleh hadis ‘Adi bin Hatim, dan hadis ini lebih kuat daripada hadis Abu Tsa‘labah al-Khusyani, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika engkau melepaskan anjingmu yang terlatih dan engkau menyebut nama Allah atasnya, maka makanlah, meskipun ia membunuhnya, kecuali jika ia memakan sebagian darinya, maka janganlah engkau makan.” Dan ini adalah nash (teks yang jelas).

وَلِأَنَّ مِنْ شَرْطِ التَّعْلِيمِ أَنْ لَا يَأْكُلَ مِنْهُ وَإِذَا أَكَلَ بَانَ أَنَّهُ غَيْرُ مُعَلَّمٍ فَحَرُمَ وَلِأَنَّ أَكْلَهُ وَإِنِ احْتَمَلَ أَمْرَيْنِ

Dan karena salah satu syarat hewan yang diajarkan (untuk berburu) adalah tidak memakan hasil buruannya, dan jika ia memakannya, maka jelaslah bahwa ia bukan hewan yang terlatih, sehingga hasil buruannya menjadi haram. Selain itu, jika hewan tersebut memakan hasil buruannya, meskipun masih mungkin mengandung dua kemungkinan…

أَحَدُهُمَا نِسْيَانُ التَّعْلِيمِ فَمُحَرَّمٌ

Salah satunya adalah lupa mengajarkan, maka hal itu diharamkan.

وَالثَّانِي لِغَلَبَةِ الْجُوعِ فَلَا يُحَرَّمُ

Dan yang kedua adalah karena dominasi rasa lapar, maka hal itu tidak diharamkan.

وَجَبَ عِنْدَ تَعَارُضِهِمَا أَنْ يُعَادَ إِلَى أَصْلِهِ فِي الْحَظْرِ وَالتَّحْرِيمِ كَمَا لَوِ اخْتَلَطَ مُذَكًّى بِمَيْتَةٍ لَمْ يَحِلَّ الِاجْتِهَادُ فِيهِ تَغْلِيبًا لِلتَّحْرِيمِ وَلِأَنَّ الصَّيْدَ الْوَاحِدَ لَا يَتَبَعَّضُ حُكْمُهُ فَلَمَّا كَانَ مَا أَكَلَهُ قَدْ أَمْسَكَهُ عَلَى نَفْسِهِ كَذَلِكَ بَاقِيهِ وَمَا أَمْسَكَهُ عَلَى نَفْسِهِ حَرَامٌ

Apabila terjadi pertentangan antara keduanya, maka wajib kembali kepada hukum asal berupa larangan dan pengharaman, sebagaimana jika daging yang disembelih bercampur dengan bangkai, maka tidak boleh melakukan ijtihad di dalamnya dengan mengedepankan pengharaman. Hal ini karena satu hasil buruan tidak dapat dibagi-bagi hukumnya; maka sebagaimana bagian yang dimakan oleh hewan buruan itu telah ia tangkap untuk dirinya sendiri, demikian pula bagian sisanya. Dan apa yang ia tangkap untuk dirinya sendiri adalah haram.

فَصْلٌ

Bab

فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فِيمَا أَكَلَ مِنْهُ فَلَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ مَا تَقَدَّمَهُ مِنْ صَيْدِهِ الَّذِي لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ حَلَالٌ

Maka apabila telah dijelaskan alasan kedua pendapat mengenai hewan buruan yang telah dimakannya, maka tidak ada perbedaan dalam mazhab Syafi‘i bahwa hewan buruan yang sebelumnya ia tangkap namun belum dimakannya adalah halal.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْرُمُ جَمِيعُ صَيْدِهِ الْمُتَقَدِّمِ بِأَكْلِهِ مِنَ الصَّيْدِ الْمُسْتَأْخِرِ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seluruh hasil buruan yang terdahulu menjadi haram karena ia telah memakan hasil buruan yang belakangan, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْأَكْلَ إِذَا كَانَ مُنَافِيًا لِلتَّعْلِيمِ دَلَّ حُدُوثُهُ مِنْهُ عَلَى تَقَدُّمِهِ فِيهِ فَصَارَ صَائِدًا لِجَمِيعِهِ وَهُوَ غَيْرُ مُعَلَّمٍ كَالشَّاهِدَيْنِ إِذَا شَهِدَا وَهُمَا عَدْلَانِ فِي الظَّاهِرِ فَلَمْ يَحْكُمِ الْحَاكِمُ بِشَهَادَتِهِمَا فَفَسَقَا لَمْ يَحْكُمْ بِهَا وَإِنْ تَقَدَّمَتْ عَلَى فِسْقِهِمَا لِأَنَّهَا دَلِيلٌ عَلَى تَقَدُّمِ الْفِسْقِ فِيهِمَا

Salah satunya adalah bahwa jika makan itu bertentangan dengan pengajaran, maka terjadinya makan tersebut menunjukkan bahwa hal itu telah mendahuluinya, sehingga ia menjadi pelaku untuk seluruhnya dan dianggap tidak terlatih, seperti dua saksi yang ketika memberikan kesaksian tampak adil, lalu hakim tidak memutuskan berdasarkan kesaksian mereka, kemudian keduanya menjadi fasik, maka hakim tidak memutuskan berdasarkan kesaksian mereka meskipun kesaksian itu mendahului kefasikan mereka, karena kesaksian itu menjadi bukti bahwa kefasikan telah mendahului pada diri mereka.

وَالثَّانِي إِنَّ التَّعْلِيمَ يَنْقُلُهُ عَنْ طَبْعِهِ فَإِذَا لَمْ يَنْتَقِلُ عَنْهُ مَعَ الْآخَرِ دل على أنه كان غيره منتقل مَعَ الْأَوَّلِ وَصَارَ تَرْكُ أَكْلِهِ فِي الْأَوَّلِ اتِّفَاقًا لَا تَعْلِيمًا

Yang kedua, sesungguhnya pengajaran itu memindahkannya dari tabiat aslinya. Maka jika ia tidak berpindah bersama yang lain, hal itu menunjukkan bahwa yang berpindah bersama yang pertama adalah selain dirinya, dan meninggalkan makannya pada yang pertama hanyalah kebetulan, bukan karena pengajaran.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَقَدْ أَمْسَكَ عَلَى مُرْسِلِهِ بِمَا تَقَدَّمَ فَحَلَّ لِأَنَّ مَا وُجِدَتْ شُرُوطُ الْإِبَاحَةِ فِيهِ لَمْ يَحْرُمْ تَقَدُّمُهَا في غيره كَإِسْلَامِ مُرْسِلِهِ لَوِ ارْتَدَّ عَنْهُ بِعَدَمِ إِرْسَالِهِ لَمْ يَحْرُمْ مَا صِيدَ قَبْلَ رِدَّتِهِ وَلِأَنَّهُ قَدْ حَكَمَ بِتَعْلِيمِهِ بِمَا تَكَرَّرَ مِنْ تَرْكِ أَكْلِهِ وَحُدُوثُ الْأَكْلِ مِنْهُ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ لِشِدَّةِ جُوعٍ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ لِحُدُوثِ نِسْيَانٍ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ لِأَنَّ تَعْلِيمَهُ لَمْ يَسْتَقِرَّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْقُضَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ لحكم بِتَعْلِيمِهِ بِأَمْرٍ مُحْتَمَلٍ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ حُدُوثٍ وَقِدَمٍ كَالشَّاهِدَيْنِ إِذَا نُفِّذَ الْحُكْمُ بِشَهَادَتِهِمَا ثُمَّ حَدَثَ فِسْقُهُمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يُنْتَقَضَ بِهِ الْحُكْمُ الْمُتَقَدِّمُ لِجَوَازِ تَرَدُّدِهِ بَيْنَ حُدُوثٍ وَقِدَمٍ وَلِأَنَّ تَرْكَهُ الْأَكْلَ شَرْطٌ فِي التَّعْلِيمِ كَمَا أَنَّ اسْتِرْسَالَهُ إِذَا أُرْسِلَ شَرْطٌ فِيهِ ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّهُ صَارَ يَسْتَرْسِلُ إِنْ لَمْ يُرْسَلْ وَلَا يَسْتَرْسِلُ إِنْ أُرْسِلَ لَمْ يَدُلَّ عَلَى تَحْرِيمِهِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ صَيْدِهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُعَلَّمٍ فِيهِ كَذَلِكَ حُدُوثُ الْأَكْلِ

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang ditangkap untuk kalian.” Dan hewan buruan itu telah menangkap atas perintah orang yang melepaskannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka hukumnya halal. Karena sesuatu yang telah terpenuhi syarat-syarat kebolehannya, tidaklah menjadi haram hanya karena sebelumnya pada kasus lain, seperti keislaman orang yang melepaskannya; jika ia murtad setelah melepaskan, maka tidak haram apa yang diburu sebelum ia murtad. Dan karena telah ditetapkan bahwa hewan itu telah diajari dengan berulang kali meninggalkan makanannya, dan terjadinya makan dari hasil buruan itu bisa jadi karena sangat lapar, bisa jadi karena lupa, dan bisa jadi karena pengajarannya belum benar-benar mantap. Maka tidak boleh membatalkan hukum terdahulu tentang pengajaran hewan itu hanya karena sesuatu yang masih mungkin, yang bisa jadi baru terjadi atau sudah lama, seperti dua saksi jika telah dijalankan hukum berdasarkan kesaksian mereka, lalu setelah itu keduanya menjadi fasik, maka tidak boleh membatalkan hukum yang telah dijalankan sebelumnya karena masih mungkin fasiknya itu baru terjadi atau sudah lama. Dan karena meninggalkan makan adalah syarat dalam pengajaran, sebagaimana hewan itu mau dilepas jika dilepas adalah syarat dalam pengajaran, kemudian jika telah tetap bahwa hewan itu menjadi mau dilepas jika tidak dilepas dan tidak mau dilepas jika dilepas, maka itu tidak menunjukkan keharaman hasil buruan yang telah lalu. Dan jika hewan itu bukan hewan yang terlatih, maka demikian pula terjadinya makan dari hasil buruan.

وَبِتَحْرِيرِ هَذِهِ الْأَدِلَّةِ تَكُونُ الْأَجْوِبَةُ عَمَّا قَدَّمُوهُ مِنَ الدَّلِيلِ

Dengan penjelasan terhadap dalil-dalil ini, maka jawaban atas apa yang telah mereka kemukakan sebagai dalil menjadi jelas.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا تَعَارَضَ مَا يُوجِبُ الْحَظْرَ وَالْإِبَاحَةَ يَغْلِبُ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ قِيلَ قَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ فَمِنْهُمْ مَنْ سَوَّى بَيْنَهُمَا وَاعْتَبَرَ تَرَجُّحَ أَحَدِهِمَا بِدَلِيلٍ

Jika dikatakan: “Apabila terjadi pertentangan antara sesuatu yang mewajibkan larangan dan yang membolehkan, maka hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan,” maka dijawab: Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian dari mereka menyamakan keduanya dan mempertimbangkan mana yang lebih kuat di antara keduanya berdasarkan dalil.

وَمِنْهُمْ مَنْ غَلَّبَ الْحَظْرَ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ لَكِنْ يَكُونُ هَذَا فِيمَا امْتَزَجَ فِيهِ حَظْرٍ وَإِبَاحَةٍ فَأَمَّا مَا لَمْ يَمْتَزِجْ فِيهِ الْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ فَلَا يُوجِبُ تَغْلِيبَ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ كَالْأَوَانِي إِذَا كان بعضها بخساً وَبَعْضُهَا طَاهِرًا لَمْ تَمْنَعْ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي الظَّاهِرِ وَهَاهُنَا قَدْ تَمَيَّزَتِ الْإِبَاحَةُ فِي الْمُتَقَدِّمِ عَلَى الْحَظْرِ فِي الْمُسْتَأْجَرِ فَلَمْ يَجُزْ تَغْلِيبُ أحدهم عَلَى الْآخَرِ وَأَثْبَتَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الْحُكْمَيْنِ فِي مَحَلِّهِ

Di antara mereka ada yang lebih menguatkan larangan, dan ini adalah pendapat mayoritas, namun hal ini berlaku pada perkara yang bercampur di dalamnya antara larangan dan kebolehan. Adapun jika larangan dan kebolehan itu tidak bercampur, maka tidak wajib untuk menguatkan larangan atas kebolehan, seperti pada bejana-bejana jika sebagian najis dan sebagian lagi suci, maka hal itu tidak menghalangi untuk berijtihad pada yang tampak. Di sini, kebolehan telah jelas pada yang terdahulu atas larangan pada yang disewa, sehingga tidak boleh menguatkan salah satunya atas yang lain, dan masing-masing dari kedua hukum itu ditetapkan pada tempatnya.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي دَمِ الصَّيْدِ لَمْ يُحَرَّمْ أَكْلُهُ وَحَرَّمَهُ النَّخَعِيُّ وَأَجْرَاهُ مَجْرَى الْأَكْلِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Apabila anjing menjilat darah hasil buruan, maka tidak diharamkan memakannya. Namun, An-Nakha‘i mengharamkannya dan memperlakukannya seperti memakan (daging buruan itu). Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الدَّمَ خَارِجٌ مِنَ الْإِبَاحَةِ فَلَمْ يعتقد منه التحريم كالغرث

Salah satunya adalah bahwa darah termasuk sesuatu yang keluar dari kebolehan, sehingga tidak diyakini keharamannya seperti bangkai.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مُنْفَصِلٌ فَلَمْ يُوجَدْ مِنْهُ حُكْمٌ متصل والله أعلم

Yang kedua adalah bahwa ia terpisah, sehingga tidak ada hukum yang bersambung darinya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَإِذَا أَرْسَلَ أَحْبَبْتُ لَهُ أَنْ يُسَمِّيَ اللَّهَ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ فَلَا بَأْسَ لِأَنَّ الْمُسْلِمَ يَذْبَحُ عَلَى اسْمِ اللَّهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang melepas (hewan buruan), aku menyukai baginya untuk menyebut nama Allah Ta‘ala. Namun jika ia lupa, maka tidak mengapa, karena seorang Muslim menyembelih atas nama Allah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ التَّسْمِيَةُ عَلَى الصَّيْدِ وَالذَّبِيحَةِ سُنَّةٌ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ فَإِنْ تَرَكَهَا عَامِدًا أَوْ نَاسِيًا حَلَّ أَكْلُهُ

Al-Mawardi berkata, membaca basmalah pada saat berburu dan menyembelih adalah sunnah dan bukan wajib. Jika seseorang meninggalkannya baik dengan sengaja maupun karena lupa, maka dagingnya tetap halal untuk dimakan.

وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ عَطَاءٌ وَمَالِكٌ

Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat seperti Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, serta dari kalangan fuqaha seperti ‘Atha’ dan Malik.

وَقَالَ الشَّعْبِيُّ وَدَاوُدُ وَأَبُو ثَوْرٍ التَّسْمِيَةُ وَاجِبَةٌ فَإِنْ تَرَكَهَا عَامِدًا أَوْ نَاسِيًا حَرُمَ الْأَكْلُ

Asy-Sya‘bi, Dawud, dan Abu Tsaur berpendapat bahwa membaca basmalah itu wajib; maka jika seseorang meninggalkannya baik dengan sengaja maupun karena lupa, haram memakan (sembelihannya).

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ تَجِبُ مَعَ الذِّكْرِ تَسْقُطُ مَعَ النِّسْيَانِ فَإِنْ تَرَكَهَا عَامِدًا حَرُمَ وَإِنْ تَرَكَهَا نَاسِيًا حَلَّ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرُ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لِفِسْقٌ وَهَذَا نَصٌّ وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِعَدِيٍّ وَأَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ الْمُكَلَّبَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ فَعَلَّقَ الْإِبَاحَةَ بِشَرْطَيْنِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَعَلَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ مِنْ شَرْطِ الذَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ الْمُذَكِّي مِنْ أَهْلِ التَّسْمِيَةِ فَحَلَّتْ ذَكَاةُ الْمُسْلِمِ وَالْكِتَابِيِّ لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِهَا وَلَمْ تَحِلَّ ذَكَاةُ الْمَجُوسِيِّ وَالْوَثَنِيِّ لِأَنَّهُ لَيْسَ مَنْ أَهْلِهَا كَانَتِ التَّسْمِيَةُ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ مِنْ شَرْطِ الذكاة لأنه حرمة أهلها بها

Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah beserta para pengikutnya, serta Ishaq bin Rahawaih berpendapat bahwa tasmiyah (menyebut nama Allah saat menyembelih) wajib dilakukan jika ingat, dan gugur jika lupa. Jika sengaja meninggalkannya, maka haram (dagingnya), namun jika lupa, maka halal, dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian memakan (hewan) yang tidak disebut nama Allah atasnya, sesungguhnya itu adalah kefasikan,” dan ini adalah nash. Juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Adi dan Abu Tsa‘labah al-Khusyani: “Jika engkau melepas anjingmu yang telah terlatih dan engkau menyebut nama Allah atasnya, maka makanlah.” Maka, kebolehan itu digantungkan pada dua syarat, sehingga tidak boleh hanya bergantung pada salah satunya saja. Karena ketika salah satu syarat penyembelihan adalah penyembelihnya termasuk ahl at-tasmiyah (orang yang layak menyebut nama Allah), maka sembelihan seorang Muslim dan ahli kitab menjadi halal karena mereka termasuk ahlinya, sedangkan sembelihan Majusi dan penyembah berhala tidak halal karena mereka bukan ahlinya. Maka, tasmiyah lebih utama untuk dijadikan syarat penyembelihan, karena keharaman (atau kehalalan) sembelihan bergantung pada ahlinya.

وبعكسه لَمَّا لَمْ تَكُنِ التَّسْمِيَةُ شَرْطًا فِي صَيْدِ السَّمَكِ لَمْ تَكُنْ مِنْ شَرْطِ صَائِدِهِ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ التَّسْمِيَةِ مِنْ مَجُوسِيٍّ وَوَثَنِيٍّ كَمَا حَلَّ صَيْدُ مَنْ كَانَ مَنْ أَهْلِهَا مِنْ مُسْلِمٍ وَكِتَابِيٍّ

Sebaliknya, ketika basmalah (penyebutan nama Allah) tidak menjadi syarat dalam perburuan ikan, maka tidak disyaratkan pula bagi orang yang menangkapnya untuk termasuk golongan yang wajib membaca basmalah, baik itu seorang Majusi maupun penyembah berhala, sebagaimana halal pula hasil buruan dari orang yang termasuk golongan tersebut, yaitu Muslim dan Ahli Kitab.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ إِلاَّ مَا زَكَّيْتُمْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَإِنْ قِيلَ فَالتَّسْمِيَةُ هِيَ الذَّكَاةُ كَانَ فَاسِدًا مِنْ وَجْهَيْنِ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian sembelih (zakāh).” Maka ayat ini berlaku secara umum. Jika dikatakan bahwa tasmiyah (penyebutan nama Allah) adalah zakāh (penyembelihan syar‘i), maka itu adalah pendapat yang rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ التَّسْمِيَةَ قَوْلٌ وَالذَّكَاةَ فِعْلٌ فَافْتَرَقَا

Salah satunya adalah bahwa basmalah merupakan ucapan, sedangkan penyembelihan (dzakāh) adalah perbuatan, maka keduanya berbeda.

وَالثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سُئِلَ عَنِ الذَّكَاةِ فَقَالَ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَقَالَ تَعَالَى الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتِ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُو الكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ يَعْنِي ذَبَائِحَهُمْ وَالظَّاهِرُ الْغَالِبُ مِنْ أَحْوَالِهِمْ أَنَّهُمْ لَا يُسَمُّونَ عَلَيْهَا فَدَلَّ عَلَى إِبَاحَتِهَا

Kedua, bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya tentang tata cara penyembelihan (dzakāh), lalu beliau bersabda: “Pada bagian leher dan pangkal leher.” Allah Ta‘ala berfirman: “Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik, dan makanan orang-orang yang diberi Kitab halal bagi kalian,” maksudnya adalah hewan sembelihan mereka. Dan yang tampak umum dari keadaan mereka adalah bahwa mereka tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, maka hal ini menunjukkan kebolehannya.

وَرَوَى الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْمُسْلِمُ يَذْبَحُ عَلَى اسْمِ اللَّهِ سَمَّى أَوْ لَمْ يُسَمِّ

Al-Barā’ bin ‘Āzib meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Seorang Muslim menyembelih atas nama Allah, baik ia menyebut nama (Allah) ataupun tidak menyebutnya.”

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ مِنَّا يَذْبَحُ وَيَنْسَى أَنْ يُسَمِّيَ اللَّهَ تَعَالَى فَقَالَ اسْمُ اللَّهِ عَلَى قَلْبِ كُلِّ مسلمٍ

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang di antara kami yang menyembelih hewan lalu lupa menyebut nama Allah Ta‘ala?” Maka beliau bersabda, “Nama Allah ada di hati setiap Muslim.”

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَ بلحمٍ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا فَقَالَ اذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ثَمَّ كُلُوهُ

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa sekelompok orang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum yang membawa daging kepada kami, kami tidak tahu apakah nama Allah disebutkan atasnya atau tidak.” Maka beliau bersabda, “Sebutlah nama Allah atasnya, lalu makanlah.”

وَأَبَاحَ الذَّبِيحَةَ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةٍ والتمسية عِنْدَ الْأَكْلِ لَا تَجِبُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهَا مستحبة

Ia membolehkan sembelihan tanpa penyebutan nama (Allah), dan penyebutan nama ketika makan tidaklah wajib, sehingga hal itu menunjukkan bahwa penyebutan nama adalah mustahab (dianjurkan).

وَرَوَى أَبُو الْعُشَرَاءِ الدَّارِمِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْمُتَرَدِّيَةِ مِنَ الْإِبِلِ فِي بِئْرٍ لَا نَصِلُ إِلَى مَنْحَرِهَا

Abu al-‘Ushara’ al-Darimi meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang unta yang terjatuh ke dalam sumur sehingga kami tidak dapat mencapai bagian lehernya untuk menyembelih.

فَقَالَ وَأَبِيكَ لَوْ طَعَنْتَ فِي فَخِذِهَا أَجْزَأَكَ فَعَلَّقَ الْإِجْزَاءَ بِالْعُقُودِ دُونَ التَّسْمِيَةِ فَدَلَّ عَلَى الْإِبَاحَةِ

Maka ia berkata, “Demi ayahmu, jika engkau menusuk pahanya pun sudah mencukupimu.” Maka ia menggantungkan keabsahan pada akad, bukan pada penyebutan nama (Allah), sehingga hal ini menunjukkan kebolehan.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ما أنهر الدم وفرى اللأوداج فَكُلْ  وَلِأَنَّ مَا يُوجَدُ فِيهِ فِعْلُ الذَّكَاةِ لم تحرم بترك التسمية كالناس ولأن ما لم يحرم به ذكاة الناس لَمْ تَحْرُمْ بِهِ ذَكَاةُ الْعَامِدِ كَالْأَخْرَسِ وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَكُنْ لِلذِّكْرِ شَرْطٌ فِي انْتِهَائِهِ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي ابْتِدَائِهِ كَالطَّهَارَةِ طَرْدًا وَالصَّلَاةِ عَكْسًا وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي الذَّكَاةِ مَعَ النِّسْيَانِ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِيهَا مَعَ الذِّكْرِ كَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ وَلِأَنَّ الْحُوتَ يُسْتَبَاحُ بِتَارِكِهَا كَمَا يَحِلُّ الصَّيْدُ بِذَكَاتِهِ فَلَمَّا لَمْ تَكُنِ التَّسْمِيَةُ شَرْطًا فِي اسْتِبَاحَةِ الْحُوتِ لَمْ تَكُنْ شَرْطًا فِي اسْتِبَاحَةِ غَيْرِهِ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa saja yang mengalirkan darah dan memotong urat leher, maka makanlah.” Karena pada apa yang terdapat padanya perbuatan penyembelihan (dzakāh), tidak diharamkan dengan meninggalkan basmalah, seperti halnya manusia. Dan karena apa yang tidak menyebabkan penyembelihan manusia menjadi haram, maka tidak pula menyebabkan penyembelihan orang yang sengaja (meninggalkan basmalah) menjadi haram, seperti orang bisu. Dan karena sesuatu yang tidak menjadi syarat dalam dzikir pada akhir (penyembelihan), maka tidak pula menjadi syarat pada permulaannya, seperti thahārah secara konsisten dan shalat secara kebalikannya. Dan karena sesuatu yang tidak menjadi syarat dalam dzakāh ketika lupa, maka tidak pula menjadi syarat ketika ingat, seperti shalawat atas Nabi. Dan karena ikan dihalalkan meskipun penyembelihnya meninggalkan basmalah, sebagaimana buruan menjadi halal dengan penyembelihannya. Maka ketika basmalah tidak menjadi syarat dalam kehalalan ikan, maka tidak pula menjadi syarat dalam kehalalan selainnya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أنه حَقِيقَة الذِّكْرِ بِالْقَلْبِ لِأَنَّ ضِدَّهُ النِّسْيَانُ الْمُضَافُ إِلَى الْقَلْبِ فَيَكُونُ مَحْمُولًا عَلَى مَنْ لَمْ يُوَحِّدِ اللَّهَ مِنْ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud adalah hakikat dzikir dengan hati, karena lawannya adalah lupa yang disandarkan kepada hati, sehingga maknanya diarahkan kepada orang yang tidak mentauhidkan Allah dari kalangan para penyembah berhala.

أَلَا تَرَى إِلَى قَوْله تَعَالَى وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَالْمُشْرِكُونَ هُمْ أَوْلِيَاءُ الشَّيَاطِينِ دُونَ الْمُسْلِمِينَ

Tidakkah kamu memperhatikan firman Allah Ta‘ala: “Dan sungguh, setan-setan itu membisikkan kepada para wali mereka agar mereka membantah kalian.” Dan orang-orang musyrik itu adalah para wali setan, bukan kaum muslimin.

وَالثَّانِي مَحْمُولٌ عَلَى الْمَيْتَةِ لِأَمْرَيْنِ

Dan yang kedua ditafsirkan sebagai bangkai karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا قَوْله تَعَالَى وَإنَّهُ لِفِسْقٌ وَذَكَاةُ مَا لَمْ يُسَمَّ عَلَيْهِ لَا تَكُونُ فِسْقًا

Salah satunya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan sesungguhnya itu benar-benar kefasikan,” sedangkan penyembelihan terhadap hewan yang tidak disebut nama Allah atasnya tidaklah menjadi kefasikan.

وَالثَّانِي أَنَّ قَوْمًا مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ تَأْكُلُونَ مَا قَتَلْتُمُوهُ وَلَا تَأْكُلُونَ مَا قَتَلَهُ اللَّهُ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ

Yang kedua, bahwa sekelompok kaum musyrik berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Kalian memakan apa yang kalian sembelih sendiri, tetapi kalian tidak memakan apa yang Allah matikan?” Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat ini.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ نُطْقَ الْخَبَرِ إِبَاحَةُ الْأَكْلِ مَعَ التَّسْمِيَةِ وَدَلِيلُ خِطَابِهِ مَتْرُوكٌ عِنْدَنَا بِدَلِيلٍ وَمَتْرُوكٌ عِنْدَهُ بِغَيْرِ دَلِيلٍ لِأَنَّهُ لَا يَجْعَلُ إِثْبَاتَ الشَّيْءِ دَلِيلًا عَلَى نَفْيِ مَا عَدَاهُ

Salah satunya adalah bahwa lafaz khabar menunjukkan kebolehan makan dengan menyebut nama Allah, dan dalil khithabnya ditinggalkan menurut kami karena ada dalil, serta ditinggalkan menurut dia tanpa dalil, karena dia tidak menjadikan penetapan sesuatu sebagai dalil untuk menafikan selainnya.

وَالثَّانِي إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ بِدَلِيلِ مَا ذَكَرْنَاهُ

Yang kedua, sesungguhnya hal itu dimaknai sebagai anjuran (mustahabb), berdasarkan dalil yang telah kami sebutkan.

وَالْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلَّ بِهِ مِنْ ذَكَاةِ الْمَجُوسِيِّ وَالْوَثَنِيِّ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ التَّسْمِيَةِ وَهُوَ أَنَّهُ لَيْسَ لِهَذَا الْمَعْنَى حَرَّمَ ذَكَاتَهُ وَلَكِنْ لِتَغْلِيظِ كُفْرِهِ وَلِذَلِكَ حَرُمَتْ مُنَاكَحَتُهُ وَإِنْ لَمْ تَكُنِ التَّسْمِيَةُ شَرْطًا فِي النِّكَاحِ

Jawaban terhadap dalil yang digunakan mengenai penyembelihan orang Majusi dan penyembah berhala adalah karena mereka bukan termasuk ahli tasmiyah (orang yang menyebut nama Allah saat menyembelih), dan sesungguhnya bukan karena alasan ini penyembelihan mereka diharamkan, melainkan karena kekafiran mereka yang sangat berat. Oleh sebab itu, pernikahan dengan mereka juga diharamkan, meskipun tasmiyah (penyebutan nama Allah) bukanlah syarat dalam pernikahan.

وَأَمَّا صَيْدُ السَّمَكِ فَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ فِعْلٌ آدَمِيٌّ وَذَلِكَ حَلَّ إِذَا مَاتَ بِغَيْرِ سَبَبٍ وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ إِذَا كَانَ بِسَبَبٍ فَلِذَلِكَ حَكَمَ على عموم الأحوال

Adapun menangkap ikan, maka tidak disyaratkan adanya perbuatan manusia di dalamnya, sehingga ikan itu halal meskipun mati tanpa sebab. Menurut Abu Hanifah, jika kematiannya disebabkan oleh suatu sebab, maka hukum ini berlaku secara umum dalam segala keadaan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ أَرْسَلَ مسلمٌ ومجوسيٌّ كَلْبَيْنِ مُتَفَرِّقَيْنِ أَوْ طَائِرَيْنِ أَوْ سَهْمَيْنِ فَقَتَلَا فَلَا يُؤْكَلُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seorang Muslim dan seorang Majusi melepaskan dua anjing secara terpisah, atau dua burung, atau dua anak panah, lalu keduanya membunuh (hewan buruan), maka tidak boleh dimakan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الصَّيْدَ إِذَا أُدْرِكَ حَيًّا فَالِاعْتِبَارُ فِي إِبَاحَتِهِ بِذَابِحِهِ دُونَ صَائِدِهِ فَإِنْ صَادَهُ مَجُوسِيٌّ وَذَبَحَهُ مُسْلِمٌ حَلَّ وَلَوْ صَادَهُ مُسْلِمٌ وَذَبَحَهُ مَجُوسِيٌّ حَرُمَ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa apabila hewan buruan didapati masih hidup, maka yang menjadi pertimbangan dalam kehalalannya adalah orang yang menyembelihnya, bukan orang yang memburunya. Jika yang memburunya adalah seorang Majusi dan yang menyembelihnya adalah seorang Muslim, maka hewan itu halal. Namun jika yang memburunya adalah seorang Muslim dan yang menyembelihnya adalah seorang Majusi, maka hewan itu haram.

فَأَمَّا إِذَا أُدْرِكَ الصَّيْدُ مَيْتًا فَالِاعْتِبَارُ فِي إِبَاحَتِهِ بِصَائِدِهِ دُونَ مَالِكِ الْآلَةِ فَإِنْ أَرْسَلَ مُسْلِمٌ كَلْبَ مَجُوسِيٍّ فَصَادَ كَانَ صَيْدُهُ حَلَالًا لِأَنَّهُ صَيْدُ مُسْلِمٍ وَلَوْ أَرْسَلَ مَجُوسِيٌّ كَلْبَ مُسْلِمٍ كَانَ صَيْدُهُ حَرَامًا لِأَنَّهُ صَيْدٌ مَجُوسِيٌّ

Adapun jika hewan buruan didapati telah mati, maka yang menjadi tolok ukur dalam kehalalannya adalah pemburunya, bukan pemilik alat (anjing pemburu). Jika seorang Muslim melepaskan anjing milik seorang Majusi lalu anjing itu berhasil memburu, maka hasil buruannya halal karena itu adalah buruan seorang Muslim. Namun jika seorang Majusi melepaskan anjing milik seorang Muslim lalu anjing itu berhasil memburu, maka hasil buruannya haram karena itu adalah buruan seorang Majusi.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ الِاعْتِبَارُ بِمَالِكِ الْكَلْبِ دُونَ مُرْسِلِهِ فَيَحِلُّ مَا صَادَهُ الْمَجُوسِيُّ بِكَلْبِ الْمُسْلِمِ وَيَحْرُمُ مَا صَادَهُ الْمُسْلِمُ بِكَلْبِ الْمَجُوسِيِّ وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلٍ تَفَرَّدَ بِهِ أَنَّ الْكَلْبَ لَوْ تَفَرَّدَ بِالِاسْتِرْسَالِ مِنْ غَيْرِ إِرْسَالٍ حَلَّ صَيْدُهُ وَهَذَا فَاسِدُ الْأَصْلِ لِمُخَالَفَةِ النَّصِّ

Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata, “Yang menjadi acuan adalah kepemilikan anjing, bukan orang yang melepaskannya. Maka, halal hasil buruan yang diburu oleh orang Majusi dengan anjing milik seorang Muslim, dan haram hasil buruan yang diburu oleh seorang Muslim dengan anjing milik orang Majusi.” Ia membangun pendapat ini di atas satu prinsip yang ia khususkan sendiri, yaitu bahwa jika anjing berburu sendiri tanpa dilepas (oleh pemiliknya), maka hasil buruannya halal. Namun, prinsip ini rusak karena bertentangan dengan nash.

وَحكي فِي التَّفْرِيعِ لأن الْإِرْسَالَ قَدْ رَفَعَ حُكْمَ الِاسْتِرْسَالِ وَكَذَلِكَ لَوْ رَمَى مُسْلِمٌ بِسَهْمِ مَجُوسِيٍّ عِنْدَ قَوْسِهِ حَلَّ وَعَكْسُهُ الْمَجُوسِيُّ لِأَنَّ الِاعْتِبَارَ بِالصَّائِدِ لَا بِالْآلَةِ وَلِهَذَا إِذَا كَانَتِ الْآلَةُ مَغْصُوبَةً كَانَ الصَّيْدُ لِلصَّائِدِ دُونَ صَاحِبِ الْآلَةِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الصَّيْدُ لِمَنْ صَادَهُ لَا لِمَنْ أَثَارَهُ

Disebutkan dalam at-Tafri‘ bahwa tindakan melepaskan (alat) telah menghapuskan hukum membiarkan (hewan buruan), demikian pula jika seorang Muslim melepaskan anak panah milik seorang Majusi dari busurnya, maka hukumnya halal, dan sebaliknya jika seorang Majusi yang melakukannya, karena yang menjadi pertimbangan adalah pelaku perburuan, bukan alatnya. Oleh karena itu, jika alat yang digunakan adalah barang rampasan, maka hasil buruan menjadi milik pemburu, bukan milik pemilik alat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Hasil buruan adalah milik orang yang memburunya, bukan milik orang yang mengusirnya.”

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَصُورَةُ مَسْأَلَتِنَا أَنْ يَجْتَمِعَ مُسْلِمٌ وَمَجُوسِيٌّ عَلَى صَيْدٍ يُرْسِلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَلْبَهُ عَلَيْهِ أَوْ يُرْسِلُ أَحَدُهُمَا عَلَيْهِ كَلْبًا وَالْآخَرُ فَهْدًا أَوْ بَازِيًا أَوْ سَهْمًا سَوَاءٌ تَمَاثَلَا فِي آلَةِ الِاصْطِيَادِ أَوِ اخْتَلَفَا فَإِنَّ الْحُكْمَ فِيهِمَا سَوَاءٌ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُرْسِلَيْنِ فِي الصَّيْدِ مِنْ سَبْعَةِ أَقْسَامٍ

Setelah penjelasan ini dipahami, maka gambaran masalah kita adalah: seorang Muslim dan seorang Majusi bersama-sama berburu, masing-masing melepaskan anjingnya pada buruan tersebut, atau salah satu dari mereka melepaskan anjing, sedangkan yang lain melepaskan macan tutul, elang, atau panah, baik alat berburu yang mereka gunakan sama maupun berbeda, maka hukumnya tetap sama. Dalam keadaan seperti ini, tidak lepas kondisi kedua orang yang melepaskan hewan buruan itu dari tujuh bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَشْتَرِكَ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ وَكَلْبُ الْمُسْلِمِ عَلَى إِمْسَاكِ الصَّيْدِ وَقَتْلِهِ فَيَكُونَ حَرَامًا لِأَنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ تَحْلِيلٌ بِكَلْبِ الْمُسْلِمِ وَتَحْرِيمٌ بِكَلْبِ الْمَجُوسِيِّ وَاجْتِمَاعُ التَّحْرِيمِ وَالتَّحْلِيلِ فِي الْعَيْنِ الْوَاحِدَةِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ التَّحْرِيمِ عَلَى التَّحْلِيلِ كَالْأَمَةِ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ يَحْرُمُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِصَابَتُهَا لِاجْتِمَاعِ التَّحْلِيلِ فِي حَقِّهِ وَالتَّحْرِيمِ فِي حَقِّ شَرِيكِهِ

Salah satunya adalah apabila anjing milik seorang Majusi dan anjing milik seorang Muslim bersama-sama menangkap dan membunuh hewan buruan, maka hewan tersebut menjadi haram, karena dalam hal ini terdapat unsur halal dari anjing milik Muslim dan unsur haram dari anjing milik Majusi. Berkumpulnya unsur halal dan haram pada satu benda yang sama menyebabkan unsur haram lebih diutamakan daripada unsur halal, sebagaimana budak perempuan yang dimiliki bersama oleh dua orang sekutu, maka haram bagi masing-masing dari mereka untuk menggaulinya, karena berkumpulnya unsur halal bagi dirinya dan unsur haram bagi sekutunya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَشْتَرِكَا فِي إِمْسَاكِهِ ثُمَّ يَمُوتَ مِنْ غَيْرِ اشْتِرَاكٍ فِي قَتْلِهِ فَيَحْرُمَ [لِأَنَّ الْإِمْسَاكَ صَارَ قَتْلًا فَصَارَ كَاشْتِرَاكِهِمَا فِي قَتْلِهِ

Bagian kedua adalah apabila keduanya bersama-sama memegangnya, kemudian ia mati tanpa keduanya bersama-sama membunuhnya, maka itu menjadi haram, karena memegangnya telah dianggap sebagai pembunuhan, sehingga hukumnya seperti keduanya bersama-sama membunuhnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَشْتَرِكَا فِي جِرَاحِهِ مِنْ غَيْرِ إِمْسَاكٍ فَيَحْرُمُ لِأَنَّهُمَا قَاتِلَاهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ كَلْبُ الْمُسْلِمِ قَدِ ابْتَدَأَ بِجِرَاحِهِ فَوَجَأهُ بِقَطْعِ حُلْقُومِهِ أَوْ إِخْرَاجِ حَشْوَتِهِ ثُمَّ أَدْرَكَهُ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ مُضْطَرِبًا فَجَرَحَهُ فَيَحِلُّ بِتَوْجِيَةِ كَلْبِ الْمُسْلِمِ وَلَا يَحْرُمُ لِمَا تَعَقَّبَهُ مِنْ جِرَاحِ كَلْبِ الْمَجُوسِيِّ كَالشَّاةِ الْمَذْبُوحَةِ إِذَا أَكَلَ مِنْهَا سَبُعٌ لَمْ تَحْرُمْ وَإِنْ كَانَتْ بَاقِيَةَ الْحَرَكَةِ

Bagian ketiga adalah apabila kedua anjing itu sama-sama melukai (hewan buruan) tanpa ada penahanan, maka hukumnya haram karena keduanya adalah pembunuhnya. Kecuali jika anjing milik Muslim telah lebih dahulu melukai dengan melukai tenggorokannya atau mengeluarkan isi perutnya, kemudian anjing Majusi datang ketika hewan itu sudah sekarat lalu melukainya, maka hukumnya halal karena hewan itu telah diarahkan (untuk diburu) oleh anjing Muslim, dan tidak menjadi haram karena luka yang kemudian disebabkan oleh anjing Majusi, seperti kambing yang telah disembelih lalu dimakan oleh binatang buas, maka tidak menjadi haram meskipun kambing itu masih bergerak.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يَشْتَرِكَا فِي إِمْسَاكِهِ وَيَنْفَرِدَ أَحَدُهُمَا بِقَتْلِهِ فَيَحْرُمَ سَوَاءٌ انْفَرَدَ بِقَتْلِهِ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ أَوْ كَلْبُ الْمُسْلِمِ لِحُدُوثِ الْقَتْلِ عَنِ الْإِمْسَاكِ الْمُشْتَرَكِ

Bagian keempat adalah apabila keduanya bersama-sama dalam menangkap hewan tersebut, namun salah satu dari mereka saja yang membunuhnya, maka hewan itu menjadi haram, baik yang membunuhnya adalah anjing milik orang Majusi maupun anjing milik orang Muslim, karena terjadinya pembunuhan berasal dari penangkapan yang dilakukan bersama.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ يَنْفَرِدَ أَحَدُهُمَا بِإِمْسَاكِهِ وَيَشْتَرِكَا فِي قَتْلِهِ فَيَحْرُمَ سَوَاءٌ انْفَرَدَ بِإِمْسَاكِهِ كَلْبُ الْمُسْلِمِ أَوْ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ لِأَنَّ قَتْلَهُ مُشْتَرَكٌ

Bagian kelima adalah apabila salah satu dari keduanya sendiri yang menangkap hewan buruan, namun keduanya bersama-sama dalam membunuhnya, maka hewan itu haram, baik yang menangkapnya adalah anjing milik seorang Muslim maupun anjing milik seorang Majusi, karena pembunuhan hewan itu dilakukan secara bersama-sama.

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ أَنْ يَنْفَرِدَ أَحَدُهُمَا بِإِمْسَاكِهِ وَيَنْفَرِدَ الْآخَرُ بِقَتْلِهِ فَيَحْرُمَ سَوَاءٌ قَتَلَهُ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ أَوْ كَلْبُ الْمُسْلِمِ لِأَنَّهُ إِنْ أَمْسَكَهُ كَلْبُ الْمُسْلِمِ وَقَتَلَهُ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ حَرُمَ لِأَنَّهُ قَتَلَهُ كَلْبُ مَجُوسِيٍّ وَإِنْ أَمْسَكَهُ طلب الْمَجُوسِيِّ وَقَتَلَهُ كَلْبُ الْمُسْلِمِ حَرُمَ لِأَنَّهُ بِإِمْسَاكِ كَلْبِ الْمَجُوسِيِّ لَهُ قَدْ صَارَ مَقْدُورًا عَلَى ذَكَاتِهِ فَلَمْ يَحِلَّ بِقَتْلِ كَلْبِ الْمُسْلِمِ لَهُ فَاسْتَوَيَا فِي التَّحْرِيمِ وَاخْتَلَفَا فِي التَّحْلِيلِ

Bagian keenam adalah apabila salah satu dari keduanya (anjing) menangkap hewan buruan itu sendiri, dan yang lainnya membunuhnya sendiri, maka hewan buruan itu menjadi haram, baik yang membunuhnya adalah anjing milik orang Majusi maupun anjing milik orang Muslim. Sebab, jika yang menangkapnya adalah anjing milik orang Muslim dan yang membunuhnya adalah anjing milik orang Majusi, maka hewan itu haram karena dibunuh oleh anjing Majusi. Dan jika yang menangkapnya adalah anjing milik orang Majusi dan yang membunuhnya adalah anjing milik orang Muslim, maka hewan itu juga haram, karena dengan penangkapan oleh anjing Majusi, hewan itu sudah menjadi dalam kekuasaan untuk disembelih secara syar‘i, sehingga tidak menjadi halal dengan dibunuh oleh anjing Muslim. Maka keduanya sama dalam keharaman, namun berbeda dalam kehalalan.

وَالْقِسْمُ السَّابِعُ أَنْ يَنْفَرِدَ أَحَدُهُمَا بِالْإِمْسَاكِ وَالْقَتْلِ دُونَ الْآخَرِ فَيُنْظَرُ فَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ حَرُمَ وَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ كَلْبُ الْمُسْلِمِ حَلَّ سَوَاءٌ أَثَّرَ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ فِي إِعْيَائِهِ وَرَدِّهِ أَوْ لَمْ يُؤَثِّرْ

Bagian ketujuh adalah apabila salah satu dari keduanya saja yang melakukan penangkapan dan pembunuhan tanpa yang lain. Maka diperhatikan, jika yang melakukannya secara sendiri adalah anjing milik orang Majusi, maka hukumnya haram. Namun jika yang melakukannya secara sendiri adalah anjing milik seorang Muslim, maka hukumnya halal, baik anjing Majusi tersebut berpengaruh dalam melelahkan dan mengembalikan hewan buruan itu atau tidak berpengaruh.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ أَثَّرَ كَلْبُ الْمَجُوسِيِّ فِي إِعْيَائِهِ وَرَدِّهِ حَرُمَ كَمَا لَوْ أَمْسَكَهُ لِتَأْثِيرِ الْأَمْرَيْنِ فِيهِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ الْإِمْسَاكَ مُبَاشَرَةٌ تُخَالِفُ حُكْمَ مَا عَدَاهَا أَلَا تَرَى أَنَّ الصَّيْدَ لَوْ مَاتَ بِالْإِعْيَاءِ فِي طَلَبِ الْكَلْبِ حَرُمَ وَلَوْ مَاتَ بِإِمْسَاكِهِ حَلَّ وَلَوْ طَلَبَهُ مُحْرِمَانِ فَأَعْيَاهُ أَحَدُهُمَا وَأَمْسَكَ الْآخَرُ فَمَاتَ كَانَ جَزَاؤُهُ عَلَى الْمُمْسِكِ دُونَ الْمُعْيِي فَدَلَّ عَلَى افْتِرَاقِ الْحُكْمَيْنِ

Abu Hanifah berkata: Jika anjing milik orang Majusi menyebabkan kelelahan pada buruan dan mengembalikannya, maka hukumnya haram, sebagaimana jika ia menangkapnya, karena kedua hal tersebut sama-sama berpengaruh. Namun, pendapat ini keliru, karena menangkap adalah tindakan langsung yang berbeda hukumnya dengan selainnya. Tidakkah engkau melihat bahwa jika buruan mati karena kelelahan saat dikejar anjing, maka hukumnya haram, sedangkan jika mati karena ditangkap, maka hukumnya halal? Dan jika dua orang yang sedang ihram memburu, lalu salah satunya membuat buruan itu lelah dan yang lain menangkapnya hingga mati, maka denda hanya berlaku atas yang menangkap, bukan yang membuat lelah. Ini menunjukkan perbedaan antara kedua hukum tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

وَعَلَى هَذَا التَّقْسِيمِ لَوْ كَانَ لِمُسْلِمٍ كَلْبَانِ أَحَدُهُمَا مُعَلَّمٌ وَالْآخَرُ غَيْرُ مُعَلَّمٍ فَأَرْسَلَهُمَا عَلَى صَيْدٍ كَانَ كَاجْتِمَاعِ كَلْبِ الْمَجُوسِيِّ وَكَلْبِ الْمُسْلِمِ عَلَى صَيْدٍ لِأَنَّ مَا صَادَهُ غَيْرُ الْمُعَلَّمِ فِي التَّحْرِيمِ كَالَّذِي صَادَهُ الْكَلْبُ الْمَجُوسِيّ وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ لِمُسْلِمٍ كَلْبَانِ مُعَلَّمَانِ فَأَرْسَلَ أَحَدَهُمَا وَاسْتَرْسَلَ الْآخَرَ كَانَ عَلَى هَذَا التَّقْسِيمِ فِي الْجَوَابِ لِأَنَّ صَيْدَ الْمُرْسَلِ حَلَالٌ وَصَيْدَ الْمُسْتَرْسِلِ حَرَامٌ

Berdasarkan pembagian ini, jika seorang Muslim memiliki dua anjing, salah satunya terlatih dan yang lainnya tidak terlatih, lalu ia melepaskan keduanya untuk berburu, maka hukumnya seperti berkumpulnya anjing milik orang Majusi dan anjing milik Muslim terhadap buruan. Sebab, hasil buruan yang didapatkan oleh anjing yang tidak terlatih dalam hal keharaman sama seperti hasil buruan yang didapatkan oleh anjing milik orang Majusi. Demikian pula, jika seorang Muslim memiliki dua anjing yang keduanya terlatih, lalu ia melepaskan salah satunya dan yang lainnya ikut menyusul dengan sendirinya, maka menurut pembagian ini dalam menjawabnya adalah hasil buruan dari anjing yang dilepaskan itu halal, sedangkan hasil buruan dari anjing yang ikut menyusul dengan sendirinya itu haram.

وَلَوْ أُشْكِلُ حُكْمُ الصَّيْدِ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا هَلْ هُوَ مُبَاحٌ لِإِبَاحَةِ نَفْسِهِ؟ أوجَبَ حَمْلُهُ عَلَى التَّحْرِيمِ دُونَ التَّحْلِيلِ لِأَنَّ الأصل في فوات الروح لحظر حَتَّى يُعْلَمَ بِهِ الْإِبَاحَةُ فَإِنْ أَدْرَكَ هَذَا الصَّيْدَ بِشَكٍّ أَوْ يَقِينٍ وَفِيهِ حَيَاةٌ فَذَبَحَ نُظِرَ فِي الْحَيَاةِ الَّتِي كَانَتْ فِيهِ فَإِنْ كَانَتْ قَوِيَّةً يَعِيشُ مَعَهَا الْيَوْمَ وَالْيَوْمَيْنِ حَلَّ أَكْلُهُ بِهَذَا الذَّبْحِ وَصَارَ مُذَكًّى وَإِنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ ضَعِيفَةً كَاضْطِرَابِ الْمَذْبُوحِ لَا يَبْقَى مَعَهَا زَمَانًا مُؤَثِّرًا لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ بِذَبْحِهِ وَكَانَ عَلَى تَحْرِيمِهِ

Jika hukum berburu dalam seluruh keadaan ini masih samar, apakah ia dibolehkan karena zatnya sendiri yang mubah? Maka wajib untuk memahaminya sebagai haram, bukan halal, karena asal dalam hilangnya nyawa adalah terlarang sampai ada dalil yang membolehkan. Jika seseorang mendapatkan hewan buruan itu dalam keadaan ragu atau yakin, dan di dalamnya masih terdapat kehidupan, lalu ia menyembelihnya, maka dilihat pada kehidupan yang masih ada padanya. Jika kehidupannya kuat, sehingga hewan itu bisa hidup sehari atau dua hari, maka halal memakannya dengan penyembelihan tersebut dan ia menjadi hewan yang telah dizakati (disembelih secara syar‘i). Namun jika kehidupannya lemah, seperti gerakan hewan yang telah disembelih yang tidak dapat bertahan lama, maka tidak halal memakannya dengan penyembelihan itu dan tetap pada keharamannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وَإِذَا رَمَى أَوْ أَرْسَلَ كَلْبَهُ عَلَى الصَّيْدِ فَوَجَدَهُ قَتِيلًا فَالْخَبَرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَالْقِيَاسُ أَنْ لَا يَأْكُلَهُ لِأَنَّهُ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ قتله غيره وقال ابْنُ عَبَّاسٍ كُلْ مَا أَصْمَيْتَ وَدَعْ مَا أنميت وما أصميت وأنت تراه وما أنميت ما غاب عنك فقتله إلا أن يبلغ منه مبلغ الذبح فلا يضره ما حدث بعده

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang melempar atau melepaskan anjingnya untuk berburu, lalu ia mendapati buruannya telah mati, maka menurut riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan berdasarkan qiyās, ia tidak boleh memakannya, karena mungkin saja yang membunuhnya adalah selain anjing tersebut. Ibnu ‘Abbas berkata: “Makanlah apa yang kamu bunuh dengan lemparanmu (yang jelas membunuh), dan tinggalkanlah apa yang kamu bunuh dengan lemparan yang tidak jelas. Yang dimaksud dengan ‘as-maita’ adalah apa yang kamu bunuh dan kamu melihatnya, sedangkan ‘an-maita’ adalah apa yang kamu bunuh tetapi tidak kamu lihat, kecuali jika kematiannya sudah mencapai batas penyembelihan, maka tidak membahayakan apa yang terjadi setelah itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَرْمِيَ صَيْدًا بِسَهْمٍ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْهِ كَلْبًا فَيَغِيبَ الصَّيْدُ عَنْهُ ثُمَّ يَجِدُهُ مَيْتًا فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Bentuk permasalahannya adalah seseorang melempar binatang buruan dengan anak panah atau melepaskan anjing pemburu untuk mengejarnya, lalu binatang buruan itu menghilang dari pandangannya, kemudian ia menemukannya dalam keadaan mati. Kasus ini terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ السَّهْمُ أَوِ الْكَلْبُ قَبْلَ مَغِيبِ الصَّيْدِ قَدْ بَلَغَ مِنْهُ مَبْلَغَ الذَّبْحِ وَهُوَ يَرَاهُ ثُمَّ تَحَامَلَ الصَّيْدُ بِضَعْفِ الْحَيَاةِ حَتَّى غَابَ عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ مَيْتًا فَهَذَا مَأْكُولٌ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مُذَكًّى عِنْدَ مُشَاهَدَتِهِ فَلَمْ يُحَرَّمْ مَا حَدَثَ بَعْدَهُ

Salah satunya adalah apabila anak panah atau anjing sebelum buruan itu menghilang dari pandangan telah mengenai buruan tersebut hingga mencapai batas penyembelihan, sementara ia melihatnya. Kemudian buruan itu bergerak karena sisa-sisa kehidupan hingga menghilang dari pandangannya, lalu ia menemukannya telah mati. Maka buruan itu halal dimakan, karena pada saat ia melihatnya, buruan itu telah menjadi mudzakkā, sehingga apa yang terjadi setelahnya tidak menjadikannya haram.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَغِيبَ الصَّيْدُ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ فِيهِ السَّهْمُ وَقَبْلَ أَنْ يَجْرَحَهُ الْكَلْبُ ثُمَّ يَجِدُهُ بَعْدَ غَيْبَتِهِ مَجْرُوحًا مَيْتًا فَهُوَ حَرَامٌ لَا يؤكل سواء كان السهم واقعاً فيه والكلب وَاقِعًا عَلَيْهِ أَوْ لَا لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُشَارِكَ عَقْرَ الْكَلْبِ فِي قَتْلِهِ جِرَاحَةُ سبع أو لسعة أفعى ويغرب فِيهِ سَهْمُ إِنْسَانٍ آخَرَ فَلَمَّا احْتَمَلَ هَذَا وَغَيْرَهُ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَنَّهُ عَلَى أَصْلِ الْحَظْرِ

Bagian kedua adalah apabila hewan buruan itu menghilang sebelum anak panah mengenainya dan sebelum anjing melukainya, kemudian setelah menghilang itu ia ditemukan dalam keadaan terluka dan mati, maka hewan itu haram dan tidak boleh dimakan, baik anak panah telah mengenainya dan anjing telah menerkamnya atau tidak. Sebab, bisa jadi dalam membunuhnya, luka dari anjing itu bercampur dengan luka dari binatang buas lain atau sengatan ular, atau mungkin juga terkena anak panah orang lain. Karena kemungkinan-kemungkinan seperti ini dan lainnya, maka wajib hukumnya hewan itu menjadi haram, karena kembali kepada hukum asal larangan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ السَّهْمُ وَيَجْرَحَهُ الْكَلْبُ وَهُوَ يَرَاهُ وَيَغِيبَ عَنْهُ وَهُوَ قَوِيُّ الْحَيَاةِ ثُمَّ يَجِدُهُ مَيْتًا فَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ

Bagian ketiga adalah apabila hewan buruan terkena panah dan anjing melukainya sementara pemburu melihatnya, lalu hewan itu menghilang dari pandangannya dalam keadaan masih kuat hidupnya, kemudian ia menemukannya sudah mati; inilah permasalahan yang dibahas dalam kitab.

وَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَنَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ لَا يُؤْكَلُ لِلْخَبَرِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَالْقِيَاسِ

Pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dan dinukil oleh al-Muzani adalah bahwa hal itu tidak boleh dimakan, berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas dan qiyās.

وَقَالَ فِي كِتَابِ الْأُمِّ لَا يُؤْكَلُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَدْ وَرَدَ فِيهِ خَبَرٌ فَيُسْقِطُ حُكْمًا خَالَفَهُ وَلَا يَقُومُ لَهُ رَأْيٌ وَلَا قِيَاسٌ وَقَدْ وَرَدَ فِيهِ خَبَرٌ وَهُوَ مَا رُوِيَ أَنَّ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ قال يا رسول الله إني أرمي الصيد وَأَجِدُهُ مَيْتًا فَقَالَ كُلْهُ مَا لَمْ تَرَ فِيهِ أَثَرَ غَيْرِكَ وَرُوِيَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهَ إِنِّي أَرْمِي الصَّيْدَ فَأَقْتَفِي أَثَرَهُ الْيَوْمَ وَالثَّلَاثَةَ وَأَجِدُهُ مَيْتًا فَقَالَ كُلْهُ مَا لَمْ يَنْتُنْ وَرُوِيَ مَا لَمْ يَصِلَّ أَيْ لَمْ يَتَغَيَّرْ وَهَذَانِ الْخَبَرَانِ قَدْ وَرَدَا مِنْ طَرِيقٍ ضَعِيفٍ فَإِنْ لَمْ يَصِحَّ وَاحِدٌ مِنْهُمَا وَالْحُكْمُ فِيهِ مَا نَصَّ عَلَيْهِ أَنَّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ وَإِنْ صَحَّ هَذَانِ الْخَبَرَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا فَهُوَ مَأْكُولٌ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّتِهِ فَذَهَبَ أَكْثَرُ الْبَصْرِيِّينَ إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ وَلَا ثَابِتٍ وَأَنَّ الْمَسْأَلَةَ عَلَى قَوْلٍ وَاحِدٍ أَنَّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ

Dan ia berkata dalam kitab al-Umm: “Tidak boleh dimakan kecuali jika ada hadis yang menyatakannya, sehingga menggugurkan hukum yang bertentangan dengannya, dan tidak ada pendapat maupun qiyās yang dapat menandinginya. Telah datang hadis tentang hal ini, yaitu riwayat bahwa Abu Tsa‘labah al-Khusyani berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku memburu hewan dan mendapatkannya sudah mati.’ Maka beliau bersabda: ‘Makanlah selama engkau tidak melihat ada bekas selain bekasmu.’ Dan diriwayatkan bahwa ‘Adi bin Hatim berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku memburu hewan, lalu aku menelusuri jejaknya sehari atau tiga hari, dan aku mendapatkannya sudah mati.’ Maka beliau bersabda: ‘Makanlah selama belum busuk.’ Dan diriwayatkan pula: ‘Selama belum berubah (yakni belum berubah kondisinya).’ Kedua hadis ini datang dari jalur yang lemah. Jika tidak ada satu pun yang sahih, maka hukumnya sebagaimana yang telah dinyatakan, yaitu tidak boleh dimakan. Namun jika kedua hadis ini atau salah satunya sahih, maka hewan itu boleh dimakan. Para sahabat kami berbeda pendapat tentang kesahihannya; kebanyakan ulama Basrah berpendapat bahwa hadis tersebut tidak sahih dan tidak tetap, serta masalah ini hanya memiliki satu pendapat, yaitu tidak boleh dimakan.”

وَذَهَبَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَأَكْثَرُ الْبَغْدَادِيِّينَ إِلَى أَنَّهُ قَدْ صَحَّ وَثَبَتَ وَأَنَّ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ قَوْلَيْنِ

Abu al-‘Abbas bin Surayj dan mayoritas ulama Baghdad berpendapat bahwa hal itu telah sah dan tetap, serta dalam kebolehan memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَنْصُوصٌ عَلَيْهِ أَنَّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ

Salah satunya, yang secara nash disebutkan, adalah bahwa ia tidak boleh dimakan.

وَالثَّانِي وَهُوَ الْمَوْقُوفُ عَلَى صِحَّتِهِ الْخَبَرُ أَنَّهُ مَأْكُولٌ

Dan yang kedua, yaitu yang tergantung pada keshahihan khabar, adalah bahwa ia dapat dimakan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ مُقِيمًا عَلَى اتِّبَاعِهِ وَطَلَبِهِ حَتَّى وَجَدَهُ مَيْتًا أُكِلَ وَإِنْ تَرَكَهُ وَتَشَاغَلَ عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ مَيْتًا لَمْ يُؤْكَلْ لِأَنَّهُ مَا دَامَ عَلَى طَلَبِهِ يَصِلُ إِلَى ذَكَاتِهِ مَعَ الْقُدْرَةِ وَلَا يَصِلُ إِلَيْهَا مَعَ التَّرْكِ

Abu Hanifah berkata, “Jika seseorang tetap berusaha mengikuti dan mencari hewan buruannya hingga menemukannya dalam keadaan mati, maka hewan itu boleh dimakan. Namun, jika ia meninggalkannya dan menyibukkan diri dengan hal lain, lalu kemudian menemukannya dalam keadaan mati, maka hewan itu tidak boleh dimakan. Sebab, selama ia terus mencarinya, ia masih mungkin melakukan penyembelihan (dzakat) terhadapnya jika mampu, sedangkan jika ia meninggalkannya, ia tidak akan bisa melakukan penyembelihan itu.”

وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ وَجَدَهُ فِي يَوْمِهِ أُكِلَ وَإِنْ وَجَدَهُ بَعْدَ انْقِضَاءِ يَوْمِهِ لَمْ يُؤْكَلْ وَفِيمَا نَكْرَهُ مِنْ تَوْجِيهِ الْقَوْلَيْنِ دَلِيلٌ عَلَيْهِمَا فِي مُخَالَفَةِ الْقَوْلَيْنِ فَإِذَا قُلْنَا بِالْأَوَّلِ إِنَّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ وَهُوَ الْأَظْهَرُ فَوَجْهُهُ مَا رَوَاهُ عِكْرِمَةُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَهُ إِنِّي أَرْمِي فَأُصْمِي وَأُنْمِي فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلْ مَا أَصْمَيْتَ وَدَعْ مَا أَنْمَيْتَ يُرِيدُ بِمَا أَصْمَى مَا قَتَلَهُ وَهُوَ يَرَاهُ وَبِمَا أَنْمَى مَا غَابَ عَنْهُ فَلَمْ يَرَهُ حَتَّى نَمَى إِلَيْهِ خَبَرُ مَوْتِهِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا احْتَمَلَ مَعَ الْغَيْبَةِ أَنْ يَكُونَ مَوْتُهُ مِنْ عَقْرِهِ فَيَحِلَّ وَأَنْ يَكُونَ بِغَيْرِهِ مِنَ الْأَسْبَابِ فَيَحْرُمَ وَجَبَ أَنْ يُغَلَّبَ حُكْمُ التَّحْرِيمِ

Malik berkata, “Jika ia menemukannya pada hari itu juga, maka boleh dimakan. Namun jika ia menemukannya setelah hari itu berlalu, maka tidak boleh dimakan.” Dalam hal yang kami anggap makruh dari penjelasan dua pendapat tersebut, terdapat dalil bagi keduanya dalam perbedaan dua pendapat itu. Maka jika kita berpendapat dengan pendapat pertama, bahwa hewan itu tidak boleh dimakan—dan ini yang lebih kuat—alasannya adalah riwayat dari ‘Ikrimah bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu ‘Abbas dan berkata kepadanya, “Aku berburu, lalu aku mengenai sasaran dan terkadang tidak mengenai sasaran.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya, “Makanlah apa yang kamu bunuh secara langsung dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu lihat kematiannya.” Maksud dari “apa yang kamu bunuh secara langsung” adalah apa yang ia bunuh dan ia melihatnya, sedangkan “apa yang tidak kamu lihat kematiannya” adalah apa yang tidak ia lihat hingga sampai kepadanya kabar kematiannya. Karena ketika ada kemungkinan, dengan tidak melihat langsung, bahwa kematiannya bisa jadi karena luka dari senjatanya sehingga halal, dan bisa jadi karena sebab lain sehingga haram, maka wajib didahulukan hukum keharaman.

وَإِذَا قُلْنَا فِي الثَّانِي إِنَّهُ مَأْكُولٌ فَوِجْهَتُهُ مَعَ الْخِبْرَيْنِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَرَّ بِالرَّوْحَاءِ فَإِذَا هُوَ بِحِمَارٍ وَحْشِيٍّ عَقِيرٍ فِيهِ سهمٌ قَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ دَعُوهُ حَتَّى يَأْتِيَ صَاحِبُهُ فَجَاءَ رجلٌ مِنْ فِهْرٍ فَقَالَ هِيَ رَمْيَتِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكُلُوهُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَبَا بَكَرٍ أَنْ يُقَسِّمَهُ بَيْنَ الرِّفَاقِ وَهُمْ مُحْرِمُونَ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا غَابَ لَمْ يَحْرُمْ وَلِأَنَّ حُكْمَ عَقْرِهِ بِالسَّهْمِ وَالْكَلْبِ ثَابِتٌ فَلَمْ يَجُزِ الْعُدُولُ عَنْهُ بِتَجْوِيزِ غَيْرِهِ كَمَا لَوْ جَرَحَ حَيَوَانًا فَمَاتَ قَبْلَ انْدِمَالِ جُرْحِهِ كَانَ ضَامِنًا لِقِيمَتِهِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَمُوتَ بِغَيْرِهِ وَكَذَلِكَ لَوْ جَرَحَ إِنْسَانًا فَمَاتَ كَانَ مَأْخُوذًا بِالْقَوَدِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَحْدُثَ بَعْدَ جُرْحِهِ سَبَبٌ يَمُوتُ بِهِ إِثْبَاتًا لِحُكْمِ النَّفْيِ وَإِسْقَاطًا لِحُكْمِ الشَّكِّ كَذَلِكَ حُكْمُ الصَّيْدِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مَنْسُوبًا إِلَى عَقْرِهِ الْمُتَحَقِّقِ دُونَ مَا يَطْرَأُ مِنْ شَكٍّ يَجُوزُ

Dan apabila kita mengatakan pada kasus kedua bahwa hewan itu boleh dimakan, maka alasannya bersama dua ahli adalah apa yang diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melewati daerah Rauha’, lalu beliau mendapati seekor keledai liar yang terluka dan di dalamnya terdapat anak panah, dan hewan itu telah mati. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Biarkanlah sampai pemiliknya datang.” Lalu datanglah seorang laki-laki dari suku Fihr dan berkata, “Itu adalah hasil buruan saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Makanlah.” Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk membagikannya di antara para sahabat yang sedang berihram. Ini menunjukkan bahwa hewan buruan yang tidak disaksikan matinya tidak menjadi haram. Karena hukum hewan yang terluka dengan anak panah atau anjing tetap berlaku, maka tidak boleh berpaling dari hukum itu dengan membolehkan selainnya, sebagaimana jika seseorang melukai hewan lalu hewan itu mati sebelum lukanya sembuh, maka ia wajib mengganti nilainya, meskipun mungkin saja hewan itu mati karena sebab lain. Demikian pula jika seseorang melukai manusia lalu orang itu mati, maka ia dikenakan qishash, meskipun mungkin saja setelah lukanya terjadi sebab lain yang menyebabkan kematian. Hal ini untuk menegakkan hukum penafian dan meniadakan hukum keraguan. Demikian pula hukum hewan buruan, harus dikaitkan dengan luka yang pasti, bukan dengan keraguan yang mungkin terjadi setelahnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وَإِذَا أَدْرَكَ الصَّيْدَ وَلَمْ يَبْلُغْ سِلَاحُهُ أَوْ مُعَلَّمُهُ مَا يَبْلُغُ الذَّبْحُ فَأَمْكَنَهُ أَنْ يَذْبَحَهُ فَلَمْ يَفْعَلْ فَلَا يَأَكُلْ كَانَ مَعَهُ مَا يَذْبَحُ بِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْكَ أَنْ تَذْبَحَهُ وَمَعَكَ مَا تُذَكِّيهِ بِهِ وَلَمْ تُفَرِّطْ حَتَى مَاتَ فَكُلْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Apabila hewan buruan telah tertangkap, namun senjata atau hewan pemburunya yang terlatih tidak mengenai bagian yang biasanya terkena saat penyembelihan, lalu ia mampu untuk menyembelihnya namun tidak melakukannya, maka janganlah ia memakannya, baik ia membawa alat untuk menyembelih maupun tidak. Namun jika engkau tidak mampu untuk menyembelihnya, padahal engkau membawa alat untuk menyembelih, dan engkau tidak lalai hingga hewan itu mati, maka makanlah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini sebagaimana yang telah dikatakan.”

إِذَا رَمَى صَيْدًا فَجَرَحَهُ أَوْ أَرْسَلَ عَلَيْهِ كَلْبَهُ فَعَقَرَهُ وَمَاتَ مِنْ غَيْرِ ذَكَاتِهِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Jika seseorang melempar binatang buruan lalu melukainya, atau melepaskan anjingnya untuk memburunya lalu anjing itu melukainya, kemudian binatang itu mati tanpa disembelih, maka hal ini terbagi menjadi tiga bagian.

أحدها أن يكون العقر قد وحاه وَبَقِيَتْ فِيهِ حَيَاةٌ كَجُرْحِهِ الْمَذْبُوحَ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ السَّهْمُ قَدْ فَرَقَ فِي قَلْبِهِ أَوْ يَكُونَ الْكَلْبُ قَدْ قَطَعَ حُلْقُومَهُ أَوْ أَخْرَجَ حَشْوَتَهُ فَهَذَا حَلَالٌ مَأْكُولٌ وَلَا يَلْزَمُهُ ذَبْحُهُ وَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ لِفَوَاتِ نَفْسِهِ بِذَكَاةِ مِثْلِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لِبَقَاءِ الْحَرَكَةِ تَأْثِيرٌ فِي الْحَيَاةِ كَمَا لَوْ شَقَّ سَبُعٌ بَطْنَ شَاةٍ فَذُبِحَتْ لَمْ تَحِلَّ لِفَوَاتِ الْحَيَاةِ بِغَيْرِ الذَّبْحِ وَإِنْ كَانَتِ الْحَرَكَةُ بَاقِيَةً

Pertama, jika hewan buruan itu telah dilukai sehingga masih ada kehidupan di dalamnya seperti hewan yang terluka namun masih hidup, misalnya anak panah telah menembus jantungnya, atau anjing pemburu telah memutus tenggorokannya, atau mengeluarkan isi perutnya, maka hewan tersebut halal dimakan dan tidak wajib disembelih lagi, meskipun mampu melakukannya, karena nyawanya telah hilang dengan cara yang serupa dengan penyembelihan, atau karena sisa gerakan tidak berpengaruh pada kehidupan. Sebagaimana jika seekor binatang buas membelah perut seekor kambing lalu kambing itu disembelih, maka tidak menjadi halal karena nyawanya telah hilang bukan dengan penyembelihan, meskipun masih ada sisa gerakan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْعَقْرُ قَدْ أَثْبَتَهُ وَلَمْ يُوجِهِ وَمَاتَ قَبْلَ وُصُولِ الرَّامِي أَوِ الْمُرْسَلِ إِلَيْهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian kedua adalah apabila luka telah ditetapkan olehnya namun ia belum menuntut, lalu ia meninggal sebelum si pemanah atau si pelaku sampai kepadanya; maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُفَوِّتَهُ إِدْرَاكَ حَيَاتِهِ تأخره وإبطائه فَهَذَا حَرَامٌ غَيْرُ مَأْكُولٍ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ فِي حُكْمِ الْمَقْدُورِ عَلَى ذَكَاتِهِ لَوْ بَادَرَ إِلَيْهِ

Salah satunya adalah bahwa ia menyebabkan terlewatnya kesempatan menyembelih hewan itu karena keterlambatan dan kelambanannya, maka hal ini hukumnya haram dan tidak boleh dimakan, karena sebenarnya hewan itu masih dalam status mampu untuk disembelih jika ia segera melakukannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَفُوتَهُ إِدْرَاكُ حَيَاتِهِ مَعَ مُبَادَرَتِهِ إِلَيْهِ فَهَذَا حَلَالٌ مَأْكُولٌ لِتَعَذُّرِ الْقُدْرَةِ عَلَى ذَكَاتِهِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مَا يُعْتَبَرُ فِي مُبَادَرَتِهِ إِلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jenis yang kedua adalah jika ia tidak sempat menyembelihnya saat hewan itu masih hidup, meskipun ia telah bersegera melakukannya. Maka hewan itu halal dan boleh dimakan, karena tidak mungkin lagi dilakukan penyembelihan (zakat) terhadapnya. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai apa yang dianggap sebagai bentuk bersegera dalam hal ini, dan terdapat dua pendapat dalam masalah tersebut.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيٍّ بْنِ أَبِي هريرة أَنَّهُ يُعْتَبَرُ صِفَةُ مَشْيِ مِثْلِهِ عَلَى مَأْلُوفِ سَكِينَتِهِ وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ السَّعْيُ كَمَا لَا يُعْتَبَرُ فِي إِدْرَاكِ الْجُمُعَةِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa yang dijadikan pertimbangan adalah cara berjalan orang semisalnya sesuai kebiasaan tenangnya, dan tidak dipertimbangkan adanya usaha bergegas, sebagaimana tidak dipertimbangkan pula dalam mencapai shalat Jumat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يُعْتَبَرُ فِيهِ السَّعْيُ الْمَعْهُودُ فِي طَلَبِ الصَّيْدِ لأنه مخالف لسكينة المشي في عرف أهل فَعَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ لَوْ كَانَ يُدْرِكُهُ بِالسَّعْيِ فَمَشَى إِلَيْهِ حَتَّى مَاتَ كَانَ مَأْكُولًا عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ وَغَيْرَ مَأْكُولٍ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي

Pendapat kedua adalah bahwa yang diperhitungkan di dalamnya adalah usaha (sa‘y) yang lazim dalam perburuan, karena hal itu berbeda dengan ketenangan berjalan menurut kebiasaan masyarakat. Maka, menurut dua pendapat ini, jika hewan buruan itu dapat dikejar dengan usaha (sa‘y), lalu ia hanya berjalan hingga hewan itu mati, maka menurut pendapat pertama hewan itu halal dimakan, sedangkan menurut pendapat kedua tidak halal dimakan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الْعَقْرُ قَدْ أَثْبَتَهُ وَأَدْرَكَهُ الرَّامِي حَيًّا فَلَمْ يَذْبَحْهُ حَتَّى مَاتَ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian ketiga adalah apabila hewan buruan telah dilukai (oleh panah) dan sang pemburu mendapati hewan itu masih hidup, namun ia tidak segera menyembelihnya hingga hewan itu mati; maka dalam hal ini terdapat dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَلَى ذَكَاتِهِ فَأَخَّرَهَا حَتَّى مَاتَ فَهُوَ حَرَامٌ لَا يُؤْكَلُ لِأَنَّ الْمَقْدُورَ عَلَيْهِ لَا يَحِلُّ بِغَيْرِ الذَّكَاةِ

Salah satunya adalah seseorang mampu melakukan penyembelihan (dzakāh) terhadap hewan tersebut, namun ia menundanya hingga hewan itu mati, maka hukumnya haram dan tidak boleh dimakan, karena sesuatu yang mampu disembelih tidak menjadi halal tanpa penyembelihan (dzakāh).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى ذَكَاتِهِ حَتَّى يَمُوتَ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jenis kedua adalah ketika seseorang tidak mampu menyembelihnya hingga hewan itu mati, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَيْهِ لِقُصُورِ زَمَانِ حَيَاتِهِ فَهَذَا حَلَالٌ مَأْكُولٌ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وهو غَيْرُ مَأْكُولٍ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِإِدْرَاكِ حَيَاتِهِ كَالْمَقْدُورِ عَلَى ذَكَاتِهِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ الْعَجْزَ عَنْهَا بِقُصُورِ الزَّمَانِ كَالْعَجْزِ عَنْهَا لِفَوَاتِهِ أَلَا تَرَى أَنَّ الْعَجْزَ عَنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ مَعَ وُجُودِهِ كَالْعَجْزِ عَنْهُ مَعَ عَدَمِهِ فِي إِبَاحَةِ التَّيَمُّمِ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْعَجْزُ عَنِ الذَّكَاةِ مَعَ إِدْرَاكِهَا كَالْعَجْزِ عَنْهُ مَعَ فَوَاتِهَا فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ

Salah satunya adalah tidak mampu melakukan penyembelihan karena waktu hidup hewan tersebut terlalu singkat, maka hewan itu halal dimakan. Abu Hanifah berpendapat bahwa hewan itu tidak boleh dimakan, karena dengan sempatnya hidup hewan tersebut, ia dianggap mampu untuk disembelih. Namun, pendapat ini keliru, karena ketidakmampuan menyembelih akibat keterbatasan waktu sama seperti ketidakmampuan karena hewannya sudah mati. Bukankah ketidakmampuan menggunakan air padahal air ada, sama seperti ketidakmampuan karena air tidak ada dalam kebolehan bertayammum? Maka demikian pula, ketidakmampuan melakukan penyembelihan padahal sempat menemukannya, sama seperti ketidakmampuan karena hewan sudah mati dalam kebolehan memakannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى ذَكَاتِهِ لِتَعَذُّرِ الْآلَةِ فَلَا يَجِدُ سِكِّينًا أَوْ وَجَدَهَا وَهِيَ كالةٌ لَا تَقْطَعُ فَهُوَ حَرَامٌ غَيْرُ مَأْكُولٍ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى ذَكَاتِهِ لَوْ لَمْ يُفَرِّطْ فِي آلته

Jenis yang kedua adalah ketika seseorang tidak mampu melakukan penyembelihan karena alatnya tidak tersedia, misalnya ia tidak menemukan pisau, atau ia menemukannya tetapi pisau itu tumpul dan tidak dapat memotong. Maka hewan tersebut haram dan tidak boleh dimakan, karena sebenarnya ia mampu melakukan penyembelihan jika sebelumnya tidak lalai dalam menyiapkan alatnya.

فَلَوْ كَانَتْ مَعَهُ سِكِّينٌ فَضَاعَتْ أَوْ غَصَبَهُ عَلَيْهَا غَاصِبٌ حَتَّى مَاتَ لَمْ يُؤْكلْ وَلَوْ حَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّيْدِ سَبُعٌ فَلَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ حَتَّى مَاتَ أُكِلَ

Maka jika ia membawa pisau lalu pisau itu hilang atau dirampas oleh seseorang darinya hingga hewan buruan itu mati, maka hewan itu tidak boleh dimakan. Namun jika ada binatang buas yang menghalangi antara dia dan hewan buruan sehingga ia tidak dapat menjangkaunya hingga hewan itu mati, maka hewan itu boleh dimakan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ غَصْبِ السِّكِّينِ وَبَيْنَ مَنْعِ السَّبُعِ أَنَّ غَصْبَ السِّكِّينِ وَضَيَاعَهَا عَائِدٌ إِلَيْهِ وَمَنْعُ السَّبُعِ عَائِدٌ إِلَى الصَّيْدِ فَلَوْ كَانَتِ السِّكِّينُ فِي قِرَابٍ قَدْ أَمْسَكَ عَلَيْهَا فَتَعَسَّرَ عَلَيْهِ خُرُوجُهَا حَتَّى مَاتَ قَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ يَكُونُ مَأْكُولًا لِأَنَّ السِّكِّينَ فِي الْأَغْلَبِ تُصَانُ فِي قِرَابِهَا إِلَى وَقْتِ الْحَاجَةِ إِلَيْهَا فَلَمْ يَكُنْ مُفَرِّطًا وَهَذَا عِنْدِي مُعْتَبَرٌ بِحَالِ الْقِرَابِ فَإِنْ كَانَ عَلَى الْمَعْهُودِ فِي الْإِمْسَاكِ لِمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ كَانَ مَأْكُولًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ الْمَعْهُودِ فِي الضِّيقِ وَالشِّدَّةِ كَانَ غَيْرَ مَأْكُولٍ

Perbedaan antara merampas pisau dan mencegah binatang buas adalah bahwa merampas pisau dan kehilangannya kembali kepada pemiliknya, sedangkan mencegah binatang buas kembali kepada hewan buruan. Jika pisau berada dalam sarungnya yang sedang dipegang dan sulit untuk dikeluarkan hingga hewan buruan mati, Abu ‘Ali bin Abi Hurairah berkata: hewan tersebut tetap halal dimakan, karena pada umumnya pisau disimpan dalam sarungnya sampai waktu dibutuhkan, sehingga tidak dianggap lalai. Menurut saya, hal ini tergantung pada keadaan sarungnya; jika sesuai kebiasaan dalam menyimpan pisau karena isinya, maka hewan itu halal dimakan. Namun, jika melebihi kebiasaan dalam hal sempit dan ketatnya, maka hewan itu tidak halal dimakan.

وَلَوْ أَخْرَجَ السِّكِّيَنَ وَتَشَاغَلَ بِإِحْدَادِهَا حَتَّى مَاتَ فَهُوَ غَيْرُ مَأْكُولٍ وَلَوْ تَشَاغَلَ بِطَلَبِ مَوْضِعِ الذَّبْحِ حَتَّى مَاتَ فَهُوَ مَأْكُولٌ لِأَنَّهُ لَا يَجِدُ مِنْ طَلَبِ مَوْضِعِ الذَّبْحِ بُدًّا وَيَجِدُ مِنْ إِحْدَادِ السِّكِّينِ بُدًّا

Jika seseorang mengeluarkan pisau dan sibuk menajamkannya hingga hewan itu mati, maka hewan tersebut tidak boleh dimakan. Namun, jika ia sibuk mencari tempat penyembelihan hingga hewan itu mati, maka hewan tersebut boleh dimakan, karena mencari tempat penyembelihan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, sedangkan menajamkan pisau adalah sesuatu yang bisa dihindari.

فَلَوْ شَكَّ فِي الصَّيْدِ بَعْدَ مَوْتِهِ هَلْ أَدْرَكَ ذَكَاتَهُ فَيَحِلُّ لَهُ كَالْمَجْرُوحِ إِذَا غَابَ عَنْهُ فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ أَحَدُهُمَا يَحْرُمُ وَهُوَ الْأَظْهَرُ هُنَاكَ وَالثَّانِي يَحِلُّ وهو الأصح هاهنا

Maka jika seseorang ragu terhadap hewan buruan setelah matinya, apakah ia sempat melakukan penyembelihan (zakat) terhadapnya sehingga menjadi halal baginya, seperti halnya hewan yang terluka lalu ia tidak melihatnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya mengatakan haram, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat di sana; sedangkan pendapat kedua mengatakan halal, dan ini adalah yang lebih sahih di sini.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ أَرْسَلَ كَلْبَهُ أَوْ سَهْمَهُ وَسَمَّى اللَّهَ تَعَالَى وِهُوَ يَرَى صَيْدًا فَأَصَابَ غَيْرَهُ فَلَا بَأْسَ بِأَكْلِهِ مِنْ قِبَلِ أَنَّهُ رَأَى صَيْدًا وَنَوَاهُ وَإِنْ أَصَابَ غَيْرُهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang melepaskan anjingnya atau anak panahnya dan ia menyebut nama Allah Ta‘ala, sementara ia melihat seekor buruan, lalu mengenai selain buruan itu, maka tidak mengapa memakannya, karena ia telah melihat buruan dan meniatkannya, meskipun yang terkena adalah selain buruan itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini sebagaimana yang telah dikatakan.”

إِذَا رَأَى صَيْدًا فَأَرْسَلَ عَلَيْهِ كَلْبًا أَوْ سَهْمًا فَأَصَابَ غَيْرَهُ وَقَتَلَهُ فَلَا يَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Jika seseorang melihat hewan buruan lalu melepaskan anjing atau anak panah ke arahnya, namun mengenai hewan lain dan membunuhnya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ الصَّيْدَانِ فِي جِهَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ فِي جِهَتَيْنِ فَإِنْ كَانَا فِي جِهَةٍ وَاحِدَةٍ حَلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَا أَرْسَلَ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ الصَّيْدُ الْمُصَابُ مَوْجُودًا عِنْدَ الْإِرْسَالِ أَوْ مُعَرَّضًا بَعْدَهُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْأَكْثَرُونَ

Bisa jadi kedua hewan buruan itu berada di satu arah yang sama atau di dua arah yang berbeda. Jika keduanya berada di satu arah yang sama, maka halal memakannya, meskipun hewan buruan itu bukan yang dilepaskan untuknya, baik hewan buruan yang terkena itu sudah ada saat dilepaskan atau baru muncul setelahnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Hanifah dan mayoritas ulama.

وَقَالَ مَالِكٌ هُوَ حَرَامٌ لِأَنَّهُ أَصَابَ غَيْرَ ما أرسل عليه فصار والكلب فِيهِ الْمُسْتَرْسَلُ مِنْ غَيْرِ إِرْسَالٍ

Malik berkata: Itu haram karena anjing tersebut mengenai selain apa yang dilepaskan untuknya, sehingga anjing dan hewan buruan dalam hal ini sama, yaitu yang dilepaskan tanpa adanya pelepasan yang sebenarnya.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّ تَعَيُّنَ الصَّيْدِ فِي الْإِرْسَالِ لَا يَلْزَمُ أَلَا تَرَاهُ لَوْ أَرْسَلَهُ عَلَى وَاحِدٍ مِنْ جَمَاعَةٍ جَازَ وَأَيُّهَا صَارَ حَلَّ لِأَنَّ تَعْلِيمَهُ عَلَى مُعَيَّنٍ مِنْهَا غَيْرُ مُمْكِنٍ وَإِذَا سَقَطَ التَّعْيِينُ حَلَّ غَيْرُ الْمُعَيَّنِ وَلِأَنَّ ذَكَاةَ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ أَغْلَظُ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الْمُذَكِّيَ لَوْ أَرَادَ شَاةً فَذَبَحَ غَيْرَهَا حَلَّتْ فَكَانَ الصَّيْدُ الْمُمْتَنِعُ إِذَا أَرْسَلَ عَلَيْهِ كَلْبَهُ فَصَارَ غَيْرُهُ أَوْلَى أَنْ يَحِلَّ وَلِأَنَّهُ لَوْ أَرْسَلَ عَلَى صَيْدٍ كَبِيرٍ فَهَرَبَ وَكَانَ مَعَهُ وَلَدٌ صَغِيرٌ وَأَخَذَهُ الْكَلْبُ حَلَّ بِوِفَاقِ مَالِكٍ فَإِذَا كَانَ كَبِيرًا فَأَوْلَى أَنْ يَحِلَّ لِأَنَّهُ أَمْنَعُ

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang mereka (hewan buruan) tangkap untuk kalian,” yang tetap berlaku secara umum. Selain itu, penentuan hewan buruan secara spesifik ketika melepaskan (anjing pemburu) tidaklah wajib. Bukankah kamu melihat, jika seseorang melepaskannya pada salah satu dari sekelompok hewan buruan, itu dibolehkan, dan hewan mana pun yang tertangkap menjadi halal? Karena mengajarkan (anjing pemburu) untuk memburu hewan tertentu dari kelompok itu tidaklah mungkin. Jika penentuan tidak disyaratkan, maka yang tidak ditentukan pun menjadi halal. Selain itu, penyembelihan pada hewan yang mampu ditangkap hukumnya lebih ketat, dan telah tetap bahwa jika seorang penyembelih bermaksud pada seekor kambing lalu menyembelih yang lain, maka yang disembelih itu tetap halal. Maka, hewan buruan yang sulit ditangkap, jika seseorang melepaskan anjingnya pada hewan itu lalu yang tertangkap adalah yang lain, maka yang lain itu lebih utama untuk menjadi halal. Juga, jika seseorang melepaskan anjing pada hewan buruan besar lalu hewan itu lari, dan bersama hewan itu ada anaknya yang kecil, kemudian anjing itu menangkap anaknya, maka anak itu halal menurut kesepakatan Imam Malik. Maka jika yang tertangkap adalah hewan besar, tentu lebih utama untuk menjadi halal karena ia lebih sulit ditangkap.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِنْ كَانَ الصَّيْدَانِ فِي جِهَتَيْنِ فَأَرْسَلَ إِلَى إِحْدَاهُمَا فَعَدَلَ إِلَى الْآخَرِ فَلَهُ فِي اخْتِلَافِ الْجِهَاتِ أَسْمَاءٌ يُقَالُ صَيْدٌ سَانِحٌ إِذَا كَانَ عَنْ يَسَارِ الرَّامِي وَهُوَ أَمْكَنُ وَصِيدٌ بَارِحٌ إِذَا كَانَ عَنْ يَمِينِ الرَّامِي وَهُوَ أَشَقُّ وَصَيْدٌ قَعِيدٌ إِذَا كَانَ مُقَابِلَ الرَّامِي فَإِذَا أُرْسِلَ عَلَى صيد في جهة فعدل إلى غير مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ سِلَاحًا أَوْ جَارِحًا فَإِنْ كَانَ سِلَاحًا خَرَجَ عَنْ يَدِهِ مِنْ سَهْمٍ رَمَاهُ أَوْ سَيْفٍ أَلْقَاهُ فَعَدَلَ السَّهْمُ أَوِ السَّيْفُ عَنْ تِلْكَ الْجِهَةِ إِلَى غَيْرِهَا إِمَّا لِرِيحٍ اعْتَرَضَتْهُ أَوْ لِخَطَأٍ كَانَ مِنْهُ فَالصَّيْدُ مَأْكُولٌ لِأَنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى فِعْلِهِ وَإِنْ أَخْطَأَ فِي قَصْدِهِ وَخَطَأُ الْمُذَكِّي لَا يَمْنَعُ مِنْ إِبَاحَةِ ذَكَاتِهِ كَمَا لَوْ أَرَادَ شَاةً فَذَبَحَ غَيْرَهَا

Jika terdapat dua hewan buruan di dua arah, lalu seseorang melepaskan (alat berburu) ke salah satunya, namun (alat itu) berbelok ke arah yang lain, maka dalam perbedaan arah ini terdapat beberapa nama: disebut buruan sāniḥ jika berada di sebelah kiri pemburu, dan ini lebih mudah; disebut buruan bāriḥ jika berada di sebelah kanan pemburu, dan ini lebih sulit; dan disebut buruan qa‘īd jika berada tepat di depan pemburu. Jika dilepaskan ke buruan di satu arah lalu berbelok ke arah lain, maka hal ini tidak lepas dari dua kemungkinan: menggunakan senjata atau hewan pemburu (jāriḥ). Jika menggunakan senjata, seperti anak panah yang dilemparkan atau pedang yang dilempar, lalu anak panah atau pedang itu berbelok dari arah semula ke arah lain, baik karena tertiup angin atau karena kesalahan dari dirinya, maka buruan itu halal dimakan karena tetap dinisbatkan kepada perbuatannya, meskipun ia keliru dalam maksudnya. Kesalahan orang yang melakukan penyembelihan (mudhakkī) tidak menghalangi kehalalan hasil sembelihannya, sebagaimana jika seseorang bermaksud menyembelih seekor kambing namun ternyata menyembelih yang lain.

وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ جَارِحًا مِنْ كَلْبٍ أَرْسَلَهُ إِلَى جِهَةٍ فَعَدَلَ إِلَى غَيْرِهَا فَقَدْ حَكَى أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ فِي إِبَاحَتِهِ وَجْهَيْنِ

Dan jika hewan pemburu itu adalah anjing yang dilepaskannya ke suatu arah, lalu anjing itu berbelok ke arah lain, maka Abu Hamid al-Isfara’ini meriwayatkan dua pendapat mengenai kebolehannya.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ مُبَاحُ الْأَكْلِ كَالسَّهْمِ وَنَسَبَهُ إِلَى قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَلَمْ أَرَهُ فِي شَرْحِهِ

Salah satunya adalah bahwa ia boleh dimakan seperti anak panah, dan pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Ishaq al-Marwazi, namun aku tidak menemukannya dalam penjelasannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ لَا يُؤْكَلُ وَفَرَّقَ بَيْنَ الْكَلْبِ وَالسَّهْمِ لِأَنَّ لِلْكَلْبِ اخْتِيَارًا يَنْصَرِفُ بِهِ وَأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَنْ يُرَاعَى مَخْرَجُ الْكَلْبِ عِنْدَ إِرْسَالِهِ فَإِنْ خَرَجَ عَادِلًا عَنْ جِهَةِ إِرْسَالِهِ إِلَى غَيْرِهَا لَمْ يُؤْكَلْ صَيْدُهُ مِنْهَا وَإِنْ خَرَجَ إِلَى جِهَةِ إِرْسَالِهِ فَفَاتَهُ صَيْدُهَا فَعَدَلَ إِلَى غَيْرِهَا وَأَخَذَ صَيْدَهَا أُكِلَ لِأَنَّهُ على الصفة الأولة متخالف فَصَارَ مُسْتَرْسِلًا وَعَلَى الصِّفَةِ الثَّانِيةِ مُوَافِقٌ وَكَانَ مُرْسَلًا وَهَذَا أَدَلُّ عَلَى فَرَاهَتِهِ لِئَلَّا يَرْجِعَ خَلِيًّا إِلَى مُرْسِلِهِ أَلَا تَرَى أَنَّ الصَّيْدَ له عَدَلَ عَنْ جِهَةٍ إِلَى غَيْرِهَا فَعَدَلَ الْكَلْبُ إِلَيْهَا حَتَّى أَخَذَهُ حَلَّ كَذَلِكَ إِذَا أَخَذَ غَيْرَهُ

Pendapat kedua adalah bahwa hewan buruan tersebut tidak boleh dimakan. Mereka membedakan antara anjing dan anak panah, karena anjing memiliki kehendak sendiri yang dapat membawanya berpaling. Menurut saya, dari dua pendapat ini, yang lebih kuat adalah memperhatikan arah keluarnya anjing ketika dilepaskan. Jika anjing keluar menyimpang dari arah yang dituju saat dilepaskan menuju arah lain, maka hasil buruan dari arah tersebut tidak boleh dimakan. Namun, jika anjing keluar menuju arah yang dituju saat dilepaskan, lalu buruan itu lolos darinya sehingga ia beralih ke arah lain dan menangkap buruannya di sana, maka hasil buruannya boleh dimakan. Karena pada keadaan pertama, anjing bertindak berbeda sehingga menjadi seperti anjing liar, sedangkan pada keadaan kedua, ia bertindak sesuai dengan tujuan dan tetap sebagai anjing yang dilepaskan. Hal ini lebih menunjukkan kecerdasannya agar tidak kembali kepada pemiliknya dengan tangan kosong. Tidakkah engkau melihat bahwa buruan pun bisa berpindah dari satu arah ke arah lain, lalu anjing pun berpindah ke arah itu hingga berhasil menangkapnya, maka hal itu dibolehkan, demikian pula jika ia menangkap buruan yang lain.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَرْسَلَ سَهْمَهُ عَلَى صَيْدٍ فِي الْحِلِّ فَعَصَفَتِ الرِّيحُ بِالصَّيْدِ وَالسَّهْمِ إِلَى الْحَرَمِ حَتَّى قَتَلَهُ فِيهِ ضَمِنَهُ بِالْجَزَاءِ وَلَمْ يَأْكُلْهُ

Apabila seseorang melepaskan anak panahnya ke arah hewan buruan di wilayah halal, lalu angin menerbangkan hewan buruan dan anak panah itu ke wilayah haram hingga hewan itu terbunuh di sana, maka ia wajib membayar denda (al-jazā’) dan tidak boleh memakannya.

وَلَوْ أَرْسَلَ كَلْبَهُ عَلَى صَيْدٍ فِي الْحِلِّ فَعَدَلَ الصَّيْدُ وَالْكَلْبُ إِلَى الْحَرَمِ حَتَّى قَتَلَهُ فِيهِ لَمْ يَضْمَنْهُ وَحَلَّ لَهُ أَكْلُهُ لِأَنَّ حُكْمَ الْكَلْبِ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ إِرْسَالِهِ وَحُكْمُ السَّهْمِ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ وُقُوعِهِ وَلَوْ أَرْسَلَ سَهْمَهُ عَلَى صَيْدٍ فَأَصَابَ السَّهْمُ الْأَرْضَ ثُمَّ ازْدَلَفْ فِيهَا إِلَى الصَّيْدِ فَقَتَلَهُ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وجهان أَحَدُهُمَا يُؤْكَلُ لِوُصُولِهِ إِلَيْهِ بِفِعْلِهِ وَالثَّانِي لَا يُؤْكَلُ لِأَنَّ وُصُولَهُ إِلَى الْأَرْضِ قَاطِعٌ لِفِعْلِهِ

Jika seseorang melepaskan anjingnya untuk berburu di wilayah halal, lalu buruan dan anjing itu berpindah ke wilayah haram hingga anjing itu membunuh buruan di sana, maka ia tidak wajib menggantinya dan halal baginya memakannya. Sebab, hukum anjing itu dilihat dari keadaan saat dilepaskan, sedangkan hukum anak panah dilihat dari keadaan saat mengenai sasaran. Jika seseorang melepaskan anak panahnya ke arah buruan, lalu anak panah itu mengenai tanah terlebih dahulu kemudian meluncur di atas tanah hingga mengenai buruan dan membunuhnya, maka ada dua pendapat tentang kehalalan memakannya: salah satunya mengatakan boleh dimakan karena anak panah itu sampai ke buruan dengan perbuatannya, dan pendapat kedua mengatakan tidak boleh dimakan karena sampainya anak panah ke tanah memutuskan hubungan dengan perbuatannya.

وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي السَّهْمِ الْمُزْدَلِفِ إِذَا أَصَابَ هَلْ يُحْتَسَبُ بِهِ في الإصابة على قولين

Kedua pendapat ini merupakan perbedaan dua pendapat Imam Syafi‘i mengenai anak panah yang mengenai sasaran jika mengenai target, apakah dihitung sebagai pencapaian (ishābah) menurut dua pendapat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَإِنْ أَرْسَلَهُ وَلَا يَرَى صَيْدًا وَنَوَى فَلَا يُأْكَلُ وَلَا تَعْمَلُ النِّيَّةُ إِلَّا مَعَ عينٍ تَرَى وَلَوْ كَانَ لَا يَجُوزُ إِلَّا مَا نَوَاهُ بِعَيْنِهِ لَكَانَ الْعِلْمُ يُحِيطُ أَنْ لَوُ أَرْسَلَ سَهْمًا عَلَى مَائَةِ ظبيٍ أَوْ كَلَبًا فَأَصَابَ وَاحِدًا فَالْوَاحِدُ الْمُصَابُ غَيْرُ منويٍّ بِعَيْنِهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang melepaskan (anjing pemburu atau panahnya) tanpa melihat adanya hewan buruan dan hanya berniat (berburu), maka hasil buruan itu tidak boleh dimakan, dan niat tidak berlaku kecuali terhadap sesuatu yang dilihat secara nyata. Seandainya tidak boleh kecuali terhadap apa yang diniatkan secara spesifik, maka sudah pasti diketahui bahwa jika seseorang melepaskan anak panah kepada seratus kijang atau melepaskan anjing pemburu, lalu mengenai salah satunya, maka yang terkena itu bukanlah yang diniatkan secara spesifik.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا أَرْسَلَ كَلْبَهُ وَهُوَ لَا يَرَى صَيْدًا فَعَنَّ لِلْكَلْبِ صَيْدٌ وَأَخَذَهُ لَمْ يُؤْكَلْ لِأَنَّ إِرْسَالَهُ عَلَى غَيْرِ شَيْءٍ لَيْسَ بِإِرْسَالٍ فَصَارَ الْكَلْبُ كَالْمُسْتَرْسِلِ فَلَمْ يُؤْكَلْ صَيْدُهُ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang melepaskan anjingnya sementara ia tidak melihat adanya buruan, lalu anjing itu menemukan buruan dan menangkapnya, maka buruan itu tidak boleh dimakan. Sebab, melepaskan anjing tanpa ada sasaran bukanlah termasuk melepaskan (yang sah), sehingga anjing itu menjadi seperti anjing liar (yang berburu sendiri), maka hasil buruannya tidak boleh dimakan.

وَلَوْ أَرْسَلَ سَهْمَهُ وَلَا يَرَى صَيْدًا فَاعْتَرَضَهُ صَيْدٌ وَأَصَابَهُ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang melepaskan anak panahnya tanpa melihat adanya hewan buruan, lalu seekor hewan buruan melintas dan terkena panah tersebut, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan memakan dagingnya.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَا يُؤْكَلُ كَالَّذِي صَادَهُ الْكَلْبُ لِأَنَّهُمَا عَلَى غَيْرِ شَيْءٍ

Salah satunya adalah bahwa hewan tersebut tidak boleh dimakan, seperti hewan buruan yang ditangkap oleh anjing, karena keduanya tidak berdasarkan sesuatu (yang sah).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ يُؤْكَلُ وَإِنْ لَمْ يُؤْكَلْ مَا صَادَهُ الْكَلْبُ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا إِنَّ الْقَصْدَ فِي ذَكَاتِهِ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ لِأَنَّهُ لَيْسَ يُعَارِضُهُ اخْتِيَارُ غَيْرِهِ

Pendapat kedua adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa hewan tersebut boleh dimakan meskipun tidak dimakan oleh anjing pemburu. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa niat dalam penyembelihan hewan tersebut tidak dianggap, karena tidak ada kehendak lain yang bertentangan dengannya.

فَصْلٌ

Fasal

أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَطَعَ خَشَبَةً لَيِّنَةً فَصَادَفَ حَلْقَ شَاةٍ فَذَبَحَهَا أُكِلَتْ

Tidakkah engkau melihat, jika seseorang memotong sebatang kayu yang lunak lalu secara kebetulan mengenai leher seekor kambing sehingga menyembelihnya, maka kambing itu boleh dimakan.

وَالْقَصْدُ فِي إِرْسَالِ الْكَلْبِ مُعْتَبَرٌ لِأَنَّهُ قَدْ يُعَارِضُهُ اخْتِيَارُ الْكَلْبِ فَإِذَا لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ الْقَصْدُ صَارَ مَنْسُوبًا إِلَى اخْتِيَارِ الكلب فافترق

Niat dalam melepaskan anjing adalah hal yang diperhitungkan, karena bisa saja bertentangan dengan kehendak anjing itu sendiri. Maka, jika niat tersebut tidak sah dari pihak manusia, perbuatan itu menjadi dinisbatkan kepada kehendak anjing, sehingga keduanya berbeda.

وَقَدْ حَكَى ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ إِذَا أَخْطَأَ فِي قَطْعِ الْخَشَبَةِ إِلَى ذَبْحِ الشَّاةِ لَمْ تُؤْكَلْ وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فَقِيَاسٌ وَاضِحٌ لِأَنَّ الصَّبِيَّ وَالْمَجْنُونَ تَصِحُّ ذَكَاتُهَا وَإِنْ لَمْ يَصِحَّ قَصْدُهُمَا وَكَذَلِكَ الْخَاطِئُ

Ibnu Abi Hurairah meriwayatkan dari sebagian sahabat Syafi‘i bahwa jika seseorang keliru dalam memotong kayu hingga menyembelih kambing, maka kambing tersebut tidak boleh dimakan. Namun, Syafi‘i secara tegas membolehkan memakannya. Apa yang dikatakan Syafi‘i adalah qiyās yang jelas, karena sembelihan anak kecil dan orang gila sah dianggap sah meskipun niat mereka tidak sah, demikian pula halnya dengan orang yang keliru.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ خَرَجَ الْكَلْبُ إِلَى الصَّيْدِ مِنْ غَيْرِ إِرْسَالِ صَاحِبِهِ فَزَجَرَهُ فَانْزَجَرَ وَأَشْلَاهُ فَاسْتَشْلَى فَأَخَذَ وَقَتَلَ أُكِلَ وَإِنْ لَمْ يَحْدُثْ غَيْرُ الْأَمْرِ الْأَوَّلِ فَلَا يَأْكُلْ وسواءٌ اسْتَشْلَاهُ صَاحِبُهُ أَوْ غَيْرُهُ مِمَّنْ تَجُوزُ ذَكَاتُهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika anjing keluar untuk berburu tanpa dilepas oleh pemiliknya, lalu ia ditegur dan ia berhenti, kemudian ia diperintah untuk berburu dan ia pun melakukannya, lalu ia menangkap dan membunuh (buruan itu), maka boleh dimakan. Namun, jika tidak terjadi selain perintah yang pertama, maka tidak boleh dimakan. Sama saja, apakah yang memerintahkannya berburu adalah pemiliknya atau orang lain yang sah penyembelihannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ إِرْسَالَ الْكَلْبِ شَرْطٌ فِي إِبَاحَةِ صَيْدِهِ فَإِنِ اسْتَرْسَلَ بِغَيْرِ إِرْسَالٍ لَمْ يَحِلَّ صَيْدُهُ إِلَّا أَنْ يُدْرَكَ حَيًّا فَيُذَكَّى وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ وَشَذَّ الْأَصَمُّ وَابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ فَلَمْ يَعْتَبِرَا الْإِرْسَالَ لِأَنَّهُ بِالتَّعْلِيمِ قَدْ صَارَ مُرْسَلًا وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ التَّعْلِيمَ هُوَ أَنْ لَا يَسْتَرْسِلَ حَتَّى يُرْسِلَ وَيَنْزَجِرَ عَنِ الِاسْتِرْسَالِ فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَاسْتَرْسَلَ الْكَلْبُ لِنَفْسِهِ فَلَهُ مَعَ صَاحِبِهِ أربعة أحوال

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa melepaskan anjing adalah syarat dalam membolehkan hasil buruanya. Jika anjing itu berburu tanpa dilepaskan, maka hasil buruannya tidak halal, kecuali jika didapati masih hidup lalu disembelih. Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha. Namun, Al-Asham dan Ibnu Jarir ath-Thabari berpendapat berbeda; mereka tidak mensyaratkan pelepasan, karena menurut mereka dengan pelatihan, anjing itu sudah dianggap dilepas. Pendapat ini keliru, karena pelatihan itu maksudnya adalah agar anjing tidak berburu kecuali setelah dilepas dan dapat dicegah dari berburu sendiri. Jika demikian, lalu anjing berburu atas inisiatif sendiri, maka ada empat keadaan antara anjing itu dengan pemiliknya.

أحدهما أَنْ يَتْرُكَهُ عَلَى اسْتِرْسَالِهِ وَلَا يُشْلِيَهُ وَلَا يزجره فلا يؤكل ما صاده

Pertama, membiarkannya berburu tanpa mengendalikannya, tidak melepasnya secara khusus dan tidak melarangnya, maka hasil buruan yang didapatkannya tidak boleh dimakan.

والحالة الثَّانِيةُ أَنْ يَزْجُرَهُ فَلَا يَنْزَجِرَ فَلَا يُؤْكَلَ صَيْدُهُ لِأَنَّهُ بِالْإِسْرَاعِ بَعْدَ الزَّجْرِ أَسْوَأُ حَالًا

Keadaan yang kedua adalah ketika anjing itu ditegur namun tidak berhenti, maka hasil buruanya tidak boleh dimakan, karena dengan tetap bergegas setelah ditegur, keadaannya menjadi lebih buruk.

والحالة الثَّالِثَةُ أَنْ يَزْجُرَهُ ثُمَّ يُشْلِيَهِ فَيَسْتَشْلِيَ فَيُؤْكَلَ صَيْدُهُ لِأَنَّهُ صَادَهُ بَعْدَ الِانْزِجَارِ عَنْ إِرْسَالِهِ

Keadaan ketiga adalah ketika ia melarang anjingnya, kemudian melepaskannya lagi, lalu anjing itu berburu setelah dilepaskan kembali, maka hasil buruannya boleh dimakan, karena anjing itu memburunya setelah dilarang untuk dilepaskan.

والحالة الرَّابِعَةُ أَنْ يُشْلِيَهُ بَعْدَ الِاسْتِرْسَالِ وَيُغْرِيَهُ بِالصَّيْدِ فَيَمْضِيَ عَلَى إِسْرَاعٍ بَعْدَ إِشْلَائِهِ وَإِغْرَائِهِ سَوَاءٌ زَادَ إِسْرَاعُهُ بِالْإِغْرَاءِ أَوْ لَمْ يَزِدْ فَإِنَّهُ لَا يُؤْكَلُ

Keadaan keempat adalah jika ia melepas hewan buruannya setelah hewan itu tenang, lalu ia menghasutnya untuk memburu, sehingga hewan itu pergi dengan cepat setelah dilepas dan dihasut, baik kecepatan hewan itu bertambah karena hasutan tersebut maupun tidak, maka dalam keadaan ini hasil buruannya tidak boleh dimakan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يُؤْكَلُ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ مَا تَقَدَّمَ مِنِ اسْتِرْسَالِهِ قَدِ انْقَطَعَ بما حدث من إغوائه كَمَا يَنْقَطِعُ زَجْرُهُ قَبْلَ إِغْرَائِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ مُعْتَبَرًا بِالْآخَرِ دُونَ الْأَوَّلِ وَلِأَنَّهُ إِذَا اجْتَمَعَ اسْتِرْسَالٌ وَإِغْرَاءٌ تَعَلَّقَ الْحُكْمُ بِالْإِغْرَاءِ دُونَ الِاسْتِرْسَالِ كَالصَّيْدِ إِذَا اسْتَرْسَلَ عَلَى طَلَبٍ فَأَغْرَاهُ بِهِ محرمٌ ضَمِنَهُ الْجَزَاءُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْإِغْرَاءِ كَذَلِكَ فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa hewan tersebut boleh dimakan, dengan alasan bahwa perilaku hewan yang sebelumnya jinak telah terputus oleh adanya tindakan penghasutan yang terjadi setelahnya, sebagaimana larangan terhadap hewan tersebut juga terputus sebelum adanya penghasutan. Maka, hukum harus didasarkan pada keadaan terakhir, bukan pada keadaan sebelumnya. Karena jika terdapat perilaku jinak dan penghasutan secara bersamaan, maka hukum terkait dengan penghasutan, bukan dengan perilaku jinak. Seperti dalam kasus hewan buruan yang jinak karena permintaan, lalu seseorang yang sedang berihram menghasutnya, maka ia wajib membayar denda, karena hukum penghasutan lebih diutamakan. Demikian pula dalam hal kebolehan memakan hewan tersebut.

وَدَلِيلُنَا إِنَّ الِاسْتِرْسَالَ حَاظِرٌ وَالْإِغْرَاءَ مُبِيحٌ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ يُغَلَّبُ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ كَمَا لَوِ اجْتَمَعَ عَلَى إِرْسَالِهِ مُسْلِمٌ وَمَجُوسِيٌّ وَلِأَنَّ الْإِغْرَاءَ بَعْدَ الِاسْتِرْسَالِ مُوَافِقٌ لَهُ فَصَارَ مُقَوِّيًا لِحُكْمِهِ وَزَائِدًا عَلَيْهِ فَلَمْ يَزِدْ حُكْمُهُ بِالْقُوَّةِ وَالزِّيَادَةِ كَمَا لَوْ أَرْسَلَهُ مَجُوسِيٌّ وَأَغْرَاهُ مُسْلِمٌ أَوْ أَرْسَلَهُ مُسْلِمٌ وَأَغْرَاهُ مَجُوسِيٌّ

Dalil kami adalah bahwa istirsal (melepas hewan buruan) itu terlarang, sedangkan ighra’ (menghasut hewan buruan) itu membolehkan. Jika larangan dan kebolehan berkumpul, maka hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan, sebagaimana jika yang melepas hewan adalah seorang Muslim dan seorang Majusi. Karena ighra’ setelah istirsal itu sejalan dengannya, maka ia menjadi penguat bagi hukumnya dan menambahnya, sehingga hukumnya tidak bertambah kuat dan tidak pula bertambah dengan tambahan tersebut, sebagaimana jika yang melepas hewan adalah Majusi lalu yang menghasutnya adalah Muslim, atau yang melepasnya adalah Muslim lalu yang menghasutnya adalah Majusi.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ إِنَّ الْإِغْرَاءَ قَدْ قَطَعَ الِاسْتِرْسَالَ كَالزَّجْرِ فَإِنَّهُ إِنَّمَا يَقْطَعُ الِاسْتِرْسَالُ مَا خَلْفَهُ وَلَا يَقْطَعُ مَا وَافَقَهُ وَالزَّاجِرُ مُخَالِفٌ لِلِاسْتِرْسَالِ فَصَارَ قَاطِعًا وَالْإِغْرَاءُ مُوَافِقٌ لَهُ فَلَمْ يَكُنْ قَاطِعًا

Adapun jawaban atas pernyataannya bahwa dorongan (al-ighrā’) telah memutus kesinambungan (al-istirsāl) seperti larangan (az-zajr), maka sesungguhnya yang memutus kesinambungan hanyalah sesuatu yang bertentangan dengannya, bukan yang sejalan dengannya. Larangan itu bertentangan dengan kesinambungan sehingga menjadi pemutus, sedangkan dorongan itu sejalan dengannya sehingga tidak menjadi pemutus.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ إِنَّ اجْتِمَاعَ الِاسْتِرْسَالِ وَالْإِغْرَاءِ مُوجِبٌ لِتَغْلِيبِ حُكْمِ الْإِغْرَاءِ كَالْمُحْرِمِ فهو أنه فيه لأصحابنا وجهين

Adapun jawaban atas pernyataannya bahwa berkumpulnya istirsāl dan ighrā’ menyebabkan didahulukannya hukum ighrā’ seperti pada orang yang sedang ihram, maka dalam hal ini menurut para ulama kami terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَا ضَمَانَ عَلَى الْمُحْرِمِ بِإِغْرَائِهِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الِاسْتِرْسَالِ وَيَصِيرُ دَلِيلًا لَنَا لَا عَلَيْنَا

Salah satunya adalah bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi atas orang yang sedang ihram karena tindakannya yang mendorong (terjadinya pelanggaran), dengan mengedepankan hukum kelalaian, dan hal ini justru menjadi dalil bagi kita, bukan atas kita.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُضَمَّنُ بِالْإِغْرَاءِ وَإِنْ لَمْ يَصِرْ مَأْكُولًا بِالْإِغْرَاءِ لِأَنَّهُ إِذَا اجْتَمَعَ فِي هَذَا الضَّمَانِ إِيجَابٌ وَإِسْقَاطٌ يُغَلَّبُ حُكْمُ الْإِيجَابِ عَلَى الْإِسْقَاطِ وَإِذَا اجْتَمَعَ فِي الْمَأْكُولِ حَظْرٌ وَإِبَاحَةٌ يُغَلَّبُ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ أَلَا تَرَى أَنَّ الصَّيْدِ الْمُتَوَلِّدِ مِنْ بَيْنِ مَأْكُولٍ وَغَيْرِ مَأْكُولٍ إِذَا قَتَلَهُ الْمُحْرِمُ ضَمِنَهُ بِالْجَزَاءِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْإِيجَابِ وَلَا يُؤْكَلُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْحَظْرِ؟ كَذَلِكَ فِي مَسْأَلَتِنَا فَلَا يَكُونُ إِسْقَاطًا لِحُكْمِ الِاسْتِرْسَالِ بِالْإِغْرَاءِ

Pendapat kedua adalah wajib mengganti dengan sebab penghasutan, meskipun binatang itu tidak menjadi makanan karena penghasutan. Sebab, apabila dalam kewajiban ganti rugi ini terdapat unsur mewajibkan dan menggugurkan, maka hukum mewajibkan lebih diutamakan daripada menggugurkan. Dan apabila dalam perkara yang dimakan terdapat unsur larangan dan kebolehan, maka hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan. Tidakkah engkau melihat bahwa hewan buruan yang lahir dari induk yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan, jika dibunuh oleh orang yang sedang ihram, maka ia wajib menggantinya dengan denda, mengutamakan hukum mewajibkan, dan tidak boleh dimakan, mengutamakan hukum larangan? Demikian pula dalam masalah kita ini, maka tidak dianggap sebagai pengguguran hukum istirsāl (membiarkan) dengan sebab penghasutan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وَإِذَا ضَرَبَ الصَّيْدَ فَقَطَعَهُ قِطْعَتَيْنِ أَكَلَ وَإِنْ كانت إحدى القطعتين أقل من الأخرى ولو قطع منه يداً أو رجلاً أو أذناً أو شيئاً يمكن لو لم يزد على ذلك أن يعيش بعده ساعةً أو مدةً أكثر منها ثم قتله بعد برميته أكل كل ما كان ثابتاً فيه من أعضائه ولم يأكل العضو الذي بان وفيه الحياة لأنه عضوٌ مقطوعٌ من حي وحي بعد قطعه ولو مات من قطع الأول أكلهما معاً لأن ذكاة بعضه ذكاةٌ لكله

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang memanah hewan buruan lalu membelahnya menjadi dua bagian, maka ia boleh memakannya, meskipun salah satu bagiannya lebih kecil dari yang lain. Jika ia memotong tangan, kaki, telinga, atau bagian lain yang sekiranya, jika tidak bertambah dari itu, hewan tersebut masih bisa hidup sesaat atau lebih lama setelahnya, lalu ia membunuh hewan itu setelah melemparnya, maka ia boleh memakan seluruh anggota tubuh yang masih melekat padanya, dan tidak boleh memakan anggota tubuh yang terpisah darinya sementara hewan itu masih hidup, karena anggota tersebut terpotong dari makhluk hidup yang masih hidup setelah terpotong. Namun, jika hewan itu mati karena potongan pertama, maka keduanya boleh dimakan bersama-sama, karena penyembelihan pada sebagian tubuhnya dianggap sebagai penyembelihan untuk seluruh tubuhnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini mencakup dua bagian.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يَرْمِيَ صَيْدًا فَيَقْطَعَهُ قِطْعَتَيْنِ فَهَذَا توجيهٌ فَتُؤْكَلَ الْقِطْعَتَانِ مَعًا سَوَاءٌ تَفَاضَلَتِ الْقِطْعَتَانِ أَوْ تَمَاثَلَتَا وَسَوَاءٌ كَانَ مَا اتَّصَلَ بِالرَّأْسِ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ

Salah satunya adalah seseorang melempar binatang buruan lalu membelahnya menjadi dua bagian. Ini merupakan arahan bahwa kedua bagian tersebut boleh dimakan bersama-sama, baik kedua bagian itu berbeda ukuran maupun sama, dan baik bagian yang tersambung dengan kepala lebih banyak ataupun lebih sedikit.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ تَسَاوَتِ الْقِطْعَتَانِ أَوْ كَانَ مَا اتَّصَلَ بِالرَّأْسِ أَكْثَرَ أَكَلَ دُونَ الْأَقَلِّ وَمِنْ أَصْحَابِهِ مَنْ قَدَّرَ الْأَقَلَّ بِالثُّلُثِ فَمَا دُونَهُ وَجَعَلَ مَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ وَنَقَصَ عَنِ النِّصْفِ خَارِجًا عَنْ حُكْمِ الْأَقَلِّ

Abu Hanifah berkata: Jika kedua potongan itu sama besar, atau bagian yang tersambung dengan kepala lebih banyak, maka yang dimakan adalah bagian yang lebih sedikit. Di antara para sahabatnya ada yang menetapkan bagian yang lebih sedikit itu sepertiga atau kurang darinya, dan menjadikan apa yang melebihi sepertiga namun kurang dari setengah keluar dari hukum bagian yang lebih sedikit.

وَاسْتَدَلُّوا عَلَى تَحْرِيمِ الْأَكْلِ إِذَا انْفَصَلَ عَنِ الرَّأْسِ بِرِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَا أُبِينَ مِنْ حيٍّ فَهُوَ ميتٌ  وَلِأَنَّهُ أَبَانَ مِنْهُ مَا لَا يَمْنَعُ مِنْ بَقَاءِ الْحَيَاةِ فِيمَا بَقِيَ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا كَمَا لَوْ أَدْرَكَهُ حَيًّا فَذَبَحَهُ

Mereka berdalil atas keharaman memakan bagian yang terpisah dari kepala dengan riwayat Abdullah bin Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apa yang dipisahkan dari hewan hidup maka ia adalah bangkai.” Dan karena ia memisahkan bagian dari hewan yang tidak menghalangi kelangsungan hidup pada bagian yang tersisa, maka wajib hukumnya menjadi haram, sebagaimana jika seseorang mendapati hewan itu masih hidup lalu menyembelihnya.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لِأَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ كُل مَا رَدَّتْ عَلَيْكَ يَدُكَ فَكُلْ وَلَمْ يُفَرِّقْ وَلِأَنَّ كلما كَانَ ذَكَاةً لِبَعْضِ الْبَدَنِ كَانَ ذَكَاةً لِجَمِيعِهِ قياساً على ما اتصل بالرأس ولأن كلما كَانَ ذَكَاةً لِمَا اتَّصَلَ بِالرَّأْسِ كَانَ ذَكَاةً لِمَا انْفَصَلَ عَنْهُ كَالْأَكْثَرِ

Dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata kepada Abu Tsa‘labah al-Khusyani: “Setiap yang sampai ke tanganmu, maka makanlah,” dan beliau tidak membedakan. Dan karena setiap bagian tubuh yang telah disembelih dengan benar, maka itu juga dianggap sebagai penyembelihan yang sah untuk seluruh tubuhnya, qiyās dengan apa yang masih tersambung dengan kepala. Dan karena setiap yang dianggap sebagai penyembelihan sah untuk bagian yang tersambung dengan kepala, maka itu juga dianggap sah untuk bagian yang terpisah darinya, sebagaimana pada bagian yang lebih banyak.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ خَبَرِهِمْ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap kabar mereka adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ خَارِجٌ عَلَى سَبَبٍ وَهُوَ مَا رُوِيَ أَنَّهُ ذُكِرَ لِرَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّ قَوْمًا يُحِبُّونَ أَلَايَا الْغَنَمِ فَيَقْطَعُونَهَا مِنْهَا فَقَالَ مَا أُبِينَ مِنْ حيٍّ فَهُوَ ميتٌ فَكَانَ مَحْمُولًا عَلَى سَبَبِهِ مِنْ حَيَاةِ الْمَقْطُوعِ مِنْهُ

Salah satunya adalah bahwa hadis tersebut berkaitan dengan sebab tertentu, yaitu sebagaimana diriwayatkan bahwa disebutkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suatu kaum yang menyukai ekor domba, lalu mereka memotongnya dari domba tersebut. Maka beliau bersabda, “Apa yang dipotong dari hewan yang masih hidup, maka itu adalah bangkai.” Maka hadis ini dibawa pada sebabnya, yaitu kehidupan hewan yang dipotong darinya.

وَالثَّانِي إِنَّ أَبَا دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيَّ قَدْ رَوَى نَصًّا فِي سُنَنِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَا أُبِينَ مِنْ بهيمةٍ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهُوَ ميتٌ

Kedua, sesungguhnya Abu Dawud as-Sijistani telah meriwayatkan sebuah nash dalam kitab Sunan-nya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa saja yang dipotong dari hewan ternak sementara ia masih hidup, maka itu adalah bangkai.”

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ وَهُوَ أَنَّ الْمَعْنَى فِي الْأَصْلِ أَنَّ الْقَطْعَ لَمْ يكن ذكاة لِلْمُتَّصِلِ فَلَمْ يَكُنْ ذَكَاةً لِلْمُنْفَصِلِ وَالْقَطْعُ فِي الْفَرْعِ قَدْ كَانَ ذَكَاةً لِلْمُتَّصِلِ فَكَانَ ذَكَاةً لِلْمُنْفَصِلِ

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka adalah bahwa makna pada asalnya adalah bahwa pemotongan itu bukanlah penyembelihan yang sah bagi bagian yang masih menyatu, maka tidak dianggap sebagai penyembelihan yang sah pula bagi bagian yang terpisah. Sedangkan pemotongan pada cabang (kasus baru) telah dianggap sebagai penyembelihan yang sah bagi bagian yang masih menyatu, maka ia juga dianggap sebagai penyembelihan yang sah bagi bagian yang terpisah.

فَصْلٌ

Bab

الْفَصْلُ الثَّانِي أَنْ يَقْطَعَ مِنَ الصَّيْدِ عُضْوًا كيدٍ أَوْ رِجْلٍ أَوْ أُذُنٍ ويجوز أن يحيى بَعْدَ قَطْعِهِ زَمَانًا طَوِيلًا أَوْ قَصِيرًا وَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian kedua: Jika seseorang memotong salah satu anggota tubuh hewan buruan, seperti tangan, kaki, atau telinga, dan hewan itu masih bisa hidup setelah dipotong dalam waktu yang lama atau singkat, maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَمُوتَ بِغَيْرِ هَذَا الْقَطْعِ إِمَّا بِالذَّبْحِ إِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ وَإِمَّا بِرَمْيَةٍ بَائِنَةٍ إِنْ كَانَ غَيْرَ مَقْدُورٍ عَلَيْهِ فَلَا يُؤْكَلُ مَا بَانَ مِنْهُ بِالْقَطْعِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ ذَكَاةً لَهُ فَلَمْ تَصِرْ ذكاة لما بان منه وقد روى عديه [أَبُو الدَّرْدَاءِ] أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الْخَطْفَةِ وَهُوَ مَا اقْتَطَعَهُ كَلْبٌ أو سيف أو سبع من الصيد فبات مِنْهُ هَذَا تَأْوِيلُ ابْنِ قُتَيْبَةَ وَتَأَوَّلَهُ أَبُو جَعْفَرٍ الطَّبَرِيُّ أَنَّ الْخَطْفَةَ النُّهْبَةُ وَمِنْهُ سُمِّي الْخُطَّافُ خُطَّافًا لِاخْتِطَافِهِ

Salah satunya adalah hewan itu mati bukan dengan cara penyembelihan yang sesuai, baik dengan disembelih jika memungkinkan, atau dengan lemparan yang mematikan jika tidak memungkinkan untuk disembelih. Maka, tidak boleh dimakan bagian tubuh yang terpotong dari hewan tersebut sebelum disembelih dengan cara yang benar, karena pemotongan itu bukanlah penyembelihan (dzakāh) baginya, sehingga tidak menjadi dzakāh untuk bagian yang terpotong tersebut. Adiy [Abu Darda’] meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang “al-khatfah”, yaitu bagian yang dipotong oleh anjing, pedang, atau binatang buas dari hewan buruan, lalu bagian itu terpisah dari tubuhnya. Ini adalah penafsiran Ibnu Qutaibah. Sedangkan Abu Ja‘far ath-Thabari menafsirkan bahwa “al-khatfah” adalah rampasan, dan dari kata itu pula burung “khutthāf” dinamakan demikian karena suka mengambil dengan cepat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَمُوتَ بِهَذَا الْقَطْعِ دُونَ غَيْرِهِ فَيُنْظَرَ فِيهِ فَإِنْ أَدْرَكَهُ حَيًّا فَقَدَرَ عَلَى ذَكَاتِهِ حَتَّى مَاتَ فلم يزكه كَانَ الصَّيْدُ مَعَ مَا بَانَ مِنْهُ مَيْتًا لَا يُؤْكَلُ لِأَنَّ حُكْمَ الْبَائِنِ مُعْتَبَرٌ بِأَصْلِهِ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى ذَكَاتِهِ حَتَّى مَاتَ أو أدرك مَيْتًا أَكَلَ جَمِيعَهُ الْبَائِنَ مِنْهُ اعْتِبَارًا بِأَصْلِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ الْقطعَ كَانَ هُوَ الْمُبِيحَ لِأَكْلِ الصَّيْدِ فَصَارَ مُبِيحًا لِأَكْلِ الْبَائِنِ مِنْهُ اعْتِبَارًا بِأَصْلِهِ

Jenis kedua adalah jika hewan itu mati karena potongan tersebut saja, bukan karena sebab lain. Maka hal ini diperhatikan: jika ia mendapati hewan itu masih hidup dan mampu melakukan penyembelihan syar‘i hingga hewan itu mati, namun ia tidak menyembelihnya, maka hewan buruan itu beserta bagian yang terpisah darinya dihukumi sebagai bangkai dan tidak boleh dimakan, karena hukum bagian yang terpisah mengikuti hukum asalnya. Namun jika ia tidak mampu menyembelihnya hingga hewan itu mati, atau ia mendapati hewan itu sudah mati, maka seluruh bagian hewan itu, termasuk yang terpisah darinya, boleh dimakan, mengikuti hukum asalnya. Sebab, potongan tersebutlah yang menjadi sebab kehalalan memakan hewan buruan, maka ia juga menjadi sebab kehalalan memakan bagian yang terpisah darinya, mengikuti hukum asalnya.

وَحَكَى ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَجْهًا آخَرَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْبَائِنَ مِنْهُ لَا يُؤْكَلُ وَإِنْ كَانَ الْأَصْلُ مَأْكُولًا لِأَنَّهُ بَانَ مِنْهُ مَعَ بَقَاءِ الْحَيَاةِ فِيهِ وَتَأَوُّلُ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُؤْكَلُ عَلَى ذَكَاةِ الْأَصْلِ مَعَ بَقَاءِ الْحَيَاةِ إِذَا تَعَذَّرَ فِيهِ الذَّبْحُ كَمَا يَكُونُ ذَكَاةً إِذَا وَجَأهُ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْبَائِنُ مِنْهُ فِي إِبَاحَتِهِ فِي الْحَالَيْنِ عَلَى سواء ولا يختلفون أنه لو تعلق المتطوع بِجِلْدَةٍ مُتَّصِلَةٍ بِأَصْلِهِ أَنَّهُ يَكُونُ مَا أَلْحَقْنَا به في إباحة أكله

Ibnu Abi Hurairah meriwayatkan pendapat lain dari sebagian ulama kami bahwa anggota tubuh hewan yang terlepas darinya tidak boleh dimakan, meskipun asal hewan tersebut halal dimakan, karena anggota itu terlepas sementara kehidupan masih ada pada hewan tersebut. Adapun penafsiran terhadap perkataan asy-Syafi‘i adalah bahwa anggota itu boleh dimakan berdasarkan penyembelihan asal hewan, selama kehidupan masih ada padanya, jika penyembelihan pada anggota itu tidak memungkinkan, sebagaimana dianggap sebagai penyembelihan jika hewan itu ditusuk. Maka seharusnya anggota tubuh yang terlepas darinya dalam dua keadaan tersebut hukumnya sama dalam hal kebolehannya, dan mereka sepakat bahwa jika seseorang memegang kulit yang masih menyatu dengan asal hewannya, maka hukumnya sama dengan apa yang kami tetapkan dalam kebolehan memakannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَا بَأْسَ أَنْ يَصِيدَ الْمُسْلِمُ بِكَلْبِ الْمَجُوسِيِّ وَلَا يَجُوزُ أَكْلُ مَا صَادَ الْمَجُوسِيُّ بِكَلْبِ مسلمٍ لِأَنَّ الْحُكْمَ حُكْمُ الْمُرْسِلِ وَإِنَّمَا الْكَلْبُ أداةٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Tidak mengapa seorang Muslim berburu dengan anjing milik orang Majusi, dan tidak boleh memakan hasil buruan orang Majusi dengan anjing milik Muslim, karena hukum itu mengikuti status orang yang melepaskan (anjing), sedangkan anjing hanyalah alat.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ حُكْمَ الْكَلْبِ حُكْمٌ لِمُرْسِلِهِ كَالْآلَةِ يَكُونُ حُكْمُهَا حُكْمَ الرَّامِي دُونَ مَالِكِهَا وَسَوَاءٌ عَلَيْهِ الْمُرْسِلُ أَوْ غَيْرُهُ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, karena hukum anjing adalah hukum bagi orang yang melepaskannya, seperti alat yang hukumnya mengikuti hukum orang yang menggunakannya, bukan pemiliknya. Sama saja, baik yang melepaskan itu sendiri maupun orang lain.”

فَإِذَا صَادَ مَجُوسِيٌّ بِكَلْبِ مُسْلِمٍ لَمْ يَحِلَّ صَيْدُهُ لِأَنَّ مُرْسِلَهُ مَجُوسِيٌّ كَمَا لَوْ رَمَى مَجُوسِيٌّ بِسَهْمِ مُسْلِمٍ لَمْ يَحِلَّ صَيْدُهُ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Maka jika seorang Majusi berburu dengan anjing milik seorang Muslim, hasil buruannya tidak halal, karena yang melepaskannya adalah seorang Majusi. Demikian pula jika seorang Majusi melemparkan panah milik seorang Muslim, hasil buruannya tidak halal. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.

وَلَوْ صَادَ مُسْلِمٌ بِكَلْبِ مَجُوسِيٍّ حَلَّ صَيْدُهُ

Jika seorang Muslim berburu dengan anjing milik seorang Majusi, hasil buruannya halal.

وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ لَا يَحِلُّ صَيْدُهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى تُعَلِّمُونَهُنْ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَكُلوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَهَذَا الشَّرْطُ غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي كَلْبِ الْمَجُوسِيِّ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri berkata, “Tidak halal hasil buruan anjing milik orang Majusi,” berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kalian mengajarkan kepada mereka (binatang buruan) sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kalian, maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kalian.” Syarat ini tidak terdapat pada anjing milik orang Majusi. Pendapat ini rusak dari tiga sisi.

أَحَدُهَا أَنَّ الْكَلْبَ آلَةٌ كَالسِّلَاحِ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ مُسْلِمًا لَوْ صَادَ بِسِلَاحِ مَجُوسِيٍّ حَلَّ كَذَلِكَ إِذَا صَادَ بِكَلْبِهِ

Salah satunya adalah bahwa anjing itu merupakan alat seperti senjata, dan telah tetap (dalam hukum) bahwa seorang Muslim jika berburu dengan senjata milik seorang Majusi, maka halal (hasil buruannya), demikian pula jika ia berburu dengan anjing milik Majusi.

وَالثَّانِي إِنَّ الِاعْتِبَارَ فِي الْكَلْبِ بِمُرْسِلِهِ دُونَ مُعَلِّمِهِ

Kedua, yang menjadi tolok ukur pada anjing adalah pemilik yang melepaskannya, bukan pelatihnya.

أَلَا تَرَى أَنَّ الْمَجُوسِيَّ إِذَا صَادَ بِكَلْبِ مُسْلِمٍ لَمْ يَحِلَّ إِجْمَاعًا فَوَجَبَ أَنْ يَحِلَّ إِذَا صَادَ مُسْلِمٌ بِكَلْبِ مَجُوسِيٍّ قِيَاسًا

Tidakkah engkau melihat bahwa apabila seorang Majusi berburu dengan anjing milik seorang Muslim, hasil buruannya tidak halal menurut ijmā‘, maka wajib pula bahwa hasil buruan seorang Muslim dengan anjing milik Majusi juga tidak halal menurut qiyās.

وَالثَّالِثُ إِنَّ الْمَجُوسِيَّ لَوْ عَلَّمَ كَلْبًا ثُمَّ أَسْلَمَ حَلَّ صَيْدُهُ لِأَنَّهُ بِإِرْسَالِهِ مُسْلِمٌ وَإِنْ كَانَ بِتَعْلِيمِ مَجُوسِيٍّ كَذَلِكَ إِذَا صَادَ به غيره من المسلمين

Ketiga, jika seorang Majusi melatih seekor anjing, kemudian ia masuk Islam, maka hasil buruan anjing tersebut menjadi halal, karena ketika melepaskannya ia sudah berstatus Muslim, meskipun anjing itu dilatih oleh seorang Majusi. Demikian juga jika anjing itu digunakan berburu oleh Muslim lain.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَأَيُّ أَبَوَيْهِ كَانَ مَجُوسِيًّا فَلَا أَرَى تُؤْكَلُ ذبيحته وقال في كتاب النكاح ولا ينكح إن كانت جاريةً وَلَيْسَتْ كَالصَّغِيرَةِ يُسْلِمُ أَحَدُ أَبَوَيْهَا لِأَنَّ الْإِسْلَامَ لَا يَشْرَكُهُ الشِّرْكُ وَالشِّرْكُ يَشْرَكُهُ الشِّرْكُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika salah satu dari kedua orang tuanya adalah Majusi, maka aku berpendapat tidak boleh memakan sembelihannya.” Dan beliau berkata dalam Kitab Nikah: “Tidak boleh dinikahi jika ia seorang budak perempuan, dan ia tidak seperti anak kecil yang salah satu dari kedua orang tuanya masuk Islam, karena Islam tidak bisa disekutukan dengan syirik, sedangkan syirik bisa disekutukan dengan syirik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ ذَبِيحَةَ الْمَجُوسِيِّ لَا تَحِلُّ وَتَحِلُّ ذَبِيحَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي كُلِّ حَيَوَانٍ مُبَاحٍ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa sembelihan orang Majusi tidak halal, sedangkan sembelihan Ahli Kitab halal pada setiap hewan yang boleh dimakan.

وَقَالَ مَالِكٌ تَحِلُّ لَنَا ذَبَائِحُ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي كُلِّ حَيَوَانٍ مِمَّا يَسْتَحِلُّونَهُ مِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَلَا تَحِلُّ فِيمَا لَا يُحِلُّونَهُ مِنَ الْإِبِلِ لِأَنَّهُمْ يَقْصِدُونَ بِذَبْحِهِ الإتلاف دون الذكاة وهذا غلظ لقوله تعالى وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُو الكِتَابَ حِلٌّ لَكُم وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ يُرِيدُ بِالطَّعَامِ الذَّبِيحَةَ دُونَ مَا يَسْتَطْعِمُونَهُ لِأَنَّهُمْ يَسْتَطْعِمُونَ الْخِنْزِيرَ وَلَا يَحِلُّ لَنَا

Malik berkata: Sembelihan Ahli Kitab halal bagi kita pada setiap hewan yang mereka halalkan, seperti sapi dan kambing, dan tidak halal pada apa yang tidak mereka halalkan, seperti unta, karena mereka menyembelihnya dengan maksud membinasakan, bukan untuk melakukan penyembelihan syar‘i. Ini adalah pendapat yang ketat, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagi kalian dan makanan kalian halal bagi mereka.” Yang dimaksud dengan makanan di sini adalah hewan sembelihan, bukan makanan yang mereka makan, karena mereka memakan babi, sedangkan itu tidak halal bagi kita.

وَلِأَنَّ مَا حَلَّ بِذَبِيحَةِ الْمُسْلِمِ حَلَّ بِذَبِيحَةِ الْكِتَابِيِّ كَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ طَرْدًا وَكَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ عَكْسًا وَإِذَا كَانَ هَذَا أَصْلًا مُقَرَّرًا وَقِيَاسًا مُسْتَمِرًّا فَاخْتَلَفَ أَبَوَا الْكَافِرِ فَحَلَّتْ ذَبِيحَةُ أَحَدِهِمَا وَلَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَةُ الْآخَرِ بِأَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا يَهُودِيًّا وَالَآخَرُ مَجُوسِيًّا نُظِرَ

Karena apa yang halal pada sembelihan seorang Muslim juga halal pada sembelihan seorang Ahli Kitab, seperti sapi dan kambing secara konsisten, dan seperti bagal dan keledai secara sebaliknya. Jika hal ini telah menjadi prinsip yang ditetapkan dan qiyās yang berkesinambungan, lalu kedua orang tua seorang kafir berbeda agama, sehingga sembelihan salah satunya halal dan sembelihan yang lainnya tidak halal—misalnya salah satunya Yahudi dan yang lainnya Majusi—maka perlu diteliti.

فَإِنْ كَانَ أَبُوهُ مَجُوسِيًّا وَأُمُّهُ يَهُودِيَّةً فلا تحل ذبيحته لوجهين

Jika ayahnya seorang Majusi dan ibunya seorang Yahudi, maka sembelihannya tidak halal karena dua alasan.

أحدهما أنه نَسَبَهُ يَلْحَقُ بِأَبِيهِ فَكَانَ حَمْلُهُ حَمْلَ أَبِيهِ

Pertama, nasabnya disandarkan kepada ayahnya, sehingga status kehamilannya adalah kehamilan dari ayahnya.

وَالثَّانِي أَنَّ الْحَظْرَ وَالْإِبَاحَةَ إِذَا اجْتَمَعَا يَغْلِبُ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ

Kedua, bahwa apabila larangan (ḥaẓr) dan kebolehan (ibāḥah) berkumpul, maka hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan.

وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ يَهُودِيًّا وَأُمُّهُ مَجُوسِيَّةً فَفِي إِبَاحَةِ ذَبِيحَتِهِ قَوْلَانِ

Jika ayahnya seorang Yahudi dan ibunya seorang Majusi, maka dalam hal kebolehan sembelihannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ يَرْجِعُ إِلَى أَبِيهِ فِي نَسَبِهِ

Salah satunya, sembelihannya halal dengan alasan bahwa nasabnya kembali kepada ayahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ تَعْلِيلًا بِأَنَّ اجْتِمَاعَ الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ كَالْمُتَوَلِّدِ مِنْ حِمَارٍ وَحْشِيٍّ وَحِمَارٍ أَهْلِيٍّ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sembelihannya tidak halal, dengan alasan bahwa jika larangan dan kebolehan berkumpul, maka larangan harus diutamakan atas kebolehan, seperti hewan hasil perkawinan antara keledai liar dan keledai jinak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا كِتَابِيًّا حَلَّتْ ذَبِيحَتُهُ سَوَاءٌ كَانَ الْكِتَابِيُّ مِنْهُمَا أَبَاهُ وَأُمَّهُ كَمَا لَوْ كَانَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ مُسْلِمًا وَالْآخَرُ مَجُوسِيًّا وَلَا يُوجِبُ تَغْلِيبَ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ كَمَا لَمْ يُغَلَّبِ الْحَظْرُ فِي إِسْلَامِ أَحَدِ أَبَوَيْهِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah berkata, “Jika salah satu dari keduanya adalah ahli kitab, maka sembelihannya halal, baik ahli kitab itu adalah ayah atau ibunya, sebagaimana jika salah satu dari kedua orang tuanya Muslim dan yang lainnya Majusi. Tidak wajib mengedepankan larangan atas kebolehan, sebagaimana larangan juga tidak dikedepankan dalam kasus salah satu dari kedua orang tuanya Muslim.” Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا غُلِّبَ فِي النِّكَاحِ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ فِي وَلَدِ الْكَافِرِ وَإِنْ لَمْ يُغَلَّبْ حُكْمُ الْحَظْرِ إِذَا كَانَ أَحَدُهُمَا مُسْلِمًا وَجَبَ حُكُمُ الذَّبِيحَةِ بِمَثَابَتِهِ

Salah satunya adalah bahwa ketika dalam pernikahan, hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan pada anak orang kafir, dan meskipun hukum larangan tidak diutamakan jika salah satu dari keduanya adalah seorang Muslim, maka hukum tentang sembelihan tetap berlaku sebagaimana mestinya.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَا عَلَّلَ بِهِ الشَّافِعِيُّ أَنَّ الْإِسْلَامَ لَا يُشْرِكُهُ الشِّرْكُ وَالشِّرْكَ يُشْرِكُهُ الشِّرْكُ وَبَيَانُهُ أَنَّ الْإِسْلَامَ وَالشِّرْكَ لَا يَجْتَمِعَانِ وَيَرْتَفِعُ الشِّرْكُ بِقُوَّةِ الْإِسْلَامِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْفَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ولقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الإسلام يعلوا وَلَا يُعلى

Yang kedua adalah alasan yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i, yaitu bahwa Islam tidak dapat disekutukan oleh syirik, sedangkan syirik dapat disekutukan oleh syirik. Penjelasannya adalah bahwa Islam dan syirik tidak dapat berkumpul, dan syirik akan hilang dengan kekuatan Islam, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Sebenarnya Kami melontarkan kebenaran kepada kebatilan, lalu kebenaran itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta kebatilan itu lenyap.” Dan juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Islam itu unggul dan tidak ada yang mengunggulinya.”

وَإِذَا كَانَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ مُسْلِمًا وَالْآخَرُ مُشْرِكًا غَلَّبَهُ حُكْمُ الْإِسْلَامِ عَلَى حُكْمِ الشرك ويجتمع الشَّرْطَانِ لِأَنَّهُمَا بَاطِلَانِ فَلَمْ يَرْتَفِعْ حُكْمُ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ وَإِذَا لَمْ يَرْتَفِعْ حُكْمَا أَحَدِهِمَا وَجَبَ أن يغلب الحظر منهما

Apabila salah satu dari kedua orang tuanya adalah Muslim dan yang lainnya musyrik, maka hukum Islam lebih diutamakan daripada hukum syirik. Kedua syarat tersebut berkumpul karena keduanya batal, sehingga hukum salah satunya tidak gugur dengan adanya yang lain. Dan apabila hukum salah satunya tidak gugur, maka wajib untuk mengedepankan larangan dari keduanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَا يُؤْكَلُ مَا قَتَلَتْهُ الْأُحْبُولَةُ كَانَ فِيهَا سلاحٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لِأَنَّهَا ذكاةٌ بِغَيْرِ فَعْلِ أحدٍ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Tidak boleh dimakan hewan yang mati karena jebakan, baik di dalamnya terdapat senjata maupun tidak, karena itu merupakan penyembelihan tanpa adanya perbuatan dari seseorang.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الصَّيْدَ الْمُمْتَنِعَ لِتَعَذُّرِ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ يُتَوَصَّلُ إِلَيْهِ بِأَسْبَابٍ تُجْعَلُ حِيَلًا فِي الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ وَهُوَ يَتَنَوَّعُ بِأَنْوَاعٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa hewan buruan yang sulit ditangkap karena tidak mampu menguasainya dapat diupayakan dengan berbagai cara yang dijadikan sebagai hiyal (rekayasa) untuk dapat menguasainya, dan cara-cara tersebut bermacam-macam jenisnya.

أَحَدُهَا الْجَوَارِحُ الْمُرْسَلَةُ عَلَيْهِ وَقَدْ ذَكَرْنَاهَا

Salah satunya adalah hewan buruan yang dilepaskan untuk memburunya, dan hal ini telah kami sebutkan.

وَالثَّانِي السِّلَاحُ الَّذِي يَرْمِي بِهِ فَإِنْ قَتَلَ بِثِقَلِهِ كَالْحَجَرِ وَالْخَشَبِ فَهُوَ وَقِيذٌ لَا يُؤْكَلُ وَإِنْ قَطَعَ بِحَدِّهِ أَوْ بَعْدَ تَدْمِيَةٍ فَهُوَ مَأْكُولٌ فَأَمَّا الْمِعْرَاضُ فَهُوَ آلَةٌ تَجْمَعُ خَشَبًا وَحَدِيدًا فَإِنْ أَصَابَ بِحَدِّهِ أُكِلَ وَإِنْ أَصَابَ بِعَرْضِهِ فَهُوَ وَقِيذٌ

Yang kedua adalah senjata yang digunakan untuk melempar. Jika hewan itu mati karena beratnya, seperti batu atau kayu, maka itu termasuk bangkai (waqīdz) dan tidak boleh dimakan. Namun jika hewan itu mati karena terpotong oleh bagian tajamnya, atau setelah terluka hingga berdarah, maka hewan itu boleh dimakan. Adapun al-mi‘rāḍ adalah alat yang terbuat dari kayu dan besi; jika mengenai hewan dengan bagian tajamnya, maka hewan itu boleh dimakan, tetapi jika mengenai dengan bagian sampingnya, maka itu termasuk bangkai (waqīdz).

وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مَا نُصِبَ لَهُ مِنَ الْآلَةِ الَّتِي تُفَارِقُ آلَتَهُ فَتَضْغَطُهُ وَتُمْسِكُهُ كَالْفَخِّ وَالشَّرَكِ وَالشَّبَكَةِ وَالْأُحْبُولَةِ فَإِذَا وَقَعَ فِيهِ وَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ حَلَّ وَإِنْ فَاتَتْ ذَكَاتُهُ وَمَاتَ لَمْ يُؤْكَلْ سَوَاءٌ كَانَ فِي الْآلَةِ سِلَاحٌ قَطَعَ بِحَدٍّ أَوْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا سِلَاحٌ فَمَاتَ بِضَغْطِهِ

Jenis ketiga adalah alat yang dipasang untuknya, yang berbeda dari alat yang digunakan untuk berburu secara langsung, seperti perangkap, jerat, jaring, dan uhbūlah. Jika hewan buruan terperangkap di dalamnya dan kamu masih sempat melakukan penyembelihan (dzakāh), maka halal dimakan. Namun jika tidak sempat melakukan dzakāh dan hewan itu mati, maka tidak boleh dimakan, baik alat tersebut memiliki senjata tajam yang melukainya atau tidak, dan hewan itu mati karena terjepit.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ فِيهَا سِلَاحٌ قَطَعَ بِحَدِّهِ يَحِلُّ اسْتِدْلَالًا لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَفَرَى الْأَوْدَاجَ فَكُلْ

Abu Hanifah berkata: Jika di dalamnya terdapat senjata yang dapat memotong dengan tajamnya, maka itu halal (untuk digunakan), berdasarkan istidlāl (pengambilan dalil) dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa saja yang mengalirkan darah dan memutus urat leher, maka semuanya (boleh digunakan).”

وَلِأَنَّهُ يَمْتَنِعُ عَقْرُهُ بِحَدٍّ فَحَلَّ أَكْلُهُ كَالْمَرْمِيِّ بِحَدِيدَةٍ

Dan karena hewan itu tidak mungkin disembelih dengan cara yang sesuai syariat, maka halal memakannya, seperti hewan yang mati karena terkena benda tajam.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى السَّبَبُ وَالْمُبَاشَرَةُ فِي وُجُوبِ الضَّمَانِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ

Dan karena sebab (sebab tidak langsung) dan pelaku langsung sama dalam hal kewajiban membayar ganti rugi, maka keduanya juga harus disamakan dalam hal kebolehan memakan (hasilnya).

وَدَلِيلُنَا مَا عَلَّلَ بِهِ الشَّافِعِيُّ أَنَّهَا ذَكَاةٌ بِغَيْرِ فِعْلِ أَحَدٍ

Dan dalil kami adalah apa yang dijadikan alasan oleh asy-Syafi‘i, yaitu bahwa hal itu merupakan penyembelihan (dzakāh) tanpa perbuatan siapa pun.

وَبَيَانُهُ أَنَّ الذَّكَاةَ تَكُونُ بِفِعْلِ فَاعِلٍ مُبَاشِرٍ وَلَا تَحِلُّ بِغَيْرِ فِعْلٍ مُبَاشِرٍ وَتَحْرِيرُهُ أَنَّهَا ذَكَاةٌ فَوَجَبَ أَنْ تَحِلَّ بِالْمُبَاشِرَةِ دُونَ السَّبَبِ كَمَنْ نَصَبَ سِكِّينًا فَاحْتَكَّتْ بِهَا شَاةٌ فَانْذَبَحَتْ لَمْ تُؤْكَلْ

Penjelasannya adalah bahwa penyembelihan (dzakāh) harus dilakukan oleh pelaku secara langsung, dan tidak halal jika tidak dilakukan secara langsung. Penegasannya adalah bahwa ia merupakan dzakāh, maka wajib dilakukan secara langsung, bukan hanya karena sebab. Seperti seseorang yang menancapkan pisau, lalu seekor kambing menggesekkan dirinya pada pisau itu hingga terpotong lehernya, maka dagingnya tidak boleh dimakan.

وَعَلَّلَ أَبُو الطِّيبِ بْنُ سَلَمَةَ بِأَنَّ الصَّيْدَ يَحِلُّ إِذَا كَانَ مُعَيَّنًا أَوْ مِنْ جُمْلَةٍ مُعَيَّنَةٍ كَمَا لَوْ رَمَى سَهْمًا إِلَى عُلُوٍّ فَسَقَطَ عَلَى صَيْدٍ اعْتَرَضَهُ لَمْ يَحِلَّ وَالْمَقْتُولُ بِسِلَاحِ الْأُحْبُولَةِ لَمْ يَكُنْ مُعَيَّنًا وَلَا مِنْ جُمْلَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَفِي هَذَا التَّعْلِيلِ دَخَلٌ لِأَنَّهُ لَوْ نَصَبَهُ لِصَيْدٍ مُعَيَّنٍ أَوْ لِجُمْلَةٍ مُعَيَّنَةٍ لَمْ يَحِلَّ

Abu Thayyib bin Salamah beralasan bahwa buruan menjadi halal jika ia ditentukan secara spesifik atau termasuk dalam kelompok yang ditentukan, seperti halnya jika seseorang melempar anak panah ke atas lalu jatuh mengenai buruan yang kebetulan melintas, maka tidak menjadi halal. Sedangkan hewan yang terbunuh dengan senjata jebakan tidaklah ditentukan secara spesifik maupun termasuk dalam kelompok yang ditentukan. Namun, alasan ini masih mengandung kelemahan, karena jika ia memasang jebakan itu untuk buruan tertentu atau untuk kelompok tertentu pun, tetap tidak menjadi halal.

وَعَلَّلَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ بِأَنَّ الذَّكَاةَ تَحِلُّ بِالْفَاعِلِ وَالْأُحْبُولَةَ لَا فِعْلَ لَهَا وَإِنَّمَا الْفِعْلُ لِلصَّيْدِ الْوَاقِعِ فِيهَا فَلَمْ يَحِلَّ كَمَا لَوِ احْتَكَّ بِحَدِيدَةٍ أَوْ شَجَرَةٍ انْذَبَحُ بِهَا

Abu Ishaq al-Marwazi beralasan bahwa penyembelihan (dzakāh) menjadi halal karena adanya perbuatan dari pelaku, sedangkan perangkap (al-uhbūlah) tidak melakukan suatu perbuatan apa pun; yang melakukan perbuatan hanyalah hewan buruan yang terjerat di dalamnya. Maka, hewan tersebut tidak menjadi halal, sebagaimana jika ia menggesekkan dirinya pada besi atau pohon lalu mati karenanya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ فَهُوَ أَنَّهُ وَارِدٌ فَيْمَا تَصِحُّ فِيهِ الذَّكَاةُ مِنَ الْآلَةِ إِذَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَفَرَى الْأَوْدَاجَ بِحَدِّهِ ثُمَّ بِشُرُوطِ الِاسْتِبَاحَةِ فَهِيَ مَوْقُوفَةٌ عَلَى غَيْرِ الْمُبَاشَرَةِ

Adapun jawabannya adalah bahwa hal itu berlaku pada alat yang sah digunakan untuk menyembelih, apabila alat tersebut mengalirkan darah dan memotong urat-urat leher dengan bagian tajamnya, kemudian dengan syarat-syarat kebolehan, maka kebolehannya tergantung pada selain langsung (tidak secara langsung).

وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ عَلَى الْمُبَاشَرَةِ فَهُوَ مَا مَنَعْنَا بِهِ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ السَّبَبِ وَالْمُبَاشَرَةِ

Adapun qiyās mereka atas perbuatan langsung, maka itulah yang kami jadikan alasan untuk melarang penggabungan antara sebab dan perbuatan langsung.

وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِالضَّمَانِ فَوُجُوبُ الضَّمَانِ أَعَمُّ وَإِبَاحَةُ الْأَكْلِ أَخَصُّ فَافْتَرَقَ حُكْمُ الْعُمُومِ والخصوص

Adapun dalil mereka dengan jaminan (dhamān), maka kewajiban jaminan itu lebih umum, sedangkan kebolehan makan itu lebih khusus, sehingga hukum keumuman dan kekhususan pun berbeda.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَالذَّكَاةُ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا مَا كَانَ مَقْدُورًا عَلَيْهُ مِنْ إنسيٍّ أَوْ وحشيٍّ لَمْ يَحِلَّ إِلَّا بَأَنْ يُذَكَّى وَمَا كَانَ مُمْتَنِعًا مِنْ وحشيٍّ أَوْ إنسيٍّ فَمَا قَدَرْتَ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرَّمْيِ أَوِ السِّلَاحِ فَهُوَ بِهِ ذكيٌّ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Dzakat (penyembelihan yang sah) itu ada dua macam. Pertama, hewan yang dapat dikuasai, baik dari jenis hewan jinak maupun liar, tidak halal kecuali dengan cara disembelih (dzakat). Kedua, hewan yang sulit ditangkap, baik dari jenis hewan liar maupun jinak, maka apa yang kamu mampu untuk menguasainya dengan cara memanah atau menggunakan senjata, maka dengan cara itu pula ia menjadi halal (dzakat).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْحَيَوَانُ ضَرْبَانِ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ وَمُمْتَنِعٌ

Al-Mawardi berkata, “Hewan itu terbagi menjadi dua jenis: yang dapat dikuasai dan yang sulit untuk dikuasai.”

فَأَمَّا الْمَقْدُورُ عَلَيْهِ فَلَا تَحِلُّ ذَكَاتُهُ إِلَّا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ سَوَاءٌ كَانَ أَهْلِيًّا أَوْ وَحَشِيًّا وَأَمَّا الْمُمْتَنِعُ فَضَرْبَانِ

Adapun hewan yang dapat dikuasai, maka tidak halal penyembelihannya kecuali pada bagian leher dan pangkal leher, baik hewan jinak maupun liar. Adapun hewan yang sulit ditangkap, maka terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا وَحْشِيٌّ كَالصَّيْدِ فَعَقْرُهُ ذَكَاتُهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ أَصَبْتَهُ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah hewan liar seperti hewan buruan, maka melukainya merupakan bentuk penyembelihan yang sah di bagian mana pun tubuhnya yang terkena, dan hal ini telah disepakati.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَهْلِيٌّ كَالنَّعَمِ إِذَا تَوَحَّشَ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ عَقْرَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ أَصَبْتَ مِنْ ذَكَاتِهِ كَالصَّيْدِ وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلِيٌّ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عمر ومن التابعين الحسن وعطاء وطاووس وَمِنَ الْفُقَهَاءِ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ

Jenis kedua adalah hewan peliharaan, seperti hewan ternak yang menjadi liar. Menurut mazhab Syafi‘i, penyembelihannya di bagian mana pun yang kamu kenai dari tempat penyembelihannya, hukumnya seperti berburu. Pendapat ini juga dikatakan oleh para sahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan Ibnu ‘Umar, serta dari kalangan tabi‘in seperti al-Hasan, ‘Atha’, dan Thawus, dan dari kalangan fuqaha seperti Abu Hanifah dan para pengikutnya, serta Sufyan ats-Tsauri.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَحِلُّ إِلَّا بِالذَّكَاةِ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَبِهِ قَالَ مِنَ التَّابِعِينَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ رَبِيعَةُ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ

Malik berkata, “Tidak halal kecuali dengan penyembelihan (dzakāh) pada leher dan pangkal leher (labbah).” Pendapat ini juga dikatakan oleh Sa‘id bin al-Musayyab dari kalangan tabi‘in, dan dari kalangan fuqaha oleh Rabi‘ah serta al-Laits bin Sa‘d, dengan berdalil pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyembelihan (dzakāh) itu pada leher dan pangkal leher (labbah).”

وَلِأَنَّهُ الْأَصْلُ فِي الْأَهْلِيِّ أَنَّهُ يُذَكَّى وَلَا يُفْدَى بِالْجَزَاءِ فَلَوْ جَازَ إِذَا تَوَحَّشَ أَنْ يَتَغَيَّرَ عَنْ حُكْمِ أَصْلِهِ فِي الذَّكَاةِ فَيَصِيرَ بِعَقْرِهِ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ فِي حَلْقِهِ وَلَبَّتِهِ لَوَجَبَ أَنْ يَتَغَيَّرَ حُكْمُهُ فِي الْجَزَاءِ فَيُفْدِيَهِ الْمُحْرِمُ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ مَفْدِيًّا أَوْ لَصَارَ الْحِمَارُ الْأَهْلِيُّ إِذَا تَوَحَّشَ مَأْكُولًا فَلَمَّا بَقِيَ عَلَى أَصْلِهِ فِي سُقُوطِ الْجَزَاءِ وَتَحْرِيمِ الْأَكْلِ وَجَبَ بَقَاؤُهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي الذَّكَاةِ

Karena hewan jinak pada asalnya disembelih (dengan cara syar‘i) dan tidak ditebus dengan denda, maka jika dibolehkan ketika ia menjadi liar hukum asalnya dalam penyembelihan berubah, sehingga menjadi halal dengan cara melukainya (bukan disembelih di leher dan pangkal leher) setelah sebelumnya harus disembelih di leher dan pangkal leher, niscaya hukum dalam hal denda juga harus berubah, sehingga orang yang berihram menebusnya setelah sebelumnya tidak wajib ditebus, atau keledai jinak yang menjadi liar menjadi halal dimakan. Namun, ketika hukum asalnya tetap berlaku, yaitu tidak ada denda dan tetap haram dimakan, maka wajib pula hukum asalnya tetap berlaku dalam penyembelihan.

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ عباية بن رفاعة بن رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّ بَعِيرًا نَدَّ فَرَمَاهُ رجلٌ بِسَهْمٍ فَحَبَسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّ لِهَذِهِ الْإِبِلِ أَوْ قَالَ لِلنَّعَمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الْوَحْشِ فَمَا غَلَبَكُمْ فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا فَكَانَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلَانِ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Ubāyah bin Rafā‘ah bin Rāfi‘ bin Khadīj dari ayahnya, dari kakeknya Rāfi‘ bin Khadīj, bahwa seekor unta lepas lalu seseorang melemparnya dengan anak panah sehingga menahannya. Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya unta-unta ini, atau beliau bersabda: hewan ternak ini, memiliki sifat liar seperti liarnya hewan buruan. Maka apa yang sulit kalian kendalikan, lakukanlah terhadapnya seperti ini.” Maka dalam hadis ini terdapat dua dalil.

أَحَدُهُمَا أَنَّ قَوْلَهُ فَحَبَسَهُ أَيْ قَتَلَهُ لِمَا رُوِيَ فِي خَبَرٍ آخَرَ فَحَبَسَهُ اللَّهُ أَيْ أَمَاتَهُ

Salah satunya adalah bahwa ucapannya “maka Allah menahannya” maksudnya adalah membunuhnya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat lain: “maka Allah menahannya” maksudnya adalah mematikannya.

وَالثَّانِي قَوْلُهُ فَاصْنَعُوا هَكَذَا وَلَوْ لَمْ يَحِلَّ بِالرَّمْيِ لَمْ يَأْمُرْ بِهِ لِأَنَّهُ حَيَوَانٌ مُمْتَنِعٌ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ عَقْرُهُ ذَكَاتَهُ كَالْوَحْشِ وَلِأَنَّ مَا صَحَّ بِهِ ذَكَاةُ الْوَحْشِ جَازَ أَنْ يَصِحَّ بِهِ ذَكَاةُ الْأَهْلِيِّ كَالذَّبْحِ

Yang kedua adalah sabdanya: “Maka lakukanlah seperti ini.” Seandainya tidak menjadi halal dengan cara melempar, tentu beliau tidak akan memerintahkannya, karena hewan itu adalah hewan yang sulit ditangkap, sehingga boleh jadi melukainya merupakan bentuk penyembelihan baginya seperti hewan liar. Dan karena apa yang sah sebagai penyembelihan bagi hewan liar, maka boleh juga sah sebagai penyembelihan bagi hewan ternak, seperti penyembelihan biasa.

وَلِأَنَّهُ اعْتُبِرَ فِي ذكاة الأهل حكم أصله إذا وَلَا يَكُونُ إِلَّا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ لَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِي ذَكَاةِ الْوَحْشِ حُكْمُ أَصْلِهِ إِذَا تَأَنَّسَ فَيَكُونَ بِعَقْرِهِ فِي غَيْرِ الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَفِي بُطْلَانِ هَذَا فِي الْوَحْشِ إِذَا تَأَنَّسَ دَلِيلٌ عَلَى بُطْلَانِهِ فِي الْإِنْسِيِّ إِذَا تَوَحَّشَ اعْتِبَارًا بِالِامْتِنَاعِ وَالْقُدْرَةِ

Karena dalam penyembelihan hewan jinak dipertimbangkan hukum asalnya jika berubah, dan itu hanya berlaku pada leher dan pangkal leher, maka seharusnya dalam penyembelihan hewan liar juga dipertimbangkan hukum asalnya jika menjadi jinak, sehingga penyembelihannya cukup dengan melukai di selain leher dan pangkal leher. Namun, batalnya hal ini pada hewan liar yang menjadi jinak merupakan dalil atas batalnya hal tersebut pada hewan jinak yang menjadi liar, dengan mempertimbangkan keadaan tidak bisa ditangkap dan kemampuan (untuk menyembelih).

فَأَمَّا الْخَبَرُ فَوَارِدٌ فِي الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ عَلَى مَا سَنُورِدُهُ فِي سَبَبِهِ

Adapun khabar, maka itu berlaku pada sesuatu yang mampu dilakukan, sebagaimana akan kami jelaskan pada pembahasannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِالْجَزَاءِ وَالْأَكْلِ مَعَ فَسَادِهِ بِالْوَحْشِيِّ إِذَا تَأَنَّسَ فَهُوَ أَنَّهُمَا يُخَالِفَانِ الْقُدْرَةَ وَالِامْتِنَاعَ فِي الزَّكَاةِ لِأَنَّهُمَا حُكْمَانِ لَازِمَانِ لَا يَنْتَقِلَانِ وَالْقُدْرَةُ وَالِامْتِنَاعُ يَتَعَاقَبَانِ فَيَصِيرُ مَقْدُورًا عَلَيْهِ بَعْدَ أَنْ كَانَ مُمْتَنِعًا وَمُمْتَنِعًا بَعْدَ أَنْ كَانَ مَقْدُورًا عَلَيْهِ وَلَا يَصِيرُ مَأْكُولًا بَعْدَ أَنْ كَانَ غَيْرَ مَأْكُولٍ وَلَا غَيْرَ مَأْكُولٍ بَعْدَ أَنْ كَانَ مَأْكُولًا فَافْتَرَقَا

Adapun jawaban atas argumentasinya dengan balasan dan memakan bersama dengan kerusakannya pada hewan liar jika sudah jinak, maka keduanya berbeda dengan kemampuan dan ketidakmampuan dalam zakat, karena keduanya (balasan dan memakan) adalah hukum yang tetap dan tidak berubah, sedangkan kemampuan dan ketidakmampuan itu silih berganti; sesuatu bisa menjadi mampu dilakukan setelah sebelumnya tidak mampu, dan bisa menjadi tidak mampu setelah sebelumnya mampu. Tidaklah sesuatu menjadi boleh dimakan setelah sebelumnya tidak boleh dimakan, dan tidak pula menjadi tidak boleh dimakan setelah sebelumnya boleh dimakan. Maka keduanya berbeda.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وقال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ سِنٍّ أَوْ ظفرٍ لِأَنَّ السِّنَ عظمٌ مِنَ الْإِنْسَانِ والظفر مدى الحبش وثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أنه جعل ذكاة الإنسيِّ مثل ذكاة الوحشيِّ إذا امتنع قال ولما كان الوحشي يحل بالعقر ما كان ممتنعاً فإذا قدر عليه لم يحل إلا بما يحل به الإنسيُّ كان كذلك الإنسي إذا صار كالوحشي ممتنعاً حل بما يحل به الوحشي

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Apa saja yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah, kecuali yang berasal dari gigi atau kuku, karena gigi adalah tulang dari manusia dan kuku adalah pisau orang Habasyah.” Telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa beliau menjadikan penyembelihan hewan jinak seperti penyembelihan hewan liar jika hewan itu sulit ditangkap. Beliau berkata, “Ketika hewan liar dihalalkan dengan cara dilukai (al-‘aqr) jika sulit ditangkap, maka jika sudah mampu ditangkap, tidak halal kecuali dengan cara yang menghalalkan hewan jinak. Demikian pula hewan jinak, jika ia menjadi seperti hewan liar yang sulit ditangkap, maka halal dengan cara yang menghalalkan hewan liar.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الذَّكَاةَ تَجُوزُ بِالْحَدِيدِ وَبِمَا صَارَ فِي اللَّحْمِ مَوْر الْحَدِيدِ فَذَبَحَ بحده لانتثله مِنْ مُحَدِّدِ الْخَشَبِ وَالْقَصَبِ وَالزُّجَاجِ وَالْحِجَارَةِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ سِنًّا أَوْ ظُفْرًا فَلَا تَجُوزُ الذَّكَاةُ بِهِ وَإِنْ قَطَعَ بِحَدِّهِ مُتَّصِلًا كَانَ أَوْ مُنْفَصِلًا وَسَوَاءٌ كَانَ مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ سَبُعٍ وَأَجَازَ أَبُو حَنِيفَةَ الذَّكَاةَ بِهِ إِذَا كَانَ مُنْفَصِلًا وَلَمْ يُجِزْهَا بِهِ إِذَا كَانَ مُتَّصِلًا احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَفَرَى الْأَوْدَاجَ فَكُلْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّهُ آلَةٌ يُمْكِنُ الذَّبْحُ بِهَا فَحَلَّتْ ذَكَاتُهَا كَالْحَدِيدِ وَلِأَنَّهَا ذَكَاةٌ مُنِعَ مِنْهَا لِمَعْنًى فِي الْآلَةِ فَحَلَّتْ كَالسِّكِّينِ الْمَغْصُوبَةِ وَفَرَّقَ بَيْنَ الْمُتَّصِلِ وَالْمُنْفَصِلِ بِأَنَّ الْمُتَّصِلَ يُرَضُّ بِثِقْلِهِ وَالْمُنْفَصِلَ يُشَقُّ بِحَدِّهِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa penyembelihan (dzakāh) boleh dilakukan dengan besi dan dengan benda apa pun yang memiliki daya potong seperti besi, sehingga dapat menyembelih dengan ketajamannya, baik itu dari kayu tajam, bambu, kaca, atau batu, kecuali jika berupa gigi atau kuku, maka tidak boleh digunakan untuk penyembelihan, meskipun dapat memotong dengan ketajamannya, baik yang masih menyatu maupun yang terpisah, dan baik itu berasal dari manusia maupun binatang buas. Abu Hanifah membolehkan penyembelihan dengan gigi atau kuku jika terpisah, namun tidak membolehkannya jika masih menyatu, dengan alasan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan memotong urat nadi, maka makanlah,” sehingga berlaku secara umum. Dan karena itu adalah alat yang memungkinkan untuk menyembelih dengannya, maka halal penyembelihannya seperti besi. Dan karena itu adalah penyembelihan yang dilarang karena alasan tertentu pada alatnya, maka menjadi halal seperti pisau hasil rampasan. Ia membedakan antara yang masih menyatu dan yang terpisah, bahwa yang masih menyatu digunakan dengan kekuatan tekanannya, sedangkan yang terpisah digunakan dengan ketajamannya.

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ بِإِسْنَادِهِ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَا لاقوا الْعَدُوِّ غَدًا وَلَيْسَ مَعَنَا مُدًى أَفَنُذَكِّي بِاللَّيْطِ فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوا إِلَّا بِمَا كَانَ مِنْ سنٍّ أَوْ ظفرٍ فَإِنَّ السِّنَّ عظمٌ مِنَ الْإِنْسَانِ وَالظُّفْرُ مُدَى الْحَبَشَةِ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dengan sanadnya dari Rafi‘ bin Khadij, bahwa ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, besok kami akan menghadapi musuh dan kami tidak membawa pisau, bolehkah kami menyembelih dengan menggunakan pelepah?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah, kecuali yang berasal dari gigi atau kuku, karena gigi adalah tulang dari manusia dan kuku adalah pisau milik orang Habasyah.”

فَاسْتَثْنَاهُمَا مِنَ الْإِبَاحَةِ فَدَخَلَا فِي التَّحْرِيمِ وَصَارَ عُمُومُ أَوَّلِهِ مَخْصُوصًا بِآخِرِهِ وَلِأَنَّهُ ذَبْحٌ بِعَظْمٍ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَحِلَّ كَالْمُتَّصِلِ وَلِأَنَّ مَا لَمْ تَحِلَّ الذَّكَاةُ بِهِ إِذَا كَانَ مُتَّصِلًا لَمْ تَحِلَّ الذَّكَاةُ بِهِ إِذَا كَانَ مُنْفَصِلًا كَالشَّعْرِ إِذَا حُرِقَ طَرْدًا وَالْحَدِيدِ إِذَا قُطِعَ عَكْسًا وَلِأَنَّهُ فِي الِاتِّصَالِ أَقْوَى وَأَمْضَى مِنْهُ بَعْدَ الِانْفِصَالِ فَلَمَّا لَمْ تَجُزِ الذَّكَاةُ بِهِ فِي أَقْوَى حَالَيْهِ كَانَ بِأَنْ لَا يَجُوزَ فِي أَضْعَفِهِمَا أَوْلَى

Maka keduanya (tulang dan kuku) dikecualikan dari kebolehan, sehingga masuk dalam keharaman, dan keumuman pada awalnya menjadi khusus dengan bagian akhirnya. Karena itu adalah penyembelihan dengan tulang, maka wajib hukumnya tidak halal, seperti halnya ketika masih menyatu. Dan karena sesuatu yang tidak sah digunakan untuk penyembelihan ketika masih menyatu, maka tidak sah pula digunakan ketika sudah terpisah, seperti rambut jika dibakar (tidak sah), dan besi jika dipotong (sebaliknya). Dan karena dalam keadaan menyatu, kekuatan dan ketajamannya lebih besar daripada setelah terpisah, maka ketika tidak boleh digunakan untuk penyembelihan dalam keadaan paling kuat, maka lebih utama lagi tidak boleh digunakan dalam keadaan lebih lemah.

فَأَمَّا الْخَبَرُ فَقَدْ يَخُصُّهُ آخِرُهُ

Adapun khabar, maka bisa saja bagian akhirnya memberikan pengkhususan terhadapnya.

وَأَمَّا الْقِيَاسُ عَلَى الْحَدِيدِ فِيهِ جَوَابَانِ أَحَدُهُمَا بُطْلَانُهُ بِالْمُتَّصِلِ وَالثَّانِي إِنَّ نَصَّ السُّنَّةِ يَدْفَعُهُ

Adapun qiyās atas besi, terdapat dua jawaban: yang pertama, batal karena adanya dalil yang bersambung; dan yang kedua, nash sunnah menolaknya.

وَأَمَّا الْقِيَاسُ عَلَى السِّكِّينِ الْمَغْصُوبَةِ فَعَنْهُ جَوَابَانِ أَحَدُهُمَا إِنَّ الْمَنْعَ مِنَ السِّنِّ فِي حَقِّ اللَّهِ فَصَارَ كَذَبْحِ مَا لَا يُؤْكَلُ وَالْمَنْعُ مِنَ السِّكِّينِ الْمَغْصُوبَةِ فِي حَقِّ الْآدَمِيِّينَ فَصَارَ كَذَبْحِ الشَّاةِ الْمَغْصُوبَةِ وَالثَّانِي إِنَّ الذَّبْحَ بِالسِّنِّ مُخْتَصٌّ بِالذَّكَاةِ لِجَوَازِ اسْتِعْمَالِهِ فِي غَيْرِهَا وَالْمَنْعَ مِنْ السِّكِّينِ الْمَغْصُوبَةِ غَيْرُ مُخْتَصٍّ بِالذَّكَاةِ لِتَحْرِيمِهَا فِيهَا وَفِي غَيْرِهَا

Adapun qiyās terhadap pisau yang digasak, terdapat dua jawaban darinya. Pertama, larangan menggunakan gigi adalah karena hak Allah, sehingga hukumnya seperti menyembelih hewan yang tidak boleh dimakan, sedangkan larangan menggunakan pisau yang digasak adalah karena hak manusia, sehingga hukumnya seperti menyembelih kambing yang digasak. Kedua, penyembelihan dengan gigi adalah khusus dalam masalah penyembelihan karena boleh digunakan untuk selain itu, sedangkan larangan menggunakan pisau yang digasak tidak khusus dalam masalah penyembelihan karena keharamannya berlaku baik dalam penyembelihan maupun selainnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الذَّكَاةُ بِالْعَظْمِ قَالَ الشَّافِعِيُّ كَرِهْتُهُ وَلَا سِنٍّ أَنْ يَحْرُمَ لِأَنَّهُ لَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ سِنٍّ وَلَا ظُفْرٍ وَاعْتَبَرَ الشَّافِعِيُّ فِي التَّحْرِيمِ الِاسْمَ وَأَجَازَهُ بِالْعَظْمِ لِخُرُوجِهِ عَنِ الِاسْمِ وَكَرِهَهُ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَاهُ وَلَمْ يَقِسْهُ عَلَيْهِ لِاسْتِثْنَاءِ أَصْلِهِ وَفِيهِ عِنْدِي نَظَرٌ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَّلَ الْمَنْعَ مِنَ الْمَنْعِ لِأَنَّهُ عَظْمُ الْإِنْسَانِ فَصَارَ تَعْلِيلُ السِّنِّ بِالْعَظْمِ دَلِيلًا عَلَى اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْحُكْمِ مِنْ جِهَةِ النَّصِّ وَلَيْسَ بِقِيَاسٍ على النص

Adapun penyembelihan dengan tulang, Imam Syafi‘i berkata: “Aku membencinya, tetapi tidak sampai mengharamkannya, karena tidak termasuk dalam nama ‘gigi’ maupun ‘cakar’. Imam Syafi‘i mempertimbangkan nama (istilah) dalam pengharaman, dan membolehkannya dengan tulang karena keluar dari nama tersebut, namun tetap membencinya karena maknanya serupa. Ia tidak melakukan qiyās terhadapnya karena asalnya dikecualikan. Namun menurutku, hal ini perlu ditinjau kembali, karena Nabi ﷺ memberikan alasan pelarangan karena itu adalah tulang manusia. Maka, alasan pengharaman gigi dengan alasan tulang menjadi dalil bahwa keduanya memiliki hukum yang sama dari sisi nash, dan bukan dengan qiyās terhadap nash.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى قال وَلَوْ وَقَعَ بعيرٌ فِي بئرٍ وَطُعِنَ فَهُوَ كَالصَّيْدِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seekor unta jatuh ke dalam sumur lalu ditusuk (disembelih), maka hukumnya seperti hewan buruan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي بَعِيرٍ أَوْ بَقَرَةٍ أَوْ شَاةٍ وَقَعَتْ فِي بِئْرٍ أَوْ دَخَلَتْ فِي غَارٍ أَوْ حَصَلَتْ تَحْتَ هَدْمٍ فَلَمْ يُمْكِنْ إِخْرَاجُهَا فِي الْحَيَاةِ لِلذَّكَاةِ فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ مَوْضِعُ الذَّبْحِ مِنَ الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ ظَاهِرًا أَوْ غَيْرَ ظَاهِرٍ فَإِنْ كَانَ ظَاهِرًا لَمْ تَصِحَّ ذَكَاتُهُ إِلَّا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ كَالْمَقْدُورِ عَلَيْهِ لِأَنَّ ذَبْحَهُ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَوْضِعُ الذَّبْحِ ظَاهِرًا حَلَّ بِعَقْرِهِ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ عُقِرَ مَنْ جَسَدِهِ مِنْ مَقْتَلٍ وَغَيْرِ مَقْتَلٍ كَالصَّيْدِ الْمُمْتَنِعِ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah unta, sapi, atau kambing yang jatuh ke dalam sumur, atau masuk ke dalam gua, atau terjebak di bawah reruntuhan sehingga tidak mungkin mengeluarkannya dalam keadaan hidup untuk disembelih. Maka, tempat penyembelihannya, yaitu tenggorokan dan pangkal leher, bisa jadi tampak atau tidak tampak. Jika tempat penyembelihan itu tampak, maka penyembelihannya tidak sah kecuali pada tenggorokan dan pangkal leher, seperti hewan yang masih mampu dikendalikan, karena penyembelihannya masih memungkinkan. Namun, jika tempat penyembelihan tidak tampak, maka boleh dengan melukainya di bagian tubuh mana pun, baik pada bagian yang mematikan maupun yang tidak mematikan, seperti hewan buruan yang sulit ditangkap.

وَمَنَعَ مَالِكٌ مِنْ تَذْكِيَتِهِ بِذَلِكَ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي الْحَيَوَانِ الْأَهْلِيِّ إِذَا امْتَنَعَ أَنَّ ذَكَاتَهُ لَا تَحِلُّ إِلَّا بِذَبْحِهِ

Malik melarang pensucian hewan tersebut dengan cara itu, berdasarkan pendapat dasarnya mengenai hewan jinak yang membangkang, bahwa pensuciannya tidak menjadi halal kecuali dengan cara disembelih.

وَدَلِيلُنَا مَعَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِمَّا رَوَاهُ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي الْعُشَرَاءِ الدَّارِمِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ بَعِيرًا تَرَدَّى فِي بِئْرٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَكُونُ الذَّكَاةُ إِلَّا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ؟ فَقَالَ رَأَيْتَكَ لَوْ طَعَنْتَ فِي فَخِذه لَأَجْزَأَكَ وَهَذَا نَصٌّ

Dan dalil kami, selain apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, adalah riwayat yang dibawakan oleh Hammad bin Salamah dari Abu al-‘Ushara’ ad-Darimi dari ayahnya, bahwa seekor unta terjatuh ke dalam sumur. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah penyembelihan (dzakāh) itu hanya pada leher dan pangkal leher?” Beliau bersabda, “Aku melihatmu, seandainya engkau menusuk pahanya, itu sudah mencukupi bagimu.” Dan ini adalah nash.

وَرُوِيَ أَنَّهُ تَرَدَّى بَعِيرٌ فَلَمْ يَسْتَطِيعُوا أَنْ يَنْحَرُوهُ إِلَّا مِنْ قِبَلِ شَاكِلَتِهِ فَاشْتَرَى مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ عَشْرًا بِدِرْهَمَيْنِ وَهَذَا إِجْمَاعٌ لِأَنَّهُمْ تَبَايَعُوهُ وَأَكَلُوهُ وَلَمْ يُنْكِرُوهُ

Diriwayatkan bahwa seekor unta terjatuh sehingga mereka tidak mampu menyembelihnya kecuali dari bagian syakilah-nya, lalu Ibnu Umar membeli sepuluh ekor darinya dengan dua dirham. Ini merupakan ijmā‘ karena mereka telah melakukan jual beli atasnya, memakannya, dan tidak ada yang mengingkarinya.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ جَازَ عَقْرُهَا بِمَا يُقْطَعُ بِحَدِّهِ أَوْ يُثْقَبُ بِوَقْتِهِ حَلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ أَرْسَلَ عَلَيْهِ كُلَّهَا فَعَقَرَهُ فَفِي إِبَاحَتِهِ وَجْهَانِ

Jika demikian, maka diperbolehkan menyembelih hewan tersebut dengan sesuatu yang dapat memotong dengan tajam atau menembus pada saatnya, maka halal memakannya. Namun, jika ia melepaskan seluruh hewan buruan itu lalu menyembelihnya, maka dalam kehalalannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهُ يَحِلُّ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ كَالصَّيْدِ الْمُمْتَنِعِ فَاسْتُبِيحَ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَمْرَيْنِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat para ulama Basrah, menyatakan bahwa hal itu diperbolehkan karena ia telah menjadi seperti hewan buruan yang sulit ditangkap, sehingga dibolehkan dengan salah satu dari dua hal tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يَحِلُّ بِعَقْرِ الْكَلْبِ وَإِنْ حَلَّ بِعَقْرِ الْحَدِيدِ لِأَنَّ الْحَدِيدَ يُسْتَبَاحُ بِهِ الذَّكَاةُ مَعَ الْقُدْرَةِ وَعَقْرُ الْكَلْبِ لَا يُسْتَبَاحُ بِهِ مَعَ الْقُدْرَةِ فَاسْتَوَى عَقْرُ الْحَدِيدِ وَعَقْرُ الْكَلْبِ فِي الصَّيْدِ الْمُمْتَنِعِ وَافْتَرَقَا فِي الْحَيَوَانِ الْمُنْدَفِنِ

Pendapat kedua, dan inilah yang benar, adalah bahwa hewan buruan tidak menjadi halal dengan gigitan anjing, meskipun menjadi halal dengan tusukan besi. Sebab, besi dapat digunakan untuk menyembelih secara syar‘i ketika mampu, sedangkan gigitan anjing tidak dapat digunakan untuk itu ketika mampu. Maka, tusukan besi dan gigitan anjing sama dalam hal hewan buruan yang sulit ditangkap, namun berbeda dalam hal hewan yang mudah ditangkap.

فَلَوْ قَطَعَ يَدَ الْبَعِيرِ مِنَ الْبِئْرِ فَمَاتَ مِنْ قَطْعِهَا حَلَّ أَكْلُهُ وَأَكَلَ يَدَهُ وَلَوْ لَمْ يَمُتْ مِنْ قِطَعِهَا حَتَّى قَطَعَ يَدًا أُخْرَى حَرُمَتِ الْيَدُ الْأَوْلَى لِأَنَّ الذَّكَاةَ لَمْ تَحْصُلْ بِقَطْعِهَا وَحَلَّتِ الْيَدُ الثَّانِيةُ مَعَ الْبَدَنِ لِحُصُولِ الذَّكَاةِ بقطعها

Maka jika seseorang memotong tangan unta dari sumur lalu unta itu mati karena potongan tangannya tersebut, maka halal memakannya dan boleh memakan tangannya. Namun jika unta itu tidak mati karena potongan tangan tersebut hingga kemudian dipotong tangan yang lain, maka tangan yang pertama menjadi haram karena penyembelihan (dzakāh) tidak terjadi dengan pemotongan tangan itu, dan tangan yang kedua menjadi halal bersama badannya karena dzakāh terjadi dengan pemotongan tangan yang kedua.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَى صَيْدًا فَكَسَرَهُ أَوْ قَطَعَ جَنَاحَهُ وَرَمَاهُ آخَرُ فَقَتَلَهُ كَانَ حَرَامًا وَكَانَ عَلَى الرَّامِي الْآخَرِ قِيمَتُهُ بِالْحَالِ الَّتِي رَمَاهُ بِهَا مكسوراً أو مقطوعاً قال المزني رحمه الله معنى قول الشافعي عندي في ذلك أنه إنما يغرم قيمته مقطوعاً لأنه رماه فقطع رأسه أو بلغ من مقاتله ما يعلم أن قتله دون جرح الجناح ولو كان جرحاً كالجرح الأول ثم أخذه ربه فمات في يديه فقد مات من جرحين فعلى الثاني قيمة جرحه مقطوع الجناح الأول ونصف قيمته مجروحاً جرحين لأن قتله مقطوع الجناحين من فعله وفعل مالكه

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang melempar buruan lalu mematahkannya atau memotong sayapnya, kemudian orang lain melemparnya lagi hingga membunuhnya, maka buruan itu menjadi haram, dan orang yang melempar kedua harus membayar nilainya sesuai dengan keadaannya saat dilempar, yaitu dalam keadaan patah atau terpotong. Al-Muzani rahimahullah berkata: Menurut saya, maksud perkataan Imam Syafi‘i dalam hal ini adalah bahwa ia hanya wajib membayar nilainya dalam keadaan terpotong, karena ia melempar lalu memotong kepalanya atau mengenai bagian vital yang diketahui dapat membunuhnya, berbeda dengan hanya melukai sayap. Jika lukanya seperti luka pertama, lalu diambil oleh pemiliknya dan mati di tangannya, maka buruan itu mati karena dua luka. Maka, orang kedua wajib membayar nilai lukanya, yaitu buruan yang sudah terpotong sayapnya, dan setengah dari nilainya dalam keadaan terluka dua kali, karena kematiannya akibat kedua sayapnya terpotong adalah hasil perbuatan orang kedua dan pemiliknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي رَجُلَيْنِ رَمَيَا صَيْدًا فَأَصَابَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَلَهَا حالتان

Al-Mawardi berkata, “Gambaran masalah ini adalah pada dua orang laki-laki yang sama-sama melempar buruan, lalu masing-masing dari keduanya mengenainya. Maka, dalam hal ini terdapat dua keadaan.”

إحداهما أن يتفقا في إصابته والثاني أَنْ يَخْتَلِفَا فِيهَا فَإِنِ اتَّفَقَا فِي إِصَابَتِهِ فَرَمَيَاهُ مَعًا فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ لَمْ يَسْبِقْ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَلَنْ تَخْلُوَ الْإِصَابَتَانِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Pertama, keduanya sepakat mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُوجِيَهُ فَيَكُونَ الصَّيْدُ بَيْنَهُمَا وَهُوَ مَأْكُولٌ

Salah satunya adalah jika masing-masing dari keduanya (alat atau hewan pemburu) menjadi penyebab (kematian), sehingga hasil buruan itu berada di antara keduanya dan ia boleh dimakan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا غَيْرَ مُوجِيهِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى ذَكَاتِهِ بَعْدَ الْجِرَاحَتَيْنِ كَانَ مَأْكُولًا وَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِمَا كَانَ غَيْرَ مَأْكُولٍ

Bagian kedua adalah apabila masing-masing dari keduanya (luka) tidak mengenai tempat yang mematikan, maka keduanya terjadi bersamaan. Jika setelah dua luka tersebut, ia (hewan) tidak mampu disembelih, maka ia boleh dimakan. Namun jika setelah dua luka tersebut masih memungkinkan untuk disembelih, maka ia tidak boleh dimakan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تكون إحدى الجراحتين موحية والأخرى غير موحية فَفِيهِ وَجْهَانِ

Bagian ketiga adalah apabila salah satu dari dua luka tersebut bersifat mematikan dan yang lainnya tidak mematikan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَكُونُ مِلْكًا لَهُمَا وهو مأكول ويستوي فيه من وحا ومن لم يوح لأن غير الموحية قد تسم وتذكيه كالموحية

Salah satunya adalah bahwa hewan itu menjadi milik mereka berdua dan hewan tersebut termasuk hewan yang boleh dimakan, serta tidak ada perbedaan antara hewan yang bertanduk maupun yang tidak bertanduk, karena hewan yang tidak bertanduk pun bisa diberi tanda dan disembelih sebagaimana hewan yang bertanduk.

والوجه الثاني أنه يكون ملكاً للموحي خَاصَّةً لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ إِثْبَاتِهِ وَتَذْكِيَتِهِ بها وفي شك من إثابته بغير الموحية فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مِلْكُهُ مُسْتَحَقًّا بِالْيَقِينِ دُونَ شَكٍّ

Pendapat kedua adalah bahwa hewan tersebut menjadi milik orang yang melepas hewan pemburu secara khusus, karena kita yakin bahwa hewan itu tertangkap dan disembelih dengan hewan pemburu tersebut, sedangkan kita ragu jika hewan itu tertangkap tanpa hewan pemburu itu. Maka wajib hukumnya kepemilikan itu ditetapkan berdasarkan keyakinan, bukan berdasarkan keraguan.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الْإِصَابَةِ وَأَصَابَهُ أَحَدُهُمَا دُونَ الْآخَرِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ أحدها أن تكون  لإصابة الأولة موحية دون الثانية والقسم الثاني أن تكون الإصابة الثانية موحية دُونَ الْأُولَى وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَكُونَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الإصابتين غير موحية وَلَا حُكْمَ لِرَابِعٍ إِنْ خَرَجَ بِهِ التَّقْسِيمُ أن تكون كل واحدة منهما موحية لأنه لا توحية بعد التوحية

Jika keduanya berbeda pendapat mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai mengenai

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الْإِصَابَةُ الأولة موحية دون الثانية وهو الأول الموحى وقد حل بالتوحية سَوَاءٌ كَانَتْ فِي مَحَلِّ الذَّكَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا وَيُنْظَرُ فِي إِصَابَةِ الثَّانِي فَإِنْ لَمْ تُؤَثِّرْ فِي نَقْصِ قِيمَتِهِ فَهِيَ هَدَرٌ وَلَا شَيْءَ فِيهَا وَإِنْ أَثَّرَتْ فِي شَقِّ الْجِلْدِ نَقْصًا ضَمِنَ أَرْشَهَا فَإِنِ اخْتَلَفَا فَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنَّهُ الْأَسْبَقُ الْمُوجِي وَعُدِمَا الْبَيِّنَةَ تَحَالَفَا فَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ قُضِيَ بِالصَّيْدِ لِلْحَالِفِ وَقُضِيَ بِأَرْشِ النَّقْصِ عَلَى النَّاكِلِ وَإِنْ حَلَفَا جُعِلَ الصَّيْدُ بَيْنَهُمَا بِأَيْمَانِهِمَا لِتَكَافُئِهِمَا فِيهِ وَسَقَطَ غُرْمُ الْأَرْشِ بِالْإِصَابَةِ الثَّانِيةِ لِلْجَهْلِ بِمُسْتَحَقِّهِ وَالْمُسْتَحِقِّ عَلَيْهِ وَإِنْ نَكَلَا انْقَطَعَ التَّخَاصُمُ بينهما ووقف الصيد والأرض على اصطلاحها

Adapun bagian pertama, yaitu ketika tembakan pertama yang mengenai adalah tembakan yang mematikan, sedangkan tembakan kedua bukan, dan tembakan pertama itulah yang menyebabkan kematian, baik mengenai pada bagian yang disyaratkan untuk penyembelihan (dzakāh) maupun bukan. Maka, dilihat pada tembakan kedua: jika tidak berpengaruh dalam mengurangi nilai hewan buruan, maka itu diabaikan dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya. Namun, jika berpengaruh dengan menyebabkan robekan pada kulit sehingga mengurangi nilainya, maka wajib membayar ganti rugi (arsh) atas kekurangan tersebut. Jika keduanya berselisih, masing-masing mengklaim bahwa dialah yang lebih dahulu mengenai dengan tembakan mematikan, dan tidak ada bukti yang dapat diajukan, maka keduanya saling bersumpah. Jika salah satu bersumpah dan yang lain menolak, maka diputuskan hewan buruan menjadi milik yang bersumpah, dan yang menolak wajib membayar ganti rugi atas kekurangan nilai. Jika keduanya bersumpah, maka hewan buruan dibagi di antara mereka berdua berdasarkan sumpah mereka karena keduanya sama-sama memiliki hak, dan gugur kewajiban membayar ganti rugi atas tembakan kedua karena tidak diketahui siapa yang berhak menerima dan siapa yang wajib membayar. Jika keduanya sama-sama menolak bersumpah, maka perselisihan di antara mereka terputus dan status hewan buruan serta tanah kembali pada kesepakatan mereka.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْمُوجِي هُوَ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Adapun bagian kedua, yaitu apabila pemberi jawaban (muji) adalah yang kedua, bukan yang pertama, maka hal ini terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ لَمْ يُثْبِتْهُ بِإِصَابَتِهِ فَيَكُونَ الصَّيْدُ مِلْكًا لِلثَّانِي الْمُوجِي وتكون التوحية ذَكَاةً سَوَاءٌ كَانَتْ فِي مَحَلِّ الذَّكَاةِ أَوْ كَانَتْ فِي غَيْرِهَا

Salah satunya adalah jika yang pertama tidak menetapkan kepemilikan dengan hasil buruannya, maka hewan buruan itu menjadi milik orang kedua yang mengenainya, dan tindakan melemparkan senjata menjadi penyembelihan (dzakāh), baik dilakukan pada tempat penyembelihan yang semestinya maupun di tempat lain.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ قَدْ أَثْبَتَهُ بِإِصَابَتِهِ فَيَكُونَ مِلْكًا لِلْأول وينظر في توحية الثاني فإن كانت في عد مَحَلِّ الذَّكَاةِ مِنَ الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ كَانَ مَأْكُولًا وضمن بالتوحية ما بين قيمته مجروحاً ومذبوحاً وإن كان التوحية فِي غَيْرِ مَحَلِّ الذَّكَاةِ بِأَنْ قُطِعَ نِصْفَيْنِ فَهُوَ غَيْرُ مَأْكُولٍ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِإِثْبَاتِ الْأَوَّلِ مَقْدُورًا عَلَيْهِ لَا يَحِلُّ إِلَّا بِذَكَاتِهِ في الحلق واللبة ويضمن الموحي جَمِيعَ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا

Jenis kedua adalah apabila yang pertama telah menetapkan kepemilikan dengan melukai hewan tersebut, sehingga hewan itu menjadi milik yang pertama. Kemudian dilihat pada tindakan melukai yang kedua; jika tindakan melukai itu terjadi pada tempat penyembelihan yang sah, yaitu di leher dan pangkal leher, maka hewan itu halal dimakan, dan orang kedua wajib mengganti selisih antara nilai hewan dalam keadaan terluka dan nilai hewan setelah disembelih. Namun jika tindakan melukai itu terjadi bukan pada tempat penyembelihan yang sah, misalnya hewan itu dibelah menjadi dua bagian, maka hewan itu tidak halal dimakan, karena setelah ditetapkan oleh yang pertama, hewan itu sudah dapat dikuasai dan tidak halal kecuali dengan penyembelihan yang sah di leher dan pangkal leher. Maka orang yang melukai seluruhnya wajib mengganti nilai hewan tersebut dalam keadaan terluka.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَشُكَّ فِيهِ هَلْ أَثْبَتَ الْأَوَّلَ بِإِصَابَتِهِ أَمْ لَا فَيَكُونُ الشَّكُّ مُسْقِطًا لِحُكْمِ الْإِثْبَاتِ فِي حَقِّ الْأول لِأَنَّهُ عَلَى أَصْلِ الِامْتِنَاعِ وَيَكُونُ مِلْكًا للثاني وينظر في توحيته

Jenis yang ketiga adalah seseorang ragu apakah ia telah menetapkan hak orang pertama dengan mengenainya atau tidak, maka keraguan itu menggugurkan hukum penetapan bagi orang pertama, karena ia kembali kepada asal ketidakbolehan, dan menjadi milik bagi orang kedua, lalu dilihat mengenai penyatuannya.

فَإِنْ كَانَتْ فِي مَحَلِّ الذَّكَاةِ أَكَلَ وَإِنْ كَانَتْ فِي غَيْرِ مَحَلِّهَا فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ

Jika berada di tempat penyembelihan yang benar, maka boleh dimakan. Namun jika berada di selain tempat penyembelihan, terdapat dua pendapat mengenai kebolehan memakannya.

أَحَدُهُمَا مُبَاحٌ لِأَنَّ إِثْبَاتَ الْأَوَّلِ قَدْ يَسْقُطُ بِالشَّكِّ

Salah satunya adalah mubah karena penetapan yang pertama bisa gugur disebabkan oleh keraguan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي مَحْظُورٌ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ جَوَازٍ فِي مُحْتَمَلَيْنِ مَعَ مَا يَقْضِيهِ حُكْمُ الْأَصْلِ مِنَ الْحَظْرِ وَإِنَّمَا يَسْقُطُ بِالشَّكِّ مِلْكُ الْأَوَّلِ لِأَنَّ الْأَصْلَ أَنَّهُ غَيْرُ مَالِكٍ وَلَمْ يَسْقُطْ بِالشَّكِّ حُكْمُ الْحَظْرِ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِيهِ الْحَظْرُ وَلَوِ ادَّعَى الْجَارِحُ الْأَوَّلَ أَنَّهُ قَدْ أثبته وَأَنْكَرَ الْمُوجِي فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُوجِي مَعَ يَمِينِهِ والتوحية كَالتَّذْكِيَةِ

Pendapat kedua terlarang karena masih ragu antara dua kemungkinan yang dibolehkan, sementara hukum asalnya adalah larangan. Kepemilikan pertama hanya gugur karena adanya keraguan, sebab pada dasarnya ia bukanlah pemilik, dan hukum larangan tidak gugur hanya karena keraguan, karena hukum asalnya adalah larangan. Jika pihak yang melukai pertama mengklaim bahwa ia telah menetapkan (haknya), sedangkan pihak yang membolehkan mengingkarinya, maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang membolehkan dengan sumpahnya. Penunjukan (tanda) itu seperti penyembelihan (tazkiyah).

فَإِنْ قِيلَ أَلَسْتُمْ قُلْتُمْ إِنَّهُمَا اتَّفَقَا عَلَى إِصَابَتِهِ أَنَّهُ بَيْنَ الْجَارِحِ وَالْمُوجِي فِي أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ فَهَلَّا جَعَلْتُمُوهُ فِي تَقَدُّمِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah mengatakan bahwa keduanya sepakat bahwa ia berada di antara yang melukai dan yang menyebabkan luka berat menurut salah satu dari dua pendapat? Lalu mengapa kalian tidak menjadikannya dalam hal mendahulukan salah satu dari keduanya atas yang lain juga pada dua pendapat?”

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا فِي أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya terdapat pada salah satu dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ أَيْدِيَهُمَا فِي الِاتِّفَاقِ مُتَسَاوِيَانِ وَفِي الِاخْتِلَافِ مُفْتَرِقَانِ

Salah satunya adalah bahwa tangan mereka dalam kesepakatan itu setara, dan dalam perselisihan itu berpisah.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَمْ يَمْضِ مَعَ الِاتِّفَاقِ زَمَانُ الْإِثْبَاتِ فَيُرَاعَى وَقَدْ مَضَى مَعَ اخْتِلَافٍ فِي زَمَانِ الْإِثْبَاتِ فَصَارَ مُرَاعًى

Yang kedua, bahwa belum berlalu masa penetapan bersamaan dengan adanya kesepakatan, maka hal itu diperhatikan; dan telah berlalu masa penetapan bersamaan dengan adanya perbedaan, maka hal itu juga diperhatikan.

فَصْلٌ

Bab

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الأول والثاني جارحاً غير موحٍ فَلَا تَخْلُو جِرَاحُ الْأَوَّلِ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ أَحَدُهَا أَنْ يُثْبِتَ الصَّيْدَ بِهَا وَالثَّانِي أَنْ لَا يُثْبِتَهُ بِهَا وَالثَّالِثُ أَنْ يَشُكَّ فِي إِثْبَاتِهِ بِهَا

Adapun bagian ketiga, yaitu apabila masing-masing dari yang pertama dan kedua adalah hewan pemburu yang tidak terlatih, maka luka yang diakibatkan oleh yang pertama tidak lepas dari tiga kemungkinan: pertama, ia dapat melumpuhkan buruan dengan lukanya; kedua, ia tidak melumpuhkan buruan dengan lukanya; dan ketiga, terdapat keraguan apakah ia melumpuhkan buruan dengan lukanya atau tidak.

فَإِنْ عُلِمَ أَنَّ الْأَوَّلَ قَدْ أَثْبَتَ الصَّيْدَ بِجِرَاحَتِهِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكْسِرَ رِجْلَ مَا يَعْدُو وَجَنَاحَ مَا يَطِيرُ فَهُوَ مِلْكٌ لِلْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي لِأَنَّهُ بِالْإِثْبَاتِ قَدْ صَارَ مَمْلُوكًا فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مِلْكًا لِمُثْبِتِهِ وَإِنْ لَمْ يَصِرْ إِلَى يَدِهِ كَمَا لَوْ وَقَعَ فِي فَخِّهِ أَوْ شَبَكَتِهِ وَإِنْ عَلِمْنَا أو الْأَوَّلَ لَمْ يُثْبِتْهُ بِجِرَاحَتِهِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَرَاهُ بعد الجراحة يعدو أو يطير وهو لِلثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ لِوُجُودِ الْإِثْبَاتِ بِجِرَاحَتِهِ

Jika diketahui bahwa orang pertama telah berhasil menangkap buruan dengan lukanya, yaitu dengan cara mematahkan kaki hewan yang berlari atau sayap burung yang terbang, maka buruan itu menjadi milik orang pertama, bukan milik orang kedua. Sebab, dengan penangkapan itu, buruan tersebut telah menjadi milik, sehingga wajib menjadi milik orang yang menangkapnya, meskipun belum sampai ke tangannya, seperti jika buruan itu jatuh ke dalam perangkap atau jaringnya. Namun, jika diketahui bahwa orang pertama tidak berhasil menangkap buruan dengan lukanya, yaitu dengan melihat setelah dilukai buruan itu masih berlari atau terbang, maka buruan itu menjadi milik orang kedua, bukan milik orang pertama, karena penangkapan dengan luka terjadi pada orang kedua.

فَإِنْ قِيلَ فَكُلُّ واحدٍ مِنَ الْجُرْحَيْنِ قَدْ أَثَّرَ فِي إِثْبَاتِهِ فَهَلَّا كَانَ بَيْنَهُمَا كَمَا لَوْ جرحا عبداً فمات فكان ضمانه عليها وَلَمْ يَكُنْ عَلَى الثَّانِي مِنْهُمَا

Jika dikatakan: “Masing-masing dari dua luka itu telah memberikan pengaruh dalam penetapannya, maka mengapa tidak diberlakukan di antara keduanya seperti halnya jika keduanya melukai seorang budak lalu budak itu mati, sehingga diyat (ganti rugi) menjadi tanggungan mereka berdua, dan tidak ada tanggungan atas yang kedua di antara mereka?”

قِيلَ لِأَنَّ الْجِرَاحَةَ الْأُولَى فِي الصَّيْدِ لَمْ تُؤَثِّرْ فِي الْمِلْكِ فَلَمْ تُوجِبِ الِاشْتِرَاكَ فِيهِ وَالْجِرَاحَةُ الْأُولَى فِي الْعَبْدِ مُؤَثِّرَةٌ فِي الضَّمَانِ فَأَوْجَبَ الِاشْتِرَاكَ فِيهِ وَإِنْ شَكَكْنَا فِي جِرَاحَةِ الْأَوَّلِ هَلْ أُثْبِتَ الصَّيْدُ بِهَا أَمْ لَا؟ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الشَّكُّ مُطْرَحًا وَالْيَقِينُ مُعْتَبَرًا فَيَكُونُ لِلثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ أَصْلُ الِاقْتِنَاعِ حَتَّى يَتَيَقَّنَ مَا عَدَاهُ وَيَتَيَقَّنَ الْإِثْبَاتَ مَعَ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ فَصَارَ مِلْكُ الصَّيْدِ هُنَا بَيْنَ أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ وَبَيْنَ أَنْ يَكُونَ الثَّانِي فِي حَالَتَيْنِ وَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ لِأَنَّهُمَا فِيهِ غَيْرُ مُتَسَاوِيَيْنِ

Dikatakan bahwa luka pertama pada hewan buruan tidak berpengaruh terhadap kepemilikan, sehingga tidak menyebabkan adanya kepemilikan bersama atasnya. Sedangkan luka pertama pada budak berpengaruh terhadap kewajiban ganti rugi, sehingga menyebabkan adanya kepemilikan bersama atasnya. Jika kita ragu terhadap luka pertama, apakah hewan buruan itu dapat ditetapkan (menjadi milik) dengannya atau tidak, maka keraguan harus disingkirkan dan yang dianggap adalah keyakinan. Maka, hewan buruan itu menjadi milik orang kedua, bukan yang pertama, karena itu adalah asal dalam perolehan hingga ada keyakinan terhadap selainnya, dan keyakinan penetapan ada bersama yang kedua, bukan yang pertama. Maka, kepemilikan hewan buruan di sini berada antara kemungkinan menjadi milik yang pertama dalam satu keadaan, dan kemungkinan menjadi milik yang kedua dalam dua keadaan. Tidak sah jika dibagi dua di antara keduanya, karena keduanya tidak sama dalam hal ini.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَإِنْ جَعَلْنَا الصَّيْدَ مِلْكًا لِلثَّانِي فَلَا ضَمَانَ فِي تَلَفِهِ عَلَى الْأَوَّلِ وَلَا عَلَى الثَّانِي أَمَّا الْأَوَّلُ فَلِأَنَّهُ جَرَحَهُ فِي حَالِ الْإِبَاحَةِ وَأَمَّا الثَّانِي فَلِأَنَّهُ قَدْ جَرَحَهُ فِي مِلْكِهِ فَلَمْ يَضْمَنْهُ في حق نفسه وإن جعلها الصَّيْدُ مِلْكًا لِلْأَوَّلِ بِإِثْبَاتِهِ وَجُرْحِهِ الثَّانِي فَسَرَتِ الْجِرَاحَةُ إِلَى نَفْسِهِ فَمَاتَ فَقَدْ صَارَ مَوْتُهُ من جراحتين مختلفتي الحكم فالجراحة الأولة مُسْتَجْلِبَةٌ لِلْحُكْمِ مُبِيحَةٌ لِلْأَكْلِ لَوِ انْفَرَدَتْ وَالْجِرَاحَةُ الثَّانِيةُ مُسْتَهْلِكَةٌ لِلْمِلْكِ مُحَرِّمَةٌ لِلْأَكْلِ لَوِ انْفَرَدَتْ فَإِذَا اجْتَمَعَتِ الْجِرَاحَتَانِ مَعَ حُصُولِ الِاسْتِهْلَاكَيْنِ وَالتَّحْرِيمِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ حُكْمُ الِاسْتِهْلَاكِ وَالتَّحْرِيمِ مُخْتَصًّا بِالْجِرَاحَةِ الثَّانِيةِ فَيَكُونُ الثَّانِي ضَامِنًا لِجَمِيعِ الْقِيمَةِ وَيَكُونُ مُضَافًا إِلَى الْجِرَاحَتَيْنِ وَالْقِيمَةُ مقسطة على الجراحتين؟ على أربعة أوجه

Setelah penjelasan ini dipahami, jika kita menetapkan bahwa hasil buruan menjadi milik orang kedua, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atas kerusakannya baik bagi orang pertama maupun orang kedua. Adapun orang pertama, karena ia melukai hewan buruan itu dalam keadaan diperbolehkan, dan orang kedua karena ia melukai hewan itu ketika sudah menjadi miliknya, sehingga ia tidak wajib menanggungnya atas dirinya sendiri. Namun, jika kita menetapkan bahwa hasil buruan itu menjadi milik orang pertama karena dialah yang menangkap dan melukainya, lalu orang kedua juga melukainya sehingga lukanya mengenai dirinya sendiri dan hewan itu mati, maka kematiannya terjadi karena dua luka yang hukumnya berbeda. Luka pertama menyebabkan hukum yang membolehkan untuk dimakan jika hanya luka itu saja, sedangkan luka kedua menghilangkan kepemilikan dan mengharamkan untuk dimakan jika hanya luka itu saja. Maka, apabila kedua luka itu berkumpul dengan terjadinya hilangnya kepemilikan dan keharaman, para ulama kami berbeda pendapat: apakah hukum hilangnya kepemilikan dan keharaman itu khusus pada luka kedua sehingga orang kedua wajib mengganti seluruh nilai hewan itu, ataukah hukum itu dikaitkan pada kedua luka dan nilainya dibagi antara keduanya? Ada empat pendapat dalam hal ini.

أحدهما وهو الظاهر على مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ إِنَّ حُكْمَ الِاسْتِهْلَاكِ وَالتَّحْرِيمِ مُضَافًا إِلَى الْجِرَاحَتَيْنِ وَإِنَّ قِيمَةَ الصَّيْدِ الْمُسْتَهْلَكَةِ مُقَسَّطَةٌ عَلَى الْجَارِحَيْنِ لِأَنَّ التَّلَفَ كَانَ لِسَرَايَةِ الْجِرَاحَتَيْنِ فَلَمْ يَمْنَعِ اخْتِلَافُ حُكْمِهِمَا مِنْ تَقْسِيطِ الضَّمَانِ عَلَيْهِمَا كَمَا لَوْ قَطَعَ السَّيِّدُ يَدَ عَبْدِهِ فِي السَّرِقَةِ وَقَطَعَ أَجْنَبِيٌّ يَدَهُ فِي جِنَايَةٍ وَمَاتَ مِنْهُمَا كَانَ عَلَى الْجَانِي نِصْفُ قِيمَتِهِ لِأَنَّهُ مَاتَ بِسَرَايَةِ الْقَطْعَيْنِ وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ فِيهِمَا مُبَاحًا غَيْرَ مُضَمَّنٍ كَذَلِكَ فِي هَذِهِ الْجِرَاحَتَيْنِ

Pendapat pertama, yang merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi‘i dan merupakan pendapat mayoritas ulama mazhabnya, menyatakan bahwa hukum istihlāk (kerusakan total) dan keharaman dikaitkan pada dua luka tersebut, dan bahwa nilai hewan buruan yang rusak dibagi rata atas dua pelaku luka, karena kerusakan itu terjadi akibat gabungan dari dua luka tersebut. Maka, perbedaan hukum masing-masing luka tidak mencegah pembagian tanggungan di antara keduanya, sebagaimana jika seorang tuan memotong tangan budaknya karena mencuri, lalu orang lain memotong tangan budak itu karena melakukan tindak pidana, kemudian budak itu mati akibat kedua potongan tersebut, maka atas pelaku tindak pidana wajib membayar setengah nilai budak, karena kematiannya disebabkan oleh gabungan dua potongan tersebut, meskipun potongan pertama hukumnya boleh dan tidak ada tanggungan. Demikian pula halnya pada dua luka dalam kasus ini.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ إِنَّ الضَّمَانَ مُخْتَصٌّ بِالْجِرَاحَةِ الثَّانِيةِ وَعَلَى الْجَارِحِ الثَّانِي جَمِيعُ الْقِيمَةِ بَعْدَ الْجِرَاحَةِ الْأُولَى قَالَ لِأَنَّ الْجِرَاحَةَ الأولى لما استجلبت الملك أباحت الْأَكْلَ وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا حُكْمُ مَا لَمْ يُوجَدْ فِيهَا مِنِ اسْتِهْلَاكٍ وَتَحْرِيمٍ

Pendapat kedua adalah pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri, yaitu bahwa tanggungan (dhamān) khusus berlaku pada luka kedua, dan seluruh nilai setelah luka pertama menjadi tanggungan peluka kedua. Ia berkata, karena luka pertama ketika menyebabkan kepemilikan, maka ia membolehkan untuk dimakan, dan tidak terkait dengannya hukum atas sesuatu yang belum terjadi padanya berupa penghabisan (istihlāk) dan pengharaman.

وَالْجِرَاحَةُ الثَّانِيةُ لَمَّا اسْتَهْلَكَتِ الْمِلْكَ وَحَرَّمَتِ الْأَكْلَ اخْتَصَّ بِهَا حُكْمُ مَا يُوجَدُ فِيهَا مِنَ الِاسْتِهْلَاكِ وَالتَّحْرِيمِ لِتَنَافِي الْحُكْمِ فِي الْجِرَاحَتَيْنِ فَعُلِّقَ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ حُكْمُهَا

Pembedahan kedua, karena telah menghabiskan kepemilikan dan mengharamkan pemanfaatan, maka padanya berlaku hukum yang terdapat di dalamnya berupa penghabisan dan pengharaman, karena hukum pada kedua pembedahan itu saling bertentangan, sehingga pada masing-masing pembedahan digantungkan hukumnya sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ حَكَاهُ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنْ يَنْظُرَ حَالَ الصَّيْدِ فَإِنْ حَصَلَ فِي يَدِ صَاحِبِهِ حَيًّا فَعَلَى الثَّانِي قِسْطُهُ مِنَ الْقِيمَةِ كَمَا قُلْنَاهُ فِي الْوَجْهِ الْأَوَّلِ لِأَنَّ الْجِرَاحَةَ الْأُولَى مَعَ إِدْرَاكِ حَيَاتِهِ قَدْ صَارَتْ كَالثَّانِيةِ فِي اسْتِهْلَاكِهِ وَتَحْرِيمِهِ فَتَقَسَّطَتِ الْقِيمَةُ عَلَيْهِمَا وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ فِي يَدِ صَاحِبِهِ إِلَّا مَيْتًا فَعَلَى الثَّانِي جَمِيعُ الْقِيمَةِ كَمَا قِيلَ فِي الْوَجْهِ الثَّانِي لِأَنَّ الْجِرَاحَةَ الْأُولَى عِنْدَ فَوَاتِ ذَكَاتِهِ لَمْ يَكُنْ لَهَا تَأْثِيرٌ فِي اسْتِهْلَاكِهِ وَلَا تَحْرِيمٌ

Pendapat ketiga, yang diriwayatkan oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, adalah melihat keadaan hewan buruan tersebut. Jika hewan buruan itu sampai ke tangan pemiliknya dalam keadaan hidup, maka orang kedua wajib membayar bagiannya dari nilai hewan tersebut, sebagaimana telah dijelaskan pada pendapat pertama. Sebab, luka pertama, dengan tetap didapatkannya kehidupan pada hewan itu, telah menjadi seperti luka kedua dalam hal membinasakan dan mengharamkannya, sehingga nilai hewan itu dibagi antara keduanya. Namun, jika hewan buruan itu tidak sampai ke tangan pemiliknya kecuali dalam keadaan mati, maka orang kedua wajib membayar seluruh nilai hewan tersebut, sebagaimana disebutkan pada pendapat kedua. Sebab, luka pertama, ketika hewan itu telah kehilangan kesempatan untuk disembelih secara syar‘i, tidak lagi berpengaruh dalam membinasakan maupun mengharamkannya.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ وَهُوَ أَظْهَرُهَا عِنْدِي أَنَّهُ إِنْ مَضَى فِي الزَّمَانِ بَيْنَ الْجِرَاحَتَيْنِ قَدْرُ مَا يُدْرِكُهُ صَاحِبُهُ فَالْقِيمَةُ بَيْنَهُمَا وَعَلَى الثَّانِي قِسْطُهُ مِنْهَا كَالْوَجْهِ الْأَوَّلِ لِأَنَّ مُضِيَّ زَمَانِ إِدْرَاكِهِ مُوجِبٌ لِتَحْرِيمِهِ عِنْدَ فَوَاتِ ذَكَاتِهِ فَاسْتَوَتِ الْجَرْحَتَانِ فِي التَّحْرِيمِ فَقُسِّطَتِ الْقِيمَةُ عَلَيْهِمَا وَإِنْ لَمْ يَمْضِ بَيْنَ الْجِرَاحَتَيْنِ زَمَانُ إِدْرَاكِهِ وَالْجِرَاحَةُ الثَّانِيةُ هِيَ الْمُخْتَصَّةُ بِالتَّحْرِيمِ فَاخْتُصَّ الثَّانِي بِجَمِيعِ الْقِيمَةِ كَالْوَجْهِ الثَّانِي لِأَنَّ قُصُورَ الزَّمَانِ يَمْنَعُ مِنْ تَأْثِيرِ الْأَوَّلِ فِي التَّحْرِيمِ

Pendapat keempat, yang menurut saya paling jelas, adalah bahwa jika waktu yang berlalu antara dua luka itu cukup lama sehingga hewan tersebut dapat disembelih oleh pemiliknya, maka nilai (denda) dibagi antara keduanya, dan yang kedua mendapat bagian sesuai dengan proporsinya, seperti pada pendapat pertama. Sebab, berlalu waktu yang memungkinkan untuk menyembelih menyebabkan keharaman (memakan hewan itu) ketika penyembelihan tidak dilakukan, sehingga kedua luka tersebut sama-sama menyebabkan keharaman, dan nilai (denda) dibagi di antara keduanya. Namun, jika antara dua luka itu tidak berlalu waktu yang cukup untuk menyembelih, dan luka kedua adalah yang secara khusus menyebabkan keharaman, maka yang kedua menanggung seluruh nilai (denda), seperti pada pendapat kedua, karena singkatnya waktu menghalangi pengaruh luka pertama dalam menyebabkan keharaman.

فَصْلٌ

Bab

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ وَتَعْلِيلُ كُلِّ وَجْهٍ مِنْهَا فَإِنْ وَجَبَ بِهَا عَلَى الثَّانِي جَمِيعُ الْقِيمَةِ عَلَى مُقْتَضَى تَعْلِيلِهَا صَارَ الْجُرْحُ الثَّانِي كَالتَّوْجِيَةِ فِي غَيْرِ مَحَلِّ الذَّكَاةِ فَيَلْزَمُ الثَّانِي جَمِيعُ قِيمَةِ الصَّيْدِ مَجْرُوحًا وَزَعَمَ الْمُزَنِيُّ أَنَّ مَسْأَلَةَ الْكِتَابِ في الثاني أن يكون موحياً لِأَنَّهُ أَوْجَبَ جَمِيعَ الْقِيمَةِ وَأَنْكَرَ سَائِرُ أَصْحَابِنَا أَنْ تَكُونَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ فِي الثَّانِي أَنْ يكون موجياً لأنه أَوْجَبَ جَمِيعَ الْقِيمَةِ وَمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ إِطْلَاقِ وُجُوبِ الْقِيمَةِ محمولٌ عَلَى اخْتِلَافِ الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ فَيَكُونُ إِطْلَاقُهَا عِنْدَ وُجُوبِ الْكُلِّ مَحْمُولًا عَلَيْهِ وَعِنْدَ وُجُوبِ الْقِسْطِ مَحْمُولًا عَلَيْهِ وَأَمَّا إِذَا وَجَبَ عَلَى الثَّانِي قِسْطُهُ مِنَ الْقِيمَةِ عَلَى مُقْتَضَى الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ وَهُوَ مُخْتَصٌّ بِمَسْأَلَةِ الْكِتَابِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا حينئذٍ فِي تَعْلِيلِ الْحُكْمِ الْمُوجِبِ لِتَقْسِيطِ الْقِيمَةِ وَالْعَمَلِ الْمُؤَدِّي إِلَيْهِ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجُهٍ يَتَّضِحُ بَيَانُهَا إِذَا ذُكِرَتْ قِيمَةُ الصَّيْدِ وَأَرْشُ الْجُرْحِ فَتَصَوَّرَهَا فِي صَيْدِ مملوكٍ قِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ جَرَحَهُ الْأَوَّلُ جُرْحًا نقص من قيمته درهماً وجرح الثاني نقص مِنْ قِيمَتِهِ دِرْهَمًا ثُمَّ مَاتَ مِنَ الْجِرَاحَتَيْنِ فَأَحَدُ الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ فِي تَعْلِيلِ الْحُكْمِ مِنْ طَرِيقِ الْعَمَلِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيِّ إِنَّكَ تُوجِبُ عَلَى كُلِّ واحدٍ مِنَ الْجَارِحَيْنِ أَرْشَ جِرَاحَةٍ ثُمَّ تُقَسِّمُ قِيمَةَ الصَّيْدِ بَعْدَ الْجِرَاحَتَيْنِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ وَتَجْمَعُ عَلَى كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا بَيْنَ نِصْفِ قِيمَتِهِ وَأَرْشِ جِرَاحَتِهِ فَتَجْعَلُ عَلَى الْأَوَّلِ دِرْهَمًا هُوَ أَرْشُ جِرَاحَةٍ وَعَلَى الثَّانِي دِرْهَمًا هُوَ أَرْشُ جِرَاحَةٍ وَقِيمَةُ الصَّيْدِ بَيْنَ الْجِرَاحَتَيْنِ ثَمَانِيَةُ دَرَاهِمَ تَجِبُ عَلَى كُلِّ وَاحَدٍ مِنَ الْجَارِحَيْنِ نَصِفُهَا أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ فَتُضَمُّ إِلَى الدِّرْهَمِ الَّذِي لَزِمَهُ بِأَرْشِ الْجِرَاحَةِ فَيَصِيرُ عَلَى كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ أَرْشُهَا دِرْهَمًا وَجِرَاحَةُ الثَّانِي أَرْشُهَا دِرْهَمَيْنِ أَوْجَبَ عَلَى الْأَوَّلِ دِرْهَمًا وَهُوَ أَرْشُ جِرَاحَتَيْنِ وَأَوْجَبَ عَلَى الثَّانِي دِرْهَمَيْنِ هُمَا أرش جرحته ثُمَّ مَاتَ الصَّيْدُ بَعْدَ الْجِرَاحَتَيْنِ وَقِيمَتُهُ سَبْعَةُ دراهم فيكون على كل واحدٍ منها نَصِفُهَا ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَنَصِفٌ فَيَصِيرُ عَلَى الْأَوَّلِ مَعَ الدِّرْهَمِ أَرْبَعَةٌ وَنِصْفٌ وَعَلَى الثَّانِي مَعَ الدِّرْهَمَيْنِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ أَرْشُهَا ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَجِرَاحَةُ الثَّانِي أَرْشُهَا دِرْهَمَانِ أَوْجَبَ عَلَى الْأَوَّلِ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ هِيَ أَرْشُ جِرَاحَتِهِ وَأَوْجَبَ عَلَى الثَّانِي دِرْهَمَيْنِ هُمَا أَرْشُ جِرَاحَتِهِ وَمَاتَ الصَّيْدُ بَعْدَ الْجِرَاحَتَيْنِ وَقِيمَتُهُ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ عَلَى كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهَا يَضُمُّ إِلَى مَا عَلَيْهِ فَيَصِيرُ عَلَى الْأَوَّلِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَعَلَى الثَّانِي أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ ثُمَّ عَلَى هَذِهِ الطَّرِيقَةِ فِيمَا زَادَ ونقص وهي إن صحت في العمل فهو تفسد على أصول الشافعي في وَجْهَيْنِ

Apabila telah dipastikan apa yang telah kami sebutkan dari empat pendapat ini beserta alasan masing-masing, maka jika berdasarkan pendapat tersebut diwajibkan kepada pelaku kedua untuk membayar seluruh nilai (ganti rugi) sesuai dengan alasan yang ada, maka luka kedua itu seperti mengarahkan (serangan) pada selain tempat penyembelihan, sehingga pelaku kedua wajib membayar seluruh nilai hewan buruan yang terluka. Al-Muzani berpendapat bahwa permasalahan dalam kitab ini pada pelaku kedua adalah ia menjadi muji’ (penyebab kematian), karena ia mewajibkan seluruh nilai, sedangkan para sahabat kami yang lain mengingkari bahwa permasalahan dalam kitab ini pada pelaku kedua adalah ia menjadi muji’, karena ia mewajibkan seluruh nilai. Apa yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i tentang kewajiban membayar nilai secara mutlak, itu dikaitkan dengan perbedaan empat pendapat tersebut; sehingga kemutlakannya ketika seluruh nilai diwajibkan, dikaitkan dengannya, dan ketika hanya sebagian nilai yang diwajibkan, juga dikaitkan dengannya. Adapun jika yang diwajibkan kepada pelaku kedua adalah bagiannya dari nilai berdasarkan empat pendapat tersebut, dan ini khusus dalam permasalahan kitab ini, maka para sahabat kami berbeda pendapat dalam memberikan alasan hukum yang mewajibkan pembagian nilai dan perbuatan yang mengantarkannya, menjadi lima pendapat yang penjelasannya akan jelas jika disebutkan nilai hewan buruan dan besaran ganti rugi luka. Misalkan pada hewan buruan milik seseorang yang nilainya sepuluh dirham, lalu pelaku pertama melukainya sehingga nilainya berkurang satu dirham, dan pelaku kedua juga melukainya sehingga nilainya berkurang satu dirham, kemudian hewan itu mati karena kedua luka tersebut. Salah satu dari lima pendapat dalam memberikan alasan hukum secara praktik adalah pendapat Abu Ibrahim al-Muzani, yaitu engkau mewajibkan kepada masing-masing pelaku ganti rugi atas lukanya, kemudian membagi nilai hewan buruan setelah kedua luka itu di antara keduanya menjadi dua bagian, dan menggabungkan kepada masing-masing dari mereka antara setengah nilai dan ganti rugi lukanya. Maka, pelaku pertama dikenakan satu dirham sebagai ganti rugi lukanya, dan pelaku kedua juga satu dirham sebagai ganti rugi lukanya, sedangkan nilai hewan buruan setelah kedua luka adalah delapan dirham, yang wajib atas masing-masing pelaku setengahnya, yaitu empat dirham. Maka, ditambahkan kepada satu dirham yang menjadi tanggungannya karena ganti rugi luka, sehingga masing-masing dari mereka menanggung lima dirham. Jika ganti rugi luka pelaku pertama satu dirham dan pelaku kedua dua dirham, maka pelaku pertama wajib membayar satu dirham sebagai ganti rugi lukanya, dan pelaku kedua wajib membayar dua dirham sebagai ganti rugi lukanya, kemudian hewan buruan mati setelah kedua luka tersebut dan nilainya menjadi tujuh dirham, maka masing-masing dari mereka menanggung setengahnya, yaitu tiga setengah dirham, sehingga pelaku pertama bersama satu dirham menjadi empat setengah dirham, dan pelaku kedua bersama dua dirham menjadi lima setengah dirham. Jika ganti rugi luka pelaku pertama tiga dirham dan pelaku kedua dua dirham, maka pelaku pertama wajib membayar tiga dirham sebagai ganti rugi lukanya, dan pelaku kedua wajib membayar dua dirham sebagai ganti rugi lukanya, kemudian hewan buruan mati setelah kedua luka tersebut dan nilainya menjadi lima dirham, maka masing-masing dari mereka menanggung setengahnya, lalu digabungkan dengan apa yang menjadi tanggungannya, sehingga pelaku pertama menanggung lima setengah dirham dan pelaku kedua empat setengah dirham. Kemudian, dengan cara ini, baik bertambah maupun berkurang, dan jika cara ini benar dalam praktik, maka ia rusak menurut ushul asy-Syafi‘i dalam dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْجِرَاحَةَ إِذَا سَرَتْ إِلَى النَّفْسِ لَمْ يُعْتَبَرْ أَرْشُهَا وَإِذَا لَمْ تَسْرِ إِلَى النَّفْسِ اعْتُبِرَ أَرْشُهَا أَلَا تَرَى أَنَّ رَجُلًا لَوْ قَطَعَ يَدَ عَبْدٍ فَمَاتَ مِنَ السِّرَايَةِ ضَمِنَ جَمِيعَ الْقِيمَةِ وَدَخَلَ أَرْشُ الْقَطْعِ فِي قِيمَةِ النَّفْسِ وَلَوْ لَمْ يَمُتْ مِنَ الْقَطْعِ حَتَّى قَتَلَهُ آخَرُ كَانَ عَلَى الْقَاطِعِ دِيَةُ يَدِهِ لِأَنَّ قَطْعَهُ لَمْ يَسْرِ وَكَانَ عَلَى الْقَاتِلِ قِيمَةُ نَفْسِهِ؟ وَالْمُزَنِيُّ اعْتَبَرَ أَرْشَ الْجِرَاحَةِ مَعَ سِرَايَتهَا وَفِيهِ مُخَالَفَةٌ لِهَذَا الْأَصْلِ

Salah satunya adalah bahwa jika luka itu menjalar hingga menyebabkan kematian, maka kompensasi (arsh) atas luka tersebut tidak diperhitungkan; namun jika tidak menjalar hingga menyebabkan kematian, maka kompensasi atas luka itu diperhitungkan. Tidakkah engkau melihat bahwa jika seseorang memotong tangan seorang budak lalu budak itu mati karena luka yang menjalar, maka pelaku wajib menanggung seluruh nilai budak tersebut, dan kompensasi atas pemotongan tangan sudah termasuk dalam nilai jiwa budak itu. Namun jika budak itu tidak mati karena pemotongan tangan hingga kemudian dibunuh oleh orang lain, maka pemotong tangan wajib membayar diyat tangan, karena pemotongan itu tidak menjalar, dan pembunuh wajib membayar nilai jiwa budak tersebut. Sedangkan al-Muzani memperhitungkan kompensasi luka meskipun lukanya menjalar, dan dalam hal ini terdapat perbedaan dengan prinsip tersebut.

وَالثَّانِي إِنَّ قِيمَةَ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ مُعْتَبَرَةٌ عِنْدَ وُقُوعِ الْجِنَايَةِ عَلَيْهِ وَلَا تُعْتَبَرُ قِيمَتُهُ بَعْدَ اسْتِقْرَارِهَا عَلَيْهِ أَلَا تَرَى لَوْ قَطَعَ يَدَ عبدٍ فَمَاتَ اعْتُبِرَتْ قِيمَتُهُ قَبْلَ قَطْعِهِ وَلَمْ تُعْتَبَرْ بَعْدَهُ وَالْمُزَنِيُّ اعْتَبَرَ الْقِيمَةَ بعد الجراح فَخَالَفَ هَذَا الْأَصْلَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا كَذَلِكَ فِيمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْمُزَنِيُّ هَلْ قَالَهُ تَخْرِيجًا عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فَكَانَ مُخْطِئًا أَوْ قَالَهُ مَذْهَبًا لِنَفْسِهِ فَكَانَ مُجْتَهِدًا؟ فَعَلَى وَجْهَيْنِ

Kedua, bahwa nilai (harga) korban tindak pidana dipertimbangkan pada saat terjadinya tindak pidana terhadapnya, dan tidak dipertimbangkan nilainya setelah menetapnya (kerusakan) pada dirinya. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang memotong tangan seorang budak lalu budak itu mati, maka yang dipertimbangkan adalah nilainya sebelum dipotong, dan tidak dipertimbangkan setelahnya. Al-Muzani mempertimbangkan nilai setelah terjadinya luka, sehingga ini bertentangan dengan prinsip tersebut. Para sahabat kami juga berbeda pendapat mengenai pendapat yang diambil oleh al-Muzani, apakah ia mengatakannya sebagai hasil istinbat dari mazhab asy-Syafi‘i sehingga ia keliru, ataukah ia mengatakannya sebagai pendapatnya sendiri sehingga ia menjadi seorang mujtahid? Maka ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا قَالَهُ تَخْرِيجًا

Salah satunya diutarakan sebagai takhrīj.

وَالثَّانِي قَالَهُ مَذْهَبًا غَيْرَ اجتهادٍ فَهَذَا حُكْمُ الْوَجْهِ الْأَوَّلِ عَلَى قَوْلِ الْمُزَنِيِّ

Dan yang kedua, ia mengatakannya sebagai mazhab, bukan sebagai hasil ijtihad, maka ini adalah hukum dari pendapat yang pertama menurut pendapat al-Muzani.

فَصْلٌ

Bab

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ عَلَى قَوْلِهِ أَكْثَرُ أَصْحَابِهِ وَقِيلَ إِنَّهُ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَإِنْ لَمْ أَرَهُ فِي شَرْحِهِ إِنَّ قِيمَتَهُ فِي حَقِّ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِ جِنَايَتِهِ وَجِرَاحَةِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا قَدْ سَرَى نِصْفُهَا إِلَى مَا دَخَلَ فِي ضَمَانٍ فَسَقَطَ اعْتِبَارُهُ وَسَرَى نِصْفُهَا إِلَى مَا دَخَلَ فِي ضَمَانِ غَيْرِهِ فَوَجَبَ اعْتِبَارُهُ لِأَنَّهَا لَوْ سَرَتْ فِي حَقِّهِ إِلَى جَمِيعِ النَّفْسِ سَقَطَتْ وَلَوْ لَمْ تَسْرِ فِي حَقِّهِ إِلَى شيءٍ مِنَ النَّفْسِ وَجَبَتْ فَوَجَبَ إِذَا سَرَتْ فِي حَقِّهِ إِلَى نِصْفِ النَّفْسِ أَنْ يسقط نصف الأرش ويجب نصف الأرض مَضْمُونًا إِلَى نِصْفِ الْقِيمَةِ وَقْتَ جِنَايَتِهِ وَيَتَحَمَّلُ الثَّانِي عَنِ الْأَوَّلِ نِصْفَ الْأَرْشِ كَمَا تَحَمَّلَ عَنْهُ نِصْفَ النَّفْسِ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i menurut kebanyakan pengikutnya—dan dikatakan bahwa ini adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, meskipun aku tidak menemukannya dalam syarahnya—adalah bahwa nilai (ganti rugi) untuk masing-masing dari keduanya diperhitungkan berdasarkan keadaan jinayah (kejahatan) yang dilakukan. Luka masing-masing dari keduanya, setengahnya telah mengenai bagian yang masuk dalam tanggungan, maka tidak lagi diperhitungkan; dan setengahnya lagi mengenai bagian yang masuk dalam tanggungan orang lain, maka wajib diperhitungkan. Karena jika luka itu menyebar seluruhnya pada haknya hingga mengenai seluruh jiwa, maka gugurlah (kewajiban ganti rugi); dan jika tidak menyebar sama sekali pada haknya, maka wajib (ganti rugi). Maka, jika luka itu menyebar pada haknya hingga setengah jiwa, maka gugur setengah dari diyat (ganti rugi), dan wajib setengah diyat yang dijamin hingga setengah nilai pada saat terjadinya jinayah. Orang kedua menanggung dari orang pertama setengah diyat, sebagaimana ia menanggung darinya setengah jiwa.

وَبَيَانُهُ أَنْ نَقُولَ جَرَحَهُ الْأَوَّلُ وَقِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَأَرْشُ جِرَاحَتِهِ دِرْهَمٌ فَوَجَبَ عَلَيْهِ نِصْفُ الْعَشَرَةِ وَهِيَ خَمْسَةٌ وَنِصْفُ الْأَرْشِ وَهُوَ نِصْفُ دِرْهَمٍ يَتَحَمَّلُهُ عَنْهُ الثَّانِي ثُمَّ جَرَحَهُ الثَّانِي وَقِيمَتُهُ تِسْعَةُ دَرَاهِمَ وَأَرْشُ جِرَاحَتِهِ دِرْهَمٌ فَوَجَبَ عَلَيْهِ نِصْفُ قِيمَتِهِ أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفُ أَرْشِ جِرَاحَتِهِ وَهُوَ نِصْفُ دِرْهَمٍ يَتَحَمَّلُهُ عَنِ الْأَوَّلِ فَيَصِيرُ عَلَيْهِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَعَلَى الْأول خَمْسَةُ دَرَاهِمَ فَيَصِيرُ هَذَا مُوَافِقًا لِقَوْلِ الْمُزَنِيِّ فِي الْجَوَابِ وَمُخَالِفًا لَهُ فِي التَّعْلِيلِ لِيَكُونَ سَلِيمًا عَلَى الْأُصُولِ فَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ أَرْشُ جِرَاحَةِ الْأَوَّلِ دِرْهَمًا وَأَرْشُ جِرَاحَةِ الثَّانِي ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْعَشَرَةِ وَهِيَ خَمْسَةٌ وَنِصْفُ أَرْشِ جِرَاحَتِهِ وَهُوَ نِصْفُ دِرْهَمٍ وَجُرْحُهُ الثَّانِي وَقِيمَتُهُ تِسْعَةُ دَرَاهِمَ فَعَلَيْهِ نِصْفُهَا أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَعَلَيْهِ نِصْفُ أَرْشِ جِرَاحَتِهِ وَهُوَ دِرْهَمٌ وَنِصْفٌ تَحَمَّلَهَا عَنِ الْأول فَصَارَ عَلَيْهِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ وَبَقِيَ عَلَى الْأَوَّلِ أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ أَرْشُ جِرَاحَةِ الْأول ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ وَأَرْشُ جِرَاحَةِ الثَّانِي دِرْهَمًا كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ قِيمَتِهِ وَهِيَ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفُ أَرْشِ جِنَايَتِهِ وَهُوَ دِرْهَمٌ وَنِصْفٌ يَصِيرُ عَلَيْهِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَجُرْحُهُ الثَّانِي وَقِيمَتُهُ سَبْعَةُ دَرَاهِمَ عَلَيْهِ نصفها ثلاثة دراهم ونصف ونصف أرش جراحة وَهِيَ نِصْفُ دِرْهَمٍ يَتَحَمَّلُهُ عَنِ الْأَوَّلِ فَيَصِيرُ عَلَى الثَّانِي أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَبَقِيَ عَلَى الْأَوَّلِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسِ فَيَكُونُ الْوَجْهَانِ مُتَّفِقَيْنِ فِي الْجَوَابِ مُخْتَلِفَيْنِ فِي التَّعْلِيلِ

Penjelasannya adalah sebagai berikut: Misalnya, orang pertama melukainya dan nilai (barang)nya sepuluh dirham, sedangkan diyat luka tersebut satu dirham. Maka, orang pertama wajib membayar setengah dari sepuluh, yaitu lima dirham, dan setengah dari diyat luka, yaitu setengah dirham, yang akan ditanggung oleh orang kedua darinya. Kemudian, orang kedua melukainya dan nilai (barang)nya menjadi sembilan dirham, sedangkan diyat luka tersebut satu dirham. Maka, orang kedua wajib membayar setengah dari nilainya, yaitu empat setengah dirham, dan setengah dari diyat luka, yaitu setengah dirham, yang akan ditanggungnya dari orang pertama. Maka, orang kedua menanggung lima dirham, dan orang pertama juga lima dirham. Dengan demikian, ini sesuai dengan pendapat al-Muzani dalam jawaban, namun berbeda dalam alasan, agar tetap sesuai dengan prinsip-prinsip (ushul). Berdasarkan hal ini, jika diyat luka orang pertama satu dirham dan diyat luka orang kedua tiga dirham, maka orang pertama wajib membayar setengah dari sepuluh, yaitu lima dirham, dan setengah dari diyat lukanya, yaitu setengah dirham. Kemudian, luka kedua dan nilainya sembilan dirham, maka ia wajib membayar setengahnya, yaitu empat setengah dirham, dan setengah dari diyat lukanya, yaitu satu setengah dirham, yang ditanggungnya dari orang pertama. Maka, ia menanggung enam dirham, dan sisanya atas orang pertama empat dirham. Berdasarkan hal ini, jika diyat luka orang pertama tiga dirham dan diyat luka orang kedua satu dirham, maka orang pertama wajib membayar setengah dari nilainya, yaitu lima dirham, dan setengah dari diyat kejahatannya, yaitu satu setengah dirham, sehingga menjadi enam setengah dirham. Kemudian, luka kedua dan nilainya tujuh dirham, maka ia wajib membayar setengahnya, yaitu tiga setengah dirham, dan setengah dari diyat luka, yaitu setengah dirham, yang ditanggungnya dari orang pertama. Maka, atas orang kedua empat dirham, dan sisanya atas orang pertama enam dirham. Kemudian, berdasarkan qiyās ini, kedua pendapat tersebut sepakat dalam jawaban, namun berbeda dalam alasan.

وَاخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْوَجْهِ فِيمَا يَحْمِلُهُ الثاني عن الأول من نصف الأرش هي يَكُونُ فِي ضَمَانِ الْأَوَّلِ حَتَّى يُؤْخَذَ مِنَ الثَّانِي؟ أَوْ يَكُونُ سَاقِطًا عَنْهُ بِضَمَانِ الثَّانِي؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Orang-orang yang berpendapat dengan cara ini berbeda pendapat mengenai setengah diyat yang ditanggung oleh pihak kedua dari pihak pertama: Apakah setengah diyat itu tetap menjadi tanggungan pihak pertama sampai diambil dari pihak kedua? Ataukah gugur dari tanggungan pihak pertama karena sudah menjadi tanggungan pihak kedua? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَكُونُ فِي ضَمَانِهِ حَتَّى يُؤْخَذَ مِنَ الثَّانِي كَالْغَاصِبِ إِذَا غَصَبَ عَبْدًا فَجَرَحَهُ آخَرُ فِي يَدِهِ كَانَ أَرْشُ الْجِرَاحَ مِنْ ضَمَانِهِ وَضَمَانِ غَاصِبِهِ كَذَلِكَ هَاهُنَا فَعَلَى هَذَا يَكُونُ مَالِكُ الْعَبْدِ مُخَيَّرًا فِي أَخْذِ نِصْفِ أَرْشِ جِرَاحَةِ الثَّانِي فِي الْأَوَّلِ أَوِ الثَّانِي فَإِنْ أَخَذَهُ مِنَ الْأَوَّلِ رَجَعَ بِهِ الْأَوَّلُ عَلَى الثَّانِي وَإِنْ أَخَذَهُ مِنَ الثَّانِي لَمْ يَرْجِعْ بِهِ عَلَى الْأَوَّلِ

Salah satunya adalah bahwa barang itu tetap dalam tanggungannya sampai diambil dari yang kedua, seperti halnya seorang ghashib (perampas) yang merampas seorang budak, lalu budak itu dilukai oleh orang lain ketika masih berada di tangannya; maka diyat luka tersebut menjadi tanggungan keduanya, yaitu tanggungan pelaku luka dan ghashib. Demikian pula dalam kasus ini. Berdasarkan hal ini, pemilik budak memiliki pilihan untuk mengambil setengah diyat luka dari yang pertama atau yang kedua. Jika ia mengambilnya dari yang pertama, maka yang pertama dapat menuntut kembali kepada yang kedua. Namun jika ia mengambilnya dari yang kedua, maka yang kedua tidak dapat menuntut kembali kepada yang pertama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَصَحُّ إِنَّهُ يَسْقُطُ عَنِ الْأَوَّلِ بِضَمَانِ الثَّانِي كَمَا سَقَطَ عَنْهُ نِصْفُ الْقِيمَةِ بِضَمَانِ الثَّانِي فَلَا يَسْتَحِقُّ مَالِكُ الصَّيْدِ مُطَالَبَةَ الْأَوَّلِ بِهِ وَيَسْتَحِقُّهُ عَلَى الثَّانِي مَعَ نِصْفِ الْقِيمَةِ

Pendapat kedua, yang lebih shahih, adalah bahwa kewajiban atas orang pertama gugur karena jaminan dari orang kedua, sebagaimana setengah nilai juga gugur darinya karena jaminan orang kedua. Maka, pemilik buruan tidak berhak menuntut orang pertama atas hal itu, dan ia berhak menuntutnya kepada orang kedua beserta setengah nilai.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا كَانَ اعْتِبَارُ قِيمَةِ الصَّيْدِ فِي حَقِّ الْجَارِحِينَ سَوَاءً فَتَكُونُ الْقِيمَةُ قَبْلَ الْجِرَاحَتَيْنِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ بِالسَّوِيَّةِ كَالْحُرِّ إِذَا جَرَحَهُ اثْنَانِ فَمَاتَ كَانَتِ الدِّيَةُ عَلَيْهَا بِالسَّوِيَّةِ نِصْفَيْنِ وَلَمْ يَكُنْ مَا عَلَى الثَّانِي مِنْهُمَا أَقَلَّ مِمَّا عَلَى الْأَوَّلِ

Jika dikatakan, “Mengapa tidak dipertimbangkan nilai hewan buruan bagi para peluka (pemburu) secara sama, sehingga nilainya sebelum dua luka itu dibagi rata di antara keduanya, seperti halnya seorang merdeka jika dilukai oleh dua orang lalu meninggal, maka diyat atas keduanya dibagi rata, masing-masing setengah, dan tidaklah bagian yang harus ditanggung oleh yang kedua lebih sedikit daripada yang pertama?”

قِيلَ لِأَنَّ دِيَةَ الْحُرِّ بَعْدَ الْجِنَايَةِ كَدِيَتِهِ قَبْلَهَا وَقِيمَةَ الْعَبْدِ بَعْدَ الْجِنَايَةِ أَقَلُّ مِنْ قِيمَتِهِ قَبْلَهَا أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَتَلَ حُرًّا مَقْطُوعَ الْيَدِ كَانَتْ عَلَيْهِ دِيَةُ مَنْ لَيْسَ بِأَقْطَعَ؟ وَلَوْ قَتَلَ عَبْدًا مَقْطُوعَ الْيَدِ كَانَتْ عَلَيْهِ قِيمَةُ عَبْدٍ أَقْطَعَ؟ فَهَذَا حُكْمُ الْوَجْهِ الثَّانِي

Dikatakan bahwa diyat seorang merdeka setelah terjadinya tindak pidana sama dengan diyatnya sebelum itu, sedangkan nilai seorang budak setelah terjadinya tindak pidana lebih rendah daripada nilainya sebelum itu. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang membunuh orang merdeka yang terpotong tangannya, maka ia tetap wajib membayar diyat seperti orang yang tidak terpotong tangannya? Namun jika ia membunuh budak yang terpotong tangannya, maka ia wajib membayar nilai budak yang terpotong tangannya? Inilah hukum dari pendapat yang kedua.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الطَّيِّبِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ إِنَّهُ كَالْوَجْهِ الثَّانِي فِي اعْتِبَارِ الْقِيمَةِ وَنِصْفِ الْأَرْشِ لَكِنْ لَا يَحْتَمِلُ الثَّانِي عَنِ الْأَوَّلِ مَا لَزِمَهُ مِنْ نِصْفِ الْأَرْشِ وَتُقَسَّمُ قِيمَةُ الصَّيْدِ بَيْنَهُمَا عَلَى مِقْدَارِ مَا لَزِمَهَا

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu Thayyib bin Abi Salamah, adalah bahwa pendapat ini serupa dengan pendapat kedua dalam hal mempertimbangkan nilai (qīmah) dan setengah dari diyat (arsh), namun pendapat kedua tidak dapat menanggung dari pendapat pertama apa yang menjadi kewajibannya berupa setengah dari arsh. Nilai dari hewan buruan (ṣayd) dibagi di antara keduanya sesuai dengan kadar yang menjadi kewajiban masing-masing.

وَبَيَانُهُ أَنْ نَقُولَ إِذَا كَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ دِرْهَمًا وَجِرَاحَةُ الثَّانِي دِرْهَمًا عَلَى أَنَّ لِلْأَوَّلِ نِصْفَ الْقِيمَةِ وَنِصْفُ الْجِرَاحَةِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَعَلَى الثَّانِي نِصْفُ الْقِيمَةِ مَجْرُوحًا وَنِصْفُ الْجِرَاحَةِ خمسة دراهم بعير عليها ما عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَقِيمَةُ الصَّيْدِ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ لَا يَسْتَحِقُّ مَالِكُهُ أَكْثَرَ مِنْهَا فَتُقَسَّمُ الْعَشَرَةُ الَّتِي هِيَ الْقِيمَةُ عَلَى عَشَرَةِ أَسْهُمٍ وَنِصْفٍ فَيَكُونُ عَلَى الْأَوَّلِ مِنْهَا خَمْسَةُ أَسْهُمٍ وَنِصْفٌ من عشرة أسهم ونصف من العشرة وكان عَلَى الثَّانِي مِنْهَا خَمْسَةُ أَسْهُمٍ مِنْ عَشَرَةِ أسهم ونصف الْعَشَرَةِ وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ دِرْهَمًا وَجِرَاحَةُ الثَّانِي دِرْهَمَيْنِ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْقِيمَةِ وَنِصْفُ الْجِرَاحَةِ سِتَّةُ دَرَاهِمَ وَعَلَى الثَّانِي نِصْفُ الْقِيمَةِ مَجْرُوحًا وَنِصْفُ الْجِرَاحَةِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ فإذا اجتمعت بينهما كانا أَحَدَ عَشَرَ دِرْهَمًا تَجْعَلُهَا سِهَامًا وَتُقَسَّمُ الْعَشَرَةَ الَّتِي هِيَ الْقِيمَةُ عَلَى أَحَدَ عَشَرَ سَهْمًا مِنْهَا عَلَى الْأَوَّلِ سِتَّةَ أَسْهُمٍ مِنْ أَحَدَ عَشَرَ سَهْمًا مِنْ الْعَشَرَةِ وَعَلَى الثَّانِي خَمْسَةُ أسهم من أحد عشرة سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْقِيمَةِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفُ الْجِرَاحَةِ دِرْهَمٌ وَنِصْفٌ يَكُونَانِ سِتَّةَ دَرَاهِمَ وَنِصْفَ دِرْهَمٍ وَعَلَى الثَّانِي نِصْفُ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا وَهِيَ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفُ جِرَاحَتِهِ دِرْهَمٌ وَنِصْفٌ يَكُونَانِ خَمْسَةَ دَرَاهِمَ فإذا جمعتهما صار أحد عشر سهماً ونصف وعلى الْأَوَّلِ سِتَّةُ أَسْهُمٍ وَنِصْفٌ مِنْ أَحَدَ عَشَرَ سهماً ونصف ويكون جِرَاحَتُهُ ثُلُثَ دِرْهَمٍ فَتَصِيرُ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ مِنَ العشرة وعلى الثاني خمسة أسهم من أحد عَشَرَ سَهْمًا وَنِصْفُ الْعَشَرَةِ وَلَوْ كَانُوا ثَلَاثَةً فَكَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ دِرْهَمًا وَجِرَاحَةُ الثَّانِي دِرْهَمَيْنِ وَجِرَاحَةُ الثَّالِثِ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ ثُلُثُ قِيمَتِهِ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثُ دِرْهَمٍ وَثُلُثُ جراحته ثلاثة دراهم تصير على ثلاثة دراهم وثلثا دِرْهَمٍ وَعَلَى الثَّانِي ثُلُثُ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا بِجُرْحٍ وَاحِدٍ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثُ جِرَاحَتِهِ ثُلُثُ دِرْهَمٍ فَتَصِيرُ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ وَثُلُثَيْ دِرْهَمٍ وَعَلَى الثَّالِثِ ثُلُثُ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا جُرْحَيْنِ وَهِيَ سَبْعَةُ دَرَاهِمَ يَكُونُ عَلَيْهِ دِرْهَمَانِ وَثُلُثٌ وَعَلَيْهِ ثُلُثُ جِرَاحَةِ دراهم يَصِيرُ عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثُ دِرْهَمٍ فَإِذَا جَمَعْتَ مَا عَلَيْهِمْ فَعَلَى الْأَوَّلِ ثَلَاثَةٌ وَثُلُثَانِ وَعَلَى الثَّانِي ثَلَاثَةٌ وَثُلُثَانِ وَعَلَى الثَّالِثِ ثَلَاثَةٌ وَثُلُثٌ كَانَتْ عَشَرَةً وَثُلُثَيْنِ تَجْعَلُهَا سِهَامًا وَتُقَسِّمُ الْعَشَرَةَ عَلَيْهَا فَيَكُونُ عَلَى الْأَوَّلِ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ وَثُلُثَا سَهْمٍ مِنْ عَشَرَةِ أَسْهُمٍ وَثُلُثَيْ سَهْمٍ مِنْ عَشَرَةٍ وَعَلَى الثَّانِي مِثْلُهَا وَعَلَى الثَّالِثِ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ وَثُلُثٌ مِنْ عَشَرَةِ أَسْهُمٍ وَثُلُثَيْ سَهْمٍ مِنَ الْعَشَرَةِ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْعِبْرَةِ يَكُونُ الْحُكْمُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ مُخَالِفًا لِلْوَجْهَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ فِي الْجَوَابِ وَالتَّعْلِيلِ

Penjelasannya adalah sebagai berikut: Jika luka yang pertama sebesar satu dirham dan luka yang kedua juga satu dirham, maka bagi yang pertama setengah dari nilai dan setengah dari luka adalah lima setengah dirham, dan bagi yang kedua setengah dari nilai dalam keadaan terluka dan setengah dari luka adalah lima dirham, sehingga jumlahnya menjadi sepuluh setengah dirham, sedangkan nilai hewan buruan adalah sepuluh dirham, maka pemiliknya tidak berhak mendapatkan lebih dari itu. Maka sepuluh dirham yang merupakan nilai tersebut dibagi menjadi sepuluh setengah bagian, sehingga bagian yang harus ditanggung oleh yang pertama adalah lima setengah bagian dari sepuluh setengah bagian, dan bagian yang harus ditanggung oleh yang kedua adalah lima bagian dari sepuluh setengah bagian. Jika luka yang pertama satu dirham dan luka yang kedua dua dirham, maka bagi yang pertama setengah dari nilai dan setengah dari luka adalah enam dirham, dan bagi yang kedua setengah dari nilai dalam keadaan terluka dan setengah dari luka adalah lima dirham. Jika dijumlahkan keduanya menjadi sebelas dirham, maka nilai sepuluh dirham tadi dibagi menjadi sebelas bagian, sehingga bagian yang harus ditanggung oleh yang pertama adalah enam bagian dari sebelas bagian dari sepuluh dirham, dan bagian yang harus ditanggung oleh yang kedua adalah lima bagian dari sebelas bagian dari sepuluh dirham. Jika luka masing-masing dari keduanya tiga dirham, maka bagi yang pertama setengah dari nilai adalah lima dirham dan setengah dari luka adalah satu setengah dirham, sehingga jumlahnya menjadi enam setengah dirham, dan bagi yang kedua setengah dari nilainya dalam keadaan terluka adalah tiga dirham dan setengah dari lukanya adalah satu setengah dirham, sehingga jumlahnya menjadi lima dirham. Jika keduanya dijumlahkan menjadi sebelas setengah bagian, maka bagian yang harus ditanggung oleh yang pertama adalah enam setengah bagian dari sebelas setengah bagian, dan bagian yang harus ditanggung oleh yang kedua adalah lima bagian dari sebelas setengah bagian. Jika mereka bertiga, luka yang pertama satu dirham, luka yang kedua dua dirham, dan luka yang ketiga tiga dirham, maka bagi yang pertama sepertiga dari nilainya adalah tiga dirham dan sepertiga dirham, dan sepertiga dari lukanya adalah tiga dirham, sehingga menjadi tiga dirham dan sepertiga dirham. Bagi yang kedua sepertiga dari nilainya dalam keadaan terluka dengan satu luka adalah tiga dirham dan sepertiga dari lukanya adalah sepertiga dirham, sehingga menjadi tiga dirham dan dua pertiga dirham. Bagi yang ketiga sepertiga dari nilainya dalam keadaan terluka dengan dua luka adalah tujuh dirham, sehingga ia menanggung dua dirham dan sepertiga, dan sepertiga dari lukanya adalah satu dirham, sehingga ia menanggung tiga dirham dan sepertiga dirham. Jika dijumlahkan apa yang harus mereka tanggung, maka yang pertama tiga dan dua pertiga, yang kedua tiga dan dua pertiga, dan yang ketiga tiga dan sepertiga, sehingga jumlahnya sepuluh dan dua pertiga. Jumlah ini dijadikan sebagai bagian, lalu sepuluh dirham dibagi atasnya, sehingga bagian yang harus ditanggung oleh yang pertama adalah tiga dan dua pertiga bagian dari sepuluh dan dua pertiga bagian, demikian pula bagi yang kedua, dan bagi yang ketiga tiga dan sepertiga bagian dari sepuluh dan dua pertiga bagian. Kemudian berdasarkan perhitungan ini, hukum yang berlaku pada cara ini berbeda dengan dua cara sebelumnya dalam jawaban dan alasan.

فَصْلٌ

Bab

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ إِنَّكَ تُوجِبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْجَارِحَيْنِ جَمِيعَ قِيمَتِهِ عِنْدَ جِنَايَتِهِ وَتَجْمَعُ بَيْنَ الْقِسْمَيْنِ وَتُقَسِّمُ قِيمَةَ الصَّيْدِ قَبْلَ الْجِرَاحَتَيْنِ عَلَيْهِمَا وَيَلْزَمُ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا قِسْطٌ مِنْهَا فَيَصِيرُ مُعْتَبَرًا بِجِرَاحَةِ الْأَوَّلِ فِي حَقِّ الثَّانِي وَلَا يَصِيرُ مُعْتَبَرًا بِجِرَاحَةِ الثَّانِي فِي حَقِّهِ وَلَا فِي حَقِّ الأول مثله إِذَا جَرَحَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا جِرَاحَةً أَرْشُهَا دِرْهَمٌ فَحَصَّلَ عَلَى الْأَوَّلِ جَمِيعَ قِيمَتِهِ صَحِيحًا وَهِيَ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَحَصَّلَ عَلَى الثَّانِي جَمِيعَ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا وَهِيَ تِسْعَةُ دَرَاهِمَ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْقِيمَتَيْنِ تَكُونُ تِسْعَةَ عَشَرَ دِرْهَمًا فَتَجْعَلُهَا سِهَامًا وَتُقَسِّمُ الْعَشَرَةَ عَلَيْهَا وَتُوجِبُ عَلَى الْأَوَّلِ عَشَرَةَ أسهم من تسعة عشر سهما من العشرة وَتُوجِبُ عَلَى الثَّانِي تِسْعَةَ أَسْهُمٍ مِنْ تِسْعَةَ شعر سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دِرْهَمَيْنِ جَعَلْتَ عَلَى الْأَوَّلِ عَشَرَةً وَعَلَى الثَّانِي ثَمَانِيَةً وَجَمَعْتَ بَيْنَهُمَا تَكُونُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَتُقَسِّمُ الْعَشَرَةَ عَلَى ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا وَجَبَ عَلَى الْأَوَّلِ مِنْهَا عَشَرَةُ أَسْهُمٍ مِنْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَعَلَى الثَّانِي ثَمَانِيَةُ أَسْهُمٍ مِنْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَلَوْ كَانُوا ثَلَاثَةً وَكَانَ أَرْشُ جِرَاحَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ كَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ مُعْتَبَرَةً فِي حَقِّ الثَّانِي وَجِرَاحَةُ الثَّانِي مُعْتَبَرَةً فِي حَقِّ الثَّالِثِ وَغَيْرَ مُعْتَبَرَةٍ فِي حَقِّ الْأَوَّلِ وَجِرَاحَةُ الثَّالِثِ غَيْرَ مُعْتَبَرَةٍ فِي حَقِّ الثَّانِي وَلَا فِي حَقِّ الْأَوَّلِ فَيَجْعَلُ عَلَى الْأَوَّلِ جَمِيعَ قِيمَتِهِ صَحِيحًا وَهِيَ عَشَرَةٌ وَعَلَى الثَّانِي جَمِيعَ قِيمَتِهِ بَعْدَ جِرَاحَةِ الْأَوَّلِ وَهِيَ سَبْعَةٌ وَعَلَى الثَّالِثِ جَمِيعَ قِيمَتِهِ بَعْدَ جِرَاحَةِ الثَّانِي وَهِيَ أَرْبَعَةٌ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْقِيَمِ الثَّلَاثِ وَهِيَ عَشَرَةٌ وَسَبْعَةٌ وَأَرْبَعَةٌ تَكُونُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَتُقَسَّمُ الْعَشْرَةُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحَدٍ وَعِشْرِينَ سَهْمًا يُوجِبُ عَلَى الْأَوَّلِ مِنْهَا عَشَرَةَ أَسْهُمٍ مِنْ أَحَدٍ وَعِشْرِينَ سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَعَلَى الثَّانِي سَبْعَةَ أَسْهُمٍ مِنْ أَحَدٍ وَعِشْرِينَ سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ وَعَلَى الثَّالِثِ أَرْبَعَةَ أَسْهُمٍ مَنْ أَحَدٍ وَعِشْرِينَ سَهْمًا مِنَ الْعَشَرَةِ ثُمَّ عَلَى هَذِهِ الْعِبْرَةِ وَهَذَا الْوَجْهُ مُخَالِفٌ حُكْمَ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ فِي الْجَوَابِ وَالتَّعْلِيلِ

Pendapat keempat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan, adalah bahwa engkau mewajibkan kepada masing-masing dari dua orang yang melukai seluruh nilai (harga) hewan buruan pada saat ia melukainya, lalu engkau menggabungkan kedua bagian tersebut dan membagi nilai hewan buruan sebelum kedua luka itu kepada keduanya, sehingga masing-masing dari mereka menanggung bagian dari nilai tersebut. Maka, luka yang pertama dianggap dalam hak orang kedua, namun luka kedua tidak dianggap dalam haknya dan juga tidak dalam hak orang pertama. Misalnya, jika masing-masing dari mereka melukai dengan luka yang diyakini nilainya satu dirham, maka orang pertama dikenakan seluruh nilai hewan buruan dalam keadaan sehat, yaitu sepuluh dirham, dan orang kedua dikenakan seluruh nilai hewan buruan dalam keadaan sudah terluka, yaitu sembilan dirham. Kemudian kedua nilai itu dijumlahkan menjadi sembilan belas dirham, lalu engkau jadikan nilai itu sebagai saham, dan engkau membagi sepuluh di antara mereka. Maka, engkau wajibkan kepada orang pertama sepuluh saham dari sembilan belas saham dari sepuluh, dan kepada orang kedua sembilan saham dari sembilan belas saham dari sepuluh. Jika luka masing-masing dari mereka bernilai dua dirham, maka engkau kenakan kepada orang pertama sepuluh dan kepada orang kedua delapan, lalu engkau jumlahkan keduanya menjadi delapan belas, kemudian engkau bagi sepuluh atas delapan belas saham, sehingga orang pertama wajib menanggung sepuluh saham dari delapan belas saham dari sepuluh, dan orang kedua delapan saham dari delapan belas saham dari sepuluh. Jika mereka bertiga dan nilai luka masing-masing tiga dirham, maka luka orang pertama dianggap dalam hak orang kedua, luka orang kedua dianggap dalam hak orang ketiga dan tidak dianggap dalam hak orang pertama, dan luka orang ketiga tidak dianggap dalam hak orang kedua maupun dalam hak orang pertama. Maka, orang pertama dikenakan seluruh nilai hewan buruan dalam keadaan sehat, yaitu sepuluh, orang kedua dikenakan seluruh nilai hewan buruan setelah luka orang pertama, yaitu tujuh, dan orang ketiga dikenakan seluruh nilai hewan buruan setelah luka orang kedua, yaitu empat. Kemudian ketiga nilai itu dijumlahkan, yaitu sepuluh, tujuh, dan empat, menjadi dua puluh satu, lalu sepuluh dibagi di antara mereka atas dua puluh satu saham. Maka, orang pertama wajib menanggung sepuluh saham dari dua puluh satu saham dari sepuluh, orang kedua tujuh saham dari dua puluh satu saham dari sepuluh, dan orang ketiga empat saham dari dua puluh satu saham dari sepuluh. Kemudian, perhitungan ini berlaku seterusnya. Pendapat ini berbeda dengan hukum tiga pendapat sebelumnya dalam jawaban dan alasan.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْوَجْهُ الْخَامِسُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّ كُلَّ وَاحِدٍ منهما يضمن نصف قيمته وقت جراحة وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا تَقَدَّمَهَا وَلَا بِمَا تَأَخَّرَ عنها ولا اعتبار بأرش كل واحدا مِنْهُمَا إِذَا صَارَتْ نَفْسًا لِدُخُولِهَا فِي ضَمَانِ النَّفْسِ فَإِذَا جَرَحَهُ الْأَوَّلُ وَقِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَجَرَحَهُ الثَّانِي وَقِيمَتُهُ تِسْعَةُ دَرَاهِمَ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْعَشَرَةِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَعَلَى الثَّانِي نِصْفُ التِّسْعَةِ أَرْبَعَةُ دَرَاهِمَ وَنِصْفٌ وَسَقَطَ ضَمَانُ نِصْفِ دِرْهَمٍ مِنَ الْعَشَرَةِ دَخَلَ بِهِ النَّقْصُ عَلَى الْمَالِكِ لِأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ فِي وُجُوبِ ضَمَانِهِ مَحَلٌّ

Pendapat kelima, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa masing-masing dari keduanya menanggung setengah dari nilai (barang) pada saat terjadinya luka, dan tidak diperhitungkan apa yang terjadi sebelumnya maupun sesudahnya, serta tidak diperhitungkan diyat (ganti rugi) masing-masing dari mereka apabila telah menjadi jiwa (meninggal), karena telah termasuk dalam tanggungan diyat jiwa. Maka jika yang pertama melukainya saat nilainya sepuluh dirham, lalu yang kedua melukainya saat nilainya sembilan dirham, maka yang pertama wajib membayar setengah dari sepuluh, yaitu lima dirham, dan yang kedua wajib membayar setengah dari sembilan, yaitu empat setengah dirham, dan gugurlah tanggungan setengah dirham dari sepuluh karena kekurangan itu menjadi beban pemilik (korban), sebab tidak ada tempat baginya untuk menuntut ganti rugi atasnya.

وَلَوْ جَرَحَهُ الْأَوَّلُ وَقِيمَتُهُ عَشَرَةُ دراهم وجرحه الثاني وقيمته ستة دراهم عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْعَشَرَةِ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَعَلَى الثَّانِي نِصْفُ السِّتَّةِ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ

Jika orang pertama melukainya saat nilainya sepuluh dirham, lalu orang kedua melukainya lagi saat nilainya enam dirham, maka atas orang pertama wajib membayar setengah dari sepuluh, yaitu lima dirham, dan atas orang kedua wajib membayar setengah dari enam, yaitu tiga dirham.

وَيَسْقُطُ ضَمَانُ دِرْهَمَيْنِ وَلَوْ كَانُوا ثَلَاثَةً جَرَحَهُ الْأَوَّلُ وَقِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَجَرَحَهُ الثَّانِي وَقِيمَتُهُ ثَمَانِيَةٌ وَجَرَحَهُ الثَّالِثُ وَقِيمَتُهُ سِتَّةٌ كَانَ عَلَى الْأَوَّلِ ثُلُثُ الْعَشَرَةِ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثٌ وَعَلَى الثَّانِي ثُلُثُ الثمانية درهما وثلثان وعلى الثالث ثلث الستة درهما يَصِيرُ مَجْمُوعُ مَا عَلَيْهِمَا ثَمَانِيَةَ دَرَاهِمَ وَيَسْقُطُ ضَمَانُ دِرْهَمَيْنِ عَلَى هَذِهِ الْعِبْرَةِ وَهَذَا الْوَجْهُ مُخَالِفٌ لِلْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ فِي الْحُكْمِ وَالْمِقْدَارِ وَالْعَمَلِ

Jaminan dua dirham gugur, meskipun mereka bertiga; yang pertama melukainya dan nilainya sepuluh dirham, lalu yang kedua melukainya dan nilainya menjadi delapan, lalu yang ketiga melukainya dan nilainya menjadi enam. Maka atas yang pertama sepertiga dari sepuluh, yaitu tiga dirham sepertiga; atas yang kedua sepertiga dari delapan dirham dua sepertiga; dan atas yang ketiga sepertiga dari enam dirham. Jumlah keseluruhan yang menjadi tanggungan mereka adalah delapan dirham, dan jaminan dua dirham gugur menurut perhitungan ini. Pendapat ini berbeda dengan empat pendapat lain dalam hukum, kadar, dan penerapannya.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا تَقَرَّرَتْ أَحْكَامُ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ فَكَذَلِكَ حُكْمُهَا فِي جَمِيعِ الْبَهَائِمِ الْمَمْلُوكَةِ

Dan apabila telah ditetapkan hukum-hukum dari lima kategori ini, maka demikian pula hukumnya berlaku pada seluruh hewan ternak yang dimiliki.

وَأَمَّا حُكْمُهَا فِي الْآدَمِيِّينَ فَإِنْ كَانَ الْمَجْرُوحُ حُرًّا سَقَطَ اعْتِبَارُ أَرْشِ الْجِرَاحِ فِيهِ لِكَمَالِ دِيَتِهِ قَبْلَ الْجِرَاحِ وَبَعْدَهَا عَلَى سَوَاءٍ وَإِنْ كَانَ الْمَجْرُوحُ عَبْدًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي جِرَاحِهِ أَرْشٌ مقدرٌ فَهُوَ كَالصَّيْدِ وَسَائِرِ الْبَهَائِمِ عَلَى مَا شَرَحْنَاهُ وَإِنْ كَانَ فِي جِرَاحِهِ أرش مقدر كالأطراف فقد خرج فِيهِ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَجْهَيْنِ

Adapun hukumnya pada manusia, jika orang yang terluka adalah seorang merdeka, maka pertimbangan arsy (ganti rugi) luka tidak berlaku padanya, karena diyatnya telah sempurna baik sebelum maupun sesudah luka tersebut. Namun jika orang yang terluka adalah seorang budak, maka jika pada lukanya tidak ada arsy yang ditetapkan, maka hukumnya seperti pada hewan buruan dan hewan lainnya sebagaimana telah dijelaskan. Tetapi jika pada lukanya terdapat arsy yang ditetapkan seperti pada anggota tubuh, maka Abu ‘Ali bin Abi Hurairah mengeluarkan dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَصِيرُ بِتَقْدِيرِ أَطْرَافِهِ كَالْحُرِّ

Salah satunya adalah bahwa ia, dengan memperhitungkan anggota tubuhnya, menjadi seperti orang merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَصِيرُ مَعَ التَّقْدِيرِ كَالْبَهِيمَةِ وَكِلَا الْوَجْهَيْنِ مَعْلُولٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ لِأَنَّ الْعَبْدَ تَنْقُصُ قِيمَتُهُ بَعْدَ جِرَاحَةِ الْأَوَّلِ بِخِلَافِ الْحُرِّ فَيَبْطُلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْحُرِّ وَالْعَبْدُ تَتَقَدَّرُ أَطْرَافُهُ بِخِلَافِ الْبَهِيمَةِ فَبَطَلَ الْجَمْعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَهِيمَةِ فَإِذَا بَطَلَ الْوَجْهَانِ صَارَ حُكْمُهُ فِي الْمُقَدَّرِ مُشْتَرِكًا بَيْنَ أَحْكَامِ الْحُرِّ فِي التَّقْدِيرِ وَبَيْنَ أَحْكَامِ البهيمة في اعتبار القيمة ثم يخالفها في وجه ثالث أنك تعتبر في طرق الْعَبْدِ أَكْثَرَ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْمُقَدَّرِ فِيهِ أَوْ مَا نَقَصَ مِنَ الْقِيمَةِ مَا لَمْ يَسْتَوْعِبِ الْمُقَدَّرُ جَمِيعَ الْقِيمَةِ فَإِنِ اسْتَوْعَبَهَا أَوْجَبْتَ أَقَلَّهَا وَهُوَ نُقْصَانُ الْقَيِّمَةِ لِأَنَّ الشَّرِكَةَ مَعَ السِّرَايَة تَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ جَمِيعِهَا عَلَى أَحَدِهِمَا فَيُعْمَلُ عَلَى مَا يُوجِبُهُ هَذَا التَّعْلِيلُ مِنَ الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَإِنْ كَانَ الْجَانِيَانِ عَلَى الصَّيْدِ وَالْبَهِيمَةِ أَجْنَبِيَّيْنِ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدُهُمَا مَالِكًا فَعَلَى كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْقِيمَةِ مَا أَوْجَبَتْهُ الشَّرِكَةُ عَلَى الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مَالِكًا سَقَطَ عَنْهُ قِسْطُهُ وَوَجَبَ عَلَى الْأَجْنَبِيِّ قِسْطُهُ وَيُتَصَوَّرُ فِي غَيْرِ الصَّيْدِ أَنْ يَكُونَ الْمَالِكُ أَوَّلًا وَثَانِيًا وَلَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَبْدِ الْمُمْتَنِعِ أَنْ يَكُونَ الْمَالِكُ فِي الْمَضْمُونِ إِلَّا الْأَوَّلَ دُونَ الثَّانِي وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua adalah bahwa, jika ditaksir, ia menjadi seperti hewan ternak. Namun kedua pendapat tersebut memiliki kelemahan secara mutlak, karena nilai seorang budak berkurang setelah luka yang pertama, berbeda dengan orang merdeka, sehingga batal perbandingan antara budak dan orang merdeka. Anggota tubuh budak dapat ditaksir, berbeda dengan hewan ternak, sehingga batal pula perbandingan antara budak dan hewan ternak. Jika kedua pendapat tersebut batal, maka hukumnya dalam hal yang ditaksir menjadi gabungan antara hukum orang merdeka dalam penaksiran dan hukum hewan ternak dalam mempertimbangkan nilai, kemudian berbeda lagi dalam satu sisi ketiga, yaitu bahwa pada anggota tubuh budak dipertimbangkan yang lebih besar antara dua hal: yang ditaksir padanya atau pengurangan nilai, selama yang ditaksir tidak mencakup seluruh nilai. Jika telah mencakup seluruh nilai, maka yang diwajibkan adalah yang lebih sedikit, yaitu pengurangan nilai, karena adanya kepemilikan bersama dengan penularan (kerusakan) mencegah kewajiban seluruhnya atas salah satu dari keduanya. Maka diberlakukan apa yang ditetapkan oleh alasan ini dari lima sisi. Jika demikian, maka jika dua pelaku kejahatan terhadap buruan atau hewan ternak adalah orang asing (bukan pemilik) dan tidak ada salah satu dari mereka yang menjadi pemilik, maka atas masing-masing dari mereka dikenakan bagian nilai sesuai yang diwajibkan oleh kepemilikan bersama menurut lima sisi tersebut. Jika salah satu dari mereka adalah pemilik, maka gugur bagiannya dan yang wajib atas orang asing adalah bagiannya. Dalam selain buruan, mungkin saja pemilik adalah yang pertama dan kedua, namun pada budak yang tidak dapat dimiliki, tidak mungkin pemilik dalam hal yang dijamin kecuali yang pertama saja, bukan yang kedua. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ كَانَ مُمْتَنِعًا بَعْدَ رَمْيَةِ الْأَوَّلِ يَطِيرُ إِنْ كَانَ طَائِرًا أَوْ يَعْدُو إِنْ كَانَ دَابَّةً ثَمَّ رَمَاهُ الثَّانِي فَأَثْبَتَهُ كَانَ لِلثَّانِي

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika setelah terkena lemparan orang pertama, hewan itu masih bisa menahan diri lalu terbang jika ia burung, atau berlari jika ia hewan berkaki, kemudian orang kedua melemparnya dan mengenainya hingga hewan itu tidak bisa bergerak lagi, maka hewan itu menjadi milik orang kedua.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الصَّيْدَ ضَرْبَانِ مُمْتَنِعٌ وَغَيْرُ مُمْتَنِعٍ فَأَمَّا الْمُمْتَنِعُ وَهُوَ مَا بَعُدَ عَنْ طَلَبِهِ بِطَيَرَانِهِ إِنْ كَانَ مِنَ الطَّيْرِ أَوْ بِعَدْوِهِ إِنْ كَانَ مِنَ الدَّوَابِّ فَلَمْ يُقْدَرْ عَلَيْهِ إِلَّا بِآلَةٍ يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَيْهِ وَأَمَّا غَيْرُ الْمُمْتَنِعِ وَهُوَ صِغَارُهُ الَّذِي لَمْ يَتَكَامَلْ قُوَّتُهُ وَلَا يَقْدِرُ أَنْ يَنْهَضَ بِجَنَاحٍ وإِنْ كَانَ طَائِرًا وَلَا يَعْدُوَ بِرِجْلٍ إِنْ كان دابة قال الله عز وجل ياَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ ] فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa buruan itu terbagi menjadi dua jenis: yang sulit ditangkap dan yang tidak sulit ditangkap. Adapun yang sulit ditangkap adalah hewan yang menjauh dari upaya penangkapan dengan terbang jika ia termasuk burung, atau dengan berlari jika ia termasuk hewan berkaki, sehingga tidak mungkin didapatkan kecuali dengan alat yang dapat digunakan untuk mencapainya. Sedangkan yang tidak sulit ditangkap adalah anak-anak hewan yang kekuatannya belum sempurna dan belum mampu terbang dengan sayapnya jika ia burung, atau belum mampu berlari dengan kakinya jika ia hewan berkaki. Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, sungguh Allah akan menguji kalian dengan sesuatu dari buruan…” (QS. Al-Ma’idah: 94), dalam ayat ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا مَعْنَاهُ لَيُكَلِّفَنَّكُمْ إِبَاحَةَ مَا أَحَلَّهُ أَوْ حَظْرَ مَا حَرَّمَهُ

Salah satunya bermakna: sungguh Dia akan membebani kalian untuk membolehkan apa yang telah Dia halalkan atau mengharamkan apa yang telah Dia haramkan.

وَالثَّانِي لَيَخْتَبِرَنَّكُمْ فِي قَبُولِ أَوَامِرِهِ وَالِانْتِهَاءِ عَنْ زَوَاجِرِهِ تَنَالَهُ أَيْدِيَكُمْ وَرِمَاحَكُمْ فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Dan yang kedua, sungguh Dia akan menguji kalian dalam menerima perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang dapat dijangkau oleh tangan dan tombak kalian; dalam hal ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا مَا تَنَالُهُ أَيْدِينَا الصِّغَارُ ورماحنا الكبار قال ابْنُ عَبَّاسٍ فَإِنْ كَانَ الصَّيْدُ غَيْرَ مُمْتَنِعٍ لِصِغَرٍ لَمْ يُمْلَكْ إِلَّا بِالْأَخْذِ وَالتَّنَاوُلِ لِقَوْلِهِ تعالى تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَلَا تَكُونُ ذَكَاتُهُ إِلَّا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ لِأَنَّهُ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ فَلَوْ دَلَّ عَلَيْهِ رجلٌ وَأَخَذَهُ آخَرُ كَانَ مِلْكًا لِآخِذِهِ دُونَ الدَّالِ عَلَيْهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الصَّيْدُ لِمَنْ صَادَهُ لَا لِمَنْ أَثَارَهُ فَلَوْ نَبَشَ عَلَيْهِ أَحَدُهُمَا بَيْتَهُ حَتَّى طَيَّرَهُ وَأَخَذَهُ الْآخَرُ كَانَ لِلْآخِذِ دُونَ النَّابِشِ فَلَوْ وَقَعَتْ أَيْدِيهُمَا عَلَيْهِ كَانَ لِأَسْبَقِهِمَا يَدًا فَإِنِ اسْتَوَتْ أَيْدِيهِمَا مَعًا كَانَ بَيْنَهُمَا يَسْتَوِي فِيهِ مَنْ أَخَذَ بِرَأْسِهِ وَمَنْ أَخَذَ بِرِجْلِهِ أَوْ ذَنَبِهِ وَلَا يُقْسَمُ عَلَيْهِمَا بِقَدْرِ أَيْدِيهِمَا عَلَيْهِ وَمَوَاضِعِهِمَا مِنْهُ لِأَنَّ الْيَدَ عَلَى بَعْضِهِ يَدٌ عَلَى جَمِيعِهِ أَلَا تَرَى أَنَّ رَجُلَيْنِ لَوْ تَنَازَعَا عَلَى دَابَّةٍ فِي يَدِ أَحَدِهِمَا رَأْسُهَا وَفِي يَدِ الْآخَرِ ذَنَبُهَا كَانَا فِي الْيَدِ عَلَيْهَا سَوَاءً

Salah satunya adalah hewan buruan yang dapat dijangkau oleh tangan-tangan kecil kita dan tombak-tombak besar kita. Ibnu ‘Abbas berkata: Jika hewan buruan itu tidak mampu melarikan diri karena kecil, maka ia tidak dimiliki kecuali dengan cara mengambil dan memegangnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “yang dapat dijangkau oleh tangan-tangan kalian.” Penyembelihan hewan tersebut hanya sah pada bagian leher dan pangkal leher, karena ia masih dapat dikuasai. Jika seseorang menunjukkan hewan itu lalu orang lain yang mengambilnya, maka kepemilikan jatuh kepada yang mengambil, bukan kepada yang menunjukkan. Nabi ﷺ bersabda: “Hewan buruan adalah milik orang yang memburunya, bukan milik orang yang hanya mengusiknya.” Jika salah satu dari mereka menggali sarangnya hingga hewan itu terbang, lalu yang lain menangkapnya, maka hewan itu menjadi milik yang menangkap, bukan yang menggali. Jika keduanya sama-sama berhasil memegangnya, maka hewan itu menjadi milik orang yang lebih dahulu meletakkan tangan. Jika keduanya memegang secara bersamaan, maka hewan itu menjadi milik bersama di antara mereka, baik yang memegang kepala, kaki, maupun ekornya. Tidak dibagi berdasarkan bagian tubuh yang dipegang atau posisi tangan mereka, karena tangan pada sebagian tubuh dianggap tangan atas seluruh tubuh. Tidakkah engkau melihat jika dua orang berselisih atas seekor hewan tunggangan, yang satu memegang kepala dan yang lain memegang ekornya, maka keduanya dianggap sama-sama memegang hewan tersebut.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْمُمْتَنِعُ بِعَدْوِهِ أَوْ طَيَرَانِهِ فَيُمْلَكُ بِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ

Adapun hewan yang sulit ditangkap karena larinya atau terbangnya, maka ia dapat dimiliki dengan salah satu dari tiga cara.

أَحَدُهَا بِالْأَخْذِ وَالتَّنَاوُلِ بِأَنْ يُظْفَرَ بِهِ فِي بَيْتِهِ أَوْ يَعْقِلَهُ عَلَى مَائِهِ أَوْ حَضَانَةِ وَلَدِهِ وَبَيْضِهِ فَيَصِيرُ بِحُصُولِهِ فِي يَدِهِ مِلْكًا لَهُ وَإِنْ كَانَ بَاقِيًا عَلَى امْتِنَاعِهِ لَوْ أُرْسِلَ

Salah satunya adalah dengan mengambil dan memegangnya, yaitu dengan menemukannya di rumahnya, atau mengurungnya di tempat airnya, atau menjaga anak dan telurnya, sehingga dengan keberadaannya di tangannya, ia menjadi miliknya, meskipun hewan itu masih tetap liar jika dilepaskan.

وَالثَّانِي أَنْ يَقَعَ فِي شَبَكَتِهِ أَوْ شَرَكِهِ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى الْخَلَاصِ فَيَصِيرُ بِحُصُولِهِ فِيهَا مِلْكًا لِوَاضِعِ الشَّبَكَةِ وَالشَّرَكِ سَوَاءٌ كَانَ حَاضِرًا أَوْ غَائِبًا وَسَوَاءٌ عَقَرَتْهُ الشَّبَكَةُ أَوْ لَمْ تَعْقِرْهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْخَلَاصِ مِنْهَا فَإِنْ قَدَرَ عَلَى الْخَلَاصِ لَمْ يَسْتَقِرَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ فِي حَالِ قُدْرَتِهِ عَلَى الْخَلَاصِ إِلَّا بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ

Kedua, apabila hewan itu masuk ke dalam jaring atau perangkapnya sehingga tidak mampu melepaskan diri, maka dengan masuknya hewan itu ke dalamnya, hewan tersebut menjadi milik orang yang memasang jaring atau perangkap, baik ia hadir maupun tidak, dan baik jaring itu melukai hewan tersebut atau tidak, selama hewan itu tidak mampu melepaskan diri darinya. Namun, jika hewan itu masih mampu melepaskan diri, maka kepemilikannya atas hewan itu belum tetap selama hewan itu masih bisa melepaskan diri, kecuali dengan salah satu dari dua hal.

إِمَّا أَنْ يَأْخُذَهُ بِيَدِهِ وَيَصِيرَ بِوُقُوعِهِ فِيهَا أَحَقَّ بِهِ مِنْ غَيْرِهِ وَإِنْ أَخَذَهُ غَيْرُهُ صَارَ الْآخذُ لَهُ أَمْلَكَ بِهِ كَالْعَبْدِ إِذَا دَخَلَ دَارَ رَجُلٍ كَانَ مَالِكُ الدَّارِ أَحَقَّ بِأَخْذِهِ فَإِنْ أَخَذَهُ غَيْرُهُ صَارَ الْآخِذُ لَهُ أَمْلَكَ بِهِ مِنْ صَاحِبِ الدَّارِ فَإِنْ أَفْضَتِ الشَّبَكَةُ بِاضْطِرَابِ الصَّيْدِ فِيهَا إِلَى عَجْزِهِ عَنِ الْخَلَاصِ مِنْهَا فَقَدْ مَلَكَهُ حينئذٍ صَاحِبُ الشَّبَكَةِ وَإِنْ أَخَذَهُ فِي هَذِهِ الْحَالِ غَيْرُهُ كَانَ صَاحِبُ الشَّبَكَةِ أَحَقَّ بِهِ وَلَوْ تَقَطَّعَتِ الشَّبَكَةُ فَأَفْلَتَ الصَّيْدُ مِنْهَا نُظِرَ فِي قِطَعِ الشَّبَكَةِ فَإِنْ قَطْعَهَا الصَّيْدُ الْوَاقِعُ فِيهَا عَدَا بَعْدَ انْفِلَاتِهِ إِلَى حَالِ الْإِبَاحَةِ وَمَلَكَهُ مَنْ صَادَهُ لِأَنَّهُ بَانَ أَنَّ الشَّبَكَةَ لَمْ تُثْبِتْهُ وَلَوْ قَطَعَهَا غَيْرُهُ مِنْ صيودٍ آخَرَ اجْتَمَعَتْ عَلَى قَطْعِهَا كَانَ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِ صَاحِبِهَا لَا يَزُولُ عَنْهُ بِانْفِلَاتِهِ مِنْهَا لِأَنَّهَا قَدْ أَثْبَتَتْهُ فَلَا يَمْلِكُهُ غَيْرُهُ إِذَا صَادَهُ وَيَسْتَرْجِعُهُ منه كالعبد الآبق والبعير والشارد فَإِنْ كَانَتِ الشَّبَكَةُ فَارِغَةً فَاضْطَرَّ الصَّيْدَ غَيْرَ وَاضِعٍ الشَّبَكَةَ إِلَيْهِ فَوَقَعَ فِيهَا بِطَرْدِهِ إِلَيْهَا كَانَ مِلْكًا لِوَاضِعِ الشَّبَكَةِ دُونَ طَارِدِهِ لِأَنَّ إِثْبَاتَهُ بِالشَّبَكَةِ دُونَ الطَّرْدِ فَلَوْ وَضَعَ الشَّبَكَةَ غَيْرُ مَالِكِهَا كَانَ الصَّيْدُ مِلْكًا لِوَاضِعِهَا دُونَ مَالِكِهَا سَوَاءٌ كَانَ مُسْتَعِيرًا أَوْ غَاصِبًا وَعَلَيْهِ إِنْ غَصَبَ أُجْرَةَ مِثْلِهَا فَلَوْ حَضَرَ مَالِكُ الشَّبَكَةِ بَعْدَ وَضْعِهَا فَإِنْ كَانَ مُعِيرًا كَانَ وَاضِعُهَا أَحَقَّ بِالصَّيْدِ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مَغْصُوبًا كَانَ مَا وَقَعَ فِيهِ قَبْلَ حُضُورِهِ مِلْكًا لِلْغَاصِبِ وَمَا وَقَعَ بَعْدَ حُضُورِهِ مَلِكًا لِلْمَغْصُوبِ إِنْ رَفَعَ يَدَ الْغَاصِبِ وَمِلْكًا لِلْغَاصِبِ إِنْ لَمْ يَرْفَعْ يَدَهُ عَنْهَا لِأَنَّ الْغَاصِبَ يَبْرَأُ مِنْ ضَمَانِهَا إِذَا رُفِعَتْ يَدُهُ فَصَارَ وَضْعُهَا قَبْلَ وَضْعِ يَدِهِ مَنْسُوبًا إِلَى الْغَاصِبِ وَبَعْدَ رَفْعِ يَدِهِ مَنْسُوبًا إِلَى الْمَغْصُوبِ

Seseorang bisa saja mengambilnya dengan tangannya, dan dengan jatuhnya (hewan buruan) ke dalamnya, ia menjadi lebih berhak atasnya daripada orang lain. Jika orang lain yang mengambilnya, maka orang yang mengambil itu menjadi lebih memiliki atasnya, seperti budak yang masuk ke rumah seseorang, maka pemilik rumah lebih berhak untuk mengambilnya. Namun jika orang lain yang mengambilnya, maka orang yang mengambil itu menjadi lebih memiliki atasnya daripada pemilik rumah. Jika jaring itu, karena hewan buruan yang meronta di dalamnya, menyebabkan hewan itu tidak mampu melepaskan diri darinya, maka pada saat itu pemilik jaring telah memilikinya. Jika dalam keadaan seperti ini orang lain yang mengambilnya, maka pemilik jaring lebih berhak atasnya. Jika jaring itu robek lalu hewan buruan itu lolos darinya, maka dilihat siapa yang merobek jaring tersebut. Jika yang merobeknya adalah hewan buruan yang terperangkap di dalamnya, lalu setelah lolos ia kembali ke keadaan mubah (bebas dimiliki siapa saja), maka yang menangkapnya setelah itu menjadi pemiliknya, karena telah jelas bahwa jaring itu tidak berhasil menahannya. Namun jika yang merobeknya adalah hewan buruan lain yang berkumpul untuk merobeknya, maka kepemilikan tetap berada pada pemilik jaring dan tidak hilang dengan lolosnya hewan itu, karena jaring itu telah berhasil menahannya. Maka orang lain tidak berhak memilikinya jika ia menangkapnya, dan pemilik jaring berhak mengambilnya kembali darinya, seperti budak yang kabur, unta, atau hewan yang lepas. Jika jaring itu kosong, lalu ada orang lain yang memaksa hewan buruan masuk ke dalamnya tanpa meletakkan jaring itu, sehingga hewan itu masuk ke dalamnya karena dihalau ke sana, maka hewan itu menjadi milik orang yang meletakkan jaring, bukan milik orang yang menghalaunya, karena yang menahannya adalah jaring, bukan penghalauan. Jika yang meletakkan jaring itu bukan pemiliknya, maka hewan buruan itu menjadi milik orang yang meletakkan jaring, bukan milik pemilik jaring, baik ia meminjam atau merampasnya. Namun, jika ia merampas, maka ia wajib membayar sewa yang semisal. Jika pemilik jaring datang setelah jaring itu diletakkan, maka jika ia meminjamkan, maka orang yang meletakkan jaring lebih berhak atas hewan buruan daripada pemiliknya. Jika jaring itu dirampas, maka apa yang masuk ke dalamnya sebelum kedatangan pemiliknya menjadi milik perampas, dan apa yang masuk setelah kedatangannya menjadi milik pemilik yang dirampas jika ia telah mengambil kembali jaringnya, dan menjadi milik perampas jika ia belum mengambilnya, karena perampas bebas dari tanggungan jika jaring itu sudah diambil kembali. Maka, peletakan jaring sebelum diambil kembali dikaitkan dengan perampas, dan setelah diambil kembali dikaitkan dengan pemilik yang dirampas.

وَالثَّالِثُ الَّذِي يُمْلَكُ بِهِ الصَّيْدُ أَنْ يُثْبِتَهُ بَعْدَ الِامْتِنَاعِ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى عدوٍ وَلَا طَيَرَانٍ وَهَذَا الْإِثْبَاتُ مُعْتَبَرٌ بِشَرْطَيْنِ

Ketentuan ketiga yang menyebabkan kepemilikan atas hasil buruan adalah ketika hewan buruan tersebut telah berhasil dilumpuhkan setelah sebelumnya berusaha melarikan diri, sehingga ia tidak lagi mampu berlari atau terbang. Pelumpuhan ini dianggap sah dengan dua syarat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ بِفِعْلٍ مِنْهُ وَصَلَ إِلَى الصَّيْدِ بِالْآلةِ الْمُؤَثِّرَةِ فِي إِثْبَاتِهِ مِنْ ضَرْبٍ أَوْ جَرْحٍ وَإِنْ سَعَى خَلْفَ الصَّيْدِ فَوَقَفَ بِإِعْيَائِهِ لَمْ يَمْلِكْهُ بِالْوُقُوفِ حَتَّى يَأْخُذَهُ لِأَنَّ وُقُوفَهُ اسْتِرَاحَةٌ مِنْهُ هُوَ بَعْدَهَا عَلَى امْتِنَاعِهِ وَكَذَلِكَ لَوْ تَوَحَّلَ الصَّيْدُ عِنْدَ طَلَبِهِ فِي طِينٍ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْخَلَاصِ مِنْهُ لَمْ يَمْلِكْهُ حَتَّى يَأْخُذَهُ لِأَنَّ الطِّينَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِهِ فَلَوْ كَانَ هَذَا الَّذِي أَرْسَلَ الْمَاءَ فِي الْأَرْضِ حَتَّى تَوَحَّلَتْ مَلَكَهُ بِوُقُوعِهِ فِي الْوَحْلِ لِأَنَّ الْوَحْلَ مِنْ فِعْلِهِ فَصَارَ بِهِ كَوَضْعِ الشَّبَكَةِ وَلَوِ اعْتَرَضَهُ مِنْهُ سَبُعٌ فَعَقَرَهُ فَأَثْبَتَهُ لَمْ يَمْلِكْهُ لِأَنَّ اعْتِرَاضَ السَّبُعِ لَيْسَ مِنْ فِعْلِهِ فَلَوْ كَانَ هَذَا الَّذِي أَغْرَى السَّبُعَ بِاعْتِرَاضِهِ حَتَّى عَقَرَهُ فَأَثْبَتَهُ نُظِرَ فَإِنْ كَانَتْ لَهُ عَلَى السَّبُعِ يَدٌ مَلَكَ الصَّيْدَ بِعَقْرِهِ وَصَارَ كَإِرْسَالِ كَلْبِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَى السَّبُعِ يَدٌ لَمْ يَمْلِكِ الصَّيْدَ بِعَقْرِهِ حَتَّى يَأْخُذَهُ لِأَنَّ اخْتِيَارَ السَّبُعِ أَقْوَى مِنْ إِغْرَائِهِ

Salah satunya adalah jika perburuan itu dilakukan dengan perbuatannya sendiri, yaitu ia berhasil mengenai hewan buruan dengan alat yang berpengaruh dalam menaklukkannya, baik dengan memukul atau melukainya. Namun, jika ia mengejar hewan buruan lalu hewan itu berhenti karena kelelahan, ia belum memilikinya hanya dengan berhentinya hewan itu sampai ia benar-benar menangkapnya, karena berhentinya hewan itu hanyalah istirahat, setelah itu hewan tersebut tetap dalam keadaan liar. Demikian pula, jika hewan buruan terperosok ke dalam lumpur saat dikejar sehingga tidak mampu keluar, ia belum memilikinya sampai ia benar-benar menangkapnya, karena lumpur itu bukan berasal dari perbuatannya. Namun, jika orang tersebut yang mengalirkan air ke tanah hingga menyebabkan hewan buruan terperosok ke dalam lumpur, maka ia memilikinya dengan terperosoknya hewan itu, karena lumpur itu berasal dari perbuatannya, sehingga keadaannya seperti memasang jaring. Jika ada binatang buas yang menghadang hewan buruan lalu melukainya hingga hewan itu tak berdaya, maka ia belum memilikinya karena tindakan binatang buas itu bukan berasal dari perbuatannya. Namun, jika orang tersebut yang menghasut binatang buas itu untuk menghadang hingga melukainya dan menaklukkannya, maka dilihat dulu: jika ia memiliki kendali atas binatang buas itu, maka ia memiliki hewan buruan itu dengan luka yang ditimbulkan, dan keadaannya seperti melepaskan anjing buruannya sendiri. Tetapi jika ia tidak memiliki kendali atas binatang buas itu, maka ia belum memilikinya dengan luka tersebut sampai ia benar-benar menangkapnya, karena kehendak binatang buas itu lebih kuat daripada hasutannya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي أَنْ يَصِيرَ الصَّيْدُ بِمَا وَصَلَ مِنْ فِعْلِهِ عَاجِزًا عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ مِنِ امْتِنَاعِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَا وَصَلَ إِلَيْهِ قَدْ عَقَرَهُ كَالْحَدِيدِ أَوْ لَمْ يَعْقِرْهُ كَالْحَجَرِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ بَعْدَ وصول الآلة إليه من ثلاثة أَحْوَالٍ

Syarat kedua adalah hewan buruan menjadi tidak berdaya untuk mempertahankan diri sebagaimana sebelumnya, akibat tindakan yang mengenainya, baik tindakan tersebut menyebabkan luka seperti besi, maupun tidak menyebabkan luka seperti batu. Jika demikian, maka setelah alat mengenai hewan buruan, keadaannya tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْقِرَ بِهَا فِي مَوْضِعٍ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى عدوٍ وَلَا طَيَرَانٍ فَهَذَا إثبات قد صار به مالكاً لصيد فَإِنْ عَادَتْ قُوَّةُ الصَّيْدِ فَامْتَنَعَ بِهَا بَعْدَ إِثْبَاتِهِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَتْ بَعْدَ أَخْذِهِ وَهُوَ بَاقٍ عَلَى مِلْكِهِ وَإِنْ كَانَتْ قَبْلَ أَخْذِهِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Salah satunya adalah jika hewan buruan dilukai di suatu tempat sehingga ia tidak mampu lagi berlari atau terbang, maka ini merupakan penetapan kepemilikan, sehingga pemburu menjadi pemilik hewan buruan tersebut. Jika kemudian kekuatan hewan buruan itu kembali dan ia dapat melarikan diri setelah penetapan kepemilikan, maka perlu dilihat: jika hal itu terjadi setelah ia ditangkap, maka hewan tersebut tetap menjadi miliknya; namun jika terjadi sebelum ia ditangkap, maka ada dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ زَمَانُ عَوْدِهَا قَرِيبًا لَا تَنْشَأُ فِي مِثْلِهِ قوةٌ مُسْتَفَادَةٌ فَقَدْ عَادَ إِلَى الْإِبَاحَةِ وَلَمْ يَسْتَقِرَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ وَعُلِمَ أَنَّ وُقُوفَهُ لِاسْتِرَاحَةٍ

Salah satunya adalah jika waktu kembalinya itu dekat, sehingga dalam waktu seperti itu tidak mungkin muncul kekuatan baru yang didapatkan; maka ia kembali kepada status mubah dan kepemilikannya atasnya belum tetap, serta diketahui bahwa berhentinya itu hanya untuk beristirahat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَطُولَ زَمَانُهُ حَتَّى تَنْشَأَ فِي مِثْلِهِ قُوَّةٌ مُسْتَفَادَةٌ فَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِهِ وَلَا يَعُودُ إِلَى الْإِبَاحَةِ كَمَا لَوْ قَصَّ جَنَاحَ طَائِرٍ قَدْ صَادَهُ فَثَبَتَ جَنَاحُهُ وَطَارَ لَمْ يَزَلْ عَنْ مِلْكِهِ

Jenis yang kedua adalah apabila waktunya berlangsung lama sehingga pada waktu tersebut muncul kekuatan baru yang diperoleh, maka ia tetap menjadi miliknya dan tidak kembali kepada status ibāhah (boleh dimiliki siapa saja), seperti seseorang yang memotong sayap burung yang telah ia tangkap, lalu sayapnya tumbuh kembali dan burung itu terbang, maka burung itu tetap menjadi miliknya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَفُوتَ الصَّيْدُ بَعْدَ وَصُولِ الْآلةِ إِلَيْهِ عَلَى امْتِنَاعٍ فِي عَدْوِهِ وَطَيَرَانِهِ فَلَا يَصِيرُ مَالِكًا لَهُ بِجِرَاحَتِهِ وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْجِرَاحَةُ مِمَّا يُسْلَمُ مِنْ مِثْلِهَا أَوْ لَا يُسْلَمُ وَسَوَاءٌ طَالَ زَمَانُ امْتِنَاعِهِ أَوْ قَصُرَ زَمَانٌ رَمَاهُ آخَرُ فَأَثْبَتَهُ كَانَ مِلْكًا لِلثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ لِأَنَّ إِثْبَاتَهُ مِنْ فِعْلِ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ وَلَوْ لَمْ يَرْمِهِ آخَرُ حَتَّى ثَبَتَ بِجِرَاحَةِ الْأَوَّلِ صَارَ حينئذٍ مِلْكًا لِلْأَوَّلِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مُثْبِتًا لَهُ فَإِنْ ثَبَتَ بِالْعَطَشِ بَعْدَ الْجِرَاحَةِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ عَطَشُهُ لِعَدَمِ الْمَاءِ لَمْ يَمْلِكْهُ الْجَارِحُ وَإِنْ كَانَ عَطَشُهُ لِعَجْزِهِ عَنْ وُصُولِهِ إِلَى الْمَاءِ مَلَكَهُ الْجَارِحُ لِأَنَّ الْجِرَاحَ مُؤَثِّرَةٌ فِي الْعَجْزِ دُونَ الْمَاءِ

Keadaan kedua adalah ketika buruan itu lolos setelah alat (senjata) mengenainya, dalam keadaan ia masih mampu menolak dengan lari atau terbang, maka ia tidak menjadi milik pemburu karena lukanya. Baik luka tersebut termasuk yang biasanya bisa disembuhkan maupun yang tidak, dan baik waktu ia mampu menolak itu lama maupun sebentar. Jika kemudian ada orang lain yang melemparnya dan berhasil melumpuhkannya, maka buruan itu menjadi milik orang kedua, bukan yang pertama. Inilah permasalahan yang dibahas dalam kitab, karena yang berhasil melumpuhkannya adalah perbuatan orang kedua, bukan yang pertama. Namun, jika tidak ada orang lain yang melemparnya hingga akhirnya buruan itu lumpuh karena luka yang pertama, maka saat itu ia menjadi milik orang pertama, karena dialah yang berhasil melumpuhkannya. Jika buruan itu lumpuh karena kehausan setelah terluka, maka perlu dilihat: jika kehausannya karena tidak ada air, maka pemburu yang melukainya tidak memilikinya; tetapi jika kehausannya karena ia tidak mampu mencapai air akibat lukanya, maka pemburu yang melukainya memilikinya, karena luka tersebutlah yang menyebabkan ketidakmampuannya, bukan karena airnya.

والحالة الثَّالِثَةُ أَنْ يَقْصُرَ عَنِ امْتِنَاعِهِ مِنْ غَيْرِ وُقُوفٍ بِمَكَانِهِ فَيَعْدُوَ دُونَ عَدْوِهِ وَيَطِيرَ دُونَ طَيَرَانِهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Keadaan ketiga adalah jika ia kurang dalam menahan diri tanpa tetap berada di tempatnya, sehingga ia berlari namun tidak secepat larinya, dan ia terbang namun tidak setinggi terbangnya; maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ بِمَا بَقِيَ فِيهِ مِنَ الْعَدْوِ وَالطَّيَرَانِ يَمْتَنِعُ بِهِ عَنْ أَنْ تَنَالَهُ الْأَيْدِي فَلَا يَمْلِكُهُ الْجَارِحُ وَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَى حُكْمِ امْتِنَاعِهِ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مِنَ الْقُوَّةِ إِلَّا هَذَا الْقَدْرَ لَكَانَ بِهَا مُمْتَنِعًا

Salah satunya adalah bahwa hewan tersebut, dengan sisa kemampuan lari dan terbang yang masih dimilikinya, dapat menghindar sehingga tidak bisa dijangkau oleh tangan manusia, sehingga hewan buruan tidak dapat memilikinya, dan ia tetap berada dalam hukum sebagai hewan yang sulit ditangkap. Sebab, jika ia masih memiliki kekuatan meskipun hanya sebatas itu, maka dengan kekuatan tersebut ia tetap sulit ditangkap.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ لَا يَمْتَنِعَ بِمَا بَقِيَ لَهُ مِنَ الْعَدْوِ وَالطَّيَرَانِ عَنِ الْأَيْدِي وَتَنَالَهُ يدُ مَنْ أَرَادَهُ فَيَصِيرَ بِهَذِهِ الْحَالَةِ مُثْبَتًا يَمْلِكُهُ جَارِحُ وَيَكُونَ أَحَقَّ بِهِ مِنْ آخِذِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِهَا غَيْرَ مُمْتَنِعٍ فَلَوْ رَمَى صَيْدًا فَأَصَابَهُ ثُمَّ مَرَقَ السَّهْمُ مِنْهُ فَأَصَابَ صَيْدًا ثَانِيًا وَمَرَقَ مِنَ الثَّانِي فَأَصَابَ ثَالِثًا مَلَكَ مِنْهَا مَا أَثْبَتَهُ دُونَ مَا لَمْ يُثْبِتْهُ سَوَاءٌ كَانَ أَوَّلًا أَوْ آخِرًا فَإِنْ أَثْبَتَ جَمِيعَهَا مَلَكَهَا وَإِنْ لَمْ يُثْبِتْ شَيْئًا مِنْهَا لَمْ يَمْلِكْهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jenis yang kedua adalah apabila hewan buruan itu tidak lagi mampu menghindar dengan sisa kemampuan lari dan terbangnya dari tangan manusia, sehingga siapa pun yang menginginkannya dapat menangkapnya. Dalam keadaan seperti ini, hewan buruan tersebut menjadi milik pemburu yang melukainya dan ia lebih berhak atasnya daripada orang lain yang mengambilnya, karena hewan itu telah menjadi tidak mampu menghindar. Jika seseorang memanah seekor buruan lalu mengenainya, kemudian anak panah itu menembus dan mengenai buruan kedua, lalu menembus lagi dan mengenai buruan ketiga, maka ia hanya memiliki buruan yang benar-benar dilumpuhkan oleh anak panahnya, baik yang pertama maupun yang terakhir. Jika semua buruan itu berhasil dilumpuhkan, maka semuanya menjadi miliknya. Namun jika tidak ada satu pun yang benar-benar dilumpuhkan, maka tidak ada satu pun yang menjadi miliknya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَاهُ الْأَوَّلُ بِهَذِهِ الْحَالِ فَقَتَلَهُ ضَمِنَ قِيمَتَهُ لِلثَّانِي لِأَنَّهُ صَارَ لَهُ دُونَهُ قَالَ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ قيمته مجروحاً الجرحين الأولين في قياس قوله قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ رَمَى صَيْدًا فجرح وَلَمْ يُثْبِتْهُ وَرَمَى آخَرُ فَجَرَحَهُ وَأَثْبَتَهُ وَعَادَ الْأَوَّلُ فَجَرَحَهُ وَمَاتَ فَقَدْ صَارَ مِلْكًا لِلثَّانِي بِإِثْبَاتِهِ وَعَلَى الْأَوَّلِ ضَمَانُهُ لِلثَّانِي بِجِرَاحَتِهِ الثَّانِيةِ تعليلاً بما قدمناه من الأصول المغررة وَإِذَا صَارَ فِي ضَمَانِ الْأَوَّلِ لَمْ يَخْلُ حَالُ جِرَاحَتِهِ الثَّانِيةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika orang pertama melempar (binatang buruan) dalam keadaan seperti ini lalu membunuhnya, maka ia wajib mengganti nilainya kepada orang kedua, karena binatang itu telah menjadi milik orang kedua, bukan miliknya lagi. Al-Muzani rahimahullah berkata: Sepatutnya nilai yang diganti adalah nilai binatang tersebut dalam keadaan telah terluka dua luka pertama menurut qiyās pendapatnya. Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki melempar binatang buruan lalu melukainya, namun tidak berhasil menahannya. Kemudian orang lain melempar dan melukainya serta berhasil menahannya. Lalu orang pertama kembali melukainya dan binatang itu mati. Maka binatang itu telah menjadi milik orang kedua karena ia yang berhasil menahannya, dan orang pertama wajib mengganti nilainya kepada orang kedua karena luka yang kedua kalinya, berdasarkan penjelasan yang telah kami sebutkan dari kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Jika binatang itu telah menjadi tanggungan orang pertama, maka keadaan luka kedua yang dilakukannya tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أن تكون موحية في الحلق واللبة فعليها أَرْشُهَا وَمَا بَيْنَ قِيمَتِهِ حَيًّا مَجْرُوحًا وَمَا بَيْنَ قِيمَتِهِ مَذْبُوحًا

Salah satunya adalah jika luka itu mengenai tenggorokan dan leher, maka atasnya dikenakan arsy-nya, yaitu selisih antara nilai hewan itu ketika masih hidup dalam keadaan terluka dan nilai hewan itu setelah disembelih.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ تَكُونَ جراحته موحية فِي غَيْرِ الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ فَعَلَيْهِ جَمِيعُ قِيمَتِهِ مَجْرُوحًا جُرْحَيْنِ لِأَنَّهُ أَفْسَدَ لَحْمَهُ

Keadaan kedua adalah jika lukanya mengenai selain leher dan dada bagian bawah, maka ia wajib membayar seluruh nilai hewan itu dalam keadaan terluka dua luka, karena ia telah merusak dagingnya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أن تكون جراحة غير موحية فهل يضمن جميع قيمته أو يضمن قسط مِنْهَا؟ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ فَإِنْ ضَمَّنَّاهُ جَمِيعَ قِيمَتِهِ صَارَ كَالتَّوْجِيَةِ يَضْمَنُ قِيمَتَهُ حَيًّا مَجْرُوحًا جُرْحَيْنِ فَإِنْ ضَمَّنَّاهُ قِسْطَهُ منها كانت الجراحة الأولة هَدَرًا لِأَنَّهَا فِي حَالِ الِامْتِنَاعِ وَالْإِبَاحَةِ وَهَلْ تُعْتَبَرُ فِي فَوَاتِ النَّفْسِ أَوْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah jika luka itu bukan luka yang mematikan, maka apakah ia wajib menanggung seluruh nilainya atau hanya menanggung sebagian darinya? Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan dari empat pendapat. Jika ia diwajibkan menanggung seluruh nilainya, maka keadaannya seperti luka yang mematikan, ia wajib menanggung nilainya ketika masih hidup dalam keadaan terluka dua luka. Jika ia hanya diwajibkan menanggung bagiannya saja, maka luka yang pertama menjadi sia-sia karena terjadi pada saat tidak mungkin (mati) dan saat diperbolehkan. Apakah luka itu dianggap dalam hilangnya nyawa atau tidak? Ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ فِيهِ وَيُعْتَبَرُ فوات النفس بالجراحة الثانية والثالثة بخروج الأولة عَنْ ضَمَانِهِ فِي مِلْكٍ فَيَجِبُ عَلَيْهِ نِصْفُ الْقِيمَةِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak dianggap dalam kasus ini, dan yang dianggap adalah hilangnya nyawa akibat luka kedua dan ketiga setelah yang pertama keluar dari tanggung jawabnya dalam kepemilikan, maka wajib atasnya membayar setengah dari nilai.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي هُوَ أَصَحُّ أَنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ فِي فَوَاتِ النَّفْسِ بِسِرَايَتِهَا إِلَى النَّفْسِ مَعَ غَيْرِهَا وَإِنْ خَالَفَتْ حُكْمَ غَيْرِهَا فَعَلَى هَذَا هَلْ تَنْفَرِدُ بِحُكْمِهَا فِي سُقُوطِ الضَّمَانِ أَوْ تَكُونُ مُشَارِكَةً لِلثَّانِيَةِ؟ لِأَنَّهَا مِنْ واحدٍ عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua, yang lebih shahih, adalah bahwa ia dianggap dalam hal hilangnya jiwa karena penularannya kepada jiwa bersama sebab lain, meskipun hukumnya berbeda dengan sebab lain tersebut. Berdasarkan hal ini, apakah ia memiliki hukum tersendiri dalam menggugurkan kewajiban ganti rugi, ataukah ia ikut serta dengan sebab kedua? Karena ia berasal dari satu hal dengan dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا تَنْفَرِدُ بِحُكْمِهَا عَنِ الثَّالِثَةِ وَإِنْ كَانَتَا مِنْ جَارِحٍ واحدٍ اعْتِبَارًا بِالْجِرَاحِ دُونَ الْجَارِحِ فَيَصِيرُ مَوْتُ الصَّيْدِ مِنْ ثلاثة جراحات اختصت الثالثة منها بالضمان فأحيت ضَمَانَ ثُلُثِ الْقِيمَةِ

Salah satunya adalah bahwa luka itu memiliki hukum tersendiri yang berbeda dari luka ketiga, meskipun keduanya berasal dari satu hewan pemburu, karena yang diperhitungkan adalah luka-lukanya, bukan hewan pemburunya. Maka kematian buruan akibat tiga luka, di mana luka ketiga secara khusus mewajibkan pembayaran ganti rugi, menyebabkan adanya kewajiban membayar sepertiga dari nilai (buruan) sebagai ganti rugi.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَظْهَرُ إِنَّهَا تَكُونُ مُشَارِكَةً لِلْجِرَاحَةِ الثَّالِثَةِ لِأَنَّهَا مِنْ كُلِّ واحدٍ اعْتِبَارًا بِالْجَارِحِ دُونَ الْجِرَاحِ فَعَلَى هَذَا يَصِيرُ مَوْتُ الصَّيْدِ مِنْ جَارِحَيْنِ أَحَدُهُمَا غَيْرُ ضَامِنٍ وَهُوَ الثَّانِي الَّذِي أَثْبَتَ الصَّيْدَ بِجِرَاحَتِهِ وَصَارَ فِي مِلْكِهِ وَمِنَ الْجَارِحِ الثَّانِي الذي جرحه في الأول ولم يثبته الجراحة الثَّانِية بَعْدَ مَا أَثْبَتَهُ الْجَارِحُ الثَّانِي وَجُرْحُهُ فِي مِلْكِهِ وَنِصْفُ فِعْلِهِ غَيْرُ مَضْمُونٍ لِأَنَّ الجراحة الأولة كَانَتْ فِي حَالِ الْإِبَاحَةِ وَالِامْتِنَاعُ وَنِصْفُ فِعْلِهِ مضمون وهو جراحة الثانية للصيد بعدما صَارَ الصَّيْدُ مُمْتَنِعًا بِجِرَاحَةِ الْجَارِحِ الثَّانِي وَصَارَ فِي مِلْكِهِ وَرُوحُ الصَّيْدِ قَدْ خَرَجَتْ بِثَلَاثِ جِرَاحَاتٍ بجراحةٍ مِنْ مَالِكِ الصَّيْدِ بِإِثْبَاتِهِ وَبِمِلْكِهِ وَبِجِرَاحَتِهِ مِنَ الْجَارِحِ الْآخَرِ أَحَدُ جِرَاحَتِهِ غَيْرُ مضمون وهو الجراحة الأولة وَجِرَاحَةُ الثَّانِيةِ مَضْمُونَةٌ وَهِيَ الْجِرَاحَةُ الَّتِي وَصَلَتْ بَعْدَمَا مَلَكَ الصَّيْدَ الْجَارِحُ الثَّانِي بِإِثْبَاتِهِ وَالْجَارِحُ الَّذِي مَلَكَ الصَّيْدَ لَا يَضْمَنُ جِرَاحَتَهُ وَسَقَطَ نِصْفُ قِيمَةِ الصَّيْدِ لِأَنَّهُ أَحَدُ الْجَارِحَيْنِ فَأَمَّا الْجَارِحُ الْآخَرُ فَقَدْ جَرَحَ جِرَاحَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا غَيْرُ مضمونة وهي الجراحة الأولة فَسَقَطَ عَنْهُ رُبْعُ الْقِيمَةِ وَيَضْمَنُ الْجِرَاحَةَ الثَّانِيةَ الَّتِي بَعْدَ جِرَاحَةِ الْمَالِكِ بِإِثْبَاتِهِ الصَّيْدَ بِجِرَاحَتِهِ فَيَضْمَنُ بِالْجِرَاحَةِ الثَّانِيةِ الْجَارِحُ الْأَوَّلُ رُبُعَ قِيمَتِهِ فَصَارَ هَذَا الصَّيْدُ مَضْمُونًا بِرُبُعِ قِيمَتِهِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ

Pendapat kedua, yang lebih jelas, adalah bahwa kasus ini serupa dengan luka ketiga, karena masing-masing dari keduanya dipandang dari sisi pelaku (jārih) dan bukan dari sisi lukanya. Dengan demikian, kematian buruan itu terjadi karena dua pelaku; salah satunya tidak wajib menanggung (dhamān), yaitu pelaku kedua yang telah menetapkan buruan itu dengan lukanya sehingga menjadi miliknya. Adapun pelaku kedua yang melukai pertama kali namun tidak menetapkan buruan itu, maka lukanya yang kedua terjadi setelah buruan itu ditetapkan oleh pelaku kedua dan lukanya berada dalam kepemilikannya. Setengah dari tindakannya tidak wajib ditanggung karena luka pertama terjadi dalam keadaan buruan masih mubah dan belum menjadi milik siapa pun, sedangkan setengah tindakannya wajib ditanggung, yaitu luka kedua terhadap buruan setelah buruan itu menjadi milik pelaku kedua. Nyawa buruan keluar karena tiga luka: satu luka dari pemilik buruan yang telah menetapkan dan memilikinya, dan satu luka lagi dari pelaku lainnya, salah satu dari dua lukanya tidak wajib ditanggung, yaitu luka pertama, sedangkan luka kedua wajib ditanggung, yaitu luka yang terjadi setelah pelaku kedua memiliki buruan itu dengan penetapannya. Pelaku yang telah memiliki buruan tidak menanggung lukanya, sehingga gugur setengah nilai buruan karena ia adalah salah satu dari dua pelaku. Adapun pelaku lainnya, ia telah melukai dua kali, salah satunya tidak wajib ditanggung, yaitu luka pertama, sehingga gugur darinya seperempat nilai, dan ia wajib menanggung luka kedua yang terjadi setelah luka pemilik dengan penetapannya terhadap buruan, maka dengan luka kedua itu pelaku pertama menanggung seperempat nilainya. Maka buruan ini menjadi wajib ditanggung seperempat nilainya sebagaimana telah dijelaskan.

وَمِثَالُهُ رَجُلَانِ جَرَحَا مُرْتَدًّا فَأَسْلَمَ ثُمَّ جَرَحَهُ أَحَدُهُمَا بَعْدَ إِسْلَامِهِ فَمَاتَ مِنْ سَرَايَةِ الْجِرَاحَاتِ كُلِّهَا ضَمِنَ رُبُعَ دِيَتِهِ لِأَنَّهُ مَاتَ مِنْ جَارِحَيْنِ

Contohnya adalah dua orang yang melukai seorang murtad, lalu ia masuk Islam, kemudian salah satu dari keduanya melukainya lagi setelah ia masuk Islam, lalu ia meninggal karena dampak dari semua luka tersebut. Maka, masing-masing dari mereka wajib membayar seperempat diyatnya, karena ia meninggal akibat dua orang yang melukainya.

أَحَدُهُمَا جُرْحُهُ هدرٌ فَلَمْ يَضْمَنِ الْآخَرُ نِصْفُهُ هدرٌ وَنِصْفُهُ مَضْمُونٌ فَضَمِنَ رُبُعَ الدِّيَةِ فَيَصِيرُ فِيمَا يَضْمَنُهُ الْأَوَّلُ بِجِرَاحَتِهِ الثانية أربعة أوجه أحدهما جَمِيعُ الْقِيمَةِ وَالثَّانِي نِصْفُهَا وَالثَّالِثُ ثُلُثُهَا وَالرَّابِعُ رُبُعُهَا وَيَجْرِي الْعَمَلُ فِي ضَمَانِ كُلِّ مِقْدَارٍ مِنْهُمَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ

Salah satunya, lukanya adalah hādir (tidak ada tanggungan), maka yang lain tidak menanggungnya; setengahnya hādir dan setengahnya lagi wajib ditanggung, sehingga ia menanggung seperempat diyat. Maka, dalam hal apa yang ditanggung oleh yang pertama dengan lukanya yang kedua, terdapat empat kemungkinan: pertama, seluruh nilainya; kedua, setengahnya; ketiga, sepertiganya; dan keempat, seperempatnya. Penetapan tanggungan untuk setiap bagian dari keduanya berjalan sesuai dengan yang telah kami sebutkan dalam lima pendapat sebelumnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَيَاهُ حَيًّا فَقَتَلَاهُ كَانَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Jika keduanya melempar seseorang yang masih hidup lalu membunuhnya, maka tanggungannya dibagi dua di antara mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ قَدْ دَخَلَتْ فِي أَقْسَامِ مَا قَدَّمْنَاهُ فَإِذَا رَمَيَاهُ مَعًا فَأَصَابَاهُ فِي حَالَةٍ واحدةٍ لَمْ يَتَقَدَّمْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ فَمَاتَ مِنْ إِصَابَتِهِمَا كَانَ مِلْكًا لَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ سَوَاءٌ تَسَاوَتِ الْجِرَاحَتَانِ أَوْ تَفَاضَلَتَا ما لم يكن أحدهما موحياً فإن وحاه أَحَدُهُمَا فَعَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ فَلَوْ كَانَ الصَّيْدُ مِمَّا يَمْتَنِعُ بِجَنَاحِهِ وَيَمْتَنِعُ بِرِجْلِهِ كالرواح والفتح فَكَسَرَ أَحَدُهُمَا جَنَاحَهُ وَكَسَرَ الْآخَرُ رِجْلَهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Masalah ini termasuk dalam kategori yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika keduanya melempar secara bersamaan lalu mengenai hewan buruan itu dalam satu waktu, tidak ada salah satu dari keduanya yang mendahului yang lain, kemudian hewan itu mati karena terkena keduanya, maka kepemilikannya menjadi milik mereka berdua secara merata, baik luka yang ditimbulkan keduanya sama besar maupun berbeda, selama tidak ada salah satu dari mereka yang menyebabkan hewan itu terluka parah terlebih dahulu. Jika salah satu dari mereka melukainya terlebih dahulu, maka hukumnya kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika hewan buruan itu termasuk jenis yang dapat melarikan diri dengan sayapnya dan juga dengan kakinya, seperti burung rawāḥ dan fathiḥ, lalu salah satu dari mereka mematahkan sayapnya dan yang lain mematahkan kakinya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ بَيْنَهُمَا لِتَأْثِيرِ كُلِّ واحدٍ منهما في إثباته

Salah satunya terjadi di antara keduanya karena pengaruh masing-masing dari keduanya dalam penetapannya.

والوجه الثاني أن يَكُونُ لِكَاسِرِ جَنَاحِهِ دُونَ كَاسِرِ رِجْلِهِ لِأَنَّ امْتِنَاعَهُ بِجَنَاحِهِ أَقْوَى وَقَدْ يَمْتَنِعُ وَإِنْ كَانَ مَكْسُورَ الرِّجْلِ فَعَلَى هَذَا لَوْ تَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا على الآخر ففيه ثلاثة أوجه أحدها أن يكون لكاسر الجناح أولاً أَوْ آخِرًا لِأَنَّ إِثْبَاتَهُ بِكَسْرِهِ أَقْوَى وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ بَيْنَهُمَا لِإِثْبَاتِهِ بِهِمَا وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنَّهُ يَكُونُ لِلثَّانِي مِنْهُمَا لِأَنَّ بِهِ كَمَالَ إِثْبَاتِهِ

Pendapat kedua adalah bahwa hak itu diberikan kepada pematah sayap, bukan pematah kaki, karena kemampuan hewan itu untuk menahan diri dengan sayapnya lebih kuat, dan terkadang ia masih bisa menahan diri meskipun kakinya patah. Berdasarkan hal ini, jika salah satu dari keduanya mendahului yang lain, maka ada tiga pendapat: pertama, hak itu diberikan kepada pematah sayap, baik ia yang lebih dahulu maupun yang belakangan, karena penetapan hak dengan mematahkan sayap lebih kuat; pendapat kedua, hak itu dibagi di antara keduanya karena penetapan hak terjadi melalui keduanya; dan pendapat ketiga, hak itu diberikan kepada yang kedua di antara mereka, karena dengan dialah penetapan hak menjadi sempurna.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا تَنَازَعَ رَامِيًا الصَّيْدَ فَادَّعَى أَحَدُهُمَا اجْتِمَاعَهُمَا عَلَى إِصَابَتِهِ لِيَكُونَ بَيْنَهُمَا وَادَّعَى الْآخَرُ تَقَدُّمَهُ بِالْإِصَابَةِ لِيَكُونَ لَهُ وَحْدَهُ لم يخل الصيد من ثلاثة أحوالٍ

Apabila dua orang pemburu berselisih, lalu salah satu dari mereka mengklaim bahwa mereka berdua bersama-sama mengenai buruan itu sehingga menjadi milik bersama, sedangkan yang lain mengklaim bahwa dialah yang lebih dahulu mengenainya sehingga menjadi miliknya sendiri, maka buruan tersebut tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ فِي أَيْدِيهِمَا فَيَكُونَ الْقَوْلُ قَوْلَ مُدَّعِي الِاجْتِمَاعِ فِي الْإِصَابَةِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّهُ يَدَّعِي تَسَاوِيَهُمَا فِي الْمِلْكِ مَعَ تَسَاوِيهِمَا فِي الْيَدِ

Salah satunya adalah apabila barang itu berada di tangan mereka berdua, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengklaim adanya kebersamaan dalam kepemilikan, disertai sumpahnya, karena ia mengklaim adanya kesetaraan mereka dalam kepemilikan sebagaimana mereka juga setara dalam penguasaan (atas barang tersebut).

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ فِي يَدِ أَحَدِهِمَا فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ مَعَ يَمِينِهِ سَوَاءٌ كَانَ مُدَّعِيَ الِاجْتِمَاعِ أَوْ مُدَّعِيَ التَّقَدُّمِ

Keadaan kedua adalah apabila barang tersebut berada di tangan salah satu dari mereka, maka yang dipegang adalah pernyataan pemilik tangan tersebut disertai sumpahnya, baik dia yang mengklaim kepemilikan bersama maupun yang mengklaim kepemilikan lebih dahulu.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ خَارِجًا عَنْ أَيْدِيهِمَا فَالظَّاهِرُ تَسَاوِيهِمَا فِيهِ فَهَلْ يُحْكَمُ فِيهِ بِالظَّاهِرِ أَوْ يُحْكَمُ بِمُوجِبِ الدَّعْوَى فِيهِ وَجْهَانِ

Keadaan ketiga adalah apabila barang tersebut berada di luar kekuasaan keduanya, maka yang tampak adalah keduanya sama dalam hal itu. Lalu, apakah diputuskan berdasarkan apa yang tampak, ataukah diputuskan sesuai dengan tuntutan gugatan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُحْكَمُ بِالظَّاهِرِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلَ مُدَّعِي الِاجْتِمَاعِ دُونَ مُدَّعِي التَّقَدُّمِ لِأَنَّهُ مُعْتَرِفٌ بِالتَّسَاوِي وَالِاشْتِرَاكِ فَتَكُونُ الْيَمِينُ عَلَيْهِ وَحْدَهُ وَيَكُونُ الصَّيْدُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ

Salah satunya diputuskan berdasarkan yang tampak. Maka dalam hal ini, yang dipegang adalah pernyataan orang yang mengklaim terjadinya secara bersamaan, bukan orang yang mengklaim mendahului, karena ia mengakui adanya kesetaraan dan kebersamaan. Maka sumpah hanya dibebankan kepadanya saja, dan hasil buruan dibagi dua di antara mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ يُحْكَمَ بِمُوجِبِ الدَّعْوَى فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لِمُدَّعِي التَّقَدُّمِ النِّصْفُ بِغَيْرِ يَمِينٍ لِأَنَّ مُدَّعِيَ الِاجْتِمَاعِ يَعْتَرِفُ بِهِ لَهُ وَهُمَا مُتَنَازِعَانِ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي وَقَدْ تَسَاوَيَا فِيهِ فَوَجَبَ أَنْ يَتَحَالَفَا عَلَيْهِ فَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ جَعَلْنَاهُ لِلْحَالِفِ وَإِنْ حَلَفَا مَعًا جَعَلْنَاهُ بَيْنَهُمَا فَيَصِيرُ لِمُدَّعِي التَّقَدُّمِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ وَلِمُدَّعِي الِاجْتِمَاعِ رُبُعُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua adalah bahwa keputusan diambil berdasarkan tuntutan. Dalam hal ini, pihak yang mengklaim adanya pendahuluan mendapatkan setengah bagian tanpa sumpah, karena pihak yang mengklaim adanya pertemuan mengakuinya untuknya. Keduanya berselisih dalam setengah bagian yang tersisa, dan keduanya setara dalam hal itu, sehingga wajib bagi keduanya untuk saling bersumpah atasnya. Jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lain enggan, maka bagian itu diberikan kepada yang bersumpah. Jika keduanya bersumpah, maka bagian itu dibagi di antara mereka berdua, sehingga pihak yang mengklaim pendahuluan mendapatkan tiga perempatnya dan pihak yang mengklaim pertemuan mendapatkan seperempatnya. Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَاهُ الْأَوَّلُ وَرَمَاهُ الثَّانِي وَلَمْ يَدْرِ أَبَلَغَ بِهِ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ مُمْتَنِعًا أَوْ غَيْرَ مُمْتَنِعٍ جَعَلْنَاهُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika yang pertama melemparnya, lalu yang kedua juga melemparnya, dan tidak diketahui apakah lemparan yang pertama telah membuatnya menjadi tidak mampu bertahan hidup atau belum, maka kami menetapkan tanggung jawabnya dibagi dua antara keduanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا صَيْدٌ رَمَاهُ اثْنَانِ فَأَصَابَاهُ وَوُجِدَ مَيْتًا بَعْدَ إِصَابَتِهِمَا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seekor hewan buruan yang dilempar oleh dua orang, lalu keduanya mengenainya, dan hewan itu ditemukan telah mati setelah terkena lemparan mereka berdua. Kasus ini terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُعْلَمَ حَالُ الرَّامِيَيْنِ وَيُعْلَمَ صِفَةُ الرَّمْيَتَيْنِ وَالْعِلْمُ بِحَالِ الرَّامِيَيْنِ أَنْ يُعْلَمَ هَلِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ أَوِ افْتَرَقَا وَيُعْلَمَ إِذَا افْتَرَقَا أَيُّهُمَا كَانَ أَوَّلًا وَآخِرًا

Salah satunya adalah mengetahui keadaan kedua pelempar dan mengetahui sifat dua sasaran yang dilempar, serta pengetahuan tentang keadaan kedua pelempar, yaitu mengetahui apakah keduanya berkumpul bersama atau berpisah, dan jika mereka berpisah, diketahui siapa di antara mereka yang lebih dahulu dan siapa yang terakhir.

وَالْعِلْمُ بِصِفَةِ الرَّمْيَتَيْنِ أن يعلم هل كان إثباته بالأولة أَوْ بِالثَّانِيةِ أَوْ بِهِمَا وَهَذَا الضَّرْبُ قَدْ ذَكَرْنَا حُكْمَهُ فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى إِعَادَتِهِ

Pengetahuan tentang sifat dua lemparan adalah mengetahui apakah penetapannya berdasarkan yang pertama, atau yang kedua, atau keduanya. Jenis ini telah kami sebutkan hukumnya, sehingga tidak perlu mengulanginya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُشْكِلَ حَال الرَّامِيَيْنِ وَيُشْكِلَ صِفَةُ الرَّمْيَتَيْنِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jenis kedua adalah apabila keadaan kedua orang yang melemparkan menjadi samar, dan sifat kedua sasaran yang dilemparkan juga menjadi samar, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْإِشْكَالُ فِي الرَّامِيَيْنِ هَلْ أَصَابَاهُ مَعًا أَوْ تَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ فَيَجْرِي عَلَيْهِ فِي الْمِلْكِ حُكْمُ الِاجْتِمَاعِ وَيَكُونُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ لِتَسَاوِيهِمَا فِيهِ وَهَلْ يَجْرِي عَلَيْهِ فِي الذَّكَاةِ وَالْإِبَاحَةِ حُكْمُ الِاجْتِمَاعِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Salah satunya adalah apabila permasalahan terletak pada dua orang yang melempar, apakah keduanya mengenainya secara bersamaan atau salah satu mendahului yang lain, maka dalam hal kepemilikan berlaku hukum pertemuan, dan bagian di antara keduanya menjadi setengah-setengah karena keduanya sama dalam hal itu. Adapun apakah dalam hal penyembelihan (dzakāh) dan kebolehan (ibāhah) juga berlaku hukum pertemuan atau tidak, maka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الِاجْتِمَاعِ فَيَكُونُ ذَكِيًّا مُبَاحًا إِلْحَاقًا بِحُكْمِ الْمِلْكِ

Salah satunya berlaku padanya hukum pertemuan, sehingga menjadi hewan yang disembelih secara syar‘i dan halal, dengan mengqiyaskan pada hukum kepemilikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَجْرِي عَلَيْهِ فِي الذَّكَاةِ وَالْإِبَاحَةِ حُكْمُ الِافْتِرَاقِ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ وَإِنْ جَرَى عَلَيْهِ فِي الْمِلْكِ حُكْمُ الِاجْتِمَاعِ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي أَكْلِهِ الْحَظْرُ فَلَمْ نُبِحْهُ إِلَّا بِيَقِينٍ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ فَيَحْرُمَ وَيَجُوزُ أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَيْهِ فَيَحِلَّ فَوَجَبَ أَنْ يُغَلَّبَ فِيهِ حُكْمُ التَّحْرِيمِ

Pendapat kedua, bahwa dalam hal penyembelihan dan kehalalan, berlaku hukum perpisahan atasnya, sehingga haram memakannya, meskipun dalam hal kepemilikan berlaku hukum penyatuan. Sebab, asal hukum memakannya adalah larangan, maka kami tidak menghalalkannya kecuali dengan keyakinan. Bisa jadi salah satu dari keduanya mendahului yang lain sehingga menjadi haram, dan bisa jadi keduanya berkumpul atasnya sehingga menjadi halal. Maka wajib untuk lebih menguatkan hukum keharaman dalam hal ini.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُعْلَمَ التَّقَدُّمُ وَيَقَعَ الْإِشْكَالُ فِي الْمُتَقَدِّمِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ أَحَدُهَا أَنْ يَعْلَمَ صِفَةُ الرَّمْيِ وَيُشْكَلَ الْمُتَقَدِّمُ بِالرَّمْيِ وَالثَّانِي أَنْ يُعْلَمَ الْمُتَقَدِّمُ بِالرَّمْيِ وَتُشْكَلَ صِفَةُ الرَّمْيِ وَالثَّالِثُ أَنْ يُشْكَلَ الْمُتَقَدِّمُ بِالرَّمْيِ وَتُشْكَلَ صِفَةُ الرَّمْيِ

Jenis kedua adalah diketahui mana yang lebih dahulu, namun terjadi kesamaran pada yang lebih dahulu tersebut. Ini terbagi menjadi tiga jenis: pertama, diketahui sifat pelemparan namun yang lebih dahulu dalam pelemparan itu yang samar; kedua, diketahui siapa yang lebih dahulu melempar namun sifat pelemparannya yang samar; dan ketiga, baik siapa yang lebih dahulu melempar maupun sifat pelemparannya, keduanya sama-sama samar.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يُعْلَمَ صِفَةُ الرَّمْيِ وَيُشْكَلَ الْمُتَقَدِّمُ بِالرَّمْيِ فَهَذَا الْإِشْكَالُ فِي الْمِلْكِ دُونَ الْإِبَاحَةِ فَإِنْ كَانَ صِفَةُ الرَّمْيِ لَا تُبِيحُ الْأَكْلَ فَالْإِشْكَالُ فِي الْمَالِكِ غَيْرُ مُؤَثِّرٍ لِأَنَّهُ لَمْ يَسْتَقِرَّ عَلَى الصَّيْدِ مِلْكٌ فَإِنْ كَانَ صِفَةُ الرَّمْيِ تُبِيحُ الْأَكْلَ صَارَ الْإِشْكَالُ فِي الْمِلْكِ مُؤَثِّرًا فَإِنْ لَمْ يَتَنَازَعَا فِيهِ جُعِلَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ لِاسْتِوَائِهِمَا وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ إِذَا كَانَ الْأَصْلُ يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِهِمَا أَنْ يَجْعَلَ مَعَ الْإِشْكَالِ بَيْنَهُمَا كَالْوَالِدَيْنِ يَكُونُ أَحَدُهُمَا مُسْلِمًا وَالْآخَرُ كَافِرًا إِذَا اخْتَلَفَا فِي مِيرَاثِ أَبِيهِمَا فَادَّعَاهُ الْمُسْلِمُ لِإِسْلَامِ أَبِيهِ وَادَّعَاهُ الْكَافِرُ لِكُفْرِ أَبِيهِ وَكَانَ الْأَبُ مَجْهُولَ الدِّينِ يُجْعَلُ الْمِيرَاثُ بَيْنَهُمَا وَإِنْ أحاظ الْعِلْمُ بِاسْتِحَالَةِ الشَّرِكَةِ وَأَنَّهُ لَا يَكُونُ إِلَّا لأحدهما لكن لَمَّا أُشْكِلَ مُسْتَحِقُّهُ وَقَدِ اسْتَوَيَا فِيهِ جُعِلَ بَيْنِهِمَا كَذَلِكَ الصَّيْدُ وَإِنْ أَوْجَبَ افْتِرَاقُهُمَا فِي رَمْيِهِ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِهِمَا لَا يَمْتَنِعُ مَعَ الْإِشْكَالِ أَنْ يُجْعَلَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ تَنَازَعَا فِيهِ تَحَالَفَا عَلَيْهِ فَإِنْ حَلَفَا أَوْ نَكَلَا كَانَ بَيْنَهُمَا وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا كَانَ لِلْحَالِفِ مِنْهُمَا

Adapun jenis pertama, yaitu ketika diketahui sifat lemparan (panah) namun masih samar siapa yang lebih dahulu melempar, maka kesamaran ini berkaitan dengan kepemilikan, bukan dengan ibahah (kebolehan). Jika sifat lemparan tidak membolehkan untuk dimakan, maka kesamaran tentang siapa pemiliknya tidak berpengaruh, karena belum ada kepemilikan yang tetap atas buruan tersebut. Namun jika sifat lemparan membolehkan untuk dimakan, maka kesamaran dalam kepemilikan menjadi berpengaruh. Jika keduanya tidak berselisih tentangnya, maka buruan itu dibagi dua di antara mereka karena keduanya sama kedudukannya. Tidak mustahil, jika pada asalnya salah satu dari mereka berhak memilikinya, namun karena ada kesamaran, maka dibagi di antara mereka, seperti dua orang anak yang salah satunya Muslim dan yang lain kafir, ketika mereka berselisih tentang warisan ayah mereka; yang Muslim mengklaim karena ayahnya Muslim, yang kafir mengklaim karena ayahnya kafir, sedangkan agama ayahnya tidak diketahui, maka warisan dibagi di antara mereka. Meskipun secara ilmu diketahui bahwa tidak mungkin ada syirkah (kepemilikan bersama) dan warisan itu hanya untuk salah satu dari mereka, namun karena siapa yang berhak masih samar dan keduanya sama dalam klaim, maka warisan dibagi di antara mereka. Demikian pula dalam kasus buruan, meskipun perbedaan dalam cara melempar bisa menyebabkan salah satu lebih berhak, namun dengan adanya kesamaran, tidak menghalangi untuk membaginya di antara mereka. Jika mereka berselisih tentangnya, maka keduanya saling bersumpah; jika keduanya bersumpah atau keduanya enggan bersumpah, maka buruan itu dibagi di antara mereka. Jika hanya salah satu yang bersumpah, maka buruan itu menjadi milik orang yang bersumpah.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يُعْلَمَ الْمُتَقَدِّمُ بِالرَّمْيِ وَتُشْكَلَ صِفَةُ الرَّمْيِ فَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ

Adapun jenis kedua, yaitu ketika diketahui siapa yang melempar lebih dahulu namun sifat lemparannya masih samar, maka inilah masalah yang dibahas dalam kitab ini.

وَصُورَتُهَا أَنْ يُعْرَفَ الْأَوَّلُ وَالثَّانِي وَيُشْكَلَ هَلْ أَثْبَتَهُ الْأَوَّلُ أَوِ الثَّانِي فَيُرْجَعَ فِيهِ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ بِالظَّاهِرِ فَأَوَّلُ الِاسْتِدْلَالِ بِالظَّاهِرِ أَنْ يُعْتَبَرَ حَالُ وُقُوفِهِ فَإِنْ وَقَفَ عِنْدَ رَمْيَةِ الْأَوَّلِ فَالظَّاهِرُ أَنَّ الْأَوَّلَ أَثْبَتَهُ دُونَ الثَّانِي

Bentuk permasalahannya adalah diketahui yang pertama dan yang kedua, lalu muncul keraguan apakah yang menetapkan adalah yang pertama atau yang kedua. Maka dalam hal ini dikembalikan kepada istidlāl dengan zhāhir. Permulaan istidlāl dengan zhāhir adalah dengan mempertimbangkan keadaan ketika ia berhenti; jika ia berhenti pada lemparan yang pertama, maka zhāhirnya adalah yang pertama yang menetapkan, bukan yang kedua.

وَإِنْ وَقَفَ عَنْ رَمْيَةِ الثَّانِي فَالظَّاهِرُ أَنَّ الثَّانِيَ أَثْبَتَهُ دُونَ الْأَوَّلِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي اعْتِبَارِ الْوُقُوفِ بَيَانٌ اعْتُبِرَ بَعْدَهُ صِفَةُ الرمي فإن كانت الأولة فِي مَقْتَلٍ وَالثَّانِيةُ فِي غَيْرِ مَقْتَلٍ فَالظَّاهِرُ أَنَّ الْأَوَّلَ أَثْبَتَهُ دُونَ الثَّانِي وَإِنْ كَانَتِ الأولة فِي غَيْرِ مَقْتَلٍ وَالثَّانِيةُ فِي مَقْتَلٍ فَالظَّاهِرُ أَنَّ الثَّانِيَ أَثْبَتَهُ دُونَ الْأَوَّلِ وَإِنْ كَانَتِ الأولة فِي مَقْتَلٍ وَالثَّانِيةُ فِي مَقْتَلٍ فَالظَّاهِرُ أَنَّ الأول أثبته دون الثاني وإن كانت الأولة فِي غَيْرِ مَقْتَلٍ وَالثَّانِيةُ فِي غَيْرِ مَقْتَلٍ فَهِيَ حَالَةُ إِشْكَالٍ لِتَرَدُّدِهَا بَيْنَ إِثْبَاتِ الْأَوَّلِ وَالثَّانِي وَهُمَا فِي الْجَوَازِ عَلَى سَوَاءٍ وَقَدِ انْتَفَى الْإِشْكَالُ عَمَّا تَقَدَّمَهُ فِي الْحُكْمِ بِالظَّاهِرِ فَإِنْ أُضِيفَ إِلَى إِثْبَاتِ الْأَوَّلِ كَانَ هُوَ الْمَالِكَ وَصَارَ الثَّانِي جَارِحًا تُعْتَبَرُ صِفَةُ جِرَاحَتِهِ فِي الْأَكْلِ وَالْغُرْمِ وَإِنْ أُضِيفَ إِلَى إِثْبَاتِ الثَّانِي كَانَ هُوَ الْمَالِكَ وَتَكُونُ جِرَاحَتُهُ ذَكَاةً سَوَاءٌ كَانَتْ فِي مَحَلِّ الذَّكَاةِ أَوْ غَيْرِهَا وَكَانَتْ جِرَاحَةُ الْأَوَّلِ هَدَرًا لِتَقَدُّمِهَا عَلَى مِلْكِ الثَّانِي وَإِنْ لَمْ تُضَفْ إِلَى إِثْبَاتِ أَحَدِهِمَا لِبَقَاءِ الْإِشْكَالِ تَعَلَّقَ بِإِشْكَالِهِ حُكْمَانِ

Jika hewan itu berhenti bergerak setelah terkena lemparan kedua, maka pendapat yang kuat adalah bahwa lemparan kedua yang menyebabkan kematian, bukan yang pertama. Namun, jika dari berhentinya hewan itu tidak dapat diketahui secara jelas, maka yang diperhatikan adalah sifat lemparannya. Jika lemparan pertama mengenai bagian yang mematikan dan lemparan kedua tidak mengenai bagian yang mematikan, maka pendapat yang kuat adalah bahwa lemparan pertama yang menyebabkan kematian, bukan yang kedua. Jika lemparan pertama tidak mengenai bagian yang mematikan dan lemparan kedua mengenai bagian yang mematikan, maka pendapat yang kuat adalah bahwa lemparan kedua yang menyebabkan kematian, bukan yang pertama. Jika kedua lemparan mengenai bagian yang mematikan, maka pendapat yang kuat adalah bahwa lemparan pertama yang menyebabkan kematian, bukan yang kedua. Jika kedua lemparan tidak mengenai bagian yang mematikan, maka ini adalah keadaan yang membingungkan karena masih meragukan antara menetapkan sebab kematian pada lemparan pertama atau kedua, dan keduanya sama-sama mungkin. Keraguan ini tidak berlaku pada kasus-kasus sebelumnya yang telah jelas hukumnya berdasarkan pendapat yang kuat. Jika sebab kematian dikaitkan pada lemparan pertama, maka pemilik hewan adalah pelaku lemparan pertama, dan pelaku lemparan kedua hanya melukai sehingga luka yang ditimbulkan diperhitungkan dalam masalah makan dan ganti rugi. Jika sebab kematian dikaitkan pada lemparan kedua, maka pelaku lemparan kedua menjadi pemilik hewan dan lukanya dianggap sebagai penyembelihan, baik mengenai tempat penyembelihan maupun tidak, sedangkan luka dari lemparan pertama menjadi sia-sia karena terjadi sebelum kepemilikan pelaku kedua. Jika sebab kematian tidak dapat dikaitkan pada salah satu dari keduanya karena masih adanya keraguan, maka pada keraguan itu berlaku dua hukum.

أَحَدُهُمَا فِي الْمِلْكِ

Salah satunya dalam hal kepemilikan.

وَالثَّانِي فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ

Yang kedua adalah tentang kebolehan makan.

فَأَمَّا الْمَلِكُ فقد نص الشافعي هاهنا أن يَكُونُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun mengenai kepemilikan, Imam Syafi‘i telah menegaskan di sini bahwa kepemilikan itu terbagi dua di antara keduanya. Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونُ بَيْنَهُمَا اعْتِبَارًا بِالظَّاهِرِ مِنْ نَصِّهِ وَتَعْلِيلًا بِتَكَافُئِهِمَا فِيهِ بِالِاحْتِمَالِ

Salah satunya adalah adanya kesamaan antara keduanya secara lahiriah berdasarkan teksnya, dan adanya alasan yang sama kuatnya di antara keduanya dalam hal kemungkinan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَظْهَرُ أَنَّهُ يَكُونُ لِلثَّانِي مِنْهُمَا لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ إِثْبَاتِهِ فِي رَمْيَةِ الثَّانِي وَفِي شَكٍّ مِنْ إِثْبَاتِهِ بِرَمْيَةِ الْأَوَّلِ تُوجِبُ أَنْ يَكُونَ مُلْحَقًا بِالْيَقِينِ دُونَ الشَّكِّ وَلِمَنْ قَالَ بِهَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ جَوَابَانِ

Pendapat kedua, yang lebih kuat, adalah bahwa hak itu menjadi milik yang kedua di antara mereka, karena kita yakin bahwa hak itu terbukti melalui lemparan yang kedua, sedangkan kita masih ragu apakah hak itu terbukti melalui lemparan yang pertama. Maka, yang ragu harus mengikuti yang yakin, bukan sebaliknya. Bagi siapa yang berpendapat demikian berdasarkan nash dari Imam Syafi‘i, terdapat dua jawaban.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْإِشْكَالِ فِي الرَّامِيَيْنِ فِي التَّقَدُّمِ فَيَكُونُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ فَأَمَّا مَعَ مَعْرِفَةِ الْمُتَقَدِّمِ مِنْهُمَا فَيَكُونُ لِلثَّانِي وَلَا يَشْتَرِكَانِ فِيهِ تَعْلِيلًا بِمَا قَدَّمْنَاهُ

Salah satunya adalah bahwa hal itu dibawa pada kasus ketidakjelasan siapa di antara dua orang yang melempar yang lebih dahulu, sehingga bagian di antara keduanya dibagi dua sama rata. Adapun jika diketahui siapa yang lebih dahulu di antara keduanya, maka bagian itu menjadi milik yang kedua dan keduanya tidak berbagi di dalamnya, dengan alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الشَّكِّ فِي التَّقَدُّمِ وَالِاجْتِمَاعِ فَيَكُونُ بَيْنَهُمَا لِجَوَازِ اجْتِمَاعِهِمَا وَكَلَامُ الشَّافِعِيِّ يَدْفَعُ هَذَا الْجَوَابَ وَالْأَوَّلُ أَشْبَهُ

Jawaban kedua adalah bahwa hal itu dimaknai pada keraguan tentang mana yang lebih dahulu dan kebersamaan terjadinya, sehingga keduanya mungkin saja terjadi bersamaan. Namun, pendapat asy-Syafi‘i menolak jawaban ini, dan jawaban pertama lebih mendekati kebenaran.

وَأَمَّا إِبَاحَتُهُ الْأَكْلَ فَلَمْ يُصَرِّحْ فِيهِ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا بِشَيْءٍ وَإِنْ كَانَ فَحْوَى كَلَامِهِ مِنْ جَعْلِهِ بَيْنَهُمَا دَلِيلًا عَلَى إِبَاحَتِهِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى أَرْبَعَةِ أوجهٍ

Adapun tentang kebolehan memakannya, Imam Syafi‘i tidak secara tegas menyatakan apa pun di sini, meskipun makna dari perkataannya yang menjadikan keduanya sebagai dalil menunjukkan kebolehannya. Maka, para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إنه مُبَاحُ الْأَكْلِ لِأَنَّهُ عَلَى أَصْلِ الِامْتِنَاعِ فَصَارَ عَلَى أَصْلِ الْإِبَاحَةِ وَهَذَا تَعْلِيلٌ فِي جَعْلِهِ مِلْكًا لِلثَّانِي وَلَمْ يَشْتَرِكَا فِيهِ

Salah satunya adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa hal itu boleh dimakan karena asalnya adalah larangan, kemudian berubah menjadi asal kebolehan. Ini adalah alasan dalam menjadikannya sebagai milik pihak kedua dan keduanya tidak berbagi di dalamnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أبي هريرة إِنَّهُ مُحَرَّمُ الْأَكْلِ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُثْبِتَهُ الْأَوَّلُ فَيَحْرُمَ بِرَمْيِ الثَّانِي وَيَجُوزُ أَنْ يُثْبِتَهُ الثَّانِي فَيَحِلَّ فَصَارَ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ حَظْرٌ وَإِبَاحَةٌ فَغَلَبَ حُكْمُ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa memakannya haram karena mungkin saja yang menyebabkan hewan itu mati adalah panah pertama sehingga menjadi haram karena panah kedua, dan mungkin juga yang menyebabkan mati adalah panah kedua sehingga menjadi halal. Maka statusnya menjadi antara larangan dan kebolehan, sehingga hukum larangan lebih diutamakan daripada kebolehan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنْ يُقَارِبَ بَيْنَ رَمْيَةِ الْأَوَّلِ وَرَمْيَةِ الثَّانِي حَلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ تَطَاوَلَ مَا بَيْنَهُمَا حَرُمَ لِأَنَّ الذَّكَاةَ لَا تُدْرَكُ فِي قَرِيبِ الزَّمَانِ وَتُدْرَكُ فِي طَوِيلِهِ

Pendapat ketiga adalah jika jarak antara lemparan pertama dan lemparan kedua berdekatan, maka dagingnya halal dimakan. Namun, jika jarak antara keduanya terlalu lama, maka menjadi haram, karena penyembelihan (dzakāh) tidak bisa dianggap sah dalam waktu yang singkat, tetapi dianggap sah dalam waktu yang lama.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ إِنْ كَانَتِ الرمية الأولة لَا يَثْبُتُ الصَّيْدُ بِمِثْلِهَا فِي الْغَالِبِ حَلَّ أَكْلُهُ اعْتِبَارًا بِالْغَالِبِ فِي امْتِنَاعِهِ وَإِثْبَاتِهِ

Pendapat keempat: Jika pada umumnya tembakan pertama tidak dapat membuat buruan menjadi mati (tertangkap) dengan cara seperti itu, maka halal memakannya, dengan mempertimbangkan kebiasaan umumnya yang memang sulit untuk membuat buruan mati atau tertangkap dengan cara tersebut.

فَصْلٌ

Bab

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ فَهُوَ أَنْ يَشْكُلَ الْمُتَقَدِّمُ مِنَ الرَّامِيَيْنِ فَلَا يُعْلَمُ أَيُّهُمَا الْأَوَّلُ وَتَشْكُلَ صِفَةُ الرَّمْيَتَيْنِ فَلَا يُعْلَمُ بِأَيِّهِمَا ثَبَتَ فَيَجْرِي عَلَيْهِ فِي الْمِلْكِ حُكْمُ الضَّرْبِ الْأَوَّلِ فَيَكُونُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ وَجْهًا وَاحِدًا وَيَجْرِي عَلَيْهِ فِي الْأَكْلِ حُكْمُ الضَّرْبِ الثَّانِي فَيَكُونُ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ أَرْبَعَةُ أوجهٍ

Adapun jenis ketiga adalah ketika tidak diketahui siapa yang lebih dahulu di antara dua pemanah, sehingga tidak diketahui siapa yang pertama, dan juga tidak diketahui sifat dari dua anak panah tersebut, sehingga tidak diketahui dengan anak panah yang mana hewan itu mati. Maka dalam hal kepemilikan, berlaku hukum jenis pertama, yaitu kepemilikan dibagi dua sama rata di antara keduanya. Sedangkan dalam hal kebolehan memakan dagingnya, berlaku hukum jenis kedua, yaitu terdapat empat pendapat mengenai kebolehan memakannya.

فَإِنْ تَنَازَعَا فِي الْمِلْكِ بِالتَّقَدُّمِ تَحَالَفَا وَإِنْ تَنَازَعَا فِي الْإِبَاحَةِ لَمْ يَتَحَالَفَا لِأَنَّ الْيَدَ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ فَتَحَالَفَا بها ولا تدل على الزكاة فَلَمْ يَتَحَالَفَا فِيهَا وَيَحْرُمُ أَكْلُهُ عَلَى مَنِ ادَّعَى تَحْرِيمَهُ وَيَحِلُّ لِمَنِ ادَّعَى تَحْلِيلَهُ

Jika keduanya berselisih tentang kepemilikan dengan mendahulukan salah satu, maka keduanya saling bersumpah. Namun jika keduanya berselisih tentang kebolehan (penggunaan), maka keduanya tidak saling bersumpah, karena kepemilikan atas barang menunjukkan adanya hak milik sehingga keduanya saling bersumpah karenanya, sedangkan kepemilikan tidak menunjukkan adanya zakat sehingga keduanya tidak saling bersumpah dalam hal itu. Haram hukumnya memakan (barang tersebut) bagi orang yang mengklaim keharamannya, dan halal bagi orang yang mengklaim kehalalannya.

فَإِنْ جُعِلَ لِمَنِ ادَّعَى تَحْرِيمَهُ لَمْ تُؤَثِّرْ فِيهِ دَعْوَى الْإِبَاحَةِ وَكَانَ حَرَامًا عَلَيْهِ وَإِنْ جُعِلَ لِمَنِ ادَّعَى تَحْلِيلَهُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيهِ دَعْوَى التَّحْرِيمِ وَكَانَ حَلَالًا كُلُّهُ وَإِنْ جُعِلَ بَيْنِهِمَا كَانَ لِمُدَّعِي التَّحْلِيلِ أَنْ يُعَاوِضَ عَلَى حَقٍّ مِنْهُ إِلَّا لِلْمُكَذِّبِ لَهُ وَلَمْ يَجُزْ لِمُدَّعِي التَّحْرِيمِ أَنْ يُعَاوِضَ عَلَى حَقِّهِ مِنْهُ لِمُصَدِّقٍ ولا لمكذب

Jika ditetapkan bagi orang yang mengklaim keharamannya, maka klaim kebolehan tidak berpengaruh terhadapnya dan tetap haram baginya. Dan jika ditetapkan bagi orang yang mengklaim kehalalannya, maka klaim keharaman tidak berpengaruh terhadapnya dan semuanya menjadi halal. Dan jika ditetapkan di antara keduanya, maka bagi orang yang mengklaim kehalalan boleh melakukan transaksi atas haknya kecuali kepada orang yang mendustakannya, dan tidak boleh bagi orang yang mengklaim keharaman melakukan transaksi atas haknya, baik kepada orang yang membenarkan maupun yang mendustakannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَى طَائِرًا فَجَرَحَهُ ثَمَّ سَقَطَ إِلَى الْأَرْضِ فَأَصَبْنَاهُ مَيْتًا لَمْ نَدْرِ أَمَاتَ فِي الْهَوَاءِ أَمْ بَعْدَ مَا صَارَ إِلَى الْأَرْضِ أُكل لأنه لا يوصل إلى أن يكون مأخوذاً إلا بالوقوع ولو حرم هذا حرم كل طائرٍ رمي فوقع فمات ولكنه لو وقع على جبلٍ فتردى عنه كان متردياً لا يؤكل ألا أن تكون الرمية قد قطعت رأسه أو ذبحته أو قطعته باثنتين فيعلم أنه لم يترد إلا مذكى

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang melempar burung lalu melukainya, kemudian burung itu jatuh ke tanah dan kita mendapatinya sudah mati, sementara kita tidak tahu apakah ia mati di udara atau setelah sampai di tanah, maka burung itu boleh dimakan, karena tidak mungkin bisa diambil kecuali setelah jatuh. Jika yang seperti ini diharamkan, maka setiap burung yang dilempar lalu jatuh dan mati pasti akan diharamkan. Namun, jika burung itu jatuh di atas gunung lalu terjatuh lagi dari gunung tersebut, maka ia termasuk hewan yang jatuh (mutaraddiy), sehingga tidak boleh dimakan, kecuali jika lemparan itu telah memutus kepalanya, menyembelihnya, atau membelahnya menjadi dua, sehingga diketahui bahwa ia tidak terjatuh kecuali dalam keadaan sudah disembelih (mudzakkā).”

قال الماوردي أما الماشي من الصيد أيا رَمَاهُ فَسَقَطَ عَلَى جَنْبِهِ فَمَاتَ أُكِلَ وَلَا يحرم بالسقوط على الأرض إذا عَادَتُهُ أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ بَعْدَ مَوْتِهِ إِلَّا سَاقِطًا وَأَمَّا الطَّائِرُ مِنَ الصَّيْدِ إِذَا رَمَاهُ فَسَقَطَ عَلَى الْأَرْضِ وَمَاتَ فَإِنْ كَانَتِ الرَّمْيَةُ قد وحته في الهوار لِوُقُوعِهَا فِي مَقْتَلٍ حَلَّ أَكْلُهُ بِاتِّفَاقٍ وَإِنْ لم توحه لوقوعها في غير مقتلع فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ مأكولٌ وَقَالَ مَالِكٌ هُوَ غَيْرُ مأكولٍ إِلَّا أَنْ يُعْلَمَ مَوْتُهُ فِي الْهَوَاءِ لِأَنَّ سُقُوطَهُ عَلَى الْأَرْضِ قَاتِلٌ فَصَارَ مَوْتُهُ بِمُبِيحٍ وَحَاظِرٍ فَوَجَبَ أَنْ يحرم كالمتردية ودلينا عَلَيْهِ شَيْئَانِ

Menurut al-Mawardi, jika hewan buruan yang berjalan dilempar lalu jatuh ke sampingnya dan mati, maka dagingnya boleh dimakan dan tidak menjadi haram hanya karena jatuh ke tanah, sebab kebiasaannya setelah mati memang hanya bisa jatuh. Adapun burung dari hewan buruan, jika dilempar lalu jatuh ke tanah dan mati, maka jika lemparan itu mengenainya di udara dan mengenai bagian yang mematikan, maka halal dimakan menurut kesepakatan. Namun jika tidak mengenai bagian yang mematikan, menurut mazhab Syafi‘i dan Abu Hanifah, dagingnya tetap boleh dimakan. Malik berpendapat bahwa dagingnya tidak boleh dimakan kecuali diketahui bahwa ia mati di udara, karena jatuhnya ke tanah bisa menyebabkan kematian, sehingga kematiannya terjadi karena sebab yang membolehkan dan yang melarang sekaligus, maka wajib diharamkan seperti hewan yang jatuh dari ketinggian. Dalil kami atas hal ini ada dua.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَمَّا لَمْ يُوصَلْ إِلَيْهِ إِلَّا بِالْوُقُوعِ عَلَى الْأَرْضِ لَمْ يَمْنَعْ وُقُوعُهُ عَلَيْهَا إِبَاحَةَ الْأَكْلِ وَإِنْ كَانَ مُؤَثِّرًا فِي فَوَاتِ النَّفْسِ كَسُقُوطِ الْمَاشِي عَلَى الْأَرْضِ

Salah satunya adalah bahwa ketika tidak mungkin sampai kepadanya kecuali dengan jatuh ke tanah, maka jatuhnya ke tanah tidak menghalangi kebolehan memakannya, meskipun hal itu berpengaruh pada hilangnya nyawa, seperti jatuhnya hewan ternak ke tanah.

وَالثَّانِي إِنَّ مَا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ مِنْهُ فِي الصَّيْدِ كَانَ عَفْوًا كَالذَّكَاةِ فِي مَحَلِّهَا وَفِيهِ انفصالٌ

Kedua, bahwa sesuatu yang sulit dihindari dalam perburuan dianggap dimaafkan, sebagaimana penyembelihan pada tempatnya, dan dalam hal ini terdapat perincian.

فَصْلٌ

Bab

فَأَمَّا إِنْ سَقَطَ الطَّائِرُ بَعْدَ رميه إلى الماء فإن كانت الرمية موحية حل أكله وإن كانت غير موحية فله حالتان

Adapun jika burung itu jatuh ke air setelah dilempar (ditembak), maka jika lemparan (tembakan) itu mematikan, halal memakannya. Namun jika lemparan itu tidak mematikan, maka ada dua keadaan.

أحدهما أَنْ يَكُونَ مِنْ طَيْرِ الْبَرِّ فَلَا يَحِلُّ أكله إذا مات بعد سقوطه في الماء لِرِوَايَةِ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ وَسَأَلَهُ إِذَا رَمَيْتَ سَهْمَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ فَإِنْ وَجَدْتَهُ قَدْ قَتَلَهُ فَكُلْهُ إِلَّا أَنْ تَجِدَهُ قَدْ وَقَعَ فِي ماءٍ فَمَاتَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي الْمَاءُ قَتَلَهُ أَوْ سَهْمُكَ؟ وَلِأَنَّ الْمَاءَ بَعْدَ الْجَرْحِ أَبْلَغُ فِي فَوَاتِ نَفْسِهِ مِنَ الْجُرْحِ مَعَ إِمْكَانِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ فِي الْأَغْلَبِ مِنْ غَيْرِ وُقُوعٍ فِي الماء

Pertama, jika burung tersebut adalah burung darat, maka tidak halal memakannya jika ia mati setelah jatuh ke dalam air. Hal ini berdasarkan riwayat ‘Āmir asy-Sya‘bī dari ‘Adī bin Hātim dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ditanya: “Jika engkau melempar anak panahmu, maka sebutlah nama Allah. Jika engkau mendapatinya telah membunuh buruan itu, maka makanlah, kecuali jika engkau mendapatinya telah jatuh ke dalam air lalu mati, karena engkau tidak tahu apakah air yang membunuhnya atau anak panahmu?” Selain itu, air setelah adanya luka lebih besar pengaruhnya dalam menyebabkan kematian hewan tersebut daripada luka itu sendiri, padahal pada umumnya masih memungkinkan untuk mengambilnya tanpa harus jatuh ke dalam air.

والحالة الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ مِنْ طَيْرِ الْمَاءِ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ إِذَا مَاتَ بَعْدَ سُقُوطِهِ فِي الْمَاءِ وَجْهَانِ

Keadaan kedua adalah jika burung tersebut termasuk burung air, maka dalam kebolehan memakan dagingnya apabila ia mati setelah jatuh ke dalam air terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَاهُ

Salah satunya tidak halal untuk dimakan dengan alasan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحِلُّ أَكْلُهُ لِأَنَّهُ لَا يَكَادُ فِي الْغَالِبِ يُفَارِقُ الْمَاءَ فَصَارَ سُقُوطُهُ فِيهِ كَسُقُوطِ غَيْرِهِ فِي الْأَرْضِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa memakannya halal karena pada umumnya hewan tersebut hampir tidak pernah berpisah dari air, sehingga jatuhnya ke dalam air dianggap seperti jatuhnya hewan lain ke tanah.

فَأَمَّا إِنْ سَقَطَ الصَّيْدُ فِي النَّارِ فَمَاتَ فِيهَا لَمْ يُؤْكَلْ سَوَاءٌ كَانَ الصَّيْدُ طَائِرًا أَوْ مَاشِيًا لِأَنَّ النَّارَ قَاتِلَةٌ وَيَسْتَغْنِي الصَّيْدُ عَنْ وُقُوعِهِ فِيهَا إِلَّا أَنْ يُعْلَمَ مَوْتُهُ قَبْلَ وُقُوعِهِ فِيهَا فَيَحِلَّ

Adapun jika hewan buruan itu jatuh ke dalam api lalu mati di dalamnya, maka tidak boleh dimakan, baik hewan buruan itu burung maupun binatang yang berjalan, karena api adalah penyebab kematian, dan hewan buruan itu tidak membutuhkan jatuh ke dalam api, kecuali jika diketahui bahwa ia mati sebelum jatuh ke dalam api, maka halal dimakan.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا سَقَطَ الطَّائِرُ بَعْدَ رَمْيِهِ عَلَى حَائِطٍ أَوْ شَجَرَةٍ أَوْ جَبَلٍ ثُمَّ تَرَدَّى مِنْهُ إِلَى الْأَرْضِ فَسَقَطَ إِلَيْهَا فَمَاتَ أَوْ كَانَ الصَّيْدُ مَاشِيًا فَرَمَاهُ عَلَى الْجَبَلِ فَتَرَدَّى منه إلى الأرض فمات فله حالتان

Jika burung yang telah dipanah jatuh di atas dinding, pohon, atau gunung, lalu terjatuh lagi dari sana ke tanah hingga sampai ke tanah dan mati; atau jika hewan buruan sedang berjalan lalu dipanah di atas gunung, kemudian terjatuh dari gunung ke tanah lalu mati, maka ada dua keadaan.

أحدهما أَنْ يَحْصُلَ مَوْتُهُ قَبْلَ تَرَدِّيهِ مِنَ الْجَبَلِ والحائط الشجرة فَيَحِلَّ أَكْلُهُ لِأَنَّهُ لَا تَأْثِيرَ لِتَرَدِّيهِ عَنْ مَوْتِهِ

Pertama, jika kematiannya terjadi sebelum ia terjatuh dari gunung, tembok, atau pohon, maka halal memakannya karena jatuhnya itu tidak berpengaruh terhadap kematiannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ لَا يُعْلَمَ مَوْتُهُ قَبْلَ تَرَدِّيهِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مِنْ جُمْلَةِ الْمُتَرَدِّيَةِ الَّتِي حَرَّمَهَا اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ بِقَوْلِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالمَوْقُوذَةُ وَالمُتَرَدِّيَةُ وَلِأَنَّ تَرَدِّيَهُ نَادِرٌ فَحَرُمَ بِهِ كَسُقُوطِهِ فِي الْمَاءِ

Keadaan kedua adalah ketika tidak diketahui kematiannya sebelum terjatuh, maka memakannya haram karena ia telah termasuk dalam kategori hewan yang terjatuh yang diharamkan Allah Ta‘ala dalam kitab-Nya melalui firman-Nya: “dan (diharamkan) hewan yang mati karena tercekik, yang dipukul, yang jatuh…” Dan karena peristiwa terjatuhnya itu jarang terjadi, maka keharamannya seperti halnya hewan yang jatuh ke dalam air.

وَلَوْ رَمَى طَائِرًا فَخَرَّ إِلَى الْأَرْضِ وَاسْتَقْبَلَهُ رَجُلٌ بِسَيْفِهِ فَقَطَعَهُ بِاثْنَيْنِ حَرُمَ أَكْلُهُ إلا أن يكون الجرح قد وحاه في الهوى فلا يحرم لأن قطعه بالسيف قبل التوحية لَيْسَ بِذَكَاةٍ فَصَارَ مُسْتَهْلِكًا لَهُ فَحَرُمَ بِهِ وضمنه لمالكه

Jika seseorang melempar burung lalu burung itu jatuh ke tanah, kemudian seseorang menyambutnya dengan pedang dan membelahnya menjadi dua, maka haram memakannya, kecuali jika luka yang ditimbulkan telah menyebabkan kematian burung itu saat masih di udara, maka tidak haram. Sebab, membelahnya dengan pedang sebelum terjadi kematian akibat luka tersebut bukanlah penyembelihan (dzakāh) yang sah, sehingga tindakan itu dianggap sebagai perusakan, dan karenanya menjadi haram dimakan serta wajib menggantinya kepada pemiliknya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَا يُؤْكَلُ مَا قَتَلَهُ الرَّمْيُ إِلَّا مَا خرق برقته أَوْ قُطِعَ بِحَدِّهِ فَأَمَّا مَا جُرِحَ بِثِقَلِهِ فَهُوَ وَقِيذَةٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Tidak boleh dimakan hewan yang mati karena terkena lemparan, kecuali yang tembus kulitnya atau terpotong dengan bagian tajamnya. Adapun hewan yang terluka karena beratnya (benda yang dilempar), maka itu termasuk bangkai.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الذَّكَاةُ فِي اللُّغَةِ فَفِيهَا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Al-Mawardi berkata, “Adapun dzakāh dalam bahasa, terdapat tiga pendapat mengenainya.”

أَحَدُهَا إِنَّهَا التَّطَيُّبُ مِنْ قَوْلِهِمْ مسكٌ ذكيٌ إِذَا كَانَ طَيِّبَ الرَّائِحَةِ لَكِنَّهَا فِي الشَّرْعِ تَطْيِيبُ الذَّبِيحَةِ بِالْإِبَاحَةِ

Salah satunya adalah bahwa maknanya adalah memakai wewangian, berdasarkan ucapan mereka “misik yang harum” jika baunya wangi. Namun, dalam syariat, maknanya adalah menjadikan hewan sembelihan halal dengan cara penyembelihan yang sesuai.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهَا الْقَطْعُ لَكِنَّهَا فِي الشَّرْعِ قَطْعٌ عَلَى صِفَةٍ مُبِيحَةٍ فَصَارَتْ فِي الشَّرْعِ قَطْعًا خَاصًّا وَفِي اللُّغَةِ قَطْعًا عَامًّا

Pendapat kedua adalah bahwa ia merupakan pemotongan, namun dalam syariat, pemotongan itu dilakukan dengan cara yang membolehkannya, sehingga dalam syariat ia menjadi pemotongan khusus, sedangkan dalam bahasa ia adalah pemotongan secara umum.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَإِلَيْهِ أَشَارَ الشَّافِعِيُّ إِنَّ الذَّكَاةَ الْقَتْلُ لِأَنَّهَا لَا تُسْتَعْمَلُ إِلَّا فِي النُّفُوسِ لَكِنَّهَا فِي الشَّرْعِ قَتْلٌ فِي مَحَلٍّ مَخْصُوصٍ فَصَارَتْ أَخَصَّ مِنْهَا فِي اللُّغَةِ

Pendapat ketiga, yang juga disinggung oleh asy-Syafi‘i, adalah bahwa adz-dzakāh berarti membunuh, karena kata ini tidak digunakan kecuali untuk makhluk bernyawa. Namun, dalam syariat, adz-dzakāh adalah pembunuhan pada tempat tertentu, sehingga maknanya menjadi lebih khusus daripada makna dalam bahasa (Arab) secara umum.

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَجَمِيعُ ما قاله اللَّهُ تَعَالَى أَلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ إِلَّا مَا قَتَلْتُمْ وَلَكِنْ كَانَ مُجَوَّزًا أَنْ يَكُونَ بِبَعْضِ الْقَتْلِ دُونَ بَعْضٍ فَلَمَّا قَالَ أنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَة دَلَّ عَلَى أَنَّ الذَّكَاةَ الْمَأْمُورَ بِهَا الذَّبْحُ دُونَ غَيْرِهِ وَكَانَ النَّحْرُ فِي مَعْنَى الذَّبْحِ

Syafi‘i berkata: Semua yang Allah Ta‘ala firmankan, kecuali apa yang kalian sembelih, kecuali apa yang kalian bunuh, namun masih dimungkinkan bahwa yang dimaksud adalah sebagian dari pembunuhan itu, bukan seluruhnya. Maka ketika Allah berfirman bahwa Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, hal itu menunjukkan bahwa penyembelihan yang diperintahkan adalah dengan cara menyembelih (dzabḥ), bukan dengan cara lain. Dan penyembelihan dengan cara menombak (naḥr) termasuk dalam makna dzabḥ.

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَالذَّكَاةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ فِي مَقْدُورٍ عَلَيْهِ وَمُمْتَنِعٍ

Jika hal ini telah jelas, maka penyembelihan (dzakāh) terbagi menjadi dua jenis: pada hewan yang dapat dikuasai dan pada hewan yang sulit dikendalikan.

فَإِنْ كَانَتْ فِي مَقْدُورٍ عَلَيْهِ لَمْ تَكُنْ إِلَّا ذَبْحًا فِي الْحَلْقِ أَوْ نَحْرًا فِي اللَّبَّةِ بِمَا يُقْطَعُ بِحَدِّهِ دُونَ مَا يُخْرَقُ بِدَقِّهِ وَسَوَاءٌ كَانَ بِحَدِيدٍ أَوْ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمُحَدِّدِ إِذَا مَارَ فِي اللَّحْمِ مَوْرَ الْحَدِيدِ مِنْ لَيْطِ الْقَصَبِ وَمَا حُدِّدَ من الزجاج والحجز وَالْخَشَبِ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهَا مَا قَطَعَ بِحَدٍّ لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَفَرَى الْأَوْدَاجَ فَكُلْ

Jika hewan itu masih dapat dikendalikan, maka cara penyembelihannya hanyalah dengan menyembelih di leher atau menyayat di pangkal leher (lubbah) menggunakan alat yang tajam, bukan dengan alat yang melukai karena ditumbuk. Tidak ada perbedaan apakah alat itu terbuat dari besi atau selain besi dari benda-benda tajam, selama alat itu dapat menembus daging sebagaimana besi, seperti batang bambu yang diasah, kaca, batu, atau kayu yang ditajamkan. Sebab yang dimaksud dari alat tersebut adalah yang dapat memotong dengan ketajamannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan memutus urat nadi, maka sembelihan itu sah.”

وَرُوِيَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّا نَجِدُ الصَّيْدَ وَلَا نَجِدُ مَا نُذَكِّي بِهِ إِلَّا الظِّرَارَ وَشِقَّةَ الْعَصَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أمر الدَّمَ بِمَا شِئْتَ

Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami menemukan hewan buruan, namun kami tidak menemukan sesuatu untuk menyembelihnya kecuali kuku dan belahan tongkat.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alirkanlah darahnya dengan apa saja yang kamu mau.”

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ الظِّرَارُ حجارة محددة

Abu ‘Ubaid berkata, “Zhirar adalah batu-batu yang runcing.”

وقوله أمر الدَّمَ بِمَا شِئْتَ أَيْ سِلْهُ بِمَا شِئْتَ

Dan ucapannya, “Perintahkan darah itu dengan apa yang engkau kehendaki,” maksudnya, “Tumpahkanlah darah itu dengan cara apa pun yang engkau kehendaki.”

فَأَمَّا مَا قُطِعَ مِنْ ذَلِكَ بِشِدَّةِ اعْتِمَادِ الْمُذَكِّي وَقُوَّةِ ثِقَلِهِ فَلَا يُؤْكَلُ وَمِثْلُهُ الْحَدِيدُ لَوْ كَانَ كَالًّا لَا يُقْطَعُ بِحَدِّهِ وَيُقْطَعُ بِشِدَّةِ الِاعْتِمَادِ وَقُوَّةِ الذَّابِحِ لَمْ يُؤْكَلْ لِأَنَّهُ يَصِيرُ الْمُنْهِرُ لِلدَّمِ هُوَ الذَّابِحَ دُونَ الْآلَةِ

Adapun bagian yang terpotong dari hewan tersebut karena kuatnya tekanan orang yang menyembelih dan beratnya tubuhnya, maka tidak boleh dimakan. Demikian pula besi, jika tumpul sehingga tidak dapat memotong dengan ketajamannya, tetapi terpotong karena kuatnya tekanan dan kekuatan penyembelih, maka tidak boleh dimakan, karena yang menjadi alat penumpah darah adalah penyembelih itu sendiri, bukan alatnya.

وَأَمَّا الْمُمْتَنِعُ فَكُلُّ مَوْضِعٍ مِنْ جَسَدِهِ مَحَلٌّ لِذَكَاتِهِ مِمَّا قُطِعَ بِحَدِّهِ كَالسَّيْفِ وَالسِّكِّينِ أَوْ خُرِقَ وَثُقِبَ بِدَقَّتِهِ كَالسَّهْمِ وَالْحَرْبَةِ فَمَارَ فِي اللَّحْمِ وَدَخَلَ سَوَاءٌ كَانَ حَدِيدًا أَوْ مَا قَامَ مَقَامَهُ مِنَ الْقَصَبِ وَالْخَشَبِ وَالْمُحَدَّدِ وَالْحِجَارَةِ الْمُحَدَّدَةِ

Adapun hewan yang sulit dikendalikan, maka setiap bagian dari tubuhnya adalah tempat yang sah untuk melakukan penyembelihan, baik dengan cara dipotong menggunakan benda tajam seperti pedang dan pisau, atau dilukai dan ditembus dengan benda runcing seperti panah dan tombak, sehingga menembus daging dan masuk ke dalamnya, baik alat tersebut terbuat dari besi maupun dari bahan lain yang sepadan seperti bambu, kayu, benda tajam, atau batu yang diasah tajam.

فَأَمَّا مَا قُطِعَ بِثِقَلِهِ أَوْ بِقُوَّةِ الرَّامِي كَالْخَشَبِ الْأَصَمِّ وَالْحَجَرِ الصَّلْدِ فَإِنَّهُ وَقِيذٌ لَا يُؤْكَلُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالمَوْقُوذَةُ وَالمُتَرَدِّيَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ هِيَ الْمَقْتُولَةُ ضَرْبًا وَالْمُتَرَدِّيَةُ هِيَ الْوَاقِعَةُ مِنْ شَاهِقٍ

Adapun hewan yang mati karena terkena benda berat atau kekuatan pelempar, seperti kayu yang keras dan batu yang padat, maka hewan itu termasuk bangkai (waqīdh) dan tidak boleh dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “…dan (diharamkan pula) hewan yang dipukul dan yang jatuh…” (Al-Mā’idah: 3). Waqīdh adalah hewan yang mati karena dipukul, sedangkan mutaraddiyah adalah hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.

وَرَوَى عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ صَيْدِ الْمِعْرَاضِ فَقَالَ مَا أَصَابَ بِحَدِّهِ فَكُلْ وَمَا أَصَابَ بَعَرْضِهِ فَهُوَ وقيذٌ

‘Amir asy-Sya‘bi meriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang buruan dengan mi‘rādh (alat berburu yang tidak tajam ujungnya), maka beliau bersabda: “Apa yang mengenainya dengan bagian tajamnya, maka makanlah, dan apa yang mengenainya dengan bagian sampingnya, maka itu adalah bangkai.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْجُلَاهِقِ وَهُوَ قَوْسُ الْبُنْدُقِ لِأَنَّهُ يَقْتُلُ الصَّيْدَ بِقُوَّةِ رَامِيهِ وَلَيْسَ يَقْتُلُهُ بِحَدِّهِ كَالسِّهَامِ فَأَبَاحَ السَّهْمَ وَنَهَى عَنِ الْبُنْدُقِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang (menggunakan) al-julahiq, yaitu busur untuk melempar peluru (alat seperti ketapel), karena alat itu membunuh hewan buruan dengan kekuatan pelemparnya dan bukan dengan ketajamannya seperti anak panah. Maka beliau membolehkan (menggunakan) anak panah dan melarang (menggunakan) peluru (bunduq).

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ رَوَى الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْبُنْدُقِ فَقَالَ إِنْ خَرَقَتْ فَكُلْ وَإِنْ لَمْ تَخْرِقْ فَلَا تَأْكُلْ

Jika dikatakan: Al-A‘mash meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Adiy bin Hatim bahwa ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang peluru, maka beliau bersabda: Jika peluru itu menembus (hewan buruan), maka makanlah; dan jika tidak menembus, maka janganlah kamu memakannya.”

قِيلَ هَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ بِثَابِتٍ وَلَا أَصْلَ لَهُ فَإِنَّ سُفْيَانَ قَالَ سَأَلْتُ الْأَعْمَشَ عَنْ حَدِيثِ الْبُنْدُقِ يَعْنِي هَذَا الْحَدِيثَ الْمَرْوِيَّ عَنْهُ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ حَدِيثِكَ فَقَالَ كَيْفَ أَصْنَعُ بِهَؤُلَاءِ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ يقرأون مِنْ أَصْلِ مَا لَيْسَ فِيهِ

Dikatakan bahwa hadis ini tidak sahih dan tidak memiliki asal-usul, karena Sufyan berkata, “Aku bertanya kepada Al-A‘mash tentang hadis al-bunduq, maksudnya hadis yang diriwayatkan darinya itu, apakah itu bukan termasuk hadismu?” Maka ia menjawab, “Bagaimana aku harus berbuat terhadap para ahli hadis ini yang membaca dari naskah yang tidak terdapat (hadis tersebut) di dalamnya?”

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ مَا لَمْ يَقْطَعْ بِحَدِّهِ وَلَمْ يَخْرِقْ بِدَقَّتِهِ وَقَطَعَ بِثِقَلِهِ أَوْ بِقُوَّةِ الِاعْتِمَادِ عَلَيْهِ غَيْرُ مَأْكُولٍ فَإِنْ فَاتَتْ ذَكَاتُهُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ كَانَ مَيْتَةً مُحَرَّمَةً وَإِنْ أُدْرِكَتْ حياته فذبح في حلقه أو نجز فِي لَبَّتِهِ نُظِرَ فِيمَا أَدْرَكَهُ مِنْ حَيَاتِهِ فَإِنْ كَانَتْ ضَعِيفَةً لَا لُبْثَ لَهَا كَجَرْحَةِ الْمَذْبُوحِ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ بِالذَّبْحِ وَكَانَ مَيْتَةً وَإِنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ قَوِيَّةً يَلْبَثُ مَعَهَا وَإِنْ لَمْ يَطُلْ زَمَانُ لُبْثِهَا صَحَّتْ ذَكَاتُهُ وَحَلَّ أَكْلُهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالمَوْقُوذَةُ وَالمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ فَأَبَاحَ مَا أُدْرِكَتْ ذَكَاتُهُ بَعْدَ تَقَدُّمِ الْمَحْظُورَاتِ

Jika telah tetap bahwa sesuatu yang tidak memotong dengan ujungnya dan tidak menembus karena ketajamannya, tetapi memotong karena beratnya atau karena tekanan yang kuat padanya, maka hewan tersebut termasuk yang tidak boleh dimakan. Jika penyembelihan (dzakāh) pada leher atau pangkal lehernya terlewatkan, maka ia menjadi bangkai yang haram. Namun, jika masih didapati tanda-tanda kehidupan lalu disembelih pada lehernya atau segera pada pangkal lehernya, maka dilihat pada sisa kehidupannya itu: jika kehidupannya lemah dan tidak bertahan lama seperti luka pada hewan yang disembelih, maka tidak halal dimakan dengan penyembelihan itu dan ia tetap menjadi bangkai. Tetapi jika kehidupannya masih kuat dan ia masih dapat bertahan meskipun tidak lama, maka dzakāh-nya sah dan halal dimakan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan (diharamkan atas kalian) hewan yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian sembelih.” Maka Allah membolehkan hewan yang sempat dilakukan dzakāh setelah terjadinya hal-hal yang dilarang tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَمَا نَالَتْهُ الْجَوَارِحُ فَقَتَلَتْهُ وَلَمْ تُدْمِهِ احْتَمَلَ مَعْنَيَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يُؤْكَلَ حَتَّى يُجْرَحَ قَالَ الله تعالى مِنَ الجَوَارِحِ والآخر أنه حلٌّ قال المزني الأول أولاهما به قياساً على رامي الصيد أو ضاربه لا يؤكل إلا أن يجرحه

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Hewan buruan yang ditangkap oleh binatang pemburu lalu membunuhnya namun tidak melukainya, terdapat dua kemungkinan makna: salah satunya adalah boleh dimakan hingga hewan itu terluka, sebagaimana firman Allah Ta‘ala ‘dari binatang pemburu’; dan yang lainnya adalah halal. Al-Muzani berkata: ‘Pendapat pertama lebih utama menurut qiyās terhadap orang yang melempar atau memukul hewan buruan, maka tidak boleh dimakan kecuali jika melukainya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ أَرْسَلَ كَلْبَهُ أَوْ غَيْرَهُ مِنَ الْجَوَارِحِ عَلَى صَيْدٍ فَمَاتَ الصَّيْدُ بِإِرْسَالِهِ عَلَيْهِ فَلَا يَخْلُو حَالُ مَوْتِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki yang melepaskan anjingnya atau hewan pemburu lainnya untuk memburu seekor binatang buruan, lalu binatang buruan itu mati karena dilepaskan kepadanya. Maka, keadaan kematian binatang buruan tersebut tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يُتْعِبَهُ الْكَلْبُ بِالسَّعْيِ عَلَيْهِ حَتَّى يَسْقُطَ الصَّيْدُ مَيْتًا بِالْإِعْيَاءِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْرَحَهُ الْكَلْبُ فَهَذَا مَيْتَةٌ لَا يُؤْكَلُ لِأَنَّهُ لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ فِعْلٌ يَكُونُ تَذْكِيَةً

Salah satunya adalah anjing memburu hewan buruan hingga hewan itu jatuh mati karena kelelahan, tanpa dilukai oleh anjing tersebut. Maka hewan itu termasuk bangkai yang tidak boleh dimakan, karena tidak ada tindakan yang menjadi tadhkiyah (penyembelihan syar‘i) yang sampai kepadanya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَنَالَهُ الْكَلْبُ فَيَعْقِرُهُ فَيَمُوتَ مِنْ عَقْرِهِ وَجِرَاحَتِهِ فَيَحِلَّ أَكْلُهُ سَوَاءٌ جَرَحَهُ بِأَنْيَابِهِ أَوْ بِمَخَالِبِهِ فِي مَقْتَلٍ أَوْ غَيْرِ مَقْتَلٍ مِنْ رَأْسٍ أَوْ ذَنَبٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ

Keadaan kedua adalah ketika anjing menangkap hewan buruan lalu melukainya sehingga hewan itu mati karena luka dan cederanya, maka halal memakannya, baik anjing itu melukainya dengan taring maupun cakarnya, pada bagian tubuh yang mematikan atau bukan, baik di kepala maupun di ekor, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah dari apa yang ditangkap untuk kalian.”

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مَوْضِعِ عَقْرِ الْكَلْبِ هَلْ يَحِلُّ أَكْلُهُ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai bagian tubuh anjing yang terluka, apakah halal untuk dimakan atau tidak? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ سَوَاءٌ كَانَ قَدْ غَسَلَهُ أَوْ لَمْ يَغْسِلْهُ وَيُأْكَلُ مَا عَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ لِأَنَّ لُعَابَ الْكَلْبِ وَنَجَاسَةَ أَنْيَابِهِ تَسْرِي فِي مَحَلِّهِ فَلَا يَصِلُ إِلَيْهِ الْغَسْلُ وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَحِلُّ أَكْلُهُ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةٍ حُكِمَ بِإِبَاحَتِهَا مِنْ غَيْرِ اسْتِثْنَاءٍ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَجِبُ غَسْلُهُ قَبْلَ أَكْلِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa tidak halal memakannya, baik telah dicuci maupun belum dicuci, dan bagian tubuh lainnya selain itu boleh dimakan, karena air liur anjing dan najis pada taringnya meresap ke tempat tersebut sehingga tidak dapat dijangkau oleh pencucian. Pendapat kedua menyatakan bahwa halal memakannya, karena termasuk dalam kelompok yang dihukumi boleh tanpa pengecualian. Berdasarkan hal ini, apakah wajib mencucinya sebelum memakannya atau tidak? Terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجِبُ غَسْلُهُ قِيَاسًا عَلَى مَحَلِّ وُلُوغِهِ وَلَا يَحِلُّ أَكْلُهُ قَبْلَ الْغَسْلِ

Salah satunya wajib dicuci berdasarkan qiyās dengan tempat yang dijilatnya, dan tidak halal memakannya sebelum dicuci.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجِبُ غَسْلُهُ لِلُحُوقِ الْمَشَقَّةِ فِيهِ فصار عفوا كسائر ما يشتق التَّحَرُّزُ مِنْهُ مِنْ جَمِيعِ الْأَنْجَاسِ

Alasan kedua adalah tidak wajib membasuhnya karena adanya kesulitan dalam hal itu, sehingga dimaafkan seperti halnya semua najis lain yang sulit dihindari.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ مَوْتُ الصَّيْدِ بِصَدْمَةِ الْكَلْبِ أَوْ بِضَغْطَتِهِ أَوْ بِقُوَّةِ إِمْسَاكِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْقِرَهُ بِجُرْحٍ مِنْ نَابٍ أَوْ مِخْلَبٍ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ قَوْلَانِ

Keadaan ketiga adalah apabila matinya hewan buruan disebabkan oleh benturan anjing, atau tekanannya, atau kekuatan cengkeramannya, tanpa melukainya dengan luka dari taring atau cakar, maka dalam hal kebolehan memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ وَرَوَاهُ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَزُفَرُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ حَرَامٌ لَا يُؤْكَلُ

Salah satunya adalah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, dan diriwayatkan oleh Abu Yusuf, Muhammad, dan Zufar dari Abu Hanifah bahwa hal itu haram dan tidak boleh dimakan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَرَوَاهُ الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ اللُّؤْلُؤِيُّ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ حَلَالٌ يُؤْكَلُ

Pendapat kedua, yang diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu’i dari Abu Hanifah, adalah bahwa hal itu halal dan boleh dimakan.

فَدَلِيلُ الْقَوْلِ الْأَوَّلِ فِي تَحْرِيمِهِ قَوْله تَعَالَى وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلَّبِينَ فَجَعَلَ الْجُرْحَ نَعْتًا فَصَارَ فِي الْإِبَاحَةِ شَرْطًا

Dalil pendapat pertama tentang keharamannya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang telah kalian ajarkan kepada binatang pemburu dalam keadaan terlatih.” Maka Allah menjadikan luka (yang ditimbulkan oleh binatang pemburu) sebagai sifat, sehingga menjadi syarat dalam kehalalannya.

وَرَوَى رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا لَمْ يُنْهِرْ لَا يُؤْكَلُ وَلِأَنَّ قَتْلَ الصَّيْدِ قَدْ أُبِيحَ بِآلَةٍ وَبِجَوَارِحَ فَلَمَّا لَمْ يَحِلَّ صَيْدُ الْآلَةِ إِلَّا بِعَقْرِهِ وَجَبَ أَنْ لَا يَحِلَّ صَيْدُ الْجَوَارِحِ إِلَّا بِعَقْرِهِ لِأَنَّهُ أَحَدُ النَّوْعَيْنِ فَكَانَ الْعَقْرُ شَرْطًا فِي الْحَالَيْنِ

Diriwayatkan dari Rafi‘ bin Khadij bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa saja yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah.” Maka ini menunjukkan bahwa apa yang tidak mengalirkan darah tidak boleh dimakan. Dan karena membunuh hewan buruan telah dibolehkan dengan alat dan dengan hewan pemburu, maka ketika buruan dengan alat tidak halal kecuali dengan melukainya, wajib pula bahwa buruan dengan hewan pemburu tidak halal kecuali dengan melukainya, karena keduanya adalah salah satu dari dua jenis, maka melukai (al-‘aqr) menjadi syarat pada kedua keadaan tersebut.

وَدَلِيلُ الْقَوْلِ الثَّانِي فِي إِبَاحَتِهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ يُرِيدُ بِهِ الْجَوَارِحَ الْكَوَاسِبَ كَمَا قَالَ تَعَالَى أَمْ حِسَبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَيِ اكْتَسَبُوا ثُمَّ قَالَ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِي كُلِّ إمساكٍ عَقَرَ أَوْ لَمْ يَعْقِرْ وَلِأَنَّ شُرُوطَ الذَّكَاةِ مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِ الْقُدْرَةِ وَالْعَجْزِ فَتَجِبُ مَعَ الْقُدْرَةِ فِي مَحَلِّهَا فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ مَا يَسْقُطُ مَعَ الْعَجْزِ كَذَلِكَ الْعَقْرُ لَا يُشَقُّ اعْتِبَارُهُ في الآلة فكان شرطاً وشق اعْتِبَاره فِي الْجَارِحِ فَلَمْ يَكُنْ عَقْرُهُ شَرْطًا وَلِأَنَّ مَا كَانَ شَرْطًا فِي تَعْلِيمِ الْجَارِحِ كَانَ شَرْطًا فِي الِاسْتِبَاحَةِ كَالْإِمْسَاكِ وَمَا لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي التَّعْلِيمِ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي الِاسْتِبَاحَةِ كَالْأَكْلِ فَلَمَّا لَمْ يَكُنِ الْعَقْرُ شَرْطًا فِي تَعْلِيمِهِ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي اسْتِبَاحَةِ صَيْدِهِ وَلِأَنَّ عَقْرَهُ مِنْ دَوَاعِي الْأَكْلِ الْمُؤَثِّرِ فِي الْحَظْرِ فَكَانَ تَرْكُ عَقْرِهِ أَصَحَّ في التعليم وأبعد في الْحَظْرِ فَكَانَ أَحَقَّ بِالْإِبَاحَةِ مِنَ الْعَقْرِ

Dalil pendapat kedua tentang kebolehannya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang telah kalian ajarkan kepada binatang-binatang pemburu dalam keadaan kalian melatihnya…” yang dimaksud dengan “binatang-binatang pemburu” di sini adalah binatang yang mencari hasil, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira…” yakni, mereka yang memperoleh (kejahatan). Kemudian Allah berfirman: “Maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kalian.” Maka ayat ini berlaku umum pada setiap tangkapan, baik yang melukai maupun yang tidak melukai. Karena syarat-syarat penyembelihan (dzakāh) itu diperhitungkan sesuai dengan keadaan mampu atau tidak mampu; maka syarat itu wajib dipenuhi ketika mampu, yaitu pada tempat penyembelihan di leher dan dada, dan gugur ketika tidak mampu. Demikian pula, melukai (hewan buruan) tidak perlu dipertimbangkan pada alat (berburu), sehingga menjadi syarat; dan sulit mempertimbangkannya pada binatang pemburu, maka melukainya tidak menjadi syarat. Dan karena apa yang menjadi syarat dalam melatih binatang pemburu juga menjadi syarat dalam kebolehan (memakan hasil buruan), seperti menangkap; dan apa yang tidak menjadi syarat dalam pelatihan, tidak menjadi syarat dalam kebolehan, seperti memakan (hasil buruan). Maka ketika melukai bukan syarat dalam pelatihannya, ia pun bukan syarat dalam kebolehan memakan hasil buruannya. Selain itu, melukai merupakan salah satu sebab yang mendorong untuk makan yang berpengaruh pada larangan, maka meninggalkan melukai lebih benar dalam pelatihan dan lebih jauh dari larangan, sehingga lebih layak untuk dibolehkan daripada melukai.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ رَمَى شَخْصًا يَحْسَبُهُ حَجَرًا فَأَصَابَ صَيْدًا فَلَوْ أَكَلَهُ مَا رَأَيْتُهُ مُحَرَّمًا كَمَا لَوْ أَخْطَأَ شَاةً فَذَبَحَهَا لَا يُرِيدُهَا وَكَمَا لَوْ ذَبَحَهَا وَهُوَ يَرَاهَا خَشَبَةً لَيِّنَةً

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang melempar sesuatu yang ia kira adalah batu, lalu ternyata mengenai hewan buruan, maka jika ia memakannya, aku tidak melihatnya sebagai sesuatu yang diharamkan, sebagaimana jika seseorang keliru menyembelih seekor kambing tanpa bermaksud menyembelihnya, atau jika ia menyembelihnya sementara ia mengira kambing itu adalah sebatang kayu yang lunak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا رَأَى شَخْصًا فَظَنَّهُ حَجَرًا أَوْ شَجَرَةً فَرَمَاهُ بِسَهْمٍ فَبَانَ أَنَّهُ صَيْدٌ قَتَلَهُ حَلَّ أَكْلُهُ وَكَذَلِكَ لَوْ رَمَى الشَّخْصَ وَهُوَ يَظُنُّهُ إِنْسَانًا أَوْ حَيَوَانًا غَيْرَ مَأْكُولٍ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ فَبَانَ أَنَّهُ صَيْدٌ مَأْكُولٌ قَتَلَهُ حَلَّ أَكْلُهُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لا يُؤْكَلُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang dikatakan: Jika seseorang melihat suatu benda lalu mengira itu adalah batu atau pohon, kemudian ia melemparnya dengan anak panah dan ternyata itu adalah hewan buruan yang kemudian mati karenanya, maka halal memakannya. Demikian pula jika seseorang melempar suatu benda dengan sangkaan bahwa itu adalah manusia atau hewan yang tidak boleh dimakan seperti anjing atau babi, lalu ternyata itu adalah hewan buruan yang halal dimakan dan ia mati karenanya, maka halal memakannya dalam semua keadaan ini.” Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa dalam semua keadaan ini, hewan tersebut tidak boleh dimakan.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ إِنْ ظَنَّهُ غَيْرَ حَيَوَانٍ مِنْ شَجَرٍ أَوْ حَجَرٍ فَبَانَ صَيْدًا لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ ظَنَّهُ حَيَوَانًا غَيْرَ مأكولٍ فَبَانَ مَأْكُولًا حَلَّ أَكْلُهُ وَعِلَّةُ إِبَاحَتِهِ عِنْدَنَا مُخْتَلَفٌ فِيهَا بَيْنَ أَصْحَابِنَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Muhammad bin al-Hasan berkata: Jika ia mengira sesuatu itu bukan hewan, melainkan pohon atau batu, lalu ternyata itu adalah buruan, maka tidak halal memakannya. Namun jika ia mengira itu adalah hewan yang tidak boleh dimakan, lalu ternyata itu adalah hewan yang boleh dimakan, maka halal memakannya. Adapun alasan kebolehannya menurut kami, para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْعِلَّةَ فِي إِبَاحَتِهِ قَصْدُهُ لِلْفِعْلِ فَكَانَ مَا حَدَثَ مِنْ فِعْلِهِ الْمَقْصُودِ مُبَاحًا كَمَا لَوْ قَصَدَ ذَبْحَ شَاةٍ فَذَبَحَهَا وَهُوَ يَحْسَبُهَا غَيْرَهَا حَلَّ أَكْلُهَا كَمَا لَوْ قَبَضَ عَلَى شيءٍ يَحْسَبُهُ خَشَبَةً لَيِّنَةً فَقَطَعَهَا فَبَانَ أَنَّهُ حَلْقُ شَاةٍ قَدْ ذَبَحَهَا حَلَّ أَكْلُهَا

Salah satu pendapat adalah bahwa sebab dibolehkannya (perbuatan tersebut) adalah karena ia memang bermaksud melakukan perbuatan itu, sehingga apa yang terjadi dari perbuatan yang disengaja itu menjadi mubah, seperti seseorang yang bermaksud menyembelih seekor kambing, lalu ia menyembelihnya sementara ia mengira itu kambing yang lain, maka halal memakannya. Atau seperti seseorang yang memegang sesuatu yang ia kira kayu lunak lalu ia memotongnya, ternyata itu adalah leher kambing yang telah ia sembelih, maka halal memakannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ تَعْلِيلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّ الْعِلَّةَ فِي إِبَاحَتِهِ مُبَاشَرَتُهُ لِلْفِعْلِ دُونَ الْقَصْدِ لِأَنَّ ذَكَاةَ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ مُبَاحَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمَا قصدٌ فَكَانَ التَّعْلِيلُ بِالْمُبَاشِرَةِ أَوْلَى مِنَ التعليل بالقصد ولا يعتبر بنية الزكاة عَلَى التَّعْلِيلَيْنِ جَمِيعًا أَلَا تَرَاهُ لَوْ أَشَارَ بِالسِّكِّينِ إِلَى حَلْقِ شَاةٍ لِيَعْبَثَ بِهَا وَلَا يَذْبَحَهَا فَانْذَبَحَتْ بِهَا حَلَّ أَكْلُهَا وَإِنْ لَمْ يُنَوِّهِ وَتَأْثِيرُ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي هَذَا التَّعْلِيلِ يَتَحَقَّقُ فِيمَنْ رَمَى إِلَى الْهَوَاءِ فَسَقَطَ فِي عُلُوِّهِ عَلَى صَيْدٍ فقتله ففي إِبَاحَتِهِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua adalah penjelasan dari Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa sebab diperbolehkannya (sembelihan) adalah karena pelaku secara langsung melakukan perbuatan tersebut, bukan karena adanya niat. Sebab, sembelihan anak kecil dan orang gila itu halal, meskipun keduanya tidak memiliki niat. Maka, penjelasan dengan dasar tindakan langsung lebih utama daripada penjelasan dengan dasar niat. Niat untuk menyembelih tidak dianggap pada kedua alasan tersebut. Bukankah engkau melihat, jika seseorang mengarahkan pisau ke leher kambing hanya untuk bermain-main dengannya dan tidak bermaksud menyembelih, lalu kambing itu terbunuh karenanya, maka dagingnya halal dimakan meskipun tidak diniatkan? Pengaruh perbedaan dua pendapat dalam penjelasan ini juga tampak pada kasus seseorang yang melempar ke udara, lalu anak panahnya jatuh dari ketinggian dan mengenai hewan buruan hingga mati; dalam kehalalannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا غَيْرُ مُبَاحٍ إِذَا عُلِّلَ بِقَصْدِ الْفِعْلِ

Salah satunya tidak diperbolehkan jika disandarkan pada maksud melakukan perbuatan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي مُبَاحٌ إِذَا عُلِّلَ بِمُبَاشَرَةِ الْفِعْلِ وَهَكَذَا لَوْ كَانَتْ بِيَدِهِ سِكِّينٌ فَسَقَطَتْ عَلَى حَلْقِ شَاةٍ أَوْ طَائِرٍ فَذَبَحَتْهُ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ عَنْ فِعْلٍ غَيْرِ مقصودٍ وَحَلَّ أَكْلُهُ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي لِأَنَّهُ عَنْ مُبَاشَرَةِ فِعْلِهِ

Pendapat kedua membolehkan jika alasan yang digunakan adalah karena adanya keterlibatan langsung dalam perbuatan. Demikian pula, jika seseorang memegang pisau lalu pisau itu terjatuh mengenai leher kambing atau burung sehingga menyembelihnya, maka menurut pendapat pertama, dagingnya tidak halal dimakan karena perbuatan itu tidak disengaja. Namun menurut pendapat kedua, dagingnya halal dimakan karena ada keterlibatan langsung dalam perbuatannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا أَرْسَلَ كَلْبَهُ عَلَى شَخْصٍ يَحْسَبُهُ غَيْرَ صَيْدٍ فَبَانَ صَيْدًا مَأْكُولًا تَمَيَّزَ حينئذٍ حَالُ الشَّخْصِ فِي إِرْسَالِ الْكَلْبِ وَإِنْ لَمْ يَتَمَيَّزْ فِي إِرْسَالِ السَّهْمِ فَإِنْ كَانَ الشَّخْصُ حَيَوَانًا ظَنَّهُ إِنْسَانٌ أَسَدًا أَوْ خنزيراًَ فَأَرْسَلَ كَلْبَهُ عَلَيْهِ فَبَانَ صَيْدًا مَأْكُولًا حلَّ لِأَنَّ الْكَلْبَ يُشْلَى عَلَى كُلِّ الْحَيَوَانِ فَيَسْتَشْلِي فَاسْتَوَى فِي اسْتِرْسَالِهِ حَال الْمَأْكُولِ وَغَيْرِ الْمَأْكُولِ وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ وَإِنْ ظَنَّ الْمُرْسِلُ أَنَّ الشَّخْصَ شَجَرَةٌ أَوْ حَجَرٌ فَأَرْسَلَ عَلَيْهِ كَلْبَهُ فَبَانَ صَيْدًا فَقَتَلَهُ فَفِي إِبَاحَتِهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا مُبَاحٌ كَمَا لَوْ أَرْسَلَ سَهْمَهُ عَلَيْهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي مَحْظُورٌ لِأَمْرَيْنِ هُمَا تَعْلِيلٌ وَفَرْقٌ أَحَدُهُمَا إِنَّ إِرْسَالَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَيَوَانِ عَبَثٌ فَصَارَ كَالْمُسْتَرْسِلِ بِنَفْسِهِ وَالثَّانِي إِنَّ تَصَرُّفَ الْكَلْبِ بِاخْتِيَارِهِ وَنُفُوذَ السَّهْمِ بِاخْتِيَارِ مُرْسِلِهِ

Adapun jika seseorang melepaskan anjingnya kepada suatu sosok yang ia kira bukan hewan buruan, lalu ternyata sosok itu adalah hewan buruan yang halal dimakan, maka pada saat itu keadaan sosok tersebut dalam pelepasan anjing menjadi jelas, meskipun tidak menjadi jelas dalam pelepasan anak panah. Jika sosok itu adalah hewan yang disangka oleh orang tersebut sebagai manusia, singa, atau babi, lalu ia melepaskan anjingnya kepadanya, kemudian ternyata hewan itu adalah buruan yang halal dimakan, maka hukumnya halal, karena anjing dapat dilepaskan kepada semua hewan sehingga ia akan memburunya; maka sama saja dalam pelepasan anjing, baik terhadap hewan yang halal dimakan maupun yang tidak, meskipun keduanya berbeda dalam kebolehan dimakan. Namun, jika orang yang melepaskan anjing mengira bahwa sosok itu adalah pohon atau batu, lalu ia melepaskan anjingnya kepadanya, kemudian ternyata itu adalah hewan buruan dan anjing itu membunuhnya, maka dalam kehalalannya terdapat dua pendapat: salah satunya halal, sebagaimana jika ia melepaskan anak panahnya kepadanya; dan pendapat kedua haram karena dua alasan, yaitu: pertama, karena melepaskan anjing kepada selain hewan adalah perbuatan sia-sia sehingga seperti orang yang membiarkan anjingnya pergi sendiri; kedua, karena tindakan anjing dilakukan atas pilihannya sendiri, sedangkan melesatnya anak panah terjadi atas pilihan orang yang melepaskannya.

فَأَمَّا إِذَا أَرْسَلَ سَهْمَهُ أَوْ كَلْبَهُ عَلَى غَيْرِ شَخْصٍ يَرَاهُ فَصَادَفَ صَيْدًا قَتَلَهُ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ إِنْ كَانَ بِإِرْسَالِ كَلْبٍ لَمْ يُؤْكَلْ وَإِنْ كَانَ بِإِرْسَالِ سَهْمٍ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ وَهُوَ عَكْسُ مَسْأَلَتِنَا فِي الشَّخْصِ الْمَرْئِيِّ لِأَنَّهُ فِي الشَّخْصِ يُؤْكَلُ مَا أَصَابَهُ سَهْمُهُ وَفِي أَكْلِ مَا أَصَابَهُ كَلْبُهُ وَجْهَانِ وَفِي غَيْرِ الشَّخْصِ الْمَرْئِيِّ لَا يُؤْكَلُ مَا أَصَابَهُ كَلْبُهُ وَفِي أَكْلِ مَا أَصَابَهُ سَهْمُهُ وَجْهَانِ

Adapun jika seseorang melepaskan anak panahnya atau anjingnya bukan kepada suatu objek yang ia lihat, lalu ternyata mengenai hewan buruan dan membunuhnya, maka telah kami sebutkan bahwa jika ia melepaskan dengan anjing, daging buruan itu tidak boleh dimakan. Namun jika ia melepaskan dengan anak panah, maka ada dua pendapat mengenai kebolehan memakannya. Ini adalah kebalikan dari permasalahan pada objek yang terlihat, karena pada objek yang terlihat, boleh memakan apa yang terkena anak panahnya, sedangkan untuk apa yang terkena anjingnya ada dua pendapat. Adapun pada objek yang tidak terlihat, tidak boleh memakan apa yang terkena anjingnya, dan untuk apa yang terkena anak panahnya ada dua pendapat.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَمَنْ أَحْرَزَ صَيْدًا فَأَفْلَتَ مِنْهُ فَصَادَهُ غَيْرُهُ فَهُوَ لِلْأَوَّلِ

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Barang siapa yang telah mengamankan hewan buruan, lalu hewan itu lepas darinya kemudian diburu oleh orang lain, maka hewan buruan itu menjadi milik orang yang pertama.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا مَلَكَ صَيْدًا بِالِاصْطِيَادِ أَوْ بِابْتِيَاعٍ وَأَفْلَتَ مِنْهُ لَمْ يَزِدْ مِلْكُهُ عَنْهُ سَوَاءٌ طَالَ مُكْثُهُ عَنْهُ أَوْ قَصُرَ وَسَوَاءٌ بَعُدَ عَنْهُ فِي الْبَرِّ أَوْ قَرُبَ مِنَ الْمِصْرِ وَسَوَاءٌ كَانَ مِنَ الطَّيْرِ أَوِ الدَّوَابِّ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana ia katakan, jika seseorang memiliki hewan buruan dengan cara berburu atau membeli, lalu hewan itu lepas darinya, maka kepemilikannya atas hewan tersebut tidak bertambah, baik hewan itu lama atau sebentar berada jauh darinya, baik hewan itu menjauh darinya di daratan atau mendekat ke kota, dan baik hewan itu dari jenis burung maupun binatang darat.

وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

Dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah.

وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ بَعُدَ فِي الْبَرِّ مَعَ قُرْبِ الْمُكْثِ زَالَ مِلْكُهُ عَنْهُ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الْإِمْسَاكَ سَبَبُ الْمِلْكِ فَإِذَا زَالَ بِالِانْفِلَاتِ زَالَ بِهِ الْمِلْكُ كَمَا لَوْ مَلَكَ مَاءً بِاسْتِقَائِهِ مِنْ نَهْرٍ فَانْصَبَّ مِنْهُ فِي النَّهْرِ زَالَ مِلْكُهُ عَنْهُ وَلِأَنَّهُ لَوْ بَقِيَ عَلَى مِلْكِهِ بَعْدَ انْفِلَاتِهِ تَحَرَّمَ صَيْدُ الْبَرِّ لِجَوَازِ اخْتِلَاطِهِ بِمُنْفَلِتٍ فَحَرُمَ وَفِي إِجْمَاعِهِمْ عَلَى إِبَاحَةِ صَيْدِهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُنْفَلِتَ عَائِدٌ فِي الْإِبَاحَةِ إِلَى أَصْلِهِ

Malik berkata: Jika hewan buruan itu pergi jauh di daratan, meskipun waktu tinggalnya dekat, maka kepemilikannya atas hewan itu hilang. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa penahanan (memegang) adalah sebab kepemilikan; maka jika penahanan itu hilang karena hewan itu lepas, hilang pula kepemilikannya, sebagaimana seseorang memiliki air karena mengambilnya dari sungai, lalu air itu kembali mengalir ke sungai, maka kepemilikannya atas air itu hilang. Dan karena jika seseorang tetap memiliki hewan buruan setelah hewan itu lepas, maka perburuan di daratan menjadi haram, karena dimungkinkan bercampur dengan hewan buruan yang telah lepas, sehingga menjadi haram. Dan dalam ijmā‘ mereka atas kebolehan berburu hewan tersebut terdapat dalil bahwa hewan yang lepas kembali kepada hukum asal kebolehannya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّهُ يَمْلِكُ الصَّيْدَ بِالِابْتِيَاعِ كَمَا يَمْلِكُهُ بِالِاصْطِيَادِ فَلَمَّا لَمْ يَزَلْ بِهِ الْمِلْكِ عَمَّا ابْتَاعَهُ بِالِانْفِلَاتِ لَمْ يَزَلْ بِهِ الْمِلْكُ عَمَّا صَادَهُ وَلِأَنَّهُ يَمْلِكُ عَبْدَهُ بِالسَّبْيِ وَلَا يَزُولُ مِلْكُهُ عَنْهُ بِالرُّجُوعِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ كَذَلِكَ الصَّيْدُ إِذَا مَلَكَهُ الِاصْطِيَادُ لم يزد مِلْكُهُ عَنْهُ بِالِانْفِلَاتِ وَلِأَنَّهُ لَوْ وَسَمَ الصَّيْدَ قَبْلَ انْفِلَاتِهِ لَمْ يَزُلْ مِلْكُهُ عَنْهُ بَعْدَ وَسْمِهِ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَزُولَ بِهِ قَبْلَ وَسْمِهِ لِأَنَّ الْوَسْمَ لَمَّا لَمْ يُؤَثِّرْ فِي ثُبُوتِ الْمِلْكِ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي زَوَالِهِ

Dalil kami adalah bahwa seseorang memiliki hak atas hewan buruan melalui pembelian sebagaimana ia memilikinya melalui perburuan. Maka, ketika kepemilikan atas hewan buruan yang dibeli tidak hilang karena hewan itu lepas, demikian pula kepemilikan atas hewan buruan yang didapat melalui perburuan tidak hilang karena hewan itu lepas. Selain itu, seseorang memiliki budaknya melalui penawanan dan kepemilikannya tidak hilang karena budak itu kembali ke negeri musuh; demikian pula hewan buruan, jika telah dimiliki melalui perburuan, maka kepemilikannya tidak hilang karena hewan itu lepas. Dan jika seseorang telah memberi tanda pada hewan buruan sebelum hewan itu lepas, maka kepemilikannya tidak hilang setelah diberi tanda. Maka, seharusnya kepemilikan itu juga tidak hilang sebelum diberi tanda, karena pemberian tanda tidak berpengaruh dalam menetapkan kepemilikan, maka ia juga tidak berpengaruh dalam menghilangkannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِأَنَّ زَوَالَ سَبَبِ الْمِلْكِ مُوجِبٌ لِزَوَالِ الْمِلْكِ كَالْمَاءِ إِذَا عَادَ إِلَى النَّهْرِ فَهُوَ بُطْلَانُهُ بِالْعَبْدِ الْمَسْبِيِّ إِذَا عَادَ آبِقًا إِلَى دَارِ الْحَرْبِ زَالَ سَبَبُ مِلْكِهِ وَلَمْ نُوجِبْ زَوَالَ مِلْكِهِ كَذَلِكَ الصَّيْدُ

Adapun jawaban terhadap dalilnya bahwa hilangnya sebab kepemilikan mengharuskan hilangnya kepemilikan, seperti air yang kembali ke sungai, maka dalil itu batal dengan contoh budak tawanan perang yang jika kembali melarikan diri ke negeri musuh, sebab kepemilikannya telah hilang namun kita tidak mewajibkan hilangnya kepemilikan atasnya, demikian pula halnya dengan hewan buruan.

فَأَمَّا الْمَاءُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حُكْمِهِ إِذَا عَادَ إِلَى النَّهْرِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا إِنَّهُ عَلَى مِلْكِهِ وَإِنَّمَا اخْتَلَطَ بِمَا لَمْ يَتَمَيَّزْ عَنْهُ فَصَارَ مُسْتَهْلِكًا وَالثَّانِي إِنَّ مِلْكَهُ قَدْ زَالَ بِمِثْلِهِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ فَخَالَفَ حُكْمَ الصَّيْدِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ

Adapun air, para sahabat kami berbeda pendapat mengenai hukumnya apabila kembali ke sungai, dengan dua pendapat. Pertama, bahwa air itu tetap menjadi miliknya, hanya saja bercampur dengan air lain yang tidak dapat dibedakan darinya sehingga menjadi mustahlik. Kedua, bahwa kepemilikannya telah hilang karena air tersebut telah bercampur dengan air sejenis yang dapat dikuasai, sehingga hukumnya berbeda dengan hewan buruan yang tidak dapat dikuasai.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِأَنَّ صَيْدَ الْبَرِّ عَلَى الْإِبَاحَةِ بَعْدَ انْفِلَاتِهِ فَهُوَ أَنَّ اخْتِلَاطَ الْحَلَالِ بِالْحَرَامِ إِذَا لَمْ يُمْكِنِ الِاحْتِرَازُ مِنْهُ يُوجِبُ تَغْلِيبًا الْإِبَاحَةَ عَلَى التَّحْرِيمِ أَلَا تَرَى أَنَّ مَاءَ النَّهْرِ إِذَا أُرِيقَ فِيهِ خمرٌ أَوْ بولٌ لَمْ يَحْرُمْ لِتَعَذُّرِ الِاحْتِرَازِ مِنْهُ وَلَوِ اخْتَلَطَتْ أُخْتُهُ بِنِسَاءِ بلدٍ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ أَنْ يَتَزَوَّجَ مِنْهُنَّ مَنْ شَاءَ وَلَوِ اخْتَلَطَتْ بِعَدَدٍ مِنْ نِسَاءِ بَلَدٍ حَرُمْنَ كُلُّهُنَّ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى الِاحْتِرَازِ مِنْهَا فِي نِسَاءِ الْبَلَدِ وَيَقْدِرُ عَلَى الِاحْتِرَازِ مِنْهَا فِي الْعَدَدِ الْمَحْصُورِ مِنْ نِسَاءِ الْبَلَدِ كَذَلِكَ حُكْمُ الصَّيْدِ الْمُنْفَلِتِ إِذَا اخْتَلَطَتْ بِصَيْدِ الْبَرِّ لَمْ يُمْكِنِ الِاحْتِرَازُ فَحَلَّ وَإِذَا اخْتَلَطَ بِعَدَدٍ مَحْصُورٍ مِنْ عِدَّةِ صَيُودٍ حرم

Adapun jawaban atas dalilnya bahwa buruan darat menjadi boleh setelah terlepas adalah bahwa percampuran antara yang halal dan yang haram, apabila tidak mungkin dihindari, maka secara dominan menyebabkan kebolehan lebih diutamakan daripada keharaman. Tidakkah engkau melihat bahwa air sungai, jika tercampur khamar atau air kencing, tidak menjadi haram karena sulit menghindarinya? Dan jika saudara perempuannya bercampur dengan para wanita suatu negeri, tidaklah haram baginya untuk menikahi siapa saja dari mereka yang ia kehendaki. Namun jika bercampur dengan sejumlah wanita tertentu dari negeri itu, maka seluruhnya menjadi haram baginya, karena ia tidak mampu menghindari dari mereka di antara wanita negeri itu, sedangkan ia mampu menghindari dari mereka pada jumlah wanita yang terbatas dari negeri itu. Demikian pula hukum buruan yang terlepas, apabila bercampur dengan buruan darat dan tidak mungkin dihindari, maka menjadi halal. Namun jika bercampur dengan sejumlah buruan yang terbatas, maka seluruhnya menjadi haram.

فصل

Bab

فأما مالك الصيد إذا قتله بِاخْتِيَارِهِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Adapun pemilik hewan buruan, jika ia membunuhnya dengan pilihannya sendiri, maka hal itu terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَقْصِدَ بِإِرْسَالِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِهِ هَذَا مُوجِبٌ لِزَوَالِ الْمَالِكِ عَنْهُ كَالْعِتْقِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَحِلُّ صَيْدُهُ بَعْدَ امْتِنَاعِهِ إِذَا عُرِفَ عَلَى وجهين

Salah satunya adalah bahwa ia bermaksud dengan melepas hewan buruan tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala; hal ini menyebabkan hilangnya kepemilikan atas hewan itu, seperti halnya pembebasan budak. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah daging buruan itu menjadi halal setelah hewan tersebut tidak dapat ditangkap lagi jika hewan itu telah dikenal, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ كَثِيرٍ مِنَ الْبَصْرِيِّينَ إِنَّهُ لَا يَحِلُّ صَيْدٌ كَالْمُعْتِقِ لَا يَجُوزُ اسْتِرْقَاقُهُ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat banyak ulama Basrah, menyatakan bahwa tidak halal perburuan seperti orang yang memerdekakan budak, tidak boleh diperbudak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عليٍّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَحِلُّ صَيْدُهُ لِأَنَّ زَوَالَ الْمِلْكِ يُوجِبُ عَوْدَهُ إِلَى حُكْمِ الْإِبَاحَةِ وَلِيَخْرُجَ عَنْ حُكْمِ السَّائِبَةِ الْمُحَرَّمَةِ

Pendapat kedua adalah pendapat Abu Ali bin Abi Hurairah, yaitu bahwa buruan tersebut halal, karena hilangnya kepemilikan menyebabkan kembalinya buruan itu kepada hukum kebolehan, dan agar keluar dari hukum as-saibah yang diharamkan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ لَا يَقْصِدَ بِإِرْسَالِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي زَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهُ بِالْإِرْسَالِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jenis yang kedua adalah apabila seseorang tidak bermaksud mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dengan melepas (hewan tersebut), maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai hilangnya kepemilikan atas hewan itu karena pelepasan tersebut, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَزُولُ كَمَا يَزُولُ لَوْ أَرْسَلَهُ مُتَقَرِّبًا بِهِ

Salah satunya hilang sebagaimana ia akan hilang jika ia melepaskannya dengan maksud mendekatkan diri (kepada Allah) dengannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَزُولُ مِلْكُهُ كَمَا لَوْ أَرْسَلَ بَعِيرَهُ أَوْ فَرَسَهُ

Pendapat kedua menyatakan bahwa kepemilikannya tidak hilang, sebagaimana jika seseorang melepaskan unta atau kudanya.

فَإِنْ قِيلَ بِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ حَرُمَ صَيْدُهُ إِذَا عُرِفَ وَإِنْ قِيلَ بِزَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهُ حَلَّ صَيْدُهُ وَإِنْ عُرِفَ بِخِلَافِ مَا تَقَرَّبَ بِهِ عَلَى أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ لِأَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى فِي الْقُرْبَةِ حَقًّا لَيْسَ فِي غَيْرِهِ

Jika dikatakan bahwa kepemilikannya tetap, maka haram memburu hewan tersebut jika diketahui; dan jika dikatakan bahwa kepemilikannya telah hilang darinya, maka halal memburunya meskipun diketahui, berbeda dengan apa yang digunakan untuk bertaqarrub menurut salah satu pendapat, karena dalam ibadah taqarrub kepada Allah Ta‘ala terdapat hak yang tidak ada pada selainnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَكُلُّ مَا أَصَابَهُ حلالٌ فِي غَيْرِ حرمٍ مِمَّا يَكُونَ بِمَكَّةَ مِنْ حَمَامِهَا وَغَيْرِهِ فَلَا بَأْسَ إِنَّمَا نَمْنَعُ بِحَرَمَهِ بِغَيْرِهِ مِنْ حرمٍ أَوْ إحرامٍ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Segala sesuatu yang mengenainya adalah halal di luar wilayah haram, baik itu burung merpati Makkah maupun selainnya, maka tidak mengapa. Sesungguhnya yang kami larang hanyalah di wilayah haram, bukan di luar wilayah haram atau karena ihram.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الصَّيْدُ فِي الْحَرَمِ فَحَرَامٌ كَتَحْرِيمِهِ فِي الْإِحْرَامِ سَوَاءٌ كَانَ مَنْشَؤُهُ فِي الْحِلِّ أَوْ فِي الْحَرَمِ فَإِنْ خَرَجَ الصَّيْدُ مِنَ الْحَرَمِ إِلَى الْحِلِّ حَلَّ صَيْدُهُ سَوَاءٌ كَانَ مَنْشَؤُهُ فِي الْحَرَمِ أَوْ فِي الْحِلِّ فَيَكُونُ تَحْرِيمُ الصَّيْدِ مُعْتَبَرًا بِمَكَانِهِ فِي حَالِ صَيْدِهِ لَا بِمَنْشَئِهِ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ مَالِكٌ إِذَا كَانَ مَنْشَأُ الصَّيْدِ فِي الْحَرَمِ قَتَلَهُ وَضَمِنَ بِالْجَزَاءِ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ اعْتِبَارًا بِالْمَنْشَأِ وَاسْتِدْلَالًا بِأَنَّ اسْتِقْرَارَ الْحُرْمَةِ بِهِ تَمْنَعُ مِنِ اسْتِبَاحَتِهِ كَمَا تَمْنَعُ مِنِ اسْتِبَاحَةِ شَجَرِ الْحَرَمِ وَأَحْجَارِهِ بَعْدَ إِخْرَاجِهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun berburu di tanah haram, hukumnya haram sebagaimana keharamannya ketika sedang ihram, baik asal hewan buruan itu dari luar haram maupun dari dalam haram. Jika hewan buruan keluar dari tanah haram ke luar haram, maka berburu hewan itu menjadi halal, baik asalnya dari dalam haram maupun dari luar haram. Maka, keharaman berburu itu dilihat dari tempatnya saat diburu, bukan dari asalnya. Inilah pendapat Abu Hanifah. Malik berkata: Jika asal hewan buruan dari tanah haram, lalu dibunuh, maka ia wajib membayar denda baik di luar haram maupun di dalam haram, berdasarkan asalnya. Ia berdalil bahwa tetapnya status keharaman pada hewan itu mencegah untuk memburunya, sebagaimana tetapnya keharaman pada pohon dan batu di tanah haram setelah dikeluarkan dari sana.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ تَحْرِيمَ الصَّيْدِ إِنَّمَا هُوَ لِحُرْمَةٍ فِي غَيْرِهِ مِنْ حَرَمٍ أَوْ إِحْرَامٍ فَلَمَّا زَالَتْ حُرْمَتُهُ بِالْإِحْلَالِ مِنَ الْإِحْرَامِ وَجَبَ زَوَالُ حُرْمَتِهِ بِالْخُرُوجِ مِنَ الْحَرَمِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا حَرُمَ صَيْدُ الْحِلِّ إِذَا دَخَلَ إِلَى الْحَرَمِ اعْتِبَارًا بِمَكَانِهِ وَجَبَ أَنْ يَحِلَّ صَيْدُ الْحَرَمِ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْحِلِّ اعْتِبَارًا بِمَكَانِهِ وَقَدِ اعْتَبَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ذَلِكَ فِي طَائِرٍ مَعَ صَبِيٍّ صَادَهُ مِنَ الْحِلِّ وَأَدْخَلَهُ الْحَرَمَ فَقَالَ لَهُ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ فَدَلَّ هَذَا الْخَبَرُ عَلَى أُمُورٍ

Dalil kami adalah bahwa pengharaman berburu itu sesungguhnya karena adanya kehormatan pada selainnya, yaitu karena tanah haram atau karena ihram. Maka ketika kehormatan itu hilang dengan tahallul dari ihram, wajib pula hilangnya kehormatan itu dengan keluar dari tanah haram. Dan karena ketika berburu di tanah halal menjadi haram jika masuk ke tanah haram karena mempertimbangkan tempatnya, maka wajib pula berburu di tanah haram menjadi halal jika keluar ke tanah halal karena mempertimbangkan tempatnya. Rasulullah saw. juga telah mempertimbangkan hal itu pada seekor burung bersama seorang anak kecil yang menangkapnya di tanah halal lalu membawanya ke tanah haram. Beliau bersabda kepadanya, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan burung kecil itu?” Maka hadis ini menunjukkan beberapa hal.

مِنْهَا إِنَّ مَا صِيدَ فِي الْحِلِّ جَازَ إِدْخَالُهُ إِلَى الْحَرَمِ اعْتِبَارًا بِمَكَانِهِ الَّذِي صِيدَ فِيهِ

Di antaranya adalah bahwa hewan buruan yang diburu di wilayah halal boleh dibawa masuk ke dalam wilayah haram, dengan mempertimbangkan tempat di mana hewan itu diburu.

وَمِنْهَا جَوَازُ لَعِبِ الصِّبْيَانِ بِذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ

Di antaranya adalah bolehnya anak-anak bermain dengan benda-benda yang memiliki ruh.

وَمِنْهَا جَوَازُ الْمَزْحِ مَعَ الصِّبْيَانِ

Di antaranya adalah bolehnya bercanda dengan anak-anak.

وَمِنْهَا جَوَازُ كُنْيَةِ مَنْ لَا وَلَدَ لَهُ يتكنى باسمه

Di antaranya adalah bolehnya seseorang yang tidak memiliki anak menggunakan kunyah dengan nama anak.

وَمِنْهَا جَوَازُ التَّصْغِيرِ فِي الْأَسْمَاءِ

Di antaranya adalah bolehnya melakukan tashghir pada nama-nama.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِ مَالِكٍ بِحِجَارَةِ الْحَرَمِ وَأَشْجَارِهِ فَهُوَ أَنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ الْحَرَمِ فَلَزِمَ رَدُّهَا إِلَيْهِ وَلَيْسَ الصَّيْدُ مِنَ الْحَرَمِ وَإِنَّمَا هُوَ فِيهِ فافترقا

Adapun jawaban atas argumentasi Malik dengan batu-batu dan pepohonan tanah haram adalah bahwa keduanya termasuk bagian dari tanah haram, sehingga wajib dikembalikan kepadanya. Sedangkan hewan buruan bukanlah bagian dari tanah haram, melainkan hanya berada di dalamnya, maka keduanya berbeda.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ تَحَوَّلَ مِنْ بُرْجٍ إِلَى برجٍ فَأَخَذَهُ كَانَ عَلَيْهِ رَدُّهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang berpindah dari satu menara ke menara lain, lalu mengambil sesuatu darinya, maka ia wajib mengembalikannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا ملك طائراً إنسياً فطار فَطَارَ مِنْ بُرْجِهِ إِلَى برجٍ غَيْرِهِ كَانَ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِهِ وَلَمْ يَمْلِكْهُ مَنْ طَارَ إِلَى بُرْجِهِ بِوِفَاقِ مَالِكٍ وَلَوْ صَادَ طَائِرًا وَحْشِيًّا فَطَارَ مِنْ بُرْجِهِ إِلَى بُرْجِ غَيْرِهِ كَانَ عِنْدَنَا بَاقِيًا عَلَى مِلْكِهِ سَوَاءٌ أَنِسَ بِبُرْجِهِ أَوْ لَمْ يَأْنَسْ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang memiliki burung jinak lalu burung itu terbang dari sangkarnya ke sangkar orang lain, maka burung itu tetap menjadi miliknya dan tidak menjadi milik orang yang sangkarnya didatangi burung tersebut, sesuai pendapat Malik. Dan jika seseorang menangkap burung liar lalu burung itu terbang dari sangkarnya ke sangkar orang lain, menurut kami burung itu tetap menjadi miliknya, baik burung itu sudah jinak dengan sangkarnya maupun belum.

وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ أَنِسَ بِبُرْجِهِ لِطُولِ الْمُكْثِ كَانَ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِهِ وَإِنْ لَمْ يَأْنَسْ بِطُولِ الْمُكْثِ صَارَ مِلْكًا لِمَنِ انْتَقَلَ إِلَى بُرْجِهِ فَإِنْ عَادَ إِلَى بُرْجِ الْأَوَّلِ عَادَ إِلَى مِلْكِهِ

Malik berkata, jika seekor burung merasa betah di sarangnya karena telah lama tinggal di sana, maka ia tetap menjadi milik pemiliknya. Namun, jika burung itu tidak merasa betah karena tidak lama tinggal, maka burung itu menjadi milik orang yang sarangnya didatangi burung tersebut. Jika burung itu kembali ke sarang yang pertama, maka ia kembali menjadi milik pemilik yang pertama.

وَدَلِيلُنَا عَلَيْهِ مَا قَدَّمْنَاهُ

Dan dalil kami atas hal itu adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya.

فَأَمَّا إِذَا سَقَطَ طَائِرٌ وَحْشِيٌّ عَلَى بُرْجِ رَجُلٍ لَمْ يَمْلِكْهُ بِسُقُوطِهِ عَلَيْهِ سَوَاءٌ أَلِفَهُ أَوْ لَمْ يَأْلَفْهُ حَتَّى يَصِيرَ تَحْتَ قُدْرَتِهِ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى امْتِنَاعِهِ مِنْهُ وَذَلِكَ بِأَنْ يُغْلِقَ عَلَيْهِ بَابًا أَوْ يُلْقِيَ عَلَيْهِ قَفَصًا فَيَصِيرَ مِلْكًا لَهُ كَمَا يَمْلِكُهُ إِذَا وَقَعَ فِي شَبَكَتِهِ لِقُدْرَتِهِ عَلَيْهِ فِي الْحَالَيْنِ فَإِنْ أَفْرَخَ هَذَا الطَّائِرُ فِي بُرْجِهِ كَانَ حُكْمُ فِرَاخِهِ كَحُكْمِهِ إِنْ مَلَكَهُ مَلَكَ فِرَاخَهُ وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْهُ لَمْ يَمْلِكْ فِرَاخَهُ وَكَذَلِكَ بَيْضُهُ وَإِنْ كَانَ أَحَقَّ بِأَخْذِهِمَا من غيره لملك الموضع فإن أخذه غير مَلَكَهُ الْآخِذُ لَهُ دُونَهُ وَإِنْ تَعَدَّى بِدُخُولِهِ إلى ملكه

Adapun jika seekor burung liar jatuh di menara seseorang, maka ia belum menjadi miliknya hanya karena jatuh di atasnya, baik burung itu sudah jinak maupun belum, sampai burung itu benar-benar berada dalam kekuasaannya sehingga tidak mampu lagi menghindar darinya. Hal itu dapat terjadi dengan cara menutup pintu terhadapnya atau meletakkan sangkar di atasnya, sehingga burung itu menjadi miliknya, sebagaimana ia memilikinya jika burung itu terperangkap dalam jaringnya, karena ia mampu menguasainya dalam kedua keadaan tersebut. Jika burung itu bertelur atau beranak di menaranya, maka hukum anak-anak burung itu sama dengan hukum induknya: jika ia telah memilikinya, maka ia juga memiliki anak-anaknya; dan jika ia belum memilikinya, maka ia juga belum memiliki anak-anaknya. Demikian pula dengan telurnya. Namun, ia lebih berhak untuk mengambil keduanya dibandingkan orang lain karena ia memiliki tempat tersebut. Jika orang lain mengambilnya, maka yang mengambil itulah yang memilikinya, bukan pemilik menara, meskipun orang itu telah melanggar dengan memasuki miliknya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ أَصَابَ ظَبْيًا مُقْرَطًا فَهُوَ لِغَيْرِهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang mengenai kijang yang telah diberi anting, maka kijang itu menjadi milik orang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا كَانَ عَلَى الصَّيْدِ أَثَرُ مِلْكٍ أَوْ يَدِ آدَمِيٍّ مِنْ قرطٍ أَوْ مَيْسِمٍ أَوْ خِضَابٍ أَوْ قِلَادَةٍ لَمْ يَمْلِكْهُ صَائِدُهُ لِخُرُوجِهِ عَنْ صِفَةِ الْخِلْقَةِ إِلَى آثَارِ الْمِلْكِ فَخَرَجَ بِهِ عَنْ حُكْمِ الإباحة إلى حكم الحظر وقد روي أو رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَرَّ بِظَبْيٍ وَاقِفٍ فِيهِ أَثَرٌ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَمَنَعَهُمْ وَقَالَ حَتَى يَجِيءَ صَاحِبُهُ وَإِذَا لَمْ يَمْلِكُهُ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ بَعْدَ صَيْدِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أحوالٍ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan: jika pada hewan buruan terdapat tanda kepemilikan atau bekas tangan manusia, seperti anting, cap, pewarna, atau kalung, maka pemburunya tidak memilikinya, karena hewan tersebut telah keluar dari sifat asal penciptaannya menuju tanda-tanda kepemilikan, sehingga statusnya pun berubah dari hukum kebolehan menjadi hukum larangan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati seekor kijang yang berdiri dan pada tubuhnya terdapat tanda, lalu para sahabat berniat untuk menangkapnya, namun beliau melarang mereka dan bersabda, ‘Tunggu sampai pemiliknya datang.’ Jika pemburu tidak memilikinya, maka setelah hewan itu diburu, keadaannya tidak lepas dari tiga kemungkinan.”

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ قَدْ صَارَ فِي يَدِهِ حَيًّا فَهُوَ فِي حُكْمِ اللقطة من ضوال الحيوان يعرفها ولا يضمها فَإِنْ أَرْسَلَ الصَّيْدَ مِنْ غَيْرِ تَعْرِيفٍ ضَمِنَهُ لِمَالِكِهِ

Salah satunya adalah jika hewan tersebut telah berada di tangannya dalam keadaan hidup, maka hukumnya seperti luqathah dari hewan yang tersesat, yaitu ia harus mengumumkannya dan tidak boleh memilikinya. Jika ia melepaskan hewan buruan itu tanpa mengumumkannya, maka ia wajib menggantinya kepada pemiliknya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ ثَابِتًا فِي شَبَكَتِهِ أَوْ شَرَكِهِ فَلَا يَلْزَمَهُ تَعْرِيفُهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ لَهُ عَلَيْهِ يَدٌ وَإِنْ حَلَّ الشَّبَكَةَ عَنْهُ فَاسْتَرْسَلَ وَامْتَنَعَ لَمْ يَضُمُّهُ لِأَنَّهُ وَإِنْ جَرَى عَلَى مَا فِي الشَّبَكَةِ حُكْمُ يَدِهِ مِنْ مِلْكِ الصَّيْدِ لَمْ يَجْرِ عَلَيْهَا حُكْمُ يَدِهِ مِنَ الضَّمَانِ وَالتَّعْرِيفِ لِأَنَّهُ لَمْ يَضَعْهَا لِهَذَا الْحُكْمِ وَإِنَّمَا وَضَعَهَا لِثُبُوتِ الْمِلْكِ

Keadaan kedua adalah apabila hewan tersebut tetap berada di dalam jaring atau perangkapnya, maka ia tidak wajib mengumumkannya (sebagai barang temuan), karena belum ada tangan yang menetap atasnya. Jika ia melepaskan jaring itu dari hewan tersebut lalu hewan itu pergi dan menolak untuk ditangkap, maka ia tidak menanggungnya. Sebab, meskipun atas apa yang ada di dalam jaring itu berlaku hukum kepemilikannya atas hasil buruan, namun tidak berlaku atasnya hukum tanggung jawab dan kewajiban pengumuman, karena ia tidak memasang jaring itu untuk tujuan tersebut, melainkan hanya untuk menetapkan kepemilikan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَمُوتَ هَذَا الصَّيْدُ بِاصْطِيَادِهِ فَلَا يَخْلُو حَالُ مَا مَاتَ بِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Keadaan yang ketiga adalah apabila hewan buruan itu mati karena diburu olehnya, maka keadaan sebab kematiannya tidak lepas dari tiga macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَمُوتَ فِي شَبَكَةٍ قَدْ وَضَعَهَا فَلَا يَضْمَنُهُ لِأَنَّ وَضْعَ الشَّبَكَةِ مُبَاحٌ فَلَمْ يَضْمَنْ مَا تَلِفَ بِهَا

Salah satunya adalah jika hewan itu mati di dalam jaring yang telah dipasang olehnya, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi, karena memasang jaring itu diperbolehkan, sehingga ia tidak menanggung kerusakan yang terjadi karenanya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَمُوتَ بِسَهْمٍ رَمَاهُ فَيَكُونَ ضَامِنًا له لأن تَلِفَ بِفِعْلِهِ وَإِنْ كَانَ مَغْرُورًا بِهِ لِأَنَّ الضمان لا يقسط إِلَّا بِالْأَعْذَارِ

Jenis yang kedua adalah apabila seseorang mati karena terkena panah yang dilemparkannya, maka ia wajib menanggung (diyat) atasnya karena kematian itu terjadi akibat perbuatannya, meskipun ia tertipu olehnya, karena kewajiban menanggung (diyat) tidak gugur kecuali dengan adanya uzur.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَمُوتَ بِإِرْسَالِ الْكَلْبِ عَلَيْهِ فَفِي ضَمَانِهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يُضْمَنُهُ كَمَا يُضْمَنُونَهُ بِسَهْمِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَضْمَنُهُ لِأَنَّ قَتْلَ الْكَلْبِ منسوبٌ إِلَى اخْتِيَارِهِ وَقَتْلَ السَّهْمِ مَنْسُوبٌ إِلَى رَامِيهِ

Jenis yang ketiga adalah jika hewan itu mati karena dilepaskan anjing pemburu kepadanya. Dalam hal jaminannya terdapat dua pendapat: salah satunya, ia wajib menanggungnya sebagaimana ia menanggungnya jika membunuh dengan panahnya; dan pendapat kedua, ia tidak wajib menanggungnya karena pembunuhan oleh anjing dikaitkan dengan pilihannya sendiri, sedangkan pembunuhan dengan panah dikaitkan dengan orang yang melemparkannya.

فَصْلٌ

Bab

وَهَكَذَا مَا أَخَذَهُ مِنْ أَحْجَارِ الْجِبَالِ وَخَشَبِ الْغِيَاضِ إِذَا وَجَدَ فِيهِ صَنْعَةَ آدميٍّ مِنْ نَقْرٍ أَوْ نَحْتٍ أَوْ تَرْبِيعٍ لَمْ يَمْلِكْهُ كَالصَّيْدِ فَأَمَّا إِذَا صَادَ سَمَكَةً وَجَدَ فِي جَوْفِهَا جَوْهَرَةً فَإِنْ كَانَ فِيهَا أَثَرُ صَنْعَةٍ مَلَكَ السَّمَكَةَ وَلَا يَمْلِكُ الْجَوْهَرَةَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا أَثَرُ صَنْعَةٍ نُظِرَ فَإِنْ صَادَهَا مِنْ بَحْرِ ذَلِكَ الْجَوْهَرِ أَوْ كَانَ فِيهَا غَيْرُهُ فَصَادَهَا مِنْ بَحْرِ بالْعَنْبَرِ وَالْعَنْبَرُ مَلِكُهَا وَلَمْ يَمْلِكِ الْجَوْهَرَةَ وَالْعَنْبَرَةَ وَكَذَلِكَ لَوْ وَجَدَ فِي جَوْفِهَا ذَهَبًا فَإِنْ كَانَ مَطْبُوعًا لَمْ يَمْلِكْهُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَطْبُوعٍ وَلَيْسَ فِيهِ أَثَرُ النَّارِ فَإِنْ كَانَتْ فِي بَحْرٍ هُوَ مِنْ مَعَادِنِ الذَّهَبِ مَلَكَهُ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْ مَعَادِنِهِ لم يملكه وكان لقطة

Demikian pula, apa yang diambilnya dari batu-batu gunung dan kayu-kayu hutan, jika ia mendapati pada benda tersebut ada hasil karya manusia seperti pahatan, ukiran, atau pembentukan persegi, maka ia tidak memilikinya seperti halnya hewan buruan. Adapun jika ia menangkap seekor ikan dan menemukan di dalam perutnya sebuah permata, maka jika pada permata itu terdapat bekas karya manusia, ia hanya memiliki ikannya dan tidak memiliki permatanya. Namun jika tidak ada bekas karya manusia pada permata itu, maka dilihat lagi: jika ia menangkap ikan itu dari laut tempat asal permata tersebut, atau di dalamnya terdapat benda lain seperti amber, dan amber itu adalah miliknya, maka ia tidak memiliki permata dan amber tersebut. Demikian pula jika ia menemukan emas di dalam perut ikan itu, jika emas tersebut sudah dicetak, maka ia tidak memilikinya; tetapi jika belum dicetak dan tidak ada bekas api padanya, maka jika ikan itu berasal dari laut yang merupakan tambang emas, ia memilikinya; namun jika bukan dari tambangnya, maka ia tidak memilikinya dan dianggap sebagai barang temuan (luqathah).

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ شَقَّ السَّبُعُ بَطْنَ شاةٍ فَوَصَلَ إِلَى مِعَاهَا مَا يُسْتَيْقَنُ أَنَّهَا لَمْ تُذَكَّ مَاتَتْ فَذُكِّيَتْ فَلَا بَأْسَ بِأَكْلِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ والذكاة جائزةٌ بالقرآن قال المزني رحمه الله وأعرف من قوله أنها لا تؤكل إذا بلغ بها ما لا بقاء لحياتها إلا حياة المذكى وهو قول المدنيين وهو عندي أقيس لأني وجدت الشاة تموت عن ذكاةٍ فتحل وعن عقرٍ فتحرم فلما وجدت الذي أوجب الذبح موتها وتحليلها لا يبدلها أكل السبع له ولا يرد بها كان ذلك في القياس إذا أوجب السبع موتها وتحريمها لم يبدلها الذبح لها ولا أعلم خلافاً أن سبعاً لو قطع ما يقطع المذكي من أسفل حلقها أو أعلاه ثم ذبحت من حيث لم يقطع السبع من حلقها أنها ميتةٌ ولو سبق الذابح ثم قطع السبع حيث لم يقطع الذابح من حلقها أنها ذكيةٌ وفي هذا على ما قلت دليلٌ وقد قال الشافعي ولو أَدْرَكَ الصَّيْدَ وَلَمْ يَبْلُغْ سِلَاحُهُ أَوْ مُعَلَّمُهُ ما يبلغ الذابح فَأَمْكَنَهُ أَنْ يَذْبَحَهُ فَلَمْ يَفْعَلْ فَلَا يَأَكُلْ قال المزني رحمه الله وفي هذا دليلٌ أنه لو بلغ ما يبلغ الذابح أكل قال المزني رحمه الله ودليلٌ آخر من قوله في كتاب الديات لو قطع حلقوم رجلٍ ومريئه أَوْ قَطَعَ حَشْوَتَهُ فَأَبَانَهَا مِنْ جَوْفِهِ أَوْ صيره في حال المذبوح ثم ضرب آخر عنقه فالأول قاتلٌ دون الآخر قال المزني رحمه الله فهذه أدلةٌ على ما وصفت من قوله الذي هو أصح في القياس من قوله الآخر بالله التوفيق

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seekor binatang buas membelah perut seekor kambing hingga sampai ke ususnya, yang diyakini bahwa kambing itu belum disembelih lalu mati, kemudian disembelih, maka tidak mengapa memakannya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla: ‘dan (diharamkan) yang mati karena ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang kalian sembelih’ (QS. Al-Ma’idah: 3). Penyembelihan itu sah menurut Al-Qur’an.” Al-Muzani rahimahullah berkata: “Saya memahami dari perkataannya bahwa kambing itu tidak boleh dimakan jika luka yang dialaminya telah mencapai batas di mana tidak ada lagi kehidupan kecuali kehidupan hewan yang disembelih, dan ini adalah pendapat ulama Madinah. Menurut saya, ini lebih sesuai dengan qiyās, karena saya mendapati kambing bisa mati karena disembelih sehingga halal, dan bisa mati karena dilukai (dihantam) sehingga haram. Maka ketika saya dapati bahwa sebab yang mewajibkan penyembelihan adalah kematiannya dan kehalalannya tidak berubah karena dimakan binatang buas, dan tidak kembali menjadi halal karenanya, maka demikian pula menurut qiyās, jika binatang buas menyebabkan kematiannya dan keharamannya, maka penyembelihan tidak mengubah statusnya. Saya juga tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika seekor binatang buas memotong bagian yang biasa dipotong saat penyembelihan, baik dari bawah maupun atas tenggorokannya, lalu kemudian disembelih dari bagian tenggorokan yang belum dipotong oleh binatang buas, maka hewan itu tetap dihukumi bangkai. Namun jika penyembelih lebih dahulu, lalu binatang buas memotong bagian tenggorokan yang belum dipotong oleh penyembelih, maka hewan itu dihukumi sebagai hewan yang sah disembelih. Dalam hal ini, sebagaimana yang saya katakan, terdapat dalil. Imam Syafi‘i juga berkata: ‘Jika seseorang mendapatkan hewan buruan, namun senjata atau hewan pemburunya tidak mengenai bagian yang biasa dipotong saat penyembelihan, lalu ia mampu menyembelihnya namun tidak melakukannya, maka ia tidak boleh memakannya.’ Al-Muzani rahimahullah berkata: ‘Dalam hal ini terdapat dalil bahwa jika mengenai bagian yang biasa dipotong saat penyembelihan, maka boleh dimakan.’ Al-Muzani rahimahullah juga berkata: ‘Dalil lain dari perkataannya dalam Kitab Diyat: Jika seseorang memotong kerongkongan dan saluran makanan seseorang, atau memotong isi perutnya lalu mengeluarkannya dari tubuhnya, atau menjadikannya dalam keadaan seperti hewan yang disembelih, kemudian orang lain memukul lehernya, maka yang pertama adalah pembunuh, bukan yang kedua.’ Al-Muzani rahimahullah berkata: ‘Ini semua adalah dalil atas apa yang saya sebutkan dari perkataannya, yang menurut qiyās lebih kuat daripada pendapatnya yang lain. Hanya kepada Allah-lah pertolongan.’

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ إِذَا افْتَرَسَ سبعٌ أَوْ ذِئْبٌ شَاةً أَوْ بَعِيرًا ثُمَّ أَقْلَعَ وَفِي الشَّاةِ حَيَاةٌ فَذُبِحَتْ لَمْ تَخْلُ حَيَاتُهَا من ثلاثة أحوالٍ

Al-Mawardi berkata, secara ringkas, apabila seekor binatang buas atau serigala memangsa seekor kambing atau unta, kemudian berhenti sementara pada kambing itu masih terdapat kehidupan, lalu kambing itu disembelih, maka keadaan hidupnya tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ جُرْحُ الِافْتِرَاسِ يَجُوزُ أَنْ يَبْرَأَ وَالْحَيَاةُ الَّتِي فِيهَا يَجُوزُ أَنْ تَبْقَى فَذَبَحَهَا عَلَى هَذِهِ الْحَالِ فَإِنَّ ذَكَاتَهُ تُبِيحُ أَكْلَهَا وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ

Salah satunya adalah jika luka akibat diterkam itu masih memungkinkan untuk sembuh dan kehidupan yang ada padanya masih mungkin bertahan, lalu hewan itu disembelih dalam keadaan seperti ini, maka penyembelihan tersebut menjadikan dagingnya halal untuk dimakan. Hal ini merupakan kesepakatan para ulama, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan apa yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian sembelih.”

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ الْجُرْحُ لَا يَجُوزُ أَنْ تَبْقَى كَقَطْعِ رَأْسِهَا أَوْ إِخْرَاجِ حَشَوْتِهَا وَلَمْ يَبْقَ فِيهَا إِلَّا حَرَكَةُ الْمَذْبُوحِ فَلَا يُؤَثِّرُ ذَبْحُهَا وَلَا يَحِلُّ أَكْلُهَا لِخُرُوجِ أَكْثَرِ الرُّوحِ بِجَرْحِ السَّبُعِ دُونَ الذَّبْحِ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Keadaan kedua adalah apabila luka tersebut tidak boleh dibiarkan, seperti memotong kepalanya atau mengeluarkan isi perutnya, dan yang tersisa padanya hanyalah gerakan hewan yang telah disembelih, maka penyembelihan tidak lagi berpengaruh dan tidak halal memakannya, karena sebagian besar ruh telah keluar akibat luka binatang buas, bukan karena penyembelihan, dan hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ جُرْحُ السَّبُعِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَبْرَأَ وَالْحَيَاةُ مَعَهُ قليلة البقاء مثل أن يقطع منها مالا يحيا معه كالمعا لَكِنَّ الرُّوحَ فِيهَا بَاقِيَةٌ تَعِيشُ بِهَا سَاعَةً أَوْ بَعْضَ يومٍ فَيَكُونُ ذَبْحُهَا عَلَى هَذِهِ الحال ذكاة يحل بها أكلها كالحالة الْأُولَى وَهَذَا مِمَّا لَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَإِنَّمَا أَشْكَلَ عَلَى الْمُزَنِيِّ فَجَمَعَ بَيْنَ الْحَالَتَيْنِ وَتَصَوَّرَ أَنَّ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ وَلَيْسَ كَمَا تَوَهَّمَ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila luka yang disebabkan oleh binatang buas tidak mungkin sembuh dan kehidupan hewan tersebut sangat sedikit harapannya untuk bertahan, seperti jika terpotong bagian tubuh yang tidak mungkin ia hidup tanpanya, namun ruh masih tetap ada sehingga ia masih bisa hidup selama satu jam atau sebagian hari. Maka, menyembelih hewan dalam keadaan seperti ini dianggap sebagai penyembelihan yang sah dan halal untuk dimakan, sebagaimana pada keadaan pertama. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i. Hanya saja, hal ini membingungkan al-Muzani sehingga ia menggabungkan kedua keadaan dan mengira bahwa hal itu berdasarkan dua pendapat, padahal tidaklah demikian, melainkan perbedaan itu berdasarkan dua keadaan yang berbeda.

وَقَدْ رَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ زَيْدِ بْنُ ثَابِتٍ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ شاةٍ أَخَذَهَا الذِّئْبُ فَأُدْرِكَتْ وَبِهَا حياةٌ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِأَكْلِهَا

Sulaiman bin Yasar meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seekor kambing yang diterkam serigala, lalu kambing itu masih sempat didapati dalam keadaan masih hidup. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memakannya.

وَقَدْ جُرِحَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جُرْحَيْنِ قَطَعَا مِعَاهُ فَسَقَاهُ الطَّبِيبُ لَبَنًا خَرَجَ مِنْهُ فَقَالَ لَهُ اعْهَدْ فَإِنَّكَ مَيْتٌ فَعَهِدَ وَوَصَّى وَأَمَرَ وَنَهَى فَأَجْرَى الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ حُكْمَ الْحَيَاةِ فِي جَمِيعِ مَا كَانَ مِنْ قَوْلِهِ وَفِعْلِهِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا انْتَهَى إِلَى حَالِهِ مِنَ الْحَيَوَانِ كَانَ فِي حُكْمِ الْحَيَاةِ وَإِبَاحَةِ الذَّكَاةِ فَلَوْ وَقَعَ الشَّكُّ فِي ذَبْحِ الشَّاةِ هَلْ كَانَ فِي حَالِ حَظْرِهَا أَوْ إِبَاحَتِهَا فَفِي صِحَّةِ ذَكَاتِهَا وَجْهَانِ

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengalami dua luka yang menembus tubuhnya, lalu seorang tabib memberinya susu untuk diminum, namun susu itu keluar dari lukanya. Maka tabib berkata kepadanya, “Buatlah wasiat, karena engkau akan meninggal.” Maka Umar pun membuat wasiat, berpesan, memerintahkan, dan melarang. Kaum Muslimin pun menetapkan hukum kehidupan atasnya dalam semua ucapan dan perbuatannya. Hal ini menunjukkan bahwa selama seseorang masih berada dalam keadaan hidup, maka berlaku hukum kehidupan dan kebolehan untuk melakukan penyembelihan (dzakāh). Jika terjadi keraguan dalam penyembelihan seekor kambing, apakah saat disembelih ia masih dalam keadaan yang membolehkan atau yang melarang, maka dalam keabsahan dzakāh-nya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَكُونُ ذَكِيَّةً تُؤْكَلُ لِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ الْحَيَاةِ فِيهَا إِلَى وَقْتِ الذَّبْحِ

Salah satunya adalah hewan tersebut dianggap masih hidup (dzakiyyah) sehingga boleh dimakan, karena pada dasarnya hukum asalnya adalah kehidupan masih tetap ada padanya hingga waktu penyembelihan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ لَا تُؤْكَلُ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي فَوَاتِ النَّفْسِ الْحَظْرُ حَتَّى يُعْلَمَ يَقِينُ الْإِبَاحَةِ

Pendapat kedua, sesungguhnya ia diharamkan dan tidak boleh dimakan, karena hukum asal dalam hilangnya jiwa adalah larangan, hingga diketahui secara yakin adanya kebolehan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَكُلُّ مَا كَانَ يَعِيشُ فِي الْمَاءِ مِنْ حوتٍ أَوْ غَيْرِهِ فَأَخَذَهُ مَكَانَهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Segala sesuatu yang hidup di air, baik berupa ikan maupun selainnya, lalu diambil di tempatnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْحَيَوَانَ يَتَنَوَّعُ ثَلَاثَةَ أَنْوَاعٍ بَرِّيٍّ وَبَحْرِيٍّ وَمَا جَمَعَ بَيْنَ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa hewan terbagi menjadi tiga jenis: hewan darat, hewan laut, dan hewan yang hidup di darat sekaligus di laut.

فَأَمَّا الْبَرِّيُّ فَالْمَأْكُولُ مِنْهُ لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ إِلَّا بِالذَّكَاةِ سِوَى الْجَرَادِ وَحْدَهُ فَإِنَّهُ يَحِلُّ أَكْلُهُ مَيْتًا سَوَاءٌ مَاتَ بِسَبَبٍ أَوْ غَيْرِ سَبَبٍ

Adapun hewan darat, maka yang boleh dimakan darinya tidak halal dimakan kecuali dengan penyembelihan (dzakāh), kecuali belalang saja, karena belalang halal dimakan dalam keadaan mati, baik ia mati karena suatu sebab maupun tanpa sebab.

رَوَى ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ الْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَالدَّمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Dua jenis bangkai itu adalah ikan dan belalang, dan dua jenis darah itu adalah hati dan limpa.”

وَأَمَّا الْبَحْرِيُّ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ مُبَاحٌ وَمَحْظُورٌ وَمُخْتَلَفٌ فِيهِ وَأَمَّا الْمُبَاحُ فَهُوَ السَّمْكُ عَلَى اخْتِلَافِ أَنْوَاعِهِ وَيَخْتَصُّ بِحُكْمَيْنِ

Adapun hewan laut terbagi menjadi tiga jenis: yang mubah, yang terlarang, dan yang diperselisihkan hukumnya. Adapun yang mubah adalah ikan dengan berbagai jenisnya, dan ia memiliki dua ketentuan hukum.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مُبَاحُ الْأَكْلِ وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى الذَّكَاةِ وَيَحِلُّ أَكْلُهُ مَيْتًا لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ حَيًّا عَلَى وَجْهَيْنِ

Pertama, bahwa ia boleh dimakan, dan kedua, bahwa ia tidak memerlukan penyembelihan (dzakāh) dan halal dimakan dalam keadaan mati, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laut: “Airnya suci dan bangkainya halal.” Para ulama kami berbeda pendapat mengenai kebolehan memakannya dalam keadaan hidup, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ حَيًّا حَتَّى يَمُوتَ لِوُرُودِ السُّنَّةِ بِإِحْلَالٍ بَعْدَ الْمَوْتِ لِأَنَّ مَوْتَهُ ذَكَاةٌ

Salah satunya tidak halal dimakan ketika masih hidup sampai ia mati, karena adanya sunnah yang membolehkan setelah kematiannya, sebab matinya itu merupakan penyembelihan (dzakāh).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحِلُّ أَنْ يُؤْكَلْ حَيًّا وَمَيْتًا لِأَنَّهُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى ذَكَاةٍ وَلَيْسَ لَهُ حَالُ تَحْرِيمٍ فَعَمَّتْ فِيهِ الْإِبَاحَةُ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا إِذَا صَادَ سَمَكَةً فَانْقَطَعَ بَعْضُهَا فِي يَدِهِ وَأَفْلَتَ بَاقِيهَا حَيًّا هَلْ يَحِلُّ أَكْلُ مَا انْقَطَعَ مِنْهَا عَلَى وَجْهَيْنِ ذَكَرَهُمَا ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa boleh memakan (ikan) baik dalam keadaan hidup maupun mati, karena tidak memerlukan penyembelihan (dzakāh) dan tidak ada keadaan di mana ia menjadi haram, sehingga kebolehan berlaku umum padanya. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat apabila seseorang menangkap seekor ikan lalu sebagian tubuhnya terputus di tangannya sementara sisanya lolos dalam keadaan hidup, apakah boleh memakan bagian yang terputus itu; ada dua pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hurairah.

أَحَدُهُمَا لَا يَحِلُّ لِقَوْلِ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ما أبين من حيٍّ فهد ميتٌ يعني محرماً لأنه مَوْتَهُ قَدْ عُلِمَ

Salah satunya tidak halal berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang dipisahkan dari hewan yang masih hidup maka ia adalah bangkai,” maksudnya haram karena kematiannya sudah diketahui.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَحِلُّ أَكْلُهُ لِأَنَّ صَيْدَ الْبَحْرِ لَا يَحْرُمُ بِالْمَوْتِ فَاسْتَوَى حُكْمُ مَا أُخِذَ مِنْ حيٍّ وَمَيْتٍ وَلَوْ وَجَدَ سَمَكَةً فِي جَوْفِ سَمَكَةٍ حَلَّ أَكْلُهُمَا مَعًا مَا لَمْ تَنْفَصِلِ الدَّاخِلَةُ فَإِنِ انْفَصَلَتْ حَتَّى تَقَطَّعَتْ وَتَغَيَّرَ لَوْنُ لَحْمِهَا فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَجْهَانِ

Pendapat kedua, bahwa memakannya halal karena hasil buruan laut tidak menjadi haram hanya karena mati, sehingga hukum apa yang diambil dari yang hidup maupun yang mati adalah sama. Jika seseorang menemukan seekor ikan di dalam perut ikan lain, maka keduanya halal dimakan bersama-sama selama ikan yang di dalam belum terpisah. Namun jika ikan yang di dalam itu terpisah hingga terpotong-potong dan warna dagingnya berubah, maka dalam kehalalan memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحِلُّ أَكْلُهَا كَمَا يَحِلُّ لَوْ تَقَطَّعَتْ بِغَيْرِ صَيْدِهَا وَتَغَيَّرَتْ

Salah satunya halal untuk dimakan, sebagaimana halal jika ia terpotong bukan karena diburu dan berubah (keadaannya).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْرُمُ أَكْلُهَا لِأَنَّهَا قَدْ صَارَتْ فِي حكم الرجيع والفيء وَهَكَذَا أَكْلُ مَا فِي بُطُونِ السَّمَكِ مِنْ غِذَائِهِ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan haram memakannya karena ia telah dianggap dalam hukum seperti kotoran dan muntahan. Demikian pula hukum memakan apa yang ada di dalam perut ikan dari makanannya, mengikuti dua pendapat ini.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الْحَرَامُ وهو الضِّفْدِعُ وَحَيَّاتُ الْمَاءِ وَعَقَارِبُهُ وَجَمِيعُ مَا فِيهِ من ذَوَاتِ السُّمُومِ الضَّارَّةِ وَمَا يُفْضِي إِلَى مَوْتٍ أَوْ سَقَمٍ فَلَا يَحِلُّ أَنْ يُؤْكَلَ بحالٍ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ قَتْلِ الضِّفْدِعِ وَقِيلَ إِنَّهُ حُرجَ عَلَى سَبَبٍ وَهُوَ أَنَّ طَبِيبًا وَصَفَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ دَوَاءً فِيهِ لَحْمُ الضِّفْدِعِ فَنَهَى عَنْ قَتْلِ الضِّفْدِعِ وَقِيلَ هُوَ سُمٌّ

Adapun yang haram adalah katak, ular air, kalajengking air, dan semua hewan air yang mengandung racun berbahaya, serta segala sesuatu yang dapat menyebabkan kematian atau penyakit, maka tidak halal untuk dimakan dalam keadaan apa pun. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang membunuh katak. Dikatakan bahwa larangan tersebut karena suatu sebab, yaitu ketika seorang tabib di hadapan Rasulullah ﷺ meresepkan obat yang mengandung daging katak, maka beliau melarang membunuh katak. Ada pula yang mengatakan bahwa katak itu beracun.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بَعْدَ اتفاقهم على تحريمه هي يَنْجُسُ بَعْدَ مَوْتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat setelah sepakat atas keharamannya, apakah ia menjadi najis setelah mati, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ طَاهِرٌ لَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ لِأَنَّ حَيَوَانَ الْمَاءِ مَوْتُهُ وَحَيَاتُهُ سَوَاءٌ

Salah satunya adalah bahwa ia suci dan tidak menjadi najis karena mati, karena hewan air, kematiannya dan kehidupannya sama saja.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ نَجِسٌ إِذَا مَاتَ لِأَنَّهُ لَمَّا شَابَهَ حَيَوَانَ الْبَرِّ فِي التَّحْرِيمِ شَابَهَهُ فِي التَّنْجِيسِ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَنْجُسُ بِهِ الْمَاءُ الْقَلِيلُ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا يَتَنَجَّسُ بِهِ كَمَا يَنْجُسُ بِسَائِرِ الْأَنْجَاسِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَنْجُسُ بِهِ لِلُحُوقِ الْمَشَقَّةِ فِي التَّحَرُّزِ فَصَارَ عَفْوًا كَدَمِ الْبَرَاغِيثِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia najis jika mati, karena ketika ia serupa dengan hewan darat dalam hal keharaman, maka ia juga serupa dengannya dalam hal kenajisan. Berdasarkan hal ini, apakah air yang sedikit menjadi najis karenanya atau tidak? Ada dua pendapat: salah satunya, air menjadi najis karenanya sebagaimana menjadi najis dengan najis-najis lainnya; pendapat kedua, air tidak menjadi najis karenanya karena adanya kesulitan dalam menghindarinya, sehingga dimaafkan seperti darah kutu.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَهُوَ مَا أَشْبَهَ حَيَوَانَ الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْمَاءِ مِنَ الْفَأْرِ وَالْكِلَابِ وَالْخَنَازِيرِ وَقِيلَ إِنَّهُ لَيْسَ فِي الْبَرِّ حَيَوَانٌ إِلَّا وَفِي الْبَحْرِ مِثْلُهُ فَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Adapun yang diperselisihkan hukumnya adalah hewan air yang menyerupai hewan darat, seperti tikus, anjing, dan babi. Ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada hewan di darat kecuali ada pula yang serupa di laut. Para fuqaha berbeda pendapat mengenai kebolehan memakannya menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ جَمِيعَهُ حلالٌ مأكولٌ يَسْتَوِي فِيهِ مَا أَشْبَهَ مُبَاحَاتِ الْبَرِّ وَمُحَرَّمَاتِهِ مِنْ كِلَابِهِ وَخَنَازِيرِهِ وَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِ السَّلَمِ يُؤْكَلُ فَأْرُ الْمَاءِ

Salah satunya adalah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i bahwa semuanya halal dan boleh dimakan, baik yang serupa dengan hewan-hewan yang mubah di darat maupun yang haram seperti anjing dan babinya. Dalam Kitab As-Salam, beliau berkata: tikus air boleh dimakan.

وَقَالَ الرَّبِيعُ سُئِلَ الشَّافِعِيُّ عَنْ خِنْزِيرِ الْمَاءِ فَقَالَ يُؤْكَلُ وَلَمَّا دَخَلَ الْعِرَاقَ سُئِلَ عَنِ اخْتِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى فِي أكل هذا وهذا حَرَّمَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَحَلَّهُ ابْنُ أَبِي لَيْلَى فَقَالَ أَنَا عَلَى رَأْيِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى يَعْنِي فِي إِبَاحَتِهِ وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ وَأَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ وَأَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Ar-Rabi‘ berkata: Imam Syafi‘i pernah ditanya tentang babi air, lalu beliau menjawab, “Boleh dimakan.” Ketika beliau masuk ke Irak, beliau ditanya tentang perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila dalam hal memakan hewan ini; Abu Hanifah mengharamkannya, sedangkan Ibnu Abi Laila membolehkannya. Maka Imam Syafi‘i berkata, “Aku mengikuti pendapat Ibnu Abi Laila,” yaitu dalam membolehkannya. Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah bin Abbas, Abu Ayyub Al-Anshari, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

وَفِي التَّابِعِينَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ

Dan di kalangan tabi’in adalah al-Hasan al-Bashri.

وَفِي الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى وَالْأَوْزَاعِيُّ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ حَكَى ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ أَنَّ أَكَّارًا لَهُ صَادَ لَهُ كَلْبَ مَاءٍ وَحَمَلَهُ إِلَيْهِ فَأَكَلَهُ وَكَانَ طَعْمُهُ مُوَافِقًا لِطَعْمِ الْحُوتِ لَا يُغَادِرُ مِنْهُ شَيْئًا

Di antara para ahli fiqh terdapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Auza’i, dan Al-Laits bin Sa’d, dan ini adalah pendapat jumhur dari kalangan sahabat Asy-Syafi’i. Ibnu Abi Hurairah meriwayatkan dari Abu ‘Ali bin Khairan bahwa seorang petani miliknya pernah menangkap anjing laut untuknya dan membawanya kepadanya, lalu ia memakannya, dan rasanya sesuai dengan rasa ikan, tidak ada bagian pun darinya yang tersisa.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ جَمِيعَهُ حَرَامٌ لَا يُؤْكَلُ وَلَا يَحِلُّ مِنْ حَيَوَانِ الْبَحْرِ إِلَّا السَّمَكُ خَاصَّةً وَبِهِ قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ

Mazhab kedua, yaitu pendapat Abu Hanifah, menyatakan bahwa seluruh hewan laut haram, tidak boleh dimakan, dan tidak halal kecuali ikan saja secara khusus. Pendapat ini juga diikuti oleh sebagian pengikut Syafi‘i.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي بَعْضِ كُتُبِهِ إِنَّهُ لَا يَحِلُّ مِنْ صَيْدِ الْبَحْرِ إِلَّا الْحُوتُ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِي اسْمِ الْحُوتِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْعَامَّةِ يَنْطَلِقُ عَلَى جَمِيعِ حَيَوَانِ الْبَحْرِ إِلَّا الضِّفْدِعَ وَمَا قَتَلَ أَكْلُهُ مِنْ ذَوَاتِ السُّمُومِ فَعَلَى هَذَا لَا يَخْتَلِفُ قَوْلُهُ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ

Imam Syafi‘i berkata dalam sebagian kitabnya bahwa tidak halal dari hasil buruan laut kecuali ikan. Maka para pengikutnya berbeda pendapat tentang makna kata “ikan”. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa itu adalah salah satu nama umum yang mencakup seluruh hewan laut, kecuali katak dan hewan yang memakanannya dapat menyebabkan kematian karena beracun. Berdasarkan pendapat ini, tidak ada perbedaan dalam pendapat beliau tentang kebolehan memakannya.

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِنَّ اسْمَ الْحُوتِ خَاصٌّ بِالسَّمَكِ دُونَ غَيْرِهِ فَعَلَى هَذَا جَعَلُوهُ قَوْلًا ثَانِيًا لِلشَّافِعِيِّ أَنَّ أَكْلَهُ حَرَامٌ كَقَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ

Dan sebagian lain dari para pengikutnya berkata bahwa nama al-hūt (ikan) itu khusus untuk ikan saja dan tidak mencakup selainnya. Berdasarkan hal ini, mereka menjadikannya sebagai pendapat kedua dari asy-Syafi‘i bahwa memakannya haram, sebagaimana pendapat Abu Hanifah.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِنَّ مَا أَشْبَهَ مُبَاحَاتِ الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْمَاءِ حَلَالٌ وَمَا أَشْبَهَ مُحَرَّمَاتِ الْبَرِّ مِنْ كِلَابِ الْمَاءِ وَخَنَازِيرِهِ حَرَامٌ جَمِيعًا بَيْنَ حَيَوَانِ الْبَرِّ وَحَيَوَانِ الْبَحْرِ

Mazhab ketiga, yaitu pendapat sebagian ulama Syafi‘i, menyatakan bahwa hewan air yang serupa dengan hewan darat yang halal, hukumnya halal; dan hewan air yang serupa dengan hewan darat yang haram, seperti anjing laut dan babi laut, hukumnya haram seluruhnya, baik pada hewan darat maupun hewan laut.

فَصْلٌ

Bab

وَاسْتَدَلَّ مَنْ أَخَذَ بِقَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ عَلَى تَحْرِيمِهِ بِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الخِنْزِيرِ

Orang yang mengikuti pendapat Abu Hanifah dalam mengharamkannya berdalil dengan keumuman firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian bangkai, darah, dan daging babi.”

وَبِرِوَايَةِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أُحلت لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَاسْمُ الْحُوتِ خَاصٌّ فِي السَّمَكِ فَكَانَتِ الْإِبَاحَةُ مَقْصُورَةً عَلَيْهِ وَلِأَنَّ مَا اخْتَصَّ بِغَيْرِ اسْمِ الْحُوتِ لَمْ يَنْطَلِقْ عَلَيْهِ إِبَاحَةُ الْأَكْلِ كَالْبَرِّيِّ لِأَنَّ الْحَيَوَانَ لَا يَخْتَلِفُ حُكْمُ إِبَاحَتِهِ بِاخْتِلَافِ مَوَاطِنِهِ كَالْخِنْزِيرِ الْجَبَلِيِّ وَالسَّهْلِيِّ

Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, yaitu ikan dan belalang.” Nama “ḥūt” (ikan) khusus digunakan untuk ikan, sehingga kebolehan itu terbatas hanya padanya. Adapun hewan yang tidak dinamai dengan “ḥūt” maka tidak termasuk dalam kebolehan makan, seperti hewan darat. Sebab, hukum kebolehan suatu hewan tidak berbeda karena perbedaan tempat hidupnya, sebagaimana babi hutan dan babi yang hidup di dataran rendah.

وَالدَّلِيلُ عَلَى إِبَاحَةِ جَمِيعِهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ َطَعَامُهُ مَتَاعاً لَكُمْ وَللسَّيَّارَةِ يَعْنِي بِصَيْدِ الْبَحْرِ صَيْدَ الْمَاءِ مِنْ بَحْرٍ أَوْ نَهْرٍ أَوْ عَيْنٍ أَوْ بِئْرٍ لِأَنَّ أَصْلَ جَمِيعِ الْمِيَاهِ مِنَ الْبَحْرِ وَفِي طَعَامِهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا طَافِيه وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَالثَّانِي مَمْلُوحه وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِي قَوْلِهِ مَتَاعًا تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا طَعَامٌ وَالثَّانِي مَنْفَعَةٌ

Dalil tentang kebolehan semuanya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanannya sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.” Yang dimaksud dengan binatang buruan laut adalah hasil tangkapan dari air, baik dari laut, sungai, mata air, maupun sumur, karena asal semua air adalah dari laut. Mengenai makna “makanannya” terdapat dua penafsiran: yang pertama adalah bangkainya, dan ini adalah pendapat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma; yang kedua adalah yang diasinkan, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas. Sedangkan pada firman-Nya “sebagai kesenangan” juga terdapat dua penafsiran: yang pertama adalah makanan, dan yang kedua adalah manfaat.

وَفِي قَوْلِهِ وللسَّيَّارَةِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ أَحَدُهَا الْحَلَالُ وَالْمُحْرِمُ وَالثَّانِي الْمُقِيمُ وَالْمُسَافِرُ وَالثَّالِثُ لِأَهْلِ الْأَمْصَارِ وَأَهْلِ الْقُرَى

Dan dalam ucapannya “dan bagi as-sayyārah ada tiga penafsiran”: yang pertama adalah halal dan haram, yang kedua adalah muqīm (orang yang menetap) dan musāfir (orang yang bepergian), dan yang ketiga adalah untuk penduduk kota-kota besar dan penduduk desa.

وَالدَّلِيلُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا قَوْله تَعَالَى أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ البَحْرِ يَعْنِي صَيْدَ الْبَحْرِ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِي جميع حيوانه والثاني قوله وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَكُمْ وَللسَّيَّارَةِ يَعْنِي مَطْعُومَهُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ جَمِيعَهُ مَطْعُومٌ

Dan dalil dalam ayat ini ada dari dua sisi. Pertama, firman-Nya Ta‘ala: “Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut,” maksudnya adalah binatang buruan laut, maka hukumnya berlaku umum untuk seluruh hewan laut. Kedua, firman-Nya: “dan makanannya sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,” maksudnya adalah apa yang dapat dimakan darinya. Maka ini menunjukkan bahwa seluruhnya adalah makanan yang boleh dimakan.

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ فَعَمَّ جَمِيعَ مَيْتَاتِهِ وَلَمْ يَخُصَّهَا

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda tentang laut: “Airnya suci dan halal bangkainya.” Maka sabda ini mencakup seluruh bangkai yang ada di laut dan tidak mengkhususkannya.

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ كُلُّ دَابَّةٍ تَمُوتُ فِي الْبَحْرِ فَقَدْ ذَكَّاهَا اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ غَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَلَيْسَ فِيهِ مُخَالِفٌ لَهُ فَكَانَ إِجْمَاعًا وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَعِشْ مِنَ الْحَيَوَانِ إِلَّا فِي الْمَاءِ حَلَّ أَكْلُهُ مَيْتًا كَالْحُوتِ

Diriwayatkan dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Setiap hewan yang mati di laut, maka Allah telah menyembelihnya untuk kalian.” Pendapat ini juga dinukil dari selain beliau di kalangan sahabat, dan tidak ada yang menyelisihinya, sehingga menjadi ijmā‘. Selain itu, setiap hewan yang hanya hidup di air, halal dimakan bangkainya, seperti ikan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas argumentasinya dengan firman Allah Ta‘ala “atau daging babi” adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ مُطْلَقَ اسْمِ الْخِنْزِيرِ لَا يَنْطَلِقُ لُغَةً وَعُرْفًا إِلَّا عَلَى خِنْزِيرِ الْبَرِّ فَإِنْ أُرِيدَ به غيره قبل خِنْزِيرُ الْمَاءِ مُقَيَّدًا بِهِ فَوَجَبَ أَنْ يُحْمَلَ حُكْمُهُ عَلَى إِطْلَاقِهِ

Salah satunya adalah bahwa secara mutlak, nama “khinzir” tidak berlaku secara bahasa dan kebiasaan kecuali pada khinzir darat. Jika yang dimaksudkan adalah selain itu, seperti khinzir air, maka harus disertai dengan keterangan tambahan. Oleh karena itu, hukumnya harus dibawa pada makna mutlaknya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي إِنَّ اسْمَهُ لَوِ انْطَلَقَ عَلَيْهَا لَخَصَّ تَحْرِيمَهَا بِقَوْلِهِ لِكُلِّ مَيْتَةٍ

Jawaban kedua: Sesungguhnya jika namanya berlaku atasnya, niscaya pengharamannya akan dikhususkan dengan ucapannya “untuk setiap bangkai.”

وَأَمَّا الجوَابُ عَنْ قَوْلِهِ الْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا إِنَّ اسْمَ الْحُوتِ يَنْطَلِقُ عَلَى جَمِيعِهَا فَكَانَ دَلِيلًا عَلَى إِبَاحَتِهَا دُونَ حَظْرِهَا وَالثَّانِي إِنَّ قَوْلَهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَعَمُّ مِنْهُ فَصَارَ الْحُوتُ دَاخِلًا فِي عُمُومِهِ وَلَمْ يَخُصَّهُ لِأَنَّهُ لَا يُنَافِيهِ

Adapun jawaban atas ucapannya tentang dua bangkai, yaitu ikan dan belalang, maka ada dua sisi. Pertama, nama “ikan” mencakup seluruh jenisnya, sehingga hal itu menjadi dalil atas kebolehannya, bukan pelarangannya. Kedua, ucapannya “yang halal adalah bangkainya” lebih umum dari itu, sehingga ikan termasuk dalam keumumannya dan tidak dikhususkan darinya karena tidak bertentangan dengannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْبَرِّيِّ فَهُوَ أَنَّ الشَّرْعَ قَدْ فَرَّقَ بَيْنَ حَيَوَانِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا بِالْقِيَاسِ

Adapun jawaban atas qiyās yang menyamakan dengan hewan darat adalah bahwa syariat telah membedakan antara hewan darat dan hewan laut, sehingga tidak boleh menggabungkan keduanya dengan qiyās.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِأَنَّ إِبَاحَةَ الْحَيَوَانِ لَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ مَوَاطِنِهِ فَهُوَ مَدْفُوعٌ بِالْإِجْمَاعِ وَلِاخْتِلَافِ الْأَمَاكِنِ مَعَ الْإِجْمَاعِ فِي الِاسْمِ وَالصُّورَةِ تَأْثِيرٌ فِي الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ لِأَنَّ الْحِمَارَ الْوَحْشِيَّ وَالْحِمَارَ الْأَهْلِيَّ يَجْتَمِعَانِ فِي الِاسْمِ وَيَشْتَبِهَانِ فِي الصُّورَةِ وَيَفْتَرِقَانِ فِي الْإِبَاحَةِ فَيَحِلُّ الوحشيُّ وَيَحْرُمُ الْأَهْلِيُّ لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْمَكَانِ وَإِنْ كَانَ الْبَرُّ يَجْمَعُهُمَا فَكَانَ مَا افْتَرَقَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ أَوْلَى أَنْ يَفْتَرِقَا فِي الْإِبَاحَةِ وَالْحَظْرِ وَإِنِ اشْتَرَكَا فِي الِاسْمِ وَاشْتَبَهَا فِي الصُّورَةِ وَبِهَذَا يَبْطُلُ قَوْلُ مَنْ ذَهَبَ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَى اعْتِبَارِ حَيَوَانِ الْبَحْرِ بِحَيَوَانِ الْبَرِّ فَأَحَلَّ مِنْهُ مَا أَشْبَهَ مُحَلَّلَاتِ الْبَرِّ وَحَرَّمَ مِنْهُ مَا أَشْبَهَ مُحَرَّمَاتِ الْبَرِّ

Adapun jawaban atas argumentasinya bahwa kebolehan hewan tidak berbeda-beda menurut perbedaan tempat hidupnya, maka hal itu tertolak dengan ijmā‘. Karena perbedaan tempat, meskipun ada kesepakatan dalam nama dan bentuk, berpengaruh terhadap keharaman dan kebolehan. Sebab keledai liar dan keledai jinak memiliki kesamaan dalam nama dan kemiripan dalam bentuk, namun berbeda dalam hukum kebolehan; keledai liar halal, sedangkan keledai jinak haram, karena perbedaan tempat hidup keduanya, meskipun keduanya sama-sama hidup di darat. Maka, jika dua hewan yang berbeda antara darat dan laut lebih layak untuk berbeda dalam hukum kebolehan dan keharaman, meskipun keduanya memiliki kesamaan nama dan kemiripan bentuk. Dengan demikian, batal pendapat sebagian ulama kami yang mengqiyās-kan hewan laut dengan hewan darat, sehingga mereka menghalalkan hewan laut yang menyerupai hewan darat yang halal, dan mengharamkan hewan laut yang menyerupai hewan darat yang haram.

فَصْلٌ

Bab

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّالِثُ مِنَ الْحَيَوَانِ هو مَا يَجْمَعُ فِي عَيْشِهِ بَيْنَ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Adapun jenis ketiga dari hewan adalah hewan yang dalam kehidupannya menggabungkan antara darat dan laut, maka hewan ini terbagi menjadi tiga golongan.

أَحَدُهَا مَا يَكُونُ مُسْتَقَرُّهُ فِي الْبَرِّ وَمَرْعَاهُ مِنَ الْبَحْرِ مِثْلَ طَيْرِ الْمَاءِ فَهَذَا مِنْ حيوان البر وتجري عَلَيْهِ حُكْمُهُ

Salah satunya adalah hewan yang tempat tinggal tetapnya di darat, namun padang rumputnya berasal dari laut, seperti burung air. Maka hewan ini termasuk hewan darat dan berlaku atasnya hukum-hukum hewan darat.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَكُونُ مُسْتَقَرُّهُ فِي الْبَحْرِ وَمَرْعَاهُ فِي الْبَرِّ كَالسُّلَحْفَاةِ فَهَذَا مِنْ حَيَوَانِ الْبَحْرِ وَيَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُهُ

Bagian kedua adalah hewan yang tempat tinggalnya di laut namun mencari makanannya di darat, seperti kura-kura. Maka hewan ini termasuk hewan laut dan berlaku atasnya hukum hewan laut.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا يَسْتَقِرُّ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَيَرْعَى فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَيُرَاعَى أَغْلَبُ حَالَيْهِ

Bagian ketiga adalah hewan yang menetap di darat dan laut, serta mencari makan di darat dan laut, maka yang dijadikan acuan adalah keadaan yang paling dominan dari keduanya.

فَإِنْ كَانَ أَغْلَبُهُمَا الْبَرَّ فِي مُسْتَقَرِّهِ وَمَرْعَاهُ أُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْحَيَوَانِ الْبَرِّيِّ وَإِنْ كَانَ أَغْلَبُهَا الْبَحْرَ فِي مُسْتَقَرِّهِ وَمَرْعَاهُ أُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ حَيَوَانِ الْبَحْرِ وَإِنِ اسْتَوَى فِيهِ الْأَمْرَانِ وَلَمْ يُغَلَّبْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika kebanyakan tempat tinggal dan padang rumputnya di daratan, maka berlaku atasnya hukum hewan darat. Jika kebanyakan tempat tinggal dan padang rumputnya di laut, maka berlaku atasnya hukum hewan laut. Namun jika kedua hal tersebut seimbang dan tidak ada yang lebih dominan, maka terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ حَيَوَانِ الْبَرِّ تَغْلِيبًا لِلْحَظْرِ لِأَنَّهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ الْبَحْرِ

Salah satunya adalah bahwa hewan tersebut diberlakukan hukum hewan darat, dengan mengedepankan aspek larangan, karena ia tidak bergantung pada laut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ حَيَوَانِ الْبَحْرِ تَغْلِيبًا لِلْإِبَاحَةِ لِأَنَّهُ مستغنٍ عَنِ الْبَرِّ

Pendapat kedua adalah bahwa ia mengikuti hukum hewan laut, dengan mengedepankan kebolehan, karena ia tidak membutuhkan daratan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ كَانَ شَيْئًا تَطُولُ حَيَاتُهُ فَذَبَحَهُ لِاسْتِعْجَالِ مَوْتِهِ مَا كَرِهْتُهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Jika ada sesuatu yang umurnya panjang lalu ia menyembelihnya untuk mempercepat kematiannya, aku tidak membencinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا السَّمَكُ فَلَا يَلْزَمُ ذَبْحُهُ وَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ وَإِنْ طَالَتْ حَيَاتُهُ بَعْدَ صَيْدِهِ جَازَ أَنْ يَنْتَظِرَ بِهِ مَوْتَهُ وَلَا يُكْرَهُ انْتِظَارُهُ وَجَازَ أَنْ يُعَجَّلَ ذَبْحُهُ وَلَا يُكْرَهُ ذَبْحُهُ وَفِي الِاسْتِحْبَابِ منها وجهان أحدهما أن تزكه لِيَمُوتَ حَتْفَ أَنْفِهِ أَوْلَى لِأَنَّ مَوْتَهُ ذَكَاةٌ وَالثَّانِي إِنَّ ذَبْحَهُ أَوْلَى لِيَسْتَعْجِلَ الرَّاحَةَ مِنْ أَبْطَأِ الْمَوْتِ

Al-Mawardi berkata: Adapun ikan, maka tidak wajib disembelih meskipun mampu melakukannya, dan jika ia masih hidup lama setelah ditangkap, boleh menunggu hingga ia mati, dan tidak makruh menunggunya, dan boleh juga segera menyembelihnya, serta tidak makruh menyembelihnya. Dalam hal anjuran, terdapat dua pendapat: salah satunya, membiarkannya hingga mati dengan sendirinya lebih utama, karena kematiannya itu sudah dianggap sebagai penyembelihan (zakat); dan yang kedua, menyembelihnya lebih utama agar segera mendapatkan kenyamanan dari kematian yang lambat.

وَأَمَّا غَيْرُ السَّمَكِ مِنْ دَوَابِّ الْبَحْرِ إِذَا قِيلَ بِإِبَاحَتِهِ فَإِنْ لَمْ يُدْرَكْ ذَبْحُهُ حَيًّا بَعْدَ صَيْدِهِ حَتَّى مَاتَ حَلَّ أَكْلُهُ لِأَنَّ صَيْدَ الْبَرِّ إِذَا لَمْ يُقْدَرْ عَلَى ذَكَاتِهِ بَعْدَ صَيْدِهِ حَلَّ أَكْلُهُ فَكَانَ صَيْدُ الْبَحْرِ أَوْلَى وَإِنْ أَدْرَكَ ذَكَاتَهُ بَعْدَ صَيْدِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وُجُوبِ ذَبْحِهِ وَكَوْنِهِ مَعَ الْقُدْرَةِ شَرْطًا فِي إِبَاحَتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun selain ikan dari hewan-hewan laut, jika dikatakan halal memakannya, maka jika tidak sempat disembelih dalam keadaan hidup setelah ditangkap hingga mati, maka halal memakannya. Karena hewan buruan darat jika tidak mampu disembelih setelah ditangkap, maka halal memakannya, sehingga hewan buruan laut lebih utama lagi. Namun jika sempat disembelih setelah ditangkap, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang wajibnya penyembelihan dan apakah kemampuan untuk menyembelih menjadi syarat kehalalannya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِ مِنْهُمْ إِنَّ ذَبْحَهُ لَا يَجِبُ وَإِنَّ مَوْتَهُ ذَكَاةٌ كَالسَّمَكِ وَهَذَا قَوْلُ مَنْ جَمَعَ بَيْنَ السَّمَكِ وَغَيْرِهِ فِي الْإِبَاحَةِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat mayoritas dari mereka, menyatakan bahwa menyembelihnya tidak wajib dan kematiannya sudah dianggap sebagai penyembelihan (dzakāh), seperti ikan. Ini adalah pendapat orang-orang yang menggabungkan antara ikan dan selainnya dalam hal kebolehan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ مَنِ اعْتَبَرَ حَيَوَانَ الْبَحْرِ بِحَيَوَانِ الْبَرِّ فِي الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الذَّكَاةِ وَحَرَّمَهُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا إِذَا مَاتَ وَهَذَا الْجَمْعُ فَاسِدٌ في الأمرين

Pendapat kedua adalah pendapat orang yang menganalogikan hewan laut dengan hewan darat dalam hal larangan dan kebolehan, sehingga ia menyamakan keduanya dalam keharusan penyembelihan (zakat) dan mengharamkannya jika mati padahal mampu menyembelihnya. Penggabungan seperti ini adalah keliru dalam kedua hal tersebut.

فَأَمَّا دَمُهُ فَمَنْ جَعَلَ ذَكَاتَهُ شَرْطًا جَعَلَ دَمَهُ نَجِسًا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلْ ذَكَاتَهُ شَرْطًا وَجَعَلَهُ كَالْحُوتِ فِي اسْتِبَاحَتِهِ بِمَوْتِهِ فَفِي دَمِهِ وَدَمِ جَمِيعِ السَّمَكِ وَجْهَانِ

Adapun darahnya, maka siapa yang mensyaratkan penyembelihan (dzakāh) menjadikannya najis, dan siapa yang tidak mensyaratkan penyembelihan serta menganggapnya seperti ikan dalam hal kebolehannya dengan matinya, maka mengenai darahnya dan darah seluruh ikan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا نَجِسٌ لِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ المَيْتَةُ وَالدَّمُ

Salah satunya adalah najis berdasarkan keumuman firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian bangkai dan darah.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّ دَمَهُ طَاهِرٌ لِأَنَّ دَمَ الْحَيِّ كَلَحْمِ الْمَيْتِ فَلَمَّا خَالَفَ حَيَوَانَ الْبَرِّ فِي طَهَارَتِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ خَالَفَ فِي طَهَارَةِ دمه والله أعلم

Pendapat kedua, bahwa darahnya suci, karena darah hewan laut seperti daging bangkainya. Maka, ketika ia berbeda dengan hewan darat dalam kesuciannya setelah mati, ia juga berbeda dalam kesucian darahnya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وسواءٌ مَنْ أَخَذَهُ مِنْ مجوسيٍّ أَوْ وثنيٍّ لَا ذَكَاةَ لَهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Sama saja, baik dia mengambilnya dari seorang Majusi maupun dari seorang penyembah berhala, tidak ada penyembelihan (yang sah) padanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَ الْحُوتُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى ذَكَاةٍ وَكَانَ مَوْتُهُ فِي إِبَاحَتِهِ كَالذَّكَاةِ فَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَصْطَادَهُ مُسْلِمٌ أَوْ مَجُوسِيٌّ أَوْ وَثَنِيٌّ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَهُمْ فِي صَيْدِهِ كَمَوْتِهِ حَتْفَ أَنْفِهِ وَلِأَنَّ مَا كَانَ مَوْتُهُ ذَكَاتَهُ اسْتَوَى فِيهِ أَهْلُ الذَّكَاةِ وَغَيْرُ أَهْلِ الذَّكَاةِ كَالْجَرَادِ فَإِنَّهُ يَحِلُّ إِذَا مَاتَ أَوْ أُمِيتَ مِنْ يَدِ مَجُوسِيٍّ أَوْ وَثَنِيٍّ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila ikan tidak memerlukan penyembelihan (dzakāh), dan kematiannya dalam hal kebolehan (dikonsumsi) seperti penyembelihan, maka tidak ada perbedaan antara apakah yang menangkapnya seorang Muslim, Majusi, atau penyembah berhala dalam hal kebolehan memakannya. Mereka dalam hal menangkap ikan itu seperti kematiannya secara alami. Karena apa yang kematiannya merupakan dzakāh, maka sama saja antara orang yang ahli dzakāh dan yang bukan ahli dzakāh, seperti belalang; sesungguhnya belalang itu halal jika mati atau dimatikan oleh tangan seorang Majusi atau penyembah berhala.”

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَحِلُّ الْجَرَادُ حَتَّى يُقْطَفَ وَهَذَا خَطَأٌ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أُحلت لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ الْحَوْتُ وَالْجَرَادُ وَلِأَنَّ قَطْفَ رَأْسِهِ إِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ يُؤَثِّرْ وَإِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا قَبْلَ مَوْتِهِ كَانَ فِيهِ تَعْذِيبٌ لِذِي رُوحٍ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْهُ وَلَيْسَتِ التَّسْمِيَةُ عِنْدَ صَيْدِهَا مَسْنُونَةً وَلَا وَرَدَ بِهَا شَرْعٌ وَإِنْ كَانَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ الْأَحْوَالِ حَسَنًا

Malik berpendapat bahwa belalang tidak halal hingga dipotong kepalanya, dan pendapat ini keliru karena sabda Nabi ﷺ: “Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah: ikan dan belalang.” Selain itu, memotong kepalanya, jika dianggap setelah matinya, maka tidak berpengaruh; dan jika dianggap sebelum matinya, maka itu termasuk menyiksa makhluk bernyawa, padahal telah ada larangan terhadap hal itu. Tidak disunnahkan membaca basmalah ketika menangkapnya, dan tidak ada syariat yang mewajibkannya, meskipun menyebut nama Allah Ta‘ala dalam segala keadaan adalah baik.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رحمه الله تعالى وسواءٌ مَا لَفَظَهُ الْبَحْرُ وَطَفَا مِنْ مَيْتَتِهِ أَوْ أُخِذَ حَيًّا أَكَلَ أَبُو أَيُّوبَ سَمَكًا طَافِيًا وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أُحلت لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ الْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ والدمان أحسبه قال الكبد والطحال وقال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ هو الطهور ماؤه الحل ميتته وقال الله جل ثناؤه أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَكُمْ وَللسَّيَّارَةِ وهذا عمومٌ فمن خص منه شيئاً فالمخصوص لا يجوز عند أهل العلم ألا بسنة أو إجماع الذين لا يجهلون ما أراد الله قال المزني رحمه الله ولو جاز أن يحرم الحوت وهو ذكي لأنه طفا لجاز أن يحرم المذكى من الغنم إذا طفا وفي ذلك دليلٌ وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Sama saja, baik bangkai ikan yang dilemparkan laut dan mengapung, maupun yang ditangkap dalam keadaan hidup. Abu Ayyub pernah memakan ikan yang mengapung dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Dua jenis bangkai itu adalah ikan dan belalang, sedangkan dua jenis darah, aku kira beliau berkata, adalah hati dan limpa.’” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Airnya suci dan bangkainya halal.” Allah Ta‘ala berfirman: “Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanannya sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.” Ini adalah keumuman. Maka barang siapa mengkhususkan sesuatu darinya, maka yang dikhususkan itu tidak boleh menurut para ulama kecuali dengan sunnah atau ijmā‘ dari orang-orang yang tidak meragukan apa yang dimaksud Allah. Al-Muzani rahimahullah berkata: “Jika boleh mengharamkan ikan yang sudah disembelih hanya karena ia mengapung, maka boleh pula mengharamkan hewan sembelihan dari kambing jika ia mengapung. Dalam hal ini terdapat dalil. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا مَاتَ السَّمَكُ فِي الْمَاءِ حَلَّ أَكْلُهُ سَوَاءٌ كَانَ بِسَبَبِ شِدَّةِ بَرْدِ الْمَاءِ أَوْ شِدَّةِ حَرَارَتِهِ أَوْ نَضَبَ عَنْهُ حَتَّى صَارَ عَلَى الْيُبْسِ أَوْ مَاتَ بِغَيْرِ سَبَبٍ وَسَوَاءٌ طَفَا عَلَى الْمَاءِ حَتَّى ظَهَرَ أَوْ رَسَبَ فِي قَرَارٍ فَلَمْ يَظْهَرْ وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ

Al-Mawardi berkata: Jika ikan mati di dalam air, maka halal memakannya, baik karena air yang sangat dingin, sangat panas, airnya surut sehingga ikan berada di tempat kering, atau mati tanpa sebab apa pun. Baik ikan itu mengapung di permukaan air hingga tampak, maupun tenggelam di dasar hingga tidak tampak. Ini adalah pendapat mayoritas sahabat, tabi‘in, dan para fuqaha.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ مَاتَ بِسَبَبٍ حَلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ مَاتَ بِغَيْرِ سَبَبٍ حَرُمَ أَكْلُهُ وَقَالَ بَعْضُ الْعِرَاقِيِّينَ إِنْ طَفَا حَرُمَ وَإِنْ رَسَبَ لَمْ يَحْرُمِ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ السَّمَكِ الطَّافِي

Abu Hanifah berkata: Jika ikan itu mati karena suatu sebab, maka halal memakannya; dan jika mati tanpa sebab, maka haram memakannya. Sebagian ulama Irak berpendapat: Jika ikan itu mengapung, maka haram (dimakan); dan jika tenggelam, maka tidak haram, dengan berdalil pada riwayat Ibnu az-Zubair dari Jabir bahwa Nabi ﷺ melarang memakan ikan yang mengapung.

وَبِرِوَايَةِ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ كُلُوا مَا حَسَرَ عَنْهُ الْبَحْرُ وَمَا أَلْقَى وَمَا وَجَدْتُمْ مَيْتًا طَافِيًا فَوْقَ الْمَاءِ فَلَا تَأْكُلُوهُ

Dalam riwayat Wahb bin Kaisan dari Jabir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makanlah apa yang disingkapkan oleh laut dan apa yang dilemparkan olehnya, dan apa yang kalian temukan dalam keadaan mati mengapung di atas air, maka janganlah kalian memakannya.”

قَالُوا وَهَذَانِ الْخَبَرَانِ نصٌّ فِي التَّحْرِيمِ

Mereka berkata, “Dua hadis ini merupakan nash dalam pengharaman.”

قَالُوا وَلِأَنَّ مَوْتَ ذِي الرُّوحِ بِغَيْرِ سَبَبٍ يُوجِبُ تَحْرِيمَ أَكْلِهِ كَالْبَرِّيِّ

Mereka berkata, “Karena matinya makhluk bernyawa tanpa sebab yang dibenarkan menyebabkan keharaman memakannya, seperti hewan liar.”

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ الله تَعَالَى أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَكُمْ وَللسَّيَّارَةِ وَقَدْ ذَكَرْنَا تَفْسِيرَهَا وَأَنَّ طَعَامَهُ طَافِيه عَلَى قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ وَهَذَا كَالنَّصِّ أَضَافَ الْمَيْتَةَ إِلَى الْبَحْرِ لَا إِلَى سَبَبٍ حَادِثٍ وَحَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَالْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَالدَّمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي ثَلَاثِمِائَةِ رَاكِبٍ وَأَمِيرُنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ نُرِيدُ عِيرًا لِقُرَيْشٍ فَأَصَابَنَا جوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلْنَا الْخَبَطَ فَسُمِّيَ ذَلِكَ الْجَيْشُ جَيْشَ الْخَبَطِ ثُمَّ أَلْقَى لَنَا الْبَحْرُ وَنَحْنُ بِالسَّاحِلِ دَابَّةً تُسَمَّى الْعَنْبَرَ فَأَكَلْنَا مِنْهُ نِصْفَ شَهْرٍ واستدمنا منه وادهنا بودكه حتى باتت أَجْسَامُنَا فَأَخَذَ أَبُو عُبَيْدَةَ ضِلْعًا مِنْ أَضْلَاعِهِ فَنَصَبَهُ ثُمَّ نَظَرَ إِلَى أَطْوَلِ رَجُلٍ فِي الْجَيْشِ وَأَعْظَمِ جملٍ فَأَمَرَهُ أَنْ يَرْكَبَ الْجَمَلَ ثُمَّ يَمُرَّ تَحْتَهُ فَفَعَلَ فَمَرَّ تَحْتَهُ فَدَلَّ هَذَا الْخَبَرُ عَلَى أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا إِبَاحَةُ أَكْلِ الطَّافِي وَالثَّانِي إِبَاحَةُ أَكْلِ دَوَابِّ الْبَحْرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُوتًا

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanannya sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,” dan kami telah menyebutkan tafsirnya, serta bahwa makanannya adalah bangkai laut menurut pendapat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Juga hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang laut: “Airnya suci dan bangkainya halal.” Ini seperti nash, beliau menisbatkan bangkai itu kepada laut, bukan kepada sebab tertentu yang baru. Dan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang, dan dua darah adalah hati dan limpa.” Maka hadits ini berlaku secara umum. Imam Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam tiga ratus orang berkuda dan pemimpin kami adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah. Kami ingin menghadang kafilah Quraisy, lalu kami mengalami kelaparan yang sangat hingga kami memakan daun-daunan, sehingga pasukan itu dinamakan pasukan daun-daunan. Kemudian laut melemparkan kepada kami, saat kami berada di tepi pantai, seekor hewan yang disebut al-‘anbar (ikan paus), lalu kami memakannya selama setengah bulan, kami mengambil minyak darinya dan mengoleskannya ke tubuh kami hingga tubuh kami menjadi gemuk. Abu ‘Ubaidah mengambil salah satu tulang rusuknya, lalu menegakkannya, kemudian ia melihat kepada laki-laki tertinggi di pasukan dan unta terbesar, lalu ia memerintahkan laki-laki itu untuk menaiki unta dan berjalan di bawah tulang rusuk itu, maka ia pun melakukannya dan berhasil melewatinya. Maka kisah ini menunjukkan dua hal: pertama, bolehnya memakan bangkai laut, dan kedua, bolehnya memakan hewan-hewan laut meskipun bukan ikan.

وَرَوَى عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ الله عنهما أَنَّهُ قَالَ السَّمَكَةُ الطَّافِيَةُ عَلَى الْمَاءِ حلالٌ وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ مخالفٌ فَكَانَ إِجْمَاعًا وَأَكَلَ أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ سَمَكًا طَافِيًا فَإِنْ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَلَمْ يَظْهَرْ مِنْهُ إِنْكَارٌ دَلَّ عَلَى إِبَاحَتِهِ سُنَّةً وَإِنْ كَانَ بَعْدَهُ فَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ مُنْكِرٌ كَانَ إِجْمَاعًا وَلِأَنَّ كُلَّ حَيَوَانٍ اسْتَغْنَى عن الذكاة في إباحته استغنى فِي مَوْتِهِ كَالْجَرَادِ وَلِأَنَّ مَا حَلَّ أَكْلُهُ قَبْلَ الظَّفَرِ حَلَّ أَكْلُهُ بَعْدَ الظَّفَرِ كَالْمُذَكَّى

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Aku bersaksi atas Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata: ‘Ikan yang mengapung di atas air itu halal.’ Dan tidak tampak ada yang menyelisihinya, maka hal itu menjadi ijmā‘. Abu Ayyub Al-Anshari juga memakan ikan yang mengapung. Jika itu terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak tampak adanya pengingkaran dari beliau, maka itu menunjukkan kebolehannya sebagai sunnah. Dan jika itu terjadi setelah beliau, dan tidak tampak ada yang mengingkarinya, maka itu menjadi ijmā‘. Karena setiap hewan yang tidak memerlukan penyembelihan (dzakāh) untuk kehalalannya, maka tidak memerlukan penyembelihan pula ketika matinya, seperti belalang. Dan karena apa yang halal dimakan sebelum mati, maka halal pula dimakan setelah mati, seperti hewan yang disembelih (mudhakkā).

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ جَابِرٍ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا انْقِطَاعُ إِسْنَادِهِ وَضَعْفُ حَالِهِ وَالثَّانِي حَمْلُهُمَا عَلَى التَّنْزِيهِ إِذَا أَنْتَنَ وَتَغَيَّرَ

Adapun jawaban terhadap hadis Jabir adalah dari dua sisi: pertama, sanadnya terputus dan keadaannya lemah; kedua, keduanya dapat ditafsirkan sebagai anjuran untuk menjaga kebersihan apabila telah berbau busuk dan berubah.

وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ على البري فمنقضٌ بِالْجَرَادِ ثُمَّ الْمَعْنَى فِي الْبَرِّيِّ افْتِقَارُهُ إِلَى الذَّكَاةِ وَفِي الْبَحْرِ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنْهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Adapun qiyās mereka terhadap hewan darat, maka itu terbantahkan dengan (adanya) belalang. Kemudian, makna (perbedaannya) pada hewan darat adalah kebutuhannya terhadap penyembelihan (dzakāh), sedangkan pada hewan laut, ia tidak memerlukannya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

من كتاب اختلاف الأحاديث ومن إملاء على كتاب أشهب ومن كتاب أهل المدينة وأبي حنيفة

Dari kitab Ikhtilāf al-Aḥādīṡ, dari imlā’ atas kitab Asyhab, dan dari kitab Ahl al-Madīnah serta Abū Ḥanīfah.

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ وَقَالَ أنسٌ وَأَنَا أُضَحِّي أيضاً بكبشين وقال أنسٌ في غير هذا الحديث ضحى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بكبشين أملحين وذبح أبو بردة بن نيارٍ قبل أن يذبح النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يوم الأضحى فزعم أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أمره أن يعود لضحيةٍ أخرى فقال أبو بردة لا أجد إلا جذعاً فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إن لم تجد إلا جذعاً فاذبحه قال الشافعي رحمه الله فاحتمل أمره بالإعادة أنها واجبةٌ واحتمل على معنى أنه إن أراد أن يضحي فلما قال عليه السلام إذا دخل العشر فأراد أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وبشره شيئاً دل على أنها غير واجبةٍ وبلغنا إِنَّ أَبَا بكرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كانا لا يضحيان كراهية أن يرى أنها واجبةٌ وعن ابن عباسٍ أنه اشترى بدرهمين لحماً فقال هذه أضحية ابن عباسٍ القول في مشروعية الأضحية

Syafi’i rahimahullah berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abdul Aziz bin Shuhaiib dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkurban dengan dua ekor domba. Anas berkata, “Aku juga berkurban dengan dua ekor domba.” Dan Anas berkata dalam hadis lain, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba yang berwarna putih keabu-abuan.” Abu Burdah bin Niyar menyembelih kurban sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih pada hari Idul Adha, lalu ia mengira bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengulangi kurbannya. Maka Abu Burdah berkata, “Aku tidak mendapatkan kecuali kambing yang masih muda.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau tidak mendapatkan kecuali kambing muda, maka sembelihlah.” Syafi’i rahimahullah berkata: Perintah beliau untuk mengulangi kurban itu bisa bermakna wajib, dan bisa juga bermakna jika ia ingin berkurban. Ketika beliau bersabda, “Jika telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun,” ini menunjukkan bahwa kurban tidak wajib. Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak berkurban karena khawatir dianggap wajib. Dari Ibnu Abbas, beliau membeli daging seharga dua dirham dan berkata, “Ini adalah kurban Ibnu Abbas.” Inilah pendapat tentang disyariatkannya kurban.

فَصْلٌ

Bab

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْأَصْلُ فِي الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا قَوْله تَعَالَى وَالبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ الْآيَةَ إِلَى قوله القَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ أَمَّا الْبُدْنُ فَفِيهَا ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ أَحَدُهَا إِنَّهَا الْإِبِلُ خَاصَّةً وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَالثَّانِي إِنَّهَا الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَهُوَ قَوْلُ جَابِرٍ وَعَطَاءٍ وَالثَّالِثُ إِنَّهَا النَّعَمُ كُلُّهَا مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَفِي تَسْمِيَتِهَا بُدْنًا تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا لِكِبَرِ أَبْدَانِهَا وَهُوَ تَأْوِيلُ مَنْ جَعَلَهَا الْإِبِلَ وَالْبَقَرَ وَالثَّانِي لِأَنَّهَا مُبَدَّنَةٌ بِالسِّمَنِ وَهُوَ تَأْوِيلُ مَنْ جَعَلَهَا جَمِيعَ النَّعَمِ وَفِي قَوْلِهِ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا مِنْ فُرُوضِهِ وَهُوَ تَأْوِيلُ مَنْ أَوْجَبَ الضَّحَايَا وَالثَّانِي مِنْ مَعَالِمِ دِينِهِ وَهُوَ تَأْوِيلُ مَنْ سَنَّ الضَّحَايَا وَفِي قَوْلِهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا أَجْرٌ قَالَهُ السُّدِّيُّ وَالثَّانِي مَنْفَعَةٌ إِنِ احْتَاجَ إِلَى ظَهْرِهَا رَكِبَ وَإِنْ حَلَبَ لَبَنَهَا شَرِبَ قَالَهُ النَّخَعِيُّ

Al-Mawardi berkata: Dasar hukum dalam masalah hewan kurban (dhahaya) dan hadyu adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah, bagi kalian terdapat kebaikan padanya…” hingga firman-Nya: “…bagi orang yang meminta dan orang yang tidak meminta.” Adapun al-budn, terdapat tiga pendapat tentangnya: Pertama, bahwa al-budn adalah unta secara khusus, dan ini adalah pendapat jumhur. Kedua, bahwa al-budn adalah unta dan sapi, dan ini adalah pendapat Jabir dan ‘Atha’. Ketiga, bahwa al-budn mencakup seluruh hewan ternak, yaitu unta, sapi, dan kambing. Dalam penamaan al-budn terdapat dua penafsiran: Pertama, karena besarnya badan hewan tersebut, dan ini adalah penafsiran bagi yang memasukkannya pada unta dan sapi. Kedua, karena hewan tersebut digemukkan, dan ini adalah penafsiran bagi yang memasukkannya pada seluruh hewan ternak. Dalam firman-Nya “sebagai bagian dari syiar Allah” terdapat dua penafsiran: Pertama, maksudnya adalah bagian dari fardhu-Nya, dan ini adalah penafsiran bagi yang mewajibkan kurban. Kedua, maksudnya adalah bagian dari tanda-tanda agama-Nya, dan ini adalah penafsiran bagi yang mensunnahkan kurban. Dalam firman-Nya “bagi kalian terdapat kebaikan padanya” juga terdapat dua penafsiran: Pertama, maksudnya adalah pahala, sebagaimana dikatakan oleh as-Suddi. Kedua, maksudnya adalah manfaat; jika membutuhkan punggungnya maka bisa ditunggangi, dan jika memerah susunya maka bisa diminum, sebagaimana dikatakan oleh an-Nakha‘i.

وَفِي قَوْلِهِ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ وَهِيَ قِرَاءَةُ الْجُمْهُورِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا مَعْقُولَةٌ قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَالثَّانِي مُصْطَفَّةٌ قَالَهُ ابْنُ عِيسَى وَقَرَأَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ صَوَافِي أَيْ خَالِصَةٌ لِلَّهِ مَأْخُوذٌ مِنَ الصَّفْوَةِ وَقَرَأَ ابْنُ مَسْعُودٍ صَوَافِنْ أَيْ مَصْفُونَةٌ وَهُوَ أَنْ تُعْقَلَ إِحْدَى يَدَيْهَا حَتَّى تَقِفَ عَلَى ثَلَاثِ قَوَائِمَ مَأْخُوذٌ مِنْ صَفَنَ الْفَرَسُ إِذَا أَثْنَى إِحْدَى يَدَيْهِ حَتَّى قَامَ عَلَى ثَلَاثٍ وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى الصَّافِنَاتُ الجِيَادُ قَالَ الشَّاعِرُ

Dalam firman-Nya, “Maka sebutlah nama Allah atasnya dalam keadaan shaf (berbaris),” yang merupakan qirā’ah mayoritas, terdapat dua penafsiran: yang pertama, bermakna ‘terikat’, sebagaimana dikatakan oleh Mujāhid; dan yang kedua, bermakna ‘dipilih’, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Īsā. Al-Hasan al-Bashri membaca “shawāfī” yang berarti ‘murni untuk Allah’, diambil dari kata “shafwah” (kemurnian). Ibnu Mas‘ūd membaca “shawāfin” yang berarti ‘berbaris’, yaitu salah satu tangannya diikat hingga ia berdiri di atas tiga kaki, diambil dari kata “shafana” pada kuda, yaitu ketika ia melipat salah satu tangannya hingga berdiri di atas tiga kaki. Dari sini pula firman Allah Ta‘ālā: “ash-shāfinātu al-jiyād.” Seorang penyair berkata…

أَلِفَ الصُّفُونَ فَلَا يَزَالُ كَأَنَّهُ مِمَّا يَقُومُ عَلَى الثَّلَاثِ كَسِيرَا

Ia telah terbiasa berdiri dalam barisan, sehingga ia selalu tampak seolah-olah termasuk sesuatu yang berdiri di atas tiga (kaki) dengan mantap.

وَفِي قَوْلِهِ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا أَيْ سَقَطَتْ جُنُوبُهَا إِلَى الْأَرْضِ وَمِنْهُ قَوْلُهُمْ وَجَبَتِ الشَّمْسُ إِذَا سَقَطَتْ لِلْغُرُوبِ وَالثَّانِي طَفَتْ جُنُوبُهَا بِخُرُوجِ الرُّوحِ وَمِنْهُ وُجُوبُ الْمَيْتِ إِذَا خَرَجَتْ نَفْسُهُ

Dalam ucapannya “maka apabila telah wajib (jatuh) lambungnya”, terdapat dua penafsiran: yang pertama, yaitu lambungnya telah jatuh ke tanah, sebagaimana ucapan mereka “matahari telah wajib” ketika matahari telah terbenam; dan yang kedua, yaitu lambungnya telah mengapung karena keluarnya ruh, sebagaimana istilah “wajibnya mayit” ketika nyawanya telah keluar.

وَفِي قَوْلِهِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا إِنَّ الْأَكْلَ وَالْإِطْعَامَ وَاجِبَانِ وَالثَّانِي إِنَّهُمَا مُسْتَحَبَّانِ وَالثَّالِثُ إِنَّ الْأَكْلَ مُسْتَحَبٌّ والإطعام واجب

Dalam firman-Nya “Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan (kepada orang lain)”, terdapat tiga pendapat: pertama, bahwa makan dan memberi makan itu wajib; kedua, bahwa keduanya sunnah; dan ketiga, bahwa makan itu sunnah sedangkan memberi makan itu wajib.

وفي قوله القَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا إِنَّ الْقَانِعَ السَّائِلُ وَالْمُعْتَرَّ الَّذِي يَتَعَرَّضُ وَلَا يَسْأَلُ قَالَهُ الْحَسَنُ وَالثَّانِي إِنَّ الْقَانِعَ الَّذِي يَقْتَنِعُ وَلَا يَسْأَلُ وَالْمُعْتَرُّ الَّذِي يَعْتَرِي فَيَسْأَلُ قَالَهُ قَتَادَةُ وَأَنْشَدَ أَبُو عُبَيْدَةَ لَهُ نِحْلَةُ الْأَوْفَى إِذَا جَاءَ عَانِيًا وَإِنْ جَاءَ يَعْرُو لَحْمَنَا لَمْ يُؤَنَّبِ وَالثَّالِثُ إِنَّ الْقَانِعَ الطَّوَّافُ وَالْمُعْتَرَّ الصَّدِيقُ الزَّائِرُ قَالَهُ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ

Dalam penjelasan tentang “al-qāni‘ dan al-mu‘tar”, terdapat tiga pendapat. Pertama, al-qāni‘ adalah orang yang meminta-minta, sedangkan al-mu‘tar adalah orang yang menampakkan kebutuhannya namun tidak meminta; ini dikatakan oleh al-Hasan. Kedua, al-qāni‘ adalah orang yang merasa cukup dan tidak meminta, sedangkan al-mu‘tar adalah orang yang datang dan meminta; ini dikatakan oleh Qatadah, dan Abu ‘Ubaidah mengutip syair untuknya: “Nihlah al-Awfa, jika datang dalam keadaan membutuhkan, dan jika datang untuk mengambil daging kami, tidak dicela.” Ketiga, al-qāni‘ adalah orang yang berkeliling (mencari), sedangkan al-mu‘tar adalah teman yang berkunjung; ini dikatakan oleh Zaid bin Aslam.

وَقَالَ تَعَالَى لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا لَنْ يَتَقَبَّلَ اللَّهُ الدِّمَاءَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ التَّقْوَى وَالثَّانِي لَنْ يَصْعَدَ إِلَى اللَّهِ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَإِنَّمَا يَصْعَدُ إِلَيْهِ التَّقْوَى وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ لِأَنَّهُمْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا نَحَرُوا بُدْنَهُمُ اسْتَقْبَلُوا الْكَعْبَةَ بِهَا وَنَضَحُوا الدِّمَاءَ عَلَيْهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَفْعَلُوا فِي الْإِسْلَامِ مِثْلَ ذَلِكَ فنهوا عنه

Allah Ta‘ala berfirman: “Daging-daging unta kurban itu dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” Dalam ayat ini terdapat dua penafsiran: pertama, Allah tidak menerima darah-darah itu, melainkan yang diterima-Nya adalah ketakwaan; kedua, daging dan darahnya tidak akan naik kepada Allah, melainkan yang naik kepada-Nya adalah ketakwaan dan amal saleh. Karena pada masa jahiliah, apabila mereka menyembelih hewan kurban, mereka menghadapkannya ke Ka‘bah dan memercikkan darahnya ke atasnya. Mereka ingin melakukan hal yang sama dalam Islam, maka mereka dilarang melakukannya.

كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ فِيهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا ذَلَّلَهَا حَتَّى أَقْدَرَكُمْ عَلَيْهَا والثاني سهلها لكم حتى تقربتم بها

Demikian pula, Dia telah menundukkannya untuk kalian; ada dua penafsiran dalam hal ini: yang pertama, Dia telah menaklukkannya sehingga kalian mampu menguasainya, dan yang kedua, Dia memudahkannya bagi kalian sehingga kalian dapat mendekatkan diri kepada-Nya dengannya.

لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ فِيهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا إِنَّهُ التَّسْمِيَةُ عِنْدَ ذَبْحِهَا وَالثَّانِي إِنَّهُ التَّكْبِيرُ عِنْدَ الْإِحْلَالِ بَدَلًا مِنَ التلبية في الإحرام

Agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian, terdapat dua penafsiran: yang pertama, yaitu membaca basmalah ketika menyembelihnya; dan yang kedua, yaitu bertakbir ketika tahallul sebagai pengganti talbiyah dalam ihram.

وَبَشِّرِ المُحْسِنِينَ فِيهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا بِالْقَبُولِ وَالثَّانِي بِالْجَنَّةِ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik; terdapat dua penafsiran tentang hal ini: yang pertama adalah diterima (amalnya), dan yang kedua adalah surga.

وَقَالَ تَعَالَى وَيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَائِسَ الْفَقِيرَ أَمَّا قَوْلُهُ وَيَذْكُروا اسْمَ اللهِ فَفِيهِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَمْرُ اللَّهِ بِذَبْحِهَا فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ وَالثَّانِي التَّسْمِيَةُ بِذِكْرِ اللَّهِ عِنْدَ ذَبْحِهَا

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir.” Adapun firman-Nya “dan hendaklah mereka menyebut nama Allah”, terdapat dua pendapat: Pertama, perintah Allah untuk menyembelihnya pada hari-hari yang telah ditentukan; kedua, membaca basmalah dengan menyebut nama Allah ketika menyembelihnya.

فِي الْأَيَّامِ الْمَعْلُومَاتِ وَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَيَّامُ الْعَشْرِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَالثَّانِي إِنَّهَا أيام التشريق

Pada hari-hari yang telah diketahui, terdapat dua pendapat mengenai maknanya: yang pertama, yaitu hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah; dan yang kedua, yaitu hari-hari tasyrik.

وقوله عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ أَيْ عَلَى نَحْرِ مَا رَزَقَهُمْ وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ أَحَدُهُمَا مَا مَلَّكَهُمْ وَالثَّانِي مَا مَكَّنَهُمْ وَبَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ هِيَ الْأَزْوَاجُ الثَّمَانِيَةُ وَالضَّحَايَا وَالْهَدَايَا

Dan firman-Nya “atas apa yang telah Dia rezekikan kepada mereka dari bahīmah al-an‘ām” maksudnya adalah atas penyembelihan apa yang telah Dia rezekikan kepada mereka. Dalam hal ini terdapat dua tafsiran: yang pertama adalah apa yang Dia milikkan kepada mereka, dan yang kedua adalah apa yang Dia mudahkan bagi mereka. Bahīmah al-an‘ām adalah delapan pasangan (hewan ternak), hewan kurban (dhabā’iḥ), dan hewan hadyu.

وَفِي البائس الفقير تأويلان أحدهما إِنَّهُ الْفَقِيرُ الزَّمِنُ وَالثَّانِي الَّذِي بِهِ ضُرُّ الْجُوعِ وَأَثَرُ الْبُؤْسِ وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الَّذِي يَمُدُّ يَدَهُ بِالسُّؤَالِ وَيَتَكَفَّفُ بِالطَّلَبِ

Tentang “bā’is” yang fakir, terdapat dua penafsiran: pertama, ia adalah orang fakir yang menderita sakit menahun; kedua, yaitu orang yang tertimpa bahaya kelaparan dan tampak padanya tanda-tanda kesengsaraan; dan yang ketiga, yaitu orang yang mengulurkan tangannya untuk meminta-minta dan mengemis dengan permohonan.

وَقَالَ تَعَالَى إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ وَفِي الْكَوْثَرِ ستة تأويلات أَحَدُهَا إِنَّهُ النُّبُوَّةُ قَالَهُ عِكْرِمَةُ وَالثَّانِي إِنَّهُ الْقُرْآنُ قَالَهُ الْحَسَنُ وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الْإِسْلَامُ قَالَهُ الْمُغِيرَةُ وَالرَّابِعُ إِنَّهُ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالْخَامِسُ إِنَّهُ كَثْرَةُ أُمَّتِهِ قَالَهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ وَالسَّادِسُ إِنَّهُ حَوْضٌ فِي الْجَنَّةِ يَكْثُرُ عَلَيْهِ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَهُ عَطَاءٌ وَهُوَ فَاعِلٌ مِنَ الْكَوْثَرِ

Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar. Maka dirikanlah salat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.” Tentang al-Kautsar terdapat enam penafsiran: Pertama, bahwa ia adalah kenabian, sebagaimana dikatakan oleh ‘Ikrimah. Kedua, bahwa ia adalah al-Qur’an, sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan. Ketiga, bahwa ia adalah Islam, sebagaimana dikatakan oleh al-Mughirah. Keempat, bahwa ia adalah kebaikan yang banyak, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Kelima, bahwa ia adalah banyaknya umat beliau, sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Keenam, bahwa ia adalah sebuah telaga di surga yang banyak didatangi manusia pada hari kiamat, sebagaimana dikatakan oleh ‘Atha’, dan kata ini merupakan bentuk fa‘il dari al-Kautsar.

وَفِي قَوْلِهِ فصل لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ثلاثة تأويلات أحدها أنه صلاة العبد وَنَحْرُ الضَّحَايَا قَالَهُ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَعِكْرِمَةُ وَمُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَالثَّانِي إِنَّهَا صَلَاةُ الْفَرْضِ وَاسْتِقْبَالُ القبل فِيهَا بِنَحْرٍ قَالَهُ أَبُو الْأَحْوَصِ وَالثَّالِثُ إِنَّ الصَّلَاةَ الدُّعَاءُ وَالنَّحْرَ الشُّكْرُ قَالَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ وَالْأَوَّلُ أَظْهَرُهَا

Dalam firman-Nya “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”, terdapat tiga penafsiran. Pertama, bahwa maksudnya adalah shalat seorang hamba dan penyembelihan hewan kurban; ini dikatakan oleh Sa‘id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, dan Qatadah. Kedua, maksudnya adalah shalat fardhu dan menghadap kiblat dalam shalat dengan posisi menghadap ke arah leher (hewan kurban); ini dikatakan oleh Abu al-Ahwas. Ketiga, bahwa shalat di sini adalah doa dan nahr (penyembelihan) adalah rasa syukur; ini dikatakan oleh sebagian ulama muta’akhkhirin. Penafsiran pertama adalah yang paling jelas.

فَهَذِهِ أَرْبَعُ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى تَدُلُّ عَلَى الْأَمْرِ بِالضَّحَايَا وَالْهَدَايَا

Inilah empat ayat dari Kitab Allah Ta‘ala yang menunjukkan perintah untuk berkurban dan memberikan hadyu.

وَأَمَّا السُّنَّةُ فَمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

Adapun sunnah adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i di awal kitab dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkurban dengan dua ekor domba jantan yang berwarna putih bercampur hitam.

وَفِي الْأَمْلَحَيْنِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ

Pada dua jenis garam terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا إِنَّهُ الْأَبْيَضُ الشَّدِيدُ الْبَيَاضِ وَهَذَا قَوْلُ ثَعْلَبٍ

Salah satunya adalah bahwa ia berwarna putih yang sangat terang, dan ini adalah pendapat Ts‘alab.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الَّذِي يَنْظُرُ فِي سَوَادٍ وَيَأْكُلُ فِي سَوَادٍ وَيَمْشِي فِي سَوَادٍ وَبَاقِيهِ بَيَاضٌ وَهَذَا قَوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Yang kedua adalah orang yang melihat dalam keadaan hitam, makan dalam keadaan hitam, dan berjalan dalam keadaan hitam, sedangkan sisanya adalah putih. Ini adalah pendapat ‘Aisyah ra.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الَّذِي بَيَاضُهُ أَكْثَرُ مِنْ سَوَادِهِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي عُبَيْدٍ

Yang ketiga adalah bahwa (anjing) yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitamnya secara mutlak, dan ini adalah pendapat Abu ‘Ubaid.

وَفِي قَصْدِ أُضْحِيَّتِهِ بِالْأَمْلَحِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا مَا لِحُسْنِ مَنْظَرِهِ وَالثَّانِي لِشَحْمِهِ وَطِيبِ لَحْمِهِ لِأَنَّهُ نَوْعٌ مُتَمَيِّزٌ عَنْ جِنْسِهِ

Dalam maksud seseorang memilih hewan kurban yang berwarna campuran putih dan hitam (al-amlaḥ), terdapat dua pendapat: salah satunya karena keindahan penampilannya, dan yang kedua karena lemaknya serta baiknya dagingnya, sebab ia merupakan jenis yang berbeda dari jenisnya sendiri.

وَرَوَى أَبُو سَعِيدٍ الزُّرَقِيُّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ضَحَّى بَكَبْشٍ أَدْغَمَ قَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ وَالْأَدْغَمُ مِنَ الْكِبَاشِ مَا أَرْنَبَتُهُ وَمَا تَحْتَ حَنَكِهِ سوادٌ وَبَاقِيهِ بَيَاضٌ

Abu Sa‘id az-Zuraqi meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan seekor domba adgham. Ibnu Qutaibah berkata, “Adgham dari jenis domba adalah yang bagian hidung dan bawah dagunya berwarna hitam, sedangkan sisanya berwarna putih.”

وَرَوَى أَبُو رَمْلَةَ عَنْ مِخْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَقُولُ عَلَى كُلِّ مسلمٍ في كل عامٍ أضحاةٌ عتيرة وَالْعَتِيرَةُ ذَبِيحَةٌ كَانَتْ تُذْبَحُ فِي رَجَبٍ كَمَا تُذْبَحُ الْأُضْحِيَّةُ فِي ذِي الْحِجَّةِ فَنُسِخَتِ الْعَتِيرَةُ وَبَقِيَتِ الْأُضْحِيَّةُ

Abu Ramlah meriwayatkan dari Mikhnaf bin Sulaym, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Setiap Muslim pada setiap tahun memiliki kewajiban berkurban dan ‘atirah.” ‘Atirah adalah hewan sembelihan yang dahulu disembelih pada bulan Rajab, sebagaimana hewan kurban disembelih pada bulan Dzulhijjah. Kemudian hukum ‘atirah dihapuskan, dan yang tetap adalah hukum kurban.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لا فرعة وَلَا عَتِيرَةَ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْفَرَعَةُ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ أَوَّلُ مَا تُنْتَجُ النَّاقَةُ يَقُولُونَ لَا يَمْلِكُهَا وَيَذْبَحُهَا رَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِي لَبَنِهَا وَكَثْرَةِ نسلها القول في حكم الأضحية

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari Ibnu al-Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada far‘ah dan tidak ada ‘atirah.” Syafi‘i berkata: Far‘ah dalam bahasa Arab adalah anak unta pertama yang dilahirkan oleh induknya; mereka mengatakan bahwa pemiliknya tidak memilikinya, lalu mereka menyembelihnya dengan harapan mendapatkan keberkahan pada susunya dan banyaknya keturunan. Pembahasan mengenai hukum udhiyah.

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الضَّحَايَا مَأْمُورٌ بِهَا فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي وُجُوبِهَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Maka apabila telah tetap bahwa penyembelihan hewan kurban itu diperintahkan, para fuqaha pun berbeda pendapat mengenai kewajibannya menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ عَلَى مُقِيمٍ وَلَا مُسَافِرٍ وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa itu adalah sunnah mu’akkadah dan tidak wajib atas orang yang menetap maupun musafir, dan ini adalah pendapat mayoritas sahabat dan tabi‘in.

وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ

Dan pendapat ini juga dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal, Abu Yusuf, dan Muhammad.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ عَلَى الْمُقِيمِ وَالْمُسَافِرِ وَبِهِ قَالَ رَبِيعَةُ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ

Mazhab kedua, yaitu pendapat Malik, menyatakan bahwa shalat witir itu wajib atas orang yang menetap maupun yang sedang bepergian. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Rabi‘ah, al-Auza‘i, dan al-Laits bin Sa‘d.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهَا وَاجِبَةٌ عَلَى الْمُقِيمِ دُونَ الْمُسَافِرِ احْتِجَاجًا فِي الْوُجُوبِ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ وَهَذَا أَمْرٌ وَبِحَدِيثِ أَبِي رَمْلَةَ عَنْ مِحْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ عَامٍ أضحاةٌ وعتيرةٌ وَبِرِوَايَةِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ لَمْ يُضَحِّ فَلَا يَشْهَدْ مُصَلَّانَا وَهَذَا وَعِيدٌ يَدُلُّ عَلَى الْوُجُوبِ وَبِرِوَايَةِ بِشْرِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ نيار ذبح أضحة قَبْلَ الصَّلَاةِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنْ يُعِيدَ فَدَلَّ الْأَمْرُ بِالْإِعَادَةِ عَلَى الْوُجُوبِ قَالُوا وَلِأَنَّ حُقُوقَ الْأَمْوَالِ إِذَا اخْتُصَّتْ بِالْعِيدِ وَجَبَتْ كَالْفِطْرَةِ قَالُوا وَلِأَنَّ مَا وَجَبَ بِالنَّذْرِ كَانَ لَهُ أَصْلُ وُجُوبٍ فِي الشَّرْعِ كَالْعِتْقِ وَلِأَنَّ تَوْقِيتَ زَمَانِهَا وَالنَّهْيَ عَنْ مَعِيبِهَا دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِهَا كَالزَّكَوَاتِ وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ مِنْدَلٌ عَنِ ابْنِ خَبَّابٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْأَضَاحِيُّ عليَّ فريضةٌ وَعَلَيْكُمْ سنةٌ وَهَذَا نص

Mazhab ketiga, yaitu pendapat Abu Hanifah, menyatakan bahwa kurban itu wajib atas orang yang menetap (mukim) dan tidak wajib atas musafir. Dalil kewajibannya adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ini adalah perintah. Juga berdasarkan hadis Abu Ramlah dari Mihnaf bin Sulaim dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Atas setiap Muslim di setiap tahun ada kurban (‘udhiyah) dan ‘atirah.” Dan berdasarkan riwayat Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak berkurban, maka janganlah ia mendatangi tempat salat kami.” Ini adalah ancaman yang menunjukkan kewajiban. Juga berdasarkan riwayat Bisyr bin Yasar bahwa Abu Burdah bin Niyar menyembelih kurban sebelum salat, lalu Nabi ﷺ memerintahkannya untuk mengulangi, maka perintah untuk mengulangi itu menunjukkan kewajiban. Mereka berkata: Karena hak-hak harta jika dikhususkan pada hari raya menjadi wajib seperti zakat fitrah. Mereka juga berkata: Sesuatu yang wajib karena nazar, pasti memiliki asal kewajiban dalam syariat, seperti memerdekakan budak. Dan karena penetapan waktu pelaksanaannya serta larangan terhadap cacat pada hewan kurban adalah dalil atas kewajibannya, seperti zakat. Adapun dalil kami adalah riwayat Mindal dari Ibnu Khabbab dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Kurban itu wajib atasku dan sunnah atas kalian.” Ini adalah nash.

وَرَوَى عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ ثلاثٌ كُتِبَتْ عليَّ وَلَمْ تُكْتَبْ عَلَيْكُمْ الْوِتْرُ وَالنَّحْرُ وَالسِّوَاكُ

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tiga perkara diwajibkan atas diriku dan tidak diwajibkan atas kalian: witir, menyembelih (hewan kurban), dan siwak.”

وَرَوَى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا بَشَرِهِ شَيْئًا فَعَلَّقَ الْأُضْحِيَّةَ بِالْإِرَادَةِ وَلَوْ وَجَبَتْ لَحَتَّمَهَا فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ قَالَ مَنْ أَرَادَ مِنْكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ فَلَمْ يَدُلَّ تَعْلِيقُ الْجُمُعَةِ عَلَى الْإِرَادَةِ عَلَى أَنَّهَا غَيْرُ وَاجِبَةٍ كَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ قُلْنَا إِنَّمَا عَلَّقَ بِالْإِرَادَةِ الْغُسْلَ دُونَ الْجُمُعَةِ وَالْغُسْلُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ فَكَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ

Said bin al-Musayyab meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia menyentuh sedikit pun dari rambut dan kulitnya.” Maka Nabi menggantungkan (kewajiban) berkurban pada keinginan. Jika berkurban itu wajib, tentu beliau akan mewajibkannya secara tegas. Jika ada yang berkata: Nabi juga bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang ingin melaksanakan salat Jumat, maka hendaklah ia mandi,” namun pengaitan salat Jumat dengan keinginan tidak menunjukkan bahwa salat Jumat itu tidak wajib, demikian pula dengan kurban. Kami katakan: Sesungguhnya yang dikaitkan dengan keinginan adalah mandi, bukan salat Jumat, dan mandi itu sendiri tidak wajib. Maka demikian pula dengan kurban.

وَرُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَا يَنْعَقِدُ بِهِ الْإِجْمَاعُ عَلَى سُقُوطِ الْوُجُوبِ فَرُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ أَنَّهُمَا كَانَا لَا يُضَحِّيَانِ مَخَافَةَ أَنْ يُرَى أَنَّهَا وَاجِبَةٌ

Diriwayatkan dari para sahabat radhiyallāhu ‘anhum suatu hal yang menjadi dasar ijmā‘ tentang gugurnya kewajiban, yaitu diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar bahwa keduanya tidak berkurban karena khawatir dianggap bahwa kurban itu wajib.

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا أُضَحِّي وَأَنَا موسرٌ لِئَلَّا يُقَدِّرَ جِيرَانِي أَنَّهَا واجبةٌ عليَّ

Diriwayatkan dari Abu Mas‘ud al-Badri bahwa ia berkata, “Aku tidak berkurban padahal aku mampu, agar tetanggaku tidak mengira bahwa kurban itu wajib atasku.”

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ أَعْطَى عِكْرِمَةَ درهمين وأمره أن يشري بِهَا لَحْمًا وَقَالَ مَنْ سَأَلَكَ عَنْ هَذَا فَقُلْ هَذِهِ أُضْحِيَّةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَإِنْ قِيلَ فَلَعَلَّ ذَلِكَ لِعُدْمٍ قِيلَ قَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ عِنْدِي نَفَقَةُ ثَمَانِينَ سَنَةً كُلَّ يَوْمٍ أَلْفٌ

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia memberikan dua dirham kepada ‘Ikrimah dan memerintahkannya untuk membeli daging dengan uang itu, lalu berkata, “Jika ada yang bertanya kepadamu tentang hal ini, katakanlah: ‘Ini adalah udhiyah Ibnu ‘Abbas.’” Jika dikatakan, “Mungkin itu karena kekurangan (harta),” maka dijawab: “Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, ‘Aku memiliki nafkah untuk delapan puluh tahun, setiap hari seribu (dirham).’”

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّهُ إِرَاقَةُ دَمٍ لَا تَجِبُ عَلَى الْمُسَافِرِ فَلَا تَجِبُ عَلَى الْحَاضِرِ كَالْعَقِيقَةِ وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ الْعَقِيقَةُ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ الْأُضْحِيَّةُ كَالْمُسَافِرِ وَلِأَنَّهَا أُضْحِيَّةٌ لَا تَجِبُ عَلَى الْمُسَافِرِ فَلَمْ تَجِبْ عَلَى الْحَاضِرِ كَالْوَاجِدِ لِأَقَلَّ مِنْ نِصَابٍ وَلِأَنَّ مَا سَقَطَ وُجُوبُهُ بِفَوَاتِ وَقْتِهِ مَعَ إِمْكَانِ الْقَضَاءِ سَقَطَ وُجُوبُهُ فِي وَقْتِهِ مَعَ إِمْكَانِ الْأَدَاءِ كَسَائِرِ السُّنَنِ طَرْدًا وَجَمِيعِ الْفُرُوضِ عَكْسًا وَلِأَنَّ كُلَّ ذَبِيحَةٍ حَلَّ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا لَمْ يَجِبْ عَلَيْهَا ذَبْحُهَا كَالتَّطَوُّعِ طَرْدًا وَدَمِ الْمَنَاسِكِ عَكْسًا

Dan di antara qiyās adalah bahwa ia merupakan penumpahan darah yang tidak wajib atas musafir, maka tidak pula wajib atas orang yang mukim, seperti ‘aqīqah. Dan karena siapa yang tidak wajib atasnya ‘aqīqah, tidak pula wajib atasnya udhiyah, seperti musafir. Dan karena ia adalah udhiyah yang tidak wajib atas musafir, maka tidak pula wajib atas orang yang mukim, seperti orang yang memiliki harta kurang dari nisab. Dan karena sesuatu yang gugur kewajibannya karena lewat waktunya padahal masih memungkinkan untuk mengqadha’, maka gugur pula kewajibannya pada waktunya padahal masih memungkinkan untuk melaksanakannya, seperti seluruh sunah secara thard (analogi sejalan), dan seluruh fardhu secara ‘aks (analogi terbalik). Dan karena setiap sembelihan yang halal baginya untuk memakannya, maka tidak wajib atasnya menyembelihnya, seperti tathawwu‘ (kurban sunnah) secara thard, dan darah manāsik secara ‘aks.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَهُوَ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنِ اخْتِلَافِ التَّأْوِيلِ فِيهَا ثُمَّ لَا يُمْنَعُ حَمْلُهَا عَلَى الِاسْتِحْبَابِ لِمَا ذَكَرْنَا

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan mengenai perbedaan penafsiran di dalamnya, kemudian tidak terlarang untuk memaknainya sebagai anjuran (istihbāb) sebagaimana yang telah kami jelaskan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَى كُلِّ مسلمٍ فِي كُلِّ عامٍ أضحاةٌ وعتيرةٌ فمن وجهين أحدهما أن رواية أبو رَمْلَةَ عَنْ مِحْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ وَهُمَا مَجْهُولَانِ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ وَالثَّانِي أَنَّ جَمْعَهُ بَيْنَ الْأُضْحِيَّةِ وَالْعَتِيرَةِ دَلِيلٌ عَلَى اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْحُكْمِ وَالْعَتِيرَةُ غَيْرُ وَاجِبَةٍ فَكَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap Muslim pada setiap tahun wajib berkurban dan ber‘atirah,” adalah dari dua sisi. Pertama, riwayat Abu Ramlah dari Mihnaf bin Sulaim, keduanya adalah perawi yang majhul menurut para ahli hadits. Kedua, penggabungan antara ibadah udhiyah dan ‘atirah dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa keduanya memiliki hukum yang sama, sedangkan ‘atirah tidak wajib, maka demikian pula udhiyah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ لَمْ يُضَحِّ فَلَا يَشْهَدْ مُصَلَّانَا فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa yang tidak berkurban, maka janganlah ia menghadiri tempat salat kami,” maka hal ini dapat dijelaskan dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ جَمَعَ فِي التَّرْكِ بَيْنَ الْأُضْحِيَّةِ وَالتَّأَخُّرِ عَنِ الصَّلَاةِ وَالصَّلَاةُ سُنَّةٌ فَكَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ وَيَكُونُ مَعْنَاهُ أَنَّ مَنْ تَرَكَ مَا أَمَرْنَاهُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ فَلْيَتْرُكْ مَا أَمَرْنَاهُ مِنَ الصَّلَاةِ

Salah satunya adalah bahwa ia menggabungkan dalam hal meninggalkan antara ibadah kurban dan keterlambatan dari salat, sedangkan salat itu sunnah, maka demikian pula ibadah kurban. Dan maknanya adalah bahwa siapa yang meninggalkan apa yang telah kami perintahkan berupa ibadah kurban, maka hendaklah ia juga meninggalkan apa yang telah kami perintahkan berupa salat.

وَالثَّانِي إِنَّ هَذَا زَجْرٌ يَتَوَجَّهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْوُجُوبِ كَمَا قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ شَيْئًا فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Kedua, sesungguhnya larangan ini ditujukan kepada anjuran (istihbāb) dan bukan kepada kewajiban (wujūb), sebagaimana sabda beliau: “Barang siapa yang memakan sesuatu dari tumbuhan ini, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.”

فَأَمَّا الْوَاجِبَاتُ فَالْأَمْرُ بِهَا وَإِلْزَامُ فِعْلِهَا أَبْلَغُ فِي الْوُجُوبِ مِنْ هَذَا الزَّجْرِ

Adapun kewajiban-kewajiban, maka perintah untuk melaksanakannya dan mewajibkan pelaksanaannya lebih kuat dalam penegasan kewajiban dibandingkan larangan seperti ini.

وَأَمَّا حَدِيثُ أَبِي بُرْدَةَ فَمَحْمُولٌ عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ إِمَّا عَلَى الْإِعَادَةِ اسْتِحْبَابًا وَإِمَّا عَلَى الْوُجُوبِ لِأَنَّهَا كَانَتْ نَذْرًا

Adapun hadis Abu Burdah, maka dapat dipahami dalam dua kemungkinan: bisa dimaknai sebagai anjuran untuk mengulangi (ibadah tersebut), atau sebagai kewajiban karena (ibadah itu) merupakan nazar.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى زَكَاةِ الْفِطْرِ فَهُوَ أَنَّ زَكَاةَ الْفِطْرِ لَمَّا اسْتَوَى فِيهَا الْحَاضِرُ وَالْمُسَافِرُ وَلَزِمَ قَضَاؤُهَا مَعَ الْفَوَاتِ وَخَلَفَ مِنْهَا لِأُضْحِيَّةٍ جَازَ أَنْ تَجِبَ زَكَاةُ الْفِطْرِ وَلَمْ تَجِبِ الْأُضْحِيَّةُ

Adapun jawaban atas qiyās mereka dengan zakat fitrah adalah bahwa zakat fitrah itu, karena berlaku sama bagi orang yang menetap maupun musafir, wajib menggantinya jika terlewat, dan ada pengganti darinya untuk kurban, maka boleh saja zakat fitrah itu diwajibkan sedangkan kurban tidak diwajibkan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ بِأَنَّ مَا وَجَبَ بِالنَّذْرِ كَانَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ فَهُوَ أَنَّ لَهُ في الشرع أصل في دماء الحج فلم يحتج أن يكون الْأُضْحِيَّةُ لَهُ أَصْلًا

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka bahwa sesuatu yang diwajibkan karena nadzar harus memiliki asal dalam syariat, maka sesungguhnya hal itu memang memiliki asal dalam syariat pada dam haji, sehingga tidak perlu ada asal khusus untuk kurban.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِوَقْتِهَا وَالِامْتِنَاعِ مِنَ الْعُيُوبِ فِيهَا فَهُوَ إِنَّ هَذَيْنِ مُعْتَبَرَانِ فِي حَقِّ الْمُسَافِرِ وَإِنْ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ فَكَذَلِكَ اعْتِبَارُهَا فِي حَقِّ الْحَاضِرِ لا يقتضي وجوبها عليه والله أعلم القول في أخذ المضحي من شعره وبشره في عشر ذي الحجة

Adapun jawaban atas dalil mereka tentang penetapan waktunya dan larangan adanya cacat padanya adalah bahwa kedua hal tersebut dipertimbangkan bagi musafir meskipun tidak wajib atasnya, maka demikian pula pertimbangannya bagi orang yang mukim tidaklah mengharuskan kewajiban atasnya. Allah lebih mengetahui. Pembahasan tentang orang yang berkurban mengambil rambut dan kulitnya pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَأَمَرَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ أَنْ لَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ شَيْئًا اتِّبَاعًا وَاخْتِيَارًا بِدَلَالَةِ السُّنَّةِ وَرَوَتْ عَائِشَةُ أَنَّهَا كَانَتْ تَفْتِلُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ثُمَّ يُقَلِّدُهَا هُوَ بِيَدِهِ ثَمَّ يَبْعَثُ بِهَا فَلَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ شيءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ لَهُ حَتَى نَحَرَ الْهَدْيَ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَالْأُضْحِيَّةُ سُنَّةُ تطوعٍ لَا نُحِبُّ تَرْكَهَا وَإِذْ كَانَتْ غَيْرَ فرضٍ

Syafi‘i berkata: “Dan beliau memerintahkan orang yang ingin berkurban agar tidak menyentuh sedikit pun dari rambutnya, sebagai bentuk mengikuti dan memilih berdasarkan petunjuk sunnah.” Aisyah meriwayatkan bahwa ia biasa menganyam kalung hewan hadyu Rasulullah saw., lalu beliau sendiri yang mengalungkannya dengan tangannya, kemudian mengirimkannya, dan tidak ada sesuatu pun yang diharamkan Allah atas beliau sampai beliau menyembelih hadyu tersebut. Syafi‘i rahimahullah berkata: “Dan kurban adalah sunnah tathawwu‘ (ibadah sunnah) yang kami tidak suka untuk ditinggalkan, dan karena ia bukanlah fardhu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إذا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا بَشَرِهِ شَيْئًا

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan bin ‘Uyaynah, dari ‘Abdurrahman bin Humaid, dari Sa‘id bin al-Musayyab, dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila telah masuk sepuluh hari (awal Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia menyentuh sedikit pun dari rambut atau kulitnya.”

وَرَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ الْحَكَمِ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ رَأَى هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ قَالَ هُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ

Dan hadis ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Ahmad bin al-Hakam al-Bashri berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja‘far dari Syu‘bah dari Malik bin Anas dari ‘Amr bin Muslim dari Ibnu al-Musayyab dari Ummu Salamah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang melihat hilal Dzulhijjah dan ingin berkurban, maka janganlah ia mengambil sedikit pun dari rambutnya dan kukunya.’” Ia (at-Tirmidzi) berkata, “Ini adalah hadis hasan.”

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الْعَمَلِ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai penerapan hadis ini menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أنه مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْإِيجَابِ وَأَنَّ مِنَ السُّنَّةِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ أَنْ يَمْتَنِعَ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ مِنْ أَخْذِ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ فَإِنْ أَخَذَ كُرِهَ لَهُ وَلَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i, menyatakan bahwa hal itu dianjurkan (mustahabb) dan bukan wajib, serta termasuk sunnah bagi orang yang ingin berkurban untuk menahan diri selama sepuluh hari Dzulhijjah dari memotong rambut dan kukunya. Jika ia tetap memotongnya, maka hukumnya makruh baginya dan tidak diharamkan atasnya.

وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ

Dan ini adalah pendapat Sa‘īd bin al-Musayyab.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي هُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ وَأَخْذُهُ لِشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ حَرَامٌ عَلَيْهِ لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ وَتَشْبِيهًا بِالْمُحْرِمِ

Mazhab kedua adalah pendapat Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih, yaitu bahwa hal itu bermakna wajib, dan mengambil rambut serta bulunya adalah haram baginya berdasarkan zahir hadis dan penyerupaannya dengan orang yang sedang ihram.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَلَا يُكْرَهُ أَخْذُ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ احْتِجَاجًا بِأَنَّهُ مُحِلٌّ فَلَمْ يُكْرَهْ لَهُ أَخْذُ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ كَغَيْرِ الْمُضَحِّي وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ الطِّيبُ وَاللِّبَاسُ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ حَلْقُ الشَّعْرِ كَالْمُحِلِّ

Mazhab ketiga, yaitu pendapat Abu Hanifah dan Malik, menyatakan bahwa hal itu bukanlah sunnah dan tidak makruh mengambil rambut dan kukunya, dengan alasan bahwa ia adalah orang yang tidak sedang berihram, sehingga tidak dimakruhkan baginya mengambil rambut dan kukunya sebagaimana selain orang yang berkurban. Dan karena siapa saja yang tidak diharamkan memakai wewangian dan pakaian, maka tidak diharamkan pula mencukur rambut, sebagaimana orang yang tidak sedang berihram.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ إِنَّهُ مَسْنُونٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيِّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَنَا فَتَلْتُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِيَدَيَّ ثُمَّ قَلَّدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ثُمَّ بَعَثَ بِهَا مَعَ أَبِي فَلَمْ يَحْرُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ شيءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ لَهُ حَتَى نَحَرَ الْهَدْيَ فَكَانَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَضَحَايَاهُ لِأَنَّهُ كَانَ بِالْمَدِينَةِ وَأَنْفَذَهَا مِعْ أَبِي بَكْرٍ سَنَةَ تِسْعٍ وَحُكْمُهَا أَغْلَظُ لِسَوْقِهَا إِلَى الْحَرَمِ فَلَمَّا لَمْ يُحَرِّمْ عَلَى نَفْسِهِ شَيْئًا كَانَ غَيْرُهُ أَوْلَى إِذَا ضَحَّى فِي غَيْرِ الْحَرَمِ وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْقِيَاسَيْنِ وَاسْتِدْلَالُ أَبِي حَنِيفَةَ عَلَيْنَا وَهُمَا فِي اسْتِدْلَالِ أَبِي حَنِيفَةَ بِهِمَا مَرْفُوعَانِ بِالنَّصِّ وَوَجَبَ اسْتِعْمَالُ الْخَبَرَيْنِ فَنَحْمِلُ الْأَمْرَ بِهِ عَلَى السُّنَّةِ وَالِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْإِيجَابِ بِدَلِيلِ الْخَبَرِ الْآخَرِ فَلَا يَكُونُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا مُطَّرَحًا

Dalil bagi pendapat Ahmad dan Ishaq bahwa hal itu adalah sunnah dan bukan wajib adalah riwayat yang dibawakan oleh asy-Syafi‘i dari Malik, dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku sendiri yang memintal kalung hewan hadyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tanganku, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalungkannya, kemudian beliau mengirimkannya bersama ayahku, dan tidak ada satu pun yang diharamkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari apa yang Allah halalkan baginya sampai beliau menyembelih hadyu tersebut.” Maka hadyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hewan kurbannya, karena beliau berada di Madinah dan mengirimkannya bersama Abu Bakar pada tahun kesembilan, hukumnya lebih berat karena dikirim ke tanah haram. Maka ketika beliau tidak mengharamkan sesuatu atas dirinya, maka orang lain lebih utama (tidak mengharamkan) jika berkurban di luar tanah haram. Hal ini juga ditunjukkan oleh dua qiyās yang telah kami sebutkan sebelumnya dan istidlal Abu Hanifah terhadap kami, keduanya dalam istidlal Abu Hanifah dengan dua hal tersebut bersandar pada nash. Maka wajib menggunakan kedua hadis tersebut, sehingga kami memahami perintah itu sebagai sunnah dan anjuran, bukan kewajiban, berdasarkan dalil hadis yang lain, sehingga tidak ada satu pun dari keduanya yang ditinggalkan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ سنةٌ فَفِي قَوْلِهِ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا بَشَرِهِ شَيْئًا تَأْوِيلَانِ ذَكَرَهُمَا الشَّافِعِيُّ

Maka apabila telah tetap bahwa hal itu adalah sunnah, maka dalam ucapannya “maka janganlah ia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya” terdapat dua penafsiran yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ أَرَادَ بِالشَّعْرِ شَعْرَ الرَّأْسِ وَبِالْبَشَرَةِ شَعْرَ الْبَدَنِ فَعَلَى هَذَا لَا يُكْرَهُ تَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “rambut” adalah rambut kepala, dan yang dimaksud dengan “basyarah” adalah rambut badan. Dengan demikian, memotong kuku tidaklah makruh.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي إِنَّهُ أَرَادَ بِالشَّعْرِ شَعْرَ الرَّأْسِ وَالْبَدَنِ وَبِالْبَشَرَةِ تَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ وَتَكُونُ السُّنَّةُ فِي تَرْكِهِ لِأَخْذِ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ سَوَاءً وَأَخْذُهُ لَهُمَا مَعًا مَكْرُوهًا وَلَا يُكْرَهُ لَهُ الطِّيبُ وَاللِّبَاسُ اقْتِصَارًا عَلَى مَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي أَوَّلِ زَمَانِ الْكَرَاهَةِ لِأَخْذِ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ بَعْدَ اسْتِهْلَالِ ذِي الْحِجَّةِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Penafsiran kedua adalah bahwa yang dimaksud dengan “rambut” adalah rambut kepala dan badan, dan yang dimaksud dengan “basyarah” adalah memotong kuku. Maka sunnahnya adalah meninggalkan mengambil rambut dan kuku secara bersamaan, dan mengambil keduanya sekaligus hukumnya makruh. Tidak dimakruhkan baginya memakai wewangian dan pakaian, terbatas pada apa yang disebutkan dalam hadis. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang awal waktu kemakruhan mengambil rambut dan kuku setelah masuknya bulan Dzulhijjah, ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِذَا عَزَمَ عَلَى أَنْ يُضَحِّيَ وَلَمْ يُعَيِّنْهَا كُرِهَ لَهُ أَنْ يَمَسَّ مِنْ شِعْرِهِ وَبَشَرِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ

Salah satunya, jika seseorang telah berniat untuk berkurban namun belum menentukan hewan kurbannya, maka makruh baginya untuk memotong rambut dan kukunya hingga ia menyembelih kurban.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ لَا يُكْرَهُ لَهُ حَتَّى يَشْتَرِيَهَا أَوْ يُعَيِّنَهَا مِنْ جُمْلَةِ مَوَاشِيهِ فَيُكْرَهُ لَهُ بِالشِّرَاءِ وَالتَّعْيِينِ

Pendapat kedua, tidak makruh baginya sampai ia membelinya atau menentukannya dari sekumpulan hewan ternaknya, maka menjadi makruh baginya dengan pembelian dan penentuan tersebut.

أَخْذُ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ وَلَا يُكْرَهُ بِالْعَزْمِ وَالنِّيَّةِ قَبْلَ التَّعْيِينِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Mengambil rambut dan kulitnya tidaklah makruh dengan tekad dan niat sebelum penetapan, dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي فَإِذَا ضَحَّى الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ فَقَدْ وَقَعَ ثَمَّ اسْمُ أضحيةٍ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang telah berkurban di rumahnya, maka telah berlaku atasnya nama udhiyah (kurban).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَيُقَالُ ضحيةٌ وَأُضْحِيَّةٌ وأضحاةٌ وَالضَّحَايَا جَمْعُ ضَحِيَّةٍ وَالْأَضَاحِيُّ جَمْعُ أُضْحِيَّةٍ وَالْأَضْحي جَمْعُ أضحاةٌ وَقَصَدَ الشَّافِعِيُّ بِهَذَا بَيَانَ مَا بَيْنَ الْأَضَاحِيِّ وَالْهَدَايَا مِنْ جَمْعٍ وَفَرْقٍ فَيَجْتَمِعَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ وَيَفْتَرِقَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Dikatakan ḍaḥiyyah, uḍḥiyyah, dan aḍḥāh, sedangkan ḍaḥāyā adalah jamak dari ḍaḥiyyah, al-aḍāḥī adalah jamak dari uḍḥiyyah, dan al-aḍḥi adalah jamak dari aḍḥāh. Dengan ini, al-Syafi‘i bermaksud menjelaskan perbedaan dan persamaan antara al-aḍāḥī dan al-hadāyā, di mana keduanya memiliki dua sisi persamaan dan dua sisi perbedaan.

فَأَمَّا الْوَجْهَانِ فِي الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا فَهُوَ أَنَّهُمَا مَعًا مَسْنُونَتَانِ غَيْرُ وَاجِبَتَيْنِ

Adapun dua pendapat dalam menggabungkan keduanya adalah bahwa keduanya sama-sama disunnahkan dan tidak diwajibkan.

وَالثَّانِي إِنَّ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَيَتَصَدَّقَ وَيُطْعِمَ الْأَغْنِيَاءَ وَأَمَّا الْوَجْهَانِ فِي الْفَرْقِ فَهُوَ أَنَّ مَحَلَّ الْهَدَايَا فِي الْحَرَمِ وَمَوْضِعَ الضَّحَايَا فِي مَوْضِعِ الْمُضَحِّي

Kedua, sesungguhnya ia boleh memakan sebagian darinya, bersedekah, dan memberi makan orang-orang kaya. Adapun dua pendapat dalam perbedaan antara keduanya adalah bahwa tempat penyembelihan hadaya (hewan hadyu) adalah di Tanah Haram, sedangkan tempat penyembelihan dhahaya (hewan kurban) adalah di tempat orang yang berkurban.

وَالثَّانِي إِنَّهُ يُمْنَعُ مِنْ إِخْرَاجِ لُحُومِ الْهَدَايَا مِنَ الْحَرَمِ وَإِنْ جَازَ لَهُ ادِّخَارُهُ فِيهِ وَلَا يُمْنَعُ مِنْ إِخْرَاجِ لُحُومِ الضَّحَايَا عَنْ بَلَدِ الْمُضَحِّي

Kedua, sesungguhnya dilarang mengeluarkan daging hadaya dari wilayah Haram, meskipun diperbolehkan baginya untuk menyimpannya di dalamnya, dan tidak dilarang mengeluarkan daging dhahaya dari negeri orang yang berkurban.

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا جَازَ لِلْمُضَحِّي أن يضحي في بيته تكتب في الوسط غير بيته سراً وجهراً وَإِذَا ضَحَّى بِشَاةٍ أَقَامَ بِهَا السُّنَّةَ وَإِنْ كَثُرَ أَهْلُهُ وَلَا يُؤْمَرُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَإِنْ وَجَبَتْ زَكَاةُ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لِأَنَّهُمْ مُشْتَرِكُونَ فِي أَكْلِ الْأُضْحِيَّةِ فَعَمَّتْ وَلَيْسَ لَهُمْ فِي الزَّكَاةِ حق فخصت ما يجزئ في الأضحية من السن وخلاف العلماء في ذلك

Jika hal ini telah dipahami, maka diperbolehkan bagi orang yang berkurban untuk berkurban di rumahnya, di tempat lain selain rumahnya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Jika ia berkurban dengan seekor kambing, maka ia telah menunaikan sunnah, meskipun anggota keluarganya banyak, dan ia tidak diwajibkan untuk berkurban atas nama setiap anggota keluarganya, meskipun zakat fitrah wajib atas setiap dari mereka, karena mereka bersama-sama dalam memakan daging kurban sehingga kurban itu mencakup semuanya. Adapun zakat, mereka tidak memiliki hak di dalamnya sehingga zakat itu bersifat khusus. Inilah yang mencukupi dalam kurban dari segi usia hewan, dan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini.

مسألة

Masalah

قال الشافعي قال وَيَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ وَالثَّنِيُّ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْمَعْزِ ولَا يَجُوزُ دُونَ هَذَا مِنَ السِّنِّ

Syafi‘i berkata: Diperbolehkan dalam hewan kurban menggunakan jadza‘ dari domba, tsaniy dari unta, sapi, dan kambing, dan tidak diperbolehkan yang usianya di bawah itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الضَّحَايَا فَلَا تَجُوزُ إِلَّا مِنَ النَّعَمِ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun hewan kurban, maka tidak boleh kecuali dari an‘am (hewan ternak) karena dua hal.”

أَحَدُهُمَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ

Salah satunya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dihalalkan bagi kalian hewan ternak.”

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا اخْتَصَّتْ بِوُجُوبِ الزَّكَاةِ اخْتَصَّتِ الْأُضْحِيَّةُ لِأَنَّهَا قُرْبَةٌ وَالنَّعَمُ هِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ قَالَ الشَّافِعِيُّ هُمُ الْأَزْوَاجُ الثَّمَانِيَةُ الَّتِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

Kedua, karena zakat secara khusus diwajibkan atasnya, maka kurban pun secara khusus ditetapkan padanya, karena kurban adalah bentuk pendekatan diri (kepada Allah), dan hewan ternak (an-nam) adalah unta, sapi, dan kambing. Imam Syafi‘i berkata: Mereka adalah delapan jenis pasangan yang disebutkan oleh Allah Ta‘ala.

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وِمَنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ يَعْنِي ذَكَرًا وَأُنْثَى فَاخْتَصَّ هَذِهِ الْأَزْوَاجَ الثَّمَانِيَةَ مِنَ النَّعَمِ بِثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ أَحَدُهَا وُجُوبُ الزَّكَاةِ فِيهَا وَالثَّانِي اخْتِصَاصُ الْأَضَاحِيِّ بِهَا وَالثَّالِثُ إِبَاحَتُهَا فِي الْحَرَمِ وَالْإِحْرَامِ

Delapan pasangan, dari domba dua ekor dan dari kambing dua ekor, yaitu jantan dan betina. Maka delapan pasangan dari hewan ternak ini dikhususkan dengan tiga hukum: pertama, wajib zakat atasnya; kedua, khusus untuk hewan kurban; dan ketiga, dibolehkannya di tanah haram dan saat ihram.

وَفِي تَسْمِيَتِهَا نعماً وجهان أحدهما لنعومة وطأها إِذَا مَشَتْ حَتَّى لَا يُسْمَعَ لِأَقْدَامِهَا وَقْعٌ وَالثَّانِي لِعُمُومِ النِّعْمَةِ فِيهَا فِي كَثْرَةِ الِانْتِفَاعِ بِأَلْبَانِهَا وَنِتَاجِهَا

Dalam penamaannya sebagai “na‘am” terdapat dua pendapat: yang pertama, karena lembutnya pijakan kakinya ketika berjalan sehingga tidak terdengar suara langkah kakinya; dan yang kedua, karena besarnya kenikmatan yang terdapat padanya, yaitu banyaknya manfaat dari susunya dan anak-anaknya.

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الضَّحَايَا بِالْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ دُونَ مَا عَدَاهَا مِنْ جَمِيعِ الْحَيَوَانِ فَأَسْنَانُ مَا يَجُوزُ فِي الضَّحَايَا مِنْهَا مُعْتَبَرَةٌ وَلَا يُجْزِئُ دُونَهَا وَقَدْ أَجْمَعْنَا عَلَى أَنَّهُ لَا يُجْزِئُ مَا دُونَ الْجِذَاعِ مِنْ جَمِيعِهَا وَلَا يَلْزَمُ مَا فَوْقَ الثَّنَايَا مِنْ جَمِيعِهَا وَاخْتَلَفُوا فِي الْجِذَاعِ وَالثَّنَايَا عَلَى ثَلَاثَةٍ

Jika telah dipastikan bahwa hewan kurban adalah unta, sapi, dan kambing, bukan selainnya dari seluruh jenis hewan, maka usia hewan yang sah untuk kurban dari jenis-jenis tersebut harus diperhatikan, dan tidak sah jika kurang dari itu. Kami telah berijmā‘ bahwa tidak sah berkurban dengan hewan yang usianya di bawah jidhā‘ dari seluruh jenis tersebut, dan tidak diwajibkan berkurban dengan hewan yang usianya di atas thanāyā dari seluruh jenis tersebut. Para ulama berbeda pendapat mengenai jidhā‘ dan thanāyā menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَالزُّهْرِيِّ إِنَّهُ لَا يُجْزِئُ مِنْهَا إِلَّا الثَّنَايَا مِنْ جَمِيعِهَا وَلَا يُجْزِئُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ كَمَا لَا يُجْزِئُ الْجَذَعُ مِنَ الْمَعْزِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abdullah bin Umar dan az-Zuhri, menyatakan bahwa yang sah untuk kurban hanyalah hewan yang telah mencapai usia tsanāyā dari semua jenisnya, dan tidak sah kurban dengan jadza‘ dari domba sebagaimana tidak sah pula jadza‘ dari kambing.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ عَطَاءٍ وَالْأَوْزَاعِيِّ إِنَّهُ يُجْزِئُ الْجَذَعُ مِنْ جَمِيعِهَا حَتَّى مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْمَعْزِ كَمَا يُجْزِئُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ

Mazhab kedua, yaitu pendapat ‘Aṭā’ dan al-Awzā‘ī, menyatakan bahwa jadza‘ (hewan yang berumur satu tahun) dari semua jenis hewan sudah mencukupi, bahkan dari unta, sapi, dan kambing, sebagaimana jadza‘ dari domba juga mencukupi.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَالْجُمْهُورِ مِنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ لَا يُجْزِئُ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْمَعْزِ إِلَّا الَّتِي دُونَ الْجَذَعِ وَيُجْزِئُ مِنَ الضَّأْنِ وَحْدَهُ الْجَذَعُ

Mazhab ketiga, yaitu pendapat asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, dan jumhur para fuqaha, menyatakan bahwa tidak sah berkurban dari unta, sapi, dan kambing kecuali yang usianya di bawah jadza‘, dan yang sah dari domba hanyalah yang sudah mencapai usia jadza‘ saja.

وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مسنةٌ إِلَّا أَنْ تَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

Dan dalil tentang hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, kecuali jika itu menyulitkan kalian, maka sembelihlah jadza‘ah dari domba.”

فَدَلَّ هَذَا الْخَبَرُ عَلَى اعْتِبَارِ الْمُسِنِّ مِنْ غَيْرِ الضَّأْنِ وَالْجَذَعِ مِنَ الضَّأْنِ وَلَيْسَ ذَلِكَ شَرْطًا فِي الِاعْتِبَارِ لِمَا رَوَى زَيْدُ بْنُ خَالِدٍ الْجُهَنِيُّ قَالَ قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَأَعْطَانِي عَنْزًا ذَا جَذَعٍ فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ إِنَّهُ جَذَعٌ فَقَالَ ضَحِّ بِهِ فَضَحَّيْتُ بِهِ

Maka hadis ini menunjukkan bahwa yang diperhitungkan adalah hewan yang sudah tua dari selain domba, dan hewan yang berumur satu tahun dari jenis domba, dan hal itu bukanlah syarat dalam perhitungan, berdasarkan riwayat dari Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan hewan kurban di antara para sahabatnya, lalu beliau memberiku seekor kambing yang berumur satu tahun. Aku kembali kepada beliau dan berkata, “Ini masih berumur satu tahun.” Beliau bersabda, “Kurbanlah dengannya.” Maka aku pun berkurban dengannya.

وَرُوِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْجَذَعِ مِنَ الضَّأْنِ فَقَالَ ضَحِّ بِهِ وروى ابن عباس قَالَ جَلَبْتُ غَنَمًا جِذَاعًا إِلَى الْمَدِينَةِ فَكَسَدَتْ عَلَيَّ فَلَقِيتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَقُولُ نِعْمَ الْأُضْحِيَّةُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ قَالَ فَانْتَهَبَهَا النَّاسُ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْجَذَعَ مِنَ الْمَعْزِ لَا يُجْزِئُ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنِ ابْنِ خَبَّابٍ عَنْ يَزِيدَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ خَطَبَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَوْمَ الْعِيدِ فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِ يَوْمِكُمْ هَذَا الصَّلَاةُ فَقَامَ إِلَيْهِ خَالِي أَبُو بُرْدَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ يَوْمًا يَشْتَهِرُ فِيهِ اللَّحْمُ وَإِنَّا عَجَّلْنَا فَذَبَحْنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَبْدِلْهَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عِنْدَنَا مَاعِزًا جَذَعًا فَقَالَ هِيَ لَكَ وَلَيْسَتْ لأحدٍ بَعْدَكَ

Diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang jadza‘ dari domba, maka beliau bersabda: “Sembelihlah itu sebagai kurban.” Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Aku membawa domba-domba jadza‘ ke Madinah, lalu tidak laku terjual, kemudian aku bertemu Abu Hurairah, maka ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik hewan kurban adalah jadza‘ dari domba.” Ia berkata: Maka orang-orang pun segera membelinya. Dan dalil bahwa jadza‘ dari kambing tidak mencukupi adalah apa yang diriwayatkan asy-Syafi‘i dari Sa‘id bin al-Musayyab dari Ibnu Khabbab dari Yazid dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata: Rasulullah ﷺ berkhutbah pada hari ‘Id, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya amalan pertama pada hari kalian ini adalah shalat.” Lalu pamanku, Abu Burdah, berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, ini adalah hari di mana daging sangat dibutuhkan, dan kami telah menyembelih lebih awal. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Gantilah dengan yang lain.” Ia berkata: Wahai Rasulullah, kami hanya memiliki kambing jadza‘. Maka beliau bersabda: “Itu boleh bagimu, dan tidak boleh bagi siapa pun setelahmu.”

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجَذَعَ مِنَ الْمَعْزِ لَا يُجْزِئُ غَيْرَهُ وَفِي تَخْصِيصِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِأَبِي بُرْدَةَ بِإِجْزَائِهَا عَنْهُ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا لِأَنَّهُ كَانَ قَبْلَ اسْتِقْرَارِ الشَّرْعِ فَاسْتثْنى وَالثَّانِي إِنَّهُ عُلِمَ مِنْ صِدْقِ طَاعَتِهِ وَخُلُوصِ نِيَّتِهِ مَا مَيَّزَهُ عَمَّنْ سِوَاهُ

Maka hal ini menunjukkan bahwa kambing jadz‘ (yang berusia satu tahun) tidak mencukupi selain darinya. Dan dalam pengkhususan Nabi ﷺ kepada Abu Burdah dengan membolehkannya (berkurban) dengannya terdapat dua pendapat: yang pertama, karena hal itu terjadi sebelum syariat ditetapkan secara tetap, maka diberikan pengecualian; dan yang kedua, karena diketahui dari kejujuran ketaatan dan ketulusan niatnya sesuatu yang membedakannya dari selainnya.

وَاخْتَلَفُوا هَلْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ اجْتِهَادِ رَأْيِهِ أَوْ عَنْ وَحْيٍ مِنَ الله تعالى؟ على وجهين ما يذبح من الضَّحَايَا مِنَ النَّعَمِ

Mereka berbeda pendapat apakah hal itu berasal dari Rasulullah ﷺ berdasarkan ijtihad pendapat beliau atau berdasarkan wahyu dari Allah Ta‘ala, mengenai hewan ternak yang disembelih sebagai daging kurban.

فَصْلٌ

Bab

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا فِي أَسْنَانِ الضَّحَايَا فَالثَّنِيُّ مِنَ الْإِبِلِ مَا اسْتَكْمَلَ خَمْسَ سِنِينَ وَدَخَلَ فِي السَّادِسَةِ وَرَوَى حَرْمَلَةُ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مَا اسْتَكْمَلَ سِتًّا وَدَخَلَ فِي السَّابِعَةِ وَلَيْسَ هَذَا قَوْلًا ثَانِيًا يُخَالِفُ الْأَوَّلَ كَمَا وَهِمَ فِيهِ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَلَكِنْ مَا رَوَاهُ الْجُمْهُورُ عَنْهُ هُوَ قَوْلُ أَهْلِ اللُّغَةِ إِخْبَارًا عَنِ ابْتِدَاءِ سِنِّ الثَّنِيِّ وَمَا رَوَاهُ حَرْمَلَةُ إِخْبَارًا عَنِ ابْتِدَاءِ سِنِّ الثَّنِيِّ وَمَا رَوَاهُ حَرْمَلَةُ إِخْبَارًا عَنِ انتهاء سِنِّ الثَّنِيِّ وَأَمَّا الثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرِ فَهُوَ مَا اسْتَكْمَلَ سَنَتَيْنِ وَدَخَلَ فِي الثَّالِثَةِ وَرَوَى حَرْمَلَةُ مَا اسْتَكْمَلَ ثَلَاثًا وَدَخَلَ فِي الرَّابِعَةِ وَتَأْوِيلُهُ مَا ذَكَرْنَاهُ وَأَمَّا الثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ فَهُوَ مَا اسْتَكْمَلَ سَنَةً وَدَخَلَ فِي الثَّانِيةِ وَرَوَى حَرْمَلَةُ مَا اسْتَكْمَلَ سَنَتَيْنِ وَتَأْوِيلُهُ مَا ذَكَرْنَاهُ وَأَمَّا الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ وَالْمَعْزِ فَهُوَ ما استكمل ستة أشهر ويدخل فِي الشَّهْرِ السَّابِعِ وَرَوَى حَرْمَلَةُ مَا اسْتَكْمَلَ سنة وتأويله ما ذكرناه

Setelah apa yang telah kami jelaskan mengenai umur hewan kurban, maka tsani dari unta adalah yang telah genap berumur lima tahun dan masuk tahun keenam. Harmalah meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa tsani dari unta adalah yang telah genap enam tahun dan masuk tahun ketujuh. Ini bukanlah pendapat kedua yang berbeda dengan pendapat pertama, sebagaimana disangka oleh sebagian sahabat kami, tetapi riwayat yang disampaikan oleh jumhur darinya adalah pendapat ahli bahasa mengenai permulaan umur tsani, sedangkan riwayat Harmalah adalah mengenai akhir umur tsani. Adapun tsani dari sapi adalah yang telah genap dua tahun dan masuk tahun ketiga. Harmalah meriwayatkan bahwa tsani dari sapi adalah yang telah genap tiga tahun dan masuk tahun keempat, dan penafsirannya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun tsani dari kambing adalah yang telah genap satu tahun dan masuk tahun kedua. Harmalah meriwayatkan bahwa tsani dari kambing adalah yang telah genap dua tahun, dan penafsirannya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun jadza‘ dari domba dan kambing adalah yang telah genap enam bulan dan masuk bulan ketujuh. Harmalah meriwayatkan bahwa jadza‘ adalah yang telah genap satu tahun, dan penafsirannya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَالْإِبِلُ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يُضَحَّى بِهَا مِنَ الْبَقَرِ وَالْبَقَرُ مِنَ الْغَنَمِ وَالضَّأْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الْمَعْزِ

Syafi‘i berkata, “Unta lebih aku sukai untuk dijadikan hewan kurban dibandingkan sapi, dan sapi lebih aku sukai dibandingkan kambing, serta domba lebih aku sukai dibandingkan kambing kacang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَفْضَلُ الضَّحَايَا الثَّنِيُّ مِنَ الْإِبِلِ ثُمَّ الثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرِ ثُمَّ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ ثُمَّ الثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ

Al-Mawardi berkata, “Hewan kurban yang paling utama adalah tsaniy dari unta, kemudian tsaniy dari sapi, kemudian jadza‘ dari domba, kemudian tsaniy dari kambing.”

وَقَالَ مَالِكٌ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ أَفْضَلُهَا لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ أَفْضَلُ الذَّبْحِ الْجَذَعَةُ مِنَ الضَّأْنِ وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا لَفَدَى بِهِ إِسْحَاقَ وَلِأَنَّهَا أَطْيَبُ لَحْمًا وَأَشْهَى إِلَى النُّفُوسِ فَكَانَتْ أَفْضَلَ

Malik berkata, domba jadz‘ (yang berumur satu tahun) adalah yang paling utama, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik hewan sembelihan adalah jadz‘ dari domba. Seandainya Allah mengetahui ada yang lebih baik darinya, niscaya Dia akan menebus Isḥāq dengannya.” Selain itu, dagingnya lebih lezat dan lebih disukai oleh jiwa, sehingga ia menjadi yang paling utama.

وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syi‘ar-syi‘ar Allah; bagi kalian terdapat kebaikan di dalamnya.”

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ أَكْرِمُوا الْإِبِلَ فَإِنَّ فِيهَا رَقْوَ الدَّمِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: Muliakanlah unta, karena pada unta terdapat aliran darah.

وَرَوَى جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ تَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ وَلِأَنَّ الْوَاحِدَ مِنَ الْإِبِلِ عَنْ سَبْعَةٍ فَكَانَ أَفْضَلَ مِنْ جَذَعِ الضَّأْنِ الَّذِي هُوَ عَنْ وَاحِدٍ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ أَفْضَلُ الذَّبْحِ الْجَذَعَةُ مِنَ الضَّأْنِ فَهُوَ أَنَّهُ أَرَادَ أَفْضَلَ مِنَ الْمَعْزِ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُضَحُّونَ بِالْغَنَمِ وَيُهْدُونَ الْإِبِلَ فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الثَّنِيَّ مِنَ الْإِبِلِ أَفْضَلُ فَهُوَ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْفَرِدَ بِنَحْرِهِ فَأَمَّا إِذَا اشْتَرَكَ فِيهِ سَبْعَةٌ لِيَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مُضَحِّيًا بِسُبُعِهَا كَانَتِ الْجَذَعَةُ مِنَ الضَّأْنِ أفضل من سبعها

Jabir meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan musinnah, kecuali jika kalian merasa kesulitan, maka sembelihlah jadza‘ah dari domba.” Karena satu ekor unta dapat digunakan untuk tujuh orang, maka itu lebih utama daripada jadza‘ domba yang hanya untuk satu orang. Adapun jawaban atas perkataan “sebaik-baik hewan sembelihan adalah jadza‘ah dari domba” adalah bahwa yang dimaksud adalah lebih utama daripada kambing, karena mereka biasa berkurban dengan kambing dan menghadiahkan unta. Maka jika telah tetap bahwa tsaniy dari unta lebih utama, itu berlaku bagi orang yang ingin menyembelih sendiri. Adapun jika tujuh orang bersama-sama dalam satu unta sehingga masing-masing dari mereka berkurban dengan sepersejuhnya, maka jadza‘ah dari domba lebih utama daripada sepersejuh unta.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَالْعَفْرَاءُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ السَّوْدَاءِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Al-‘Afrā’ lebih aku sukai daripada as-Sawdā’.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ أَوَّلُ مَا يُضَحَّى بِهِ مِنْ أَلْوَانِ الْغَنَمِ الْبِيضُ ثُمَّ الْعُفْرُ ثُمَّ الْحُمْرُ ثُمَّ الْبُلْقُ ثُمَّ السَّوَادُ فَتَكُونُ الْبِيضُ وَمَا قَارَبَهَا مِنَ الْأَلْوَانِ أَفْضَلَ مِنَ السَّوَادِ لرِوَايَة يَحْيَى بْنِ أَبِي وَرَقَةَ عَنْ مَوْلَاتِهِ كَبِيرَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أَبْرِقُوا فَإِنَّ دَمَ عَفْرَاءَ أَذْكَى عِنْدَ اللَّهِ مِنْ دَمِ سَوْدَاوَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, hewan pertama yang paling utama untuk dijadikan kurban dari jenis domba adalah yang berwarna putih, kemudian yang berwarna ‘ufr (campuran putih dan kemerahan), lalu yang merah, kemudian yang belang, lalu yang hitam. Maka domba putih dan warna yang mendekatinya lebih utama daripada yang hitam, berdasarkan riwayat Yahya bin Abi Waraqah dari majikannya Kabirah binti Abu Sufyan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, ‘Pilihlah yang cerah, karena darah ‘afra’ (domba yang sangat putih) lebih utama di sisi Allah daripada darah dua ekor yang hitam.’”

وَفِي قَوْلِهِ أَبْرِقُوا أَيْ ضَحُّوا بِالْبَرْقَاءِ وَهِيَ الشَّاةُ الَّتِي يَخْتَلِطُ بِبَيَاضِ صُوفِهَا طَاقَاتٌ سُودٌ وَالْعَفْرَاءُ الَّتِي يَضْرِبُ لَوْنُهَا إِلَى الْبَيَاضِ وَلَيْسَتْ صَافِيَةَ الْبَيَاضِ وَمِنْهُ قِيلٌ لِلطُّنُبِ الْعُفْرُ

Dan dalam ucapannya “Abrikū” maksudnya adalah sembelihlah hewan al-barqā’, yaitu domba yang pada bulu putihnya terdapat helaian-helaian hitam. Sedangkan al-‘afra’ adalah domba yang warnanya cenderung putih, tetapi tidak benar-benar putih bersih. Dari kata ini pula disebut tali-tali tenda dengan sebutan al-‘ufr.

وَرُوِيَ أَنَّ امْرَأَةً شَكَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ لَا يُبَارَكُ لَهَا فِي غَنَمِهَا فَقَالَ مَا أَلْوَانُهَا قَالَتْ سودٌ فَقَالَ لَهَا عَفِّرِي أَيِ اخْلِطِيهَا بعفرٍ وَلِأَنَّ لُحُومَ مَا خَالَفَ السَّوَادَ أَطْيَبُ وَأَصَحُّ

Diriwayatkan bahwa seorang wanita mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa tidak ada keberkahan pada kambing-kambingnya. Beliau bertanya, “Apa warnanya?” Wanita itu menjawab, “Hitam.” Maka beliau bersabda kepadanya, “Campurkanlah dengan yang berwarna cokelat kemerahan.” Karena daging yang warnanya selain hitam lebih enak dan lebih sehat.

حَكَى ابْنُ قُتَيْبَةَ أَنَّ مُدَاوَمَةَ أَكْلِ لُحُومِ السَّوَادِ تُحْدِثُ مَوْتَ الْفُجَاءَةِ وَقَدْ حَكَى حَرْمَلَةُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي أَلْوَانِ الْغَنَمِ حُوًّا وَقَهْبًا وحلساً وقمراً وسفعاً ورقشاً وزبداً فالحو هِيَ السُّودُ الَّتِي خَالَطَهَا حُمْرَةٌ

Ibnu Qutaibah meriwayatkan bahwa kebiasaan terus-menerus memakan daging hewan berwarna hitam dapat menyebabkan kematian mendadak. Harmalah meriwayatkan dari asy-Syafi‘i mengenai warna-warna kambing: huwwan, qahban, hilsan, qamaran, saf‘an, raqshan, dan zabadan. Adapun huwwan adalah kambing berwarna hitam yang bercampur warna kemerahan.

وَالْقَهْبَاءُ هِيَ الْبَيْضَاءُ الَّتِي خَالَطَهَا حُمْرَةٌ وَالْحَلْسَاءُ الَّتِي ظَهْرُهَا أَحْمَرُ وَعُنُقُهَا أَسْوَدُ وَالْقَمَرُ الَّتِي فِي وَجْهِهَا خطط بِيضٌ وَسُودٌ وَالسَّفْعَاءُ الَّتِي نَجِدُهَا لَوْنٌ يُخَالِفُ لونها

Qahbā’ adalah unta betina berwarna putih yang bercampur warna kemerahan; halṣā’ adalah unta betina yang punggungnya berwarna merah dan lehernya berwarna hitam; qamar adalah unta betina yang pada wajahnya terdapat garis-garis putih dan hitam; dan saf‘ā’ adalah unta betina yang pada tubuhnya terdapat warna yang berbeda dari warna aslinya.

والرقشاء المنطقة بِبَيَاضٍ وَسَوَادٍ وَالزَّبْدَاءُ الَّتِي اخْتَلَطَ سَوَادُ شَعْرِهَا بِبَيَاضِهِ كَالْبَرْشَاءِ إِلَّا أَنَّ الْبَرْشَاءَ أَكْثَرُ اجْتِمَاعِ سَوَادٍ وَبَيَاضٍ وَبَاقِي هَذِهِ الْأَلْوَانِ إِنْ ضَحَّى لَمْ يَكُنْ فِيهِ كَرَاهِيَةٌ وَإِنْ كَانَ مَا اخْتَرْنَاهُ مِنَ الْأَلْوَانِ أَفْضَلَ فَمِنْهَا مَا كَانَ أَفْضَلَ لِحُسْنِ مَنْظَرِهِ وَمِنْهَا مَا كَانَ أَفْضَلَ لِطِيبِ مَخْبَرِهِ فَإِنِ اجْتَمَعَا كَانَ أَفْضَلَ

Raksyā’ adalah hewan yang pada tubuhnya terdapat bercak putih dan hitam, sedangkan zabdā’ adalah hewan yang warna hitam pada bulunya bercampur dengan warna putih seperti barshā’, hanya saja pada barshā’ perpaduan warna hitam dan putihnya lebih banyak. Adapun warna-warna lain, jika digunakan untuk berkurban, tidak ada unsur makruh di dalamnya, meskipun warna yang kami pilih sebelumnya lebih utama. Di antara warna-warna tersebut ada yang lebih utama karena keindahan penampilannya, dan ada pula yang lebih utama karena baik sifatnya. Jika keduanya berkumpul, maka itu yang lebih utama.

وَإِنِ افْتَرَقَا كَانَ طَيِّبُ الْمَخْبَرِ أَفْضَلَ مِنْ حُسْنِ المنظر

Dan jika keduanya terpisah, maka kebaikan perilaku lebih utama daripada keelokan penampilan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَزَعَمَ بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ قَوْلَ اللَّهِ جَلَّ ثناؤه ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهَ اسْتِسْمَانُ الْهَدْيِ وَاسْتِحْسَانُهُ

Asy-Syafi‘i berkata: Sebagian mufassir berpendapat bahwa firman Allah Ta‘ala “Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syi‘ar-syi‘ar Allah” maksudnya adalah memilih hewan hadyu yang gemuk dan baik.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اخْتَلَفَ الْمُفَسِّرُونَ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمُ شَعَائِرَ اللهِ فَإنَّهَا مِنْ تَقْوَى القُلُوبِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Al-Mawardi berkata, para mufassir berbeda pendapat tentang firman Allah Ta‘ala: “Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syi‘ar-syi‘ar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati,” menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّ شَعَائِرَ اللَّهِ دِينُ اللَّهِ كُلُّهُ وَتَعْظِيمُهَا الْتِزَامُهَا وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ

Salah satunya adalah bahwa syiar-syiar Allah merupakan seluruh ajaran agama Allah, dan mengagungkannya berarti berpegang teguh padanya. Ini adalah pendapat al-Hasan.

وَالثَّانِي إِنَّهَا مَنَاسِكُ الْحَجِّ وَتَعْظِيمُهَا اسْتِيفَاؤُهَا وَهُوَ قَوْلُ جَمَاعَةٍ

Yang kedua, bahwa itu adalah manasik haji dan memuliakannya adalah dengan menyempurnakannya, dan ini adalah pendapat sekelompok ulama.

وَالثَّالِثُ إِنَّهَا الْبُدْنُ الْمُشْعِرَةُ وَتَعْظِيمُهَا اسْتِسْمَانُهَا وَاسْتِحْسَانُهَا وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ وَاخْتِيَارُ الشافعي

Ketiga, bahwa yang dimaksud adalah hewan-hewan hadyu yang diberi tanda (al-budn al-mu‘shirah), dan memuliakannya adalah dengan menggemukkan dan memilih yang terbaik di antaranya. Ini adalah pendapat Mujahid dan pilihan Imam Syafi‘i.

وفي قوله إِنَّهَا مِنْ تَقْوَى القُلُوبِ ثَلَاثُ تَأْوِيلَاتٍ أَحَدُهَا إِنَّهُ إِخْلَاصُ الْقُلُوبِ وَالثَّانِي إِنَّهُ قَصْدُ الثَّوَابِ وَالثَّالِثُ إِنَّهُ مَا أَرْضَى اللَّهَ تَعَالَى

Dalam ucapannya “Sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati” terdapat tiga penafsiran: yang pertama, bahwa itu adalah keikhlasan hati; yang kedua, bahwa itu adalah maksud untuk memperoleh pahala; dan yang ketiga, bahwa itu adalah apa yang diridhai oleh Allah Ta‘ala.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سُئِلَ عَنْ أَفْضَلَ الرِّقَابِ فَقَالَ أَغْلَاهَا ثَمَنًا وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya tentang budak yang paling utama, maka beliau bersabda: “Yang paling mahal harganya dan paling berharga di mata pemiliknya.”

وَرُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لَا تَبْتَعِ إِلَّا مُسِنَّةً وَلَا تَبْتَعْ إِلَّا سَمِينَةً فَإِنْ أَكَلْتَ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَإِنْ أَطْعَمْتَ أَطْعَمْتَ طَيِّبًا فَدَلَّ مَا ذَكَرْنَا عَلَى أَنَّ أَفْضَلَ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا أَسْمَنُهَا وَأَحْسَنُهَا فَإِنْ كَانَتْ غَنَمًا فَأَغْلَاهَا ثَمَنًا وَأَكْثَرُهَا سِمَنًا وَحُسْنًا إِلَّا أَنْ تَكُونَ ذَاتَ لَبَنٍ يَزِيدُ ثَمَنُهَا لِكَثْرَةِ لَبَنِهَا فَيَكُونُ مَا نَقَصَ ثَمَنُهُ إِذَا كَانَ أَزْيَدَ سِمَنًا وَلَحْمًا أَفْضَلَ وَأَمَّا الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ فَقَدْ يَزِيدُ ثَمَنُهَا بِالْعَمَلِ تَارَةً وَبِالسِّمَنِ أُخْرَى فَتَكُونُ سِمَانَهَا أَفْضَلَ مِنْ عَوَامِلِهَا وَإِنْ نَقَصَتْ عَنْ أَثْمَانِهَا لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهَا لُحُومُهَا فَإِنْ كَانَ بَعْضُهَا أَكْثَرَ لَحْمًا وَأَقَلَّ شَحْمًا

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam bahwa beliau berkata: “Janganlah engkau membeli kecuali hewan yang sudah tua dan janganlah engkau membeli kecuali yang gemuk, karena jika engkau memakannya, engkau akan memakan yang baik, dan jika engkau memberikannya kepada orang lain, engkau pun memberikan yang baik.” Maka apa yang telah kami sebutkan menunjukkan bahwa hewan kurban dan hadiah yang paling utama adalah yang paling gemuk dan paling baik. Jika berupa kambing, maka yang paling mahal harganya dan paling gemuk serta paling bagus, kecuali jika ada kambing yang menghasilkan susu sehingga harganya lebih mahal karena banyak susunya, maka yang harganya lebih murah namun lebih gemuk dan berdaging lebih banyak adalah lebih utama. Adapun unta dan sapi, terkadang harganya lebih mahal karena digunakan untuk bekerja, dan terkadang karena gemuknya, maka yang gemuk lebih utama daripada yang digunakan untuk bekerja, meskipun harganya lebih rendah, karena tujuan utamanya adalah dagingnya. Jika sebagian dari hewan tersebut lebih banyak dagingnya dan lebih sedikit lemaknya…

وَبَعْضُهَا أَكْثَرَ شَحْمًا وَأَقَلَّ لَحْمًا فَذَاتُ اللَّحْمِ أَفْضَلُ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَحْمُهَا خَشِنًا لِأَنَّ اللَّحْمَ مَقْصُودٌ وَالشَّحْمَ تَبَعٌ وَإِنْ كَانَ لَحْمُهَا خَشِنًا فَذَاتُ الشَّحْمِ أَفْضَلُ لِأَنَّ قَلِيلَ لَحْمِهَا أَنْفَعُ مِنْ كَثِيرِ الْأُخْرَى الْعُيُوبُ الَّتِي تُرَدُّ بِهَا الْأُضْحِيَّةُ

Sebagian hewan lebih banyak mengandung lemak dan lebih sedikit dagingnya. Maka hewan yang lebih banyak dagingnya lebih utama, jika dagingnya tidak kasar, karena daging adalah tujuan utama sedangkan lemak hanya mengikuti. Namun jika dagingnya kasar, maka hewan yang lebih banyak lemaknya lebih utama, karena sedikit dagingnya lebih bermanfaat daripada banyaknya daging hewan lain yang kasar. Inilah kekurangan-kekurangan yang menyebabkan hewan kurban tidak diterima.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا يَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْعَوْرَاءُ البَّيِّنُ عَوَرُهَا وَلَا الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَلَا الْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَلَا الْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنَقَّى

Imam Syafi‘i berkata: Tidak boleh digunakan untuk hewan kurban (udhiyah) hewan yang buta sebelah matanya dengan jelas, hewan yang pincangnya jelas, hewan yang sakitnya jelas, dan hewan yang sangat kurus sehingga tidak memiliki sumsum tulang.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا مَا رَوَاهُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزٍ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سئل عن ماذا ينتفي مِنَ الضَّحَايَا فَأَشَارَ بِيَدِهِ وَقَالَ أَرْبَعٌ وَكَانَ الْبَرَاءُ يُشِيرُ بِيَدِهِ وَيَقُولُ يَدِي أَقْصَرُ مِنْ يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ العرجاء البين ضلعها وَالْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنَقَّى فَهَذِهِ أَرْبَعٌ تَضَمَّنَهَا الْخَبَرُ منعت من جواز الأضحية القول في التضحية بالعرجاء

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah apa yang diriwayatkan dari Malik, dari ‘Amr bin al-Harits, dari ‘Ubaid bin Fayruz, dari al-Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang apa saja yang dikecualikan dari hewan kurban, maka beliau memberi isyarat dengan tangannya dan berkata, “Empat.” Al-Bara’ pun memberi isyarat dengan tangannya dan berkata, “Tanganku lebih pendek daripada tangan Rasulullah ﷺ.” (Empat itu adalah): hewan pincang yang jelas kepincangannya, hewan buta yang jelas kebutaannya, hewan sakit yang jelas penyakitnya, dan hewan kurus yang tidak berlemak. Inilah empat hal yang disebutkan dalam hadis yang melarang keabsahan kurban dengan hewan-hewan tersebut. Pembahasan tentang berkurban dengan hewan pincang.

منها العرجاء البين ضلعها وَالْعَرَجُ فِيهَا مَانِعٌ مِنْ جَوَازِ الْأُضْحِيَّةِ سَوَاءٌ كَانَ فِي يَدٍ أَوْ رِجْلٍ لِلْخَبَرِ وَلِأَنَّهَا تَقْصُرُ بِالْعَرَجِ عَنْ لُحُوقِ غَيْرِهَا فِي الْمَرْعَى فَتَقِلُّ لَحْمًا وَلِأَنَّهُ عَيْبٌ يُوكِسُ ثَمَنَهَا وَإِذَا لَمْ تُجْزِئِ الْعَرْجَاءُ فَالْقَطْعَاءُ أَوْلَى فَإِنْ كَانَ عَرَجُهَا يَسِيرًا نُظِرَ فِيهِ فَإِنْ قَصَرَتْ بِهِ عَنْ لُحُوقِ الصِّحَاحِ فِي الْمَشْيِ وَالسَّعْيِ كَانَ عَرَجًا بَيِّنًا لَا يُجْزِئُ وَإِنْ لَمْ تَقْصُرْ به عن الصحاح أجزأت التضحية بالعوراء

Di antaranya adalah hewan yang pincang dengan kepincangan yang jelas, dan pincang pada hewan tersebut menjadi penghalang sahnya udhiyah, baik pincang itu terdapat pada tangan maupun kaki, berdasarkan hadits dan karena hewan tersebut dengan pincangnya tidak mampu mengikuti hewan lain dalam mencari makan sehingga dagingnya menjadi sedikit, serta karena itu merupakan cacat yang mengurangi harganya. Jika hewan yang pincang tidak sah untuk dijadikan udhiyah, maka hewan yang terpotong anggota tubuhnya lebih utama lagi tidak sah. Jika pincangnya ringan, maka dilihat kembali: jika pincang tersebut menyebabkan hewan itu tidak mampu mengikuti hewan-hewan sehat dalam berjalan dan berlari, maka itu termasuk pincang yang jelas dan tidak sah untuk udhiyah. Namun jika pincangnya tidak menghalangi hewan itu mengikuti hewan-hewan sehat, maka sah berkurban dengan hewan yang buta sebelah matanya.

فصل

Bab

ومنها العوراء البين عورها التي لَا يَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا لِلنَّصِّ وَلِأَنَّهُ قَدْ أذهب عُضْوًا مُسْتَطَابًا مِنْ رَأْسِهَا وَلِأَنَّهَا تَقْصُرُ بِالْعَوَرِ فِي الرَّعْيِ فَيَقِلُّ لَحْمُهَا وَلِأَنَّهُ مُوكِسٌ لِثَمَنِهَا وَسَوَاءٌ لَحِقَهَا الْعَوَرُ فَأَذْهَبَ الْعَيْنَ أَوْ كَانَتْ بَاقِيَةً وَلَا تُبْصِرُ بِهَا فَإِنَّهَا الْبَيِّنُ عَوَرُهَا

Di antaranya adalah hewan yang buta sebelah matanya dengan kebutaan yang jelas, yang tidak boleh dijadikan hewan kurban berdasarkan nash, karena telah hilang salah satu anggota tubuh yang baik dari kepalanya, dan karena kebutaannya itu menyebabkan ia kurang dalam mencari makan sehingga dagingnya menjadi sedikit, serta hal itu menurunkan harga jualnya. Sama saja apakah kebutaan itu menyebabkan hilangnya mata atau matanya masih ada namun tidak dapat melihat, maka itu termasuk kebutaan yang jelas.

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَقَلُّ الْعَوَرِ الْبَيَاضُ الَّذِي يُغَطِّي النَّاظِرَ فَإِنْ غَطَّى نَاظِرَهَا بِبَيَاضٍ أَذْهَبَ بَعْضَهُ وبقي بعضه نظر فإن كان الذاهب عن نَاظِرِهَا أَكْثَرَ لَمْ تُجْزِئْ وَإِنْ كَانَ الذَّاهِبُ أقل أجزأت التضحية بالعمياء

Imam Syafi‘i berkata, “Batas minimal kebutaan adalah putih yang menutupi mata, maka jika putih itu menutupi matanya sehingga sebagian penglihatannya hilang dan sebagian lagi masih bisa melihat, maka dilihat: jika yang hilang dari penglihatannya lebih banyak, maka tidak sah berkurban dengan hewan yang buta; namun jika yang hilang lebih sedikit, maka sah berkurban dengan hewan yang buta.”

وَإِذَا لَمْ تُجْزِئِ الْعَوْرَاءُ فَالْعَمْيَاءُ أَوْلَى أَلَّا تُجزِئَ

Dan jika hewan yang buta sebelah matanya tidak sah, maka hewan yang buta kedua matanya lebih utama untuk tidak sah.

وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الظَّاهِرِ يَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْعَمْيَاءِ لِوُرُودِ النَّصِّ عَلَى الْعَوْرَاءِ وَهَذَا مِنْ زَلَلِ الْمُقَصِّرِينَ لِأَنَّ الْعَمَى مُتَضَعِّفٌ مِنَ الْعَوَرِ فهي عوراوان وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنِ النَّجْفَاءِ وَهِيَ الْعَمْيَاءُ الَّتِي قَدِ انْتَجَفَتْ عَيْنَاهَا فَأَمَّا الْأُضْحِيَّةُ بِالْحَوْلَاءِ وَالْقَمْتَاءِ فجائز التضحية بالعشواء

Sebagian ulama Zhahiriyah berpendapat bahwa boleh berkurban dengan hewan yang buta, karena adanya nash yang menyebutkan tentang hewan yang satu matanya buta. Namun, ini merupakan kekeliruan dari orang-orang yang kurang teliti, karena kebutaan adalah kondisi yang lebih parah dari buta sebelah, sehingga ia termasuk dua kali buta. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang berkurban dengan najfa’, yaitu hewan yang buta kedua matanya hingga matanya menonjol keluar. Adapun berkurban dengan hewan yang juling dan yang matanya kecil, maka boleh berkurban dengan hewan yang penglihatannya lemah.

فأما الْأُضْحِيَّةُ بِالْعَشْوَاءِ الَّتِي تُبْصِرُ نَهَارًا وَلَا تُبْصِرُ لَيْلًا فَالصَّحِيحُ أَنَّ الْأُضْحِيَّةَ بِهَا جَائِزَةٌ لِأَنَّهَا تُبْصِرُ فِي زَمَانِ الرَّعْيِ وَعَيْنُهَا مَعَ الْعَشَاءِ بَاقِيَةٌ فَلَمْ يُؤَثِّرْ عَدَمُ النَّظَرِ فِي زَمَانِ الدَّعَةِ

Adapun berkurban dengan hewan yang rabun, yaitu yang dapat melihat pada siang hari namun tidak dapat melihat pada malam hari, maka pendapat yang sahih adalah bahwa berkurban dengannya diperbolehkan, karena ia dapat melihat pada waktu menggembala dan matanya yang rabun itu masih ada, sehingga tidak berpengaruh ketidakmampuannya melihat pada waktu istirahat.

وَفِيهَا وَجْهٌ آخَرُ لِبَعْضِ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهَا لَا تُجْزِئُ لِأَنَّهَا فِي أَحَدِ الزَّمَانَيْنِ غَيْرُ ناظرة فكان نقصاً مؤثراً التضحية بالمريضة

Di dalamnya terdapat pendapat lain dari sebagian ulama Basrah bahwa kurban dengan hewan yang sakit tidak sah, karena pada salah satu dari dua waktu (sebelum atau sesudah disembelih) hewan tersebut tidak dalam keadaan sehat, sehingga hal itu dianggap sebagai kekurangan yang berpengaruh terhadap keabsahan berkurban dengan hewan yang sakit.

فَصْلٌ

Bab

وَمِنْهَا الْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا لِأَنَّ مَرَضَهَا مَعَ الْخَبَرِ قَدْ أَوْكَسَ ثَمَنَهَا وَأَفْسَدَ لَحْمَهَا وأضعف راعيتها وَهُوَ ضَرْبَانِ

Di antaranya adalah hewan yang sakit dengan penyakit yang jelas, karena penyakitnya, menurut informasi yang ada, telah menurunkan harganya, merusak dagingnya, dan melemahkan penggembalanya. Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا مَا ظَهَرَ مِنْ آثَارِهِ فِي اللَّحْمِ كَالْجَرَبِ وَالْبُثُورِ وَالْقُرُوحِ فَقَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ سَوَاءٌ فِي الْمَنْعِ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ وَسَوَاءٌ كَانَ زَوَالُهُ مَرْجُوًّا أَوْ غَيْرَ مَرْجُوٍّ لِوُجُودِهِ فِي حَالِ الذَّبْحِ

Salah satunya adalah apa yang tampak dari bekas-bekasnya pada daging, seperti kudis, bisul, dan luka-luka; sedikit maupun banyaknya sama saja dalam hal mencegah sahnya hewan untuk kurban, baik hilangnya diharapkan maupun tidak, selama masih ada pada saat penyembelihan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا لَمْ تَظْهَرْ آثَارُهُ كَالْمَرَضِ الْكَادِّي لِشِدَّةِ حَرٍّ أَوْ بَرْدٍ فَإِنْ كَانَ كَثِيرًا مَنَعَ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا فَقَدْ أَشَارَ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ إِلَى حَظْرِهِ وَفِي الْجَدِيدِ إِلَى جَوَازِهِ فصار على قولين فأما الهيام هو مِنْ دَاءِ الْبَهَائِمِ وَذَلِكَ أَنْ يَشْتَدَّ عَطَشُهَا حَتَّى لَا تَرْتَوِيَ مِنَ الْمَاءِ فَقَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ مانع لأنه داء مؤثر في اللحم التضحية بالعجفاء

Jenis kedua adalah yang belum tampak tanda-tandanya, seperti penyakit yang timbul karena panas atau dingin yang sangat. Jika penyakit itu banyak, maka menghalangi (bolehnya berkurban), dan jika sedikit, Imam Syafi‘i dalam pendapat lama beliau mengisyaratkan larangan, sedangkan dalam pendapat baru beliau membolehkan, sehingga ada dua pendapat. Adapun al-hiyām adalah salah satu penyakit hewan ternak, yaitu rasa haus yang sangat hingga hewan tersebut tidak merasa puas meskipun telah minum air; baik sedikit maupun banyaknya penyakit ini tetap menjadi penghalang, karena ia adalah penyakit yang berpengaruh pada daging, sehingga tidak sah berkurban dengan hewan yang sangat kurus.

فَصْلٌ

Fasal

وَمِنْهَا الْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنَقَّى وَالْعُجْفَةُ فَرْطُ الْهُزَالِ الْمُذْهِبِ لِلَّحْمِ وَالَّتِي لَا تُنَقَّى وَالَّتِي لَا مُخَّ لَهَا لِلْعَجَفِ الَّذِي بِهَا وَالنِّقَا هُوَ الْمُخُّ قَالَ الشَّاعِرُ

Di antaranya adalah unta yang sangat kurus yang tidak memiliki sumsum, dan ‘ujfah adalah kondisi sangat kurus yang menghilangkan daging, serta yang tidak memiliki sumsum, dan yang tidak memiliki sumsum karena sangat kurusnya. Sumsum disebut dengan niqā. Seorang penyair berkata:

أَذَابَ اللَّهُ نِقْيَكِ فِي السُّلَامَى عَلَى مَنْ بِالْحَنِينِ تُعَوِّلِينَا

Semoga Allah melebur sumsum tulangmu ke dalam tulang rawan bagi orang yang di Hanin engkau sandarkan harapan kepada kami.

فَإِنْ كَانَ الْعَجَفُ الَّذِي بِهَا قَدْ أَذْهَبَ نِقْيَهَا لَمْ يَجُزِ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا سَوَاءٌ كَانَ الْعَجَفُ خِلْقَةً أَوْ مُزْمِنًا وَإِنْ لَمْ يُذْهِبْ نِقْيَهَا نُظِرَ فَإِنْ كَانَ عَجَفُهَا لِمَرَضٍ لَمْ تُجْزِئْ وَإِنْ كَانَ خِلْقَةً أَجْزَأَتْ لِأَنَّهُ فِي المرض داء وفي الخلقة غير داء التضحية بمعيبة الأذن

Jika kurusnya hewan tersebut telah menghilangkan sumsum tulangnya, maka tidak sah berkurban dengannya, baik kurus itu karena bawaan lahir maupun karena penyakit menahun. Namun jika kurusnya tidak menghilangkan sumsum tulangnya, maka dilihat lagi: jika kurus itu karena penyakit, maka tidak sah; tetapi jika karena bawaan lahir, maka sah, karena pada penyakit terdapat cacat, sedangkan pada bawaan lahir tidak ada cacat.

فَصْلٌ

Bagian

وَقَدْ رُوِيَ فِي النَّوَاهِي غَيْرُ حَدِيثِ الْبَرَاءِ فَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْهَمَذَانِيِّ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا يُضَحّى بمقابلةٍ وَلَا مدابرةٍ وَلَا شَرَقًا وَلَا خَرَقًا

Telah diriwayatkan dalam larangan-larangan selain hadis al-Barā’, yaitu asy-Syāfi‘ī meriwayatkan dari Sufyān, dari Abū Isḥāq al-Hamadzānī, dari Syarīḥ bin an-Nu‘mān, dari ‘Alī ‘alaihis salām, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak boleh berkurban dengan hewan yang muqābalah, mudābarah, syarqā, maupun kharqā.”

فَأَمَّا الْمُقَابَلَةُ فَهِيَ الَّتِي قُطِعَ مِنْ مُقَدَّمِ أُذُنِهَا شَيْءٌ

Adapun al-muqābalah adalah hewan yang terpotong sebagian dari bagian depan telinganya.

وَأَمَّا الْمُدَابَرَةُ فَهِيَ الَّتِي قُطِعَ مِنْ مُؤَخَّرِ أُذُنِهَا شَيْءٌ

Adapun mudābarah adalah unta yang terpotong sebagian dari bagian belakang telinganya.

وَأَمَّا الشَّرْقَاءُ فَالْمَشْقُوقَةُ الْأُذُنِ بِالطُّولِ

Adapun syarqā’ adalah hewan yang telinganya terbelah memanjang.

وَأَمَّا الْخَرْقَاءُ فَالَّتِي فِي أُذُنِهَا ثُقْبٌ مُسْتَدْبِرٌ وَإِنْ كان هذا قد أذهب من الأذن شيء لَمْ يُجْزِئْ فِي الضَّحَايَا لِأَنَّهُ قَدْ أَفْسَدَ مِنْهَا عُضْوًا وَإِنْ لَمْ يُذْهِبْ مِنْ أُذُنِهَا شيء لِاتِّصَالِ الْمَقْطُوعِ بِهَا كَرِهْتُ لِلنَّهْيِ وَإِنْ أَجْزَأَتْ

Adapun hewan yang telinganya berlubang, yaitu yang di telinganya terdapat lubang yang menembus ke belakang, maka jika lubang itu telah menghilangkan sebagian dari telinganya, hewan tersebut tidak sah untuk dijadikan hewan kurban karena telah rusak salah satu anggotanya. Namun, jika lubang itu tidak menghilangkan bagian dari telinganya karena bagian yang terpotong masih menyatu dengannya, maka aku memakruhkannya karena adanya larangan, meskipun hewan itu tetap sah untuk kurban.

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا لَا يُجْزِئُ مَعَ اتِّصَالِ الْمَقْطُوعِ بِهَا لِأَنَّهُ بِالْقَطْعِ قَدْ فَسَدَ وَإِنْ كَانَ مُتَّصِلًا فَصَارَ فِي حُكْمِ الْمُنْفَصِلِ فَصَارَ نَقْصُ الْأُذُنِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ أَحَدُهَا مَا مَنَعَ مِنْ جَوَازِ الْأُضْحِيَّةِ وَهُوَ مَا أَذْهَبَ بَعْضَهَا وَالثَّانِي مَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْهَا وَهُوَ مَا لَمْ يُذْهِبْ شَيْئًا مِنْهَا وَالثَّالِثُ مَا اخْتُلِفَ فِيهِ وَهُوَ مَا قَطَعَ فَاتَّصَلَ وَلَمْ يَنْفَصِلْ

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa tidak sah apabila bagian yang terputus itu masih tersambung dengannya, karena dengan terputusnya bagian tersebut, ia telah rusak, meskipun masih tersambung, sehingga hukumnya menjadi seperti bagian yang terpisah. Maka, kekurangan pada telinga terbagi menjadi tiga jenis: pertama, yang menghalangi keabsahan udhiyah, yaitu apabila sebagian telinga hilang; kedua, yang tidak menghalangi keabsahan udhiyah, yaitu apabila tidak ada bagian telinga yang hilang; dan ketiga, yang diperselisihkan hukumnya, yaitu apabila telinga terpotong lalu tersambung kembali namun tidak benar-benar terpisah.

وَقِيلَ لَا يَمْنَعُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ وَإِنْ قُطِعَ جَمِيعُهَا لِأَنَّ الْأُذُنَ غَيْرُ مَأْكُولٍ

Dan ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak menghalangi sahnya hewan kurban, meskipun seluruh telinganya terpotong, karena telinga bukanlah bagian yang dimakan.

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ إِنْ قَطَعَ أَقَلَّ مِنَ النِّصْفِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ قَطَعَ النِّصْفَ فَمَا زَادَ لَمْ تُجْزِ وَهَذَا مُخَالِفٌ لِنَصِّ الْخَبَرِ وَقَدْ رَوَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الْأُضْحِيَّةِ بِالْجَدْعَاءِ وَهِيَ الْمَقْطُوعَةُ الْأُذُنِ وَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أن نستشف العين والأذن أي تكشف وَرُوِيَ نَسْتَشْرِفَ أَيْ نُطَالِعُ وَنَنْظُرُ وَلِأَنَّ الْأُذُنَ عُضْوٌ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ قَطْعُهُ مُؤَثِّرًا إِذَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَخْلَفًا كَسَائِرِ الْأَعْضَاءِ فَأَمَّا الَّتِي خُلِقَتْ لَا أُذُنَ لَهَا قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْجَدِيدِ لَا تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا لِأَنَّهُ نَقْصُ عُضْوٍ مِنْ خِلْقَتِهَا وَقَدْ رَوَى حَرْمَلَةُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي صِفَاتِ الْأُذُنِ الصَّمْعَاءِ وَالْمَصْعَاءِ وَالْعَرْقَاءِ وَالْقَصْوَاءِ فَالصَّمْعَاءُ الصَّغِيرَةُ الْأُذُنِ وَالْمَصْعَاءُ الْمُمَايَلَةُ الْأُذُنِ لِكِبَرِهَا وَالْعَرْقَاءُ الْمُرْتَفِعَةُ الْأُذُنِ إِلَى قَرْنِهَا وَالْقَصْوَاءُ الْمَقْطُوعَةُ الْأُذُنِ بِالْعَرْضِ فَيَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِجَمِيعِهَا إِلَّا بِالْقَصْوَاءِ لِنَقْصِ الْأُذُنِ فِيهَا وَسَلَامَتِهَا فِي غَيْرِهَا التضحية بمقطوعة الذنب والإلية

Said bin al-Musayyab dan al-Hasan al-Bashri berpendapat bahwa jika yang terpotong kurang dari setengah, maka sah, tetapi jika yang terpotong setengah atau lebih, maka tidak sah. Pendapat ini bertentangan dengan nash hadits. Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang berkurban dengan hewan yang terpotong telinganya, dan beliau bersabda bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk memeriksa mata dan telinga, maksudnya meneliti dan memperhatikan. Diriwayatkan pula dengan lafaz “nastashrif” yang artinya meneliti dan memperhatikan. Karena telinga adalah anggota tubuh, maka wajib jika terpotong menjadi berpengaruh, selama tidak ada pengganti seperti anggota tubuh lainnya. Adapun hewan yang diciptakan tanpa telinga, menurut pendapat baru Imam Syafi‘i, tidak sah berkurban dengannya karena kekurangan anggota tubuh sejak penciptaannya. Harmalah meriwayatkan dari Imam Syafi‘i tentang sifat-sifat telinga: as-sam‘a’ adalah telinga yang kecil, al-mas‘a’ adalah telinga yang miring karena besarnya, al-‘arqa’ adalah telinga yang terangkat hingga ke tanduknya, dan al-qaswa’ adalah telinga yang terpotong melintang. Maka boleh berkurban dengan semua jenis tersebut kecuali al-qaswa’ karena kekurangan pada telinganya, sedangkan pada selainnya masih utuh. Demikian pula hukum berkurban dengan hewan yang terpotong ekor dan ekor lemaknya.

ثُمَّ هَكَذَا الْمَقْطُوعَةُ الذَّنْبِ لَا يَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا لِنَقْصِ عُضْوٍ مِنْهَا وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْأُضْحِيَّةِ بِالْبَتْرَاءِ وَهِيَ الْمَقْطُوعَةُ الذَّنَبِ وَهَكَذَا الْمَخْلُوقَةُ لَا ذَنَبَ لَهَا لَا تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا

Demikian pula hewan yang terpotong ekornya, tidak boleh dijadikan hewan kurban karena kekurangan salah satu anggota tubuhnya. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang berkurban dengan hewan al-batra’ yaitu hewan yang terpotong ekornya. Demikian pula hewan yang memang diciptakan tanpa ekor, tidak boleh dijadikan hewan kurban.

وَلَا تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْمَقْطُوعَةِ الْإِلْيَةِ وَتَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالَّتِي خُلِقَتْ مِنْ غَيْرِ إِلْيَةٍ لِأَنَّ الْمِعْزَى لَا أَلَايَا لَهَا وَهِيَ فِي الضَّحَايَا كَالضَّأْنِ

Tidak sah berkurban dengan hewan yang terpotong ekornya, namun sah berkurban dengan hewan yang memang diciptakan tanpa ekor, karena kambing memang tidak memiliki ekor besar, dan dalam hal kurban, kambing diperlakukan seperti domba.

فَأَمَّا الَّتِي انْقَطَعَ سَاقُهَا وَأَثَّرَ فِي أَكْلِهَا وَرَعْيِهَا فَلَا تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا وَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ مَا قَطَعَ فِي أَكْلٍ وَلَا رَعْيٍ جَازَ

Adapun hewan yang terputus kakinya dan hal itu berpengaruh pada makannya dan merumputnya, maka tidak sah dijadikan sebagai hewan udhiyah. Namun jika yang terputus itu tidak berpengaruh pada makan dan merumputnya, maka diperbolehkan.

فَصْلٌ

Fasal

رَوَى يَزِيدُ أبو حَفْصٍ عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ السُّلَمِيِّ أَنَّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الضَّحَايَا بِالْمُصْفَرَّةِ وَالْمُسْتَأْصَلَةِ الْبَخْقَاءِ وَالْمَشِيقَةِ

Yazid Abu Hafsh meriwayatkan dari ‘Utbah bin ‘Abd as-Sulami bahwa Nabi ﷺ melarang berkurban dengan hewan yang musaffarah, musta’shalah, bakhqa’, dan masyiqah.

فَأَمَّا الْمُصْفَرَّةُ فَهِيَ الْهَزِيلَةُ الَّتِي قَدِ اصْفَرَّ لَوْنُهَا مِنَ الْهُزَالِ وَأَمَّا الْمُسْتَأْصَلَةُ فَهِيَ الْمَقْطُوعَةُ الْأُذُنِ مِنْ أَصْلِهَا وَأَمَّا الْبَخْقَاءُ فَهِيَ الْعَمْيَاءُ الَّتِي نُجِفَتْ عَيْنُهَا وَأَمَّا الْمَشِيقَةُ فَهِيَ الْمُتَأَخِّرَةُ عن الغنم لعجف أو عرج حتى يشعبها الرَّاعِي بِضَرْبِهَا حَتَّى تَلْحَقَ

Adapun al-mushfarrah adalah hewan yang kurus yang warnanya telah menguning karena sangat kurus. Adapun al-musta’shalah adalah hewan yang telinganya terpotong sampai ke pangkalnya. Adapun al-bakhqā’ adalah hewan buta yang matanya telah kering. Adapun al-masyīqah adalah hewan yang tertinggal dari kawanan kambing karena kurus atau pincang, sehingga penggembala harus memukulnya agar bisa menyusul.

وَالضَّحَايَا بِهَذَا كُلِّهِ لَا تَجُوزُ لِمَا قَدَّمْنَا مِنْ مَعْنَى الْمَنْعِ وَهُوَ وَاحِدٌ مِنْ أَمْرَيْنِ إِمَّا مَا أَفْقَدَ عُضْوًا وَإِمَّا مَا أَفْسَدَ لَحْمًا وَلَا يُمْنَعُ مَا عَدَاهُمَا وَإِنْ وَرَدَ فِيهِ نَهْيٌ كَانَ مَحْمُولًا عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْإِجْزَاءِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan hewan kurban dengan semua hal tersebut tidak diperbolehkan, karena alasan larangan yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu salah satu dari dua hal: kehilangan anggota tubuh atau rusaknya daging. Selain kedua hal tersebut tidak menjadi penghalang, meskipun terdapat larangan terhadapnya, maka larangan tersebut dipahami sebagai anjuran (istihbāb), bukan sebagai syarat sah (ijzā’). Dan Allah lebih mengetahui.

التضحية بمعيبة القرن

Menyembelih hewan kurban yang cacat tanduknya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله وليس فِي الْقَرْنِ نقصٌ فَيُضَحَّى بِالْجَلْحَاءِ وَالْمَكْسُورَةِ الْقَرْنِ أَكْبَرُ مِنْهَا دَمِيَ قَرْنُهَا أَوْ لَمْ يَدْمَ وَلَا تُجْزِئُ الْجَرْبَاءُ لِأَنَّهُ مرضٌ يُفْسِدُ لَحْمَهَا

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Tidak ada kekurangan pada hewan yang tidak memiliki tanduk, sehingga boleh berkurban dengan hewan yang tidak bertanduk dan yang tanduknya patah, baik patahnya lebih besar atau lebih kecil, baik tanduknya mengeluarkan darah atau tidak. Adapun hewan yang berpenyakit kudis tidak sah untuk kurban, karena penyakit itu merusak dagingnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ فَقْدُ الْقَرْنِ فِي الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ لَا يَمْنَعُ مِنْ جَوَازِ الضَّحَايَا خِلْقَةً وَبِحَادِثٍ فَتَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْجَلْحَاءِ وَهِيَ الْجَمَّاءُ الَّتِي خُلِقَتْ لَا قَرْنَ لَهَا وَبِالْعَضْبَاءِ وَهِيَ الْمَكْسُورَةُ الْقَرْنِ سَوَاءٌ دَمِيَ مَوْضِعُ قَرْنِهَا بِالْكَسْرِ أَوْ لَمْ يَدْمَ

Al-Mawardi berkata, “Sebagaimana yang telah dikatakan, hilangnya tanduk pada sapi dan kambing tidak menghalangi kebolehan berkurban, baik karena bawaan lahir maupun karena suatu kejadian. Maka diperbolehkan berkurban dengan hewan jalḥā’ yaitu hewan yang memang diciptakan tanpa tanduk, dan dengan hewan ‘aḍbā’ yaitu hewan yang tanduknya patah, baik tempat tanduknya mengeluarkan darah karena patah maupun tidak.”

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَقْدُ الْقَرْنِ مَانِعٌ مِنْ جَوَازِ الْأُضْحِيَّةِ خِلْقَةً وَكَسْرًا فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُضَحِّيَ بِجَلْحَاءَ وَلَا عَضْبَاءَ

Ibrahim an-Nakha’i berkata, hilangnya tanduk merupakan penghalang sahnya hewan untuk dijadikan udhiyah, baik karena cacat bawaan maupun karena patah. Maka tidak boleh berkurban dengan hewan yang tidak bertanduk maupun yang tanduknya patah.

وَقَالَ مَالِكٌ تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْجَلْحَاءِ وَلَا تَجُوزُ بِالْعَضْبَاءِ إِذَا دَمِيَ مَوْضِعُ قَرْنِهَا وَاسْتَدَلَّ النَّخَعِيُّ بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْأُضْحِيَّةِ بِالْعَضْبَاءِ

Malik berkata, boleh berkurban dengan hewan yang tidak memiliki tanduk sama sekali, namun tidak boleh berkurban dengan hewan yang tanduknya patah jika tempat tanduknya mengeluarkan darah. An-Nakha‘i berdalil dengan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang berkurban dengan hewan yang tanduknya patah.

وَدَلِيلُنَا مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ مَعْنَى الْمَنْعِ وَهُوَ مَا أَفْقَدَ عضواً مأكولاً أو فسد لَحْمًا مَقْصُودًا وَلَيْسَ فِي فَقْدِ الْقَرْنِ وَاحِدٌ مِنْ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ فَلَمْ يَمْنَعْ فَكَانَ النَّهْيُ مَحْمُولًا عَلَى الْكَرَاهَةِ دُونَ التَّحْرِيمِ كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْأُضْحِيَّةِ بِالْعَقْصَاءِ وَهِيَ الْمُلْتَوِيَةُ الْقَرْنِ وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى الِاخْتِيَارِ دُونَ الْإِجْزَاءِ وَإِنْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةُ بِالْقَرْنَاءِ أَفْضَلُ عَلَى أَنَّ الشَّافِعِيَّ قَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ضَحَّى بِعَضْبَاءِ الْأُذُنِ

Dalil kami adalah apa yang telah kami kemukakan tentang makna larangan, yaitu sesuatu yang menyebabkan hilangnya anggota tubuh yang dapat dimakan atau rusaknya daging yang menjadi tujuan, dan kehilangan tanduk tidak termasuk salah satu dari dua hal tersebut, maka tidak menjadi penghalang. Maka larangan itu dibawa kepada makna makruh, bukan haram, sebagaimana diriwayatkan bahwa beliau melarang berkurban dengan hewan yang tanduknya bengkok, yaitu yang tanduknya melilit, dan itu dipahami sebagai anjuran memilih, bukan syarat sahnya kurban, meskipun berkurban dengan hewan yang bertanduk lebih utama. Adapun Imam Syafi‘i meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dengan hewan yang telinganya terpotong.

وَحُكِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ الْعَضْبَاءَ إِذَا قُطِعَ مِنْهَا النِّصْفُ فما فوقه فصار المراد به نصاً قَطْعَ الْأُذُنِ دُونَ الْقَرْنِ وَمِنْ أَعْجَبِ مَا يَقُولُهُ مَالِكٌ أَنَّهُ يَمْنَعُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ بِالْمَكْسُورَةِ الْقَرْنِ وَيَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْمَقْطُوعَةِ الْأُذُنِ وَالْقَرْنُ غَيْرُ مَأْكُولٍ وَالْأُذُنُ مَأْكُولَةٌ الْقَوْلُ فِي وَقْتِ ذَبْحِ الأضحية

Diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab bahwa jika separuh atau lebih dari anggota tubuh al-‘adba’ terpotong, maka yang dimaksud secara tegas adalah terpotongnya telinga tanpa tanduk. Dan di antara hal paling mengherankan yang dikatakan oleh Malik adalah ia melarang berkurban dengan hewan yang tanduknya patah, namun membolehkan berkurban dengan hewan yang telinganya terpotong, padahal tanduk bukan bagian yang dimakan sedangkan telinga adalah bagian yang dimakan. Pembahasan ini berkaitan dengan waktu penyembelihan kurban.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا وَقْتَ لِلذَّبْحِ يَوْمَ الْأَضْحَى إِلَّا فِي قَدْرِ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَذَلِكَ حِينَ حَلَّتِ الصَّلَاةُ وَقَدَّرَ خُطْبَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ وَإِذَا كَانَ هَذَا الْقَدْرُ فَقَدْ حَلَّ الذَّبْحُ لِكُلِّ أحدٍ حَيْثُ كَانَ فَأَمَّا صَلَاةٌ مَنْ بَعْدَهُ فَلَيْسَ فِيهَا وقتٌ

Imam Syafi‘i berkata, “Tidak ada waktu untuk menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha kecuali setelah waktu yang seukuran dengan salat Nabi ﷺ, yaitu ketika salat telah selesai dan setelah dua khutbah singkat. Jika waktu seukuran ini telah berlalu, maka telah halal bagi setiap orang di mana pun berada untuk menyembelih hewan kurban. Adapun salat setelah waktu tersebut, maka tidak ada ketentuan waktu di dalamnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي أَوَّلِ وَقْتِ الْأُضْحِيَّةِ عَلَى أَرْبَعَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata, para fuqaha berbeda pendapat mengenai awal waktu pelaksanaan udhiyah menjadi empat mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إِنَّ أَوَّلَ وَقْتِهَا فِي الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى لِلْحَاضِرِ وَالْمُسَافِرِ وَاحِدٌ وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِوَقْتِ الصَّلَاةِ لَا بِفِعْلِهَا فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ وَارْتَفَعَتْ حَتَّى خَرَجَتْ عَنْ كَرَاهَةِ التَّنَفُّلِ بِالصَّلَاةِ وَمَضَى بَعْدَ ذَلِكَ قَدْرَ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ دَخَلَ وَقْتُ النَّحْرِ وَجَازَ ذَبْحُ الْأُضْحِيَّةِ فِيهِ سَوَاءٌ صَلَّى الْإِمَامُ فِي الْمِصْرِ أَوْ لَمْ يُصَّلِ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa awal waktunya di kota-kota besar dan desa-desa, baik bagi orang yang menetap maupun musafir, adalah sama, yaitu dihitung berdasarkan waktu shalat, bukan pelaksanaannya. Maka ketika matahari telah terbit dan naik hingga keluar dari waktu makruh untuk shalat sunnah, lalu berlalu setelah itu waktu yang cukup untuk dua rakaat dan dua khutbah, maka masuklah waktu penyembelihan kurban dan diperbolehkan menyembelih hewan kurban pada waktu itu, baik imam di kota sudah melaksanakan shalat Id atau belum.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَقْدِيرِ زَمَانِ الرَّكْعَتَيْنِ وَالْخُطْبَتَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat dalam menentukan estimasi waktu dua rakaat dan dua khutbah pada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الرَّكْعَتَيْنِ مِنْ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي الْعِيدِ وَخُطْبَتَيْهِ فَإِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأَوْلَى بَعْدَ الْفَاتِحَةِ بِسُورَةِ ق وَفِي الثَّانِيةِ بِسُورَةٍ اقْتَرَبَتْ وَكَانَ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ يَسْتَوْفِي فِيهَا التَّحْمِيدَ وَالْمَوَاعِظَ وَبَيَانَ الْأَضَاحِيِّ وَالْوَصِيَّةِ بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى وَقِرَاءَةِ آيَةٍ فَيَكُونُ اعْتِبَارُ وَقْتِ صَلَاتِهِ وَخُطْبَتَيْهِ هُوَ الْمَشْرُوطُ فِي دُخُولِ الْوَقْتِ

Salah satunya adalah bahwa dua rakaat shalat Nabi ﷺ pada hari ‘id dan dua khutbahnya, beliau membaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah dengan surah Qaf dan pada rakaat kedua dengan surah Iqtarabat. Beliau berkhutbah dua kali, yang di dalamnya beliau menyempurnakan pujian, nasihat-nasihat, penjelasan tentang kurban, wasiat untuk bertakwa kepada Allah Ta‘ala, dan membaca satu ayat. Maka yang menjadi pertimbangan adalah waktu pelaksanaan shalat dan khutbah beliau, itulah yang menjadi syarat dalam masuknya waktu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ يُعْتَبَرَ بِأَقَلِّ مَا يُجْزِئُ فِي صَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ وَأَقَلُّ مَا يُجْزِئُ فِي خُطْبَتَيْنِ وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا كَانَتْ عَلَيْهِ صَلَاةُ رَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَإِنَّهُ كَانَ يُطِيلُ مَرَّةً وَيُخَفِّفُ أُخْرَى وَيُقَدِّمُ تَارَةً وَيُؤَخِّرُ أُخْرَى وَإِنَّمَا الِاعْتِبَارُ بِتَحْدِيدٍ مَشْرُوعٍ لَا يَخْتَلِفُ

Pendapat kedua adalah bahwa yang dijadikan acuan adalah kadar paling sedikit yang mencukupi dalam salat dua rakaat dan kadar paling sedikit yang mencukupi dalam dua khutbah, dan tidak dijadikan acuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salatnya, karena beliau kadang memanjangkan dan kadang meringankan, kadang mendahulukan dan kadang mengakhirkan. Yang dijadikan acuan hanyalah ketentuan syar‘i yang tidak berubah-ubah.

ثُمَّ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بَعْدَ هَذَا هَلْ كَانَ وَقْتُهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ في اعتبار قدر الصلاة يحكمها فِيمَنْ بَعْدَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Kemudian para ulama kami berbeda pendapat setelah itu, apakah waktu pelaksanaan shalat tersebut pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal mempertimbangkan kadar shalat dapat dijadikan patokan oleh para imam setelah beliau, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا على إِنَّ الْحُكْمَ فِيهِمَا سَوَاءٌ

Salah satunya adalah bahwa hukum pada keduanya adalah sama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي فِي أنه عهد النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مُعْتَبَرٌ بِصَلَاتِهِ وَفِي عَهْدِ مَنْ بَعْدَهُ مُعْتَبَرٌ بقدر الصلاة فهذه شَرْحُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَصْحَابِهِ فِيهِ

Adapun pendapat kedua adalah bahwa pada masa Nabi ﷺ yang dijadikan patokan adalah salat beliau, sedangkan pada masa setelah beliau yang dijadikan patokan adalah kadar salat. Inilah penjelasan mazhab Syafi‘i dan para pengikutnya dalam masalah ini.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهُ مُعْتَبَرٌ فِي الْأَمْصَارِ بِصَلَاةِ الْأَئِمَّةِ فِيهَا وَفِي الْقُرَى وَالْأَسْفَارِ مُعْتَبَرٌ بِطُلُوعِ الْفَجْرِ فَإِنْ ضَحَّى أَهْلُ الْأَمْصَارِ قَبْلَ صَلَاةِ الْأَئِمَّةِ كَانَ شَاةَ لَحْمٍ وَلَمْ تكن أضحية

Mazhab kedua, yaitu pendapat Abu Hanifah, menyatakan bahwa waktu penyembelihan kurban di kota-kota besar ditentukan dengan salat para imam di sana, sedangkan di desa-desa dan dalam perjalanan ditentukan dengan terbitnya fajar. Jika penduduk kota-kota besar menyembelih kurban sebelum salat para imam, maka sembelihan itu hanya menjadi daging kambing biasa dan tidak dianggap sebagai kurban.

والمذهب الثالث هو قَوْلُ مَالِكٍ إِنَّهُ فِي الْأَمْصَارِ مُعْتَبَرٌ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ وَنَحْرِهِ وَفِي الْقُرَى وَالْأَسْفَارِ مُعْتَبَرٌ بِصَلَاةِ الْأَئِمَّةِ فِي أَقْرَبِ الْبِلَادِ بِهِمْ فَإِنْ ذَبَحَ أَهْلُ الْأَمْصَارِ قَبْلَ ذَبْحِ الْإِمَامِ كَانَتْ شَاةَ لَحْمٍ وَلَمْ تَكُنْ أُضْحِيَّةً

Mazhab ketiga adalah pendapat Malik, yaitu bahwa di kota-kota besar penentuan waktu didasarkan pada salat dan penyembelihan imam, sedangkan di desa-desa dan dalam perjalanan didasarkan pada salat para imam di negeri terdekat dengan mereka. Jika penduduk kota-kota besar menyembelih sebelum imam menyembelih, maka sembelihan itu hanya menjadi daging biasa dan tidak dianggap sebagai udhiyah.

وَالْمَذْهَبُ الرَّابِعُ وَهُوَ قَوْلُ عَطَاءٍ إِنَّهُ فِي وَقْتِ جَمِيعِ النَّاسِ مُعْتَبَرٌ بِطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ وَاسْتَدَلَّ مَنْ ذَهَبَ إِلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ بِرِوَايَةِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ لَا ذَبْحَ قَبْلَ صَلَاةِ الْإِمَامِ

Madzhab keempat, yaitu pendapat ‘Aṭā’, menyatakan bahwa waktu (penyembelihan) bagi seluruh manusia dianggap berdasarkan terbitnya matahari pada hari nahr. Adapun orang-orang yang mengikuti pendapat Abū Ḥanīfah dan Mālik berdalil dengan riwayat al-Barā’ bin ‘Āzib bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada penyembelihan sebelum shalat imam.”

وَبِرِوَايَةِ جرير بن عبد الله البجلي قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَعَلِمَ أَنَّ نَاسًا ذَبَحُوا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدَ ذَبِيحَتَهُ وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ

Dalam riwayat Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Aku menghadiri hari raya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengetahui bahwa ada sebagian orang yang telah menyembelih sebelum shalat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang telah menyembelih sebelum shalat, hendaklah ia mengulangi sembelihannya. Dan barang siapa yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah.”

قَالُوا وَتَقْدِيرُهَا بِفِعْلِ الصَّلَاةِ يَقِينٌ وَتَقْدِيرُهَا بِزَمَانِ الصَّلَاةِ اجْتِهَادٌ فَكَانَ اعْتِبَارُ وَقْتِهَا بِالْيَقِينِ أَوْلَى مِنِ اعْتِبَارِهِ بِالِاجْتِهَادِ وَلِأَنَّ تَقْدِيرَهَا بِالْفِعْلِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَبِالزَّمَانِ مُخْتَلَفٌ فِيهِ وَالْأَخْذُ بِالِاتِّفَاقِ أَوْلَى مِنَ الْعَمَلِ بِالِاخْتِلَافِ

Mereka berkata, “Menetapkan waktu shalat berdasarkan pelaksanaan shalat adalah sesuatu yang pasti, sedangkan menetapkannya berdasarkan waktu shalat adalah ijtihad. Maka, mempertimbangkan waktunya dengan sesuatu yang pasti lebih utama daripada mempertimbangkannya dengan ijtihad. Selain itu, penetapan waktu berdasarkan pelaksanaan shalat telah menjadi kesepakatan (ijmā‘), sedangkan berdasarkan waktu masih diperselisihkan. Maka, mengambil pendapat yang disepakati lebih utama daripada mengamalkan pendapat yang diperselisihkan.”

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَامَ يَوْمَ النَّحْرِ خَطِيبًا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ لَا يَذْبَحَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يُصَلِّيَ فَقَامَ خَالِي فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا يومٌ اللَّحْمُ فِيهِ مكروهٌ وَإِنِّي ذَبَحْتُ نَسِيكَتِي فَأَطْعَمْتُ أَهْلِي وَجِيرَانِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَدْ فَعَلْتَ فَأَعِدْ ذَبْحًا آخَرَ قَالَ عِنْدِي عَنَاقُ لبنٍ هِيَ خيرٌ مِنْ شَاتَيْ لحمٍ فَقَالَ هُوَ خَيْرُ نَسِيكَتَيْكَ لَنْ تُجْزِئَ جذعةٌ عَنْ أحدٍ بَعْدَكَ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari ‘Abd al-Wahhab bin ‘Abd al-Majid, dari Dawud bin Abi Hind, dari asy-Sya‘bi, dari al-Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah ﷺ berdiri pada hari Nahr (Idul Adha) sebagai khatib, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Janganlah seorang pun menyembelih (hewan kurban) sebelum salat.” Maka pamanku berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah hari di mana daging sangat dibutuhkan, dan aku telah menyembelih hewan kurbanku lalu memberikannya kepada keluargaku dan tetanggaku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Kamu telah melakukannya, maka sembelihlah hewan lain sebagai gantinya.” Ia berkata, “Aku memiliki anak kambing betina yang masih menyusu, ia lebih baik daripada dua ekor kambing daging.” Maka beliau bersabda, “Itu adalah sebaik-baik hewan kurbanmu, tetapi setelah engkau, anak kambing yang masih menyusu tidak akan mencukupi (sebagai kurban) bagi siapa pun.”

فَمَوْضِعُ الدَّلَالَةِ فِيهِ أَنَّهُ عَلَّقَ التَّحْرِيمَ بِصَلَاةِ الْمُضَحِّي لَا بِصَلَاةِ الْإِمَامِ وَالْمُضَحِّي يَجُوزُ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِيدَ مُنْفَرِدًا وَلَيْسَ يُعْتَبَرُ فِعْلُهُ لِلصَّلَاةِ اتِّفَاقًا فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ وَقْتَ الصَّلَاةِ

Maka letak penunjukan (dalālah) dalam hal ini adalah bahwa ia menggantungkan keharaman pada salat orang yang berkurban, bukan pada salat imam, dan orang yang berkurban boleh melaksanakan salat ‘Id secara sendiri, dan perbuatannya dalam salat tidak dianggap sebagai kesepakatan, sehingga hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah waktu salat.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّ كُلَّ عِبَادَةٍ تَعَلَّقَتْ بِالْوَقْتِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْقُرَى تَعَلَّقَتْ بِالْوَقْتِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْأَمْصَارِ كَالصَّلَاةِ طَرْدًا وَالْكَفَّارَاتِ عَكْسًا وَلِأَنَّ كُلَّ مَا كَانَ وَقْتًا لِلذَّبْحِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْقُرَى كَانَ وَقْتًا لِلذَّبْحِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْأَمْصَارِ كَمَا بَعْدَ الصَّلَاةِ طَرْدًا وَعَكْسُهُ دَلَالَةٌ عَلَيْهِمْ فِي أَهْلِ الْقُرَى أَنَّ كُلَّ مَا لَمْ يَكُنْ وَقْتًا لِذَبْحِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ لَمْ يَكُنْ وَقْتًا لِذَبْحِ أَهْلِ الْقُرَى كَمَا قَبْلَ الْفَجْرِ وَلِأَنَّ مَا تَوَقَّتَ مِنَ الْعِبَادَاتِ إِذَا تَقَدَّرَ آخِرُهُ بِالْوَقْتِ تَقَدَّرَ أَوَّلُهُ بِالْوَقْتِ كَالصَّلَاةِ طَرْدًا وَالزَّكَاةِ عَكْسًا وَلِأَنَّ أَحَدَ طَرَفَيْ زَمَانِ الذَّبْحِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مُقَدَّرًا بِالْوَقْتِ كَالطَّرَفِ الْأَخِيرِ

Dan berdasarkan qiyās, setiap ibadah yang berkaitan dengan waktu bagi penduduk desa juga berkaitan dengan waktu bagi penduduk kota, seperti shalat secara langsung dan kafarat secara kebalikan. Karena setiap waktu yang menjadi waktu penyembelihan bagi penduduk desa juga menjadi waktu penyembelihan bagi penduduk kota, seperti setelah shalat secara langsung, dan kebalikannya menunjukkan bahwa bagi penduduk desa, setiap waktu yang bukan merupakan waktu penyembelihan bagi penduduk kota juga bukan merupakan waktu penyembelihan bagi penduduk desa, seperti sebelum fajar. Dan karena setiap ibadah yang ditentukan waktunya, jika akhirnya ditentukan oleh waktu, maka awalnya pun ditentukan oleh waktu, seperti shalat secara langsung dan zakat secara kebalikan. Dan karena salah satu dari dua ujung waktu penyembelihan, maka wajib untuk ditentukan dengan waktu sebagaimana ujung akhirnya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ لَا ذَبْحَ قَبْلَ صَلَاةِ الْإِمَامِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas ucapannya “tidak sah menyembelih sebelum shalat imam” adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْإِمَامَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَقَدْ مَضَى فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ وَقْتُ صَلَاتِهِ وَهُوَ مَا قُلْنَاهُ

Salah satunya adalah bahwa imamnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau telah wafat, maka wajib untuk mempertimbangkan waktu salat beliau, yaitu seperti yang telah kami sebutkan.

وَالثَّانِي إِنَّ الْمُرَادَ بِهِ قَبْلَ وَقْتِ الصَّلَاةِ الْإِمَامُ كَمَا قَالَ مَنْ أَدَّى رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشمس فقعد أَدْرَكَ الْعَصْرَ

Yang kedua, maksud dari sebelum waktu salat adalah imam, sebagaimana dikatakan: Barang siapa yang melaksanakan satu rakaat dari salat Asar sebelum matahari terbenam lalu duduk (tasyahud), maka ia telah mendapatkan (waktu) Asar.

يُرِيدُ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مَنْ وَقْتِ الْعَصْرِ وَإِنَّمَا جَعَلْنَاهُ عَلَى أَحَدِ هَذَيْنِ الْجَوَابَيْنِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْمِصْرِ كَمَا عَدَلُوا بِهِ عَنْ ظَاهِرِهِ فِي حَقِّ أَهْلِ الْقُرَى وَكَذَلِكَ الْجَوَابُ عَنِ الْحَدِيثِ الْآخَرِ

Yang dimaksud dengan orang yang mendapatkan satu rakaat dari waktu Ashar adalah siapa saja yang mendapatkan satu rakaat dari waktu Ashar. Kami menetapkannya berdasarkan salah satu dari dua jawaban ini untuk penduduk kota, sebagaimana mereka mengalihkan maknanya dari zahirnya untuk penduduk desa. Demikian pula jawaban terhadap hadis yang lain.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّ اعْتِبَارَهَا بِفِعْلِ الصَّلَاةِ يَقِينٌ وَبِزَمَانِهَا اجْتِهَادٌ فَهُوَ أَنَّ اعْتِبَارَهَا بِزَمَانِ الصَّلَاةِ أَوْلَى لِأَنَّهُ يَتَمَاثَلُ وَلَا يَخْتَلِفُ وَبِفِعْلِ الصَّلَاةِ يَخْتَلِفُ

Adapun jawaban terhadap pernyataan mereka bahwa penetapan waktu shalat berdasarkan pelaksanaan shalat adalah sesuatu yang pasti, sedangkan berdasarkan waktunya adalah hasil ijtihad, maka jawabannya adalah bahwa penetapan waktu shalat berdasarkan waktunya lebih utama, karena waktu itu seragam dan tidak berbeda-beda, sedangkan berdasarkan pelaksanaan shalat bisa berbeda-beda.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فَهُوَ إِنَّ دَلَائِلَ الشَّرْعِ هِيَ الْمُعْتَبَرَةُ دُونَ الْمَذَاهِبِ الْمُتَعَدِّدَةِ لِحُدُوثِ الْمَذَاهِبِ عَنِ الْأَدِلَّةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْعَلَ الْمَذَاهِبَ أَدِلَّةً

Adapun jawaban atas pernyataan mereka bahwa hal itu telah disepakati, maka sesungguhnya dalil-dalil syariatlah yang menjadi acuan, bukan mazhab-mazhab yang beragam, karena mazhab-mazhab itu muncul dari dalil-dalil. Maka tidak boleh menjadikan mazhab-mazhab sebagai dalil.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَهُوَ أَنَّ فِعْلَهَا مُعْتَبَرٌ بِفَوَاتِ الْجُمُعَةِ وَلِذَلِكَ تَعَلَّقَ بِفَوَاتِ فِعْلِهَا دُونَ وَقْتِهَا وَلَيْسَ وَقْتُ الْأُضْحِيَّةِ بِمَثَابَتِهَا وَعَلَى أَنَّهُمَا يَتَسَاوَيَانِ إِذَا لَمْ يُصَلِّ الْعِيدَ وَلَمْ يُصَلِّ الْجُمُعَةَ جَازَ ذَبْحُ الْأُضْحِيَّةِ وَجَازَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ وَلَوْ تَعَلَّقَا فِي وَقْتِهِمَا بِفِعْلِ الصَّلَاةِ لَمْ تُجْزِئْ إِذَا لَمْ تَقُمِ الصَّلَاةُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مَا يُقْطَعُ مِنَ الْحَيَوَانِ عِنْدَ الذَّبْحِ

Adapun jawaban mengenai salat Zuhur pada hari Jumat adalah bahwa pelaksanaannya bergantung pada tidak terlaksananya salat Jumat. Oleh karena itu, hal tersebut terkait dengan tidak terlaksananya salat Jumat, bukan dengan waktunya. Waktu penyembelihan hewan kurban tidaklah sama dengan waktu salat Zuhur. Namun, keduanya menjadi setara jika seseorang tidak melaksanakan salat Id dan tidak melaksanakan salat Jumat; maka diperbolehkan menyembelih hewan kurban dan diperbolehkan melaksanakan salat Zuhur. Seandainya keduanya terkait dengan waktu pelaksanaan salat, maka tidak sah jika salatnya tidak ditegakkan. Allah lebih mengetahui tentang bagian hewan yang dipotong saat penyembelihan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي قال وَالذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَهِيَ مَا لَا حَيَاةَ بَعْدَهُ إِذَا قُطِعَ وَكَمَالُهَا بأربعٍ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ وَأَقَلُّ مَا يُجَزِئُ مِنَ الذَّكَاةِ أَنْ يَبِينَ الْحُلْقُومُ وَالْمَرِيءُ وَإِنَّمَا أُرِيدَ بِفَرْيِ الْأَوْدَاجِ لِأَنَّهَا لَا تُفْرَى إِلَّا بَعْدَ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَانِ عِرْقَانِ قَدْ يَنْسَلَّانِ مِنَ الْإِنْسَانِ وَالْبَهِيمَةِ ثُمَّ يَحْيَا

Imam Syafi‘i berkata: Penyembelihan itu dilakukan pada bagian leher dan pangkal leher, yaitu bagian yang setelah dipotong tidak ada kehidupan lagi. Penyembelihan yang sempurna adalah dengan memotong empat bagian: tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Minimal yang mencukupi dari penyembelihan adalah terputusnya tenggorokan dan kerongkongan. Maksud dari memotong urat-urat leher adalah karena urat-urat itu tidak akan terputus kecuali setelah memotong tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher, yaitu dua urat yang bisa terlepas dari manusia dan hewan, kemudian bisa hidup kembali.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الذَّكَاةُ فِي اللُّغَةِ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ فِيهَا ثَلَاثَةَ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا إِنَّهَا التَّطَّيْيِبُ مِنْ قَوْلِهِمْ رَائِحَةٌ ذَكِيَّةٌ أَيْ طَيِّبَةٌ فَسمّي بِهَا ذَبْحَ الْحَيَوَانِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَطْيِيبِ أَكْلِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهَا الْقَطْعُ فَسُمِّيَ بِهَا ذَبْحُ الْحَيَوَانِ لِقَطْعِهِ وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إِنَّهَا الْقَتْلُ فَسُمِّيَ بِهَا ذَبْحُ الْحَيَوَانِ لِقَتْلِهِ وَالذَّكَاةُ حَالَتَانِ كَمَالٌ وَإِجْزَاءٌ

Al-Mawardi berkata, “Adapun al-dzakāh dalam bahasa, sebagaimana telah kami sebutkan, memiliki tiga makna. Pertama, maknanya adalah penyucian, sebagaimana dalam ungkapan mereka ‘aroma yang dzakiyyah’ yaitu aroma yang harum, sehingga penyembelihan hewan dinamakan dengan dzakāh karena di dalamnya terdapat penyucian makanan. Kedua, maknanya adalah pemotongan, sehingga penyembelihan hewan dinamakan dzakāh karena adanya pemotongan. Ketiga, maknanya adalah pembunuhan, sehingga penyembelihan hewan dinamakan dzakāh karena adanya pembunuhan. Dzakāh itu sendiri memiliki dua keadaan: sempurna dan mencukupi.”

فَأَمَّا حَالُ الْكَمَالِ فَيَكُونُ بِقَطْعِ أَرْبَعَةٍ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ فَأَمَّا الْحُلْقُومُ فَهُوَ مَجْرَى النَّفْسِ فِي مُقَدَّمِ الرَّقَبَةِ وَأَمَّا الْمَرِيءُ فَهُوَ مَجْرَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ يَلِي الْحُلْقُومَ وَبِهِمَا تُوجَدُ الْحَيَاةُ وَبِفَقْدِهِمَا تُفْقَدُ الْحَيَاةُ وَأَمَّا الْوَدَجَانِ فَهُمَا عِرْقَانِ فِي جَنْبَيِ الْعُنُقِ مِنْ مُقَدَّمِهِ وَلَا تَفُوتُ الحياة بقواتهما

Adapun keadaan yang sempurna adalah dengan memotong empat bagian: hulqum, mari’, dan dua wadaj. Hulqum adalah saluran napas yang terletak di bagian depan leher. Mari’ adalah saluran makanan dan minuman yang berada di samping hulqum. Dengan keduanya, kehidupan ada, dan dengan hilangnya keduanya, kehidupan pun hilang. Adapun dua wadaj, keduanya adalah dua urat di kedua sisi leher bagian depan, dan kehidupan tidak hilang hanya dengan terputusnya keduanya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ لِأَنَّهُمَا قَدْ يَنْسَلَّانِ مِنَ الْإِنْسَانِ وَالْبَهِيمَةِ ثُمَّ يَحْيَيَانِ وَالْوَدَجَانِ اسْمٌ لَهُمَا فِي البهيمة ويسميان في الإنسان الوريدان وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى وَنَحْنُ أًَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيدِ وَلَكِنْ لَمَّا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْإِنْسَانِ وَالْبَهِيمَةِ سَمَّاهُ فِيهِمَا بِاسْمٍ وَاحِدٍ إِفْهَامًا لِلْعَامَّةِ فَهَذَا حَالُ الْكَمَالِ فِي الذَّكَاةِ بِقَطْعِ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ

Imam Syafi‘i berkata: Karena keduanya (dua urat) bisa terlepas dari manusia dan hewan, kemudian keduanya tetap hidup. Al-wadajan adalah nama untuk keduanya pada hewan, dan pada manusia keduanya disebut al-waridan. Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (ḥabl al-warīd).” Namun, ketika Imam Syafi‘i menyebutkannya pada manusia dan hewan, beliau menamainya dengan satu nama saja agar mudah dipahami oleh masyarakat umum. Inilah keadaan sempurna dalam penyembelihan (dzakāh), yaitu dengan memotong keempat bagian ini.

وَأَمَّا حَالُ الْجَوَازِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهِ عَلَى أَرْبَعَةِ مَذَاهِبَ

Adapun mengenai keadaan kebolehan, para fuqaha berbeda pendapat di dalamnya menjadi empat mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إِنَّ إِجْزَاءَ الذَّبْحِ بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ دُونَ الْوَدَجَيْنِ فَإِنْ قَطَعَ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءَ وَاسْتَثْنَى الْوَدَجَيْنِ حَلَّ الذَّبْحُ وَإِنْ كَانَ اسْتِبْقَاءُ الْوَدَجَيْنِ بَعْدَ قطع الحلقوم متعزراً لَا يَتَكَلَّفُ لِأَنَّهُمَا يَكْتَنِفَانِ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءَ مِنْ جَانِبِهِمَا فَإِنْ تَكَلَّفَ وَاسْتَبْقَاهُمَا جَازَ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i, menyatakan bahwa penyembelihan dianggap sah dengan memotong hulqum (saluran pernapasan) dan mari’ (saluran makanan) tanpa harus memotong dua urat leher (wadajain). Jika seseorang memotong hulqum dan mari’ serta membiarkan wadajain, maka penyembelihan itu halal. Jika mempertahankan wadajain setelah memotong hulqum sulit dilakukan, maka tidak perlu diupayakan, karena kedua urat tersebut mengapit hulqum dan mari’ dari kedua sisinya. Namun, jika seseorang berusaha dan tetap membiarkan keduanya, maka hal itu diperbolehkan.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ إِنَّهُ لَا يَحِلُّ الذَّبْحُ إِلَّا بِقَطْعِ الْأَرْبَعَةِ كُلِّهَا فَإِنِ اسْتَبْقَى مِنْهَا شَيْئًا لَمْ تَحِلَّ

Mazhab kedua, yaitu pendapat Malik, menyatakan bahwa penyembelihan tidak halal kecuali dengan memotong keempat bagian seluruhnya. Jika ada salah satu bagian yang tersisa, maka tidak menjadi halal.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ لَا تَحِلُّ الذَّبِيحَةُ إِلَّا بقطع أكثر الأربعة كلها إذا قَطَعَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَكْثَرَهُ وَتَرَكَ أَقَلَّهُ حَلَّ فَإِنْ تَرَكَ مِنْهَا وَاحِدًا لَمْ يَقْطَعْ أَكْثَرَهُ لَمْ تَحِلَّ

Mazhab ketiga, yaitu pendapat Abu Hanifah, menyatakan bahwa sembelihan tidak menjadi halal kecuali dengan memotong sebagian besar dari keempat anggota tersebut seluruhnya. Jika ia memotong sebagian besar dari masing-masing anggota tersebut dan menyisakan sebagian kecilnya, maka sembelihan itu halal. Namun, jika ia meninggalkan salah satu dari anggota tersebut dan tidak memotong sebagian besarnya, maka sembelihan itu tidak halal.

وَالْمَذْهَبُ الرَّابِعُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ لَا تَحِلُّ إِلَّا بِقَطْعِ أَكْثَرِهَا عَدَدًا وَهُوَ الْحُلْقُومُ وَالْمَرِيءُ وَأَحَدُ الْوَدَجَيْنِ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَا فَرَى الْأَوْدَاجَ فَكُلُوا مَا لَمْ يكن فرض نَابٍ أَوْ حَزَّ طَعْنٍ فَجَعَلَ فَرْيَ الْأَوْدَاجِ شَرْطًا فِي الْإِبَاحَةِ وَلِأَنَّ مَخْرَجَ الدَّمِ مِنَ الْأَوْدَاجِ فَكَانَ قَطْعُهَا أَخَصَّ بِالذَّكَاةِ وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ عَبَايَةَ بْنِ رَفَاعَةَ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ قلنا يا رسول الله إنا لاقوا العدو وغداً أَفَنُذَكِّي بِاللِّيطَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ سِنٍّ أَوْ ظُفْرٍ فَإِنَّ السِّنَّ عظمٌ مِنَ الْأَسْنَانِ وَالظُّفْرَ مُدَى الْحَبَشَةِ فَاعْتَبَرَهَا بِمَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَقَطَعَ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءُ مَنْهَرٌ لِلدَّمِ فَتَعَلَّقَ بِهِ الْإِجْزَاءُ وَلِأَنَّ مَقْصُودَ الذَّكَاةِ فَوَاتُ النَّفْسِ بِأَخَفِّ أَلَمٍ لِرِوَايَةِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى كُلِّ شيءٍ الْإِحْسَانَ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَلِيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ وَالْأَسْهَلُ فِي فَوَاتِ الرُّوحِ انْقِطَاعُ النَّفَسِ وَهُوَ بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ أَخَصُّ وَبِقِطَعِ الْمَرِيءِ لِأَنَّهُ مَسْلَكُ الْجَوْفِ وَلَيْسَ بَعْدَ قَطْعِهِمَا حَيَاةٌ وَالْوَدَجَانِ قَدْ يُسَلَّانِ مِنَ الْإِنْسَانِ وَالْبَهِيمَةِ فَيَعِيشَانِ فَكَانَ اعْتِبَارُ الذَّكَاةِ بِمَا لَا تَبْقَى مَعَهُ حَيَاةٌ أَوْلَى مِنِ اعْتِبَارِهَا بِمَا تَبْقَى معه حياة

Mazhab keempat, yaitu pendapat Abu Yusuf, menyatakan bahwa hewan tidak menjadi halal kecuali dengan memotong sebagian besar dari anggota yang harus dipotong, yaitu hulqum (saluran pernapasan), mari’ (saluran makanan), dan salah satu dari dua urat leher, dengan berdalil pada riwayat Abu Umamah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apa yang terpotong dari urat-urat leher, maka makanlah selama bukan karena gigi taring atau tusukan, maka beliau menjadikan terpotongnya urat-urat leher sebagai syarat kehalalan.” Karena tempat keluarnya darah adalah dari urat-urat leher, maka memotongnya lebih khusus dalam proses dzakāh. Dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari Amru bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Abayah bin Rafi‘ah, dari Rafi‘ bin Khadij, ia berkata: Kami berkata, “Wahai Rasulullah, besok kami akan menghadapi musuh, bolehkah kami menyembelih dengan menggunakan lidi?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah, kecuali yang berasal dari gigi atau kuku, karena gigi adalah tulang dari tulang-tulang, dan kuku adalah pisau orang Habasyah.” Maka beliau menganggap cukup dengan apa yang dapat mengalirkan darah, sedangkan hulqum dan mari’ adalah tempat mengalirnya darah, sehingga hal itu dianggap cukup. Karena tujuan dzakāh adalah menghilangkan nyawa dengan rasa sakit yang paling ringan, berdasarkan riwayat Syaddad bin Aus bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka lakukanlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan memberikan kenyamanan pada hewan sembelihannya.” Cara termudah untuk menghilangkan ruh adalah terputusnya napas, dan itu lebih khusus dengan memotong hulqum, serta dengan memotong mari’ karena itu adalah saluran ke rongga tubuh, dan setelah keduanya terpotong tidak ada lagi kehidupan. Adapun dua urat leher bisa saja terlepas dari manusia atau hewan namun masih hidup, maka mempertimbangkan dzakāh dengan apa yang tidak menyisakan kehidupan lebih utama daripada mempertimbangkannya dengan apa yang masih menyisakan kehidupan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ مَا فَرَى الْأَوْدَاجَ فَكُلُوا فَهُوَ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَعْمَلِ الظَّاهِرِ لِأَنَّ فَرْيَ الْأَوْدَاجِ مَعَ بَقَاءِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ غَيْرُ مُبِيحٍ فَصَارَ ظَاهِرُهُ مَتْرُوكًا

Adapun jawaban atas ucapannya “apa yang memutus urat-urat leher maka makanlah”, maka sesungguhnya itu tidak digunakan menurut makna zahirnya, karena memutus urat-urat leher sementara masih tersisa hulqum dan mari’ tidaklah membolehkan (untuk dimakan), sehingga makna zahirnya menjadi ditinggalkan.

فَإِنْ قِيلَ عَدَمُ الِاقْتِصَارِ عَلَيْهِ لَا يَمْنَعُ مِنْ دُخُولِهِ فِي عُمُومِ الشَّرْطِ

Jika dikatakan bahwa tidak terbatas padanya tidaklah menghalangi masuknya ke dalam keumuman syarat.

قِيلَ يَدْخُلُ فِي عُمُومِ الْكَمَالِ وَلَا يَدْخُلُ فِي عُمُومِ الْإِجْزَاءِ

Dikatakan bahwa hal itu termasuk dalam keumuman kesempurnaan, namun tidak termasuk dalam keumuman keabsahan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّهُ خُصَّ بِمَخْرَجِ الدَّمِ فَهُوَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِالذَّكَاةِ خُرُوجُ الرُّوحِ وَخُرُوجُهَا بِانْقِطَاعِ النَّفْسِ مِنَ الْحُلْقُومِ وَخُرُوجُ الدَّمِ تَابِعٌ

Adapun jawaban atas pernyataan mereka bahwa penyembelihan itu dikhususkan pada tempat keluarnya darah adalah bahwa maksud dari dzakāh adalah keluarnya ruh, dan keluarnya ruh itu terjadi dengan terputusnya nafas dari kerongkongan, sedangkan keluarnya darah hanyalah mengikuti hal tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ إِجْزَاءَ الذَّكَاةِ يَكُونُ بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ لَمْ تَصِحَّ الذَّكَاةُ بِقَطْعِ أَحَدِهِمَا وَوَهِمَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَأَحْسَبُهُ أَبَا سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيَّ فَأَبَاحَ الذَّكَاةَ بِقَطْعِ أَحَدِهِمَا لِفَقْدِ الْحَيَاةِ بِقَطْعِهِ وَهَذَا زَلَلٌ مِنْهُ خَالَفَ بِهِ نَصَّ الشَّافِعِيِّ وَمَعْنَى الذَّكَاةِ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهَا مَا عَجَّلَ التَّوْجِيَةَ مِنْ غَيْرِ تَعْذِيبٍ وَفِي قَطْعِ أَحَدِهِمَا إِبْطَالٌ لِلتَّوْجِيَةِ وَتَعْذِيبٌ لِلنَّفْسِ فَلَمْ تَصِحَّ بِهِ الذَّكَاةُ

Jika telah dipastikan bahwa penyembelihan yang sah adalah dengan memotong hulqum (saluran pernapasan) dan mari’ (saluran makanan), maka tidak sah penyembelihan hanya dengan memotong salah satunya. Sebagian ulama kami keliru—dan saya kira dia adalah Abu Sa‘id al-Ishthakhri—yang membolehkan penyembelihan hanya dengan memotong salah satunya karena hilangnya kehidupan dengan terpotongnya salah satu dari keduanya. Ini adalah kekeliruan darinya yang bertentangan dengan nash asy-Syafi‘i. Makna dari penyembelihan adalah mempercepat proses kematian tanpa menyiksa, sedangkan memotong salah satunya membatalkan tujuan tersebut dan menyebabkan penyiksaan terhadap hewan, sehingga penyembelihan tidak sah dengan cara itu.

وَأَمَّا إِذَا قَطَعَ بَعْضَ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ فَإِنْ قَطَعَ أَقَلَّهُمَا لَمْ تَحِلَّ الذَّكَاةُ وَإِنْ قَطَعَ أَكْثَرَهُمَا فَفِي إِحْلَالِهَا وَجْهَانِ

Adapun jika yang terpotong hanya sebagian dari hulqum dan mari’, maka jika yang terpotong kurang dari separuh keduanya, penyembelihan tidak menjadi halal. Namun jika yang terpotong lebih dari separuh keduanya, maka dalam hal kehalalannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا لَا تَحِلُّ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُقْتَصِرًا عَلَى أَقَلِّ الْأَرْبَعَةِ

Salah satu pendapat, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa hal itu tidak diperbolehkan karena akan menyebabkan terbatas hanya pada jumlah minimal dari empat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهَا تَحِلُّ لِأَنَّ قَطْعَ أَكْثَرِهَا يَقُومُ فِي فَوَاتِ الْحَيَاةِ مَقَامَ جَمِيعِهَا فَأَمَّا إِنْ قَطَعَ الْوَدَجَيْنِ دُونَ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ لَمْ تَحِلَّ وَقَدْ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ شَرِيطَةِ الشَّيْطَانِ وَهُوَ الِاقْتِصَارُ عَلَى قَطْعِ الْوَدَجَيْنِ فِي انْهِمَارِ الدَّمِ مَأْخُوذٌ مِنْ شرطه الحجام

Pendapat kedua adalah bahwa hewan tersebut halal karena memotong sebagian besarnya sudah menempati posisi seperti memotong seluruhnya dalam hal hilangnya kehidupan. Adapun jika hanya memotong dua urat leher tanpa memotong halkum dan kerongkongan, maka hewan tersebut tidak halal. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang syaritat asy-syaithan, yaitu hanya memotong dua urat leher saat darah mengalir deras, yang diambil dari istilah syarthah pada bekam.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَمَوْضِعُ النَّحْرِ فِي الِاخْتِيَارِ فِي السُّنَّةِ فِي اللَّبَّةِ وَمَوْضِعُ الذَّبْحِ فِي الِاخْتِيَارِ فِي السُّنَّةِ أَسْفَلُ مَجَامِعِ اللَّحْيَيْنِ فَإِذَا نُحِرَتْ بقرةٌ أَوْ ذُبِحَ بعيرٌ فجائزٌ

Imam Syafi‘i berkata, “Tempat penyembelihan (nahr) yang utama menurut sunnah adalah di bagian pangkal leher (labbah), dan tempat penyembelihan (dzabh) yang utama menurut sunnah adalah di bawah pertemuan kedua rahang. Maka jika seekor sapi disembelih dengan cara nahr atau unta disembelih dengan cara dzabh, hukumnya tetap boleh.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ السُّنَّةَ فِي الْإِبِلِ النَّحْرُ فِي الثُّغْرَةِ وَهُوَ عِنْدَ اللَّبَّةِ فِي مَوْضِعِ الصَّدْرِ لِأَنَّهُ أَرَقُّ وأوحى وَالسُّنَّةُ فِي الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ الذَّبْحُ فِي أَسْفَلِ مجامع اللحيين وأعلى العنق لأنه أرق وأوحى فَيَكُونُ النَّحْرُ قَطْعَ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ مِنْ أَسْفَلِ الْعُنُقِ وَالذَّبْحُ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ مِنْ أَعْلَى الْعُنُقِ فَصَارَ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ مُعْتَبَرًا فِيهِمَا وَإِنِ اخْتَلَفَ مَحَلُّ قَطْعِهِمَا بِالسُّنَّةِ وَتَعْجِيلِ التَّوْجِيَةِ فَإِنْ خَالَفَ فَذَبَحَ مَا يُنْحَرُ مِنَ الْإِبِلِ وَنَحَرَ مَا يُذْبَحُ مِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ أَجْزَأَ وأساء

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa sunnah dalam penyembelihan unta adalah dengan cara menombak pada bagian tenggorokan, yaitu di dekat lekukan antara dada, karena bagian itu lebih tipis dan lebih cepat (mematikan). Adapun sunnah dalam penyembelihan sapi dan kambing adalah dengan cara menyembelih di bagian bawah pertemuan dua rahang dan bagian atas leher, karena bagian itu lebih tipis dan lebih cepat (mematikan). Maka, menombak berarti memotong hulqum dan mari’ dari bagian bawah leher, sedangkan menyembelih berarti memotong hulqum dan mari’ dari bagian atas leher. Dengan demikian, memotong hulqum dan mari’ menjadi syarat pada keduanya, meskipun tempat pemotongannya berbeda menurut sunnah dan percepatan dalam menghadapkannya. Jika seseorang menyelisihi (ketentuan ini), lalu ia menyembelih unta dengan cara yang biasa untuk sapi dan kambing, atau menombak sapi dan kambing dengan cara yang biasa untuk unta, maka itu tetap sah, namun ia telah berbuat buruk.

وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ ذَبَحَ مَا يُنْحَرُ مِنَ الْإِبِلِ حَلَّ وَإِنْ نَحَرَ مَا يُذْبَحُ مِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرُمَ وَالدَّلِيلُ عَلَى جَوَازِ الْأَمْرَيْنِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى إلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَلَمْ يَخُصَّ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّ الذَّبْحَ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ مِنْ أَعْلَاهُمَا وَالنَّحْرَ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ مِنْ أَسْفَلِهِمَا فَاسْتَوَى حُكْمُ قَطْعِهِمَا فِي الْمَحَلَّيْنِ وَلِأَنَّ مَا حَلَّ بِالذَّبْحِ حَلَّ بِالنَّحْرِ كَالْإِبِلِ وَلِأَنَّ مَا حَلَّتْ بِهِ الْإِبِلُ حَلَّتْ بِهِ الْبَقَرُ كَالذَّبْحِ فَأَمَّا إِذَا قَطَعَ مَا فَوْقَ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ فِي الرَّأْسِ وَمَا دُونَ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ من الجوف لم تحل وإن وحي فصار كقطعهما باثنين

Malik berkata, “Jika seseorang menyembelih unta yang seharusnya disembelih dengan cara nahr, maka hukumnya halal. Namun jika ia menyembelih sapi atau kambing dengan cara nahr, maka hukumnya haram.” Dalil yang menunjukkan bolehnya kedua cara tersebut adalah firman Allah Ta‘ala: “kecuali apa yang kalian sembelih” dan tidak ada pengecualian di dalamnya. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Penyembelihan itu pada bagian leher dan pangkal leher,” maka hukumnya berlaku umum. Sebab, dzabh adalah memotong hulqum dan mari’ dari bagian atas keduanya, sedangkan nahr adalah memotong hulqum dan mari’ dari bagian bawah keduanya, sehingga hukum memotong keduanya di kedua tempat itu sama. Dan karena apa yang halal dengan cara dzabh juga halal dengan cara nahr, seperti unta. Demikian pula, apa yang halal bagi unta juga halal bagi sapi, seperti dzabh. Adapun jika seseorang memotong bagian di atas hulqum dan mari’ pada kepala, atau bagian di bawah hulqum dan mari’ pada rongga badan, maka tidak halal, meskipun hewan itu masih bergerak, sehingga hukumnya seperti memotong keduanya menjadi dua bagian.

مسألة

Masalah

قال الشافعي قَالَ عُمَرُ وَابْنُ عباسٍ الذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَزَادَ عُمَرُ وَلَا تُعَجِّلُوا الْأَنْفُسَ أَنْ تَزْهَقَ وَنَهَى عَنِ النَّخَعِ

Imam Syafi‘i berkata: Umar dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa penyembelihan (dzakāh) dilakukan pada bagian leher dan pangkal leher (lubbah). Umar menambahkan, “Janganlah kalian tergesa-gesa hingga nyawa benar-benar hilang,” dan beliau melarang menusuk bagian tenggorokan (nakh‘).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا قَوْلُهُ الذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ فَقَدْ رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَرَوَاهُ غَيْرُهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ يَكُونَ مَسْنُونًا عَنِ الرَّسُولِ وَمَأْثُورًا عَنِ الصَّحَابَةِ وَقَدْ مَضَى حُكْمُ الذَّكَاةِ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ لَا تُعَجِّلُوا الْأَنْفُسَ أَنْ تَزْهَقَ

Al-Mawardi berkata: Adapun ucapannya bahwa penyembelihan (dzakāh) itu pada leher dan pangkal leher, maka hal itu telah diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Umar dan Ibnu Abbas, dan juga diriwayatkan oleh selainnya dari Nabi ﷺ. Tidak mustahil hal itu merupakan sunnah dari Rasul dan atsar dari para sahabat. Telah disebutkan hukum penyembelihan pada leher dan pangkal leher. Adapun riwayat asy-Syafi‘i dari Umar bahwa ia berkata: “Janganlah kalian tergesa-gesa hingga nyawa benar-benar melayang.”

فَالزَّهَقُ الْإِسْرَاعُ وَالْمُرَادُ بِهِ إِسْرَاعُ خُرُوجِ النَّفْسِ وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَفِي الْمُرَادِ بِنَهْيِ عُمَرَ عَنْهُ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Maka az-zahq berarti percepatan, dan yang dimaksud dengannya adalah percepatan keluarnya nyawa, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “dan nyawa mereka dicabut.” Adapun maksud dari larangan ‘Umar terhadapnya terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنْ يَقْطَعَ أَعْضَاءَ الذَّبِيحَةِ قَبْلَ خُرُوجِ نَفْسِهَا لِيَتَعَجَّلَ أَكْلَهَا كَالَّذِي كَانَتْ تَفْعَلُهُ الْجَاهِلِيَّةُ

Salah satunya adalah memotong-motong anggota tubuh hewan sembelihan sebelum nyawanya keluar, agar dapat segera memakannya, seperti yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah.

وَالثَّانِي أَنْ يُعَجِّلَ سَلْخَهَا قَبْلَ خُرُوجِ نَفْسِهَا لِيَتَعَجَّلَ أَكْلَهَا

Yang kedua adalah mempercepat menguliti hewan sebelum nyawanya keluar, agar dapat segera memakannya.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُمْسِكَهَا بَعْدَ الذَّبْحِ حَتَّى لَا تَضْطَرِبَ لِيَتَعَجَّلَ خُرُوجَ رُوحِهَا كَالْيَهُودِ وَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ لَا تَمْنَعُ مِنَ الْإِبَاحَةِ لِوُجُودِهَا بَعْدَ الذَّكَاةِ وَأَغْلَظُهَا فِي الْكَرَاهَةِ قَطْعُهَا ثُمَّ سَلْخُهَا ثُمَّ إِمْسَاكُهَا وَإِنْ لَمْ يَحْرُمِ الْأَكْلُ بِوَاحِدٍ مِنْهَا وَأَمَّا نَهْيُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّخْعِ فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لَا تَنْخَعُوا وَلَا تَفَرَّسُوا

Ketiga, menahan hewan setelah disembelih agar tidak bergerak supaya mempercepat keluarnya ruhnya seperti yang dilakukan orang Yahudi. Ketiga hal ini tidak menghalangi kehalalan (dagingnya) karena terjadi setelah proses dzakāh. Yang paling berat dalam hal makruh adalah memotongnya, kemudian menguliti, lalu menahannya. Meskipun tidak ada satu pun dari ketiganya yang menyebabkan haramnya memakan (daging tersebut). Adapun larangan ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu tentang an-nakh‘, telah diriwayatkan darinya bahwa ia berkata, “Janganlah kalian melakukan an-nakh‘ dan jangan pula melakukan at-tafarrus.”

فَأَمَّا النَّخْعُ فَفِيهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ كَسْرُ الْعُنُقِ فِي قوله الشَّافِعِيِّ وَالثَّانِي كَسْرُ عَظْمِ الرَّأْسِ فِي قَوْلِ أبي هريرة

Adapun mengenai “nakh‘”, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Syafi‘i, adalah mematahkan leher. Pendapat kedua, menurut Abu Hurairah, adalah mematahkan tulang kepala.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُبَالِغَ فِي الْقَطْعِ حَتَّى يَصِلَ إِلَى قَطْعِ النُّخَاعِ وَهُوَ عِرْقٌ فِي الصُّلْبِ يَمْتَدُّ إِلَى الْقَفَا وَهَذَا قَوْلُ أَبِي عُبَيْدَةَ

Ketiga, harus benar-benar memotong hingga sampai pada pemotongan sumsum tulang belakang, yaitu urat yang berada di tulang punggung dan memanjang hingga ke tengkuk, dan ini adalah pendapat Abu ‘Ubaidah.

وَأَمَّا الْفَرَسُ فَفِيهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا إِنَّهُ كَسْرُ الْعَظْمِ وَالثَّانِي إِنَّهُ قَطْعُ الرَّأْسِ مَأْخُوذٌ مِنِ افْتِرَاسِ السُّبُعِ وَلَيْسَ فِي النَّخْعِ وَلَا الْفَرَسِ عَلَى كِلَا الْوَجْهَيْنِ مَانِعٌ مِنَ الْإِبَاحَةِ وَإِنْ كَانَا مَكْرُوهَيْنِ لِحُدُوثِهِمَا بَعْدَ كَمَالِ الذَّكَاةِ وَإِنْ كَانَتِ الرُّوحُ بَاقِيَةً وَأَشَدُّهُمَا كَرَاهَةً أَشَدُّهُمَا تَعْذِيبًا وألماً

Adapun mengenai al-faras, terdapat dua pendapat: yang pertama adalah bahwa itu berarti mematahkan tulang, dan yang kedua adalah memotong kepala, yang diambil dari cara binatang buas memangsa. Tidak ada pada tindakan an-nakh‘ maupun al-faras menurut kedua pendapat tersebut sesuatu yang menghalangi kehalalan, meskipun keduanya makruh karena terjadi setelah sempurnanya proses penyembelihan, meskipun ruh masih ada. Yang paling makruh di antara keduanya adalah yang paling besar menyebabkan penyiksaan dan rasa sakit.

مسألة

Masalah

قال الشافعي قَالَ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يَذْبَحَ الْمَنَاسِكَ الَّتِي يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا مسلمٌ فَإِنْ ذَبَحَ مشركٌ تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ أَجْزَأَ عَلَى كَرَاهِيَتِي لِمَا وَصَفْتُ

Imam Syafi‘i berkata: Aku lebih suka agar hewan kurban yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla tidak disembelih kecuali oleh seorang Muslim. Namun, jika seorang musyrik menyembelihnya dan sembelihannya halal, maka itu sudah mencukupi, meskipun aku tidak menyukainya karena alasan yang telah aku sebutkan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ الْأَوْلَى بِالْمُضَحِّي وَالْمُهْدِي أَنْ يَتَوَلَّى بِنَفْسِهِ ذَبْحَ أُضْحِيَّتِهِ وَهَدْيِهِ لِرِوَايَةِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ساق مائة بدنة فنحر بيده منها ثلاث وَسِتِّينَ بَدَنَةً وَأَمَرَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ فَنَحَرَ مَا بَقِيَ

Al-Mawardi berkata, yang lebih utama bagi orang yang berkurban dan yang melakukan hadyu adalah menyembelih sendiri hewan kurban dan hadyu-nya, berdasarkan riwayat dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bahwa Nabi ﷺ menggiring seratus unta, lalu beliau menyembelih dengan tangannya sendiri sebanyak enam puluh tiga ekor unta, kemudian beliau memerintahkan Ali ‘alaihis salam untuk menyembelih sisanya.

وَرَوَى نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ يَذْبَحُ أُضْحِيَّتَهُ بِالْمُصَلَّى قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ عُمَرُ يَفْعَلُ ذَلِكَ

Nafi‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi ﷺ biasa menyembelih hewan kurbannya di tempat shalat. Nafi‘ berkata, dan ‘Umar juga melakukan hal itu.

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَأْمُرُ نِسَاءَهُ أَنْ يَلِينَ ذَبْحَ هَدْيَهِنَّ لِأَنَّهَا قُرْبَةٌ فَكَانَ قِيَامُهُ بِهَا أَفْضَلَ مِنِ اسْتِنَابَتِهِ فِيهَا فَإِنِ اسْتَنَابَ فِيهَا جَازَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ اسْتَنَابَ عَلِيًّا فِي نَحْرِ مَا تَبَقَّى مِنْ هَدْيِهِ وَيَخْتَارُ أَنْ يَحْضُرَ ذَبْحَهَا إِذَا اسْتَنَابَ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لِامْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ قِيلَ إِنَّهَا فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَامُ احْضُرِي ذَبْحَ نَسِيكَتِكِ فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ بِأَوَّلِ قطرةٍ وَيَخْتَارُ إِذَا اسْتَنَابَ فِي ذَبْحِهَا أَنْ يَسْتَنِيبَ فِيهَا خِيَارَ الْمُسْلِمِينَ لِأَنَّ قِيَامَهُمْ بِالْقُرْبِ أَفْضَلُ وَمَنِ اسْتَنَابَ فِيهَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَجْزَأَ وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا فَإِنِ اسْتَنَابَ فِي ذَبْحِهَا كَافِرًا لَا تُؤْكَلُ ذَبِيحَتُهُ مِنَ الْمَجُوسِ أَوْ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ فَهِيَ مَيْتَةٌ لا تؤكل القول في ذبيحة الكتابي للأضحية

Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istri-istrinya untuk melaksanakan sendiri penyembelihan hadyu mereka, karena itu adalah suatu bentuk pendekatan diri (qurbah), sehingga pelaksanaan langsung lebih utama daripada mewakilkannya kepada orang lain. Namun, jika diwakilkan, itu dibolehkan, karena Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan kepada Ali untuk menyembelih sisa hadyu beliau. Dianjurkan pula bagi yang mewakilkan agar hadir pada saat penyembelihan, sebagaimana riwayat dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang berkata kepada seorang wanita dari keluarganya—dikatakan bahwa itu adalah Fathimah ‘alaihas-salām—‘Hadirilah penyembelihan hewan kurbanmu, karena pada tetesan darah yang pertama akan diampuni dosamu.’ Jika mewakilkan dalam penyembelihan, sebaiknya memilih orang-orang terbaik dari kaum Muslimin, karena pelaksanaan qurbah oleh mereka lebih utama. Siapa pun Muslim yang diwakilkan untuk menyembelih, maka itu sah, meskipun ia seorang fāsiq. Namun, jika mewakilkan kepada orang kafir untuk menyembelih—seperti dari kalangan Majusi atau penyembah berhala—maka sembelihannya tidak boleh dimakan, karena dianggap bangkai dan tidak halal dimakan. Adapun hukum sembelihan ahli kitab untuk kurban akan dijelaskan kemudian.”

وَإِنْ كَانَ مَأْكُولُ الذَّبِيحَةِ كَالْكِتَابِيِّ حَلَّتْ وَكَانَتْ أُضْحِيَّةً وَإِنْ كَانَ قِيَامُ الْكَافِرِ بِهَا مَكْرُوهًا

Jika orang yang memakan hewan sembelihan itu seperti ahli kitab, maka sembelihan itu halal dan dapat dijadikan sebagai hewan kurban. Namun, jika penyembelihan dilakukan oleh orang kafir, maka hukumnya makruh.

وَقَالَ مَالِكٌ هِيَ شَاةُ لَحْمٍ يَحِلُّ أَكْلُهَا وَلَا تَكُونُ أُضْحِيَّةً احْتِجَاجًا لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا يَذْبَحُ ضَحَايَاكُمْ إِلَّا طَاهِرٌ يُرِيدُ إِلَّا مُسْلِمٌ وَلِأَنَّهُ كَافِرٌ فَأَشْبَهَ الْمَجُوسِيَّ

Malik berkata, “Itu adalah kambing daging yang halal dimakan, namun tidak menjadi hewan udhiyah, dengan alasan sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menyembelih hewan kurban kalian kecuali oleh orang yang suci,’ maksudnya adalah kecuali oleh seorang Muslim. Dan karena ia adalah seorang kafir, maka ia serupa dengan seorang Majusi.”

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِي الضَّحَايَا وَغَيْرِهَا وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ صَحَّ أَنْ يَذْبَحَ الْأُضْحِيَّةَ كَالْمُسْلِمِ وَلِأَنَّهُ ذَبْحٌ يَصِحُّ مِنَ الْمُسْلِمِ فَصَحَّ مِنَ الْكِتَابِيِّ كَالذَّكَاةِ وَلِأَنَّ مَعُونَةَ الْكَافِرِ عَلَى الْقُرْبِ لَا يَمْنَعُ مِنَ الْإِجْزَاءِ كَاسْتِنَابَتِهِ فِي تَفْرِيقِ الزِّكْوَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَذْبَحُ ضَحَايَاكُمْ إِلَّا طَاهِرٌ فَهُوَ أَنَّ مَعْنَاهُ إِلَّا مُطَهِّرًا لِلضَّحَايَا وَهُوَ مَنْ تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ فَمَنَعَ بِهِ ذَبِيحَةَ الْمَجُوسِيِّ وَالْمَعْنَى فِي مَنْعِ الْمَجُوسِيِّ وَالْوَثَنِيِّ أَنَّهُمْ لَيْسُوا مِنْ أَهْلِ الذَّكَاةِ بِخِلَافِ أَهْلِ الْكِتَابِ ذَبْحُ الْمَرْأَةِ وَالصَّبِيِّ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagi kalian.” Maka ayat ini berlaku umum, baik pada hewan kurban maupun selainnya. Dan karena setiap orang yang termasuk Ahlul Kitab sah untuk menyembelih hewan kurban sebagaimana seorang Muslim. Dan karena penyembelihan yang sah dilakukan oleh seorang Muslim juga sah dilakukan oleh seorang Kitabi, seperti halnya dalam penyembelihan (dzakāh). Dan karena bantuan orang kafir dalam perkara ibadah tidak menghalangi keabsahan, seperti menugaskannya untuk membagikan zakat dan kafarat. Adapun jawaban atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah menyembelih hewan kurban kalian kecuali orang yang suci,” maka maksudnya adalah kecuali orang yang mensucikan hewan kurban, yaitu orang yang halal sembelihannya. Dengan hadits itu, dilaranglah sembelihan orang Majusi. Adapun alasan pelarangan sembelihan orang Majusi dan penyembah berhala adalah karena mereka bukan termasuk Ahludz Dzakāh, berbeda dengan Ahlul Kitab. (Demikian pula) penyembelihan oleh perempuan dan anak kecil.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَذَبْحُ مَنْ أَطَاقَ الذَّبْحَ مِنَ امرأةٍ حائضٍ وصبيٍّ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ ذَبْحِ النَّصْرَانِيِّ وَالْيَهُودِيِّ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Penyembelihan yang dilakukan oleh perempuan haid dan anak kecil dari kalangan Muslimin lebih aku sukai daripada penyembelihan yang dilakukan oleh orang Nasrani dan Yahudi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا ذَبْحُ النِّسَاءِ فَجَائِزٌ لَيْسَ فِيهِ كَرَاهَةٌ كَالرِّجَالِ لِمَا رَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمَرَ نِسَاءَهُ أَنْ يَلِينَ ذَبْحَ هَدْيَهِنَّ وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ عَبْدِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ نَافِعٍ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ يُحَدِّثُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَنَّ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَرْعَى غَنَمًا لَهُ بِسَفْحِ الْجَبَلِ الَّذِي عِنْدَ سُوقِ الْمَدِينَةِ تَرْعَاهَا جَارِيَةٌ لَهُ وَكَادَتْ شَاةٌ مِنْهَا تَمُوتُ فَأَخَذَتِ الْجَارِيَةُ حَجَرًا فَكَسَرَتْهُ وَذَبَحَتْ بِهِ الشَّاةَ فَزَعَمَ كَعْبٌ أَنَّهُ اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي ذَلِكَ فَقَالَ كُلُوا شَاتَكُمْ فَدَلَّ هَذَا الحديث على أحكام منها إِبَاحَةُ ذَبَائِحِ النِّسَاءِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun penyembelihan yang dilakukan oleh perempuan, maka hukumnya boleh dan tidak makruh, sebagaimana halnya laki-laki. Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istri-istrinya untuk menyembelih hewan hadyu mereka sendiri. Imam Syafi‘i meriwayatkan dari ‘Abd bin Humaid, dari Ibnu Juraij, dari Nafi‘, ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki dari kalangan Anshar menceritakan kepada ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Ka‘b bin Malik pernah menggembalakan kambing miliknya di lereng gunung yang berada di dekat pasar Madinah. Kambing-kambing itu digembalakan oleh seorang budak perempuannya. Suatu ketika, seekor kambing hampir mati, lalu budak perempuan itu mengambil sebuah batu, memecahkannya, dan menyembelih kambing itu dengan batu tersebut. Ka‘b mengaku bahwa ia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, maka beliau bersabda, ‘Makanlah kambing kalian.’ Hadis ini menunjukkan beberapa hukum, di antaranya bolehnya sembelihan yang dilakukan oleh perempuan.”

وَالثَّانِي جَوَازُ الذَّبْحِ بِالْحَجَرِ

Yang kedua adalah bolehnya menyembelih dengan batu.

وَالثَّالِثُ أَنَّ مَا ذَبَحَهُ غَيْرُ مَالِكِهِ حَلَّ أَكْلُهُ

Ketiga, bahwa hewan yang disembelih oleh selain pemiliknya, halal untuk dimakan.

وَالرَّابِعُ أَنَّ ذَكَاةَ مَا أَشَفَى عَلَى الْمَوْتِ جَائِزَةٌ إِذَا كَانَ فِيهِ حَيَاةٌ مُسْتَقِرَّةٌ وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْمَرْأَةُ طَاهِرًا أَوْ حَائِضًا غَيْرَ أَنَّ الْحَائِضَ لَا تُكْرَهُ ذَبِيحَتُهَا بِغَيْرِ الضَّحَايَا وَاخْتُلِفَ فِي كَرَاهَةِ ذَبْحِهَا لِلضَّحَايَا وَإِنْ أَجْزَأَتْ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keempat, penyembelihan hewan yang hampir mati hukumnya boleh jika masih terdapat kehidupan yang stabil padanya, baik yang menyembelih adalah perempuan yang suci maupun yang sedang haid. Hanya saja, sembelihan perempuan haid tidak makruh kecuali pada hewan kurban, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai kemakruhan penyembelihan hewan kurban oleh perempuan haid, meskipun tetap sah menurut dua pendapat.

فَأَمَّا الصَّبِيُّ الَّذِي لَمْ يَبْلُغُ فَذَبِيحَتُهُ مَكْرُوهَةٌ فِي الضَّحَايَا وَغَيْرِهَا وَإِنْ أَجْزَأَتْ لِصِغَرِهِ عَنْ مُبَاشَرَةِ الذَّبْحِ وَلِقُصُورِهِ عَنِ التَّكَالِيفِ وَذَبِيحَتُهُ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ ذَبِيحَةِ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ لِأَنَّهُ مُسْلِمٌ يَصِحُّ مِنْهُ فِعْلُ الْعِبَادَةِ فَكَانَ أَوْلَى مِنْ كَافِرٍ لَا يَصِحُّ مِنْهُ فِعْلُ الْعِبَادَةِ وَسَوَاءٌ كَانَ الصَّبِيُّ مُرَاهِقًا أَوْ غَيْرَ مُرَاهِقٍ فِي إِبَاحَةِ ذَكَاتِهِ مَعَ الْكَرَاهَةِ إِلَّا أَنَّ الْكَرَاهَةَ فِي ذَبْحِ غَيْرِ الْمُرَاهِقِ أَقْوَى وَوَهِمَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فَخَرَّجَ فِي ذَكَاتِهِ وَجْهًا آخَرَ أَنَّهَا لَا تُؤْكَلُ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ فِي قَتْلِهِ عَمْدًا هَلْ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الْخَطَأِ فَإِنْ جَعَلَ عَمْدَهُ خَطَأً لَمْ تَحِلَّ ذَكَاتُهُ وَهَذَا زَلَلٌ لِأَنَّ الْعَمْدَ وَالْخَطَأَ فِي إِبَاحَةِ الذَّكَاةِ سَوَاءٌ

Adapun anak kecil yang belum baligh, maka sembelihannya makruh baik untuk kurban maupun selainnya, meskipun tetap sah karena usianya yang masih kecil sehingga belum mampu melakukan penyembelihan secara sempurna dan belum terkena taklif. Namun, sembelihan anak kecil lebih kami sukai daripada sembelihan orang Yahudi atau Nasrani, karena ia adalah seorang Muslim yang sah melakukan ibadah, sehingga lebih utama daripada orang kafir yang tidak sah melakukan ibadah. Baik anak kecil itu sudah mendekati baligh (murahiq) maupun belum, hukum kebolehan sembelihannya tetap sama, meskipun tetap makruh. Hanya saja, kemakruhan pada sembelihan anak kecil yang belum mendekati baligh lebih kuat. Sebagian ulama kami keliru dengan mengeluarkan pendapat lain bahwa sembelihannya tidak boleh dimakan, karena perbedaan pendapat Imam Syafi‘i tentang pembunuhan yang dilakukan anak kecil secara sengaja, apakah dihukumi seperti kesalahan atau tidak. Jika dianggap perbuatannya sebagai kesalahan, maka sembelihannya tidak halal. Namun ini adalah kekeliruan, karena dalam hal kebolehan sembelihan, baik sengaja maupun tidak, hukumnya sama.

ذبح الأخرس والأعمى

Penyembelihan oleh orang bisu dan orang buta

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا بَأْسَ بِذَبِيحَةِ الْأَخْرَسِ

Imam Syafi‘i berkata, “Tidak mengapa dengan sembelihan orang bisu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَهِيَ غَيْرُ مَكْرُوهَةٍ لِأَنَّهُ فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ كَالنَّاطِقِ وَلِأَنَّهُ وَإِنْ عَجَزَ عَنِ التَّسْمِيَةِ فَلَيْسَتْ شَرْطًا فِي الذَّكَاةِ وَإِشَارَتُهُ بِهَا تَقُومُ مَقَامَ نُطْقِ الصَّحِيحِ فَلَمْ يَكُنْ تَارِكًا لَهَا وَيُجْزِئُ عَلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ أَخَذَ بِمَذْهَبِهِ فِي وُجُوبِ التَّسْمِيَةِ عَلَى الذَّبْحِ أَنْ يُبِيحَ ذَكَاتَهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَلَا يُبِيحُهَا فِي حَقِّ غَيْرِهِ فِي اللُّحُومِ وَالْأَضَاحِيِّ لِأَنَّ إِشَارَتَهُ بِالتَّسْمِيَةِ تَقُومُ مَقَامَ النُّطْقِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَلَا تَقُومُ مَقَامَهُ فِي حَقِّ غَيْرِهِ وَفِيمَا قَدْ يَنْفَرِدُ بِهِ لِأَجْلِ هَذَا الْخِلَافِ كِفَايَةٌ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan hal itu tidak makruh, karena dalam seluruh ibadah, orang bisu diperlakukan seperti orang yang dapat berbicara. Selain itu, meskipun ia tidak mampu mengucapkan basmalah, basmalah bukanlah syarat dalam penyembelihan, dan isyaratnya dalam hal ini dianggap setara dengan ucapan orang yang sehat, sehingga ia tidak dianggap meninggalkannya. Menurut pendapat Abu Hanifah dan orang-orang yang mengikuti mazhabnya tentang wajibnya basmalah saat menyembelih, maka cukup baginya untuk menghalalkan sembelihannya bagi dirinya sendiri, namun tidak menghalalkannya bagi orang lain dalam hal daging dan hewan kurban. Sebab, isyaratnya dalam mengucapkan basmalah dianggap setara dengan ucapan bagi dirinya sendiri, namun tidak dianggap setara bagi orang lain. Dan dalam hal-hal yang menjadi kekhususannya karena perbedaan pendapat ini, itu sudah mencukupi.”

فَأَمَّا ذَبِيحَةُ الْأَعْمَى فَمَكْرُوهَةٌ وَإِنْ حَلَّتْ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَخْطَأَ مَحَلَّ الذَّبْحِ وَلَا تُمْنَعُ مِنَ الْإِبَاحَةِ كَالْبَصِيرِ إِذَا ذَبَحَ مُغْمِضُ الْعَيْنَيْنِ أَوْ فِي ظُلْمَةٍ ذَبْحُ السَّكْرَانِ وَالْمَجْنُونِ

Adapun sembelihan orang buta hukumnya makruh, meskipun tetap halal, karena dikhawatirkan ia salah mengenai tempat penyembelihan. Namun, hal itu tidak menghalangi kehalalannya, sebagaimana orang yang melihat jika menyembelih dengan menutup kedua matanya atau dalam keadaan gelap. Begitu pula sembelihan orang yang mabuk dan orang gila.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَأَكْرَهُ ذَبِيحَةَ السَّكْرَانِ وَالْمَجْنُونِ فِي حَالِ جُنُونِهِ وَلَا يَتَبَيَّنُ أَنَّهَا حَرَامٌ

Syafi‘i berkata, “Aku memakruhkan sembelihan orang yang sedang mabuk dan orang gila ketika dalam keadaan gilanya, namun tidak dapat dipastikan bahwa sembelihan itu haram.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِنَّمَا كَرِهْنَا ذَبِيحَةَ السَّكْرَانِ وَالْمَجْنُونِ لِمَا يُخَافُ مِنْ عُدُولِهِمَا عَنْ مَحَلِّ الذَّبْحِ وَمُبَالَغَتِهِمَا فِي الْقَطْعِ إِلَى مَحَلِّ الْكَرَاهَةِ وَهِيَ مَعَ الْكَرَاهَةِ مُبَاحَةٌ لِأَنَّهُمَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْقَصْدُ فِي الذَّكَاةِ غَيْرُ معتبر ومن هم مِنْ أَصْحَابِنَا فِي ذَكَاةِ الصَّبِيِّ فَخَرَّجَ بِهَا وَجْهًا آخَرَ وَهِيَ فِي السَّكْرَانِ وَالْمَجْنُونِ فَخَرَّجَ فِي ذَكَاتِهِمَا وَجْهًا آخَرَ أَنَّهَا لَا تَصِحُّ أَمَّا الْمَجْنُونُ فَمِنْ عَمْدِهِ فِي الْقَتْلِ وَأَمَّا السَّكْرَانُ فَمِنْ قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ إِنَّ طَلَاقَهُ لَا يَقَعُ وَتَخْرِيجَهُ فِي الْجَمِيعِ فَاسِدٌ بِمَا ذَكَرْنَاهُ وَيَجِبُ عَلَى مَذْهَبِ مَالِكٍ أَنَّ ذَكَاتَهُمْ تَكُونُ لَحْمًا وَلَا تَكُونُ أُضْحِيَّةً عَلَى قِيَاسِ قَوْلِهِ فِي الْكَافِرِ ذَبَائِحُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

Al-Mawardi berkata, “Kami memakruhkan sembelihan orang yang mabuk dan orang gila karena dikhawatirkan keduanya menyimpang dari tempat penyembelihan yang benar dan berlebihan dalam memotong hingga ke tempat yang dimakruhkan. Namun, sembelihan itu tetap boleh meskipun makruh, karena keduanya termasuk kaum Muslimin dan niat dalam penyembelihan tidak dianggap. Sebagian ulama kami dalam masalah penyembelihan anak kecil mengeluarkan pendapat lain, dan demikian pula dalam penyembelihan orang mabuk dan orang gila, ada pendapat lain bahwa sembelihan mereka tidak sah. Adapun orang gila, karena ia sengaja membunuh, dan adapun orang mabuk, karena dalam pendapat lama disebutkan bahwa talaknya tidak jatuh. Mengeluarkan pendapat ini pada seluruh kasus adalah batil sebagaimana telah kami sebutkan. Menurut mazhab Malik, wajib bahwa sembelihan mereka hanya dianggap sebagai daging dan tidak boleh dijadikan sebagai hewan kurban, berdasarkan qiyās terhadap pendapatnya tentang sembelihan orang kafir, yaitu sembelihan Yahudi dan Nasrani.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَا تَحِلُّ ذَبِيحَةُ نَصَارَى الْعَرَبِ وَهُوَ قَوْلُ عمر رضي الله عنه

Imam Syafi‘i berkata, “Sembelihan orang Nasrani Arab tidak halal,” dan ini adalah pendapat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ ذَبِيحَةُ النَّصَارَى عَلَى أَقْسَامٍ وَكَذَلِكَ اليهود

Al-Mawardi berkata, “Sembelihan orang Nasrani terbagi menjadi beberapa bagian, demikian pula sembelihan orang Yahudi.”

أحدها ما كان مباحاً وهمو بنوا إِسْرَائِيلَ وَمَنْ دَانَ بِدِينِهِمْ قَبْلَ التَّبْدِيلِ وَلَمْ يعتقد في العزيز وَالْمَسِيحِ أَنَّهُمَا ابْنَا اللَّهِ فَتَحِلُّ ذَبَائِحُهُمْ سَوَاءٌ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ أَوْ مِنْ أَهْلِ الْحَرْبِ لقول الله تعالى وَطَعَامُ الَّذِينَ أُتُواْ الكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ

Salah satunya adalah apa yang dahulu dibolehkan, yaitu Bani Israil dan orang-orang yang mengikuti agama mereka sebelum terjadi perubahan, serta mereka tidak meyakini bahwa Uzair dan Al-Masih adalah anak Allah. Maka sembelihan mereka halal, baik mereka termasuk ahludz-dzimmah maupun ahlul-harb, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagi kalian.”

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَ مُحَرَّمًا وَمِنْهُمْ مَنْ دَخَلَ فِي الْيَهُودِيَّةِ والنصرانية بعد التَّبْدِيلِ كَنَصَارَى الْعَرَبِ وَمَنْ جَرَى مَجْرَاهُمْ مِنَ النَّصَارَى وَالْيَهُودِ فَذَبَائِحُهُمْ حَرَامٌ لَا تَحِلُّ لِسُقُوطِ حُرْمَتِهِمْ

Bagian kedua adalah apa yang diharamkan, yaitu di antara mereka ada yang masuk ke dalam agama Yahudi dan Nasrani setelah terjadi perubahan (ajaran), seperti kaum Nasrani Arab dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Maka sembelihan mereka adalah haram, tidak halal, karena telah gugur kehormatan (agama) mereka.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا كَانَ مُخْتَلَفًا فِيهِ وهم بنوا إسرائيل من اليهود والنصارى إذا قالوا في العزيز والمسيح إنهما ابنا الله ففي إباحة ذبائحهم وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا

Bagian ketiga adalah perkara yang diperselisihkan, yaitu Bani Israil dari kalangan Yahudi dan Nasrani ketika mereka mengatakan bahwa Uzair dan Al-Masih adalah anak-anak Allah. Dalam hal kebolehan memakan sembelihan mereka, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami.

أَحَدُهُمَا يَحِلُّ أَكْلُ ذَبَائِحِهِمْ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَبَاحَ ذَبَائِحَهُمْ مَعَ إِخْبَارِهِ بِذَلِكَ عَنْهُمْ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ

Salah satu pendapat membolehkan memakan sembelihan mereka karena Allah Ta‘ala telah menghalalkan sembelihan mereka, disertai dengan pemberitahuan-Nya tentang hal itu dari mereka, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا تَحِلُّ ذَبَائِحُهُمْ لِأَنَّهُ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ خَرَجُوا عَنْ حُكْمِ التَّوْحِيدِ إِلَى الْإِشْرَاكِ بِهِ فَتَوَجَّهَتِ الْإِبَاحَةُ إِلَى مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ الْمُوَحِّدِينَ وَهُوَ عِنْدِي أَظْهَرُ

Pendapat kedua: Sembelihan mereka tidak halal, karena ini adalah pendapat sekelompok dari mereka yang telah keluar dari hukum tauhid menuju perbuatan syirik. Maka kehalalan itu hanya berlaku bagi selain mereka, yaitu orang-orang yang bertauhid. Menurut saya, pendapat ini lebih jelas.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا ذَبِيحَةُ النَّصَارَى بِاسْمِ الْمَسِيحِ فَضَرْبَانِ

Adapun sembelihan orang Nasrani dengan menyebut nama Al-Masih, maka ada dua macam.

أَحَدُهُمَا مَا ذَبَحُوهُ لِلَّهِ تَعَالَى وَيَذْكُرُوا عَلَيْهِ اسْمَ الْمَسِيحِ فَأَكْلُهُ حَلَالٌ وَإِنْ كَرِهْنَاهُ لِأَنَّهُ مَقْصُودٌ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى فَكَانَ ذِكْرُ الْمَسِيحِ فِيهِ تَبَعًا

Salah satunya adalah hewan yang mereka sembelih untuk Allah Ta‘ala dan mereka menyebut nama Al-Masih atasnya; maka memakannya adalah halal, meskipun kita membencinya, karena maksud utamanya adalah untuk Allah Ta‘ala, sehingga penyebutan nama Al-Masih di dalamnya hanya sebagai ikutan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَذْبَحُوهُ لِلْمَسِيحِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ كَذَبَائِحِ الْأَوْثَانِ لِأَنَّهُ مَعْدُولٌ بِهِ عَنْ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ إِلَى قَوْله تَعَالَى وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ حكم ذبائح الجن

Jenis yang kedua adalah mereka menyembelihnya untuk al-Masih, maka memakannya adalah haram seperti sembelihan berhala, karena penyembelihan itu dialihkan dari tujuan karena Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman: “Diharamkan atas kalian bangkai…” hingga firman-Nya: “dan apa yang disembelih bukan atas nama Allah.” Hukum sembelihan jin.

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَبَائِحَ الْجِنِّ قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ هُوَ أَنْ يَشْترِيَ الرَّجُلَ دَارًا أَوْ يَسْتَخْرِجَ عَنْهَا فَيَذْبَحُ خَوْفًا أَنَّ فِيهَا الْجِنَّ فَهُوَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الضَّرْبَيْنِ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لِيَسْتَدْفِعَ بِهِ إِصَابَةَ الْجِنِّ حَلَّ أَكْلُهَا وَإِنْ ذَبَحَهَا للجن لاستدفاعهم حرم أكلها استحباب توجيه الذبيحة إِلَى الْقِبْلَةِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang penyembelihan untuk jin. Abu ‘Ubaidah berkata, maksudnya adalah seseorang membeli rumah atau mengambilnya, lalu ia menyembelih hewan karena takut di dalamnya ada jin. Maka hal ini termasuk dalam dua jenis yang telah kami sebutkan: jika ia melakukannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah Ta‘ala agar terhindar dari gangguan jin, maka halal memakan sembelihannya. Namun jika ia menyembelihnya untuk jin agar terhindar dari mereka, maka haram memakannya. Dianjurkan pula mengarahkan hewan sembelihan ke arah kiblat.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَأُحِبُّ أَنْ يُوَجِّهَ الذَّبِيحَةَ إِلَى الْقِبْلَةِ

Syafi‘i berkata, “Aku menyukai agar hewan sembelihan dihadapkan ke kiblat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِنَّمَا كَانَتِ السُّنَّةُ أَنَّ تُوَجَّهَ ذَبِيحَتُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ فِي اللَّحْمِ وَالضَّحَايَا لِمَا رَوَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ضَحُّوا وَطَيِّبُوا بِهَا أَنْفُسَكُمْ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ مسلمٍ يَسْتَقْبِلُ بِذَبِيحَتِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ إِلَّا كَانَ دمها وفرثها وصوفها حسناتٍ محضوراتٍ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun sunnahnya adalah mengarahkan hewan sembelihan ke arah kiblat dalam penyembelihan daging dan hewan kurban, berdasarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berqurbanlah kalian dan lapangkanlah hati kalian dengannya, karena tidaklah seorang Muslim menghadapkan hewan sembelihannya ke arah kiblat kecuali darahnya, kotorannya, dan bulunya akan menjadi kebaikan-kebaikan yang terhitung dalam timbangan amalnya pada hari kiamat.’”

وَرَوَى جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ضَحَّى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ فَلَمَّا وَجَّهَهُمَا قَرَأَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ الْآيَتَيْنِ وَلِأَنَّهُ لَا بُدَّ فِي ذَبْحِهَا أَنْ يَتَوَجَّهَ بِهَا إِلَى جِهَةٍ فَكَانَتْ جِهَةُ الْقِبْلَةِ أَفْضَلَ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ خَيْرُ الْمَجَالِسِ مَا اسْتُقْبِلَ بِهِ الْقِبْلَةُ وَلِأَنَّهَا قُرْبَةٌ فَكَانَتِ الْقِبْلَةُ أَخَصَّ بِهَا كَالصَّلَاةِ فَإِنْ قِيلَ فَهُوَ سَفْحُ دَمٍ وَإِلْقَاءُ فَرْثٍ وَهِيَ أَنْجَاسٌ فَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ تَنْزِيهُ الْقِبْلَةِ عَنْهَا أَوْلَى كَالْبُرُوزِ لِلْغَائِطِ وَالْبَوْلِ قِيلَ لَيْسَ فِي كَشْفِ الْعَوْرَةِ لِلْغَائِطِ وَالْبَوْلِ طَاعَةٌ فَكَانَ صِيَانَةُ الْقِبْلَةِ عَنْهُ أَوْلَى وَفِي ذَبْحِ الضَّحَايَا طَاعَةٌ وَقُرْبَةٌ فَكَانَ اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ بِهَا أَوْلَى فَافْتَرَقَا وَيَخْتَارُ أَنْ يَتَظَاهَرَ بِذَبْحِ الضَّحَايَا وَبِكُلِّ ذَبِيحَةٍ فِيهَا لِلْفُقَرَاءِ نَصِيبٌ لِيَحْضُرُوا فَيَنَالُوا مِنْهَا وَيَسْتَسِرُّ بِذَبْحِ مَا يُخْتَصُّ بِأَكْلِهِ مِنَ اللَّحْمِ لِيَقِلَّ فِيهِ التَّحَاشُدُ التَّسْمِيَةُ عَلَى الذَّبِيحَةِ

Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkurban dengan dua ekor domba jantan yang bertanduk. Ketika beliau menghadapkannya, beliau membaca ayat “Wajjahtu wajhiya…” dua ayat tersebut. Karena dalam penyembelihan hewan kurban, harus menghadapkannya ke suatu arah, maka arah kiblat lebih utama, berdasarkan sabda Nabi saw., “Sebaik-baik majelis adalah yang dihadapkan ke kiblat.” Dan karena kurban adalah bentuk pendekatan diri (qurbah), maka kiblat lebih khusus untuknya, sebagaimana dalam shalat. Jika ada yang berkata, “Penyembelihan itu menumpahkan darah dan membuang kotoran, yang merupakan najis, maka seharusnya kiblat lebih dijaga dari hal itu, sebagaimana ketika buang air besar dan kecil,” maka dijawab: Dalam membuka aurat untuk buang air besar dan kecil tidak ada unsur ketaatan, sehingga menjaga kiblat dari hal itu lebih utama. Sedangkan dalam penyembelihan hewan kurban terdapat ketaatan dan pendekatan diri, sehingga menghadap kiblat saat menyembelihnya lebih utama. Maka keduanya berbeda. Dianjurkan untuk menampakkan penyembelihan hewan kurban dan setiap hewan sembelihan yang di dalamnya ada bagian untuk fakir miskin, agar mereka hadir dan mendapatkan bagian darinya. Sedangkan untuk penyembelihan hewan yang khusus untuk dimakan sendiri, sebaiknya dilakukan secara tersembunyi agar tidak banyak orang yang berkumpul. Disunnahkan membaca basmalah atas hewan sembelihan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَيَقُولَ الرَّجُلُ عَلَى ذَبِيحَتِهِ بِاسْمِ اللَّهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Seseorang mengucapkan “Bismillah” atas hewan sembelihannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ التَّسْمِيَةَ عِنْدَ الذَّبْحِ فِي الضَّحَايَا وَاللَّحْمِ وَعِنْدَ إِرْسَالِ الْجَوَارِحِ عَلَى الصَّيْدِ سُنَّةٌ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ فَإِنْ تَرَكَهَا ذَاكِرًا أَوْ نَاسِيًا حَلَّتِ الذَّبَائِحُ وَصَيْدُ الْجَوَارِحِ

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa membaca basmalah saat menyembelih hewan kurban, hewan untuk dimakan, dan saat melepaskan hewan pemburu untuk berburu adalah sunnah dan bukan wajib. Jika seseorang meninggalkannya, baik dengan sengaja maupun karena lupa, maka sembelihan dan hasil buruan hewan pemburu tersebut tetap halal.

وَقَالَ دَاوُدُ وَأَبُو ثَوْرٍ هِيَ وَاجِبَةٌ مَعَ الذِّكْرِ وَالنِّسْيَانِ فَإِنْ تَرَكَهَا عَامِدًا أَوْ نَاسِيًا حَرُمَتْ

Dawud dan Abu Tsaur berpendapat bahwa (tindakan itu) wajib baik dalam keadaan ingat maupun lupa. Maka jika seseorang meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa, hukumnya menjadi haram.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ هِيَ وَاجِبَةٌ مَعَ الذِّكْرِ دُونَ النِّسْيَانِ فَإِنْ تَرَكَهَا عَامِدًا حَرُمَتْ وَإِنْ تَرَكَهَا نَاسِيًا حَلَّتْ

Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa bacaan basmalah itu wajib ketika ingat, bukan ketika lupa. Jika seseorang meninggalkannya dengan sengaja, maka haram, dan jika meninggalkannya karena lupa, maka halal.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِمْ قَدْ مَضَى وَمِنْهُ مَا رَوَاهُ الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْمُسْلِمُ يَذْبَحُ عَلَى اسْمِ اللَّهِ سَمَّى أَوْ لَمْ يُسَمِّ

Dan dalil tentang hal itu telah disebutkan sebelumnya, di antaranya adalah riwayat dari Al-Barā’ bin ‘Āzib dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Seorang Muslim menyembelih atas nama Allah, baik ia menyebut nama Allah atau tidak menyebutnya.”

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولُ اللَّهِ إِنَّا نَذْبَحُ وَنَنْسَى أَنْ نُسَمِّيَ اللَّهَ فَقَالَ اسْمُ اللَّهِ عَلَى قَلْبِ كُلِّ مسلمٍ  وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي الذَّكَاةِ مَعَ الذِّكْرِ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِيهَا مَعَ النِّسْيَانِ كَالصَّلَاةِ على النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُسْتَوْفَاةً

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menyembelih dan lupa untuk menyebut nama Allah.” Maka beliau bersabda, “Nama Allah ada di dalam hati setiap Muslim.” Dan karena sesuatu yang bukan merupakan syarat dalam penyembelihan ketika ingat, maka hal itu juga bukan syarat ketika lupa, seperti shalawat kepada Nabi ﷺ. Masalah ini pun telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.

وَيَخْتَارُ لَهُ فِي الضَّحَايَا خَاصَّةً أَنْ يُكَبِّرَ اللَّهَ تَعَالَى قَبْلَ التَّسْمِيَةِ وَبَعْدَهَا ثَلَاثًا لِأَنَّهَا فِي أَيَّامِ التَّكْبِيرِ فَيَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ خَاتِمًا بِالْحَمْدِ بَعْدَ التَّكْبِيرِ

Dan disunnahkan baginya secara khusus dalam penyembelihan hewan kurban untuk mengucapkan takbir kepada Allah Ta‘ala sebelum dan sesudah membaca basmalah sebanyak tiga kali, karena penyembelihan itu dilakukan pada hari-hari takbir. Maka ia mengucapkan: “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, wa lillāhil-ḥamd,” menutupnya dengan pujian setelah takbir.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا أَكْرَهُ الصَّلَاةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِأَنَّهَا إيمانٌ بِاللَّهِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَخْبَرَنِي جِبْرِيلُ عَنِ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ

Imam Syafi‘i berkata, “Aku tidak memakruhkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ karena shalawat itu adalah bentuk keimanan kepada Allah.” Beliau ﷺ bersabda, “Jibril telah memberitahuku dari Allah—Maha Suci Nama-Nya—bahwa Dia berfirman: ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu, Aku akan bershalawat kepadanya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عِنْدَ الذَّبْحِ فَلَيْسَتْ وَاجِبَةً إِجْمَاعًا وَلَا مَكْرُوهَةً عِنْدَنَا وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اسْتِحْبَابِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Adapun membaca shalawat kepada Nabi ﷺ saat penyembelihan, maka itu tidak wajib menurut ijmā‘, dan tidak makruh menurut kami. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang dianjurkannya membaca shalawat tersebut menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ أَنَّهَا مُسْتَحَبَّةٌ

Salah satunya telah disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam al-Umm bahwa hal itu adalah mustahabb.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي هُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهَا غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ وَلَا مَكْرُوهَةٍ وَكَرِهَهَا مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَوْطِنَانِ لَا أَذْكُرُ فِيهِمَا عِنْدَ الذَّبِيحَةِ وَالْعُطَاسِ  وَلِأَنَّهُ يَسِيرُ بِذِكْرِهِ مِمَّا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَكْرُوهًا وَدَلِيَلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ قِيلِ مَعْنَاهُ لَا أُذْكَرُ إِلَّا ذُكِرَتْ مَعِيَ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ الْآيَةَ فَكَانَ عِنْدَ الْقُرْبِ بِالذَّبَائِحِ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مَذْكُورًا قَالَ الشَّافِعِيُّ وَخَشِيتُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْطَانُ أَدْخَلَ عَلَى بَعْضِ أَهْلِ الْجَهَالَةِ أَنْ كَرِهُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبِيحَةِ لِمَوْضِعِ غَفْلَتِهِمْ أَوْ لَا يَرَى لِمَا رَوَاهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَسَبَقَنِي فَجِئْتُ فَرَأَيْتُهُ سَاجِدًا فَأَقَمْتُ طَوِيلًا فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ قَبَضَ رُوحَكَ فِي سُجُودِكَ لَمَّا أَطَلْتَ فَقَالَ لَمَّا فَارَقْتُكَ لَقِيَنِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ فَسَجَدْتُ شُكْرًا لِلَّهِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى اسْتِحْبَابِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَكَيْفَ يَكْرَهُ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ قَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ ذُكِرْتَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ الثَّانِيةَ فَقَالَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ رَغِمَ أَنْفُ عبدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ رَقِيَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ رَغِمَ أَنْفُ عبدٍ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرُ لَهُ فَقُلْتُ آمِينَ

Pendapat kedua adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah bahwa hal itu tidak disunnahkan dan tidak pula makruh, sementara Malik dan Abu Hanifah memakruhkannya dengan alasan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Ada dua keadaan di mana aku tidak menyebut (nama Allah), yaitu saat menyembelih dan saat bersin.” Dan karena dengan menyebutnya, itu menjadi mirip dengan apa yang disembelihkan untuk selain Allah, maka seharusnya hal itu makruh. Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu),” dikatakan maknanya: “Aku tidak disebut kecuali engkau juga disebut bersamaku.” Dan firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi…” Maka pada saat mendekatkan diri dengan hewan sembelihan, lebih utama untuk menyebutnya. Asy-Syafi‘i berkata: “Aku khawatir setan telah menanamkan pada sebagian orang bodoh sehingga mereka memakruhkan shalawat kepada beliau saat menyembelih karena kelalaian mereka, atau karena tidak melihat (dalil) apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata: ‘Aku bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau mendahuluiku, maka aku datang dan melihat beliau sedang sujud, aku pun berdiri lama, ketika beliau mengangkat kepalanya aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku khawatir Allah telah mencabut ruhmu dalam sujudmu karena engkau lama sekali.’ Beliau bersabda: ‘Ketika aku berpisah denganmu, Jibril menemuiku dan memberitahuku dari Allah Ta‘ala bahwa Dia berfirman: “Barangsiapa bershalawat kepadamu, Aku akan bershalawat kepadanya.” Maka aku sujud syukur kepada Allah.’ Ini menunjukkan disunnahkannya bershalawat kepadanya, lalu bagaimana bisa dimakruhkan? Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau naik mimbar lalu berkata: ‘Amin.’ Maka ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau bersabda: ‘Jibril berkata kepadaku: “Celakalah orang yang disebut namamu di hadapannya lalu ia tidak bershalawat kepadamu,” maka aku berkata: “Amin.”’ Kemudian yang kedua, beliau berkata: ‘Amin.’ Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau bersabda: ‘Jibril berkata kepadaku: “Celakalah seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak masuk surga (karena berbakti kepada keduanya),” maka aku berkata: “Amin.”’ Kemudian beliau naik yang ketiga dan berkata: ‘Amin.’ Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau bersabda: ‘Jibril berkata kepadaku: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan namun tidak diampuni dosanya,” maka aku berkata: “Amin.”’

وَلِأَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى الرَّسُولِ إِيمَانٌ بِالْمُرْسَلِ فَكَيْفَ يَكُونُ الْإِيمَانُ مَكْرُوهًا فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَوْطِنَانِ لَا أَذْكُرُ فِيهِمَا فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Dan karena bershalawat kepada Rasul merupakan bentuk keimanan kepada yang diutus, maka bagaimana mungkin keimanan itu dianggap makruh? Adapun jawaban atas sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada dua tempat yang aku tidak berzikir di dalamnya,” maka jawabannya ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَيْسَ يَنْهَى عَنْ ذِكْرِهِ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى وَجْهِ التَّنْبِيهِ عَلَى ذِكْرِهِ كَأَنَّهُ قَالَ لِمَ لَا أَذْكُرُ فِيهِمَا

Salah satunya adalah bahwa larangan tersebut bukanlah larangan untuk menyebutkannya, melainkan hanya sebagai bentuk peringatan untuk menyebutkannya, seakan-akan ia berkata, “Mengapa aku tidak menyebutkannya dalam keduanya?”

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَا يُذْكَرُ فِيهِمَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ لِأَنَّ ذِكْرَهُ فِي الذَّبِيحَةِ أَنْ يُقْصَدَ بِهَا وَجْهَهُ فِي التَّقَرُّبِ إِلَيْهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُذْكَرَ رَسُولُهُ وَذِكْرُهُ فِي الْعُطَاسِ حَمْدٌ لَهُ وَلَيْسَ يُحْمَدُ رَسُولُهُ عِنْدَهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ فِي غَيْرِ هَذَيْنِ الْمَوْضِعَيْنِ فَلَمْ يَتَوَجَّهِ النَّهْيُ إِلَيْهَا

Kedua, tidak disebutkan pada keduanya (yaitu penyembelihan dan bersin) dengan cara yang digunakan untuk menyebut Allah Ta‘ala, karena penyebutan (nama Allah) pada penyembelihan dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan tidak boleh menyebut nama Rasul-Nya dalam hal itu. Adapun penyebutan (nama Allah) ketika bersin adalah sebagai ungkapan pujian kepada-Nya, dan Rasul-Nya tidak dipuji dalam hal itu. Sedangkan shalawat kepada Nabi pada selain kedua tempat tersebut, maka larangan tidak diarahkan kepadanya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ إِنَّهُ يَصِيرُ مِمَّا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَهُوَ أَنَّهُ يَصِيرُ بِذَبْحِهِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ما أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَا يَكُونُ مِمَّا أُهِلَّ بِهِ لِلَّهِ وَمَتَى فَعَلَ هَذَا كَانَ حراماً

Adapun jawaban terhadap ucapannya bahwa hal itu menjadi termasuk apa yang disembelih untuk selain Allah, maka sesungguhnya dengan menyembelihnya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjadi termasuk apa yang disembelih untuk selain Allah dan tidak termasuk apa yang disembelih untuk Allah. Dan kapan pun seseorang melakukan hal ini, maka hukumnya haram.

فأما إذا صلى عنده وعلى رسوله الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَإِنَّهُ يَكُونُ مِمَّا أُهِلَّ بِهِ لِلَّهِ وَلَا يَكُونُ مِمَّا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

Adapun jika ia menyembelih dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ, maka itu termasuk yang disembelih atas nama Allah dan bukan termasuk yang disembelih atas nama selain Allah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي فَإِنْ قَالَ اللَّهُمَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّي فَلَا بَأْسَ هَذَا دعاءٌ فَلَا أَكْرَهُهُ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مِنْ وجهٍِ لَا يَثْبُتُ أَنَّهُ ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ فَقَالَ فِي أَحَدِهِمَا بَعْدَ ذِكْرِ اللَّهِ اللَّهُمَّ عَنْ محمدٍ وَآلِ محمدٍ وَفِي الْآخِرِ اللَّهُمَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَةِ محمدٍ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengucapkan, “Ya Allah, dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah dariku,” maka tidak mengapa, ini adalah doa, sehingga aku tidak membencinya. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ dari satu jalur yang tidak kuat bahwa beliau berkurban dengan dua ekor domba, lalu pada salah satunya setelah menyebut nama Allah beliau berdoa, “Ya Allah, (ini) dari Muhammad dan keluarga Muhammad,” dan pada yang lainnya, “Ya Allah, (ini) dari Muhammad dan umat Muhammad.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ هَذَا مُبَاحٌ وَلَيْسَ بِمَكْرُوهٍ وَفِي اسْتِحْبَابِهِ وَجْهَانِ وَكَرِهَهُ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالدَّلِيلُ عَلَيْهَا رِوَايَةُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ضحى بكبشٍ أقرن فأضجعه وقال بسم اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ محمدٍ وَآلِ محمدٍ وَمِنْ أُمَّةِ محمدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

Al-Mawardi berkata, “Ketahuilah bahwa hal ini mubah dan tidak makruh. Dalam hal dianjurkannya, terdapat dua pendapat. Malik dan Abu Hanifah memakruhkannya. Dalil tentang hal ini adalah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan seekor domba jantan yang bertanduk, lalu beliau membaringkannya dan berkata, ‘Bismillah, ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad,’ kemudian beliau menyembelihnya.”

وَلِأَنَّ قَوْلَهُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّي اعْتِرَاف بالنعمة وامتثالاً للأمر ورغباً فِي الدُّعَاءِ لِأَنَّ قَوْلَهُ اللَّهُمَّ مِنْكَ اعْتِرَافٌ بِأَنَّ اللَّهَ أَعْطَاهُ وَرَزَقَهُ وَقَوْلُهُ وَإِلَيْكَ إِبَانَةٌ عَنِ التَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَقَوْلُهُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي دُعَاءٌ يَسْأَلُ فِيهِ الْقَبُولَ وَلَيْسَ فِي وَاحِدٍ من هذه الثلاثة مكروهاً وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ تَقَبُّلَ مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِكَ وَمُوسَى كَلِيمِكَ وَعِيسَى رُوحِكَ وَمُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ وَهَذَا لَيْسَ بِمَكْرُوهٍ إِنْ قَالَهُ وَلَا مُسْتَحَبٍّ لِأَنَّ قُرْبَ الْأَنْبِيَاءِ لَا يُسَاوِيهِمْ غَيْرُهُمْ فَلِذَلِكَ لَمْ يُسْتَحَبَّ وَأَمَّا قَوْلُهُ عِنْدَ الضَّحِيَّةِ اللَّهُمَّ خُذْ هَذَا عَنْ فُلَانٍ فَلَيْسَ بِمُسْتَحَبٍّ لِأَنَّهُ إِخْبَارٌ بِمَا قَدْ عَلِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى قَبْلَ ذِكْرِهِ لَا يَتَضَمَّنُ دُعَاءً وَلَا اعْتِرَافًا بِالنِّعْمَةِ وَقَدْ رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ يَشْتَرِي كَبْشَيْنِ عَظِيمَيْنِ سَمِينَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مُوجَئَيْنِ فَيَذْبَحُ أَحَدَهُمَا عَنْ أُمَّتِهِ مَنْ شَهِدَ مِنْهُمْ بِالتَّوْحِيدِ وَشَهِدَ لَهُ بِالْبَلَاغِ وَالْآخَرَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَنَقَلَ الْمُزَنِيُّ هَاهُنَا عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ هَذَا الْحَدِيثُ كَانَ قَوْلُهُ عَنْ فُلَانٍ مَكْرُوهًا وَإِنْ ثَبَتَ لَمْ يَكُنْ مَكْرُوهًا وَيَكُونُ تَأْوِيلُ قَوْلِهِ فِي أَحَدِهِمَا عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَفِي الثَّانِي عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَإِنْ كَانَ الْكَبْشُ الْوَاحِدُ لَا يُجْزِئُ إِلَّا عَنْ وَاحِدٍ فَمَحْمُولٌ عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ تَأْوِيلُهُ أَنَّهُ يُجْزِئُ عَنْهُمْ مِثْلُهُ كَمَا يُجْزِئُ عَنِّي وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مُرَادُهُ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَهُ مِنْهُمْ كَثَوَابِهِ مِنِّي

Karena ucapan “Allahumma, dari-Mu dan kepada-Mu, maka terimalah dariku” merupakan pengakuan atas nikmat, pelaksanaan perintah, dan keinginan dalam berdoa. Karena ucapan “Allahumma, dari-Mu” adalah pengakuan bahwa Allah telah memberinya dan menganugerahkannya rezeki, dan ucapan “dan kepada-Mu” adalah penjelasan tentang mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan, dan ucapan “maka terimalah dariku” adalah doa yang di dalamnya ia memohon agar amalnya diterima. Tidak ada satu pun dari tiga ucapan ini yang makruh. Telah diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka biasa mengucapkan: “Allahumma, terimalah dariku sebagaimana Engkau telah menerima dari Ibrahim kekasih-Mu, Musa kalimullah, Isa ruh-Mu, dan Muhammad hamba dan rasul-Mu.” Ucapan ini tidak makruh jika diucapkan, namun juga tidak disunnahkan, karena kedekatan para nabi tidak dapat disamai oleh selain mereka, maka karena itu tidak disunnahkan. Adapun ucapan ketika menyembelih hewan kurban: “Allahumma, terimalah ini dari fulan,” maka itu tidak disunnahkan, karena itu hanyalah pemberitahuan tentang sesuatu yang telah diketahui Allah Ta‘ala sebelum diucapkan, tidak mengandung doa maupun pengakuan atas nikmat. Imam Syafi‘i meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad, dari Ibnu ‘Aqil, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membeli dua ekor domba besar, gemuk, berwarna putih keabu-abuan, bertanduk, lalu beliau menyembelih salah satunya untuk umatnya, yaitu bagi siapa saja di antara mereka yang bersaksi atas tauhid dan bersaksi bahwa beliau telah menyampaikan risalah, dan yang satu lagi untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. Al-Muzani menukil di sini dari Imam Syafi‘i bahwa hadis ini tidak tsabit (tidak sahih). Jika hadis ini tidak tsabit, maka ucapan “dari fulan” hukumnya makruh. Namun jika tsabit, maka tidak makruh, dan makna ucapannya pada salah satunya adalah “untuk umat Muhammad” dan pada yang kedua “untuk Muhammad dan keluarga Muhammad.” Meskipun satu ekor domba tidak cukup kecuali untuk satu orang, maka hal itu dapat ditafsirkan dengan dua kemungkinan: pertama, maknanya adalah bahwa domba itu mencukupi untuk mereka sebagaimana mencukupi untukku; atau kedua, maksudnya adalah agar pahalanya untuk mereka seperti pahalanya untukku.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ مِنَ الضَّحَايَا وَالذَّبَائِحِ بَعْدَمَا ذَكَرْنَا مِنَ السُّنَنِ الْمُخْتَارَةِ وَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ وَالْكَرَاهَةِ فَسَبْعَةُ أَشْيَاءَ أَحَدُهَا أَنْ تُسَاقَ إِلَى مَذْبَحِهَا سَوْقًا رَفِيقًا وَتُضْجَعَ لِذَبْحِهَا اضْجَاعًا قَرِيبًا وَلَا يُعَنَّفُ بِهَا فِي سَوْقٍ وَلَا اضْجَاعٍ فَيَكْرَهُهَا وَيُنَفِّرُهَا

Adapun hal-hal yang dianjurkan dalam pelaksanaan kurban dan sembelihan, setelah apa yang telah kami sebutkan mengenai sunah-sunah yang dipilih serta apa yang telah kami jelaskan tentang anjuran dan makruh, maka ada tujuh perkara. Pertama, hewan kurban itu dibawa ke tempat penyembelihannya dengan perlakuan yang lembut, dan dibaringkan untuk disembelih dengan cara yang baik serta tidak kasar dalam membawanya maupun membaringkannya, agar hewan tersebut tidak merasa takut atau lari.

وَالثَّانِي أَنْ يَعْرِضَ عَلَيْهَا الْمَاءَ قَبْلَ ذَبْحِهَا خَوْفًا مِنْ عَطَشِهَا الْمُعِينِ عَلَى تَلَفِهَا وَلِيَكُونَ ذَلِكَ أَسْهَلَ عِنْدَ سَلْخِهَا وَتَقْطِيعِهَا وَلَا يَعْرِضُ عَلَيْهَا الْعَلَفَ لِأَنَّهَا لَا تَسْتَسْمِنُ بِهِ إِلَى حِينِ الذَّبْحِ فَيَكْثُرُ بِهِ الْفَرْثُ إِلَّا أَنْ يَتَأَخَّرَ زَمَانُ الذَّبْحِ فَيَعْرِضُ عَلَيْهَا كَالْمَاءِ

Kedua, hendaknya hewan tersebut diberi air sebelum disembelih karena dikhawatirkan kehausan yang dapat menyebabkan kematiannya, dan agar hal itu memudahkan saat menguliti dan memotongnya. Namun, tidak dianjurkan memberinya pakan karena hewan tidak akan menjadi gemuk dalam waktu singkat menjelang penyembelihan, sehingga kotorannya akan bertambah banyak, kecuali jika waktu penyembelihan ditunda, maka boleh diberikan pakan sebagaimana air.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُخْفِيَ عَنْهَا إِحْدَادَ الشِّفَارِ فِي وُجُوهِهَا فَرُبَّمَا نَفَّرَهَا وَقَدْ وَرَدَ الْخَبَرُ بِأَنْ لَا تُحَدَّ الشِّفَارُ فِي وُجُوهِهَا

Ketiga, tidak menajamkan pisau di hadapan hewan tersebut, karena bisa jadi hal itu membuatnya takut. Telah datang riwayat bahwa pisau tidak boleh diasah di hadapan hewan tersebut.

وَالرَّابِعُ أَنْ لَا يَنْحَرَ بَعْضَهَا فِي وُجُوهِ بَعْضٍ فَقَدْ جاء فيه الأثر ولأنه رما نفرها ذلك

Keempat, tidak boleh menyembelih sebagian hewan kurban di hadapan sebagian yang lain, karena telah datang atsar tentang hal itu dan karena perbuatan tersebut dapat membuat hewan-hewan itu ketakutan.

والخامس أن يعقل بعض قوائمهما وَيُرْسِلَ بَعْضَهَا وَلَا يَعْقِلَ جَمِيعَهَا فَتُرْهَقَ وَلَا يُرْسِلَ جَمِيعَهَا فَتَنْفِرَ

Kelima, jika seseorang mengikat sebagian kaki hewan dan melepaskan sebagian lainnya, maka hewan itu akan kesulitan bergerak; dan jika ia tidak mengikat semuanya, maka hewan itu akan lari.

وَالسَّادِسُ أَنْ يَنْحَرَ الْإِبِلَ قِيَامًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا أَيْ سَقَطَتْ وَتُذْبَحُ الْبَقَرُ وَالْغَنَمُ مَضْجُوعَةً فَإِنْ خَافَ نُفُورَ الْإِبِلِ إِذَا نُحِرَتْ قِيَامًا نَحَرَهَا بَارِكَةً غَيْرَ مَضْجُوعَةٍ

Keenam, unta disembelih dalam keadaan berdiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka apabila telah roboh lambungnya,” yaitu ketika telah terjatuh. Sedangkan sapi dan kambing disembelih dalam keadaan berbaring. Namun, jika dikhawatirkan unta akan memberontak ketika disembelih dalam keadaan berdiri, maka boleh disembelih dalam keadaan duduk, tidak berbaring.

وَالسَّابِعُ أَنْ يَكُونَ الذَّبْحُ بِأَمْضَى شِفَارٍ وَجَدَهَا وَيُمِرُّهَا ذَهَابًا وَعَوْدَةً فِي قُوَّةِ اعْتِمَادٍ وَسُرْعَةِ تَوْجِيَةٍ لِرِوَايَةِ ابْنِ الْأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إن الله كتب عَلَى كُلِّ شيءٍ فَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدَكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ثُمَّ هَذِهِ السَّبْعَةُ دَلَائِلُ عَلَى نَظَائِرِهَا الْقَوْلُ فِي قَطْعِ رَأْسِ الذَّبِيحَةِ

Ketujuh, penyembelihan harus dilakukan dengan pisau yang paling tajam yang ada, dan menggerakkannya bolak-balik dengan kekuatan dan kecepatan yang mantap, berdasarkan riwayat Ibnu al-Asy‘ats dari Syaddad bin Aus, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan atas segala sesuatu. Maka apabila kalian menyembelih, lakukanlah penyembelihan dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan memberikan kenyamanan kepada hewan sembelihannya.” Kemudian, ketujuh hal ini menjadi dalil atas hal-hal yang serupa, termasuk pembahasan tentang memotong kepala hewan sembelihan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ فَإِذَا ذَبَحَهَا فَقَطَعَ رَأْسَهَا فَهِيَ ذكيةٌ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang menyembelih hewan lalu memotong kepalanya, maka hewan itu menjadi halal (telah disembelih secara syar‘i).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ يُكْرَهُ إِذَا قَطَعَ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءَ وَالْوَدَجَيْنِ أَنْ يَزِيدَ فِي الذَّبْحِ لِوُقُوعِ الذَّكَاةِ بِهَا وَإِزْهَاقُ رُوحِهِ بِمَا زَادَ عَلَيْهِ فَإِنْ زَادَ فِي الذَّبْحِ حَتَّى قَطَعَ رَأْسَهَا لَمْ تَحْرُمْ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, makruh hukumnya jika setelah memotong hulqum, mari’, dan dua urat leher (wadajain), seseorang menambah dalam penyembelihan, karena penyembelihan telah sah dengan memotong bagian-bagian tersebut, dan menambah pemotongan setelah itu hanya akan mempercepat kematian hewan. Jika seseorang menambah dalam penyembelihan hingga memotong kepalanya, maka dagingnya tidak menjadi haram.”

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ قَدْ حَرُمَتْ لِأَنَّهَا مَاتَتْ مِنْ مُبِيحٍ وَحَاظِرٍ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَمْرَيْنِ

Said bin al-Musayyab berkata, “Ia telah menjadi haram karena ia meninggal dalam keadaan ada yang membolehkan dan ada yang melarang.” Namun, pendapat ini tidak benar karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ ذَبْحٌ وَاحِدٌ لَا يَتَمَيَّزُ فَكَانَ جَمِيعُهُ مُبِيحًا

Salah satunya adalah bahwa itu merupakan satu penyembelihan yang tidak dapat dibedakan, sehingga seluruhnya menjadi halal.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَوْ تَمَيَّزَ وكان حاظراً طَرَأَ بَعْدَ الذَّكَاةِ فَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيهَا فَوَجَبَ أَنْ لَا يُغَيِّرَ حُكْمَهَا وَعَلَى أَنَّهُ قَدْ رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ فِيهِ مَا يَمْنَعُ مِنْ مُخَالَفَتِهِمْ عَلَيْهِ إِذْ هُمْ عَلَى اتِّفَاقٍ فِيهِ فَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ بَعِيرٍ ضُرِبَتْ عُنُقُهُ بِالسَّيْفِ فَقَالَ يُؤْكَلُ

Kedua, jika (darah) itu dapat dibedakan dan hadir, lalu muncul setelah penyembelihan sehingga tidak berpengaruh terhadapnya, maka wajib hukumnya tidak mengubah statusnya. Selain itu, telah diriwayatkan dari para sahabat mengenai hal ini sesuatu yang mencegah untuk menyelisihi mereka, karena mereka sepakat dalam masalah ini. Diriwayatkan dari Ali ‘alaihis salam bahwa beliau pernah ditanya tentang unta yang lehernya dipukul dengan pedang, maka beliau menjawab: “Boleh dimakan.”

وَرُوِيَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ ذَبَحَ طَيْرًا فَأَبَانَ رَأْسَهُ فَقَالَ يُؤْكَلُ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ وَلَيْسَ لَهُمْ مخالف

Diriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain bahwa ia ditanya tentang seseorang yang menyembelih burung lalu memisahkan kepalanya, maka ia menjawab: “Boleh dimakan.” Dan dari Ibnu ‘Umar juga diriwayatkan hal yang serupa, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berbeda pendapat.

الذبح من القفا

Penyembelihan dari bagian belakang leher

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ ذَبَحَهَا مِنْ قَفَاهَا فَإِنْ تَحَرَّكَتْ بَعْدَ قَطْعِ الرَّأْسِ أُكِلَتْ وَإِلَّا لَمْ تُؤْكَلْ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang menyembelih hewan dari bagian belakang lehernya, lalu setelah kepalanya terputus hewan itu masih bergerak, maka dagingnya boleh dimakan. Namun jika tidak bergerak, maka dagingnya tidak boleh dimakan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ ذَبُحُ الشَّاةِ مِنَ الْقَفَا مَكْرُوهٌ وَإِنَّمَا كَرِهْنَاهُ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْذِيبِهَا وَالثَّانِي لِمَا يُخَافُ مِنْ مَوْتِهَا قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى ذَكَاتِهَا فَإِنْ فَعَلَ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, menyembelih kambing dari bagian belakang leher hukumnya makruh. Kami memakruhkannya karena dua alasan: pertama, karena hal itu menyebabkan penyiksaan terhadap hewan tersebut; kedua, karena dikhawatirkan hewan itu mati sebelum mencapai proses penyembelihan yang sah (zakat). Jika seseorang melakukannya, maka keadaannya tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يُعْلَمَ مَوْتُهَا بِقَطْعِ الْقَفَا قَبْلَ وُصُولِ السِّكِّينِ إِلَى قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ فَتَكُونُ مَيْتَةً لَا تُؤْكَلُ وَكَذَلِكَ لَوْ بَقِيَتْ فِيهَا عِنْدَ وُصُولِ السِّكِّينِ إِلَى قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ حَيَاةٌ غَيْرُ مُسْتَقِرَّةٍ لِحَيَاةِ الْمَذْبُوحِ لَمْ تُؤْكَلْ وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ لِأَنَّ الذَّكَاةَ لَا تُسْتَبَاحُ إِلَّا بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَقَطْعُ قَفَاهَا يَجْرِي فِي فَوَاتِ نَفْسِهَا مَجْرَى كَسْرِ صُلْبِهَا وَبَقْرِ بَطْنِهَا وَلَا تَحْصُلُ بِهِ ذكاة وإن وحي

Salah satunya adalah jika diketahui hewan itu telah mati dengan cara dipotong bagian tengkuknya sebelum pisau sampai pada pemotongan halkum dan kerongkongan, maka hewan itu menjadi bangkai yang tidak boleh dimakan. Demikian pula, jika ketika pisau sampai pada pemotongan halkum dan kerongkongan, pada hewan itu masih terdapat kehidupan yang tidak stabil seperti kehidupan hewan yang disembelih, maka hewan itu tidak boleh dimakan. Hal itu karena penyembelihan (dzakāh) tidak menjadi halal kecuali dengan memotong halkum dan kerongkongan, sedangkan pemotongan tengkuknya menyebabkan hilangnya nyawa sebagaimana mematahkan tulangnya atau membelah perutnya, dan dengan cara itu tidak terjadi penyembelihan (dzakāh), meskipun hewan itu masih hidup.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي إِنْ قَطَعَ حُلْقُومُهَا وَمَرِيئَهَا فَهَذِهِ ذَكِيَّةٌ تُؤْكَلُ وَقَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ هِيَ مَيْتَةٌ لَا تُؤْكَلُ

Bagian kedua, jika terpotong hulqum dan mari’nya, maka hewan tersebut dianggap zakiya (sembelihan sah) dan boleh dimakan. Namun, Malik dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa hewan tersebut adalah bangkai dan tidak boleh dimakan.

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَمْدًا لَمْ تُؤْكَلْ وَإِنْ فَعَلَهُ سَهْوًا أُكِلَتِ احْتِجَاجًا بِأَنَّ قَطْعَ الْقَفَا مُوجٍ وَالذَّكَاةَ بَعْدَ التَّوْجِيَةِ لَا تَصِحُّ كَالَّتِي أَخْرَجَ السَّبُعُ حَشَوْتَهَا

Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika seseorang melakukan hal itu dengan sengaja, maka hewan tersebut tidak boleh dimakan. Namun jika ia melakukannya karena lupa, maka hewan itu boleh dimakan.” Hal ini didasarkan pada alasan bahwa memotong bagian belakang leher menyebabkan kematian, dan penyembelihan (dzakāh) setelah hewan sudah menghadap kiblat tidak sah, seperti halnya hewan yang isi perutnya telah dikeluarkan oleh binatang buas.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا كَانَتْ حَيَاتُهُ مُسْتَقِرَّةً وَإِنْ لَمْ تَدُمْ صَحَّتْ ذَكَاتُهُ كَالْمَقْطُوعَةِ الْأَطْرَافِ وَلِأَنَّهُ لَوِ انْتَهَى بِهَا النَّزْعِ إِلَى حَدِّ الْإِيَاسِ حَلَّتْ ذكاتها مع استقرار الحياة فلذلك قَطَعَ الْقَفَا وَخَالَفَ قَطْعَ الْحَشْوَةِ لِأَنَّ بَقَاءَ الْحَيَاةِ مَعَهَا مُسْتَقِرَّةً كَحَيَاةِ الْمَذْبُوحِ

Dalil kami adalah bahwa hewan yang kehidupannya masih stabil, meskipun tidak berlangsung lama, maka penyembelihannya sah, seperti hewan yang terpotong anggota tubuhnya. Karena jika hewan itu sampai pada kondisi hampir mati namun kehidupannya masih stabil, maka penyembelihannya tetap halal. Oleh karena itu, memotong bagian leher berbeda dengan memotong bagian dalam tubuh, karena kehidupan yang masih stabil bersamanya seperti kehidupan hewan yang disembelih.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يُشْكِلَ حَالُهَا عِنْدَ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ هَلْ كَانَتْ حَيَاتُهَا مُسْتَقِرَّةً أَوْ غَيْرَ مُسْتَقِرَّةٍ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَجْهَانِ

Bagian ketiga adalah apabila keadaannya menjadi samar saat pemotongan kerongkongan dan tenggorokan, apakah kehidupannya saat itu masih stabil atau tidak stabil, maka dalam hal kebolehan memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ ظَاهِرُ قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهَا غَيْرُ مَأْكُولَةٍ لِأَنَّ الْأَصْلَ الْحَظْرُ حَتَّى تُعْلَمَ الْإِبَاحَةُ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat zahir dari Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa itu tidak boleh dimakan karena hukum asalnya adalah larangan sampai diketahui adanya kebolehan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ ظَاهِرُ قَوْلِ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهَا مَأْكُولَةٌ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِيهَا الحياة حتى يعلم فواتها

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, adalah bahwa hewan tersebut dianggap masih hidup, karena hukum asalnya adalah tetap hidup sampai diketahui kematiannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وإذا أَوْجَبَهَا أُضْحِيَّةً وَهُوَ أَنْ يَقُولُ هَذِهِ أضحيةٌ وَلَيْسَ شِرَاؤُهَا وَالنِّيَّةُ أَنْ يُضَحِّيَ بِهَا إِيجَابًا لَهَا

Syafi‘i berkata: Jika seseorang mewajibkan hewan tersebut sebagai udhiyah, yaitu dengan mengucapkan, “Ini adalah udhiyah,” maka membeli hewan itu dengan niat untuk berkurban dengannya tidaklah menjadikannya wajib sebagai udhiyah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا اشْتَرَى الْأُضْحِيَّةَ نَاوِيًا بِهَا أُضْحِيَّةً لَمْ تَصِرْ أُضْحِيَّةً بِالنِّيَّةِ مَعَ الشِّرَاءِ حَتَّى يُوجِبَهَا بَعْدَ الشراء

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang telah dikatakan: Jika seseorang membeli hewan kurban dengan berniat menjadikannya sebagai hewan kurban, maka hewan itu belum menjadi hewan kurban hanya dengan niat saat pembelian, sampai ia mewajibkannya setelah pembelian.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ قَدْ صَارَتْ أُضْحِيَّةً بِالنِّيَّةِ وَالشِّرَاءِ احْتِجَاجًا بِأَنَّ ابْتِيَاعَ السِّلْعَةِ لَمَّا صَارَتْ بِالنِّيَّةِ مَعَ الشِّرَاءِ أَنَّهَا لِلتِّجَارَةِ جَارِيَةً فِي دُخُولِ الزَّكَاةِ وَلَمْ يَنْوِ كَانَتْ قِنْيَةً لَا تَجِبُ فِيهَا الزَّكَاةُ كَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ إِذَا اشْتَرَاهَا إِنْ نَوَى بِهَا الْأُضْحِيَّةَ صَارَتْ أُضْحِيَّةً وَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَمْ تَكُنْ أُضْحِيَّةً

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa hewan tersebut telah menjadi hewan kurban dengan niat dan pembelian, dengan alasan bahwa ketika seseorang membeli barang dengan niat untuk diperdagangkan, maka barang itu menjadi barang dagangan yang wajib dizakati; namun jika tidak diniatkan untuk perdagangan, maka barang itu menjadi milik pribadi yang tidak wajib dizakati. Demikian pula dengan hewan kurban: jika seseorang membelinya dan meniatkannya sebagai hewan kurban, maka ia menjadi hewan kurban; tetapi jika tidak diniatkan, maka ia tidak menjadi hewan kurban.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ الشِّرَاءَ مُوجِبٌ لِلْمِلْكِ وَكَوْنَهَا أُضْحِيَّةً مُزِيلٌ لِلْمِلْكِ وَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ الْوَاحِدُ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ مُوجِبًا لِثُبُوتِ الْمِلْكِ وَإِزَالَتِهِ فَلَمَّا أَفَادَ الشِّرَاءُ ثُبُوتَ الْمِلْكِ امْتَنَعَ أَنْ يَزُولَ بِهِ الْمِلْكُ كَمَا لَوِ اشْتَرَى عَبْدًا يَنْوِي بِهِ الْعِتْقَ أَوْ دَارًا يَنْوِي بِهَا الْوَقْفَ صَحَّ الشِّرَاءُ وَلَمْ يَصِرِ الْعَبْدُ حُرًّا وَلَا الدَّارُ وَقْفًا

Dalil kami adalah bahwa jual beli menyebabkan kepemilikan, sedangkan menjadikannya sebagai hewan udhiyah menghilangkan kepemilikan. Tidaklah sah satu hal dalam satu keadaan menjadi sebab tetapnya kepemilikan sekaligus sebab hilangnya kepemilikan. Maka, ketika jual beli memberikan tetapnya kepemilikan, tidak mungkin kepemilikan itu hilang karenanya. Sebagaimana jika seseorang membeli seorang budak dengan niat untuk memerdekakannya, atau membeli sebuah rumah dengan niat untuk mewakafkannya, maka jual belinya sah, namun budak tersebut tidak otomatis menjadi merdeka dan rumah tersebut tidak otomatis menjadi wakaf.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ شِرَاءِ السِّلْعَةِ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ فَهُوَ أَنَّ جَرَيَانَهَا فِي حَوْلِ الزَّكَاةِ مِنْ أَحْكَامِ الْمِلْكِ فَجَازَ أَنْ تَقْتَرِنَ بِاسْتِفَادَةِ الْمِلْكِ وَخَالَفَ الْأُضْحِيَّةَ الْمُزِيلَةَ لِلْمِلْكِ

Adapun jawaban mengenai membeli barang dengan niat untuk diperdagangkan adalah bahwa perhitungan haul zakatnya termasuk dalam hukum kepemilikan, sehingga boleh haul itu dimulai bersamaan dengan diperolehnya kepemilikan, berbeda dengan hewan kurban yang justru menghilangkan kepemilikan.

فَصْلٌ

Bab

فَأَمَّا إِذَا عَلَّقَ قَبْلَ الشِّرَاءِ وُجُوبَ الْأُضْحِيَّةِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Adapun jika seseorang menggantungkan kewajiban udhiyah sebelum membeli (hewan), maka hal itu terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَجْعَلَهَا بِالشِّرَاءِ أُضْحِيَّةً

Salah satunya adalah dengan menjadikannya sebagai hewan kurban melalui pembelian.

وَالثَّانِي أَنْ يَلْتَزِمَ فِي الذِّمَّةِ أَنْ يَجْعَلَهَا بَعْدَ الشِّرَاءِ أُضْحِيَّةً

Yang kedua adalah berkomitmen dalam tanggungan (dzimmah) untuk menjadikannya sebagai hewan kurban (udhiyah) setelah pembelian.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ فَصُورَتُهُ أَنْ يَقُولَ إِنِ اشْتَرَيْتَ شَاةً فَهِيَ أُضْحِيَّةٌ فَإِذَا اشْتَرَاهَا لَمْ تَصِرْ أُضْحِيَّةً لِأَنَّهُ أَوْجَبَهَا قَبْلَ الْمِلْكِ

Adapun jenis pertama, contohnya adalah seseorang berkata: “Jika aku membeli seekor kambing, maka kambing itu menjadi hewan kurban.” Maka apabila ia membelinya, kambing itu tidak menjadi hewan kurban, karena ia telah mewajibkannya sebelum memilikinya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي فَصُورَتُهُ إِنْ أَطْلَقَ وَلَمْ يُعَيِّنْ أَنْ يَقُولَ إن اشتريت شاءة فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أَجْعَلَهَا أُضْحِيَّةً فَهَذَا نَذْرٌ مَضْمُونٌ فِي الذِّمَّةِ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ فَلَزِمَ وَانْعَقَدَ فَإِذَا اشْتَرَى شَاةً وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَجْعَلَهَا أُضْحِيَّةً وَلَا تَصِيرُ بِالشِّرَاءِ أُضْحِيَّةً لِأَنَّ النُّذُورَ تَلْزَمُ فِي الذِّمَّةِ قَبْلَ الْمِلْكِ

Adapun jenis kedua, bentuknya adalah jika seseorang mengucapkan secara umum tanpa menentukan, misalnya ia berkata: “Jika aku membeli seekor kambing, maka wajib bagiku karena Allah untuk menjadikannya sebagai hewan kurban.” Ini adalah nazar yang menjadi tanggungan dalam dzimmah tanpa penentuan tertentu, maka nazar tersebut menjadi wajib dan sah. Jika ia telah membeli seekor kambing, maka wajib baginya untuk menjadikannya sebagai hewan kurban, namun kambing itu tidak otomatis menjadi hewan kurban hanya karena dibeli, karena nazar itu menjadi kewajiban dalam dzimmah sebelum kepemilikan.

وَإِنْ عَيَّنَ فَقَالَ إِنِ اشْتَرَيْتُ هَذِهِ الشَّاةَ فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أَجْعَلَهَا أُضْحِيَّةً فَفِيهِ وَجْهَانِ

Dan jika ia menentukan lalu berkata, “Jika aku membeli kambing ini, maka karena Allah aku wajib menjadikannya sebagai hewan udhiyah,” maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَغْلِبُ حُكْمُ التَّعْيِينِ فَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَجْعَلَهَا أُضْحِيَّةً لِأَنَّهُ أَوْجَبَهَا قَبْلَ الْمِلْكِ

Salah satunya adalah bahwa hukum penentuan lebih dominan, sehingga tidak wajib baginya menjadikannya sebagai hewan kurban karena ia telah mewajibkannya sebelum memiliki (hewan tersebut).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ يَغْلِبَ فِيهَا حُكْمُ النَّذْرِ فَيَلْزَمُهُ أَنْ يَجْعَلَهَا أُضْحِيَّةً لِتَعْلِيقِهِ بِالذِّمَّةِ

Adapun pendapat kedua adalah bahwa hukum nadzar lebih dominan dalam hal ini, sehingga wajib baginya untuk menjadikannya sebagai hewan kurban karena telah mengaitkannya dengan tanggungan (kewajiban) dirinya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ وَأَرَادَ أَنْ يُوجِبَ الْأُضْحِيَّةَ بَعْدَ مِلْكِهَا بِشِرَاءٍ فَإِنْ أَوْجَبَهَا بِالْقَوْلِ فَقَالَ هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ وَجَبَتْ وَإِنْ أَوْجَبَهَا بِالنِّيَّةِ فَنَوَى أَنَّهَا أُضْحِيَّةٌ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Setelah penjelasan ini dipahami, apabila seseorang ingin mewajibkan kurban setelah memilikinya dengan cara membeli, maka jika ia mewajibkannya dengan ucapan, misalnya ia berkata, “Ini adalah hewan kurban yang telah wajib,” maka kurban itu menjadi wajib. Namun jika ia mewajibkannya dengan niat, yaitu ia berniat bahwa hewan itu adalah kurban, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلُ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ لَا تَصِيرُ بِالنِّيَّةِ أُضْحِيَّةً حَتَّى يَقْتَرِنَ بِهَا الْقَوْلُ لِأَنَّهَا إِزَالَةُ مِلْكٍ فَأَشْبَهَ الْعِتْقَ وَالْوَقْفَ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i dan pendapat mayoritas para pengikutnya, menyatakan bahwa seekor hewan tidak menjadi hewan kurban hanya dengan niat, sampai disertai dengan ucapan, karena hal itu merupakan pengalihan kepemilikan, sehingga serupa dengan pembebasan budak (al-‘itq) dan wakaf (al-waqf).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إِنَّهَا قَدْ صَارَتْ بِمُجَرَّدِ النِّيَّةِ أُضْحِيَّةً لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ مَعَ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى لَنْ يَنَالَ اللهُ لُحُومِهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ يَعْنِي إِخْلَاصَ الْقُلُوبِ بِالنِّيَّاتِ فَعَلَى قَوْلِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ قَدْ وَجَبَتْ وَيُؤْخَذُ بِذَبْحِهَا وَعَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ لَمْ تَجِبْ وَلَهُ بَيْعُهَا فَإِنْ تَرَكَهَا عَلَى نِيَّتِهِ حَتَّى ضَحَّى بِهَا فَهَلْ تَصِيرُ بِالذَّبْحِ بَعْدَ النِّيَّةِ أُضْحِيَّةً أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, menyatakan bahwa hewan tersebut telah menjadi udhiyah (hewan kurban) hanya dengan niat, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya,” serta firman Allah Ta‘ala: “Daging-daging dan darah-darah hewan kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian,” yaitu keikhlasan hati dalam niat. Maka menurut pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, kurban itu telah menjadi wajib dan harus disembelih. Sedangkan menurut pendapat pertama, kurban itu belum wajib dan pemiliknya boleh menjualnya. Jika seseorang tetap pada niatnya hingga ia menyembelih hewan tersebut, maka apakah dengan penyembelihan setelah niat itu hewan tersebut menjadi udhiyah atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا تَصِيرُ أُضْحِيَّةً بِالذَّبْحِ مَعَ تَقَدُّمِ النِّيَّةِ

Salah satunya adalah hewan tersebut tidak menjadi udhiyah hanya dengan disembelih meskipun niat telah didahulukan.

وَالثَّانِي تَصِيرُ لِأَنَّ الذَّبْحَ فِعْلٌ ظَاهِرٌ فَإِذَا اقْتَرَنَ بِالنِّيَّةِ صَارَ آكَدَ مِنَ الْقَوْلِ بِغَيْرِ نِيَّةٍ فَصَارَ فِيمَا تَصِيرُ بِهِ أُضْحِيَّةً ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا بِالْقَوْلِ وَحْدَهُ وَالثَّانِي بِالنِّيَّةِ وَحْدَهَا وَالثَّالِثُ بِالنِّيَّةِ وَالذَّبْحِ

Yang kedua, menjadi (udhiyah) karena penyembelihan adalah perbuatan yang nyata; maka apabila disertai dengan niat, hal itu menjadi lebih kuat daripada ucapan tanpa niat. Maka, dalam hal yang menyebabkan sesuatu menjadi udhiyah terdapat tiga cara: yang pertama dengan ucapan saja, yang kedua dengan niat saja, dan yang ketiga dengan niat dan penyembelihan.

فَأَمَّا الْهَدَايَا فَفِيمَا يُوجِبُهَا الشَّافِعِيُّ قَوْلَانِ وَلِأَصْحَابِهِ وَجْهَانِ آخَرَانِ أَحَدُ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ وَهُوَ الْجَدِيدُ أَنَّهَا لَا تَجِبُ إِلَّا بِالْقَوْلِ فَيَقُولُ قَدْ جَعَلْتُ هَذِهِ الْبَدَنَةَ هَدْيًا

Adapun hadiah (hewan kurban) maka mengenai kewajibannya menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat, dan menurut para sahabat beliau terdapat dua wajah (pendapat) lain. Salah satu dari dua pendapat Imam Syafi‘i, yaitu pendapat yang baru, menyatakan bahwa hadiah itu tidak menjadi wajib kecuali dengan ucapan, yaitu seseorang mengatakan: “Aku telah menjadikan hewan ini sebagai hadiah (kurban).”

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْقَدِيمُ إِنَّهَا تَصِيرُ بِالتَّقْلِيدِ وَالْإِشْعَارِ هَدْيًا وَإِنْ لَمْ يَقُلْ لِأَنَّهُ علم ظاهر كالقول

Pendapat kedua, yaitu pendapat lama, menyatakan bahwa hewan kurban menjadi hewan hadyu dengan cara taqlid dan isy‘ār, meskipun tidak diucapkan niat, karena hal itu merupakan tanda lahiriah yang jelas seperti ucapan.

والثالث هو أَحَدُ وَجْهَيْ أَصْحَابِنَا أَنَّهَا تَصِيرُ هَدْيًا بِالنِّيَّةِ وَإِنْ لَمْ يُقَلِّدْهَا وَيُشْعِرْهَا كَالْأُضْحِيَّةِ

Dan pendapat ketiga adalah salah satu dari dua pendapat ulama mazhab kami, yaitu bahwa hewan tersebut menjadi hewan hadyu dengan niat, meskipun tidak dikalungkan tanda dan tidak diberi tanda khusus, sebagaimana hewan kurban (udhiyah).

وَالرَّابِعُ وَهُوَ الْوَجْهُ الثَّانِي لِأَصْحَابِنَا أَنَّهَا تَصِيرُ هدياًَ بِالذَّبْحِ مَعَ النِّيَّةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dan yang keempat, yang merupakan pendapat kedua dari kalangan ulama kami, adalah bahwa hewan tersebut menjadi hadyu dengan penyembelihan disertai niat, dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي فَإِذَا أَوْجَبَهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُبْدِلَهَا بحالٍ

Syafi‘i berkata: Maka apabila ia telah mewajibkannya, tidak boleh baginya untuk menggantinya dalam keadaan apa pun.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَوْجَبَ الْأُضْحِيَّةَ وَعَيَّنَهَا خَرَجَتْ بِالْإِيجَابِ عَنْ مِلْكِهِ وَمَنَعَ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهَا وَوَجَبَ عَلَيْهِ مُؤْنَتُهَا وَحِفْظُهَا إِلَى وَقْتِ نَحْرِهَا وَهُوَ قَوْلُ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَذْهَبُ أَبِي يُوسُفَ وَأَبِي ثَوْرٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, yaitu apabila seseorang mewajibkan udhiyah dan telah menentukannya, maka dengan kewajiban tersebut hewan itu keluar dari kepemilikannya dan ia dilarang untuk melakukan tindakan apa pun terhadapnya. Ia wajib menanggung biaya dan menjaga hewan itu hingga waktu penyembelihannya. Ini adalah pendapat Ali radhiyallahu ‘anhu dan mazhab Abu Yusuf serta Abu Tsaur.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٌ لَا تَخْرُجُ بِالْإِيجَابِ عَنْ مِلْكِهِ وَلَا يَمْنَعُ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهَا وَيَكُونُ بِإِيجَابِهَا مُخَيَّرًا بَيْنَ ذَبْحِهَا أَوْ ذَبْحِ غَيْرِهَا احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ أَهْدَى مِائَةَ بَدَنَةٍ عَامَ حَجِّهِ فَقَدِمَ عَلَيْهِ عَلِيٌّ مِنَ الْيَمَنِ فَأَشْرَكَهُ فِيهَا وَلَوْ خَرَجَتْ بِالْإِيجَابِ عَنْ مِلْكِهِ مَا جَعَلَ فِيهَا شِرْكًا لِغَيْرِهِ وَلِأَنَّهُ لَوْ أَوْجَبَ عَلَى نَفْسِهِ عتق عَبْدٍ فَقَالَ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُعْتِقَهُ لَمْ يَخْرُجْ بِهَذَا الْإِيجَابِ عن مِلْكِهِ إِجْمَاعًا وَكَذَلِكَ إِيجَابُ الْأُضْحِيَّةِ لَا يُخْرِجُهَا عَنْ مِلْكِهِ احْتِجَاجًا

Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa dengan ijab (pernyataan niat berkurban), hewan kurban tidak keluar dari kepemilikannya dan tidak menghalangi pemilik untuk melakukan tasharruf (pengelolaan) terhadapnya. Dengan ijab tersebut, pemilik diberi pilihan antara menyembelih hewan itu atau menyembelih hewan lain sebagai gantinya. Mereka berdalil dengan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau menghadiahkan seratus unta pada tahun hajinya, lalu Ali datang dari Yaman dan Nabi ﷺ menyertakannya dalam kurban tersebut. Seandainya dengan ijab hewan itu keluar dari kepemilikannya, tentu beliau tidak akan menjadikan orang lain sebagai sekutu dalam kurban itu. Demikian pula, jika seseorang mewajibkan atas dirinya untuk memerdekakan seorang budak dengan berkata, “Karena Allah, aku wajib memerdekakannya,” maka dengan ijab ini budak tersebut tidak keluar dari kepemilikannya menurut ijmā‘. Begitu pula ijab pada udhiyah (kurban) tidak mengeluarkannya dari kepemilikan pemiliknya, sebagai bentuk argumentasi.

وَلِأَنَّ مَا تَعَلَّقَ بِالْأَعْيَانِ الْمَمْلُوكَةِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى تَقْتَضِي زَوَالَ الْمِلْكِ وَلَا يَمْنَعُ مِنَ التَّصَرُّفِ كَالزَّكَاةِ إِذَا وَجَبَتْ فِي الْمَالِ

Karena hak-hak Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan benda-benda yang dimiliki menuntut hilangnya kepemilikan, namun tidak menghalangi untuk melakukan tindakan (atas benda tersebut), seperti zakat apabila telah wajib atas harta.

وَلِأَنَّ الْقَصْدَ فِي إِيجَابِهَا مَا يَنْتَفِعُ بِهِ الْفُقَرَاءُ مِنْ لَحْمِهَا وَانْتِفَاعِهِمْ بِلَحْمِ غَيْرِهَا كَانْتِفَاعِهِمْ بِلَحْمِهَا فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا

Dan karena maksud dari mewajibkannya adalah agar para fakir miskin dapat mengambil manfaat dari dagingnya, dan manfaat mereka dari daging hewan lain sama seperti manfaat mereka dari dagingnya, maka wajiblah keduanya disamakan.

وَلِأَنَّهَا بَعْدَ الْإِيجَابِ مَمْلُوكَةٌ فَلَمَّا لَمْ تَصِرْ مِلْكًا لِلْفُقَرَاءِ وَجَبَ أَنْ تَكُونَ بَاقِيَةً عَلَى مِلْكِ الْمُضَحِّي

Dan karena setelah ijab (penyerahan) hewan kurban itu menjadi milik, maka ketika hewan tersebut belum menjadi milik para fakir, wajib hukumnya hewan itu tetap berada dalam kepemilikan orang yang berkurban.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَوْجَبْتُ عَلَى نَفْسِي بَدَنَةً وَقَدْ طُلِبَتْ مِنِّي بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِهَا فَقَالَ انْحَرْهَا وَلَا تَبِعْهَا وَلَوْ طُلِبَتْ بِمَائَةِ بعيرٍ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab bahwa ia berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mewajibkan atas diriku seekor unta, namun aku diminta untuk membayarnya dengan harga yang lebih mahal dari nilainya.” Maka beliau bersabda, “Sembelihlah unta itu dan jangan engkau jual, meskipun engkau diminta seratus ekor unta sebagai gantinya.”

فَلَمَّا مَنَعَهُ مِنَ الْبَيْعِ مَعَ الْمُبَالَغَةِ فِي الثَّمَنِ وَأَمَرَهُ بِالنَّحْرِ دَلَّ عَلَى فَسَادِ الْبَيْعِ وَوُجُوبِ النَّحْرِ

Maka ketika ia melarangnya dari menjual (hewan kurban) meskipun dengan harga yang sangat tinggi dan memerintahkannya untuk menyembelih, hal itu menunjukkan batalnya jual beli tersebut dan wajibnya penyembelihan.

وَرُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَوْجَبَ أُضْحِيَّةً فَلَا يَسْتَبْدِلْ بِهَا وَلَيْسَ لَهُ مَعَ انْتِشَارِ قَوْلِهِ مُخَالِفٌ فِي الصَّحَابَةِ

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia berkata, “Barang siapa yang telah mewajibkan udhiyah, maka tidak boleh menggantinya dengan yang lain, dan tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang berbeda pendapat dengannya setelah pendapatnya tersebar.”

وَلِأَنَّهُ يَتَقَرَّبُ بِالْأُضْحِيَّةِ مِنَ النَّعَمِ كَمَا يَتَقَرَّبُ بِالْعَبِيدِ فِي الْعِتْقِ ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّ الْعِتْقَ مُزِيلٌ لِلْمِلْكِ إِجْمَاعًا فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْأُضْحِيَّةُ مُزِيلَةً لِلْمِلْكِ احْتِجَاجًا

Karena seseorang bertaqarrub kepada Allah dengan berkurban hewan ternak sebagaimana ia bertaqarrub dengan memerdekakan budak, kemudian telah tetap bahwa memerdekakan budak itu menghilangkan kepemilikan secara ijmā‘, maka wajiblah bahwa kurban juga menghilangkan kepemilikan sebagai bentuk hujjah.

وَلِأَنَّ كُلَّ إِيجَابٍ تَعَلَّقَ بِالْعَيْنِ وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِالذِّمَّةِ أَوْجَبَ زَوَالَ الْمِلْكِ كَالْوَقْفِ وَالْعِتْقِ

Dan karena setiap akad ijab yang berkaitan dengan benda (‘ain) dan tidak berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) mewajibkan hilangnya kepemilikan, seperti wakaf dan pembebasan budak (‘itq).

وَلِأَنَّ حُكْمَ الْأُضْحِيَّةِ يَسْرِي إِلَى وَلَدِهَا وَكُلُّ حُكْمٍ أَوْجَبَ سِرَايَتهُ إِلَى الْوَلَدِ زَالَ بِهِ الْمِلْكُ كَالْبَيْعِ طَرْدًا وَالْإِجَارَةِ عَكْسًا

Karena hukum udhiyah berlaku juga pada anaknya, dan setiap hukum yang mewajibkan berlakunya pada anak, maka kepemilikan atasnya hilang, seperti pada jual beli secara langsung dan pada ijarah (sewa-menyewa) secara kebalikan.

وَلِأَنَّ الْمُضَحِّيَ يَضْمَنُ الْأُضْحِيَّةَ لَوْ أَتْلَفَهَا وَكُلَّ مَا ضَمِنَهُ الْمُتْلِفُ فِي حَقِّ غَيْرِهِ خَرَجَ بِهِ الْمَضْمُونُ عَنْ مِلْكِ ضَامِنِهِ كَالْهِبَةِ طَرْدًا وَالْعَارِيَةِ عَكْسًا وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ الرَّهْنُ لِأَنَّهُ يَضْمَنُهُ فِي دَيْنِ نَفْسِهِ وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ الْجَانِي لِأَنَّهُ يَضْمَنُ جِنَايَتَهُ وَلَا يَضْمَنُ رَقَبَتَهُ

Karena orang yang berkurban bertanggung jawab atas hewan kurbannya jika ia merusaknya, dan setiap sesuatu yang dijamin oleh perusak atas hak orang lain, maka barang yang dijamin itu keluar dari kepemilikan penjaminnya, seperti hibah secara langsung dan ‘āriyah (pinjaman pakai) secara kebalikan. Tidak termasuk dalam hal ini barang yang digadaikan, karena ia menjaminnya atas utang dirinya sendiri. Juga tidak termasuk budak yang melakukan kejahatan, karena ia menjamin kejahatannya, namun tidak menjamin dirinya (badan budak tersebut).

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اشْتِرَاكِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْهَدْيِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban mengenai keikutsertaan Ali ‘alaihis salam dalam hadyu, maka ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ عَلِيًّا سَاقَ الْهَدْيَ مِنَ الْيَمَنِ فَجَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَبْلَ الْإِيجَابِ شَرِيكًا

Salah satunya adalah bahwa Ali membawa hewan hadyu dari Yaman, lalu Rasulullah saw. menjadikannya sebagai mitra sebelum pelaksanaan kewajiban.

وَالثَّانِي إِنَّهُ جَعَلَهُ شَرِيكًا فِي نَحْرِهَا لَا فِي التَّقَرُّبِ بِهَا لِأَنَّهُ نحر بنفسه منها ثلاث وَسِتِّينَ ثُمَّ أَمَرَ عَلِيًّا بِنَحْرِ بَاقِيهَا

Yang kedua, beliau menjadikannya sebagai mitra dalam penyembelihannya, bukan dalam mendekatkan diri dengan hewan tersebut, karena beliau sendiri menyembelih darinya sebanyak enam puluh tiga ekor, kemudian beliau memerintahkan Ali untuk menyembelih sisanya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِإِيجَابِ عِتْقِ الْعَبْدِ فَمِنْ وجهين

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan mewajibkan pembebasan budak adalah dari dua sisi.

أحدهما أن العبد إذا أوجب عتق لَمْ يَصِرْ حُرًّا وَالشَّاةَ إِذَا أَوْجَبَهَا أُضْحِيَّةً صَارَتْ أُضْحِيَّةً فَافْتَرَقَا

Pertama, apabila seorang hamba diwajibkan untuk dimerdekakan, ia belum menjadi merdeka; sedangkan seekor kambing, apabila telah diwajibkan sebagai hewan kurban, maka ia langsung menjadi hewan kurban. Maka keduanya berbeda.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَمَّا مَنَعَ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي الْعَبْدِ وَجَبَ أَنْ يَمْنَعَ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي الْأُضْحِيَّةِ

Yang kedua, ketika telah dilarang melakukan tasharruf terhadap budak, maka wajib pula dilarang melakukan tasharruf terhadap hewan udhiyah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالزَّكَاةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا تَعَلُّقُ الزَّكَاةِ بِالذِّمَّةِ وَتَعَلُّقُ الْأُضْحِيَّةِ بِالْعَيْنِ وَالثَّانِي إِنَّ بُطْلَانَ الْبَيْعِ فِي قَدْرِ الزَّكَاةِ إِذَا تَعَلَّقَتْ بِالْعَيْنِ فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْأُضْحِيَّةُ بِمَثَابَتِهَا لِتَعَلُّقِهَا بِالْعَيْنِ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan zakat adalah dari dua sisi: pertama, zakat berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), sedangkan udhiyah berkaitan dengan benda tertentu (‘ayn); kedua, batalnya jual beli pada bagian zakat jika zakat itu berkaitan dengan benda tertentu, maka wajiblah udhiyah diperlakukan sama karena ia juga berkaitan dengan benda tertentu.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ لَحْمَ غَيْرِهَا لَحْمِهَا فَبُطْلَانُهُ مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى بِالْعِتْقِ إِذَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ فِي عَبْدٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُبَدِّلَهُ بِغَيْرِهِ وَالثَّانِي حَقُّ الْآدَمِيِّينَ فِي الْبَيْعِ إِذَا بَاعَ عَبْدًا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُبَدِّلَهُ بِغَيْرِهِ

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa daging selainnya adalah dagingnya, maka kebatilannya dari dua sisi: Pertama, dalam hak Allah Ta‘ala terkait pembebasan budak, apabila Allah mewajibkannya atas diri-Nya pada seorang budak, maka tidak boleh diganti dengan selainnya. Kedua, dalam hak manusia terkait jual beli, apabila seseorang menjual seorang budak, maka tidak boleh diganti dengan selainnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّهَا لَمَّا لَمْ تَصِرْ مِلْكًا لِلْفُقَرَاءِ دَلَّ عَلَى بَقَائِهَا عَلَى مِلْكِهِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa karena harta itu tidak menjadi milik para fakir, maka hal itu menunjukkan bahwa harta tersebut tetap menjadi miliknya, adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ حَقَّ الْفُقَرَاءِ قَبْلَ الذَّبْحِ كَحَقِّهِمْ فِيهَا بَعْدَهُ فَلَمْ يَسْلَمِ الِاسْتِدْلَالُ

Salah satunya adalah bahwa hak para fakir sebelum penyembelihan sama dengan hak mereka atasnya setelah penyembelihan, sehingga istidlāl tersebut tidak sah.

وَالثَّانِي إِنَّ بُطْلَانَهُ بِالْوَقْفِ لِأَنَّهُ خَرَجَ عَنْ مِلْكِهِ وَلَمْ يَصِرْ مِلْكًا لِغَيْرِهِ بَيْعُ الْأُضْحِيَّةِ الْوَاجِبَةِ أَوْ شَيْءٍ مِنْهَا

Yang kedua, batalnya (jual beli) karena waqaf, sebab hewan tersebut telah keluar dari kepemilikannya dan tidak menjadi milik orang lain, seperti menjual hewan udhiyah yang wajib atau sebagian darinya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَإِنْ بَاعَهَا فَالْبَيْعُ مفسوخٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Jika ia menjualnya, maka jual belinya batal.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ إِيجَابَهَا إِذَا أَوْجَبَ زَوَالَ مِلْكِهِ عَنْهَا بَطَلَ بَيْعُهَا إِنْ بَاعَهَا وَكَذَلِكَ لَوْ بَاعَهَا لِلْمَسَاكِينِ لِأَنَّهُمْ فِيهَا غَيْرُ مُعَيَّنِينَ فَإِنِ اسْتَبْقَى عَيْنَهَا وَبَاعَ نَمَاءَهَا بَطَلَ بَيْعُ النَّمَاءِ كَبُطْلَانِ بَيْعِ الْأَصْلِ لِأَنَّهُ مُلْحَقٌ بِأَصْلِهِ وَسَوَاءٌ كَانَ النَّمَاءُ نِتَاجًا أَوْ لَبَنًا أَوْ صُوفًا فَإِنْ وَهَبَ النَّمَاءَ صَحَّتْ هِبَةُ اللَّبَنِ وَالصَّوْفِ وَلَمْ تَصِحَّ هِبَةُ النِّتَاجِ لِمَا يَلْزَمُ مِنْ نَحْرِهِ وَالتَّقَرُّبِ بِإِرَاقَةِ دمه

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, karena jika mewajibkannya menyebabkan hilangnya kepemilikan atasnya, maka batal jual-beli atasnya jika ia menjualnya. Demikian pula jika ia menjualnya kepada orang-orang miskin, karena mereka di dalamnya tidak ditentukan secara spesifik. Jika ia tetap mempertahankan bendanya dan menjual hasilnya, maka batal jual-beli hasil tersebut sebagaimana batalnya jual-beli pokoknya, karena hasil itu mengikuti pokoknya, baik hasil itu berupa anak, susu, atau wol. Jika ia menghadiahkan hasilnya, maka sah hibah susu dan wol, tetapi tidak sah hibah anaknya, karena hal itu mengharuskan untuk disembelih dan mendekatkan diri dengan mengalirkan darahnya.”

وَكَمَّا لَا يَجُوزُ بَيْعُهَا فَكَذَلِكَ لَا يَجُوزُ رَهْنُهَا لِأَنَّ مَقْصُودَ الرَّهْنِ بَيْعُهُ فِي الدَّيْنِ فَإِنْ أَجَّرَ ظَهْرَهَا لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ الْإِجَارَةَ معاوضة على منافعها والمنافع تبعاً لِلْأَصْلِ وَإِنْ أَعَارَ ظَهْرَهَا جَازَ لِأَنَّ الْعَارِيَةَ إِرْفَاقٌ يَجُوزُ فِي لَحْمِهَا فَجَازَتْ فِي مَنَافِعِهَا تَلَفُ الْأُضْحِيَّةِ بِالرُّكُوبِ

Sebagaimana tidak boleh menjualnya, demikian pula tidak boleh menjadikannya sebagai rahn, karena tujuan dari rahn adalah agar dapat dijual untuk membayar utang. Jika punggungnya disewakan, maka tidak boleh, karena ijarah adalah transaksi imbalan atas manfaatnya, sedangkan manfaat mengikuti pokoknya. Namun jika punggungnya dipinjamkan, maka boleh, karena ‘āriyah adalah bentuk tolong-menolong yang dibolehkan pada dagingnya, maka dibolehkan pula pada manfaatnya. Mengenai rusaknya hewan kurban karena dinaiki.

فَصْلٌ

Fasal

فَلَوْ رَكِبَهَا الْمُسْتَعِيرُ ضَمِنَهَا دُونَ الْمُعِيرِ وَلَا يَضْمَنُ أُجْرَتَهَا الْمُسْتَعِيرُ وَلَا الْمُعِيرُ وَلَوْ رَكِبَهَا الْمُسْتَأْجِرُ فَتَلِفَتْ ضَمِنَ قِيمَتِهَا لِلْمُؤَجِّرِ دُونَ الْمُسْتَأْجِرِ وَضَمِنَ أُجْرَتَهَا الْمُسْتَأْجِرُ دُونَ الْمُؤَجِّرِ وَفِي قَدْرِ مَا يَضْمَنُهُ مِنَ الْأُجْرَةِ وَجْهَانِ

Maka jika orang yang meminjam (barang) itu menungganginya, ia wajib menanggung (kerusakan) barang itu, bukan pemilik yang meminjamkan, dan tidak wajib atas peminjam maupun pemilik untuk menanggung upahnya. Jika orang yang menyewa menungganginya lalu barang itu rusak, maka ia wajib menanggung nilainya kepada pemilik sewa, bukan kepada penyewa, dan penyewa wajib menanggung upahnya, bukan pemilik sewa. Dalam hal berapa besar upah yang wajib ditanggung, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَضْمَنُ أُجْرَةَ مِثْلِهَا كَضَمَانِهَا عَنْ إِجَارَةٍ فَاسِدَةٍ

Salah satu pendapat, dan ini yang lebih kuat, adalah bahwa ia wajib menanggung upah sepadan sebagaimana kewajiban menanggungnya dalam akad ijarah yang fasid.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَأَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يَضْمَنُ أَكْثَرَ الْأَمْرَيْنِ مِنْ أُجْرَةِ الْمِثْلِ أَوِ الْمُسَمَّى لِأَنَّ فِيهَا حَقًّا لِلْمَسَاكِينِ قَدِ الْتَزَمَ لَهُمْ مَا سَمَّاهُ مِنَ الزِّيَادَةِ ثُمَّ فِي هَذِهِ الْأُجْرَةِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua, yang juga disinggung oleh Ibnu Abi Hurairah, adalah bahwa ia wajib membayar yang lebih besar di antara dua hal: upah sepadan (ujrah al-mitsl) atau yang telah disepakati (al-musamma), karena di dalamnya terdapat hak bagi orang-orang miskin. Ia telah berkomitmen kepada mereka atas tambahan yang telah disebutkan. Kemudian, dalam masalah upah ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَسْلُكُ بِهَا مَسْلَكَ الضَّحَايَا كَالْأَصْلِ

Salah satunya adalah bahwa ia memperlakukannya seperti hewan kurban, sebagaimana hukum asalnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهَا تُصْرَفُ إِلَى الْفُقَرَاءِ خَاصَّةً لِأَنَّ حُقُوقَ الضَّحَايَا فِي الْأَعْيَانِ دُونَ النُّذُورِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa daging kurban hanya diberikan kepada fakir miskin saja, karena hak-hak para mustahik kurban terdapat pada benda (daging) itu sendiri, berbeda dengan nazar.

فَأَمَّا إِذَا اشْتَرَى شَاةً وَأَوْجَبَهَا أُضْحِيَّةً ثُمَّ وَجَدَ بِهَا بَعْدَ الْإِيجَابِ عَيْبًا لَمْ يَرُدَّهَا لِفَوَاتِ الرَّدِّ بِالْإِيجَابِ وَرَجَعَ بِالْأَرْشِ كَالثَّوْبِ وَفِي هَذَا الْأَرْشِ وَجْهَانِ

Adapun jika seseorang membeli seekor kambing dan telah menentukannya sebagai hewan udhiyah, kemudian setelah penetapan itu ia menemukan cacat pada kambing tersebut, maka ia tidak boleh mengembalikannya karena kesempatan untuk mengembalikan telah hilang akibat penetapan udhiyah, dan ia berhak menuntut kompensasi (al-arsy) sebagaimana dalam kasus pakaian. Dalam hal kompensasi ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَسْلُكُ بِهِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا

Salah satunya diperlakukan sebagaimana perlakuan terhadap hewan kurban.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لِلْمُضَحِّي خَاصَّةً لِأَنَّهُ مِنَ الثَّمَنِ الَّذِي لَمْ يَسْتَحِقَّ عليه والله أعلم بالصواب

Yang kedua, bahwa itu khusus bagi orang yang berkurban, karena ia berasal dari harga yang tidak menjadi kewajibannya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ فَاتَتْ بِالْبَيْعِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِيَ بِجَمِيعِ قِيمَتِهَا مَكَانَهَا فَإِنْ بَلَغَ أُضْحِيَّتَيْنِ اشْتَرَاهُمَا لِأَنَّ ثَمَنَهَا بدلٌ مِنْهَا وَإِنْ بَلَغَ أُضْحِيَّةً وَزَادَ شَيْئًا لَا يَبْلُغُ أُخْرَى ضَحَّى بأضحيةٍ وَأُسْلِكَ الْفَضْلُ مَسْلَكَ الْأُضْحِيَّةِ وَأَحَبُّ إِلَيَ لَوْ تَصَدَّقَ بِهِ وَإِنْ نَقَصَ عَنْ أُضْحِيَّةٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَزِيدَ حَتَى يُوَفِيَهُ أضحيةٌ لِأَنَّهُ مستهلكٌ لِلضَّحِيَّةِ فَأَقَلُّ مَا يَلْزَمُهُ أضحيةٌ مِثْلُهَا

Syafi‘i berkata: Jika hewan kurban itu terlewatkan karena dijual, maka wajib baginya membeli hewan pengganti dengan seluruh nilai hewan tersebut di tempatnya. Jika nilainya mencapai dua ekor hewan kurban, maka ia harus membeli keduanya, karena harga itu adalah pengganti dari hewan kurban. Jika nilainya mencapai satu ekor hewan kurban dan lebih sedikit, tetapi tidak sampai dua ekor, maka ia berkurban dengan satu ekor hewan kurban dan kelebihan nilainya diperlakukan seperti hewan kurban; namun aku lebih suka jika kelebihan itu disedekahkan. Jika nilainya kurang dari satu ekor hewan kurban, maka ia wajib menambah hingga mencukupi seekor hewan kurban, karena ia telah menghabiskan hewan kurban, maka paling sedikit yang wajib baginya adalah seekor hewan kurban yang sepadan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ تَلَفَ الْأُضْحِيَّةِ عَلَى ضَرْبَيْنِ مَضْمُونٌ وغير مضمون

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa rusaknya hewan udhiyah itu terbagi menjadi dua jenis: yang harus diganti (madhmun) dan yang tidak harus diganti (ghair madhmun).

فأما تلفها غير مضمون فَهُوَ أَنْ تَمُوتَ عَطَبًا بِغَيْرِ عُدْوَانٍ فَلَا ضَمَانَ فِيهَا كَمَا لَوْ وَقَفَ دَارًا فَاحْتَرَقَتْ أو ندر أَنْ يَتَصَدَّقَ بِمَالٍ فَتَلِفَ لَمْ يَضْمَنْهُ كَذَلِكَ مَوْتُ الْأُضْحِيَّةِ غَيْرُ مَضْمُونٍ وَأَمَّا تَلَفُهَا الْمَضْمُونُ فَهُوَ مَا اقْتَرَنَ بِعُدْوَانٍ فَهُوَ الْمُوجِبُ لِلضَّمَانِ وَلَا يَخْلُو ضَامِنُهَا مِنْ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمُضَحِّيَ أَوْ أَجْنَبِيًّا فَإِنْ ضَمِنَهَا أَجْنَبِيٌّ غَيْرُ الْمُضَحِّي ضَمِنَهَا الْمُضَحِّي فِي حُقُوقِ أَهْلِ الضَّحَايَا لَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ لِخُرُوجِهَا بِالْإِيجَابِ عَنْ مِلْكِهِ لِيَكُونَ الْمُضَحِّي الْمُسْتَحِقَّ لِصَرْفِ ذَلِكَ وَبَدَلِهَا وَتَكُونُ مَضْمُونَةً عَلَى هَذَا الْمُتْلِفِ بِقِيمَتِهَا لَا غَيْرَ وَإِنْ كَانَ الضَّامِنُ هُوَ الْمُضَحِّيَ ضَمِنَهَا بِأَكْثَرَ لِأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهَا وَقْتَ التَّلَفِ أَوْ مِثْلَهَا عِنْدَ النَّحْرِ

Adapun kerusakan yang tidak wajib diganti adalah apabila hewan tersebut mati karena sebab alami tanpa adanya tindakan melampaui batas, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya, sebagaimana jika seseorang mewakafkan sebuah rumah lalu rumah itu terbakar, atau seseorang bersedekah dengan harta lalu harta itu rusak, maka ia tidak menanggungnya. Demikian pula kematian hewan udhiyah tidak wajib diganti. Adapun kerusakan yang wajib diganti adalah yang disertai dengan tindakan melampaui batas, maka itu mewajibkan adanya ganti rugi. Pihak yang menanggung ganti rugi tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah dia adalah orang yang berkurban atau orang lain. Jika yang menanggungnya adalah orang lain selain orang yang berkurban, maka orang yang berkurban menanggungnya dalam hak-hak para penerima kurban, bukan dalam hak dirinya sendiri, karena dengan adanya ijab, hewan itu telah keluar dari kepemilikannya sehingga orang yang berkurban menjadi pihak yang berhak untuk menyalurkan hewan tersebut atau penggantinya. Dalam hal ini, kerusakan tersebut menjadi tanggungan pelaku perusakan dengan nilai hewan itu saja, tidak lebih. Namun jika yang menanggung adalah orang yang berkurban sendiri, maka ia menanggungnya dengan nilai yang lebih, yaitu dengan dua hal: nilai hewan saat rusak atau hewan sejenisnya pada saat penyembelihan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ يَضْمَنُهَا بِقِيمَتِهَا لَا غَيْرَ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهُ لَمَّا ضَمِنَهَا الْأَجْنَبِيُّ بِقِيمَتِهَا وَجَبَ أَنْ يَضْمَنَهَا الْمُضَحِّي بِقِيمَتِهَا لِأَنَّ الضَّمَانَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ التَّالِفِ دُونَ الْمُتْلِفِ أَلَا تَرَاهُ يَضْمَنُ رَهْنَهُ إِذَا أَتْلَفَهُ إِذَا كَانَ غَيْرَ ذِي مَثَلٍ كَالْأَجْنَبِيِّ وَبِمَثَلِهِ إِذَا كَانَ ذَا مَثَلٍ كَالْأَجْنَبِيِّ لَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْمُتْلِفِ؟ كَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةُ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa ia wajib menanggungnya dengan nilainya saja, tidak dengan yang lain, dengan alasan bahwa ketika orang lain (bukan pemilik) menanggungnya dengan nilainya, maka wajib pula bagi orang yang berkurban untuk menanggungnya dengan nilainya. Sebab, kewajiban menanggung berbeda-beda tergantung pada benda yang rusak, bukan pada pelakunya. Bukankah engkau melihat bahwa seseorang menanggung barang gadaiannya jika ia merusaknya, apabila barang itu tidak memiliki padanan, sebagaimana orang lain, dan menanggung dengan padanannya jika barang itu memiliki padanan, sebagaimana orang lain? Maka, kewajiban menanggung tidak berbeda-beda karena perbedaan pelaku perusakan. Demikian pula halnya dengan hewan kurban.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّهُ قَدْ أَلْزَمَ نَفْسَهُ الْأُضْحِيَّةَ بِإِيجَابِهَا وَإِنْ تَعَيَّنَتْ فَإِذَا ضَمِنَهَا بِالتَّلَفِ صَارَ ضَامِنًا لَهَا بِأَمْرَيْنِ وَالتَّلَفُّظُ بِالِالْتِزَامِ

Dan dalil kami adalah bahwa seseorang telah mewajibkan atas dirinya sendiri untuk berkurban dengan mewajibkannya, meskipun hewan kurban itu telah ditentukan. Maka jika ia menanggungnya karena rusak atau hilang, ia menjadi penanggungnya karena dua hal: yaitu kerusakan dan ucapan komitmen.

وَلِذَلِكَ ضمن أكثر الأمرين من موجب الالتزام بالمثل أو موجب التلف بالقيمة وغيره يضمنها بقيمتها بالتلف دون الالتزام فلذلك ضمنها بالقيمة دون المثل وفيه دليل وانفصال

Oleh karena itu, dalam kebanyakan kasus, seseorang bertanggung jawab atas salah satu dari dua hal: kewajiban mengganti dengan yang sepadan atau kewajiban mengganti dengan nilai akibat kerusakan dan selainnya. Ia wajib mengganti dengan nilainya jika terjadi kerusakan, bukan karena kewajiban mengganti dengan yang sepadan. Oleh sebab itu, ia bertanggung jawab dengan nilai, bukan dengan yang sepadan. Dalam hal ini terdapat dalil dan perincian.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ ضَمَانُهَا بِالْقِيمَةِ فِي حَقِّ الْأَجْنَبِيِّ بِأَكْثَرِ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْمِثْلِ أَوِ الْقِيمَةِ فِي حَقِّ الْمُضَحِّي وَجَبَ عَلَى الْمُضَحِّي أَنْ يَعْرِفَ الْقِيمَةَ فِي شِرَاءِ مِثْلِهَا فِي جِنْسِهَا مِنْ بَقَرٍ أَوْ غَنَمٍ وَفِي نَوْعِهَا مِنْ ضَأْنٍ أَوْ مَعَزٍ وَفِي سِنِّهَا مِنْ جَذَعٍ أَوْ ثَنِيٍّ فَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةُ ثَنِيَّةً مِنَ الْمَعْزِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْرِيَ جَذَعَة مِنَ الضَّأْنِ وَإِنْ كَانَتْ خَيْرًا مِنْهَا لِتَعَيُّنِ حَقِّ الْمَسَاكِينِ فِي نَوْعِهَا وَسِنِّهَا وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْقِيمَةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Apabila telah tetap kewajiban ganti rugi dengan nilai (qimah) atas hewan kurban pada hak orang lain dengan mengambil yang lebih besar antara dua hal, yaitu yang sepadan (mithl) atau nilai (qimah), maka bagi orang yang berkurban wajib mengetahui nilai pembelian hewan sejenisnya, baik dari jenis sapi atau kambing, dan dari jenis domba atau kambing biasa, serta dari usianya, apakah masih muda (jadz‘) atau sudah dewasa (tsaniyy). Maka jika hewan kurban itu adalah kambing dewasa (tsaniyy) dari jenis kambing biasa, tidak boleh membeli kambing muda (jadz‘) dari jenis domba, meskipun lebih baik darinya, karena hak para mustahik telah ditetapkan pada jenis dan usianya. Dengan demikian, keadaan nilai (qimah) tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ تَكُونَ ثَمَنًا لِمِثْلِهَا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْرِيَ بِهِ مِثْلَهَا وَلَا يَلْزَمُهُ إِيجَابُهَا بَعْدَ الشِّرَاءِ لِأَنَّهُ بَدَلٌ مِنْ وَاجِبٍ لَا مِلْكَ لَهُ فِيهَا وَنُظِرَ فِي الشِّرَاءِ فَإِنْ كَانَ اشْتَرَاهَا بِعَيْنِ الْقِيمَةِ الْمُسْتَحَقَّةِ صَارَتْ أُضْحِيَّةً بِنَفْسِ الشِّرَاءِ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ بِهَا الْأُضْحِيَّةَ وَإِنِ اشْتَرَاهَا فِي الذِّمَّةِ نَوَى بِالشِّرَاءِ أَنَّهَا أُضْحِيَّةٌ لَا يَحْتَاجُ بَعْدَهُ إِلَى إِيجَابٍ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ بِالشِّرَاءِ أَنَّهَا أُضْحِيَّةٌ أَوْجَبَهَا بَعْدَ الشِّرَاءِ أُضْحِيَّةً لَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا وَلَكِنْ فِي حَقِّ أَهْلِ الضَّحَايَا لِأَنَّهَا بَدَلٌ عَنْ أَصْلٍ قَدِ اسْتَحَقُّوهُ

Salah satunya adalah jika ia menjadi harga untuk yang sepadan dengannya tanpa ada tambahan atau pengurangan, maka ia wajib membelikan dengan harga itu hewan yang sepadan, dan ia tidak wajib menetapkannya (sebagai hewan kurban) setelah pembelian, karena itu adalah pengganti dari sesuatu yang wajib yang ia tidak memiliki kepemilikan atasnya. Dalam hal pembelian, jika ia membelinya dengan nilai yang memang menjadi hak, maka hewan itu otomatis menjadi hewan kurban dengan sendirinya melalui pembelian tersebut, meskipun ia tidak meniatkannya sebagai kurban. Jika ia membelinya secara utang (di dalam tanggungan), maka ia harus meniatkan saat pembelian bahwa itu adalah hewan kurban, sehingga tidak perlu penetapan lagi setelahnya. Namun, jika saat pembelian ia tidak meniatkan sebagai kurban, maka ia wajib menetapkannya sebagai kurban setelah pembelian, bukan untuk dirinya sendiri karena ia tidak memilikinya, melainkan untuk kepentingan para penerima kurban, karena hewan itu adalah pengganti dari sesuatu yang memang sudah menjadi hak mereka.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ الْقِيمَةُ أَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ مِثْلِهَا فَعَلَيْهِ أَنْ يَصْرِفَ الْقِيمَةَ فِي الْأَضَاحِيِّ لِأَنَّهَا مُسْتَحَقَّةٌ لِأَهْلِهَا فَيَشْرِي مِنْهَا وَاحِدَةً مِثْلَهَا وَفِيمَا يَشْتَرِيهِ بِبَاقِي الْقِيمَةِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ

Bagian kedua adalah apabila nilai (hewan) lebih besar daripada harga hewan sejenisnya, maka ia wajib membelanjakan nilai tersebut untuk kurban, karena nilai itu menjadi hak bagi para penerimanya. Maka ia membeli satu ekor hewan sejenis, dan terhadap apa yang dibelinya dengan sisa nilai tersebut terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا فِي أَمْثَالِهَا وَلَا يَعْدِلُ عَنْ مِثْلِهَا إِلَى غَيْرِهَا لِأَنَّ مَصْرِفَ جَمِيعِهَا وَاحِدٌ

Salah satunya adalah pada hal-hal yang sejenis dengannya dan tidak berpindah dari yang sejenis kepada yang lain, karena tempat penyaluran semuanya adalah satu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَصْرِفُهُ فِيمَا هُوَ الْأَحُظُّ لِأَهْلِ الضَّحَايَا مِنْ ذَلِكَ الْجِنْسِ أَوْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ بَعْدَ حُصُولِ الْمِثْلِ كَالِابْتِدَاءِ بِالْأُضْحِيَّةِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ نُظِرَ فِي الزِّيَادَةِ فَإِنْ كَانَتْ ثَمَنًا لِلْأُضْحِيَّةِ كَامِلَةً أَوْ أُضْحِيَّتَيْنِ اشْتَرَى بِهَا مَا أَمْكَنَ مِنَ الضَّحَايَا الْكَامِلَةِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَ مَا لَا يَجُوزُ مِنَ الضَّحَايَا وَإِنْ نَقَصَتِ الزِّيَادَةُ عَنْ ثَمَنِ أُضْحِيَّةٍ كَامِلَةٍ قَالَ الشَّافِعِيُّ يَسْلُكُ بِهَا مَسْلَكَ الْأُضْحِيَّةِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِي مُرَادِهِ فِيمَا يَصْنَعُ بِهَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Pendapat kedua adalah bahwa ia mengalokasikan kelebihan itu untuk hal yang paling bermanfaat bagi para penerima kurban, baik dari jenis hewan yang sama maupun selainnya. Sebab, kelebihan setelah mendapatkan pengganti yang sepadan itu seperti memulai dengan kurban baru. Jika demikian, maka kelebihan itu diperhatikan; jika kelebihan itu cukup untuk membeli satu hewan kurban yang sempurna atau dua ekor, maka ia membeli dengan kelebihan itu sebanyak mungkin hewan kurban yang sempurna. Tidak boleh membeli hewan kurban yang tidak sah untuk dijadikan kurban. Jika kelebihan itu kurang dari harga satu ekor kurban yang sempurna, menurut pendapat asy-Syafi‘i, kelebihan itu diperlakukan seperti kurban. Para pengikutnya berbeda pendapat tentang maksud asy-Syafi‘i dalam hal apa yang harus dilakukan dengan kelebihan itu, dan terbagi menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا سَهْمًا مِنْ أُضْحِيَّةٍ اعْتِبَارًا بِالْأَصْلِ

Salah satunya adalah membeli satu bagian dari hewan kurban dengan uang tersebut, berdasarkan pada hukum asal.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَشْتَرِي بِهَا لَحْمًا لِتَعَذُّرِ الشَّرِكَةِ فِي الْحَيَوَانِ فَعَدَلَ بِهِ إِلَى اللَّحْمِ الْمَقْصُودِ

Adapun pendapat kedua adalah bahwa ia membeli daging dengannya karena sulitnya melakukan pembagian pada hewan, maka dialihkan kepada daging yang menjadi tujuan utama.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ تَصَرَّفَ زِيَادَةَ دَرَاهِمَ بِحَالِهَا لِأَنَّهَا تُلَافِي التَّصَرُّفَ أَصْلًا فَجَازَ فِيهِ مِنَ الْقِيمَةِ مَا لَمْ يجز في الأصل كمن وجبت عليه جزعة فِي الذَّكَاةِ فَأَعْطَى قِيمَتَهَا لَمْ تَجُزْ وَلَوْ أَعْطَى عَنْهَا حِقَّةً وَدَفَعَ عِشْرِينَ دِرْهَمًا عَنْ نَقْصِ الْحَقِّ أَجْزَأَ

Adapun alasan yang ketiga adalah memperlakukan kelebihan dirham sebagaimana adanya, karena kelebihan tersebut merupakan pelengkap dari transaksi pokok, sehingga dibolehkan dalam hal nilai apa yang tidak dibolehkan pada pokoknya. Seperti seseorang yang wajib memberikan seekor unta muda dalam zakat, lalu ia memberikan nilainya, maka itu tidak sah. Namun jika ia memberikan unta betina dewasa sebagai gantinya dan menambahkan dua puluh dirham sebagai pelengkap kekurangan unta betina tersebut, maka itu sah.

فَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ يَصْرِفُ ذَلِكَ فِي سَهْمٍ مِنْ أُضْحِيَّةٍ كَانَ فِي ذَلِكَ السَّهْمِ كَأَهْلِ الضَّحَايَا

Jika kita mengatakan bahwa ia mengalokasikan hal itu pada satu bagian dari hewan kurban, maka dalam bagian tersebut ia seperti orang-orang yang berkurban.

وَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ يَشْتَرِي بِهِ لَحْمًا أَوْ يَصْرِفُهُ وَرَقًا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Dan jika kita mengatakan bahwa ia membelikan daging dengannya atau menukarkannya dengan uang kertas, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَسْلُكُ بِهِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا وَيَكُونُ فِيهِ بِمَثَابَتِهِمْ

Salah satunya adalah bahwa ia diperlakukan seperti hewan kurban dan posisinya sama dengan mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ يَخْتَصُّ بِهِ الْفُقَرَاءُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُشَارِكَهُمْ فِيهِ كَمَا لَوْ عَطِبَتْ عَلَيْهِ بَدَنَةٌ مِنَ الْهَدْيِ ذَبَحَهَا وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِنْ كَانَتْ لَوْ سَلِمَتْ جَازَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا حَسْمًا لِلتهْمَةِ كَذَلِكَ هَذِهِ الزِّيَادَةُ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu khusus bagi para fuqara’ dan tidak boleh ada yang ikut serta bersama mereka di dalamnya, sebagaimana jika seekor hewan hadyu miliknya rusak lalu ia menyembelihnya, maka ia tidak boleh memakan sedikit pun darinya, meskipun jika hewan itu selamat, ia boleh memakannya, sebagai bentuk pencegahan dari tuduhan; demikian pula halnya dengan kelebihan ini.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَكُونَ قِيمَةُ الْأُضْحِيَّةِ الْمَضْمُونَةِ أَقَلَّ مِنْ ثَمَنِ أُضْحِيَّتِهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian ketiga adalah apabila nilai dari hewan kurban yang dijamin lebih rendah daripada harga hewan kurbannya, maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْمُضَحِّي قَدْ ضَمِنَهَا إِمَّا مُنْفَرِدًا بِضَمَانِهَا كَمَا لَوْ أَتْلَفَهَا وَإِمَّا مُشْتَرِكًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ كَمَا لَوْ بَاعَهَا فَعَلَيْهِ أَنْ يَزِيدَ عَلَى الْقِيمَةِ وَيَشْرِيَ بِهِ مِثْلَهَا لِأَنَّا قَدْ دَلَّلْنَا عَلَى أَنَّهُ يَضْمَنُهَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ بِأَكْثَرِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهَا أَوْ مِثْلِهَا فَإِذَا عَجَزَتِ الْقِيمَةُ ضَمِنَ الْمِثْلَ

Salah satunya adalah apabila orang yang berkurban telah menanggung (menjamin) hewan kurban tersebut, baik secara pribadi dengan menanggungnya, seperti jika ia merusaknya, maupun secara bersama-sama antara dirinya dan orang lain, seperti jika ia menjualnya. Maka ia wajib menambah atas nilai (hewan tersebut) dan membeli yang sejenis dengannya, karena kami telah menunjukkan bahwa ia wajib menanggungnya untuk dirinya sendiri dengan nilai yang lebih besar di antara dua hal: nilai hewan tersebut atau yang sejenis dengannya. Maka jika nilai tersebut tidak mencukupi, ia wajib menanggung yang sejenis.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ الْقِيمَةُ قَدْ تَفَرَّدَ بِضَمَانِهَا أَجْنَبِيٌّ غَيْرُ الْمُضَحِّي مِنْ غَاصِبٍ أَوْ جَانٍ فَلَا يَلْزَمُ الْأَجْنَبِيَّ أَكْثَرُ مِنَ الْقِيمَةِ وَفِي ضَمَانِ الْمُضَحِّي لِمَا زَادَ عَلَيْهَا حَتَّى يَبْلُغَ ثَمَنَ أُضْحِيَّتِهِ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah apabila nilai (barang) dijamin secara khusus oleh pihak lain yang bukan mudhahi, seperti oleh seorang perampas atau pelaku kejahatan, maka pihak lain tersebut tidak wajib menanggung lebih dari nilai barang itu. Adapun mengenai kewajiban mudhahi untuk menanggung kelebihan atas nilai tersebut hingga mencapai harga hewan kurbannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَضْمَنُهُ لِأَنَّهُ قَدِ الْتَزَمَ أُضْحِيَّةً فَلَزِمَهُ إِكْمَالُهَا فَيَصِيرُ بِالِالْتِزَامِ ضَامِنًا لَا بِالتَّلَفِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa ia wajib menanggungnya karena ia telah berkomitmen untuk melaksanakan ibadah udhiyah, sehingga ia wajib menyempurnakannya. Dengan komitmen tersebut, ia menjadi penanggung, bukan karena kerusakan (hewan kurban).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي هُوَ أَظْهَرُ وَبِهِ قَالَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهُ لَا يَلْزَمُ تَمَامُ الْأُضْحِيَّةِ لِأَنَّهُ لَمْ يُتْلِفْ فَيَضْمَنُ وَقَدْ قَامَ مِنْ إِيجَابِهَا بِمَا الْتَزَمَ فَلَمْ يَضْمَنْ كَمَا لَوْ لَمْ يَضْمَنْ بِالْمَوْتِ فَعَلَى هَذَا لَا تَخْلُو الْقِيمَةُ الْمُسْتَحَقَّةُ مِنْ خَمْسةِ أَحْوَالٍ

Pendapat kedua ini lebih jelas, dan inilah yang dikatakan oleh Ibnu Abi Hurairah, yaitu bahwa tidak wajib menyempurnakan kurban, karena ia tidak merusaknya sehingga harus menggantinya, dan ia telah melaksanakan kewajiban kurban sesuai dengan yang telah ia tetapkan, sehingga ia tidak wajib mengganti, sebagaimana ia juga tidak wajib mengganti jika hewan kurban itu mati. Berdasarkan hal ini, nilai yang wajib dipenuhi tidak lepas dari lima keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُمْكِنَ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا مِنْ جِنْسِ تِلْكَ الْأُضْحِيَّةِ مَا يَكُونُ أُضْحِيَّةً وَإِنْ كَانَتْ دُونَ التَّالِفَةِ مِثْلَ أَنْ يَكُونَ قَدْ أَتْلَفَ ثَنِيَّةً مِنَ الضَّأْنِ فَيُمْكِنُ أَنْ يَشْتَرِيَ بِقِيمَتِهَا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا جَذَعًا مِنَ الضَّأْنِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا ثَنِيَّةً مِنَ الْمَعْزِ لِأَنَّهَا مِنْ جِنْسِ الْمُتْلِفِ فَكَانَتْ أَحَقَّ

Salah satunya adalah jika memungkinkan untuk membeli dengan nilai hewan kurban yang rusak itu hewan dari jenis yang sama yang dapat dijadikan kurban, meskipun kualitasnya di bawah hewan yang rusak tersebut. Misalnya, seseorang merusak seekor domba tsaniyyah, lalu dengan nilainya ia bisa membeli seekor domba jadza‘ah, maka ia wajib membeli seekor domba jadza‘ah dengan nilai tersebut. Tidak boleh membeli kambing tsaniyyah dengan nilai itu, karena harus dari jenis yang sama dengan hewan yang dirusak, sehingga lebih berhak.

والحال الثانية أن يكون ثمناً لدون الْجَذَعَةِ مِنَ الضَّأْنِ أَوِ الثَّنِيَّةِ مِنَ الْمَعْزِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا ثَنِيَّةً مِنَ الْمَعْزِ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهَا وَهِيَ أَوْلَى مِنْ أَقَلَّ مِنَ الْجَذَعَةِ مِنَ الضَّأْنِ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ جِنْسِهَا لِأَنَّ الثَّنِيَّةَ مِنَ الْمَعْزِ أضحية ودون الجزع ليس بأضحية

Keadaan kedua adalah jika harga tersebut untuk membeli hewan yang kurang dari jadza‘ah dari domba atau tsaniyyah dari kambing, maka ia wajib membeli dengan harga itu seekor tsaniyyah dari kambing, meskipun bukan dari jenis yang sama. Tsaniyyah dari kambing lebih utama daripada yang kurang dari jadza‘ah dari domba, meskipun yang kurang itu dari jenis yang sama, karena tsaniyyah dari kambing adalah hewan yang sah untuk udhiyah, sedangkan yang kurang dari jadza‘ah tidak sah untuk udhiyah.

والحال الثالثة أن يُمْكِنَ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا دُونَ الْجَذَعِ مِمَّا يَكُونُ أُضْحِيَّةً أَوْ سَهْمًا شَائِعًا فِي أُضْحِيَّةٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا مَا كِيلَ مِنْ دُونِ الْجَذَعِ وَهُوَ أَوْلَى مِنْ شِرَاءِ سَهْمٍ وجذع تام لأنها قَدِ اسْتَوَيَا فِي أَنَّهُمَا لَا يَكُونَانِ أُضْحِيَّةً وَاخْتَصَّ مَا دُونَ الْجَذَعِ بِإِرَاقَةِ دَمٍ كَامِلٍ

Keadaan ketiga adalah ketika memungkinkan untuk membeli dengan uang tersebut hewan selain jadza‘ yang bisa dijadikan sebagai hewan kurban, atau membeli satu saham syu‘a‘ dalam hewan kurban. Maka ia wajib membeli dengan uang itu hewan yang kurang dari jadza‘, dan ini lebih utama daripada membeli satu saham dan jadza‘ yang sempurna, karena keduanya sama-sama tidak bisa dijadikan hewan kurban, namun yang kurang dari jadza‘ memiliki keistimewaan berupa penumpahan darah secara sempurna.

والحال الرابعة أن يُمْكِنَ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا سَهْمًا شَائِعًا فِي أُضْحِيَّةٍ أَوْ لَحْمًا وَيَشْتَرِيَ بِهَا سَهْمًا فِي أُضْحِيَّةٍ وَهُوَ أَحَقُّ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهِ لَحْمًا لِأَنَّ فِي السَّهْمِ الشَّائِعِ إِرَاقَةَ دَمٍ وَلَيْسَ فِي اللَّحْمِ ذَلِكَ وَخَالَفَ الزِّيَادَةَ حَيْثُ اشْتَرَى بِهَا فِي أَحَدِ الْوُجُوهِ لَحْمًا لِأَنَّ الزِّيَادَةَ بَعْدَ إِرَاقَةِ الدَّمِ وَهَذِهِ لَمْ يَحْصُلْ قَبْلَهَا إِرَاقَةُ دَمٍ

Keadaan keempat adalah ketika memungkinkan untuk membeli dengan uang tersebut satu saham syu‘ū‘ (saham tidak tertentu) dalam hewan udhiyah atau daging, dan ia membeli dengan uang tersebut satu saham dalam hewan udhiyah. Namun, yang lebih utama adalah membeli daging, karena dalam saham syu‘ū‘ terdapat penyembelihan darah, sedangkan dalam daging tidak ada hal itu. Ini berbeda dengan tambahan (ziyādah), di mana dalam salah satu pendapat, ia membeli daging dengan tambahan tersebut, karena tambahan itu terjadi setelah penyembelihan darah, sedangkan dalam kasus ini belum terjadi penyembelihan darah sebelumnya.

وَالْحَالُ الْخَامِسَةُ أَنْ لَا يُمْكِنَ أن يشري بِهَا حَيَوَانًا وَلَا سَهْمًا مِنْهُ وَيُمْكِنَ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا لَحْمًا أَوْ يُفَرِّقَهَا وَرَقًا فَيَجِبُ أَنْ يَشْرِيَ بِهَا لَحْمًا وَلَا يُفَرِّقَهَا وَرَقًا بِخِلَافِ الزَّائِدِ عَلَى الْقِيمَةِ فِي أَحَدِ الْوُجُوهِ لِأَنَّ اللَّحْمَ هُوَ مَقْصُودُ الْأُضْحِيَّةِ وَقَدْ وَجَدَ فِي الزِّيَادَةِ مَقْصُودَهَا فَجَازَ أَنْ يُفَرِّقَ وَرَقًا وَلَمْ يُوجَدْ فِي النُّقْصَانِ مَقْصُودُهَا فَوَجَبَ أَنْ يُفَرِّقَ لَحْمًا وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ الْقَوْلُ فِي ذَبْحِ ولد الأضحية الواجبة

Keadaan kelima adalah ketika tidak memungkinkan untuk membeli hewan kurban atau sahamnya dengan uang tersebut, namun memungkinkan untuk membeli daging atau membagikannya dalam bentuk uang. Maka wajib membeli daging dengan uang itu dan tidak boleh membagikannya dalam bentuk uang, berbeda dengan kelebihan dari nilai (hewan kurban) menurut salah satu pendapat, karena daging adalah tujuan utama dari udhiyah, dan pada kelebihan nilai tersebut telah tercapai tujuannya sehingga boleh dibagikan dalam bentuk uang. Sedangkan pada kekurangan nilai, tujuan tersebut tidak tercapai sehingga wajib membagikannya dalam bentuk daging. Dan hanya kepada Allah-lah taufik. Pembahasan tentang menyembelih anak dari hewan udhiyah yang wajib.

مسألة

Masalah

قال الشافعي فَإِنْ وَلَدَتِ الْأُضْحِيَّةُ ذُبِحَ مَعَهَا وَلَدُهَا

Imam Syafi’i berkata: Jika hewan udhiyah melahirkan, maka anaknya disembelih bersama induknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَوْجَبَ أُضْحِيَّةً حَامِلًا فَوَلَدَتْ أَوْ كَانَتْ حَائِلًا فَحَمَلَتْ ثُمَّ وَلَدَتْ كَانَ وَلَدُهَا تَبَعًا لَهَا في الأضحية وعليه أن يذبحها مَعًا لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَسُوقُ بَدَنَةً مَعَهَا وَلَدُهَا فَقَالَ لَا تَشْرَبْ مِنْ لَبَنِهَا إِلَّا مَا فَضَلَ عَنْ وَلَدِهَا فَإِذَا كَانَ يَوْمُ النَّحْرِ فَانْحَرْهَا وَوَلَدَهَا عَنْ سَبْعَةٍ وَلَيْسَ يُعْرَفُ لَهُ مُخَالِفٌ وَلِأَنَّهَا وَلَدَتْهُ بَعْدَ خُرُوجِهَا عَنْ مِلْكِهِ فَأَشْبَهَ وَلَدَ الْمُعْتَقَةِ وَالْمَبِيعَةِ وَخَالَفَ وَلَدَ الْمُسْتَأْجَرَةِ والمرهونة فإذا ذبحها معاًَ وَتَصَدَّقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَأَكَلَ جَازَ وَإِنْ تَصَدَّقَ مِنْ إِحْدَاهُمَا دُونَ الْأُخْرَى فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila seseorang mewajibkan berkurban dengan hewan yang sedang hamil lalu melahirkan, atau hewan itu awalnya tidak hamil kemudian hamil dan melahirkan, maka anaknya mengikuti induknya dalam kurban, dan ia wajib menyembelih keduanya sekaligus. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ali ‘alaihis salam bahwa beliau melihat seorang laki-laki menggiring unta betina yang bersama anaknya, lalu beliau berkata, ‘Janganlah engkau minum dari susunya kecuali yang tersisa setelah anaknya, dan apabila tiba hari penyembelihan, maka sembelihlah induknya dan anaknya untuk tujuh orang.’ Tidak diketahui ada yang menyelisihinya. Karena anak itu lahir setelah induknya keluar dari kepemilikannya, maka hukumnya seperti anak budak perempuan yang dimerdekakan atau dijual, dan berbeda dengan anak hewan yang disewa atau digadaikan. Jika ia menyembelih keduanya sekaligus, bersedekah dari masing-masing, dan memakannya, maka itu boleh. Namun jika ia hanya bersedekah dari salah satunya saja, maka ada tiga pendapat dalam hal ini.”

أَحَدُهَا لَا يَجُوزُ حَتَّى يَتَصَدَّقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا لِأَنَّهَا قَدْ صَارَتَا أُضْحِيَّتَيْنِ فَلَزِمَهُ أَنْ يَسْلُكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مَسْلَكَ الْأُضْحِيَّةِ كَالْأُضْحِيَّتَيْنِ

Salah satu pendapat menyatakan tidak boleh (menyembelihnya) hingga ia bersedekah dari masing-masing hewan tersebut, karena keduanya telah menjadi dua ekor hewan udhiyah, sehingga wajib baginya untuk memperlakukan masing-masing dari keduanya seperti memperlakukan hewan udhiyah, sebagaimana dua ekor hewan udhiyah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَتَصَدَّقَ مِنَ الْأُمِّ دُونَ الْوَلَدِ وَمِنَ الْوَلَدِ دُونَ الْأُمِّ لِأَنَّ وَلَدَهَا بَعْضُهَا وَإِذَا تَصَدَّقَ بِبَعْضِ الْأُضْحِيَّةِ أَجْزَأَهُ عَنِ الْبَاقِي

Pendapat kedua adalah bahwa boleh bersedekah dari bagian ibu tanpa anak, dan dari bagian anak tanpa ibu, karena anaknya adalah bagian dari dirinya. Jika seseorang bersedekah dengan sebagian dari hewan kurban, maka itu sudah mencukupi untuk sisanya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنَّهُ إِنْ تَصَدَّقَ مِنَ الْأُمِّ دُونَ الْوَلَدِ أَجْزَأَهُ وَإِنْ تَصَدَّقَ مِنَ الْوَلَدِ دُونَ الْأُمِّ لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّ الْوَلَدَ فَرْعٌ تابع والأم أصل متبوع

Pendapat ketiga adalah bahwa jika seseorang bersedekah dari bagian ibu tanpa bagian anak, maka itu sudah mencukupi; namun jika ia bersedekah dari bagian anak tanpa bagian ibu, maka itu tidak mencukupi, karena anak adalah cabang yang mengikuti, sedangkan ibu adalah asal yang diikuti.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا يَشْرَبْ مِنْ لَبَنِهَا إِلَّا الْفَضْلَ عَنْ وَلَدِهَا وَلَا مَا يُنْهِكُ لَحْمَهَا وَلَوْ تَصَدَّقَ بِهِ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ

Syafi‘i berkata: Tidak boleh diminum dari susunya kecuali sisa yang melebihi kebutuhan anaknya, dan tidak boleh yang dapat melemahkan tubuhnya. Jika disedekahkan, itu lebih aku sukai.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ يَجُوزُ حِلَابُ الْأُضْحِيَّةِ وَشُرْبُ لَبَنِهَا وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لا يجوز حلابها وينضج الْمَاءُ عَلَى ضَرْعِهَا حَتَّى يَذْهَبَ لَبَنُهَا كَمَا لا يجوز جواز صُوفِهَا وَدَلِيلُنَا مَا قَدَّمْنَاهُ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَلِأَنَّ تَرْكَ لَبَنِهَا مُضِرٌّ بِهَا

Al-Mawardi berkata, “Diperbolehkan memerah hewan udhiyah dan meminum susunya.” Sedangkan Abu Hanifah berpendapat, “Tidak boleh memerah susunya, dan hendaknya air dituangkan pada ambingnya hingga susunya habis, sebagaimana tidak boleh mengambil bulunya.” Dalil kami adalah apa yang telah kami sebutkan dari Ali ‘alaihis salam, dan karena membiarkan susunya dapat membahayakan hewan tersebut.

وَلِأَنَّهُ يَسْتَخْلِفُ إِنْ حَلَبَ فَكَانَ فِي تَرْكِهِ إِضَاعَةٌ لَهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ ذَاتَ وَلَدٍ حَلَبَ جَمِيعَ لَبَنِهَا مِنْ غَيْرِ اسْتِقْصَاءٍ مُضِرٍّ فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ دَعُوا دَاعِيَ اللَّبَنِ يَعْنِي إِبْقَاء يَسِير يَصِيرُ بِهِ دَاعِيَه كَثِيرًا وَإِنْ كَانَتْ ذَاتَ وَلَدٍ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَكِّنَهُ مِنْهَا حَتَّى يَرْتَوِيَ مِنْ لَبَنِهَا كَمَا كَانَ عَلَيْهِ تَمْكِينُ الْأُمِّ مِنْ عَلَفِهَا ثُمَّ لَا يَخْلُو حَالُهُ بَعْدَ تَمْكِينِهِ مِنْهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ

Karena ia akan meninggalkan sisa susu jika diperah, sehingga jika ditinggalkan akan sia-sia. Jika hewan tersebut tidak memiliki anak, maka seluruh susunya boleh diperah tanpa berlebihan yang membahayakan. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Biarkanlah sisa susu,” maksudnya adalah menyisakan sedikit agar dapat menjadi pemicu keluarnya susu lebih banyak. Jika hewan tersebut memiliki anak, maka wajib baginya untuk membiarkan anaknya menyusu hingga kenyang, sebagaimana wajib bagi pemiliknya memberi makan induknya. Setelah anaknya diberi kesempatan menyusu, maka ada tiga pendapat mengenai keadaannya.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ بِقَدْرِ رِيِّهِ مِنْ غَيْرِ فضل ولا نقصان فلا تجوز أَنْ يَحْلِبَ مِنْ لَبَنِهَا شيئاًَ لِاسْتِحْقَاقِهِ فِي رِيِّ الْوَلَدِ

Salah satunya adalah jika jumlahnya sesuai dengan kebutuhan minum anak tersebut, tanpa ada kelebihan atau kekurangan, maka tidak boleh memerah sedikit pun dari susunya, karena hak anak itu atas air susu ibunya untuk memenuhi kebutuhannya minum.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ أَقَلَّ مِنْ رِيِّهِ فَعَلَيْهِ بَعْدَ تَمْكِينِهِ مِنْ لَبَنِهَا أَنْ يَسْقِيَهُ بَعْدَ رِيِّهِ مِنْ غَيْرِهَا

Keadaan kedua adalah jika air susu yang diberikan kurang dari kebutuhan kenyangnya, maka setelah memungkinkan untuk memberinya air susu ibunya, ia wajib memberinya minum dari selain ibunya setelah ia merasa kenyang.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ أَكْثَرَ مِنْ رِيِّهِ فَعَلَيْهِ أن يخلي بينه وبين ربه ثُمَّ يَحْتَلِبُ الْفَاضِلُ عَنْ رِيِّهِ فَإِذَا احْتَلَبَ اللَّبَنُ فَالْأَوْلَى بِهِ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِجَمِيعِهِ فَإِنْ لَمْ يَتَصَدَّقْ بِجَمِيعِهِ فَالْأَفْضَلُ بَعْدَهُ أَنْ يَسْلُكَ بِهِ مَسْلَكَ اللَّحْمِ فَيَشْرَبُ مِنْهُ وَيَسْقِي غيره فإن لم يفعل وشرب جمعيه جَازَ وَإِنْ كَرِهْنَاهُ لِأَنَّ بَقَاءَ لَحْمِهَا نُسِخَ وَتَقَدُّمُ الِانْتِفَاعِ بِهَا مَكْرُوهٌ جَزُّ الصُّوفِ

Keadaan ketiga adalah jika susu yang diminum lebih dari sekadar menghilangkan dahaga, maka ia harus membiarkan antara dirinya dan Tuhannya, kemudian ia memerah kelebihan dari kebutuhan minumnya. Jika susu telah diperah, maka yang utama dan paling baik baginya adalah menyedekahkan seluruhnya. Jika ia tidak menyedekahkan seluruhnya, maka yang lebih utama setelah itu adalah memperlakukannya seperti daging, yaitu ia boleh meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Jika ia tidak melakukan hal itu dan meminum semuanya sendiri, maka hal itu boleh, meskipun kami memakruhkannya, karena keberlangsungan dagingnya telah dihapuskan dan pemanfaatan sebelumnya terhadapnya dimakruhkan seperti mencukur bulu domba.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا يَجُزُّ صُوفَهَا

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Bulu dombanya tidak boleh digunakan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ يُمْنَعُ مِنْ جِزَازِ صُوفِهَا إِذَا لَمْ يَكُنْ تَرْكُهُ مُضِرًّا بِهَا لِأَنَّهُ أَحْفَظُ لَهَا وَأَكْمَلُ وَلِأَنَّهُ يَبْعُدُ اسْتِخْلَافُهُ بِخِلَافِ اللَّبَنِ وَإِنْ كَانَ جِزَازُهُ أَنْفَعَ بِهَا فَإِنْ قَرُبَ زَمَانُ نَحْرِهَا تَرَكَهُ عَلَيْهَا حَتَّى يَنْحَرَهَا وَإِنْ بَعُدَ زَمَانُ نَحْرِهَا جَزَّهُ عَنْهَا لِأَنَّهُ أَصْلَحُ لِبَدَنِهَا فَإِنْ جَزَّهُ وَهُوَ مَأْمُورٌ بِتَرْكِهِ فَقَدْ أَسَاءَ وَلَمْ يَضْمَنْ وَإِنْ تَرَكَهُ وَهُوَ مَأْمُورٌ بِجَزِّهِ كَرِهْنَاهُ وَلَمْ يَضْمَنْ وَلَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُ الصُّوفِ بَعْدَ جَزِّهِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ أُضْحِيَّتِهِ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهَا وَيَسَلُكُ بِهِ مَسْلَكَ اللَّبَنِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ

Al-Mawardi berkata: Dilarang mencukur bulu domba kurban jika tidak ada mudarat dengan membiarkannya, karena itu lebih menjaga dan lebih sempurna baginya, serta karena kecil kemungkinan bulu itu tumbuh kembali, berbeda dengan susu. Namun, jika mencukurnya lebih bermanfaat bagi domba tersebut, maka jika waktu penyembelihannya sudah dekat, bulu itu dibiarkan hingga disembelih. Tetapi jika waktu penyembelihannya masih lama, maka bulunya boleh dicukur karena itu lebih baik bagi tubuhnya. Jika ia mencukurnya padahal diperintahkan untuk membiarkannya, maka ia telah berbuat buruk namun tidak wajib mengganti. Dan jika ia membiarkannya padahal diperintahkan untuk mencukurnya, maka kami memakruhkannya namun tidak wajib mengganti. Tidak boleh baginya menjual bulu setelah dicukur, karena bulu itu termasuk bagian dari hewan kurbannya yang tidak boleh dijual, dan perlakuannya terhadap bulu itu sama seperti perlakuan terhadap susu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَإِنْ أَوْجَبَهَا هَدْيًا وَهُوَ تامٌّ ثَمَّ عَرَضَ لَهُ نقصٌ وَبَلَغَ الْمَنْسَكَ أَجْزَأَ إِنَّمَا أُنْظِرَ فِي هَذَا كُلِّهِ إِلَى يَوْمٍ يُوجِبُهُ وَيَخْرُجُ مِنْ مَالِهِ إِلَى مَا جَعَلَهُ لَهُ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang mewajibkan hewan hadyu sementara hewan itu masih sempurna, kemudian setelah itu terjadi cacat pada hewan tersebut dan ia telah sampai di tempat manasik, maka itu tetap sah. Dalam semua hal ini, yang dijadikan acuan adalah hari ketika ia mewajibkannya dan hewan itu telah keluar dari hartanya menuju apa yang telah ia tetapkan untuknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا أَوْجَبَ أُضْحِيَّةً سَلِيمَةً مِنَ الْعُيُوبِ فَحَدَثَ بِهَا قَبْلَ نَحْرِهَا مَا يَمْنَعُ مِنِ ابْتِدَاءِ الْأُضْحِيَّةِ بِهَا مِنْ عَوَرٍ أَوْ عَرَجٍ ضَحَّى بِهَا وَأَجْزَأَتْهُ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana jika seseorang telah mewajibkan seekor hewan kurban yang selamat dari cacat, lalu sebelum disembelih terjadi padanya sesuatu yang menghalangi keabsahan kurban, seperti menjadi buta atau pincang, maka ia tetap boleh berkurban dengan hewan tersebut dan itu sudah mencukupinya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ مُوجِبُهَا مِمَّنْ لَا يَلْزَمُهُ الْأُضْحِيَّةَ لِسِفْرٍ أَوْ عُدْمٍ أَجَزْأَهُ وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَلْزَمُهُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْمَقَامِ وَالْيَسَارِ لَمْ يَجُزِهِ لِأَنَّ النَّقْصَ فِي الْوَاجِبِ مَرْدُودٌ كَالْمَعِيبِ فِي الزِّكْوَاتِ وَفِي الْمَشْهُورِ تُجْزِئُ كَالْعَيْبِ فِي الصَّدَقَاتِ

Abu Hanifah berkata, “Jika yang mewajibkannya adalah orang yang tidak wajib berkurban karena sedang safar atau tidak mampu, maka kurbannya sah. Namun jika yang mewajibkannya adalah orang yang wajib berkurban karena bermukim dan mampu, maka tidak sah, karena kekurangan dalam perkara wajib itu tertolak seperti cacat pada zakat. Menurut pendapat yang masyhur, kurban tersebut tetap sah seperti cacat pada sedekah.”

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَوْجَبْتُ أُضْحِيَّةً وَقَدْ أَصَابَهَا عورٌ فَقَالَ ضَحِّ بِهَا فَلَمَّا أَمَرَهُ بِذَبْحِهَا وَلَمْ يَأْمُرْهُ بِالْإِعَادَةِ دَلَّ عَلَى إِجْزَائِهَا

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mewajibkan kurban, namun hewan itu terkena cacat mata.” Maka beliau bersabda, “Sembelihlah ia.” Ketika beliau memerintahkannya untuk menyembelih hewan itu dan tidak memerintahkannya untuk mengulanginya, hal itu menunjukkan bahwa kurban tersebut sah.

وَلِأَنَّهُ خَرَجَ مِنْ مِلْكِهِ عَلَى صِفَةِ الْإِجْزَاءِ فَلَمْ يَمْنَعْ حُدُوثُ نَقْصِهِ مِنَ الْإِجْزَاءِ كَالْعِتْقِ فِي الْكَفَّارَةِ إِذَا حَدَثَ بَعْدَهُ نَقْصٌ يَمْنَعُ مِنَ الْكَفَّارَةِ كَانَ مُجْزِيًا كَذَلِكَ نَقْصُ الْأُضْحِيَّةِ وَخَالَفَ عَيْبَ الزَّكَاةِ لِوُجُودِهِ عِنْدَ الْإِخْرَاجِ

Karena hewan tersebut telah keluar dari kepemilikannya dalam keadaan sah sebagai pelaksanaan (ibadah), maka terjadinya cacat setelah itu tidak menghalangi keabsahan pelaksanaan, seperti halnya memerdekakan budak untuk kafarat; jika setelah itu terjadi cacat yang menghalangi dari kafarat, tetap dianggap sah. Demikian pula cacat pada hewan kurban. Hal ini berbeda dengan cacat pada zakat, karena cacat tersebut ada saat penyerahan.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا أَوْجَبَ فِي ذِمَّتِهِ أُضْحِيَّةً عَنْ نَذْرٍ ثُمَّ أَوْجَبَهَا فِي شَاةٍ عَيَّنَهَا وَحَدَثَ بِهَا قَبْلَ الذَّبْحِ نَقْصٌ لَمْ يَجُزِهِ الْأُضْحِيَّةُ بِهَا لِأَنَّ سَلَامَةَ مَا تَعَلَّقَ بِالذِّمَّةِ مُسْتَحَقٌّ فِي الذِّمَّةِ تَمْنَعُ حُدُوثَ نَقْصِهِ مِنَ الْإِجْزَاءِ

Adapun jika seseorang mewajibkan atas dirinya untuk berkurban karena nazar, kemudian ia menentukan hewan kurban itu pada seekor kambing tertentu, lalu sebelum disembelih kambing tersebut mengalami cacat, maka tidak sah baginya berkurban dengan kambing itu. Sebab, kesempurnaan hewan yang menjadi tanggungan nazar adalah hak yang harus dipenuhi dalam tanggungan, sehingga terjadinya cacat pada hewan tersebut menghalangi keabsahan kurban dengannya.

وَسَلَامَةُ مَا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِالذِّمَّةِ غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ فِي الذِّمَّةِ فَلَمْ يَمْنَعْ حُدُوثُ نَقْصِهِ مِنَ الْإِجْزَاءِ وَإِذَا لَمْ تُجْزِهِ الْمَعِيبَةُ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُضَحِّيَ بِسَلِيمَةٍ وَلَمْ يَلْزَمْهُ ذَبْحُ الْمَعِيبَةِ لِأَنَّهُ أَوْجَبَهَا لِيُسْقِطَ بِهَا مَا فِي ذِمَّتِهِ فَإِذَا بَطَلَ إِجْزَاؤُهَا بَطَلَ إِيجَابُهَا

Dan keselamatan (dari cacat) pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), yang bukan merupakan kewajiban dalam dzimmah, maka terjadinya kekurangan padanya tidak menghalangi keabsahan (ibadah). Jika hewan yang cacat tidak sah untuk berkurban, maka wajib baginya berkurban dengan hewan yang sehat, dan ia tidak diwajibkan menyembelih hewan yang cacat itu, karena ia mewajibkan kurban tersebut untuk menggugurkan kewajiban yang ada dalam dzimmahnya. Maka jika keabsahan (kurban) hewan cacat itu batal, maka kewajiban menyembelihnya pun batal.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ أَوْجَبَهُ نَاقِصًا ذَبَحَهُ وَلَمْ يُجْزِهِ

Syafi‘i berkata: “Jika seseorang mewajibkannya dalam keadaan kurang, lalu ia menyembelihnya, maka tidak sah baginya.”

قَالَ الماوردي وهذا كما قال إذ ابْتَدَأَ إِيجَابَ أُضْحِيَّةٍ نَاقِصَةٍ وَجَبَتْ وَلَمْ تَكُنْ أُضْحِيَّةً لِأَنَّ نَقْصَهَا يَمْنَعُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ وَإِيجَابَهَا يُوجِبُ ذَبْحَهَا وَأَنْ يَسْلُكَ بِهَا مَسْلَكَ الْأُضْحِيَّةِ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang telah dikatakan, yaitu ketika seseorang memulai mewajibkan kurban yang cacat, maka kurban itu menjadi wajib, namun tidak dianggap sebagai kurban, karena cacatnya menghalangi keabsahan kurban. Namun, kewajiban tersebut mewajibkan untuk menyembelihnya dan memperlakukannya seperti kurban karena dua hal.”

أَحَدُهُمَا إنَّهُ قَدْ أَخْرَجَهَا عَنْ مِلْكِهِ بِالْإِيجَابِ فَلَمْ تَعُدْ إِلَيْهِ

Salah satunya adalah bahwa ia telah mengeluarkannya dari kepemilikannya dengan ijāb, sehingga tidak kembali lagi kepadanya.

وَالثَّانِي إنَّهُ بِمَثَابَةِ مَنْ أَعْتَقَ عَبْدًا مَعِيبًا عَنْ كَفَّارَتِهِ لَمْ يُجْزِهِ عَنْهَا وَلَمْ يَعُدْ إِلَى رِقِّهِ بَعْدَ الْعِتْقِ فَلَوْ أَوْجَبَهَا نَاقِصَةً فَلَمْ يَذْبَحْهَا حَتَّى زَالَ نَقْصُهَا فَفِي كَوْنِهَا أُضْحِيَّةً قَوْلَانِ

Kedua, hal itu seperti seseorang yang memerdekakan budak cacat sebagai tebusan kafaratnya; maka hal itu tidak sah sebagai kafarat baginya, dan budak tersebut tidak kembali menjadi budak setelah dimerdekakan. Jika seseorang mewajibkan hewan kurban yang cacat, lalu ia belum menyembelihnya hingga cacatnya hilang, maka dalam status hewan tersebut sebagai udhiyah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ وَبَعْضِ الْقَدِيمِ لَا تَكُونُ أُضْحِيَّةً اعْتِبَارًا بِحَالِ إِيجَابِهَا وَإِنْ لَزِمَهُ ذَبْحُهَا كَمَنْ أَعْتَقَ عَنْ كَفَّارَتِهِ عَبْدًا مَعِيبًا فَزَالَ عَيْبُهُ بَعْدَ عِتْقِهِ لَمْ يُجْزِهِ عَنْ كَفَّارَتِهِ وَإِنْ عَادَ إِلَى سَلَامَتِهِ

Salah satu pendapat beliau, yang dinyatakan dalam karya terbaru dan sebagian karya lama, adalah bahwa hewan tersebut tidak menjadi hewan kurban, dengan mempertimbangkan keadaan saat ia diwajibkan. Meskipun ia tetap wajib menyembelihnya, seperti seseorang yang memerdekakan budak cacat sebagai tebusan kafarat, lalu cacatnya hilang setelah dimerdekakan, maka itu tidak mencukupi untuk kafaratnya, meskipun budak tersebut kembali sehat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي فِي الْقَدِيمِ إنَّهَا تَكُونُ أُضْحِيَّةً مُجْزِيَةً لِأَنَّهَا مَا وَصَلَتْ إِلَى الْمَسَاكِينِ إِلَّا سَلِيمَةً وَلَوْ أَوْجَبَهَا وَهِيَ مَعِيبَةٌ عَنْ أُضْحِيَّةٍ فِي الذِّمَّةِ بَطَلَ إِيجَابُهَا لِعَدَمِ إِجْزَائِهَا وَلَمْ يَلْزَمْ ذَبْحُهَا لِبُطْلَانِ إِيجَابِهَا فَلَوْ عَادَتْ إِلَى حَالِ السَّلَامَةِ لَمْ يَصِحَّ مَا تَقَدَّمَ مِنْ إِيجَابِهَا حَتَّى يَسْتَأْنِفَهُ بعد السلامة قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ ضَلَّتْ بَعْدَ مَا أَوْجَبَهَا فَلَا بَدَلَ وَلَيْسَتْ بِأَكْثَرَ مِنْ هَدْيِ التَّطَوُّعِ يُوجِبُهُ صَاحِبُهُ فَيَمُوتُ وَلَا يَكُونُ عَلَيْهِ بدلٌ

Pendapat kedua dalam masalah ini adalah bahwa hewan tersebut tetap menjadi hewan kurban yang sah, karena dagingnya tidak sampai kepada para miskin kecuali dalam keadaan selamat. Jika seseorang mewajibkan hewan kurban yang cacat sebagai kurban dalam tanggungan, maka kewajiban tersebut batal karena tidak sah sebagai kurban, dan ia tidak wajib menyembelihnya karena batalnya kewajiban tersebut. Jika hewan itu kembali sehat, maka penetapan kewajiban sebelumnya tidak sah sampai ia menetapkannya kembali setelah hewan itu sehat. Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika hewan itu hilang setelah ia wajibkan, maka tidak ada pengganti, dan itu tidak lebih dari hewan hadyu tathawwu‘ (kurban sunnah) yang diwajibkan oleh pemiliknya, lalu ia meninggal dunia, maka tidak ada pengganti atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا أَوْجَبَ أُضْحِيَّةً فَضَلَّتْ مِنْهُ فَلَا يَخْلُو أَنْ تَضِلَّ بِتَفْرِيطٍ مِنْهُ أَوْ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ فَإِنْ ضَلَّتْ بِتَفْرِيطٍ منه في حفظها فعليه فَإِنْ مَاتَتْ ضَمِنَهَا فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَجِدُهَا بَعْدَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَلَا يَجِدُهَا فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ لَزِمَهُ بَدَلُهَا فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْتَظِرَهَا بَعْدَ فَوَاتِ زَمَانِهَا فَإِذَا وَجَدَهَا بَعْدَ فَوَاتِ الزَّمَانِ لَزِمَهُ أَنْ يُضَحِّيَ بِهَا فَيَصِيرُ بِالتَّفْرِيطِ مُلْتَزِمًا الْأُضْحِيَّتَيْنِ وَإِنْ ضَلَّتْ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ مِنْهُ فِي حِفْظِهَا فَلَا تَخْلُو مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang mewajibkan kurban lalu hewan kurbannya hilang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: hilang karena kelalaiannya dalam menjaga atau tanpa kelalaiannya. Jika hilang karena kelalaiannya dalam menjaga, maka ia bertanggung jawab; jika hewan itu mati, ia wajib menggantinya. Jika ia mengetahui bahwa ia akan menemukannya setelah hari-hari tasyriq dan tidak menemukannya pada hari-hari tasyriq, maka ia wajib menggantinya pada hari-hari tasyriq dan tidak boleh menunggu hingga lewat waktunya. Jika ia menemukannya setelah lewat waktunya, maka ia wajib menyembelihnya juga, sehingga karena kelalaiannya ia menjadi wajib melaksanakan dua kurban. Namun, jika hewan kurban itu hilang tanpa kelalaiannya dalam menjaga, maka ada tiga keadaan yang mungkin terjadi.

أَحَدُهَا أَنْ تَضِلَّ قَبْلَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ لِأَنَّهَا فِي يَدِهِ أَمَانَةٌ لَا تُضْمَنُ إِلَّا بِالْعُدْوَانِ

Salah satunya adalah jika hewan hadyu itu hilang sebelum hari-hari tasyriq, yaitu permasalahan yang disebutkan dalam kitab. Maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya, karena hewan itu berada di tangannya sebagai amanah yang tidak wajib diganti kecuali jika terjadi pelanggaran.

وَلِأَنَّهُ لَيْسَ ضَلَالُهَا بِأَكْثَرَ مِنْ مَوْتِهَا وَهُوَ لَا يَضْمَنُهَا بِالْمَوْتِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَضْمَنَهَا بِالضَّلَال ثُمَّ يُنْظَرُ فَإِنْ كَانَ لِطَلَبِهَا مَؤُونَةٌ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ طَلَبُهَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي طَلَبِهَا مَؤُونَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ طَلَبُهَا لِأَنَّهُ مُؤْتَمَنٌ عَلَيْهَا فِي حُقُوقِ الْمَسَاكِينِ وَإِنْ ضَلَّتْ بِتَفْرِيطٍ كَانَ عَلَيْهِ طَلَبُهَا بِمَؤُونَةٍ وغير مؤونة

Karena hilangnya hewan itu tidak lebih besar bahayanya daripada matinya, sedangkan ia tidak menanggung ganti rugi jika hewan itu mati, maka lebih utama lagi ia tidak menanggung ganti rugi jika hewan itu hilang. Kemudian, perlu dilihat: jika untuk mencari hewan itu ada biaya, maka ia tidak wajib mencarinya; namun jika dalam mencarinya tidak ada biaya, maka ia wajib mencarinya, karena ia adalah orang yang dipercaya atas hak-hak kaum miskin. Jika hewan itu hilang karena kelalaiannya, maka ia wajib mencarinya baik dengan biaya maupun tanpa biaya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ تَضِلَّ مِنْهُ بَعْدَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَعَلَيْهِ ضَمَانُهَا لِأَنَّ تَأْخِيرَ نَحْرِهَا تَفْرِيطٌ مِنْهُ يُوجِبُ عَلَيْهِ الضَّمَانَ إِلَّا أَنْ يُؤَخِّرَهَا لِعُذْرٍ فَلَا يَضْمَنُ

Keadaan kedua adalah jika hewan tersebut hilang darinya setelah hari-hari tasyriq, maka ia wajib menanggung gantinya, karena menunda penyembelihannya merupakan kelalaian darinya yang mewajibkan ia menanggung ganti rugi, kecuali jika ia menundanya karena uzur, maka ia tidak wajib menanggungnya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَضِلَّ مِنْهُ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ بَعْدَ مُضِيِّ بَعْضِهَا وَبَقَاءِ بَعْضِهَا فَهَلْ يَكُونُ ذَلِكَ تَفْرِيطًا مِنْهُ يَلْتَزِمُ بِهِ ضَمَانُهَا أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila hewan kurban itu hilang darinya pada hari-hari tasyrik setelah sebagian hari tersebut berlalu dan sebagian lainnya masih tersisa. Apakah hal itu dianggap sebagai kelalaian darinya sehingga ia wajib menanggung ganti rugi atas hewan tersebut atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَكُونُ تَفْرِيطًا لِبَقَاءِ زَمَانِ النَّحْرِ وَجَوَازِ تَأْخِيرِهَا إِلَيْهِ فَلَمْ يُفَرِّطْ فِيهِ فَعَلَى هَذَا لَا يَضْمَنُهَا وَلَا يَلْزَمُهُ طَلَبُهَا إِنْ كَانَ لَهُ مَؤُوَنَةٌ

Salah satunya adalah tidak dianggap sebagai kelalaian karena masih tersisa waktu penyembelihan dan diperbolehkan menundanya sampai waktu itu, sehingga ia tidak dianggap lalai dalam hal ini. Oleh karena itu, ia tidak menanggung ganti rugi dan tidak wajib mencarinya jika ada biaya yang harus dikeluarkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ تَفْرِيطًا مِنْهُ لِأَنَّ نَحْرَهَا بِدُخُولِ الزَّمَانِ مُسْتَحَقٌّ وَتَأْخِيرُهُ رُخْصَةٌ كَتَأْخِيرِ الْحَجِّ بَعْدَ وُجُودِ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ مُبَاحٌ فَلَوْ مَاتَ قَبْلَ أَدَائِهِ كَانَ فَرْضُهُ مُسْتَقِرًّا فَعَلَى هَذَا يَضْمَنُهَا وَيَلْزَمُهُ طَلَبُهَا بمؤونة وغير مؤونة

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu dianggap sebagai kelalaian darinya, karena menyembelih hewan kurban pada masuknya waktu telah menjadi kewajiban, sedangkan menundanya adalah keringanan, seperti menunda pelaksanaan haji setelah adanya bekal dan kendaraan yang dibolehkan. Maka, jika ia meninggal sebelum melaksanakannya, kewajiban tersebut tetap melekat padanya. Berdasarkan hal ini, ia wajib menggantinya dan tetap berkewajiban untuk menunaikannya, baik dengan biaya maupun tanpa biaya.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ وَجَدَهَا وَقَدْ مَضَتْ أَيَّامُ النَّحْرِ كُلُّهَا صَنَعَ بِهَا كَمَا يَصْنَعُ فِي النَّحْرِ كَمَا لَوْ أَوْجَبَ هَدْيَهَا الْعَامَ وَأَخَّرَهَا إِلَى قابلٍ وَمَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ لوقتٍ فَفَاتَ الْوَقْتُ لَمْ يَبْطُلِ الْإِيجَابُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang menemukan (hewan kurban) setelah seluruh hari-hari penyembelihan telah berlalu, maka ia memperlakukan hewan itu sebagaimana yang dilakukan pada hari-hari penyembelihan. Hal ini seperti seseorang yang mewajibkan hadyu pada tahun ini lalu menundanya hingga tahun berikutnya. Apa yang telah ia wajibkan atas dirinya untuk waktu tertentu, kemudian waktu itu terlewat, maka kewajiban itu tidak gugur.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا وَجَدَ الْأُضْحِيَّةَ الضَّالَّةَ لَزِمَهُ نَحْرُهَا سَوَاءٌ كَانَ قَدْ ضَمِنَهَا بِالتَّفْرِيطِ أَوْ لَمْ يَضْمَنْهَا لِخُرُوجِهَا بِالْإِيجَابِ عَنْ مِلْكِهِ فَإِنْ كَانَتْ أَيَّامُ النَّحْرِ بَاقِيَةً نَحَرَهَا إِجْمَاعًا وَكَانَتْ أَدَاءً لَا قَضَاءَ وَإِنْ نَقَصَتْ أَيَّامُ النَّحْرِ نَحَرَهَا فِي الْحَالِ وَلَمْ يُؤَخِّرْهَا إِلَى انْتِظَارِ مِثْلِهَا فِي الْعَامِ الْمُقْبِلِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَهَا إِلَى الْمَسَاكِينِ فِي الْحَيَاةِ حَتَّى يَنْحَرَهَا

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang menemukan hewan kurban yang hilang, maka wajib baginya untuk menyembelihnya, baik ia telah menanggungnya karena kelalaian maupun tidak menanggungnya, karena hewan tersebut telah keluar dari kepemilikannya dengan adanya kewajiban. Jika hari-hari penyembelihan masih tersisa, maka ia harus menyembelihnya secara ijmā‘ dan itu dianggap sebagai pelaksanaan, bukan qadha. Jika hari-hari penyembelihan telah berlalu, maka ia harus segera menyembelihnya saat itu juga dan tidak menundanya untuk menunggu yang serupa pada tahun berikutnya. Tidak boleh pula ia menyerahkannya kepada orang-orang miskin dalam keadaan hidup sampai ia menyembelihnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً دَفَعَهَا فِي الْحَيَاةِ إِلَى الْمَسَاكِينِ وَلَمْ يَنْحَرْهَا وَإِنْ كَانَتْ مَسْنُونَةً بَطَلَ إِيجَابُهَا وَعَادَتْ بِفَوَاتِ الْوَقْتِ إِلَى مِلْكِهِ

Abu Hanifah berkata: Jika nadzar tersebut wajib, maka ia harus memberikannya kepada orang-orang miskin selama masih hidup dan tidak menyembelihnya. Namun jika nadzar tersebut sunnah, maka kewajibannya batal dan setelah lewat waktunya, harta itu kembali menjadi miliknya.

وَقَالَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ يَنْتَظِرُ بِهَا إِلَى وَقْتِ مِثْلِهَا مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ كَمَا ينتظر بفوات الحج قضائه فِي مِثْلِ وَقْتِهِ

Sebagian fuqaha berpendapat bahwa ia menunggu hingga waktu yang sama pada tahun berikutnya, sebagaimana orang yang luput dari haji menunggu untuk menggantinya pada waktu yang sama di tahun berikutnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا اسْتَحَقَّهُ الْمَسَاكِينُ فِي وَقْتِهِ لَمْ يُسْقِطْ حَقَّهُمْ بِفَوَاتِ وَقْتِهِ كَزَكَاةِ الْفِطْرِ فَبَطَلَ بِهِ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ فِي الْمَسْنُونِ

Dalil kami adalah bahwa apa yang telah menjadi hak para miskin pada waktunya, hak mereka tidak gugur karena lewatnya waktu, seperti zakat fitrah. Dengan demikian, pendapat Abu Hanifah dalam masalah yang disunnahkan menjadi batal karenanya.

وَلِأَنَّ مَا اسْتَحَقَّهُ الْمَسَاكِينُ عَلَى صِفَةٍ لَمْ تَتَغَيَّرْ صِفَتُهُ بِالتَّأْخِيرِ كَزَكَاةِ الْمَالِ فَبَطَلَ بِهِ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ فِي الْوَاجِبِ وَلِأَنَّ مَا اسْتَحَقَّهُ الْمَسَاكِينُ لِوَقْتٍ لَمْ يَجُزْ تَأْخِيرُهُ بِفَوَاتِ الْوَقْتِ كَالنُّذُورِ فَبَطَلَ بِهِ مَذْهَبُ مَنْ أَوْجَبَ تَأْخِيرَهُ إِلَى مِثْلِ وَقْتِهِ

Karena hak yang dimiliki oleh para miskin itu tetap pada sifatnya dan tidak berubah sifatnya dengan penundaan, seperti zakat mal, maka batalah pendapat Abu Hanifah mengenai kewajiban tersebut. Dan karena hak yang dimiliki oleh para miskin untuk waktu tertentu tidak boleh ditunda setelah lewat waktunya, seperti nazar, maka batal pula pendapat orang yang mewajibkan penundaan hingga waktu yang serupa.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ نَحْرِهَا عِنْدَ وُجُودِهَا فَفِي حُكْمِهَا بَعْدَ ذَبْحِهَا وَجْهَانِ

Maka apabila telah tetap kewajiban menyembelihnya ketika hewan itu ada, maka dalam hukum terkait hewan tersebut setelah disembelih terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ إنَّهُ يَسْلُكُ بِهَا بَعْدَ الذَّبْحِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا فِي وَقْتِهَا يَأْكُلُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُهْدِي عَلَى حُكْمِهَا فِي الْأَصْلِ إِذَا ذُبِحَتْ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat jumhur, menyatakan bahwa setelah hewan tersebut disembelih, perlakuannya sama seperti hewan kurban pada waktunya; boleh dimakan, disedekahkan, dan dihadiahkan sesuai dengan hukum asalnya jika disembelih pada hari-hari nahar.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّهَا تَكُونُ لِلْمَسَاكِينِ خَاصَّةً لَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَلَا يَدَّخِرَ لِأَنَّهَا قَدْ خَرَجَتْ بِفَوَاتِ ذَبْحِهَا فِي أَيَّامِ النَّحْرِ مِنَ الْأَدَاءِ إِلَى الْقَضَاءِ فَصَارَتْ حَقًّا لِغَيْرِهِ ثُمَّ لَا يَخْلُو حَالُهَا أَنْ تَكُونَ مَضْمُونَةً بِالتَّفْرِيطِ أَوْ غَيْرَ مَضْمُونَةٍ فَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ مَضْمُونَةٍ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُفَرِّطٍ فَلَيْسَ بِمُلْتَزِمٍ لِغَيْرِهَا وَقَدْ فَعَلَ فِي نَحْرِهَا وَتَفْرِيقِهَا مَا لَزِمَهُ فَإِنْ كَانَتْ مَضْمُونَةً بِالْبَدَلِ لِتَفْرِيطٍ فِيهَا فَلَا يَخْلُو حَالُ بَدَلِهَا بَعْدَ وُجُودِهَا مِنْ أَرْبَعَةِ أَحْوَالٍ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa daging kurban itu khusus untuk para miskin, tidak boleh dimakan atau disimpan, karena ia telah keluar dari kewajiban pelaksanaan menjadi kewajiban qadha disebabkan lewatnya waktu penyembelihan pada hari-hari nahr, sehingga menjadi hak bagi selain dirinya. Kemudian, keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia menjadi tanggungan karena kelalaian atau tidak menjadi tanggungan. Jika tidak menjadi tanggungan karena tidak ada kelalaian, maka ia tidak berkewajiban apa pun selain itu, dan ia telah melakukan apa yang wajib dalam penyembelihan dan pembagiannya. Namun jika menjadi tanggungan dengan pengganti karena ada kelalaian, maka keadaan penggantinya setelah ada pengganti itu tidak lepas dari empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ تَكُونَ فِي ذِمَّتِهِ وَلَمْ يُوجِبْهُ فِي غَيْرِهَا فَتَبْرَأُ ذِمَّتُهُ مِنَ الْبَدَلِ بِوُجُودِهَا كَالْعَبْدِ الْمَغْصُوبِ إِذَا أَبِقَ وَكَانَ الْغَاصِبُ مَأْخُوذًا بِالْقِيمَةِ فَوَجَدَهُ بَرِئَتْ ذِمَّتُهُ مِنَ الْقِيمَةِ بِوُجُودِهِ

Salah satunya adalah apabila tanggungan itu ada dalam jaminannya dan ia tidak mewajibkannya pada selainnya, maka tanggungannya terbebas dari pengganti dengan adanya barang tersebut. Seperti budak yang digasap, apabila ia melarikan diri dan si penggasap diwajibkan membayar nilai, lalu budak itu ditemukan, maka tanggungannya terhadap nilai tersebut menjadi gugur dengan ditemukannya budak itu.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ يَكُونَ قَدْ أَوْجَبَ الْبَدَلَ وَعَيْنَهُ فِي غَيْرِهَا وَهُوَ بَاقٍ وَلَمْ يَذْبَحْهُ فَقَدْ سَقَطَ إِيجَابُ بَدَلِهَا بِوُجُودِهَا وَعَادَ إِلَى مِلْكِهِ كَقِيمَةِ الْمَغْصُوبِ إِذَا أُخِذَتْ ثُمَّ وُجِدَ رُدَّتْ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang telah mewajibkan pengganti dan bendanya pada selainnya, sementara benda itu masih ada dan belum disembelih, maka kewajiban penggantinya gugur karena keberadaannya, dan kembali menjadi miliknya, seperti nilai barang yang dighasab apabila telah diambil lalu ditemukan kembali, maka barang itu dikembalikan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَدَلُهَا قَدْ ذُبِحَ وَفُرِّقَ فِي أَهْلِ الضَّحَايَا قَبْلَ وُجُودِهَا فَيَصِيرُ ذَبْحُ الْبَدَلِ أُضْحِيَّةَ تَطَوُّعٍ وَلَا يَعْتَاضُ عَنِ الْبَدَلِ بِاسْتِبْقَاءِ الْأَصْلِ بَلْ يَذْبَحُهُ بَعْدَ الْبَدَلِ فَيَكُونُ أُضْحِيَّتَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila hewan pengganti telah disembelih dan dagingnya telah dibagikan kepada keluarga para pekurban sebelum hewan aslinya ditemukan, maka penyembelihan hewan pengganti itu menjadi kurban tathawwu‘ (sunnah), dan tidak boleh mengganti hewan pengganti itu dengan tetap mempertahankan hewan aslinya, melainkan ia harus menyembelih hewan aslinya setelah hewan pengganti, sehingga menjadi dua kurban.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَكُونَ الْبَدَلُ وَلَحْمُهُ بَاقِيًا عِنْدَ وُجُودِ الْأَصْلِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Keadaan keempat adalah apabila pengganti dan dagingnya masih ada ketika asalnya juga masih ada, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ لَحْمَ الْبَدَلِ قَدْ صَارَ أُضْحِيَّةً بِالذَّبْحِ فَيَجِبُ أَنْ يَسْلُكَ بِهِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا

Salah satunya adalah bahwa daging hewan pengganti telah menjadi udhiyah dengan penyembelihan, maka wajib diperlakukan sebagaimana hewan-hewan kurban.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي قَدْ زَالَ عَنْهُ حُكْمُ الضَّحَايَا قَبْلَ تَفْرِقَتِهِ كَمَا زَالَ حُكْمُهَا عَنْهُ فِي حَيَاتِهِ فَيَصْنَعُ بِهِ مَا شَاءَ من بيع وغيره

Adapun pendapat kedua, hukum daging kurban telah hilang darinya sebelum dibagikan, sebagaimana hukum tersebut juga telah hilang darinya ketika hewan itu masih hidup. Maka, ia boleh memperlakukan daging itu sesuai kehendaknya, seperti menjualnya atau yang lainnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ أَنَّ مُضَحِّيَيْنِ ذَبَحَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا أُضْحِيَّةَ صَاحِبِهِ ضَمِنَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا مَا بَيْنَ قِيمَةِ مَا ذَبَحَ حَيًّا وَمَذْبُوحًا وَأَجْزَأَ عَنْ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا ضَحِيَّتُهُ وَهَدْيُهُ

Imam Syafi‘i berkata: Jika dua orang yang berkurban masing-masing menyembelih hewan kurban milik temannya, maka masing-masing dari mereka wajib menanggung selisih antara nilai hewan yang disembelih dalam keadaan hidup dan setelah disembelih, dan kurban dari masing-masing mereka tetap sah serta mencukupi untuk masing-masing sebagai kurban dan hadyu-nya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَمُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يَذْبَحَ رَجُلٌ أُضْحِيَّةَ غَيْرِهِ بِغَيْرِ أَمْرِهِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ ذَبْحَهَا يُجْزِئُ عَنْ قُرْبَةِ صَاحِبِهَا يَسْلُكُ بِهَا بَعْدَهُ مَسْلَكَ الضَّحَايَا وَيَكُونُ الذَّابِحُ ضَامِنًا لِنُقْصَانِ ذَبْحِهَا

Al-Mawardi berkata: Permulaan masalah ini adalah apabila seseorang menyembelih hewan kurban milik orang lain tanpa izinnya. Maka menurut mazhab Syafi‘i, penyembelihan itu sah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah bagi pemiliknya, dan setelah itu hewan tersebut diperlakukan sebagaimana hewan kurban pada umumnya. Namun, orang yang menyembelih tetap bertanggung jawab atas kekurangan yang terjadi akibat penyembelihannya.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يُجْزِئُهُ ذَبْحُ غَيْرِهِ وَيَكُونُ لَحْمًا وَعَلَيْهِ أَنْ يُضَحِّيَ بَعْدَهَا

Malik berkata, “Penyembelihan selain hewan kurban tidak mencukupi, dan itu hanya menjadi daging biasa. Maka ia tetap wajib berkurban setelahnya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تُجْزِئُهُ عَنْ أُضْحِيَّتِهِ وَلَا يَرْجِعُ عَلَى الذَّابِحِ نُقْصَانُ ذَبْحِهِ وَبِهِ قَالَ أَبُو ثَوْرٍ وَالَّذِي أَرَاهُ أَوْلَى مِنْ هَذَا الْإِطْلَاقِ فِي الضَّمَانِ أَنْ يَنْظُرَ فِي زَمَانِ الذَّبْحِ فإن كان مُتَّسِعًا ضَمِنَ الذَّابِحِ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَعَيَّنْ ذَبْحُهَا فِي وَقْتِهِ بِبَقَائِهِ بَعْدَ ذَبْحِهِ وَإِنْ ضَاقَ حتى لو يَبْقَ مِنْهُ إِلَّا زَمَانُ الذَّبْحِ لَمْ يَضْمَنِ الذَّابِحُ لِأَنَّهُ قَدْ تَعَيَّنَ ذَبْحُهَا فِي وَقْتِهِ فَأَمَّا مَالِكٌ فَاحْتَجَّ بِأَنَّ الذَّبْحَ قُرْبَةٌ كَالتَّفْرِقَةِ ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّهُ لَوْ فَرَّقَهَا غَيْرُهُ لَمْ يجزه كَذَلِكَ إِذَا ذَبَحَهَا غَيْرُهُ لَمْ تُجْزِهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa hal itu sudah mencukupi sebagai kurbannya dan ia tidak menuntut kepada penyembelih atas kekurangan dalam penyembelihannya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Tsaur. Namun, menurut saya, yang lebih utama dari pernyataan mutlak tentang jaminan (dhamān) adalah melihat pada waktu penyembelihan. Jika waktunya masih luas, maka penyembelih wajib mengganti, karena penyembelihan hewan tersebut belum menjadi ketetapan pada waktunya, sebab masih ada sisa waktu setelah penyembelihan. Namun jika waktunya sudah sempit, bahkan jika yang tersisa hanyalah waktu untuk menyembelih, maka penyembelih tidak wajib mengganti, karena penyembelihan hewan tersebut sudah menjadi ketetapan pada waktunya. Adapun Malik beralasan bahwa penyembelihan adalah suatu bentuk pendekatan diri (qurbah) seperti pembagian daging kurban, dan telah tetap bahwa jika pembagian itu dilakukan oleh orang lain, maka tidak sah baginya; demikian pula jika penyembelihan dilakukan oleh orang lain, maka tidak mencukupi baginya.

وَدَلِيلُنَا أَنَّ مَقْصُودَ الْأُضْحِيَّةِ إِيجَابُهَا فِي حَقِّ الْمَالِكِ وتفرقتها في حق المساكين والذبح تبعاً لَهُمَا يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الْمَقْصُودِ فِي حَقِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَقَدْ وَجَدَ الْمَقْصُودُ أَنْ يَذْبَحَ الْغَيْرُ فَلَمْ يَمْنَعْ مِنَ الْإِجْزَاءِ

Dalil kami adalah bahwa maksud dari udhiyah adalah mewajibkannya atas pemilik (hewan), membagikannya kepada orang-orang miskin, dan penyembelihan adalah mengikuti kedua hal tersebut, yang dengannya dapat dicapai tujuan pada masing-masing dari keduanya. Dan apabila tujuan tersebut telah tercapai dengan disembelih oleh selain pemilik, maka hal itu tidak menghalangi keabsahan (udhiyah).

وَلِأَنَّ الذَّبْحَ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى نِيَّةٍ وَقَصْدٍ لِأَنَّهُ لَوْ ذَبَحَهَا الْمَالِكُ سَهْوًا أَجْزَأَتْ كَذَلِكَ إِذَا ذَبَحَهَا غَيْرُهُ عِنْدَ عَدَمِ قَصْدِهِ وَفِي هَذَيْنِ انفصال

Karena penyembelihan tidak memerlukan niat dan maksud, sebab jika pemiliknya menyembelih hewan itu karena lupa, maka itu tetap sah. Demikian pula jika orang lain yang menyembelihnya tanpa adanya maksud, dan dalam kedua hal ini terdapat perincian.

فصل

Bab

فأما أبو حنيفة رحمه الله فَإِنَّهُ اسْتَدَلَّ عَلَى أَنَّ الذَّابِحَ لَا يَضْمَنُ نُقْصَانَ ذَبْحِهَا لِأَنَّهُ إِرَاقَةُ دَمٍ مَشْرُوعٍ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ ضَمَانٌ كَالْخِتَانَةِ وَقَتْلُ الرِّدَّةِ وَلِأَنَّهَا قُرْبَةٌ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ فِعْلُهَا فَلَمْ يَضْمَنْهَا مَنْ نَابَ عَنْهُ فِيهَا كَسَوْقِ الْهَدْيِ إِلَى مَحَلِّهِ

Adapun Abu Hanifah rahimahullah, beliau berpendapat bahwa penyembelih tidak menanggung kekurangan dari sembelihannya, karena itu merupakan penumpahan darah yang disyariatkan sehingga tidak ada tanggungan atasnya, seperti khitan dan hukuman mati bagi orang murtad. Selain itu, penyembelihan adalah bentuk ibadah yang wajib dilakukan olehnya, sehingga orang yang mewakilinya dalam hal itu pun tidak menanggungnya, seperti membawa hewan hadyu ke tempatnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا ضُمِنَ فِي غَيْرِ الْأُضْحِيَّةِ ضُمِنَ فِي الْأُضْحِيَّةِ كَاللَّحْمِ وَلِأَنَّ مَا ضُمِنَ لَحْمُهُ ضُمِنَ ذَبْحُهُ كَغَيْرِ الْأُضْحِيَّةِ

Dalil kami adalah bahwa apa yang wajib diganti pada selain hewan kurban, maka wajib pula diganti pada hewan kurban, seperti dagingnya. Dan karena apa yang wajib diganti dagingnya, maka wajib pula diganti penyembelihannya, sebagaimana pada selain hewan kurban.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْخِتَانَةِ فَهُوَ أَنَّهَا مَا أَحْدَثَتْ نَقْصًا وَلَوْ أَحْدَثَتْهُ ضَمِنَ كَذَلِكَ الْأُضْحِيَّةَ لَوْ لَمْ تُحْدِثْ نَقْصًا لَمْ تَضْمَنْ فإذا أحدثه ضَمِنَ وَالْمُرْتَدُّ لَا يَضْمَنُ بِغَيْرِ الْعَقْلِ فَلَمْ يَضْمَنْ بِالْقَتْلِ وَالْأُضْحِيَّةُ تُضَمَّنُ بِغَيْرِ الذَّبْحِ فَضُمِّنَتْ بِالذَّبْحِ

Adapun jawaban atas qiyās yang menyamakan (kasus ini) dengan khitān adalah bahwa khitān tidak menimbulkan kekurangan, dan seandainya menimbulkan kekurangan, maka (pelakunya) wajib menanggung, demikian pula pada udhiyah; jika tidak menimbulkan kekurangan, maka tidak wajib menanggung, tetapi jika menimbulkan kekurangan, maka wajib menanggung. Sedangkan murtad tidak wajib menanggung kecuali dengan diyat, maka tidak wajib menanggung karena pembunuhan. Sementara udhiyah wajib diganti meskipun bukan karena penyembelihan, maka wajib pula diganti karena penyembelihan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى سَوْقِ الْهَدْيِ فَهُوَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ لَمْ يُحْدِثْ نَقْصًا وَلَوْ عَطَبَ فِي يَدِهِ ضَمِنَ

Adapun jawaban atas qiyās yang disamakan dengan membawa hadyu adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa ia tidak menimbulkan kekurangan, dan seandainya rusak di tangannya, maka ia wajib menggantinya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا وَكَانَ لِلْمُضَحِّيَيْنِ أُضْحِيَّتَانِ فَذَبَحَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أُضْحِيَّةَ صَاحِبِهِ بِغَيْرِ أَمْرِهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jika telah tetap apa yang telah kami jelaskan, dan dua orang yang berkurban masing-masing memiliki satu hewan kurban, lalu masing-masing dari mereka menyembelih hewan kurban milik temannya tanpa seizinnya, maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُفَرِّقَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَحْمَ ذَبِيحَتِهِ فَلَا يُجْزِئُهُ عَنْ نَفْسِهِ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا وَلَا يُجْزِئُ عَنْ صَاحِبِهَا لِأَنَّهُ مَا قَامَ بِمَا عَلَيْهِ فِيهَا وَيَضْمَنُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ قِيمَةَ أُضْحِيَّتِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنَّهُمَا يَتَقَاسَمَانِ الْقِيمَةَ لِخُرُوجِهَا عَنْ مِلْكِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْإِيجَابِ وَفِي الْقِيمَةِ وَجْهَانِ

Salah satu dari keduanya adalah masing-masing dari mereka membagikan daging hewan kurbannya, maka itu tidak sah untuk dirinya sendiri karena ia tidak memilikinya, dan tidak sah pula untuk temannya karena ia tidak melaksanakan kewajiban yang ada padanya. Masing-masing dari mereka wajib mengganti kepada temannya nilai hewan kurbannya, dan tidak boleh keduanya membagi nilai tersebut karena telah keluar dari kepemilikan masing-masing dari mereka dengan akad ijab. Dalam hal nilai tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الجمهور إن يَضْمَنُ قِيمَتَهَا قَبْلَ الذَّبْحِ وَهِيَ حَيَّةٌ كَالْجَانِي

Salah satu pendapat, yaitu pendapat jumhur, adalah bahwa ia wajib menanggung nilainya sebelum disembelih dan ketika hewan itu masih hidup, seperti halnya pelaku pelanggaran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أبي هريرة أنه يضمن أكثر الأمرين من قِيمَتِهَا وَهِيَ حَيَّةٌ أَوْ قِيمَةِ لَحْمِهَا بَعْدَ الذَّبْحِ لِتَعَدِّيهِ بِالتَّفْرِقَةِ كَتَعَدِّيهِ بِالذَّبْحِ وَهُوَ عِنْدِي أَصَحُّ فَإِذَا أَخَذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا قِيمَةَ أُضْحِيَّتِهِ صَرَفَهَا فِي مِثْلِهَا وَكَانَ فِي فَضْلِهَا وَنُقْصَانِهَا عَلَى مَا ذَكَرْنَا وَيَكُونُ أَرْشُ الذَّبْحِ دَاخِلًا فِي ضَمَانِ الْقِيمَةِ فَسَقَطَ بِهَا

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa ia wajib menanggung ganti rugi dengan nilai yang lebih besar antara dua hal: nilai hewan tersebut ketika masih hidup atau nilai dagingnya setelah disembelih, karena ia telah melampaui batas dengan memisahkan (bagian hewan), sebagaimana ia melampaui batas dengan menyembelihnya. Menurut saya, pendapat ini lebih shahih. Maka, apabila masing-masing dari mereka telah menerima nilai kurbannya, hendaknya ia membelanjakannya untuk membeli hewan sejenis, dan kelebihan atau kekurangannya berlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun kompensasi atas penyembelihan termasuk dalam tanggungan nilai, sehingga gugur dengannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ لَحْمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَاقِيًا فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يَأْخُذَ لَحْمَ أُضْحِيَّتِهِ وَلَا يَجُوزَ أَنْ يَتَبَادَلَا بِاللَّحْمِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ صَرْفُهُ إِلَّا فِي مَسْلَكِ الضَّحَايَا وَيَرْجِعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ بِأَرْشِ الذَّبْحِ وَفِي مَصْرِفِ هَذَا الْأَرْشِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Jenis kedua adalah apabila daging masing-masing dari keduanya masih ada, maka masing-masing dari mereka boleh mengambil daging hewan kurbannya sendiri dan tidak boleh saling menukar daging, karena tidak boleh memanfaatkannya kecuali pada jalur kurban. Masing-masing dari mereka dapat menuntut kepada temannya atas ganti rugi penyembelihan, dan dalam penyaluran ganti rugi ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهُا أَنْ يَكُونَ لِلْمُضَحِّي خَاصَّةً لِأَنَّ حَقَّ الْمَسَاكِينِ فِي عَيْنِ الْأُضْحِيَّةِ وَلَيْسَ هَذَا الْأَرْشُ مِنْهَا

Salah satunya adalah bahwa daging kurban itu khusus untuk orang yang berkurban saja, karena hak para miskin terdapat pada hewan kurban itu sendiri, sedangkan ganti rugi (arsh) ini bukan bagian darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ لِلْمَسَاكِينِ خَاصَّةً لِأَنَّهُ لَيْسَ لِلْمُضَحِّي مِنْهَا إِلَّا مَا يَأْكُلُهُ مِنْ لَحْمِهَا وَلَيْسَ هَذَا الْأَرْشُ مِنْهَا

Pendapat kedua adalah bahwa (denda) itu khusus untuk para miskin, karena tidak ada bagian dari hewan kurban tersebut untuk orang yang berkurban kecuali apa yang ia makan dari dagingnya, sedangkan uang ganti rugi ini bukan bagian dari hewan kurban tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنْ يَسْلُكَ بِهِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا لِاسْتِفَادَتِهِ منها

Pendekatan yang ketiga adalah memperlakukannya seperti hewan kurban (dhahāyā) untuk dapat mengambil manfaat darinya.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فَإِذَا ذَبَحَ لَيْلًا أَجْزَأَهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang menyembelih pada malam hari, maka itu sudah mencukupi.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ ذَبْحُ الْأُضْحِيَّةِ لَيْلًا مَكْرُوهٌ لنهي النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الذَّبْحِ لَيْلًا وَلِأَنَّهُ رُبَّمَا أَخْطَأَ مَحَلَّ ذَبْحِهَا بِظُلْمَةِ اللَّيْلِ وَلِأَنَّهُ يَصِيرُ مُسْتَتِرًا بِهَا وَالْمُظَاهَرَةُ بِهَا أَوْلَى وَلِأَنَّهُ رُبَّمَا أَعْوَذَهُ الْمَسَاكِينُ فِي اللَّيْلِ وَلِأَنَّهُ رُبَّمَا تَغَيَّرَ اللَّحْمُ إِذَا استبقى إلى النهار وصل فَلِهَذِهِ الْمَعَانِي كَرِهْنَا ذَبْحَهَا فِي اللَّيْلِ فَإِنْ ذَبَحَهَا فِيهِ أَجْزَأَهُ

Al-Mawardi berkata, menyembelih hewan kurban pada malam hari hukumnya makruh karena Nabi ﷺ melarang penyembelihan pada malam hari, dan karena bisa jadi seseorang salah mengenai tempat penyembelihan akibat gelapnya malam, serta karena hal itu menjadi tersembunyi padahal menampakkannya lebih utama, juga karena bisa jadi orang-orang miskin sulit mendatanginya pada malam hari, dan karena dagingnya mungkin berubah jika disimpan hingga siang hari. Oleh karena alasan-alasan ini, kami memakruhkan penyembelihan hewan kurban pada malam hari. Namun, jika ia tetap menyembelihnya pada malam hari, maka kurbannya tetap sah.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يُجْزِئُهُ لِمَا قَدَّمْنَاهُ وَلِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ فَخَصَّ الْأَيَّامَ بِهَا دُونَ اللَّيَالِي

Malik berkata: “Itu tidak mencukupi, karena alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya dan berdasarkan firman Allah Ta‘ala: ‘Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak.’ Maka Allah secara khusus menyebut hari-hari tersebut, bukan malam-malamnya.”

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَالبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ولم يفرق بين الليل النهار فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِيهَا وَلِأَنَّهُ مِنْ زَمَانِ النَّحْرِ فَجَازَتِ الْأُضْحِيَّةُ فِيهِ كَالنَّهَارِ وَلِأَنَّهُ أَحَدُ مَقْصُودِي الْأُضْحِيَّةِ فَجَازَ لَيْلًا كَالتَّفْرِقَةِ

Dalil kami adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syi‘ar Allah, bagi kalian terdapat kebaikan di dalamnya.” Allah tidak membedakan antara malam dan siang, maka hukumnya tetap umum mencakup keduanya. Karena waktu tersebut masih termasuk waktu penyembelihan, maka berkurban pada waktu malam pun diperbolehkan sebagaimana pada waktu siang. Selain itu, malam juga merupakan salah satu tujuan dari pelaksanaan kurban, sehingga diperbolehkan melakukannya pada malam hari sebagaimana diperbolehkan membagikan daging kurban pada malam hari.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَهُوَ أَنَّ اللَّيَالِيَ تَبَعٌ لِلْأَيَّامِ وَالنَّهْيُ مَحْمُولٌ عَلَى الْكَرَاهَةِ كَمَا نَهَى عَنْ جداد الثمار في الليل ما يصنع بلحم الأضحية من حيث الإدخار والأكل والطعام والإهداء

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut adalah bahwa malam-malam itu mengikuti siang hari, dan larangan tersebut dimaknai sebagai makruh, sebagaimana larangan memanen buah-buahan pada malam hari, seperti halnya perlakuan terhadap daging kurban dalam hal penyimpanan, makan, makanan, dan pemberian hadiah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَالضَّحِيَّةُ نسكٌ مأذونٌ فِي أَكْلِهِ وَإِطْعَامِهِ وَادِّخَارِهِ

Imam Syafi‘i berkata, “Adh-dhahiyah (hewan kurban) adalah ibadah yang diperbolehkan untuk dimakan, dibagikan, dan disimpan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا فَحُكْمُهَا فِي جَمِيعِ مَا قَدَّمْنَاهُ سَوَاءٌ وَإِنَّمَا يَخْتَلِفَانِ فِي الْمَحِلِّ فَمَحِلُّ الْهَدْيِ الْحَرَمُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَمَحِلُّ الضَّحَايَا فِي بَلَدِ الْمُضَحِّي وَهَلْ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ ذَبْحُهَا فِيهِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ مُخَرَّجَيْنِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي تَفْرِيقِ الزَّكَاةِ فِي غَيْرِ بَلَدِ الْمَالِكِ هَلْ يُجْزِئُ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Adapun kurban (adh-hiyah) dan hadyu, hukumnya dalam semua hal yang telah kami sebutkan sebelumnya adalah sama. Keduanya hanya berbeda pada tempat pelaksanaannya. Tempat penyembelihan hadyu adalah di Tanah Haram, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kemudian tempat penyembelihannya adalah di Baitul ‘Atiq (Ka‘bah).” Sedangkan tempat penyembelihan kurban adalah di negeri orang yang berkurban. Apakah wajib baginya menyembelih kurban di negerinya atau tidak? Ada dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i tentang penyaluran zakat di luar negeri pemilik harta, apakah sah atau tidak? Dalam hal ini juga terdapat dua pendapat.

فَإِنْ قِيلَ لَا تُجْزِئُ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ ذَبْحُ الْأُضْحِيَّةِ فِي بَلَدِهِ فَإِنْ ذَبَحَهَا فِي غَيْرِ بَلَدِهِ لَمْ يُجْزِهِ

Jika dikatakan bahwa tidak sah, maka wajib baginya menyembelih hewan udhiyah di negerinya; jika ia menyembelihnya di selain negerinya, maka itu tidak sah baginya.

وَإِنْ قِيلَ تَفْرِيقُهَا فِي غَيْرِ بَلَدِهِ يُجْزِئُ لَمْ يَتَعَيَّنْ عَلَيْهِ ذَبْحُ الْأُضْحِيَّةِ فِي بَلَدِهِ وَكَانَ ذَبْحُهَا فِي بَلَدِهِ أَفْضَلَ وَفِي غَيْرِ بَلَدِهِ جَائِزٌ

Jika dikatakan bahwa membagikan dagingnya di selain negerinya itu sah, maka tidak wajib baginya untuk menyembelih hewan kurban di negerinya, dan menyembelihnya di negerinya lebih utama, sedangkan di selain negerinya itu boleh.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا بَعْدَ الْإِيجَابِ إِيجَابُهَا أَنْ تَكُونَ عَنْ نَذْرٍ أَوْ تَطَوُّعٍ فَأَمَّا التَّطَوُّعُ فَهُوَ مَا ابْتَدَأَ إِيجَابَهُ فَقَالَ قَدْ جَعَلْتُ هَذِهِ الْبَدَنَةَ أُضْحِيَّةً فَيَجِبُ أَنْ يَذْبَحَهَا فِي أَيَّامِ النَّحْرِ وَكَذَلِكَ الْهَدْيُ ثُمَّ يَسْلُكُ بِهَا مَسْلَكَ الْأُضْحِيَّةِ وَذَلِكَ مُشْتَمِلٌ عَلَى أَرْبَعَةِ أَحْكَامٍ أَحَدُهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَالثَّانِي أَنْ يُطْعِمَ الْفُقَرَاءَ وَالثَّالِثُ أَنْ يُهْدِيَ إِلَى الْأَغْنِيَاءِ وَالرَّابِعُ أَنْ يَدَّخِرَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالْمُعْتَر فَنَصَّ فِي هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ عَلَى أَكْلِهِ وَإِطْعَامِ الْفُقَرَاءِ وَمُهَادَاةِ الأغنياء القول في ادخار لحوم الأضاحي

Setelah penjelasan ini dipahami, maka keadaannya setelah adanya iltizam (komitmen) tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi karena nazar atau karena tathawwu‘ (sukarela). Adapun tathawwu‘ adalah ketika seseorang memulai iltizam dengan mengatakan, “Aku jadikan hewan ini sebagai udhiyah (hewan kurban),” maka wajib baginya untuk menyembelihnya pada hari-hari nahr (penyembelihan), demikian pula halnya dengan hadyu (hewan yang disembelih dalam ibadah haji), kemudian ia memperlakukannya sebagaimana udhiyah. Hal ini mencakup empat hukum: pertama, ia boleh memakan sebagian dagingnya; kedua, memberi makan kepada fakir miskin; ketiga, menghadiahkan kepada orang-orang kaya; dan keempat, menyimpannya. Allah Ta‘ala berfirman: “Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang rela dengan apa yang ada dan orang yang meminta.” Maka dalam ayat ini disebutkan tiga hukum: memakannya, memberi makan fakir miskin, dan menghadiahkan kepada orang-orang kaya. Adapun pembahasan tentang menyimpan daging kurban…

وَأَمَّا الِادِّخَارُ فَالْأَصْلُ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَفَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الْأَضْحَى فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ ادَّخِرُوا الثُّلُثَ وَتَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ قَالَتْ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَقَدْ كَانَ النَّاسُ يَنْتَفِعُونَ بِضَحَايَاهُمْ يَحْمِلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ وَيَتَّخِذُونَ مِنْهَا الْأَسْقِيَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَمَا ذَاكَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَهَيْتَ عَنِ اقْتِنَاءِ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثلاثٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَادَّخِرُوا فَاشْتَمَلَ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى تَحْرِيمِ ادِّخَارِ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ لِأَجَلِ الدَّافَّةِ ثُمَّ عَلَى إِبَاحَةِ الِادِّخَارِ بَعْدَ الدَّافَّةِ وَالدَّافَّةُ النَّازِلَةُ يُقَالُ دَفَّ الْقَوْمُ مَوْضِعَ كَذَا إِذَا نَزَلُوا فِيهِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مَعْنَى هَذَا النَّهْيِ وَالْإِبَاحَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun mengenai penyimpanan daging kurban, dasar hukumnya adalah riwayat yang dibawakan oleh asy-Syafi‘i dari Malik, dari ‘Abdullah bin Abi Bakr, dari ‘Amrah binti ‘Abdurrahman, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Sekelompok orang dari penduduk pedalaman datang pada waktu Idul Adha di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: “Simpanlah sepertiganya dan bersedekahlah dengan sisanya.” Ia berkata: Setelah itu, dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dulu orang-orang memanfaatkan daging kurban mereka, mereka membawa lemaknya dan membuat wadah dari kulitnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa itu?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, engkau telah melarang menyimpan daging kurban setelah tiga hari.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku melarang kalian karena adanya rombongan yang datang, maka sekarang makanlah, bersedekahlah, dan simpanlah.” Hadis ini mencakup larangan menyimpan daging kurban setelah tiga hari karena adanya rombongan yang datang, kemudian membolehkan penyimpanan setelah rombongan itu pergi. Adapun “dāffah” adalah rombongan yang datang; dikatakan “dafqa al-qawmu mawdi‘a kadza” jika mereka turun di suatu tempat. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai makna larangan dan kebolehan ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ نَهْيُ تَحْرِيمٍ عَلَى الْعُمُومِ فِي الْمَدِينَةِ الَّتِي دَفَّ الْبَادِيَةُ إِلَيْهَا وَفِي غَيْرِهَا حُرِّمَ بِهِ ادِّخَارُ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ فِي جَمِيعِ الْبِلَادِ وَعَلَى جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَكَانَتِ الدَّافَّةُ سَبَبًا لِلتَّحْرِيمِ وَلَمْ تَكُنْ عِلَّةً لِلتَّحْرِيمِ ثُمَّ وَرَدَتِ الْإِبَاحَةُ بَعْدَهَا نَسْخًا لِلتَّحْرِيمِ فَعَمِلَ جَمِيعُ الصَّحَابَةِ بِالنَّسْخِ إِلَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِنَّهُ بَقِيَ عَلَى حُكْمِ التَّحْرِيمِ فِي الْمَنْعِ مِنِ ادِّخَارِهَا بَعْدَ ثَلَاثٍ وَلَمْ يَحْكُمْ بِالنَّسْخِ لِأَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُ

Salah satunya adalah bahwa larangan tersebut merupakan larangan tahrim (pengharaman) secara umum di Madinah, yaitu kota yang didatangi oleh orang-orang Badui, dan juga di tempat lain. Dengan larangan itu, diharamkan menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari di seluruh negeri dan atas seluruh kaum Muslimin. Kedatangan orang-orang (dāffah) menjadi sebab pengharaman, namun bukan merupakan ‘illat (alasan hukum) pengharaman. Kemudian datanglah kebolehan setelahnya sebagai nasakh (penghapusan hukum) terhadap pengharaman tersebut. Maka seluruh sahabat pun mengamalkan nasakh itu, kecuali Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, karena beliau tetap berpegang pada hukum pengharaman dalam hal larangan menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari dan tidak menetapkan adanya nasakh, karena beliau tidak mendengarnya.

وَقَدْ رَوَى الشَّافِعِيِّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثَةٍ ثُمَّ قَالَ كُلُوا وَتَزَوَّدُوا وَادَّخِرُوا فَعَلَى هَذَا إِذَا دَفَّ قَوْمٌ إِلَى بَلَدٍ مِنْ فَاقَةٍ لَمْ يُحَرَّمِ ادِّخَارُهُمْ لُحُومَ الْأَضَاحِيِّ لِاسْتِقْرَارِ النَّسْخِ

Syafi‘i meriwayatkan dari Malik, dari Abu az-Zubair, dari Jabir bahwa Nabi ﷺ melarang memakan daging hewan kurban setelah tiga hari, kemudian beliau bersabda, “Makanlah, bawalah sebagai bekal, dan simpanlah.” Berdasarkan hal ini, jika suatu kaum datang ke sebuah negeri karena kelaparan, maka tidak diharamkan bagi mereka menyimpan daging hewan kurban, karena larangan tersebut telah dinasakh.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ نَهْيُ تَحْرِيمٍ خَاصٍّ لِمُعَيَّنٍ حَادِثٍ اخْتَصَّ بِالْمَدِينَةِ وَمَنْ فِيهَا دُونَ غَيْرِهِمْ لنزول الدافة عليهم وكانت الدافة علة لتحريم ثُمَّ ارْتَفَعَ التَّحْرِيمُ بِارْتِفَاعِ مُوجِبِهِ وَكَانَتْ إِبَاحَةُ الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِخْبَارًا عَنِ السَّبَبِ وَلَمْ تَكُنْ نَسْخًا فَعَلَى هَذَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا إِذَا حَدَثَ مِثْلُهُ فِي زماننا قذف ناس إلى لفاقة فَهَلْ يَحْرُمُ عَلَى أَهْلِهِ ادِّخَارُ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ لِأَجْلِهِمْ لِوُجُودِ عِلَّةِ التَّحْرِيمِ كَمَا حَرُمَ عَلَيْهِمْ بالمدينة في عهد الرسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا يُحَرَّمُ عَلَيْهِمْ لوجود علة التحريم كما حرم عليهم بالمدينة في عهد الرسول اللَّهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُحَرَّمُ لِأَنَّ التَّعْلِيلَ بِالدَّافَّةِ كَانَ لِزَمَانٍ عَلَى صِفَةٍ فَصَارَ مَقْصُورًا عَلَيْهِ

Pendapat kedua adalah bahwa larangan tersebut merupakan larangan tahrīm yang bersifat khusus untuk peristiwa tertentu yang terjadi di Madinah dan hanya berlaku bagi penduduk Madinah serta orang-orang yang ada di dalamnya, tidak untuk selain mereka, karena datangnya kelompok orang yang membutuhkan kepada mereka. Kelompok tersebut menjadi ‘illat (alasan) bagi pelarangan, kemudian pelarangan itu dihapuskan dengan hilangnya sebabnya. Dan kebolehan yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berupa penjelasan tentang sebabnya, bukan merupakan nasakh (penghapusan hukum). Berdasarkan hal ini, para ulama kami berbeda pendapat apabila terjadi hal serupa di zaman kita, yaitu jika sekelompok orang tertimpa kemiskinan, apakah haram bagi penduduk setempat untuk menyimpan daging kurban karena adanya kelompok tersebut, sebagaimana diharamkan bagi penduduk Madinah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau tidak? Ada dua pendapat: salah satunya, haram bagi mereka karena adanya ‘illat pelarangan sebagaimana diharamkan bagi penduduk Madinah pada masa Rasulullah; dan pendapat kedua, tidak haram karena alasan pelarangan dengan sebab kelompok tersebut hanya berlaku pada masa tertentu dengan kondisi tertentu, sehingga hukumnya terbatas pada masa itu saja.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَاهُ مِنْ مَسْلَكِ الضَّحَايَا فِي هَذِهِ الْجِهَاتِ الْأَرْبَعِ الْأَكْلِ وَالِادِّخَارِ وَالصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ اشْتَمَلَ حُكْمُهَا عَلَى فَصْلَيْنِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan mengenai cara pengelolaan daging kurban dalam empat hal ini—yaitu makan, menyimpan, sedekah, dan hadiah—maka hukumnya mencakup dua bagian.

أَحَدُهُمَا فِي مَقَادِيرِهَا فَلَيْسَ تَتَقَدَّرُ فِي الْجَوَازِ وَإِنَّمَا تَتَقَدَّرُ فِي الِاسْتِحْبَابِ لِأَنَّهُ لَوْ أَكَلَ يَسِيرًا مِنْهَا وَتَصَدَّقَ بِبَاقِيهَا جَازَ وَلَوْ تَصَدَّقَ بِيَسِيرٍ مِنْهَا وَأَكَلَ بَاقِيَهَا جَازَ فَأَمَّا مَقَادِيرُهَا فِي الِاسْتِحْبَابِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Salah satunya adalah dalam hal ukurannya; tidak ada ketentuan ukuran tertentu dalam hal kebolehan, melainkan hanya dalam hal anjuran (istihbāb). Sebab, jika seseorang memakan sebagian kecil darinya dan menyedekahkan sisanya, itu dibolehkan. Dan jika ia menyedekahkan sebagian kecil darinya dan memakan sisanya, itu juga dibolehkan. Adapun mengenai ukurannya dalam hal anjuran (istihbāb), terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ يَأْكُلُ وَيَدَّخِرُ وَيُهْدِي النِّصْفَ وَيَتَصَدَّقُ عَلَى الْفُقَرَاءِ بِالنِّصْفِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا البَائِسَ الفَقِيرِ

Salah satu pendapatnya, yang beliau sampaikan pada masa dahulu, adalah bahwa seseorang boleh memakan, menyimpan, menghadiahkan setengahnya, dan bersedekah kepada fakir miskin dengan setengahnya, karena Allah Ta‘ala berfirman: “Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”

فَجَعَلَهَا فِي صِنْفَيْنِ فَاقْتَضَى أَنْ تَكُونَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ

Maka ia menjadikannya dalam dua golongan, sehingga hal itu menuntut agar di antara keduanya terdapat dua bagian yang sama.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ أَنْ يَأْكُلَ وَيَدَّخِرَ الثُّلُثَ وَيُهْدِيَ الثُّلُثَ وَيَتَصَدَّقَ عَلَى الْفُقَرَاءِ بِالثُّلُثِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالمُعْتَرَّ فذكر ثلاثة أصناف فاقتضى أن يكون بَيْنَهُمْ أَثْلَاثًا

Pendapat kedua, yang dikemukakan dalam pendapat baru (al-jadid), adalah bahwa seseorang memakan sepertiga, menyimpan sepertiga, menghadiahkan sepertiga, dan bersedekah kepada fakir miskin dengan sepertiga, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang rela dengan apa yang diberikan dan kepada orang yang meminta,” sehingga disebutkan tiga golongan, yang mengandung makna bahwa pembagiannya adalah sepertiga untuk masing-masing.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي وُجُوبُهَا وَاسْتِحْبَابُهَا فَلَا يَخْتَلِفُ الْمَذْهَبُ أَنَّ الِادِّخَارَ مُبَاحٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَلَا مُسْتَحَبٍّ وَأَنَّ الْهَدِيَّةَ لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ وَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ فَأَمَّا الْأَكْلُ وَالصَّدَقَةُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun pada bagian kedua tentang kewajiban dan kesunnahannya, maka tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab bahwa menyimpan (daging kurban) hukumnya mubah dan tidak wajib maupun sunnah, dan bahwa memberikan hadiah tidaklah wajib, namun hukumnya sunnah. Adapun makan dan sedekah, para ulama kami berbeda pendapat dalam tiga pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ إنَّهُمَا مُسْتَحَبَّانِ فَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَهَا جَازَ وَإِنْ تَصَدَّقَ بِجَمِيعِهَا جَازَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى لَنْ يَنَالَ اللهُ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ فَجَعَلَ مَقْصُودَهَا التَّقْوَى بَعْدَ الْإِرَاقَةِ دُونَ الْأَكْلِ وَالصَّدَقَةِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj dan Abu Sa‘id al-Istakhri, menyatakan bahwa keduanya (memakan dan bersedekah dengan daging kurban) adalah sunnah. Jika seseorang memakan seluruh daging kurban, itu dibolehkan, dan jika ia menyedekahkan seluruhnya, itu juga dibolehkan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” Maka Allah menjadikan tujuan dari kurban adalah ketakwaan setelah penyembelihan, bukan pada makan atau sedekahnya.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ لَوْ أَكَلَ أَكْثَرَهَا كَانَ جَمِيعُهَا أُضْحِيَّةً كَذَلِكَ إِذَا أَكَلَ جَمِيعَهَا

Dan karena jika seseorang memakan sebagian besarnya, maka seluruhnya tetap dianggap sebagai udhiyah, demikian pula jika ia memakan semuanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الطَّيِّبِ بْنِ سَلَمَةَ أَنَّ الْأَكْلَ وَالصَّدَقَةَ وَاجِبَانِ فَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَهَا لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ تَصَدَّقَ بِجَمِيعِهَا لَمْ يُجْزِهِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَ الْأَكْلِ وَالصَّدَقَةِ لِقَوْلِ اللَّهِ تعالى فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا البَائِسَ الْفَقِيرَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا وَأَمَرَ بِهِمَا فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِهِمَا وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَحَرَ فِي حَجِّهِ مِائَةَ بَدَنَةٍ وَأَمَرَ عَلِيًّا أَنْ يَأْتِيَهُ مَنْ كُلِّ بَدَنَةٍ بِبِضْعَةٍ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَطُبِخَتْ فَأَكَلَ مِنْ لَحْمِهَا وَحَسَا مِنْ مَرَقِهَا فَلَمَّا أَكَلَ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ مَعَ كَثْرَتِهَا دَلَّ عَلَى وُجُوبِ أَكْلِهِ مِنْهَا

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Thayyib bin Salamah, menyatakan bahwa makan dan sedekah (daging kurban) keduanya wajib. Jika seseorang memakan seluruh daging kurban, maka itu tidak mencukupi; dan jika ia menyedekahkan seluruhnya, itu pun tidak mencukupi, sampai ia menggabungkan antara makan dan sedekah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang miskin yang sangat membutuhkan.” Maka Allah menggabungkan keduanya dan memerintahkan keduanya, sehingga menunjukkan kewajiban keduanya. Selain itu, Rasulullah ﷺ pada hajinya menyembelih seratus unta, lalu memerintahkan Ali untuk membawakan kepada beliau sebagian daging dari setiap unta, kemudian beliau memerintahkan agar daging itu dimasak, lalu beliau memakan dagingnya dan meminum kuahnya. Ketika beliau memakan dari setiap unta, meskipun jumlahnya banyak, hal itu menunjukkan wajibnya makan dari daging kurban tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْأَكْلَ مُسْتَحَبٌّ وَالصَّدَقَةَ وَاجِبَةٌ فَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَهَا لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ تَصَدَّقَ بِجَمِيعِهَا أَجْزَأَهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَجَعَلَهَا لَنَا وَلَمْ يَجْعَلْهَا عَلَيْنَا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ أَكْلَنَا مِنْهَا مُبَاحٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَلِأَنَّ حُقُوقَ الْإِنْسَانِ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيهَا بَيْنَ الِاسْتِبْقَاءِ وَالْإِسْقَاطِ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Syafi‘i dan yang dianut oleh mayoritas ulama kami, adalah bahwa makan daging kurban hukumnya sunnah, sedangkan sedekah hukumnya wajib. Jika seseorang memakan seluruh daging kurban, maka itu tidak mencukupinya (tidak sah), namun jika ia menyedekahkan seluruhnya, maka itu sudah mencukupi (sah), berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah,” maka Allah menjadikannya untuk kita, bukan atas kita (bukan kewajiban untuk memakannya), sehingga hal ini menunjukkan bahwa memakan daging kurban itu mubah (boleh) dan bukan wajib. Selain itu, hak-hak manusia adalah sesuatu yang ia boleh memilih antara mempertahankan atau menggugurkannya.

وَلِأَنَّ مَوْضُوعَ الْقُرْبِ بِالْأُصُولِ أَنَّهَا مُسْتَحَقَّةٌ عَلَيْهِ وَلَيْسَتْ مُسْتَحَقَّةً لَهُ

Dan karena pokok permasalahan dalam qurb (kedekatan hubungan keluarga) menurut ushul adalah bahwa hak tersebut wajib atas dirinya, bukan hak yang menjadi miliknya.

وَلِأَنَّ قَوْله تَعَالَى في الضحايا فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا جَارٍ مَجْرَى قَوْلِهِ فِي الزَّكَاةِ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ فأما كَانَ أَكْلُهُ مُبَاحًا وَالْإِيتَاءُ وَاجِبًا كَذَلِكَ الْأَكْلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ مُبَاحٌ وَالْإِطْعَامُ وَاجِبٌ

Karena firman Allah Ta‘ala tentang hewan kurban: “Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan (kepada orang lain)” memiliki makna yang serupa dengan firman-Nya tentang zakat: “Makanlah dari buahnya apabila berbuah, dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya.” Maka sebagaimana makan dari hasil tersebut hukumnya mubah (boleh) dan menunaikan haknya itu wajib, demikian pula makan dari daging kurban itu mubah, dan memberi makan (kepada orang lain) itu wajib.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ حُكْمُ الْأَكْلِ وَالصَّدَقَةِ عَلَى هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ فَاقْتَصَرَ مِنْهَا عَلَى أَحَدِهَا نُظِرَ فَإِنْ كَانَ اقْتِصَارُهُ مِنْهَا عَلَى الصَّدَقَةِ دُونَ الْأَكْلِ فَأَطْعَمَ وَلَمْ يَأْكُلْ لَمْ يَضْمَنْ عَلَى الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ لِأَنَّ مَنْ قَالَ بِوُجُوبِ الْأَكْلِ نَسَبَهُ فِي تَرْكِ الْأَكْلِ إِلَى الْمَأْثَمِ وَلَمْ يَلْزَمْهُ الْغُرْمُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ لِأَنَّ اسْتِحْقَاقَهُ لِلْأَكْلِ رَفَقَ بِهِ فَخَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْغُرْمِ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِجْحَافِ بِهِ وَإِنْ كَانَ اقْتِصَارُهُ عَلَى الْأَكْلِ فَأَكَلَ وَلَمْ يُطْعِمْ فَعَلَى قَوْلِ أَبِي الْعَبَّاسِ لَا ضَمَانَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ يَجْعَلُ الْإِطْعَامَ مُسْتَحَبًّا وَعَلَى الْوَجْهَيْنِ الْآخَرَيْنِ يَكُونُ ضَامِنًا وَهُوَ الصَّحِيحُ لِمَا ذَكَرْنَا فَعَلَى هَذَا فِي قَدْرِ مَا يَضْمَنُهُ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Jika telah ditetapkan hukum makan dan sedekah pada tiga bentuk ini, lalu seseorang hanya memilih salah satunya, maka perlu dilihat: jika ia hanya memilih sedekah tanpa makan, lalu ia memberi makan tetapi tidak memakan, maka ia tidak wajib menanggung pada tiga bentuk tersebut. Sebab, orang yang berpendapat wajibnya makan hanya menganggap meninggalkan makan sebagai perbuatan dosa, dan tidak mewajibkan ganti rugi atas dirinya sendiri, karena haknya untuk makan adalah sebagai bentuk keringanan baginya, sehingga ia keluar dari kewajiban ganti rugi karena di dalamnya terdapat unsur memberatkan dirinya. Namun, jika ia hanya memilih makan, lalu ia makan tetapi tidak memberi makan, menurut pendapat Abu al-‘Abbas, ia tidak wajib menanggung, karena ia menganggap memberi makan itu sunnah. Sedangkan menurut dua pendapat lainnya, ia wajib menanggung, dan inilah yang benar sebagaimana telah kami sebutkan. Maka, dalam hal kadar yang wajib ia tanggung, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَضْمَنُ جَمِيعَهَا بِأَكْثَرِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهَا أَوْ مِثْلِهَا لِأَنَّهُ لَمَّا عَدَلَ بِأَكْلِهَا عَنْ حُكْمِ الضَّحَايَا صَارَتْ لَحْمًا وَكَانَ إِيجَابُ الْأُضْحِيَّةِ بَاقِيًا فَلَزِمَهُ أَنْ يُضَحِّيَ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ بَدَلِهَا أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ مَضَيَا

Salah satunya adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah, yaitu ia wajib mengganti seluruhnya dengan yang lebih banyak dari dua hal: nilai atau yang semisalnya. Sebab, ketika ia memakan hewan tersebut, maka hukumnya tidak lagi mengikuti hukum hewan kurban (udhiyah), sehingga hewan itu menjadi daging biasa, namun kewajiban berkurban tetap ada padanya. Maka ia wajib berkurban. Berdasarkan hal ini, apakah ia boleh memakan pengganti hewan tersebut atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَضْمَنُ مِنْهَا قَدْرَ الِاسْتِحْبَابِ فِيمَا يَتَصَدَّقُ بِهِ وَلَا يَضْمَنُ جَمِيعَهَا لِأَنَّهُ قَدْ أَرَاقَ دَمَهَا عَلَى اسْمِ الْأُضْحِيَّةِ فَلَمْ يَضْمَنْ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعَدَّى بِأَكْلِهِ فَضَمِنَ قَدْرَ الِاسْتِحْبَابِ احْتِيَاطًا فَعَلَى هَذَا فِي قَدْرِ الِاسْتِحْبَابِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua mewajibkan ganti rugi atas bagian yang dianjurkan untuk disedekahkan dari hewan kurban tersebut, namun tidak mewajibkan ganti rugi atas seluruhnya. Sebab, ia telah menumpahkan darah hewan itu atas nama udhiyah, sehingga ia tidak wajib mengganti kecuali bagian yang telah melampaui batas dengan memakannya. Maka ia wajib mengganti sebesar kadar yang dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian. Berdasarkan hal ini, dalam kadar yang dianjurkan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بِالنِّصْفِ وَهُوَ الْقَدِيمُ

Salah satunya adalah dengan setengah, dan inilah pendapat lama.

وَالثَّانِي الثُّلُثُ وَهُوَ الْجَدِيدُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ هَذَا الْبَدَلَ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ بَدَلٌ عَمَّا أَكَلَ وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ يَضْمَنُ قَدْرَ الْإِجْزَاءِ لِأَنَّهُ لَوِ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ فِي الصَّدَقَةِ أَجْزَأَهُ فَعَلَى هَذَا يَضْمَنُ مَا يَخْرُجُ عَنْ قَدْرِ التَّافِهِ إِلَى مَا جَرَى الْعُرْفُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ مِنْهَا مِنَ الْقَلِيلِ الَّذِي يُؤَدِّي الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ فَصَارَ فِي قَدْرِ مَا يَضْمَنُهُ أَرْبَعَةُ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا الْكُلُّ وَالثَّانِي النِّصْفُ وَالثَّالِثُ الرُّبُعُ وَالرَّابِعُ الْمُجْزِئُ فَإِنْ ضَمِنَ الْكُلِّ لَزِمَهُ ذَبْحُهُ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ

Yang kedua adalah sepertiga, dan ini adalah pendapat baru. Tidak boleh memakan bagian pengganti ini menurut satu pendapat, karena ia merupakan pengganti dari apa yang telah dimakan. Pendapat ketiga adalah wajib menanggung kadar yang mencukupi, karena jika ia mencukupkan diri dengan kadar itu dalam sedekah, maka itu sudah sah. Berdasarkan hal ini, ia wajib menanggung apa yang melebihi kadar yang remeh hingga kadar yang menurut ‘urf biasa disedekahkan darinya, dari sedikit yang dapat dicapai dengan ijtihad, dan tidak boleh memakannya. Maka, dalam kadar yang wajib ditanggung terdapat empat pendapat: yang pertama seluruhnya, yang kedua setengahnya, yang ketiga seperempatnya, dan yang keempat kadar yang mencukupi. Jika ia menanggung seluruhnya, maka ia wajib menyembelihnya pada hari-hari penyembelihan.

فَإِنْ أَخَّرَهُ عَنْهَا مَعَ الْقُدْرَةِ حَتَّى ذَبَحَهُ بَعْدَهَا فَفِي إِجْزَائِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang menunda penyembelihan hewan kurban dari waktunya padahal ia mampu melakukannya, lalu ia menyembelihnya setelah waktu tersebut, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahannya.

أَحَدُهُمَا لَا يُجْزِئُهُ وَيَكُونُ لَحْمًا مَضْمُونًا بِمَثَلٍ ثَانٍ كَمَا لَوْ أَخَّرَ مِثْلَ الْأُضْحِيَّةِ حَتَّى ذَبَحَهَا بَعْدَ أَيَّامِ النَّحْرِ

Salah satunya tidak mencukupi dan menjadi daging yang wajib diganti dengan yang sepadan, seperti jika seseorang menunda hewan kurban hingga menyembelihnya setelah hari-hari penyembelihan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يُجْزِئُ لِأَنَّ إِرَاقَةَ دَمِ الْأُضْحِيَّةِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ قَدْ حَصَلَ بِمَا أَكَلَ وَإِنَّمَا هَذَا بَدَلٌ مِنَ الْإِطْعَامِ دُونَ الْإِرَاقَةِ فَجَازَ فِي غَيْرِ أَيَّامِ النَّحْرِ وَأَنْ ضَمَّنَّاهُ بَعْضَهَا وَلَمْ نُضَمِّنْهُ جَمِيعَهَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِمَا ضَمِنَهُ وَرَقًا لِأَنَّ حُقُوقَ الْفُقَرَاءِ فِي الْأَكْلِ دُونَ الْقِيمَةِ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُفَرِّقَ ثَمَنَ الْأُضْحِيَّةِ وَرَقًا وَهَلْ يَلْزَمُ صَرْفُ مَا ضَمِنَهُ فِي سَهْمٍ مِنْ أُضْحِيَّةٍ أَوْ يُفَرِّقُهُ لَحْمًا فِيهِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu sah karena penyembelihan darah hewan kurban pada hari-hari penyembelihan telah terlaksana dengan apa yang telah dimakan, dan ini hanyalah pengganti dari memberi makan, bukan dari penyembelihan, sehingga boleh dilakukan di luar hari-hari penyembelihan. Jika kita mewajibkan sebagian darinya dan tidak mewajibkan seluruhnya, maka tidak boleh bersedekah dengan apa yang diwajibkan itu dalam bentuk uang, karena hak para fakir miskin adalah pada makanan, bukan pada nilainya, sebagaimana tidak boleh membagikan harga hewan kurban dalam bentuk uang. Apakah wajib menyalurkan apa yang diwajibkan itu dalam satu bagian dari hewan kurban atau membagikannya dalam bentuk daging, dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَشْتَرِي بِهِ سَهْمًا مِنْ أُضْحِيَّةٍ لِيَجْمَعَ فِيهِ بَيْنَ إِرَاقَةِ الدَّمِ وَتَفْرِقَةِ اللَّحْمِ

Salah satunya adalah membeli satu bagian dari hewan kurban agar dapat menggabungkan antara penyembelihan darah dan pembagian daging.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُفَرِّقُهُ لَحْمًا لِأَنَّهُ أَرْفَقُ وَعَلَى كِلَا الْوَجْهَيْنِ إِنْ ذَبَحَ أَوْ فَرَّقَ بَعْدَ أَيَّامِ النَّحْرِ أَجْزَأَهُ لِأَنَّ ذَبْحَ سَهْمٍ فِي شَاةٍ لَا يَكُونُ أُضْحِيَّةً فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ زَمَانُ الْأَضَاحِيِّ الْأَكْلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ المنذورة

Pendapat kedua membagikannya dalam bentuk daging karena itu lebih memudahkan. Pada kedua pendapat tersebut, jika ia menyembelih atau membagikan setelah hari-hari penyembelihan, maka itu tetap sah, karena menyembelih satu bagian pada seekor kambing tidak dianggap sebagai udhiyah, sehingga waktu penyembelihan udhiyah tidak disyaratkan padanya. Begitu pula hukum memakan daging udhiyah yang dinazarkan.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا الْمَنْذُورَةُ فَفِي جَوَازِ أَكْلِهِ مِنْهَا وَجْهَانِ

Adapun daging hewan kurban dan hadiah yang dinazarkan, maka dalam kebolehan memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا لِأَنَّهَا خَرَجَتْ بِالنَّذْرِ عَنْ حُكْمِ التَّطَوُّعِ إِلَى الْوَاجِبِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنَ الدِّمَاءِ الْوَاجِبَةِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa tidak boleh memakan darinya karena dengan nadzar, hewan tersebut telah keluar dari hukum tathawwu‘ (ibadah sunnah) menjadi wajib, sehingga tidak boleh memakan darah yang wajib.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا لِأَنَّهُ تَطَوَّعَ بِالنَّذْرِ فَصَارَ كَتَطَوُّعِهِ بِالْفِعْلِ

Pendapat kedua membolehkan ia memakan darinya karena ia telah melakukan tathawwu‘ (amal sunnah) dengan nadzar, sehingga kedudukannya seperti tathawwu‘ dengan perbuatan.

وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَنْ يُنْظَرَ فِي النَّذْرِ فَإِنْ كَانَ مُعَيَّنًا لَمْ يَضْمَنْ فِي الذِّمَّةِ كَقَوْلِهِ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَذِهِ الْبَدَنَةِ جَازَ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَإِنْ كَانَ مَضْمُونًا فِي الذِّمَّةِ كَقَوْلِهِ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِبَدَنَةٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا لِأَنَّ مَا وَجَبَ فِي الذِّمَّةِ كَانَ مُسْتَحَقًّا لِغَيْرِهِ وَمَا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِالذِّمَّةِ جَازَ أن يكون فيه كغيره والله أعلم بالصواب بيع لحوم الأضاحي

Pendapat yang paling benar menurut saya dari dua pendapat tersebut adalah melihat pada nadzar itu sendiri. Jika nadzar tersebut bersifat tertentu dan tidak menjadi tanggungan dalam dzimmah, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku wajib berkurban dengan unta ini,” maka boleh baginya memakan sebagian dagingnya. Namun jika nadzar tersebut menjadi tanggungan dalam dzimmah, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku wajib berkurban dengan seekor unta,” maka tidak boleh baginya memakan sebagian dagingnya, karena sesuatu yang wajib dalam dzimmah itu menjadi hak orang lain, sedangkan sesuatu yang tidak terkait dengan dzimmah boleh diperlakukan seperti yang lain. Allah lebih mengetahui kebenaran dalam masalah jual beli daging kurban.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَأَكْرَهُ بَيْعَ شيءٍ مِنْهُ وَالْمُبَادَلَةَ بِهِ ومعقولٌ مَا أُخْرِجَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَعُودَ إِلَى مَالِكِهِ إِلَّا مَا أَذِنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ ثُمَّ رَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَاقْتَصَرْنَا عَلَى مَا أَذِنَ اللَّهُ فِيهِ ثُمَّ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَمَنَعْنَا الْبَيْعَ عَلَى أَصْلِ النُّسُكِ أَنَّهُ لِلَّهِ

Syafi‘i berkata, “Aku memakruhkan menjual sesuatu darinya dan menukarnya. Secara logis, apa yang telah dikeluarkan karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak boleh kembali kepada pemiliknya kecuali apa yang telah diizinkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kemudian oleh Rasul-Nya ﷺ. Maka kami membatasi pada apa yang telah diizinkan oleh Allah kemudian Rasulullah ﷺ, dan kami melarang penjualan atas dasar asal ibadah (nusuk) karena itu adalah milik Allah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا بَيْعُ لَحْمِ الْأُضْحِيَّةِ فَلَا يَجُوزُ فِي حَقِّ الْمُضَحِّي لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا البَائِسَ الْفَقِيرَ فَنَصَّ عَلَى أَكْلِهِ وَإِطْعَامِهِ فَدَلَّ عَلَى تَحْرِيمِ بَيْعِهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun menjual daging hewan kurban, maka tidak diperbolehkan bagi orang yang berkurban, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir.” Allah secara tegas memerintahkan untuk memakan dan memberikannya, sehingga hal ini menunjukkan haramnya menjual daging kurban.

وَلِأَنَّ الْأَمْوَالَ الْمُسْتَحَقَّةَ فِي الْقُرْبِ لَا يجوز للمتقرب بيعها الزكوات وَالْكَفَّارَاتُ وَإِنَّمَا خُصَّتِ الضَّحَايَا بِجَوَازِ الْأَكْلِ وَلَيْسَ فِي إِبَاحَةِ الْأَكْلِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ الْبَيْعِ كَطَعَامِ الْوَلَائِمِ وَأَكْلُ الْغَانِمِينَ طَعَامُ أَهْلِ الْحَرْبِ

Karena harta-harta yang wajib diberikan dalam rangka mendekatkan diri (kepada Allah) tidak boleh dijual oleh orang yang melakukannya, seperti zakat dan kaffarat. Hanya kurban (dhahaya) yang dikhususkan dengan kebolehan untuk dimakan, dan kebolehan memakan tidaklah menjadi dalil atas kebolehan menjualnya, sebagaimana makanan dalam walimah dan makanan yang dimakan oleh para mujahid dari harta makanan orang-orang kafir yang diperangi.

وَأَمَّا الْفُقَرَاءُ فَعَلَى الْمُضَحِّي أَنْ يَدْفَعَ إِلَيْهِمْ مِنْهَا لَحْمًا وَلَا يَدْعُوَهُمْ لِأَكْلِهِ مَطْبُوخًا لِأَنَّ حَقَّهُمْ فِي تَمَلُّكِهِ دُونَ أَكْلِهِ لِيَصْنَعُوا بِهِ مَا أَحَبُّوا فَإِنْ دَفَعَهُ إِلَيْهِمْ مَطْبُوخًا لَمْ يَجُزْ حَتَّى يَأْخُذُوهُ نِيئًا كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ تُدْفَعَ إِلَيْهِمْ زَكَاةُ الْفِطْرِ مَخْبُوزًا فَإِذَا أخذوه لَحْمًا جَازَ لَهُمْ بَيْعُهُ كَمَا يَجُوزُ لَهُمْ بيعه مَا أَخَذُوهُ مِنَ الزِّكْوَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ وَإِنْ لَمْ يُجْزِ الْمُزَكِّيَ وَالْمُكَفِّرَ بَيْعُهُ

Adapun para fakir, maka bagi orang yang berkurban wajib memberikan kepada mereka daging dari hewan kurban tersebut, dan tidak mengundang mereka untuk memakan daging yang sudah dimasak, karena hak mereka adalah memiliki daging itu, bukan sekadar memakannya, agar mereka dapat memperlakukan daging itu sesuai keinginan mereka. Jika daging itu diberikan kepada mereka dalam keadaan sudah dimasak, maka itu tidak sah sampai mereka menerimanya dalam keadaan mentah, sebagaimana tidak boleh memberikan zakat fitrah kepada mereka dalam bentuk roti yang sudah dipanggang. Jika mereka telah menerima daging tersebut, maka mereka boleh menjualnya, sebagaimana mereka juga boleh menjual apa yang mereka terima dari zakat dan kafarat, meskipun orang yang menunaikan zakat atau kafarat tidak boleh menjualnya.

وَهَكَذَا لَا يَجُوزُ لِلْمُضَحِّي أَنْ يُعْطِيَ الْجَازِرَ أُجْرَةَ جِزَارَتَهُ مِنْ لَحْمِ الْأُضْحِيَّةِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُعَاوِضًا بِهِ وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَلِيًّا عَنْهُ

Demikian pula, tidak boleh bagi orang yang berkurban memberikan kepada jagal upah penyembelihannya dari daging kurban, karena hal itu berarti menjadikannya sebagai alat tukar, dan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Ali dari hal tersebut.

وَلِأَنَّ مَؤُونَةَ مَا يَسْتَحِقُّ إِخْرَاجُهُ لَازِمَةٌ لِلْمُتَقَرِّبِ كَمَؤُونَةِ الْجِدَادِ وَالْحَصَادِ فَإِنْ أَعْطَى الْجَازِرَ أُجْرَتَهُ جَازَ أَنْ يُعْطِيَهُ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ لَحْمِهَا صَدَقَةً إِنْ كَانَ مُحْتَاجًا أَوْ هَدِيَّةً إِنْ كَانَ مُسْتَغْنِيًا الْقَوْلُ فِي بيع الجلد

Karena biaya atas sesuatu yang wajib dikeluarkan itu menjadi tanggungan bagi orang yang beribadah, seperti biaya memetik dan memanen. Maka jika seseorang telah memberikan upah kepada tukang jagal, boleh baginya setelah itu memberikan sebagian dagingnya kepada tukang jagal tersebut sebagai sedekah jika ia membutuhkan, atau sebagai hadiah jika ia berkecukupan. Pembahasan mengenai jual beli kulit.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْجِلْدُ فَهُوَ فِي حُكْمِ الْأُضْحِيَّةِ فِي تَحْرِيمِ بَيْعِهِ عَلَى الْمُضَحِّي وَفِي جَوَازِ تَفَرُّدِهِ بِهِ وَجْهَانِ

Adapun kulit, maka hukumnya mengikuti hukum udhiyah dalam hal haramnya menjualnya bagi orang yang berkurban, dan dalam kebolehan mengambilnya sendiri terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ بَعْضُ الْأُضْحِيَّةِ

Salah satunya diperbolehkan karena ia merupakan bagian dari udhiyah.

وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ حَتَّى يُشَارِكَ فِيهِ الْفُقَرَاءُ لِأَنَّهُ غَيْرُ اللَّحْمِ فَلَزِمَ الْإِشْرَاكُ فِيهِ كَاللَّحْمِ فَإِنْ بَاعَهُ كَانَ بَيْعُهُ بَاطِلًا وَقَالَ عَطَاءٌ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُ الْجِلْدِ وَتَمَلُّكُ ثَمَنُهُ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْأُضْحِيَّةِ إِرَاقَةُ الدَّمِ وَإِطْعَامُ اللَّحْمِ

Yang kedua, tidak boleh sampai para fakir miskin ikut serta di dalamnya, karena itu bukan daging, maka wajib melibatkan mereka di dalamnya sebagaimana daging. Jika ia menjualnya, maka penjualannya batal. ‘Aṭā’ berpendapat bahwa boleh baginya menjual kulit dan memiliki harganya, karena tujuan utama dari udhiyah adalah mengalirkan darah dan memberi makan daging.

وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُ الْجِلْدِ بِآلَةِ الْبَيْتِ الَّتِي تُعَارُ كَالْقِدْرِ وَالْمِيزَانِ وَالسِّكِّينِ وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ لِلْآلَةِ وَتَلْزَمُهُ الْإِعَارَةُ

Al-Auza‘i berkata, “Boleh baginya menjual kulit bersama alat-alat rumah yang biasa dipinjamkan, seperti panci, timbangan, dan pisau, namun tidak boleh menjualnya untuk alat-alat tersebut, dan ia tetap wajib meminjamkannya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ بِالْآلَةِ دُونَ غَيْرِهَا وَلَا يَلْزَمُهُ إِعَارَتُهَا اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ

Abu Hanifah berkata: Boleh baginya menjualnya beserta alatnya, tetapi tidak dengan selainnya, dan ia tidak wajib meminjamkannya, berdasarkan pertimbangan ‘urf (kebiasaan setempat).

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنْ أَقُومَ عَلَى بَدَنَه فَأَقْسِمَ جُلُودَهَا وَجِلَالَهَا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَازِرَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا فَقَسَّمَ الْجُلُودَ كَمَا قَسَّمَ اللَّحْمَ فَدَلَّ عَلَى اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْحُكْمِ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh Mujāhid dari ‘Abdurrahman bin Abī Lailā dari ‘Alī ‘alaihis salām bahwa ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurus hewan kurbannya, lalu membagikan kulit dan pelananya, dan beliau memerintahkanku agar tidak memberikan kepada jagal sedikit pun darinya, dan beliau bersabda, “Kami akan memberinya dari kami sendiri.” Maka ia membagikan kulit sebagaimana ia membagikan daging, sehingga hal ini menunjukkan bahwa keduanya (kulit dan daging) memiliki hukum yang sama.

وَرَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ وَهَذَا إِنِ انْتَشَرَ إِجْمَاعٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَشِرْ حُجَّةٌ إِذْ لَيْسَ لَهُ مُخَالِفٌ وَلِأَنَّهُ بَعْضُ الْأُضْحِيَّةِ فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ كَاللَّحْمِ وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَجُزْ بَيْعُ لَحْمِهِ لَمْ يَجُزْ بَيْعُ جِلْدِهِ كَدَمِ التَّمَتُّعِ وَالْقِرَانِ

Abdurrahman al-A‘raj meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, “Barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban baginya.” Dan hal ini, jika telah tersebar ijmā‘, maka menjadi hujjah; dan jika belum tersebar, tetap menjadi hujjah karena tidak ada yang menyelisihinya. Selain itu, karena kulit adalah bagian dari hewan kurban, maka tidak boleh dijual sebagaimana dagingnya. Dan karena sesuatu yang tidak boleh dijual dagingnya, maka tidak boleh pula dijual kulitnya, seperti darah tamattu‘ dan qirān.

حكم تضحية العبيد قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا تَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ لعبدٍ وَلَا مدبرٍ وَلَا أُمِّ ولدٍ لِأَنَّهُمْ لَا يُمَلَّكُونَ

Hukum kurban bagi budak: Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Tidak sah berkurban bagi budak, mudabbar, maupun ummu walad, karena mereka tidak memiliki kepemilikan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْمُمَلَّكُونَ مِنَ الْعَبِيدِ وَالْإِمَاءِ وَأُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ وَالْمُدَبِّرِينَ فَلَا يَمْلِكُونَ إِنْ لَمْ يُمَلَّكُوا وَلَا هُمْ مِنْ أَهْلِ الضَّحَايَا لِأَنَّهُمْ لَمْ يَمْلِكُوا فَإِنْ ضَحَّى أَحَدَهُمْ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ نَائِبًا عَنْهُ وَالْأُضْحِيَّةُ عَنِ السَّيِّدِ لَا عَنْهُ وَإِنْ ضَحَّى بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ مُتَعَدِّيًا بِالذَّبْحِ فِي مِلْكِ سَيِّدِهِ وَتَكُونُ الذَّبِيحَةُ لَحْمًا لِلسَّيِّدِ وَلَيْسَ بِأُضْحِيَّةٍ وَإِنْ مَلَّكَهُ السَّيِّدُ مَالًا فَفِي صِحَّةِ مِلْكِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Adapun para budak laki-laki dan perempuan yang dimiliki, umm al-walad, dan mudabbir, maka mereka tidak memiliki (harta) jika tidak diberikan kepemilikan, dan mereka bukan termasuk orang yang berhak berkurban, karena mereka tidak memiliki (harta). Jika salah satu dari mereka berkurban dengan izin tuannya, maka ia menjadi wakil dari tuannya dan kurban itu atas nama tuannya, bukan atas namanya sendiri. Jika ia berkurban tanpa izin tuannya, maka ia dianggap melampaui batas dengan menyembelih di dalam milik tuannya, dan sembelihan itu menjadi daging milik tuannya, bukan sebagai kurban. Jika tuannya memberikan harta kepadanya, maka dalam keabsahan kepemilikannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْقَدِيمُ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ يَمْلِكُهُ الْعَبْدُ بِتَمْلِيكِ السَّيِّدِ

Salah satunya, yaitu pendapat yang lama dan dipegang oleh Malik, menyatakan bahwa budak memilikinya melalui pemberian kepemilikan dari tuannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْجَدِيدُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَمْلِكُهُ الْعَبْدُ وَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِ السَّيِّدِ عَلَى كِلَا الْقَوْلَيْنِ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الضَّحَايَا مَلَكَ أَوْ لَمْ يَمْلِكْ لِأَنَّ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ حَجْرًا وَإِنْ مَلَكَ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَذَلِكَ ضَرْبَانِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat baru, dan inilah yang dikatakan oleh Abu Hanifah, bahwa budak tidak memilikinya, dan tetap menjadi milik tuannya. Menurut kedua pendapat, budak bukan termasuk orang yang berhak berkurban, baik ia memiliki harta maupun tidak, karena tuannya memiliki hak pembatasan atasnya. Jika budak itu memiliki harta, lalu tuannya mengizinkannya untuk berkurban, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُضَحِّيَ عَنِ السَّيِّدِ فَيَصِحَّ ذَلِكَ مِنَ الْعَبْدِ وَيَكُونَ فِي هَذَا الْإِذْنُ بِذَبْحِهَا عَنِ السَّيِّدِ رُجُوعًا مِنْهُ فِي تَمْلِيكِ الْعَبْدِ وَيَصِيرَ الْعَبْدُ نَائِبًا عَنْ سَيِّدِهِ فِي الذَّبْحِ وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ بَعْدَ الذَّبْحِ أَنْ يُفَرِّقَ اللَّحْمَ إِلَّا بِإِذْنِ السَّيِّدِ لِأَنَّ الْإِذْنَ الْأَوَّلَ كَانَ مَقْصُورًا عَلَى الذَّبْحِ دُونَ التَّفْرِقَةِ فَاحْتَاجَ إِلَى إِذْنٍ فِي التَّفْرِقَةِ فَإِنْ كَانَ الْإِذْنُ الْأَوَّلُ فِي الذَّبْحِ وَالتَّفْرِقَةِ صَحَّا جَمِيعًا مِنْهُ بِإِذْنٍ وَاحِدٍ وَيَكُونُ الْمَدْفُوعُ إِلَيْهِمْ مِنَ الْفُقَرَاءِ مَرْدُودِينَ إِلَى اجْتِهَادِ الْعَبْدِ

Salah satunya adalah jika seorang hamba berkurban atas nama tuannya, maka hal itu sah dari pihak hamba, dan dalam hal ini izin untuk menyembelih atas nama tuan berarti penarikan kembali dari tuan dalam hal kepemilikan hamba, sehingga hamba menjadi wakil dari tuannya dalam penyembelihan. Setelah penyembelihan, hamba tidak berhak membagikan daging kecuali dengan izin tuan, karena izin pertama hanya terbatas pada penyembelihan dan tidak mencakup pembagian, sehingga diperlukan izin untuk pembagian. Jika izin pertama mencakup penyembelihan dan pembagian sekaligus, maka keduanya sah dengan satu izin, dan dalam hal pemberian kepada para fakir miskin, hal itu dikembalikan kepada ijtihad hamba.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَأْذَنَ لَهُ السَّيِّدُ فِي أَنْ يُضَحِّيَ عَنْ نَفْسِهِ فَفِي جَوَازِهَا عَنْ نَفْسِهِ قَوْلَانِ إِنْ قِيلَ إِنَّهُ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ جَازَ وَإِنْ قِيلَ لَا يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ لَمْ يَجُزْ فَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِهِ كَانَتْ أُضْحِيَّةً عَنِ الْعَبْدِ دُونَ السَّيِّدِ وَلَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَرْجِعَ فِيهَا بَعْدَ الذَّبْحِ لِمَا اسْتَحَقَّهُ الْمَسَاكِينُ فِيهَا بِالذَّبْحِ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ إِيجَابِ الْأُضْحِيَّةِ وَتَعَيُّنِهَا صَحَّ رُجُوعُ السَّيِّدِ فِيهَا وَإِنْ كَانَ بَعْدَ إِيجَابِهَا وَتَعَيُّنِهَا لَمْ يَصِحَّ رُجُوعُ السَّيِّدِ فِيهَا لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِ الْمَسَاكِينِ كَالْمَذْبُوحَةِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّ أُضْحِيَّةَ الْعَبْدِ لَا تَجُوزُ فَلِلسَّيِّدِ مَنْعُهُ مِنْ ذَبْحِهَا قَبْلَ التَّعْيِينِ وَبَعْدَهُ وَإِذَا ذَبَحَهَا الْعَبْدُ كَانَتْ ذَبِيحَةَ لَحْمٍ وَلَمْ تَكُنْ أُضْحِيَّةً لِلْعَبْدِ وَلَا لِلسَّيِّدِ

Jenis kedua adalah apabila tuan mengizinkan budaknya untuk berkurban atas nama dirinya sendiri. Dalam hal kebolehan kurban tersebut untuk dirinya sendiri, terdapat dua pendapat: jika dikatakan bahwa budak dapat memiliki sesuatu apabila telah diberikan kepemilikan, maka kurban itu sah; namun jika dikatakan bahwa budak tidak dapat memiliki sesuatu meskipun telah diberikan kepemilikan, maka kurban itu tidak sah. Jika dipilih pendapat yang membolehkan, maka kurban tersebut menjadi kurban atas nama budak, bukan atas nama tuan, dan tuan tidak berhak mengambil kembali kurban itu setelah disembelih, karena hak para miskin telah melekat padanya dengan penyembelihan tersebut. Namun, jika hal itu terjadi sebelum kurban diwajibkan dan ditetapkan, maka sah bagi tuan untuk mengambilnya kembali. Jika terjadi setelah kurban diwajibkan dan ditetapkan, maka tidak sah bagi tuan untuk mengambilnya kembali, karena kurban itu telah menjadi hak para miskin seperti halnya hewan yang telah disembelih. Jika dipilih pendapat bahwa kurban budak tidak sah, maka tuan berhak melarang budak untuk menyembelihnya, baik sebelum maupun sesudah penetapan. Jika budak tetap menyembelihnya, maka sembelihan itu hanya menjadi daging biasa dan tidak menjadi kurban, baik untuk budak maupun untuk tuan.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْمُكَاتَبُ فَيَمْلِكُ إِكْسَابَ نَفْسِهِ غَيْرَ أَنَّ مِلْكَهُ ضَعِيفٌ وَلَا يُمَاثِلُ مِلْكَ الْحُرِّ لِأَنَّهُ مَقْصُورٌ عَلَى أدائه في مال الكتابة ومؤونة نفس وَلِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ حَجْرٌ بِمَا اسْتَحَقَّهُ عَلَيْهِ مِنْ مال الكتابة وليس من أهل الضحايا لقصوره مِلْكَهُ وَإِنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ فَلِلسَّيِّدِ مَنْعُهُ بحق حجر فإن أذن له السيد في الأضحية فَإِنْ مُنِعَ الْعَبْدُ مِنْهَا إِذَا مَلَكَ كَانَ الْمُكَاتَبُ أَوْلَى بِالْمَنْعِ وَإِنْ جُوِّزَتْ لِلْعَبْدِ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ يَمْلِكُ فَفِي جَوَازِهَا مِنَ الْمُكَاتَبِ قَوْلَانِ

Adapun mukatab, ia berhak memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri, hanya saja kepemilikannya lemah dan tidak sama dengan kepemilikan orang merdeka, karena kepemilikannya terbatas pada pembayaran uang mukatabah dan kebutuhan dirinya. Tuannya berhak membatasi (mengatur) dirinya karena adanya hak tuan atas harta mukatabah tersebut. Ia bukan termasuk orang yang berhak berkurban karena lemahnya kepemilikannya. Jika ia ingin berkurban, maka tuannya berhak melarangnya berdasarkan hak pembatasan tersebut. Jika tuan mengizinkannya untuk berkurban, maka jika budak saja dilarang berkurban ketika ia memiliki harta, maka mukatab lebih utama untuk dilarang. Namun jika budak diperbolehkan berkurban ketika dikatakan ia memiliki harta, maka dalam kebolehan berkurban bagi mukatab terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَجُوزُ مِنْهُ وَتَصِحُّ لَهُ الْأُضْحِيَّةُ بِإِذْنِ السَّيِّدِ وَلَيْسَ فِيهَا بِالسَّوَاءِ مِنْ مَالِ الْعَبْدِ إِذَا مَلَكَ

Salah satunya adalah boleh baginya dan sah baginya berkurban dengan izin tuannya, dan dalam hal ini tidak sama dari harta budak jika ia memilikinya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تَصِحُّ لِأَنَّ سَيِّدَهُ لَا يَمْلِكُ مَا بِيَدِهِ وَإِنْ مَلَكَ مَا فِي يَدِ عَبْدِهِ فَصَحَّ إِذْنُهُ مَعَ عَبْدِهِ وَضَعُفَ مَعَ مُكَاتَبِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak sah, karena tuannya tidak memiliki apa yang ada di tangan budaknya. Namun, jika ia memiliki apa yang ada di tangan budaknya, maka sah izinnya bersama budaknya, dan menjadi lemah (tidak sah) bersama mukatabnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا مَنْ نِصْفُهُ حُرٌّ وَنِصْفُهُ مَمْلُوكٌ إِذَا مَلَكَ بِنِصْفِهِ الْحُرِّ مَالًا صَحَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لِلْمِلْكِ رِقَّةُ حَجْرٍ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِيهِ وَيَكُونُ أَهْلِ الضَّحَايَا بِهِ وَيَجُوزُ أَنْ يُضَحِّيَ بِغَيْرِ اعتراض كما لكامل الحرية

Adapun seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya lagi budak, apabila ia memiliki harta dengan bagian dirinya yang merdeka, maka kepemilikannya atas harta itu sah, dan tidak ada sifat perbudakan yang membatasi kepemilikannya, karena tidak ada hak bagi bagian budaknya atas harta tersebut. Ia juga termasuk orang yang berhak berkurban dengan harta itu, dan boleh baginya berkurban tanpa ada halangan, sebagaimana orang yang sepenuhnya merdeka.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا نَحَرَ سبعةٌ بدنةٌ أَوْ بقرةٌ فِي الضَّحَايَا أَوِ الْهَدْيِ كَانُوا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ واحدٍ أو شتى فسواءٌ وذلك يجزي وإن كان بعضهم مضحياً وبعضهم مهدياً أو مفتدياً أجزأ لأن سبع كل واحدٍ منهم يقوم مقام شاةٍ منفردةٍ وكذلك لو كان بعضهم يريد بنصيبه لحماً لا أضحيةً ولا هدياً وقال جابر بن عبد الله نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يوم الْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سبعةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سبعةٍ قَالَ الشافعي رحمه الله وهم شتى

Imam Syafi‘i berkata: Apabila tujuh orang menyembelih satu unta atau sapi untuk kurban atau hadyu, baik mereka berasal dari satu keluarga maupun berbeda-beda, hukumnya sama saja dan itu sah. Jika sebagian dari mereka berniat berkurban, sebagian lagi berniat hadyu, atau ada yang berniat fidyah, maka itu tetap sah, karena masing-masing dari mereka mendapatkan bagian seper tujuh yang setara dengan satu kambing secara tersendiri. Demikian pula jika ada di antara mereka yang hanya menginginkan dagingnya, bukan untuk kurban atau hadyu. Jabir bin ‘Abdullah berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Hudaibiyah menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang. Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Mereka berasal dari kelompok yang berbeda-beda.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْبَدَنَةُ فِي الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا فَهِيَ عَنْ سَبْعَةٍ وَكَذَلِكَ الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَيَقُومُ كُلُّ سَبُعٍ مَقَامَ شَاةٍ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ

Al-Mawardi berkata: Adapun unta dalam kurban dan hadyu, maka itu untuk tujuh orang, demikian pula sapi untuk tujuh orang, dan setiap bagian ketujuh menggantikan satu kambing, dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama).

وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ الْبَدَنَةُ عَنْ عَشَرَةٍ وَكَذَلِكَ الْبَقَرَةُ وَبِهِ قَالَ بَعْضُ التَّابِعِينَ وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ نَحَرْنَا الْبَدَنَةَ عَنْ عَشَرَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ عَشَرَةٍ وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْبَدَنَةُ فِي الْغَنَائِمِ بعشرٍ مِنَ الْغَنَمِ فَكَذَلِكَ فِي الضَّحَايَا

Ishaq bin Rahawaih berkata, “Seekor unta untuk sepuluh orang, demikian pula seekor sapi.” Pendapat ini juga dikatakan oleh sebagian tabi‘in, dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebagai hujjah berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Kami menyembelih unta untuk sepuluh orang dan sapi untuk sepuluh orang.” Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seekor unta dalam harta rampasan perang sebanding dengan sepuluh ekor kambing, maka demikian pula dalam kurban.”

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَامَ الْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَهَذَا لَا يَكُونُ مِنْهُمْ إِلَّا عَنْ أَمْرِهِ عَلَى أَنَّ الشَّافِعِيَّ قَدْ رَوَى عَنْ يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَحَرَ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Malik, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Kami menyembelih bersama Rasulullah saw. pada tahun Hudaibiyah unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang. Dan hal ini tidak mungkin mereka lakukan kecuali atas perintah beliau. Adapun asy-Syafi‘i telah meriwayatkan dari Yahya bin Hassan, dari Hammad bin Salamah, dari Qais bin Sa‘d, dari ‘Atha’, dari Jabir bahwa Nabi saw. menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.

فَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَهُوَ مَوْقُوفٌ وَلَيْسَ بِمُسْنَدٍ وَمَتْرُوكٌ وَغَيْرُهُ مَعْمُولٌ بِهِ وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى تَعْدِيلِهَا فِي الْغَنَائِمِ بِعَشْرٍ مِنَ الْغَنَمِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ فِي الضَّحَايَا أصلاً لأنه قد اختلف قتادة جُعِلَ بِعَشْرٍ وَتَارَةً بِأَقَلَّ وَتَارَةً بِأَكْثَرَ

Adapun hadis Ibnu ‘Abbas, maka hadis itu mauqūf dan bukan musnad, serta ditinggalkan, dan selainnya yang diamalkan. Hadis itu dimaknai sebagai penyesuaian dalam ghanā’im dengan sepuluh ekor kambing, dan tidak boleh menjadikannya sebagai dasar dalam masalah dhahāyā, karena Qatadah berbeda pendapat: kadang dijadikan sepuluh, kadang kurang, dan kadang lebih.

الِاشْتِرَاكُ فِي لَحْمِ الْبَدَنَةِ وَالْبَقَرَةِ مِنْ حَيْثُ الْفَرْضُ وَالتَّطَوُّعُ

Berbagi dalam daging unta dan sapi, baik dalam pelaksanaan yang wajib maupun sunnah.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ جَازَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهَا سَبْعَةٌ مِنَ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا وَيَكُونُ كُلُّ سُبْعٍ مِنْهَا ضَحِيَّةً لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَكَذَلِكَ لَوْ كَانُوا مُفْتَرِضِينَ أَوْ مُتَطَوِّعِينَ فِي قُرَبٍ مُتَمَاثِلَةٍ أَوْ مُخْتَلِفَةٍ أَوْ بَعْضُهُمْ يُرِيدُ حَقَّهُ لَحْمًا وَبَعْضُهُمْ يَكُونُ بِهِ مُتَقَرِّبًا وَسَوَاءٌ كَانُوا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ وَاحِدٍ أَوْ بُيُوتٍ شَتَّى

Apabila telah tetap bahwa unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang, maka boleh tujuh orang bersekutu dalam kurban dan hadyu tersebut, dan setiap bagian ketujuh dari hewan itu menjadi kurban untuk masing-masing dari mereka. Demikian pula jika mereka melakukannya karena kewajiban atau sunnah dalam bentuk ibadah yang serupa atau berbeda, atau sebagian dari mereka menginginkan bagiannya berupa daging, dan sebagian lainnya menjadikannya sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri kepada Allah), baik mereka berasal dari satu keluarga maupun dari keluarga yang berbeda-beda.

وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ كَانُوا مُفْتَرِضِينَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْتَرِكُوا وَإِنْ كَانُوا مُتَطَوِّعِينَ جَازَ أَنْ يَشْتَرِكُوا إِذَا كَانُوا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْتَرِكُوا إِذَا كَانُوا مِنْ بُيُوتٍ شَتَّى لِأَنَّ التَّطَوُّعَ أَخَفُّ حُكْمًا مِنَ الْفَرْضِ وَأَهْلُ الْبَيْتِ يَشْتَرِكُونَ فِي الْأَكْلِ وَالْإِطْعَامِ

Malik berkata, jika mereka melakukannya sebagai kewajiban (fardhu), maka tidak boleh mereka bersekutu (dalam hewan kurban). Namun jika mereka melakukannya secara sukarela (tathawwu‘), maka boleh mereka bersekutu jika mereka berasal dari satu rumah tangga, dan tidak boleh mereka bersekutu jika berasal dari rumah tangga yang berbeda, karena ibadah tathawwu‘ hukumnya lebih ringan daripada fardhu, dan anggota satu rumah tangga biasa bersekutu dalam makan dan memberi makan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِذَا كَانُوا مُتَقَرِّبِينَ جَازَ أَنْ يَشْتَرِكُوا مُفْتَرِضِينَ وَمُتَطَوِّعِينَ سَوَاءٌ أَكَانُوا أَهْلَ بَيْتٍ أَوْ بُيُوتٍ شَتَّى وَإِنْ كَانَ بَعْضُهُمْ مُتَقَرِّبًا وَبَعْضُهُمْ يُرِيدُ سَهْمَهُ لَحْمًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْتَرِكُوا لِأَنَّ مَصْرِفَ الْقُرَبِ وَاحِدٌ وَمَصْرِفَهَا مَعَ اللَّحْمِ مُخْتَلِفٌ وَالدَّلَالَةُ عَلَى مَالِكٍ حَدِيثُ جَابِرٍ قَالَ نَحَرْنَا بِالْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَقَدْ كَانُوا أَشْتَاتًا مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى وَلَوِ اتَّفَقَتْ قَبَائِلُهُمْ لَمْ تَتَّفِقْ بُيُوتُهُمْ وَلَوِ اتَّفَقَتْ لَتَعَذَّرَ أَنْ يَسْتَكْمِلَ عدد كل بيت سبعة حتى لا يزيدون عليهم ولا ينقصون مِنْهُمْ فَبَطَلَ بِهِ قَوْلُ مَالِكٍ فِي الِافْتِرَاضِ وَالِاقْتِرَانِ وَرَوَى جَابِرٌ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنْ يَشْتَرِكَ السَّبْعَةُ فِي بَدَنَةٍ وَنَحْنُ مُتَمَتِّعُونَ عَامَ الْوَدَاعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ اشْتِرَاكِ الْمُفْتَرِضِينَ لِأَنَّ دَمَ الْمُتَمَتِّعِ فَرْضٌ

Abu Hanifah berkata: Jika mereka semua berniat mendekatkan diri (kepada Allah), maka boleh bagi mereka untuk berpatungan, baik yang melaksanakan kewajiban (muftaridīn) maupun yang sunnah (mutathawwi‘īn), baik mereka berasal dari satu keluarga maupun dari keluarga yang berbeda-beda. Namun, jika sebagian dari mereka berniat mendekatkan diri dan sebagian lainnya hanya menginginkan bagiannya berupa daging, maka tidak boleh mereka berpatungan, karena tujuan ibadah (qurbah) itu satu, sedangkan tujuan ibadah yang bercampur dengan tujuan mendapatkan daging itu berbeda. Dalil bagi pendapat Malik adalah hadis Jabir yang berkata: “Kami menyembelih unta di Hudaibiyah untuk tujuh orang, dan sapi untuk tujuh orang, padahal mereka berasal dari berbagai kabilah yang berbeda. Andaikan kabilah mereka sama, maka rumah mereka belum tentu sama, dan andaikan rumah mereka sama, maka sulit untuk melengkapi jumlah tujuh orang dalam satu rumah sehingga tidak lebih dan tidak kurang dari tujuh, maka dengan demikian batal pendapat Malik tentang kewajiban dan penyertaan.” Jabir juga meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar tujuh orang berpatungan dalam satu unta, dan kami saat itu sedang melakukan tamattu‘ pada tahun perpisahan.” Ini menunjukkan bolehnya berpatungan bagi orang-orang yang melaksanakan kewajiban, karena darah orang yang tamattu‘ itu hukumnya wajib.

وَلِأَنَّ كُلَّ مَا جَازَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ السَّبْعَةُ إِذَا كَانُوا مُتَطَوِّعِينَ جَازَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ السَّبْعَةُ إِذَا كَانُوا مفترضين كَالسُّبْعِ مِنَ الْغَنَمِ وَفِي هَذَا انْفِصَالٌ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ كُلَّ مَا جَازَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ السَّبْعَةُ إِذَا كَانُوا مُتَقَرِّبِينَ جَازَ أَنْ يَشْتَرِكُوا فِيهِ وَإِنْ كَانَ بَعْضُهُمْ غَيْرَ مُتَقَرِّبٍ كَالسُّبْعِ مِنَ الْغَنَمِ

Dan karena segala sesuatu yang boleh dilakukan secara bersama oleh tujuh orang ketika mereka melakukannya secara sunnah, maka boleh pula dilakukan bersama oleh tujuh orang ketika mereka melakukannya secara wajib, seperti tujuh bagian dari kambing, dan dalam hal ini terdapat perbedaan. Dalil menurut Abu Hanifah adalah bahwa segala sesuatu yang boleh dilakukan bersama oleh tujuh orang ketika mereka bertaqarrub, maka boleh pula mereka melakukannya bersama meskipun sebagian dari mereka tidak bertaqarrub, seperti tujuh bagian dari kambing.

وَلِأَنَّ سَهْمَ كُلِّ وَاحِدٍ مُعْتَبَرٌ بِنِيَّتِهِ لَا بِنِيَّةِ غَيْرِهِ لِأَنَّهُمْ لَوِ اخْتَلَفَتْ قُرَبُهُمْ فَجَعَلَ بَعْضُهُمْ سَهْمَهُ عَنْ قِرَانٍ وَبَعْضُهُمْ عَنْ تَمَتُّعٍ وَبَعْضُهُمْ عَنْ حَلْقٍ وَبَعْضُهُمْ عَنْ لِبَاسٍ جَازَ كَذَلِكَ إِذَا جَعَلَ بَعْضُهُمْ سَهْمَهُ لَحْمًا لِأَنَّ نِيَّةَ غَيْرِ الْمُتَقَرِّبِ لَا تُؤَثِّرُ فِي نِيَّةِ الْمُتَقَرِّبِ

Karena bagian masing-masing orang itu dianggap berdasarkan niatnya sendiri, bukan berdasarkan niat orang lain. Sebab, jika bentuk ibadah mereka berbeda—sebagian dari mereka menjadikan bagiannya untuk qirān, sebagian untuk tamattu‘, sebagian untuk mencukur rambut, dan sebagian untuk pakaian—maka hal itu dibolehkan. Demikian pula jika sebagian dari mereka menjadikan bagiannya sebagai daging (biasa), karena niat orang yang tidak bertaqarrub tidak berpengaruh terhadap niat orang yang bertaqarrub.

وَقَوْلُهُ إِنَّ مَصْرِفَ الْقُرْبِ وَاحِدٌ غَيْرُ مُسَلَّمٍ لِأَنَّ مَصْرِفَ الْفَرْضِ غَيْرُ مَصْرِفِ التَّطَوُّعِ وَمَحِلُّ الْهَدْيِ غَيْرُ مَحِلِّ الْأَضَاحِيِّ

Dan ucapannya bahwa tempat penyaluran amal kebajikan itu satu, tidak dapat diterima, karena tempat penyaluran kewajiban berbeda dengan tempat penyaluran sunnah, dan tempat penyembelihan hadyu berbeda dengan tempat penyembelihan udhiyah.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا وَنَحَرَ السَّبْعَةُ الْمُشْتَرِكُونَ بَدَنَةً فَإِنْ كَانُوا مُتَقَرِّبِينَ وَدَفَعُوا لَحْمَهَا إِلَى الْمَسَاكِينِ لِيَكُونُوا هُمُ الْمُقْتَسِمِينَ لَهَا جَازَ وَإِنْ كَانَ بَعْضُهُمْ غَيْرَ مُتَقَرِّبٍ يُرِيدُ سَهْمَهُ لَحْمًا يُقَاسِمُهُمْ عَلَيْهِ فَإِنْ قِيلَ فِي الْقِسْمَةِ إِنَّهَا إِقْرَارُ حَقٍّ وَتَمْيِيزُ نَصِيبٍ جَازَتِ الْقِسْمَةُ وَكَانَ الْمُتَقَرِّبُونَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُقَاسِمُوهُمْ قَبْلَ دَفْعِ سِهَامِهِمْ إِلَى الْمَسَاكِينِ

Apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, dan tujuh orang yang bersekutu menyembelih seekor unta, maka jika mereka semua berniat mendekatkan diri (kepada Allah) dan mereka menyerahkan dagingnya kepada para miskin agar mereka sendiri yang membaginya, maka hal itu diperbolehkan. Namun jika di antara mereka ada yang tidak berniat mendekatkan diri, melainkan hanya menginginkan bagiannya berupa daging untuk dibagi bersama mereka, maka jika dalam pembagian itu dikatakan bahwa pembagian tersebut adalah pengakuan hak dan penentuan bagian, maka pembagian itu diperbolehkan, dan orang-orang yang berniat mendekatkan diri memiliki pilihan antara membagi bersama mereka sebelum menyerahkan bagian-bagian mereka kepada para miskin.

وَبَيْنَ أَنْ يَدْفَعُوهَا قَبْلَ الْقِسْمَةِ إِلَى الْمَسَاكِينِ وَيَكُونُ هُمُ الْقَاسِمِينَ وَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ لَمْ يَجُزِ الْقِسْمَةُ فَإِنْ أَرَادَ الْمُتَقَرِّبُونَ أَنْ يَتَقَاسَمُوهُ لَمْ تَجُزْ لِمَعْنَيَيْنِ

Antara mereka menyerahkannya kepada para miskin sebelum pembagian dan para miskin itulah yang membaginya, dan jika dikatakan bahwa pembagian itu adalah jual beli, maka pembagian tidak diperbolehkan. Jika orang-orang yang ingin mendekatkan diri (kepada Allah) ingin membaginya di antara mereka, maka itu tidak diperbolehkan karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ لُحُومَ الْقُرَبِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَهَا الْمُتَقَرِّبُ

Salah satunya adalah bahwa daging hewan kurban tidak boleh dijual oleh orang yang berkurban.

وَالثَّانِي أَنَّ الطَّعَامَ الرَّطْبَ لَا يَجُوزُ بَيْعُ بَعْضِهِ بِبَعْضِ خَوْفِ الرِّبَا وَإِنْ أَرَادَ الْمَسَاكِينُ أَنْ يَتَقَاسَمُوهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَقَاسَمُوهُ لِمَعْنًى وَاحِدٍ وَهُوَ خَوْفُ الرِّبَا لِأَنَّ بَيْعَهُمْ لَمَّا أَخَذُوهُ مِنَ الْقُرْبِ جَائِزٌ وَإِنْ تَرَكُوهُ حَتَّى يجف ثم اقتسموه جاز

Kedua, makanan basah tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian lainnya karena dikhawatirkan terjadi riba. Jika para miskin ingin membaginya, maka tidak boleh mereka membaginya karena satu alasan, yaitu kekhawatiran terjadinya riba. Sebab, penjualan mereka setelah mengambilnya dari wadah adalah boleh. Namun, jika mereka membiarkannya hingga kering lalu membaginya, maka itu diperbolehkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَالْأَضْحَى جائزٌ يَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامُ مِنًى كُلُّهَا إلى المغيب لأنها أيام نسكٍ قال المزني رحمه الله وهو قول عطاءٍ والحسن أخبرنا عليُّ بن معبدٍ عن هشيمٍ عن يونس عن الحسن أنه قال يضحى أيام التشريق كلها وحدثنا عليُّ بن معبدٍ عن هشيمٍ عن الحجاج عن عطاءٍ أنه كان يقول يضحى في أيام التشريق

Imam Syafi‘i berkata, “Penyembelihan hewan kurban diperbolehkan pada hari Idul Adha dan seluruh hari-hari Mina hingga matahari terbenam, karena hari-hari tersebut adalah hari-hari pelaksanaan ibadah.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Ini juga merupakan pendapat ‘Atha’ dan al-Hasan.” Ali bin Ma‘bad telah mengabarkan kepada kami dari Hasyim, dari Yunus, dari al-Hasan, bahwa ia berkata, “Penyembelihan kurban boleh dilakukan pada seluruh hari tasyrik.” Dan Ali bin Ma‘bad juga meriwayatkan dari Hasyim, dari al-Hajjaj, dari ‘Atha’, bahwa ia biasa mengatakan, “Penyembelihan kurban boleh dilakukan pada hari-hari tasyrik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا أَيَّامُ نَحْرِ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا فَمُخْتَلَفٌ فِيهَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata: Adapun hari-hari penyembelihan hewan kurban dan hadyu, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai hal itu menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ أَنَّهَا أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ الثَّلَاثَةِ حَتَّى تَغِيبَ شَمْسُهُ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i dan mayoritas sahabat, tabi‘in, serta para fuqaha, menyatakan bahwa hari-hari tersebut adalah empat hari, mulai dari hari Nahr hingga akhir tiga hari Tasyriq, sampai terbenamnya matahari.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي مَا قَالَهُ مَالِكٌ إِنَّهَا ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلَى آخِرِ الثَّانِي مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَهُوَ يَوْمُ النَّفْرِ الْأَوَّلِ

Mazhab kedua adalah pendapat Malik, yaitu bahwa hari-hari tersebut adalah tiga hari, mulai dari hari Nahr hingga akhir hari kedua dari hari-hari Tasyriq, yaitu hari Nafr pertama.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَسُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ إنَّهَا مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلَى آخِرِ ذِي الْحِجَّةِ بِرِوَايَةِ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسُلَيْمَانَ بن يسار أنه بلغها أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ إِنَّ الضَّحَايَا إِلَى هِلَالِ الْمُحَرَّمِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَأْنِيَ ذَلِكَ

Madzhab ketiga, yaitu pendapat Abu Salamah bin Abdurrahman, Ibrahim an-Nakha‘i, dan Sulaiman bin Yasar, menyatakan bahwa waktu penyembelihan kurban adalah dari hari Nahr hingga akhir Dzulhijjah, berdasarkan riwayat dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sulaiman bin Yasar bahwa telah sampai kepada mereka bahwa Nabi Allah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya waktu penyembelihan kurban itu sampai hilal Muharram bagi siapa yang ingin menunda hal itu.”

وَرَوَى يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حنيف يقول إنه كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَشْتَرِي أَحَدُهُمُ الْأُضْحِيَّةَ وَيُسَمِّنُهَا فَيَذْبَحُهَا بَعْدَ الْأَضْحَى فِي آخِرِ ذِي الْحِجَّةِ وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى وَيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِيهَا وَلَكِنْ لَمَّا جُعِلَ لِلنَّحْرِ أَيَّامًا بَطَلَ أَنْ يَكُونَ شَهْرًا

Yahya bin Sa‘id meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata bahwa dahulu kaum Muslimin membeli hewan kurban dan menggemukkannya, lalu mereka menyembelihnya setelah hari Idul Adha, yaitu pada akhir bulan Dzulhijjah. Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak.” Telah berlalu pembahasan mengenai ayat ini, namun ketika penyembelihan (nahr) telah ditetapkan hanya pada hari-hari tertentu, maka batal (tidak berlaku) jika dikatakan waktunya adalah satu bulan penuh.

وَرَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ كُلُّهَا ذبحٌ

Sulaiman bin Musa meriwayatkan dari Nafi‘ bin Jubair bin Muth‘im dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh hari-hari tasyriq adalah waktu untuk menyembelih.”

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ جَعَلَ ثَلَاثَةَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ مِنْهَا وَدَلِيلٌ عَلَى مَنِ اسْتَدَامَهَا إِلَى هِلَالِ الْمُحَرَّمِ لِاخْتِصَاصِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ بِهَا

Di dalamnya terdapat dalil bagi Imam Malik yang memasukkan tiga hari tasyrik sebagai bagian darinya, dan juga dalil bagi mereka yang memperpanjangnya hingga hilal Muharram, karena kekhususan hari-hari tasyrik dengannya.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ أَمَرَ بِالنِّدَاءِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَلَا إِنَّهَا أَيَّامُ أكلٍ وشربٍ ونحرٍ وذكرٍ فَدَلَّ عَلَى اخْتِصَاصِ النَّحْرِ بِجَمِيعِهَا وَلِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ جَازَ فِيهِ الرَّمْيُ جَازَ فِيهِ النَّحْرُ كَالْيَوْمِ الثَّانِي وَكُلَّ يَوْمٍ لَمْ يَجُزْ فِيهِ الرَّمْيُ لَمْ يَجُزْ فِيهِ النَّحْرُ كَالْمُحَرَّمِ وَلِأَنَّهَا سُمِّيَتْ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ لِتَشْرِيقِ لُحُومِ الْهَدَايَا فِي شَمْسِهَا فَلَوْ كَانَ غَيْرُهَا فِي حُكْمِهَا لَجَازَ انْطِلَاقُ اسْمِ التَّشْرِيقِ عَلَى جَمِيعِهَا وَفِي امْتِنَاعِ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى فَسَادِ مَا أَدَّى إِلَيْهِ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا احْتَجُّوا بِهِ فَهُوَ أَنَّ مِثْلَهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حُجَّةً فِي الدِّينِ ولا طريقاً إلى الأحكام ولو صح جاز فَسْخُهُ بِمَا هُوَ أَثْبَتُ مِنْهُ وَاقْتَرَنَ بِهِ الْعَمَلُ بِضِدِّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau memerintahkan untuk menyerukan pada hari-hari tasyriq: “Ketahuilah, sesungguhnya hari-hari ini adalah hari makan, minum, menyembelih, dan berzikir.” Hal ini menunjukkan kekhususan penyembelihan pada seluruh hari tersebut. Karena setiap hari yang dibolehkan untuk melempar jumrah, maka dibolehkan pula untuk menyembelih, seperti hari kedua. Dan setiap hari yang tidak dibolehkan untuk melempar jumrah, maka tidak dibolehkan pula untuk menyembelih, seperti bulan Muharram. Hari-hari itu dinamakan hari-hari tasyriq karena pada hari-hari itu daging hewan hadyu dijemur di bawah matahari. Seandainya selain hari-hari itu memiliki hukum yang sama, niscaya nama tasyriq boleh digunakan untuk semuanya. Tidak bolehnya hal itu menunjukkan rusaknya apa yang mengantarkan kepadanya. Adapun jawaban terhadap dalil yang mereka gunakan adalah bahwa dalil semacam itu tidak boleh dijadikan hujjah dalam agama dan tidak menjadi jalan untuk menetapkan hukum. Kalaupun sah, maka boleh dibatalkan dengan dalil yang lebih kuat darinya dan telah diamalkan dengan kebalikannya. Dan Allah Maha Mengetahui.

فَصَلَ

Bab

يَخْتَارُ لِلْإِمَامِ أَنْ يُضَحِّيَ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَنْهُمْ مِنْ بَيْتِ مَالِهِمْ بَدَنَةً يَذْبَحُهَا فِي الْمُصَلَّى بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ صَلَاتِهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ وَأَقَلُّ مَا يَنْحَرُهُ شَاةٌ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَحَرَ بَعْدَ صَلَاتِهِ شَاةً عَنْ أُمَّتِهِ وَيَتَوَلَّى نَحْرَهَا بِنَفْسِهِ اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَالْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِينَ وَيُخَلِّيَ بَيْنَ النَّاسِ وَبَيْنَهَا فَإِنْ ضَحَّى مِنْ مَالِهِ ذَبَحَ حَيْثُ شَاءَ فَفَرَّقَ عَلَى مَا أَرَادَ فَأَمَّا غَيْرُ الْإِمَامِ فَيَخْتَارُ أَنْ يُضَحِّيَ فِي مَنْزِلِهِ بِمَشْهَدِ أَهْلِهِ لِيَفْرَحُوا بِالذَّبْحِ وَيَسْتَمْتِعُوا بِاللَّحْمِ فَإِنْ ضَحَّى بِعَدَدٍ مِنَ الضَّحَايَا فَيَخْتَارُ أَنْ يُفَرِّقَهَا فِي أَيَّامِ النَّحْرِ فَيَنْحَرُ فِي كُلِّ يَوْمٍ بَعْضَهَا لِأَنَّهُ أَطْوَلُ اسْتِمْتَاعًا بِلَحْمِهَا فَإِنْ ضَحَّى بِرَأْسَيْنِ فَيَجِبُ أَنْ يَذْبَحَ أَحَدَهُمَا فِي أَوَّلِ الْأَيَّامِ وَالثَّانِي فِي آخِرِ الْأَيَّامِ فَإِنْ عَدَلَ عَنِ الِاخْتِيَارِ فَذَبَحَ جَمِيعَهَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ وَيَخْتَارُ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى الْأَكْلِ مِنْ أَكْبَادِهَا وَأَسْنِمَتِهَا اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِأَنَّهُ مِنْ أَطَايِبِهَا

Disunnahkan bagi imam untuk berkurban atas nama seluruh kaum Muslimin dan mewakili mereka dari baitul mal mereka dengan seekor unta yang disembelihnya di tempat shalat setelah selesai shalatnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Kurban paling sedikit yang disembelih adalah seekor kambing, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalatnya menyembelih seekor kambing atas nama umatnya. Imam sendiri yang melaksanakan penyembelihan itu, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam yang mendapat petunjuk, lalu membiarkan orang-orang mengambil bagian dari kurban itu. Jika imam berkurban dengan hartanya sendiri, maka ia boleh menyembelih di mana saja ia kehendaki dan membagikannya sesuai keinginannya. Adapun selain imam, disunnahkan untuk berkurban di rumahnya dengan disaksikan keluarganya agar mereka bergembira dengan penyembelihan itu dan menikmati dagingnya. Jika ia berkurban dengan beberapa hewan kurban, maka disunnahkan untuk membagikannya pada hari-hari penyembelihan, dengan menyembelih sebagian setiap harinya, karena itu lebih lama dalam menikmati dagingnya. Jika ia berkurban dengan dua ekor, maka wajib menyembelih salah satunya pada hari pertama dan yang kedua pada hari terakhir. Jika ia tidak memilih cara tersebut dan menyembelih semuanya dalam satu hari, maka tidak mengapa. Disunnahkan pula untuk segera memakan hati dan punuknya, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu termasuk bagian terbaik dari hewan kurban.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَا تَصِحُّ الْأُضْحِيَّةُ عَنِ الْحَمْلِ كَمَا لَا يُزَّكَّى عَنْهُ زَكَاةَ الْفِطْرِ وَلَا يَجُوزُ لِوَلِيِّ الطِّفْلِ وَالْمَجْنُونِ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُمَا مِنْ أَمْوَالِهِمَا وَيَجِبَ أَنْ يُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْهُمَا مِنْ أَمْوَالِهِمَا لِأَنَّ الزَّكَاةَ فرض والأضحية سنة

Tidak sah berkurban atas nama janin, sebagaimana tidak dikeluarkan zakat fitrah atasnya. Tidak boleh bagi wali anak kecil dan orang gila untuk berkurban atas nama mereka berdua dari harta mereka, namun wajib mengeluarkan zakat fitrah atas nama mereka dari harta mereka, karena zakat adalah fardhu sedangkan kurban adalah sunnah.

باب العقيقة
Bab ‘Aqīqah

مسألة

Masalah

قال الشافعي أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَزِيدَ عَنْ سِبَاعِ بْنِ وهبٍ عَنْ أُمِّ كرزٍ قَالَتْ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَسْأَلُهُ عَنْ لُحُومِ الْهَدْيِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَقَرُّوا الطَّيْرَ عَلَى مَكِنَاتِهَا قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فَيُعَقُّ عَنِ الْغُلَامِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ

Syafi‘i berkata: Isma‘il bin Ibrahim telah memberitakan kepada kami, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, dari Siba‘ bin Wahb, dari Ummu Karz, ia berkata: Aku datang kepada Nabi ﷺ untuk menanyakan tentang daging hadyu, lalu aku mendengarnya bersabda: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Tidak mengapa, baik kambing itu jantan maupun betina.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Biarkanlah burung-burung tetap di sarangnya.” Syafi‘i rahimahullah berkata: Maka dilakukan ‘aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَمَّا الْعَقِيقَةُ فَهِيَ شَاةٌ تُذْبَحُ عِنْدَ الْوِلَادَةِ كَانَتِ الْعَرَبُ عَلَيْهَا قَبْلَ الْإِسْلَامِ القول في العقيقة

Al-Mawardi berkata, adapun ‘aqiqah adalah seekor kambing yang disembelih pada saat kelahiran. Kaum Arab telah melakukannya sebelum Islam. Pembahasan mengenai ‘aqiqah.

اخْتُلِفَ فِيهَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ مَنْدُوبٌ إِلَيْهَا

Setelah Islam, terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini; Imam Syafi‘i berpendapat bahwa hal tersebut adalah sunnah yang dianjurkan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَيْسَتْ بِسُنَّةٍ وَلَا نَدْبٍ

Abu Hanifah berkata, “Itu bukanlah sunnah dan bukan pula anjuran.”

وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَدَاوُدُ هِيَ وَاجِبَةٌ وَاسْتَدَلَّ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى أَنَّهَا غَيْرُ مَسْنُونَةٍ بِرِوَايَةِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ لَا أَحُبُّ الْعُقُوقَ وَبِرِوَايَةِ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ لَمَّا وُلِدَ أَرَادَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَامُ أَنْ تَعُقَّ عَنْهُ كَبْشًا فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا تَعُقِّي عَنْهُ وَاحْلِقِي شَعْرَهُ وَتَصَدَّقِي بِوَزْنِهِ عَلَى الْمَسَاكِينِ فَلَمَّا وَلَدَتِ الْحُسَيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَعَلَتْ مِثْلَ ذَلِكَ وَاسْتَدَلَّ الْحَسَنُ عَلَى وُجُوبِ الْعَقِيقَةِ بِرِوَايَتِهِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْغُلَامُ مرتهنٌ بِعَقِيقَتِهِ فَاذْبَحُوا عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ

Al-Hasan al-Bashri dan Dawud berpendapat bahwa aqiqah itu wajib. Abu Hanifah berdalil bahwa aqiqah tidak disunnahkan dengan riwayat dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang aqiqah, lalu beliau bersabda, “Aku tidak menyukai kedurhakaan.” Dan juga dengan riwayat dari Ibnu Aqil, dari Ali bin Hasan bin Abi Rafi’, bahwa ketika Hasan bin Ali as. lahir, Fatimah as. ingin menyembelihkan kambing aqiqah untuknya, maka Nabi saw. bersabda kepadanya, “Janganlah engkau menyembelihkan aqiqah untuknya, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan seberat rambut itu kepada orang-orang miskin.” Ketika Husain as. lahir, ia melakukan hal yang sama. Al-Hasan berdalil atas wajibnya aqiqah dengan riwayatnya dari Samurah bin Jundab, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Anak laki-laki tergadai dengan aqiqahnya, maka sembelihlah untuknya pada hari ketujuh.”

وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِيَنَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنُ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

Muhammad bin Sirin meriwayatkan dari Sulaiman bin Amir, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Bersama anak laki-laki ada akikahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan hilangkanlah gangguan darinya.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ بَعْدَ حَدِيثِ أُمِّ كُرْزٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عق عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ ابْنَيْ عَلِيٍّ عَلَيْهِمْ السَّلَامُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ نَهْيَ فَاطِمَةَ عَنْهُ لِأَنَّهُ عَقَّ عَنْهُمَا

Dan dalil bahwa aqiqah itu sunnah dan bukan wajib adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i setelah hadis Ummu Kurz, dari Ibrahim bin Muhammad bin Yahya bin Sa‘id, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ telah melakukan aqiqah untuk al-Hasan dan al-Husain, kedua putra ‘Ali ‘alaihim as-salam. Maka ini menunjukkan bahwa larangan Fathimah terhadap aqiqah adalah karena Rasulullah telah melakukan aqiqah untuk keduanya.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي ضَمْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِعَرَفَةَ عَلَى الْمِنْبَرِ سُئِلَ عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ لَا أُحِبُّ الْعُقُوقَ وَلَكِنْ مَنْ وُلِدَ لَهُ ولدٌ فَأُحِبُّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَفْعَلْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ كَرِهَ الِاسْمَ وَنَدَبَ إِلَى الْفِعْلِ

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari Zaid bin Aslam, dari seorang laki-laki dari Bani Dhamrah, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah di atas mimbar ditanya tentang ‘aqiqah, maka beliau bersabda: “Aku tidak menyukai ‘uquq (kedurhakaan), tetapi barang siapa yang dikaruniai seorang anak, maka aku suka jika ia menyembelih hewan untuknya, maka hendaklah ia melakukannya.” Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menyukai penamaannya, namun menganjurkan pelaksanaannya.

وَلَكِنَّ وَلِيمَةَ النِّكَاحِ مَسْنُونَةٌ وَمَقْصُودَهَا طَلَبُ الْوَلَدِ فَكَانَ وِلَادَةُ الْوَلَدِ أَوْلَى بِأَنْ يَكُونَ الْإِطْعَامُ فِيهِ مَسْنُونًا

Namun, walimah nikah itu disunnahkan dan tujuannya adalah untuk memperoleh keturunan, maka kelahiran anak lebih utama untuk disunnahkan adanya jamuan makan di dalamnya.

وَأَمَّا قَوْلُهُ فِي حَدِيثِ أُمِّ كُرْزٍ أَقِرُّوا الطَّيْرَ عَلَى مَكِنَاتِهَا رَوَاهُ أَبُو عُبَيْدٍ بِفَتْحِ الْمِيمِ وَالْكَافِ يَعْنِي بِهِ أَمَاكِنَهَا وَأَوْكَارَهَا وَرَوَاهُ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ بِفَتْحِ الْمِيمِ وَكَسْرِ الْكَافِ يَعْنِي وَقْتَ تَمَلُّكِهَا وَاسْتِقْرَارِهَا وَفِي الْمُرَادِ بِهِ تَأْوِيلَانِ مُخْتَلِفَانِ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الرِّوَايَةِ

Adapun ucapannya dalam hadis Ummu Kurz: “Biarkan burung-burung tetap di tempatnya,” diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dengan membaca makīnātihā (dengan fathah pada mim dan kaf), yang dimaksud adalah tempat-tempat dan sarangnya. Ibnu al-A‘rābī meriwayatkannya dengan membaca makīnātihā (dengan fathah pada mim dan kasrah pada kaf), yang dimaksud adalah waktu burung itu dimiliki dan menetap. Terkait maksud dari hadis ini terdapat dua penafsiran yang berbeda sesuai perbedaan riwayat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ تَأْوِيلُ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ رَوَاهُ بِكَسْرِ الْكَافِ أَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَعْتَاقُ الطَّيْرَ وَتَزْجُرُهَا تَفَاؤُلًا وَتَطَيُّرًا إِذَا أَرَادُوا حَاجَةً أَوْ سَفَرًا فَيَنْفِرُونَ أَوَّلَ طَائِرٍ يَسْفَحُ لَهُمْ فَإِنْ طَارَ ذَاتَ اليمين قالوا هذا طائر الأيامن فيتيمنوا به وتوجهوا وأيقنوا بِالنَّجَاحِ وَإِنْ طَارَ ذَاتَ الشِّمَالِ قَالُوا هَذَا طير الأشائم فتشائموا بِهِ وَعَادُوا مُعْتَقَدِينَ لِلْخَيْبَةِ فَنَهَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ هَذَا وَقَالَ إِنَ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْفَأْلَ وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةَ

Salah satunya adalah penafsiran Imam Syafi‘i dan orang-orang yang meriwayatkannya dengan membaca kasrah pada huruf kaf, bahwa orang-orang Arab dahulu membebaskan burung dan melepaskannya sebagai bentuk optimisme atau pesimisme ketika mereka menginginkan suatu keperluan atau hendak bepergian. Mereka akan menerbangkan burung pertama yang mereka temui; jika burung itu terbang ke arah kanan, mereka berkata, “Ini adalah burung keberuntungan,” lalu mereka merasa optimis, melanjutkan perjalanan, dan yakin akan keberhasilan. Namun jika burung itu terbang ke arah kiri, mereka berkata, “Ini adalah burung kesialan,” lalu mereka merasa pesimis dan kembali dengan keyakinan akan kegagalan. Maka Rasulullah ﷺ melarang mereka melakukan hal ini dan bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyukai optimisme dan membenci tathayyur (anggapan sial karena pertanda tertentu).”

وَرَوَى قَبِيصَةُ بْنُ الْمُخَارِقِ الْهُزَلِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الطِّيَرَةِ وَالْعِيَافَةِ وَالطَّرْقِ الْعِيَافَةُ [هي] زَجْرُ الطَّيْرِ وَالطَّرْقُ هُوَ الضَّرْبُ وَبِهِ سُمِّيَتْ مِطْرَقَةُ الْحَدَّادِ

Qabisah bin al-Mukhariq al-Huzali meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang tathayyur, ‘iyafah, dan tharq. ‘Iyafah adalah menakut-nakuti burung, sedangkan tharq adalah memukul, dan dari kata ini pula palu pandai besi dinamakan mitraqah.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ مَنْ رَوَاهُ بِالْفَتْحِ فِي الْكَافِ أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ النَّهْيَ عَنْ صَيْدِ اللَّيْلِ إِذَا أَوَتِ الطَّيْرُ إِلَى أَمَاكِنِهَا وَاخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا فِي مَعْنَى النَّهْيِ عَنْ صَيْدِ اللَّيْلِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِأَنَّهُ وَقْتُ الدَّعَةِ وَالرَّاحَةِ وَقَالَ آخَرُونَ لِأَنَّ أَوْكَارَهَا مَأْوَى الْهَوَامِّ الْمَخُوفِ

Penafsiran kedua, yaitu pendapat orang yang meriwayatkannya dengan membaca huruf kāf secara fathah, adalah bahwa yang dimaksud dengannya adalah larangan berburu pada malam hari ketika burung-burung telah kembali ke tempatnya. Orang-orang yang berpendapat demikian berbeda pendapat mengenai makna larangan berburu pada malam hari; sebagian dari mereka mengatakan karena malam adalah waktu untuk beristirahat dan tenang, sementara yang lain mengatakan karena sarang-sarang burung merupakan tempat berlindung bagi binatang-binatang berbahaya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ الْعَقِيقَةَ سُنَّةٌ فَالْكَلَامُ فِيهَا يَشْتَمِلُ عَلَى سِتَّةِ فُصُولٍ أَحَدُهَا فِي مِقْدَارِ الْعَقِيقَةِ وَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ فَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ يُعَقُّ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَعِنْدَ مَالِكٍ يُعَقُّ عَنِ الْغُلَامِ شَاةٌ كَالْجَارِيَةِ مِنْ غَيْرِ تَفْضِيلٍ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا وَقَالَ آخرون يعق عَنِ الْغُلَامِ وَلَا يُعَقُّ عَنِ الْجَارِيَةِ لِأَنَّ الْعَقِيقَةَ السُّرُورُ وَالسُّرُورُ يَخْتَصُّ بِالْغُلَامِ دُونَ الْجَارِيَةِ

Setelah dipastikan berdasarkan apa yang telah kami sebutkan bahwa akikah adalah sunnah, maka pembahasan tentangnya mencakup enam bagian. Salah satunya adalah mengenai jumlah hewan akikah, yang di dalamnya terdapat tiga pendapat. Menurut Imam Syafi‘i, untuk anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Menurut Imam Malik, untuk anak laki-laki dan perempuan masing-masing satu ekor kambing, tanpa ada perbedaan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan akikah untuk Hasan dan Husain masing-masing satu ekor domba. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa akikah hanya dilakukan untuk anak laki-laki dan tidak untuk anak perempuan, karena akikah adalah bentuk ungkapan kegembiraan, dan kegembiraan tersebut khusus untuk anak laki-laki, tidak untuk anak perempuan.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِمَا رِوَايَةُ أُمِّ كُرْزٍ قَالَتْ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِالْحُدَيْبِيَّةِ أَسْأَلُهُ عَنْ لُحُومِ الْهَدْيِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كَانُوا أَوْ إِنَاثًا وَالْمُكَافِئَتَانِ الْمِثْلَانِ

Dan dalil mengenai keduanya adalah riwayat Ummu Kurz, ia berkata: Aku datang kepada Rasulullah ﷺ di Hudaibiyah untuk menanyakan tentang daging hadyu, lalu aku mendengarnya bersabda tentang anak laki-laki: dua ekor kambing yang sepadan, dan tentang anak perempuan: satu ekor kambing. Tidak mengapa apakah kambing itu jantan atau betina, dan yang dimaksud dengan “mukāfi’atān” adalah dua ekor kambing yang serupa.

وَرَوَى الْأَعْرَجُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّ الْيَهُودَ يَعُقُّونَ عَنِ الْغُلَامِ وَلَا يَعُقُّونَ عَنِ الْجَارِيَةِ فَعُقُّوا عَنِ الْغُلَامِ شَاتَيْنِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شاةٌ وَفِي هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ دَلِيلٌ عَلَى الْفَرِيقَيْنِ ثُمَّ عَلَى مَالِكٍ أَنَّهُ لَمَّا فُضِّلَ الْغُلَامُ عَلَى الْجَارِيَةِ فِي مِيرَاثِهِ وَأَحْكَامِهِ فُضِّلَ عَلَيْهَا فِي عَقِيقَتِهِ وَدَلِيلٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعُقَّ عَنِ الْجَارِيَةِ أَنَّ الْعَقِيقَةَ لِلتَّبَرُّكِ وَالتَّيَمُّنِ فَاقْتَضَى أَنْ يَقْصِدَ التَّيَمُّنَ وَالتَّبَرُّكَ بِهَا بِالذَّبْحِ عَنْهُمَا وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَوْ أَطَاعَ اللَّهَ النَّاسُ فِي النَّاسِ لَمْ يَكُنْ ناسٌ وَمَعْنَى أَطَاعَ أَيْ اسْتَجَابَ دُعَاءَهُمْ مَعْنَاهُ أَنَّ النَّاسَ يُحِبُّونَ أَنْ يُولَدَ لَهُمُ الذُّكْرَانُ دُونَ الْإِنَاثِ وَلَوْ لَمْ يَكُنِ الْإِنَاثُ ذَهَبَ النَّسْلُ فَلَمْ يَكُنْ نَاسٌ

Al-A‘raj meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi melakukan ‘aqiqah untuk anak laki-laki dan tidak melakukan ‘aqiqah untuk anak perempuan. Maka lakukanlah ‘aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing dan untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing.” Dalam dua hadis ini terdapat dalil bagi kedua kelompok, kemudian menurut Malik, ketika anak laki-laki diutamakan atas anak perempuan dalam hal warisan dan hukum-hukumnya, maka ia juga diutamakan atasnya dalam hal ‘aqiqah. Dan terdapat pula dalil bagi mereka yang tidak melakukan ‘aqiqah untuk anak perempuan, bahwa ‘aqiqah itu untuk mendapatkan keberkahan dan kebaikan, sehingga disyariatkan untuk mengharapkan keberkahan dan kebaikan itu dengan menyembelih hewan untuk keduanya. Telah diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Seandainya Allah mengabulkan keinginan manusia terhadap manusia, niscaya tidak akan ada manusia.” Makna “mengabulkan” adalah mengabulkan doa mereka, maksudnya bahwa manusia lebih menyukai jika mereka dikaruniai anak laki-laki daripada anak perempuan, dan jika tidak ada anak perempuan, maka keturunan akan terputus dan tidak akan ada manusia.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْفَصْلُ الثَّانِي فِي صِفَةِ الْعَقِيقَةِ وَهِيَ مِنَ النَّعَمِ كَالضَّحَايَا وَفِي أَسْنَانِهَا مِنَ الْجَذَعِ مِنَ الضَّأْنِ وَالثَّنِيِّ مِنَ الْمَعْزِ فَإِنْ عَدَلَ عَنِ الْغَنَمِ إِلَى الْبُدْنِ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كَانَ أَزْيَدَ مِنَ الْمَسْنُونِ وَأَفْضَلَ وَإِنْ عَقَّ دون الجزع مِنَ الضَّأْنِ وَدُونَ الثَّنِيِّ مِنَ الْمَعْزِ فَفِي إقامة لسُّنَّةِ الْعَقِيقَةُ بِهِ وَجْهَانِ

Bab kedua membahas tentang tata cara ‘aqīqah. ‘Aqīqah dilakukan dengan hewan ternak seperti hewan kurban. Dalam hal usia hewan, yaitu dengan menggunakan jadza‘ dari domba dan tsaniy dari kambing. Jika seseorang mengganti kambing dengan budnah dari unta atau sapi, maka itu lebih dari yang disunnahkan dan lebih utama. Namun jika melakukan ‘aqīqah dengan domba yang usianya di bawah jadza‘ atau kambing yang usianya di bawah tsaniy, maka dalam hal pelaksanaan sunnah ‘aqīqah dengan hewan tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا تَقُومُ بِهِ سُنَّةُ الْعَقِيقَةِ اعْتِبَارًا بِالْأُضْحِيَّةِ وَتَكُونُ ذَبِيحَةُ لَحْمٍ لَيْسَتْ بِعَقِيقَةٍ لِأَنَّهُمَا مَسْنُونَتَانِ وَقَدْ قَيَّدَ الشَّرْعُ سِنَّ إِحْدَاهُمَا فَتَقَرَّرَ بِهِ السِّنُّ فِيهِمَا فَعَلَى هَذَا لَوْ عَيَّنَ الْعَقِيقَةَ فِي شَاةٍ وَأَوْجَبَهَا وَجَبَتْ كَالْأُضْحِيَّةِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُبَدِّلَهَا بِغَيْرِهَا وَيَجِبُ أَنْ يَتَصَدَّقَ مِنْهَا عَلَى الْفُقَرَاءِ لَحْمًا نِيئًا وَلَا يَخُصَّ بِهَا الْأَغْنِيَاءَ

Salah satunya tidak dapat memenuhi sunnah ‘aqīqah dengan mempertimbangkan (qiyās) kepada udḥiyah, sehingga penyembelihan hewan tersebut hanya menjadi sembelihan daging biasa, bukan ‘aqīqah. Sebab, keduanya (‘aqīqah dan udḥiyah) adalah sunnah, dan syariat telah menetapkan batas usia hewan untuk salah satunya, sehingga ketentuan usia berlaku pada keduanya. Berdasarkan hal ini, jika seseorang telah menentukan hewan tertentu untuk ‘aqīqah dan mewajibkannya, maka hewan itu menjadi wajib seperti udḥiyah, dan ia tidak boleh menggantinya dengan hewan lain. Ia juga wajib bersedekah dari hewan tersebut kepada fakir miskin dalam bentuk daging mentah, dan tidak boleh mengkhususkan pemberian hanya kepada orang-orang kaya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَقُومُ بِمَا دَوَّنَ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ سُنَّةَ الْعَقِيقَةِ لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ أَوْكَدُ مِنْهَا لِتَعَلُّقِهَا بِسَبَبٍ رَاتِبٍ وَاحِدٍ عَامٍّ فَجَازَ أَنْ تَكُونَ فِي السِّنِّ أَغْلَظَ مِنْهَا فَعَلَى هَذَا لَوْ عَيَّنَ الْعَقِيقَةَ فِي شَاةٍ أَوْجَبَهَا لَمْ تَتَعَيَّنْ وَكَانَ عَلَى خِيَارِهِ بَيْنَ ذَبْحِهَا أَوْ ذَبْحِ غَيْرِهَا وَيَجُوزُ أَنْ يَخُصَّ بِهَا الْأَغْنِيَاءَ وَلَا يَلْزَمَ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهَا عَلَى الْفُقَرَاءِ وَإِنْ أَعْطَاهُمْ مَطْبُوخًا جَازَ الْقَوْلُ فِي وَقْتِ العقيقة

Pendapat kedua adalah bahwa apa yang telah ditetapkan mengenai udhiyah berlaku juga sebagai sunnah untuk aqiqah, karena udhiyah lebih ditekankan daripada aqiqah sebab udhiyah berkaitan dengan sebab yang tetap, tunggal, dan bersifat umum. Oleh karena itu, boleh jadi dalam hal usia hewan, syarat udhiyah lebih berat daripada aqiqah. Berdasarkan hal ini, jika seseorang telah menentukan seekor kambing untuk aqiqah dan mewajibkannya, maka kambing tersebut belum menjadi tertentu (untuk aqiqah), dan ia tetap memiliki pilihan antara menyembelih kambing itu atau menyembelih kambing lainnya. Diperbolehkan pula untuk mengkhususkan pemberian daging aqiqah kepada orang-orang kaya, dan tidak wajib untuk memberikannya kepada orang-orang fakir. Jika diberikan kepada mereka dalam keadaan sudah dimasak, maka hal itu diperbolehkan. Demikian pula pendapat mengenai waktu pelaksanaan aqiqah.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي وَقْتِ الْعَقِيقَةِ وَوَقْتِ ذَبْحِهَا هُوَ الْيَوْمُ السَّابِعُ لِرِوَايَةِ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ فَاذْبَحُوا عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ

Bagian ketiga membahas tentang waktu pelaksanaan akikah, dan waktu penyembelihannya adalah hari ketujuh, berdasarkan riwayat Samurah bin Jundab dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Anak tergadaikan dengan akikahnya, maka sembelihlah untuknya pada hari ketujuh.”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي أَوَّلِ السَّبْعَةِ على وجهين

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai awal dari tujuh hari itu menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ إنَّهُ يَوْمُ الْوِلَادَةِ لِيَكُونَ مَعْدُودًا مِنَ السَّبْعَةِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat mayoritas, menyatakan bahwa hari kelahiran termasuk dihitung sebagai salah satu dari tujuh hari.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيِّ أَنَّهُ مِنْ بَعْدِ يَوْمِ الْوِلَادَةِ وَلَيْسَ يَوْمُ الْوِلَادَةِ مَعْدُودًا فِيهَا فَإِنْ قَدَّمَ ذَبْحَهَا بَعْدَ الْوِلَادَةِ وَقَبْلَ كَمَالِ السَّبْعَةِ جَازَتْ تَعْجِيلًا وَقَامَ بِهَا سُنَّةُ الْعَقِيقَةِ وَإِنْ عَجَّلَهَا قَبْلَ الْوِلَادَةِ لَمْ تَقُمْ بِهَا سُنَّةُ الْعَقِيقَةِ وَكَانَتْ ذَبِيحَةَ لَحْمٍ وَإِنْ أَخَّرَهَا بَعْدَ السَّبْعَةِ كَانَتْ قَضَاءً مُجْزِيًا عَنْ سُنَّتِهِ وَيَخْتَارُ أَلَّا يَتَجَاوَزَ بِهَا مُدَّةَ النِّفَاسِ لِبَقَاءِ أَحْكَامِ الْوِلَادَةِ فَإِنْ أَخَّرَهَا عَنْ مُدَّةِ النِّفَاسِ فَيَخْتَارُ بَعْدَهَا أَنْ لَا يَتَجَاوَزَ بِهَا مُدَّةَ الرَّضَاعِ لِبَقَاءِ أَحْكَامِ الطُّفُولَةِ فَإِنْ أَخَّرَهَا عَنْ مُدَّةِ الرَّضَاعِ فَيَجِبُ أَلَّا يَتَجَاوَزَ بِهَا مُدَّةَ الْبُلُوغِ لِبَقَاءِ أَحْكَامِ الْمُصَغَّرِ فَإِنْ أَخَّرَهَا حَتَّى يَبْلُغَ سَقَطَ حُكْمُهَا فِي حَقِّ غَيْرِهِ وَكَانَ الْوَلَدُ مُجْزِئًا فِي الْعَقِيقَةِ عَنْ نَفْسِهِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ يَعُقَّ الْكَبِيرُ عَنْ نَفْسِهِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Abdillah az-Zubairi, menyatakan bahwa waktu pelaksanaan aqiqah adalah setelah hari kelahiran, dan hari kelahiran itu sendiri tidak termasuk di dalamnya. Jika penyembelihan dilakukan setelah kelahiran dan sebelum sempurna tujuh hari, maka boleh dilakukan lebih awal dan sudah dianggap melaksanakan sunnah aqiqah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak dianggap sebagai aqiqah, melainkan hanya sembelihan daging biasa. Jika ditunda setelah tujuh hari, maka itu menjadi qadha’ yang sah sebagai pengganti sunnahnya. Dianjurkan agar tidak menunda lebih dari masa nifas karena masih berlakunya hukum-hukum kelahiran. Jika ditunda melewati masa nifas, maka setelahnya dianjurkan agar tidak melebihi masa menyusui karena masih berlakunya hukum-hukum masa kanak-kanak. Jika ditunda melewati masa menyusui, maka wajib agar tidak melewati masa baligh karena masih berlakunya hukum-hukum anak kecil. Jika ditunda sampai anak baligh, maka gugur hukumnya bagi selain dirinya, dan anak tersebut boleh melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri. Tidak terlarang bagi orang dewasa untuk beraqiqah atas dirinya sendiri.

رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ الْمُثَنَّى بْنُ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عق عن نفسه بعدما نَزَلَتْ عَلَيْهِ النُّبُوَّةُ

Syafi‘i meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad, dari al-Mutsanna bin Anas, dari ayahnya, Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ melakukan ‘aqiqah untuk dirinya sendiri setelah kenabian turun kepadanya.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ فِيمَنْ يَتَحَمَّلُ الْعَقِيقَةَ وَالَّذِي يَتَحَمَّلُهَا وَيَخْتَصُّ بِذَبْحِهَا هُوَ الْمُلْتَزِمُ لِنَفَقَةِ الْمَوْلُودِ مِنْ أَبٍ أَوْ جَدٍّ أَوْ أُمٍّ أَوْ جَدَّةٍ لِأَنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ مَؤُونَةٍ وَإِنْ كَانَتْ نَفَقَتُهُ مِنْ مَالِهِ كَأَنْ يَكُونَ غَنِيًّا بِمِيرَاثٍ وَعَطِيَّةٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ مَالِهِ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ كَمَا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ الْأُضْحِيَّةُ وَكَانَ الْأَبُ أَوْ مَنْ قَامَ مَقَامَهُ فِي الْتِزَامِ النَّفَقَةِ مَنْدُوبًا إِلَى ذَبْحِهَا عَنْهُ كَمَا لَوْ كَانَ الْوَلَدُ فَقِيرًا وَلَا يَكُونُ سُقُوطُ النَّفَقَةِ عَنْهُ مُسْقِطًا لِسُنَّةِ الْعَقِيقَةِ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ الْأَبُ مُعْسِرًا بِالْعَقِيقَةِ ثُمَّ أَيْسَرَ بِهَا نُظِرَ يَسَارُهُ فَإِنْ كَانَ فِي وَقْتِهَا الْمَسْنُونِ وَهُوَ السَّابِعُ كَانَتْ سنة ذبحها متوجه إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ السَّابِعِ وَبَعْدَ مُدَّةِ النِّفَاسِ سَقَطَتْ عَنْهُ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ السَّابِعِ فِي مُدَّةِ النِّفَاسِ احْتَمَلَ وَجْهَيْنِ

Bab keempat membahas tentang siapa yang menanggung pelaksanaan akikah. Orang yang menanggung dan secara khusus melakukan penyembelihan akikah adalah pihak yang bertanggung jawab atas nafkah anak yang baru lahir, baik itu ayah, kakek, ibu, atau nenek, karena akikah termasuk bagian dari kebutuhan anak. Namun, jika nafkah anak berasal dari hartanya sendiri, seperti karena ia kaya dari warisan atau pemberian, maka tidak boleh mengeluarkan biaya akikah dari hartanya sendiri, karena akikah bukanlah kewajiban, sebagaimana tidak boleh mengeluarkan biaya kurban dari hartanya sendiri. Maka, ayah atau siapa pun yang menggantikan posisinya dalam menanggung nafkah, dianjurkan untuk menyembelih akikah atas nama anak, sebagaimana jika anak itu miskin. Gugurnya kewajiban nafkah atas anak tidak menggugurkan sunnah akikah baginya. Jika ayah tidak mampu melaksanakan akikah, lalu kemudian mampu, maka dilihat apakah kemampuan itu terjadi pada waktu yang disunnahkan, yaitu hari ketujuh, maka sunnah penyembelihan akikah tetap berlaku baginya. Namun, jika kemampuan itu datang setelah hari ketujuh dan setelah masa nifas, maka sunnah akikah gugur darinya. Jika kemampuan itu datang setelah hari ketujuh namun masih dalam masa nifas, maka ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مُخَاطِبًا بِسُنَّةِ الْعَقِيقَةِ لِبَقَاءِ أَحْكَامِ الْوِلَادَةِ

Salah satunya adalah seseorang yang terkena kewajiban sunah akikah karena masih berlakunya hukum-hukum kelahiran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَكُونُ مُخَاطِبًا بِسُنَّتِهَا لِمُجَاوِرَةِ الْمَشْرُوعِ مِنْ وَقْتِهَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa seseorang tidak terkena tuntutan untuk melaksanakan sunahnya karena berdekatan dengan waktu pelaksanaan ibadah yang disyariatkan.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ الْخَامِسُ فِيمَا يَصْنَعُ بِالْعَقِيقَةِ بَعْدَ أَنْ يَذْبَحَ قِيلَ يَسْلُكُ بِهِ مَسْلَكَ الضَّحَايَا فِي الْأَكْلِ وَالِادِّخَارِ وَالصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ فَإِنْ عَدَلَ بِهَا عَنِ الصَّدَقَةِ إِلَى الْأَكْلِ كَانَ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ وَتَفْضِيلِ لَحْمِهَا

Bab kelima tentang apa yang dilakukan terhadap akikah setelah disembelih: Dikatakan bahwa akikah diperlakukan seperti hewan kurban dalam hal dimakan, disimpan, disedekahkan, dan dihadiahkan. Jika penggunaannya dialihkan dari sedekah menjadi dimakan sendiri, maka hukumnya sesuai dengan dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, beserta penjelasan keutamaan dagingnya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي كَسْرِ عَظْمِهَا وَطَبْخِ لَحْمِهَا بِالْخَلِّ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai mematahkan tulangnya dan memasak dagingnya dengan cuka, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ تَفَاؤُلًا لَهُ بِالسَّلَامَةِ وَطَيِّبِ العيش

Salah satunya, yaitu pendapat para ulama Baghdad, bahwa hal itu makruh sebagai bentuk optimisme akan keselamatan dan kehidupan yang baik.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهُ غَيْرُ مَكْرُوهٍ لِأَنَّهُ طِيَرَةٌ وَقَدْ نُهِيَ عَنْهَا وَلِأَنَّ ذَبْحَهَا أَعْظَمُ مَنْ كَسْرِ عَظْمِهَا وَمُلَاقَاةُ النَّارِ لَهَا أَكْثَرُ مِنْ طَرْحِ الْخَلِّ عَلَى لَحْمِهَا وَيُكْرَهُ أَنْ تُلَطِّخَ جَبْهَةَ الْمَوْلُودِ وَرَأَسَهُ بِدَمِهَا

Pendapat kedua, yaitu pendapat para ulama Basrah, menyatakan bahwa hal itu tidak makruh karena termasuk tathayyur (anggapan sial), padahal telah dilarang melakukannya. Selain itu, menyembelih burung tersebut lebih besar bahayanya daripada sekadar mematahkan tulangnya, dan pertemuan burung itu dengan api lebih banyak daripada hanya menuangkan cuka ke atas dagingnya. Juga dimakruhkan mengoleskan darah burung tersebut pada dahi dan kepala bayi yang baru lahir.

وَقَالَ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَسْتَقْبِلَ مَخْرَجَ الدَّمِ مِنْ أَوْدَاجِهَا بِصُوفِة يُلَطِّخُ بِهَا رأس المولود ثم يغسل روى همام عن قتادة عن أنس

Al-Hasan dan Qatadah berkata, “Termasuk sunnah adalah menghadapkan keluarnya darah dari urat-urat leher hewan dengan sehelai wol, lalu kepala bayi diusap dengan wol tersebut, kemudian dicuci.” Hal ini diriwayatkan oleh Hammad dari Qatadah dari Anas.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ السَّادِسُ فِيمَا يَقْتَرِنُ بِالْعَقِيقَةِ مِنَ الْمَنْدُوبِ إِلَيْهِ فِي الْمَوْلُودِ وَذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ

Bab keenam membahas hal-hal yang dianjurkan berkaitan dengan aqiqah pada bayi yang baru lahir, yaitu ada tiga perkara.

أَحَدُهَا أَنْ يَحْلِقَ شَعْرَهُ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ وَيَتَصَدَّقَ بِوَزْنِهِ فِضَّةً قَالَ الشَّافِعِيُّ وَهَذَا أَحَبُّ مَا صَنَعَ بِالْمَوْلُودِ بَعْدَ الذَّبْحِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الذُّكُورِ وَالْإِنَاثِ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ كَرِهَ ذَلِكَ فِي الْإِنَاثِ لِأَنَّ حَلْقَ شُعُورِهِنَّ مَكْرُوهٌ

Salah satunya adalah mencukur rambut bayi pada hari ketujuh dan bersedekah dengan perak seberat rambut tersebut. Imam Syafi‘i berkata, “Inilah amalan yang paling disukai untuk dilakukan terhadap bayi setelah penyembelihan (aqiqah), dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.” Namun, sebagian orang membenci hal itu pada bayi perempuan karena mencukur rambut mereka dianggap makruh.

وقد روى الشافعي عن إبراهيم بن محمد بْنِ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ أَمَرَ فَاطِمَةَ لَمَّا وَلَدَتِ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ أَنْ تَحْلِقَ رَأْسَيْهِمَا وَتَتَصَدِّقَ بِزِنَةِ الشَّعْرِ فِضَّةً فَفَعَلَتْ ذَلِكَ وَفَعَلَتْ فِي سَائِرِ أَوْلَادِهَا مِنَ الْإِنَاثِ

Syafi‘i meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ bahwa beliau memerintahkan Fathimah, ketika ia melahirkan Hasan dan Husain ‘alaihimassalam, agar mencukur rambut keduanya dan bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut tersebut. Maka Fathimah pun melakukannya, dan ia juga melakukan hal yang sama pada anak-anak perempuannya yang lain.

وَالثَّانِي أَنْ يُسَمَّى فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ لِأَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَيَجِبُ أَنْ يُسَمَّى بِأَحْسَنِ الْأَسْمَاءِ رُوِيَ أَنَّهُ لَمَّا وُلِدَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِمَ سَمَّيْتُمُوهُ؟ قَالُوا حَرْبًا قَالَ بَلْ سَمَّوْهُ حَسَنًا وَلَمَّا وُلِدَ الْحُسَيْنُ قَالَ سَمَّوْهُ حُسَيْنًا وَقَدْ غَيَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَسْمَاءً كَثِيرَةً مِنْ أَصْحَابِهِ اخْتَارَهَا لَهُمْ بَعْدَ اشْتِهَارِهِمْ بِهَا مِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ الْعُزَّى فَسَمَّاهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُمْ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ كَانَ اسْمُهُ رُوزِيَهْ فَسَمَّاهُ سَلْمَانَ

Kedua, hendaknya diberi nama pada hari ketujuh sesuai perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan wajib diberi nama dengan nama-nama yang terbaik. Diriwayatkan bahwa ketika al-Hasan bin Ali lahir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa nama yang kalian berikan kepadanya?” Mereka menjawab, “Harb (Perang).” Beliau bersabda, “Bahkan, namailah dia Hasan.” Dan ketika al-Husain lahir, beliau bersabda, “Namailah dia Husain.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengganti banyak nama para sahabatnya yang telah masyhur dengan nama tersebut, dan beliau memilihkan nama lain untuk mereka. Di antaranya adalah Abdurrahman bin ‘Auf, yang sebelumnya bernama ‘Abdul ‘Uzza, lalu beliau menamainya Abdurrahman. Di antaranya juga Salman al-Farisi, yang sebelumnya bernama Ruzbah, lalu beliau menamainya Salman.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُخْتَنَ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ إِنْ قَوِيَ بَدَنُهُ عَلَى الْخِتَانَةِ وَمَنْ أَثْبَتَ رِوَايَةَ هَمَّامٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قال ويدمى في السابع يأولها فِي خِتَانَتِهِ دُونَ تَلْطِيخِهِ بِدَمِ عَقِيقَةٍ

Ketiga, hendaknya ia dikhitan pada hari ketujuh jika tubuhnya kuat untuk dikhitan. Barang siapa yang menetapkan riwayat Hammam bahwa Nabi ﷺ bersabda, “dan ia berdarah pada hari ketujuh,” maka menakwilkannya pada khitan, bukan pada melumuri tubuhnya dengan darah akikah.

فَإِنْ ضَعُفَ بَدَنُهُ عَنِ الْخِتَانَةِ فِي السَّابِعِ أُخِّرَ حتى يقوى عليها فأما المروزي فِي حَدِيثِ سُلَيْمَانَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى فَفِي هَذَا الْأَذَى ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ أَحَدُهَا أَنَّهُ يَحْلِقُ شَعْرَهُ وَهُوَ قَوْلُ الحسن والثاني أنه يغسل رَأْسَهُ مِنْ دَمِ الْعَقِيقَةِ وَهُوَ قَوْلُ قَتَادَةَ وَالثَّالِثُ أَنَّهُ خِتَانَتُهُ وَهُوَ أَشْبَهُ

Jika tubuhnya lemah untuk dikhitan pada hari ketujuh, maka pelaksanaannya ditunda sampai ia kuat untuk dikhitan. Adapun riwayat dari al-Marwazi dalam hadis Sulaiman bin Amir bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Bersama anak laki-laki ada akikahnya, maka tumpahkanlah darah untuknya dan hilangkanlah gangguan darinya.” Dalam hal “gangguan” ini terdapat tiga penafsiran: yang pertama, mencukur rambutnya, dan ini adalah pendapat al-Hasan; yang kedua, membasuh kepalanya dari darah akikah, dan ini adalah pendapat Qatadah; dan yang ketiga, yaitu khitan, dan ini yang lebih mendekati.

القول في الفرعة والعتيرة

Pembahasan tentang al-far‘ah dan al-‘atirah

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْفَرَعَةُ وَالْعَتِيرَةُ فَقَدْ رَوَى الشَّافِعِيُّ الْفَرَعَةُ عِنْدَ الْعَرَبِ أَوَّلُ مَا تُنْتَجُ النَّاقَةُ يقولون لا تملكها ويذبحوها رَجَاءً لِلْبَرَكَةِ فِي لَبَنِهَا وَنَسْلِهَا وَالْعَتِيرَةُ ذَبِيحَةٌ كَانَ أَهْلُ الْبَيْتِ مِنَ الْعَرَبِ يَذْبَحُونَهَا فِي رَجَبٍ وَيُسَمُّونَهَا الْعَتِيرَةَ الرَّجَبِيَّةَ وَقَدْ رُوِيَ فِيهَا حَدِيثَانِ مُخْتَلِفَانِ فَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا فَرَعَةَ وَلَا عَتِيرَةَ وَهَذَا نَهْيٌ عَنْهُمَا

Adapun far‘ah dan ‘atīrah, Imam Syafi‘i meriwayatkan bahwa far‘ah menurut orang Arab adalah anak unta pertama yang dilahirkan oleh induknya; mereka mengatakan bahwa anak itu tidak boleh dimiliki dan mereka menyembelihnya dengan harapan mendapatkan berkah pada susunya dan keturunannya. Sedangkan ‘atīrah adalah hewan sembelihan yang biasa disembelih oleh keluarga-keluarga Arab pada bulan Rajab, dan mereka menamakannya ‘atīrah rajabiyyah. Terdapat dua hadis yang berbeda mengenai hal ini. Imam Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari Sa‘id bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada far‘ah dan tidak ada ‘atīrah,” dan ini merupakan larangan terhadap keduanya.

وَرَوَى أَبُو قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ نُبَيْشَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ إِنَّا كُنَّا نَعْتِرُ عَتِيرَةً فِي الْجَاهِلِيَّةِ فِي رَجَبٍ فَمَا تَأْمُرُنَا فَقَالَ اذْبَحُوا فِي أَيِّ شَهْرٍ كَانَ

Abu Qilabah meriwayatkan dari Abu al-Malih dari Nubaishah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ, “Dulu kami biasa menyembelih ‘atirah pada masa jahiliah di bulan Rajab. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Sembelihlah di bulan apa pun.”

وَرُوِيَ أَنَّهُ قَالَ وَأَطْعِمُوا قَالَ إِنَّا كُنَّا نُفَرِّعُ فَرَعًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ مِنْ كُلِّ سَائِمَةٍ فَرَعٌ وَهَذَا أَمْرٌ بِهِمَا وَلَيْسَ فِيهِمَا نَاسِخٌ وَلَا مَنْسُوخٌ وَفِي اخْتِلَافِهِمَا تَأْوِيلَانِ

Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Dan berilah makan.” Ia berkata, “Sesungguhnya dahulu kami mengurbankan anak hewan pertama (fara‘) pada masa jahiliah, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Ia menjawab, “Dari setiap hewan ternak yang digembalakan ada fara‘.” Ini adalah perintah untuk keduanya, dan tidak ada nasikh maupun mansukh di dalamnya. Dalam perbedaan keduanya terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنَّ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي النَّهْيِ عَنْهُمَا مَحْمُولٌ عَلَى نَهْيِ الْإِيجَابِ وَحَدِيثَ نُبَيْشَةَ فِي الْأَمْرِ بِهِمَا مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ

Salah satunya adalah bahwa hadis Abu Hurairah tentang larangan terhadap keduanya dimaknai sebagai larangan yang bersifat wajib, sedangkan hadis Nubaishah tentang perintah terhadap keduanya dimaknai sebagai anjuran (istihbāb).

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي أَنَّ النَّهْيَ عَنْهُمَا عَلَى مَا ذُبِحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْجِنِّ وَالْأَمْرَ بِهِمَا مَحْمُولٌ عَلَى مَا ذُبِحَ لِوَجْهِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dan takwil yang kedua adalah bahwa larangan terhadap keduanya (al-anṣāb dan al-azlām) berlaku atas apa yang disembelih untuk selain Allah, seperti berhala dan jin, sedangkan perintah terhadap keduanya dimaknai atas apa yang disembelih karena Allah semata. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

كِتَابُ الْأَطْعِمَةِ

Kitab al-Ath‘imah (Kitab Makanan)

بَابُ مَا يَحْرُمُ مِنْ جِهَةِ ما لا تأكل العرب من معاني الرسالة ومعانٍ أعرف له وغير ذلك

Bab tentang hal-hal yang diharamkan dari sisi apa yang tidak dimakan oleh orang Arab, dari makna-makna risalah, makna-makna lain yang aku ketahui, dan selain itu.

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَقَالَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الخَبَائِثَ وَإِنَّمَا خُوطِبَ بِذَلِكَ الْعَرَبُ الَّذِينَ يَسْأَلُونَ عَنْ هَذَا وَنَزَلَتْ فِيهِمُ الْأَحْكَامُ وَكَانُوا يَتْرُكُونَ مِنْ خَبِيثِ الْمَآكِلِ مَا لَا يَتْرُكُ غَيْرُهُمْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Allah Jalla Tsanā’uhu berfirman, “Mereka bertanya kepadamu, ‘Apa yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik.’” Dan Allah berfirman tentang Nabi ﷺ, “Dan beliau menghalalkan bagi mereka segala yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk-buruk.” Sesungguhnya yang diajak bicara dengan hal itu adalah orang-orang Arab yang bertanya tentang hal ini, dan hukum-hukum itu diturunkan kepada mereka. Mereka biasa meninggalkan makanan-makanan yang buruk yang tidak ditinggalkan oleh selain mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْمَأْكُولَ ضَرْبَانِ حَيَوَانٌ وَنَبَاتٌ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa makanan itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu hewan dan tumbuhan.

فَأَمَّا النَّبَاتُ فَيَأْتِي

Adapun tumbuh-tumbuhan, maka ia datang.

وَأَمَّا الْحَيَوَانُ فَضَرْبَانِ بَرِّيٌّ وَبَحْرِيٌّ فَأَمَّا الْبَحْرِيُّ فَقَدْ مَضَى وَأَمَّا الْبَرِّيُّ فَضَرْبَانِ دَوَابُّ وَطَائِرٌ وَهَذَا الْبَابُ يَشْتَمِلُ عَلَى مَا حَلَّ مِنْهَا وَحَرُمَ وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Adapun hewan, terbagi menjadi dua jenis: hewan darat dan hewan laut. Adapun hewan laut telah dibahas sebelumnya. Sedangkan hewan darat terbagi menjadi dua jenis: hewan berkaki empat dan burung. Bab ini mencakup penjelasan tentang mana di antara keduanya yang halal dan yang haram, dan pembahasannya terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا مَا وَرَدَ النَّصُّ بِتَحْلِيلِهِ فِي كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ فَهُوَ حَلَالٌ

Salah satunya adalah apa yang terdapat nash yang membolehkannya dalam Al-Qur’an atau Sunnah, maka itu adalah halal.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا وَرَدَ النَّصُّ بِتَحْرِيمِهِ فِي كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ فَهُوَ حَرَامٌ

Jenis yang kedua adalah apa yang terdapat nash tentang keharamannya dalam kitab atau sunnah, maka itu adalah haram.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ مَا كَانَ غَفْلًا لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ بِتَحْلِيلٍ وَلَا تَحْرِيمٍ فَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ أَصْلًا يعرف به حلاله وحرامه في آياتين مِنْ كِتَابِهِ وَسُنَّةً عَنْ رَسُولِهِ

Golongan ketiga adalah perkara yang tidak disertai dalil, tidak ada nash yang menjelaskan kehalalan maupun keharamannya. Maka Allah Ta‘ala telah menjadikan untuknya suatu asas yang dengannya dapat diketahui mana yang halal dan mana yang haram, sebagaimana terdapat dalam dua ayat dari Kitab-Nya dan sunnah dari Rasul-Nya.

فَأَمَّا الْآيَتَانِ فَإِحْدَاهُمَا قَوْله تَعَالَى يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ فَجُعِلَ الطَّيِّبُ حَلَالًا

Adapun dua ayat itu, salah satunya adalah firman Allah Ta‘ala: “Mereka bertanya kepadamu: ‘Apa yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik.’” Maka sesuatu yang baik dijadikan halal.

وَالثَّانِيةُ قَوْله تَعَالَى وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الخَبَائِثَ فَجَعَلَ الطَّيِّبَ حَلَالًا وَالْخَبَثَ حَرَامًا فَكَانَتْ هَذِهِ الْآيَةُ أَعَمَّ مِنَ الْأُولَى لِأَنَّ الْأُولَى مَقْصُورَةٌ عَلَى إِحْلَالِ الطَّيِّبَاتِ وَهَذِهِ تَشْتَمِلُ عَلَى إِحْلَالِ الطَّيِّبَاتِ وَتَحْرِيمِ الْخَبَائِثِ فَجَعَلَ الطَّيِّبَ حَلَالًا وَالْخَبَثَ حَرَامًا وَهَذَا خِطَابٌ مِنَ اللَّهُ تَعَالَى لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ النَّاسَ سَأَلُوهُ عَمَّا يَحِلُّ لَهُمْ وَيَحْرُمُ عَلَيْهِمْ فَأَمَرَهُ أَنْ يُخْبِرَهُمْ أَنَّهُ قَدْ أَحَلَّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَلَا يَخْلُو مُرَادُهُ بِالطَّيِّبِ وَالْخَبِيثِ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْحَلَالَ والحرام كما قال كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ يَعْنِي مِنَ الْحَلَالِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا مُرَادًا لِأَنَّهُمْ سَأَلُوهُ عَمَّا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ الْحَلَالُ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ الْحَرَامُ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ فِيهِ بَيَانٌ لِلْحَلَالِ وَلَا لِلْحَرَامِ وَإِمَّا أَنْ يُرِيدَ بِهِ الطَّاهِرَ وَالنَّجِسَ كَمَا قَالَ تَعَالَى فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً أَيْ طَاهِرًا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا مُرَادًا لِأَنَّ الطَّاهِرَ وَالنَّجِسَ مَعْرُوفٌ بِشَرْعٍ آخَرَ فَلَا يَكُونُ فِي هَذَا بَيَانٌ شَرْعِيٌّ يَعْنِي عَنْ غَيْرِهِ

Yang kedua adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk.” Maka Allah menjadikan yang baik itu halal dan yang buruk itu haram. Ayat ini lebih umum daripada ayat yang pertama, karena ayat pertama terbatas pada penghalalan yang baik-baik saja, sedangkan ayat ini mencakup penghalalan yang baik-baik dan pengharaman yang buruk-buruk. Maka Allah menjadikan yang baik itu halal dan yang buruk itu haram. Ini adalah seruan dari Allah Ta‘ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa manusia telah bertanya kepadanya tentang apa yang halal bagi mereka dan apa yang haram atas mereka. Maka Allah memerintahkannya untuk memberitahu mereka bahwa Dia telah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk. Maksud dari yang baik dan yang buruk tidak lepas dari tiga hal: bisa jadi yang dimaksud adalah halal dan haram, sebagaimana firman-Nya: “Makanlah dari rezeki yang baik yang telah kalian peroleh,” maksudnya dari yang halal. Namun tidak boleh ini yang dimaksud, karena mereka bertanya tentang apa yang halal dan apa yang haram, maka tidak sah jika dikatakan kepada mereka, “yang halal adalah halal dan yang haram adalah haram,” karena itu tidak memberikan penjelasan tentang apa yang halal dan apa yang haram. Atau bisa juga yang dimaksud adalah yang suci dan yang najis, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik,” maksudnya yang suci. Namun tidak boleh juga ini yang dimaksud, karena yang suci dan yang najis sudah diketahui dengan syariat yang lain, sehingga tidak ada penjelasan syar‘i dalam hal ini yang dapat menggantikan penjelasan dari syariat yang lain.

وَإِمَّا أَنْ يُرِيدَ بِهِ مَا كَانَ مُسْتَطَابَ الْأَكْلِ فِي التَّحْلِيلِ وَمُسْتَخْبَثَ الْأَكْلِ فِي التَّحْرِيمِ وَهَذَا هُوَ الْمُرَادُ إِذَا بَطَلَ مَا سِوَاهُ لِأَنَّهُمْ يَتَوَصَّلُونَ بِمَا اسْتَطَابُوهُ إِلَى الْعِلْمِ بِتَحْلِيلِهِ وَبِمَا اسْتَخْبَثُوهُ إِلَى الْعِلْمِ بِتَحْرِيمِهِ وَإِذَا كَانَ هَذَا أَصْلًا وَصَارَ الْمُسْتَطَابُ حَلَالًا وَالْمُسْتَخْبَثُ حَرَامًا وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ الْعُرْفُ الْعَامُّ وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ عُرْفُ الْوَاحِدِ مِنَ النَّاسِ لِأَنَّهُ قَدْ يَسْتَطِيبُ مَا يَسْتَخْبِثُهُ غَيْرُهُ فَيَصِيرُ حَلَالًا لَهُ وَحَرَامًا عَلَى غَيْرِهِ وَالْحَلَالُ وَالْحَرَامُ مَا عَمَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ وَلِذَلِكَ اعْتُبِرَ فِيهِ الْعُرْفُ الْعَامُّ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُرَادَ بِهِ عُرْفُ جَمِيعِ النَّاسِ فِي جَمِيعِ الْأَزْمِنَةِ لِأَنَّهُ خَاطَبَ بِهِ بَعْضَهُمْ دُونَ بَعْضٍ فِي بَعْضِ الْأَرْضِ فَاحْتِيجَ إِلَى مَعْرِفَةِ مَنْ خُوطِبَ بِهِ مِنَ النَّاسِ وَمَعْرِفَةِ مَا أُرِيدَ بِهِ مِنَ الْبِلَادِ فَكَانَ أَحَقُّ النَّاسِ بِتَوَجُّهِ الْخِطَابِ إِلَيْهِمُ الْعَرَبَ لِأَنَّهُمُ السَّائِلُونَ الْمُجَابُونَ وَأَحَقُّ الْأَرْضِ مِنْ بِلَادِهِمْ لِأَنَّهَا أَوْطَانُهُمْ وَقَدْ يَخْتَلِفُونَ فِيمَا يَسْتَطِيبُونَ وَيَسْتَخْبِثُونَ بِالضَّرُورَةِ وَالِاخْتِيَارِ فَيَسْتَطِيبُ أَهْلُ الضَّرُورَةِ مَا اسْتَخْبَثَهُ أَهْلُ الِاخْتِيَارِ فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ عُرْفُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ دُونَ أَهْلِ الضَّرُورَةِ لِأَنَّهُ لَيْسَ مَعَ الضَّرُورَةِ عُرْفٌ مَعْهُودٌ وَهُمْ يَخْتَلِفُونَ فِيهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Atau bisa juga yang dimaksud adalah sesuatu yang dianggap baik untuk dimakan dalam hal kehalalan, dan dianggap buruk untuk dimakan dalam hal keharaman. Inilah yang dimaksud jika selain itu telah gugur, karena mereka mengetahui kehalalan sesuatu dengan apa yang mereka anggap baik, dan mengetahui keharamannya dengan apa yang mereka anggap buruk. Jika hal ini menjadi dasar, maka sesuatu yang dianggap baik menjadi halal, dan yang dianggap buruk menjadi haram. Maka harus dipertimbangkan di dalamnya ‘urf (kebiasaan) umum, dan tidak dipertimbangkan ‘urf individu, karena bisa jadi seseorang menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh orang lain, sehingga menjadi halal baginya dan haram bagi orang lain. Padahal halal dan haram itu berlaku umum bagi seluruh manusia, oleh karena itu yang dipertimbangkan adalah ‘urf umum. Tidak boleh pula yang dimaksud adalah ‘urf seluruh manusia di semua zaman, karena syariat ini ditujukan kepada sebagian mereka, bukan kepada semuanya, di sebagian wilayah saja. Maka perlu diketahui siapa yang dituju dengan syariat ini dari kalangan manusia, dan wilayah mana yang dimaksud. Maka yang paling berhak menjadi sasaran khitab (pembicaraan) adalah bangsa Arab, karena merekalah yang bertanya dan dijawab, dan wilayah yang paling berhak adalah negeri mereka, karena itulah tanah air mereka. Namun, mereka pun bisa berbeda dalam hal apa yang mereka anggap baik dan buruk, baik karena darurat maupun pilihan. Penduduk yang dalam keadaan darurat bisa saja menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh penduduk yang dalam keadaan pilihan. Maka yang harus dipertimbangkan adalah ‘urf penduduk yang dalam keadaan pilihan, bukan yang dalam keadaan darurat, karena dalam keadaan darurat tidak ada ‘urf yang tetap, dan mereka pun berbeda dalam hal ini dari tiga sisi.

أَحَدُهَا بِالْغِنَى وَالْفَقْرِ فَيَسْتَطِيبُ الْفَقِيرُ مَا يَسْتَخْبِثُهُ الْغَنِيُّ

Salah satunya adalah karena perbedaan antara kaya dan miskin, sehingga orang miskin menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh orang kaya.

وَالثَّانِي بِالْبَدْوِ وَالْحَضَرِ فَيَسْتَطِيبُ الْبَادِيَةُ مَا يستخبثه الحاضرة

Yang kedua berkaitan dengan masyarakat Badui dan masyarakat perkotaan; maka orang-orang Badui menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat perkotaan.

والثالث بزمان الجدب وزمان بالخصب فَيُسْتَطَابَ فِي زَمَانِ الْجَدْبِ مَا يَسْتَخْبِثُ فِي زَمَانِ الْخِصَبِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ أَهْلُ الِاخْتِيَارِ مِنْ جَمْعِ الْأَوْصَافِ الثَّلَاثَةِ وَهُمُ الْأَغْنِيَاءُ دُونَ الْفُقَرَاءِ أَوْ سُكَّانُ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى دُونَ الْبَادِيَةِ وَفِي زَمَانِ الْخِصَبِ دُونَ زَمَانِ الْجَدْبِ مِنَ الْعَرَبِ دُونَ الْعَجَمِ وَبِلَادِهِمْ دُونَ غَيْرِهَا

Yang ketiga adalah perbedaan antara masa paceklik dan masa subur; maka sesuatu yang dianggap baik pada masa paceklik bisa jadi dianggap buruk pada masa subur. Jika demikian, maka yang harus dijadikan pertimbangan adalah orang-orang pilihan yang memiliki tiga sifat tersebut, yaitu orang-orang kaya, bukan orang-orang fakir; penduduk kota dan desa, bukan penduduk pedalaman; dan pada masa subur, bukan pada masa paceklik; dari kalangan Arab, bukan non-Arab; serta di negeri mereka sendiri, bukan di negeri lain.

فَتَصِيرُ الْأَوْصَافُ الْمُعَيَّنَةُ فِيمَنْ يَرْجِعُ إِلَى اسْتَطَابَتِهِ وَاسْتِخْبَاثِهِ خَمْسَةً أَحَدُهَا أَنْ يَكُونُوا عَرَبًا وَالثَّانِي أَنْ يَكُونُوا فِي بِلَادِهِمْ وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى دُونَ الْفَلَوَاتِ وَالرَّابِعُ أَنْ يَكُونُوا أَغْنِيَاءَ مِنْ أهل السعة وَالْخَامِسُ أَنْ يَكُونُوا فِي زَمَانِ الْخِصْبِ وَالسَّعَةِ

Maka, sifat-sifat tertentu yang menjadi acuan dalam menilai sesuatu itu dianggap baik (istithābah) atau dianggap buruk (istikhbāth) kembali kepada lima hal: Pertama, mereka adalah orang Arab; kedua, mereka berada di negeri mereka sendiri; ketiga, mereka adalah penduduk kota dan desa, bukan penduduk padang pasir; keempat, mereka adalah orang-orang kaya dari kalangan yang hidup berkecukupan; dan kelima, mereka hidup pada masa kemakmuran dan kelapangan.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ فِي قَوْمٍ اسْتَطَابُوا أَكْلَ شَيْءٍ كَانَ حَلَالًا مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ بِتَحْرِيمِهِ وَإِنِ اسْتَخْبَثُوا أَكْلَ شَيْءٍ كَانَ حَرَامًا مَا لَمْ يَرِدْ نَصٌّ بِتَحْلِيلِهِ

Maka apabila sifat-sifat tersebut telah sempurna pada suatu kaum, jika mereka menganggap baik memakan sesuatu, maka hukumnya halal selama tidak ada nash yang mengharamkannya. Dan jika mereka menganggap buruk memakan sesuatu, maka hukumnya haram selama tidak ada nash yang menghalalkannya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا الْأَصْلُ الْمُعْتَبَرُ فِي التَّحْلِيلِ وَالتَّحْرِيمِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمْ فِيهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى اسْتَطَابَتِهِ فَيَكُونُ حَلَالًا وَالثَّانِي أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى اسْتِخْبَاثِهِ فَيَكُونُ حَرَامًا وَالثَّالِثُ أَنْ يَسْتَطِيبَهُ بَعْضُهُمْ وَيَسْتَخْبِثَهُ بَعْضُهُمْ فَيُعْتَبَرُ فِيهِ أَكْثَرُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَابَهُ الْأَكْثَرُونَ كَانَ حَلَالًا وَلَمْ يَكُنْ لِاسْتِخْبَاثِ الْأَقَلِّينَ تَأْثِيرٌ

Jika prinsip yang dianggap sah ini telah ditetapkan dalam menentukan halal dan haram, maka keadaan mereka dalam hal ini tidak lepas dari tiga kategori: pertama, mereka sepakat menganggapnya baik, maka itu menjadi halal; kedua, mereka sepakat menganggapnya buruk, maka itu menjadi haram; dan ketiga, sebagian dari mereka menganggapnya baik dan sebagian lagi menganggapnya buruk, maka yang dijadikan pertimbangan adalah pendapat mayoritas. Jika mayoritas menganggapnya baik, maka itu menjadi halal dan anggapan buruk dari minoritas tidak berpengaruh.

وَإِنِ اسْتَخْبَثَهُ الْأَكْثَرُونَ كَانَ حَرَامًا وَلَمْ يَكُنْ لِاسْتِطَابَةِ الْأَقَلِّينَ تَأْثِيرٌ

Dan jika mayoritas orang menganggapnya menjijikkan, maka hukumnya haram dan anggapan baik dari minoritas orang tidak berpengaruh.

وَإِنْ تَسَاوَى الْفَرِيقَانِ فِي الِاسْتِطَابَةِ وَالِاسْتِخْبَاثِ وَلَمْ يُفَضَّلْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ اعْتُبِرَتْ قُرَيْشٌ لِأَنَّهُمْ قُطْبُ الْعَرَبِ وَفِيهِمُ النُّبُوَّةُ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ خُوطِبَ بِالرِّسَالَةِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْمُسْتَطِيبِينَ حَلَّ وَإِنْ كَانُوا فِي الْمُسْتَخْبِثِينَ حَرُمَ وَإِنْ تَسَاوَتْ قُرَيْشٌ فِيهِمُ اعْتُبِرَتْ شِبْهُ مَا اخْتَلَفُوا فِيهِ بِمَا اتَّفَقُوا عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ الْمُسْتَطَابُ أَشْبَهَ حَلَّ

Jika kedua kelompok sama dalam menganggap sesuatu baik (istithābah) dan buruk (istikhbāth), dan tidak ada salah satu yang lebih diutamakan dari yang lain, maka yang dijadikan acuan adalah pendapat Quraisy, karena mereka adalah poros bangsa Arab, di antara mereka terdapat kenabian, dan mereka adalah kelompok pertama yang menerima risalah. Jika Quraisy termasuk dalam kelompok yang menganggap baik, maka hukumnya halal; jika mereka termasuk dalam kelompok yang menganggap buruk, maka hukumnya haram. Jika di antara Quraisy sendiri terjadi perbedaan, maka yang dijadikan pertimbangan adalah kemiripan perkara yang diperselisihkan dengan perkara yang telah mereka sepakati; jika yang dianggap baik lebih mirip, maka hukumnya halal.

وَإِنْ كَانَ الْمُسْتَخْبَثُ أَشْبَهَ حَرُمَ

Dan jika sesuatu yang dianggap menjijikkan itu menyerupai (makanan yang halal), maka hukumnya menjadi haram.

وَإِنْ تَسَاوَى الْأَمْرَانِ فَفِيهِ وَجْهَانِ مِنَ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي أُصُولِ الْأَشْيَاءِ قَبْلَ وُرُودِ الشَّرْعِ هَلْ هِيَ عَلَى الْإِبَاحَةِ أَوِ الْحَظْرِ؟

Dan jika kedua perkara itu sama, maka terdapat dua pendapat di dalamnya yang merupakan perbedaan pendapat para ulama kami mengenai hukum asal segala sesuatu sebelum datangnya syariat: apakah hukum asalnya adalah ibāhah (boleh) ataukah ḥazhr (terlarang)?

أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ أَنَّهَا عَلَى الْإِبَاحَةِ حَتَّى يَرِدَ الشَّرْعُ بِالْحَظْرِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ مَعًا تَكَافُؤُ اخْتِلَافِهِمْ فِيهِ حَلَالًا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil syariat yang melarangnya. Dengan demikian, dalam hal ini, perbedaan pendapat mereka tetap seimbang dalam menetapkan kehalalannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهَا عَلَى الْحَظْرِ حَتَّى يَرِدَ شَرْعٌ بِالْإِبَاحَةِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ تَكَافُؤُ اخْتِلَافِهِمْ فِيهِ حَرَامًا فَأَمَّا السُّنَّةُ فَتَأْتِي

Pendapat kedua adalah bahwa hukum asalnya adalah terlarang sampai ada syariat yang membolehkannya. Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah ini, maka hukumnya adalah haram. Adapun sunnah, maka ia datang…

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا مَا لَمْ يَكُنْ فِي أَرْضِ الْعَرَبِ وَلَا فِي بِلَادِ الْعَجَمِ اعْتَبَرْتَ فِيهِ حُكْمَهُ فِي أَقْرَبِ الْعَرَبِ عِنْدَ مَنْ جَمَعَ الْأَوْصَافَ الْمُعْتَبَرَةَ مِنْ بِلَادِ الْعَرَبِ فَإِنِ اسْتَطَابُوهُ كَانَ حَلَالًا وَإِنِ اسْتَخْبَثُوهُ كَانَ حَرَامًا فَإِنِ اخْتَلَفُوا فِيهِ اعْتُبِرَ حُكْمُهُ عِنْدَ أَهْلِ الْكِتَابِ دُونَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ فَإِنِ اخْتَلَفَ فِيهِ أَهْلُ الْكِتَابِ اعْتَبَرْتَ فِيهِ حُكْمَهُ فِي أَقْرَبِ الشَّرَائِعِ بِالْإِسْلَامِ وَهِيَ النَّصْرَانِيَّةُ فَإِنِ اخْتَلَفُوا فِيهِ فَعَلَى ما ذكرناه من الوجهين

Adapun sesuatu yang tidak terdapat di tanah Arab maupun di negeri ‘ajam, maka hukumnya dipertimbangkan berdasarkan hukum pada bangsa Arab terdekat yang memiliki sifat-sifat yang relevan dari negeri Arab; jika mereka menganggapnya baik, maka hukumnya halal, dan jika mereka menganggapnya buruk, maka hukumnya haram. Jika mereka berselisih pendapat tentangnya, maka hukumnya dipertimbangkan menurut Ahli Kitab, bukan para penyembah berhala. Jika Ahli Kitab pun berselisih pendapat tentangnya, maka hukumnya dipertimbangkan menurut syariat yang paling dekat dengan Islam, yaitu Nasraniyah (Kristen). Jika mereka pun berselisih pendapat tentangnya, maka kembali kepada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَسَمِعْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ يَقُولُونَ فِي قَوْلِ اللَّهِ عز وجل قُلْ لاَ أَجِدْ فِيمَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ الْآيَةَ يَعْنِي مِمَّا كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ وَلَمْ يَكُنِ الله عَزَّ وَجَلَّ لِيُحَرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ صَيْدِ الْبَرِّ فِي الْإِحْرَامِ إِلَّا مَا كَانَ حَلَالًا لَهُمْ في الإحلال والله أعلم فلما أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بقتل الغراب والحدأة والعقرب والحية والفأرة والكلب العقور دل ذلك على أن هذا مخرجه ودل على معنى آخر أن العرب كانت لا تأكل مما أَبَاحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قتله في الإحرام شيئاً

Syafi‘i berkata, “Aku mendengar para ahli ilmu berkata tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla: Katakanlah, ‘Aku tidak mendapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang ingin memakannya…’ (ayat), maksudnya adalah dari apa yang biasa kalian makan. Dan Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah mengharamkan atas mereka dari buruan darat saat ihram kecuali apa yang memang halal bagi mereka saat tidak ihram. Dan Allah lebih mengetahui. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh burung gagak, burung elang, kalajengking, ular, tikus, dan anjing buas, hal itu menunjukkan bahwa ini termasuk dalam pengecualian tersebut. Dan juga menunjukkan makna lain, yaitu bahwa orang Arab dahulu tidak memakan hewan-hewan yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibunuh saat ihram.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ مَقْصُودَ الشَّافِعِيِّ بِهَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ketahuilah bahwa maksud Imam Syafi‘i dengan kalimat ini ada dua hal.”

أَحَدُهُمَا إِثْبَاتُ أَصْلِهِ فِي التَّحْلِيلِ وَالتَّحْرِيمِ أَنَّهُ مُعْتَبَرٌ بِاسْتِطَابَةِ الْعَرَبِ وَاسْتِخْبَاثِهِمْ وَقَدْ قَدَّمْنَاهُ وَاسْتَوْفَيْنَاهُ

Salah satunya adalah penetapan asal hukum dalam hal halal dan haram, yaitu bahwa hal itu dianggap berdasarkan apa yang dianggap baik atau buruk oleh orang Arab, dan hal ini telah kami kemukakan dan jelaskan secara tuntas.

وَالثَّانِي الرَّدُّ عَلَى مُخَالِفِهِ فِيهِ وَهُوَ مَالِكٌ فَإِنَّهُ قَالَ كُلُّ الْحَيَوَانِ حَلَالٌ إِلَّا مَا وَرَدَ نَصٌّ بِتَحْرِيمِهِ فَأَبَاحَ حَشَرَاتِ الْأَرْضِ مِنَ الْجِعْلَانِ وَالدِّيدَانِ وَهَوَامِّهَا مِنَ الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ وَسِبَاعِ الدَّوَابِّ وَبُغَاثِ الطَّيْرِ وَجَوَارِحِهَا وَحَلَّلَ لُحُومَ الْكِلَابِ وَحَرَّمَ لُحُومَ الْخَيْلِ وَجَعَلَ أَصْلَهُ إِحْلَالَ جَمِيعِهَا إِلَّا مَا وَرَدَ فِيهِ نَصٌّ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى قُل لاَّ أَجِدُ فِيمَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُحلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَبِقَوْلِهِ تَعَالَى وَإذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا فَعَمَّ وَلَمْ يَخُصَّ قَالَ ولئن كان المعتبر باستطابة العرب فهم يستطيعون أَكْلَ جَمِيعِهَا سُئِلَ بَعْضُ الْعَرَبِ عَمَّا يَأْكُلُونَ وَمَا يَذَرُونَ؟ فَقَالَ نَأْكُلُ كُلَّ مَا دَبَّ وَدَرَجَ إِلَّا أُمَّ حُبَيْنٍ فَقِيلَ لَهُ لِتَهْنَأْ أُمَّ حُبَيْنٍ الْعَافِيَةَ

Kedua, bantahan terhadap pihak yang berbeda pendapat dalam hal ini, yaitu Malik. Ia berpendapat bahwa semua hewan halal, kecuali yang ada nash yang mengharamkannya. Maka ia membolehkan serangga darat seperti kumbang, cacing, dan binatang melata lainnya seperti ular, kalajengking, binatang buas, burung pemangsa, dan burung pemburu. Ia juga menghalalkan daging anjing dan mengharamkan daging kuda. Ia menjadikan asal hukumnya adalah kehalalan semuanya kecuali yang ada nash yang melarangnya, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Aku tidak mendapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi—karena sesungguhnya itu kotor—atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” Dan juga firman-Nya: “Apabila kalian telah bertahallul, maka berburu lah.” Maka ayat ini bersifat umum dan tidak dikhususkan. Ia berkata: “Jika yang dijadikan pertimbangan adalah apa yang dianggap baik oleh orang Arab, maka mereka dapat memakan semuanya.” Pernah ditanya sebagian orang Arab tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka tinggalkan, maka ia menjawab: “Kami makan segala sesuatu yang berjalan dan merayap kecuali umm hubain (sejenis binatang).” Maka dikatakan kepadanya: “Semoga umm hubain selalu sehat.”

وَدَلِيلُنَا مَعَ تَقْرِيرِ الْأَصْلِ الذي حررنا قَوْله تَعَالَى وَيُحِلُّ لَهُمْ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ فِيهَا خَبِيثًا مُحَرَّمًا وَطَيِّبًا حَلَالًا وَمَالِكٌ جَعَلَ جَمِيعَهَا حَلَالًا طَيِّبًا

Dan dalil kami, bersamaan dengan penetapan prinsip yang telah kami jelaskan, adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk.” Maka ini menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang buruk yang diharamkan dan sesuatu yang baik yang dihalalkan. Sedangkan Malik menjadikan semuanya halal dan baik.

وَرَوَى عَاصِمُ بْنُ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَكُلِّ ذِي مخلبٍ مِنَ الطَّيْرِ فَجَعَلَ هَذَا فِي التَّحْرِيمِ أَصْلًا مُعْتَبَرًا وَمَالِكٌ لَا يَعْتَبِرُهُ وَيَجْعَلُ الْكُلَّ حَلَالًا

Aṣim bin Dhamrah meriwayatkan dari Ali ‘alaihis salam, dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar. Maka, larangan ini dijadikan sebagai dasar yang diperhitungkan dalam pengharaman, namun Malik tidak menganggapnya dan menghalalkan semuanya.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ خمسٌ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ والغراب وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَمَا أُبِيحُ قَتْلُهُ وَلَمْ يَحْرُمْ فِي الْحَرَمِ وَالْإِحْرَامِ كَانَ حَرَامًا مُسْتَثْنًى مِنْ قَوْله تَعَالَى وَإذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَهُوَ انْفِصَالٌ عَنْهَا وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَدْ أَحَلَّ بَعْضَ الْحَيَوَانِ وَحَرَّمَ بَعْضَهُ وَأَغْفَلَ بَعْضَهُ فَكَانَ نَصُّهُ مُتَّبَعًا فِي مَا أَحَلَّ وَحَرَمَ وَبَقِيَ الْمُغْفَلُ وَلَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَصْلٍ يُعْتَبَرُ فِيهِ لِأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ رَدُّهُ إِلَى التَّحْلِيلِ بِأَوْلَى مِنْ رَدِّهِ إِلَى التَّحْرِيمِ وَلَيْسَ فِيهِ إِلَّا أَحَدُ أَصْلَيْنِ إِمَّا الْقِيَاسُ وَإِمَّا عُرْفُ الْعَرَبِ وَمَالِكٌ لَا يَعْمَلُ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَنَحْنُ نَعْمَلُ عَلَيْهِمَا لِأَنَّنَا نَعْتَبِرُ عرف العرب ثم ترجع إِلَى الْقِيَاسِ عِنْدَ التَّكَافُؤِ فَكُنَّا فِي اعْتِبَارِ الْأَصْلَيْنِ أَرْجَحَ مِنْهُ فِي تَرْكِ الْأَصْلَيْنِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Ada lima hewan yang boleh dibunuh di tanah halal maupun haram, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing buas.” Apa yang dibolehkan untuk dibunuh dan tidak diharamkan di tanah haram dan saat ihram, maka itu adalah pengecualian dari firman Allah Ta‘ala: “Apabila kalian telah bertahallul, maka berburu lah.” Ini merupakan pemisahan darinya. Karena Rasulullah ﷺ telah menghalalkan sebagian hewan dan mengharamkan sebagian lainnya, serta mengabaikan sebagian lainnya. Maka nash beliau diikuti pada apa yang dihalalkan dan diharamkan, sedangkan yang diabaikan tetap tidak ada ketentuan. Maka harus ada asal (dasar hukum) yang dijadikan pertimbangan untuknya, karena tidak mungkin mengembalikannya kepada kehalalan lebih utama daripada mengembalikannya kepada keharaman. Dan tidak ada padanya kecuali salah satu dari dua asal, yaitu qiyās atau ‘urf Arab. Malik tidak beramal dengan salah satu dari keduanya, sedangkan kami beramal dengan keduanya, karena kami mempertimbangkan ‘urf Arab, kemudian kembali kepada qiyās ketika keduanya seimbang. Maka dalam mempertimbangkan kedua asal tersebut, kami lebih kuat daripada beliau yang meninggalkan kedua asal itu.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى قُل لاَّ أَجِدُ فِيمَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ فِي وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Tidak aku dapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,” terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا لَا أَجِدُ فِيمَا نَزَلَ بِهِ الْقُرْآنُ مُحَرَّمًا إِلَّا هَذِهِ الْمَذْكُورَةَ وَمَا عَدَاهَا مُحَرَّمٌ بِالسُّنَّةِ

Salah satunya adalah bahwa aku tidak menemukan dalam apa yang diturunkan oleh Al-Qur’an sesuatu yang diharamkan kecuali yang telah disebutkan ini, sedangkan selainnya diharamkan berdasarkan sunnah.

وَالثَّانِي لَا أَجِدُ فِيمَا اسْتَطَابَتْهُ الْعَرَبُ مُحَرَّمًا إِلَّا هَذِهِ الْمَذْكُورَةَ

Dan yang kedua, aku tidak menemukan sesuatu yang dianggap baik oleh bangsa Arab sebagai sesuatu yang diharamkan kecuali yang telah disebutkan ini.

وَقَوْلُهُ إِنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَسْتَطِيبُ أَكْلَ جَمِيعِهَا فَإِنَّمَا ذَلِكَ فِي جُفَاةِ الْبَوَادِي لِجَدْبِ مَوَاضِعِهِمْ فِي الضَّرُورَاتِ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مِثْلَهُمْ لَا يُعْتَبَرُ

Adapun pernyataannya bahwa orang Arab biasa menikmati memakan seluruh bagian hewan, maka hal itu hanya berlaku bagi orang-orang kasar dari pedalaman karena daerah mereka yang tandus dalam keadaan darurat. Kami telah sebutkan bahwa orang seperti mereka tidak dapat dijadikan pertimbangan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي ونهى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَأَحَلَّ الضُّبُوعَ وَلَهَا نابٌ وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَأْكُلُهَا وتدع الأسد والنمر والذئب تحريماً له بالتقدر وَكَانَ الْفَرْقُ بَيْنَ ذَوَاتِ الْأَنْيَابِ أَنَّ مَا عَدَا مِنْهَا عَلَى النَّاسِ لِقُوَّتِهِ بِنَابِهِ حرامٌ وَمَا لَمْ يَعَدُ عَلَيْهِمْ بِنَابِهِ الضَّبُعُ وَالثَّعْلَبُ وَمَا أَشْبَهَهُمَا حلالٌ

Imam Syafi‘i berkata: Nabi ﷺ melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, namun beliau membolehkan hyena, padahal hyena juga memiliki taring. Orang-orang Arab memakannya dan meninggalkan singa, harimau, serta serigala sebagai bentuk pengharaman karena kemampuannya. Perbedaan antara binatang bertaring adalah bahwa yang menyerang manusia dengan kekuatan taringnya hukumnya haram, sedangkan yang tidak menyerang manusia dengan taringnya seperti hyena, rubah, dan yang semisal keduanya hukumnya halal.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَهُوَ أَصْلٌ فِي التَّحْرِيمِ دُونَ الْإِبَاحَةِ وَقَدْ رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَمَعْلُومٌ أَنَّ فِي ذَوَاتِ الْأَنْيَابِ مَأْكُولًا فَاحْتِيجَ إِلَى تَعْلِيلِ مَا حَرَّمَ بِهِ ذَوَاتَ الْأَنْيَابِ وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي مَعْنَى تَعْلِيلِهِ فَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مَا قَوِيَتْ أَنْيَابُهُ فَعَدَا بِهَا عَلَى الْحَيَوَانِ طَالِبًا لَهُ غَيْرَ مَطْلُوبٍ فَكَانَ عَدَاؤُهُ بِأَنْيَابِهِ علة تَحْرِيمِهِ وَقَالَ مِنْ أَصْحَابِهِ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ هُوَ مَا كَانَ عَيْشُهُ بِأَنْيَابِهِ دُونَ غَيْرِهِ لَا يَأْكُلُ إِلَّا مَا يفرس مِنَ الْحَيَوَانِ فَكَانَ عَيْشُهُ بِأَنْيَابِهِ عِلَّةَ تَحْرِيمِهِ وَاخْتِلَافُ التَّعْلِيلَيْنِ يُبَيَّنُ فِي التَّفْضِيلِ وَقَالَ أَبُو حنيفة هو ما فرس بِأَنْيَابِهِ وَإِنْ لَمْ يَبْتَدِئْ بِالْعَدْوَى وَإِنْ عَاشَ بِغَيْرِ أَنْيَابِهِ وَهَذِهِ ثَلَاثُ عِلَلٍ أَعَمُّهَا عِلَّةُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَوْسَطُهَا عِلَّةُ الشَّافِعِيِّ وَأَخَصُّهَا عِلَّةُ الْمَرْوَزِيِّ فَالْأَسَدُ وَالذِّئْبُ وَالْفَهْدُ وَالنَّمِرُ حَرَامٌ لِوُجُودِ الْعِلَلِ الثَّلَاثِ فِيهَا لِأَنَّهَا تَبْتَدِئُ الْعَدْوَى بِقُوَّةِ أَنْيَابِهَا وَتَعِيشُ بِفْرِيسَةِ أَنْيَابِهَا وَكَذَلِكَ أَمْثَالُهَا مِمَّا اجْتَمَعَتْ فِيهِ الْعِلَلُ الثَّلَاثُ

Al-Mawardi berkata: Adapun larangan Rasulullah saw. terhadap memakan setiap hewan buas yang bertaring, maka itu adalah dasar dalam pengharaman, bukan dalam kebolehan. Hadis ini telah diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu Tsa‘labah al-Khushani, bahwa Rasulullah saw. melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring. Telah diketahui bahwa di antara hewan bertaring ada yang boleh dimakan, sehingga diperlukan penjelasan alasan pengharaman hewan bertaring tersebut. Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai makna alasannya. Menurut asy-Syafi‘i, yaitu hewan yang taringnya kuat sehingga ia menyerang hewan lain dengan taringnya untuk memburunya, bukan karena ia diburu, maka penyerangannya dengan taringnya menjadi sebab pengharamannya. Sebagian sahabatnya, yaitu Abu Ishaq al-Marwazi, berkata: yaitu hewan yang hidupnya bergantung pada taringnya, tidak makan kecuali apa yang ia terkam dari hewan lain, maka hidupnya dengan taringnya menjadi sebab pengharamannya. Perbedaan dua alasan ini dijelaskan dalam perincian. Abu Hanifah berkata: yaitu hewan yang menerkam dengan taringnya, meskipun tidak memulai serangan, dan meskipun ia hidup bukan hanya dengan taringnya. Ini adalah tiga alasan, yang paling umum adalah alasan Abu Hanifah, yang pertengahan adalah alasan asy-Syafi‘i, dan yang paling khusus adalah alasan al-Marwazi. Maka singa, serigala, macan tutul, dan harimau diharamkan karena terdapat tiga alasan tersebut pada hewan-hewan itu, karena mereka memulai serangan dengan kekuatan taringnya dan hidup dengan memangsa menggunakan taringnya, demikian pula hewan-hewan sejenis yang terkumpul padanya tiga alasan tersebut.

فَأَمَّا الضَّبُعُ فَحَلَالٌ عِنْدَنَا لِعَدَمِ الْعِلَّتَيْنِ فِيهِ لِأَنَّهُ لَا يَبْتَدِئُ بِالْعَدْوَى وَقَدْ يَعِيشُ بِغَيْرِ أَنْيَابِهِ وَقِيلَ إِنَّهُ مِنْ أَحْمَقِ الْحَيَوَانِ لِأَنَّهُ يَتَنَاوَمُ حَتَّى يُصْطَادَ

Adapun hyena, hukumnya halal menurut kami karena tidak terdapat dua ‘illat (alasan hukum) padanya, sebab ia tidak memulai menyerang dan bisa hidup tanpa taringnya. Dikatakan juga bahwa hyena adalah salah satu hewan yang paling bodoh karena ia berpura-pura tidur hingga tertangkap.

وَقَالَ مَالِكٌ هُوَ حَرَامٌ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ مَكْرُوهٌ وَالْمَكْرُوهُ عِنْدَهُ مَا يَأْثَمُ بِأَكْلِهِ وَلَا يَقْطَعُ بِتَحْرِيمِهِ احْتِجَاجًا بِنَهْيِهِ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَهُوَ ذُو نَابٍ يفرس به ولأن ما فرس بِأَنْيَابِهِ حَرُمَ أَكْلُهُ كَالسِّبَاعِ

Malik berpendapat bahwa hukumnya haram, sedangkan Abu Hanifah berpendapat makruh, dan makruh menurut beliau adalah sesuatu yang pelakunya berdosa jika memakannya, namun tidak dipastikan keharamannya, dengan alasan larangan memakan setiap hewan buas yang bertaring, sedangkan hewan ini bertaring yang digunakan untuk menerkam, dan karena setiap hewan yang menerkam dengan taringnya haram dimakan seperti hewan-hewan buas.

وَدَلِيلُنَا مَعَ التَّعْلِيلِ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيِّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنِ ابْنِ أَبِي عَمَّارٍ قَالَ قُلْتُ لِجَابِرٍ أَرَأَيْتَ الضَّبُعَ أصيدٌ هُوَ؟ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَيُؤْكَلُ؟ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَسَمِعْتَ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ نَعَمْ وَهَذَا نصٌّ وَقَدْ وَرَدَ عَنِ الصَّحَابَةِ فِيهِ مَا صَارَ فِي الْحُجَّةِ كَالْإِجْمَاعِ فَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ أَنَّهُمَا قَالَا الضَّبُعُ حلالٌ وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ الضَّبُعُ شَاةٌ مِنَ الضَّأْنِ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ الضَّبُعُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دجاجةٍ سمينةٍ وَقَدِ انْتَشَرَ هَذَا عَنْهُمْ وَلَمْ يَظْهَرْ مُخَالِفٌ لَهُمْ فَكَانَ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ أَنْ يَكُونَ إِجْمَاعًا أَوْ حُجَّةً فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَلِيلٌ وَلِأَنَّهُ حَيَوَانٌ لَا يُنَجَّسُ بِالذَّبْحِ فَوَجَبَ أَنْ يَحِلَّ أَكْلُهُ كَالنَّعَمِ

Dan dalil kami, beserta alasan yang telah kami kemukakan sebelumnya, adalah riwayat yang dibawakan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari Abdullah bin Ubaid, dari Ibnu Abi ‘Ammar. Ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir, “Bagaimana pendapatmu tentang dhab (sejenis hewan), apakah ia termasuk buruan?” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Apakah boleh dimakan?” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Apakah engkau mendengar hal itu dari Rasulullah ﷺ?” Ia menjawab, “Ya.” Ini adalah nash (teks yang jelas). Dan telah diriwayatkan dari para sahabat mengenai hal ini sesuatu yang menjadi hujjah seperti ijmā‘, yaitu diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar bahwa keduanya berkata, “Dhab itu halal.” Abu Hurairah berkata, “Dhab itu seperti kambing dari jenis domba.” Abu Sa‘id al-Khudri berkata, “Dhab lebih aku sukai daripada ayam gemuk.” Pendapat ini telah tersebar dari mereka dan tidak tampak ada yang menyelisihi mereka, sehingga hal itu berada di antara kemungkinan sebagai ijmā‘ atau sebagai hujjah, dan pada masing-masingnya terdapat dalil. Dan karena ia adalah hewan yang tidak menjadi najis dengan disembelih, maka wajib hukumnya halal dimakan seperti hewan ternak.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ الِاسْتِثْنَاءِ بِالْخَبَرِ فَهُوَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ التَّعْلِيلِ فِيهِ وَكَذَلِكَ قِيَاسُهُمْ

Adapun jawaban terhadap pengecualian dengan hadis adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya berupa alasan di dalamnya, demikian pula qiyās mereka.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الضَّبُّ فَهُوَ عِنْدُنَا حَلَالٌ وَعِنْدَ مَالِكٍ حَرَامٌ وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ مَكْرُوهٌ واحتج مالك برواية ابن جريح عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أُتِيَ بِالضَّبِّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَهُ وَقَالَ لَا أَدْرِي لَعَلَّهَا مِنَ الْقُرُونِ الَّتِي مُسِخَتْ

Adapun dhab, menurut kami hukumnya halal, menurut Malik haram, dan menurut Abu Hanifah makruh. Malik berdalil dengan riwayat Ibnu Juraij dari Abu az-Zubair dari Jabir, ia berkata: Dihidangkan dhab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau enggan memakannya dan bersabda, “Aku tidak tahu, barangkali ia termasuk dari generasi yang telah diubah bentuknya.”

وَاحْتَجَّ لِأَبِي حَنِيفَةَ بِرِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ مَا تَرَى فِي الضَّبِّ فَقَالَ لَسْتُ آكُلُهِ وَلَا أُحَرِّمُهُ

Dan dalil yang digunakan untuk mendukung pendapat Abu Hanifah adalah riwayat dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana pendapatmu tentang dhab?” Beliau menjawab, “Aku tidak memakannya dan aku juga tidak mengharamkannya.”

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ وَخَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّهُمَا دَخَلَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بَيْتَ مَيْمُونَةَ فَأُتِيَ بِضَّبٍّ محنوذٍ فَأَهْوَى رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِيَدِهِ فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ لِمَيْمُونَةَ أَخْبِرِي رَسُولَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ما يريد أن يأكل فقالوا هُوَ ضبٌّ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَدَهُ فَقُلْتُ أحرامٌ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ قَالَ خَالِدٌ فَأَجْرَرْتُهُ وَأَكَلْتُ وَرَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَنْظُرُ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dari Abdullah bin Abbas dan Khalid bin al-Walid, bahwa keduanya masuk bersama Rasulullah ﷺ ke rumah Maimunah, lalu dihidangkan dabb (sejenis biawak) yang dipanggang. Rasulullah ﷺ pun mengulurkan tangannya, lalu sebagian wanita berkata kepada Maimunah, “Beritahukanlah kepada Rasulullah ﷺ apa yang hendak beliau makan.” Mereka berkata, “Itu adalah dabb.” Maka Rasulullah ﷺ menarik tangannya. Aku pun bertanya, “Apakah dabb itu haram, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi dabb itu tidak ada di negeri kaumku, sehingga aku merasa tidak suka.” Khalid berkata, “Maka aku menarik dabb itu dan memakannya, sementara Rasulullah ﷺ melihat.”

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بَيْتَ مَيْمُونَةَ وَمَعَهُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَإِذَا خبابٌ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ لَكُمْ هَذَا فَقَالَتْ أَهْدَتْ إِلَيَّ أُخْتِي؟ فَقَالَ لِخَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ ولابن عَبَّاسٍ كُلَا قَالَا وَلَا يَأْكُلُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ إِنِّي تَحْضُرُنِي مِنَ اللَّهِ حاضرةٌ

Syafi‘i meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad Abdullah bin Abi Sa‘sha‘ah, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ masuk ke rumah Maimunah bersama Khalid bin Walid, lalu ternyata di sana ada daging biawak. Beliau bertanya, “Dari mana kalian mendapatkan ini?” Maimunah menjawab, “Saudariku menghadiahkannya kepadaku.” Maka beliau berkata kepada Khalid bin Walid dan Ibnu Abbas, “Makanlah kalian berdua.” Keduanya pun makan, sedangkan Rasulullah ﷺ tidak ikut makan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku merasa jijik karena sesuatu yang datang dari Allah.”

وَفِي هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ نَصٌّ عَلَى الْإِبَاحَةِ وَقَدْ رَوَى مَالِكٌ أَحَدَهُمَا وَهُوَ لَهُ أَلْزَمُ وَلَيْسَ فِي الحديثين المتقدمين دليل على التحريم وإنما فيها امْتِنَاعٌ مِنَ الْأَكْلِ

Dalam dua hadis ini terdapat nash yang menunjukkan kebolehan, dan Malik meriwayatkan salah satunya, yang mana itu lebih mengikat baginya. Tidak ada dalam dua hadis yang telah disebutkan sebelumnya dalil yang menunjukkan keharaman, melainkan hanya terdapat penolakan untuk memakannya.

وَقَدْ رَوَى أَبُو إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ يَزِيدَ الْأَصَمِّ أَنَّهُ أَنْكَرَ الرِّوَايَةَ أَنَّهُ قَالَ لَا آكُلُهُ وَلَا أُحَرِّمُهُ وَقَالَ مَا بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِلَّا مُحَلِّلًا وَمُحَرِّمًا

Abu Ishaq asy-Syaibani meriwayatkan dari Yazid al-Asham bahwa ia mengingkari riwayat yang menyatakan bahwa ia berkata, “Aku tidak memakannya dan aku juga tidak mengharamkannya.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diutus kecuali sebagai yang menghalalkan dan yang mengharamkan.”

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْأَرْنَبُ فحلالٌ لِأَنَّهُ لَا عَدْوَى فِيهِ وَيَعِيشُ بِغَيْرِ أَنْيَابِهِ وَقَدْ رَوَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مَنْ حَاضَرَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ أَبُو ذَرٌّ أَنَا شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أُتِيَ بِأَرْنَبِ فَقَالَ لِلَّذِي جَاءَهُ بِهَا رَأَيْتُهَا كَأَنَّهَا تَدْمَى وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَمْ يَأْكُلْ وَقَالَ لِلْقَوْمِ كُلُوا

Adapun kelinci, hukumnya halal karena tidak ada penyakit menular padanya dan ia hidup tanpa taring. Sa‘id bin al-Musayyab meriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khattab berkata, “Siapa yang hadir bersama kami pada hari ini dan itu?” Maka Abu Dzar berkata, “Aku menyaksikan Rasulullah ﷺ didatangkan seekor kelinci, lalu beliau berkata kepada orang yang membawanya, ‘Aku melihatnya seolah-olah berdarah.’ Dan Rasulullah ﷺ sendiri tidak memakannya, namun beliau berkata kepada orang-orang, ‘Makanlah kalian.’”

وَرَوَى صَفْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَوْ مُحَمَّدُ بْنُ صَفْوَانَ قَالَ اصْطَدْتُ أَرْنَبَيْنِ فَذَبَحْتُهُمَا بِمَرْوَةَ يَعْنِي بِحَجَرٍ وَسَأَلْتُ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عنها فَأَمَرَنِي بِأَكْلِهِمَا

Diriwayatkan oleh Shafwan bin Muhammad atau Muhammad bin Shafwan, ia berkata: Aku menangkap dua ekor kelinci lalu menyembelih keduanya dengan batu, maksudnya dengan batu, lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, maka beliau memerintahkan aku untuk memakannya.

فَأَمَّا الثَّعْلَبُ فَهُوَ حَلَالٌ

Adapun rubah, maka hukumnya halal.

وَقَالَ أبو حنيفة مكروه كالضبع لأنه يفرس بِنَابِهِ وَهُوَ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ التَّعْلِيلَيْنِ مُبَاحٌ لِأَنَّهُ لَا عَدْوَى فِيهِ وَقَدْ يَعِيشُ بغير أنيابه

Abu Hanifah berpendapat bahwa hukumnya makruh seperti hyena, karena hewan itu memangsa dengan taringnya. Namun, menurut dua alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya, hukumnya mubah karena tidak ada unsur penularan penyakit padanya dan ia bisa hidup tanpa taringnya.

وأما ابن آوى ففي إباحته أَكْلَهُ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ لَا يَبْتَدِئُ بِالْعَدْوَى وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى تَعْلِيلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لِأَنَّهُ يَعِيشُ بِأَنْيَابِهِ

Adapun mengenai serigala kecil (ibn āwā’), terdapat dua pendapat tentang kebolehan memakannya. Pendapat pertama menyatakan bahwa ia boleh dimakan, dan ini merupakan konsekuensi dari alasan Imam Syāfi‘ī karena hewan tersebut tidak memulai menyerang. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak boleh dimakan, dan ini merupakan konsekuensi dari alasan Abū Isḥāq al-Marwazī karena hewan tersebut hidup dengan taringnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْيَرْبُوعُ فيؤكل وقد حكم فيه عمر رضي الله عنه على المحرم بحفرة وَقِيلَ إِنَّهُ فَأْرُ الْبَرِّ فَيُؤْكَلُ وَإِنْ لَمْ يُؤْكَلْ فَأْرُ الْمُدُنِ قَدْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِقَتْلِ الْفَأْرَةِ وَلَمْ يَأْمُرْ بِقَتْلِ الْيَرْبُوعِ

Adapun yarbu‘, maka ia boleh dimakan, dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah memutuskan hukum bagi orang yang berihram jika membunuhnya dengan membuat lubang. Dikatakan bahwa yarbu‘ adalah tikus padang pasir, maka ia boleh dimakan, meskipun tikus kota tidak boleh dimakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk membunuh tikus, namun beliau tidak memerintahkan untuk membunuh yarbu‘.

فَأَمَّا السِّنَّوْرُ فَضَرْبَانِ أَهْلِيٌّ وَوَحْشِيٌّ

Adapun kucing, maka ada dua jenis: kucing peliharaan dan kucing liar.

فَأَمَّا الْأَهْلِيُّ فَحَرَامٌ لَا يُؤْكَلُ لِرِوَايَةِ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ السِّنَّوْرِ وَعَنْ أَكْلِ ثَمَنِهَا وَلِأَنَّهَا تَأْكُلُ حَشَرَاتِ الْأَرْضِ فَكَانَتْ مِنَ الْخَبَائِثِ

Adapun kucing jinak, hukumnya haram untuk dimakan, berdasarkan riwayat Jabir bahwa Nabi ﷺ melarang memakan kucing dan melarang memakan hasil penjualannya, serta karena kucing memakan serangga-serangga tanah sehingga termasuk ke dalam kategori khabā’its (hewan yang dianggap kotor atau menjijikkan).

وَأَمَّا السِّنَّوْرُ الْبَرِّيُّ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ كَابْنِ آوَى

Adapun kucing liar, terdapat dua pendapat mengenai kebolehan memakannya, seperti halnya dengan serigala kecil (ibn āwā’).

أَحَدُهُمَا يُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ لَا يَبْتَدِئُ بِالْعَدْوَى

Salah satunya boleh dimakan, dan inilah yang menjadi konsekuensi dari alasan yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i, karena hewan itu tidak memulai penularan.

وَالثَّانِي لَا يُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الْمَرْوَزِيِّ لِأَنَّهُ يَعِيشُ بِأَنْيَابِهِ

Dan yang kedua tidak boleh dimakan, inilah konsekuensi dari alasan yang dikemukakan oleh al-Marwazi, karena hewan itu hidup dengan taringnya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَيُؤْكَلُ الْوَبْرُ وَالْقُنْفُذُ وَالْوَبْرُ دُوَيْبَةٌ سَوْدَاءُ أَكْبَرُ مِنِ ابْنِ عِرْسٍ

Asy-Syafi‘i berkata: Boleh dimakan wabr dan landak. Wabr adalah hewan kecil berwarna hitam yang lebih besar dari musang.

وَفِي أَكْلِ ابْنِ عِرْسٍ وَجْهَانِ

Dalam hal memakan bin ‘irs (musang), terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُؤْكَلُ عَلَى مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الشَّافِعِيِّ

Salah satunya dibolehkan untuk dimakan berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh Imam Syafi‘i.

وَالثَّانِي لَا يُؤْكَلُ عَلَى مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الْمَرْوَزِيِّ

Dan yang kedua tidak boleh dimakan menurut konsekuensi alasan yang dikemukakan oleh al-Marwazī.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ أَبَحْتُمْ أَكْلَ الْقُنْفُذِ وَقَدْ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّهَا ذُكِرَتْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ خبيثةٌ مِنَ الْخَبَائِثِ

Jika dikatakan, “Lalu bagaimana kalian membolehkan memakan landak, padahal Abu Hurairah meriwayatkan bahwa hewan itu pernah disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: ‘Binatang yang buruk dari golongan binatang-binatang yang buruk’?”

قِيلَ يُحْتَمَلُ إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهَا خَبِيثَةُ الْفِعْلِ دُونَ اللَّحْمِ لِمَا فِيهِ مِنْ إِخْفَاءِ رَأْسِهِ عِنْدَ التَّعَرُّضِ لِذَبْحِهِ وَإِبْدَاءِ شَوْكِهِ عِنْدَ أَخْذِهِ

Dikatakan, dimungkinkan jika hadis itu sahih, bahwa yang dimaksud adalah buruknya perbuatan (ikan lele) dan bukan dagingnya, karena ikan itu menyembunyikan kepalanya ketika hendak disembelih dan menampakkan durinya ketika hendak ditangkap.

فَأَمَّا أُمُّ حُبَيْنٍ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا تُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى كَلَامِ تَعْلِيلِ الشَّافِعِيِّ وَقَدْ نَصَّ عَلَى أَنَّ فِيهِ الْجَزَاءَ وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهَا لَا تُؤْكَلُ وَهُوَ مُقْتَضَى تَعْلِيلِ الْمَرْوَزِيِّ وَقَدْ قَالَ فِيهَا الْبَدَوِيُّ مَا قَالَ

Adapun Ummu Hubain, dalam hal kebolehan memakannya terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, boleh dimakan, dan ini merupakan konsekuensi dari penjelasan alasan Imam Syafi‘i, bahkan beliau telah menegaskan bahwa padanya terdapat kewajiban membayar denda. Pendapat kedua, tidak boleh dimakan, dan ini merupakan konsekuensi dari penjelasan alasan al-Marwazi. Mengenai hal ini, al-Badawi juga memiliki pendapat tersendiri.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

فَأَمَّا أَكْلُ الْحَمِيرِ فَمَا كَانَ مِنْهَا وَحَشِيًّا فَأَكْلُهُ حَلَالٌ رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ مَازِنٍ عَنْ مَعْمَرِ بْنِ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن أبي قبالة عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَامَ الْحُدَيْبِيَّةِ وَقَدْ أَحْرَمُ مَنْ أَحْرَمَ مِنْ أَصْحَابِي وَلَمْ أُحْرِمْ فَإِذَا أَنَا بِحِمَارٍ وَحْشِيٍّ فَحَمَلْتُ عَلَيْهِ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي فَصَرَعْتُهُ فَأَكَلْنَا مِنْ لَحْمِهِ ثُمَّ لَحِقْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقُلْتُ أَصَبْتُ حِمَارًا وَحَشِيًّا وَعِنْدِي مِنْهُ فَأَكَلَهُ وَقَالَ لِلْقَوْمِ وَهُمْ مُحْرِمُونَ كُلُوا فَأَكَلُوا فَدَلَّ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ الْحِمَارِ الْوَحْشِيِّ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ زَكَاةَ الصَّيْدِ الْمُمْتَنِعِ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ أُصِيبَ مِنْ جَسَدِهِ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمُحْرِمَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ صَيْدِ الْمُحْرِمِ إِذَا لَمْ يَصِدْهُ لِأَجْلِهِ

Adapun keledai, maka yang termasuk keledai liar, memakannya adalah halal. Asy-Syafi‘i meriwayatkan dari Mutarrif bin Mazin, dari Ma‘mar bin Yahya bin Abi Katsir, dari ‘Abdullah bin Abi Qibalah, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika aku bersama Rasulullah ﷺ pada tahun Hudaibiyah, sebagian sahabatku telah berihram dan aku belum berihram, tiba-tiba aku melihat seekor keledai liar. Aku pun mengejarnya, lalu menikamnya dengan tombakku hingga terjatuh, lalu kami memakan dagingnya. Kemudian aku menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Aku mendapatkan seekor keledai liar dan aku masih memiliki sebagian dagingnya.’ Maka beliau memakannya dan berkata kepada orang-orang yang sedang berihram, ‘Makanlah!’ Maka mereka pun memakannya.” Hadis ini menunjukkan tiga hukum: dibolehkannya memakan keledai liar, bahwa penyembelihan hewan buruan yang liar sah dilakukan di bagian mana pun dari tubuhnya yang terkena, dan bahwa orang yang sedang berihram boleh memakan hasil buruan orang lain yang tidak berburu untuknya.

وَرَوَى الصَّعْبُ بْنُ جَثَّامَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ برجل حمارٍ وحشي فرده عليّ فتعمر وَجْهِي فَلَمَّا عَرَفَ الْكَرَاهَةَ فِي وَجْهِي قَالَ مَا بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكُنَّا قَوْمٌ حُرُمٌ فَامْتَنَعَ مِنْ أَكْلِهِ لِإِحْرَامِهِ فَإِنَّ الصَّعْبَ صَادَهُ لِأَجْلِهِ بَعْدَ إِحْلَالِهِ مِنَ الْإِحْرَامِ وَفِي قَوْلِ الصَّعْبِ رِجْلِ حمارٍ وحشيٍّ تَأْوِيلَانِ

Diriwayatkan dari Sha‘b bin Jatsamah, ia berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa kaki keledai liar, lalu beliau mengembalikannya kepadaku. Wajahku pun berubah (karena kecewa). Ketika beliau mengetahui ketidaksenangan di wajahku, beliau bersabda, “Bukan karena kami menolaknya darimu, tetapi kami adalah kaum yang sedang ihram.” Maka beliau menahan diri dari memakannya karena sedang dalam keadaan ihram. Sesungguhnya Sha‘b memburunya untuk beliau setelah beliau keluar dari ihram. Dan dalam ucapan Sha‘b “kaki keledai liar” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا يَعْنِي بِهِ أَحَدَ رِجْلَيْهِ الَّتِي يَمْشِي عَلَيْهَا

Salah satunya maksudnya adalah salah satu dari kedua kakinya yang digunakan untuk berjalan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ أَرَادَ جَمَاعَةَ حَمِيرٍ يُقَالُ لَهَا رِجْلٌ كما يقال حيط نَعَامٍ وَسِرْبُ ظِبَاءٍ وَهُوَ أَشْبَهُ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يُقْصَدُ وَهُوَ فِي كَثِيرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ بِهَدِيَّةِ عُضْوٍ مِنْ حِمَارٍ

Kedua, bahwa yang dimaksud adalah sekelompok himar yang disebut “rijl”, sebagaimana dikatakan “hīṭ na‘ām” (sekawanan unta) dan “sirb ẓibā’” (kelompok kijang), dan ini lebih mendekati, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah dimaksudkan—sementara beliau berada di tengah banyak sahabatnya—dengan hadiah berupa anggota tubuh dari seekor himar.

فَأَمَّا الْحَمِيرُ الْأَهْلِيَّةُ فَأَكْلُهَا حَرَامٌ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ حُرِّمَتْ بِاسْتِخْبَاثِ الْعَرَبِ لَهَا أَوْ بِالنَّصِّ فِي الْمَنْعِ مِنْهَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ وَبِتَحْرِيمِهَا قَالَ جُمْهُورُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ أَكْلُهَا حَلَالٌ احْتِجَاجًا بِحَدِيثٍ رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي مَعْقِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا رَجُلَانِ مِنْ مُزَيْنَةَ قَالَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَمْ تُبْقِ لَنَا الشِّدَّةُ إِلَّا الْحُمُرَ أَفَنَأْكَلُ مِنْهَا؟ فَقَالَ أَطْعِمَا أَهْلَكُمَا مِنْ سَمِينٍ فَإِنِّي إِنَّمَا قَدَرْتُ عَلَيْكُمْ بِجُوَالِ الْقُرْبَةِ يَعْنِي أَكَلَةَ الزِّبْلِ وَالْعَذِرَةِ

Adapun keledai jinak, maka memakannya adalah haram. Para ulama kami berbeda pendapat, apakah keharamannya disebabkan karena dianggap menjijikkan oleh bangsa Arab atau karena adanya nash yang melarangnya? Ada dua pendapat dalam hal ini. Tentang keharamannya, mayoritas sahabat, tabi‘in, dan para fuqaha’ berpendapat demikian. Namun, Abdullah bin ‘Abbas dan Sa‘id bin Jubair berpendapat bahwa memakannya halal, dengan berdalil pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari Mis‘ar, dari ‘Ubaid bin al-Hasan, dari Abu Ma‘qil. Ia berkata: Dua orang dari Muzainah mengabarkan kepada kami, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada yang tersisa bagi kami karena kesulitan kecuali keledai, bolehkah kami memakannya?” Maka beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dari yang berlemak, karena sesungguhnya aku hanya melarang kalian dari yang memakan kotoran dan najis.”

قَالَ الشَّافِعِيُّ لَا أَعْرِفُ مِنْ ثُبُوتِ هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى الِانْفِرَادِ مَا أَعْرِفُ مِنْ ثُبُوتِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَأُحَرِّمُهَا

Imam Syafi‘i berkata, “Aku tidak mengetahui tentang ketetapan hadis ini secara tersendiri sebagaimana aku mengetahui tentang ketetapan larangan Rasulullah ﷺ terhadap daging keledai jinak, maka aku mengharamkannya.”

وَنَهْيُهُ عَنْهَا دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَةِ الْحُمُرِ الْوَحْشِيَّةِ لِأَنَّهُ إِذَا نَهَى عَنْ شَيْءٍ يَجْمَعُ صِنْفَيْنِ فَقَدْ أَبَاحَ مَا يَخْرُجُ عَنْ صِنْفِهِ

Larangan beliau terhadapnya merupakan dalil atas kebolehan keledai liar, karena apabila beliau melarang sesuatu yang mencakup dua jenis, maka beliau telah membolehkan apa yang keluar dari jenis tersebut.

وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَبَّحَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ خَيْبَرَ بُكْرَةً وَقَدْ خَرَجُوا بِالشَّاةِ مِنَ الْحِصْنِ فَلَمَّا رَأَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قالوا محمد والخميس لم لَجُّوا إِلَى الْحِصْنِ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَدَيْهِ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قومٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ فَلَمَّا فَتَحُوهَا أَصَابُوا حُمُرًا فَطَبَخُوا مِنْهَا فَنَادَى مُنَادِيَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَلَا إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَاكُمْ عَنْهَا فَإِنَّهَا رجسٌ فَكَفُّوا الْقُدُورَ وَإِنَّهَا لَتَفُورُ

Dan dalil tentang haramnya keledai jinak adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari Ayyub as-Sikhtiyani, dari Muhammad bin Sirin, dari Anas bin Malik. Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang Khaibar pada pagi hari, dan mereka (penduduk Khaibar) keluar membawa kambing dari benteng. Ketika mereka melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Muhammad dan pasukannya!” Lalu mereka segera masuk ke dalam benteng. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya tiga kali dan berkata, “Allahu Akbar, hancurlah Khaibar! Sesungguhnya jika kami telah turun di halaman suatu kaum, maka amat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu.” Ketika mereka (kaum Muslimin) telah membukanya (Khaibar), mereka mendapatkan keledai-keledai dan memasaknya. Maka seorang penyeru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian darinya, karena ia adalah najis.” Maka mereka pun menumpahkan isi panci-panci itu, padahal panci-panci itu masih mendidih.

فَاحْتَمَلَ مَا حَكَمُوا بِهِ مِنْ أَكْلِهَا لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَطِيبُونَهَا كَالْحُمُرِ الْوَحْشِيَّةِ حَتَّى نُهُوا عَنْهَا بِالنَّصِّ

Maka dapat diterima hukum yang mereka tetapkan tentang kebolehan memakannya, karena mereka menganggapnya baik seperti keledai liar, hingga kemudian mereka dilarang darinya dengan nash (teks syariat).

وَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونُوا هَمُّوا بِذَلِكَ لِمَجَاعَةٍ لَحِقَتْهُمْ حَتَّى نُهُوا عَنْهَا بِالْفَتْحِ فَلِذَلِكَ مَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي عِلَّةِ تَحْرِيمِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan mungkin saja mereka berniat melakukan hal itu karena kelaparan yang menimpa mereka, hingga mereka dilarang melakukannya setelah penaklukan. Oleh karena itu, para ulama kami berbeda pendapat mengenai sebab diharamkannya hal tersebut menjadi dua pendapat. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا لَحْمُ الْخَيْلِ فَأَكْلُهَا حَلَالٌ قَالَ الشافعي لا كُلُّ مَا لَزِمَهُ اسْمُ الْخَيْلِ مِنَ الْعِرَابِ وَالْمَقَادِيفِ وَالْبَرَاذِينِ فَأَكْلُهَا حَلَالٌ

Adapun daging kuda, maka memakannya adalah halal. Asy-Syafi‘i berkata: Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori kuda, baik itu al-‘irāb, al-maqādīf, maupun al-barādzīn, maka memakannya adalah halal.

وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ وَأَحْمَدُ وَمُحَمَّدٌ وَإِسْحَاقُ وَقَالَ مَالِكٌ كُلُّهَا حَرَامٌ

Pendapat ini juga dipegang oleh Abu Yusuf, Ahmad, Muhammad, dan Ishaq, sedangkan Malik berpendapat bahwa semuanya haram.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ مَكْرُوهٌ احْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَالخَيْلَ وَالْبَغَالَ وَالحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً فَكَانَ فِي تَحْرِيمِ أَكْلِهَا دَلِيلٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah berkata bahwa hukumnya makruh, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan (Dia ciptakan) kuda, bagal, dan keledai agar kalian menungganginya dan sebagai perhiasan.” Maka dalam pengharaman memakannya terdapat dalil dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا تَخْصِيصُ مَنْفَعَتِهَا بِالرُّكُوبِ وَالزِّينَةِ فَدَلَّ عَلَى تَحْرِيمِ مَا عَدَاهُ

Salah satunya adalah pembatasan pemanfaatannya hanya untuk dikendarai dan sebagai perhiasan, sehingga hal itu menunjukkan keharaman selain dari kedua hal tersebut.

وَالثَّانِي ضَمَّهَا إِلَى مَا حَرُمَ أَكْلُهُ مِنَ الْحَمِيرِ وَبِرِوَايَةِ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إلى خيبر فأتته اليهود فشكو أَنَّ النَّاسَ قَدْ أَسْرَعُوا إِلَى حَظَائِرِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَلَا لَا تَحِلُّ أَمْوَالُ الْمُعَاهِدِينَ إِلَّا بِحَقِّهَا وحرامٌ عَلَيْكُمْ حُمُرُ الْأَهْلِيَّةِ وَخَيْلُهَا وَبِغَالُهَا

Yang kedua, beliau menggolongkannya bersama hewan yang haram dimakan seperti keledai. Dalam riwayat Khalid bin Walid, ia berkata: Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Khaibar, lalu orang-orang Yahudi datang kepada beliau dan mengadukan bahwa manusia telah bergegas menuju kandang-kandang mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, harta orang-orang mu‘āhad tidak halal kecuali dengan haknya, dan haram atas kalian keledai jinak, kuda, dan bagal mereka.”

وَهَذَا نَصٌّ قَالُوا وَلِأَنَّهُ ذُو حَافِرٍ أَهْلِيٍّ فَوَجَبَ أَنْ يَحْرُمَ أَكْلُهُ كَالْحَمِيرِ وَلِأَنَّهُ حَيَوَانٌ يُسْهَمُ لَهُ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَحِلَّ أَكْلُهُ كَالْآدَمِيِّينَ

Ini adalah nash yang mereka katakan: Karena ia adalah hewan berkuku yang jinak, maka wajib hukumnya haram memakannya seperti keledai. Dan karena ia adalah hewan yang mendapat bagian (dalam rampasan perang), maka wajib hukumnya tidak halal memakannya seperti manusia.

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَطْعَمَنَا رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لُحُومَ الْخَيْلِ وَنَهَانَا عَنْ لُحُومِ الْحَمِيرِ وَهَذَا نص

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan dari ‘Amr bin Dinar dari Jabir, ia berkata: Rasulullah ﷺ memberi kami makan daging kuda dan melarang kami dari daging keledai, dan ini adalah nash.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ هَاشِمِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ فَاطِمَةُ بِنْتُ الْمُنْذِرِ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَكَلْنَاهُ

Asy-Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari Hashim bin ‘Urwah, dari Fatimah binti Al-Mundzir, dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata: “Kami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami memakannya.”

وَلِأَنَّهَا بَهِيمَةٌ لَا تُنْجُسُ بِالذَّبْحِ فَلَمْ يَحْرُمْ أَكْلُهَا كَالنَّعَمِ

Dan karena ia adalah hewan ternak yang tidak menjadi najis dengan penyembelihan, maka tidaklah haram memakannya, seperti halnya hewan ternak lainnya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ تَعْيِينَ بَعْضِ مَنَافِعِهَا بِالذِّكْرِ لَا يَدُلُّ عَلَى مَا عَدَاهُ كَمَا لَا يَحْرُمُ الْبَيْعُ وَالشِّرَاءُ وَالثَّانِي إنَّهُ خَصَّ الرُّكُوبَ فِي الْخَيْلِ وَلُحُومُ الْخَيْلِ لَيْسَتْ بِخَيْلٍ وَلَيْسَ جَمْعُهُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْحَمِيرِ مُوجِبًا لِتَسَاوِيهِمَا فِي التَّحْرِيمِ كَمَا لَمْ يَتَسَاوَيَا فِي السَّهْمِ مِنَ الْمَغْنَمِ

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut ada dua sisi. Pertama, penetapan sebagian manfaatnya dengan penyebutan secara khusus tidak menunjukkan larangan terhadap manfaat lainnya, sebagaimana jual beli dan pembelian tidak diharamkan. Kedua, Allah mengkhususkan penyebutan menunggangi pada kuda, sedangkan daging kuda bukanlah kuda itu sendiri. Penggabungan antara kuda dan keledai tidaklah mengharuskan keduanya sama dalam hal keharaman, sebagaimana keduanya juga tidak sama dalam hal bagian dari rampasan perang.

وَأَمَّا الْجَوَابُ فِي الْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا ضَعْفُ الْحَدِيثِ لِأَنَّ الْوَاقِدِيَّ حَكَى أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ أَسْلَمَ بَعْدَ فَتْحِ خَيْبَرَ وَالثَّانِي إنَّهُ حَرَّمَ أَخْذَهَا مِنْ أَهْلِهَا بِالْعَهْدِ وَلَمْ يُرِدْ تَحْرِيمَ اللَّحْمِ

Adapun jawaban mengenai hadis tersebut ada dari dua sisi: Pertama, hadis itu lemah karena al-Waqidi meriwayatkan bahwa Khalid bin al-Walid masuk Islam setelah penaklukan Khaibar. Kedua, Nabi melarang mengambilnya dari pemiliknya karena adanya perjanjian, dan bukan bermaksud mengharamkan dagingnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْقِيَاسَيْنِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا إنَّهُمَا يَدْفَعَانِ النص فأطرحا والثاني أن العرف لها جَرَى بِأَكْلِ الْخَيْلِ وَلَمْ يَجْرِ عُرْفٌ بِأَكْلِ الْآدَمِيِّينَ وَالْحَمِيرِ فَافْتَرَقَا فِي الْحُكْمِ وَامْتَنَعَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي التَّحْرِيمِ

Adapun jawaban terhadap dua qiyās itu ada dua sisi: Pertama, keduanya bertentangan dengan nash sehingga harus ditolak. Kedua, adat kebiasaan telah berlaku dengan membolehkan makan daging kuda, sedangkan tidak ada kebiasaan yang berlaku dalam memakan daging manusia dan keledai, sehingga keduanya berbeda dalam hukum dan tidak dapat disamakan dalam hal keharaman.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْبِغَالُ فَأَكْلُهَا حَرَامٌ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَلَالٌ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْإِبَاحَةِ فِي الْخَيْلِ

Adapun bagal, maka memakannya adalah haram, dan ini adalah pendapat jumhur. Al-Hasan al-Bashri berpendapat halal, dengan mengedepankan hukum kebolehan pada kuda.

وَدَلِيلُنَا حَدِيثُ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ وحرامٌ عَلَيْكُمْ لُحُومُ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ وَخَيْلُهَا وَبِغَالُهَا وَلِأَنَّ اجْتِمَاعَ الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ الْحَظْرِ عَلَى الْإِبَاحَةِ فَوَجَبَ فَيَ الْبِغَالِ أَنْ يُغَلَّبَ تَحْرِيمُ الْحَمِيرِ عَلَى إِبَاحَةِ الْخَيْلِ وَهَكَذَا حُكْمُ كُلِّ مُتَوَلَّدٍ مِنْ بَيْنِ مَأْكُولٍ وَغَيْرِ مَأْكُولٍ حَرَامٌ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ التَّحْرِيمِ عَلَى التَّحْلِيلِ كَالسِّمْعِ الْمُتَوَلِّدِ بَيْنَ الضَّبُعِ وَالذِّئْبِ كَمَا أَنَّ كُلَّ مُتَوَلَّدٍ مِنْ بَيْنِ طَاهِرٍ وَنَجِسٍ فَهُوَ نَجِسٌ وَكُلَّ حَيَوَانٍ كَانَ أَكْلُ لَحْمِهِ حَرَامًا كَانَ شُرْبُ لَبَنِهِ حَرَامًا إِلَّا أَلْبَانَ النساء

Dalil kami adalah hadis Khalid bin al-Walid dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Diharamkan atas kalian daging keledai jinak, kuda, dan bagalnya.” Karena berkumpulnya larangan dan kebolehan mengharuskan untuk mengedepankan larangan atas kebolehan, maka wajib pada bagal untuk lebih menguatkan keharaman keledai atas kebolehan kuda. Demikian pula hukum setiap hewan hasil persilangan antara yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan, maka hukumnya haram dengan mengedepankan hukum keharaman atas kebolehan, seperti anjing hasil persilangan antara hyena dan serigala. Sebagaimana setiap hasil persilangan antara yang suci dan yang najis, maka ia menjadi najis. Setiap hewan yang dagingnya haram dimakan, maka meminum susunya juga haram, kecuali susu perempuan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَكَذَلِكَ تَتْرُكُ أَكْلَ النَّسْرِ وَالْبَازِي وَالصَّقْرِ وَالشَّاهِينِ وَهِيَ مِمَّا يَعْدُو عَلَى حَمَامِ النَّاسِ وَطَائِرِهِمْ وَكَانَتْ تَتْرُكُ مِمَّا لَا يَعْدُو مِنَ الطَّائِرِ الْغُرَابَ وَالْحِدَأَةَ وَالرَّخْمَةَ وَالْبُغَاثَةَ

Imam Syafi‘i berkata: Demikian pula, kamu meninggalkan (tidak memakan) burung nasar, elang, rajawali, dan syahin, yaitu burung-burung yang menyerang merpati dan burung-burung milik manusia. Dan dahulu juga ditinggalkan (tidak dimakan) dari jenis burung yang tidak menyerang, seperti burung gagak, burung hering, burung bangkai, dan burung bubut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي الْبَهَائِمِ الْمَاشِيَةِ مِنَ الْوَحْشِيَّةِ وَالْإِنْسِيَّةِ

Al-Mawardi berkata, “Telah berlalu pembahasan mengenai hewan ternak dari jenis hewan liar maupun hewan jinak.”

فَأَمَّا الطَّيْرُ فَضَرْبَانِ

Adapun burung, maka terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا مَا فِيهِ عَدْوَى عَلَى الطَّائِرِ بِمِخْلَبِهِ وَافْتِرَاسٌ لَهُ بِمَنْسِرِهِ كَالْبَازِي وَالصَّقْرِ وَالشَّاهِينِ وَالنَّسْرِ وَالْحِدَأَةِ وَالْعُقَابِ فَأَكْلُ جَمِيعِهَا حَرَامٌ وَأَبَاحَهَا مَالِكٌ وَلَمْ يُحَرِّمْ مِنَ الطَّائِرِ كُلِّهِ شَيْئًا

Salah satunya adalah burung yang menyerang dengan cakarnya dan memangsa dengan paruhnya, seperti elang, falcon, shahīn, burung nasar, burung alap-alap, dan burung rajawali. Maka memakan semua jenis burung tersebut hukumnya haram. Namun, Imam Mālik membolehkannya dan tidak mengharamkan sedikit pun dari seluruh jenis burung.

وَدَلِيلُنَا رِوَايَةُ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَرِوَايَةُ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَكُلِّ ذِي مخلبٍ مِنَ الطَّيْرِ

Dan dalil kami adalah riwayat ‘Āṣim bin Ḍamrah dari ‘Alī ‘alaihis salām dan riwayat Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ يُؤْكَلُ مَا دَفَّ وَلَا يُؤْكَلُ مَا صَفَّ يُرِيدُ مَا حَرَّكَ جَنَاحَهُ كَالْحَمَامِ وَغَيْرِهِ يُؤْكَلُ وَمَا صَفَّ جَنَاحَيْهِ وَلَمْ يُحَرِّكْهُمَا كَالصُّقُورِ وَالنُّسُورِ لَا يُؤْكَلُ وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُم صَافَّاتٍ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Dimakanlah apa yang mengepakkan (sayapnya) dan tidak dimakan apa yang membentangkan (sayapnya).” Maksudnya adalah, hewan yang menggerakkan sayapnya seperti burung merpati dan selainnya boleh dimakan, sedangkan yang membentangkan kedua sayapnya dan tidak menggerakkannya seperti burung elang dan burung nasar tidak boleh dimakan. Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang di atas mereka dalam keadaan membentangkan (sayapnya)?”

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا لَا عَدْوَى فِيهِ فَتَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا مَا اغْتَذَى بِالْمَيْتَةِ وَالْجِيَفِ كالغباث وَالرَّخْمِ فَأَكْلُه حَرَامٌ لِخُبْثِ غِذَائِهِ وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَ مُسْتَخْبَثًا كَالْخَطَاطِيفِ وَالْخَشَاشِيفِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ لِخُبْثِ لَحْمِهِ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَمْ يَخْبُثْ غِذَاؤُهُ وَلَا لَحْمُهُ كَالْحُبَارَى وَالْكَرَوَانِ فَأَكْلُهُ حَلَالٌ

Jenis kedua adalah hewan yang tidak menularkan penyakit, yang terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, hewan yang makanannya adalah bangkai dan bangkai busuk seperti burung gagak dan burung nasar; maka memakannya haram karena buruk makanannya. Bagian kedua adalah hewan yang dianggap menjijikkan seperti burung walet dan kelelawar; maka memakannya haram karena buruk dagingnya. Bagian ketiga adalah hewan yang makanannya maupun dagingnya tidak buruk, seperti burung hubara dan burung karawan; maka memakannya halal.

رَوَى سَفِينَةُ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أَكَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَحْمَ حُبَارَى

Safinah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meriwayatkan: Aku pernah makan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daging hubara.

وَيُقَاسُ عَلَى أَصْلِه هَذِهِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ مَا فِي نَظَائِرِهَا فَمِنْ ذَلِكَ الْهُدْهُدُ أَكْلُهُ حَرَامٌ وَقَدْ وَرَدَ الْخَبَرُ بِالنَّهْيِ عَنْهُ وكذلك الشقران وَالْعَقْعَقُ ولِأَنَّهَا مُسْتَخْبَثَةٌ عِنْدَ الْعَرَبِ فَأَمَّا الْغُرَابُ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ الْأَسْوَدُ مِنْهُ وَالْأَبْقَعُ سَوَاءٌ

Dan diqiyaskan kepada asal dari tiga kategori ini apa yang ada pada hal-hal yang serupa dengannya. Di antara contohnya adalah burung hud-hud, memakannya haram, dan telah datang riwayat larangan terhadapnya. Demikian pula burung syuqran dan burung ‘aq‘aq, karena burung-burung tersebut dianggap menjijikkan oleh orang Arab. Adapun burung gagak, maka memakannya haram, baik yang hitam maupun yang belang, keduanya sama saja.

وَحُكِيَ عن الشعبي أنه أباح أكله وقال في دَجَاجَةٍ مَا أَسَمَنَهَا؟ وَقَالَ آخَرُونَ يُؤْكَلُ مِنْهُ الْأَسْوَدُ دُونَ الْأَبْقَعِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَبَاحَ قَتْلَهُ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ

Diriwayatkan dari asy-Sya‘bi bahwa ia membolehkan memakannya, dan ia berkata tentang seekor ayam, “Betapa gemuknya ini?” Sementara yang lain berpendapat bahwa yang boleh dimakan adalah yang hitam saja, bukan yang belang, namun pendapat ini keliru karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan membunuhnya baik di tanah halal maupun haram.

وقَدْ رَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عِنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ إِنِّي لِأَعْجَبُ مِمَنْ يَأْكُلُ الْغُرَابَ وَقَدْ أَذِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي قَتْلِهِ لِلْمُحْرِمِ وَسَمَّاهُ فَاسِقًا وَاللَّهِ مَا هُوَ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَمَا يُشْبِهُ الْغُرَابَ وَلَيْسَ بِغُرَابٍ الزَّاغُ وَالْغُدَافُ فَأَمَّا الزَّاغُ فَهُوَ غُرَابٌ الزَّرْعِ وَأَمَّا الْغُدَافُ فَهُوَ أَصْغَرُ مِنْهُ أَغْبَرُ اللَّوْنِ كَالرَّمَادِ وَلِأَصْحَابِنَا فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا وَجْهَانِ

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Sungguh aku heran terhadap orang yang memakan burung gagak, padahal Nabi ﷺ telah membolehkan membunuhnya bagi orang yang sedang ihram dan menyebutnya sebagai hewan fasik. Demi Allah, ia bukan termasuk hewan yang baik untuk dimakan. Adapun burung yang mirip gagak namun bukan gagak adalah az-zāgh dan al-ghudāf. Az-zāgh adalah burung gagak yang biasa ditemukan di ladang, sedangkan al-ghudāf ukurannya lebih kecil dan warnanya lebih kelabu seperti abu-abu. Para ulama dari kalangan kami memiliki dua pendapat mengenai kebolehan memakan burung-burung tersebut.”

أَحَدُهُمَا إنَّ أَكْلَهَا حَرَامٌ لِشَبَهِهَا بِالْغُرَابِ وَانْطِلَاقِ اسْمِهِ عَلَيْهَا

Salah satunya adalah bahwa memakannya haram karena kemiripannya dengan burung gagak dan karena nama burung gagak juga digunakan untuk menyebutnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَمِنْهُ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إنَّ أَكْلَهَا حَلَالٌ لِأَنَّهُمَا يَلْقُطَانِ الْحَبَّ وَيَأْكُلَانِ الزَّرْعَ وَلَحْمُهُمَا مُسْتَطَابٌ وَكُلُّ طَائِرٍ حَرُمَ أَكْلُ لَحْمِهِ حَلَّ أَكْلُ بَيْضِهِ

Pendapat kedua, dan darinya Abu Hanifah berkata bahwa memakannya adalah halal karena keduanya mematuk biji-bijian dan memakan tanaman, serta dagingnya enak. Setiap burung yang haram dimakan dagingnya, maka halal memakan telurnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَكَذَلِكَ تَتْرُكُ الْعَرَبُ اللُّحَكَاءَ وَالْعِظَاءَ وَالْخَنَافِسَ فَكَانَتْ داخلةٌ فِي مَعْنَى الْخَبَائِثِ وَخَارِجَةً مِنْ مَعْنَى الطيبات فوافقت السنة فيما أحلوا وحرموا مع الكتاب ما وصفت فانظر ما ليس فيه نص تحريم ولا تحليل فإن كانت العرب تأكله فهو داخلٌ في جملة الحلال والطيبات عندهم لأنهم كانوا يحللون ما يستطيبون وما لم يكونوا يأكلونه باستقذاره فهو داخلٌ في معنى الخبائث ولا بأس بأكل الضب وضع بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فعافه فقيل أحرامٌ هو يا رسول الله؟ قال لا ولكن لم يكن بأرض قومي فأكل منه بين يديه وهو ينظر إليه ولو كان حراماً ما تركه وأكله

Imam Syafi‘i berkata: Demikian pula, orang Arab meninggalkan (tidak memakan) hewan-hewan seperti burung hantu, burung nasar, dan kumbang, maka hewan-hewan tersebut termasuk dalam makna al-khabā’its (sesuatu yang buruk/menjijikkan) dan keluar dari makna al-thayyibāt (sesuatu yang baik). Maka, apa yang mereka halalkan dan haramkan sesuai dengan sunnah dan kitab sebagaimana yang telah aku jelaskan. Maka perhatikanlah sesuatu yang tidak ada nash (teks) yang mengharamkan atau menghalalkan; jika orang Arab memakannya, maka ia termasuk dalam golongan yang halal dan baik menurut mereka, karena mereka menghalalkan apa yang mereka anggap baik, dan apa yang tidak mereka makan karena dianggap menjijikkan, maka itu termasuk dalam makna al-khabā’its. Tidak mengapa memakan dabb (biawak gurun) yang diletakkan di hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau tidak memakannya. Maka dikatakan, “Apakah ini haram, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi hewan ini tidak ada di negeri kaumku.” Lalu ada yang memakannya di hadapan beliau, dan beliau melihatnya. Seandainya itu haram, niscaya beliau tidak akan membiarkannya dan tidak akan ada yang memakannya di hadapannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ حَشَرَاتُ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَرَامٌ فَالْهَوَامُّ مَا كَانَ مُؤْذِيًا كَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ وَحَشَرَاتُهَا مَا لَيْسَ بِمُؤْذٍ كَالْخَنَافِسِ وَالْجُعْلَانِ وَالدِّيدَانِ والنمل والوزع وَالْعِظَاءِ وَاللُّحَكَاءِ وَهِيَ دُوَيْبَةٌ كَالسَّمَكَةِ تَسْكُنُ فِي الرِّمَالِ إِذَا أَحَسَّتْ بِالْإِنْسَانِ غَاصَتْ فِيهِ وَهِيَ صَقِيلَةُ الْجِلْدَةِ وَالْعَرَبُ تُشَبِّهُ أَنَامِلَ الْمَرْأَةِ بِهَا والوزع وَهُوَ كَالسَّمَكَةِ خَشِنَةُ الْجِلْدِ وَيَعْرُضُ مُقَدَّمُهَا وَيَدُقُّ مُؤَخَّرُهَا فَهَذَا كُلُّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, serangga-serangga dan binatang-binatang kecil di bumi hukumnya haram. Binatang-binatang kecil (hawām) adalah yang membahayakan seperti ular dan kalajengking, sedangkan serangganya adalah yang tidak membahayakan seperti kumbang, kumbang kotoran, cacing, semut, cicak, kadal, dan ‘luhakā’—yaitu hewan kecil seperti ikan yang hidup di pasir; jika merasakan kehadiran manusia, ia akan menyelam ke dalam pasir. Kulitnya licin, dan orang Arab biasa menyamakan jari-jari wanita dengan hewan ini. Adapun cicak, ia seperti ikan namun kulitnya kasar, bagian depannya lebar dan bagian belakangnya kecil. Semua itu tidak boleh dimakan.”

وَأَبَاحَ مَالِكٌ أَكْلَ جَمِيعِهِ وَكَرِهَ الْحَيَّةَ وَلَمْ يُحَرِّمْهَا وَكَذَلِكَ الْفَأْرَةَ وَالْغُرَابَ وَفِيمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الدَّلِيلِ مَعَهُ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ مَقْنَعٌ وَسَوَاءٌ فِي تَحْرِيمِ الدِّيدَانِ مَا تَوَّلَدَ فِي الطَّعَامِ أَوْ فِي الْأَرْضِ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ مَنْ أَبَاحَ أَكْلَ مَا تَوَلَّدَ فِي الطَّعَامِ وَحَرَّمَ أَكْلَ مَا تَوَّلَدَ فِي الْأَرْضِ وَكِلَاهُمَا مُسْتَخْبَثٌ فَاسْتَوَيَا

Malik membolehkan memakan seluruhnya dan memakruhkan ular, namun tidak mengharamkannya, demikian pula tikus dan burung gagak. Pada dalil yang telah kami sebutkan sebelumnya, terdapat penjelasan yang cukup mengenai dasar ini. Adapun dalam hal pengharaman cacing, baik yang berasal dari makanan maupun yang berasal dari tanah, hukumnya sama saja. Di antara para fuqaha ada yang membolehkan memakan apa yang berasal dari makanan dan mengharamkan memakan apa yang berasal dari tanah, padahal keduanya sama-sama dianggap menjijikkan, sehingga hukumnya pun sama.

وَهَكَذَا الذُّبَابُ وَالزَّنَابِيرُ وَسَوَاءٌ كَانَ مِنْ زَنَابِيرِ الْعَسَلِ وَغَيْرِهَا فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا كَانَ عَسَلُهَا مَأْكُولًا فَهَلَّا كَانَ أَكْلُهَا حَلَالًا؟

Demikian pula lalat dan tawon, baik itu dari tawon penghasil madu maupun selainnya. Jika ada yang bertanya, “Jika madunya boleh dimakan, mengapa tidak demikian juga dengan memakan tawonnya, apakah itu halal?”

قِيلَ هِيَ مُسْتَخْبَثَةٌ وَمُؤْذِيَةٌ وَلَيْسَ يُمْتَنَعُ أَنْ يَحْرُمَ أَكْلُهَا وَإِنْ حَلَّ عَسَلُهَا كَأَلْبَانِ النِّسَاءِ فِي إِبَاحَةِ شُرْبِهِ مَعَ تَحْرِيمِ لُحُومِهِنَّ فَأَمَّا مَا يَحِلُّ أَكْلُهُ فَيَكْثُرُ تَعْدَادُهُ وَهُوَ مَا يَمْنَعُ الْحَرَمُ وَالْإِحْرَامُ مِنْ قَتْلِهِ وَفِيهِ إِذَا أَصَابَهُ الْمُحْرِمُ الْجَزَاءُ إِلَّا يَسْمَعَ

Dikatakan bahwa hewan itu dianggap menjijikkan dan membahayakan, dan tidak mustahil hukumnya haram untuk dimakan meskipun madunya halal, sebagaimana air susu wanita yang boleh diminum namun dagingnya haram dimakan. Adapun hewan yang halal dimakan, jumlahnya banyak, yaitu hewan-hewan yang dilarang dibunuh di tanah haram dan saat ihram, dan jika seorang yang sedang ihram membunuhnya, maka ia wajib membayar fidyah, kecuali burung yasma‘.

وَمَا تَوَّلَدَ مِنْ بَيْنِ مَأْكُولٍ وَغَيْرِ مَأْكُولٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤْكَلُ وَيَجِبُ فِيهِ الْجَزَاءُ تَغْلِيبًا لِلْحَظْرِ فِي الْأَمْرَيْنِ

Dan apa yang lahir dari hasil perkawinan antara hewan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan, maka hewan itu tidak boleh dimakan dan wajib membayar ganti rugi atasnya, dengan mengedepankan sisi larangan pada kedua perkara tersebut.

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ الْقَاصِّ لَا جَزَاءَ فِيهِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَأْكُولٍ وَوَهِمَ فِيهِ لِأَنَّ تَغْلِيبَ الْحَظْرِ مُوجِبُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Abu al-‘Abbas bin al-Qash berkata, “Tidak ada kewajiban membayar ganti rugi padanya karena ia bukan hewan yang dapat dimakan.” Namun, ia keliru dalam hal ini, karena mengedepankan aspek larangan justru menjadi sebab kewajiban tersebut. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

فَصْلٌ

Fasal

رَوَى مُجَاهِدٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنْ أَكْلِ الْجَلَّالَةِ وَأَلْبَانِهَا وَرَوَى نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الْجَلَّالَةِ وَالْمُجَثَّمَةِ وَعَنِ الْمَصْبُورَةِ

Mujahid meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ melarang memakan hewan jallālah dan susunya. Nafi‘ meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ melarang (memakan) hewan jallālah, hewan mujaththamah, dan hewan mashbūrah.

فَأَمَّا الجلالة فهي التي ترعى الحلة وَهِيَ الْبَعْرُ وَالْعَذِرَةُ فَحَمَلَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ النَّهْيَ عَلَى التَّحْرِيمِ وَبِهِ قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

Adapun al-jallālah adalah hewan yang memakan kotoran, yaitu kotoran hewan dan kotoran manusia. Sebagian ahli hadis memahami larangan terhadapnya sebagai sesuatu yang haram, dan pendapat ini dipegang oleh Sufyān ats-Tsaurī dan Ahmad bin Hanbal.

وَعِنْدِي إنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْكَرَاهَةِ دُونَ التَّحْرِيمِ لِأَنَّ النَّهْيَ عَنْهَا وَارِدٌ لِأَجْلِ مَا تَأْكُلُهُ مِنَ الْأَنْجَاسِ وَهِيَ تِغْتَذِيهِ فِي كِرْشِهَا وَالْعَلْفُ الطَّاهِرُ يَنْجُسُ فِي الْكِرْشِ فَسَاوَى فِي حُصُولِهِ مِنْهُ حَالَ النَّجَسِ وَلِأَنَّ لُحُومَ مَا تَرْعَى الْأَنْجَاسَ نَتِنٌ وَأَكْلُ اللَّحْمِ إِذَا نَتِنَ يَحْرُمُ وَإِذَا كَانَ هَكَذَا فَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرُ غِذَائِهِ رَعْيَ الْأَنْجَاسِ كَانَ أَكْلُ لَحَمِهِ وَشُرْبُ لَبَنِهِ مَكْرُوهًا

Menurut pendapat saya, larangan tersebut bermakna makruh dan bukan haram, karena larangan itu datang disebabkan oleh apa yang dimakan hewan tersebut dari najis, yang menjadi makanannya di dalam perutnya. Pakan yang suci pun menjadi najis di dalam perut, sehingga dalam hal ini sama saja dengan najis. Selain itu, daging hewan yang memakan najis biasanya berbau busuk, dan memakan daging yang busuk hukumnya haram. Oleh karena itu, setiap kali makanan utama hewan tersebut adalah najis, maka memakan dagingnya dan meminum susunya menjadi makruh.

فَأَمَّا رُكُوبُهُ فَيُكْرَهُ إِذَا كَانَ عُرْيًا لِنَتَنِ عَرَقِهِ وَلَا يُكْرَهُ إِذَا كَانَ مُوَكَّفًا أَوْ مُسَرَّجًا فَإِنْ كَانَ أَكْثَرُ مَا يَغْتَذِيهِ طَاهِرًا وَإِنِ اغْتَذَى فِي بَعْضِهَا نَجِسًا لَمْ يُكْرَهِ اعْتِبَارًا بِالْأَغْلَبِ وَيُخْتَارُ فِي الْجَلَّالَةِ إِذَا أُرِيدَ شُرْبُ لَبَنِهَا أَوْ أَكْلُ لَحْمِهَا أَنْ تُحْبَسَ عَنِ الْأَقْذَارِ بِالْعَلَفِ الطَّاهِرِ فِي الْبَعِيرِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَفِي الْبَقَرَةِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا وَفِي الشَّاةِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ وَفِي الدَّجَاجَةِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيْسَتْ هَذِهِ الْمَقَادِيرُ تَوْقِيفًا لَا يُزَادُ عَلَيْهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ زَوَالُ مَا أَنْتَنَ مِنْ أَبْدَانِهَا وَالْأَغْلَبُ أَنَّهَا تَزُولُ بِهَذِهِ الْمَقَادِيرِ فَإِنْ زَالَتْ بِأَقَلَّ مِنْهَا زَالَتِ الْكَرَاهَةُ وَإِنْ لَمْ تَزَلْ فِيهَا بَقِيَتِ الْكَرَاهَةُ حَتَّى تَزُولَ مِمَّا زَادَ عَلَيْهَا فإن أكل مِنْهَا قَبْلَ عَلْفِهَا نُظِرَ فِي رَائِحَةِ لَحْمِهَا فَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ بِأَكْلِ النَّجَاسَةِ كَانَ حَلَالًا وَإِنْ تَغَيَّرَ بِهَا فَإِنْ كَانَ يَسِيرًا لَمْ يَسْتَوْعِبْ رَائِحَةَ تِلْكَ النَّجَاسَةِ حَلَّ أَكْلُهُ وَإِنْ كَانَتْ كَثِيرَةً قَدِ اسْتَوْعَبَتْ رَائِحَةَ تِلْكَ النَّجَاسَةِ أَوْ قَارَبَهَا فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ

Adapun menungganginya, maka hukumnya makruh jika hewan tersebut dalam keadaan telanjang (tidak beralas pelana) karena bau keringatnya yang tidak sedap, dan tidak makruh jika hewan itu diberi pelana atau pelindung. Jika makanan utama hewan tersebut adalah yang suci, meskipun kadang-kadang memakan yang najis, maka tidak makruh, dengan mempertimbangkan yang lebih dominan. Disunnahkan untuk menahan hewan jalālah (hewan yang sering makan najis) dari kotoran dengan memberinya pakan yang suci, jika ingin meminum susunya atau memakan dagingnya; untuk unta selama empat puluh hari, sapi tiga puluh hari, kambing tujuh hari, dan ayam tiga hari. Ketentuan waktu ini bukanlah batasan mutlak yang tidak boleh ditambah atau dikurangi, karena yang dimaksud adalah hilangnya bau tidak sedap dari tubuh hewan tersebut, dan umumnya bau itu hilang dalam rentang waktu tersebut. Jika bau itu hilang dalam waktu yang lebih singkat, maka hilang pula kemakruhannya, dan jika belum hilang, maka kemakruhannya tetap ada hingga bau itu benar-benar hilang meskipun melebihi waktu tersebut. Jika seseorang memakan hewan itu sebelum diberi pakan yang suci, maka dilihat pada bau dagingnya; jika tidak berubah karena memakan najis, maka hukumnya halal. Jika berubah, namun perubahan baunya sedikit dan tidak menyeluruh, maka tetap halal dimakan. Namun jika perubahan baunya banyak hingga menyeluruh atau mendekati menyeluruh, maka dalam hal kebolehan memakannya terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hurairah.

أَحَدُهُمَا مُبَاحٌ لِأَنَّهُ مِنْ أَصْلٍ مَأْكُولٍ

Salah satunya diperbolehkan karena berasal dari sesuatu yang pada asalnya boleh dimakan.

وَالثَّانِي إنَّهُ حَرَامٌ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مِنَ الْخَبَائِثِ وَهَكَذَا نَقُولُ فِي الْجَدْيِ إِذَا ارْتَضَعَ مِنْ لَبَنِ كَلْبَةٍ أَوْ خِنْزِيرَةٍ حَتَّى نَبَتَ لَهُ لَحْمُهُ كَانَتْ إِبَاحَةُ أَكْلِهِ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ فَأَمَّا الْمُجَثَّمَةُ الَّتِي رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ النَّهْيَ عَنْهَا فَهِيَ الَّتِي جَثَمَتْ عَلَى الْمَوْتِ بِضَرْبٍ أَوْ غَيْرِهِ وَفَرْقٌ بَيْنَ الصَّيْدِ الْجَاثِمِ وَالْمَجْثُومِ فَالْجَاثِمُ الْمُمْتَنِعُ وَيَحِلُّ أَكْلُهُ إِذَا جَثَمَ بِحَدِيدَةٍ وَالْمَجْثُومُ الْمَقْدُورُ عَلَيْهِ لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ إِلَّا بِذَكَاةٍ

Kedua, sesungguhnya itu haram karena telah menjadi termasuk hal-hal yang buruk (khaba’its). Demikian pula kami katakan tentang anak kambing jika menyusu dari susu anjing betina atau babi betina hingga tumbuh dagingnya, maka kebolehan memakannya tergantung pada dua pendapat ini. Adapun “al-mujaththamah” yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang larangan terhadapnya, yaitu hewan yang mati karena dipukul atau sebab lainnya, maka terdapat perbedaan antara hewan buruan yang “jatsim” dan yang “majthum”. Hewan “jatsim” adalah yang menahan diri (tidak bergerak) dan halal dimakan jika ia mati karena besi (alat tajam), sedangkan “majthum” adalah yang sudah dikuasai (tidak bisa lari), maka tidak halal dimakan kecuali dengan disembelih (dzakāh).

وَالْمَصْبُورَةُ هِيَ الَّتِي حُبِسَتْ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ حَتَّى مَاتَتْ وَلَا يَحِلُّ أَكْلُهَا فِي مُمْتَنَعٍ وَلَا مَقْدُورٍ عَلَيْهِ

Hewan yang dimasburah adalah hewan yang dikurung dari makanan dan minuman hingga mati, dan tidak halal memakannya, baik dalam keadaan sulit didapat maupun mudah didapat.

وَأَمَّا الْمُخْتَطَفَةُ فَفِيهَا وَجْهَانِ

Adapun al-mukhtathafah, maka terdapat dua pendapat mengenai hal itu.

أَحَدُهُمَا مَا اخْتَطَفَهُ السَّبُعُ مِنَ الْحَيَوَانِ أَكْلُهُ حَرَامٌ قَالَهُ ابْنُ قُتَيْبَةَ

Salah satunya adalah hewan yang diterkam oleh binatang buas; memakannya hukumnya haram, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qutaibah.

وَالثَّانِي إنَّهَا النُّهْبَةُ لِاخْتِطَافِهَا بِسُرْعَةٍ وَمِنْهُ سُمِّي الْخُطَّافُ لِسُرْعَتِهِ قَالَهُ ابْنُ جَرِيرٍ

Kedua, bahwa itu adalah penjarahan karena diambil dengan cepat, dan dari kata itu pula burung elang dinamakan “khaththāf” karena kecepatannya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Jarir.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا تَتَّخِذُوا ذَا الرُّوحِ غَرَضًا وَهُوَ رَمْيُ الْحَيَوَانِ حَتَّى يَمُوتَ فَإِنْ كَانَ مِنْ مَقْدُورٍ عَلَيْهِ حَرُمَ أَكْلُهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ مُمْتَنِعٍ حَلَّ أَكْلُهُ إِنْ كَانَ بِمُحَدَّدٍ وحرم إِنْ كَانَ بِمُثْقَلٍ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran,” yaitu melempari hewan hingga mati. Jika hewan tersebut termasuk yang mudah ditangkap, maka haram memakannya. Namun jika termasuk yang sulit ditangkap, maka halal memakannya jika dibunuh dengan benda tajam, dan haram jika dibunuh dengan benda tumpul.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

فَأَمَّا أَكْلُ الْأَجِنَّةِ وَهُوَ أَنْ تُذْبَحَ الْبَهِيمَةُ فَيُوجَدَ فِي بَطْنِهَا جَنِينٌ فَإِنْ كَانَ حَيًّا مَقْدُورًا عَلَى ذَكَاتِهِ لَمْ يَحِلَّ أَكْلُهُ إِلَّا بِالذَّكَاةِ وَإِنْ كَانَ مَيْتًا أَوْ حَيًّا قَصُرَتْ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ عَنْ ذَكَاتِهِ حَلَّ أَكْلُهُ بِذَكَاةِ أُمِّهُ وَهُوَ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ وَقَالَهُ مَالِكٌ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَتَفَرَّدَ أَبُو حَنِيفَةَ فَحَرَّمَ أَكْلَهُ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أُحلت لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ الْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَالدَّمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ وَهَذِهِ مَيْتَةٌ ثَالِثَةٌ يُوجِبُ الْخَبَرُ أَنْ تَكُونَ مُحَرَّمَةً وَلِأَنَّهُ مِنْ جِنْسِ مَا يُذَكَّى فَوَجَبَ أَنْ لَا يَحِلَّ إِلَّا بِالذَّكَاةِ كَالْأُمِّ وَلِأَنَّهُ ذَبْحٌ وَاحِدٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ ذَكَاةُ الِاثْنَيْنِ كَمَا لَوْ خَرَجَ الْجَنِينُ حَيًّا وَلِأَنَّ مَا كَانَ مَوْتُهُ ذَكَاةً فِي غَيْرِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ كَانَ مَوْتُهُ ذَكَاةً في المقدور عليه وما لم يكن قوته ذَكَاةً فِي الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ ذَكَاةً فِي غَيْرِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ كَالصَّيْدِ وَالنَّعَمِ فَلَمَّا لَمْ يَكُنْ مَوْتُ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ مِنَ الْأَجِنَّةِ ذَكَاةً لَمْ يَكُنْ مَوْتُ غَيْرِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ ذكاة وَلِأَنَّ الْعَقْرَ مِنْ جَمِيعِ الْمُذَكَّى مُعْتَبَرٌ وَإِنَّمَا يَخْتَلِفُ فِي الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ وَغَيْرِهِ بِاخْتِلَافِ الْمَحَلِّ وَلَا يَخْتَلِفُ بِاعْتِبَارِهِ فِي بَعْضِهِ وَإِسْقَاطِهِ فِي بَعْضِهِ وَقَدِ اعْتَبَرْتُمُ الْعَقْرَ فِي الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ وَأَسْقَطْتُمُوهُ فِي غَيْرِ الْمَقْدُورِ عَلَيْهِ وَهَذَا مُخَالِفٌ لِلْأُصُولِ

Adapun memakan janin, yaitu apabila hewan disembelih lalu ditemukan janin di dalam perutnya, maka jika janin itu masih hidup dan memungkinkan untuk disembelih, tidak halal memakannya kecuali dengan disembelih juga. Namun jika janin itu sudah mati atau masih hidup tetapi masa hidupnya tidak memungkinkan untuk disembelih, maka halal memakannya dengan sebab penyembelihan induknya. Ini merupakan ijmā‘ para sahabat, dan pendapat ini dikatakan oleh Malik, Al-Auza‘i, Ats-Tsauri, Abu Yusuf, Muhammad, Ahmad, dan Ishaq. Abu Hanifah menyendiri dengan mengharamkan memakannya, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian bangkai,” dan sabda Nabi ﷺ: “Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah; dua bangkai itu adalah ikan dan belalang, dan dua darah itu adalah hati dan limpa.” Sementara janin ini adalah bangkai ketiga, sehingga berdasarkan hadis tersebut, ia wajib dihukumi haram. Selain itu, karena janin termasuk jenis hewan yang harus disembelih, maka tidak halal kecuali dengan penyembelihan sebagaimana induknya. Dan karena ini merupakan satu penyembelihan, maka tidak boleh penyembelihan itu berlaku untuk dua hewan, sebagaimana jika janin itu keluar dalam keadaan hidup. Dan karena sesuatu yang kematiannya dianggap sebagai penyembelihan pada hewan yang tidak mampu disembelih, maka kematiannya juga dianggap sebagai penyembelihan pada hewan yang mampu disembelih. Dan sesuatu yang tidak dianggap sebagai penyembelihan pada hewan yang mampu disembelih, maka tidak dianggap sebagai penyembelihan pada hewan yang tidak mampu disembelih, seperti pada binatang buruan dan ternak. Maka ketika kematian janin yang mampu disembelih tidak dianggap sebagai penyembelihan, demikian pula kematian janin yang tidak mampu disembelih tidak dianggap sebagai penyembelihan. Dan karena tindakan melukai (al-‘aqr) pada seluruh hewan yang disembelih itu diperhitungkan, dan perbedaannya hanya pada hewan yang mampu disembelih dan yang tidak, sesuai dengan perbedaan tempatnya, dan tidak berbeda dalam sebagian kasus dengan memperhitungkannya dan meniadakannya pada sebagian lain. Kalian telah memperhitungkan tindakan melukai pada hewan yang mampu disembelih dan meniadakannya pada yang tidak mampu disembelih, dan ini bertentangan dengan ushul.

وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ عُمَرَ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ هِيَ أَجِنَّتُهَا إِذَا وُجِدَتْ مَيْتَةً فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِهَا يَحِلُّ أَكْلُهَا بِذَكَاةِ الْأُمَّهَاتِ وَهَذَا مِنْ أَوَّلِ أَحْكَامِ هَذِهِ السُّورَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَكْثَرِ الْأَحْكَامِ الْمَشْرُوعَةِ وَالْغَالِبُ مِنْ تَأْوِيلِهِمْ هَذَا أَنَّهُمْ لَمْ يَقُولُوهُ إِلَّا نَقْلًا

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian hewan ternak.” Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar berkata: “Hewan ternak adalah janin-janinnya, jika ditemukan mati di dalam perut induknya, maka halal memakannya dengan sebab penyembelihan induknya.” Ini adalah salah satu hukum pertama dari surah ini, yang merupakan salah satu surah dengan hukum-hukum yang paling banyak disyariatkan. Dan kebanyakan penafsiran mereka tentang hal ini adalah bahwa mereka tidak mengatakannya kecuali berdasarkan riwayat.

وَمِنَ السُّنَّةِ مَا رَوَاهُ عَاصِمُ بْنُ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَوَاهُ عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَرَوَاهُ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَرِوَايَةُ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ وَرِوَايَةُ ابْنُ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

Dan di antara sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Āshim bin Dhamrah dari ‘Ali ‘alaihis salām, dan diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbās, dan diriwayatkan oleh Nāfi‘ dari Ibnu ‘Umar, serta riwayat Abū az-Zubair dari Jābir, dan riwayat Ibnu Sīrīn dari Abū Hurairah, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penyembelihan janin adalah penyembelihan ibunya.”

فَجَعَلَ إِحْدَى الذَّكَاتَيْنِ نَائِبَةً عَنْهُمَا أَوْ قَائِمَةً مَقَامَهُمَا كَمَا يُقَالُ مَالُ زَيْدٍ مَالِي وَمَالِي مَالُ زَيْدٍ يُرِيدُ أَنَّ أَحَدَ الْمَالَيْنِ يَنُوبُ عَنِ الْآخَرِ وَيَقُومُ مَقَامَهُ

Maka dijadikan salah satu dari dua penyembelihan itu sebagai pengganti bagi keduanya atau menempati posisi keduanya, sebagaimana dikatakan: “Harta Zaid adalah hartaku dan hartaku adalah harta Zaid,” yang dimaksud adalah bahwa salah satu dari dua harta itu menggantikan yang lain dan menempati posisinya.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ التَّشْبِيهَ دُونَ النِّيَابَةِ وَيَكُونُ مَعْنَاهُ ذَكَاةُ الْجَنِينِ كذكاة أمه لأن قَدَّمَ الْجَنِينَ عَلَى الْأُمِّ فَصَارَ تَشْبِيهًا بِالْأُمِّ وَلَوْ أَرَادَ النِّيَابَةَ لَقَدَّمَ الْأُمَّ عَلَى الْجَنِينِ فَقَالَ ذَكَاةُ الْأُمِّ ذَكَاةُ جَنِينِهَا فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَجْوِبَةٍ

Jika dikatakan bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah penyerupaan semata, bukan perwakilan, dan maknanya adalah penyembelihan janin seperti penyembelihan induknya, karena ia mendahulukan janin atas induknya sehingga menjadi penyerupaan dengan induknya. Seandainya yang dimaksud adalah perwakilan, tentu ia akan mendahulukan induk atas janin, lalu berkata: “Penyembelihan induk adalah penyembelihan janinnya.” Maka dalam hal ini terdapat tiga jawaban.

أَحَدُهَا أَنَّ اسْمَ الْجَنِينِ مُنْطَلِقٌ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ مُسْتَجَنًّا فِي بَطْنِ أُمِّهِ فَيَزُولُ عَنْهُ الِاسْمُ إِذَا انْفَصَلَ عَنْهَا فَيُسَمَّى وَلَدًا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ وَهُوَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ لَا يُقْدَرُ عَلَى ذَكَاتِهِ فَبَطَلَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى التَّشْبِيهِ وَوَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى النِّيَابَةِ

Salah satunya adalah bahwa istilah janin berlaku padanya selama ia masih tersembunyi di dalam perut ibunya, dan istilah itu tidak lagi berlaku setelah ia terpisah darinya, sehingga kemudian disebut anak. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu-ibu kalian.” Selama ia berada di dalam perut ibunya, tidak mungkin dilakukan penyembelihan (dzakāh) terhadapnya, sehingga tidak sah untuk disamakan (tasybīh), dan wajib untuk memaknainya sebagai perwakilan (niyābah).

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَوْ أَرَادَ التَّشْبِيهَ دُونَ النِّيَابَةِ لَسَاوَى الْأُمَّ غَيْرُهَا وَلَمْ يَكُنْ لِتَخْصِيصِ الْأُمِّ فَائِدَةٌ فَوَجَبَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى النِّيَابَةِ دُونَ التَّشْبِيهِ لِيَصِيرَ لِتَخْصِيصِ الْأُمِّ تَأْثِيرٌ

Kedua, jika maksudnya adalah penyerupaan tanpa perwakilan (niyābah), maka selain ibu akan sama kedudukannya dengan ibu, sehingga penetapan khusus bagi ibu tidak memiliki manfaat. Oleh karena itu, wajib dipahami bahwa maksudnya adalah perwakilan (niyābah) dan bukan penyerupaan, agar penetapan khusus bagi ibu memiliki pengaruh.

وَالثَّالِثُ لَوْ أَرَادَ التَّشْبِيهَ لَنَصَبَ ذَكَاةُ أُمِّهِ لَحَذْفِ كَافِ التَّشْبِيهِ وَالرِّوَايَةُ مَرْفُوعَةٌ ذَكَاةُ أُمِّهِ فَثَبَتَ أَنَّهُ أَرَادَ النِّيَابَةَ دُونَ التَّشْبِيهِ

Ketiga, jika yang dimaksud adalah tasybīh (penyerupaan), maka seharusnya kata “zakāh ummihi” dinashabkan karena penghilangan huruf kāf tasybīh, sedangkan riwayatnya berbunyi “zakāh ummihi” dalam keadaan marfū‘. Maka, telah tetap bahwa yang dimaksud adalah niyābah (perwakilan), bukan tasybīh.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ رُوِيَ بِالنَّصْبِ ذَكَاةَ الْجَنِينِ ذَكَاةَ أُمِّهِ

Jika dikatakan, “Telah diriwayatkan dengan bentuk nashb: ‘Penyembelihan janin adalah penyembelihan induknya.’”

قِيلَ هَذِهِ الرِّوَايَةُ غَيْرُ صَحِيحَةٍ وَلَوْ سَلِمَتْ لَكَانَتْ مَحْمُولَةً على نصبها بحذف ياء النِّيَابَةِ دُونَ كَافِ التَّشْبِيهِ لِمَا قَدَّمْنَاهُ وَلِأَنَّه إِثْبَاتُ الذَّكَاةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى نَفْيِهَا لِأَنَّهُمَا ضِدَّانِ وَلَا نَفْعَلُ النَّفْيَ مِنَ الْإِثْبَاتِ كَمَا لَا نَفْعَلُ الْإِثْبَاتَ مِنَ النَّفْيِ وَيَكُونُ مَعْنَاهُ ذَكَاةُ الْجَنِينِ بِذَكَاةِ أُمِّهِ وَلَوِ احْتَمَلَ الْأَمْرَيْنِ لَكَانَتَا مُسْتَعْمَلَتَيْنِ فَتُسْتَعْمَلُ الرِّوَايَةُ الْمَرْفُوعَةُ عَلَى النِّيَابَةِ إِذَا خَرَجَ مَيْتًا وَتُسْتَعْمَلُ الرِّوَايَةُ الْمَنْصُوبَةُ عَلَى التَّشْبِيهِ إِذَا خَرَجَ حَيًّا فَيَكُونُ أَوْلَى مِمَّنِ اسْتَعْمَلَ إِحْدَاهُمَا وَأَسْقَطَ الْأُخْرَى

Dikatakan bahwa riwayat ini tidak sahih, dan seandainya sahih pun, maka harus dipahami sebagai penetapan dengan menghilangkan ya’ an-niyābah, bukan kāf at-tasybīh, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Karena ini adalah penetapan terhadap keabsahan penyembelihan (dzakāh), maka tidak boleh dipahami sebagai penafian, sebab keduanya adalah dua hal yang saling bertentangan. Kita tidak mengambil penafian dari penetapan, sebagaimana kita juga tidak mengambil penetapan dari penafian. Maknanya adalah bahwa dzakāh janin itu dengan dzakāh induknya. Dan jika memungkinkan untuk mengandung dua makna, maka keduanya bisa digunakan: riwayat yang marfū‘ digunakan untuk an-niyābah ketika janin keluar dalam keadaan mati, dan riwayat yang manshūb digunakan untuk at-tasybīh ketika janin keluar dalam keadaan hidup. Maka, ini lebih utama daripada orang yang hanya menggunakan salah satunya dan mengabaikan yang lainnya.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَيْضًا نَصٌّ لَا يَحْتَمِلُ هَذَا التَّأْوِيلَ وَهُوَ مَا رَوَاهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القطان عن مجالد عن أبي الوداني عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ! نَنْحَرُ النَّاقَةَ وَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ أَوِ الشَّاةَ فِي بَطْنِهَا جنينٌ ميتٌ أَنُلْقِيهِ أَمْ نَأْكُلُهُ؟ فَقَالَ كُلُوهُ إِنْ شِئْتُمْ فَإِنَّ ذَكَاةَ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ  وَلِأَنَّهُ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ رَوَى ذَلِكَ عَنْ عَلِيِّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَقُولُونَ ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ وَمَا انْعَقَدَ بِهِ إِجْمَاعُهُمْ لَمْ يَجُزْ فِيهِ خِلَافُهُمْ

Hal ini juga didukung oleh nash yang tidak memungkinkan adanya takwil seperti itu, yaitu riwayat dari Yahya bin Sa‘id al-Qaththan dari Mujalid dari Abu al-Wadani dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami menyembelih unta dan memotong sapi atau kambing, lalu di dalam perutnya terdapat janin yang sudah mati. Apakah kami harus membuangnya atau boleh memakannya?” Beliau bersabda, “Makanlah jika kalian mau, karena penyembelihan induknya adalah juga penyembelihan bagi janinnya.” Dan karena hal ini merupakan ijmā‘ para sahabat, sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhum. ‘Abdurrahman bin Ka‘b bin Malik berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Penyembelihan janin adalah penyembelihan induknya.’” Dan apa yang telah disepakati dalam ijmā‘ mereka, maka tidak boleh ada perbedaan pendapat di dalamnya.

وَمِنَ الِاعْتِبَارِ هُوَ أَنَّ الْجَنِينَ يَغْتَذِي بِغِذَاءِ أُمِّهِ فَلَمَّا كَانَتْ حَيَاتُهُ بِحَيَاتِهَا جَازَ أَنْ تَكُونَ ذَكَاتُهُ بِذَكَاتِهَا كَالْأَعْضَاءِ

Dan dari segi pertimbangan adalah bahwa janin mendapatkan nutrisi dari makanan ibunya, maka ketika kehidupannya bergantung pada kehidupan ibunya, boleh saja penyembelihan (zakat) janin itu mengikuti penyembelihan ibunya, sebagaimana anggota tubuh lainnya.

فَإِنْ قِيلَ فَأَعْضَاؤُهَا لَا تُعْتَبَرُ ذَكَاتُهَا بَعْدَهَا وَأَنْتُمْ تَعْتَبِرُونَ ذَكَاةَ الْجَنِينِ إِذَا خَرَجَ حَيًّا فَدَلَّ عَلَى افْتِرَاقِهِمَا

Jika dikatakan: “Anggota tubuh hewan tersebut tidak dianggap sah penyembelihannya setelahnya, sedangkan kalian menganggap sah penyembelihan janin jika ia keluar dalam keadaan hidup, maka hal ini menunjukkan perbedaan antara keduanya.”

قِيلَ لَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّنَا جَعَلْنَا ذَكَاتَهُ بِذَكَاتِهَا إِذَا خَرَجَتْ رُوحُهُ بِخُرُوجِ رُوحِهَا وَإِذَا خَرَجَ حَيًّا لَمْ تَخْرُجْ رُوحُهُ بِخُرُوجِ رُوحِهَا فَلَمْ تَحِلَّ بِذَكَاتِهَا كَذَلِكَ الْأَعْضَاءُ إِذَا خَرَجَتْ مِنْهَا الرُّوحُ بِخَرُوجِ رُوحِهَا حَلَّتْ وَلَوْ خَرَجَتِ الرُّوحُ مِنْهَا بِغَيْرِ خُرُوجِ الرُّوحِ مِنْ أَصْلِهَا لِقَطْعِهَا قَبْلَ ذَبْحِهَا لَمْ تُؤْكَلْ فَاسْتَوَيَا وَقَدْ يَتَحَرَّرُ مِنْ هَذَا الْجَوَابِ الْمُعَلَّلِ قِيَاسٌ ثَانٍ فَيُقَالُ حَيَوَانٌ خَرَجَتْ رُوحُهُ بِذَكَاةٍ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ مَأْكُولًا كَالْأُمِّ وَلَا يَدْخُلُ الْجَنِينُ الْمُتَوَلِّدُ مِنْ حِمَارٍ وَحْشِيٍّ وَحِمَارٍ أَهْلِيٍّ لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ بِذَكَاةِ أُمِّهِ لِأَنَّنَا أَجْمَعْنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأُمِّ وَالْأُمُّ تُؤْكَلُ إِذَا لَمْ يَتَوَلَّدْ مِنْ بَيْنِ جنسين كذلك الجنين

Dikatakan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya, karena kami menjadikan penyembelihan induknya sebagai penyembelihan baginya apabila ruhnya keluar bersamaan dengan keluarnya ruh induknya. Namun jika ia keluar dalam keadaan hidup, maka ruhnya tidak keluar bersamaan dengan keluarnya ruh induknya, sehingga ia tidak menjadi halal dengan penyembelihan induknya. Demikian pula anggota tubuh, jika ruhnya keluar bersamaan dengan keluarnya ruh dari asalnya, maka ia menjadi halal. Namun jika ruh keluar dari anggota itu bukan karena keluarnya ruh dari asalnya, seperti karena dipotong sebelum disembelih, maka tidak boleh dimakan. Maka keduanya sama hukumnya. Dari jawaban yang beralasan ini dapat diambil qiyās kedua, yaitu dikatakan: hewan yang ruhnya keluar karena disembelih, maka boleh dimakan seperti induknya. Namun tidak termasuk janin yang berasal dari persilangan antara keledai liar dan keledai jinak, maka tidak halal memakannya dengan penyembelihan induknya, karena kami telah menggabungkan antara janin dan induknya, dan induknya boleh dimakan jika tidak berasal dari dua jenis yang berbeda, demikian pula janinnya.

فإن قيل إنا مَاتَ بِاخْتِنَاقِهِ فِي بَطْنِ أُمِّهِ وَاحْتِبَاسِ نَفْسِهِ لَا بِالذَّكَاةِ فَدَخَلَ فِي تَحْرِيمِ الْمُنْخَنِقَةِ

Jika dikatakan, “Sesungguhnya ia mati karena tercekik di dalam perut ibunya dan terhentinya napasnya, bukan karena penyembelihan (dzakāh), maka ia termasuk dalam keharaman (bangkai) yang mati tercekik (al-munkhaniqah).”

قِيلَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعَلَّقَ عَلَى الْأَسْبَابِ الْمُبَاحَةِ أَحْكَامُ الْمَحْظُورَاتِ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُعَلَّقَ عَلَى الْأَسْبَابِ الْمَحْظُورَةِ أَحْكَامُ الْمُبَاحَاتِ وَمَوْتُ الْجَنِينِ بِذَبْحِ أُمِّهِ مُبَاحٌ يَتَعَلَّقُ بِهِ إِحْلَالُ الْأُمِّ فَتَبِعَهَا فِي الْحُكْمِ وَالْمُنْخَنِقَةُ ضِدُّهَا؟ لِتَحْرِيمِ جَمِيعِهَا فَتَعَلَّقَ بِهِ تَحْرِيمُ أَكْلِهَا

Dikatakan bahwa tidak boleh menggantungkan hukum-hukum yang terlarang pada sebab-sebab yang mubah, sebagaimana tidak boleh pula menggantungkan hukum-hukum yang mubah pada sebab-sebab yang terlarang. Kematian janin karena disembelihnya induk adalah perkara yang mubah yang terkait dengannya kehalalan induk, sehingga janin mengikuti induknya dalam hukum. Sedangkan hewan yang mati tercekik adalah kebalikannya, karena seluruhnya diharamkan, sehingga terkait dengannya pula keharaman memakannya.

وَيَدُلُّ عَلَى مَا ذَكَّرْنَاهُ أَنَّ الذَّكَاةَ مُعْتَبِرَةٌ بِالْقُدْرَةِ بَعْدَ الْأَسْبَابِ المباحة وهي تنقسم ثلاثة أقسام

Dan yang menunjukkan apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa penyembelihan (dzakāh) dipertimbangkan berdasarkan kemampuan setelah adanya sebab-sebab yang dibolehkan, dan penyembelihan itu terbagi menjadi tiga bagian.

فقسم يُمْكِنُ ذَبْحُهُ وَهُوَ الْمَقْدُورُ عَلَيْهِ مِنَ الصَّيْدِ وَالنَّعَمِ فَلَا ذَكَاةَ لَهُ إِلَّا فِي حَلْقِهِ ولبته

Maka, ada bagian yang bisa disembelih, yaitu hewan buruan dan ternak yang dapat dikuasai, maka tidak sah penyembelihan baginya kecuali pada leher dan pangkal lehernya.

وَقِسْمٌ مُمْتَنِعٌ لَا يُمْكِنُ ذَبْحُهُ وَيُمْكِنُ عَقْرُهُ وَهُوَ الصَّيْدُ فَذَكَاتُهُ بِعَقْرِهِ مِنْ أَيِّ مَوْضِعٍ وَقَعَ مِنْ جَسَدِهِ لِتَعَذُّرِ ذَبْحِهِ

Dan ada jenis hewan yang mustahil disembelih, tidak mungkin untuk disembelih, namun bisa dilukai hingga mati, yaitu hewan buruan. Maka penyembelihan (dzakāh) hewan tersebut dilakukan dengan cara melukainya, dari bagian tubuh mana pun yang terkena, karena tidak memungkinkan untuk disembelih.

وَقِسْمٌ يَتَعَذَّرُ ذَبْحُهُ وَعَقْرُهُ وَهُوَ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ؟ لِأَنَّ مَوْتَ الحوت بعد موته سَرِيعٌ وَعَقْرُ الْجَرَادِ شَاقٌّ فَكَانَ مَوْتُهُمَا ذَكَاةً

Dan ada jenis hewan yang tidak mungkin disembelih atau dilukai, yaitu ikan dan belalang; karena kematian ikan setelah mati sangat cepat, dan melukai belalang itu sulit, maka kematian keduanya dianggap sebagai penyembelihan (dzakāh).

وَإِنْ كَانَ هَذَا أَصْلًا مُتَّفَقًا عَلَيْهِ وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِي الْجَنِينِ فَإِنْ لَمْ يُقْدَرْ عَلَى ذَبْحِهِ لِسُرْعَةِ مَوْتِهِ كَانَ مَوْتُهُ ذَكَاةً لَهُ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَإِنْ كَانَ مَقْدُورًا عَلَى ذَبْحِهِ لِبَقَاءِ حَيَاتِهِ كَانَتْ ذَكَاتُهُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ كَالْمَقْدُورِ عَلَيْهِ مِنَ الصَّيْدِ وَالنَّعَمِ فَيَصِيرُ الْخِلَافُ فِيهِ مَرْدُودًا إِلَى الْأَصْلِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا سَرَى حُكْمُ الْأُمِّ إِلَى جَنِينِهَا في البيع الهبة وَالْعِتْقِ سَرَى إِلَيْهِ فِي الذَّكَاةِ وَالْإِبَاحَةِ

Jika hal ini merupakan prinsip yang telah disepakati, maka wajib dipertimbangkan pula pada janin. Jika tidak memungkinkan untuk menyembelihnya karena cepatnya kematian janin tersebut, maka kematiannya dianggap sebagai penyembelihan baginya, seperti pada ikan dan belalang. Namun, jika memungkinkan untuk menyembelihnya karena masih ada kehidupan padanya, maka penyembelihannya dilakukan pada tenggorokan dan pangkal leher, sebagaimana hewan buruan dan ternak yang dapat disembelih. Dengan demikian, perbedaan pendapat dalam hal ini kembali kepada prinsip yang telah disepakati. Karena ketika hukum induk berlaku pada janinnya dalam hal jual beli, hibah, dan pembebasan budak, maka hukum itu juga berlaku pada janin dalam hal penyembelihan dan kehalalan.

أَلَا تَرَى أَنَّ الْجِنَايَةَ عَلَى الْأُمِّ إِذَا أَلْقَتْهُ مَيِّتًا كَالْجِنَايَةِ عَلَيْهِ فِي وُجُوبِ الضَّمَانِ؟ فَصَارَ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ مُلْحَقًا بِأُمِّهِ فَكَانَتِ الذَّكَاةُ مِنْهَا وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقْتَطَعَ عَنْهَا

Tidakkah engkau melihat bahwa tindak pidana terhadap induk (hewan) yang menyebabkan ia melahirkan anaknya dalam keadaan mati, hukumnya sama dengan tindak pidana terhadap anak itu sendiri dalam hal kewajiban membayar ganti rugi? Maka, dalam seluruh keadaannya, anak tersebut disamakan dengan induknya, sehingga penyembelihan (dzakāh) berlaku atas induknya, dan tidak sah jika dipisahkan dari induknya.

فَإِنْ قِيلَ لَوْ لَحِقَ بِهَا فِي الذَّكَاةِ إِذَا خَرَجَ مَيْتًا لَمْ يَحْتَجْ إِلَى الذَّكَاةِ إِذَا خَرَجَ حَيًّا فَعَنْهُ جَوَابَانِ

Jika dikatakan: “Seandainya (janin) disamakan dengannya dalam hal penyembelihan, maka jika ia keluar dalam keadaan mati, tidak membutuhkan penyembelihan; maka jika ia keluar dalam keadaan hidup, bagaimana?” Maka mengenai hal ini terdapat dua jawaban darinya.

أَحَدُهُمَا إِنَّمَا حَلَّ إِذَا خَرَجَ مَيْتًا لِفِرَاقِ رُوحِهِ بِذَكَاتِهَا وَلَمْ يَحِلَّ إِذَا خَرَجَ حَيًّا لِأَنَّ رُوحَهُ لَمْ يَفُتْ بِذَكَاتِهَا

Salah satunya adalah bahwa hewan itu menjadi halal hanya jika keluar dalam keadaan mati karena terpisahnya ruhnya melalui penyembelihan, dan tidak menjadi halal jika keluar dalam keadaan hidup karena ruhnya belum terpisah melalui penyembelihan.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْتَبَرَ خُرُوجُهُ حَيًّا فِي الذَّكَاةِ بِخُرُوجِهِ مَيْتًا كَمَا لَا يُعْتَبَرُ فِي الْجِنَايَةِ لِأَنَّهُ إِذَا خَرَجَ مَيْتًا كَانَتْ دِيَتُهُ مُعْتَبِرَةً بِأُمِّهِ وَإِذَا خَرَجَ حَيًّا كَانَتْ دِيَتُهُ مُعْتَبَرَةً بِنَفْسِهِ كَذَلِكَ فِي الذَّكَاةِ

Kedua, tidak boleh dianggap keluarnya (janin) dalam keadaan hidup pada proses penyembelihan (dzakāh) sama dengan keluarnya dalam keadaan mati, sebagaimana hal itu juga tidak dianggap dalam kasus jināyah (tindak pidana). Sebab, jika ia keluar dalam keadaan mati, diyatnya (tebusannya) mengikuti ibunya, dan jika ia keluar dalam keadaan hidup, diyatnya mengikuti dirinya sendiri. Demikian pula dalam masalah dzakāh.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ وَالْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap ayat dan hadis adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْخَبَرَ خَارِجٌ عَنِ الْمَيْتَةِ؟ لِأَنَّ مَوْتَهُ بِذَكَاةِ أُمِّهِ وَلَوْ مَاتَ بِغَيْرِ ذَكَاتِهَا فَأَلْقَتْهُ مَيْتًا حَرُمَ؟ لِأَنَّهُ مَيْتَةٌ

Salah satunya adalah bahwa janin tidak termasuk dalam kategori bangkai, karena kematiannya disebabkan oleh penyembelihan induknya. Namun, jika ia mati bukan karena penyembelihan induknya, lalu induknya melahirkannya dalam keadaan mati, maka ia menjadi haram, karena ia termasuk bangkai.

وَالثَّانِي إنَّ عُمُومَ الْآيَةِ مَخْصُوصٌ فِي الْجَنِينِ بِالْخَبَرِ كَمَا خُصَّتْ فِي الْحُوتِ وَالْجَرَادِ وَمُلْحَقٌ بِالْحُوتِ وَالْجَرَادِ؟ لِمَا ذَكَرْنَا مِنِ اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْمَعْنَى

Kedua, sesungguhnya keumuman ayat tersebut dikhususkan pada janin berdasarkan hadis, sebagaimana juga dikhususkan pada ikan dan belalang, dan janin disamakan dengan ikan dan belalang karena, sebagaimana telah kami sebutkan, ketiganya memiliki persamaan dalam makna.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْأُمِّ فَهُوَ أَنَّ ذَكَاتَهَا مَقْدُورٌ عَلَيْهَا فَلَمْ تَحِلَّ إِلَّا بِهَا وَذَكَاةُ الْجَنِينِ غَيْرُ مَقْدُورٍ عَلَيْهَا فَحَلَّ وَلَوْ قَدَرَ عَلَى ذَكَاتِهِ لَمْ يَحِلَّ إِلَّا بِهَا كَالْأُمِّ وَهُوَ الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَيْهِ إِذَا خَرَجَ مَيْتًا لِأَنَّهُ يُقْدَرُ عَلَى ذَكَاتِهِ حَيًّا فَاعْتُبِرَتْ وَلِأَنَّهُ يُقَدَرُ عَلَى ذَكَاتِهِ ميتاً فسقطت

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan induknya adalah bahwa penyembelihan induknya itu memungkinkan dilakukan, sehingga tidak halal kecuali dengan penyembelihan tersebut. Sedangkan penyembelihan janin tidak memungkinkan dilakukan, maka ia menjadi halal. Jika penyembelihan terhadap janin itu memungkinkan, maka ia tidak halal kecuali dengan penyembelihan, seperti halnya induknya. Inilah juga jawaban terhadap qiyās mereka ketika janin keluar dalam keadaan mati, karena penyembelihan terhadapnya ketika hidup itu memungkinkan, maka hal itu diperhitungkan. Dan karena penyembelihan terhadapnya ketika mati tidak memungkinkan, maka gugurlah kewajiban tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالتَّسْوِيَةِ بَيْنَ حَالَتَيْ مَوْتِهِ وَحَيَاتِهِ فَهُوَ أَنَّ التَّسْوِيَةَ بَيْنَ حَالَتَيِ الْقُدْرَةِ وَالْعَجْزِ فِي الذَّكَاةِ مُطَّرَحَةٌ وَالْفَرْقُ بَيْنَهْمَا أَحَقُّ كَالصَّيْدِ لَمَّا اخْتَلَفَتْ ذَكَاتُهُ فِي الْقُدْرَةِ وَالْعَجْزِ اخْتَلَفَ بِهَا حُكْمُ الْجِنْين فامتنع الجمع

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan menyamakan antara keadaan matinya dan hidupnya adalah bahwa penyamaan antara dua keadaan, yaitu mampu dan tidak mampu dalam penyembelihan, tertolak, dan perbedaan antara keduanya lebih utama, sebagaimana pada hewan buruan; ketika tata cara penyembelihannya berbeda antara keadaan mampu dan tidak mampu, maka hukum janin pun berbeda karenanya, sehingga tidak mungkin disatukan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ بِأَنَّ الْعَقْرَ فِي جَمِيعِ الْحَيَوَانِ مُعْتَبَرٌ وإنما يختلفان بالقدرة والعجز في اختلاف الْمَحَلِّ فَمِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعَقْرَ فِيهِ مُعْتَبَرٌ وَهُوَ ذَبْحُ الْأُمِّ وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا اعْتُبِرَتِ الذَّكَاةُ بِالْقُدْرَةِ عَلَيْهَا وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ الْعَقْرُ بِالْقُدْرَةِ عَلَيْهِ وَهِيَ مُتَعَذَّرَةٌ فِي الْجَنِينِ فَسَقَطَتْ بِالْعَجْزِ كَمَا سَقَطَتْ في الحوت والجراد ولم تسقط فِي الصَّيْدِ لِإِمْكَانِهِ فِيهِ

Adapun jawaban bahwa al-‘aqr (melukai hingga mati) pada seluruh hewan itu dianggap (dalam hukum), hanya saja perbedaannya terletak pada kemampuan dan ketidakmampuan yang berbeda-beda menurut tempatnya, maka dari dua sisi: pertama, bahwa al-‘aqr pada janin itu dianggap, yaitu dengan menyembelih induknya; kedua, ketika penyembelihan itu dipertimbangkan berdasarkan kemampuan melakukannya, maka al-‘aqr juga harus dipertimbangkan berdasarkan kemampuan melakukannya, dan hal itu tidak mungkin dilakukan pada janin, sehingga gugur karena ketidakmampuan, sebagaimana gugur pada ikan dan belalang, dan tidak gugur pada hewan buruan karena masih memungkinkan dilakukan padanya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ إِبَاحَةُ الْجَنِينِ بِذَكَاةِ أُمِّهِ فَلَا يَخْلُو حَالُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا أن يَكُونَ كَامِلَ الصُّورَةِ تَجِبُ فِيهِ الْغِرَّةُ وَتَصِيرُ بِهِ الْأَمَةُ أُمَّ وَلَدٍ فَهَذَا مَأْكُولٌ وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عَلَقَةً لَا تَجِبُ فِيهِ الْغِرَّةُ ولا يصير به أم ولد فهذا غير مَأْكُولٌ لِأَنَّ الْعَلَقَةَ دَمٌ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ مُضْغَةً قَدِ انْعَقَدَتْ لَحْمًا لَمْ تُشَكَّلْ أَعْضَاؤُهُ وَلَمْ تَبِنْ صُورَتُهُ فَفِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي وُجُوبِ الْغِرَّةِ وَكَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ أَحَدُهُمَا يُؤْكَلُ إِذَا جَرَى عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ حُكْمُ الْوَلَدِ وَالثَّانِي لَا يُؤْكَلُ إِذَا سَلَبَ حُكْمُ الْوَلَدِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ إِنْ نُفِخَ فِيهِ الرُّوحُ أُكِلَ وَإِنْ لَمْ يُنْفَخْ فِيهِ لَمْ يُؤْكَلْ وَهَذَا مِمَّا لَا سَبِيلَ إِلَى إِدْرَاكِهِ وَإِنَّمَا يُسْتَدَلُّ عَلَى خَلْقِهَا فِيهِ بِتَخْطِيطِ صُورَتِهِ وَتَشَكُّلِ أَعْضَائِهِ والله أعلم

Jika telah tetap kehalalan janin dengan penyembelihan induknya, maka keadaannya tidak lepas dari tiga bagian. Pertama, janin itu telah sempurna bentuknya, yang mewajibkan diyat ghirrah dan menjadikan budak perempuan sebagai umm walad; maka ini boleh dimakan. Bagian kedua, janin itu masih berupa ‘alaqah yang tidak mewajibkan diyat ghirrah dan tidak menjadikan budak perempuan sebagai umm walad; maka ini tidak boleh dimakan karena ‘alaqah adalah darah. Bagian ketiga, janin itu berupa mudhghah yang telah menjadi daging namun anggota tubuhnya belum terbentuk dan gambaran tubuhnya belum jelas; dalam hal kebolehan memakannya terdapat dua pendapat, sesuai perbedaan pendapat tentang kewajiban diyat ghirrah dan statusnya sebagai umm walad. Salah satunya, boleh dimakan jika berlaku atasnya hukum anak; dan yang kedua, tidak boleh dimakan jika tidak berlaku hukum anak. Sebagian ulama berpendapat, jika telah ditiupkan ruh ke dalamnya maka boleh dimakan, dan jika belum ditiupkan ruh maka tidak boleh dimakan. Namun hal ini tidak mungkin diketahui secara pasti, dan yang dapat dijadikan petunjuk tentang penciptaannya adalah dengan melihat terbentuknya gambaran tubuh dan anggota-anggotanya. Allah Maha Mengetahui.

باب كسب الحجام
Bab Penghasilan Tukang Bekam

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا بَأْسَ بِكَسْبِ الْحَجَّامِ فَإِنْ قِيلَ فَمَا مَعْنَى نَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ السَّائِلَ عَنْ كَسْبِهِ وَإِرْخَاصِهِ فِي أَنْ يُطْعِمَهُ رَقِيقَهُ وَنَاضِحَهُ؟ قِيلَ لَا مَعْنَى لَهُ إِلَّا واحدٌ وهو أن للمكاسب حسناً ودنيئاً فكان كسب الحجام دنيئاً فأحب له تنزيه نفسه عن الدناءة لكثرة المكاسب التي هي أجمل منه فلما زاده فيه أمره أن يعلفه ناضحه ويطعمه رقيقه تنزيهاً له لا تحريماً عليه وقد حجم أبو طيبة رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فأمر له بصاع من تمرٍ وأمر أهله أن يخففوا عنه من خراجه ولو كان حراماً لم يعطه رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لأنه لا يعطي إلا ما يحل إعطاؤه ولآخذه ملكه وقد روي أن رجلاً ذا قرابةٍ لعثمان قدم عليه فسأله عن معاشه فذكر له غَلَّةُ حجامٍ أَوْ حَجَّامَيْنِ فَقَالَ إِنْ كَسَبَكُمْ لوسخٌ أو قال لدنس أو لدنيءٌ أو كلمةً تشبهها

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Tidak mengapa memperoleh penghasilan dari pekerjaan tukang bekam. Jika ada yang bertanya, “Lalu apa makna larangan Nabi ﷺ kepada orang yang bertanya tentang penghasilannya dan keringanan beliau dalam membolehkan memberi makan budaknya dan hewan tunggangannya dari hasil itu?” Maka dijawab: Tidak ada makna lain kecuali satu, yaitu bahwa dalam pekerjaan ada yang baik dan ada yang rendah. Penghasilan tukang bekam termasuk yang rendah, sehingga beliau menganjurkan agar menjaga diri dari kehinaan itu karena banyak pekerjaan lain yang lebih baik darinya. Ketika orang itu tetap melakukannya, beliau memerintahkannya agar memberi makan hewan tunggangannya dan budaknya dari hasil itu, sebagai bentuk menjaga kehormatan, bukan sebagai pengharaman. Abu Thaibah pernah membekam Rasulullah ﷺ, lalu beliau memerintahkannya diberi satu sha‘ kurma dan memerintahkan keluarganya agar meringankan pajaknya. Seandainya itu haram, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan memberikannya, karena beliau hanya memberikan sesuatu yang halal untuk diberikan dan yang mengambilnya menjadi miliknya. Diriwayatkan pula bahwa seorang kerabat Utsman datang kepadanya dan bertanya tentang penghasilannya, lalu ia menyebutkan hasil dari seorang atau dua orang tukang bekam. Maka Utsman berkata, “Sesungguhnya penghasilan kalian itu kotor,” atau beliau berkata, “najis,” atau “rendah,” atau kata lain yang semakna.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْحَاجَةَ إِلَى الْمَكَاسِبِ دَاعِيَةٌ لِمَا فَطَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ الْخَلْقَ مِنَ الْحَاجَةِ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْكُسْوَةِ لِنَفْسِهِ وَمَنْ يَلْزَمُهُ الْإِنْفَاقُ عَلَيْهِ مِنْ مُنَاسِبٍ وَمُصَاحِبٍ وَأُصُولُ الْمَكَاسِبِ الْمَأْلُوفَةِ ثَلَاثَةٌ زِرَاعَةٌ وَتِجَارَةٌ وَصِنَاعَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْمُكْتَسِبِ بِهَا أَنْ يَخْتَارَ لِنَفْسِهِ أَطْيَبَهَا لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa kebutuhan terhadap usaha mencari penghasilan didorong oleh fitrah yang Allah Ta‘ala tanamkan pada makhluk, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, dan pakaian bagi dirinya sendiri serta orang-orang yang wajib ia nafkahi, baik kerabat maupun teman. Pokok-pokok usaha yang umum dikenal ada tiga: pertanian, perdagangan, dan kerajinan. Maka sepatutnya bagi orang yang mencari penghasilan melalui usaha-usaha tersebut untuk memilih yang paling baik baginya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian dari hasil usaha baik yang kalian peroleh.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَالِ مِنْ أَيْنَ مَطْعُمُهُ وَلَا مِنْ أَيْنَ مَشْرَبُهُ لَمْ يُبَالِ الله من أي أبواب النار الجنة أَدْخَلَهُ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak peduli dari mana makanannya dan dari mana minumannya, maka Allah tidak peduli dari pintu neraka mana ia akan dimasukkan.”

وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِي أَطْيَبِهَا فَقَالَ قَوْمٌ الزِّرَاعَاتُ وَهُوَ عِنْدِي أَشْبَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِيهَا مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ فِي عَطَائِهِ مُسْتَسْلِمٌ لِقَضَائِهِ

Manusia berbeda pendapat tentang mana yang paling baik di antara pekerjaan itu. Sebagian orang mengatakan pertanian, dan menurutku pendapat ini lebih mendekati kebenaran, karena dalam pertanian manusia bertawakal kepada Allah dalam rezeki yang diberikan-Nya dan berserah diri kepada ketetapan-Nya.

وَقَالَ آخَرُونَ التِّجَارَةُ أَطْيَبُهَا وَهُوَ أَشْبَهُ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِتَصْرِيحِ اللَّهِ تَعَالَى بِإِحْلَالِهِ فِي كِتَابِهِ بِقَوْلِهِ وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ

Dan sebagian ulama lain berkata, perdagangan adalah yang paling baik, dan pendapat ini lebih mendekati mazhab Syafi‘i karena Allah Ta‘ala secara tegas menghalalkannya dalam kitab-Nya dengan firman-Nya: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli.”

وَاقْتِدَاءً بِالصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي اكْتِسَابِهِمْ بِهَا

Dan sebagai teladan kepada para sahabat radhiyallāhu ‘anhum dalam usaha mereka dengan cara tersebut.

وَقَالَ آخَرُونَ الصِّنَاعَةُ لِاكْتِسَابِ الْإِنْسَانِ فِيهَا بِكَدِّ يَدَيْهِ

Dan sebagian yang lain berkata, “Sebuah keterampilan adalah sesuatu yang diperoleh manusia melalui jerih payah tangannya.”

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَا يُكَفِّرُهُ صومٌ وَلَا صلاةٌ وَلَكِنْ يُكَفِّرُهُ عَرَقُ الْجَبِينِ فِي طَلَبِ الْحِرْفَةِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat dihapuskan oleh puasa maupun salat, tetapi yang dapat menghapusnya adalah keringat di dahi dalam mencari pekerjaan.”

فَأَمَّا الزِّرَاعَةُ فَلَا مَدْخَلَ لَهَا فِي تَحْرِيمٍ وَلَا كَرَاهِيَةٍ وَهَذَا أَوَّلُ شَيْءٍ عَلَى أَنَّهَا أَطْيَبُ الْمَكَاسِبِ وَأَمَّا التجارة فتنقسم ثلاثة أقسام حلال وهي الْبُيُوعُ الصَّحِيحَةُ

Adapun pertanian, maka tidak ada kaitannya dengan keharaman maupun makruh, dan ini adalah hal pertama, bahkan pertanian merupakan penghasilan yang paling baik. Adapun perdagangan, terbagi menjadi tiga bagian yang halal, yaitu jual beli yang sah.

وَحَرَامٍ وَهُوَ الْبُيُوعُ الْفَاسِدَةُ وَمَكْرُوهٍ وَهُوَ الْغِشُّ وَالتَّدْلِيسُ

Dan yang haram adalah jual beli yang fasid, dan yang makruh adalah penipuan dan tadlis.

وَأَمَّا الصِّنَاعَةُ فَتَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Adapun keahlian itu terbagi menjadi tiga bagian.

حَلَّالٍ وَهُوَ مَا أُبِيحَ مِنَ الْأَعْمَالِ الَّتِي لَا دَنَسَ فِيهَا كَالْكِتَابَةِ وَالتِّجَارَةِ وَالْبِنَاءِ

Halal adalah segala pekerjaan yang diperbolehkan dan tidak mengandung unsur najis di dalamnya, seperti menulis, berdagang, dan membangun.

وَحَرَامٍ وَهُوَ مَا حُظِرَ مِنَ الْأَعْمَالِ كَالتَّصَاوِيرِ وَالْمَلَاهِي

Dan haram, yaitu segala perbuatan yang dilarang, seperti membuat gambar dan alat-alat hiburan.

وَمَكْرُوهٍ وَهُوَ مَا بَاشَرَ فِيهِ النَّجَاسَةَ كَالْحَجَّامِ وَالْجَزَّارِ وَكَنَّاسِ الْحُشُوشِ وَالْأَقْذَارِ وَالنَّصُّ فِيهِ وَارِدٌ فِي الْحَجَّامِ وَهُوَ أَصْلُ نَظَائِرِهِ وَالنَّصُّ فِيهِ مَا رَوَاهُ مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ حَرَامِ بْنِ مُحَيِّصَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ أَجْرِ الْحَجَّامِ فَنَهَاهُ عَنْهُ فَشَكَا مِنْ حَاجَتِهِمْ فَقَالَ اعْلِفْهُ نَاضِحَكَ وَأَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ

Dan pekerjaan yang makruh adalah pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan najis, seperti tukang bekam, tukang jagal, pembersih jamban, dan pembersih kotoran. Teks (nash) tentang hal ini terdapat pada tukang bekam, dan itu menjadi dasar bagi pekerjaan-pekerjaan serupa. Nash tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ma‘mar dari az-Zuhri dari Haram bin Muḥayyiṣah dari ayahnya, bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang upah tukang bekam, lalu beliau melarangnya. Namun ia mengeluhkan kebutuhan mereka, maka beliau bersabda, “Berikanlah upah itu kepada unta kerjamu dan berikanlah kepada budakmu.”

فَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ إِلَى أَنَّهُ حَرَامٌ عَلَى الْأَحْرَارِ حَلَالٌ لِلْعَبِيدِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ السَّادَةِ دُونَ الْعَبِيدِ وَاعْتَمَدُوا فِيهِ عَلَى رِوَايَةِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ كَسْبُ الْحَجَّامِ خبيثٌ وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خبيثٌ وَثَمَنُ الْكَلْبِ خبيثٌ فَلَمَّا وَصَفَهُ بِالْخُبْثِ وَقَرَنَهُ بِالْحَرَامِ كَانَ حَرَامًا

Sebagian ulama ahli hadis berpendapat bahwa hal itu haram bagi orang merdeka dan halal bagi budak, karena Nabi ﷺ melarangnya untuk para tuan (orang merdeka) dan tidak melarang untuk budak. Mereka mendasarkan pendapat ini pada riwayat Rafi‘ bin Khadij bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Penghasilan tukang bekam itu kotor, mahar wanita pezina itu kotor, dan harga anjing itu kotor.” Maka ketika beliau menyifatinya dengan kekotoran dan mengaitkannya dengan yang haram, berarti itu adalah haram.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ مَا رَوَاهُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي أَنْ أُعْطِيَ الْحَجَّامَ أُجْرَه

Dan dalil atas rusaknya pendapat yang mereka anut adalah riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam bahwa Nabi ﷺ berbekam dan memerintahkanku untuk memberikan upah kepada tukang bekam.

وَرَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ أَبَا طَيْبَةَ حَجَمَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعٍ مِنْ تمرٍ وَأَمَرَ مَوَالِيَهُ أَنْ يُخَفِّفُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ قَالَ جَابِرٌ وَكَانَ خَرَاجُهُ ثَلَاثَةَ آصعٍ مِنْ تَمْرٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَخَفَّفُوا عَنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ صَاعًا

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Abu Thaibah pernah melakukan hijamah (bekam) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkan agar diberikan satu sha‘ kurma kepadanya, dan beliau memerintahkan para budaknya untuk meringankan beban pajaknya. Jabir berkata, “Pajaknya adalah tiga sha‘ kurma setiap hari, lalu mereka meringankan beban pajaknya satu sha‘ setiap hari.”

وَوَجْهُ الدَّلِيلِ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ حَرُمَ كَسْبُهُ عَلَى آخِذِهِ حَرُمَ دَفْعُهُ عَلَى مُعْطِيهِ فَلَمَّا اسْتَجَازَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنْ يَأْمُرَ بِدَفْعِهِ إِلَيْهِ دَلَّ عَلَى جَوَازِ أَخْذِهِ؟

Adapun sisi pendalilan dari hal ini adalah bahwa jika penghasilan tersebut haram bagi yang menerimanya, maka haram pula memberikannya bagi yang memberikannya. Maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan untuk memerintahkan agar memberikannya kepada orang tersebut, hal itu menunjukkan bolehnya mengambilnya.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّمَا حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ مُتَطَوِّعًا تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ بِخِدْمَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَلِذَلِكَ شَرِبَ دَمَهُ فَقَالَ لَهُ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ جِسْمَكَ عَلَى النَّارِ وَكَانَ مَا أَعْطَاهُ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مُوَاسَاةً وَلَمْ يَكُنْ أُجْرَةً فَعَنْهُ جَوَابَانِ

Jika dikatakan bahwa Abu Thaibah melakukan hijamah kepada Nabi secara sukarela sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena itu ia meminum darah beliau, lalu Nabi bersabda kepadanya, “Allah telah mengharamkan tubuhmu atas neraka,” serta apa yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya adalah sebagai bentuk solidaritas dan bukan sebagai upah, maka terhadap hal ini terdapat dua jawaban.

أَحَدُهُمَا إنما أعطاه مقابلة على عمله صار عِوَضًا يَنْصَرِفُ عَنْ حُكْمِ الْمُوَاسَاةِ

Salah satunya adalah bahwa ia diberikan sebagai imbalan atas pekerjaannya, sehingga menjadi ‘iwadh yang keluar dari hukum al-muwāsāt.

وَالثَّانِي أَنَّ أَبَا طَيْبَةَ كَانَ مَمْلُوكًا لَا يَصِحُّ تَطَوُّعُهُ بِعَمَلِهِ وَلَا يَسْتَحِّلُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ تَطَوُّعَهُ وَلِأَنَّهُ لَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى هَذَا فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَخُلَفَائِهِ إِلَى وَقْتِنَا هَذَا فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ يَتَكَسَّبُونَ بِهَذَا فَلَا يُنْكِرُهُ مُسْتَحْسِنٌ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى فَدَلَّ عَلَى انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ بِهِ وَارْتِفَاعِ الْخِلَافِ فِيهِ

Kedua, bahwa Abu Thaibah adalah seorang budak yang tidak sah melakukan pekerjaan secara sukarela, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak akan menghalalkan kesukarelaannya. Selain itu, sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah hingga masa kita sekarang di berbagai negeri, orang-orang tetap memperoleh penghasilan dari pekerjaan ini, dan tidak ada seorang pun yang memandang baik dalam hak Allah Ta‘ala yang mengingkarinya. Hal ini menunjukkan terjadinya ijmā‘ dan hilangnya perbedaan pendapat dalam masalah ini.

وَلِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَيْهِ دَاعِيَةٌ وَالضَّرُورَةَ إِلَيْهِ مَاسَّةٌ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ الْإِنْسَانُ عَلَى حِجَامَةِ نَفْسِهِ إِذَا احْتَاجَ وَمَا كَانَ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ لَمْ يَمْنَعْ مِنْهُ الشَّرْعُ لِمَا فِيهِ مِنْ إِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَى الْخَلْقِ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ  وَلِأَنَّ كُلَّ كَسْبٍ حَلَّ لِلْعَبِيدِ حَلَّ لِلْأَحْرَارِ كَسَائِرِ الْأَكْسَابِ

Karena kebutuhan terhadapnya sangat mendesak dan keperluan akan hal itu sangat penting, sebab seseorang tidak mampu melakukan hijamah (bekam) sendiri ketika ia membutuhkannya. Sesuatu yang berada pada posisi seperti ini tidak dilarang oleh syariat, karena di dalamnya terdapat unsur menimbulkan bahaya bagi manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” Dan karena setiap penghasilan yang halal bagi budak, maka halal pula bagi orang merdeka, sebagaimana penghasilan-penghasilan lainnya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَسْبُ الْحَجَّامِ خبيثٌ فَهُوَ أَنَّ اسْمَ الْخُبْثِ يَتَنَاوَلُ الْحَرَامَ تَارَةً وَالدَّنِيءَ أُخْرَى كَمَا قَالَ تَعَالَى وَلاَ تَيَمَّمُوا الخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ يَعْنِي الدَّنِيءَ وَكَقَوْلِهِ مِنْ بَعْدُ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ فَيُحْمَلُ عَلَى الدَّنِيءِ دُونَ الْحَرَامِ بِدَلِيلِ مَا قُلْنَاهُ وَلَيْسَ هُوَ إِلَى الْحَرَامِ بِمُوجِبٍ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي حُكْمِ التَّحْرِيمِ لِأَنَّهُ لَمَّا ضُمَّ إِلَى مَا يَحْرُمُ عَلَى الْأَحْرَارِ وَالْعَبِيدِ وَهَذَا لَا يَحْرُمُ عَلَى الْعَبِيدِ فَجَازَ أَنْ لَا يَحْرُمَ عَلَى الْأَحْرَارِ

Adapun jawaban atas sabda Nabi ﷺ: “Penghasilan tukang bekam itu kotor,” maka istilah “kotor” kadang mencakup yang haram dan kadang pula yang rendah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Janganlah kamu memilih yang buruk di antara harta itu untuk kamu infakkan,” maksudnya yang rendah, dan sebagaimana firman-Nya: “Kamu tidak akan mengambilnya kecuali dengan memejamkan mata terhadapnya,” maka ini dibawa kepada makna rendah, bukan haram, berdasarkan dalil yang telah kami sebutkan. Dan hal itu tidak mesti bermakna haram hanya karena keduanya sama-sama memiliki hukum tahrīm (pengharaman), sebab ketika ia digabungkan dengan sesuatu yang haram bagi orang merdeka dan budak, sedangkan ini (penghasilan tukang bekam) tidak haram bagi budak, maka boleh jadi ia juga tidak haram bagi orang merdeka.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي عِلَّةِ كَرَاهَتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Maka apabila telah tetap bahwa hal itu tidak haram, maka hukumnya makruh, dan para ulama kami berbeda pendapat mengenai sebab kemakruhannya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِمُبَاشَرَةِ النَّجَاسَةِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ فَعَلَى هَذَا يُكْرَهُ كَسْبُ كُلِّ مُبَاشِرٍ لِلنَّجَاسَةِ مِنْ كَنَّاسٍ وَخَرَّازٍ وَقَصَّابٍ

Salah satunya adalah karena bersentuhan langsung dengan najis, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan jauhilah najis itu.” Oleh karena itu, makruh memperoleh penghasilan dari setiap pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan najis, seperti tukang sapu, tukang penyamak kulit, dan tukang jagal.

وَاخْتَلَفَ قَائِلُ هَذَا هَلْ يَكُونُ كَسْبُ الْفَصَّادِ مِنْ جُمْلَتِهِمْ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Dan orang yang berpendapat demikian berbeda pendapat, apakah penghasilan tukang bekam termasuk dalam kelompok mereka? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مِنْ جُمْلَتِهِمْ لِأَنَّهُ يُبَاشِرُ نَجَاسَةَ الدَّمِ

Salah satunya termasuk dari mereka karena ia bersentuhan langsung dengan najis darah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أبي هُرَيْرَةَ إنَّهُ لَا يَكْرَهُ كَسْبَهُ لِاقْتِرَانِهِ بِعِلْمِ الطِّبِّ فَإِنَّهُ قَلَّ مَا يُبَاشِرُ نَجَاسَةَ الدَّمِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa penghasilan tersebut tidak makruh karena berkaitan dengan ilmu kedokteran, sebab jarang sekali bersentuhan langsung dengan najis darah.

فَأَمَّا الْخَتَّانُ فَمَكْرُوهُ الْكَسْبِ كَالْحَجَّامِ بَلْ يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي مُبَاشَرَةِ الْعَوْرَاتِ وَتَكُونُ الْكَرَاهَةُ مَقْصُورَةً عَلَى مُبَاشَرَةِ الْأَنْجَاسِ وَمُنْتَفِيَةً عَمَّنْ لَا يُبَاشِرُهَا مَنْ سَمَّاكٍ وَدَبَّاغٍ

Adapun pekerjaan sebagai khatān (juru khitan) maka penghasilannya makruh, seperti halnya tukang bekam, bahkan lebih berat lagi karena bersentuhan langsung dengan aurat. Kemakruhan tersebut terbatas pada yang bersentuhan langsung dengan najis, dan tidak berlaku bagi yang tidak bersentuhan langsung dengannya, seperti tukang penyamak kulit dan tukang penyamak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ كَرَاهَةَ التَّكَسُّبِ بِهِ لِدَنَاءَتِهِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ جَعَلَ مِنَ الْمَكَاسِبِ دَنِيئًا وَحَسَنًا وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ ذَا قَرَابَةٍ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ عَلَيْهِ فَسَأَلَهُ عَنْ كَسْبِهِ فَقَالَ غَلَّةُ حَجَّامٍ أَوْ حَجَّامَيْنِ فَقَالَ إِنْ كَسَبَكُمْ لَدَنِيءٌ أَوْ قَالَ لَوَسِخٌ فَعَلَى هَذَا يُكْرَهُ مَعَ ذَلِكَ كَسْبُ السَّمَّاكِ وَالدَّبَّاغِ وَالْحَلَّاقِ وَالْقَيِّمِ

Pendapat kedua adalah bahwa makruh mencari penghasilan dari pekerjaan tersebut karena kehinaannya, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i, karena beliau membagi penghasilan menjadi yang hina dan yang baik. Diriwayatkan bahwa seorang kerabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu datang kepadanya lalu menanyakan tentang penghasilannya. Ia menjawab, “Hasil dari tukang bekam atau dua orang tukang bekam.” Maka ‘Utsman berkata, “Sesungguhnya penghasilan kalian itu hina,” atau beliau berkata, “kotor.” Berdasarkan hal ini, maka makruh pula penghasilan dari tukang ikan, tukang samak, tukang cukur, dan penjaga.

وَاخْتُلِفَ عَلَى هَذَا فِي كسب الحجامين عَلَى وَجْهَيْنِ

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini dalam hal penghasilan para tukang bekam, yaitu ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا مَكْرُوهٌ دَنِيءٌ لِأَنَّهُ يُشَاهِدُ الْعَوْرَاتِ وَيَتَكَسَّبُ بِحرَانٍ غَيْرِ مُقَدَّرٍ

Salah satunya adalah makruh dan hina karena ia melihat aurat dan memperoleh penghasilan dari sesuatu yang haram dan tidak terukur.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُكْرَهُ كَسْبُهُ لِأَنَّهُ لَا يُبَاشِرُ عَمَلًا وَيُمْكِنُهُ غَضُّ طَرْفِهِ عَنِ الْعَوْرَاتِ وَلَيْسَ يَتَكَسَّبُ بِمُبَاشَرَتِهَا فَإِنْ أَرْسَلَ طَرَفَهُ صَارَ كَغَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa penghasilan tersebut tidak makruh, karena ia tidak secara langsung melakukan suatu pekerjaan dan ia masih bisa menahan pandangannya dari aurat. Ia juga tidak mencari penghasilan dengan secara langsung berhubungan dengan aurat tersebut. Jika ia tetap membiarkan pandangannya, maka ia sama saja seperti orang lain pada umumnya.

وَكَذَلِكَ نَظَائِرُ مَا ذَكَرْنَاهُ وَجَمِيعُ هَذَا مَكْرُوهٌ لِلْأَحْرَارِ

Demikian pula hal-hal serupa dengan yang telah kami sebutkan, dan semua ini hukumnya makruh bagi orang-orang merdeka.

فَأَمَّا الْعَبِيدُ فَفِيهِمْ وَجْهَانِ

Adapun para budak, maka terdapat dua pendapat mengenai mereka.

أَحَدُهُمَا يُكْرَهُ لَهُمْ كَالْأَحْرَارِ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ

Salah satunya dimakruhkan bagi mereka sebagaimana bagi orang-orang merdeka, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُكْرَهُ لَهُمْ لِأَنَّهُمْ أَدْنَى مِنَ الْأَحْرَارِ فَلْيَتَأَهَّبُوا أَدْنَى الِاكْتِسَابِ فَإِنْ أَخَذَ سَادَاتُهُمْ كَسْبَهُمْ كُرِهَ لَهُمْ أَنْ يَأْكُلُوهُ وَلَمْ يُكْرَهْ لَهُمْ أَنْ يُطْعِمُوهُ رَقِيقَهُمْ وَبَهَائِمَهُمْ لِأَنَّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ لِمُحَيِّصَةَ حِينَ سَأَلَهُ عَنْهُ أَعْلِفْهُ نَاضِحَكَ وَأَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, tidak dimakruhkan bagi mereka, karena mereka lebih rendah derajatnya daripada orang-orang merdeka, maka hendaklah mereka bersiap dengan usaha yang paling minimal. Jika para tuan mereka mengambil hasil usaha mereka, maka dimakruhkan bagi mereka (para tuan) untuk memakannya, namun tidak dimakruhkan bagi mereka untuk memberikannya kepada budak dan hewan mereka. Karena Nabi ﷺ bersabda kepada Muḥayyiṣah ketika ia bertanya tentang hal itu: “Berikanlah kepada hewan tungganganmu dan berilah makan budakmu.” Dan Allah lebih mengetahui.

بَابُ مَا لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ وَمَا يَجُوزُ لِلْمُضْطَرِّ مِنَ الْمَيْتَةِ مِنْ غَيْرِ كتابٍ

Bab tentang apa saja yang tidak halal untuk dimakan dan apa yang boleh bagi orang yang dalam keadaan darurat dari bangkai selain hewan yang disembelih menurut kitab.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا يَحِلُّ أَكْلُ زيتٍ مَاتَتْ فِيهِ فأرةٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah ta‘ala berkata: Tidak halal memakan minyak yang di dalamnya terdapat tikus mati.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ فَأْرَةً وَقَعَتْ فِي سَمْنٍ فَمَاتَتْ فِيهِ فَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْهَا فَقَالَ أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوهُ فَكَانَ هَذَا الْحَدِيثُ وَارِدًا فِي السَّمْنِ إِذَا كَانَ جَامِدًا لِأَنَّ إِلْقَاءَ مَا حَوْلَهَا لَا يَصِحُّ إِذَا كَانَ ذَائِبًا

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Maimunah, bahwa seekor tikus jatuh ke dalam lemak lalu mati di dalamnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hal itu, lalu beliau bersabda, “Buanglah tikus itu dan bagian di sekitarnya, lalu makanlah.” Hadis ini berkaitan dengan lemak jika dalam keadaan padat, karena membuang bagian di sekitarnya tidak mungkin dilakukan jika lemak itu dalam keadaan cair.

وَرَوَى الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ السَّمْنِ تَقَعُ فِيهِ الْفَأْرَةُ فَقَالَ إِنْ كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَإِنْ كَانَ ذَائِبًا فَأَرِيقُوهُ

Az-Zuhri meriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang lemak yang terkena tikus. Beliau bersabda: “Jika lemak itu padat, maka buanglah tikus itu dan bagian di sekitarnya. Namun jika lemak itu cair, maka tumpahkanlah.”

وَهَذَا الْحَدِيثُ وَارِدٌ فِي الْجَامِدِ وَالْمَائِعِ وَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ أَثْبَتُ

Hadis ini berkaitan dengan benda padat dan cair, sedangkan hadis yang pertama lebih kuat.

فَإِذَا مَاتَتْ فَأْرَةٌ أَوْ غَيْرُهَا مِنَ الْحَيَوَانِ فِي سَمْنٍ أَوْ غَيْرِهِ مَنْ دُهْنٍ أَوْ دِبْسٍ أَوْ لَبَنٍ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ جَامِدًا أَوْ مَائِعًا

Apabila seekor tikus atau hewan lain mati di dalam samin atau selainnya, seperti minyak, dibs, atau susu, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: padat atau cair.

فَإِنْ كَانَ جَامِدًا نَجُسَ بِمَوْتِ الْفَأْرَةِ مَا حَوْلَهَا مِنَ السَّمْنِ لِأَنَّهَا نَجَاسَةٌ لَاقَتْ مَحَلًّا رَطْبًا فَنَجِسَ بِهَا كَمَا يَنْجُسُ الثَّوْبُ الرَّطْبُ إِذَا لَاقَى نَجِسًا يَابِسًا وَكَانَ مَا جَاوَزَ مَا حَوْلَ الْمُلَاقِي لِلْفَأْرَةِ طَاهِرًا لِأَنَّ جُمُودَهُ يَمْنَعُ مِنِ امْتِزَاجِهِ بِالنَّجِسِ

Jika minyak samin itu dalam keadaan padat, maka bagian minyak samin yang berada di sekitar tikus yang mati menjadi najis, karena ia adalah najis yang mengenai tempat yang basah, sehingga menjadi najis karenanya, sebagaimana kain basah menjadi najis jika bersentuhan dengan benda najis yang kering. Adapun bagian yang melebihi area sekitar tempat yang bersentuhan dengan tikus tetap suci, karena kepadatannya mencegah bercampurnya dengan najis.

وَإِنْ كَانَ السَّمْنُ مَائِعًا نَجُسَ جَمِيعُهُ قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا سَوَاءٌ تَغَيَّرَ بِالنَّجَاسَةِ أَوْ لَمْ يَتَغَيَّرْ بِخِلَافِ الْمَاءِ الَّذِي لَا يَنْجُسُ إِذَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ وَلَمْ يَتَغَيَّرْ

Jika lemak (samin) itu cair, maka seluruhnya menjadi najis, baik sedikit maupun banyak, baik berubah karena najis maupun tidak, berbeda dengan air yang tidak menjadi najis jika telah mencapai dua qullah dan tidak berubah.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي ثَوْرٍ أَنَّهُ كَالْمَاءِ إِذَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَنْجُسْ حَتَّى يَتَغَيَّرَ

Dan telah diriwayatkan dari Abu Tsaur bahwa ia berpendapat air itu seperti air apabila telah mencapai dua qullah, maka tidak menjadi najis sampai berubah (sifatnya).

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ أَجْرَاهُ مَجْرَى الْمَاءِ وَأَنَّهُ إِذَا اتَّسَعَ وَلَمْ يَلْتَقِ طَرَفَاهُ لَمْ يَنْجُسْ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي أَنَّ الْمَائِعَ كَالْمَاءِ فِي إِزَالَةِ الْأَنْجَاسِ وَهَذَا أَصْلٌ قَدْ خُولِفَ فِيهِ وَتَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَلَيْهِ ثُمَّ الدَّلِيلُ عَلَى الْمَائِعِ خُصُوصًا قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَإِنْ كَانَ ذَائِبًا فَأَرِيقُوهُ فَلَمَّا عَمَّ أَمْرُهُ بِالْإِرَاقَةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا مَدْخَلَ لَهُ فِي الطَّهَارَةِ لِأَنَّهُ لَا يَأْمُرُ بِاسْتِهْلَاكِ الْأَمْوَالِ فِي غَيْرِ تَحْرِيمٍ وَقَدْ نَهَى عَنْ إِضَاعَتِهَا وَلِأَنَّ طَهَارَةَ الْمَاءِ أَقْوَى لِاخْتِصَاصِهِ بِرَفْعِ الْحَدَثِ فَقَوِيَتْ طَهَارَتُهُ عَلَى رفع النجس عنه وضعفت طهارة المانع عَنْ دَفْعِ النَّجَسِ عَنْهُ

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia memperlakukan cairan seperti air, dan bahwa jika cairan itu luas dan kedua ujungnya tidak saling bertemu, maka cairan itu tidak menjadi najis, berdasarkan prinsip dasarnya bahwa cairan sama seperti air dalam menghilangkan najis. Namun, prinsip ini telah diperselisihkan dan telah dijelaskan sebelumnya. Adapun dalil khusus tentang cairan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika cairan itu meleleh, maka tumpahkanlah.” Ketika perintah beliau untuk menumpahkannya bersifat umum, hal itu menunjukkan bahwa cairan tidak dapat digunakan untuk bersuci, karena beliau tidak akan memerintahkan untuk membuang harta kecuali dalam perkara yang diharamkan, padahal beliau telah melarang menyia-nyiakannya. Selain itu, kesucian air lebih kuat karena air dikhususkan untuk mengangkat hadats, sehingga kekuatan kesuciannya lebih besar dalam menghilangkan najis darinya, sedangkan kesucian cairan lain lebih lemah dalam menolak najis darinya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ نَجَاسَةُ قَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ حَرُمَ أَكْلُهُ وَأَكْلُ كُلِّ نَجِسٍ وَحَرُمَ شُرْبُهُ وَشُرْبُ كُلِّ مَا نَجُسَ

Maka apabila telah tetap kenajisan bagian yang sedikit maupun yang banyak darinya, haram memakannya dan memakan segala sesuatu yang najis, serta haram meminumnya dan meminum segala sesuatu yang telah menjadi najis.

وَقَالَ دَاوُدُ يَحْرُمُ أَكْلُ السَّمْنِ وَحْدَهُ إِذَا نَجُسَ دُونَ غَيْرِهِ تَمَسُّكًا بِظَاهِرِ النَّصِّ فِي السَّمْنِ فَجَعَلَ الْحُكْمَ مَقْصُورًا عَلَيْهِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dawud berpendapat bahwa haram memakan mentega saja jika terkena najis, tidak berlaku pada selainnya, dengan berpegang pada zahir nash tentang mentega, sehingga ia membatasi hukum hanya padanya. Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا كَانَ حُكْمُ الْفَأْرَةِ مَعَ وُرُودِ النَّصِّ فِيهَا مُتَعَدِّيًا إِلَى نَظَائِرِهَا كَانَ السَّمْنُ فِي تَقْدِيرِ حُكْمِهِ بِمَثَابَتِهَا

Salah satunya adalah bahwa ketika hukum tikus, meskipun terdapat nash yang secara khusus mengenainya, berlaku juga untuk hal-hal yang sejenis dengannya, maka hukum terhadap minyak samin dalam penetapannya diposisikan seperti hukum tikus tersebut.

وَالثَّانِي إنَّ غَيْرَ السَّمْنِ لَمَّا شَارَكَهُ فِي الْإِبَاحَةِ قَبْلَ النَّجَاسَةِ وَجَبَ أَنْ يُشَارِكَهُ فِي التَّحْرِيمِ بَعْدَ النَّجَاسَةِ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الطَّهَارَةِ وَالنَّجَاسَةِ

Kedua, karena selain lemak juga turut serta dalam kehalalan sebelum terkena najis, maka wajib pula baginya untuk turut serta dalam keharaman setelah terkena najis, karena keduanya sama-sama memiliki sifat suci dan najis.

مسألة

Masalah

قال الشافعي ولا يحل بَيْعُهُ لِأَنَّهُ نجسٌ بِالْمُجَاوَرَةِ فَجَازَ بَيْعُهُ كَالثَّوْبِ النجس

Syafi‘i berkata, “Tidak halal menjualnya karena ia najis karena bersentuhan, maka tidak boleh menjualnya seperti halnya pakaian yang najis.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ لَا يَحُلُّ بَيْعُ مَا نَجُسَ مِنَ الزَّيْتِ وَالسَّمْنِ وَالدِّبْسِ وَجَمِيعِ مَا لَمْ تَتَمَيَّزْ نَجَاسَتُهُ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan, tidak halal menjual minyak, samin, dibs, dan seluruh barang yang terkena najis namun najisnya tidak dapat dibedakan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَجُوزُ بَيْعُهُ لِأَنَّهُ نَجِسٌ بِالْمُجَاوَرَةِ فَجَازَ بَيْعُهُ كَالثَّوْبِ النَّجِسِ

Abu Hanifah berkata, “Boleh menjualnya karena ia najis karena bersentuhan, maka boleh menjualnya seperti pakaian yang najis.”

وَدَلِيلُنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمَرَ بِإِرَاقَتِهِ وَلَوْ جَازَ بِيعُهُ لَمْ يَأْمُرْ بِإِضَاعَتِهِ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمُ الشُّحُومُ فَجَمَّلُوهَا وباعوه وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ أَكْلَ شيءٍ حَرَّمَ ثَمَنَهُ

Dalil kami adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membuangnya, dan seandainya boleh dijual, tentu beliau tidak akan memerintahkan untuk menyia-nyiakannya. Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi, lemak diharamkan atas mereka, lalu mereka mencairkannya dan menjualnya.” Dan sesungguhnya Allah Ta‘ala, apabila mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan harganya.

وَقَوْلُهُ جَمَّلُوهَا يَعْنِي أَذَابُوهَا

Dan ucapannya “jammalūhā” maksudnya adalah mereka melelehkannya.

وَلِأَنَّهُ مَائِعٌ وَرَدَ الشَّرْعُ بِإِرَاقَتِهِ فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ كَالْخَمْرِ

Karena ia adalah cairan yang syariat memerintahkan untuk ditumpahkan, maka tidak boleh diperjualbelikan, seperti halnya khamr.

وَلِأَنَّهُ مَائِعٌ نَجِسٌ فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ كَوُلُوغِ الْكَلْبِ وَكَاللَّبَنِ وَالْخَلِّ

Karena ia adalah cairan najis, maka tidak boleh diperjualbelikan, seperti jilatan anjing, susu, dan cuka.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى بَيْعِ الثَّوْبِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap qiyās yang menyamakannya dengan jual beli kain adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ عَيْنَ الثَّوْبِ طَاهِرٌ وَنَجَاسَتَهُ مُجَاوِرَةٌ فَتَمَيَّزَ عَنْهَا وَعَيْنُ الزَّيْتِ قَدْ نَجُسَ لِامْتِزَاجِ النَّجَاسَةِ بِهِ

Salah satunya adalah bahwa zat kain itu suci dan kenajisannya hanya bersifat menempel sehingga dapat dibedakan darinya, sedangkan zat minyak telah menjadi najis karena najis telah bercampur dengannya.

وَإِنَّهَا لَا تَتَمَيَّزُ عَنْهُ كَمَا لَمْ تَتَمَيَّزْ عَنِ الْخَلِّ وَاللَّبَنِ

Dan sesungguhnya ia tidak dapat dibedakan darinya, sebagaimana ia juga tidak dapat dibedakan dari cuka dan susu.

وَالثَّانِي أَنَّ أَكْثَرَ منافع الناس الزيت قَدْ ذَهَبَتْ نَجَاسَتِهِ لِأَنَّ مَقْصُودَهُ الْأَكْلُ وَأَكْثَرَ مَنَافِعِ الثَّوْبِ بَاقِيَةٌ بَعْدَ نَجَاسَتِهِ لِبَقَاءِ أَكْثَرِ مَنَافِعِهِ وَلَمْ يَجُزْ بَيْعُ الزَّيْتِ النَّجِسِ لذهاب أكثر منافعه أو لا تَرَى أَنَّ الْمَيْتَةَ وَإِنْ جَازَ الِانْتِفَاعُ بِهَا لِلْمُضْطَرِّ لَا يَجُوزُ بَيْعُهَا لِذَهَابِ أَكْثَرِ مَنَافِعِهَا وَلَوْ أُذِيبَ شَحْمُهَا جَازَ الِانْتِفَاعُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ

Yang kedua, bahwa kebanyakan manfaat minyak telah hilang karena najis, sebab tujuan utamanya adalah untuk dikonsumsi, sedangkan kebanyakan manfaat pakaian tetap ada setelah terkena najis karena sebagian besar manfaatnya masih tersisa. Tidak diperbolehkan menjual minyak yang najis karena sebagian besar manfaatnya telah hilang. Bukankah engkau melihat bahwa bangkai, meskipun boleh dimanfaatkan oleh orang yang dalam keadaan darurat, tidak boleh dijual karena sebagian besar manfaatnya telah hilang? Dan jika lemaknya dilelehkan, boleh dimanfaatkan, meskipun tidak boleh dijual.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا لَمْ يَخْلُ حَالُ مَا حُكِمَ بِنَجَاسَتِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, tidak lepas keadaan sesuatu yang dihukumi najis dari tiga macam bagian.

أَحَدُهَا مَا كَانَ نَجِسَ الْعَيْنِ مِنَ الْأَصْلِ خِلْقَةً وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مِنَ الطَّهَارَةِ أَصْلٌ كَالْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ بِحَالٍ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ سَوَاءٌ كَانَ مُنْتَفَعًا بِهِ كَالْكَلْبِ أَوْ غَيْرَ مُنْتَفَعٍ بِهِ كَالْخِنْزِيرِ

Salah satunya adalah sesuatu yang najis ‘ain sejak asal penciptaannya dan tidak memiliki asal-usul kesucian, seperti anjing dan babi. Maka tidak boleh menjualnya dalam keadaan apa pun karena kenajisan ‘ain-nya, baik sesuatu itu bermanfaat seperti anjing maupun tidak bermanfaat seperti babi.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا طَرَأَتْ نَجَاسَتُهُ بَعْدَ تَقَدُّمِ طَهَارَتِهِ مِنْ غَيْرِ نَجَاسَةٍ جَاوَرَتْهُ كَنَجَاسَةِ الْخَمْرِ بِحُدُوثِ الشِّدَّةِ وَنَجَاسَةِ الْمَيْتَةِ بِحُدُوثِ الْمَوْتِ

Bagian kedua adalah sesuatu yang terkena najis setelah sebelumnya suci, bukan karena najis lain yang menempel padanya, seperti najis khamr karena terjadinya proses fermentasi, dan najis bangkai karena terjadinya kematian.

وَالشِّدَّةُ والموت لا يوصف بِنَجَاسَةٍ وَلَا طَهَارَةٍ وَإِنْ نَجُسَ بِهِمَا الْأَعْيَانُ الطَّاهِرَةُ

Kesulitan dan kematian tidak dapat disifati dengan najis maupun suci, meskipun keduanya dapat menyebabkan benda-benda yang suci menjadi najis.

وَهَذِهِ النَّجَاسَةُ مَانِعَةٌ مِنْ جَوَازِ الْبَيْعِ سَوَاءٌ أَمْكَنَ إِزَالَتُهَا بِدِبَاغِ الْجِلْدِ أَوْ لَمْ يُمْكِنْ إِزَالَتُهَا كَاللَّحْمِ لِنَجَاسَةِ جَمِيعِ الْأَجْزَاءِ الَّتِي لَا يَتَخَلَّلُهَا جُزْءٌ طَاهِرٌ

Najis ini menjadi penghalang atas kebolehan jual beli, baik najis tersebut dapat dihilangkan dengan menyamak kulit maupun tidak dapat dihilangkan seperti pada daging, karena seluruh bagian tersebut najis dan tidak ada bagian yang suci di dalamnya.

وَأَجَازَ أَبُو حَنِيفَةَ بَيْعَ مَا يُمْكِنُ إِزَالَةُ نَجَاسَتِهِ كَالْجِلْدِ لِإِمْكَانِ طَهَارَتِهِ بِالدِّبَاغَةِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah membolehkan jual beli barang yang najisnya dapat dihilangkan, seperti kulit, karena memungkinkan untuk disucikan dengan cara disamak. Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أن نجاسة الخمر يمكن إزالتها عنده بِالتَّخْلِيلِ وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهَا كَذَلِكَ الْجِلْدُ

Salah satunya adalah bahwa najisnya khamar dapat dihilangkan menurutnya dengan cara mengubahnya menjadi cuka, dan tidak boleh menjualnya, demikian pula kulit.

وَالثَّانِي أَنَّهُ قَبْلَ زَوَالِ نَجَاسَتِهِ مساوٍ لِمَا تُمْكِنُ إِزَالَةُ نَجَاسَتِهِ لَا لِنَجَاسَةِ جَمِيعِ أَجْزَائِهِ فَلَمْ يُجِزْ أَنْ يَجْرِيَ عَلَى حُكْمِ الطَّهَارَةِ مَعَ عَدَمِهَا فِيهِ

Yang kedua, bahwa sebelum hilangnya najis darinya, hukumnya sama dengan sesuatu yang memungkinkan dihilangkan najisnya, bukan karena najisnya mengenai seluruh bagiannya. Maka tidak diperbolehkan untuk diberlakukan hukum thahārah padanya selama thahārah belum ada pada dirinya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا نَجُسَ بِمُجَاوَرَةِ النَّجَاسَةِ لَهُ مَعَ طَهَارَةِ عَيْنِهِ فَهَذَا يَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Bagian ketiga adalah sesuatu yang menjadi najis karena bersentuhan dengan najis, meskipun zat aslinya suci. Bagian ini terbagi menjadi tiga kelompok.

أَحَدُهَا أَنْ تَتَمَيَّزَ نَجَاسَتُهُ وَيُمْكِنَ إِزَالَتُهَا كَالثَّوْبِ النَّجِسِ فَيَجُوزُ بَيْعُهُ قَبْلَ إِزَالَةِ نَجَاسَتِهِ لِعِلَّتَيْنِ إِحْدَاهُمَا إِمْكَانُ إِزَالَتِهَا والثَّانِيةُ بَقَاءُ أَكْثَرِ مَنَافِعِهِ مَعَهَا

Salah satunya adalah najisnya dapat dibedakan dan bisa dihilangkan, seperti pakaian yang terkena najis. Maka boleh menjualnya sebelum najisnya dihilangkan karena dua alasan: pertama, najis tersebut bisa dihilangkan; kedua, sebagian besar manfaat barang itu tetap ada meskipun najis masih menempel.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ لَا تَتَمَيَّزَ نَجَاسَتُهُ لِامْتِزَاجِهِ بِهَا وَلَا يُمْكِنُ إِزَالَتُهَا كَالدِّبْسِ وَاللَّبَنِ إِذَا نَجُسَ وَكَذَلِكَ الْمَاءُ النَّجِسُ فَلَا يَجُوزُ بَيْعُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى طَهَارَتِهِ فَإِنْ قِيلَ فَالْمَاءُ النَّجِسُ يَطْهُرُ بالمكاثرة

Bagian kedua adalah najis yang tidak dapat dibedakan karena telah bercampur dengannya dan tidak mungkin dihilangkan, seperti kurma cair (dibs) dan susu jika terkena najis, demikian pula air najis. Maka tidak boleh menjualnya karena tidak ada jalan untuk mensucikannya. Jika ada yang berkata, “Air najis dapat disucikan dengan mencampurnya dalam jumlah banyak…”

قِيلَ الْمُكَاثَرَةُ لَا تُزِيلُ النَّجَاسَةَ لِبَقَائِهَا فِيهِ وَإِنَّمَا يَغْلُبُ حُكْمُ الْمُكَاثَرَةِ فَيُحْكَمُ لَهُ بِالطَّهَارَةِ

Dikatakan bahwa pencampuran air yang banyak tidak menghilangkan najis karena najis masih tetap ada di dalamnya, namun yang berlaku adalah hukum pencampuran air yang banyak, sehingga air tersebut dihukumi suci.

أو لا تَرَى أَنَّ الْبَوْلَ لَوْ وَقَعَ فِي الْمَاءِ الْكَثِيرِ فَلَمْ يُغَيِّرْهُ كَانَ طَاهِرًا وَجَازَ بَيْعُهُ وَلَا يَدُلُّ ذَلِكَ عَلَى طَهَارَةِ الْبَوْلِ كَذَلِكَ الْمَاءُ النَّجِسُ

Ataukah kamu tidak melihat bahwa jika air kencing jatuh ke dalam air yang banyak lalu tidak mengubahnya, maka air itu tetap suci dan boleh diperjualbelikan, namun hal itu tidak menunjukkan bahwa air kencing itu suci; demikian pula halnya dengan air najis.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَمْ يَتَمَيَّزْ نَجَاسَتُهُ لِامْتِزَاجِهِ وَاخْتُلِفَ فِي إِمْكَانِ إِزَالَتِهَا مِنْهُ وَهُوَ الزَّيْتُ النَّجِسُ وَمَا جَرَى مَجْرَاهُ مِنَ الْأَدْهَانِ دُونَ السَّمْنِ فَفِي إِمْكَانِ غَسْلِهِ وَطَهَارَتِهِ وَجْهَانِ

Bagian ketiga adalah sesuatu yang najisnya tidak dapat dibedakan karena bercampur, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai kemungkinan menghilangkan najis darinya, yaitu minyak yang terkena najis dan yang sejenis dengannya dari jenis lemak, kecuali samin. Maka, dalam hal kemungkinan mencucinya dan mensucikannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يُمْكِنُ غَسْلُهُ وَيَطْهُرُ بِأَنْ يُرَاقَ عَلَيْهِ الْمَاءُ فِي إِنَاءٍ وَيُمْخَضُ فِيهِ مَخْضًا يَصِيرُ بِهِ مَغْسُولًا كَالثَّوْبِ لِأَنَّ الدُّهْنَ يَتَمَيَّزُ عَنِ الْمَاءِ وَيَعْلُو عَلَيْهِ كَمَا يَتَمَيَّزُ الثَّوْبُ ثُمَّ يُؤْخَذُ فَيَكُونُ طَاهِرًا

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan Ibn Abi Hurairah, menyatakan bahwa minyak itu dapat dicuci dan menjadi suci dengan cara menuangkan air ke atasnya di dalam wadah, lalu dikocok di dalamnya hingga menjadi seperti benda yang telah dicuci, sebagaimana mencuci pakaian. Hal ini karena minyak dapat terpisah dari air dan mengapung di atasnya, sebagaimana kain yang terpisah, kemudian diambil sehingga menjadi suci.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلِ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ إِنْ غَسَلَهُ لَا يَصِحُّ بِخِلَافِ الثَّوْبِ لِأَنَّهُ مَائِعٌ كَالْمَاءِ فَلَمْ يَكُنْ جَذْبُ الْمَاءِ لِلنَّجَاسَةِ بِأَوْلَى مِنْ جَذْبِ الزَّيْتِ لَهَا فَكَانَ بَاقِيًا عَلَى نَجَاسَتِهِ وَالْمَاءُ فِي الثَّوْبِ يَجْذِبُ نَجَاسَتَهُ إِلَيْهِ فَافْتَرَقَا

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i dan juga pendapat mayoritas pengikutnya, adalah jika minyak itu dicuci maka tidak menjadi suci, berbeda dengan pakaian. Sebab, minyak itu cair seperti air, sehingga air tidak lebih utama dalam menarik najis dibandingkan minyak dalam menarik najis tersebut, sehingga minyak tetap dalam keadaan najis. Adapun air pada pakaian dapat menarik najis yang ada padanya, maka keduanya berbeda.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّ غَسْلَهُ لَا يَصِحُّ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ وَهُوَ الصَّحِيحُ

Jika dikatakan bahwa mencucinya tidak sah, maka tidak boleh menjualnya, dan inilah pendapat yang benar.

وَإِنْ قِيلَ إِنْ غَسْلَهُ يَصِحُّ فَفِي جَوَازِ بَيْعِهِ وَجْهَانِ مِنْ عِلَّتَيْ بَيْعِ الثوب النجس إحداهما يَجُوزُ بَيْعُهُ تَعْلِيلًا بِإِمْكَانِ تَطْهِيرِهِ بِالْغَسْلِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ تَعْلِيلًا بِذَهَابِ أَكْثَرِ منافعه بنجاسته

Dan jika dikatakan bahwa mencucinya sah, maka dalam kebolehan menjualnya terdapat dua pendapat yang didasarkan pada dua alasan dalam penjualan kain najis. Pertama, boleh menjualnya dengan alasan karena memungkinkan untuk disucikan dengan mencuci. Pendapat kedua, tidak boleh menjualnya dengan alasan karena sebagian besar manfaatnya hilang akibat kenajisannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَيُسْتَصْبَحُ بِهِ فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ يُنْتَفَعُ بِهِ وَلَا يَبِيعُهُ؟ قِيلَ قَدْ يَنْتَفِعُ الْمُضْطَرُّ بِالْمَيْتَةِ وَلَا يَبِيعُهَا وَيَنْتَفِعُ بِالطَّعَامِ فِي دَارِ الْحَرْبِ ولا يبيعه في تلك الحال قال وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عن ثمن الكلب وأباح الانتفاع به في بعض الأحوال فغير مستنكرٍ أن ينتفع الرجل بالزيت ولا يبيعه في هذه الْحَالِ

Imam Syafi‘i berkata, “Minyak itu boleh digunakan untuk penerangan. Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana mungkin boleh dimanfaatkan tetapi tidak boleh dijual?’ Maka dijawab, orang yang dalam keadaan darurat boleh memanfaatkan bangkai, namun tidak boleh menjualnya; dan boleh memanfaatkan makanan di wilayah perang, tetapi tidak boleh menjualnya dalam keadaan tersebut.” Beliau juga berkata, “Nabi ﷺ telah melarang harga anjing, namun membolehkan pemanfaatannya dalam beberapa keadaan. Maka tidaklah mengherankan jika seseorang boleh memanfaatkan minyak itu tetapi tidak boleh menjualnya dalam keadaan ini.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَالِانْتِفَاعُ بِمَا نَجُسَ مِنَ السَّمْنِ وَالزَّيْتِ فِي الِاسْتِصْبَاحِ جَائِزٌ عَلَى مَا سَنَصِفُهُ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan memanfaatkan lemak serta minyak yang telah najis untuk penerangan diperbolehkan sebagaimana akan kami jelaskan.”

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ الِانْتِفَاعُ بِهِ حَرَامٌ فِي اسْتِصْبَاحٍ وَغَيْرِهِ احْتِجَاجًا بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمَرَ بِإِرَاقَتِهِ

Ibnu Jarir ath-Thabari dan sekelompok ulama ahli hadis berpendapat bahwa memanfaatkan benda tersebut hukumnya haram, baik untuk penyamakan maupun selainnya, dengan alasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membuangnya.

وَالدَّلِيلُ عَلَى مَا ذَهَبْنَا إِلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ رِوَايَةُ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سئل عن الفأرة تعق فِي السَّمْنِ وَالْوَدَكِ فَقَالَ إِنْ كَانَ جَامِدًا فاطرحوها وما حولها وإن كان مائعاً فانتفوا بِهِ وَلَا تَأْكُلُوهُ

Dan dalil atas pendapat yang kami pilih, yang juga merupakan pendapat jumhur, adalah riwayat az-Zuhri dari Salim dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang tikus yang jatuh ke dalam minyak samin dan lemak. Beliau bersabda: “Jika (minyak atau lemak itu) dalam keadaan padat, maka buanglah tikus itu dan bagian di sekitarnya. Namun jika cair, maka buanglah semuanya dan jangan kalian memakannya.”

وَرَوَى أَبُو هَارُونَ الْعَبْدِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سُئِلَ عَنِ الْفَأْرَةِ تَقَعُ فِي السَّمْنِ وَالزَّيْتِ فَقَالَ اسْتَصْبِحُوا بِهِ وَلَا تَأْكُلُوهُ

Abu Harun al-‘Abdi meriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang tikus yang jatuh ke dalam mentega dan minyak, maka beliau bersabda: “Gunakanlah untuk penerangan dan jangan kalian memakannya.”

وَهَذَانِ الْحَدِيثَانِ نَصٌّ فِي إِبَاحَةِ الِانْتِفَاعِ وَالِاسْتِصْبَاحِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا أَمَرَ بِإِرَاقَتِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كَانَ الِاسْتِصْبَاحُ بِهِ أَوْلَى لِأَنَّهُ اسْتِهْلَاكٌ لِعَيْنِهِ مَعَ الِانْتِفَاعِ بِهِ

Kedua hadis ini merupakan nash yang membolehkan pemanfaatan dan penggunaan sebagai penerangan. Karena ketika Nabi memerintahkan untuk membuangnya sementara zatnya masih ada, maka menggunakan sebagai penerangan lebih utama, karena hal itu berarti menghabiskan zatnya sekaligus memanfaatkannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ الِانْتِفَاعِ بِهِ فالمانع تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ قِسْمٌ وَرَدَ النَّصُّ بِإِبَاحَتِهِ وَقِسْمٌ وَرَدَ النَّصُّ بِالنَّهْيِ عَنْهُ وَقِسْمٌ مُرْسَلٌ لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ

Maka apabila telah tetap kebolehan memanfaatkannya, maka penghalang terbagi menjadi tiga bagian: bagian yang terdapat nash yang membolehkannya, bagian yang terdapat nash yang melarangnya, dan bagian yang mursal, yaitu yang tidak terdapat nash tentangnya.

فَأَمَّا الْقَسَمُ الْأَوَّلُ الَّذِي وَرَدَ النَّصُّ بِإِبَاحَتِهِ فَهُوَ الِاسْتِصْبَاحُ بِهِ فَكَذَلِكَ مَا فِي مَعْنَاهُ مِنْ إِسْجَارِ التَّنَانِيرِ بالبعر والسرجين وجميع الأنجاس وإبقاءه تَحْتَ الْقُدُورِ وَمِنَ الِاصْطِلَاءِ بِنَارِهِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي نَجَاسَةِ دُخَّانِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun kelompok pertama yang terdapat nash yang membolehkannya adalah pemanfaatan dengannya, demikian pula hal-hal yang sejenis dengannya seperti menyalakan tungku dengan kotoran hewan dan pupuk kandang serta semua najis, dan membiarkannya di bawah periuk, serta memanfaatkan panas apinya. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai kenajisan asapnya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ نَجِسٌ لِأَنَّهُ تَوَلَّدَ عَنْ نَجَاسَةٍ وَالْأَعْيَانُ النَّجِسَةُ لَا تَطْهُرُ بِالِاسْتِحَالَةِ كَالرَّمَادِ

Salah satunya adalah bahwa ia najis karena berasal dari najis, dan benda-benda najis tidak menjadi suci dengan perubahan bentuk (istihālah), seperti abu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ طَاهِرٌ لِأَنَّهُ تَوَلَّدَ مِنَ الْتِقَاءِ جِسْمَيْنِ فَلَمْ يَنْجُسْ بِنَجَاسَةِ أَحَدِ الْجِسْمَيْنِ كَالرِّيحِ الْخَارِجَةِ مِنَ الجوف

Pendapat kedua adalah bahwa ia suci karena ia terbentuk dari pertemuan dua benda, sehingga tidak menjadi najis karena kenajisan salah satu dari kedua benda tersebut, seperti angin yang keluar dari perut.

فإن قيل بطهارته بِنَجَاسَتِهِ فَفِي الْعَفْوِ عَنْهُ وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa ia suci meskipun najisnya, maka dalam hal pemaafan terhadapnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْفَى عَنْهُ لِلُحُوقِ الْمَشَقَّةِ فِي التَّحَرُّزِ مِنْهُ كَدَمِ الْبَرَاغِيثِ فَعَلَى هَذَا إِنْ سَجَّرَ بِهِ تَنُّورًا لم يلزمه مسحه منه وجاز الخبر فِيهِ

Salah satunya dimaafkan karena adanya kesulitan dalam menghindarinya, seperti darah kutu. Maka, berdasarkan hal ini, jika seseorang menyalakan tungku dengan darah tersebut, ia tidak wajib mengusapnya dan boleh digunakan untuk memasak di dalamnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يُعْفَى عَنْهُ لِأَنَّ الْبُعْدَ مِنْهُ عِنْدَ اسْتِعْمَالِهِ لَهُ مُمْكِنٌ فَأَمْكَنَ التَّحَرُّزُ مِنْهُ وَلَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ مِنْ دَمِ الْبَرَاغِيثِ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu tidak dimaafkan, karena menjauhinya ketika menggunakannya memungkinkan, sehingga memungkinkan untuk menghindarinya, sedangkan tidak mungkin menghindari darah kutu.

فَعَلَى هَذَا إِنْ تَدَخَّنَ بِهِ ثوب وجب غسله ولذا سُجِّرَ بِهِ تَنُّورٌ وَجَبَ مَسْحُهُ مِنْهُ قَبْلَ الخبز فيه فإن خبر فِيهِ قَبْلَ مَسْحِهِ نَجُسَ ظَهْرُ الرَّغِيفِ وَكَانَ وَجْهُهُ طَاهِرًا وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْكُلَ الرَّغِيفَ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَغْسِلَ ظَاهِرَهُ

Maka berdasarkan hal ini, jika asapnya mengenai pakaian, wajib mencucinya. Demikian pula, jika tungku dipanaskan dengan benda tersebut, wajib membersihkannya terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memanggang roti. Jika roti dipanggang di dalamnya sebelum dibersihkan, maka bagian atas roti menjadi najis, sedangkan bagian bawahnya tetap suci. Tidak boleh memakan roti tersebut kecuali setelah mencuci bagian atasnya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي الَّذِي وَرَدَ النَّصُّ بِالنَّهْيِ عَنْهُ وَهُوَ أَنْ تُطْلَى بِهِ السُّفُنُ وَالْمَرَاكِبُ

Adapun bagian kedua yang terdapat nash larangan terhadapnya, yaitu melumuri kapal dan perahu dengannya.

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى أَنْ تُطْلَى السُّفُنُ بِشُحُومِ الْمَيْتَةِ وَحُكْمُ شُحُومِ الْمَيْتَةِ وَالزَّيْتِ النَّجِسِ سَوَاءٌ فِي جَوَازِ الِاسْتِصْبَاحِ بِهِمَا فَكَانَ سَوَاءً فِي الْمَنْعِ مِنْ إِطْلَاءِ السُّفُنِ بِهِمَا

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang melumuri kapal dengan lemak bangkai, dan hukum lemak bangkai serta minyak najis adalah sama dalam hal kebolehan memanfaatkannya, maka keduanya juga sama dalam larangan melumuri kapal dengan keduanya.

وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَى النَّهْيِ عَنْ طِلَاءِ السُّفُنِ وَجَوَازِ الِاسْتِصْبَاحِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Terdapat perbedaan pendapat mengenai makna larangan mengecat kapal dan kebolehan memanfaatkan (kapal tersebut) pada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ فِي الاستصباح بد اسْتِهْلَاكًا لَهُ فَجَازَ وَفِي طِلَاءِ السُّفُنِ بِهِ اسْتِبْقَاءٌ لَهُ فَلَمْ يَجُزْ

Salah satunya adalah bahwa dalam penggunaan minyak untuk penerangan terdapat unsur pemakaian hingga habis sehingga diperbolehkan, sedangkan dalam melapisi kapal dengannya terdapat unsur mempertahankan minyak tersebut sehingga tidak diperbolehkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الْمِصْبَاحَ لَا يَمَسُّهُ فِي الْغَالِبِ إِلَّا مَنْ يَعْلَمُ بِالنَّجَاسَةِ فَيَتَوَقَّاهَا وَالسَّفِينَةُ يَمَسُّهَا فِي الْغَالِبِ مَنْ لَا يَعْلَمُ بِالنَّجَاسَةِ فَلَا يَتَوَقَّاهَا

Pendapat kedua adalah bahwa lampu biasanya tidak disentuh kecuali oleh orang yang mengetahui adanya najis sehingga ia akan menghindarinya, sedangkan perahu biasanya disentuh oleh orang yang tidak mengetahui adanya najis sehingga ia tidak menghindarinya.

فَعَلَى هَذَا إِنْ جُعِلَ طِلَاءً لِلْبَهَائِمِ فَإِنْ كَانَتْ مُسْتَعْمِلَةً لَمْ يَجُزْ كَالسَّفِينَةِ لِوُجُودِ الْعِلَّتَيْنِ مِنْ بَقَاءِ الْعَيْنِ وَمَسِيسِ حَقٍّ لَا يُعْلَمُ

Dengan demikian, jika benda tersebut dijadikan pelapis untuk hewan ternak, maka jika hewan itu digunakan (dimanfaatkan), tidak diperbolehkan, seperti halnya kapal, karena terdapat dua alasan: masih adanya zat (najis) dan adanya hak milik yang tidak diketahui.

وَإِنْ كَانَتْ سَائِمَةً غَيْرَ مُسْتَعْمَلَةٍ فَعَلَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا يَجُوزُ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ لَا يَكَادُ يَمَسُّهَا مَنْ لَا يَعْلَمُ بِهَا وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ تَعْلِيلًا بِبَقَاءِ عَيْنِهَا

Jika hewan tersebut adalah hewan ternak yang dibiarkan merumput dan tidak digunakan, maka ada dua pendapat: salah satunya membolehkan, dengan alasan bahwa hampir tidak ada orang yang menyentuhnya kecuali yang mengetahui keadaannya; dan yang kedua tidak membolehkan, dengan alasan karena zatnya masih tetap ada.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ الْمُرْسَلُ عَنْ أَمْرٍ بِهِ أَوْ نَهْىٍ عَنْهُ فَيُنْظَرُ فِي اسْتِعْمَالِهِ فَإِنْ وُجِدَ فِيهِ مَعْنَى الْأَمْرِ أُبِيحَ وَإِنْ وُجِدَ فِيهِ مَعْنَى النَّهْيِ حُظِرَ

Adapun bagian ketiga, yaitu yang mursal berkaitan dengan suatu perintah atau larangan, maka dilihat penggunaannya: jika terdapat padanya makna perintah, maka dibolehkan; dan jika terdapat padanya makna larangan, maka diharamkan.

فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ أَنْ يُطْعَمَ الْبَازِي وَالْفَهْدُ لَحْمَ الْمَيْتَةِ لِوُجُودِ مَعْنَى الْإِبَاحَةِ فِيهِ بِالِاسْتِهْلَاكِ فَإِنَّهُ لَا يُبَاشِرُهَا مَنْ لَا يَعْلَمُ بِهَا وَيَجُوزُ أَنْ يَسْقِيَهُمَا الْمَاءَ النَّجِسَ وَالْأَبْوَالَ

Dengan demikian, diperbolehkan memberi makan burung elang dan macan tutul dengan daging bangkai karena terdapat makna kebolehan di dalamnya melalui proses konsumsi, sebab tidak ada yang secara langsung bersentuhan dengannya kecuali yang memang mengetahui hal itu. Juga diperbolehkan memberi mereka minum air najis dan air kencing.

فَأَمَّا طَرْحُ الْأَنْجَاسِ مِنَ الْبَعْرِ وَالسِّرْجِينِ عَلَى الزُّرُوعِ وَالْأَشْجَارِ فَإِنْ لَمْ يُمَاسَّ الثَّمَرَةَ الْمَأْكُولَةَ وَكَانَ مُسْتَعْمَلًا فِي أُصُولِ الشَّجَرِ وَفِي قُضْبَانِ الزَّرْعِ جَازَ لِاشْتِهَارِ حَالِهَا وَأَنَّهُ لَا يُبَاشِرُهَا إِلَّا عَالَمٌ بِهَا وَإِنْ كَانَ مُسْتَعْمَلًا مِنْ ثِمَارِهَا فَإِنْ كَانَتْ يَابِسَةً جَازَ لِأَنَّ الْيَابِسَ لَا نجس يَابِسًا وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا رَطْبًا أَوْ نَدِيًّا بنجس بِالْمُلَاقَاةِ فَإِبَاحَةُ اسْتِعْمَالِهِ مَقْرُونًا بِأَحَدِ شَرْطَيْنِ إِمَّا بِغَسْلِهِ قَبْلَ بَيْعِهِ أَوْ بِإِعْلَامِ مُشْتَرِيهِ بِنَجَاسَتِهِ وَهَكَذَا إِذَا عُجِنَ طِينُ الْكِيزَانِ وَالْخَزَفُ بِالسَّرْجِينِ لَزِمَهُ عِنْدَ بَيْعِهِ أَنْ يَغْسِلَهُ أَوْ يُخْبِرَ بِنَجَاسَتِهِ ليَغْسِلُهُ الْمُشْتَرِي قَبْلَ اسْتِعْمَالِهِ فَإِنْ صَارَ هَذَا عُرْفًا مَشْهُورًا بَيْنَ جَمِيعِ النَّاسِ سَقَطَ الْأَمْرَانِ عِنْدَ بَيْعِهِ مِنَ الْغَسْلِ وَالْإِعْلَامِ وَلَمْ يَكُنْ لِلْمُشْتَرِي أَنْ يَسْتَعْمِلَهُ إِلَّا بَعْدَ غَسْلِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالْعُرْفِ مَعْلُومَ النَّجَاسَةِ

Adapun membuang najis seperti kotoran hewan dan pupuk kandang ke tanaman dan pohon, jika tidak bersentuhan dengan buah yang dapat dimakan dan hanya digunakan pada akar pohon atau batang tanaman, maka hal itu diperbolehkan karena keadaannya sudah dikenal dan tidak ada yang menggunakannya kecuali orang yang mengetahui hal tersebut. Namun, jika digunakan pada buahnya, maka jika buah tersebut kering, diperbolehkan karena benda kering tidak menajiskan benda kering lainnya. Tetapi jika salah satunya basah atau lembap, maka menjadi najis karena bersentuhan. Maka kebolehan menggunakannya tergantung pada salah satu dari dua syarat: yaitu dengan mencucinya sebelum dijual, atau memberitahu pembelinya tentang kenajisannya. Demikian pula jika tanah liat untuk membuat kendi dan tembikar diaduk dengan pupuk kandang, maka ketika dijual wajib mencucinya atau memberitahu tentang kenajisannya agar pembeli dapat mencucinya sebelum digunakan. Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan yang dikenal luas di tengah masyarakat, maka kedua kewajiban tersebut—mencuci dan memberitahu—tidak lagi berlaku saat penjualan, dan pembeli tidak boleh menggunakannya kecuali setelah mencucinya, karena menurut kebiasaan sudah diketahui bahwa benda tersebut najis.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَا يَحِلُّ مِنَ الْمَيْتَةِ إِلَّا إِهَابُهَا بِالدِّبَاغِ وَيُبَاعُ

Imam Syafi‘i berkata, “Tidak halal dari bangkai kecuali kulitnya yang telah disamak, dan kulit itu boleh diperjualbelikan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا مَاتَ الْحَيَوَانُ صَارَ جَمِيعُهُ بِالْمَوْتِ نَجِسًا

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila hewan mati maka seluruh bagiannya menjadi najis karena kematiannya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَنْجُسُ لَحْمُهُ وَجِلْدُهُ وَلَا يَنْجُسُ شَعْرُهُ وَلَا عَظْمُهُ

Abu Hanifah berkata: Daging dan kulitnya menjadi najis, tetapi rambut dan tulangnya tidak menjadi najis.

وَقَالَ مَالِكٌ يَنْجُسُ عَظْمُهُ وَلَا يَنْجُسُ شَعْرُهُ وَقَدْ حُكِيَ هَذَا عَنِ الشَّافِعِيِّ

Malik berkata: Tulangnya menjadi najis, tetapi rambutnya tidak menjadi najis. Pendapat ini juga telah dinukil dari asy-Syafi‘i.

فَخَرَّجَهُ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلًا ثَانِيًا وَامْتَنَعَ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ مِنْ تَخْرِيجِهِ وَجَعَلُوهُ حِكَايَةً عَنْ مَذْهَبِ غَيْرِهِ وَحُكِيَ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى أَنَّ اسْتِعْمَالَ جِلْدِ الْمَيْتَةِ قَبْلَ الدِّبَاغِ جَائِزٌ

Ibnu Abi Hurairah mengeluarkan pendapat ini sebagai pendapat kedua, namun mayoritas para sahabatnya menolak untuk mengeluarkannya dan menganggapnya sebagai riwayat dari mazhab selainnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa penggunaan kulit bangkai sebelum disamak adalah boleh.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ جَعَلَ ذَلِكَ مِنْهُ حُكْمًا بطهارته كما قال غَيْرُهُ فِي الْعَظْمِ وَالشَّعْرِ وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ إِبَاحَةً لِاسْتِعْمَالِهِ مَعَ الْحُكْمِ بِنَجَاسَتِهِ وَفِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ مَا يَقْتَضِي تَحْرِيمَ جَمِيعِهَا عَلَى الْعُمُومِ فَكَانَ دَلِيلًا عَلَى جَمِيعِهِمْ فِي نَجَاسَةِ الْجَمِيعِ فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا لَمْ يَطْهُرْ شَيْءٌ مِنْهَا إِلَّا جِلْدَهَا بِالدِّبَاغَةِ

Di antara manusia ada yang menjadikan hal itu sebagai hukum atas kesuciannya, sebagaimana yang dikatakan oleh selainnya tentang tulang dan rambut. Ada pula yang menganggapnya sebagai kebolehan untuk menggunakannya meskipun tetap menghukuminya najis. Dalam firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian bangkai,” terdapat makna yang menunjukkan keharaman seluruh bagian bangkai secara umum, sehingga menjadi dalil bagi semuanya dalam hal kenajisan seluruh bagiannya. Jika hal ini telah tetap, maka tidak ada satu pun bagiannya yang suci kecuali kulitnya dengan cara disamak.

وَقَالَ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ يَطْهُرُ عَظْمُهَا بِالطَّبْخِ إِذَا ذَهَبَ دَسَمُهُ

Al-Laits bin Sa‘d berkata, “Tulangnya menjadi suci dengan cara direbus apabila lemaknya telah hilang.”

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ يَطْهُرُ بِالْخَرْطِ وَقَالَ خَرْطُ الْعَاجِ ذَكَاتُهُ

Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Ia menjadi suci dengan cara dikikis.” Ia juga berkata, “Mengikis gading adalah penyembelihannya.”

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ يَطْهُرُ شَعْرُهَا بِالْغَسْلِ وَفِي قوله النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا دَلِيلٌ عَلَى اخْتِصَاصِ الْإِهَابِ بِطَهَارَةِ الدِّبَاغَةِ دُونَ غَيْرِهِ فَإِذَا دُبِغَ الْجِلْدُ طَهُرَ دُونَ شَعْرِهِ وَحَكَى الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْجِيزِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الشَّعْرَ تَابَعٌ لِلْجِلْدِ يَطْهُرُ بِدِبَاغِهِ وَامْتَنَعَ سَائِرُ أَصْحَابِهِ مِنْ تَحْرِيمِهِ وَجَعَلُوهُ حِكَايَةً عَنْ مَذْهَبِ غَيْرِهِ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ وَإِنَّمَا أَشَرْنَا إلى جملتها حين أعيدت

Sebagian ahli hadis berpendapat bahwa bulunya menjadi suci dengan dicuci. Dalam sabda Nabi ﷺ, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?” terdapat dalil bahwa yang dikhususkan dengan kesucian melalui penyamakan hanyalah kulit, bukan selainnya. Maka jika kulit telah disamak, ia menjadi suci, namun bulunya tidak. Al-Rabi‘ bin Sulaiman al-Jizi meriwayatkan dari al-Syafi‘i bahwa bulu mengikuti hukum kulit, sehingga menjadi suci dengan disamaknya kulit. Namun mayoritas pengikutnya menolak pengharaman bulu tersebut dan menganggap pendapat itu sebagai riwayat dari mazhab selainnya. Masalah ini telah dibahas dalam Kitab al-Thaharah, dan kami hanya mengisyaratkan ringkasannya ketika masalah ini diulang kembali.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا يَأْكُلُ الْمُضْطَرُّ مِنَ الْمَيْتَةِ إِلَّا مَا يَرُدُّ نَفْسَهُ فَيَخْرُجُ بِهِ مِنَ الِاضْطِرَارِ قَالَ في كتاب اختلاف أبي حَنِيفَةَ وَأَهْلِ الْمَدِينَةِ بِهَذَا أَقُولُ وَقَالَ فِيهِ وَمَا هُوَ بِالْبَيِّنِ مِنْ قِبَلِ أَنَّ الشَّيْءَ حلالٌ وحرامٌ فَإِذَا كَانَ حَرَامًا لَمْ يَحِلَّ منه شيءٌ وإذا كان حلالاً فقد يحتمل أن لا يحرم منه شيئاً فهو محرمٌ إلا ما أباح منه بصفة فإذا زالت الصفة زالت الإباحة قال المزني ولا خلاف أعلمه أن ليس له أن يأكل من الميتة وهو بادي الشبع لأنه ليس بمضطر فإذا كان خائفاً على نفسه فمضطرٌّ فإذا أكل منها ما يذهب الخوف فقد أمن فارتفع الاضطرار الذي هو علة الإباحة قال المزني رحمه الله وإذا ارتفعت العلة ارتفع حكمها ورجع الحكم كما قال قبل الاضطرار وهو تحريم الله عز وجل الميتة على من ليس بمضطر ولو جاز أن يرتفع الاضطرار ولا يرتفع حكمه جاز أن يحدث الأضرار ولا يحدث حكمه وهذا خلاف القرآن؟

Syafi‘i berkata, “Orang yang dalam keadaan terpaksa tidak boleh memakan bangkai kecuali sekadar yang dapat menyelamatkan jiwanya sehingga ia keluar dari keadaan darurat.” Ia berkata dalam kitab Ikhtilaf Abu Hanifah wa Ahl al-Madinah, “Inilah pendapatku.” Ia juga berkata di dalamnya, “Tidaklah jelas dari sisi bahwa sesuatu itu halal dan haram. Jika sesuatu itu haram, maka tidak ada bagian darinya yang menjadi halal, dan jika sesuatu itu halal, maka mungkin saja tidak ada bagian darinya yang menjadi haram. Maka, sesuatu itu haram kecuali bagian yang dihalalkan dengan sifat tertentu; jika sifat itu hilang, maka kehalalannya pun hilang.” Al-Muzani berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat yang aku ketahui bahwa seseorang tidak boleh memakan bangkai dalam keadaan kenyang, karena ia bukan orang yang terpaksa. Jika ia takut akan keselamatan dirinya, maka ia termasuk orang yang terpaksa. Jika ia telah memakan bagian yang menghilangkan rasa takut itu, maka ia telah merasa aman, sehingga keadaan darurat yang menjadi sebab kebolehan itu pun hilang.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Jika sebab itu hilang, maka hukumnya pun hilang, dan hukum kembali seperti sebelum keadaan darurat, yaitu larangan Allah ‘azza wa jalla terhadap bangkai bagi orang yang tidak terpaksa. Jika boleh keadaan darurat hilang namun hukumnya tidak hilang, maka boleh pula terjadi bahaya namun hukumnya tidak terjadi, dan ini bertentangan dengan Al-Qur’an.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْأَصْلُ فِي إِبَاحَةِ الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى إِنَّماَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ المَيْتَةَ فَأَخْبَرَ بِتَحْرِيمِهَا بَعْدَ قَوْلِهِ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ لِيَدُلَّ عَلَى تَخْصِيصِ التَّحْرِيمِ فِي عُمُومِ الْإِبَاحَةِ فَقَالَ إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ المَيْتَةَ وَهُوَ مَا فَاتَتْ رُوحُهُ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ مِنْ كُلِّ ذِي نَفْسٍ سَائِلَةٍ وَالدَّمُ وَهُوَ الْجَارِي مِنَ الْحَيَوَانِ بِذَبْحٍ أَوْ جَرْحٍ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ فِيهِ تَأْوِيلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Dasar kebolehan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa adalah firman Allah Ta‘ala: ‘Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atas kalian bangkai.’ Maka Allah memberitakan pengharamannya setelah firman-Nya: ‘Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian,’ untuk menunjukkan adanya pengkhususan pengharaman di tengah keumuman kebolehan. Lalu Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atas kalian bangkai,’ yaitu hewan yang nyawanya hilang tanpa disembelih secara syar‘i dari setiap makhluk bernyawa, dan darah, yaitu darah yang mengalir dari hewan karena disembelih atau terluka, serta daging babi, yang di dalamnya terdapat dua penafsiran.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ التَّحْرِيمَ مَقْصُورٌ عَلَى لَحْمِهِ دُونَ شَحْمِهِ اقْتِصَارًا عَلَى النَّصِّ وَهُوَ قَوْلُ دَاوُدَ

Salah satu pendapat adalah bahwa keharaman itu terbatas hanya pada dagingnya saja, tidak pada lemaknya, dengan berpegang pada teks (nash), dan ini adalah pendapat Dawud.

وَالثَّانِي أَنَّ التَّحْرِيمَ عَامٌّ فِي جَمِيعِهِ وَخُصَّ النَّصُّ بِاللَّحْمِ تَنْبِيهًا عَلَيْهِ لِأَنَّهُ مُعْظَمُ مَقْصُودِهِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ يُرِيدُ بِالْإِحْلَالِ الذَّبْحَ لِأَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَرَادُوا ذَبْحَ مَا قَرَّبُوهُ لِآلِهَتِهِمْ جَهَرُوا بِأَسْمَاءِ آلِهَتِهِمْ عِنْدَ الذبح

Kedua, bahwa keharaman itu bersifat umum pada seluruh bagiannya, dan nash dikhususkan pada daging sebagai penegasan terhadapnya karena itulah tujuan utamanya. Adapun “apa yang disembelih bukan atas nama Allah”, yang dimaksud dengan penyembelihan di sini adalah proses menyembelih, karena mereka dahulu apabila hendak menyembelih hewan yang mereka persembahkan untuk berhala-berhala mereka, mereka mengucapkan nama-nama berhala mereka dengan suara keras saat penyembelihan.

ومن قوله لِغَيْرِ اللهِ تَأْوِيلَانِ

Dan ucapannya “untuk selain Allah” memiliki dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا مَا ذُبِحَ لِغَيْرِ اللَّهِ مِنَ الْأَصْنَامِ قَالَهُ مُجَاهِدٌ

Salah satunya adalah hewan yang disembelih untuk selain Allah, seperti berhala-berhala; demikian dikatakan oleh Mujāhid.

وَالثَّانِي مَا ذُكِرَ عَلَيْهِ غير اسْمُ اللَّهِ مِنَ الْأَصْنَامِ قَالَ عَطَاءٌ وَهُوَ عَلَى التَّأْوِيلَيْنِ حَرَامٌ فَانْتَهَى مَا ذَكَرَهُ مِنَ التَّحْرِيمِ ثُمَّ ابْتَدَأَ بِإِبَاحَةِ ذَلِكَ لِلْمُضْطَرِّ فَقَالَ فَمَنْ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ ومن اضْطُرَّ تَأْوِيلَانِ

Yang kedua adalah apa yang disebutkan atasnya selain nama Allah dari berhala-berhala. ‘Aṭā’ berkata: Menurut kedua penafsiran, hal itu hukumnya haram. Maka berakhirlah apa yang disebutkan tentang keharamannya, kemudian dilanjutkan dengan membolehkan hal itu bagi orang yang dalam keadaan darurat, lalu dikatakan: “Maka barang siapa dalam keadaan terpaksa, bukan karena ingin melanggar atau melewati batas, maka tidak ada dosa atasnya.” Dan tentang orang yang dalam keadaan darurat, terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ افْتُعِلَ مِنَ الضَّرُورَةِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu dibuat karena adanya kebutuhan mendesak (darurat).

والثاني أنه من إصابة الضر وفي غَيْرَ بِاغٍ وَلاَ عَادٍ ثَلَاثُ تَأْوِيلَاتٍ

Kedua, bahwa hal itu termasuk dalam kategori terkena mudarat, dan pada frasa “bukan orang yang melampaui batas dan bukan pula orang yang melanggar” terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا غَيْرَ بَاغٍ عَلَى الْإِمَامِ بِعِصْيَانِهِ وَلَا عَادٍ عَلَى الْأُمَّةِ بِفَسَادِهِ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ مُجَاهِدٍ

Salah satunya adalah tidak memberontak terhadap imam dengan melakukan maksiat kepadanya dan tidak berbuat aniaya terhadap umat dengan kerusakannya, dan inilah makna perkataan Mujahid.

وَالثَّانِي غَيْرَ بَاغٍ فِي أَكْلِهِ فَوْقَ حَاجَتِهِ وَلَا عَادٍ بِأَكْلِهَا وَهُوَ يَجِدُ غَيْرَهَا وَهُوَ قَوْلُ قَتَادَةَ

Dan yang kedua adalah tidak melampaui batas dalam makannya melebihi kebutuhannya, dan tidak pula melanggar dengan memakannya padahal ia masih menemukan makanan lain, dan ini adalah pendapat Qatadah.

وَالثَّالِثُ غَيْرَ بَاغٍ فِي أَكْلِهَا شَهْوَةً وَتَلَذُّذًا وَلَا عَادٍ بِاسْتِيفَاءِ الْأَكْلِ إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ وَهُوَ قَوْلُ السدي

Dan yang ketiga adalah tidak melampaui batas dalam memakannya karena dorongan syahwat dan kenikmatan, serta tidak berlebihan dengan memakan sampai kenyang, dan ini adalah pendapat As-Suddi.

وفي قوله فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ تَأْوِيلَانِ

Dalam ucapannya “maka tidak ada dosa atasnya” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا فَلَا عِقَابَ عَلَيْهِ فِي أَكْلِهَا

Salah satunya adalah tidak ada hukuman atasnya dalam memakannya.

وَالثَّانِي فَلَا مَنْعَ عَلَيْهِ فِي أَكْلِهَا وَالِاسْتِثْنَاءُ إِبَاحَةُ أَكْلِهَا عِنْدَ الِاضْطِرَارِ مِنْ عُمُومِ تَحْرِيمِهَا مَعَ الِاخْتِيَارِ عَلَى مَا ذَكَرَهُ مِنْ شُرُوطِ الْإِبَاحَةِ

Adapun yang kedua, maka tidak ada larangan atasnya dalam memakannya, dan pengecualian itu adalah kebolehan memakannya ketika dalam keadaan darurat dari keumuman pengharamannya ketika dalam keadaan memilih, sesuai dengan syarat-syarat kebolehan yang telah disebutkan.

وَقَالَ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْمَائِدَةِ وَهِيَ من محكمات السور التي لم يرده بَعْدَهَا نَسْخٌ وَاخْتُلِفَ هَلْ نَزَلَ بَعْدَهَا فَرْضٌ فَقَالَ سُبْحَانَهُ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ وَذَكَرَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْمُحَرَّمَاتِ مِثْلَ مَا ذَكَرَ في تلك الآية وزاد فقال وَالْمُنْخَنِقةُ وَهِيَ الَّتِي تَخْتَنِقُ بِحَبَلِ الصَّائِدِ وغيرِهَ حَتَّى تموت

Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah al-Mā’idah, yang merupakan salah satu surah yang ayat-ayatnya termasuk muḥkamāt (ayat-ayat yang tegas hukumnya) dan tidak ada nasakh setelahnya. Terdapat perbedaan pendapat apakah ada kewajiban yang turun setelahnya. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: “Diharamkan atas kalian bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih bukan atas nama Allah.” Dalam ayat ini disebutkan hal-hal yang diharamkan sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, dan ditambah lagi dengan firman-Nya: “dan (diharamkan) hewan yang mati tercekik,” yaitu hewan yang mati karena tercekik oleh tali pemburu atau selainnya hingga mati.

وَالْمَوْقُوذَةُ وَهِيَ الَّتِي تُضْرَبُ بِالْخَشَبِ حَتَّى تَمُوتَ وَكَانَتِ المجوس تقذ ولا تذبح ليكون دمه فيه ويقولون هو أطيب وأسمن

Al-mauqūdzah adalah hewan yang dipukul dengan kayu hingga mati. Dahulu, orang-orang Majusi membunuh hewan dengan cara seperti ini dan tidak menyembelihnya, agar darahnya tetap berada di dalam tubuh hewan tersebut. Mereka beranggapan bahwa dagingnya akan menjadi lebih lezat dan lebih gemuk.

وَالمُتَرَدِّيَةُ وَهِيَ الَّتِي تَسْقُطُ مِنْ رَأْسِ جَبَلٍ أَوْ في بئر حتى تموت

Dan al-mutaraddiyah adalah hewan yang jatuh dari puncak gunung atau ke dalam sumur hingga mati.

وَالنَّطِيحَةُ وَهِيَ الَّتِي تَنْطَحُهَا أُخْرَى فَتَمُوتُ النَّاطِحَةُ وَالْمَنْطُوحَةُ

Dan an-nathīhah adalah hewan yang ditanduk oleh hewan lain hingga mati, baik yang menanduk maupun yang ditanduk.

مَا أَكَلَ السَّبْعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَأْكُولَةُ السَّبُعِ هِيَ فَرِيسَتُهُ الَّتِي أَكَلَ مِنْهَا أَوْ لَمْ يَأْكُلْ وَإِنَّمَا نَصَّ عَلَى هَذَا كُلِّهِ وإن كان داخلاً في عموم الميتة لأمرين

Apa yang dimakan oleh binatang buas tidaklah halal kecuali yang kalian sembelih, dan yang dimaksud dengan makanan binatang buas adalah mangsanya, baik yang telah dimakan sebagian olehnya maupun yang belum dimakan. Penegasan terhadap hal ini disebutkan secara khusus, meskipun sebenarnya sudah termasuk dalam keumuman bangkai, karena dua alasan.

أحدهما لأنها ماتت بأسباب حتى لا تقدروا وإن أسباب موتها ذكاة

Pertama, karena ia (hewan itu) mati disebabkan oleh sebab-sebab tertentu sehingga kalian tidak mampu (menyembelihnya), dan sebab-sebab kematiannya itu adalah seperti proses penyembelihan (dzakāh).

والثاني أنهم كَانُوا يَسْتَطِيبُونَ أَكْلَهَا مِنْ قَبْلُ فَنَصَّ عليها في التحريم ليزول الالتباس

Yang kedua, mereka dahulu merasa enak memakannya, maka disebutkan secara tegas dalam pengharaman agar tidak terjadi kerancuan.

ومن قوله إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ قَوْلَانِ

Dari firman-Nya “kecuali yang kalian sembelih” terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ رَاجِعٌ إِلَى مَأْكُولَةِ السَّبُعِ وَحْدَهَا وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الظَّاهِرِ

Salah satunya adalah bahwa hukum tersebut hanya kembali kepada hewan yang dimakan oleh binatang buas saja, dan ini adalah pendapat Ahl azh-Zhahir.

وَالثَّانِي أَنَّهُ رَاجِعٌ إِلَى جَمِيعِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْمُنْخَنِقَةِ وَمَا بَعْدَهَا وَهُوَ قَوْلُ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ وَفِيهَا قَوْلَانِ

Yang kedua, bahwa larangan tersebut kembali kepada seluruh yang telah disebutkan sebelumnya, mulai dari al-munkhaniqah dan setelahnya. Ini adalah pendapat Ali, Ibnu Abbas, dan mayoritas fuqaha, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُدْرِكَهَا وَلَهَا عَيْنٌ تَطْرِفُ أَوْ ذَنَبٌ يَتَحَرَّكُ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الظَّاهِرِ

Salah satunya adalah hewan itu masih memiliki mata yang berkedip atau ekor yang bergerak ketika disembelih, dan ini adalah pendapat Ahl azh-Zhahir.

وَالثَّانِي أَنْ تَكُونَ فِيهَا حَرَكَةٌ قَوِيَّةٌ لَا كَحَرَكَةِ الْمَذْبُوحِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ

Yang kedua adalah harus terdapat gerakan yang kuat padanya, bukan seperti gerakan hewan yang disembelih; inilah pendapat Syafi‘i dan Malik.

ثُمَّ قَالَ وَمَا ذُبِحَ علَى النُّصُبِ وَفِيهَا قَوْلَانِ

Kemudian beliau berkata: “Dan (diharamkan) apa yang disembelih di atas an-nushub (batu sesembahan), dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا أَصْنَامٌ كَانُوا يَعْبُدُونَهَا يَذْبَحُونَ لَهَا

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan berhala-berhala yang mereka sembah dan mereka menyembelih kurban untuknya.

وَالثَّانِي أَنَّهَا أَوْثَانٌ كَانُوا يَذْبَحُونَ عَلَيْهَا لِأَصْنَامِهِمْ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ أَنَّ الصَّنَمَ مُصَوَّرٌ يَعْبُدُونَهُ وَالْوَثَنُ غَيْرُ مصور يتقربون به إلى الضم فَهَذِهِ كُلُّهَا مُحَرَّمَاتٌ نَصَّ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى تَحْرِيمِهَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ

Kedua, bahwa itu adalah berhala-berhala yang mereka sembelih di atasnya untuk sesembahan-sesembahan mereka. Perbedaan antara ash-shanam dan al-watsan adalah bahwa ash-shanam adalah patung yang mereka sembah, sedangkan al-watsan bukan patung, tetapi sesuatu yang mereka jadikan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada sesembahan. Maka semua itu adalah hal-hal yang diharamkan, Allah Ta‘ala telah menegaskan keharamannya dalam ayat ini.

ثُمَّ قَالَ وَأَنْ تَسْتَقِيمُوا بِالأَزْلاَمِ وَفِيهَا قَوْلَانِ

Kemudian ia berkata: “Dan kalian mencari keputusan dengan azlām (anak panah undian),” dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مَا يَتَقَامَرُونَ بِهِ مِنَ الشَّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ

Salah satunya adalah apa yang mereka pertaruhkan dalam permainan catur dan dadu.

وَالثَّانِي وَهُوَ أشهر أنها قداح ثَلَاثَةٌ مَكْتُوبٌ عَلَى أَحَدِهَا أَمَرَنِي رَبِّي وَعَلَى الآخر نهاني ربي والآخر غفل يضربونها وإذا أَرَادُوا سَفَرًا أَوْ أَمْرًا فَإِنْ خَرَجَ أَمَرَنِي رَبِّي فَعَلُوهُ وَإِنْ خَرَجَ نَهَانِي رَبِّي تَرَكُوهُ وَإِنْ خَرَجَ الْغُفْلُ أَعَادُوهُ

Yang kedua, dan ini yang paling masyhur, bahwa ada tiga anak panah; pada salah satunya tertulis “Tuhanku memerintahkanku”, pada yang lain “Tuhanku melarangku”, dan yang satu lagi kosong (tidak bertulisan). Mereka mengocoknya, dan jika mereka ingin bepergian atau melakukan suatu urusan, jika yang keluar adalah “Tuhanku memerintahkanku”, maka mereka melakukannya; jika yang keluar adalah “Tuhanku melarangku”, maka mereka meninggalkannya; dan jika yang keluar adalah yang kosong, maka mereka mengulanginya.

وَفِي تَسْمِيَتِهِ اسْتِقْسَامًا تأويلان

Dalam penamaannya sebagai istiqsām terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمْ طَلَبُوا بِهِ عِلْمَ مَا قُسِمَ لَهُمْ

Salah satunya adalah bahwa mereka mencari dengannya pengetahuan tentang apa yang telah dibagikan kepada mereka.

وَالثَّانِي أَنَّهُمُ الْتَزَمُوا بِالْقِدَاحِ مِثْلَ مَا التزموه بقسم اليمين

Dan yang kedua, mereka berpegang pada penggunaan anak panah sebagaimana mereka berpegang pada sumpah.

ذَالِكُمْ فِسْقٌ فِيهِ قَوْلَانِ

Itu adalah kefasikan; dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ رَاجِعٌ إِلَى الِاسْتِقْسَامِ بِالْأَزْلَامِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu kembali kepada praktik istikhsam dengan azlam.

وَالثَّانِي أَنَّهُ رَاجِعٌ إِلَى جميع ما تقدم تحريمه

Yang kedua adalah bahwa hal itu kembali kepada seluruh hal yang sebelumnya telah diharamkan.

وفي قوله فِسْقٌ تَأْوِيلَانِ

Dalam ucapannya “fisk” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا كُفْرٌ قَالَهُ السُّدِّيُّ

Salah satunya adalah kekufuran, sebagaimana dikatakan oleh as-Suddī.

وَالثَّانِي خُرُوجٌ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ ثُمَّ بَيَّنَ بَعْدَ الْمُحْرِمَاتِ حَالَ نِعَمِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ اليَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينَكُمْ وَفِي هَذَا الْيَوْمِ قَوْلَانِ

Yang kedua adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, dan ini adalah pendapat jumhur. Kemudian setelah menyebutkan hal-hal yang diharamkan, Allah menjelaskan keadaan nikmat-Nya atas mereka dengan firman-Nya: “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa terhadap agamamu.” Dan mengenai hari ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَوْمُ فَتْحِ مَكَّةَ

Salah satunya adalah bahwa hari itu adalah hari Fathu Makkah.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يَوْمُ حِجَّةِ الْوَدَاعِ وَفِيمَا يَئِسُوا بِهِ مِنَ الدِّينِ قَوْلَانِ

Yang kedua, bahwa hari itu adalah hari Haji Wada‘, dan mengenai apa yang mereka putus asa darinya dalam agama, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَرْتَدُّوا عَنْهُ

Salah satunya adalah mereka murtad darinya.

وَالثَّانِي أَنْ يَقْدِرُوا على إبطاله

Dan yang kedua adalah mereka mampu untuk membatalkannya.

فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ أَيْ لَا تَخْشَوْهُمْ أَنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ وَاخْشَوْنِي أن تحالفوا أمري

Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, yaitu janganlah kalian takut bahwa mereka akan mengalahkan kalian, dan takutlah kepada-Ku jika kalian menyalahi perintah-Ku.

اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ فِيهِ قَوْلَانِ

Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَوْمُ عَرَفَةَ فِي حِجَّةِ الْوَدَاعِ ولم يعض بَعْدَ ذَلِكَ إِلَّا إِحْدَى وَثَمَانِينَ لَيْلَةً وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَالسُّدِّيِّ

Salah satunya adalah bahwa itu terjadi pada hari Arafah pada Haji Wada‘, dan setelah itu beliau hanya hidup selama delapan puluh satu malam. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan as-Suddi.

وَالثَّانِي أَنَّهُ زَمَانُ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كُلُّهُ إِلَى أَنْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ في عَرَفَةَ وَفِي إِكْمَالِهِ لِلدِّينِ قَوْلَانِ

Kedua, bahwa seluruh masa Nabi ﷺ hingga turunnya ayat ini kepadanya di Arafah, terdapat dua pendapat mengenai penyempurnaan agama.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ إِكْمَالُ فَرَائِضِهِ وَحُدُودِهِ وَحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ وَلَمْ يَنْزِلْ بَعْدَهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ شيء مِنَ الْفَرَائِضِ مِنْ تَحْلِيلٍ وَلَا تَحْرِيمٍ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ

Salah satunya adalah bahwa ayat tersebut merupakan penyempurnaan kewajiban-kewajiban, batasan-batasan, yang halal dan yang haram, dan setelah ayat itu tidak lagi diturunkan kepada Nabi ﷺ sesuatu pun dari kewajiban, baik berupa penghalalan maupun pengharaman. Inilah pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي أَنَّ إِكْمَالَهُ بِرَفْعِ النَّسْخِ عَنْهُ بَعْدَ هَذَا الْوَقْتِ

Dan yang kedua adalah bahwa penyempurnaannya dilakukan dengan mengangkat nasakh darinya setelah waktu ini.

فَأَمَّا الْفُرُوضُ فَلَمْ تَزَلْ تَنْزِلُ عَلَيْهِ حَتَّى قُبِضَ وهذا قول ابن قتيبة

Adapun kewajiban-kewajiban, maka terus-menerus diturunkan kepadanya hingga beliau wafat. Ini adalah pendapat Ibn Qutaybah.

وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي فِيهِ قَوْلَانِ

Dan Aku telah menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian; dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بإظهاركم على عدوكم

Salah satunya adalah dengan memenangkan kalian atas musuh kalian.

والثاني بإكمال دينكم

Dan yang kedua adalah dengan menyempurnakan agama kalian.

وَرَضِيْتُ لَكُمْ الإسْلاَمَ دِيناً فِيهِ قَوْلَانِ

“Aku telah meridhai Islam sebagai agama untuk kalian,” dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا رَضِيَتُ دِينَ الْإِسْلَامِ دِينًا

Salah satunya adalah aku telah meridhai Islam sebagai agamaku.

وَالثَّانِي رَضِيتُ الاستسلام أي طاعة فَرَوَى قُبَيْصَةُ أَنَّ كَعْبَ الْأَحْبَارِ قَالَ لَوْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْأُمَّةِ لَعَظَّمُوا الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ وَاتَّخَذُوهُ عِيدًا فَقَالَ عُمَرُ لَقَدْ نَزَلَتْ بِعَرَفَةَ فِي يَوْمِ جُمْعَةٍ وَكِلَاهُمَا بِحَمْدِ اللَّهِ لَنَا عِيدٌ ثُمَّ بَيَّنَ بَعْدَهَا إِبَاحَةَ مَا اسْتَثْنَاهُ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ فقال فَمَنِ اضْطَرَّ فِي مَخْمَصَةٍ يَعْنِي مَجَاعَةً وهي مفعلة من خمص البطن وهو اضطماره من الجوع مثل مخملة ومخلة غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ وَفِي الْمُتَجَانِفِ تَأْوِيلَانِ

Yang kedua, aku rela dengan penyerahan diri, yaitu ketaatan. Qubaisah meriwayatkan bahwa Ka‘b al-Ahbar berkata, “Seandainya ayat ini diturunkan kepada selain umat ini, niscaya mereka akan mengagungkan hari turunnya ayat tersebut dan menjadikannya sebagai hari raya.” Maka Umar berkata, “Sungguh ayat itu diturunkan di Arafah pada hari Jumat, dan keduanya, dengan puji syukur kepada Allah, adalah hari raya bagi kita.” Kemudian setelah itu dijelaskan kebolehan terhadap apa yang dikecualikan dari hal-hal yang diharamkan, maka Allah berfirman, “Barang siapa dalam keadaan terpaksa karena kelaparan,” maksudnya adalah kelaparan, yaitu bentuk mashdar dari kata “khams” yang berarti perut yang kempis karena lapar, seperti kata “mukhmala” dan “mukhalla”. “Tidak cenderung kepada dosa,” dan dalam kata “mutajanif” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ الْمُتَعَمِدُ

Salah satunya adalah orang yang melakukannya dengan sengaja.

وَالثَّانِي إنَّهُ الْمَائِلُ

Dan yang kedua adalah yang condong.

وَفِي هَذَا الْإِثْمِ تَأْوِيلَانِ

Dalam hal dosa ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَأْكُلَ مَا حُرِّمَ عَلَيْهِ مِمَّا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ

Salah satunya adalah memakan sesuatu yang diharamkan baginya dari apa yang telah disebutkan sebelumnya tanpa adanya keadaan darurat.

وَالثَّانِي أَنْ يَتَجَاوَزَ فِي الضَّرُورَةِ مَا أَمْسَكَ الرَّمَقَ إِلَى أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى الشِّبَعِ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ يَعْنِي غَفُورًا لِلْمَأْثَمِ رَحِيمًا فِي الْإِبَاحَةِ

Kedua, yaitu seseorang melampaui batas dalam keadaan darurat dari sekadar menjaga nyawa hingga mencapai kenyang, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, maksudnya Allah mengampuni dosa dan Maha Penyayang dalam memberikan keringanan.

وَإِنَّمَا اسْتَوْفَيْتُ تَفْسِيرَ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ وَإِنْ تَجَاوَزْنَا بِهِمَا مَسْأَلَةَ الْكِتَابِ لِمَا تَعَلَّقَ بِهِمَا مِنَ الْأَحْكَامِ وَالنَّعَمِ مَعَ إِبَاحَةِ الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ

Aku telah menjelaskan tafsir kedua ayat ini secara lengkap, meskipun dengan itu kita melampaui pembahasan kitab, karena terkait dengan keduanya terdapat berbagai hukum dan kenikmatan, serta kebolehan memakan bangkai bagi orang yang dalam keadaan terpaksa.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ السُّنَّةِ مَا رَوَاهُ الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللِّيثِيِّ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ الله إنا بأرضٍ تصيبنا فيها المَخْمَصَةٌ فَمَتَى تَحِلُّ لَنَا الْمَيْتَةُ؟ قَالَ مَا لَمْ تَصْطَبِحُوا أَوْ تَغْتَبِقُوا أَوْ تَحْتَفِئُوا بِهَا بَقْلًا فَشَأْنُكُمْ بِهَا قَوْلُهُ تَصْطَبِحُوا مِنَ الصَّبُوحِ وَهُوَ الْغَدَاءُ وَ تَغْتَبِقُوا مِنَ الْغَبُوقِ وَهُوَ العشاء أي لم تجدوا الْحَفَا مَقْصُورٌ وَهُوَ أَصُولُ الْبَرْدِيِّ الرَّطْبِ وَقِيلَ إِنَّهُ أَرَادَهُ وَأَمْثَالَهُ مِنَ الْحَشِيشِ لِأَنَّهُ مَأْكُولٌ يُغْنِي عَنِ الْمَيْتَةِ

Dan dalil dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Auza‘i dari Hassan bin ‘Atiyyah dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata: Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami berada di suatu negeri yang sering mengalami kelaparan, maka kapan bangkai menjadi halal bagi kami?” Beliau bersabda, “Selama kalian belum makan pagi atau makan malam, atau menyimpannya bersama sayuran, maka silakan kalian memakannya.” Sabda beliau “tashtabihu” berasal dari “subuh” yaitu sarapan pagi, dan “taghtabiqu” berasal dari “ghabūq” yaitu makan malam, maksudnya selama kalian belum mendapatkan makanan tersebut. “Al-hafā” (dengan alif maqshurah) adalah akar-akar papirus yang masih basah, dan ada yang mengatakan maksudnya adalah tanaman sejenisnya dari rerumputan, karena itu adalah makanan yang dapat menggantikan bangkai.

وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّكُمْ إِذَا تَغَذَّيْتُمْ فَلَيْسَ لَكُمْ أَنْ تَأْكُلُوهَا عِنْدَ الْعَشَاءِ إِذَا تَعَشَّيْتُمْ فَلَيْسَ لَكُمْ أَنْ تَأْكُلُوهَا عِنْدَ الْغَدَاءِ لِأَنَّ الرَّمَقَ يَتَمَاسَكُ وَإِذَا وَجَدْتُمُ الْحَفَا فَلَيْسَ لَكُمْ أَنْ تَأْكُلُوهَا لِأَنَّ الرَّمَقَ بِهِ مُتَمَاسِكٌ فَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِهَا إِذَا لَمْ يتماسك الرمق إلا بها

Makna hadis ini adalah bahwa jika kalian telah makan pada waktu makan siang, maka kalian tidak boleh memakannya pada waktu makan malam; jika kalian telah makan pada waktu makan malam, maka kalian tidak boleh memakannya pada waktu makan siang, karena kehidupan (hewan tersebut) masih dapat bertahan. Jika kalian menemukan hewan tersebut masih bisa bertahan hidup, maka kalian tidak boleh memakannya, karena kehidupannya masih bertahan. Maka hal ini menunjukkan kebolehan memakannya jika kehidupan (hewan tersebut) tidak dapat bertahan kecuali dengannya.

فَصْلٌ

Fasal

شُرُوطُ إِبَاحَةِ الْمَيْتَةِ

Syarat-syarat kebolehan bangkai

فَإِذَا ثَبَتَ إِبَاحَةُ أكل الميتة للمضطر بإباحتها مُعْتَبِرَةً بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ

Maka apabila telah tetap kebolehan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa, kebolehannya itu dipertimbangkan dengan empat syarat.

أَحَدُهَا أَنْ يَنْتَهِيَ بِهِ الْجُوعُ إِلَى حَدِّ التَّلَفِ وَلَا يَقْدِرَ عَلَى مَشْيٍ وَلَا نُهُوضٍ فَيَصِيرَ غَيْرَ مُتَمَاسِكِ الرَّمَقِ إِلَّا بِهَا فَيَصِيرَ حِينَئِذٍ مِنْ أَهْلِ الْإِبَاحَةِ فَإِنْ تَمَاسَكَ رَمَقُهُ أَوْ جَلَسَ وَأَقَامَ وَلَمْ يَتَمَاسَكْ إِنْ مَشَى وَسَارَ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ في سفر يخاف فوت رفاقته حَلَّ لَهُ أَكْلُهَا وَإِنْ لَمْ يَخَفْ فَوْتَ رفاقته لَمْ تَحِلَّ لَهُ

Salah satunya adalah ketika rasa lapar mencapai tingkat yang membahayakan jiwa, sehingga ia tidak mampu berjalan atau bangkit, lalu ia menjadi tidak mampu mempertahankan hidup kecuali dengan memakannya, maka saat itu ia termasuk golongan yang diperbolehkan (memakannya). Namun jika ia masih mampu bertahan hidup atau bisa duduk dan tinggal, tetapi tidak mampu bertahan jika berjalan dan bepergian, maka dilihat lagi: jika ia sedang dalam perjalanan dan khawatir akan tertinggal dari rombongannya, maka halal baginya untuk memakannya. Namun jika ia tidak khawatir tertinggal dari rombongannya, maka tidak halal baginya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي أَنْ لَا يَجِدَ مَأْكُولَ الْحَشِيشِ وَالشَّجَرِ مَا يُمْسِكُ بِهِ رَمَقَهُ فَإِنْ وَجَدَهُ لَمْ تَحِلَّ لَهُ الْمَيْتَةُ وَلَوْ وَجَدَ مِنَ الْحَشِيشِ مَا يَسْتَضِرُّ بِأَكْلِهِ حَلَّتْ لَهُ الْمَيْتَةُ

Syarat kedua adalah tidak menemukan makanan berupa rumput atau dedaunan yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Jika ia menemukannya, maka bangkai tidak halal baginya. Namun, jika ia hanya menemukan rumput yang membahayakan jika dimakan, maka bangkai menjadi halal baginya.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ أَنْ لَا يَجِدَ طَعَامًا يَشْتَرِيَهُ فَإِنْ وَجَدَ مَا يَشْتَرِيَهُ بِثَمَنِ مِثْلِهِ لَزِمَهُ شِرَاؤُهُ سَوَاءٌ وَجَدَ ثَمَنَهُ أَوْ لَمْ يَجِدْ إِذَا أَنْظَرَهُ الْبَائِعُ ثَمَنَهُ بِخِلَافِ الْمَاءِ الَّذِي لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ إِذَا كَانَ عَادِمًا لِأَنَّ إِبَاحَةَ التَّيَمُّمِ مُعْتَبَرَةٌ بِالْعُدْمِ وَهُوَ بِإِعْوَازِ الثَّمَنِ عَادِمٌ

Syarat ketiga adalah tidak menemukan makanan yang bisa dibeli. Jika ia menemukan makanan yang bisa dibeli dengan harga yang sepadan, maka wajib baginya untuk membelinya, baik ia memiliki uangnya maupun tidak, asalkan penjual bersedia menunggu pembayaran. Berbeda dengan air, di mana ia tidak wajib membelinya jika tidak mampu, karena kebolehan tayammum didasarkan pada ketiadaan, dan orang yang tidak memiliki uang dianggap tidak ada (mampu membelinya).

وَإِبَاحَةُ الْمَيْتَةِ مُعْتَبَرَةٌ بِالضَّرُورَةِ وَهُوَ مَعَ الْإِنْظَارِ بِالثَّمَنِ غَيْرُ مُضْطَرٍّ فَإِنْ بُذِلَ لَهُ الطَّعَامُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ الْمِثْلِ لَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ كَالْمَاءِ لِأَنَّ الْتِمَاسَ الزِّيَادَةِ منتفٍ

Dibolehkannya bangkai itu bergantung pada keadaan darurat, sedangkan orang yang masih diberi tenggang waktu dengan membayar harga bukanlah orang yang dalam keadaan darurat. Jika makanan ditawarkan kepadanya dengan harga lebih mahal dari harga pasar, maka ia tidak wajib membelinya, seperti halnya air, karena permintaan tambahan harga itu tidak dianggap.

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ أَنْ لَا يَكُونَ بِمَا دَعَتْهُ الضَّرُورَةُ إِلَى الْمَيْتَةِ عَاصِيًا كَمُقَامِهِ عَلَى قَطْعِ الطَّرِيقِ وَإِخَافَتِهِ السَّبِيلَ أَوْ لِبَغْيِهِ عَلَى إِمَامٍ عَادِلٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ اضْطَرَّ غَيْرَ باغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ ولأنه إِبَاحَةَ أَكْلِ الْمَيْتَةِ رُخْصَةٌ وَالْعَاصِي لَا يَتَرَخَّصُ فِي مَعْصِيَتِهِ فَإِنْ تَابَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ حَلَّ لَهُ أَكْلُ الْمَيْتَةِ وَإِنْ أَقَامَ عَلَيْهَا وَلَمْ يَتُبْ حُرِّمَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ غَيْرُ مُضْطَرٍّ إِلَى الِامْتِنَاعِ مِنَ التَّوْبَةِ

Syarat keempat adalah bahwa orang yang terpaksa memakan bangkai tidak sedang melakukan maksiat yang menyebabkan ia berada dalam keadaan darurat tersebut, seperti orang yang tetap melakukan perampokan di jalan atau menakut-nakuti para musafir, atau karena ia memberontak kepada imam yang adil, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa dalam keadaan terpaksa, bukan karena ingin berbuat dosa dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” Karena kebolehan memakan bangkai adalah rukhshah (keringanan), sedangkan orang yang bermaksiat tidak boleh mengambil keringanan dalam kemaksiatannya. Jika ia bertobat dari maksiat tersebut, maka halal baginya memakan bangkai. Namun jika ia tetap dalam kemaksiatannya dan tidak bertobat, maka diharamkan baginya, dan ia tidak dianggap dalam keadaan terpaksa untuk tidak bertobat.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْمُسَافِرِ وَالْمُقِيمِ وَإِنْ قَصُرَ السَّفَرُ لِأَنَّه الْأَغْلَبَ مِنْ أَحْوَالِهِ الْعُدْمُ وَإِنْ حَدَثَ مِثْلُهُ فِي الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى حَلَّ فِيهَا أَكْلُ الْمَيْتَةِ كَالسَّفَرِ

Tidak ada perbedaan antara musafir dan mukim, meskipun perjalanannya singkat, karena yang lebih dominan dalam keadaan mereka adalah ketiadaan (makanan halal), dan jika terjadi hal serupa di kota-kota besar maupun desa-desa, maka di sana juga diperbolehkan memakan bangkai sebagaimana dalam perjalanan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا أُحِلَّ لَهُ أَكْلُ الْمَيْتَةِ بِالشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ كَانَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا مَا يُمْسِكُ رمقه كيف ما سَاغَهُ طَبْخًا وَقَلْيًا وَشَيًّا وَنِيئًا وَهَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَجَاوَزَ بِالْأَكْلِ بَعْدَ إِمْسَاكِ الرَّمَقِ إِلَى أَبَدٍ يَنْتَهِي إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ فِيهِ قَوْلَانِ

Maka apabila telah dihalalkan baginya memakan bangkai dengan syarat-syarat yang ditetapkan, ia boleh memakan darinya sebanyak yang dapat mempertahankan hidupnya, dengan cara apa pun yang memungkinkan, baik dimasak, digoreng, dipanggang, atau mentah. Adapun apakah boleh melampaui batas makan setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi hingga mencapai kenyang, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَيْسَ لَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى إِمْسَاكِ الرَّمَقِ وَمَا بَعْدَهُ إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ حَرَامٌ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ

Salah satunya adalah tidak boleh melebihi dari sekadar menahan hidup, dan apa yang lebih dari itu hingga mencapai kenyang adalah haram. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Hanifah dan dipilih oleh al-Muzani.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَأْكُلُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى الشِّبَعِ وَلَا يُحَرَّمُ عَلَيْهِ إِلَّا مَا زَادَ عَلَى حَدِّ الشِّبَعِ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ

Pendapat kedua menyatakan bahwa seseorang boleh makan hingga mencapai kenyang, dan yang diharamkan baginya hanyalah apa yang melebihi batas kenyang. Pendapat ini dikemukakan oleh Mālik dan Sufyān ats-Tsaurī.

وَدَلِيلُ الْقَوْلِ الْأَوَّلِ فِي تَحْرِيمِ الشِّبَعِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا لَكُمْ أَلاَّ تَأْكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ وَالضَّرُورَةُ تَزُولُ بِإِمْسَاكِ الرَّمَقِ فَدَلَّتْ عَلَى تَحْرِيمِ مَا زَادَ عَلَيْهِ وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَمَاسِكَ الرَّمَقِ قَبْلَ أَكْلِهَا حَرُمَتْ عَلَيْهِ كَذَلِكَ إِذَا صَارَ بِهَا مُتَمَاسِكَ الرَّمَقِ وَجَبَ أَنْ تَحْرُمَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُضْطَرٍّ إِلَيْهَا فِي الْحَالَيْنِ وَلِأَنَّ ارْتِفَاعَ الضَّرُورَةِ مُوجِبٌ لِارْتِفَاعِ حُكْمِهَا كَمَا أَنَّ حُدُوثَ الضَّرُورَةِ مُوجِبٌ لِحُدُوثِ حُكْمِهَا

Dalil pendapat pertama tentang haramnya kenyang adalah firman Allah Ta‘ala: “Mengapa kalian tidak mau memakan dari apa yang disebut nama Allah atasnya, padahal Allah telah merinci bagi kalian apa yang diharamkan atas kalian, kecuali apa yang kalian terpaksa memakannya.” Kebutuhan darurat hilang dengan sekadar menjaga nyawa, maka ayat ini menunjukkan keharaman terhadap apa yang melebihi kebutuhan tersebut. Karena jika seseorang sudah dapat menjaga nyawanya sebelum memakannya, maka makanan itu menjadi haram baginya; demikian pula jika dengan makanan itu ia dapat menjaga nyawanya, maka makanan itu wajib diharamkan baginya, karena dalam kedua keadaan itu ia tidak dalam keadaan darurat. Dan karena hilangnya keadaan darurat menyebabkan hilangnya hukum darurat, sebagaimana timbulnya keadaan darurat menyebabkan timbulnya hukum darurat.

وَلَوْ جَازَ أَنْ تَرْتَفِعَ الضَّرُورَةُ وَلَا يَرْتَفِعَ حُكْمُهَا لجاز أن تحدث ولا يحدث حكمها

Dan jika boleh saja suatu ḍarūrah (keadaan darurat) hilang namun hukumnya tidak hilang, niscaya boleh juga suatu ḍarūrah muncul namun hukumnya tidak muncul.

ودليل القول الثاني أن الشبع منها حلال قول اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ اضْطَرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ فَعَمَّ الْإِبَاحَةَ بِرَفْعِ الْمَأْثَمِ وَقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ حِينَ سُئِلَ عَنِ الْمَيْتَةِ فَقَالَ مَا لَمْ تَصْطَبِحُوا أَوْ تَغْتَبِقُوا أَوْ تَحْتَفِئُوا بَقْلًا فَشَأْنُكُمْ بِهَا فَعَمَّ إِبَاحَتَهَا وَلِأَنَّ مَا حَلَّ أَكْلُهُ حَلَّ الِاكْتِفَاءُ مِنْهُ كَالطَّعَامِ طَرْدًا وَالْحَرَامِ عَكْسًا وَلِأَنَّهُ مُضْطَرٌّ إِلَى الشِّبَعِ لِحِفْظِ قُوَّتِهِ لِأَنَّ إِمْسَاكَ الرَّمَقِ لَا لُبْثَ لَهُ وَتَتَعَقَّبُهُ الضَّرُورَةُ بَعْدَهُ إِلَى إِمْسَاكِهِ بِغَيْرِهِ وَقَدْ لَا يَجِدُ الْمَيْتَةَ بَعْدَهَا فَكَانَ الشِّبَعُ أَمْسَكُ لِرَمَقِهِ وَأَحْفَظُ لِحَيَاتِهِ وَلَئِنْ كَانَ إِمْسَاكُ الرَّمَقِ فِي الِابْتِدَاءِ مُعْتَبَرًا فَقَدْ لَا يَكُونُ فِي الِانْتِهَاءِ مُعْتَبَرًا بِعُدْمِ الطَّوَلِ فِي نِكَاحِ الْأَمَةِ شَرْطٌ فِي ابْتِدَاءِ الْعَقْدِ وَلَيْسَ بِشَرْطٍ بَعْدَ الْعَقْدِ فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فَإِنْ قُلْنَا بِالْأَوَّلِ مِنْهُمَا إنَّهُ لَا يَأْكُلُ مِنْهَا إِلَّا مَا أَمْسَكَ الرَّمَقَ فَأَكْلُ هَذَا الْقَدْرِ مِنْهَا مُبَاحٌ لَهُ وَوَاجِبٌ عَلَيْهِ لِإِحْيَاءِ نَفْسِهِ بِهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسُكُمْ فَإِنْ تَرَكَ أَكْلَ مَا يُمْسِكُ الرَّمَقَ حَتَّى مَاتَ أَثِمَ وَإِنْ أَكَلَ مَا زَادَ عَلَى إِمْسَاكِ الرَّمَقِ كَانَ آثِمًا وَمَا أَكَلَهُ مِنَ الزِّيَادَةِ حَرَامٌ

Dalil pendapat kedua bahwa kenyang dari bangkai itu halal adalah firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa dalam keadaan terpaksa, bukan karena ingin melanggar atau melampaui batas, maka tidak ada dosa atasnya,” sehingga Allah mengumumkan kebolehan dengan menghilangkan dosa. Juga sabda Nabi ﷺ ketika ditanya tentang bangkai, beliau bersabda: “Selama kalian belum mendapatkan sarapan, atau makan malam, atau menyimpan sayuran, maka silakan kalian memakannya,” sehingga beliau mengumumkan kebolehannya. Dan karena sesuatu yang halal dimakan, maka halal pula untuk mencukupi diri dengannya seperti makanan pada umumnya, dan sebaliknya yang haram. Dan karena orang yang terpaksa itu membutuhkan kenyang untuk menjaga kekuatannya, sebab sekadar bertahan hidup tidaklah cukup, dan setelah itu kebutuhan darurat akan kembali lagi untuk bertahan hidup dengan yang lain, padahal bisa jadi ia tidak menemukan bangkai setelah itu. Maka kenyang lebih dapat menjaga hidupnya dan lebih melindungi kehidupannya. Jika bertahan hidup pada awalnya dianggap cukup, maka bisa jadi pada akhirnya tidak lagi dianggap cukup, sebagaimana syarat tidak mampu dalam menikahi budak perempuan menjadi syarat pada awal akad, namun tidak menjadi syarat setelah akad. Setelah penjelasan argumentasi kedua pendapat tersebut, jika kita memilih pendapat pertama, yaitu bahwa ia tidak boleh makan dari bangkai kecuali sekadar untuk bertahan hidup, maka makan sekadar itu hukumnya mubah baginya dan wajib atasnya untuk menjaga hidupnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri.” Jika ia meninggalkan makan sekadar yang dapat menjaga hidupnya hingga mati, maka ia berdosa. Dan jika ia makan lebih dari sekadar untuk bertahan hidup, maka ia berdosa dan kelebihan yang dimakannya itu haram.

وَإِنْ قُلْنَا بِالْقَوْلِ الثَّانِي إنَّهُ يَأْكُلُ مِنْهَا حَتَّى يَشْبَعَ كَانَ أَكْلُ مَا أَمْسَكَ الرَّمَقَ وَاجِبًا عَلَيْهِ وَكَانَ أَكْلُ مَا زَادَ عَلَيْهِ إِلَى الشِّبَعِ مُبَاحًا لَهُ لِأَنَّ الْوُجُوبَ مُخْتَصٌّ بِمَا أَحْيَا النَّفْسَ وَهُوَ إِمْسَاكُ الرَّمَقِ وَالزِّيَادَةُ عَلَيْهِ لِلْحَاجَةِ وَحِفْظِ الْقُوَّةِ وَذَلِكَ لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَأَكْلُ مَا زَادَ عَلَى حَدِّ الشِّبَعِ حَرَامٌ لِأَنَّهُ لَا تَدْعُو إِلَيْهِ ضَرُورَةٌ وَلَا حَاجَةٌ

Dan jika kita mengikuti pendapat kedua, yaitu bahwa ia boleh makan darinya sampai kenyang, maka makan sekadar untuk menahan hidup adalah wajib baginya, sedangkan makan lebih dari itu hingga kenyang adalah mubah (boleh) baginya, karena kewajiban itu khusus untuk sesuatu yang dapat menyelamatkan jiwa, yaitu sekadar menahan hidup, dan kelebihan dari itu untuk kebutuhan dan menjaga kekuatan, dan hal itu tidaklah wajib. Adapun makan melebihi batas kenyang adalah haram, karena tidak ada kebutuhan mendesak atau kebutuhan yang membolehkannya.

فصل

Bab

حكم العطشان إذا خاف التلف

Hukum orang yang kehausan jika khawatir akan binasa

وَهَكَذَا حُكْمُ الْعَطْشَانِ إِذَا خَافَ التَّلَفَ وَوَجَدَ مَاءً نَجِسًا أَوْ بَوْلًا حَلَّ لَهُ الشُّرْبُ منه لأمسك رَمَقَهُ وَهَلْ لَهُ أَنْ يَرْتَوِيَ مِنْهُ؟ عَلَى الْقَوْلَيْنِ الْمَاضِيَيْنِ فِي الْمَيْتَةِ فَإِنْ وَجَدَ بَوْلًا وَمَاءً نَجِسًا كَانَ شُرْبُ الْمَاءِ النَّجِسِ أَوْلَى مِنْ شُرْبِ الْبَوْلِ لِأَنَّ نَجَاسَةَ الْمَاءِ طَارِئَةٌ بِالْمُخَالَطَةِ وَنَجَاسَةَ الْبَوْلِ لِذَاتِهِ وَيَجُوزُ أَنْ يُتَدَاوَى بِالْبَوْلِ إِذَا لَمْ يَجِدْ دَوَاءً طَاهِرًا قَدْ أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ للقرنين أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِ الْإِبِلِ وَأَبْوَالِهَا بِالْمَدِينَةِ لَمَّا اجْتَوَوْهَا وَهَكَذَا يُحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ لُحُومِ الْمَيْتَةِ لِلتَّدَاوِي إِذَا لَمْ يَكُنْ له دواء سواء وَمَنَعَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا من التَّدَاوِي بِالْمُحَرَّمَاتِ احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَا جَعَلَ اللَّهُ شِفَاءَكُمْ فِيمَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ وَهَذَا الْقَائِلُ مُخْطِئٌ بَعْدَ حَدِيثِ العرنيين من وجهين

Demikian pula hukum bagi orang yang kehausan jika ia khawatir akan binasa dan hanya menemukan air najis atau air kencing, maka boleh baginya minum darinya sekadar untuk mempertahankan hidupnya. Apakah ia boleh minum hingga kenyang? Hal ini mengikuti dua pendapat yang telah lalu dalam masalah bangkai. Jika ia menemukan air kencing dan air najis, maka minum air najis lebih utama daripada minum air kencing, karena kenajisan air disebabkan oleh percampuran, sedangkan kenajisan air kencing berasal dari zatnya sendiri. Diperbolehkan juga berobat dengan air kencing jika tidak menemukan obat yang suci, sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mengizinkan sekelompok orang dari ‘Urainah untuk meminum susu unta dan air kencingnya di Madinah ketika mereka tidak cocok dengan udara kota tersebut. Demikian pula, diperbolehkan baginya memakan daging bangkai untuk berobat jika tidak ada obat lain, baik itu satu-satunya obat maupun tidak. Namun, sebagian ulama kami melarang berobat dengan benda-benda yang diharamkan, dengan alasan hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada sesuatu yang diharamkan atas kalian.” Orang yang berpendapat demikian keliru setelah adanya hadits tentang orang-orang ‘Urainah, dari dua sisi.

أحدهما أن التداوي حال الضَّرُورَةِ فَصَارَ بِهَا مُضْطَرًّا إِلَى أَكْلِ الْمَيْتَةِ

Salah satunya adalah bahwa berobat dalam keadaan darurat sehingga dengan itu seseorang menjadi dalam keadaan terpaksa untuk memakan bangkai.

وَالثَّانِي أَنَّ أَكْلَ السُّمِّ حَرَامٌ وَالتَّدَاوِي بِهِ مُتَدَاوَلٌ وَقِيلَ إِنَّ السَّقْمُونِيَا سُمٌّ قَاتِلٌ وَلِهَذَا مَنِ اسْتَكْثَرَ مِنْهُ فِي الدَّوَاءِ قَتَلَهُ ثُمَّ يَجُوزُ التَّدَاوِي بِهِ كَذَلِكَ كُلُّ حَرَامٍ

Kedua, bahwa memakan racun adalah haram, namun mengobati dengan racun diperbolehkan. Dikatakan bahwa saqmuniya adalah racun yang mematikan, dan karena itu, siapa yang mengonsumsinya secara berlebihan dalam pengobatan akan terbunuh. Namun demikian, boleh berobat dengannya, demikian pula dengan segala sesuatu yang haram.

فَأَمَّا الْخَبَرُ فَمَعْنَاهُ أَنَّ مَا فِيهِ شِفَاؤُكُمْ مِما حَرُمَ عَلَيْكُمْ

Adapun makna dari khabar tersebut adalah bahwa di dalamnya terdapat kesembuhan bagi kalian dari sesuatu yang diharamkan atas kalian.

فَأَمَّا شُرْبُ الْخَمْرِ مِنَ الْعَطَشِ وَلِلتَّدَاوِي فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَحِلُّ شُرْبُهَا مِنَ الْعَطَشِ وَلَا لِلتَّدَاوِي وَذَهَبَ بَعْضُ الْبَغْدَادِيِّينَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى جَوَازِ شُرْبِهَا لِلْعَطَشِ لَا لِلتَّدَاوِي وَلِأَنَّ ضَرَرَ الْعَطَشِ عَاجِلٌ وَضَرَرَ الدَّاءِ آجِلٌ وَذَهَبَ بَعْضُ الْبَصْرِيِّينَ مِنْ أَصْحَابِهِ أَنَّ جَوَازَ شُرْبِهَا لِلتَّدَاوِي دُونَ الْعَطَشِ لِأَنَّهَا مُتَعَيِّنَةٌ فِي الدَّوَاءِ وَغَيْرُ مُتَعَيِّنَةٍ فِي الْعَطَشِ

Adapun meminum khamr karena kehausan atau untuk pengobatan, pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i adalah tidak halal meminumnya baik karena kehausan maupun untuk pengobatan. Sebagian ulama Baghdad dari kalangan pengikutnya berpendapat bolehnya meminum khamr karena kehausan, namun tidak untuk pengobatan, karena bahaya kehausan bersifat segera sedangkan bahaya penyakit bersifat tertunda. Sementara sebagian ulama Basrah dari kalangan pengikutnya berpendapat bolehnya meminum khamr untuk pengobatan saja, tidak untuk kehausan, karena khamr merupakan satu-satunya yang ditetapkan untuk pengobatan, sedangkan untuk kehausan masih ada alternatif lain.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يَجُوزُ شُرْبُهَا فِي الْعَطَشِ وَالتَّدَاوِي

Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa boleh meminumnya ketika kehausan dan untuk pengobatan.

وَالدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيمِهَا فِي الْحَالَيْنِ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْخَمْرُ داءٌ  وَلِأَنَّهَا تَزِيدُ فِي الْعَطَشِ وَلَا تَرْوِي وَلِأَنَّهَا تُحْدِثُ مِنَ السُّكْرِ مَا يُزِيلُ الْعَقْلَ وَتَمْنَعُ الْفَرَائِضَ وَلِأَنَّ شُرْبَهَا فِي أَحَدِ الْحَالَيْنِ ذَرِيعَةٌ إِلَى شُرْبِهَا مَعَ عَدَمِ تِلْكَ الْحَالِ لِأَنَّ الشَّهْوَةَ رَغِيبَةٌ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ حَرُمَ إِمْسَاكُهَا وَوَجَبَ الْحَدُّ عَلَى شَارِبِهَا وهكذا كل مسكر فهو خمر

Dalil tentang keharamannya dalam kedua keadaan adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Khamr adalah penyakit.” Selain itu, karena khamr menambah rasa haus dan tidak menghilangkannya, serta menyebabkan mabuk yang menghilangkan akal dan menghalangi pelaksanaan kewajiban. Juga, meminumnya dalam salah satu dari dua keadaan menjadi jalan menuju meminumnya dalam keadaan lain, karena nafsu sangat menginginkannya. Oleh karena itu, diharamkan pula menyimpannya dan wajib dijatuhkan hukuman had bagi peminumnya. Demikian pula setiap minuman yang memabukkan, maka ia adalah khamr.

مسألة

Masalah

قال الشافعي فِيمَا وَضَعَهُ بِخَطِّهِ لَا أَعْلَمُهُ سُمِعَ مِنْهُ إِنْ مَرَّ الْمُضْطَرُّ بتمرٍ أَوْ زرعٍ لَمْ أَرَ بَأْسًا أَنْ يَأْكُلَ مَا يَرُدُّ بِهِ جوعه ويرد قيمته ولا أرى لصاحبه منعه فضلاً عنه وخفت أن يكون أعان على قتله إذا خاف عليه بالمنع الموت

Syafi‘i berkata dalam apa yang beliau tulis dengan tangannya sendiri—aku tidak mengetahui bahwa hal itu didengar langsung darinya—jika seseorang yang dalam keadaan terpaksa melewati kebun kurma atau ladang, aku tidak melihat adanya masalah baginya untuk memakan secukupnya guna menghilangkan rasa laparnya, lalu ia mengembalikan nilainya. Aku juga tidak melihat pemiliknya berhak melarangnya, apalagi menuntut lebih dari itu. Aku khawatir jika ia melarangnya padahal orang itu dikhawatirkan mati karena kelaparan, maka ia telah membantu terjadinya kematian orang tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا غَيْرُ الْمُضْطَرِّ إِذَا مَرَّ بِثَمَرَةِ غَيْرِهِ عَلَى نَخْلِهَا أَوْ شَجَرِهَا لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِغَيْرِ إِذْنِ مَالِكُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ بَارِزَةً أَوْ مِنْ وَرَاءِ جِدَارٍ

Al-Mawardi berkata: Adapun orang yang tidak dalam keadaan darurat, jika ia melewati buah milik orang lain yang masih berada di pohon kurma atau pohon lainnya, maka tidak halal baginya memakan buah tersebut tanpa izin pemiliknya, baik buah itu tampak jelas maupun berada di balik dinding.

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ يُنَادِي عَلَى الْبَابِ ثَلَاثًا فَإِنْ أَجَابُوهُ وَإِلَّا دَخَلَ وَأَكَلَ وَلَمْ يَدَّخِرِ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ إِذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ بِحَائِطِ غَيْرِهِ فَلْيَدْخُلْ فَلْيَأْكُلْ وَلَا يَتَّخِذْ خُبْنَةً أَيْ لَا يَحْمِلْ مِنْهُ شَيْئًا وَهَذَا الْمَذْهَبُ فَاسِدٌ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحِلُّ مَالُ امرئٍ مسلمٍ إِلَّا بِطِيبِ نفسٍ مِنْهُ

Sebagian ahli hadis berpendapat bahwa seseorang hendaknya memanggil di depan pintu sebanyak tiga kali; jika mereka menjawabnya, maka masuklah dan makanlah, dan jangan menyimpan apa pun, dengan berdalil pada riwayat Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika salah seorang dari kalian melewati kebun milik orang lain, maka hendaklah ia masuk dan makan, dan jangan mengambil sesuatu darinya untuk dibawa pulang.” Namun, pendapat ini rusak (tidak benar) karena diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحْلِبَنَّ أَحَدُكُمْ مَاشِيَةَ أَخِيهِ بغير إذنه ضروع مواشيكم خزائن طعامكم أو يحب أَحَدُكُمْ أَنْ يَدْخُلَ لِخَرِبَةِ أَخِيهِ فَيَأْخُذَ مَا فيها بغير إِذْنِهِ فَنَصَّ عَلَى أَلْبَانِ الْمَوَاشِي وَنَبَّهَ عَلَى ثِمَارِ النَّخْلِ لِأَنَّ اللَّبَنَ أَسْهَلُ لِأَنَّهُ مُسْتَخْلَفٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَمِنَ الثِّمَارِ مَا لَا يُسْتَخْلَفُ إِلَّا مِنْ كُلِّ عَامٍ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memerah susu hewan ternak milik saudaranya tanpa izinnya. Puting susu hewan ternak kalian adalah lumbung makanan kalian. Apakah salah seorang dari kalian suka jika ada orang yang masuk ke rumah saudaranya yang kosong lalu mengambil apa yang ada di dalamnya tanpa izinnya?” Maka Nabi menegaskan larangan terhadap susu hewan ternak dan memberikan isyarat terhadap buah kurma, karena susu lebih mudah didapatkan sebab ia diperbarui setiap hari, sedangkan sebagian buah-buahan hanya diperbarui setiap tahun.

فَأَمَّا الْخَبَرُ فَمَحْمُولٌ عَلَى الْمُضْطَرِّ فَأَمَّا سَوَاقِطُ النَّخْلِ وَالشَّجَرِ مِنَ الثِّمَارِ وَهُوَ مَا تَسَاقَطَ مِنْهَا عَلَى الْأَرْضِ فَإِنْ كَانَتْ مِنْ وَرَاءِ جِدَارٍ قَدْ أَحْرَزَهَا لَمْ يُجِزْ لِلْمَارِّ أَنْ يَتَعَرَّضَ لِأَخْذِهَا لِأَنَّ الْحِرْزَ يَمْنَعُ مِنْهَا وَإِنْ كَانَتْ بَارِزَةً غَيْرَ مُحْرَزَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجْرِ عَادَةُ أَهْلِهَا بِإِبَاحَتِهَا حَرُمَ أَخْذُهَا وَإِنْ جَرَتْ عَادَتُهُمْ بِإِبَاحَتِهَا كَثِمَارِ النَّخْلِ بِالْبَصْرَةِ وَالْمَدِينَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْعَادَةِ هَلْ تَجْرِي مَجْرَى الْإِذْنِ فِي الْإِبَاحَةِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun hadis tersebut ditujukan kepada orang yang dalam keadaan darurat. Adapun buah-buahan yang jatuh dari pohon kurma dan pohon lainnya, yaitu buah yang jatuh ke tanah, jika berada di balik dinding dan telah diamankan, maka tidak boleh bagi orang yang lewat untuk mengambilnya, karena penjagaan itu mencegahnya dari diambil. Namun jika buah itu tampak dan tidak diamankan, maka jika kebiasaan pemiliknya tidak membolehkan untuk diambil, haram mengambilnya. Tetapi jika kebiasaan mereka memang membolehkan untuk diambil, seperti buah kurma di Basrah dan Madinah, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang kebiasaan tersebut, apakah kebiasaan itu dianggap sebagai izin untuk membolehkan atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا كَالْإِذْنِ فَيُحِلُّ لِكُلِّ مارٍ بِهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَلَا يَدَّخِرَهُ وَلَا يَتَعَرَّضَ لِغَيْرِ السَّوَاقِطِ وَقَدْ حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الْعَرَبِ دَخَلَ حَائِطًا بِالْمَدِينَةِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْ سَوَاقِطِ النَّخْلِ فَرَآهُ صَاحِبُ الْحَائِطِ فَدَعَاهُ وَعَرَضَ عَلَيْهِ الْأَكْلَ فَامْتَنَعَ وَقَالَ إِنَّمَا هَاجَ عَلَيَّ كَلْبُ الْجُوعِ فَسَكَّنْتُهُ بِتَمَرَاتٍ

Salah satu pendapat adalah bahwa hal itu seperti izin, sehingga diperbolehkan bagi setiap orang yang melewati kebun tersebut untuk makan darinya, namun tidak boleh menyimpannya dan tidak boleh mengambil selain buah-buahan yang jatuh. Diriwayatkan bahwa seorang Arab pernah masuk ke sebuah kebun di Madinah, lalu ia memakan buah kurma yang jatuh. Pemilik kebun melihatnya, lalu memanggilnya dan menawarkan makanan kepadanya, tetapi ia menolak dan berkata, “Aku hanya sedang dilanda rasa lapar, maka aku redakan dengan beberapa butir kurma.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الْعَادَةَ لَا تَكُونُ إِذْنًا وَلَا يَسْتَبِيحُ الْمَارُّ أَكْلَ السَّوَاقِطِ إِلَّا بإذن صريح كما لا يستبح مَا فِي النَّخْلِ إِلَّا بِإِذْنٍ صَرِيحٍ لِأَنَّ جَمِيعَهُ مِلْكٌ لِأَرْبَابِهِ وَنُفُوسُ النَّاسِ فِيهِ مُخْتَلِفَةٌ بِالشُّحِّ وَالسَّخَاءِ فَلَمْ يَكُنْ عُمُومُ الْعُرْفِ فِيهِ مُقْنِعًا حُكْمُ الْمُضْطَرِّ إِذَا مَرَّ بِثَمَرَةٍ وَنَحْوِهَا

Pendapat kedua adalah bahwa kebiasaan tidak dianggap sebagai izin, dan orang yang lewat tidak boleh memakan buah-buahan yang jatuh kecuali dengan izin yang jelas, sebagaimana ia juga tidak boleh mengambil apa yang ada pada pohon kurma kecuali dengan izin yang jelas, karena semuanya adalah milik para pemiliknya. Selain itu, tabiat manusia berbeda-beda dalam hal kikir dan dermawan, sehingga kebiasaan umum dalam hal ini tidak cukup untuk dijadikan dasar hukum bagi orang yang dalam keadaan darurat ketika melewati buah-buahan dan semacamnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْمُضْطَرُّ إِذَا مَرَّ بِثَمَرَةٍ أَوْ زَرْعٍ أَوْ طَعَامٍ لِغَيْرِهِ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَالِكُهُ حَاضِرًا أَوْ غَائِبًا فَإِنْ كَانَ غَائِبًا كَانَ لِلْمُضْطَرِّ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ مُحْرَزًا كَانَ أَوْ بَارِزًا وَفِي قَدْرِ مَا يَأْكُلُ مِنْهُ قَوْلَانِ كَالْمَيْتَةِ

Adapun orang yang dalam keadaan darurat, apabila melewati buah-buahan, tanaman, atau makanan milik orang lain, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: pemiliknya hadir atau tidak hadir. Jika pemiliknya tidak hadir, maka orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan dari makanan tersebut, baik makanan itu tersimpan maupun tampak. Mengenai kadar yang boleh dimakan, terdapat dua pendapat, sebagaimana dalam kasus bangkai.

أَحَدُهُمَا قَدْرُ مَا يُمْسِكُ رَمَقَهُ

Salah satunya adalah sejumlah yang dapat menahan hidupnya.

وَالثَّانِي أَنْ يَشْبَعَ مِنْهُ لِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَبَاحَ بِالضَّرُورَةِ مَا تَعَلَّقَ بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ تَحْرِيمِ الْمَيْتَةِ اسْتَبَاحَ بِهَا مِمَّا تَعَلَّقَ بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مِنَ الْأَمْوَالِ فَإِذَا أَكَلَ مِنْهَا قَدْرَ الْإِبَاحَةِ فَثَمَنُ قِيمَتِهِ لِمَالِكِهِ لِأَنَّ الضَّرُورَةَ إِنَّمَا دَعَتْ إِلَى الْأَكْلِ وَلَمْ تَدْعُ إِلَى سُقُوطِ الْغُرْمِ فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا عَجَّلَ دَفْعَ الْقِيمَةِ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا أُنْظِرَ بِهَا إلى مسيرته

Kedua, yaitu ia makan sampai kenyang darinya, karena ketika ia membolehkan dengan alasan darurat apa yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta‘ala berupa keharaman bangkai, maka dengan alasan yang sama ia juga dibolehkan mengambil apa yang berkaitan dengan hak-hak manusia berupa harta. Maka jika ia memakan darinya sebatas kadar yang dibolehkan, maka ia wajib membayar harga atau nilai barang tersebut kepada pemiliknya, karena darurat hanya membolehkan untuk makan dan tidak membolehkan gugurnya kewajiban mengganti kerugian. Jika ia mampu, ia harus segera membayar nilainya; dan jika ia tidak mampu, maka ia diberi tenggang waktu sampai ia mampu membayarnya.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ قِيمَةُ مَا أَكَلَ لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِالضَّرُورَةِ كَالِاسْتِبَاحَةِ الَّتِي لَا تُضْمَنُ مِنَ الْمَيْتَةِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa tidak wajib baginya membayar nilai dari apa yang telah ia makan, karena dalam keadaan darurat hal itu menjadi seperti kebolehan memakan bangkai yang tidak ada kewajiban ganti rugi. Namun, pendapat ini tidak benar dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَيْتَةَ لَا قِيمَةَ لَهَا وَلِلطَّعَامِ قِيمَةٌ

Salah satunya adalah bahwa bangkai tidak memiliki nilai, sedangkan makanan memiliki nilai.

وَالثَّانِي أَنَّ الْمَيْتَةَ لَا مَالِكَ لَهَا وَلِلطَّعَامِ مَالِكٌ وَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الطَّعَامِ حَاضِرًا فَعَلَى الْمُضْطَرِّ أَنْ يَسْتَأْذِنَهُ فِي الْأَكْلِ بَعْدَ إِخْبَارِهِ بِضَرُورَتِهِ وَعَلَى مَالِكِ الطعام إِذَا عَلِمَ بِحَالِهِ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي الْأَكْلِ اسْتِحْيَاءً لِنَفْسِهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأَنّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً وَلِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مسلمٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كلمةٍِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ  وَلِأَنَّهُ لَوْ قَدَرَ عَلَى اسْتِنْقَاذِهِ بِمَالِهِ مِنْ تَلَفٍ كَغَرَقٍ أَوْ حَرِيقٍ وَجَبَ عَلَيْهِ كَذَلِكَ إِذَا قَدَرَ عَلَى اسْتِنْقَاذِهِ بِمَالِهِ مِنْ تَلَفِ الْجُوعِ

Kedua, bangkai tidak memiliki pemilik, sedangkan makanan memiliki pemilik. Jika pemilik makanan hadir, maka orang yang dalam keadaan darurat wajib meminta izin kepadanya untuk makan setelah memberitahukan keadaannya yang darurat. Dan bagi pemilik makanan, apabila ia mengetahui keadaannya, hendaknya ia mengizinkan orang tersebut makan karena rasa malu kepada dirinya sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan barang siapa yang memeliharanya (menyelamatkan satu jiwa), maka seakan-akan ia telah memelihara (menyelamatkan) manusia seluruhnya,” serta berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa membantu dalam membunuh seorang Muslim, meskipun hanya dengan setengah kata, maka pada hari kiamat akan tertulis di antara kedua matanya: ‘Putus asa dari rahmat Allah’.” Dan karena jika seseorang mampu menyelamatkan orang lain dari kebinasaan seperti tenggelam atau kebakaran dengan hartanya, maka ia wajib melakukannya; demikian pula jika ia mampu menyelamatkannya dari kebinasaan karena kelaparan dengan hartanya.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمَالِكِ مِنْ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي الْأَكْلِ أَوْ لَا يَأْذَنَ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ فِي الْأَكْلِ لَمْ يَخْلُ حَالُ إِذْنِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Jika demikian, maka keadaan pemilik tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mengizinkan untuk makan atau tidak mengizinkan. Jika ia mengizinkan untuk makan, maka izin tersebut tidak lepas dari tiga macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَأْذَنَ لَهُ بِإِبَاحَةِ الْأَكْلِ فَلِلْمُضْطَرِّ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالْإِبَاحَةِ طعام الْوَلَائِمِ الَّتِي يَجُوزُ الشِّبَعُ مِنْهَا وَلَا يَجُوزُ لَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى شِبَعِهِ وَلَا يَأْخُذُ مِنْهَا بَعْدَ الْأَكْلِ شَيْئًا

Salah satunya adalah jika pemilik mengizinkannya untuk memakan makanan tersebut, maka orang yang dalam keadaan darurat boleh memakannya sampai kenyang, menurut satu pendapat, karena dengan adanya izin tersebut, makanan itu menjadi seperti makanan jamuan yang boleh dimakan sampai kenyang. Namun, tidak boleh baginya menambah melebihi kenyang, dan tidak boleh mengambil apa pun dari makanan itu setelah makan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي الْأَكْلِ بِعِوَضٍ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian kedua adalah apabila ia mengizinkannya untuk makan dengan imbalan, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ لَا يَذْكُرَ قَدْرَ الْعِوَضِ فَلِلْمُضْطَرِّ أَنْ يَأْكُلَ وَعَلَيْهِ قِيمَةُ مَا أَكَلَ فِي وَقْتِهِ بِمَكَانِهِ وَلَهُ أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ

Salah satunya adalah tidak menyebutkan besaran imbalan, maka bagi orang yang dalam keadaan darurat diperbolehkan untuk makan, dan ia wajib membayar nilai dari apa yang dimakannya pada waktu dan tempat itu, serta ia boleh makan sampai kenyang.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَذْكُرَ لَهُ قَدْرَ الْعِوَضِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jenis kedua adalah ketika ia menyebutkan besaran imbalan, maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ ثَمَنَ مِثْلِهِ فَلَهُ أَنْ يَأْكُلَ فَإِنْ أَفْرَدَ لَهُ مَا يَأْكُلُهُ حِينَ سَمَّى ثَمَنَهُ صَحَّ الثَّمَنُ وَكَانَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مَا أَفْرَدَهُ فَإِنْ فَضَلَ مِنْهُ فَضْلَةٌ أَخَذَهَا لِأَنَّهُ قَدَّرَ مِلْكَهَا بِابْتِيَاعٍ صَحِيحٍ وَإِنْ لَمْ يُفْرِدْ مَا سَمَّى ثَمَنَهُ قَبْلَ الْأَكْلِ لَزِمَ الْمُضْطَرُّ قِيمَةَ مَا أَكَلَ سَوَاءٌ كَانَ أَقَلَّ مَنِ الْمُسَمَّى أَوْ أَكْثَرَ لِأَنَّ مَا يَأْكُلُهُ مَجْهُولًا لَا يَصِحُّ فِيهِ ثَمَنٌ مُسَمًّى

Salah satunya adalah jika dengan harga sepadan, maka ia boleh memakannya. Jika ia memisahkan bagian yang akan dimakannya ketika menyebutkan harganya, maka harga tersebut sah dan ia boleh memakan bagian yang telah dipisahkan itu. Jika masih tersisa sebagian darinya, maka ia boleh mengambilnya, karena ia telah memperkirakan kepemilikannya dengan pembelian yang sah. Namun, jika ia tidak memisahkan bagian yang disebutkan harganya sebelum makan, maka orang yang dalam keadaan darurat wajib membayar nilai dari apa yang telah dimakannya, baik nilainya lebih sedikit maupun lebih banyak dari harga yang disebutkan, karena apa yang dimakannya itu tidak diketahui secara pasti sehingga tidak sah untuk ditetapkan harga tertentu atasnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ مَا سَمَّاهُ مِنَ الثَّمَنِ أَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ مِثْلِهِ فَيَكُونُ بِطَلَبِ الزِّيَادَةِ مِنَ الْمُضْطَرِّ آثِمًا وَيُنْظَرُ فَإِنْ لَمْ يُفْرِدْ مَا سَمَّى ثَمَنَهُ لَمْ يَلْزَمِ الْمُضْطَرَّ فِيمَا أَكَلَ إِلَّا قِيمَتُهُ بِمَكَانِهِ فِي وَقْتِهِ وَبَطُلَ الْمُسَمَّى وَإِنْ أَفْرَدَ مَا سَمَّى ثَمَنَهُ فَفِي قَدْرِ مَا يَلْزَمُ الْمُضْطَرَّ إِذَا أَكَلَهُ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah apabila harga yang disebutkan lebih tinggi dari harga normalnya, maka dengan meminta tambahan dari orang yang terpaksa, ia berdosa. Kemudian dilihat lagi: jika barang yang disebutkan harganya tidak dipisahkan, maka orang yang terpaksa hanya wajib membayar sesuai nilai barang itu di tempat dan waktunya, dan harga yang disebutkan menjadi batal. Namun jika barang yang disebutkan harganya dipisahkan, maka dalam hal berapa banyak yang wajib dibayar oleh orang yang terpaksa ketika memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا الثَّمَنُ الْمُسَمَّى لِمَا تَضَمَّنَهُ مِنْ عَقْدٍ لَازِمٍ

Salah satunya adalah harga yang telah disepakati karena mengandung akad yang mengikat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي ثَمَنُ الْمِثْلِ دُونَ الْمُسَمَّى لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ بَيْعِ الْمُضْطَرِّ وَهُوَ هَذَا

Pendapat kedua adalah harga sesuai harga pasar (tsaman al-mitsl), bukan harga yang disepakati (musamma), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli orang yang terpaksa, dan inilah maksudnya.

وَأَصَحُّ مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ الْمُطْلَقَيْنِ عِنْدِي أَنْ يُنْظَرَ فَإِنْ كَانَتِ الزِّيَادَةُ فِي الثَّمَنِ لَا تَشُقُّ عَلَى الْمُضْطَرِّ لِيَسَارِهِ فَهُوَ فِي بَذْلِهَا غَيْرُ مُكْرَهٍ فَلَزِمَتْهُ وَإِنْ كَانَتْ شَاقَّةً عَلَيْهِ لِإِعْسَارِهِ فَهُوَ مِنْ بَذْلِهَا مُكْرَهٌ فَلَمْ تَلْزَمْهُ

Menurut pendapat saya, yang lebih sahih dari dua pendapat mutlak tersebut adalah bahwa perlu dilihat: jika tambahan harga itu tidak memberatkan orang yang terpaksa karena ia mampu, maka dalam memberikan tambahan itu ia tidak dipaksa, sehingga ia wajib membayarnya. Namun jika tambahan itu memberatkannya karena ia tidak mampu, maka dalam memberikan tambahan itu ia dipaksa, sehingga ia tidak wajib membayarnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي الْأَكْلِ إِذْنًا مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ تَصْرِيحٍ بِإِبَاحَةٍ وَلَا مُعَاوَضَةٍ فَلَهُ أَنْ يَأْكُلَ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حد الشبع كطعام الْوَلَائِمِ وَلَا قِيمَةَ عَلَيْهِ لِأَنَّ عُرْفَ الِاسْتِطْعَامِ وَالْإِطْعَامِ مَوْضُوعٌ عَلَى الْمُوَاسَاةِ دُونَ الْمُعَاوَضَةِ فَأَوْجَبَ إِطْلَاقُ الْإِذْنِ حَمْلَهُ عَلَى الْعُرْفِ وَالْمَعْهُودِ فِيهِ

Bagian ketiga adalah ketika seseorang diizinkan untuk makan dengan izin yang bersifat mutlak, tanpa pernyataan tegas tentang kebolehan atau adanya imbalan. Maka ia boleh makan sampai kenyang, seperti makanan pada acara walimah, dan tidak ada kewajiban mengganti nilai makanan tersebut atasnya, karena kebiasaan dalam meminta dan memberi makanan didasarkan pada sikap saling berbagi, bukan pada imbalan. Maka, izin yang diberikan secara mutlak harus dipahami sesuai dengan kebiasaan dan yang sudah dikenal dalam hal itu.

فَلَوِ اخْتُلِفَ فِي الْإِذْنِ فَقَالَ الْمَالِكُ أَذِنْتُ لَكَ فِي أَكْلِهِ بِعِوَضٍ لِي عَلَيْكَ

Maka jika terjadi perselisihan tentang izin, lalu pemilik berkata, “Aku telah mengizinkanmu memakannya dengan imbalan yang wajib engkau berikan kepadaku.”

وَقَالَ الْمُضْطَرُّ بَلْ أَذِنْتَ لِي فِي الْأَكْلِ مُبِيحًا فَلَا عِوَضَ لَكَ عَلَيَّ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمَالِكِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّهُ مَالِكٌ

Dan orang yang dalam keadaan darurat berkata, “Bahkan, engkau telah mengizinkanku untuk makan dengan membolehkannya, maka tidak ada kompensasi yang wajib aku berikan kepadamu.” Maka pendapat yang diterima adalah pendapat pemilik (barang) disertai sumpahnya, karena dialah pemiliknya.

فَإِنِ اخْتُلِفَ فِي قَدْرِ الْقِيمَةَ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُضْطَرِّ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّهُ غَارِمٌ

Jika terjadi perbedaan pendapat mengenai besarnya nilai (harga), maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang dalam keadaan darurat (mudtar), disertai sumpahnya, karena ia adalah pihak yang menanggung kerugian.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ لَهُ مالك الطعام في الأكل فلم يَخْلُو الْمُضْطَرُّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Dan jika pemilik makanan tidak mengizinkan orang yang dalam keadaan darurat untuk makan, maka orang yang dalam keadaan darurat itu tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَقْدِرَ عَلَى أَخْذِ الطَّعَامِ مِنْهُ بِغَيْرِ قِتَالٍ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ الطَّعَامَ جَبْرًا وَلَا يَتَعَدَّى الْآخِذُ إِلَى قِتَالِهِ وَفِي قَدْرِ مَا يَسْتَبِيحُ أَخْذَهُ مِنْهُ قَوْلَانِ

Salah satunya adalah jika ia mampu mengambil makanan darinya tanpa perlawanan, maka ia boleh mengambil makanan itu secara paksa dan orang yang mengambil tidak boleh melampaui batas hingga memeranginya. Mengenai jumlah makanan yang boleh diambil darinya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا قَدْرُ مَا يُمْسِكُ بِهِ رَمَقَهُ

Salah satunya adalah sejumlah yang dapat digunakan untuk mempertahankan hidupnya.

وَالثَّانِي مَا يَنْتَهِي بِهِ إِلَى حَدِّ الشِّبَعِ وَيَأْكُلُهُ فِي مَوْضِعِهِ وَلَا يَحْمِلُهُ لِأَنَّ ضَرُورَتَهُ مُعْتَبَرَةٌ فِي مَكَانِهِ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ تَزُولَ الضَّرُورَةُ إِنْ زَالَ عَنْهُ فَإِذَا أَكَلَهُ كَانَتْ عَلَيْهِ قِيمَتُهُ بِمَكَانِهِ فِي وَقْتِهِ

Yang kedua adalah makanan yang cukup untuk mencapai batas kenyang, dan ia memakannya di tempat itu serta tidak membawanya pergi, karena kebutuhannya dianggap hanya di tempat tersebut, dan mungkin saja kebutuhan itu hilang jika ia telah pergi darinya. Maka jika ia memakannya, ia wajib mengganti nilainya sesuai dengan tempat dan waktu ia memakannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيةُ أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى أَخْذِهِ وَلَا عَلَى قِتَالِهِ عَلَيْهِ فَمَالِكُ الطَّعَامِ عَاصٍ بِالْمَنْعِ وَمَعْصِيَتُهُ إِنْ أَفْضَتْ إِلَى تَلَفِ الْمُضْطَرِّ أَعْظَمُ لَكِنْ لَا يَضْمَنُهُ بِقَوَدٍ وَلَا دِيَةٍ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مَنْعُهُ فِعْلًا يَتَعَلَّقُ بِهِ الضَّمَانُ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang tidak mampu mengambil makanan itu dan juga tidak mampu memeranginya untuk mendapatkannya. Maka pemilik makanan berdosa karena menahan makanan tersebut, dan dosanya menjadi lebih besar jika penahanannya menyebabkan orang yang dalam keadaan darurat itu binasa. Namun, ia tidak wajib menanggung hukuman qishāsh atau diyat, karena penahanannya itu bukanlah perbuatan yang mengharuskannya untuk menanggung hukuman tersebut.

وَلَوْ قِيلَ إِنَّهُ يَضْمَنُ دِيَتَهُ كَانَ مَذْهَبًا لِأَنَّ الضَّرُورَةَ قَدْ جَعَلَتْ لَهُ فِي طَعَامِهِ حَقًّا فَصَارَ مَنْعُهُ مِنْهُ كَمَنْعِهِ مِنْ طَعَامِ نَفْسِهِ وَهُوَ لَوْ مَنَعَ إِنْسَانًا مِنْ طَعَامِ نَفْسِهِ حَتَّى مَاتَ جُوعًا ضَمِنَ دِيَتَهُ كَذَلِكَ إِذَا مَنَعَهُ مِنْ طَعَامٍ قَدْ صَارَ حَقُّهُ مُتَعَلِّقًا بِهِ وَجَبَ أَنْ يَضْمَنَ دِيَتَهُ

Dan seandainya dikatakan bahwa ia wajib menanggung diyatnya, maka itu adalah suatu pendapat, karena keadaan darurat telah memberikan hak baginya atas makanan tersebut, sehingga mencegahnya dari makanan itu sama seperti mencegah seseorang dari makanannya sendiri. Jika seseorang mencegah orang lain dari makanannya sendiri hingga ia mati kelaparan, maka ia wajib menanggung diyatnya. Demikian pula, jika ia mencegah orang lain dari makanan yang haknya telah melekat padanya, maka wajib baginya menanggung diyatnya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ لَا يَقْدِرَ الْمُضْطَرُّ عَلَى أَخْذِهِ إِلَّا بِقِتَالِهِ عَلَيْهِ فَلَهُ أَنْ يُقَاتِلَهُ عَلَيْهِ وَهَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَاتِلَهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى طَعَامِهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ مِمَّنْ أُرِيدَتْ نَفْسُهُ هَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْمَنْعُ مِنْهَا؟

Keadaan ketiga adalah ketika orang yang dalam keadaan darurat tidak mampu mengambilnya kecuali dengan melawannya. Maka ia boleh melawannya. Apakah ia wajib melawannya hingga mendapatkan makanannya atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini, sebagaimana orang yang jiwanya terancam, apakah ia wajib mencegah orang lain dari membunuhnya?

أَحَدُهُمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقَاتِلَهُ لِيَصِلَ إِلَى إِحْيَاءِ نَفْسِهِ بِطَعَامِهِ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَكْلُ الْمَيْتَةِ لِإِحْيَاءِ نَفْسِهِ بِهَا

Salah satunya adalah ia wajib memerangi orang itu agar dapat memperoleh makanan demi menyelamatkan jiwanya, sebagaimana ia wajib memakan bangkai untuk menyelamatkan jiwanya dengannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الْقِتَالَ مُبَاحٌ لَهُ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ لِأَنَّ مَالِكَ الطَّعَامِ لَا يَنْفَكُّ فِي الْأَغْلَبِ من دين أو عقل يبعثه كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى إِحْيَاءِ الْمُضْطَرِّ بِمَالِهِ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ مَوْكُولًا إِلَيْهِ وَخَالَفَ أَكْلَ الْمَيْتَةِ فِي الْوُجُوبِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى إحياء نَفْسِهِ إِلَّا بِهَا فَإِذَا شَرَعَ فِي قِتَالِهِ تَوَصَّلَ بِالْقِتَالِ إِلَى أَخْذِ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْإِبَاحَةُ مِنْ طَعَامِهِ وَفِيهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Pendapat kedua adalah bahwa perlawanan (bertempur) itu diperbolehkan baginya dan tidak wajib atasnya, karena pemilik makanan pada umumnya tidak lepas dari agama atau akal yang mendorong masing-masing dari keduanya untuk menghidupkan orang yang dalam keadaan terpaksa dengan hartanya, sehingga boleh saja hal itu diserahkan kepadanya. Ini berbeda dengan kewajiban memakan bangkai, karena tidak ada jalan untuk menyelamatkan dirinya kecuali dengan itu. Maka jika ia mulai melawan, dengan perlawanan itu ia dapat memperoleh makanan yang dengannya diperbolehkan (baginya untuk makan), dan di dalamnya terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا يُقَاتِلُهُ إِلَى أَنْ يَصِلَ أَخْذِ مَا يُمْسِكُ الرَّمَقَ فَإِنْ قَاتَلَهُ بَعْدَ الْوُصُولِ إِلَى إِمْسَاكِ الرَّمَقِ كَانَ مُتَعَدِّيًا

Salah satunya adalah ia boleh memeranginya sampai memperoleh apa yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya; maka jika ia masih memeranginya setelah memperoleh sesuatu yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya, maka ia telah melampaui batas.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يُقَاتِلُهُ إِلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى قَدْرِ الشِّبَعِ وَيَكُونُ الْقِتَالُ بَعْدَ الْوُصُولِ إِلَى إِمْسَاكِ الرَّمَقِ مُبَاحًا وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَجْهًا وَاحِدًا وَقِتَالُهُ بَعْدَ الْوُصُولِ إِلَى قَدْرِ الشِّبَعِ عُدْوَانٌ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia boleh diperangi sampai mencapai kadar kenyang, dan peperangan setelah mencapai batas mempertahankan hidup hukumnya mubah dan tidak wajib secara mutlak, sedangkan memeranginya setelah mencapai kadar kenyang adalah suatu tindakan melampaui batas (‘udwān).

فَإِنْ لَمْ يَصِلْ بِالْقِتَالِ إِلَى شَيْءٍ مِنْ طَعَامِهِ حَتَّى تَلِفَ أَحَدُهُمَا نُظِرَ فَإِنْ كَانَ التَّالِفُ رَبَّ الطَّعَامِ كَانَتْ نَفْسُهُ هَدْرًا لَا تُضْمَنُ بِقَوَدٍ وَلَا دِيَةٍ لِأَنَّهُ مَقْتُولٌ بِحَقٍّ كَمَنْ طَلَبَ نَفْسَ إِنْسَانٍ فَقَتَلَهُ الْمَطْلُوبُ دَفَعًا كَانَتْ نَفْسُهُ هَدْرًا وَإِنْ كَانَ التَّالِفُ الْمُضْطَرَّ كَانَتْ نَفْسُهُ مَضْمُونَةً عَلَى رَبِّ الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قُتِلَ مَظْلُومًا ثُمَّ نُظِرَ فَإِنْ عَلِمَ رَبُّ الطَّعَامِ بِضَرُورَةِ الْمُضْطَرِّ ضَمِنَهُ بِالْقَوَدِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِضَرُورَتِهِ ضَمِنَهُ بِالدِّيَةِ لِأَنَّهُ مَعَ الْعِلْمِ بِهَا عَامِدٌ وَمَعَ الْجَهْلِ بِهَا خَاطِئٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika dengan perkelahian itu tidak ada yang berhasil mendapatkan sedikit pun dari makanannya hingga salah satu dari keduanya binasa, maka diperhatikan: jika yang binasa adalah pemilik makanan, maka jiwanya sia-sia, tidak ada tanggungan qishāsh maupun diyat, karena ia terbunuh dengan hak, seperti seseorang yang mengancam nyawa orang lain lalu dibunuh oleh orang yang diancam sebagai bentuk pembelaan, maka jiwanya sia-sia. Namun jika yang binasa adalah orang yang dalam keadaan darurat, maka jiwanya menjadi tanggungan atas pemilik makanan, karena ia terbunuh secara zalim. Kemudian diperhatikan lagi: jika pemilik makanan mengetahui keadaan darurat orang tersebut, maka ia menanggungnya dengan qishāsh; namun jika ia tidak mengetahui keadaan daruratnya, maka ia menanggungnya dengan diyat, karena jika ia mengetahui, berarti ia sengaja, dan jika tidak mengetahui, berarti ia keliru. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ وَجَدَ الْمُضْطَرُّ مَيْتَةً وَصَيْدًا وَهُوَ محرمٌ أَكَلَ الْمَيْتَةَ وَلَوْ قيل يأكل الصيد ويفتدي كان مذهباً قال المزني رحمه الله الصيد محرمٌ لغيره وهو الإحرام ومباحٌ لغير محرمٍ والميتة محرمةٌ لعينها لا لغيرها على كل حلالٍ وحرامٍ فهي أغلظ تحريماً فإحياء نفسه بترك الأغلظ وتناول الأيسر أولى به من ركوب الأغلظ وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan bangkai dan hewan buruan, sedangkan ia sedang berihram, maka ia memakan bangkai tersebut. Namun, jika dikatakan bahwa ia boleh memakan hewan buruan lalu membayar fidyah, itu juga merupakan suatu pendapat. Al-Muzani rahimahullah berkata: Hewan buruan diharamkan karena sebab lain, yaitu ihram, dan halal bagi orang yang tidak berihram. Sedangkan bangkai diharamkan karena zatnya, bukan karena sebab lain, baik bagi orang yang halal maupun yang haram (berihram), sehingga keharamannya lebih berat. Maka, menghidupi dirinya dengan meninggalkan yang lebih berat keharamannya dan memilih yang lebih ringan lebih utama baginya daripada melakukan yang lebih berat. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ مُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يُذْكَرَ مَا يَسْتَبِيحُهُ الْمُضْطَرُّ مِنْ أَكْلِ الْمُحَرَّمَاتِ إِذَا انْفَرَدَتْ ثُمَّ يُذْكَرُ حُكْمُهَا فِي حَقِّهِ إِذَا اجْتَمَعَتْ فَإِذَا وَجَدَ الْمُضْطَرُّ صَيْدًا وَهُوَ مُحْرِمٌ حَلَّ لَهُ أَكْلُ الصَّيْدِ لِضَرُورَتِهِ فِي إِحْيَاءِ نَفْسِهِ كَالْمَيْتَةِ الَّتِي يَسْتَبِيحُ أَكْلَهَا بِالضَّرُورَةِ وَإِنْ حَرُمَتْ عَلَيْهِ إِذَا أَكَلَ الصَّيْدَ أَنْ يَفْدِيَهُ بِالْجَزَاءِ لِأَنَّ الضَّرُورَةَ لَا تَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ الْجَزَاءِ لِأَنَّهَا فِيهِ وَلَيْسَتْ فِي الصَّيْدِ وَهُوَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى الَّتِي يَسْتَوِي فِيهَا الْعَامِدُ وَالْخَاطِئُ وَفِي قَدْرِ مَا تَسْتَبِيحُهُ مِنْ أَكْلِهِ قَوْلَانِ كَالْمَيْتَةِ

Al-Mawardi berkata: Pendahuluan masalah ini adalah menyebutkan apa saja yang boleh dikonsumsi oleh orang yang dalam keadaan darurat dari makanan-makanan yang diharamkan jika masing-masing berdiri sendiri, kemudian disebutkan hukumnya bagi orang tersebut jika makanan-makanan itu berkumpul. Maka jika orang yang dalam keadaan darurat menemukan hewan buruan sementara ia sedang berihram, maka halal baginya memakan hewan buruan itu karena darurat untuk menyelamatkan jiwanya, sebagaimana bangkai yang boleh ia makan karena darurat, meskipun pada asalnya diharamkan baginya. Jika ia memakan hewan buruan itu, maka ia wajib membayar fidyah sebagai kompensasi, karena keadaan darurat tidak menggugurkan kewajiban membayar fidyah, sebab darurat itu berkaitan dengan dirinya, bukan dengan hewan buruan tersebut, dan itu termasuk hak Allah Ta‘ala yang berlaku sama bagi pelaku sengaja maupun yang tidak sengaja. Mengenai kadar yang boleh ia konsumsi dari hewan buruan itu, terdapat dua pendapat, sebagaimana pada bangkai.

أَحَدُهُمَا قَدْرُ إِمْسَاكِ الرَّمَقِ

Salah satunya adalah kadar yang cukup untuk menahan hidup.

وَالثَّانِي قَدْرُ الشِّبَعِ وَلَوْ كَانَ مَا وَجَدَهُ الْمُحْرِمُ الْمُضْطَرُّ صَيْدًا مَقْتُولًا أَكَلَ مِنْهُ وَلَمْ يَضْمَنْهُ بِالْجَزَاءِ سَوَاءٌ ضَمِنَهْ قَاتِلُهُ أَوْ لَمْ يَضْمَنْهُ لِأَنَّ ضَمَانَ الصَّيْدِ عَلَى الْمُحْرِمِ مُسْتَحَقٌّ بِالْقَتْلِ دُونَ الْأَكْلِ وَإِذَا كَانَ غَيْرَ ضَامِنٍ لِجَزَائِهِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ قَاتِلَ الصَّيْدِ مُحِلًّا فَهُوَ ذَكِيٌّ مَمْلُوكٌ فَيَضْمَنُ الْمُضْطَرُّ قِيمَةَ مَا أَكَلَ لِمَالِكِهِ وَإِنْ كَانَ قَاتِلُهُ مُحْرِمًا فَهَلْ يَكُونُ مَيْتَةً أَوْ مُذَكًّى؟ فِيهِ قَوْلَانِ

Yang kedua adalah kadar kenyang. Jika seorang muhrim yang dalam keadaan darurat menemukan hewan buruan yang sudah mati, maka ia boleh memakannya dan tidak wajib membayar fidyah, baik pembunuh hewan tersebut telah membayar fidyah atau belum. Sebab, kewajiban membayar fidyah atas hewan buruan bagi muhrim itu disebabkan oleh membunuh, bukan karena memakannya. Jika ia tidak wajib membayar fidyah, maka perlu dilihat: jika yang membunuh hewan buruan itu adalah orang yang halal (bukan muhrim), maka hewan itu adalah hewan yang disembelih dengan benar dan menjadi milik, sehingga orang yang dalam keadaan darurat wajib mengganti nilai bagian yang dimakannya kepada pemiliknya. Namun jika yang membunuhnya adalah muhrim, maka apakah hewan itu dihukumi bangkai atau hewan yang sah disembelih? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أحدهما يكون ميتة كالذكاة الْمَجُوسِيِّ فَعَلَى هَذَا لَا يَجِبُ عَلَى الْمُضْطَرِّ قِيمَةُ مَا أَكَلَ لِأَنَّهُ لَا قِيمَةَ لِلْمَيْتَةِ

Salah satunya adalah seperti bangkai, seperti penyembelihan orang Majusi. Maka berdasarkan hal ini, tidak wajib atas orang yang dalam keadaan darurat untuk membayar nilai dari apa yang ia makan, karena bangkai tidak memiliki nilai.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ مُذَكًّى يَحْرُمُ عَلَى الْمُحْرِمِ وَيَحِلُّ لِغَيْرِهِ فَعَلَى هَذَا مِنْ ضَمَانِ الْمُضْطَرِّ لِقِيمَةِ مَا أَكَلَ وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ الْقَوْلَيْنِ هَلْ يَسْتَقِرُّ لِلْمُحْرِمِ عَلَيْهِ مِلْكٌ أَمْ لَا؟ أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ لَا ضَمَانَ عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْمُحْرِمَ لَمْ يَمْلِكْ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hewan tersebut menjadi hewan yang telah disembelih secara syar‘i, namun haram bagi orang yang sedang ihram dan halal bagi selainnya. Berdasarkan pendapat ini, mengenai kewajiban ganti rugi bagi orang yang dalam keadaan darurat atas nilai hewan yang dimakan, terdapat dua wajah (pendapat) yang bersumber dari perbedaan dua pendapat: apakah orang yang sedang ihram memiliki kepemilikan atas hewan tersebut atau tidak? Salah satu dari dua wajah tersebut menyatakan bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya jika dikatakan bahwa orang yang sedang ihram tidak memilikinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي عَلَيْهِ الضَّمَانُ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ يَمْلِكُ

Pendapat kedua: ia wajib menanggung ganti rugi jika dikatakan bahwa ia memilikinya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا وَجَدَ الْمُضْطَرُّ لَحْمَ آدَمِيٍّ مَيْتٍ جَازَ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ وَهُوَ قَوْلُ الْجَمَاعَةِ وَقَالَ دَاوُدُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ وَهُوَ حَرَامٌ عَلَى الْمُضْطَرِّ كَتَحْرِيمِهِ عَلَى غَيْرِهِ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ حُرْمَةُ ابْنِ آدَمَ بَعْدَ مَوْتِهِ كَحُرْمَتِهِ فِي حَيَاتِهِ وَكَسْرُ عَظْمِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ كَكَسْرِ عَظْمِهِ فِي حَيَاتِهِ

Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan daging manusia yang sudah mati, maka boleh baginya memakannya; ini adalah pendapat jumhur ulama. Namun, Dawud berpendapat tidak boleh memakannya, dan itu tetap haram bagi orang yang dalam keadaan darurat sebagaimana keharamannya bagi selainnya, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Kehormatan anak Adam setelah kematiannya seperti kehormatannya ketika hidup, dan mematahkan tulangnya setelah kematiannya seperti mematahkan tulangnya ketika hidup.”

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ وَلِأَنَّ هَذَا مُفْضٍ إِلَى أَكْلِ لُحُومِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّدِّيقِينَ وَمَنْ أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى حِفْظَ حُرْمَتِهِ وَتَعْظِيمَ حَقِّهِ

Muhammad bin Dawud berkata, “Karena hal ini dapat menyebabkan memakan daging para nabi, para shiddiqin, dan orang-orang yang Allah Ta‘ala wajibkan untuk menjaga kehormatannya dan mengagungkan haknya.”

فَقَلَبَهُ عَلَيْهِ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَقَالَ الْمَنْعُ مِنْ أَكْلِهِ مُفْضٍ إِلَى قَتْلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّدِّيقِينَ إِذَا اضْطُرُّوا حَفْظًا لِحُرْمَةِ مَيِّتٍ كَافِرٍ وَهَذَا أَعْظَمُ فَلَمْ يَصِحَّ بِمَا قَالَهُ ابْنُ دَاوُدُ

Lalu Abu al-‘Abbas bin Surayj membalikkan argumen itu kepadanya dan berkata, “Larangan memakan (bangkai manusia) akan berujung pada membunuh para nabi dan orang-orang shiddiq jika mereka dalam keadaan terpaksa, demi menjaga kehormatan jenazah orang kafir, padahal ini lebih besar (dosanya). Maka, pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Dawud tidaklah sah.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى إِبَاحَتِهِ قول الله تعالى فمن أضطر من مخمصة غير متجانف لأثم فإن الله عفور رَحِيمٌ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ فِي حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ حِينَ قُتِلَ بِأَحَدٍ لَوْلَا صَفِيَّةُ لَتَرَكْتُهُ تَأْكُلُهُ السِّبَاعُ حَتَّى يُحْشَرَ مِنْ بُطُونِهَا فَإِذَا جَازَ أَنْ تَأْكُلَهُ الْبَهَائِمُ الَّتِي لَا حُرْمَةَ لَهَا فَأَوْلَى أَنْ تُحْفَظَ بِهِ نُفُوسُ ذَوِي الْحُرُمَاتِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ أَنْ يُحْيِيَ نَفْسًا بِقَتْلِ نَفْسٍ فَإِحْيَاؤُهَا بِغَيْرِ ذِي نَفْسٍ أَوْلَى وَلِأَنَّ لَحْمَهُ يَبْلَى بِغَيْرِ إِحْيَاءِ نَفْسٍ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَبْلَى بِإِحْيَاءِ نَفْسٍ

Dalil yang menunjukkan kebolehannya adalah firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa dalam keadaan terpaksa karena kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Maka ayat ini berlaku secara umum. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda tentang Hamzah bin Abdul Muththalib ketika beliau terbunuh di Uhud: “Seandainya bukan karena (keberadaan) Shafiyyah, niscaya aku akan membiarkannya dimakan binatang buas hingga ia dibangkitkan dari perut-perut mereka.” Maka jika diperbolehkan binatang yang tidak memiliki kehormatan memakannya, maka lebih utama lagi jika dengan itu jiwa orang-orang yang memiliki kehormatan dapat diselamatkan. Karena jika diperbolehkan menghidupkan satu jiwa dengan membunuh jiwa lain, maka menghidupkannya tanpa membunuh jiwa lebih utama. Dan karena dagingnya akan hancur tanpa menghidupkan jiwa, maka lebih utama jika daging itu hancur untuk menghidupkan jiwa.

وَأَمَّا الْخَبَرُ فَهُوَ بِأَنْ يَكُونَ دَلِيلًا فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهِ أَشْبَهُ لِأَنَّهُ لَمَّا حَفِظَ حُرْمَتَهُ بَعْدَ الْمَوْتِ كَانَ حِفْظُهَا فِي الْحَيَاةِ أَوْكَدَ وَإِذَا لَمْ يُمْكِنُ حِفْظُ الْحُرْمَتَيْنِ كَانَ حِفْظُ حُرْمَةِ الْحَيِّ بِالْمَيِّتِ أَوْلَى مِنْ حِفْظِ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ بِالْحَيِّ

Adapun khabar, maka ia dapat menjadi dalil dalam membolehkan memakannya, karena ketika kehormatannya tetap dijaga setelah mati, maka menjaga kehormatannya saat hidup lebih ditekankan. Dan apabila tidak mungkin menjaga kedua kehormatan tersebut sekaligus, maka menjaga kehormatan yang hidup dengan yang mati lebih utama daripada menjaga kehormatan yang mati dengan yang hidup.

فَإِذَا ثَبَتَ إِبَاحَةُ أَكْلِهِ مِنْهُ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ إِلَّا قَدْرَ مَا يُمْسِكُ رَمَقَهُ قَوْلًا وَاحِدًا لِيَحْفَظَ بِهِ الْحُرْمَتَيْنِ مَعًا وَيُمْنَعَ مِنْ طَبْخِهِ وَشَيِّهِ وَيَأْكُلُهُ نِيئًا إِنْ قَدَرَ لِأَنَّ طبخه مَحْظُورٌ وَإِنْ لَمْ يُؤْكَلْ وَأَكْلُهُ مَحْظُورٌ وَإِنْ لَمْ يُطْبَخْ وَالضَّرُورَةُ تَدْعُو إِلَى الْأَكْلِ فَأَبَحْنَاهُ وَلَا تَدْعُو إِلَى الطَّبْخِ فَحَظَرْنَاهُ

Maka apabila telah tetap kebolehan memakannya, maka ia tidak boleh makan kecuali sekadar yang dapat mempertahankan hidupnya saja, menurut satu pendapat, agar dapat menjaga dua kehormatan sekaligus. Ia dilarang untuk memasak atau memanggangnya, dan ia harus memakannya mentah jika mampu, karena memasaknya adalah sesuatu yang terlarang meskipun tidak dimakan, dan memakannya juga terlarang jika tidak dimasak. Namun, karena keadaan darurat menuntut untuk memakannya, maka kami membolehkannya, sedangkan keadaan darurat tidak menuntut untuk memasaknya, maka kami melarangnya.

وَخَالَفَ الْمَيْتَةَ الَّتِي تَخْتَصُّ بِتَحْرِيمِ الْأَكْلِ دُونَ الطَّبْخِ فَجَازَ أَنْ يُجْمَعَ بَيْنَهُمَا عِنْدَ الضَّرُورَةِ

Berbeda dengan bangkai yang khusus diharamkan untuk dimakan saja, bukan untuk dimasak, maka boleh menggabungkan keduanya ketika dalam keadaan darurat.

وَأَمَّا إِذَا وَجَدَ الْمُضْطَرُّ آدَمِيًّا حَيًّا فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يُسْتَبَاحُ قَتْلُهُ حَرُمَ عَلَى الْمُضْطَرِّ أَنْ يَأْكُلَهُ مَا يُحْيِي بِهِ نَفْسَهُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ إِحْيَاءُ نَفْسٍ بِإِتْلَافِ نَفْسٍ مَعَ تَكَافُئِهِمَا فِي الْحُرْمَةِ

Adapun jika orang yang dalam keadaan darurat menemukan seorang manusia yang masih hidup, maka jika orang tersebut termasuk yang tidak boleh dibunuh, haram bagi orang yang dalam keadaan darurat itu memakannya untuk menyelamatkan dirinya, karena tidak boleh menyelamatkan satu jiwa dengan membinasakan jiwa lain yang sama-sama memiliki kehormatan.

وَسَوَاءٌ كَانَ الْمَأْكُولُ مُسْلِمًا أَوْ ذمياً لأن نفسه الذميين مَحْظُورَةٌ كَالْمُسْلِمِ وَإِنْ كَانَ الْمَأْكُولُ مِمَّنْ يَجِبُ قتله في رده أو حرابة أو زنا جَازَ أَنْ يَأْكُلَ الْمُضْطَرُّ مِنْ لَحْمِهِ لَكِنْ بَعْدَ قَتْلِهِ وَلَا يَأْكُلُ لَحْمَهُ فِي حَيَاتِهِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْذِيبِهِ فَإِنْ أَكَلَ مِنْ لَحْمِهِ حَيًّا كَانَ مُسِيئًا إِنْ قَدَرَ عَلَى قَتْلِهِ وَمَعْذُورًا إِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ لِشِدَّةِ الْخَوْفِ عَلَى نَفْسِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمُضْطَرُّ مَا يُمْسِكُ رَمَقَهُ إِلَّا بِقَطْعِ عُضْوٍ مِنْ جَسَدِهِ فَفِي إِبَاحَتِهِ وَجْهَانِ

Sama saja apakah orang yang dimakan itu seorang Muslim atau dzimmi, karena jiwa kaum dzimmi juga terjaga seperti halnya jiwa Muslim. Jika orang yang dimakan itu termasuk orang yang wajib dibunuh karena murtad, melakukan perampokan, atau zina, maka boleh bagi orang yang terpaksa untuk memakan dagingnya, tetapi setelah ia dibunuh, dan tidak boleh memakan dagingnya saat ia masih hidup karena hal itu termasuk menyiksanya. Jika ia memakan dagingnya saat masih hidup, maka ia berdosa jika mampu membunuhnya, dan dimaafkan jika tidak mampu membunuhnya karena sangat takut terhadap keselamatan dirinya. Jika orang yang terpaksa tidak menemukan sesuatu yang dapat menyambung hidupnya kecuali dengan memotong anggota tubuhnya sendiri, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِذَا كَانَ غَالِبُ قَطْعِهِ السَّلَامَةَ لِحِفْظِ نَفْسِهِ بِعُضْوٍ مِنْ جَسَدِهِ كَمَا يُقْطَعُ إِذَا وَقَعَتْ فِيهِ الْأَكَلَةُ لِيَحْفَظَ بِهِ نَفْسَهُ

Salah satu pendapat, yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah jika kebanyakan pemotongan anggota tubuh itu bertujuan untuk menjaga keselamatan dirinya dengan salah satu anggota tubuhnya, seperti halnya seseorang memotong anggota tubuh yang terkena penyakit agar dapat menjaga dirinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ يَجْمَعُ بِقَطْعِهِ بَيْنَ خَوْفَيْنِ فَكَانَ أَسْرَعَ إِلَى تَلَفِهِ وَلَيْسَ كَقَطْعِ الْأَكَلَةِ لِأَنَّ يَأْمَنُ سِرَايَتَهَا بِقَطْعِهِ

Pendapat kedua tidak boleh, karena dengan memotongnya akan menggabungkan dua rasa takut, sehingga lebih cepat menyebabkan kebinasaan dirinya. Ini tidak seperti memotong bagian yang terkena penyakit (al-akalah), karena dengan memotongnya justru dapat mencegah penyebarannya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ حُكْمِ الِاسْتِبَاحَةِ عَلَى الِانْفِرَادِ انْتَقَلْنَا إِلَى الْجَمْعِ بَيْنَ كُلِّ مُسْتَبَاحَيْنِ بِالضَّرُورَةِ مَحْظُورَيْنِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ

Setelah ketetapan yang telah kami sebutkan mengenai hukum kebolehan secara terpisah, maka kami beralih kepada pembahasan penggabungan antara dua hal yang dibolehkan karena darurat, yang pada asalnya terlarang jika tanpa adanya darurat.

فَمِنْ ذَلِكَ إِذَا وَجَدَ الْمُضْطَرُّ وَهُوَ مُحْرِمٌ مَيْتَةً وَصَيْدًا حَيًّا

Di antara contohnya adalah apabila seseorang yang dalam keadaan darurat dan sedang berihram menemukan bangkai dan hewan buruan yang masih hidup.

وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ فَفِيمَا يَسْتَبِيحُهُ مِنْهُمَا قَوْلَانِ

Ini adalah masalah kitab, maka dalam hal apa yang dibolehkan darinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَأْكُلُ الْمَيْتَةَ دُونَ الصَّيْدِ لِأَمْرَيْنِ

Salah satunya, yaitu mazhab Mālik dan Abū Ḥanīfah, berpendapat bahwa ia boleh memakan bangkai tetapi tidak boleh berburu, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ اسْتِبَاحَةَ الْمَيْتَةِ نَصٌّ وَاسْتِبَاحَةَ الصَّيْدِ اجْتِهَادٌ

Salah satunya adalah bahwa kebolehan bangkai didasarkan pada nash, sedangkan kebolehan berburu didasarkan pada ijtihad.

وَالثَّانِي أَنَّ أَكْلَ الْمَيْتَةِ لَا يُوجِبُ الضَّمَانَ وَأَكْلَ الصَّيْدِ مُوجِبٌ لِضَمَانِ الْجَزَاءِ فَصَارَتِ الْمَيْتَةُ بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ أَخَفَّ حُكْمًا

Kedua, bahwa memakan bangkai tidak mewajibkan adanya ganti rugi, sedangkan memakan hewan buruan mewajibkan adanya ganti rugi berupa denda. Maka, bangkai dengan dua hal ini menjadi lebih ringan hukumnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ يَأْكُلُ الصَّيْدَ وَيَعْدِلُ عَنِ الْمَيْتَةِ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan al-Muzani, adalah bahwa ia memakan hasil buruan dan berpaling dari bangkai karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ إِبَاحَةَ الصَّيْدِ عَامَّةٌ وَحَظْرَهُ خَاصَّةٌ مِنَ الْإِحْرَامِ وَحَظْرَ الْمَيْتَةِ عَامٌ وَإِبَاحَتَهَا خَاصَّةٌ فِي الاضطرار فكان ما أباحته أعم أَخَفَّ مِمَّا تَحْرِيمُهُ أَعَمُّ

Salah satunya adalah bahwa kebolehan berburu itu bersifat umum, sedangkan larangannya khusus bagi orang yang sedang ihram. Sementara larangan memakan bangkai bersifat umum, dan kebolehannya khusus dalam keadaan darurat. Maka, sesuatu yang kebolehannya lebih umum itu lebih ringan dibandingkan sesuatu yang keharamannya lebih umum.

وَالثَّانِي أَنَّ تَحْرِيمَ الصَّيْدِ لِمَعْنًى فِي غَيْرِهِ وَتَحْرِيمَ الْمَيْتَةِ لِمَعْنًى فِيهَا فَكَانَ مَا فارقه معنى التحريم أخف مما حله مَعْنَى التَّحْرِيمِ فَثَبَتَ بِهَذَيْنِ أَنَّ أَكْلَ الصَّيْدِ أَوْلَى

Kedua, bahwa pengharaman berburu (ṣayd) disebabkan oleh suatu alasan yang terdapat pada selainnya, sedangkan pengharaman bangkai (maytah) disebabkan oleh suatu alasan yang terdapat pada dirinya sendiri. Maka, sesuatu yang terlepas dari alasan pengharaman itu lebih ringan hukumnya dibandingkan sesuatu yang masih melekat padanya alasan pengharaman. Dengan dua hal ini, maka memakan hasil buruan (ṣayd) lebih utama.

فَأَمَّا إِذَا وَجَدَ مَيْتَةً وَلَحْمَ صَيْدٍ قَتَلَهُ مُحْرِمٌ فَإِنْ قِيلَ بِذَكَاتِهِ كَانَ أَوْلَى من الميتة وإن قيل بنجاسته كان الْمَيْتَةُ أَوْلَى مِنْهُ

Adapun jika seseorang menemukan bangkai dan daging buruan yang dibunuh oleh seorang muhrim, maka jika dikatakan bahwa daging buruan tersebut dianggap sebagai hasil sembelihan yang sah, maka ia lebih utama daripada bangkai. Namun jika dikatakan bahwa daging buruan tersebut najis, maka bangkai lebih utama daripadanya.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

وَإِذَا وَجَدَ الْمُضْطَرُّ مَيْتَةً وَطَعَامًا لِغَيْرِهِ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ فِي أَكْلِهِ حَرُمَتْ عَلَيْهِ الْمَيْتَةُ وَإِنْ مَنَعَهُ مِنْ أَكْلِهِ حَلَّتْ لَهُ الْمَيْتَةُ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا لَمْ يَأْذَنْ وَلَمْ يَمْنَعْ فَعَلَى قَوْلَيْنِ كَالْمَيْتَةِ مَعَ الصَّيْدِ

Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan bangkai dan makanan milik orang lain, maka jika pemiliknya mengizinkan ia memakannya, bangkai menjadi haram baginya. Namun jika pemiliknya melarangnya memakan makanan itu, maka bangkai menjadi halal baginya. Jika pemiliknya tidak hadir, tidak mengizinkan dan tidak melarang, maka ada dua pendapat, sebagaimana hukum bangkai bersama hewan buruan.

وَلَوْ وَجَدَ الْمُضْطَرُّ الْمَحْرِمُ صَيْدًا وَطَعَامَ الْغَيْرِ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Jika seorang yang dalam keadaan darurat dan sedang berihram menemukan hewan buruan dan makanan milik orang lain, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَأْكُلُ الصَّيْدَ لِأَنَّ تَحْرِيمَهُ عَلَيْهِ مِنْ حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى فَكَانَ أَخَفَّ

Salah satunya adalah boleh memakan hasil buruan, karena keharamannya baginya merupakan hak Allah Ta‘ala, sehingga hukumnya lebih ringan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَأْكُلُ طَعَامَ الْغَيْرِ لِأَنَّهُ يُسْتَبَاحُ بِالْإِبَاحَةِ

Pendapat kedua, ia memakan makanan milik orang lain karena makanan itu menjadi halal baginya melalui izin (ibāhah).

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِي الْأَكْلِ مِنْ أَيِّهِمَا شَاءَ

Pendapat ketiga adalah bahwa ia diberi pilihan untuk makan dari salah satu di antara keduanya yang ia kehendaki.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ وَجَدَ الْمُضْطَرُّ مِيتَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا مَنْ جِنْسِ مَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ كَالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ وَالْأُخْرَى مَنْ جِنْسِ مَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ كَالسُّبُعِ وَالذِّئْبِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan dua bangkai, salah satunya dari jenis hewan yang dagingnya boleh dimakan seperti kambing dan unta, dan yang lainnya dari jenis hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan seperti binatang buas dan serigala, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمَا سَوَاءٌ وَلَهُ الْخِيَارُ فِي الْأَكْلِ مِنْ أَيِّهِمَا شَاءَ لِأَنَّهُمَا قَدِ اسْتَوَيَا فِي النَّجَاسَةِ بِالْمَوْتِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa keduanya sama, dan ia memiliki pilihan untuk memakan salah satu dari keduanya yang ia kehendaki, karena keduanya telah sama dalam hal kenajisan akibat kematian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَأْكُلُ مِمَّا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ دُونَ مَا لَا يُؤْكَلُ لِأَنَّ لِلْمَأْكُولِ أَصْلًا فِي الْإِبَاحَةِ فَكَانَ أولى مما لا أصل له في بالإباحة

Pendapat kedua adalah bahwa ia boleh makan dari hewan yang dagingnya boleh dimakan, bukan dari yang tidak boleh dimakan, karena hewan yang boleh dimakan pada dasarnya memang diperbolehkan, sehingga lebih utama dibandingkan dengan yang tidak ada asal muasal kebolehannya.

وَلَوْ وَجَدَ الْمُضْطَرُّ مِيتَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا طَاهِرَةٌ فِي حَيَاتِهَا وَالْأُخْرَى نَجِسَةٌ فِي حَيَاتِهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan dua bangkai, salah satunya suci ketika masih hidup dan yang lainnya najis ketika masih hidup, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمَا سَوَاءٌ وَيَأْكُلُ مِنْ أَيِّهِمَا شَاءَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ خِنْزِيرًا لِأَنَّهُمَا قَدِ اسْتَوَيَا فِي النَّجَاسَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa keduanya sama saja, dan boleh memakan dari salah satunya yang diinginkan, kecuali jika itu adalah babi, karena keduanya telah sama-sama najis setelah mati.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يَأْكُلُ مِنَ الطَّاهِرِ دُونَ النَّجَسِ لِأَنَّ لَهُ فِي الطَّهَارَةِ أَصْلًا لَيْسَ لِلنَّجِسِ

Yang kedua, bahwa ia memakan yang suci dan tidak memakan yang najis, karena pada yang suci terdapat asal (dasar) baginya, sedangkan pada yang najis tidak ada.

وَلَوْ وَجَدَ الْمُضْطَرُّ مَيْتَةً وَلَحْمَ ابْنِ آدَمَ أَكَلَ الْمَيْتَةَ وَإِنْ كَانَ خِنْزِيرًا دُونَ لَحْمِ ابْنِ آدَمَ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ تَحْرِيمَ الْمَيْتَةِ مِنْ حَقِّ الْأَكْلِ وَتَحْرِيمَ ابْنِ آدَمَ فِي حَقِّهِ وَحَقِّ الْأَكْلِ فَكَانَ أَغْلَظَ وَكَذَلِكَ لَوْ وَجَدَ صَيْدًا وَلَحْمَ ابْنِ آدَمَ وَهُوَ محرمٌ أَكَلَ الصَّيْدَ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَا

Jika seseorang yang dalam keadaan darurat menemukan bangkai dan daging manusia, maka ia memakan bangkai, meskipun itu bangkai babi, dan tidak memakan daging manusia, menurut satu pendapat. Sebab, keharaman bangkai berkaitan dengan hak konsumsi, sedangkan keharaman daging manusia berkaitan dengan hak manusia itu sendiri dan hak konsumsi, sehingga keharamannya lebih berat. Demikian pula, jika ia menemukan hewan buruan dan daging manusia, sedangkan ia sedang berihram, maka ia memakan hewan buruan, dengan alasan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذْ قَدْ مَضَى مَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ مِنَ الْحَيَوَانِ وَجَبَ أَنْ نُبَيِّنَ مَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ مِنَ النَّبَاتِ وَالنَّبَاتُ عَلَى أربعة أقسام

Setelah selesai membahas tentang hewan yang halal dan haram, maka wajib bagi kami untuk menjelaskan apa saja tumbuhan yang halal dan haram, dan tumbuhan terbagi menjadi empat golongan.

أَحَدُهَا مَا كَانَ غِذَاءً كَالْحُبُوبِ وَالثِّمَارِ وَالْفَوَاكِهِ وَالْبُقُولِ فَأَكْلُهَا مُبَاحٌ وَبَيْعُهَا جَائِزٌ وَسَوَاءٌ أُكِلْتَ قُوتًا أَوْ تَفَكُّهًا فَإِنْ كَانَتْ مِمَّا زَرَعَهُ الْآدَمِيُّونَ فَهِيَ مِلْكٌ لِزَارِعِهَا وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا أَنْبَتَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْمَوَاتِ فَهِيَ مِلْكٌ لِآخِذِهَا

Salah satunya adalah sesuatu yang menjadi makanan pokok seperti biji-bijian, buah-buahan, sayur-mayur, dan tumbuhan lainnya; maka memakannya itu diperbolehkan dan menjualnya pun sah, baik dimakan sebagai makanan pokok maupun sebagai buah-buahan. Jika termasuk yang ditanam oleh manusia, maka itu menjadi milik orang yang menanamnya. Namun jika termasuk yang ditumbuhkan oleh Allah Ta‘ala di tanah mati, maka itu menjadi milik orang yang mengambilnya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَ دَوَاءً فَأَكْلُهُ لِلتَّدَاوِي مُبَاحٌ وَيُنْظَرُ فِي أَكْلِهِ لِغَيْرِ التَّدَاوِي فَإِنْ كَانَ ضَارًّا مُنِعَ مِنْ أَكْلِهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ضَارٍّ أُبِيحُ أَكْلُهُ وَبَيْعُهُ فِي الْحَالَيْنِ جَمِيعًا جَائِزٌ

Bagian kedua adalah sesuatu yang merupakan obat, maka memakannya untuk pengobatan diperbolehkan. Adapun memakannya bukan untuk pengobatan, maka jika membahayakan, dilarang memakannya; dan jika tidak membahayakan, diperbolehkan memakannya. Adapun menjualnya, pada kedua keadaan tersebut semuanya dibolehkan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا كَانَ مُسْكِرًا وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرَبٍ

Bagian ketiga adalah sesuatu yang memabukkan, dan ini terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ فِيهِ مَعَ السُّكْرِ شِدَّةٌ مُطْرِبَةٌ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ وَعَلَى آكِلِهِ الْحَدُّ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَعْمَلَ فِي دَوَاءٍ وَلَا غَيْرِهِ كَالْخَمْرِ وَبَيْعُهُ حَرَامٌ

Salah satunya adalah jika di dalamnya terdapat unsur memabukkan yang sangat kuat sehingga membuat orang terbuai, maka memakannya hukumnya haram dan bagi yang memakannya dikenakan hukuman hadd. Tidak boleh digunakan untuk obat maupun keperluan lain, seperti halnya khamr, dan menjualnya juga haram.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُسْكِرَ وَلَا تَكُونُ فِيهِ شِدَّةٌ مُطْرِبَةٌ كَالْبَنْجِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ وَلَا حَدَّ عَلَى آكْلِهِ وَيَجُوزُ أَنْ يُسْتَعْمَلَ فِي الدَّوَاءِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَإِنْ أَفْضَى إِلَى السُّكْرِ إِذَا لَمْ يُوجَدْ مِنْ إِسْكَارِهِ بدٌ وَيُنْظَرُ فِي بَيْعِهِ فَإِنْ كَانَ يُسْتَعْمَلُ فِي الْأَدْوِيَةِ غَالِبًا جَازَ بَيْعُهُ وَلَمْ يُكْرَهْ وَإِنْ كَانَ يُسْتَعْمَلُ فِيهَا نَادِرًا كُرِهَ بَيْعُهُ وَإِنْ جَازَ

Jenis kedua adalah sesuatu yang memabukkan namun tidak mengandung unsur keras yang memabukkan secara hebat, seperti banj (sejenis narkotika). Maka, memakannya hukumnya haram, tetapi tidak ada hukuman had bagi orang yang memakannya. Boleh digunakan sebagai obat ketika ada kebutuhan, meskipun dapat menyebabkan mabuk, jika memang tidak ada pilihan lain selain memabukkan. Dalam hal jual belinya, jika umumnya digunakan untuk obat, maka boleh dijual dan tidak makruh. Namun jika hanya jarang digunakan untuk obat, maka makruh menjualnya, meskipun tetap dibolehkan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ مَا أَسْكَرَ مَعَ غَيْرِهِ وَلَمْ يُسْكِرْ بِانْفِرَادِهِ كَالدَّاذِي وَمَا شَاكَلَهُ فَيُنْظَرُ فِيهِ فَإِنْ لَمْ يُنْتَفَعْ بِهِ مِنْ دَوَاءٍ وَلَا غَيْرِهِ حَرُمَ أَكْلُهُ وَبَيْعُهُ تَغْلِيبًا لِغَالِبِ أَحْوَالِهِ وَإِنِ انْتُفِعَ بِأَكْلِهِ فِي الدَّوَاءِ حَلَّ أَكْلُهُ تَدَاوِيًا وَجَازَ بَيْعُهُ وَكَانَ مَكْرُوهًا إِنْ كَانَ أَغْلَبَ أَحْوَالِهِ اسْتِعْمَالُهُ فِي الْمُسْكِرِ وَلَمْ يُكْرَهْ إِنْ كَانَ أَغْلَبَ أَحْوَالِهِ اسْتِعْمَالُهُ مِنْ غَيْرِ الْمُسْكِرِ

Jenis ketiga adalah sesuatu yang memabukkan jika dicampur dengan yang lain, namun tidak memabukkan jika dikonsumsi sendiri, seperti dadzi dan yang sejenisnya. Maka hal ini perlu diteliti: jika tidak ada manfaat darinya, baik sebagai obat maupun selainnya, maka haram memakannya dan menjualnya, karena mempertimbangkan kebanyakan keadaannya. Namun jika ada manfaat dari memakannya sebagai obat, maka halal memakannya untuk pengobatan dan boleh menjualnya. Hukumnya makruh jika kebanyakan penggunaannya adalah untuk membuat minuman memabukkan, dan tidak makruh jika kebanyakan penggunaannya bukan untuk tujuan memabukkan.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا كَانَ ضَارًّا كَالسُّمُومِ فَهَذَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ

Bagian keempat adalah sesuatu yang berbahaya seperti racun, maka ini terbagi menjadi empat jenis.

أَحَدُهَا مَا قَتَلَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ فَأَكَلُهُ حَرَامٌ وَبَيْعُهُ بَاطِلٌ سَوَاءٌ كان قتله موجباً أَوْ مُبْطِئًا

Salah satunya adalah sesuatu yang sedikit maupun banyaknya dapat membunuh, maka memakannya haram dan menjualnya batal, baik kematiannya terjadi dengan cepat maupun lambat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا قَتَلَ كَثِيرُهُ دُونَ قَلِيلِهِ فَأَكْلُ كَثِيرِهِ حَرَامٌ فَأَمَّا قَلِيلُهُ فَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُنْتَفَعٍ بِهِ حَرُمَ أَكْلُهُ وَبَطُلَ بَيْعُهُ تَغْلِيبًا لِضَرَرِهِ وَإِنْ كَانَ مُنْتَفَعًا بِهِ مِنَ التَّدَاوِي حَلَّ أَكْلُهُ تَدَاوِيًا وَجَازَ بَيْعُهُ وَلَمْ يُكْرَهْ وَإِنْ كَانَ غَالِبُهُ التَّدَاوِي وَكُرِهَ إِنْ كَانَ غَالِبُهُ غَيْرَ التَّدَاوِي

Jenis kedua adalah sesuatu yang jika dalam jumlah banyak dapat membunuh, sedangkan dalam jumlah sedikit tidak. Maka, memakan dalam jumlah banyak hukumnya haram. Adapun jika dalam jumlah sedikit, jika tidak bermanfaat maka haram dimakan dan batal jual belinya karena lebih dominan bahayanya. Namun jika bermanfaat untuk pengobatan, maka boleh dimakan untuk tujuan pengobatan dan boleh pula diperjualbelikan serta tidak makruh. Jika kebanyakan penggunaannya untuk pengobatan, maka tidak makruh; namun jika kebanyakan penggunaannya bukan untuk pengobatan, maka hukumnya makruh.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ مَا يَقْتُلُ فِي الْأَغْلَبِ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ لَا يَقْتُلَ فَحُكْمُ الْأَغْلَبِ لَهُ أَلْزَمُ وَيَكُونُ عَلَى مَا تَقَدَّمَ

Jenis yang ketiga adalah sesuatu yang pada umumnya mematikan, meskipun mungkin saja tidak mematikan. Maka hukum yang berlaku adalah berdasarkan pada yang paling dominan, dan ketentuannya mengikuti apa yang telah dijelaskan sebelumnya.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ مَا لَا يَقْتُلُ فِي الْأَغْلَبِ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَقْتُلَ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ فِي مَوْضِعٍ إِبَاحَةَ أَكَلِهِ وَذَكَرَ فِي مَوْضِعٍ تَحْرِيمَ أَكْلِهِ فَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ فَخَرَجَ إِبَاحَةُ أكله على قولين اعتباراً بظاهر كَلَامِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ

Golongan keempat adalah (hewan) yang umumnya tidak mematikan, namun bisa saja membunuh. Imam Syafi‘i menyebutkan di suatu tempat tentang kebolehan memakannya, dan di tempat lain beliau menyebutkan keharaman memakannya. Maka sebagian pengikut beliau beranggapan bahwa kebolehan memakannya terbagi menjadi dua pendapat, dengan mempertimbangkan lahiriah perkataan beliau di kedua tempat tersebut.

وَالصَّحِيحُ أَنَّ إِبَاحَتَهُ لِأَكْلِهِ إِذَا كَانَ مُنْتَفَعًا بِهِ فِي التَّدَاوِي وَتَحْرِيمَ أَكْلِهِ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُنْتَفَعٍ بِهِ فِي التَّدَاوِي فَيَكُونُ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ لَا عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ

Pendapat yang benar adalah bahwa kebolehan memakannya berlaku jika ada manfaat dalam pengobatan, dan keharaman memakannya berlaku jika tidak ada manfaat dalam pengobatan. Maka, hukumnya berbeda sesuai dengan dua keadaan tersebut, bukan karena perbedaan dua pendapat.

مسألة

Masalah

قال المزني وَخَالَفَ الشَّافِعِيُّ الْمَدَنِيَّ وَالْكُوفِيَّ فِي الِانْتِفَاعِ بِشَعَرِ الْخِنْزِيرِ وَفِي صُوفِ الْمَيْتَةِ وَشَعْرِهَا فَقَالَ لَا يُنْتَفَعُ بشيءٍ مِنْ ذَلِكَ

Al-Muzani berkata: Syafi’i berbeda pendapat dengan ulama Madinah dan Kufah dalam hal pemanfaatan bulu babi serta wol dan rambut bangkai, lalu beliau berpendapat bahwa tidak boleh memanfaatkan sedikit pun dari semua itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَدْ مَضَى الْخِلَافُ فِي نَجَاسَةِ الشُّعُورِ وَالْأَصْوَافِ وَطَهَارَتِهَا فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ فَالطَّاهِرُ مِنْهَا يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الذَّائِبِ وَالْيَابِسِ وَأَمَّا النَّجِسُ مِنْهَا فَضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata: Telah disebutkan perbedaan pendapat mengenai kenajisan dan kesucian rambut serta wol dalam Kitab Thaharah. Maka, yang suci di antaranya boleh digunakan baik pada benda cair maupun kering. Adapun yang najis di antaranya terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا مَا كَانَ فِي الْحَيَاةِ طَاهِرًا كَشُعُورِ السِّبَاعِ وَالذِّئَابِ فَاسْتِعْمَالُهَا فِي الْيَابِسَاتِ مِنْ متاعٍ دُونَ الذَّائِبَاتِ

Salah satunya adalah apa yang dalam keadaan hidupnya suci, seperti bulu binatang buas dan serigala, maka penggunaannya pada benda-benda kering dari peralatan diperbolehkan, tidak pada benda-benda basah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا كَانَ نَجِسًا فِي الْحَيَاةِ كَشَعْرِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَإِنْ جَرَى عُرْفُ الْعَوَامِّ بِاسْتِعْمَالِهِ وَأَجَازَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ

Jenis yang kedua adalah sesuatu yang najis ketika masih hidup, seperti bulu anjing dan babi, meskipun terdapat kebiasaan masyarakat awam yang menggunakannya, dan meskipun Abu Hanifah dan Malik membolehkannya.

وَسُئِلَ عَنْهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فَقَالَ اللِّيفُ أَعْجَبُ إِلَيَّ مِنْهُ فَكَأَنَّهُ كَرِهَهُ وَأَجَازَهُ وَعَوَّلُوا فِي إِبَاحَةِ اسْتِعْمَالِهِ عَلَى أَمْرَيْنِ

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hal itu, lalu beliau berkata, “Serabut pohon kurma (al-līf) lebih aku sukai daripada itu.” Maka seakan-akan beliau tidak menyukainya, namun membolehkannya. Mereka mendasarkan kebolehan penggunaannya pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْحَاجَةَ دَاعِيَةٌ إِلَيْهِ

Salah satunya adalah karena adanya kebutuhan yang mendorong ke arah itu.

وَالثَّانِي أَنَّ عُرْفَ الْعَامَّةِ جارٍ بِاسْتِعْمَالِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Yang kedua, bahwa ‘urf masyarakat umum berlaku dengan penggunaannya, dan ini tidak sah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا حَرُمَ الِانْتِفَاعُ بِالْخِنْزِيرِ حَيًّا كَانَ تَحْرِيمُ شَعْرِهِ مَيْتًا أَوْلَى

Salah satunya adalah bahwa ketika diharamkan memanfaatkan babi dalam keadaan hidup, maka pengharaman rambutnya dalam keadaan mati lebih utama.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا كَانَ أَغْلَظَ تَنْجِيسًا وَجَبَ أَنْ يَكُونَ أَغْلَظَ تَحْرِيمًا فَإِنْ خَالَفُوا مِنْ نَجَاسَتِهِ انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَيْهِ

Yang kedua, karena najis ini lebih berat tingkat kenajisannya, maka wajib hukumnya juga lebih berat keharamannya. Jika mereka berbeda pendapat mengenai kenajisannya, maka pembahasan berpindah kepada masalah tersebut.

فَأَمَّا تَعْوِيلُهُمْ عَلَى الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فَالْحَاجَةُ لَا تُبِيحُ مَحْظُورًا وَقَدْ يَقُومُ اللِّيفُ مَقَامَهُ فَسَقَطَتِ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ

Adapun sandaran mereka pada kebutuhan terhadapnya, maka kebutuhan tidak membolehkan sesuatu yang terlarang, dan bisa jadi serat tumbuhan dapat menggantikan posisinya, sehingga kebutuhan terhadapnya pun gugur.

وَتَعْوِيلُهُمْ عَلَى الْعُرْفِ فِي اسْتِعْمَالِهِ فَهُوَ عُرْفٌ مِنْ مُسْتَرْسِلٍ فِي دِينِهِ

Dan sandaran mereka pada ‘urf dalam penggunaannya adalah ‘urf dari orang yang bersikap santai dalam urusan agamanya.

فَإِذَا صَحَّ تَحْرِيمُ اسْتِعْمَالِهِ كَانَ مَأْثَمُ تَحْرِيمِهِ عَائِدًا عَلَى مُسْتَعْمِلِهِ وَجَازَ بَيْعُ الْمَحْرُوزِ بِهِ فَإِنْ كَانَ الشَّعْرُ عِنْدَ الِاسْتِعْمَالِ يَابِسًا لَاقَى يَابِسًا فَالْخُفُّ الْمَحْرُوزُ بِهِ طَاهِرٌ وَالصَّلَاةُ فِيهِ جَائِزَةٌ وَإِنْ لَاقَى فِي الْحِرْزِ نَدَاوَةً كَانَ مَا مَسَّهُ الشَّعْرُ مِنَ الْخُفِّ الْمَحْرُوزِ نَجِسًا فَإِنْ غُسِلَ سَبْعًا بِتُرَابٍ طَهُرَ ظَاهِرُهُ وَلَمْ تَطْهُرْ دَوَاخِلُ الْحِرْزِ وَلَمْ تَجُزِ الصَّلَاةُ فِيهِ والله أعلم

Apabila telah sah keharaman menggunakan (sesuatu itu), maka dosa keharamannya kembali kepada orang yang menggunakannya, dan boleh menjual barang yang dijahit dengannya. Jika pada saat digunakan, rambut tersebut dalam keadaan kering dan bersentuhan dengan yang kering, maka sepatu yang dijahit dengannya suci dan shalat di dalamnya diperbolehkan. Namun jika pada saat dijahit terdapat kelembapan, maka bagian sepatu yang terkena rambut tersebut menjadi najis. Jika dicuci sebanyak tujuh kali dengan tanah, maka bagian luarnya menjadi suci, namun bagian dalam jahitannya tidak menjadi suci, dan tidak boleh shalat di dalamnya. Allah Maha Mengetahui.

مختصر الأيمان والنذور وما دخل فيهما من الجامع من كتاب الصيام ومن الإملاء ومن مسائل شتى سمعتها لفظاً

Ringkasan tentang sumpah dan nazar serta hal-hal yang terkait dengan keduanya yang diambil dari al-Jāmi‘, dari Kitab Puasa, dari al-Imlā’, dan dari berbagai permasalahan lain yang aku dengar secara langsung.

قال الماوردي أَمَّا الْيَمِينُ فَهِيَ الْقَسَمُ سُمِّيَ يَمِينًا لِأَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا تَحَالَفُوا ضَرَبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَمِينَهُ عَلَى يَمِينِ صَاحِبِهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun sumpah, itu adalah qasam (sumpah), dinamakan “yamin” karena dahulu, apabila mereka saling berjanji, masing-masing dari mereka meletakkan tangan kanannya di atas tangan kanan rekannya.

وَالْأَصْلُ فِي الْأَيْمَانِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلاَ تَجْعَلُوا اللهَ عُرْضَةً لأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dasar hukum tentang sumpah adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian menjadikan (nama) Allah sebagai penghalang dalam sumpah-sumpah kalian untuk berbuat kebajikan, bertakwa, dan mendamaikan di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

أَمَّا الْعُرْضَةُ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ فَفِيهَا وَجْهَانِ

Adapun ‘urḍah dalam pembicaraan orang Arab, maka di dalamnya terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا الْقُوَّةُ وَالشِّدَّةُ

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan kekuatan dan ketegasan.

وَالثَّانِي أَنْ يَكْثُرَ ذِكْرُ الشَّيْءِ حَتَّى يَصِيرَ عُرْضَةً لَهُ وَمِنْهُ قَوْلُ الشَّاعِرِ

Yang kedua adalah apabila suatu hal sering disebut-sebut hingga menjadi sesuatu yang biasa baginya, dan di antaranya adalah perkataan penyair:

فَلَا تَجْعَلَنِّي عُرْضَةً لِلَّوَائِمِ

Maka janganlah Engkau jadikan aku sasaran bagi orang-orang yang mencela.

وَأَمَّا الْعُرْضَةُ فِي الْأَيْمَانِ فَفِيهَا تَأْوِيلَانِ

Adapun ‘urḍah dalam sumpah, maka di dalamnya terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَحْلِفَ بِهَا فِي كُلِّ حَقٍّ وَبَاطِلٍ فَيَبْتَذِلَ اسْمَهُ وَيَجْعَلَهُ عُرْضَةً

Salah satunya adalah bersumpah dengan nama-Nya dalam setiap perkara yang benar maupun yang batil, sehingga merendahkan nama-Nya dan menjadikannya sebagai bahan permainan.

والثاني أن يجعل يمنيه عِلَّةً يَتَعَلَّلُ بِهَا فِي بِرِّهِ وَفِيهَا وَجْهَانِ

Kedua, yaitu menjadikan sumpahnya sebagai alasan yang digunakan untuk membenarkan tindakannya dalam berbuat baik, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَحْلِفَ لَا يَفْعَلُ الْخَيْرَ فَيَمْتَنِعَ مِنْهُ لِأَجْلِ يَمِينِهِ

Salah satunya adalah seseorang bersumpah untuk tidak melakukan kebaikan, lalu ia meninggalkannya karena sumpahnya itu.

وَالثَّانِي أَنْ يَحْلِفَ لَيَفْعَلَنَّ الْخَيْرَ فَيَفْعَلَهُ لِبِرِّهِ فِي يَمِينِهِ لَا لِلرَّغْبَةٍ في ثوابه

Yang kedua adalah seseorang bersumpah akan melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya karena ingin menepati sumpahnya, bukan karena mengharapkan pahala dari perbuatannya.

وفي قوله أَنْ تَبَرُّوا تَأْوِيلَانِ

Dalam ucapannya “bahwa kalian berbuat baik” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنْ تَبَرُّوا فِي أَيْمَانِكُمْ

Salah satunya adalah kalian menepati sumpah kalian.

وَالثَّانِي أَنْ تَبَرُّوا أَرْحَامَكُمْ

Dan yang kedua adalah berbuat baik kepada kerabat kalian.

وَفِي قَوْلِهِ وَتَتَّقُوا تَأْوِيلَانِ

Dalam firman-Nya “dan kamu bertakwa” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنْ تَتَّقُوا الْمَعَاصِيَ

Salah satunya adalah agar kalian menjauhi maksiat.

وَالثَّانِي أَنْ تَتَّقُوا الْخُبْثَ وَاللهُ سَمِيعٌ لِأَيْمَانِكُمْ عَلِيمٌ بِافْتِقَارِكُمْ

Dan yang kedua adalah agar kalian menjauhi hal-hal yang kotor, dan Allah Maha Mendengar sumpah-sumpah kalian, Maha Mengetahui kebutuhan kalian.

وَقَالَ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah Ta‘ala berfirman: “Allah tidak menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang tidak disengaja dalam sumpah kalian, tetapi Dia menghukum kalian atas apa yang diperbuat oleh hati kalian. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.”

وَاللَّغْوُ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ هُوَ مَا كَانَ قَبِيحًا مَذْمُومًا وَخَطَأً مَذْمُومًا مَهْجُورًا وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى وِإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ

Laghw dalam ucapan orang Arab adalah sesuatu yang buruk, tercela, kesalahan yang tercela dan ditinggalkan. Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila mereka mendengar laghw, mereka berpaling darinya.”

وَفِي لَغْوِ الْأَيْمَانِ سَبْعَةُ تَأْوِيلَاتٍ وَقَدْ أَفْرَدَ الشَّافِعِيُّ لِذَلِكَ بَابًا يُذْكَرُ فِيهِ وَفِي تَرْكِ الْمُؤَاخَذَةِ بِهِ وَجْهَانِ

Dalam lafaz sumpah yang sia-sia (laghw al-aymān) terdapat tujuh penafsiran, dan Imam Syafi‘i telah mengkhususkan satu bab untuk membahas hal itu. Dalam bab tersebut disebutkan pula dua pendapat mengenai tidak dikenakannya sanksi (tidak diambil tindakan) atas sumpah tersebut.

أَحَدُهُمَا لَا يُؤَاخَذُ فِيهِ بِالْكَفَّارَةِ

Salah satunya tidak dikenai kewajiban kafārah.

وَالثَّانِي لَا يُؤَاخَذُ فِيهِ بِالْإِثْمِ

Dan yang kedua, tidak dikenai dosa di dalamnya.

وَفِي قَوْله تَعَالَى وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بَمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ تَأْوِيلَانِ

Dalam firman Allah Ta‘ala, “Akan tetapi Allah menghukum kamu karena apa yang diperoleh oleh hati kalian,” terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا مَا قَصَدْتُمْ مِنَ الْأَيْمَانِ

Salah satunya adalah apa yang kalian maksudkan dari sumpah-sumpah.

وَالثَّانِي مَا اعْتَمَدْتُمْ مِنَ الْكَذِبِ وَاللهُ غَفُورٌ لِعِبَادِهِ فِيمَا لَغَوْا مِنْ أَيْمَانِهِمْ حَلِيمٌ فِي تَرْكِ مُعَاجَلَتِهِمْ بِالْعُقُوبَةِ عَلَى مَعَاصِيهِمْ

Dan yang kedua adalah apa yang kalian lakukan berupa kebohongan, dan Allah Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya atas sumpah-sumpah mereka yang diucapkan tanpa sengaja, Maha Penyantun dalam tidak segera menyegerakan hukuman atas maksiat-maksiat mereka.

وَقَالَ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَيْمَانَ وَعَقْدُهَا هُوَ لَفَظٌ بِاللِّسَانِ وَقَصْدٌ بِالْقَلْبِ لِأَنَّ مَا لَمْ يَقْصِدْهُ من أيمانه هو لغوٌ لا يؤاخذ له

Allah Ta‘ala berfirman: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpah yang tidak disengaja dalam sumpah-sumpahmu, tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah yang kamu teguhkan.” Peneguhan sumpah itu adalah dengan ucapan lisan dan niat dalam hati, karena sumpah yang tidak diniatkan adalah sumpah yang sia-sia dan tidak ada hukuman atasnya.

وَفِي تَشْدِيدِ قَوْلِهِ عَقَّدْتُمْ تَأْوِيلَانِ

Dan dalam penegasan ucapannya, “Kalian telah mengikatkan dua penakwilan.”

أَحَدُهُمَا تَغْلِيظُ الْمَأْثَمِ بِتَكْرَارِهَا

Salah satunya adalah memperberat dosa dengan mengulanginya.

وَالثَّانِي إِنَّ تِكْرَارَهَا فِي الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ وَاحِدًا لَمْ يَلْزَمْ فِيهِ إِلَّا كَفَّارَةٌ وَاحِدَةٌ

Yang kedua, sesungguhnya pengulangan sumpah pada perkara yang disumpahkan, jika perkara itu satu, maka tidak wajib kecuali satu kafarat saja.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشْرَة مَسَاكِينَ فِيهِ وَجْهَانِ

Kemudian Allah Ta‘ala berfirman: “Maka kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin.” Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا كَفَّارَةُ مَا عَقَدُوهُ مِنَ الْأَيْمَانِ قَالَهُ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ

Salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan kafarat atas sumpah yang telah mereka ucapkan; demikian pendapat al-Hasan dan Qatadah.

وَالثَّانِي إِنَّهَا كَفَّارَةُ الْحِنْثِ بَعْدَ عَقْدِ الْأَيْمَانِ وَلَعَلَّهُ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَنْ يُعْتَبَرَ حَالُ الْيَمِينِ فِي عَقْدِهَا وَحَلِّهَا فَإِنَّهَا لَا تَخْلُو مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Yang kedua, bahwa kafarah tersebut adalah penebus pelanggaran sumpah setelah sumpah diikrarkan, dan ini barangkali merupakan pendapat Ibnu Abbas dan Sa‘id bin Jubair. Menurutku, yang lebih sahih dari dua pendapat ini adalah memperhatikan keadaan sumpah baik saat diikrarkan maupun saat dibatalkan, karena sumpah itu tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ عَقْدُهَا طَاعَةً وَحَلُّهَا مَعْصِيَةً

Salah satunya adalah bahwa mengadakan akad tersebut merupakan ketaatan, sedangkan membatalkannya merupakan kemaksiatan.

كقوله والله لا قتلت نفساً خيرة وَلَا شَرِبْتُ خَمْرًا

Seperti ucapannya, “Demi Allah, aku tidak akan membunuh jiwa yang baik dan tidak akan meminum khamar.”

فَإِذَا حَلَفَ بِقَتْلِ النَّفْسِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ فَكَانَتِ الْكَفَّارَةُ لِتَكْفِيرِ مَأْثَمِ الْحِنْثِ دُونَ عَقْدِ الْيَمِينِ

Maka apabila seseorang bersumpah untuk membunuh jiwa atau meminum khamar, maka kafarah itu bertujuan untuk menghapus dosa pelanggaran sumpah, bukan untuk menebus akad sumpah itu sendiri.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ عَقْدُهَا مَعْصِيَةً وَحَلُّهَا طَاعَةً

Keadaan kedua adalah ketika akadnya merupakan suatu kemaksiatan dan pembubarannya adalah ketaatan.

كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا صَلَّيْتُ وَلَا صُمْتُ

Seperti ucapannya, “Demi Allah, saya tidak salat dan tidak puasa.”

فَإِذَا حَنِثَ بِالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ كَانَتِ الْكَفَّارَةُ لِتَكْفِيرِ مأثم اليمين دُونِ الْحِنْثِ

Maka jika seseorang melanggar sumpahnya dengan shalat atau puasa, maka kafarat itu berfungsi untuk menghapus dosa sumpah, bukan untuk menghapus pelanggaran (shalat atau puasa) tersebut.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ عَقْدُهَا مُبَاحًا وَحَلُّهَا مُبَاحًا

Keadaan ketiga adalah apabila akadnya mubah dan pembubarannya juga mubah.

كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا لَبِسْتُ هَذَا الثَّوْبَ وَلَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ

Seperti ucapannya, “Demi Allah, aku tidak akan memakai pakaian ini dan tidak akan masuk ke rumah ini.”

فَالْكَفَّارَةُ تَتَعَلَّقُ بِهِمَا وَهِيَ بِالْحِنْثِ أَحَقُّ لِاسْتِقْرَارِ وُجُوبِهَا به

Maka kafarat itu berkaitan dengan keduanya, dan kafarat itu lebih tepat diwajibkan karena pelanggaran, karena kewajibannya telah tetap atasnya.

وقال تعالى وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ وفيه ثلاثة تأويلات

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan peliharalah sumpah-sumpah kalian,” dan ayat ini memiliki tiga penafsiran.

أحدها احْفَظُوهَا أَنْ يَحْلِفُوا

Yang pertama, jagalah ia agar mereka tidak bersumpah.

وَالثَّانِي احْفَظُوهَا أَنْ تَحْنَثُوا

Dan yang kedua, jagalah agar kalian tidak melanggarnya.

وَالثَّالِثُ احْفَظُوهَا لِتُكَفِّرُوا

Dan yang ketiga, jagalah itu agar kalian dapat menghapus dosa-dosa kalian.

وَالسُّنَّةُ مَا رَوَاهُ أَبُو أُمَامَةَ الْحَارِثِيُّ وَهُوَ إِيَاسُ بْنُ ثَعْلَبَةَ عَنِ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنِ اقْتَطَعَ بِيَمِينِهِ مَالَ امرئٍ مسلمٍ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَأَوْجَبَ لَهُ النَّارَ قِيلَ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا قَالَ وَإِنْ كَانَ سِوَاكًا مِنْ أراكٍ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يمينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خيرا منها فليأت الذي هو خيرٌ وَيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ

Sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Haritsi, yaitu Iyas bin Tsabitah, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa mengambil harta seorang Muslim dengan sumpah palsu, maka Allah mengharamkan surga atasnya dan mewajibkan neraka baginya.” Ada yang bertanya, “Walaupun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Walaupun hanya sebatang siwak dari pohon arak.” Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia melihat ada yang lebih baik darinya, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik itu dan membayar kaffarah atas sumpahnya.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْيَمِينُ حنثٌ أَوْ مندمةٌ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sumpah itu (berujung pada) pelanggaran atau penyesalan.”

وَقَدْ حلف رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَامَ الْفَتْحِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersumpah pada tahun penaklukan, beliau bersabda: “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy, demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy, demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy.”

وَرُوِيَ أَنَّهُ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dan telah diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Insya Allah.”

وَرُوِيَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَحْلِفَ قَالَ لَا وَالَّذِي نَفْسُ محمدٍ بِيَدِهِ وَرُوِيَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ لَا وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ

Diriwayatkan bahwa apabila beliau ingin bersumpah, beliau berkata, “Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya.” Dan diriwayatkan bahwa beliau juga berkata, “Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَعَقْدُ الْيَمِينِ مَوْضُوعَةٌ لِتَحْقِيقِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مَاضِيًا أَوْ لِالْتِزَامِهِ إِنْ كَانَ مُسْتَقْبَلًا

Jika hal ini telah jelas, maka akad sumpah ditetapkan untuk menegaskan sesuatu yang disumpahkan jika berkaitan dengan masa lalu, atau untuk berkomitmen terhadapnya jika berkaitan dengan masa depan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مَنْ حَلَفَ بِاللَّهِ أَوْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ فَحَنِثَ فَعَلَيْهِ الكفارة

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa bersumpah dengan nama Allah atau dengan salah satu dari nama-nama Allah, lalu ia melanggar sumpahnya, maka wajib atasnya membayar kafarat.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْأَيْمَانَ مَعْقُودَةٌ بِمَنْ عَظُمَتْ حُرْمَتُهُ وَلَزِمَتْ طَاعَتُهُ وَإِطْلَاقُ هَذَا مُخْتَصٌّ بِاللَّهِ تَعَالَى فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ الْيَمِينُ مُخْتَصَّةً بِاللَّهِ جَلَّتْ عَظَمَتُهُ وَلَهُ أَسْمَاءٌ وَصَفَاتٌ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa sumpah itu diikatkan dengan sesuatu yang agung kehormatannya dan wajib ditaati, dan penerapan hal ini khusus bagi Allah Ta‘ala. Maka hal itu menuntut agar sumpah itu dikhususkan hanya kepada Allah yang Maha Agung keagungan-Nya, dan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat.

فَأَمَّا أَسْمَاؤُهُ فَأَخَصُّهَا بِهِ قَوْلُنَا اللَّهُ لِأَنَّ أَحَدًا لَمْ يَتَّسِمْ بِهِ وَقَدْ قِيلَ إِنَّهُ اسْمُهُ الْأَعْظَمُ وَهَذَا أَحَدُ التَّأْوِيلَيْنِ فِي قَوْله تَعَالَى هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِياً أَيْ مَنْ يَتَسَمَّى بِاسْمِهِ الَّذِي هُوَ اللَّهُ؟

Adapun nama-nama-Nya, yang paling khusus bagi-Nya adalah ucapan kita “Allah”, karena tidak ada seorang pun yang menamakan dirinya dengan nama itu. Telah dikatakan bahwa itu adalah nama-Nya yang paling agung, dan ini adalah salah satu dari dua tafsir terhadap firman-Nya Ta‘ala: “Apakah kamu mengetahui ada yang menyamai-Nya?” yakni, adakah yang menamakan dirinya dengan nama-Nya, yaitu “Allah”?

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي فِيهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ شَبِيهًا؟

Dan takwil kedua dalam ayat tersebut adalah: “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang serupa dengan-Nya?”

وَاخْتَلَفُوا فِي هَذَا الِاسْمِ هَلْ هُوَ عَلَمٌ لِذَاتِهِ أَوِ اسْمٌ مُشْتَقٌّ مِنْ صِفَاتِهِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Mereka berbeda pendapat mengenai nama ini, apakah ia merupakan nama khusus bagi Dzat-Nya ataukah nama yang diambil dari sifat-sifat-Nya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ اسْمُ عَلَمٍ لِذَاتِهِ غَيْرُ مُشْتَقٍّ مِنْ صِفَاتِهِ لِأَنَّ أَسْمَاءَ الصِّفَاتِ تَكُونُ تَابِعَةً لِأَسْمَاءِ الذَّاتِ فَلَمْ يَجِدْ بُدًّا مِنَ اخْتِصَاصِهِ بِاسْمِ ذَاتٍ يَكُونُ عَلَمًا لِتَكُونَ أَسْمَاءُ الصِّفَاتِ تَبَعًا وَهَذَا قَوْلُ الْخَلِيلِ وَالْفَضْلِ

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan nama khusus bagi Dzat-Nya yang tidak diambil dari sifat-sifat-Nya, karena nama-nama sifat itu mengikuti nama-nama Dzat, sehingga tidak ada pilihan lain selain mengkhususkannya dengan nama Dzat yang menjadi penanda, agar nama-nama sifat menjadi pengikutnya. Inilah pendapat Khalil dan Fadhl.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّهُ اسْمٌ مُشْتَقٌّ مِنْ أَلِهَ صَارَ بِنَاءُ اشْتِقَاقِهِ عِنْدَ حَذْفِ هَمْزِهِ وَتَفْخِيمِ لَفْظِةِ اللَّهَ فَالْحَالِفُ بِهَذَا الِاسْمِ حَالِفٌ بِيَمِينٍ مُنْعَقِدَةٍ لَا يَرْجِعُ فِيهَا إِلَى إِرَادَةِ الْحَالِفِ بِهِ وَسَوَاءٌ قِيلَ إِنَّهُ اسْمُ عَلَمٍ لِذَاتِهِ أَوْ مُشْتَقٌّ مِنْ صِفَاتِهِ لِأَنَّهُ لَا يَنْطَلِقُ عَلَى غَيْرِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia adalah nama yang diambil dari kata “alih”, dan bentuk derivasi namanya terjadi ketika hamzah-nya dihilangkan dan lafaz “Allah” dilafalkan dengan tegas. Maka, orang yang bersumpah dengan nama ini berarti bersumpah dengan sumpah yang mengikat, yang tidak kembali kepada maksud orang yang bersumpah dengannya. Sama saja apakah dikatakan bahwa ia adalah nama khusus bagi Dzat-Nya atau diambil dari sifat-sifat-Nya, karena nama ini tidak digunakan untuk selain-Nya.

وَفِي مَعْنَى الْحَلِفِ بِهَذَا الِاسْمِ أَنْ تَقُولَ وَالَّذِي خَلَقَنِي أَوْ وَالَّذِي صَوَّرَنِي فَتَنْعَقِدَ بِهِ يَمِينُهُ لِأَنَّ الَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ هُوَ اللَّهُ فَصَارَ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ وَلَا يَكُونُ هَذِهِ يَمِينًا بَاسْمٍ مُكَنًّى لِأَنَّهُ صَرِيحٌ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَهُ

Dan makna bersumpah dengan nama ini adalah dengan mengatakan, “Demi (Zat) yang telah menciptakanku” atau “Demi (Zat) yang telah membentukku,” maka sumpahnya menjadi sah dengan ucapan tersebut, karena yang menciptakan dan membentuknya adalah Allah, sehingga hal itu sama seperti ucapannya “Demi Allah.” Dan ini tidak dianggap sebagai sumpah dengan nama kinayah, karena ungkapan tersebut jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lain.

وَهَكَذَا لَوْ قَالَ وَالَّذِي أُصَلِّي لَهُ أَوْ أَصُومُ لَهُ أَوْ أُزَكِّي لَهُ أَوْ أَحُجُّ لَهُ انْعَقَدَتْ يَمِينُهُ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لِأَنَّ صَلَاتَهُ وَصِيَامَهُ وَزَكَاتَهُ وَحَجَّهُ لِلَّهِ لَا لِغَيْرِهِ

Demikian pula, jika seseorang berkata, “Demi Dzat yang aku salat untuk-Nya, atau aku berpuasa untuk-Nya, atau aku berzakat untuk-Nya, atau aku berhaji untuk-Nya,” maka sumpahnya menjadi sah seperti ucapannya, “Demi Allah,” karena salatnya, puasanya, zakatnya, dan hajinya memang hanya untuk Allah, bukan untuk selain-Nya.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا غَيْرُ هَذَا الِاسْمِ الْعَلَمِ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى فَيَنْقَسِمُ ثَمَانِيَةَ أَقْسَامٍ

Adapun selain nama khusus (ism ‘alam) dari nama-nama Allah Ta‘ala, maka terbagi menjadi delapan bagian.

أَحَدُهُمَا مَا يَجْرِي فِي اخْتِصَاصِهِ بِهِ مَجْرَى الْعَلَمِ مِنْ أَسْمَائِهِ وَهُوَ الرحمن فيكون المحالف بِهِ كَالْحَالِفِ بِاللَّهِ لِأَمْرَيْنِ

Salah satunya adalah apa yang berlaku dalam kekhususannya seperti kedudukan ‘alam (nama khusus) dari nama-nama-Nya, yaitu ar-Rahman, sehingga orang yang bersumpah dengannya sama seperti orang yang bersumpah dengan nama Allah karena dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَيْسَ يتسمى به غيره من خلفه وَلَئِنْ طَغَى مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ فَتَسَمَّى رَحْمَانَ الْيَمَامَةِ فَهِيَ تَسْمِيَةُ إِضَافَةٍ لَمْ يُطْلِقْهَا لِنَفْسِهِ فَصَارَ كَمَنْ لَمْ يَتَسَمَّ بِهِ

Salah satunya adalah bahwa tidak ada seorang pun selain Dia yang dinamai dengan nama itu setelah-Nya. Meskipun Musailamah al-Kadzdzab telah melampaui batas dan menamai dirinya “Rahman al-Yamamah”, itu hanyalah penamaan tambahan yang tidak ia gunakan secara mutlak untuk dirinya sendiri, sehingga ia dianggap seperti orang yang tidak menamai dirinya dengan nama itu.

وَالثَّانِي إِنَّهُ تَعَالَى أَضَافَ إِلَى هَذَا الِاسْمِ مَا اخْتَصَّ بِهِ مِنْ قُدْرَتِهِ وَتَفَرَّدَ بِهِ مِنْ خَلْقِهِ فَقَالَ الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشْ اسْتَوَى فَأَجْرَاهُ مَجْرَى الْعَلَمِ مِنْ أَسْمَائِهِ الَّذِي هُوَ الله

Kedua, sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyandarkan pada nama ini (ar-Rahmān) sesuatu yang khusus dengan kekuasaan-Nya dan yang hanya Dia sendiri yang memilikinya dari ciptaan-Nya, yaitu firman-Nya: “ar-Rahmān bersemayam di atas ‘arsy.” Maka Dia menjadikan nama itu seperti nama khusus di antara nama-nama-Nya, sebagaimana nama Allah.

وَاخْتَلَفَ فِيهِ أَهْلُ اللُّغَةِ هَلْ هُوَ اسْمُ علمٍ أَوْ صِفَةٍ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang hal ini: apakah ia merupakan isim ‘alam (nama khusus) ataukah sifat? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ اسْمُ عَلَمٍ عَلَى غَيْرِ مُشْتَقٍّ مِنْ صِفَةٍ لِأَنَّ جَمِيعَ أَهْلِ الْمِلَلِ قَدْ سَمَّوْهُ بِهِ وَلَمْ يَخْتَصَّ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan nama khusus yang tidak berasal dari sifat, karena seluruh penganut agama telah menamainya demikian dan tidak dikhususkan dalam bahasa Arab saja.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ اسْمٌ عَرَبِيٌّ مُشْتَقٌّ مِنْ صِفَتِهِ بِالرَّحْمَةِ

Pendapat kedua adalah bahwa itu merupakan nama dalam bahasa Arab yang diambil dari sifat-Nya yang penuh rahmat.

وَاخْتَلَفُوا فِي هَذِهِ الرَّحْمَةِ الْمُشْتَقِّ مِنْهَا الرَّحْمَنُ هَلْ هِيَ رَحْمَةٌ تَفَرَّدَ بِهَا أَوْ تُوجَدُ فِي الْعِبَادِ مِثْلُهَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Mereka berselisih pendapat mengenai rahmat ini, yang darinya nama ar-Rahman diambil, apakah itu merupakan rahmat yang hanya dimiliki oleh-Nya saja, ataukah terdapat pada para hamba sesuatu yang serupa dengannya; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا رَحْمَةٌ تُوجَدُ فِي الْعِبَادِ مِثْلُهَا وَاخْتِصَاصُهُ مِنْهَا بِاشْتِقَاقِ لَفْظِ الْمُبَالِغَةِ فِي الرَّحْمَةِ وَمُشَارَكَتِهِ لِخَلْقِهِ فِي الرَّحِيمِ فَلِذَلِكَ كَانَ الرَّحْمَنُ مُخْتَصًّا بِهِ وَالرَّحِيمُ مُشْتَرِكًا

Salah satunya adalah bahwa sifat itu merupakan rahmat yang juga terdapat pada para hamba, dan kekhususannya berasal dari bentuk kata mubalaghah (penegasan makna) dalam rahmat, serta adanya kesamaan antara Allah dan makhluk-Nya dalam sifat “rahim”. Oleh karena itu, “ar-Rahman” adalah sifat yang khusus bagi-Nya, sedangkan “ar-Rahim” adalah sifat yang bersifat umum (dapat dimiliki bersama).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنْ رَحْمَةٍ تَفَرَّدَ اللَّهُ بِهَا دُونَ خَلْقِهِ وَفِي هَذِهِ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَفَرَّدَ بِهَا وَجْهَانِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia diambil dari rahmat yang hanya dimiliki Allah secara khusus, tidak dimiliki oleh makhluk-Nya. Dalam rahmat yang khusus dimiliki-Nya ini terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا رَحْمَتُهُ لِأَهْلِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَيَكُونُ مُشْتَقًّا مِنْ رَحْمَةٍ هِيَ صِفَةٌ لَذَّاتِهِ لِأَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ لِهَذِهِ الصِّفَةِ قَبْلَ خَلْقِهِمْ

Salah satunya adalah bahwa ia (rahmat) merupakan rahmat-Nya bagi penghuni langit dan bumi, sehingga kata tersebut diambil dari “rahmat” yang merupakan sifat bagi Dzat-Nya, karena Dia memang berhak atas sifat ini sebelum menciptakan mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهَا صِفَةٌ لِلرَّحْمَةِ فَيَكُونُ مُشْتَقًّا مِنْ رَحْمَةٍ هِيَ صِفَةٌ لِفِعْلِهِ لِأَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ لِهَذِهِ الصِّفَةِ بَعْدَ خَلْقِ الرَّحْمَةِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia merupakan sifat dari rahmat, sehingga kata tersebut diambil dari rahmat yang merupakan sifat perbuatan-Nya, karena Dia berhak atas sifat ini setelah menciptakan rahmat.

وَعَلَى كِلَا الْوَجْهَيْنِ تَكُونُ الْيَمِينُ بِهَذَا الِاسْمِ مُنْعَقِدَةٌ فِي أَهْلِ الْمِلَلِ وَغَيْرِهِمْ كَانْعِقَادِهَا بالله سواء قبل اشْتِقَاقُهُ مِنْ صِفَةِ ذَاتِهِ أَوْ صِفَةِ فِعْلِهِ لِأَنَّهَا يَمِينٌ بِالِاسْمِ دُونَ الصِّفَةِ

Pada kedua pendapat tersebut, sumpah dengan nama ini dianggap sah baik bagi penganut agama maupun selain mereka, sebagaimana sahnya sumpah dengan nama Allah, baik nama itu diambil dari sifat Dzat-Nya maupun dari sifat perbuatan-Nya, karena sumpah tersebut dilakukan dengan nama, bukan dengan sifat.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مِنْ أَسْمَائِهِ مَا اخْتَصَّ بِاسْمِ الْمَعْبُودِ دُونَ الْعَبْدِ وَهُوَ الْإِلَهُ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ اسْمُ اشْتِقَاقٍ وَاخْتَلَفُوا فِيمَا اشْتُقَّ مِنْهُ عَلَى وَجْهَيْنِ

Bagian kedua dari nama-nama-Nya adalah yang khusus digunakan untuk menyebut yang disembah, bukan hamba, yaitu al-Ilāh. Para ulama sepakat bahwa ini adalah nama yang berasal dari derivasi kata, namun mereka berbeda pendapat mengenai asal kata yang diambil darinya, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ الْوَلَهِ لِأَنَّ الْعِبَادَ يِأْلَهُونَ إِلَيْهِ أَيْ يَدْعُونَ إِلَيْهِ فِي أُمُورِهِمْ

Salah satunya adalah bahwa kata tersebut berasal dari al-walah, karena para hamba ber-ilaah kepadanya, yaitu mereka berdoa kepadanya dalam urusan-urusan mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ الْأُلُوهِيَّةِ وَهِيَ الْعِبَادَةُ مِنْ قَوْلِهِ فُلَانٌ يَتَأَلَّهُ أَيْ يَتَعَبَّدُ

Pendapat kedua adalah bahwa kata tersebut berasal dari al-ulūhiyyah, yang berarti ibadah, sebagaimana dalam ungkapan “fulan yata’allahu” yang artinya “ia beribadah”.

وَاخْتُلِفَ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ هَلِ اشْتُقَّ اسْمُ الْإِلَهِ مِنْ فِعْلِ الْوَلَهِ وَالْعِبَادَةِ أَوْ مِنَ اسْتِحْقَاقِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Terdapat perbedaan pendapat mengenai dua pandangan ini: apakah nama “ilāh” diambil dari kata kerja “walaha” (merasa rindu/terpesona) dan “ibādah” (penyembahan), ataukah dari makna bahwa Dia berhak untuk disembah; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ اشْتُقَّ مِنْ فِعْلِهَا فَعَلَى هَذَا يَكُونُ مُشْتَقًّا مِنْ صِفَاتِ أَفْعَالِهِ

Salah satunya adalah bahwa ia diambil dari perbuatan-Nya, maka berdasarkan hal ini, ia merupakan derivasi dari sifat-sifat perbuatan-Nya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ اسْتِحْقَاقِهَا فَعَلَى هَذَا يَكُونُ مُشْتَقًّا مِنْ صِفَاتِ ذاته وَعَلَى كِلَا الْوَجْهَيْنِ يَكُونُ الْحَالِفُ بِالْإِلَهِ مُنْعَقِدَ الْيَمِينِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْمِلَلِ لِأَنَّ جَمِيعَ أَهْلِ الْمِلَلِ لَيْسَ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْمِلَلِ مِنْ عَبَدَةِ الْأَصْنَامِ انْعَقَدَ بِهِ الْيَمِينُ فِي الظَّاهِرِ وَكَانَ فِي الْبَاطِنِ مَوْقُوفًا عَلَى إِرَادَتِهِ لِأَنَّهُمْ يَجْعَلُونَ هَذَا الِاسْمَ مُشْتَرِكًا بَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى وَبَيْنَ أَصْنَامِهِمُ الَّتِي يَعْبُدُونَهَا

Pendapat kedua adalah bahwa kata tersebut diambil dari makna layaknya ia berhak mendapatkannya. Dengan demikian, kata tersebut diambil dari sifat-sifat zat-Nya. Menurut kedua pendapat ini, orang yang bersumpah dengan menyebut “al-ilāh” (Tuhan) maka sumpahnya dianggap sah, baik secara lahir maupun batin, jika ia termasuk dari kalangan ahli milal (pemeluk agama samawi), karena seluruh ahli milal tidak memiliki Tuhan selain Allah. Namun jika ia bukan dari kalangan ahli milal, melainkan dari para penyembah berhala, maka sumpahnya dianggap sah secara lahir, namun secara batin tergantung pada niatnya, karena mereka menjadikan nama ini (al-ilāh) sebagai nama yang digunakan bersama antara Allah Ta‘ala dan berhala-berhala yang mereka sembah.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنْ أَسْمَائِهِ مَا اخْتَصَّ إِطْلَاقُهُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَكَانَ فِي الْإِضَافَةِ مُشْتَرِكًا وَهُوَ الرَّبُّ اسْمٌ مَأْخُوذٌ مِنْ صِفَةٍ اخْتُلِفَ فِيهَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Bagian ketiga dari nama-nama-Nya adalah nama yang penggunaannya secara mutlak hanya khusus bagi Allah Ta‘ala, namun dalam bentuk penyandaran (idhāfah) dapat digunakan secara bersama, yaitu “ar-Rabb”. Nama ini diambil dari suatu sifat yang diperselisihkan para ulama mengenai maknanya menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنَ الْمَالِكِ كَمَا يُقَالُ رَبُّ الدَّارِ أَيْ مَالِكُهَا

Salah satunya adalah bahwa kata tersebut diambil dari makna pemilik, sebagaimana dikatakan rabbud-dār yang berarti pemilik rumah itu.

وَالثَّانِي إِنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنَ السَّيِّدِ لِأَنَّ السَّيِّدَ يُسَمَّى رَبًّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْراً يَعْنِي سَيِّدَهُ

Yang kedua, bahwa kata tersebut diambil dari kata “sayyid” (tuan), karena “sayyid” juga disebut “rabb”. Allah Ta‘ala berfirman: “Adapun salah seorang dari kalian, maka ia akan menuangkan khamr untuk rabb-nya,” maksudnya adalah tuannya.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الرَّبُّ الْمُدَبِّرُ وَمِنْهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ وَهُمُ الْعُلَمَاءُ سُمُّوا رَبَّانِيِّينَ لِقِيَامِهِمْ بِتَدْبِيرِ النَّاسِ بِعِلْمِهِمْ وَقِيلَ رَبَّةُ الْبَيْتِ لِأَنَّهَا تُدَبِّرُهُ

Ketiga, bahwa Dia adalah Tuhan yang mengatur, dan di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “dan para rabbaniyyun dan para ahbar,” yaitu para ulama. Mereka disebut rabbaniyyun karena mereka mengatur urusan manusia dengan ilmu mereka. Dan dikatakan “rabbah al-bayt” (nyonya rumah) karena ia mengatur rumah tersebut.

وَالرَّابِعُ إِنَّ الرَّبَّ مُشْتَقٌّ مِنَ التَّرْبِيَةِ وَمِنْهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَرَبَائِبُكُمْ اللاَّتِي فِي حُجُورِكِمُ فَسُمِّيَ وَلَدُ الزَّوْجَةِ رَبِيبَةً لِتَرْبِيَةِ الزَّوْجِ لَهَا فَعَلَى هَذَا إِنْ قِيلَ إِنَّ صِفَةَ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنَّهُ رَبٌّ لِأَنَّهُ مَالِكٌ أَوْ سَيِّدٌ فَذَلِكَ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ

Keempat, sesungguhnya kata “Rabb” berasal dari kata “tarbiyah”, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “dan anak-anak perempuan istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian” (QS. An-Nisa: 23). Maka anak istri disebut “rabībah” karena suami melakukan tarbiyah (pemeliharaan) terhadapnya. Berdasarkan hal ini, jika dikatakan bahwa sifat Allah Ta’ala sebagai Rabb karena Dia adalah Pemilik atau Tuan, maka itu adalah salah satu sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya.

وَإِنْ قِيلَ لِأَنَّهُ مُدَبِّرٌ لِخَلْقِهِ أَوْ مُرَبِّيهِمْ فَذَلِكَ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِ فِعْلِهِ وَصِفَاتُ ذَاتِهِ قَدِيمَةٌ وَصِفَاتُ فِعْلِهِ مُحْدَثَةٌ وَهُمَا فِي اشْتِقَاقِ الِاسْمِ مِنْهُ عَلَى السَّوَاءِ لِأَنَّهُ يَكُونُ حَالِفًا بِالِاسْمِ دُونَ الصِّفَةِ وَإِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ بِالصِّفَتَيْنِ مُخْتَلِفَةً تَنْعَقِدُ بِصِفَةِ الذَّاتِ لِقَدَمِهَا وَلَا تَنْعَقِدُ بِصِفَةِ الْفِعْلِ لِحُدُوثِهَا

Dan jika dikatakan bahwa sebabnya adalah karena Dia adalah pengatur ciptaan-Nya atau pemelihara mereka, maka itu adalah sifat dari sifat-sifat perbuatan-Nya, sedangkan sifat-sifat dzat-Nya adalah qadim (tidak bermula), dan sifat-sifat perbuatan-Nya adalah muhdats (baru). Keduanya dalam penarikan nama dari sifat tersebut adalah sama, karena seseorang bersumpah dengan nama (Allah) tanpa memperhatikan sifatnya. Namun, jika sumpah dilakukan dengan dua sifat tersebut yang berbeda, maka sumpah menjadi sah dengan sifat dzat karena sifat itu qadim, dan tidak sah dengan sifat perbuatan karena sifat itu muhdats.

فَإِذَا تَقَرَّرَ اشْتِقَاقُهُ انْقَسَمَتِ الْيَمِينُ بِهِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ

Maka apabila telah tetap asal katanya, sumpah dengannya terbagi menjadi empat bagian.

أَحَدُهَا مَا يَكُونُ بِهِ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَهُوَ أَنْ يَصِفَهُ بِمَا لَا يَسْتَحِقُّهُ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى وَهُوَ أَنْ يَقُولَ رَبُّ العالمين أو رب السموات وَالْأَرْضِينَ فَهَذَا حَالِفٌ بِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ لِأَنَّهُ وَصَفَهُ بِمَا اخْتَصَّ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ دُونَ غَيْرِهِ فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ غَيْرَ اللَّهِ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ

Salah satunya adalah bersumpah dengan sesuatu baik secara lahir maupun batin, yaitu dengan menyifatinya dengan sifat yang tidak layak kecuali bagi Allah Ta‘ala, seperti mengatakan “Tuhan semesta alam” atau “Tuhan langit dan bumi”. Ini berarti ia telah bersumpah dengannya secara lahir dan batin, karena ia telah menyifatinya dengan sesuatu yang hanya khusus bagi Allah Ta‘ala dan tidak bagi selain-Nya. Jika ia berkata, “Aku maksudkan selain Allah,” maka tidak diterima darinya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَكُونُ بِهِ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ غَيْرَ حَالِفٍ بِهِ فِي الْبَاطِنِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَالرَّبِّ فَيُدْخِلُ عَلَيْهِ الْأَلِفَ وَاللَّامَ وَلَا يُعَرِّفُهُ بِصِفَةٍ فَيَكُونُ حَالِفًا بِهِ فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ بِهِ رَبَّ الدَّارِ دِينَ فِي الْبَاطِنِ وَلَمْ يَكُنْ بِهِ حَالِفًا لِاحْتِمَالِهِ وَكَانَ حَالِفًا بِهِ فِي الظَّاهِرِ لِإِطْلَاقِهِ

Bagian kedua adalah apa yang secara lahiriah dianggap sebagai sumpah, namun boleh jadi bukan sumpah secara batin. Contohnya adalah jika seseorang berkata “wal-rabb” (demi Tuhan), dengan menambahkan alif dan lam, tanpa menyebutkan sifat tertentu. Maka secara lahiriah ia dianggap bersumpah dengannya. Namun jika ia berkata, “Yang aku maksud adalah tuan rumah ini,” maka secara batin ia tidak bersumpah dengannya karena adanya kemungkinan makna lain, tetapi secara lahiriah ia tetap dianggap bersumpah karena ungkapannya yang bersifat umum.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَا يَكُونُ بِهِ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حَالِفًا بِهِ فِي الْبَاطِنِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَرَبِّ هَذِهِ الدَّارِ فَلَا يَكُونُ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ لِأَنَّهُ فِي الْعُرْفِ إِشَارَةٌ إِلَى مَالِكِهَا فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ بِهِ خَالِقَهَا وَهُوَ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ حَالِفًا

Bagian ketiga adalah sesuatu yang secara lahiriah tidak dianggap sebagai sumpah, namun boleh jadi secara batin merupakan sumpah, yaitu apabila seseorang berkata, “Demi Tuhan rumah ini.” Maka secara lahiriah ia tidak dianggap bersumpah, karena dalam kebiasaan maksudnya adalah menunjuk kepada pemilik rumah tersebut. Namun jika ia berkata, “Yang aku maksud adalah Penciptanya, yaitu Allah Ta‘ala,” maka ia dianggap bersumpah.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا اعْتُبِرَ فِيهِ عُرْفُ الْحَالِفِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَرَبِّي فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ يُسَمُّونَ السَّيِّدَ فِي عُرْفِهِمْ رَبًّا لَمْ يَكُنْ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ بِهِ اللَّهَ تَعَالَى فَيَصِيرُ بِهِ حَالِفًا وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ لَا يُسَمُّونَ الرَّبَّ فِي عُرْفِهِمْ إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى كَانَ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا يَكُونُ حَالِفًا فِي الْبَاطِنِ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ فِي الْحَالَيْنِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْاً يَعْنِي سَيِّدَهُ

Bagian keempat adalah perkara yang mempertimbangkan ‘urf (kebiasaan) orang yang bersumpah, yaitu ketika seseorang berkata, “Demi Rabb-ku.” Jika ia berasal dari suatu kaum yang dalam kebiasaan mereka menyebut tuan sebagai rabb, maka secara lahiriah ia tidak dianggap bersumpah, kecuali jika ia memang bermaksud Allah Ta‘ala, maka dengan itu ia menjadi bersumpah. Namun jika ia berasal dari kaum yang dalam kebiasaan mereka tidak menyebut rabb kecuali untuk Allah Ta‘ala, maka secara lahiriah ia dianggap bersumpah, kecuali jika ia bermaksud selain Allah Ta‘ala, maka secara batin ia tidak dianggap bersumpah. Hal ini didasarkan pada pertimbangan ‘urf dalam kedua keadaan tersebut. Allah Ta‘ala berfirman, “Adapun salah seorang dari kalian, maka ia akan memberi minum khamr kepada rabb-nya,” maksudnya adalah tuannya.

وَحُكِيَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ يَعْنِي اللَّهَ تَعَالَى فَكَانَ الرَّبُّ فِي إِبْرَاهِيمَ وَيُوسُفَ مُخْتَلِفًا فِي الْمُرَادَ بِهِ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي الْعُرْفِ

Diriwayatkan dari Ibrahim ucapan: “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku, Dia akan memberiku petunjuk,” yang dimaksud adalah Allah Ta‘ala. Maka istilah “Rabb” pada kisah Ibrahim dan Yusuf diperselisihkan maksudnya, karena perbedaan mereka dalam kebiasaan penggunaan istilah tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى مَا كَانَ إِطْلَاقُهُ مُخْتَصًّا بِاللَّهِ تَعَالَى فِي الظَّاهِرِ وَاخْتَلَفَ فِي جَوَازِ الْعُدُولِ بِهِ عَنِ الْبَاطِنِ عَلَى وَجْهَيْنِ وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَسْمَاءٍ

Bagian keempat dari nama-nama-Nya Ta‘ālā adalah nama-nama yang penggunaannya secara lahiriah hanya khusus bagi Allah Ta‘ālā, namun terdapat perbedaan pendapat tentang kebolehan mengalihkannya dari makna lahiriah ke makna batiniah, dan nama-nama tersebut ada tiga.

الْقُدُّوسُ وَالْخَالِقُ وَالْبَارِئُ

Yang Maha Suci, Maha Pencipta, dan Maha Pembentuk.

فَأَمَّا الْقُدُّوسُ فَهُوَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى مُخْتَصٌّ بِهِ فِي الْعُرْفِ وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Adapun al-Quddūs, maka ia adalah salah satu nama Allah Ta‘ālā yang khusus bagi-Nya menurut kebiasaan, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai maknanya menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ الْمُبَارَكُ قَالَهُ قَتَادَةُ

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan sesuatu yang penuh berkah, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الطَّاهِرُ قَالَهُ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ

Yang kedua, bahwa ia adalah suci; demikian dikatakan oleh Wahb bin Munabbih.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الْمُنَزَّهُ مِنَ الْقَبَائِحِ

Dan yang ketiga adalah bahwa Dia Maha Suci dari segala keburukan.

وَالرَّابِعُ إِنَّهُ اسْمٌ مُشْتَقٌّ مِنْ تَقْدِيسِ الْمَلَائِكَةِ فَإِذَا حَلَفَ بِالْقُدُّوسِ كَانَ كَالْحَالِفِ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ عَدَلَ بِهِ عَنِ الْبَاطِنِ إِلَى غَيْرِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Keempat, bahwa itu adalah nama yang diambil dari pensucian para malaikat, maka jika seseorang bersumpah dengan menyebut al-Quddūs, secara lahiriah hukumnya seperti bersumpah dengan nama Allah Ta‘ala. Namun, jika ia memalingkan maknanya dari makna batin kepada selainnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ وَلَا يَصِيرُ بِهِ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ إِذَا قِيلَ إِنَّ مَعْنَاهُ الْمُبَارَكُ أَوِ الطَّاهِرُ

Salah satunya boleh diucapkan dan tidak menjadikan seseorang sebagai orang yang bersumpah, baik secara lahir maupun batin, jika dikatakan bahwa maknanya adalah “yang diberkahi” atau “yang suci”.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ وَيَكُونُ حَالِفًا وَيَكُونُ ظَاهِرًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنْ تَقْدِيسِ الْمَلَائِكَةِ وَإِنَّهُ الْمُنَزَّهُ مِنْ جَمِيعِ الْقَبَائِحِ

Pendapat kedua tidak boleh, dan dianggap sebagai orang yang bersumpah, serta berlaku secara lahir dan batin jika dikatakan bahwa itu diambil dari pensucian para malaikat, dan bahwa itu adalah yang Maha Suci dari segala keburukan.

وَأَمَّا الْخَالِقُ فَمِنْ أَسْمَائِهِ وَفِي مَعْنَاهُ وَجْهَانِ

Adapun Al-Khāliq, maka ia termasuk salah satu dari nama-nama-Nya, dan dalam maknanya terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ الْمُحْدِثُ لِلْأَشْيَاءِ عَلَى إِرَادَتِهِ

Salah satunya adalah bahwa Dia adalah yang menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الْمُقَدِّرُ لَهَا بِحِكْمَتِهِ فَإِذَا حَلَفَ بِالْخَالِقِ كَانَ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ عَدَلَ بِهِ فِي الْبَاطِنِ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ ففيه وجهان

Yang kedua, sesungguhnya Dialah yang menetapkan takdir bagi makhluk dengan hikmah-Nya. Maka apabila seseorang bersumpah dengan menyebut al-Khāliq (Sang Pencipta), secara lahiriah ia dianggap bersumpah. Namun, jika dalam batinnya ia memaksudkan selain Allah dari makhluk-makhluk, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ وَلَا يَصِيرُ بِهِ حَالِفًا فِي الْبَاطِنِ إِذَا قِيلَ إِنَّ مَعْنَاهُ الْمُقَدِّرُ لِلْأَشْيَاءِ بِحِكْمَتِهِ

Salah satunya diperbolehkan dan tidak menjadikan seseorang sebagai orang yang bersumpah secara batin jika dikatakan bahwa maknanya adalah yang menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ وَيَصِيرُ بِهِ حَالِفًا إِذَا قِيلَ إِنَّ مَعْنَاهُ الْمُحْدِثُ لِلْأَشْيَاءِ عَلَى إِرَادَتِهِ

Pendapat kedua tidak boleh, dan dengan itu ia menjadi seorang yang bersumpah jika dikatakan bahwa maknanya adalah Dzat yang menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.

وَأَمَّا الْبَارِئُ فَمِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى وَفِي مَعْنَاهُ وَجْهَانِ

Adapun al-Bāri’ adalah salah satu dari nama-nama-Nya Ta‘ālā, dan dalam maknanya terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ الْمُنْشِئُ لِلْخَلْقِ

Salah satunya adalah bahwa Dia adalah Pencipta makhluk.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الْمُمَيِّزُ لِلْخَلْقِ فَإِذَا حَلَفَ بِالْبَارِئِ كَانَ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ عَدَلَ بِهِ فِي الْبَاطِنِ إِلَى غَيْرِهِ فَعَلَى الْوَجْهَيْنِ

Yang kedua, sesungguhnya ia adalah pembeda bagi makhluk. Maka apabila seseorang bersumpah dengan menyebut al-Bāri’, secara lahiriah ia dianggap telah bersumpah. Namun jika dalam batinnya ia memaksudkan selain Allah, maka hukumnya kembali kepada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ وَلَا يَصِيرُ بِهِ حَالِفًا إِذَا قِيلَ إِنَّ مَعْنَاهُ الْمُمَيَّزُ لِلْخَلْقِ

Salah satunya boleh, namun tidak menjadikan seseorang sebagai orang yang bersumpah jika dikatakan bahwa maknanya adalah yang membedakan makhluk.

وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ وَيَصِيرُ بِهِ حَالِفًا إِذَا قِيلَ إِنَّ مَعْنَاهُ الْمُنْشِئُ لِلْخَلْقِ

Dan yang kedua tidak diperbolehkan, dan dengan itu ia menjadi seorang yang bersumpah jika dikatakan bahwa maknanya adalah “yang menciptakan makhluk.”

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ مِنْ أَسْمَائِهِ مَا كَانَ إِطْلَاقُهُ مُخْتَصًّا بِاللَّهِ تَعَالَى فِي الظَّاهِرِ وَجَازَ أَنْ يَعْدِلَ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ فِي الْبَاطِنِ وَجْهًا وَاحِدًا

Bagian kelima dari nama-nama-Nya adalah nama yang secara lahiriah hanya boleh disandarkan kepada Allah Ta‘ala, namun secara batin masih dimungkinkan untuk dialihkan kepada selain-Nya dalam satu sisi saja.

أَحَدُهُمَا الْمُهَيْمِنُ

Salah satunya adalah al-Muhaymin.

وَالثَّانِي الْقَيُّومُ

Yang kedua adalah Al-Qayyūm.

فَأَمَّا الْمُهَيْمِنُ فَهُوَ مِنْ أَسْمَائِهِ فِي الْعُرْفِ وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Adapun al-Muhaymin, maka itu termasuk salah satu dari nama-nama-Nya menurut kebiasaan, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai maknanya menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ الشَّاهِدُ قَالَهُ قَتَادَةُ

Salah satunya adalah bahwa dia adalah saksi, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الْأَمِينُ قَالَهُ الضَّحَاكُ

Dan yang kedua, bahwa dia adalah al-Amīn; demikian dikatakan oleh adh-Dhahhāk.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الْمُصَدِّقُ قَالَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدٍ

Dan yang ketiga adalah bahwa ia adalah orang yang membenarkan, sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Zaid.

وَالرَّابِعُ إِنَّهُ الْحَافِظُ

Dan yang keempat, sesungguhnya dia adalah al-ḥāfiẓ (yang menjaga).

فَإِذَا حَلَفَ بِالْمُهَيْمِنِ كَانَ حَالِفًا بِاللَّهِ تَعَالَى فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ عَدَلَ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْبَاطِنِ جَازَ وَلَمْ يَكُنْ حَالِفًا

Maka apabila seseorang bersumpah dengan (menyebut) al-Muhaymin, secara lahiriah ia dianggap bersumpah dengan Allah Ta‘ala. Namun jika dalam batinnya ia memaksudkan selain Allah, maka hal itu boleh dan ia tidak dianggap bersumpah.

رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِنِّي داعٍ فَهَيْمِنُوا أَيْ قُولُوا آمِينَ حِفْظًا لِلدُّعَاءِ فَسُمِّيَ الْقَائِلُ آمِينَ مُهَيْمِنًا وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ فِي أَبَى بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Aku akan berdoa, maka ucapkanlah ‘amin’ (fahaiminū), yakni katakanlah ‘amin’ sebagai bentuk menjaga doa.” Maka orang yang mengucapkan ‘amin’ disebut muhaimin. Seorang penyair juga pernah berkata tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

أَلَا إِنَّ خَيْرَ النَّاسِ بَعْدَ نَبِيِّهِ مُهَيْمِنُهُ التَّالِيهِ فِي الْعُرْفِ وَالنُّكْرِ

Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah nabinya adalah pemimpinnya yang setia, yang selalu mengikuti dalam keadaan baik maupun buruk.

يَعْنِي الْحَافِظَ لِلنَّاسِ بَعْدَهُ

Yaitu penjaga bagi manusia setelahnya.

وَأَمَّا الْقَيُّومُ فَمِنْ أَسْمَائِهِ وَاخْتُلَفَ فِي مَعْنَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Adapun al-Qayyūm, maka itu termasuk salah satu dari nama-nama-Nya, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai maknanya menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ الْقَائِمُ بِتَدْبِيرِ خَلْقِهِ

Salah satunya adalah bahwa Dia yang mengatur ciptaan-Nya.

وَالثَّانِي إِنَّهُ الْقَائِمُ بِالْوُجُودِ

Dan yang kedua, yaitu yang berdiri dengan keberadaan.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ الْقَائِمُ بِالْأُمُورِ

Dan yang ketiga adalah bahwa dia yang menjalankan urusan-urusan.

وَالرَّابِعُ إِنَّهُ اسْمٌ مُشْتَقٌّ مِنَ الِاسْتِقَامَةِ

Keempat, sesungguhnya ia adalah nama yang diambil dari kata al-istiqāmah.

فَإِذَا حَلَفَ بِالْقَيُّومِ كَانَ حَالِفًا بِاللَّهِ فِي الظَّاهِرِ فَإِنْ عَدَلَ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ فِي الْبَاطِنِ جَازَ وَلَمْ يَكُنْ حَالِفًا لِأَنَّ مَعَانِيَهُ يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ مُسْتَعْمَلَةً فِي غَيْرِهِ

Maka jika seseorang bersumpah dengan (menyebut) al-Qayyūm, secara lahiriah ia dianggap bersumpah dengan nama Allah. Namun jika dalam batinnya ia memaksudkan selain Allah, maka hal itu boleh dan ia tidak dianggap bersumpah, karena makna-makna (kata tersebut) mungkin saja digunakan untuk selain Allah.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ مِنْ أَسْمَائِهِ مَا كَانَ إِطْلَاقُهُ مُخْتَصًّا بِغَيْرِهِ فِي الظَّاهِرِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَسْمَائِهِ فِي الْبَاطِنِ وَهُوَ الْمُؤْمِنُ وَالْعَالِمُ وَالْكَرِيمُ وَالسَّمِيعُ وَالْبَصِيرُ

Bagian keenam dari nama-nama-Nya adalah nama-nama yang secara lahiriah penggunaannya khusus bagi selain-Nya, meskipun pada hakikatnya itu juga merupakan nama-nama-Nya, yaitu: al-Mu’min, al-‘Alim, al-Karim, as-Sami‘, dan al-Basir.

فَهَذِهِ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى فَقَدْ صَارَتْ فِي الْعُرْفِ مُسْتَعْمَلَةً فِي غَيْرِهِ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ

Meskipun nama-nama ini termasuk Asma Allah Ta‘ala, namun dalam kebiasaan telah digunakan pula untuk selain-Nya dari kalangan makhluk.

فَإِذَا حَلَفَ بِأَحَدِهَا لَمْ يَكُنْ حَالِفًا بِاللَّهِ تَعَالَى فِي الظَّاهِرِ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ بِهَا اللَّهَ تَعَالَى فِي الْبَاطِنِ فَيَصِيرُ بِهَا حَالِفًا وَلَوْ كَثُرَ اسْتِعْمَالُهَا فِي اللَّهِ تَعَالَى وَقَلَّ اسْتِعْمَالُهَا فِي الْمَخْلُوقِينَ صَارَ حَالِفًا بِهَا فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ

Maka jika seseorang bersumpah dengan salah satu dari kata-kata tersebut, secara lahiriah ia tidak dianggap bersumpah atas nama Allah Ta‘ala, kecuali jika dalam batinnya ia memang bermaksud Allah Ta‘ala, maka dengan demikian ia menjadi orang yang bersumpah. Dan jika kata-kata itu lebih sering digunakan untuk Allah Ta‘ala dan jarang digunakan untuk makhluk, maka secara lahiriah ia dianggap bersumpah dengan kata tersebut, namun tidak secara batin.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْقِسْمُ السَّابِعُ مِنْ أَسْمَائِهِ مَا كَانَ إِطْلَاقُهُ فِي الظَّاهِرِ مُشْتَرِكًا بَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى وَبَيْنَ خَلْقِهِ عَلَى سَوَاءٍ كَالرَّحِيمِ وَالْعَظِيمِ وَالْعَزِيزِ وَالْقَادِرِ وَالنَّاصِرِ وَالْمَلِكِ فَيَرْجِعُ فِيهَا إِلَى إِرَادَةِ الْحَالِفِ بِهَا فَإِنْ أَرَادَ بِهَا أَسْمَاءَ اللَّهِ تَعَالَى كَانَ حَالِفًا بِهَا وَإِنْ أَرَادَ بِهَا أَسْمَاءَ الْمَخْلُوقِينَ لَمْ يَكُنْ حَالِفًا بِهَا وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ إِرَادَةٌ فَفِيهَا وَجْهَانِ

Bagian ketujuh dari nama-nama-Nya adalah nama-nama yang secara lahiriah penggunaannya sama-sama berlaku bagi Allah Ta‘ala dan makhluk-Nya, seperti ar-Rahim, al-‘Azim, al-‘Aziz, al-Qadir, an-Nashir, dan al-Malik. Dalam hal ini, dikembalikan kepada maksud orang yang bersumpah dengan nama-nama tersebut. Jika ia bermaksud nama-nama Allah Ta‘ala, maka ia dianggap bersumpah dengannya. Namun jika ia bermaksud nama-nama makhluk, maka ia tidak dianggap bersumpah dengannya. Jika ia tidak memiliki maksud tertentu, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أحدهما يكونه حَالِفًا بِهَا تَغْلِيبًا لِأَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْأَيْمَانُ فِي الْغَالِبِ

Salah satunya adalah ketika seseorang bersumpah dengannya karena mengutamakan nama-nama Allah Ta‘ala, sebab yang dimaksudkan dengannya pada umumnya adalah sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ لَا يَكُونُ حَالِفًا لِأَنَّهَا مَعَ تَسَاوِي الِاحْتِمَالِ فِيهِ تَصِيرُ كِنَايَةً لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا مَعَ فَقْدِ الْإِرَادَةِ حكمٌ فَلَوْ كَثُرَ اسْتِعْمَالُهَا فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَقَلَّتْ فِي الْمَخْلُوقِينَ صَارَ حَالِفًا بِهَا فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ كَالْقِسْمِ الْخَامِسِ وَلَوْ كَثُرَ اسْتِعْمَالُهَا فِي الْمَخْلُوقِينَ وَقُلَّ اسْتِعْمَالُهَا فِي اللَّهِ تَعَالَى لَمْ يَكُنْ حَالِفًا بِهَا فِي الظَّاهِرِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ حَالِفًا بِهَا فِي الْبَاطِنِ كَالْقِسْمِ السَّادِسِ

Pendapat kedua, bahwa ia tidak dianggap sebagai orang yang bersumpah, karena jika kemungkinan maknanya sama kuat, maka ia menjadi kinayah yang tidak terkait dengan suatu hukum apabila tidak ada niat. Jika kata tersebut lebih sering digunakan untuk nama-nama Allah dan jarang digunakan untuk makhluk, maka secara lahiriah ia dianggap bersumpah dengannya, namun tidak secara batin, seperti pada kategori kelima. Namun jika kata tersebut lebih sering digunakan untuk makhluk dan jarang digunakan untuk Allah Ta‘ala, maka secara lahiriah ia tidak dianggap bersumpah dengannya, meskipun secara batin mungkin saja ia bersumpah dengannya, seperti pada kategori keenam.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّامِنُ مِنْ أَسْمَائِهِ الْجَبَّارُ وَالْمُتَكَبِّرُ فَإِنْ خَرَجَ مَخْرَجَ الْمَدْحِ وَالتَّعْظِيمِ كَانَ مُخْتَصًّا بِاللَّهِ تَعَالَى وَإِنْ خَرَجَ مَخْرَجَ الذَّمِّ كَانَ مُخْتَصًّا بالمخلوقين وهو اسمان الجبار والمتكبر لأنهما من صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى مَدْحٌ وَفِي صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ذَمٌّ فَيَصِيرُ بِهِمَا حَالِفًا إِنْ خَرَجَا مَخْرَجَ الْمَدْحِ لِاخْتِصَاصِ اللَّهِ تَعَالَى بِالْمَدْحِ بِهَا وَلَا يَصِيرُ بِهِمَا حَالِفًا إِنْ خَرَجَا مَخْرَجَ الذَّمِّ لِانْتِفَائِهِ فِي صِفَاتِهِ

Bagian kedelapan dari nama-nama-Nya adalah al-Jabbār dan al-Mutakabbir. Jika kedua nama ini digunakan dalam konteks pujian dan pengagungan, maka itu khusus bagi Allah Ta‘ala. Namun jika digunakan dalam konteks celaan, maka itu khusus bagi makhluk. Kedua nama ini, al-Jabbār dan al-Mutakabbir, merupakan sifat Allah Ta‘ala yang mengandung pujian, sedangkan pada sifat makhluk, keduanya mengandung celaan. Maka, dengan kedua nama ini, seseorang menjadi bersumpah jika digunakan dalam konteks pujian, karena pujian dengan kedua nama tersebut hanya khusus bagi Allah Ta‘ala. Namun, tidak menjadi bersumpah jika digunakan dalam konteks celaan, karena celaan tersebut tidak berlaku pada sifat-sifat-Nya.

فَهَذِهِ ثَمَانِيَةُ أَقْسَامٍ تُعْتَبَرُ بِهَا أَسْمَاءُ اللَّهِ تَعَالَى إِذَا حَلَفَ بِهَا فَيُحْمَلُ جَمِيعُ مَا جَاءَ بِهِ الْأَثَرُ مِنْ أَسْمَائِهِ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ لَا يَخْرُجُ مِنْ أَحَدِهَا

Inilah delapan kategori yang dijadikan acuan dalam mempertimbangkan nama-nama Allah Ta‘ala ketika bersumpah dengannya. Maka seluruh nama yang disebutkan dalam riwayat harus dikembalikan kepada kategori-kategori ini, karena tidak ada satu pun nama yang keluar dari salah satunya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا صِفَاتُ اللَّهِ تَعَالَى فَضَرْبَانِ

Adapun sifat-sifat Allah Ta‘ala itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا صِفَاتُ ذَاتِهِ

Salah satunya adalah sifat-sifat dzat-Nya.

وَالثَّانِي صِفَاتُ أَفْعَالِهِ

Yang kedua adalah sifat-sifat perbuatan-Nya.

فَأَمَّا صِفَاتُ ذَاتِهِ فَقَدِيمَةٌ لِقَدَمِ ذَاتِهِ وَذَلِكَ مِثْلُ قَوْلِهِ وَقُدْرَةِ اللَّهِ وَعَظَمَةِ اللَّهِ وَجَلَالِ اللَّهِ وَعِزَّةِ اللَّهِ وَكِبْرِيَاءِ اللَّهِ وَعِلْمِ الله لأنه نزل على هذه الصفات ذات قُدْرَةٍ وَعَظَمَةٍ وَجَلَالٍ وَعَزَّةٍ وَكِبْرِيَاءٍ وَعِلْمٍ فَجَرَتْ هَذِهِ الصِّفَاتُ اللَّازِمَةُ لِذَاتِهِ مَجْرَى الْمَوْصُوفِ فَجَرَى عَلَيْهَا حُكْمُ أَسْمَائِهِ فِي انْعِقَادِ الْيَمِينِ بِهَا فِي وُجُوبِ الْكَفَّارَةِ فِيهَا

Adapun sifat-sifat Dzat-Nya adalah qadim karena qadimnya Dzat-Nya, seperti dalam ungkapan “dan kekuasaan Allah”, “dan keagungan Allah”, “dan kemuliaan Allah”, “dan keperkasaan Allah”, “dan kebesaran Allah”, serta “dan ilmu Allah”, karena Al-Qur’an turun dengan menyebut sifat-sifat ini: Dzat yang memiliki kekuasaan, keagungan, kemuliaan, keperkasaan, kebesaran, dan ilmu. Maka sifat-sifat yang melekat pada Dzat-Nya ini menempati kedudukan sebagai sesuatu yang disifati, sehingga berlaku atasnya hukum nama-nama Allah dalam hal pengikatan sumpah dengannya dan kewajiban membayar kafarat atasnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِذَا حَلَفَ بِعِلْمِ اللَّهِ لَمْ يَكُنْ يَمِينًا وَأَجْرَاهَا مَجْرَى مَعْلُومِهِ وَلَوْ حَلَفَ بِمَعْلُومِ اللَّهِ لَمْ يَكُنْ يَمِينًا كَذَلِكَ إِذَا حَلَفَ بِعِلْمِهِ

Abu Hanifah berkata, “Jika seseorang bersumpah dengan menyebut ‘ilmu Allah’, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah, dan beliau memperlakukannya seperti sumpah dengan ‘ma‘lum Allah’. Jika seseorang bersumpah dengan ‘ma‘lum Allah’, maka itu juga tidak dianggap sebagai sumpah, demikian pula jika seseorang bersumpah dengan ‘ilmunya’.”

وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ الْعِلْمَ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ فَانْعَقَدَتْ بِهِ الْيَمِينُ كَالْقُدْرَةِ وَالْعَظَمَةِ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَعْلُومِ أَنَّ الْمَعْلُومَ مُنْفَصِلٌ عَنْ ذَاتِهِ وَالْعِلْمَ مُتَّصِلٌ بِهَا وَأَمَّا صِفَاتُ أَفْعَالِهِ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ لَازِمَةٍ كَقَوْلِهِ وَخَلْقِ اللَّهِ وَرِزْقِ اللَّهِ فَلَا يَكُونُ حَالِفًا بِهَا لِخُلُوِّهَا مِنْهُ قَبْلَ حُدُوثِهَا وَالْيَمِينُ بِالْمُحْدَثَاتِ غَيْرُ مُنْعَقِدَةٍ كَذَلِكَ مَا كَانَ مُحْدَثًا مِنْ صِفَاتِ أَفْعَالِهِ

Ini adalah pendapat yang rusak, karena ilmu merupakan salah satu sifat dzat-Nya, sehingga sumpah dapat terikat dengannya sebagaimana dengan qudrah (kemampuan) dan ‘azhamah (keagungan). Perbedaan antara ilmu dan ma‘lum (yang diketahui) adalah bahwa ma‘lum terpisah dari dzat-Nya, sedangkan ilmu melekat padanya. Adapun sifat-sifat perbuatan-Nya, maka sifat-sifat itu adalah sesuatu yang baru dan tidak melekat, seperti ucapan “dan ciptaan Allah” atau “rezeki Allah”, maka tidak dianggap bersumpah dengannya karena sifat-sifat itu tidak ada pada-Nya sebelum terjadinya. Sumpah dengan sesuatu yang baru tidaklah sah, demikian pula dengan sifat-sifat perbuatan-Nya yang baru.

فَأَمَّا أَمَانَةُ اللَّهِ فَهِيَ كَصِفَاتِ أَفْعَالِهِ لَا يَنْعَقِدُ بِهَا يَمِينٌ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ الْيَمِينَ وَأَجْرَاهَا أَبُو حَنِيفَةَ مَجْرَى صِفَاتِ ذَاتِهِ فَعَقَدَ بِهَا الْيَمِينَ وَأَوْجَبَ فِيهَا الْكَفَّارَةَ

Adapun Amanah Allah, maka ia seperti sifat-sifat perbuatan-Nya; tidak sah sumpah dengannya kecuali jika seseorang memang berniat bersumpah. Abu Hanifah memperlakukan hal itu seperti sifat-sifat Dzat-Nya, sehingga ia menganggap sumpah dengan itu sah dan mewajibkan kafarat atasnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ أَمَانَةَ اللَّهِ فُرُوضُهُ الَّتِي أَمَرَ بِهَا عَبِيدَهُ وَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ فِعْلَهَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاُ

Dan dalil kami adalah bahwa amanah Allah itu adalah kewajiban-kewajiban yang Dia perintahkan kepada hamba-hamba-Nya dan yang Dia wajibkan atas mereka untuk melaksanakannya. Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut terhadapnya, lalu manusia-lah yang memikulnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”

وَقَدْ كَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ وَقْتُ الصَّلَاةِ اصْفَرَّ مَرَّةً وَاحْمَرَّ مَرَّةً وَقَالَ أَتَتْنِي الْأَمَانَةُ الَّتِي عرضت على السموات وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلْتُهَا أَنَا فَلَا أَدْرِي أسيءُ فِيهَا أَوْ أُحْسِنُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ دَلَّ عَلَى أَنَّ أَمَانَةَ اللَّهِ مُحْدَثَةٌ فَلَمْ يَلْزَمْ بِهَا الْكَفَّارَةُ

Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, apabila waktu salat telah tiba, wajahnya kadang-kadang menjadi kuning dan kadang-kadang menjadi merah. Ia berkata, “Telah datang kepadaku amanah yang telah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut terhadapnya, lalu aku yang memikulnya. Maka aku tidak tahu, apakah aku akan berbuat baik dalam menunaikannya atau justru berbuat buruk.” Jika demikian keadaannya, maka hal itu menunjukkan bahwa amanah Allah adalah sesuatu yang baru (muhdatsah), sehingga tidak wajib atasnya kafarah.

فَإِنْ قِيلَ مَعْنَى أَمَانَةِ اللَّهِ أَنَّهُ ذُو أَمَانَةٍ وَذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ

Jika dikatakan bahwa makna “amanah Allah” adalah bahwa Dia memiliki sifat amanah, dan itu termasuk sifat-sifat Dzat-Nya.

قِيلَ يُحْتَمَلُ إِنَّهُ يُرِيدُ بِأَمَانَةِ اللَّهِ أَنَّهُ ذُو أَمَانَةٍ فَيَكُونُ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهَا فُرُوضَ اللَّهِ فَتَكُونُ مِنْ صِفَاتِ أَفْعَالِهِ فَلَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ الْيَمِينُ مَعَ احْتِمَالِ الْأَمْرَيْنِ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ بِهَا الْيَمِينَ وَاللَّهُ أعلم

Dikatakan bahwa mungkin yang dimaksud dengan “amanah Allah” adalah bahwa ia adalah orang yang memiliki sifat amanah, sehingga termasuk dalam sifat dzat-Nya. Dan mungkin juga yang dimaksud adalah kewajiban-kewajiban dari Allah, sehingga termasuk dalam sifat perbuatan-Nya. Maka sumpah tidak menjadi sah dengan lafaz tersebut karena adanya kemungkinan dua makna, kecuali jika ia memang bermaksud menjadikannya sebagai sumpah. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَمَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَهِيَ يمينٌ مكروهةٌ وَأَخْشَى أَنْ تَكُونَ مَعْصِيَةً لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سَمِعَ عُمَرَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا بَعْدُ ذَاكِرًا وَلَا آثِرًا

Imam Syafi‘i berkata, “Barang siapa bersumpah dengan selain nama Allah, maka sumpah itu hukumnya makruh, dan aku khawatir itu termasuk maksiat. Sebab, Nabi ﷺ pernah mendengar Umar bersumpah dengan nama ayahnya, lalu beliau bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian.’ Maka Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan itu lagi, baik secara sengaja maupun menirukan orang lain.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ الْيَمِينُ بِغَيْرِ اللَّهِ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ كُلِّهَا مَكْرُوهَةٌ سَوَاءٌ حَلَفَ بِمُعَظَّمٍ كَالْمَلَائِكَةِ وَالْأَنْبِيَاءِ أَوْ بِغَيْرِ مُعَظَّمٍ لِرِوَايَةِ الشَّافِعِيِّ عَنْ مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَهُوَ يَسِيرُ فِي ركبٍ وَحَلَفَ بِأَبِيهِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang dikatakan, bersumpah dengan selain Allah dari seluruh makhluk adalah makruh, baik ia bersumpah dengan sesuatu yang dimuliakan seperti malaikat dan para nabi, maupun dengan selain yang dimuliakan, berdasarkan riwayat asy-Syafi‘i dari Malik dari Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati ‘Umar bin al-Khaththab sedang berjalan dalam suatu rombongan lalu ia bersumpah demi ayahnya. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama-nama ayah kalian. Barang siapa yang hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau hendaklah ia diam.”

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سمع النبي الله عُمَرَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ قَالَ عُمَرُ فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا ذَاكِرًا وَلَا آثِرًا وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, ia berkata: Nabi mendengar Umar bersumpah dengan nama ayahnya, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah kalian.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan itu lagi, baik secara sengaja maupun menirukan orang lain.” Dalam hadis ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا يَعْنِي عَامِدًا وَلَا نَاسِيًا

Salah satunya maksudnya adalah dengan sengaja, bukan karena lupa.

وَالثَّانِي مُعْتَقِدًا لِنَفْسِي وَلَا حَاكِيًا عَنْ غَيْرِي

Dan yang kedua, aku meyakini untuk diriku sendiri dan bukan menukil dari orang lain.

وَرَوَى ابْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Dalam hal ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا فَقَدْ أَشْرَكَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَ غَيْرِهِ فِي التَّعْظِيمِ وَإِنْ لَمْ يَصِرْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ الْكَافِرِينَ

Salah satunya adalah bahwa ia telah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya dalam hal pengagungan, meskipun ia belum menjadi bagian dari orang-orang musyrik yang kafir.

وَالثَّانِي فَقَدْ أَشْرَكَ بِاللَّهِ فَصَارَ كَافِرًا بِهِ إِنِ اعْتَقَدَ لُزُومَ يَمِينِهِ بِغَيْرِ اللَّهِ كَاعْتِقَادِ لُزُومِهَا بِاللَّهِ

Dan yang kedua, sungguh ia telah mempersekutukan Allah sehingga menjadi kafir kepada-Nya jika ia meyakini wajibnya sumpah dengan selain Allah sebagaimana keyakinan wajibnya sumpah dengan Allah.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَقَالَ لِأَبِي الْعُشَرَاءِ الدَّارِمِيِّ وَأَبِيكَ لَوْ طَعَنْتَ فِي فَخِذِهِ لَأَجْزَأَكَ فَعَنْهُ جَوَابَانِ

Jika ada yang berkata, “Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersumpah dengan selain Allah, seperti sabdanya kepada seorang Arab Badui: ‘Demi ayahnya, jika ia jujur, ia akan masuk surga,’ dan sabdanya kepada Abu al-‘Usyara’ ad-Darimi: ‘Demi ayahmu, jika engkau menusuk pahanya, itu sudah cukup bagimu.’” Maka terhadap hal ini terdapat dua jawaban.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَمْ يَخْرُجْ مَخْرَجَ الْيَمِينِ وَإِنَّمَا كَانَتْ كَلِمَةً تَخِفُّ عَلَى أَلْسِنَتِهِمْ فِي مَبَادِئِ الْكَلَامِ

Salah satunya adalah bahwa itu tidak dimaksudkan sebagai sumpah, melainkan hanyalah sebuah ungkapan yang ringan diucapkan oleh lisan mereka pada awal pembicaraan.

وَالثَّانِي إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ قَبْلَ النَّهْيِ

Yang kedua, boleh jadi hal itu terjadi pada masa awal Islam sebelum adanya larangan.

وَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَخْشَى أَنْ يَكُونَ مَعْصِيَةً هِيَ فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَعِيدِ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَكْرُوهٍ يُسْتَحَقُّ عَلَيْهِ الْوَعِيدُ

Dan perkataan asy-Syafi‘i, “Aku khawatir itu termasuk maksiat,” maksudnya adalah dalam hal berhak mendapatkan ancaman (wa‘īd), karena tidak setiap perkara yang makruh berhak mendapatkan ancaman.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْيَمِينَ بِغَيْرِ اللَّهِ مَكْرُوهَةٌ فَهِيَ غَيْرُ مُنْعَقِدَةٍ وَلَا يَلْزَمُ الْوَفَاءُ بِهَا وَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ إِنْ حَنِثَ فِيهَا وَهُوَ كَالْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ وَهَكَذَا إِذَا حَلَفَ بِمَا يَحُظُرُهُ الشَّرْعُ كَقَوْلِهِ إِنْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَأَنَا بَرِيءٌ مِنَ اللَّهِ أَوْ كَافِرٌ بِهِ أَوْ خَارِجٌ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ أَوْ فَأَنَا يَهُودِيٌّ أَوْ وَثَنِيٌّ لَمْ تَنْعَقِدْ يَمِينُهُ وَلَمْ يَلْزَمْ بِالْحِنْثِ فِيهَا كَفَّارَةٌ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَجُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ

Maka apabila telah tetap bahwa sumpah dengan selain Allah adalah makruh, maka sumpah tersebut tidak sah dan tidak wajib dipenuhi, serta tidak ada kewajiban membayar kafarat jika melanggarnya. Ini merupakan hal yang disepakati. Demikian pula jika seseorang bersumpah dengan sesuatu yang dilarang syariat, seperti ucapannya: “Jika aku melakukan ini dan itu, maka aku berlepas diri dari Allah,” atau “aku kafir kepada-Nya,” atau “aku keluar dari agama Islam,” atau “aku seorang Yahudi,” atau “aku seorang penyembah berhala,” maka sumpahnya tidak sah dan tidak wajib membayar kafarat jika melanggarnya. Inilah pendapat Malik, Al-Auza‘i, dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَصَاحِبَاهُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ تَنْعَقِدُ يَمِينُهُ وَتَلْزَمُ الْكَفَّارَةُ إِنْ حَنِثَ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى ذَلَكَ كَفَّارَةُ أيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ

Abu Hanifah, kedua sahabatnya, Sufyan ats-Tsauri, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa sumpahnya sah berlaku dan wajib membayar kafarat jika ia melanggarnya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Itulah kafarat sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah,” sehingga ayat tersebut berlaku secara umum.

وَرُبَّمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يمينٍ وَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خيرٌ وَلِيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ وَلَمْ يُفَرِّقْ

Dan mungkin telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia melihat ada yang lebih baik dari sumpah itu, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik tersebut dan hendaklah ia membayar kafarat atas sumpahnya itu,” dan beliau tidak membedakan.

وَبِمَا رَوَى ثَابِتُ بْنُ الضَّحَّاكِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ بملةٍ غَيْرِ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ فَإِنْ كَانَ صَادِقًا لَمْ يَرْجِعْ إِلَى الْإِسْلَامِ سَالِمًا فَجَعَلَهَا يَمِينًا وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلاَ تَنْقُضَوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا فَدَلَّ عَلَى لُزُومِهَا وَلِأَنَّ لُزُومَ الْيَمِينِ بِاللَّهِ لِتَوْكِيدِ حُرْمَتِهَا وَحَظْرِ مُخَالَفَتِهَا وَهَذَا الْمَعْنَى مَوْجُودٌ فِيمَا عَقَدَهُ مِنَ الْكُفْرِ بِاللَّهِ تَعَالَى وَالْبَرَاءَةِ مِنْهُ وَمِنَ الْإِسْلَامِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي اللُّزُومِ وَفِي الْكَفَّارَةِ وَلِأَنَّ الْبَرَاءَةَ مِنَ اللَّهِ أَغْلَظُ مَأْثَمًا وَأَشَدُّ حَظْرًا مِنَ الْحَلِفِ بِاللَّهِ فَلَمَّا انْعَقَدَتِ الْيَمِينُ وَلَزِمَ التَّكْفِيرُ فِي أَحَقِّ الْمَأْثَمَيْنِ كَانَ لُزُومُهَا فِي أَغْلَظِهِمَا أَوْلَى

Dan berdasarkan riwayat dari Tsabit bin adh-Dhahhak bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan agama selain agama Islam secara dusta, maka ia seperti apa yang ia katakan. Jika ia jujur, maka ia tidak akan kembali kepada Islam dalam keadaan selamat.” Maka Nabi menjadikannya sebagai sumpah, dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah setelah menguatkannya.” Ini menunjukkan kewajiban untuk menunaikannya. Kewajiban menunaikan sumpah dengan nama Allah adalah untuk menegaskan kehormatannya dan melarang pelanggarannya. Makna ini juga terdapat pada sumpah yang berisi kekufuran kepada Allah Ta‘ala dan berlepas diri dari-Nya dan dari Islam. Maka wajib keduanya sama dalam hal kewajiban dan kafarat. Karena berlepas diri dari Allah adalah dosa yang lebih besar dan larangan yang lebih berat daripada bersumpah dengan nama Allah. Maka ketika sumpah itu terikat dan wajib membayar kafarat pada dosa yang paling berat, maka kewajiban menunaikannya pada dosa yang lebih berat tentu lebih utama.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَقْسَمُوا بِاللهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ فَجَعَلَهَا غَايَةَ الْأَيْمَانِ وَأَغْلَظَهَا فَلَمْ تَتَغَلَّظِ الْيَمِينُ بِغَيْرِ اللَّهِ

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh.” Maka Allah menjadikannya sebagai puncak sumpah dan yang paling berat. Tidaklah sumpah menjadi berat kecuali dengan (menyebut) nama Allah, bukan dengan selain-Nya.

وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ وَلَا بِأُمَّهَاتِكُمْ وَلَا بِالْأَنْدَادِ وَلَا تَحْلِفُوا إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْلِفُوا بِاللَّهِ إِلَّا وَأَنْتُمْ صَادِقُونَ

Muhammad bin Sirin meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian bersumpah demi ayah-ayah kalian, jangan pula demi ibu-ibu kalian, dan jangan pula demi tandingan-tandingan (selain Allah). Janganlah kalian bersumpah kecuali dengan nama Allah, dan janganlah kalian bersumpah dengan nama Allah kecuali dalam keadaan kalian benar (jujur).”

وَهَذَا نَصٌّ

Dan ini adalah sebuah nash.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أنه قال من خلف بِغَيْرِ اللَّهِ فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: Barang siapa bersumpah dengan selain nama Allah, maka kafaratnya adalah mengucapkan “Lā ilāha illā Allāh.”

وَرُوِيَ أَنَّهُ قَالَ فَقَدْ أَشْرَكَ فَدَلَّ عَلَى سُقُوطِ الْكَفَّارَةِ فِي الْيَمِينِ بِغَيْرِ اللَّهِ؟ وَلِأَنَّهُ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ؟ فَوَجَبَ أَنْ لَا تَلْزَمَهُ كَفَّارَةٌ؟ كَمَا لَوْ قَالَ إِنْ فَعَلْتُ كَذَا فَأَنَا زانٍ أَوْ شَارِبُ خَمْرٍ أو قاتل نفس ولأن حلف بمخلوقٍ يحدث لأنه اعْتِقَادَ الْكُفْرِ وَبَرَاءَتَهُ مِنَ الْإِسْلَامِ مُحْدَثٌ فَوَجَبَ أَنْ لَا تَلْزَمَهُ كَفَّارَةٌ كَمَا لَوْ حَلَفَ بِالسَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْأَنْبِيَاءِ وَلِأَنَّهُ مَنَعَ نَفْسَهُ مِنْ فِعْلٍ بِأَمْرٍ مَحْظُورٍ فَوَجَبَ أَنْ لَا تَكُونَ يَمِينًا تُوجِبُ التَّكْفِيرَ كَمَا لَوْ قَالَ إِنْ كَلَّمْتُ زَيْدًا فَأَنَا فَاسِقٌ أَوْ فَعَلَيَّ قَتْلُ نَفْسِي أَوْ وَلَدِي

Diriwayatkan bahwa ia berkata: “Maka sungguh ia telah berbuat syirik,” sehingga hal ini menunjukkan gugurnya kewajiban kafarat pada sumpah dengan selain Allah. Karena ia telah bersumpah dengan selain Allah, maka tidak wajib baginya membayar kafarat, sebagaimana jika ia berkata: “Jika aku melakukan ini, maka aku adalah pezina, atau peminum khamar, atau pembunuh jiwa.” Dan karena ia bersumpah dengan makhluk yang diciptakan, sebab keyakinan akan kekufuran dan pelepasan diri dari Islam adalah sesuatu yang baru, maka tidak wajib baginya membayar kafarat, sebagaimana jika ia bersumpah dengan langit, bumi, malaikat, dan para nabi. Dan karena ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu dengan perkara yang terlarang, maka tidak dianggap sebagai sumpah yang mewajibkan kafarat, sebagaimana jika ia berkata: “Jika aku berbicara dengan Zaid, maka aku adalah orang fasik, atau wajib bagiku membunuh diriku sendiri atau anakku.”

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ عُمُومِ الْآيَةِ وَالْخَبَرِ فَهُوَ أَنَّ إِطْلَاقَهَا مَحْمُولٌ عَلَى الْيَمِينِ بِاللَّهِ لِأَنَّهَا الْيَمِينُ الْمَعْهُودَةُ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ وَالِاسْتِعْمَالِ

Adapun jawaban terhadap keumuman ayat dan hadis adalah bahwa keumumannya itu dimaknai pada sumpah dengan nama Allah, karena itulah sumpah yang dikenal dalam kebiasaan syariat dan penggunaan (bahasa).

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ مَعَ ضَعْفِهِ فَهُوَ أَنَّهُ يَكُونُ دَلِيلًا لَنَا أَشْبَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَيْنَا؟ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَصِرْ بِالْحِنْثِ خَارِجًا مِنَ الْإِسْلَامِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ خَرَجَ مَخْرَجَ الزَّجْرِ كَمَا قَالَ مَنْ قَتَلَ عَبْدًا قَتَلْنَاهُ جَعْلَ الْوَعِيدَ يُوجِبُ يَمِينَهُ دُونَ الْكَفَّارَةِ وَلَوْ وَجَبَتْ لَأَبَانَهَا

Adapun jawaban terhadap hadis Tsabit bin adh-Dhahhak, meskipun hadis itu lemah, justru hadis tersebut lebih mendukung pendapat kami daripada menjadi dalil atas kami. Karena ketika seseorang tidak keluar dari Islam hanya karena melanggar sumpahnya, hal itu menunjukkan bahwa ancaman tersebut bermakna sebagai peringatan keras, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa membunuh seorang budak, maka kami akan membunuhnya.” Ancaman tersebut menjadikan sumpahnya tetap wajib tanpa mewajibkan kafarat, dan seandainya kafarat itu wajib, tentu akan dijelaskan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ تَوْكِيدُ حُرْمَتِهَا وَحَظْرُ مُخَالَفَتِهَا فَهُوَ أَنَّهُ لَا حُرْمَةَ لِهَذِهِ الْيَمِينِ لِحَظْرِهَا وَتَحْرِيمِهَا وَلِأَنَّ الْحَظْرَ إِنَّمَا تَوَجَّهَ إِلَى التَّلَفُّظِ بِهَا فَلَمْ يَبْقَ لِلْحَظْرِ وَالتَّحْرِيمِ حُرْمَةٌ مِنَ الِالْتِزَامِ وَالتَّكْفِيرِ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka tentang penegasan keharaman sumpah tersebut dan larangan untuk menyelisihinya adalah bahwa sumpah ini tidak memiliki kehormatan karena adanya larangan dan pengharamannya. Selain itu, larangan itu sendiri hanya ditujukan pada pengucapannya, sehingga tidak tersisa lagi kehormatan dari larangan dan pengharaman tersebut dalam bentuk keharusan untuk menaatinya atau kewajiban membayar kafarat.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِتَغْلِيظِ الْبَرَاءَةِ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ أَنَّ الْبَرَاءَةَ مِنَ اللَّهِ كُفْرٌ وَلَا يَجِبُ بِالْكُفْرِ تَكْفِيرٌ كَالْمُرْتَدِّ وَاللَّهُ أعلم

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan penekanan pada pelepasan diri dari Allah adalah bahwa pelepasan diri dari Allah merupakan kekufuran, dan tidak wajib mengkafirkan hanya karena kekufuran, seperti halnya orang murtad. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ الْأَيْمَانَ عَلَى كُلِّ حالٍ إِلَّا فِيمَا كَانَ لِلَهِ عَزَّ وَجَلَّ طَاعَةً وَمَنْ حَلَفَ عَلَى يمينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَالِاخْتِيَارُ أَنْ يَأْتِيَ الَّذِي هُوَ خيرٌ وَيُكَفِّرَ لِأَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِذَلِكَ

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku memakruhkan sumpah dalam segala keadaan, kecuali dalam hal yang merupakan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barang siapa bersumpah atas suatu perkara, lalu ia melihat ada yang lebih baik dari sumpahnya itu, maka yang lebih utama adalah ia melakukan yang lebih baik tersebut dan membayar kafarat, karena perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْأَيْمَانَ بِاللَّهِ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ketahuilah bahwa sumpah dengan nama Allah itu terbagi menjadi dua jenis.”

أَحَدُهُمَا مَا كَانَ عَلَى ماضٍ وَالْكَلَامُ فِيهِ يَأْتِي

Salah satunya adalah yang berkaitan dengan masa lalu, dan pembahasan tentangnya akan datang.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مَا كَانَ عَلَى فِعْلٍ مُسْتَقْبَلٍ وَهُوَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ

Jenis kedua adalah apa yang berkaitan dengan perbuatan yang akan datang, dan ini terbagi menjadi lima bagian.

أَحَدُهَا مَا كَانَ عَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا طَاعَةً وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا مَعْصِيَةً وَهُوَ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لِأُصَلِّيَنَّ فَرْضِي؟ وَلَأُزَكِّيَنَّ مَالِي وَلَأَصُومَنَّ شَهْرِ رَمَضَانَ وَلَأَحُجَّنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ فقعدها وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا طَاعَةٌ لِأَنَّهَا تَأْكِيدٌ لِفِعْلِ مَا فَرَضَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا بِأَنْ لَا يُصَلِّيَ وَلَا يُزَكِّيَ وَلَا يَصُومَ ولا يحج معصية لأنه ترك لمفروض وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ أَنْ لَا يَفْعَلَ مَحْظُورًا مُحَرَّمًا كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا زَنَيْتُ وَلَا سَرَقْتُ وَلَا قَتَلْتُ وَلَا شَرِبْتُ خَمْرًا وَلَا قَذَفْتُ محصناً كَانَ عَقْدُهَا بِاجْتِنَابِ هَذِهِ الْمَعَاصِي طَاعَةً وَحِلُّهَا بِارْتِكَابِ هَذِهِ الْمَعَاصِي مَعْصِيَةً

Salah satunya adalah sumpah yang pengucapan dan pelaksanaannya merupakan ketaatan, sedangkan membatalkannya dan melanggarnya adalah maksiat. Contohnya adalah bersumpah untuk melakukan kewajiban, seperti ucapannya: “Demi Allah, aku pasti akan melaksanakan salat wajibku, aku pasti akan menunaikan zakat hartaku, aku pasti akan berpuasa di bulan Ramadan, dan aku pasti akan berhaji ke Baitullah al-Haram.” Maka pengucapan sumpah tersebut dan melaksanakannya adalah ketaatan karena itu merupakan penegasan untuk melakukan apa yang telah diwajibkan Allah Ta‘ala kepadanya. Sedangkan membatalkannya dan melanggarnya, seperti tidak salat, tidak menunaikan zakat, tidak berpuasa, dan tidak berhaji, adalah maksiat karena itu berarti meninggalkan kewajiban. Demikian pula jika ia bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu yang diharamkan, seperti ucapannya: “Demi Allah, aku tidak akan berzina, tidak akan mencuri, tidak akan membunuh, tidak akan minum khamar, dan tidak akan menuduh orang yang terjaga kehormatannya,” maka pengucapan sumpah tersebut dengan menjauhi maksiat-maksiat itu adalah ketaatan, dan membatalkannya dengan melakukan maksiat-maksiat itu adalah maksiat.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَ عَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا مَعْصِيَةً وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا طَاعَةً وَهُوَ قَوْلُهُ وَاللَّهِ لَا صَلَّيْتُ وَلَا زَكَّيْتُ وَلَا صُمْتُ وَلَا حَجَجْتُ فَعَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا بِأَنْ لَا يُصَلِّيَ وَلَا يُزَكِّيَ مَعْصِيَةٌ لِأَنَّهُ تَرَكَ فِيهَا مفروضاً عليه وجلها وَالْحِنْثُ فِيهَا بِأَنْ يُصَلِّيَ وَيُزَكِّيَ طَاعَةٌ لِأَنَّهُ فَعَلَ مَفْرُوضًا عَلَيْهِ

Bagian kedua adalah sumpah yang akadnya dan tetap berada di atasnya merupakan maksiat, sedangkan membatalkannya dan melanggar sumpah tersebut adalah ketaatan. Contohnya adalah ucapannya: “Demi Allah, aku tidak akan salat, tidak akan menunaikan zakat, tidak akan berpuasa, dan tidak akan berhaji.” Maka mengucapkan sumpah tersebut dan tetap tidak melaksanakan salat atau zakat adalah maksiat, karena ia telah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan kepadanya. Sedangkan melanggar sumpah tersebut dengan cara melaksanakan salat dan zakat adalah ketaatan, karena ia telah melakukan kewajiban yang diperintahkan kepadanya.

وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ الْمَحْظُورَاتِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَزْنِيَنَّ وَلَأَشْرَبَنَّ خَمْرًا وَلَأَسْرِقَنَّ وَلَأَقْتُلَنَّ كَانَ عَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا بِالزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مَعْصِيَةً وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا طَاعَةً بِأَنْ لَا يَزْنِيَ وَلَا يَشْرَبَ

Demikian pula, jika seseorang bersumpah untuk melakukan hal-hal yang dilarang, seperti berkata, “Demi Allah, aku pasti akan berzina, pasti akan minum khamar, pasti akan mencuri, dan pasti akan membunuh,” maka mengikat sumpah tersebut dan tetap melakukannya dengan berzina, mencuri, dan selainnya adalah maksiat, sedangkan membatalkan sumpah tersebut dan melanggarnya dengan tidak berzina dan tidak minum adalah ketaatan.

وَالْقَسَمُ الثَّالِثُ مَا كَانَ عَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا مُسْتَحَبًّا وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا مَكْرُوهًا وَهُوَ قَوْلُهُ وَاللَّهِ لَأُصَلِّيَنَّ النَّوَافِلَ وَلَأَتَطَوَّعَنَّ بِالصَّدَقَةِ وَلَأَصُومَنَّ الْأَيَّامَ الْبِيضَ وَلَأُنْفِقَنَّ عَلَى الْأَقَارِبِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْخَيْرَاتِ فَعَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا بِفِعْلِ ذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا بِتَرْكِ ذَلِكَ مَكْرُوهٌ

Golongan ketiga adalah sumpah yang akadnya dan menepatinya hukumnya sunnah, sedangkan membatalkannya dan melanggarnya hukumnya makruh. Contohnya adalah ucapan, “Demi Allah, aku benar-benar akan melaksanakan salat sunnah, benar-benar akan bersedekah secara sukarela, benar-benar akan berpuasa pada hari-hari putih, dan benar-benar akan memberi nafkah kepada kerabat,” serta hal-hal serupa dari kebaikan-kebaikan. Maka, mengucapkan sumpah tersebut dan menepatinya dengan melakukan hal-hal itu hukumnya sunnah, sedangkan membatalkannya dan melanggarnya dengan meninggalkan hal-hal itu hukumnya makruh.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا كَانَ عَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا مَكْرُوهًا وَحَلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا مُسْتَحَبًّا وَهُوَ عَكْسُ مَا قَدَّمْنَاهُ فَيَقُولُ وَاللَّهِ لَا صَلَّيْتُ نَافِلَةً وَلَا تَطَوَّعْتُ بِصَدَقَةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَا أَنْفَقْتُ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ وَلَا عُدْتُ مَرِيضًا وَلَا شَيَّعْتُ جِنَازَةً فَعَقْدُهَا وَالْمَقَامُ عَلَيْهَا مَكْرُوهٌ وَحِلُّهَا وَالْحِنْثُ فِيهَا بِفِعْلِ ذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ قَدْ حَلَفَ أَبُو بكر أن لا يبر مسطح وَكَانَ ابْنَ خَالَتِهِ لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْإِفْكِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ وَلاَ يَأْتلُ أُولُو الفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي القُرْبَى إِلَى قَوْلِهِ أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى يَا رَبِّ فَبَرَّهُ وَكَفَّرَ

Bagian keempat adalah nazar yang akadnya dan tetap di atasnya hukumnya makruh, sedangkan membatalkannya dan melanggarnya justru dianjurkan. Ini adalah kebalikan dari yang telah kami sebutkan sebelumnya. Misalnya seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan shalat sunnah, tidak akan bersedekah sunnah, tidak akan berpuasa sunnah, tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, tidak akan menjenguk orang sakit, dan tidak akan mengantarkan jenazah.” Maka akad nazar seperti ini dan tetap di atasnya hukumnya makruh, sedangkan membatalkannya dan melanggarnya dengan melakukan perbuatan-perbuatan tersebut justru dianjurkan. Abu Bakar pernah bersumpah untuk tidak berbuat baik kepada Mistah, padahal ia adalah anak dari bibinya, karena Mistah turut berbicara dalam peristiwa ifk (fitnah terhadap Aisyah). Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat tentang hal itu: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai keutamaan di antara kamu dan kelapangan bersumpah (tidak akan memberi) kepada kaum kerabat…” hingga firman-Nya: “Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian?” Maka Abu Bakar berkata, “Tentu, wahai Tuhanku,” lalu ia menunaikan sumpahnya dan membayar kaffarah.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى مَا فِعْلُهُ مُبَاحٌ وَتَرْكُهُ مُبَاحٌ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ وَلَا لَبِسْتُ هَذَا الثَّوْبَ وَلَا أَكَلْتُ هَذَا الطَّعَامَ فَعَقْدُهَا لَيْسَ بمستحبٍ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ هُوَ مُبَاحٌ أَوْ مَكْرُوهٌ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Bagian kelima adalah bersumpah atas sesuatu yang perbuatannya mubah dan meninggalkannya juga mubah, seperti ucapannya: “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke rumah ini, tidak akan memakai pakaian ini, dan tidak akan memakan makanan ini.” Maka akad sumpah seperti ini tidaklah dianjurkan. Para ulama kami berbeda pendapat, apakah hal itu mubah atau makruh? Ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيٍّ بْنِ أَبِي هريرة أن عَقْدَهَا مُبَاحٌ وَحَلَّهَا مُبَاحٌ لِانْعِقَادِهَا عَلَى مَا فِعْلُهُ مُبَاحٌ وَتَرْكُهُ مُبَاحٌ

Salah satunya adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah bahwa akadnya mubah dan pembubarannya juga mubah, karena akad tersebut terjadi atas sesuatu yang perbuatannya mubah dan meninggalkannya pun mubah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ ظاهر كلامه هاهنا أَنَّ عَقْدَهَا مَكْرُوهٌ وَحِلَّهَا مَكْرُوهٌ لِأَنَّهُ قَالَ وَأَكْرَهُ الْأَيْمَانَ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَيَكُونُ عَقْدُهَا مَكْرُوهًا لِأَنَّهُ رُبَّمَا عَجَزَ عَنِ الْوَفَاءِ بِهَا وحلها مكروه لِأَنَّهُ جَعَلَ اللَّهَ عُرْضَةً بِيَمِينِهِ وَقَدْ نَهَاهُ عَنْهُ

Pendapat kedua, yang merupakan zahir dari perkataannya di sini, adalah bahwa mengikat sumpah itu makruh dan melepaskannya juga makruh. Karena ia berkata, “Aku memakruhkan sumpah dalam segala keadaan,” maka mengikat sumpah itu makruh karena bisa jadi seseorang tidak mampu menunaikannya, dan melepaskannya juga makruh karena Allah telah menjadikan sumpah itu sebagai sesuatu yang harus dijaga, dan Dia telah melarang untuk melanggarnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا وَحَلَفَ عَلَى أَحَدِ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الْخَمْسَةِ فَلَا يَخْلُو حَالُهُ فِيهَا أَنْ يَبَرَّ أَوْ يَحْنَثَ فَإِنْ بَرَّ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ بِرُّهُ فِيهَا طَاعَةً أَوْ مَعْصِيَةً ذَهَبَ بَعْضٌ إِلَى وُجُوبِ الْكَفَّارَةِ عَلَيْهِ بِعَقْدِ الْيَمِينِ وَإِنْ لَمْ يَحْنَثْ فِيهَا وَهُوَ قَوْل عَائِشَةَ وَالْحَسَنِ وَقَتَادَةَ تَعَلُّقًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى ذَلَكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانَكُمْ إِذَا طَلَّقْتُمْ فَعَلَّقَ الْكَفَّارَةَ بِالْيَمِينِ دُونَ الْحِنْثِ

Jika hal ini telah dipahami, dan seseorang bersumpah dengan salah satu dari lima jenis sumpah tersebut, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia menepati sumpahnya atau melanggarnya. Jika ia menepati sumpahnya, maka tidak ada kewajiban kafarat atasnya, baik ketaatannya dalam sumpah itu berupa kebaikan maupun kemaksiatan. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kafarat tetap wajib atasnya hanya karena mengucapkan sumpah, meskipun ia tidak melanggarnya. Ini adalah pendapat ‘Aisyah, al-Hasan, dan Qatadah, yang berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Itulah kafarat sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah,” sehingga mereka mengaitkan kewajiban kafarat dengan sumpah itu sendiri, bukan dengan pelanggarannya.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ هَذَا الْقَوْلِ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا فَغَزَاهُمْ وَلَمْ يُكَفِّرْ وَقَوْلُهُ ذَلَكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانَكُمْ إِذَا حلفْتُمْ يَعْنِي وَحَنِثْتُمْ كَمَا قَالَ فَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فِعِدَّةٌ مِنْ أيَّامٍ أُخَرَ أَيْ فَأَفْطَرْتُمْ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ فَحَذَفَ ذَلِكَ لِدَلَالَةِ الْكَلَامِ عَلَيْهِ وَإِنْ حَنِثَ فِي يَمِينِهِ وَجَبَتِ الْكَفَّارَةُ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ حِنْثُهُ طَاعَةً أَوْ مَعْصِيَةً

Dan dalil atas rusaknya pendapat ini adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy,” lalu beliau memerangi mereka dan tidak membayar kafārah. Dan firman-Nya: “Itulah kafārah sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah,” maksudnya dan kalian melanggarnya, sebagaimana firman-Nya: “Maka barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain,” yaitu jika kalian berbuka maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang lain, dan Allah menghilangkan (kata-kata) tersebut karena makna kalimat telah menunjukkannya. Dan jika seseorang melanggar sumpahnya, maka wajib atasnya membayar kafārah, baik pelanggarannya itu berupa ketaatan maupun maksiat.

وَذَهَبَ الشَّعْبِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِلَى أَنَّهُ لَا كَفَّارَةَ فِي حِنْثِ الطَّاعَةِ وَإِنَّمَا تَجِبُ فِي حِنْثِ الْمَعْصِيَةِ لِأَنَّ فِعْلَ الطَّاعَةِ مَأْمُورٌ بِهِ وَغَيْرُ آثِمٍ فِيهِ فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى تَكْفِيرٍ كَالْقَتْلِ إِنْ أَثِمَ بِهِ كَفَّرَ وَإِنْ لَمْ يَأْثَمْ بِهِ لَمْ يُكَفِّرْ وَهَذَا خَطَأٌ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خيرٌ وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ يُكَفِّرَ فِي فِعْلِ الطَّاعَةِ كَالْمُحْرِمِ إِذَا اضْطُرَّ إِلَى أَكْلِ الصَّيْدِ كَانَ مُطِيعًا فِي قَتْلِهِ وَعَلَيْهِ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْجَزَاءِ وَكَالْقَاتِلِ الْخَطَأِ لَيْسَ يَأْثَمُ وَعَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ

Al-Sya‘bi dan Sa‘id bin Jubair berpendapat bahwa tidak ada kewajiban kafarat atas pelanggaran sumpah dalam ketaatan, dan kafarat hanya diwajibkan pada pelanggaran sumpah dalam maksiat. Sebab, melakukan ketaatan adalah sesuatu yang diperintahkan dan tidak berdosa di dalamnya, sehingga tidak membutuhkan penebusan, seperti dalam kasus pembunuhan: jika berdosa karenanya maka wajib menebus, dan jika tidak berdosa maka tidak wajib menebus. Namun, pendapat ini keliru karena sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah lalu melihat ada yang lebih baik darinya, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik dan menebus sumpahnya.” Tidak ada halangan untuk menebus sumpah dalam perbuatan taat, seperti orang yang sedang ihram jika terpaksa memakan hewan buruan, maka ia taat dalam membunuhnya namun tetap wajib menebus dengan denda, dan seperti pembunuhan karena tidak sengaja, tidak berdosa namun tetap wajib membayar kafarat.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْكَفَّارَةِ فِي حِنْثِ الطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الْكَفَّارَةَ وَجَبَتْ فِي الْحِنْثِ وَحْدَهُ لِتَعَلُّقِهَا بِحَلِّ مَا عَقَدَهُ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَدْ فَرَضَ اللهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أيْمَانِكُمْ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابَنَا إِنَّهَا تَجِبُ بِالْيَمِينِ وَالْحِنْثِ كَالزَّكَاةِ تَجِبُ بِالنِّصَابِ وَالْحَوْلِ لِأَنَّ الْحِنْثَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِعَقْدِ الْيَمِينِ

Jika telah tetap kewajiban kafārah dalam pelanggaran sumpah baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan, maka pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i—dan ini juga pendapat Abu Hanifah—bahwa kafārah itu wajib hanya karena pelanggaran sumpah saja, karena kafārah itu berkaitan dengan pembatalan apa yang telah diikrarkan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Sungguh Allah telah menetapkan bagi kalian jalan untuk membatalkan sumpah-sumpah kalian.” Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa kafārah itu wajib karena sumpah dan pelanggarannya, sebagaimana zakat yang wajib karena mencapai nisab dan telah berlalu satu tahun, karena pelanggaran sumpah tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya akad sumpah.

وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْمَذْهَبَيْنِ أَنْ يُعْتَبَرَ حَالُ الْيَمِينِ فَإِنْ كَانَ عَقَدُهَا طَاعَةً وَحَلُّهَا مَعْصِيَةً وَجَبَتْ بِالْيَمِينِ وَالْحِنْثِ لِأَنَّ التَّكْفِيرَ بالمعصية أخص والله أعلم

Pendapat yang paling benar menurutku dari dua mazhab ini adalah memperhatikan keadaan sumpah tersebut; jika sumpah itu diucapkan dalam rangka ketaatan dan melanggarnya merupakan kemaksiatan, maka kewajiban kafarat berlaku karena sumpah dan pelanggaran sumpah, karena kewajiban kafarat karena maksiat lebih khusus. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَمَنْ قَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ كَذَا وَلَمْ يَكُنْ أَثِمَ وَكَفَّرَ وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ اللَّهُ تَعَالَى وَلاَ يَأْتَلَ أُولُو الفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي القُرْبَى نَزَلَتْ فِي رجلٍ حَلَفَ لَا يَنْفَعُ رَجُلًا فأمره الله أن ينفعه وبقول الله جل ثناؤه في الظهار وَإنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَراً مِنَ القَوْلِ وَزُوراً ثم جعل فيه الكفارة وبقول رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فليأت الذي هو خيرٌ وليكفر عنه يمينه فقد أمره بالحنث عامداً وبالتكفير ودل إجماعهم أن من حلف في الإحرام عمداً أو خطأً أو قتل صيداً عمداً أو أخطأ في الكفارة سواءٌ على أن الحلف بالله وقتل المؤمن عمداً أو خطأ في الكفارة سواءٌ

Syafi‘i berkata: Barang siapa yang bersumpah, “Demi Allah, sungguh telah terjadi demikian,” padahal tidak terjadi, maka ia berdosa dan wajib membayar kafarat. Ia berdalil dengan firman Allah Ta‘ala, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai keutamaan di antara kalian dan kelapangan bersumpah untuk tidak memberikan (bantuan) kepada kerabatnya…” (ayat ini) turun mengenai seorang laki-laki yang bersumpah tidak akan memberi manfaat kepada seseorang, lalu Allah memerintahkannya untuk tetap memberinya manfaat. Juga dengan firman Allah yang Mahasuci dalam masalah zihar, “Sesungguhnya mereka benar-benar mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta,” kemudian Allah menetapkan adanya kafarat di dalamnya. Dan juga dengan sabda Rasulullah ﷺ, “Maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik dan membayar kafarat atas sumpahnya,” maka beliau memerintahkan untuk melanggar sumpah dengan sengaja dan membayar kafarat. Dan ijma‘ mereka menunjukkan bahwa siapa yang bersumpah dalam keadaan ihram, baik sengaja maupun tidak sengaja, atau membunuh binatang buruan dengan sengaja atau tidak sengaja, maka kafaratnya sama; sebagaimana sumpah dengan nama Allah dan membunuh orang mukmin, baik sengaja maupun tidak sengaja, kafaratnya sama.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَى الْيَمِينُ عَلَى الْفِعْلِ الْمُسْتَقْبَلِ فَأَمَّا الْيَمِينُ عَلَى الْفِعْلِ الْمَاضِي فَضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan tentang sumpah atas perbuatan yang akan datang, adapun sumpah atas perbuatan yang telah lalu maka terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ عَلَى إِثْبَاتٍ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَقَدْ فَعَلْتُ كَذَا

Salah satunya adalah sumpah untuk penetapan, seperti ucapannya: “Demi Allah, sungguh aku telah melakukan ini.”

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ عَلَى نَفْيٍ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ مَا فَعَلْتُ كَذَا فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ فِيهَا صَادِقًا أَوْ كَاذِبًا فإن كان قَدْ فَعَلَ مَا أَثْبَتَ وَتَرَكَ مَا نَفَى فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ لِأَنَّهَا يَمِينُ بِرِّهِ وَإِنْ كَانَ كَاذِبًا لِأَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْ مَا أَثْبَتَهُ وَفَعَلَ مَا نَفَاهُ فَقَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ أَكَلْتُ وَلَمْ يَأْكُلْ أَوْ قَالَ وَاللَّهِ مَا أَكَلْتُ وَقَدْ أَكَلَ فَهُوَ فِي هَذِهِ الْيَمِينِ عَاصٍ آثِمٌ وَتُسَمَّى الْيَمِينَ الْغَمُوسَ لِأَنَّهَا تَغْمِسُ الْحَالِفَ بِهَا فِي الْمَعَاصِي وَقِيلَ فِي النَّارِ

Kedua, sumpah itu berupa penafian, seperti ucapannya: “Demi Allah, saya tidak melakukan itu.” Maka tidak lepas dari dua kemungkinan: dia jujur atau dia berdusta. Jika dia benar-benar melakukan apa yang dia tetapkan dan meninggalkan apa yang dia nafikan, maka tidak ada kafarat atasnya karena itu adalah sumpah yang benar. Namun jika dia berdusta, karena dia tidak melakukan apa yang dia tetapkan dan justru melakukan apa yang dia nafikan, seperti berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah makan,” padahal dia tidak makan, atau berkata: “Demi Allah, aku tidak makan,” padahal dia telah makan, maka dalam sumpah seperti ini dia adalah orang yang durhaka dan berdosa, dan sumpah ini disebut al-yamīn al-ghamūs karena ia mencelupkan orang yang bersumpah ke dalam kemaksiatan, dan ada yang mengatakan ke dalam neraka.

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ هَلْ يَجِبُ بِهَا الْكَفَّارَةُ أَمْ لَا؟ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْكَفَّارَةَ فِيهَا وَاجِبَةٌ وَوُجُوبُهَا مُقْتَرِنٌ بِعَقْدِهَا وَهُوَ قَوْلُ عَطَاءٍ وَالْحَكَمِ وَالْأَوْزَاعِيِّ

Para fuqaha berbeda pendapat apakah kafarat wajib dilakukan karena hal itu atau tidak. Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa kafarat dalam hal ini adalah wajib, dan kewajibannya berkaitan dengan terjadinya akad tersebut. Ini juga merupakan pendapat ‘Atha’, al-Hakam, dan al-Awza‘i.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا تَجِبُ بِهِ الْكَفَّارَةُ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللهُ بِاللًّغْوِ فِي أيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَيْماَنَ وَمِنْهُ دَلِيلَانِ أَحَدُهُمَا إِنَّ الْيَمِينَ الْغَمُوسَ هِيَ اللَّغْوُ وَالْعَفْوُ عَنْهَا مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْكَفَّارَةِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak wajib membayar kafarat karena sumpah tersebut, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Malik, Sufyan ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa‘d, Ahmad, dan Ishaq. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpah yang tidak disengaja dalam sumpahmu, tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah yang kamu sengaja.” Dari ayat ini terdapat dua dalil; salah satunya adalah bahwa sumpah ghamus termasuk sumpah yang tidak disengaja (laghw), dan pengampunan atasnya berkaitan dengan kewajiban kafarat.

وَالثَّانِي إِنَّ قَوْلَهُ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأَيْمَانَ [] وَعَقْدُ الْيَمِينِ مَا الْتَزَمَ فِعْلًا مُسْتَقْبَلًا يَتَرَدَّدُ بَيْنَ حِنْثٍ وَبِرٍّ فَخَرَجَتِ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ مِنَ الْأَيْمَانِ الْمَعْقُودَةِ فَلَمْ يَلْزَمْ بِهَا كَفَّارَةٌ ثُمَّ خَتَمَ الآية بقوله وَاحْفَظُوا أيْمَانَكُمْ يَعْنِي فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنَ الْحِنْثِ

Kedua, sesungguhnya firman-Nya: “Tetapi Allah menghukum kamu karena sumpah-sumpah yang kamu teguhkan,” dan yang dimaksud dengan ‘aqd al-yamīn adalah komitmen untuk melakukan suatu perbuatan di masa depan yang masih mungkin antara melanggar atau menepatinya. Maka, sumpah ghamūs keluar dari kategori sumpah yang diteguhkan, sehingga tidak wajib atasnya kafārah. Kemudian Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan jagalah sumpah-sumpahmu,” maksudnya di masa depan dari perbuatan melanggar sumpah.

وَاسْتَدَلُّوا بِمَا رَوَى ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ يَمِينًا فَاجِرَةً لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امرئٍ مسلمٍ لَقِيَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

Mereka berdalil dengan riwayat dari Ibnu Mas‘ūd bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa bersumpah palsu untuk mengambil harta seorang Muslim, maka ia akan bertemu Allah Ta‘ālā dalam keadaan Allah murka kepadanya.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ تَدَعُ الدِّيَارَ بَلَاقِعَ مِنْ أَهْلِهَا فَأَخْبَرَ بِحُكْمِهَا وَلَمْ يُوجِبِ الْكَفَّارَةَ فِيهَا

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Sumpah ghamus akan meninggalkan rumah-rumah kosong dari penghuninya.” Maka beliau telah memberitakan hukumnya dan tidak mewajibkan kafarat atasnya.

وَالْقِيَاسُ أَنَّهَا يَمِينٌ عَلَى ماضٍ فَلَمْ تَجِبْ بِهَا كَفَّارَةٌ كَاللَّغْوِ

Qiyās-nya adalah bahwa sumpah tersebut merupakan sumpah atas sesuatu yang telah lalu, sehingga tidak wajib membayar kafarat karenanya, seperti sumpah laghw.

وَلِأَنَّهَا يَمِينٌ مَحْظُورَةٌ فَلَمْ تَجِبْ بِهَا كَفَّارَةٌ كَالْيَمِينِ بِالْمَخْلُوقَاتِ

Karena sumpah tersebut adalah sumpah yang terlarang, maka tidak wajib membayar kafarat atasnya, sebagaimana sumpah dengan makhluk.

قَالُوا وَلِأَنَّ اقْتِرَانَ الْيَمِينِ بِالْحِنْثِ يَمْنَعُ مِنِ انْعِقَادِهَا لِأَنَّ حُدُوثَهُ فِيهَا يَدْفَعُ عَقْدَهَا كَالرَّضَاعِ لَمَّا رَفَعَ النِّكَاحَ إِذَا طَرَأَ مَنْعَ انْعِقَادَهُ إِذَا تقدم

Mereka berkata: Karena pengaitan sumpah dengan pelanggaran mencegah terjadinya sumpah itu, sebab terjadinya pelanggaran di dalamnya membatalkan akadnya, seperti halnya penyusuan yang membatalkan pernikahan ketika terjadi sesuatu yang menghalangi terjadinya akad jika hal itu mendahului.

ودليلنا قوله اللَّهِ تَعَالَى ذَلِكَ كَفَارَةُ أَيْمَانِكُمْ إذَا حَلَفْتُمْ بَعْدَ صِفَةِ الْكَفَّارَةِ فَاقْتَضَى الظَّاهِرُ لُزُومَهَا فِي كُلِّ يَمِينٍ وَقَالَ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَلَغْوُ الْيَمِينِ مَا سَبَقَ بِهِ لِسَانُ الْحَالِفِ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ وَلَا نِيَّةٍ وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ مَقْصُودَةٌ فَكَانَ بِهَا مُؤَاخَذًا وَمُؤَاخَذَتُهُ بِهَا تُوجِبُ تَكْفِيرَهَا فَإِنْ مَنَعُوا مِنْ تَسْمِيَةِ الْغَمُوسِ يَمِينًا بَطَلَ مَنْعُهُمْ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى يَحْلِفُونَ بِاللهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الكُفْرِ وَقَالَ تَعَالَى وَيَحْلِفُونَ بِاللهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Itulah kafarat sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah,” setelah menyebutkan tata cara kafarat, maka secara lahiriah ayat ini menunjukkan kewajiban kafarat pada setiap sumpah. Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Allah tidak menghukum kalian karena sumpah yang tidak disengaja dalam sumpah-sumpah kalian, tetapi Dia menghukum kalian karena apa yang diperbuat oleh hati kalian.” Sumpah laghw adalah sumpah yang terucap oleh lisan orang yang bersumpah tanpa maksud dan tanpa niat, sedangkan sumpah ghamus dilakukan dengan sengaja, sehingga orang yang melakukannya terkena hukuman, dan hukuman tersebut mewajibkan adanya kafarat. Jika mereka melarang penyebutan sumpah ghamus sebagai sumpah, maka larangan mereka itu batal dengan firman Allah Ta‘ala: “Mereka bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu), padahal sungguh mereka telah mengucapkan kata-kata kufur,” dan firman-Nya: “Mereka bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka benar-benar termasuk golongan kalian, padahal mereka bukan dari golongan kalian.”

وَمِنَ الْقِيَاسِ إِنَّهَا يَمِينٌ بِاللَّهِ تَعَالَى قَصَدَهَا مُخْتَارًا فَوَجَبَ إِذَا خَالَفَهَا بِفِعْلِهِ أَنْ تَلْزَمَهُ الْكَفَّارَةُ كَالْمُسْتَقْبَلِ وَلِأَنَّهُ أَحَدُ نَوْعَيِ الْيَمِينِ فَوَجَبَ أَنْ يَنْقَسِمَ إِلَى بِرٍّ وَحِنْثٍ كَالْمُسْتَقْبَلِ وَلِأَنَّ كُلَّ مَا كَانَ فِي غَيْرِ الْيَمِينِ كَذِبًا كَانَ فِي الْيَمِينِ حِنْثًا كَالْمُسْتَقْبَلِ وَلِأَنَّهَا يَمِينٌ تَتَعَلَّقُ بِالْحِنْثِ الْمُسْتَقْبَلِ فَوَجَبَ أَنْ تَتَعَلَّقَ بِالْحِنْثِ الْمَاضِي كَالْيَمِينِ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ لِأَنَّهُ لَوْ حَلَفَ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ لَقَدْ دَخَلَ الدَّارَ وَلَمْ يَدْخُلْهَا لَزِمَهُ الطَّلَاقُ وَالْعَتَاقُ

Dan di antara dalil qiyās adalah bahwa sumpah tersebut merupakan sumpah dengan nama Allah Ta‘ala yang diucapkan dengan sengaja dan pilihan, maka apabila ia menyelisihinya dengan perbuatannya, wajib baginya membayar kafārah sebagaimana pada sumpah untuk masa yang akan datang. Dan karena ia adalah salah satu dari dua jenis sumpah, maka wajib pula ia terbagi menjadi sumpah yang ditepati (birr) dan yang dilanggar (hinṡ) sebagaimana pada sumpah untuk masa yang akan datang. Dan karena setiap sesuatu yang merupakan kebohongan pada selain sumpah, maka pada sumpah itu disebut pelanggaran (hinṡ) sebagaimana pada sumpah untuk masa yang akan datang. Dan karena sumpah ini berkaitan dengan pelanggaran di masa yang akan datang, maka wajib pula ia berkaitan dengan pelanggaran di masa lalu, sebagaimana sumpah dengan talāq dan ‘itāq. Karena jika seseorang bersumpah dengan talāq atau ‘itāq bahwa ia telah masuk ke dalam rumah, padahal ia belum memasukinya, maka talāq dan ‘itāq menjadi wajib baginya.

وَكَمَا لَوْ حَلَفَ لَيَدْخُلْهَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ فَلَمْ يَدْخُلْهَا وَهَذَا وِفَاقًا كَذَلِكَ فِي الْيَمِينِ بِاللَّهِ وَلِأَنَّ وُجُوبَ الْكَفَّارَةِ فِي الْأَيْمَانِ أَعَمُّ فِي الْمَأْثَمِ لِأَنَّهَا قَدْ تَجِبُ فِيمَا يَأْثَمُ بِهِ وَلَا يَأْثَمُ فَلَمَّا لَحِقَهُ الْمَأْثَمُ فِي الْغَمُوسِ كَانَ بِوُجُوبِ الْكَفَّارَةِ أَوْلَى

Sebagaimana jika seseorang bersumpah bahwa ia pasti akan memasukinya di masa depan, lalu ia tidak memasukinya—dan ini merupakan kesepakatan—demikian pula dalam sumpah dengan nama Allah. Karena kewajiban membayar kafarat dalam sumpah-sumpah itu lebih umum dalam hal dosa, sebab kadang kafarat itu wajib atas sesuatu yang berdosa dan juga atas sesuatu yang tidak berdosa. Maka ketika dosa itu melekat pada sumpah ghamus, maka kewajiban membayar kafarat menjadi lebih utama.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى لاَ يُؤاخِذُكُمْ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أيْمَانِكُمْ فَهُوَ أَنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ مَا لَمْ يُقْصَدْ مِنْهَا عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ فَأَمَّا الْمَقْصُودُ بِالْعَقْدِ فَخَارِجٌ عَنْ حُكْمِ اللَّغْوِ وَهُوَ الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ مِنْ أَيْمَانِهِ وَهُوَ مِنْ كَسْبِ قَلْبِ الْمَأْخُوذِ بِإِثْمِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَلَئِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ الْمُسْتَقْبَلَةُ تَتَرَدَّدُ بَيْنَ بِرٍّ وحنثٍ فَالْغَمُوسُ مُتَرَدِّدَةٌ بَيْنَ صِدْقٍ وَكَذِبٍ فَصَارَتْ ذَاتَ حَالَيْنِ كَالْمُسْتَقْبَلَةِ وَإِنِ اخْتَلَفَتِ الْحَالَتَانِ

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja,” maka yang dimaksud dengan sumpah yang tidak disengaja adalah sumpah yang tidak diniatkan, sebagaimana akan kami jelaskan nanti. Adapun sumpah yang diniatkan dengan sengaja, maka ia keluar dari hukum sumpah yang tidak disengaja, yaitu sumpah yang benar-benar diikrarkan, dan ini merupakan hasil dari niat hati, sehingga orang yang melakukannya akan dimintai pertanggungjawaban atas dosanya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Tetapi Allah menghukum kamu karena apa yang diusahakan oleh hatimu.” Jika sumpah yang akan datang itu berada di antara ketaatan dan pelanggaran, maka sumpah ghamūs berada di antara kejujuran dan kebohongan, sehingga ia memiliki dua keadaan seperti sumpah yang akan datang, meskipun kedua keadaan itu berbeda.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ حَلَفَ لَيَصْعَدَنَّ السَّمَاءَ وَلَيَشْرَبَنَّ مَاءَ الْبَحْرِ حَنِثَ لِوَقْتِهِ

Tidakkah kamu melihat, jika seseorang bersumpah akan naik ke langit atau akan meminum air laut, maka ia langsung dianggap melanggar sumpahnya saat itu juga.

وَإِنْ لَمْ يَتَرَدَّدْ يَمِينُهُ بَيْنَ حِنْثٍ وَبِرٍّ وَكَذَلِكَ لَوْ حَلَفَ لِيَقْتُلَنَّ زَيْدًا وَكَانَ زَيْدٌ قَدْ مَاتَ حَنِثَ وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ وَإِنْ لَمْ يَتَرَدَّدْ يَمِينُهُ بَيْنَ بِرٍّ وَحِنْثٍ وكذبٍ لِأَنَّهَا مَقْصُودَةٌ كَذَلِكَ يَمِينُ الْغَمُوسِ فِي الْمَاضِي

Dan jika sumpahnya tidak ragu-ragu antara pelanggaran dan ketaatan, demikian pula jika ia bersumpah akan membunuh Zaid, padahal Zaid telah meninggal, maka ia dianggap melanggar sumpah dan wajib membayar kafarat, meskipun sumpahnya tidak ragu-ragu antara ketaatan, pelanggaran, dan dusta, karena hal itu memang dimaksudkan. Demikian pula sumpah ghamūs yang berkaitan dengan masa lalu.

فَأَمَّا قَوْله تَعَالَى وَاحْفَظُوا أيْمَانَكُمْ فَحِفْظُهَا قَبْلَ الْيَمِينِ أَنْ لَا يَحْلِفَ وَبَعْدَ الْيَمِينِ أَنْ لَا يَحْنَثَ كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ

Adapun firman Allah Ta‘ala, “Dan peliharalah sumpah-sumpah kalian,” maka menjaga sumpah itu sebelum bersumpah adalah dengan tidak bersumpah, dan setelah bersumpah adalah dengan tidak melanggarnya, sebagaimana dikatakan oleh penyair.

قَلِيَلُ الْأَلَايَا حافظٌ لِعَهْدِهِ وَإِنْ بَدَرَتْ مِنْهُ الْأَلِيَّةُ بَرَّتِ

Sedikit sumpahnya, ia tetap menjaga janjinya, dan jika ia bersumpah, ia pasti menepatinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرَيْنِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap dua hadis tersebut adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْإِمْسَاكَ عَنِ الْكَفَّارَةِ فِيهَا اكْتِفَاءٌ بِمَا وَرَدَ بِهِ الْقُرْآنُ مِنْ وُجُوبِهَا

Salah satunya adalah bahwa menahan diri dari membahas kafārah di dalamnya sudah cukup dengan apa yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kewajibannya.

وَالثَّانِي إِنَّ الْمَقْصُودَ بِهَا حُكْمُ الْآخِرَةِ وَالْكَفَّارَةُ مِنْ أَحْكَامِ الدُّنْيَا

Yang kedua, sesungguhnya yang dimaksud dengannya adalah hukum akhirat, sedangkan kafarat termasuk hukum-hukum dunia.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى لَغْوِ الْيَمِينِ فَهُوَ أَنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ غَيْرُ مَقْصُودَةٍ فَخَرَجَ عَنِ الْيَمِينِ الْمَقْصُودَةِ

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan laghw al-yamīn adalah bahwa laghw al-yamīn itu tidak dimaksudkan, sehingga ia keluar dari kategori sumpah yang dimaksudkan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى الْيَمِينِ بِالْمَخْلُوقَاتِ فَهُوَ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ في جنسها كفارة فخالفت الأيمان بالله

Adapun jawaban atas qiyās mereka terhadap sumpah dengan makhluk adalah bahwa pada jenis sumpah tersebut tidak diwajibkan kafarat, sehingga berbeda dengan sumpah atas nama Allah.

وما الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى النِّكَاحِ فَهُوَ أَنَّهُ مُنْتَقَضٌ بِيَمِينِهِ أَنْ يَصْعَدَ السَّمَاءَ ثُمَّ الْمَعْنَى فِي النِّكَاحِ أَنَّ مَقْصُودَهُ الِاسْتِمْتَاعُ وَالِاسْتِبَاحَةُ فَإِذَا امْتَنَعَ فِي النِّكَاحِ بَطَلَ وَمَقْصُودُ الْيَمِينِ وُجُوبُ الْكَفَّارَةِ فِي الْحِنْثِ وَسُقُوطُهَا فِي الْبِرِّ وَهَذَا مَوْجُودٌ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَالْمَاضِي

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan pernikahan adalah bahwa qiyās tersebut batal dengan sumpah seseorang untuk naik ke langit. Adapun makna dalam pernikahan adalah tujuannya untuk mendapatkan kenikmatan dan kebolehan, sehingga jika hal itu terhalang dalam pernikahan maka pernikahan menjadi batal. Sedangkan tujuan dari sumpah adalah wajibnya membayar kafārah ketika melanggar dan gugurnya kafārah ketika menepati sumpah, dan hal ini terdapat baik pada perkara yang akan datang maupun yang telah lalu.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْكَفَّارَةِ فِي الْيَمِينِ الْغَمُوسِ عَلَى الْمَاضِي فِي إِثْبَاتِ مَا لَمْ يَكُنْ أَوْ نَفْيِ مَا قَدْ كَانَ فَهِيَ يَمِينٌ مَحْلُولَةٌ غَيْرُ مُنْعَقِدَةٍ لِأَنَّ عَقْدَهَا إِنَّمَا يَكُونُ فِيمَا يُنْتَظَرُ بَعْدَهَا مِنْ بِرٍّ أَوْ حِنْثٍ وَهَذِهِ الْيَمِينُ قَدِ اقْتَرَنَ بِهَا الْحِنْثُ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ لَفْظِهَا فَلِذَلِكَ لَمْ تَنْعَقِدْ وَوَجَبَتِ الْكَفَّارَةُ بِاسْتِيفَاءِ الْيَمِينِ

Maka apabila telah tetap kewajiban kafarat pada sumpah ghamus atas perkara yang telah lalu, baik dalam menetapkan sesuatu yang tidak terjadi atau menafikan sesuatu yang telah terjadi, maka itu adalah sumpah yang terlepas, bukan sumpah yang mengikat. Sebab, pengikatan sumpah itu hanya terjadi pada sesuatu yang ditunggu setelahnya, baik berupa penepatan sumpah atau pelanggaran sumpah. Adapun sumpah ini, pelanggarannya telah menyertainya setelah sempurna pengucapan sumpahnya, sehingga sumpah itu tidak menjadi mengikat dan kafarat menjadi wajib dengan sempurnanya sumpah tersebut.

فَصْلٌ

Bab

يَمِينُ الْكَافِرِ مُنْعَقِدَةٌ يَتَعَلَّقُ بِهَا الْحِنْثُ وَتَجِبُ بِهَا الْكَفَّارَةُ كَالْمُسْلِمِ سَوَاءٌ حَنِثَ فِي حَالِ كُفْرِهِ أَوْ بَعْدَ إِسْلَامِهِ لَكِنَّهُ إِنْ كَفَّرَ فِي حَالِ كُفْرِهِ كَفَّرَ بِالْمَالِ مِنْ إِطْعَامٍ أَوْ كِسْوَةٍ أَوْ عِتْقٍ وَلَمْ يُكَفِّرْ بِالصِّيَامِ فَإِنْ أَسْلَمَ قَبْلَ التَّكْفِيرِ جَازَ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ كَالْمُسْلِمِ

Sumpah orang kafir adalah sumpah yang sah, yang dengannya berlaku hukum pelanggaran dan wajib membayar kafarah sebagaimana pada orang Muslim, baik ia melanggar sumpah itu saat masih kafir maupun setelah masuk Islam. Namun, jika ia membayar kafarah saat masih kafir, maka ia membayar kafarah dengan harta, berupa memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak, dan tidak boleh membayar kafarah dengan puasa. Jika ia masuk Islam sebelum membayar kafarah, maka boleh baginya membayar kafarah dengan puasa sebagaimana orang Muslim.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَمِينُ الْكَافِرِ غَيْرُ مُنْعَقِدَةٍ وَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ إِذَا حَنِثَ اسْتِدْلَالًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّ الْكَفَّارَةَ لَا تَصِحُّ مِنْهُ لافتقارها إلى النية ما بِدَلِيلِ أَنَّهَا عِبَادَةٌ تَفْتَقِرُ إِلَى النِّيَّةِ فَلَمْ تَصِحَّ مِنَ الْكَافِرِ كَالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa sumpah orang kafir tidak dianggap sah dan tidak ada kewajiban kafarah atasnya jika ia melanggarnya, dengan berdalil pada riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Islam menghapus apa yang sebelumnya.” Maka, hukum ini berlaku secara umum. Selain itu, kafarah tidak sah dilakukan oleh orang kafir karena kafarah memerlukan niat, sebagaimana dalil bahwa kafarah adalah ibadah yang membutuhkan niat, sehingga tidak sah dilakukan oleh orang kafir, sebagaimana puasa dan salat malam.

وَلِأَنَّ الْإِطْعَامَ وَالْكِسْوَةَ حَدٌّ مُوجِبُهُ التَّكْفِيرُ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَصِحَّ مِنَ الْكَافِرِ كَالصِّيَامِ

Karena memberi makan dan memberi pakaian adalah bentuk hukuman yang mewajibkan pelaksanaan kafārah, maka keduanya tidak sah dilakukan oleh orang kafir, sebagaimana puasa.

وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ كَالصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ

Dan karena siapa saja yang tidak sah baginya melakukan kafarat dengan puasa, maka tidak sah pula baginya melakukan kafarat dengan harta, seperti anak kecil dan orang gila.

وَإِذَا ثَبَتَ بِهَذِهِ الْمَعَانِي الثَّلَاثَةِ أَنَّ التَّكْفِيرَ لَا يَصِحُّ مِنْهُ وَجَبَ أَنْ لَا تَنْعَقِدَ يَمِينُهُ وَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ فِيهَا كَفَّارَةٌ لِأَمْرَيْنِ

Dan apabila telah tetap dengan tiga makna ini bahwa takfir tidak sah darinya, maka wajib bahwa sumpahnya tidak dianggap sah dan tidak wajib atasnya kafarat di dalamnya karena dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنَّ مُوجِب الْيَمِينِ الْكَفَّارَةُ فَإِذَا لَمْ تَصِحَّ مِنْهُ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ كَالزَّكَاةِ

Salah satunya adalah bahwa yang mewajibkan kafarat adalah sumpah itu sendiri, maka jika sumpah tersebut tidak sah darinya, tidak wajib atasnya membayar kafarat, seperti halnya zakat.

وَالثَّانِي إِنَّ مَنْ لَمْ يَصِحَّ تَكْفِيرُهُ لَمْ تَنْعَقِدْ يَمِينُهُ كَالصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ

Yang kedua, sesungguhnya siapa saja yang tidak sah dikafirkan, maka sumpahnya pun tidak sah, seperti anak kecil dan orang gila.

وَدَلِيلُنَا عُمُومُ قَوْله تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ الْآيَةَ فَاقْتَضَى ظَاهِرُ الْعُمُومِ اسْتِوَاءَ الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ فِي وُجُوبِهِ

Dalil kami adalah keumuman firman Allah Ta‘ala: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah yang kamu teguhkan, maka kafaratnya adalah…” (ayat). Maka, keumuman lafaz tersebut menunjukkan persamaan antara muslim dan kafir dalam kewajibannya.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّ كُلَّ مَنْ صَحَّتْ يَمِينُهُ فِي الدَّعَاوَى انْعَقَدَتْ مِنْ غَيْرِ الدَّعَاوَى كَالْمُسْلِمِ وَلِأَنَّ كُلَّ يَمِينٍ صَحَّتْ مِنَ الْمُسْلِمِ صَحَّتْ مِنَ الْكَافِرِ كَالْيَمِينِ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ صَحَّتْ يَمِينُهُ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ صَحَّتْ يَمِينُهُ بِاللَّهِ كَالْمُسْلِمِ وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ صَحَّتْ يَمِينُهُ بِاللَّهِ فِي الْإِيلَاءِ صَحَّتْ يَمِينُهُ بِاللَّهِ فِي غَيْرِ الْإِيلَاءِ كَالْمُسْلِمِ

Dan menurut qiyās, setiap orang yang sumpahnya sah dalam perkara-perkara gugatan, maka sumpahnya juga sah dalam perkara selain gugatan, seperti halnya seorang muslim. Dan karena setiap sumpah yang sah dari seorang muslim, maka sah pula dari seorang kafir, seperti sumpah dengan talak dan pembebasan budak. Dan setiap orang yang sumpahnya sah dengan talak dan pembebasan budak, maka sumpahnya dengan nama Allah juga sah, seperti halnya seorang muslim. Dan setiap orang yang sumpahnya dengan nama Allah sah dalam kasus ila’, maka sumpahnya dengan nama Allah juga sah dalam selain ila’, seperti halnya seorang muslim.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّمَا صَحَّتْ يَمِينُهُ فِي الْإِيلَاءِ وَبِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ لِأَنَّهُ يَصِحُّ مِنْهُ مُوجِبُهُ مِنَ الطَّلَاقِ وَالْعِتْقِ وَلَمْ يَصِحَّ مِنْهُ مُوجِبُ الْيَمِينِ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي التَّكْفِيرِ فَلَمْ تَصِحَّ مِنْهُ الْيَمِينُ بِاللَّهِ تَعَالَى

Jika dikatakan, “Sumpahnya sah dalam kasus ila’, talak, dan pembebasan budak karena ia sah untuk melakukan konsekuensi dari talak dan pembebasan budak, sedangkan ia tidak sah untuk melakukan konsekuensi sumpah dengan nama Allah Ta‘ala dalam hal kafarat, maka sumpah dengan nama Allah Ta‘ala tidak sah darinya.”

قِيلَ مُوجِبُ الْيَمِينِ هُوَ الْوَفَاءُ بِهَا وَالْكَفَّارَةُ حُكْمٌ تَعَلَّقَ بِالْحِنْثِ فَلَمْ يَمْنَعْ مِنَ انْعِقَادِ الْيَمِينِ وَإِنْ أَفْضَتْ إِلَى التَّكْفِيرِ الَّذِي لَا يَصِحُّ مِنْهُ أَلَا تَرَى أَنَّ الْكَافِرَ لَوْ دَخَلَ الْحَرَمَ فَقَتَلَ فِيهِ صَيْدًا ضَمِنَهُ بِالْجَزَاءِ وَإِنِ افْتَقَرَ إِخْرَاجُ الْجَزَاءِ إِلَى نِيَّةٍ لَمْ يَصِحَّ مِنَ الْكَافِرِ وَلَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ الْجَزَاءُ

Dikatakan bahwa yang mewajibkan sumpah adalah menunaikannya, sedangkan kafarat adalah hukum yang berkaitan dengan pelanggaran sumpah, sehingga hal itu tidak menghalangi terjadinya sumpah meskipun berujung pada kewajiban membayar kafarat yang tidak sah dilakukan oleh orang kafir. Tidakkah engkau melihat bahwa jika seorang kafir masuk ke Tanah Haram lalu membunuh hewan buruan di dalamnya, ia tetap wajib menggantinya dengan denda, dan meskipun pelaksanaan denda itu memerlukan niat yang tidak sah dari orang kafir, kewajiban membayar denda tersebut tidak gugur darinya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ “Islam menghapus apa yang sebelumnya,” maka ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْخَبَرَ يَقْتَضِي إِسْقَاطَ مَا وَجَبَ وَعِنْدَهُمْ أَنَّهُ لَمْ يَجِبْ مَا يَسْقُطُ

Salah satunya adalah bahwa hadis tersebut mengharuskan menggugurkan sesuatu yang wajib, sedangkan menurut mereka tidak ada sesuatu yang wajib untuk digugurkan.

وَالثَّانِي إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى سُقُوطِ الْمَأْثَمِ دُونَ الْمَغْرَمِ

Yang kedua, bahwa hal itu dimaknai sebagai gugurnya dosa, bukan gugurnya kewajiban membayar ganti rugi.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ التَّكْفِيرَ بِالْمَالِ لَا يَصِحُّ مِنْهُ كَالصِّيَامِ فَهُوَ أَنَّ الصِّيَامَ عِبَادَةٌ مَحْضَةٌ فَلَمْ تَصِحَّ مِنَ الْكَافِرِ كَالصَّلَاةِ وَالْمَالُ حق يتصرف إِلَى الْآدَمِيِّينَ فَصَحَّ مِنَ الْكَافِرِ وَإِنِ اسْتُحِقَّتْ فِيهِ النِّيَّةُ كَجَزَاءِ الصَّيْدِ فِي الْحَرَمِ وَلَا يَمْنَعُ إِذَا لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ أَحَدُ أَنْوَاعِ التَّكْفِيرِ أَنْ تَجِبَ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ أَلَا تَرَى أَنَّ الْحَائِضَ لَا يَصِحُّ مِنْهَا التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ وتصح مِنْهَا التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ وَالْعَبْدُ لَا يَصِحُّ مِنْهُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ وَيَصِحُّ مِنْهُ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ وَالْمَجْنُونُ إِنَّمَا لَا يَصِحُّ مِنْهُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ وَالصِّيَامِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ وَالْكَافِرُ مُكَلَّفٌ فَلِذَلِكَ انْعَقَدَتْ يمين الكافر وإن لم تنعقد يَمِينُ الْمَجْنُونِ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa kafārah dengan harta tidak sah darinya seperti halnya puasa, maka jawabannya adalah bahwa puasa merupakan ibadah murni sehingga tidak sah dilakukan oleh orang kafir, sebagaimana shalat. Sedangkan harta adalah hak yang dialihkan kepada sesama manusia, maka sah dilakukan oleh orang kafir, meskipun dalam hal itu disyaratkan adanya niat, seperti denda atas perburuan di tanah haram. Tidaklah menghalangi, jika salah satu jenis kafārah tidak sah darinya, bahwa kafārah tetap wajib atasnya. Tidakkah engkau melihat bahwa wanita haid tidak sah melakukan kafārah dengan puasa, namun sah baginya kafārah dengan harta? Dan budak tidak sah melakukan kafārah dengan harta, namun sah baginya kafārah dengan puasa. Adapun orang gila, tidak sah darinya kafārah dengan harta maupun puasa karena ia bukan mukallaf, sedangkan orang kafir adalah mukallaf. Oleh karena itu, sumpah orang kafir menjadi sah, sedangkan sumpah orang gila tidak menjadi sah.

وَأَمَّا الزَّكَاةُ فَلِأَنَّهَا فُرِضَتْ عَلَى الْمُسْلِمِ طُهْرَةً فَخَرَجَ مِنْهَا الْكَافِرُ وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ عقوبة

Adapun zakat, maka ia diwajibkan atas seorang Muslim sebagai penyucian, sehingga orang kafir tidak termasuk di dalamnya, dan baginya dikenakan kafarat sebagai hukuman.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ قَالَ أَقْسَمْتُ بِاللَّهِ فَإِنْ كَانَ يَعْنِي حَلَفْتُ قَدِيمًا فَلَيْسَتْ بيمينٍ حادثةٍ وَإِنْ أَرَادَ بِهَا يَمِينًا فَهِيَ يمينٌ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengatakan, “Aku bersumpah demi Allah,” maka jika yang dimaksudkannya adalah bahwa ia pernah bersumpah di masa lalu, maka itu bukanlah sumpah yang baru. Namun, jika ia bermaksud dengan ucapannya itu sebagai sumpah, maka itu adalah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَوْلُهُ أَقْسَمْتُ بِاللَّهِ يَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ أَنْ يَكُونَ يَمِينًا فِي الْحَالِ أَوْ يَكُونَ إِخْبَارًا عَنْ يَمِينٍ مَاضِيَةٍ وَإِذَا احْتَمَلَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata, ucapannya “Aku bersumpah demi Allah” mengandung dua kemungkinan: bisa jadi merupakan sumpah pada saat itu, atau bisa juga merupakan pemberitahuan tentang sumpah yang telah lalu. Jika mengandung dua kemungkinan ini, maka keadaannya tidak lepas dari tiga kondisi.

أَحَدُهَا أَنْ يُرِيدَ يَمِينًا فِي الْحَالِ فَتَكُونَ يَمِينًا مُنْعَقِدَةً كَمَا قَالَ تَعَالَى وَأقْسَمُوا بِاللهِ جَهْدَ أيْمَانِهِمْ

Salah satunya adalah seseorang bermaksud untuk bersumpah pada saat itu juga, maka sumpah tersebut menjadi sumpah yang mengikat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh.”

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَقُولَهُ مُطْلَقًا لَمْ تَقْتَرِنْ بِهِ إِرَادَةٌ فَتَكُونُ يَمِينًا لِأَنَّهُ قَدِ اقْتَرَنَ بِإِطْلَاقِهَا عُرْفَانِ عُرْفُ شَرْعٍ وَعُرْفُ اسْتِعْمَالٍ فَعُرْفُ الشَّرْعِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْآيَةِ وَعُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ قَوْلُهُمْ فِي أَيْمَانِهِمْ أَقْسَمْتُ بِاللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ إِطْلَاقُهُ مَحْمُولًا عَلَى الْعُرْفَيْنِ مِنَ انْعِقَادِ الْيَمِينِ وَلُزُومِ الْكَفَّارَةِ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang mengucapkannya secara mutlak tanpa disertai niat tertentu, maka itu dianggap sebagai sumpah (yamin). Sebab, dalam pengucapan secara mutlak tersebut telah terdapat dua kebiasaan (‘urf): kebiasaan syariat dan kebiasaan penggunaan (bahasa). Kebiasaan syariat adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan dari ayat, dan kebiasaan penggunaan adalah ucapan mereka dalam sumpah-sumpah mereka: “Aku bersumpah demi Allah, sungguh aku akan melakukan ini.” Maka wajiblah bahwa pengucapan secara mutlak itu dibawa kepada kedua kebiasaan tersebut, yaitu terjadinya sumpah dan wajibnya membayar kafarat.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ يَمِينًا حَلَفَ بِهَا مُنْعَقِدَةً فَإِنْ عُلِمَ تَقَدُّمُ يَمِينِهِ كَانَ الْعِلْمُ بِهَا مُوَافِقًا لِإِرَادَتِهِ فَلَا تَنْعَقِدُ يَمِينُهُ فِي الْحَالِ وَإِنْ لَمْ تُعْلَمْ لَهُ يَمِينٌ مُتَقَدِّمَةٌ فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِ الْأَيْمَانِ لَا تَكُونُ يَمِينًا لِاحْتِمَالِ مَا قَالَ فِي كِتَابِ الْإِيلَاءِ تَكُونُ يَمِينًا مُنْعَقِدَةً اعْتِبَارًا بِعُرْفِ الشَّرْعِ وَالِاسْتِعْمَالِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang bermaksud dengan sumpahnya untuk mengucapkan sumpah yang mengikat. Jika diketahui bahwa ia telah bersumpah sebelumnya, maka pengetahuan tentang sumpah tersebut sesuai dengan maksudnya, sehingga sumpahnya pada saat itu tidak menjadi mengikat. Namun, jika tidak diketahui adanya sumpah sebelumnya, maka dalam Kitab al-Aymān disebutkan bahwa itu tidak dianggap sebagai sumpah karena kemungkinan sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab al-Ilā’, yaitu dianggap sebagai sumpah yang mengikat berdasarkan ‘urf syar‘i dan penggunaan istilah tersebut. Maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا الْجَمْعُ بَيْنَ الْجَوَابَيْنِ وَتَخْرِيجُهُ فِي الْيَمِينِ وَالْإِيلَاءِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah menggabungkan kedua jawaban dan mengeluarkan hukumnya dalam masalah sumpah dan ila’ menurut dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَنْعَقِدُ فِي الْأَيْمَانِ وَالْإِيلَاءِ

Salah satunya berlaku dalam sumpah dan ila’.

وَالثَّانِي لَا تَنْعَقِدُ فِي الْأَيْمَانِ وَالْإِيلَاءِ

Yang kedua, tidak sah dalam sumpah (al-yamīn) dan ila’ (al-īlā’).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي حَمْلُ الْجَوَابِ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ فَيَلْزَمُ فِي الْإِيلَاءِ وَلَا يَلْزَمُ فِي الْأَيْمَانِ لِأَنَّ فِي الْإِيلَاءِ حَقًّا لِآدَمِيِّينَ فَلَمْ يَسْقُطْ بِإِرَادَتِهِ وَهُوَ فِي الْأَيْمَانِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى الْمَحْضَةِ فَجَازَ أَنْ يَدِينَ فِيهِ على إرادته

Pendapat kedua adalah memahami jawaban sesuai dengan zahirnya pada kedua tempat tersebut, sehingga menjadi wajib pada kasus ila’ dan tidak wajib pada sumpah, karena dalam ila’ terdapat hak bagi manusia sehingga tidak gugur dengan kehendaknya, sedangkan dalam sumpah merupakan hak Allah Ta‘ala yang murni, maka boleh baginya untuk melakukannya sesuai kehendaknya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ قَالَ أُقْسِمُ بِاللَّهِ فَلَيْسَ بِيَمِينٍ

Syafi‘i berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Aku bersumpah demi Allah,’ maka itu bukanlah sumpah (yamin).”

قَالَ الماوري وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى وَاقْتَصَرَ عَلَى قَوْلِهِ أُقْسِمُ لَا فَعَلْتُ كَذَا فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي انْعِقَادِهِ يَمِينًا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar apabila ia tidak menyebut nama Allah Ta‘ala dan hanya terbatas pada ucapannya, ‘Aku bersumpah, sungguh aku tidak melakukan ini.’ Maka para fuqaha berbeda pendapat mengenai terjadinya sumpah tersebut menjadi sumpah yang sah ke dalam tiga mazhab.”

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا لَا تَكُونُ يَمِينًا سَوَاءٌ أَرَادَ الْيَمِينَ أَوْ لَمْ يُرِدْهَا

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa hal itu tidak dianggap sebagai sumpah, baik seseorang memang bermaksud bersumpah maupun tidak.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ تَكُونُ يَمِينًا أَرَادَ الْيَمِينَ أَوْ لَمْ يُرُدْهَا

Mazhab kedua adalah pendapat Abu Hanifah, yaitu bahwa itu dianggap sebagai sumpah, baik ia memang bermaksud bersumpah maupun tidak.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ مَا قَالَهُ مَالِكٌ إِنْ أَرَادَ الْيَمِينَ كَانَتْ يَمِينًا وَإِنْ لَمْ يُرِدِ الْيَمِينَ لَمْ تَكُنْ يَمِينًا وَهَكَذَا لَوْ قَالَ أَحْلِفُ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا فَهُوَ عَلَى هَذَا الْخِلَافِ وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ أَشْهَدُ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا كَانَ عَلَى هَذَا الْخِلَافِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فِي جَمِيعِهِ أَنَّهَا لَا تَكُونُ يَمِينًا حَتَّى يُقْرِنَهُ بِاسْمِ اللَّهِ تَعَالَى فَيَقُولَ أُقْسِمُ بِاللَّهِ أَوْ أشهد بالله واستدل من جعله يميناً يقول الله تعالى وَإذاَ أقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ فَدَلَّ عَلَى أن أقسمت يمين مُنْعَقِدَةً وَقَالَ تَعَالَى إِذَا جَاءَكَ المُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرِسُولُ اللهِ ثُمَّ قَالَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّة فَدَلَّ عَلَى أَنَّ أَشْهَدَ يَمِينٌ لَازِمَةٌ

Madzhab ketiga adalah apa yang dikatakan oleh Malik: jika seseorang bermaksud sumpah, maka itu menjadi sumpah; dan jika tidak bermaksud sumpah, maka itu tidak menjadi sumpah. Demikian pula, jika seseorang berkata, “Aku bersumpah akan melakukan ini,” maka hal itu juga diperselisihkan menurut pendapat ini. Begitu juga jika seseorang berkata, “Aku bersaksi akan melakukan ini,” maka hal itu juga diperselisihkan menurut pendapat ini. Madzhab Syafi‘i dalam semua kasus ini adalah bahwa hal tersebut tidak dianggap sebagai sumpah sampai ia menyertakan nama Allah Ta‘ala, seperti dengan mengatakan, “Aku bersumpah demi Allah” atau “Aku bersaksi demi Allah.” Orang yang menganggapnya sebagai sumpah berdalil dengan firman Allah Ta‘ala, “Dan apabila mereka bersumpah, sungguh mereka akan memotongnya di pagi hari,” yang menunjukkan bahwa ucapan ‘aku bersumpah’ adalah sumpah yang mengikat. Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah,’ kemudian Allah berfirman, ‘Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai,’” yang menunjukkan bahwa ucapan ‘aku bersaksi’ adalah sumpah yang wajib dipenuhi.

وَرَوَى رَاشِدُ بْنُ رَبِيعَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَ أَهَدَتْ لَنَا امْرَأَةٌ طَبَقًا فِيهِ تَمْرٌ فَأَكَلَتْ مِنْهُ عَائِشَةُ وَأَبْقَتْ فِيهِ تُمَيْرَاتٍ فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ أَقْسَمْتُ عَلَيْكِ إِلَّا أَكَلْتِيهِ

Rasyid bin Rabi‘ah meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Seorang wanita menghadiahkan kepada kami sebuah nampan berisi kurma, lalu ‘Aisyah memakannya dan menyisakan beberapa butir kurma di dalamnya. Maka wanita itu berkata, “Aku bersumpah atasmu, kecuali engkau memakannya.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِرِّيهَا فَإِنَّ الْإِثْمَ عَلَى الْمُحْنِثِ فَجَعْلَهَا يَمِينًا ذَاتَ برٍّ وحنثٍ

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tepatilah sumpahnya, karena dosa itu atas orang yang melanggarnya.” Beliau menjadikannya sebagai sumpah yang memiliki kebaikan dan pelanggaran.

وَرُوِيَ عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَفْوَانَ أَنَّهُ أَتَى بِأَبِيهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِيُبَايِعَهُ فَامْتَنَعَ عَلَيْهِ وَقَالَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ الْآنَ بَرَرْتَ قَسَمِي فَسَمَّاهُ قَسَمًا وَلِأَنَّ عُرْفَ الْقَسَمِ فِي الشَّرْعِ وَالِاسْتِعْمَالِ يَكُونُ بِاللَّهِ تَعَالَى دُونَ غَيْرِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ إِطْلَاقُهُ مَحْمُولًا عَلَى الْعُرْفَيْنِ فِيهِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Shafwan bahwa ia membawa ayahnya kepada Rasulullah ﷺ untuk membaiat beliau, namun ayahnya menolak dan berkata, “Tidak ada hijrah setelah penaklukan (Makkah).” Maka Abbas berkata kepadanya, “Sekarang engkau telah memenuhi sumpahku.” Ia pun menyebutnya sebagai qasam (sumpah). Karena pengertian qasam dalam syariat dan penggunaan umum adalah bersumpah dengan nama Allah Ta‘ala, bukan dengan selain-Nya, maka wajib bagi penggunaan istilah tersebut untuk dikembalikan pada dua pengertian tersebut.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فَشهَادَةُ أَحِدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَاللِّعَانُ يَمِينٌ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَوْلَا الْأَيْمَانُ لَكَانَ لِي وَلَهَا شأنٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مُطْلَقَ الشَّهَادَةِ لَا يَكُونُ يَمِينًا حَتَّى تَقْتَرِنَ بِذِكْرِ اللَّهِ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka kesaksian salah seorang dari mereka adalah empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” Dan li‘ān adalah sumpah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya bukan karena sumpah-sumpah itu, tentu aku dan dia akan memiliki urusan (hukum) tersendiri.” Maka ini menunjukkan bahwa kesaksian secara mutlak tidak dianggap sebagai sumpah sampai disertai dengan penyebutan nama Allah.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّهُ لَفْظٌ عَرِيَ عَنِ اسْمٍ وَصْفَتِهِ فَوَجَبَ أَنْ لَا تَنْعَقِدَ بِهِ يَمِينٌ تُوجِبُ الْكَفَّارَةَ

Dan menurut qiyās, sesungguhnya itu adalah lafaz yang kosong dari nama dan sifatnya, maka wajib bahwa tidak sah sumpah dengannya yang mewajibkan kafarat.

أَصْلُهُ إِذَا قَالَ أُولِي لِأَفْعَلَنَّ هَذَا لِأَنَّ الْأَلْيَةَ وَالْقَسَمَ وَاحِدٌ وَقِيَاسًا عَلَيْهِ إِذَا حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ وَلِأَنَّ الْيَمِينَ الْمُكَفَّرَةَ إِذَا كَانَتْ بِلَفْظٍ مُعَظَّمٍ لَهُ حُرْمَةٌ فَإِذَا تَجَرَّدَ الْقَسَمُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ سَقَطَتْ حُرْمَتُهُ فَسَقَطَتْ كفارته

Dasarnya adalah apabila seseorang berkata, “Aku bersumpah akan melakukan ini,” karena sumpah (al-alyah) dan qasam adalah satu hal yang sama, dan dengan qiyās atas hal itu, apabila seseorang bersumpah dengan selain Allah dari makhluk, dan karena sumpah yang wajib dibayar kafaratnya apabila diucapkan dengan lafaz yang diagungkan memiliki kehormatan. Maka jika qasam itu tidak menyebut nama Allah, hilanglah kehormatannya, sehingga gugurlah kewajiban kafaratnya.

وأما الجواب عن قوله تعالى إِذَا أَقْسَمُوا لَيَصْرِمَنَّهَا مُصْبِحِينَ فَهُوَ أَنَّهُ إِخْبَارٌ عَنِ الْقَسَمِ وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى صِفَةِ الْقَسَمِ كَمَا لَوْ قِيلَ حَلَفَ فَلَانٌ لَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى مَا حَلَفَ بِهِ

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetiknya di pagi hari,” maka itu adalah sebuah pemberitaan tentang sumpah, dan di dalamnya tidak terdapat dalil mengenai sifat sumpah tersebut, sebagaimana jika dikatakan, “Si Fulan telah bersumpah,” maka di situ tidak terdapat dalil tentang apa yang dijadikan sumpah olehnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرَيْنِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap dua hadis tersebut adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا مَا ذَكَرْنَاهُ

Salah satunya adalah apa yang telah kami sebutkan.

وَالثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَذَفَ ذِكْرَ اللَّهِ مِنْهُ اقْتِصَارًا عَلَى الْعُرْفِ فِيهِ

Yang kedua, boleh jadi telah dihilangkan penyebutan Allah darinya, dengan bersandar pada kebiasaan yang berlaku di dalamnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ إِطْلَاقَهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْعُرْفَيْنِ فِيهِ فَهُوَ أَنَّ الْعُرْفَ مِنَ الْقَسَمِ أَنَّهُ يَمِينٌ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ بِاللَّهِ تَارَةً وَبِغَيْرِ اللَّهِ أُخْرَى كَمَا لَوْ قال حلفت يَجُوزُ أَنْ يُرِيدَ بِاللَّهِ وَيَجُوزَ أَنْ يُرِيدَ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ وَبِمَا لَا تَنْعَقِدُ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُضَافَ الْقَسَمُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى دُونَ غَيْرِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa lafaz tersebut secara mutlak dikembalikan kepada dua kebiasaan (‘urf) di dalamnya, maka sesungguhnya ‘urf dalam sumpah adalah bahwa itu merupakan sumpah, namun terkadang dengan nama Allah dan terkadang dengan selain Allah. Sebagaimana jika seseorang berkata, “Aku bersumpah,” maka boleh jadi yang dimaksud adalah (bersumpah) dengan nama Allah, dan boleh jadi yang dimaksud adalah (bersumpah) dengan talak, pembebasan budak, atau dengan sesuatu dari makhluk yang sumpahnya tidak sah. Maka tidak boleh mengaitkan sumpah hanya kepada Allah Ta‘ala saja tanpa selain-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي فَإِنْ قَالَ أُقْسِمُ بِاللَّهِ فَإِنْ أَرَادَ بِهَا يَمِينًا فَهِيَ يمينٌ وَإِنْ أَرَادَ بِهَا مَوْعِدًا فليست بيمينٍ كقوله سأحلف قال المزني رحمه الله وَفِي الْإِمْلَاءِ هِيَ يمينٌ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengucapkan “Aku bersumpah demi Allah,” maka jika ia bermaksud sebagai sumpah, itu adalah sumpah; namun jika ia bermaksud sebagai janji, maka itu bukan sumpah, seperti ucapannya “Aku akan bersumpah.” Al-Muzani rahimahullah berkata: Dalam kitab Al-Imla’, itu adalah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا قَوْلُهُ أُقْسِمُ بِاللَّهِ فَيَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Adapun ucapannya “Aku bersumpah demi Allah”, maka hal itu mengandung dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُرِيدَ بِهَا يَمِينًا فِي الْحَالِ

Salah satunya adalah bahwa ia bermaksud dengannya sebagai sumpah pada saat itu.

وَالثَّانِي أَنْ يُرِيدَ أَنَّهُ سَيُقْسِمُ يَمِينًا فِي الْمُسْتَقْبَلِ فَصَارَ احْتِمَالُهُمَا لِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ كَاحْتِمَالِ قَوْلِهِ أَقْسَمْتُ بِاللَّهِ لِأَمْرَيْنِ وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي صِفَةِ الِاحْتِمَالِ لِأَنَّ الِاحْتِمَالَ فِي أَقْسَمْتُ لِيَمِينٍ مَاضِيَةٍ وَفِي قَوْلِهِ أُقْسِمُ لِيَمِينٍ مُسْتَقْبَلَةٍ فَيَكُونُ الْحُكْمُ مُعْتَبَرًا بِأَحْوَالِهِ الثلاثة

Kedua, yaitu seseorang bermaksud bahwa ia akan bersumpah di masa depan, maka kemungkinan kedua makna tersebut—untuk dua hal ini—adalah seperti kemungkinan pada ucapannya, “Aku telah bersumpah demi Allah untuk dua hal,” meskipun keduanya berbeda dalam sifat kemungkinannya. Sebab, kemungkinan pada ucapan “Aku telah bersumpah” adalah untuk sumpah yang telah lalu, sedangkan pada ucapan “Aku akan bersumpah” adalah untuk sumpah yang akan datang. Maka, hukum ditetapkan berdasarkan tiga keadaannya.

أحدهما أَنْ يُرِيدَ بِهَا عَقْدَ يَمِينٍ فِي الْحَالِ فَتَنْعَقِدَ يَمِينُهُ

Pertama, yaitu ketika seseorang bermaksud dengan kata-kata tersebut untuk mengikat sumpah pada saat itu, maka sumpahnya menjadi sah.

وَالثَّانِي أَنْ تَكُونَ مُطْلَقَةً فَيَعْقِدَ يمينه اعتباراً في الإطلاق يعرف الشَّرْعِ وَالِاسْتِعْمَالِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَيُقْسِمَانِ بِاللهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا

Yang kedua adalah sumpah itu diucapkan secara mutlak, sehingga lafaz sumpahnya dianggap berlaku secara mutlak menurut syariat dan penggunaan umum. Allah Ta‘ala berfirman: “Maka keduanya bersumpah dengan (nama) Allah: ‘Sungguh, kesaksian kami lebih berhak daripada kesaksian mereka berdua.’”

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُرِيدَ بِهَا مَوْعِدًا فِي يَمِينٍ مُسْتَقْبَلَةٍ فَالْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَيْمَانِ أَنَّهَا لَا تَكُونُ يَمِينًا حَمَلًا عَلَى إِرَادَتِهِ فِي الْمَوْعِدِ وَالْمَنْصُوصِ عَلَيْهِ فِي الْإِيلَاءِ أَنَّهَا تَكُونُ يَمِينًا فِي الْحَالِ فَخَرَّجَهُ أَصْحَابُنَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang bermaksud dengan sumpahnya sebagai janji pada masa yang akan datang. Dalam nash mengenai sumpah, disebutkan bahwa sumpah tersebut tidak dianggap sebagai sumpah, berdasarkan maksudnya yang berupa janji. Sedangkan dalam nash mengenai ila’, disebutkan bahwa sumpah tersebut dianggap sebagai sumpah pada saat itu juga. Para ulama kami mengeluarkan dua pendapat mengenai hal ini.

أَحَدُهُمَا حَمْلُ ذَلِكَ فِي الْيَمِينِ وَالْإِيلَاءِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah mengaitkan hal itu pada sumpah dan ila’ menurut dua pendapat.

وَالثَّانِي حَمْلُ الْجَوَابِ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِمَا قَدَّمْنَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Yang kedua adalah memahami jawaban sesuai makna zahirnya pada kedua tempat tersebut, untuk membedakan antara keduanya dengan penjelasan yang telah kami sampaikan sebelumnya. Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وإِنْ قَالَ لَعَمْرُ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهَا يَمِينًا فَلَيْسَتْ بيمينٍ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengucapkan “Demi Allah”, maka jika ia tidak bermaksud menjadikannya sebagai sumpah, maka itu bukanlah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ لَا يَخْلُو حَالُهُ إِذَا قَالَ لَعَمْرُ اللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ كذا من ثلاثة أحوالٍ

Al-Mawardi berkata, keadaannya ketika seseorang berkata, “Demi umur Allah, sungguh aku akan melakukan ini,” tidak lepas dari tiga keadaan.

أحدهما أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْيَمِينَ فَتَكُونُ يَمِينَا مُكَفَّرَةً لِأَنَّ لِلنَّاسِ فِي مَعْنَاهُ ثَلَاثَةَ أَوْجُهٍ

Pertama, jika ia bermaksud dengannya sebagai sumpah, maka itu menjadi sumpah yang wajib ditebus (dengan kafarat), karena menurut para ulama terdapat tiga pendapat mengenai maknanya.

أَحَدُهَا مَعْنَاهُ عِلْمُ اللَّهِ قَالَهُ قَتَادَةُ

Salah satunya maknanya adalah ilmu Allah, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah.

وَالثَّانِي بَقَاءُ اللَّهِ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ قَوْلَ ابْنِ عَبَّاسٍ

Yang kedua adalah baqā’ Allah, dan tampaknya ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّالِثُ وَحَقِّ اللَّهِ وَأَيُّ هَذِهِ الْمَعَانِي كَانَ فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ

Dan yang ketiga adalah hak Allah, dan makna mana pun dari makna-makna ini, maka itu termasuk sifat-sifat Dzat-Nya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا يُرِيدَ يَمِينًا فَلَا تَكُونُ يَمِينًا

Keadaan kedua adalah ketika seseorang tidak bermaksud untuk bersumpah, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَكُونُ يَمِينًا وَإِنْ لَمْ يُرِدْهَا لِأَنَّهُ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ

Abu Hanifah berkata, “Itu dianggap sebagai sumpah meskipun tidak diniatkan demikian, karena hal itu termasuk sifat Dzat-Nya.”

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ لَفْظَهُ قَدْ صَارَ فِي الْعُرْفِ مُسْتَعْمَلًا فِي غَيْرِ الْأَيْمَانِ مِثْلُ قَوْلِهِمْ لَعَمْرِي لَقَدْ كَانَ كَذَا وَمِنْ قَوْلِ الشَّاعِرِ

Dan dalil kami adalah bahwa lafaz tersebut dalam kebiasaan telah digunakan untuk selain sumpah, seperti ucapan mereka “la‘amrī, sungguh telah terjadi demikian,” dan juga sebagaimana yang diucapkan oleh penyair.

لَعَمْرُكَ مَا يَدْرِي امرؤٌ كَيْفَ يَتَّقِي نَوَائِبَ هَذَا الدَّهْرِ أَمْ كَيْفَ يَحْذَرُ

Demi hidupmu, seseorang benar-benar tidak tahu bagaimana cara melindungi diri dari musibah-musibah zaman ini atau bagaimana cara mewaspadainya.

فَجَازَ أَنْ يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى الْعُرْفِ بِالْإِرَادَةِ فَلَا تَكُونُ يَمِينًا لِخُرُوجِهِ عَنْ حُكْمِ الصِّفَاتِ الْمَحْضَةِ

Maka boleh jadi hal itu disandarkan kepada ‘urf berdasarkan maksudnya, sehingga tidak dianggap sebagai sumpah karena keluar dari hukum sifat-sifat murni.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُطْلِقَهُ وَلَا تَكُونُ لَهُ فِيهِ إِرَادَةٌ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang mengucapkan talak tanpa ada kehendak darinya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَكُونُ يَمِينًا لِمَا اقْتَرَنَ بِهِ مِنْ عُرْفِ الشَّرْعِ فِي قَوْله تَعَالَى لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Salah satunya menjadi sumpah karena adanya kebiasaan dalam syariat yang menyertainya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Demi umurmu, sesungguhnya mereka benar-benar dalam kebingungan mereka terombang-ambing.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ لَا تَكُونَ يَمِينًا لِأَنَّ عُرْفَ الِاسْتِعْمَالِ فِيهِ مُشْتَرَكٌ وَعُرْفَ الشَّرْعِ فِيهِ مُحْتَمَلٌ لِأَنَّ قَوْلَهُ لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ قَسَمٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِرَسُولِهِ وَأَقْسَامُ اللَّهِ تَعَالَى مُخَالِفَةٌ لِأَقْسَامِ عِبَادِهِ لِجَوَازِ قَسَمِهِ بِالْمَخْلُوقَاتِ التي لا يجوز أن يقسمه بِهَا الْمَخْلُوقُونَ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu bukanlah sumpah, karena dalam kebiasaan penggunaan, maknanya bersifat umum, dan dalam kebiasaan syariat, maknanya masih mungkin (berbeda). Sebab, firman Allah, “Demi umurmu, sesungguhnya mereka benar-benar dalam kebingungan mereka yang membutakan,” adalah sumpah dari Allah Ta‘ala atas (nama) Rasul-Nya. Sumpah Allah Ta‘ala berbeda dengan sumpah hamba-hamba-Nya, karena Allah boleh bersumpah dengan makhluk-makhluk yang tidak boleh dijadikan sumpah oleh makhluk.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا قَوْلُهُ وَايْمُ اللَّهِ وَايْمَنُ اللَّهِ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ يَمِينًا كَانَ يَمِينًا لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ فِي أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَايْمُ اللَّهِ إِنَهُ لخليقٌ بِالْإِمَارَةِ وَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهِ يَمِينًا أَوْ لَمْ تَكُنْ لَهُ إِرَادَةٌ لَمْ تَكُنْ يَمِينًا لِأَنَّ الْعُرْفَ فِي قَوْلِهِمْ لَعَمْرُ اللَّهِ أَكْثَرُ اسْتِعْمَالًا مِنْ قَوْلِهِمْ وَايْمُ اللَّهِ

Adapun ucapan “waimullāh” dan “waimanullāh”, jika yang dimaksudkan dengannya adalah sumpah, maka itu menjadi sumpah, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda tentang Usamah bin Zaid: “Waimullāh, sesungguhnya dia benar-benar layak untuk menjadi pemimpin.” Namun jika tidak dimaksudkan sebagai sumpah, atau tidak ada niat untuk bersumpah, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah, karena dalam kebiasaan, ucapan “la‘amrullāh” lebih sering digunakan daripada ucapan “waimullāh”.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا يَمِينٌ مَعَ وُجُودِ الْإِرَادَةِ وَعَدَمِهَا

Abu Hanifah berkata, “Keduanya sama saja dalam semua keadaan; itu adalah sumpah baik dengan adanya niat maupun tanpa niat.”

وَأَمَّا قَوْلُهُ لَاهَا اللَّهِ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ يَمِينًا فَهُوَ يَمِينٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ بِمَشْهَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي قَتِيلِ أَبِي قَتَادَةَ حِينَ أَخَذَ سَلَبَهُ غَيْرُهُ لَاهَا اللَّهِ إِذَنْ تَعْمِدُ إِلَى أَسَدٍ مِنْ أُسْدِ اللَّهِ يُعْطِيكَ سَلْبَهُ فَكَانَتْ يَمِينًا مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يُرِدِ الْيَمِينَ أَوْ لَمْ تَكُنْ لَهُ إِرَادَةٌ فَلَيْسَ بِيَمِينٍ لِعَدَمِ عُرْفِ الشرع والاستعمال فيه

Adapun ucapannya “Lāhā Allāh,” jika ia maksudkan sebagai sumpah, maka itu adalah sumpah, berdasarkan riwayat dari Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu bahwa ia berkata di hadapan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa terbunuhnya Abu Qatadah, ketika ada orang lain yang mengambil rampasannya: “Lāhā Allāh, apakah engkau akan sengaja mengambil rampasan dari salah satu singa Allah yang akan memberikannya kepadamu?” Maka itu menjadi sumpah darinya. Namun, jika ia tidak bermaksud sumpah atau tidak ada maksud demikian, maka itu bukanlah sumpah karena tidak dikenal dalam syariat dan penggunaannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ وَحَقِّ اللَّهِ أَوْ وَعَظَمَتِهِ أَوْ وجلال الله أو وقدرة الله فذلك كله يمينٌ نَوَى بِهَا يَمِينًا أَوْ لَا نِيَّةَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُرِدْ يَمِينًا فَلَيْسَتْ بيمينٍ لِأَنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَقُولَ وَحَقُّ اللَّهِ واجبٌ وَقُدْرَةُ اللَّهِ ماضيةٌ لَا أَنَّهُ يمينٌ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Demi hak Allah,” atau “Demi keagungan-Nya,” atau “Demi keagungan Allah,” atau “Demi kekuasaan Allah,” maka itu semua adalah sumpah jika ia meniatkannya sebagai sumpah, atau jika ia tidak memiliki niat tertentu. Namun, jika ia tidak bermaksud sumpah, maka itu bukanlah sumpah, karena bisa saja ia berkata, “Hak Allah itu wajib,” atau “Kekuasaan Allah itu berlaku,” dan bukan bermaksud sumpah.

قال الماوردي ذكر الشافعي هاهنا إِذَا حَلَفَ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ بِ حَقِّ اللَّهِ وَ عَظَمَةِ اللَّهِ وَ جَلَالِ اللَّهِ وَ قدرة الله

Al-Mawardi berkata: Asy-Syafi‘i menyebutkan di sini, apabila seseorang bersumpah dengan empat hal: demi hak Allah, keagungan Allah, keperkasaan Allah, dan kekuasaan Allah.

فأما عظمة اللَّهِ وَجَلَالِ اللَّهِ فَهُوَ يَمِينٌ فِي الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ سَوَاءٌ أَرَادَ بِهِ الْيَمِينَ أَوْ لَمْ يُرِدْ لِأَنَّهَا مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ الْمَحْضَةِ فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهَا عُرْفُ شَرْعٍ وَلَا اسْتِعْمَالٍ وَإِنْ كَانَ عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ فِيهَا مَوْجُودًا وَإِنَّمَا يُعْتَبَرُ الْعِرْفَانُ فِيمَا كَانَ مِنَ الصِّفَاتِ مُحْتَمَلًا وَلَا يُعْتَبَرُ فِيمَا زَالَ عَنْهُ الِاحْتِمَالُ

Adapun sumpah dengan menyebut keagungan Allah dan keagungan-Nya, maka itu adalah sumpah dalam tiga keadaan, baik seseorang memang bermaksud bersumpah dengannya maupun tidak, karena hal itu termasuk sifat dzat-Nya yang murni, sehingga tidak dipertimbangkan adanya kebiasaan syariat atau penggunaan bahasa dalam hal ini, meskipun kebiasaan penggunaan tersebut ada. Yang dipertimbangkan hanyalah pengenalan (‘irfān) pada sifat-sifat yang masih mengandung kemungkinan makna, dan tidak dipertimbangkan pada sifat-sifat yang sudah tidak mengandung kemungkinan makna lagi.

وَأَمَّا قَوْلُهُ وَحَقِّ اللَّهِ وَقُدْرَةِ اللَّهِ فَتَكُونُ يَمِينًا فِي حَالَتَيْنِ مِنْ ثَلَاثٍ إِذَا أَرَادَ الْيَمِينَ وَإِذَا أَطْلَقَ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِذَا قَالَ وَحَقِّ اللَّهِ لَا تَكُونُ يَمِينًا فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا سَوَاءٌ أَرَادَ بِهِ الْيَمِينَ أَوْ لَمْ يُرِدْ لِأَنَّ حُقُوقَ اللَّهِ تَعَالَى فُرُوضُهُ وَعِبَادَاتُهُ لِرِوَايَةِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ؟ فَقَالَ أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَتَعْبُدُوهُ وَتُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَتُؤْتُوا الزَّكَاةَ

Adapun ucapannya “demi hak Allah” dan “demi kekuasaan Allah”, maka itu menjadi sumpah dalam dua dari tiga keadaan: jika ia memang bermaksud bersumpah dan jika ia mengucapkannya secara mutlak. Abu Hanifah berkata: Jika seseorang berkata “demi hak Allah”, maka itu tidak menjadi sumpah dalam seluruh keadaan, baik ia bermaksud bersumpah maupun tidak, karena hak-hak Allah Ta‘ala adalah kewajiban-kewajiban dan ibadah-ibadah kepada-Nya. Berdasarkan riwayat dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” Beliau menjawab, “Yaitu agar kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, beribadah kepada-Nya, menegakkan salat, dan menunaikan zakat.”

وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ

Dalil kami ada dua.

أَحَدُهُمَا إِنَّهَا يَمِينٌ مُعْتَادَةٌ بِصِفَةٍ عَامَّةٍ أُضِيفَتْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ يَمِينًا كَصِفَاتِ ذَاتِهِ مِنَ الْعَظَمَةِ وَالْعِزَّةِ

Salah satunya adalah bahwa sumpah tersebut merupakan sumpah yang biasa dengan sifat umum yang disandarkan kepada Allah Ta‘ala, maka wajib hukumnya dianggap sebagai sumpah seperti sifat-sifat Dzat-Nya, seperti keagungan dan kemuliaan.

وَالثَّانِي إِنَّهَا يَمِينٌ مُسْتَحَقَّةٌ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ فَجَرَى عَلَيْهَا حُكْمُ صِفَاتِ الذَّوَاتِ

Yang kedua, bahwa sumpah tersebut adalah sumpah yang memang layak disandarkan kepada sifat Dzat-Nya, sehingga berlaku padanya hukum sifat-sifat Dzat.

وَأَمَّا الْخَبَرُ فَلَا دَلِيلَ فِيهِ لِأَنَّهُ بَيَّنَ بَعْضَ حُقُوقِهِ وَقَدْ تَحْتَمِلُ الْعِبَادَاتِ وَتَحْتَمِلُ صِفَاتِ الذَّاتِ فَجَازَ أَنْ تُعْتَبَرَ فِيهِ الْإِرَادَةُ بِحَمْلِهِ عَلَى أَحَدِهِمَا

Adapun khabar, maka tidak terdapat dalil di dalamnya, karena ia hanya menjelaskan sebagian hak-haknya, dan bisa jadi berkaitan dengan ibadah-ibadah atau berkaitan dengan sifat-sifat dzat. Maka boleh saja di dalamnya dianggap adanya kehendak dengan membawanya pada salah satu dari keduanya.

وَأَمَّا إِذَا أَرَادَ غَيْرَ الْيَمِينِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ يَعْمَلُ عَلَى إِرَادَتِهِ فَلَا تَكُونُ يَمِينًا لِمَا عَلَّلَ بِهِ مِنْ جَوَازِ أَنْ يُرِيدَ وَحُقُّ اللَّهِ وَاجِبٌ وَقُدْرَةُ الله ماضية فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun jika yang dimaksudkan bukan sumpah, maka menurut asy-Syafi‘i, yang dijadikan pegangan adalah apa yang ia maksudkan, sehingga tidak dianggap sebagai sumpah, karena alasan yang dikemukakan bahwa boleh jadi yang dimaksud adalah “demi hak Allah” yang hukumnya wajib, dan “kekuasaan Allah” yang pasti berlaku. Maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ لَا تَكُونُ يَمِينًا عَلَى مَا أَجَابَ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَعَلَّلَ بِهِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak dianggap sebagai sumpah menurut jawaban yang diberikan oleh asy-Syafi‘i dan alasan yang beliau kemukakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهُ لَا تَكُونُ يَمِينًا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَكُونُ يَمِينًا فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa sumpah tersebut tidak dianggap sebagai sumpah dalam hak-hak Allah Ta‘ala, namun dianggap sebagai sumpah dalam hak-hak manusia.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهُ لَا تَكُونُ يَمِينًا بِالْإِرَادَةِ إِذَا عَزَاهُ إِلَى أَمْرٍ مُحْتَمَلٍ وَتَكُونُ يَمِينًا إِذَا لَمْ يَعْزُهُ إِلَى أَمْرٍ مُحْتَمَلٍ

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa sumpah tidak dianggap sebagai sumpah dengan niat jika dikaitkan pada suatu perkara yang masih mungkin (mengandung kemungkinan), dan dianggap sebagai sumpah jika tidak dikaitkan pada suatu perkara yang masih mungkin.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ قَالَ بِاللَّهِ أَوْ تَاللَّهِ فَهِيَ يمينٌ نَوَى أَوْ لَمْ يَنْوِ وَقَالَ فِي الْإِمْلَاءِ تَاللَّهِ يمينٌ وَقَالَ فِي الْقَسَامَةِ لَيْسَتْ بيمينٍ قال المزني رحمه الله وقد حكى الله عز وجل يمين إبراهيم عليه السلام وتاللهِ لأَكِيدَنَّ أصْنَاَمكُمْ بَعْدَ أَنْ تَوَلُّوا مُدْبِرِينَ

Syafi‘i berkata, “Jika seseorang bersumpah dengan lafaz ‘billāh’ atau ‘tallāh’, maka itu adalah sumpah, baik ia meniatkannya maupun tidak.” Dalam kitab Al-Imlā’, beliau berkata, “‘Tallāh’ adalah sumpah.” Namun dalam bab Al-Qasāmah, beliau mengatakan, “‘Tallāh’ bukanlah sumpah.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla telah menceritakan sumpah Ibrahim ‘alaihissalām: ‘Demi Allah (wa tallāh), sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kalian berpaling pergi’.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ حُرُوفَ الْقَسَمِ ثَلَاثَةٌ الْوَاوُ وَهِيَ أَصْلُهَا ثُمَّ الْيَاءُ ثُمَّ التَّاءُ فَأَمَّا الْوَاوُ فَقَوْلُهُ وَاللَّهِ وَهُوَ الْحَرْفُ الصَّرِيحُ فِي الْقَسَمِ فَإِذَا قَالَ وَاللَّهِ كَانَ حَالِفًا لَا يُرْجَعُ إِلَى إِرَادَتِهِ فِي ظَاهِرٍ وَلَا بَاطِنٍ وَلَا يَلْزَمُهُ حُكْمُ الْيَمِينِ فِي حُقُوقِ الله تعالى وحقوق الآدميين وأما التاء الْمُعْجَمَةُ مِنْ تَحْتُ فَقَوْلُهُ بِاللَّهِ وَفِيهَا بَعْضُ الِاحْتِمَالِ لِأَنَّهُ مَعَ غَالِبِ الْأَحْوَالِ فِي الْقَسَمِ يحتمل أن يريد بالله أستعين وبالله أتق وبالله أومن فَإِنْ أَرَادَ بِهِ الْقَسَمَ أَوْ قَالَ مُطْلَقًا كَانَ يَمِينًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ وَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ وَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهِ الْقَسَمَ وَأَرَادَ مَا ذَكَرْنَا مِنَ احْتِمَالِهِ دِينَ فِي الْبَاطِنِ حَمْلًا عَلَى مَا نَوَاهُ وَلَمْ تَلْزَمْهُ الْكَفَّارَةُ وَكَانَ حَالِفًا فِي الظَّاهِرِ اعْتِبَارًا بِالْغَالِبِ مِنْ حَالِ الظَّاهِرِ وَلَزِمَهُ حُكْمُ الْيَمِينِ كَمَا لَوْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ أَنْتِ طَالِقٌ وَأَرَادَ مِنْ وِثَاقٍ دَيْنٍ فِي الْبَاطِنِ وَكَانَ طَلَاقًا فِي الظَّاهِرِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa huruf-huruf sumpah ada tiga, yaitu wāw, dan ini adalah asalnya, kemudian yā’, lalu tā’. Adapun wāw, seperti dalam ucapan “wallāh”, maka ini adalah huruf yang jelas untuk sumpah. Jika seseorang berkata “wallāh”, maka ia dianggap bersumpah tanpa melihat pada maksudnya, baik secara lahir maupun batin, dan ia tidak dikenai hukum yamin (sumpah) dalam hak-hak Allah Ta‘ala maupun hak-hak manusia. Adapun tā’ mu‘jamah (t) yang berada di bawah, seperti dalam ucapan “billāh”, maka di dalamnya terdapat kemungkinan, karena dalam kebanyakan keadaan pada sumpah, bisa jadi yang dimaksud adalah “dengan Allah aku memohon pertolongan”, “dengan Allah aku berlindung”, atau “dengan Allah aku beriman”. Jika ia memang bermaksud sumpah atau mengucapkannya secara mutlak, maka itu dianggap yamin (sumpah) secara lahir dan batin dalam hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Namun jika ia tidak bermaksud sumpah dan bermaksud salah satu makna yang telah kami sebutkan sebagai kemungkinan, maka secara batin dihukumi sesuai dengan niatnya dan ia tidak wajib membayar kaffārah, namun secara lahir ia tetap dianggap bersumpah berdasarkan kebiasaan yang berlaku secara lahir, dan ia tetap dikenai hukum yamin, sebagaimana jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” padahal dalam batinnya ia bermaksud dari ikatan utang, maka secara lahir tetap dianggap talak.

وَأَمَّا التَّاءُ الْمُعْجَمَةُ مِنْ فَوْقُ فَقَوْلُهُ تَاللَّهِ فَمَنْصُوصُ الشَّافِعِيِّ فِي الْأَيْمَانِ وَالْإِيلَاءِ أَنَّهَا يَمِينٌ لِأَنَّ الشَّرْعَ قَدْ وَرَدَ بِهَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَتَاللهِ لأَكِيدَنَّ أصْنَامَكُمْ قَالُواْ تَاللهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللهُ عَلَيْنَا وَنَقْلَ الْمُزَنِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي الْقَسَامَةِ تَاللَّهِ لَيْسَتْ بِيَمِينٍ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَخْرِيجِ مَا نَقَلَهُ فِي الْقَسَامَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun huruf tā’ mu‘jamah dari atas, yaitu pada ucapan “tallāh”, maka menurut pendapat yang ditegaskan oleh Imam Syafi‘i dalam masalah sumpah dan ila’, itu adalah sumpah, karena syariat telah menyatakannya. Allah Ta‘ala berfirman: “Demi Allah, sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu.” Dan mereka berkata: “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami.” Namun, menurut riwayat al-Muzani dari Imam Syafi‘i dalam masalah qasāmah, “tallāh” bukanlah sumpah. Maka para sahabat kami berbeda pendapat dalam menafsirkan riwayat beliau dalam qasāmah menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ وَقَدْ وَهِمَ فِيهِ وَإِنَّمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ بِاللَّهِ لَيْسَتْ بِيَمِينٍ بِالْبَاءِ مُعْجَمَةٍ مِنْ تَحْتُ وَقَدْ ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ فِي تَعْلِيلِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى هَذَا فَقَالَ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ تَاللَّهِ يَمِينًا قَوْلًا وَاحِدًا

Salah satunya adalah bahwa pendapat tersebut tidaklah benar dan terdapat kekeliruan di dalamnya. Sesungguhnya, yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i adalah bahwa lafaz “billāh” (dengan huruf ba’ berharakat kasrah di bawah) bukanlah sumpah. Asy-Syafi‘i juga telah menyebutkan dalam penjelasannya sesuatu yang menunjukkan hal ini, yaitu beliau berkata bahwa itu adalah doa. Berdasarkan hal ini, maka lafaz “tallāh” adalah sumpah menurut satu pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ نَقْلَ الْمُزَنِيِّ صَحِيحٌ لِضَبْطِهِ فِي نَقْلِهِ فَعَلَى هَذَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا مَعَ صِحَّةِ النَّقْلِ فِي كَيْفِيَّةِ تَخْرِيجِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Pendapat kedua adalah bahwa riwayat al-Muzani benar karena ketelitiannya dalam meriwayatkan. Berdasarkan hal ini, para ulama kami berbeda pendapat, meskipun riwayatnya sahih, mengenai cara mengistimbatkan hukumnya menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ تَخْرِيجُ قولٍ ثَانٍ فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ لِاخْتِلَافِ النَّقْلِ فِيهِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan takhrij dari pendapat kedua, sehingga terdapat dua pendapat karena perbedaan riwayat dalam masalah ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنْ يَكُونَ يَمِينًا فِي الْمَوَاضِعِ كُلِّهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ تُعْتَبَرَ فِيهِ إِرَادَةٌ لِأَنَّ عُرْفَ الشَّرْعِ بِهَا واردٌ وَلِأَنَّ التَّاءَ فِي الْقَسَمِ بَدَلٌ مِنَ الْوَاوِ فَقَامَتْ مَقَامَهَا فِي الْحُكْمِ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa hal itu dianggap sebagai sumpah dalam seluruh keadaan tanpa perlu mempertimbangkan adanya niat, karena dalam kebiasaan syariat hal itu sudah berlaku, dan karena huruf “ta” dalam sumpah merupakan pengganti dari huruf “waw”, sehingga kedudukannya sama dalam hukum.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّهَا لَيْسَتْ بِيَمِينٍ في المواضع كلها إلا أن يريديها يَمِينًا فَتَصِيرُ بِالْإِرَادَةِ يَمِينًا لِخُرُوجِهَا عَنْ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ وَالْتِبَاسِهَا عَلَى أَكْثَرِ النَّاسِ وَالْأَيْمَانُ مُخْتَصَّةٌ بِمَا كَانَ فِي الْعُرْفِ مُسْتَعْمَلًا وَعِنْدَ عَامَّةِ النَّاسِ مُشْتَهِرًا فَهَذَا وَجْهٌ

Pendapat kedua menyatakan bahwa lafaz tersebut bukanlah sumpah (yamin) dalam semua keadaan, kecuali jika seseorang memang bermaksud menjadikannya sebagai sumpah, maka dengan niat tersebut ia menjadi sumpah. Hal ini karena lafaz tersebut keluar dari kebiasaan penggunaan dan membingungkan kebanyakan orang. Sumpah itu khusus untuk lafaz yang memang biasa digunakan menurut kebiasaan dan dikenal luas di kalangan masyarakat. Inilah alasannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهَا تَكُونُ يَمِينًا فِي خَوَاصِّ النَّاسِ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ أَنَّ التَّاءَ مِنْ حُرُوفِ الْقَسَمِ وَلَا تَكُونُ فِي الْعَامَّةِ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ إِلَّا بِالْإِرَادَةِ وَالنِّيَّةِ كَمَا أَنَّ الْعَرِبِيَّ إِذَا حَلَفَ بِالْأَعْجَمِيَّةِ تَكُونُ يَمِينًا إِذْ عَرَفَهَا وَلَا تَكُونُ يَمِينًا إِنْ لَمْ يَعْرِفْهَا وَكَذَا الْأَعْجَمِيُّ إِذَا حَلَفَ بِالْعَرَبِيَّةِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa hal itu dianggap sebagai sumpah (yamin) bagi kalangan khusus yang mengetahui bahwa huruf ta’ termasuk huruf sumpah, dan tidak dianggap demikian bagi kalangan umum yang tidak mengetahuinya, kecuali jika disertai dengan maksud dan niat. Sebagaimana seorang Arab jika bersumpah dengan bahasa non-Arab, maka itu dianggap sebagai sumpah jika ia memahaminya, dan tidak dianggap sebagai sumpah jika ia tidak memahaminya. Demikian pula orang non-Arab jika bersumpah dengan bahasa Arab.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنها تَكُونُ يَمِينًا فِي التَّغْلِيظِ عَلَيْهِ وَلَا تَكُونُ يَمِينًا فِي التَّخْفِيفِ عَنْهُ فَلَا يَجْعَلُهَا يَمِينًا فِي الْقَسَامَةِ لِأَنَّهُ يُثْبِتُ بِهَا لِنَفْسِهِ حَقًّا وَيَجْعَلُهَا يَمِينًا فِي الْإِيلَاءِ؟ لِأَنَّهُ يُثْبِتُ بِهَا على نفسه حقاً

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa sumpah tersebut dianggap sebagai sumpah dalam hal penegasan (penguatan) terhadapnya, namun tidak dianggap sebagai sumpah dalam hal keringanan baginya. Maka, sumpah itu tidak dijadikan sebagai sumpah dalam kasus qasāmah, karena dengan sumpah itu seseorang menetapkan hak untuk dirinya sendiri. Namun, sumpah itu dijadikan sebagai sumpah dalam kasus ila’, karena dengan sumpah itu seseorang menetapkan hak atas dirinya sendiri.

مسألة

Masalah

قال الشافعي قال المزني رَحِمَهُ اللَّهُ فَإِنْ قَالَ اللَّهُ لَأَفْعَلَنَّ فَهَذَا ابْتِدَاءُ كلامٍ لَا يمينٌ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَ بِهَا

Imam Syafi’i berkata, Al-Muzani rahimahullah berkata: Jika seseorang berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan melakukannya,” maka ini adalah permulaan ucapan, bukan sumpah, kecuali jika ia meniatkannya sebagai sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا حَذَفَ مِنَ اسْمِ اللَّهِ حَرْفَ الْقَسَمِ فَقَالَ اللَّهُ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا لَمْ يَكُنْ يَمِينًا لِأَنَّهُ يَحْذِفُ حُرُوفَ الْقَسَمِ الْمَوْضُوعَةَ لِلْيَمِينِ يَصِيرُ ابْتِدَاءَ كَلَامٍ وَاسْتِفْتَاحَ خِطَابٍ يَخْرُجُ عَنْ عُرْفِ الْأَيْمَانِ فِي الِاسْتِعْمَالِ وَالشَّرْعِ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang menghilangkan huruf sumpah dari nama Allah, lalu berkata, “Allah, sungguh aku akan melakukan ini,” maka itu tidak dianggap sebagai sumpah, karena ia telah menghilangkan huruf-huruf sumpah yang memang dikhususkan untuk sumpah, sehingga ucapan itu menjadi pembuka kalimat dan permulaan pembicaraan yang keluar dari kebiasaan penggunaan sumpah baik dalam praktik maupun dalam syariat.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ وَرَدَ بِهِ عُرْفُ الشَّرْعِ فَقَدْ أَحْلَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ رُكَانَةَ بْنِ عَبْدِ يَزِيدَ حِينَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ وَذَكَرَ أَنَّهُ أَرَادَ وَاحِدَةً فَقَالَ اللَّهِ إِنَّكَ أَرَدْتَ وَاحِدَةً ؟ فَقَالَ اللَّهِ إِنِّي أَرَدْتُ وَاحِدَةً وَأَحْلَفَ ابْنَ مَسْعُودٍ حِينَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَتَلَ أَبَا جهلٍ فَقَالَ اللَّهِ إِنَّكَ قَتَلْتَهُ فقال الله إِنِّي قَتَلْتُهُ

Jika dikatakan, “Telah datang kebiasaan syariat tentang hal ini, yaitu Rasulullah saw. pernah meminta Rukanah bin ‘Abd Yazid bersumpah ketika ia menceraikan istrinya dengan talak ba’in dan ia menyebutkan bahwa ia hanya bermaksud satu talak, maka beliau bersabda, ‘Demi Allah, apakah engkau benar-benar bermaksud satu talak?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku hanya bermaksud satu talak.’ Dan beliau juga meminta Ibnu Mas‘ud bersumpah ketika ia memberitahukan bahwa ia telah membunuh Abu Jahl, maka beliau bersabda, ‘Demi Allah, apakah engkau benar-benar yang membunuhnya?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku yang membunuhnya.’”

فَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَصَدَ الْيَمِينَ بِإِحْلَافِهِمَا وَالنِّيَّةُ عِنْدَنَا فِي الْأَيْمَانِ نِيَّةُ الْمُسْتَحْلِفِ دُونَ الْحَالِفِ وَلَوْ كَانَ الْحَالِفُ نَوَى الْيَمِينَ وَأَرَادَهَا مَعَ حَذْفِ حَرْفِ الْقَسَمِ كَانَتْ يَمِينًا لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ إِحْلَافِ رُكَانَةَ وَابْنِ مَسْعُودٍ فَتَصِيرُ غَيْرَ يَمِينٍ فِي حَالَتَيْنِ إِذَا لَمْ يُرِدْ وَإِذَا أَطْلَقَ وَيَمِينًا فِي حالة واحدة إذا أراد

Maka jawabannya adalah bahwa Nabi ﷺ memang bermaksud untuk bersumpah ketika memerintahkan mereka bersumpah, dan menurut kami, dalam sumpah, yang dianggap adalah niat orang yang menyuruh bersumpah, bukan niat orang yang bersumpah. Jika orang yang bersumpah memang berniat dan menghendaki sumpah meskipun tanpa menyebutkan huruf sumpah, maka itu tetap dianggap sebagai sumpah, sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang sumpah Rukanah dan Ibnu Mas‘ud. Maka, hal itu tidak dianggap sebagai sumpah dalam dua keadaan: jika tidak ada maksud (untuk bersumpah) dan jika diucapkan secara mutlak, dan dianggap sebagai sumpah dalam satu keadaan, yaitu jika memang ada maksud (untuk bersumpah).

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ قَالَ أَشْهَدُ بِاللَّهِ فَإِنْ نَوَى الْيَمِينَ فَهِيَ يمينٌ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ يَمِينًا فَلَيْسَتْ بيمينٍ لِأَنَّهَا تَحْتَمِلُ أَشْهَدُ بِأَمْرِ اللَّهِ وَلَوْ قَالَ أَشْهَدُ يَنْوِيهِ يَمِينًا لَمْ يَكُنْ يَمِينًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang mengucapkan “Aku bersaksi demi Allah”, maka jika ia berniat sumpah, maka itu adalah sumpah. Namun jika ia tidak berniat sumpah, maka itu bukanlah sumpah, karena ucapan tersebut bisa bermakna “Aku bersaksi atas perintah Allah”. Dan jika ia mengucapkan “Aku bersaksi” tanpa meniatkan sebagai sumpah, maka itu bukanlah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ إِذَا قَالَ أَشْهَدُ بِاللَّهِ أَوْ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّهَا يَمِينٌ لِمَا اقْتَرَنَ بِهَا مِنْ عُرْفِ الشَّرْعِ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللهِ وَقَالَ إِذَا جَاءَكَ المُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللهِ وَإِذَا اقْتَرَنَ بِهَا أَحَدُ الْعُرْفَيْنِ صَارَتْ يَمِينًا وَلَا تَكُونُ الشَّهَادَةُ بِاللَّهِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ يَمِينًا قَاطِعَةً لِعِلَّتَيْنِ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan, dan dinukil dari Abu Hanifah bahwa jika seseorang berkata, “Aku bersaksi demi Allah” atau berkata, “Aku bersaksi bahwa ini adalah sumpah,” maka itu menjadi sumpah karena adanya kebiasaan syariat yang menyertainya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Maka kesaksian salah seorang dari mereka adalah empat kali bersaksi demi Allah,” dan firman-Nya, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’” Dan jika salah satu dari dua kebiasaan itu menyertainya, maka itu menjadi sumpah. Namun, menurut asy-Syafi‘i, kesaksian dengan menyebut nama Allah tidak menjadi sumpah yang pasti karena dua alasan.

إِحْدَاهُمَا مَا عَلَّلَ بِهِ الشَّافِعِيُّ إِنَّهَا تَحْتَمِلُ أَشْهَدُ بِأَمْرِ اللَّهِ عَلَى وَجْهِ الشَّهَادَةِ بِالْأَيْمَانِ بِاللَّهِ فَخَرَجَتْ عَنْ حُكْمِ مَا لَا يَحْتَمِلُ

Salah satunya adalah apa yang dijadikan alasan oleh asy-Syafi‘i, yaitu bahwa kalimat tersebut dapat bermakna “Aku bersaksi atas perintah Allah” dalam bentuk persaksian dengan sumpah atas nama Allah, sehingga ia keluar dari hukum sesuatu yang tidak dapat mengandung makna tersebut.

وَالثَّانِيَةُ مَا عَلَّلَ بِهِ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ إِنَّهَا مَا كَانَتْ جَارِيَةً فِي عُرْفِ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ وَالشَّهَادَةُ بِمَا لَا تَعْرِفُهَا الْعَامَّةُ فِي الْأَيْمَانِ فَزَالَ عَنْهَا حُكْمُ الْيَمِينِ

Dan alasan kedua adalah apa yang dijadikan ‘illat oleh Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa hal tersebut tidak berlaku dalam kebiasaan baik di kalangan khusus maupun umum, dan persaksian atas sesuatu yang tidak dikenal oleh masyarakat umum dalam sumpah, maka hilanglah dari hal itu hukum sumpah.

فَأَمَّا اسْتِدْلَالُ أَبِي حَنِيفَةَ بِعُرْفِ الشَّرْعِ فَقَدْ قَابَلَهُ فِي حَمْلِهِ عَلَى شَهَادَةِ الْأَيْمَانِ بِاللَّهِ عُرْفٌ شَرْعِيٌّ فَلَمْ يَكُنْ أَحَدُ الْعُرْفَيْنِ أَوْلَى مِنَ الْآخَرِ فَتَعَارَضَا وَرَجَعَ إِلَى إِرَادَتِهِ وَلَا يَخْلُو حَالُهُ فِي قَوْلِهِ أَشْهَدُ بِاللَّهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Adapun istidlāl Abu Hanifah dengan ‘urf syar‘i, maka dalam penerapannya pada makna syahadat al-aimān billāh terdapat pula ‘urf syar‘i yang lain, sehingga tidak ada salah satu dari kedua ‘urf tersebut yang lebih utama dari yang lain, maka keduanya saling bertentangan dan kembali kepada maksud (niat) orang yang mengucapkannya. Keadaan orang yang mengucapkan “asyhadu billāh” tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أحدهما أَنْ يُرِيدَ بِهَا غَيْرَ يَمِينٍ فَلَا تَكُونُ يَمِينًا وَهُوَ الَّذِي خَالَفَ فِيهِ أَبُو حَنِيفَةَ

Pertama, jika seseorang bermaksud dengan lafaz tersebut bukan sebagai sumpah, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah, dan inilah pendapat yang diselisihi oleh Abu Hanifah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُرِيدَ بِهَا الْيَمِينَ فَتَكُونُ يَمِينًا بِوِفَاقِ أَبِي حَنِيفَةَ لِمَا وَافَقَهَا مِنْ أَحَدِ الْعُرْفَيْنِ

Keadaan kedua adalah apabila ia bermaksud sumpah dengannya, maka itu menjadi sumpah menurut kesepakatan Abu Hanifah, karena sesuai dengan salah satu dari dua ‘urf (kebiasaan) yang ada.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُطْلِقَ وَلَا تَكُونُ لَهُ فِيهَا نِيَّةٌ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا الْإِطْلَاقِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang mengucapkan talak tanpa disertai niat apa pun di dalamnya. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai pengucapan talak seperti ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّ إِطْلَاقَهَا يُوجِبُ أَنْ تَكُونَ يَمِينًا لِمُوَافَقَةِ الْعُرْفِ الشَّرْعِيِّ وَيَكُونُ جَوَابُ الشَّافِعِيِّ فِي أَنَّهَا لَيْسَتْ بِيَمِينٍ مَحْمُولًا عَلَى أَنَّهُ لَمْ يُرِدْ بِهَا الْيَمِينَ

Salah satunya adalah bahwa penggunaan kata tersebut secara mutlak mengharuskan ia menjadi sumpah (yamin) karena sesuai dengan ‘urf syar‘i, dan jawaban Imam Syafi‘i bahwa itu bukanlah sumpah (yamin) ditafsirkan bahwa beliau tidak bermaksud menjadikannya sebagai sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّ إِطْلَاقَهَا يَمْنَعُ مِنْ أَنْ تَكُونَ يَمِينًا لِمُخَالَفَةِ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ وَيَكُونُ جَوَابُ الشَّافِعِيِّ فِي أَنَّهَا لَيْسَتْ بِيَمِينٍ مَحْمُولًا على هذا الإطلاق

Pendapat kedua, sesungguhnya pengucapan lafaz tersebut secara mutlak mencegahnya untuk dianggap sebagai sumpah (yamin), karena bertentangan dengan kebiasaan penggunaan (lafaz) dalam masyarakat. Maka, jawaban Imam Syafi‘i bahwa itu bukanlah sumpah (yamin) dapat dimaknai berdasarkan pengucapan secara mutlak ini.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ أَعْزِمُ بِاللَّهِ وَلَا نِيَّةَ لَهُ لَمْ يَكُنْ يَمِينًا لِأَنَّ مَعْنَاهَا أَعْزِمُ بِقُدْرَةِ اللَّهِ أَوْ بِعَوْنِ اللَّهِ عَلَى كَذَا وَإِنْ أَرَادَ يَمِينًا فَهِيَ يمينٌ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengucapkan “Aku bersungguh-sungguh demi Allah” tanpa ada niat, maka itu bukanlah sumpah, karena maknanya adalah “Aku bersungguh-sungguh dengan kekuatan Allah” atau “dengan pertolongan Allah atas hal tersebut.” Namun, jika ia memang berniat untuk bersumpah, maka itu adalah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ لِأَنَّ قَوْلَهُ أَعْزِمُ بِاللَّهِ يَحْتَمِلُ الِاسْتِعَانَةَ بُقُولِهِ وَمَعُونَتِهِ عَلَى مَقَاصِدِهِ تَسْلِيمًا لِأَمْرِهِ وَهُوَ الْأَظْهَرُ وَإِنِ احْتَمَلَ أَنْ يُرِيدَ عَزْمًا عَلَى الْيَمِينِ بِإِضْمَارِ الْقَسَمِ وَلِتَرَدُّدِهَا بَيْنَ احْتِمَالَيْنِ أَظْهَرُهُمَا أَنْ تَكُونَ غَيْرَ يَمِينٍ وَأَضْعَفُهُمَا أَنْ تَكُونَ يَمِينًا لَمْ يَجْعَلْهَا يَمِينًا إِذَا نَوَى غَيْرَ الْيَمِينِ وَلَا إِذَا أَطْلَقَهَا لِأَنَّهُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِإِطْلَاقِهَا عُرْفُ الشَّرْعِ وَلَا عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ وَجَعَلْنَاهَا يَمِينًا إِذَا نَوَاهَا لِمَا يَحْتَمِلُهَا مِنْ حُكْمِ الْيَمِينِ فَتَصِيرُ يَمِينًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ وَغَيْرَ يَمِينٍ فِي حَالَتَيْنِ وَجْهًا وَاحِدًا بِخِلَافِ الشَّهَادَةِ حَيْثُ احْتَمَلَتْ فِي الْإِطْلَاقِ وَلِمَا اقْتَرَنَ بها من عرف الشرع

Al-Mawardi berkata: “Hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, karena ucapannya ‘aku bertekad demi Allah’ mengandung kemungkinan permohonan pertolongan kepada Allah dan bantuan-Nya dalam mencapai tujuannya sebagai bentuk kepasrahan terhadap perintah-Nya, dan inilah makna yang paling tampak. Meskipun ada kemungkinan ia bermaksud tekad untuk bersumpah dengan menyembunyikan niat sumpah, namun karena ungkapan tersebut mengandung dua kemungkinan—yang paling tampak adalah bukan merupakan sumpah, dan yang lebih lemah adalah merupakan sumpah—maka tidak dianggap sebagai sumpah jika ia meniatkan selain sumpah, atau jika ia mengucapkannya secara mutlak, karena tidak ada kebiasaan syariat maupun kebiasaan penggunaan yang menyertainya. Namun, kami menganggapnya sebagai sumpah jika ia meniatkannya sebagai sumpah, karena ungkapan tersebut memungkinkan untuk mengandung hukum sumpah, sehingga menjadi sumpah dalam satu keadaan dan bukan sumpah dalam dua keadaan, dengan satu alasan, berbeda dengan syahadah (kesaksian) yang jika diucapkan secara mutlak mengandung kemungkinan, dan karena adanya kebiasaan syariat yang menyertainya.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ أَسْأَلُكَ بِاللَّهِ أَوْ أَعْزِمُ عَلَيْكَ بالله لتفعلن فإن أراد المستخلف بِهَا يَمِينًا فَهِيَ يمينٌ وَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهَا شَيْئًا فَلَيْسَتْ بيمينٍ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Aku memohon kepadamu demi Allah,” atau “Aku bersumpah atasmu demi Allah agar engkau melakukannya,” maka jika orang yang meminta itu bermaksud menjadikannya sebagai sumpah, maka itu adalah sumpah. Namun jika ia tidak bermaksud apa-apa dengannya, maka itu bukanlah sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا قَوْلُهُ لِغَيْرِهِ أَسْأَلُكُ بِاللَّهِ أَوْ أُقْسِمُ عَلَيْكَ بِاللَّهِ لَتَفْعَلَنَّ كَذَا فَلَهُ فِيهِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Adapun ucapannya kepada orang lain, “Aku memohon kepadamu demi Allah” atau “Aku bersumpah atasmu demi Allah agar engkau benar-benar melakukan ini,” maka dalam hal ini terdapat empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُرِيدَ يَمِينًا لِنَفْسِهِ عَلَى فِعْلِ صَاحِبِهِ فَتَكُونُ يَمِينًا لَهُ مُعَلَّقَةٌ بِفِعْلِ غَيْرِهِ فَإِنْ فَعَلَ مَا قَالَ بَرَّ الْحَالِفُ وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ حَنِثَ الْحَالِفُ وَوَجَبَتِ الْكَفَّارَةُ عَلَى الْحَالِفِ دُونَ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ وَأَوْجَبَهَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَلَى الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ دُونَ الْحَالِفِ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ عِكْرِمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى أحدٍ بيمينٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ سَيَبَرُّهُ فَلَمْ يَفْعَلْ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِي لَمْ يَبَرَّهُ وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ فَجَعَلَ الْكَفَّارَةَ عَلَى الْحَالِفِ دُونَ الْمُحْنِثِ وَقَدْ جَاءَتِ السُّنَّةُ بِمَا يُوَافِقُ هَذَا

Salah satunya adalah seseorang bermaksud mengucapkan sumpah untuk dirinya sendiri atas perbuatan orang lain, sehingga sumpah itu menjadi sumpah baginya yang bergantung pada perbuatan orang lain. Jika orang tersebut melakukan apa yang diucapkan, maka orang yang bersumpah dianggap menepati sumpahnya. Namun jika tidak melakukannya, maka orang yang bersumpah dianggap melanggar sumpah dan wajib membayar kafārah atas dirinya, bukan atas orang yang disumpahkan. Ahmad bin Hanbal mewajibkan kafārah atas orang yang disumpahkan, bukan atas orang yang bersumpah, dengan berdalil pada riwayat ‘Ikrimah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah atas seseorang dengan suatu sumpah, dan dia yakin bahwa orang itu akan menepatinya, lalu ternyata tidak dilakukan, maka dosanya atas orang yang tidak menepatinya.” Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Itulah kafārah sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah,” maka Allah mewajibkan kafārah atas orang yang bersumpah, bukan atas orang yang melanggarnya, dan telah datang sunnah yang sesuai dengan hal ini.

رَوَى رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَهَدَتْ لَنَا امْرَأَةٌ طَبَقًا فِيهِ تَمْرٌ فَأَكَلَتْ مِنْهُ عَائِشَةُ وَأَبْقَتْ تُمَيْرَاتٍ فَقَالَتْ لَهَا الْمَرْأَةُ أَقْسَمْتُ عَلَيْكِ إِلَّا أَكَلْتِيهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِرِّيَهَا؟ فَإِنَّ الْإِثْمَ عَلَى الْمُحْنِثِ فَجُعِلَ الْبِرَّ وَالْحِنْثَ عَلَى الْحَالِفِ وَالْإِثْمَ عَلَى الْمُحْنِثِ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيمَا احْتَجَّ بِهِ أَحْمَدُ

Rasyid bin Sa‘d meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Seorang wanita menghadiahkan kepada kami sebuah nampan berisi kurma, lalu ‘Aisyah memakannya dan menyisakan beberapa butir kurma. Maka wanita itu berkata kepadanya, “Aku bersumpah atasmu, kecuali engkau memakannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah sumpahnya, karena dosa itu atas orang yang melanggar sumpah.” Maka kebaikan (birr) dan pelanggaran (hinṡ) itu menjadi tanggungan orang yang bersumpah, dan dosa atas orang yang melanggarnya. Atas dasar inilah dipahami hadis Abu Hurairah yang dijadikan hujjah oleh Ahmad.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُرِيدَ الحالف بيمينه يميناً يعقدها على المستخلف يُلْزِمُهُ بِرَّهَا وَحِنْثَهَا فَلَا يَكُونُ يَمِينًا لِلْحَالِفِ لِأَنَّهُ لَمْ يُرِدْهَا وَلَا تَكُونُ يَمِينًا لِلْمُسْتَحْلِفِ لأنه لم يحلف بها ولأنه لَمْ تَنْعَقِدْ يَمِينُ الْمُكْرَهِ مَعَ حَلِفِهِ كَانَتْ يَمِينُ مَنْ لَمْ يَحْلِفْ أَوْلَى أَنْ لَا تَنْعَقِدَ

Keadaan kedua adalah ketika orang yang bersumpah dengan sumpahnya bermaksud menjadikan sumpah itu sebagai sumpah yang dibebankan kepada orang yang diminta bersumpah, sehingga ia mewajibkan orang tersebut untuk menepati atau melanggarnya. Maka sumpah itu tidak dianggap sebagai sumpah bagi orang yang bersumpah, karena ia tidak meniatkannya demikian, dan juga tidak dianggap sebagai sumpah bagi orang yang diminta bersumpah karena ia tidak mengucapkannya. Selain itu, sumpah orang yang dipaksa saja tidak sah meskipun ia mengucapkannya, maka sumpah orang yang tidak mengucapkan sumpah tentu lebih utama untuk tidak sah.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُرِيدَ بِهَا السُّؤَالَ وَالطَّلَبَ وَلَا يَقْصِدَ بِهَا يَمِينًا لِنَفْسِهِ وَلَا لِصَاحِبِهِ فَلَا تَكُونُ يَمِينًا بِحَالٍ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang mengucapkannya dengan maksud bertanya atau meminta, dan tidak bermaksud menjadikannya sebagai sumpah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, maka dalam keadaan apa pun itu tidak dianggap sebagai sumpah.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُطْلِقَهَا وَلَا تَكُونُ لَهُ نيةٌ فِيهَا بِيَمِينٍ وَلَا غَيْرِهِ فَلَا تَكُونُ يَمِينًا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِهَا عُرْفُ شَرْعٍ وَلَا عُرْفُ اسْتِعْمَالٍ فَخَرَجَتْ عن حكم الأيمان

Keadaan keempat adalah ketika seseorang mengucapkannya tanpa disertai niat apa pun, baik sebagai sumpah maupun selainnya, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi‘i, karena tidak ada kebiasaan syariat maupun kebiasaan penggunaan yang menyertainya, sehingga keluar dari hukum sumpah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ عَلَيَّ عَهْدُ اللَّهِ وَمِيثَاقُهُ فَلَيْسَتْ بيمينٍ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَ يَمِينًا لِأَنَّ لِلَّهِ عَلَيْهِ عَهْدًا أَنْ يُؤَدِّيَ فَرَائِضَهُ وَكَذَلِكَ مِيثَاقُ اللَّهِ بِذَلِكَ وَأَمَانَتُهُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Atas diriku ada ‘ahd Allah dan mitsaq-Nya,” maka itu bukanlah sumpah kecuali jika ia berniat untuk bersumpah. Sebab, Allah memang memiliki ‘ahd atas dirinya untuk menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya, demikian pula mitsaq Allah dan amanah-Nya terkait hal itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ إِذَا قَالَ عَلَيَّ عَهْدُ اللَّهِ أَوْ قَالَ عَلَيَّ مِيثَاقُ اللَّهِ أَوْ جَمْعَ بَيْنِهِمَا فَقَالَ عَلَيَّ عَهْدُ اللَّهِ وَمِيثَاقُهُ كَانَا مِنْ صَرِيحِ الْأَيْمَانِ فَيَكُونُ يَمِينًا فِي الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ لِمَا فِيهَا مِنْ زِيَادَةِ التَّغْلِيظِ عَلَى الْأَيْمَانِ بِالْعَهْدِ وَالْمِيثَاقِ وَعَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لَا تَكُونُ يَمِينًا إِذَا لَمْ يَنْوِهَا لِأَنَّ عَهْدَ اللَّهِ وَمِيثَاقَهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ مَا أَوْجَبَهُ مِنْ فُرُوضٍ أَنْ تُؤَدَّى إِلَيْهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ مَا أَخَذَهُ اللَّهُ مِنَ الذُّرِّيَّةِ فِي ظُهُورِ الْآبَاءِ مِنَ الِاعْتِرَافِ بِهِ فِي قَوْله تَعَالَى وِإذْ أخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهَا اليمن؟ فَلَمَّا كَانَ هُنَا يَحْتَمِلُ وُجُوهًا وَجَبَ أَنْ يُرْجَعَ فِيهِ إِلَى نِيَّتِهِ وَإِرَادَتِهِ فَإِنْ أَرَادَ يَمِينًا كَانَتْ يَمِينًا وَإِنْ أَرَادَ غَيْرَ الْيَمِينِ لَمْ تَكُنْ يَمِينًا وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ إِرَادَةٌ وَأَطْلَقَ فَفِي إِطْلَاقِهِ وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang telah dikatakan.” Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa jika seseorang berkata, “Atas diriku ada ‘ahd Allah” atau berkata, “Atas diriku ada mitsaq Allah,” atau menggabungkan keduanya lalu berkata, “Atas diriku ada ‘ahd Allah dan mitsaq-Nya,” maka itu termasuk lafaz sumpah yang jelas (sharih al-ayman), sehingga dihukumi sebagai sumpah dalam ketiga keadaan tersebut karena di dalamnya terdapat tambahan penegasan atas sumpah dengan menggunakan ‘ahd dan mitsaq. Menurut mazhab Syafi‘i, hal itu tidak dianggap sebagai sumpah jika tidak disertai niat, karena ‘ahd Allah dan mitsaq-Nya bisa saja dimaksudkan sebagai kewajiban yang Allah tetapkan berupa fardhu yang harus ditunaikan kepada-Nya, atau bisa juga dimaksudkan apa yang telah Allah ambil dari anak keturunan (manusia) di punggung para bapak mereka berupa pengakuan terhadap-Nya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan ketika Tuhanmu mengambil dari anak-anak Adam dari punggung mereka keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami)’.” Dan bisa juga dimaksudkan sebagai sumpah. Maka ketika di sini mengandung beberapa kemungkinan, wajib dikembalikan kepada niat dan maksudnya. Jika ia bermaksud sumpah, maka itu menjadi sumpah. Jika ia bermaksud selain sumpah, maka itu tidak menjadi sumpah. Jika ia tidak memiliki maksud tertentu dan mengucapkannya secara mutlak, maka dalam kemutlakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّ إِطْلَاقَهُ يُخْرِجُهُ عَنِ الْيَمِينِ لِأَنَّهُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ عُرْفُ شَرْعٍ وَتَكُونُ غَيْرَ يَمِينٍ فِي حَالَتَيْنِ وَيَمِينًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ

Salah satunya adalah bahwa jika lafaz tersebut diucapkan secara mutlak, maka hal itu mengeluarkannya dari kategori sumpah (yamin), karena tidak disertai dengan kebiasaan syariat; sehingga dalam dua keadaan ia bukan merupakan sumpah, dan hanya dalam satu keadaan ia menjadi sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّ إِطْلَاقَهُ يُوجِبُ أَنْ تَكُونَ يَمِينًا لِأَنَّ عُرْفَ الِاسْتِعْمَالِ فِي الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ قَدْ صَارَ جَارِيًا وَمَحْمُولًا بَيْنَهُمْ عَلَى زِيَادَةِ التَّغْلِيظِ كَمَا يَزِيدُ فِي تَغْلِيظِ الْأَيْمَانِ بِاللَّهِ الطَّالِبِ الْغَالِبِ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ فَتَكُونُ يَمِينًا في حالتين غير يَمِينٍ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِذَا صَارَ عَهْدُ اللَّهِ وَمِيثَاقُهُ يَمِينًا وَقَدْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا وَحَنِثَ لَزِمَتْهُ كَفَارَّةٌ وَاحِدَةٌ

Pendapat kedua adalah bahwa pengucapan sumpah tersebut menyebabkan ia menjadi sebuah yamin (sumpah), karena kebiasaan penggunaan di kalangan khusus maupun umum telah berlaku dan dipahami di antara mereka sebagai bentuk penegasan tambahan, sebagaimana penegasan dalam sumpah dengan nama Allah yang Maha Penuntut lagi Maha Mengalahkan. Ini adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi. Maka, sumpah itu menjadi yamin dalam dua keadaan dan bukan yamin dalam satu keadaan. Jika janji Allah dan perjanjian-Nya telah menjadi yamin, lalu seseorang menggabungkan keduanya dan melanggarnya, maka ia hanya wajib membayar satu kafarat.

وَقَالَ مَالِكٌ تَلْزَمُهُ كَفَّارَتَانِ لِوُجُوبِهَا بِكُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا فَتَضَاعَفَتْ بِاجْتِمَاعِهِمَا وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّهَا يَمِينٌ وَاحِدَةٌ زَادَهَا تَغْلِيظًا فَلَمْ تَجِبْ بِهَا إِلَّا كَفَّارَةٌ وَاحِدَةٌ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ الطَّالِبِ الْغَالِبِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Malik berkata, “Wajib atasnya dua kafarat karena kewajiban itu timbul dari masing-masing sumpah, sehingga menjadi dua kali lipat karena keduanya berkumpul.” Namun, pendapat ini tidak benar, karena itu adalah satu sumpah saja yang ditambah dengan penegasan, sehingga tidak wajib kecuali satu kafarat saja, seperti ucapannya, “Demi Allah, Yang Maha Mencari lagi Maha Mengalahkan.” Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

باب الاستثناء في الأيمان
Bab Istisna’ (pengecualian) dalam Sumpah

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ حَلَفَ بِأَيِّ يمينٍ كَانَتْ ثُمَّ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَوْصُولًا بِكَلَامِهِ فَقَدِ اسْتَثْنَى

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa bersumpah dengan sumpah apa pun, kemudian mengucapkan “insya Allah” yang disambungkan dengan ucapannya, maka ia telah membuat pengecualian.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ الِاسْتِثْنَاءُ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ فِي الْأَيْمَانِ والنذور يمنع من انعقادها وتسقط حُكْمُهَا فِي الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ سَوَاءٌ كَانَتِ الْيَمِينُ بِاللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِالطَّلَاقِ وَالْعِتْقِ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini seperti halnya pengecualian dengan kehendak Allah dalam sumpah dan nazar, yang mencegah terjadinya dan menggugurkan hukumnya, baik dalam penetapan maupun penafian, baik sumpah itu dengan nama Allah Ta‘ala, atau dengan talak maupun pembebasan budak.”

وَقَالَ مَالِكٌ يَصِحُّ الِاسْتِثْنَاءُ فِي الْيَمِينِ بِاللَّهِ وَلَا يَصِحُّ فِي الطَّلَاقِ وَالْعِتْقِ وَالنُّذُورِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي كِتَابِ الطَّلَاقِ وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَيْهِ رِوَايَةُ أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَقَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقَدِ اسْتَثْنَاهُ

Malik berkata, istitsna’ (pengecualian dengan ucapan “insya Allah”) sah dalam sumpah dengan nama Allah, namun tidak sah dalam talak, pembebasan budak, dan nadzar. Pembahasan tentang hal ini telah disebutkan bersamanya dalam Kitab Talak. Di antara dalil tentang hal ini adalah riwayat Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah lalu mengucapkan ‘insya Allah’, maka ia telah mengecualikannya.”

وَرَوَى طَاوُسٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَقَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ فَكَانَ ذَلِكَ عَلَى عُمُومِهِ فِي كُلِّ يَمِينٍ وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ تَعْلِيقُ جَمِيعِ الْأَيْمَانِ مِنْ عِتْقٍ وَطَلَاقٍ وَغَيْرِهِ بِالشُّرُوطِ وَالصِّفَاتِ كَانَ تَعْلِيقُهَا بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْلَى وَمَشِيئَةُ اللَّهِ غَيْرُ مَعْلُومَةٍ فِيهَا فَلَمْ تَنْعَقِدْ كَمَا لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ الدَّارَ إِنْ شَاءَ زَيْدٌ أَوْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ أَنْتِ طَالِقٌ إِنْ شَاءَ عَمْرٌو أَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ إِنْ شَاءَ بَكْرٌ وَلَمْ تُعْلَمْ مَشِيئَتُهُمْ حَتَّى مَاتُوا سَقَطَتْ أَحْكَامُ هَذِهِ كُلُّهَا لِعَدَمِ الْعِلْمِ بِهَا

Tawus meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah lalu ia mengucapkan ‘insya Allah’, maka ia tidak berdosa melanggarnya.” Maka hal itu berlaku secara umum pada setiap sumpah. Karena ketika diperbolehkan menggantungkan seluruh sumpah, baik yang berkaitan dengan pembebasan budak, talak, maupun selainnya, pada syarat dan sifat tertentu, maka menggantungkan sumpah itu pada kehendak Allah Ta‘ala lebih utama. Dan kehendak Allah tidak diketahui dalam hal ini, sehingga sumpah itu tidak menjadi sah, sebagaimana jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk rumah jika Zaid menghendaki,” atau ia berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Amr menghendaki,” atau ia berkata kepada budaknya, “Engkau merdeka jika Bakr menghendaki,” lalu kehendak mereka tidak diketahui hingga mereka meninggal dunia, maka seluruh hukum tersebut gugur karena tidak diketahuinya kehendak itu.

فَإِنْ قِيلَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَشَاءُ الْعِتْقَ؟

Jika dikatakan, “Bukankah Allah Ta‘ala menghendaki pembebasan (budak)?”

قِيلَ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَشَاءَهُ فِي الْحَالِ وَيَجُوزُ أَنْ لَا يَشَاءَهُ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَشَاءَ الطَّلَاقَ؟ لِأَنَّهُ قَدْ أَبَاحَهُ وَالْمُبَاحُ دَاخِلٌ فِي مَشِيئَتِهِ

Dikatakan, boleh jadi Allah menghendakinya pada saat itu, dan boleh jadi tidak menghendakinya, serta boleh jadi Allah menghendaki terjadinya talak; karena Dia telah membolehkannya, dan sesuatu yang mubah termasuk dalam kehendak-Nya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَالْوَصْلُ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ نَسَقًا وَإِنْ كَانَتْ بَيْنَهُ سكتةٌ كَسَكْتَةِ الرَّجُلِ لِلتَّذَكُّرِ أَوِ الْعِيِّ أَوِ التَّنَفُّسِ أَوِ انْقِطَاعِ الصَّوْتِ فَهُوَ استثناءٌ وَالْقَطْعُ أَنْ يَأْخُذَ فِي كلامٍ لَيْسَ مِنَ الْيَمِينِ مِنْ أمرٍ أَوْ نهيٍ أَوْ غَيْرِهِ أَوْ يَسْكُتَ السُّكُوتَ الَّذِي يُبَيِّنُ أَنَّهُ قَطَعَ

Imam Syafi‘i berkata, “Al-washl (penyambungan) adalah ketika suatu ucapan berlangsung secara berurutan, meskipun di antara ucapan itu terdapat jeda, seperti jedanya seseorang untuk mengingat, karena kebingungan, untuk bernapas, atau karena terputusnya suara; maka ini merupakan pengecualian. Sedangkan al-qat‘ (pemutusan) adalah ketika seseorang memulai pembicaraan yang bukan bagian dari sumpah, baik berupa perintah, larangan, atau selainnya, atau ia diam dengan diam yang menunjukkan bahwa ia telah memutus (pembicaraan).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ فِي الْأَيْمَانِ كُلِّهَا مَانِعٌ مِنَ انْعِقَادِهَا وَهُوَ جَائِزٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الظَّاهِرِ عَلَى وُجُوبِ الِاسْتِثْنَاءِ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى احْتِجَاجًا بِقَوْلِ الله تعالى وَلاَ تَقُولَنَّ بِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلَكَ غَدَاً إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa istitsnā’ (pengecualian) dalam seluruh sumpah merupakan penghalang dari terjadinya sumpah tersebut, dan hal itu diperbolehkan namun tidak wajib. Sebagian ahli Zhahir berpendapat bahwa istitsnā’ dengan menyebut kehendak Allah Ta‘ala adalah wajib, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah’.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِي الِاسْتِثْنَاءِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ اسْتَثْنَى فِي يَمِينِهِ تَارَةً وَلَمْ يَسْتَثْنِ فِيهَا أُخْرَى فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَآلَى مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا وَلَمْ يَسْتَثْنِ

Dan dalil bahwa seseorang diberi pilihan dalam melakukan istitsnā’ (pengecualian) adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang melakukan istitsnā’ dalam sumpahnya dan kadang-kadang tidak melakukannya. Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy, insya Allah,” dan beliau pernah mengasingkan diri dari istri-istrinya selama sebulan tanpa melakukan istitsnā’.

وَرَوَى ابْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ يَحْلِفُ بِهَذِهِ الْيَمِينِ لَا وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bersumpah dengan sumpah ini: “Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”

رَوَى أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ إِذَا اجْتَهَدَ فِي الْيَمِينِ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ أَبِي الْقَاسِمِ بِيَدِهِ

Abu Sa‘id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bersungguh-sungguh dalam sumpahnya, beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwa Abu al-Qasim berada di tangan-Nya.”

وَلِأَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ سَبَبٌ يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى حَلِّ الْيَمِينِ فَلَمْ يَجِبْ كَالْحِنْثِ

Dan karena istisnā’ (pengecualian) merupakan sebab yang dapat digunakan untuk melepaskan sumpah, maka tidaklah wajib (kafarat) sebagaimana halnya pelanggaran sumpah (hinth).

فَأَمَّا الْآيَةُ فَوَارِدَةٌ عَلَى طَرِيقِ الْإِرْشَادِ وَالتَّأْدِيبِ أَنْ لَا يَعْزِمَ عَلَى أَمْرٍ إِلَّا أَنْ يُقْرِنَهُ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْأَيْمَانِ وَغَيْرِهَا لِيَكُونَ بِاللَّهِ مُسْتَعِينًا وَإِلَيْهِ مُفَوِّضًا

Adapun ayat tersebut datang dalam rangka memberikan petunjuk dan pendidikan, yaitu agar seseorang tidak bertekad melakukan suatu perkara kecuali dengan mengaitkannya dengan kehendak Allah Ta‘ala, baik dalam sumpah maupun selainnya, agar ia senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dan menyerahkan urusannya kepada-Nya.

فَصْلٌ

Bab

فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ الِاسْتِثْنَاءِ دُونَ وُجُوبِهِ فَلَا تَأْثِيرَ لِاسْتِثْنَائِهِ إِلَّا أَنْ يَقُولَهُ مَوْصُولًا بِكَلَامِهِ فَإِنِ انْقَطَعَ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ حُكْمٌ وَحُكِيَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعَطَاءٍ أَنَّهُ إِنِ اسْتَثْنَى فِي مَجْلِسِ يَمِينِهِ صَحَّ وَإِنِ اسْتَثْنَى بَعْدَ فَرَاغِهِ لَمْ يَصِحَّ وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رِوَايَتَانِ

Jika telah tetap bahwa istitsnā’ (pengecualian) itu boleh tanpa wajib, maka istitsnā’ tersebut tidak berpengaruh kecuali jika diucapkan bersambung dengan perkataannya. Jika terputus darinya, maka tidak ada hukumnya. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan ‘Aṭā’ bahwa jika seseorang melakukan istitsnā’ dalam majelis sumpahnya, maka itu sah; dan jika ia melakukan istitsnā’ setelah selesai, maka tidak sah. Dari Ibnu ‘Abbās terdapat dua riwayat.

إِحْدَاهُمَا إِنَّ الِاسْتِثْنَاءَ يَصِحُّ أَبَدًا فِي طَوِيلِ الزَّمَانِ وَقَصِيرِهِ

Salah satunya adalah bahwa istitsnā’ (pengecualian) tetap sah berlaku baik dalam jangka waktu yang panjang maupun pendek.

وَالثَّانِيَةُ إِنَّهُ يَصِحُّ إِلَى حِينٍ وَالْحِينُ عِنْدَهُ سَنَةٌ وَلَا يَصِحُّ بَعْدَهَا احْتِجَاجًا بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاذْكُر رَبَّكَ إذَا نَسِيْتَ أَيْ اذْكُرِ الِاسْتِثْنَاءَ إِذَا نسيته فعم الْأَمْرَ مِنْ غَيْرِ تَحْدِيدٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu sah sampai waktu tertentu, dan waktu tersebut menurutnya adalah satu tahun. Setelah itu tidak lagi sah, dengan dalil firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan ingatlah Tuhanmu jika kamu lupa,” yaitu ingatlah istitsnā’ (pengecualian) jika kamu melupakannya, karena perintah tersebut bersifat umum tanpa ada batasan tertentu.

ورَوَى عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ الِاسْتِثْنَاءِ مُتَّصِلًا أَوْ مُنْفَصِلًا

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy, demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy, demi Allah, sungguh aku akan memerangi Quraisy,” lalu beliau diam, kemudian berkata, “Insya Allah.” Maka hal ini menunjukkan bolehnya istitsna’ (pengecualian dengan ucapan ‘insya Allah’) baik secara langsung maupun terpisah.

وَالدَّلِيلُ عَلَى بُطْلَانِ الِاسْتِثْنَاءِ بَعْدَ انقطاعه قول الله تعالى وَلاَ تَقُولَنَّ بِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلَكَ غَدَاً إلاَّ أنْ يَشَاءَ اللهُ فَجَعَلَ الِاسْتِثْنَاءَ عَلَى الْفَوْرِ دُونَ التَّرَاخِي وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ من خلف فَقَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهِ فَقَدِ اسْتَثْنَى فَذَكَرَ الِاسْتِثْنَاءَ بِحَرْفِ الْفَاءِ الْمُوجِبَةِ لِلتَّعْقِيبِ وَالْفَوْرِ

Dalil tentang batalnya istitsnā’ (pengecualian) setelah terputus adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok,’ kecuali dengan mengatakan, ‘Insya Allah.’” Maka Allah menjadikan istitsnā’ itu harus segera, bukan ditunda-tunda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa bersumpah lalu berkata, ‘Insya Allah,’ maka ia telah melakukan istitsnā’.” Beliau menyebutkan istitsnā’ dengan huruf “fa” yang menunjukkan makna segera dan berurutan.

وَلِأَنَّ عُرْفَ النَّاسِ فِي الْكَلَامِ الْمُنْفَصِلِ أَنْ يَكُونَ مُخَالِفًا لِلْكَلَامِ الْمُتَّصِلِ؟ أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ وَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ زَمَانٍ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ عَتَقَ بِالْكَلَامِ الْأَوَّلِ وَلَمْ يَكُنْ مَا ذَكَرَهُ مِنْ دُخُولِ الدَّارِ شَرْطًا وَلَوْ قَالَ لَهُ عَلَيَّ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ وَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ وَقْتٍ إِلَّا خَمْسَةً لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ اسْتِثْنَاءً وَلَزِمَتْهُ الْعَشَرَةُ لِاسْتِقْرَارِ حُكْمِ الْكَلَامِ بِالسُّكُوتِ عَلَيْهِ كَذَلِكَ الِاسْتِثْنَاءُ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى

Karena kebiasaan manusia dalam ucapan yang terpisah adalah berbeda dengan ucapan yang bersambung. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang berkata kepada budaknya, “Kamu merdeka,” lalu diam, kemudian setelah beberapa waktu ia berkata, “Jika kamu masuk ke rumah,” maka kemerdekaan itu berlaku berdasarkan ucapan yang pertama, dan apa yang ia sebutkan tentang masuk ke rumah tidak menjadi syarat. Dan jika ia berkata, “Kamu berutang kepadaku sepuluh dirham,” lalu diam, kemudian setelah beberapa waktu ia berkata, “kecuali lima,” maka itu tidak dianggap sebagai pengecualian, dan ia tetap wajib membayar sepuluh dirham karena hukum ucapan telah tetap dengan diamnya atas ucapan tersebut. Demikian pula pengecualian dengan “insyā’ Allāh Ta‘ālā.”

وَلِأَنَّهُ لَوْ صَحَّ الِاسْتِثْنَاءُ بَعْدَ طَوِيلِ الزَّمَانِ لَسَقَطَتْ كَفَّارَاتُ الْأَيْمَانِ بِاسْتِثْنَائِهِ قَبْلَ الْحِنْثِ

Dan karena jika istitsna’ (pengecualian) setelah waktu yang lama dianggap sah, niscaya kafarat sumpah akan gugur hanya dengan melakukan istitsna’ sebelum terjadinya pelanggaran.

وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيْتَ فَقَدْ قَالَ عِكْرِمَةُ مَعْنَاهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا غَضِبْتَ لِيَزُولَ عَنْكَ الْغَضَبُ عِنْدَ ذِكْرِهِ وَأَمَّا الْخَبَرُ فَقَدْ ذَكَرَ السَّاجِيُّ أَنَّهُ مُرْسَلٌ رَوَاهُ عِكْرِمَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ولو صح جاز أن يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى سُكُوتِهِ لِانْقِطَاعِ النَّفَسِ أَوْ قَالَهُ بَعْدَ تَطَاوُلِ الزَّمَانِ اسْتِعَانَةً بِمَشِيئَةِ اللَّهِ عَلَى مَقَاصِدِهِ وَإِنْ لَمْ يَجْعَلْهُ اسْتِثْنَاءً فِي يَمِينِهِ؟ لِأَنَّهُ قَدْ وَفَّى بِهَا فِي غَزْوِ قُرَيْشٍ

Adapun firman Allah Ta‘ala, “Dan ingatlah Tuhanmu ketika kamu lupa,” Ikrimah berkata bahwa maknanya adalah: ingatlah Tuhanmu ketika kamu marah, agar kemarahan itu hilang darimu ketika mengingat-Nya. Adapun hadis, as-Saji menyebutkan bahwa hadis tersebut mursal, diriwayatkan oleh Ikrimah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika hadis itu sahih, maka boleh jadi maksudnya adalah beliau diam karena terputusnya napas, atau beliau mengucapkannya setelah waktu yang lama sebagai permohonan pertolongan kepada kehendak Allah atas maksud-maksudnya, meskipun beliau tidak menjadikannya sebagai istitsna’ (pengecualian) dalam sumpahnya, karena beliau telah menunaikannya dalam perang melawan Quraisy.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ اعْتِبَارُ الِاسْتِثْنَاءِ بِالِاتِّصَالِ دُونَ الِانْفِصَالِ فَالْمُتَّصِلُ مَا وَصَفَهُ الشَّافِعِيُّ أَنْ يَصِلَهُ بِيَمِينِهِ عَلَى نَسَقٍ فَإِنْ سَكَتَ لِنَحْنَحَةٍ وَانْقِطَاعِ نَفَسٍ أَوْ عَجْزٍ أَوْ تَذَكُّرِ كَلَامٍ لَمْ يَكُنْ قَطْعًا وَكَانَ كَالْمُتَّصِلِ لِأَنَّ الْكَلَامَ لا يمتد ولا بد أن يتخلله سكتات الِاسْتِرَاحَةِ فَأَمَّا إِنْ سَكَتَ بِغَيْرِ هَذَا أَوْ تَكَلَّمَ بَيْنَ الْيَمِينِ وَالِاسْتِثْنَاءِ بِمَا خَرَجَ عَنْهُ مِنْ أَمْرٍ وَنَهْيٍ وَكَلَامٍ لَا تَعَلُّقَ لَهُ بِالْيَمِينِ وَالِاسْتِثْنَاءِ بَطَلَ حُكْمُ الِاسْتِثْنَاءِ لِأَنَّ اسْتِقْرَارَ الْيَمِينِ بِالْخُرُوجِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا

Jika telah tetap bahwa yang diperhitungkan dalam istisna’ (pengecualian) adalah keterhubungan (ittishāl), bukan keterpisahan (infishāl), maka yang dimaksud dengan keterhubungan adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh asy-Syafi‘i, yaitu menghubungkan istisna’ dengan sumpahnya secara berurutan. Jika ia diam karena berdeham, terputus napas, tidak mampu, atau sedang mengingat-ingat ucapan, maka itu tidak dianggap sebagai pemutusan dan tetap dianggap sebagai keterhubungan, karena ucapan tidak bisa berlangsung terus-menerus tanpa jeda dan pasti ada jeda istirahat. Adapun jika ia diam bukan karena hal-hal tersebut, atau berbicara di antara sumpah dan istisna’ dengan sesuatu yang keluar dari konteks sumpah, baik berupa perintah, larangan, atau ucapan yang tidak ada kaitannya dengan sumpah dan istisna’, maka batal hukum istisna’ tersebut, karena sumpah telah menjadi tetap dengan keluarnya dari konteks sumpah menuju hal lain.

فَصْلٌ

Bagian

ثُمَّ لَا يَصِحُّ الِاسْتِثْنَاءُ فِيهَا مَعَ الِاتِّصَالِ إِلَّا بِالْكَلَامِ فَإِنْ نَوَاهُ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِهِ لَمْ يَصِحَّ لِأَنَّ الْيَمِينَ لَمَّا يَنْعَقِدْ بِالنِّيَّةِ لَمْ يَصِحَّ الِاسْتِثْنَاءُ فِيهَا بِالنِّيَّةِ وَلَزِمَ أَنْ يَكُونَ الِاسْتِثْنَاءُ نُطْقًا كَمَا لَزِمَ أَنْ يَكُونَ الْيَمِينُ نُطْقًا

Kemudian, istisna’ (pengecualian) dalam sumpah tidak sah jika dilakukan secara bersambung kecuali dengan ucapan. Jika seseorang meniatkannya dalam hati namun tidak mengucapkannya, maka tidak sah, karena sumpah tidak terikat dengan niat, maka istisna’ di dalamnya pun tidak sah hanya dengan niat. Oleh karena itu, istisna’ harus diucapkan sebagaimana sumpah juga harus diucapkan.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ وَنَوَى بِقَلْبِهِ إِنْ دَخَلَ الدَّارَ كَانَ شَرْطًا فِي عِتْقِهِ فِيمَا بَيْنَهُ وبين الله تعالى وكلا يَعْتِقُ عَلَيْهِ إِلَّا بِدُخُولِ الدَّارِ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ نُطْقًا فَهَذَا كَانَ الِاسْتِثْنَاءُ هَكَذَا

Jika dikatakan: Bukankah jika seseorang berkata kepada hambanya, “Engkau merdeka,” dan dalam hatinya ia berniat bahwa kemerdekaan itu terjadi jika sang hamba masuk ke dalam rumah, maka hal itu menjadi syarat dalam memerdekakan hambanya di antara dirinya dengan Allah Ta‘ala, sehingga sang hamba tidak menjadi merdeka kecuali setelah masuk ke dalam rumah, meskipun syarat itu tidak diucapkan secara lisan? Maka demikianlah pengecualian itu adanya.

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya dilihat dari dua aspek.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ رَافِعٌ كَالنَّسْخِ وَلَا يَكُونُ النَّسْخُ إِلَّا بِالْكَلَامِ كَذَلِكَ الِاسْتِثْنَاءُ وَالشَّرْطُ تَخْصِيصُ بَعْضِهِ وَتَخْصِيصُ الْعُمُومِ يَجُوزُ بِالْقِيَاسِ مِنْ غَيْرِ كَلَامٍ

Salah satunya adalah bahwa istisna’ (pengecualian) itu membatalkan seperti nasakh (penghapusan hukum), dan nasakh tidak terjadi kecuali dengan ucapan (teks), demikian pula istisna’. Sedangkan syarat adalah pengkhususan sebagian dari hukum, dan pengkhususan keumuman boleh dilakukan dengan qiyās tanpa memerlukan ucapan (teks).

وَالثَّانِي إِنَّهُ مُبْطِلٌ لِظَاهِرِ الْكَلَامِ فَلَمْ يَبْطُلْ إِلَّا بِمِثْلِهِ مِنْ كَلَامٍ ظَاهِرٍ وَالشَّرْطُ مُثْبَتٌ فَحَمْلُ الْكَلَامِ الْمُحْتَمَلِ عَلَى مُقْتَضَى الشَّرْطِ فَلَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى الكلام فافترقا

Kedua, sesungguhnya syarat itu membatalkan makna lahiriah dari ucapan, maka ia tidak batal kecuali dengan ucapan lain yang juga bersifat lahiriah. Syarat itu telah ditetapkan, sehingga membawa ucapan yang masih mengandung kemungkinan makna kepada konsekuensi syarat tersebut tidak membutuhkan ucapan lain. Maka keduanya pun berbeda.

ثُمَّ لَا حُكْمَ لِتَلَفُّظِهِ فِي الِاسْتِثْنَاءِ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى حِينَ يَقُولُهُ نَاوِيًا بِهِ الِاسْتِثْنَاءَ فَإِنْ لَمْ يَنْوِهِ وَسِيقَ فِي لِسَانِهِ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ أَوْ جَرَى بِهِ عَادَتُهُ أَنْ يَذْكُرَ مَشِيئَةَ اللَّهِ تَعَالَى فِي سَائِرِ أَحْوَالِهِ لَمْ يَكُنِ اسْتِثْنَاءً

Kemudian, tidak ada hukum bagi ucapannya dalam istitsna’ (pengecualian) dengan menyebut “insya Allah” ketika ia mengucapkannya dengan maksud istitsna’. Jika ia tidak meniatkannya, dan ucapan itu keluar dari lisannya tanpa sengaja, atau sudah menjadi kebiasaannya untuk menyebut “insya Allah” dalam berbagai keadaan, maka itu tidak dianggap sebagai istitsna’.

أَلَا تَرَى أَنَّ عَقْدَ الْيَمِينِ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَالْقَصْدِ وَيَكُونُ اللَّغْوُ فِيهَا عَفْوًا كَذَلِكَ اسْتِثْنَاؤُهَا وَإِذَا ثَبَتَ اعْتِبَارُ النِّيَّةِ فِي الِاسْتِثْنَاءِ نُظِرَ فَإِنْ قَصَدَ الِاسْتِثْنَاءَ عِنْدَ التَّلَفُّظِ بِيَمِينِهِ صَحَّ إِذَا تَكَلَّمَ بِهِ بَعْدَ يَمِينِهِ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ مَعَ ابْتِدَاءِ الْيَمِينِ وَقَصَدَهُ مَعَ التَّلَفُّظِ بِالِاسْتِثْنَاءِ فَفِي صِحَّتِهِ وَجْهَانِ

Tidakkah engkau melihat bahwa akad sumpah tidak sah kecuali dengan niat dan maksud, dan lafaz yang sia-sia di dalamnya dimaafkan, demikian pula pengecualiannya. Jika telah tetap bahwa niat diperhitungkan dalam pengecualian, maka diperhatikan: jika seseorang bermaksud melakukan pengecualian saat mengucapkan sumpahnya, maka pengecualian itu sah apabila diucapkan setelah sumpahnya. Namun jika ia tidak berniat sejak awal sumpah, lalu berniat saat mengucapkan pengecualian, maka dalam keabsahannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَصِحُّ لِوُجُودِ الْقَصْدِ فِيهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ

Salah satunya sah karena adanya niat ketika menyebutkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَصِحُّ لِإِطْلَاقِ الْيَمِينِ عِنْدَ ذِكْرِهِا وَيَجُوزُ أَنْ يَتَقَدَّمَ الِاسْتِثْنَاءُ عَلَى الْيَمِينِ فَيَقُولَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الِاسْتِثْنَاءُ وَسَطًا فَيَقُولَ وَاللَّهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا لِأَنَّهُ يَكُونُ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا مُتَّصِلًا بِكَلَامِهِ الَّذِي يُعْتَبَرُ حُكْمُ أَوَّلِهِ بِآخِرِهِ وَحُكْمُ آخِرِهِ بِأَوَّلِهِ وَسَوَاءٌ قَالَ فِي اسْتِثْنَائِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَوْ إِنْ أَحَبَّ اللَّهُ وَإِنِ اخْتَارَ اللَّهُ كُلُّ ذَلِكَ اسْتِثْنَاءٌ

Pendapat kedua tidak sah karena sumpah diucapkan secara mutlak ketika disebutkan, dan boleh mendahulukan istisna’ (pengecualian) atas sumpah, sehingga seseorang berkata, “Jika Allah menghendaki, demi Allah, aku tidak akan berbicara dengan Zaid.” Dan boleh juga istisna’ itu berada di tengah, sehingga ia berkata, “Demi Allah, jika Allah menghendaki, aku tidak akan berbicara dengan Zaid,” karena dalam semua keadaan itu istisna’ tetap terhubung dengan ucapannya, di mana hukum awalnya bergantung pada akhirnya, dan hukum akhirnya bergantung pada awalnya. Sama saja apakah dalam istisna’nya ia berkata, “Jika Allah menghendaki,” atau “Jika Allah menghendaki,” atau “Jika Allah mencintai,” atau “Jika Allah memilih,” semua itu adalah istisna’.

وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ أَوْ بِإِرَادَةِ اللَّهِ أَوْ بِاخْتِيَارِ اللَّهِ فَكُلُّهُ استثناء والله أعلم بالصواب ,

Demikian pula, jika seseorang berkata “dengan kehendak Allah” atau “dengan iradah Allah” atau “dengan ikhtiar Allah”, maka semuanya itu merupakan istitsna’, dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

مسألة

Masalah

قال الشافعي لَوْ قَالَ فِي يَمِينِهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا لوقتٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ فلانٌ فَإِنْ شَاءَ فلانٌ لم يحنث وإن مات أو غبي عَنَّا حَتَّى مَضَى الْوَقْتُ حَنِثَ قَالَ الْمُزَنِيُّ قَالَ بِخَلَافِهِ فِي بَابِ جَامِعِ الْأَيْمَانِ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang dalam sumpahnya mengatakan, “Aku pasti akan melakukan ini pada waktu tertentu kecuali jika si Fulan menghendaki,” maka jika si Fulan menghendaki, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, jika si Fulan meninggal atau tidak diketahui keberadaannya hingga waktu itu berlalu, maka ia dianggap melanggar sumpah. Al-Muzani berkata: Ia berpendapat sebaliknya dalam bab Jāmi‘ al-Aymān.

قَالَ الماوردي قال المزني وَصُورَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يَقُولَ الْحَالِفُ وَاللَّهِ لَأَدْخُلَنَّ هَذِهِ الدَّارَ الْيَوْمَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ زَيْدٌ فَعَيَّنَ وَقْتَ دُخُولِهِ فِي يَوْمِهِ فَلَا يَبَرُّ بِالدُّخُولِ فِي غَيْرِهِ وَجَعَلَ مَشِيئَةَ زَيْدٍ اسْتِثْنَاءً لِيَمِينِهِ فَتَعَلَّقَ بِمَشِيئَةِ زَيْدٍ أَمْرَانِ

Al-Mawardi berkata: Al-Muzani berkata, “Gambaran masalah ini adalah seseorang bersumpah, ‘Demi Allah, aku pasti akan masuk ke rumah ini hari ini kecuali jika Zaid menghendaki.’ Maka ia telah menentukan waktu masuknya pada hari itu, sehingga ia tidak dianggap memenuhi sumpah jika masuk di hari lain. Ia menjadikan kehendak Zaid sebagai pengecualian dari sumpahnya, sehingga ada dua hal yang bergantung pada kehendak Zaid.”

أَحَدُهُمَا صِفَةُ مَشِيئَتِهِ الْمَشْرُوطَةِ

Salah satunya adalah sifat kehendak-Nya yang bersyarat.

وَالثَّانِي حُكْمُهَا فِي الشَّرْطِ فَأَمَّا صِفَةُ مَشِيئَتِهِ فَهُوَ أَنْ يَشَاءَ أَنْ لَا يَدْخُلَ الْحَالِفُ الدَّارَ لِأَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ ضِدُّ المستثنى منه لأنه مِنْ حُكْمِ الِاسْتِثْنَاءِ إِذَا عَادَ إِلَى إِثْبَاتٍ أَنْ يَكُونَ نَفْيًا وَإِذَا عَادَ إِلَى نَفْيٍ أَنْ يَكُونَ إِثْبَاتًا فَإِنْ قَالَ الْحَالِفُ أَرَدْتُ إلا أن يشاء زيد دخولي فلا الْتَزَمَ الدُّخُولَ حُمِلَتِ الْمَشِيئَةُ عَلَى إِرَادَتِهِ لِاحْتِمَالِهَا وَإِنْ خَالَفَتْ حُكْمَ الِاسْتِثْنَاءِ وَأَمَّا حُكْمُ مَشِيئَةِ زَيْدٍ فَهُوَ مَعَ الْيَمِينِ بَعْدَ انْعِقَادِهَا فَتَكُونُ مَشِيئَةُ زَيْدٍ رَافِعَةً لِعَقْدِ يَمِينِ الْحَالِفِ لِأَنَّهُ جَعَلَهَا اسْتِثْنَاءً وَلَمْ يَجْعَلْهَا شَرْطًا وَالِاسْتِثْنَاءُ يَنْفِي الإثبات وَيُثْبِتُ النَّفْيَ وَالْيَمِينٌ ثَابِتَةٌ فَكَانَ اسْتِثْنَاؤُهَا نَفْيًا فَلَوْ قَالَ أَرَدْتُ أَنْ تَكُونَ مَشِيئَةُ زَيْدٍ شَرْطًا فِي إِثْبَاتِ الْيَمِينِ لَمْ يُعْمَلْ عَلَى إِرَادَتِهِ لِأَنَّهَا تُحِيلُ حَقِيقَةَ لَفْظِهِ بِمَا لَا يَحْتَمِلُهُ لِأَنَّ قَوْلَهُ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ زَيْدٌ ضِدُّ قَوْلِهِ إِنْ شَاءَ زيدٌ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعَلَّقَ عَلَى اللَّفْظِ حُكْمُ هَذِهِ وَخَالَفَ صِفَةَ الْمَشِيئَةِ إِذَا أَرَادَ خِلَافَ إِطْلَاقِهَا لِاحْتِمَالِهِ فَإِذَا تَقَرَّرَتْ صُورَةُ الْمَسْأَلَةِ وَحُكْمُ الِاسْتِثْنَاءِ فِيهَا بِمَشِيئَةِ زَيْدٍ الرَّافِعِ لِعَقْدِ الْيَمِينِ فَلَا يَخْلُو حَالُ الْحَالِفِ مِنْ أَنْ يُوجَدَ فِيهِ الْبِرُّ أَوْ لَا يُوجَدَ فَإِنْ كَانَ الْبِرُّ مِنْهُ مَوْجُودًا بِدُخُولِ الدَّارِ فِي يَوْمِهِ فَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ سَوَاءٌ وُجِدَتْ مَشِيئَةُ زَيْدٍ أَوْ لَمْ تُوجَدْ لَكِنْ يَكُونُ دُخُولُهُ بَعْدَ مَشِيئَةِ زَيْدٍ دُخُولًا بَعْدَ ارْتِفَاعِ الْيَمِينِ فَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ وَدُخُولُهُ مَعَ عَدَمِ الْمَشِيئَةِ دُخُولًا يُوجِبُ الْبِرَّ فِي يَمِينِهِ وَإِنْ لَمْ يَدْخُلِ الْحَالِفُ الدَّارَ فِي يَوْمِهِ فَقَدَ عَدِمَ الْفِعْلَ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِهِ الْبِرُّ فَتُرَاعَى حِينَئِذٍ مَشِيئَةُ زَيْدٍ هَلِ ارْتَفَعَتِ الْيَمِينُ بِمَشِيئَتِهِ أَوْ كَانَتْ عَلَى انْعِقَادِهَا لِعَدَمِ مَشِيئَتِهِ وَلَا يَخْلُو حَالُ زَيْدٍ فِيهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Kedua, hukum syaratnya: Adapun sifat kehendaknya adalah bahwa ia menghendaki agar orang yang bersumpah tidak masuk ke dalam rumah, karena istisna’ (pengecualian) itu berlawanan dengan mustatsna minhu (yang dikecualikan darinya), sebab di antara hukum istisna’ adalah jika kembali kepada penetapan maka menjadi penafian, dan jika kembali kepada penafian maka menjadi penetapan. Jika orang yang bersumpah berkata, “Aku maksudkan kecuali jika Zaid menghendaki aku masuk,” maka ia tetap wajib masuk, dan kehendak (mashi’ah) itu dibawa kepada maksudnya karena adanya kemungkinan, meskipun bertentangan dengan hukum istisna’. Adapun hukum kehendak Zaid adalah bersama sumpah setelah terjadinya, maka kehendak Zaid menjadi pembatal akad sumpah orang yang bersumpah, karena ia menjadikannya sebagai istisna’ dan bukan sebagai syarat. Sedangkan istisna’ meniadakan penetapan dan menetapkan penafian, dan sumpah itu tetap, maka istisnanya menjadi penafian. Jika ia berkata, “Aku maksudkan agar kehendak Zaid menjadi syarat dalam penetapan sumpah,” maka tidak dianggap maksudnya, karena hal itu mengubah hakikat lafaznya dengan sesuatu yang tidak mungkin, sebab ucapannya ‘kecuali jika Zaid menghendaki’ berlawanan dengan ucapannya ‘jika Zaid menghendaki’, maka tidak boleh hukum ini digantungkan pada lafaz tersebut. Ia juga telah menyelisihi sifat kehendak jika ia menghendaki selain makna lahirnya karena adanya kemungkinan. Jika telah jelas bentuk masalah dan hukum istisna’ di dalamnya dengan kehendak Zaid yang membatalkan akad sumpah, maka keadaan orang yang bersumpah tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah terdapat pelaksanaan sumpah (birr) darinya atau tidak. Jika pelaksanaan sumpah itu ada, yaitu dengan masuk ke rumah pada harinya, maka tidak ada pelanggaran sumpah atasnya, baik kehendak Zaid ada maupun tidak ada. Namun, masuknya setelah adanya kehendak Zaid adalah masuk setelah sumpah terangkat, maka tidak terkait lagi dengan pelaksanaan sumpah maupun pelanggaran. Masuknya tanpa adanya kehendak adalah masuk yang menyebabkan pelaksanaan sumpahnya. Jika orang yang bersumpah tidak masuk ke rumah pada harinya, maka ia telah kehilangan perbuatan yang terkait dengan pelaksanaan sumpah, maka pada saat itu diperhatikan kehendak Zaid: apakah sumpah telah terangkat dengan kehendaknya ataukah tetap pada akadnya karena tidak adanya kehendak. Keadaan Zaid dalam hal ini tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ شَاءَ فَالْيَمِينُ قَدِ ارْتَفَعَتْ بِمَشِيئَتِهِ فَلَمْ يَحْنَثِ الْحَالِفُ بِتَرْكِ الدُّخُولِ لِارْتِفَاعِ الْيَمِينِ

Salah satunya adalah bahwa ia mengetahui bahwa ia telah menghendaki, maka sumpah itu telah gugur karena kehendaknya, sehingga orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpah dengan tidak masuk, karena sumpahnya telah gugur.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ زَيْدًا لَمْ يَشَأْ فَالْيَمِينُ مُنْعَقِدَةٌ لِعَدَمِ الشَّرْطِ فِي رَفْعِهَا وَالدُّخُولُ شَرْطٌ فِي الْبِرِّ فَيَكُونُ الحالف حانثاً بترك الدخول لإخلافه بِشَرْطِ الْبِرِّ

Bagian kedua adalah ketika seseorang mengetahui bahwa Zaid tidak menghendaki, maka sumpahnya tetap berlaku karena tidak terpenuhi syarat untuk membatalkannya, dan masuk (ke dalam rumah, misalnya) adalah syarat untuk menunaikan sumpah. Maka orang yang bersumpah menjadi melanggar sumpahnya jika ia tidak masuk, karena ia telah menyelisihi syarat penunaian sumpah.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَخْفَى مَشِيئَةُ زَيْدٍ فَلَمْ يَعْلَمْ هَلْ شَاءَ أَوْ لَمْ يَشَأْ فَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ عَلَى أَنَّ الْحَالِفَ يَحْنَثُ بِشَرْطِ الدُّخُولِ فَجَعَلَ الشك في المشيئة موجباً لسقوطها وجعل الْيَمِينُ عَلَى انْعِقَادِهَا فَأَوْقَعَ الْحِنْثَ فِيهَا وَنَقَلَ الرَّبِيعُ فِي كِتَابِ الْأُمِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي مَسْأَلَةٍ أُخْرَى ضِدَّ هَذَا الْجَوَابِ مَعَ وُجُوبِ اشْتِرَاكِهِمَا فِيهِ وَهُوَ إِذَا قَالَ الحَالِفُ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ فِي يَوْمِي هَذَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ زَيْدٌ فَدَخَلَهَا فِي يَوْمِهِ وَلَمْ يَعْلَمْ مَشِيئَةَ زَيْدٍ لَمْ يَحْنَثْ وَهُمَا فِي حُكْمِ الْمَشِيئَةِ سَوَاءٌ وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الصُّورَةِ لِأَنَّ الْيَمِينَ فِي الْمَسْأَلَةِ الْأُولَى مَعْقُودَةٌ عَلَى دُخُولِ الدَّارِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ مَعْقُودَةٌ عَلَى تَرْكِ دُخُولِهَا وَمَشِيئَةُ زَيْدٍ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ جَمِيعًا رَافِعَةٌ لِعَقْدِ الْيَمِينِ وَقَدْ جَعَلَ الشَّكَّ فِي مَشِيئَةِ زَيْدٍ رَافِعًا لِلْيَمِينِ فِي الْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ وَلَمْ يَجْعَلِ الشَّكَّ فِيهَا رَافِعًا لِلْيَمِينِ فِي الْمَسْأَلَةِ الْأُولَى وَلَوْلَا أَنَّ الرَّبِيعَ عَلَّلَ جَوَابَ الْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ زَيْدٌ قَدْ شَاءَ فَلَا يَحْنَثُ بِالشَّكِّ فَجَازَ أَنْ يُنْسَبَ الرَّبِيعُ إِلَى الْوَهْمِ أَوْ يُنْسَبَ الْكَاتِبُ إِلَى الْغَلَطِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ هَذَيْنِ الْجَوَابَيْنِ مَعَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى اسْتِوَاءِ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Bagian ketiga adalah ketika kehendak Zaid tidak diketahui, sehingga tidak diketahui apakah ia menghendaki atau tidak. Dalam masalah ini, asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa orang yang bersumpah dianggap melanggar sumpahnya dengan syarat masuk (ke rumah), sehingga beliau menjadikan keraguan dalam kehendak sebagai sebab gugurnya kehendak tersebut dan menjadikan sumpah itu tergantung pada terjadinya peristiwa tersebut, sehingga pelanggaran sumpah terjadi. Ar-Rabi‘ meriwayatkan dalam kitab al-Umm dari asy-Syafi‘i dalam masalah lain yang bertentangan dengan jawaban ini, padahal keduanya seharusnya sama, yaitu jika orang yang bersumpah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk rumah ini hari ini kecuali jika Zaid menghendaki,” lalu ia masuk ke rumah itu pada hari tersebut dan tidak mengetahui kehendak Zaid, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Padahal keduanya dalam hukum kehendak adalah sama, meskipun berbeda dalam bentuknya, karena sumpah dalam masalah pertama tergantung pada masuknya ke rumah, sedangkan dalam masalah kedua tergantung pada tidak masuknya ke rumah, dan kehendak Zaid dalam kedua masalah tersebut sama-sama membatalkan akad sumpah. Asy-Syafi‘i telah menjadikan keraguan dalam kehendak Zaid sebagai pembatal sumpah dalam masalah kedua, namun tidak menjadikannya sebagai pembatal sumpah dalam masalah pertama. Seandainya ar-Rabi‘ tidak memberikan alasan pada jawaban masalah kedua bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena mungkin saja Zaid telah menghendaki, sehingga tidak dianggap melanggar sumpah karena keraguan, maka mungkin ar-Rabi‘ dinisbatkan pada kekeliruan atau penulisnya pada kesalahan. Maka, para sahabat kami berbeda pendapat dalam perbedaan dua jawaban ini, meskipun mereka sepakat bahwa ketaatan dan pelanggaran sumpah dalam kedua masalah tersebut adalah sama, yaitu pada dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا أَنْ خَرَّجُوا جَوَابَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ إِلَى الْأُخْرَى وَحَمَلُوهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa mereka mengaitkan jawaban dari masing-masing kedua permasalahan itu kepada yang lainnya dan menjadikannya berdasarkan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِالشَّكِّ فِي مَشِيئَةِ زَيْدٍ إِثْبَاتًا لِعَقْدِ الْيَمِينِ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ لِأَنَّ الشَّكَّ فِي صِحَّةِ الِاسْتِثْنَاءِ يُوجِبُ سُقُوطَ حُكْمِهِ

Salah satunya adalah ia dianggap melanggar sumpah karena ragu terhadap kehendak Zaid, sebagai penetapan atas terjadinya akad sumpah dalam kedua permasalahan tersebut, karena keraguan terhadap keabsahan istisna’ menyebabkan gugurnya hukumnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِالشَّكِّ فِي مَشِيئَةِ زَيْدٍ إِثْبَاتًا لِصِحَّةِ الِاسْتِثْنَاءِ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ لِأَنَّ الشَّكَّ فِي كَفَّارَةِ الْحِنْثِ تُوجِبُ سُقُوطَهَا اسْتِصْحَابًا لِبَرَاءَةِ الذِّمَّةِ فَهَذَا أَحَدُ وَجْهَيْ أَصْحَابِنَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah karena ragu terhadap kehendak Zaid, sebagai penetapan atas sahnya istisna’ dalam kedua permasalahan tersebut. Sebab, keraguan dalam kewajiban kafarah pelanggaran menyebabkan gugurnya kewajiban itu, berdasarkan prinsip istishab atas kebersihan tanggungan. Inilah salah satu dari dua pendapat ulama mazhab kami.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَقَدْ حَكَاهُ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ وَأَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ لَيْسَ اخْتِلَافُ الْجَوَابَيْنِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ فَحَنَّثَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْمَسْأَلَةِ الْأُولَى إِذَا فَاتَ أَنْ يَسْتَدْرِكَ مَشِيئَةَ زَيْدٍ بِمَوْتِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ فِي الْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَةِ إِذَا أَمْكَنَ اسْتِدْرَاكُهَا بِغَيْبَتِهِ حَيًّا وَالتَّوَصُّلُ إِلَى الْعِلْمِ بِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, yang telah dinukil oleh Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah, adalah bahwa perbedaan dua jawaban itu bukan karena adanya dua pendapat, melainkan karena perbedaan dua keadaan. Maka, Imam Syafi‘i menyatakan sumpahnya batal dalam masalah pertama apabila telah terlewatkan untuk mengejar kehendak Zaid karena kematiannya, dan tidak batal dalam masalah kedua apabila masih mungkin untuk mengejarnya karena Zaid hanya sedang tidak hadir namun masih hidup, serta masih mungkin untuk mengetahui kehendaknya. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ لَمَّا نَقَلَ فِي مَسْأَلَةِ الْكِتَابِ أَنَّهُ يَحْنَثُ بِالشَّكِّ بِالْمَشِيئَةِ قَالَ قَدْ قَالَ خِلَافَهُ فِي بَابِ جَامِعِ الْأَيْمَانِ وَالَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ الْمُزَنِيُّ فِي بَابِ جَامِعِ الْأَيْمَانِ لَيْسَتِ الْمَسْأَلَةُ الَّتِي حَكَاهَا الرَّبِيعُ فِي كِتَابِ الْأُمِّ وَإِنَّمَا أَرَادَ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ إِذَا حلف ليضرب عبده مائة فضربه بضغثٍ يجمع مِائَةِ شِمْرَاخٍ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِأَيُّوبَ حِينَ حَلَفَ لَيَضْرِبِ امْرَأَتَهُ مِائَةً وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثاً فَاضْرِبْ بِهِ وَلاَ تَحْنَثْ فَإِذَا ضَرَبَ عَبْدَهُ بِمِائَةِ شِمْرَاخٍ مَجْمُوعَةٍ فَإِنْ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِوُصُولِ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ بَرَّ وإن أحاط عليه بِأَنَّهُ لَمْ يَصِلْ جَمِيعُهَا إِلَى بَدَنِهِ حَنِثَ وَإِنْ شَكَّ فِي وُصُولِ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَلَمْ نَجْعَلْهُ بِالشَّكِّ فِي وُصُولِ الضرب حانثاً فعبث إِلَى الْمُزَنِيِّ الْجَوَابَ فِي مَسْأَلَةِ الضَّرْبِ عَلَى مَا حَكَيْتُ وَفِي مَسْأَلَةِ الْمَشِيئَةِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا وَقَدْ يَقَعُ الْفَرْقُ بَيْنَ الشَّكِّ فِيهَا فَلَا يَحْنَثُ بِالشَّكِّ فِي وُصُولِ الضَّرْبِ وَيَحْنَثُ بِالشَّكِّ فِي وُجُودِ الْمَشِيئَةِ وَإِنْ كَانَ الْفَرْقُ ضَعِيفًا هُوَ أَنَّ الْفِعْلَ فِي وُصُولِ الضَّرْبِ قَدْ وُجِدَ فَغَلَبَ حُكْمُ الظَّاهِرِ فِي وُصُولِهِ وليس لوجود المشيئة فعل يعلم عَلَى ظَاهِرِهِ فَغَلَبَ حُكْمُ سُقُوطِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Adapun al-Muzani, ketika ia menukil dalam masalah kitab bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah karena ragu terkait syarat kehendak (masyi’ah), ia berkata bahwa Imam Syafi’i berpendapat sebaliknya dalam bab Jāmi‘ al-Aymān. Namun, yang dimaksud al-Muzani dalam bab Jāmi‘ al-Aymān bukanlah masalah yang diriwayatkan oleh ar-Rabi‘ dalam Kitab al-Umm, melainkan apa yang dikatakan Imam Syafi’i: jika seseorang bersumpah akan memukul budaknya seratus kali, lalu ia memukulnya dengan seikat yang terdiri dari seratus batang, sebagaimana firman Allah Ta‘ala kepada Nabi Ayyub ketika beliau bersumpah akan memukul istrinya seratus kali: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (batang), lalu pukullah dengannya dan janganlah kamu melanggar sumpah.” Maka jika ia memukul budaknya dengan seratus batang yang dikumpulkan, apabila ia yakin seluruh batang itu mengenai tubuh budaknya, maka ia telah menunaikan sumpahnya. Namun jika ia yakin bahwa tidak semua batang itu mengenai tubuh budaknya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia ragu apakah seluruh batang itu telah mengenai tubuh budaknya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, dan kami tidak menetapkan bahwa keraguan dalam mengenai pukulan menyebabkan ia melanggar sumpah. Maka jawaban kepada al-Muzani dalam masalah pukulan adalah sebagaimana yang aku sebutkan, dan dalam masalah kehendak (masyi’ah) sebagaimana yang telah kami jelaskan. Mungkin saja terdapat perbedaan antara keraguan dalam kedua masalah tersebut: tidak dianggap melanggar sumpah karena ragu dalam mengenai pukulan, namun dianggap melanggar sumpah karena ragu dalam keberadaan kehendak (masyi’ah), meskipun perbedaannya lemah. Hal itu karena perbuatan dalam mengenai pukulan telah terjadi, sehingga hukum zhahir lebih diutamakan dalam hal sampainya pukulan. Sedangkan dalam keberadaan kehendak (masyi’ah), tidak ada perbuatan yang secara zhahir dapat diketahui, sehingga hukum ketiadaannya lebih diutamakan. Allah-lah yang lebih mengetahui kebenaran.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ قَالَ فِي يَمِينِهِ لَا أَفْعَلُ كَذَا إِنْ شَاءَ فُلَانٌ فَفَعَلَ وَلَمْ يَعْرِفْ شَاءَ أَوْ لَمْ يَشَأْ لم يَحْنَثْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang bersumpah dengan ucapannya, “Aku tidak akan melakukan ini jika si fulan menghendaki,” lalu ia melakukannya dan ia tidak mengetahui apakah si fulan menghendaki atau tidak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَقُولَ الْحَالِفُ وَاللَّهِ لَأَدْخُلَنَّ الدَّارَ فِي يَوْمِي هَذَا إِنْ شَاءَ زَيْدٌ فَمَشِيئَةُ زيدٍ هُنَا شرطٌ فِي انْعِقَادِ الْيَمِينِ وَلَيَسَ بِشَرْطٍ فِي اسْتِثْنَائِهَا وَرَفْعِهَا فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْمَشِيئَةُ مُوَافِقَةً لِعَقْدِ الْيَمِينِ فَيَشَاءُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا بِخِلَافِ الْمَشِيئَةِ وَفِي الِاسْتِثْنَاءِ الَّذِي يَتَضَمَّنُ ضِدَّ مَا انْعَقَدَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَعْلَمَ مَشِيئَةَ زَيْدٍ أَوْ لَا يَعْلَمَ فَإِنْ عَلِمْنَا حَالَ مَشِيئَةٍ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا أَنْ تَكُونَ مُوَافِقَةً لِعَقْدِ الْيَمِينِ أَوْ مُخَالَفَةً فَإِنْ كَانَتْ مُوَافَقَةً لِعَقْدِ الْيَمِينِ وَهُوَ أَنْ يَشَاءَ زَيْدٌ أَنْ لَا يَدْخُلَ الْحَالِفُ الدَّارَ وَالْيَمِينُ مُنْعَقِدَةٌ لِوُجُودِ الشَّرْطِ فِي انْعِقَادِهَا فَلَا يَبَرُّ فِي يَمِينِهِ إِلَّا بِتَرْكِ دُخُولِهَا فِي يَوْمِهِ فَإِنْ دَخَلَهَا فِيهِ حَنِثَ وَإِنْ كَانَتْ مَشِيئَةُ زَيْدٍ مُخَالِفَةً لِعَقْدِ الْيَمِينِ لِأَنَّ زَيْدًا قَدْ شَاءَ دُخُولَ الْحَالِفِ إِلَيْهَا وَقَدْ حَلَفَ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا فَالْيَمِينُ غَيْرُ مُنْعَقِدَةٍ لِأَنَّ شَرْطَ انْعِقَادِهَا فِي الْمَشِيئَةِ مَفْقُودٌ فَإِنْ قَالَ الْحَالِفُ أَرَدْتُ بِمَشِيئَةِ زَيْدٍ أَنْ يَشَاءَ دُخُولِي فَلَا أَدْخُلُهَا بِيَمِينٍ حُمِلَ عَلَى إِرَادَتِهِ فِي انْعِقَادِهَا لِاحْتِمَالِهِ وَإِنْ خَالَفَ الظَّاهِرَ فَأَمَّا إِذَا لَمْ يُعْلَمْ هَلْ يَشَاءُ زَيْدٌ أَوْ لَمْ يَشَأْ لَمْ تَنْعَقِدِ الْيَمِينُ وَلَمْ يَقَعْ فِيهَا حِنْثٌ لِأَنَّ الشَّكَّ فِي وُجُودِ شَرْطِهَا يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ انْعِقَادِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Mawardi berkata, bentuknya adalah seseorang yang bersumpah dengan mengatakan, “Demi Allah, aku pasti akan masuk ke rumah pada hari ini jika Zaid menghendaki.” Maka kehendak Zaid di sini adalah syarat dalam terjadinya sumpah, bukan syarat dalam pengecualian atau pembatalannya. Oleh karena itu, kehendak tersebut harus sesuai dengan akad sumpah, yaitu Zaid menghendaki agar ia tidak masuk ke rumah, berbeda dengan kehendak dalam pengecualian yang mengandung lawan dari apa yang menjadi isi sumpah. Jika demikian, maka tidak lepas dari dua keadaan: mengetahui kehendak Zaid atau tidak mengetahuinya. Jika kita mengetahui keadaan kehendaknya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: sesuai dengan akad sumpah atau bertentangan. Jika sesuai dengan akad sumpah, yaitu Zaid menghendaki agar orang yang bersumpah tidak masuk ke rumah, maka sumpahnya terwujud karena syarat terjadinya telah ada, sehingga ia tidak dianggap menepati sumpah kecuali dengan meninggalkan masuk ke rumah pada hari itu. Jika ia masuk, maka ia melanggar sumpah. Namun jika kehendak Zaid bertentangan dengan akad sumpah, yaitu Zaid menghendaki agar orang yang bersumpah masuk ke rumah, padahal ia bersumpah tidak akan masuk, maka sumpahnya tidak terwujud karena syarat terjadinya, yaitu kehendak, tidak ada. Jika orang yang bersumpah berkata, “Yang aku maksud dengan kehendak Zaid adalah ia menghendaki aku masuk, maka aku tidak akan masuk dengan sumpah,” maka hal itu dikembalikan pada maksudnya dalam terjadinya sumpah karena adanya kemungkinan, meskipun bertentangan dengan yang tampak. Adapun jika tidak diketahui apakah Zaid menghendaki atau tidak, maka sumpah tidak terwujud dan tidak terjadi pelanggaran di dalamnya, karena keraguan dalam adanya syarat menghalangi keabsahan terjadinya sumpah. Dan Allah lebih mengetahui.

باب لغو اليمين من هذا ومن اختلاف مالك والشافعي
Bab tentang sumpah yang sia-sia, serta perbedaan pendapat antara Malik dan Syafi‘i dalam hal ini.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هشامٍ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ لَغْوُ الْيَمِينِ قَوْلُ الْإِنْسَانِ لَا والله وبلى والله قال الشافعي رحمه الله وَاللَّغْو فِي لِسَانِ الْعَرَبِ الْكَلَامُ غَيْرُ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ وَجِمَاعُ اللَّغْوِ هُوَ الْخَطَأُ وَاللَّغْوُ كَمَا قَالَتْ عَائِشَةُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَذَلِكَ إِذَا كَانَ عَلَى اللَّجَاجِ وَالْغَضَبِ وَالْعَجَلَةِ وَعَقْدُ الْيَمِينِ أَنْ يُثْبِتَهَا عَلَى الشَّيْءِ بِعَيْنِهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Malik telah memberitakan kepada kami, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Laghw al-yamīn adalah ucapan seseorang: ‘Tidak, demi Allah’ dan ‘Ya, demi Allah’.” Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Laghw dalam bahasa Arab adalah ucapan yang tidak diniatkan secara sungguh-sungguh, dan keseluruhan laghw adalah kesalahan. Laghw itu sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah, wallāhu a‘lam, yaitu jika diucapkan karena perdebatan, kemarahan, atau tergesa-gesa. Sedangkan akad sumpah adalah jika seseorang menegaskannya atas suatu perkara tertentu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ يُرِيدُ بِتَرْكِ الْمُؤَاخَذَةِ بِاللَّغْوِ فِي الْأَيْمَانِ ارْتِفَاعَ الْمَأْثَمِ وَسُقُوطَ الْكَفَّارَةِ

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah firman Allah Ta‘ala, “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja.” Yang dimaksud dengan tidak adanya hukuman atas sumpah yang tidak disengaja adalah terangkatnya dosa dan gugurnya kewajiban membayar kafarat.

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي لَغْوِ الْيَمِينِ الَّذِي يَسْقُطُ بِهِ الْمَأْثَمُ وَالتَّكْفِيرُ عَلَى مَذَاهِبَ شَتَّى

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai lafaz sumpah sia-sia (laghw al-yamīn) yang dengannya gugur dosa dan kewajiban kafarat, menurut berbagai mazhab yang beragam.

أَحَدُهَا مَا قَالَهُ مَالِكٌ إِنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ هُوَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى الْمَاضِي كَاذِبًا فَلَا يُؤَاخَذُ بِالْكَفَّارَةِ وَإِنْ كَانَ آثِمًا وَهِيَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ

Salah satunya adalah pendapat Malik bahwa lagw al-yamīn adalah yamīn ghamūs, yaitu seseorang bersumpah dusta atas sesuatu yang telah lalu, maka ia tidak dikenai kewajiban membayar kafarat meskipun ia berdosa, dan itulah yang disebut yamīn ghamūs.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ بِأَنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ بِأَنْ يَحْلِفَ عَلَى ماضٍ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ صَادِقٌ فَيَبِينُ كَاذِبًا فَلَا يُؤَاخَذُ بِمَأْثَمٍ وَلَا كَفَّارَةٍ

Mazhab kedua adalah pendapat Abu Hanifah, yaitu bahwa laghw al-yamīn adalah ketika seseorang bersumpah atas sesuatu yang telah lalu dengan meyakini bahwa dirinya benar, lalu ternyata ia keliru (berdusta tanpa sengaja), maka ia tidak dikenai dosa maupun kewajiban membayar kafarat.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ مَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ إِنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ أَنْ يَحْلِفَ نَاسِيًا عَلَى ماضٍ أَوْ مُسْتَقْبَلٍ فَلَا يُؤَاخَذُ بِمَأْثَمٍ وَلَا كَفَّارَةٍ

Madzhab ketiga adalah pendapat Ibrahim an-Nakha‘i, yaitu bahwa laghw al-yamīn adalah seseorang bersumpah dalam keadaan lupa terhadap sesuatu yang telah lalu atau yang akan datang, maka ia tidak dikenai dosa dan tidak pula wajib membayar kafarat.

وَالْمَذْهَبُ الرَّابِعُ مَا قاله الشَّعْبِيُّ وَمَسْرُوقٌ هُوَ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى مَعْصِيَةٍ فَيَتْرُكَهَا فَيَصِيرُ لَاغِيًا يَمِينَهُ لَا يُؤَاخَذُ بِمَأْثَمٍ وَلَا كَفَّارَةٍ

Mazhab keempat adalah apa yang dikatakan oleh asy-Sya‘bi dan Masruq, yaitu apabila seseorang bersumpah untuk melakukan maksiat lalu ia meninggalkannya, maka sumpahnya menjadi tidak berlaku, ia tidak dikenai dosa dan tidak ada kewajiban kafarat.

وَالْمَذْهَبُ الْخَامِسُ مَا قَالَهُ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ هُوَ أَنْ يُحَرِّمَ عَلَى نَفْسِهِ مَا أَحَلَّهُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ مِنْ قولٍ أَوْ عَمَلٍ لَا يُؤَاخَذُ فِيهِ بِمَأْثَمٍ وَلَا كَفَّارَةٍ

Mazhab kelima adalah pendapat Sa‘id bin Jubair, yaitu bahwa laġw al-yamīn adalah ketika seseorang mengharamkan atas dirinya sendiri sesuatu yang telah dihalalkan Allah Ta‘ala baginya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dan dalam hal ini ia tidak dikenai dosa maupun kewajiban membayar kafārah.

وَالْمَذْهَبُ السَّادِسُ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ إِنَّ لَغْوَ الْيَمِينِ مَا يَسْبِقَ بِهِ لِسَانُهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ وَلَا عَقْدٍ كقوله لا وَاللَّهِ فَلَا يُؤَاخَذُ فِيهِ بِمَأْثَمٍ وَلَا كَفَّارَةٍ وهو قول ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةَ وَعَطَاءٍ وَأَكْثَرِ التَّابِعِينَ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذْكُمْ بَمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا لَمْ يَقْصِدْهُ بِقَلْبِهِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِهِ وَقَالَ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَدْتُمْ الأَيْمَانَ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا لَمْ يَعْقِدْهُ بِعَزْمِهِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِهِ وَلِمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَائِشَةَ فِي صَدْرِ الْبَابِ وَقَدْ رَوَاهُ حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ فِي لَغْوِ الْيَمِينِ هُوَ كَلَامُ الْعَرَبِ لَا وَاللَّهِ وَبَلَى وَاللَّهِ

Mazhab keenam adalah pendapat yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i, yaitu bahwa laghw al-yamīn (sumpah yang sia-sia) adalah ucapan yang terlontar dari lisan tanpa sengaja dan tanpa niat, seperti ucapannya “tidak, demi Allah” (lā wallāh) atau “ya, demi Allah” (balā wallāh), maka tidak ada dosa dan tidak pula kafārah atasnya. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, ‘Aṭā’, dan mayoritas tabi‘in, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang sia-sia, tetapi Dia menghukum kamu karena apa yang disengaja oleh hatimu.” Maka ini menunjukkan bahwa apa yang tidak diniatkan dalam hati tidaklah dihukum karenanya. Dan Allah berfirman: “Tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah yang kamu teguhkan,” maka ini menunjukkan bahwa apa yang tidak diteguhkan dengan tekad tidaklah dihukum karenanya. Juga berdasarkan riwayat asy-Syafi‘i dari ‘Aisyah di awal bab ini, dan telah diriwayatkan oleh Ḥassān bin Ibrāhīm dari ‘Aṭā’ dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang laghw al-yamīn: “Itu adalah ucapan orang Arab: ‘tidak, demi Allah’ dan ‘ya, demi Allah’.”

وَرَوَى طَاوُسٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَمِينَ فِي غضبٍ فَأَسْقَطَ الْيَمِينَ فِي الْغَضَبِ لِسَبْقِ اللِّسَانِ بِهَا وَعَدَمِ الْقَصْدِ لَهَا وَلِأَنَّ لَغْوَ الْكَلَامِ عِنْدَ الْعَرَبِ مَا تَجَرَّدَ عَنْ غَرَضٍ وَعَرِيَ عَنْ قَصْدٍ وَكَانَ مِنَ الْبَوَادِرِ وَالْمُلْغَاةِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ فَكَانَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ تَقْتَضِيهِ اللُّغَةُ فِيهِ مَعَ ما قارنه من محايل الشَّرْعِ

Tawus meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sumpah dalam keadaan marah.” Maka beliau menggugurkan sumpah yang diucapkan dalam keadaan marah karena ucapan tersebut keluar secara spontan dan tanpa maksud. Sebab, menurut orang Arab, lafaz yang sia-sia adalah ucapan yang tidak memiliki tujuan dan tidak disertai niat, serta merupakan ucapan spontan dan tidak dianggap, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya.” Maka pendapat yang diambil oleh Imam Syafi‘i sesuai dengan makna bahasa dalam hal ini, beserta pertimbangan-pertimbangan syariat yang menyertainya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ لغو اليمين لم تخل اليمين مع أَنْ تَكُونَ بِاللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِغَيْرِهِ فَإِنْ كَانَتْ بِاللَّهِ تَعَالَى سَبَقَ بِهَا لِسَانُهُ وَجَرَتْ بِهَا عَادَتُهُ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ أَوْ قَالَ بَلَى وَاللَّهِ غَيْرَ قَاصِدٍ لِعَقْدِ يَمِينٍ فَلَا مَأْثَمَ عَلَيْهِ وَلَا حِنْثَ وَلَوْ نَزَّهَ لِسَانَهُ مِنْهَا كَانَ أَوْلَى لِئَلَّا يَجْعَلَ اسْمَ اللَّهِ تعالى عرضةً ليمينه وقد قال تَعَالَى وَلاَ تَجْعَلُوا اللهَ عُرْضَةً لأَيْمَانِكُمْ فَأَمَّا إِنْ قَالَ لَا وَاللَّهِ بَلَى وَاللَّهِ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا كَانَ الْأَوَّلُ لَغْوًا لِأَنَّهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ وَكَانَتِ الثَّانِيَةُ مُنْعَقِدَةً لِأَنَّهَا اسْتِدْرَاكٌ فَصَارَتْ مَقْصُودَةً فَإِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ بِغَيْرِ اللَّهِ مِنْ طَلَاقٍ وَعَتَاقٍ سَبَقَ بِهَا لِسَانُهُ لَغْوًا مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ وَلَا عقدٍ دِينٍ فِيهَا فَلَمْ يُؤَاخَذْ بِهَا فِي الْبَاطِنِ وَكَانَ مُؤَاخَذًا بِهَا فِي الظَّاهِرِ بِخِلَافِ الْيَمِينِ بِاللَّهِ فِي أَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِلَغْوِهَا فِي الظَّاهِرِ وَلَا فِي الْبَاطِنِ؟ لِأَنَّ كَفَّارَةَ الْحِنْثِ بِاللَّهِ مِنْ حُقُوقِهِ الْمَحْضَةِ فَاسْتَوَى فِيهَا حُكْمُ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَالْحِنْثُ فِي الطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ وَالْحُقُوقِ الْمُشْتَرِكَةِ بَيْنَ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ فَلَمْ يُؤَاخَذْ بِهَا فِي الْبَاطِنِ لِاخْتِصَاصِهِ بِحُقُوقِ اللَّهِ وَكَانَ مُؤَاخَذًا بها في الظاهر لاختصاصه بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika telah tetap apa yang kami sebutkan tentang sumpah laghw, maka sumpah itu tidak lepas dari dua keadaan: menggunakan nama Allah Ta‘ala atau selain-Nya. Jika sumpah itu dengan nama Allah Ta‘ala, lalu lisannya terlanjur mengucapkannya dan sudah menjadi kebiasaannya, seperti berkata, “Tidak, demi Allah,” atau “Ya, demi Allah,” tanpa bermaksud untuk mengikat sumpah, maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada pelanggaran. Namun, jika ia menjaga lisannya dari ucapan tersebut, itu lebih utama agar tidak menjadikan nama Allah Ta‘ala sebagai bahan sumpahnya. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan janganlah kalian menjadikan (nama) Allah sebagai alat sumpah kalian.” Adapun jika ia berkata, “Tidak, demi Allah,” lalu “Ya, demi Allah,” dan menggabungkan keduanya, maka yang pertama adalah laghw karena tidak dimaksudkan, sedangkan yang kedua menjadi mengikat karena merupakan penegasan sehingga menjadi dimaksudkan. Jika sumpah itu dengan selain nama Allah, seperti talak atau pembebasan budak, lalu lisannya terlanjur mengucapkannya sebagai laghw tanpa maksud dan tanpa niat mengikat, maka ia tidak dibebani secara batin, namun tetap dibebani secara lahir, berbeda dengan sumpah dengan nama Allah, di mana tidak dibebani laghw-nya baik secara lahir maupun batin. Sebab, kafarat pelanggaran sumpah dengan nama Allah termasuk hak murni Allah, sehingga hukum lahir dan batinnya sama. Adapun pelanggaran dalam talak, pembebasan budak, dan hak-hak yang bersifat gabungan antara hak Allah Ta‘ala dan hak manusia, maka tidak dibebani secara batin karena khusus pada hak Allah, namun tetap dibebani secara lahir karena terkait hak manusia. Dan Allah Maha Mengetahui.

بَابُ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ وَبَعْدَهُ

Bab Kafarat Sebelum dan Sesudah Melanggar Sumpah

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ حَلَفَ عَلَى شيءٍ وَأَرَادَ أَنْ يَحْنَثَ فَأَحَبُّ إِلَيَّ لَوْ لَمْ يُكَفِّرْ حَتَّى يَحْنَثَ فَإِنْ كَفَّرَ قَبْلَ الْحِنْثِ بِغَيْرِ الصِّيَامِ أَجْزَأَهُ وَإِنْ صَامَ لَمْ يُجْزِهِ لأنا نزعم أن لله على العباد حقاً في أموالهم وتسلف النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ من العباس صدقة عامٍ قبل أن يدخل وإن المسلمين قدموا صدقة الفطر قبل أن يكون الفطر فجعلنا الحقوق في الأموال قياساً على هذا فأما الأعمال التي على الأبدان فلا تجزئ إلا بعد مواقيتها كالصلاة والصوم

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa bersumpah atas suatu perkara dan ingin melanggarnya, maka yang lebih aku sukai adalah ia tidak membayar kafarat hingga benar-benar melanggar sumpahnya. Namun jika ia membayar kafarat sebelum melanggar sumpah selain dengan puasa, maka itu sudah mencukupi. Tetapi jika ia berpuasa, maka itu tidak mencukupi. Karena kami berpendapat bahwa Allah memiliki hak atas hamba-hamba-Nya dalam harta mereka, dan Nabi ﷺ pernah meminjam zakat dari Abbas untuk satu tahun sebelum waktunya tiba, dan kaum muslimin juga pernah membayar zakat fitri sebelum hari raya Idul Fitri. Maka kami menjadikan hak-hak yang berkaitan dengan harta berdasarkan qiyās atas hal ini. Adapun amalan yang berkaitan dengan badan, maka tidak sah kecuali setelah waktunya tiba, seperti shalat dan puasa.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ كَفَّارَةَ الْيَمِينِ تَجِبُ عَلَى ماضٍ وَمُسْتَقْبَلٍ فَأَمَّا الْيَمِينُ عَلَى ماضٍ فَالْكَفَّارَةُ فِيهِ وَاجِبَةٌ بِعَقْدِ الْيَمِينِ وَحْدَهُ إِذَا كَانَتْ كَذِبًا وَلَا يَجُوزُ تَقْدِيمُ الْكَفَّارَةِ فِيهَا قَبْلَ وُجُوبِهَا؟ سَوَاءٌ كَفَّرَ بِإِطْعَامٍ أَوْ صِيَامٍ لِأَنَّهَا لَا تَجِبُ إِلَّا بِسَبَبٍ واحدٍ وَهُوَ عَقْدُ الْيَمِينِ وَأَمَّا الْيَمِينُ عَلَى مستقبلٍ فَالْكَفَّارَةُ فِيهَا وَاجِبَةٌ بِعَقْدِ الْيَمِينِ وَالْحِنْثِ فَتَعَلَّقَ وُجُوبُهَا بِسَبَبَيْنِ عَقَدٍ وَحِنْثٍ وَلَهُ فِي التَّكْفِيرِ بِهَا ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa kafarat sumpah wajib atas sumpah yang berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan. Adapun sumpah atas masa lalu, maka kafarat di dalamnya wajib hanya dengan mengucapkan sumpah saja jika sumpah tersebut dusta, dan tidak boleh mendahulukan kafarat sebelum kewajibannya, baik kafarat itu berupa memberi makan atau berpuasa, karena kafarat tersebut tidak wajib kecuali dengan satu sebab, yaitu pengucapan sumpah. Adapun sumpah atas masa depan, maka kafarat di dalamnya wajib dengan dua sebab, yaitu pengucapan sumpah dan pelanggaran sumpah, sehingga kewajibannya bergantung pada dua sebab: pengucapan dan pelanggaran. Dalam hal menunaikan kafarat atas sumpah ini, terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُكَفِّرَ قَبْلَ الْيَمِينِ وَالْحِنْثِ فَلَا تُجْزِئُهُ سَوَاءٌ كَفَّرَ بمالٍ أَوْ صيامٍ لِفَقْدِ كُلٍّ وَاحِدٍ مِنَ السَّبَبَيْنِ كَمَا لَا يُجْزِئُهُ إِذَا عَجَّلَ زَكَاةَ مَالِهِ قَبْلَ مِلْكِ النِّصَابِ وَالْحَوْلِ

Salah satunya adalah seseorang membayar kafarat sebelum bersumpah dan sebelum melanggar sumpah, maka itu tidak sah baginya, baik ia membayar kafarat dengan harta maupun puasa, karena kedua sebabnya belum terpenuhi. Hal ini seperti tidak sahnya jika seseorang menyegerakan zakat hartanya sebelum memiliki nisab dan sebelum berlalu satu tahun.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُكَفِّرَ بَعْدَ الْيَمِينِ فَلَا يَحْنَثُ فَيُجْزِئُهُ سَوَاءٌ كَفَّرَ بِمَالٍ أَوْ صِيَامٍ وَقَدْ أَخْرَجَهَا بَعْدَ وُجُوبِهَا فَصَارَ كَإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ بَعْدَ حَوْلِهَا

Keadaan kedua adalah seseorang membayar kaffarah setelah bersumpah, sehingga ia tidak melanggar sumpahnya. Kaffarah tersebut sudah mencukupi, baik ia membayar dengan harta atau dengan puasa, selama ia menunaikannya setelah kewajiban itu berlaku. Hal ini seperti mengeluarkan zakat setelah haul-nya tiba.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُكَفِّرَ بَعْدَ الْيَمِينِ وَقَبْلَ الْحِنْثِ فَيَكُونُ كَتَعْجِيلِ الزَّكَاةِ بَعْدَ مِلْكِ النِّصَابِ وَقَبْلَ الْحَوْلِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي تَعْجِيلِهَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Keadaan ketiga adalah seseorang membayar kafarat setelah bersumpah dan sebelum melanggar sumpah tersebut. Ini seperti mempercepat pembayaran zakat setelah memiliki nisab dan sebelum genap haul. Para fuqaha berbeda pendapat mengenai kebolehan mempercepat pembayaran kafarat ini menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ يَجُوزُ تَعْجِيلُ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْحَوْلِ وَلَا يَجُوزُ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ

Salah satunya, yaitu mazhab Abu Hanifah, membolehkan percepatan pembayaran zakat sebelum satu tahun, namun tidak membolehkan percepatan pembayaran kafarat sebelum terjadinya pelanggaran.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ لَا يَجُوزُ تَعْجِيلُ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْحَوْلِ وَيَجُوزُ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ

Mazhab kedua, yaitu mazhab Malik, berpendapat bahwa tidak boleh menyegerakan pembayaran zakat sebelum genap satu tahun, namun boleh menyegerakan pembayaran kafarah sebelum terjadinya pelanggaran.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَجُوزُ تَعْجِيلُ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْحَوْلِ وَيَجُوزُ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ إِذَا كَانَتْ بمالٍ مِنْ كِسْوَةٍ أَوْ إطعامٍ أَوْ عِتْقٍ فَلَا يَجُوزُ تَعْجِيلُهَا إِذَا كَانَتْ بِصِيَامٍ

Madzhab ketiga, yaitu madzhab Syafi‘i, berpendapat bahwa boleh mempercepat pembayaran zakat sebelum satu tahun, dan boleh mempercepat pelaksanaan kafarat sebelum terjadinya pelanggaran jika kafarat tersebut berupa harta, seperti pakaian, makanan, atau memerdekakan budak. Namun, tidak boleh mempercepat kafarat jika berupa puasa.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَجُوزُ تَعْجِيلُهَا قَبْلَ الْحِنْثِ بِمَالٍ أَوْ صِيَامٍ

Ahmad bin Hanbal berkata, boleh mempercepat pelaksanaan kafarat sebelum terjadinya pelanggaran, baik dengan harta maupun puasa.

فَأَمَّا مَالِكٌ فَهُوَ مُوَافِقٌ فِي تَعْجِيلِ الْكَفَّارَةِ مُخَالِفٌ فِي تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي مَوْضِعِهِ

Adapun Mālik, ia sependapat dalam hal mempercepat pembayaran kaffārah, namun berbeda pendapat dalam hal mempercepat pembayaran zakat, dan pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan pada tempatnya.

وَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ فَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي تَعْجِيلِ الزكاة ويتعين الكلام معه هاهنا فِي تَعْجِيلِ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ وَلَهُ فِي الِاسْتِدْلَالِ طَرِيقَانِ

Adapun Abu Hanifah, pembahasan tentang percepatan pembayaran zakat telah dijelaskan sebelumnya, dan di sini perlu dibahas bersamanya mengenai percepatan pembayaran kafarat sebelum terjadinya pelanggaran, di mana ia memiliki dua metode dalam berdalil.

أَحَدُهُمَا الْمَنْعُ مِنْ تَعْجِيلِ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ

Salah satunya adalah larangan mempercepat pelaksanaan kafārah sebelum terjadinya pelanggaran.

وَالثَّانِي إِنَّ الْكَفَّارَةَ تَجِبُ بِالْحِنْثِ وَحْدَهُ دُونَ الْيَمِينِ وَاسْتُدِلَّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ تَعْجِيلِهَا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خيرا منها فليأت الذي هو خيرٌ ثُمَّ لِيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ فَكَانَ لَهُ مِنَ الخير دَلِيلَانِ

Yang kedua, sesungguhnya kafārah itu wajib karena pelanggaran sumpah saja, bukan karena sumpah itu sendiri. Dalil yang digunakan untuk melarang mempercepat pelaksanaan kafārah adalah riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia melihat ada yang lebih baik darinya, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik itu, kemudian hendaklah ia membayar kafārah atas sumpahnya.” Maka, dalam hal ini terdapat dua petunjuk kebaikan baginya.

أَحَدُهُمَا قَوْلُهُ فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خيرٌ منها فقدم فعل الحنث على الكفارة عرق الْفَاءِ الْمُوجِبِ لِلتَّعْقِيبِ

Salah satunya adalah ucapannya: “Maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik darinya,” di mana ia mendahulukan perbuatan pelanggaran sumpah atas kafarah karena adanya huruf fa’ yang menunjukkan urutan setelahnya.

وَالثَّانِي قَوْلُهُ ثُمَّ لِيُكَفِّرْ عن يمينه وثم مَوْضِعٌ لِلتَّعْقِيبِ وَالتَّرَاخِي

Yang kedua adalah sabda beliau, “Kemudian hendaklah ia membayar kaffarah atas sumpahnya.” Kata “kemudian” di sini menunjukkan urutan dan jeda waktu.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنْ يُكَفِّرَ قَبْلَ الْحِنْثِ فَلَمْ يُحَرَّمْ كَالصِّيَامِ

Dan termasuk dalam qiyās adalah jika seseorang membayar kafarat sebelum melakukan pelanggaran, maka hal itu tidak diharamkan, sebagaimana (kafarat) pada puasa.

وَلِأَنَّ كُلَّ حَالٍ لَا يَجُوزُ التَّكْفِيرُ فِيهَا بِالصِّيَامِ لَمْ يَجُزِ التَّكْفِيرُ فِيهَا بِالْمَالِ قِيَاسًا عَلَى مَا قَبْلَ الْيَمِينِ وَاسْتُدِلَّ عَلَى وُجُوبِ الْكَفَّارَةِ بِالْحِنْثِ وَحْدَهُ دُونَ الْيَمِينِ بِأَمْرَيْنِ

Dan karena setiap keadaan yang tidak boleh dilakukan kafārah dengan puasa, maka tidak boleh pula dilakukan kafārah dengan harta berdasarkan qiyās terhadap keadaan sebelum sumpah. Dan dalil atas wajibnya kafārah hanya karena pelanggaran (ḥinth) saja tanpa sumpah adalah dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْحِنْثَ ضِدُّ الْيَمِينِ لِأَنَّ الْيَمِينَ تَمْنَعُ مِنَ الْحِنْثِ وَالضِّدَّانِ لَا يَشْتَرِكَانِ فِي مَعْنَى الْوُجُوبِ لِتَنَافِيهِمَا

Salah satunya adalah bahwa al-hinth merupakan lawan dari al-yamīn, karena al-yamīn mencegah terjadinya al-hinth, dan dua hal yang saling bertentangan tidak dapat berkumpul dalam makna kewajiban karena keduanya saling bertolak belakang.

وَالثَّانِي إِنَّ الْحِنْثَ لَوْ كَانَ أَحَدَ السَّبَبَيْنِ فِي الْوُجُوبِ لَمَا رُوعِيَ بَعْدَ عَقْدِ الْيَمِينِ إِحْدَاثُ فِعْلٍ مِنْ جِهَةٍ كَمَا لَا يُرَاعَى فِي الْحَوْلِ بَعْدَ النِّصَابِ إِحْدَاثُ فِعْلٍ مِنْ جِهَتِهِ وَلَمَّا رُوعِيَ فِي الْكَفَّارَةِ حُدُوثُ فِعْلِ الْحِنْثِ مِنْ جِهَتِهِ دَلَّ عَلَى أَنَّ فِعْلَ الْحِنْثِ هُوَ الْمُوجِبُ لِلْكَفَّارَةِ كَمَا نَقُولُ إِنَّ الظِّهَارَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا بَعْدَ عَقْدِ النِّكَاحِ لِمَا كَانَ بِفِعْلٍ حَادِثٍ مِنْهُ كَانَ الظِّهَارُ هُوَ الْمُوجِبَ لِلْكَفَّارَةِ دُونَ النِّكَاحِ

Kedua, jika pelanggaran sumpah (hinth) merupakan salah satu dari dua sebab kewajiban (kafarat), maka setelah akad sumpah tidak perlu memperhatikan adanya perbuatan baru dari pihak pelaku, sebagaimana dalam penetapan haul setelah mencapai nisab tidak perlu memperhatikan adanya perbuatan baru dari pihaknya. Namun, ketika dalam kafarat diperhatikan terjadinya perbuatan pelanggaran sumpah dari pihak pelaku, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan pelanggaran sumpah itulah yang mewajibkan kafarat. Sebagaimana kami katakan bahwa zhihar, meskipun hanya terjadi setelah akad nikah, karena ia merupakan perbuatan baru dari pelaku, maka zhihar itulah yang mewajibkan kafarat, bukan akad nikahnya.

وَالدَّلِيلُ عَلَى جَوَازِ تَعْجِيلِ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ مَا رَوَاهُ مَالِكٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يمينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ وَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خيرٌ

Dalil tentang bolehnya mempercepat pelaksanaan kafārah sebelum terjadinya pelanggaran sumpah adalah riwayat yang dibawakan oleh Malik dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia melihat ada yang lebih baik darinya, maka hendaklah ia membayar kafārah atas sumpahnya dan melakukan yang lebih baik itu.”

وَرَوَى قَتَادَةُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يا عَبْدَ الرَّحْمَنِ إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ ثُمَّ ائْتِ الَّذِي هُوَ خيرٌ فَجَوَّزَ فِي هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ تَعْجِيلَ الْكَفَّارَةِ قَبْلَ الْحِنْثِ

Qatadah meriwayatkan dari al-Hasan, dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abdurrahman, jika engkau bersumpah atas suatu sumpah, lalu engkau melihat ada yang lebih baik darinya, maka bayarlah kafarah, kemudian lakukanlah yang lebih baik itu.” Maka dalam dua hadis ini dibolehkan menyegerakan pembayaran kafarah sebelum melanggar sumpah.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ رُوِيَ فِيهَا وَفِي الْخَبَرِ الْمُتَقَدِّمِ تَأْخِيرُ الْكَفَّارَةِ عَنِ الْحِنْثِ فَعَنْهُ جَوَابَانِ

Jika dikatakan: Telah diriwayatkan dalam masalah ini dan dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya tentang penundaan pelaksanaan kafārah setelah pelanggaran sumpah, maka ada dua jawaban atas hal itu.

أَحَدُهُمَا إِنَّ تَقْدِيمَ الْكَفَّارَةِ أَشْهَرُ مِنْ تَقْدِيمِ الْحِنْثِ

Salah satunya adalah bahwa mendahulukan pelaksanaan kafārah lebih masyhur daripada mendahulukan pelanggaran.

وَالثَّانِي إِنَّنَا نَسْتَعْمِلُ الروايتين معاً فنحمل تقديم الكفارة على الجواز تَأْخِيرِهَا عَلَى الْوُجُوبِ وَنَسْتَعْمِلُهَا عَلَى وَجْهٍ ثانٍ أَنْ يُحْمَلَ تَقْدِيمُهَا عَلَى التَّكْفِيرِ بِالْمَالِ وَتَأْخِيرُهَا على التكفير بالصيام فتكون باستعمال الخيرين أسعد مِمَّنِ اسْتَعْمَلَ أَحَدَهُمَا وَأَسْقَطَ الْآخَرَ

Kedua, sesungguhnya kami menggunakan kedua riwayat tersebut sekaligus, sehingga kami memahami bahwa mendahulukan kafarat menunjukkan kebolehan, sedangkan menunda kafarat menunjukkan kewajiban. Kami juga menggunakannya dalam pengertian lain, yaitu bahwa mendahulukan kafarat dimaksudkan untuk kafarat dengan harta, sedangkan menundanya dimaksudkan untuk kafarat dengan puasa. Dengan menggunakan kedua kebaikan ini, kami lebih beruntung dibandingkan orang yang hanya menggunakan salah satunya dan mengabaikan yang lain.

وَمِنَ الْقِيَاسِ مَا يُوَافِقُ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ أَنَّهُ لَوْ جَرَحَ إِنْسَانًا وَعَجَّلَ كَفَّارَةَ قَتْلِهِ بَعْدَ جُرْحِهِ وَقَبْلَ مَوْتِهِ أَجْزَأهُ وَكَذَلِكَ لَوْ جَرَحَ الْمُحْرِمُ صَيْدًا لَوْ قَدَّمَ جَزَاءَهُ بَعْدَ جُرْحِهِ وَقَبْلَ مَوْتِهِ أَجْزَأهُ فَجَعَلَ هَذَا مَعَهُ أَصْلًا لِلْقِيَاسِ فَنَقُولُ يُكَفِّرُ لِتَعَلُّقِ وُجُوبِهِ بِسَبَبَيْنِ فَجَازَ تَقْدِيمُهُ بَعْدَ وُجُودِ أَحَدِهِمَا قِيَاسًا عَلَى كَفَّارَةِ وَجَزَاءِ الصَّيْدِ وَلِأَنَّهُ يُكَفِّرُ بِمَالٍ بَعْدَ عَقْدِ الْيَمِينِ فَوَجَبَ أَنْ يُجْزِئَهُ قِيَاسًا عَلَى مَا بَعْدَ الْحِنْثِ

Di antara bentuk qiyās adalah apa yang disetujui oleh Abu Hanifah, yaitu jika seseorang melukai orang lain lalu segera membayar kafarat pembunuhan setelah melukai dan sebelum kematian korban, maka itu sudah mencukupi. Demikian pula, jika seorang muhrim melukai hewan buruan lalu membayar kompensasi setelah melukai dan sebelum kematian hewan tersebut, maka itu juga sudah mencukupi. Maka hal ini dijadikan sebagai dasar dalam qiyās. Kami katakan, ia boleh membayar kafarat karena kewajibannya terkait dengan dua sebab, sehingga boleh dilakukan lebih awal setelah salah satu sebab itu ada, dengan qiyās kepada kafarat dan kompensasi hewan buruan. Dan karena ia boleh membayar kafarat dengan harta setelah akad sumpah, maka wajib pula hal itu dianggap mencukupi dengan qiyās terhadap apa yang dilakukan setelah pelanggaran sumpah.

وَلِأَنَّهُ حَقُّ مالٍ يَجِبُ بِسَبَبَيْنِ يَخْتَصَّانِ فه فَجَازَ تَقْدِيمُهُ عَلَى أَحَدِهِمَا قِيَاسًا عَلَى تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ فَإِنْ مَنَعُوا مِنْ وُجُوبِهَا بِسَبَبَيْنِ دَلَّلْنَا عَلَى وُجُوبِهَا بِالْحِنْثِ وَالْيَمِينِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَدْتُمْ الأَيْمَانَ وَبِقَوْلِهِ ذَلِكَ كَفَّارَةٌ أيْمَانِكُمْ فَجَعَلَهَا تَكْفِيرًا لِلْيَمِينِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ شَرْطِ الْوُجُوبِ وَلِأَنَّ الْكَفَّارَةَ حُكْمٌ مُتَعَلِّقٌ بِالْحِنْثِ فَوَجَبَ أَنْ يَتَعَلَّقَ بِالْيَمِينِ كَمَا لَوْ قَالَ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَعَبْدِي حرٌّ كَانَ عِتْقُهُ مُتَعَلِّقًا بِيَمِينِهِ بِدُخُولِ الدَّارِ وَإِنْ مَنَعَ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ مِنْ تَعْلِيقِ عِتْقِهِ بِيَمِينِهِ وَبِدُخُولِ الدَّارِ وَارْتَكَبُوا أَنَّ عِتْقَهُ مُخْتَصٌّ بِدُخُولِ الدَّارِ وَحْدَهُ مَنَعُوا مِنِ ارْتِكَابِ هَذِهِ الدَّعْوَى بِمَا لَا يَدْفَعُونَهُ مِنْ أَصْلِ أَبِي حَنِيفَةَ فِي هَذَا الْعَبْدِ إِذَا ادَّعَى الْعِتْقَ بِالْيَمِينِ وَالْحِنْثِ فَأَنْكَرَهُ السَّيِّدُ فَأَقَامَ الْعَبْدُ عَلَيْهِ شَاهِدَيْنِ بِالْيَمِينِ وَشَاهِدَيْنِ بِالْحِنْثِ وحكم الحاكم بعتقه ثم رجع شاهد الْيَمِينِ وَشَاهِدَا الْحِنْثِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَجِبُ قِيمَتُهُ عَلَى شَاهِدَيِ الْيَمِينِ خَاصَّةً نِصْفَيْنِ وَعِنْدَنَا تَجِبُ عَلَى شَاهِدَيِ الْيَمِينِ وَشَاهِدَيِ الْحِنْثِ أَرْبَاعًا فقد جعل عتقه باليمين أخص مِنَ الْحِنْثِ فَكَانَتِ الْأَيْمَانُ بِاللَّهِ أَوْلَى

Karena ia adalah hak harta yang wajib karena dua sebab yang khusus padanya, maka boleh mendahulukannya atas salah satu dari keduanya dengan qiyās terhadap percepatan pembayaran zakat. Jika mereka melarang kewajibannya karena dua sebab, kami tunjukkan kewajibannya dengan pelanggaran sumpah dan sumpah itu sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Tetapi Allah menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian teguhkan,” dan firman-Nya: “Itulah kafārah sumpah-sumpah kalian,” maka Allah menjadikannya sebagai penebus sumpah, sehingga tidak boleh keluar dari syarat kewajiban. Dan karena kafārah adalah hukum yang berkaitan dengan pelanggaran sumpah, maka wajib pula berkaitan dengan sumpah itu sendiri, sebagaimana jika seseorang berkata: “Jika aku masuk ke rumah, maka budakku merdeka,” maka kemerdekaannya terkait dengan sumpahnya, yaitu dengan masuk ke rumah. Jika para sahabat Abu Hanifah melarang pengaitan kemerdekaan budak dengan sumpah dan masuk ke rumah, dan mereka berpendapat bahwa kemerdekaannya khusus dengan masuk ke rumah saja, mereka melarang klaim ini dengan sesuatu yang tidak mereka tolak dari pendapat pokok Abu Hanifah dalam kasus budak ini, yaitu jika budak mengklaim kemerdekaan karena sumpah dan pelanggaran sumpah, lalu tuannya mengingkarinya, kemudian budak mendatangkan dua saksi atas sumpah dan dua saksi atas pelanggaran sumpah, lalu hakim memutuskan kemerdekaannya, kemudian saksi sumpah dan saksi pelanggaran sumpah menarik kembali kesaksiannya, maka Abu Hanifah berkata: “Wajib membayar nilai budak itu atas dua saksi sumpah saja, masing-masing setengah,” sedangkan menurut kami, wajib atas dua saksi sumpah dan dua saksi pelanggaran sumpah, masing-masing seperempat. Maka, ia telah menjadikan kemerdekaan budak dengan sumpah lebih khusus daripada pelanggaran sumpah, sehingga sumpah-sumpah dengan nama Allah lebih utama.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَقَدْ مَضَى

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut, maka telah berlalu.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْقِيَاسِ عَلَى تَعْجِيلِ الصِّيَامِ فَهُوَ أَنَّ الصِّيَامَ مِنْ حُقُوقِ الْأَبْدَانِ فَلَمْ يَجُزْ تَقْدِيمُهُ قَبْلَ وُجُوبِهِ كَمَا لَا يَجُوزُ تَقْدِيمُ الصَّلَاةِ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى وُجُوبِهِمَا وَالْمَالُ مِمَّا يَجُوزُ تَقْدِيمُهُ قَبْلَ وُجُوبِهِ لِتَعْجِيلِ الزَّكَاةِ وَمِثْلُهُ مَا يَقُولُهُ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ إِنَّ تَقْدِيمَ مَا تَعَلَّقَ بِالْمَالِ مِنَ الدِّيُونِ الْمُؤَجَّلَةِ قَبْلَ مَحَلِّهَا جَائِزٌ وَتَقْدِيمَ مَا تَعَلَّقَ بِالْأَبْدَانِ مِنَ الْقَصَاصِ وَحَدِّ الْقَذْفِ قَبْلَ وُجُوبِهَا غَيْرُ جَائِزٍ وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أحمد بن حنبل في جمعه بن الأمرين في الجواز

Adapun jawaban terhadap qiyās atas percepatan puasa adalah bahwa puasa termasuk hak-hak badan, sehingga tidak boleh dilakukan sebelum kewajibannya, sebagaimana tidak boleh mendahulukan salat dan puasa Ramadan sebelum keduanya wajib. Adapun harta, termasuk sesuatu yang boleh didahulukan sebelum kewajibannya, seperti dalam percepatan zakat. Demikian pula yang dikatakan dalam hak-hak manusia, bahwa mendahulukan pelunasan utang yang berkaitan dengan harta sebelum jatuh temponya adalah boleh, sedangkan mendahulukan pelaksanaan hukuman qishāsh dan had qazaf yang berkaitan dengan badan sebelum wajibnya adalah tidak boleh. Dalam hal ini terdapat dalil atas pendapat Ahmad bin Hanbal yang menggabungkan kedua perkara tersebut dalam kebolehan.

وعبر آخَرُ وَهُوَ أَنَّ الصِّيَامَ فِي الْكَفَّارَةِ يَجُوزُ بَعْدَ الْعَجْزِ عَنِ الْمَالِ فِي وَقْتِ الِاسْتِحْقَاقِ فَلِاعْتِبَارِهِ عِنْدَ الْحِنْثِ لَمْ يَجُزْ تَقْدِيمُهُ قَبْلَ الْحِنْثِ فَخَالَفَ الْمَالُ فِي هَذَا الْمَعْنَى

Dan ada pendapat lain, yaitu bahwa puasa dalam kafārah boleh dilakukan setelah tidak mampu membayar dengan harta pada waktu kewajiban itu berlaku. Karena ketidakmampuan itu dianggap pada saat pelanggaran (ḥinth), maka tidak boleh mendahulukan puasa sebelum terjadinya pelanggaran tersebut. Dalam hal ini, harta berbeda maknanya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى تَعْجِيلِهَا قَبْلَ الْيَمِينِ فَهُوَ أَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ أَحَدُ سَبَبَيِ الْوُجُوبِ فَامْتَنَعَ التَّقْدِيمُ كَمَا امْتَنَعَ تَعْجِيلُ الزَّكَاةِ قَبْلَ مِلْكِ النِّصَابِ وَجَازَ بَعْدَ الْيَمِينِ لِوُجُودِ أَحَدِ السَّبَبَيْنِ كَمَا جَازَ تَعْجِيلُ الزَّكَاةِ بَعْدَ مِلْكِ النِّصَابِ

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka mengenai kebolehan mempercepat (pelaksanaan) sebelum sumpah adalah bahwa salah satu dari dua sebab kewajiban belum terpenuhi, sehingga tidak diperbolehkan untuk mendahulukannya, sebagaimana tidak diperbolehkan mempercepat pembayaran zakat sebelum memiliki nisab. Namun, hal itu diperbolehkan setelah sumpah karena salah satu dari dua sebab telah ada, sebagaimana diperbolehkan mempercepat pembayaran zakat setelah memiliki nisab.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الْحِنْثَ ضِدُّ الْيَمِينِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْتَرِكَا فِي الْوُجُوبِ فَهُوَ أَنَّ الْيَمِينَ عَقْدٌ وَالْحِنْثَ حَلٌّ وَالْحَلُّ لَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ عَقْدٍ فَلَمْ يَتَضَادَّا وَإِنِ اخْتَلَفَا كَمَا أَنَّ قَوْلَهُ لَا إِلَهَ كفرٌ وَقَوْلُهُ إِلَّا اللَّهُ إيمانٌ فَإِذَا اجْتَمَعَا كَانَ الْإِيمَانُ بِهِمَا مُنْعَقِدًا وَلَمْ يَتَنَافَيَا بِالْمُضَادَّةِ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa al-hinth (melanggar sumpah) adalah lawan dari al-yamīn (sumpah), sehingga tidak boleh keduanya berkumpul dalam kewajiban, maka jawabannya adalah bahwa al-yamīn merupakan akad, sedangkan al-hinth adalah pembatalan, dan pembatalan itu tidak terjadi kecuali setelah adanya akad. Maka keduanya tidak saling bertentangan meskipun berbeda, sebagaimana ucapan “lā ilāha” adalah kekufuran dan ucapan “illā Allāh” adalah keimanan. Jika keduanya berkumpul, maka keimanan dengan keduanya menjadi terwujud dan tidak saling bertentangan karena perbedaan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ تَعَلُّقَ الْكَفَّارَةِ بِإِحْدَاثِ فِعْلٍ يَمْنَعُ مِنْ تَعَلُّقِهَا بِمَا تَقَدَّمَهُ مِنَ الْيَمِينِ كَالظِّهَارِ يَمْنَعُ مِنْ وُجُودِ الكفارة فيه بالنكاح وهو مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa keterkaitan kafarat dengan terjadinya suatu perbuatan menghalangi keterkaitannya dengan sumpah yang telah lalu, sebagaimana dalam kasus zihar yang menghalangi adanya kafarat dalam pernikahan, maka hal ini dapat dijawab dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الْحِنْثَ فِي الْأَيْمَانِ ما لا يتعلق لَهُ بِإِحْدَاثِ فِعْلٍ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَأَدْخُلَنَّ الدَّارَ فِي يَوْمِي هَذَا فَيَنْقَضِي الْيَوْمُ قَبْلَ دُخُولِهَا حَنِثَ بِغَيْرِ فِعْلِهِ وَقَدْ مَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ تَعْجِيلِ الْكَفَّارَةِ فِيهِ فَبَطَلَ أَنْ يَكُونَ إِحْدَاثُ الْفِعْلِ عَلَيْهِ فِي اخْتِصَاصِهِ بِالْوُجُوبِ فَكَانَ يَلْزَمُ أَبَا حَنِيفَةَ إِنْ أَرَادَ صِحَّةَ تَعْلِيلِهِ أَنْ يُجِيزَ تَقْدِيمَ الْكَفَّارَةِ فِي اخْتِصَاصِهِ بِالْوُجُوبِ فِيمَا لَمْ يَكُنِ الْحِنْثُ بِفِعْلِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْهُمَا فِيمَا كَانَ الْحِنْثُ بِفِعْلِهِ

Salah satunya adalah bahwa pelanggaran sumpah (al-ḥinth fī al-aymān) terkadang tidak berkaitan dengan melakukan suatu perbuatan, yaitu ketika seseorang berkata, “Demi Allah, aku pasti akan masuk ke rumah itu hari ini,” lalu hari itu berlalu sebelum ia memasukinya, maka ia telah melanggar sumpah tanpa melakukan suatu perbuatan. Abu Hanifah melarang mempercepat pembayaran kafarat dalam kasus ini, sehingga batal alasan bahwa terjadinya perbuatan menjadi syarat khusus kewajiban. Maka, seharusnya Abu Hanifah, jika ingin alasan tersebut sah, membolehkan mendahulukan kafarat dalam kasus khusus kewajiban ketika pelanggaran sumpah tidak terjadi karena perbuatannya, dan melarangnya dalam kasus pelanggaran sumpah yang terjadi karena perbuatannya.

وَالثَّانِي إِنَّ الْمَقْصُودَ بِعَقْدِ النِّكَاحِ غَيْرُ الظِّهَارِ فَلَمْ يَكُنْ سَبَبًا فِي وُجُوبِ التَّكْفِيرِ فِيهِ وَإِنَّمَا تَجِبُ كَفَّارَةُ الظِّهَارِ بِالظِّهَارِ وَالْعَوْدِ وَيَجُوزُ تَعْجِيلُهَا قَبْلَ الظِّهَارِ وَقَبْلَ الْعَوْدِ وَعَقْدُ الْيَمِينِ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَمْرَيْنِ مِنْ بِرٍّ وَحِنْثٍ فَصَارَ لِوُقُوفِهِ بينهما نسباً فِي وُجُوبِ التَّكْفِيرِ عَلَى أَنَّ أَبَا عَلِيِّ بْنَ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ إِنَّ كَفَّارَةَ الظِّهَارِ تَجِبُ بِثَلَاثَةِ أَسْبَابٍ بِعَقْدِ النِّكَاحِ وَبِلَفْظِ الظِّهَارِ وَبِالْعَوْدِ فَلَمْ يَجُزْ تَقْدِيمُهَا بَعْدَ النِّكَاحِ وَقَبْلَ الظِّهَارِ لِوُجُودِ سَبَبٍ وَاحِدٍ وَبَقَاءِ سَبَبَيْنِ وَعَلَّلَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا بِأَنَّ الظِّهَارَ مُحَرَّمٌ فَلَمْ يَجُزْ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ فِيهِ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى اسْتِبَاحَةِ محظورٍ عَلَيْهِ وَالْحِنْثُ غَيْرُ مُحَرَّمٍ فَجَاءَ مِنْ هَذَا التَّعْلِيلِ أَنْ يُعْتَبَرَ حَالُ الْحِنْثِ فِي الْأَيْمَانِ فَإِنْ كَانَ وَاجِبًا كَمَنْ حَلَفَ لَا صَلَّيْتُ فَرْضًا أَوْ مُسْتَحَبًّا كَمَنْ حَلَفَ

Kedua, sesungguhnya maksud dari akad nikah berbeda dengan zhihār, sehingga akad nikah tidak menjadi sebab wajibnya kafārah di dalamnya. Kafārah zhihār hanya wajib karena zhihār dan kembali (al-‘aud), dan boleh mempercepat pelaksanaannya sebelum zhihār dan sebelum kembali. Adapun akad sumpah (al-yamīn) berada di antara dua kemungkinan, yaitu menepati atau melanggar, sehingga karena posisinya yang berada di antara keduanya, ia memiliki hubungan dalam kewajiban kafārah. Abu ‘Ali bin Abī Hurairah berpendapat bahwa kafārah zhihār wajib karena tiga sebab: dengan akad nikah, dengan lafaz zhihār, dan dengan kembali. Maka tidak boleh mendahulukannya setelah nikah dan sebelum zhihār, karena baru terdapat satu sebab dan masih tersisa dua sebab lainnya. Sebagian ulama kami beralasan bahwa zhihār itu haram, sehingga tidak boleh mempercepat kafārah di dalamnya, karena hal itu akan menyebabkan diperbolehkannya sesuatu yang terlarang baginya. Sedangkan melanggar sumpah (al-hinth) tidaklah haram, sehingga dari alasan ini dapat dipahami bahwa keadaan melanggar sumpah pada al-yamīn harus diperhatikan. Jika melanggar itu wajib, seperti seseorang yang bersumpah tidak akan menunaikan salat fardhu, atau mustahab, seperti seseorang yang bersumpah…

لَا صَلَّيْتُ نَفْلًا أَوْ مُبَاحًا كَمَنْ حَلَفَ لَا أَكَلْتُ لَحْمًا جَازَ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ فِيهَا قَبْلَ الْحِنْثِ وَإِنْ كَانَ الْحِنْثُ مَحْظُورًا كَمَنْ حَلَفَ بِاللَّهِ لَا شَرِبْتُ خَمْرًا وَلَا قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ يَجُزْ تَعْجِيلُ الْكَفَّارَةِ فِيهَا قَبْلَ الْحِنْثِ فَصَارَ تَعْجِيلُهَا فِيمَا لَمْ يَكُنْ مَحْظُورًا جَائِزًا وَجْهًا وَاحِدًا وَجَوَازُ تَعْجِيلِهَا فِيمَا كَانَ حِنْثُهُ مَحْظُورًا عَلَى وَجْهَيْنِ فَأَمَّا تَعْجِيلُ جَزَاءِ الصَّيْدِ قَبْلَ إِحْرَامِهِ وَقَبْلَ قَتْلِهِ وَجَرْحِهِ فَلَا يَجُوزُ وَجْهًا وَاحِدًا وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي تَعْلِيلِهِ فَعِنْدَ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ عِلَّةَ الْمَنْعِ أَنَّ الْجَزَاءَ مُتَعَلِّقٌ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ بِالْإِحْرَامِ وَالْجِرَاحِ وَالْمَوْتِ فَلَمْ يَجُزْ تَعْجِيلُهُ بِفَقْدِ أَحَدِهَا وَبَقَاءِ أَكْثَرِهَا وَعِنْدَ مَنْ رَاعَى الْحَظْرَ وَالْإِبَاحَةَ عَلَّلَ بِأَنَّ تَقْدِيمَ الْجَزَاءِ مُوجِبٌ لِاسْتِبَاحَةِ مَحْظُورٍ فَلَمْ يَجُزْ فَإِنْ حَلَّ لَهُ قَتْلُ الصَّيْدِ لِضَرُورَةٍ إِلَيْهِ قَالَ صَاحِبُ هَذَا التَّعْلِيلِ وَحَكَاهُ عَنْهُ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ يَجُوزُ لَهُ تَعْجِيلُ جَزَائِهِ بَعْدَ إِحْرَامِهِ وَقَبْلَ قَتْلِهِ وَعِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا إِنَّ عِلَّةَ الْمَنْعِ أَنَّ الْإِحْرَامَ غَيْرُ مَقْصُودٍ لِقَتْلِ الصَّيْدِ فَلَمْ يَكُنْ مُسَبِّبًا لِوُجُوبِ الْجَزَاءِ فَأَمَّا تَعْجِيلُ الْجَزَاءِ بَعْدَ الْجِرَاحِ وَقَبْلَ الْمَوْتِ فَجَائِزٌ بِاتِّفَاقِهِمْ وَإِنْ وَهِمَ فِيهِ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِيُّ فَخَرَّجَهُ عَلَى وَجْهَيْنِ؟ لِأَنَّهُ لَيْسَ يَسْتَبِيحُ بِالْجَزَاءِ بَعْدَ الْجَزَاءِ مَحْظُورًا لِأَنَّ مَوْتَ الصَّيْدِ حَادِثٌ عَنِ الْجُرْحِ الْمُتَقَدِّمِ قَبْلَ تَكْفِيرِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika seseorang bersumpah tidak akan melakukan salat sunnah atau sesuatu yang mubah, seperti orang yang bersumpah tidak akan makan daging, maka boleh baginya mempercepat pembayaran kafarat sebelum melanggar sumpah. Namun, jika pelanggaran sumpah itu berupa perbuatan yang terlarang, seperti orang yang bersumpah demi Allah tidak akan minum khamar atau tidak akan membunuh seseorang, maka tidak boleh baginya mempercepat pembayaran kafarat sebelum melanggar sumpah. Maka, mempercepat kafarat dalam perkara yang tidak terlarang hukumnya boleh secara ijmā‘, sedangkan mempercepat kafarat dalam perkara yang pelanggarannya terlarang terdapat dua pendapat. Adapun mempercepat pembayaran denda (jazā’) atas perburuan sebelum ihram dan sebelum membunuh atau melukainya, maka tidak boleh menurut satu pendapat, meskipun para ulama berbeda pendapat dalam alasan pelarangannya. Menurut Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, alasan pelarangannya adalah karena denda (jazā’) itu berkaitan dengan tiga hal: ihram, melukai, dan kematian. Maka tidak boleh mempercepatnya jika salah satu dari tiga hal itu belum ada, meskipun dua lainnya sudah ada. Sedangkan menurut yang mempertimbangkan antara larangan dan kebolehan, mereka beralasan bahwa mempercepat pembayaran denda akan menyebabkan kebolehan melakukan sesuatu yang terlarang, sehingga tidak boleh. Jika seseorang diperbolehkan membunuh hewan buruan karena kebutuhan mendesak, maka menurut pendapat ini—dan ini juga dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi—boleh baginya mempercepat pembayaran denda setelah ihram dan sebelum membunuhnya. Menurut mayoritas ulama mazhab kami, alasan pelarangannya adalah karena ihram itu sendiri bukanlah sebab utama untuk membunuh hewan buruan, sehingga tidak menyebabkan wajibnya denda. Adapun mempercepat pembayaran denda setelah melukai dan sebelum kematian hewan buruan, maka itu boleh menurut kesepakatan mereka, meskipun Abu Hamid al-Isfirayini keliru dalam hal ini dan menyebutkan dua pendapat, karena dengan membayar denda setelah melukai tidak berarti ia boleh melakukan sesuatu yang terlarang, sebab kematian hewan buruan terjadi akibat luka yang sudah ada sebelum pembayaran kafarat. Allah Mahatahu.

بَابُ مَنْ حَلَفَ بِطَلَاقِ امْرَأَتِهِ أَنْ يَتَزَوَّجَ عليها

Bab tentang orang yang bersumpah dengan talak istrinya bahwa ia akan menikah lagi atas istrinya.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَالَ لِامْرَأَتِهِ أَنْتِ طالقٌ إِنْ تَزَوَّجْتُ عَلَيْكِ فَطَلَّقْهَا وَاحِدَةً تَمْلِكُ الرَّجْعَةَ ثُمَّ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا فِي الْعِدَّةِ طُلِّقَتْ بِالْحِنْثِ وَإِنْ كَانَتْ بَائِنًا لَمْ يَحْنَثْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa yang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika aku menikah lagi atasmu,” lalu ia menalaknya satu kali talak raj‘i (yang masih boleh rujuk), kemudian ia menikah lagi atas istrinya itu dalam masa iddah, maka istrinya tertalak karena melanggar sumpah tersebut. Namun jika istrinya telah menjadi talak bain (tidak bisa rujuk), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا قَالَ إِنْ تَزَوَّجَتْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ ثُمَّ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا لَمْ يَخْلُ تَزْوِيجُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, jika seseorang berkata, ‘Jika aku menikah lagi atas dirimu, maka engkau tertalak,’ kemudian ia menikah lagi atas istrinya, maka pernikahannya itu tidak lepas dari tiga keadaan.”

أَحَدُهَا أَنْ يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا وَهِيَ بَاقِيَةٌ عَلَى نِكَاحِهِ فَقَدْ طُلِّقَتْ سَوَاءٌ قَرُبَ زَمَانُ تَزْوِيجِهِ أَوْ بَعُدَ؟ لِأَنَّهُ قَدْ جَعَلَهُ شَرْطًا فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ فَاسْتَوَى حُكْمُهُ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا مَنْ يُكَافِئُهَا فِي نَسَبِهَا وَجِمَالِهَا أَوْ تَقَدَّمَ عَنْهَا فِي النَّسَبِ وَالْجَمَالِ وَوَافَقَنَا مَالِكٌ عَلَى هَذَا وَإِنْ خَالَفَنَا إِذَا حَلَفَ لِيَتَزَوَّجْنَ عَلَيْهَا عَلَى مَا سَنَذْكُرُ وَإِنْ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا بِعَقْدٍ فَاسِدٍ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ فَسَادَ الْعَقْدِ يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الشَّرْطِ وَسَوَاءٌ دَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ وَيَجِيءُ عَلَى قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ يَحْنَثُ إِنْ دَخَلَ بِهَا وَلَا يَحْنَثُ إِنْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا عَلَى مَعْنَى قَوْلِهِ إِذَا نَكَحَ الْوَلِيَّانِ وَدَخَلَ الثَّانِي صَحَّ عَقْدُهُ

Salah satunya adalah jika seseorang menikahi wanita lain sementara istrinya masih dalam ikatan pernikahan dengannya, maka istrinya telah tertalak, baik waktu pernikahan barunya itu dekat maupun jauh. Sebab, ia telah menjadikan hal itu sebagai syarat terjadinya pelanggaran sumpah, sehingga hukumnya sama baik dalam waktu dekat maupun jauh. Tidak ada perbedaan apakah ia menikahi wanita yang setara dengan istrinya dalam nasab dan kecantikan, atau yang lebih tinggi dalam nasab dan kecantikan. Malik sependapat dengan kami dalam hal ini, meskipun beliau berbeda pendapat jika seseorang bersumpah akan menikahi wanita lain atas istrinya, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Jika ia menikahi wanita lain dengan akad yang fasid (batal), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena rusaknya akad menghalangi keabsahan syarat. Sama saja apakah ia telah berhubungan dengannya atau belum. Menurut pendapat Malik, jika ia telah berhubungan, maka ia dianggap melanggar sumpah, dan jika belum, maka tidak dianggap melanggar, berdasarkan pendapat beliau bahwa jika dua wali menikahkan dan yang kedua telah melakukan hubungan, maka akadnya sah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا وَقَدْ طَلَّقَهَا طَلَاقًا رَجْعِيًّا فَلَا يَخْلُو حَالُهَا فِيهِ مِنْ أَنْ تَكُونَ بَاقِيَةً فِي الْعِدَّةِ أَوْ خَارِجَةً عَنْهَا فَإِنْ كَانَتْ بَاقِيَةً فِي عِدَّتِهَا طُلِّقَتْ بِالْحِنْثِ أُخْرَى لِأَنَّهَا لَمَّا طُلِّقَتْ فِي الْعِدَّةِ إِذَا بَاشَرَهَا بِالطَّلَاقِ طُلِّقَتْ بِالْحِنْثِ فِي الطَّلَاقِ أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ بِعِتْقِ عَبْدِهِ إِنْ بَاعَهُ فَبَاعَهُ عَتَقَ عَلَيْهِ بَعْدَ بَيْعِهِ لِأَنَّهُ لَوْ بَاشَرَ عِتْقَهُ فِي خِيَارِ الْمَجْلِسِ عُتق كَذَلِكَ إِذَا حَلَفَ بِعِتْقِهِ عَتَقَ وَإِنْ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا لَمْ يَلْحَقْهَا بِالْحِنْثِ طَلَاقٌ لِأَنَّهُ لَا يَلْحَقُهَا بِالْمُبَاشِرَةِ طَلَاقٌ فَلَوْ تَزَوَّجَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ ثُمَّ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا نُظِرَت فَإِنْ كَانَ قَدْ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا وَقَبْلَ اسْتِئْنَافِ نِكَاحِهَا لَمْ تُطَلَّقْ إِذَا تَزَوَّجَ عَلَيْهَا بَعْدَ اسْتِئْنَافِ نِكَاحِهَا لِسُقُوطِ الشَّرْطِ بِالتَّزْوِيجِ الْأَوَّلِ وَإِنْ لَمْ يَتَزَوَّجْ عَلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ اسْتِئْنَافِ الْعَقْدِ الْبَاقِي عَلَيْهَا فَفِي حِنْثِهِ بِوُقُوعِ الطَّلَاقِ عَلَيْهَا قَوْلَانِ

Keadaan kedua adalah ketika ia menikah lagi dengannya setelah menceraikannya dengan talak raj‘i. Dalam hal ini, keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: masih dalam masa ‘iddah atau sudah keluar dari masa ‘iddah. Jika ia masih dalam masa ‘iddah, maka ia diceraikan lagi karena pelanggaran sumpah, karena ketika ia ditalak dalam masa ‘iddah, jika ia menceraikannya lagi, maka jatuhlah talak karena pelanggaran sumpah dalam talak. Tidakkah engkau melihat bahwa jika seseorang bersumpah akan memerdekakan budaknya jika ia menjualnya, lalu ia menjualnya, maka budak itu merdeka setelah penjualan, karena jika ia langsung memerdekakannya dalam masa khiyar majlis, maka budak itu merdeka; demikian pula jika ia bersumpah untuk memerdekakannya, maka budak itu merdeka. Namun, jika ia menikahinya setelah masa ‘iddah selesai, maka tidak jatuh talak karena pelanggaran sumpah, karena talak tidak berlaku padanya dengan langsung. Jika ia menikahinya setelah masa ‘iddah selesai, lalu menikah lagi dengannya, maka dilihat keadaannya: jika ia menikahinya setelah masa ‘iddah selesai dan sebelum memulai akad nikah yang baru, maka tidak jatuh talak jika ia menikah lagi dengannya setelah memulai akad nikah yang baru, karena syaratnya telah gugur dengan pernikahan yang pertama. Namun, jika ia tidak menikahinya kecuali setelah memulai akad nikah yang baru, maka dalam hal pelanggaran sumpah dengan jatuhnya talak atasnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُطَلِّقُ لِوُجُودِ عَقْدِ الْيَمِينِ وَشَرْطِ الْحِنْثِ فِي نِكَاحِهَا

Salah satunya adalah menjatuhkan talak karena adanya akad sumpah dan syarat pelanggaran sumpah dalam pernikahannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يُطَلِّقُ بِالْحِنْثِ لِاخْتِصَاصِ يَمِينِهِ بِنِكَاحٍ مَضَى فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَقَعَ الْحِنْثُ بِهَا فِي نِكَاحٍ مستقبلٍ لِأَنَّهُ لَا طَلَاقَ قَبْلَ نِكَاحٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tidak terjadi karena pelanggaran sumpah, karena sumpah tersebut khusus untuk pernikahan yang telah lalu, sehingga tidak sah jika pelanggaran sumpah itu terjadi pada pernikahan yang akan datang, sebab tidak ada talak sebelum adanya pernikahan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا فِي النِّكَاحِ وَهِيَ فِي عِدَّةٍ مِنْ طَلَاقٍ بَائِنٍ فَلَا يَحْنَثُ بِطَلَاقِهَا لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَقَعِ عَلَيْهَا الطَّلَاقُ لَوْ بَاشَرَهَا بِالطَّلَاقِ كَذَلِكَ لَمْ تُطَلَّقْ إِذَا حَنِثَ بِالطَّلَاقِ فَإِنْ تَزَوَّجَهَا مِنْ بَعْدِ نِكَاحٍ مُسْتَجَدٍّ وَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا بَعْدَ أَنْ كَانَ قَدْ تَزَوَّجَ لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَدْ تَزَوَّجَ فَإِنْ قِيلَ فِي الطَّلَاقِ الرَّجْعِيِّ لَا يَحْنَثُ فَفِي هَذَا أَوْلَى أَنْ لَا يَحْنَثَ وَإِنْ قِيلَ فِي الطَّلَاقِ الرَّجْعِيِّ إِنَّهُ يَحْنَثُ فَفِي هَذَا الطَّلَاقِ الْبَائِنِ قَوْلَانِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang menikahi seorang wanita dalam pernikahan sementara ia masih dalam masa ‘iddah dari talak bain, maka ia tidak terkena sumpah talak terhadapnya. Sebab, ketika talak tidak berlaku atasnya jika ia langsung menjatuhkan talak, demikian pula ia tidak tertalak jika ia melanggar sumpah talak. Jika ia menikahinya setelah akad nikah yang baru, dan menikahinya setelah sebelumnya telah menikah, maka ia tidak terkena sumpah, meskipun ia menikahinya dan belum pernah menikah sebelumnya. Jika dikatakan bahwa dalam kasus talak raj‘i tidak terkena sumpah, maka dalam kasus ini lebih utama untuk tidak terkena sumpah. Namun jika dikatakan bahwa dalam talak raj‘i ia terkena sumpah, maka dalam talak bain ini ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ

Salah satunya melanggar sumpah.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ وَقَدْ مَضَى مِثْلُ هَذَا فِي كتاب الطلاق مشروحاً معللاً

Yang kedua, ia tidak dianggap melanggar sumpah, dan hal seperti ini telah dijelaskan beserta alasannya dalam Kitab Thalāq.

مسألة

Masalah

قال الشافعي فَإِنْ قَالَ أَنْتِ طالقٌ ثَلَاثًا إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ وَلَمْ يُوَقِّتْ فَهُوَ عَلَى الْأَبَدِ لَا يَحْنَثُ حَتَى يَمُوتَ أَوْ تَمُوتَ هِيَ قبل أن يتزوج عليها وإن تزوج عليها من يشبهها أو لا يشبهها خرج من الحنث دخل بها أو لم يدخل بها وإن ماتت لم يرثها وإن مات ورثته في قول من يورث المبتوتة إذا وقع الطلاق في المرض قال المزني قد قطع في غير هذا الكتاب أنها لا ترث قال المزني وهو بالحق أولى لأن الله تبارك وتعالى ورثها منه بالمعنى الذي ورثه به منها فلما ارتفع ذلك المعنى فلم يرثها لم يجز أن ترثه

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga jika aku tidak menikahimu lagi,” dan ia tidak menentukan waktu, maka hal itu berlaku selamanya; ia tidak terkena sumpahnya sampai ia meninggal atau istrinya meninggal sebelum ia menikahinya lagi. Jika ia menikahi wanita lain, baik yang serupa maupun yang tidak serupa dengan istrinya, maka ia telah keluar dari sumpahnya, baik ia telah berhubungan dengannya atau belum. Jika istrinya meninggal, ia tidak mewarisinya; namun jika suaminya meninggal, istrinya mewarisinya menurut pendapat orang yang membolehkan warisan bagi wanita yang ditalak ba’in jika talak terjadi saat suami sakit. Al-Muzani berkata: Dalam kitab lain, Imam Syafi‘i telah menegaskan bahwa istri tersebut tidak berhak mewarisi. Al-Muzani juga berkata: Pendapat ini lebih benar, karena Allah Ta‘ala mewariskan suami kepada istri dengan sebab yang sama sebagaimana istri diwariskan kepada suami. Ketika sebab itu telah hilang sehingga suami tidak mewarisi istri, maka tidak boleh pula istri mewarisi suami.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ وَالْحِنْثُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُخَالِفُ الْحِنْثَ فِي الَّتِي تَقَدِّمَهَا لِأَنَّهُ جَعَلَ تَزْوِيجَهُ عَلَيْهَا فِي الْمَسْأَلَةِ الْأُولَى شَرْطًا فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ وَجَعَلَهُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ شَرْطًا فِي الْبِرِّ وَإِذَا قَالَ فِي هَذِهِ

Al-Mawardi berkata, “Memang sebagaimana yang ia katakan, dan pelanggaran sumpah (al-hinth) dalam masalah ini berbeda dengan pelanggaran sumpah pada masalah sebelumnya, karena dalam masalah pertama ia menjadikan pernikahannya dengannya sebagai syarat terjadinya pelanggaran sumpah, sedangkan dalam masalah ini ia menjadikannya sebagai syarat untuk kebaikan (al-birr). Dan apabila ia berkata dalam masalah ini…”

الْمَسْأَلَةِ

Permasalahan

إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَإِنَّهُ عَلَى التَّرَاخِي لَا يَحْنَثُ إِلَّا أَنْ يَفُوتَهُ التَّزْوِيجُ عَلَيْهَا بِمَوْتِهِ أَوْ مَوْتِهَا فلو قال إذا لم أتزوج عليها فَأَنْتِ طَالِقٌ كَانَ عَلَى الْفَوْرِ يَحْنَثُ إِنْ أخر التزويج عليها والفرق بين إن وإذا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ حَيْثُ جَعَلْنَا إِنْ عَلَى التراخي وإذا عَلَى الْفَوْرِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika ia berkata, “Jika aku tidak menikah lagi atasmu, maka engkau tertalak,” maka itu berlaku secara tawaqquf (tidak langsung), ia tidak dianggap melanggar kecuali jika ia melewatkan kesempatan menikah lagi atas istrinya karena kematiannya atau kematian istrinya. Namun jika ia berkata, “Jika aku tidak menikah lagi atasmu, maka engkau tertalak,” dengan menggunakan kata “idha”, maka itu berlaku secara langsung, ia dianggap melanggar jika menunda pernikahan lagi atas istrinya. Perbedaan antara penggunaan “in” dan “idha” dalam masalah ini, di mana kami menetapkan “in” untuk tawaqquf dan “idha” untuk langsung, terdapat pada dua sisi.

أَحَدُهُمَا بِأَنَّ إِنْ مَوْضُوعَةٌ لِلْفِعْلِ فَاعْتُبِرَ فِيهِ فَوَاتُ الْفِعْلِ بِمَوْتِ أَحَدِهِمَا فَصَارَ كَقَوْلِهِ إِنْ فَاتَنِي التَّزْوِيجُ عَلَيْكِ فأنت طالق وإذا موضوعةٌ لِلزَّمَانِ فَاعْتُبِرَ فِيهَا إِمْكَانُ الزَّمَانِ فَصَارَ كَقَوْلِهِ إِذَا مَضَى زَمَانُ التَّزْوِيجِ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ وَهُوَ فَرْقُ أَكْثَرِ أَصْحَابِنَا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa “in” digunakan untuk perbuatan, sehingga yang dipertimbangkan adalah terlewatnya perbuatan itu karena wafatnya salah satu dari keduanya; maka hal itu seperti ucapannya: “Jika aku terlewat menikahimu, maka engkau tertalak.” Adapun “idzā” digunakan untuk waktu, sehingga yang dipertimbangkan adalah kemungkinan terjadinya waktu tersebut; maka hal itu seperti ucapannya: “Jika telah berlalu masa pernikahan denganmu, maka engkau tertalak.” Inilah perbedaan menurut kebanyakan ulama kami.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي ذَكَرَهُ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ إِنْ مَوْضُوعَةٌ لِلشَّكِّ فِيمَا قَدْ يَكُونُ فَلَمْ يَثْبُتْ حُكْمُهَا إِلَّا بَعْدَ زَوَالِ الشك بالفوات فصارت على التراخي وإذا مَوْضُوعَةٌ لِلْيَقِينِ فَاعْتُبِرَ فِيهَا التَّعْجِيلُ فَصَارَتْ عَلَى الْفَوْرِ

Perbedaan kedua disebutkan oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yaitu bahwa “in” digunakan untuk keraguan terhadap sesuatu yang mungkin terjadi, sehingga hukumnya tidak tetap kecuali setelah hilangnya keraguan dengan terlewatnya waktu, maka hukumnya menjadi bersifat tawaqquf (ditunda). Adapun “idza” digunakan untuk sesuatu yang pasti, sehingga dipertimbangkan padanya percepatan, maka hukumnya menjadi bersifat segera (langsung).

فَهَذَانِ الْفَرْقَانِ بَيْنَ إِنْ وَ إِذَا كَانَا عَلَى نَفْيِ فعلٍ فَقَالَ إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ وَإِذَا لَمْ أَتَزَوَّجْ وَأَمَّا إِذَا كَانَا شَرْطًا فِي إِثْبَاتِ فِعْلٍ فَقَالَ إِنْ تَزَوَّجْتُ عليك وإذا تَزَوَّجْتُ عَلَيْكِ فَهُمَا سَوَاءٌ فِي أَنَّ الْفِعْلَ مَتَى وُجِدَ عَلَى الْفَوْرِ أَوْ عَلَى التَّرَاخِي تَعَلَّقَ بِهِ حُكْمٌ وَاسْتَوَى فِيهِ إِنْ وَ إِذَا  لِأَنَّ مَا تَعَلَّقَ بِالْفِعْلِ كَانَ وُجُودُهُ هُوَ الشَّرْطَ الْمُعْتَبَرَ فَاسْتَوَى فِيهِ الْفَوْرُ وَالتَّرَاخِي فَأَمَّا إِذَا جُعِلَا شَرْطًا فِي مُعَاوَضَةِ الْخُلْعِ فَقَالَ إِنْ أَعْطَيْتِنِي أَلْفًا فَأَنْتِ طَالِقٌ أَوْ قَالَ إِذَا أَعْطَيْتِنِي أَلْفًا فَأَنْتِ طَالِقٌ فَهُمَا سَوَاءٌ فِي اعْتِبَارِ الْعَطِيَّةِ عَلَى الْفَوْرِ وَيَسْتَوِي حُكْمُ إِنْ وَ إِذَا  لِأَنَّهُ يَغْلِبُ فِيهِ حِكَمُ الْمُعَاوَضَةِ الَّتِي يُعْتَبَرُ الْفَوْرُ فِيهَا وَذَلِكَ عَلَى مَا يَقْتَضِيهِ افْتِرَاقُ الْحَرْفَيْنِ وَلَوْ قَالَ مَتَى أَعْطَيْتِنِي أَلْفًا فَأَنْتِ طَالِقٌ كَانَ عَلَى التراخي بخلاف إن وإذا لِأَنَّ لَفْظَةَ مَتَى صَرِيحَةٌ فِي اعْتِبَارِ الْفِعْلِ فَاسْتَوَى فِيهِ حُكْمُ الْفَوْرِ وَالتَّرَاخِي

Dua perbedaan antara “in” dan “idza” jika keduanya digunakan untuk menafikan suatu perbuatan, misalnya seseorang berkata, “in lam atazawwaj” (jika aku tidak menikah) dan “idza lam atazawwaj” (apabila aku tidak menikah). Adapun jika keduanya menjadi syarat dalam penetapan suatu perbuatan, seperti seseorang berkata, “in tazawwajtu ‘alaiki” (jika aku menikahimu) dan “idza tazawwajtu ‘alaiki” (apabila aku menikahimu), maka keduanya sama saja dalam hal bahwa perbuatan tersebut, kapan pun terjadi, baik segera maupun ditunda, maka hukum akan terkait dengannya, dan sama saja antara “in” dan “idza”, karena yang terkait dengan perbuatan adalah keberadaannya sebagai syarat yang dianggap, sehingga sama saja antara segera dan ditunda. Adapun jika keduanya dijadikan syarat dalam mu‘awadhah al-khulu‘ (kompensasi khulu‘), seperti seseorang berkata, “in a‘thaytini alfan fa anti thaliq” (jika engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak) atau berkata, “idza a‘thaytini alfan fa anti thaliq” (apabila engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak), maka keduanya sama saja dalam mempertimbangkan pemberian itu harus segera, dan hukum “in” dan “idza” sama saja, karena yang lebih dominan di sini adalah hukum mu‘awadhah yang mengharuskan segera, sesuai dengan perbedaan kedua huruf tersebut. Namun, jika seseorang berkata, “mata a‘thaytini alfan fa anti thaliq” (kapan pun engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak), maka itu berlaku untuk penundaan, berbeda dengan “in” dan “idza”, karena lafaz “mata” secara tegas menunjukkan pertimbangan perbuatan, sehingga hukum segera dan penundaan sama saja padanya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا فَلَا يَخْلُو حَالُهُ فِي يَمِينِهِ هَذِهِ مِنْ بِرٍّ أَوْ حَنِثٍ؟ فَإِنْ بَرَّ فِي يَمِينِهِ بِأَنْ تَزَوَّجَ عَلَيْهَا عَلَى الْفَوْرِ فِي قَوْلِهِ إِذَا لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ أَوْ عَلَى التَّرَاخِي فِي قَوْلِهِ إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ كَانَ بِرُّهُ مُعْتَبَرًا بِوُجُودِ عَقْدِ نِكَاحٍ صَحِيحٍ عَلَى مُكَافِئَةٍ لَهَا فِي النَّسَبِ وَالْجَمَالِ؟ أَوْ غَيْرِ مُكَافِئَةٍ وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَبَرُّ حَتَّى يَتَزَوَّجَ عَلَيْهَا مَنْ يُكَافِئُهَا فِي نَسَبِهَا وَجِمَالِهَا فَإِنْ تَزَوَّجَ دُونَهَا فِي النَّسَبِ وَالْجَمَالِ لَمْ يَبَرَّ؟ لِأَنَّ قَصْدَهُ بِيَمِينِهِ إِدْخَالُ الْغَيْظِ عَلَيْهَا وَغَيْظُهَا يَخْتَصُّ بِمَنْ يُكَافِئُهَا فَأَمَّا مَنْ لَا يُكَافِئُهَا فهو نقص يدخل عليها دُونَهَا وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika telah jelas apa yang telah kami uraikan, maka tidak lepas keadaan seseorang dalam sumpahnya ini dari dua kemungkinan: menepati sumpah atau melanggarnya. Jika ia menepati sumpahnya dengan segera menikah lagi atas istrinya dalam ucapannya, “Jika aku tidak menikah lagi atasmu maka engkau tertalak,” atau dengan menunda dalam ucapannya, “Jika aku tidak menikah lagi atasmu maka engkau tertalak,” maka penepatan sumpahnya dianggap sah dengan terjadinya akad nikah yang sah dengan wanita yang sepadan dengannya dalam nasab dan kecantikan, atau dengan yang tidak sepadan. Malik berpendapat bahwa ia tidak dianggap menepati sumpah hingga ia menikahi wanita yang sepadan dengan istrinya dalam nasab dan kecantikan. Jika ia menikahi wanita yang di bawah istrinya dalam nasab dan kecantikan, maka ia belum dianggap menepati sumpah. Karena maksud dari sumpahnya adalah untuk menimbulkan rasa sakit hati pada istrinya, dan rasa sakit hati itu hanya terjadi jika ia menikahi wanita yang sepadan dengannya. Adapun jika wanita itu tidak sepadan, maka itu adalah kekurangan yang masuk pada istrinya, bukan pada dirinya. Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إِنَّ حُكْمَ الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرٌ بِصَرِيحِ الْأَلْفَاظِ دُونَ الْمَقَاصِدِ وَالْأَغْرَاضِ وَالِاسْمُ مَوْجُودٌ فِي الْحَالَيْنِ فَاسْتَوَى حُكْمُهُمَا فِي الْبِرِّ وَلِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى حُكْمُهُمَا فِي الْحِنْثِ إِذَا قَالَ إِنْ تَزَوَّجْتُ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ أَنَّهُ مَتَى تَزَوَّجَ عَلَيْهَا مُكَافِئَةً أَوْ غَيْرَ مُكَافِئَةٍ حَنِثَ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ حُكْمُهُمَا فِي الْبِرِّ إِذَا قَالَ إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ أَنَّهُ مَتَى تَزَوَّجَ عَلَيْهَا مُكَافِئَةً أَوْ غَيْرَ مُكَافِئَةٍ أَنْ يَبَرَّ وَمَا اعْتُبِرَ مِنْ إِدْخَالِ الْغَيْظِ عَلَيْهَا وَلَوْ قُلِبَ عَلَيْهِ بِأَنَّ إِدْخَالَ الْغَيْظِ عَلَيْهَا بِنِكَاحِ غَيْرِ الْمُكَافِئَةِ أَكْثَرُ لَكَانَ أَشْبَهَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ إِدْخَالُ الْغَيْظِ عَلَيْهَا مُعْتَبَرًا وَمَتَى وُجِدَ الْعَقْدُ اسْتَقَرَّ الْبِرُّ وَلَمْ يَكُنِ الدُّخُولُ فِيهِ شَرْطًا فِي الْبِرِّ وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَبَرُّ بِالْعَقْدِ حَتَّى يَقْتَرِنَ بِهِ الدُّخُولُ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْعَقْدِ فِي إِدْخَالِ الْغَيْظِ عَلَيْهَا وَهَذَا خَطَأٌ مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَمَّا لَمْ يُعْتَبَرِ الدُّخُولُ فِيهِ إِذَا عُلِّقَ بِالْحِنْثِ كَذَلِكَ لَا يعتبر إذا علق وَالثَّانِي إِنَّهُ زِيَادَةٌ لَمْ تُذْكَرْ فَكَانَ مُلْغًى كَالْحَبَلِ

Salah satunya adalah bahwa hukum sumpah (al-yamīn) didasarkan pada kejelasan lafaz, bukan pada maksud dan tujuan, dan nama (sumpah) itu ada pada kedua keadaan tersebut, sehingga hukumnya sama dalam hal menepati sumpah. Karena ketika hukumnya sama dalam hal melanggar sumpah, yaitu jika seseorang berkata, “Jika aku menikah lagi atasmu, maka engkau tertalak,” maka kapan pun ia menikah lagi atas istrinya, baik dengan wanita yang sepadan maupun yang tidak sepadan, ia dianggap melanggar sumpah; demikian pula haruslah hukumnya sama dalam hal menepati sumpah, yaitu jika ia berkata, “Jika aku tidak menikah lagi atasmu, maka engkau tertalak,” maka kapan pun ia menikah lagi atas istrinya, baik dengan wanita yang sepadan maupun yang tidak sepadan, ia dianggap menepati sumpah. Tidak diperhitungkan apakah hal itu menyebabkan kemarahan pada istrinya atau tidak. Jika dikatakan bahwa menikah dengan wanita yang tidak sepadan lebih besar menyebabkan kemarahan pada istrinya, maka itu lebih mendekati, meskipun sebenarnya menyebabkan kemarahan pada istrinya tidaklah menjadi pertimbangan. Kapan pun akad nikah terjadi, maka dianggap telah menepati sumpah, dan tidak disyaratkan terjadinya hubungan suami istri untuk menepati sumpah. Malik berpendapat bahwa tidak dianggap menepati sumpah hanya dengan akad, kecuali disertai hubungan suami istri, karena tujuan akad adalah untuk menimbulkan kemarahan pada istrinya. Ini adalah kesalahan dari dua sisi: pertama, karena hubungan suami istri tidak dianggap jika dikaitkan dengan pelanggaran sumpah, maka demikian pula tidak dianggap jika dikaitkan dengan menepati sumpah; kedua, karena itu merupakan tambahan yang tidak disebutkan, sehingga dianggap batal seperti halnya kehamilan.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنْ حَنِثَ فِي يَمِينِهِ لَمْ يَخْلُ حِنْثُهُ أَنْ يَكُونَ بِالثَّلَاثِ أَوْ دُونِهَا فَإِنْ كَانَ بِمَا

Dan jika ia melanggar sumpahnya, maka pelanggarannya itu tidak lepas dari dua kemungkinan: terjadi dengan tiga kali atau kurang dari itu. Jika pelanggaran itu dengan…

دُونَ الثَّلَاثِ تَوَارَثَا فِي الْعِدَّةِ وَلَمْ يَتَوَارَثَا فِيمَا بَعْدَهَا وَإِنْ كَانَ حِنْثُهُ بِالثَّلَاثِ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا بِالْفَوْرِ أَوِ التَّرَاخِي فَإِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا بِالْفَوْرِ لِأَنَّهُ قَالَ إِذَا لَمْ أَتَزَوَّجْ فَأَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا لَمْ يَتَوَارَثَا فِيهِ إِذَا كَانَ عَقْدُ الْيَمِينِ فِي الصِّحَّةِ وَإِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا بِالتَّرَاخِي لِأَنَّهُ قَالَ إِنْ لَمْ أَتَزَوَّجْ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا فَلَا حِنْثَ مَا لَمْ يَمُتْ واحدٌ مِنْهُمَا فَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا وَقَعَ الْحِنْثُ قَبْلَ الْمَوْتِ بِزَمَانٍ يَضِيقُ عَنْ عَقْدِ النِّكَاحِ فَيَحْنَثُ بِفَوَاتِ الْعَقْدِ لِقُصُورِ زَمَانِهِ قَبْلَ الْمَوْتِ وَتَصِيرُ كَالْمَبْتُوتَةِ فِي مَرَضِ الْمَوْتِ وَإِنْ كَانَتْ هِيَ الْمَيِّتَةَ لَمْ يَرِثْهَا لِوُقُوعِ الْفُرْقَةِ بِاخْتِيَارِهِ وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَيِّتَ فَفِي مِيرَاثِهَا مِنْهُ قَوْلَانِ مِنْ مِيرَاثِ الْمَبْتُوتَةِ فِي الْمَرَضِ لِأَنَّهُ بالامتناع من التزويج عليها كالموقع إطلاقها فِي مَرَضِ مَوْتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika talak kurang dari tiga, keduanya masih saling mewarisi selama masa ‘iddah, dan tidak saling mewarisi setelahnya. Jika pelanggaran sumpah itu dengan tiga talak, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah dipersyaratkan segera atau boleh ditunda. Jika dipersyaratkan segera, misalnya ia berkata, “Jika aku tidak menikahimu, maka engkau tertalak tiga,” maka keduanya tidak saling mewarisi jika akad sumpah itu sah. Jika dipersyaratkan boleh ditunda, misalnya ia berkata, “Jika aku tidak menikahimu, maka engkau tertalak tiga,” maka tidak terjadi pelanggaran selama salah satu dari keduanya belum meninggal. Jika salah satu dari mereka meninggal dan pelanggaran terjadi sebelum kematian dalam waktu yang tidak cukup untuk melakukan akad nikah, maka pelanggaran terjadi karena tidak sempat melakukan akad, sehingga statusnya seperti wanita yang ditalak ba’in dalam keadaan sakit menjelang wafat. Jika yang meninggal adalah perempuan, maka ia tidak mewarisi karena perpisahan terjadi atas pilihannya. Jika yang meninggal adalah laki-laki, maka ada dua pendapat mengenai hak waris perempuan darinya, sebagaimana dalam kasus wanita yang ditalak ba’in saat sakit, karena menahan diri untuk tidak menikahinya sama dengan menjatuhkan talak saat sakit menjelang wafat. Dan Allah Maha Mengetahui.

بَابُ الْإِطْعَامِ فِي الْكَفَّارَةِ فِي الْبُلْدَانِ كُلِّهَا ومن له أن يطعم وغيره

Bab Memberi Makan dalam Kaffārah di Seluruh Negeri dan Siapa Saja yang Boleh Memberi Makan atau Selainnya

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَيُجْزِئُ فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينُ مُدٌّ بمدِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَإِنَّمَا قُلْنَا يُجْزِئُ هَذَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أُتي بِعَرَقٍ فِيهِ تمرٌ فَدَفَعَهُ إِلَى رجلٍ وَأَمَرَهُ أَنْ يُطْعِمَهُ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَالْعَرَقُ فِيمَا يقدر خمسة عشرة صَاعًا وَذَلِكَ سِتُّونَ مُدًا فِلِكُلِّ مسكينٍ مدٌّ فِي كُلِّ بلادٍ سواءٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Cukup dalam kafarat sumpah dengan satu mud menurut takaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mengatakan bahwa ini cukup karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangkan satu keranjang berisi kurma, lalu beliau memberikannya kepada seorang laki-laki dan memerintahkannya untuk memberikannya kepada enam puluh orang miskin. Satu keranjang itu kira-kira seberat lima belas sha‘, dan itu sama dengan enam puluh mud, sehingga setiap orang miskin mendapat satu mud, dan hal ini berlaku sama di seluruh negeri.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْكَفَّارَاتِ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Ketahuilah bahwa kafarat terbagi menjadi tiga bagian.”

قِسْمٌ وَجَبَ عَلَى التَّرْتِيبِ فِي جَمِيعِهِ

Bagian yang wajib dilakukan secara berurutan dalam seluruhnya.

وَقِسْمٌ وَجَبَ عَلَى التَّخْيِيرِ فِي بَعْضِهِ وَالتَّرْتِيبِ فِي بَعْضِهِ فَأَمَّا مَا كَانَ بِوُجُوبِهِ عَلَى التَّرْتِيبِ فِي جَمِيعِهِ فَكَفَّارَةُ الظِّهَارِ وَالْقَتْلِ وَالْوَطْءِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ يَبْدَأُ بِالْعِتْقِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ فَالصِّيَامُ فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ فَالْإِطْعَامُ وَأَمَّا مَا كَانَ وُجُوبُهُ عَلَى التَّخْيِيرِ فَكَفَّارَةُ الْأَذَى وَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ دَمِ شَاةٍ أَوْ إِطْعَامِ سِتَّةِ مَسَاكِينَ أَوْ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أيامٍ وَجَزَاءُ الصَّيْدِ هُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ مِثْلِهِ مِنَ النَّعَمِ أَوْ قِيمَةِ الْمِثْلِ طَعَامًا أَوْ عَدْلِ ذَلِكَ صِيَامًا وَأَمَّا مَا كَانَ وُجُوبُهُ عَلَى التَّخْيِيرِ فِي بَعْضِهِ وَالتَّرْتِيبِ فِي بَعْضِهِ فَكَفَّارَةُ الْيَمِينِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَكَفَّارَتُهُ إَطْعَامُ عَشْرَةِ مَسَاكِينَ الْآيَةَ فَجَعَلَهُ مُخَيَّرًا بَيْنَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ ثُمَّ قَالَ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَجَعَلَ الصِّيَامَ مُرَتَّبًا عَلَى الْعَجْزِ بَعْدَ الْمَالِ فَبَدَأَ الشَّافِعِيُّ بِالْإِطْعَامِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَدَأَ بِهِ لِقَوْلِهِ فَكَفَّارَتُهُ إَطْعَامُ عَشْرَةِ مَسَاكِينَ فَنَصَّ عَلَى عَدَدِ الْمَسَاكِينِ أَنَّهُمْ عَشَرَةٌ فَلَا يَجُوزُ الِاقْتِصَارُ عَلَى أَقَلَّ مِنْهُمْ لِمُخَالَفَةِ النَّصِّ وَقَالَ فِي طَعَامِ كُلِّ مِسْكِينٍ احْتِمَالًا لَا يُقَدِّرُهُ بِحَدٍّ فقال من أوسط ما تطعمون أهليكم فَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي قَدْرِ مَا يُطْعِمُ كُلَّ مِسْكِينٍ مِنْهُمْ عَلَى مَذَاهِبَ شَتَّى

Dan ada bagian yang wajib dilakukan dengan memilih pada sebagian dan berurutan pada sebagian lainnya. Adapun yang wajib dilakukan secara berurutan seluruhnya adalah kafarat zhihār, pembunuhan, dan berhubungan badan di bulan Ramadan; dimulai dengan memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa, jika tidak mampu juga maka memberi makan. Adapun yang wajib dilakukan dengan memilih adalah kafarat pelanggaran ihram, yaitu boleh memilih antara menyembelih seekor kambing, atau memberi makan enam orang miskin, atau berpuasa tiga hari. Begitu juga denda karena membunuh binatang buruan, boleh memilih antara menggantinya dengan hewan ternak sejenis, atau membayar nilai hewan itu dalam bentuk makanan, atau berpuasa sejumlah hari yang setara. Adapun yang wajib dilakukan dengan memilih pada sebagian dan berurutan pada sebagian lainnya adalah kafarat sumpah. Allah Ta‘ala berfirman: “Maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin…” (ayat). Maka Allah menjadikannya boleh memilih di antara tiga hal itu, lalu berfirman: “Barang siapa tidak mampu, maka berpuasa tiga hari.” Maka puasa dijadikan berurutan setelah tidak mampu membayar dengan harta. Imam Syafi‘i memulai dengan memberi makan karena Allah Ta‘ala memulai dengannya, sebagaimana firman-Nya: “Maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin.” Allah juga menegaskan jumlah orang miskin itu sepuluh, sehingga tidak boleh kurang dari jumlah tersebut karena bertentangan dengan nash. Dan mengenai makanan untuk setiap orang miskin, Allah tidak menentukan ukurannya secara pasti, melainkan berfirman: “Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” Maka para ulama berbeda pendapat tentang kadar makanan yang diberikan kepada masing-masing orang miskin menurut berbagai mazhab.

أَحَدُهَا مَا حَكَاهُ الْحَارِثُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَقَالَهُ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ إِنَّهُ غَدَاءٌ وَعَشَاءٌ لِكُلِّ مِسْكِينٍ

Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Harits dari Ali bin Abi Thalib, dan dikatakan pula oleh Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi serta Al-Hasan Al-Bashri, bahwa itu adalah makan pagi dan makan malam untuk setiap orang miskin.

وَالثَّانِي مَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ أَنَّ يَعْتَبِرُ الْمُكَفِّرُ فِي عِيَالِهِ فَإِنْ كَانَ يُشْبِعُهُمْ أَشْبَعَ الْمَسَاكِينَ وَإِنْ كَانَ لَا يُشْبِعُهُمْ فَيُقَدِّرُ ذَلِكَ فِي طَعَامِ الْمَسَاكِينِ

Pendapat kedua adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan Sa‘id bin Jubair, yaitu bahwa orang yang harus membayar kafarat hendaknya mempertimbangkan bagaimana ia memberi makan keluarganya; jika ia biasa membuat mereka kenyang, maka ia juga harus membuat para miskin kenyang, dan jika ia tidak membuat mereka kenyang, maka ia memperkirakan hal itu dalam makanan yang diberikan kepada para miskin.

وَالثَّالِثُ مَا قَالَهُ بَعْضُ فُقَهَاءِ الْبَصْرَةِ إِنَّهُ أَحَدُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ غَدَاءٍ وَعَشَاءٍ

Dan pendapat ketiga adalah apa yang dikatakan oleh sebagian fuqaha Basrah, bahwa itu adalah salah satu dari dua waktu, yaitu pagi atau malam.

وَالرَّابِعُ مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ إِنَّهُ إِنْ كَفَّرَ بِالْحِنْطَةِ أَعْطَى كُلَّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ وَإِنْ كَفَّرَ بِالتَّمْرِ أَوِ الشَّعِيرِ أَعْطَى كُلَّ مِسْكِينٍ صَاعًا وَعَنْهُ فِي الزَّبِيبِ رِوَايَتَانِ

Keempat, pendapat yang dikemukakan oleh Abu Hanifah adalah bahwa jika seseorang membayar kafarat dengan gandum, maka ia memberikan kepada setiap miskin setengah sha‘. Jika ia membayar kafarat dengan kurma atau jelai, maka ia memberikan kepada setiap miskin satu sha‘. Adapun mengenai kismis, terdapat dua riwayat darinya.

إِحْدَاهُمَا صَاعٌ كَالتَّمْرِ

Salah satunya adalah satu sha‘ seperti kurma.

وَالثَّانِيَةُ نِصْفُ صَاعٍ كَالْبُرِّ

Dan yang kedua adalah setengah sha‘, seperti gandum.

وَالْخَامِسُ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ إِنَّهُ يُعْطِي كُلَّ مُسْلِمٍ مُدًّا وَاحِدًا مِنْ أَيِّ صِنْفٍ أَخْرَجَ مِنَ الْحُبُوبِ وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَمِنَ التَّابِعِينَ عَطَاءٌ وَقَتَادَةُ وَهَكَذَا كُلُّ كَفَّارَةٍ أَمْسَكَ عَنْ تَقْدِيرِ الْإِطْعَامِ فِيهَا مِثْلُ كَفَّارَةِ الظِّهَارِ وَالْقَتْلِ إِذَا قِيلَ إِنَّ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ إِطْعَامًا عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ يُقَدَّرُ إِطْعَامُ كُلِّ مِسْكِينٍ بِمُدٍّ وَاحِدٍ فِي أَيِّ يد كَفَّرَ وَمِنْ أَيِّ جِنْسٍ أَخْرَجَ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ فِيهِ مَعَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالدَّلِيلُ

Kelima, pendapat yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i adalah bahwa ia memberikan kepada setiap Muslim satu mud dari jenis apa pun yang dikeluarkan dari biji-bijian. Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat seperti Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, serta dari kalangan tabi‘in seperti ‘Atha’ dan Qatadah. Demikian pula halnya dengan setiap kafārah yang tidak disebutkan takaran makanan di dalamnya, seperti kafārah zhihār dan pembunuhan, jika dikatakan bahwa dalam kafārah pembunuhan terdapat kewajiban memberi makan menurut salah satu dari dua pendapat, maka memberi makan setiap miskin ditetapkan satu mud dari jenis apa pun yang dikeluarkan dan dengan cara apa pun ia menunaikannya. Pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan bersama pendapat Abu Hanifah dalam Kitab Thahārah. Di antara dalil yang mendukungnya adalah al-Kitab, as-Sunnah, dan dalil lainnya.

فَأَمَّا الْكِتَابُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ فَكَانَ الْأَوْسَطُ مَحْمُولًا عَلَى الْجِنْسِ وَالْقَدْرِ فَأَوْسَطُ الْقَدْرِ فِيمَا يَأْكُلُهُ كُلُّ إنسانٍ رِطْلَانِ مِنْ خُبْزٍ وَالْمُدُّ رطلٌ وَثُلُثٌ من حب إذا أخبز كان رطلين مِنْ خُبْزٍ هُوَ أَوْسَطَ الْكَفَّارَةِ

Adapun dalil dari al-Kitab adalah firman Allah Ta‘ala: “dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu yang pertengahan.” Maka yang dimaksud dengan pertengahan di sini mencakup jenis dan kadar. Kadar pertengahan dari apa yang dimakan setiap orang adalah dua rithl roti, sedangkan satu mudd adalah satu rithl dan sepertiga dari biji-bijian; jika dibuat roti, maka menjadi dua rithl roti. Inilah kadar pertengahan dalam kafarat.

وَأَمَّا السُّنَّةُ فَمَا أَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِلْأَعْرَابِيِّ الْوَاطِئِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَنْ يُطْعِمَ سِتِّينَ مِسْكِينًا فَقَالَ لَا أَجِدُ فَأُتِيَ بفرقٍ مِنْ تمرٍ فَقَالَ أَطْعِمْهُ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَالْفَرَقُ خَمْسَةَ عَشَرَ صَاعًا يَكُونُ سِتِّينَ مُدًّا فَجَعَلَ لِكُلِّ مِسْكِينَ مُدًّا وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ فَهُوَ أَنَّ إِطْلَاقَ الْإِطْعَامِ لَوْ لَمْ يُقَدَّرْ بِالنَّصِّ لَكَانَ معتبراً بالعرق وعرق مَنِ اعْتَدَلَ أَكْلُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَمْ يَكُنْ مِنَ الْمُسْرِفِينَ وَلَا مِنَ الْمُقَتِّرِينَ أَنْ يَكْتَفِيَ بِالْمُدِّ فِي أَكْلِهِ وَلَيْسَ يَنْتَهِي إِلَى صَاعٍ هُوَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ ثَمَانِيَةُ أرطالٍ وَمَا خَرَجَ عَنِ الْفَرَقِ لَمْ يُعْتَبَرْ إِلَّا بِنَصٍّ

Adapun sunnah adalah apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada seorang Arab Badui yang melakukan hubungan suami istri di bulan Ramadan, yaitu agar ia memberi makan enam puluh orang miskin. Ia berkata, “Aku tidak menemukan (sesuatu untuk diberikan).” Lalu didatangkan kepadanya satu ferq kurma. Nabi bersabda, “Berikanlah makan enam puluh orang miskin dengan itu.” Satu ferq adalah lima belas sha‘, yang setara dengan enam puluh mud. Maka, untuk setiap orang miskin diberikan satu mud. Adapun dalilnya adalah bahwa jika perintah memberi makan tidak ditentukan kadarnya dalam nash, maka yang dijadikan ukuran adalah kebiasaan makan orang yang sedang-sedang saja di antara manusia, bukan yang berlebihan dan bukan pula yang terlalu sedikit, yaitu cukup dengan satu mud dalam makannya, dan tidak sampai satu sha‘, yang menurut Abu Hanifah adalah delapan rithl. Apa yang melebihi ferq tidak dianggap kecuali dengan nash.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ قَدَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْإِطْعَامَ فِي فِدْيَةِ الْأَذَى بِمُدَّيْنِ لِكُلِّ مِسْكِينٍ فَلِمَا لَا جَعَلْتُمُوهُ أَصْلًا فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ وَقَدَّرْتُمُوهُ بِمُدَّيْنِ لِكُلِّ مِسْكِينٍ قِيلَ لِأَمْرَيْنِ

Jika dikatakan: Nabi ﷺ telah menetapkan ukuran pemberian makanan dalam fidyah karena pelanggaran ihram dengan dua mud untuk setiap miskin, maka mengapa kalian tidak menjadikannya sebagai dasar dalam kafarat sumpah dan menetapkannya dengan dua mud untuk setiap miskin? Maka dijawab: karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَمَّا قُدِّرَ فِي كَفَّارَةِ الْوَاطِئِ بِمُدٍّ وَفِي كَفَّارَةِ الْأَذَى بِمُدَّيْنِ وَتَرَدَّدَتْ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ بَيْنَ أَصْلَيْنِ وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ تَعْيِنٌ

Salah satunya adalah bahwa ketika dalam kafarat bagi orang yang berhubungan (di siang Ramadan) ditetapkan satu mud, dan dalam kafarat karena menyakiti (saat ihram) ditetapkan dua mud, serta kafarat sumpah berada di antara dua dasar, maka wajib dipertimbangkan yang paling sedikit karena itu merupakan penetapan tertentu.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَمَّا خُفِّفَتْ فِدْيَةُ الْأَذَى بِالتَّخْيِيرِ بَيْنَ الصِّيَامِ وَالْإِطْعَامِ تَغَلَّظَتْ بِمِقْدَارِ الطَّعَامِ وَلَمَّا غُلِّظَتْ كَفَّارَةُ الْأَيْمَانِ بِتَرْتِيبِ الْإِطْعَامِ عَلَى الصِّيَامِ تَخَفَّفَتْ بِمِقْدَارِ الْإِطْعَامِ تَعْدِيلًا بَيْنَهُمَا فِي أَنْ تَتَغَلَّظَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْ وَجْهٍ وَتَتَخَفَّفُ من وجه

Kedua, ketika fidyah atas pelanggaran (dalam ibadah) diringankan dengan memberikan pilihan antara puasa dan memberi makan, maka hukumannya menjadi lebih berat dari sisi jumlah makanan. Dan ketika kafarat sumpah diperberat dengan mewajibkan urutan memberi makan sebelum puasa, maka hukumannya menjadi lebih ringan dari sisi jumlah makanan, sebagai bentuk penyeimbangan antara keduanya, yaitu agar masing-masing menjadi berat dari satu sisi dan menjadi ringan dari sisi yang lain.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا أَرَى أَنْ يُجْزِئَ دَرَاهِمَ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَةِ الْأَمْدَادِ

Syafi‘i berkata, “Aku berpendapat bahwa dirham tidak dapat menggantikan (zakat fitrah), meskipun jumlahnya lebih banyak dari nilai makanan pokok (amdad).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ لَا يَجُوزُ أَنْ يُخْرِجَ فِي الْكَفَّارَةِ قِيمَةَ الطَّعَامِ كَمَا لَا يَحِقُّ أَنْ يُخْرِجَ فِي الزَّكَاةِ قِيمَتَهَا وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ إِخْرَاجَ الْقِيمَةِ فِي الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ وَقَدْ مَضَى الكلام معه

Al-Mawardi berkata, tidak boleh mengeluarkan nilai makanan dalam kaffarah, sebagaimana tidak boleh juga mengeluarkan nilai dalam zakat. Abu Hanifah membolehkan mengeluarkan nilai dalam zakat dan kaffarah, dan pembahasan tentangnya telah dijelaskan sebelumnya.

فأما ما نقله المزني هاهنا وَلَا يُجْزِئُ طَعَامٌ فَلَمْ يُرِدْ بِهِ طَعَامَ الْبُرِّ فِي إِطْعَامِ الْمَسَاكِينِ لِأَنَّهُ هُوَ الْأَصْلَ الْأَغْلَبَ فِيمَا يُسْتَحَقُّ وَلَهُ أَحَدُ تَأْوِيلَيْنِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى أَنْ لَا يُخْرِجَ الطَّعَامَ فِي قِيمَةِ الْكِسْوَةِ كَمَا لَا يُخْرِجُ الْكِسْوَةَ فِي قِيمَةِ الطَّعَامِ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى الطَّعَامِ الْمَطْبُوخِ مِنَ الْخُبْزِ لِأَنَّ الْمُسْتَحَقَّ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ إِخْرَاجُ الْحَبِّ مِنَ الْبُرِّ وَجَمِيعُ الْحُبُوبِ دُونَ الْخُبْزِ وَإِنْ كُنْتُ أُفْتِي بِإِخْرَاجِ الْخُبْزِ فِي الْكَفَّارَةِ اعْتِبَارًا بِالْأَرْفَقِ الْأَنْفَعِ فِي الْغَالِبِ وَأَنْ يُعْطَى كُلُّ مِسْكِينٍ رِطْلَيْنِ مِنَ الْخُبْزِ وَحَكَى ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ أَحْسَبُهُ أَرَادَ الْأَنْمَاطِيَّ أَنَّهُ جَوَّزَ إِخْرَاجَ الدَّقِيقِ فِي الْكَفَّارَةِ وَزَكَاةِ الْفِطْرِ اعْتِبَارًا بالأرفق

Adapun apa yang dinukil oleh al-Muzani di sini, “dan tidak sah makanan”, maka yang dimaksud bukanlah makanan dari gandum dalam memberi makan orang miskin, karena itulah asal yang paling umum dalam apa yang berhak diterima. Pernyataan ini memiliki dua kemungkinan penafsiran: pertama, bisa jadi maksudnya adalah tidak boleh mengeluarkan makanan sebagai pengganti nilai pakaian, sebagaimana tidak boleh mengeluarkan pakaian sebagai pengganti nilai makanan; atau kedua, bisa jadi maksudnya adalah makanan yang telah dimasak dari roti, karena menurut pendapat asy-Syafi‘i yang wajib dikeluarkan adalah biji-bijian dari gandum dan seluruh jenis biji-bijian, bukan roti. Meskipun aku sendiri berfatwa bolehnya mengeluarkan roti dalam kafarat, dengan pertimbangan apa yang lebih mudah dan lebih bermanfaat pada umumnya, dan setiap orang miskin diberikan dua rithl roti. Ibnu Abi Hurairah meriwayatkan dari Abu al-Qasim—aku kira yang dimaksud adalah al-Anmati—bahwa ia membolehkan mengeluarkan tepung dalam kafarat dan zakat fitrah, dengan pertimbangan apa yang lebih mudah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وما اقتات أهل البلدان في شيءٍ أَجْزَأَهُمْ مِنْهُ مدٌّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apa pun yang dijadikan makanan pokok oleh penduduk suatu negeri, maka satu mud dari makanan tersebut sudah mencukupi mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَهُوَ مَقْصُورٌ عَلَى الْحُبُوبِ الْمُقْتَاةِ فَكَمَا جَازَ إِخْرَاجُهُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ جَازَ إِخْرَاجُهُ فِي الْكَفَّارَاتِ ثُمَّ فِيهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan hal ini terbatas pada biji-bijian yang menjadi makanan pokok. Sebagaimana boleh mengeluarkannya dalam zakat fitrah, maka boleh pula mengeluarkannya dalam kafarat. Kemudian, dalam hal ini terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ جَمِيعِ الْأَقْوَاتِ فَمِنْ أَيِّهِمَا شَاءَ أطعم

Salah satunya adalah bahwa ia diberi pilihan di antara semua jenis makanan pokok, maka dari jenis manapun yang ia kehendaki, ia boleh memberi makan.

القول الثاني أنه يخرج في الْغَالِبِ مِنَ الْأَقْوَاتِ وَفِي اعْتِبَارِ الْغَالِبِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa zakat dikeluarkan dari makanan pokok yang umum, dan dalam mempertimbangkan yang umum ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا مِنْ غَالَبِ قُوتِ بَلَدِهِ

Salah satunya adalah dari makanan pokok yang paling umum di negerinya.

وَالثَّانِي مِنْ غَالَبِ قُوتِهِ فِي نَفْسِهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَمِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ وَإِنْ عَدَلَ عَنْ غَالِبِ الْقُوتِ إِلَى غَيْرِهِ لَمْ يَخْلُ مَا عَدَلَ إِلَيْهِ عَنِ الْأَغْلَبِ مِنْ أَنْ يَكُونَ أَدْوَنَ مِنْهُ أَوْ أَعْلَى فَإِنْ كَانَ دُونَ مِنْهُ لَمْ نُجِزْهُ وَإِنْ كَانَ أَرْفَعَ مِنْهُ كَإِخْرَاجِ الْبُرِّ إِذَا كَانَ أَغْلَبُ قُوتِهِ شَعِيرًا فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ

Yang kedua adalah dari makanan pokok yang paling sering dikonsumsi oleh dirinya sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka dari makanan yang pertengahan yang kalian berikan kepada keluarga kalian.” Jika ia mengganti makanan pokok yang paling sering dikonsumsi dengan selainnya, maka pengganti itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi lebih rendah nilainya atau lebih tinggi. Jika lebih rendah, maka tidak kami anggap sah. Jika lebih tinggi, seperti mengeluarkan gandum padahal makanan pokok yang paling sering dikonsumsinya adalah jelai, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ يَجُوزُ لِفَضْلِهِ

Salah satunya adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu boleh karena keutamaannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِالْعُدُولِ إِلَيْهِ كَالْقِيمَةِ

Pendapat kedua tidak boleh, karena dengan beralih kepadanya, hal itu menjadi seperti penetapan nilai (al-qīmah).

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَيُجْزِئُ أَهْلَ الْبَادِيَةِ مُدُّ أقطٍ قَالَ الْمُزَنِيُّ رحمه الله أجاز الأقط ههنا وَلَمْ يُجْزِهِ فِي الْفِطْرَةِ

Syafi‘i berkata, “Bagi penduduk pedalaman, satu mud aqith (keju kering) sudah mencukupi.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Beliau membolehkan aqith di sini, namun tidak membolehkannya dalam zakat fitrah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا اقْتَاتَ أَهْلُ الْبَادِيَةِ غَيْرَ الْأَقِطِ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ إِخْرَاجُ الْأَقِطِ فِي الْكَفَّارَةِ وَلَا فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ قُوتٌ غَيْرُ الْأَقِطِ فَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ صَاعًا مِنْ أقطٍ فَإِنْ صَحَّ هَذَا أَنَّهُ كان يَأْمُرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَوْ بِعِلْمِهِ وَإِقْرَارِهِ عَلَيْهِ جَازَ إِخْرَاجُ الْأَقِطِ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ وَالْكَفَّارَاتِ وَإِنْ لَمْ يَصِحَّ أَنَّهُ كَانَ بِأَمْرِهِ أَوْ بِعِلْمِهِ فَفِي جَوَازِ إخراجه في زكاة الفطرة وَالْكَفَّارَاتِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika penduduk pedalaman mengonsumsi makanan pokok selain aqith, maka mereka tidak boleh mengeluarkan aqith sebagai pembayaran kafarat maupun zakat fitrah. Namun, jika mereka tidak memiliki makanan pokok selain aqith, telah diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa ia berkata, “Kami dahulu mengeluarkan satu sha‘ aqith ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di tengah-tengah kami.” Jika riwayat ini sahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya atau mengetahuinya dan membolehkannya, maka boleh mengeluarkan aqith dalam zakat fitrah dan kafarat. Namun, jika tidak sahih bahwa itu atas perintah atau sepengetahuan beliau, maka dalam kebolehan mengeluarkan aqith dalam zakat fitrah dan kafarat terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ عَلَى مَا نُصَّ عليه هاهنا في الكفارات لأنه قوت مدخر تحت الزَّكَاةِ فِي أَصْلِهِ

Salah satunya diperbolehkan sebagaimana yang dinyatakan di sini dalam masalah kafarat, karena ia merupakan makanan pokok yang dapat disimpan dan termasuk dalam objek zakat pada asalnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ عَلَى مَا نُصَّ عَلَيْهِ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ لِأَنَّهُ مِمَّا لَا تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ فَلَمْ يجز إخراجه في الكفارة الزكاة وَقَدْ جَعَلَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ بِنَاءً عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ فِي قَوْلِ الصَّحَابِيِّ إِذَا لَمْ يُعَضِّدْهُ قِيَاسٌ هَلْ يُؤْخَذُ بِقَوْلِ الصَّحَابِيِّ أَوْ يُعْدَلُ إِلَى الْقِيَاسِ فَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ يُؤْخَذُ بِقَوْلِ الصَّحَابِيِّ فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ إِخْرَاجُ الْأَقِطِ فِي الْكَفَّارَةِ وَزَكَاةِ الْفِطْرِ أَخْذًا بِقَوْلِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ يُعْدَلُ عَنْهُ إِلَى الْقِيَاسِ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ إِخْرَاجُ الأقط

Pendapat kedua menyatakan tidak boleh (mengeluarkan) sebagaimana yang dinyatakan dalam zakat fitri, karena itu termasuk sesuatu yang tidak wajib dizakati, sehingga tidak boleh dikeluarkan dalam kafarat zakat. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah menjadikan dua pendapat ini didasarkan pada perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai pendapat sahabat apabila tidak didukung oleh qiyās, apakah pendapat sahabat diambil atau dialihkan kepada qiyās. Maka menurut pendapat beliau dalam qaul qadim, pendapat sahabat diambil, sehingga berdasarkan hal ini boleh mengeluarkan aqith dalam kafarat dan zakat fitri, mengikuti pendapat Abu Sa‘id al-Khudri. Sedangkan menurut pendapat beliau dalam qaul jadid, dialihkan dari pendapat sahabat kepada qiyās, sehingga berdasarkan hal ini tidak boleh mengeluarkan aqith.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لِأَهْلِ بلادٍ قوتٌ مِنْ طعامٍ سِوَى اللَّحْمِ أَدَّوْا مُدًّا مِمَّا يُقْتَاتُ أَقْرَبُ الْبُلْدَانِ إِلَيْهِمْ

Syafi‘i berkata: Jika penduduk suatu negeri tidak memiliki makanan pokok selain daging, maka mereka membayar satu mud dari makanan pokok yang dikonsumsi oleh negeri terdekat dengan mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا اقْتَاتَ قَوْمٌ مَا لَا يُزَكَّى مِنَ الْأَقْوَاتِ مِثْلُ أَنْ يَقْتَاتُوا اللَّحْمَ كَالتُّرْكِ أَوِ اللَّبَنِ كَالْأَعْرَابِ أَوِ السَّمَكِ كَسُكَّانِ الْبِحَارِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ إِخْرَاجَ الْأَقِطِ لَا يُجْزِئُ لَمْ يَجُزْ إِخْرَاجُ غَيْرِهِ مِنَ اللَّحْمِ أَوِ اللَّبَنِ أَوِ السَّمَكِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ يُجْزِئُ فَفِيهَا وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Jika suatu kaum mengonsumsi makanan pokok yang tidak wajib dizakati, seperti mereka mengonsumsi daging seperti bangsa Turki, atau susu seperti orang-orang Arab Badui, atau ikan seperti penduduk pesisir, maka jika dikatakan bahwa mengeluarkan aqith (keju kering) tidak sah, maka tidak sah pula mengeluarkan selainnya dari daging, susu, atau ikan. Namun jika dikatakan bahwa itu sah, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُجْزِئُ لِأَنَّهَا أَقْوَاتٌ كَالْأَقِطِ

Salah satunya dianggap mencukupi karena itu adalah makanan pokok seperti aqith.

وَالثَّانِي إِنَّهَا لَا تُجْزِئُ بِخِلَافِ الْأَقِطِ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Yang kedua, bahwa ia tidak mencukupi, berbeda dengan aqith, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا وُجُودُ الْأَثَرِ فِي الْأَقِطِ وَعَدَمُهُ فِي سواء

Salah satunya adalah adanya bekas (pengaruh) pada aqith dan ketiadaannya pada susu.

وَالثَّانِي أَنَّ الْأَقِطَ يَبْقَى وَيُدَّخَرُ وَلَيْسَ يَبْقَى مَا سِوَاهُ وَيُدَّخَرُ وَلَا يُكَالُ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَإِذَا لَمْ يُجْزِهِمْ إِخْرَاجُ ذَلِكَ عَدَلُوا فِي كَفَّارَاتِهِمْ وَزَكَاةِ فِطْرِهِمْ إِلَى أَقْوَاتِ غَيْرِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْبِلَادِ وَفِيهَا قَوْلَانِ

Kedua, bahwa aqith dapat bertahan lama dan dapat disimpan, sedangkan selainnya tidak dapat bertahan lama dan tidak dapat disimpan, serta tidak ditakar. Ini adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah. Jika mereka tidak mencukupkan dengan mengeluarkan itu, maka mereka boleh menggantinya dalam kafarat dan zakat fitrah mereka dengan makanan pokok selainnya dari penduduk negeri tersebut, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُونَ مُخَيَّرِينَ بَيْنَ جَمِيعِهَا

Salah satunya adalah mereka diberi pilihan di antara semuanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَعْدِلُونَ إِلَى الْأَغْلَبِ مِنْ قُوتِ أَقْرَبِ الْبِلَادِ بِهِمْ فَيُخْرِجُونَهُ فَإِنْ عَدَلُوا عَنْهُ إِلَى مَا هُوَ أَدْنَى لَمْ يُجْزِهِمْ وَإِنْ عَدَلُوا عَنْهُ إِلَى مَا هُوَ أَعْلَى كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْوَجْهَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua adalah mereka beralih kepada makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi di negeri terdekat dengan mereka, lalu mereka mengeluarkannya. Jika mereka beralih dari makanan pokok itu kepada sesuatu yang nilainya lebih rendah, maka itu tidak mencukupi. Namun jika mereka beralih kepada sesuatu yang nilainya lebih tinggi, maka hukumnya sesuai dengan yang telah kami sebutkan dari dua pendapat, dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَيُعْطِي الرَّجُلُ الْكَفَّارَةَ وَالزَّكَاةَ مَنْ لَا تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ مِنْ قَرَابَتِهِ وَهُمْ مَنْ عَدَا الولد والوالد والزوجة إذا كانوا أهل حاجةٍ فَهُمْ أحقُّ بِهَا مِنْ غَيْرِهِمْ وَإِنْ كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِمْ تَطَوُّعًا

Imam Syafi‘i berkata, “Seorang laki-laki boleh memberikan kafarat dan zakat kepada kerabatnya yang tidak wajib ia nafkahi, yaitu selain anak, orang tua, dan istri, jika mereka adalah orang-orang yang membutuhkan. Mereka lebih berhak menerima zakat daripada selain mereka, meskipun ia menafkahi mereka secara sukarela.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ كُلُّ مَنْ يَلْزَمُهُ الْإِنْفَاقُ عَلَيْهِ بِنَسَبٍ كَالْوَالِدَيْنِ وَالْمَوْلُودِينَ أَوْ بِسَبَبٍ كَالزَّوْجَاتِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَ إِلَيْهِمْ مِنْ كَفَّارَتِهِ وَلَا مِنْ زَكَاةِ مَالِهِ وَمَنْ لَا يَلْزَمُهُ الْإِنْفَاقُ عَلَيْهِمْ جَازَ أَنْ يُعْطِيَهُمْ مِنْ كَفَّارَتِهِ وَزَكَاتِهِ إِذَا كَانُوا فَقُرَاءَ فَهَذَا أصلٌ مُعْتَبَرٌ وَإِنَّمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَدْفَعَهَا إِلَى مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan: setiap orang yang wajib dinafkahi karena hubungan nasab seperti kedua orang tua dan anak-anak, atau karena sebab seperti para istri, tidak boleh diberikan kepada mereka dari kaffarah maupun dari zakat hartanya. Adapun orang-orang yang tidak wajib dinafkahi, maka boleh diberikan kepada mereka dari kaffarah dan zakatnya jika mereka fakir. Ini adalah prinsip yang diakui. Tidak bolehnya memberikan kepada orang yang wajib dinafkahi disebabkan oleh dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُمْ قَدْ صَارُوا كَالْأَغْنِيَاءِ

Salah satunya adalah bahwa mereka telah menjadi seperti orang-orang kaya.

وَالثَّانِي إِنَّهَا تَصِيرُ كَالْعَائِدَةِ إِلَيْهِ لِمَا يُسْقِطُ مِنْ نَفَقَتِهِمْ عَنْهُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَمَتَى كَانَ الْوَلَدُ صَغِيرًا فَقِيرًا لَمْ يَجُزْ دَفْعُ كَفَّارَتِهِ إِلَيْهِ لِوُجُوبِ نَفَقَتِهِ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا نَاقِصًا بِزَمَانَةٍ أَوْ جُنُونٍ لَمْ يَجُزْ دَفْعُهَا إِلَيْهِ لِوُجُوبِ نَفَقَتِهِ عَلَيْهِ كَالصَّغِيرِ وَإِنْ كَانَ كَامِلَ الصِّحَّةِ وَالْعَقْلِ لَمْ تَجِبْ نَفَقَتُهُ عَلَيْهِ فَجَازَ دَفْعُ كَفَّارَتِهِ إِلَيْهِ وَفِيهِ مِنَ الْخِلَافِ مَا سَنَذْكُرُهُ وَكَذَلِكَ أَوْلَادُ أَوْلَادِهِمْ وَإِنْ سَفِلُوا وَأَمَّا الْوَالِدُ فَإِنْ تَعَطَّلَ عَنِ الِاكْتِسَابِ بِزَمَانَةٍ أَوْ جُنُونٍ وَجَبَتْ نَفَقَتُهُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَجُزْ دَفْعُ كَفَّارَتِهِ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاكْتِسَابِ بِالصِّحَّةِ وَالْعَقْلِ لَكِنَّهُ فَقِيرٌ فَفِي وُجُوبِ نَفَقَتِهِ عَلَيْهِ قَوْلَانِ

Kedua, sesungguhnya (kafarat) itu menjadi seperti kembali kepada dirinya sendiri karena apa yang ia gugurkan dari nafkah mereka darinya. Jika demikian, maka kapan pun anak itu masih kecil dan miskin, tidak boleh memberikan kafarat kepadanya karena kewajiban nafkahnya atas dirinya. Jika anak itu sudah dewasa namun memiliki kekurangan karena cacat atau gila, tidak boleh pula memberikannya karena kewajiban nafkahnya atas dirinya seperti anak kecil. Namun jika anak itu sehat sempurna dan berakal, maka tidak wajib nafkahnya atas dirinya, sehingga boleh memberikan kafarat kepadanya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan kami sebutkan. Demikian pula anak-anak dari anak-anak mereka, meskipun ke bawah (cucu dan seterusnya). Adapun orang tua, jika ia tidak mampu bekerja karena cacat atau gila, maka wajib nafkahnya atas dirinya, sehingga tidak boleh memberikan kafarat kepadanya. Namun jika ia termasuk orang yang mampu bekerja karena sehat dan berakal, tetapi ia miskin, maka dalam kewajiban nafkahnya atas dirinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْقَدِيمُ يَجِبُ اعْتِبَارًا بِوُجُودِ الْفَقْرِ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ دَفْعُ كَفَارِته إِلَيْهِ

Salah satunya, yaitu pendapat lama, mewajibkan untuk mempertimbangkan adanya kemiskinan. Maka berdasarkan pendapat ini, tidak boleh memberikan kafarat kepadanya.

وَالثَّانِي وَهُوَ الْجَدِيدُ لَا تَجِبُ اعْتِبَارًا بِالْقُدْرَةِ عَلَى الْكَسْبِ فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ دَفْعُ كَفَّارَتِهِ إِلَيْهِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat baru, tidak mewajibkan (nafkah) dengan mempertimbangkan kemampuan untuk bekerja. Berdasarkan pendapat ini, boleh memberikan kafarat kepadanya.

فَإِنْ قِيلَ بِأَنَّ الْوَالِدَ لَا تَجِبُ نَفَقَتُهُ إِلَّا بِالْفَقْرِ وَالزَّمَانَةِ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ فَالْوَلَدُ أَوْلَى وَإِنْ قِيلَ إِنَّهَا تَجِبُ بِالْفَقْرِ وَحْدَهُ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ فَفِي الْوَلَدِ وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa nafkah untuk orang tua tidak wajib kecuali karena kefakiran dan ketidakmampuan, menurut pendapat beliau dalam qaul jadid, maka anak lebih utama (tidak wajib diberi nafkah kecuali dalam kondisi tersebut). Namun jika dikatakan bahwa nafkah itu wajib hanya karena kefakiran saja, menurut pendapat beliau dalam qaul qadim, maka dalam hal anak terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ كَالْوَالِدِ تَجِبُ نَفَقَتُهُ بِالْفَقْرِ وَحْدَهُ

Salah satunya adalah bahwa ia seperti orang tua, yang nafkahnya wajib diberikan hanya karena kemiskinan semata.

وَالثَّانِي إِنَّهَا تَجِبُ بِالْفَقْرِ وَعَدَمِ الِاكْتِسَابِ بِخِلَافِ الْوَالِدِ لتأكيد نفقة الوالد كما تتأكد بوجوب إعقاف الولد دون الولد وَهَكَذَا الْأُمُّ كَالْأَبِ وَالْأَجْدَادُ كَالْأَبِ وَالْجَدَّاتُ كَالْأُمِّ وَأَمَّا مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ الْمُنَاسَبِينَ كَالْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ وَالْأَعْمَامِ وَالْعَمَّاتِ فَلَا تَجِبُ نَفَقَاتُهُمْ بِحَالٍ وَيَجُوزُ دَفْعُ كَفَّارَتِهِ وَزِكَّاتِهِ إِلَيْهِمْ وَهُمْ أَحَقُّ بِهَا مِنْ غَيْرِهِمْ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَلَى ذِي رحمٍ كاشحٍ وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَدَقَةَ امرئٍ وَذُو رحمٍ محتاجٍ وَسَوَاءٌ كَانَ يَتَطَوَّعُ بِالْإِنْفَاقِ عَلَيْهِمْ أَمْ لَا

Yang kedua, nafkah itu wajib karena kefakiran dan ketidakmampuan memperoleh penghasilan, berbeda dengan nafkah kepada orang tua yang penegasannya lebih kuat, sebagaimana penegasan kewajiban menahan anak (dari bahaya) lebih kuat daripada menahan orang tua. Demikian pula, ibu seperti ayah, kakek seperti ayah, dan nenek seperti ibu. Adapun selain mereka dari kalangan kerabat seperti saudara laki-laki, saudara perempuan, paman, dan bibi, maka nafkah tidak wajib atas mereka dalam keadaan apa pun. Boleh memberikan kafarat dan zakat kepada mereka, dan mereka lebih berhak menerimanya daripada yang lain, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” Dan diriwayatkan pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda, “Allah tidak menerima sedekah seseorang sementara ada kerabatnya yang membutuhkan.” Baik dia terbiasa menafkahi mereka secara sukarela ataupun tidak.

وَقَالَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ إِنْ تَطَوَّعَ بِالْإِنْفَاقِ عَلَيْهِمْ لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ لَمْ يَتَطَوَّعْ أَجْزَأهُ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ لِلْمُتَطَوِّعِ أَنْ يَمْتَنِعَ وَفِي دَفْعِ ذَلِكَ إِلَيْهِمُ امتناعٌ بِهَا مِنَ الْإِنْفَاقِ عَلَيْهِمْ وَأَمَّا الزَّوْجَاتُ فَلَا يَجُوزُ لِلزَّوْجِ أَنْ يَدْفَعَ كَفَّارَتَهُ إِلَى زَوْجَتِهِ لِوُجُوبِ نَفَقَتِهَا عَلَيْهِ؟ فَصَارَتْ غَنِيَّةً بِهِ وَأَمَّا الزَّوْجَةُ فَيَجُوزُ أَنْ تَدْفَعَ كَفَّارَتَهَا إِلَى زَوْجِهَا وَكَذَلِكَ زَكَاتَهَا وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ دَفْعِهَا إِلَيْهِ لِأَنَّ نَفَقَتَهُ عَلَيْهَا فَصَارَ عَائِدًا إِلَيْهَا وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَنَّهُ لَا تَجِبُ عَلَيْهَا نَفَقَتُهُ فَصَارَ بَاقِيًا عَلَى فَقْرِهِ فَجَرَى عَلَى حُكْمِ الْإِيجَابِ وَإِنْفَاقُهُ عَلَيْهَا لَا يَمْنَعُ مِنْ دَفْعِهَا إِلَيْهِ كَمَا لَوْ دَفَعَهَا إِلَى أَجْنَبِيٍّ وَأَطْعَمَهُ إِيَّاهَا أَوْ وَهَبَهَا لَهُ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ المسألة مستوفاة من قبل

Sebagian fuqaha berpendapat bahwa jika seseorang secara sukarela menafkahi mereka, maka itu tidak mencukupi (sebagai pembayaran kafarat), dan jika ia tidak melakukannya secara sukarela, maka itu mencukupi. Pendapat ini keliru, karena orang yang bersedekah secara sukarela berhak untuk menolak, dan dengan memberikan (kafarat) itu kepada mereka berarti ia menahan diri dari menafkahi mereka. Adapun untuk para istri, tidak boleh bagi suami untuk memberikan kafaratnya kepada istrinya karena nafkahnya wajib atas suami, sehingga ia menjadi kaya karenanya. Adapun istri, maka boleh baginya memberikan kafaratnya kepada suaminya, begitu pula zakatnya. Abu Hanifah melarang istri memberikan kafarat kepada suaminya karena nafkah suami menjadi tanggungannya, sehingga kembali lagi kepadanya. Namun, pendapat ini tidak benar, karena istri tidak wajib menafkahi suaminya, sehingga suami tetap dalam keadaan fakir dan berlaku hukum kewajiban (penerimaan kafarat). Nafkah suami kepada istri tidak menghalangi istri memberikan kafarat kepadanya, sebagaimana jika ia memberikannya kepada orang lain lalu orang itu memberinya makan atau menghadiahkannya kepadanya. Masalah ini telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا يُجْزِئُهُ إِلَّا أَنْ يُعْطِيَ حُرًّا مُسْلِمًا مُحْتَاجًا

Syafi‘i berkata: Tidak sah kecuali jika ia memberikannya kepada seorang Muslim merdeka yang membutuhkan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ مَصْرِفَ الْكَفَّارَةِ فِيمَنْ يَجُوزُ أَنْ يُصَرِفَ إِلَيْهِ سَهْمُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ مِنِ الزَّكَاةِ وَهُوَ مَنْ جَمَعَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْمَسْكَنَةِ ثَلَاثَةَ أَوْصَافٍ الْحُرِّيَّةَ وَالْإِسْلَامَ وَأَنْ لَا يَكُونَ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى فَأَمَّا الْعَبْدُ فَلَا يَجُوزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا وَلِأَنَّهُ غنيٌّ بِسَيِّدِهِ وَكَذَلِكَ الْمُدَبَّرُ وَأُمُّ الْوَلَدِ وَالْمُعَتَقُ بَعْضُهُ لِأَنَّ سَيِّدَ رِقِّهِ يَأْخُذُ مِنْهَا قَدْرَ حَقِّهِ وَهُوَ غنيٌّ وَكَذَلِكَ الْمَكَاتَبُ وَلَا يَجُوزُ صَرْفُ الْكَفَّارَةِ إِلَيْهِ وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَرْفَهَا إِلَيْهِ كَالزَّكَاةِ وَهَذَا فاسدٌ لِأَنَّ حُكْمَ الزَّكَاةِ أَوْسَعُ لِمَا يَجُوزُ مِنْ صَرْفِهَا إِلَى الْأَغْنِيَاءِ مِنَ الْمُجَاهِدِينَ وَأَحَدِ صِنْفَيِ الْغَارِمِينَ وَالْكَفَّارَةُ أَضْيَقُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ صَرْفُهَا إِلَى غنيٍّ بِحَالٍ وَلِأَنَّ الْمُكَاتَبَ تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الرِّقِّ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa penerima kafarat adalah orang yang boleh menerima bagian fakir dan miskin dari zakat, yaitu orang yang memiliki tiga sifat dari kefakiran dan kemiskinan: merdeka, muslim, dan bukan dari kerabat (dzawil qurba). Adapun budak, tidak boleh diberikan kafarat kepadanya karena ia tidak memilikinya dan karena ia telah cukup dengan tuannya. Demikian pula budak mudabbar, ummul walad, dan budak yang sebagian dirinya telah merdeka, karena tuan yang masih memiliki bagian perbudakannya akan mengambil bagian haknya, dan ia telah cukup. Begitu juga budak mukatab, tidak boleh diberikan kafarat kepadanya. Abu Hanifah ra. membolehkan pemberian kafarat kepadanya seperti zakat, namun ini pendapat yang rusak, karena hukum zakat lebih luas dalam hal boleh diberikan kepada orang-orang kaya dari kalangan mujahid dan salah satu dari dua golongan gharim, sedangkan kafarat lebih sempit karena tidak boleh diberikan kepada orang kaya dalam keadaan apa pun. Selain itu, budak mukatab tetap berlaku atasnya hukum-hukum perbudakan.

وَأَمَّا الْكَافِرُ فَلَا يَجُوزُ دَفْعُ الْكَفَّارَةِ إِلَيْهِ وَكَذَلِكَ الزَّكَاةُ سَوَاءٌ كَانَ ذِمِّيًّا أَوْ حَرْبِيًّا

Adapun orang kafir, maka tidak boleh membayarkan kaffārah kepadanya, begitu pula zakat, baik ia seorang dzimmī maupun harbī.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَجُوزُ أَنْ تُصْرَفَ إِلَيْهِ زَكَاةُ الْمَالِ وَيَجُوزُ أَنْ تُصْرَفَ إِلَيْهِ الْكَفَّارَةُ وَزَكَاةُ الْفِطْرِ إِنْ كَانَ ذِمِّيًّا أَوْ مُعَاهِدًا وَلِأَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِ إِنْ كَانَ حَرْبِيًّا

Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat mal kepadanya, namun boleh menyalurkan kafarah dan zakat fitrah kepadanya jika ia seorang dzimmi atau mu‘ahad, dan juga boleh memberikannya jika ia seorang harbi.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّهُ مَنْ لَا يَجُوزُ دَفْعُ زَكَاةِ الْمَالِ إِلَيْهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُدْفَعَ إِلَيْهِ الْكَفَّارَةُ وَزَكَاةُ الْفِطْرِ كَالْحَرْبِيِّ وَلِأَنَّهُ حَقٌّ يُخْرَجُ لِلطُّهْرَةِ فَلَمْ يَجُزْ صَرْفُهُ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ كَزَكَاةِ الْمَالِ وَأَمَّا ذَوُو قُرْبَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَلَا يَجُوزُ أَنْ تُصْرَفَ إِلَيْهِمُ الزِّكْوَاتُ وَلَا الْكَفَّارَاتُ وَإِنْ جَوَّزَهُ أَبُو حَنِيفَةَ فِيمَا قَدَّمْنَاهُ واستوفيناه والله أعلم

Dalil kami adalah bahwa siapa saja yang tidak boleh menerima zakat mal, maka tidak boleh pula diberikan kepadanya kafarat dan zakat fitri, seperti orang harbi. Karena itu adalah hak yang dikeluarkan untuk pensucian, maka tidak boleh diberikan kepada ahludz-dzimmah sebagaimana zakat mal. Adapun kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh diberikan kepada mereka zakat-zakat maupun kafarat, meskipun Abu Hanifah membolehkannya sebagaimana telah kami sebutkan dan jelaskan sebelumnya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ عُلِمَ أَنَّهُ أَعْطَى غَيْرَهُمْ فَعَلَيْهِ عِنْدِي أن يعيد

Syafi‘i berkata: Jika diketahui bahwa ia telah memberikan kepada selain mereka, maka menurutku ia wajib mengulangi.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَخْطَأَ فِي دَفْعِ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ اعْتُبِرَ حَالُ الْمَدْفُوعِ إِلَيْهِ فَإِنْ كَانَ عَبْدًا ظَنَّهُ حُرًّا أَوْ كَافِرًا ظَنَّهُ مُسْلِمًا أَوْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى ظَنَّهُ مِنْ غَيْرِ ذَوِي الْقُرْبَى لَمْ يُجْزِهِ مَا دَفَعَ وَعَلَيْهِ الْإِعَادَةُ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: “Dan ini benar, apabila seseorang keliru dalam menunaikan zakat dan kafarat, maka yang menjadi pertimbangan adalah keadaan orang yang menerima. Jika yang diberikan itu seorang budak yang disangkanya merdeka, atau seorang kafir yang disangkanya muslim, atau dari kerabat yang disangkanya bukan kerabat, maka apa yang telah diberikan tidak sah dan ia wajib mengulanginya karena dua hal.”

أَحَدُهُمَا إِنَّ حُقُوقَ الْأَمْوَالِ إِذَا لَمْ تَقَعْ مَوْقِعَ الْإِجْزَاءِ مَعَ الْعَمْدِ لَمْ تَقَعْ مَوْقِعَ الْإِجْزَاءِ الْخَطَأِ كَرَدِّ الْوَدَائِعِ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهَا

Salah satunya adalah bahwa hak-hak harta apabila tidak terlaksana dengan benar secara sengaja, maka tidak dianggap sah sebagaimana tidak dianggap sah jika terjadi karena kesalahan, seperti mengembalikan titipan kepada selain pemiliknya.

وَالثَّانِي إِنَّ لِأَسْبَابِ الْمَنْعِ مِنَ الرِّقِّ وَالْكُفْرِ وَالنَّسَبِ عَلَامَاتٍ يَسْتَدِلُّ بِهَا وَأَمَارَاتٍ لَا تَخْفَى مَعَهَا فَكَانَ الْخَطَأُ مِنْ تَقْصِيرٍ فِي الِاجْتِهَادِ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ دَفَعَهَا إِلَى غنيٍّ يَظُنُّهُ فَقِيرًا فَفِي وُجُوبِ الْإِعَادَةِ قَوْلَانِ

Kedua, bahwa sebab-sebab yang menghalangi dari perbudakan, kekufuran, dan nasab memiliki tanda-tanda yang dapat dijadikan petunjuk dan ciri-ciri yang tidak samar bersamanya, sehingga kesalahan terjadi karena kelalaian dalam ijtihad. Jika ternyata ia telah memberikannya kepada orang kaya yang disangkanya fakir, maka dalam kewajiban mengulangi (pemberian) terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعِيدُ وَلَا يُجْزِئُهُ لِلتَّعْلِيلِ الْأَوَّلِ بِأَنَّ الْخَطَأَ فِي حُقُوقِ الْأَمْوَالِ كَالْعَمْدِ وَالْقَوَدِ

Salah satu dari keduanya harus mengulangi (ibadahnya) dan tidak sah baginya, karena alasan pertama bahwa kesalahan dalam hak-hak harta sama hukumnya dengan kesengajaan dan qisas.

وَالثَّانِي يُجْزِئُهُ وَلَا يُعِيدُ لِعَدَمِ التَّعْلِيلِ الثَّانِي فِي فَقْدِ الْأَمَارَةِ الدَّالَّةِ عَلَى غِنَاهُ لِأَنَّ الْمَالَ يُمْكِنُ إِخْفَاؤُهُ وَالرِّقُّ وَالْكُفْرُ لَا يُمْكِنُ إِخْفَاؤُهُمَا فَكَانَ بِخَطَئِهِ فِي الْغَنِيِّ مَعْذُورًا وَفِي الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ مُقَصِّرًا

Yang kedua, zakatnya sah dan tidak perlu mengulang karena tidak adanya alasan kedua, yaitu tidak adanya tanda yang menunjukkan kekayaannya. Sebab, harta bisa disembunyikan, sedangkan status budak dan kafir tidak bisa disembunyikan. Maka, kesalahannya dalam hal kekayaan dimaafkan, sedangkan dalam hal budak dan kafir dianggap lalai.

وَإِنْ دَفْعَ كَفَّارَتَهُ وَزَكَاتَهُ إِلَى السُّلْطَانِ وَأَخْطَأَ السُّلْطَانُ فِي دَفْعِهَا إِلَى غَيْرِ مُسْتَحِقِّهَا نُظِرَ فَإِنْ بَانَ أَنَّهُ دَفَعَهَا إِلَى غَنِيٍّ أَجْزَأَ لِخَفَاءِ حَالِهِ عَلَيْهِ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ دَفَعَهَا إِلَى عَبْدٍ أَوْ كَافِرٍ أَوْ ذِي قُرْبَى فَفِي وُجُوبِ ضَمَانِهَا عَلَيْهِ قَوْلَانِ

Jika seseorang menyerahkan kafarat dan zakatnya kepada penguasa, lalu penguasa tersebut keliru dalam menyalurkannya kepada orang yang tidak berhak, maka hal ini perlu diteliti. Jika ternyata penguasa menyalurkannya kepada orang kaya, maka itu sudah mencukupi karena keadaan orang kaya tersebut tidak diketahui olehnya. Namun jika ternyata penguasa menyalurkannya kepada budak, orang kafir, atau kerabat, maka ada dua pendapat mengenai kewajiban menggantinya atas orang yang menyerahkan zakat tersebut.

أَحَدُهُمَا يَضْمَنُهَا وَيُعِيدُهَا كَمَا يَلْزَمُ رَبُّ الْمَالِ أَنْ يُعِيدَهَا

Salah satunya wajib menanggung dan mengembalikannya sebagaimana pemilik harta wajib mengembalikannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَضْمَنُهَا وَتَقَعُ مَوْقِعَ الْإِجْزَاءِ بِخِلَافِ رَبِّ الْمَالِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ مُبَاشَرَةَ السُّلْطَانِ لِعُمُومِ الْأُمُورِ يَقْطَعُ عَنِ التَّفَرُّدِ بِالِاجْتِهَادِ فِيهَا وَلَا يَقْطَعُ رَبُّ الْمَالِ عَنِ التَّوَفُّرِ فِي الِاجْتِهَادِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak menanggungnya dan pelaksanaan tersebut dianggap sah, berbeda dengan pemilik harta karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu bahwa keterlibatan langsung penguasa dalam urusan-urusan umum menghalanginya untuk melakukan ijtihad secara mandiri dalam hal tersebut, sedangkan pemilik harta tidak terhalang untuk bersungguh-sungguh dalam ijtihad.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَا يُطْعِمُ أَقَلَّ مِنْ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ وَاحْتَجَّ عَلَى مَنْ قَالَ إِنْ أَطْعَمَ مِسْكِينًا وَاحِدًا مِائَةً وَعِشْرِينَ مُدًّا فِي سِتِّينَ يَوْمًا أَجْزَأَهُ وَإِنْ كَانَ فِي أَقَلَّ مِنْ سِتِّينَ لَمْ يُجْزِهِ فَقَالَ أَرَاكَ جَعَلْتَ وَاحِدًا سِتِّينَ مِسْكِينًا فَقَدْ قَالَ اللَّهُ وَأَشْهِدُوا ذَوي عَدْلٍ مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدَ الْيَوْمَ شاهدٌ بحقٍّ ثُمَّ عَادَ مِنَ الْغَدِ فَشَهِدَ بِهِ فَقَدْ شَهِدَ بِهَا مَرَّتَيْنِ فَهُوَ كَشَاهِدَيْنِ فَإِنْ قَالَ لَا يَجُوزُ لِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ الْعَدَدَ قِيلَ وَكَذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ لِلْمَسَاكِينِ الْعَدَدَ

Imam Syafi’i berkata, “Tidak boleh memberi makan kurang dari sepuluh orang miskin.” Beliau membantah pendapat orang yang mengatakan, “Jika seseorang memberi makan satu orang miskin sebanyak seratus dua puluh mud dalam enam puluh hari, maka itu sudah mencukupi. Namun jika dalam waktu kurang dari enam puluh hari, maka tidak mencukupi.” Imam Syafi’i berkata, “Aku melihat engkau telah menjadikan satu orang seolah-olah enam puluh orang miskin. Padahal Allah telah berfirman, ‘Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian.’ Jika hari ini seseorang bersaksi dengan benar, lalu keesokan harinya ia kembali bersaksi dengan kesaksian yang sama, maka ia telah bersaksi dua kali, sehingga seakan-akan menjadi dua orang saksi. Jika dikatakan, ‘Itu tidak boleh karena Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan jumlahnya,’ maka dikatakan pula, ‘Demikian pula Allah telah menyebutkan jumlah untuk orang-orang miskin.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ نَصَّ عَلَى عَدَدِهِمْ فِي الْكَفَّارَةِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَحِقَّهَا عَشَرَةُ مَسَاكِينَ وَإِنْ دَفْعَ إِلَى مِسْكِينٍ وَاحِدٍ مُدَّيْنِ أَجَزَأَهُ أَحَدُهُمَا وَلَمْ يُجْزِهِ الْآخَرُ سَوَاءٌ دَفَعَهُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ أَوْ فِي يَوْمَيْنِ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan, karena Allah Ta‘ala telah menetapkan jumlah mereka dalam kaffarah, maka wajib diberikan kepada sepuluh orang miskin. Jika diberikan kepada satu orang miskin dua mud, maka salah satunya sah dan yang lainnya tidak sah, baik diberikan kepadanya dalam satu hari maupun dalam dua hari.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا دَفَعَ لَهُ حَقَّ مِسْكِينٍ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ دَفَعَ إِلَيْهِ فِي يَوْمَيْنِ أَجْزَأَهُ حَتَّى قَالَ لَوْ دَفَعَ إِلَى مِسْكِينٍ حَقَّ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ فِي عَشَرَةِ أَيَّامٍ أَجْزَأَهُ وَقَامَ مَقَامَ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ فَاعْتَبَرَ عَدَدَ الْإِطْعَامَ وَلَمْ يَعْتَبِرْ عَدَدَ الْمَسَاكِينِ وَالشَّافِعِيُّ يَعْتَبِرُهُمَا مَعًا وَيَمْنَعُ أَنْ يأخذ مسكين واحد من كفارة واحد مَرَّتَيْنِ لِيَسْتَوْفِيَ الْعَدَدَ الَّذِي أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ كَمَا يَسْتَوْفِيهِ فِي الْوَصَايَا لَوْ أَوْصَى بِإِطْعَامِ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ؟ فَكَانَ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْكَفَّارَاتِ أَوْلَى وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مَعَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ

Abu Hanifah ra. berkata, jika seseorang memberikan hak seorang miskin dalam satu hari, maka itu tidak mencukupi. Namun jika ia memberikannya dalam dua hari, maka itu mencukupi. Bahkan beliau berkata, jika seseorang memberikan kepada seorang miskin hak sepuluh orang miskin dalam sepuluh hari, maka itu mencukupi dan dianggap sama dengan memberi kepada sepuluh orang miskin. Beliau mempertimbangkan jumlah pemberian makanan, bukan jumlah orang miskinnya. Sedangkan asy-Syafi‘i mempertimbangkan keduanya sekaligus dan melarang seorang miskin menerima dari satu kafarat dua kali agar terpenuhi jumlah yang diperintahkan Allah Ta‘ala, sebagaimana jumlah itu harus dipenuhi dalam wasiat jika seseorang berwasiat memberi makan sepuluh orang miskin. Maka dalam hak-hak Allah Ta‘ala berupa kafarat, hal itu lebih utama untuk dipenuhi. Masalah ini telah disebutkan bersama pendapat Abu Hanifah dalam Kitab azh-Zhihar.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ أَطْعَمَ تِسْعَةً وَكَسَا وَاحِدًا لَمْ يُجْزِهِ حَتَّى يُطْعِمَ عشرةٌ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ كِسْوَتُّهُمْ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang memberi makan sembilan orang dan memberi pakaian kepada satu orang, maka itu belum mencukupi baginya sampai ia memberi makan sepuluh orang sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla, atau memberi pakaian kepada mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لِلْمُكَفِّرِ عَنْ يَمِينِهِ الْخِيَارَ فِي التَّكْفِيرِ بِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أشياء الطعام أو الكسوة أو العتق فبأيهما كَفَّرَ أَجَزْأَهُ إِذَا اسْتَوْفَاهُ وَلَمْ يُفَرِّقْ فَإِنْ أَطْعَمَ خَمْسَةً وَكَسَا خَمْسَةً لَمْ يُجْزِهِ وَكَانَ مُخَيَّرًا إِنْ شَاءَ تَمَّمَ إِطْعَامَ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ وَكَانَ مُتَطَوِّعًا بِالْكِسْوَةِ وَإِنْ شَاءَ تَمَّمَ كِسْوَةَ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ وَكَانَ مُتَطَوِّعًا بِالْإِطْعَامِ وَقَالَ مَالِكٌ يُجْزِئُهُ أَنْ يُطْعِمَ خَمْسَةً وَيَكْسُوَ خَمْسَةً لِأَنَّهُ لَمَّا أَجْزَأَهُ إِطْعَامُهُمْ وَأَجْزَأَتْهُ كِسْوَتُهُمْ أَجْزَأَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ إِطْعَامِهِمْ وَكَسَوْتِهِمْ

Al-Mawardi berkata: Allah Ta‘ala telah memberikan kepada orang yang melakukan kafarat sumpah pilihan dalam menunaikan kafarat dengan salah satu dari tiga hal: memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak. Maka dengan salah satu dari ketiganya yang ia lakukan, itu sudah mencukupi jika ia melaksanakannya secara sempurna dan tidak memecahkannya. Jika ia memberi makan lima orang dan memberi pakaian lima orang, maka itu tidak mencukupi baginya. Ia tetap diberi pilihan, jika ia mau, ia dapat menyempurnakan memberi makan sepuluh orang miskin dan ia dianggap berbuat sunnah dalam memberi pakaian; dan jika ia mau, ia dapat menyempurnakan memberi pakaian sepuluh orang miskin dan ia dianggap berbuat sunnah dalam memberi makan. Malik berkata: Cukup baginya jika ia memberi makan lima orang dan memberi pakaian lima orang, karena ketika memberi makan mereka sudah mencukupi dan memberi pakaian mereka juga sudah mencukupi, maka mencukupi pula jika ia menggabungkan antara memberi makan dan memberi pakaian kepada mereka.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ أَطْعَمَ خَمْسَةً وَكَسَا خَمْسَةً وَجَعَلَ كِسْوَةَ الخمسة بقية إِطْعَامِ الْخَمْسَةِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ جَعْلَ إِطْعَامَ الْخَمْسَةِ بِقِيمَةِ كِسْوَةِ الْخَمْسَةِ أَجْزَأَهُ فَأَجَازَ إِخْرَاجَ قِيمَةِ الْكِسْوَةِ طَعَامًا وَلَمْ يُجِزْ إِخْرَاجَ قِيمَةِ الطَّعَامِ كِسْوَةً فَلَمْ يَسْتَمِرَّ فِي جَوَازِ الْقِيمَةِ عَلَى أَصْلِهِ وَلَا فِي الْمَنْعِ مِنْهَا عَلَى أَصْلِنَا وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَيَّرَ المكفر بين ثلاثة من طعام أو كسرة أَوْ عِتْقٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْعَلَ لَهُ خِيَارًا رَابِعًا فِي التَّبْعِيضِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا امْتَنَعَ فِي الْكَفَّارَةِ تَبْعِيضُ الْعِتْقِ وَالصِّيَامِ امْتَنَعَ فِيهَا تبعيض الكسوة والإطعام

Abu Hanifah berkata: Jika seseorang memberi makan lima orang dan memberi pakaian kepada lima orang, lalu menjadikan pakaian untuk lima orang itu sebagai sisa dari makanan untuk lima orang, maka itu tidak sah. Namun, jika ia menjadikan makanan untuk lima orang senilai dengan pakaian lima orang, maka itu sah baginya. Ia membolehkan mengeluarkan nilai pakaian dalam bentuk makanan, tetapi tidak membolehkan mengeluarkan nilai makanan dalam bentuk pakaian. Maka, ia tidak konsisten dalam membolehkan penunaian kafarat dengan nilai (qimah) menurut pendapat asalnya, dan juga tidak konsisten dalam melarangnya menurut pendapat kami. Dalilnya adalah bahwa Allah Ta‘ala memberikan pilihan kepada orang yang melakukan kafarat antara tiga hal: makanan, pakaian, atau memerdekakan budak, sehingga tidak boleh menambah pilihan keempat berupa membagi-bagi (antara makanan dan pakaian). Karena ketika tidak diperbolehkan membagi dalam hal memerdekakan budak dan puasa dalam kafarat, maka tidak diperbolehkan pula membagi dalam hal pakaian dan makanan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ كَانَتْ عَلَيْهِ كَفَّارَةُ ثَلَاثَةِ أيمانٍِ مختلفةٍ فَأَعْتَقَ وَأَطْعَمَ وَكَسَا يَنْوِي الْكَفَّارَةَ وَلَا يَنْوِي عَنْ أَيِّهَا الْعِتْقُ وَلَا الْإِطْعَامُ وَلَا الْكِسْوَةُ أَجْزَأَهُ وَأَيُّهَا شَاءَ أَنْ يَكُونَ عِتْقًا أَوْ طَعَامًا أَوْ كِسْوَةً كَانَ وَإِنْ لَمْ يَشَأْ فَالنِّيَّةُ الْأُولَى تُجْزِئُهُ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang memiliki kewajiban membayar kafarat untuk tiga sumpah yang berbeda, lalu ia membebaskan budak, memberi makan, dan memberi pakaian dengan niat untuk membayar kafarat, namun tidak meniatkan pembebasan budak, pemberian makan, atau pemberian pakaian itu untuk sumpah yang mana, maka itu sudah mencukupi baginya. Dan mana saja yang ia kehendaki untuk dijadikan sebagai pembebasan budak, makanan, atau pakaian, maka itu sah. Jika ia tidak memilih, maka niat yang pertama sudah mencukupi baginya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ إِذَا كَانَتْ عليه ثلاثة كَفَّارَاتٍ عَنْ ثَلَاثِ أَيْمَانٍ مُخْتَلِفَةٍ كَانَ فِي التَّكْفِيرِ عَنْهَا بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْهَا مِنْ جِنْسٍ واحدٍ فَيُطْعِمَ عَنْ جَمِيعِهَا وَيَكْسُوَ عَنْ جَمِيعِهَا أَوْ يَعْتِقَ عَنْ جَمِيعِهَا وَبَيْنَ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْهَا مِنْ أَجْنَاسٍ مُخْتَلِفَةٍ فَيُطْعِمَ عَنْ أَحَدِهَا وَيَكْسُوَ عَنْ أَحَدِهَا وَيُعْتِقَ عَنْ أَحَدِهَا لِأَنَّ لِكُلِّ كَفَّارَةٍ حُكْمَ نفسها وسواء عينها أَوْ أَطْلَقَهَا لِأَنَّ عَلَيْهِ النِّيَّةَ فِي الْكَفَّارَةِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يُعَيِّنَ عَنْ أَيِّ كَفَّارَةٍ كَالْوُضُوءِ يَلْزَمُهُ أَنْ يَنْوِيَ أَنَّهُ عَنِ الْحَدَثِ وَلَا يَلْزَمَهُ عَنْ أَيِّ حَدَثٍ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan, jika seseorang memiliki tiga kafarat karena tiga sumpah yang berbeda, maka dalam menunaikan kafarat tersebut ia boleh memilih antara menunaikannya dengan satu jenis, misalnya memberi makan untuk semuanya, atau memberi pakaian untuk semuanya, atau memerdekakan untuk semuanya; atau menunaikannya dengan jenis yang berbeda-beda, misalnya memberi makan untuk salah satunya, memberi pakaian untuk salah satunya, dan memerdekakan untuk salah satunya, karena setiap kafarat memiliki hukum tersendiri. Baik ia menentukannya secara spesifik atau tidak, karena yang wajib baginya adalah niat dalam kafarat, dan tidak wajib baginya menentukan untuk kafarat yang mana, sebagaimana dalam wudhu, ia wajib berniat bahwa wudhu itu untuk menghilangkan hadats, namun tidak wajib menentukan untuk hadats yang mana.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَلْزَمُهُ تَعْيِينُ النِّيَّةِ عَنْ أَيِّ كَفَّارَةٍ كَمَا يَلْزَمُهُ تَعْيِينُ النِّيَّةِ لِلصَّلَاةِ مِنْ ظُهْرٍ أَوْ عَصْرٍ فَيُقَالُ لَهُ لَمَّا لَمْ يَلْزَمْهُ فِي قَضَاءِ الصَّلَوَاتِ الْفَوَائِتِ أَنْ يُعَيِّنَ عَنْ أَيِّ يَوْمٍ لَمْ يَلْزَمْهُ فِي الْكَفَّارَاتِ أَنْ يُعَيِّنَ عَنْ أَيْ حِنْثٍ فَلَا يَكُونُ فِي إِثْبَاتِهِ التَّعْيِينُ فِي الْأَدَاءِ بِأَوْلَى مِنْ نَفْيِهِ لِلتَّعْيِينِ فِي الْقَضَاءِ فَاسْتَوَيَا ثُمَّ تَرَجَّحَ مَا ذَكَرْنَا بِاتِّفَاقِنَا عَلَى أَنَّهُ لَوْ نَسِيَ صَلَاةً لَمْ يَعْرِفْهَا بِعَيْنِهَا لَمْ يُجْزِهِ فِي قَضَائِهَا أَنْ يَنْوِيَ قَضَاءَ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ لِعَدَمِ التَّعْيِينِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَيْهِ كَفَّارَةٌ لَا يَعْرِفُ مُوجِبَهَا أَجْزَأَهُ أَنْ يَنْوِيَ بِالتَّكْفِيرِ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ فَعُلِمَ أَنَّ تَعْيِينَ النِّيَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَاجِبٌ وَتَعْيِينُهَا فِي الْكَفَّارَةِ غَيْرُ وَاجِبٍ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang wajib menentukan niat untuk kafarat mana yang akan dilaksanakan, sebagaimana ia wajib menentukan niat untuk shalat, apakah untuk Zuhur atau Ashar. Maka dikatakan kepadanya: sebagaimana dalam qadha shalat yang terlewat tidak diwajibkan baginya untuk menentukan dari hari yang mana, demikian pula dalam kafarat tidak diwajibkan baginya untuk menentukan karena pelanggaran yang mana. Maka, menetapkan kewajiban menentukan niat dalam pelaksanaan tidak lebih utama daripada meniadakannya dalam qadha, sehingga keduanya sama. Kemudian, pendapat yang kami sebutkan menjadi lebih kuat dengan kesepakatan kami bahwa jika seseorang lupa shalat dan tidak mengetahui secara pasti shalat apa yang ia tinggalkan, maka tidak sah baginya dalam qadha shalat tersebut untuk berniat menunaikan apa yang wajib atasnya karena tidak adanya penentuan. Namun, jika ia memiliki kafarat yang tidak diketahui penyebabnya, maka cukup baginya untuk berniat menunaikan kafarat atas apa yang wajib baginya. Maka, diketahui bahwa penentuan niat dalam shalat adalah wajib, sedangkan penentuan niat dalam kafarat tidaklah wajib.

فَأَمَّا الْفَرْقُ بَيْنَ الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ فِي تَعْيِينِ النِّيَّةِ فِي الصَّلَاةِ دُونَ الطَّهَارَةِ مَعَ اشْتِرَاكِهِمَا فِي وُجُوبِ النِّيَّةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun perbedaan antara thaharah dan shalat dalam penentuan niat, yaitu diwajibkannya niat secara khusus dalam shalat namun tidak pada thaharah, padahal keduanya sama-sama mewajibkan niat, maka hal itu ditinjau dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا مَا حَكَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ الْأَنْمَاطِيُّ عَنِ الْمُزَنِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْمُزَنِيِّ لِمَ افْتَقَرَتِ الصَّلَاةُ إِلَى تَعْيِينِ النِّيَّةِ وَلَمْ تَفْتَقِرِ الطَّهَارَةُ إِلَى تَعْيِينِ النِّيَّةِ؟ فَقَالَ لِأَنَّ الصَّلَاةَ تُرَادُ لِنَفْسِهَا وَالطَّهَارَةَ تُرَادُ لِغَيْرِهَا وَهَذَا صَحِيحٌ وَهَكَذَا الْكَفَّارَةُ تُرَادُ لِغَيْرِهَا وَهُوَ تَكْفِيرُ الْحِنْثِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَلْزَمْ فِيهَا تَعْيِينُ النِّيَّةِ

Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu al-Qasim al-Anmati dari al-Muzani. Ia berkata: Aku bertanya kepada al-Muzani, “Mengapa salat membutuhkan penentuan niat, sedangkan thaharah tidak membutuhkan penentuan niat?” Ia menjawab, “Karena salat dimaksudkan untuk dirinya sendiri, sedangkan thaharah dimaksudkan untuk selain dirinya.” Dan ini benar. Demikian pula kafarah dimaksudkan untuk selain dirinya, yaitu sebagai penebus pelanggaran sumpah. Oleh karena itu, tidak diwajibkan penentuan niat di dalamnya.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي قَالَهُ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّ الطَّهَارَةَ بِسَبَبٍ مُتَقَدِّمٍ وَهُوَ مَا سَبَقَ مِنَ الْحَدَثِ فَلَمْ يَلْزَمْ تَعْيِينُ النِّيَّةِ لَهُ وَالصَّلَاةُ لِأَمْرٍ مُسْتَقْبَلٍ فَجَازَ أَنْ يَلْزَمَ تَعْيِينُ النِّيَّةِ فِيهَا وَهَذَا صَحِيحٌ وَهَكَذَا الْكَفَّارَةُ بِسَبَبٍ مُتَقَدِّمٍ وَهُوَ مَا سَبَقَ مِنَ الْيَمِينِ؟ فَلَمْ يُعْتَبَرْ تَعْيِينُ النِّيَّةِ فِيهَا

Perbedaan kedua dikemukakan oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yaitu bahwa thaharah (bersuci) disebabkan oleh sesuatu yang telah lalu, yaitu hadats yang telah terjadi sebelumnya, sehingga tidak disyaratkan penentuan niat secara khusus untuknya. Sedangkan shalat adalah untuk sesuatu yang akan datang, maka boleh jadi disyaratkan penentuan niat secara khusus di dalamnya. Ini benar. Demikian pula kafarah (tebusan) disebabkan oleh sesuatu yang telah lalu, yaitu sumpah yang telah terjadi sebelumnya, sehingga tidak dipersyaratkan penentuan niat secara khusus di dalamnya.

فَإِنْ قِيلَ النِّيَّةُ فِي الْكَفَّارَةِ أَغْلَظُ مِنْهَا فِي الطَّهَارَةِ لِأَنَّهُ لَوْ نَوَى بِطَهَارَتِهِ أَنَّهَا عَنْ نومٍ فَكَانَتْ عَنْ بولٍ أَجْزَأَهُ وَلَوْ نَوَى بِعِتْقِهِ فِي الْكَفَّارَةِ أَنَّهُ عَنْ ظِهَارٍ فَكَانَ عَنْ قَتْلٍ لَمْ يُجْزِهِ فَجَازَ أَنْ تَتَغَلَّظَ الْكَفَّارَةُ بِتَعْيِينِ النِّيَّةِ وَإِنْ لَمْ تَتَغَلَّظْ بِهَا الطَّهَارَةُ

Jika dikatakan bahwa niat dalam kafārah lebih berat daripada niat dalam thahārah, karena jika seseorang berniat dengan thahārah-nya untuk menghilangkan hadas tidur, lalu ternyata hadasnya karena kencing, maka itu tetap sah. Namun jika seseorang berniat memerdekakan budak dalam kafārah karena zhihār, lalu ternyata itu untuk kafārah pembunuhan, maka itu tidak sah. Maka boleh saja kafārah dipersulit dengan penetapan niat secara spesifik, meskipun thahārah tidak dipersulit dengan hal itu.

قِيلَ إِنَّمَا أَجْزَأَتْهُ الطَّهَارَةُ وَلَمْ تُجْزِهِ الْكَفَّارَةُ بِمَعْنًى آخَرَ وَهُوَ أَنَّ الطَّهَارَةَ تَرْفَعُ جَمِيعَ الْأَحْدَاثِ لِأَنَّهَا تَتَدَاخَلُ فَكَذَلِكَ أَجْزَأَتْ فِي مُخَالَفَةِ التَّعْيِينِ وَالْعِتْقُ لَا يُسْقِطُ جَمِيعَ الْكَفَّارَاتِ لِأَنَّهَا لَا تَتَدَاخَلُ فَلِذَلِكَ لَمْ تَجُزْ فِي مخالفة التعيين

Dikatakan bahwa thaharah dianggap sah baginya, sedangkan kafarah tidak dianggap sah baginya dalam makna lain, yaitu bahwa thaharah mengangkat semua hadats karena thaharah dapat saling masuk (tadakhul), maka demikian pula thaharah dianggap sah dalam kasus menyelisihi penentuan (ta‘yīn). Sedangkan pembebasan budak (al-‘itq) tidak menggugurkan semua kafarah karena tidak dapat saling masuk, oleh karena itu tidak sah dalam kasus menyelisihi penentuan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي ولا يُجْزِئُ كفارةٌ حَتَّى يُقَدِّمَ النِّيَّةَ قَبْلَهَا أَوْ مَعَهَا

Syafi‘i berkata, “Tidak sah kafarat sampai mendahulukan niat sebelum atau bersamaan dengan pelaksanaannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا النِّيَّةُ فِي دَفْعِ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ فَوَاجِبَةٌ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الزَّكَاةِ لِأَنَّ دَفْعَ الْمَالِ يَتَنَوَّعُ فَرْضًا وَتَطَوُّعًا فَافْتَقَرَ الْفَرْضُ إِلَى تَمْيِيزِهِ بِالنِّيَّةِ وَلَهُ فِي النِّيَّةِ ثَلَاثَةُ أحوالٍ تُجْزِئُهُ فِي إِحْدَاهَا وَلَا تُجْزِئُهُ فِي الْآخَرِ وَمُخْتَلَفٌ فِي إِجْزَائِهِ فِي الثَّالِثُ فَأَمَّا مَا تُجْزِئُهُ فَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ عند دفعها فيجزئ ما لِأَنَّ أَغْلَظَ أَحْوَالِ النِّيَّةِ أَنْ يَكُونَ مَعَ الْفِعْلِ وَأَمَّا مَا لَا يُجْزِئُ فَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ قَبْلَ عَزْلِهَا مِنْ مَالِهِ لِأَنَّهَا تَجَرَّدَتْ عَنِ الْفِعْلِ فَكَانَتْ قَصْدًا وَلَمْ تَكُنْ نِيَّةً وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ عِنْدَ عَزْلِهَا مِنْ مَالِهِ وَقَبْلَ دَفْعِهَا فَفِي إِجْزَائِهَا وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Adapun niat dalam membayar zakat dan kafarat adalah wajib sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam zakat, karena penyerahan harta itu terbagi menjadi kewajiban (fardhu) dan sunnah (tathawwu‘), sehingga yang wajib memerlukan pembeda dengan niat. Dalam hal niat, ada tiga keadaan: pada salah satunya niat itu sah, pada yang lain tidak sah, dan pada yang ketiga diperselisihkan keabsahannya. Adapun yang sah adalah jika berniat saat menyerahkannya, maka itu sah, karena keadaan niat yang paling kuat adalah bersamaan dengan perbuatan. Adapun yang tidak sah adalah jika berniat sebelum memisahkan harta dari hartanya, karena itu hanya sekadar maksud dan belum menjadi niat. Adapun yang diperselisihkan adalah jika berniat saat memisahkan harta dari hartanya dan sebelum menyerahkannya, maka dalam keabsahannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تُجْزِئُ وَإِنْ لَمْ تُجْزِئْ مِثْلُهُ فِي الصَّلَاةِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ حَتَّى يُقَدِّمَ النِّيَّةَ قَبْلَهَا وَمَعَهَا لِأَنَّ الِاسْتِنَابَةَ فِي دَفْعِهَا يَصِحُّ وَلَا يُمْكِنُ الْمُسْتَنِيبُ أَنْ يَنْوِيَ مَعَ الدَّفْعِ فَأَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ مَعَ الْعَزْلِ وَخَالَفَتِ الصَّلَاةَ الَّتِي لَا تَجُوزُ الِاسْتِنَابَةُ فِيهَا فَلَزِمَ أَنْ تَكُونَ النِّيَّةُ مُقَارِنَةً لِأَوَّلِهَا وَجَرَتِ الضَّرُورَةُ مَجْرَى الصِّيَامِ الَّذِي تُجْزِئُ النِّيَّةُ فِيهِ قَبْلَ دُخُولِهِ لِلضَّرُورَةِ عِنْدَ تَعَذُّرِهَا مَعَ دُخُولِهِ

Salah satunya dianggap sah meskipun yang sejenis dengannya tidak sah dalam shalat, dan inilah yang tampak dari perkataan asy-Syafi‘i, yaitu bahwa niat didahulukan sebelum atau bersamaan dengannya. Hal ini karena perwakilan dalam penyerahannya dibolehkan, sedangkan orang yang mewakilkan tidak mungkin berniat bersamaan dengan penyerahan, maka cukuplah niat bersamaan dengan penunjukan wakil. Hal ini berbeda dengan shalat yang tidak boleh diwakilkan, sehingga niat harus bersamaan dengan permulaan shalat. Keadaan darurat diperlakukan seperti puasa, di mana niat sah dilakukan sebelum masuk waktu puasa karena adanya kebutuhan ketika tidak memungkinkan berniat bersamaan dengan masuknya waktu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُجْزِئُهُ لِبَقَائِهَا مَعَ الْقَوَدِ عَلَى مُلْكِهِ فَأَشْبَهَ النِّيَّةَ قَبْلَ عَزْلِهِ وَتَأَوَّلَ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْوَجْهِ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ حَتَّى يُقَدِّمَ النِّيَّةَ قَبْلَهَا أَوْ مَعَهَا بِتَأْوِيلَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu tidak sah karena masih tetap bersamaan dengan qawad atas kepemilikannya, sehingga menyerupai niat sebelum dicabut. Orang yang berpendapat demikian menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i bahwa niat harus didahulukan sebelum atau bersamaan dengannya dengan dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَنْوِيَ قَبْلَهَا إِذَا اسْتَصْحَبَ النِّيَّةَ إِلَى دفعها

Salah satunya adalah berniat sebelum membayarnya, jika ia terus mempertahankan niat tersebut hingga saat membayarnya.

والثاني قبلها في الصيام ومعها في الكسوة

Yang kedua, sebelum (masuk waktu) dalam puasa dan bersamaan dengannya dalam pemberian pakaian.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ كَفَّرَ عَنْهُ رجلٌ بِأَمْرِهِ أَجْزَأَهُ وَهَذِهِ كَهِبَتِهِ إِيَّاهَا مِنْ مَالِهِ وَدَفْعِهِ إِيَّاهَا بِأَمْرِهِ كقبضٍ وَكِيلِهِ لِهِبَتِهِ لَوْ وَهَبَهَا لَهُ وَكَذَلِكَ إِنْ قَالَ أَعْتِقْ عَنِّي فَوَلَاؤُهُ لِلْمُعْتِقَ عَنْهُ لِأَنَّهُ قَدْ مَلَكَهُ قَبْلَ الْعِتْقِ وَكَانَ عِتْقُهُ مِثْلَ الْقَبْضِ كَمَا لَوِ اشْتَرَاهُ فَلَمْ يَقْبِضْهُ حَتَّى أَعْتَقَهُ كَانَ الْعِتْقُ كَالْقَبْضِ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang membayarkan kafarat untuk orang lain atas perintahnya, maka itu sah baginya. Hal ini seperti pemberian hibah kepadanya dari hartanya dan penyerahan hibah itu atas perintahnya, seperti penerimaan wakilnya atas hibah tersebut jika ia menghibahkannya kepadanya. Demikian pula jika ia berkata, “Merdekakanlah budak atas namaku,” maka wala’ (hak perwalian) menjadi milik orang yang memerdekakan atas namanya, karena ia telah memilikinya sebelum dimerdekakan, dan tindakan memerdekakan itu seperti tindakan menerima, sebagaimana jika ia membelinya lalu belum menerimanya hingga dimerdekakan, maka tindakan memerdekakan itu dianggap seperti penerimaan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ إِذَا وَجَبَ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ فَكَفَّرَ عَنْهُ رَجُلٌ بِأَمْرِهِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan: Jika seseorang wajib membayar kafarah, lalu ada seorang laki-laki yang membayarkan kafarah tersebut atas perintahnya, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مَالُ التَّكْفِيرِ لِلْآمِرِ فَيَكُونَ المأمور هاهنا وَكِيلًا لِلْآمِرِ فِي إِخْرَاجِ الْكَفَّارَةِ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَى جَوَازِهِ لِجَوَازِ النِّيَابَةِ فِي التَّكْفِيرِ لِأَنَّ مَقْصُودَهَا الْمَالُ وَالْعَمَلُ تَبِعٌ فَأُجْرِيَتْ مَجْرَى حُقُوقِ الْأَمْوَالِ وَتَكُونُ النِّيَّةُ فِي إِخْرَاجِهَا مُسْتَحِقَّةً لِمَا تَضَمَّنَهَا مِنَ الْعِبَادَةِ وَلِلْآمِرِ وَالْمَأْمُورِ فِيهَا أَرْبَعَةُ أحوالٍ

Salah satunya adalah apabila harta untuk membayar kafarat berasal dari orang yang memerintah, maka orang yang diperintah di sini menjadi wakil dari orang yang memerintah dalam menunaikan kafarat. Hal ini disepakati kebolehannya karena diperbolehkannya perwakilan dalam membayar kafarat, sebab tujuan utamanya adalah harta, sedangkan amal perbuatan hanya mengikuti, sehingga diperlakukan seperti hak-hak harta. Niat dalam pelaksanaannya tetap diperlukan karena di dalamnya terkandung unsur ibadah, dan dalam hal ini terdapat empat keadaan bagi orang yang memerintah dan orang yang diperintah.

أَحَدُهَا أَنْ يَنْوِيَ الْآمِرُ عِنْدَ أَمْرِهِ وينوي المأمور عند دفعه فهذا أكمل أموال الجواز

Salah satunya adalah bahwa orang yang memerintah berniat ketika memerintah, dan orang yang diperintah juga berniat ketika memberikan (sesuatu), maka ini adalah bentuk yang paling sempurna dari sisi kebolehan.

والثاني أن لا ينوي واحد مِنْهَا فَلَا يُجْزِئُ الْمُخْرِجُ عِتْقًا كَانَ أَوْ إِطْعَامًا لِعَدَمِ الشَّرْطِ الْمُسْتَحَقِّ فِي الْإِجْزَاءِ وَلَا يَضْمَنُهُ الْمَأْمُورُ وَيَكُونُ مُتَطَوِّعًا فِي الْأَمْرِ

Kedua, jika tidak meniatkan salah satu dari keduanya, maka tidak sah bagi orang yang mengeluarkan, baik berupa pembebasan budak maupun memberi makan, karena tidak terpenuhi syarat yang ditetapkan untuk keabsahan. Orang yang diperintah tidak menanggungnya, dan ia dianggap sebagai orang yang melakukan amalan sunnah dalam perkara tersebut.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَنْوِيَ الْمَأْمُورُ عِنْدَ دَفْعِهِ وَلَا يَنْوِيَ الْآمِرُ عِنْدَ أَمْرِهِ فَهُنَا يُجْزِئُ لِأَنَّ اقْتِرَانَ النِّيَّةِ بِالدَّفْعِ أَصَحُّ

Ketiga, apabila orang yang diperintah berniat ketika menyerahkan (zakat), sedangkan orang yang memerintah tidak berniat ketika memerintahkannya, maka dalam hal ini sudah mencukupi, karena menyertakan niat saat penyerahan itu lebih sahih.

وَالرَّابِعُ أَنْ يَنْوِيَ الْآمِرُ عِنْدَ أَمْرِهِ وَلَا يَنْوِيَ الْمَأْمُورُ عِنْدَ دَفْعِهِ فَفِي إِجْزَائِهِ وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى مِنْ وُجُوبِ اعْتِبَارِهِ النِّيَّةَ عِنْدَ الْعَزْلِ وَالدَّفْعِ فَإِنْ أَمَرَهُ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْهُ بِنَوْعٍ فَعَدَلَ إِلَى غَيْرِهِ كَانَ الْمَأْمُورُ ضَامِنًا لِمَا كَفَّرَ بِهِ سَوَاءٌ عَدَلَ عَنِ الْأَدْنَى إِلَى الْأَعْلَى كَعُدُولِهِ عَنِ الْإِطْعَامِ إِلَى الْعِتْقِ أَوْ عَدَلَ عَنِ الْأَعْلَى إِلَى الْأَدْنَى كَعُدُولِهِ عَنِ الْعِتْقِ إِلَى الْإِطْعَامِ لِأَنَّ الْمَأْمُورَ مَقْصُورُ التَّصَرُّفِ عَلَى مَا تَضَمَّنَهُ الْأَمْرُ وَإِنْ أَطْلَقَ الْآمِرُ الْإِذْنَ لِلْمَأْمُورِ فِي التَّكْفِيرِ وَلَمْ يُعَيِّنْ لَهُ عَلَى جِنْسِ مَا يُكَفِّرُ بِهِ لَمْ تَخْلُ الْكَفَّارَةُ مِنْ أَنْ تَكُونَ كَفَّارَةَ تَرْتِيبٍ كَالْقَتْلِ وَالظِّهَارِ فَإِطْلَاقُ إِذْنِ الْآمِرِ يُوجِبُ حَمْلَهُ عَلَى اعْتِبَارِ حَالِهِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْعِتْقِ أَوَجَبَ إِطْلَاقَ إِذْنِهِ أَنْ يَعْتِقَ عَنْهُ وَإِنْ أَطْعَمَ ضَمِنَ وَلَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْإِطْعَامِ أَوَجَبَ إِطْلَاقُ إِذْنِهِ أَنْ يُطْعِمَ عَنْهُ وَإِنْ أَعَتَقَ لَمْ يَنْفُذْ عِتْقُهُ وَلَمْ يَضْمَنْ بِخِلَافِ الْمَالِ الَّذِي قَدْ مَلَكَهُ الْمُعْطَى فَضِمْنَهُ الْمُعْطِي وَإِنْ كَانَتْ كَفَّارَةً لَحِنْثٍ مِثْلِ كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ فَإِنْ كَفَّرَ الْمَأْمُورُ بِأَقَلِّ الْأَجْنَاسِ ثَمَنًا فَكَفَّرَ بِالْإِطْعَامِ دُونَ الْعِتْقِ أَجْزَأَ سَوَاءٌ كَانَ مَوْجُودًا فِي مَالِهِ أَوْ غَيْرَ موجودٍ وَإِنْ كَفَّرَ بِأَكْثَرِ الْأَجْنَاسِ ثَمَنًا فَكَفَّرَ بِالْعِتْقِ دُونَ الْإِطْعَامِ فَلَا يَخْلُو مَالُ الْآمِرِ مِنْ أَرْبَعَةِ أحوال

Keempat, apabila orang yang memerintah berniat ketika memerintah, sedangkan orang yang diperintah tidak berniat ketika menyerahkan (kafarat), maka dalam keabsahan (kafarat) tersebut terdapat dua pendapat, berdasarkan apa yang telah lalu tentang wajibnya mempertimbangkan niat saat pemisahan dan penyerahan. Jika ia memerintahkannya untuk membayar kafarat dengan jenis tertentu, lalu ia beralih ke jenis lain, maka orang yang diperintah wajib mengganti apa yang telah ia gunakan untuk membayar kafarat, baik ia beralih dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, seperti beralih dari memberi makan ke membebaskan budak, atau beralih dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, seperti beralih dari membebaskan budak ke memberi makan. Hal ini karena orang yang diperintah hanya boleh bertindak sesuai dengan apa yang tercakup dalam perintah. Jika orang yang memerintah memberikan izin secara mutlak kepada orang yang diperintah untuk membayar kafarat dan tidak menentukan jenis kafaratnya, maka kafarat tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi kafarat tartib seperti kafarat pembunuhan dan zhihar, maka izin mutlak dari orang yang memerintah harus disesuaikan dengan keadaannya. Jika ia termasuk orang yang mampu membebaskan budak, maka izin mutlaknya mewajibkan untuk membebaskan budak atas namanya, dan jika ia memberi makan, maka ia wajib mengganti dan tidak sah baginya. Jika ia termasuk orang yang hanya mampu memberi makan, maka izin mutlaknya mewajibkan untuk memberi makan atas namanya, dan jika ia membebaskan budak, maka pembebasan budaknya tidak sah dan ia tidak wajib mengganti, berbeda dengan harta yang telah dimiliki oleh penerima, maka pemberinya wajib mengganti. Jika kafarat tersebut adalah kafarat karena melanggar sumpah seperti kafarat yamin, maka jika orang yang diperintah membayar kafarat dengan jenis yang paling murah, yaitu memberi makan tanpa membebaskan budak, maka itu sah, baik harta tersebut ada pada orang yang memerintah maupun tidak ada. Namun jika ia membayar kafarat dengan jenis yang paling mahal, yaitu membebaskan budak tanpa memberi makan, maka harta orang yang memerintah tidak lepas dari empat keadaan.

أحدها أن يوجد في ملكه للأدنى مِنَ الْإِطْعَامِ وَلَا يُوجَدَ فِيهِ الْأَعْلَى مِنَ الْعِتْقِ فَيَصِيرَ الْمَأْمُورُ بَعْدَ عُدُولِهِ إِلَى الْعِتْقِ مِنْ غَيْرِ مِلْكِهِ خَارِجًا مِنْ حُكْمِ الْأَذَى فَلَا يُجْزِئُ الْعِتْقُ وَيَكُونُ عَنِ الْمَأْمُورِ دُونَ الْآمِرِ وَالْكَفَّارَةُ بَاقِيَةٌ فِي ذِمَّةِ الْآمِرِ

Pertama, bisa jadi seseorang memiliki yang lebih rendah berupa makanan, tetapi tidak memiliki yang lebih tinggi berupa memerdekakan budak. Maka, jika yang diperintahkan setelah beralih kepada memerdekakan budak tanpa memilikinya, hal itu keluar dari ketentuan terkait pelanggaran, sehingga memerdekakan budak tidak sah. Maka, itu hanya berlaku bagi yang diperintahkan, bukan bagi yang memerintah, dan kewajiban kafarat tetap menjadi tanggungan pihak yang memerintah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُوجَدَ فِي مِلْكِهِ الْأَعْلَى مِنَ الْعِتْقِ وَلَا يُوجَدُ فِيهِ الْأَدْنَى مِنَ الطَّعَامِ فَهَذَا الْعِتْقُ يُجْزِئُ عَنِ الْآمِرِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ لِأَنَّ إِطْلَاقَ إِذْنِهِ مُتَوَجِّهٌ إِلَى مِلْكِهِ

Keadaan kedua adalah apabila dalam kepemilikannya terdapat yang lebih tinggi berupa pembebasan budak, namun tidak terdapat yang lebih rendah berupa makanan. Maka pembebasan budak ini sah sebagai pengganti bagi orang yang memerintahkannya, dan hak wala’nya menjadi miliknya, karena izin yang diberikan secara mutlak itu tertuju kepada kepemilikannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ لَا يُوجَدَ فِي مِلْكِهِ الْأَدْنَى مِنِ الْإِطْعَامِ وَلَا الْأَعْلَى مِنَ الْعِتْقِ فَلَيْسَ لَهُ التَّكْفِيرُ عَنْهُ بِالْأَعْلَى مِنَ الْعِتْقِ لِأَمْرَيْنِ

Keadaan yang ketiga adalah ketika di dalam kepemilikannya tidak terdapat yang paling rendah berupa memberi makan, dan tidak pula yang paling tinggi berupa memerdekakan budak. Maka, ia tidak boleh melakukan kafarat dengan yang paling tinggi, yaitu memerdekakan budak, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إِنَّ فَضْلَ الْقِيمَةِ غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ

Salah satunya adalah bahwa kelebihan nilai tidak berhak untuk dimiliki.

وَالثَّانِي إِنَّهُ يُدْخِلُ وَلَاءَ الْمُعْتِقِ فِي مِلْكِ الْآمِرِ بِغَيْرِ إِذْنٍ

Yang kedua, sesungguhnya hal itu memasukkan hak wala’ dari orang yang memerdekakan ke dalam kepemilikan orang yang memerintahkan tanpa izinnya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُوجَدَ فِي مِلْكِهِ الْأَدْنَى مِنَ الطَّعَامِ وَالْأَعْلَى مِنَ الْعِتْقِ فَهَلْ يَكُونُ إِطْلَاقُ الْإِذْنِ يُوجِبُ تَخْيِيرَ الْمَأْمُورِ كَمَا كَانَ مُوجِبًا لِخِيَارِ الْآمِرِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan keempat adalah ketika dalam kepemilikannya terdapat yang paling rendah berupa makanan dan yang paling tinggi berupa pembebasan budak. Apakah pemberian izin secara mutlak mewajibkan adanya pilihan bagi orang yang diperintah, sebagaimana hal itu mewajibkan adanya pilihan bagi orang yang memerintah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ مُوجِبٌ لِخِيَارِهِ لِأَنَّهُ قَدْ أَقَامَهُ بِالْإِذْنِ فِيهِ مَقَامَ نَفْسِهِ فَعَلَى هَذَا لَا يَبْطُلُ الْعِتْقُ وَيُجْزِئُ عَنِ الْمُكَفِّرِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu menyebabkan adanya hak khiyar baginya, karena ia telah menempatkannya, dengan izin dalam hal itu, pada posisi dirinya sendiri. Maka berdasarkan hal ini, pembebasan budak tidak batal dan tetap sah sebagai pengganti dari orang yang melakukan kafarat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّ التَّخْيِيرَ يَسْقُطُ فِي حَقِّ الْمَأْمُورِ وَإِنْ كَانَ ثَابِتًا فِي حَقِّ الْآمِرِ لِأَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِي مِلْكِهِ دُونَ الْمَأْمُورِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ عِتْقُهُ بَاطِلًا؟ وَالْعَبْدُ عَلَى رِقِّهِ وَالْكَفَّارَةُ بَاقِيَةً فِي ذِمَّةِ الْآمِرِ

Pendapat kedua adalah bahwa pilihan (takhyīr) gugur bagi orang yang diperintah, meskipun tetap berlaku bagi orang yang memerintah, karena ia (orang yang memerintah) memiliki hak memilih atas miliknya, bukan orang yang diperintah. Dengan demikian, pembebasan budak yang dilakukan menjadi batal, budak tersebut tetap dalam status perbudakannya, dan kewajiban kafārah tetap berada di tanggungan orang yang memerintah.

فَصْلٌ

Fasal

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ مَالُ التَّكْفِيرِ مِلْكًا لِلْمَأْمُورِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي إِجْزَائِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Jenis kedua adalah apabila harta untuk kafarat itu milik orang yang diperintahkan (melakukannya), maka para fuqaha berbeda pendapat mengenai keabsahannya menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إِنَّهُ يُجْزِئُ سَوَاءٌ كَانَ بِجُعْلٍ أَوْ بِغَيْرِ جعلٍ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa hal itu sah baik dengan imbalan maupun tanpa imbalan.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ لَا يُجْزِئُ سَوَاءٌ كَانَ بِجُعْلٍ أَوْ بِغَيْرِ جُعْلٍ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Malik, tidak membolehkan (ibadah tersebut), baik dilakukan dengan imbalan maupun tanpa imbalan.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهُ يُجْزِئُ إِنْ كَانَ بِجُعْلٍ وَلَا يُجْزِئُ إِنْ كَانَ بِغَيْرِ جُعْلٍ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa itu dianggap sah jika dilakukan dengan imbalan, dan tidak sah jika dilakukan tanpa imbalan.

وَدَلِيلُنَا وَإِنْ كَانَ قَدْ مَضَى فِي كِتَابِ الظِّهَارِ مُسْتَوْفًى أَنَّهُ إِنْ كَانَ بِجُعْلٍ جَرَى مَجْرَى الْبِيَاعَاتِ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ جُعْلٍ جَرَى مَجْرَى الْهِبَاتِ وَالْإِخْرَاجُ فِيهَا قَبْضٌ يَلْزَمُ بِهِ الْهِبَةُ وَيَسْتَقِرُّ بِهِ الْبَيْعُ فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يَصِحُّ مِلْكُ الْأَمْرِ لَهُ حَتَّى يُجْزِئَهُ فِي كَفَّارَتِهِ قِيلَ قَدْ حَكَى فِيهِ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَجْهَيْنِ خَرَّجَهُمَا مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي دِيَةِ النَّفْسِ هَلْ يَمْلِكُهَا الْمَقْتُولُ فِي آخِرِ أَجْزَاءِ حَيَّاتِهِ أَوْ يَمْلِكُهَا الْوَرَثَةُ فِي أَوَّلِ أَجْزَاءِ مَوْتِهِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا فِي قَضَاءِ دُيُونِهِ وَإِنْفَاذِ وَصَايَاهُ حُكْمُ مِلْكِهِ عَلَى قولين كذلك هاهنا عَلَى وَجْهَيْنِ

Dan dalil kami, meskipun telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab az-Zhihar, adalah bahwa jika dilakukan dengan imbalan, maka hukumnya seperti transaksi jual beli, dan jika tanpa imbalan, maka hukumnya seperti hibah. Penyerahan dalam hal ini merupakan bentuk penguasaan yang menyebabkan hibah menjadi wajib dan jual beli menjadi tetap. Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kepemilikan atas perkara itu sah baginya sehingga mencukupi untuk kafaratnya?” Maka dijawab: Abu ‘Ali bin Abi Hurairah telah meriwayatkan dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i tentang diyat jiwa, apakah diyat itu dimiliki oleh orang yang terbunuh pada akhir hayatnya, atau dimiliki oleh ahli warisnya pada awal kematiannya. Dalam pelunasan utang dan pelaksanaan wasiat, berlaku hukum kepemilikan atas dua pendapat tersebut. Demikian pula dalam masalah ini, ada dua wajah (pendapat) juga.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ يَصِيرُ بِإِخْرَاجِهَا مَالِكًا لَهَا قَبْلَ إِخْرَاجِهَا فَإِنْ كَانَ عِتْقًا بَانَ بِالْعِتْقِ أَنَّهُ كَانَ مِلْكًا لَهُ قَبْلَ الْعِتْقِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فِيمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ قَالَ الشَّافِعِيُّ لِأَنَّهُ مَلَكَهُ قَبْلَ الْعِتْقِ

Salah satunya adalah bahwa dengan mengeluarkannya, seseorang menjadi pemilik atasnya sebelum dikeluarkan. Jika itu berupa pembebasan budak (‘itq), maka dengan pembebasan tersebut jelas bahwa ia adalah miliknya sebelum pembebasan, dan inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i sebagaimana yang dinyatakan olehnya dalam masalah ini. Syafi‘i berkata, “Karena ia memilikinya sebelum pembebasan.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ لَيْسَ بِمَالِكٍ وَإِنَّمَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمِلْكِ لِأَنَّهُ قَبْلَ الْعِتْقِ لَا يَمْلِكُ وَبَعْدَ الْعِتْقِ لَا يَصِحُّ أَنْ يَمْلِكَ فَصَارَ حُكْمُ الْمِلْكِ جَارِيًا عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْ كَمَا نَقُولُ فِي حَافِرِ الْبِئْرِ إِذَا تَلِفَ فِيهَا حَيَوَانٌ بَعْدَ مَوْتِهِ كَانَ فِي حُكْمِ الْجَانِي عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جَانِيًا لِأَنَّهُ قَبْلَ مَوْتِهِ لَمْ يَجْنِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ لَا يَصِحُّ مِنْهُ الْفِعْلُ فَجَرَى عَلَيْهِ حُكْمُهُ وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ وَيَكُونُ وَلَاءُ الْمُعْتِقِ لِلْآمِرِ عَلَى الْوَجْهَيْنِ مَعًا وَمِثْلُ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ فِي التَّكْفِيرِ إِذَا قَالَ أَلْقِ مَتَاعَكَ فِي الْبَحْرِ وَعَلَيَّ قِيمَتُهُ هَلْ يَصِيرُ مَالِكًا لَهُ قَبْلَ إِلْقَائِهِ أَمْ لَا عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia bukanlah pemilik, melainkan hanya berlaku atasnya hukum kepemilikan, karena sebelum dimerdekakan ia tidak memiliki, dan setelah dimerdekakan tidak sah baginya untuk memiliki. Maka hukum kepemilikan tetap berlaku atasnya meskipun ia tidak memiliki, sebagaimana kita katakan pada pemilik sumur: jika ada hewan yang binasa di dalamnya setelah kematiannya, maka ia berada dalam hukum sebagai pelaku kejahatan terhadapnya, meskipun ia bukan pelaku kejahatan, karena sebelum kematiannya ia belum melakukan kejahatan, dan setelah kematiannya tidak sah baginya melakukan perbuatan, sehingga hukum tersebut tetap berlaku atasnya meskipun ia tidak melakukannya. Dan hak wala’ bagi orang yang memerdekakan tetap menjadi milik pemberi perintah pada kedua pendapat tersebut. Dan dua pendapat ini juga berlaku dalam masalah kafarat, yaitu jika seseorang berkata, “Buanglah barangmu ke laut dan aku akan membayar nilainya,” apakah ia menjadi pemilik barang itu sebelum dibuang atau tidak, sesuai dengan dua pendapat ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّنَا نَعْلَمُ قَبْلَ إِلْقَائِهِ أَنَّهُ قَدْ كَانَ مَالِكًا لَهُ قَبْلَ إِلْقَائِهِ

Salah satunya adalah bahwa kita mengetahui sebelum melemparkannya bahwa ia memang telah memilikinya sebelum melemparkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إِنَّهُ لَا يَصِيرُ مَالِكًا لَهُ وَإِنَّمَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمِلْكِ لِأَنَّهُ قَبْلَ الْإِلْقَاءِ لَمْ يَمْلِكْ وَبَعْدَ الْإِلْقَاءِ لَا يَصِحُّ أن يملك

Adapun pendapat kedua, sesungguhnya ia tidak menjadi pemilik atasnya, melainkan hanya berlaku padanya hukum kepemilikan, karena sebelum melemparkan (barang itu) ia belum memilikinya, dan setelah melemparkan tidak sah baginya untuk memilikinya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا كَفَّرَ عَنْ رجلٍ بِغَيْرِ أَمْرِهِ فَأَطْعَمَ أَوْ أَعْتَقَ لَمْ يُجْزِهِ وَكَانَ هو المعتق لعبده فَوَلَاؤُهُ لَهُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang membayar kafarat untuk orang lain tanpa seizinnya, lalu ia memberi makan atau memerdekakan (budak), maka itu tidak sah baginya. Dan jika ia yang memerdekakan budaknya, maka wala’ (hak perwalian) budak tersebut menjadi miliknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ مَنْ كَفَّرَ عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُكَفِّرًا عَنْ حيٍّ أَوْ مَيِّتٍ فَإِنْ كَفَّرَ عَنْ حيٍّ لَمْ يَجُزِ الْكَفَّارَةُ عَنِ الْحَيِّ لِأَنَّ النِّيَّةَ فِيهَا مُسْتَحَقَّةٌ وَعَدَمُ الْإِذْنِ مَانِعٌ مِنْ صِحَّةِ النِّيَّةِ فَكَانَ مَا أَخْرَجَهُ النَّائِبُ وَاقِعًا عَنْ نَفْسِهِ فَإِنْ كَانَ إِطْعَامًا كَانَ صَدَقَةً وَإِنْ كَانَ عِتْقًا كَانَ تَطَوُّعًا مِنْهُ وَلَهُ وَلَاؤُهُ وَإِنْ نَوَاهُ عَنْ غَيْرِهِ كَمَنْ حَجَّ عَنْ حيٍّ بِغَيْرِ أَمْرِهِ كَانَ الْحَجُّ وَاقِعًا عَنِ الْحَاجِّ دُونَ الْمَحْجُوجِ عَنْهُ وَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي وَلَاءِ مَنْ أَعْتَقَ عَبْدَهُ عَنْ غَيْرِهِ فَجَعَلَهُ أَبُو حَنِيفَةَ لِلْمُعْتِقِ بِكُلِّ حالٍ وَجَعَلَ مَالِكٌ لِلْمُعْتَقِ عَنْهُ بِكُلِّ حَالٍ وَجَعَلَهُ الشَّافِعِيُّ لِلْمُعْتِقِ إِنْ أَعْتَقَ بِغَيْرِ أَمْرِهِ وَلِلْمُعْتَقِ عَنْهُ إِنْ أَعْتَقَ بِأَمْرِهِ وَإِنْ كَفَّرَ عَنْ مَيِّتٍ فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ بِوَصِيَّةٍ أَوْ بِغَيْرِ وَصِيَّةٍ فَإِنْ كَانَ بِوَصِيَّةٍ كَانَتِ الْوَصِيَّةُ أَمْرًا فَيَصِيِرُ كالمكفر بأمرٍ فيكون على ما مضى فإن كَفَّرَ عَنْهُ بِغَيْرِ وَصِيَّةٍ مِنْهُ فَلَا يَخْلُو الْمُكَفِّرُ عَنْهُ مِنْ أَنْ يَمُوتَ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا فَإِنْ مَاتَ مُوسِرًا فَوُجُوبُ الْكَفَّارَةِ بَاقٍ فِي تَرِكَتِهِ فَإِنْ كَفَّرَ عَنْهُ مِنْهَا غَيْرَ وَارِثٍ وَلَا ذِي وِلَايَةٍ كَانَ ضَامِنًا مُتَعَدِّيًا وَلَمْ يَسْقُطْ بِهِ الْكَفَّارَةُ وَإِنْ كَفَّرَ عَنْهُ مِنْهَا وَارِثٌ فَإِنْ كَانَ التَّكْفِيرُ طَعَامًا أَجْزَأَ وَصَارَ كَقَضَاءِ الدِّيُونِ الْوَاجِبَةِ عَنْهُ وَإِنْ كَانَ التَّكْفِيرُ عِتْقًا فَضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan seseorang yang membayar kafarat untuk orang lain tanpa izinnya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia membayarkan kafarat untuk orang yang masih hidup atau untuk orang yang sudah meninggal. Jika ia membayarkan kafarat untuk orang yang masih hidup, maka kafarat tersebut tidak sah untuk orang yang masih hidup itu, karena niat dalam hal ini merupakan syarat yang harus dipenuhi, dan ketiadaan izin menjadi penghalang bagi keabsahan niat. Maka apa yang dikeluarkan oleh wakil itu dianggap sebagai perbuatan atas nama dirinya sendiri. Jika yang dikeluarkan berupa makanan, maka itu menjadi sedekah; jika berupa pembebasan budak, maka itu menjadi amal tathawwu‘ (sukarela) darinya dan hak wala’ (loyalitas) budak itu menjadi miliknya, meskipun ia meniatkannya untuk orang lain. Sebagaimana orang yang berhaji atas nama orang yang masih hidup tanpa perintahnya, maka haji itu berlaku untuk orang yang melakukannya, bukan untuk orang yang dihajikan. Para fuqaha berbeda pendapat tentang hak wala’ bagi orang yang membebaskan budak atas nama orang lain: Abu Hanifah menetapkan hak wala’ bagi orang yang membebaskan dalam segala keadaan; Malik menetapkan hak wala’ bagi orang yang dibebaskan atas namanya dalam segala keadaan; Syafi‘i menetapkan hak wala’ bagi orang yang membebaskan jika dilakukan tanpa perintah, dan bagi orang yang dibebaskan atas namanya jika dilakukan atas perintahnya. Jika kafarat dibayarkan untuk orang yang sudah meninggal, maka tidak lepas dari dua keadaan: dengan wasiat atau tanpa wasiat. Jika dengan wasiat, maka wasiat itu dianggap sebagai perintah, sehingga hukumnya seperti membayarkan kafarat atas perintah, dan berlaku sebagaimana yang telah dijelaskan. Jika kafarat dibayarkan tanpa wasiat darinya, maka orang yang membayarkan kafarat itu tidak lepas dari dua kemungkinan: orang yang meninggal itu wafat dalam keadaan mampu atau tidak mampu. Jika ia wafat dalam keadaan mampu, maka kewajiban kafarat tetap ada dalam hartanya. Jika kafarat dibayarkan dari hartanya oleh selain ahli waris atau bukan wali, maka orang tersebut dianggap melampaui batas dan wajib mengganti, serta kafarat tidak gugur karenanya. Jika kafarat dibayarkan dari hartanya oleh ahli waris, maka jika kafarat itu berupa makanan, maka itu sah dan dianggap seperti membayar utang wajib darinya. Jika kafarat itu berupa pembebasan budak, maka ada dua macam.

أَحَدُهُمَا عِتْقٌ لَا تَخْيِيرَ فِيهِ كَالْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الظِّهَارِ وَالْقَتْلِ فَيُجْزِئُ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ أَمْرٍ وَلَا وَصِيَّةٍ لِأَنَّهُ عِتْقٌ مُسْتَحَقٌّ فَإِذَا فَاتَ مَنْ ضَمِنَهُ بِالْمَوْتِ وَجَبَ عَلَى مَنْ قَامَ مَقَامَهُ فِي مَالِهِ كَالْحَجِّ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحُجَّ عَنْهُ فِي حَيَاتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَيَجِبُ عَلَى وَارِثِهِ الْحَجُّ عَنْهُ فِيمَا وَجَبَ بَعْدَ مَوْتِهِ

Salah satunya adalah pembebasan budak yang tidak ada pilihan di dalamnya, seperti pembebasan budak dalam kafārah zhihār dan pembunuhan, maka itu sah meskipun tanpa perintah atau wasiat, karena itu adalah pembebasan budak yang wajib. Maka apabila orang yang menanggungnya meninggal, kewajiban itu berpindah kepada orang yang menggantikannya dalam hartanya, seperti haji; tidak boleh seseorang menghajikan orang lain di masa hidupnya kecuali dengan izinnya, dan wajib atas ahli warisnya untuk menghajikannya atas apa yang menjadi kewajiban setelah kematiannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عِتْقًا فِيهِ تَخْيِيرٌ كَالْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah pembebasan budak yang di dalamnya terdapat pilihan, seperti pembebasan budak dalam kaffārah sumpah, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّ التَّخْيِيرَ فِيهِ يَمْنَعُ مِنْ تَعْيِينِ وُجُوبِهِ

Salah satunya tidak sah karena adanya pilihan di dalamnya menghalangi penetapan kewajibannya secara pasti.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَصِحُّ لِأَنَّهُ إِذَا نَابَ عَنْ وَاجِبٍ صَارَ وَاجِبًا وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ بِنَاءٌ عَلَى اختلاف أصحابنا في ما وجب في كفارة الْيَمِينِ وَسَائِرِ كَفَّارَاتِ التَّخْيِيرِ هَلْ وَجَبَ بِالنَّصِّ أَحَدُهَا أَوْ وَجَبَ بِهِ جَمِيعُهَا وَلَهُ إِسْقَاطُ الْوُجُوبِ بِأَحَدِهِمَا فَأَحَدُ وَجْهَيْ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْوَاجِبَ بِالنَّصِّ أَحَدُهَا عَلَى وَجْهِ التَّخْيِيرِ فَعَلَى هَذَا لَا يَصِحُّ الْعِتْقُ

Pendapat kedua adalah sah, karena jika sesuatu menggantikan kewajiban, maka ia menjadi wajib. Kedua pendapat ini didasarkan pada perbedaan pendapat para ulama mazhab kami mengenai apa yang diwajibkan dalam kafarat yamin dan seluruh kafarat takhyir: apakah yang diwajibkan dengan nash hanya salah satunya, ataukah semuanya diwajibkan dan seseorang boleh menggugurkan kewajiban dengan salah satunya. Salah satu pendapat ulama mazhab kami adalah bahwa yang diwajibkan dengan nash hanyalah salah satunya secara takhyir. Berdasarkan pendapat ini, maka tidak sah memerdekakan budak.

وَالثَّانِي إِنَّ جَمِيعَهَا وَاجِبٌ بِالنَّصِّ وَلَهُ إِسْقَاطُ جَمِيعِهَا بِفِعْلِ أَحَدِهَا فَعَلَى هَذَا يَصِحُّ الْعِتْقُ

Yang kedua, bahwa seluruhnya wajib berdasarkan nash, namun boleh menggugurkan semuanya dengan melakukan salah satunya. Dengan demikian, pembebasan budak itu sah.

وَإِنْ مَاتَ الْمُكَفَّرُ عَنْهُ مُعْسِرًا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ التَّكْفِيرُ بَعْدَ مَوْتِهِ مُعْتَبَرًا بِالْوَاجِبِ أَوْ بِالتَّطَوُّعِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika orang yang ditunaikan kafarat untuknya meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat: apakah pelaksanaan kafarat setelah kematiannya dianggap mengikuti hukum kewajiban atau hukum tathawwu‘ (sunnah), terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مُعْتَبَرًا بِالْوَاجِبِ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى

Salah satunya dianggap mengikuti yang wajib, sehingga tetap seperti yang telah lalu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ مُعْتَبَرًا بِالتَّطَوُّعِ فَيَكُونُ عَلَى مَا يأتي

Pendapat kedua dianggap berdasarkan tata cara ibadah sunnah, sehingga hukumnya mengikuti ketentuan yang akan dijelaskan berikutnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَكَذَلِكَ لَوْ أَعْتَقَ عَنْ أَبَوَيْهِ بَعْدَ الْمَوْتِ إِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ بوصيةٍ مِنْهُمَا

Syafi‘i berkata: Demikian pula, jika seseorang memerdekakan budak atas nama kedua orang tuanya setelah mereka wafat, maka hal itu tidak sah jika bukan berdasarkan wasiat dari keduanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا التَّطَوُّعُ بِذَلِكَ عَنْ وَصِيَّةِ الْمَيِّتِ فَجَائِزٌ سَوَاءٌ كَانَ عِتْقًا أَوْ صَدَقَةً وَيَكُونُ الْوَلَاءُ لِلْمَيِّتِ؟ يَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى الذُّكُورِ مِنْ عَصَبَتِهِ وَأَمَّا التَّطَوُّعُ بِهِ عَنِ الْمَيِّتِ مِنْ غَيْرِ وَصِيَّةٍ فَإِنْ كَانَ صَدَقَةً جَازَ مِنْ وَارِثٍ وَغَيْرِ وَارِثٍ؟ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ أَمَرَ سَعْدَ بْنَ أَبِي وقاصٍ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ أُمِّهِ بَعْدَ مَوْتِهَا

Al-Mawardi berkata: Adapun melakukan amal tathawwu‘ (sunnah) tersebut berdasarkan wasiat dari mayit, maka hukumnya boleh, baik berupa pembebasan budak maupun sedekah, dan hak wala’ (hubungan kekerabatan karena pembebasan budak) tetap menjadi milik mayit, lalu berpindah darinya kepada laki-laki dari ‘ashabah-nya. Adapun melakukan tathawwu‘ tersebut untuk mayit tanpa wasiat, maka jika berupa sedekah, hukumnya boleh, baik dari ahli waris maupun bukan ahli waris, karena diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau memerintahkan Sa‘d bin Abi Waqqash untuk bersedekah atas nama ibunya setelah wafatnya.

وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افتلت وَأَظُنُّ لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا مِنْ أجرٍ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, dan aku yakin seandainya ia sempat berbicara, pasti ia akan bersedekah. Apakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.”

وَأَمَّا الْعِتْقُ فَإِنْ تَطَوَّعَ بِهِ غَيْرُ وَارِثٍ لَمْ يَجُزْ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ أَنَّ الصَّدَقَةَ برٌّ مَحْضٌ لَا يَتَعَدَّى إِلَى غَيْرِ الثَّوَابِ وَالْعِتْقَ تَكَسُّبُ وَلَاءٍ يَجْرِي مَجْرَى النَّسَبِ لِقَوْلِ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ وَلَيْسَ لأحدٍ إِلْحَاقُ نَفْسِهِ بِغَيْرِهِ كَذَلِكَ الْوَلَاءُ وَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ وَارِثًا فَإِنْ تَطَوَّعَ بِهِ بَعْضُ الْوَرَثَةِ لَمْ يَجُزْ كَالْأَجْنَبِيِّ لِأَنَّ بَعْضَ الْوَرَثَةِ لَا يَجُوزُ أَنْ يُلْحِقَ بِالْمَيِّتِ نَسَبًا وَإِنْ تَطَوَّعَ جَمِيعُ الْوَرَثَةِ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ

Adapun pembebasan budak (al-‘itq), jika dilakukan secara sukarela oleh selain ahli waris, maka tidak sah. Perbedaan antara sedekah dan pembebasan budak adalah bahwa sedekah merupakan kebaikan murni yang tidak berakibat selain pahala, sedangkan pembebasan budak adalah usaha memperoleh wala’ yang kedudukannya seperti nasab, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Wala’ itu ikatan seperti ikatan nasab.” Tidak seorang pun boleh mengaitkan dirinya dengan orang lain seperti itu, demikian pula wala’. Jika yang membebaskan budak adalah ahli waris, lalu sebagian ahli waris melakukannya secara sukarela, maka tidak sah seperti halnya orang luar, karena sebagian ahli waris tidak boleh mengaitkan nasab kepada mayit. Namun, jika seluruh ahli waris melakukannya secara sukarela, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَجُوزُ كَمَا لَوْ تَطَوَّعَ بِهِ بَعْضُهُمْ

Salah satunya tidak diperbolehkan, seperti jika sebagian dari mereka melakukannya secara tathawwu‘ (sukarela).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ كَمَا يَصِحُّ لُحُوقُ النَّسَبِ بِالْمَيِّتِ إِذَا أَقَرَّ بِهِ جَمِيعُ الْوَرَثَةِ وَلَا يَصِحُّ إِذَا أقر به بعضهم

Pendapat kedua membolehkan, sebagaimana sahnya penetapan nasab kepada orang yang telah meninggal apabila seluruh ahli waris mengakuinya, dan tidak sah apabila hanya sebagian dari mereka yang mengakuinya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ صَامَ رجلٌ عَنْ رجلٍ بِأَمْرِهِ لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّ الْأَبْدَانَ تُعُبِّدَتْ بعملٍ فَلَا يُجْزِئُ أن يعلمه غيرها إلا الحج والعمرة للخير الَّذِي جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وبأن فيهما نفقةٌ ولأن الله تبارك وتعالى إنما فرضهما على من وجد السبيل إليهما والسبيل بالمال

Imam Syafi‘i berkata: “Jika seseorang berpuasa untuk orang lain atas perintahnya, maka itu tidak sah, karena badan-badan telah diwajibkan beribadah dengan amal tertentu, sehingga tidak sah jika amal itu dilakukan oleh selain dirinya, kecuali haji dan umrah, karena kebaikan yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena pada keduanya terdapat biaya, serta karena Allah Tabaraka wa Ta‘ala hanya mewajibkan keduanya atas orang yang mampu menempuh jalan menuju keduanya, dan kemampuan itu dengan harta.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الصِّيَامُ عَنِ الحيِّ فَلَا يَجُوزُ إِجْمَاعًا بِأَمْرٍ أَوْ غَيْرِ أمرٍ عَنْ قَادِرٍ أَوْ عَاجِزٍ لِلظَّاهِرِ مِنْ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى وَلِأَنَّ مَا تَمَحَّضَ مِنْ عِبَادَاتِ الْأَبْدَانِ لَا تَصِحُّ فِيهَا النِّيَابَةُ كَالصَّلَاةِ وَخَالَفَ الْحَجُّ لِأَنَّهُ لَمَّا تَعَلَّقَ وُجُوبُهُ بِالْمَالِ لَمْ يَتَمَحَّضْ عَلَى الْأَبْدَانِ فَصَحَّتْ فِيهِ النِّيَابَةُ كَالزَّكَاةِ

Al-Mawardi berkata: Adapun puasa yang dilakukan atas nama orang yang masih hidup, maka tidak diperbolehkan secara ijmā‘, baik dengan perintah maupun tanpa perintah, baik atas orang yang mampu maupun yang tidak mampu, berdasarkan kejelasan dari firman Allah Ta‘ala: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” serta karena ibadah-ibadah yang murni dilakukan dengan badan tidak sah diwakilkan, seperti shalat. Berbeda dengan haji, karena kewajibannya berkaitan dengan harta, sehingga tidak murni pada badan, maka sah diwakilkan sebagaimana zakat.

فَأَمَّا الصِّيَامُ عَنِ الْمَيِّتِ فَقَدْ وَقَفَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ عَلَى صِحَّةِ الْخَبَرِ الْمَرْوِيِّ فِيهِ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ صَوْمِ نَذْرٍ كَانَ عَلَى أُمِّهَا؟ فَمَاتَتْ قَبْلَ صِيَامِهِ فَأَجَازَ لَهَا أَنْ تَصُومَ عَنْهَا

Adapun puasa yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal, maka Imam Syafi‘i dalam pendapat lamanya menggantungkan hukumnya pada keshahihan hadis yang diriwayatkan tentang hal itu, yaitu bahwa ada seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang puasa nazar yang menjadi kewajiban ibunya, lalu ibunya meninggal sebelum menunaikannya, maka beliau membolehkannya untuk berpuasa menggantikan ibunya.

وَقَدْ حَكَى أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيِّ أَنَّ الْخَبَرَ قَدْ صَحَّ فَصَارَ مَذْهَبُهُ فِي الْقَدِيمِ جَوَازَ الصِّيَامِ عَنِ الْمَيِّتِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَقَدْ رَوَى عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صيامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ  وَلِأَنَّهَا عِبَادَةٌ يَدْخُلُ فِي جُبْرَانِهَا الْمَالُ فَصَحَّتْ فِيهَا النِّيَابَةُ كَالْحَجِّ طَرْدًا وَالصَّلَاةِ عَكْسًا وَدُخُولُ الْمَالِ فِي جُبْرَانِهَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu ‘Ali bin Abi Hurairah meriwayatkan dari Abu Bakar an-Naisaburi bahwa hadis tersebut telah sahih, sehingga pendapat beliau pada masa dahulu adalah bolehnya berpuasa untuk orang yang telah meninggal dunia, dan ini juga merupakan mazhab Malik dan Ahmad. ‘Urwah meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban puasa, maka walinya boleh berpuasa untuknya.” Karena puasa adalah ibadah yang dalam pelunasannya dapat melibatkan harta, maka dibolehkan adanya perwakilan di dalamnya seperti halnya haji, sedangkan salat sebaliknya. Keterlibatan harta dalam pelunasan puasa ini terjadi dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا جُبْرَانُ الصِّيَامِ فِي الْوَطْءِ بِالْكَفَّارَةِ

Salah satunya adalah pengganti puasa karena melakukan hubungan suami istri, yaitu dengan membayar kaffārah.

وَالثَّانِي عَجْزُ الشيخ الهم عَنِ الصِّيَامِ وَانْتِقَالُهُ إِلَى إِخْرَاجِ مُدٍّ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ وَقَالَ فِي الْجَدِيدِ إِنَّ النِّيَابَةَ فِي الصِّيَامِ لَا تَجُوزُ بحالٍ عَنْ حيٍّ وَلَا مَيِّتٍ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ لِرِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صيامٌ أَطْعَمَ عَنْهُ وَلِيُّهُ وَلِأَنَّهَا عِبَادَةٌ عَلَى الْبَدَنِ لَا يَتَعَلَّقُ وُجُوبُهَا بِالْمَالِ فَلَا تَصِحُّ فِيهَا النِّيَابَةُ كَالصَّلَاةِ طَرْدًا وَالْحَجِّ عَكْسًا فَأَمَّا الْخَبَرُ فَمَعْلُولٌ وَإِنْ صَحَّ كَانَ مُحْتَمِلًا أَنْ يُرِيدَ بِالصِّيَامِ عَنِ الْمَيِّتِ الصَّدَقَةَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ بِمُدٍّ

Kedua, ketidakmampuan seorang lansia yang lemah untuk berpuasa dan peralihannya kepada kewajiban membayar fidyah sebesar satu mud untuk setiap hari. Dalam pendapat baru, disebutkan bahwa penggantian (niyābah) dalam puasa tidak diperbolehkan dalam keadaan apa pun, baik untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ini adalah mazhab Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha, berdasarkan riwayat Abdullah bin Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban puasa, maka walinya memberi makan (fidyah) untuknya.” Karena puasa adalah ibadah yang berkaitan dengan badan dan kewajibannya tidak terkait dengan harta, maka tidak sah diwakilkan, sebagaimana shalat, sedangkan haji sebaliknya. Adapun hadis tersebut dianggap lemah, dan jika pun sahih, masih memungkinkan dimaknai bahwa yang dimaksud dengan puasa atas nama orang yang meninggal adalah bersedekah setiap hari dengan satu mud.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا الصَّلَاةُ عَنِ الْمَيِّتِ فَقَدْ حُكِيَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ جَوَازُهُ وَهُوَ قولٌ شَاذٌّ تَفَرَّدَا بِهِ عَنِ الْجَمَاعَةِ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Adapun shalat atas nama orang yang telah meninggal, telah dinukil dari ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ dan Isḥāq bin Rāhawayh tentang kebolehannya, dan ini adalah pendapat yang ganjil yang hanya mereka berdua sendiri yang mengemukakannya, berbeda dari jumhur, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ لَمَّا جَازَتِ النِّيَابَةُ فِي رَكْعَتِي الطَّوَافِ إِجْمَاعًا جَازَتْ فِي غَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ قِيَاسًا

Salah satunya adalah bahwa ketika diperbolehkan adanya perwakilan dalam dua rakaat thawaf secara ijmā‘, maka diperbolehkan pula dalam salat-salat lainnya berdasarkan qiyās.

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَمَّا صَحَّتِ النِّيَابَةُ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مَعَ الْعَجْزِ دُونَ الْقُدْرَةِ وَصَحَّتْ فِي الزَّكَاةِ مَعَ الْعَجْزِ وَالْقُدْرَةِ لَمْ تَخْرُجِ النِّيَابَةُ فِي الصَّلَاةِ عَنْ أَحَدِهِمَا وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ وَسَائِرُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ بِحَالٍ مع قدرة ولا عجز لقول الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ بِحَالٍ مَعَ قُدْرَةٍ وَلَا عَجْزٍ لِقَوْلِ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثلاثٍ حَجٍّ بقضاءٍ أَوْ دينٍ يُؤَدَّى أَوْ صدقةٍ جاريةٍ

Kedua, ketika telah sah adanya perwakilan (niyābah) dalam ibadah haji dan umrah bagi orang yang tidak mampu, bukan bagi yang mampu, dan telah sah pula dalam zakat baik bagi yang tidak mampu maupun yang mampu, maka perwakilan dalam salat tidak keluar dari salah satu dari keduanya. Mayoritas fuqaha dan seluruh ulama berpendapat bahwa perwakilan dalam salat tidak sah dalam keadaan apa pun, baik dalam keadaan mampu maupun tidak mampu, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: haji yang dilaksanakan sebagai qadha, atau utang yang dibayarkan, atau sedekah jariyah.”

وَلِأَنَّ الصَّلَاةَ كَالْإِيمَانِ لِأَنَّهَا قولٌ وعملٌ ونيةٌ ثُمَّ لَمْ تَجُزِ النِّيَابَةُ فِي الْإِيمَانِ إِجْمَاعًا فَلَمْ تَجُزْ فِي الصَّلَاةِ حِجَاجًا فَأَمَّا رَكْعَتَا الطَّوَافِ فَلِأَنَّهَا تَبَعٌ لِمَا تَصِحُّ فِيهِ النِّيَابَةُ فَخُصَّتْ بِالْجَوَازِ لِاخْتِصَاصِهَا بِالْمَعْنَى وَمَا ذَكَرُوهُ مِنَ الْحَجِّ فَقَدْ تَقَدَّمَ اخْتِصَاصُهُ بِالنِّيَابَةِ لِاخْتِصَاصِ وُجُوبِهِ بالمال

Karena salat itu seperti iman, sebab salat adalah ucapan, perbuatan, dan niat; kemudian tidak diperbolehkan perwakilan (niyābah) dalam iman secara ijmā‘, maka tidak diperbolehkan pula dalam salat sebagai bentuk hujjah. Adapun dua rakaat thawaf, karena ia mengikuti sesuatu yang sah dilakukan perwakilan di dalamnya, maka dikhususkan boleh karena kekhususan maknanya. Adapun yang mereka sebutkan tentang haji, telah dijelaskan sebelumnya bahwa haji memang khusus boleh dilakukan perwakilan karena kewajibannya yang khusus berkaitan dengan harta.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَمَنِ اشْتَرَى مِمَّا أَطْعَمَ أَوْ كَسَا أَجَزْتُهُ وَلَوْ تَنَزَّهَ عَنْ ذَلِكَ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ

Syafi‘i berkata: Barang siapa membeli dari apa yang telah diberi makan atau pakaian, aku membolehkannya. Namun, jika ia menjaga diri dari hal itu, maka itu lebih aku sukai.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ يُكْرَهُ إِنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ عَنْ وَاجِبٍ أَوْ تَطَوُّعٍ أَنْ يَشْتَرِيَهَا مِنَ الْمُعْطِي لِأَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَ فَرَسًا تَصَدَّقَ بِهِ فَيَ سَبِيلِ اللَّهِ يُقَالُ لَهُ الْوَرْدُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لا تعد في صدقتك ولو أعطيتها بفقيرٍ وَدَعْهَا حَتَّى تَكُونَ هِيَ وَنِتَاجُهَا لَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِأَنَّ مِنْ عُرْفِ الْمُعَطَى أَنْ يَسْمَحَ فِي بَيْعِهَا عَلَى الْمُعْطِي فَصَارَ بِالِابْتِيَاعِ كَالرَّاجِعِ فِي بَعْضِ عَطِيَّتِهِ فَإِنِ ابْتَاعَهَا صَحَّ الِابْتِيَاعُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَصِحُّ الِابْتِيَاعُ وَتُعَادُ إِلَى الْبَائِعِ احْتِجَاجًا بِمَا مَضَى وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لغنيٍّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ ذَكَرَ مِنْهَا رَجُلًا رَآهَا تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَمْلِكَهَا مِيرَاثًا جَازَ أَنْ يَمْلِكَهَا ابْتِيَاعًا كَغَيْرِهِ مِنَ الرِّجَالِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَبْتَاعَهَا غَيْرُهُ مِنَ الرِّجَالِ جَازَ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمُبْتَاعَ كَغَيْرِهَا مِنَ الْأَمْوَالِ وَمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الِاسْتِدْلَالِ مَحْمُولٌ عَلَى التَّنْزِيهِ دُونَ التَّحْرِيمِ

Al-Mawardi berkata: Ini benar, makruh hukumnya jika seseorang bersedekah dengan sedekah wajib atau sunnah lalu ia membeli kembali barang tersebut dari penerima sedekah, karena Umar bin Khattab ra. pernah ingin membeli seekor kuda yang telah ia sedekahkan di jalan Allah, yang disebut al-ward, maka Nabi saw. bersabda kepadanya: “Janganlah engkau menarik kembali sedekahmu, meskipun engkau memberikannya kepada orang miskin. Biarkanlah, hingga ia dan hasilnya menjadi milikmu pada hari kiamat.” Sebab, sudah menjadi kebiasaan penerima sedekah untuk memudahkan penjualan barang itu kepada pemberi sedekah, sehingga dengan membeli kembali, ia seperti menarik sebagian pemberiannya. Jika ia tetap membelinya, maka jual beli itu sah menurut mazhab Syafi‘i dan mayoritas fuqaha, sedangkan Malik berpendapat jual beli itu tidak sah dan barang tersebut dikembalikan kepada penjual, dengan alasan sebagaimana yang telah disebutkan. Dalil kami adalah riwayat dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sedekah tidak halal bagi orang kaya kecuali untuk lima golongan,” di antaranya beliau menyebutkan seorang laki-laki yang melihat sedekah dijual lalu ia membelinya, maka hukum ini berlaku secara umum. Karena jika boleh memilikinya melalui warisan, maka boleh pula memilikinya melalui pembelian seperti orang lain, dan karena jika orang lain boleh membelinya, maka ia pun boleh menjadi pembeli seperti harta yang lain. Adapun dalil yang telah kami kemukakan sebelumnya, itu bermakna anjuran (tanziih) dan bukan pengharaman.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَمَنْ كَانَ لَهُ مسكنٌ لَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ هُوَ وَأَهْلُهُ وخادمٌ أُعْطِيَ مِنَ الْكَفَّارَةِ وَالزَّكَاةِ وَإِنْ كَانَ فِي مَسْكَنِهِ فضلٌ عَنْ خَادِمِهِ وَأَهْلِهِ الْفَضْلُ الَّذِي يَكُونُ بِهِ غَنِيًّا لَمْ يُعْطَ

Syafi‘i berkata: Barang siapa yang memiliki tempat tinggal yang tidak dapat ia tinggalkan, baik untuk dirinya maupun keluarganya, serta memiliki seorang pembantu, maka ia boleh menerima dari kaffarah dan zakat. Namun, jika di tempat tinggalnya terdapat kelebihan yang melebihi kebutuhan pembantu dan keluarganya—kelebihan yang menjadikannya kaya—maka ia tidak boleh menerima.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا كَانَ لَهُ مَسْكَنٌ لَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ وَخَادِمٌ لَا يَجِدُ بُدًّا مِنْهُ جَازَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ وَجَازَ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ دُونَ الْمَالِ وَلَوْ كَانَ مُفْلِسًا بِيعَ ذَلِكَ فِي دَيْنِهِ وَإِنْ لَمْ يُبَعْ فِي كَفَّارَتِهِ لِأَنَّ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مُشَاحَّةً وَفِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى مُسَامَحَةً فَإِنْ كَانَ فِي ثَمَنِ مَسْكَنِهِ أَوْ فِي ثَمَنِ خَادِمِهِ فَضْلٌ يَكُونُ بِهِ غَنِيًّا حُرِّمَتْ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ وَالْكَفَّارَةُ وَإِنْ كَانَ فِيهِمَا فَضْلٌ لِلتَّكْفِيرِ بِالْمَالِ لَمْ يُجْزِهِ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang memiliki tempat tinggal yang tidak bisa ia tinggalkan dan seorang pembantu yang sangat ia butuhkan, maka boleh baginya mengambil zakat dan kafarat, dan boleh pula baginya menunaikan kafarat dengan berpuasa, bukan dengan harta. Namun, jika ia bangkrut, maka tempat tinggal dan pembantunya itu dijual untuk membayar utangnya, tetapi tidak dijual untuk menunaikan kafaratnya, karena dalam hak-hak manusia terdapat sikap saling menuntut, sedangkan dalam hak-hak Allah Ta‘ala terdapat keringanan. Jika dari hasil penjualan tempat tinggal atau pembantunya terdapat kelebihan yang membuatnya menjadi kaya, maka haram baginya mengambil zakat dan kafarat. Jika dari keduanya terdapat kelebihan yang cukup untuk menunaikan kafarat dengan harta, maka tidak sah baginya menunaikan kafarat dengan berpuasa.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا حَنِثَ مُوسِرًا ثُمَّ أَعْسَرَ لَمْ أَرَ الصَّوْمَ يُجْزِئُ عَنْهُ وَآمُرُهُ احْتِيَاطًا أَنْ يَصُومَ فَإِذَا أَيْسَرَ كَفَّرَ وَإِنَّمَا أُنْظِرُ فِي هَذَا إلى الوقت الذي يحنث فيه ولو حنث معسراً فأيسر أحببت له أن يكفر ولا يصوم وإن صام أجزأ عنه لأن حكمه حين حنث حكم الصيام قال المزني وقد قال في الظهار إن حكمه حين يكفر وقد قال في جماعة العلماء إن تظاهر فلم يجد رقبةً أو أحدث فلم يجد ماءً فلم يصم ولم يدخل في الصلاة بالتيمم حتى وجد الرقبة والماء إن فرضه العتق والوضوء وقوله في جماعة العلماء أولى به من انفراده عنها

Syafi‘i berkata: Jika seseorang melanggar sumpah dalam keadaan mampu, kemudian menjadi tidak mampu, menurutku puasa tidak cukup baginya, dan aku memerintahkannya sebagai bentuk kehati-hatian untuk berpuasa, lalu jika ia kembali mampu, ia harus membayar kafarat. Aku hanya memperhatikan dalam hal ini waktu ketika ia melanggar sumpah. Jika ia melanggar sumpah dalam keadaan tidak mampu, lalu kemudian mampu, aku lebih suka ia membayar kafarat dan tidak berpuasa. Namun jika ia berpuasa, itu sudah cukup baginya, karena hukumnya ketika melanggar sumpah adalah hukum puasa. Al-Muzani berkata: Ia juga mengatakan dalam masalah zihar bahwa hukumnya adalah pada saat membayar kafarat. Ia juga berkata dalam pendapat para ulama: Jika seseorang melakukan zihar lalu tidak menemukan budak, atau seseorang berhadats lalu tidak menemukan air, kemudian ia tidak berpuasa dan tidak masuk ke dalam shalat dengan tayamum sampai ia menemukan budak atau air, maka kewajibannya adalah membebaskan budak dan berwudhu. Dan pendapatnya yang mengikuti pendapat para ulama lebih utama baginya daripada pendapatnya sendiri yang menyelisihi mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْكَفَّارَةَ تَخْتَلِفُ بِالْيَسَارِ والإعساء فَفَرْضُ الْمُوسِرِ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ وَفَرْضُ الْمُعْسِرِ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ وَقَدْ يَخْتَلِفُ الْيَسَارُ وَالْإِعْسَارُ فَيَكُونُ عِنْدَ الْوُجُوبِ مُوسِرًا وَعِنْدَ التَّكْفِيرِ مُعْسِرًا وَقَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْوُجُوبِ مُعْسِرًا وَعِنْدَ التَّكْفِيرِ مُوسِرًا فَاخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ هَلْ يُعْتَبَرُ بِالْكَفَّارَةِ حَالَ الْوُجُوبِ أَوْ يُعْتَبَرُ بِهَا حَالَ الْأَدَاءِ عَلَى قَوْلَيْنِ مَنْصُوصَيْنِ وَثَالِثٍ مُخَرَّجٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa kafarat berbeda-beda tergantung pada keadaan mampu atau tidak mampu. Kewajiban bagi orang yang mampu adalah membayar kafarat dengan harta, sedangkan kewajiban bagi orang yang tidak mampu adalah membayar kafarat dengan puasa. Terkadang, keadaan mampu dan tidak mampu itu berbeda; seseorang bisa jadi saat kewajiban kafarat itu muncul ia dalam keadaan mampu, namun ketika hendak menunaikan kafarat ia dalam keadaan tidak mampu, atau sebaliknya, saat kewajiban kafarat itu muncul ia tidak mampu, namun ketika hendak menunaikan kafarat ia telah mampu. Maka, terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i: apakah yang dijadikan acuan dalam kafarat adalah keadaan saat kewajiban itu muncul, ataukah keadaan saat pelaksanaan kafarat, terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara tegas dan satu pendapat lain yang diistinbatkan.

أَحَدُهَا أَنَّ الْمُعْتَبَرَ بِهَا حَالُ الْوُجُوبِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ كِتَابِ الْأَيْمَانِ فَإِذَا حَنِثَ وَهُوَ مُوسِرٌ فَلَمْ يُكَفِّرْ بِالْمَالِ حَتَّى أَعْسَرَ فَفَرْضُهُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ دُونَ الصِّيَامِ وَتَكُونُ الْكَفَّارَةُ بَاقِيَةً فِي ذِمَّتِهِ حَتَّى يُوسِرَ فَيُكَفِّرَ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُعَجِّلَ بِالتَّكْفِيرِ بِالصِّيَامِ اسْتِظْهَارًا حَذَرًا مِنْ فَوَاتِ التَّكْفِيرِ بِالْمَوْتِ لِاسْتِدَامَةِ الْإِعْسَارِ وَلَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ فَرْضُ التَّكْفِيرِ بِالصِّيَامِ وَلَوْ كَانَ مُعْسِرًا عِنْدَ الْحِنْثِ فَفَرْضُهُ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ فإن عدل عنه إلى التكفير بالمال أجزأ لِأَنَّهُ عَدَلَ عَنِ الْأَخَفِّ إِلَى الْأَغْلَظِ وَوَجْهُ هَذَا الْقَوْلِ فِي اعْتِبَارِ الْكَفَّارَةِ بِحَالِ الْوُجُوبِ شَيْئَانِ

Salah satunya adalah bahwa yang dijadikan acuan adalah keadaan saat kewajiban itu muncul, dan inilah yang dinyatakan secara tegas dalam pembahasan ini dari Kitab al-Aiman. Maka jika seseorang melanggar sumpahnya dalam keadaan mampu, lalu ia tidak membayar kafarat dengan harta hingga menjadi tidak mampu, maka kewajibannya tetap membayar kafarat dengan harta, bukan dengan puasa, dan kafarat itu tetap menjadi tanggungan dalam dirinya hingga ia mampu kembali lalu membayarnya. Dianjurkan baginya untuk segera membayar kafarat dengan puasa sebagai langkah kehati-hatian, agar tidak kehilangan kesempatan membayar kafarat karena meninggal dunia dalam keadaan terus-menerus tidak mampu, dan kewajiban membayar kafarat dengan puasa tidak gugur darinya. Jika ia tidak mampu saat melanggar sumpah, maka kewajibannya adalah membayar kafarat dengan puasa. Jika ia beralih dari puasa ke kafarat dengan harta, itu tetap sah, karena ia berpindah dari yang lebih ringan ke yang lebih berat. Dasar pendapat ini dalam menjadikan keadaan saat kewajiban muncul sebagai acuan ada dua hal.

أَحَدُهُمَا إِلْحَاقُهَا بِالْحُدُودِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ الْحُدُودَ كفاراتٌ وَالْحُدُودُ مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِ الْوُجُوبِ دُونَ الْفِعْلِ لِأَنَّ الْعَبْدَ إِذَا زَنَا فَلَمْ يُحَدَّ حَتَّى أُعْتِقَ حُدَّ حَدَّ الْعَبِيدِ وَالْبِكْرَ إِذَا زَنَا فَلَمْ يُحَدَّ حَتَّى أَحَصَنَ حُدَّ حَدَّ الْأَبْكَارِ وَكَذَلِكَ الْكَفَّارَاتُ

Salah satu pendapat adalah menyamakannya dengan hudud, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Dan apa yang membuatmu tahu, barangkali hudud itu adalah kafarat.” Hudud itu dipertimbangkan berdasarkan keadaan wajibnya, bukan berdasarkan pelaksanaannya. Sebab, jika seorang budak berzina lalu belum ditegakkan hudud atasnya sampai ia dimerdekakan, maka ia dikenai hudud seperti budak. Dan jika seorang bujang berzina lalu belum ditegakkan hudud atasnya sampai ia menikah, maka ia dikenai hudud seperti bujang. Demikian pula halnya dengan kafarat.

وَالثَّانِي إِنَّ التَّكْفِيرَ لذنبٍ مُتَقَدِّمٍ فَاعْتَبَرَ بِحَالِ الْوُجُوبِ لِقُرْبِهِ مِنْ سَبَبِهِ

Yang kedua, sesungguhnya penghapusan dosa untuk suatu dosa yang telah lalu itu dinilai berdasarkan keadaan saat kewajiban (dilakukan), karena kedekatannya dengan sebabnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّ الْمُعْتَبَرَ بِالْكَفَّارَةِ حَالُ الْأَدَاءِ دُونَ الْوُجُوبِ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ فَإِذَا حَنِثَ وَهُوَ مُوسِرٌ فَلَمْ يُكَفِّرْ حَتَّى أَعْسَرَ كَانَ فَرْضُهُ التَّكْفِيرَ بِالصِّيَامِ وَلَوْ حَنِثَ وَهُوَ مُعْسِرٌ فَلَمْ يُكَفِّرْ حَتَّى أَيْسَرَ كَانَ فَرْضُهُ التَّكْفِيرَ بِالْمَالِ وَوَجْهُ هَذَا الْقَوْلِ فِي اعْتِبَارِ الْكَفَّارَةِ بِحَالِ الْأَدَاءِ شَيْئَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan kafārah adalah keadaan saat pelaksanaan, bukan saat kewajiban itu muncul. Hal ini dinyatakan oleh Imam Syāfi‘ī dalam Kitab az-Zihār. Maka, jika seseorang melanggar sumpah dalam keadaan mampu, lalu belum melaksanakan kafārah hingga ia menjadi tidak mampu, maka kewajibannya adalah melaksanakan kafārah dengan berpuasa. Namun, jika ia melanggar sumpah dalam keadaan tidak mampu, lalu belum melaksanakan kafārah hingga ia menjadi mampu, maka kewajibannya adalah melaksanakan kafārah dengan harta. Dasar dari pendapat ini dalam menjadikan keadaan saat pelaksanaan sebagai acuan kafārah ada dua hal.

أَحَدُهُمَا إِلْحَاقُهَا بِالطَّهَارَةِ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا ذَاتُ بدلٍ فَلَمَّا اعْتُبِرَتِ الطَّهَارَةُ بِحَالِ الْأَدَاءِ فَكَذَلِكَ الْكَفَّارَةُ

Salah satunya adalah menyamakannya dengan thaharah, karena masing-masing dari keduanya memiliki pengganti. Maka, ketika thaharah dianggap sesuai dengan keadaan pelaksanaan, demikian pula kafarah.

وَالثَّانِي إِنَّهَا مُوَاسَاةٌ فَاعْتُبِرَتْ بِأَقْرَبِ الْأَحْوَالِ مِنْ مُوَاسَاتِهِ

Yang kedua, bahwa zakat fitrah itu adalah bentuk kepedulian sosial, maka ia diukur dengan keadaan yang paling mendekati dari bentuk kepedulian sosial yang lain.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ وَهُوَ مُخَرَّجٌ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ بِالْكَفَّارَةِ أَغْلَظُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ حَالِ الْوُجُوبِ أَوْ حَالِ الْأَدَاءِ لِأَنَّهَا تَكْفِيرٌ عَنْ ذَنْبٍ فَكَانَتْ بِالتَّغْلِيظِ أَخَصَّ وَقَدِ استوفينا هذه المسألة فيما تقدم بفروعها

Pendapat ketiga, yang merupakan hasil istinbat, menyatakan bahwa yang dijadikan acuan dalam kafārah adalah yang paling berat di antara dua keadaan, yaitu keadaan ketika kewajiban itu muncul atau ketika pelaksanaan, karena kafārah adalah penebus dosa sehingga lebih khusus dengan pengetatan. Kami telah membahas masalah ini sebelumnya beserta cabang-cabangnya.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَمَنْ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الْكَفَّارَةِ وَالزَّكَاةِ فَلَهُ أَنْ يَصُومَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ وَلَا يَعْتِقَ فَإِنْ فَعَلَ أَجْزَأَهُ

Syafi‘i berkata: Barang siapa yang berhak menerima kafārah dan zakat, maka ia boleh berpuasa dan tidak wajib baginya untuk bersedekah atau memerdekakan (budak). Namun jika ia melakukannya, maka itu sudah mencukupi.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ مَصْرِفَ الْكَفَّارَاتِ فِي الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ خَاصَّةً وَمَصْرِفَ الزَّكَاةِ فِي الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَفِي بَقِيَّةِ أَهْلِ السُّهْمَانِ الثَّمَانِيَةِ فَاشْتَرَكَ الفقراء والمساكين في الكفارات والزكوات وَاخْتُصَّتِ الزَّكَاةُ بِبَقِيَّةِ الْأَصْنَافِ دُونَ الْكَفَّارَاتِ هَذَا الْكَلَامُ فِي مَصْرِفِهَا

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa penyaluran kafarat khusus untuk fakir dan miskin saja, sedangkan penyaluran zakat untuk fakir, miskin, dan juga untuk kelompok lain dari delapan golongan yang berhak. Maka, fakir dan miskin sama-sama menerima kafarat dan zakat, sedangkan zakat dikhususkan pula untuk golongan-golongan lain selain kafarat. Inilah pembahasan mengenai penyalurannya.

فَأَمَّا وُجُوبُهَا فَكُلُّ مَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ وَجَبَ عَلَيْهِ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ وَقَدْ يَجِبُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ عَلَى مَنْ لَا تُجِبْ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ إِذَا مَلَكَ أَقَلَّ مِنْ نِصَابٍ وَقَدْ يَجِبُ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ عَلَى مَنْ يَحِلُّ لَهُ الزَّكَاةُ وَالْكَفَّارَةُ وَهُوَ مَنْ وَجَدَهَا فَاضِلَةً عَنْ قُوتِهِ وَقُوتِ عِيَالِهِ وَلَا يَصِيرُ بِفَضْلِهَا غَنِيًّا فَيَجِبُ عَلَيْهِ التَّكْفِيرُ بِالْمَالِ دُونَ الصِّيَامِ لِوُجُودِهَا فِي مِلْكِهِ فَاضِلَةً عَنْ كِفَايَةِ وَقْتِهِ وَيَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الزِّكْوَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ لِدُخُولِهِ فِي حُكْمِ الْفَقْرِ وَالْمَسْكَنَةِ بِعَدَمِ الْكِفَايَةِ الْمُسْتَدِيمَةِ وَقَدْ يُسْقِطُ التَّكْفِيرَ بِالْمَالِ وَيَعْدِلُ عَنْهُ إِلَى الصِّيَامِ مَنْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَخْذُ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ وَهُوَ الْجَلْدُ الْمُكْتَسِبُ قَدْرَ كِفَايَتِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ يُكَفِّرُ بِالصِّيَامِ دُونَ الْمَالِ لِعَدَمِهِ فِي مِلْكِهِ وَتَحْرُمُ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ وَالزَّكَاةُ لِاسْتِغْنَائِهِ عَنْهَا بِمَكْسَبِهِ

Adapun kewajiban membayar kafarat dengan harta, maka setiap orang yang wajib atasnya zakat, wajib pula atasnya membayar kafarat dengan harta. Namun, bisa jadi kewajiban membayar kafarat dengan harta itu berlaku bagi orang yang tidak wajib atasnya zakat, jika ia memiliki harta kurang dari nisab. Dan bisa juga kewajiban membayar kafarat dengan harta itu berlaku bagi orang yang berhak menerima zakat dan kafarat, yaitu orang yang memiliki harta lebih dari kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya, namun kelebihan itu tidak menjadikannya kaya. Maka, wajib atasnya membayar kafarat dengan harta, bukan dengan puasa, karena ia memiliki harta yang lebih dari kebutuhan saat itu. Ia juga boleh mengambil dari zakat dan kafarat karena termasuk dalam kategori fakir dan miskin akibat tidak adanya kecukupan yang berkelanjutan. Sementara itu, kewajiban membayar kafarat dengan harta bisa gugur dan diganti dengan puasa bagi orang yang haram baginya mengambil zakat dan kafarat, yaitu orang yang mampu bekerja dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk kebutuhannya setiap hari tanpa ada kelebihan. Ia membayar kafarat dengan puasa, bukan dengan harta, karena tidak memiliki harta, dan haram baginya menerima kafarat dan zakat karena ia telah cukup dengan penghasilannya.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا التَّفْصِيلِ فَلِمَ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَمَنْ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الْكَفَّارَةِ وَالزَّكَاةِ فَلَهُ أَنْ يَصُومَ؟ وَقَدْ قلتم فيما فضلتم إِنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ مَنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَصُومَ عَنْهُ فِي الْكَفَّارَةِ فَمِنْهُ جَوَابَانِ

Jika dikatakan: Jika persoalannya demikian rinci, lalu mengapa asy-Syafi‘i dan yang lainnya berkata, “Barang siapa boleh menerima dari kaffarah dan zakat, maka ia boleh berpuasa?” Padahal kalian telah sebutkan dalam penjelasan sebelumnya bahwa boleh jadi seseorang boleh menerima zakat dan kaffarah, namun tidak boleh orang lain berpuasa menggantikan dia dalam kaffarah. Maka dari itu, ada dua jawaban untuk hal ini.

أَحَدُهُمَا إِنَّ الشَّافِعِيَّ أَشَارَ إِلَى الْأَغْلَبِ مِنْ أَحْوَالِ النَّاسِ وَالْأَغْلَبُ مَا قَالَهُ

Salah satunya adalah bahwa asy-Syafi‘i mengisyaratkan kepada keadaan kebanyakan manusia, dan yang lebih dominan adalah apa yang beliau katakan.

وَالثَّانِي إِنَّ الشَّافِعِيَّ قَصَدَ بِهِ أبا حنيفة حيث اعتبر الغنى والفقر بوجوب النِّصَابِ وَعَدَمِهِ وَهُوَ عِنْدَهُ مُعْتَبَرٌ بِوُجُودِ الْكِفَايَةِ الْمُسْتَدِيمَةِ فَيَكُونُ غَنِيًّا وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْ نِصَابًا إِذَا كَانَ مُكْتَسِبًا بِيَدَيْهِ وَيَكُونُ فَقِيرًا وَإِنْ مَلَكَ نِصَابًا إِذَا كَانَ دُونَ كِفَايَتِهِ وَقَدْ أَوْضَحْنَا ذَلِكَ فِي قِسْمَةِ الصَّدَقَاتِ

Kedua, sesungguhnya asy-Syafi‘i bermaksud dengan ucapannya itu kepada Abu Hanifah, karena ia mempertimbangkan kaya dan miskin berdasarkan wajib atau tidaknya nisab, sedangkan menurut Abu Hanifah, hal itu dipertimbangkan dengan adanya kecukupan yang berkelanjutan. Maka seseorang dianggap kaya meskipun tidak memiliki nisab jika ia memperoleh penghasilan dengan tangannya sendiri, dan dianggap miskin meskipun memiliki nisab jika penghasilannya kurang dari kebutuhannya. Hal ini telah kami jelaskan dalam pembahasan pembagian sedekah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا وَمَالُهُ غائبٌ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ حَتَى يَحْضُرَ مَالُهُ إِلَّا بِالْإِطْعَامِ أَوِ الْكِسْوَةِ أَوِ الْعِتْقِ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang itu kaya namun hartanya sedang tidak berada di sisinya, maka ia tidak boleh melakukan kafarat sampai hartanya hadir kecuali dengan memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَالَ الْمُزَنِيُّ جُعِلَ حُكْمُهُ حُكْمَ الْمُوسِرِ إِذَا كَانَ الْمُكَفِّرُ ذَا مالٍِ غَائِبٍ إِمَّا بِأَنْ سَافَرَ عَنْ مالٍ خَلَّفَهُ بِبَلَدِهِ وَإِمَّا بِأَنْ سَافَرَ بِالْمَالِ وَهُوَ مُقِيمٌ فِي بَلَدِهِ فلم يَقْدِرْ عَلَى التَّكْفِيرِ بِالْمَالِ لِغَيْبَتِهِ عَنْهُ فَهُوَ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فِي حُكْمِ الْمُوسِرِ وَلَا يَجُوزُ لَهُ الصِّيَامُ حَتَّى يَقْدِرَ عَلَى مَالِهِ فَيُكَفِّرَ بِالْمَالِ

Al-Mawardi berkata, Al-Muzani berkata: Hukumnya disamakan dengan hukum orang yang mampu apabila orang yang wajib membayar kafarat memiliki harta yang tidak berada di hadapannya, baik karena ia bepergian meninggalkan harta di negerinya, atau karena ia bepergian bersama hartanya sementara ia sendiri menetap di negerinya, sehingga ia tidak mampu melaksanakan kafarat dengan harta karena hartanya tidak ada di sisinya. Maka menurut mazhab Syafi‘i, ia dihukumi seperti orang yang mampu, dan tidak boleh baginya berpuasa sampai ia mampu mengakses hartanya lalu membayar kafarat dengan harta.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ هُوَ فِي حُكْمِ الْمُعْسِرِينَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ لِأَنَّهُ لَمَّا حَلَّ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ لِحَاجَتِهِ جَرَى عَلَيْهِ حُكْمُ الْفَقْرِ مِنْ كَفَّارَتِهِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ الْحَاجَةَ مُخْتَصَّةٌ بِمَكَانِهِ وَالْكَفَّارَةَ مُعْتَبَرَةٌ بِإِمْكَانِهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa ia berada dalam hukum orang-orang yang kesulitan (mu‘sirīn), sehingga boleh baginya menunaikan kafarat dengan berpuasa. Sebab, ketika telah halal baginya untuk mengambil dari zakat dan kafarat karena kebutuhannya, maka berlaku atasnya hukum kefakiran dalam hal kafaratnya. Namun, pendapat ini keliru, karena kebutuhan itu khusus pada tempatnya, sedangkan kafarat dinilai berdasarkan kemampuannya.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيِسَ الْمُتَمَتِّعُ فِي الْحَجِّ إِذَا كَانَ مُعْسِرًا فِي مَكَّةَ مُوسِرًا فِي بَلَدِهِ كَفَّرَ بِالصِّيَامِ كَالْمُعْسِرِ فَهَلَّا كَانَ كَذَلِكَ فِي كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan, “Bukankah orang yang melakukan tamattu‘ dalam haji, apabila ia dalam keadaan tidak mampu di Makkah namun mampu di negerinya, maka ia membayar kafarat dengan puasa seperti orang yang tidak mampu? Mengapa tidak demikian juga dalam kafarat sumpah?” Maka dijawab, “Perbedaan antara keduanya ada pada dua sisi.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَكَانَ الدَّمِ فِي التَّمَتُّعِ مُسْتَحَقٌّ بِمَكَّةَ فَاعْتُبِرَ يَسَارُهُ أَوْ إِعْسَارُهُ بِهَا وَمَكَانُ الْإِطْعَامِ فِي غَيْرِهِ مُطْلَقٌ فَاعْتُبِرَ يَسَارُهُ وَإِعْسَارُهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ

Salah satunya adalah bahwa tempat penyembelihan hewan (dam) dalam haji tamattu‘ merupakan kewajiban yang harus dilakukan di Mekah, sehingga kemampuan atau ketidakmampuan seseorang diukur berdasarkan keadaannya di Mekah. Sedangkan tempat pemberian makanan (sebagai fidyah) tidak ditentukan secara khusus, sehingga kemampuan atau ketidakmampuan seseorang diukur secara umum, tanpa terikat tempat tertentu.

وَالثَّانِي إِنَّ الصَّوْمَ فِي كَفَّارَةِ التَّمَتُّعِ مُعَيَّنٌ لِلزَّمَانِ فِي صَوْمِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةً إِذَا رَجَعَ فَكَانَ فِي تَأْخِيرِهِ فَوَاتُ بَدَلِهِ وَلَيْسَ لِصِيَامِ الْيَمِينِ زَمَانٌ مُعَيَّنٌ يَفُوتُ بِتَأْخِيرِهِ فَافْتَرَقَا

Kedua, sesungguhnya puasa dalam kafārah tamattu‘ telah ditentukan waktunya, yaitu puasa tiga hari pada saat haji dan tujuh hari ketika telah kembali, sehingga jika ditunda maka akan terlewat penggantinya. Sedangkan puasa untuk sumpah (ṣiyām al-yamīn) tidak memiliki waktu tertentu yang akan terlewat jika ditunda, maka keduanya berbeda.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي كَمَالِ فُرُوضِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, keadaannya dalam kesempurnaan kewajiban-kewajibannya tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا مَا يَفُوتُ بِتَأْخِيرِهِ إِلَى حَالِ الْكَمَالِ وَذَلِكَ مِثْلُ صَلَاةِ الْعُرْيَانِ وَالْمُتَيَمِّمِ وَكَفَّارَةِ الْمُتَمَتِّعِ فَفَرْضُهُ تَعْجِيلُ أَدَائِهِ عَلَى غِنًى

Salah satunya adalah perkara yang akan terlewat jika ditunda sampai keadaan sempurna, seperti shalat orang yang tidak berpakaian, tayammum, dan kafarat bagi orang yang melakukan tamattu‘. Maka kewajibannya adalah segera melaksanakannya ketika mampu.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا لَا يَفُوتُ بِتَأْخِيرِهِ وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ ضَرَرٌ بِالتَّأْخِيرِ مِثْلُ كَفَّارَةِ الْيَمِينِ وَالْقَتْلِ وَزَكَاةِ الْفِطْرِ فَفَرْضُهُ إِذَا قَدِرَ عَلَى الْكَمَالِ أَنْ يُؤَخِّرَهُ إِلَى حَالِ الْإِمْكَانِ

Bagian kedua adalah perkara yang tidak hilang dengan penundaan dan tidak menimbulkan mudarat jika ditunda, seperti kafārah sumpah, kafārah pembunuhan, dan zakat fitrah. Maka kewajibannya, jika seseorang mampu melaksanakannya secara sempurna, adalah menundanya hingga waktu memungkinkan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَا يَفُوتُ بِتَأْخِيرِهِ لَكِنْ يَلْحَقُهُ بِالتَّأْخِيرِ ضرر مثل كفارة الظهار يلحقه بتأخيرها ضرب فِي امْتِنَاعِهِ مِنَ الْجِمَاعِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Bagian ketiga adalah perkara yang tidak terlewatkan karena penundaan, namun jika ditunda akan menimbulkan mudarat, seperti kafarat zhihar yang jika ditunda akan menyebabkan mudarat berupa larangan berjima‘. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجِبُ تَأْخِيرُهَا بِالْيَسَارِ فِي بَلَدِهِ حَتَّى يَعْتِقَ لِأَنَّهُ غنيُّ

Salah satunya wajib menunda pelaksanaannya di negerinya dengan tangan kiri hingga ia merdeka, karena ia adalah orang yang kaya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يُعَجِّلَ التكفير بالصيام لأنه مستنصر وَهَكَذَا حُكْمُهُ لَوْ كَانَ ضَالًّا أَوْ مَغْصُوبًا لَا يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ حَتَّى يَقْدِرَ عَلَى مَالِهِ فَيُكَفِّرَ بِهِ فَإِنْ تَلَفَ مَالُهُ قَبْلَ وُصُولِهِ إِلَيْهِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Pendapat kedua membolehkan untuk menyegerakan pelaksanaan kafarat dengan berpuasa karena ia sedang membutuhkan pertolongan. Demikian pula hukumnya jika hartanya hilang atau dirampas, maka tidak boleh melaksanakan kafarat sampai ia mampu mendapatkan kembali hartanya, lalu ia melaksanakan kafarat dengan harta tersebut. Jika hartanya rusak sebelum sampai kepadanya, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَقْدِرَ عَلَى التَّكْفِيرِ لَهُ قَبْلَ وُصُولِهِ إِلَيْهِ بِأَنْ يُكَاتِبَ أَوْ يُرَاسِلَ إِلَى بَلَدِ الْمَالِ بِالتَّكْفِيرِ عَنْهُ فَلَا يَفْعَلُ حَتَّى يَتْلَفَ الْمَالُ فَهَذَا فِي حُكْمِ مَنْ كَانَ مُوسِرًا عِنْدَ الْوُجُوبِ مُعْسِرًا عِنْدَ الْأَدَاءِ فَيَكُونُ فِي تَكْفِيرِهِ بِالصِّيَامِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah jika seseorang mampu membayar kafarat untuknya sebelum harta itu sampai kepadanya, misalnya dengan mengirim surat atau pesan ke negeri tempat harta itu berada untuk membayarkan kafarat atas namanya, namun ia tidak melakukannya hingga harta tersebut rusak. Maka, ini dihukumi seperti orang yang mampu saat kewajiban itu muncul, namun menjadi tidak mampu saat pelaksanaan. Dalam hal ini, ada dua pendapat mengenai kebolehan membayar kafarat dengan puasa.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ بِهِ إِذَا اعْتُبِرَ بِهَا حال الأداء

Salah satunya boleh digunakan untuk membayar kafarat jika dilihat pada keadaan saat pelaksanaan.

وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ إِلَّا بِالْمَالِ إِذَا اعْتُبِرَ بِهَا حَالُ الْوُجُوبِ

Yang kedua, tidak boleh membayar kafarat kecuali dengan harta apabila yang dijadikan acuan adalah keadaan saat kewajiban itu ditetapkan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى التَّكْفِيرِ بِالْمَالِ حَتَّى يَتْلَفَ فَيُجْزِئُهُ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ قَوْلًا وَاحِدًا لِإِعْسَارِهِ فِي حَالَتَيْ وُجُوبِهَا وَأَدَائِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang tidak mampu melakukan kafarat dengan harta sampai harta itu habis, maka kafarat dengan puasa sudah mencukupi menurut satu pendapat, karena ia dalam keadaan tidak mampu baik saat kewajiban itu muncul maupun saat pelaksanaannya. Allah lebih mengetahui.

بَابُ مَا يُجْزِئُ مِنَ الْكِسْوَةِ فِي الْكَفَّارَةِ

Bab tentang apa yang mencukupi dari pakaian dalam kafārah

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَقَلُّ مَا يُجْزِئُ مِنَ الْكِسْوَةِ كُلُّ مَا وَقَعَ عَلَيْهِ اسْمُ كسوةٍ مِنْ عمامةٍ أَوْ سَرَاوِيلَ أَوْ إزارٍ أو مقنعةٍ وغير ذلك لرجلٍ أو امرأةٍ أو صبيٍّ ولو استدل بما يجوز فيه الصلاة من الكسوة على كسوة المساكين لجاز أن يستدل بما يكفيه في الشتاء والصيف أو في السفر من الكسوة وقد أطلقه الله فهو مطلقٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Pakaian paling sedikit yang sah diberikan sebagai kifarat adalah segala sesuatu yang disebut pakaian, seperti sorban, celana panjang, kain sarung, kerudung, dan selainnya, baik untuk laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Jika seseorang berdalil dengan pakaian yang boleh dipakai untuk salat sebagai ukuran pakaian bagi orang miskin, maka boleh juga berdalil dengan pakaian yang cukup dipakai di musim dingin dan panas, atau saat bepergian. Allah telah menyebutkannya secara umum, maka hukumnya pun bersifat umum.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ خَيَّرَ اللَّهُ تَعَالَى الْمُكَفِّرَ عَنِ الْيَمِينِ بَيْنَ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ إِطْعَامِ عَشَرَةِ أَوْ كِسْوَةِ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ أَوْ عِتْقِ رَقَبَةٍ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي الْإِطْعَامِ فَأَمَّا الْكِسْوَةُ فَلَيْسَ لَهَا أَقَلُّ تُعْتَبَرُ بِهِ فَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهَا عَلَى خَمْسَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata: Allah Ta‘ala memberikan pilihan kepada orang yang melakukan kafarat sumpah antara tiga hal: memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau memerdekakan seorang budak. Telah dijelaskan sebelumnya tentang memberi makan. Adapun mengenai memberi pakaian, tidak ada batasan minimal yang dapat dijadikan ukuran, sehingga para fuqaha berbeda pendapat dalam hal ini menjadi lima mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ إِنَّهُ لَا يُجْزِئُ فِيهَا أَقَلُّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ قَمِيصٍ وَمِئْزَرٍ وَرِدَاءٍ

Salah satunya adalah pendapat Abdullah bin Umar, bahwa tidak cukup dalam hal ini kurang dari tiga pakaian: gamis, kain sarung, dan selendang.

وَالثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ إِنَّهُ لَا يُجْزِئُ فِيهَا أَقَلُّ مِنْ ثَوْبَيْنِ وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Musa al-Asy‘ari, menyatakan bahwa tidak cukup dalam hal ini kurang dari dua pakaian. Pendapat ini juga dipegang oleh Sa‘id bin al-Musayyab, al-Hasan, dan Ibnu Sirin.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ إِنَّهُ لَا يُجْزِئُ إِلَّا كِسْوَةُ ثَوْبٍ جَامِعٍ كَالْمِلْحَفَةِ وَالْكِسَاءِ

Ketiga, yaitu pendapat Ibrahim an-Nakha‘i, bahwa yang mencukupi hanyalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh, seperti milhafah (kain lebar) dan kisā’ (selimut/pakaian luar).

وَالرَّابِعُ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ إِنَّهُ لَا يُجْزِئُ مِنَ الْكِسْوَةِ إِلَّا مَا تُجْزِئُ فِيهِ الصَّلَاةُ إِنْ كَانَ لِرَجُلٍ فَمَا يَسْتُرُ بِهِ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ وَإِنْ كَانَتِ امْرَأَةً فَمَا تَسْتُرُ بِهِ جَمِيعَ بَدَنِهَا

Pendapat keempat, yaitu pendapat Malik, bahwa tidak sah sebagai pakaian kecuali yang dapat digunakan untuk salat; jika untuk laki-laki maka yang menutupi antara pusar dan lututnya, dan jika untuk perempuan maka yang menutupi seluruh tubuhnya.

وَالْخَامِسُ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهُ كِسْوَةُ ثَوْبٍ وَاحِدٍ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْكِسْوَةِ سَتَرَ الْعَوْرَةَ أَوْ لَمْ يَسْتُرْهَا وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ وَطَاوُسٌ وَعَطَاءٌ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ أَصَحَّ الْأَقَاوِيلِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ مِنْ ثَوْبٍ وَاحِدٍ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْكِسْوَةِ سَوَاءٌ سَتَرَ الْعَوْرَةَ وَأَجْزَأَتْ فِيهِ الصَّلَاةُ أَمْ لَا لأمرين

Kelima, yaitu pendapat asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah bahwa yang dimaksud adalah satu helai pakaian yang dapat disebut sebagai kiswah, baik menutupi aurat maupun tidak. Pendapat ini juga dipegang oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Thawus, dan ‘Atha’. Dalil bahwa pendapat yang paling shahih adalah apa yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah, yaitu satu helai pakaian yang dapat disebut kiswah, baik menutupi aurat dan sah digunakan untuk shalat maupun tidak, adalah karena dua hal.

أحدهما التزام بقيمة متفق عليه وما يجاوزه التزام زيادة يختلف فِيهَا فَاعْتُبِرَ الْأَصْلُ فِي بَرَاءَةِ الذِّمَّةِ وَالثَّانِي إِنَّهُ لَا يَخْلُو إِطْلَاقُ الْكِسْوَةِ مِنَ اعْتِبَارِهَا بِمَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الِاسْمُ أَوْ بِمَا دَعَتْ إِلَيْهِ الْحَاجَةُ فَلَمْ يَلْزَمِ اعْتِبَارُهَا بِمَا دَعَتْ إِلَيْهِ الْحَاجَةُ لِأَنَّهَا تَدْعُو إِلَى مَا يُدْفِئُ مِنَ الْبَرْدِ فِي الشِّتَاءِ وَيَقِي مِنَ الْحَرِّ فِي الصَّيْفِ وَإِذَا لَمْ يُغَيِّرْ مَا دَعَتْ إِلَيْهِ حَاجَةُ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يُغَيِّرَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مَالِكٌ مِنْ سِتْرِ الْعَوْرَةِ وَإِجْزَاءِ الصَّلَاةِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Pertama, ada kewajiban berdasarkan nilai yang telah disepakati, dan apa yang melebihinya merupakan tambahan kewajiban yang diperselisihkan, maka yang dijadikan acuan adalah asalnya dalam hal bebasnya tanggungan. Kedua, bahwa tidak lepas penyebutan “pakaian” dari dua pertimbangan: apakah berdasarkan apa yang dinamai pakaian, atau berdasarkan apa yang dibutuhkan. Maka tidak wajib mempertimbangkannya berdasarkan kebutuhan, karena kebutuhan itu mengarah pada sesuatu yang dapat menghangatkan dari dingin di musim dingin dan melindungi dari panas di musim panas. Jika kebutuhan musim dingin dan musim panas tidak mengubah ketentuan, maka lebih utama lagi untuk tidak mengubah pendapat Malik mengenai penutup aurat dan sahnya shalat dari dua sisi tersebut.

أْحَدُهُمَا خُرُوجُهُ مِنَ اعْتِبَارِ الِاسْمِ وَهُوَ أَصْلٌ عَنِ اعْتِبَارِ الْكِفَايَةِ وَهِيَ عُرْفٌ

Salah satunya adalah keluar dari pertimbangan nama, dan ini merupakan asal dari pertimbangan kecukupan, yang merupakan ‘urf (kebiasaan masyarakat).

وَالثَّانِي إِنَّهُ لَوْ أَعْطَاهُ مِنْ رَقِيقِ الثِّيَابِ مَا يَعُمُّ الْعَوْرَةَ وَلَا يَسْتُرُهَا لِرِقَّتِهِ أَجْزَأَهُ وَإِنْ لَمْ تَجُزْ فِيهِ الصَّلَاةُ وَلِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى قَدْرُ الْإِطْعَامِ فِي الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَدْرُ الْكِسْوَةِ فِيهِمَا وَفِي اعْتِبَارِ سَتْرِ الْعَوْرَةِ يُوجِبُ اخْتِلَافَ الْقَدْرِ فِيهِمَا لِاخْتِلَافِ الْعَوْرَةِ مِنْهُمَا فَكَانَ ذَلِكَ مَدْفُوعًا وَإِذَا بَطَلَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنْ يُعْتَبَرَ مَا زَادَ عَلَى انْطِلَاقِ الِاسْمِ ثَبَتَ أَنَّ مَا انْطَلَقَ اسْمُ الْكِسْوَةِ عَلَيْهِ هُوَ الْمُعْتَبَرُ فَنَقُولُ كَسَاهُ قَمِيصًا أَوْ كَسَاهُ مِنْدِيلًا وَكَسَاهُ سَرَاوِيلَ وَكَذَلِكَ الْمِقْنَعَةُ وَالْخِمَارُ فَأَجْزَاهُ ذَلِكَ كُلُّهُ وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ لَا تُجْزِئُهُ السَّرَاوِيلُ لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِغَيْرِهِ وَهَذَا فاسدٌ بِالْعِمَامَةِ وَالْمِنْدِيلِ فَأَمَّا الْقَلَنْسُوَةُ فَفِي إِجْزَائِهَا وَجْهَانِ؟

Yang kedua, jika seseorang memberinya pakaian tipis yang menutupi seluruh aurat namun tidak menutupinya karena tipisnya, maka itu sudah mencukupi, meskipun tidak sah digunakan untuk salat. Karena ketika kadar makanan yang diberikan sama antara laki-laki dan perempuan, maka kadar pakaian yang diberikan pun harus sama di antara keduanya. Jika mempertimbangkan penutupan aurat, hal itu akan menyebabkan perbedaan kadar antara keduanya karena perbedaan aurat masing-masing, sehingga hal itu tertolak. Dan apabila, berdasarkan penjelasan yang telah disebutkan, tidak dianggap apa yang melebihi dari sekadar nama pakaian, maka yang dianggap adalah apa yang sudah disebut sebagai pakaian. Maka kami katakan: jika seseorang memberinya gamis, atau sapu tangan, atau celana, demikian pula kerudung dan khimar, maka semuanya itu sudah mencukupi. Abu Yusuf berpendapat bahwa celana tidak mencukupi karena ia hanya pelengkap bagi yang lain, namun pendapat ini rusak dengan adanya serban dan sapu tangan. Adapun kopiah, terdapat dua pendapat mengenai apakah itu mencukupi atau tidak.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لِأَنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ مَا يُكْتَسَى

Salah satunya membolehkan karena pakaian tersebut termasuk bagian dari apa yang biasa dipakai.

وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ وَلَا يَنْفَرِدُ بِلِبَاسِهَا وقال أبو الغياض الْبَصْرِيُّ إِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً تُغَطِّي نِصْفَ الرَّأْسِ لَمْ تَجُزْ وَإِنْ كَانَتْ كَبِيرَةً تَعُمُّ الرَّأْسَ وَتُغَطِّي الْآذَانَ وَالْقَفَا أَجْزَأَتْ وَلَا يُجْزِئُ أَنْ يُعْطِي خُفَّيْنِ وَلَا نَعْلَيْنِ وَلَا تِكَّةً وَلَا مَا يُلْبَسُ مِنَ الْعَصَائِبِ وَلَا تُجْزِئُ مِنْطَقَةٌ وَلَا مُكَعَّبٌ وَلَا هِمْيَانُ لِخُرُوجِ ذَلِكَ عَنِ الكسوات الملبوسة

Yang kedua tidak boleh karena itu merupakan tambahan dan tidak berdiri sendiri sebagai pakaian. Abu al-Ghiyadh al-Bashri berkata, jika ukurannya kecil hanya menutupi setengah kepala maka tidak sah, tetapi jika ukurannya besar menutupi seluruh kepala, menutupi telinga dan tengkuk maka itu mencukupi. Tidak sah memberikan dua khuf, dua sandal, ikat pinggang, atau apa pun yang dipakai dari jenis ikat kepala, dan tidak sah memberikan sabuk, mukabbab, atau himyan karena semua itu tidak termasuk dalam kategori pakaian yang biasa dikenakan.

فصل

Bab

ما أُعْطِيَ مِنْ ثِيَابِ قُطْنٍ أَوْ كَتَّانٍ أَوْ شَعْرٍ أَجْزَأَ فَأَمَّا ثِيَابُ الْحَرِيرِ وَالْإِبِرِيسَمِ فَيَجُوزُ أَنْ يُعْطَاهُ النِّسَاءُ لِإِحْلَالِهِ لَهُنَّ وَكَذَلِكَ الصِّبْيَانُ وَفِي جَوَازِ إِعْطَائِهِ لِلرِّجَالِ وَجْهَانِ

Apa yang diberikan berupa pakaian dari katun, linen, atau wol sudah mencukupi. Adapun pakaian dari sutra dan ibrişim, maka boleh diberikan kepada perempuan karena halal bagi mereka, demikian pula kepada anak-anak. Sedangkan mengenai kebolehan memberikannya kepada laki-laki, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَجُوزُ لِتَحْرِيمِ لُبْسِهِ عَلَيْهِمْ

Salah satunya tidak diperbolehkan karena diharamkan memakainya bagi mereka.

وَالثَّانِي يَجُوزُ وَهُوَ أَصَحُّ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعْطَى لِلرِّجَالِ ثِيَابُ النِّسَاءِ وَيُعْطَى النِّسَاءُ ثِيَابَ الرِّجَالِ وَسَوَاءٌ بَيَاضُ الثياب ومصبوغها وخامها ومقصورها وجديدها وغسليها فَأَمَّا اللَّبِيسُ مِنْهَا فَإِنْ أَذْهَبَ اللُّبْسُ أَكْثَرَ مَنَافِعِهِ لَمْ يَجْزِهِ وَإِنْ أَذَهَبَ أَقَلَّهَا أَجْزَأَهُ كَالرَّقَبَةِ الْمَعِيبَةِ إِنْ كَانَ عَيْبُهَا يَضُرُّ بِالْعَمَلِ إِضْرَارًا بَيِّنًا لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ لَمْ يَضُرَّ بِالْعَمَلِ إِضْرَارًا بَيِّنًا أَجْزَأَهُ وَيَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ ثَوْبًا نَجِسًا لِأَنَّهُ يُطَهَّرُ بِالْغَسْلِ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُمْ بِنَجَاسَتِهِ حَتَّى لَا يُصَلُّوا فِيهِ إِلَّا بَعْدَ غَسْلِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ مَا نُسِجَ مِنْ صُوفٍ مَيِّتَةٍ وَلَا مِنْ شَعْرِهَا؟ لِعُمُومِ تَحْرِيمِهِ وَخُصُوصِ الِانْتِفَاعِ بِهِ وَأَنْ لَا سَبِيلَ إِلَى طَهَارَتِهِ

Pendapat kedua membolehkan, dan ini yang lebih sahih, karena boleh memberikan pakaian wanita kepada laki-laki dan memberikan pakaian laki-laki kepada wanita. Sama saja apakah pakaian itu berwarna putih, berwarna, masih mentah, sudah diproses, baru, atau bekas pakai. Adapun pakaian yang sudah dipakai, jika pemakaian tersebut telah menghilangkan sebagian besar manfaatnya, maka tidak mencukupi; namun jika hanya menghilangkan sebagian kecil manfaatnya, maka itu sudah mencukupi, seperti budak yang cacat: jika cacatnya sangat mengganggu pekerjaan, maka tidak mencukupi; tetapi jika tidak terlalu mengganggu pekerjaan, maka itu mencukupi. Boleh juga memberikan pakaian najis kepada mereka karena dapat disucikan dengan dicuci, namun wajib memberitahukan kepada mereka tentang kenajisannya agar mereka tidak memakainya untuk salat kecuali setelah mencucinya. Tidak boleh memberikan pakaian yang ditenun dari bulu binatang mati atau dari rambutnya, karena keumuman larangan dan khususnya larangan memanfaatkannya, serta tidak ada jalan untuk menyucikannya.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ الزُّلَالِيَّ وَالْبُسُطَ وَالْأَنْطَاعَ لِخُرُوجِهَا عَنِ اسْمِ الْكِسْوَةِ وَالْمَلْبُوسِ وَكَذَلِكَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ غَزْلًا غَيْرَ منسوج فأما لباس الجلود والفراءة فإن كان من بَلَدٍ يَلْبِسُ أَهْلُهُ ذَلِكَ أَجْزَأَ وَإِنْ كَانَ فِي بلدٍ لَا يَلْبَسُهُ أَهْلُهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي أَجْنَاسِ الْحُبُوبِ فِي الْإِطْعَامِ هَلْ يَكُونُ مُخَيَّرًا فِيهَا أَوْ يُعْتَبَرُ بِالْغَالِبِ مِنْهَا وَكَذَلِكَ قَمِيصُ اللُّبُودِ وَلَكِنْ يجزئ أن يعطيهم الأكيسة لِأَنَّهَا تُلْبَسُ دِثَارًا وَإِنْ لَمْ تُلْبَسْ شِعَارًا وَلَوْ أَعْطَى عَشَرَةَ مَسَاكِينَ ثَوْبًا طَوِيلًا فَإِنْ دَفْعَهُ إِلَيْهِمْ بَعْدَ قَطْعِهِ أَجْزَأَهُ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَتْ كُلُّ قِطْعَةٍ مِنْهُ كِسْوَةً وَإِنْ دَفَعَهُ إِلَيْهِمْ صَحِيحًا لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّهُ ثوبٌ واحدٌ فَلَمْ يَكُنْ إِلَّا كِسْوَةً وَاحِدَةً وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Tidak boleh memberikan kain tipis, permadani, dan kulit yang belum disamak karena semua itu tidak termasuk dalam kategori pakaian dan yang biasa dipakai. Demikian pula, tidak boleh memberikan benang yang belum ditenun. Adapun pakaian dari kulit dan bulu, jika berasal dari daerah yang penduduknya biasa memakainya, maka itu sah. Namun jika di daerah yang penduduknya tidak memakainya, terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat mengenai jenis-jenis biji-bijian dalam masalah makanan: apakah boleh memilih di antara jenis-jenis itu ataukah harus mengikuti yang paling umum. Demikian pula halnya dengan gamis dari kain tebal. Namun, sah jika memberikan karung karena karung bisa dipakai sebagai penutup luar, meskipun tidak dipakai sebagai pakaian dalam. Jika seseorang memberikan satu kain panjang kepada sepuluh orang miskin, lalu membagikannya kepada mereka setelah dipotong-potong, maka itu sah karena setiap potongan telah menjadi satu pakaian. Namun jika diberikan dalam keadaan utuh, maka tidak sah karena itu hanya satu pakaian, sehingga hanya dihitung sebagai satu. Allah Maha Mengetahui.

بَابٌ مَا يَجُوزُ فِي عِتْقِ الْكَفَّارَاتِ وَمَا لا يجوز

Bab tentang apa yang boleh dalam membebaskan budak sebagai kafarat dan apa yang tidak boleh.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا يُجْزِئُ رقبةٌ فِي كفارةٍ وَلَا واجبٍ إِلَّا مؤمنةٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Tidak sah membebaskan budak dalam kafarat maupun kewajiban apa pun kecuali budak yang beriman.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْكَفَّارَاتِ لَا يُجْزِئُ إِلَّا فِي رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يُجْزِئُ عِتْقُ الكافرة في جمعيها إِلَّا فِي كَفَّارَةِ الْقِتَالِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى شَرَطَ إِيمَانَهَا فَحُمِلَ الْمَشْرُوطُ عَلَى تَقْيِيدِهِ وَالْمُطْلَقُ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَمِنْ أَصْلِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ كُلَّ مُطْلَقٍ قُيِّدَ بَعْضُ جِنْسِهِ بشرطٍ كَانَ جَمِيعُ الْمُطْلَقِ مَحْمُولًا عَلَى تَقْيِيدِ ذَلِكَ الشَّرْطِ كَمَا أُطْلِقَ قَوْله تَعَالَى وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ وَقَيَّدَ قَوْلَهُ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ فَحُمِلَ ذَلِكَ الْمُطْلَقُ عَلَى هَذَا الْمُقَيَّدِ فِي اشْتِرَاطِ الْعَدَالَةِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ مِنْ حَمْلِ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ هَلْ قَالَهُ لُغَةً أَوْ شَرْعًا عَلَى وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa pembebasan budak dalam kaffarah tidak sah kecuali pada budak yang beriman, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Abu Hanifah berpendapat bahwa membebaskan budak kafir sah dalam seluruh kaffarah kecuali dalam kaffarah pembunuhan, karena Allah Ta‘ala mensyaratkan keimanannya, maka yang bersyarat dibawa pada pembatasannya dan yang mutlak dibawa pada kemutlakannya. Adapun menurut prinsip Imam Syafi‘i, setiap lafaz mutlak yang sebagian jenisnya dibatasi dengan suatu syarat, maka seluruh lafaz mutlak itu dibawa pada pembatasan syarat tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian,” dan kemudian dibatasi dengan firman-Nya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian,” maka lafaz mutlak itu dibawa pada lafaz yang dibatasi dalam mensyaratkan keadilan. Para sahabat kami berbeda pendapat tentang pendapat Imam Syafi‘i yang membawa lafaz mutlak pada lafaz yang dibatasi, apakah beliau mengatakannya berdasarkan bahasa atau syariat, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أحدهما أنه قال مِنْ طَرِيقِ اللُّغَةِ وَمَا يَقْتَضِيهِ لِسَانُ الْعَرَبِ الَّذِي جَاءَ بِهِ الشَّرْعُ مَا لَمْ يَصْرِفْ عَنْهُ دليلٌ

Pertama, ia mengatakan bahwa berdasarkan bahasa dan apa yang dituntut oleh lisan Arab yang dengannya syariat datang, selama tidak ada dalil yang memalingkannya.

وَالثَّانِي إِنَّهُ قَالَهُ مِنْ طَرِيقِ الشَّرْعِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ نُصُوصُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Kedua, bahwa ia mengatakannya berdasarkan syariat dan apa yang ditunjukkan oleh nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah, dan orang-orang yang berpendapat demikian berbeda pendapat menjadi dua pandangan.

أَحَدُهُمَا يُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِالْإِطْلَاقِ إِلَّا إِنْ تَفَرَّقَا فِي الْمَعْنَى

Salah satunya dapat digabungkan antara keduanya secara mutlak, kecuali jika keduanya berbeda dalam makna.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ لَا يُجْمَعَ بَيْنَهُمَا إِلَّا بَعْدَ اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْمَعْنَى ثُمَّ مِنَ الدَّلِيلِ أَنَّهُ عِتْقٌ فِي كَفَّارَةٍ فَوَجَبَ أَنْ لا يجزئ فيه إلا مُؤْمِنَةٌ كَالْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ

Pendapat kedua adalah bahwa keduanya tidak boleh disamakan kecuali setelah keduanya memiliki kesamaan dalam makna. Kemudian, dalilnya adalah bahwa ini merupakan pembebasan budak dalam kaffārah, maka wajib bahwa yang sah hanyalah budak perempuan yang beriman, sebagaimana pembebasan budak dalam kaffārah pembunuhan.

وَلِأَنَّ كُلَّ رَقَبَةٍ لَا يُجْزِئُ عِتْقُهَا فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ لَمْ يَجُزْ عِتْقُهَا فِي سَائِرِ الْكَفَّارَاتِ قِيَاسًا عَلَى الْمَعِيبَةِ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي كتاب الظهار مستوفاة

Dan karena setiap budak yang tidak sah pembebasannya dalam kafarat pembunuhan, maka tidak sah pula pembebasannya dalam seluruh kafarat lainnya, berdasarkan qiyās terhadap budak yang cacat. Masalah ini telah dibahas secara rinci dalam Kitab azh-Zhihār.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَأَقَلُّ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ الْإِيمَانِ عَلَى الْأَعْجَمِيِّ أَنْ يَصِفَ الْإِيمَانَ إِذَا أُمِرَ بِصِفَتِهِ ثُمَّ يَكُونَ بِهِ مُؤْمِنًا

Syafi‘i berkata, “Batas minimal yang dapat disebut sebagai iman bagi seorang non-Arab adalah ia mampu menjelaskan iman ketika diminta untuk menjelaskannya, kemudian dengan itu ia menjadi seorang mukmin.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْإِيمَانَ شَرْطٌ فِي عِتْقِ الْكَفَّارَةِ فَإِيمَانُهَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila telah tetap bahwa iman merupakan syarat dalam pembebasan budak sebagai kafarah, maka keimanan budak itu terbagi menjadi dua macam.”

أَحَدُهُمَا إِيمَانُ فِعْلٍ

Salah satunya adalah iman berupa perbuatan.

وَالثَّانِي إِيمَانُ حُكْمٍ فَأَمَّا إِيمَانُ الْفِعْلِ فَلَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ بَالَغٍ عَاقِلٍ تُؤْخَذُ عَلَيْهِ شُرُوطُ الْإِيمَانِ قَطْعًا وَشُرُوطُهُ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِالشَّهَادَتَيْنِ فَيَقُولَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَيُقِرُّ بِالْبَعْثِ وَالْجَزَاءِ وَيَبْرَأُ مِنْ كُلِّ دِينٍ خَالَفَ الْإِسْلَامَ فَأَمَّا إِقْرَارُهُ بِالْبَعْثِ وَالْجَزَاءِ فَمُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ يَقِفُ إِيمَانُهُ عَلَى إِقْرَارِهِ لِأَنَّهُ مِنْ مُوجِبَاتِ الْإِيمَانِ وَأَمَّا بَرَاءَتُهُ مِنْ كُلِّ دِينٍ خَالَفَ الْإِسْلَامَ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وُجُوبِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Yang kedua adalah iman hukum. Adapun iman perbuatan, maka itu hanya berlaku bagi orang yang sudah baligh dan berakal, yang padanya syarat-syarat iman pasti diberlakukan. Syarat-syaratnya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu dengan mengatakan: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Imam Syafi‘i berkata: “Dan ia mengakui adanya kebangkitan dan pembalasan, serta berlepas diri dari setiap agama yang bertentangan dengan Islam.” Adapun pengakuannya terhadap kebangkitan dan pembalasan, maka itu dianjurkan dan keimanannya tidak bergantung pada pengakuan tersebut, karena itu termasuk konsekuensi iman. Sedangkan berlepas dirinya dari setiap agama yang bertentangan dengan Islam, para ulama kami berbeda pendapat tentang kewajibannya menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ شَرْطٌ فِيهِ كَالشَّهَادَتَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan syarat di dalamnya seperti dua syahadat.

وَالثَّانِي إِنَّهُ مُسْتَحَبٌّ كَالْبَعْثِ

Dan pendapat kedua, bahwa hal itu adalah mustahab seperti pengutusan.

وَالثَّالِثُ إِنَّهُ إِنْ كَانَ مِنْ قومٍ يُنْكِرُونَ نُبُوَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ إِقْرَارُهُ بِنُبُوَّتِهِ يُغْنِي عَنْ بَرَاءَتِهِ مِنْ كُلِّ دِينٍ خَالَفَ الْإِسْلَامَ وَيَكُونُ اشْتِرَاطُ ذَلِكَ فِيهِ مُسْتَحَبًّا وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ مَبْعُوثٌ إِلَى قَوْمِهِ مِنَ الْعَرَبِ دُونَ غَيْرِهِمْ كَيَهُودِ خَيْبَرَ فَإِنَّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَ هُوَ مَبْعُوثٌ إِلَى الْأُمِّيِّينَ مِنَ الْعَرَبِ دُونَنَا وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ مَبْعُوثًا إِلَيْنَا مِنْ وَلَدِ إِسْحَاقَ فَتَكُونُ الْبَرَاءَةُ مِنْ كُلِّ دِينٍ خَالَفَ الْإِسْلَامَ شَرْطًا فِي صِحَّةِ إِيمَانِهِ وَبِهَذَا قَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ فَإِذَا صَحَّ مَا يَكُونُ شَرْطًا فِي إِيمَانِهِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ عَرَبِيَّ اللِّسَانِ تَلَفَّظَ بِهِ نُطْقًا وَلَا نَقْتَنِعُ مِنْهُ بِالْإِشَارَةِ مَعَ سَلَامَةِ لِسَانِهِ وَفَهْمِ كَلَامِهِ وَإِنْ كَانَ أَعْجَمِيَّ اللِّسَانِ نُظِرَ فَإِنْ حَضَرَ مَنْ يَفْهَمُ لِسَانَهُ لَمْ يَكُنْ مُؤْمِنًا إِلَّا بِالنُّطْقِ دُونَ الْإِشَارَةِ كَالْعَرَبِيِّ وَإِنْ لَمْ يَحْضُرْ مَنْ يَفْهَمُ لِسَانَهُ دَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَى أَنْ تُؤْخَذَ عَلَيْهِ شُرُوطُ الْإِسْلَامِ بِالْإِشَارَةِ دُونَ النُّطْقِ كَالْأَخْرَسِ وَرُوِيَ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ الْحَكَمِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِعَبْدٍ أَعْجَمِيٍّ جَلِيبٍ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَعْتِقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَفَيُجْزِئُ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ رَبُّكَ فَأَشَارَ إِلَى السَّمَاءِ أَيْ رَبُّ السَّمَاءِ؟ فَقَالَ مَنْ نَبِيُّكُ فَأَشَارَ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ اعتقه فإنه مؤمنٌ

Ketiga, jika seseorang berasal dari kaum yang mengingkari kenabian Muhammad ﷺ, maka pengakuannya terhadap kenabian beliau sudah cukup tanpa harus menyatakan berlepas diri dari seluruh agama yang bertentangan dengan Islam, dan mensyaratkan hal itu baginya hukumnya mustahab. Namun jika ia berasal dari kaum yang meyakini bahwa beliau hanya diutus kepada kaumnya dari bangsa Arab saja, bukan kepada selain mereka, seperti halnya Yahudi Khaibar yang berkata, “Ia diutus kepada orang-orang ummi dari bangsa Arab, bukan kepada kami, dan kami sedang menanti seorang utusan yang diutus kepada kami dari keturunan Ishaq,” maka berlepas diri dari seluruh agama yang bertentangan dengan Islam menjadi syarat sahnya iman orang tersebut. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah. Jika telah sah bahwa hal itu menjadi syarat dalam keimanan seseorang, maka dilihat lagi: jika ia berbahasa Arab, maka ia harus mengucapkannya secara lisan, dan kami tidak menerima isyarat darinya selama lisannya sehat dan ia memahami pembicaraan. Namun jika ia berbahasa non-Arab, maka dilihat lagi: jika ada orang yang memahami bahasanya, maka ia tidak dianggap beriman kecuali dengan ucapan lisan, bukan dengan isyarat, sebagaimana orang Arab. Tetapi jika tidak ada yang memahami bahasanya, maka karena darurat, syarat-syarat Islam diambil darinya dengan isyarat, bukan dengan ucapan, seperti orang bisu. Diriwayatkan bahwa Mu‘awiyah bin al-Hakam datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa seorang budak asing (non-Arab) yang baru saja dibeli. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku bernazar untuk memerdekakan seorang budak yang beriman. Apakah budak ini cukup (untuk nazarku)?” Maka Nabi ﷺ bertanya kepadanya, “Siapa Tuhanmu?” Ia pun menunjuk ke langit, maksudnya Tuhan langit. Nabi bertanya lagi, “Siapa nabimu?” Ia pun menunjuk kepada beliau. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Merdekakanlah dia, karena ia seorang mukmin.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَيُجْزِئُ فِيهِ الصَّغِيرُ إِذَا كَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا

Imam Syafi‘i berkata: “Anak kecil sudah mencukupi (dalam hal ini) jika kedua orang tuanya beriman atau salah satu dari keduanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَمَّا إِيمَانُ الْحُكْمِ فَمُعْتَبَرٌ فِيمَنْ لَا يُحْكُمُ بِقَوْلِهِ فِي صَغِيرٍ أَوْ مَجْنُونٍ فَيَكُونُ الصَّغِيرُ مُسْلِمًا بِإِسْلَامِ أَبَوَيْهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun keimanan dalam hukum, maka itu diperhitungkan pada orang yang tidak dihukumi dengan ucapannya, seperti anak kecil atau orang gila. Maka anak kecil dihukumi sebagai Muslim karena keislaman kedua orang tuanya.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَصِيرُ مُسْلِمًا بِإِسْلَامِ أُمِّهِ وَحْدَهَا وَإِنْ صَارَ مُسْلِمًا بِإِسْلَامِ أَبِيهِ وَحْدَهُ اعْتِبَارًا بِلُحُوقِ نَسَبِهِ بِأَبِيهِ دُونَ أُمِّهِ كَذَلِكَ فِي الْإِسْلَامِ لِأَنَّ أَحْكَامَهُ فِي اتِّبَاعِ أبويه تنقسم قسمين

Malik berkata: Seorang anak tidak menjadi Muslim hanya karena ibunya masuk Islam, namun ia menjadi Muslim jika ayahnya saja yang masuk Islam, dengan pertimbangan bahwa nasabnya mengikuti ayahnya, bukan ibunya; demikian pula dalam hal keislaman, karena hukum-hukumnya dalam mengikuti kedua orang tuanya terbagi menjadi dua bagian.

أحدهما مَا كَانَ فِيهَا تَابِعًا لِأَبِيهِ دُونَ أُمِّهِ وَهُوَ النَّسَبُ

Salah satunya adalah apa yang di dalamnya mengikuti ayahnya, bukan ibunya, yaitu nasab.

وَالثَّانِي مَا كَانَ فِيهَا تَابِعًا لِأُمِّهِ دُونَ أَبِيهِ وَهُوَ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ فَأَمَّا مَا يَنْفَرِدُ بِهِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَبَوَيْنِ فخارجٌ مِنَ الْقِسْمَيْنِ وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ فَأَخْبَرَ أَنَّ الْأَوْلَادَ يَتَّبِعُونَ الْآبَاءَ وَالْأُمَّهَاتَ فَيَ الْإِيمَانِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى وَقَدْ خُلِقَ الوَلَدُ مِنْ مَاءِ الْأَبَوَيْنِ فَإِذَا اجْتَمَعَ فِيهِ إِسْلَامُ أَحَدِهِمَا وَكُفْرُ الْآخَرِ وَجَبَ أَنْ يَعْلُوَ الْإِسْلَامُ عَلَى الْكُفْرِ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ كُلُّ مولودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ فَجَعَلَ اجْتِمَاعَ أَبَوَيْهِ سَبَبًا لِشُهُودِهِ فَخَرَجَ بِإِسْلَامِ أَحَدِهِمَا مِنَ الْيَهُودِيَّةِ؟ وَلِأَنَّهُ لَوِ افْتَرَقَ حُكْمُ أَبَوَيْهِ فِي إِسْلَامِهِ لَكَانَ اعْتِبَارُهُ بِأُمِّهِ أَحَقُّ لِأَنَّهُ مِنْهَا قَطْعًا وَمِنْ أَبِيهِ ظَنًّا

Kedua, yaitu perkara yang dalam hal ini anak mengikuti ibunya, bukan ayahnya, yaitu dalam hal kemerdekaan dan perbudakan. Adapun perkara yang menjadi kekhususan masing-masing dari kedua orang tua, maka itu di luar dari dua bagian tersebut. Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka.” Maka Allah memberitakan bahwa anak-anak mengikuti ayah dan ibu mereka dalam keimanan. Nabi ﷺ bersabda: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” Anak diciptakan dari air kedua orang tuanya, maka jika dalam diri anak itu berkumpul Islam salah satu dari keduanya dan kekafiran yang lain, wajib Islam lebih tinggi daripada kekafiran. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Maka beliau menjadikan berkumpulnya kedua orang tua sebagai sebab bagi keadaan anak tersebut, sehingga jika salah satu dari keduanya memeluk Islam, anak keluar dari status Yahudi. Karena jika hukum kedua orang tuanya berbeda dalam keislaman, maka seharusnya pertimbangan kepada ibunya lebih utama, karena anak berasal dari ibunya secara pasti, sedangkan dari ayahnya secara dugaan.

فَأَمَّا السَّبَبُ فَلَا يَلْزَمُ لِأَنَّ حُكْمَهُ فِي التَّحْرِيمِ مُعْتَبَرٌ لِكُلٍّ واحدٍ مِنْهُمَا فَصَارَ بِالدِّينِ أَشْبَهَ وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِتَقْسِيمِ الْحُكْمَيْنِ فَقَدْ يَقْتَرِنُ بِهِمَا ثَالِثٌ وهو أن حربة الْأَبِ تُوجِبُ حُرِّيَّةَ الْوَلَدِ إِذَا وَطِئَهَا بِمِلْكِ الْيَمِينِ وَرِقُّ الْأُمِّ يُوجِبُ رِقَّ الْوَلَدِ إِذَا وَطِئَهَا بِعَقْدِ النِّكَاحِ فَصَارَتِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ مُعْتَبَرَيْنِ بِكُلِّ واحدٍ مِنَ الْأَمْرَيْنِ فَكَذَلِكَ الْإِسْلَامُ وَيَصِيرُ هَذَا قِسْمًا ثَالِثًا

Adapun sebab, maka tidak mesti demikian, karena hukumnya dalam hal pengharaman dipertimbangkan untuk masing-masing dari keduanya, sehingga menjadi lebih mirip dengan agama. Adapun dalil mereka dengan membagi dua hukum, bisa saja disertai dengan yang ketiga, yaitu bahwa kemerdekaan ayah menyebabkan anak menjadi merdeka jika ayah menggaulinya dengan hak milik (milk al-yamīn), dan status budak pada ibu menyebabkan anak menjadi budak jika ibu digauli dengan akad nikah. Maka, kemerdekaan dan perbudakan dipertimbangkan pada masing-masing dari dua perkara tersebut, demikian pula Islam, sehingga ini menjadi bagian ketiga.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا صَحَّ إِسْلَامُ الصَّغِيرِ وَالْمَجْنُونِ بِإِسْلَامِ كُلٍّ واحدٍ مِنْ أَبَوَيْهِ فَعِتْقُ الصَّغِيرِ فِي الْكَفَّارَةِ مجزئٌ وَإِنْ كَانَ نَاقِصَ الْعَمَلِ بِخِلَافِ الزَّمِنِ؟ لِأَنَّ نَقْصَ الصَّغِيرِ يَزُولُ وَنَقْصِ الزَّمَانَةِ لَا يَزُولُ سَوَاءٌ كَانَ الصَّغِيرُ مُسْتَقِلًّا بِنَفْسِهِ مُسْتَغْنِيًا عَنِ التَّرْبِيَةِ كَالْمُرَاهِقِ أَوْ كَانَ طِفْلًا يُرَبَّى كَالرَّضِيعِ؟ لِأَنَّهُ يَنْشَأُ وَيَسْتَكْمِلُ وَنَفَقَتُهُ بَعْدَ عِتْقِهِ فِي بَيْتِ الْمَالِ وَفِي الصَّدَقَاتِ وَلَا يَجِبُ عَلَى مُعْتِقِهِ وَلَوْ تَبَرَّعَ بِهَا حَتَّى يَبْلُغَ هُوَ الِاكْتِسَابَ كَانَ أَوْلَى وَإِنْ لَمْ تَجِبْ فَأَمَّا عِتْقُ الْمَجْنُونِ فَلَا يُجْزِئُ إِنْ كَانَ جُنُونُهُ مُسْتَدِيمًا طَبْعًا وَكَذَلِكَ الْمَعْتُوهُ وَإِنْ كَانَ يُجَنُّ فِي زَمَانٍ وَيُفِيقُ فِي زَمَانٍ فَإِنْ كَانَ زَمَانُ جُنُونِهِ أَكْثَرَ مِنْ زَمَانِ إِفَاقَتِهِ أَوْ كَانَا سَوَاءً لَمْ يُجْزِهِ عِتْقُهُ وَإِنْ كَانَ زَمَانُ إِفَاقَتِهِ أَكْثَرَ مِنْ جُنُونِهِ فَفِي إِجْزَاءِ عِتْقِهِ وَجْهَانِ

Jika keislaman anak kecil dan orang gila sah dengan keislaman salah satu dari kedua orang tuanya, maka memerdekakan anak kecil dalam kaffarah dianggap sah, meskipun amalnya masih kurang, berbeda dengan orang cacat. Sebab, kekurangan pada anak kecil akan hilang, sedangkan kekurangan karena cacat tidak akan hilang, baik anak kecil itu sudah mandiri dan tidak membutuhkan pengasuhan seperti anak yang mendekati baligh, maupun masih bayi yang perlu diasuh seperti bayi yang masih menyusu. Karena ia akan tumbuh dan menjadi sempurna, dan nafkahnya setelah dimerdekakan menjadi tanggungan baitul mal dan dari sedekah, tidak wajib atas orang yang memerdekakannya, meskipun jika ia memberikan nafkah secara sukarela hingga anak itu mampu mencari nafkah sendiri, itu lebih utama, meskipun tidak wajib. Adapun memerdekakan orang gila, maka tidak sah jika kegilaannya terus-menerus secara tabiat, demikian pula orang yang idiot. Namun, jika ia kadang-kadang gila dan kadang-kadang sadar, maka jika masa gilanya lebih banyak daripada masa sadarnya atau keduanya sama, memerdekakannya tidak sah. Tetapi jika masa sadarnya lebih banyak daripada masa gilanya, maka dalam keabsahan memerdekakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُجْزِئُ كَمَا يُجْزِئُ عِتْقُ مَنْ قَلَّ عَيْبُهُ

Salah satunya sudah mencukupi sebagaimana mencukupinya memerdekakan seseorang yang sedikit cacatnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُجْزِئُ لِأَنَّ قَلِيلَ الْجُنُونِ يَصِيرُ كَثِيرًا فَأَمَّا عِتْقُ الْأَحْمَقِ فَيُجْزِئُ لِأَنَّهُ يُسْتَعْمَلُ بِتَدْبِيرِ غَيْرِهِ وَأَمَّا عِتْقُ الْفَاسِقِ فَمُجْزِئٌ لِإِجْرَاءِ أَحْكَامِ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ

Pendapat kedua tidak mencukupi karena sedikit kegilaan bisa menjadi banyak. Adapun memerdekakan orang dungu maka itu mencukupi karena ia dapat digunakan dengan pengelolaan orang lain. Sedangkan memerdekakan orang fasik juga mencukupi karena hukum-hukum Islam tetap berlaku atasnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَوَلَدُ الزِّنَا

Imam Syafi‘i berkata: “Dan anak hasil zina…”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ صِحَّةَ الْأَنْسَابِ فِي عِتْقِ الْكَفَّارَاتِ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ؟ وَلِأَنَّ سَلَامَةَ بَدَنِهِ وَصِحَّةَ عَمَلِهِ مماثلٌ لِذَوِي الْأَنْسَابِ؟ وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عَيْبًا فِي نُقْصَانِ ثَمَنِهِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَكُونَ عَيْبًا فِي إِجْزَاءِ عِتْقِهِ وَأَحْسَبُ الشَّافِعِيَّ قَالَ ذَلِكَ وَنَصَّ عَلَيْهِ بِخِلَافٍ شَذَّ مِنْ بَعْضِ السَّلَفِ تَمَسُّكًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَلَدُ الزِّنَا شَرُّ الثَّلَاثَةِ وَلَا دَلِيلَ فِيهِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَعْمَلٍ عَلَى ظَاهِرِهِ وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, karena keabsahan nasab dalam pembebasan budak sebagai kafarat tidaklah menjadi syarat. Dan karena keselamatan tubuhnya dan kebaikan amalnya sama dengan orang-orang yang memiliki nasab. Dan karena hal itu tidak dianggap sebagai cacat dalam mengurangi harga dirinya, maka lebih utama lagi untuk tidak dianggap cacat dalam keabsahan pembebasannya. Saya kira asy-Syafi‘i juga mengatakan hal itu dan menegaskannya, berbeda dengan sebagian salaf yang menyelisihi dengan berpegang pada sabda Nabi ﷺ: ‘Anak hasil zina adalah yang terburuk dari tiga golongan.’ Namun, tidak ada dalil dalam hal itu, karena hadis tersebut tidak digunakan menurut zahirnya, dan di dalamnya terdapat dua penafsiran.”

أَحَدُهُمَا إِنَّهُ شَرُّهُمْ نَسَبًا

Salah satunya adalah bahwa dia yang paling buruk nasabnya di antara mereka.

وَالثَّانِي إِنَّهُ شَرُّهُمْ إِذَا زَنَا لِأَنَّهُ صَارَ مَعَ شَرِّ نَسَبِهِ زانياً

Yang kedua, sesungguhnya ia adalah yang terburuk di antara mereka jika ia berzina, karena selain memiliki nasab yang buruk, ia juga menjadi pezina.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَكُلُّ ذِي نقصٍ بعيبٍ لَا يَضُرُّ بِالْعَمَلِ إِضْرَارًا بَيِّنًا مِثْلُ الْعَرَجِ الْخَفِيفِ وَالْعَوَرِ وَالشَّلَلِ فِي الْخِنْصَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلَا يُجْزِئُ الْمُقْعَدُ وَلَا الْأَعْمَى وَلَا الْأَشَلُّ الرِّجْلِ وَيُجْزِئُ الْأَصَمُّ وَالْخِصِيُّ وَالْمَرِيضُ الَّذِي لَيْسَ بِهِ مرضٌ زمانةٍ مِثْلُ الْفَالَجِ وَالسُّلِّ

Syafi‘i berkata: Setiap orang yang memiliki kekurangan karena cacat yang tidak membahayakan pekerjaan secara nyata, seperti pincang ringan, buta sebelah mata, atau lumpuh pada jari kelingking, dan semacamnya, maka hal itu tidak mengapa. Namun, tidak sah (menjadi imam) orang yang lumpuh total, orang buta, atau orang yang lumpuh kakinya. Adapun orang tuli, orang yang dikebiri, dan orang sakit yang tidak menderita penyakit menahun seperti lumpuh total atau tuberkulosis, maka sah (menjadi imam).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَطْلَقَ عِتْقَ الرَّقَبَةِ فِي الْكَفَّارَةِ فَاقْتَضَى إِطْلَاقُهَا أَحَدَ أَمْرَيْنِ إِمَّا السَّلَامَةُ مِنْ جَمِيعِ الْعُيُوبِ كَالْغِرَّةِ فِي الْجَنِينِ وَالْإِبِلِ مِنَ الدِّيَةِ وَإِمَّا جَوَازُهَا مَعَ كُلِّ الْعُيُوبِ اعْتِبَارًا بِمُطْلَقِ الِاسْمِ كَالنُّذُورِ لَكِنِ انْعَقَدَ فِيهَا إجماعٌ منع من اعتبار أحمد هَذَيْنِ الْأَصْلَيْنِ لِأَنَّهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ مِنْ ذَوَاتِ الْعُيُوبِ مَا يُجْزِئُ وَهِيَ الْعَوْرَاءُ وَالْبَرْصَاءُ وَالْجَدْعَاءُ وَمِنْ ذَوَاتِ الْعُيُوبِ مَا لَا يُجْزِئُ وَهِيَ الْعَمْيَاءُ وَالْقَطْعَاءُ وَالشَّلَّاءُ فَاعْتَبَرْنَا مَعْنَى مَا أَجَازُوهُ وَمَعْنَى مَا رَدُّوهُ فَوَجَدْنَاهُمْ قَدْ أَجَازُوا مِنْهَا مَا لَا يَضُرُّ بِالْعَمَلِ إِضْرَارًا بَيِّنًا وَرَدُّوا مِنْهَا مَا يَضُرُّ بِالْعَمَلِ إِضْرَارًا بَيِّنًا فَصَارَ هَذَا أَصْلًا عَقَدَهُ الْإِجْمَاعُ فِي الْكَفَّارَةِ خَارِجًا عَنِ الْأَصْلَيْنِ فِي إِطْلَاقِهَا فَاعْتَبَرُوا كَمَالَ الْمَنْفَعَةِ دُونَ كَمَالِ الصِّفَةِ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالْعِتْقِ تَمْلِيكُ الرَّقَبَةِ مَنَافِعَ نَفْسِهَا فَاعْتَبَرْنَا كَمَالَ مَا تَوَجَّهَ إِلَيْهِ التَّمْلِيكُ مِنَ الْمَنَافِعِ دُونَ الصِّفَاتِ فَإِذَا صَارَ هَذَا أَصْلًا مُعْتَبَرًا انْسَاقَ عَلَيْهِ التَّفْرِيعُ فَقُلْنَا إِنَّ الْعَوْرَاءَ تُجْزِئُ بِكَمَالِ مَنَافِعِهَا؟ وَإِنَّهَا تُدْرِكُ بِإِحْدَى الْعَيْنَيْنِ مَا تُدْرِكُهُ بِهِمَا فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ مَنَعَ الشَّرْعُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ بِالْعَوْرَاءِ قِيلَ لِأَنَّهُ قَصَدَ بِهِ كَمَالَ اللَّحْمِ وَاسْتَطَابَتِهِ فِي الْأُضْحِيَّةِ وَالْعَوَرُ مُؤَثِّرٌ فِيهِ فَمَنَعَ مِنْهُ وَلَمْ يَمْنَعْ مِمَّا قَصَدَ بِهِ كَمَالَ الْمَنْفَعَةِ فِي الْعِتْقِ فَأُجِيزَ فِيهِ وَإِذَا أَجْزَأَتِ الْعَوْرَاءُ فِي عِتْقِ الرَّقَبَةِ فَأَوْلَى أَنْ يُجْزِئَ عِتْقُ الْحَوْلَاءِ وَالْخَيْفَاءِ وَالْمَقْطُوعَةِ الْأَنْفِ وَالْأُذُنَيْنِ وَالْبَرْصَاءِ لِأَنَّ كُلَّ هَذِهِ الْعُيُوبِ غَيْرُ مُضِرَّةٍ بِالْعَمَلِ وَكَذَلِكَ يُجْزِئُ عِتْقُ الْخَرْسَاءِ وَعِتْقُ الصَّمَّاءِ لِأَنَّ عَمَلَهَا كَامِلٌ وَالْإِشَارَةَ مَعَهُمَا تَقُومُ مَقَامَ النُّطْقِ فإن لم يفهما الإشارة لَمْ يَجُزْ عِتْقُهُمَا فَإِنَّ الشَّافِعِيَّ أَجَازَ فِي مَوْضِعٍ عَتَقَهُمَا وَمَنَعَ مِنْهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَلَيْسَ ذَلِكَ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى اخْتِلَافِ حَالِهِمَا فِي فَهْمِ الْإِشَارَةِ فَأَمَّا إِنِ اجْتَمَعَ فِيهِمَا الْخَرَسُ وَالصَّمَمُ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ اجْتِمَاعَهُمَا مُؤَثِّرٌ مِنَ الْعَمَلِ ومقتضى عرفهم الْإِشَارَةُ وَلَا يُجْزِئُ عِتْقُ الْعَمْيَاءِ لِإِضْرَارِ الْعَمَى بِالْعَمَلِ وَلَا يَجُوزُ عِتْقُ الْمَقْطُوعَةِ الْيَدَيْنِ أَوْ إِحْدَاهُمَا وَلَا عِتْقُ الْمَقْطُوعَةِ الرِّجْلَيْنِ أَوْ إِحْدَاهُمَا بِخِلَافِ الْعَوْرَاءِ لِأَنَّ ذَهَابَ إِحْدَى الْيَدَيْنِ مُضِرٌّ بِالْعَمَلِ وَكَذَلِكَ إِحْدَى الرِّجْلَيْنِ وَذَهَابَ إِحْدَى الْعَيْنَيْنِ غَيْرُ مُضِرٍّ بِالْعَمَلِ وَيُجْزِئُ عِتْقُ الْعَرْجَاءِ إِذَا كان عرجها قليلاً وَلَا يُجْزِئُ إِذَا كَانَ كَثِيرًا لِأَنَّ قَلِيلَهُ غَيْرُ مُضِرٍّ؟ وَكَثِيرَهُ مضرٍ وَتُجْزِئُ الْمَقْطُوعَةُ الْخِنْصَرِ أَوِ الْبِنْصِرِ مِنْ إِحْدَى الْأَطْرَافِ أَوِ الْخَنَاصِرِ وَالْبَنَاصِرِ مِنَ الْأَطْرَافِ كُلِّهَا وَلَا يُجْزِئُ إِذَا اجْتَمَعَ قَطْعُ الْخِنْصَرِ وَالْبِنْصِرِ مِنْ طَرَفٍ واحدٍ وَيَجُوزُ إِنْ كَانَا مِنْ طَرَفَيْنِ لِأَنَّ اجْتِمَاعَهُمَا مُضِرٌّ وَافْتِرَاقَهُمَا غَيْرُ مُضِرٍّ وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوعَةُ الْإِبْهَامِ أَوِ السَّبَّابَةِ أَوِ الْوُسْطَى لِأَنَّ قَطْعَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْأَصَابِعِ الثَّلَاثِ مُضِرٌّ فَأَمَّا قَطْعُ الْأُنْمُلَةِ الْوَاحِدَةِ فَيُمْنَعُ مِنْهَا إِنْ كَانَتْ فِي الْإِبْهَامِ وَلَا يُمْنَعُ مِنْهَا إِنْ كَانَتْ فِي غَيْرِهَا مِنَ الْأَصَابِعِ لِأَنَّ الْبَاقِيَ مِنْ أَنَامِلِ غَيْرِ الْإِبْهَامِ أَكْثَرُ بِخِلَافِ الْإِبْهَامِ وَالشَّلَلُ فِي الْأَطْرَافِ كَالْقَطْعِ فَمَا مُنِعَ مِنْهُ الْقَطْعُ مُنِعَ مِنْهُ الشَّلَلُ وَمَا جَازَ مَعَ الْقَطْعِ جَازَ مَعَ الشَّلَلِ فَإِذَا لَمْ تُجْزِ الْقَطْعَاءُ فَأَوْلَى أَنْ لَا تُجْزِئَ الْمُقْعَدَةُ وَلَا ذَاتُ الزَّمَانَةِ وَأَمَّا الْمَرِيضَةُ فَإِنْ كَانَ مَرَضُهَا مَرْجُوًّا كَالْحُمَّى وَالصُّدَاعِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ مَاتَتْ وَإِنْ كَانَ مَرَضُهَا غَيْرَ مَرْجُوٍّ كَالسُّلِّ وَالْفَالِجِ لَمْ تُجْزِ وَإِنْ صَحَّتْ وَأَمَّا عِتْقُ الشَّيْخِ وَالْعَجُوزِ فَعِتْقُهُمَا مُجْزِئٌ مَا لَمْ يَنْتَهِيَا إِلَى الْهِرَمِ الْمُضِرِّ بِالْعَمَلِ فَلَا يُجْزِئُ وَسَوَاءٌ فِي الْإِجْزَاءِ أَعَتَقَ ذَاتَ الضَّعَةِ وَغَيْرَ ذَاتِ الضَّعَةِ وَيُجْزِئُ عِتْقُ الْخَصِيِّ وَالْمَجْبُوبِ لِكَمَالِ عَمَلِهِمَا وَكَذَلِكَ يُجْزِئُ عِتْقُ الْخُنْثَى فَأَمَّا عِتْقُ الْجَذْمَاءُ فَإِنْ كَانَ الْجُذَامُ فِي الْأَنْفِ وَالْأُذُنِ أَوِ الشَّفَةِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ كَانَ فِي أَطْرَافِ الْبَدَنِ وَالرِّجْلَيْنِ لَمْ يُجْزِ لِأَنَّهُ مضرٌّ بِالْعَمَلِ فِي الْأَطْرَافِ وَغَيْرُ مُضِرٍّ بِالْعَمَلِ فِي غَيْرِ الْأَطْرَافِ وَيُجْزِئُ عِتْقُ الْأَبْرَصِ وَالْبَرْصَاءِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُضِرٍّ بالعمل وَاللَّهُ أعلم

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa Allah Ta‘ala telah membebaskan istilah “memerdekakan budak” dalam kafarat, sehingga kebebasan istilah tersebut menuntut salah satu dari dua hal: apakah harus selamat dari seluruh cacat seperti diyat janin dan unta dalam diyat, ataukah boleh dengan segala cacat dengan mempertimbangkan nama secara mutlak seperti dalam nadzar. Namun, dalam hal ini telah terjadi ijmā‘ yang mencegah untuk mempertimbangkan dua dasar tersebut, karena mereka telah bersepakat bahwa di antara budak yang memiliki cacat ada yang sah untuk dijadikan kafarat, yaitu yang buta sebelah, berpenyakit belang, dan yang terpotong anggota tubuhnya, dan ada pula yang tidak sah, yaitu yang buta total, yang terpotong kedua tangan atau kakinya, dan yang lumpuh. Maka kami pertimbangkan makna dari apa yang mereka perbolehkan dan makna dari apa yang mereka tolak, lalu kami dapati bahwa mereka membolehkan budak yang cacat namun tidak mengganggu pekerjaan secara nyata, dan menolak budak yang cacat yang mengganggu pekerjaan secara nyata. Maka hal ini menjadi dasar yang telah ditetapkan oleh ijmā‘ dalam kafarat, terpisah dari dua dasar dalam kebebasan istilahnya. Maka mereka mempertimbangkan kesempurnaan manfaat, bukan kesempurnaan sifat, karena tujuan dari memerdekakan budak adalah memberikan kepemilikan manfaat dirinya sendiri, maka kami pertimbangkan kesempurnaan manfaat yang menjadi tujuan kepemilikan, bukan sifat-sifatnya. Jika ini telah menjadi dasar yang dipertimbangkan, maka cabang-cabang hukumnya mengikuti. Maka kami katakan: budak yang buta sebelah sah dijadikan kafarat karena manfaatnya sempurna, dan ia dapat melihat dengan satu mata sebagaimana dengan dua mata. Jika dikatakan: syariat melarang berkurban dengan hewan yang buta sebelah, maka dijawab: karena tujuan kurban adalah kesempurnaan daging dan kelezatannya, sedangkan kebutaan sebelah mempengaruhi hal itu, maka dilarang. Namun, tidak dilarang dalam hal yang tujuannya adalah kesempurnaan manfaat dalam memerdekakan budak, sehingga dibolehkan. Jika budak yang buta sebelah sah untuk memerdekakan budak, maka lebih utama lagi sah memerdekakan budak yang juling, yang takut, yang terpotong hidung atau telinganya, dan yang berpenyakit belang, karena semua cacat ini tidak mengganggu pekerjaan. Demikian pula sah memerdekakan budak yang bisu dan tuli, karena pekerjaannya sempurna dan isyarat dapat menggantikan ucapan. Jika keduanya tidak memahami isyarat, maka tidak sah memerdekakan mereka. Imam Syafi‘i membolehkan pada satu tempat dan melarang pada tempat lain, bukan karena perbedaan dua pendapat, tetapi karena perbedaan keadaan mereka dalam memahami isyarat. Adapun jika bisu dan tuli berkumpul pada satu orang, maka tidak sah, karena berkumpulnya keduanya mempengaruhi pekerjaan, dan menurut kebiasaan mereka isyarat digunakan. Tidak sah memerdekakan budak yang buta total karena kebutaan mengganggu pekerjaan, dan tidak boleh memerdekakan budak yang terpotong kedua tangan atau salah satunya, atau yang terpotong kedua kaki atau salah satunya, berbeda dengan yang buta sebelah, karena hilangnya salah satu tangan atau kaki mengganggu pekerjaan, sedangkan hilangnya satu mata tidak mengganggu pekerjaan. Sah memerdekakan budak yang pincang jika pincangnya sedikit, dan tidak sah jika banyak, karena yang sedikit tidak mengganggu, sedangkan yang banyak mengganggu. Sah memerdekakan budak yang terpotong kelingking atau jari manis dari salah satu anggota tubuh, atau jari-jari kecil dan jari manis dari seluruh anggota tubuh, dan tidak sah jika terpotong kelingking dan jari manis dari satu anggota, dan boleh jika dari dua anggota, karena berkumpulnya mengganggu, sedangkan terpisah tidak mengganggu. Tidak sah memerdekakan budak yang terpotong ibu jari, telunjuk, atau jari tengah, karena terpotongnya masing-masing dari tiga jari ini mengganggu. Adapun terpotong satu ruas jari, maka dilarang jika pada ibu jari, dan tidak dilarang jika pada selainnya, karena sisa ruas jari selain ibu jari masih banyak, berbeda dengan ibu jari. Kelumpuhan pada anggota tubuh seperti halnya terpotong, maka apa yang dilarang karena terpotong, dilarang pula karena lumpuh, dan apa yang dibolehkan dengan terpotong, dibolehkan pula dengan lumpuh. Jika tidak sah memerdekakan budak yang terpotong anggota tubuhnya, maka lebih utama lagi tidak sah memerdekakan budak yang lumpuh total atau yang menderita penyakit menahun. Adapun budak yang sakit, jika sakitnya masih diharapkan sembuh seperti demam dan sakit kepala, maka sah meskipun ia meninggal, dan jika sakitnya tidak diharapkan sembuh seperti TBC dan lumpuh, maka tidak sah meskipun ia sembuh. Adapun memerdekakan budak yang sudah tua, maka sah selama belum sampai pada usia pikun yang mengganggu pekerjaan, maka tidak sah. Sama saja dalam keabsahan, apakah budak itu perempuan yang lemah atau bukan, dan sah memerdekakan budak yang dikebiri atau yang terpotong kemaluannya karena pekerjaannya sempurna, demikian pula sah memerdekakan budak khuntsa. Adapun memerdekakan budak yang terkena lepra, jika lepra itu di hidung, telinga, atau bibir, maka sah, dan jika di anggota tubuh atau kaki, maka tidak sah karena mengganggu pekerjaan pada anggota tubuh, dan tidak mengganggu pada selain anggota tubuh. Sah memerdekakan budak yang berpenyakit belang karena tidak mengganggu pekerjaan. Wallāhu a‘lam.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوِ اشْتَرَى مِنْ يَعْتِقُ عَلَيْهِ لَمْ يُجْزِهِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ إِلَّا الْوَالِدون وَالْمَوْلُودُونَ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang membeli budak yang apabila dimilikinya akan merdeka secara otomatis (karena hubungan nasab), maka hal itu tidak sah baginya dan tidak menjadi merdeka kecuali orang tua dan anak-anak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَنْ مَلَكَ أَحَدًا مِنْ وَالِدَيْهِ أَوْ مَوْلُودَيْهِ عَتَقَ عَلَيْهِ وَلَا يَعْتِقُ عَلَيْهِ غَيْرُهُمَا مِنْ ذَوِي الْأَنْسَابِ وَأَعْتَقَ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ كُلَّ ذِي رَحِمٍ مُحَرَّمٍ وَسَائِرُ الْكَلَامِ مَعَهُ فِي كِتَابِ الْعِتْقِ وَإِنْ مَضَى فِي كِتَابِ الظِّهَارِ وَذَكَرْنَا أَنَّ مَنِ اشْتَرَى مَنْ يَعْتِقُ عَلَيْهِ نَاوِيًا بِهِ الْعِتْقَ عَنْ كَفَّارَتِهِ لَمْ تَجْزِهِ وَأَجَازَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ لَكِنِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَعْلِيلِ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْمَنْعِ مِنْ إِجْزَائِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa siapa saja yang memiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau anak keturunannya, maka ia otomatis merdeka (tidak boleh diperbudak), dan selain keduanya dari kerabat nasab tidak otomatis merdeka. Abu Hanifah berpendapat bahwa setiap kerabat mahram otomatis merdeka. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini bersama beliau terdapat dalam Kitab al-‘Itq, meskipun juga telah dibahas dalam Kitab azh-Zhihar. Kami juga telah sebutkan bahwa siapa saja yang membeli budak yang otomatis merdeka atas dirinya dengan niat untuk membebaskannya sebagai kafarat, maka hal itu tidak sah baginya. Namun, Abu Hanifah membolehkannya, dan penjelasan tentang hal ini bersama beliau telah disebutkan dalam Kitab azh-Zhihar. Akan tetapi, para sahabat kami berbeda pendapat dalam memberikan alasan atas pendapat asy-Syafi‘i yang melarang hal itu, menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا هُوَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ عَلَيْهِ تَحْرِيرَ رَقَبَةٍ وَهَذَا يَعْتِقُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ تَحْرِيرٍ مِنْهُ فَلَمْ يُجْزِهِ لِعَدَمِ مَا لَزِمَهُ مِنْ فِعْلِ التَّحْرِيرِ

Salah satunya adalah bahwa Allah Ta‘ala mewajibkan kepadanya untuk membebaskan seorang budak, sedangkan budak itu merdeka baginya tanpa ada pembebasan darinya, maka hal itu tidak mencukupi baginya karena tidak terpenuhi kewajiban melakukan pembebasan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّ تَعْلِيلَ الْمَنْعِ مِنْ إِجْزَائِهِ أَنَّ الرَّقَبَةَ الْوَاحِدَةَ لَا يُجْزِئُ عِتْقُهَا بِسَبَبَيْنِ حَتَّى يَكُونَ مَقْصُورًا عَلَى أَحَدِهِمَا وَهَذَا عِتْقٌ بِسَبَبَيْنِ فَكَانَ مَقْصُورًا عَلَى أَثْبَتِهِمَا

Adapun alasan kedua, sesungguhnya alasan pelarangan dari mencukupinya adalah bahwa membebaskan satu budak tidak dapat dianggap sah untuk dua sebab sekaligus, kecuali jika dibatasi pada salah satunya saja. Sedangkan ini adalah pembebasan karena dua sebab, maka harus dibatasi pada sebab yang paling kuat di antara keduanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوِ اشْتَرَى رَقَبَةً بِشَرْطٍ يُعْتِقُهَا لَمْ تُجْزِ عَنْهُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang membeli seorang budak dengan syarat akan memerdekakannya, maka itu tidak mencukupi baginya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي كِتَابِ الْبُيُوعِ إِذَا اشْتَرَى عَبْدًا بِشَرْطِ العتق فللشافعي في البيع والشرط ثلاثة أقاويل

Al-Mawardi berkata: Masalah ini telah dibahas dalam Kitab al-Buyu‘, yaitu apabila seseorang membeli seorang budak dengan syarat dimerdekakan, maka menurut al-Syafi‘i dalam hal jual beli dan syaratnya terdapat tiga pendapat.

أحدها إنَّ الْبَيْعَ وَالشَّرْطَ بَاطِلَانِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ فَعَلَى هَذَا إِنْ أَعْتَقَهُ عَنْ كَفَّارَةٍ لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّهُ أَعْتَقَ مَا لَمْ يَمْلِكْ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يُجْزِئُهُ وَيَكُونُ مَأْخُوذًا بِعِتْقِهِ لِأَجْلِ الشَّرْطِ حَكَاهُ أَبُو ثَوْرٍ عَنِ الشَّافِعِيِّ احْتِجَاجًا بِأَنَّ عَائِشَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا اشْتَرَتْ بَرِيرَةَ بِشَرْطِ الْعِتْقِ فَأَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْبَيْعَ وَأَمْضَى الشَّرْطَ فَعَلَى هَذَا لَا يُجْزِئُهُ عِتْقُهُ عَنْ كَفَّارَتِهِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ عِتْقًا بِسَبَبَيْنِ وَلَا يُجْزِئُ فِي الْكَفَّارَةِ إِلَّا عِتْقُ رَقَبَةٍ يختص بسببها

Pertama, bahwa jual beli dan syaratnya batal, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah. Berdasarkan pendapat ini, jika seseorang memerdekakan budak tersebut untuk kafarah, maka tidak sah baginya karena ia memerdekakan sesuatu yang belum ia miliki. Namun Abu Hanifah berpendapat bahwa itu sah dan ia tetap dianggap telah memerdekakannya karena syarat tersebut. Hal ini dinukil oleh Abu Tsaur dari asy-Syafi‘i sebagai dalil bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli Barirah dengan syarat dimerdekakan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan jual belinya dan menetapkan syaratnya. Berdasarkan hal ini, memerdekakan budak tersebut tidak sah untuk kafarahnya, karena menjadi dua sebab, sedangkan dalam kafarah hanya sah memerdekakan budak yang khusus karena sebab tersebut.

والقول الثالث إنَّ الْبَيْعَ جَائِزٌ وَالشَّرْطَ باطلٌ وَلَا يَلْزَمُهُ عتقها من غَيْرِ الْكَفَّارَةِ فَعَلَى هَذَا إِنْ أَعْتَقَهَا فِي الْكَفَّارَةِ فَفِي إِجْزَائِهَا وَجْهَانِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa jual beli itu sah, namun syaratnya batal dan tidak mewajibkan untuk memerdekakannya tanpa adanya kewajiban kafarah. Berdasarkan pendapat ini, jika ia memerdekakannya untuk kafarah, maka ada dua pendapat mengenai keabsahannya.

أَحَدُهُمَا تُجْزِئُ لِأَنَّهُ عِتْقٌ بِسَبَبٍ وَاحِدٍ وَهُوَ التَّكْفِيرُ

Salah satunya dianggap sah karena merupakan pembebasan budak dengan satu sebab, yaitu sebagai penebusan (takfīr).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهَا لَا تُجْزِئُ لِأَنَّ الشَّرْطَ قَدْ أَخَذَ من الثمر قِسْطًا فَصَارَ الْعِتْقُ فِي مُقَابَلَةِ عِوَضٍ فَجَرَى مَجْرَى الْعِتْقِ بِسَبَبَيْنِ وَخَرَجَ عَمَّا انْفَرَدَ عِتْقُهُ عن التكفير

Pendapat kedua, sesungguhnya hal itu tidak sah karena syaratnya telah mengambil sebagian dari hasil (buah), sehingga pembebasan budak tersebut menjadi sebagai ganti dari suatu imbalan. Maka, hal itu serupa dengan pembebasan budak karena dua sebab, dan keluar dari ketentuan bahwa pembebasan budak secara khusus (sendiri) dapat digunakan untuk kafarat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَيُجْزِئُ الْمُدَبَّرُ وَلَا يَجُوزُ الْمُكَاتَبُ حَتَّى يَعْجِزَ فَيُعْتَقَ بَعْدَ الْعَجْزِ وَيُجْزِئُ الْمُعْتَقُ إِلَى سِنِينَ واحتج في كتاب اليمين مع الشاهد على من أجاز عتق الذمي في الكفارة بأن الله عز وجل لما ذكر رقبةً في كفارةٍ فقال مؤمنةٍ ثم ذكر رقبةً أخرى في كفارةٍ كانت مؤمنةً لأنهما يجتمعان في أنهما كفارتان ولما رأينا ما فرض الله عز وجل على المسلمين في أموالهم منقولاً إلى المسلمين لم يجز أن يخرج من ماله فرضاً عليه فيعتق به ذمياً ويدع مؤمناً

Syafi‘i berkata: Budak mudabbar sah digunakan (untuk kafarat), sedangkan budak mukatab tidak boleh digunakan sampai ia tidak mampu membayar, lalu ia dimerdekakan setelah ketidakmampuannya. Budak yang dimerdekakan untuk beberapa tahun juga sah digunakan. Dalam Kitab Sumpah bersama saksi, beliau berdalil terhadap orang yang membolehkan memerdekakan dzimmi dalam kafarat, bahwa ketika Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan budak dalam kafarat, Dia berfirman “yang beriman”, kemudian menyebutkan budak lain dalam kafarat yang juga harus beriman, karena keduanya sama-sama merupakan kafarat. Dan ketika kami melihat apa yang Allah ‘Azza wa Jalla wajibkan atas kaum muslimin dalam harta mereka dialihkan kepada kaum muslimin, maka tidak boleh seseorang mengeluarkan dari hartanya kewajiban yang dibebankan kepadanya lalu memerdekakan dzimmi dan meninggalkan orang mukmin.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْمُدَبَّرُ فَيُجْزِئُ عِتْقُهُ عَنِ الْكَفَّارَةِ لِبَقَائِهِ عَلَى الرِّقِّ وَجَوَازِ بَيْعِهِ وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ إِجْزَائِهِ لِمَنْعِهِ مِنْ جَوَازِ بَيْعِهِ وَسَائِرُ الْكَلَامِ مَعَهُ فِي كِتَابِ الْمُدَبَّرِ وَكَذَلِكَ الْمُعَلَّقُ عِتْقُهُ بِصِفَةٍ إِذَا عَجَّلَ عِتْقَهُ عَنْ كَفَّارَةٍ أَجْزَأَهُ سَوَاءٌ كَانَتِ الصفة معلقة بالزمان كقوله إذا هل شَهْرُ كَذَا فَأَنْتَ حرٌّ كَانَتِ الصِّفَةُ مُعَلَّقَةً بِالْفِعْلِ كَقَوْلِهِ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حرٌّ وَإِنَّمَا أَجْزَأَهُ إِلْحَاقًا لَهُ بِالْمُدَبَّرِ كَمَا أَنَّ بَيْعَهُ يَجُوزُ كَالْمُدَبَّرِ وَلَكِنْ لَوْ نَوَى فِيهِ أَنْ يَصِيرَ بِمَجِيءِ الصِّفَةِ حُرًّا عَنْ كَفَّارَتِهِ لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُعْتَقًا بِسَبَبَيْنِ وَتَعْجِيلُ عِتْقِهِ قَبْلَ الصِّفَةِ يَجْعَلُهُ مُعْتَقًا بِسَبَبٍ واحدٍ فَأَمَّا عِتْقُ أُمِّ الْوَلَدِ فَلَا يُجْزِئُ عَنِ الْكَفَّارَةِ

Al-Mawardi berkata: Adapun budak mudabbar, maka memerdekakannya sah sebagai pelaksanaan kafarat, karena ia masih berstatus budak dan boleh diperjualbelikan. Abu Hanifah melarang keabsahan hal itu karena menurutnya budak mudabbar tidak boleh diperjualbelikan. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini terdapat dalam Kitab al-Mudabbar. Demikian pula budak yang kemerdekaannya digantungkan pada suatu sifat; jika kemerdekaannya disegerakan untuk kafarat, maka itu sah, baik sifat tersebut digantungkan pada waktu—seperti ucapannya: “Jika telah masuk bulan ini, maka engkau merdeka”—atau sifat itu digantungkan pada perbuatan—seperti ucapannya: “Jika engkau masuk ke rumah, maka engkau merdeka.” Hal itu dianggap sah karena dianalogikan dengan mudabbar, sebagaimana jual-beli terhadapnya juga diperbolehkan seperti mudabbar. Namun, jika ia berniat agar budak itu menjadi merdeka karena kafarat ketika sifat itu terjadi, maka itu tidak sah, karena budak tersebut menjadi merdeka karena dua sebab. Menyegerakan kemerdekaannya sebelum sifat itu terjadi menjadikannya merdeka hanya karena satu sebab. Adapun memerdekakan ummul walad, maka itu tidak sah sebagai pelaksanaan kafarat.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَعْلِيلِ هَذَا الْمَنْعِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ التَّحْرِيمُ بَيْعُهَا وَقَالَ آخَرُونَ استحقاقٌ عِتْقِهَا بِالْوِلَادَةِ يَجْعَلُهَا مُعْتَقَةً بِسَبَبَيْنِ وَأَمَّا عِتْقُ الْمَكَاتَبِ قَبْلَ عَجْزِهِ فَلَا يُجْزِئُ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ لَمْ يُؤَدِّ شَيْئًا مِنْ نُجُومِهِ أَجْزَأَهُ وَإِنْ أَدَّى شَيْئًا مِنْهَا لَمْ يُجْزِهِ وَقَدْ ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ فَأَمَّا إِنْ عَجَزَ عَنِ الْأَدَاءِ فَأَعْتَقَهُ بَعْدَ التَّعْجِيزِ أَجْزَأَهُ لِأَنَّهُ قَدْ عَادَ إِلَى الرِّقِّ فِي جَوَازِ الْبَيْعِ وَجَمِيعِ الْأَحْكَامِ فَأَمَّا إِذَا أَعْتَقَ شقصا لَهُ مِنْ عَبْدٍ يَنْوِي بِهِ الْكَفَّارَةَ وَكَانَ مُوسِرًا عَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ وَأَجْزَأَهُ مِنْهُ قَدَّرَ حِصَّتِهِ وَفِي إِجْزَاءِ حِصَّةِ شَرِيكِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam memberikan alasan atas larangan ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa alasannya adalah haramnya menjualnya, sementara yang lain mengatakan bahwa hak untuk memerdekakannya karena kelahiran menjadikannya merdeka dengan dua sebab. Adapun memerdekakan seorang mukatab sebelum ia tidak mampu membayar, maka itu tidak sah. Abu Hanifah berkata: Jika ia belum membayar sedikit pun dari cicilannya, maka memerdekakannya sah; namun jika ia telah membayar sebagian darinya, maka tidak sah. Hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab az-Zhihar. Adapun jika ia tidak mampu membayar, lalu dimerdekakan setelah dinyatakan tidak mampu, maka itu sah karena ia telah kembali menjadi budak dalam hal kebolehan jual beli dan seluruh hukum-hukum lainnya. Adapun jika seseorang memerdekakan bagian miliknya dari seorang budak dengan niat untuk kafarat, dan ia adalah orang yang mampu, maka seluruh budak itu menjadi merdeka dan itu sah sebagai kafarat baginya sesuai dengan bagian miliknya. Adapun mengenai keabsahan bagian milik rekannya, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا لَا يُجْزِئُهُ لِأَنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ التَّكْفِيرِ فَصَارَ عِتْقًا بِسَبَبَيْنِ

Salah satunya tidak sah karena ia dimerdekakan bukan untuk tujuan kafarat, sehingga menjadi pembebasan budak dengan dua sebab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُجْزِئُهُ لِأَنَّ عِتْقَهُ تَبَعٌ لِعِتْقِ حِصَّتِهِ فَجَرَى عَلَيْهِ حُكْمُهَا فِي الْإِجْزَاءِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu sudah mencukupi, karena pembebasan budak tersebut mengikuti pembebasan bagian miliknya, sehingga berlaku padanya hukum kecukupan sebagaimana pada bagian miliknya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنَّهُ إِنْ نَوَى عِنْدَ عِتْقِ حِصَّتِهِ عِتْقَ جَمِيعِهِ عَنْ كَفَّارَتِهِ أَجْزَأَهُ وَإِنْ قَصَرَ نِيَّتَهُ عَلَى عِتْقِ حِصَّتِهِ وَحْدَهَا لَمْ يُجْزِهِ وَإِذَا أَكْمَلَ عِتْقَ رَقَبَةٍ مِنْ عَبْدَيْنِ أَعْتَقَ مِنْ كُلٍّ واحدٍ نِصْفَهُ وَفِي إِجْزَائِهِ وَجْهَانِ مَضَيَا

Pendapat ketiga adalah bahwa jika seseorang berniat saat memerdekakan bagiannya untuk memerdekakan seluruh budak itu sebagai kafaratnya, maka itu sudah mencukupi. Namun jika ia membatasi niatnya hanya untuk memerdekakan bagiannya saja, maka itu tidak mencukupi. Dan apabila ia menyempurnakan pembebasan satu budak dari dua budak dengan memerdekakan setengah dari masing-masing, maka terdapat dua pendapat mengenai kecukupannya yang telah disebutkan sebelumnya.

وَفِيهِ وَجْهٌ رَابِعٌ إنَّهُ إِنْ كَانَ الْبَاقِي مِنْ كُلٍّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُرًّا أَجْزَأَهُ وَإِنْ كَانَ الْبَاقِي مِنْهُمَا مَمْلُوكًا لَمْ يُجْزِهِ فَأَمَّا إِذَا أَعْتَقَ عَبْدًا مَرْهُونًا أَوْ جَانِيًا فَإِنْ قِيلَ بِبُطْلَانِ عِتْقِهِمَا عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْأَقَاوِيلِ فِيهَا لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِ عِتْقِهِمَا أَجْزَأَهُ عَنْ كَفَّارَتِهِ ثُمَّ خَتَمَ الْمُزَنِيُّ الْبَابَ بِالِاحْتِجَاجِ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ وَالْمَنْعِ مِنْ إِجْزَاءِ عِتْقِ الْكَافِرِ بِمَا مَضَى وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

Di dalamnya terdapat pendapat keempat, yaitu jika sisa dari masing-masing keduanya adalah orang merdeka, maka itu mencukupi; namun jika sisa dari keduanya adalah budak, maka itu tidak mencukupi. Adapun jika seseorang memerdekakan budak yang sedang tergadai atau budak yang melakukan tindak pidana, maka jika dikatakan bahwa pembebasan keduanya batal sebagaimana telah kami sebutkan dari berbagai pendapat dalam masalah ini, maka itu tidak mencukupi. Namun jika dikatakan bahwa pembebasan keduanya sah, maka itu mencukupi untuk kifaratnya. Kemudian al-Muzani menutup bab ini dengan berhujah kepada Abu Hanifah dan melarang mencukupinya pembebasan orang kafir sebagaimana telah lalu, dan hanya kepada Allah-lah taufik.

بَابُ الصِّيَامِ فِي كَفَّارَةِ الَأَيْمَانِ الْمُتَتَابِعِ وَغَيْرِهِ

Bab Puasa dalam Kafarat Sumpah yang Berturut-turut dan Selainnya

مسألة

Masalah

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ كُلُّ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ صومٌ لَيْسَ بمشروطٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنْ يَكُونَ مُتَتَابِعًا أَجَزَأهُ مُتَفَرِّقًا قِيَاسًا عَلَى قَوْلِ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ فَعِدَّةٌ مِنْ أيَّامٍ أُخَر والعدة أن يأتي بعدد صومٍ لا ولاءٍ وقال في كتاب الصيام إن صيام كفارة اليمين متتابعٌ والله أعلم قال المزني رحمه الله هذا ألزم له لأن الله عز وجل شرط صوم كفارة المتظاهر متتابعاً وهذا صوم كفارةٍ مثله كما احتج الشافعي بشرط الله عز وجل رقبة القتل مؤمنةً قال المزني فجعل الشافعي رقبة الظهار مثلها مؤمنةً لأنها كفارةٌ شبيهةٌ بكفارةٍ فكذلك الكفارة عن ذنبٍِ بالكفارة عن ذنبٍ أشبه منها بقضاء رمضان الذي ليس بكفارةٍ عن ذنبٍ فتفهم

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Setiap orang yang wajib atasnya puasa yang tidak disyaratkan dalam Kitabullah untuk dilakukan secara berturut-turut, maka boleh baginya melakukannya secara terpisah, berdasarkan qiyās pada firman Allah Jalla Dzikruhu: ‘Maka gantilah pada hari-hari yang lain,’ dan yang dimaksud dengan ‘jumlah’ adalah mencapai jumlah hari puasa, bukan harus berturut-turut.” Dan beliau berkata dalam Kitab Ash-Shiyām, “Sesungguhnya puasa kafarat sumpah itu harus berturut-turut, wallahu a‘lam.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Ini adalah konsekuensi pendapat beliau, karena Allah ‘Azza wa Jalla mensyaratkan puasa kafarat zihar dilakukan secara berturut-turut, dan ini adalah puasa kafarat yang serupa dengannya. Sebagaimana Syafi‘i berhujjah dengan syarat Allah ‘Azza wa Jalla bahwa budak yang dibebaskan dalam kafarat pembunuhan harus beriman, maka Al-Muzani berkata: Syafi‘i menjadikan budak dalam kafarat zihar juga harus beriman, karena ia adalah kafarat yang serupa dengan kafarat lainnya. Maka demikian pula, kafarat atas dosa dengan kafarat atas dosa lain yang lebih mirip dengannya daripada qadha Ramadan yang bukan kafarat atas dosa. Maka pahamilah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الصَّوْمَ فِي كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ مُتَرَتِّبٌ لَا يُجْزِئُ إِلَّا بَعْدَ الْعَجْزِ عَنِ الْإِطْعَامِ وَالْكِسْوَةِ وَالْعِتْقِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَة أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَهَلْ يَكُونُ تَتَابُعُ صَوْمِهَا شَرْطًا فِي صِحَّتِهَا أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa puasa dalam kaffarah sumpah merupakan urutan terakhir yang tidak sah kecuali setelah tidak mampu memberi makan, pakaian, dan memerdekakan budak, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa tidak mendapatkannya, maka berpuasalah selama tiga hari; itulah kaffarah sumpah-sumpah kalian apabila kalian bersumpah.” Apakah berurutan dalam menjalankan puasanya merupakan syarat sahnya atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الصِّيَامِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالْعِرَاقِيِّينَ وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّ التَّتَابُعَ شَرْطٌ فِي صِيَامِهَا فَإِنْ صَامَ مُتَفَرِّقًا لَمِ يُجْزِهِ اسْتِدْلَالًا بِقِرَاءَةِ ابْنِ مسعودٍ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أيامٍ متتابعاتٍ وَقِرَاءَةِ أُبِيٍّ فَصِيَامُ ثَلَاثَة أيامٍ متتابعةٍ وَالْقِرَاءَةُ الشَّاذَّةُ تَقُومُ مَقَامَ خَبَرِ الْوَاحِدِ فِي وُجُوبِ الْعَمَلِ لِأَنَّهَا منقولةٌ عَنِ الرَّسُولِ وَلِأَنَّهُ صَوْمُ تَكْفِيرٍ فِيهِ عِتْقٌ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ التَّتَابُعُ مِنْ شَرْطِهِ قِيَاسًا عَلَى كَفَّارَةِ الْقَتْلِ وَالظِّهَارِ وَلِمَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّ مِنْ أَصْلِ الشَّافِعِيِّ حَمْلَ الْمُطْلَقِ عَلَى مَا قُيِّدَ مِنْ جِنْسِهِ كَمَا حُمِلَ إِطْلَاقُ الْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ عَلَى مَا قُيِّدَ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ مِنَ الْأَيْمَانِ فَلَزِمَهُ أَنْ يَحْمِلَ إِطْلَاقَ هَذَا الصِّيَامِ عَلَى مَا قُيِّدَ مِنْ تَتَابُعِهِ فِي الْقَتْلِ

Salah satu pendapat yang dinyatakan dalam Kitab Puasa adalah pendapat Abu Hanifah dan para ulama Irak, yang juga dipilih oleh al-Muzani, bahwa berurutan (tataabu‘) adalah syarat dalam puasa ini. Jika seseorang berpuasa secara terpisah, maka itu tidak sah baginya, dengan dalil bacaan Ibnu Mas‘ud: “maka berpuasalah tiga hari yang berurutan”, dan bacaan Ubay: “maka berpuasalah tiga hari yang berurutan”, serta bacaan syād (bacaan yang tidak masyhur) menempati posisi khabar al-wāḥid dalam kewajiban beramal, karena ia dinukil dari Rasulullah. Selain itu, karena ini adalah puasa kafārah yang di dalamnya terdapat pembebasan budak, maka wajib pula adanya syarat berurutan, dengan qiyās kepada kafārah pembunuhan dan zhihār. Dan sebagaimana disebutkan oleh al-Muzani, bahwa salah satu prinsip al-Syafi‘i adalah membawa lafaz mutlak kepada yang muqayyad dari jenisnya, sebagaimana lafaz mutlak pembebasan budak dalam kafārah sumpah dibawa kepada yang muqayyad dalam kafārah pembunuhan dari sumpah, maka semestinya ia juga membawa lafaz mutlak puasa ini kepada yang muqayyad dengan berurutan dalam (kafārah) pembunuhan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالْحِجَازِيِّينَ أَنَّ التَّتَابُعَ اسْتِحْبَابٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَأَنَّ صَوْمَهُ مُتَفَرِّقًا جَائِزٌ اسْتِدْلَالًا بِمَا وَرَدَ بِهِ الْقِرَانُ مِنْ إِطْلَاقِ صِيَامِهَا فَاقْتَضَى الظاهر إجزاء صيامها في حالتي تتابعهما وتفريقها ولا يجب حَمْلُهُ عَلَى الْمُقَيَّدِ مِنْ كَفَّارَةِ الظِّهَارِ كَمَا أَلْزَمَهُ الْمُزَنِيُّ لِتَرَدُّدِ هَذَا الْإِطْلَاقِ بَيْنَ أَصْلَيْنِ يَجِبُ التَّتَابُعُ فِي أَحَدِهَا وَهُوَ كَفَّارَةُ الظِّهَارِ وَلَا يَجُبْ فِي الْآخَرِ وَهُوَ قَضَاءُ رَمَضَانَ فَلَمْ يَكُنْ أَحَدُ الْأَصْلَيْنِ فِي التَّتَابُعِ بِأَوْلَى مِنَ الْآخَرِ فِي التَّفَرُّقِ

Pendapat kedua, yang dinyatakan secara tegas dalam masalah ini, adalah pendapat Malik dan para ulama Hijaz, bahwa berturut-turut dalam puasa hanya dianjurkan dan tidak wajib, serta boleh melaksanakan puasanya secara terpisah-pisah. Mereka berdalil dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an berupa keumuman perintah puasa, sehingga secara lahiriah menunjukkan sahnya puasa baik dilakukan secara berturut-turut maupun terpisah-pisah. Tidak wajib mengaitkannya dengan yang bersifat muqayyad (terikat) seperti pada kafarat zhihar, sebagaimana yang diwajibkan oleh al-Muzani, karena keumuman ini berkaitan dengan dua asal hukum: pada salah satunya berturut-turut itu wajib, yaitu kafarat zhihar, dan pada yang lainnya tidak wajib, yaitu qadha Ramadan. Maka, tidak ada salah satu dari dua asal hukum tersebut yang lebih utama dalam hal berturut-turut dibandingkan yang lain dalam hal terpisah-pisah.

وَلِأَنَّهُ صَوْمٌ يَتَرَدَّدُ مُوجِبُهُ بَيْنَ إِبَاحَةٍ وَحَظْرٍ فَوَجَبَ أَنْ لَا يُسْتَحَقَّ فِيهِ التَّتَابُعُ قِيَاسًا عَلَى قَضَاءِ رَمَضَانَ فَأَمَّا قِرَاءَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَأُبَيٍّ فَإِنَّمَا تَجْرِي في وجوب العمل بها مجرى خير الْوَاحِدِ إِذَا أُضِيفَتْ إِلَى التَّنْزِيلِ وَإِلَى سَمَاعِهَا من الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَمَّا إِذَا أُطْلِقَتْ جَرَتْ مَجْرَى التَّأْوِيلِ دُونَ التَّنْزِيلِ ثُمَّ لَوْ سَلِمَتْ لَحُمِلَتْ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ وَإِطْلَاقُهَا عَلَى الْجَوَازِ وَأَمَّا كَفَّارَةُ الْقَتْلِ فَلَمَّا تَغَلَّظَ صَوْمُهَا بِزِيَادَةِ الْعَدَدِ تَغَلَّظَ بِالتَّتَابُعِ وَلِمَّا تَخَفَّفَ صَوْمُ كَفَّارَةِ الْيَمِينِ بِنُقْصَانِ الْعَدَدِ تَخَفَّف بالتفرقة

Karena puasa tersebut merupakan puasa yang sebab wajibnya masih diperselisihkan antara boleh dan terlarang, maka tidak wajib untuk melakukannya secara berturut-turut, berdasarkan qiyās dengan qadha Ramadan. Adapun bacaan Ibnu Mas‘ud dan Ubay, maka dalam hal kewajiban mengamalkannya, kedudukannya seperti khabar al-wāḥid jika dikaitkan dengan al-tanzīl dan dengan mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Namun jika disebutkan secara mutlak, maka kedudukannya seperti ta’wil, bukan al-tanzīl. Kemudian, seandainya bacaan tersebut sahih, maka itu dibawa pada anjuran (istihbāb) dan kebolehannya. Adapun kafarat pembunuhan, karena puasa di dalamnya lebih berat dengan penambahan jumlah hari, maka dipersulit pula dengan kewajiban berturut-turut. Sedangkan puasa kafarat sumpah, karena lebih ringan dengan pengurangan jumlah hari, maka diringankan pula dengan membolehkannya terpisah-pisah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا كَانَ الصَّوْمُ مُتَتَابِعًا فَأَفْطَرَ فِيهِ الصَّائِمُ أَوِ الصَّائِمَةُ مِنْ عذرٍ وَغَيْرِ عذرٍ اسْتَأْنَفَا الصِّيَامَ إِلَّا الْحَائِضَ فَإِنَّهَا لَا تَسْتَأَنِفُ وَقَالَ فِي الْقَدِيمِ الْمَرَضُ كَالْحَيْضِ وَقَدْ يَرْتَفِعُ الْحَيْضُ بِالْحَمْلِ وَغَيْرِهِ كَمَا يَرْتَفِعُ الْمَرَضُ قَالَ وَلَا صَوْمَ فِيمَا لَا يَجُوزُ صَوْمُهُ تَطَوُّعًا مِثْلَ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ

Imam Syafi‘i berkata: Jika puasa itu harus dilakukan secara berturut-turut, lalu orang yang berpuasa—baik laki-laki maupun perempuan—membatalkan puasanya karena uzur atau tanpa uzur, maka keduanya harus mengulangi puasa dari awal, kecuali wanita haid, maka ia tidak perlu mengulangi dari awal. Dalam pendapat lama, beliau mengatakan bahwa sakit itu seperti haid, dan haid bisa terhenti karena hamil atau sebab lain sebagaimana sakit bisa hilang. Beliau juga berkata: Tidak sah berpuasa pada waktu-waktu yang tidak boleh berpuasa sunnah, seperti hari raya Idulfitri, Iduladha, dan hari-hari tasyrik.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَجِبَ عَلَيْهِ صَوْمٌ مُتَتَابِعٌ فِي كَفَّارَةِ قَتْلٍ أَوْ ظِهَارٍ فَيُفْطِرَ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ بَاقِيهِ فَلَا يَخْلُو فِطْرُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِعُذْرٍ أَوْ غَيْرِ عُذْرٍ فَإِنْ أَفْطَرَ بِغَيْرِ عُذْرٍ أَبْطَلَ بِهِ التَّتَابُعَ وَلَمْ يَعْتَدَّ بِمَا تَقَدَّمَ مِنْ صيامه وإن كان أكثر من باقيه واستأنف صَوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ وَإِنْ أَفْطَرَ بِعُذْرٍ فَالْأَعْذَارُ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata, “Gambaran kasusnya adalah seseorang wajib menjalankan puasa berturut-turut sebagai kafarat karena membunuh atau zhihar, lalu ia berbuka di tengah-tengah puasanya, meskipun hari yang telah ia lalui lebih banyak daripada hari yang tersisa. Maka, puasanya yang terputus itu tidak lepas dari dua kemungkinan: berbuka karena uzur atau tanpa uzur. Jika ia berbuka tanpa uzur, maka hal itu membatalkan keharusan berturut-turut dan puasa yang telah dijalankan sebelumnya tidak dihitung, meskipun jumlahnya lebih banyak dari sisa hari, dan ia harus mengulangi puasa dua bulan berturut-turut. Namun, jika ia berbuka karena uzur, maka uzur itu terbagi menjadi dua jenis.”

أَحَدُهُمَا مَا كَانَ مِنْ أَعْذَارِ الْأَبْدَانِ

Salah satunya adalah apa yang berasal dari uzur-uzur badan.

وَالثَّانِي مَا كَانَ مِنْ أَعْذَارِ الزَّمَانِ فَأَمَّا أَعْذَارُ الْأَبْدَانِ فَأَرْبَعَةُ أعذارٍ

Yang kedua adalah apa yang termasuk uzur karena waktu. Adapun uzur-uzur yang berkaitan dengan badan, maka ada empat uzur.

أَحَدُهَا الْحَيْضُ فَهُوَ منافٍ لِلصَّوْمِ فَإِذَا دَخَلَتِ الْمَرْأَةُ فِي صِيَامِ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ بِكَفَّارَةِ قَتْلٍ ثُمَّ حَاضَتْ فِي تَضَاعِيفِهَا لَا يَبْطُلُ بِهِ تَتَابُعُ صِيَامِهَا وَتَبْنِي عَلَى مَا مَضَى مِنْ صِيَامِهَا بَعْدَ انْقِطَاعِ حَيْضِهَا لِعِلَّتَيْنِ

Salah satunya adalah haid, yang merupakan hal yang membatalkan puasa. Maka jika seorang wanita telah memulai puasa dua bulan berturut-turut sebagai kafarat pembunuhan, kemudian ia mengalami haid di tengah-tengahnya, maka hal itu tidak membatalkan kesinambungan puasanya. Ia melanjutkan puasa yang telah dijalani setelah haidnya selesai, karena dua alasan.

إِحْدَاهُمَا إنَّهُ فِطْرٌ بِعُذْرٍ لَا يُقْدَرُ مَعَهُ عَلَى الصِّيَامِ

Salah satunya adalah bahwa itu merupakan berbuka puasa karena uzur yang dengannya tidak memungkinkan untuk berpuasa.

وَالثَّانِيَةُ إنَّ طَرْقُ الْحَيْضِ معتادٌ لَا يَسْلَمُ لَهَا فِي الْعُرْفِ صِيَامُ شَهْرَيْنِ لَا حَيْضَ فِيهَا

Dan yang kedua, bahwa datangnya haid adalah sesuatu yang biasa terjadi, sehingga menurut kebiasaan, sulit bagi seorang wanita untuk dapat berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa mengalami haid di dalamnya.

وَالْعُذْرُ الثَّانِي الْمَرَضُ تُفْطِرُ بِهِ فِي تَضَاعِيفِ صِيَامِهَا فَهَلْ يَنْقَطِعُ بِهِ التَّتَابُعُ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ

Alasan kedua adalah sakit; seorang wanita boleh berbuka karena sakit di tengah-tengah puasanya. Lalu, apakah hal itu memutuskan keharusan berturut-turut atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْقَدِيمُ إنَّهُ يَجُوزُ مَعَهُ الْبِنَاءُ وَلَا يَنْقَطِعُ بِهِ التَّتَابُعُ كَالْحَيْضِ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ فطر بعذر لا يمكن مع الصوم

Salah satunya, yaitu pendapat lama, menyatakan bahwa boleh melakukan pembatalan (puasa) bersamaan dengannya dan hal itu tidak memutus kesinambungan (puasa) seperti halnya haid, dengan alasan bahwa berbuka terjadi karena uzur yang tidak memungkinkan untuk tetap berpuasa.

والقول الثاني وهو الجديد يجب مع الِاسْتِئْنَافُ وَيَنْقَطِعُ بِهِ التَّتَابُعُ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ لَا يُعْتَادُ اسْتِمْرَارُهُ

Pendapat kedua, yaitu pendapat baru, mewajibkan untuk memulai kembali dan terputuslah kesinambungan dengannya, dengan alasan bahwa hal itu tidak biasa berlangsung terus-menerus.

وَالْعُذْرُ الثَّالِثُ الْفِطْرُ بِالسَّفَرِ

Alasan ketiga yang membolehkan berbuka puasa adalah karena safar (perjalanan).

فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْفِطْرَ بِالْمَرَضِ يَقْطَعُ التَّتَابُعَ فَالْفِطْرُ بِالسَّفَرِ أَوْلَى أَنْ يَقْطَعَهُ

Jika dikatakan bahwa berbuka puasa karena sakit memutus kesinambungan (puasa), maka berbuka puasa karena safar (perjalanan) lebih utama untuk memutuskannya.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْفِطْرَ بِالْمَرَضِ لَا يَقْطَعُ التَّتَابُعَ فَفِي قَطْعِهِ بِالسَّفَرِ قَوْلَانِ

Jika dikatakan bahwa berbuka puasa karena sakit tidak memutus kesinambungan (puasa), maka dalam hal pemutusannya karena safar terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَقْطَعُهُ وَيَجُوزُ مَعَهُ الْبِنَاءُ لِأَنَّهُ فِطْرٌ بِعُذْرَيْنِ قَدْ جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا فِي الْإِبَاحَةِ

Salah satunya tidak membatalkannya dan boleh membangun (ibadah) bersamanya, karena itu adalah berbuka dengan dua uzur yang Allah telah mengumpulkan keduanya dalam kebolehan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَقْطَعُ التَّتَابُعَ وَيُوجِبُ الِاسْتِئْنَافَ لِأَنَّ فِطْرَهُ بِالْمَرَضِ ضَرُورَةٌ وَبِالسَّفَرِ عَنِ اخْتِيَارٍ وَلِذَلِكَ إِذَا مَرِضَ فِي يَوْمٍ كَانَ صَحِيحًا فِي أَوَّلِهِ أَفْطَرَ وَلَوْ سَافَرَ فِي يَوْمٍ كَانَ سَقِيمًا فِي أَوَّلِهِ لَمْ يُفْطِرْ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu memutus kesinambungan (puasa) dan mewajibkan untuk memulai kembali, karena berbuka puasa karena sakit adalah suatu keadaan darurat, sedangkan berbuka karena safar (perjalanan) adalah atas pilihan sendiri. Oleh karena itu, jika seseorang jatuh sakit pada hari yang di awalnya ia sehat, maka ia boleh berbuka. Namun, jika ia melakukan safar pada hari yang di awalnya ia sedang sakit, maka ia tidak boleh berbuka.

وَالْعُذْرُ الرَّابِعُ أَنْ يَطْرَأَ عَلَيْهِ فِي تَضَاعِيفِ صِيَامِهِ جُنُونٌ أَوْ إِغْمَاءٌ فَإِنْ قِيلَ فِي الْمَرَضِ يَبْنِي فَهَذَا أَوْلَى وَإِنْ قِيلَ فِي الْمَرَضِ يَسْتَأْنِفُ فَفِي الِاسْتِئْنَافِ بِالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَجْهَانِ

Alasan keempat adalah jika seseorang mengalami gangguan jiwa atau pingsan di tengah-tengah puasanya. Jika dalam kasus sakit dikatakan boleh melanjutkan, maka dalam hal ini lebih utama lagi. Namun jika dalam kasus sakit dikatakan harus mengulang dari awal, maka dalam hal gangguan jiwa dan pingsan terdapat dua pendapat mengenai keharusan mengulang dari awal.

أَحَدُهُمَا يَسْتَأْنِفُ كَالْمَرِيضِ

Salah satunya memulai kembali seperti orang sakit.

وَالثَّانِي يَبْنِي وَلَا يَسْتَأْنِفُ لِأَنَّ الصَّوْمَ مَعَ الْمَرَضِ يَصِحُّ وَمَعَ الْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ لَا يَصِحُّ وَأَمَّا أَعْذَارُ الزَّمَانِ فَهُوَ أَنْ يَتَخَلَّلَ مُدَّةَ صِيَامِهِ زَمَانٌ لَا يَجُوزُ صِيَامُهُ مِثْلَ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ فَهَذَا قَاطِعٌ لِلتَّتَابُعِ وَمُوجِبٌ لِلِاسْتِئْنَافِ وَلِأَنَّ الِاحْتِرَازَ مِنْهُ مُمْكِنٌ وَهَكَذَا لَوْ تَخَلَّلَ صِيَامَهُ شَهْرُ رَمَضَانَ قُطِعَ التَّتَابُعُ فَأَمَّا أَيَّامُ التَّشْرِيقِ فَمَا تَقَدَّمَهُ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ قُطِعَ التَّتَابُعُ فَأَمَّا الِابْتِدَاءُ بِصِيَامِهَا فِي الْكَفَّارَةِ فَقَدْ كَانَ الشَّافِعِيُّ يَرَى فِي الْقَدِيمِ جَوَازَ صِيَامِهَا فِي كَفَّارَةِ تَمَتُّعِهِ لِقَوْلِ اللَّهُ تَعَالَى فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ فِي الحَجِّ ثُمَّ رَجَعَ عَنْهُ فِي الْجَدِيدِ وَمَنَعَ مِنْ صِيَامِهَا لِلْمُتَمَتِّعِ وَغَيْرِهِ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ صِيَامِهَا وَقَوْلِهِ إِنَّهَا أَيَّامُ أكلٍ وشربٍ وبعالٍ فَلَا تَصُومُوهَا فَإِنْ مَنَعَ مِنْ صِيَامِهَا لِلْمُتَمَتِّعِ كَانَ غَيْرُ الْمُتَمَتِّعِ أَوْلَى بِالْمَنْعِ وَإِنْ جَوَّزَ صِيَامَهَا لِلْمُتَمَتِّعِ لَمْ يَجُزْ أَنْ تُصَامَ تَطَوُّعًا لِغَيْرِ سَبَبٍ وَفِي جَوَازِ صِيَامِهَا بِسَبَبٍ مُوجِبٍ وَجْهَانِ

Yang kedua, ia melanjutkan (puasa) dan tidak memulai dari awal, karena puasa dalam keadaan sakit tetap sah, sedangkan dalam keadaan gila dan pingsan tidak sah. Adapun uzur yang berkaitan dengan waktu adalah jika di tengah-tengah masa puasanya terdapat waktu yang tidak boleh berpuasa, seperti hari Idul Fitri dan hari Idul Adha, maka ini memutus kesinambungan (puasa) dan mewajibkan untuk memulai dari awal, karena menghindarinya memungkinkan. Demikian pula jika di tengah-tengah puasanya terdapat bulan Ramadan, maka kesinambungan (puasa) terputus. Adapun hari-hari tasyrik, maka hari-hari yang didahului oleh hari Idul Adha, kesinambungan (puasa) terputus. Adapun memulai puasa pada hari-hari tasyrik dalam kafarah, dahulu Imam Syafi‘i dalam pendapat lama membolehkan puasa pada hari-hari tersebut dalam kafarah tamattu‘, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka berpuasalah tiga hari di waktu haji.” Kemudian beliau menarik pendapatnya dalam pendapat baru dan melarang puasa pada hari-hari tersebut baik bagi orang yang tamattu‘ maupun selainnya, karena larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari-hari itu dan sabdanya: “Sesungguhnya hari-hari itu adalah hari makan, minum, dan bersenang-senang, maka janganlah kalian berpuasa pada hari-hari itu.” Jika dilarang berpuasa bagi orang yang tamattu‘, maka selain tamattu‘ lebih utama untuk dilarang. Dan jika dibolehkan puasa bagi orang yang tamattu‘, maka tidak boleh puasa sunnah tanpa sebab pada hari-hari itu. Adapun mengenai kebolehan puasa pada hari-hari itu karena sebab yang mewajibkan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ كَالْمُتَمَتِّعِ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي السَّبَبِ الْمُوجِبِ

Salah satunya membolehkan, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, seperti halnya orang yang melakukan tamattu‘, karena keduanya memiliki sebab yang sama yang mewajibkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا تُجْزِئُ لِأَنَّ صِيَامَ التَّمَتُّعِ مُخْتَصٌّ بِأَيَّامِ الْحَجِّ وَصِيَامَ غَيْرِهِ لَا يَخْتَصُّ بِهَا وَأَمَّا إِذَا كَانَ عَلَيْهِ صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ التَّتَابُعَ فِيهَا غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ لَمْ يَمْنَعِ الْفِطْرُ فِي تَضَاعِيفِهَا مِنْ جَوَازِ الْبِنَاءِ

Pendapat kedua: tidak mencukupi, karena puasa tamattu‘ itu khusus pada hari-hari haji, sedangkan puasa selainnya tidak dikhususkan pada hari-hari tersebut. Adapun jika seseorang wajib berpuasa tiga hari sebagai kafarat sumpah, maka jika dikatakan bahwa berturut-turut dalam puasa tersebut tidak disyaratkan, maka berbuka di sela-selanya tidak menghalangi bolehnya melanjutkan puasa.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ التَّتَابُعَ فِيهَا شَرْطٌ مُسْتَحَقٌّ كَانَ الْفِطْرُ فِيهَا بِالْحَيْضِ قَاطِعًا لِلتَّتَابُعِ قَوْلًا وَاحِدًا بِخِلَافِهِ في كفارة القتل لأن لتحرز مِنْهُ بِصِيَامِهَا فِي أَوَّلِ الطُّهْرِ مُمْكِنٌ لِأَنَّ أَقَلَّهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا وَإِنْ أَفْطَرَ فِيهَا بِمَرَضٍ كَانَ الْبِنَاءُ عَلَى قَوْلَيْنِ كَفِطْرِهِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ لِأَنَّ التَّحَرُّزَ مِنْ هُجُومِ الْمَرَضِ غير ممكن وكذلك يكون حكم فطره السفر وَالْجُنُونِ كَحُكْمِهِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ سَوَاءٌ وَلَا يُجْزِئُ صَوْمُهُ فِي الْكَفَّارَةِ إِلَّا بِنْيَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ وَتُجَدَّدُ النِّيَّةُ لِكُلِّ يَوْمٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika dikatakan bahwa berturut-turut dalam hal ini adalah syarat yang wajib dipenuhi, maka berbuka karena haid di dalamnya secara sepakat memutuskan keterurutan, berbeda dengan kafarat pembunuhan, karena masih memungkinkan untuk menghindarinya dengan berpuasa di awal masa suci, sebab paling sedikit masa sucinya adalah lima belas hari. Jika berbuka karena sakit, maka ada dua pendapat mengenai kelanjutan puasanya, seperti halnya berbuka dalam kafarat pembunuhan, karena tidak mungkin menghindari datangnya penyakit. Demikian pula hukum berbuka karena safar dan gila, sama dengan hukumnya dalam kafarat pembunuhan. Puasa dalam kafarat tidak sah kecuali dengan niat sebelum fajar, dan niat harus diperbarui untuk setiap hari. Allah Maha Mengetahui.

بَابُ الْوَصِيَّةِ بِكَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ وَالزَّكَاةِ

Bab Wasiat tentang Kafarat Sumpah dan Zakat

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مَنْ لَزِمَهُ حَقُّ الْمَسَاكِينِ فِي زكاةٍ أَوْ كفارةٍ يمينٍ أَوْ حَجٍّ فَذَلِكَ كُلُّهُ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ يُحَاصُ بِهِ الْغُرَمَاءُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa yang wajib menunaikan hak orang-orang miskin dalam zakat atau kafarat sumpah atau haji, maka semuanya itu diambil dari harta pokoknya dan para kreditur berhak mendapat bagian darinya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَا أَخَصُّ الْحُقُوقِ بِتَرِكَةِ الْمَيِّتِ فَهُوَ الْكَفَنُ وَمؤونَةُ الدَّفْنِ يُقَدَّمُ عَلَى حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ وَإِنِ اسْتَوْعَبَتْ جَمِيعَ التَّرِكَةِ وَأَمَّا غَيْرُهُ مِنَ الْحُقُوقِ فَضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun hak yang paling khusus dari harta peninggalan mayit adalah kain kafan dan biaya pemakaman, yang didahulukan atas hak Allah Ta‘ala dan hak manusia, meskipun keduanya menghabiskan seluruh harta peninggalan. Adapun selain itu dari hak-hak, maka terbagi menjadi dua macam.”

أَحَدُهُمَا مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ كَالدُّيُونِ فَلَا خِلَافَ أَنَّهَا لَا تَسْقُطُ بِالْمَوْتِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوْصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَفْسُ الْمَيِّتِ معلقةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى وَأَمَّا حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الزِّكْوَاتِ وَالْكَفَّارَاتِ وَالْحَجِّ وَالنُّذُورِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا لَا تَسْقُطُ بِالْمَوْتِ سَوَاءٌ وَجَبَتْ بِاخْتِيَارِهِ كَالْكَفَّارَاتِ وَالنُّذُورِ أَوْ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ كَالزَّكَوَاتِ وَالْحَجِّ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَسْقُطُ جَمِيعُهَا بِالْمَوْتِ وَفَرَّقَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ بَيْنَ مَا وَجَبَ بِاخْتِيَارِهِ فَسَقَطَ بِالْمَوْتِ وَمَا وَجَبَ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فَلَا يَسْقُطُ بِالْمَوْتِ وَعَكَسَ بَعْضُهُمْ هَذَا فَأَسْقَطَ بِالْمَوْتِ مَا وَجَبَ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَمْ يُسْقِطْ بِهِ مَا وَجَبَ بِاخْتِيَارِهِ وَقَدْ حَكَى الشَّافِعِيُّ هَذِهِ الْمَذَاهِبَ كُلَّهَا فِي كِتَابِ الْأُمِّ وَقَدْ قَدَّمْنَا الْكَلَامَ مَعَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي كِتَابِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ بِمَا أَغْنَى عَنِ الْإِعَادَةِ فإذا تقررت هذه الجملة لم يحل حَالُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ فِيمَا لَزِمَهُ مِنَ الْحُقُوقِ مِنْ ثَلَاثَةِ أحوالٍ

Pertama, hak-hak yang berkaitan dengan manusia seperti utang, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa hak-hak tersebut tidak gugur karena kematian, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau (setelah dibayar) utang,” dan sabda Nabi ﷺ: “Jiwa orang yang meninggal tergantung dengan utangnya sampai utang itu dilunasi.” Adapun hak-hak Allah Ta‘ala seperti zakat, kafarat, haji, dan nazar, menurut mazhab Syafi‘i, hak-hak tersebut tidak gugur karena kematian, baik yang wajib karena pilihannya seperti kafarat dan nazar, maupun yang wajib bukan karena pilihannya seperti zakat dan haji. Abu Hanifah berpendapat bahwa semuanya gugur karena kematian. Sebagian fuqaha membedakan antara yang wajib karena pilihannya, maka gugur karena kematian, dan yang wajib bukan karena pilihannya, maka tidak gugur karena kematian. Sebagian lain berpendapat sebaliknya, yaitu yang gugur karena kematian adalah yang wajib bukan karena pilihannya, sedangkan yang wajib karena pilihannya tidak gugur. Syafi‘i telah meriwayatkan semua pendapat ini dalam kitab Al-Umm. Kami telah membahas pendapat Abu Hanifah dalam kitab zakat dan haji sehingga tidak perlu diulang di sini. Jika kesimpulan ini telah jelas, maka keadaan seseorang setelah kematiannya terkait hak-hak yang menjadi tanggungannya terbagi menjadi tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ جَمِيعُهَا مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ فَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Salah satunya adalah jika seluruhnya termasuk hak-hak manusia, maka hal itu terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا أَنْ يَتَعَلَّقَ جَمِيعُهَا بِالذِّمَّةِ فَجَمِيعُ أَرْبَابِهَا أُسْوَةٌ فِي التَّرِكَةِ إِنِ اتَّسَعَتْ لَهَا قُضِيَ جَمِيعُهَا وَإِنْ ضَاقَتْ عَنْهَا تَحَاصُّوهَا بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ دُيُونِهِمْ

Salah satunya adalah apabila seluruhnya berkaitan dengan dzimmah, maka semua pemiliknya memiliki kedudukan yang sama dalam warisan; jika warisan itu cukup untuk melunasi semuanya, maka seluruh utang tersebut dibayarkan; dan jika tidak mencukupi, maka mereka berbagi secara proporsional sesuai dengan besarnya utang masing-masing.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ جَمِيعُهَا مُتَعَلِّقَةً بِالْعَيْنِ كَالرَّهْنِ وَالْعَبْدِ الْجَانِي فَإِنِ اخْتَلَفَتِ الْعَيْنَانِ اخْتَصَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِالْعَيْنِ الَّتِي تَعَلَّقَ حَقُّهُ بِهَا وَإِنْ تَعَلَّقَتْ حُقُوقُهُمْ بِعَيْنٍ وَاحِدَةٍ اشْتَرَكُوا فِيهَا بِقَدْرِ حُقُوقِهِمْ مِنْهَا

Jenis kedua adalah apabila seluruh hak tersebut berkaitan dengan objek (‘ain), seperti rahn (gadai) dan budak yang melakukan pelanggaran. Jika objeknya berbeda, maka masing-masing dari mereka memiliki kekhususan terhadap objek yang menjadi tempat haknya. Namun, jika hak-hak mereka berkaitan dengan satu objek yang sama, maka mereka berbagi di dalamnya sesuai dengan kadar hak masing-masing atas objek tersebut.

وَالضَّرْبُ الثالث أن يكون بَعْضُ الْحُقُوقِ ثَابِتًا فِي الذِّمَّةِ وَبَعْضُهَا مُتَعَلِّقًا بالعين فَيُقَدَّمُ مَا تَعَلَّقَ بِالْعَيْنِ عَلَى مَا تَعَلَّقَ بِالذِّمَّةِ لِأَنَّ صَاحِبَ الْعَيْنِ قَدْ جَمَعَ بَيْنَ حقين وتفرد صاحب الذمة بأحدهما

Golongan ketiga adalah apabila sebagian hak itu tetap sebagai tanggungan (dzimmah) dan sebagian lagi terkait dengan barang (‘ain), maka yang terkait dengan barang didahulukan atas yang terkait dengan tanggungan, karena pemilik barang telah menggabungkan dua hak, sedangkan pemilik tanggungan hanya memiliki salah satunya.

فصل

Bab

الحال الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ جَمِيعُهَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى فَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Keadaan kedua adalah apabila seluruhnya termasuk dalam hak-hak Allah Ta‘ala, maka hal itu terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا أَنْ يَتَعَلَّقَ جَمِيعُهَا بِالذِّمَّةِ كَالْحَجِّ وَالْكَفَّارَةِ وَالزَّكَاةِ بَعْدَ تَلَفِ الْحَالِ وَالنُّذُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالذِّمَّةِ فَإِنِ اتَّسَعَتِ التَّرِكَةُ لِجَمِيعِهَا قُضِيَتْ فَإِنْ فَضُلَ عَنْهَا شَيْءٌ كَانَ لِلْوَرَثَةِ وَإِنِ اسْتَوْعَبَتِ التَّرِكَةَ فَلَا شَيْءَ لِلْوَرَثَةِ وَإِنْ ضَاقَتِ التَّرِكَةُ عَنْهَا قُسِّمَتِ التَّرِكَةُ عَلَى الْحُقُوقِ بِالْحِصَصِ فَإِنْ كَانَ مَا خَرَجَ بِقِسْطِ الْحَجِّ يُمْكِنُ أَنْ يُحَجَّ بِهِ عَنْهُ من ميقات بلده أخرج عنه وإن لَمْ يُمْكِنْ سَقَطَ وَتَدَبَّرَ مِنَ التَّرِكَةِ عَلَى مَا سِوَاهُ مِنَ الْحُقُوقِ وَكَذَلِكَ حُكْمُ الْعِتْقِ فِي الْكَفَّارَةِ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَخْيِيرٌ كَالْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ وَالظِّهَارِ إِذَا ضَاقَ قِسْطُهُ عَنْ تَحْرِيرِ رَقَبَةٍ سَقَطَ حُكْمُهُ وَعَادَ عَلَى مَا سِوَاهُ

Salah satunya adalah apabila seluruhnya berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), seperti haji, kafarat, zakat setelah hilangnya harta, dan nazar yang berkaitan dengan tanggungan. Jika harta warisan mencukupi untuk semuanya, maka seluruh hak tersebut dipenuhi. Jika ada kelebihan setelah itu, sisanya menjadi milik ahli waris. Jika harta warisan habis untuk memenuhi hak-hak tersebut, maka tidak ada bagian untuk ahli waris. Jika harta warisan tidak mencukupi untuk semuanya, maka harta warisan dibagi secara proporsional sesuai hak masing-masing. Jika bagian yang keluar untuk haji memungkinkan untuk melaksanakan haji dari miqat negerinya, maka dikeluarkan untuk itu; jika tidak memungkinkan, maka gugur kewajibannya dan dialihkan kepada hak-hak lain dari harta warisan. Demikian pula hukum memerdekakan budak dalam kafarat, jika tidak ada pilihan lain, seperti memerdekakan budak dalam kafarat pembunuhan dan zhihar; jika bagian yang tersedia tidak cukup untuk memerdekakan seorang budak, maka kewajibannya gugur dan dialihkan kepada hak-hak lain.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ جَمِيعُهَا مُتَعَلِّقَةً بِالْعَيْنِ كَالزَّكَاةِ فِي نِصَابٍ مَوْجُودٍ وَالنَّذْرِ فِي عِتْقِ عَبْدٍ مُعَيَّنٍ أَوِ الصَّدَقَةِ بِمَالٍ مُعَيَّنٍ فَإِنْ تَغَايَرَتِ الْأَعْيَانُ اخْتَصَّتْ كُلُّ عَيْنٍ بِالْحَقِّ الْمُتَعَلِّقِ بِهَا وَإِنِ اتَّفَقَتْ قُسِّطَتْ عَلَى الْحُقُوقِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِهَا

Jenis kedua adalah semua hak yang berkaitan dengan objek tertentu, seperti zakat pada nisab yang ada, nazar untuk memerdekakan budak tertentu, atau sedekah dengan harta tertentu. Jika objek-objek tersebut berbeda, maka setiap objek khusus dengan hak yang berkaitan dengannya. Namun jika objek-objek tersebut sama, maka dibagi secara proporsional kepada hak-hak yang berkaitan dengannya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَخْتَصَّ بَعْضُهَا بِالذِّمَّةِ وَيَتَعَلَّقَ بَعْضُهَا بِالْعَيْنِ فَالْمُتَعَلِّقُ بِالْعَيْنِ أَحَقُّ أَنْ يُقَدَّمَ عَلَى مَا تَعَلَّقَ بِالذِّمَّةِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ

Jenis yang ketiga adalah apabila sebagian hak itu khusus berkaitan dengan dzimmah dan sebagian lainnya berkaitan dengan ‘ain (objek tertentu), maka hak yang berkaitan dengan ‘ain lebih berhak untuk didahulukan daripada yang berkaitan dengan dzimmah, sebagaimana telah kami sebutkan dalam hak-hak manusia.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تُجْمَعَ فِي تَرِكَتِهِ حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ فَهَذَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ

Keadaan ketiga adalah apabila dalam harta warisannya terkumpul hak-hak Allah Ta‘ala dan hak-hak manusia, maka hal ini terbagi menjadi empat macam.

أَحَدُهَا أَنْ تَكُونَ حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى مُتَعَلِّقَةً بِالْعَيْنِ وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ مُخْتَصَّةً بِالذِّمَّةِ فَيُقَدَّمَ حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقَ بِالْعَيْنِ عَلَى حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالذِّمَّةِ

Salah satunya adalah bahwa hak-hak Allah Ta‘ala berkaitan dengan benda (‘ain), sedangkan hak-hak manusia khusus pada tanggungan (dzimmah), maka hak Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan benda (‘ain) didahulukan atas hak-hak manusia yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى مُتَعَلِّقَةً بِالذِّمَّةِ وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ مُتَعَلِّقَةً بِالْعَيْنِ فَيُقَدَّمَ حُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ عَلَى حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى

Jenis yang kedua adalah apabila hak-hak Allah Ta‘ala berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), sedangkan hak-hak manusia berkaitan dengan benda (‘ain), maka hak-hak manusia didahulukan atas hak-hak Allah Ta‘ala.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ تَكُونَ حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ مُتَعَلِّقَةً بِالذِّمَّةِ فَفِيهَا ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Jenis yang ketiga adalah apabila hak-hak Allah Ta‘ala dan hak-hak manusia berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا إنَّ حُقُوقَ اللَّهِ تَعَالَى مُقَدَّمَةٌ عَلَى حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى وَلِأَنَّهَا حُقُوقٌ لَا تَسْقُطُ بِالْإِبْرَاءِ فَكَانَتْ أَوْكَدَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ السَّاقِطَةِ بِالْإِبْرَاءِ

Salah satunya adalah bahwa hak-hak Allah Ta‘ala didahulukan atas hak-hak manusia, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan,” dan karena hak-hak tersebut tidak gugur dengan pembebasan, sehingga lebih kuat daripada hak-hak manusia yang bisa gugur dengan pembebasan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ مُقَدَّمَةٌ عَلَى حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak-hak manusia didahulukan atas hak-hak Allah Ta‘ala karena dua hal.

أَحَدُهُمَا إنَّ نُفُوسَ الْآدَمِيِّينَ أَشَحُّ وَاللَّهُ تَعَالَى بِحُقُوقِهِ أَسْمَحُ وَلِذَلِكَ جَعَلَ لَهَا أَبْدَالًا وَأَسْقَطَهَا بِالشُّبَهَاتِ

Salah satunya adalah bahwa jiwa manusia itu lebih kikir, sedangkan Allah Ta‘ala lebih pemurah terhadap hak-hak-Nya. Oleh karena itu, Allah menjadikan bagi hak-hak tersebut pengganti dan menggugurkannya karena adanya syubhat.

وَالثَّانِي إنَّ مُسْتَحِقِّيهَا مُتَعَيَّنُونَ؟ وَحُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَتَعَيَّنُ مُسْتَحِقُّهَا وَمَا تَعَيَّنَ مُسْتَحِقُّهُ أَوْكَدُ

Kedua, apakah para penerima zakat itu sudah ditentukan? Hak-hak Allah Ta‘ala tidak ditentukan siapa penerimanya, sedangkan sesuatu yang sudah ditentukan penerimanya itu lebih kuat.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ إنَّ كِلَا الْحَقَّيْنِ سَوَاءٌ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الْوُجُوبِ وَتَسَاوِيهِمَا فِي الِاسْتِحْقَاقِ فَتُقَسَّطُ التَّرِكَةُ بَيْنَهُمَا عَلَى قَدْرِ الْحَقَّيْنِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa kedua hak tersebut sama, karena keduanya sama-sama wajib dan setara dalam hal berhak, sehingga harta warisan dibagi di antara keduanya sesuai dengan kadar masing-masing hak.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ أَنْ تَكُونَ حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ مُتَعَلِّقَةً بِالْعَيْنِ فَإِنْ تَغَايَرَتِ اخْتَصَّتْ كُلُّ عَيْنٍ بِمُسْتَحَقِّهَا وَإِنِ اتَّفَقَتْ فِي عَيْنٍ وَاحِدَةٍ فَقَدْ أَشَارَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَى وجهين

Golongan keempat adalah apabila hak-hak Allah Ta‘ala dan hak-hak manusia berkaitan dengan suatu benda (‘ain). Jika keduanya berbeda, maka setiap benda (‘ain) khusus dengan hak yang menjadi bagiannya masing-masing. Namun jika keduanya berkumpul pada satu benda (‘ain) yang sama, maka Abu ‘Ali Ibn Abi Hurairah telah menunjukkan dua pendapat.

أحدهما أن يَكُونُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ كَالْمُتَعَلِّقِ بِالذِّمَّةِ

Yang pertama adalah bahwa hal itu, menurut tiga pendapat, seperti sesuatu yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ يُقَدِّمُ فِيهَا حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ عَلَى حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهَا فِي أيديهم

Adapun pendapat kedua, yaitu bahwa dalam hal ini hak-hak manusia didahulukan atas hak-hak Allah Ta‘ala secara ijma‘, karena hak-hak tersebut berada dalam kekuasaan mereka.

مسألة

Masalah

قال الشافعي فَإِنْ أَوْصَى بِأَنْ يُعْتَقَ عَنْهُ فِي كفارةٍ فَإِنْ حَمَلَ ثُلُثُهُ الْعِتْقَ أُعْتِقَ عَنْهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمِلْهُ الثُّلُثُ أُطْعِمَ عَنْهُ مِنْ رَأْسِ ماله

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berwasiat agar dimerdekakan budak untuknya sebagai kafarat, maka jika sepertiga hartanya cukup untuk memerdekakan, maka budak itu dimerdekakan untuknya. Namun jika sepertiga hartanya tidak mencukupi, maka diberikan makanan sebagai kafarat dari seluruh hartanya.

قال الماوردي وهذا كما قال إن مَاتَ وَعَلَيْهِ كَفَّارَةٌ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا أَنْ تَكُونَ عَلَى التَّرْتِيبِ أَوْ عَلَى التَّخْيِيرِ فَإِنْ كانت على الترتيب مثل كفارة وَالظِّهَارِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِيهَا مِنْ أَنْ يُوصِيَ بِهَا أَوْ لَا يُوصِيَ فَإِنْ لَمْ يُوصِ أُخْرِجَتِ الْكَفَّارَةُ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ فَإِنِ احْتَمَلَ الْعِتْقَ صَارَ مِنْ أَهْلِهِ فَأُعْتِقَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ تَحْتَمِلْ تَرِكَتُهُ الْعِتْقَ صَارَ مُعْسِرًا بِهِ فَلَا يَعْدِلُ عَنْهُ إِلَى الصِّيَامِ؟ لِأَنَّهُ لَا تَصِحُّ مِنْهُ النِّيَابَةُ وَعَدَلَ عَنْهُ إِلَى الْإِطْعَامِ وَإِنْ أَوْصَى بِالتَّكْفِيرِ عَنْهُ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي الْوَصِيَّةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أحوالٍ

Al-Mawardi berkata: Ini sebagaimana yang telah dikatakan, jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban kafarat, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: kafarat tersebut wajib dilakukan secara berurutan (tartīb) atau boleh dipilih (takhyīr). Jika kafarat tersebut wajib dilakukan secara berurutan, seperti kafarat zhihār, maka keadaannya tidak lepas dari dua hal: apakah ia berwasiat untuk menunaikannya atau tidak. Jika ia tidak berwasiat, maka kafarat tersebut dikeluarkan dari harta peninggalannya. Jika hartanya memungkinkan untuk membebaskan budak, maka ia termasuk orang yang mampu, sehingga dibebaskan budak atas namanya. Namun jika harta peninggalannya tidak cukup untuk membebaskan budak, maka ia dianggap tidak mampu, sehingga tidak boleh beralih kepada puasa, karena puasa tidak dapat diwakilkan oleh orang lain. Maka beralihlah kepada memberi makan. Jika ia berwasiat agar kafaratnya ditunaikan, maka wasiat tersebut tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَجْعَلَهُ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ فَيَكُونَ مِنْ أَصْلِ التَّرِكَةِ وَتَكُونَ الْوَصِيَّةُ بِهِ تَأْكِيدًا

Salah satunya adalah menjadikannya sebagai bagian dari modal pokoknya, sehingga termasuk dalam asal harta warisan, dan wasiat terhadapnya menjadi penegasan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهُ مِنْ ثُلُثِهِ فَتَصِيرَ الْوَصِيَّةُ فِي الثُّلُثِ وَهُوَ بِهَا مرفهٌ عَلَى وَرَثَتِهِ فإن وفى العتق من الثلث والأكمل مِنْ رَأْسِ الْمَالِ

Keadaan kedua adalah jika ia menjadikannya dari sepertiga hartanya, maka wasiat itu menjadi pada sepertiga harta, dan dengan demikian ia memberikan keringanan kepada para ahli warisnya. Jika pembebasan budak itu dapat dipenuhi dari sepertiga harta, maka itu sudah cukup, namun yang lebih utama adalah dari seluruh harta pokok.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُطْلِقَ الْوَصِيَّةَ بِهِ وَلَا يُسَمِّيَهُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ وَلَا مِنَ الثُّلُثِ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Keadaan ketiga adalah ketika wasiat itu dinyatakan secara mutlak tanpa menyebutkan apakah dari pokok harta atau dari sepertiga harta, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَكُونُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ حَمْلًا لِلْوَصِيَّةِ عَلَى التَّأْكِيدِ

Salah satunya adalah berasal dari pokok harta sebagai bentuk penegasan terhadap wasiat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ مِنَ الثُّلُثِ حَمْلًا لِلْوَصِيَّةِ عَلَى التَّأْثِيرِ وَالتَّرْفِيهِ

Pendapat kedua adalah bahwa bagian sepertiga itu berlaku jika wasiat dimaksudkan untuk memberikan pengaruh dan keringanan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنْ يُنْظَرَ فَإِنْ قَرَنَ لَهُ فِي الْوَصِيَّةِ بِمَا يَكُونُ فِي الثُّلُثِ صَارَ الْعِتْقُ فِي الثُّلُثِ وَإِنْ قَرَنَ بِهِ مَا يَكُونُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ صَارَ الْعِتْقُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ اعْتِبَارًا بِالْجَمْعِ

Pendapat ketiga adalah bahwa perlu dilihat: jika dalam wasiatnya ia mengaitkan dengan sesuatu yang berasal dari sepertiga harta, maka pembebasan budak itu berlaku pada sepertiga harta; dan jika ia mengaitkannya dengan sesuatu yang berasal dari seluruh harta pokok, maka pembebasan budak itu berlaku dari seluruh harta pokok, berdasarkan pertimbangan penggabungan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِنْ كَانَتِ الْكَفَّارَةُ عَلَى التَّخْيِيرِ مِثْلَ كَفَّارَةِ الْيَمِينِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِيهَا مِنْ أَنْ يُوصِيَ بِهَا أَوْ لَا يُوصِيَ فَإِنْ لَمْ يُوصِ بِهَا وَجَبَ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ أَقَلَّ لأمرين مِنَ الْإِطْعَامِ أَوِ الْكِسْوَةِ فَإِنْ عَدَلَ الْوَارِثُ إِلَى أَعْلَاهُمَا أَجْزَأَهُ وَإِنْ عَدَلَ عَنْهُمَا إِلَى الْعِتْقِ فَفِي إِجْزَائِهِ وَجْهَانِ

Jika kafarat tersebut bersifat pilihan, seperti kafarat sumpah, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia berwasiat tentangnya atau tidak. Jika ia tidak berwasiat, maka wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya yang paling sedikit dari dua hal, yaitu memberi makan atau memberi pakaian. Jika ahli waris memilih yang lebih utama di antara keduanya, maka itu sudah mencukupi. Namun jika ia memilih selain keduanya, yaitu membebaskan budak, maka dalam hal mencukupinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُجْزِئُ لِأَنَّهُ يَقُومُ فِي التَّكْفِيرِ مَقَامَ الْمَوْرُوثِ فَاسْتَحَقَّ التَّخْيِيرَ

Salah satunya mencukupi karena ia menempati posisi yang diwariskan dalam hal penebusan, sehingga berhak mendapatkan pilihan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ لَا يُجْزِئُ لِأَنَّهُ أُدْخِلَ فِي وِلَايَةِ مَنْ لَا يَسْتَحِقُّ عِتْقَهُ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ هَذَانِ الْوَجْهَانِ مُخَرَّجَيْنِ مِنَ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِيمَا أَوْجَبَهُ التَّخْيِيرُ فِي كَفَّارَةِ الْيَمِينِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu tidak sah karena dimasukkan ke dalam kekuasaan orang yang tidak berhak memerdekakannya, dan tampaknya kedua pendapat ini diambil dari perbedaan dua pendapat mengenai apa yang diwajibkan oleh pilihan dalam kafārah sumpah.

فَإِنْ قِيلَ بِوُجُوبِ أَحَدِهِمَا لَا بِعَيْنِهِ لَمْ يَجُزِ الْعِتْقُ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَعَيَّنْ فِي الْوُجُوبِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ مُوجِبٌ لِجَمِيعِهَا وَلَهُ إِسْقَاطُ وُجُوبِهَا بِإِخْرَاجِ أَحَدِهَا أَجْزَأَ وَإِنْ وَصَّى بِالتَّكْفِيرِ عَنْهُ فَإِنْ لَمْ يُعَيِّنْ مِمَّا يُكَفِّرُ بِهِ كَانَ كَمَنْ لَمْ يُوصِ فِيمَا يُكَفِّرُ بِهِ عَنْهُ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى وَتَكُونُ الْوَصِيَّةُ إِذْكَارًا أَوْ تَوْكِيدًا وَإِنْ عَيَّنَ مَا يُكَفِّرُ بِهِ عَنْهُ لَمْ يَخْلُ مَا عَيَّنَهُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أحوالٍ

Jika dikatakan bahwa yang wajib adalah salah satunya saja, bukan secara tertentu, maka tidak sah membebaskan budak karena belum ditentukan secara pasti dalam kewajibannya. Namun jika dikatakan bahwa hal itu mewajibkan semuanya, dan seseorang boleh menggugurkan kewajiban tersebut dengan melaksanakan salah satunya, maka itu sudah mencukupi. Jika seseorang berwasiat agar dilakukan kafarat untuknya, namun ia tidak menentukan kafarat apa yang harus dilakukan, maka hukumnya seperti orang yang tidak berwasiat tentang kafarat untuk dirinya, sehingga kembali kepada ketentuan yang telah lalu, dan wasiat tersebut hanya sebagai pengingat atau penegasan saja. Namun jika ia menentukan kafarat apa yang harus dilakukan untuknya, maka apa yang ia tentukan itu tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُعَيِّنَ الْإِطْعَامَ الَّذِي هُوَ أَقَلُّ فَيُكَفِّرُ عَنْهُ بِالْإِطْعَامِ وَيَكُونُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ إِلَّا أَنْ يَجْعَلَهُ فِي الثُّلُثِ فَيَصِيرَ بِالْوَصِيَّةِ مِنَ الثُّلُثِ

Salah satunya adalah menentukan makanan yang paling sedikit, lalu menunaikan kafarat dengan makanan tersebut, dan itu diambil dari harta pokok kecuali jika ia menjadikannya pada sepertiga harta, maka itu menjadi bagian wasiat dari sepertiga harta.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُوصِيَ بِالْكِسْوَةِ وَهُوَ فَوْقَ الْإِطْعَامِ وَدُونَ الْعِتْقِ فَيَكُونُ مَا زَادَ عَلَى قِيمَةِ الْإِطْعَامِ مِنَ الثُّلُثِ وَهَلْ يَصِيرُ قِدْرُ قِيمَةِ الْإِطْعَامِ بِذَلِكَ مِنَ الثُّلُثِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ نَذْكُرُهُمَا

Keadaan kedua adalah apabila seseorang berwasiat dengan pemberian pakaian, yang nilainya lebih tinggi dari makanan namun di bawah pembebasan budak. Maka kelebihan nilai atas makanan diambil dari sepertiga harta. Adapun apakah nilai makanan itu sendiri juga diambil dari sepertiga harta atau tidak, terdapat dua pendapat yang akan kami sebutkan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُوصِيَ بِالْعِتْقِ فَيَكُونَ مَا زَادَ عَلَى قِيمَةِ الْإِطْعَامِ مِنَ الْعِتْقِ مِنَ الثُّلُثِ وَفِي قَدْرِ قِيمَةِ الْإِطْعَامِ وَجْهَانِ

Keadaan ketiga adalah apabila seseorang berwasiat untuk memerdekakan budak, maka kelebihan dari nilai makanan yang berasal dari pembebasan budak itu diambil dari sepertiga harta, dan dalam hal nilai makanan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ فِي الثُّلُثِ أَيْضًا فَيَصِيرُ جَمِيعُ قِيمَةِ الْعِتْقِ مِنَ الثُّلُثِ فَإِنِ امْتَنَعَ لَهُ الثُّلُثُ أُعْتِقَ عَنْهُ وَإِنْ ضَاقَ عَنْهُ الثُّلُثُ بطلب الْوَصِيَّةُ بِالْعِتْقِ وَأُطْعِمَ عَنْهُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقَيِّمَ قِيمَةَ الْإِطْعَامِ إِلَى مَا عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ مِنَ الْعِتْقِ لِيَسْتَكْمِلَ بِهِ جَمِيعَ الْعِتْقِ هَذَا هُوَ الْأَظْهَرُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالْمُعَوَّلُ مِنْ قَوْلِ أَكْثَرِ أَصْحَابِهِ

Salah satunya juga berada pada sepertiga, sehingga seluruh nilai pembebasan budak berasal dari sepertiga harta. Jika sepertiga itu cukup, maka budak tersebut dimerdekakan karenanya. Namun jika sepertiga itu tidak mencukupi untuk membebaskan budak, maka wasiat pembebasan budak tetap dijalankan dan diberikan makanan dari harta pokok, dan tidak boleh menilai harga makanan untuk menutupi kekurangan sepertiga dari pembebasan budak agar seluruh pembebasan budak dapat terpenuhi. Inilah pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi‘i dan yang dipegang oleh mayoritas pengikutnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إنَّهُ يَجْعَلُ فِي الثُّلُثِ مِنْ قِيمَةِ الْعِتْقِ مَا زَادَ عَلَى قِيمَةِ الْإِطْعَامِ وَيَكُونُ قَدْرُ قِيمَةِ الْإِطْعَامِ مُسْتَحَقًّا مِنْ رَأْسِ الْمَالِ لِاسْتِحْقَاقِ إِخْرَاجِهِ مِنْ غَيْرِ وَصِيَّةٍ فَإِذَا ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْ قِيمَةِ الْعِتْقِ وَكَانَ فِي قِيمَةِ الْإِطْعَامِ مَا يَسْتَكْمِلُ بِهِ قِيمَةَ الْعِتْقِ أُعْتِقَ عَنْهُ وَإِنْ عَجَزَ عَنْ قِيمَةِ الْعِتْقِ بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِالْعِتْقِ وَعُدِلَ عَنْهُ إِلَى الْإِطْعَامِ الَّذِي هُوَ فَرْضُهُ مِنْ غَيْرِ وَصِيَّةٍ وَيَكُونُ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ لِأَنَّ الثُّلُثَ مَحَلُّ الْوَصَايَا دُونَ الْفُرُوضِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, yang dinukil dari Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa dalam sepertiga harta, diambil dari nilai pembebasan budak apa yang melebihi nilai pemberian makanan, dan besaran nilai pemberian makanan menjadi hak yang diambil dari pokok harta karena kewajiban mengeluarkannya tanpa wasiat. Maka jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk nilai pembebasan budak, sementara dalam nilai pemberian makanan terdapat jumlah yang dapat menyempurnakan nilai pembebasan budak, maka budak tersebut dimerdekakan untuknya. Namun jika tidak mampu memenuhi nilai pembebasan budak, maka wasiat untuk memerdekakan budak batal dan dialihkan kepada pemberian makanan yang merupakan kewajibannya tanpa wasiat, dan itu diambil dari pokok hartanya, karena sepertiga harta adalah tempat untuk wasiat, bukan untuk kewajiban. Allah Mahatahu.

بَابُ كَفَّارَةِ يَمِينِ الْعَبْدِ بَعْدَ أَنْ يُعْتَقَ

Bab Kafarat Sumpah Budak Setelah Ia Dimerdekakan

مسألة

Masalah

قال الشافعي لَا يُجْزِئُ الْعَبْدَ فِي الْكَفَّارَةِ إِلَّا الصَّوْمُ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ مَالًا

Syafi‘i berkata, tidak cukup bagi seorang budak dalam kafārah kecuali puasa, karena ia tidak memiliki harta.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا وَجَبَتْ عَلَى الْعَبْدِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ أَوْ ظِهَارٍ أَوْ قَتْلٍ لَمْ يُجْزِهِ إِذَا لم يملكه السَّيِّدُ مَالًا أَنْ يُكَفِّرَ إِلَّا بِالصِّيَامِ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْمَالِ وَهُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنَ الْحُرِّ الْمُعْسِرِ الَّذِي يَصِحُّ مِنْهُ تَمَلُّكُ الْمَالِ وَإِنْ مَلَّكَهُ السَّيِّدُ مَالًا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ بِهِ إِنْ لَمْ يَأْذَنْ لَهُ السَّيِّدُ فِي التَّكْفِيرِ بِهِ سَوَاءٌ حُكِمَ لَهُ بِمِلْكِ الْمَالِ أَوْ لَمْ يُحْكَمْ لِأَنَّهُ محجورٌ عَلَيْهِ فِي حَقِّ السَّيِّدِ وَإِنْ أَذِنَ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي الْعَبْدِ هَلْ يَمْلِكُ إِذَا مَلَكَ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ini benar, apabila seorang budak wajib menunaikan kafarat sumpah, atau zhihar, atau pembunuhan, maka tidak sah baginya untuk menunaikan kafarat kecuali dengan puasa, jika tuannya tidak memberinya harta, karena ia tidak mampu memiliki harta. Keadaannya lebih buruk daripada orang merdeka yang tidak mampu, yang masih mungkin memiliki harta. Jika tuannya memberikan harta kepadanya, maka ia tidak boleh menunaikan kafarat dengan harta tersebut kecuali jika tuannya mengizinkannya untuk menunaikan kafarat dengan harta itu, baik secara hukum ia dianggap memiliki harta tersebut maupun tidak, karena ia tetap berada dalam penguasaan tuannya. Jika tuannya mengizinkannya untuk menunaikan kafarat dengan harta, maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i tentang budak: apakah ia memiliki harta jika ia telah diberikan harta atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ وَبِهِ قَالَ فِي الْقَدِيمِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالْحِجَازِيِّينَ

Salah satunya memiliki (hak) jika telah dimiliki, dan pendapat inilah yang beliau kemukakan dalam pendapat lama, dan ini adalah mazhab Malik serta para ulama Hijaz.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَمْلِكُ وَإِنْ ملك وَبِهِ قَالَ فِي الْجَدِيدِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالْعِرَاقِيِّينَ وَقَدْ مَضَى تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فِي غير موضع

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak memiliki (hak kepemilikan), meskipun telah memilikinya. Inilah pendapat yang dikemukakan dalam pendapat baru (al-jadid), dan merupakan mazhab Abu Hanifah serta para ulama Irak. Penjelasan mengenai dua pendapat ini telah disebutkan di beberapa tempat lain.

فإن قيل بالجديد أن لَا يَمْلِكَ لَمْ يُكَفِّرْ إِلَّا بِالصِّيَامِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ بِإِطْعَامٍ وَلَا كِسْوَةٍ وَلَا عِتْقٍ وَإِنْ قِيلَ بِالْقَدِيمِ إنَّهُ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ جَازَ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْإِطْعَامِ وَالْكِسْوَةِ لِقُدْرَتِهِ عَلَيْهِ مَعَ مِلْكِهِ وَفِي جَوَازِ تَكْفِيرِهِ بِالْعِتْقِ وَجْهَانِ

Jika menurut pendapat baru, maka ia tidak memiliki (harta), sehingga tidak boleh menunaikan kafarat kecuali dengan puasa, dan tidak boleh menunaikan kafarat dengan memberi makan, pakaian, atau memerdekakan budak. Namun jika menurut pendapat lama, bahwa ia memiliki (harta) jika telah diberikan kepadanya, maka boleh baginya menunaikan kafarat dengan memberi makan dan pakaian karena ia mampu melakukannya dengan kepemilikannya itu. Adapun mengenai kebolehan ia menunaikan kafarat dengan memerdekakan budak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ كَالْإِطْعَامِ وَالْكِسْوَةِ

Salah satunya boleh, seperti memberi makan dan pakaian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنَ اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ الَّذِي لَا يَسْتَقِرُّ لَهُ عَلَيْهِ مِلْكٌ وَلَا يَثْبُتُ لَهُ بِهِ وِلَايَةٌ وَلَا إِرْثٌ وَإِذَا قِيلَ بِجَوَازِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ فَفِي وَلَائِهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua tidak boleh, karena di dalamnya terdapat hak atas wala’ yang tidak menetap padanya kepemilikan, tidak pula menetapkan baginya wilayah atau warisan. Dan jika dikatakan boleh menurut pendapat pertama, maka dalam hal wala’-nya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِلسَّيِّدِ

Salah satunya untuk tuan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى مَا يُفْضِي إِلَيْهِ حَالُهُ مِنْ عِتْقٍ فَيَصِيرُ الْوَلَاءُ لَهُ أَوْ يَمُوتُ عَلَى رِقِّهِ فَيَكُونُ لِسَيِّدِهِ وَهَكَذَا حُكْمُ الْمُدَبَّرِ وَأُمِّ الْوَلَدِ وَالْمُعْتَقِ بِالصِّفَةِ فَأَمَّا الْمُكَاتَبُ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُكَفِّرَ إِلَّا بِالصِّيَامِ وَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ فَفِي جَوَازِ تَكْفِيرِهِ بِالْمَالِ قَوْلَانِ

Kedua, statusnya tergantung pada keadaan yang akan terjadi padanya, apakah ia akan merdeka sehingga hak wala’ menjadi miliknya, atau ia meninggal dalam keadaan masih sebagai budak sehingga hak wala’ menjadi milik tuannya. Demikian pula hukum mudabbar, umm al-walad, dan budak yang dimerdekakan dengan syarat tertentu. Adapun mukatab, jika dikatakan bahwa budak tidak memiliki kepemilikan, maka apabila ia diberi harta, ia tidak boleh melakukan kafarat kecuali dengan puasa. Namun jika tuannya mengizinkannya, maka dalam kebolehan ia melakukan kafarat dengan harta terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ كَالْعَبْدِ وَلَيْسَ بِأَسْوَأِ حَالًا مِنْهُ

Salah satunya diperbolehkan, seperti budak, dan keadaannya tidak lebih buruk darinya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ إِلَّا بِالصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ لِأَنَّ مِلْكَ السَّيِّدِ لِمَالِ مُكَاتَبِهِ ضَعِيفٌ فَضَعُفَ إِذْنِهِ مَعَهُ وَمِلْكَهُ لِمَالِ عَبْدِهِ قَوِيٌّ فَقَوِيَ إذنه معه

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak boleh melakukan kafarat kecuali dengan puasa, meskipun seorang budak boleh melakukan kafarat dengan harta. Hal ini karena kepemilikan tuan atas harta mukatabnya lemah, sehingga izin tuan pun menjadi lemah bersamanya. Sedangkan kepemilikan tuan atas harta budaknya kuat, sehingga izinnya pun menjadi kuat bersamanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَصُومَ إِلَّا بِإِذْنِ مَوْلَاهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَا لَزِمَهُ بِإِذْنِهِ وَلَوْ صَامَ فِي أَيِّ حالٍ أَجْزَأَهُ

Imam Syafi‘i berkata, “Seorang budak tidak boleh berpuasa kecuali dengan izin tuannya, kecuali jika puasa itu telah diwajibkan atasnya dengan izin tuannya. Namun jika ia berpuasa dalam keadaan apa pun, puasanya tetap sah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَجِبَ عَلَى الْعَبْدِ الصِّيَامُ فِي كَفَّارَةِ يَمِينٍ فَلَا يَخْلُو حَالُهُ إِذَا أَضَرَّ الصِّيَامُ بِخِدْمَةِ السَّيِّدِ فِي عَقْدِ يَمِينِهِ وَحِنْثِهِ مِنْ أَرْبَعَةِ أحوالٍ

Al-Mawardi berkata, bentuk permasalahannya adalah apabila seorang budak wajib berpuasa sebagai kafarat sumpah, maka keadaannya tidak lepas, jika puasa itu membahayakan pelayanannya kepada tuannya dalam akad sumpah dan pelanggarannya, dari empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَحْلِفَ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ وَيَحْنَثَ بِإِذْنِهِ فَلِلْعَبْدِ أَنْ يَصُومَ عَنِ الْكَفَّارَةِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ لِأَنَّ مُوَجَبِي الْكَفَّارَةِ عَنْ إِذْنِهِ

Salah satunya adalah apabila seorang budak bersumpah dengan izin tuannya dan melanggar sumpah itu juga dengan izin tuannya, maka budak tersebut boleh berpuasa sebagai kafarat tanpa izin tuannya, karena kewajiban kafarat itu timbul dari izinnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَحْلِفَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَيَحْنَثَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَلَيْسَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَصُومَ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ لِمَا فِيهِ مِنَ التَّقْصِيرِ فِي خِدْمَتِهِ

Keadaan kedua adalah apabila ia bersumpah tanpa izin tuannya dan melanggar sumpah itu juga tanpa izin tuannya, maka seorang budak tidak boleh berpuasa kecuali dengan izin tuannya, karena di dalamnya terdapat kekurangan dalam melayani tuannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَحْلِفَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَيَحْنَثَ بِإِذْنِهِ فَلِلْعَبْدِ أَنْ يَصُومَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ لِأَنَّ وُجُوبَ الصِّيَامِ بِإِذْنِهِ

Keadaan ketiga adalah apabila ia bersumpah tanpa izin tuannya dan melanggar sumpah itu dengan izin tuannya, maka budak boleh berpuasa tanpa izin tuannya, karena kewajiban puasa itu dengan izin tuannya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَحْلِفَ بِإِذْنِهِ وَيَحْنَثَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَفِي جَوَازِ صِيَامِهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَجْهَانِ

Keadaan keempat adalah apabila seseorang bersumpah dengan izin suaminya, lalu melanggar sumpah itu tanpa izinnya. Dalam hal kebolehan berpuasa tanpa izinnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَجُوزُ لِأَنَّ عَقْدَ يَمِينِهِ بِإِذْنِهِ فَصَارَ مَا أَفْضَى إِلَيْهِ مِنَ الْحِنْثِ دَاخِلًا فِي حُكْمِ إِذْنِهِ كَمَا لَوْ أَذِنَ لِعَبْدِهِ فِي النِّكَاحِ كَانَ إِذْنًا لَهُ بِالنَّفَقَةِ

Salah satunya tidak diperbolehkan karena akad sumpahnya dilakukan dengan izinnya, sehingga apa yang berujung pada pelanggaran sumpah tersebut termasuk dalam hukum izinnya, sebagaimana jika seseorang mengizinkan budaknya untuk menikah, maka izin tersebut juga mencakup nafkah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَصُومَ إِلَّا بِإِذْنِهِ لِأَنَّ عَقْدَ الْيَمِينِ مَانِعَةٌ مِنْ فِعْلِ الْحِنْثِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْإِذْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak boleh berpuasa kecuali dengan izinnya, karena akad sumpah merupakan penghalang untuk melakukan pelanggaran, sehingga tidak boleh berlaku padanya hukum izin.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا كَانَ مَمْنُوعًا مِنَ الصَّوْمِ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ على ما فصلناه لم يحل مِنْ أَنْ يَكُونَ الصَّوْمُ فِيهِ مُؤَثِّرًا فِي الضَّعْفِ كَالصَّيْفِ أَوْ غَيْرَ مُؤَثِّرٍ فِيهِ كَالشِّتَاءِ فَإِنْ كَانَ الزَّمَانُ صَائِفًا يُؤَثِّرُ فِي ضَعْفِ الصَّائِمِ فَهُوَ الْمَمْنُوعُ مِنَ الصِّيَامِ فِيهِ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ وَإِنْ كَانَ الزَّمَانُ شَاتِيًا لَا يُؤَثِّرُ صِيَامُهُ فِي ضَعْفِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika ia dilarang berpuasa kecuali dengan izin tuannya sebagaimana telah kami jelaskan, maka tidak boleh berpuasa baik puasa itu menyebabkan kelemahan seperti di musim panas, maupun tidak menyebabkan kelemahan seperti di musim dingin. Jika waktunya adalah musim panas yang menyebabkan kelemahan bagi orang yang berpuasa, maka itulah yang dilarang untuk berpuasa kecuali dengan izin tuannya. Namun jika waktunya adalah musim dingin yang puasanya tidak menyebabkan kelemahan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ اسْتِئْذَانُ سَيِّدِهِ فِي صِيَامِهِ لِعَدَمِ تَأْثِيرِهِ فِي عَمَلِهِ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak wajib meminta izin kepada tuannya untuk berpuasa, karena puasanya tidak berpengaruh terhadap pekerjaannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَلْزَمُهُ اسْتِئْذَانُهُ وَلِلسَّيِّدِ مَنْعُهُ لِأَنَّهُ وَإِنْ قَلَّ تَأْثِيرُهُ فِي إِضْعَافِهِ فَالْفِطْرُ أَنْشَطُ لِعَمَلِهِ وَأَبْلَغُ فِي تَوَفُّرِهِ فَإِنْ خَالَفَ الْعَبْدُ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي نُهِيَ عَنِ الصِّيَامِ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فَصَامَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ أَجْزَأَهُ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ لَا يَقِفُ انْعِقَادُهَا عَلَى إِذْنِهِ فَصَحَّتْ وَإِنْ جَازَ لِلسَّيِّدِ مَنْعُهُ مِنْهَا كَالْحَجِّ

Pendapat kedua mengharuskan adanya izin darinya, dan tuan berhak melarangnya, karena meskipun pengaruhnya dalam melemahkan budak itu sedikit, berbuka puasa lebih membuatnya bersemangat untuk bekerja dan lebih memungkinkan baginya untuk mencurahkan tenaganya. Jika budak melanggar dalam hal yang dilarang berpuasa kecuali dengan izin tuannya, lalu ia berpuasa tanpa izin, puasanya tetap sah karena itu adalah ibadah yang keabsahannya tidak bergantung pada izin tuan, sehingga puasanya sah meskipun tuan berhak melarangnya, sebagaimana dalam ibadah haji.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَنِثَ ثُمَّ أَعْتَقَ وَكَفَّرَ كَفَّارَةَ حُرٍّ أَجْزَأَهُ لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ مالكٌ وَلَوْ صَامَ أَجْزَأَهُ لِأَنَّ حُكْمَهُ يَوْمَ حَنِثَ حُكْمُ الصِّيَامِ قَالَ المزني رحمه الله قد مضت الحجة أن الحكم يوم يكفر لا يوم يحنث كما قال إن حكمه في الصلاة حين يصلي كما يمكنه لا حين وجبت عليه

Imam Syafi‘i berkata, “Jika seseorang melanggar sumpah, kemudian ia dimerdekakan dan menunaikan kafarat seperti kafarat orang merdeka, maka itu sah baginya karena pada saat itu ia sudah menjadi pemilik dirinya. Jika ia berpuasa, itu pun sah karena hukum baginya pada hari ia melanggar sumpah adalah hukum puasa.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Telah jelas dalil bahwa hukum yang berlaku adalah pada hari seseorang menunaikan kafarat, bukan pada hari ia melanggar sumpah, sebagaimana hukum dalam shalat adalah ketika ia melaksanakannya sesuai kemampuannya, bukan pada saat shalat itu menjadi wajib atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ حَلَفَ فِي حَالِ رِقِّهِ ثُمَّ حَنِثَ وَأُعْتِقَ فَلَا يَخْلُو حَالُ حِنْثِهِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang budak yang bersumpah ketika masih dalam keadaan sebagai budak, kemudian ia melanggar sumpahnya dan setelah itu dimerdekakan. Maka, keadaan ketika ia melanggar sumpah tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ فِي رِقِّهِ أَوْ بَعْدَ عِتْقِهِ

Baik ketika ia masih dalam status budak maupun setelah dimerdekakan.

فَإِنْ حَنِثَ بَعْدَ عِتْقِهِ فَهُوَ فِي الْكَفَّارَةِ كَالْحُرِّ لِوُجُوبِهَا عَلَيْهِ وَهُوَ حُرٌّ فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا كَفَّرَ بِالْمَالِ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا كَفَّرَ بِالصِّيَامِ فَإِنْ عَدَلَ عَنْهُ إِلَى الْمَالِ أَجْزَأَهُ سَوَاءٌ كَانَ إِطْعَامًا أَوْ عِتْقًا وَإِنْ حَنِثَ فِي حَالِ رِقِّهِ وَقَبْلَ عِتْقِهِ وَلَمْ يُكَفِّرْ حَتَّى أُعْتِقَ فَإِنْ كَانَ بَعْدَ عِتْقِهِ مُعْسِرًا كَفَّرَ بِالصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا فَعَلَى قَوْلَيْنِ

Jika ia melanggar sumpah setelah dimerdekakan, maka dalam hal kewajiban membayar kafarat, ia diperlakukan seperti orang merdeka, karena kewajiban itu berlaku atasnya saat ia sudah merdeka. Jika ia mampu, maka ia membayar kafarat dengan harta; jika ia tidak mampu, maka ia membayar kafarat dengan puasa. Jika ia memilih untuk membayar kafarat dengan harta, maka itu sah, baik berupa memberi makan maupun memerdekakan budak. Jika ia melanggar sumpah saat masih berstatus budak dan sebelum dimerdekakan, lalu belum membayar kafarat hingga ia dimerdekakan, maka jika setelah dimerdekakan ia tidak mampu, ia membayar kafarat dengan puasa; dan jika ia mampu, maka ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالْمَالِ مِنْ إِطْعَامٍ أَوْ كِسْوَةٍ أَوْ عِتْقٍ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْمُعْتَبَرَ بِالْكَفَّارَةِ حَالُ الْأَدَاءِ أَوْ أَغْلَظُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ حَالِ الْوُجُوبِ أَوْ حَالِ الْأَدَاءِ

Salah satunya adalah tidak boleh menunaikan kafārah kecuali dengan harta, berupa memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak, jika dikatakan bahwa yang menjadi acuan dalam kafārah adalah keadaan saat pelaksanaan atau yang lebih berat di antara dua keadaan, yaitu saat kewajiban atau saat pelaksanaan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْمُعْتَبَرَ بِالْكَفَّارَةِ حَالُ الْوُجُوبِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa boleh menunaikan kafarat dengan puasa jika dikatakan bahwa yang dijadikan acuan dalam kafarat adalah keadaan saat kewajiban itu berlaku.

فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَعْدِلَ عَنِ الصِّيَامِ إِلَى الْمَالِ مِنْ إِطْعَامٍ أَوْ كِسْوَةٍ أَوْ عِتْقٍ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْعَبْدَ يَجُوزُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ عَلَى قَوْلُهُ فِي الْقَدِيمِ إِنَّهُ يَمْلِكُ إِذَا مَلَكَ كَانَ بَعْدَ عِتْقِهِ أَوْلَى بِالْجَوَازِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْعَبْدِ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ بَعْدَ عِتْقِهِ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika seseorang ingin beralih dari puasa kepada pembayaran dengan harta, baik berupa memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak, maka jika dikatakan bahwa seorang budak boleh membayar kafarat dengan harta menurut pendapat Imam Syafi‘i dalam qaul qadim bahwa budak memiliki hak kepemilikan jika telah diberikan kepadanya, maka setelah ia dimerdekakan lebih utama lagi untuk diperbolehkan. Namun jika dikatakan bahwa budak tidak boleh membayar kafarat dengan harta menurut pendapat Imam Syafi‘i dalam qaul jadid bahwa budak tidak memiliki hak kepemilikan meskipun telah diberikan kepadanya, maka apakah setelah ia dimerdekakan boleh membayar kafarat dengan harta? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ عِنْدَ تَكْفِيرِهِ حُرٌّ فَأَشْبَهَ الْحُرَّ الْمُعْسِرَ

Salah satunya diperbolehkan karena ketika ia melakukan kafarat, ia berstatus sebagai orang merdeka, sehingga ia serupa dengan orang merdeka yang tidak mampu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ لَوْ أَرَادَ التَّكْفِيرَ بِالْمَالِ عِنْدَ الْوُجُوبِ لَمْ يُجْزِهِ بِخِلَافِ الْحُرِّ الْمُعْسِرِ الَّذِي لَوْ كَفَّرَ بِالْمَالِ أَجْزَأَهُ فَلَزِمَهُ اسْتِصْحَابُ هَذَا الْحُكْمِ بَعْدَ عِتْقِهِ لِاسْتِقْرَارِ وُجُوبِهِ فِي حَالِ رِقِّهِ فَصَارَ فِي مَحْصُولِ تَكْفِيرِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Pendapat kedua tidak boleh, karena jika ia bermaksud menunaikan kafarat dengan harta pada saat kewajiban itu ada, maka itu tidak sah baginya, berbeda dengan seorang hamba sahaya yang tidak mampu, yang jika ia menunaikan kafarat dengan harta maka itu sah baginya. Maka wajib baginya untuk tetap membawa hukum ini setelah ia dimerdekakan, karena kewajiban itu telah tetap pada saat ia masih menjadi budak. Dengan demikian, dalam pelaksanaan kafaratnya terdapat tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا لَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالْمَالِ

Salah satunya adalah tidak ada kafarat kecuali dengan harta.

وَالثَّانِي لَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالصِّيَامِ

Dan yang kedua, tidak dapat menjadi kafarat kecuali dengan puasa.

وَالثَّالِثُ إنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ التَّكْفِيرِ بِالْمَالِ أَوْ بالصيام مسألة قال الشافعي وَلَوْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ وَنِصْفُهُ عبدٌ وَنِصْفُهُ حرٌّ وَكَانَ فِي يَدَيْهِ مالٌ لِنَفْسِهِ لَمْ يُجْزِئْهُ الصَّوْمُ وَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يُكَفِّرَ مِمَّا فِي يديه لنفسه قال المزني رحمه الله إنما المال لنصفه الحر لا يملك منه النصف العبد شيئاً فكيف يكفر بالمال نصف عبدٍ لا يملك منه شيئاً فأحق بقوله أنه كرجلٍ موسرٍ بنصف الكفارة فليس عليه إلا الصوم وبالله التوفيق

Ketiga, sesungguhnya ia diberi pilihan antara membayar kafarat dengan harta atau dengan puasa. Dalam suatu masalah, Imam Syafi‘i berkata: “Jika kafarat wajib atas seseorang yang separuh dirinya adalah budak dan separuhnya lagi merdeka, dan ia memiliki harta milik pribadinya, maka puasa tidak mencukupi baginya, dan ia wajib membayar kafarat dari harta yang ada di tangannya untuk dirinya sendiri.” Al-Muzani rahimahullah berkata: “Sesungguhnya harta itu hanya milik separuh dirinya yang merdeka, sedangkan separuh dirinya yang budak tidak memiliki apa pun dari harta itu. Maka bagaimana mungkin ia membayar kafarat dengan harta, sementara separuh dirinya yang budak tidak memiliki apa pun darinya? Maka pendapat yang lebih tepat adalah bahwa ia seperti seseorang yang mampu membayar setengah kafarat, sehingga tidak wajib atasnya kecuali puasa. Dan hanya kepada Allah-lah tempat memohon taufik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَالَ الْمُزَنِيُّ إِذَا حَنِثَ عَنْ نِصْفِهِ حُرٍّ وَنِصْفِهِ عَبْدٍ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِنِصْفِهِ الْحُرِّ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَفَرْضُهُ التَّكْفِيرُ بِالصِّيَامِ لِأَنَّهُ لَمَّا صَامَ بِالْإِعْسَارِ مَعَ كَمَالِ حُرِّيَّتِهِ كَانَ صِيَامُهُ مَعَ تَبْعِيضِ الْحَرِيَّةِ أَوْلَى وَإِنْ كَانَ بِنِصْفِهِ الْحُرِّ مُوسِرًا فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا كَفَّرَ بِالْمَالِ فَقَلَبَ حُكْمَ الْحُرِّيَّةِ عَلَى حُكْمِ الرِّقِّ فِي الْكَفَّارَةِ وَإِنْ كَانَ يَغْلِبُ حُكْمُ الرِّقِّ عَلَى حُكْمِ الْحُرِّيَّةِ فِي النِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالنَّفَقَةِ وَالْمِيرَاثِ وَالشَّهَادَةِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي كَفَّارَتِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Al-Mawardi berkata, Al-Muzani berkata: Jika seseorang melanggar sumpah sementara ia adalah setengah merdeka dan setengah budak, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: pada setengah bagian dirinya yang merdeka, ia bisa jadi mampu atau tidak mampu. Jika pada setengah bagian merdekanya ia tidak mampu, maka kewajibannya adalah membayar kafarat dengan berpuasa, karena ketika ia berpuasa karena tidak mampu dalam keadaan sepenuhnya merdeka, maka berpuasa dalam keadaan sebagian merdeka lebih utama. Namun jika pada setengah bagian merdekanya ia mampu, maka menurut pendapat Asy-Syafi‘i di sini, ia membayar kafarat dengan harta. Maka, hukum kemerdekaan diubah menjadi hukum perbudakan dalam masalah kafarat, meskipun dalam masalah nikah, talak, nafkah, warisan, dan kesaksian, hukum perbudakan lebih dominan daripada hukum kemerdekaan. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai kafaratnya menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ إنَّهُ يُكَفِّرُ بِالْمَالِ عَلَى قَوْلُهُ فِي الْقَدِيمِ إِنَّهُ يَمْلِكُ إِذَا مَلَكَ وَعَلَيْهِ خَرَّجَ الْجَوَابَ فَأَمَّا عَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَلَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالصِّيَامِ

Salah satunya, yaitu pendapat sekelompok dari mereka, bahwa ia dapat membayar kafarat dengan harta menurut pendapatnya yang lama, yaitu bahwa ia memiliki (harta) jika telah dimiliki, dan atas dasar itu jawaban dikeluarkan. Adapun menurut pendapatnya yang baru, bahwa ia tidak memiliki (harta) jika telah diberikan kepadanya, maka ia tidak dapat membayar kafarat kecuali dengan puasa.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي قَالَهُ الْمُزَنِيُّ وَسَاعَدَهُ غَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِنَا إنَّهُ لَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالصِّيَامِ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا وَأَنَّ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ مِنْ تَكْفِيرِهِ بِالْمَالِ مُخَالِفٌ لِأُصُولِهِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua dikemukakan oleh al-Muzani dan didukung oleh selainnya dari kalangan ulama kami, yaitu bahwa kafarat hanya dapat dilakukan dengan puasa menurut kedua pendapat sekaligus, dan bahwa pendapat asy-Syafi‘i yang membolehkan kafarat dengan harta bertentangan dengan ushul (prinsip-prinsip dasar) beliau dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا غَلَبَ فِيمَا عَدَا الْكَفَّارَةِ حُكْمُ الرِّقِّ عَلَى الْحُرِّيَّةِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ فِي الْكَفَّارَةِ

Salah satunya adalah bahwa ketika hukum perbudakan lebih dominan daripada kemerdekaan dalam hal-hal selain kafarah, maka seharusnya demikian pula dalam hal kafarah.

وَالثَّانِي مَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ مِنْ أَنَّ نُقْصَانَ الْمُكَفِّرِ إِذَا كَانَ بَعْضُهُ حُرًّا مَمْلُوكًا كَنُقْصَانِ التَّكْفِيرِ إِذَا وُجِدَ بَعْضُ الْإِطْعَامِ وَعُدِمَ بَعْضُهُ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَجْزُهُ بِبَعْضِ بَدَنِهِ مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى جَمِيعِ الْكَفَّارَةِ كَعَجْزِهِ عَنْ بَعْضِ الْكَفَّارَةِ مَعَ قُدْرَتِهِ بِجَمِيعِ بَدَنِهِ

Yang kedua adalah apa yang disebutkan oleh al-Muzani, yaitu bahwa kekurangan dalam pelaksanaan kafarat apabila sebagian dari orang yang harus membayar kafarat itu adalah merdeka dan sebagian lagi adalah budak, maka hal itu seperti kekurangan dalam pelaksanaan kafarat apabila sebagian dari makanan (yang harus diberikan) ada dan sebagian lagi tidak ada. Maka wajiblah bahwa ketidakmampuan seseorang dengan sebagian anggota tubuhnya, sementara ia mampu melaksanakan seluruh kafarat, itu sama dengan ketidakmampuannya melaksanakan sebagian kafarat sementara ia mampu dengan seluruh anggota tubuhnya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ ظَاهِرُ الْمَذْهَبِ وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إنَّهُ لَا يُكَفِّرُ إِلَّا بِالْمَالِ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْحُرِّيَّةِ عَلَى الرِّقِّ وَإِنْ غَلَبَ حُكْمُ الرِّقِّ عَلَى الْحُرِّيَّةِ فِي غَيْرِ الْكَفَّارَةِ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامٌ وَهَذَا واحد فَلَمْ يُجْزِهِ الصِّيَامُ وَلِأَنَّ تَكْفِيرَ الْحُرِّ الْمُوسِرِ بِالْمَالِ وَتَكْفِيرَ الْعَبْدِ الْقِنِّ بِالصَّوْمِ فَلَمْ يَخْلُ حَالُ مَنْ تَبَعَّضَتْ فِيهِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ مِنْ ثَلَاثَةِ أحوالٍ إِمَّا أَنْ يَغْلِبَ حُكْمُ الْحَرِيَّةِ مِنْ تَكْفِيرٍ بِالْمَالِ أَوْ يَغْلِبَ حُكْمُ الرِّقِّ فِي تَكْفِيرِه بِالصِّيَامِ أَوْ بِبَعْضِ تَكْفِيرِهِ بِالْمَالِ وَالصِّيَامِ بِحَسْبِ مَا فِيهِ مِنْ حُرِّيَّةٍ وَرِقٍّ وَقَدْ أَجْمَعُوا عَلَى إِبْطَالِ التَّبْعِيضِ فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا تَغْلِيبُ أَحَدِهَا فَكَانَ تَغْلِيبُ الْحَرِيَّةِ عَلَى الرِّقِّ فِي التَّكْفِيرِ بِالْمَالِ أَوْلَى مِنْ تَغْلِيبِ الرِّقِّ عَلَى الْحُرِّيَّةِ فِي التَّكْفِيرِ بِالصِّيَامِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Pendapat ketiga, yang merupakan pendapat yang tampak dalam mazhab dan dianut oleh mayoritas ulama kami, adalah bahwa kafarat hanya dilakukan dengan harta menurut kedua pendapat sekaligus, dengan mengedepankan hukum kemerdekaan atas perbudakan. Meskipun dalam perkara selain kafarat, hukum perbudakan lebih dominan atas kemerdekaan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka barang siapa tidak mendapatkan (hamba sahaya), maka berpuasalah…” dan ini satu hal, maka puasa tidak mencukupi baginya. Karena kafarat bagi orang merdeka yang mampu adalah dengan harta, dan kafarat bagi budak murni adalah dengan puasa. Maka keadaan seseorang yang dalam dirinya terdapat gabungan antara kemerdekaan dan perbudakan tidak lepas dari tiga kemungkinan: bisa jadi hukum kemerdekaan lebih dominan sehingga kafaratnya dengan harta, atau hukum perbudakan lebih dominan sehingga kafaratnya dengan puasa, atau sebagian kafaratnya dengan harta dan sebagian lagi dengan puasa sesuai kadar kemerdekaan dan perbudakan yang ada padanya. Namun, para ulama telah berijma‘ atas batalnya pembagian seperti ini, sehingga yang tersisa hanyalah mengedepankan salah satunya. Maka mengedepankan kemerdekaan atas perbudakan dalam kafarat dengan harta lebih utama daripada mengedepankan perbudakan atas kemerdekaan dalam kafarat dengan puasa, dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَمَّا تَغَلَّبَ حُرِّيَّةُ بَعْضِهِ فِي السَّرَايَةِ إِلَى عِتْقِ جَمِيعِهِ تَغَلَّبَ حُكْمُهَا فِي تَكْفِيرِهِ

Salah satunya adalah bahwa ketika kemerdekaan sebagian dirinya lebih dominan dalam penularannya hingga membebaskan seluruh dirinya, maka dominasinya itu juga berlaku dalam menebus (kafārah)-nya.

وَالثَّانِي إنَّ التَّكْفِيرَ بِالْمَالِ أَصْلٌ وَبِالصِّيَامِ بَدَلٌ وَلِذَلِكَ كَانَ لِمَنْ فَرْضُهُ الصِّيَامُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالْمَالِ وَلَمْ يَجُزْ لِمَنْ فَرْضُهُ الْمَالُ أَنْ يُكَفِّرَ بِالصِّيَامِ فَكَانَ تَغْلِيبُ مَا أَوْجَبَ الْأَصْلُ مِنَ الْمَالِ أَوْلَى مِنْ تَغْلِيبِ مَا أَوْجَبَ الْبَدَلُ مِنَ الصِّيَامِ أَمَّا تَغْلِيبُ الرِّقِّ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الْأَحْكَامِ فَلِأَنَّ تَبْعِيضَ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ مُوجِبٌ لِتَغْلِيبِ أَغْلَظِ حُكْمَيْهِ فَكَانَ أَغْلَظُهُمَا مِنَ الْكَفَّارَةِ حُكْمَ الْجِزْيَةِ وَأَغْلَظُهُمَا فِيمَا عَدَاهَا حُكْمَ الرِّقِّ

Kedua, sesungguhnya kafarat dengan harta adalah asal, sedangkan dengan puasa adalah pengganti. Oleh karena itu, bagi orang yang kewajibannya adalah puasa, boleh baginya membayar kafarat dengan harta, dan tidak boleh bagi orang yang kewajibannya adalah harta untuk membayar kafarat dengan puasa. Maka, mengutamakan apa yang diwajibkan oleh asal, yaitu harta, lebih utama daripada mengutamakan apa yang diwajibkan oleh pengganti, yaitu puasa. Adapun mengutamakan status budak dalam hukum-hukum selain itu, karena sebagian kebebasan dan perbudakan mengharuskan untuk mengutamakan hukum yang lebih berat di antara keduanya. Maka yang lebih berat dari keduanya dalam kafarat adalah hukum jizyah, dan yang lebih berat dalam selainnya adalah hukum perbudakan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلَّ بِهِ الْمُزَنِيُّ مِنَ أَنَّ نُقْصَانَ الْمُكَفِّرِ كَنُقْصَانِ الْكَفَّارَةِ فَهُوَ أَنَّ نُقْصَانَ الْكَفَّارَةِ مُفْضٍ إِلَى التَّبْعِيضِ فَسَقَطَ وَنُقْصَانَ الْمُكَفِّرِ مُوجِبٌ لِكَمَالِ الْكَفَّارَةِ فَافْتَرَقَا في النقض لِافْتِرَاقِهِمَا فِي الْمُوجَبِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَبِاللَّهِ التوفيق

Adapun jawaban terhadap apa yang dijadikan dalil oleh al-Muzani, yaitu bahwa kekurangan pada yang mengkafaratkan itu seperti kekurangan pada kafarat, maka jawabannya adalah bahwa kekurangan pada kafarat menyebabkan terjadinya pemotongan (tidak utuh), sehingga gugur (tidak sah), sedangkan kekurangan pada yang mengkafaratkan justru mewajibkan kesempurnaan kafarat, maka keduanya berbeda dalam hal pembatalan karena perbedaan dalam hal yang dituntut. Allah lebih mengetahui kebenaran, dan hanya kepada Allah-lah taufik.

باب جامع الأيمان
Bab Kompilasi Sumpah

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَإِذَا كَانَ فِي دارٍ فَحَلَفَ أَنْ لَا يَسْكُنَهَا أَخَذَ فِي الْخُرُوجِ مَكَانَهُ وَإِنْ تَخَلَّفَ سَاعَةً يُمْكِنُهُ الْخُرُوجُ مِنْهَا فَلَمْ يَفْعَلْ حَنِثَ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang berada di dalam sebuah rumah lalu ia bersumpah tidak akan menempatinya, maka ia harus segera keluar dari tempat itu. Jika ia menunda walau sesaat padahal ia mampu keluar darinya namun tidak melakukannya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا كَانَ سَاكِنًا فِي دَارٍ فَحَلَفَ أَنْ لَا يُسْكِنَهَا فَإِنْ بَادَرَ بِالْخُرُوجِ مِنْهَا عَقِيبَ يَمِينِهِ بَرَّ وَلَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ تَوَقَّفَ عَنِ الْخُرُوجِ مَعَ القُدْرَة عَلَيْهِ حَنِثَ سَوَاءٌ قَلَّ مُقَامُهُ أَوْ كَثُرَ وَشَرَعَ فِي إِخْرَاجِ رِجْلِهِ أَوْ لَمْ يَشْرَعْ وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ أَقَامَ بَعْدَ يَمِينِهِ يَوْمًا وَلَيْلَةً حَنِثَ وَإِنْ أَقَامَ أَقَلَّ مِنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ السُّكْنَى إِلَّا بِاسْتِكْمَالِ هَذَا الزَّمَانِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ أَقَامَ لِنَقْلِ رَحْلِهِ وَجَمْعِ مَتَاعِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ أَقَامَ لِغَيْرِ ذَلِكَ حَنِثَ لِأَنَّهُ بِإِخْرَاجِ مَتَاعِهِ مُفَارِقٌ لِحُكْمِ السُّكْنَى وَقَالَ زُفَرُ بْنُ الْهُذَيْلِ قَدْ حَنِثَ بِنَفْسِ الْيَمِينِ وَلَا يَبَرُّ أَنْ يُبَادِرَ بِالْخُرُوجِ لِأَنَّهُ مُقِيمٌ عَلَى السُّكْنَى قَبْلَ مُفَارَقَتِهَا

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang dikatakan: Jika seseorang tinggal di sebuah rumah lalu ia bersumpah tidak akan menempatinya, maka jika ia segera keluar dari rumah itu setelah sumpahnya, ia dianggap menepati sumpah dan tidak berdosa. Namun jika ia menunda keluar padahal mampu melakukannya, ia dianggap melanggar sumpah, baik ia tinggal sebentar maupun lama, baik ia sudah mulai mengeluarkan kakinya atau belum. Malik berkata, jika ia tinggal setelah sumpahnya selama satu hari satu malam, ia dianggap melanggar sumpah; namun jika ia tinggal kurang dari satu hari satu malam, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena istilah ‘menempati’ tidak berlaku kecuali setelah menyempurnakan waktu tersebut. Abu Hanifah berkata, jika ia tinggal untuk memindahkan barang-barangnya dan mengumpulkan perabotannya, ia tidak dianggap melanggar sumpah; namun jika ia tinggal bukan untuk itu, ia dianggap melanggar sumpah, karena dengan mengeluarkan barang-barangnya berarti ia telah keluar dari status ‘menempati’. Zufar bin al-Hudzail berkata, ia telah melanggar sumpahnya hanya dengan mengucapkan sumpah itu, dan ia tidak dianggap menepati sumpah meskipun segera keluar, karena ia masih dianggap tinggal sebelum benar-benar meninggalkan rumah tersebut.”

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ اسْتِدَامَةَ الْمُقَامِ فِيهَا سُكْنَى لِاسْتِصْحَابِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ حَالِهِ فَحَنِثَ لِانْطِلَاقِ اسْمِ السَّكَنِ عَلَيْهِ بِخِلَافِ مَا قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَإِذَا بَادَرَ بِالْخُرُوجِ فَهُوَ تَارِكٌ وَلَا يَكُونُ تَرْكُ الْفِعْلِ جَارِيًا مَجْرَى الْفِعْلِ لِأَنَّهُمَا ضِدَّانِ فَيَبْطُلُ بِهِ قَوْلُ زُفَرَ ثُمَّ يُقَالُ لِمَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ قَدْ وَافَقْتُمَا أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا أُقِيمُ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَلَبِثَ فِيهَا بَعْدَ يَمِينِهِ حَنِثَ كَذَلِكَ إِذَا حَلَفَ لَا يُسْكِنُهَا لِأَنَّ الْمُقَامَ فِيهَا سُكْنَى وَالسُّكْنَى فِيهَا مقامٌ وَيَتَحَرَّرُ هَذَا الِاسْتِدْلَالُ قِيَاسًا فَيُقَالُ إِنَّ مَا حَنِثَ بِهِ فِي الْمُقَامِ حَنِثَ بِهِ فِي السُّكْنَى قِيَاسًا عَلَى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَعَ مَالِكٍ وَعَلَى مَنْ أَمْسَكَ عَنْ جَمِيعِ رَحْلِهِ وَقِيَاسُهُ مَعَ أبي حنيفة

Dalil kami adalah bahwa tetap tinggal di dalamnya merupakan bentuk menetap (sukna) karena mengikuti keadaan sebelumnya, sehingga ia dianggap melanggar sumpah karena nama “menetap” tetap berlaku padanya, berbeda dengan pendapat Malik dan Abu Hanifah. Jika ia segera keluar, maka ia dianggap meninggalkan (tempat itu), dan meninggalkan perbuatan tidak dapat disamakan dengan melakukan perbuatan, karena keduanya adalah dua hal yang berlawanan. Dengan demikian, pendapat Zufar menjadi batal. Kemudian dikatakan kepada Malik dan Abu Hanifah: Kalian berdua telah sepakat bahwa jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan tinggal di rumah ini,” lalu ia tetap berada di dalamnya setelah sumpahnya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Demikian pula jika ia bersumpah, “Aku tidak akan menetap di dalamnya,” karena tinggal di dalamnya adalah bentuk sukna, dan sukna di dalamnya adalah tinggal. Dalil ini dapat ditegaskan secara qiyās, yaitu dikatakan: Apa yang menyebabkan pelanggaran sumpah dalam hal tinggal, juga menyebabkan pelanggaran sumpah dalam hal sukna, dengan qiyās pada hari dan malam menurut Malik, dan pada orang yang menahan diri dari seluruh perbekalannya, serta qiyās-nya menurut Abu Hanifah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَيَخْرُجُ بِبَدَنِهِ مُتَحَوِّلًا وَلَا يَضُرُّهُ أَنْ يَتَرَدَّدَ عَلَى حَمْلِ مَتَاعِهِ وَإِخْرَاجِ أَهْلِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ ليس يسكنى

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Maka ia keluar dengan badannya sendiri berpindah tempat, dan tidak mengapa baginya untuk bolak-balik membawa barang-barangnya dan mengeluarkan keluarganya, karena hal itu tidak termasuk tinggal menetap.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَنْ حَلَفَ لَا يَسْكُنُ دَارًا هُوَ سَاكِنُهَا بِمَاذَا يَبَرُّ فِي يَمِينِهِ عَلَى أَرْبَعَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata: Para fuqaha berbeda pendapat mengenai seseorang yang bersumpah tidak akan tinggal di sebuah rumah yang sedang ia tempati, dengan cara apa ia dapat menepati sumpahnya, terdapat empat mazhab dalam hal ini.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إنَّهُ يَبَرُّ إِذَا انْتَقَلَ مِنْهَا بِبَدَنِهِ وَلَا اعْتِبَارَ بِنَقْلِ عِيَالِهِ وَمَالِهِ

Salah satunya, yaitu pendapat mazhab Syafi‘i, bahwa seseorang dianggap telah melakukan birr (berpindah tempat) jika ia telah berpindah dari tempat tersebut dengan badannya, dan tidak dianggap berpindah hanya dengan memindahkan keluarganya atau hartanya.

وَالثَّانِي وَهُوَ مذهب مالك إنَّهُ لَا يَبَرُّ إِلَّا أَنْ يَنْتَقِلَ بِبَدَنِهِ وَعِيَالِهِ وَلَا اعْتِبَارَ بِنَقْلِ مَالِهِ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Malik, menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap berpindah kecuali jika ia berpindah dengan badan dan keluarganya, dan tidak dianggap berpindah hanya dengan memindahkan hartanya.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ أبي حنيفة أَنَّهُ لَا يَبَرُّ حَتَّى يَنْتَقِلَ بِبَدَنِهِ وَعِيَالِهِ وَمَالِهِ؟ فَمَتَّى خَلَّفَ أَحَدَهَا حَنِثَ

Dan pendapat ketiga, yaitu mazhab Abu Hanifah, bahwa seseorang belum dianggap memenuhi nazar kecuali ia berpindah dengan dirinya, keluarganya, dan hartanya. Maka kapan saja ia meninggalkan salah satu dari ketiganya, ia dianggap melanggar nazar.

وَالرَّابِعُ وَهُوَ مَذْهَبُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ إنَّ بِرَّهُ مُعْتَبَرٌ بِنَقْلِ بَدَنِهِ وَعِيَالِهِ وَأَنْ يَنْقُلَ مِنْ مَالِهِ مَا يَسْتَقِلُّ بِهِ وَإِنْ خَلَّفَ فِيهَا مَا لَا يَسْتَقِلُّ بِهِ فِي سُكْنَاهَا بَرَّ وَإِنْ خلف ما يستقل به في سكانها حَنِثَ وَاسْتَدَلُّوا عَلَى اخْتِلَافِ مَذَاهِبِهِمْ فِي أَنَّ الْبِرَّ لَا يَخْتَصُّ بِبَدَنِهِ دُونَ عِيَالِهِ وَمَالِهِ بِأَمْرَيْنِ

Pendapat keempat, yaitu mazhab Muhammad bin al-Hasan, menyatakan bahwa birr (berbakti) dianggap sah jika ia memindahkan dirinya dan keluarganya, serta memindahkan dari hartanya sesuatu yang cukup untuk mandiri. Jika ia meninggalkan di tempat itu sesuatu yang tidak cukup untuk mandiri dalam tempat tinggalnya, maka ia tetap dianggap berbakti. Namun, jika ia meninggalkan sesuatu yang cukup untuk mandiri dalam tempat tinggalnya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Mereka berdalil atas perbedaan mazhab mereka bahwa birr tidak khusus hanya dengan dirinya saja tanpa keluarganya dan hartanya, dengan dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَنِ اسْتَضَافَ رَجُلًا بِبَدَنِهِ لَمْ يُنْسَبْ إِلَى السُّكْنَى عِنْدَهُ لِخُرُوجِهِ عَنْ عرف السكنى فصار العيال والمال من جملة السكنى

Salah satunya adalah bahwa siapa pun yang menjamu seseorang hanya dengan badannya, tidak dianggap sebagai tinggal bersamanya, karena hal itu keluar dari kebiasaan (urf) tempat tinggal, sehingga keluarga dan harta menjadi bagian dari makna tempat tinggal.

وَالثَّانِي إنَّ مَنْ خَلَّفَ عِيَالَهُ وَمَالَهُ فِي دَارِهِ وَخَرَجَ مِنْهَا إِلَى دُكَّانِهِ أَوْ بُسْتَانِهِ لَا يُشَارُ بِسُكْنَاهُ إِلَى مَكَانِهِ وَيُشَارُ بِهِ إِلَى دَارِهِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى عِيَالِهِ وَمَالِهِ

Kedua, sesungguhnya seseorang yang meninggalkan keluarganya dan hartanya di rumahnya, lalu ia keluar dari rumah tersebut menuju tokonya atau kebunnya, maka tempat tinggalnya tidaklah ditunjukkan pada tempat ia berada (toko atau kebun), melainkan yang dimaksud dengan tempat tinggalnya adalah rumahnya yang di dalamnya terdapat keluarga dan hartanya.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى رَبَّنَا إِنِّي أسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَتِي بِوَادٍ غَيْرَ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ المُحَرَّمِ فَكَانَ بِالشَّامِ وَوَلَدُهُ وَأُمُّهُ بِمَكَّةَ فَلَمْ يَخْرُجْ عَنْ سُكْنَى الشَّامِ وَإِنْ كَانَ عِيَالُهُ فِي غَيْرِهَا

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman di dekat rumah-Mu yang suci.” Maka (Nabi Ibrahim) berada di Syam, sedangkan anak dan istrinya berada di Makkah, namun ia tidak keluar dari status tinggal di Syam meskipun keluarganya berada di tempat lain.

وَلِأَنَّهُ لَوْ جَازَ أَنْ يَكُونَ سَاكِنًا فِيهَا بَعْدَ الِانْتِقَالِ عَنْهَا بِبَدَنِهِ لِبَقَاءِ عِيَالِهِ وَمَالِهِ لَوَجَبَ إِذَا سَافَرَ بِبَدَنِهِ أن يكون كالمقيم في المنع من قصره وفطره فَلَمَّا أُجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ السَّفَرِ وَجَبَ أَنْ يَجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الِانْتِقَالِ وَلِأَنَّ الْمُتَمَتِّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ لَوْ أَقَامَ بِمَكَّةَ كَانَ كَالْمُسْتَوْطِنِ لَهَا فِي سُقُوطِ الدَّمِ عَنْهُ وَإِنْ كَانَ عِيَالُهُ وَمَالُهُ فِي غَيْرِهَا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الِاعْتِبَارَ بِبَدَنِهِ دُونَ عِيَالِهِ وَمَالِهِ وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ أَنَا مُقِيمٌ بِمِصْرَ وَأَهْلِي وَوَلَدِي وَكُتُبِي بمكة أفتراني ساكن بِمَكَّةَ لِأَنَّهُ عَلَّقَ يَمِينَهُ بِفِعْلِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ حُكْمُهَا مَوْقُوفًا عَلَيْهِ دُونَ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْأَحْكَامَ تَتَعَلَّقُ بِحَقَائِقِ الْأَسْمَاءِ

Karena jika dibolehkan seseorang tetap dianggap tinggal di suatu tempat setelah ia berpindah darinya dengan tubuhnya, hanya karena keluarganya dan hartanya masih tinggal di sana, maka seharusnya ketika ia bepergian dengan tubuhnya, ia diperlakukan seperti orang yang menetap dalam hal larangan mengqashar dan berbuka puasa. Namun, ketika hukum safar diterapkan padanya, maka wajib pula diterapkan hukum berpindah tempat kepadanya. Dan karena seseorang yang melakukan tamattu‘ dengan umrah menuju haji, jika ia tinggal di Makkah, ia diperlakukan seperti penduduk tetap Makkah dalam hal gugurnya kewajiban membayar dam, meskipun keluarga dan hartanya berada di tempat lain. Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keberadaan tubuhnya, bukan keluarganya dan hartanya. Imam Syafi‘i berkata, “Aku menetap di Mesir, sementara istriku, anakku, dan kitab-kitabku berada di Makkah. Apakah engkau mengira aku tinggal di Makkah?” Karena ia mengaitkan sumpahnya dengan perbuatannya sendiri, maka hukum tersebut harus bergantung pada dirinya, bukan pada selainnya, karena hukum-hukum itu terkait dengan hakikat nama-nama.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِشْهَادِهِمْ بِالضَّيْفِ فَهُوَ أَنَّهُ نَزَلَهَا ضَيْفًا فَلَمْ يَنْطَلِقْ عَلَيْهِ اسْمُ السُّكْنَى وَإِنْ كَانَ مَعَ عِيَالِهِ وَمَالِهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِذَا قَصَدَ السُّكْنَى فَكَانَ اخْتِلَافُ الِاسْمَيْنِ لِاخْتِلَافِ الْمَقْصِدَيْنِ مُوجِبًا لِاخْتِلَافِ الْحُكْمَيْنِ وَبِمَثَلِهِ يُجَابُ عَنِ اسْتِشْهَادِهِمُ الثَّانِي مِنَ الْخَارِجِ إِلَى دُكَّانِهِ وَبُسْتَانِهِ

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan kisah tamu adalah bahwa ia menempatinya sebagai tamu, sehingga tidak berlaku atasnya sebutan “tinggal menetap” (as-suknā), meskipun ia bersama keluarganya dan hartanya. Hal ini berbeda jika seseorang memang berniat untuk tinggal menetap. Maka, perbedaan dua nama tersebut karena perbedaan dua tujuan, yang menyebabkan perbedaan dua hukum. Dengan cara yang sama pula dijawab dalil kedua mereka tentang seseorang yang keluar menuju tokonya atau kebunnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ شَرْطِ بِرِّهِ أَنَّهُ يَكُونُ مُعْتَبِرًا بِتَعْجِيلِ خُرُوجِهِ بِنَفْسِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَلَى الْخُرُوجِ أَوْ مَمْنُوعًا فَإِنْ كَانَ مَمْنُوعًا مِنَ الْخُرُوجِ إِمَّا لِحَبْسِهِ فِي دَارِهِ الْمُغْلَقِ أَبْوَابُهُ أَوْ لِتَقْيِيدِهِ وَإِمْسَاكِهِ أَوْ لِزَمَانَتِهِ وَهُوَ لَا يَجِدُ مَنْ يَحْمِلُهَا مِنْهَا لَمْ يَحْنَثْ مَا كَانَ بَاقِيًا عَلَى عَجْزِهِ وَمَنْعِهِ لِأَنَّ وُجُودَ الْمُكْنَةِ شَرْطٌ فِي الْأَفْعَالِ الْمُسْتَحَقَّةِ وَخَرَّجَ فِيهَا أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلًا آخَرَ إنَّهُ يَحْنَثُ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي حَنْثِ النَّاسِ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِمَا عَلَّلْنَا

Jika telah dipastikan sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa syarat kebaikannya adalah ia harus segera keluar sendiri, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: mampu keluar atau terhalang. Jika ia terhalang untuk keluar, baik karena dikurung di rumahnya yang pintunya terkunci, atau karena dibelenggu dan ditahan, atau karena lumpuh dan tidak menemukan orang yang dapat membawanya keluar, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah selama ia masih dalam keadaan tidak mampu dan terhalang, karena adanya kemampuan adalah syarat dalam perbuatan yang wajib dilakukan. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah mengeluarkan pendapat lain dalam masalah ini, yaitu bahwa ia dianggap melanggar sumpah berdasarkan perbedaan pendapatnya dalam masalah pelanggaran sumpah orang lain, namun pendapat ini tidak benar sebagaimana telah kami jelaskan alasannya.

وَإِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى الْخُرُوجِ فَتَوَقَّفَ لِلُبْسِ ثِيَابِهِ الَّتِي جَرَتْ عَادَتُهُ فِي الْخُرُوجِ بِهَا لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ تَوَقَّفَ لِأَكْلٍ أَوْ شُرْبٍ حَنِثَ وَكَذَلِكَ لَوْ تَوَقَّفَ لِطَهَارَةٍ أَوْ صَلَاةٍ حَنِثَ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى فِعْلِ ذَلِكَ فِي غَيْرِهَا إِلَّا أَنْ يَضِيقَ عَلَيْهِ وَقْتُ الصَّلَاةِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ خَرَجَ مِنْهَا فَاتَتْهُ فَلَا يَحْنَثُ بِالصَّلَاةِ فِيهَا لِأَنَّ الشَّرْعَ قَدْ مَنَعَهُ مِنَ الْخُرُوجِ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَكَانَ أَوْكَدَ مِنْ مَنَعَ الْمَخْلُوقِينَ وَلَوْ تَوَقَّفَ فِيهَا لِغَلْقِ أَبْوَابِهِ أَوْ إِحْرَازِ مَا يَخَافُ عَلَيْهِ تَلَفَهُ مِنْ أَمْوَالِهِ فَإِنْ كَانَ يَقْدِرُ عَلَى اسْتِنَابَةِ أَمِينٍ فِيهِ حَنِثَ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الِاسْتِنَابَةِ لَمْ يَحْنَثْ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ لِأَنَّ أَخْذَهُ فِي ذَلِكَ شُرُوعٌ فِي الْخُرُوجِ وَيَحْتَمِلُ وَجْهًا آخَرَ إنَّهُ يَحْنَثُ لِأَنَّهُ منعٌ لَا يَخْتَصُّ بِبَدَنِهِ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى الْخُرُوجِ وَارْتَفَعَتْ عَوَارِضُ الْمَنْعِ حَنِثَ بِقَلِيلِ الْمُقَامِ وَكَثِيرِهِ فَإِنْ كَانَ لِخُرُوجِهِ بَابَانِ يَقْرُبُ مِنْ أَحَدِهِمَا وَيَبْعُدُ مِنَ الْآخَرِ كَانَ مُخَيَّرًا فِي الْخُرُوجِ مِنْ أَيِّهِمَا شَاءَ وَلَا يَحْنَثُ بِالْخُرُوجِ مِنْ أَبْعَدِهِمَا لِأَنَّهُ أَخَذَ فِي الْخُرُوجِ وَإِنْ بَعُدَ مَسْلَكُهُ فَإِنْ صَعِدَ إِلَى عُلُوِّهَا لِلْخُرُوجِ مِنْ سَطْحِهِمَا وَلَهُ بابٌ يَخْرُجُ مِنْهُ حَنِثَ لِأَنَّهُ بِالصُّعُودِ فِي حُكْمِ الْمُقِيمِ وَلَوْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْخُرُوجِ مِنْ بَابِهِ لَمْ يَحْنَثْ بِالصُّعُودِ لِلْخُرُوجِ

Jika seseorang mampu keluar lalu ia berhenti sejenak untuk mengenakan pakaian yang biasa ia gunakan saat keluar, maka ia tidak dianggap melanggar. Namun jika ia berhenti untuk makan atau minum, maka ia dianggap melanggar. Begitu pula jika ia berhenti untuk bersuci atau salat, maka ia dianggap melanggar, karena ia mampu melakukan hal tersebut di tempat lain, kecuali jika waktu salat sudah sempit dan ia tahu bahwa jika ia keluar maka salat akan terlewat, maka ia tidak dianggap melanggar jika salat di dalam, karena syariat telah melarangnya keluar sebelum salat, dan larangan syariat lebih kuat daripada larangan makhluk. Jika ia berhenti di dalam untuk menutup pintu-pintunya atau mengamankan harta yang ia khawatirkan akan rusak, maka jika ia mampu mewakilkan kepada orang yang dipercaya, ia dianggap melanggar. Namun jika ia tidak mampu mewakilkan, maka menurut pendapat yang sahih dalam mazhab, ia tidak dianggap melanggar, karena tindakannya itu merupakan permulaan dari upaya keluar. Namun ada kemungkinan pendapat lain bahwa ia dianggap melanggar, karena hal itu merupakan penghalang yang tidak khusus pada dirinya. Jika ia mampu keluar dan semua penghalang telah hilang, maka ia dianggap melanggar baik tinggalnya sebentar maupun lama. Jika untuk keluar ada dua pintu, salah satunya dekat dan yang lain jauh, maka ia boleh memilih keluar dari pintu mana saja yang ia kehendaki, dan ia tidak dianggap melanggar jika keluar dari pintu yang lebih jauh, karena ia telah memulai upaya keluar, meskipun jalannya lebih jauh. Jika ia naik ke bagian atas rumah untuk keluar dari atap yang memiliki pintu keluar, maka ia dianggap melanggar, karena dengan naik ke atas itu ia masih dihukumi sebagai orang yang tinggal. Namun jika ia tidak mampu keluar dari pintu atap, maka ia tidak dianggap melanggar dengan naik ke atas untuk keluar.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا خَرَجَ مِنْهَا ثُمَّ عَادَ إِلَيْهَا لِنَقْلِ عِيَالِهِ أَوْ مَالِهِ سَوَاءٌ قَدَرَ عَلَى الِاسْتِنَابَةِ فِي ذَلِكَ أَوْ لَمْ يَقْدِرْ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ بِالْعَوْدِ بَعْدَ الْخُرُوجِ لِنَقْلِ أَهْلٍ أَوْ رحل سَاكِنًا فَإِنْ لَبِثَ بَعْدَ الْعَوْدِ لِغَيْرِ نَقْلِ أَهْلٍ أَوْ رَحْلٍ حَنِثَ قَلَّ زَمَانُ لُبْثِهِ أَوْ كَثُرَ وَيُرَاعَى فِي لُبْثِهِ لِنَقْلِ الرَّحْلِ وَالْأَهْلِ مَا جَرَى بِهِ الْعُرْفُ مِنْ غَيْرِ إِرْهَاقٍ وَلَا اسْتِعْجَالٍ

Dan jika ia keluar dari tempat itu, kemudian kembali lagi ke sana untuk memindahkan keluarganya atau hartanya—baik ia mampu mewakilkan urusan tersebut kepada orang lain maupun tidak—karena dengan kembalinya setelah keluar untuk memindahkan keluarga atau barang-barangnya, ia tidak dianggap sebagai orang yang menetap. Namun, jika setelah kembali ia tinggal bukan untuk memindahkan keluarga atau barang-barangnya, maka ia dianggap melanggar, baik waktu tinggalnya sebentar maupun lama. Adapun waktu tinggalnya untuk memindahkan barang dan keluarga, diperhatikan sesuai kebiasaan yang berlaku tanpa memberatkan dan tanpa tergesa-gesa.

فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ بِيَمِينِي لَا سَكَنْتُ هَذِهِ الدَّارَ شَهْرًا فَإِنْ كَانَتْ بِاللَّهِ حُمِلَتْ عَلَى مَا نَوَاهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا لِأَنَّهَا مُخْتَصَّةٌ بِحَقِّ اللَّهِ الَّذِي يَحْمِلُ فِيهِ عَلَى نِيَّتِهِ وَإِنْ كَانَتْ بِطَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ حُمِلَ عَلَى التَّأْبِيدِ فِي ظَاهِرِ الْحُكْمِ لِوُجُودِ خَصْمٍ فِيهِ وَكَانَ فِي الْبَاطِنِ مَدِينًا فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَحْمُولًا عَلَى مَا نَوَاهُ وَلَوْ قَالَ لَا سَكَنْتُهَا يَوْمًا كَانَتْ مُعَلَّقَةً إِلَى مِثْلِ وَقْتِهِ مِنْ غَدِهِ وَلَوْ قَالَ لَا سَكَنتهَا يَوْمِي هَذَا انْقَضَتْ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ من يومه ليكون في الأولة مُسْتَوْفِيًا لِلْيَوْمِ وَفِي الثَّانِيَةِ مُسْتَوْفِيًا لِبَقِيَّةِ الْيَوْمِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَ الْإِطْلَاقِ وَالتَّعْيِينِ

Jika seseorang berkata, “Dengan sumpahku, aku tidak akan menempati rumah ini selama sebulan,” maka jika sumpah itu dengan nama Allah, maka dipahami sesuai dengan niatnya, baik secara lahir maupun batin, karena sumpah tersebut khusus berkaitan dengan hak Allah, yang dalam hal ini dipertimbangkan niatnya. Namun jika sumpah itu terkait dengan talak atau pembebasan budak (‘itāq), maka secara lahir hukum dipahami sebagai berlaku selamanya karena adanya pihak lawan di dalamnya, dan secara batin ia tetap berdosa di hadapan Allah Ta‘ala jika niatnya berbeda, dan dipahami sesuai dengan niatnya. Jika ia berkata, “Aku tidak akan menempatinya sehari,” maka sumpah itu berlaku hingga waktu yang sama pada hari berikutnya. Jika ia berkata, “Aku tidak akan menempatinya hari ini,” maka sumpah itu berakhir dengan terbenamnya matahari pada hari itu, sehingga pada kasus pertama ia telah menyempurnakan satu hari penuh, dan pada kasus kedua ia telah menyempurnakan sisa hari itu, karena terdapat perbedaan antara ungkapan umum dan penentuan waktu secara spesifik.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ حَلَفَ أَنْ لَا يُسَاكِنَهُ وَهُوَ ساكنٌ فَإِنْ أَقَامَا جَمِيعًا سَاعَةً يُمْكِنُهُ التَّحْوِيلُ عَنْهُ حَنِثَ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan tinggal serumah dengannya, sementara ia sedang tinggal bersamanya, maka jika keduanya tetap tinggal bersama-sama selama satu waktu yang memungkinkan baginya untuk berpindah darinya, ia dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْمُسَاكَنَةُ فَهِيَ الْمُفَاعَلَةُ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ فَإِذَا حَلَفَ لَا سَاكَنْتُ فُلَانًا فَالْيَمِينُ مُنْعَقِدَةٌ عَلَى أَنْ لَا يَجْتَمِعَا فِي مَسْكَنٍ واحدٍ وَبَرَّ الْحَالِفُ بِخُرُوجِ أَحَدِهِمَا فَإِنْ خَرَجَ الْحَالِفُ وَبَقِيَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ بَرَّ وَإِنْ خَرَجَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ وَبَقِيَ الْحَالِفُ بَرَّ وَإِنْ خَرَجَا مَعًا كَانَ أَوْكَدَ فِي الْبِرِّ وَإِنْ بَقِيَا فِيهَا مَعًا حَنِثَ الْحَالِفُ وَإِنْ قَالَ وَاللَّهِ لَا سَكَنْتُ مَعَ زَيْدٍ فَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا الْبَصْرِيِّينَ أَحْسَبُهُ أَبَا الْفَيَّاضِ إِلَى أَنَّ الْيَمِينَ تَكُونُ مُتَعَلِّقَةً بِفِعْلِ الْحَالِفِ وَحْدَهُ فَإِنْ خَرَجَ الْحَالِفُ بَرَّ وَإِنْ خَرَجَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ لَمْ يَبَرَّ لِأَنَّهُ أَضَافَ الْفِعْلَ إِلَى نَفْسِهِ وَهَكَذَا لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا سَكَنَ مَعِي زَيْدٌ كَانَ تَعَلُّقُ الْبِرِّ بِفِعْلِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ وَحْدَهُ فَإِنْ خَرَجَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ بَرَّ وَإِنْ خَرَجَ الْحَالِفُ لَمْ يَبَرَّ لِأَنَّهُ أَضَافَ الْفِعْلَ إِلَى الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ إِلَى نَفْسِهِ وَفَرْقٌ بَيْنَ هَذَيْنِ وَبَيْنَ الْمُسَاكَنَةِ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ لَهُ وَجْهٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ يَبَرُّ فِي هَذِهِ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ بِخُرُوجِ أَحَدِهِمَا لِأَنَّ الْيَمِينَ مَعَهَا مَعْقُودَةٌ عَلَى الْإِجْمَاعِ فِيهَا وَبِخُرُوجِ أَحَدِهِمَا يَزُولُ الِاجْتِمَاعُ فَوَجَبَ أَنْ يَقَعَ لَهُ الْبِرُّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Mawardi berkata: Adapun al-musākanah (tinggal bersama), maka itu adalah interaksi antara dua orang atau lebih. Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan tinggal bersama si Fulan,” maka sumpah itu terikat pada tidak berkumpulnya mereka dalam satu tempat tinggal, dan orang yang bersumpah telah menunaikan sumpahnya dengan keluarnya salah satu dari keduanya. Jika yang keluar adalah orang yang bersumpah dan yang disumpahi tetap tinggal, maka ia telah menunaikan sumpahnya. Jika yang keluar adalah yang disumpahi dan yang bersumpah tetap tinggal, maka ia juga telah menunaikan sumpahnya. Jika keduanya keluar bersama-sama, maka itu lebih kuat dalam menunaikan sumpah. Namun jika keduanya tetap tinggal bersama, maka orang yang bersumpah telah melanggar sumpahnya. Jika ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan tinggal bersama Zaid,” maka sebagian sahabat kami dari kalangan Basrah—aku kira Abu al-Fayyadh—berpendapat bahwa sumpah itu hanya terkait dengan perbuatan orang yang bersumpah saja. Maka jika yang keluar adalah orang yang bersumpah, ia telah menunaikan sumpahnya, dan jika yang keluar adalah yang disumpahi, ia belum menunaikan sumpahnya, karena ia telah mengaitkan perbuatan itu pada dirinya sendiri. Demikian pula jika ia berkata, “Demi Allah, Zaid tidak akan tinggal bersamaku,” maka penunaian sumpah itu hanya terkait dengan perbuatan orang yang disumpahi saja. Jika yang keluar adalah yang disumpahi, ia telah menunaikan sumpahnya, dan jika yang keluar adalah orang yang bersumpah, ia belum menunaikan sumpahnya, karena ia telah mengaitkan perbuatan itu pada orang yang disumpahi, bukan pada dirinya sendiri. Terdapat perbedaan antara kedua hal ini dengan al-musākanah. Pendapat ini, meskipun ada sisi benarnya, namun lemah. Pendapat yang benar adalah bahwa dalam tiga masalah ini, penunaian sumpah terjadi dengan keluarnya salah satu dari keduanya, karena sumpah tersebut terikat pada ijmā‘ dalam hal ini, dan dengan keluarnya salah satu dari keduanya, maka berkumpul itu hilang, sehingga wajib baginya untuk dianggap telah menunaikan sumpahnya. Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا سَكَنْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا بَرَّ بِخُرُوجِ أَحَدِهِمَا

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan tinggal bersama Zaid dan ‘Amr,” maka sumpahnya dianggap terpenuhi dengan keluarnya salah satu dari keduanya.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا سَاكَنْتُ زَيْدًا وَلَا عَمْرًا لَمْ يَبَرَّ بِخُرُوجِ أَحَدِهِمَا لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَحْلُوفٌ عَلَيْهِ وَكَانَ بَرُّهُ بِخُرُوجِهِ دُونَهُمَا أَوْ بِخُرُوجِهِمَا مَعًا دُونَهُ وَفِي الأولى يبر بخروجه أو بخروج أحدهما لأنه يَمِينَهُ فِي الْأُولَى مَعْقُودَةٌ عَلَى الِاجْتِمَاعِ وَفِي الثانية معقودة على الإفراد والله أعلم

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan tinggal bersama Zaid dan tidak pula bersama ‘Amr,” maka sumpahnya tidak dianggap terpenuhi dengan keluarnya salah satu dari mereka, karena masing-masing dari mereka adalah objek sumpah, dan sumpahnya dianggap terpenuhi jika keduanya keluar bersamaan tanpa dirinya, atau jika keduanya keluar bersama-sama tanpa dirinya. Pada kasus pertama, sumpahnya dianggap terpenuhi dengan keluarnya salah satu dari mereka, karena sumpahnya pada kasus pertama terikat pada kebersamaan, sedangkan pada kasus kedua terikat pada keindividualan. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي ولو كانا في بيتين فجعل بينهما حداً وَلِكُلِّ واحدٍ مِنَ الْحُجْرَتَينِ بابٌ فَلَيْسَتْ هَذِهِ بِمُسَاكَنَةٍ وَإِنْ كَانَا فِي دارٍ واحدةٍ وَالْمُسَاكَنَةُ أَنْ يَكُونَا فِي بيتٍ أَوْ بَيْتَيْنِ حُجْرَتُهُمَا واحدةٌ وَمَدْخَلُهُمَا واحدٌ وَإِذَا افْتَرَقَ الْبَيْتَانِ أَوِ الْحُجْرَتَانِ فَلَيْسَتْ بمساكنةٍ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ نيةٌ فهو على ما نوى فإن قيل ما الحجة في أن النقلة ببدنه دون متاعه وأهله وماله؟ قيل أرأيت إذا سافر أيكون من أهل السفر فيقصر؟ أو رأيت لو انقطع إلى مكة ببدنه أيكون من حاضري المسجد الحرام الذين إن تمتعوا لم يكن عليهم دمٌ؟ فإذا قال نعم فإنما النقلة والحكم على البدن لا على مالٍ وأهلٍ وعيالٍ

Imam Syafi‘i berkata: Jika keduanya berada di dua kamar lalu di antara keduanya dibuat batas, dan masing-masing kamar memiliki pintu sendiri, maka ini bukanlah termasuk tinggal bersama (musākanah), meskipun keduanya berada dalam satu rumah. Musākanah adalah apabila keduanya berada dalam satu kamar atau dua kamar yang ruangannya satu dan pintu masuknya satu. Jika kedua kamar atau ruangan itu terpisah, maka itu bukan musākanah, kecuali jika ada niat tertentu, maka hukumnya sesuai dengan niat tersebut. Jika ditanyakan: Apa dalil bahwa perpindahan itu dengan badan, bukan dengan barang, keluarga, dan harta? Maka dijawab: Bagaimana menurutmu jika seseorang bepergian, apakah ia termasuk musafir sehingga boleh mengqashar salat? Atau bagaimana jika ia menetap di Mekah hanya dengan badannya, apakah ia termasuk penduduk Masjidil Haram yang jika melakukan tamattu‘ tidak wajib membayar dam? Jika dijawab ya, maka perpindahan dan hukum itu berlaku atas badan, bukan atas harta, keluarga, dan anak-anak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا حَلَفَ لَا يُسَاكِنُهُ وَقَدْ جَمَعَتْهُمَا دَارٌ وَاحِدَةٌ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمَا فِي وَقْتِ الْيَمِينِ مِنْ أَنْ يَكُونَا مُجْتَمِعَيْنِ أَوْ غَيْرَ مُجْتَمِعَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا مُجْتَمِعَيْنِ وَكَانَا خَارِجَيْنِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَقُسِّمَتِ الدَّارُ بَيْنَهُمَا بِحَائِطٍ بُنِيَ فِي وَسَطِهَا وَسَكَنَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا أَحَدَ الْجَانِبَيْنِ بِبَابٍ مُفْرَدٍ يَدْخُلُ وَيَخْرُجُ مِنْهُ بَرَّ فِي يَمِينِهِ وَلَيْسَتْ هَذِهِ مُسَاكَنَةً وَإِنَّمَا هِيَ مُجَاوِرَةٌ وَإِنْ كَانَا فِي وَقْتِ الْيَمِينِ مُجْتَمِعَيْنِ فَشَرَعَا فِي بِنَاءِ حائط بينهما حنث لأنها قَبْلَ كَمَالِ مَا يَقَعُ بَيْنَهُمَا مُتَسَاكِنَانِ وَلَوْ كَانَ فِي الدَّارِ حُجْرَةٌ فَسَكَنَ أَحَدَهُمَا فِي الْحُجْرَةِ وَالْآخِرُ فِي الدَّارِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ بَابُ الْحُجْرَةِ إِلَى الدَّارِ حَنِثَ لِأَنَّهُمَا مُتَسَاكِنَانِ وَإِنِ انْفَرَدَتِ الْحُجْرَةُ بِبَابٍ غَيْرِ بَابِ الدَّارِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ بَابُهَا إِلَى الدَّارِ مَسْدُودًا بَرَّ وَإِنْ كَانَ بَابُهَا إِلَى الدَّارِ مَفْتُوحًا حَنِثَ وَلَوْ كَانَ فِي الدَّارِ حُجْرَتَانِ فَسَكَنَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي إِحْدَى الْحُجْرَتَيْنِ فَإِنْ لَمْ تَكُنِ الدَّارُ مَعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَرَّ وَإِنْ كَانَ بَابُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الدَّارِ صَارَتْ كَالْخَانِ الَّذِي فِيهِ حُجَرٌ فَلَا يَحْنَثُ إِذَا سَكَنَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا فِي حُجْرَةٍ مِنَ الْخَانِ كَذَلِكَ الدَّارُ وَإِنْ كَانَتِ الدَّارُ مَعَ أَحَدِهِمَا فَهُوَ عَلَى مَا مَضَى إِذَا كَانَ فِي الدَّارِ حُجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِنَّهُ لَا يَبَرُّ حَتَّى تَنْفَرِدَ الْحُجْرَةُ عَنِ الدَّارِ بِبَابٍ لِلدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ مِنْهَا بَعْدَ قَطْعِ مَا بَيْنَ الْحُجْرَةِ وَالدَّارِ

Al-Mawardi berkata: Ini sebagaimana ia berkata, “Jika ia bersumpah tidak akan tinggal serumah dengannya,” sementara keduanya berada dalam satu rumah, maka keadaan mereka pada saat sumpah itu tidak lepas dari dua kemungkinan: mereka sedang bersama-sama atau tidak bersama-sama. Jika mereka tidak sedang bersama-sama dan keduanya sedang di luar rumah, atau salah satu dari mereka saja, lalu rumah itu dibagi di antara mereka dengan membangun dinding di tengahnya, dan masing-masing menempati salah satu sisi dengan pintu tersendiri untuk masuk dan keluar, maka ia telah menepati sumpahnya dan itu tidak dianggap tinggal serumah, melainkan hanya bertetangga. Namun, jika pada saat sumpah mereka sedang bersama-sama, lalu mereka mulai membangun dinding di antara mereka, maka ia melanggar sumpahnya karena sebelum sempurna pemisahan itu, mereka masih dianggap tinggal serumah. Jika di dalam rumah ada sebuah kamar, lalu salah satu dari mereka tinggal di kamar itu dan yang lain di rumah, maka dilihat: jika pintu kamar menghadap ke dalam rumah, ia melanggar sumpah karena keduanya masih dianggap tinggal serumah; namun jika kamar itu memiliki pintu tersendiri yang tidak sama dengan pintu rumah, maka dilihat lagi: jika pintu kamar ke arah rumah tertutup, ia menepati sumpahnya; jika pintu kamar ke arah rumah terbuka, ia melanggar sumpahnya. Jika di dalam rumah ada dua kamar dan masing-masing menempati salah satu kamar, maka jika rumah tidak menjadi milik salah satu dari mereka, ia menepati sumpahnya. Jika pintu masing-masing kamar menghadap ke dalam rumah, maka keadaannya seperti penginapan yang memiliki beberapa kamar, sehingga ia tidak melanggar sumpah jika masing-masing tinggal di salah satu kamar penginapan; demikian pula halnya dengan rumah. Namun, jika rumah menjadi milik salah satu dari mereka, maka hukumnya kembali seperti sebelumnya, yaitu jika di dalam rumah hanya ada satu kamar, maka ia tidak dianggap menepati sumpah sampai kamar itu benar-benar terpisah dari rumah dengan pintu tersendiri untuk masuk dan keluar setelah memutus hubungan antara kamar dan rumah.

وَلَوْ كَانَا فِي دَارٍ وَاحِدَةٍ فَاخْتَصَّ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا بِبَيْتٍ مِنْهَا فَإِنْ كَانَتِ الدَّارُ صَغِيرَةً حَنِثَ لِأَنَّهَا مَسْكَنٌ وَاحِدٌ وَإِنْ كَانَتْ وَاسِعَةً فَإِنِ اعْتَزَلَا الدَّارَ وَتَفَرَّدَا بِالْبَابَيْنِ مِنْهَا بِبَابٍ يَغْلِقُ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا عَلَى نَفْسِهِ بَرَّ وَصَارَا كَسَاكِنَيْ بَيْتَيْنِ مِنْ خَانٍ جَامِعٍ فَلَا يَحْنَثُ بِسُكْنَى كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا فِي بَيْتٍ مِنْهُ كَذَلِكَ هَذِهِ الدَّارُ وَإِنْ لَمْ يَعْتَزِلَا الدَّارَ حَنِثَ وَلَوْ كان الدَّارُ وَاحِدَةً فَسَكَنَ أَحَدُهُمَا فِي عُلُوِّهَا وَسَكَنَ الْآخَرُ فِي سِفْلِهَا فَإِنْ كَانَ مَدْخَلُهُمَا وَمَخْرَجُهُمَا وَاحِدًا حَنِثَ وَإِنِ انْفَرَدَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا بِمَدْخَلٍ وَمَخْرَجٍ وَانْقَطَعَ مَا بَيْنَ الْعُلُوِّ وَالسِّفْلِ بر

Jika keduanya berada di dalam satu rumah, lalu masing-masing dari mereka menempati satu kamar dari rumah itu, maka jika rumah tersebut kecil, ia dianggap melanggar sumpah karena itu adalah satu tempat tinggal. Namun jika rumah itu luas, lalu keduanya memisahkan diri di dalam rumah tersebut dan masing-masing menempati satu pintu yang dapat dikunci sendiri-sendiri, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dan keduanya seperti dua orang yang menempati dua kamar dari satu penginapan besar, sehingga tidak dianggap melanggar sumpah jika masing-masing tinggal di satu kamar dari rumah itu. Demikian pula halnya dengan rumah ini. Namun jika keduanya tidak memisahkan diri di dalam rumah itu, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika rumah itu satu, lalu salah satu dari mereka tinggal di lantai atas dan yang lain di lantai bawah, maka jika pintu masuk dan keluar mereka satu, ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika masing-masing memiliki pintu masuk dan keluar sendiri, dan tidak ada hubungan antara lantai atas dan bawah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

فصل

Bab

قال الشافعي إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ نِيَّةٌ فَهُوَ عَلَى مَا نَوَى يُرِيدُ بِذَلِكَ إنَّ مَا بَيَّنَهُ مِنَ اعْتِزَالِهِمَا فِي حُجْرَتَيْنِ أَوْ بَيْتَيْنِ مِنْ دارٍ إذا كان يَمِينُهُ مُطْلَقَةً عَلَى الْمُسَاكَنَةِ فَأَمَّا إِذَا اقْتَرَنَتْ بِنِيَّةِ أَلَّا يُجَاوِرَهُ فِي مَوْضِعٍ أَوْ فِي مَحَلَّةٍ أَوْ فِي قَبِيلَةٍ أَوْ فِي بلدٍ كَانَتْ يَمِينُهُ مَحْمُولَةً عَلَى مَا نَوَاهُ وَلَا يَبَرُّ بِانْفِرَادِهِمَا فِي حُجْرَتَيْنِ مِنْ دارٍ ثُمَّ ذَكَّرَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى أَنَّ الِانْتِقَالَ بِالْبَدَنِ دُونَ الْعِيَالِ وَالْمَالِ مُزِيلٌ لِحُكْمِ السكنى والمساكنة وقد ذكرناه

Imam Syafi‘i berkata, “Kecuali jika ia memiliki niat tertentu, maka hukumnya sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Maksudnya adalah, apa yang telah dijelaskan mengenai pemisahan keduanya dalam dua kamar atau dua ruangan dalam satu rumah, jika sumpahnya bersifat mutlak atas tinggal bersama. Adapun jika sumpah tersebut disertai dengan niat untuk tidak bertetangga di suatu tempat, atau di suatu lingkungan, atau di suatu kabilah, atau di suatu negeri, maka sumpahnya itu berlaku sesuai dengan apa yang ia niatkan, dan tidak cukup hanya dengan memisahkan keduanya dalam dua kamar dalam satu rumah. Kemudian Imam Syafi‘i, semoga Allah meridhainya, mengingatkan bahwa berpindah badan saja tanpa membawa keluarga dan harta dapat menghilangkan hukum tinggal bersama dan bermukim bersama, dan hal ini telah kami sebutkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُهَا فَرَقي فَوْقَهَا لَمْ يحنث حتى يدخل بيتاً منها أو عرضتها

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memasukinya, lalu ia berjalan di atas atapnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya sampai ia masuk ke salah satu ruangan di dalamnya atau melintasi ambangnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا حَلَفَ لَا يَدْخُلُ الدَّارَ فَرَقي عَلَى سَطْحِهَا وَالسَّطْح غَيْرُ مُحْجِزٍ لَمْ يَحْنَثْ

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti ketika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke dalam rumah, lalu ia naik ke atapnya, dan atap tersebut tidak memiliki pembatas, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ احْتِجَاجًا بِأَنَّهُ مِنْ حُقُوقِهَا وَإِنَّ سُورَهَا مُحِيطٌ بِهِ فَأَشْبَهَ قَرَارَهَا

Abu Hanifah berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dengan alasan bahwa itu termasuk hak-haknya, dan sesungguhnya ruangannya meliputi hal tersebut, sehingga hal itu serupa dengan tempat tinggalnya.

وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ أَحَدُهُمَا إنَّ السَّطْحَ حَاجِزٌ فَأَشْبَهَ سُورَهَا فَصَارَ الرَّاقِي عَلَيْهِ كَالرَّاقِي عَلَى السُّورِ وَقَدْ وَافَقَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِارْتِقَائِهِ عَلَى السُّورِ كَذَلِكَ يَجِبُ أَنْ لَا يَحْنَثَ بِارْتِقَائِهِ عَلَى السَّطْحِ

Dalil kami ada dua. Pertama, atap merupakan penghalang, sehingga serupa dengan dindingnya. Maka orang yang naik ke atas atap itu seperti orang yang naik ke atas dinding. Ia telah sepakat bahwa seseorang tidak melanggar sumpahnya dengan naik ke atas dinding, maka demikian pula seharusnya ia tidak melanggar sumpahnya dengan naik ke atas atap.

وَالثَّانِي هُوَ أَنَّ الدَّارَ حِرْزٌ لِمَا فِيهَا يقطع سارقه وما فوق السطح ليس بمحرز وَلَا قَطْعَ عَلَى سَارِقِهِ فَلَمَّا خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْحِرْزِ فِي الْقَطْعِ وَجَبَ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ حُكْمِ الدَّارِ فِي الْحِنْثِ

Yang kedua adalah bahwa rumah merupakan tempat perlindungan bagi apa yang ada di dalamnya sehingga pencurinya dikenai hukuman potong tangan, sedangkan apa yang berada di atas atap tidak dianggap terlindungi dan pencurinya tidak dikenai hukuman potong tangan. Maka, ketika sesuatu keluar dari ketentuan perlindungan dalam hal hukuman potong tangan, wajib pula dikeluarkan dari ketentuan rumah dalam hal pelanggaran sumpah.

وَاسْتِدْلَالُهُمْ بِأَنَّهُ مِنْ حُقُوقِهَا يَبْطُلُ بِارْتِقَائِهِ عَلَى سُورِهَا

Dalil mereka bahwa itu termasuk hak-haknya menjadi batal dengan naiknya dia ke atas temboknya.

وَاسْتِدْلَالُهُ بِأَنَّهُ مُحِيطٌ بِهَا كَالسُّورِ فَصَحِيحٌ لَكِنْ مَا فَوْقَ السَّطْحِ جارٍ مَجْرَى مَا وَرَاءَ السُّورِ

Dalilnya bahwa ia mengelilinginya seperti tembok adalah benar, namun apa yang berada di atas permukaan itu hukumnya seperti apa yang berada di luar tembok.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا كَانَ عَلَى السَّطْحِ تَحْجِيزٌ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Adapun jika di atas permukaan (atap) terdapat pembatas, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ غَيْرَ مَانِعٍ كَالْقَصَبِ وَمَا ضَعُفَ مِنَ الْخَشَبِ فَلَا يَحْنَثُ بِارْتِقَائِهِ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah benda yang tidak menjadi penghalang, seperti batang tebu dan kayu yang rapuh, maka seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika naik di atasnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ مَانِعًا بِبِنَاءٍ يَمْتَنِعُ بِمِثْلِهِ وَيَتَحَرَّزُ مِنْ بِنَاءٍ أَوْ خَشَبٍ وَثِيقٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حِنْثِهِ بِارْتِقَائِهِ عَلَيْهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Jenis kedua adalah sesuatu yang menjadi penghalang dengan bangunan yang dengannya dapat dicegah (masuknya), seperti bangunan atau kayu yang kokoh. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai batalnya sumpah jika ia naik ke atasnya, menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَحْنَثُ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ قَوْلَ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لِأَنَّ إِحَاطَةَ السَّطْحِ بِالدَّارِ تَحْجِزُ عَمَّا فَوْقَهُ

Salah satunya adalah ia dianggap melanggar sumpah, dan ini mirip dengan pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, karena atap yang mengelilingi rumah menjadi penghalang terhadap apa yang ada di atasnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لِأَنَّ السُّتْرَةَ مُحِيطَةٌ بِالدَّارِ فَأَشْبَهَتِ السُّورَ

Pendapat kedua, ia dianggap melanggar sumpah, dan ini adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, karena sutrah (pembatas) mengelilingi rumah sehingga menyerupai pagar.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ طَرِيقَةُ أبي الغياض إِنْ كَانَتِ السُّتْرَةُ عَالِيَةً يَحْجِزُ مِثْلُهَا لَوْ كان في العرضة حَنِثَ وَإِنْ كَانَتِ السُّتْرَةُ قَصِيرَةً لَا يَحْجِزُ مثلها لو كان في العرضة لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ كَانَ فِي السَّطْحِ غُرْفَةٌ فَدَخَلَهَا يَحْنَثُ وَلَوْ نَزَلَ مِنَ السَّطْحِ إِلَى مَرْقَاةٍ مِنْ دَرَجَتِهَا الدَّاخِلَةِ فِيهَا حَنِثَ وَلَوْ صَعِدَ مِنْ دَرَجِ الدَّارِ إِلَى سَطْحِهَا وَالدَّرَجَةُ خَارِجَ الدَّارِ مَعْقُودَةٌ أَوْ غَيْرُ مَعْقُودَةٍ فَإِنْ لم يدخل فِي سُورِ الدَّارِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ دَخَلَتْ فِي سُورِ الدَّارِ حَتَّى تَجَاوَزَتْهُ فِي الدُّخُولِ حَنِثَ وَإِنْ لَمْ تَتَجَاوَزْ حَدَّ السُّورِ لَمْ يحنث وَإِنْ رَقِيَ عَلَى شَجَرَةٍ خَارِجَ الدَّارِ وَأَغْصَانُهَا فِي الدَّارِ وَعَدَلَ عَنْ أَغْصَانِهَا الدَّاخِلَةِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ صَارَ فَوَقَ أَغْصَانِهَا الدَّاخِلَةِ نُظِرَ فِيهَا فَإِنْ كَانَتِ الْأَغْصَانُ فَوْقَ السَّطْحِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ كَانَتْ دُونَ السَّطْحِ حَنِثَ وَلَوْ جَلَسَ خَارِجَ الدَّارِ فِي مَاءٍ يَجْرِي إِلَى الدَّارِ فَحَمَلَهُ الْمَاءُ إِلَيْهَا حَنِثَ وَصَارَ الْمَاءُ كَالدَّابَّةِ إِذَا رَكِبَهَا فَأَدْخَلَتْهُ الدَّار حَنِثَ لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِهِمَا دَاخِلًا إِلَى الدَّارِ وَلَوْ رَقِيَ عَلَى سُورِهَا فَأَلْقَتْهُ الرِّيحُ إِلَيْهَا لَمْ يَحْنَثْ إِنْ بَادَرَ بِالْخُرُوجِ مِنْهَا لِأَنَّ دُخُولَهَا مِنْ غَيْرِ فِعْلِهِ وَلَوْ أَدْخَلَ إِحْدَى رِجْلَيْهِ مِنْ بَابِ الدَّارِ دُونَ الْأُخْرَى لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ الدُّخُولَ لَمْ يَكْمُلْ وَلَوْ ثَقَبَ حَائِطَ الدَّارِ وَدَخَلَ إِلَيْهَا مِنْ ثُقْبِهَا حَنِثَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ نِيَّةٌ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا مِنْ بَابِهَا فَيُحْمَلُ عَلَى مَا نَوَاهُ وَلَا يَحْنَثُ بِالدُّخُولِ مِنْ غَيْرِ الْبَابِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat ketiga, yaitu metode Abu al-Ghiyadh: Jika penghalang itu tinggi, yang seandainya ada di tempat terbuka dapat menghalangi, maka jika ia memasukinya, ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika penghalang itu pendek, yang seandainya ada di tempat terbuka tidak dapat menghalangi, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Jika di atap rumah terdapat sebuah kamar lalu ia memasukinya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia turun dari atap ke anak tangga yang termasuk bagian dari rumah, maka ia juga dianggap melanggar sumpah. Jika ia naik dari tangga rumah ke atapnya, dan anak tangga itu berada di luar rumah, baik terhubung maupun tidak terhubung, maka jika ia belum masuk ke dalam pagar rumah, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika anak tangga itu masuk dalam pagar rumah hingga ia melewati batas pagar saat masuk, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika belum melewati batas pagar, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Jika ia naik ke pohon di luar rumah dan cabang-cabangnya masuk ke dalam rumah, lalu ia berpindah dari cabang yang berada di dalam rumah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia berada di atas cabang yang masuk ke dalam rumah, maka perlu dilihat: jika cabang itu berada di atas atap, ia tidak dianggap melanggar sumpah; jika di bawah atap, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia duduk di luar rumah di atas air yang mengalir ke dalam rumah, lalu air itu membawanya masuk ke dalam rumah, maka ia dianggap melanggar sumpah. Air di sini seperti kendaraan yang jika dinaiki lalu membawanya masuk ke dalam rumah, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena dengan keduanya ia menjadi masuk ke dalam rumah. Jika ia naik ke atas pagar rumah lalu angin melemparkannya ke dalam rumah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika ia segera keluar darinya, karena masuknya itu bukan atas kehendaknya sendiri. Jika ia memasukkan salah satu kakinya ke dalam pintu rumah tanpa kaki yang lain, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena masuknya belum sempurna. Jika ia melubangi dinding rumah lalu masuk ke dalam rumah melalui lubang itu, maka ia dianggap melanggar sumpah, kecuali jika ia berniat tidak masuk melalui pintunya, maka hal itu mengikuti niatnya dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika masuk bukan melalui pintu. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبًا وَهُوَ لَابِسُهُ وَلَا يَرْكَبُ دَابَّةً وَهُوَ رَاكِبُهَا فَإِنْ نَزَعَ أَوْ نَزَلَ مَكَانَهُ وَإِلَّا حَنِثَ وَكَذَلِكَ مَا أَشْبَهَهُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakai pakaian, padahal ia sedang memakainya, atau tidak akan menaiki hewan tunggangan, padahal ia sedang menungganginya, maka jika ia segera melepaskan pakaian atau turun dari hewan tunggangan di tempat itu, ia tidak melanggar sumpah. Jika tidak, maka ia dianggap melanggar sumpah. Demikian pula hukum pada hal-hal yang serupa.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ مَا حَلَفَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَفْعَالِ يَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, ketahuilah bahwa perbuatan-perbuatan yang dijadikan sumpah terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا مَا يَحْنَثُ فِيهِ بِابْتِدَاءِ الْفِعْلِ وَاسْتَدَامَتِهِ وَهُوَ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ السُّكْنَى وَاللِّبَاسُ وَالرُّكُوبُ وَالْغَصْبُ وَالْجِمَاعُ فَإِذَا حَلَفَ لَا سَكَنْتُ دَارًا حَنِثَ بِأَنْ يَبْتَدِئَ سُكْنَاهَا وَحَنِثَ بِأَنْ يَكُونَ سَاكِنًا فِيهَا فَيَسْتَدِيمُ سُكْنَاهَا إِلَّا أَنْ يُبَادِرَ بِالْخُرُوجِ مِنْهَا

Salah satunya adalah perkara yang menyebabkan seseorang melanggar sumpah baik dengan memulai perbuatan maupun dengan melanjutkannya, yaitu lima hal: tinggal, berpakaian, menunggang, merampas, dan bersetubuh. Maka jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan tinggal di rumah ini,” ia melanggar sumpahnya baik dengan mulai tinggal di rumah itu maupun dengan tetap tinggal di dalamnya, kecuali jika ia segera keluar darinya.

وَلَوْ حَلَفَ لَا لَبِسْتُ ثَوْبًا حَنِثَ بِأَنْ يَبْتَدِئَ لِبَاسَهُ وَحَنِثَ أَنْ يَكُونَ لَابِسَهُ فَيَسْتَدِيمُ لِبَاسُهُ إِلَّا أَنْ يُبَادِرَ بِنَزْعِهِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan memakai pakaian,” maka ia melanggar sumpahnya dengan mulai mengenakan pakaian, dan ia juga melanggar sumpahnya jika ia sedang mengenakan pakaian lalu tetap memakainya, kecuali jika ia segera melepaskannya.

وَلو حَلَفَ لَا يَرْكَبُ دَابَّةً حَنِثَ بِأَنْ يَبْتَدِئَ رُكُوبَهَا وَحَنِثَ بِأَنْ يَكُونَ رَاكِبًا فَيَسْتَدِيمُ رُكُوبُهَا إِلَّا أَنْ يُبَادِرَ بِالنُّزُولِ عَنْهَا وَلَوْ حَلَفَ لَا غَصَبْتُ مَالًا حَنِثَ بِأَنْ يَبْتَدِئَ بِالْغَصْبِ وَحَنِثَ بِأَنْ يَكُونَ غَاصِبًا فَيَسْتَدِيمُ الْغَصْبُ إِلَّا أَنْ يُبَادِرَ بِرَدِّهِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan menaiki hewan tunggangan, maka ia melanggar sumpah jika ia mulai menaikinya, dan ia juga melanggar sumpah jika ia sedang berada di atas hewan tersebut lalu terus-menerus menungganginya, kecuali jika ia segera turun darinya. Jika seseorang bersumpah tidak pernah merampas harta, maka ia melanggar sumpah jika ia mulai melakukan perampasan, dan ia juga melanggar sumpah jika ia sedang menjadi perampas lalu terus-menerus melakukan perampasan, kecuali jika ia segera mengembalikannya.

وَلَوْ حَلَفَ لَا جَامَعْتُ حَنِثَ بِأَنْ يَبْتَدِئَ الْجِمَاعَ وَحَنِثَ بِأَنْ يَكُونَ مُجَامِعًا فَيَسْتَدِيمُ الْجِمَاعُ إِلَّا أَنْ يُبَادِرَ بِالْإِخْرَاجِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan berjima‘,” maka ia melanggar sumpahnya jika ia memulai jima‘, dan ia juga melanggar sumpahnya jika ia sedang dalam keadaan berjima‘ lalu terus melanjutkan jima‘, kecuali jika ia segera menghentikannya.

وَإِنَّمَا حَنِثَ فِي هَذِهِ الْخَمْسَةِ بِالِابْتِدَاءِ وَالِاسْتِدَامَةِ لِأَنَّ اسْمَ الْفِعْلِ مُنْطَلِقٌ عَلَيْهِ فِي الْحَالَيْنِ فَاسْتَوَى حُكْمُهُمَا فِي الْحِنْثِ

Seseorang dianggap melanggar sumpah dalam lima hal ini, baik pada saat memulai maupun saat melanjutkan, karena nama perbuatan itu berlaku pada kedua keadaan tersebut, sehingga hukumnya sama dalam hal pelanggaran sumpah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَحْنَثُ بِابْتِدَاءِ الْفِعْلِ وَلَا يَحْنَثُ بِاسْتِدَامَتِهِ وَهُوَ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ النِّكَاحُ وَالْإِحْرَامُ وَالرَّهْنُ وَالشِّرَاءُ وَالْوَقْفُ فَإِذَا حَلَفَ لَا يَنْكِحُ وَقَدْ نَكَحَ وَأَنْ لَا يُحْرِمَ وَقَدْ أَحْرَمَ أَوْ لَا يَرْهَنَ وَقَدْ رَهَنَ أَوْ لَا يَقِفَ وَقَدْ وَقَفَ لَمْ يَحْنَثْ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ نِكَاحًا وَإِحْرَامًا وَرَهْنًا وَشِرَاءً وَوَقْفًا لِأَنَّهَا عُقُودٌ فَلَمْ يَحْنَثْ بِاسْتِدَامَتِهَا لِتَقَدُّمِ العقد فيها

Bagian kedua adalah perkara yang menyebabkan seseorang melanggar sumpahnya dengan memulai perbuatan, namun tidak melanggar sumpah dengan melanjutkannya. Perkara tersebut ada lima: nikah, ihram, rahn (gadai), jual beli, dan wakaf. Maka jika seseorang bersumpah tidak akan menikah, lalu ia telah menikah; atau tidak akan berihram, lalu ia telah berihram; atau tidak akan menggadaikan, lalu ia telah menggadaikan; atau tidak akan mewakafkan, lalu ia telah mewakafkan; maka ia tidak dianggap melanggar sumpah sampai ia memulai akad nikah, ihram, rahn, jual beli, atau wakaf yang baru. Hal ini karena semuanya adalah akad, sehingga tidak dianggap melanggar sumpah hanya dengan melanjutkan akad yang sudah ada, sebab akadnya telah terjadi sebelumnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا اخْتَلَفَ هَلْ تَكُونُ الِاسْتِدَامَةُ فِيهِ كَالِابْتِدَاءِ وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ الدُّخُولُ وَالطِّيبُ وَالسَّفَرُ هَلْ يَكُونُ الِاسْتِدَامَةُ كَالِابْتِدَاءِ فَإِذَا حَلَفَ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ حَنِثَ بِأَنْ يَسْتَأْنِفَ دُخُولَهَا إِذَا كَانَ خَارِجًا وَفِي حِنْثِهِ بِاسْتِدَامَةِ دُخُولِهَا إِذَا كَانَ فِيهَا قَوْلَانِ

Bagian ketiga adalah perkara yang diperselisihkan apakah keberlanjutan di dalamnya sama dengan permulaan, dan perkara ini ada tiga: masuk (ke suatu tempat), memakai wewangian, dan bepergian. Apakah keberlanjutan sama dengan permulaan? Maka jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan masuk ke rumah ini,” ia dianggap melanggar sumpahnya jika ia memulai masuk ke dalamnya ketika ia berada di luar. Adapun mengenai pelanggaran sumpah karena tetap berada di dalam rumah itu ketika ia sudah berada di dalamnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مُقْتَضَى نَصِّهِ فِي كِتَابِ الْأُمِّ

Salah satunya adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash beliau dalam kitab al-Umm.

وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ إنَّهُ يَحْنَثُ بِاسْتِدَامَةِ جُلُوسِهِ فيها لما كَمَا يَحْنَثُ بِاسْتِئْنَافِ دُخُولِهَا كَالسُّكْنَى وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ لو حَلَفَ لَا يَدْخُلُهَا فَأُكْرِهَ عَلَى دُخُولِهَا فَإِنْ عَجَّلَ الْخُرُوجَ مِنْهَا بَعْدَ الْمُكْنَةِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ أَقَامَ حَنِثَ فَجَعَلَ اسْتِدَامَةَ الدُّخُولِ كَالدُّخُولِ

Abu Abdillah az-Zubairi berkata bahwa seseorang melanggar sumpahnya dengan tetap duduk di dalamnya, sebagaimana ia melanggar sumpah dengan memulai masuk ke dalamnya, seperti dalam kasus tinggal (as-sukna). Imam Syafi‘i berkata, jika seseorang bersumpah tidak akan memasukinya, lalu ia dipaksa untuk masuk ke dalamnya, maka jika ia segera keluar setelah memungkinkan, ia tidak melanggar sumpah; namun jika ia tetap tinggal, ia melanggar sumpah. Maka, keberlanjutan berada di dalamnya diperlakukan seperti masuk ke dalamnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ حَرْمَلَةَ وَقَالَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ لَا يَحْنَثُ بِاسْتِدَامَةِ الدُّخُولِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَهُ لِأَنَّ الدُّخُولَ يَكُونُ بَعْدَ خُرُوجٍ

Pendapat kedua, yang dinyatakan secara tegas dalam Kitab Harmalah dan dikatakan pula oleh Abu al-‘Abbas bin Surayj, adalah bahwa seseorang tidak terkena sumpah (tidak dianggap melanggar sumpah) dengan terus-menerus berada di dalam (suatu tempat) sampai ia memulai masuk kembali, karena masuk itu terjadi setelah keluar.

وَلَوْ حَلَفَ لَا تَطَيَّبْتُ حَنِثَ بِأَنْ يَسْتَأْنِفَ الطِّيبَ وَفِي حَنِثِهِ بِاسْتِدَامَةِ طِيبٍ مُتَقَدِّمٍ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak memakai wewangian,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia memulai kembali memakai wewangian. Adapun mengenai pelanggarannya karena melanjutkan penggunaan wewangian yang sudah dipakai sebelumnya, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَحْنَثُ بِاسْتِدَامَتِهِ لِأَنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى التَّطَيُّبِ

Salah satunya, ia dianggap melanggar sumpah karena terus-menerus melakukannya, sebab hal itu dinisbatkan kepada bertathayyub (memakai wewangian).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِالِاسْتِدَامَةِ لِأَنَّهُ لَمْ يَسْتَحْدِثْ فِعْلًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan terus-menerus (melakukan sesuatu), karena ia tidak melakukan perbuatan baru.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إنَّهُ إِنْ كَانَ أَثَرُ طِيبِهِ بَاقِيًا حَنِثَ وَإِنْ بَقِيَتِ الرَّائِحَةُ دُونَ الْأَثَرِ لم يحنث وهي طريقة أبي الغياض اعْتِبَارًا بِبَقَاءِ الْعَيْنِ وَزَوَالِهَا وَلَوْ حَلَفَ لَا يسافر لم حَنِثَ بِأَنْ يَسْتَأْنِفَ السَّفَرَ طَوِيلًا كَانَ أَوْ قَصِيرًا فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ وَهُوَ مُسَافِرٌ فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Pendapat ketiga: Jika bekas minyak wangi itu masih ada, maka ia dianggap melanggar sumpah; namun jika hanya tersisa baunya tanpa bekasnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Inilah metode Abu al-Ghiyadh, yaitu dengan mempertimbangkan keberadaan atau hilangnya zat (ain). Jika seseorang bersumpah tidak akan bepergian, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memulai perjalanan lagi, baik perjalanannya panjang maupun pendek. Adapun jika ia bersumpah saat sedang dalam perjalanan, maka ada tiga keadaan baginya.

أَحَدُهَا أَنْ يَأْخُذَ فِي الْعَوْدِ مِنْ سَفَرِهِ فَلَا يَحْنَثُ لِأَنَّهُ قَدْ أَخَذَ فِي تَرْكِ السَّفَرِ

Salah satunya adalah jika ia memulai perjalanan pulangnya dari safarnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia telah memulai untuk meninggalkan perjalanan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ بَاقِيًا عَلَى وَجْهِهِ فِي السَّفَرِ فَيَحْنَثُ بِاسْتِدَامَةِ مَسِيرِهِ لِأَنَّهُ أَخَذَ فِي السَّفَرِ

Keadaan kedua adalah tetap berada dalam perjalanannya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan terus melanjutkan perjalanannya, karena ia telah memulai perjalanan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُقِيمَ بِمَكَانِهِ مِنْ سَفَرِهِ فَفِي حِنْثِهِ بِاسْتِدَامَتِهِ وَجْهَانِ

Keadaan ketiga adalah apabila ia menetap di tempatnya dalam perjalanan, maka dalam hal ia melanggar sumpahnya dengan tetap tinggal, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهَا يَحْنَثُ كَالتَّوَجُّهِ لِبَقَائِهِ عَلَى السَّفَرِ

Salah satunya adalah ia dianggap melanggar sumpah, seperti ketika berniat untuk tetap berada dalam perjalanan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ لِكَفِّهِ عَنِ السَّيْرِ فَصَارَ كَالْعَوْدِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena menahan diri dari perjalanan, sehingga keadaannya seperti kembali (kepada semula).

وَكُلُّ مَا لَمْ نُسَمِّهِ فَهُوَ معتبرٌ بِمَا سَمَّيْنَاهُ مِنْ هَذِهِ الْأَقْسَامِ فيكون ملحقاً بأشبههما به والله أعلم

Segala sesuatu yang tidak kami sebutkan namanya, maka ia dianggap mengikuti apa yang telah kami sebutkan dari kategori-kategori ini, sehingga ia disamakan dengan yang paling mirip dengannya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ حَلَفَ لَا يَسْكُنُ بَيْتًا وَهُوَ بدويٌّ أَوْ قرويٌّ وَلَا نِيَّةَ لَهُ فَأَيُّ بيتٍ مِنْ شَعَرٍ أَوْ أدمٍ أَوْ خيمةٍ أَوْ بيتٍ مِنْ حجارةٍ أَوْ مدرٍ أَوْ مَا وَقَعَ عَلَيْهِ اسْمُ بيتٍ سَكَنَهُ حَنِثَ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan tinggal di rumah, sedangkan ia adalah seorang badui atau penduduk desa, dan ia tidak memiliki niat tertentu, maka rumah apa pun, baik yang terbuat dari kain, kulit, tenda, rumah dari batu, tanah liat, atau apa saja yang disebut rumah dan ia tinggali, maka ia dianggap melanggar sumpahnya.

قَالَ المارودي اعْلَمْ أَنَّ بُيُوتَ السُّكْنَى تَخْتَلِفُ مِنْ وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa rumah-rumah tempat tinggal berbeda dari dua sisi.

أحدهما بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ

Salah satunya adalah dengan perbedaan keadaan.

وَالثَّانِي بِاخْتِلَافِ الْعَادَاتِ

Dan yang kedua adalah karena perbedaan adat kebiasaan.

فَأَمَّا الْمُخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ فَلِلْبَوَادِي بُيُوتُ النُّقْلَةِ مِنَ الْأَدَمِ وَالشَّعْرِ لِأَنَّهُمْ يَنْتَجِعُونَ فِي طَلَبِ الْكَلَأِ فَيَسْكُنُونَ مِنَ الْبُيُوتِ مَا يَنْتَقِلُ مَعَهُمْ فِي النَّجْعَةِ مِنَ الْخِيَامِ وَالْفَسَاطِيطِ وَلِأَهْلِ الْقُرَى بُيُوتُ الِاسْتِقْرَارِ فَيَسْكُنُونَ مَا يَدُومُ ثُبُوتُهُ فِي أَوْطَانِهِمْ مِنَ الْأَبْنِيَةِ الْمُسْتَقِرَّةِ وَأَمَّا مَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْعَادَاتِ فَهُوَ أَنَّ بُيُوتَ أَهْلِ الْأَمْصَارِ لِتَشْيِيدِهَا وَقِسْمَةِ مَسَاكِنِهَا مُخَالِفَةٌ لِبُيُوتِ أَهْلِ الْقُرَى فِي ذَهَابِهَا وَاحْتِلَالٍ قَسْمِهَا وَتَخْتَلِفُ الْعَادَاتُ فَمِنْهُمْ مَنْ يَبْنِي بِالْأَحْجَارِ وَالنُّورَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْنِي بِالْآجُرِّ وَالْجَصِّ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْنِي بِاللَّبِنِ وَالطِّينِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْنِي بِالْخَشَبِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْنِي بِالْقَصَبِ وَاخْتِلَافُ الْعَادَاتِ لَا تُؤَثِّرُ فِي الْأَيْمَانِ وَجَمِيعُهَا بُيُوتٌ لِمَنِ اعْتَادَهَا وَمَنْ لَمْ يَعْتَدْهَا فَإِذَا حَلَفَ لَا يَسْكُنُ بَيْتًا حَنِثَ بِسُكْنَى كُلِّ بَيْتٍ مِنْهَا وَإِنْ لَمْ يَعْتَدْ سُكْنَاهُ مِنْ حَجَرٍ أَوْ آجُرٍّ أَوْ طِينٍ أَوْ خَشَبٍ أَوْ قَصَبٍ مُحْكَمٍ يَدُومُ عَلَى مَرِّ السِّنِينَ وَلَا يَحْنَثُ أَنْ يَسْكُنَ بُيُوتَ الرُّعَاةِ مِنَ الْهَشِيمِ وَالْجَرِيدِ وَالْحَشِيشِ لِأَنَّهُ يَسْتَدْفِعُ بِهِ أَذَى وَقْتٍ مِنْ حرٍ أَوْ بردٍ وَلَا يُسْتَدَامُ سُكْنَاهَا فَأَمَّا إِنْ سَكَنَ مَسْجِدًا أَوْ حَمَّامًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَمْرَيْنِ

Adapun perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan keadaan, maka bagi orang-orang Badui, rumah mereka adalah tempat tinggal yang dapat dipindahkan, terbuat dari kulit dan bulu, karena mereka berpindah-pindah dalam mencari padang rumput, sehingga mereka menempati rumah-rumah yang dapat dibawa bersama mereka dalam perjalanan, seperti tenda dan kemah. Sedangkan bagi penduduk desa, rumah mereka adalah tempat tinggal yang tetap, sehingga mereka menempati bangunan yang kokoh dan menetap di tanah air mereka. Adapun perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan kebiasaan, maka rumah-rumah penduduk kota, karena kemegahan dan pembagian ruangannya, berbeda dengan rumah-rumah penduduk desa dalam hal bentuk dan pembagian ruangnya. Kebiasaan pun berbeda-beda: ada yang membangun dengan batu dan kapur, ada yang membangun dengan bata dan plester, ada yang membangun dengan bata mentah dan tanah, ada yang membangun dengan kayu, dan ada pula yang membangun dengan bambu. Perbedaan kebiasaan ini tidak berpengaruh dalam sumpah, dan semuanya disebut rumah bagi orang yang terbiasa dengannya maupun yang tidak terbiasa. Maka jika seseorang bersumpah tidak akan tinggal di rumah, ia dianggap melanggar sumpah jika tinggal di salah satu rumah tersebut, meskipun ia tidak terbiasa tinggal di rumah dari batu, bata, tanah, kayu, atau bambu yang kokoh dan tahan lama sepanjang tahun. Namun ia tidak dianggap melanggar sumpah jika tinggal di rumah para penggembala yang terbuat dari ranting, pelepah kurma, dan rumput, karena rumah itu hanya digunakan untuk menghindari panas atau dingin sesaat dan tidak untuk tempat tinggal yang menetap. Adapun jika ia tinggal di masjid atau pemandian umum, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إنَّ انْطِلَاقَ اسْمِ الْبَيْتِ عَلَيْهِمَا مَجَازٌ لَا حقيقةٌ

Salah satunya adalah bahwa penggunaan nama “al-bayt” (rumah) untuk keduanya adalah majaz (kiasan), bukan hakikat.

وَالثَّانِي إنَّهُمَا لَا يُسْكَنَانِ فِي الْعُرْفِ فَلِهَذَا لَمْ يَحْنَثْ لِسُكْنَاهُمَا

Kedua (tempat tersebut) menurut ‘urf tidak dianggap sebagai tempat tinggal, oleh karena itu ia tidak dianggap melanggar sumpah karena menempati keduanya.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا مَا اخْتَلَفَ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ مِنْ بُيُوتِ النُّقْلَةِ لِلْبَوَادِي وَبُيُوتِ الِاسْتِقْرَارِ لِأَهْلِ الْأَمْصَارِ فَلَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَسَائِرِ أَصْحَابِهِ إنَّ بُيُوتَ الِاسْتِقْرَارِ مِنْ أَبْنِيَةِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى يَحْنَثُ الْحَالِفُ بِسُكْنَاهَا بَدَوِيًّا كَانَ أَوْ قَرَوِيًّا لِأَمْرَيْنِ

Adapun mengenai perbedaan yang terjadi karena perbedaan keadaan antara rumah-rumah yang berpindah-pindah bagi para pengembara dan rumah-rumah menetap bagi penduduk kota, maka tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi‘i dan seluruh pengikutnya bahwa rumah-rumah menetap yang dibangun oleh penduduk kota dan desa, jika seseorang bersumpah lalu menempatinya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, baik ia seorang Badui maupun penduduk desa, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا انْطِلَاقُ اسْمِ الْحَقِيقَةِ عَلَيْهَا وَوُجُودُ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ فِيهَا فَاقْتَرَنَ بِحَقِيقَةِ الِاسْمِ عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ

Salah satunya adalah penggunaan nama hakikat padanya dan adanya kebiasaan penggunaan dalam hal itu, sehingga nama hakikat disertai dengan kebiasaan penggunaan.

وَأَمَّا بُيُوتُ النُّقْلَةِ مِنْ خِيَمِ الشَّعْرِ وَفَسَاطِيطِ الْأَدَمِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ يَحْنَثُ بِسُكْنَاهَا الْبَدَوِيُّ وَالْقَرَوِيُّ فَلَمْ يَخْتَلِفْ أَصْحَابُهُ أَنَّ الْحَالِفَ لَا يَسْكُنُ بَيْتًا إِذَا كَانَ بدويا حنث بسكناها لانطلاق اسم الحقيقية عَلَيْهَا وَوُجُودِ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ فِيهَا وَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ قَرَوِيًّا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ هَلْ يَحْنَثُ بِسُكْنَاهَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun rumah-rumah yang dapat dipindahkan seperti tenda dari bulu domba dan kemah dari kulit, Imam Syafi‘i berpendapat bahwa orang Badui maupun orang desa akan terkena sumpah jika tinggal di dalamnya. Para pengikutnya sepakat bahwa orang yang bersumpah tidak akan tinggal di rumah jika ia seorang Badui, maka ia dianggap melanggar sumpah jika tinggal di dalamnya, karena nama rumah secara hakiki berlaku padanya dan terdapat kebiasaan penggunaan istilah tersebut. Namun, jika orang yang bersumpah itu seorang penduduk desa, maka para pengikutnya berbeda pendapat apakah ia dianggap melanggar sumpah jika tinggal di dalamnya, dan terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ لَا يَحْنَثُ بِسُكْنَاهَا إِذَا كَانَ قَرَوِيًّا لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُ بِسُكْنَاهَا وَحَمَلَ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ عَلَى أَهْلِ قُرًى عَرَبِيَّةٍ يَسْكُنُ أَهْلُهَا بُيُوتَ الْمَدَرِ تَارَةً وَبُيُوتَ الشَّعْرِ أُخْرَى فَأَمَّا مَنْ لَا يَسْكُنُ إِلَّا بُيُوتَ الْمَدَرِ فَلَا يَحْنَثُ بِسُكْنَى بُيُوتِ الشَّعْرِ وَالْأَدَمِ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لِخُرُوجِهَا عَنِ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ كَمَا لَوْ حلف لا يأكل رؤوساً لم يحنث برؤوس الطير والجراد حتى يأكل رأي النَّعَمِ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَإِنِ انْطَلَقَ اسْمُ الْحَقِيقَةِ عَلَى جَمِيعِهَا اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ وَالْعَادَةِ وَكَذَلِكَ لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ بَيْضًا لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْضِ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ وَإِنِ انْطَلَقَ اسْمُ الْبَيْضِ عَلَيْهَا حَقِيقَةً حَتَّى يَأْكُلَ مِنَ الْبَيْضِ مَا فَارَقَ بَائِضَهُ حَيًّا اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Ibnu Surayj, menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan tinggal di rumah tersebut jika ia adalah orang desa yang tidak biasa tinggal di sana. Ia menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i mengenai penduduk desa Arab yang kadang-kadang tinggal di rumah dari tanah liat dan kadang-kadang di rumah dari kain atau kulit. Adapun orang yang hanya tinggal di rumah dari tanah liat, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika tinggal di rumah dari kain atau kulit. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Hanifah, karena rumah tersebut keluar dari kebiasaan dan tradisi, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan memakan kepala, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan kepala burung atau belalang, kecuali jika ia memakan kepala hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing, meskipun secara hakikat istilah “kepala” berlaku untuk semuanya, karena mempertimbangkan kebiasaan dan tradisi. Demikian pula jika seseorang bersumpah tidak akan memakan telur, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan telur ikan atau belalang, meskipun secara hakikat istilah “telur” berlaku untuk semuanya, sampai ia memakan telur yang telah ditinggalkan induknya dalam keadaan hidup, dengan mempertimbangkan kebiasaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَكْثَرُ الْمُتَأَخِّرِينَ إنَّهُ يَحْنَثُ الْقَرَوِيُّ بِسُكْنَاهَا كَمَا يَحْنَثُ الْبَدَوِيُّ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan mayoritas ulama muta’akhkhirīn, menyatakan bahwa orang desa dianggap melanggar sumpahnya dengan tinggal di kota, sebagaimana orang Badui juga dianggap melanggar sumpahnya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا انْطِلَاقُ اسْمُ الْحَقِيقَةِ عَلَيْهَا

Salah satunya adalah penggunaan nama hakikat atasnya.

وَالثَّانِي اقْتِرَانُ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالَ فِيهَا وَإِنْ خَرَجَتْ عَنْ عَادَةِ الْحَالِفِ لِوُجُودِهَا فِي غَيْرِهِ كَمَا حَنِثَ الْبَدَوِيُّ بِسُكْنَى بُيُوتِ الْمَدَرِ

Yang kedua adalah adanya kebiasaan penggunaan (lafaz) tersebut, meskipun keluar dari kebiasaan orang yang bersumpah, karena adanya penggunaan itu pada selainnya; seperti halnya seorang Badui dianggap melanggar sumpah jika ia tinggal di rumah-rumah dari tanah liat.

وَإِنْ خَرَجَتْ عَنْ عَادَتِهِ لِوُجُودِهَا فِي غَيْرِهِ وَكَمَا لَوْ حَلَفَ عِرَاقِيٌّ مِنْ أَهْلِ الْيَسَارِ أَنْ لَا يَأْكُلَ خُبْزًا حَنِثَ بِخُبْزِ الذُّرَةِ وَالْأُرْزِ وَإِنْ خَرَجَ عَنْ عُرْفِهِ وَعَادَتِهِ لِوُجُودِهَا فِي غَيْرِهِ فَلَا يُعْتَبَرُ فِي الْأَيْمَانِ عَادَةُ الْحَالِفِ إِذَا وُجِدَتْ فِي غَيْرِهِ وَيُعْتَبَرُ فِي الْوَكَالَةِ عَادَةُ الْمُوَكِّلِ دُونَ غَيْرِهِ فَإِذَا وَكَّلَهُ فِي شِرَاءِ الْخُبْزِ وَعَادَتُهُ أَكْلُ الْبُرِّ فَاشْتَرَى لَهُ حَبَّ الْأُرْزِ لَمْ يَلْزَمْهُ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْخُبْزَ وَعَادَتُهُ أَكْلُ الْبُرِّ فَأَكَلَ حَبَّ الْأُرْزِ حنث

Jika sesuatu keluar dari kebiasaan seseorang karena keberadaannya pada selainnya—seperti jika seorang Irak yang tergolong orang kaya bersumpah tidak akan makan roti, maka ia dianggap melanggar sumpah jika makan roti jagung atau nasi, meskipun kedua jenis roti itu keluar dari kebiasaannya, karena keberadaannya pada selainnya—maka dalam sumpah, kebiasaan orang yang bersumpah tidak dianggap jika ditemukan pada selainnya. Sedangkan dalam wakālah, yang dianggap adalah kebiasaan orang yang mewakilkan, bukan selainnya. Maka jika seseorang mewakilkan orang lain untuk membeli roti, dan kebiasaannya adalah makan gandum, lalu si wakil membelikan nasi untuknya, maka ia tidak wajib menerimanya. Namun jika ia bersumpah tidak akan makan roti, dan kebiasaannya adalah makan gandum, lalu ia makan nasi, maka ia dianggap melanggar sumpah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِنْ حَلَفَ أَنْ لَا يَأْكُلَ طَعَامًا اشْتَرَاهُ فلانٌ فَاشْتَرَاهُ فلانٌ وَآخَرُ مَعَهُ طَعَامًا وَلَا نيةٌ لَهُ فَأَكَلَ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan makanan yang dibeli oleh Fulan, lalu Fulan membeli makanan itu bersama orang lain, dan ia (yang bersumpah) tidak memiliki niat tertentu, kemudian ia memakannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ طَعَامًا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ فَاشْتَرَى زَيْدٌ وَعَمْرٌو طَعَامًا صَفْقَةً وَاحِدَةً فَأَكَلَ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ

Al-Mawardi berkata, dan memang sebagaimana yang ia katakan: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan makanan yang dibeli oleh Zaid, lalu Zaid dan Amr membeli makanan dalam satu transaksi, kemudian ia memakannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ قَدْ أَكَلَ طَعَامًا قَدِ اشْتَرَاهُ زَيْدٌ وَعَمْرٌو فَوَجَبَ أَنْ يَحْنَثَ كَمَا لَوِ اشْتَرَيَاهُ في صفقتين

Salah satunya adalah bahwa ia telah memakan makanan yang telah dibeli oleh Zaid dan Amr, maka wajib baginya untuk melanggar sumpah, sebagaimana jika mereka berdua membelinya dalam dua transaksi.

وَالثَّانِي إِلْزَامٌ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَجْرَى الشَّافِعِيُّ على اجتماعهما في الشراء حُكْمَ الصَّفْقَتَيْنِ فِي انْفِرَادِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا بِالرَّدِّ بِالْعَيْبِ وَجَبَ أَنْ يَجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الصَّفْقَتَيْنِ فِي الْحِنْثِ

Yang kedua adalah keharusan bagi kami bahwa ketika Imam Syafi‘i memberlakukan hukum dua transaksi (ṣafqatain) pada keduanya yang berkumpul dalam pembelian, yaitu dengan membolehkan masing-masing dari mereka mengembalikan barang karena cacat secara terpisah, maka wajib pula diberlakukan atasnya hukum dua transaksi dalam hal pelanggaran sumpah (ḥinth).

وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ

Dan dalil kami ada dua.

أَحَدُهُمَا إنَّ الشِّرَاءَ عَقْدٌ إِذَا اشْتَرَكَا فِيهِ لَمْ يَنْفَرِدْ أَحَدُهُمَا بِهِ وَاخْتَصَّ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا فِي العرف بنصفه فلم تكمل الصفة فلم يَقَعِ الْحِنْثُ لِأَنَّ الْأَسْمَاءَ فِي الْأَيْمَانِ يَخْتَصُّ بِالْعُرْفِ

Salah satunya adalah bahwa jual beli merupakan akad yang apabila keduanya berpartisipasi di dalamnya, maka tidak ada salah satu dari mereka yang memilikinya secara eksklusif, dan menurut ‘urf, masing-masing dari mereka hanya memiliki setengahnya. Maka sifatnya tidak sempurna, sehingga pelanggaran sumpah tidak terjadi, karena nama-nama dalam sumpah itu mengikuti ‘urf.

وَالثَّانِي إنَّ كُلَّ جُزْءٍ مِنَ الطَّعَامِ لَمْ يَخْتَصَّ الْحَالِفُ بِشِرَائِهِ فَإِنْ قَلَّ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَقَعَ لَهُ الْحِنْثُ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا دَخَلْتُ دَارَ زَيْدٍ فَدَخَلَ دَارًا بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو أَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبَ زَيْدٍ فَلَبِسَ ثَوْبًا بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو لَمْ يَحْنَثْ بِوِفَاقِ أَبِي حَنِيفَةَ كَذَلِكَ يَلْزَمُهُ أَنْ لَا يَحْنَثَ بطعامٍ اشْتَرَاهُ زَيْدٌ وَعَمْرٌو

Kedua, bahwa setiap bagian dari makanan yang tidak secara khusus dibeli oleh orang yang bersumpah, maka jika jumlahnya sedikit, wajib baginya untuk tidak terkena pelanggaran sumpah, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah Zaid, lalu ia masuk ke rumah yang dimiliki bersama antara Zaid dan Amr, atau ia bersumpah tidak akan memakai pakaian Zaid, lalu ia memakai pakaian yang dimiliki bersama antara Zaid dan Amr, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut pendapat Abu Hanifah. Demikian pula, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan makanan yang dibeli bersama oleh Zaid dan Amr.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِالشِّرَاءِ فِي صَفْقَتَيْنِ مُشَاعًا فَهُوَ أَنَّ كُلَ جُزْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ الطَّعَامِ قَدِ اشْتَرَى زَيْدٌ نِصْفَهُ بِعَقْدٍ تَامٍّ فَوُجِدَ شَرْطُ الْحِنْثِ وَإِذَا كَانَ بعقدٍ واحدٍ فَهُوَ مُشْتَرَكٌ فَلَمْ يُكْمَلْ شَرْطُ الْحِنْثِ فَافْتَرَقَا

Adapun jawaban atas argumentasinya dengan pembelian dalam dua transaksi secara musya‘ (kepemilikan bersama), maka setiap bagian dari makanan itu, Zaid telah membeli setengahnya dengan satu akad yang sempurna, sehingga terpenuhi syarat pelanggaran sumpah. Namun jika dengan satu akad, maka kepemilikan itu bersifat bersama, sehingga syarat pelanggaran sumpah tidak sempurna, maka keduanya berbeda.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا ذَكَرَهُ مِنَ الرَّدِّ بِالْعَيْبِ فَهُوَ أَنَّ الْأَيْمَانَ وَالْأَحْكَامَ وَإِنِ اشْتَرَكَا فِي اعْتِبَارِ الْأَسْمَاءِ فَقَدِ افْتَرَقَا فِي غَيْرِهَا فَاعْتُبِرَ الْعُرْفُ فِي الْأَيْمَانِ وَاعْتُبِرَ الْمَعْنَى فِي الْأَحْكَامِ فَصَارَ هَذَا الْفَرْقُ مَانِعًا مِنَ اشْتِرَاكِهِمَا فِي تَعَلُّقِ الْحُكْمِ بِهِمَا عَلَى سَوَاءٍ

Adapun jawaban terhadap apa yang disebutkannya mengenai pengembalian (barang) karena cacat adalah bahwa sumpah dan hukum, meskipun keduanya sama-sama mempertimbangkan nama-nama (istilah), namun keduanya berbeda dalam hal lainnya. Dalam sumpah, yang dipertimbangkan adalah ‘urf (kebiasaan), sedangkan dalam hukum, yang dipertimbangkan adalah makna. Maka perbedaan ini menjadi penghalang bagi keduanya untuk disamakan dalam kaitan hukum terhadap keduanya secara setara.

فَصْلٌ

Bab

فَأَمَّا إِذَا اشْتَرَى زَيْدٌ طَعَامًا انْفَرَدَ بِهِ وَاشْتَرَى عَمْرٌو طَعَامًا انْفَرَدَ بِهِ وَخَلَطَاهُ فَأَكَلَ مِنْهُ الْحَالِفُ فَفِي حِنْثِهِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun jika Zaid membeli makanan yang menjadi miliknya sendiri, dan Amr membeli makanan yang menjadi miliknya sendiri, lalu keduanya mencampurkan makanan tersebut, kemudian orang yang bersumpah memakannya, maka dalam hal batalnya sumpahnya terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ إنَّهُ لَا يَحْنَثُ بحالٍ وَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَ الطَّعَامَيْنِ لِأَنَّ اخْتِلَاطَ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ بِغَيْرِهِ خارجٌ فِي الْعُرْفِ عَنِ اسْمِ الِانْفِرَادِ فَخَرَجَ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ الْأَيْمَانِ حَتَّى قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ جُبْنًا فَأَكَلَ خُبْزًا وَجُبْنًا لَمْ يَحْنَثْ وَزَعَمَ مِنْ نَصِّ قَوْلِهِ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَدْ نَصَّ فِي الْجَامِعِ الْكَبِيرِ لِلْمُزَنِيِّ أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ زَيْتًا فَأَكَلَ خُبْزًا وَزَيْتًا لَمْ يَحْنَثْ وَهَذَا الْمَحْكِيُّ عَنْهُ فِي الْجَامِعِ الْكَبِيرِ سَهْوٌ مِنْ حَاكِيهِ وَالْمَوْجُودُ فِي الْجَامِعِ الْكَبِيرِ لِلْمُزَنِيِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا آكُلُ خُبْزًا وَجُبْنًا فَأَكَلَ خُبْزًا وَزَيْتًا لَمْ يَحْنَثْ وَرُدَّ بِهَذَا الْقَوْلِ عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ حَنَّثَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا وَجْهٌ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam keadaan apa pun, meskipun ia memakan seluruh kedua jenis makanan tersebut. Sebab, dalam kebiasaan, pencampuran antara sesuatu yang disumpahkan dengan selainnya tidak lagi disebut sebagai “sendiri”, sehingga dari sisi sumpah, ia tidak termasuk di dalamnya. Bahkan Abu Sa‘id al-Ishthakhri berkata, “Jika seseorang bersumpah tidak akan makan keju, lalu ia makan roti dan keju, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.” Ia mengklaim berdasarkan nash perkataan Imam Syafi‘i bahwa Imam Syafi‘i telah menegaskan dalam al-Jāmi‘ al-Kabīr karya al-Muzani, bahwa jika seseorang bersumpah tidak akan makan minyak, lalu ia makan roti dan minyak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, riwayat yang dinukilkan dari beliau dalam al-Jāmi‘ al-Kabīr itu adalah kekeliruan dari yang menukilnya. Adapun yang terdapat dalam al-Jāmi‘ al-Kabīr karya al-Muzani dari Imam Syafi‘i adalah, “Jika seseorang bersumpah tidak akan makan roti dan keju, lalu ia makan roti dan minyak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.” Dengan pendapat ini pula dibantah pendapat Malik yang menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpah dalam kasus tersebut. Inilah satu sisi pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أنه إِذَا اخْتَلَطَ الطَّعَامَانِ وَكَانَا مُتَسَاوِيَيْنِ فِي الْقَدْرِ فأكل منهما أكثر من النصف حنثه لِعِلْمِنَا أَنَّهُ قَدْ أَكَلَ مِمَّا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ وَإِنْ أَكلَ أَقَلَّ مِنَ النِّصْفِ لَمْ يَحْنَثْ لِلِاحْتِمَالِ وَجَوَازِ أَنْ لَا يَكُونَ قَدْ أَكَلَ مَا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ لِأَنَّ الْحِنْثَ لَا يَقَعُ بِالِاحْتِمَالِ وَالْجَوَازِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa jika dua makanan tercampur dan keduanya sama banyak, lalu seseorang memakan lebih dari setengahnya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, karena kita mengetahui bahwa ia pasti telah memakan makanan yang dibeli oleh Zaid. Namun, jika ia memakan kurang dari setengahnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena masih ada kemungkinan bahwa ia belum memakan makanan yang dibeli oleh Zaid, sebab pelanggaran sumpah tidak terjadi hanya berdasarkan kemungkinan dan dugaan semata.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ مَذْهَبُ الْبَصْرِيِّينَ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ إن كان الطعام مانعاً كَاللَّبَنِ وَالْعَسَلِ حَنِثَ بِأَكْلِ قَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ لِامْتِزَاجِهِ وَكَذَلِكَ الدَّقِيقُ لِأَنَّهُ كَالْمَانِعِ فِي الِامْتِزَاجِ وَإِنْ كَانَ مُتَمَيِّزًا مِثْلَ التَّمْرِ وَالرُّطَبِ لَمْ يَحْنَثْ حَتَّى يَأْكُلَ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنَ النِّصْفِ لِدُخُولِ الِاحْتِمَالِ فِي الْمُتَمَيِّزِ وَانْتِفَائِهِ عَنِ الْمُمْتَزِجِ وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَوْ حَلَفَ عَلَى تَمْرَةٍ أَنْ لَا يَأْكُلَهَا فَوَقَعَتْ فِي تَمْرٍ كَثِيرٍ فَأَكَلَهُ كُلَّهُ إِلَّا تَمْرَةً لَمْ يَحْنَثْ لِجَوَازٍ أَنْ تَكُونَ الْبَاقِيَةُ هِيَ التَّمْرَةَ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهَا

Pendapat ketiga adalah mazhab ulama Basrah, dan tampaknya ini juga merupakan pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yaitu: jika makanan itu bersifat mencegah seperti susu dan madu, maka seseorang dianggap melanggar sumpahnya baik ia memakan sedikit maupun banyak, karena keduanya bercampur. Begitu juga tepung, karena ia seperti penghalang dalam pencampuran. Namun, jika makanannya terpisah seperti kurma kering dan kurma basah, maka seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya kecuali jika ia memakan lebih dari setengahnya, karena kemungkinan masih ada pada makanan yang terpisah dan tidak ada pada makanan yang bercampur. Imam Syafi‘i berkata: “Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan sebutir kurma, lalu kurma itu tercampur dengan banyak kurma lain, kemudian ia memakannya semua kecuali satu butir, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena masih mungkin bahwa yang tersisa itulah kurma yang ia sumpahi.”

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ طَعَامًا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ فَأَكَلَ مِنْ طَعَامٍ وَرِثَهُ زَيْدٌ أَوِ اسْتَوْهَبَهُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ جَعَلَ الشِّرَاءَ شَرْطًا فِي الْحِنْثِ

Dan jika seseorang bersumpah tidak akan memakan makanan yang dibeli oleh Zaid, lalu ia memakan makanan yang diwarisi atau dihibahkan kepada Zaid, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia telah menjadikan pembelian sebagai syarat terjadinya pelanggaran sumpah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مَلِكُ زَيْدٍ وَلَوْ كَانَ زَيْدٌ فِي الشِّرَاءِ وَكِيلًا فَأَكَلَ مِنْهُ الْحَالِفُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ الشِّرَاءَ مِنْ غَيْرِهِ وَحَنَّثَهُ مَالِكٌ لِأَنَّهُ مِنْ مِلْكِهِ ولو توكل زيد لغيره فَاشْتَرَى طَعَامًا لِمُوَكِّلِهِ حَنِثَ الْحَالِفُ بِأَكْلِهِ وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْهُ زَيْدٌ لِأَنَّ الْيَمِينَ مَعْقُودَةٌ عَلَى الشِّرَاءِ دُونَ الْمِلْكِ وَهَذَا إِذَا كَانَتِ الْيَمِينُ مُطْلَقَةً فَأَمَّا إِنْ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فَإِنَّهُ يُحْمَلُ فِي الْحِنْثِ عَلَى نِيَّتِهِ

Malik berkata: Sumpahnya batal (ia dianggap melanggar sumpah), karena yang dimaksud adalah kepemilikan Zaid. Jika Zaid dalam transaksi jual beli bertindak sebagai wakil, lalu orang yang bersumpah itu memakan dari makanan tersebut, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena pembelian itu bukan dari milik Zaid. Namun, Malik tetap menganggapnya melanggar sumpah karena makanan itu berasal dari kepemilikannya. Jika Zaid menjadi wakil untuk orang lain, lalu ia membeli makanan untuk orang yang mewakilkannya, maka orang yang bersumpah itu dianggap melanggar sumpah jika memakannya, meskipun Zaid tidak memilikinya, karena sumpah itu terkait dengan pembelian, bukan kepemilikan. Hal ini berlaku jika sumpahnya bersifat mutlak. Adapun jika ia memiliki niat tertentu, maka dalam hal pelanggaran sumpah, yang dijadikan acuan adalah niatnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَسْكُنُ دَارَ فلانٍ هَذِهِ بِعَيْنِهَا فَبَاعَهَا فلانٌ حَنِثَ بِأَيِّ وجهٍ سَكَنَهَا إِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ نيةٌ فَإِنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ مَا كَانَتْ لفلانٍ لَمْ يَحْنَثْ إِذَا خَرَجَتْ مِنْ ملكِهِ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan menempati rumah si Fulan yang ini secara spesifik, lalu si Fulan menjual rumah itu, maka ia melanggar sumpahnya dengan cara apa pun ia menempatinya, kecuali jika ia memiliki niat tertentu. Jika niatnya adalah selama rumah itu masih milik si Fulan, maka ia tidak melanggar sumpah apabila rumah itu sudah keluar dari kepemilikan si Fulan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ عَلَى دَارِ زَيْدٍ أَنْ لَا يَسْكُنَهَا وَلَا يَدْخُلَهَا فَذَلِكَ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, jika seseorang bersumpah atas rumah Zaid bahwa ia tidak akan menempatinya dan tidak akan memasukinya, maka itu ada dua macam.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يُعَيِّنَ الدَّارَ فَيَقُولَ لَا دَخَلْتُ دَارَ زَيْدٍ هَذِهِ فَتَكُونَ الْيَمِينُ مُنْعَقِدَةً عَلَى عَيْنِ الدَّارِ وَتَكُونَ إِضَافَتُهَا إِلَى زَيْدٍ تَعْرِيفًا فَإِنْ دَخَلَهَا وَهِيَ عَلَى مِلْكِ زَيْدٍ حَنِثَ بِإِجْمَاعٍ وَإِنْ دَخَلَهَا بَعْدَ أَنْ بَاعَهَا زَيْدٌ حَنِثَ عِنْدَنَا وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ وَزُفَرَ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْعَيْنِ دُونَ الْإِضَافَةِ

Salah satunya adalah dengan menentukan rumah secara spesifik, misalnya seseorang berkata: “Aku tidak akan masuk ke rumah Zaid yang ini.” Maka sumpah tersebut terikat pada rumah itu secara spesifik, dan penyandaran rumah kepada Zaid berfungsi sebagai penjelasan. Jika ia memasukinya sementara rumah itu masih milik Zaid, maka ia melanggar sumpahnya menurut ijmā‘. Namun jika ia memasukinya setelah Zaid menjual rumah itu, menurut kami ia tetap dianggap melanggar sumpah, dan ini juga merupakan pendapat Mālik, Muhammad bin al-Hasan, dan Zufar, dengan mengedepankan hukum pada benda (rumah) itu sendiri, bukan pada penyandarannya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو يُوسُفَ لَا يَحْنَثُ بِزَوَالِ مِلْكِ زَيْدٍ عَنْهَا وَجَعْلُ إِضَافَتِهَا إِلَى زَيْدٍ شَرْطًا فِي عَقْدِ الْيَمِينِ احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah dan Abu Yusuf berpendapat bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah karena hilangnya kepemilikan Zaid atasnya, dan menjadikan penyandaran (kepemilikan) kepada Zaid sebagai syarat dalam akad sumpah, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهَذِهِ الْيَمِينِ قَطْعُ الْمُوَالَاةِ وَإِظْهَارُ الْعَدَاوَةِ وَالدَّارُ لَا تُوَالِي وَلَا تُعَادِي فَصَارَ صَاحِبُهَا مَقْصُودًا فَكَانَ بَقَاءُ مِلْكِهِ فِي الْيَمِينِ شَرْطًا

Salah satunya adalah bahwa maksud dari sumpah ini adalah untuk memutus hubungan loyalitas dan menampakkan permusuhan, sedangkan rumah tidak bisa loyal maupun memusuhi, sehingga pemiliknyalah yang menjadi tujuan (dari sumpah tersebut), maka tetapnya kepemilikan atas rumah dalam sumpah itu menjadi syarat.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَمَّا كَانَ دُخُولُهَا مَوْقُوفًا عَلَى إِذْنِهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ بَقَاءُ مِلْكِهِ شَرْطًا فِي حِنْثِهِ

Kedua, karena masuknya (ke tempat itu) bergantung pada izinnya, maka haruslah keberlangsungan kepemilikannya menjadi syarat dalam terjadinya pelanggaran sumpahnya.

وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ

Dalil kami ada dua.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْيَمِينَ إِذَا تَعَلَّقَتْ بِعَيْنٍ مُضَافَةٍ وَجَبَ أَنْ يَغْلِبَ حُكْمُ الْعَيْنِ عَلَى الْإِضَافَةِ وَيَقَعُ بِهِمَا الْحِنْثُ مَعَ زَوَالِ الْإِضَافَةِ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ زَوْجَةَ زَيْدٍ فَطَلَّقَهَا زَيْدٌ حَنِثَ بِكَلَامِهَا تَغْلِيبًا لِلْعَيْنِ عَلَى الْإِضَافَةِ كَذَلِكَ إِذَا قَالَ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ الَّتِي لَزَيْدٍ وَجَبَ أَنْ يَحْنَثَ بِدُخُولِهَا وَإِنْ خَرَجَتْ عَنْ مِلْكِ زَيْدٍ فَإِنْ قِيلَ الزَّوْجَةُ تُوَالِي وَتُعَادِي فَغَلَبَ حُكْمُ الْعَيْنِ عَلَى الْإِضَافَةِ وَالدَّارُ لَا تُوَالِي وَلَا تُعَادِي فَغَلَبَ حُكْمُ الْإِضَافَةِ عَلَى الْعَيْنِ قِيلَ اعْتِبَارُ هَذَا التَّعْلِيلِ فِي إِيقَاعِ الْفَرْقِ بَيْنَ الْفَرْعِ وَالْأَصْلِ بَاطِلٌ فِي الْفَرْعِ بِأَنْ يَقُولَ لَا دَخَلْتُ الدَّارَ مِنْ غَيْرِ إِضَافَةٍ فَيَحْنَثُ بِدُخُولِهَا وَإِنْ كَانَتِ الدَّارُ لَا تُوَالِي وَلَا تُعَادِي وَبَاطِلٌ فِي الْأَصْلِ بِأَنْ يَقُولَ لَا كَلَّمْتُ عَبْدَ زَيْدٍ فَيَحْنَثُ عِنْدَهُ بِكَلَامِهِ إِذَا بَاعَهُ زَيْدٌ وَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ لَا يُوَالِي وَلَا يُعَادِي وَإِذَا بَطَلَ التَّعْلِيلُ فِي الْأَصْلِ وَالْفَرْعِ سَقَطَ

Salah satunya adalah bahwa sumpah jika terkait dengan suatu objek tertentu yang disandarkan (kepada seseorang), maka hukum objek tersebut harus lebih diutamakan daripada sandarannya, dan pelanggaran sumpah terjadi dengan keduanya meskipun sandarannya telah hilang. Misalnya, jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan istri Zaid, lalu Zaid menceraikannya, maka ia tetap dianggap melanggar sumpah jika berbicara dengannya, karena mengutamakan hukum objek (istri) atas sandarannya (kepemilikan Zaid). Demikian pula jika seseorang berkata, “Aku tidak akan masuk ke rumah ini yang milik Zaid,” maka ia wajib dianggap melanggar sumpah jika memasukinya, meskipun rumah itu telah keluar dari kepemilikan Zaid. Jika dikatakan bahwa istri bisa berloyalitas dan bermusuhan sehingga hukum objek diutamakan atas sandarannya, sedangkan rumah tidak bisa berloyalitas dan bermusuhan sehingga hukum sandaran diutamakan atas objek, maka dijawab bahwa mempertimbangkan alasan ini dalam membedakan antara cabang dan asal adalah tidak sah pada cabang, yaitu jika seseorang berkata, “Aku tidak akan masuk rumah itu,” tanpa sandaran, maka ia tetap dianggap melanggar sumpah jika memasukinya, meskipun rumah itu tidak bisa berloyalitas dan bermusuhan. Dan tidak sah pula pada asal, yaitu jika seseorang berkata, “Aku tidak akan berbicara dengan budak Zaid,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika berbicara dengannya setelah Zaid menjualnya, meskipun budak itu tidak bisa berloyalitas dan bermusuhan. Jika alasan ini batal pada asal dan cabang, maka gugurlah pula alasannya.

وَالدَّلِيلُ الثَّانِي أَنَّ الْعَيْنَ إِذَا أُضِيفَتْ إِلَى صِفَةٍ كَانَتِ الصِّفَةُ تَعْرِيفًا وَلَمْ تَكُنْ شَرْطًا كَمَا لَوْ قَالَ لَا كَلَّمْتُ هَذَا الرَّاكِبَ لَمْ يَكُنْ بَقَاءُ رُكُوبِهِ شَرْطًا فِي حِنْثِهِ وَحَنِثَ بِكَلَامِهِ رَاكِبًا وَنَازِلًا لِأَنَّهُمَا إِضَافَةُ تَعْرِيفٍ كَذَلِكَ دَارُ زَيْدٍ وَقَدْ مَضَى الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْمُوَالَاةِ وَالْمُعَادَاةِ

Dalil kedua adalah bahwa apabila ‘ain (kata benda) disandarkan kepada suatu sifat, maka sifat tersebut berfungsi sebagai ta‘rīf (penentu/pengenal) dan bukan sebagai syarat. Sebagaimana jika seseorang berkata, “Aku tidak akan berbicara dengan penunggang ini,” maka keberlangsungan ia menunggang tidak menjadi syarat dalam terjadinya pelanggaran sumpahnya; ia dianggap melanggar sumpah baik saat orang itu masih menunggang maupun setelah turun, karena keduanya merupakan idāfah ta‘rīf (penyandaran untuk penentuan). Demikian pula halnya dengan “rumah Zaid.” Adapun jawaban atas dalil mereka dengan al-muwālah (kesinambungan) dan al-mu‘ādāh (pemutusan) telah dijelaskan sebelumnya.

فَالْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ دُخُولَهَا مَوْقُوفٌ عَلَى إِذْنِ مَالِكِهَا فَهُوَ أَنَّ الْإِذْنَ فِي الدُّخُولِ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَعْتَبِرَ بِهِ مُسْتَحِقُّ الْإِذْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Maka jawaban atas dalil mereka bahwa masuk ke dalamnya harus dengan izin pemiliknya adalah bahwa izin untuk masuk tidak dianggap dalam hal kebaikan (al-birr) dan pelanggaran sumpah (al-hinth), maka lebih utama lagi bagi orang yang berhak memberi izin untuk tidak memperhitungkannya. Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُعَيِّنَ الدَّارَ بِأَنْ يَقُولَ لَا دَخَلْتُ دَارَ زَيْدٍ فَتَكُونَ الْيَمِينُ مُنْعَقِدَةً عَلَى مِلْكِ زَيْدٍ لِلدَّارِ فَأَيُّ دارٍ دَخَلَهَا وَزَيْدٌ مَالِكُهَا حَنِثَ بِدُخُولِهَا فَإِنْ بَاعَهَا زَيْدٌ بَعْدَ مِلْكِهِ لَهَا فَدَخَلَهَا الْحَالِفُ لَمْ يَحْنَثْ بِوِفَاقٍ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْإِطْلَاقِ وَالتَّعْيِينِ إنَّ عَدَمَ الْعَيْنِ فِي الْإِطْلَاقِ أَوْجَبَ عَقْدَ الْيَمِينِ عَلَى الْإِضَافَةِ وَوُجُودُ الْعَيْنِ فِي التَّعْيِينِ أَوْجَبَ عَقْدَهَا عَلَى الْعَيْنِ أَلَا تَرَاهُ لَوْ أَسْلَمَ فِي ثَوْبٍ هَرَوِيٍّ كَانَ الْعَقْدُ مُخْتَصًّا بِالصِّفَةِ وَلَوِ اشْتَرَى هَذَا الثَّوْبَ الْهَرَوَيَّ كَانَ الْعَقْدُ مُخْتَصًّا بِالْعَيْنِ دُونَ الصِّفَةِ فَإِنْ وَجَدَهُ هَرَوِيًّا لَمْ يَبْطُلِ الْبَيْعُ فَإِنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ دَارَ زَيْدٍ فَدَخَلَ دَارًا بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو لَمْ يَحْنَثْ قَلَّ سَهْمُ زَيْدٍ فِيهَا أَوْ كَثُرَ لِأَنَّ مِلْكَهُ لَمْ يَكْمُلْ وَإِنْ أَعَارَ زَيْدٌ دَارَهُ أَوْ رَهَنَهَا حَنِثَ بِدُخُولِهَا لِبَقَائِهَا عَلَى مِلْكِهِ وَلَوْ وَقَفَهَا لَمْ يَحْنَثْ لِخُرُوجِ الْوَقْفِ عَنْ مَلْكِ وَاقِفِهِ وَلَوْ دَخَلَ دَارًا اسْتَأْجَرَهَا زيد من مالكها لم يحنث بدخولها لأن حقيقية الْإِضَافَةِ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْمِلْكِ دُونَ الْيَدِ وَالتَّصَرُّفِ وَهَذَا مَعَ إِطْلَاقِ يَمِينِهِ وَإِنْ حَنَّثَهُ مَالِكٌ بِهَذَا كُلِّهِ فَأَمَّا إِنْ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فَحِنْثُهُ مَحْمُولٌ عَلَى نِيَّتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jenis kedua adalah apabila seseorang menentukan rumah dengan mengatakan, “Aku tidak akan masuk ke rumah Zaid.” Maka sumpah itu terikat pada kepemilikan Zaid atas rumah tersebut. Rumah mana pun yang ia masuki dan Zaid adalah pemiliknya, maka ia melanggar sumpah dengan masuk ke dalamnya. Jika Zaid menjual rumah itu setelah sebelumnya ia miliki, lalu orang yang bersumpah itu masuk ke dalamnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut kesepakatan. Perbedaan antara lafaz umum dan penentuan adalah bahwa ketiadaan objek tertentu dalam lafaz umum menyebabkan sumpah terikat pada hubungan kepemilikan, sedangkan keberadaan objek tertentu dalam penentuan menyebabkan sumpah terikat pada objek itu sendiri. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang melakukan akad salam atas kain Harawi, maka akad itu khusus pada sifatnya; dan jika ia membeli kain Harawi tertentu ini, maka akad itu khusus pada objeknya, bukan pada sifatnya. Jika ia mendapatkannya sebagai kain Harawi, maka jual belinya tidak batal. Jika ia bersumpah tidak akan masuk ke rumah Zaid, lalu ia masuk ke rumah yang dimiliki bersama antara Zaid dan Amr, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, sedikit atau banyaknya bagian Zaid di dalamnya, karena kepemilikan Zaid belum sempurna. Jika Zaid meminjamkan atau menggadaikan rumahnya, maka ia dianggap melanggar sumpah jika masuk ke dalamnya, karena rumah itu masih dalam kepemilikannya. Namun jika Zaid mewakafkan rumahnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena wakaf telah keluar dari kepemilikan orang yang mewakafkan. Jika ia masuk ke rumah yang disewa Zaid dari pemiliknya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena hakikat hubungan itu dikaitkan dengan kepemilikan, bukan pada penguasaan atau pengelolaan. Ini berlaku jika sumpahnya diucapkan secara umum. Jika pemilik menganggapnya melanggar sumpah dalam semua hal ini, maka jika ia memiliki niat tertentu, pelanggaran sumpahnya mengikuti niatnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُهَا فَانْهَدَمَتْ حَتَى صَارَتْ طَرِيقًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بدارٍ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memasukinya, lalu bangunan itu runtuh hingga menjadi jalan, maka ia tidak melanggar sumpahnya, karena tempat itu bukan lagi sebuah rumah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ لَا يَدْخُلُ هذه الدار فانهدمت وصارت عراصاً فَدَخَلَهَا لَمْ يَحْنَثْ وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ هَذَا الْبَيْتَ فَانْهَدَمَ وَصَارَ بَرَاحًا لَمْ يحنث

Al-Mawardi berkata: Ini benar, jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah ini, lalu rumah itu runtuh dan menjadi tanah lapang, kemudian ia memasukinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Demikian pula, jika ia bersumpah tidak akan masuk ke rumah ini, lalu rumah itu runtuh dan menjadi lahan kosong, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وقال أبو حنيفة إِذَا دَخَلَ عَرْصَةَ الدَّارِ بَعْدَ انْهِدَامِهَا حَنِثَ وَإِذَا دَخَلَ عَرْصَةَ الْبَيْتِ بَعْدَ انْهِدَامِهِ لَمْ يَحْنَثْ فَوَافَقَ فِي الْبَيْتِ وَخَالَفَ فِي الدَّارِ إِلَّا أَنْ يَبْنِيَ مَسْجِدًا أَوْ حَمَّامًا أَوْ يَجْعَلَ بُسْتَانًا اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ اسْمَ الدَّارِ يَنْطَلِقُ عَلَى الْعَرْصَةِ بَعْدَ ذَهَابِ الْعِمَارَةِ كَمَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهَا مَعَ الْعِمَارَةِ كَمَا يَقُولُونَ هَذِهِ دِيَارُ عادٍ وَدِيَارُ ثَمُودَ وَدِيَارُ رَبِيعَةَ وَدِيَارُ مُضَرَ وَإِنْ ذَهَبَتْ عِمَارَتُهَا وَبَقِيَتْ عِرَاصُهَا وَهُوَ وَاضِحٌ فِي أَشْعَارِ الْعَرَبِ قَالَ النَّابِغَةُ

Abu Hanifah berkata, “Jika seseorang masuk ke tanah kosong rumah setelah bangunannya runtuh, maka ia dianggap melanggar sumpah; namun jika ia masuk ke tanah kosong kamar setelah bangunannya runtuh, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Dengan demikian, beliau sependapat dalam hal kamar, namun berbeda pendapat dalam hal rumah, kecuali jika ia membangun masjid, pemandian, atau menjadikannya kebun. Hal ini didasarkan pada dalil bahwa nama ‘rumah’ tetap berlaku pada tanah kosongnya setelah bangunannya hilang, sebagaimana nama itu juga berlaku ketika bangunannya masih ada. Sebagaimana mereka mengatakan: ‘ini adalah rumah-rumah kaum ‘Ad, rumah-rumah kaum Tsamud, rumah-rumah Rabi‘ah, dan rumah-rumah Mudhar, meskipun bangunannya telah hilang dan yang tersisa hanya tanah kosongnya.’ Hal ini jelas dalam syair-syair Arab, sebagaimana dikatakan oleh al-Nabighah.”

يَا دَارَ مية بالعلياء فالسند أقوت وطال عليها سالف الأحد

Wahai rumah Miyyah di ‘Aliya dan di Sanad, kini engkau sunyi dan telah lama masa-masa itu berlalu atasmu.

وَقَالَ لَبِيَدٌ

Dan Labid berkata.

عَفَتِ الدِّيَارُ مَحَلُّهَا فَمُقَامُهَا بِمِنًى تأبد غولها فرجامها

Rumah-rumah itu telah lenyap bekas dan tempat tinggalnya, di Mina jejaknya telah abadi, dan akhirnya pun demikian.

فماها داراً بعد أقواتها

Maka ia menjadikannya sebagai tempat tinggal setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi.

وَالْعَفَا الدَّرْسُ فَسَمَّاهَا دِيَارًا بَعْدَ دُرُوسِهَا فَكَانَ بَقَاءُ الِاسْمِ عَلَى عَرْصهَا مُوجِبًا لِوُقُوعِ الْحِنْثِ بِدُخُولِهَا وَلِأَنَّهُ لَوِ انْهَدَمَ مِنْ سُورِهَا فَأُدْخِلَ مِنْهُ إِلَى عَرْصَةٍ ضِمْنَهَا حَنِثَ وَإِنْ لَمْ يَدْخُلْ فِي بِنَاءٍ وَلَا صَارَ فِي عِمَارَةٍ فَكَذَلِكَ إِذَا انْهَدَمَ جَمِيعُ بِنَائِهَا حَنِثَ بِدُخُولِ عَرْصَتِهَا

Dan telah usanglah bangunan itu, lalu ia menamakannya sebagai “dār” (rumah/tempat tinggal) setelah bangunannya hilang. Maka, tetapnya nama pada tanah lapangnya menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah dengan memasukinya. Karena jika sebagian dari temboknya runtuh lalu seseorang masuk melalui bagian itu ke tanah lapang yang termasuk di dalamnya, maka ia dianggap melanggar sumpah, meskipun ia tidak masuk ke dalam bangunan atau tidak berada di dalam bangunan yang berdiri. Demikian pula, jika seluruh bangunannya runtuh, maka ia tetap dianggap melanggar sumpah jika memasuki tanah lapangnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا تَنَاوَلَهُ الِاسْمُ مَعَ الْبِنَاءِ زَالَ عَنْهُ حُكْمُ الْحِنْثِ بِذَهَابِ الْبِنَاءِ كَالْبَيْتِ فَإِنْ قِيلَ الْبَيْتُ لَا يُسَمَّى بَعْدَ انْهِدَامِهِ بَيْتًا وَتُسَمَّى الدَّارُ بَعْدَ انْهِدَامِهَا دَارًا بِطُلَ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَتِلْكَ بُيُوتُّهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا فَسَمَّاهَا بَعْدَ الْخَرَابِ بُيُوتًا وَلِأَنَّ مَا مَنَعَ مِنَ الْحِنْثِ بِدُخُولِ عَرْصَةِ الْبَيْتِ مَنَعَ مِنْهُ بِدُخُولِ عَرْصَةِ الدَّارِ كَمَا لَوْ بَنَى الْعَرْصَةَ مَسْجِدًا وَلِأَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ قَدْ وَافَقَنَا أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ دَارًا وَلَمْ يُعَيِّنْهَا فَدَخَلَ عَرْصَةَ دَارٍ قَدِ انْهَدَمَ بِنَاؤُهَا لَمْ يَحْنَثْ كَذَلِكَ إِذَا عينها

Dalil kami adalah bahwa sesuatu yang disebut dengan nama beserta bangunannya, maka hukum pelanggaran sumpah (ḥinth) hilang darinya dengan hilangnya bangunan tersebut, seperti rumah. Jika dikatakan: rumah tidak lagi disebut rumah setelah bangunannya runtuh, sedangkan dār (kediaman) tetap disebut dār setelah bangunannya runtuh, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka itulah rumah-rumah mereka yang kosong karena kezaliman mereka,” maka Allah tetap menyebutnya rumah-rumah setelah rusak. Dan karena apa yang mencegah terjadinya pelanggaran sumpah dengan memasuki halaman rumah, juga mencegahnya dengan memasuki halaman dār, sebagaimana jika halaman itu dibangun menjadi masjid. Dan karena Abū Ḥanīfah telah sepakat dengan kami bahwa jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke suatu dār tanpa menentukannya, lalu ia masuk ke halaman dār yang bangunannya telah runtuh, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah; demikian pula jika ia menentukannya.

وَتَحْرِيرُهُ إنَّ كُلَّ مَا لَا يَتَنَاوَلُهُ الِاسْمُ الْحَقِيقِيُّ مَعَ عَدَمِ التَّعْيِينِ لَمْ يَتَنَاوَلْهُ مَعَ وُجُودِ التَّعْيِينِ كَالْبَيْتِ

Penjelasannya adalah bahwa segala sesuatu yang tidak tercakup oleh nama hakiki ketika tidak ada penentuan, maka ia juga tidak tercakup ketika ada penentuan, seperti kata “rumah”.

فَإِنْ قِيلَ قَدْ فَرَّقَ الشَّرْعُ فِي الْأَيْمَانِ بَيْنَ التَّعْيِينِ وَالْإِبْهَامِ لِأَنَّهُ لَوْ حَلَفَ فَقَالَ لَا جَلَسْتُ فِي سِرَاجٍ فَجَلَسَ فِي الشَّمْسِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ سَمَّاهَا اللَّهُ تَعَالَى سِرَاجًا وَلَوْ عَيَّنَ فَقَالَ لَا جَلَسْتُ فِي هَذَا السِّرَاجِ إِشَارَةً إِلَى الشَّمْسِ حَنِثَ بِجُلُوسِهِ فِيهَا وَلَوْ حَلَفَ لَا جَلَسْتُ عَلَى بِسَاطٍ فَجَلَسَ عَلَى الْأَرْضِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ سَمَّاهَا اللَّهُ تَعَالَى بِسَاطًا وَلَوْ عَيَّنَ فَقَالَ لَا جَلَسْتُ عَلَى هَذَا الْبِسَاطِ مُشِيرًا إلى الأرض فجلس عليها حنث فصارت التَّعْيِينِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ بِسَاطًا مَعَ الْإِبْهَامِ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْعَرْصَةُ دَارًا مَعَ التَّعْيِينِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ دَارًا مَعَ الْإِبْهَامِ قُلْنَا لَيْسَ يَفْتَرِقُ التَّعْيِينُ وَالْإِبْهَامُ فِي حَقَائِقِ الْأَسْمَاءِ فَإِنَّ اسْمَ السِّرَاجِ يَنْطَلِقُ عَلَى الشَّمْسِ مَجَازًا فِي الْإِبْهَامِ وَالتَّعْيِينِ وَاسْمُ الْبِسَاطِ يَنْطَلِقُ عَلَى الْأَرْضِ مَجَازًا فِي الْإِبْهَامِ وَالتَّعْيِينِ وَإِنَّمَا جعل التعيين مقصوداً والاسم مستعاراً فإن أُبْهِمَ الِاسْمُ اعْتُبِرَ فِيهِ الْحَقِيقَةُ دُونَ الْمَجَازِ الْمُسْتَعَارِ وَالتَّعْيِينِ فِي الدَّارِ تَوَجَّهَ إِلَى شَيْئَيْنِ جَمْعَهُمَا حَقِيقَةُ الِاسْمِ وَهِيَ الْعَرْصَةُ وَالْبِنَاءُ فَإِذَا ذَهَبَ الْبِنَاءُ زَالَ شَطْرُ الْعَيْنِ فَارْتَفَعَ حَقِيقَةُ الِاسْمِ وَلِأَنَّ الْإِبْهَامَ إِذَا حَلَفَ لَا دَخَلْتُ دارٍ وَلَا يَحْنَثُ فِي التَّعْيِينِ إِلَّا بِدُخُولِ تِلْكَ الدَّارِ فَلَمَّا ارْتَفَعَ بِالْهَدْمِ حُكْمُ الْأَعَمِّ كَانَ أَوْلَى أَنْ يَرْتَفِعَ بِهِ حُكْمُ الْأَخَصِّ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ بِأَنَّ اسْمَ الدَّارِ ينطلق عليها بعد انهدامها هو أَنَّ الِاسْمَ يَنْطَلِقُ عَلَيْهَا بَعْدَ الْهَدْمِ عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan, “Syariat telah membedakan dalam sumpah antara penentuan (ta‘yīn) dan pengaburan (ibhām), karena jika seseorang bersumpah dengan berkata, ‘Aku tidak akan duduk di sirāj,’ lalu ia duduk di bawah matahari, maka ia tidak melanggar sumpah, meskipun Allah Ta‘ala menyebut matahari sebagai sirāj. Namun jika ia menentukan dengan berkata, ‘Aku tidak akan duduk di sirāj ini,’ sambil menunjuk ke matahari, lalu ia duduk di bawahnya, maka ia melanggar sumpah. Atau jika ia bersumpah, ‘Aku tidak akan duduk di atas bisāt,’ lalu ia duduk di atas tanah, maka ia tidak melanggar sumpah, meskipun Allah Ta‘ala menyebut tanah sebagai bisāt. Namun jika ia menentukan dengan berkata, ‘Aku tidak akan duduk di atas bisāt ini,’ sambil menunjuk ke tanah, lalu ia duduk di atasnya, maka ia melanggar sumpah. Maka penentuan (ta‘yīn), meskipun bukan bisāt, bersama pengaburan (ibhām) juga demikian. Maka wajiblah bahwa ‘arshah (tanah lapang) menjadi rumah (dār) dengan penentuan, meskipun bukan rumah dengan pengaburan. Kami katakan, penentuan dan pengaburan tidak berbeda dalam hakikat nama-nama, karena nama sirāj berlaku untuk matahari secara majazi baik dalam pengaburan maupun penentuan, dan nama bisāt berlaku untuk tanah secara majazi baik dalam pengaburan maupun penentuan. Hanya saja penentuan dijadikan sebagai maksud dan nama digunakan secara pinjaman. Jika nama itu diibhamkan, maka yang dipertimbangkan adalah hakikatnya, bukan makna majazi yang dipinjamkan. Penentuan dalam rumah (dār) mengarah pada dua hal yang keduanya terkumpul dalam hakikat nama, yaitu ‘arshah dan bangunan. Jika bangunan telah hilang, maka hilanglah setengah dari objek yang dituju, sehingga hakikat nama pun hilang. Karena jika dalam pengaburan seseorang bersumpah, ‘Aku tidak akan masuk rumah,’ maka ia tidak melanggar sumpah dalam penentuan kecuali dengan masuk ke rumah tersebut. Maka ketika hukum yang umum hilang karena bangunan dihancurkan, maka lebih utama lagi hukum yang khusus juga hilang karenanya. Adapun jawaban atas pendapat mereka bahwa nama rumah (dār) tetap berlaku padanya setelah dihancurkan adalah bahwa nama itu berlaku padanya setelah dihancurkan dalam dua kemungkinan.

إِمَّا عَلَى الِاسْتِعَارَةِ وَالْمَجَازِ وَالْأَيْمَانُ تُرَاعَى فِيهَا حَقَائِقُ الْأَسْمَاءِ دُونَ مَجَازِهَا وَإِمَّا لِأَنَّهَا كَانَتْ دَارًا فَاسْتُصْحِبَ اسْمُهَا اتِّسَاعًا وَالْأَسْمَاءُ فِي الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرَةٌ بِالْحَالِ دُونَ مَا سَلَفَ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا كَلَّمْتُ عَبْدًا فَكَلَّمَهُ مُعْتِقًا ثُمَّ يُقَالُ لِأَبِي حَنِيفَةَ هَذَا الِاسْتِدْلَالُ وَالتَّعْيِينُ يَفْسَدُ بِالْإِطْلَاقِ فِي الْإِبْهَامِ وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُ بِدُخُولِهِ إِلَى صَحْنِهَا مِنْ هَدْمٍ فِي سُورِهَا فَسَنَشْرَحُ مِنْ مَذْهَبِنَا فِيهِ مَا يَكُونُ انْفِصَالًا عَنْهُ وَهُوَ أَنَّهُ لَيْسَ يَخْلُو حَالُ مَا انْهَدَمَ مِنْهَا وَبَقِيَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Entah berdasarkan makna kiasan dan majaz, sedangkan sumpah (aymān) dipertimbangkan padanya makna hakiki nama-nama, bukan makna majaznya; atau karena tempat itu dahulunya adalah rumah, maka namanya tetap digunakan secara luas. Nama-nama dalam sumpah (aymān) dipertimbangkan sesuai keadaan saat ini, bukan keadaan yang telah lalu, seperti jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan berbicara dengan seorang budak pun,” lalu ia berbicara dengannya setelah membebaskannya. Kemudian dikatakan kepada Abu Hanifah, “Dalil dan penetapan ini menjadi rusak karena adanya kemutlakan dalam ketidakjelasan.” Adapun dalilnya dengan masuk ke halamannya melalui bagian tembok yang roboh, maka kami akan jelaskan dari mazhab kami tentang hal itu, yang merupakan penjelasan terpisah darinya, yaitu bahwa keadaan bagian yang roboh dan yang tersisa tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ لَا يُمْنَعَ مِنْ سُكْنَى شَيْءٍ مِنْهَا فَيَحْنَثَ بِدُخُولِهِ مِنَ الْمُسْتَهْدَمِ وَالْعَامِرِ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak dilarang untuk menempati bagian mana pun darinya, sehingga ia dianggap melanggar sumpah jika memasuki bagian yang digunakan maupun yang masih kosong.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُمْنَعَ بِالْهَدْمِ مِنْ سُكْنَى الْبَاقِي وَسُكْنَى الْمُسْتَهْدَمِ فَلَا يَحْنَثُ بِدُخُولِ مَا بَقِيَ وَلَا بِدُخُولِ مَا انْهَدَمَ

Bagian kedua adalah apabila seseorang terhalangi untuk menempati sisa bangunan dan tempat tinggal yang telah runtuh, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan memasuki bagian yang masih tersisa maupun bagian yang telah runtuh.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَمْنَعَ الْهَدْمُ مِنْ سُكْنَى مَا اسْتُهْدِمَ وَلَا يَمْنَعُ مِنْ سُكْنَى مَا بَقِيَ عَلَى عِمَارَتِهِ وَلَمْ يُسْتَهْدَمْ فَلَا يَحْنَثُ بِدُخُولِ الْمُسْتَهْدَمِ مِنْهَا وَيَحْنَثُ بدخول الباقي مِنْ عَامِرِهَا وَلَوِ انْهَدَمَتْ بُيُوتُهَا وَبَقِيَ سُورُهَا فَإِنْ كَانَ السُّورُ مَانِعًا لِعُلُوِّهِ حَنِثَ بِدُخُولِهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَانِعٍ لِقِصَرِهِ فَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِدُخُولِهِ وَخَرَّجَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَجْهًا آخر فمن حلف لا يدخل الدار ورقا عَلَى سَطْحِهَا أَنَّهُ يَحْنَثُ إِذَا كَانَتْ عَلَيْهِ سُتْرَةٌ وَلَيْسَ هَذَا التَّحْرِيمُ صَحِيحًا لِأَنَّ السَّطْحَ مُمْتَنِعٌ بِسُكْنَى أَسْفَلِهِ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ قِصر سُتْرَتِهِ مَانِعًا فَخَالَفَ الْبَاقِيَ مِنْ سُتْرَةِ الدَّارِ

Bagian ketiga adalah apabila kerusakan (hancurnya bangunan) menghalangi untuk menempati bagian yang telah rusak, namun tidak menghalangi untuk menempati bagian yang masih utuh dan belum rusak. Maka, seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia memasuki bagian yang sudah rusak, tetapi ia dianggap melanggar sumpah jika memasuki bagian yang masih utuh dari bangunan tersebut. Jika rumah-rumahnya telah runtuh namun temboknya masih berdiri, maka jika tembok itu cukup tinggi sehingga menghalangi, ia dianggap melanggar sumpah jika memasukinya. Namun, jika tembok itu rendah sehingga tidak menghalangi, pendapat yang benar adalah ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memasukinya. Sebagian ulama kami mengemukakan pendapat lain: barang siapa bersumpah tidak akan masuk ke rumah kecuali melalui tangga ke atapnya, maka ia dianggap melanggar sumpah jika di atas atap itu terdapat penghalang. Namun, pendapat ini tidak benar, karena atap itu terhalang untuk ditempati oleh bagian bawahnya, sehingga boleh jadi rendahnya penghalang itu menjadi sebab tidak terhalanginya, sehingga berbeda dengan sisa penghalang rumah yang lain.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا انْهَدَمَتِ الدَّارُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهَا فَبُنِيَتْ مَسْجِدًا أَوْ حَمَّامًا لَمْ يَحْنَثْ بِدُخُولِهِ سَوَاءٌ كان البناء بتلك الْآلَةِ أَوْ بِغَيْرِهَا لِزَوَالِ اسْمِ الدَّارِ عَنْهَا وَإِنْ أُعِيدَ بِنَاؤُهَا داراُ لَمْ يَخْلُ أَنْ تُبْنَى بِتِلْكَ الْآلَةِ أَوْ بِغَيْرِهَا فَإِنْ بُنِيَتْ بِغَيْرِ تِلْكَ الْآلَةِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ دَخَلَ غَيْرَ تِلْكَ الدَّارِ وَإِنْ بُنِيَتْ بِتِلْكَ الْآلَةِ فَفِي حِنْثِهِ بِدُخُولِهَا وَجْهَانِ

Apabila rumah yang dijadikan objek sumpah itu runtuh, lalu dibangun kembali menjadi masjid atau pemandian, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memasukinya, baik bangunan itu didirikan dengan bahan yang sama maupun dengan bahan lain, karena nama “rumah” telah hilang darinya. Namun, jika rumah itu dibangun kembali sebagai rumah, maka ada dua kemungkinan: dibangun dengan bahan yang sama atau dengan bahan yang berbeda. Jika dibangun dengan bahan yang berbeda, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena ia memasuki rumah yang berbeda dari yang dimaksud dalam sumpah. Namun, jika dibangun dengan bahan yang sama, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah jika memasukinya.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يَحْنَثُ لِأَنَّ غَيْرَ ذَلِكَ الْبِنَاءِ يَجْعَلُهَا غَيْرَ تِلْكَ الدَّارِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena bangunan selain bangunan tersebut menjadikannya bukan rumah yang dimaksud.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ لِأَنَّ تِلْكَ الْعَرْصَةَ وَتِلْكَ الْآلَةَ تَجْعَلُهَا تِلْكَ الدَّارُ وَجَرَى تَغْيِيرُ بِنَائِهَا مَجْرَى تَغْيِيرِ سُقُوفِهَا وَأَبْوَابِهَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpah, karena tanah lapang itu dan alat tersebut telah dijadikan bagian dari rumah itu, dan perubahan bangunannya diperlakukan sama dengan perubahan atap dan pintu-pintunya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ مِنْ بَابِ هَذِهِ الدَّارِ فِي موضعٍ فَحَوَّلَ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَ أَنْ يَدْخُلَهَا فَيَحْنَثَ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan masuk dari pintu rumah ini di suatu tempat, lalu pintunya dipindahkan, maka ia tidak melanggar sumpahnya, kecuali jika ia berniat akan memasukinya, maka ia melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ مَنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ هَذِهِ الدَّارَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan orang yang bersumpah tidak akan masuk ke rumah ini tidak lepas dari tiga bagian.

أحدها أن يطلق بيمينه فِي دُخُولِهَا وَلَا يُسَمِّيَ مَوْضِعَ دُخُولِهِ إِلَيْهَا فَيَحْنَثُ بِدُخُولِهَا مِنْ بَابِهَا وَغَيْرِ بَابِهَا مِنْ ثُقْبٍ فِيهَا أَوْ جدارٍ تَسَوَّرَهُ حَتَّى دَخَلَهَا لِأَنَّ عَقْدَ الْيَمِينِ فِي الْإِطْلَاقِ مقصورٌ عَلَى الدُّخُولِ دُونَ الْمَدْخَلِ

Salah satunya adalah seseorang bersumpah dengan sumpahnya tentang masuk ke dalamnya tanpa menyebutkan tempat masuknya, maka ia dianggap melanggar sumpah jika masuk ke dalamnya melalui pintunya atau selain pintunya, seperti melalui lubang di dalamnya atau dengan memanjat dindingnya hingga ia masuk ke dalamnya. Sebab, maksud dari sumpah yang diucapkan secara mutlak terbatas pada perbuatan masuk, bukan pada jalan masuknya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفَ لَا دَخَلْتُهَا مِنْ هَذَا الْبَابِ فَإِنْ دَخَلَهَا مِنْهُ حَنِثَ وَإِنْ دَخَلَهَا مِنْ بَابٍ اسْتُحْدِثَ لها لم يحنث سواء فعل ذلك الباب مِنَ الْأَوَّلِ إِلَى الْمُسْتَحْدَثِ أَوْ تُرِكَ وَحَكَى أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِيُّ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ إِنْ نَقَلَ بَابَ الْأَوَّلِ إِلَى الثَّانِي حَنِثَ بِدُخُولِ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ وَإِنْ تَرَكَ عَلَى الْأَوَّلِ حَنِثَ بِدُخُولِ الْأَوَّلِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِدُخُولِ الثَّانِي فَجَعَلَ الْبَابَ مُعْتَبَرًا بِالْخَشَبِ الْمَنْحُوتِ دُونَ الْفَتْحِ الْمَعْقُودِ وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا هُوَ الْمُعَوَّلُ عَلَيْهِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْبَابَ مُعْتَبَرٌ بِالْفَتْحِ الْمَعْقُودِ دُونَ الْخَشَبِ الْمَنْصُوبِ لِأَنَّ الْبَابَ عَلَى مَا يَكُونُ مِنْهُ الدُّخُولُ وَالْخُرُوجُ وَذَلِكَ مِنَ الْفَتْحِ الْمَعْقُودِ فَكَانَ أَحَقَّ بِالِاسْمِ مِنَ الْخَشَبِ الْمَنْصُوبِ

Bagian kedua adalah apabila seseorang bersumpah, “Aku tidak akan memasukinya dari pintu ini.” Jika ia memasukinya dari pintu tersebut, maka ia melanggar sumpah. Namun, jika ia memasukinya dari pintu yang baru dibuat untuknya, ia tidak melanggar sumpah, baik pintu itu dibuat dari yang pertama menuju yang baru, atau dibiarkan saja. Abu Hamid al-Isfirayini meriwayatkan dari sebagian ulama kami bahwa jika pintu pertama dipindahkan ke tempat pintu kedua, maka ia melanggar sumpah dengan masuk melalui pintu kedua, bukan pintu pertama. Namun, jika dibiarkan pada posisi semula, ia melanggar sumpah dengan masuk melalui pintu pertama dan tidak melanggar dengan masuk melalui pintu kedua. Maka, pintu dianggap berdasarkan kayu yang dipahat, bukan pada bukaan yang dibuat. Adapun pendapat jumhur ulama kami—dan inilah yang menjadi pegangan dalam mazhab Syafi‘i—bahwa pintu dianggap berdasarkan bukaan yang dibuat, bukan pada kayu yang dipasang, karena pintu itu adalah tempat keluar masuk, dan itu terjadi melalui bukaan yang dibuat, sehingga lebih berhak disebut pintu daripada kayu yang dipasang.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَحْلِفَ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ مِنْ بَابِهَا وَلَا يُشِيرُ إِلَى بَابٍ بِعَيْنِهِ فَإِنْ تَسَوَّرَ عَلَيْهَا مِنْ جِدَارِهَا أَوْ دَخَلَ مِنْ ثُقْبٍ فِي حَائِطِهَا لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ دَخَلَ مِنْ بَابِهَا الْمَوْجُودِ لَهَا وَقْتَ يَمِينِهِ حَنِثَ وَإِنِ اسْتُحْدِثَ لَهَا بَابٌ غَيْرُهُ فَدَخَلَ مِنْهُ فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Bagian ketiga adalah apabila seseorang bersumpah, “Aku tidak akan masuk ke rumah ini melalui pintunya,” tanpa menunjuk pada pintu tertentu. Jika ia memanjat masuk melalui dindingnya atau masuk melalui lubang di temboknya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, jika ia masuk melalui pintu rumah yang ada saat ia bersumpah, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika kemudian dibuat pintu baru selain pintu tersebut lalu ia masuk melalui pintu baru itu, maka ada dua pendapat mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah atau tidak.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ ظَاهِرُ مَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ وَبِهِ قَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ لِأَنَّ الْيَمِينَ انْعَقَدَتْ عَلَى بَابٍ مَوْجُودٍ فَكَانَ شَرْطًا فِي الْحِنْثِ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا دَخَلْتُ دَارَ زَيْدٍ فَبَاعَهَا زَيْدٌ لَمْ يَحْنَثْ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang jelas sebagaimana dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam masalah ini, adalah bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, karena sumpah tersebut diikrarkan atas sesuatu yang masih ada, sehingga hal itu menjadi syarat dalam terjadinya pelanggaran sumpah, sebagaimana jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan masuk ke rumah Zaid,” lalu Zaid menjual rumah itu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَظْهَرُهُمَا وَبِهِ قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ أَنَّهُ يَحْنَثُ لِأَنَّ الْحَادِثَ بَابٌ لَهَا فَصَارَ دَاخِلًا مِنْ بَابِهَا فَصَارَ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ الَّتِي لِزَيْدٍ فَبَاعَهَا زَيْدٌ حَنِثَ بِدُخُولِهَا فَيَكُونُ نَصُّ الشَّافِعِيِّ مَحْمُولًا عَلَى تعيين الباب دون إبهامه

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang lebih kuat, dan inilah yang dikatakan oleh Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa ia dianggap melanggar sumpah karena pintu itu adalah bagian dari rumah tersebut, sehingga ia termasuk ke dalam rumah melalui pintunya. Maka hal ini seperti seseorang yang bersumpah, “Aku tidak akan masuk ke rumah ini yang milik Zaid,” lalu Zaid menjual rumah itu, maka jika ia masuk ke dalamnya, ia tetap dianggap melanggar sumpah. Dengan demikian, teks Imam Syafi‘i harus dipahami sebagai penetapan pintu secara spesifik, bukan secara umum.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبًا وَهُوَ رداءٌ فَقَطَعَهُ قَمِيصًا أَوِ ائْتَزَرَ بِهِ أَوْ حَلَفَ لا يلبس سراويل فَائْتَزَرِ بِهِ أَوْ قَمِيصًا فَارْتَدَى بِهِ فَهَذَا كُلُّهُ لبسٌ يَحْنَثُ بِهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ نيةٌ فَلَا يَحْنَثُ إِلَّا عَلَى نِيَّتِهِ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakai pakaian, sementara yang dimaksud adalah selendang, lalu ia memotongnya menjadi gamis atau memakainya sebagai kain sarung, atau ia bersumpah tidak akan memakai celana lalu memakainya sebagai kain sarung, atau bersumpah tidak akan memakai gamis lalu memakainya sebagai selendang, maka semua itu termasuk memakai pakaian dan ia dianggap melanggar sumpahnya, kecuali jika ia memiliki niat tertentu, maka ia tidak dianggap melanggar kecuali sesuai dengan niatnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ اخْتَلَطَ فِيهَا كَلَامُ أَصْحَابِنَا حَتَّى خَبَطُوا خَبْطَ عَشْوَاء وَسَنَذْكُرُ مَا يَسره اللَّهُ تَعَالَى وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ بِالصَّوَابِ مَقْرُونًا فَإِذَا حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبًا وَهُوَ عَلَى صِفَةٍ فَلَبِسَهُ وَهُوَ عَلَى خِلَافِهَا كَمَنْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبًا هُوَ رِدَاءٌ فَائتَزَرَ بِهِ أَوْ قَطَعَهُ قَمِيصًا أَوْ حَلَفَ لَا يلبس قميصاً فارتدى به أو قطعه سراويل أو حلف لا يلبس سراويل فَاتَّزَرَ بِهِ أَوْ حَوَّلَهُ مِنْدِيلًا أَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ طَيْلَسَانًا فَتَعَمَّمَ بِهِ أَوْ قَطَعَهُ مَلْبُوسًا فَلَا يَخْلُو حَالُ يَمِينِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Ini adalah sebuah permasalahan yang dalam pembahasannya para ulama kita telah bercampur aduk hingga mereka membahasnya secara tidak terarah. Kami akan menyebutkan apa yang dimudahkan Allah Ta‘ala, dan aku berharap hal itu disertai dengan kebenaran. Jika seseorang bersumpah tidak akan memakai pakaian tertentu dalam keadaan tertentu, lalu ia memakainya dalam keadaan yang berbeda, seperti seseorang yang bersumpah tidak akan memakai pakaian yang berupa rida’ lalu ia menjadikannya sebagai izar, atau memotongnya menjadi gamis; atau ia bersumpah tidak akan memakai gamis lalu ia menjadikannya sebagai rida’ atau memotongnya menjadi celana; atau ia bersumpah tidak akan memakai celana lalu ia menjadikannya sebagai izar atau mengubahnya menjadi sapu tangan; atau ia bersumpah tidak akan memakai thailasan lalu ia menjadikannya sebagai sorban atau memotongnya menjadi pakaian lain, maka keadaan sumpahnya tidak lepas dari tiga bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يَعْقِدَهَا عَلَى عَيْنِ الثَّوْبِ وَيُلْغِيَ صِفَتَهُ وَصِفَةَ لُبْسِهِ فَهَذَا يَحْنَثُ عَلَى أَيِّ حَالٍ لَبِسَهُ وَعَلَى أَيِّ صفةٍ لَبِسَهُ مَعَ تَغَيُّرِ أَحْوَالِهِ وَأَوْصَافِهِ اعْتِبَارًا بِعَقْدِ الْيَمِينِ عَلَى عَيْنِهِ دُونَ صِفَتِهِ وَهَذَا مِمَّا اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَيْهِ

Salah satunya adalah seseorang bersumpah atas suatu pakaian tertentu dan mengabaikan sifat serta cara memakainya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dalam keadaan apa pun ia memakainya dan dengan sifat apa pun ia memakainya, meskipun keadaan dan sifatnya berubah-ubah, karena yang diperhitungkan adalah sumpah yang diikrarkan atas benda tertentu tanpa memperhatikan sifatnya. Hal ini telah menjadi kesepakatan di antara para ulama mazhab kami.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَعْقِدَ يَمِينَهُ عَلَى صِفَةِ الثَّوْبِ وَصِفَةِ لُبْسِهِ فَيَحْنَثُ بِلُبْسِهِ إِذَا كَانَ عَلَى حَالِهِ وَعَلَى الصِّفَةِ الْمُعْتَادَةِ فِي لُبْسِهِ وَلَا يَحْنَثُ إِنْ جَعَلَ الْإِزَارَ قَمِيصًا أَوِ اتَّزَرَ بِهِ وَلَا إِنْ جَعَلَ القميص سراويل أو ارتدى به ولا أن جعل السراويل منديلاً أو اتزر بِهِ حَتَّى يَجْمَعَ فِي لُبْسِهِ بَيْنَ بَقَائِهِ عَلَى صِفَتِهِ وَبَيْنَ الْمَعْهُودِ فِي لُبْسِهِ اعْتِبَارًا بِمَا عَقَدَ يَمِينَهُ عَلَيْهِ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَهَذَا مِمَّا اتَّفَقَ أَيْضًا عَلَيْهِ أَصْحَابُنَا

Bagian kedua adalah ketika seseorang bersumpah atas sifat pakaian dan cara memakainya, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakainya dalam keadaan seperti semula dan dengan cara yang biasa dipakai. Namun, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika menjadikan izar sebagai gamis lalu memakainya, atau mengenakan izar dengan cara berbeda; juga tidak dianggap melanggar jika menjadikan gamis sebagai celana atau memakainya dengan cara berbeda, atau menjadikan celana sebagai sapu tangan atau mengenakannya dengan cara berbeda, sampai ia menggabungkan dalam pemakaiannya antara tetap pada sifat aslinya dan cara pemakaian yang biasa, sesuai dengan apa yang ia jadikan dasar sumpahnya, yaitu menggabungkan kedua hal tersebut. Hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama mazhab kami.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ الَّذِي اخْتَلَطَ فِيهِ الْكَلَامُ وَاخْتَلَفَ فِيهِ الْجَوَابُ وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَ يَمِينَهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَيَقُولُ لَا لَبِسْتُ هَذَا الثَّوْبَ أو هذا القميص أو هذا السراويل فَيُغَيِّرَهُ عَنْ صِفَتِهِ أَوْ يَلْبَسُهُ عَلَى غَيْرِ عَادَتِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا يَقَعُ بِهِ حِنْثُهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Bagian ketiga adalah yang di dalamnya terjadi percampuran dalam ucapan dan perbedaan dalam jawaban, yaitu ketika seseorang bersumpah secara mutlak lalu berkata, “Aku tidak akan memakai pakaian ini,” atau “baju ini,” atau “celana ini,” kemudian ia mengubah pakaian itu dari sifat aslinya atau memakainya dengan cara yang tidak biasa baginya. Maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai hal yang menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah dalam kasus ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنه أنه يَحْنَثُ بِلُبْسِهِ عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَتْ فَإِنْ غير القميص سراويل أو ارتدى به أو غير السراويل مَنْدِيلًا أَوِ اتَّزَرَ بِهِ حَنِثَ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ مِنْ أَصْحَابِنَا تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْعَيْنِ عَلَى الصِّفَةِ وَلِحُكْمِ الْفِعْلِ عَلَى الْعَادَةِ وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ فَهَذَا كُلُّهُ لَيْسَ يَحْنَثُ بِهِ وَيَكُونُ قَوْلُهُ لَا لَبِسْتُ ثَوْبًا وَهُوَ رِدَاءٌ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ صِفَةً لِلثَّوْبِ وَلَيْسَ مِنْ كَلَامِ الْحَالِفِ شَرْطًا فِي الْحِنْثِ لِأَنَّ الْحَالِفَ لَوْ قَالَ هَذَا لَمْ يَحْنَثْ إِذَا لَبِسَهُ وَهُوَ غَيْرُ رِدَاءٍ

Salah satu pendapat, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i rahimahullah, adalah bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya dengan memakai pakaian tersebut dalam bentuk apa pun. Maka jika ia mengganti gamis dengan celana panjang, atau memakainya sebagai selendang, atau mengganti celana panjang dengan sapu tangan, atau memakainya sebagai kain sarung, ia tetap dianggap melanggar sumpah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan kami, karena lebih mengutamakan hukum pada benda (‘ain) daripada sifatnya, dan hukum pada perbuatan daripada kebiasaannya. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Syafi‘i dengan ucapannya: “Semua ini tidak menyebabkan ia melanggar sumpah,” dan ucapan beliau “Aku tidak memakai pakaian, padahal itu adalah selendang,” adalah penjelasan dari Syafi‘i tentang sifat pakaian, bukan syarat dari orang yang bersumpah dalam pelanggaran sumpah. Karena jika orang yang bersumpah mengatakan demikian, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakainya bukan sebagai selendang.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَنْسُوبٌ إِلَى الْمُزَنِيِّ وطائفةٌ مِنْ مُتَقَدِّمِي أَصْحَابِنَا إنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِلُبْسِهِ إِذَا غَيَّرَهُ عَنْ صِفَتِهِ وَلَا إِذَا لَبِسَهُ عَلَى غَيْرِ عَادَتِهِ فَإِنْ جعل الرداء قميصاً أو القميص سراويل وارتدى بالقميص أو اتزر بالسراويل لم يحنث حق يتقمص بالقميص ويتسرول بالسراويل وَيَرْتَدِيَ بِالرِّدَاءِ فَيَجْمَعَ بَيْنَ بَقَائِهِ عَلَى صِفَتِهِ وَبَيْنَ لُبْسِهِ عَلَى عَادَتِهِ حَتَّى حُكِيَ عَنِ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ خَاتَمًا فَلَبِسَهُ فِي غَيْرِ الْخِنْصَرِ مِنْ أَصَابِعِهِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ عَدَلَ بِهِ عَنْ عَادَةِ لُبْسِهِ وَالْعُرْفُ وَالْعَادَةُ فِي الْأَيْمَانِ شَرْطٌ مُعْتَبَرٌ ولأن المحرم ممنوع من لبس القميص والسراويل ولو ارتدى بالقميص واتزر بالسراويل جَازَ وَلَمْ يُكَفِّرْ

Pendapat kedua, yang dinisbatkan kepada al-Muzani dan sekelompok ulama terdahulu dari mazhab kami, menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya jika ia mengenakan pakaian dengan mengubah sifatnya atau memakainya tidak sesuai kebiasaannya. Maka, jika seseorang menjadikan selendang sebagai baju, atau baju sebagai celana, lalu mengenakan baju sebagai selendang atau celana sebagai kain sarung, ia tidak dianggap melanggar sumpah, selama ia mengenakan baju sebagai baju, celana sebagai celana, dan selendang sebagai selendang, sehingga terkumpul antara tetapnya pakaian pada sifat aslinya dan pemakaiannya sesuai kebiasaan. Sampai-sampai diriwayatkan dari al-Muzani bahwa beliau berkata: “Jika seseorang bersumpah tidak akan memakai cincin, lalu ia memakainya di selain jari kelingkingnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia telah mengubah kebiasaan pemakaian cincin tersebut, dan adat serta kebiasaan dalam sumpah adalah syarat yang diperhitungkan.” Juga karena orang yang sedang ihram dilarang memakai baju dan celana, namun jika ia mengenakan baju sebagai selendang atau celana sebagai kain sarung, maka itu diperbolehkan dan tidak wajib membayar kifarat.

وَتَأَوَّلَ قَائِلُ هَذَا الْوَجْهِ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ فَهَذَا كُلُّهُ لَيْسَ بِحِنْثٍ عَلَى النَّفْيِ أَيْ لَا يَحْنَثُ بِهِ وَهَذَا التَّأْوِيلُ لِكَلَامِهِ زَلَلٌ مِنْ قَائِلِهِ لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ بَعْدَهُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ نِيَّةٌ وَلَا نَحْسُبُهُ إِلَّا عَلَى نِيَّتِهِ وَهَذَا اسْتِثْنَاءٌ وَحُكْمُ الِاسْتِثْنَاءِ ضِدُّ حُكْمِ الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ فَهَذَا الِاسْتِثْنَاءُ نَفْيٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعُودَ إِلَى نَفْيٍ لِأَنَّهُ إِنَّمَا يستثني النَّفْي مِنَ الْإِثْبَاتِ وَيسْتَثْني الْإِثْبَات مِنَ النَّفْيِ فَدَلَّ عَلَى فَسَادِ هَذَا التَّأْوِيلِ وَإِنْ كَانَ لِمَا قَالَهُ مِنَ الْحُكْمِ وَجْهٌ

Orang yang berpendapat seperti ini menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i bahwa semua ini bukanlah perbuatan melanggar sumpah pada bentuk penafian, yaitu tidak dianggap melanggar sumpah karenanya. Namun penafsiran terhadap perkataannya ini adalah kekeliruan dari orang yang mengatakannya, karena asy-Syafi‘i berkata setelahnya: “kecuali jika ia memiliki niat, dan kami tidak menganggapnya kecuali berdasarkan niatnya.” Ini adalah pengecualian, dan hukum pengecualian itu berlawanan dengan hukum yang dikecualikan darinya. Maka pengecualian ini adalah penafian, sehingga tidak boleh kembali kepada penafian, karena pengecualian itu hanya menafikan penafian dari penetapan dan menafikan penetapan dari penafian. Hal ini menunjukkan rusaknya penafsiran tersebut, meskipun apa yang dikatakannya memiliki sisi hukum tertentu.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إنَّهُ إِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ عَلَى الثَّوْبِ حَنِثَ بِلُبْسِهِ عَلَى جَمِيعِ الْأَحْوَالِ فَإِنِ اشْتَمَلَ بِهِ أَوِ ارْتَدَى أَوْ تَعَمَّمَ أَوْ قَطَعَهُ قميصاً أو سراويل حَنِثَ وَإِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ عَلَى قَمِيصٍ لَمْ يحنث إذا غيره فجعله سراويل أَوِ ارْتَدَى بِهِ وَلَمْ يَتَقَمَّصْ وَفَرَّقَ بَيْنَ اسْمِ الثَّوْبِ وَالْقَمِيصِ بِأَنَّ اسْمَ الثَّوْبِ عَامٌّ يَنْطَلِقُ عَلَى كُلِّ مَلْبُوسٍ وَلَا يَزُولُ عَنْهُ اسْمُ الثَّوْبِ وَإِنْ تَغَيَّرَتْ أَوْصَافُهُ وَاسْمَ الْقَمِيصِ خَاصٌّ يَزُولُ عَنْهُ اسْمُ الْقَمِيصِ إِذَا غَيَّرَهُ فجعل سراويل أَوْ يَخْرُجُ عَنِ الْعُرْفِ إِذَا لُبِسَ عَلَى غَيْرِ الْمَعْهُودِ مِنَ الِارْتِدَاءِ بِهِ فَلَمْ يَحْنَثْ بِتَغْيِيرِ لُبْسِهِ وَلَا بِتَخْيِيرِ قَطْعِهِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِبَقَاءِ الِاسْمِ عَلَى الثَّوْبِ إِذَا غُيِّرَ لِعُمُومِهِ وَزَوَالِهِ عَنِ الْقَمِيصِ إِذَا غُيِّرَ لِخُصُوصِهِ وَمَنْ حَكَى عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ غَيْرَ هَذَا حَرَّفَ عَلَيْهِ لِأَنَّ شَرْحَهُ دَالٌّ عَلَى ما ذكرنا

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa jika sumpahnya atas “tsaub” (pakaian), maka ia dianggap melanggar sumpah jika mengenakannya dalam segala keadaan. Maka jika ia membalutkan pakaian itu pada tubuhnya, atau memakainya sebagai rida’, atau menjadikannya sebagai sorban, atau memotongnya menjadi gamis atau celana, ia tetap dianggap melanggar sumpah. Namun, jika sumpahnya atas “qamis” (gamis), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika mengubahnya menjadi celana atau memakainya sebagai rida’ tanpa mengenakannya sebagai gamis. Ia membedakan antara nama “tsaub” dan “qamis” dengan penjelasan bahwa nama “tsaub” bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dipakai, dan nama itu tidak hilang darinya meskipun sifat-sifatnya berubah. Sedangkan nama “qamis” bersifat khusus, sehingga nama itu hilang darinya jika diubah menjadi celana atau keluar dari kebiasaan jika dipakai tidak sebagaimana biasanya, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah karena mengubah cara memakainya atau memotongnya, karena terdapat perbedaan antara keduanya: nama “tsaub” tetap ada jika diubah karena sifatnya yang umum, sedangkan nama “qamis” hilang jika diubah karena sifatnya yang khusus. Barang siapa yang meriwayatkan dari Abu Ishaq selain dari ini, maka ia telah keliru terhadapnya, karena penjelasannya menunjukkan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبَ رجلٍ مَنَّ عَلَيْهِ فَوَهَبَهُ لَهُ فَبَاعَهُ وَاشْتَرَى بِثَمَنِهِ ثَوْبًا لَبِسَهُ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا أَنْ يَلْبَسَ الَّذِي حلف عليه بعينه وإنما أنظر إلى مخرج اليمين ثم أحنث صاحبها أو أبره وذلك أن الأسباب متقدمةٌ والأيمان بعدها محدثةٌ قد يخرج على مثالها وعلى خلافها فأحنثه على مخرج يمينه أرأيت رجلاً لو كان قال وهبت له مالي فحلف ليضربنه أما يحنث إن لم يضربه؟ وليس يشبه سبب ما قال؟

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakai pakaian seorang laki-laki yang telah memberinya pakaian itu, lalu orang tersebut menghadiahkan pakaian itu kepadanya, kemudian ia menjualnya dan membeli pakaian lain dengan uang hasil penjualan itu, lalu ia memakainya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya kecuali jika ia memakai pakaian yang dimaksud dalam sumpahnya itu secara langsung. Aku hanya memperhatikan maksud dari sumpah tersebut, kemudian aku memutuskan apakah ia melanggar sumpahnya atau tidak. Sebab, sebab-sebab itu terjadi lebih dahulu, sedangkan sumpah-sumpah itu muncul belakangan, yang bisa saja sesuai dengan contoh sebelumnya atau berbeda. Maka aku memutuskan pelanggaran sumpah berdasarkan maksud sumpahnya. Bagaimana pendapatmu jika ada seseorang berkata, “Aku telah menghadiahkan hartaku kepadanya,” lalu ia bersumpah akan memukulnya, apakah ia dianggap melanggar sumpah jika tidak memukulnya? Bukankah sebab yang ia katakan itu tidak sama?

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ عَقْدَ الْأَيْمَانِ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa akad sumpah itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا مَا ابْتَدَأَ الْحَالِفُ عَقْدَ يَمِينِهِ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَقَدَّمَهَا سَبَبٌ يَدْعُو إليه فيقول مبتدأ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا فَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ كَلَامِهِ أَوْ يَقُولُ لَا أَكَلْتُ طَعَامَهُ فَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ أَكْلِ طَعَامِهِ أَوْ لَا لَبِسْتُ لَهُ ثَوْبًا فَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ لُبْسِ ثِيَابِهِ أَوْ لَا رَكِبْتُ لَهُ دَابَّةً فَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ رُكُوبِ دَوَابِّهِ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ لَمْ يُخَالِفْنَا مَالِكٌ فِي شَيْءٍ وَتَكُونُ الْيَمِينُ مَقْصُورَةً عَلَى مَا اقْتَضَاهُ الِاسْمُ مِنْ خُصُوصٍ وَعُمُومٍ

Salah satunya adalah ketika seseorang memulai sumpahnya atas dirinya sendiri tanpa didahului oleh sebab yang mendorongnya untuk bersumpah, misalnya ia berkata sejak awal: “Demi Allah, aku tidak berbicara dengan Zaid,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan berbicara dengannya; atau ia berkata: “Aku tidak makan makanannya,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakan makanannya; atau ia berkata: “Aku tidak memakai pakaiannya,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakai pakaiannya; atau ia berkata: “Aku tidak menunggangi hewannya,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan menunggangi hewan miliknya. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘), tidak ada perbedaan pendapat dari Malik dalam hal ini, dan sumpah tersebut terbatas pada apa yang ditunjukkan oleh lafaznya, baik dalam kekhususan maupun keumuman.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَتَقَدَّمَ الْيَمِينَ أَسْبَابٌ دَعَتْ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْهِ رَجُلٌ بِإِحْسَانٍ أوصله إِلَيْهِ أَوْ بِمَالٍ أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ فَبَعَثَهُ ذَلِكَ عَلَى الْيَمِينِ فَيَقُولُ وَاللَّهِ لَا لَبِسْتُ لَكَ ثَوْبًا وَلَا شَرِبْتُ لَكَ مَاءً مِنْ عَطَشٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي هَذَا هَلْ تَكُونُ الْيَمِينُ مَحْمُولَةً عَلَى السَّبَبِ الْمُتَقَدِّمِ أَوْ مَقْصُورَةً عَلَى الْعَقْدِ الْمُتَأَخِّرِ فذهب الشافعي وأبو حنيفة إِلَى أَنَّهَا مَقْصُورَةٌ عَلَى مَا تَضَمَّنَهُ لَفْظُ الْحَالِفِ فِي عُقُودِهَا وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا تَقَدَّمَهُ مِنْ سَبَبِهَا فَإِذَا حَلَفَ لَا يَلْبَسُ لَهُ ثَوْبًا لَمْ يَحْنَثْ بِرُكُوبِ دَوَابِّهِ وَلَا بِأَكْلِ طَعَامِهِ وَلَا بِدُخُولِ دَارِهِ وَإِذَا حَلَفَ لَا شربت لك من عطش لم يحنث ليشرب غير الماء من الشراب ولا يلبس الثِّيَابِ وَلَا بِرُكُوبِ الدَّوَابِّ وَقَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ وَافَقَهُ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ يَمِينَهُ مَحْمُولَةٌ عَلَى السَّبَبِ الدَّاعِي إِلَيْهَا فَإِذَا كَانَ سَبَبُهَا الْمِنَّةَ عَامَّةً حَنِثَ بِكُلِّ نَفْعٍ عَادَ إِلَيْهِ فَإِنْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ لَهُ ثَوْبًا حَنِثَ بِأَكْلِ طَعَامِهِ وَرُكُوبِ دَوَابِّهِ وَسُكْنِ دَارِهِ وَلَوْ حَلَفَ لَا شَرِبْتُ لَكَ مَاءً مِنْ عَطَشٍ حَنِثَ بِكُلِّ أَقْوَالِهِ وَحَنِثَ إِنِ اسْتَظَلَّ بِجِدَارِ دَارِهِ اعْتِبَارًا بِعُمُومِ السَّبَبِ وَإِلْغَاءِ الْخُصُوصِ فِي الْيَمِينِ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Jenis kedua adalah sumpah yang didahului oleh sebab-sebab yang mendorong seseorang untuk bersumpah, seperti ketika seseorang telah berbuat baik kepadanya atau memberinya harta sehingga hal itu mendorongnya untuk bersumpah, lalu ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memakai pakaianmu dan tidak akan meminum airmu ketika aku kehausan.” Para fuqaha’ rahimahumullah ta‘ala berbeda pendapat dalam hal ini: apakah sumpah itu harus dikaitkan dengan sebab yang mendahuluinya atau terbatas pada akad sumpah yang diucapkan belakangan. Asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa sumpah itu terbatas pada apa yang terkandung dalam lafaz orang yang bersumpah pada akadnya, dan tidak memperhatikan sebab yang mendahuluinya. Maka jika ia bersumpah tidak akan memakai pakaiannya, ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan menaiki kendaraannya, memakan makanannya, atau memasuki rumahnya. Jika ia bersumpah tidak akan meminum airnya karena kehausan, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika meminum minuman lain selain air, atau memakai pakaiannya, atau menaiki kendaraannya. Malik rahimahullah dan orang-orang Madinah yang sepaham dengannya radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa sumpah itu dikaitkan dengan sebab yang mendorongnya. Jika sebabnya adalah kebaikan secara umum, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan setiap manfaat yang kembali kepadanya. Jika ia bersumpah tidak akan memakai pakaiannya, ia dianggap melanggar sumpah dengan memakan makanannya, menaiki kendaraannya, dan tinggal di rumahnya. Jika ia bersumpah tidak akan meminum airnya karena kehausan, ia dianggap melanggar sumpah dengan semua pernyataannya, bahkan ia dianggap melanggar jika ia berteduh di dinding rumahnya, dengan mempertimbangkan keumuman sebab dan mengabaikan kekhususan dalam sumpah, berdasarkan dua alasan.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَمَّا جَازَ فِي الْأَيْمَانِ تَخْصِيصُ عُمُومِهَا بِالْعُرْفِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهَا بَعْضُ مَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الِاسْمُ جَازَ أَنْ يَتَجَاوَزَ خُصُوصُهَا بِالْعُرْفِ إِلَى غَيْرِ مَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الاسم

Salah satunya adalah bahwa ketika dalam sumpah diperbolehkan adanya takhshish (pembatasan) makna umum dengan ‘urf (kebiasaan), sehingga sebagian dari apa yang secara lafaz termasuk di dalamnya dapat dikeluarkan, maka diperbolehkan pula kekhususannya menurut ‘urf meluas hingga mencakup sesuatu yang secara lafaz tidak termasuk di dalamnya.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَمَّا جَازَ فِي أُصُولِ الشَّرْعِ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ فِي قَتْلِ الْمُشْرِكِينَ مَعَ وُجُودِ الِاسْمِ وَجَازَ تَجَاوُزُ النَّصِّ فِي ثُبُوتِ الرِّبَا فِي الْبُرِّ أَنَّ مَا لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْبُرِّ وَجَبَ اعْتِبَارُ مِثْلِهِ فِي الْأَيْمَانِ فَيَخُصُّ عُمُومَهَا بِالْعُرْفِ تَارَةً مَعَ وُجُودِ الِاسْمِ وَيَتَخَطَّاهُ بِالْعُرْفِ تَارَةً مَعَ عَدَمِ الِاسْمِ

Kedua, karena dalam ushul syar‘i dibolehkan adanya takhshish (pengkhususan) terhadap lafaz umum dalam perintah membunuh orang musyrik meskipun nama (musyrik) itu ada, dan dibolehkan pula melampaui nash dalam penetapan riba pada gandum, yaitu bahwa sesuatu yang tidak dinamai gandum tetap diberlakukan hukumnya, maka wajib mempertimbangkan hal yang serupa dalam sumpah (ayman). Dengan demikian, keumumannya dapat dikhususkan dengan ‘urf (kebiasaan) pada satu waktu meskipun nama itu ada, dan dapat pula dilampaui dengan ‘urf pada waktu lain meskipun nama itu tidak ada.

وَالدَّلِيلُ عَلَى اعْتِبَارِ الِاسْمِ وَإِسْقَاطِ السَّبَبِ هُوَ أَنَّ السَّبَبَ قَدْ يَتَجَرَّدُ عَنِ الْيَمِينِ فَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ وَقَدْ تَنْفَرِدُ الْيَمِينُ عَنْ سَبَبٍ فَيَتَعَلَّقُ بِهَا الْحُكْمُ فَوَجَبَ إِذَا اجْتَمَعَا وَهُمَا مُخْتَلِفَانِ أَنْ يَتَعَلَّقَ الْحُكْمُ بِالْيَمِينِ دُونَ السَّبَبِ لأمرين

Dalil yang menunjukkan bahwa yang dianggap adalah lafaz sumpah (al-ism) dan bukan sebabnya (as-sabab) adalah bahwa sebab terkadang terlepas dari sumpah sehingga tidak terkait dengannya suatu hukum, dan terkadang sumpah berdiri sendiri tanpa sebab namun hukum tetap terkait dengannya. Maka, apabila keduanya berkumpul dan keduanya berbeda, wajiblah hukum itu dikaitkan pada sumpah saja, bukan pada sebab, karena dua hal.

أحدها لِقُوَّةِ الْيَمِينِ عَلَى السَّبَبِ

Yang pertama adalah karena kuatnya sumpah dibandingkan sebab.

وَالثَّانِي لِحُدُوثِ الْيَمِينِ وَتَقَدُّمِ السَّبَبِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لاَ يُؤَاخُِذُكُمْ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَدْتُمْ الأَيْمَانَ وَلِأَنَّ مَا لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ حَقِيقَةُ الِاسْمِ الْمُظْهَرِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرًا أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا وَقَطَعَ كَلَامَهُ وَقَالَ أَرَدْتُ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا لَمْ تَنْعَقِدْ يَمِينُهُ عَلَى الِامْتِنَاعِ مِنْ كَلَامِهِ وَإِنْ أَرَادَهُ بِقَلْبِهِ وَقَرَنَهُ بِيَمِينِهِ فَلِأَنْ لَا تَنْعَقِدَ عَلَى السَّبَبِ الَّذِي يَقْتَرِنُ بِالْيَمِينِ وَلَمْ يَعْتَقِدْ بِالْقَلْبِ أَوْلَى وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّمَا أَحْكُمُ بِالظَّاهِرِ وَيَتَوَلَّى اللَّهُ السَّرَائِرَ

Kedua, berkaitan dengan terjadinya sumpah dan adanya sebab yang mendahului. Allah Ta‘ala berfirman: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah yang kamu teguhkan.” Dan karena sesuatu yang tidak benar-benar disebut dengan nama yang jelas, tidak boleh dianggap sah dalam sumpah. Tidakkah kamu melihat, jika seseorang berkata, “Demi Allah, tidak…” lalu ia memutus ucapannya dan berkata, “Maksudku, tidak berbicara dengan Zaid,” maka sumpahnya tidak dianggap sebagai sumpah untuk tidak berbicara dengannya, meskipun ia meniatkannya dalam hati dan mengaitkannya dengan sumpahnya. Maka, lebih utama lagi jika sumpah itu tidak terikat pada sebab yang bersamaan dengan sumpah dan tidak diyakini dalam hati. Nabi ﷺ bersabda, “Aku hanya memutuskan berdasarkan yang tampak, dan Allah yang menangani urusan batin.”

وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى إِلْغَاءِ السَّبَبِ بِأَنَّ رَجُلًا لَوْ وَهَبَ لِرَجُلٍ مَالًا فَحَلَفَ الْمَوْهُوبُ لَهُ لِيَضْرِبَنَّ الْوَاهِبَ حَنِثَ إِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ وَإِنْ كَانَ يَمِينُهُ مُخَالِفَةً لِمَا تَقَدَّمَهَا مِنَ السَّبَبِ وَقَدْ كَانَ يَلْزَمُ مِنَ اعْتِبَارِ الْأَسْبَابِ أَنْ لَا يُحَنِّثَهُ فِيهَا وَإِنْ لَمْ نَقُلْهُ فَدَلَّ عَلَى فَسَادِ اعْتِبَارِهِ

Syafi‘i raḥimahullāh berdalil tentang penghapusan sebab dengan contoh: jika seseorang memberikan harta sebagai hibah kepada orang lain, lalu orang yang menerima hibah itu bersumpah akan memukul si pemberi hibah, maka ia dianggap melanggar sumpah jika tidak memukulnya, meskipun sumpahnya itu bertentangan dengan sebab yang mendahuluinya. Padahal, jika sebab-sebab itu dianggap, seharusnya ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam kasus ini. Jika kita tidak mengatakan demikian, maka hal itu menunjukkan rusaknya pertimbangan sebab tersebut.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ فِي الْأَيْمَانِ تَخْصِيصُ عُمُومِهَا بِالْعُرْفِ جَازَ تَخَطِّي خُصُوصِهَا بِالْعُرْفِ فَهُوَ أَنَّ الْعُرْفَ مِنْ تَخْصِيصِهَا مُقَارَنٌ بِعَقْدِهَا فَجَازَ اعْتِبَارُهُ وَالْعُرْفُ فِي تَخَطِّي خُصُوصِهَا مُفَارِقٌ فَلَمْ يَجُزِ اعْتِبَارُهُ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ فِي أُصُولِ الشَّرْعِ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ مَعَ وُجُودِ الِاسْمِ وَجَازَ تَجَاوُزُ النَّصِّ فِي ثُبُوتِ الرِّبَا فِي الْبُرِّ إِلَى مَا لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْبُرِّ كَذَلِكَ فِي الْأَيْمَانِ فَهُوَ أَنَّ أَحْكَامَ الشَّرْعِ يُجْمَعُ فِيهَا بَيْنَ اعْتِبَارِ الْأَسَامِي وَالْمَعَانِي وَأَحْكَامَ الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرَةٌ بِالْأَسَامِي دُونَ الْمَعَانِي لِأَنَّ الضَّرُورَةَ دَعَتْ فِي الْمَسْكُوتِ عَنْهُ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ إِلَى اعْتِبَارِ الْمَعَانِي وَتَجَاوُزِ الْأَسَامِي وَلَمْ تَدْعُ الضَّرُورَةُ فِي الْأَيْمَانِ إِلَى اعْتِبَارِ الْمَعَانِي فَوَقَفَتْ عَلَى اعْتِبَارِ الأسامي والله أعلم

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa sebagaimana dalam sumpah dibolehkan pengkhususan makna umum dengan ‘urf, maka dibolehkan pula menembus kekhususan dengan ‘urf, maka jawabannya adalah bahwa ‘urf yang digunakan untuk mengkhususkan itu bersamaan dengan akadnya, sehingga boleh untuk dipertimbangkan. Sedangkan ‘urf dalam menembus kekhususan itu terpisah, maka tidak boleh dipertimbangkan. Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa sebagaimana dalam ushul syar‘i dibolehkan pengkhususan makna umum dengan tetap adanya nama, dan dibolehkan pula melampaui nash dalam penetapan riba pada gandum hingga mencakup sesuatu yang tidak dinamai gandum, maka demikian pula dalam sumpah, maka jawabannya adalah bahwa hukum-hukum syariat menggabungkan antara pertimbangan nama dan makna, sedangkan hukum-hukum sumpah hanya dipertimbangkan pada nama, bukan pada makna. Karena kebutuhan mendesak dalam perkara yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam hukum syariat menuntut untuk mempertimbangkan makna dan melampaui nama, sedangkan dalam sumpah tidak ada kebutuhan mendesak untuk mempertimbangkan makna, sehingga tetap terbatas pada pertimbangan nama saja. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ أَنْ لَا يَدْخُلَ بَيْتَ فلانٍ فدخل بيتاً سكنه فلانٌ بكراءٍ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا بِأَنْ يَكُونَ نَوَى مَسْكَنَ فلانٍ فَيَحْنَثَ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah si Fulan, lalu ia masuk ke rumah yang ditempati si Fulan dengan cara sewa, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, kecuali jika ia memang meniatkan rumah tempat tinggal si Fulan, maka ia dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ مَسْكَنَ زَيْدٍ فَدَخَلَ دَارًا يَسْكُنُهَا زَيْدٌ بِمِلْكٍ أَوْ إِجَارَةٍ أَوْ غَصْبٍ حَنِثَ لِأَنَّهَا مَسْكَنٌ لَهُ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا وَلَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ دَارَ زَيْدٍ فَدَخَلَ دَارًا يَمْلِكُهَا زيدٌ حَنِثَ سَوَاءٌ كَانَ يَسْكُنُهَا أَوْ لَا يَسْكُنُهَا وَلَوْ كَانَ زَيْدٌ يَمْلِكُ نِصْفَهَا أَوْ أَكْثَرَهَا لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ دَخَلَ دَارًا يَسْكُنُهَا زيدٍ بِإِجَارَةٍ وَهُوَ لَا يَمْلِكُهَا لَمْ يَحْنَثْ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke tempat tinggal Zaid,” lalu ia masuk ke rumah yang ditempati Zaid, baik dengan kepemilikan, sewa, atau dengan cara merampas, maka ia dianggap melanggar sumpahnya karena rumah itu tetap menjadi tempat tinggal Zaid dalam semua keadaan tersebut. Dan jika ia bersumpah tidak akan masuk ke rumah Zaid, lalu ia masuk ke rumah yang dimiliki Zaid, maka ia tetap dianggap melanggar sumpahnya, baik Zaid menempatinya atau tidak. Namun, jika Zaid hanya memiliki setengah atau sebagian besar rumah itu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Dan jika ia masuk ke rumah yang ditempati Zaid dengan sewa dan Zaid tidak memilikinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut mazhab Syafi‘i.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ يَحْنَثُ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَكَانَ قَدْ أَخْرَجَهُ مِنْ بَيْتِ خَدِيجَةَ فَأَضَافَ الْبَيْتَ إِلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْهُ لِأَنَّهُ كَانَ سَاكِنَهُ وَقَالَ تعالى اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلاَ يَخْرُجْنَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ أَيْ مِنْ بُيُوتِ أَزْوَاجِهِنَّ فَأَضَافَهَا إِلَيْهِنَّ بِسُكْنَاهُنَّ لِأَنَّ مِلْكَهَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ بِالْفَاحِشَةِ الْمُبَيِّنَةِ وَلَا بِغَيْرِهَا وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْإِذْنُ فِي دُخُولِهَا مَقْصُورًا عَلَيْهِ دُونَ مَالِكِهَا صَارَ بِالْإِضَافَةِ إِلَيْهِ أَحَقَّ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ بِالْحِنْثِ أَلْزَمَ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Sebagaimana Tuhanmu telah mengeluarkanmu dari rumahmu dengan kebenaran,” padahal Allah telah mengeluarkannya dari rumah Khadijah, namun Allah tetap menyandarkan rumah itu kepadanya meskipun ia tidak memilikinya, karena ia menempatinya. Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Bertakwalah kepada Allah, Tuhan kalian, janganlah kalian mengusir mereka dari rumah-rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata,” yaitu dari rumah suami-suami mereka, maka Allah menyandarkan rumah itu kepada mereka karena mereka menempatinya. Karena kepemilikan rumah itu tidak membolehkan seseorang keluar darinya baik karena perbuatan keji yang nyata maupun bukan, dan karena izin masuk ke dalam rumah itu terbatas hanya kepada mereka, bukan kepada pemiliknya, maka dengan penyandaran itu mereka lebih berhak, sehingga wajib jika melanggar sumpah menjadi lebih mengikat.

وَدَلِيلُنَا أَنَّ إِضَافَةَ الْأَمْلَاكِ بِلَامِ التَّمْلِيكِ تَقْتَضِي إِضَافَةَ الْمِلْكِ لِلرِّقَابِ دُونَ الْمَنَافِعِ أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ هَذِهِ الدَّارُ لَزَيْدٍ كَانَ هَذَا إِقْرَارًا مِنْهُ لَهُ بِالْمِلْكِ دُونَ الْمَنْفَعَةِ فَلَوْ قَالَ أَرَدْتُ أَنَّهُ مَالِكٌ لِمَنَافِعِهَا لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي الْإِقْرَارِ مُوجِبًا لِلْمِلْكِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَيْمَانِ مَحْمُولًا عَلَى الْمِلْكِ وَلِأَنَّهُ لَوْ سَكَنَ زَيْدٌ دَارَ عَمْرٍو فَحَلَفَ رَجُلٌ أَلَّا يَدْخُلَ دَارَ زَيْدٍ وَحَلَفَ آخَرُ لَا يَدْخُلُ دَارَ عَمْرٍو ثُمَّ دَخَلَهَا كُلُّ واحدٍ مِنَ الْحَالِفَيْنِ قَالُوا يَحْنَثَانِ جَمِيعًا فَجَعَلُوهَا كُلَّهَا دَارَ زَيْدٍ وَجَعَلُوهَا كُلَّهَا دَارَ عَمْرٍو وَمِنَ الْمُسْتَحِيلِ أَنْ يَكُونَ كُلُّ الدَّارِ لِزَيْدٍ وَكُلُّهَا لِعَمْرٍو فَوَجَبَ أَنْ تُضَافَ إِلَى أَحَقِّهِمَا بِهَا وَالْمَالِكُ أَحَقُّ بِهَا مِنَ السَّاكِنِ لِأَنَّ السَّاكِنَ لَوْ حَلَفَ أَنَّ الدَّارَ لَهُ حَنِثَ وَالْمَالِكَ إِنْ حَلَفَ أَنَّ الدَّارَ لَهُ لَمْ يَحْنَثْ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْحَانِثُ مِنَ الْحَالِفَيْنِ مَنِ اخْتَصَّ بِالْمِلْكِ دُونَ السَّاكِنِ

Dalil kami adalah bahwa penambahan kepemilikan dengan menggunakan huruf lām at-tamlīk (kata sandang kepemilikan) mengharuskan penambahan kepemilikan atas benda (al-milk li ar-riqāb) dan bukan atas manfaatnya. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang berkata, “Rumah ini milik Zaid,” maka itu merupakan pengakuan darinya bahwa Zaid memiliki rumah tersebut, bukan manfaatnya. Maka jika ia berkata, “Maksudku adalah bahwa ia memiliki manfaatnya,” tidak diterima darinya. Jika demikian halnya dalam pengakuan, yang mewajibkan kepemilikan, maka dalam sumpah pun harus dimaknai sebagai kepemilikan. Dan karena jika Zaid menempati rumah milik Amr, lalu seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah Zaid, dan orang lain bersumpah tidak akan masuk ke rumah Amr, kemudian masing-masing dari dua orang yang bersumpah itu masuk ke rumah tersebut, mereka mengatakan bahwa keduanya melanggar sumpah. Maka mereka menjadikan seluruh rumah itu sebagai rumah Zaid, dan juga menjadikannya sebagai rumah Amr. Padahal mustahil seluruh rumah itu menjadi milik Zaid sekaligus milik Amr. Maka wajib rumah itu disandarkan kepada pihak yang paling berhak atasnya, dan pemilik lebih berhak atas rumah itu daripada penghuni. Karena jika penghuni bersumpah bahwa rumah itu miliknya, ia dianggap melanggar sumpah, sedangkan jika pemilik bersumpah bahwa rumah itu miliknya, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Maka wajib bahwa yang melanggar sumpah dari dua orang yang bersumpah itu adalah orang yang memiliki hak kepemilikan, bukan penghuni.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْآيَتَيْنِ فِي إِضَافَةِ الدَّارِ إِلَى سَاكِنِهَا فَهُوَ أَنَّهَا إِضَافَةُ مَجَازٍ لَا حَقِيقَةٍ كَمَا يُقَالُ مَالُ الْعَبْدِ وَسَرْجُ الدَّابَّةِ وَالْأَيْمَانُ مَحْمُولَةٌ عَلَى حَقَائِقِ الْأَسْمَاءِ دُونَ مَجَازِهَا

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan dua ayat tentang penyandaran rumah kepada penghuninya adalah bahwa itu merupakan penyandaran secara majazi (kiasan), bukan secara hakiki, sebagaimana dikatakan “harta milik budak”, “pelana milik hewan tunggangan”, dan sumpah-sumpah itu dibawa kepada makna hakiki dari nama-nama tersebut, bukan makna majazinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْإِذْنِ فَهُوَ أَنَّ اسْتِحْقَاقَ الْإِذْنِ لَا يُغَيِّرُ حُكْمَ الْمِلْكِ كَمَا لَوْ حَلَفَ الْمَالِكُ لَا دَخَلْتُ دَارِي فَدَخَلَ دَارًا قَدْ أَجَّرَهَا حَنِثَ وَإِنْ كَانَ الْإِذْنُ فِي دُخُولِهَا حَقًّا لِغَيْرِهِ فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَهَذَا هُوَ الْكَلَامُ فِي الْحُكْمِ مَعَ عَدَمِ النِّيَّةِ فَأَمَّا إِنْ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ تُخَالِفُ هَذَا الْإِطْلَاقَ حُمِلَ فِي الحنث على نيته

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan izin adalah bahwa hak atas izin tidak mengubah hukum kepemilikan, sebagaimana jika seorang pemilik bersumpah, “Aku tidak akan masuk ke rumahku,” lalu ia masuk ke rumah yang telah ia sewakan, maka ia tetap dianggap melanggar sumpahnya, meskipun hak izin untuk memasukinya adalah milik orang lain. Jika hal ini telah dipahami, maka inilah pembahasan mengenai hukum tanpa adanya niat. Adapun jika ia memiliki niat yang berbeda dari makna umum tersebut, maka dalam hal pelanggaran sumpah, yang dijadikan acuan adalah niatnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حُمِلَ فَأُدْخِلَ فِيهِ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا أَنْ يَكُونَ هُوَ أَمَرَهُمْ بِذَلِكَ تَرَاخَى أَوْ لم يتراخ

Syafi‘i berkata: Jika ia dibawa lalu dimasukkan ke dalamnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika ia sendiri yang memerintahkan mereka untuk melakukan hal itu, baik dengan jeda waktu maupun tanpa jeda waktu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَدْخُلَ دَارًا فَدَخَلَهَا مُخْتَارًا ذَاكِرًا حَنِثَ بِدُخُولِهَا مَاشِيًا كَانَ أَوْ رَاكِبًا لِأَنَّهُ دَخَلَ إِلَيْهَا حَقِيقَةً وَلَوْ دَخَلَهَا نَاسِيًا كَانَ عَلَى قَوْلَيْنِ نَذْكُرُهُمَا مِنْ بَعْدُ وَلَوْ حُمِلَ فَأُدْخِلَ إِلَيْهَا مَحْمُولًا فَلَا يَخْلُو فِيهِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا بِأَمْرِهِ أَوْ بِغَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنْ كَانَ قد أمر بحمله فعل الدُّخُولِ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِهِ فَهُوَ مَنْسُوبٌ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ عَنْ أَمْرِهِ فَأَشْبَهَ دُخُولَهُ إِلَيْهَا رَاكِبًا

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke sebuah rumah, lalu ia memasukinya dengan sengaja dan dalam keadaan ingat, maka ia melanggar sumpahnya baik ia masuk dengan berjalan kaki maupun berkendara, karena ia benar-benar telah memasukinya. Namun, jika ia memasukinya dalam keadaan lupa, maka ada dua pendapat yang akan kami sebutkan setelah ini. Jika ia dibawa masuk ke dalam rumah itu dalam keadaan digendong, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah atas perintahnya atau tanpa perintahnya. Jika ia memang memerintahkan untuk dibawa masuk, maka perbuatan masuk itu dinisbatkan kepadanya. Jika tanpa perintahnya, maka itu dinisbatkan kepadanya jika memang atas perintahnya, sehingga hal itu serupa dengan ia masuk ke dalam rumah itu dengan berkendara.

فَإِنْ قِيلَ لَوْ حَلَفَ لو بَاعَ وَلَا ضَرَبَ فَأَمَرَ غَيْرَهُ بِالضَّرْبِ وَالْبَيْعِ لَمْ يَحْنَثْ فَهَلَّا كَانَتْ فِي الْأَمْرِ بِالدُّخُولِ كَذَلِكَ

Jika dikatakan: “Seandainya seseorang bersumpah, ‘Jika aku menjual dan tidak memukul,’ lalu ia memerintahkan orang lain untuk memukul dan menjual, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Mengapa dalam hal memerintahkan masuk (ke suatu tempat) tidak berlaku seperti itu juga?”

قِيلَ لِأَنَّ الْبَيْعَ وَالضَّرْبَ وَإِنْ كَانَ عَنْ أَمْرِهِ فَالْفِعْلُ مَوْجُودٌ مِنْ غَيْرِهِ فَكَانَ مِثَالُهُ مِنْ دُخُولِ الدَّارِ أَنْ يَأْمُرَ غَيْرَهُ بِالدُّخُولِ فَلَا يَحْنَثُ فَهَذَا إِذَا دَخَلَ الدَّارَ بِأَمْرِهِ سَوَاءٌ أُدْخِلَ عَقِيبَ الْأَمْرِ أَوْ بَعْدَ تَطَاوُلِ الزَّمَانِ تَسْوِيَةً بَيْنَ الْفَوْرِ وَالتَّرَاخِي لِإِضَافَتِهِ إِلَى أَمْرِهِ فِي الْحَالَيْنِ فَأَمَّا إِذَا حُمِلَ وَأُدْخِلَ الدَّارَ بِغَيْرِ أَمْرِهِ لَمْ يَحْنَثْ اسْتَصْعَبَ أَوْ تَرَاخَى وَقَالَ مَالِكٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنِ اسْتَصْعَبَ عَلَى الْحَامِلِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ تَرَاخَى حَنِثَ لِأَنَّهُ مَعَ الِاسْتِصْعَابِ كَارِهٌ وَمَعَ التَّرَاخِي مُخْتَارٌ وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ غَيْرُ فَاعِلٍ وَلَا آمِرٍ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُضَافَ إِلَيْهِ مَا لَمْ يَفْعَلْهُ وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ وَلَوْ جَازَ أَنْ يُضَافَ إِلَيْهِ لَاسْتَوَى حُكْمُهُ فِي حَالَتَيِ الِاسْتِصْعَابِ وَالتَّرَاخِي لِأَنَّ يَمِينَهُ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْفِعْلِ دُونَ الِاخْتِيَارِ وَالْكَرَاهِيَةِ فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ تَرَاخَى أَوْ لَمْ يَتَرَاخَ فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ حَمَلَهُ عَلَى الرَّدِّ عَلَى مَالِكٍ فِي سُقُوطِ الْحِنْثِ مَعَ الِاسْتِصْعَابِ وَالتَّرَاخِي وَمِنْهُمْ مَنْ حَمَلَهُ عَلَى الْأَمْرِ فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ عَلَى الْفَوْرِ وَالتَّرَاخِي فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ إِذَا حُمِلَ نُظِرَ فَإِنْ بَادَرَ بِالْخُرُوجِ مِنْهُ عَقِبَ قُدْرَتِهِ عَلَى الْخُرُوجِ فَهُوَ عَلَى بِرِّهِ وَإِنْ مَكَثَ بَعْدَ قُدْرَتِهِ عَلَى الْخُرُوجِ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ عَلَى مَا بَيَّنَاهُ مِنْ قَبْلُ هَلْ يَكُونُ اسْتِدَامَةُ الدُّخُولِ جَارِيًا مَجْرَى ابْتِدَائِهِ أَمْ لَا؟

Dikatakan bahwa jual beli dan pemukulan, meskipun atas perintahnya, perbuatan itu terjadi dari selain dirinya, sehingga contohnya dalam masuk ke rumah adalah seseorang memerintahkan orang lain untuk masuk, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Maka, jika seseorang masuk ke rumah atas perintahnya, baik masuk segera setelah perintah atau setelah waktu yang lama, hukumnya sama antara segera dan menunda karena keduanya dikaitkan dengan perintahnya dalam kedua keadaan tersebut. Adapun jika ia dibawa dan dimasukkan ke rumah tanpa perintahnya, maka ia tidak melanggar sumpah, baik ia merasa berat atau menunda. Malik ra. berkata: Jika terasa berat bagi orang yang membawa, maka ia tidak melanggar sumpah, dan jika menunda maka ia melanggar sumpah, karena dalam keadaan berat ia tidak rela dan dalam keadaan menunda ia memilih. Namun, ini tidak benar, karena ia bukan pelaku maupun pemberi perintah, maka tidak boleh dikaitkan kepadanya sesuatu yang tidak ia lakukan dan tidak ia perintahkan. Jika boleh dikaitkan kepadanya, maka hukumnya akan sama dalam keadaan berat maupun menunda, karena sumpahnya terkait dengan perbuatan, bukan dengan pilihan atau ketidaksukaan. Adapun pendapat asy-Syafi‘i, baik menunda atau tidak, sebagian ulama kami menafsirkannya sebagai bantahan terhadap Malik dalam gugurnya pelanggaran sumpah saat berat dan menunda, dan sebagian lagi menafsirkannya pada perintah dalam terjadinya pelanggaran sumpah baik segera maupun menunda. Maka, jika telah tetap bahwa ia tidak melanggar sumpah jika dibawa masuk, maka perlu dilihat: jika ia segera keluar setelah mampu keluar, maka ia tetap menepati sumpahnya, dan jika ia tetap tinggal setelah mampu keluar, maka dalam hal pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, apakah keberlanjutan tinggal di dalam rumah itu sama hukumnya dengan permulaan masuk atau tidak?

وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا عَلَى أَنَّهُ يَحْنَثُ بِهِ فَكَانَ أَوْلَاهُمَا بِمَذْهَبِهِ

Syafi‘i telah menegaskan di sini bahwa ia dianggap melanggar sumpah dengan hal itu, maka pendapat ini lebih utama menurut mazhabnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ قَالَ نَوَيْتُ شَهْرًا لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ فِي الْحُكْمِ إِنْ حَلَفَ بِالطَّلَاقِ وَدِينَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Aku berniat sebulan,’ maka dalam hukum tidak diterima darinya jika ia bersumpah dengan talak, namun secara agama (dosa dan pahala) antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla tetap berlaku.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْيَمِينُ الْمُطْلَقَةُ أَنْ لَا يَدْخُلَ الدَّارَ فَمَحْمُولَةٌ عَلَى التَّأْبِيدِ فَإِنْ قَيَّدَهَا نُطْقًا فِي الِامْتِنَاعِ مِنْ دُخُولِهَا شَهْرًا لَمْ يَحْنَثْ بِدُخُولِهَا بَعْدَ انْقِضَائِهِ وَلَوْ نَوَى مَعَ إِطْلَاقِ يَمِينِهِ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا شَهْرًا لَمْ تَخْلُ الْيَمِينُ مِنْ أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهَا حَقُّ آدَمِيٍّ أَوْ لَا يَتَعَلَّقَ بِهَا حَقُّ آدَمِيٍّ وَهِيَ الْيَمِينُ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي غَيْرِ الْإِيلَاءِ فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى نِيَّتِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ لِاخْتِصَاصِهَا بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى الْمَحْضَةِ فَكَانَتْ مَوْكُولَةً إِلَى دِيَانَتِهِ وَإِنْ تَعَلَّقَ بِهَا حَقُّ آدَمِيٍّ كَالْيَمِينِ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ وَبِاللَّهِ فِي الْإِيلَاءِ مِنَ الزَّوْجَةِ حُمِلَ عَلَى ظَاهِرِ الْحُكْمِ عِنْدَ نِزَاعِهِ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ ظَاهِرُ لَفْظِهِ مِنَ التَّأْبِيدِ دُونَ مَا نَوَاهُ مِنَ التَّقْيِيدِ لِأَنَّ الْحُكْمَ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مَحْمُولٌ عَلَى الظَّاهِرِ فَيَقَعُ الْحِنْثُ بِوُجُودِ ذَلِكَ عَلَى التَّأْبِيدِ وَهُوَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْبَاطِنِ مَحْمُولٌ عَلَى مَا نَوَى مِنَ التقييد

Al-Mawardi berkata: Adapun sumpah mutlak untuk tidak masuk ke dalam rumah, maka itu dibawa kepada makna selamanya. Jika ia membatasinya secara lisan dalam larangan masuk ke rumah itu selama sebulan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika masuk setelah bulan itu berlalu. Dan jika ia berniat, bersamaan dengan lafaz sumpah mutlaknya, untuk tidak masuk ke rumah itu selama sebulan, maka sumpah tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah terkait dengan hak manusia atau tidak terkait dengan hak manusia. Jika itu adalah sumpah dengan nama Allah Ta‘ala dalam perkara selain ila’, maka sumpah itu dibawa kepada niatnya, baik secara lahir maupun batin, karena sumpah tersebut khusus berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala semata, sehingga diserahkan kepada keyakinan pribadinya. Namun jika sumpah itu terkait dengan hak manusia, seperti sumpah dengan talak, pembebasan budak, atau sumpah dengan nama Allah dalam ila’ dari istri, maka sumpah itu dibawa kepada makna lahiriah menurut hukum ketika terjadi perselisihan, sesuai dengan makna lahir dari lafaznya yang menunjukkan keabadian, bukan kepada niat pembatasannya, karena hukum dalam hak-hak manusia didasarkan pada makna lahiriah. Maka pelanggaran sumpah terjadi dengan terjadinya hal tersebut secara abadi, dan dalam urusan antara dirinya dengan Allah Ta‘ala secara batin, itu dibawa kepada niat pembatasannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ عَلَى فلانٍ بَيْتًا فَدَخَلَ عَلَى رجلٍ غَيْرِهِ بَيْتًا فَوَجَدَ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهِ فِيهِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَمْ يَدْخُلْ عَلَى ذَلِكَ وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ فِي الْبَيْتِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ حَنِثَ فِي قَوْلِ مَنْ يُحَنِّثُ عَلَى غَيْرِ النِّيَةِ وَلَا يَرْفَعُ الْخَطَأَ قَالَ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَدْ سَوَّى الشَّافِعِيُّ فِي الْحِنْثِ بَيْنَ مَنْ حَلَفَ فَفَعَلَ عَمْدًا أَوْ خَطَأً

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah si Fulan, lalu ia masuk ke rumah orang lain dan mendapati orang yang menjadi objek sumpahnya berada di dalamnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena ia tidak masuk ke rumah yang dimaksud. Namun, jika ia mengetahui bahwa orang tersebut ada di dalam rumah itu lalu ia masuk menemuinya, maka ia dianggap melanggar sumpah menurut pendapat yang menghukumi pelanggaran sumpah tanpa memperhatikan niat dan tidak menganggap kesalahan sebagai alasan. Al-Muzani rahimahullah berkata: Imam Syafi‘i telah menyamakan dalam hal pelanggaran sumpah antara orang yang bersumpah lalu melakukannya dengan sengaja maupun karena kesalahan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ عَلَى زَيْدٍ بَيْتًا فَيَدْخُلُ عَلَيْهِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, bentuknya adalah seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke rumah Zaid,” lalu ia masuk ke rumahnya. Maka hal ini terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ فِي بَيْتِهِ الَّذِي هُوَ سَاكِنُهُ إِمَّا بِمِلْكٍ أَوْ إِجَارَةٍ أَوْ غَصْبٍ فَإِنْ كَانَ ذَاكِرًا لِيَمِينِهِ حَنِثَ وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ وَكَذَلِكَ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ مُكْرَهًا على ما سنذكره منا تَوْجِيهِ الْقَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah jika ia masuk ke rumahnya yang sedang ia tempati, baik dengan kepemilikan, sewa, atau secara paksa (ghashb). Jika ia ingat akan sumpahnya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia lupa, terdapat dua pendapat mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah atau tidak. Demikian pula jika ia masuk ke rumah itu dalam keadaan dipaksa, sebagaimana akan dijelaskan nanti mengenai penjelasan dua pendapat tersebut.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِنَفْسِ الدُّخُولِ

Salah satunya menjadi batal (sumpahnya) hanya dengan masuk itu sendiri.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِنَفْسِ الدُّخُولِ وَلَا بِاسْتِدَامَتِهِ مَعَ تَعَذُّرِ الْخُرُوجِ فَإِنْ أَمْكَنَهُ الْخُرُوجُ فَأَقَامَ وَلَمْ يَخْرُجْ حَنِثَ بِاسْتِدَامَةِ الدُّخُولِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ قد وجد منه العقل وَتَجَدَّدَ مِنْهُ الذِّكْرُ فَصَارَ كَالْعَمْدِ

Yang kedua, ia tidak dianggap melanggar sumpah hanya karena masuk atau tetap berada di dalam (tempat itu) ketika tidak memungkinkan untuk keluar. Namun, jika ia mampu keluar lalu tetap tinggal dan tidak keluar, maka ia dianggap melanggar sumpah karena tetap berada di dalam, menurut satu pendapat, karena akalnya telah kembali dan ingatannya telah muncul kembali, sehingga keadaannya seperti sengaja.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ فِي مَسْجِدٍ فَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ لِأَنَّ اسْمَ الْبَيْتِ يَنْطَلِقُ عَلَى الْمَسْجِدِ مَجَازًا وَالْحَقِيقَةُ أَنْ يُسَمَّى مَسْجِدًا فَحُمِلَ عَلَى الْحَقِيقَةِ دُونَ الْمَجَازِ وَعِنْدَ مَالِكٍ يَحْنَثُ لِأَنَّهُ يَعْتَبِرُ الْأَسْبَابَ

Bagian kedua adalah jika ia masuk ke rumahnya melalui masjid. Asy-Syafi‘i telah menegaskan dalam kitab Al-Umm bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena istilah “rumah” digunakan untuk masjid secara majazi, sedangkan hakikatnya adalah disebut masjid, sehingga dipahami menurut makna hakiki, bukan majazi. Adapun menurut Malik, ia dianggap melanggar sumpah karena ia mempertimbangkan sebab-sebabnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَى عَمْرٍو بَيْتًا فَيَكُونَ زَيْدٌ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهِ عِنْدَهُ فِي بَيْتِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ كَلَامُ الشَّافِعِيِّ فِي حِنْثِهِ بِهَذَا الدُّخُولِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Bagian ketiga adalah apabila seseorang masuk ke rumah ‘Amr, lalu Zaid—yang menjadi objek sumpah—berada di sana di dalam rumahnya. Maka terdapat perbedaan pendapat dalam perkataan asy-Syafi‘i mengenai batalnya sumpah dengan masuk seperti ini, sehingga para ulama kami pun berbeda pendapat dalam hal ini menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ يَحْنَثُ عَلِمَ أَنَّهُ بِالْبَيْتِ أَوْ لَمْ يَعْلَمِ اعْتِبَارًا بِالْفِعْلِ دُونَ الْقَصْدِ وَهُوَ قَوْلُ مَنْ حَنَّثَ الْعَامِدَ وَالنَّاسِيَ

Salah satu pendapat, yaitu pilihan al-Muzani, menyatakan bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya, baik ia mengetahui bahwa orang yang dimaksud berada di rumah atau tidak mengetahuinya, karena yang menjadi pertimbangan adalah perbuatannya, bukan niatnya. Ini adalah pendapat orang yang menganggap pelanggaran sumpah berlaku bagi yang sengaja maupun yang lupa.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ الرَّبِيعِ إنَّهُ لَا يَحْنَثُ عَلِمَ أَنَّهُ فِي الْبَيْتِ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ لِأَنَّهُ داخلٌ عَلَى غَيْرِهِ اعْتِبَارًا بِالْمَقَاصِدِ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan ar-Rabi‘, adalah bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah, baik ia mengetahui bahwa orang itu berada di dalam rumah maupun tidak, karena ia masuk ke rumah tersebut bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain, dengan mempertimbangkan tujuan (niat) perbuatannya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إنَّهُ يَحْنَثُ إِنْ عَلِمَ أَنَّهُ فِي الْبَيْتِ وَلَا يَحْنَثُ إِنْ لَمْ يَعْلَمْ لِأَنَّهُ مَعَ الْعِلْمِ قاصدٌ وَمَعَ الْجَهْلِ غَيْرُ قَاصِدٍ وَهَذَا قَوْلُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ

Pendapat ketiga, yang merupakan pilihan Abu al-‘Abbas bin Surayj, adalah bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah jika ia mengetahui bahwa orang tersebut berada di dalam rumah, dan tidak dianggap melanggar jika ia tidak mengetahuinya. Sebab, dengan pengetahuan, ia bermaksud (melanggar), sedangkan dengan ketidaktahuan, ia tidak bermaksud (melanggar). Inilah pendapat orang yang membedakan antara kesengajaan dan kesalahan.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ وَهُوَ مَذْهَبُ عَطَاءٍ إنَّهُ إِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ أَوْ عَلِمَ فَاسْتَثْنَاهُ بِقَلْبِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ عَلِمَ وَلَمْ يَسْتَثْنِهِ حَنِثَ تَخْرِيجًا مِمَّنْ حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ زَيْدًا فَسَلَّمَ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَهُوَ فِيهِمْ وَاسْتَثْنَاهُ بِنِيَّتِهِ لَمْ يَحْنَثْ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ شَرْحِ الْمَذْهَبِ فِيهِ

Pendapat keempat, yaitu pendapat ‘Aṭā’, menyatakan bahwa jika seseorang tidak mengetahui (hal itu) atau mengetahuinya namun mengecualikannya dalam hatinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia mengetahuinya dan tidak mengecualikannya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Ini dianalogikan dengan orang yang bersumpah tidak akan berbicara dengan Zaid, lalu ia memberi salam kepada suatu kelompok yang di dalamnya ada Zaid, dan ia mengecualikan Zaid dalam niatnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, sebagaimana akan kami jelaskan dalam penjelasan mazhab terkait hal ini.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ تَعْلِيلُ مَا ذَكَرْنَا مِنْ هَذِهِ الْأَوْجُهِ الْأَرْبَعَةِ فَإِنْ قِيلَ بِوُقُوعِ الْحِنْثِ بِهَذَا الدُّخُولِ حَنِثَ إِذَا جَمَعَهُمَا بَيْتٌ واحدٌ فَإِنْ كَانَا فِي بَيْتَيْنِ مِنْ دَارٍ واحدةٍ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ دَاخِلًا عَلَيْهِ بَيْتًا وَإِنْ جَمَعَتْهُمَا دَارٌ وَاحِدَةٌ فَإِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً لَا يُفَرِّقُ الْمُتَبَايِعَانِ فِيهَا حَنِثَ لِأَنَّ اسْمَ الْبَيْتِ مُنْطَلِقٌ عَلَى الدَّارِ عُرْفًا لِأَنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ الْمَبِيتِ وَإِنْ كَانَتِ الدَّارُ كَبِيرَةً وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمَكَانٍ يَفْتَرِقُ الْمُتَبَايِعَانِ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ يَرَى أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي بَيْتٍ مِنَ الدَّارِ فَإِنْ دَخَلَ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي صَحْنِهَا أَوْ صُفَّتِهَا لَمْ يَحْنَثِ اعْتِبَارًا بِحَقِيقَةِ اسْمِ الْبَيْتِ أَنَّهُ مُنْطَلِقٌ عَلَى مَا تَمَيَّزَ مِنَ الدَّارِ بِهَذَا الِاسْمِ كَمَا لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ بَيْتًا فَدَخَلَ صَحْنَ الدَّارِ أَوْ صُفَّتَهَا أَوِ اسْتَطْرَقَ دِهْلِيزَهَا لَمْ يَحْنَثْ وَبَيْنَهُمَا فَرْقٌ يَمْنَعُ مِنَ التَّسَاوِي وَإِنْ كَانَ أَبُو حَنِيفَةَ يُسَوِّي بَيْنَهُمَا فِي الْحِنْثِ كَمَا سَوَّى أَبُو الْعَبَّاسِ بَيْنَهُمَا فِي الْبِرِّ

Apabila telah tetap alasan dari apa yang kami sebutkan dari empat sisi ini, maka jika dikatakan bahwa pelanggaran sumpah terjadi dengan masuk seperti ini, maka ia dianggap melanggar sumpah jika keduanya berada dalam satu rumah. Namun, jika mereka berada di dua kamar dalam satu rumah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena ia tidak masuk ke kamar orang tersebut. Dan jika keduanya berada dalam satu rumah, jika rumah itu kecil sehingga dua orang yang berjual beli tidak dapat dipisahkan di dalamnya, maka ia dianggap melanggar sumpah karena secara ‘urf (kebiasaan), istilah “rumah” juga berlaku untuk “dar” (rumah secara umum), karena kata tersebut berasal dari kata “mabit” (bermalam). Namun, jika rumah itu besar dan masing-masing berada di tempat yang berbeda yang memungkinkan dua orang yang berjual beli dapat terpisah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Abu al-‘Abbas Ibn Surayj berpendapat bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah sampai ia masuk ke kamar orang tersebut di dalam rumah. Jika ia masuk ke rumah sementara orang itu berada di halaman atau serambinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, dengan mempertimbangkan makna hakiki dari istilah “rumah”, yaitu yang secara khusus disebut dengan nama itu dari bagian rumah. Seperti jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke dalam rumah,” lalu ia masuk ke halaman rumah, serambi, atau melewati lorongnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Antara keduanya terdapat perbedaan yang mencegah adanya persamaan, meskipun Abu Hanifah menyamakan keduanya dalam hal pelanggaran sumpah, sebagaimana Abu al-‘Abbas menyamakan keduanya dalam hal kebaikan.

وَإِنْ قِيلَ بِأَنَّ الْحِنْثَ لَا يَقَعُ بِهَذَا الدُّخُولِ فَإِنْ بَادَرَ بِالْخُرُوجِ سَاعَةَ دُخُولِهِ أَوْ بَادَرَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ بِالْخُرُوجِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا فِي الْحَالِ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ فَمَنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ دَارًا وَهُوَ دَاخِلُهَا هَلْ يَحْنَثُ بِالِاسْتِدَامَةِ كَمَا يَحْنَثُ بِالِابْتِدَاءِ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ

Jika dikatakan bahwa pelanggaran sumpah tidak terjadi dengan masuk seperti ini, maka jika ia segera keluar saat masuk atau orang yang disumpahi segera keluar, maka ia tidak melanggar sumpah. Namun, jika salah satu dari keduanya tidak segera keluar, maka dalam hal pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat. Barang siapa bersumpah tidak akan masuk ke suatu rumah, lalu ia berada di dalamnya, apakah ia melanggar sumpah karena tetap berada di dalam sebagaimana ia melanggar sumpah karena memulai masuk, atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ هَذَا إِذَا جَعَلَ الِاسْتِدَامَةَ كَالِابْتِدَاءِ

Salah satunya adalah bahwa orang ini melanggar sumpah jika ia menganggap keberlanjutan sama seperti permulaan.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ إِذَا فَرَّقَ بَيْنَ الِاسْتِدَامَةِ وَالِابْتِدَاءِ فَلَوْ دَخَلَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ بَيْتًا عَلَى الْحَالِفِ فَإِنْ بَادَرَ الْحَالِفُ بِالْخُرُوجِ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ أَقَامَ فِيهِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ اسْتِدَامَةَ الدُّخُولِ لَا تَكُونُ دُخُولًا لَمْ يَحْنَثِ الْحَالِفُ هَاهُنَا

Yang kedua, tidak dianggap melanggar sumpah jika membedakan antara keberlanjutan dan permulaan. Maka jika orang yang disumpahi masuk ke rumah orang yang bersumpah, lalu orang yang bersumpah segera keluar darinya, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia tetap tinggal di dalamnya, maka jika dikatakan bahwa keberlanjutan masuk tidak dianggap sebagai masuk, maka orang yang bersumpah di sini tidak dianggap melanggar sumpah.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ اسْتِدَامَةَ الدُّخُولِ تَكُونُ كَابْتِدَائِهِ فَفِي حِنْثِ الْحَالِفِ هَاهُنَا وَجْهَانِ

Dan jika dikatakan bahwa keberlanjutan masuk itu sama seperti permulaan masuk, maka dalam hal pelanggaran sumpah di sini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ كَالدَّاخِلِ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena ia telah menjadi seperti orang yang masuk.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ لِأَنَّهُ مدخولٌ عَلَيْهِ وَلَيْسَ بِدَاخِلٍ عَلَى الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena hal itu merupakan sesuatu yang dimasuki, bukan sesuatu yang memasuki objek yang disumpahkan. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ حَلَفَ لَيَأْكُلَنَّ هَذَا الطَّعَامَ غَدًا فَهَلَكَ قَبْلَ غدٍ لَمْ يَحْنَثْ لِلإِكْرَاه قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مَنْ كَفَرَ بِاللهِ مِنْ بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنُ بِالإيْمَانِ فَعَقَلْنَا أَنَّ قَوْلَ الْمُكْرَهِ كَمَا لَمْ يَكُنْ فِي الْحُكْمِ وَعَقَلْنَا أَنَّ الْإِكْرَاهَ هُوَ أَنْ يُغْلَبَ بِغَيْرِ فِعْلٍ مِنْهُ فَإِذَا تَلَفَ مَا حَلَفَ عَلَيْهِ لَيَفْعَلَنَّ فِيهِ شَيْئًا بِغَيْرِ فعلٍ مِنْهُ فَهُوَ فِي أَكْثَرَ مِنَ الْإِكْرَاهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang bersumpah akan memakan makanan ini besok, lalu ia meninggal sebelum hari esok, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena adanya unsur paksaan (ikrah). Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa yang kafir kepada Allah setelah beriman, kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan.” Maka kami memahami bahwa ucapan orang yang dipaksa seolah-olah tidak ada dalam hukum, dan kami memahami bahwa ikrah adalah ketika seseorang dikalahkan tanpa perbuatannya sendiri. Maka jika sesuatu yang menjadi objek sumpahnya rusak atau hilang tanpa perbuatannya sendiri, itu lebih dari sekadar ikrah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَمُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ مَنْ حَلَفَ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا فَفَعَلَهُ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا أَوْ مُكْرَهًا فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Mukadimah dari masalah ini adalah bahwa siapa saja yang bersumpah tidak akan melakukan sesuatu, lalu ia melakukannya karena lupa, tidak tahu, atau dipaksa, maka dalam hal batalnya sumpah tersebut terdapat dua pendapat.

أْحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

Salah satunya menyebabkan pelakunya melanggar sumpah, dan pendapat inilah yang dikatakan oleh Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hanbal.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ وَبِهِ قَالَ عَطَاءٌ وَالزُّهْرِيُّ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak terkena kafarat, dan pendapat ini dikemukakan oleh ‘Aṭā’, az-Zuhrī, ‘Amr bin Dīnār, dan Isḥāq bin Rāhuwaih.

فَإِذَا قِيلَ يَحْنَثُ فَدَلِيلُهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَدْتُمْ الأَيْمَانَ فَكَانَ عَقْدُهَا مُوجِبًا لِلْمُؤَاخَذَةِ بِالْكَفَّارَةِ عَلَى عُمُومِ الْأَحْوَالِ مِنْ عَمْدٍ وَخَطَأٍ وَعِلْمٍ وجهلٍ وَاخْتِيَارٍ وإكراهٍ وَلِأَنَّ إِطْلَاقَ عَقْدِهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى اسْتِثْنَاءِ النِّسْيَانِ وَالْإِكْرَاهِ فِيهَا مُوجِبٌ لِحَمْلِهَا فِي الْحِنْثِ عَلَى إِطْلَاقِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا كَمَا أَنَّ تَقْيِيدَهَا مُوجِبٌ لِتَقْيِيدِ الْحِنْثِ فِيهَا اعْتِبَارًا بِالنُّصُوصِ الشَّرْعِيَّةِ فِي حَمْلِ الْمُطْلَقِ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَالْمُقَيَّدِ عَلَى تَقْيِيدِهِ أَلَا تَرَى أَنَّ إِطْلَاقَ قَوْله تَعَالَى لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ مُوجِبٌ لِلْجَزَاءِ فِي الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ وَإِطْلَاقَ قول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ مُوجِبٌ لِإِبْطَالِ النِّكَاحِ مَعَ الذِّكْرِ وَالنِّسْيَانِ وَلِأَنَّ الْكَفَّارَةَ تَطْهِيرٌ فَأَشْبَهَتْ طَهَارَةَ الْحَدَثِ فَلَمَّا اسْتَوَى حُكْمُ الْحَدَثِ فِي الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ حُكْمُ الْحِنْثِ فِي الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ وَإِذَا قِيلَ لَا يحنث فدليله قول الله تعالى لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ فَكَانَ رَفْعُ الْجَنَاحِ فِي الْخَطَأِ مُوجِبًا لِإِسْقَاطِ الْكَفَّارَةِ عَنِ الْخَاطِئِ وَبِمَا رَوَاهُ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَنِ الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ فَكَانَ حُكْمُ الْأَيْمَانِ دَاخِلًا فِي عُمُومِ هَذَا التَّجَاوُزِ وَلِأَنَّ مُطْلَقَ النَّوَاهِي فِي الشَّرْعِ مَحْمُولٌ عَلَى الْعَمْدِ دُونَ السَّهْوِ كَالْكَلَامِ فِي الصَّلَاةِ وَالْأَكْلِ فِي الصِّيَامِ كَذَلِكَ فِي الْأَيْمَانِ وَلِأَنَّ عَقْدَ الْأَيْمَانِ لَمَّا لَمْ يَلْزَمْ إِلَّا بِالْقَصْدِ وَالِاخْتِيَارِ وَجَبَ أن يكون حلها بِالْحِنْثِ لَا يَكُونُ إِلَّا عَنْ قصدٍ وَاخْتِيَارٍ فَهَذَا تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ وَالْبَغْدَادِيُّونَ مِنْ أَصْحَابِنَا يَذْهَبُونَ إِلَى تَصْحِيحِ الْقَوْلِ بِأَنْ لَا حِنْثَ عَلَى النَّاسِي لِمَا يَرْتَكِبُونَهُ مِنْ خِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَمَّا الْبَصْرِيُّونَ فَقَالَ لِي أَبُو الْقَاسِمِ الصَّيْمَرِيُّ مَا أَفْتَيْتُ فِي يَمِينِ النَّاسِي بشيءٍ قَطُّ وحكى عن شيخه أبي الغياض أَنَّهُ لَمْ يُفْتِ فِيهَا بشيءٍ قَطُّ وَحَكَى أبو الغياض عَنْ شَيْخِهِ أَبِي حَامِدٍ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ لَمْ يُفْتِ فِيهَا بشيءٍ قَطُّ فَاقْتَدَيْتُ بِهَذَا السَّلَفِ وَلَمْ أُفْتِ فِيهَا بشيءٍ لِأَنَّ اسْتِعْمَالَ التَّوَقِّي أَحْوَطُ مِنْ وَرَطَاتِ الْإِقْدَامِ

Jika dikatakan bahwa ia terkena pelanggaran sumpah (yahnitsu), maka dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Tetapi Allah menghukum kamu karena sumpah yang kamu teguhkan,” sehingga penegasan sumpah itu mewajibkan dikenakannya kafārah dalam segala keadaan, baik sengaja maupun tidak sengaja, sadar maupun tidak sadar, pilihan maupun paksaan. Karena pengucapan sumpah secara mutlak, padahal mampu untuk mengecualikan lupa dan paksaan di dalamnya, mewajibkan untuk membawa pelanggaran sumpah pada seluruh keadaan secara mutlak, sebagaimana pembatasan sumpah mewajibkan pembatasan pelanggaran sumpah, dengan mempertimbangkan nash-nash syar‘i dalam membawa yang mutlak pada kemutlakannya dan yang muqayyad pada pembatasannya. Tidakkah engkau melihat bahwa kemutlakan firman-Nya Ta‘ala: “Janganlah kamu membunuh binatang buruan sedang kamu dalam keadaan ihram,” mewajibkan adanya denda baik sengaja maupun tidak sengaja, dan kemutlakan sabda Nabi ﷺ: “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan,” mewajibkan batalnya nikah baik dalam keadaan ingat maupun lupa. Dan karena kafārah itu adalah pensucian, maka ia menyerupai thahārah dari hadats, sehingga ketika hukum hadats sama antara sengaja dan tidak sengaja, maka wajib pula hukum pelanggaran sumpah sama antara sengaja dan tidak sengaja.

Dan jika dikatakan tidak terkena pelanggaran sumpah, maka dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Tidak ada dosa atas kamu terhadap apa yang kamu lakukan karena kekeliruan, tetapi (dosa itu) apa yang disengaja oleh hatimu,” sehingga penghapusan dosa dalam kekeliruan mewajibkan gugurnya kafārah dari orang yang keliru. Juga berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku kesalahan, lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka,” sehingga hukum sumpah termasuk dalam keumuman pemaafan ini. Dan karena larangan-larangan yang bersifat mutlak dalam syariat dibawa pada makna sengaja, bukan lupa, seperti berbicara dalam shalat dan makan saat puasa, demikian pula dalam sumpah. Dan karena penegasan sumpah tidak wajib kecuali dengan niat dan pilihan, maka wajib pula pembatalan sumpah (melalui pelanggaran) tidak terjadi kecuali dengan niat dan pilihan. Inilah penjelasan kedua pendapat tersebut.

Adapun para ulama Baghdad dari kalangan mazhab kami cenderung membenarkan pendapat bahwa tidak ada pelanggaran sumpah atas orang yang lupa, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Adapun ulama Basrah, Abu al-Qasim al-Saimari berkata kepadaku: “Aku tidak pernah berfatwa sedikit pun dalam sumpah orang yang lupa,” dan ia meriwayatkan dari gurunya Abu al-Ghayadh bahwa beliau juga tidak pernah berfatwa sedikit pun dalam masalah ini, dan Abu al-Ghayadh meriwayatkan dari gurunya Abu Hamid al-Marwazi bahwa beliau juga tidak pernah berfatwa sedikit pun dalam masalah ini. Maka aku mengikuti para pendahulu ini dan tidak berfatwa sedikit pun dalam masalah ini, karena sikap hati-hati lebih selamat daripada terjerumus dalam bahaya keberanian.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

فَأَمَّا يَمِينُ الْمُكْرَهِ فَلَا تَنْعَقِدُ قَوْلًا وَاحِدًا

Adapun sumpah orang yang dipaksa, maka tidak sah menurut satu pendapat.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَنْعَقِدُ كَالْمُخْتَارِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي كِتَابِ الطَّلَاقِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa akadnya sah seperti pendapat yang dipilih, dan pembahasan bersamanya telah dijelaskan dalam Kitab Thalaq.

وَدَلِيلُهُ فِي الْأَيْمَانِ مَا رُوِيَ أَنَّ الْيَمَانَ وَالِدَ حُذَيْفَةَ حَلَّفَهُ الْمُشْرِكُونَ أَنْ لَا يُعِيرَ رَسُولَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَخْبَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِذَلِكَ فَقَالَ أَوْفِ بِعَهْدِكَ فَسَوَّى بَيْنِ يَمِينِ الْمُكْرَهِ وَالْمُخْتَارِ وَلِأَنَّهَا يَمِينُ مُكَلَّفٍ فَانْعَقَدَتْ كَالْمُخْتَارِ

Dalilnya dalam masalah sumpah adalah riwayat bahwa al-Yaman, ayah Hudzaifah, dipaksa oleh orang-orang musyrik untuk bersumpah agar tidak membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia memberitahukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Tepatilah janjimu.” Dengan demikian, beliau menyamakan antara sumpah orang yang dipaksa dan orang yang memilih sendiri, dan karena itu merupakan sumpah dari seorang mukallaf, maka sumpah itu dianggap sah sebagaimana sumpah orang yang memilih sendiri.

ودليلينا رِوَايَةُ مَكْحُولٍ عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَيْسَ عَلَى مقهورٍ يمينٌ وَلِأَنَّ مَا مَنَعَ ثُبُوتُ الْكُفْرِ مِنَ انْعِقَادِ الْيَمِينِ كَالْجُنُونِ وَأَمَّا يَمِينُ الْيَمَانِ فَحَلَفَ بِهَا مُخْتَارًا لِأَنَّهُ كَانَ مُشْرِكًا

Dalil kami adalah riwayat Makḥūl dari Wāthilah bin al-Asqa‘ dan dari Abū Umāmah, keduanya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada sumpah atas orang yang dipaksa.” Dan karena apa yang mencegah terjadinya kekufuran juga mencegah terjadinya sumpah, seperti kegilaan. Adapun sumpah orang Yaman, ia bersumpah dengan kehendaknya sendiri karena ia saat itu adalah seorang musyrik.

وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ عَلَى الْمُخْتَارِ فَلَا يَصِحُّ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا كَمَا لَا يَصِحُّ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي الْكُفْرِ

Adapun qiyās mereka terhadap al-mukhtār, maka tidak sah menggabungkan keduanya, sebagaimana tidak sah pula menggabungkan keduanya dalam kekufuran.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا فِي هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ فَصُورَةُ مَسْأَلَتِنَا هَذِهِ أَنْ يَحْلِفَ لَيَأْكُلَنَّ هَذَا الطَّعَامَ غَدًا أَوْ لَيَرْكَبَنَّ هَذِهِ الدَّابَّةَ غَدًا أَوْ لَيَلْبِسَنَّ هَذَا الثَّوْبَ غَدًا فَلَا يَخْلُو حَالُهُ فِي ذَلِكَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

Setelah apa yang telah kami jelaskan dalam pendahuluan ini menjadi jelas, maka gambaran masalah kita ini adalah seseorang bersumpah akan benar-benar memakan makanan ini besok, atau benar-benar akan menaiki hewan tunggangan ini besok, atau benar-benar akan mengenakan pakaian ini besok. Maka, keadaannya dalam hal ini tidak lepas dari empat bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ فِي وَقْتِهِ

Salah satunya adalah melakukannya pada waktunya.

وَالثَّانِي أَنْ يُقَدِّمَهُ عَلَى وَقْتِهِ

Yang kedua adalah mendahulukannya sebelum waktunya.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُؤَخِّرَهُ عَنْ وَقْتِهِ

Dan yang ketiga adalah menunda (shalat) dari waktunya.

وَالرَّابِعُ أَنْ يَفُوتَهُ فِعْلُهُ فِي وَقْتِهِ

Keempat, yaitu terlewatnya pelaksanaan (ibadah) pada waktunya.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ فِي وَقْتِهِ وَهُوَ أَنْ يَأْكُلَ الطَّعَامَ فِي غَدِهِ وَيَرْكَبَ الدَّابَّةَ وَيَلْبَسَ فِيهِ الثَّوْبَ فَقَدْ بَرَّ فِي يَمِينِهِ إِذَا جَعَلَ ذَلِكَ مَا بَيْنَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَغُرُوبِ الشَّمْسِ لِأَنَّ الْغَدَ هُوَ يَوْمٌ يَسْتَوْعِبُ مَا بَيْنَ طُلُوعِ فَجْرِهِ وَغُرُوبِ شَمْسِهِ وَلَيْسَ مَا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَبَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنَ الْغَدِ وَلَا هُمَا وَقْتَ الْبِرِّ

Adapun bagian pertama, yaitu apabila ia melakukannya pada waktunya, yaitu ia makan makanan pada hari esoknya, menunggangi hewan tunggangannya, dan mengenakan pakaian pada hari itu, maka ia telah menepati sumpahnya jika ia melakukannya antara terbit fajar hingga terbenam matahari. Sebab, hari esok adalah satu hari penuh yang mencakup waktu antara terbit fajar hingga terbenam matahari, dan waktu sebelum terbit fajar maupun setelah terbenam matahari bukanlah bagian dari hari esok, dan keduanya bukanlah waktu untuk menepati sumpah.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يُقَدِّمَ فِعْلَ ذَلِكَ قَبْلَ وَقْتِهِ فَهُوَ أَنْ يَأْكُلَ الطَّعَامَ فِي يَوْمِهِ وَيَرْكَبَ فِيهِ الدَّابَّةَ وَيَلْبَسَ فِيهِ الثَّوْبَ فَلَا يَبَرُّ بِذَلِكَ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَيَحْنَثُ بِالِاقْتِصَارِ عَلَى فِعْلِهِ فِيهِ

Adapun bagian kedua, yaitu jika ia melakukan perbuatan tersebut sebelum waktunya, misalnya ia makan makanan pada hari itu, menunggangi hewan pada hari itu, dan mengenakan pakaian pada hari itu, maka menurut Imam Syafi‘i, ia tidak dianggap menunaikan nazar dengan perbuatan tersebut, dan ia dianggap melanggar sumpah jika hanya terbatas melakukan perbuatan itu pada hari tersebut.

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ يَبَرُّ وَلَا يَحْنَثُ لِأَنَّ مَقْصُودَ يَمِينِهِ أَنْ لَا يؤخر فعل ذلك من غَدِهِ وَهُوَ فِي التَّقْدِيمِ غَيْرُ مُؤَخِّرٍ لَهُ فبر فيه

Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa sumpahnya dianggap sah dan ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena maksud dari sumpahnya adalah agar tidak menunda melakukan hal itu setelah hari esok, dan dengan melakukannya lebih awal, ia tidak dianggap menunda, sehingga ia telah memenuhi sumpahnya.

ودليلنا هو أن البر مفيد بِزَمَانٍ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ شَرْطًا فِيهِ كَالْمُقَيَّدِ بِالْمَكَانِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ تَقْدِيمُ الْمَكَانِ كَتَأْخِيرِهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ تَقْدِيمُ الزَّمَانِ كَتَأْخِيرِهِ وَإِذَا لَمْ يَبَرَّ بِفِعْلِ ذَلِكَ فِي يَوْمِهِ فَإِنْ كَانَ طَعَامًا قَدْ أكله حنث إذا لَا سَبِيلَ لَهُ أَنْ يَأْكُلَهُ فِي غَدِهِ إِلَّا أَنَّ حِنْثَهُ لَا يَقَعُ إِلَّا فِي غَدِهِ وَهَلْ يَتَعَلَّقُ حِنْثُهُ بِطُلُوعِ فَجْرِهِ أَوْ بِغُرُوبِ شَمْسِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Dalil kami adalah bahwa kebaikan itu bermanfaat pada waktu tertentu, maka wajib menjadikannya sebagai syarat di dalamnya, sebagaimana sesuatu yang dibatasi oleh tempat. Dan karena mendahulukan tempat sama dengan mengakhirkannya, maka wajib juga bahwa mendahulukan waktu sama dengan mengakhirkannya. Jika seseorang tidak menunaikan kebaikan itu pada harinya, maka jika makanan itu telah dimakannya, ia dianggap melanggar sumpah, karena tidak ada jalan baginya untuk memakannya pada hari berikutnya, kecuali pelanggarannya itu baru terjadi pada hari berikutnya. Adapun apakah pelanggaran sumpah itu terkait dengan terbit fajar atau terbenam matahari, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِطُلُوعٍ فَجْرِهِ لِأَنَّهُ أَوَّلُ وَقْتِ الْبِرِّ فِيمَا فَاتَ فَأَشْبَهَ الصَّلَاةَ الَّتِي يَكُونُ خُرُوجُ وَقْتِهَا دَلِيلًا عَلَى وُجُوبِهَا بِأَوَّلِهِ

Salah satunya batal sumpahnya dengan terbit fajar, karena itu adalah awal waktu pelaksanaan kebaikan atas apa yang telah terlewat, sehingga menyerupai salat yang keluarnya waktu menjadi tanda wajibnya salat tersebut pada awal waktunya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَحْنَثُ بِغُرُوبِ شَمْسِهِ لِبَقَاءِ زَمَانِ الْبِرِّ قَبْلَ الْغُرُوبِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ حُكْمُ الْفَوَاتِ كَأَوَّلِهِ فَأَمَّا إِنْ كَانَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ دَابَّةً إِنْ رَكِبَهَا فِي غَدِهِ أَوْ ثَوْبًا يَلْبَسُهُ فِيهِ لَمْ يَحْنَثْ بِرُكُوبِ الدَّابَّةِ وَلُبْسِ الثَّوْبِ فِي يَوْمِهِ لِإِمْكَانِ ذَلِكَ فِي غَدِهِ فَإِنْ رَكِبَ وَلَيْسَ فِي غَدِهِ فِيمَا بَيْنَ طُلُوعِ فَجْرِهِ وَغُرُوبِ شَمْسِهِ بَرَّ فِي يَمِينِهِ وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ حَنِثَ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ إِمْكَانَ الْفِعْلِ يَمْنَعُ مِنَ الْقَطْعِ بِالْحِنْثِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia dianggap melanggar sumpahnya dengan terbenamnya matahari pada harinya, karena masih tersisa waktu untuk menunaikan kebaikan sebelum matahari terbenam, sehingga belum berlaku hukum kehilangan kesempatan seperti pada awal waktu. Adapun jika objek sumpahnya adalah seekor hewan tunggangan, jika ia menungganginya pada hari berikutnya, atau pakaian yang dipakainya pada hari itu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan menunggangi hewan atau memakai pakaian pada hari itu, karena masih memungkinkan dilakukan pada hari berikutnya. Jika ia menunggangi hewan itu dan tidak ada hari berikutnya, yakni antara terbit fajar dan terbenam matahari, maka ia telah menunaikan sumpahnya. Namun jika tidak melakukannya, ia dianggap melanggar sumpah dengan terbenamnya matahari, menurut satu pendapat, karena masih adanya kemungkinan untuk melakukan perbuatan tersebut mencegah penetapan pelanggaran sumpah secara pasti.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يُؤَخِّرَ فِعْلَ ذَلِكَ عَنْ وَقْتِهِ فَإِنْ أَخَّرَهُ عَامِدًا حَنِثَ وَإِنْ أَخَّرَهُ نَاسِيًا فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Adapun bagian ketiga, yaitu menunda pelaksanaan hal tersebut dari waktunya, maka jika ia menundanya dengan sengaja, ia berdosa. Namun jika ia menundanya karena lupa, terdapat dua pendapat mengenai apakah ia berdosa atau tidak.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ

Salah satunya melanggar sumpah.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ وَلَا يَلْزَمُهُ فِعْلُهُ بَعْدَ فَوَاتِ وَقْتِهِ فَلَوْ أَكَلَ بَعْضَ الطَّعَامِ فِي يَوْمِهِ وَبَاقِيَهُ فِي غَدِهِ حَنِثَ لِأَنَّ إِكْمَالَ الْأَكْلِ فِي غَدِهِ شَرْطٌ فِي بِرِّهِ

Yang kedua, ia tidak dianggap melanggar sumpah dan tidak wajib melakukannya setelah waktunya berlalu. Maka jika ia memakan sebagian makanan pada hari itu dan sisanya pada hari berikutnya, ia dianggap melanggar sumpah, karena menyempurnakan makan pada hari berikutnya merupakan syarat untuk menunaikan sumpahnya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ وَهُوَ أَنْ يَفُوتَهُ فِعْلُ ذَلِكَ فِي وَقْتِهِ فَهَذَا عَلَى أَرْبَعَةِ أضربٍ

Adapun bagian keempat, yaitu ketika seseorang melewatkan pelaksanaan hal tersebut pada waktunya, maka hal ini terbagi menjadi empat macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَفُوتَ ذَلِكَ بِمَوْتِ الْحَالِفِ قَبْلَ الْغَدِ فَلَا حنث عليه لزوال تكليفه بالموت

Salah satunya adalah jika hal itu terlewatkan karena matinya orang yang bersumpah sebelum hari esok, maka tidak ada pelanggaran sumpah atasnya karena kewajiban taklif telah hilang dengan kematiannya.

والضرب الثَّانِي أَنْ يَفُوتَهُ ذَلِكَ بِاسْتِهْلَاكِهِ لَهُ قَبْلَ غَدِهِ بِاخْتِيَارِهِ فَيَحْنَثُ فِي غَدِهِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى فِعْلِهِ فِي الْغَدِ

Jenis yang kedua adalah jika ia kehilangan hal itu karena ia sendiri menghabiskannya sebelum hari esok dengan pilihannya sendiri, maka ia dianggap melanggar sumpahnya pada hari esok menurut satu pendapat, karena sebelumnya ia mampu melakukannya pada hari esok.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَتْلَفَ قَبْلَ غَدِهِ بِفِعْلِ غَيْرِهِ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ لِزَوَالِ قُدْرَتِهِ وَعَدَمِ مُكْنَتِهِ

Jenis yang ketiga adalah apabila sesuatu itu rusak sebelum hari esok karena perbuatan orang lain, maka dalam hal batalnya sumpah terdapat dua pendapat, karena hilangnya kemampuan dan ketidakmampuannya.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ أَنْ يَفُوتَهُ فِعْلُهُ مَعَ بَقَاءِ ذَلِكَ وَوُجُودِهِ إِمَّا بِحَبْسٍ أَوْ إِكْرَاهٍ أَوْ مَرَضٍ فَيَكُونُ حِنْثُهُ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْمُكْرَهِ فَأَمَّا إِنْ قَدَرَ عَلَى فِعْلِهِ فِي غَدِهِ فَلَمْ يَفْعَلْهُ مَعَ الْقُدْرَةِ حَتَّى تَلَفَ فِي بَقِيَّةِ غَدِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَجْرِي عَلَى فَوَاتِهِ فِيهِ حُكْمُ الْمُخْتَارِ أَوْ حُكْمُ الْمُكْرَهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Golongan keempat adalah ketika seseorang kehilangan kesempatan untuk melakukan suatu perbuatan, padahal perbuatan itu masih tetap ada dan memungkinkan dilakukan, baik karena ditahan, dipaksa, atau sakit. Maka, status pelanggarannya menurut dua pendapat, seperti halnya orang yang dipaksa (mukrah). Adapun jika ia mampu melakukannya pada hari esok, namun tidak melakukannya padahal ia mampu hingga kesempatan itu hilang pada sisa hari esok, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah atas kehilangan kesempatan itu berlaku hukum seperti orang yang memilih (ikhtiyar) atau hukum seperti orang yang dipaksa (mukrah), terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمُخْتَارِ لِإِمْكَانِ فِعْلِهِ فِي وَقْتِهِ فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ قَوْلًا وَاحِدًا

Salah satunya berlaku padanya hukum orang yang memilih, karena memungkinkan untuk melakukannya pada waktunya. Maka berdasarkan hal ini, ia pasti dianggap melanggar sumpah menurut satu pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمُكْرَهِ لِبَقَاءِ وَقْتِهِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ فِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ والله أعلم

Pendapat kedua berlaku padanya hukum orang yang dipaksa karena masih berlangsung waktunya. Berdasarkan hal ini, dalam hal ia melanggar sumpahnya terdapat dua pendapat. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي ولو حلف ليقضينه حقه لوقتٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ أَنْ يُؤَخِّرَهُ فَمَاتَ قبل يَشَاءُ أَنْ يُؤَخِّرَهُ أَنَّهُ لَا حِنْثَ عَلَيْهِ وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ فلانٌ فَمَاتَ فلانٌ الَّذِي جَعَلَ الْمَشِيَئَةَ إِلَيْهِ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا غلطٌ لَيْسَ فِي مَوْتِهِ مَا يَمْنَعُ إِمْكَانَ بِرِّهِ وَأَصْلُ قَوْلِهِ إِنْ أَمْكَنَهُ الْبِرُّ فَلَمْ يَفْعَلْ حَتَى فَاتَهُ الْإِمْكَانُ أَنَّهُ يحنث وقد قال لو حَلَفَ لَا يَدْخُلُ الدَّارَ إِلَّا بِإِذْنِ فلانٍ فَمَاتَ الَّذِي جَعَلَ الْإِذْنَ إِلَيْهِ أَنَّهُ إِنْ دخلها حنث قال المزني وهذا وذاك سواءٌ

Imam Syafi‘i berkata: “Seandainya seseorang bersumpah akan menunaikan hak orang lain pada waktu tertentu kecuali jika ia menghendaki untuk menundanya, lalu ia meninggal sebelum menghendaki penundaan itu, maka tidak ada dosa pelanggaran sumpah atasnya. Demikian pula jika ia berkata: ‘kecuali jika si Fulan menghendaki’, lalu si Fulan yang dijadikan tempat bergantung kehendak itu meninggal dunia.” Al-Muzani berkata: “Ini adalah kekeliruan, karena kematian si Fulan tidak menghalangi kemungkinan untuk menunaikan sumpahnya. Dasar pendapat Imam Syafi‘i adalah: jika memungkinkan untuk menunaikan sumpah, namun ia tidak melakukannya hingga kesempatan itu hilang, maka ia berdosa melanggar sumpah. Imam Syafi‘i juga berkata: ‘Jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke dalam rumah kecuali dengan izin si Fulan, lalu orang yang dijadikan tempat bergantung izin itu meninggal, maka jika ia masuk ke rumah tersebut, ia berdosa melanggar sumpah.’ Al-Muzani berkata: ‘Kedua kasus ini sama saja.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَاتَانِ مَسْأَلَتَانِ جَمَعَ الْمُزَنِيُّ بَيْنَهُمَا وَنَحْنُ نَذْكُرُ قَبْلَ شَرْحِهِمَا مَسْأَلَتَيْنِ لِيَكُونَا أَصْلًا يَتَمَهَّدُ بِهِ جَوَابُ مَسَائِلِهِمْ فَتَصِيرُ الْمَسَائِلُ أَرْبَعًا فَالْمَسْأَلَةُ الْأُولَى أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَأَقْضِيَنَّكَ حَقَّكَ وَلَا يُعَيِّنُ لِلْقَضَاءِ وَقْتًا فَيَكُونُ بِرُّهُ مُعْتَبَرًا بِقَضَائِهِ قَبْلَ مَوْتِ الْغَرِيمِ وَصَاحِبِ الْحَقِّ فِي قَرِيبِ الزَّمَانِ وَبِعِيدِهِ سَوَاءٌ لِأَنَّ إِطْلَاقَ الْيَمِينِ يَتَنَاوَلُ مُدَّةَ الْحَيَاةِ فَإِنْ مَاتَ صَاحِبُ الْحَقِّ قَبْلَ قَضَائِهِ حَنِثَ الْحَالِفُ وَكَذَلِكَ لَوْ مَاتَ الْغَرِيمُ الْحَالِفُ قَبْلَ الْقَضَاءِ حَنِثَ أَيْضًا فَيَقَعُ الْحِنْثُ بِمَوْتِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا قَبْلَ الْقَضَاءِ لِحُدُوثِ الْمَوْتِ مَعَ إِمْكَانِ الْبِرِّ

Al-Mawardi berkata: “Dua permasalahan ini telah dikumpulkan oleh al-Muzani, dan kami akan menyebutkan sebelum penjelasannya dua permasalahan lain agar keduanya menjadi dasar yang memudahkan jawaban atas permasalahan-permasalahan tersebut, sehingga jumlahnya menjadi empat permasalahan. Permasalahan pertama adalah seseorang berkata, ‘Demi Allah, aku pasti akan melunasi hakmu,’ namun ia tidak menentukan waktu pelunasan. Maka, penunaian sumpahnya dianggap sah jika ia melunasi sebelum wafatnya orang yang berpiutang maupun yang berhak, baik dalam waktu dekat maupun lama, karena sumpah yang diucapkan secara mutlak mencakup seluruh masa hidup. Jika orang yang berhak meninggal sebelum pelunasan, maka orang yang bersumpah dianggap melanggar sumpahnya. Demikian pula jika orang yang berutang (yang bersumpah) meninggal sebelum pelunasan, ia juga dianggap melanggar sumpahnya. Maka, pelanggaran sumpah terjadi dengan wafatnya salah satu dari keduanya sebelum pelunasan, karena kematian terjadi sementara masih memungkinkan untuk menunaikan sumpah.”

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَحْلِفَ لَأَقْضِيَنَّكَ حَقَّكَ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَيَجْعَلَ لِلْقَضَاءِ وَقْتًا فَلَا يَبَرُّ الْحَالِفُ إِلَّا بِقَضَائِهِ فِيهِ فَإِنْ قَضَاهُ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَوْ بَعْدَهُ حَنِثَ فَلَوْ مَاتَ الْحَالِفُ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لَمْ يَحْنَثْ قَوْلًا وَاحِدًا لِمَوْتِهِ قَبْلَ إِمْكَانِ بِرِّهِ وَإِنْ مَاتَ صَاحِبُ الْحَقِّ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَفِي حِنْثِ الْحَالِفِ قَوْلَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِيمَنْ حَلَفَ لِيَأْكُلَنَّ هَذَا الطَّعَامَ غَدًا فَهَلَكَ الطَّعَامُ الْيَوْمَ

Masalah kedua adalah seseorang bersumpah, “Aku pasti akan menyelesaikan hakmu pada hari Jumat,” lalu ia menentukan waktu penyelesaian. Maka, sumpah itu tidak dianggap terpenuhi kecuali ia menyelesaikannya pada hari itu. Jika ia menyelesaikannya sebelum atau sesudah hari Jumat, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika orang yang bersumpah meninggal sebelum hari Jumat, maka secara sepakat ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia meninggal sebelum memungkinkan untuk menunaikannya. Namun, jika pemilik hak meninggal sebelum hari Jumat, terdapat dua pendapat mengenai apakah orang yang bersumpah dianggap melanggar sumpah, berdasarkan perbedaan pendapat tentang orang yang bersumpah, “Aku pasti akan memakan makanan ini besok,” lalu makanan itu rusak hari ini.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ

Salah satunya melanggar sumpah.

وَالثَّانِي وَهُوَ أَصَحُّ لَا يَحْنَثُ وَعَلَيْهِ يَكُونُ التَّفْرِيعُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ إِطْلَاقِ الْيَمِينِ فَيَحْنَثُ بِمَوْتِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا وَبَيْنَ تَقْيِيدِهَا بِوَقْتٍ فَلَا يَحْنَثُ بِمَوْتِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا قَبْلَ الْوَقْتِ هُوَ إِمْكَانُ الْبِرِّ مَعَ الْإِطْلَاقِ وَتَعَذُّرُ إِمْكَانِهِ مَعَ التَّوْقِيتِ

Pendapat kedua, yang lebih sahih, adalah ia tidak dianggap melanggar sumpah, dan atas dasar inilah cabang-cabang hukum dibangun. Perbedaan antara sumpah yang diucapkan secara mutlak—di mana ia dianggap melanggar sumpah jika salah satu dari keduanya meninggal—dan sumpah yang dibatasi dengan waktu—di mana ia tidak dianggap melanggar sumpah jika salah satu dari keduanya meninggal sebelum waktu yang ditentukan—adalah karena masih mungkin untuk menunaikan sumpah jika diucapkan secara mutlak, sedangkan hal itu menjadi mustahil jika sumpah tersebut dibatasi waktu.

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ وَهِيَ أُولَى الْمَنْصُوصَيْنِ أن يحلف ليقضينه حقه في يوم الجمعة إِلَّا أَنْ يَشَاءَ صَاحِبُ الْحَقِّ أَنْ يُؤَخِّرَهُ فَبِرُّهُ مُعْتَبَرٌ بِأَحَدِ شَرْطَيْنِ إِمَّا أَنْ يَشَاءَ صَاحِبُ الْحَقِّ أَنْ يُؤَخِّرَهُ قَبْلَ انْقِضَاءِ يَوْمِ الْجُمْعَةِ وَإِمَّا أَنْ يَقْضِيَهُ حَقَّهُ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ إِلَّا أَنَّ مَشِيئَةَ تَأْخِيرِهِ حلٌ لِيَمِينِهِ وَالْقَضَاءُ بِرٌّ فِي يَمِينِهِ فَإِنْ مَاتَ الْحَالِفُ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لم يَحْنَث بِفَوَاتِ الْقَضَاءِ فِيهِ وَإِنْ مَاتَ صَاحِبُ الْحَقِّ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لَمْ يَحْنَثِ الْحَالِفُ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِنْ مَاتَ بَعْدَ مَشِيئَتِهِ ارْتَفَعَ الْحِنْثُ بِحَلِّ الْيَمِينِ وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ مَشِيئَتِهِ ارْتَفَعَ الْحِنْثُ بِتَعَذُّرِ إِمْكَانِ الْبِرِّ وَإِنِ احْتَمَلَ تَخْرِيجَ الْحِنْثِ

Masalah ketiga, yaitu yang pertama dari dua kasus yang disebutkan secara eksplisit, adalah bahwa seseorang bersumpah akan membayarkan hak orang lain pada hari Jumat, kecuali jika pemilik hak menghendaki untuk menundanya. Maka, penunaian sumpahnya dianggap sah dengan salah satu dari dua syarat: pertama, pemilik hak menghendaki penundaan sebelum berakhirnya hari Jumat; atau kedua, ia membayarkan hak tersebut pada hari Jumat. Namun, keinginan untuk menunda merupakan pembatal sumpahnya, sedangkan pembayaran adalah penunaian sumpahnya. Jika orang yang bersumpah meninggal sebelum hari Jumat, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena tidak sempat membayar pada hari itu. Jika pemilik hak meninggal sebelum hari Jumat, orang yang bersumpah juga tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, jika pemilik hak meninggal setelah menyatakan keinginannya (untuk menunda), maka pelanggaran sumpah gugur karena sumpahnya telah batal. Jika ia meninggal sebelum menyatakan keinginannya, maka pelanggaran sumpah gugur karena tidak mungkin lagi menunaikan sumpah, meskipun ada kemungkinan untuk mengeluarkan pendapat tentang terjadinya pelanggaran sumpah.

وَالْمَسْأَلَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَحْلِفَ لَيَقْضِينَّهُ حَقَّهُ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ زَيْدٌ تَأْخِيرَهُ فَارْتِفَاعُ حِنْثِهِ يَكُونُ بِأَحَدِ شَرْطَيْنِ إِمَّا بِمَشِيئَةِ زَيْدٍ لِلتَّأْخِيرِ فَتَحِلُّ بِهِ الْيَمِينُ وَإِمَّا بِقَضَاءِ الْحَقِّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَيَبَرُّ فِي الْيَمِينِ فَإِنْ مَاتَ الْحَالِفُ قَبْلَ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لَمْ يَحْنَثْ قَوْلًا وَاحِدًا وَإِنْ مَاتَ صَاحِبُ الْحَقِّ قَبْلَهُ لَمْ يَحْنَثْ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ وَإِنِ احْتَمَلَ تَخْرِيجَ الْحِنْثِ وَإِنْ مَاتَ زَيْدٌ صَاحِبُ الْمَشِيئَةِ وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ فَلَهُ قَبْلُ مَوْتِهِ ثَلَاثَةُ أحوالٍ

Masalah keempat adalah seseorang bersumpah akan menunaikan haknya pada hari Jumat, kecuali jika Zaid menghendaki penundaan. Maka, gugurnya pelanggaran sumpah itu terjadi dengan salah satu dari dua syarat: pertama, dengan kehendak Zaid untuk menunda, sehingga sumpah menjadi sah karenanya; atau kedua, dengan menunaikan hak pada hari Jumat, sehingga ia dianggap menepati sumpahnya. Jika orang yang bersumpah meninggal sebelum hari Jumat, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut satu pendapat. Jika pemilik hak meninggal sebelum hari Jumat, maka menurut pendapat yang sahih dalam mazhab, ia juga tidak dianggap melanggar sumpah, meskipun masih dimungkinkan adanya pendapat yang menyatakan pelanggaran. Jika Zaid, pemilik kehendak, meninggal—dan inilah masalah yang dibahas dalam kitab—maka sebelum kematiannya terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَمُوتَ بَعْدَ مَشِيئَةِ التَّأْخِيرِ فَالْيَمِينُ قَدِ انْحَلَّتْ وَلَا يَقَعُ الْحِنْثُ فِيهَا بِتَأْخِيرِ الْقَضَاءِ

Salah satunya adalah jika ia meninggal setelah adanya kehendak untuk menunda, maka sumpah tersebut telah terlepas dan tidak terjadi pelanggaran sumpah karena menunda pelaksanaan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَمُوتَ قَبْلَ مَشِيئَةِ التَّأْخِيرِ فَالْيَمِينُ مُنْعَقِدَةٌ وَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ فِي الْحَالِ لِأَنَّ زَمَانَ الْبِرِّ مُنْتَظَرٌ وَهُوَ بِإِمْكَانِ الْقَضَاءِ مُعْتَبَرٌ فَإِنْ قَضَاهُ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ بَرَّ وَإِنْ لَمْ يَقْضِهِ حَنِثَ لِإِمْكَانِ الْبِرِّ فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ لَمَّا رَأَى الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ فِي هَذِهِ

Keadaan kedua adalah apabila ia meninggal sebelum adanya keinginan untuk menunda, maka sumpahnya tetap sah dan tidak ada pelanggaran atasnya dalam keadaan ini, karena waktu untuk menunaikan sumpah masih dinantikan dan masih dianggap memungkinkan untuk menggantinya. Jika ia menunaikannya pada hari Jumat, maka ia telah memenuhi sumpahnya, dan jika tidak menunaikannya, maka ia dianggap melanggar karena masih ada kemungkinan untuk menunaikannya. Adapun al-Muzani, ketika ia melihat Imam Syafi‘i rahimahullah, beliau berkata dalam masalah ini…

الْمَسْأَلَةِ

Permasalahan

إِنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِمَوْتِ صَاحِبِ الْمَشِيئَةِ كَمَا لَوْ كَانَتِ الْمَشِيئَةُ مَرْدُودَةً إِلَى صَاحِبِ الْحَقِّ ظَنَّ أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي سُقُوطِ الْحِنْثِ بِمَوْتِهِمَا فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا فَقَالَ كَيْفَ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي سُقُوطِ الْحِنْثِ بِمَوْتِهِمَا وَالْبِرُّ فِي مَوْتِ صَاحِبِ الْحَقِّ مُتَعَذِّرٌ وَفِي مَوْتِ صَاحِبِ الْمَشِيئَةِ مُمْكِنٌ فَيُقَالُ لَهُ إِنَّمَا جَمَعَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بَيْنَهُمَا فِي أَنَّ الْحِنْثَ لَا يَقَعُ فِي حَالِ مَوْتِهِمَا لِأَنَّ وَقْتَ الْقَضَاءِ لَمْ يَأْتِ فَصَارَا فِيهِ سَوَاءً فِي الْحَالِ وَإِنِ افْتَرَقَا بِتَأْخِيرِ الْقَضَاءِ فَيَحْنَثُ بتأخيره إذا كان الْمَشِيئَةُ إِلَى غَيْرِ صَاحِبِ الْحَقِّ وَلَا يَجِبُ تأخيره إذا كان الْمَشِيئَةُ إِلَى صَاحِبِ الْحَقِّ بِمَا عَلَّلَ الْمُزَنِيُّ مِنْ تَعَذُّرِ الْقَضَاءِ بِمَوْتِ صَاحِبِ الْحَقِّ أَوْ إِمْكَانِهِ بِمَوْتِ غَيْرِهِ

Seseorang tidak dianggap melanggar sumpah karena wafatnya pemilik syarat (mashī’ah), sebagaimana jika syarat itu dikembalikan kepada pemilik hak. Ada yang mengira bahwa ia telah menggabungkan keduanya dalam hal gugurnya pelanggaran sumpah karena wafatnya kedua pihak dalam segala keadaan, lalu ia berkata: Bagaimana mungkin ia menggabungkan keduanya dalam hal gugurnya pelanggaran sumpah karena wafatnya kedua pihak, padahal pelaksanaan sumpah pada wafatnya pemilik hak itu mustahil, sedangkan pada wafatnya pemilik syarat itu masih mungkin? Maka dijawab kepadanya: Sesungguhnya Imam Syafi’i rahimahullah hanya menggabungkan keduanya dalam hal bahwa pelanggaran sumpah tidak terjadi pada saat wafatnya kedua pihak, karena waktu pelaksanaan sumpah belum tiba, sehingga keduanya sama dalam keadaan ini, meskipun berbeda dalam hal penundaan pelaksanaan. Maka seseorang dianggap melanggar sumpah jika menunda pelaksanaan ketika syarat itu berada pada selain pemilik hak, dan tidak wajib menunda pelaksanaan jika syarat itu berada pada pemilik hak, sebagaimana dijelaskan oleh al-Muzani bahwa pelaksanaan menjadi mustahil karena wafatnya pemilik hak atau masih mungkin karena wafatnya selain pemilik hak.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ مِنْ أَحْوَالِ صَاحِبِ الْمَشِيئَةِ قَبْلَ مَوْتِهِ أَنْ يَقَعَ الشَّكُّ فِي مَشِيئَتِهِ فَلَا يَعْلَمُ هَلْ شَاءَ التَّأْخِيرَ أَوْ لَمْ يَشَأْهُ فَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ الصَّحِيحُ أَنَّهُ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ مَنْ لَمْ يَشَأِ التَّأْخِيرَ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ الْمَشِيئَةِ حَتَّى يَعْلَمَ حُدُوثَهَا فَيَكُونُ الْحُكْمُ عَلَى مَا مَضَى

Keadaan ketiga dari keadaan orang yang memiliki hak memilih (mashī’ah) sebelum wafatnya adalah ketika timbul keraguan terhadap kehendaknya, sehingga tidak diketahui apakah ia menghendaki penundaan atau tidak. Maka pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama mazhab kami, dan inilah yang benar, bahwa ia diperlakukan seperti orang yang tidak menghendaki penundaan, karena pada dasarnya mashī’ah itu tidak ada sampai diketahui terjadinya, sehingga hukum tetap berlaku sebagaimana sebelumnya.

وَحَكَى أَبُو عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهُ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ التَّأَنِّي فَلَا يَحْنَثُ الْحَالِفُ بِتَأْخِيرِ الْقَضَاءِ اعْتِبَارًا بِالظَّاهِرِ مِنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَاحْتِجَاجًا بِأَنَّ الْحِنْثَ لَا يَقَعُ بِالشَّكِّ وَهَذَا زَلَلٌ لِأَنَّ الْيَمِينَ مُنْعَقِدَةٌ فَلَا تَحِلُّ بِالشَّكِّ

Abu ‘Ali bin Abi Hurairah meriwayatkan bahwa berlaku padanya hukum perlambatan, sehingga orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpahnya karena menunda pelaksanaan, berdasarkan zahir dari nash asy-Syafi‘i dan dengan alasan bahwa pelanggaran sumpah tidak terjadi karena keraguan. Namun, ini adalah kekeliruan, karena sumpah itu telah terikat sehingga tidak boleh dihalalkan hanya dengan keraguan.

فَصْلٌ

Fasal

ثُمَّ إِنَّ الْمُزَنِيَّ وَصَلَ احْتِجَاجَهُ عَلَى مَا وَهِمَ فِي تَأْوِيلِهِ وَإِنْ أَصَابَ في جوابه بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ إِنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ الدَّارَ إِلَّا بِإِذْنِ فُلَانٍ فَمَاتَ الَّذِي جَعَلَ الْإِذْنَ إِلَيْهِ أَنَّهُ إِنْ دَخَلَهَا حَنِثَ وَهَذَا وَذَاكَ سَوَاءٌ وَهَذَا صَحِيحٌ

Kemudian, al-Muzani melanjutkan argumentasinya atas apa yang ia keliru dalam penafsirannya, meskipun ia benar dalam jawabannya, dengan mengatakan bahwa asy-Syafi‘i berkata: “Jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah kecuali dengan izin si Fulan, lalu orang yang dijadikan tempat izin itu meninggal dunia, maka jika ia masuk ke rumah tersebut, ia melanggar sumpahnya. Hal ini sama saja dengan kasus sebelumnya, dan ini benar.”

وَالْجَوَابُ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ عَلَى مَا ذَكَرَهُ وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّافِعِيِّ فِيهِمَا اخْتِلَافٌ وَإِنَّمَا وَهِمَ فِيمَا أَطْلَقَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ جَوَابِ الْمَسْأَلَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ فَإِذَا حَلَفَ لَا يَدْخُلُ الدَّارَ إِلَّا بِإِذْنِ زَيْدٍ فَدَخَلَهَا بَعْدَ مَوْتِ زَيْدٍ فَإِنْ كَانَ زَيْدٌ قَدْ أَذِنَ قَبْلَ مَوْتِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَيَكُونُ إِذْنُهُ شَرْطًا فِي الْبِرِّ وَتَكُونُ الْمَشِيئَةُ فِي الْمَسْأَلَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ شَرْطًا فِي حَلِّ الْيَمِينِ لِأَنَّ الْيَمِينَ فِي دُخُولِ الدَّارِ مَعْقُودَةٌ عَلَى الْإِذْنِ وَفِي الْمَشِيئَةِ مَعْقُودَةٌ عَلَى الْقَضَاءِ وَإِنْ مَاتَ زَيْدٌ قَبْلَ إِذْنِهِ حَنِثَ فِي الدُّخُولِ لِأَنَّ شَرْطَ الْبِرِّ لَمْ يُوجَدْ وَإِنْ مَاتَ عَلَى شَكٍّ مِنْ وُجُودِ إِذْنِهِ وَعَدَمِهِ حَنِثَ وَجْهًا وَاحِدًا عَلَى قَوْلِ جَمِيعِ أَصْحَابِنَا وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْإِذْنِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَبَيْنَ الْمَشِيئَةِ فِي الْمَسْأَلَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ حَيْثُ خَرَجَ فِيهَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا مِنَ الِاحْتِمَالِ عَلَى مَا خَرَجَ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Jawaban dalam dua permasalahan ini adalah sebagaimana yang telah disebutkan, dan tidak ada perbedaan antara dia dan Imam Syafi‘i dalam kedua permasalahan tersebut. Hanya saja, kekeliruan terjadi pada apa yang dinyatakan secara mutlak oleh Imam Syafi‘i dalam jawaban masalah yang telah lalu. Maka, jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah kecuali dengan izin Zaid, lalu ia memasukinya setelah Zaid wafat, maka jika Zaid telah mengizinkan sebelum wafatnya, ia tidak dianggap melanggar sumpah, dan izinnya menjadi syarat dalam kebaikan (memenuhi sumpah). Sedangkan kehendak (mashi’ah) dalam masalah yang telah lalu menjadi syarat dalam pembebasan sumpah, karena sumpah dalam masuk rumah terikat pada izin, dan dalam kehendak terikat pada pelaksanaan. Jika Zaid wafat sebelum memberi izin, maka ia dianggap melanggar sumpah dalam masuk rumah, karena syarat kebaikan tidak terpenuhi. Jika Zaid wafat dalam keadaan ragu apakah sudah memberi izin atau belum, maka ia tetap dianggap melanggar sumpah menurut satu pendapat yang dipegang oleh seluruh ulama mazhab kami. Perbedaan antara izin dalam masalah ini dan kehendak dalam masalah yang telah lalu, di mana sebagian ulama kami mengeluarkan pendapat dari kemungkinan yang ada, adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْإِذْنَ ظَاهِرٌ وَالْمَشِيئَةَ بَاطِنَةٌ

Salah satunya adalah bahwa izin itu bersifat lahiriah, sedangkan kehendak bersifat batiniah.

وَالثَّانِي إنَّ الْإِذْنَ فِي هَذِهِ شَرْطٌ فِي الْبِرِّ وَالْمَشِيئَةَ فِي تِلْكَ شَرْطٌ فِي الْحَلِّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Kedua, sesungguhnya izin dalam hal ini merupakan syarat dalam kebajikan, dan kehendak dalam hal itu merupakan syarat dalam kehalalan, dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رحمه الله ولو حلف ليقضينه عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ أَوْ إِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ فرأى في الليلة التي يهل فيها الهلال حنث قال المزني رحمه الله وقد قال في الذي خلف ليقضينه إلى رمضان فهل إنه حانثٌ لأنه حد قال المزني رحمه الله هذا أصح كَقَوْلِهِ إِلَى اللَّيْلِ فَإِذَا جَاءَ اللَّيْلُ حَنِثَ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang bersumpah akan melunasi (utang) pada saat awal bulan hilal atau sampai awal bulan hilal, lalu ia melihat pada malam ketika hilal tampak, maka ia dianggap melanggar sumpahnya. Al-Muzani rahimahullah berkata: Ia juga berkata tentang orang yang bersumpah akan melunasi (utang) sampai Ramadan, maka jika Ramadan telah tiba, ia dianggap melanggar sumpahnya karena itu adalah batas waktu. Al-Muzani rahimahullah berkata: Ini lebih sahih, seperti ucapannya “sampai malam”, maka jika malam telah datang, ia melanggar sumpahnya.

قال الماوردي وهذا صحيح كَقَوْلِهِ إِلَى اللَّيْلِ فَإِذَا جَاءَ اللَّيْلُ حنث نَقَلَ الْمُزَنِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ ثَلَاث مَسَائِلَ اتَّفَقَ الْجَوَابُ فِي مَسْأَلَتَيْنِ وَاخْتَلَفَ فِي الثَّالِثَةِ إِحْدَى الْمَسَائِلِ الَّتِي اتَّفَقَ الْمَذْهَبُ فِي الْجَوَابِ عَلَيْهَا إِذَا حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ أَوْ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ فَوَقْتُ بَرِّهِ مُعَيَّنٌ بَيْنَ زَمَانَيْ حِنْثٍ وَهُوَ أَنْ يَقْضِيَهُ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ وَرُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَإِنْ قَضَاهُ قَبْلَ الْهِلَالِ حَنِثَ وَإِنْ قَضَاهُ بَعْدَ الْهِلَالِ وَبَعْدَ إِمْكَانِ الْقَضَاءِ مَعَهُ حَنِثَ بِمُضِيِّ زَمَانِ الْإِمْكَانِ بَعْدَ الْهِلَالِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, seperti ucapannya ‘hingga malam’, maka apabila malam telah datang, ia melanggar sumpah.” Al-Muzani meriwayatkan dari Asy-Syafi‘i dalam masalah ini tiga permasalahan; jawaban dalam dua permasalahan disepakati, dan berbeda pendapat dalam yang ketiga. Salah satu permasalahan yang disepakati mazhab dalam jawabannya adalah: jika seseorang bersumpah akan menunaikan haknya pada awal bulan atau pada saat terlihat hilal, maka waktu pelaksanaan sumpahnya telah ditentukan, yaitu antara dua waktu pelanggaran, yaitu ia harus menunaikannya bersamaan dengan awal bulan dan terlihatnya hilal. Jika ia menunaikannya sebelum terlihat hilal, maka ia melanggar sumpah. Jika ia menunaikannya setelah terlihat hilal dan setelah memungkinkan untuk menunaikannya bersamaan dengan hilal, maka ia melanggar sumpah karena telah melewati waktu memungkinkan setelah terlihat hilal.

وَقَالَ مَالِكٌ لا يحنث بقضائه قبل القضاء يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَجَعَلَ زَمَانَ الْقَضَاءِ بَعْدَ الْهِلَالِ مُعْتَبَرًا بِيَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَاعْتَبَرَهُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِالْإِمْكَانِ وَهُوَ أَصَحُّ لِأَنَّ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ إِنْ لَمْ تُؤْخَذْ عَنْ نَصٍّ أَوْ قِيَاسٍ بَطَلَتْ لما يتوجه عليها من المعارضة وَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ ذَلِكَ مُعْتَبَرٌ بِالْإِمْكَانِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ فِي الْقَضَاءِ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ فَيَسْتَوِي حُكْمُ قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ مِمَّا لَا يَكُونُ زَمَانُ قَضَائِهِ كَوَزْنِهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ ضَاقَ زَمَانُ بِرِّهِ لِإِمْكَانِ وَزْنِهِ فِي أَوَّلِ زَمَانٍ بَعْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ فَإِنْ أَخَّرَهُ عَنْهُ بِأَقَلِّ زَمَانٍ حَنِثَ فَإِنْ شَرَعَ فِي حَمْلِهِ إِلَيْهِ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ وَكَانَ بَعِيدَ الدَّارِ مِنْهُ حَتَّى مَضَتِ اللَّيْلَةُ أَوْ أَكْثَرُهَا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ مُعْتَبَرٌ فِي الْإِمْكَانِ وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ مِمَّا يَطُولُ زَمَانُ قَضَائِهِ كَمِائَةِ كُرٍّ مِنْ بُرٍّ اتَّسَعَ زَمَانُ بِرِّهِ إِذَا شَرَعَ فِي الْقَضَاءِ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ وَامْتَدَّ بِحَسْبِ الْوَاقِعِ مِنْ كَيْلِ هَذَا الْقَدْرِ حتى ربما اعتد أياما فإ أَخَّرَ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ فِي جَمْعِ مَا يَقْضِيهِ وَتَحْصِيلِهِ لِلْقَضَاءِ حَنِثَ وَلَوْ أَخَذَ فِي نَقْلِهِ إِلَيْهِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ نَقْلَهُ مَشْرُوعٌ فِي الْقَضَاءِ وَلَيْسَ جَمْعُهُ مَشْرُوعًا فِيهِ وَقَوْلُ الشافعيب رحمه الله في هذه المسألة فرأى يفي اللَّيْلَةِ الَّتِي يَهِلُّ فِيهَا الْهِلَالُ حَنِثَ يَعْنِي إِذَا لَمْ يَقْضِهِ فِيهَا فَإِنْ قَضَاهُ بَرَّ وَلَيْسَ رُؤْيَةُ الْهِلَالِ شَرْطًا وَإِنَّمَا دُخُولُ الشَّهْرِ بِأَوَّلِه جُزْءٍ مِنْ لَيْلَتِهِ هُوَ الزَّمَانُ الْمُعْتَبَرُ لِأَنَّ الْهِلَالَ رُبَّمَا غُمَّ بسحابٍ مَنَعَ مِنْ رُؤْيَتِهِ إِلَّا أَنْ يُغَمَّ فِي لَيْلَةِ شَكٍّ فَلَا يَكُونَ مِنَ الشَّهْرِ

Malik berkata, seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia menunaikan kewajibannya sebelum berlalu satu hari satu malam, dan ia menetapkan bahwa waktu pelaksanaan setelah munculnya hilal dihitung dengan satu hari satu malam. Sedangkan asy-Syafi‘i rahimahullah menganggapnya berdasarkan kemampuan (imkān), dan pendapat ini lebih benar, karena ukuran-ukuran waktu jika tidak diambil dari nash atau qiyās, maka menjadi batal karena adanya pertentangan. Jika telah tetap bahwa hal itu dihitung berdasarkan kemampuan, maka ia harus mulai menunaikan kewajibannya sejak awal bulan, sehingga hukum ucapannya pada awal bulan sama dengan pada awal bulan. Jika hak tersebut berupa sesuatu yang waktu pelaksanaannya tidak sama dengan beratnya, seperti emas atau perak, maka waktu pelaksanaan menjadi sempit karena memungkinkan untuk menimbangnya pada awal waktu setelah awal bulan. Jika ia menundanya setelah itu walau sebentar, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia mulai membawa hak tersebut kepadanya sejak awal bulan, sementara tempat tinggalnya jauh sehingga berlalu malam atau sebagian besarnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena hal itu dihitung berdasarkan kemampuan. Jika hak tersebut berupa sesuatu yang waktu pelaksanaannya panjang, seperti seratus karung gandum, maka waktu pelaksanaan menjadi luas jika ia mulai menunaikannya sejak awal bulan dan berlangsung sesuai kenyataan dalam menakar jumlah tersebut, sehingga bisa saja memakan waktu beberapa hari. Jika ia menunda pada awal bulan untuk mengumpulkan apa yang akan ditunaikan dan memperolehnya untuk pelaksanaan, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia mulai memindahkannya kepadanya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena pemindahan itu termasuk pelaksanaan, sedangkan mengumpulkannya tidak termasuk pelaksanaan. Adapun pendapat asy-Syafi‘i rahimahullah dalam masalah ini, beliau berpendapat bahwa pada malam munculnya hilal, ia dianggap melanggar sumpah, maksudnya jika tidak menunaikannya pada malam itu. Jika ia menunaikannya, maka ia telah menunaikan kewajiban. Melihat hilal bukanlah syarat, melainkan masuknya bulan dengan sebagian malamnya adalah waktu yang dihitung, karena hilal bisa saja tertutup awan sehingga tidak terlihat, kecuali jika tertutup pada malam yang diragukan, maka malam itu tidak termasuk dari bulan.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهَا فَهِيَ أَنْ يَحْلِفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حقه إلى رمضان فجعل رمضان غايةً واحداً لِأَنَّهُ عَلَّقَهُ بِحَرْفٍ وُضِعَ لِلْغَايَةِ وَالْحَرْفُ هُوَ إِلَى فَيَكُونُ زَمَانُ بِرِّهِ مِنْ وَقْتِ يَمِينِهِ إِلَى أَوَّلِ جُزْءٍ مِنْ لَيْلَةِ رَمَضَانَ كَمَا قَالَ تَعَالَى ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ فَكَانَ زَمَانُ الصِّيَامِ إِلَى أَوَّلِ جُزْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ اللَّيْلِ فَإِنْ لَمْ يَقْضِهِ حَقَّهُ حَتَّى دَخَلَ أَوَّلُ جُزْءٍ مِنْ لَيْلَةِ رَمَضَانَ حَنِثَ وَيَجِيءُ عَلَى مَذْهَبِ مَالِكٍ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ إِلَّا بِانْقِضَاءِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ مِنْهُ فَإِنْ شَرَعَ فِي قَضَاءِ الْحَقِّ قَبْلَ رَمَضَانَ وَكَمَّلَهُ فِي رَمَضَانَ لِطُولِ زَمَانِهِ بَرَّ لِأَنَّ الشُّرُوعَ فِي الْقَضَاءِ كَالْقَضَاءِ فَإِنْ أَخَّرَ الْقَضَاءَ فِي لَيْلَةِ شَكٍّ فِي دُخُولِ رَمَضَانَ ثُمَّ بَانَ أَنَّهَا مِنْ رَمَضَانَ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ كَالنَّاسِي وَالْمُكْرَهِ فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ بِقَوْلِي إِلَى رَمَضَانَ أَيْ فِي رَمَضَانَ دِينَ فِي الْبَاطِنِ لِاحْتِمَالِ مَا أَرَادَ لِأَنَّهَا حُرُوفٌ تُقَامُ بَعْضُهَا مَقَامَ بَعْضٍ كَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ أَيْ عَلَيْهَا فَأَمَّا فِي ظَاهِرِ الْحُكْمِ فَيَحْنَثُ إِذَا تَعَلَّقَ بِيَمِينِهِ حَقُّ آدَمِيٍّ مِنْ طَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ اعْتِبَارًا بِحَقِيقَةِ اللَّفْظِ دُونَ مَجَازِهِ فَإِنْ حَلَفَ لَأَقْضِيَنَّكَ حَقَّكَ عِنْدَ رَمَضَانَ لَمْ يَبَرَّ بِقَضَائِهِ قَبْلَ رَمَضَانَ لِأَنَّ كَلِمَةَ عِنْدَ مَوْضُوعَةٌ لِلْمُقَارَبَةِ فَإِذَا أَهَلَّ رَمَضَانُ احْتَمَلَ مَا يُعْتَبَرُ فِي بِرِّهِ وَجْهَيْنِ

Adapun masalah kedua yang telah disepakati adalah apabila seseorang bersumpah akan menunaikan hak orang lain kepadanya sebelum Ramadan, lalu ia menjadikan Ramadan sebagai batas akhir, karena ia mengaitkannya dengan huruf yang digunakan untuk menunjukkan batas, yaitu huruf “ilā” (hingga). Maka waktu pelaksanaan sumpahnya adalah sejak ia bersumpah hingga awal bagian malam Ramadan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” Maka waktu puasa adalah sampai awal bagian dari malam. Jika ia belum menunaikan haknya hingga masuk awal bagian malam Ramadan, maka ia dianggap melanggar sumpah. Menurut mazhab Mālik, ia tidak dianggap melanggar kecuali setelah berakhirnya satu hari dan satu malam dari Ramadan. Jika ia mulai menunaikan hak itu sebelum Ramadan dan menyelesaikannya di bulan Ramadan karena panjang waktunya, maka ia dianggap telah menunaikan sumpah, karena memulai pelaksanaan dianggap seperti telah melaksanakan. Jika ia menunda pelaksanaan pada malam yang diragukan masuknya Ramadan, lalu ternyata malam itu termasuk Ramadan, maka dalam hal pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat, seperti halnya orang yang lupa dan orang yang dipaksa. Jika ia berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku ‘hingga Ramadan’ adalah di dalam Ramadan,” maka secara batin itu adalah urusan agama antara dia dengan Allah, karena kemungkinan maksudnya demikian, sebab huruf-huruf itu kadang dapat saling menggantikan, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan sungguh akan aku salib kalian di batang kurma,” maksudnya di atasnya. Namun, dalam hukum lahiriah, ia dianggap melanggar sumpah jika sumpahnya berkaitan dengan hak manusia, seperti talak atau pembebasan budak, berdasarkan makna hakiki lafaz, bukan makna majaznya. Jika ia bersumpah, “Sungguh aku akan menunaikan hakmu di sisi Ramadan,” maka ia tidak dianggap menunaikan sumpah jika melakukannya sebelum Ramadan, karena kata “‘inda” (di sisi) digunakan untuk menunjukkan kedekatan waktu. Maka ketika Ramadan telah tiba, ada dua kemungkinan yang dipertimbangkan dalam penunaian sumpahnya.

أَحَدُهُمَا يُعْتَبَرُ بِإِمْكَانِ الْقَضَاءِ عِنْدَ دُخُولِهِ فَإِنْ أَخَّرَهُ حَنِثَ كَمَا لَوْ قَالَ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ

Salah satunya dipertimbangkan dengan kemungkinan pelaksanaan ketika waktu itu masuk; maka jika ia menundanya, ia berdosa, sebagaimana jika ia berkata: “pada awal bulan.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ جَمِيعُ الشَّهْرِ وَقْتًا لِلْبِرِّ لِأَنَّهُ لَمْ يُعَيِّنْ عَلَى جُزْءٍ مِنْهُ فَصَارَ حُكْمُ آخِرِهِ كَحُكْمِ أَوَّلِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa seluruh bulan merupakan waktu untuk berbuat kebajikan, karena tidak ditentukan pada bagian tertentu darinya, sehingga hukum pada akhirnya sama dengan hukum pada awalnya.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ الْمُخْتَلَفُ فِيهَا فَهُوَ أَنْ يَحْلِفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ أَوْ إِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ فَالَّذِي نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ فِيهَا عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ قَوْلِهِ إِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ وَبَيْنَ قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ فِي أَنَّهُ يَحْنَثُ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ لِيَكُونَ زمان البر فيها بين وقتي حنث بتقدم أَحَدِهِمَا عَلَى رَأْسِ الْهِلَالِ وَيتَأَخر الْآخَرِ عَنْهُ وَجَمَعَ الْمُزَنِيُّ بَيْنَ قَوْلِهِ إِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ وإلى رَمَضَانَ فِي أَنَّ زَمَانَ الْبِرِّ مِنْ وَقْتِ يَمِينِهِ وَإِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ كَمَا كَانَ فِي وَقْتِ يَمِينِهِ إِلَى رَمَضَانَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي ذَلِكَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun masalah ketiga yang diperselisihkan adalah apabila seseorang bersumpah akan melunasi hak orang lain pada saat awal bulan hilal atau sampai awal bulan hilal. Al-Muzani meriwayatkan dari Asy-Syafi‘i bahwa beliau menggabungkan antara ucapannya “sampai awal bulan hilal” dan “pada saat awal bulan hilal” dalam hal bahwa ia dianggap melanggar sumpah dengan terlihatnya hilal, sehingga waktu berlakunya sumpah itu berada di antara dua waktu pelanggaran, yaitu dengan mendahulukan salah satunya dari awal bulan hilal dan mengakhirkan yang lainnya darinya. Al-Muzani juga menggabungkan antara ucapannya “sampai awal bulan hilal” dan “sampai Ramadan” dalam hal bahwa waktu berlakunya sumpah adalah sejak ia bersumpah hingga awal bulan hilal, sebagaimana waktu sumpahnya dari saat ia bersumpah hingga Ramadan. Para sahabat kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ الصَّحِيحُ أَنَّ الْأَمْرَ عَلَى مَا قَالَهُ الْمُزَنِيُّ مِنَ اخْتِلَافِ الْحُكْمِ بَيْنَ قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ فِي أَنَّ وَقْتَ الْبِرِّ يَكُونُ مَعَ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ بَيْنَ زَمَانَيْ حِنْثٍ وَقَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ أَنَّ الْبِرَّ مِنْ وَقْتِ يَمِينِهِ وَإِلَى رُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَيَكُونُ رُؤْيَةُ الْهِلَالِ وَقْتًا لِحِنْثِهِ وَرُؤْيَتُهُ فِي قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ وَقْتًا لِبَرِّهِ لِأَنَّ لَفْظَةَ إِلَى مَوْضُوعَةٌ فِي اللُّغَةِ لِلْحَدِّ وَالْغَايَةِ وَلَفْظَةَ عِنْدَ مَوْضُوعَةٌ لِلْمُقَارَبَةِ فَاخْتَلَفَ حُكْمُهُمَا لِاخْتِلَافِ مَوْضُوعِهِمَا كَمَا اخْتَلَفَ حُكْمُ قَوْلِهِ إلى رمضان وعند رَمَضَانَ وَأَجَابَ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْوَجْهِ عَنْ جَمْعِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ جَوَابَهُ وَإِنْ كَانَ مَعْطُوفًا عَلَيْهِمَا فَهُوَ عَائِدٌ إِلَى قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى قَوْلِهِ إِلَى رَأْسِ الْهِلَالِ وَلِلشَّافِعِيِّ عَادَةٌ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ مَسْأَلَتَيْنِ يَعْطِفُ بِالْجَوَابِ عَلَيْهِمَا فَيُرِيدُ به إِحْدَاهُمَا اكْتِفَاءً بِمَا عُرِفَ مِنْ مَذْهَبِهِ فِي الْأُخْرَى وَلَمْ يَخْفَ عَلَيْهِ أَنَّ إِلَى وَ عِنْدَ مُخْتَلِفَا الْمَعْنَى فِي اللُّغَةِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَا مُخْتَلِفَيْنِ فِي الْحُكْمِ فِي الشَّرْعِ

Salah satu pendapat, dan inilah yang shahih, adalah bahwa permasalahan ini sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muzani, yaitu adanya perbedaan hukum antara ucapannya “‘inda ra’s al-hilāl” (saat awal bulan) bahwa waktu pelaksanaan nazar terjadi ketika melihat hilal, yang berada di antara dua waktu pelanggaran, dan ucapannya “‘inda ra’s al-hilāl” bahwa pelaksanaan nazar dimulai dari waktu sumpahnya hingga melihat hilal. Maka, melihat hilal menjadi waktu terjadinya pelanggaran, dan melihatnya menurut ucapannya “‘inda ra’s al-hilāl” menjadi waktu pelaksanaan nazar. Karena lafaz “ilā” dalam bahasa digunakan untuk batas dan tujuan akhir, sedangkan lafaz “‘inda” digunakan untuk kedekatan (dengan waktu tertentu), sehingga hukum keduanya berbeda karena perbedaan makna dasarnya, sebagaimana berbeda pula hukum ucapannya “ilā Ramadān” dan “‘inda Ramadān”. Orang yang berpendapat seperti ini menjawab penggabungan Imam Syafi‘i rahimahullah antara keduanya dengan mengatakan bahwa jawabannya, meskipun di-‘athaf-kan pada keduanya, namun kembali kepada ucapannya “‘inda ra’s al-hilāl” dan tidak kembali kepada ucapannya “ilā ra’s al-hilāl”. Dan memang kebiasaan Imam Syafi‘i adalah menggabungkan dua permasalahan lalu meng-‘athaf-kan jawaban pada keduanya, namun yang dimaksudkan hanya salah satunya, cukup dengan apa yang telah diketahui dari mazhab beliau pada permasalahan yang lain. Tidaklah samar bagi beliau bahwa “ilā” dan “‘inda” berbeda makna dalam bahasa, dan wajib pula keduanya berbeda hukum dalam syariat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّ جَمْعَ الشَّافِعِيِّ بَيْنَ عِنْدَ رَأْسِ الْهِلَالِ وإلى رَأْسِ الْهِلَالِ صحيحٌ وَأَنَّ كِلَيْهِمَا فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ واحدٌ وَأَنَّ رَأْسَ الْهِلَالِ وَقْتُ الْبِرِّ فِيهِمَا وَأَنَّ مَا قَبْلَهُ وَمَا بَعْدَهُ وَقْتُ الْحِنْثِ فِيهِمَا لِأَنَّ لَفْظَةَ إِلَى قَدْ تُسْتَعْمَلُ لِلْحَدِّ تَارَةً وَلِلْمُقَارَبَةِ تَارَةً كَمَا قَالَ تَعَالَى مَنْ أنْصَارِيَ إِلَى اللهِ أَيْ مَعَ اللَّهِ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ أَيْ مَعَ الْمَرَافِقِ فَلَمَّا احْتَمَلَ أَنْ تَكُونَ لِلْحَدِّ تَارَةً وَلِلْمُقَارَبَةِ أُخْرَى صَارَ الْحِنْثُ فِي جَعْلِهَا لِلْحَدِّ مَشْكُوكًا فِيهِ وَفِي جَعْلِهَا لِلْمُقَارَبَةِ مُتَيَقِّنًا فَحَنِثَ بِالْيَقِينِ دُونَ الشَّكِّ وَفَرَّقَ أَبُو إِسْحَاقَ وَمَنْ تَابَعَهُ بَيْنَ قَوْلِهِ إِلَى رَأْسِ الشَّهْرِ فَيَكُونُ لِلْمُقَارَبَةِ وَبَيْنَ قَوْلِهِ إِلَى رَمَضَانَ فَيَكُونُ لِلْحَدِّ بِأَنَّ رَأْسَ الشَّهْرِ مُعَيَّنٌ لِلْقَضَاءِ فَغَلَبَ حُكْمُ الْوَقْتِ عَلَى حُكْمِ اللَّفْظِ فَحُمِلَ علَى الْمُقَارَبَةِ وَرَمَضَانُ غَيْرُ مُعَيَّنٍ لِلْقَضَاءِ لِأَنَّهُ لَيْسَ جَمِيعُهُ وَقْتًا لَهُ فَغَلَبَ حُكْمُ اللَّفْظِ عَلَى حُكْمِ الْوَقْتِ فَحُمِلَ عَلَى الْحَدِّ

Pendapat kedua, yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa penggabungan Imam Syafi‘i antara “pada awal hilal” dan “sampai awal hilal” adalah sah, dan bahwa keduanya dalam hal penunaian nazar (al-birr) dan pelanggaran nazar (al-hinth) adalah sama. Awal hilal merupakan waktu penunaian nazar pada keduanya, sedangkan sebelum dan sesudahnya adalah waktu pelanggaran nazar pada keduanya. Hal ini karena kata “ilā” (sampai) kadang digunakan untuk batas (al-hadd) dan kadang untuk mendekati (al-muqārabah), sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Siapakah penolong-penolongku menuju Allah” (maksudnya: bersama Allah), dan “tangan-tangan kalian sampai siku” (maksudnya: bersama siku). Maka, ketika kata tersebut memungkinkan bermakna batas pada satu waktu dan bermakna mendekati pada waktu lain, maka pelanggaran nazar jika dimaknai sebagai batas menjadi syubhat, sedangkan jika dimaknai sebagai mendekati menjadi yakin. Maka, yang diambil adalah yang yakin, bukan yang syubhat. Abu Ishaq dan para pengikutnya membedakan antara ucapannya “sampai awal bulan” yang berarti mendekati, dan ucapannya “sampai Ramadan” yang berarti batas, karena awal bulan adalah waktu tertentu untuk qadha, sehingga hukum waktu lebih kuat dari hukum lafaz, maka dimaknai sebagai mendekati. Sedangkan Ramadan bukan waktu tertentu untuk qadha, karena tidak seluruh Ramadan adalah waktu untuk itu, sehingga hukum lafaz lebih kuat dari hukum waktu, maka dimaknai sebagai batas.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّ الشَّافِعِيَّ جَمَعَ بَيْنَ عِنْدَ وَ إِلَى فِي الْحِنْثِ وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا فِي الْبِرِّ فَإِذَا قَالَ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ لَمْ يَبَرَّ إِلَّا بِدَفْعِهِ مَعَ رَأْسِ الشَّهْرِ وَإِذَا قَالَ إِلَى رَأْسِ الشَّهْرِ بَرَّ بِدَفْعِهِ فِي وَقْتِهِ وَإِلَى عِنْدِ رَأْسِ الشَّهْرِ لِأَنَّ عِنْدَ لَمْ توضع إلا للمقاربة وإلى قد وصفت للمقاربة تارة وللحد آخر فَاجْتَمَعَ فِيهِمَا حُكْمُ الْمُقَارَبَةِ وَحُكْمُ الْحَدِّ فَوَجَبَ أن يتعلق بهما الحكمان معاً فصارا الأجل ذَلِكَ مُجْتَمِعَيْنِ فِي الْحِنْثِ إِنْ لَمْ يَقْضِهِ حَتَّى جَاءَ رَأْسُ الشَّهْرِ حَنِثَ وَمُفْتَرِقَيْنِ فِي الْبِرِّ إِنْ قَضَاهُ فِي قَوْلِهِ إِلَى رَأْسِ الشَّهْرِ قَبْلَ الشَّهْرِ بَرَّ وَإِنْ قَضَاهُ فِي قَوْلِهِ عِنْدَ رَأْسِ الشَّهْرِ قَبْلَ الشَّهْرِ لَمْ يبر والله أعلم

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa asy-Syafi‘i menggabungkan antara kata ‘inda dan ilā dalam hal pelanggaran sumpah (al-hinth), namun membedakan keduanya dalam hal pemenuhan sumpah (al-birr). Maka, jika seseorang berkata “‘inda ra’si asy-syahri” (pada awal bulan), ia tidak dianggap memenuhi sumpah kecuali dengan menyerahkan (apa yang dijanjikan) tepat pada awal bulan. Namun jika ia berkata “ilā ra’si asy-syahri” (hingga awal bulan), ia dianggap memenuhi sumpah dengan menyerahkan pada waktunya, yaitu hingga awal bulan. Karena kata ‘inda hanya digunakan untuk menunjukkan kedekatan waktu, sedangkan ilā kadang digunakan untuk kedekatan waktu dan kadang untuk batas waktu. Maka, pada keduanya terkumpul hukum kedekatan dan hukum batas waktu, sehingga keduanya harus mengandung kedua hukum tersebut. Oleh karena itu, keduanya berkumpul dalam hal pelanggaran sumpah: jika tidak ditunaikan hingga datang awal bulan, maka ia melanggar sumpah; dan berbeda dalam hal pemenuhan sumpah: jika ia menunaikannya pada ucapan “ilā ra’si asy-syahri” sebelum awal bulan, maka ia telah memenuhi sumpah; namun jika ia menunaikannya pada ucapan “‘inda ra’si asy-syahri” sebelum awal bulan, maka ia belum dianggap memenuhi sumpah. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ إِلَى حينٍ فَلَيْسَ بمعلومٍِ لِأَنَّهُ يَقَعُ عَلَى مُدَّةِ الدُّنْيَا ويومٍ وَالْفُتْيَا أَنْ يُقَالُ لَهُ الْوَرَعُ لَكَ أَنْ تَقْضِيَهُ قَبْلَ انْقِضَاءِ يومٍ لِأَنَّ الْحِينَ يَقَعُ عَلَيْهِ مِنْ حِينِ حَلَفْتَ وَلَا نُحَنِّثُكَ أَبَدًا لِأَنَّا لَا نَعْلَمُ لِلْحِينِ غَايَةً

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata “sampai waktu tertentu (ḥīn)”, maka itu tidak jelas, karena bisa mencakup sepanjang masa dunia dan satu hari. Fatwa yang diberikan adalah: “Bersikaplah wara‘, engkau boleh menunaikannya sebelum berakhirnya satu hari,” karena kata “ḥīn” berlaku sejak saat engkau bersumpah, dan kami tidak akan pernah menganggapmu melanggar sumpah, sebab kami tidak mengetahui batas akhir dari “ḥīn”.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْحِينُ من الزمان فجمعهم لَا حَدَّ لَهُ فِي الشَّرْعِ عِنْدَنَا وَحَدَّهُ أَبُو حَنِيفَةَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ وَحَدَّهُ مَالِكٌ بِسَنَةٍ فَإِذَا حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ إِلَى حِينٍ لَمْ يَحْنَثْ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِلَّا بِفَوَاتِ الْقَضَاءِ بِمَوْتِهِ أَوْ مَوْتِ صَاحِبِ الْحَقِّ

Al-Mawardi berkata, “Adapun ‘al-hīn’ (waktu tertentu) dari segi waktu, maka pengumpulannya tidak memiliki batasan dalam syariat menurut kami. Abu Hanifah membatasinya dengan enam bulan, sedangkan Malik membatasinya dengan satu tahun. Maka jika seseorang bersumpah akan menunaikan haknya sampai ‘hīn’, ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut mazhab Syafi‘i kecuali jika penunaian hak itu terlewatkan karena kematiannya atau kematian pemilik hak.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ قَضَاهُ فِي سِتَّةِ أَشْهُرِ بَرَّ وَإِنْ قَضَاهُ بَعْدَهَا حَنِثَ وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ قَضَاهُ إِلَى سَنَةٍ بَرَّ وَإِنْ قَضَاهُ بَعْدَهَا حَنِثَ وَاسْتِدْلَالُنَا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا فَقَدَّرَهُ أَبُو حَنِيفَةَ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ لِأَنَّهَا فِي النَّخْلِ مُدَّةُ حَمْلِهَا مِنْ أَوَّلِ طَلْعِهَا إِلَى آخر جذاؤها وَقَدَّرَهُ مَالِكٌ بِسَنَةٍ لِأَنَّهَا تَحْمِلُ مِنْ كُلِّ سنة فتكون من الإطلاع إلى الإطلاع ستة وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ الْحِينَ اسْمٌ مُبْهَمٌ يَنْطَلِقُ عَلَى قَلِيلِ الزَّمَانِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَأَرَادَ بِهِ أَقَلَّ مِنْ يَوْمٍ وَيَنْطَلِقُ عَلَى مُدَّةِ الدُّنْيَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حينٍ يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَنْطَلِقُ عَلَى مَا بَيْنَ الزَّمَانَيْنِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ يَعْنِي تِسْعَةَ أَشْهُرٍ هِيَ مُدَّةُ حَمْلِهِ وَقِيلَ هِيَ أَرْبَعُونَ سَنَةً إِشَارَةً إِلَى آدَمَ أَنَّهُ صُوِّرَ مِنْ حَمَأٍ مَسْنُونٍ وَطِينٍ لازبٍ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ الرُّوحُ بَعْدَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَإِذَا اخْتَلَفَ الْمُرَادُ بِهِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مُشْتَرَكٌ لَا يَخْتَصُّ بِزَمَانٍ دُونَ غَيْرِهِ وَيَنْطَلِقُ عَلَى قَلِيلِ الزَّمَانِ وَكَثِيرِهِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَقَضَاهُ قَبْلَ مَوْتِهِ وَلَوْ بِطَرْفَةِ عَيْنٍ بَرَّ فِي يَمِينِهِ لِأَنَّهُ قَضَاهُ فِي زَمَانٍ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْحِينِ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأُفْتِيهِ وَرَعًا أَنْ يَقْضِيَهُ فِي يَوْمِهِ وَأَنْ يُحَنِّثَ نَفْسَهُ إِنْ قَضَاهُ بَعْدَ انْقِضَائِهِ لِيُحْمَلَ عَلَى أَقَلِّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ وَإِنْ لَمْ يَلْزَمْ ذلك في الحكم

Abu Hanifah berkata: Jika dia menunaikannya dalam enam bulan, maka sumpahnya sah, dan jika dia menunaikannya setelah itu, maka dia melanggar sumpah. Malik berkata: Jika dia menunaikannya sampai satu tahun, maka sumpahnya sah, dan jika dia menunaikannya setelah itu, maka dia melanggar sumpah. Dalil kami tentang hal itu adalah firman Allah Ta‘ala: “yang memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.” Abu Hanifah menetapkan waktunya enam bulan karena pada pohon kurma, itu adalah masa kehamilannya dari awal munculnya hingga akhir panennya. Malik menetapkan waktunya satu tahun karena pohon kurma berbuah setiap tahun, sehingga dari satu kemunculan ke kemunculan berikutnya adalah enam bulan. Dalil kami adalah bahwa kata “ḥīn” (waktu) adalah nama yang samar, dapat digunakan untuk waktu yang singkat, seperti firman-Nya Ta‘ala: “Maka Maha Suci Allah ketika kamu berada di waktu sore dan ketika kamu berada di waktu pagi,” dan yang dimaksud adalah waktu kurang dari sehari. Kata itu juga dapat digunakan untuk masa dunia, seperti firman-Nya Ta‘ala: “Dan sungguh kamu akan mengetahui beritanya setelah suatu waktu,” maksudnya hari kiamat. Kata itu juga dapat digunakan untuk rentang antara dua masa, seperti firman-Nya Ta‘ala: “Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa,” maksudnya sembilan bulan, yaitu masa kehamilan, dan ada yang mengatakan empat puluh tahun, merujuk kepada Adam, bahwa ia dibentuk dari tanah liat hitam yang diberi bentuk dan tanah liat lengket, lalu ditiupkan ruh kepadanya setelah empat puluh tahun. Jika maksud dari kata itu berbeda-beda dalam konteks ini, maka itu menunjukkan bahwa kata tersebut bersifat umum dan tidak khusus pada satu masa tertentu, bisa digunakan untuk waktu yang singkat maupun lama. Jika demikian, dan dia menunaikannya sebelum wafatnya, meskipun hanya sekejap mata, maka sumpahnya sah karena dia telah menunaikannya dalam waktu yang masih disebut “ḥīn”. Asy-Syafi‘i ra. berkata: Aku berfatwa secara wara‘ agar dia menunaikannya pada hari itu juga dan agar dia menganggap dirinya melanggar sumpah jika menunaikannya setelah hari itu, supaya diambil dari makna paling sedikit yang disebutkan syariat, meskipun hal itu tidak wajib dalam hukum.

فصل

Bab

قال وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا إِذَا حَلَفَ لَا أُكَلِّمُ فُلَانًا إِلَّا بَعْدَ حِينٍ فَكَلَّمَهُ بَعْدَ سَاعَةٍ مِنْ يَمِينِهِ بَرَّ لِوُجُودِ الْكَلَامِ بَعْدَ زَمَانٍ يَنْطَلِقُ اسْمُ الْحِينِ عَلَيْهِ

Dan cabang dari masalah ini adalah, jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan berbicara dengan si Fulan kecuali setelah suatu waktu,” lalu ia berbicara dengannya satu jam setelah sumpahnya, maka ia dianggap menepati sumpahnya, karena pembicaraan itu terjadi setelah suatu masa yang dapat disebut sebagai “waktu” (ḥīn).

وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ لَا يَبَرُّ حَتَّى يُكَلِّمَهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ

Menurut Abu Hanifah, seseorang belum dianggap berbuat baik (birr) sampai ia berbicara dengannya setelah enam bulan.

وَعِنْدَ مَالِكٍ لَا يَبَرُّ حَتَّى يُكَلِّمَهُ بَعْدَ سَنَةٍ عَلَى حَسَبِ اخْتِلَافِهِمْ فِي مُدَّةِ الْحِينِ وَالْفَرْقُ بَيْنَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَالَّتِي تَقَدَّمَتْ أَنَّ هَذِهِ نَفْيٌ وَتِلْكَ إِثْبَاتٌ فَإِذَا وُجِدَ الْفِعْلُ فِي النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ فِي زَمَانٍ يَنْطَلِقُ اسْمُ الْحِينِ عَلَيْهِ بَرَّ وَقَلِيلُ الزَّمَانِ حِينٌ فَبَرَّ في النفي وكثيره حين فبر الإثبات والله أعلم

Menurut Malik, seseorang belum dianggap berbakti sampai ia berbicara dengannya setelah satu tahun, sesuai dengan perbedaan pendapat mereka tentang lamanya waktu yang disebut “ḥīn”. Perbedaan antara masalah ini dan yang telah disebutkan sebelumnya adalah bahwa yang ini berupa penafian, sedangkan yang sebelumnya berupa penetapan. Maka, apabila perbuatan itu terjadi baik dalam penafian maupun penetapan dalam suatu waktu yang dapat disebut “ḥīn”, maka ia dianggap berbakti. Waktu yang sedikit pun disebut “ḥīn”, sehingga dalam penafian ia dianggap berbakti, sedangkan waktu yang banyak juga disebut “ḥīn”, sehingga dalam penetapan ia dianggap berbakti. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وكذلك زمانٌ ودهرٌ وأحقابٌ وكل كلمةٍ مفردةٍ ليس لها ظاهرٌ يدل عليها

Imam Syafi‘i berkata: Demikian pula kata zaman, dahr, ahqāb, dan setiap kata tunggal yang tidak memiliki makna lahiriah yang menunjukkan padanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ بَعْدَ زَمَانٍ أَوْ بَعْدَ دهرٍ أَوْ بَعْدَ أَحْقَابٍ بَرَّ إِذَا قَضَاهُ بَعْدَ قَلِيلِ الزَّمَانِ وَكَثِيرِهِ كَالْحِينِ لِأَنَّهَا أَسْمَاءٌ مُبْهَمَةٌ يَنْطَلِقُ عَلَى مَا قَلَّ وَكَثُرَ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar apabila seseorang bersumpah akan membayar haknya setelah suatu masa, atau setelah waktu yang lama, atau setelah beberapa kurun waktu, maka ia dianggap menepati sumpahnya jika ia membayarnya setelah waktu yang sedikit maupun banyak, seperti kata ‘suatu saat’, karena itu adalah nama-nama yang samar yang dapat mencakup waktu yang singkat maupun yang panjang.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ أَقَلُّ الزَّمَانِ سِتَّةُ أَشْهُرٍ وَأَقَلُّ الْحِقَبِ ثَمَانُونَ سَنَةً وَقَالَ مَالِكٌ أَقَلُّهُ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَلَيْسَ لِهَذَا التَّحْدِيدِ وَجْهٌ لِعَدَمِ النَّصِّ فِيهِ وَالْقِيَاسِ وَهُوَ فِي الْجُمْلَةِ عِبَارَةٌ عَنْ زَمَانٍ غَيْرِ مَحْدُودٍ وَقَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَلَوْ حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ قَرِيبًا أَوْ بَعِيدًا فَإِنَّهُ غَيْرُ مَحْدُودٍ فَجَازَ أَنْ يَقْضِيَهُ فِي قَلِيلِ الزَّمَانِ وَكَثِيرِهِ وَكَذَلِكَ قَرِيبُ الزَّمَانِ وَبِعِيدُهُ

Abu Hanifah berpendapat bahwa waktu paling sedikit adalah enam bulan, dan masa paling sedikit adalah delapan puluh tahun. Malik berpendapat bahwa paling sedikit adalah empat puluh tahun. Namun, penentuan seperti ini tidak memiliki dasar karena tidak ada nash maupun qiyās yang mendukungnya. Secara umum, istilah ini merupakan ungkapan untuk waktu yang tidak terbatas. Ahli bahasa mengatakan, jika seseorang bersumpah akan menunaikan haknya dalam waktu dekat atau jauh, maka itu tidak terbatas; sehingga boleh saja ia menunaikannya dalam waktu yang singkat maupun lama, demikian pula waktu yang dekat maupun jauh.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ فِي الْقَرِيبِ إِنَّهُ أَقَلُّ مِنْ شَهْرٍ وَفِي الْبَعِيدِ إِنَّهُ أَكْثَرُ مِنْ شَهْرٍ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ قَرِيبًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا هُوَ أَبْعَدُ وَيَكُونُ بَعِيدًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا هُوَ أَقْرَبُ فَصَارَ كَقَوْلِهِ لَهُ عَلَيَّ مَالٌ كَثِيرٌ أَوْ قَلِيلٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Abu Hanifah berkata bahwa yang dimaksud dengan “jarak dekat” adalah kurang dari satu bulan, dan “jarak jauh” adalah lebih dari satu bulan. Namun, pendapat ini tidaklah benar, karena bisa saja sesuatu dianggap dekat jika dibandingkan dengan yang lebih jauh, dan dianggap jauh jika dibandingkan dengan yang lebih dekat. Maka hal ini menjadi seperti ucapannya, “Ia memiliki banyak atau sedikit harta atas saya.” Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي ولو حلف لا يشتري فأمر غيره أَوْ لَا يُطَلِّقُ فَجَعَلَ طَلَاقَهَا إِلَيْهَا فَطلقت أَوْ لَا يَضْرِبُ عَبْدَهُ فَأَمَرَ غَيْرَهُ فَضَرَبَهُ لَا يَحْنَثُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ نَوَى ذَلِكَ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan membeli, lalu ia memerintahkan orang lain (untuk membeli); atau bersumpah tidak akan menceraikan, lalu ia menyerahkan urusan talaknya kepada istrinya, kemudian istrinya menceraikan dirinya; atau bersumpah tidak akan memukul budaknya, lalu ia memerintahkan orang lain, kemudian orang itu memukul budaknya—maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika ia memang meniatkan hal tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ مَنْ حَلَفَ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا فَأَمَرَ غَيْرَهُ حَتَّى فَعَلَهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan seseorang yang bersumpah tidak akan melakukan suatu perbuatan, lalu ia memerintahkan orang lain hingga orang itu melakukannya, tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَنْوِيَ لَا يَفْعَلُهُ بِنَفْسِهِ فَلَا يحنث إذا أمر غيره بفعله لا يختلف المذهب فيه اعتباراً بنيته سَوَاءٌ جَلَّ قَدْرُ الْحَالِفِ أَوْ قَلَّ

Salah satunya adalah jika seseorang berniat untuk tidak melakukannya sendiri, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah apabila ia memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab mengenai hal ini, karena yang menjadi pertimbangan adalah niatnya, baik kedudukan orang yang bersumpah itu tinggi maupun rendah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَنْوِيَ أَنَّهُ لَا كَانَ مِنْهُ مَا يَقْتَضِي ذَلِكَ الْفِعْلَ وَلَا كَانَ بَاعِثًا عَلَيْهِ فَيَحْنَثُ إِذَا أَمَرَ غَيْرَهُ بِفِعْلِهِ كَمَا يَحْنَثُ إِذَا فَعَلَهُ بِنَفْسِهِ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ بَاعِثًا عَلَيْهِ سَوَاءٌ جَلَّ قَدْرُ الْحَالِفِ أَوْ قَلَّ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang berniat bahwa tidak ada sesuatu pun darinya yang menuntut perbuatan tersebut, dan tidak ada dorongan darinya untuk melakukan perbuatan itu. Maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia memerintahkan orang lain untuk melakukannya, sebagaimana ia melanggar sumpah jika ia melakukannya sendiri, karena ia telah menjadi pendorong atas perbuatan itu, baik kedudukan orang yang bersumpah itu tinggi maupun rendah.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَكُونَ يَمِينُهُ مُطْلَقَةً لَمْ تَقْتَرِنْ بِهَا نِيَّةٌ فَيَنْقَسِمُ ذَلِكَ الْفِعْلُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ ثَلَاثَةَ أقسامٍ

Keadaan ketiga adalah apabila sumpahnya bersifat mutlak tanpa disertai niat, maka perbuatan yang dijadikan objek sumpah itu terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْعُرْفُ فِي فِعْلِهِ جَارِيًا بِالْأَمْرِ دُونَ الْمُبَاشَرَةِ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا احْتَجَمْتُ وَلَا افْتَصَدْتُ وَلَا حَلَقْتُ رَأْسِي وَلَا بَنَيْتُ دَارِي فَإِذَا أَمَرَ غَيْرَهُ بِالْحِجَامَةِ وَفَصَدَهُ وَحَلَقَ رأسه وبناء دَارَهُ حَنِثَ سَوَاءٌ جَلَّ قَدْرُ الْحَالِفِ أَوْ قَلَّ لِأَنَّهُ لَمْ يَجْرِ فِي الْعُرْفِ مِنْ قَلِيلٍ أَوْ جَلِيلٍ أَنْ يُبَاشِرَ فِعْلَهَا فِي نَفْسِهِ إِلَّا بِأَمْرِهِ فَصَارَ الْعُرْفُ فِيهِ شَرْطًا يَصْرِفُ حَقِيقَةَ الْفِعْلِ إِلَى مَجَازِهِ فَيَصِيرُ اعْتِبَارُ الْمَجَازِ إِذَا اقْتَرَنَ بِالْعُرْفِ أَوْلَى مِنَ اعْتِبَارِ الْحَقِيقَةِ إِذَا فَارَقَ الْعُرْفَ لِأَنَّ الْعُرْفَ ناقلٌ

Salah satunya adalah apabila dalam kebiasaan, perbuatan tersebut dilakukan dengan memerintah, bukan dengan melakukannya sendiri oleh semua orang, seperti ucapannya: “Demi Allah, aku tidak pernah berbekam, tidak pernah berbekam darah, tidak pernah mencukur kepalaku, dan tidak pernah membangun rumahku.” Maka jika ia memerintahkan orang lain untuk melakukan bekam, berbekam darah, mencukur kepalanya, atau membangun rumahnya, maka ia dianggap melanggar sumpah, baik ia orang yang terpandang maupun orang biasa. Sebab, dalam kebiasaan, baik sedikit maupun banyak, tidaklah seseorang melakukan perbuatan itu sendiri kecuali dengan memerintahkannya. Maka kebiasaan di sini menjadi syarat yang mengalihkan makna hakiki perbuatan kepada makna majazinya. Oleh karena itu, mempertimbangkan makna majazi ketika disertai kebiasaan lebih utama daripada mempertimbangkan makna hakiki ketika terpisah dari kebiasaan, karena kebiasaan adalah faktor yang mengalihkan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْعُرْفُ فِي فِعْلِهِ جَارِيًا بِمُبَاشَرَتِهِ دُونَ أَمْرِهِ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا كَتَبْتُ وَلَا قَرَأْتُ وَلَا حَجَجْتُ وَلَا اعْتَمَرْتُ فَإِذَا أَمَرَ غَيْرَهُ بِالْكِتَابَةِ وَالْقِرَاءَةِ وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ لَمْ يَحْنَثْ سَوَاءٌ جَلَّ قَدْرُ الْحَالِفِ أَوْ قَلَّ لِأَنَّ الْعُرْفَ جارٍ بَيْنَ النَّاسِ بِمُبَاشَرَةِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ قَلِيلٍ وَجَلِيلٍ فَصَارَ الْعُرْفُ مُقْتَرِنًا بِالْحَقِيقَةِ دُونَ الْمَجَازِ فَخَرَجَ مَجَازُهُ عَنْ حُكْمِهِ

Bagian kedua adalah apabila ‘urf dalam pelaksanaannya berlaku dengan langsung dikerjakan sendiri, tanpa memerintahkan orang lain, menurut kebiasaan semua orang. Seperti ucapannya, “Demi Allah, aku tidak menulis, tidak membaca, tidak berhaji, dan tidak berumrah.” Maka jika ia memerintahkan orang lain untuk menulis, membaca, berhaji, atau berumrah, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, baik kedudukan orang yang bersumpah itu tinggi maupun rendah, karena ‘urf yang berlaku di tengah masyarakat adalah bahwa hal-hal tersebut dilakukan secara langsung oleh setiap orang, baik yang sedikit maupun yang besar. Maka ‘urf di sini bersatu dengan makna hakiki, bukan makna majazi, sehingga makna majazi keluar dari ketentuan hukumnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الْعُرْفُ مُخْتَلِفًا فِي مُبَاشَرَةِ فِعْلِهِ فَيُبَاشِرُهُ مَنْ دَنَا وَلَا يُبَاشِرُهُ مَنْ عَلَا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian ketiga adalah apabila ‘urf berbeda dalam pelaksanaan suatu perbuatan, sehingga perbuatan itu dilakukan oleh orang yang statusnya lebih rendah dan tidak dilakukan oleh orang yang statusnya lebih tinggi; maka dalam hal ini terdapat dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَقْتَرِنَ بِعُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ فِي الِاخْتِلَافِ بَيْنَهُمَا عُرْفُ الشَّرْعِ وَهُوَ إِقَامَةُ الْحُدُودِ الَّتِي لَا يُقِيمُهَا فِي الشَّرْعِ وَالْعُرْفِ إِلَّا أُولُو الْأَمْرِ مِنْ ذِي وِلَايَةٍ وَسُلْطَانٍ فَيَحْنَثُ الْآمِرُ بِهَا إِنْ كَانَ مِنْ أُولِي الْأَمْرِ وَإِنْ لَمْ يُبَاشِرْهَا كَمَا قِيلَ جَلَدَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ زَانِيًا وَرَجَمَ مَاعِزًا وَقَطَعَ سَارِقًا وَلَا يَحْنَثُ بِهَا غَيْرُ أُولِي الْأَمْرِ حَتَّى يُبَاشِرَهَا بِفِعْلِهِ لأنه غير نافذ الأسر فِيهِمَا

Salah satunya adalah apabila terkait dengan kebiasaan penggunaan dalam perbedaan antara keduanya adalah ‘urf syar‘i, yaitu pelaksanaan hudud yang dalam syariat dan kebiasaan tidak dapat ditegakkan kecuali oleh para pemegang otoritas dari kalangan yang memiliki kekuasaan dan wewenang. Maka, orang yang memerintahkan pelaksanaan hudud tersebut akan dianggap melanggar sumpah jika ia termasuk pemegang otoritas, meskipun ia tidak melakukannya secara langsung, sebagaimana dikatakan bahwa Nabi ﷺ pernah mencambuk seorang pezina, merajam Ma‘iz, dan memotong tangan pencuri. Namun, selain pemegang otoritas tidak dianggap melanggar sumpah dengan hal itu sampai ia melakukannya sendiri, karena ia tidak memiliki kekuasaan yang berlaku dalam hal tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَنْفَرِدَ الِاخْتِلَافُ بَيْنَهُمَا بِعُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ دُونَ عُرْفِ الشَّرْعِ فَيُبَاشِرُهُ مَنْ دَنَا وَلَا يُبَاشِرُهُ مَنْ عَلَا تَنَزُّهًا وَتَصَوُّنًا كَعُقُودِ الْبُيُوعِ وَالْأَشْرِبَةِ وَتَأْدِيبِ الْعَبِيدِ وَالْخَدَمِ فَيَنْقَسِمُ حَالُ الْحَالِفِ وَالْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Jenis kedua adalah apabila perbedaan antara keduanya hanya terdapat pada ‘urf penggunaan, bukan pada ‘urf syariat. Maka, hal itu dilakukan oleh orang yang derajatnya lebih rendah dan tidak dilakukan oleh orang yang derajatnya lebih tinggi sebagai bentuk menjaga kehormatan dan kesucian, seperti dalam akad jual beli, minuman, serta mendidik budak dan pelayan. Maka, keadaan orang yang bersumpah dan objek sumpahnya terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ عُرْفُ الْحَالِفِ جَارِيًا بِمُبَاشَرَتِهِ كرجلٍ مِنْ عَوَامِّ السُّوقَةِ حَلَفَ لَا بَاعَ وَلَا اشْتَرَى وَلَا تَزَوَّجَ وَلَا طَلَّقَ وَلَا ضَرَبَ عَبْدًا وَلَا أَدَّبَ خَادِمًا فَإِذَا أَمَرَ غَيْرَهُ بِأَنْ بَاعَ لَهُ وَاشْتَرَى وَزَوَّجَهُ وَطَلَّقَ عَنْهُ وَضَرَبَ عَبْدَهُ وَأَدَّبَ خَادِمَهُ لَمْ يَحْنَثْ فِي هَذَا كُلِّهِ وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ فِي هَذَا كُلِّهِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ هَذَا الْعَقْدُ مِمَّا إِذَا بَاشَرَهُ الْوَكِيلُ أَضَافَهُ إِلَى نَفْسِهِ كَالشِّرَى يَقُولُ اشْتَرَيْتُ هَذِهِ الدَّارَ لِمُوَكِّلِي لَمْ يَحْنَثِ الْمُوَكِّلُ وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يُضِيفُهُ إِلَى نَفْسِهِ كَالنِّكَاحِ يَقُولُ قَبِلْتُ هَذَا النِّكَاحَ لِمُوَكِّلِي وَلَا يَقُولُ نَكَحْتُ لِمُوَكِّلِي كَمَا يَقُولُ اشْتَرَيْتُ لِمُوَكِّلِي حَنِثَ الْمُوَكِّلُ وَكِلَا الْمَذْهَبَيْنِ مدخولٌ وَالصَّحِيحُ أَنَّ جَمِيعَهَا سَوَاءٌ فِي أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ الْآمِرُ بِهَا وَالْمُوَكِّلُ فِيهَا إِذَا كَانَ الْعُرْفُ بِمُبَاشَرَتِهِ لَهَا جَارِيًا لِأَنَّ الْأَيْمَانَ تُحْمَلُ عَلَى حَقَائِقِ الْأَسْمَاءِ وَالْأَفْعَالِ مَا لَمْ يَنْقُلْهَا عُرْفُ الْحَقِيقَةِ فِي هَذِهِ الْأَفْعَالِ بِمُبَاشَرَتِهَا وَالْعُرْفُ مُقْتَرِنٌ بِهَا فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْدِلَ فِي الْأَمْرِ بِهَا عَنِ الْحَقِيقَةِ وَالْعُرْفِ إِلَى مَجَازٍ تَجَرَّدَ عَنِ الْعُرْفِ فَعَلَى هَذَا لَوْ حَلَفَ عَلَى امْرَأَتِهِ أَنَّهُ لَا يُطَلِّقُهَا فَرَدَّ إِلَيْهَا الطَّلَاقَ فَطَلَّقَتْ نَفْسَهَا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ مُطَلِّقًا وَإِنَّمَا يَكُونُ مُخَيِّرًا فِي الطَّلَاقِ وَلَوْ قَالَ لَهَا إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَدَخَلَتْهَا طُلِّقَتْ وَحَنِثَ لِأَنَّهُ مُطَلِّقٌ لَهَا عَلَى صفةٍ وَقَعَتْ مِنْهَا فَلِذَلِكَ افْتَرَقَا

Salah satunya adalah apabila ‘urf (kebiasaan) orang yang bersumpah berlaku dengan langsung melakukannya, seperti seorang laki-laki dari kalangan awam pasar bersumpah bahwa ia tidak menjual, tidak membeli, tidak menikah, tidak menceraikan, tidak memukul budak, dan tidak mendidik pelayan. Maka jika ia memerintahkan orang lain untuk menjualkan, membelikan, menikahkan, menceraikan, memukul budaknya, dan mendidik pelayannya, ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam semua hal itu. Malik berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah dalam semua hal itu. Abu Hanifah berpendapat, jika akad tersebut termasuk yang apabila dilakukan oleh wakil maka ia nisbatkan kepada dirinya sendiri, seperti jual beli, di mana ia berkata, “Aku membeli rumah ini untuk tuanku,” maka muwakkil (orang yang mewakilkan) tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika termasuk akad yang tidak dinisbatkan kepada dirinya sendiri, seperti nikah, di mana ia berkata, “Aku menerima nikah ini untuk tuanku,” dan tidak berkata, “Aku menikah untuk tuanku,” sebagaimana ia berkata, “Aku membeli untuk tuanku,” maka muwakkil dianggap melanggar sumpah. Kedua pendapat ini tercampur, dan yang benar adalah bahwa semuanya sama, yaitu bahwa orang yang memerintahkan dan yang mewakilkan tidak dianggap melanggar sumpah jika ‘urf berlaku bahwa pelaksanaan perbuatan itu dilakukan langsung olehnya, karena sumpah-sumpah itu dibawa kepada makna hakiki nama dan perbuatan, selama tidak dipindahkan oleh ‘urf hakiki dalam perbuatan-perbuatan tersebut dengan pelaksanaannya, dan ‘urf berkaitan dengannya. Maka tidak boleh berpaling dalam perkara ini dari makna hakiki dan ‘urf kepada makna majazi yang terlepas dari ‘urf. Berdasarkan hal ini, jika seseorang bersumpah kepada istrinya bahwa ia tidak akan menceraikannya, lalu ia mengembalikan hak talak kepadanya dan istrinya menceraikan dirinya sendiri, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia bukanlah yang menceraikan, melainkan hanya memberikan pilihan talak. Namun jika ia berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu tertalak,” lalu istrinya masuk, maka istrinya tertalak dan ia dianggap melanggar sumpah, karena ia menceraikan istrinya dengan suatu syarat yang terjadi darinya. Oleh karena itu, keduanya berbeda.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عُرْفُ الْحَالِفِ جَارِيًا بِالِاسْتِنَابَةِ دُونَ مُبَاشَرَتِهِ وَإِنْ بَاشَرَهُ اسْتَنْكَرَتْهُ النُّفُوسُ مِنْهُ كَالسُّلْطَانِ أَوْ مَنْ قاربه في رتبته إذا حلف ولا بَاعَ وَلَا اشْتَرَى وَلَا ضَرَبَ عَبْدًا وَلَا أَدَّبَ خَادِمًا فَإِذَا وَكَّلَ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَأَمَرَ بِضَرْبِ عَبْدِهِ وَبِأَدَبِ خَادِمِهِ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Bagian kedua adalah apabila ‘urf orang yang bersumpah itu berlaku dengan mewakilkan (tindakan) tanpa melakukannya secara langsung, dan jika ia melakukannya sendiri, hal itu dianggap aneh oleh orang-orang, seperti seorang sultan atau orang yang setara dengannya dalam kedudukan, apabila ia bersumpah tidak akan berjual beli, tidak akan memukul budak, dan tidak akan mendidik pelayan. Maka jika ia mewakilkan dalam jual beli, memerintahkan pemukulan budaknya, dan memerintahkan pendidikan pelayannya, maka dalam hal batalnya sumpahnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَفَرَّدَ الرَّبِيعُ بِنَقْلِهِ وَتَفَرَّدَ بِهِ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ لِأَنَّ الْعُرْفَ قَدْ صَارَ مُقْتَرِنًا بِالْمَجَازِ دُونَ الْحَقِيقَةِ وَالْعُرْفُ نَاقِلٌ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا أَكَلْتُ رُؤوسًا لَمْ يَحْنَثْ بِرُؤُوسِ الطَّيْرِ وَالْجَرَادِ وَإِنْ وُجِدَ حَقِيقَةُ الِاسْمِ فِيهَا لِأَنَّ الْعُرْفَ لَمَّا اخْتَصَّ بِرُؤُوسِ الْغَنَمِ نَقَلَ عَمَّا عَدَاهَا حَقِيقَةَ الِاسْمِ

Salah satunya adalah riwayat yang diriwayatkan secara tunggal oleh ar-Rabi‘, dan juga diriwayatkan secara tunggal oleh sebagian sahabat asy-Syafi‘i, bahwa ia dianggap melanggar sumpah berdasarkan ‘urf, karena ‘urf telah menjadi terkait dengan makna majazi (kiasan), bukan makna hakiki. ‘Urf dapat menjadi pemindah makna, sebagaimana jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan makan kepala,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan kepala burung atau belalang, meskipun secara hakikat nama “kepala” ada pada keduanya, karena ‘urf ketika telah khusus pada kepala kambing, maka ia telah memindahkan hakikat nama itu dari selainnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْأَظْهَرُ وَمَا عَلَيْهِ الْأَكْثَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ لِأَنَّ الْحَقِيقَةَ فِيهَا الْمُبَاشَرَةُ لَهَا دُونَ الْأَمْرِ بِهَا وَالْحَقِيقَةُ لَا تُنْقَلُ إِلَّا بِعُرْفٍ عَامٍّ كَمَا قِيلَ فِي الرُّؤوسِ وَهَذَا عُرْفٌ خَاصٌّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْتَقِلَ بِهِ الْحَقِيقَةُ كَمَا لَوْ حَلَفَ سُلْطَانٌ لَا أَكَلْتُ خُبْزًا وَلَا لَبِسْتُ ثَوْبًا فَأَكَلَ خُبْزَ الذُّرَةِ وَلَبِسَ عَبَاءَةً حنث وإن لم تجز عَادَتُهُ بِأَكْلِ الذُّرَةِ وَلُبْسِ الْعَبَاءَةِ لِأَنَّهُ عُرْفٌ خاصٌ وَلَيْسَ بِعَامٍّ فَلِذَلِكَ سَاوَى فِيهِ عُرْفَ الْعُمُومِ فَكَذَلِكَ فِي هَذِهِ الْعُقُودِ

Pendapat kedua, yang lebih kuat dan dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan kami, adalah bahwa sumpahnya tidak batal, karena hakikatnya adalah melakukan langsung perbuatan itu, bukan memerintahkannya. Hakikat tersebut tidak dapat dialihkan kecuali dengan ‘urf (kebiasaan) umum, sebagaimana yang dikatakan dalam masalah kepala, sedangkan ini adalah ‘urf khusus, sehingga tidak boleh hakikat itu dialihkan dengannya. Sebagaimana jika seorang sultan bersumpah, “Aku tidak akan makan roti dan tidak akan memakai pakaian,” lalu ia makan roti jagung dan memakai abaya, maka sumpahnya batal meskipun kebiasaannya adalah makan jagung dan memakai abaya, karena itu adalah ‘urf khusus dan bukan ‘urf umum. Oleh karena itu, ia disamakan dengan ‘urf umum, demikian pula dalam akad-akad ini.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ عُرْفُ الْحَالِفِ جَارِيًا بِالِاسْتِنَابَةِ فِيهِ لَكِنْ إِنْ بَاشَرَهُ لَمْ تَسْتَنْكِرْهُ النُّفُوسُ مِنْهُ وَلَا تَسْتَقْبِحْهُ كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ لَا يُسْتَقْبَحُ مِنَ السُّلْطَانِ أَنْ يُبَاشِرَهُ بِنَفْسِهِ فَإِذَا حَلَفَ سُلْطَانٌ لَا نَكَحَ وَلَا طَلَّقَ وَلَا أَعْتَقَ فوكل في النِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يعتبر حكم عرفه أو يعتبر ما تَسْتَنْكِرُهُ النُّفُوسُ مِنْ فِعْلِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Bagian ketiga adalah apabila kebiasaan orang yang bersumpah berlaku dengan mewakilkan dalam perkara tersebut, namun jika ia melakukannya sendiri, jiwa-jiwa tidak mengingkarinya dan tidak menganggapnya buruk, seperti dalam hal nikah, talak, dan ‘itāq (pembebasan budak), di mana tidak dianggap buruk jika seorang penguasa melakukannya sendiri. Maka jika seorang penguasa bersumpah bahwa ia tidak menikah, tidak mentalak, dan tidak membebaskan budak, lalu ia mewakilkan dalam urusan nikah, talak, dan ‘itāq, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah yang dijadikan acuan adalah hukum kebiasaannya, ataukah yang dijadikan acuan adalah apa yang diingkari jiwa dari perbuatannya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَبَرُ حُكْمُ عُرْفِهِ لِأَنَّهُ أَخَصُّ بِهِ فَعَلَى هَذَا فِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Salah satunya, hukum ‘urf-nya dianggap karena lebih khusus baginya. Berdasarkan hal ini, dalam masalah pelanggarannya terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُعْتَبَرُ مَا لَا تَسْتَنْكِرُهُ النُّفُوسُ مِنْ فِعْلِهِ لِأَنَّهُ أَعَمُّ فَعَلَى هَذَا لَا يَحْنَثُ قَوْلًا وَاحِدًا والله أعلم

Pendapat kedua adalah memperhitungkan apa yang tidak diingkari oleh jiwa dari perbuatannya, karena ini lebih umum. Dengan demikian, menurut pendapat ini, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut satu pendapat, dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَمَنْ حَلَفَ لَا يَفْعَلُ فِعْلَيْنِ أَوْ لَا يَكُونُ أَمْرَانِ لَمْ يَحْنَثْ حَتَى يَكُونَا جَمِيعًا وحتى يأكل كل الذي حلف أن لا يأكله

Syafi‘i berkata: Barang siapa bersumpah tidak akan melakukan dua perbuatan atau tidak akan terjadi dua perkara, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya hingga kedua-duanya terjadi, dan hingga ia memakan seluruh sesuatu yang ia bersumpah tidak akan memakannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ عَقْدُ الْيَمِينِ عَلَى فِعْلَيْنِ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata, “Mengikat sumpah atas dua perbuatan itu ada dua macam.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يَعْقِدَ عَلَى إِثْبَاتِهِمَا

Salah satunya adalah menetapkan keduanya.

وَالثَّانِي أَنْ يَعْقِدَ عَلَى نَفْيِهِمَا

Dan yang kedua adalah mengadakan akad atas dasar meniadakan keduanya.

فَإِنْ كَانَتْ مَعْقُودَةً عَلَى إِثْبَاتِهِمَا كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَآكُلَنَّ هَذَيْنِ الرَّغِيفَيْنِ وَلَأَلْبَسَنَّ هَذَيْنِ الثَّوْبَيْنِ وَلِأَرْكَبَنَّ هَاتَيْنِ الدَّابَّتَيْنِ فَلَا خِلَافَ بَيْنِ الْقَضَاءِ أَنَّهُ لَا يَبَرُّ إِلَّا بِفِعْلِهِمَا فَيَأْكُلُ الرَّغِيفَيْنِ وَيَلْبَسُ الثَّوْبَيْنِ وَيَرْكَبُ الدَّابَّتَيْنِ فَإِنْ أكل إحدى الرَّغِيفَيْنِ وَلَبِسَ أَحَدَ الثَّوْبَيْنِ وَرَكِبَ إِحْدَى الدَّابَّتَيْنِ لَمْ يَبَرَّ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ مَعْقُودَةً عَلَى نَفْيٍ فَقَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ هَذَيْنِ الرَّغِيفَيْنِ وَلَا لَبِسْتُ هَذَيْنِ الثَّوْبَيْنِ وَلَا رَكِبْتُ هَاتَيْنِ الدَّابَّتَيْنِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ إِلَّا بِهِمَا كَمَا لَا يَبَرُّ إِلَّا بِهِمَا فَإِنْ أَكَلَ أَحَدَ الرَّغِيفَيْنِ وَلَبِسَ أَحَدَ الثَّوْبَيْنِ وَرَكِبَ إِحْدَى الدَّابَّتَيْنِ لَمْ يَحْنَثْ

Jika sumpah itu diucapkan untuk menegaskan kedua hal tersebut, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku benar-benar akan memakan dua roti ini, benar-benar akan memakai dua pakaian ini, dan benar-benar akan menunggangi dua hewan tunggangan ini,” maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli hukum bahwa ia tidak dianggap menepati sumpah kecuali dengan melakukan kedua hal itu; yaitu ia harus memakan kedua roti, memakai kedua pakaian, dan menunggangi kedua hewan tunggangan. Jika ia hanya memakan salah satu dari dua roti, memakai salah satu dari dua pakaian, dan menunggangi salah satu dari dua hewan tunggangan, maka ia belum dianggap menepati sumpah, dan hal ini telah menjadi kesepakatan. Jika sumpah itu diucapkan untuk menafikan, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku tidak memakan dua roti ini, tidak memakai dua pakaian ini, dan tidak menunggangi dua hewan tunggangan ini,” maka menurut mazhab Syafi‘i dan Abu Hanifah, ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika melakukan kedua hal itu, sebagaimana ia tidak dianggap menepati sumpah kecuali dengan kedua hal itu. Jika ia hanya memakan salah satu dari dua roti, memakai salah satu dari dua pakaian, dan menunggangi salah satu dari dua hewan tunggangan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ بِفِعْلِ أَحَدِهِمَا وَإِنْ لَمْ يَبَرَّ إِلَّا بِهِمَا وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Malik berkata, “Seseorang dianggap melanggar sumpah dengan melakukan salah satu dari keduanya, meskipun ia tidak dianggap menepati sumpah kecuali dengan melakukan keduanya, dan beliau membedakan antara keduanya dari dua sisi.”

أَحَدُهُمَا إنَّ الْإِثْبَاتَ إِبَاحَةٌ وَالنَّفْيَ حظرٌ وَالْحَظْرَ أَغْلَبُ مِنَ الْإِبَاحَةِ

Salah satunya adalah bahwa penetapan berarti kebolehan, sedangkan penafian berarti larangan, dan larangan itu lebih dominan daripada kebolehan.

وَالثَّانِي إنَّ الْأَيْمَانَ مَوْضُوعَةٌ عَلَى التَّغْلِيظِ وَالتَّغْلِيظُ فِي النَّفْيِ أَنْ يَحْنَثَ بِأَحَدِهِمَا وَفِي الْإِثْبَاتِ أَنْ لَا يَبَرَّ إِلَّا بِهِمَا وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Kedua, sesungguhnya sumpah itu ditetapkan untuk penegasan (penguatan), dan penegasan dalam penafian adalah bahwa ia melanggar sumpah dengan salah satunya, sedangkan dalam penetapan adalah bahwa ia tidak dianggap menepati sumpah kecuali dengan keduanya. Ini rusak (tidak benar) dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ فِعْلَ بَعْضِ الشَّيْءِ لَا يَقُومُ مَقَامَ فِعْلِ جَمِيعِهِ فِي النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ مَعًا وِفَاقًا وَشَرْعًا لِأَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ هَذِهِ الدَّارَ فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ أَوْ إِحْدَى رِجْلَيْهِ لَمْ يَحْنَثْ

Salah satunya adalah bahwa melakukan sebagian dari suatu hal tidak dapat menggantikan melakukan seluruhnya, baik dalam penafian maupun penetapan, secara kesepakatan dan syariat. Sebab, jika seseorang bersumpah tidak akan masuk ke rumah ini, lalu ia hanya memasukkan kepalanya atau salah satu kakinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَلَوْ حَلَفَ لَيَدْخُلَنَّهَا فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ أَوْ إِحْدَى رِجْلَيْهِ لَمْ يَبَرَّ وَهَذَا وِفَاقٌ قَدْ وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ قَدِ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي مَسَاجِدِهِ فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ مِنْهُ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا لِتَغْسِلَهُ وَلَمْ يُؤَثِّرْ في اعتكافه

Jika seseorang bersumpah akan benar-benar masuk ke dalamnya, lalu ia hanya memasukkan kepalanya atau salah satu kakinya, maka sumpahnya belum dianggap terpenuhi. Ini adalah kesepakatan (ijmā‘) yang telah dijelaskan oleh syariat. Rasulullah ﷺ pernah beri‘tikaf di masjidnya, lalu beliau memasukkan kepalanya dari masjid ke kamar ‘Aisyah ra. agar ‘Aisyah membasuh kepala beliau, dan hal itu tidak memengaruhi i‘tikaf beliau.

وَقَالَ لِبَعْضِ أَصْحَابِهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ لَمْ تَنْزِلْ عَلَى أحدٍ قَبْلِي إِلَّا عَلَى أَخِي سُلَيْمَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ آيَةٍ هِيَ؟ قَالَ لَا أَخْرُجُ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى أُعْلِمَكَ فَتَوَجَّهَ لِلْخُرُوجِ وَقَدَّمَ إِحْدَى رِجْلَيْهِ فَأَخْرَجَهَا ثُمَّ قَالَ لِلرَّجُلِ بِمَ تَسْتَفْتِحُ صَلَاتَكَ قَالَ بِبسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ هِيَ هِيَ

Dan beliau berkata kepada salah satu sahabatnya ketika berada di Masjidil Haram, “Sungguh telah diturunkan kepadaku satu ayat yang belum pernah diturunkan kepada siapa pun sebelumku kecuali kepada saudaraku Sulaiman.” Sahabat itu bertanya, “Wahai Rasulullah, ayat apakah itu?” Beliau menjawab, “Aku tidak akan keluar dari masjid sampai aku memberitahumu.” Lalu beliau bersiap untuk keluar dan mengangkat salah satu kakinya, kemudian mengeluarkannya. Setelah itu beliau berkata kepada laki-laki itu, “Dengan apa engkau memulai salatmu?” Ia menjawab, “Dengan basmalah, Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm.” Beliau bersabda, “Itulah dia.”

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ إِخْرَاجَ إِحْدَى رِجْلَيْهِ لَا يَكُونُ خُرُوجًا وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الْفِعْلِ لَا يَقُومُ مَقَامَ جَمِيعِ الْفِعْلِ فَأَحَدُ الْفِعْلَيْنِ أَوْلَى أَنْ لَا يَقُومَ مَقَامَ الْفِعْلَيْنِ

Maka hal ini menunjukkan bahwa mengeluarkan salah satu dari kedua kaki tidak dianggap keluar. Dan apabila sebagian dari suatu perbuatan tidak dapat menggantikan seluruh perbuatan, maka salah satu dari dua perbuatan lebih utama untuk tidak dapat menggantikan dua perbuatan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى الْفِعْلَانِ فِي شَرْطِ الْبِرِّ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي شَرْطِ الْحِنْثِ لِتَرَدُّدِ الْيَمِينِ بَيْنَ بِرٍّ وَحِنْثٍ؟ وَفَرقاه بَيْنَهُمَا منتقضٌ بِفِعْلِ بَعْضِ الشَّيْءِ حَيْثُ لَمْ يَقُمْ مَقَامَ جَمِيعِهِ فِي الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ مَعًا مَعَ وُجُودِ الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ فِيهِمَا

Kedua, bahwa ketika kedua perbuatan itu sama dalam syarat birr, maka wajib pula keduanya disamakan dalam syarat hinth, karena sumpah itu berada di antara birr dan hinth. Perbedaan antara keduanya gugur dengan melakukan sebagian dari sesuatu, di mana hal itu tidak dapat menggantikan seluruhnya, baik dalam penetapan maupun penafian secara bersamaan, meskipun terdapat larangan dan kebolehan pada keduanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَشْرَبُ مَاءَ هَذِهِ الْإِدَاوَةِ أَوْ مَاءَ هَذَا النَّهْرِ لَمْ يَحْنَثْ حَتَّى يَشْرَبَ مَاءَ الْإِدَاوَةِ كُلَّهُ وَلَا سَبِيلَ لَهُ إِلَى شُرْبِ مَاءِ النَّهْرِ كُلِّهِ وَلَوْ قَالَ مِنْ مَاءِ هَذِهِ الْإِدَاوَةِ أَوْ مِنْ مَاءِ هَذَا النَّهْرِ حَنِثَ إِنْ شَرِبَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan meminum air dari kendi ini atau air dari sungai ini,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya sampai ia meminum seluruh air kendi tersebut, dan tidak mungkin baginya untuk meminum seluruh air sungai. Namun, jika ia berkata, “dari air kendi ini” atau “dari air sungai ini,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika ia meminum sedikit saja dari air tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا شَرِبْتُ مِنْ مَاءِ هَذِهِ الْإِدَاوَةِ وَلَا شَرِبْتُ مِنْ مَاءِ هَذَا النَّهْرِ فَالْيَمِينُ مَعْقُودَةٌ عَلَى بَعْضِ مَاءِ الْإِدَاوَةِ وَبَعْضِ مَاءِ النَّهْرِ لِدُخُولِ حَرْفِ التَّبْعِيضِ عَلَيْهَا وَهُوَ قَوْلُهُ مِنْ فَأَيُّ قَدْرٍ شَرِبَ مِنْ مَاءِ الْإِدَاوَةِ وَمَاءِ النَّهْرِ حَنِثَ مِنْ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ وَكَذَا فِي الْإِثْبَاتِ لَوْ حَلَفَ لَيَشْرَبَنَّ مِنْ مَاءِ هَذِهِ الْإِدَاوَةِ أَوْ مِنْ مَاءِ هَذَا النَّهْرِ فَأَيُّ قَدْرٍ شَرِبَ مِنْهُمَا مِنْ قَلِيلٍ أَوْ كَثِيرٍ بَرَّ فِي يَمِينِهِ ارْتَوَى بِهِ أَوْ لَمْ يَرْتَوِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan minum dari air kendi ini dan tidak akan minum dari air sungai ini,” maka sumpah itu terikat pada sebagian air kendi dan sebagian air sungai, karena adanya huruf tab‘īdh (penyataan sebagian) padanya, yaitu ucapannya “min”. Maka, berapa pun kadar air yang diminum dari air kendi atau air sungai, baik sedikit maupun banyak, ia dianggap melanggar sumpah. Demikian pula dalam hal penetapan, jika seseorang bersumpah, “Sungguh aku akan minum dari air kendi ini atau dari air sungai ini,” maka berapa pun kadar air yang diminum dari keduanya, baik sedikit maupun banyak, ia dianggap menepati sumpahnya, baik ia merasa puas atau tidak.

فَأَمَّا إِذَا حَذَفَ مِنْ يَمِينِهِ حَرْفَ التبعض فَأَطْلَقَهَا فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَشْرَبَنَّ مَاءَ هَذِهِ الْإِدَاوَةِ لَمْ يَحْنَثْ بِشُرْبِ بَعْضِهِ وَإِنْ حَنَّثَهُ مَالِكٌ لِأَنَّ الْحَقِيقَةَ فِي إِطْلَاقِ الْيَمِينِ تُوجِبُ الِاسْتِيعَابَ فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ طَعَامًا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ فَأَكَلَ بَعْضَهُ حَنِثَ فَهَلَّا حَنِثَ بِشُرْبِ بَعْضِ الْمَاءِ كَمَا حَنِثَ بِأَكْلِ بَعْضِ الطَّعَامِ

Adapun jika ia menghilangkan huruf tab‘īdh (yang menunjukkan sebagian) dari sumpahnya dan mengucapkannya secara mutlak, lalu berkata, “Demi Allah, aku pasti akan meminum air dari kendi ini,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan meminum sebagian airnya, meskipun Malik menganggapnya melanggar, karena pada hakikatnya, sumpah yang diucapkan secara mutlak menuntut untuk mencakup keseluruhan. Jika ada yang bertanya, “Bukankah jika seseorang berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memakan makanan yang dibeli oleh Zaid,’ lalu ia memakan sebagian makanan itu, maka ia dianggap melanggar sumpah? Mengapa ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan meminum sebagian air, sebagaimana ia dianggap melanggar dengan memakan sebagian makanan?”

قِيلَ لَا يَخْتَلِفُ الْمَذْهَبُ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِشُرْبِ بَعْضِ الْمَاءِ وَفِي حِنْثِهِ بِأَكْلِ بَعْضِ الطَّعَامِ وَجْهَانِ

Dikatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan meminum sebagian air, dan dalam hal melanggar sumpah dengan memakan sebagian makanan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ كَمَا لَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ بَعْضِهِ فَعَلَى هَذَا قَدِ اسْتَوَيَا

Salah satunya adalah bahwa sebagaimana ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan sebagian darinya, maka dalam hal ini keduanya sama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّهُ يَحْنَثُ بِأَكْلِ بَعْضِ الطَّعَامِ وَإِنْ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا بِشُرْبِ جَمِيعِ الْمَاءِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْمَاءَ فِي الْإِدَاوَةِ مِقْدَارٌ يَنْطَلِقُ عَلَى جَمِيعِهِ وَلَا يَنْطَلِقُ عَلَى بَعْضِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَحْنَثْ بِشُرْبِ بَعْضِهِ وَشِرَاءُ زَيْدٍ لِلطَّعَامِ صِفَةٌ تَنْطَلِقُ عَلَى بَعْضِهِ كَمَا تَنْطَلِقُ عَلَى جَمِيعِهِ فَلِذَلِكَ حَنِثَ بِأَكْلِ بَعْضِهِ فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْحِنْثَ فِي الْإِدَاوَةِ يَقَعُ بِشُرْبِ مَائِهَا كُلِّهِ وَلَا يَحْنَثُ بِشُرْبِ بعضه فذهب مِنْ مَاءِ الْإِدَاوَةِ قَطْرَةٌ انْحَلَّتِ الْيَمِينُ لِأَنَّهُ لَا حِنْثَ فِيهَا إِنْ شَرِبَ بَاقِيَ مَائِهَا فَلَوْ شَكَّ أَذَهَبَ مِنْهَا قَطْرَةٌ أَوْ لَمْ يَذْهَبْ فَشَرِبَ جَمِيعَ مَائِهَا فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, adalah bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah dengan memakan sebagian makanan, sedangkan ia tidak dianggap melanggar kecuali dengan meminum seluruh air. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa air dalam wadah merupakan suatu takaran yang istilahnya berlaku untuk keseluruhannya dan tidak berlaku untuk sebagiannya, sehingga ia tidak dianggap melanggar dengan meminum sebagian air tersebut. Sedangkan pembelian makanan oleh Zaid adalah suatu sifat yang istilahnya berlaku untuk sebagian sebagaimana berlaku untuk keseluruhan, sehingga ia dianggap melanggar dengan memakan sebagian makanan itu. Jika telah tetap bahwa pelanggaran sumpah pada wadah air terjadi dengan meminum seluruh airnya dan tidak dianggap melanggar dengan meminum sebagian, maka jika ada setetes air dari wadah itu yang hilang, sumpah pun batal, karena tidak ada pelanggaran jika ia meminum sisa airnya. Maka jika ia ragu apakah setetes air telah hilang atau belum, lalu ia meminum seluruh airnya, maka dalam hal pelanggarannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ لِأَنَّ ذَهَابَ الْقَطْرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهِ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena keluarnya tetesan itu masih diragukan.

والوجه الثاني لا يحنث لأت الحنث مشكوك فيه

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena pelanggaran tersebut masih diragukan.

فصل

Bab

فأما إذا حلفت لَا شَرِبْتُ مَاءَ هَذَا النَّهْرِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا سَبِيلَ إِلَى شُرْبِ مَاءِ النَّهْرِ كُلِّهِ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِبَرِّهِ وَلَا لِحِنْثِهِ فِيمَا شَرِبَ مِنْهُ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي شُرْبِهِ مِنْهُ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun jika seseorang bersumpah, “Saya tidak akan minum air sungai ini,” maka asy-Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Tidak mungkin untuk meminum seluruh air sungai itu,” dan beliau tidak membahas tentang daratannya maupun tentang apakah ia dianggap melanggar sumpah jika meminum sebagian airnya. Maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hukum meminum sebagian air sungai tersebut menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ بحنث بِمَا شَرِبَ مِنْهُ لِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَحَالَ شُرْبُ جَمِيعِهِ صَارَتِ الْيَمِينُ مَعْقُودَةً عَلَى مَا لَا يَسْتَحِيلُ لِأَنْ لَا يَصِيرَ بِيَمِينِهِ بَعْدَ الْعَقْدِ لَغْوًا

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, adalah bahwa ia dianggap melanggar sumpah dengan apa yang diminumnya, karena ketika tidak mungkin meminum seluruhnya, maka sumpah itu menjadi terkait pada apa yang mungkin diminum, agar sumpahnya setelah diucapkan tidak menjadi sia-sia.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا شَرِبْتُ الْمَاءَ حَنِثَ بِشُرْبِ مَا قَلَّ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ دُخُولُ الْأَلِفِ وَاللَّامِ يَقْتَضِي اسْتِيعَابَ جَمِيعِهِ لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ شُرْبُ جَمِيعِهِ مِنَ الْمُسْتَحِيلِ حُمِلَ عَلَى شُرْبِ مَا لَا يَسْتَحِيلُ كَذَلِكَ مَاءُ النَّهْرِ لَمَّا اسْتَحَالَ شُرْبُ جَمِيعِهِ حُمِلَ عَلَى مَا لَا يَسْتَحِيلُ مِنْ شُرْبِ بَعْضِهِ وَتَأَوَّلَ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَا سَبِيلَ إِلَى شُرْبِ مَاءِ النَّهْرِ كُلِّهِ عَلَى حَمْلِ يَمِينِهِ عَلَى مَا يَجِدُ السَبِيل إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَشْرَبَ مِنْ مَاءِ النَّهْرِ فَعَلَى هَذَا أَيُّ شَيْءٍ شَرِبَ مِنْ مَائِهِ حَنِثَ بِهِ مِمَّا يَرْوِي أَوْ لَا يَرْوِي

Tidakkah kamu melihat, jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan minum air,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan meminum sedikit saja dari air itu, meskipun masuknya alif dan lam (kata sandang) menunjukkan mencakup seluruhnya. Sebab, ketika meminum seluruh air itu adalah sesuatu yang mustahil, maka sumpah itu diarahkan pada meminum bagian yang tidak mustahil untuk diminum. Demikian pula air sungai, ketika mustahil untuk meminum seluruhnya, maka sumpah itu diarahkan pada meminum sebagian yang mungkin. Dan pendapat Imam Syafi‘i ra. ditakwil bahwa tidak mungkin meminum seluruh air sungai, sehingga sumpahnya diarahkan pada apa yang mungkin dijangkau, yaitu meminum sebagian air sungai. Maka berdasarkan hal ini, apa pun yang diminum dari air sungai, baik yang menghilangkan dahaga maupun tidak, tetap dianggap melanggar sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ هُوَ الظَّاهِرَ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِشُرْب شَيْء مِنْ مَائِهِ لِأَنَّ يَمِينَهُ تَوَجَّهَتْ إِلَى شُرْبِ جَمِيعِهِ لِأَنَّهُ عَقَدَهَا عَلَى مَاءِ النَّهْرِ وَلَمْ يُطْلِقْ فَصَارَ النَّهْرُ مِقْدَارًا كَالْإِدَاوَةِ وَلَيْسَ إِذَا اسْتَحَالَ شُرْبُ الْجَمِيعِ وَجَبَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى شُرْبِ مَا لَا يَسْتَحِيلُ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, dan tampaknya inilah yang zahir dari mazhab asy-Syafi‘i, bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan meminum sebagian dari air sungai itu, karena sumpahnya ditujukan untuk meminum seluruh airnya, sebab ia mengikat sumpahnya pada air sungai dan tidak menggeneralisasi, sehingga sungai itu menjadi ukuran tertentu seperti kendi air. Dan tidaklah ketika mustahil untuk meminum seluruhnya, lalu harus ditafsirkan dengan meminum sesuatu yang tidak mustahil.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ حَلَفَ لَأَصْعَدَنَّ السَّمَاءَ وَهُوَ مُسْتَحِيلٌ لَمْ يُحْمَلْ عَلَى صُعُودِ السَّقْفِ وَقَدْ يُسَمَّى سَمَاءً لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَحِيلٍ وَوَجَبَ حَمْلُ يَمِينِهِ فِي صُعُودِ السَّمَاءِ عَلَى الْحَقِيقَةِ دُونَ الْمَجَازِ كَذَلِكَ فِي شُرْبِ مَاءِ النَّهْرِ فَأَمَّا إِذَا قَالَ لَا شَرِبْتُ الْمَاءَ وَالْأَلِفُ وَاللَّامُ لَفْظُ تَعْرِيفٍ وُضِعَ لِاسْتِيعَابِ الْجِنْسِ تَارَةً وَلِلْمَعْهُودِ أُخْرَى وَهُوَ حَقِيقَةٌ فِيهِمَا فَإِذَا اسْتَحَالَ اسْتِيعَابُ الْجِنْسِ حُمِلَ عَلَى الْمَعْهُودِ وَكَانَ حَقِيقَةً فِيهِ وَفَارَقَ مَاءَ النَّهْرِ لِأَنَّ الِاسْمَ حَقِيقَةٌ فِي جَمِيعِهِ وَمَجَازٌ فِي بَعْضِهِ وَتَأَوَّلَ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ وَلَا سَبِيلَ إِلَى شُرْبِ مَاءِ النَّهْرِ كُلِّهِ بِسُقُوطِ حِنْثِهِ

Tidakkah engkau melihat, jika seseorang bersumpah, “Sungguh aku akan naik ke langit,” padahal itu mustahil, maka sumpah tersebut tidak dibawa pada makna naik ke atap, meskipun atap kadang disebut “langit”, karena naik ke atap bukanlah hal yang mustahil. Maka wajib membawa sumpahnya tentang naik ke langit pada makna hakiki, bukan makna majazi. Demikian pula dalam hal meminum air sungai. Adapun jika ia berkata, “Aku tidak akan meminum air itu,” dan alif-lam adalah kata pengenal yang kadang digunakan untuk mencakup seluruh jenis, dan kadang untuk sesuatu yang sudah diketahui, dan keduanya adalah makna hakiki. Jika mustahil mencakup seluruh jenis, maka dibawa pada makna sesuatu yang sudah diketahui, dan itu adalah makna hakiki baginya. Ini berbeda dengan air sungai, karena nama tersebut secara hakiki berlaku untuk seluruh air sungai dan secara majazi untuk sebagian darinya. Imam Syafi‘i menafsirkan ucapannya, “Tidak mungkin meminum seluruh air sungai,” dengan tidak adanya pelanggaran sumpahnya.

ثُمَّ يَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ فِي النَّفْيِ أَنْ يَعْقِدَ بيمينه عَلَى الْإِثْبَاتِ فَيَقُولَ وَاللَّهِ لَأَشْرَبَنَّ مَاءَ هَذَا النَّهْرِ فَعَلَى مُقْتَضَى قَوْلِ أَبِي الْعَبَّاسِ مَتَى شَرِبَ بَعْضَ مَائِهِ بَرَّ لِأَنَّهُ لَمَّا حَنِثَ بِشُرْبِ بَعْضِهِ فِي النَّفْيِ وَجَبَ أَنْ يَبَرَّ بِشُرْبِ بَعْضِهِ فِي الْإِثْبَاتِ وَعَلَى مُقْتَضَى قَوْلِ الْمَرْوَزِيِّ لَا يَبَرَّ فِي الْإِثْبَاتِ بِشُرْبِ بَعْضِهِ كَمَا لَا يَحْنَثُ فِي النَّفْيِ بِشُرْبِ بَعْضِهِ وَإِذَا لَمْ يَبَرَّ صَارَ مَحْكُومًا بِحِنْثِهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى بِرِّهِ فَصَارَ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَأَصْعَدَنَّ السَّمَاءَ يَكُونُ حَانِثًا لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لَهُ إِلَى الْبِرِّ وَفِي زَمَانِ حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Kemudian, dari dua pendapat dalam masalah penafian ini bercabang persoalan jika seseorang bersumpah dengan tangan kanannya untuk melakukan sesuatu, misalnya ia berkata, “Demi Allah, aku pasti akan meminum air sungai ini.” Maka menurut pendapat Abu al-‘Abbas, jika ia meminum sebagian dari airnya, ia dianggap telah menunaikan sumpahnya, karena ketika ia dianggap melanggar sumpah dalam penafian dengan meminum sebagian air, maka seharusnya ia juga dianggap menunaikan sumpah dalam penetapan dengan meminum sebagian air. Sedangkan menurut pendapat al-Marwazi, ia tidak dianggap menunaikan sumpah dalam penetapan hanya dengan meminum sebagian air, sebagaimana ia juga tidak dianggap melanggar sumpah dalam penafian dengan meminum sebagian air. Jika ia tidak dianggap menunaikan sumpah, maka ia dihukumi telah melanggar sumpahnya, karena tidak ada jalan baginya untuk menunaikan sumpah tersebut. Maka keadaannya seperti orang yang berkata, “Demi Allah, aku pasti akan naik ke langit,” maka ia dianggap melanggar sumpah karena tidak ada jalan baginya untuk menunaikannya. Adapun mengenai waktu pelanggaran sumpahnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا عَقِيبَ يَمِينِهِ لِأَنَّ اسْتِحَالَةَ الْبِرِّ يَمْنَعُ مِنْ تَأْخِيرِ الْحِنْثِ

Salah satunya adalah setelah sumpahnya, karena perubahan kebaikan mencegah penundaan pelanggaran sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ مِنْ آخِرِ حَيَاتِهِ لِأَنَّ عَقْدَ يَمِينِهِ عَلَى التَّرَاخِي فَكَانَ تَحْقِيقُ الْحِنْثِ عَلَى التَّرَاخِي

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpahnya pada akhir hidupnya, karena ia mengikat sumpahnya untuk dilakukan secara bertahap, sehingga pelaksanaan pelanggaran sumpahnya pun dilakukan secara bertahap.

فصل

Bab

وإذا حلف لأشرب ما مَاءِ دِجْلَةَ فَشَرِبَ مِنْ مَاءِ الْفُرَاتِ أَوْ لَأَشْرَبُ مِنْ مَاءِ الْفُرَاتِ فَشَرِبَ مِنْ مَاءِ دِجْلَةَ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ التَّعْيِينَ يَخُصُّ الْيَمِينَ وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَأَشْرَبُ مَاء فُرَاتا حَنِثَ بِشُرْبِهِ مِنْ دِجْلَةَ وَمِنَ الْفُرَاتِ لِأَنَّ الْمَاءَ الْفُرَاتَ هُوَ الْعَذْبُ فَحَنِثَ بِشُرْبِ كُلِّ مَاءٍ عَذْبٍ

Jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku akan minum air Tigris,” lalu ia minum air Eufrat, atau ia bersumpah, “Aku akan minum air Eufrat,” lalu ia minum air Tigris, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena penentuan secara spesifik membatasi sumpah tersebut. Namun, jika ia berkata, “Demi Allah, aku akan minum air yang segar (furātan),” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia minum dari Tigris maupun dari Eufrat, karena yang dimaksud dengan air furāt adalah air tawar, sehingga ia dianggap melanggar sumpah dengan meminum setiap air yang tawar.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتاً أَيْ عَذْبًا وَلَا فَرْقَ إِذَا حَلَفَ لَأَشْرَبُ مِنْ مَاءِ دِجْلَةَ بَيْنَ أَنْ يَشْرَبَهُ مِنْ إِنَاءٍ اغْتَرَفَ بِهِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْرَبَهُ كَرْعًا بِفِيهِ كَالْبَهِيمَةِ

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan Kami memberi kalian minum air yang segar,” yaitu air tawar. Tidak ada perbedaan jika seseorang bersumpah, “Aku akan minum dari air Sungai Dajlah,” antara ia meminumnya dari wadah yang ia gunakan untuk menimba air, atau ia meminumnya langsung dengan mulutnya seperti hewan.

فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا شَرِبْتُ مِنْ دِجْلَةَ فَإِنْ شَرِبَ مِنْهَا كَرْعًا بِفَمِهِ حَنِثَ بِإِجْمَاعٍ وَإِنِ اغْتَرَفَ مِنْهَا بِإِنَاءٍ وَشَرِبَ مِنَ الْإِنَاءِ حَنِثَ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ

Adapun jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan minum dari Sungai Dajlah,” maka jika ia minum langsung dengan mulutnya dari sungai tersebut, ia dianggap melanggar sumpahnya menurut ijmā‘. Dan jika ia mengambil air dari sungai itu dengan wadah lalu meminumnya dari wadah tersebut, menurut Imam Syafi‘i ia juga dianggap melanggar sumpahnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ حَتَّى يَكْرَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ وَلَا يَبَرُّ إِنِ اغْتَرَفَ بِيَدِهِ احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berkata: Seseorang tidak dianggap melanggar sumpah sampai ia benar-benar meminum dari bejana itu dengan mulutnya, dan ia tidak dianggap menepati sumpah jika hanya mengambil air dengan tangannya, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَأَشْرَبُ مِنْ هَذَا الْإِنَاءِ فَاغْتَرَفَ مِنْ مَائِهِ وَشَرِبَهُ لَمْ يحنث كذلك إذا حلف لأشربت مِنْ دِجْلَةَ فَاغْتَرَفَ مَا شَرِبَهُ مِنْ مَائِهَا لَمْ يَحْنَثْ بِوُقُوعِ الْيَمِينِ عَلَى مُسْتَقَرِّ الْمَاءِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa jika seseorang bersumpah, “Aku akan minum dari bejana ini,” lalu ia mengambil air dari bejana tersebut dan meminumnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Demikian pula, jika ia bersumpah, “Aku akan minum dari Sungai Dajlah,” lalu ia mengambil air dari sungai itu dan meminumnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena sumpah tersebut berlaku atas air yang menetap di kedua tempat itu.

وَالثَّانِي إنَّ الشُّرْبَ مِنْهَا حَقِيقَةٌ وَمِنْ مَائِهَا مجازٌ وَحَمْلُ الْأَيْمَانِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَوْلَى مِنْ حَمْلِهَا عَلَى الْمَجَازِ

Kedua, sesungguhnya minum darinya adalah makna hakiki, sedangkan minum dari airnya adalah makna majazi, dan membawa sumpah kepada makna hakiki lebih utama daripada membawanya kepada makna majazi.

وَدَلِيلُنَا أُمُورٌ

Dalil kami ada beberapa hal.

أَحَدُهَا إنَّ الْمَاءَ الْمَشْرُوبَ مُضْمَرٌ فِي اللَّفْظِ لِأَنَّهُ الْمَقْصُودُ بِالشُّرْبِ كَمَا يُقَالُ شَرِبَ أَهْلُ بَغْدَادَ مِنْ دِجْلَةَ وَأَهْلُ الْكُوفَةِ مِنَ الْفُرَاتِ أَيْ مِنْ مَاءِ دِجْلَةَ وَمَاءِ الْفُرَاتِ فَصَارَ إِضْمَارُهُ كَإِظْهَارِهِ فَلَمَّا كَانَ لَوْ حَلَفَ لَأَشْرَبُ مِنْ مَاءِ دِجْلَةَ حَانِثًا فَشَرِبَهُ مِنْهَا عَلَى جَمِيعِ الْأَحْوَالِ وَجَبَ إِذَا حَلَفَ لَأَشْرَبُ مِنْ دِجْلَةَ أَنْ يَحْنَثَ بِشُرْبِهِ مِنْهَا عَلَى كُلِّ حالٍ لِأَنَّ الْمُضْمَرَ مَقْصُودٌ كَالْمُظْهَرِ

Salah satunya adalah bahwa air yang diminum itu tersirat dalam lafaz karena itulah yang dimaksud dengan minum, sebagaimana dikatakan “penduduk Baghdad minum dari Dajlah” dan “penduduk Kufah dari Eufrat”, maksudnya dari air Dajlah dan air Eufrat. Maka, penyiratan itu sama seperti penampakan (penyebutan secara eksplisit). Oleh karena itu, jika seseorang bersumpah “aku akan minum dari air Dajlah” lalu ia meminumnya dari sana dalam segala keadaan, maka ia dianggap melanggar sumpah. Maka, jika ia bersumpah “aku akan minum dari Dajlah”, wajib baginya dianggap melanggar sumpah jika ia meminumnya dari sana dalam keadaan apa pun, karena yang tersirat itu dimaksudkan sebagaimana yang tampak.

وَالثَّانِي إنَّ إِجْمَاعَنَا مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا شَرِبْتُ مِنَ الْبِئْرِ وَلَا أَكَلْتُ مِنَ النَّخْلَةِ أَنَّهُ يَحْنَثُ بِشُرْبِ مَا اسْتَقَاهُ من البئر ويأكل مَا لَقَطَهُ مِنَ النَّخْلَةِ وَإِنْ لَمْ يَكْرَعْ مَاءَ الْبِئْرِ بِفَمِهِ وَلَا تَنَاوَلَ ثَمَرَةَ النَّخْلَةِ بِفَمِهِ كَذَلِكَ الدِّجْلَةُ

Kedua, ijmā‘ kami telah sepakat bahwa jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan minum dari sumur dan tidak akan makan dari pohon kurma,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia meminum air yang diambil dari sumur tersebut dan memakan buah yang dipetik dari pohon kurma itu, meskipun ia tidak langsung meminum air sumur dengan mulutnya dan tidak langsung mengambil buah kurma dengan mulutnya; demikian pula halnya dengan Sungai Dajlah.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا إنَّ مَا كَانَ حِنْثًا فِي مَاءِ الْبِئْرِ كَانَ حِنْثًا فِي مَاءِ الدِّجْلَةِ قِيَاسًا عَلَى أَصْلَيْنِ

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa apa yang dianggap pelanggaran sumpah pada air sumur, maka itu juga dianggap pelanggaran sumpah pada air Sungai Dajlah, berdasarkan qiyās kepada dua pokok dasar.

أَحَدُهُمَا إِذَا كَرَعَ مِنْهُمَا

Salah satunya apabila ia meminum langsung dari keduanya.

وَالثَّانِي إِذَا تَلَفَّظَ بِاسْمِ الْمَاءِ فِيهِمَا

Yang kedua, apabila ia mengucapkan nama air pada keduanya.

فَإِنْ قِيلَ مَاءُ الْبِئْرِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُشْرَبَ إِلَّا بِاسْتِقَائِهِ وَثَمَرُ النَّخْلَةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُؤْكَلَ إِلَّا بِلِقَاطِهِ

Jika dikatakan: air sumur tidak mungkin diminum kecuali dengan menimba, dan buah pohon kurma tidak mungkin dimakan kecuali dengan memetiknya.

قِيلَ يُمْكِنُ أَنْ يُشْرَبَ مَاءُ الْبِئْرِ بِنُزُولِهِ إِلَيْهَا وَيُؤْكَلُ مِنَ النَّخْلَةِ بِصُعُودِهِ إِلَيْهَا وَإِنْ كَانَ تَلْحَقُهُ الْمَشَقَّةُ كَمَا يُمْكِنُ أَنْ يَكْرَعَ مِنَ الدِّجْلَةِ بِالْمَشَقَّةِ

Dikatakan bahwa air sumur dapat diminum dengan turun ke dalamnya, dan buah kurma dapat dimakan dengan memanjat pohonnya, meskipun hal itu menimbulkan kesulitan, sebagaimana seseorang juga dapat minum langsung dari Sungai Dajlah dengan kesulitan.

وَالثَّالِثُ إنَّ حَقِيقَةَ الدِّجْلَةِ اسْمٌ لِقَرَارِهَا وَالْحَقِيقَةُ فِي هَذَا الِاسْمِ مَعْدُولٌ عَنْهَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Ketiga, sesungguhnya hakikat dari “Dijlah” (Sungai Tigris) adalah nama bagi dasarnya, dan hakikat dari nama ini telah dialihkan darinya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْقَرَارَ غَيْرُ مَشْرُوبٍ

Salah satunya adalah bahwa air yang diam tidak dapat diminum.

وَالثَّانِي إنَّ مَا بَاشَرَ الْقَرَارَ لَا يَصِلُ إِلَى كَرْعِهِ لِعُمْقِهِ وَإِذَا سَقَطَ حَقِيقَةُ الِاسْمِ مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ وَجَبَ الْعُدُولُ إِلَى مَجَازِهِ وَهُوَ الْمَاءُ لِأَنَّ اسْمَ الدِّجْلَةِ حَقِيقَةٌ فِي قَرَارِهَا وَمَجَازٌ فِي مَائِهَا وَالْمَجَازُ الْمُسْتَعْمَلُ أَوْلَى مِنَ الْحَقِيقَةِ الْمَتْرُوكَةِ

Kedua, bahwa apa yang langsung mengenai dasar sungai tidak sampai ke betisnya karena kedalamannya. Jika nama sebenarnya telah gugur dari dua sisi ini, maka wajib beralih kepada makna majazinya, yaitu airnya. Karena nama “Dijlah” secara hakiki berlaku pada dasarnya dan secara majazi pada airnya, dan penggunaan makna majazi yang dipakai lebih utama daripada makna hakiki yang ditinggalkan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَشْرَبُ مِنْ هَذَا الْإِنَاءِ فَهُوَ أَنَّ الْإِنَاءَ آلَةٌ لِلشُّرْبِ فَصَارَتِ الْيَمِينُ مَعْقُودَةً عَلَيْهِ وَلَيْسَتِ الدِّجْلَةُ آلَةً لِلشُّرْبِ فَصَارَتِ الْيَمِينُ مَعْقُودَةً عَلَى مَائِهَا أَلَا تَرَاهُ إِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَا شَرِبْتُ مِنْ هَذِهِ النَّاقَةِ حَنِثَ إِذَا شَرِبَ مِنْ لَبَنِهَا وَإِنْ لَمْ يَمْتَصَّهُ مِنْ أَخْلَافِ ضُرُوعِهَا

Adapun jawaban terhadap argumentasinya tentang sumpah “Saya tidak akan minum dari bejana ini” adalah bahwa bejana merupakan alat untuk minum, sehingga sumpah itu terikat pada bejana tersebut. Sedangkan sungai Dajlah bukanlah alat untuk minum, sehingga sumpah itu terikat pada airnya. Tidakkah engkau melihat, jika seseorang berkata, “Demi Allah, saya tidak akan minum dari unta ini,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia meminum susunya, meskipun ia tidak langsung mengisapnya dari puting susunya.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا شَرِبْتُ مِنْ هَذَا الْإِنَاءِ فَشَرِبَ مِنْ لَبَنِ الْإِنَاءِ بَعْدَ إِخْرَاجِهِ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الشُّرْبَ مِنْهَا حَقِيقَةٌ وَمِنْ مَائِهَا مَجَازٌ فَهُوَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَنَّ الْمَجَازَ الْمُسْتَعْمَلَ أَوْلَى مِنَ الْحَقِيقَةِ المتركة وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan minum dari bejana ini,” lalu ia minum susu dari bejana itu setelah susu tersebut dikeluarkan darinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Adapun jawaban terhadap dalil mereka yang mengatakan bahwa minum langsung dari bejana adalah makna hakiki, sedangkan minum dari airnya adalah makna majazi, maka jawabannya adalah sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa makna majazi yang digunakan lebih utama daripada makna hakiki yang ditinggalkan. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

بَابُ مَنْ حَلَفَ عَلَى غَرِيمِهِ لَا يُفَارِقُهُ حتى يستوفي حقه

Bab tentang orang yang bersumpah kepada orang yang berutang kepadanya bahwa ia tidak akan berpisah darinya sampai ia menerima haknya.

مسألة

Masalah

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مَنْ حَلَفَ عَلَى غَرِيمِهِ لَا يُفَارِقُهُ حَتَى يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ فَفَرَّ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَمْ يُفَارِقْهُ وَلَوْ قَالَ لَا أَفْتُرِقُ أَنَا وَأَنْتَ حَنِثَ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa bersumpah atas orang yang berutang kepadanya bahwa ia tidak akan berpisah darinya sampai ia menerima haknya, lalu orang itu melarikan diri darinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia sendiri tidak berpisah darinya. Namun, jika ia berkata, “Aku dan engkau tidak akan berpisah,” maka ia dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا الْبَابِ أَنَّ كُلَّ يَمِينٍ عُلِّقَتْ عَلَى فِعْلِ فَاعِلٍ كَانَتْ مَقْصُورَةً عَلَى فِعْلِهِ وَلَمْ تَتَعَلَّقْ بِفِعْلِ غَيْرِهِ فَيَكُونُ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ مُعْتَبَرًا بِفِعْلِ مَنْ قَصَدَ بِالْيَمِينِ فَإِذَا لَازَمَ صَاحِبُ الدَّيْنِ غَرِيمَهُ وَحَلَفَ أَنْ لَا يَفْتَرِقَا حَتَّى يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ لَمْ يَخْلُ يَمِينُهُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Dasar dari bab ini adalah bahwa setiap sumpah yang dikaitkan dengan perbuatan seseorang, maka sumpah itu terbatas pada perbuatannya sendiri dan tidak berkaitan dengan perbuatan orang lain. Maka, kebaikan (memenuhi sumpah) dan pelanggaran (melanggar sumpah) dinilai berdasarkan perbuatan orang yang dimaksud dalam sumpah tersebut. Jika seorang pemilik utang terus menuntut orang yang berutang kepadanya dan bersumpah bahwa mereka berdua tidak akan berpisah sampai ia menerima haknya, maka sumpahnya itu tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْقِدَهَا عَلَى فِعْلِهِ

Salah satunya adalah mengaitkannya dengan perbuatannya sendiri.

وَالثَّانِي عَلَى فِعْلِ غَرِيمِهِ

Dan yang kedua adalah atas perbuatan pihak yang berutang kepadanya.

وَالثَّالِثُ على فعلهما

Dan yang ketiga adalah atas perbuatan keduanya.

فأما الْقِسْمَ الْأَوَّلَ وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَهَا عَلَى فِعْلِهِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا فَارَقْتُكَ حَتَّى أَسْتَوْفِيَ حَقِّي مِنْكَ فَالْبِرُّ وَالْحِنْثُ مُتَعَلِّقٌ بِفِعْلِ الْحَالِفِ دُونَ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ فَإِنْ فَارَقَهُ الْحَالِفُ مختارا ذاكرا حنث وإن فارقه مكرها أو نَاسِيًا فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ عَلَى مَا مَضَى فِي حِنْثِ الْمُكْرَهِ وَالنَّاسِي فَأَمَّا إِنْ فَارَقَهُ الْغَرِيمُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ وَفَرَّ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثِ الْحَالِفُ سَوَاءٌ قَدَرَ عَلَى إِمْسَاكِهِ أَوْ لَمْ يَقْدِرْ لِأَنَّ الْيَمِينَ مَعْقُودَةٌ عَلَى فِعْلِهِ فَكَانَ حِنْثُهُ بِأَنْ يَكُونَ الْفِرَاقُ مَنْسُوبًا إِلَى فِعْلِهِ وَهَذَا الْفِرَاقُ مَنْسُوبٌ إِلَى فِعْلِ غَرِيمِهِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ حِنْثٌ وَوَهِمَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ فَخَرَجَ حِنْثُهُ بِفِرَاقِ الْغَرِيمِ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنْ حِنْثِ الْمُكْرَهِ وَالنَّاسِي وَهُوَ خَطَأٌ لِمَا ذَكَرْنَا

Adapun bagian pertama, yaitu ketika seseorang bersumpah atas perbuatannya sendiri, misalnya ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berpisah darimu sampai aku mengambil hakku darimu,” maka pelaksanaan sumpah dan pelanggarannya berkaitan dengan perbuatan orang yang bersumpah, bukan pada objek yang disumpahkan. Jika orang yang bersumpah itu berpisah dengan sukarela dan dalam keadaan sadar, maka ia melanggar sumpah. Namun jika ia berpisah karena dipaksa atau lupa, maka ada dua pendapat mengenai pelanggarannya, sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan pelanggaran sumpah orang yang dipaksa dan yang lupa. Adapun jika yang berpisah adalah pihak yang menjadi objek sumpah (misalnya orang yang berutang) dan ia lari darinya, maka orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpah, baik ia mampu menahannya maupun tidak, karena sumpah itu terkait dengan perbuatannya sendiri. Maka pelanggaran sumpah terjadi jika perpisahan itu disebabkan oleh perbuatannya, sedangkan perpisahan ini disebabkan oleh perbuatan orang yang berutang, sehingga tidak terkait dengan pelanggaran sumpah. Ibnu Abi Hurairah keliru ketika menyamakan pelanggaran sumpah karena perpisahan oleh pihak yang berutang dengan dua pendapat tentang pelanggaran sumpah orang yang dipaksa dan yang lupa, dan ini adalah kesalahan sebagaimana telah kami sebutkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَ يَمِينَهُ عَلَى فِعْلِ غَرِيمِهِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا فَارَقْتَنِي حَتَّى أَسْتَوْفِيَ حَقِّي مِنْكَ فَإِنْ فَارَقَهُ الْغَرِيمُ مُخْتَارًا ذَاكِرًا حَنث وَإِنْ فَارَقَهُ مُكْرَهًا أَوْ نَاسِيًا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْإِكْرَاهِ إِذَا كَانَ فِي فِعْلِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ هَلْ يَجْرِي مَجْرَى الْإِكْرَاهِ فِي فِعْلِ الْحَالِفِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun bagian kedua, yaitu seseorang bersumpah atas perbuatan orang yang berhutang kepadanya, misalnya ia berkata, “Demi Allah, engkau tidak akan berpisah dariku sampai aku mengambil hakku darimu.” Jika orang yang berhutang itu berpisah darinya secara sengaja dan sadar, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia berpisah karena terpaksa atau lupa, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai paksaan apabila terjadi pada perbuatan yang disumpahkan: apakah hukumnya sama dengan paksaan pada perbuatan orang yang bersumpah, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ أَنَّ الْإِكْرَاهَ فِيهِمَا عَلَى سَوَاءٍ فَعَلَى هَذَا فِي حِنْثِ الْحَالِفِ قَوْلَانِ

Salah satunya, yaitu pendapat para ulama Baghdad, bahwa ikrah (paksaan) pada keduanya adalah sama. Berdasarkan hal ini, dalam masalah pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ إنَّ الْإِكْرَاهَ مُعْتَبَرٌ فِي فِعْلِ الْحَالِفِ وَغَيْرُ مُعْتَبَرٍ فِي فِعْلِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ الْحَالِفُ قَوْلًا وَاحِدًا فَأَمَّا إِنْ كَانَ الْحَالِفُ هُوَ الْمُفَارِقَ لِلْغَرِيمِ فَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ لِأَنَّ يَمِينَهُ مَعْقُودَةٌ عَلَى فِعْلِ غَرِيمِهِ لَا عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ وَهَذَا الْفِرَاقُ مَنْسُوبٌ إِلَيْهِ وَلَيْسَ بِمَنْسُوبٍ إِلَى الْغَرِيمِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ حِنْثٌ

Pendapat kedua, yaitu pendapat para ulama Basrah, menyatakan bahwa ikrah (paksaan) dianggap dalam perbuatan orang yang bersumpah, namun tidak dianggap dalam perbuatan objek sumpah. Berdasarkan hal ini, orang yang bersumpah akan terkena pelanggaran sumpah secara mutlak. Adapun jika orang yang bersumpah adalah pihak yang berpisah dari lawannya, maka tidak ada pelanggaran sumpah atasnya, karena sumpahnya terkait dengan perbuatan lawannya, bukan perbuatannya sendiri. Perpisahan ini dinisbatkan kepadanya dan tidak dinisbatkan kepada lawannya, sehingga tidak ada pelanggaran sumpah yang berkaitan dengannya.

وَأَمَّا القسم الثالث وهو أن يعقد بيمينه عَلَى فِعْلِهِ وَفِعْلِ غَرِيمِهِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا افْتَرَقْنَا أَنَا وَأَنْتَ أَوْ وَاللَّهِ لا فارق واحدٌ منها صَاحِبَهُ حَتَّى أَسْتَوْفِيَ حَقِّي مِنْكَ فَالْحِنْثُ هَاهُنَا وَاقِعٌ بِفِرَاقِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ لِانْعِقَادِ الْيَمِينِ عَلَى فِعْلِهِمَا فَإِنْ فَارَقَهُ الْحَالِفُ حَنِثَ إِنْ كَانَ ذَاكِرًا مُخْتَارًا وَفِي حِنْثِهِ إِنْ كَانَ مُكْرَهًا أَوْ نَاسِيًا قَوْلَانِ وَإِنْ فَارَقَهُ الْغَرِيمُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ ذَاكِرًا مُخْتَارًا حَنِثَ الْحَالِفُ وَإِنْ فَارَقَهُ مُكْرَهًا أَوْ نَاسِيًا فَفِي حِنْثِ الْحَالِفِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ خِلَافِ الْبَغْدَادِيِّينَ وَالْبَصْرِيِّينَ فِي مَعَانِي هَذِهِ الْأَقْسَامِ فِي الْيَمِينِ إِذَا كَانَتْ فِي الْكَلَامِ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُكَ فَإِنْ كَلَّمَهُ الْحَالِفُ حَنِثَ لِعَقْدِ الْيَمِينِ عَلَى كَلَامِ الْحَالِفِ وَإِنْ كَلَّمَهُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ لم يحنث ولو قال والله لا كلمتن فَكَلَّمَهُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ حَنِثَ وَلَوْ كَلَّمَهُ الْحَالِفُ لَمْ يَحْنَثْ لِعَقْدِ الْيَمِينِ عَلَى كَلَامِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا تُكَلِّمُنَا أَوْ لَا كَلَّمَ واحدٌ مِنَّا صَاحِبَهُ فَأَيُّهُمَا كَلَّمَ الْآخَرَ حَنِثَ لِأَنَّ الْيَمِينَ مَعْقُودَةٌ عَلَى كَلَامِ كُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun bagian ketiga, yaitu seseorang bersumpah dengan tangannya atas perbuatannya sendiri dan perbuatan lawannya, yaitu dengan mengatakan: “Demi Allah, aku dan kamu tidak akan berpisah,” atau “Demi Allah, salah satu dari kami tidak akan berpisah dari yang lain sampai aku mengambil hakku darimu.” Maka pelanggaran sumpah terjadi jika salah satu dari keduanya berpisah dari yang lain, karena sumpah tersebut diikrarkan atas perbuatan keduanya. Jika yang berjanji (bersumpah) yang berpisah, maka ia melanggar sumpah jika ia ingat dan melakukannya dengan pilihan sendiri. Adapun jika ia terpaksa atau lupa, terdapat dua pendapat mengenai pelanggaran sumpahnya. Jika yang berpisah adalah lawan yang disebut dalam sumpah, dalam keadaan sadar dan memilih, maka yang bersumpah tetap dianggap melanggar sumpah. Namun jika lawan tersebut berpisah karena terpaksa atau lupa, maka dalam pelanggaran sumpah si pelaku berlaku apa yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang perbedaan pendapat antara ulama Baghdad dan Basrah dalam makna-makna bagian sumpah ini. Jika sumpah itu terkait dengan ucapan, seperti seseorang berkata: “Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu,” maka jika yang bersumpah berbicara dengannya, ia melanggar sumpah karena sumpah itu diikrarkan atas ucapannya sendiri. Namun jika yang diajak bicara yang berbicara kepadanya, ia tidak melanggar sumpah. Jika ia berkata: “Demi Allah, aku pasti akan berbicara denganmu,” lalu yang diajak bicara yang berbicara kepadanya, maka ia melanggar sumpah. Namun jika ia sendiri yang berbicara, ia tidak melanggar sumpah, karena sumpah itu diikrarkan atas ucapan orang yang disebut dalam sumpah. Jika ia berkata: “Demi Allah, janganlah engkau berbicara dengan kami,” atau “Janganlah salah satu dari kami berbicara dengan yang lain,” maka siapa pun di antara mereka yang berbicara kepada yang lain, ia melanggar sumpah, karena sumpah itu diikrarkan atas ucapan masing-masing dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ أَفْلَسَ قَبْلَ أَنْ يُفَارِقَهُ

Imam Syafi‘i berkata, “Jika ia jatuh pailit sebelum berpisah darinya…”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا رَاجِعٌ إِلَى مَنْ حَلَفَ لَا يُفَارِقُهُ غَرِيمُهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ مِنْهُ فَأَفْلَسَ الْغَرِيمُ فَفَارَقَهُ لِأَجْلِ الْفَلَسِ الْمُوجِبِ لِإِطْلَاقِهِ لَا لِخَدِيعَةٍ فَلَا يَخْلُو حَالُ فِرَاقِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِحُكْمٍ أَوْ بِغَيْرِ حُكْمٍ فَإِنْ فَارَقَهُ بِنَفْسِهِ لِمَا أَوْجَبَهُ الشَّرْعُ مِنْ إِنْظَارِ الْمُعْسِرِ حَنِثَ لِأَنَّ أَحْكَامَ الشَّرْعِ إِذَا خَالَفَتْ عَقْدَ الْيَمِينِ لَمْ يَمْنَعْ مِنَ الْحِنْثِ كَمَنْ غَصَبَ مَالًا وصف لَا رَدَّهُ عَلَى صَاحِبِهِ حَنِثَ بِرَدِّهِ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ رَدُّهُ بِالشَّرْعِ وَاجِبًا لِأَنَّهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ مُخْتَارًا وَهَكَذَا لَوْ دَخَلَ دَارَ غَيْرِهِ وَحَلَفَ لَا خَرَجَ مِنْهَا حَنِثَ بِخُرُوجِهِ وَإِنْ أَوْجَبَهُ الشَّرْعُ فَأَمَّا إِنْ حَكَمَ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ بِمُفَارَقَتِهِ لَمَّا حَكَمَ بِهِ مِنْ فَلَسِهِ فَهُوَ فِي هَذَا الْفِرَاقِ مُكْرَهٌ غَيْرُ مُخْتَارٍ لِأَنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى إِجْبَارِ الْحَاكِمِ فَيَكُونُ فِي حِنْثِهِ قولان من حنث المكره

Al-Mawardi berkata, “Hal ini kembali kepada seseorang yang bersumpah tidak akan berpisah dari orang yang berutang kepadanya sampai ia melunasi haknya, lalu orang yang berutang itu jatuh miskin sehingga ia berpisah darinya karena kebangkrutan yang menyebabkan ia harus dilepaskan, bukan karena tipu daya. Maka keadaan perpisahan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: dilakukan dengan keputusan hakim atau tanpa keputusan hakim. Jika ia berpisah darinya atas kehendaknya sendiri karena kewajiban syariat untuk memberi tenggang waktu kepada orang yang kesulitan, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena hukum-hukum syariat jika bertentangan dengan akad sumpah tidak mencegah terjadinya pelanggaran sumpah, seperti seseorang yang merampas harta orang lain lalu bersumpah tidak akan mengembalikannya kepada pemiliknya, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan mengembalikannya, meskipun pengembalian itu diwajibkan oleh syariat, karena ia mengembalikannya secara sukarela. Demikian pula jika seseorang masuk ke rumah orang lain dan bersumpah tidak akan keluar darinya, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan keluar, meskipun syariat mewajibkan ia keluar. Adapun jika hakim memutuskan agar ia berpisah darinya karena kebangkrutan yang telah diputuskan, maka dalam perpisahan ini ia dipaksa dan tidak memilih, karena hal itu dinisbatkan kepada paksaan hakim, sehingga dalam pelanggaran sumpahnya terdapat dua pendapat, yaitu pendapat tentang pelanggaran sumpah orang yang dipaksa.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي أَوِ اسْتَوْفَى حَقَّهُ فِيمَا يَرَى فَوَجَدَ فِي دَنَانِيرِهِ زُجَاجًا أَوْ نُحَاسًا حَنِثَ فِي قَوْلِ مَنْ لَا يَطْرَحُ الْغَلَبَةَ وَالْخَطَأَ عَنِ النَّاسِ لِأَنَّ هَذَا لَمْ يَعْمَدْهُ

Syafi‘i berkata: Atau jika ia telah menerima haknya menurut apa yang ia lihat, lalu ia mendapati di antara dinar-dinarnya terdapat kaca atau tembaga, maka ia dianggap melanggar sumpah menurut pendapat orang yang tidak mengecualikan kemungkinan kekeliruan dan kesalahan dari manusia, karena hal ini bukanlah sesuatu yang disengajanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا اسْتَوْفَى حَقَّهُ فِي الظَّاهِرِ ثُمَّ وَجَدَ فِيهِ بَعْدَ فِرَاقِهِ نُحَاسًا أَوْ رَصَاصًا أَوْ زُجَاجًا لَمْ يَعْلَمْ بِهِ صَارَ فِيهِ كَالْمَغْلُوبِ وَالنَّاسِي فَيَكُونُ فِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang telah mengambil haknya secara lahiriah, kemudian setelah berpisah ia menemukan di dalamnya tembaga, timah, atau kaca yang sebelumnya tidak ia ketahui, maka keadaannya seperti orang yang dikalahkan atau lupa. Dalam hal pelanggarannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِوُجُودِ الْفِعْلِ وَإطرَاحًا لِلْقَصْدِ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena memperhatikan terjadinya perbuatan dan mengabaikan niat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِالْقَصْدِ وَإطرَاحًا لِلْفِعْلِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah, dengan mempertimbangkan niat dan mengabaikan perbuatan.

وَأَمَّا إِذَا وَجَدَهُ مَعِيبًا وَهُوَ مِنْ جِنْسِ الْحَقِّ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Adapun jika ia mendapatkannya dalam keadaan cacat dan barang itu sejenis dengan haknya, maka hal itu terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ عَيْبُهَا يُخْرِجُهَا مِنَ انْطِلَاقِ اسْمِ الْحَقِّ عَلَيْهَا لِأَنَّ حَقَّهُ دَنَانِيرُ مَغْرِبِيَّةٌ فَأَعْطَاهُ دَنَانِيرَ مَشْرِقِيَّةً فَتَكُونُ خِلَافَ الصِّفَةِ فِي الْيَمِينِ جَارِيًا مَجْرَى خِلَافِ الْجِنْسِ فَإِنْ عَلِمَ بِهِ قَبْلَ فِرَاقِهِ حَنِثَ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ إِلَّا بَعْدَ فِرَاقِهِ كَانَ حِنْثُهُ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah jika cacatnya menyebabkan benda tersebut keluar dari cakupan nama hak atasnya, karena haknya adalah dinar Maghribi, lalu ia memberinya dinar Mashriqi, maka hal itu termasuk perbedaan sifat dalam sumpah yang diperlakukan seperti perbedaan jenis. Jika ia mengetahuinya sebelum berpisah, maka ia melanggar sumpah; dan jika ia baru mengetahuinya setelah berpisah, maka pelanggaran sumpahnya mengikuti dua pendapat yang telah lalu.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عَيْبُهَا لَا يُخْرِجُهَا مِنَ انْطِلَاقِ اسْمِ الْحَقِّ عَلَيْهَا بِأَنْ تَكُونَ دَنَانِيرَ مَغْرِبِيَّةً لَكِنَّهَا مَعِيبَةٌ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ عَيْبُهَا مِمَّا يُسْمَحُ بِهِ فِي الْأَغْلَبِ لِقِلَّة أَرْشِهِ بَرَّ فِي يَمِينِهِ وَإِنْ كَانَ ضِدَّ ذَلِكَ لِكَثْرَةِ أَرْشِهِ حَنِثَ

Jenis kedua adalah jika cacatnya tidak mengeluarkannya dari masih layaknya disebut sebagai hak, misalnya dinar Maghribi tetapi cacat. Maka dilihat, jika cacatnya termasuk yang umumnya dimaafkan karena nilai pengurangannya sedikit, maka sumpahnya dianggap benar. Namun jika sebaliknya, yaitu karena nilai pengurangannya banyak, maka ia dianggap melanggar sumpah.

فَإِنْ قِيلَ نُقْصَانُ الْقَدْرِ مُوجِبٌ لِلْحِنْثِ فِيمَا قَلَّ وَكَثُرَ فَهَلَّا كَانَ نُقْصَانُ الْأَرْشِ بِمَثَابَتِهِ فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ قِيلَ لِأَنَّ نُقْصَانَ الْقَدْرِ مُسْتَحَقٌّ يَمْنَعُ مِنَ التَّمَاثُلِ فِي الرِّبَا وَنُقْصَانَ الْأَرْشِ مَظْنُونٌ لَا يَمْنَعُ مِنَ التَّمَاثُلِ فِي الرِّبَا وَيَمْنَعُ مِنَ الْبِرِّ فِي الْيَمِينِ

Jika dikatakan bahwa kekurangan takaran menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah, baik sedikit maupun banyak, maka mengapa kekurangan arsy tidak dipersamakan dengannya dalam menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah, baik sedikit maupun banyak? Dijawab: Karena kekurangan takaran adalah sesuatu yang pasti dan menghalangi terjadinya kesetaraan dalam riba, sedangkan kekurangan arsy bersifat dugaan dan tidak menghalangi terjadinya kesetaraan dalam riba, namun menghalangi kebaikan dalam sumpah.

فَإِنْ قِيلَ فَهَذَا يَنْكَسِرُ بِكَثِيرِ الْأَرْشِ لَا يَمْنَعُ مِنَ التَّمَاثُلِ فِي الرِّبَا وَيَمْنَعُ مِنَ الْبِرِّ فِي الْيَمِينِ قِيلَ لِأَنَّ الظَّنَّ فِي كَثِيرِهِ أَقْوَى وَفِي قَلِيلِهِ أَضْعَفُ فَافْتَرَقَا فِي بِرِّ الْيَمِينِ وَإِنِ اسْتَوَيَا فِي تماثل الربا

Jika dikatakan: “Hal ini bisa batal dengan banyaknya arsy (ganti rugi) yang tidak menghalangi kesetaraan dalam riba, namun menghalangi kebaikan dalam sumpah,” maka dijawab: “Karena dugaan kuat pada yang banyak lebih besar, sedangkan pada yang sedikit lebih lemah, sehingga keduanya berbeda dalam kebaikan sumpah, meskipun keduanya sama dalam kesetaraan riba.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ أَخَذَ بِحَقِّهِ عَرَضًا فَإِنْ كَانَ قِيمَةَ حَقِّهِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ حَنِثَ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَ حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَيْكَ مِنْ حَقِّي شيءٌ فَلَا يَحْنَثُ قَالَ الْمُزَنِيُّ رحمه الله لَيْسَ لِلْقِيمَةِ مَعْنًى لِأَنَّ يَمِينَهُ إِنْ كَانَتْ على عين الْحَقِّ لَمْ يَبَرَّ إِلَّا بِعَيْنِهِ وَإِنْ كَانَتْ على البراءة فقد برئ والعرض غير الحق سوى أو لم يسو

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang mengambil barang sebagai ganti haknya, maka jika nilainya sama dengan haknya, ia tidak dianggap melanggar sumpah; namun jika nilainya kurang, ia dianggap melanggar sumpah, kecuali jika ia berniat “hingga tidak tersisa sedikit pun dari hakku atasmu”, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Al-Muzani rahimahullah berkata: Tidak ada makna bagi nilai, karena jika sumpahnya atas benda tertentu dari haknya, ia tidak dianggap menunaikan sumpah kecuali dengan benda itu sendiri; dan jika sumpahnya atas pelepasan tanggungan, maka ia telah bebas, sedangkan barang sebagai ganti hak itu berbeda dengan hak itu sendiri, baik nilainya sama maupun tidak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَحْلِفَ صَاحِبُ الْحَقِّ عَلَى غَرِيمِهِ أَنْ لَا يُفَارِقَهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ مِنْهُ فَيَأْخُذَ مِنْهُ عِوَضَ حَقِّهِ مَتَاعًا أَوْ عَرُوضًا أَوْ يَأْخُذَ بَدَلَ الدَّرَاهِمَ دَنَانِيرَ أَوْ بَدَلَ الدَّنَانِيرِ دَرَاهِمَ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي بِرِّهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata: Bentuknya adalah bahwa pemilik hak bersumpah kepada orang yang berutang kepadanya agar tidak berpisah darinya sampai ia menerima haknya dari orang tersebut, lalu ia mengambil sebagai ganti haknya itu barang, atau benda, atau ia mengambil pengganti dirham berupa dinar, atau pengganti dinar berupa dirham. Maka para fuqaha berbeda pendapat tentang sahnya tindakan tersebut menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَبَرُّ فِي يَمِينِهِ وَيَحْنَثُ سَوَاءٌ كَانَ مَا أَخَذَهُ بِقِيمَةِ حَقِّهِ أَوْ أَقَلَّ مِنْهُ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu, berpendapat bahwa ia tidak dianggap menepati sumpahnya dan ia tetap terkena pelanggaran sumpah, baik barang yang diambilnya itu seharga haknya atau kurang dari itu.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ إنَّهُ يَبَرُّ فِي يَمِينِهِ وَلَا يَحْنَثُ سَوَاءٌ كَانَ بِقِيمَةِ حَقِّهِ أَوْ أَقَلَّ مِنْهُ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa sumpahnya dianggap sah dan ia tidak dianggap melanggar sumpah, baik nilai barang yang diberikan sama dengan haknya maupun kurang dari itu.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ إنَّهُ يَبَرُّ إِنْ كَانَ بِقِيمَةِ حَقِّهِ وَيَحْنَثُ إِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ قِيمَةِ حَقِّهِ وَوَهِمَ الْمُزَنِيُّ فَنَقَلَ هَذَا الْمَذْهَبَ عَنِ الشَّافِعِيِّ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ فَقَالَ لَيْسَ لِلْقِيمَةِ مَعْنًى لِأَنَّ يَمِينَهُ إِنْ كَانَتْ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ لَمْ يَبَرَّ إِلَّا بِعَيْنِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى الْبَرَاءَةِ فَقَدْ بَرِئَ وَالْعِوَضُ غير الحق سوى أو لم يساو فَيُقَالُ لِلْمُزَنِيِّ نَقْلُكَ خَطَأٌ وَجَوَابُكَ صَحِيحٌ وَإِنَّمَا حَكَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ وَقَدْ أَفْصَحَ بِمَذْهَبِهِ فِي كِتَابِ الْأُمِّ إنَّهُ يَحْنَثُ وَاحْتَجَّ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى بِرِّهِ بِأَخْذِ الْبَدَلِ بِأَنَّهُ إِذَا أَخَذَ عَنْ مِائَةِ دِينَارٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ صَارَ عَلَيْهِ بِأَخْذِ الْأَلْفِ مِائَةُ دِينَارٍ فَصَارَ مُسْتَوْفِيًا لِحَقِّهِ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Mālik, menyatakan bahwa seseorang dianggap menepati sumpahnya jika ia menerima ganti senilai haknya, dan ia dianggap melanggar sumpah jika ganti yang diterima kurang dari nilai haknya. Al-Muzanī keliru ketika menisbatkan pendapat ini kepada asy-Syāfi‘ī, lalu membantahnya dengan mengatakan bahwa nilai (ganti) tidak ada artinya, karena jika sumpahnya atas sesuatu selain haknya, maka ia tidak dianggap menepati kecuali dengan barang itu sendiri, dan jika sumpahnya atas pelepasan (dari hak), maka ia telah bebas, sedangkan pengganti itu bukan hak, baik nilainya sama ataupun tidak. Maka dikatakan kepada al-Muzanī: penukilanmu keliru, namun jawabanmu benar. Sesungguhnya asy-Syāfi‘ī hanya menukil pendapat ini dari Mālik, dan beliau telah menjelaskan mazhabnya dalam kitab al-Umm bahwa ia dianggap melanggar sumpah. Abū Hanīfah beralasan bahwa seseorang dianggap menepati sumpahnya dengan menerima pengganti, karena jika ia menerima seribu dirham sebagai ganti dari seratus dinar, maka dengan menerima seribu itu, ia tetap memiliki hak atas seratus dinar, sehingga ia telah mengambil haknya secara penuh.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ سُقُوطَ الْحَقِّ إِنَّمَا هُوَ بِالْمَأْخُوذِ وَهُوَ دَرَاهِمُ وَالْحَقُّ دَنَانِيرُ فَصَارَ آخذا لِبَدَلِ الْحَقِّ وَلَيْسَ بآخذٍ لِلْحَقِّ وَلِأَنَّنَا أَجْمَعْنَا وَأَبُو حَنِيفَةَ إنَّهُ لَوْ كَانَ حَقُّ الْحَالِفِ ثَوْبًا فَصَالَحَ عَنْهُ بِدَرَاهِمَ أَخَذَهَا مِنْهُ أَنَّهُ يَحْنَثُ فَكَذَلِكَ إِذَا أَخَذَ عَنِ الدَّرَاهِمِ ثَوْبًا أَوْ أَخَذَ عَنِ الدَّنَانِيرِ دَرَاهِمَ حَنِثَ لِأَنَّهُ قَدْ أَخَذَ فِي الْحَالَيْنِ بَدَلَ حَقِّهِ وَلَمْ يَأْخُذْ بِعَيْنِهِ وَفِيهِ جوابٌ

Dalil kami adalah bahwa gugurnya hak itu hanya terjadi dengan sesuatu yang diambil, yaitu dirham, sedangkan haknya adalah dinar. Maka ia menjadi pengambil pengganti hak, bukan pengambil hak itu sendiri. Dan karena kami serta Abu Hanifah sepakat bahwa jika hak orang yang bersumpah adalah sebuah kain, lalu ia berdamai atasnya dengan dirham yang diambil darinya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Demikian pula jika ia mengambil kain sebagai pengganti dirham, atau mengambil dirham sebagai pengganti dinar, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena dalam kedua keadaan tersebut ia telah mengambil pengganti haknya dan bukan hak itu sendiri. Dalam hal ini terdapat jawaban.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ مَا عَلَيْهِ وَلَمْ يَقُلْ أَسْتَوْفِي حَقِّي فَأَخَذَ بِحَقِّهِ بَدَلًا بَرَّ فِي يَمِينِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِأَخْذِ الْبَدَلِ مُسْتَوْفِيًا مَا عَلَيْهِ وَلَوْ أَبْرَأَهُ مِنَ الْحَقِّ حَنِثَ لِأَنَّ الْإِبْرَاءَ لَيْسَ بِاسْتِيفَاءٍ وَلَوْ أَخَذَ بِهِ رَهْنًا حَنِثَ أَيْضًا لِأَنَّ الرَّهْنَ وثيقةٌ وَلَوْ أَحَالَهُ بِالْحَقِّ حَنِثَ لِأَنَّهُ مَا اسْتَوْفَى مَا عَلَيْهِ وَإِنَّمَا نَقَلَهُ إِلَى ذِمَّةِ غَيْرِهِ وَلَوْ أَحَالَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ عَلَى الْغَرِيمِ بَرَّ لِأَنَّهُ قَدِ اسْتَوْفَى بِالْحَوَالَةِ حَقَّهُ وَلَوْ جَنَى عَلَيْهِ جِنَايَةً أَرْشُهَا بِقَدْرِ حَقِّهِ فَإِنْ كَانَتْ خَطَأً لَمْ يَبَرَّ لِأَنَّ أَرْشَهَا عَلَى عَاقِلَتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَمْدًا فَأَرْشُهَا فِي ذِمَّتِهِ وَحَقُّهُ فِي ذِمَّةِ غَرِيمِهِ فَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَقَاضَاهُ لِأَنَّهُ بَيْعُ دَيْنٍ بِدَيْنٍ فَيَحْنَثُ لِبَقَاءِ حَقِّهِ عَلَى غريمه وإن كانا جنس واحدٍ فَهَلْ يَكُونُ قِصَاصًا فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan berpisah darinya sampai ia menerima apa yang menjadi tanggungannya, dan ia tidak mengatakan “sampai aku menerima hakku”, lalu ia mengambil haknya dalam bentuk pengganti, maka sumpahnya dianggap sah karena dengan mengambil pengganti itu ia telah menerima apa yang menjadi tanggungannya. Namun, jika ia membebaskan orang itu dari haknya, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena pembebasan (ibra’) bukanlah penerimaan (istifā’). Jika ia mengambil jaminan (rahn) atas haknya, ia juga dianggap melanggar sumpah, karena rahn hanyalah sebuah jaminan. Jika ia mengalihkan (hawālah) haknya kepada orang lain, ia juga dianggap melanggar sumpah, karena ia belum menerima apa yang menjadi tanggungannya, melainkan hanya memindahkannya ke tanggungan orang lain. Namun, jika pemilik hak mengalihkan haknya kepada orang yang berutang, maka sumpahnya dianggap sah, karena dengan pengalihan (hawālah) itu ia telah menerima haknya. Jika orang itu melakukan pelanggaran terhadapnya yang diyatnya (arsh) sepadan dengan haknya, maka jika pelanggaran itu tidak disengaja (khatha’), sumpahnya tidak sah karena diyatnya menjadi tanggungan ‘āqilah-nya. Jika pelanggaran itu disengaja (‘amdan), maka diyatnya menjadi tanggungan pelaku, sedangkan haknya tetap menjadi tanggungan orang yang berutang. Jika keduanya (diyat dan hak) berasal dari dua jenis yang berbeda, maka tidak boleh saling menagihnya karena itu berarti jual beli utang dengan utang, sehingga ia dianggap melanggar sumpah karena haknya masih tetap pada orang yang berutang. Namun, jika keduanya dari satu jenis, apakah itu dianggap sebagai qishāsh? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَكُونُ قِصَاصًا وَإِنْ لَمْ يَتَرَاضَيَا فَعَلَى هَذَا فَقَدَ بَرَّ فِي يَمِينِهِ

Salah satunya adalah dengan melakukan qishāsh, meskipun keduanya tidak saling merelakan. Dengan demikian, ia telah memenuhi sumpahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَإِنْ تَرَاضَيَا فَعَلَى هَذَا قَدْ حَنِثَ فِي يَمِينِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu tidak dianggap sebagai qishāsh, meskipun kedua belah pihak saling merelakan; berdasarkan pendapat ini, maka ia telah melanggar sumpahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ يَكُونُ قِصَاصًا مَعَ التَّرَاخِي وَلَا يَكُونُ قِصَاصًا مَعَ عَدَمِ التَّرَاخِي فَعَلَى هَذَا إِنْ تَرَاضَيَا قَبْلَ الِافْتِرَاقِ بَرَّ وَإِنْ لَمْ يَتَرَاضَيَا حَنِثَ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa itu dianggap sebagai qishāsh jika ada penundaan, dan tidak dianggap sebagai qishāsh jika tidak ada penundaan. Maka, berdasarkan pendapat ini, jika keduanya saling merelakan sebelum berpisah, maka ia menepati sumpahnya; namun jika keduanya tidak saling merelakan, maka ia melanggar sumpahnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ حَدُّ الْفِرَاقِ أَنْ يَتَفَرَّقَا عَنْ مَقَامِهِمَا الَّذِي كَانَا فِيهِ أَوْ مَجْلِسِهِمَا

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, batas perpisahan adalah ketika keduanya berpisah dari tempat mereka berada atau dari majelis mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صحيحٌ وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِالْعُرْفِ أَنْ يَصِيرَ كُلُّ واحدٍ مِنْهُمَا فِي مَكَانٍ لَا يُنْسَبُ إِلَى مَكَانِ صَاحِبِهِ وَجُمْلَتُهُ أَنَّ كُلَّ مَا جَعَلْنَاهُ افْتِرَاقًا فِي الْبَيْعِ فِي سقوط الْخِيَارِ فِي الْمَجْلِسِ جَعَلْنَاهُ افْتِرَاقًا فِي الْيَمِينِ فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ وَقَدْ أَوْضَحْنَاهُ فَأَغْنَى عَنْ إِعَادَتِهِ فَلَوْ أُكْرِهَ الْحَالِفُ عَلَى الِافْتِرَاقِ كَانَ فِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ وَلَوْ مَاتَ الْحَالِفُ قَبْلَ فِرَاقِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ مَاتَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ مُفَارِقًا لَهُ بِالْمَوْتِ بِخِلَافِ الِافْتِرَاقِ بِالْبَيْعِ حَتَّى يُفَارِقَهُ بِبَدَنِهِ فَإِذَا فَارَقَهُ بِبَدَنِهِ فَفِي حِنْثِهِ حِينَئِذٍ قَوْلَانِ كَالْمُكْرَهِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan hal ini dianggap berdasarkan ‘urf, yaitu masing-masing dari keduanya berada di tempat yang tidak dinisbatkan kepada tempat milik yang lain. Kesimpulannya, segala sesuatu yang kami anggap sebagai perpisahan dalam jual beli yang menyebabkan gugurnya khiyar di majelis, maka hal itu juga kami anggap sebagai perpisahan dalam sumpah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah. Hal ini telah kami jelaskan sehingga tidak perlu diulang kembali. Jika orang yang bersumpah dipaksa untuk berpisah, maka dalam pelanggaran sumpahnya ada dua pendapat. Jika orang yang bersumpah meninggal sebelum berpisah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Jika yang disumpahi meninggal, maka kematian itu tidak dianggap sebagai perpisahan darinya, berbeda dengan perpisahan dalam jual beli, sampai ia benar-benar berpisah dengan badannya. Jika ia telah berpisah dengan badannya, maka dalam pelanggaran sumpahnya saat itu ada dua pendapat, seperti halnya orang yang dipaksa.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ غَدًا فَقَضَاهُ الْيَوْمَ حَنِثَ لِأَنَّ قَضَاءَهُ غَدًا غَيْرُ قَضَائِهِ الْيَوْمَ فَإِنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ أَنْ لَا يَخْرُجَ غدٌ حَتَّى أَقْضِيَكَ حَقَّكَ فَقَدْ بَرَّ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah, “Sungguh aku akan melunasi hakmu besok,” lalu ia melunasinya hari ini, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena melunasi besok itu berbeda dengan melunasi hari ini. Namun, jika niatnya adalah “tidak akan lewat hari esok kecuali aku telah melunasi hakmu,” maka ia dianggap menepati sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ إِذَا حَلَفَ لَيَقْضِيَنَّهُ حَقَّهُ غَدًا فَقَضَاهُ الْيَوْمَ أَنَّهُ يَحْنَثُ لِأَنَّ قَضَاءَهُ الْيَوْمَ لَيْسَ بقضاءٍ فِي غَدٍ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لَا يَحْنَثُ وَلَكِنْ لَوْ نَوَى بِيَمِينِهِ أَنْ لَا يَخْرُجَ غَدًا حَتَّى أَقْضِيَكَ بَرَّ لِأَنَّهُ جَعَلَ خُرُوجَ الْغَدِ حَدًّا وَلَمْ يَجْعَلْهُ وَقْتًا وَلَوْ حَلَفَ لَأَدْخُلَنَّ الدَّارَ فِي غدٍ فَدَخَلَهَا الْيَوْمَ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى دُخُولِهَا فِي غدٍ فَإِنْ لَمْ يَدْخُلْهَا فِي غدٍ حَنِثَ وَلَوْ حَلَفَ لَيَبِيعَنَّ عَبْدَهُ فِي غدٍ فَبَاعَهُ الْيَوْمَ لَا يَحْنَثُ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى ابْتِيَاعِهِ بَعْدَ بَيْعِهِ ثُمَّ يَبِيعُهُ فِي غدٍ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ وَإِلَّا حَنِثَ حينئذٍ وَلَوْ أَعْتَقَهُ قَبْلَ غدٍ حَنِثَ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى بَيْعِهِ بَعْدَ عِتْقِهِ وَلَوْ دَبَّرَهُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى بَيْعِهِ وَلَوْ كَاتَبَهُ لَمْ يَتَعَجَّلْ حِنْثَهُ لِجَوَازِ أَنْ يَعْجِزَ الْعَبْدُ نَفْسُهُ قَبْلَ غدٍ فَيَقْدِرَ عَلَى بَيْعِهِ فِي غدٍ

Al-Mawardi berkata: Telah disebutkan masalah ini, yaitu jika seseorang bersumpah, “Aku pasti akan melunasi hakmu besok,” lalu ia melunasinya hari ini, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena pelunasan hari ini bukanlah pelunasan pada hari esok. Namun, Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah. Akan tetapi, jika ia berniat dalam sumpahnya, “Aku tidak akan keluar besok sebelum aku melunasi hakmu,” maka ia dianggap menepati sumpah, karena ia menjadikan keluarnya besok sebagai batas, bukan sebagai waktu tertentu. Jika seseorang bersumpah, “Aku pasti akan masuk ke rumah itu besok,” lalu ia masuk ke rumah itu hari ini, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia masih bisa masuk ke rumah itu besok. Namun, jika ia tidak masuk ke rumah itu besok, barulah ia dianggap melanggar sumpah. Jika seseorang bersumpah, “Aku pasti akan menjual budakku besok,” lalu ia menjualnya hari ini, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia masih bisa membeli kembali budak itu setelah menjualnya, lalu menjualnya lagi besok. Jika ia melakukan hal itu, maka tidak masalah, tetapi jika tidak, barulah ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia memerdekakan budaknya sebelum besok, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena ia tidak lagi mampu menjual budak itu setelah dimerdekakan. Namun, jika ia menjadikan budak itu sebagai mudabbar, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia masih bisa menjualnya. Jika ia melakukan akad mukatabah dengan budaknya, maka pelanggaran sumpahnya tidak langsung terjadi, karena masih mungkin budak itu tidak mampu melunasi pembayaran sebelum besok, sehingga ia masih bisa menjualnya besok.

وَلَوْ حَلَفَ لَيُطَلِّقَنَّ زَوْجَتَهُ فِي غدٍ فَطَلَّقَهَا الْيَوْمَ فَإِنِ اسْتَوْفَى بِهِ جَمِيعَ طَلَاقِهَا حَنِثَ وَإِنْ لَمْ يَسْتَوْفِهِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى طَلَاقِهَا فِي غدٍ

Jika seseorang bersumpah akan menceraikan istrinya besok, lalu ia menceraikannya hari ini, maka jika dengan talak itu seluruh talaknya telah habis, ia dianggap melanggar sumpahnya. Namun jika belum seluruh talaknya habis, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia masih mampu menceraikannya besok.

وَلَوْ حَلَفَ لَيَتَزَوَّجَنَّ هَذِهِ الْمَرْأَةَ فِي غَدٍ فَتَزَوَّجَهَا الْيَوْمَ وَلَمْ يَتَعَجَّلْ حِنْثَهُ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى طَلَاقِهَا وَاسْتِئْنَافِ نِكَاحِهَا فِي غدٍ فَإِنْ فَعَلَ وَإِلَّا حَنِثَ

Jika seseorang bersumpah, “Aku pasti akan menikahi wanita ini besok,” lalu ia menikahinya hari ini, maka ia belum dianggap melanggar sumpahnya, karena ia masih mampu menceraikannya dan menikahinya kembali besok. Jika ia melakukan hal itu, maka sumpahnya tidak batal; namun jika tidak, ia dianggap melanggar sumpahnya.

وَلَوْ حَلَفَ لَيُعْتِقَنَّ عَبْدَهُ فِي غدٍ فَأَعْتَقَهُ الْيَوْمَ حَنِثَ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى اسْتِئْنَافِ عِتْقِهِ بَعْدَ نُفُوذِهِ الْيَوْمَ بِخِلَافِ النِّكَاحِ وَإِذَا حَنِثَ فِي هَذِهِ الْمَسَائِلِ عَلَى مَا بَيَّنَّا فَفِي زَمَانِ حِنْثِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Jika seseorang bersumpah akan membebaskan budaknya besok, lalu ia membebaskannya hari ini, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena ia tidak mampu lagi memulai pembebasan setelah pembebasan itu berlaku hari ini, berbeda dengan pernikahan. Dan apabila ia melanggar sumpah dalam masalah-masalah ini sebagaimana telah dijelaskan, maka waktu pelanggaran sumpahnya terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا حَكَاهُ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ احْتِمَالًا إنَّهُ يَحْنَثُ لِوَقْتِهِ لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لَهُ إِلَى الْبِرِّ

Salah satu pendapat, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hurairah sebagai kemungkinan, adalah bahwa ia dianggap melanggar sumpahnya saat itu juga karena tidak ada jalan baginya untuk memenuhi sumpah tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَحْنَثُ فِي أَوَّلِ دُخُولِ غَدِهِ لِأَنَّهُ أَوَّلُ أَوْقَاتِ بِرِّهِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia melanggar sumpahnya pada saat pertama kali memasuki hari esok, karena itulah waktu pertama untuk menunaikan sumpahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ إِلَّا بِخُرُوجِ غَدِهِ لِأَنَّهُ أَخَّرَ أَوْقَاتَ بِرِّهِ فَصَارَ وقتاً لحنثه والله أعلم

Pendapat ketiga adalah bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika ia keluar pada hari esoknya, karena ia telah menunda waktu pelaksanaan sumpahnya, sehingga waktu tersebut menjadi waktu terjadinya pelanggaran sumpahnya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي هَكَذَا لَوْ وَهَبَهُ لَهُ رَبُّ الْحَقِّ حَنِثَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ نَوَى أَنْ لَا يَبْقَى عَلَيَّ غَدًا مِنْ حَقِّكَ شيءٌ فَيَبَرَّ

Syafi‘i berkata: Demikian juga, jika pemilik hak memberikannya kepadanya sebagai hibah, maka ia dianggap melanggar sumpah, kecuali jika ia berniat bahwa tidak ada lagi hakmu yang tersisa atas diriku besok, maka ia dianggap menepati sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَلِسُقُوطِ الْحَقِّ عَنْهُ بِغَيْرِ أَدَاءٍ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ada dua keadaan di mana hak gugur darinya tanpa pelaksanaan.”

إِحْدَاهُمَا هِبَةٌ تَتَوَجَّهُ إِلَى الْأَعْيَانِ

Salah satunya adalah hibah yang ditujukan kepada benda-benda tertentu.

وَالثَّانِي إِبْرَاءٌ يَتَوَجَّهُ إِلَى الذِّمَّةِ فَأَمَّا الْهِبَةُ فَهِيَ تَمْلِيكٌ محضٌ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِالْقَبُولِ بَعْدَ الْبَدَلِ وَالْقَبْضِ بَعْدَ الْعَقْدِ فَإِذَا حَلَفَ لَيَقْضِينَّهُ حَقَّهُ فِي غدٍ أَوْ لَيَدْفَعَنَّ إِلَيْهِ حَقَّهُ فِي غدٍ فَوَهَبَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ لَهُ حَنِثَ الْحَالِفُ لِأَنَّ الْحَقَّ سَقَطَ بِغَيْرِ دَفْعٍ وَقَدِ اخْتَارَ التَّمَلُّكَ فَصَارَ مُخْتَارًا لِلْحِنْثِ فَحَنِثَ وَلَوْ كَانَ الْحَقُّ فِي الذِّمَّةِ فَأَبْرَأَهُ مِنْهُ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْإِبْرَاءَ تَمْلِيكٌ يَقِفُ عَلَى الْقَبُولِ حَنِثَ كَالْهِبَةِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ إِسْقَاطٌ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى الْقَبُولِ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ كَالْمَغْلُوبِ عَلَى الْحِنْثِ وَلَكِنْ لَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا فَارَقْتُكَ وَلِي عَلَيْكَ حَقٌّ فَوَهَبَهُ لَهُ أَوْ أَبْرَأَهُ مِنْهُ بَرَّ فِي يَمِينِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ بَعْدَ الْهِبَةِ وَالْإِبْرَاءِ حقٌ

Yang kedua adalah pembebasan (ibrā’) yang ditujukan kepada tanggungan (dzimmah). Adapun hibah, maka ia adalah pemindahan kepemilikan secara murni yang tidak sempurna kecuali dengan penerimaan setelah penyerahan, dan pengambilan setelah akad. Maka jika seseorang bersumpah akan melunasi hak orang lain esok hari, atau akan menyerahkan haknya esok hari, lalu pemilik hak tersebut menghadiahkan (menghibahkan) haknya kepadanya, maka orang yang bersumpah itu dianggap melanggar sumpahnya, karena hak tersebut gugur tanpa penyerahan, dan ia telah memilih untuk memiliki (hak itu), sehingga ia menjadi orang yang memilih untuk melanggar sumpah, maka ia pun melanggar sumpahnya. Dan jika hak itu berupa tanggungan, lalu ia membebaskannya (ibrā’) dari hak tersebut, maka jika dikatakan bahwa pembebasan (ibrā’) adalah pemindahan kepemilikan yang bergantung pada penerimaan, maka ia melanggar sumpah seperti pada hibah. Namun jika dikatakan bahwa pembebasan (ibrā’) adalah pengguguran hak yang tidak memerlukan penerimaan, maka dalam hal pelanggaran sumpahnya ada dua pendapat, seperti orang yang dipaksa untuk melanggar sumpah. Namun, jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berpisah denganmu selama aku masih memiliki hak atasmu,” lalu ia menghibahkan atau membebaskan hak tersebut, maka ia dianggap menepati sumpahnya, karena setelah hibah dan pembebasan itu, ia tidak lagi memiliki hak atas orang tersebut.

وَلَوْ كَانَ لَهُ عِنْدَهُ وَدِيعَةٌ فَفَارَقَهُ قَبْلَ اسْتِرْجَاعِهَا نُظِرَ مَخْرَجُ يَمِينِهِ فَإِنْ قَالَ لَا أُفَارِقُكَ وَلِي عَلَيْكَ حقٌّ بَرَّ مَعَ بَقَاءِ الْوَدِيعَةِ لِأَنَّهُ لَيْسَتْ عَلَيْهِ وَإِنْ قَالَ لَا أُفَارِقُكَ وَلِي عِنْدَكَ حَقٌّ حَنِثَ بِبَقَاءِ الْوَدِيعَةِ لِأَنَّهَا حَقٌّ لَهُ عِنْدَهُ

Dan jika ia memiliki titipan pada orang itu, lalu ia berpisah dengannya sebelum mengambil kembali titipannya, maka dilihat lafaz sumpahnya. Jika ia berkata, “Aku tidak akan berpisah denganmu sementara aku masih memiliki hak atasmu,” maka ia tidak melanggar sumpah selama titipan itu masih ada, karena titipan itu bukan kewajibannya. Namun jika ia berkata, “Aku tidak akan berpisah denganmu sementara aku masih memiliki hak di sisimu,” maka ia melanggar sumpah selama titipan itu masih ada, karena titipan itu adalah haknya yang ada pada orang tersebut.

وَلَوْ كَانَ لَهُ عِنْدَهُ عَارِيَةٌ حَنِثَ فِي الْحَالَيْنِ سَوَاءٌ قَالَ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ لِأَنَّ عَلَيْهِ ضَمَانَهَا وَعِنْدَهُ عينها

Dan jika ia memiliki barang pinjaman (‘āriyah) di sisinya, maka ia dianggap melanggar sumpah dalam kedua keadaan, baik ia mengatakan “atasnya” maupun “di sisinya”, karena atasnya terdapat kewajiban menanggung (dhamān) barang tersebut dan di sisinya ada barang itu secara fisik.

فصل

Bab

ولو حلف لا بعت لِزَيْدٍ مَتَاعًا فَوُكِّلَ زَيْدٌ فِي بَيْعِ مَتَاعِهِ فَبَاعَهُ الْحَالِفُ لَمْ يَحْنَثْ وَعَلَى مَذْهَبٍ مَالِكٍ يَحْنَثُ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ أَضَافَ الْمَتَاعَ إِلَى زيد بلام التمليك فصارت يمين مَقْصُورَةً عَلَى مِلْكِ زَيْدٍ وَهَذَا الْمَتَاعُ مِلْكٌ لِغَيْرِ زَيْدٍ وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا بِعْتُ مَتَاعًا فِي يَدِ زَيْدٍ فَوُكِّلَ زَيْدٌ فِي بَيْعِ مَتَاعِهِ فَبَاعَهُ الْحَالِفُ نُظِرَ فِي تَوْكِيلِ زَيْدٍ فَإِنْ وُكِّلَ أَنْ يَبِيعَهُ كَيْفَ رَأَى بِنَفْسِهِ أَوْ بِغَيْرِهِ حَنِثَ الْحَالِفُ لِأَنَّهُ قَدْ بَاعَ مَتَاعًا فِي يَدِ زَيْدٍ وَإِنْ وُكِّلَ أَنْ يَبِيعَهُ بِنَفْسِهِ فَدَفَعَهُ إِلَى الْحَالِفِ حَتَّى بَاعَهُ كَانَ الْبَيْعُ بَاطِلًا وَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ الْحَالِفُ وَيَكُونُ الْحِنْثُ وَاقِعًا بِمَا يَصِحُّ مِنَ الْبَيْعِ دُونَ مَا فَسَدَ وَكَذَلِكَ سَائِرُ الْعُقُودِ إذا حلف لا يعقدها فعقدها عقداً فاسد لَمْ يَحْنَثْ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِالصَّحِيحِ مِنْهَا وَالْفَاسِدِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الْعَقْدَ فِعْلٌ وَالصِّحَّةَ وَالْفَسَادَ حُكْمٌ وَعَقْدَ يَمِينِهِ عَلَى الْفِعْلِ دُونَ الْحُكْمِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan menjual barang kepada Zaid,” lalu Zaid diberi kuasa untuk menjual barang miliknya, kemudian orang yang bersumpah itu menjualkannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun menurut mazhab Malik, ia dianggap melanggar sumpah, tetapi pendapat ini tidak benar, karena ia telah menisbatkan barang itu kepada Zaid dengan huruf “lām” yang menunjukkan kepemilikan, sehingga sumpahnya terbatas pada barang yang menjadi milik Zaid, sedangkan barang ini adalah milik orang lain. Jika ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menjual barang yang ada di tangan Zaid,” lalu Zaid diberi kuasa untuk menjual barang miliknya, kemudian orang yang bersumpah itu menjualkannya, maka dilihat pada bentuk pemberian kuasa kepada Zaid: jika Zaid diberi kuasa untuk menjualnya dengan cara apa pun menurut kehendaknya sendiri atau melalui orang lain, maka orang yang bersumpah itu dianggap melanggar sumpah, karena ia telah menjual barang yang ada di tangan Zaid. Namun jika Zaid diberi kuasa untuk menjualnya sendiri, lalu ia menyerahkan barang itu kepada orang yang bersumpah hingga orang itu menjualnya, maka penjualannya batal dan orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpah. Pelanggaran sumpah hanya terjadi pada penjualan yang sah, bukan pada penjualan yang rusak. Demikian pula pada seluruh akad lainnya, jika seseorang bersumpah tidak akan melakukan akad tersebut, lalu ia melakukannya dengan akad yang rusak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Abu Hanifah berpendapat bahwa pelanggaran sumpah terjadi baik pada akad yang sah maupun yang rusak, dengan alasan bahwa akad adalah perbuatan, sedangkan sah dan rusaknya adalah hukum, dan sumpahnya berkaitan dengan perbuatan, bukan dengan hukumnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ الْعَقْدَ مَا تَمَّ وَالْفَسَادَ يَمْنَعُ مِنْ تَمَامِهِ وَإِذَا لَمْ يَتِمَّ شَرْطُ الْحِنْثِ لَمْ يَقعْ كَالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ فَإِنَّهُ وَافَقَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِهِ وَخَالَفَ فِي الْبَيْعِ الْفَاسِدِ فَأَوْقَعَ الْحِنْثَ بِهِ فَإِنِ اعْتَبَرَ الْحِنْثَ بِفِعْلِ الْعَقْدِ بَطَلَ النِّكَاحُ وَإِنِ اعْتَبَرَهُ بِصِحَّةِ الْعَقْدِ بَطَلَ بِالْبَيْعِ فَلَمْ يَسْلَمْ لَهُ دَلِيلٌ وَلَمْ يَصِحَّ لَهُ تَعْلِيلٌ

Dalil kami adalah bahwa akad itu belum sempurna, dan kerusakan (fasad) mencegah kesempurnaannya. Jika syarat terjadinya pelanggaran (hinṡ) tidak terpenuhi, maka tidak terjadi, seperti pada nikah fasid, di mana ia sepakat bahwa tidak terjadi pelanggaran dengannya. Namun, ia berbeda pendapat dalam jual beli fasid, sehingga ia menetapkan terjadinya pelanggaran dengannya. Jika ia menganggap pelanggaran terjadi dengan sekadar melakukan akad, maka batal pula nikahnya. Namun jika ia menganggap pelanggaran terjadi dengan sahnya akad, maka batal pula pada jual beli. Maka, tidak ada dalil yang sah baginya dan tidak pula alasan yang benar.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا حَلَفَ لَا يَصُومُ فَدَخَلَ فِي الصِّيَامِ حَنِثَ بِالدُّخُولِ فِيهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْ جَمِيعَ الْيَوْمِ وَلَوْ حَلَفَ لَا يُصَلِّي حَنِثَ بِإِحْرَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا

Jika seseorang bersumpah tidak akan berpuasa, lalu ia masuk dalam puasa, maka ia dianggap melanggar sumpahnya hanya dengan masuk dalam puasa itu, meskipun ia belum menyempurnakan seluruh hari. Dan jika ia bersumpah tidak akan salat, maka ia dianggap melanggar sumpahnya hanya dengan memulai salat, meskipun ia belum menyempurnakannya.

وَقَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ لَا يَحْنَثُ حَتَّى يَقْرَأَ بَعْدَ الْإِحْرَامِ وَيَرْكَعَ فَيَأْتِيَ بِأَكْثَرِ الرَّكْعَةِ

Ibnu Surayj berkata, “Seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya sampai ia membaca (Al-Qur’an) setelah takbir ihram dan rukuk, sehingga ia telah melakukan sebagian besar dari satu rakaat.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رَكْعَةً بِسَجْدَتِهَا يَسْتَوْعِبُ بِهَا جِنْسَ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ

Abu Hanifah berkata: Seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya sampai ia menyempurnakan satu rakaat beserta dua sujudnya, sehingga dengan itu ia telah mencakup seluruh jenis perbuatan shalat.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنْ يَكُونَ مُصَلِّيًا بِالدُّخُولِ فِي الصَّلَاةِ كَمَا يَكُونُ صَائِمًا بِالدُّخُولِ فِي الصِّيَامِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي الْحِنْثِ بِالدُّخُولِ لِأَنَّ الْيَمِينَ إِذَا تَعَلَّقَتْ بِاسْمٍ اسْتَقَرَّ حُكْمُهَا بِالدُّخُولِ فِي أَوَّلِ الِاسْمِ كَمَنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ الدَّارَ فَدَخَلَ أَوَّلَ دِهْلِيزِهَا حَنِثَ وَاسْتِدْلَالُهُ يَفْسُدُ بالجلوس قدراً لتشهد فَإِنَّهُ مِنْ جِنْسِ أَفْعَالِهَا وَلَمْ تَشْتَمِلْ عَلَيْهِ الرَّكْعَةُ الْأُولَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dalil kami adalah bahwa seseorang menjadi musalli (orang yang shalat) dengan masuk ke dalam shalat, sebagaimana seseorang menjadi sha’im (orang yang berpuasa) dengan masuk ke dalam puasa. Maka wajib keduanya disamakan dalam hal pelanggaran (al-hinth) dengan masuk (ke dalam ibadah), karena sumpah (al-yamīn) jika terkait dengan suatu nama, maka hukum sumpah itu tetap berlaku dengan masuk pada awal nama tersebut. Seperti seseorang yang bersumpah tidak akan masuk rumah, lalu ia masuk ke bagian depan rumah (dehliz), maka ia telah melanggar sumpahnya. Dalilnya menjadi rusak dengan duduk sebentar untuk tasyahud, karena itu termasuk jenis perbuatan shalat dan tidak terdapat pada rakaat pertama. Allah lebih mengetahui mana yang benar.

بَابُ مَنْ حَلَفَ عَلَى امْرَأَتِهِ لَا تَخْرُجُ إلا بإذنه

Bab tentang seseorang yang bersumpah kepada istrinya agar tidak keluar kecuali dengan izinnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي مَنْ قَالَ لِامْرَأَتِهِ أَنْتِ طالقٌ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنِي أَوْ حَتَّى آذَنَ لَكِ فَهَذَا عَلَى مرةٍ واحدةٍ وَإِذَا خَرَجَتْ بِإِذْنِهِ فَقَدَ بَرَّ وَلَا يَحْنَثُ ثَانِيَةً إِلَّا أَنْ يَقُولَ كُلَّمَا خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنِي فَهَذَا عَلَى كُلِّ مرةٍ

Imam Syafi‘i berkata: Barang siapa yang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika keluar kecuali dengan izinku atau sampai aku mengizinkanmu,” maka ini berlaku untuk satu kali saja. Jika istrinya keluar dengan izinnya, maka ia telah menepati sumpahnya dan tidak terkena pelanggaran untuk kedua kalinya, kecuali jika ia berkata, “Setiap kali engkau keluar kecuali dengan izinku,” maka ini berlaku untuk setiap kali keluar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ أَلْفَاظَ يَمِينِهِ إِذَا حَلَفَ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَا تَخْرُجَ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa lafaz sumpahnya, apabila ia bersumpah atas istrinya agar tidak keluar kecuali dengan izinnya, terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا مَا اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهَا تَنْعَقِدُ عَلَى مَرَّةٍ واحدة ولا توجب التكرار وذلك لفظتنا إِلَى وَ حَتَّى

Salah satunya adalah apa yang telah disepakati oleh para fuqaha bahwa lafaz tersebut berlaku untuk satu kali saja dan tidak mewajibkan pengulangan, yaitu lafaz “ilā” dan “ḥattā”.

فَإِذَا قَالَ لَهَا أَنْتِ طَالِقٌ إِنْ خَرَجْتِ إِلَى أَنْ آذَنَ لَكِ أَوْ حَتَّى آذَنَ لَكِ فَتَنْعَقِدُ يَمِينُهُ عَلَى خُرُوجِهَا مَرَّةً وَاحِدَةً بِإِذْنِهِ فَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً وَاحِدَةً بِإِذْنِهِ بَرَّ وَانْحَلَّتْ يَمِينُهُ وَلَا يَحْنَثُ وَإِنْ خَرَجَتْ بَعْدَ ذَلِكَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَاخْتَلَفُوا فِي الْعِلَّةِ مَعَ اتِّفَاقِهِمْ فِي الْحُكْمِ فَعَلَّلَ أصحاب أبي حنيفة بأنهما لفظتان غاية ارتفع حكمها بانقضائها

Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Kamu tertalak jika keluar sebelum aku mengizinkanmu atau sampai aku mengizinkanmu,” maka sumpahnya berlaku atas keluarnya istri sekali saja dengan izinnya. Jika istrinya keluar sekali saja dengan izinnya, maka ia telah menepati sumpahnya dan sumpah itu menjadi batal, sehingga ia tidak berdosa. Namun, jika setelah itu istrinya keluar tanpa izinnya, para ulama berbeda pendapat mengenai sebabnya meskipun mereka sepakat dalam hukum. Para pengikut Abu Hanifah beralasan bahwa kedua ungkapan tersebut adalah lafaz yang menunjukkan batas akhir, sehingga hukumnya gugur setelah batas itu terlewati.

وَعَلَّلَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِأَنَّهُمَا لَمَّا لَمْ يَتَكَرَّرَا فِي الْحِنْثِ لَمْ يَتَكَرَّرَا فِي الْبِرِّ

Para pengikut Imam Syafi‘i rahimahullah beralasan bahwa karena keduanya (yaitu sumpah dan kafarat) tidak berulang dalam pelanggaran, maka keduanya juga tidak berulang dalam kebaikan.

وَتَأْثِيرُ هَذَا الِاخْتِلَافِ فِي التَّعْلِيلِ يَتَبَيَّنُ فِي الْقِسْمِ الثَّالِثِ فَهَذَا حُكْمُ الْقِسْم الْأَوَّل

Pengaruh perbedaan dalam penetapan ‘illat ini akan dijelaskan pada bagian ketiga, maka inilah hukum untuk bagian pertama.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهَا تَنْعَقِدُ عَلَى التَّكْرَارِ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ وَهِيَ لَفْظَةٌ وَاحِدَةٌ وَذَلِكَ قَوْلُهُ كُلَّمَا دَخَلْتِ الدَّارَ بِغَيْرِ إِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ فَلَفْظَةُ كُلَّمَا مَوْضُوعَةٌ لِلتَّكْرَارِ فَبِرُّهُ يَكُونُ بِإِذْنِهِ لَهَا فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَحِنْثُهُ يَكُونُ بِأَنْ لَا يَأْذَنَ لَهَا فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ حَنِثَ وَطُلِّقَتْ وَاحِدَةً وَلَمْ تَسْقُطْ يَمِينُهُ وَإِنْ خَرَجَتْ ثَالِثَةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ حَنِثَ وَطُلِّقَتْ ثَالِثَةً وَسَقَطَتْ يَمِينُهُ بَعْدَهَا لِاسْتِيفَاءِ مَا مَلَكَهُ مِنْ طلاقها

Bagian kedua adalah apa yang mereka sepakati bahwa sumpah tersebut berlaku untuk pengulangan dalam pelaksanaan dan pelanggaran, dan itu dengan satu lafaz. Contohnya adalah ucapannya: “Setiap kali kamu masuk rumah tanpa izinku, maka kamu tertalak.” Lafaz “setiap kali” memang digunakan untuk menunjukkan pengulangan. Maka pelaksanaan sumpahnya adalah dengan memberinya izin setiap kali, dan pelanggarannya terjadi jika ia tidak mengizinkannya setiap kali. Jika ia keluar sekali tanpa izinnya, maka ia melanggar sumpah dan jatuh satu talak, namun sumpahnya belum gugur. Jika ia keluar untuk ketiga kalinya tanpa izinnya, maka ia melanggar sumpah dan jatuh talak ketiga, dan setelah itu sumpahnya gugur karena telah terpenuhi apa yang menjadi haknya dalam menjatuhkan talak.

ولو أذن لها بالخروج ثلاثة مرات من ثلاثة خرجات بر ولم تخل يَمِينُهُ لِبَقَاءِ الطَّلَاقِ

Dan jika ia mengizinkannya keluar sebanyak tiga kali dari tiga kali keluar, maka ia telah menunaikan sumpahnya dan sumpahnya tidak batal karena talak masih tetap ada.

فَإِنْ خَرَجَتْ رَابِعَةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ طُلِّقَتْ فَيُقَدَّرُ الْحِنْثُ بِالثَّلَاثِ وَلَمْ يَتَقَدَّرْ بِهَا الْبِرُّ لِاعْتِبَارِ الْحِنْثِ بِمَا مَلَكَهُ مِنْ عَدَدِ الطَّلَاقِ فَلَوْ خَرَجَتْ مَرَّةً بِإِذْنِهِ وَثَانِيَةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَثَالِثَةً بِإِذْنِهِ وَرَابِعَةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ بَرَّ فِي خَرْجَتَيْنِ الْأُولَى وَالثَّالِثَةِ

Jika istri keempat keluar tanpa izinnya, maka ia dicerai, sehingga pelanggaran dihitung tiga kali, dan ketaatan tidak dihitung dengan keluarnya istri keempat, karena pelanggaran dihitung sesuai jumlah talak yang dimilikinya. Maka jika ia keluar sekali dengan izinnya, kedua kali tanpa izinnya, ketiga kali dengan izinnya, dan keempat kali tanpa izinnya, maka ia dianggap taat pada dua kali keluar yang pertama dan ketiga.

وَحَنِثَ فِي خَرْجَتَيْنِ فِي الثَّانِيَةِ وَالرَّابِعَةِ ثُمَّ عَلَى هَذِهِ الْعِبْرَةِ

Dan ia melanggar sumpah pada dua kali keluar, yaitu pada yang kedua dan keempat, kemudian berdasarkan kaidah ini.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا اخْتُلِفَ فِيهِ هَلْ تَنْعَقِدُ يَمِينُهُ عَلَى مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ عَلَى التَّكْرَارِ وَذَلِكَ فِيمَا عَدَا الْقِسْمَيْنِ الْمَاضِيَيْنِ مِنَ الْأَلْفَاظِ وَهِيَ خَمْسَةُ أَلْفَاظٍ

Bagian ketiga adalah perkara yang diperselisihkan apakah sumpahnya berlaku untuk satu kali saja atau untuk pengulangan, dan itu berkaitan dengan selain dua bagian sebelumnya dari lafaz-lafaz sumpah, yaitu ada lima lafaz.

أَحَدُهَا إِنْ خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ إِلَّا بِإِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ

Salah satunya adalah: “Jika kamu keluar dari rumah tanpa izinku, maka kamu tertalak.”

وَالثَّانِيَةُ إِنْ خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ إِلَّا أَنْ آذَنَ لَكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ

Dan yang kedua: Jika engkau keluar dari rumah kecuali aku izinkan kepadamu, maka engkau tertalak.

وَالثَّالِثَةُ إِنْ خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ بِغَيْرِ إِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ

Dan yang ketiga, jika engkau keluar dari rumah tanpa izinku, maka engkau tertalak.

وَالرَّابِعَةُ أَيَّ وَقْتٍ خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ بِغَيْرِ إِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ

Dan yang keempat: Kapan saja engkau keluar dari rumah tanpa izinku, maka engkau tertalak.

وَالْخَامِسَةُ مَتَى خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ بِغَيْرِ إِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ

Yang kelima: Jika engkau keluar dari rumah tanpa izinku, maka engkau tertalak.

فَاخْتَلَفُوا فِي انْعِقَادِ الْيَمِينِ بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ هَلْ تُوجِبُ التَّكْرَارَ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Mereka berbeda pendapat mengenai terjadinya sumpah dengan lafaz-lafaz ini, apakah mewajibkan pengulangan dalam kebaikan (memenuhi sumpah) dan pelanggaran (melanggar sumpah) menurut tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إنَّهَا تَنْعَقِدُ عَلَى مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ وَلَا تُوجِبُ التَّكْرَارَ فِي بِرٍّ وَلَا حِنْثٍ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i raḥimahullāh, berpendapat bahwa sumpah itu sah dengan satu kali saja, baik dalam kebaikan maupun pelanggaran, dan tidak mewajibkan pengulangan dalam kebaikan maupun pelanggaran.

فَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً وَاحِدَةً بِإِذْنٍ بَرَّ وَانْحَلَّتِ الْيَمِينُ وَلَا يَحْنَثُ إِنْ خَرَجَتْ بَعْدَ ذَلِكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ

Jika ia keluar sekali saja dengan izin yang sah, maka sumpahnya menjadi gugur dan tidak berlaku lagi, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika setelah itu keluar tanpa izin.

وَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً وَاحِدَةً بِغَيْرِ إِذْنٍ حِنْثٍ وَسَقَطَتِ الْيَمِينُ وَلَا يَعُودُ الْحِنْثُ إِنْ خَرَجَتْ بَعْدَهُ بِغَيْرِ إِذْنٍ

Jika ia keluar sekali saja tanpa izin, maka ia telah melanggar sumpah dan sumpah itu gugur, serta pelanggaran tidak terulang lagi jika ia keluar setelah itu tanpa izin.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ مُقْتَضَى مَذْهَبِ مَالِكٍ إنَّهَا تَنْعَقِدُ عَلَى التَّكْرَارِ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ وَإِنْ خرجت مرة بإذن بر ولم تخل اليمين وَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً بِغَيْرِ إِذْنٍ حَنِثَ وَلَمْ تَسْقُطِ الْيَمِينُ

Pendapat kedua, yang merupakan konsekuensi dari mazhab Malik, adalah bahwa sumpah itu tetap berlaku atas pengulangan dalam hal kebaikan dan pelanggaran. Jika seseorang keluar sekali dengan izin dan melakukan kebaikan, maka sumpahnya tidak batal. Namun, jika ia keluar sekali tanpa izin, maka ia dianggap melanggar sumpah, tetapi sumpahnya tidak gugur.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهَا تَنْعَقِدُ عَلَى الْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ فِي الْحِنْثِ وَعَلَى التَّكْرَارِ فِي الْبِرِّ فَإِذَا خَرَجَتْ مَرَّةً بِغَيْرِ إِذْنٍ حَنِثَ وَسَقَطَتِ الْيَمِينُ وَلَمْ يَحْنَثْ إِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً مِنْ بَعْدُ بِغَيْرِ إِذْنٍ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa sumpah itu berlaku satu kali dalam hal pelanggaran, dan berlaku berulang kali dalam hal kebaikan. Maka jika istri keluar sekali tanpa izin, suami dianggap melanggar sumpah dan sumpahnya gugur, sehingga jika istri keluar lagi setelah itu tanpa izin, suami tidak lagi dianggap melanggar.

وإن خرجت مرة بإذن بر ولم تخل الْيَمِينُ وَحَنِثَ إِنْ خَرَجَتْ بَعْدَهُ بِغَيْرِ إِذْنٍ وَلِأَصْحَابِهِ فِي هَذَا طَرِيقَانِ

Dan jika ia keluar sekali dengan izin yang baik, maka sumpahnya tidak batal, dan ia dianggap melanggar sumpah jika keluar setelah itu tanpa izin. Dalam hal ini, para sahabatnya memiliki dua pendapat.

مِنْهُمْ مَنْ يَرَى أَنَّ قَوْلَهُ إِلَّا بِإِذْنِي اسْتِثْنَاءٌ يُوجِبُ خُرُوجَ الْمُسْتَثْنَى وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ وَبِرُّهُ بِأَنْ يَكُونَ لَا تَخْرُجُ وَحِنْثُهُ يَكُونُ بِأَنْ تَخْرُجَ بِغَيْرِ إِذْنٍ لِيَكُونَ بَارًّا مِنْ وَجْهٍ وَاحِدٍ وَحَانِثًا مِنْ وَجْهٍ وَاحِدٍ بِهِ وَلَا يَكُونُ بَارًّا مِنْ وَجْهَيْنِ وَحَانِثًا مِنْ وَجْهٍ كَمَنْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ إِنْ كَلَّمْتِ زَيْدًا فَأَنْتِ طَالِقٌ كَانَ بِكَلَامِهَا لزيد حانثاً ويترك كَلَامِهِ بَارًّا وَبِكَلَامِهَا لِغَيْرِهِ غَيْرَ بَارٍّ وَلَا حَانِثٍ وَهَذِهِ أَشْبَهُ بِطَرِيقَةِ الْمُحَقِّقِينَ مِنْهُمْ وَهِيَ فَاسِدَةٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ungkapan “kecuali dengan izinku” adalah pengecualian yang menyebabkan hal yang dikecualikan keluar dari ketentuan, sehingga tidak terkait dengannya kebaikan (birr) maupun pelanggaran sumpah (hinṡ). Kebaikannya adalah jika ia tidak keluar, dan pelanggaran sumpahnya terjadi jika ia keluar tanpa izin, sehingga ia menjadi orang yang berbuat baik dari satu sisi dan melanggar sumpah dari satu sisi pula, dan tidak mungkin menjadi orang yang berbuat baik dari dua sisi dan melanggar sumpah dari satu sisi, seperti orang yang berkata kepada istrinya, “Jika kamu berbicara dengan Zaid, maka kamu tertalak.” Jika ia berbicara dengan Zaid, maka ia melanggar sumpah, dan jika ia tidak berbicara, maka ia berbuat baik, dan jika ia berbicara dengan selain Zaid, maka ia tidak berbuat baik dan tidak pula melanggar sumpah. Pendapat ini lebih mirip dengan metode para muḥaqqiqīn di antara mereka, namun pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ يَمِينَهُ تَضَمَّنَتْ مَنْعًا وَتَمْكِينًا فَالْمَنْعُ خُرُوجُهَا بِغَيْرِ إِذْنٍ وَالتَّمْكِينُ خُرُوجُهَا بِإِذْنٍ

Salah satunya adalah bahwa sumpahnya mencakup larangan dan izin; larangan berarti keluarnya (istri) tanpa izin, dan izin berarti keluarnya (istri) dengan izin.

فَلَمَّا حَنِثَ بِالْجَمْعِ وَجَبَ أَنْ يَبَرَّ بِالتَّمْكِينِ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا قَدْ تَضَمَّنَتْهُ الْيَمِينُ وَخَالَفَ مَا اسْتَشْهَدَ بِهِ مِنْ يَمِينِهِ عَلَى كَلَامِهَا لِزَيْدٍ لِأَنَّ كَلَامَهَا لِغَيْرِهِ لَمْ يَدْخُلْ فِي يَمِينِهِ مِنْ مَنْعٍ وَلَا تَمْكِينٍ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ

Maka ketika ia melanggar sumpah dengan menggabungkan (dua hal), wajib baginya menunaikan kebaikan (berpegang pada sumpah) dengan memberikan izin, karena masing-masing dari keduanya telah tercakup dalam sumpahnya. Ia juga berbeda dengan apa yang dijadikan dalil dari sumpahnya atas ucapannya kepada Zaid, karena ucapannya kepada selain Zaid tidak termasuk dalam sumpahnya, baik dalam hal larangan maupun pemberian izin, sehingga tidak terkait dengannya kebaikan maupun pelanggaran.

وَالثَّانِي إنَّ الْبِرَّ وَالْحِنْثَ يَتَعَلَّقَانِ فِي الْأَيْمَانِ بِشَيْءٍ وَاحِدٍ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى إِثْبَاتٍ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَأَدْخُلَنَّ الدَّارَ كَانَ بِرُّهُ بِدُخُولِهَا وَحِنْثُهُ بِأَنْ لَا يَدْخُلَهَا وَإِنْ كَانَتْ عَلَى نَفْيٍ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا دَخَلْتُ الدَّارَ كَانَ بِرُّهُ بِأَنْ لَا يُدْخِلَهَا وَحِنْثُهُ بِأَنْ يَدْخُلَهَا

Kedua, sesungguhnya birr (menepati sumpah) dan hinth (melanggar sumpah) dalam sumpah-sumpah berkaitan dengan satu hal. Jika sumpah itu berbentuk penetapan, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku pasti akan masuk ke rumah itu,” maka birr-nya adalah dengan masuk ke rumah tersebut, dan hinth-nya adalah dengan tidak masuk ke dalamnya. Dan jika sumpah itu berbentuk penafian, seperti ucapannya, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke rumah itu,” maka birr-nya adalah dengan tidak memasukinya, dan hinth-nya adalah dengan memasukinya.

فَلَمَّا كَانَ حِنْثُهُ فِي قَوْلِهِ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ يَكُونُ بِخُرُوجِهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ بِرُّهُ بِخُرُوجِهَا بِإِذْنِهِ فَنُثْبِتُ بِهَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ فَسَادَ هَذِهِ الطَّرِيقَة

Maka ketika pelanggaran sumpahnya pada ucapannya, “Jika kamu keluar kecuali dengan izinku maka kamu tertalak,” terjadi dengan keluarnya (istri) tanpa izinnya, maka seharusnya pemenuhan sumpahnya terjadi dengan keluarnya (istri) dengan izinnya. Dengan dua makna ini, kami menetapkan rusaknya metode ini.

وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ لَهُمْ أَنْ يُسَلِّمُوا وُقُوعَ الْبِرِّ بِالْخُرُوجِ بِإِذْنٍ كَمَا أَنَّ وُقُوعَ الْحِنْثِ بِالْخُرُوجِ بِغَيْرِ إِذْنٍ وَيَسْتَدِلُّوا عَلَى وُجُوبِ تَكْرَارِ الْبِرِّ وَإِنْ لَمْ يَتَكَرَّرَ الْحِنْثُ بِأَمْرَيْنِ

Cara kedua bagi mereka adalah menerima bahwa pelaksanaan nazar (al-birr) terjadi dengan keluar rumah atas izin, sebagaimana pelanggaran nazar (al-hinth) terjadi dengan keluar tanpa izin. Mereka juga berdalil atas wajibnya mengulangi pelaksanaan nazar meskipun pelanggaran nazar tidak berulang, dengan dua alasan.

أَحَدُهُمَا إِنَّمَا انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَيْهِ فِي قَوْلِهِ لِزَوْجَتِهِ إِنْ خَرَجْتِ مِنَ الدَّارِ إِلَّا رَاكِبَةً فَأَنْتِ طَالِقٌ أَنَّ الْبِرَّ يَتَكَرَّرُ وَالْحِنْثَ لَا يَتَكَرَّرُ وَيَلْزَمُهَا أَنْ تَخْرُجَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ رَاكِبَةً وَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً غَيْرَ رَاكِبَةٍ حَنِثَ وَسَقَطَتِ الْيَمِينُ وَإِنْ خَرَجَتْ مَرَّةً رَاكِبَةً بَرَّ وَلَمْ تخل الْيَمِينُ وَلَزِمَهَا الْخُرُوجُ بَعْدَ هَذَا الْبِرِّ رَاكِبَةً أَبَدًا كَذَلِكَ مَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ مِنْ قَوْلِهِ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنٍ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَخَرَجَتْ مَرَّةً بِإِذْنِهِ لَمْ تخل الْيَمِينُ وَلَزِمَهَا أَنْ تَخْرُجَ كُلَّ مَرَّةٍ بِإِذْنِهِ

Salah satunya adalah bahwa ijmā‘ telah terjadi atas pernyataan seorang suami kepada istrinya: “Jika kamu keluar dari rumah kecuali dengan berkendara, maka kamu tertalak,” bahwa kebaikan (memenuhi syarat) itu berulang, sedangkan pelanggaran tidak berulang, dan istri wajib keluar setiap kali dengan berkendara. Jika ia keluar sekali tanpa berkendara, maka ia telah melanggar dan sumpahnya gugur. Jika ia keluar sekali dengan berkendara, maka ia telah memenuhi syarat dan sumpahnya tidak gugur, dan ia tetap wajib keluar setelah itu dengan berkendara selamanya. Demikian pula dalam hal yang kita perselisihkan dari ucapannya: “Jika kamu keluar kecuali dengan izin, maka kamu tertalak,” lalu ia keluar sekali dengan izinnya, maka sumpahnya tidak gugur dan ia wajib keluar setiap kali dengan izinnya.

وَلَوْ خَرَجَتْ مَرَّةً بِغَيْرِ إِذْنِهِ حَنِثَ وَسَقَطَتِ الْيَمِينُ فَيَكُونُ الْإِجْمَاعُ فِي اشْتِرَاطِ الرُّكُوبِ دَلِيلًا عَلَى الْخِلَافِ فِي اشْتِرَاطِ الْإِذْنِ إِذْ لَيْسَ بَيْنَ الشَّرْطَيْنِ فَرْقٌ فِي الْحُكْمِ

Dan jika ia (istri) keluar sekali saja tanpa izinnya (suami), maka suami dianggap melanggar sumpahnya dan sumpah itu gugur. Maka ijmā‘ dalam mensyaratkan (adanya) kendaraan menjadi dalil adanya perbedaan pendapat dalam mensyaratkan izin, karena tidak ada perbedaan hukum antara kedua syarat tersebut.

والثاني أنه لما كان البر يترك الْخُرُوجَ مُؤَبَّدًا وَالْحِنْثُ بِالْخُرُوجِ مِنْ غَيْرِ إِذْنٍ مُقَيَّدًا وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْبِرُّ بِالْخُرُوجِ بِالْإِذْنِ مُتَكَرِّرًا وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْحِنْثُ بِالْخُرُوجِ بِغَيْرِ إذن متكرراً

Kedua, karena memenuhi sumpah (al-birr) berarti meninggalkan keluar secara permanen, sedangkan melanggar sumpah (al-hinth) dengan keluar tanpa izin itu bersifat terbatas, maka seharusnya memenuhi sumpah dengan keluar atas izin itu dilakukan berulang kali, meskipun pelanggaran sumpah dengan keluar tanpa izin tidak dilakukan berulang kali.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dan dalil atas rusaknya metode ini ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا لَمَّا كَانَ عَقْدُ الْيَمِينِ بِلَفْظِ الْغَايَةِ يُوجِبُ اسْتِوَاءَ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فِي سُقُوطِ التَّكْرَارِ وَكَانَ عَقْدُهَا بِقَوْلِهِ كُلَّمَا يُوجِبُ اسْتِوَاءَ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فِي وُجُوبِ التَّكْرَارِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَقْدُهَا بِمَا اخْتَلَفَا فِيهِ مِنْ قَوْلِهِ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنِي مُلْحَقًا بِأَحَدِهِمَا فِي اسْتِوَاءِ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فِي وُجُوبِ التَّكْرَارِ وَسُقُوطِهِ فَلَمَّا سَقَطَ التَّكْرَارُ فِي الْحِنْثِ وَجَبَ أَنْ يَسْقُطَ التَّكْرَارُ فِي الْبِرِّ

Salah satunya, ketika akad sumpah dengan lafaz tujuan menyebabkan kesamaan antara memenuhi dan melanggar sumpah dalam gugurnya kewajiban pengulangan, dan ketika akad sumpah dengan ucapan “setiap kali” menyebabkan kesamaan antara memenuhi dan melanggar sumpah dalam wajibnya pengulangan, maka akad sumpah dengan lafaz yang diperselisihkan di antara keduanya, seperti ucapan “jika engkau keluar kecuali dengan izinku”, harus disamakan dengan salah satunya dalam hal kesamaan antara memenuhi dan melanggar sumpah dalam wajibnya pengulangan atau gugurnya. Maka ketika pengulangan gugur dalam pelanggaran sumpah, wajib pula pengulangan gugur dalam pemenuhan sumpah.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا إنَّ كُلَّ يَمِينٍ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَنْعٍ وَتَمْكِينٍ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْبِرُّ فِيهَا مُقَابِلًا لِلْحِنْثِ فِي وُجُوبِ التَّكْرَارِ وَسُقُوطِهِ كَالْمَعْقُودِ بِلَفْظِ الْغَايَةِ فِي سُقُوطِ التَّكْرَارِ وَكَالْمَعْقُودَةِ بِ كُلَّمَا فِي وُجُوبِ التَّكْرَارِ

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa setiap sumpah yang mengandung larangan dan pembolehan, maka haruslah pelaksanaan sumpah tersebut berbanding terbalik dengan pelanggarannya dalam hal kewajiban pengulangan dan gugurnya, seperti sumpah yang diucapkan dengan lafaz tujuan (ghāyah) dalam hal gugurnya pengulangan, dan seperti sumpah yang diucapkan dengan lafaz “setiap kali” (kullamā) dalam hal wajibnya pengulangan.

وَالثَّانِي إنَّ الْبِرَّ وَالْحِنْثَ فِي الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرَانِ بِالْعَقْدِ فَإِنْ أَوْجَبَ تَكْرَارَ الْمَنْعِ وَالتَّمْكِينِ أَوْجَبَ تَكْرَارَ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ وَإِنْ لَمْ يُوجِبْ تَكْرَارَهُمَا لَمْ يَتَكَرَّرِ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ وَلَفْظُ التَّكْرَارِ مَعْدُومٌ فِي قَوْلِهِ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا بِإِذْنِي فَانْعَقَدَ عَلَى مَرَّةٍ وَمَوْجُودٌ فِي قَوْلِهِ كُلَّمَا خَرَجْتِ بِغَيْرِ إِذْنِي فَانْعَقَدَ عَلَى كُلِّ مَرَّةٍ

Kedua, sesungguhnya kebaikan (birr) dan pelanggaran (hinth) dalam sumpah-sumpah itu bergantung pada akadnya. Jika akad tersebut mewajibkan pengulangan larangan dan pembolehan, maka mewajibkan pula pengulangan kebaikan dan pelanggaran. Namun jika tidak mewajibkan pengulangan keduanya, maka kebaikan dan pelanggaran pun tidak berulang. Lafal pengulangan tidak terdapat dalam ucapannya: “Jika engkau keluar kecuali dengan izinku,” maka akadnya hanya berlaku untuk satu kali. Sedangkan lafal pengulangan terdapat dalam ucapannya: “Setiap kali engkau keluar tanpa izinku,” maka akadnya berlaku untuk setiap kali keluar.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ لَهَا إِنْ خَرَجْتِ بِإِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ انْعَقَدَتْ عَلَى مَرَّةٍ وَلَوْ قَالَ كُلَّمَا خَرَجْتِ بِإِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ انْعَقَدَتْ عَلَى مَرَّةٍ وَلَوْ قَالَ كُلَّمَا خَرَجْتِ بِإِذْنِي انْعَقَدَتْ عَلَى التَّكْرَارِ وَمَا انْعَقَدَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ سَوَاءٌ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ فِي التَّكْرَارِ وَالِانْفِرَادِ لِأَنَّ عَقْدَهَا إِنْ قَابَلَتْ مُقْتَضَاهَا كَانَ حُكْمُهَا مَقْصُورًا عَلَيْهِ

Tidakkah kamu melihat, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu keluar dengan izinku, maka kamu tertalak,” maka hal itu berlaku untuk satu kali saja. Dan jika ia berkata, “Setiap kali kamu keluar dengan izinku, maka kamu tertalak,” maka hal itu juga berlaku untuk satu kali saja. Namun jika ia berkata, “Setiap kali kamu keluar dengan izinku,” maka hal itu berlaku berulang kali. Apa yang menjadi dasar sumpah, baik dalam ketaatan maupun pelanggaran, berlaku sama dalam hal pengulangan maupun satu kali, karena akadnya, jika sesuai dengan maksudnya, maka hukumnya terbatas pada maksud tersebut.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا إنَّ مَا انْعَقَدَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ فِيهِ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ قِيَاسًا عَلَى تَعْلِيقِ الطَّلَاقِ بِالْإِذْنِ تَسْوِيَةً بَيْنَ الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa perkara yang menjadi objek sumpah wajib agar antara menepati sumpah (al-birr) dan melanggarnya (al-hinth) memiliki kedudukan yang sama, berdasarkan qiyās pada pengaitan talak dengan izin, yaitu menyamakan antara penetapan dan penafian.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِقَوْلِهِ إِنْ خَرَجْتِ إِلَّا رَاكِبَةً فَهُوَ إنَّ هَذَا تَعْلِيقُ طَلَاقٍ بِصِفَةٍ وَهِيَ خُرُوجُهَا مَاشِيَةً فَوَقَعَ بِوُجُودِ الصِّفَةِ وَلَيْسَتْ يَمِينًا تُوجِبُ مَنْعًا وَتَمْكِينًا فَافْتَرَقَا

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan ucapannya “Jika engkau keluar kecuali dengan berkendara,” maka ini adalah penangguhan talak dengan suatu sifat, yaitu keluarnya istri dengan berjalan kaki, sehingga talak terjadi dengan adanya sifat tersebut. Ini bukanlah sumpah yang mewajibkan larangan atau keharusan, maka keduanya berbeda.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اجْتِمَاعِهِمْ بِامْتِدَادِ الْبِرِّ فِي الْمَقَامِ إِلَى الْمَوْتِ وَتَوْقِيتِ الْحِنْثِ بِالْخُرُوجِ فَهُوَ أَنَّ الْمَقَامَ فِي مَنْزِلِهَا تَرْكٌ مُطْلَقٌ فَحُمِلَ عَلَى التَّأْبِيدِ فِي الْبِرِّ وَالْخُرُوجُ فِعْلٌ مُقَيَّدٌ بِوَقْتِهِ فَتُقَدِّرُ بِهِ الْبِرَّ وَالْحِنْثَ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْبِرُّ فِيهِ مُسَاوِيًا لِلْحِنْثِ

Adapun jawaban mengenai berkumpulnya mereka dalam memperluas makna kebaikan (al-birr) dalam menetap di tempat itu hingga kematian, dan penetapan waktu pelanggaran (al-hinth) dengan keluar dari tempat tersebut, maka sesungguhnya menetap di rumahnya adalah bentuk meninggalkan (sesuatu) secara mutlak, sehingga dipahami sebagai keabadian dalam kebaikan (al-birr). Sedangkan keluar adalah perbuatan yang dibatasi oleh waktunya, sehingga kebaikan (al-birr) dan pelanggaran (al-hinth) diukur dengannya. Maka wajiblah kebaikan (al-birr) di dalamnya setara dengan pelanggaran (al-hinth).

فَصْلٌ

Bagian

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ أَنْ يَقُولَ لَهَا إِنْ خَرَجْتِ إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ بِغَيْرِ إِذْنِي فَأَنْتِ طَالِقٌ فَخُرُوجُهَا إِلَى الْحَمَّامِ مُسْتَثْنًى مِنْ يَمِينِهِ لِأَنَّهُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى إِذْنٍ وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ فَالْيَمِينُ مُنْعَقِدَةٌ عَلَى خُرُوجِهَا إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ فَإِنْ خَرَجَتْ إِلَيْهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ حَنِثَ وَسَقَطَتِ الْيَمِينُ فَإِنْ خَرَجَتْ إِلَيْهِ بِإِذْنِهِ بَرَّ وَانْحَلَّتِ الْيَمِينُ

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu keluar ke selain pemandian tanpa izinku, maka kamu tertalak,” maka keluarnya istri ke pemandian dikecualikan dari sumpahnya, karena keluar ke pemandian tidak memerlukan izin dan tidak terkait dengan pelaksanaan sumpah maupun pelanggarannya. Maka sumpah itu berlaku atas keluarnya istri ke selain pemandian. Jika ia keluar ke tempat selain pemandian tanpa izinnya, maka ia melanggar sumpah dan sumpah itu gugur. Namun jika ia keluar ke tempat itu dengan izinnya, maka ia telah memenuhi sumpah dan sumpah itu menjadi batal.

فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يحل خُرُوجُهَا بِغَيْرِ إِذْنٍ إِذَا جَمَعَتْ فِيهِ بَيْنَ الْحَمَّامِ وَغَيْرِ الحمام على ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Maka jika demikian, tidaklah halal baginya keluar tanpa izin apabila ia menggabungkan dalam hal itu antara pemandian umum dan selain pemandian umum dalam tiga bentuk.

أَحَدُهَا أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْحَمَّامِ ثُمَّ تَعْدِلُ إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ فَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ اعْتِبَارًا بِقَصْدِ الْخُرُوجِ أَنَّهُ كَانَ إِلَى الْحَمَّامِ

Salah satunya adalah jika ia keluar menuju pemandian, kemudian berbelok ke tempat lain selain pemandian, maka tidak ada pelanggaran sumpah atasnya, karena yang diperhitungkan adalah maksud keluar itu memang menuju pemandian.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَخْرُجَ إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ ثُمَّ تَعْدِلُ إِلَى الْحَمَّامِ فَيَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِقَصْدِ الْخُرُوجِ أَنَّهُ كَانَ إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ

Jenis yang kedua adalah jika ia keluar menuju selain pemandian, kemudian berbelok ke pemandian, maka ia dianggap melanggar sumpah, dengan pertimbangan bahwa niat keluarnya adalah menuju selain pemandian.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ تَخْرُجَ جَامِعَةً فِي قَصْدِهَا بَيْنَ الْحَمَّامِ وَغَيْرِ الْحَمَّامِ فَيَحْنَثُ لِأَنَّ خُرُوجَهَا إِلَى غَيْرِ الْحَمَّامِ مَوْجُودٌ فَلَمْ يَمْنَعِ اقْتِرَانُهُ بِالْخُرُوجِ إِلَى الْحَمَّامِ مِنْ وُقُوعِ الْحِنْثِ بِهِ

Jenis yang ketiga adalah jika ia keluar dengan maksud yang mencakup keduanya, yaitu ke pemandian dan selain pemandian, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena keluarnya ke selain pemandian itu terjadi. Maka, bergabungnya dengan keluar ke pemandian tidak mencegah terjadinya pelanggaran sumpah karena keluar ke selain pemandian tersebut.

وَوَهِمَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ فَقَالَ لَا يَحْنَثُ بِهِ تَغْلِيبًا لِمَا لَا يُوجِبُ الْحِنْثَ عَلَى ما يوجبه وزلله فيه وَاضِحٌ لِمَا عَلَّلْنَاهُ

Abu Hamid al-Isfara’ini telah keliru dengan mengatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya dalam hal ini, dengan mengedepankan apa yang tidak mewajibkan pelanggaran sumpah atas apa yang mewajibkannya. Kekeliruannya dalam hal ini jelas, sebagaimana alasan yang telah kami jelaskan.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ لَهَا إِنْ كَلَّمْتِ زَيْدًا فَأَنْتِ طَالِقٌ فَكَلَّمَتْ زيداً وعمراً معاً طلقت ولم يمنع كلاهما لِعَمْرٍو مِنْ وُقُوعِ الطَّلَاقِ بِكَلَامِهَا لِزَيْدٍ؟ !

Tidakkah engkau melihat, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika engkau berbicara dengan Zaid, maka engkau tertalak,” lalu istrinya berbicara dengan Zaid dan Amr sekaligus, maka ia tertalak, dan pembicaraannya dengan Amr tidak mencegah terjadinya talak karena pembicaraannya dengan Zaid?

فَصْلٌ

Bab

فَأَمَّا الْإِذْنُ فَقَدْ يَكُونُ تَارَةً بِالْقَوْلِ وَتَارَةً بِالْكِنَايَةِ وَتَارَةً بِالرِّسَالَةِ وَتَارَةً بِالْإِشَارَةِ وَجَمِيعُهُ يَكُونُ إِذْنًا اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ فِيهِ

Adapun izin, terkadang diberikan secara lisan, terkadang dengan kinayah, terkadang melalui surat, dan terkadang dengan isyarat, dan semuanya dianggap sebagai izin menurut ‘urf (kebiasaan yang berlaku) dalam hal ini.

وَسَوَاءٌ ابْتَدَأَ الزَّوْجُ بِالْإِذْنِ أَوْ سَأَلَتْهُ فَأَذِنَ

Sama saja, apakah suami yang memulai memberikan izin atau istri yang memintanya lalu suami mengizinkan.

فَإِنِ اسْتَأْذَنَتْهُ وَأَمْسَكَ فَلَمْ يَكُنْ مِنْهُ إِذْنٌ وَلَا مَنْعٌ لَمْ يَكُنِ السُّكُوتُ إِذْنًا إِلَّا أَنْ تَقْتَرِنَ بِهِ إِشَارَةٌ فَتَصِيرَ الْإِشَارَةُ إِذْنًا

Jika ia meminta izin kepadanya, lalu ia diam tanpa memberikan izin maupun larangan, maka diam itu bukanlah izin, kecuali jika disertai dengan isyarat, sehingga isyarat tersebut menjadi izin.

فَإِنْ أَذِنَ لَهَا ثُمَّ رَجَعَ فِي إِذْنِهِ لَمْ يَسْقُطْ حُكْمُ الْإِذْنِ بِرُجُوعِهِ لِأَنَّ شَرْطَ الْبِرِّ وُجُودُ الْإِذْنِ وَلَيْسَ بَقَاؤُهُ عَلَيْهِ شَرْطًا فِيهِ وَسَوَاءٌ كَانَ رجوعه قبل الخروج أبو بَعْدَهُ

Jika ia telah mengizinkannya, kemudian ia menarik kembali izinnya, maka hukum izin tersebut tidak gugur dengan penarikan kembali izinnya, karena syarat kebolehan adalah adanya izin, bukan tetapnya izin tersebut. Sama saja apakah penarikan kembali itu dilakukan sebelum ia keluar atau sesudahnya.

فَإِنْ شَرَطَ إِذْنًا بَاقِيًا فَرَجَعَ فِيهِ حَنِثَ إِنْ كَانَ رُجُوعُهُ قَبْلَ الْخُرُوجِ وَلَمْ يَحْنَثْ إِنْ كَانَ رُجُوعُهُ بَعْدَ الْخُرُوجِ

Jika ia mensyaratkan izin yang tetap, lalu ia menarik kembali izinnya, maka ia dianggap melanggar sumpah jika penarikan kembali itu dilakukan sebelum keluar, dan tidak dianggap melanggar sumpah jika penarikan kembali itu dilakukan setelah keluar.

وَلَوْ شَرَطَ فِي يَمِينِهِ أَنْ يَكُونَ خُرُوجُهَا بِإِذْنِ غَيْرِهِ اعْتُبِرَ إِذْنُ ذَلِكَ الْغَيْرِ دُونَ الْحَالِفِ وَلَوْ شَرَطَ إِذْنَهُمَا مَعًا حَنِثَ بِخُرُوجِهَا عَنْ إِذْنِ أَحَدِهِمَا فَإِنْ أَذِنَ لِلْغَيْرِ أَنْ يَأْذَنَ لَهَا فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Dan jika dalam sumpahnya ia mensyaratkan bahwa keluarnya (perempuan) harus dengan izin selain dirinya, maka yang dianggap adalah izin dari orang lain tersebut, bukan dari orang yang bersumpah. Dan jika ia mensyaratkan izin keduanya sekaligus, maka ia dianggap melanggar sumpah jika perempuan itu keluar tanpa izin salah satu dari keduanya. Jika ia memberi izin kepada orang lain untuk mengizinkan perempuan itu keluar, maka terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَقُولَ ائْذَنْ لَهَا عَنْ نَفْسِكَ فَلَا يُجْزِئُ فِي الْبِرِّ أَنْ يَأْذَنَ لَهَا الْغَيْرُ حَتَّى يَأْذَنَ مَعَهُ الْحَالِفُ فَإِنْ أَذِنَ الْغَيْرُ وَلَمْ يَأْذَنِ الْحَالِفُ حَنِثَ

Salah satunya adalah jika ia berkata, “Izinkanlah dia atas namamu sendiri,” maka tidak cukup dalam memenuhi sumpah (al-birr) jika yang memberi izin adalah orang lain, sampai orang yang bersumpah juga memberi izin bersamanya. Jika yang memberi izin adalah orang lain dan orang yang bersumpah tidak memberi izin, maka ia dianggap melanggar sumpah (hanits).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَقُولَ ائْذَنْ لَهَا عَنِّي فَقَدْ صَارَ فِي الْإِذْنِ نَائِبًا عَنِ الْحَالِفِ فَيَحْتَاجُ الْغَيْرُ أَنْ يَأْذَنَ لَهَا إِذْنَيْنِ

Jenis yang kedua adalah apabila seseorang berkata, “Izinkanlah dia atas namaku,” maka dalam hal ini orang tersebut menjadi wakil dari orang yang bersumpah dalam memberikan izin, sehingga orang lain perlu memberinya dua izin.

أَحَدُهُمَا عَنْ نَفْسِهِ

Salah satunya berasal dari dirinya sendiri.

وَالثَّانِي عَنِ الْحَالِفِ

Dan yang kedua berasal dari pihak yang bersumpah.

فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الْإِذْنَيْنِ بَرَّ الْحَالِفُ وَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا حَنِثَ

Maka jika ia menggabungkan antara dua izin tersebut, sumpahnya tetap sah. Namun jika ia hanya melakukan salah satunya, ia dianggap melanggar sumpah.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يُطْلِقَ إِذْنَهُ لِلْغَيْرِ فَيُسْأَلَ عَنْهُ الْحَالِفُ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ أَحَدَ الْأَمْرَيْنِ عُمِلَ عَلَيْهِ وَكَانَ حُكْمُهُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الضربين فإن فات سؤال الحالف عنه الغيبة طَالَتْ نُظِرَ حَالُ ذَلِكَ الْغَيْرِ مَعَ الْحَالِفِ

Jenis ketiga adalah seseorang memberikan izin secara mutlak kepada orang lain, lalu orang yang bersumpah ditanya tentang maksudnya. Jika ia menghendaki salah satu dari dua perkara, maka yang dijalankan adalah apa yang ia maksudkan, dan hukumnya mengikuti apa yang telah dijelaskan pada dua jenis sebelumnya. Namun jika pertanyaan kepada orang yang bersumpah itu terlewatkan karena ia tidak hadir dalam waktu yang lama, maka dilihat keadaan orang lain tersebut dengan orang yang bersumpah.

فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ جَرَتْ عَادَتُهُ أَنْ يَأْمُرَهُ وَيَنْهَاهُ صَارَ هَذَا الْإِذْنُ لَهُ أَمْرًا فَيَكُونُ إِذْنًا عَنِ الْحَالِفِ فَيَصِيرُ كَالضَّرْبِ الثَّانِي

Jika orang yang bersangkutan memang sudah menjadi kebiasaannya untuk memerintah dan melarangnya, maka izin tersebut dianggap sebagai perintah baginya, sehingga izin itu berasal dari pihak yang bersumpah, dan hal itu menjadi seperti pada jenis yang kedua.

وَإِنْ لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ صَارَ مِثْلُ هَذَا الْإِذْنِ طَلَبًا فَيَكُونُ إِذْنًا عَنِ الْغَيْرِ فَيَصِيرُ كَالضَّرْبِ الْأَوَّلِ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan jika kebiasaannya tidak berlangsung dengan perintah dan larangannya, maka izin seperti ini menjadi permintaan, sehingga dianggap sebagai izin dari selainnya, lalu menjadi seperti jenis yang pertama berdasarkan pertimbangan ‘urf (kebiasaan), dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ أَذِنَ لَهَا وَأَشْهَدَ عَلَى ذَلِكَ فَخَرَجَتْ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ قَدْ أَذِنَ لَهَا وَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ كَمَا لَوْ كَانَ عَلَيْهِ حقٌّ لِرَجُلٍ فَغَابَ أَوْ مَاتَ فَجَعَلَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ فِي حلٍّ بَرِئَ غَيْرَ أَنِّي أُحِبُّ لَهُ فِي الْوَرَعِ لَوْ أَحْنَثَ نَفْسَهُ لِأَنَّهَا خَرَجَتْ عَاصِيَةً لَهُ عِنْدَ نَفْسِهَا وَإِنْ كَانَ قَدْ أَذِنَ لَهَا

Imam Syafi‘i berkata: Jika suami telah mengizinkan istrinya dan menghadirkan saksi atas izin tersebut, lalu istrinya keluar (rumah), maka suami tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena ia telah memberikan izin kepadanya, meskipun istrinya tidak mengetahui (izin tersebut). Hal ini seperti seseorang yang memiliki hak atas orang lain, lalu orang tersebut pergi atau meninggal dunia, kemudian pemilik hak membebaskannya, maka ia telah terbebas. Namun, aku lebih menyukai sikap kehati-hatian, yaitu jika suami tetap menganggap dirinya melanggar sumpah, karena istrinya keluar dalam keadaan merasa durhaka kepadanya menurut pengetahuannya sendiri, meskipun sebenarnya suami telah mengizinkannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ بِطَلَاقِهَا أَنْ لَا تَخْرُجَ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَأَذِنَ لَهَا وَلَمْ تَعْلَمْ بِالْإِذْنِ حَتَّى خَرَجَتْ لَمْ يَحْنَثْ وَلَا يَكُونُ عِلْمُهَا بِالْإِذْنِ شَرْطًا فِي الْبِرِّ هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, yaitu jika seseorang bersumpah dengan talak terhadap istrinya agar ia tidak keluar kecuali dengan izinnya, lalu ia telah mengizinkannya namun istrinya tidak mengetahui izin tersebut hingga ia keluar, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, dan pengetahuan istri tentang izin itu tidak menjadi syarat dalam kebaikan (pemenuhan sumpah). Inilah mazhab Syafi‘i dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Yusuf.”

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٌ يَحْنَثُ وَيَكُونُ عِلْمُهَا بِالْإِذْنِ شَرْطًا فِي الْبِرِّ اسْتِدْلَالًا بِأَرْبَعَةِ مَعَانٍ

Malik, Abu Hanifah, dan Muhammad berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dan pengetahuan istri tentang izin suami menjadi syarat dalam menunaikan sumpah, dengan berdalil pada empat makna.

أَحَدُهَا إنَّ الْإِذْنَ تَضَمَّنَ الْإِعْلَامَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ أَيْ أَعْلِمْهُمْ بِفَرْضِهِ وَقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ إِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي أَيْ أَعْلِمِينِي وَقَوْلِ الشَّاعِرِ

Salah satunya adalah bahwa izin mengandung makna pemberitahuan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan beritahukanlah kepada manusia tentang haji,” yaitu, kabarkanlah kepada mereka tentang kewajibannya; dan sabda Nabi ﷺ kepada Fathimah binti Qais: “Jika engkau telah selesai (dari masa idah), maka beritahukanlah kepadaku,” yaitu, kabarkanlah kepadaku; serta perkataan penyair:

آذَنَتْنَا بِبَيْنِهَا أَسْمَاءُ رُبَّ ثاوٍ يُمَلُّ مِنْهُ الثَّوَاءُ

Telah memberitahukan kepada kita tentang perpisahannya, nama-nama tempat yang sering kali membuat bosan orang yang tinggal di sana terlalu lama.

أَيْ أَعْلَمَتْنَا فَإِذَا ثَبَتَ بِالشَّرْعِ وَاللُّغَةِ أَنَّ الْإِذْنَ يَتَضَمَّنُ الْإِعْلَامَ صَارَ شَرْطًا فِيهِ فَإِنْ عُدِمَ لَمْ يَكْمُلِ الْإِذْنُ فَلَمْ يَقَعْ بِهِ الْبِرُّ

Yakni, ia telah memberitahukan kepada kami. Maka, apabila telah tetap menurut syariat dan bahasa bahwa izin mengandung pemberitahuan, maka pemberitahuan menjadi syarat di dalamnya. Jika pemberitahuan itu tidak ada, maka izin tersebut tidak sempurna, sehingga kebaikan (birr) tidak terwujud dengannya.

وَالثَّانِي إنَّ الْإِذْنَ أَمْرٌ يُخَالِفُ مَا بَعْدَهُ حُكْمَ مَا قَبْلَهُ فَجَرَى مَجْرَى النَّسْخِ ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّ الْعِلْمَ بِالنَّسْخِ شَرْطٌ فِي لُزُومِهِ كَذَلِكَ الْعِلْمُ بِالْإِذْنِ شَرْطٌ فِي صِحَّتِهِ

Kedua, sesungguhnya izin adalah perkara yang bertentangan dengan hukum sebelumnya, sehingga ia berlaku seperti nasakh. Kemudian telah tetap bahwa pengetahuan tentang nasakh merupakan syarat dalam kewajibannya, demikian pula pengetahuan tentang izin merupakan syarat dalam keabsahannya.

وَالثَّالِثُ إنَّهُ أَلْزَمَهَا بِخُرُوجِهِ عَنْ إِذْنِهِ أَنْ تَكُونَ مُطِيعَةً فِي الْخُرُوجِ فَإِذَا لَمْ تَعَلَمْ بِالْإِذْنِ صَارَتْ عَاصِيَةً بِالْخُرُوجِ فَلَمْ يَكُنْ هُوَ الْخُرُوجَ الْمَأْذُونَ فِيهِ فَوَجَبَ أَنْ يَحْنَثَ بِهِ وَيَصِيرَ عَدَمُ عِلْمِهَا بِالْإِذْنِ جَارِيًا مَجْرَى عَدَمِ الْإِذْنِ لِوُجُودِ الْمَعْصِيَةِ فِيهِمَا كَمَنْ بَاعَ مَا لَا يَعْلَمُ أَنَّهُ مَالِكٌ لَهُ ثُمَّ عَلِمَ أَنَّهُ قَدْ كَانَ مَالِكًا لَهُ كَانَ بَيْعُهُ بَاطِلًا وَجَرَى عَدَمُ عِلْمِهِ بِالْمِلْكِ مَجْرَى عَدَمِ الْمِلْكِ

Ketiga, sesungguhnya ia mewajibkan kepada istrinya, dengan keluarnya tanpa izin suami, untuk taat dalam hal keluar rumah. Maka jika ia tidak mengetahui adanya izin, ia menjadi durhaka karena keluar rumah, sehingga keluarnya itu bukanlah keluar yang diizinkan. Oleh karena itu, suami wajib melanggar sumpahnya, dan ketidaktahuan istri tentang adanya izin diperlakukan seperti tidak adanya izin, karena keduanya sama-sama mengandung unsur maksiat. Hal ini seperti seseorang yang menjual sesuatu yang ia tidak tahu bahwa ia memilikinya, kemudian ia mengetahui bahwa ternyata ia memang memilikinya; maka jual belinya batal, dan ketidaktahuannya tentang kepemilikan diperlakukan seperti tidak adanya kepemilikan.

وَالرَّابِعُ إنَّ الْإِذْنَ يَفْتَقِرُ إِلَى آذِنٍ وَمَأْذُونٍ لَهُ كَالْكَلَامِ الَّذِي يَفْتَقِرُ إِلَى قَائِلٍ وَمُسْتَمِعٍ فَلَمَّا كَانَ الْمُنْفَرِدُ بِالْكَلَامِ يَسْلُبُهُ حكم الكلام وجب أن يكون المنفرد بلاإذن يَسْلُبُهُ حُكْمَ الْإِذْنِ

Keempat, sesungguhnya izin memerlukan adanya pihak yang memberi izin dan pihak yang diberi izin, sebagaimana pembicaraan memerlukan adanya pembicara dan pendengar. Maka, ketika seseorang berbicara sendirian, hal itu menghilangkan status pembicaraan darinya; demikian pula, seseorang yang sendirian tanpa adanya izin, hal itu menghilangkan status izin darinya.

وَدَلِيلُنَا أَرْبَعَةُ مَعَانٍ

Dalil kami ada empat makna.

أَحَدُهَا أن الأذن يختص بالآذان وَالْعِلْمَ بِهِ مُخْتَصٌّ بِالْمَأْذُونِ لَهَا وَشَرْطُ يَمِينِهِ إِنَّمَا كَانَ مَعْقُودًا عَلَى مَا يَخْتَصُّ بِهِ مِنَ الْإِذْنِ دُونَ مَا يَخْتَصُّ بِهَا مِنَ الْعِلْمِ أَلَا تَرَى أَنَّ اسْمَ الْإِذْنِ يَنْطَلِقُ عَلَى إِذْنِهِ دُونَ عِلْمِهَا فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ تَفَرُّدُهُ بِالْإِذْنِ مُوجِبًا لِوُجُودِ الشَّرْطِ فَلَا يَقَعُ بِهِ الْحِنْثُ كَمَا لَوْ قَالَ إِنْ قُمْتُ فَأَنْتِ طَالِقٌ طُلِّقَتْ بِقِيَامِهِ وَإِنْ لَمْ تَعْلَمْ

Salah satunya adalah bahwa izin itu khusus pada pemberian izin, dan pengetahuan tentangnya pun khusus bagi yang diberi izin. Syarat sumpahnya hanya terikat pada apa yang menjadi kekhususan dari izin, bukan pada apa yang menjadi kekhususan dari pengetahuan. Tidakkah engkau melihat bahwa istilah “izin” berlaku pada izinnya, bukan pada pengetahuannya? Maka wajiblah bahwa kekhususannya dalam memberi izin menjadi sebab terpenuhinya syarat, sehingga pelanggaran sumpah tidak terjadi karenanya, sebagaimana jika seseorang berkata, “Jika aku berdiri, maka engkau tertalak,” maka ia tertalak karena berdirinya, meskipun ia tidak mengetahuinya.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَوْ كَانَ الْعِلْمُ شَرْطًا فِي الْإِذْنِ لَكَانَ وُجُودُهُ مِنَ الْحَالِفِ شَرْطًا فِيهِ كَمَا كَانَ وُجُودُ الْإِذْنِ مِنْهُ شَرْطًا فِيهِ فَلَمَّا ثَبَتَ أَنَّهَا لَوْ عَلِمَتْ بِهِ مِنْ غَيْرِهِ صَحَّ وَلَوْ أَذِنَ لَهَا غَيْرُهُ لَمْ يَصِحَّ دَلَّ عَلَى خُرُوجِهِ مِنْ حُقُوقِ الْإِذْنِ وَصَحَّ بِمُجَرَّدِ الْقَوْلِ

Kedua, jika ilmu (pengetahuan) merupakan syarat dalam izin, maka keberadaannya pada pihak yang bersumpah juga menjadi syarat di dalamnya, sebagaimana keberadaan izin darinya menjadi syarat di dalamnya. Maka, ketika telah tetap bahwa jika ia (perempuan) mengetahui (perkara itu) bukan darinya (suami), maka hal itu sah, dan jika yang memberi izin kepadanya adalah selain dia, maka tidak sah, hal ini menunjukkan bahwa ilmu keluar dari hak-hak izin, dan izin telah sah hanya dengan sekadar ucapan.

وَالثَّالِثُ إنَّهُ قَدْ حَظَرَ الْخُرُوجَ عَلَيْهَا بِالْيَمِينِ وَأَبَاحَهَا الْخُرُوجَ بِالْإِذْنِ فَصَارَ عَقْدُهَا جَامِعًا بَيْنَ حَظْرٍ وَإِبَاحَةٍ وَالِاسْتِبَاحَةُ إِذَا صَادَفَتْ إِبَاحَةً لَمْ يُعْلَمْ بِهَا الْمُسْتَبِيحُ جَرَى عَلَيْهَا حُكْمُ الْإِبَاحَةِ دُونَ الْحَظْرِ كَمَنِ اسْتَبَاحَ مَالَ رَجُلٍ قَدْ أَبَاحَ لَهُ وَهُوَ لَا يعلم بِإِبَاحَتِهِ جَرَى عَلَى الْمَالِ الْمُبْتَدِئِ حُكْمُ الْإِبَاحَةِ اعْتِبَارًا بِالْمُبِيحِ وَلَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ الْحَظْرُ اعْتِبَارًا بالمستبيح

Ketiga, sesungguhnya telah dilarang keluar (rumah) tanpa izin dengan sumpah, namun dibolehkan keluar dengan izin. Maka akadnya mengandung larangan dan kebolehan sekaligus. Jika kebolehan bertemu dengan kebolehan lain yang tidak diketahui oleh orang yang memanfaatkan kebolehan itu, maka yang berlaku adalah hukum kebolehan, bukan larangan. Seperti seseorang yang memanfaatkan harta orang lain yang telah mengizinkannya, sementara ia tidak mengetahui bahwa dirinya telah diberi izin, maka atas harta tersebut berlaku hukum kebolehan berdasarkan pertimbangan pihak yang memberi izin, dan tidak berlaku hukum larangan berdasarkan pertimbangan pihak yang memanfaatkan.

كذلك حكم هذه الْخُرُوجِ

Demikian pula hukum tentang keluar ini.

وَتَحْرِيرُهُ إنَّهَا اسْتِبَاحَةٌ بَعْدَ إِبَاحَةٍ فَلَمْ يَكُنْ فَقْدُ الْعِلْمِ بِهَا مُؤَثِّرًا فِي حُكْمِهَا كَالْمَالِ

Penjelasannya adalah bahwa hal itu merupakan kebolehan setelah kebolehan, sehingga hilangnya pengetahuan tentangnya tidak berpengaruh pada hukumnya, seperti halnya harta.

وَالرَّابِعُ إنَّهَا لَا تَعْلَمُ بِإِذْنِهِ لِبُعْدِهَا تَارَةً وَلِنَوْمِهَا أُخْرَى وَقَدْ وَافَقُوا أَنَّهُ لَوْ أَذِنَ لَهَا وَهِيَ نَائِمَةٌ فَخَرَجَتْ غَيْرَ عَالِمَةٍ بِإِذْنِهِ لَمْ يَحْنَثْ كَذَلِكَ إِذَا أَذِنَ لَهَا وَهِيَ بَعِيدَةٌ فَلَمْ تَعْلَمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى خَرَجَتْ وَجَبَ أَنْ لَا يَحْنَثَ

Keempat, bahwa ia tidak mengetahui izinnya karena kadang-kadang ia berada jauh darinya dan kadang-kadang karena ia sedang tidur. Mereka telah sepakat bahwa jika ia memberi izin kepadanya sementara ia sedang tidur lalu ia keluar tanpa mengetahui izinnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Demikian pula jika ia memberi izin kepadanya sementara ia berada jauh sehingga ia tidak mengetahui izinnya hingga ia keluar, maka wajib untuk tidak dianggap melanggar sumpah.

وَتَحْرِيرُهُ إنَّهَا يَمِينٌ تَعَلَّقَ الْبِرُّ فِيهَا بِالْإِذْنِ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَكُونَ عَدَمُ الْعِلْمِ بِهِ مُوجِبًا لِلْحِنْثِ كَالنَّائِمَةِ وَالنَّاسِيَةِ

Penjelasannya adalah bahwa sumpah tersebut bergantung pada izin, sehingga tidak seharusnya ketidaktahuan tentangnya menyebabkan terjadinya pelanggaran sumpah, seperti halnya orang yang sedang tidur dan orang yang lupa.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمُ الْأَوَّلِ بِأَنَّ الْإِذْنَ يَتَضَمَّنُ الْإِعْلَامَ اسْتِشْهَادًا بِمَا ذَكَرُوهُ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap dalil pertama mereka bahwa izin mengandung pemberitahuan sebagai bentuk pengambilan dalil dari apa yang mereka sebutkan, maka jawabannya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْإِعْلَامَ هُوَ الْإِيذَانُ دُونَ الْإِذْنِ وَفَرْقٌ بَيْنَ الْإِذْنِ وَالْإِيذَانِ

Salah satunya adalah bahwa al-i‘lām (pemberitahuan) adalah sekadar penyampaian informasi tanpa izin, dan terdapat perbedaan antara izin (al-idzn) dan pemberitahuan (al-i‘lām).

وَالثَّانِي أَنَّ الْإِذْنَ لَوِ اقْتَضَى الْإِعْلَامَ لَاخْتَصَّ بِهِ الْإِذْنُ دُونَ غَيْرِهِ وَهُوَ لَا يَخْتَصُّ بِهِ فَلَمْ يَكُنْ مِنْ شَرْطِ إِذْنِهِ

Kedua, jika izin itu mengharuskan pemberitahuan, niscaya pemberitahuan itu menjadi kekhususan izin saja, bukan yang lainnya, padahal izin tidaklah khusus dengan hal itu, maka pemberitahuan bukanlah syarat dari izin.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمُ الثَّانِي فِي النَّسْخِ فَهُوَ إنَّ فِي اعْتِبَارِ الْعِلْمِ بِهِ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas dalil kedua mereka dalam masalah nasakh adalah bahwa dalam mempertimbangkan pengetahuan tentangnya terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ النَّسْخَ يَلْزَمُ مَعَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِهِ كَالْإِذْنِ فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ

Salah satunya adalah bahwa nasakh tetap berlaku meskipun tidak diketahui, seperti izin, sehingga tidak terdapat dalil di dalamnya.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَا يَلْزَمُ إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ بِهِ كَأَهْلِ قُبَاءَ حِينَ اسْتَدَارُوا فِي صَلَاتِهِمْ وَبَنَوْا عَلَى مَا تَقَدَّمَ قَبْلَ عِلْمِهِمْ بِنَسْخِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِالْكَعْبَةِ

Kedua, bahwa kewajiban itu tidak berlaku kecuali setelah mengetahuinya, seperti penduduk Quba’ ketika mereka berputar dalam salat mereka dan membangun atas apa yang telah mereka lakukan sebelum mereka mengetahui tentang penghapusan (naskh) arah Baitul Maqdis menuju Ka’bah.

فَعَلَى هَذَا إنَّ الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا أَنَّ النَّسْخَ مُخْتَصٌّ بِالتَّعَبُّدِ الشَّرْعِيِّ فَلَمْ يَلْزَمْ إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ بِهِ لِوُجُوبِ إِبْلَاغِهِ وَالْإِذْنُ رَافِعٌ لِلْمَنْعِ فَصَارَ مُرْتِفَعًا قَبْلَ الْعِلْمِ بِهِ

Dengan demikian, perbedaan antara keduanya adalah bahwa nasakh khusus berkaitan dengan penghambaan secara syar‘i, sehingga tidak menjadi wajib kecuali setelah diketahui, karena wajib untuk menyampaikannya. Sedangkan izin menghilangkan larangan, sehingga larangan itu menjadi hilang sebelum diketahui adanya izin tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمُ الثَّالِثِ بِأَنَّ اشْتِرَاطَ الْإِذْنِ يَقْتَضِي خُرُوجًا تَكُونُ فِيهِ مُطِيعَةً فَهُوَ انْتِقَاضُهُ بِخُرُوجِهَا إِنْ كَانَتْ نَاسِيَةً لِإِذْنِهِ أَوْ كَانَتْ نَائِمَةً عِنْدَ إِذْنِهِ هِيَ قَاصِدَةٌ لِمَعْصِيَتِهِ وَلَا يَحْنَثُ بِهِ

Adapun jawaban atas dalil ketiga mereka bahwa pensyaratan izin mengharuskan adanya keluar rumah yang di dalamnya istri taat, maka hal itu dapat dibantah dengan keluarnya istri jika ia lupa terhadap izinnya atau ia sedang tidur ketika mendapat izin, padahal ia berniat untuk bermaksiat kepada suaminya, dan dengan itu suami tidak terkena sumpah (tidak dihukumi melanggar sumpah).

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمُ الرَّابِعِ بِالْمُتَكَلِّمِ فَهُوَ فَسَادُ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْمُعْتَبَرَ فِي كَلَامِ الْغَيْرِ الِاسْتِمَاعُ دُونَ الْإِعْلَامِ وَالسَّمَاعِ وَهُمْ يَعْتَبِرُونَ فِي الْإِذْنِ الْإِعْلَامَ دُونَ السَّمَاعِ وَالِاسْتِمَاعِ فَفَسَدَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا مَعَ اخْتِلَافِ مَقْصُودِهِمَا

Adapun jawaban terhadap dalil keempat mereka dengan menggunakan (analogi) orang yang berbicara adalah rusaknya penggabungan antara keduanya, karena yang menjadi pertimbangan dalam ucapan orang lain adalah mendengar (istimā‘), bukan pemberitahuan (i‘lām) atau sekadar mendengar (samā‘). Sedangkan mereka mempertimbangkan dalam izin adalah pemberitahuan (i‘lām), bukan mendengar (samā‘) atau mendengarkan (istimā‘). Maka rusaklah penggabungan antara keduanya karena perbedaan maksud dari keduanya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْعِلْمَ لَيْسَ بِشَرْطٍ فِي صِحَّةِ الْإِذْنِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَوْ أَذِنَ لَهَا وَأَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَلَيْسَ إِشْهَادُهُ عَلَى الْإِذْنِ شَرْطًا فِيهِ وَإِنَّمَا هِيَ حُجَّةٌ لَهُ إِنِ ادَّعَاهُ لِيَرْفَعَ بِهِ الطَّلَاقَ إِذَا أَنْكَرَتْهُ الزَّوْجَةُ لِيَقَعَ عَلَيْهَا الطَّلَاقُ

Jika telah tetap bahwa pengetahuan bukanlah syarat dalam sahnya izin, maka Imam Syafi‘i ra. berkata: “Seandainya ia mengizinkan kepadanya dan menghadirkan saksi atas dirinya, ia tidak dianggap melanggar sumpah, dan menghadirkan saksi atas izin tersebut bukanlah syarat di dalamnya. Itu hanyalah sebagai hujjah baginya jika ia mengakuinya, agar dapat membatalkan talak jika istri mengingkarinya, sehingga talak itu jatuh kepadanya.”

وَإِنَّمَا الشَّرْطُ فِي صِحَّةِ الْإِذْنِ أَنْ يَكُونَ مَسْمُوعًا مِنْهُ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ لِمُسْتَمِعٍ لَمْ يَصِحَّ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مِنْ حَدِيثِ النَّفْسِ الَّذِي لَا يَصِحُّ بِهِ الْإِذْنُ

Syarat sahnya izin adalah harus didengar dari orang yang memberi izin. Jika ia tidak menyampaikannya kepada orang yang mendengar, maka izin itu tidak sah, karena hal itu menjadi sekadar bisikan hati yang tidak sah dijadikan sebagai izin.

ثُمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأُحِبُّ لَهُ فِي الْوَرَعِ أَنْ يُحَنِّثَ نَفْسَهُ وَإِنَّمَا اخْتَارَ لَهُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ مَخْرَجٌ مُخْتَلِفٌ فِي استباحته فاختار له أن تكون الاستباحة ومتفقاً عليها وأمره بالتزام الحنث ولم يرد بِالْتِزَامِ الْحِنْثِ الْتِزَامَ الطَّلَاقِ لِأَنَّهُ إِنِ الْتَزَمَ الطَّلَاقَ لَمْ تَصِرْ زَوْجَتُهُ مُسْتَبِيحَةَ الْأَزْوَاجِ بِاتِّفَاقٍ وَإِنَّمَا آمَرَهُ بِمَا تَكُونُ الِاسْتِبَاحَةُ فِي الْجِهَتَيْنِ بِاتِّفَاقٍ يَقَعُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ الطَّلَاقُ رَجْعِيًّا أَوْ ثَلَاثًا فَإِنْ كَانَ رَجْعِيًّا فَيُخْتَارُ لَهُ فِي الْوَرَعِ إِنْ أَرَادَ الْمَقَامَ مَعَهَا أَنْ يَرْتَجِعَهَا لِأَنَّ الطَّلَاقَ إِنْ وَقَعَ اسْتَبَاحَهَا بِالرَّجْعَةِ وَإِنْ لَمْ يَقَعْ لَمْ تَضُرَّهُ الرَّجْعَةُ

Kemudian asy-Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Aku menyukai baginya, dalam hal kehati-hatian (wara‘), agar ia membatalkan sumpahnya.” Beliau memilih hal itu untuknya karena ini adalah jalan keluar yang diperselisihkan kebolehannya, maka beliau memilihkan baginya agar kebolehan itu menjadi sesuatu yang disepakati, dan memerintahkannya untuk berpegang pada pembatalan sumpah. Yang beliau maksud dengan berpegang pada pembatalan sumpah bukanlah berpegang pada talak, karena jika ia berpegang pada talak, maka istrinya tidak menjadi halal bagi para suami lain menurut kesepakatan. Beliau hanya memerintahkannya dengan sesuatu yang kebolehannya di kedua sisi disepakati terjadi. Jika demikian, maka tidak lepas dari kemungkinan talaknya itu raj‘i (masih bisa rujuk) atau tiga kali (talak ba’in). Jika talaknya raj‘i, maka dalam hal kehati-hatian, jika ia ingin tetap bersama istrinya, dipilihkan baginya untuk merujuk istrinya, karena jika talak itu terjadi, istrinya menjadi halal baginya dengan rujuk, dan jika talak itu tidak terjadi, rujuk tersebut tidak membahayakannya.

وَإِنْ لَمْ يُرِدِ الْمَقَامَ مَعَهَا قَالَ لَهَا إِنْ لَمْ يَكُنِ الطَّلَاقُ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ وَاحِدَةً حَتَّى لَا يَلْزَمَهُ أَكْثَرُ مِنْ وَاحِدَةٍ فِي الْحَالَيْنِ

Dan jika ia tidak ingin tetap bersamanya, ia berkata kepadanya: “Jika talak belum jatuh atasmu, maka engkau tertalak satu kali,” agar tidak wajib baginya lebih dari satu talak dalam kedua keadaan tersebut.

فَإِنْ لَمْ يَقُلْ هَكَذَا وَقَالَ أَنْتِ طَالِقٌ وَاحِدَةً لَزِمَتْهُ الْوَاحِدَةُ وَكَانَتِ الثَّانِيَةُ عَلَى اخْتِلَافٍ وَإِنْ لَمْ يَقُلْ أَحَدَ هَذَيْنِ كَانَ النِّكَاحُ لَازِمًا وَهِيَ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الْأَزْوَاجِ وَيُؤْخَذُ بِنَفَقَتِهَا وَالْوَرَعُ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ إِصَابَتِهَا

Jika ia tidak mengucapkan seperti itu dan berkata, “Engkau tertalak satu,” maka jatuhlah satu talak atasnya, dan mengenai talak kedua terdapat perbedaan pendapat. Jika ia tidak mengucapkan salah satu dari dua ucapan tersebut, maka pernikahan tetap sah, namun ia (istri) dilarang dari para suami, dan nafkahnya tetap diambilkan darinya, serta sikap wara‘ adalah menahan diri untuk tidak menggaulinya.

وَإِنْ كَانَ الطَّلَاقُ ثَلَاثًا فَلَيْسَ مِنَ الْوَرَعِ الْإِقَامَةُ عَلَيْهَا وَالْوَرَعُ أَنْ يُفَارِقَهَا بِأَنْ يَقُولَ لَهَا أَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا

Dan jika talak itu tiga kali, maka bukanlah termasuk sikap wara‘ untuk tetap bersamanya, dan sikap wara‘ adalah berpisah darinya dengan mengatakan kepadanya, “Engkau tertalak tiga kali.”

وَلَيْسَ يَحْتَاجُ أَنْ يَقُولَ لَهَا أَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا إِنْ لَمْ يَكُنِ الطَّلَاقُ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكِ لِأَنَّ طَلَاقَ الْحِنْثِ إِنْ وَقَعَ لَمْ يَقَعْ طَلَاقُ الْمُبَاشَرَةِ وَخَالَفَ طَلَاقَ الرَّجْعَةِ لِأَنَّهُ إِنْ لَمْ يَقَعْ طَلَاقُ الْحِنْثِ وَقَعَ طَلَاقُ الْمُبَاشَرَةِ

Ia tidak perlu mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali jika talak belum jatuh atasmu,” karena talak akibat pelanggaran sumpah (ṭalāq al-ḥinth) jika telah jatuh, maka talak langsung (ṭalāq al-mubāsharah) tidak terjadi. Ini berbeda dengan talak ruj‘ah, karena jika talak akibat pelanggaran sumpah tidak terjadi, maka talak langsunglah yang terjadi.

فَإِنْ لَمْ يَقُلْ هَذَا فِي الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ كَانَ مُلْتَزِمًا لِنِكَاحِهَا وَهِيَ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الْأَزْوَاجِ وَيُؤْخَذُ بِنَفَقَتِهَا وَالْوَرَعُ لَهُ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ إِصَابَتِهَا فَإِنْ لَمْ يَمْتَنِعْ وَأَصَابَهَا فِي الطَّلَّاقَيْنِ فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ وَلَا مَأْثَمَ لِمَا حُكِمَ بِهِ مِنْ بِرِّهِ فِي يمينه

Jika ia tidak mengucapkan hal ini dalam talak tiga, maka ia tetap terikat dengan pernikahannya dan istrinya terlarang menikah dengan laki-laki lain, serta ia tetap wajib menafkahinya. Sikap wara‘ baginya adalah menahan diri untuk tidak menggaulinya. Namun jika ia tidak menahan diri dan menggaulinya dalam dua talak, maka tidak ada dosa dan tidak ada kesalahan baginya, karena telah diputuskan bahwa ia telah menunaikan sumpahnya.

بَابُ مَنْ يُعْتِقُ مِنْ مَمَالِيكِهِ إِذَا حَنِثَ أَوْ حَلَفَ بِعِتْقِ عبدٍ فَبَاعَهُ ثُمَّ اشْتَرَاهُ وغير ذلك

Bab tentang siapa yang memerdekakan sebagian budaknya jika ia melanggar sumpah atau bersumpah dengan memerdekakan seorang budak lalu menjualnya kemudian membelinya kembali, dan lain sebagainya.

مسألة

Masalah

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مَنْ حَلَفَ بِعِتْقِ مَا يَمْلِكُ وَلَهُ أُمُّهَاتُ أولادٍ وَمُدَبَّرُونَ وأشقاصٌ مِنْ عبيدٍ عَتَقُوا عَلَيْهِ إِلَّا الْمُكَاتَبَ إِلَّا أن ينويه لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْمُكَاتَبَ خارجٌ مِنْ مِلْكِهِ بمعنى وداخلٌ فيه بمعنى وهو محولٌ بينه وبين أخذ ماله واستخدامه وأرش الجناية عليه ولا زكاة عليه في ماله ولا زكاة الفطر في رقيقه وليس كذا أم ولده ولا مدبره

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa bersumpah dengan membebaskan semua yang ia miliki, sementara ia memiliki ummahātul awlād, budak mudabbar, dan bagian (syuqūsh) dari budak-budak, maka semuanya merdeka baginya kecuali budak mukatab, kecuali jika ia memang meniatkannya. Karena yang tampak, budak mukatab itu di satu sisi keluar dari kepemilikannya dan di sisi lain masih termasuk miliknya. Ia terhalang untuk mengambil harta dan memanfaatkan budak tersebut, serta tidak wajib membayar diyat atas pelanggaran yang dilakukan budak itu. Tidak ada zakat atas harta budak mukatab, dan tidak ada zakat fitrah atas budak mukatabnya. Tidak demikian halnya dengan ummu walad dan budak mudabbar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا حَلَفَ بِعِتْقِ مَا يَمْلِكُ فَحَنِثَ أَوْ قَالَ مَمَالِيكِي أَحْرَارٌ فَالْحُكْمُ فِي عِتْقِ الْحِنْثِ وَالْمُبَاشَرَةِ سَوَاءٌ فَيَعْتِقُ عَلَيْهِ كُلُّ مَنْ يَمْلِكُ رِقَّهُ مِنْ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِأَنَّ جَمِيعَهُمْ مَمَالِيكُ لَهُ وَيَعْتِقُ عَلَيْهِ أُمَّهَاتُ أَوْلَادِهِ لِأَنَّهُنَّ فِي مِلْكِهِ وَيَجْرِي عَلَيْهِنَّ أَحْكَامُ رِقِّهِ فِي اسْتِبَاحَةِ الِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ وَاسْتِخْدَامِهِنَّ وَمِلْكِ أَكْسَابِهِنَّ وَالْتِزَامِ نَفَقَتِهِنَّ وَزَكَاةِ فِطْرِهِنَّ وَجَوَازِ تَزْوِيجِهِنَّ وَإِجَارَتِهِنَّ كَالْإِمَاءِ وَإِنَّمَا حَرُمَ بَيْعُهُنَّ لِمَا ثَبَتَ مِنْ حُرْمَةِ الْوِلَادَةِ وَلَا يَمْنَعُ مِنْ بَقَاءِ رِقِّهِنَّ لِأَنَّهُ يَمْلِكُ أَرْشَ الْجِنَايَةِ عَلَيْهِنَّ فَلِذَلِكَ دَخَلْنَ فِي جُمْلَةِ مَمَالِيكِهِ فَيُعْتِقُهُنَّ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang bersumpah untuk memerdekakan apa yang ia miliki lalu ia melanggar sumpahnya, atau ia berkata, “Budak-budakku semuanya merdeka,” maka hukum dalam memerdekakan karena pelanggaran sumpah dan memerdekakan secara langsung adalah sama, yaitu semua budak yang ia miliki, baik laki-laki maupun perempuan, yang masih kecil maupun sudah dewasa, dan selain mereka, semuanya menjadi merdeka karena mereka semua adalah budaknya. Termasuk juga ibu-ibu dari anak-anaknya, karena mereka masih dalam kepemilikannya dan berlaku atas mereka hukum-hukum perbudakan, seperti boleh menikmati mereka, menggunakan mereka, memiliki hasil kerja mereka, wajib menafkahi mereka, membayar zakat fitrah mereka, serta boleh menikahkan dan menyewakan mereka seperti budak perempuan lainnya. Hanya saja, penjualan mereka diharamkan karena adanya larangan menjual ibu dari anak, namun hal itu tidak menghalangi tetapnya status perbudakan mereka, karena ia masih memiliki hak ganti rugi jika terjadi pelanggaran terhadap mereka. Oleh karena itu, mereka termasuk dalam kelompok budaknya dan ikut dimerdekakan.

وَيَعْتِقُ عَلَيْهِ مُدَبَّرُوهُ لِبَقَاءِ رِقِّهِمْ وَجَوَازِ بَيْعِهِمْ وَمِلْكِ إِكْسَابِهِمْ وَالْتِزَامِ نَفَقَتِهِمْ وَتَعْجِيلِ عِتْقِهِمْ وَكَذَلِكَ يَعْتِقُ عَلَيْهِ الْمُخَارَجُونَ مِنْ عَبِيدِهِ وَالْمُعْتَقُونَ بِصِفَةٍ لَمْ تَأْتِ لِأَنَّ جَمِيعَهُمْ مَمَالِيكُ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أَحْكَامُ رِقِّهِ فِيمَا لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dan merdeka baginya budak-budak mudabbar-nya, karena status perbudakan mereka masih tetap, boleh dijual, boleh dimiliki hasil usahanya, wajib menafkahi mereka, dan memerdekakan mereka dipercepat. Demikian pula merdeka baginya budak-budak mukhāraj dari hamba-hambanya, dan budak-budak yang dimerdekakan dengan suatu sifat yang belum terjadi, karena semuanya adalah budak yang berlaku atas mereka hukum-hukum perbudakan dalam hal hak dan kewajiban mereka.

وَإِذَا كَانَ لَهُ أَشْقَاصٌ مِنْ عَبِيدٍ وَإِمَاءٍ عَتَقُوا عَلَيْهِ فِيمَا مَلَكَهُ مِنْهُمْ وَعَتَقَ عَلَيْهِ بَاقِيهِمْ إِنْ أَيْسَرَ بِقِيمَتِهِمْ وَرُقَّ الْبَاقِي إِنْ أَعْسَرَ بِهِمْ

Jika seseorang memiliki bagian-bagian (saham) dari budak laki-laki dan perempuan, maka mereka yang menjadi miliknya akan merdeka baginya, dan sisanya akan merdeka jika ia mampu membayar nilai mereka; namun jika ia tidak mampu, maka sisanya tetap berstatus budak.

وَأَمَّا الْمُكَاتَبُونَ فَإِنْ كَانَتْ كِتَابَتُهُمْ فَاسِدَةً عُتِقُوا عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ صَحِيحَةً لَمْ يَعْتِقُوا عَلَيْهِ إِذَا لَمْ يَنْوِ عِتْقَهُمْ

Adapun para mukatab, jika akad kitabah mereka rusak, maka mereka merdeka karena akad tersebut. Namun jika akad kitabah mereka sah, maka mereka tidak menjadi merdeka karena akad tersebut apabila tidak ada niat memerdekakan mereka.

هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِهِ وَمَا نَقَلَهُ عَنْهُ الْمُزَنِيُّ وَرَوَى الرَّبِيعُ مِثْلَهُ ثُمَّ قَالَ الرَّبِيعُ بَعْدَ أَنْ رَوي عَنْهُ إِنَّهُمْ لَا يَعْتِقُونَ وَحِفْظِي عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْمَكَاتَبَ يَعْتِقُ إِذَا حَلَفَ بِعِتْقِ رَقِيقِهِ

Inilah pendapat yang masyhur dari mazhabnya dan yang dinukil darinya oleh al-Muzani, serta diriwayatkan serupa oleh ar-Rabi‘. Kemudian ar-Rabi‘ berkata setelah meriwayatkan darinya bahwa mereka tidak memerdekakan. Dan yang aku hafal dari asy-Syafi‘i adalah bahwa seorang mukatab menjadi merdeka jika ia bersumpah dengan memerdekakan budaknya.

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا حَكَاهُ مِنْ هَذَا فَامْتَنَعَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ مَعَ طَائِفَةٍ تَقَدَّمَتْهُ مِنْ تَخْرِيجِهِ لِأَنَّهُ يُخَالِفُ مَنْصُوصَ الشَّافِعِيِّ فِي جَمِيعِ كُتُبِهِ وَأَثْبَتَهُ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ مَعَ طَائِفَةٍ تَقَدَّمَتْهُ وَخَرَّجُوا عِتْقَ الْمُكَاتَبِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai apa yang diriwayatkan dari hal ini. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah bersama sekelompok ulama sebelum beliau menolak untuk mengeluarkan hukum (takhrīj) karena hal itu bertentangan dengan nash Imam Syafi‘i dalam seluruh kitab-kitabnya. Sedangkan Abu Ishaq al-Marwazi bersama sekelompok ulama sebelum beliau menetapkan (takhrīj) tersebut, dan mereka mengeluarkan hukum tentang pembebasan budak mukatab dalam dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَا اخْتَصَّ الرَّبِيعُ بِنَقْلِهِ إنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ لِأَمْرَيْنِ

Salah satunya adalah pendapat yang secara khusus dinukil oleh ar-Rabi‘, yaitu bahwa budak itu menjadi merdeka karena dua hal.

أَحَدُهُمَا جَرَيَانُ أَحْكَامِ الرِّقِّ عَلَيْهِ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمُكَاتَبُ عبدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ درهمٌ

Salah satunya adalah berlakunya hukum-hukum perbudakan atasnya berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Seorang mukatab tetap dianggap sebagai budak selama masih tersisa satu dirham atasnya.”

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا نَفَذَ فِيهِ عِتْقُ الْخُصُوصِ إِذَا عَيَّنَهُ نَفَذَ فِيهِ عِتْقُ الْعُمُومِ إِذَا أَطْلَقَهُ

Dan yang kedua, bahwa ketika pembebasan khusus telah berlaku padanya jika ia ditentukan, maka pembebasan umum juga berlaku padanya jika ia disebutkan secara mutlak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْمَشْهُورُ الَّذِي اتَّفَقَ أَصْحَابُهُ عَلَى نَقْلِهِ وَنَصَّ عَلَيْهِ فِي كُتُبِهِ أَنَّ الْمُكَاتَبَ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي الْعُمُومِ إِذَا لَمْ يَنْوِهِ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat yang masyhur yang disepakati oleh para pengikutnya dalam meriwayatkannya dan telah dinyatakan secara tegas dalam kitab-kitabnya, adalah bahwa seorang mukatab tidak menjadi merdeka secara umum jika tidak diniatkan (untuk dimerdekakan) karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْكِتَابَةَ كَالْبَيْعِ لِأَنَّهَا إِزَالَةُ مِلْكٍ بِعِوَضٍ فَانْتَقَلَ بِهَا الْمِلْكُ فِي الظَّاهِرِ وَإِنْ جَازَ عَوْدُهُ إِلَى مِلْكِهِ بالعجز في الباطن فصار كالمبيع علي مفلس قد انتقل الملك وَإِنْ جَازَ اسْتِرْجَاعُهُ بِالْفَلَسِ وَمَا زَالَ بِهِ الْمِلْكُ لَمْ يَدْخُلْ فِي عُمُومِ الْمِلْكِ

Salah satu pendapat adalah bahwa kitabah itu seperti jual beli, karena ia merupakan pengalihan kepemilikan dengan imbalan, sehingga kepemilikan berpindah secara lahiriah, meskipun secara batin masih dimungkinkan kembali ke kepemilikannya jika terjadi ketidakmampuan. Maka, hal itu menjadi seperti barang yang dijual kepada orang yang bangkrut, di mana kepemilikan telah berpindah meskipun masih dimungkinkan untuk diambil kembali karena kebangkrutan. Adapun sesuatu yang belum menghilangkan kepemilikan, maka tidak termasuk dalam cakupan kepemilikan secara umum.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا زَالَ عَنِ السَّيِّدِ مِلْكُ مَنَافِعِهِ وَكَسْبُهُ وَأُرُوشُ جِنَايَاتِهِ وَسَقَطَتْ عَنْهُ نَفَقَتُهُ وَفِطْرَتُهُ زَالَ عَنْهُ مِلْكُ رَقَبَتِهِ فَلَمْ يَدْخُلْ فِي عموم ملكه

Kedua, ketika telah hilang dari tuannya hak kepemilikan atas manfaat, hasil kerja, dan diyat atas tindak pidananya, serta gugur kewajiban nafkah dan zakat fitrah atasnya, maka hilang pula kepemilikan atas dirinya, sehingga ia tidak lagi termasuk dalam cakupan kepemilikannya secara umum.

فَإِنْ قِيلَ الِاسْتِدْلَالُ بِهَذَيْنِ مَعْلُولٌ لِأَنَّهُ لَوْ أَعْتَقَهُ عُتِقَ وَلَا يَنْفُذُ عِتْقُهُ إِلَّا فِي مِلْكٍ

Jika dikatakan bahwa pengambilan dalil dengan dua hal ini cacat, karena jika ia memerdekakannya maka orang itu menjadi merdeka, dan tidak sah pemerdekaannya kecuali pada sesuatu yang dimilikinya.

قِيلَ إِنَّمَا عُتِقَ لِأَنَّ عِتْقَهُ إِبْرَاءٌ وَهُوَ يُعْتَقُ بِالْإِبْرَاءِ كَمَا يُعْتَقُ بِالْأَدَاءِ فَهَذَا تَمَامٌ لِذَلِكَ الْعِتْقِ الْأَوَّلِ وَلَيْسَ بِابْتِدَاءِ عِتْقٍ فِي الرِّقِّ

Dikatakan bahwa ia dimerdekakan karena pembebasannya merupakan bentuk pelepasan tanggungan, dan ia dapat dimerdekakan dengan pelepasan tanggungan sebagaimana ia dapat dimerdekakan dengan pelunasan. Maka ini merupakan penyempurnaan dari pembebasan yang pertama, dan bukan permulaan pembebasan dalam status perbudakan.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا جَعَلْتُمْ عِتْقَهُ إِبْرَاءً يُعْتَقُ بِهِ فِي الْخُصُوصِ لَزِمَكُمْ أَنْ تجعلوه إبراء بعتق بِهِ فِي الْعُمُومِ

Jika dikatakan: Jika kalian menjadikan pembebasan budak itu sebagai bentuk pembebasan (ibrā’), yang dengannya budak itu merdeka secara khusus, maka wajib bagi kalian untuk menjadikannya juga sebagai pembebasan (ibrā’) yang menyebabkan kemerdekaan secara umum.

قُلْنَا لَا يَلْزَمُ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَ مَنْ عِتْقُهُ فِي الْخُصُوصِ حَيْثُ جَعَلْنَاهُ إِبْرَاءَ عِتْقِهِ فِي الْعُمُومِ وَهُوَ أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَنْفُذْ صَرِيحُ عِتْقِهِ فِي الْخُصُوصِ فِي غَيْرِهِ يَعْنِي بِهِ فِي غَيْرِ الْمَكَاتَبِ صَارَ صَرِيحًا فِي إِبْرَائِهِ فَعُتِقَ بِهِ

Kami katakan: Tidak mesti demikian, karena terdapat perbedaan antara orang yang pembebasannya (pada kasus khusus) di mana kami menjadikannya sebagai pembebasan (ibra’) secara umum. Maksudnya adalah, ketika pernyataan tegas pembebasannya (pada kasus khusus) tidak berlaku pada selainnya—yaitu selain mukatab—maka pernyataan itu menjadi tegas sebagai pembebasan (ibra’), sehingga ia pun merdeka karenanya.

وَلَمَّا نَفَذَ صَرِيحُ الْعِتْقِ فِي الْعُمُومِ فِي غَيْرِهِ صَارَ كِتَابَةً فِي إِبْرَائِهِ فَلَمْ يَبْرَأْ إِلَّا أن يَقْتَرِنَ بِالْكِتَابَةِ نِيَّةٌ وَجَعَلْنَاهُ صَرِيحًا فِي الْخُصُوصِ لَا يُعْتَبَرُ فِيهِ النِّيَّةُ وَكِتَابَةً فِي الْعُمُومِ تُعْتَبَرُ فِيهِ النِّيَّةُ فَوَقَعَ الْفَرْقُ بَيْنَ الْخُصُوصِ وَالْعُمُومِ

Ketika lafaz pembebasan budak (al-‘itq) yang jelas digunakan secara umum pada selainnya, maka ia menjadi seperti kitabah (pembebasan dengan perjanjian) dalam membebaskannya, sehingga tidak sah kecuali disertai dengan niat. Kami menjadikannya sebagai lafaz yang jelas (sharīh) dalam hal khusus, sehingga tidak dipersyaratkan adanya niat di dalamnya, dan sebagai kitabah dalam hal umum yang dipersyaratkan adanya niat di dalamnya. Maka terdapat perbedaan antara kasus khusus dan umum.

وَلِذَلِكَ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَهُ فَيَصِيرَ بِالنِّيَّةِ حُرًّا لِأَنَّهُ قد صار بالنية مبرأ فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ دَخَلْتُمْ فِي فَرْقِكُمْ بَيْنَ الْخُصُوصِ وَالْعُمُومِ فِي نُفُوذِ الْعِتْقِ فِيمَا أَنْكَرْتُمُوهُ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَرْقِهِ بَيْنَ الْخُصُوصِ وَالْعُمُومِ فِي طَلَاقِ الْمُخْتَلِعَةِ حَيْثُ أَوْقَعَ الطَّلَاقَ عَلَيْهَا فِي الْخُصُوصِ إِذَا قَالَ لَهَا أَنْتِ طَالِقٌ وَلَمْ يُوقِعْهُ عَلَيْهَا فِي الْعُمُومِ إِذَا قَالَ كُلُّ نِسَائِي طَوَالِقُ فَارْتَكَبْتُمْ مَا أَنْكَرْتُمُوهُ عَلَى غَيْرِكُمْ

Oleh karena itu, Imam Syafi‘i ra. berkata: “Kecuali jika ia meniatkannya, maka dengan niat itu ia menjadi merdeka, karena dengan niat tersebut ia telah terbebas.” Jika dikatakan: “Kalian telah masuk dalam perbedaan antara kekhususan dan keumuman dalam berlakunya pembebasan budak, sebagaimana yang kalian ingkari terhadap Abu Hanifah ra. dalam perbedaannya antara kekhususan dan keumuman dalam talak wanita yang melakukan khulu‘, di mana ia menetapkan talak atasnya secara khusus jika ia berkata kepadanya, ‘Engkau tertalak,’ dan tidak menetapkannya secara umum jika ia berkata, ‘Semua istriku tertalak.’ Maka kalian telah melakukan apa yang kalian ingkari pada orang lain.”

قِيلَ لَا يَدْخُلُ هَذَا الْإِلْزَامُ عَلَيْنَا لِأَنَّ لِلطَّلَاقِ وَجْهًا وَاحِدًا أَوْجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ فِيهِ حُكْمُ الْخُصُوصِ وَالْعُمُومِ وَلِعِتْقِ الْمُكَاتَبِ وَجْهَانِ فَجَازَ أَنْ يَفْتَرِقَ فيها حكم لعموم وَالْخُصُوصِ

Dikatakan bahwa keberatan ini tidak berlaku bagi kami, karena talak hanya memiliki satu sisi yang mewajibkan agar hukum pada kasus khusus dan umum itu sama, sedangkan pembebasan budak mukatab memiliki dua sisi, sehingga boleh jadi hukum pada kasus umum dan khususnya berbeda.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْمُكَاتَبَ خَارِجٌ مِنْ مِلْكِهِ بِمَعْنًى وَدَاخِلٌ فِيهِ فمعنى فَفِيهِ تَأْوِيلَانِ

Adapun pendapat asy-Syafi‘i bahwa yang tampak adalah bahwa mukatab keluar dari kepemilikannya dalam satu makna dan tetap berada di dalamnya, maka dalam hal ini terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا خَارِجٌ مِنْ مِلْكِهِ بِعَقْدِ الْكِتَابَةِ وَدَاخِلٌ فِيهِ بِالْعَجْزِ

Salah satunya keluar dari kepemilikannya karena akad kitābah, dan masuk kembali ke dalam kepemilikannya karena ketidakmampuan.

وَالثَّانِي خَارِجٌ مِنْ مِلْكِهِ لِعَدَمِ تَصَرُّفِهِ وَدَاخِلٌ فِي مِلْكِهِ لِثُبُوتِ عجزه والله أعلم

Yang kedua, keluar dari kepemilikannya karena ia tidak dapat melakukan tasharruf (pengelolaan), dan tetap berada dalam kepemilikannya karena terbukti kelemahannya. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ بِعِتْقِ عَبْدِهِ لَيَضْرِبَنَّهُ غَدًا فَبَاعَهُ الْيَوْمَ فَلَمَّا مَضَى غدٌ اشْتَرَاهُ فَلَا يَحْنَثُ لِأَنَّ الْحِنْثَ إِذَا وَقَعَ مَرَّةً لَمْ يَحْنَثْ ثَانِيَةً

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah dengan membebaskan budaknya bahwa ia akan memukulnya besok, lalu hari ini ia menjual budak tersebut, kemudian setelah hari esok berlalu ia membelinya kembali, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Sebab, jika pelanggaran sumpah telah terjadi sekali, maka tidak dianggap melanggar untuk kedua kalinya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَمُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي عَقْدِ يَمِينِهِ بِعِتْقٍ عِنْدَهُ أَنْ يَعْقِدَهَا بِطَلَاقِ زَوْجَتِهِ وَقَدْ مَضَى فِي كِتَابِ الطَّلَاقِ وَسَنُعِيدُهُ هَاهُنَا لِنَبْنِيَ عَلَيْهِ حُكْمَ الْعِتْقِ

Al-Mawardi berkata: Pendahuluan masalah ini dalam akad sumpah dengan pembebasan budak menurut beliau adalah bahwa seseorang mengikat sumpahnya dengan talak istrinya. Hal ini telah dijelaskan dalam Kitab Talak, dan akan kami ulangi di sini agar dapat dijadikan dasar dalam menetapkan hukum pembebasan budak.

فَإِذَا قَالَ لِزَوْجَتِهِ إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَلَهَا فِي دُخُولِ الدَّارِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” maka bagi istri dalam memasuki rumah tersebut terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ تَدْخُلَهَا وَهِيَ بَاقِيَةٌ عَلَى هَذَا النِّكَاحِ فَيَحْنَثُ فِي يَمِينِهِ وَتُطَلَّقُ بِحِنْثِهِ لِأَنَّ شَرْطَ الْحِنْثِ قَدْ وُجِدَ فِي زَمَانٍ يَلْزَمُهُ فِيهِ الطَّلَاقُ

Salah satunya adalah jika ia memasukinya sementara ia masih berada dalam status pernikahan tersebut, maka ia melanggar sumpahnya dan ia (istri) tertalak karena pelanggarannya, karena syarat pelanggaran telah terpenuhi pada waktu di mana talak wajib baginya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُطَلِّقَهَا طَلَاقًا لَا يَمْلِكُ فِيهِ الرَّجْعَةَ أَوْ يَمْلِكُهَا وَانْقَضَتِ الْعِدَّةُ ثُمَّ دَخَلَتِ الدَّارَ لَمْ يَقَعْ عَلَيْهَا الطَّلَاقُ لِأَنَّ دُخُولَ الدَّارِ وَإِنْ كَانَ مُوجِبًا لِلْحِنْثِ فَقَدْ كَانَ فِي زَمَانٍ لَا يَلْزَمُهُ مُوجِبُهُ مِنَ الطَّلَاقِ فَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ

Keadaan kedua adalah apabila ia menceraikannya dengan talak yang tidak memungkinkan rujuk, atau ia masih memiliki hak rujuk tetapi masa iddah telah selesai, kemudian perempuan itu masuk ke rumah, maka talak tidak jatuh atasnya. Sebab, masuknya ke rumah meskipun menyebabkan pelanggaran sumpah, namun itu terjadi pada waktu yang tidak mewajibkan akibat dari talak, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah karenanya.

وَإِنْ جَدَّدَ نِكَاحَهَا بَعْدَ دُخُولِ الدَّارِ ثُمَّ دَخَلَتِ الدَّارَ لَمْ يَحْنَثْ بِهِ وَلَمْ تُطَلَّقْ عَلَيْهِ لِمَا عَلَّلَ بِهِ الشَّافِعِيُّ مِنْ أَنَّ الْحِنْثَ إِذَا وَقَعَ مَرَّةً لَمْ يَقَعْ ثَانِيَةً

Jika ia memperbarui akad nikahnya setelah istrinya masuk rumah, kemudian istrinya masuk rumah lagi, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dan istrinya tidak menjadi tertalak karenanya, sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh asy-Syāfi‘ī bahwa pelanggaran sumpah jika sudah terjadi sekali, tidak terjadi untuk kedua kalinya.

وَبَيَانُهُ أَنَّهُ لَمَّا وُجِدَ شَرْطُ الْحِنْثِ انْحَلَّتْ بِهِ الْيَمِينُ فَسَقَطَ حُكْمُهَا وَإِذَا انْحَلَّتِ الْيَمِينُ لَمْ تَعُدْ إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ

Penjelasannya adalah bahwa ketika syarat pelanggaran terpenuhi, maka sumpah itu menjadi batal, sehingga hukum sumpah tersebut gugur. Dan apabila sumpah telah batal, maka tidak dapat kembali berlaku kecuali dengan akad yang baru.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُطَلِّقَهَا وَيَسْتَأْنِفَ نِكَاحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ الْمُدَّةِ ثم يدخل الدَّارَ فِي النِّكَاحِ الثَّانِي فَيَكُونُ عَقْدُ الْيَمِينِ فِي النِّكَاحِ الْأَوَّلِ وَوُجُودُ الْحِنْثِ فِي النِّكَاحِ الثَّانِي وَلَمْ يَقَعْ بَيْنَ النِّكَاحَيْنِ حِنْثٌ فَالْحِنْثُ مُعْتَبَرٌ بِصِفَةِ الطَّلَاقِ فِي النِّكَاحِ الْأَوَّلِ فَإِنْ كَانَ دُونَ الثَّلَاثِ عَادَتِ الْيَمِينُ عَلَى الْقَدِيمِ قَوْلًا وَاحِدًا وَفِي الْجَدِيدِ عَلَى قَوْلَيْنِ وَإِنْ كَانَتْ ثَلَاثًا لَمْ تَعُدِ الْيَمِينُ عَلَى الْجَدِيدِ قَوْلًا وَاحِدًا وَفِي الْقَدِيمِ عَلَى قَوْلَيْنِ فَصَارَ فِي حِنْثِهِ بِدُخُولِهَا فِي النِّكَاحِ الثَّانِي قَوْلَانِ

Keadaan ketiga adalah ketika suami menceraikannya, lalu menikahinya kembali setelah masa iddah selesai, kemudian ia masuk ke rumah dalam pernikahan yang kedua. Maka akad sumpah terjadi pada pernikahan pertama, sedangkan terjadinya pelanggaran sumpah pada pernikahan kedua, dan tidak terjadi pelanggaran sumpah di antara kedua pernikahan tersebut. Maka pelanggaran sumpah itu dipertimbangkan sesuai dengan sifat talak pada pernikahan pertama. Jika talaknya kurang dari tiga, maka sumpah kembali berlaku pada pernikahan yang lama menurut satu pendapat, dan pada pernikahan yang baru menurut dua pendapat. Jika talaknya tiga, maka sumpah tidak kembali berlaku pada pernikahan yang baru menurut satu pendapat, dan pada pernikahan yang lama menurut dua pendapat. Maka dalam pelanggaran sumpah dengan masuknya istri dalam pernikahan kedua terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ وَيَقَعُ الطَّلَاقُ لِوُجُودِ الْيَمِينِ وَالْحِنْثِ فِي زَمَانٍ يَمْلِكُ فِيهِ الطَّلَاقَ فَاسْتَقَرَّ حُكْمُ الْيَمِينِ فِي النِّكَاحَيْنِ

Salah satunya adalah ia melanggar sumpah dan talak pun jatuh karena adanya sumpah dan pelanggaran sumpah pada waktu di mana ia masih memiliki hak untuk menjatuhkan talak, sehingga hukum sumpah itu tetap berlaku pada kedua pernikahan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَقَعُ الطَّلَاقُ وَإِنْ كَانَ شَرْطُ الْحِنْثِ مَوْجُودًا لِأَنَّهَا يَمِينٌ انْعَقَدَتْ قَبْلَ هَذَا النِّكَاحِ فَارْتَفَعَتْ بِزَوَالِ مَا انْعَقَدَتْ فِيهِ لِأَنَّهُ لَا يَقَعُ طَلَاقٌ قَبْلَ نِكَاحٍ وَلَا عِتْقٌ قَبْلَ مِلْكٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tidak terjadi meskipun syarat pelanggaran telah terpenuhi, karena itu adalah sumpah yang diikrarkan sebelum akad nikah ini, sehingga batal dengan hilangnya perkara yang menjadi tempat sumpah tersebut. Sebab, talak tidak terjadi sebelum adanya akad nikah, dan pembebasan budak pun tidak sah sebelum adanya kepemilikan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا اسْتَقَرَّ حُكْمُ هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ فِي الطَّلَاقِ تَرَتَّبَ عَلَيْهَا حُكْمُ الْعِتْقِ

Maka apabila ketetapan hukum dari mukadimah ini dalam masalah talak telah mantap, maka akan timbul darinya ketetapan hukum dalam masalah ‘itq (pembebasan budak).

فَإِذَا قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ لَمْ أَضْرِبْكَ غَدًا فَأَنْتَ حُرٌّ فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika aku tidak memukulmu besok, maka kamu merdeka,” maka ada tiga keadaan baginya.

أَحَدُهَا أَنْ يَأْتِيَ غَدٌ وَهُوَ عَلَى مِلْكِهِ فَإِنْ ضَرَبَهُ فِيهِ قَبْلَ غُرُوبِ شَمْسِهِ بَرَّ وَلَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ حَتَّى غَرَبَتْ شَمْسُهُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى ضَرْبِهِ حَنِثَ وَعُتِقَ عَلَيْهِ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ وَإِنْ عَجَزَ على ضَرْبِهِ بِإِكْرَاهٍ أَوْ نِسْيَانٍ فَفِي حِنْثِهِ وَعِتْقِهِ قولان في حنث الناس وَالْمُكْرَهِ فَإِنْ جَاءَ غَدٌ فَلَمْ يَضْرِبْهُ حَتَّى فَاتَ ضَرْبُهُ إِمَّا بِمَوْتِ السَّيِّدِ أَوْ بِهَرَبِ الْعَبْدِ أَوْ بَيْعِهِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةٍ أَضْرُبٍ

Salah satunya adalah jika hari esok datang sementara budak itu masih dalam kepemilikannya, maka jika ia memukulnya sebelum matahari terbenam, ia telah menepati sumpahnya dan budak itu tidak merdeka. Namun jika ia tidak memukulnya hingga matahari terbenam, padahal ia mampu memukulnya, maka ia melanggar sumpah dan budak itu menjadi merdeka dengan terbenamnya matahari. Jika ia tidak mampu memukulnya karena dipaksa atau lupa, maka ada dua pendapat mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah dan budak itu merdeka dalam kasus lupa dan dipaksa. Jika hari esok telah datang dan ia tidak memukulnya hingga kesempatan memukul itu hilang, baik karena tuannya meninggal, budaknya melarikan diri, atau budak itu dijual, maka hal ini terbagi menjadi tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَفُوتَ الضَّرْبُ وَقَدْ مَضَى مِنَ الْغَدِ مَا لَا يَتَّسِعُ لِلضَّرْبِ فَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ وَلَا عِتْقَ

Salah satunya adalah jika waktu untuk melaksanakan pemukulan telah lewat, dan hari esok telah berlalu sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan pemukulan, maka tidak ada pelanggaran sumpah atasnya dan tidak ada kewajiban memerdekakan budak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَفُوتَ الضَّرْبُ وَقَدْ بَقِيَ مِنَ الْغَدِ مَا لَا يَتَّسِعُ لِضَرْبٍ فَيَحْنَثُ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ

Jenis yang kedua adalah jika waktu pemukulan telah lewat, sementara pada hari berikutnya masih tersisa waktu yang tidak cukup untuk melakukan pemukulan, maka ia dianggap melanggar sumpah dan budak tersebut menjadi merdeka atasnya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَفُوتَ الضَّرْبُ وَقَدْ مَضَى مِنَ الْغَدِ مَا يَتَّسِعُ لِلضَّرْبِ فَفِي حِنْثِهِ وَعِتْقِهِ وَجْهَانِ

Jenis yang ketiga adalah jika waktu pemukulan terlewatkan, dan telah berlalu dari hari esok waktu yang cukup untuk melakukan pemukulan, maka dalam hal pelanggaran sumpah dan pembebasan budak terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ لِفَوَاتِ ضَرْبِهِ بَعْدَ إمكانه

Salah satunya melanggar sumpah dan budaknya menjadi merdeka karena ia tidak memukulnya setelah ada kesempatan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ أَنَّهُ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ لِتَقَدُّمِهِ عَلَى زَمَانِ عِتْقِهِ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Hamid al-Isfara’ini, adalah bahwa ia tidak menjadi merdeka karena ia telah mendahului waktu kemerdekaannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَبِيعَهُ قَبْلَ مَجِيءِ غَدِهِ وَيَبْتَاعَهُ قَبْلَ انْقِضَاءِ غَدِهِ فَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ فِي زَمَانِ الْحِنْثِ قَدْ كَانَ فِي غَيْرِ مِلْكِهِ

Keadaan kedua adalah jika ia menjualnya sebelum datangnya hari esok dan membelinya kembali sebelum berakhirnya hari esok, maka budak itu tidak menjadi merdeka atasnya, karena pada waktu terjadinya pelanggaran sumpah, budak tersebut berada di luar kepemilikannya.

وَهَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ

Dan inilah pendapat jumhur fuqaha.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى يُعْتَقُ عَلَيْهِ وَيَنْتَقِضُ الْبَيْعُ وَيَرْجِعُ مُشْتَرِيهِ بِثَمَنِهِ لِاسْتِحْقَاقِ عِتْقِهِ قَبْلَ بَيْعِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Ibnu Abi Laila berkata: “Budak itu menjadi merdeka atasnya, dan jual belinya batal, serta pembelinya berhak mengembalikan harga karena budak itu memang berhak dimerdekakan sebelum dijual.” Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ نُفُوذَ الْبَيْعِ قَدْ أَوْجَبَ زَوَالَ مِلْكِهِ

Salah satunya adalah bahwa berlakunya akad jual beli telah menyebabkan hilangnya kepemilikannya.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَوْ أَعْتَقَهُ مُشْتَرِيهِ نَفَذَ عِتْقُهُ وَإِنْ رَهَنَهُ قَبْلَ غَدِهِ وَافْتَكَّهُ بَعْدَ غَدِهِ فَفِي عِتْقِهِ عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ مِنْ نُفُوذِ الْعِتْقِ في العبد المرهون

Kedua, jika pembelinya memerdekakan budak tersebut, maka kemerdekaannya sah. Dan jika ia menjadikannya sebagai barang gadai sebelum hari esok, lalu menebusnya setelah hari esok, maka dalam hal kemerdekaan budak yang digadaikan itu terdapat tiga pendapat mengenai keabsahan kemerdekaannya.

أحدهما يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ

Salah satunya adalah budak yang merdeka karena dirinya, baik ketika ia dalam keadaan lapang maupun sempit.

وَالثَّانِي لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ

Yang kedua, tidak merdeka baginya baik dalam keadaan kaya maupun miskin.

وَالثَّالِثُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي يَسَارِهِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي إِعْسَارِهِ

Dan yang ketiga, budak itu menjadi merdeka atas tanggungannya jika ia dalam keadaan mampu, dan tidak menjadi merdeka atas tanggungannya jika ia dalam keadaan tidak mampu.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَبِيعَهُ قَبْلَ غَدِهِ وَيَبْتَاعَهُ قَبْلَ غَدِهِ وَلَا يَضْرِبُهُ فِي غَدِهِ فَهَذِهِ يَمِينٌ انْعَقَدَتْ فِي الْمِلْكِ الْأَوَّلِ وَوُجِدَ شَرْطُ الْحِنْثِ فِي الْمِلْكِ الثَّانِي وَلَمْ يَمْضِ شَرْطُ الْحِنْثِ بَيْنَ الْمِلْكَيْنِ فَيَصِيرُ كَعَقْدِ الطَّلَاقِ فِي نِكَاحٍ وَوُقُوعِهِ فِي آخَرَ فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ لَكِنِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ بَيْعُهُ فِي الْمِلْكِ الْأَوَّلِ جَارِيًا مَجْرَى الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ فِي النِّكَاحِ الْأَوَّلِ أَوْ مَجْرَى الطَّلَاقِ الرَّجْعِيِّ فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila ia menjualnya sebelum esok dan membelinya kembali sebelum esok, dan ia tidak memukulnya pada hari esok. Maka ini adalah sumpah yang terikat pada kepemilikan pertama, sementara syarat pelanggaran (ḥinth) terjadi pada kepemilikan kedua, dan syarat pelanggaran itu tidak terjadi di antara dua kepemilikan tersebut. Maka hal ini menjadi seperti akad talak pada suatu pernikahan dan terjadinya (talak) pada pernikahan yang lain, sehingga ada dua pendapat dalam hal ini. Namun, para sahabat kami berbeda pendapat apakah penjualannya pada kepemilikan pertama itu berlaku seperti talak tiga dalam pernikahan pertama, atau seperti talak raj‘i dalam pernikahan tersebut, dan ini pun memiliki dua wajah (pendapat).

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إنه يجري مجرى الطَّلَاقِ الرَّجْعِيِّ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْعَقْدَيْنِ فِيهَا شَرْطٌ مَانِعٌ فَعَلَى هَذَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي الْقَدِيمِ قَوْلًا وَاحِدًا وَفِي الْجَدِيدِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang zahir dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa hal itu diperlakukan seperti talak raj‘i, karena tidak ada syarat penghalang di antara kedua akad tersebut. Maka berdasarkan pendapat ini, dalam pendapat lama, ia dimerdekakan menurut satu pendapat saja, sedangkan dalam pendapat baru terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ لِأَنَّ الْبَيْعَ قَدْ أَزَالَ حُقُوقَ الْمِلْكِ كَمَا أَزَالَ الطَّلَاقُ الثَّلَاثُ حُقُوقَ النِّكَاحِ فَعَلَى هَذَا لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي الْجَدِيدِ قَوْلًا وَاحِدًا وَفِي الْقَدِيمِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa hal ini diperlakukan seperti talak tiga, karena jual beli telah menghilangkan hak-hak kepemilikan sebagaimana talak tiga menghilangkan hak-hak pernikahan. Berdasarkan pendapat ini, maka tidak sah memerdekakan (budak) atasnya menurut pendapat baru secara satu pendapat, sedangkan dalam pendapat lama terdapat dua pendapat.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ ضَرَبْتُكَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَا يَحْنَثُ بِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Apabila seseorang berkata kepada hambanya, “Jika aku memukulmu, maka engkau merdeka,” para fuqaha berbeda pendapat mengenai hal yang menyebabkan ia melanggar sumpah tersebut menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ إنَّهُ يَحْنَثُ بِكُلِّ مَا آلَمَ جِسْمَهُ مِنْ فِعْلٍ كَالْعَضِّ وَالرَّفْسِ وَكُلِّ مَا آلَمَ قَلْبَهُ كَالسَّبِّ وَالشَّتْمِ

Salah satunya, yaitu mazhab Malik, berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah dengan setiap perbuatan yang menyakiti tubuhnya, seperti menggigit dan menendang, serta setiap hal yang menyakiti hatinya, seperti mencaci dan memaki.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِكُلِّ مَا آلَمَ جِسْمَهُ مِنْ فِعْلٍ كَالْعَضِّ وَالْخَنْقِ وَلَا يَحْنَثُ بِمَا آلَمَ قَلْبَهُ مِنْ قَوْلٍ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Abu Hanifah, seseorang dianggap melanggar sumpah dengan setiap perbuatan yang menyakiti tubuhnya, seperti menggigit atau mencekik, dan tidak dianggap melanggar sumpah dengan perkataan yang menyakiti hatinya.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِمَا آلَمَ قَلْبَهُ مِنْ قَوْلٍ وَلَا يَحْنَثُ بِمَا آلَمَ جِسْمَهُ إِلَّا مَا انْطَلَقَ اسْمُ الضَّرْبِ عَلَيْهِ فَلَا يَحْنَثُ بِخَنْقِهِ وَعَضِّهِ لِانْتِفَاءِ اسْمِ الضَّرْبِ عَنْهُ وَيَحْنَثُ بِمَا وَصَلَ إِلَى جِسْمِهِ مِنْ آلَةٍ بِيَدِهِ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Syafi‘i, menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah karena sesuatu yang menyakiti hatinya berupa ucapan, dan juga tidak dianggap melanggar sumpah karena sesuatu yang menyakiti badannya kecuali apa yang secara bahasa disebut “memukul”. Maka, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika mencekik atau menggigit, karena keduanya tidak disebut “memukul”. Namun, ia dianggap melanggar sumpah jika rasa sakit itu sampai ke badannya melalui alat yang digunakan dengan tangannya.

وَفِي حِنْثِهِ إِنْ لَكَمَهُ أَوْ لَطَمَهُ أَوْ رَفَسَهُ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ

Dalam hal pelanggarannya, jika ia memukul dengan tinju, menampar, atau menendangnya, terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يُقَالُ قَدْ ضَرَبَهُ بِيَدِهِ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ أَسْمَاءُ الضَّرْبِ

Salah satunya dapat dianggap melanggar sumpah karena bisa saja dikatakan bahwa ia telah memukulnya dengan tangannya, meskipun nama-nama pukulan itu beragam.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّ اسْمَ الضَّرْبِ يَنْطَلِقُ عَلَى مَا كَانَ بِآلَةٍ مُسْتَعْمَلَةٍ فِيهِ والله أعلم

Pendapat kedua, tidak dianggap melanggar sumpah dengannya, karena istilah “memukul” berlaku untuk sesuatu yang dilakukan dengan alat yang biasa digunakan untuk itu. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حرٌّ إِنْ بِعْتُكَ فَبَاعَهُ بَيْعًا لَيْسَ بِبَيْعِ خيارٍ فَهُوَ حرٌّ حِينَ عَقَدَ الْبَيْعَ وَإِنَّمَا زَعَمْتُهُ مِنْ قِبَلِ أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ جَعَلَ الْمُتَبَايِعَيْنِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا قَالَ وَتَفَرُّقُهُمَا بِالْأَبْدَانِ فَقَالَ فَكَانَ لَوْ أَعْتَقَهُ عُتِقَ فَيُعْتَقُ بِالْحِنْثِ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Engkau merdeka jika aku menjualmu,” lalu ia menjualnya dengan jual beli yang bukan jual beli dengan khiyar, maka budak itu menjadi merdeka saat akad jual beli dilakukan. Aku berpendapat demikian karena Nabi ﷺ menetapkan bahwa dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyar selama mereka belum berpisah, dan yang dimaksud perpisahan adalah berpisah secara fisik. Maka, seandainya ia memerdekakannya, budak itu menjadi merdeka, sehingga kemerdekaan terjadi karena pelanggaran sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَلَيْسَ يَخْلُو مَعَ عَبْدِهِ إِذَا قَالَ لَهُ إِنْ بِعْتُكَ فَأَنْتَ حُرٌّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Tidaklah lepas bersama hambanya apabila ia berkata kepadanya: ‘Jika aku menjualmu, maka engkau merdeka,’ dari tiga keadaan.”

أَحَدُهَا أَنْ يَبِيعَهُ بِشَرْطِ الْخِيَارِ فَيُعْتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ بِنَفْسِ الْعَقْدِ بَعْدَ تَمَامِهِ بِالْبَذْلِ وَالْقَبُولِ وَهَذَا مِمَّا وَافَقَ عَلَيْهِ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ لِأَنَّ خِيَارَ الشَّرْطِ يَمْنَعُ مِنْ إِبْرَامِ الْعَقْدِ وَيَنْفُذُ عِتْقُ الْبَائِعِ فِيهِ بِالْمُبَاشَرَةِ فَنَفَذَ عِتْقُهُ فِيهِ بِالْحِنْثِ

Salah satunya adalah menjualnya dengan syarat khiyār, sehingga budak itu merdeka atasnya (penjual) dengan sendirinya melalui akad setelah sempurna dengan penyerahan dan penerimaan. Hal ini disetujui oleh Mālik dan Abū Ḥanīfah, karena khiyār syarat mencegah penguatan akad, dan pembebasan budak oleh penjual berlaku secara langsung, sehingga pembebasannya sah karena pelanggaran sumpah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَبِيعَهُ بَيْعًا مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَشْتَرِطَ فِيهِ إِثْبَاتَ خِيَارٍ وَلَا إِسْقَاطَهُ فيعتق عليه عند الشافعي لأنه يثبت للمتابيعين خِيَارُ الْمَجْلِسِ مَا لَمْ يَفْتَرِقَا فِيهِ بِأَبْدَانِهِمَا بِالْخَبَرِ الْمَرْوِيِّ فِيهِ

Bagian kedua adalah apabila ia menjualnya dengan penjualan mutlak tanpa mensyaratkan adanya penetapan khiyār maupun penggugurannya, maka budak itu menjadi merdeka menurut pendapat Imam Syafi’i, karena bagi kedua pihak yang bertransaksi tetap berlaku khiyār majlis selama mereka belum berpisah secara fisik, berdasarkan hadis yang diriwayatkan tentang hal itu.

وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي قَوْلِ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ لِأَنَّ خِيَارَ الْمَجْلِسِ عِنْدَهُمَا لَا يَثْبُتُ وَيَنْعَقِدُ الْبَيْعُ عِنْدَهُمَا نَاجِزًا وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُمَا

Dan menurut pendapat Malik dan Abu Hanifah, tidak berlaku pembebasan budak atasnya, karena menurut mereka hak khiyar majlis tidak tetap, dan akad jual beli menurut mereka langsung menjadi sah dan mengikat, dan telah dijelaskan pembahasan bersama keduanya.

وَإِذَا عُتِقَ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ بَطَلَ الْبَيْعُ لِنُفُوذِ عِتْقِهِ عَلَى الْبَائِعِ فَصَارَ نُفُوذُ الْعِتْقِ مِنْ جِهَتِهِ نَسْخًا يُوجِبُ رَدَّ الثَّمَنِ

Dan apabila ia dimerdekakan menurut mazhab Syafi‘i, maka batal jual belinya karena merdekanya berlaku atas penjual, sehingga berlakunya pembebasan dari pihak penjual menjadi pembatal yang mewajibkan pengembalian harga.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ أَنْ يَبِيعَهُ بِشَرْطِ إِسْقَاطِ خِيَارِ الْمَجْلِسِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا في صحة البيع واشرط عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Syarat ketiga adalah bahwa ia menjualnya dengan syarat menggugurkan khiyār majlis. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan jual beli dan syarat tersebut dalam tiga pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْبَيْعَ جَائِزٌ وَالشَّرْطَ لَازِمٌ يَسْقُطُ بِهِ خِيَارُ الْمَجْلِسِ لِأَنَّ الخيار غَرَرٌ فَكَانَ إِسْقَاطُهُ أَوْلَى بِالصِّحَّةِ وَسَمَّاهُ بَيْعَ الْخِيَارِ لِمَا شُرِطَ فِيهِ مِنْ إِسْقَاطِ الْخِيَارِ وَتَأَوَّلَ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمُتَبَايِعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا إِلَّا بَيْعَ الْخِيَارِ عَلَى هَذَا الْبَيْعِ الْمَشْرُوطِ فِيهِ إِسْقَاطُ الْخِيَارِ وَحَمَلَ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ فَبَاعَهُ بَيْعًا لَيْسَ بَيْعَ خِيَارٍ عَلَى هَذَا الْبَيْعِ لِأَنَّ فَحْوَى كَلَامِهِ يَقْتَضِي إِذَا كَانَ بَيْعَ خِيَارٍ أَنَّهُ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فَيَكُونُ الْبَيْعُ مَاضِيًا وَالْخِيَارُ مُرْتَفِعًا وَلَا يُعْتَقُ الْعَبْدُ عَلَيْهِ لِسُقُوطِ الْخِيَارِ فِيهِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa jual beli itu sah dan syaratnya mengikat, sehingga dengan syarat tersebut hak khiyār majlis gugur, karena khiyār mengandung unsur gharar, maka menggugurkannya lebih utama untuk keabsahan akad. Jual beli ini disebut sebagai “bai‘ al-khiyār” karena di dalamnya disyaratkan pengguguran hak khiyār. Ia menafsirkan sabda Nabi ﷺ: “Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyār selama mereka belum berpisah,” sebagai bai‘ al-khiyār, yaitu pada jual beli yang disyaratkan di dalamnya pengguguran hak khiyār. Ia juga menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i: “Lalu ia menjualnya dengan jual beli yang bukan bai‘ al-khiyār,” pada jual beli ini, karena makna perkataannya menunjukkan bahwa jika itu adalah bai‘ al-khiyār, maka budak tidak menjadi merdeka karenanya. Dengan demikian, jual belinya tetap berlaku, hak khiyār telah gugur, dan budak tidak menjadi merdeka karena hak khiyār telah gugur dalam jual beli tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّ الْبَيْعَ وَالشَّرْطَ بَاطِلَانِ لِأَنَّ الشَّرْطَ مُنَافٍ لِمُوجَبِ الْعَقْدِ فَأَبْطَلَهُ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ مَعَ بُطْلَانِ الْبَيْعِ

Pendapat kedua, bahwa jual beli dan syaratnya batal, karena syarat tersebut bertentangan dengan konsekuensi akad sehingga membatalkannya, dan tidak sah memerdekakan (budak) atasnya jika jual belinya batal.

وَيَكُونُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فَبَاعَهُ بَيْعًا لَيْسَ فِيهِ خِيَارٌ مَحْمُولًا عَلَى أَنْ لَيْسَ فِيهِ خِيَارٌ

Dan perkataan asy-Syafi‘i “lalu ia menjualnya dengan jual beli yang tidak ada khiyar di dalamnya” dimaknai bahwa tidak ada khiyar di dalamnya.

وَالثَّالِثُ وَقَدْ صَرَّحَ بِهِ الْبُوَيْطِيُّ فِي كِتَابِهِ وَمُرَادُهُ بِهِ الرد على مالك وأبي حنيفة في إسقاطها خِيَارَ الْمَجْلِسِ

Yang ketiga, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Buwaiti dalam kitabnya, dan maksudnya adalah sebagai bantahan terhadap Malik dan Abu Hanifah dalam menggugurkan khiyār al-majlis.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُطْلَقَ اسْمُ بَيْعِ الْخِيَارِ عَلَى مَا لَيْسَ فِيهِ خِيَارٌ كَمَا تَأَوَّلَهُ الْأَوَّلُ

Dan tidak boleh menisbatkan istilah bai‘ al-khiyār kepada sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya khiyār, sebagaimana yang ditakwilkan oleh kelompok pertama.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إنَّ الشَّرْطَ بَاطِلٌ وَالْبَيْعَ جَائِزٌ وَلَهُمَا خِيَارُ الْمَجْلِسِ وَإِنَّمَا بَطَلَ شَرْطُ الْخِيَارِ لِإِسْقَاطِهِ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهِ فَجَرَى مَجْرَى إِسْقَاطِ الشُّفْعَةِ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهَا بِالْبَيْعِ وَصَحَّ الْبَيْعُ مَعَ إِسْقَاطِ الشَّرْطِ لِأَنَّهُ لَمْ يَأْخُذْ مِنَ الثَّمَنِ قِسْطًا فَعَلَى هَذَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ لِثُبُوتِ الْخِيَارِ فِيهِ ثُمَّ يَبْطُلُ الْبَيْعُ بَعْدَ الصِّحَّةِ بِعِتْقِهِ

Pendapat ketiga: Syarat tersebut batal, namun akad jual belinya sah, dan kedua belah pihak memiliki hak khiyār majlis. Syarat khiyār menjadi batal karena telah digugurkan sebelum hak itu diperoleh, sehingga keadaannya serupa dengan pengguguran hak syuf‘ah sebelum hak itu diperoleh melalui jual beli. Jual beli tetap sah meskipun syaratnya digugurkan, karena tidak ada bagian dari harga yang diambil untuk syarat tersebut. Dengan demikian, budak itu menjadi merdeka atasnya karena hak khiyār tetap ada padanya, kemudian jual beli menjadi batal setelah sahnya akad karena pembebasan budak tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ وَهَبْتُكَ فَأَنْتَ حُرٌّ عُتِقَ بِالْبَذْلِ وَالْقَبُولِ

Dan jika seseorang berkata kepada hambanya, “Jika aku memberimu (sebagai hibah), maka kamu merdeka,” maka hamba itu menjadi merdeka dengan adanya pemberian dan penerimaan.

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ يُعْتَقُ بِالْبَذْلِ وَحْدَهُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لِأَنَّ الْبَذْلَ أَوَّلُ الْعَقْدِ وَهَذَا فَاسِدٌ بِالْبَيْعِ لِأَنَّهُ لَا يُعْتَقُ فِيهِ بِالْبَذْلِ حَتَّى يَتَعَقَّبَهُ الْقَبُولُ لِأَنَّ مُجَرَّدَ الْبَذْلِ لَا يَكُونُ عَقْدًا فِيهَا وَكَذَلِكَ إِذَا عَلَّقَ عِتْقَهُ بِالرَّهْنِ وَالْإِجَارَةِ

Abu al-Abbas bin Surayj berpendapat bahwa seseorang merdeka hanya dengan penawaran saja, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah, karena penawaran adalah permulaan akad. Namun, pendapat ini dianggap tidak sah dalam jual beli, karena dalam jual beli seseorang tidak menjadi merdeka hanya dengan penawaran sampai ada penerimaan setelahnya, sebab sekadar penawaran saja belum menjadi suatu akad. Demikian pula halnya jika mempersyaratkan kemerdekaan dengan gadai atau sewa.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنِ اسْتَخْدَمْتُكَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَخَدَمَهُ الْعَبْدُ بِغَيْرِ أَمْرِهِ لَمْ يُعْتَقْ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يُعْتَقُ عَلَيْهِ وَوَافَقَ عَلَى أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا يَسْتَخْدِمُ عَبْدَ غَيْرِهِ فَخَدَمَهُ بِغَيْرِ أَمْرِهِ أَنْ لَا يَحْنَثَ وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ عَبْدَ غَيْرِهِ لَيْسَ بِمَنْدُوبٍ لِخِدْمَتِهِ فَلَمْ يَحْنَثْ إِلَّا بِاسْتِخْدَامِهِ وَعَبْدَهُ مَنْدُوبٌ لِخِدْمَتِهِ فَكَانَ إِمْسَاكُهُ عَنْهُ رِضًا وَالرِّضَا مِنْهُ اسْتِخْدَامٌ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika aku mempekerjakanmu, maka kamu merdeka,” lalu budak itu melayaninya tanpa perintah darinya, maka budak tersebut tidak menjadi merdeka. Abu Hanifah berpendapat bahwa budak itu menjadi merdeka karenanya. Ia juga sepakat bahwa jika seseorang bersumpah tidak akan mempekerjakan budak orang lain, lalu budak itu melayaninya tanpa perintahnya, maka ia tidak melanggar sumpahnya. Ia membedakan antara keduanya dengan alasan bahwa budak orang lain tidak dianjurkan untuk melayaninya, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan mempekerjakannya, sedangkan budaknya sendiri dianjurkan untuk melayaninya, sehingga menahan diri darinya dianggap sebagai kerelaan, dan kerelaan darinya dianggap sebagai mempekerjakan. Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الِاسْتِخْدَامَ هُوَ اسْتِدْعَاءُ الْخِدْمَةِ فَافْتَقَرَ إِلَى أَمْرٍ

Salah satunya adalah bahwa penggunaan (istikhdam) merupakan permintaan pelayanan, sehingga membutuhkan adanya perintah.

وَالثَّانِي إنَّ فَرْقَ مَا بَيْنَ الْخِدْمَةِ وَالِاسْتِخْدَامِ كَفَرْقِ مَا بَيْنَ العمل والاستعمال فلما لم ينطلق على العلم اسْمُ الِاسْتِعْمَالِ لَمْ يَنْطَلِقْ عَلَى الْخِدْمَةِ اسْمُ الاستخدام

Kedua, perbedaan antara khidmah dan istikhdām adalah seperti perbedaan antara ‘amal dan isti‘māl. Maka, sebagaimana istilah isti‘māl tidak digunakan untuk ilmu, demikian pula istilah istikhdām tidak digunakan untuk khidmah.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا قَالَ لِعَبِيدِهِ مَنْ بَشَّرَنِي مِنْكُمْ بِخَبَرِ زَيْدٍ فَهُوَ حُرٌّ فَإِنْ بِشَّرَهُ أَحَدُهُمْ بِخَبَرٍ سَارٍّ لِزَيْدٍ عُتِقَ وَإِنْ بِشَّرَهُ بِخَبَرٍ مَكْرُوهٍ لِزَيْدٍ فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang berkata kepada para budaknya, “Siapa di antara kalian yang memberitahuku kabar tentang Zaid, maka ia merdeka,” lalu salah satu dari mereka memberitahunya kabar yang menggembirakan tentang Zaid, maka budak itu menjadi merdeka. Namun jika ia memberitahunya kabar yang tidak menyenangkan tentang Zaid, maka dalam hal terjadinya pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ لِأَنَّ الْبِشَارَةَ مَأْخُوذَةٌ مِنْ تَغَيُّرِ الْبَشَرَةِ وَقَدْ تَتَغَيَّرُ بِالْمَكْرُوهِ كَمَا تَتَغَيَّرُ بِالسَّارِّ

Salah satunya adalah bahwa seseorang dimerdekakan karena kabar gembira diambil dari perubahan warna kulit, dan warna kulit bisa saja berubah karena sesuatu yang tidak disukai sebagaimana bisa berubah karena sesuatu yang menyenangkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يُعْتَقُ لِأَنَّ الْبِشَارَةَ قَدْ صَارَتْ فِي الْعُرْفِ لِلسَّارِّ مِنَ الْأَخْبَارِ دُونَ الْمَكْرُوهِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia tidak dimerdekakan karena kabar gembira dalam kebiasaan masyarakat telah menjadi istilah khusus untuk berita yang menyenangkan, bukan untuk berita yang tidak disukai.

وَالصَّحِيحُ أَنْ يُنْظَرَ حَالُ الْحَالِفِ مَعَ زَيْدٍ فَإِنْ كَانَ صَدِيقًا لَهُ لَمْ يُعْتَقْ بِالْخَبَرِ الْمَكْرُوهِ وَإِنْ كَانَ عَدُوًّا لَهُ عُتِقَ بِالْخَبَرِ المكروه لأن بَشَّرَهُ فَصَارَ بِشَارَةً عِنْدَهُ

Pendapat yang benar adalah melihat keadaan orang yang bersumpah terhadap Zaid; jika ia adalah teman dekatnya, maka tidak merdeka (budak yang dijanjikan merdeka) dengan kabar yang tidak disukai itu. Namun jika ia adalah musuhnya, maka budak itu merdeka dengan kabar yang tidak disukai, karena ia telah memberinya kabar gembira, sehingga hal itu menjadi kabar gembira menurutnya.

وَلَوْ كَانَ عَدُوًّا فَبَشَّرَهُ بِخَبَرٍ سَارٍّ عُتِقَ وَإِنْ سَاءَهُ الْخَبَرُ لِأَنَّهُ فِي الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ بِشَارَةٌ

Dan jika orang yang diberi kabar itu adalah musuh, lalu ia memberinya kabar gembira dengan berita yang menyenangkan, maka ia merdeka. Namun jika berita itu membuatnya sedih, tetap dianggap sebagai kabar gembira menurut ‘urf dan kebiasaan.

فَإِذَا تَقَرَّرَ الْخَبَرُ الَّذِي يُعْتَقُ بِهِ فَإِنْ بَشَّرَهُ وَاحِدٌ مِنْ عَبِيدِهِ عُتِقَ وَإِنْ بَشَّرَهُ بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ عَبِيدِهِ فَإِنْ تَقَدَّمَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ عُتِقَ الْأَوَّلُ دُونَ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْبِشَارَةَ تَكُونُ بِالْخَبَرِ الْأَوَّلِ وَإِنْ بَشَّرَهُ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ عُتِقُوا جَمِيعًا

Apabila telah dipastikan kabar yang menyebabkan pembebasan budak, maka jika salah satu dari budaknya memberi kabar gembira kepadanya, budak itu dimerdekakan. Jika sekelompok budaknya memberi kabar gembira kepadanya, lalu sebagian dari mereka mendahului yang lain, maka yang pertama saja yang dimerdekakan, bukan yang lainnya, karena kabar gembira itu terjadi dengan berita yang pertama. Namun jika sekelompok dari mereka memberi kabar gembira kepadanya secara bersamaan, maka semuanya dimerdekakan.

وَإِنْ بَشَّرَهُ جَمِيعُ عَبِيدِهِ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ لَمْ يُعْتَقْ وَاحِدٌ مِنْهُمْ لِأَنَّ قَوْلَهُ مَنْ بَشَّرَنِي مِنْكُمْ يَقْتَضِي التَّبْعِيضَ دُونَ الْجَمِيعِ

Dan jika seluruh hamba sahayanya memberi kabar gembira kepadanya dalam satu waktu yang sama, maka tidak ada satu pun dari mereka yang merdeka, karena ucapannya “siapa di antara kalian yang memberi kabar gembira kepadaku” mengandung makna sebagian, bukan seluruhnya.

وَلَوْ قَالَ مَنْ أَخْبَرَنِي بِقُدُومِ زَيْدٍ فَأَخْبَرَهُ جَمِيعُهُمْ بِقُدُومِهِ عَلَى اجْتِمَاعٍ أَوِ انْفِرَادٍ عُتِقُوا جَمِيعًا لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يُخْبِرُ بِخِلَافِ الْبِشَارَةِ الْمُخْتَصَّةِ بِالْخَبَرِ الْأَوَّلِ وَلَا يَلْزَمُ تَبْعِيضُهُمْ لِأَنَّهُ لَمْ يُدْخِلْ فِيهِ حَرْفَ التَّبْعِيضِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika seseorang berkata, “Siapa yang memberitahuku tentang kedatangan Zaid, maka ia merdeka,” lalu seluruh budaknya memberitahunya tentang kedatangan Zaid, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, maka semuanya merdeka. Sebab, masing-masing dari mereka memberikan kabar yang berbeda dengan kabar gembira yang khusus pada pemberitahuan pertama. Tidak wajib membebaskan sebagian saja dari mereka, karena ia tidak memasukkan huruf pembatas sebagian dalam ucapannya. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا قَالَ مَنْ يَسْبِقْ بِدُخُولِ الدَّارِ مِنْ عَبِيدِي فَهُوَ حُرٌّ فَأَيُّهُمْ سَبَقَ بِالدُّخُولِ عُتِقَ وَلَمْ يُعْتَقْ مَنْ بَعْدَهُ فَإِنْ سَبَقَ بِالدُّخُولِ اثْنَانِ مَعًا ثُمَّ دَخَلَ بَعْدَهُمَا ثَالِثٌ عُتِقَ الْأَوَّلَانِ دُونَ الثَّالِثِ لِأَنَّهُمَا سَبَقَاهُ

Jika seseorang berkata, “Siapa di antara budak-budakku yang lebih dahulu masuk ke rumah, maka ia merdeka,” maka siapa pun dari mereka yang lebih dahulu masuk, dialah yang dimerdekakan, dan yang masuk setelahnya tidak dimerdekakan. Jika ada dua orang yang masuk bersamaan, kemudian setelah mereka berdua ada yang ketiga masuk, maka yang dimerdekakan adalah dua orang pertama saja, bukan yang ketiga, karena keduanya telah mendahuluinya.

وَلَوْ لَمْ يَدْخُلْ بَعْدَهُمَا ثَالِثٌ لَمْ يُعْتَقَا لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِمَا سَابِقٌ

Dan jika setelah keduanya tidak masuk orang ketiga, maka keduanya tidak dimerdekakan karena di antara mereka berdua tidak ada yang lebih dahulu.

وَلَوْ قَالَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الدَّارَ مِنْ عَبِيدِي حُرٌّ فَدَخَلَهَا وَاحِدٌ مِنْهُمْ وَلَمْ يَدْخُلْهَا غَيْرُهُ فَفِي عِتْقِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang berkata, “Budakku yang pertama kali masuk ke rumah ini adalah merdeka,” lalu salah satu dari mereka masuk ke rumah itu dan tidak ada yang lain yang masuk, maka dalam hal kemerdekaannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ لِأَنَّهُ أَوَّلٌ

Salah satunya dimerdekakan karena ia yang pertama.

وَالثَّانِي لَا يُعْتَقُ لِأَنَّ الْأَوَّلَ مَا تَعَقَّبَهُ آخَرُ

Dan yang kedua tidak merdeka karena yang pertama tidak diikuti oleh yang lain.

وَلَوْ قَالَ آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الدَّارَ مِنْ عَبِيدِي حُرٌّ فَدَخَلَهَا اثْنَانِ وَاحِدٌ بعد واحد فإن لم يكن له غَيْرُهُمَا عُتِقَ الثَّانِي مِنْهُمَا وَإِنْ كَانَ لَهُ غَيْرُهُمَا لَمْ يُعْتَقِ الثَّانِي إِلَّا أَنْ يَمُوتَ الثَّالِثُ أَوْ يَمُوتَ السَّيِّدُ لِجَوَازِ أَنْ يَدْخُلَهَا الثَّالِثُ فَيَصِيرَ حُرًّا

Dan jika seseorang berkata, “Budakku yang terakhir masuk ke rumah adalah merdeka,” lalu ada dua budak yang masuk satu per satu, maka jika ia tidak memiliki budak lain selain keduanya, yang kedua dari mereka menjadi merdeka. Namun jika ia memiliki budak lain selain keduanya, maka yang kedua tidak menjadi merdeka kecuali jika budak ketiga meninggal atau tuannya meninggal, karena masih dimungkinkan budak ketiga masuk ke rumah sehingga dialah yang menjadi merdeka.

فَإِنْ كَانَ لَهُ وَقْتَ يَمِينِهِ عَبْدَانِ فَاشْتَرَى ثَالِثًا وَدَخَلَ الْأَوَّلَانِ وَاحِدًا بَعْدَ آخَرَ عُتِقَ الثَّانِي لِأَنَّ الثَّالِثَ لَا يُعْتَقُ بِالدُّخُولِ لِحُدُوثِهِ بَعْدَ الْيَمِينِ

Jika pada saat ia bersumpah ia memiliki dua budak, lalu ia membeli budak ketiga, kemudian dua budak yang pertama masuk satu per satu, maka yang kedua dimerdekakan, karena budak ketiga tidak dimerdekakan dengan masuknya (ke dalam rumah) sebab ia muncul setelah sumpah diucapkan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي ولو قال إِنْ زَوَّجْتُكَ أَوْ بِعْتُكَ فَأَنْتَ حرٌّ فَزَوَّجَهُ أبو بَاعَهُ بَيْعًا فَاسِدًا لَمْ يَحْنَثْ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Jika aku menikahkanmu atau menjualmu, maka engkau merdeka,” lalu ia menikahkannya atau menjualnya dengan jual beli yang fasid (rusak), maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا مُخْتَلَفٌ فِيهِ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Al-Mawardi berkata, “Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha, yang terbagi menjadi tiga mazhab.”

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إنَّهُ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ وَلَا بِالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ اعْتِبَارًا بِالْعَقْدِ الشَّرْعِيِّ فِي انْطِلَاقِ الِاسْمِ عَلَيْهَا

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa tidak terjadi pembebasan budak (‘itq) atasnya melalui jual beli fasid maupun nikah fasid, dengan pertimbangan bahwa akad syar‘i menjadi tolok ukur dalam penetapan nama (status) tersebut.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ إنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ وَالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ اعْتِبَارًا بِاسْمِ الْعَقْدِ فِي اللُّغَةِ دُونَ الشَّيْءِ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Malik, menyatakan bahwa seseorang merdeka karena akad jual beli yang fasid (rusak) dan akad nikah yang fasid, dengan mempertimbangkan nama akad dalam bahasa (Arab), bukan hakikatnya.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ إنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ لِأَنَّهُ جَوَّزَ التَّصَرُّفَ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ وَمَنَعَ مِنَ الِاسْتِمْتَاعِ بِالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ هَذَا الْفَرْقُ مَدْفُوعٌ وَهُوَ مِنَ الْعَقْدَيْنِ مَمْنُوعٌ

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa seseorang menjadi merdeka karena jual beli yang fasid, namun tidak menjadi merdeka karena nikah yang fasid. Sebab, beliau membolehkan transaksi dengan jual beli yang fasid, tetapi melarang mengambil manfaat dari nikah yang fasid. Perbedaan ini tertolak, karena kedua akad tersebut sama-sama terlarang.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ الْمَذْهَبَيْنِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dan dalil atas rusaknya kedua mazhab tersebut ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ عُرْفُ لُغَةٍ وَعُرْفُ شَرْعٍ كَانَ عُرْفُ الشَّرْعِ مُقَدَّمًا عَلَى عُرْفِ اللُّغَةِ لِأَنَّ الشَّرْعَ نَاقِلٌ

Salah satunya adalah bahwa apabila terdapat suatu istilah yang memiliki ‘urf bahasa dan ‘urf syariat secara bersamaan, maka ‘urf syariat didahulukan atas ‘urf bahasa, karena syariat merupakan pihak yang memindahkan makna.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَمْ يَتَعَلَّقْ عَلَيْهِمَا بِالْفَسَادِ مَا اخْتَصَّ بِهِمَا مِنَ الْأَحْكَامِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ عَلَيْهِمَا مَا عَلِقَ بِهِمَا مِنَ الْأَيْمَانِ

Kedua, bahwa tidak berkaitan pada keduanya (qiyās dan ijmā‘) kerusakan yang khusus pada keduanya dari hukum-hukum, maka lebih utama lagi untuk tidak berkaitan pada keduanya apa yang terkait dengan keduanya dari sumpah.

فَصْلٌ

Bagian

إِذَا قَالَ مَنْ تَسَرَّيْتُ بِهَا مِنْ جَوَارِيَّ فَهِيَ حُرَّةٌ فَتَسَرَّى بِجَارِيَةٍ كَانَتْ فِي مِلْكِهِ وَقْتَ يَمِينِهِ عُتِقَتْ

Jika seseorang berkata, “Siapa pun dari budak perempuan saya yang saya jadikan sebagai selir, maka dia merdeka,” lalu ia menjadikan salah satu budak perempuannya sebagai selir yang pada saat ia mengucapkan sumpah itu masih dalam kepemilikannya, maka budak perempuan tersebut menjadi merdeka.

وَإِنْ تَسَرَّى بِجَارِيَةٍ مَلَكَهَا بَعْدَ يَمِينِهِ لَمْ تُعْتَقْ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَنْفُذِ الْعِتْقُ قَبْلَ الْمِلْكِ لَمْ تَنْعَقِدِ الْيَمِينُ بِهِ قَبْلَ الْمِلْكِ

Dan jika seseorang menjadikan budak perempuan yang dimilikinya setelah sumpahnya sebagai istri, maka budak tersebut tidak menjadi merdeka, karena ketika pembebasan tidak berlaku sebelum kepemilikan, maka sumpah pun tidak sah atasnya sebelum kepemilikan.

فَأَمَّا التَّسَرِّي الَّذِي يُعْتَقُ بِهِ فَلَيْسَ لَهُ فِي الشَّرْعِ عُرْفٌ وَالْمُعْتَبَرُ فِيهِ عُرْفُ اللُّغَةِ وَالِاسْتِعْمَالِ

Adapun tasarrī yang menyebabkan kemerdekaan, maka dalam syariat tidak ada definisi khusus baginya, dan yang dijadikan acuan di dalamnya adalah pengertian menurut bahasa dan penggunaan umum.

فَأَمَّا اللُّغَةُ فَفِيمَا اشْتُقَّ مِنْهُ التَّسَرِّي خَمْسَةُ أَوْجُهٍ

Adapun dalam bahasa, terdapat lima makna dari kata yang darinya istilah tasarrī diambil.

أَحَدُهَا إنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السُّرُورِ وَلِأَنَّهُ مَسْرُورٌ بِالِاسْتِمْتَاعِ بِهَا

Salah satunya adalah karena kata itu berasal dari kata “as-surūr” (kegembiraan), dan karena ia merasa gembira dengan menikmati hal tersebut.

وَالثَّانِي إنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السَّرْوِ لِأَنَّهَا أَسْرَى جَوَارِيهِ عنده

Yang kedua, sesungguhnya ia diambil dari kata “as-sarw” karena ia adalah yang paling mulia di antara jenis-jenisnya menurutnya.

وَالثَّالِثُ إنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السَّرَاءِ وَهُوَ الظَّهْرُ لِأَنَّهَا كَالظَّهْرِ الْمَرْكُوبِ

Ketiga, bahwa ia diambil dari kata “sirrā’” yang berarti punggung, karena ia seperti punggung yang ditunggangi.

وَالرَّابِعُ إنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السَّرَرِ وَهُوَ الْجِمَاعُ لِأَنَّهَا مُعَدَّةٌ لِجِمَاعِهِ

Keempat, bahwa ia diambil dari kata “sarar” yang berarti hubungan intim, karena ia (perempuan) diciptakan untuk berhubungan intim dengannya.

وَالْخَامِسُ أَنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السَّتْرِ لِأَنَّهُ قَدْ سَتَرَهَا بِالْخِدْرِ بَعْدَ الْبِذْلَةِ وَسَتَرَ جِمَاعَهَا بِالْإِخْفَاءِ

Kelima, bahwa ia diambil dari kata “satr” (menutupi), karena ia telah menutupinya dengan hijab setelah sebelumnya terbuka, dan menutupi hubungan suaminya dengan cara menyembunyikannya.

وَأَمَّا عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ فِي التَّسَرِّي فَهُوَ طَلَبُ الْوَلَدِ مِنْهَا وَذَلِكَ يَكُونُ بِالْإِنْزَالِ وَالْجِمَاعِ وَقَدْ نَصَّ عليه الشافعي في الأمر فِي اللِّعَانِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِهِ أَنَّهُ يَصِيرُ مُتَسَرِّيًا بِهَا إِذَا جَامَعَ وَأَنْزَلَ وَلَا يَصِيرُ مُتَسَرِّيًا إِذَا جَامَعَ وَلَمْ يُنْزِلْ وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ

Adapun ‘urf penggunaan dalam masalah tasarrī adalah permintaan anak darinya, dan hal itu terjadi dengan inzal (ejakulasi) dan jima‘ (hubungan badan). Imam Syafi‘i telah menegaskan hal ini dalam perkara li‘ān, dan ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab beliau, yaitu seseorang menjadi mutasarrī dengannya jika ia telah melakukan jima‘ dan inzal, dan tidak menjadi mutasarrī jika ia hanya melakukan jima‘ tanpa inzal. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Yusuf.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَكُونُ مُتَسَرِّيًا إِذَا جَامَعَ وَلَمْ يُنْزِلْ وَخَرَّجَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَجْهًا ثَانِيًا وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ تَغْلِيبًا لِعُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ عَلَى عُرْفِ اللُّغَةِ لِأَنَّ عُرْفَ الِاسْتِعْمَالِ نَاقِلٌ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang menjadi mutasarrī jika ia melakukan hubungan suami istri meskipun tidak sampai mengeluarkan mani, dan Abu al-‘Abbas bin Surayj mengemukakan pendapat kedua, namun pendapat pertama lebih kuat karena mengutamakan ‘urf penggunaan (kebiasaan dalam praktik) daripada ‘urf bahasa, sebab ‘urf penggunaan dapat mengubah makna.

وَاخْتُلِفَ فِي تَخْدِيرِهَا عَنْ أَبْصَارِ النَّاسِ هَلْ يَكُونُ شَرْطًا فِي كَمَالِ السِّرَاءِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah menutupi hewan dari pandangan manusia merupakan syarat dalam kesempurnaan penyembelihan, dengan dua pendapat yang berbeda.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ شَرْطٌ فِيهِ لِأَنَّ عُرْفَ الِاسْتِعْمَالِ وَاللُّغَةِ جَارِيَانِ بِهِ فَعَلَى هَذَا لَا يُعْتَقُ بِالْجِمَاعِ وَحْدَهُ حَتَّى يُخَدِّرَهَا وَيَسْتُرَهَا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu merupakan syarat di dalamnya, karena kebiasaan penggunaan dan bahasa berlaku demikian. Oleh karena itu, seseorang tidak merdeka hanya dengan melakukan hubungan intim saja, sampai ia membiusnya dan menutupinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ لَيْسَ بِشَرْطٍ فِيهِ لِأَنَّ عُرْفَ الشَّرْعِ لَا يُوجِبُ تَخْدِيرَ الْأَمَةِ فَصَارَ عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ مَخْصُوصًا بِهِ فَعَلَى هَذَا يُعْتَقُ بِالْجِمَاعِ وَحْدَهُ وَإِنْ لَمْ يُخَدِّرْهَا

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu bukanlah syarat di dalamnya, karena ‘urf syar‘i tidak mewajibkan pembiusan terhadap budak perempuan, sehingga ‘urf penggunaan menjadi khusus padanya. Maka berdasarkan hal ini, budak perempuan menjadi merdeka hanya dengan jima‘ saja, meskipun tidak dilakukan pembiusan terhadapnya.

فَأَمَّا جِمَاعُهَا دُونَ الْفَرَجِ فَلَا يَصِيرُ بِهِ مُتَسَرِّيًا وَجْهًا وَاحِدًا وَوَافَقَ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ وَلَيْسَ عَلَى مَذْهَبِ مَالِكٍ أَنْ يَكُونَ بِهِ مُتَسَرِّيًا

Adapun berhubungan badan dengannya selain melalui farj (kemaluan), maka tidak menjadikannya sebagai mutasarrī menurut satu pendapat, dan pendapat ini disetujui oleh Abū Ḥanīfah. Menurut mazhab Mālik, tidaklah seseorang menjadi mutasarrī dengan cara tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا كَانَ لَهُ عَبْدَانِ فَقَالَ لَهُمَا إِذَا جَاءَ غَدٌ فَأَحَدُكُمَا حُرٌّ فَإِذَا جَاءَ غَدٌ وَهُمَا فِي مِلْكِهِ أَعْتَقَ أَحَدَهُمَا وَعَيَّنَ الْعِتْقَ فِيمَنْ شَاءَ مِنْهُمَا

Dan apabila seseorang memiliki dua budak, lalu ia berkata kepada keduanya: “Jika besok tiba, salah satu dari kalian merdeka,” maka apabila besok telah tiba dan keduanya masih dalam kepemilikannya, ia memerdekakan salah satu dari keduanya dan menentukan kemerdekaan itu pada siapa saja yang ia kehendaki di antara mereka.

فَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا أَوْ بَاعَهُ قَبْلَ غَدٍ وَجَاءَ غَدٌ وَأَحَدُهُمَا باقٍ عَلَى مِلْكِهِ لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ لَمْ يَتَعَيَّنْ مِنْهُ

Jika salah satu dari keduanya meninggal atau menjualnya sebelum esok hari, lalu tiba esok hari dan salah satu dari keduanya masih tetap dalam kepemilikannya, maka budak itu tidak menjadi merdeka atasnya, karena kemerdekaan belum menjadi pasti darinya.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ يُعْتَقُ عَلَيْهِ لِأَنَّ التَّخْيِيرَ ارْتَفَعَ بِعَدَمِ غَيْرِهِ فَتَعَيَّنَ الْعِتْقُ فِيهِ

Muhammad bin al-Hasan berkata, “Budak itu menjadi merdeka atasnya, karena pilihan telah gugur dengan tidak adanya selainnya, maka wajiblah pembebasan budak dalam hal ini.”

وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ مَا أُبْهِمَ بِاللَّفْظِ لَمْ يَتَعَيَّنْ بِالْحُكْمِ

Ini adalah sebuah kekeliruan, karena sesuatu yang masih samar maknanya dalam lafaz tidak dapat ditetapkan secara pasti melalui hukum.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ وَعَبْدِ غَيْرِهِ أَحَدُهُمَا حُرٌّ لَمْ يَتَعَيَّنِ الْعِتْقُ فِي عَبْدِهِ؟ وَعَلَى قِيَاسِ هَذَا لَوْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ وَأَجْنَبِيَّةٍ إِحْدَاكُمَا طَالِقٌ لَمْ يَتَعَيَّنِ الطَّلَاقُ فِي زَوْجَتِهِ

Tidakkah kamu melihat, jika seseorang berkata kepada budaknya dan budak orang lain, “Salah satu dari kalian merdeka,” maka kemerdekaan itu tidak pasti berlaku pada budaknya sendiri? Dan menurut qiyās seperti ini, jika seseorang berkata kepada istrinya dan perempuan asing, “Salah satu dari kalian tertalak,” maka talak itu tidak pasti berlaku pada istrinya.

فَعَلَى هَذَا إِنْ بَاعَ أَحَدَهُمَا أَوِ اشْتَرَاهُ قَبْلَ غَدٍ وَجَاءَ غَدٌ وَهُمَا فِي مِلْكِهِ فَإِنْ قِيلَ بِعَقْدِ الْيَمِينِ فِي الْمَبِيعِ عُتِقَ أَحَدُهُمَا وَعَيَّنَ الْعِتْقَ فِيمَنْ شَاءَ مِنْهُمَا وَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْيَمِينَ قَدْ سَقَطَتْ فِي الْمَبِيعِ لَمْ يُعْتَقْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Maka berdasarkan hal ini, jika salah satu dari keduanya dijual atau dibeli sebelum esok hari, lalu datang hari esok dan keduanya masih dalam kepemilikannya, maka jika dikatakan bahwa sumpah berlaku pada barang yang dijual, salah satu dari keduanya dimerdekakan dan ia boleh menentukan siapa yang dimerdekakan di antara keduanya. Namun jika dikatakan bahwa sumpah telah gugur pada barang yang dijual, maka tidak ada satu pun dari keduanya yang dimerdekakan. Allah lebih mengetahui.

باب جامع الأيمان الثاني
Bab Kompilasi Sumpah yang Kedua

مسألة

Masalah

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الرُّؤُوسَ فَأَكَلَ رُؤُوسَ الْحِيتَانِ أَوْ رُؤُوسَ الطَّيْرِ أَوْ رُؤُوسَ شيءٍ يُخَالِفُ رُؤُوسَ الْغَنَمِ وَالِإِبِلِ وَالْبَقَرِ لَمْ يَحْنَثْ مِنْ قِبَلِ أَنَّ الَّذِي يَعْرِفُ النَّاسُ إِذَا خُوطِبُوا بِأَكْلِ الرُّؤُوسِ إِنَّمَا هِيَ مَا وَصَفْنَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ بلادٌ لَهَا صيدٌ يَكْثُرُ كَمَا يَكْثُرُ لَحْمُ الأنعام في السوق وتميز رُؤُوسُهَا فَيَحْنَثُ فِي رُؤُوسِهَا

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan kepala, lalu ia memakan kepala ikan, atau kepala burung, atau kepala sesuatu yang berbeda dengan kepala kambing, unta, dan sapi, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Sebab, yang dikenal oleh masyarakat ketika mereka mendengar istilah “memakan kepala” hanyalah seperti yang telah kami sebutkan, kecuali jika di suatu negeri terdapat hewan buruan yang jumlahnya banyak seperti banyaknya daging hewan ternak di pasar dan kepala-kepalanya dapat dibedakan, maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakan kepala hewan-hewan tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الرُّؤُوسَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan ketika seseorang bersumpah tidak akan memakan kepala (hewan) tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُرِيدَ عُمُومَ الرُّؤُوسِ كُلِّهَا مِمَّا انْطَلَقَ اسْمُ الرَّأْسِ عَلَيْهِ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِ كُلِّ مَا سُمِّيَ رَأْسًا مِمَّا يُفْصَلُ مِنْ أَبْدَانِهَا كَرُؤُوسِ الْغَنَمِ أَوْ لَا يُفْصَلُ كَرُؤُوسِ الطَّيْرِ وَالْحِيتَانِ اعْتِبَارًا بِمُرَادِهِ فِيمَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ حَقِيقَةُ الِاسْمِ

Salah satunya adalah jika ia bermaksud mencakup seluruh kepala, yaitu segala sesuatu yang disebut kepala, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan memakan apa saja yang dinamakan kepala, baik yang terpisah dari tubuhnya seperti kepala kambing, maupun yang tidak terpisah seperti kepala burung dan ikan, sesuai dengan maksudnya terhadap apa yang secara hakiki disebut dengan nama tersebut.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُرِيدَ تَخْصِيصَ نَوْعٍ مِنَ الرُّؤُوسِ بِعَيْنِهَا دُونَ مَا عَدَاهَا فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهَا وَحْدَهَا سَوَاءٌ انْفَصَلَ فِي الْعُرْفِ أَوْ لَمْ يَنْفَصِلْ وَلَا يَحْنَثْ بِأَكْلِ مَا عَدَاهَا اعْتِبَارًا بِمُرَادِهِ فِي التَّخْصِيصِ

Bagian kedua adalah jika seseorang bermaksud mengkhususkan jenis kepala tertentu saja, bukan yang lainnya, maka ia melanggar sumpah jika memakan kepala itu saja, baik kepala tersebut secara adat dipisahkan atau tidak. Ia tidak melanggar sumpah jika memakan selain kepala itu, sesuai dengan maksudnya dalam pengkhususan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يُطْلَقَ اسْمُ الرُّؤُوسِ وَلَا تَكُونُ لَهُ إِرَادَةٌ فِي عُمُومٍ وَلَا تَخْصِيصٍ فَلَا خِلَافَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ لَا يُحْمَلُ عَلَى الْعُمُومِ فِي مَا انْطَلَقَ اسْمُ الرَّأْسِ عَلَيْهِ فَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ رُؤُوسِ الطَّيْرِ وَالْحِيتَانِ وَالْجَرَادِ وَإِنِ اتَّفَقَ عَلَيْهَا حَقِيقَةُ اسْمِ الرُّؤُوسِ بِخُرُوجِهِ عَنِ الْعُرْفِ فَصَارَتِ الْحَقِيقَةُ مَخْصُوصَةً بِالْعُرْفِ كَمَا خُصَّتِ الْأَرْضُ فِيمَنْ حَلَفَ لَا يَقْعُدُ عَلَى بِسَاطٍ بِالْعُرْفِ وَكَمَا خُصَّتِ الشَّمْسُ فِيمَنْ حَلَفَ لَا يَقْعُدُ فِي سِرَاجٍ بِالْعُرْفِ وَإِذَا كَانَ الْحِنْثُ مُعْتَبَرًا فِيهَا بِالْعُرْفِ دُونَ الْحَقِيقَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَا يَحْنَثُ بِهِ مِنْ أَكْلِ الرُّؤُوسِ عِنْدَ إِطْلَاقِهَا

Bagian ketiga adalah ketika nama “kepala” digunakan tanpa ada maksud untuk makna umum maupun khusus, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para fuqaha bahwa istilah tersebut tidak dibawa kepada makna umum pada apa saja yang dinamai “kepala”. Maka, seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan kepala burung, ikan, atau belalang, meskipun secara hakikat semuanya disebut “kepala”, karena keluar dari kebiasaan (‘urf). Dengan demikian, makna hakiki menjadi khusus menurut kebiasaan, sebagaimana istilah “tanah” pada orang yang bersumpah tidak akan duduk di atas permadani menjadi khusus menurut kebiasaan, dan sebagaimana istilah “matahari” pada orang yang bersumpah tidak akan duduk di bawah lampu juga menjadi khusus menurut kebiasaan. Jika pelanggaran sumpah dalam hal ini dianggap menurut kebiasaan, bukan menurut makna hakiki, maka para fuqaha berbeda pendapat mengenai apa saja yang menyebabkan pelanggaran sumpah ketika istilah “kepala” digunakan secara mutlak.

فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أَنَّهُ يَحْنَثُ بِأَكْلِ رُؤُوسِ النَّعَمِ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِهَا مِنْ رُؤُوسِ الطَّيْرِ وَالْحِيتَانِ وَهُوَ عُرْفُ الْحِجَازِ لِأَنَّهُمْ يَفْصِلُونَ رُؤُوسَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ مِنْ أَجْسَادِهَا وَيُفْرِدُونَ بَيْعَهَا فِي أَسْوَاقِهَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika memakan kepala hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing, dan tidak dianggap melanggar jika memakan selainnya seperti kepala burung dan ikan. Hal ini sesuai dengan ‘urf (kebiasaan) penduduk Hijaz, karena mereka memisahkan kepala ketiga jenis hewan tersebut dari tubuhnya dan menjualnya secara terpisah di pasar-pasar mereka.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْإِبِلِ وَهُوَ عُرْفُ أَهْلِ الْكُوفَةِ لِاخْتِصَاصِهِمْ بِإِفْرَادِ رُؤُوسِ هَذَيْنِ النَّوْعَيْنِ بِالْبَيْعِ بَعْدَ انْفِصَالِهَا دُونَ رُؤُوسِ الْإِبِلِ وَتَعْلِيلًا بِأَنَّ رُؤُوسَ الْغَنَمِ تُشْوَى وَتُكْبَسُ وَرُؤُوسَ الْبَقَرِ تُكْبَسُ وَلَا تُشْوَى وَرُؤُوسَ الْإِبِلِ لَا تُشْوَى وَلَا تُكْبَسُ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika memakan kepala sapi dan kambing, namun tidak dianggap melanggar jika memakan kepala unta. Ini merupakan kebiasaan masyarakat Kufah, karena mereka secara khusus memperjualbelikan kepala kedua jenis hewan tersebut (sapi dan kambing) setelah dipisahkan, tidak demikian halnya dengan kepala unta. Alasannya, kepala kambing biasanya dipanggang dan dimasak dengan cara dikukus, kepala sapi dikukus tetapi tidak dipanggang, sedangkan kepala unta tidak dipanggang dan tidak pula dikukus.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ لَا يَحْنَثُ إِلَّا بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْغَنَمِ وَحْدَهَا اعْتِبَارًا بِعُرْفِ بَغْدَادَ وَتَعْلِيلًا بِأَنَّهَا تُشْوَى وَتُكْبَسُ وَلَا يُجْمَعُ الْأَمْرَانِ فِي غَيْرِهَا وَكِلَا التَّعْلِيلَيْنِ دَعْوَى مَدْفُوعَةٌ لِوُجُودِ الْأَمْرَيْنِ فِي الثَّلَاثَةِ كُلِّهَا

Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakan kepala kambing saja, berdasarkan kebiasaan (urf) di Baghdad dan dengan alasan bahwa kepala kambing itu dipanggang dan ditekan, sedangkan kedua hal tersebut tidak ditemukan bersamaan pada selain kepala kambing. Namun, kedua alasan tersebut tertolak, karena kedua hal itu terdapat pada ketiganya secara keseluruhan.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَعْلِيلِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ حِنْثِهِ بِرُؤُوسِ الثَّلَاثَةِ كُلِّهَا عَلَى وَجْهَيْنِ يَحْتَمِلُهُمَا كَلَامُ الشَّافِعِيِّ

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam memberikan alasan atas pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi‘i raḥimahullāh mengenai batalnya sumpah dengan ketiga hal tersebut secara keseluruhan, yang mana terdapat dua kemungkinan penafsiran yang dapat diambil dari perkataan Imam Syafi‘i.

أَحَدُهُمَا لِاخْتِصَاصِهَا بِقَطْعِ رُؤُوسِهَا عَنْ أَجْسَادِهَا وَإِفْرَادِ بَيْعِهَا فِي أَسْوَاقِهَا فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَ فِي بِلَادِ الْفَلَوَاتِ يَكْثُرُ فِيهَا الصَّيْدُ وَتُقْطَعُ رُؤُوسُهُ مِنْ أَجْسَادِهِ وَيُفْرَدُ بَيْعُهُ فِي أَسْوَاقِهِ أَوْ كَانَ فِي بِلَادِ الْبِحَارِ بَلَدٌ يَكْثُرُ فِيهِ الْحِيتَانُ وَتُقْطَعُ رُؤُوسُهَا عَنْ أَجْسَادِهَا وَيُفْرَدُ بَيْعُهَا فِي أَسْوَاقِهَا حَنِثَ أَهْلُهَا بِأَكْلِ رُؤُوسِهَا كَمَا يَحْنَثُ أَهْلُ أَمْصَارِ الرِّيفِ بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْغَنَمِ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَكُونُ عُرْفُ هَذِهِ الْبِلَادِ الْمُخْتَلِفَةِ مَقْصُورًا عَلَى أَهْلِهَا أَوْ عَامًّا فِيهِمْ وَفِي الطَّارِئِ إِلَيْهَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Salah satunya adalah karena kekhususannya dalam memisahkan kepala dari tubuhnya dan menjualnya secara terpisah di pasar-pasarnya. Berdasarkan hal ini, jika di negeri padang pasir terdapat banyak hewan buruan yang kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan dijual secara terpisah di pasar-pasarnya, atau di negeri pesisir terdapat banyak ikan yang kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan dijual secara terpisah di pasar-pasarnya, maka penduduk negeri tersebut dianggap melanggar sumpah jika memakan kepala-kepala itu, sebagaimana penduduk desa pedalaman dianggap melanggar sumpah jika memakan kepala kambing. Berdasarkan hal ini, apakah ‘urf (kebiasaan) di negeri-negeri yang berbeda ini hanya berlaku khusus bagi penduduknya saja, atau berlaku umum bagi mereka dan juga bagi orang yang datang ke negeri tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ خَاصٌّ فِي أَهْلِهَا دُونَ الطَّارِئِ إِلَيْهَا تَغْلِيبًا لِعُرْفِ الْحَالِفِ فَإِنْ دَخَلَ أَهْلُ الرِّيفِ إِلَى بِلَادِ الْفَلَوَاتِ وَالْبِحَارِ لَمْ يَحْنَثُوا إِلَّا برؤوس الغنم وَإِنْ دَخَلَ أَهْلُ الْفَلَوَاتِ إِلَى أَمْصَارِ الرِّيفِ لَمْ يَحْنَثُوا إِلَّا بِرُؤُوسِ الصيد وَإِنْ دَخَلَ أَهْلِ الْبِحَارِ إِلَى أَمْصَارِ الرِّيفِ لَمْ يَحْنَثُوا إِلَّا بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْحِيتَانِ

Salah satunya adalah bahwa ketentuan tersebut khusus bagi penduduk aslinya, tidak berlaku bagi pendatang, dengan mengutamakan kebiasaan orang yang bersumpah. Maka jika penduduk desa masuk ke negeri padang pasir atau lautan, mereka tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakan kepala kambing. Jika penduduk padang pasir masuk ke kota-kota desa, mereka tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakan kepala hewan buruan. Dan jika penduduk laut masuk ke kota-kota desa, mereka tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan memakan kepala ikan paus.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ عَامٌّ فِي أَهْلِهَا وَفِي الطَّارِئِ إِلَيْهَا تَغْلِيبًا لِعُرْفِ الْمَكَانِ فَإِنْ دَخَلَ أَهْلُ الرِّيفِ إِلَى بِلَادِ الْفَلَوَاتِ حَنِثُوا بِرُؤُوسِ الصَّيْدِ وَإِنْ دَخَلُوا إِلَى بِلَادِ الْبِحَارِ حَنِثُوا بِرُؤُوسِ الْحِيتَانِ

Pendapat kedua adalah bahwa ketentuan tersebut bersifat umum, baik bagi penduduk asli maupun bagi orang yang datang ke tempat itu, dengan mengutamakan kebiasaan setempat. Maka jika penduduk desa masuk ke negeri padang pasir, mereka dikenai kafarat dengan kepala hewan buruan darat, dan jika mereka masuk ke negeri pesisir, mereka dikenai kafarat dengan kepala ikan.

وَإِنْ دخل أهل الفلوات والبحار إلا بِلَادِ الرِّيفِ حَنِثُوا بِرُؤُوسِ النَّعَمِ

Dan jika penduduk padang pasir dan lautan masuk ke negeri pedesaan, maka mereka dikenai kafarat dengan kepala hewan ternak.

وَفِي بَقَاءِ حنثهم يعرف بِلَادِهِمْ وَجْهَانِ

Dalam hal tetapnya dosa sumpah mereka diketahui di negeri mereka, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ باقٍ عَلَيْهِمْ لِاسْتِقْرَارِهِ عِنْدَهُمْ فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ أَهْلُ الرِّيفِ فِي بلاد الفلوات بأكل رؤوس الصيد ويأكل رُؤُوسِ النَّعَمِ وَيَحْنَثُونَ فِي بِلَادِ الْبِحَارِ بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْحِيتَانِ مَعَ رُؤُوسِ النَّعَمِ وَيَحْنَثُ أَهْلُ الْفَلَوَاتِ فِي بِلَادِ الرِّيفِ بِأَكْلِ رُؤُوسِ النَّعَمِ وَأَكْلِ رُؤُوسِ الصَّيْدِ وَيَحْنَثُ أَهْلُ الْبِحَارِ فِيهَا بِأَكْلِ رُؤُوسِ الْحِيتَانِ وَبِأَكْلِ رُؤُوسِ النَّعَمِ

Salah satunya adalah bahwa hukum itu tetap berlaku bagi mereka karena telah mapan menurut mereka. Berdasarkan hal ini, penduduk pedesaan di daerah padang pasir akan melanggar sumpah jika memakan kepala hewan buruan, dan mereka memakan kepala hewan ternak serta melanggar sumpah di daerah laut dengan memakan kepala ikan paus bersama kepala hewan ternak. Penduduk padang pasir akan melanggar sumpah di daerah pedesaan dengan memakan kepala hewan ternak dan kepala hewan buruan, dan penduduk laut melanggar sumpah di sana dengan memakan kepala ikan paus dan kepala hewan ternak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ يَزُولُ عَنْهُمْ فِي بِلَادِهِمْ بِانْتِقَالِهِمْ عَنْهَا فَلَا يَحْنَثُ أَهْلُ الْفَلَوَاتِ وَالْبِحَارِ فِي بِلَادِ الرِّيفِ إِلَّا بِرُؤُوسِ النَّعَمِ

Adapun alasan kedua adalah bahwa kewajiban itu hilang dari mereka di negeri mereka ketika mereka berpindah darinya, sehingga penduduk padang pasir dan lautan tidak terkena pelanggaran sumpah di negeri pertanian kecuali dengan kepala hewan ternak.

وَلَا يَحْنَثُ أَهْلُ الرِّيفِ فِي بِلَادِ الْفَلَوَاتِ إِلَّا بِرُؤُوسِ الصَّيْدِ وَفِي بِلَادِ الْبِحَارِ إِلَّا بِرُؤُوسِ الْحِيتَانِ

Dan penduduk pedesaan tidak dianggap melanggar sumpah di negeri padang pasir kecuali dengan (membunuh) hewan buruan, dan di negeri lautan kecuali dengan (membunuh) ikan paus.

فَهَذَا حُكْمُ التَّعْلِيلِ فِي هَذَا الْوَجْهِ الْأَوَّلِ

Inilah hukum ta‘līl dalam aspek pertama ini.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي فِي تَعْلِيلِ حِنْثِهِ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ أَنَّ عُرْفَ كَلَامِهِمْ يَتَوَجَّهُ إِلَيْهَا وَإِفْرَادُ أَكْلِهَا مُخْتَصٌّ بِهَا فَإِنَّهُ لَا يُعْرَفُ مِمَّنْ قَالَ أكلت الرؤوس إلا رؤوس النعم وغيرها يؤكل مع أجسادها

Alasan kedua dalam penjelasan tentang batalnya sumpah dengan (memakan) kepala hewan ternak adalah bahwa kebiasaan dalam ucapan mereka memang merujuk kepada kepala tersebut, dan secara khusus memakan kepala itu hanya berlaku pada hewan ternak. Sebab, tidak dikenal dari siapa pun yang mengatakan “aku memakan kepala” kecuali maksudnya adalah kepala hewan ternak, sedangkan bagian lain biasanya dimakan bersama tubuhnya.

وفي التعليل تميز مِنْ وَجْهٍ وَامْتِزَاجٌ مِنْ وَجْهٍ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَكُونُ عُرْفُ الْبَلَدِ خَاصًّا فِيهِ أَوْ عَامًّا فِي جَمِيعِ الْبِلَادِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Dalam penetapan ‘illat terdapat perbedaan dari satu sisi dan pencampuran dari sisi lain. Berdasarkan hal ini, apakah ‘urf (kebiasaan) suatu negeri bersifat khusus hanya di dalamnya, ataukah bersifat umum di seluruh negeri, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وهو الظاهر في مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إنَّهُ يَصِيرُ عاماً فِي الْبِلَادِ كُلِّهَا فَيَحْنَثُ جَمِيعُهُمْ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ الثَّلَاثَةِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang tampak dalam mazhab Syafi‘i raḥimahullāh, adalah bahwa hal itu menjadi berlaku umum di seluruh negeri, sehingga semuanya terkena hukum dengan tiga jenis hewan ternak utama.

وَإِنْ عَرَفْنَا أَنَّ لِبَعْضِ الْبِلَادِ عُرْفًا فِي الْبِلَادِ كُلِّهَا فَيَحْنَثُ جَمِيعُهُمْ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ الثَّلَاثَةِ وَرُؤُوسِ الصَّيْدِ وَالْحِيتَانِ حَنِثَ جَمِيعُ النَّاسِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْهُ لَمْ يَحْنَثُوا

Dan jika kita mengetahui bahwa di sebagian negeri terdapat suatu ‘urf yang berlaku di seluruh negeri itu, maka semua penduduknya dianggap melanggar sumpah dengan kepala tiga jenis hewan ternak, kepala hewan buruan, dan kepala ikan paus; semua orang dianggap melanggar sumpah. Namun, jika mereka tidak mengetahuinya, maka mereka tidak dianggap melanggar sumpah.

وَالشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّمَا خَصَّ الْحِنْثَ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ الثَّلَاثَةِ لِأَنَّهُ لَمْ يَعْلَمْ عُرْفَ بَلَدٍ فِي غَيْرِهَا وَلَوْ عَلِمَ لَحَنَّثَ بِهَا جَمِيعَ النَّاسِ كَمَا حَنَّثَ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ وَلِذَلِكَ حَنَّثَ الْقَرَوِيَّ إِذَا حَلَفَ لَا يَسْكُنُ بَيْتًا فَسَكَنَ بَيْتَ مِنْ بُيُوتِ الْبَادِيَةِ لِأَنَّ عُرْفَ الْبَادِيَةِ جَارٍ بِهِ كَمَا أَنَّ الْخَلِيفَةَ لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْخُبْزَ وَعَادَتُهُ خُبْزُ الْبُرِّ فَأَكَلَ خُبْزَ الشَّعِيرِ حَنِثَ بِهِ لِأَنَّ عُرْفَ أَهْلِ الْفَاقَةِ جاز بِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh hanya mengkhususkan pelanggaran sumpah (ḥinth) pada tiga jenis hewan ternak utama karena beliau tidak mengetahui adanya ‘urf (kebiasaan) di negeri lain selain pada hewan-hewan tersebut. Seandainya beliau mengetahui, niscaya beliau akan menetapkan pelanggaran sumpah dengan semua hewan itu, sebagaimana beliau menetapkan pada tiga jenis hewan ternak utama. Oleh karena itu, beliau menetapkan pelanggaran sumpah bagi orang desa jika ia bersumpah tidak akan tinggal di rumah, lalu ia tinggal di salah satu rumah di pedalaman, karena ‘urf masyarakat pedalaman berlaku demikian. Demikian pula, jika seorang khalifah bersumpah tidak akan makan roti, sementara kebiasaannya adalah makan roti gandum, lalu ia makan roti jelai, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena ‘urf masyarakat fakir berlaku demikian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إنَّ عُرْفَ كُلِّ بَلَدٍ مَخْصُوصٌ فِي أَهْلِهِ مَقْصُورٌ عَلَيْهِمْ دُونَ غَيْرِهِمْ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, menyatakan bahwa ‘urf setiap negeri itu khusus bagi penduduknya dan terbatas hanya pada mereka, tidak berlaku bagi selain mereka.

فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ أَهْلُ الْحِجَازِ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ الثَّلَاثَةِ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ كَمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اعْتِبَارًا بِعُرْفِهِمْ وَيَحْنَثُ أَهْلُ الكوفة برؤوس البقر والغنم ولا يحنث بِرُؤُوسِ الْإِبِلِ اعْتِبَارًا بِعُرْفِ أَهْلِهَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَيَحْنَثُ أَهْلُ بَغْدَادَ وَالْبَصْرَةِ بِرُؤُوسِ الْغَنَمِ وَلَا يَحْنَثُونَ بِرُؤُوسِ الْبَقَرِ وَالْإِبِلِ كَمَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ اعْتِبَارًا بِعُرْفِهِمْ وَهَذَا قَوْلُ مَنْ لَمْ يُحَنِّثِ الْقَرَوِيَّ بِسُكْنَى بَيْتِ الشَّعْرِ

Berdasarkan hal ini, penduduk Hijaz dikenai sumpah (hanats) dengan tiga jenis hewan ternak, yaitu unta, sapi, dan kambing, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syafi‘i raḥimahullāh, dengan mempertimbangkan kebiasaan (‘urf) mereka. Penduduk Kufah dikenai sumpah dengan kepala sapi dan kambing, dan tidak dikenai sumpah dengan kepala unta, sesuai dengan kebiasaan penduduknya, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hanifah. Penduduk Baghdad dan Bashrah dikenai sumpah dengan kepala kambing, dan tidak dikenai sumpah dengan kepala sapi dan unta, sebagaimana dikatakan oleh Abu Yusuf dan Muhammad, dengan mempertimbangkan kebiasaan mereka. Inilah pendapat orang yang tidak menganggap penduduk desa (qarawī) melanggar sumpah dengan tinggal di rumah dari kain (kemah).

فَإِنِ انْتَقَلَ أَهْلُ بَلَدٍ لَهُمْ فِيهِ عُرْفٌ إِلَى بَلَدٍ يُخَالِفُونَهُمْ فِي الْعُرْفِ فَفِيمَا يَحْنَثُونَ بِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ هِيَ مَجْمُوعُ مَا شَرَحْنَاهُ

Jika penduduk suatu negeri yang memiliki ‘urf tertentu berpindah ke negeri lain yang berbeda ‘urf-nya dengan mereka, maka dalam hal apa mereka dianggap melanggar sumpah terdapat tiga pendapat, yang merupakan rangkuman dari apa yang telah kami jelaskan.

أَحَدُهَا يَحْنَثُونَ بِعُرْفِ بَلَدِهِمُ الَّذِي انْتَقَلُوا عَنْهُ

Salah satunya adalah mereka dianggap melanggar sumpah berdasarkan ‘urf (kebiasaan) negeri asal mereka yang telah mereka tinggalkan.

وَالثَّانِي يَحْنَثُونَ بِعُرْفِ الْبَلَدِ الَّذِي انْتَقَلُوا إِلَيْهِ

Dan yang kedua, mereka dianggap melanggar sumpah menurut ‘urf (kebiasaan) negeri tempat mereka berpindah.

وَالثَّالِثُ يَحْنَثُونَ بِعُرْفِ البلدين معاً والله أعلم

Dan yang ketiga, mereka dianggap melanggar sumpah berdasarkan ‘urf kedua negeri tersebut sekaligus. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَكَذَلِكَ الْبَيْضُ وَهُوَ بَيْضُ الدَّجَاجِ وَالْإِوَزِّ وَالنَّعَامِ الَذِي يُزَايِلُ بَائِضَهُ حَيًّا فَأَمَّا بَيْضُ الْحِيتَانِ فَلَا يَكُونُ هَكَذَا

Imam Syafi‘i berkata: Demikian pula telur, yaitu telur ayam, angsa, dan unta, yang dapat dipisahkan dari induknya dalam keadaan hidup. Adapun telur ikan, tidaklah demikian.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْبَيْضَ وَأَطْلَقَ وَلَمْ يُرِدْ تَخْصِيصَ نَوْعٍ مِنْهُ حُمِلَ عَلَى إِطْلَاقِهِ عَلَى كُلِّ بَيْضٍ فَارَقَ بَائِضَهُ حَيًّا مِنْ مَأْلُوفٍ كَالدَّجَاجِ وَالْبَطِّ وَنَادِرٍ كَالنَّعَامِ وَالْأوَزِّ وَالْعَصَافِيرِ وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ يَحْنَثُ بِأَكْلِ الْمُعْتَادِ مِنَ الْبَيْضِ كَالدَّجَاجِ وَالْبَطِّ وَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ النَّادِرِ مِنْ بَيْضِ الْإِوَزِّ وَالْعَصَافِيرِ كَمَا يَحْنَثُ فِي أَكْلِ الرُّؤُوسِ بِالْمُعْتَادِ دُونَ النَّادِرِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan telur dan ia mengucapkannya secara mutlak tanpa bermaksud mengkhususkan jenis tertentu, maka sumpah itu berlaku secara umum atas semua jenis telur, baik yang ditelurkan oleh hewan yang biasa dipelihara seperti ayam dan bebek, maupun yang jarang seperti burung unta, angsa, dan burung-burung kecil. Abu al-‘Abbas bin Surayj berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah jika memakan telur yang biasa dikonsumsi seperti telur ayam dan bebek, dan tidak dianggap melanggar jika memakan telur yang jarang dikonsumsi seperti telur angsa dan burung-burung kecil, sebagaimana ia dianggap melanggar sumpah dalam memakan kepala hewan yang biasa dimakan, bukan yang jarang. Pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ خُرُوجَ النَّادِرِ مِنَ الْبَيْضِ غَيْرِ الْمُعْتَادِ لِعِزَّتِهِ وَفَقْدِهِ وَخُرُوجُ النَّادِرِ مِنَ الرُّؤُوسِ عَنِ الْمُعْتَادِ مَعَ وُجُودِهِ وَمُكْنَتِهِ فَافْتَرَقَا

Salah satunya adalah bahwa keluarnya sesuatu yang langka dari telur tidak biasa karena kelangkaannya dan ketiadaannya, sedangkan keluarnya sesuatu yang langka dari kepala tidak biasa meskipun ada dan memungkinkan, maka keduanya berbeda.

وَالثَّانِي إنَّ جَمِيعَ الْبَيْضِ مِنْ نَادِرٍ وَمُعْتَادٍ مُفْرَدٌ بِالْأَكْلِ فَجَرَى جَمِيعُهُ مَجْرَى الْخَاصِّ مِنَ الرُّؤُوسِ الْمُفْرَدَةِ بِالْأَكْلِ

Kedua, bahwa semua jenis telur, baik yang langka maupun yang biasa, adalah khusus dalam hal boleh dimakan, sehingga semuanya diperlakukan seperti bagian-bagian khusus dari kepala hewan yang juga khusus boleh dimakan.

وَأَمَّا بَيْضُ الْحِيتَانِ وَالْجَرَادِ فَإِنَّمَا لَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِأَمْرَيْنِ

Adapun telur ikan dan belalang, maka seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakannya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَا يُفَارِقُ بَائِضَهُ حَيًّا فَصَارَ لِعَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ خَارِجًا مِنَ الْعُرْفِ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak berpisah dari telurnya ketika masih hidup, sehingga karena tidak adanya kemampuan untuk melakukannya, hal itu keluar dari kebiasaan (urf).

وَالثَّانِي إنَّهُ يُؤْكَلُ مَعَ جِسْمِهِ

Dan yang kedua, yaitu bahwa ia dimakan bersama tubuhnya.

وَيُقَالُ لِمَنْ أَكَلَ بَيْضَ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ إِنَّهُ قَدْ أَكَلَ سَمَكًا وَجَرَادًا فَصَارَ كَلَحْمِهِ فَلَوْ ذَبَحَ دَجَاجَةً فِي جَوْفِهَا بَيْضٌ وَصَلَ إِلَيْهِ بِذَبْحِهَا فَفِي حِنْثِهِ بِأَكْلِهِ وَجْهَانِ

Dan dikatakan kepada orang yang memakan telur ikan dan belalang bahwa sesungguhnya ia telah memakan ikan dan belalang, sehingga hukumnya seperti memakan dagingnya. Maka jika seseorang menyembelih ayam yang di dalam perutnya terdapat telur, lalu ia mendapatkan telur itu dengan cara menyembelihnya, maka dalam hal ia dianggap melanggar sumpah jika memakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يُزَايِلْ بَائِضَهُ حَيًّا فَصَارَ كَبَيْضِ السَّمَكِ

Salah satunya, ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakannya karena ia tidak memisahkan telurnya dalam keadaan hidup, sehingga hukumnya seperti telur ikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِأَنَّهُ مِنْ جِنْسِ مَا يُوصَلُ إِلَيْهِ مَعَ حَيَاةِ بَائِضِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia melanggar sumpahnya dengan memakannya, karena itu termasuk jenis yang dapat dicapai bersama kehidupan induknya.

فَإِذَا تَقَرَّرَ ما ذكرنا من حنثه بكل الْبَيْضِ مِنْ نَادِرٍ وَمُعْتَادٍ حَنِثَ بِأَكْلِ الْمُعْتَادِ أَهْلُ النَّادِرِ وَالْمُعْتَادِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan bahwa ia melanggar sumpahnya dengan semua jenis telur, baik yang jarang maupun yang biasa, maka ia juga melanggar sumpahnya dengan memakan telur yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang yang terbiasa maupun yang tidak terbiasa mengonsumsinya.

وَأَمَّا النَّادِرُ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهِ أَهْلُ النَّادِرِ كَبَيْضِ النَّعَامِ يَحْنَثُ بِهِ أَهْلُ الْبَادِيَةِ وَفِي حِنْثِ أَهْلِ الْأَمْصَارِ بِهِ وَجْهَانِ

Adapun yang jarang, maka seseorang melanggar sumpah dengan memakannya jika ia termasuk penduduk yang biasa memakannya, seperti telur unta burung unta, maka penduduk pedalaman melanggar sumpah dengan memakannya. Adapun mengenai pelanggaran sumpah oleh penduduk kota dengan memakannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُونَ بِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ أَهْلَ الْقُرَى يَحْنَثُونَ بِسُكْنَى بُيُوتِ الشَّعْرِ

Salah satunya adalah mereka melanggar sumpah dengannya jika dikatakan bahwa penduduk desa melanggar sumpah dengan tinggal di rumah-rumah dari kain bulu (tenda).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُونَ بِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ أَهْلَ الْقُرَى لَا يَحْنَثُونَ بسكنى بيوت الشعر

Pendapat kedua menyatakan bahwa mereka tidak dianggap melanggar sumpah jika dikatakan bahwa penduduk desa tidak dianggap melanggar sumpah dengan tinggal di rumah-rumah dari kain (tenda-tenda dari bulu kambing).

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا حَنَثَ بِلَحْمِ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالْوَحْشِ وَالطَّيْرِ لِأَنَّهُ كُلُّهُ لحمٌ وَلَا يَحْنَثُ فِي لَحْمِ الْحِيتَانِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِالْأَغْلَبِ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan daging unta, sapi, kambing, hewan liar, dan burung, karena semuanya termasuk daging. Namun, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan daging ikan, karena itu bukan yang paling umum dimaksudkan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَإِنَّمَا حَنِثَ بِأَكْلِ كُلِّ لَحْمٍ مِنْ أَهْلِيٍّ كَالنَّعَمِ وَوَحْشٍ كَالصَّيْدِ وَالطَّائِرِ مِنْ مُعْتَادٍ وَنَادِرٍ وَلَمْ يَحْنَثْ بِلَحْمِ الْحِيتَانِ لِأَصْلٍ أُوَضِّحُهُ يَكُونُ فِي الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرًا لِيَسْلَمَ مِنَ التَّنَاقُضِ وَهُوَ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan seseorang dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan semua jenis daging dari hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing, juga dari hewan liar seperti buruan, serta burung, baik yang biasa dimakan maupun yang jarang, dan ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan daging ikan. Hal ini didasarkan pada suatu prinsip yang akan aku jelaskan, yang menjadi pertimbangan dalam masalah sumpah agar terhindar dari kontradiksi, yaitu…”

إنَّ الِاسْمَ اللُّغَوِيَّ إِذَا انْطَلَقَ عَلَى أَعْيَانٍ يَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ

Nama dalam bahasa (Arab) jika digunakan untuk menunjuk pada objek-objek tertentu, terbagi menjadi dua bagian.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُطَابِقَهُ الْعُرْفُ فِي جَمِيعِهَا فَيُحْمَلَ فِي الْأَيْمَانِ عَلَى جَمِيعِ تِلْكَ الْأَعْيَانِ سَوَاءٌ كَانَ مَا طَابَقَهُ مِنَ الْعُرْفِ عَامًّا أَوْ خَاصًّا

Salah satunya adalah bahwa ‘urf sesuai dengannya dalam seluruh hal tersebut, maka dalam sumpah-sumpah diterapkan pada seluruh benda-benda itu, baik kesesuaian ‘urf tersebut bersifat umum maupun khusus.

فَالْعُرْفُ الْعَامُّ أَنْ يَحْلِفَ لَا آكُلُ رَطْبًا فَيَحْنَثُ بِجَمِيعِ الْأَرْطَابِ مِنْ لَذِيذٍ وَغَيْرِ لَذِيذٍ مِنْ مُسْتَطَابٍ وَغَيْرِ مُسْتَطَابٍ أَوْ يَحْلِفُ لَا آكُلُ بَقْلًا فَيَحْنَثُ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِهِ لَذِيذٍ وَغَيْرِ لَذِيذٍ

Adat yang umum adalah jika seseorang bersumpah, “Saya tidak akan makan ruthab,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan semua jenis ruthab, baik yang lezat maupun yang tidak lezat, baik yang disukai maupun yang tidak disukai. Atau jika ia bersumpah, “Saya tidak akan makan sayuran,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan semua jenis sayuran, baik yang lezat maupun yang tidak lezat.

وَالْعُرْفُ الْخَاصُّ أَنْ يَحْلِفَ لَا يَلْبَسُ ثَوْبًا فَيَحْنَثُ كُلُّ غَنِيٍّ وفقير بلبس كل ثوب من مرتفع ودانٍ فيحنث الملك بلبس الصوف وإن خرج بدخوله في عرف مِنْ عُرْفِهِ وَدَخَلَ فِي عُرْفِ الْفُقَرَاءِ وَيَحْنَثُ الْفَقِيرُ بِلُبْسِ الْحَرِيرِ وَإِنْ خَرَجَ عَنْ عُرْفِهِ لِأَنَّهُ بِدُخُولِهِ فِي عُرْفِ الْأَغْنِيَاءِ مَعَ اشْتِرَاكِ جَمِيعِهَا فِي اسْمِ الثَّوْبِ فَلَمْ يَخْرُجْ بَعْضُهَا بِعُرْفٍ خَاصٍّ إِذَا طَابَقَهُ عُرْفٌ خَاصٌّ وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ خُبْزًا حَنِثَ كُلُّ غَنِيٍّ وَفَقِيرٍ بِأَكْلِ كُلِّ مَخْبُوزٍ مِنْ بُرٍّ وَشَعِيرٍ وَأُرْزٍ وَذُرَةٍ فَيَحْنَثُ الْغَنِيُّ بِأَكْلِ خُبْزِ الشعير وإن خرج عن عرفه لدخول فِي عُرْفِ الْفَقِيرِ وَيَحْنَثُ الْفَقِيرُ بِخُبْزِ الْبُرِّ وَإِنْ خَرَجَ عَنْ عُرْفِهِ لِدُخُولِهِ فِي عُرْفِ الْغَنِيِّ مَعَ اشْتِرَاكِ جَمِيعِهَا فِي اسْمِ الْخُبْزِ

‘Urf khusus adalah apabila seseorang bersumpah tidak memakai pakaian, maka ia dianggap melanggar sumpahnya baik orang kaya maupun miskin jika mengenakan pakaian apapun, baik yang mahal maupun yang sederhana. Maka seorang raja pun dianggap melanggar sumpah jika memakai pakaian dari wol, meskipun pakaian itu termasuk dalam ‘urf (kebiasaan) orang miskin dan keluar dari ‘urfnya sendiri, serta masuk dalam ‘urf orang-orang miskin. Demikian pula, seorang miskin dianggap melanggar sumpah jika memakai pakaian sutra, meskipun itu keluar dari ‘urfnya sendiri karena masuk dalam ‘urf orang kaya. Hal ini karena semua jenis pakaian tersebut tetap disebut “pakaian”, sehingga tidak ada satu pun yang keluar dari kategori pakaian hanya karena ‘urf khusus, selama ada ‘urf khusus yang sesuai dengannya. Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak makan roti, maka baik orang kaya maupun miskin dianggap melanggar sumpah jika memakan segala jenis makanan yang dipanggang dari gandum, jelai, beras, atau jagung. Maka orang kaya dianggap melanggar sumpah jika makan roti jelai, meskipun itu keluar dari ‘urfnya sendiri karena masuk dalam ‘urf orang miskin. Begitu pula orang miskin dianggap melanggar sumpah jika makan roti gandum, meskipun itu keluar dari ‘urfnya sendiri karena masuk dalam ‘urf orang kaya, karena semua jenis tersebut tetap dinamakan “roti”.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَ الِاسْمُ فِيهِ مُخَالِفًا لِلْعُرْفِ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Bagian kedua adalah perkara yang nama (istilah)-nya berbeda dengan ‘urf (kebiasaan masyarakat), dan ini terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا مَا خَرَجَ عَنِ الْعُرْفِ لِإِلْحَاقِهِ بِغَيْرِهِ مَعَ التَّسَاوِي فِي الْوُجُودِ فَيَصِيرُ فِي الْأَيْمَانِ مَحْمُولًا عَلَى مَا خَصَّهُ الْعُرْفُ دُونَ مَا عَمَّهُ الِاسْمُ كَالَّذِي قَدَّمْنَاهُ مِمَّنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الرُّؤُوسَ أَنَّ حِنْثَهُ مُخْتَصٌّ بِرُؤُوسِ النَّعَمِ لِإِضَافَةِ رُؤُوسِ غَيْرِهَا إِلَى أَجْسَادِهَا وَاخْتِصَاصِ النَّعَمِ بِانْفِرَادِهِ مِنْ بَيْنِهَا

Salah satunya adalah sesuatu yang keluar dari ‘urf karena disamakan dengan selainnya padahal sama dalam keberadaannya, sehingga dalam sumpah (aymān) maknanya dibawa kepada apa yang telah dikhususkan oleh ‘urf, bukan pada apa yang dicakup oleh nama secara umum. Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang orang yang bersumpah tidak akan memakan kepala, maka pelanggarannya khusus pada kepala hewan ternak (na‘am), karena kepala selainnya biasanya dihubungkan kepada tubuhnya, dan hewan ternak memiliki kekhususan tersendiri di antara yang lainnya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا خَرَجَ عَنِ الْعُرْفِ لِتَعَذُّرِهِ أَوْ لِعِزَّتِهِ فَيَكُونُ فِي الْأَيْمَانِ مَحْمُولًا عَلَى مَا عَمَّهُ الِاسْمُ دُونَ ما خصه العرف

Bagian kedua adalah sesuatu yang keluar dari kebiasaan karena sulit dilakukan atau karena sangat jarang, maka dalam sumpah-sumpah, hal itu dianggap berdasarkan apa yang dicakup oleh nama (istilah) secara umum, bukan berdasarkan apa yang dikhususkan oleh kebiasaan.

فاللحم خرج من عرف لَحْمُ الصَّيْدِ لِتَعَذُّرِهِ وَلَحْمُ الدَّجَاجِ لِعِزَّتِهِ وَغَلَاءِ ثَمَنِهِ فَامْتَنَعَ تَخْصِيصُ الِاسْمِ بِالْعُرْفِ لِأَنَّ الْعُرْفَ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ وُجُودٍ وَعَدَمٍ فَصَارَ مَا عَمَّ مِنَ الِاسْمِ الْمُسْتَقِرِّ أَوْلَى مِنْ تَخْصِيصِهِ بِعُرْفٍ غَيْرِ مُسْتَقِرٍّ وَلِذَلِكَ قُلْنَا فِي الْبَيْضِ إِنَّهُ يَحْنَثُ بِبَيْضِ الْعَصَافِيرِ لِاخْتِصَاصِهِ بِعُرْفٍ غَيْرِ مُسْتَقِرٍّ كَاللَّحْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِبَيْضِ السَّمَكِ لِاخْتِصَاصِهِ بِعُرْفٍ مُسْتَقِرٍّ كَالرُّؤُوسِ

Daging dikecualikan dari kebiasaan (urf) daging buruan karena sulit didapatkan, dan daging ayam karena kelangkaannya dan harganya yang mahal. Maka tidak dibenarkan mengkhususkan nama (daging) berdasarkan urf, karena urf itu sendiri tidak tetap, sebab terkadang ada dan terkadang tidak ada. Maka, makna nama yang bersifat umum dan tetap lebih utama daripada mengkhususkannya dengan urf yang tidak tetap. Oleh karena itu, kami katakan dalam masalah telur, seseorang dianggap melanggar sumpahnya dengan telur burung pipit karena pengkhususannya berdasarkan urf yang tidak tetap, seperti halnya daging. Namun ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan telur ikan karena pengkhususannya berdasarkan urf yang tetap, seperti kepala (hewan).

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا خَرَجَ عَنِ الْعُرْفِ لِاسْمٍ خَاصٍّ هُوَ أَغْلَبُ عَلَيْهِ فَيَكُونُ فِي الْأَيْمَانِ مَحْمُولًا عَلَى خُصُوصِ الِاسْمِ دُونَ عُمُومٍ كَلَحْمِ الْحِيتَانِ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ اللَّحْمِ فِي الْعُمُومِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمْ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْماً طَرِياً لَكِنَّ اسْمَ السَّمَكِ أَخَصُّ بِهِ مِنِ اسْمِ اللَّحْمِ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَحْنَثَ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا اعْتِبَارًا بِخُصُوصِ الِاسْمِ دُونَ عُمُومِهِ

Bagian ketiga adalah sesuatu yang keluar dari kebiasaan karena adanya nama khusus yang lebih dominan padanya, sehingga dalam sumpah, hal itu dibawa pada kekhususan nama tersebut, bukan pada makna umumnya. Seperti daging ikan, secara umum ia disebut “daging” berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan Dialah yang menundukkan laut untukmu agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar.” Namun, nama “ikan” lebih khusus untuknya daripada nama “daging”, sehingga tidak batal sumpahnya jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, dengan mempertimbangkan kekhususan nama, bukan keumumannya.

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِهِ اعْتِبَارًا بِعُمُومِ الِاسْمِ دُونَ خُصُوصِهِ وَهَذَا الِاعْتِبَارُ فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa sumpahnya batal dengannya, dengan mempertimbangkan keumuman nama tanpa kekhususannya. Namun pertimbangan ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْخَاصَّ أَغْلَبُ فَكَانَ اعْتِبَارُهُ أَوْجَبَ

Salah satunya adalah bahwa dalil khusus lebih dominan, sehingga mempertimbangkannya lebih wajib.

وَالثَّانِي إنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ سَمَّى الْأَرْضَ بِسَاطًا وَالشَّمْسَ سِرَاجًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا وَلَوْ حَلَفَ لَا يَجْلِسُ عَلَى بِسَاطٍ فَجَلَسَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَا يَجْلِسُ فِي سِرَاجٍ فَجَلَسَ فِي الشَّمْسِ وَلَا يَمَسُّ وَتَدًا فَمَسَّ جَبَلًا لَمْ يَحْنَثِ اعْتِبَارًا بِخُصُوصِ الِاسْمِ دُونَ عُمُومِهِ وَكَذَلِكَ فِي لَحْمِ السَّمَكِ

Kedua, sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyebut bumi sebagai “hamparan”, matahari sebagai “pelita”, dan gunung-gunung sebagai “pasak”. Jika seseorang bersumpah tidak akan duduk di atas hamparan lalu ia duduk di atas bumi, atau tidak akan duduk di dalam pelita lalu ia duduk di bawah matahari, atau tidak akan menyentuh pasak lalu ia menyentuh gunung, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena yang diperhitungkan adalah kekhususan nama, bukan keumumannya. Demikian pula dalam hal daging ikan.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْقَرَوِيِّ إِذَا حَلَفَ لَا يَسْكُنُ بَيْتًا فَسَكَنَ بَيْتَ شَعْرٍ هَلْ هُوَ مَخْصُوصٌ بِعُرْفٍ أَوِ اسْمٍ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهُ مَخْصُوصٌ بِعُرْفٍ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فَجَعَلَهُ حَانِثًا بِهِ كَالَّذِي قَدَّمْنَاهُ فِي أَكْلِ الْخُبْزِ وَلُبْسِ الثَّوْبِ وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّهُ مَخْصُوصٌ بِاسْمٍ لِأَنَّهُ يُسَمَّى خَيْمَةً وَفُسْطَاطًا فَلَمْ يَجْعَلْهُ حَانِثًا بِهِ كَلَحْمِ السَّمَكِ وَحَنِثَ الْبَدَوِيُّ بِسُكْنَى بُيُوتِ الْمَدَرِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ مَخْصُوصٌ بِالْعُرْفِ دُونَ الِاسْمِ

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai seorang penduduk desa yang bersumpah tidak akan tinggal di sebuah rumah, lalu ia tinggal di rumah dari kain (tenda), apakah hal itu dikhususkan berdasarkan ‘urf (kebiasaan) atau berdasarkan nama. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu dikhususkan berdasarkan ‘urf, dan ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, sehingga ia dianggap melanggar sumpahnya dengan tinggal di tenda, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam masalah makan roti dan memakai pakaian. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa hal itu dikhususkan berdasarkan nama, karena tenda disebut dengan istilah khemah atau fustat, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, sebagaimana daging ikan. Adapun orang Badui, jika ia tinggal di rumah dari tanah liat, maka ia dianggap melanggar sumpahnya menurut satu pendapat, karena hal itu dikhususkan berdasarkan ‘urf, bukan berdasarkan nama.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ مَا قَرَّرْنَا مِنْ هَذَا الْأَصْلِ وَجَبَ اعْتِبَارُهُ فِي جَمِيعِ الْأَيْمَانِ لِيَسْلَمَ مِنَ الْإِشْكَالِ فَإِذَا حَنِثَ فِي اللَّحْمِ بِكُلِّ لَحْمٍ مِنْ مُعْتَادٍ وَنَادِرٍ فَقَدِ اختلف أَصْحَابُنَا هَلْ يُحْمَلُ عَلَى عُمُومِهِ فِي الْمُبَاحِ وَالْمَحْظُورِ؟ أَوْ يَكُونُ مَخْصُوصًا فِي الْمُبَاحِ دُونَ الْمَحْظُورِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami tetapkan dari prinsip ini, wajib mempertimbangkannya dalam seluruh sumpah agar terhindar dari kerancuan. Jika seseorang melanggar sumpah dalam hal daging dengan memakan setiap jenis daging, baik yang biasa maupun yang jarang, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah sumpah itu berlaku umum mencakup yang mubah (boleh) dan yang mahzūr (terlarang)? Ataukah dikhususkan hanya pada yang mubah dan tidak mencakup yang mahzūr? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ عَلَى الْعُمُومِ فِي الْمُبَاحِ وَالْمَحْظُورِ فَيَحْنَثُ بِلَحْمِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ اعْتِبَارًا بِعُمُومِ الِاسْمِ وَلَا يَخْتَصُّ بِالْحَظْرِ كَمَا يَحْنَثُ بِاللَّحْمِ الْمَغْصُوبِ وَإِنْ كَانَ مَحْظُورًا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa ketentuan tersebut berlaku secara umum, baik pada perkara yang mubah maupun yang terlarang. Maka seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika memakan daging anjing atau babi, berdasarkan keumuman istilah “daging”, dan tidak dikhususkan hanya pada yang terlarang saja. Demikian pula, ia dianggap melanggar jika memakan daging hasil ghasab (perampasan), meskipun itu termasuk perkara yang terlarang.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْمُبَاحِ دُونَ الْمَحْظُورِ فَلَا يَحْنَثُ بِلَحْمِ مَا حَرُمَ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ أَوْ وَحْشٍ أَوْ حِمَارٍ أَهْلِيٍّ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu dimaknai pada yang mubah, bukan pada yang terlarang, sehingga seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan daging yang haram seperti anjing, babi, binatang buas, atau keledai jinak, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَمَّا خُصَّتِ الْأَيْمَانُ بِعُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ كَانَ أَوْلَى مِنْ أَنْ تُخَصَّ بِعُرْفِ الشرع لأنه ألزم

Salah satunya adalah bahwa ketika sumpah-sumpah telah dikhususkan dengan ‘urf penggunaan (kebiasaan masyarakat), maka itu lebih utama daripada dikhususkan dengan ‘urf syariat, karena lebih mengikat.

والثاني أنه قصد باليمين أَنْ حَظَرَ عَلَى نَفْسِهِ مَا اسْتُبِيحَ بِغَيْرِ يَمِينٍ فَخَرَجَ الْمَحْظُورُ مِنْ قَصْدِ الْيَمِينِ فَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ

Kedua, bahwa maksud dari sumpah tersebut adalah ia mengharamkan atas dirinya sesuatu yang sebenarnya boleh tanpa sumpah, sehingga perkara yang dilarang itu keluar dari maksud sumpah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karenanya.

وَأَمَّا الْمَغْصُوبُ فَهُوَ مِنْ جِنْسِ الْمُبَاحِ وَأَنَّهُ حَظْرُ الْمَعْنَى خَاصٌّ فَأَجْرَى عَلَيْهِ حُكْمَ الْعُمُومِ فِي الْإِبَاحَةِ

Adapun barang yang dighasab, maka ia termasuk jenis barang mubah, dan larangan atasnya bersifat khusus pada maknanya, sehingga diberlakukan padanya hukum umum dalam hal kebolehan.

وَلَا فَرْقَ فِيمَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ أَنْ يَأْكُلَهُ مُشْوِيًّا أَوْ مَطْبُوخًا أَوْ نِيئًا وَقَالَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَأَظُنُّهُ مَالِكًا إِنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ نِيئًا حَتَّى يُطْبَخَ أَوْ يُشْوَى اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ فِي أَكْلِهِ وَهَذَا الِاعْتِبَارُ فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Tidak ada perbedaan dalam hal seseorang melanggar sumpahnya dengan memakan daging, baik ia memakannya dalam keadaan dipanggang, dimasak, atau mentah. Namun sebagian fuqaha, dan saya kira itu adalah Malik, berpendapat bahwa seseorang tidak melanggar sumpahnya dengan memakan daging mentah sampai daging itu dimasak atau dipanggang, dengan pertimbangan kebiasaan (‘urf) dalam memakannya. Pertimbangan ini tidak sah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الطَّبْخَ صِفَةٌ زَائِدَةٌ يُقْصَدُ بِهَا الِاسْتِطَابَةُ فَلَمْ يَجُزِ اعْتِبَارُهَا فِي الْمُطْلَقِ كَمَا لَا يُعْتَبَرُ بِهِ الْمُسْتَطَابُ الْمُسْتَلَذُّ

Salah satunya adalah bahwa memasak merupakan sifat tambahan yang dimaksudkan untuk memperoleh kelezatan, sehingga tidak boleh dijadikan pertimbangan secara mutlak, sebagaimana sesuatu yang lezat dan nikmat juga tidak dijadikan pertimbangan.

وَالثَّانِي إنَّ حَقِيقَةَ الْأَكْلِ مَا لَاكَهُ مَضْغًا بِفَمِهِ وَازْدَرَدَهُ إِلَى جَوْفِهِ

Yang kedua, hakikat makan adalah sesuatu yang dikunyah dengan mulutnya lalu ditelan ke dalam perutnya.

وَهَذَا مَوْجُودٌ فِي النِّيءِ كَوُجُودِهِ في المطبوخ والمشوي

Dan hal ini terdapat pada yang mentah sebagaimana terdapat pada yang dimasak dan yang dipanggang.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ أَنْ لَا يَشْرَبَ سَوِيقًا فَأَكَلَهُ أَوْ لَا يَأْكُلَ خُبْزًا فَمَاثَهُ فَشَرِبَهُ أَوْ لَا يَشْرَبُ شَيْئًا فَذَاقَهُ فَدَخَلَ بَطْنَهُ لَمْ يَحْنَثْ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan meminum sawiq lalu ia memakannya, atau bersumpah tidak akan makan roti lalu ia melumatnya kemudian meminumnya, atau bersumpah tidak akan meminum sesuatu lalu ia mencicipinya sehingga masuk ke perutnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْأَفْعَالَ أَنْوَاعٌ كَالْأَعْيَانِ فَإِذَا تَعَلَّقَتِ الْيَمِينُ بِنَوْعٍ مِنْ فِعْلٍ فهي كتعلقها بنوع من يمين فلا يحنث بغير ذلك العين كَمَا لَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ تِلْكَ الْعَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa perbuatan itu bermacam-macam jenis, sebagaimana benda-benda juga demikian. Maka jika sumpah itu terkait dengan suatu jenis perbuatan, maka hukumnya seperti sumpah yang terkait dengan suatu jenis benda; sehingga tidak dianggap melanggar sumpah dengan selain benda tersebut, sebagaimana tidak dianggap melanggar sumpah dengan selain perbuatan tersebut.

وَالْأَكْلُ نَوْعٌ وَالشُّرْبُ نَوْعٌ وَالذَّوْقُ نَوْعٌ وَالطَّعْمُ نَوْعٌ وَلِكُلِّ نَوْعٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ صِفَةٌ مُتَمَيِّزَةٌ تَخْتَصُّ بِهِ

Makan adalah satu jenis, minum adalah satu jenis, mencicipi adalah satu jenis, dan rasa adalah satu jenis. Masing-masing dari keempat jenis ini memiliki sifat yang khas yang khusus padanya.

وَإِنْ جَازَ أَنْ يَقَعَ الِاشْتِرَاكُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ فَإِذَا حَلَفَ لَا يَشْرَبُ هذا السويق فشربه أن يَمْزُجَهُ بِالْمَاءِ وَيَشْرَبَهُ كَشُرْبِهِ الْمَاءَ فَإِنْ شَرِبَهُ عَلَى هَذِهِ الصِّفَةِ حَنِثَ وَإِنْ بَلَّهُ حَتَّى اجْتَمَعَ وَأَكَلَهُ مَضْغًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ آكِلٌ وليس بشارب ولم اسْتَفَّهُ سَفًّا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِشَارِبٍ وَلَا آكِلٍ وَإِنْ حَلَفَ لَا آكُلُ هَذَا الْخُبْزَ فَأَكَلَهُ أَنْ يَمْضُغَهُ بِفَمِهِ وَيَزْدَرِدَهُ إِلَى جَوْفِهِ فَإِنْ أَكَلَهُ عَلَى هَذِهِ الصِّفَةِ حَنِثَ وَإِنْ رَضَّهُ وَمَزَجَهُ بِالْمَاءِ وَشَرِبَهُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ شَارِبٌ وَلَيْسَ بِآكِلٍ

Jika dimungkinkan terjadi kesamaan dalam sebagian sifat, maka apabila seseorang bersumpah tidak akan meminum sūwīq ini, lalu ia meminumnya dengan mencampurnya dengan air dan meminumnya seperti ia meminum air, maka jika ia meminumnya dengan cara seperti itu, ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia membasahinya hingga menyatu lalu memakannya dengan cara dikunyah, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia adalah orang yang makan, bukan orang yang minum. Dan jika ia menelannya secara langsung tanpa mengunyah, ia juga tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia bukan orang yang minum dan bukan pula orang yang makan. Jika ia bersumpah tidak akan memakan roti ini, lalu ia memakannya dengan cara mengunyahnya di mulut dan menelannya ke dalam perut, maka jika ia memakannya dengan cara seperti itu, ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia menghancurkannya dan mencampurnya dengan air lalu meminumnya, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia adalah orang yang minum, bukan orang yang makan.

وَلَوِ ابْتَلَعَهُ مِنْ غَيْرِ مَضْغٍ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِآكِلٍ وَلَا شَارِبٍ وَلَا يَحْنَثُ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِلَّا بِمَا وَصَلَ إِلَى الْجَوْفِ فَإِنْ حَلَفَ لَا ذَاقَ هَذَا الطَّعَامَ فَالذَّوْقُ أَنْ يَعْرِفَ طَعْمَهُ بِفَمِهِ

Dan jika ia menelannya tanpa mengunyah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia tidak disebut sebagai orang yang makan atau minum. Seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dalam makan dan minum kecuali dengan sesuatu yang sampai ke dalam rongga (jauf). Jika ia bersumpah tidak akan mencicipi makanan ini, maka yang dimaksud mencicipi adalah mengetahui rasanya dengan mulutnya.

وَهَلْ يَحْتَاجُ مَعَ مَعْرِفَةِ طَعْمِهِ بِفَمِهِ إِلَى وُصُولِ يَسِيرٍ مِنْهُ إِلَى جَوْفِهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ

Apakah, setelah mengetahui rasanya dengan mulutnya, masih diperlukan agar sedikit dari benda tersebut sampai ke dalam perutnya? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَا يَكْمُلُ الذَّوْقُ إِلَّا بِوُصُولِ يَسِيرٍ مِنْهُ إِلَى جَوْفِهِ لِيَمُرَّ فِي الْحَلْقِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ

Salah satunya adalah bahwa rasa tidak akan sempurna kecuali sedikit dari rasa itu sampai ke dalam perutnya, melewati tenggorokan, dan inilah yang tampak dari teks Imam Syafi‘i.

فَإِنْ لَمْ يَصِلْ شَيْءٌ مِنْهُ إِلَى الْجَوْفِ لَمْ يَكُنْ ذَائِقًا وَلَا حَانِثًا

Jika tidak ada sedikit pun dari sesuatu itu yang sampai ke dalam rongga tubuh, maka ia tidak dianggap telah merasakan dan tidak pula dianggap melanggar.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَظْهَرُ إنَّهُ لَا يُعْتَبَرُ فِيهِ إِلَّا مَعْرِفَةُ الطَّعْمِ دُونَ الْوُصُولِ إِلَى الْجَوْفِ لِمُفَارَقَتِهِ لِلْأَكْلِ وَالشُّرْبِ الْمُخْتَصَّانِ بِالْوُصُولِ إِلَى الْجَوْفِ

Pendapat kedua, yang lebih kuat, adalah bahwa yang dipertimbangkan di dalamnya hanyalah pengetahuan tentang rasa, tanpa sampai ke dalam rongga tubuh, karena hal ini berbeda dengan makan dan minum yang secara khusus berkaitan dengan sampai ke dalam rongga tubuh.

فَإِنْ أَكَلَ هَذَا الذَّائِقُ أَوْ شَرِبَ حَنِثَ لِأَنَّهُ قَدْ ذَاقَ وَزَادَ

Jika orang yang mencicipi itu makan atau minum, maka ia berdosa karena ia telah mencicipi dan menambah.

وَإِنْ حَلَفَ لَا يَطْعَمُ هَذَا الطَّعَامَ فَالتَّطَعُّمُ مَعْرِفَةُ طَعْمِهِ بِلِسَانِهِ وَلَا اعْتِبَارَ بِوُصُولِ شَيْءٍ مِنْهُ إِلَى جَوْفِهِ فَإِذَا عَرَفَ طَعْمَهُ حَنِثَ فَإِنْ ذَاقَهُ أَوْ أَكَلَهُ أَوْ شَرِبَهُ حَنِثَ لِأَنَّهُ قَدْ تَطَعَّمَ وَزَادَ

Jika seseorang bersumpah tidak akan mencicipi makanan ini, maka yang dimaksud dengan mencicipi adalah mengetahui rasanya dengan lidahnya, dan tidak dianggap apakah ada sesuatu dari makanan itu yang sampai ke dalam perutnya. Maka jika ia telah mengetahui rasanya, ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia mencicipinya, atau memakannya, atau meminumnya, maka ia juga dianggap melanggar sumpah, karena ia telah mencicipi dan bahkan lebih dari itu.

وَإِنْ حَلَفَ لَا أَطْعَمُ هَذَا الطَّعَامَ حَنِثَ بِأَكْلِهِ وَشُرْبِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِذَوْقِهِ وَطَعْمِهِ لِفَرْقِ مَا بَيْنَ الطَّعْمِ وَالتَّطَعُّمِ لِأَنَّ الطَّعْمَ مَا صَارَ طَعَامًا لَهُ وَالتَّطَعُّمَ مَا عُرِفَ طَعْمُهُ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan memakan makanan ini,” maka ia melanggar sumpahnya jika ia memakannya atau meminumnya, namun ia tidak melanggar sumpah jika hanya mencicipi atau merasakannya. Hal ini karena terdapat perbedaan antara “merasakan” dan “mencicipi”; sebab “merasakan” adalah sesuatu yang telah menjadi makanan baginya, sedangkan “mencicipi” adalah sekadar mengetahui rasanya.

فَلَوْ أَوْجَرَ الطَّعَامَ بِقَمْعٍ فِي حَلْقِهِ وَلَمْ يَدْنُ فِي لَهَوَاتِ فَمِهِ حَتَّى وَصَلَ إِلَى جَوْفِهِ فَإِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ عَلَى الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالذَّوْقِ وَالتَّطَعُّمِ لَمْ يَحْنَثْ لِعَدَمِ شُرُوطِهَا فِي الوجود كُلِّهَا وَإِنْ كَانَتْ عَلَى أَنْ لَا يَطْعَمَ حَنِثَ لِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَ إِلَى جَوْفِهِ فَصَارَ طعاماً له

Maka jika seseorang memasukkan makanan dengan alat ke dalam tenggorokannya tanpa mendekatkannya ke langit-langit mulutnya hingga makanan itu sampai ke perutnya, maka jika sumpahnya adalah untuk tidak makan, minum, mencicipi, atau merasakan, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena tidak terpenuhinya seluruh syarat-syaratnya. Namun jika sumpahnya adalah untuk tidak memasukkan sesuatu ke dalam perutnya, maka ia dianggap melanggar sumpah karena makanan itu telah sampai ke perutnya sehingga menjadi makanan baginya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ سَمْنًا فَأَكَلَهُ بِالْخُبْزِ أَوْ بِالْعَصِيدَةِ أَوْ بِالسَّوِيقِ حَنِثَ لِأَنَّ السَّمْنَ لَا يَكُونُ مَأْكُولًا إِلَّا بِغَيْرِهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ جَامِدًا فَيَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَأْكُلَهُ جَامِدًا مُفْرَدًا

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan samin, lalu ia memakannya bersama roti, atau bersama ‘ashidah, atau bersama sawiq, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, karena samin itu tidak biasa dimakan kecuali bersama sesuatu yang lain, kecuali jika samin itu dalam keadaan padat sehingga memungkinkan untuk dimakan secara terpisah dalam keadaan padat.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا السَّمْنُ فَلَهُ حَالَتَانِ جامد وذائب

Al-Mawardi berkata, adapun lemak memiliki dua keadaan: padat dan cair.

فَإِذَا حَلَفَ لَا آكُلُ سَمْنًا فَلَهُ فِي أكله حالتان

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan makan samin,” maka dalam memakannya terdapat dua keadaan.

أحدهما أَنْ يَأْكُلَهُ مُنْفَرِدًا

Pertama, ia memakannya sendirian.

وَالثَّانِيَةُ أَنْ يَأْكُلَهُ مَعَ غَيْرِهِ

Dan yang kedua adalah memakannya bersama dengan yang lainnya.

فَإِنْ أَكَلَهُ مُنْفَرِدًا وَكَانَ جَامِدًا حَنِثَ وَإِنْ كَانَ ذَائِبًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ يَكُونُ لِلْجَامِدِ آكِلًا وَلِلذَّائِبِ شَارِبًا

Jika ia memakannya secara terpisah dan dalam keadaan padat, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun, jika dalam keadaan cair, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena untuk yang padat disebut makan, sedangkan untuk yang cair disebut minum.

وَإِنْ أَكَلَهُ مَعَ غَيْرِهِ مِنْ خُبْزٍ أَوْ سَوِيقٍ أَوْ فِي عَصِيدَةٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حِنْثِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Dan jika ia memakannya bersama makanan lain seperti roti, syaweeq, atau dalam bubur, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai batalnya sumpahnya dalam tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ إنَّهُ لَا يَحْنَثُ إِذَا خَلَطَهُ بِغَيْرِهِ سَوَاءٌ كَانَ جَامِدًا أَوْ ذَائِبًا وَلَمْ يُطْلَقْ عَلَيْهِ اسْمُ الْأَكْلِ إِلَّا بِانْفِرَادِهِ وَأَجْرَاهُ مَجْرَى قَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ طَعَامًا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ فَاشْتَرَى زَيْدٌ وَعَمْرٌو طَعَامًا فَأَكَلَهُ لَمْ يَحْنَثْ

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri, yaitu bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika mencampurkannya dengan sesuatu yang lain, baik dalam keadaan padat maupun cair, dan tidak disebut dengan istilah “makan” kecuali jika ia memakannya secara sendiri. Ia mengqiyaskan hal ini dengan ucapannya, “Demi Allah, aku tidak akan memakan makanan yang dibeli oleh Zaid,” lalu Zaid dan ‘Amr membeli makanan bersama-sama, kemudian ia memakannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إنَّهُ إِنْ كَانَ جَامِدًا لَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِهِ مَعَ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ ذَائِبًا حَنِثَ بِأَكْلِهِ مَعَ غَيْرِهِ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى أَكْلِ الْجَامِدِ مُنْفَرِدًا وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَكْلِ الذَّائِبِ إِلَّا مَعَ غَيْرِهِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa jika benda tersebut dalam keadaan padat, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakannya bersama dengan yang lain. Namun, jika benda tersebut cair, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakannya bersama dengan yang lain, karena ia mampu memakan benda padat secara terpisah, sedangkan benda cair tidak dapat dimakan kecuali bersama dengan yang lain.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ مَعَ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ ظَاهِرًا فِيهِ كَمَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ مُنْفَرِدًا سَوَاءٌ كَانَ جَامِدًا أَوْ ذَائِبًا لِأَنَّ اخْتِلَاطَ مَا حَلَفَ عَلَيْهِ بِمَا لَمْ يَحْلِفْ عَلَيْهِ لَا يَمْنَعُ مِنْ وُقُوعِ الْحِنْثِ بِهِ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا أُكَلِّمُ زَيْدًا فَكَلَّمَ جَمَاعَةً هُوَ فِيهِمْ حَنِثَ وَكَمَا لَوْ حَلَفَ لَا آكُلُ طَعَامًا اشْتَرَاهُ زَيْدٌ فَاشْتَرَى زَيْدٌ طَعَامًا وَاشْتَرَى عَمْرٌو طَعَامًا فَخَلْطَهُمَا وَأَكَلَهُمَا حَنِثَ كَذَلِكَ السَّمْنُ إِذَا خَلَطَهُ بِغَيْرِهِ حَنِثَ بِأَكْلِهِمَا

Pendapat ketiga, yaitu mazhab Syafi‘i dan mayoritas pengikutnya, menyatakan bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika ia memakan sesuatu bersama dengan yang lain, selama benda yang disumpahkan itu tampak jelas di dalamnya, sebagaimana ia juga dianggap melanggar jika memakannya secara terpisah, baik benda itu padat maupun cair. Sebab, bercampurnya sesuatu yang disumpahkan dengan sesuatu yang tidak disumpahkan tidak menghalangi terjadinya pelanggaran sumpah, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan Zaid, lalu ia berbicara dengan sekelompok orang yang di dalamnya ada Zaid, maka ia dianggap melanggar. Demikian pula jika seseorang bersumpah tidak akan memakan makanan yang dibeli Zaid, lalu Zaid membeli makanan dan Amr juga membeli makanan, kemudian keduanya mencampur makanan itu dan ia memakannya, maka ia dianggap melanggar. Begitu pula dengan minyak samin, jika ia mencampurnya dengan yang lain lalu memakannya, maka ia dianggap melanggar.

وَعَلَى هَذَا يَكُونُ التَّفْرِيعُ فَإِذَا أَكَلَ السَّمْنَ مَعَ غَيْرِهِ فَجَعَلَهُ عَصِيدًا أَوْ بَلَّ فِيهِ خُبْزًا أَوْ لَتَّ فِيهِ سَوِيقًا فَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ

Berdasarkan hal ini, maka rincian hukumnya adalah: jika seseorang memakan samin bersama bahan lain, seperti menjadikannya ‘ashid (bubur kental), atau mencelupkan roti ke dalamnya, atau mencampurkan sawiq (tepung panggang) ke dalamnya, maka terdapat empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَظْهَرَ فِيهِ طَعْمُهُ إِذَا أُكِلَ أَوْ يَظْهَرُ فِيهِ بَيَاضُ لَوْنِهِ إِذَا ثُرِدَ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِظُهُورِ صِفَتَيِ السَّمْنِ مِنْ طَعْمٍ وَلَوْنٍ

Salah satunya adalah jika tampak padanya rasa (samin) ketika dimakan, atau tampak padanya warna putihnya ketika dicampur makanan, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan memakannya karena telah tampak dua sifat samin, yaitu rasa dan warna.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا يَظْهَرَ فِيهِ طَعْمُهُ إِذَا أُكِلَ وَلَا يَظْهَرُ فِيهِ لَوْنُهُ إِذَا ثُرِدَ فَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِأَنَّ السَّمْنَ قَدْ صَارَ بِعَدَمِ الصِّفَتَيْنِ مُسْتَهْلَكًا

Keadaan kedua adalah ketika tidak tampak rasanya saat dimakan dan tidak tampak warnanya ketika dicampur, maka tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakannya, karena samin tersebut, dengan tidak adanya kedua sifat itu, telah menjadi mustahlik (tercampur hingga hilang sifat aslinya).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَظْهَرَ فِيهِ طَعْمُهُ إِذَا أُكِلَ وَلَا يَظْهَرُ فِيهِ لَوْنُهُ إِذَا يرد فَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِأَنَّ يَمِينَهُ مُسْتَهْلَكَةٌ فَلَمْ يَحْنَثْ بِطَعْمِهِ

Keadaan ketiga adalah ketika rasa dari sesuatu itu tampak saat dimakan, namun warnanya tidak tampak ketika dilihat. Maka, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika memakannya, karena sumpahnya telah tercampur (tidak murni), sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah hanya karena rasanya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَظْهَرَ فِيهِ لَوْنُهُ إِذَا ثُرِدَ وَلَا يَظْهَرُ فِيهِ طَعْمُهُ إِذَا أُكِلَ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهِ لِبَقَاءِ عَيْنِهِ فَلَمْ يُؤَثِّرْ فَقْدُ طَعْمِهِ

Keadaan keempat adalah ketika warnanya tampak pada makanan tersebut jika dicampur, namun rasanya tidak tampak ketika dimakan. Maka seseorang dianggap melanggar sumpah jika memakannya, karena zatnya masih tetap ada, sehingga hilangnya rasa tidak berpengaruh.

وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ عَسَلًا وَلَا دبساً كان كالسمن لأنها يَجْمُدَانِ تَارَةً وَيَذُوبَانِ أُخْرَى وَيُؤْكَلَانِ مُنْفَرِدَيْنِ وَمُخْتَلِطَيْنِ فَيَكُونُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْجَوَابِ

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan madu atau dibs (sirup kurma), maka hukumnya seperti pada mentega, karena keduanya kadang-kadang membeku dan kadang-kadang mencair, serta dapat dimakan secara terpisah maupun dicampur. Maka hukumnya mengikuti apa yang telah kami jelaskan sebelumnya dalam jawaban.

فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ خَلًّا فَالْخَلُّ ذَائِبٌ وقل أن يجمد

Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan memakan cuka, maka cuka itu bersifat cair dan jarang sekali membeku.

وَإِنْ أَكَلَ مَعَ غَيْرِهِ مِنْ خُبْزٍ أَوْ فِي سكباجٍ فَإِنْ صَارَ مُسْتَهْلِكًا فِيهِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ كَانَ ظَاهِرًا فِيهِ حَنِثَ

Dan jika ia makan bersama orang lain dari roti atau dalam sikhbaj, maka jika (makanan yang diharamkan) itu menjadi larut di dalamnya, ia tidak dianggap melanggar sumpah; namun jika (makanan itu) tampak jelas di dalamnya, ia dianggap melanggar sumpah.

وَكَذَلِكَ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَبَنًا فَأَكْلَهُ بِغَيْرِهِ أَوْ طَبَخَهُ مَعَ غَيْرِهِ فَإِنْ حَلَفَ لَا يَشْرَبُ لَبَنًا فَخَلَطَهُ بِغَيْرِهِ فَإِنْ كَانَ مَا خَلَطَهُ بِهِ جَامِدًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ يَصِيرُ آكِلًا وَلَا يَكُونُ شَارِبًا وَإِنْ خَلَطَهُ بِمَائِعٍ فَإِنْ كَانَ اللَّبَنُ أَغْلَبَ لِظُهُورِ لَوْنِهِ وَطَعْمِهِ حنث بشربه وإن كان مغلوباً لخفاء ولونه وطعمه لم يحنث

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan makan susu, lalu ia memakannya bersama sesuatu yang lain atau memasaknya dengan sesuatu yang lain, atau jika ia bersumpah tidak akan minum susu lalu mencampurnya dengan sesuatu yang lain, maka jika yang dicampurkan itu berupa benda padat, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena ia menjadi memakan, bukan meminum. Namun, jika ia mencampurnya dengan cairan, maka jika susu lebih dominan karena tampak warna dan rasanya, ia dianggap melanggar sumpah jika meminumnya. Tetapi jika susu kalah hingga warna dan rasanya tidak tampak, ia tidak dianggap melanggar sumpah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ هَذِهِ التَّمْرَةَ فَوَقَعَتْ فِي تمرٍ فَإِنْ أَكَلَهُ إِلَّا تَمْرَةً أَوْ هَلَكَتْ مِنْهُ تَمْرَةٌ لَمْ يَحْنَثْ حَتَّى يَسْتَيْقِنَ أَنَّهُ أَكَلَهَا وَالْوَرَعُ أَنْ يُحَنِّثَ نَفْسَهُ

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan kurma ini, lalu kurma itu tercampur dengan kurma-kurma lain, maka jika ia memakannya kecuali satu kurma, atau jika satu kurma darinya rusak, ia tidak dianggap melanggar sumpah sampai benar-benar yakin bahwa ia telah memakannya. Namun sikap wara‘ (kehati-hatian) adalah dengan menganggap dirinya telah melanggar sumpah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ هَذِهِ التَّمْرَةَ فَأَكَلَهَا إِلَّا نَوَاهَا وَقَمَعَهَا حَنِثَ لِأَنَّهُ أَكَلَ مَأْكُولَهَا وَأَلْقَى غَيْرَ مَأْكُولِهَا فَانْصَرَفَتِ الْيَمِينُ فِي الْأَكْلِ إِلَى الْمَأْكُولِ مِنْهَا وَلَمْ تَنْصَرِفْ إِلَى غَيْرِ الْمَأْكُولِ وَلَوْ أَكَلَهَا إِلَّا يَسِيرًا مِنْهَا كَنُقْرَةِ طَائِرٍ لَمْ يَحْنَثْ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan memakan kurma ini, lalu ia memakannya kecuali bijinya dan tangkainya, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena ia telah memakan bagian yang bisa dimakan dan membuang bagian yang tidak bisa dimakan. Maka sumpah itu berlaku pada bagian yang dimakan darinya, dan tidak berlaku pada bagian yang tidak bisa dimakan. Namun, jika ia memakannya hanya sedikit saja, seperti paruh burung, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ

Malik berkata: “Ia dianggap melanggar sumpah.”

وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ هَذَا الرَّغِيفَ فَأَكَلَهُ إِلَّا لُقْمَةً مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan roti ini, lalu ia memakannya kecuali satu suapan darinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ إِذَا أَكَلَ أَكْثَرَهُ اعْتِبَارًا بِالْأَغْلَبِ

Malik berkata, “Seseorang dianggap melanggar sumpah jika ia memakan sebagian besarnya, berdasarkan pertimbangan mayoritas.”

وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ شَرْطَ الْحِنْثِ إِذَا لَمْ يَكْمُلِ ارْتَفَعَ بِهِ الْحِنْثُ فِي الْحَالَيْنِ

Ini adalah sebuah kekeliruan, karena syarat terjadinya pelanggaran sumpah apabila belum terpenuhi, maka pelanggaran sumpah tersebut tidak terjadi dalam kedua keadaan.

فَأَمَّا إِذَا وَقَعَتِ التَّمْرَةُ الَّتِي حَلَفَ عَلَيْهَا أَنْ لَا يَأْكُلَهَا فِي تَمْرٍ اخْتَلَطَتْ بِهِ فَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَ التَّمْرِ حَنِثَ لِإِحَاطَةِ عِلْمِنَا بِأَنَّهُ قَدْ أَكَلَهَا مَعَ غَيْرِهَا

Adapun jika kurma yang ia bersumpah tidak akan memakannya itu tercampur dengan kurma lain, lalu ia memakan seluruh kurma tersebut, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, karena kita mengetahui dengan pasti bahwa ia telah memakannya bersama kurma yang lain.

وَقَدْ وَافَقَ عَلَى هَذَا أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ وَإِنْ خَالَفَ فِي السَّمْنِ وَهُوَ حُجَّةٌ تُعِيدُهُ إِلَى الْوِفَاقِ

Abu Sa‘id al-Ishthakhri juga menyetujui hal ini, meskipun ia berbeda pendapat dalam masalah lemak, namun pendapatnya merupakan hujjah yang mengembalikannya kepada kesepakatan.

وَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَ التَّمْرِ إِلَّا تَمْرَةً أَوْ هَلَكَ مِنْ جَمِيعِ التَّمْرِ تَمْرَةٌ لَمْ تَخْلُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Jika seseorang memakan seluruh kurma kecuali satu butir, atau ada satu butir kurma yang rusak dari seluruh kurma, maka hal itu tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ قد أكل تلك التمرة فيحنث

Salah satunya adalah jika ia mengetahui bahwa ia memang telah memakan kurma itu, maka ia dianggap melanggar sumpah.

وَالثَّانِي أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهَا الْبَاقِيَةُ الَّتِي لَمْ يَأْكُلْهَا فَلَا يَحْنَثُ

Dan yang kedua adalah bahwa ia mengetahui bahwa itu adalah sisa makanan yang belum ia makan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَشُكَّ هَلْ أَكَلَهَا أَوْ لَمْ يَأْكُلْهَا فَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهَا هِيَ الْبَاقِيَةُ أَوِ الْهَالِكَةُ فَصَارَ الْحِنْثُ مَشْكُوكًا فِيهِ وَالْحِنْثُ لَا يَقَعُ بِالشَّكِّ وَمُسْتَحَبٌّ لَهُ فِي الْوَرَعِ أَنْ يُحَنِّثَ نَفْسَهُ احْتِيَاطًا اعْتِبَارًا بِالْأَغْلَبِ مِنْ حَالِهَا أَنَّهَا فِي الْمَأْكُولِ مَعَ تَجْوِيزِ بَقَائِهَا فِي الْعَادَةِ

Ketiga, jika ia ragu apakah telah memakannya atau belum, maka tidak ada kafarat atasnya, karena mungkin saja yang dimaksud dalam sumpah itu adalah yang masih ada atau yang sudah hilang, sehingga pelanggaran sumpah menjadi perkara yang diragukan, dan pelanggaran sumpah tidak terjadi karena keraguan. Namun, dianjurkan baginya untuk berhati-hati dengan sengaja melanggar sumpahnya sebagai bentuk kehati-hatian, dengan mempertimbangkan bahwa yang lebih sering terjadi adalah benda itu telah dimakan, meskipun masih mungkin benda itu masih ada menurut kebiasaan.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا عَلَّقْتُمْ حُكْمَ الْوُجُوبِ بِالْغَالِبِ مِنْ حَالِ هَذَا فَحَكَمْتُمْ بِحِنْثِهِ كَمَا حَكَمْتُمْ فِيمَنْ حَلَفَ لَيَضْرِبَنَّ عَبْدَهُ مِائَةَ ضَرْبَةٍ فَجَمَعَ مِائَةَ شِمْرَاخٍ وَضَرَبَهُ بِهَا ضَرْبَةً وَشَكَّ فِي وُصُولِ جَمِيعِهَا إِلَى جَسَدِهِ أَنَّهُ يَبِرُّ تَغْلِيبًا لِلظَّاهِرِ فِي وُصُولِ جَمِيعِهَا إِلَى جَسَدِهِ وَإِنْ كَانَتْ لَا تَصِلُ لَطَائِفُهَا

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menggantungkan hukum wajib pada keadaan yang dominan dari hal ini, lalu kalian memutuskan bahwa ia melanggar sumpahnya, sebagaimana kalian memutuskan pada seseorang yang bersumpah akan memukul budaknya seratus kali pukulan, lalu ia mengumpulkan seratus ranting dan memukul budaknya dengan satu pukulan menggunakan semua ranting itu, kemudian ia ragu apakah seluruh ranting itu mengenai tubuh budaknya, maka kalian menganggap sumpahnya telah terpenuhi dengan mengutamakan kemungkinan besar bahwa seluruh ranting itu mengenai tubuhnya, meskipun bagian-bagian halusnya tidak mengenainya?”

قِيلَ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الْمَعْدُودَ فِي الضَّرْبِ مَفعول وَالْوُقُوعَ فِي الْمَحَلِّ مَعْلُومٌ وَالْحَائِلَ دُونَهُ مَشْكُوكٌ فِيهِ يُعْمَلُ عَلَى الظَّاهِرِ وَلَمْ يُؤْخَذْ بِالشَّكِّ وَخَالَفَ التَّمْرَةُ لِأَنَّ فِعْلَ الْأَكْلِ فِيهَا غير معلوم وهو المختص بالشك فاطرح

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya terletak pada bahwa yang dihitung dalam kasus memukul adalah objek (maf‘ūl), dan terjadinya pada tempatnya sudah diketahui, sedangkan penghalang di antaranya masih diragukan, sehingga yang dipegang adalah yang tampak (zhāhir) dan tidak dianggap keraguan. Berbeda dengan kasus kurma, karena perbuatan makan pada kurma itu tidak diketahui, dan inilah yang khusus dengan keraguan, maka tinggalkanlah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَأْكُلَ هَذِهِ الْحِنْطَةَ فَطَحَنَهَا أَوْ خَبَزَهَا أَوْ قَلَاهَا فَجَعَلَهَا سَوِيقًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ لَمْ يَأْكُلْ مَا وَقَعَ عَلَيْهِ اسْمُ قمحٍ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah untuk tidak memakan gandum ini, lalu ia menggilingnya, atau memanggangnya, atau menggorengnya, kemudian menjadikannya sebagai sawiq, maka ia tidak melanggar sumpah, karena ia tidak memakan sesuatu yang masih disebut gandum.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو يَمِينُ مَنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ حِنْطَةً مِنْ أَمْرَيْنِ إِبْهَامٌ أَوْ تَعْيِينٌ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa sumpah seseorang yang bersumpah tidak akan memakan gandum tidak lepas dari dua keadaan: bersifat umum (ibham) atau bersifat penentuan (ta‘yīn).

فَإِنْ أَبْهَمَ وَلَمْ يُعَيِّنْ فَقَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ حِنْطَةً أَوْ لَا أَكَلْتُ الْحِنْطَةَ فَهُمَا سَوَاءٌ وَيَحْنَثُ بِأَنْ يَأْكُلَهَا حَبًّا صَحِيحًا وَلَا يَحْنَثَ أَنْ يَأْكُلَهَا خُبْزًا أَوْ دَقِيقًا أَوْ سَوِيقًا وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ إِذَا أَبْهَمَ صَارَتِ الْيَمِينُ مَعْقُودَةً عَلَى الِاسْمِ دُونَ الْعَيْنِ فَيَحْنَثُ بِمَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ ذَلِكَ الِاسْمُ وَلَا يَحْنَثُ بِمَا زَالَ عَنْهُ ذَلِكَ الِاسْمُ وَقَدْ زَالَ اسْمُ الْحِنْطَةِ عَنْهَا بَعْدَ طَحْنِهَا وَخَبْزِهَا

Jika ia mengucapkan sumpah secara umum dan tidak menentukan secara spesifik, misalnya ia berkata, “Demi Allah, aku tidak makan gandum,” atau “Aku tidak makan al-hinthah,” maka keduanya sama saja. Ia dianggap melanggar sumpah jika memakannya dalam bentuk biji gandum utuh, dan tidak dianggap melanggar jika memakannya dalam bentuk roti, tepung, atau syaweiq. Hal ini merupakan kesepakatan para ulama, karena jika sumpah diucapkan secara umum, maka sumpah itu terkait dengan nama (istilah) dan bukan pada zat (benda) tertentu. Maka ia dianggap melanggar sumpah dengan apa saja yang masih disebut dengan nama tersebut, dan tidak dianggap melanggar dengan sesuatu yang sudah tidak lagi disebut dengan nama itu. Nama “gandum” sudah tidak lagi berlaku setelah ia menjadi tepung atau roti.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ حَلَفَ لَا كَلَّمَ صَبِيًّا فَكَلَّمَ رَجُلًا أَوْ لَا أَكَلَ رُطَبًا فَأَكَلَ تَمْرًا لَمْ يَحْنَثْ؟ وَإِنْ عَلِمْنَا أَنَّ الرَّجُلَ قَدْ كَانَ صَبِيًّا وَالتَّمْرَ قَدْ كَانَ رُطَبًا لِانْعِقَادِ الْيَمِينِ فِي الْإِبْهَامِ عَلَى الِاسْمِ دُونَ الْعَيْنِ

Tidakkah engkau melihat, jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan seorang anak kecil lalu ia berbicara dengan seorang laki-laki, atau bersumpah tidak akan memakan ruthab lalu ia memakan tamr, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya? Padahal kita mengetahui bahwa laki-laki itu dahulunya adalah anak kecil dan tamr itu dahulunya adalah ruthab, karena sumpah itu terikat pada penyebutan nama, bukan pada zat bendanya.

وَإِنْ عَيَّنَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ هَذِهِ الْحِنْطَةَ تَعَيَّنَتِ الْحِنْطَةُ فِي يَمِينِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِ غَيْرِهَا

Dan jika ia menentukan, lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memakan gandum ini,” maka gandum tersebut menjadi tertentu dalam sumpahnya, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan selainnya.

وَاخْتَلَفُوا فِي بَقَاءِ الِاسْمِ عَلَيْهَا هَلْ يَكُونُ شَرْطًا فِي عَقْدِ الْيَمِينِ لَا يقع الحنث إلا مع بقائه؟

Mereka berbeda pendapat tentang tetapnya nama (yang disebutkan dalam sumpah) padanya, apakah hal itu menjadi syarat dalam akad sumpah sehingga pelanggaran sumpah tidak terjadi kecuali jika nama tersebut masih ada?

فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّ بَقَاءَ الِاسْمِ شَرْطٌ فِي الْحِنْثِ فَإِنْ قَضَمَهَا حَبًّا حَنِثَ لِبَقَاءِ اسْمِ الْحِنْطَةِ عَلَيْهَا وَإِنْ طَحَنَهَا فَأَكَلَهَا خُبْزًا أَوْ دَقِيقًا أَوْ سَوِيقًا لَمْ يَحْنَثْ لِزَوَالِ اسْمِ الْحِنْطَةِ عَنْهَا

Syafi‘i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa keberadaan nama (zat asal) merupakan syarat dalam terjadinya pelanggaran sumpah (ḥinth). Jika seseorang memakannya dalam bentuk biji, maka ia dianggap melanggar sumpah karena nama gandum masih melekat padanya. Namun jika ia menggilingnya lalu memakannya dalam bentuk roti, tepung, atau syaweiq, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena nama gandum telah hilang darinya.

فَأَمَّا الشَّافِعِيُّ فَجَرَى عَلَى قِيَاسِ مَذْهَبِهِ فِيمَنْ حَلَفَ لَا يَدْخُلُ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَصَارَتْ طَرِيقًا أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ لِزَوَالِ اسْمِ الدَّارِ عَنْهَا بَعْدَ الْهَدْمِ كَزَوَالِ اسْمِ الْحِنْطَةِ عَنْهَا بَعْدَ الطَّحْنِ

Adapun asy-Syafi‘i, beliau mengikuti qiyās mazhabnya dalam kasus seseorang yang bersumpah tidak akan masuk ke rumah ini, lalu rumah itu berubah menjadi jalan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya karena nama “rumah” telah hilang darinya setelah dihancurkan, sebagaimana nama “gandum” hilang darinya setelah digiling.

وَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ فَنَاقَضَ مَذْهَبَهُ فِي الدَّارِ فَجَعَلَهُ حَانِثًا بَعْدَ الْهَدْمِ وَلَمْ يَجْعَلْهُ حَانِثًا فِي الطَّعَامِ بَعْدَ الطَّحْنِ وَقَدِ اشْتَرَكَا فِي زَوَالِ الِاسْمِ

Adapun Abu Hanifah, ia bertentangan dengan mazhabnya sendiri dalam masalah rumah, sehingga ia menganggap seseorang melanggar sumpah setelah rumah itu dihancurkan, namun ia tidak menganggapnya melanggar sumpah dalam masalah makanan setelah makanan itu digiling, padahal keduanya sama-sama mengalami hilangnya nama (identitas asal).

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَأَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ مِنْ أَصْحَابِنَا إِنَّ الْيَمِينَ مَعْقُودَةٌ عَلَى الْعَيْنِ دُونَ الِاسْمِ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهَا خُبْزًا وَدَقِيقًا وَسَوِيقًا كَمَا يَحْنَثُ بِقَضْمِهَا حَبًّا صَحِيحًا احْتِجَاجًا بِأَنَّ الِاسْمَ مَوْضُوعٌ لِتَعْرِيفِ الْيَمِينِ

Abu Yusuf, Muhammad, dan Abu al-‘Abbas bin Suraij dari kalangan ulama kami berpendapat bahwa sumpah itu terkait pada zat (benda) dan bukan pada nama, sehingga seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika memakannya dalam bentuk roti, tepung, atau syaweiq, sebagaimana ia juga dianggap melanggar jika memakannya dalam bentuk biji-bijian utuh, dengan alasan bahwa nama hanya digunakan untuk mengenali sumpah.

فَإِذَا عُرِفَتْ بِالتَّعْيِينِ سَقَطَ حُكْمُ الِاسْمِ اسْتِشْهَادًا بِمَا وَقَعَ الِاتِّفَاقُ عَلَيْهِ أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا آكُلُ مِنْ هَذَا الْجَمَلِ فَذَبَحَهُ وَأَكَلَ مِنْ لَحْمِهِ حَنِثَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بَعْدَ الذَّبْحِ جَمَلًا وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Maka apabila sesuatu telah diketahui secara spesifik, maka gugurlah hukum nama (umum) tersebut. Hal ini didasarkan pada kesepakatan bahwa jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan makan dari unta ini,” lalu ia menyembelihnya dan memakan dagingnya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, meskipun setelah disembelih hewan itu tidak lagi disebut unta. Dan hal ini rusak (tidak benar) dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْمُسْتَفَادَ بِالتَّعْيِينِ هُوَ نَقْلُ الْحُكْمِ مِنْ عُمُومِ الْمُبْهَمِ إِلَى خُصُوصِ الْعَيْنِ فَإِذَا كَانَ الِاسْمُ مُعْتَبَرًا فِي الْمُبْهَمِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا فِي الْمُعَيَّنِ

Salah satunya adalah bahwa yang diambil manfaatnya melalui penetapan secara spesifik adalah pemindahan hukum dari keumuman yang masih samar kepada kekhususan yang telah ditentukan. Maka, apabila nama dianggap penting dalam perkara yang masih samar, wajib pula dianggap penting dalam perkara yang telah ditentukan.

وَالثَّانِي إنَّ الْعَقْدَ اشْتَمَلَ عَلَى تَسْمِيَةٍ وَتَعْيِينٍ فَلَمَّا كَانَ بَقَاءُ الْعَيْنِ شَرْطًا وَجَبَ أَنْ يَكُونَ بَقَاءُ الِاسْمِ شَرْطًا

Kedua, sesungguhnya akad tersebut memuat penamaan dan penentuan (barang), maka ketika keberadaan barang menjadi syarat, wajib pula keberadaan nama (barang) menjadi syarat.

فَأَمَّا الْجَمَلُ فَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْحِنْطَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun unta, maka perbedaannya dengan gandum ada pada dua aspek.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَكْلُ الْجَمَلِ حَيًّا وَيُمْكِنُ أَكْلُ الْحِنْطَةِ حَبًّا

Salah satunya adalah bahwa unta tidak mungkin dimakan dalam keadaan hidup, sedangkan gandum bisa dimakan dalam bentuk biji.

وَالثَّانِي إنَّ الشَّيْءَ مَنَعَ مِنْ أَكْلِ الْجَمَلَ حَيًّا وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ أَكْلِ الْحِنْطَةِ حَبًّا فَلِهَذَيْنِ مَا افْتَرَقَا فِي بَقَاءِ الِاسْمِ وَزَوَالِهِ

Kedua, sesuatu itu melarang memakan unta dalam keadaan hidup, namun tidak melarang memakan gandum dalam bentuk biji, maka karena itulah keduanya berbeda dalam hal tetapnya nama dan hilangnya nama.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا حَلَفَ لَا أَكَلْتُ مِنْ هَذَا الدَّقِيقِ فَاسْتَفَّهُ حَنِثَ وَإِنْ خَبَزَهُ وَأَكَلَ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan makan dari tepung ini,” lalu ia meminumnya (memakan tepung mentah), maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun, jika ia membuat roti dari tepung itu dan memakannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنِ اسْتَفَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ خَبَزَهُ وَأَكَلَ مِنْهُ حَنِثَ فَكَانَ مَذْهَبُهُ فِيهِ عَكْسَ مَذْهَبِنَا احْتِجَاجًا بِعُرْفِ الدَّقِيقِ أَنَّهُ لَا يُؤْكَلُ إِلَّا مَخْبُوزًا كَالْحَيَوَانِ الَّذِي لَا يُؤْكَلُ إِلَّا مَذْبُوحًا فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ وُجُودُ الْعُرْفِ فِيهِ مَشْرُوطًا وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا إنَّهُ لَمَّا اعْتُبِرَ فِي الْحِنْطَةِ بَقَاءُ الِاسْمِ دُونَ الْعُرْفِ وِفَاقًا وَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ مِثْلُهُ فِي الدَّقِيقِ حِجَاجًا وَالثَّانِي إنَّهُ لَمَّا اعْتُبِرَتْ فِيهِ الصِّفَةُ كَانَ اعْتِبَارُ صِفَتِهِ وَقْتَ الْعَقْدِ أَوْلَى مِنِ اعْتِبَارِ صِفَةٍ تَحْدُثُ مِنْ بَعْدِهِ

Abu Hanifah berkata, “Jika ia memakannya dalam keadaan mentah, maka ia tidak melanggar sumpahnya; namun jika ia memanggangnya dan memakannya, maka ia melanggar sumpahnya.” Maka pendapat beliau dalam hal ini berlawanan dengan pendapat kami, dengan alasan berdasarkan ‘urf (kebiasaan) bahwa tepung tidak dimakan kecuali setelah dipanggang, seperti halnya hewan yang tidak dimakan kecuali setelah disembelih. Maka ini menuntut bahwa keberadaan ‘urf dalam hal ini menjadi syarat. Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi: Pertama, ketika dalam kasus gandum yang dipertimbangkan adalah tetapnya nama (gandum) tanpa memperhatikan ‘urf, maka seharusnya hal yang sama juga dipertimbangkan pada tepung sebagai bentuk argumentasi. Kedua, ketika yang dipertimbangkan adalah sifatnya, maka mempertimbangkan sifatnya pada saat akad lebih utama daripada mempertimbangkan sifat yang muncul setelahnya.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا حَلَفَ لَا آكُلُ هَذَا الرُّطَبَ فَصَارَ تَمْرًا أَوْ لَا آكُلُ هَذَا الْجَدْيَ فَصَارَ تَيْسًا أَوْ لَا أُكَلِّمُ هَذَا الصَّبِيَّ فَصَارَ شَيْخًا فَفِي الْحِنْثِ بِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan memakan ruthab (kurma basah) ini,” lalu ruthab itu berubah menjadi tamr (kurma kering); atau ia berkata, “Aku tidak akan memakan anak kambing ini,” lalu anak kambing itu menjadi kambing dewasa; atau ia berkata, “Aku tidak akan berbicara dengan anak kecil ini,” lalu anak kecil itu menjadi orang tua; maka dalam hal terkena pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يَحْنَثُ لِانْتِقَالِهِ عَنْ صِفَتِهِ كَالطَّعَامِ إِذَا طُحِنَ وَالدَّقِيقِ إِذَا خُبِزَ

Salah satunya adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yaitu tidak dianggap melanggar sumpah karena telah berubah dari sifat asalnya, seperti makanan jika telah digiling dan tepung jika telah dipanggang.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ وَفَرَّقَ قَائِلُهُ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ طَحْنِ الطَّعَامِ وَخَبْزِ الدَّقِيقَ بِأَنَّ انْتِقَالَ هَذَا عَنْ حاله حادث من ذَاتِهِ فَصَارَ بَعْدَ الِانْتِقَالِ مَنْسُوبًا إِلَى أَصْلِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia melanggar sumpah, dan orang yang berpendapat demikian membedakan antara kasus ini dengan menggiling makanan atau memanggang tepung, dengan alasan bahwa perubahan keadaan pada kasus ini terjadi dari dirinya sendiri, sehingga setelah perubahan itu, ia tetap dinisbatkan kepada asalnya.

وَانْتِقَالُ الطَّعَامِ بِالطَّحْنِ وَالدَّقِيقِ بِالْخُبْزِ حَادِثٌ عَنْ صَنْعَةِ فاعلٍ فَصَارَ بِالِانْتِقَالِ مَنْسُوبًا إِلَى فَاعِلِهِ دُونَ أَصْلِهِ

Perpindahan makanan melalui proses penggilingan dan tepung melalui pembuatan roti merupakan sesuatu yang terjadi karena perbuatan pelaku, sehingga dengan perpindahan itu, ia dinisbatkan kepada pelakunya, bukan kepada asalnya.

وَتَعْلِيلُ هَذَا الْفَرْقِ مَعْلُولٌ بِمَنْ حلف لا يأكله حِنْطَةً فَصَارَتْ زَرْعًا وَلَا يَأْكُلُ بَيْضَةً فَصَارَتْ فَرْخًا فَإِنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِوِفَاقٍ وَإِنْ كَانَ انْتِقَالَ ذَاتٍ

Penjelasan mengenai perbedaan ini diqiyaskan dengan orang yang bersumpah tidak akan memakan gandum, lalu gandum itu berubah menjadi tanaman, atau bersumpah tidak akan memakan telur, lalu telur itu berubah menjadi anak ayam; maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut kesepakatan, meskipun terjadi perubahan pada zatnya.

فَصْلٌ

Fashl (Bagian)

وَإِذَا حَلَفَ لَا يَشْرَبُ هَذَا الْعَصِيرَ فَصَارَ خَمْرًا أَوْ لَا يَشْرَبُ هَذَا الْخَمْرَ فَصَارَ خَلًّا لَمْ يَحْنَثْ بِهِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ قَدِ اقْتَرَنَ بِزَوَالِ الِاسْمِ زَوَالُ الْحُكْمِ فَزَالَ عَنْ حَالِهِ عُرْفًا وَشَرْعًا فَانْتَفَى عَنْهُ الْحِنْثُ بِانْتِفَاءِ الِاسْمِ وَالْحُكْمِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan meminum sari buah ini, lalu sari buah itu berubah menjadi khamar, atau bersumpah tidak akan meminum khamar ini, lalu khamar itu berubah menjadi cuka, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut satu pendapat, karena hilangnya nama (zat) tersebut diiringi dengan hilangnya hukumnya. Maka, benda itu telah berubah dari keadaan semula baik secara ‘urf maupun syariat, sehingga tidak ada pelanggaran sumpah karena hilangnya nama dan hukumnya.

وَلَوْ حَلَفَ لَا يَلْبَسُ هَذَا الْغَزْلَ فَنَسَجَهُ ثَوْبًا حَنِثَ بِلُبْسِهِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ الْغَزْلَ لَمَّا كَانَ لَا يُلْبَسُ إِلَّا مَنْسُوجًا صَارَ مُضْمَرًا فِي الْيَمِينِ وَالْمُضْمَرُ فِي الْأَيْمَانِ كَالْمُظْهَرِ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ هَذَا الْحَيَوَانَ حَنِثَ بِأَكْلِهِ مَذْبُوحًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَ أَكْلِهِ حَيَوَانًا لِأَنَّهَا صِفَةٌ مُضْمَرَةٌ فَجَرَى عَلَيْهَا حُكْمُ الْمُظْهَرَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan jika seseorang bersumpah tidak akan memakai benang ini, lalu ia menenunnya menjadi pakaian, maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakainya, menurut satu pendapat. Sebab, benang itu pada asalnya tidak bisa dipakai kecuali setelah ditenun, sehingga hal tersebut dianggap tersirat dalam sumpahnya, dan sesuatu yang tersirat dalam sumpah diperlakukan seperti sesuatu yang nyata, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan memakan hewan ini, lalu ia memakannya setelah disembelih, maka ia dianggap melanggar sumpahnya meskipun saat dimakan hewan itu sudah bukan hewan lagi, karena sifat tersebut tersirat sehingga berlaku hukum seperti yang nyata. Dan Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا حَلَفَ لَا يَشَمُّ الْبَنَفْسَجَ فَشَمَّ دُهْنَ الْبَنَفْسَجِ أَوْ لَا يَشَمُّ الْوَرْدَ فَشَمَّ دُهْنَ الْوَرْدِ أَوْ شَمَّ مَاءَ الْوَرْدِ لَمْ يَحْنَثْ

Jika seseorang bersumpah tidak akan mencium bau bunga violet lalu ia mencium minyak bunga violet, atau bersumpah tidak akan mencium bau mawar lalu ia mencium minyak mawar atau air mawar, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِدُهْنِ الْبَنَفْسَجِ وَلَا يَحْنَثُ بِدُهْنِ الْوَرْدِ وَمَاءِ الْوَرْدِ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِعُرْفِ أَهْلِ الْكُوفَةِ أَنَّهُمْ يُسَمُّونَ دُهْنَ الْبَنَفْسَجَ بَنَفْسَجًا وَلَا يُسَمُّونَ دُهْنَ الْوَرْدِ وَرْدًا وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika menggunakan minyak bunga violet, tetapi tidak dianggap melanggar jika menggunakan minyak mawar atau air mawar. Ia membedakan keduanya berdasarkan kebiasaan masyarakat Kufah, yaitu mereka menyebut minyak bunga violet dengan nama “banafsaǧ”, sedangkan minyak mawar tidak mereka sebut “ward”. Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّهَا تَسْمِيَةُ مَجَازٍ فَكَانَ اعْتِبَارُهَا بِالْحَقِيقَةِ أَوْلَى

Salah satunya adalah bahwa itu merupakan penamaan secara majaz, sehingga mempertimbangkannya berdasarkan hakikat lebih utama.

وَالثَّانِي إنَّ اسْمَ الْوَرْدِ وَالْبَنَفْسَجِ مُنْطَلِقٌ عَلَى جِسْمٍ وَرَائِحَةٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَعَلَّقَ حُكْمُهَا بِالرَّائِحَةِ وَهِيَ فَرْعٌ مَعَ عَدَمِ الْجِسْمِ وَهُوَ أَصْلٌ

Kedua, bahwa nama mawar dan bunga violet itu berlaku pada benda dan aromanya, maka tidak boleh hukumnya dikaitkan dengan aromanya yang merupakan cabang, tanpa adanya benda yang merupakan asal.

فَعَلَى هَذَا لَوْ شَمَّ الْبَنَفْسَجَ بَعْدَ انْتِقَالِ رَائِحَتِهِ إِلَى الدُّهْنِ حَنِثَ بِهِ عِنْدَنَا وَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَا قُلْنَاهُ أَوْلَى لِأَنَّهُ لَا يَعْدَمُ بَقَايَا رَائِحَتِهِ مِنْ بَقَايَا شَمِّهِ

Maka berdasarkan hal ini, jika seseorang mencium bunga violet setelah aromanya berpindah ke minyak, menurut kami ia dianggap melanggar sumpahnya, sedangkan menurut Abu Hanifah ia tidak dianggap melanggar. Pendapat yang kami kemukakan lebih utama, karena aroma bunga violet itu masih tersisa dari sisa-sisa yang tercium.

وَلَوْ شَمَّ عُصَارَةَ الْوَرْدِ بَعْدَ اسْتِخْرَاجِ مَائِهِ لَمْ يَحْنَثْ بِهِ لِأَنَّ اسْمَ الْوَرْدِ قَدْ زَالَ عَنْهُ وَمَاؤُهُ قَدْ خَرَجَ مِنْهُ فَخَالَفَ بِهَذَيْنِ حَالَ الْبَنَفْسَجِ بَعْدَ التَّرْبِيَةِ وَكَانَ وَرَقُ الْوَرْدِ بَعْدَ التَّرْبِيَةِ كَالْبَنَفْسَجِ بَعْدَ التَّرْبِيَةِ فِي وُقُوعِ الْحِنْثِ بِهِمَا مَا كَانَتْ رُطُوبَتُهُمَا بَاقِيَةً فَإِنْ يَبِسَا كَانَ فِي الْحِنْثِ بِهِمَا بَعْدِ يُبْسِهِمَا وَجْهَانِ

Dan jika seseorang mencium sari mawar setelah airnya diekstrak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena nama “mawar” sudah hilang darinya dan airnya telah keluar darinya. Dengan dua hal ini, ia berbeda dengan bunga violet setelah proses pengolahan. Daun mawar setelah pengolahan sama seperti bunga violet setelah pengolahan dalam hal terjadinya pelanggaran sumpah dengan keduanya selama kelembapannya masih ada. Namun jika keduanya telah kering, maka dalam hal pelanggaran sumpah dengan keduanya setelah kering terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَحْنَثُ كَمَنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ رُطَبًا فَأَكَلَ تَمْرًا

Salah satunya adalah tidak dianggap melanggar sumpah, seperti seseorang yang bersumpah tidak akan makan ruthab (kurma basah), lalu ia memakan tamr (kurma kering).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ لِبَقَاءِ اسْمِهِ وَجِسْمِهِ وَخَالَفَ أَكْلُ التَّمْرِ عَنِ الرُّطَبِ لِزَوَالِ اسْمِ الرُّطَبِ عَنْهُ وَبَقَاءِ اسْمِ الْوَرْدِ وَالْبَنَفْسَجِ عَلَى مَا يَبِسَ مِنْهُ وَلِتَعْلِيلِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tetap dianggap melanggar sumpah karena nama dan zatnya masih ada. Hal ini berbeda dengan memakan kurma setelah menjadi ruthab, karena nama ruthab telah hilang darinya. Adapun nama mawar dan bunga violet tetap ada pada bagian yang telah mengering darinya. Inilah alasan dari kedua pendapat tersebut.

كَانَ مَنْ حَنِثَ مَنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ هَذَا الرُّطَبَ فَأَكَلَهُ تَمْرًا عَلَى وَجْهَيْنِ

Orang yang melanggar sumpah adalah orang yang bersumpah tidak akan memakan ruthab ini, lalu ia memakannya dalam bentuk tamr, terdapat dua pendapat mengenai hal ini.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا حَلَفَ لَا يَشَمُّ الْوَرْدَ وَالْبَنَفْسَجَ فَمَرَّ بِهِمَا فِي السُّوقِ فَشَمَّ رَائِحَتَهُمَا فَإِنْ حَمَلَ النَّسِيمُ الرَّائِحَةَ حَتَّى شَمَّهَا لَمْ يَحْنَثْ

Dan jika seseorang bersumpah tidak akan mencium mawar dan bunga violet, lalu ia melewati keduanya di pasar dan mencium aromanya, maka jika angin membawa aroma tersebut hingga ia menciumnya, ia tidak dianggap melanggar sumpah.

وَإِنِ اجْتَذَبَ الرَّائِحَةَ بِخَيَاشِيمِهِ حَتَّى شَمَّهَا حَنِثَ لِأَنَّ شَمَّهَا بِهُبُوبِ النَّسِيمِ لَيْسَ مِنْ فِعْلِهِ وَشَمَّهَا بِاجْتِذَابِ خَيَاشِيمِهِ مِنْ فِعْلِهِ

Dan jika ia menarik aroma dengan hidungnya hingga mencium baunya, maka ia berdosa, karena mencium bau akibat tiupan angin bukanlah perbuatannya, sedangkan mencium bau dengan menariknya melalui hidung adalah perbuatannya.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ مَرَّ الْمُحْرِمُ بِسُوقِ الْعَطَّارِينَ فَشَمَّ رَائِحَةَ الطِّيبِ لَا تَلْزَمُهُ الْفِدْيَةُ فِي الْحَالَيْنِ؟ فَهَلَّا كَانَ الْحَالِفُ كَذَلِكَ

Jika dikatakan, “Bukankah jika seorang yang sedang ihram melewati pasar para penjual minyak wangi lalu mencium aroma minyak wangi, ia tidak wajib membayar fidyah dalam kedua keadaan tersebut? Maka mengapa orang yang bersumpah tidak diperlakukan seperti itu juga?”

قِيلَ لِأَنَّ الشَّرْعَ مَنَعَ الْمُحْرِمَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الطِّيبِ دُونَ الرَّائِحَةِ وَالْيَمِينُ مَنَعَتْ هَذَا مِنْ شَمِّ الرَّائِحَةِ فَافْتَرَقَا وَاللَّهُ أعلم

Dikatakan bahwa syariat melarang orang yang sedang ihram menggunakan wewangian, bukan mencium baunya, sedangkan sumpah melarang seseorang dari mencium baunya. Maka keduanya berbeda, dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا فَأَكَلَ شَحْمًا وَلَا شَحْمًا فَأَكَلَ لَحْمًا

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, lalu ia memakan lemak, atau bersumpah tidak akan memakan lemak, lalu ia memakan daging.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا اللَّحْمُ وَالشَّحْمُ فَيَجْتَمِعَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ وَيَفْتَرِقَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ فَأَمَّا وجه اجْتِمَاعِهِمَا

Al-Mawardi berkata: Adapun daging dan lemak, keduanya memiliki persamaan dari dua sisi dan perbedaan dari dua sisi. Adapun sisi persamaan keduanya adalah…

فَأَحَدُهُمَا إنَّ الْحَيَوَانَ الْوَاحِدَ يَجْمَعُهُمَا فِي التَّزْكِيَةِ وَالِاسْتِبَاحَةِ

Salah satunya adalah bahwa satu hewan yang sama mencakup keduanya dalam hal pensucian (tazkiyah) dan kebolehan (istibāhah).

وَالثَّانِي إنَّ الشَّحْمَ حَادِثٌ عَنِ اللَّحْمِ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ اللَّحْمُ حَادِثًا عَنِ الشَّحْمِ فَالشَّحْمُ مَا حَوْلَهُ اللَّحْمُ وَاللَّحْمُ مَا تركب على العظم

Kedua, sesungguhnya lemak itu terbentuk dari daging, meskipun daging tidak terbentuk dari lemak. Maka lemak adalah apa yang mengelilingi daging, dan daging adalah apa yang menempel pada tulang.

وأما وجه افْتِرَاقِهِمَا فَأَحَدُهُمَا فِي الِاسْمِ لِأَنَّهُ لَا يَنْطَلِقُ اسْمُ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ

Adapun sisi perbedaan antara keduanya adalah pada penamaan, karena nama salah satunya tidak dapat digunakan untuk menyebut yang lainnya.

وَالثَّانِي فِي صِفَتِهِ مِنْ لَوْنٍ وَطَعْمٍ حَتَّى مَاءُ اللَّحْمِ أَحْمَرُ كَثِيفُ الْجِسْمِ ذُو طَعْمِ وَالشَّحْمُ أَبْيَضُ رَخْوُ الْجِسْمِ ذُو طَعْمٍ آخَرَ فَيُحْمَلَانِ فِي الْأَيْمَانِ عَلَى حُكْمِ الِافْتِرَاقِ

Yang kedua adalah dalam sifatnya, baik dari segi warna maupun rasa, seperti air daging yang berwarna merah, bertekstur kental, dan memiliki rasa, sedangkan lemak berwarna putih, bertekstur lunak, dan memiliki rasa yang berbeda. Maka keduanya dalam sumpah dianggap mengikuti hukum perbedaan.

فَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا لَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِ الشَّحْمِ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَحْمًا لَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِ اللَّحْمِ وَقَالَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ أَحْسَبُهُ مَالِكًا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّحْمَ حَنِثَ بِأَكْلِ الشَّحْمِ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الشَّحْمَ لَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِ اللَّحْمِ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي اسْمِ اللَّحْمِ وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا فِي اسْمِ الشَّحْمِ فَافْتَرَقَا احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan lemak. Jika ia bersumpah tidak akan memakan lemak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan daging. Sebagian fuqaha, saya kira Imam Malik, berpendapat bahwa jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan lemak. Namun jika ia bersumpah tidak akan memakan lemak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan daging. Jadi, beliau menggabungkan keduanya dalam istilah “daging” dan membedakan keduanya dalam istilah “lemak”, sehingga keduanya berbeda berdasarkan dua alasan yang dijadikan hujjah.

أَحَدُهُمَا إنَّ اللَّهَ أَطْلَقَ اسْمَ الشَّحْمِ عَلَى اللَّحْمِ فِي قَوْلِهِ أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ وَلَمْ يُطْلِقِ اسْمَ الشَّحْمِ عَلَى اللَّحْمِ

Salah satunya adalah bahwa Allah telah menyebut lemak dengan nama daging dalam firman-Nya “atau daging babi”, dan tidak menyebut lemak dengan nama daging.

وَالثَّانِي إنَّ الشَّحْمَ فَرْعُ اللَّحْمِ لِحُدُوثِهِ عَنْهُ وَلَيْسَ اللَّحْمُ فَرْعًا لِلشَّحْمِ لِحُدُوثِهِ عَنْ غَيْرِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ يَبْطُلُ بِهِمَا اسْتِدْلَالُهُ

Kedua, sesungguhnya lemak merupakan cabang dari daging karena ia terbentuk darinya, sedangkan daging bukanlah cabang dari lemak karena ia terbentuk dari selainnya. Pendapat ini rusak dari dua sisi yang dengannya batal pula pendalilannya.

أَحَدُهُمَا إنَّ افْتِرَاقَهُمَا فِي الِاسْمِ لَا يُوجِبُ افْتِرَاقَهُمَا فِي الْحُكْمِ

Salah satunya adalah bahwa perbedaan nama antara keduanya tidak mengharuskan adanya perbedaan dalam hukum.

وَالثَّانِي إنَّ الِاسْمَ إِذَا كَانَ لَهُ حَقِيقَةٌ وَمَجَازٌ حُمِلَ عَلَى حَقِيقَتِهِ دُونَ مَجَازِهِ

Kedua, jika suatu nama memiliki makna hakiki dan makna majazi, maka ia dibawa kepada makna hakikinya, bukan makna majazinya.

فَأَمَّا الْآيَةُ فَلِأَنَّ أَحْكَامَ الشَّرْعِ تُحْمَلُ عَلَى الْأَسْمَاءِ وَالْمَعَانِي وَالْأَيْمَانُ تُحْمَلُ عَلَى الْأَسْمَاءِ دُونَ الْمَعَانِي

Adapun ayat tersebut, karena hukum-hukum syariat itu didasarkan pada nama-nama dan makna-makna, sedangkan sumpah hanya didasarkan pada nama-nama tanpa makna-makna.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الْحَالِفَ بِأَحَدِهِمَا لَا يَحْنَثُ بِالْآخَرِ وَجَبَ أَنْ يُمَيَّزَ اللَّحْمُ الَّذِي يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ عَلَيْهِ مِنَ الشَّحْمِ الَّذِي لَا يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ عَلَيْهِ

Maka apabila telah dipastikan bahwa orang yang bersumpah dengan salah satu dari keduanya tidak dianggap melanggar sumpah dengan yang lainnya, wajib untuk membedakan daging yang menyebabkan pelanggaran sumpah bagi orang yang bersumpah dengannya dari lemak yang tidak menyebabkan pelanggaran sumpah bagi orang yang bersumpah dengannya.

وَأَمَّا اللَّحْمُ فَهُوَ جَمِيعُ مَا اخْتَصَّ بِكَوْنِهِ فِي بَدَنِ الْحَيَوَانِ مُرَكَّبٌ عَلَى عَظْمِهِ وَتَغَطَّى بِجِلْدِهِ فَهُوَ لَحْمٌ يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا سَوَاءٌ كَانَ مِنْ مُقَدَّمِ الْبَدَنِ أَوْ مِنْ مُؤَخَّرِهِ أَوْ جَنْبِهِ أَوْ ظَهْرِهِ وَالْبَيَاضُ الَّذِي عَلَى الْجَنْبِ وَالظَّهْرِ وَالزَّوْرِ لَمْ يَحْنَثَ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا وَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَحْمًا وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

Adapun daging, maka yang dimaksud adalah seluruh bagian yang secara khusus berada di tubuh hewan, tersusun di atas tulangnya, dan tertutup oleh kulitnya; itulah yang disebut daging, sehingga orang yang bersumpah tidak akan memakan daging akan dianggap melanggar sumpah jika memakan bagian tersebut, baik berasal dari bagian depan tubuh, belakang, samping, maupun punggungnya. Sedangkan bagian putih yang terdapat di samping, punggung, dan dada, tidak dianggap melanggar sumpah jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, dan juga tidak dianggap melanggar sumpah jika bersumpah tidak akan memakan lemak. Demikian pendapat Abu Hanifah.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ هُوَ شحمٌ يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَحْمًا وَلَا يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا وَقَالَ بن شَاذٌّ مِنْ أَصْحَابِنَا اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلاَّ مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا فَدَلَّ عَلَى دُخُولِهِ فِي الِاسْمِ وَاسْتِثْنَائِهِ فِي الْحُكْمِ وَلِأَنَّهُ بِصِفَةِ الشَّحْمِ أَشْبَهُ مِنْهُ بِصِفَةِ اللَّحْمِ

Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa itu adalah lemak; seseorang yang bersumpah tidak akan memakan lemak, maka ia melanggar sumpah jika memakannya. Namun, orang yang bersumpah tidak akan memakan daging, tidak melanggar sumpah jika memakannya. Salah satu ulama kami yang syādz (pendapat minoritas) berargumen dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan dari sapi dan kambing, Kami haramkan atas mereka lemak-lemaknya, kecuali yang melekat di punggung keduanya,” sehingga menunjukkan bahwa lemak termasuk dalam nama tersebut dan dikecualikan dalam hukum. Karena sifatnya sebagai lemak, ia lebih mirip dengan lemak daripada dengan daging.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ مِنَ اللَّحْمِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى اسْتَثْنَاهُ مِنْ حُكْمِ الشَّحْمِ فَدَلَّ عَلَى دُخُولِهِ فِي حُكْمِ اللَّحْمِ وَلِأَنَّهُ لَا يُفْرَدُ عَنِ اللَّحْمِ وَإِنْ أُفْرِدَ عَنْهُ الشَّحْمُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَحْمٌ وَلَيْسَ شَحْمٌ لِأَنَّهُ فِي صَلَابَةِ اللَّحْمِ وَكَثَافَتِهِ وَمَا بَيْنَ لَحْمِهِ وَجِلْدِهِ وَإِذَا وُصِفَ قِيلَ لَحْمٌ سَمِينٌ فَكَانَ بِاللَّحْمِ أَخَصَّ بِهِ مِنَ الشَّحْمِ

Dalil bahwa ia termasuk daging adalah bahwa Allah Ta‘ala mengecualikannya dari hukum lemak, sehingga menunjukkan bahwa ia termasuk dalam hukum daging. Selain itu, ia tidak dapat dipisahkan dari daging, meskipun lemak dapat dipisahkan darinya, sehingga hal ini menunjukkan bahwa ia adalah daging dan bukan lemak, karena ia memiliki kekerasan dan kepadatan seperti daging, terletak di antara daging dan kulitnya. Jika ia dideskripsikan, maka dikatakan “daging yang berlemak”, sehingga ia lebih layak disebut daging daripada lemak.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الْأَلْيَةُ فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهَا أَصْحَابُنَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun mengenai ekor (lemak ekor), para ulama kami berbeda pendapat tentangnya menjadi tiga pendapat.

أحدهما إنَّهَا مِنَ الشَّحْمِ لِتَمَيُّزِهَا مِنَ اللَّحْمِ فَيَحْنَثُ بِهَا فِي الشَّحْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِهَا فِي اللَّحْمِ

Pertama, karena ia termasuk lemak, sebab ia berbeda dari daging, maka sumpah berlaku padanya dalam hal lemak dan tidak berlaku padanya dalam hal daging.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهَا مِنَ اللَّحْمِ لِاتِّصَالِهَا بِالْعَظْمِ فَيَحْنَثُ بِهَا فِي اللَّحْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِهَا فِي الشَّحْمِ وَهُوَ قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ

Pendapat kedua adalah bahwa bagian tersebut termasuk daging karena menempel pada tulang, sehingga seseorang dianggap melanggar sumpah jika memakannya dalam perkara daging, namun tidak dianggap melanggar jika memakannya dalam perkara lemak. Ini adalah pendapat para ulama Baghdad.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ اللَّحْمِ وَلَا مِنَ الشَّحْمِ لِلتَّعْلِيلَيْنِ فَلَا يَحْنَثُ بِهَا فِي الشَّحْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِهَا فِي اللَّحْمِ وَهُوَ قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ

Pendapat ketiga adalah bahwa ia bukan termasuk daging dan bukan pula termasuk lemak karena dua alasan, sehingga tidak dianggap melanggar sumpah jika mengenai lemak, dan tidak dianggap melanggar sumpah jika mengenai daging. Inilah pendapat para ulama Bashrah.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا لَحْمُ الْخَدَّيْنِ مِنَ الرَّأْسِ ولحم اللسان فينطلق عليه اسم اللَّحْم

Adapun daging kedua pipi dari kepala dan daging lidah, maka keduanya termasuk dalam kategori daging.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَدْخُلُ فِي حِنْثِ الْحَالِفِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat, apakah hal itu termasuk dalam pelanggaran sumpah orang yang bersumpah, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَدْخُلُ فِي حُكْمِ اللَّحْمِ وَيَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا لِانْطِلَاقِ اسْمِ اللَّحْمِ عَلَيْهِ

Salah satunya termasuk dalam hukum daging, dan ia dianggap melanggar sumpah jika bersumpah tidak akan memakan daging, karena nama daging berlaku atasnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَدْخُلُ فِي حُكْمِهِ وَإِنْ دَخَلَ فِي اسْمِهِ فَلَا يَحْنَثَ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا لِأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ فِي الِاسْمِ الْمُطْلَقِ وَإِنَّمَا يَدْخُلُ فِي الِاسْمِ الْمُضَافِ فَيُقَالُ لَحْمُ الرَّأْسِ وَلَحْمُ اللِّسَانِ وَلَا يُقَالُ لَحْمٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ

Pendapat kedua, tidak termasuk dalam hukumnya meskipun termasuk dalam namanya, sehingga seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan memakan daging, karena hal itu tidak termasuk dalam nama mutlak, melainkan hanya termasuk dalam nama yang disandarkan, seperti dikatakan “daging kepala” dan “daging lidah”, dan tidak dikatakan “daging” secara mutlak.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْكَبِدُ وَالْفُؤَادُ وَالطِّحَالُ فَلَيْسَ بِلَحْمٍ فِي الِاسْمِ وَلَا فِي الْحُكْمِ وَلَا يَحْنَثَ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا

Adapun hati, jantung, dan limpa, maka ketiganya tidak termasuk daging baik secara penamaan maupun hukum, dan seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan memakan daging lalu memakan salah satu dari ketiganya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ هُوَ فِي حُكْمِ اللَّحْمِ وَيَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لحماً استدلالاً بأمرين

Abu Hanifah berpendapat bahwa ia (yaitu sesuatu yang dimaksud) termasuk dalam hukum daging, dan seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika ia bersumpah tidak akan memakan daging lalu memakannya, dengan berdalil pada dua hal.

إنَّهُ يُبَاعُ مَعَهُ فِي الْعُرْفِ فَدَخَلَ مَعَهُ فِي الْحُكْمِ

Sesungguhnya ia dijual bersamanya menurut ‘urf, maka ia pun termasuk dalam hukum bersamanya.

وَالثَّانِي إنَّهُ يُؤْكَلُ عَلَى صِفَةِ اللَّحْمِ مَطْبُوخًا وَمَشْوِيًّا مُنْفَرِدًا عَنْهُ وَمُمْتَزِجًا بِهِ فَكَانَ عَلَى حُكْمِهِ

Kedua, daging tersebut dapat dimakan sebagaimana daging pada umumnya, baik dimasak maupun dipanggang, baik dimakan sendiri maupun dicampur dengan daging lain, sehingga hukumnya sama dengan hukum daging tersebut.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا خَالَفَ اللَّحْمَ فِي اسْمِهِ وَجَبَ أَنْ يُخَالِفَهُ فِي حُكْمِهِ كَالرِّئَةِ وَالْكَرِشِ وَبِهِ يَبْطُلُ مَا احْتَجَّ بِهِ

Salah satunya adalah bahwa ketika namanya berbeda dari daging, maka wajib hukumnya juga berbeda, seperti paru-paru dan babat, dan dengan alasan ini batal apa yang dijadikan dalil olehnya.

وَالثَّانِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَدْ أَضَافَهُ إِلَى غَيْرِ اللَّحْمِ فَخَرَجَ عَنْ حُكْمِهِ بِقَوْلِهِ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَالْمَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَالدَّمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ فَهَذَا مَا تَعَلَّقَ بِاللَّحْمِ

Kedua, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengaitkannya dengan selain daging, sehingga keluar dari ketentuan hukumnya dengan sabdanya: “Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah.” Adapun dua bangkai itu adalah ikan dan belalang, dan dua darah itu adalah hati dan limpa. Inilah yang berkaitan dengan daging.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الشَّحْمُ فَهُوَ شَحْمُ الْكَرِشِ وَالْكُلَى فَيَحْتَوِي عَلَيْهِ اللَّحْمُ وَلَا يَتَّصِلُ بِالْعَظْمِ فَيَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَحْمًا

Adapun lemak, yaitu lemak yang terdapat pada perut dan ginjal, maka daging mengandungnya dan tidak melekat pada tulang. Maka seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika ia bersumpah tidak akan memakan lemak, lalu memakannya.

فَأَمَّا الشَّحْمُ الَّذِي يَتَخَلَّلُ اللَّحْمَ فَهُوَ مُلْحَقٌ بِاللَّحْمِ دُونَ الشَّحْمِ لِأَنَّهُ مِنْ سِمَنِ اللَّحْمِ فَكَانَ فِي حُكْمِهِ فَيَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمًا وَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَحْمًا وَأَمَّا شَحْمُ الْعَيْنَيْنِ فَيَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الشَّحْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّحْمَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الشَّحْمَ عَلَى وَجْهَيْنِ كَلَحْمِ الرَّأْسِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّحْمَ

Adapun lemak yang berada di sela-sela daging, maka ia disamakan hukumnya dengan daging, bukan dengan lemak, karena ia merupakan bagian dari kegemukan daging sehingga mengikuti hukumnya. Maka, seseorang dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan makan daging lalu memakan lemak tersebut, dan tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan makan lemak lalu memakannya. Adapun lemak pada kedua mata, maka itu disebut sebagai lemak, dan tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan makan daging lalu memakannya. Para ulama kami berbeda pendapat, apakah seseorang dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan makan lemak lalu memakan lemak pada mata, ada dua pendapat sebagaimana daging kepala jika seseorang bersumpah tidak akan makan daging.

أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ يَحْنَثُ بِهِ لِانْطِلَاقِ اسْمِ الشَّحْمِ عَلَيْهِ

Salah satu dari dua pendapat menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpah dengannya, karena nama lemak berlaku atasnya.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّهُ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ إِلَّا بِقَرِينِهِ فَيُقَالُ شَحْمُ الْعَيْنِ وَلَا يُقَالُ شَحْمٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ

Dan yang kedua, tidak menyebabkan sumpahnya batal karena tidak dapat disebut demikian kecuali dengan penyertaannya, sehingga dikatakan “lemak mata” dan tidak dikatakan “lemak” secara mutlak.

وَأَمَّا الدِّمَاغُ فَلَيْسَ بِلَحْمٍ وَلَا شَحْمٍ فَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّحْمَ وَلَا يَأْكُلُ الشَّحْمَ

Adapun otak, maka ia bukanlah daging dan bukan pula lemak, sehingga seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan memakan daging atau tidak akan memakan lemak, lalu ia memakan otak.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي أَوْ رُطَبًا فَأَكَلَ تَمْرًا أَوْ تَمْرًا فَأَكَلَ رُطَبًا

Imam Syafi‘i berkata: Atau ia bernazar akan memakan kurma basah, lalu ia memakan kurma kering; atau ia bernazar akan memakan kurma kering, lalu ia memakan kurma basah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar.”

إِذَا انْتَقَلَتْ أَسْمَاءُ الْجِنْسِ بِانْتِقَالِ أَحْوَالِهِ خَرَجَتْ مِنْ أَحْكَامِ أَيْمَانِهِ فَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ رُطَبًا فَأَكَلَ تَمْرًا أَوْ بُسْرًا وَلَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ كَانَ الرُّطَبُ بُسْرًا

Apabila nama-nama jenis berubah seiring perubahan keadaannya, maka ia keluar dari hukum-hukum sumpahnya. Maka jika seseorang bersumpah tidak akan memakan ruthab (kurma basah), lalu ia memakan tamr (kurma kering) atau busr (kurma setengah matang), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, meskipun ruthab itu sebelumnya adalah busr.

وَيَصِيرُ تَمْرًا لِمَعْنَيَيْنِ

Dan ia menjadi kurma karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا مُفَارَقَتُهُ لَهُمَا فِي الِاسْمِ

Salah satunya adalah perbedaannya dengan keduanya dalam hal nama.

وَالثَّانِي مُفَارَقَتُهُ لَهُمَا فِي الصِّفَةِ

Dan yang kedua adalah perbedaannya dengan keduanya dalam hal sifat.

وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ تَمْرًا فأكل رطباً أو بسراً لم يحنث للمعينين

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan makan kurma, lalu ia memakan ruthab atau busr, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut pendapat yang mu‘tamad.

وَهَكَذَا لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ بُسْرًا فَأَكَلَ طَلَعَا أَوْ رُطَبًا أَوْ تَمْرًا لَمْ يَحْنَثْ لِلْمَعْنَيَيْنِ وَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الرُّطَبَ أَوْ لَا يَأْكُلُ الْبُسْرَ فَأَكَلَ مُنَاصَفَةً بَعْضَهَا رطباً وبعضها بسر فَإِنْ أَكَلَ الْبُسْرَ مِنْهَا حَنِثَ بِهِ فِي الْبُسْرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ فِي الرُّطَبِ وَإِنْ أَكَلَ الرُّطَبَ مِنْهَا حَنِثَ بِهِ فِي الرُّطَبِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ فِي الْبُسْرِ

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan busr (kurma setengah matang), lalu ia memakan thala‘ (mayang kurma), ruthab (kurma matang basah), atau tamr (kurma kering), maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya karena dua alasan tersebut. Adapun jika ia bersumpah tidak akan memakan ruthab atau tidak akan memakan busr, lalu ia memakan kurma yang setengahnya ruthab dan setengahnya busr, maka jika ia memakan bagian busr dari kurma tersebut, ia dianggap melanggar sumpahnya terkait busr dan tidak melanggar terkait ruthab. Sebaliknya, jika ia memakan bagian ruthab dari kurma tersebut, ia dianggap melanggar sumpahnya terkait ruthab dan tidak melanggar terkait busr.

وَإِنْ أَكَلَ جَمِيعَهَا فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Dan jika ia memakan seluruhnya, maka terdapat tiga pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ إنَّهُ يَحْنَثُ بِهَا فِي الْبُسْرِ وَالرُّطَبِ لِمَا فِيهَا مِنْ بُسْرٍ وَرُطَبٍ

Salah satunya, yaitu pendapat mayoritas ulama, bahwa ia dianggap melanggar sumpahnya dengan (menyebut) busr dan ruthab, karena di dalamnya terdapat busr dan ruthab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِهَا فِي الْبُسْرِ وَلَا فِي الرُّطَبِ لِخُرُوجِهَا فِي الْإِطْلَاقِ مِنِ اسْمِ الْبُسْرِ وَاسْمِ الرُّطَبِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri dan Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan menggunakan istilah tersebut pada buah busr maupun ruthab, karena kedua istilah itu, dalam penggunaan umum, telah keluar dari nama busr dan nama ruthab.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْفَيَّاضِ الْبَصْرِيِّ إنَّهُ إِنْ كَانَ أَكْثَرُهَا بُسْرًا حَنِثَ بِهَا فِي الْبُسْرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِهَا فِي الرُّطَبِ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرُهَا رُطَبًا حَنِثَ بِهَا فِي الرُّطَبِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِهَا فِي الْبُسْرِ اعْتِبَارًا بِالْأَغْلَبِ

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu al-Fayyadh al-Bashri, menyatakan bahwa jika sebagian besar kurma itu masih dalam keadaan busr, maka seseorang dianggap melanggar sumpahnya dengan memakannya dalam bentuk busr dan tidak dianggap melanggar jika memakannya dalam bentuk ruthab. Namun, jika sebagian besar kurma itu sudah menjadi ruthab, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakannya dalam bentuk ruthab dan tidak dianggap melanggar jika memakannya dalam bentuk busr, dengan mempertimbangkan yang paling dominan.

وَهَكَذَا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ عِنَبًا فَأَكَلَ زَبِيبًا لَمْ يَحْنَثْ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ زَبِيبًا فَأَكَلَ عِنَبًا لَمْ يَحْنَثْ لِوُجُودِ الْمَعْنَيَيْنِ مِنِ اخْتِلَافِهِمَا فِي الِاسْمِ وَالصِّفَةِ

Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan makan anggur, lalu ia memakan kismis, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Dan jika ia bersumpah tidak akan makan kismis, lalu ia memakan anggur, maka ia juga tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena terdapat dua alasan, yaitu perbedaan keduanya dalam nama dan sifat.

فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ خَوْخًا فَأَكَلَهُ يَابِسًا أَوْ لَا يَأْكُلُ مِشْمِشًا فَأَكَلَهُ يَابِسًا فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan memakan buah khauk (persik), lalu ia memakannya dalam keadaan kering, atau bersumpah tidak akan memakan buah misymisy (aprikot), lalu ia memakannya dalam keadaan kering, maka dalam hal batalnya sumpah tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَحْنَثُ لِزَوَالِ الصِّفَةِ كَالتَّمْرِ مَعَ الرُّطَبِ

Salah satunya adalah tidak terkena kafarat karena hilangnya sifat, seperti kurma kering dibandingkan dengan kurma basah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَحْنَثُ لِبَقَاءِ الِاسْمِ بِخِلَافِ الرُّطَبِ الَّذِي يَزُولُ عَنْهُ الاسم والله أعلم

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpah karena nama (benda tersebut) tetap ada, berbeda dengan ruthab (kurma basah) yang nama (ruthab) hilang darinya. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي أَوْ زُبْدًا فَأَكَلَ لَبَنًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ كُلَّ واحدٍ مِنْهَا غَيْرُ صَاحِبِهِ

Syafi‘i berkata: Atau (seseorang bersumpah tidak akan memakan) mentega, lalu ia memakan susu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena masing-masing dari keduanya berbeda dari yang lain.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَبَنًا وَلَا يَشْرَبُ اللَّبَنَ حَنِثَ بِكُلِّ لَبَنٍ مُبَاحٍ مِنْ مَعْهُودٍ وَغَيْرِ مَعْهُودٍ فَالْمَعْهُودُ أَلْبَانُ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَغَيْرُ الْمَعْهُودِ لَبَنُ الصَّيْدِ وَعِنْدَ ابْنِ سُرَيْجٍ إنَّهُ يَحْنَثُ بِالْمَعْهُودِ مِنْ أَلْبَانِ النَّعَمِ وَلَا يَحْنَثُ بِغَيْرِ الْمَعْهُودِ مِنْ أَلْبَانِ الصَّيْدِ كَمَا قَالَه فِي الْبَيْضِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan makan susu atau tidak akan minum susu, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan mengonsumsi setiap susu yang halal, baik yang sudah dikenal maupun yang tidak dikenal. Susu yang dikenal adalah susu unta, sapi, dan kambing, sedangkan yang tidak dikenal adalah susu hewan buruan. Menurut Ibnu Surayj, ia dianggap melanggar sumpah hanya dengan susu yang dikenal dari hewan ternak, dan tidak dianggap melanggar dengan susu yang tidak dikenal dari hewan buruan, sebagaimana pendapatnya dalam masalah telur.

فَأَمَّا أَلْبَانُ الْخَيْلِ فَهِيَ مَعْهُودَةٌ فِي بِلَادِ التُّرْكِ وَغَيْرُ مَعْهُودَةٍ فِي بِلَادِ الْعَرَبِ

Adapun susu kuda, itu dikenal di negeri Turk, dan tidak dikenal di negeri Arab.

وَأَمَّا أَلْبَانُ الْآدَمِيَّاتِ فَمَعْهُودَةٌ فِي الصِّغَارِ وَغَيْرُ مَعْهُودَةٍ فِي الْكِبَارِ

Adapun air susu wanita manusia, maka sudah lazim diberikan kepada anak-anak kecil dan tidak lazim diberikan kepada orang dewasa.

وَفِي حِنْثِهِ بِالْأَلْبَانِ الْمُحَرَّمَةِ كَأَلْبَانِ الْحَمِيرِ وَالْكِلَابِ وَجْهَانِ كَمَا قُلْنَا فِي حِنْثِهِ بِاللُّحُومِ الْمُحَرَّمَةِ

Dalam hal melanggar sumpah dengan (meminum) susu-susu yang diharamkan seperti susu keledai dan anjing, terdapat dua pendapat, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam hal melanggar sumpah dengan (memakan) daging-daging yang diharamkan.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِالِاسْمِ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah berdasarkan nama.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ اعْتِبَارًا بِالشَّرْعِ

Dan yang kedua, ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut pertimbangan syariat.

وَأَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ زُبْدًا فَالزُّبْدُ الْمَعْهُودُ يَكُونُ مِنْ لَبَنِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَلَيْسَ لِأَلْبَانِ الْإِبِلِ زُبْدٌ فَيَحْنَثُ بِزُبْدِ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ

Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan memakan zubd (mentega), maka zubd yang dimaksud secara umum adalah yang berasal dari susu sapi dan kambing, sedangkan susu unta tidak menghasilkan zubd. Maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan zubd dari sapi dan kambing.

وَإِنْ كَانَ لِأَلْبَانِ شَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ زُبْدٌ فَهُوَ نَادِرٌ غَيْرُ مَعْهُودٍ فَيَحْنَثُ بِهِ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ اعْتِبَارًا بِالِاسْمِ وَلَا يَحْنَثُ بِهِ عَلَى قَوْلِ ابْنِ سُرَيْجٍ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ

Jika memang ada mentega dari susu hewan buruan, maka itu sangat jarang dan tidak lazim, sehingga seseorang dianggap melanggar sumpahnya menurut mazhab Syafi‘i karena mempertimbangkan nama (mentega), namun tidak dianggap melanggar menurut pendapat Ibnu Surayj karena mempertimbangkan kebiasaan (‘urf).

وَلَوْ حَلَفَ بِأَكْلِ اللَّبَاءِ فَهُوَ أَوَّلُ لَبَنٍ يَحْدُثُ بِالْوِلَادَةِ بَعْدَ انْقِطَاعِهِ بِالْحَمْلِ إِذَا وَافَقَ وَقْتَ الْوِلَادَةِ وَحَلَبَ بَعْدَهَا وَفِي حِنْثِهِ بِمَا حَلَبَ قَبْلَهَا وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِيمَا تَقَدَّمَ عَلَى الْوِلَادَةِ مِنْ دَمِ النِّفَاسِ هَلْ يَكُونُ نِفَاسًا عَلَى وَجْهَيْنِ

Dan jika seseorang bersumpah akan meminum al-labā’, maka yang dimaksud adalah susu pertama yang keluar setelah melahirkan, setelah sebelumnya terhenti karena kehamilan, apabila keluarnya susu itu bertepatan dengan waktu kelahiran dan diperah setelahnya. Adapun mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah jika memerah susu sebelum kelahiran, terdapat dua pendapat, yang perbedaan keduanya sama seperti perbedaan pendapat mengenai darah nifas yang keluar sebelum kelahiran, apakah itu dihukumi sebagai nifas atau tidak, juga terdapat dua pendapat.

إِنْ قِيلَ يَكُونُ نِفَاسًا كَانَ هَذَا اللَّبَنُ لِبَاءً وَإِنْ قِيلَ لَا يَكُونُ نِفَاسًا لَمْ يَكُنْ هَذَا اللَّبَنُ لِبَاءً وَغَالِبُ اللِّبَاءِ بَعْدَ الْوِلَادَةِ ثَلَاثُ حَلَبَاتٍ وَرُبَّمَا زَادَ وَنَقَصَ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الْحَيَوَانِ فِي الْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ

Jika dikatakan itu adalah nifas, maka susu ini disebut libā’. Namun jika dikatakan itu bukan nifas, maka susu ini tidak disebut libā’. Umumnya libā’ setelah melahirkan adalah tiga kali perahan, dan bisa saja lebih atau kurang tergantung perbedaan kekuatan dan kelemahan hewan.

وَصِفَتُهُ مَا خَالَفَ اللَّبَنَ فِي لَوْنِهِ وَقِوَامِهِ فَإِنَّ لَوْنَ اللِّبَاءِ يَمِيلُ إِلَى الصُّفْرَةِ وَهُوَ أَثْخَنُ مِنَ اللَّبَنِ وَهُوَ عِنْدَ الرُّعَاةِ مَعْرُوفٌ

Sifatnya adalah sesuatu yang berbeda dengan susu dalam hal warna dan kekentalannya, karena warna labā’ cenderung kekuningan dan ia lebih kental daripada susu, dan di kalangan para penggembala, hal ini sudah dikenal.

وَسَوَاءٌ أَكَلَهُ نِيئًا أَوْ مَطْبُوخًا وَإِنْ كَانَ عُرْفُهُ أَنْ يُؤْكَلَ مَطْبُوخًا كَاللَّحْمِ

Sama saja apakah ia memakannya dalam keadaan mentah atau dimasak, meskipun kebiasaan umumnya adalah dimakan setelah dimasak seperti daging.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ وَحَلَفَ أَنْ لَا يَأْكُلَ زُبْدًا فَأَكَلَ لَبَنًا لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ مُفَارِقٌ لِلزُّبْدِ فِي الِاسْمِ وَالصِّفَةِ

Maka apabila ketentuan ini telah dipahami, lalu seseorang bersumpah untuk tidak memakan mentega, kemudian ia memakan susu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena susu berbeda dengan mentega baik dari segi nama maupun sifatnya.

وَلَوْ أَكَلَ سَمْنًا فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Dan jika ia memakan samin, maka dalam hal batal sumpahnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قِيَاسُ قَوْلِ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَحْنَثُ بِهِ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الصِّفَةِ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَبَنًا حَنِثَ بِجَمِيعِ مَا تَنَاوَلَهُ اسْمُ اللَّبَنِ عَلَى الْإِطْلَاقِ مِنْ حَلِيبٍ وَمَخِيضٍ وَرَائِبٍ وَذَائِبٍ وَجَامِدٍ

Salah satunya adalah qiyās menurut pendapat Ibnu Abi Hurairah, yaitu ia dianggap melanggar sumpah karena adanya kesamaan sifat di antara keduanya. Jika seseorang bersumpah tidak akan meminum “laban”, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan semua yang termasuk dalam nama “laban” secara mutlak, baik itu berupa susu segar, susu kocok, susu asam, susu cair, maupun susu padat.

فَأَمَّا الزُّبْدُ فَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَبَنًا كَمَا لَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ اللَّبَنِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ زُبْدًا وَقَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ يَحْنَثُ بِالزُّبْدِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّبَنَ لِأَنَّهُ مِنَ اللَّبَنِ وَلَا يَحْنَثُ بِاللَّبَنِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الزُّبْدَ لِأَنَّهُ لَيْسَ اللَّبَنُ مِنَ الزُّبْدِ

Adapun mentega, maka tidak dianggap melanggar sumpah jika seseorang bersumpah tidak akan memakan susu, sebagaimana juga tidak dianggap melanggar jika memakan susu ketika bersumpah tidak akan memakan mentega. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah dengan memakan mentega jika ia bersumpah tidak akan memakan susu, karena mentega berasal dari susu. Namun, tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan susu jika bersumpah tidak akan memakan mentega, karena susu bukan berasal dari mentega.

وَعَلَّلَ ذَلِكَ بِأَنَّ اسْمَ اللَّبَنِ عَامٌّ وَاسْمَ الزُّبْدِ خَاصٌّ فَدَخَلَ خُصُوصُ الزُّبْدِ فِي عُمُومِ اللَّبَنِ وَلَمْ يَدْخُلْ عُمُومُ اللَّبَنِ فِي خُصُوصِ الزُّبْدِ وَهَذَا قَوْلٌ فَاسِدٌ وَلَوْ كَانَ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَجْهٌ لَكَانَ عَكْسُ قَوْلِهِ أَوْلَى فَيَحْنَثُ بِاللَّبَنِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ زُبْدًا لِأَنَّ فِي اللَّبَنِ زُبْدًا وَلَا يَحْنَثُ بِالزُّبْدِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَبَنًا لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الزُّبْدِ لَبَنٌ فَلَمَّا كَانَ هَذَا فَاسِدًا كَانَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مِنَ الْعَكْسِ أَفْسَدَ وَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ مَا قررناه من اجتماع الأمين الِاسْمِ وَالصِّفَةِ لِأَنَّهُ مُسْتَمِرٌّ فِي الْقِيَاسِ فَلَا يَحْنَثُ بِالزُّبْدِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّبَنَ وَلَا يَحْنَثُ بِاللَّبَنِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الزُّبْدَ لِأَنَّهُمَا يَخْتَلِفَانِ فِي الِاسْمِ وَالصِّفَةِ

Ia memberikan alasan bahwa nama “laban” (susu) bersifat umum, sedangkan nama “zubd” (mentega) bersifat khusus, sehingga kekhususan zubd termasuk dalam keumuman laban, dan keumuman laban tidak termasuk dalam kekhususan zubd. Namun, pendapat ini rusak. Jika memang ada alasan untuk membedakan antara keduanya, maka kebalikan dari pendapatnya itu lebih utama: seseorang akan dianggap melanggar sumpahnya terhadap laban jika ia bersumpah tidak akan makan zubd, karena dalam laban terdapat zubd; dan ia tidak dianggap melanggar sumpahnya terhadap zubd jika ia bersumpah tidak akan makan laban, karena dalam zubd tidak terdapat laban. Karena pendapat ini rusak, maka pendapat yang berlawanan dengannya lebih rusak lagi. Maka wajib dipertimbangkan apa yang telah kami tetapkan, yaitu berkumpulnya kesamaan nama dan sifat, karena hal itu tetap berlaku dalam qiyās. Maka, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya terhadap zubd jika ia bersumpah tidak akan makan laban, dan tidak dianggap melanggar sumpahnya terhadap laban jika ia bersumpah tidak akan makan zubd, karena keduanya berbeda dalam nama dan sifat.

وَعَلَى هَذَا الْقِيَاسِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّبَنَ لَمْ يَحْنَثْ بِالْجُبْنِ وَالْمَصْلِ

Berdasarkan qiyās ini, jika seseorang bersumpah tidak akan meminum susu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan keju dan whey.

وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْجُبْنَ وَالْمَصْلَ لَا يَحْنَثُ بِاللَّبَنِ لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الِاسْمِ وَالصِّفَةِ وَعِنْدَ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّهُ يَحْنَثُ بِالْجُبْنِ وَالْمَصْلِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّبَنَ لِأَنَّهُمَا مِنَ اللَّبَنِ وَلَا يَحْنَثُ بِاللَّبَنِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْجُبْنَ وَالْمَصْلَ لِأَنَّ اللَّبَنَ لَا يَكُونُ مِنْهُمَا

Jika seseorang bersumpah tidak akan memakan keju dan māsil, maka ia tidak melanggar sumpahnya jika meminum susu, karena keduanya berbeda dalam nama dan sifat. Menurut Ibnu Abi Hurairah, ia melanggar sumpah jika memakan keju dan māsil ketika ia bersumpah tidak akan meminum susu, karena keduanya berasal dari susu. Namun, ia tidak melanggar sumpah jika meminum susu ketika ia bersumpah tidak akan memakan keju dan māsil, karena susu tidak berasal dari keduanya.

وَلَوْ كَانَ لِقَوْلِهِ هَذَا وَجْهٌ لَوَجَبَ أَنْ يَحْنَثَ بِالتَّمْرِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ رُطَبًا لِأَنَّهُ مِنْ رُطَبٍ وَلَا يَحْنَثُ بِالرُّطَبِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ التَّمْرَ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ التَّمْرِ وَلَا أَحْسَبُ ابْنَ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ هَذَا وَإِنْ كَانَ تَعْلِيلُهُ يَقْتَضِيهِ لِأَنَّ الْإِجْمَاعَ مُنْعَقِدٌ عَلَى خلاقه

Seandainya pendapatnya itu memiliki dasar, niscaya seseorang harus dianggap melanggar sumpah dengan memakan kurma kering jika ia bersumpah tidak akan memakan kurma basah, karena kurma kering berasal dari kurma basah. Dan ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan kurma basah jika ia bersumpah tidak akan memakan kurma kering, karena kurma basah bukan berasal dari kurma kering. Aku tidak mengira Ibnu Abi Hurairah mengatakan hal ini, meskipun alasannya mengharuskannya demikian, karena ijmā‘ telah bulat atas kebalikannya.

فَصْلٌ

Fasal

وَسَأُوَضِّحُ فِي الْأَيْمَانِ أَصْلًا يُحْمَلُ عَلَيْهِ أحكامها لِيَسْلَمَ مِنْ هَذَا الِاخْتِلَافِ فَأَقُولُ إِنَّ كُلَّ يَمِينٍ انْعَقَدَتْ عَلَى اسْمٍ يُعْتَبَرُ بِهِ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ لَمْ يَخْلُ ذَلِكَ الِاسْمُ مِنْ أَمْرَيْنِ مُجْمَلٍ وَمُفَسَّرٍ

Dan aku akan menjelaskan dalam bab sumpah suatu prinsip yang dijadikan dasar bagi hukum-hukumnya agar terhindar dari perbedaan pendapat ini. Maka aku katakan: Sesungguhnya setiap sumpah yang diikrarkan atas suatu nama yang dengannya dipertimbangkan pelaksanaan dan pelanggaran sumpah, maka nama tersebut tidak lepas dari dua keadaan: makna global dan makna terperinci.

فَإِنْ كَانَ الِاسْمُ مُجْمَلًا كَقَوْلِهِ فِي الْإِثْبَاتِ وَاللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ شَيْئًا وَفِي النَّفْيِ وَاللَّهِ لَا فَعَلْتُ شَيْئًا فَاسْمُ الشَّيْءِ يَعُمُّ كُلَّ مُسَمًّى فَلَا يُحْمَلُ عَلَى جَمِيعِ الْأَسْمَاءِ لِخُرُوجِهَا مِنَ الْقُدْرَةِ وَالْعُرْفِ وَوَجَبَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى بَعْضِهَا وَلَا يَتَعَيَّنُ بَعْضُهَا إِلَّا بِالْبَيَانِ فوجب أَنْ يَرْجِعَ فِيهَا إِلَى بَيَانِهِ وَلَهُ حَالَتَانِ

Jika suatu nama bersifat mujmal, seperti ucapannya dalam bentuk penetapan, “Demi Allah, aku pasti akan melakukan sesuatu,” dan dalam bentuk penafian, “Demi Allah, aku tidak melakukan sesuatu,” maka kata “sesuatu” mencakup semua yang dinamai sesuatu. Namun, tidak dapat dimaknai mencakup seluruh nama karena keluar dari batas kemampuan dan kebiasaan, sehingga wajib dimaknai hanya pada sebagian darinya. Dan tidak dapat ditentukan sebagian itu kecuali dengan penjelasan, maka wajib merujuk kepada penjelasannya. Dalam hal ini, terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ لَهُ نِيَّةٌ وَقْتَ يَمِينِهِ فَيُحْمَلُ إِجْمَالُ يَمِينِهِ عَلَى نِيَّتِهِ فَيَصِيرُ بِالنِّيَّةِ مُفَسَّرًا وَبِالْقَوْلِ مُخْبَرًا كَأَنَّهُ أَرَادَ بِقَوْلِهِ لَا فَعَلْتُ شَيْئًا أَيْ لَا دَخَلْتُ هَذِهِ الدَّارَ وَبِقَوْلِهِ لَأَفْعَلَنَّ شَيْئًا أَيْ لَأَدْخُلَنَّ هَذِهِ الدَّارَ فَتَعَلَّقَ بِرُّهُ وَحِنْثُهُ بِدُخُولِ الدَّارِ سَوَاءٌ تَقَدَّمَ عَلَى بَيَانِهِ أَوْ تَأَخَّرَ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِغَيْرِهِ مِنَ الْأَشْيَاءِ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ

Salah satunya adalah seseorang memiliki niat pada saat ia bersumpah, maka makna global sumpahnya disesuaikan dengan niatnya, sehingga dengan niat sumpah itu menjadi terperinci dan dengan ucapannya menjadi sebuah pernyataan. Seakan-akan ia bermaksud dengan ucapannya “tidak, saya melakukan sesuatu” yaitu “tidak, saya masuk ke rumah ini”, dan dengan ucapannya “sungguh saya akan melakukan sesuatu” yaitu “sungguh saya akan masuk ke rumah ini”. Maka, keterikatan pada kebaikan (birr) dan pelanggaran sumpah (hinth) bergantung pada masuknya ke rumah, baik penjelasan itu didahulukan maupun diakhirkan, dan tidak ada keterikatan birr maupun hinth pada selain hal tersebut dari perkara-perkara lain.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا تَكُونَ لَهُ نِيَّةٌ وَقْتَ يَمِينِهِ فَلَهُ أَنْ يُعَيِّنَهَا بَعْدَ الْيَمِينِ فِيمَنْ شَاءَ وَيَعْمَلُ فِيهَا عَلَى خِيَارِهِ كَمَنْ قَالَ لِنِسَائِهِ إِحْدَاكُنَّ طَالِقٌ وَلَمْ يُعَيِّنْ وَاحِدَةً كَانَ لَهُ تَعْيِينُ الطَّلَاقِ فِيمَنْ شَاءَ مِنْهُنَّ وَإِنْ كَانَ التَّعْيِينُ عَلَى خِيَارِهِ فَالْيَمِينُ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang tidak memiliki niat tertentu saat bersumpah, maka ia boleh menentukan maksud sumpahnya setelah bersumpah kepada siapa pun yang ia kehendaki, dan ia bebas memilih dalam hal ini. Seperti seseorang yang berkata kepada istri-istrinya, “Salah satu dari kalian tertalak,” namun ia tidak menentukan siapa, maka ia boleh menentukan talak itu kepada siapa saja dari mereka yang ia kehendaki. Jika penentuan itu menjadi pilihannya, maka sumpah tersebut terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ قَدْ حَلَفَ بِطَلَاقٍ أَوْ عِتَاقٍ فَيُؤْخَذُ حَتْمًا بِتَعْيِينِ يَمِينِهِ فِيمَا يَخْتَارُهُ مِنَ الْأَشْيَاءِ لِتَعَلُّقِ حَقِّ الْآدَمِيِّ بِهَا

Salah satunya adalah apabila seseorang bersumpah dengan talak atau pembebasan budak, maka ia wajib terikat pada penentuan sumpahnya terhadap apa yang ia pilih dari perkara-perkara tersebut, karena hak manusia terkait dengannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ قَدْ حَلَفَ بِاللَّهِ فَلَا يُجْبَرُ عَلَى تَعْيِينِ مَا يَخْتَارُهُ وَتَكُونُ مَوْقُوفَةً عَلَى إِرَادَتِهِ فِي التَّعْيِينِ مَتَى شَاءَ وَلَا حِنْثَ فيها قبل التعينين

Jenis kedua adalah apabila ia telah bersumpah dengan nama Allah, maka ia tidak dipaksa untuk menentukan pilihan yang diinginkannya, dan perkara tersebut bergantung pada kehendaknya dalam menentukan pilihan kapan saja ia mau, serta tidak ada pelanggaran sumpah sebelum ia menentukan pilihannya.

فَإِذَا عَيَّنَهَا بِاخْتِيَارِهِ فَجَعَلَ قَوْلَهُ لَأَفْعَلَنَّ شَيْئًا مُعَيَّنًا فِي أَنْ يَرْكَبَ هَذِهِ الدَّابَّةَ وَقَوْلُهُ لَا فَعَلْتُ شَيْئًا مُعَيَّنًا فِي أَنْ يَرْكَبَ هَذِهِ الدَّابَّةَ صَارَ هَذَا التَّعْيِينُ هُوَ الْمُرَادُ بِالْيَمِينِ فَتَعَلَّقَ بِهِ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ دُونَ غَيْرِهِ

Maka apabila ia telah menentukan sesuatu dengan pilihannya, lalu ucapannya “Sungguh aku akan melakukan sesuatu yang tertentu” diarahkan pada menaiki hewan tunggangan ini, dan ucapannya “Aku tidak melakukan sesuatu yang tertentu” juga diarahkan pada menaiki hewan tunggangan ini, maka penentuan tersebut menjadi maksud dari sumpah, sehingga ketaatan (al-birr) dan pelanggaran (al-hinth) terkait dengannya dan bukan pada selainnya.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ قَدْ وُجِدَ مِنْهُ رُكُوبُ الدَّابَّةِ قَبْلَ التَّعْيِينِ أَوْ لَمْ يُوجَدْ فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ رُكُوبُهَا قَبْلَ التَّعْيِينِ تَعَلَّقَ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ بِمَا يَسْتَأْنِفُهُ مِنْ رُكُوبِهَا بَعْدَ التَّعْيِينِ

Jika demikian halnya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia telah menunggangi hewan tersebut sebelum penetapan (ta‘yīn) atau belum. Jika ia belum menungganginya sebelum penetapan, maka kebaikan (al-birr) dan pelanggaran sumpah (al-hinth) bergantung pada apa yang akan ia lakukan selanjutnya, yaitu menunggangi hewan itu setelah penetapan.

وَإِنْ كَانَ قَدْ رَكِبَهَا قَبْلَ التَّعْيِينِ فَفِي وُقُوعِ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ بِهِ وَجْهَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى تَعْيِينِ الطَّلَاقِ الْمُبْهَمِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْ نِسَائِهِ هَلْ يُوجِبُ وُقُوعُهُ وَقْتَ اللَّفْظِ أَوْ وَقْتَ التَّعْيِينِ

Dan jika ia telah menungganginya sebelum penentuan, maka dalam hal terjadinya pemenuhan nazar atau pelanggaran nazar dengannya terdapat dua pendapat, yang dibangun di atas permasalahan penentuan talak yang masih samar pada salah satu istrinya: apakah kejadiannya terjadi pada saat pengucapan atau pada saat penentuan.

أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ يَقَعُ الطَّلَاقُ بِاللَّفْظِ الْمُتَقَدِّمِ فَعَلَى هَذَا يَتَعَلَّقُ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ بِمَا تَقَدَّمَ مِنَ الرُّكُوبِ قَبْلَ التَّعْيِينِ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِمَا تَأَخَّرَ عَنْهُ بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa talak terjadi dengan lafaz yang telah disebutkan sebelumnya. Berdasarkan pendapat ini, maka sumpah dan pelanggaran sumpah terkait dengan perbuatan naik (kendaraan) yang telah terjadi sebelum penentuan (objek), dan tidak terkait dengan perbuatan yang terjadi setelahnya, baik sumpah maupun pelanggaran sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَقَعُ الطَّلَاقُ وَقْتَ التَّعْيِينِ فَعَلَى هَذَا يَتَعَلَّقُ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ بِالرُّكُوبِ بَعْدَ التَّعْيِينِ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِمَا تَقَدَّمَهُ بَرٌّ وَلَا حِنْثٌ

Pendapat kedua menyatakan bahwa talak terjadi pada saat penetapan. Dengan demikian, ketaatan (birr) dan pelanggaran sumpah (hinṡ) terkait dengan tindakan menaiki (kendaraan) setelah penetapan tersebut, dan tidak ada ketaatan maupun pelanggaran sumpah yang terkait dengan apa yang terjadi sebelumnya.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الِاسْمُ الْمُفَسَّرُ فَضَرْبَانِ خَاصٌّ وَعَامٌّ

Adapun isim mufassar (nama yang dijelaskan) terbagi menjadi dua, yaitu khusus dan umum.

فَأَمَّا الْخَاصُّ فَضَرْبَانِ

Adapun yang khusus itu terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا مَا كَانَ لَهُ حَقِيقَةٌ وَمَجَازٌ كَالسِّرَاجِ حَقِيقَةً مَا اسْتَصْبَحَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَمَجَازُهُ الشَّمْسُ وَالْبِسَاطُ حَقِيقَةً الْفَرْشُ الْمَبْسُوطُ وَمَجَازُهُ الْأَرْضُ فَيَنْقَسِمُ فِي الْأَيْمَانِ خَمْسَةَ أَقْسَامٍ

Salah satunya adalah sesuatu yang memiliki makna hakiki dan makna majazi, seperti kata “sirāj” (pelita), secara hakiki adalah sesuatu yang digunakan untuk penerangan dengan api, sedangkan makna majazinya adalah matahari; dan “bisāt” (hamparan), secara hakiki adalah alas yang dibentangkan, sedangkan makna majazinya adalah bumi. Dalam sumpah (aymān), hal ini terbagi menjadi lima bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْحَقِيقَةَ دُونَ الْمَجَازِ فَيُحْمَلُ عَلَى حَقِيقَةِ ظَاهِرِهِ لَفْظًا وَمُعْتَقَدًا سَوَاءٌ كَانَ مَا أَرَادَهُ مِنَ الْحَقِيقَةِ شَرْعِيًّا أَوْ لُغَوِيًّا فَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الزُّبْدَ لَمْ يَحْنَثْ بِاللَّبَنِ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ التَّمْرَ لَمْ يَحْنَثْ بِالرُّطَبِ وَعَلَى هَذَا الْقِيَاسِ

Salah satunya adalah jika seseorang menginginkan makna hakiki tanpa makna majazi, maka sumpahnya dibawa kepada makna hakiki yang tampak, baik secara lafaz maupun keyakinan, baik makna hakiki yang dimaksud itu adalah makna syar‘i maupun makna lugawi. Maka jika ia bersumpah tidak akan memakan mentega, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika meminum susu; dan jika ia bersumpah tidak akan memakan kurma, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan ruthab (kurma basah); dan demikianlah seterusnya menurut qiyās.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْمَجَازَ دُونَ الْحَقِيقَةِ فَيُرِيدُ بِالسِّرَاجِ الشَّمْسَ دُونَ الْمِصْبَاحِ وَبِالْبِسَاطِ الْأَرْضَ دُونَ الْفَرْشِ وَبِاللَّحْمِ السَّمَكَ دُونَ اللَّحْمِ وَبِلَمْسِ الزَّوْجَةِ وَطْئَهَا دُونَ مُلَامَسَتِهَا فَإِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ بِاللَّهِ تَعَالَى حُمِلَتْ عَلَى الْمَجَازِ دُونَ الْحَقِيقَةِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ لِاسْتِثْنَاءِ الحقيقة بينته وَإِنْ كَانَتْ بِطَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ حُمِلَتْ عَلَى المجاز في الْبَاطِنِ وَحُمِلَتْ عَلَى أَغْلَظِ الْأَمْرَيْنِ فِي الظَّاهِرِ وَسَوَاءٌ مَا كَانَ مَا أَرَادَهُ مِنَ الْمَجَازِ شَرْعِيًّا أَوْ لُغَوِيًّا

Bagian kedua adalah ketika seseorang menginginkan makna majaz (kiasan) dan bukan makna hakiki; misalnya ia menginginkan dengan kata “sirāj” (pelita) adalah matahari, bukan lampu; dengan “bisāt” (hamparan) adalah bumi, bukan permadani; dengan “lahm” (daging) adalah ikan, bukan daging pada umumnya; dan dengan “lams” (menyentuh) istri adalah berhubungan badan, bukan sekadar menyentuh. Jika sumpahnya dengan nama Allah Ta‘ala, maka sumpah itu dibawa pada makna majaz, bukan makna hakiki, baik secara lahir maupun batin, kecuali jika makna hakiki telah dijelaskan. Namun jika sumpahnya berupa talak atau pembebasan budak (‘itāq), maka dibawa pada makna majaz secara batin, dan pada makna yang paling berat di antara keduanya secara lahir. Sama saja, apakah makna majaz yang dimaksud itu secara syar‘i atau secara bahasa.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ الْجَمْعَ بَيْنَ حَقِيقَتِهِ وَمَجَازِهِ فَيُحْمَلُ عَلَيْهَا مِنْ بِرِّهِ وَحِنْثِهِ لِأَنَّهُ أَغْلَظُ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى أَحَدِهِمَا فَحُمِلَ السِّرَاجُ عَلَى الْمِصْبَاحِ وَالشَّمْسِ وَيُحْمَلُ الْبِسَاطُ عَلَى الْفَرْشِ وَالْأَرْضِ وَيُحْمَلُ اللَّحْمُ عَلَى السَّمَكِ وَاللَّحْمِ وَيُحْمَلُ مَسُّ الزَّوْجَةِ عَلَى وَطْئِهَا وَمُلَامَسَتِهَا وَسَوَاءٌ كَانَتْ يَمِينُهُ بِاللَّهِ أَوْ بِطَلَاقٍ وَعَتَاقٍ

Bagian ketiga adalah ketika seseorang bermaksud menggabungkan antara makna hakiki dan makna majazi, maka sumpahnya berlaku pada keduanya, baik dalam hal menepati maupun melanggarnya, karena hal itu lebih berat daripada hanya membawanya pada salah satu dari keduanya. Maka, kata “sirāj” (pelita) dibawa pada makna lampu dan matahari, “bisāth” (alas) dibawa pada makna permadani dan tanah, “lahm” (daging) dibawa pada makna ikan dan daging, dan “mas” (menyentuh) istri dibawa pada makna menyetubuhinya dan menyentuhnya. Hal ini sama saja, baik sumpahnya dengan nama Allah, talak, maupun pembebasan budak.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ غَيْرَ حَقِيقَتِهِ وَمَجَازِهِ كَمَنْ أَرَادَ بِالسِّرَاجِ غَيْرَ الْمِصْبَاحِ وَالشَّمْسِ وَأَرَادَ بِالْبِسَاطِ غَيْرَ الْفَرْشِ وَالْأَرْضِ فَلَا يُحْمَلُ عَلَى مَا أَرَادَ غَيْرَ الْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ لِخُرُوجِهِ عَنْ مُقْتَضَى لَفْظِهِ مِنْ صَرِيحٍ وَكِنَايَةٍ كَمَنْ أَرَادَ الطَّلَاقَ بِمَا لَيْسَ بِصَرِيحٍ وَلَا كِنَايَةٍ وَلَا يُحْمَلُ عَلَى الْمَجَازِ لِتَجَرُّدِهِ عَنْ نِيَّةٍ كَالطَّلَاقِ بِالْكِنَايَةِ إِذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِنِيَّةٍ

Bagian keempat adalah ketika seseorang menghendaki makna selain makna hakiki dan majazi, seperti seseorang yang menginginkan dengan kata “sirāj” (pelita) bukan lampu atau matahari, dan menginginkan dengan kata “bisāt” (hamparan) bukan alas atau tanah. Maka, tidak dapat dimaknai sesuai dengan apa yang ia maksudkan selain makna hakiki dan majazi, karena hal itu keluar dari konsekuensi lafaznya, baik secara eksplisit maupun kinayah, seperti seseorang yang menghendaki talak dengan lafaz yang bukan sharih (eksplisit) maupun kinayah. Dan tidak dapat pula dimaknai sebagai majaz karena tidak disertai niat, seperti talak dengan lafaz kinayah apabila tidak disertai niat.

فَأَمَّا حَمْلُهُ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَإِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ بِطَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ حُمِلَتْ عَلَى الْحَقِيقَةِ فِي الظَّاهِرِ لَا مِنَ الْبَاطِنِ وَكَانَتْ لَغْوًا لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ

Adapun memaknainya secara hakiki, jika sumpahnya berupa talak atau pembebasan budak, maka dipahami secara hakiki secara lahiriah, bukan secara batiniah, dan dianggap sebagai sumpah yang sia-sia yang tidak mengandung kebaikan maupun pelanggaran.

وَقَالَ مَالِكٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ أَحْمِلُ يَمِينَهُ عَلَى إِرَادَتِهِ وَإِنْ خَرَجَ عَنِ الْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ إِذَا اقْتَرَنَ لَهَا ضَرْبٌ مِنَ الِاحْتِمَالِ

Malik dan Muhammad bin al-Hasan berkata, “Aku menafsirkan sumpahnya sesuai dengan maksud yang ia kehendaki, meskipun keluar dari makna hakiki dan majazi, jika terdapat kemungkinan tertentu yang menyertainya.”

وَقَالَ مَالِكٌ فِيمَنْ قَالَ لِغَيْرِهِ وَاللَّهِ لَا شَرِبْتُ لَكَ مَاءً مِنْ عَطَشٍ حَنِثَ بِأَكْلِ طَعَامِهِ وَلُبْسِ ثَوْبِهِ وَرُكُوبِ دَابَّتِهِ وَدُخُولِ دَارِهِ

Malik berkata tentang seseorang yang berkata kepada orang lain, “Demi Allah, aku tidak akan meminum airmu karena kehausan,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika ia memakan makanan orang itu, memakai pakaiannya, menunggangi hewannya, atau memasuki rumahnya.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ فِيمَنْ قَالَ لِغَرِيمِهِ وَاللَّهِ لَأَجُرَّنَّكَ عَلَى الشَّوْكِ حَنِثَ بِمَطْلِهِ وَتَأْخِيرِ دَيْنِهِ اعْتِبَارًا بِمَخْرَجِ الْكَلَامِ وَمَقْصُودِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ مَا خَرَجَ عَنِ الْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ صَارَ مُخْتَصًّا بِمُجَرَّدِ النِّيَّةِ وَالنِّيَّةُ لَا تَتَعَلَّقُ بِهَا يَمِينٌ كَمَا لَوْ نَوَى يَمِينًا فَلَيْسَتْ بِيَمِينٍ

Muhammad bin al-Hasan berkata tentang seseorang yang berkata kepada orang yang berutang kepadanya, “Demi Allah, aku benar-benar akan menyeretmu di atas duri,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika ia menunda pembayaran utangnya, dengan mempertimbangkan maksud dan tujuan ucapannya. Namun, pendapat ini tidak benar, karena sesuatu yang keluar dari makna hakiki dan majazi menjadi khusus hanya berdasarkan niat semata, sedangkan niat tidak terkait dengan sumpah. Sebagaimana jika seseorang hanya berniat bersumpah, maka itu tidak dianggap sebagai sumpah.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ تَتَجَرَّدَ يَمِينُهُ عَنْ نِيَّةٍ وَإِرَادَةٍ فَيُحْمَلُ فِي الْبِرِّ وَالْحِنْثِ عَلَى الْحَقِيقَةِ دُونَ الْمَجَازِ لِأَنَّ افْتِقَارَ الْمَجَازِ إِلَى النِّيَّةِ يُسْقِطُ حُكْمَهُ إِذَا تَجَرَّدَ عَنْ نِيَّةٍ مِثْلَ كِنَايَاتِ الطَّلَاقِ إِذَا لَمْ تَقْتَرِنْ بِهَا نِيَّةٌ

Bagian kelima adalah ketika sumpah diucapkan tanpa disertai niat dan kehendak tertentu, maka sumpah tersebut berlaku secara hakiki, baik dalam kebaikan maupun pelanggaran, dan tidak berlaku secara majazi. Sebab, majaz membutuhkan niat, sehingga jika tidak disertai niat, hukumnya gugur, seperti kinayah talak yang tidak disertai niat.

فَإِنِ اخْتَلَفَ الشَّرْعُ وَاللُّغَةُ فِي حَقِيقَتِهِ وَمَجَازِهِ كَالنِّكَاحِ هُوَ فِي الشَّرْعِ حَقِيقَةٌ فِي العقد ومجاز في الوطئ وهو في اللغة حقيقة في الواطئ ومجازاً فِي الْعَقْدِ كَالصَّلَاةِ هِيَ الشَّرْعُ حَقِيقَةً فِي الدُّعَاءِ فِي ذَاتِهِ الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ وَمَجَازا فِي الدُّعَاءِ وَهِيَ فِي اللُّغَةِ حَقِيقَةٌ فِي الدُّعَاءِ مَجَازٌ فِي غَيْرِهِ وَكَذَلِكَ الزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْحَجُّ فَيُحْمَلُ عَلَى حَقِيقَتِهِ فِي الشَّرْعِ دُونَ اللُّغَةِ لِأَنَّ الشَّرْعَ نَاقِلٌ فَيُحْمَلُ النِّكَاحُ عَلَى الْعَقْدِ دون الواطئ وَتُحْمَلُ الصَّلَاةُ عَلَى ذَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ دُونَ الدُّعَاءِ

Jika terjadi perbedaan antara syariat dan bahasa dalam hal makna hakiki dan majazi suatu istilah, seperti kata “nikah” yang dalam syariat bermakna hakiki pada akad dan majazi pada hubungan badan, sedangkan dalam bahasa Arab bermakna hakiki pada hubungan badan dan majazi pada akad; demikian pula kata “shalat” dalam syariat bermakna hakiki pada ibadah yang di dalamnya terdapat ruku‘ dan sujud, serta majazi pada doa, sedangkan dalam bahasa bermakna hakiki pada doa dan majazi pada selainnya; begitu juga dengan zakat, puasa, dan haji. Maka, istilah-istilah tersebut diambil makna hakikinya menurut syariat, bukan menurut bahasa, karena syariat telah memindahkan maknanya. Maka, “nikah” dipahami sebagai akad, bukan hubungan badan, dan “shalat” dipahami sebagai ibadah yang mengandung ruku‘ dan sujud, bukan sekadar doa.

فَقَدْ تَرَتَّبَ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ مَا قَدَّمْنَاهُ فِيمَنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الدَّقِيقَ فَأَكَلَ الْخُبْزَ لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَشَمُّ الْبَنَفْسَجَ فَشَمَّ دُهْنَ الْبَنَفْسَجِ لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ حلف لا يشرب عَبْدَهُ فَعَضَّهُ لَمْ يَحْنَثْ حَمْلًا لَهُ عَلَى الْحَقِيقَةِ دُونَ الْمَجَازِ وَحَنَّثَهُ أَبُو حَنِيفَةَ بِالْأَمْرَيْنِ اسْتِعْمَالًا لِلْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ

Maka, berdasarkan prinsip ini, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan tepung lalu ia memakan roti, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya. Jika ia bersumpah tidak akan mencium bunga violet lalu ia mencium minyak violet, ia juga tidak dianggap melanggar sumpahnya. Jika ia bersumpah tidak akan meminum budaknya lalu ia menggigitnya, ia pun tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena sumpah tersebut dipahami secara hakiki, bukan secara majazi. Namun, Abu Hanifah menganggap sumpah itu dilanggar dalam kedua kasus tersebut, karena ia menggunakan makna hakiki dan majazi sekaligus.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي فِي الِاسْمِ الْخَاصِّ أَنْ تَكُونَ لَهُ حَقِيقَةٌ وَلَيْسَ لَهُ مَجَازٌ فَهُوَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ مُبْهَمٌ وَمُعَيَّنٌ وَمُطْلَقٌ وَمُقَيَّدٌ

Jenis kedua pada isim khusus adalah bahwa ia memiliki makna hakiki dan tidak memiliki makna majazi. Jenis ini terbagi menjadi empat bagian: mubham, mu‘ayyan, muthlaq, dan muqayyad.

فَالْمُبْهَمُ أَنْ يَقُولَ لَا كَلَّمْتُ رَجُلًا فَيَحْنَثُ بِكُلِّ مَنْ كَلَّمَهُ مِنَ الرِّجَالِ وَلَا يَحْنَثُ بِكَلَامِ صَبِيٍّ وَلَا امْرَأَةٍ

Maka yang dimaksud dengan mubham adalah jika seseorang berkata, “Aku tidak akan berbicara dengan seorang laki-laki,” maka ia melanggar sumpahnya dengan berbicara kepada setiap laki-laki yang dia ajak bicara, dan ia tidak melanggar sumpahnya dengan berbicara kepada anak kecil atau perempuan.

وَالْمُعَيَّنُ أَنْ يَقُولَ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا فَيَحْنَثُ بِكَلَامِهِ صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا وَلَا يَحْنَثُ بِكَلَامِ غَيْرِهِ

Dan yang dimaksud dengan mu‘ayyan adalah ketika seseorang berkata, “Aku tidak akan berbicara dengan Zaid,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika ia berbicara dengannya, baik pembicaraan itu sedikit maupun banyak, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika berbicara dengan selain Zaid.

وَالْمُطْلَقُ أَنْ يَقُولَ لَا شَرِبْتُ مَاءً فَإِطْلَاقُهُ أَنْ لَا يَذْكُرَ لَهُ قَدْرًا وَلَا يُعَيِّنَ لَهُ زَمَانًا أَوْ مَكَانًا فَيَحْنَثُ بِشُرْبِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ إِذَا شَرِبَهُ صَرْفًا فَإِنْ مَزَجَهُ بِغَيْرِهِ حَنِثَ إِذَا غُلِبَ عَلَى غَيْرِهِ بِلَوْنِهِ وَطَعْمِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ إِذَا غَلَبَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ بِلَوْنِهِ وَطَعْمِهِ كَمَنْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ خَلًّا فَأَكَلَ سِكْبَاجًا أَوْ لَا يَأْكُلُ سَمْنًا فَأَكَلَ عَصِيدًا

Adapun lafaz mutlak adalah seseorang berkata, “Aku tidak minum air.” Maka maksud mutlak di sini adalah ia tidak menyebutkan ukuran tertentu, juga tidak menentukan waktu atau tempat tertentu. Maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika meminum air di setiap tempat dan waktu, selama ia meminumnya secara murni. Jika ia mencampurnya dengan sesuatu yang lain, maka ia dianggap melanggar sumpah jika air itu lebih dominan daripada campurannya dalam hal warna dan rasa. Namun, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika campurannya lebih dominan dalam hal warna dan rasa, seperti seseorang yang bersumpah tidak makan cuka lalu ia memakan sikbaj, atau bersumpah tidak makan samin lalu ia memakan asidah.

وَالْمُقَيَّدُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ مُقَيَّدًا بِمَكَانٍ كَقَوْلِهِ لَا شَرِبْتُ بِالْبَصْرَةِ فَلَا يَحْنَثُ بِشُرْبِهِ فِي غَيْرِهَا

Dan muqayyad (lafaz yang dibatasi) terbagi menjadi tiga jenis: dibatasi oleh tempat, seperti ucapannya, “Aku tidak minum di Basrah,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika minum di tempat selain Basrah.

وَمُقَيَّدًا بِزَمَانٍ كَقَوْلِهِ لَا شَرِبْتُهُ شَهْرًا فَلَا يَحْنَثُ بِشُرْبِهِ بَعْدَهُ

Dan dibatasi dengan waktu, seperti ucapannya, “Aku tidak akan meminumnya selama sebulan,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika meminumnya setelah waktu tersebut.

وَمُقَيَّدًا بِصِفَةٍ كَقَوْلِهِ لَا شَرِبْتُهُ صَرْفًا فَلَا يَحْنَثُ بِشُرْبِهِ مَمْزُوجًا

Dan dibatasi dengan suatu sifat, seperti ucapannya: “Aku tidak meminumnya dalam keadaan murni,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika meminumnya dalam keadaan tercampur.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ حَنِثَ بِالْمُبْهَمِ فِي الْمُعَيَّنِ وَلَمْ يَحْنَثْ فِي الْمُعَيَّنِ بِالْمُبْهَمِ وَحَنِثَ فِي الْمُطْلَقِ بِالْمُقَيَّدِ وَلَمْ يَحْنَثْ فِي الْمُقَيَّدِ بِالْمُطْلَقِ لِعُمُومِ الْمُبْهَمِ وَالْمُطْلَقِ وَخُصُوصِ الْمُعَيَّنِ وَالْمُقَيَّدِ فَإِنْ أَرَادَ بِالْمُبْهَمِ مُعَيَّنًا وَبِالْمُطْلِقِ مُقَيَّدًا حُمِلَ عَلَى إِرَادَةِ لَفْظِهِ فَجُعِلَ الْمُبْهَمُ مُعَيَّنًا وَالْمُطَلَّقُ مُقَيَّدًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ إِنْ كَانَ حَالِفًا بِاللَّهِ وَفِي الْبَاطِنِ دُونَ الظَّاهِرِ إِنْ كَانَ حَالِفًا بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ لِأَنَّهُ اسْتَثْنَى بَعْضَ مَا شَمِلَهُ عُمُومُ الْجِنْسِ فَصَارَ كَتَخْصِيصِ الْعُمُومِ فِي النُّصُوصِ الشَّرْعِيَّةِ فَلَا يَحْنَثُ فِي إِبْهَامِ قَوْلِهِ لَا كَلَّمْتُ رَجُلًا وَقَدْ أَرَادَ زَيْدًا إِلَّا بِكَلَامِهِ دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الرِّجَالِ وَلَا يَحْنَثُ فِي إِطْلَاقِ قَوْلِهِ لَا شَرِبْتُ مَاءً وَقَدْ أَرَادَ شَهْرًا أَلَّا يَشْرَبَهُ فِيهِ دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الشُّهُورِ

Jika demikian, seseorang dianggap melanggar sumpah yang bersifat mujmal (umum) dalam hal yang mu‘ayyan (spesifik), namun tidak dianggap melanggar sumpah yang mu‘ayyan dengan hal yang mujmal. Seseorang juga dianggap melanggar sumpah yang muthlaq (mutlak) dengan hal yang muqayyad (terikat), namun tidak dianggap melanggar sumpah yang muqayyad dengan hal yang muthlaq, karena sifat umum dari mujmal dan muthlaq serta sifat khusus dari mu‘ayyan dan muqayyad. Jika seseorang bermaksud dengan mujmal sesuatu yang mu‘ayyan, dan dengan muthlaq sesuatu yang muqayyad, maka hal itu dikembalikan pada maksud lafaznya; sehingga mujmal dianggap sebagai mu‘ayyan dan muthlaq dianggap sebagai muqayyad, baik secara lahir maupun batin jika ia bersumpah dengan nama Allah, dan secara batin saja tanpa lahir jika ia bersumpah dengan talak atau ‘itq (pembebasan budak), karena ia telah mengecualikan sebagian dari apa yang tercakup dalam keumuman jenis tersebut, sehingga menjadi seperti takhshish (pengkhususan) keumuman dalam nash-nash syariat. Maka, ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam keumuman ucapannya “Aku tidak berbicara dengan seorang laki-laki pun” padahal ia bermaksud Zaid, kecuali jika ia berbicara dengan Zaid saja, tidak dengan laki-laki lain. Dan ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam keumuman ucapannya “Aku tidak minum air” padahal ia bermaksud selama sebulan tidak meminumnya, kecuali dalam bulan itu saja, tidak pada bulan-bulan lainnya.

فَأَمَّا عَكْسُ هَذَا إِذَا أَرَادَ بِالْمُعَيَّنِ مُبْهَمًا وَبِالْمُقَيَّدِ مُطْلَقًا حُمِلَ عَلَى لَفْظِهِ فِي التَّعْيِينِ وَالتَّقْيِيدِ وَلَمْ يُحْمَلْ عَلَى إِرَادَتِهِ فِي الْإِبْهَامِ وَالْإِطْلَاقِ لِأَنَّ مَا يُجَاوِزُ الْمُعَيَّنَ وَالْمُقَيَّدَ خَارِجٌ مِنْ لَفْظِ الْيَمِينِ فَصَارَ مُرَادًا بِغَيْرِ يَمِينٍ فَلَا يَحْنَثُ فِي تَعْيِينِ قَوْلِهِ لَا كلمت زيداً هذا وقد أرد كُلَّ الرِّجَالِ إِلَّا بِكَلَامِ زَيْدٍ وَحْدَهُ وَلَا يَحْنَثُ فِي تَقْيِيدِ قَوْلِهِ لَا شَرِبْتُ الْمَاءَ فِي شَهْرِي هَذَا وَقَدْ أَرَادَ كُلَّ الشُّهُورِ عَلَى الْأَبَدِ أَنْ لَا يَشْرَبَهُ فِيهِ وَحْدَهُ

Adapun kebalikannya, yaitu apabila seseorang bermaksud dengan yang tertentu sesuatu yang samar, dan dengan yang terikat sesuatu yang mutlak, maka yang dijadikan pegangan adalah lafaznya dalam penentuan dan pembatasan, dan tidak dijadikan pegangan pada maksudnya dalam kesamaran dan kemutlakan. Sebab, apa yang melampaui yang tertentu dan yang terikat adalah di luar lafaz sumpah, sehingga menjadi sesuatu yang dimaksudkan bukan dengan sumpah. Maka, ia tidak dianggap melanggar sumpah dalam penentuan ucapannya “Aku tidak berbicara dengan Zaid,” padahal ia bermaksud semua laki-laki kecuali berbicara dengan Zaid saja. Dan ia juga tidak dianggap melanggar sumpah dalam pembatasan ucapannya “Aku tidak minum air pada bulan ini,” padahal ia bermaksud semua bulan selamanya untuk tidak meminumnya kecuali pada bulan itu saja.

وَتَعْلِيلُهُ بِمَا ذَكَرْنَا وَشَاهِدُهُ مِنَ الطَّلَاقِ أَنْ يَقُولَ لِامْرَأَتِهِ أَنْتِ طَالِقٌ وَاحِدَةٌ يُرِيدُ بِهَا ثَلَاثًا فَتُطَلَّقُ وَاحِدَةً وَلَا تُطَلَّقُ ثَلَاثًا لِأَنَّهُ قد صرح بنفيها في لَفْظِهِ فَلَمْ تَقُعْ بِمُجَرَّدِ إِرَادَتِهِ فَافْتَرَقَ حُكْمُ الْعَكْسَيْنِ لِافْتِرَاقِ الْعِلَّتَيْنِ فَهَذَا أَصْلٌ يُحْمَلُ عَلَيْهِ الْكَلَامُ فِي أَحْكَامِ الْأَيْمَانِ فِي الْأَسْمَاءِ وَالْخَاصَّةِ فِي الْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ

Penjelasannya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan contohnya dalam masalah talak adalah apabila seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau aku talak satu,” namun ia bermaksud tiga talak, maka yang jatuh adalah satu talak dan tidak jatuh tiga talak. Sebab, ia telah secara jelas menafikan tiga talak dalam ucapannya, sehingga tidak berlaku hanya dengan sekadar niatnya. Maka, hukum dua keadaan yang berlawanan ini berbeda karena perbedaan illat (alasan hukumnya). Inilah kaidah yang dijadikan dasar dalam pembahasan hukum-hukum sumpah, baik dalam penamaan maupun dalam hal-hal khusus terkait makna hakiki dan majazi.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الِاسْمُ الْعَامُّ فَضَرْبَانِ

Adapun isim ‘ām (kata umum) itu terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا عَامُّ اللَّفْظِ عَامُّ الْمُرَادِ

Salah satunya adalah lafaz yang umum dan maksudnya pun umum.

وَالثَّانِي عَامُّ اللَّفْظِ خَاصُّ الْمُرَادِ

Yang kedua adalah lafaz yang umum namun maksudnya khusus.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ فَهُوَ مَا كَانَ عَامَّ اللَّفْظِ عَامَّ الْمُرَادِ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Adapun jenis pertama adalah lafaz yang umum dan maksudnya pun umum, yang terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا مَا كَانَ عُمُومُهُ فِي لَفْظِهِ وَمَعْنَاهُ

Salah satunya adalah apa yang keumumannya terdapat pada lafaz dan maknanya.

وَالثَّانِي ما كان عمومه في معناه دُونَ مَعْنَاهُ

Dan yang kedua adalah sesuatu yang keumumannya terdapat pada maknanya, namun tidak pada makna aslinya.

وَالثَّالِثُ مَا كَانَ عُمُومُهُ فِي مَعْنَاهُ دُونَ لَفْظِهِ

Ketiga adalah apa yang keumumannya terdapat pada maknanya, bukan pada lafaznya.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ مَا كَانَ عُمُومُهُ فِي لَفْظِهِ وَمَعْنَاهُ فَمِثْلُ قَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُ النَّاسَ فَيُحْمَلُ عَلَى عُمُومِ لَفْظِهِ وَمَعْنَاهُ فِي حِنْثِهِ بِكَلَامِ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ ذَكَرٍ وَأُنْثَى بِكُلِّ نَوْعٍ مِنَ الْكَلَامِ مِنْ سَلِيمٍ وَسَقِيمٍ

Adapun bagian pertama, yaitu yang keumumannya terdapat pada lafaz dan maknanya, contohnya adalah ucapan seseorang: “Demi Allah, aku tidak berbicara kepada manusia.” Maka sumpah tersebut berlaku atas keumuman lafaz dan maknanya, sehingga ia dianggap melanggar sumpah jika berbicara kepada setiap manusia, baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, dengan segala jenis pembicaraan, baik yang sehat maupun yang sakit.

وَمِثْلُهُ فِي التَّنْزِيلِ قَوْله تَعَالَى إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم وَقِيَاسُهُ فِي الْأَيْمَانِ أَنْ يَقُولَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ اللَّحْمَ فَيُحْمَلُ عَلَى عُمُومِ لَفْظِهِ وَمَعْنَاهُ فَيَحْنَثُ بِكُلِّ نَوْعٍ مِنَ اللَّحْمِ عَلَى كُلِّ صِفَةٍ مِنَ الْأَكْلِ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسِ

Demikian pula dalam Al-Qur’an firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Qiyās-nya dalam masalah sumpah adalah jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak makan daging,” maka perkataan itu dibawa kepada keumuman lafaz dan maknanya, sehingga ia dianggap melanggar sumpah dengan memakan setiap jenis daging dalam segala bentuk cara makan. Kemudian, demikianlah menurut qiyās ini.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ مَا عُمُومُهُ فِي لَفْظِهِ دُونَ مَعْنَاهُ فَمِثْلُ قَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ الْحِنْطَةَ فَيَحْنَثُ لِكُلِّ نَوْعٍ مِنَ الْحِنْطَةِ وَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ مَا حَدَثَ عَنِ الْحِنْطَةِ مِنْ دَقِيقٍ وَسَوِيقٍ وَخُبْزٍ وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ لَا أَكَلْتُ الرُّطَبَ يَحْنَثُ بِكُلِّ نَوْعٍ مِنَ الرُّطَبِ وَلَا يَحْنَثُ بِمَا حَدَثَ مِنَ الرُّطَبِ عَنْ تَمْرٍ وَبُسْرٍ

Adapun bagian kedua, yaitu yang keumumannya terdapat pada lafaznya namun tidak pada maknanya, contohnya adalah ucapan seseorang, “Demi Allah, aku tidak akan makan gandum.” Maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakan setiap jenis gandum, namun tidak dianggap melanggar jika memakan sesuatu yang berasal dari gandum seperti tepung, syaweeq, atau roti. Demikian pula ucapan seseorang, “Aku tidak akan makan ruthab (kurma basah),” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakan setiap jenis ruthab, namun tidak dianggap melanggar jika memakan sesuatu yang berasal dari ruthab seperti tamr (kurma kering) atau busr (kurma setengah matang).

وَقَوْلُهُ لَا أَكَلْتُ اللَّبَنَ يَحْنَثُ بِكُلِّ نَوْعٍ مِنَ اللَّبَنِ وَلَا يَحْنَثُ بِمَا حَدَثَ عَنِ اللَّبَنِ مِنْ جنب وَمَصْلٍ وَزُبْدٍ وَسَمْنٍ فَيَصِيرُ ذَلِكَ مَحْمُولًا عَلَى عموم لفظه دون معناه وهذا مختص بِمَا إِذَا تَغَيَّرَ عَنْ حَالِهِ وَزَالَ عَنِ اسْمِهِ فَاجْعَلْ ذَلِكَ قِيَاسًا مُطَّرِدًا فِي نَظَائِرِهِ

Ucapan seseorang “Saya tidak makan susu” menyebabkan ia melanggar sumpahnya dengan setiap jenis susu, dan ia tidak melanggar sumpahnya dengan sesuatu yang berasal dari susu seperti keju, whey, mentega, dan samin, sehingga hal itu dianggap berlaku pada keumuman lafaznya, bukan maknanya. Ini khusus berlaku jika sesuatu itu telah berubah dari keadaan asalnya dan telah hilang nama aslinya. Jadikanlah hal ini sebagai qiyās yang konsisten dalam hal-hal yang serupa dengannya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَا كَانَ عُمُومُهُ فِي مَعْنَاهُ دُونَ لَفْظِهِ فَمِثْلُ قَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ عَسَلًا فَأَكَلَ خَبِيصًا فِيهِ عَسَلٌ وَلَا أَكَلْتُ دَقِيقًا فَأَكَلَ خَبِيصًا فِيهِ دَقِيقٌ

Adapun bagian ketiga, yaitu sesuatu yang keumumannya terdapat pada maknanya, bukan pada lafaznya, contohnya adalah ucapan seseorang: “Demi Allah, aku tidak akan makan madu,” lalu ia memakan khabish yang di dalamnya terdapat madu; atau ia berkata: “Aku tidak akan makan tepung,” lalu ia memakan khabish yang di dalamnya terdapat tepung.

وَلَا أَكَلْتُ سَمْنًا فَأَكَلَ خَبِيصًا فِيهِ سَمْنٌ حَنِثَ فِي هَذِهِ كُلِّهَا لِأَنَّ فِي الْخَبِيصِ عَسَلًا وَدَقِيقًا وَسَمْنًا فَيَصِيرُ ذَلِكَ مَحْمُولًا عَلَى عُمُومِ مَعْنَاهُ دُونَ لَفْظِهِ وَهَذَا مُخْتَصٌّ بِمَا إذا حدث له اسم بالمشاركة لَمْ يَزُلِ الِاسْمُ الْخَاصُّ عَنْ كُلِّ نَوْعٍ مِنْهَا لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى خَبِيصًا إِلَّا بِاجْتِمَاعِهَا وَلَا يَزُولُ اسْمُ كُلِّ نَوْعٍ عَنْهُ لِأَنَّهُ يُقَالُ هَذَا خَبِيصٌ فِيهِ عَسَلٌ وَفِيهِ دَقِيقٌ وَفِيهِ سَمْنٌ

Dan jika seseorang bersumpah, “Saya tidak akan makan samin,” lalu ia memakan khabish yang di dalamnya terdapat samin, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dalam semua kasus ini. Sebab, dalam khabish terdapat madu, tepung, dan samin, sehingga hal itu dianggap berlaku atas makna umumnya, bukan hanya pada lafaznya saja. Ini khusus berlaku jika suatu nama baru muncul karena adanya unsur-unsur yang bergabung, namun nama khusus dari setiap jenisnya tidak hilang. Sebab, sesuatu tidak disebut khabish kecuali jika unsur-unsur itu berkumpul, dan nama dari setiap jenisnya pun tidak hilang darinya, karena dikatakan, “Ini adalah khabish yang di dalamnya ada madu, tepung, dan samin.”

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ قَالَ لَا أَكَلْتُ دَقِيقًا وَأَكَلَهُ خُبْزًا لَمْ يَحْنَثْ؟ فَهَلَّا كَانَ فِي الْخَبِيصِ كَذَلِكَ قِيلَ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّهُمْ يَقُولُونَ هَذَا خَبِيصٌ فِيهِ دَقِيقٌ وَلَا يَقُولُونَ هَذَا خُبْزٌ فِيهِ دَقِيقٌ فَصَارَ اسْمُ الدَّقِيقِ فِي الْخَبِيصِ بَاقِيًا وَفِي الْخُبْزِ زَائِلًا فَلِذَلِكَ مَا افْتَرَقَا فِي حُكْمِ الْحِنْثِ فَاجْعَلْ ذَلِكَ قِيَاسًا مُطَّرِدًا فِي نَظَائِرِهِ

Jika dikatakan, “Bukankah jika seseorang berkata, ‘Aku tidak makan tepung,’ lalu ia memakannya dalam bentuk roti, ia tidak dianggap melanggar sumpah? Maka mengapa dalam hal khabīṣ tidak demikian?” Dijawab: Karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu mereka mengatakan, “Ini adalah khabīṣ yang mengandung tepung,” namun mereka tidak mengatakan, “Ini adalah roti yang mengandung tepung.” Maka nama tepung pada khabīṣ masih tetap ada, sedangkan pada roti sudah hilang. Oleh karena itu, keduanya berbeda dalam hukum pelanggaran sumpah. Jadikanlah hal ini sebagai qiyās yang konsisten pada kasus-kasus serupa.

فَهَذَا حُكْمُ الضَّرْبِ الْأَوَّلِ فِيمَا كَانَ عَامَّ اللَّفْظِ عَامَّ الْمُرَادِ

Inilah hukum dari jenis pertama, yaitu pada lafaz yang umum dan maksudnya pun umum.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي وَهُوَ مَا كَانَ عَامَّ اللَّفْظِ خَاصَّ الْمُرَادِ فَهُوَ مَا خُصَّ عُمُومُ لَفْظِهِ بِسَبَبٍ أَوْجَبَ خُرُوجَهُ عَنْ عُمُومِهِ كَمَا خُصَّ عموم الكتاب والسنة

Adapun jenis kedua, yaitu lafaz yang bersifat umum namun maksudnya khusus, adalah lafaz yang keumumannya dikhususkan oleh suatu sebab yang menyebabkan keluarnya dari keumumannya, sebagaimana keumuman al-kitab dan as-sunnah yang dikhususkan.

وَتَخْصِيصُ اللَّفْظِ الْعَامِّ فِي الْأَيْمَانِ يَكُونُ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ

Pengkhususan lafaz umum dalam sumpah dapat terjadi melalui lima cara.

أَحَدُهَا تَخْصِيصُ عُمُومِهِ بِالْمَعْقُولِ

Salah satunya adalah mengkhususkan keumumannya dengan akal.

وَالثَّانِي بِالشَّرْعِ

Dan yang kedua adalah berdasarkan syariat.

وَالثَّالِثُ بِالْعُرْفِ

Dan yang ketiga adalah berdasarkan ‘urf.

وَالرَّابِعُ بِالِاسْتِثْنَاءِ

Dan yang keempat adalah dengan pengecualian.

وَالْخَامِسُ بِالنِّيَّةِ

Kelima, dengan niat.

فَأَمَّا الْوَجْهُ الْأَوَّلُ فِي تَخْصِيصِ عُمُومِهِ بِالْمَعْقُولِ فَهُوَ مَا امْتَنَعَ اسْتِيفَاءُ عُمُومِهِ فِي الْعَقْلِ كَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَآكُلَنَّ الْخُبْزَ وَلَأَشْرَبَنَّ الْمَاءَ وَلَأُكَلِّمَنَّ الناس ولأتصدقن عَلَى الْمَسَاكِينِ لِمَا امْتَنَعَ فِي الْعَقْلِ أَنْ يَأْكُلَ كُلَّ الْخُبْزِ وَيَشْرَبَ كُلَّ الْمَاءِ وَيُكَلِّمَ جَمِيعَ النَّاسِ وَيَتَصَدَّقَ عَلَى جَمِيعِ الْمَسَاكِينِ خَصَّ الْعَقْلُ عُمُومَ الْجِنْسِ فَتَعَلَّقَ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ بِأَكْلِ بَعْضِ الْخُبْزِ وَشُرْبِ بَعْضِ الْمَاءِ وَكَلَامِ بَعْضِ النَّاسِ وَالتَّصَدُّقِ عَلَى بَعْضِ الْمَسَاكِينِ

Adapun bentuk pertama dalam mengkhususkan keumuman dengan akal adalah pada perkara yang mustahil terpenuhinya keumuman itu secara akal, seperti ucapan seseorang: “Demi Allah, aku pasti akan memakan roti, pasti akan meminum air, pasti akan berbicara dengan manusia, dan pasti akan bersedekah kepada orang-orang miskin,” karena secara akal mustahil ia memakan seluruh roti, meminum seluruh air, berbicara dengan semua manusia, dan bersedekah kepada seluruh orang miskin. Maka akal mengkhususkan keumuman jenis tersebut, sehingga pelaksanaan sumpah dan pelanggarannya terkait dengan memakan sebagian roti, meminum sebagian air, berbicara dengan sebagian manusia, dan bersedekah kepada sebagian orang miskin.

ثُمَّ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ ضَرْبَانِ مَعْدُودٌ وَغَيْرُ مَعْدُودٍ

Kemudian, jenis-jenis ini terbagi menjadi dua: yang dapat dihitung (ma‘dūd) dan yang tidak dapat dihitung (ghayr ma‘dūd).

فَأَمَّا غَيْرُ الْمَعْدُودِ فَكَالْخُبْزِ وَالْمَاءِ فَيَتَعَلَّقُ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ بِقَلِيلِ الْجِنْسِ وَكَثِيرِهِ فَأَيُّ قَدْرٍ أَكَلَهُ مِنَ الْخُبْزِ وَأَيُّ قَدْرٍ شَرِبَهُ مِنَ الْمَاءِ بَرَّ بِهِ فِي الْإِثْبَاتِ وَحَنِثَ بِهِ فِي النَّفْيِ لِأَنَّهُ لَمَّا سَقَطَ بِالْمَعْقُولِ حُكْمُ الْعُمُومِ وَلَمْ يَتَقَدَّرْ بَعْضُهُ بِعُرْفٍ وَلَا مَعْقُولٍ رُوعِيَ فِيهِ مَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الِاسْمُ

Adapun sesuatu yang tidak dapat dihitung, seperti roti dan air, maka berlaku hukum terpenuhinya sumpah (birr) dan pelanggaran sumpah (hinth) baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dari jenis tersebut. Maka, berapa pun kadar roti yang dimakannya atau berapa pun kadar air yang diminumnya, sudah dianggap memenuhi sumpah dalam konteks penetapan, dan dianggap melanggar sumpah dalam konteks penafian. Hal ini karena, ketika hukum keumuman gugur secara akal dan tidak ada batasan sebagian darinya menurut ‘urf (kebiasaan) maupun akal, maka yang dijadikan ukuran adalah apa yang sudah disebut dengan nama tersebut.

وَأَمَّا الْمَعْدُودُ فَكَالنَّاسِ وَالْمَسَاكِينِ فَإِنْ كَانَ يَمِينُهُ عَلَى إِثْبَاتٍ كَقَوْلِهِ لَأُكَلِّمَنَّ الناس ولأتصدقن عَلَى الْمَسَاكِينِ لَمْ يَبِرَّ حَتَّى يُكَلِّمَ مِنَ النَّاسِ ثَلَاثَةً وَيَتَصَدَّقَ عَلَى ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمَسَاكِينِ اعْتِبَارًا بِأَقَلِّ الْجَمْعِ وَإِنْ كَانَتْ يَمِينُهُ عَلَى نَفْيٍ كَقَوْلِهِ لَا كَلَّمْتُ النَّاسَ وَلَا تَصَدَّقْتُ عَلَى الْمَسَاكِينِ حَنِثَ بِكَلَامِ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ وَبِالصَّدَقَةِ عَلَى وَاحِدٍ مِنَ الْمَسَاكِينِ اعْتِبَارًا بِأَقَلِّ الْعَدَدِ فِي النَّفْيِ

Adapun yang terhitung seperti manusia dan orang miskin, maka jika sumpahnya dalam bentuk penetapan, seperti ucapannya, “Sungguh aku akan berbicara dengan manusia” atau “Sungguh aku akan bersedekah kepada orang miskin,” maka ia belum dianggap menepati sumpahnya sampai ia berbicara dengan tiga orang dari manusia dan bersedekah kepada tiga orang dari orang miskin, berdasarkan pertimbangan jumlah terkecil dari jama‘. Namun, jika sumpahnya dalam bentuk penafian, seperti ucapannya, “Aku tidak berbicara dengan manusia” atau “Aku tidak bersedekah kepada orang miskin,” maka ia dianggap melanggar sumpah hanya dengan berbicara kepada satu orang dari manusia atau bersedekah kepada satu orang dari orang miskin, berdasarkan pertimbangan jumlah terkecil dalam penafian.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا فِي اعْتِبَارِ أَقَلِّ الْجُمَعِ فِي الْإِثْبَاتِ وَاعْتِبَارِ أَقَلِّ الْعَدَدِ فِي النَّفْيِ أَنَّ نَفْيَ الْجَمِيعِ مُمْكِنٌ وَإِثْبَاتَ الْجَمِيعِ مُمْتَنِعٌ

Perbedaan antara keduanya dalam mempertimbangkan jumlah paling sedikit dalam penetapan dan mempertimbangkan jumlah paling sedikit dalam penafian adalah bahwa menafikan seluruhnya itu mungkin, sedangkan menetapkan seluruhnya itu mustahil.

وَأَمَّا الْوَجْهُ الثَّانِي فِي تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِالشَّرْعِ فَضَرْبَانِ

Adapun sisi kedua dalam pengecualian keumuman dengan syariat, maka terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا تَخْصِيصُ اسْمٍ

Salah satunya adalah pengkhususan suatu nama.

وَالثَّانِي تَخْصِيصُ حُكْمٍ

Dan yang kedua adalah pengkhususan suatu hukum.

فَأَمَّا تَخْصِيصُ الِاسْمِ فَكَالصِّيَامِ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الطَّعَامِ وَالْكَلَامِ وَالشَّرَابِ ثُمَّ خَصَّهُ الشَّرْعُ بِالْإِمْسَاكِ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي النَّهَارِ وَيَكُونُ عُمُومُهُ فِي اللُّغَةِ مَحْمُولًا عَلَى خُصُوصِهِ فِي الشَّرْعِ فَإِذَا عَقَدَ يَمِينَهُ عَلَى الصِّيَامِ لَمْ يَتَعَلَّقِ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ إِلَّا بِالصَّوْمِ الشَّرْعِيِّ وَصَارَ عُمُومُ اللَّفْظِ بِالشَّرْعِ مَخْصُوصًا

Adapun pengkhususan nama, seperti kata “shaum” (puasa), dalam bahasa adalah menahan diri dari makan, berbicara, dan minum. Kemudian syariat mengkhususkannya dengan menahan diri dari makan dan minum pada siang hari. Maka makna umum dalam bahasa dibawa kepada makna khusus dalam syariat. Jika seseorang bersumpah untuk berpuasa, maka kebaikan dan pelanggaran sumpah itu hanya terkait dengan puasa menurut syariat, sehingga makna umum lafaz tersebut dalam syariat menjadi khusus.

وَكَذَلِكَ الْحَجُّ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْقَصْدُ إِلَى كُلِّ جِهَةٍ وَخَصَّهُ الشَّرْعُ بِقَصْدِ الْبَيْعِ الْحَرَامِ لِأَفْعَالِ الْحَجِّ فَلَا يَتَعَلَّقُ الْبِرُّ وَالْحِنْثُ فِي انْعِقَادِ يَمِينِهِ عَلَى الْحَجِّ إِلَّا بِخُصُوصِ الشَّرْعِ دُونَ عُمُومِ اللُّغَةِ

Demikian pula, haji dalam bahasa adalah bermaksud menuju ke suatu arah mana pun, namun syariat mengkhususkannya dengan bermaksud menuju Baitul Haram untuk melaksanakan amalan-amalan haji. Maka, kebaikan dan pelanggaran sumpah dalam terjadinya sumpah atas haji tidak berkaitan kecuali dengan kekhususan syariat, bukan dengan keumuman bahasa.

وَعَلَى هَذَا قِيَاسُ نَظَائِرِهِ

Dan atas dasar inilah qiyās terhadap hal-hal yang serupa dengannya.

وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْحُكْمِ فَكَلَحْمِ الْخِنْزِيرِ خُصَّ بِالتَّحْرِيمِ مِنْ عُمُومِ اللُّحُومِ الْمُبَاحَةِ فَفِي تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِهِ فِي الْأَيْمَانِ وَجْهَانِ

Adapun pengkhususan hukum, seperti daging babi yang dikhususkan dengan keharaman dari keumuman daging-daging yang halal, maka dalam mengkhususkan keumuman dengannya dalam masalah sumpah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَخْتَصُّ عُمُومُهَا بِالْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ كَمَا خُصَّ بِالِاسْمِ الشَّرْعِيِّ فَلَا يَحْنَثُ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ اللَّحْمَ بِأَكْلِ اللُّحُومِ الْمُحَرَّمَةِ

Salah satunya adalah bahwa keumumannya khusus pada hukum syar‘i, sebagaimana ia juga dikhususkan dengan nama syar‘i, sehingga seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika ia bersumpah tidak akan memakan daging, lalu memakan daging-daging yang diharamkan.

وَلَوْ حَلَفَ لَيَأْكُلَنَّ اللَّحْمَ لَمْ يَبِرَّ بِأَكْلِ اللُّحُومِ الْمُحَرَّمَةِ

Dan jika seseorang bersumpah akan benar-benar memakan daging, maka ia tidak dianggap menepati sumpahnya dengan memakan daging-daging yang diharamkan.

ولو حلف لا وطئ لم يحنث بالوطء في البر

Jika seseorang bersumpah tidak akan melakukan hubungan seksual, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika melakukan hubungan seksual di luar nikah.

وَلَوْ حَلَفَ أَنَّهُ يَطَأُ لَمْ يَبِرَّ إِلَّا بالوطئ فِي الْقُبُلِ وَيَبِرُّ وَيَحْنَثُ بِوَطْءِ الزِّنَا لِأَنَّهُ مِنْ جِنْسِ الْمُبَاحِ

Dan jika seseorang bersumpah bahwa ia akan melakukan hubungan badan, maka sumpahnya tidak dianggap terpenuhi kecuali dengan berhubungan badan di qubul (kemaluan), dan sumpahnya dianggap terpenuhi serta ia berdosa jika melakukan hubungan badan melalui zina, karena zina termasuk dalam jenis perbuatan yang secara asal dibolehkan.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَيْهِ إِذَا حَلَفَ لَا يَتَيَمَّمُ كَانَ محمولاَ عَلَى تَيَمُّمِ أَعْضَائِهِ بِالتُّرَابِ دُونَ مَا هُوَ مَوْضُوعٌ عَلَيْهِ فِي اللُّغَةِ مِنَ الْقَصْدِ

Dan cabang dari permasalahan ini adalah, jika seseorang bersumpah tidak akan bertayammum, maka maksudnya adalah tayammum pada anggota-anggota tubuhnya dengan debu, bukan makna bahasa dari tayammum yaitu sekadar berniat atau menuju.

فَإِنْ تَيَمَّمَ لِمَرَضٍ أَوْ فِي سَفَرٍ حَنِثَ وَإِنْ تَيَمَّمَ بِالْقَصْدِ إِلَى جِهَةٍ لَمْ يَحْنَثْ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسُ

Jika ia bertayammum karena sakit atau dalam perjalanan, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun jika ia bertayammum dengan sengaja menghadap ke suatu arah, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Kemudian, hukum ini berlaku sesuai dengan qiyās.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ لَا يَتَخَصَّصُ عُمُومُ الْأَيْمَانِ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ لِاتِّفَاقِ أَحْكَامِ الْأَيْمَانِ فِي الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ اعْتِبَارًا بِمَا انْعَقَدَتْ عَلَيْهِ فَتُحْمَلُ عَلَى عُمُومِهَا فِيمَا حَلَّ وَحَرُمَ اعْتِبَارًا بِالِاسْمِ دُونَ الْحُكْمِ فَيَحْنَثُ فِي اللَّحْمِ بِكُلِّ لَحْمٍ وَفِي الْوَطْءِ بِكُلِّ وَطْءٍ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسُ فِي نَظَائِرِهِ

Adapun pendapat kedua, sesungguhnya keumuman sumpah tidak dikhususkan oleh hukum-hukum syariat, karena hukum-hukum sumpah itu sama dalam hal larangan dan kebolehan, sesuai dengan apa yang menjadi objek sumpah tersebut. Maka sumpah itu berlaku secara umum pada segala sesuatu yang halal dan haram, berdasarkan nama (istilah) dan bukan hukumnya. Maka seseorang dianggap melanggar sumpah jika berkaitan dengan daging, pada setiap jenis daging; dan jika berkaitan dengan hubungan suami istri, pada setiap bentuk hubungan tersebut. Demikian pula qiyās berlaku pada kasus-kasus serupa.

وَأَمَّا الْوَجْهُ الثَّالِثُ فِي تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِالْعُرْفِ فَضَرْبَانِ عَامٌّ وَخَاصٌّ

Adapun aspek ketiga dalam pengecualian keumuman dengan ‘urf (kebiasaan), maka terbagi menjadi dua: umum dan khusus.

فَأَمَّا الْعُرْفُ الْعَامُّ فَكَمَنَ حَلَفَ لِغَيْرِهِ لَأَخْدِمَنَّكَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ فَيُخَصُّ بِالْعُرْفِ مِنْ خِدْمَةِ النَّهَارِ زَمَانَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ وَالِاسْتِرَاحَةِ بِحَسَبِ مَا يُخْدَمُ فِيهِ مِنْ شَاقٍّ وَسَهْلٍ

Adapun ‘urf umum, seperti seseorang yang bersumpah kepada orang lain, “Aku pasti akan melayanimu siang dan malam,” maka yang dimaksud dengan pelayanan di siang hari dikhususkan menurut ‘urf pada waktu makan, minum, bersuci, salat, dan istirahat, sesuai dengan kebiasaan pelayanan yang dilakukan, baik yang berat maupun yang ringan.

وَمِنْ خِدْمَةِ اللَّيْلِ وَقْتَ النَّوْمِ وَالْمَأْلُوفِ فَإِنْ تَرَكَ الْخِدْمَةَ فِيهَا لَمْ يَحْنَثْ لِخُرُوجِهَا بِالْعُرْفِ مِنْ عُمُومِ يَمِينِهِ

Dan termasuk pelayanan di malam hari adalah pada waktu tidur dan kebiasaan. Jika ia meninggalkan pelayanan pada waktu-waktu tersebut, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena waktu-waktu itu menurut ‘urf (kebiasaan) telah keluar dari cakupan umum sumpahnya.

وَإِنْ تَرَكَ الْخِدْمَةَ فِي غَيْرِهَا مِنَ الْأَوْقَاتِ حَنِثَ لِدُخُولِهَا فِي عُمُومِ يَمِينِهِ وَلَوْ حَلَفَ لَأَضْرِبَنَّكَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خَرَجَ بِالْعُرْفِ مِنْ زَمَانِ النَّهَارِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ زَمَانِ الِاسْتِرَاحَةِ فِي الْخِدْمَةِ فَلَا يَكُونُ بِتَرْكِ الضَّرْبِ فِيهَا حَانِثًا وَخَرَجَ بِالْعُرْفِ مِنْ بَقِيَّةِ الزَّمَانِ فِي الضَّرْبِ خُصُوصًا فِي الْوَقْتِ الَّذِي يَكُونُ أَلَمُ الضَّرْبِ فِيهِ بَاقِيًا فَيَكُونُ بَقَاءُ أَلَمِهِ كَبَقَاءِ فِعْلِهِ فَإِنْ تَرَكَ ضَرْبَهُ مَعَ بَقَاءِ الْأَلَمِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ تَرَكَهُ مَعَ زَوَالِ الْأَلَمِ حَنِثَ لِأَنَّ مِنْ دَوَامِ فِعْلِهِ أَنْ تَتَخَلَّلَهُ فَتَرَاتٌ فِي الْعُرْفِ فَاعْتُبِرَ بِدَوَامِ أَلَمِهِ الْحَادِثِ عَنْهُ

Jika ia meninggalkan pelayanan di waktu selain waktu yang telah disebutkan, maka ia dianggap melanggar sumpahnya karena waktu tersebut termasuk dalam keumuman sumpahnya. Jika seseorang bersumpah, “Aku pasti akan memukulmu siang dan malam,” maka menurut ‘urf (kebiasaan), waktu istirahat dalam pelayanan yang telah kami sebutkan dikecualikan dari waktu siang, sehingga jika ia tidak memukul pada waktu itu, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Demikian pula, menurut ‘urf, sisa waktu dalam memukul juga dikecualikan, khususnya pada waktu di mana rasa sakit akibat pukulan masih terasa, sehingga keberlangsungan rasa sakit itu dianggap seperti keberlangsungan perbuatan memukul. Jika ia berhenti memukul sementara rasa sakitnya masih ada, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, jika ia berhenti memukul setelah rasa sakitnya hilang, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena dalam kelangsungan perbuatan itu secara ‘urf memang terdapat jeda-jeda, sehingga yang dijadikan ukuran adalah kelangsungan rasa sakit yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا وَضَعْتُ رِدَائِي عَنْ عَاتِقِي انْعَقَدَتْ يَمِينُهُ عَلَى لُزُومِ لُبْسِهِ فِي زَمَانِ الْعُرْفِ فَإِنْ نَزَعَهُ عَنْ عَاتِقِهِ فِي زَمَانِ اللَّيْلِ أَوْ دُخُولِ الْحَمَّامِ أَوْ عِنْدَ تَبَذُّلِهِ لَمْ يَحْنَثْ لِخُرُوجِهِ بِالْعُرْفِ عَنْ زَمَانِ لُبْسِهِ وَإِنْ نَزَعَهُ فِي غَيْرِهِ حَنِثَ لِدُخُولِهِ فِي عُرْفِ لُبْسِهَا

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan selendangku dari pundakku,” maka sumpahnya menjadi sah atas kewajiban mengenakannya pada waktu yang biasa menurut kebiasaan (‘urf). Jika ia melepaskannya dari pundaknya pada waktu malam, atau saat masuk ke pemandian, atau ketika sedang berpakaian santai, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena pada waktu-waktu tersebut menurut kebiasaan bukanlah waktu mengenakan selendang. Namun, jika ia melepaskannya di luar waktu-waktu tersebut, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena itu termasuk dalam kebiasaan mengenakan selendang.

فَلَوْ قَالَ لِغَرِيمِهِ وَاللَّهِ لَا نَزَعْتُ رِدَائِي عَنْ عَاتِقِي حَتَّى أَقْضِيَكَ دَيْنَكَ حَنِثَ بِنَزْعِهِ قَبْلَ قَضَاءِ دَيْنِهِ فِي زَمَانِ الْعُرْفِ وَغَيْرِهِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ جَعْلَهُ فِي الْإِطْلَاقِ مَقْصُودًا فِي قَضَاءِ الدَّيْنِ شَرْطٌ وَالْعُرْفُ مُعْتَبَرٌ فِي الْأَيْمَانِ دُونَ الشُّرُوطِ

Maka jika seseorang berkata kepada orang yang berpiutang kepadanya, “Demi Allah, aku tidak akan melepas selendangku dari pundakku sampai aku melunasi utangmu,” lalu ia melepasnya sebelum melunasi utangnya, maka ia dianggap melanggar sumpah, baik pada waktu yang sudah menjadi kebiasaan maupun di luar waktu itu. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa menjadikan pelunasan utang sebagai tujuan dalam sumpah secara mutlak merupakan syarat, dan ‘urf (kebiasaan) diperhitungkan dalam sumpah, tidak dalam syarat-syarat.

وَلَوْ قَالَ لِغَرِيمِهِ وَاللَّهِ لَأَخْدِمَنَّكَ حَتَّى أَقْضِيَكَ دَيْنَكَ لَمْ يَحْنَثْ بِتَرْكِ الْخِدْمَةِ فِي زَمَانِ الِاسْتِرَاحَةِ قَبْلَ الْقَضَاءِ لِأَنَّهُ جَعَلَ الْخِدْمَةَ خَبَرًا وَلَمْ يَجْعَلْهَا شَرْطًا ثُمَّ عَلَى قِيَاسِ هَذَا فِي نَظَائِرِهِ

Dan jika seseorang berkata kepada orang yang berpiutang kepadanya, “Demi Allah, aku benar-benar akan melayanimu sampai aku melunasi utangku kepadamu,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika ia meninggalkan pelayanan pada waktu istirahat sebelum pelunasan, karena ia menjadikan pelayanan itu sebagai pernyataan, bukan sebagai syarat. Kemudian, hal ini diqiyaskan pula pada kasus-kasus serupa lainnya.

وَيَنْسَاقُ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ إِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الرُّؤُوسَ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ بِرُؤُوسِ غَيْرِ الْغَنَمِ لِخُرُوجِهَا بِالْعُرْفِ مِنْ عُمُومِ الِاسْمِ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ الْبَيْضَ لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْضِ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ وَكَذَلِكَ فِي نَظَائِرِهِ

Berdasarkan kaidah ini, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan kepala, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan kepala selain kambing, karena menurut ‘urf (kebiasaan), hal itu tidak termasuk dalam cakupan nama tersebut. Demikian pula, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan telur, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan telur ikan atau belalang, dan demikian pula pada kasus-kasus serupa lainnya.

وَيَطَّرِدُ عَلَى هَذَا الْقِيَاسِ إِذَا حَلَفَ لَا يَلْبَسُ هَذَا الْقَمِيصَ حَنِثَ بِلُبْسِهِ إِذَا تَقَمَّصَ بِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِلُبْسِهِ إِذَا ارْتَدَى بِهِ وَإِذَا حَلَفَ لَا يَلْبَسُ هَذَا الْخَاتَمَ حَنِثَ بِلُبْسِهِ فِي الْخِنْصَرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِلُبْسِهِ فِي الْإِبْهَامِ اعْتِبَارًا بِالْعَادَةِ وَتَخْصِيصًا بِالْعُرْفِ

Demikian pula menurut qiyās, jika seseorang bersumpah tidak akan memakai baju ini, maka ia dianggap melanggar sumpah jika mengenakannya dengan cara memakainya sebagai kemeja, dan tidak dianggap melanggar jika hanya menyampirkannya di pundak. Jika ia bersumpah tidak akan memakai cincin ini, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakainya di jari kelingking, dan tidak dianggap melanggar jika memakainya di ibu jari, berdasarkan kebiasaan dan penetapan menurut ‘urf.

وَأَمَّا الْعُرْفُ الْخَاصُّ فَكَقَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا قَتَلْتُ وَلَا ضَرَبْتُ فَأَمَرَ بِالْقَتْلِ والضرب وحنث بِهِ الْمُلُوكُ دُونَ السُّوقَةِ لِأَنَّ الْعُرْفَ فِي أَفْعَالِ الْمُلُوكِ الْأَمْرُ بِهَا وَفِي أَفْعَالِ السُّوقَةِ مُبَاشَرَتُهَا

Adapun ‘urf khusus, seperti ucapan seseorang: “Demi Allah, aku tidak membunuh dan tidak memukul,” lalu ia memerintahkan untuk membunuh atau memukul, maka sumpahnya dianggap batal (melanggar) bagi para raja, tidak bagi rakyat biasa. Sebab, ‘urf dalam perbuatan para raja adalah memerintahkan (orang lain) untuk melakukannya, sedangkan dalam perbuatan rakyat biasa adalah melakukannya secara langsung.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا نَسَجْتُ ثَوْبًا فَاسْتَنْسَجَهُ حَنِثَ بِهِ مَنْ لَا يُحْسِنُ النِّسَاجَةَ وَلَمْ يَحْنَثْ بِهِ مَنْ يُحْسِنُهَا وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا تَصَدَّقْتُ حَنِثَ الْأَغْنِيَاءُ بِدَفْعِهَا وَحَنِثَ الْفُقَرَاءُ بِأَخْذِهَا اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ مِنَ الْفَرِيقَيْنِ

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak menenun kain,” lalu ia menenunnya, maka orang yang tidak pandai menenun dianggap melanggar sumpahnya, sedangkan orang yang pandai menenun tidak dianggap melanggar. Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak bersedekah,” maka orang kaya dianggap melanggar sumpahnya dengan memberikan sedekah, dan orang miskin dianggap melanggar sumpahnya dengan menerima sedekah, berdasarkan kebiasaan (‘urf) dari kedua kelompok tersebut.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا طُفْتُ وَلَا سَعَيْتُ حَنِثَ أَهْلُ مَكَّةَ بِالطَّوَافِ بِالْبَيْتِ وَبِالسَّعْيِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَحَنِثَ غَيْرُهُمْ بِالسَّعْيِ عَلَى الْقَدَمِ وَالطَّوَافِ فِي الْأَسْوَاقِ وَحَنِثَ أَهْلُ الْوُشَاةِ بِالسَّعْيِ إِلَى الْوُلَاةِ

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan thawaf dan tidak akan sa’i,” maka penduduk Makkah dianggap melanggar sumpah dengan melakukan thawaf di Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwah; sedangkan selain mereka dianggap melanggar sumpah dengan berjalan kaki dan thawaf di pasar-pasar; dan penduduk al-wushat dianggap melanggar sumpah dengan berjalan menuju para penguasa.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا خَتَمْتُ حَنِثَ الْقَارِئُ بِخَتْمِ الْقُرْآنِ وَحَنِثَ التَّاجِرُ بِخَتْمِ كِيسِهِ لِأَنَّهُ عُرْفُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menutup,” maka seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) dianggap melanggar sumpah jika ia menutup (menyelesaikan) bacaan Al-Qur’an, dan seorang pedagang dianggap melanggar sumpah jika ia menutup kantong uangnya, karena itu adalah kebiasaan masing-masing dari mereka.

وَلَوْ قَالَ والله لا وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا قَرَأْتُ حَنِثَ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِقِرَاءَةِ الشِّعْرِ

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membaca,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika membaca Al-Qur’an, tetapi tidak dianggap melanggar jika membaca syair.

وَلَوْ قَالَ والله لا تكلمت حنث بجميع الكلام وبإنشاد الشِّعْرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِخُرُوجِهِ بِالْإِعْجَازِ عَنْ جِنْسِ الْكَلَامِ الَّذِي ليس فيه إعجاز

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara,” maka ia dianggap melanggar sumpah dengan segala bentuk pembicaraan dan dengan melantunkan syair, namun ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan membaca Al-Qur’an menurut mazhab Syafi‘i, karena Al-Qur’an, dengan kemukjizatannya, keluar dari jenis pembicaraan yang tidak memiliki kemukjizatan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ بِالْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ الصَّلَاةِ وَلَا يَحْنَثُ بِهِ فِي الصَّلَاةِ وَلَيْسَ لِاخْتِلَافِ الْحَالَيْنِ تَأْثِيرٌ فِيهِ إِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِ الْكَلَامِ أَوْ لَمْ يَكُنْ فَلَمْ يَكُنْ لِلْفَرْقِ بَيْنَ الْحَالَيْنِ وَجْهٌ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpah jika berbicara dengan Al-Qur’an di luar shalat, namun tidak dianggap melanggar jika di dalam shalat. Perbedaan antara kedua keadaan tersebut tidak berpengaruh, baik ucapan itu termasuk jenis pembicaraan atau bukan, sehingga tidak ada alasan untuk membedakan antara kedua keadaan tersebut.

فَهَذَا حُكْمُ الْمَخْصُوصِ بِالْعُرْفِ فَقِسْ عَلَيْهِ نَظَائِرَهُ

Inilah hukum yang dikhususkan berdasarkan ‘urf, maka lakukanlah qiyās terhadap hal-hal yang serupa dengannya.

وَأَمَّا الْوَجْهُ الرَّابِعُ فِي تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِالِاسْتِثْنَاءِ فَهُوَ الْقَوْلُ الْمُخْرِجُ مِنْ لَفْظِ الْيَمِينِ بَعْضَ مَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ وَلَهُ شَرْطَانِ

Adapun aspek keempat dalam mengkhususkan lafaz umum dengan istisna’ adalah ucapan yang mengeluarkan sebagian dari apa yang tercakup dalam lafaz sumpah, dan hal ini memiliki dua syarat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُتَّصِلًا بِهَا فَإِنِ انْفَصَلَ عَنْهَا بَطَلَ

Salah satunya adalah harus tetap menyatu dengannya; jika terpisah darinya, maka batal.

وَالثَّانِي أَنْ يُخَالِفَ حُكْمَ الْيَمِينِ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى نَفْيٍ كَانَ الِاسْتِثْنَاءُ إِثْبَاتًا وَإِنْ كَانَتْ عَلَى إِثْبَاتٍ كَانَ الِاسْتِثْنَاءُ نَفْيًا

Kedua, bahwa pengecualian (istitsnā’) harus berbeda dengan hukum sumpah. Jika sumpah itu berisi penafian, maka pengecualian berarti penetapan; dan jika sumpah itu berisi penetapan, maka pengecualian berarti penafian.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا الِاسْتِثْنَاءِ هَلْ يَفْتَقِرُ إِلَى اعْتِقَادِهِ فِي أَوَّلِ الْيَمِينِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai pengecualian ini, apakah memerlukan keyakinan terhadapnya sejak awal sumpah atau tidak; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا إنَّ اعْتِقَادَهُ مَعَ أَوَّلِ الْيَمِينِ شَرْطٌ فِي صِحَّتِهِ وَإِنْ لَمْ يَعْتَقِدْهُ بَطَلَ حُكْمُهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى وَإِنْ كَانَ حُكْمُهُ فِي الظَّاهِرِ صَحِيحًا

Salah satunya adalah bahwa keyakinan pada saat pertama kali bersumpah merupakan syarat sahnya sumpah tersebut. Jika ia tidak meyakininya, maka hukum sumpah itu batal antara dirinya dengan Allah Ta‘ala, meskipun secara lahiriah hukumnya tetap sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ إِذَا اتَّصَلَ بِالْيَمِينِ الْمَقْصُودَةِ جَرَى عَلَيْهِ حُكْمُهَا وَصَحَّ بِمُجَرَّدِ لَفْظِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ

Adapun alasan yang kedua, jika sumpah yang dimaksud diikuti dengannya, maka berlaku hukum sumpah tersebut atasnya dan menjadi sah hanya dengan pengucapannya, baik secara lahir maupun batin.

وَحُكْمُ هَذَا الِاسْتِثْنَاءِ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ يَمِينِهِ بَعْضَ جُمْلَتِهَا فَلَا تَنْعَقِدُ عَلَيْهِ الْيَمِينُ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ فِيهَا بِرٌّ وَلَا حِنْثٌ وَهُوَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ

Hukum dari pengecualian ini adalah mengeluarkan sebagian dari keseluruhan sumpahnya, sehingga sumpah tersebut tidak berlaku atas bagian yang dikecualikan itu, dan tidak terkait dengannya kebaikan (memenuhi sumpah) maupun pelanggaran (melanggar sumpah). Pengecualian ini terbagi menjadi empat macam.

اسْتِثْنَاءُ مَكَانٍ وَاسْتِثْنَاءُ زَمَانٍ وَاسْتِثْنَاءُ عَدَدٍ وَاسْتِثْنَاءُ صِفَةٍ وَفِي ذِكْرِ أَحَدِهَا بَيَانٌ لِجَمِيعِهَا

Pengecualian tempat, pengecualian waktu, pengecualian jumlah, dan pengecualian sifat; dan dengan menyebutkan salah satunya sudah mencakup penjelasan untuk semuanya.

فَإِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَأَضْرِبَنَّ زَيْدًا إِلَّا فِي دَارِي بَرَّ إِنْ ضَرَبَهُ فِي غَيْرِ دَارِهِ وَلَمْ يَبِرَّ إِنْ ضَرَبَهُ فِي دَارِهِ وَحَنِثَ إِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ فِي غَيْرِ دَارِهِ وَلَا يَحْنَثُ إِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ فِي دَارِهِ

Maka jika seseorang berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan memukul Zaid kecuali di rumahku,” maka ia dianggap menepati sumpah jika ia memukulnya di selain rumahnya, dan tidak dianggap menepati sumpah jika ia memukulnya di rumahnya. Ia dianggap melanggar sumpah jika ia tidak memukulnya di selain rumahnya, dan tidak dianggap melanggar sumpah jika ia tidak memukulnya di rumahnya.

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا ضَرَبْتُ زَيْدًا إِلَّا فِي دَارِي حَنِثَ إِنْ ضَرَبَهُ فِي غَيْرِ دَارِهِ وَلَمْ يَحْنَثْ إِنْ ضَرَبَهُ فِي دَارِهِ وَبَرَّ إِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ فِي غَيْرِ دَارِهِ وَلَا يَبِرُّ إِنْ لَمْ يَضْرِبْهُ فِي دَارِهِ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسُ فِي نَظَائِرِهِ

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak memukul Zaid kecuali di rumahku,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia memukul Zaid di selain rumahnya, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika ia memukulnya di rumahnya. Ia dianggap menepati sumpah jika ia tidak memukulnya di selain rumahnya, dan ia tidak dianggap menepati sumpah jika ia tidak memukulnya di rumahnya. Kemudian, hukum ini berlaku secara qiyās pada kasus-kasus yang serupa.

وَأَمَّا الْوَجْهُ الْخَامِسُ فِي تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِالنِّيَّةِ فَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ بِقَلْبِهِ فِي عَقْدِ يَمِينِهِ مَا يَصِحُّ أَنْ يَذْكُرَهُ بِلَفْظِهِ فَيُحْمَلُ فِيهَا عَلَى نِيَّتِهِ إِذَا اقْتَرَنَتْ بِعَقْدِ يَمِينِهِ وَلَا تَصِحُّ إِنْ تَقَدَّمَتِ النِّيَّةُ عَلَى الْيَمِينِ أَوْ تَأَخَّرَتْ عَنْهَا وَذَلِكَ مِثْلَ قَوْلِهِ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُ زَيْدًا وَيَنْوِي بِهِ شَهْرًا وَلَا أَكَلْتُ خُبْزًا وَيَنْوِي بِهِ لَيْلًا وَلَا لَبِسْتُ ثَوْبًا وَيَنْوِي بِهِ قَمِيصًا وَقَدْ ذَكَرْنَا مِنْ نَظَائِرِهِ مَا أَغْنَى فَيَكُونُ فِي الْأَيْمَانِ بِاللَّهِ تَعَالَى مَحْمُولًا عَلَى نِيَّتِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَفِي الْأَيْمَانِ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ مَحْمُولًا عَلَيْهَا فِي الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ فَهَذَا أَصْلٌ فِي الْأَيْمَانِ لَا يُخْرِجُ أَحْكَامَهَا مِنْهُ فَإِذَا حُمِلَتْ عَلَيْهِ سَلِمَتْ مِنَ الْخَطَأِ وَالزَّلَلِ وَاللَّهُ يُوَفِّقُ مَنِ اسْتَرْشَدَهُ

Adapun penjelasan kelima tentang pengkhususan lafaz umum dengan niat adalah bahwa seseorang meniatkan dalam hatinya ketika mengucapkan sumpahnya sesuatu yang sah untuk diucapkan dengan lisannya, maka sumpah itu dihukumi sesuai dengan niatnya jika niat tersebut bersamaan dengan pengucapan sumpahnya. Tidak sah jika niat itu mendahului sumpah atau datang setelahnya. Contohnya seperti seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak berbicara dengan Zaid,” dan ia meniatkan selama sebulan; atau berkata, “Aku tidak makan roti,” dan ia meniatkan pada malam hari; atau berkata, “Aku tidak memakai pakaian,” dan ia meniatkan baju gamis. Kami telah menyebutkan contoh-contoh serupa yang cukup mewakili. Maka dalam sumpah dengan nama Allah Ta‘ala, hukumnya mengikuti niatnya baik secara lahir maupun batin, sedangkan dalam sumpah talak dan pembebasan budak, hukumnya mengikuti niat baik secara batin maupun lahir. Inilah kaidah dalam hukum sumpah yang tidak keluar dari ketentuannya. Jika hukum-hukum itu didasarkan padanya, maka akan selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang memohon bimbingan-Nya.

وَسَأُتْبِعُهُ مِنَ الْفُرُوعِ بِمَا تُوَضِّحُهُ مِنْ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ وَمُخْتَلَفٍ فِيهِ

Dan aku akan mengikutkannya dengan cabang-cabang (masalah) yang akan dijelaskan di dalamnya mana yang disepakati (muttafaq ‘alaih) dan mana yang diperselisihkan (mukhtalaf fīh).

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ الْفَاكِهَةَ حَنِثَ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِهَا مِنْ ثِمَارِ الْأَشْجَارِ كُلِّهَا فَيَحْنَثُ بِأَكْلِ التُّفَّاحِ وَالْمِشْمِشِ وَالْكُمِّثْرَى وَالسَّفَرْجَلِ وَالنَّبْقِ وَالتُّوتِ وَالرُّمَّانِ وَالْعِنَبِ وَالرُّطَبِ

Maka jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak makan buah-buahan,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan semua jenis buah dari seluruh pohon, sehingga ia melanggar sumpah jika memakan apel, aprikot, pir, quince, bidara, murbei, delima, anggur, dan kurma basah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ بِالرُّمَّانِ وَالْعِنَبِ وَالرُّطَبِ وَإِنْ خَالَفَهُ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وقالا بقولنا احتجاجاً بقوله اللَّهِ تَعَالَى فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ وقال تعالى فأَنْبَتْنَا فِيهَا حَباً وَعِنَباً وَقَضْباً وَزَيْتُوناً وَنَخْلاً وَحَدَائِقَ غُلْباً وَفَاكِهَةً وَأبّاً فَجَمَعَ بَيْنَ الْفَاكِهَةِ وَبَيْنَ الْعِنَبِ وَالرُّطَبِ وَالرُّمَّانِ فِي الذِّكْرِ وَخَيَّرَ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُمْ فِي الِاسْمِ فَدَلَّ عَلَى خُرُوجِهَا مِنِ اسْمِ الْفَاكِهَةِ كَمَا خَرَجَ مِنْهَا الزَّيْتُونُ لِتَمَيُّزِهِ بالاسم

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan (menyebut) delima, anggur, dan kurma basah, meskipun Abu Yusuf dan Muhammad berbeda pendapat dengannya dan berpendapat seperti pendapat kami dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala tentang keduanya: “Di dalamnya terdapat buah-buahan, pohon kurma, dan delima,” dan firman-Nya: “Lalu Kami tumbuhkan di dalamnya biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan, dan rerumputan.” Maka Allah mengumpulkan antara buah-buahan dengan anggur, kurma basah, dan delima dalam penyebutan, dan membedakan antara nama buah-buahan dengan nama-nama tersebut, sehingga hal ini menunjukkan bahwa mereka keluar dari kategori nama “buah-buahan” sebagaimana zaitun juga keluar darinya karena perbedaan nama.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِيَ قِيلَ وَمَا تَزْهي؟ قَالَ حَتَى تَحْمَارَّ أَوْ تَصْفَارَّ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang jual beli buah-buahan hingga tampak matang. Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan tampak matang?” Beliau menjawab, “Hingga buah itu memerah atau menguning.”

وَالدَّلِيلُ فِيهِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dan dalil dalam hal ini ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْفَوَاكِهَ هِيَ الثِّمَارُ وَالرُّطَبُ وَالْعِنَبُ مِنْ أَجَلِّهَا

Salah satunya adalah bahwa buah-buahan itu adalah hasil-hasil tanaman, dan ruthab serta anggur termasuk yang paling utama di antaranya.

وَالثَّانِي إنَّهُ جَعَلَ الِاحْمِرَارَ وَالِاصْفِرَارَ مُبِيحًا لِبَيْعِهَا وَهَذَا مِمَّا يَشْتَرِكُ فِيهِ جَمِيعُهَا وَلِأَنَّ أَهْلَ اللُّغَةِ مُتَّفِقُونَ عَلَى دُخُولِ الْعِنَبِ وَالرُّطَبِ وَالرُّمَّانِ فِي الْفَاكِهَةِ فَرُوِيَ عَنْ يُونُسَ النَّحْوِيِّ أَنَّهُ قَالَ الرُّمَّانُ وَالنَّخْلُ مِنْ أَفْضَلِ الْفَاكِهَةِ وَإِنَّمَا قصدا بالذكر لفضلهما واستشهد بقوله اللَّهِ تَعَالَى مَنْ كَانَ عَدُواً للهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَذَكَرَ الْمَلَائِكَةَ وَخَصَّ جبريل وميكائيل بِالذِّكْرِ وَإِنْ كَانَا مِنَ الْمَلَائِكَةِ لِفَضْلِهِمَا

Kedua, ia menjadikan warna merah dan kuning sebagai tanda bolehnya menjual buah tersebut, dan ini adalah sesuatu yang berlaku pada semua jenis buah itu. Selain itu, para ahli bahasa sepakat bahwa anggur, kurma basah, dan delima termasuk dalam kategori buah-buahan. Diriwayatkan dari Yunus an-Nahwi bahwa ia berkata, “Delima dan pohon kurma adalah di antara buah-buahan terbaik.” Penyebutan keduanya secara khusus dimaksudkan karena keutamaannya. Ia juga mengambil dalil dari firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail…” Maka Allah menyebut para malaikat secara umum, lalu secara khusus menyebut Jibril dan Mikail karena keutamaan keduanya, meskipun keduanya termasuk malaikat.

وَقَالَ الْخَلِيلُ الْفَاكِهَةُ الثِّمَارُ كُلُّهَا

Al-Khalil berkata, “Al-fakihah adalah semua jenis buah-buahan.”

وَقَالَ الْحَسَنُ وَالضَّحَّاكُ الرُّطَبُ وَالرُّمَّانُ مِنَ الْفَوَاكِهِ وَفُضِّلَا بِالذِّكْرِ عَلَى جَمِيعِهَا وَهَؤُلَاءِ فِي اللُّغَةِ قُدْوَةٌ مُتَّبَعُونَ وَلَا يَسُوغُ خِلَافُهُمْ فِيهَا وَلِأَنَّ اسْمَ الْفَاكِهَةِ مُشْتَقٌّ مِنَ التَّفَكُّهِ بِهَا وَهِيَ الِاسْتِطَابَةُ مِنْ قَوْلِهِمْ فُلَانٌ يُتَفَكَّهُ بِكَلَامِهِ أَيْ يُتَطَارَبُ بِهِ وَهَذَا مَوْجُودٌ فِي الْعِنَبِ وَالرُّطَبِ وَالرُّمَّانِ أَوْفَى مِنْ وُجُودِهِ مِنْ غَيْرِهَا فَكَانَ أَحَقَّ بِاسْمِهَا وَلِأَنَّهُ لَيْسَ الْجَمْعُ فِي الْجِنْسِ بَيْنَ خُصُوصٍ وَعُمُومٍ بِمَانِعٍ مِنْ دُخُولِ الْخُصُوصِ فِي الْعُمُومِ كَمَا قَالَ تَعَالَى حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الوُسْطَى فَدَخَلَتْ فِي عُمُومِ الصَّلَوَاتِ وَإِنْ خُصَّتْ بالذكر وكقوله وَإذَا أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ فَدَخَلَ فِي عُمُومِ الْأَنْبِيَاءِ مَعَ التَّخْصِيصِ بِالذِّكْرِ

Al-Hasan dan adh-Dhahhak berkata bahwa kurma basah dan delima termasuk buah-buahan, dan keduanya diutamakan dengan penyebutan secara khusus di atas seluruh buah lainnya. Mereka ini dalam bahasa adalah panutan yang diikuti, dan tidak dibenarkan menyelisihi mereka dalam hal ini. Karena nama “buah” (al-fakihah) diambil dari kata “tafakkuh” yang berarti menikmati, yaitu merasakan kelezatan, sebagaimana dalam ungkapan mereka: “Seseorang menikmati perkataannya,” maksudnya merasa senang dengannya. Hal ini terdapat pada anggur, kurma basah, dan delima lebih sempurna dibandingkan pada selainnya, sehingga mereka lebih berhak atas nama tersebut. Selain itu, penggabungan antara kekhususan dan keumuman dalam satu jenis tidaklah menghalangi masuknya yang khusus ke dalam yang umum, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Peliharalah semua salat dan salat tengah,” maka salat tengah termasuk dalam keumuman salat meskipun disebutkan secara khusus. Demikian pula firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, dari kamu, dari Nuh,” maka Nabi Muhammad dan Nuh termasuk dalam keumuman para nabi meskipun disebutkan secara khusus.

قَالَ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّمَا يَدْخُلُ الْخُصُوصُ فِي الْعُمُومِ إِذَا تَأَخَّرَ وَلَا يَدْخُلُ فِيهِ إذا تقدم

Para pengikut Abu Hanifah berkata, kekhususan hanya masuk ke dalam keumuman apabila datang setelahnya, dan tidak masuk ke dalamnya apabila mendahuluinya.

قِيلَ هَذِهِ دَعْوَى لَا يَشْهَدُ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا دَلِيلٌ وَإِنْ سَلِمَ ذَلِكَ لَكُمْ فَقَدْ تَأَخَّرَ خصوص قوله فِيهَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ على عموم الفاكهة فوجب أن يدخلا فيها

Dikatakan bahwa ini adalah klaim yang tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan antara keduanya. Dan jika hal itu diterima untuk kalian, maka penyebutan khusus firman-Nya “di dalamnya ada buah-buahan, kurma, dan delima” datang setelah penyebutan umum “buah-buahan”, sehingga kurma dan delima wajib termasuk di dalamnya.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا فَلَا خِلَافَ بَيْنَ أَصْحَابِنَا فِي دُخُولِ الْعِنَبِ وَالرُّمَّانِ فِي الْفَاكِهَةِ فِي جَمِيعِ الْبِلَادِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama kami mengenai masuknya anggur dan delima ke dalam kategori buah-buahan di seluruh negeri.

وَأَمَّا الرُّطَبُ فَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَجْعَلُهُ مِنَ الْفَاكِهَةِ فِي الْبِلَادِ الَّتِي يَقِلُّ فِيهَا كَبَغْدَادَ وَلَا يَجْعَلُهَا مِنَ الْفَاكِهَةِ فِي الْبِلَادِ الَّتِي يَكْثُرُ فِيهَا كَالْبَصْرَةِ وذهب جمهورهم إِلَى أَنَّهُ مِنَ الْفَاكِهَةِ مِنْ جَمِيعِ الْأَمْصَارِ لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الِاسْتِدْلَالِ

Adapun ruthab (kurma basah), sebagian ulama kami menganggapnya sebagai buah-buahan di negeri-negeri yang sedikit terdapat ruthab seperti Baghdad, dan tidak menganggapnya sebagai buah-buahan di negeri-negeri yang banyak terdapat ruthab seperti Bashrah. Namun mayoritas ulama mereka berpendapat bahwa ruthab termasuk buah-buahan di seluruh negeri, berdasarkan dalil yang telah kami sebutkan sebelumnya.

فَأَمَّا ثِمَارُ مَا عَدَا الْأَشْجَارِ فَالْمَوْزُ فَاكِهَةٌ وَالْبِطِّيخُ فَاكِهَةٌ وَلَيْسَ الْخِيَارُ وَالْقِثَّاءُ مِنَ الْفَاكِهَةِ وَإِنَّمَا هُمَا مِنَ الْخُضْرَاوَاتِ لِأَنَّهَا لَا تَتَغَيَّرُ عَنْ أَلْقَابِهَا إِلَّا عِنْدَ فَسَادِهَا

Adapun buah-buahan selain yang berasal dari pohon, maka pisang termasuk buah-buahan, semangka juga termasuk buah-buahan, sedangkan mentimun dan qittā’ (sejenis mentimun) bukan termasuk buah-buahan, melainkan termasuk sayur-sayuran, karena keduanya tidak berubah nama kecuali ketika sudah rusak.

فَإِذَا ثَبَتَ مَا يَدْخُلُ فِي اسْمِ الْفَاكِهَةِ حَنِثَ بِأَكْلِهِ رَطْبًا فَإِنْ أَكَلَهُ يَابِسًا فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Maka apabila telah tetap apa saja yang termasuk dalam nama buah-buahan, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakannya dalam keadaan segar. Jika ia memakannya dalam keadaan kering, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا مَا يُنْقَلُ عَنِ اسْمِهِ بَعْدَ يُبْسِهِ وَجَفَافِهِ كَالرُّطَبِ يُسَمَّى بَعْدَ جَفَافِهِ تَمْرًا وَكَالْعِنَبِ يُسَمَّى بَعْدَ جَفَافِهِ زَبِيبًا فَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ وَقَدْ خَرَجَ عَنِ الْفَاكِهَةِ بِزَوَالِهِ عَنِ اسْمِهِ

Salah satunya adalah sesuatu yang namanya berubah setelah kering dan mengering, seperti ruthab yang setelah kering disebut tamr, dan seperti anggur yang setelah kering disebut zabib (kismis), maka tidak dianggap melanggar sumpah jika memakannya, karena ia telah keluar dari kategori buah-buahan dengan hilangnya nama aslinya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ لَا يَنْتَقِلَ عَنِ اسْمِهِ بَعْدَ جَفَافِهِ كَالتِّينِ وَالْخَوْخِ وَالْمِشْمِشِ فَفِي حِنْثِهِ بِأَكْلِهِ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah sesuatu yang tidak berubah namanya setelah kering, seperti buah tin, prem, dan aprikot. Dalam hal melanggar sumpah dengan memakannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ لِبَقَاءِ اسْمِهِ

Salah satunya tetap terkena pelanggaran sumpah karena nama sumpahnya masih berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِانْتِقَالِهِ عَنْ صِفَتِهِ

Adapun pendapat kedua, tidak menyebabkan pelanggaran sumpah karena telah berubah dari sifat aslinya.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ أُدْمًا حَنِثَ بِأَكْلِ اللَّحْمِ وَالسَّمَكِ وَالْجُبْنِ وَالْمِلْحِ وَالزَّيْتُونِ وَبِمَا يُصْطَبَغُ بِهِ كَالْخَلِّ وَالزَّيْتِ وَاللَّبَنِ وَالسَّمْنِ

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan makan udm,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakan daging, ikan, keju, garam, zaitun, serta apa pun yang digunakan sebagai celupan makanan seperti cuka, minyak, susu, dan mentega.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ إِلَّا بِمَا يُصْطَبَغُ بِهِ وَهُوَ الْأُدْمُ خَاصَّةً وَهُوَ مَا يَنْصَبِغُ بِهِ الْخُبْزُ مِثْلَ الْخَلِّ وَالزَّيْتِ وَاللَّبَنِ وَالسَّمْنِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ اسْتِدْلَالًا بِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَالْبُرْمَةُ تَفُورُ بلحمٍ وأدمٍ فَقَدَّمْنَا لَهُ خُبْزًا بِأُدْمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ بُرْمَةً فِيهَا لحمٌ؟ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهَ وَلَكِنْ ذَاكَ لحمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ فَقَالَ هُوَ لَهَا صدقةٌ وَلَنَا هديةٌ فَمَيَّزَتْ بَيْنَ اللَّحْمِ وَالْأُدُمِ فِي الِاسْمِ فَدَلَّ عَلَى تَمْيِيزِهَا فِيهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan sesuatu yang digunakan sebagai lauk, yaitu al-udm secara khusus, yaitu sesuatu yang membuat roti menjadi berwarna, seperti cuka, minyak, susu, mentega, dan yang semisalnya. Ia berdalil dengan riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk sementara periuk sedang mendidih berisi daging dan lauk, lalu kami hidangkan kepada beliau roti dengan lauk yang ada di rumah. Beliau bersabda, “Bukankah aku melihat ada periuk berisi daging?” Kami menjawab, “Benar, wahai Rasulullah, tetapi itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, sedangkan engkau tidak memakan sedekah.” Beliau bersabda, “Itu adalah sedekah baginya dan hadiah bagi kita.” Maka ‘Aisyah membedakan antara daging dan lauk dalam penamaan, sehingga hal ini menunjukkan adanya pembedaan di antara keduanya.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ سَيِّدُ الْأُدْمِ اللَّحْمُ وَنِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي اسْمِ الْأُدْمِ فَدَلَّ عَلَى اشْتِرَاكِهِمَا فِيهِ وَلِأَنَّ اسْمَ الْأُدْمِ مُشْتَقٌّ مِنِ اسْتِطَابَةِ أَكْلِ الْخُبْزِ بِهِ حَتَّى يُسْتَحَبَّ وَيُسْتَمْرَأَ مَأْخُوذا مِنْ قَوْلِ الْعَرَبِ أَدَمَ اللَّهُ بَيْنَكُمَا أَيْ أَصْلَحَ بَيْنَكُمَا بِالْمَحَبَّةِ وَرَوَى أَبُو عُبَيْدة فِي غَرِيبِ الْحَدِيثِ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ خَطَبَ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَوْ نَظَرْتَ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Pemimpin lauk-pauk adalah daging, dan sebaik-baik lauk adalah cuka.” Maka beliau mengumpulkan keduanya dalam istilah lauk (udm), sehingga menunjukkan bahwa keduanya sama-sama termasuk di dalamnya. Selain itu, istilah udm diambil dari kenikmatan makan roti dengannya, sehingga disukai dan mudah dicerna, diambil dari ucapan orang Arab “Adama Allahu bainakuma” yang berarti “Semoga Allah memperbaiki hubungan kalian berdua dengan cinta kasih.” Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dalam Gharib al-Hadits bahwa al-Mughirah bin Syu‘bah melamar seorang wanita, lalu Nabi ﷺ bersabda, “Seandainya engkau melihatnya, itu lebih memungkinkan terciptanya udm (kecocokan dan keharmonisan) di antara kalian berdua.”

فَحَكَى أَبُو عُبَيْدة عَنِ الْكِسَائِيِّ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ بَيْنَكُمَا الْمَوَدَّةُ وَالِاتِّفَاقُ وَهَذَا الْمَعْنَى فِي اللَّحْمِ أَوْفَى مِنْهُ فِي الصَّبْغِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ بِاسْمِ الْإِدَامِ أَخَصُّ

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari al-Kisā’ī bahwa maksudnya adalah agar terdapat kasih sayang dan kesepakatan di antara kalian, dan makna ini pada daging lebih sempurna daripada pada pewarna, sehingga hal itu menunjukkan bahwa dengan nama idām (lauk-pauk) lebih khusus.

وَتَمْيِيزُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِنَّمَا كَانَ لِاخْتِلَافِ النَّوْعِ وَلَمْ يَكُنْ لِاخْتِلَافِ الِاسْمِ فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا القسم فيما يُسْتَطَابُ بِهِ أَكْلُ الْخُبْزِ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ

Pembedaan yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā itu semata-mata karena perbedaan jenis, bukan karena perbedaan nama. Jika hal ini telah tetap, maka bagian ini dalam hal yang digunakan untuk menyedapkan makan roti terbagi menjadi empat bagian.

أَحَدُهَا مَا يَكُونُ إِدَامًا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ مُنْفَرِدًا وَبِالْخُبْزِ وَهُوَ مَا يُؤْتَدَمُ بِهِ فِي الْأَغْلَبِ مِنَ اللَّحْمِ وَالسَّمَكِ وَالْبَيْضِ وَاللَّبَنِ وَمَا فِي مَعْنَاهُ

Salah satunya adalah sesuatu yang menjadi lauk, yang menyebabkan seseorang melanggar sumpah jika memakannya sendiri atau bersama roti, yaitu sesuatu yang umumnya dijadikan lauk seperti daging, ikan, telur, susu, dan yang semakna dengannya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا لَا يَكُونُ أُدْمًا وَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ مُنْفَرِدًا وَلَا بِالْخُبْزِ وَهُوَ الْفَوَاكِهُ كُلُّهَا لِأَنَّ اسْمَ الْأُدْمِ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهَا مِنْ عُرْفٍ عَامٍّ وَلَا خَاصٍّ وَالْمُسْتأدم بِهَا خَارِجٌ عَنِ الْعَرَبِ

Bagian kedua adalah sesuatu yang bukan udm dan tidak menyebabkan seseorang melanggar sumpah jika memakannya sendirian ataupun bersama roti, yaitu semua jenis buah-buahan. Sebab, istilah udm tidak berlaku atasnya, baik menurut kebiasaan umum maupun khusus, dan orang yang menjadikan buah-buahan sebagai udm adalah di luar kebiasaan orang Arab.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَا يَكُونُ إِدَامًا إِذَا انْفَرَدَ عَنِ الْخُبْزِ وَيَصِيرُ إِدَامًا إِذَا أُكِلَ بِالْخُبْزِ وَهُوَ يُسْتَأْدَمُ بِهِ فِي خُصُوصِ الْعُرْفِ دُونَ عُمُومِهِ كَالْعَسَلِ وَالدِّبْسِ وَالتَّمْرِ فَلَا يَحْنَثُ بِهِ إِنْ أَكَلَهُ مُنْفَرِدًا وَيَحْنَثُ بِهِ إِنْ أَكَلَهُ بِالْخُبْزِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالْخُبْزِ إِدَامًا وَلَمْ يَكُنْ بِانْفِرَادِهِ إِدَامًا

Bagian ketiga adalah sesuatu yang bukan merupakan lauk jika dimakan sendiri tanpa roti, namun menjadi lauk jika dimakan bersama roti, dan memang biasa dijadikan lauk menurut kebiasaan khusus, bukan kebiasaan umum, seperti madu, dibs (sirup kurma), dan kurma. Maka, seseorang tidak dianggap melanggar sumpah jika memakannya sendirian, tetapi dianggap melanggar jika memakannya bersama roti, karena dengan roti ia telah menjadi lauk, sedangkan jika sendiri bukanlah lauk.

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أنَّهُ أَعْطَى سَائِلًا خُبْزًا وَتَمْرًا وَقَالَ هَذَا إِدَامُ هَذَا

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau memberikan kepada seorang peminta roti dan kurma, lalu beliau bersabda, “Ini adalah lauk dari yang itu.”

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا اخْتُلِفَ فِيهِ لِاخْتِلَافِ أَحْوَالِهِ فَيُؤْكَلُ تَارَةً قُوتًا وَتَارَةً أُدْمًا كالأزر وَالْبَاقِلَّاءِ فَلَهُ فِي أَكْلِهِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Bagian keempat adalah sesuatu yang diperselisihkan hukumnya karena perbedaan keadaan penggunaannya; kadang-kadang dimakan sebagai makanan pokok dan kadang-kadang sebagai lauk, seperti gandum dan kacang fava. Maka dalam memakannya terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَأْكُلَهُ مَخْبُوزًا فَقَدْ صَارَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ قُوتًا فَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ

Salah satunya adalah jika ia memakannya dalam keadaan sudah dipanggang, maka dengan sifat seperti ini ia telah menjadi makanan pokok, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَأْكُلَهُ مَطْبُوخًا بِخُبْزٍ أَوْ يَصْنَعَ بِهِ فَقَدْ صَارَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ إِدَامًا يَحْنَثُ بِأَكْلِهِ

Keadaan kedua adalah jika ia memakannya dalam keadaan dimasak bersama roti atau dibuat dengannya, maka dengan sifat seperti ini ia telah menjadi lauk, sehingga ia melanggar sumpah jika memakannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَأْكُلَهُ مَطْبُوخًا مُنْفَرِدًا بِغَيْرِ خُبْزٍ فَفِي حِنْثِهِ بِأَكْلِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Keadaan ketiga adalah memakannya dalam keadaan dimasak secara tersendiri tanpa roti, maka dalam hal batalnya sumpah dengan memakannya terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا يَحْنَثُ بِهِ اعْتِبَارًا بِصِفَتِهِ فِي الِائْتِدَامِ

Salah satunya, ia dianggap melanggar sumpah karena memperhatikan sifatnya dalam makanan pelengkap (al-i‘tidām).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ اعْتِبَارًا بِأَصْلِهِ فِي الْأَقْوَاتِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sumpahnya tidak batal dengannya, dengan mempertimbangkan asalnya dalam hal makanan pokok.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ أَنْ يُعْتَبَرَ عُرْفُ بَلَدِهِ فَإِنْ كَانَ فِي عُرْفِهِمْ إِدَامًا كَأَهْلِ الْعِرَاقِ حَنِثَ بِأَكْلِهِ وَإِنْ كَانَ فِي عُرْفِهِمْ قُوتًا كَطَبَرِسْتَانَ لَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat ketiga adalah mempertimbangkan ‘urf (kebiasaan) di negerinya. Jika menurut ‘urf mereka makanan tersebut dianggap lauk-pauk, seperti di kalangan penduduk Irak, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakannya. Namun jika menurut ‘urf mereka makanan tersebut dianggap makanan pokok, seperti di Tabaristan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakannya. Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَكَلْتُ قُوتًا فَالْأَقْوَاتُ مَا قَامَتْ بِهَا الْأَبْدَانُ وَأَمْكَنَ الِاقْتِصَارُ عَلَيْهَا وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِالْعُرْفِ وَالْعُرْفُ فِيهِ ضَرْبَانِ عُرْفُ شَرْعٍ وَعُرْفُ اسْتِعْمَالٍ

Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak makan qūt,” maka yang dimaksud dengan al-aqwāt adalah makanan pokok yang dapat menopang tubuh dan memungkinkan seseorang mencukupkan diri dengannya. Hal ini ditentukan berdasarkan ‘urf, dan ‘urf dalam hal ini ada dua macam: ‘urf syar‘i dan ‘urf penggunaan (kebiasaan masyarakat).

فَأَمَّا عُرْفُ الشَّرْعِ فَهُوَ مُنْطَلِقٌ عَلَى مَا وَجَبَتْ فِيهِ زَكَاةُ الْعَيْنِ وَجَازَ إِخْرَاجُهُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِهِ سَوَاءٌ دَخَلَ فِي عُرْفِ قُوتِهِ أَوْ خَرَجَ عَنْهُ لِأَنَّ عُرْفَ الشَّيْءِ عَامٌّ كَعُمُومِ أَحْكَامِهِ فَيَحْنَثُ بِأَكْلِ التَّمْرِ وَالزَّبِيبِ وَالذُّرَةِ وَالشَّعِيرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَقْوَاتِهِ

Adapun ‘urf menurut syariat adalah berlaku pada apa yang wajib dizakati secara ‘ayn dan boleh dikeluarkan sebagai zakat fitri, maka seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika memakannya, baik makanan itu termasuk makanan pokok menurut kebiasaannya atau tidak, karena ‘urf suatu hal bersifat umum sebagaimana umumya hukum-hukumnya. Maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan kurma, kismis, jagung, dan jelai, meskipun itu bukan termasuk makanan pokoknya.

وَأَمَّا عُرْفُ الِاسْتِعْمَالِ فَمَا خَالَفَ عُرْفَ الشَّرْعِ فَضَرْبَانِ عُرْفُ اخْتِيَارٍ وَعُرْفُ اضطرار

Adapun ‘urf penggunaan, maka yang bertentangan dengan ‘urf syar‘i terbagi menjadi dua: ‘urf ikhtiyār (pilihan) dan ‘urf idtirār (terpaksa).

فَأَمَّا عُرْفُ الِاخْتِيَارِ فَكَالْبَوَادِي يَقْتَاتُونَ أَلْوَانَ الْحُبُوبِ وَسُكَّانِ جَزَائِرِ الْبِحَارِ يَقْتَاتُونَ لُحُومَ الصَّيْدِ وَسُكَّانِ تِلْكَ الْجِبَالِ يَقْتَاتُونَ لُحُومَ الصَّيْدِ فَيَحْنَثُ كُلُّ قَوْمٍ مِنْهُمْ بِأَكْلِ عُرْفِهِمْ فِي أَقْوَاتِهِمْ وَلَا يَحْنَثُونَ بِعُرْفِ غَيْرِهِمْ لِخُصُوصِهِ فِي عُرْفِهِمْ وَيَحْنَثُونَ بِالْعُرْفِ الشَّرْعِيِّ لِعُمُومِهِ فِيهِمْ وَلَا يَحْنَثُ غَيْرُهُمْ بِعُرْفِهِمْ لِخُصُوصِهِ فِيهِمْ

Adapun ‘urf ikhtiyār (kebiasaan pilihan), contohnya adalah seperti orang-orang Badui yang makanan pokoknya adalah berbagai jenis biji-bijian, penduduk pulau-pulau di lautan yang makanan pokoknya adalah daging hasil buruan, dan penduduk pegunungan itu yang makanan pokoknya juga daging hasil buruan. Maka, setiap kelompok dari mereka akan dianggap melanggar sumpah jika memakan makanan pokok menurut kebiasaan mereka sendiri, dan tidak dianggap melanggar jika memakan makanan pokok menurut kebiasaan selain mereka, karena kekhususan makanan itu dalam kebiasaan mereka. Namun, mereka dianggap melanggar sumpah jika memakan makanan pokok menurut ‘urf syar‘i karena sifatnya yang umum bagi mereka, sedangkan selain mereka tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan makanan pokok menurut kebiasaan kelompok tersebut karena kekhususannya pada mereka.

وَأَمَّا عُرْفُ الِاضْطِرَارِ فَكَأَهْلِ الْفَلَوَاتِ يَقْتَاتُونَ الْحَشِيشَ فِي زَمَانِ الْجَدْبِ وَيَقْتَاتُونَ الْأَلْبَانَ فِي غَيْرِهَا فِي زَمَانِ الْخِصْبِ فَيَحْنَثُونَ فِي زَمَانِ الْجَدْبِ بِقُوتِهِمْ فِي الْجَدْبِ وَالْخِصْبِ ويحنثون في زمان الخصب بقوتهم في الخطب دُونَ الْجَدْبِ وَيَكُونُ عُرْفُ الزَّمَانِ مُعْتَبَرًا كَمَا كَانَ عُرْفُ الْمَكَانِ مُعْتَبَرًا

Adapun ‘urf dalam keadaan darurat, contohnya adalah penduduk padang pasir yang mengonsumsi rumput liar sebagai makanan pokok pada masa paceklik, dan mereka mengonsumsi susu pada masa selain itu, yaitu pada masa subur. Maka, mereka dianggap melanggar sumpah pada masa paceklik jika mereka makan makanan pokok mereka pada masa paceklik dan masa subur, dan mereka juga dianggap melanggar sumpah pada masa subur jika mereka makan makanan pokok mereka pada masa subur selain pada masa paceklik. Dengan demikian, ‘urf suatu masa juga diperhitungkan sebagaimana ‘urf suatu tempat juga diperhitungkan.

وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ طَعَامًا حَنِثَ بِكُلِّ مَطْعُومٍ مِنْ قُوتٍ وَإِدَامٍ وَفَاكِهَةٍ وَحَلْوَى لِأَنَّ جَمِيعَهَا مَطْعُومَةٌ فَانْطَلَقَ اسْمُ الطَّعَامِ عَلَيْهَا وَلَا يَحْنَثُ بِأَكْلِ الدَّوَاءِ وَإِنْ كَانَ مَطْعُومًا لِأَنَّ اسْمَ الطَّعَامِ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan makan makanan, maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan segala sesuatu yang dapat dimakan, baik berupa makanan pokok, lauk-pauk, buah-buahan, maupun manisan, karena semuanya termasuk makanan dan nama “makanan” berlaku untuk semuanya. Namun, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan obat, meskipun obat itu dapat dimakan, karena nama “makanan” tidak berlaku untuknya.

وَحُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ فِي الطَّعَامِ إِلَّا بِأَكْلِ الْحِنْطَةِ وَحْدَهَا اعْتِبَارًا بِاسْمِهِ عُرْفًا وَهَذَا فَاسِدٌ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلاًّ لَبَنِي إسْرَائِيلَ إِلاَّ مَا حَرَّمَ إسْرَائِيلَ عَلَى نَفْسِهِ يُرِيدُ كُلَّ مَطْعُومٍ فَصَارَ اسْمُ الطَّعَامِ فِي الشَّرْعِ مُنْطَلِقًا عَلَى كُلِّ مَطْعُومٍ وَفِي الْعُرْفِ مُنْطَلِقًا بِالْعِرَاقِ عَلَى الْحِنْطَةِ فَكَانَ حَمْلُهُ عَلَى عُرْفِ الشَّرْعِ أَوْلَى فَإِنْ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ حُمِلَ فِي جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَا عَلَى نِيَّتِهِ

Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hasan bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dalam hal makanan kecuali dengan memakan gandum saja, berdasarkan penamaan menurut kebiasaan (‘urf). Namun, pendapat ini dianggap tidak benar karena firman Allah Ta‘ala: “Semua makanan dahulu halal bagi Bani Israil kecuali yang diharamkan oleh Israil atas dirinya sendiri,” yang dimaksud adalah semua yang dapat dimakan. Maka, istilah “makanan” dalam syariat berlaku untuk semua yang dapat dimakan, sedangkan dalam kebiasaan (‘urf) di Irak, istilah itu hanya berlaku untuk gandum. Oleh karena itu, mengacu pada pengertian menurut syariat lebih utama. Namun, jika seseorang memiliki niat tertentu, maka dalam semua hal yang telah disebutkan, pengertian disesuaikan dengan niatnya.

فَصْلٌ

Bagian

إِذَا قَالَ وَاللَّهِ لا أكلت الحلوء حَنِثَ بِأَكْلِ كُلِّ مَا عُصِرَ بِالسُّكَّرِ أَوِ الْعَسَلِ أَوِ الدَّقِيقِ حَتَّى امْتَزَجَ بِضَرْبِهِ مِنْ لَوْزٍ أَوْ جَوْزٍ أَوْ دَقِيقٍ فَيَصِيرُ بِالْمَزْجِ دَاخِلًا فِي اسْمِ الْخَلْطِ الْحَلْوَاءِ فَإِنِ انْفَرَدَ بِأَكْلِ سُكَّرٍ أَوْ عَسَلٍ أَوْ دِبْسٍ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ حُلْوٌ وَلَيْسَ بِحَلْوَاءَ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ حَلَاوَةً حَنِثَ بِأَكْلِ هَذَا كُلِّهِ مُنْفَرِدًا وَمُمْتَزِجًا وَلَمْ يَحْنَثْ بِأَكْلِ الْفَوَاكِهِ الْحُلْوَةِ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ شَيْئًا حُلْوًا حَنِثَ بِأَكْلِ هَذَا كُلِّهِ وَحَنِثَ بِأَكْلِ الْفَوَاكِهِ الْحُلْوَةِ وَلَوْ حَلِفَ لَا يَأْكُلُ لَذِيذًا فَأَكَلَ مَا يَسْتَلِذُّهُ هُوَ وَلَا يَسْتَلِذُّهُ غَيْرُهُ حَنِثَ وَلَوْ أَكَلَ مَا يَسْتَلِذُّهُ غَيْرُهُ وَلَا يَسْتَلِذُّهُ هُوَ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَلِذٍّ بِمَا أَكَلَ

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan makan halwa (makanan manis olahan),” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakan segala sesuatu yang dibuat dengan gula atau madu atau tepung, hingga tercampur dengan bahan-bahan seperti kacang almond, kenari, atau tepung, sehingga dengan pencampuran itu masuk dalam kategori nama makanan manis olahan (halwa). Namun, jika ia hanya memakan gula, madu, atau sirup kurma saja, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena itu manis tetapi bukan halwa. Jika ia bersumpah tidak akan makan halawah (permen), maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan semua jenis ini, baik secara terpisah maupun tercampur, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan buah-buahan yang manis. Jika ia bersumpah tidak akan makan sesuatu yang manis, maka ia dianggap melanggar sumpah jika memakan semua jenis ini dan juga buah-buahan yang manis. Jika ia bersumpah tidak akan makan sesuatu yang lezat, lalu ia memakan sesuatu yang menurutnya lezat meskipun orang lain tidak menganggapnya lezat, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun, jika ia memakan sesuatu yang menurut orang lain lezat tetapi ia sendiri tidak menikmatinya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia sendiri tidak merasakan kelezatan dari apa yang ia makan.

وَلَوْ حَلَفَ لَا أَكَلْتُ مُسْتَلَذًّا حَنِثَ بِمَا يَسْتَلِذُّهُ غَيْرُهُ لِأَنَّ الْمُسْتَلَذَّ مِنْ صِفَاتِ الْمَأْكُولِ وَاللَّذِيذَ مِنْ صِفَاتِ الْأَكْلِ

Dan jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan memakan sesuatu yang lezat,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memakan sesuatu yang dianggap lezat oleh orang lain, karena “yang lezat” merupakan sifat dari makanan, sedangkan “lezat” adalah sifat dari cara makan.

فَصْلٌ

Bab

وَإِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَا شَمَمْتُ الرَّيْحَانَ حَنِثَ بِشَمِّ الشَّاهَسْفَرَمَ وهو الريحان الْفَارِسِيُّ وَلَمْ يَحْنَثْ بِشَمِّ الْوَرْدِ وَالْبَنَفْسَجِ وَلَا يشم الْيَاسَمِينِ وَالْخُزَامَى وَاللَّيْنُوفَرِ لِخُرُوجِهَا عَنِ اسْمِ الرَّيْحَانِ بِأَسْمَائِهَا الْمُفْرَدَةِ

Dan jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan mencium bau raihan,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika mencium shahasfaram, yaitu raihan Persia, dan tidak dianggap melanggar jika mencium mawar, bunga violet, atau mencium bunga melati, lavender, dan lotus, karena semuanya keluar dari nama “raihan” dengan nama-nama khususnya masing-masing.

وَلَوْ حَلَفَ لَا شَمَمْتُ مَشْمُومًا حَنِثَ بِشَمِّ هَذَا كُلِّهِ لِأَنَّ اسْمِ الْمَشْمُومِ ينطلق على جمعيه وَلَا يَحْنَثُ بِشَمِّ الْكَافُورِ وَالْمِسْكِ وَالْعَنْبَرِ لِخُرُوجِهَا عَنِ اسْمِ الْمَشْمُومِ بِأَسْمَائِهَا الْمُفْرَدَةِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan mencium sesuatu yang harum,” maka ia melanggar sumpahnya jika mencium semua jenis harum tersebut, karena istilah “sesuatu yang harum” mencakup seluruhnya. Namun, ia tidak dianggap melanggar sumpah jika mencium kapur barus, misik, dan ambar, karena ketiganya tidak termasuk dalam istilah “sesuatu yang harum” menurut nama-nama khususnya.

وَلَوْ حَلَفَ لَا يَشَمُّ طِيبًا حَنِثَ بِشَمِّ الْكَافُورِ وَالْمِسْكِ وَالْعَنْبَرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِشَمِّ الْمَشْمُومِ لِخُرُوجِهِ عَنِ اسْمِ الطِّيبِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan mencium wewangian, maka ia dianggap melanggar sumpah jika mencium kapur barus, misik, dan ambar, namun tidak dianggap melanggar jika mencium bunga-bungaan, karena bunga-bungaan tidak termasuk dalam kategori wewangian.

وَلَوْ حَلَفَ لَا شَمَمْتُ مُسْتَطَابًا حَنِثَ بِشَمِّ هَذَا كُلِّهِ لِأَنَّهُ مُسْتَطَابُ الرَّائِحَةِ

Jika seseorang bersumpah, “Aku tidak akan mencium sesuatu yang harum,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika mencium semua benda yang disebutkan ini, karena semuanya memiliki aroma yang harum.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا قَالَ وَاللَّهِ لَا لَبِسْتُ حُلِيًّا حَنِثَ عَلَى الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاللُّؤْلُؤِ وَالْجَوْهَرِ

Dan jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan memakai perhiasan,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya jika memakai emas, perak, mutiara, dan permata.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ بِاللُّؤْلُؤِ وَالْجَوْهَرِ حَتَّى يَمْتَزِجَ بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ اسْتِدْلَالًا بِالْعُرْفِ وَاحْتِجَاجًا بِالِاسْمِ

Abu Hanifah berkata, “Seseorang tidak dianggap melanggar sumpah dengan (menyebut) mutiara dan permata, kecuali jika keduanya bercampur dengan emas atau perak, berdasarkan kebiasaan (‘urf) dan dengan alasan penamaan (istilah).”

وَدَلِيلُنَا نَصُّ الشَّرْعِ بِخِلَافِهِ قَالَ اللَّهُ تعالى وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْماً طَرِياً وَتَسْتَخْرَجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَالْمُسْتَخْرَجُ مِنْهُ هُوَ اللُّؤْلُؤُ وَالْجَوْهَرُ وَالْمَرْجَانُ فَجَعَلَهُ حُلِيًّا مَلْبُوسًا

Dan dalil kami adalah nash syariat yang menunjukkan sebaliknya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Dialah yang menundukkan laut untukmu agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar dan mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai.” Yang dimaksud dengan sesuatu yang dikeluarkan dari laut itu adalah mutiara, permata, dan marjan, sehingga Allah menjadikannya sebagai perhiasan yang dipakai.

وَقَالَ تَعَالَى يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤاً وَلِبَاسَهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka diberi perhiasan di dalamnya dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.”

قَرَأَ عَاصِمٌ وَنَافِعٌ لُؤْلُؤًا بِالنَّصْبِ وَقَرَأَ الْبَاقُونَ بِالْخَفْضِ فَالنَّصْبُ مَحْمُولٌ عَلَى الِانْفِرَادِ وَالْخَفْضُ مَحْمُولٌ عَلَى الْأَمْرَيْنِ مِنَ الِانْفِرَادِ وَالِامْتِزَاجِ وَلِأَنَّ مَا كَانَ حُلِيًّا بِامْتِزَاجِهِ كَانَ حُلِيًّا بِانْفِرَادِهِ كَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلِأَنَّ الْحُلِيَّ مَا يُرَادُ إِمَّا لِلزِّينَةِ أَوْ لِلْمُبَاهَاةِ وَهُمَا فِي الْحُلِيِّ اللُّؤْلُؤِ وَالْجَوْهَرِ أَوْفَى مِنْهُمَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

‘Ashim dan Nafi‘ membaca kata “lu’lu’an” dengan harakat nashab, sedangkan para qari’ lainnya membacanya dengan harakat khafdh. Bacaan nashab dimaknai sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan bacaan khafdh mencakup dua hal, yaitu berdiri sendiri dan bercampur. Karena sesuatu yang menjadi perhiasan dengan bercampur, juga menjadi perhiasan ketika berdiri sendiri, seperti emas dan perak. Selain itu, perhiasan itu dimaksudkan baik untuk keindahan maupun untuk kebanggaan, dan kedua tujuan ini pada perhiasan berupa mutiara dan permata lebih sempurna dibandingkan pada emas dan perak.

فَأَمَّا التَّحَلِّي بِالْخَرَزِ وَالصُّفْرِ فَيَحْنَثُ بِهِ مَنْ كَانَ فِي عُرْفِهِمْ حُلِيًّا كَالْبَوَادِي وَسُكَّانِ السَّوَادِ وَلَا يَحْنَثُ بِهِ مَنْ خَرَجَ عَنْ عُرْفِهِمْ مِنْ سَائِرِ النَّاسِ

Adapun memakai perhiasan dari manik-manik dan kuningan, maka seseorang dianggap melanggar sumpah jika di lingkungan mereka hal itu dianggap sebagai perhiasan, seperti di kalangan orang-orang Badui dan penduduk pedesaan. Namun, bagi orang-orang yang di luar kebiasaan mereka dari kalangan masyarakat lainnya, maka tidak dianggap melanggar sumpah.

فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا فَلَا فَرْقَ فِي الْحِنْثِ بِهِ بَيْنَ مُبَاحِهِ وَمَحْظُورِهِ فَلَوْ لَبِسَ ثَوْبًا مَنْسُوجًا بِالذَّهَبِ لَمْ يَحْنَثْ به لِأَنَّهُ بِاسْمِ الثَّوْبِ أَخَصُّ مِنْهُ بِاسْمِ الْحُلِيِّ وَكَذَلِكَ لَوْ تَقَلَّدَ بِسَيْفٍ مُحَلًّى لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ السَّيْفَ لَيْسَ بِحُلِيٍّ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ حُلِيٌّ فَأَمَّا لُبْسُ مِنْطَقَةٍ مُحَلَّاةٍ بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ فَفِي الْحِنْثِ بِهَا وجهان

Jika hal ini telah tetap, maka tidak ada perbedaan dalam pelanggaran sumpah antara yang mubah dan yang terlarang. Maka, jika seseorang mengenakan pakaian yang ditenun dengan emas, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena nama “pakaian” lebih khusus daripada nama “perhiasan”. Demikian pula, jika ia memakai pedang yang dihiasi, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena pedang bukanlah perhiasan, meskipun terdapat perhiasan padanya. Adapun mengenakan ikat pinggang yang dihiasi emas atau perak, maka dalam hal pelanggaran sumpah dengannya terdapat dua pendapat.

أحدهما يحنث بها لِأَنَّهَا مِنْ حُلِيِّ الرِّجَالِ

Salah satunya menyebabkan ia melanggar sumpah karena itu termasuk perhiasan laki-laki.

وَالثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهَا لِأَنَّهَا مِنَ الْآلَاتِ الْمُحَلَّاةِ كَالسَّيْفِ وَيَحْنَثُ بِلُبْسِ الْخَاتَمِ ذَهَبًا كَانَ أَوْ فِضَّةً

Dan yang kedua, ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakainya karena itu termasuk alat yang dihias, seperti pedang. Namun, ia dianggap melanggar sumpah jika memakai cincin, baik dari emas maupun perak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَحْنَثُ بِلُبْسِهِ إِنْ كَانَ مِنْ فِضَّةٍ وَيَحْنَثُ إِنْ كَانَ مِنْ ذَهَبٍ لِأَنَّ الْفِضَّةَ مَأْلُوفَةٌ وَالذَّهَبَ غَيْرُ مَأْلُوفٍ وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ مَأْلُوفَ الْحُلِيِّ كَغَيْرِ مَأْلُوفِهِ كَالْأَسْوِرَةِ وَالْأَطْوَاقِ وَلِأَنَّ مَا كَانَ حُلِيًّا فِي الْأَسْوِرَةِ وَالْأَطْوَاقِ كَانَ حُلِيًّا فِي الْخَوَاتِيمِ كَالذَّهَبِ وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ تَحَلَّى خَاتَمًا مِنْ ذهبٍ ثُمَّ نَزَعَهُ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang tidak dianggap melanggar sumpahnya jika memakai cincin dari perak, namun dianggap melanggar jika memakai cincin dari emas, karena perak sudah biasa digunakan sedangkan emas tidak lazim. Pendapat ini tidak benar, karena perhiasan yang biasa digunakan sama saja dengan yang tidak biasa digunakan, seperti gelang dan kalung. Selain itu, sesuatu yang dianggap perhiasan pada gelang dan kalung juga dianggap perhiasan pada cincin, seperti halnya emas. Telah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah memakai cincin dari emas, kemudian beliau melepasnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ رَجُلًا ثُمَّ سَلَّمَ عَلَى قومٍ وَالْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ فِيهِمْ لَمْ يَحْنَثْ إِلَّا أَنْ يَنْوِيَهُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan seorang laki-laki, kemudian ia memberi salam kepada suatu kaum yang di dalamnya terdapat orang yang dimaksud dalam sumpahnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika ia memang meniatkannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ رَجُلًا فَسَلَّمَ عَلَيْهِ حَنِثَ لِأَنَّ السَّلَامَ كَلَامٌ أَلَا تَرَى أَنَّ الصَّلَاةَ تَبْطُلُ بِهِ إِذَا كَانَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan seorang laki-laki, lalu ia memberi salam kepadanya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, karena salam itu termasuk berbicara. Bukankah engkau melihat bahwa shalat menjadi batal karenanya jika dilakukan di luar tempatnya?

فَأَمَّا إِذَا سَلَّمَ عَلَى جَمَاعَةٍ وَالْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ فِيهِمْ فَلِلْحَالِفِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Adapun jika seseorang mengucapkan salam kepada sekelompok orang dan orang yang menjadi objek sumpah ada di antara mereka, maka bagi orang yang bersumpah terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَقْصِدَهُ بِسَلَامِهِ عَلَيْهِمْ فَهَذَا حَانِثٌ

Salah satunya adalah jika ia memang berniat menyapanya dengan salam kepada mereka, maka yang demikian itu dianggap melanggar sumpah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْزِلَهُ بِنِيَّتِهِ وَيَقْصِدُ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى غَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ حَانِثٍ لِأَنَّ الْأَيْمَانَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْمَقَاصِدِ فِي عَقْدِهَا فَحُمِلَتْ عَلَيْهِ فِي حَلِّهَا فَلَا وَجْهَ لِمَا عَدَا هَذَا الْقَوْلَ

Keadaan kedua adalah ketika seseorang mengecualikannya dengan niatnya, dan ia bermaksud memberi salam kepada selain orang tersebut, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Sebab, sumpah-sumpah itu mengikuti maksud dalam pengikatannya, maka demikian pula dalam pembatalannya. Tidak ada alasan untuk pendapat selain ini.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ قَصْدٌ فِي إِرَادَتِهِ وَلَا فِي عَزْلِهِ فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ عَالِمًا أَنَّهُ فِيهِمْ أَوْ غَيْرَ عَالِمٍ فَإِنْ علم أن فِيهِمْ فَفِي حِنْثِهِ بِإِطْلَاقِ سَلَامِهِ عَلَيْهِمْ قَوْلَانِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang tidak memiliki niat dalam keinginannya maupun dalam pengecualiannya. Maka, tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mengetahui bahwa di antara mereka ada orang yang dimaksud, atau ia tidak mengetahuinya. Jika ia mengetahui bahwa orang yang dimaksud ada di antara mereka, maka mengenai batal atau tidaknya sumpahnya karena ia mengucapkan salam secara umum kepada mereka, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الَّذِي نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ هَاهُنَا وَنَقَلَهُ الرَّبِيعُ فِي الْأُمِّ أَنَّهُ لَا يَحْنَثُ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَقْصُودٍ بِالْكَلَامِ

Salah satunya, yaitu pendapat yang dinukil oleh al-Muzani di sini dan oleh ar-Rabi‘ dalam al-Umm, bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena hal itu tidak dimaksudkan dalam ucapan tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي حَكَاهُ الرَّبِيعُ مُنْفَرِدًا أَنَّ فِيهِ قَوْلًا آخَرَ أَنَّهُ يَحْنَثُ وَهُوَ أَظْهَرُ لِأَنَّ السَّلَامَ عَلَيْهِمْ عَامٌّ فَدَخَلَ فِي عُمُومِهِمْ

Pendapat kedua, yang diriwayatkan oleh ar-Rabi‘ secara tersendiri, menyatakan bahwa ada pendapat lain bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dan ini lebih jelas, karena ucapan salam kepada mereka bersifat umum sehingga ia termasuk dalam keumuman mereka.

وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ فِيهِمْ أَوْ عَلِمَ فَنَسِيَ هَلْ يَكُونُ فِعْلُ الْجَاهِلِ وَالنَّاسِي فِي الْأَيْمَانِ كَالْعَالِمِ وَالذَّاكِرِ؟ فِيهِ قَوْلَانِ

Jika seseorang tidak mengetahui bahwa ia termasuk di antara mereka, atau ia mengetahui namun lupa, apakah perbuatan orang yang tidak tahu dan yang lupa dalam masalah sumpah (al-aymān) sama hukumnya dengan orang yang tahu dan yang ingat? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهَا لَغْوٌ لَا يَحْنَثُ بِهَا فَعَلَى هَذَا لَا يَحْنَثُ بِهَذَا السَّلَامِ

Salah satunya adalah bahwa itu adalah ucapan sia-sia yang tidak menyebabkan sumpahnya batal, maka menurut pendapat ini, salam tersebut tidak membatalkan sumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إنَّهَا لَازِمَةٌ يَتَعَلَّقُ بِهَا الْحِنْثُ فَعَلَى هَذَا فِي حِنْثِهِ بِهَذَا السَّلَامِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sumpah tersebut bersifat mengikat dan pelanggaran (al-hinth) berkaitan dengannya. Berdasarkan hal ini, mengenai pelanggaran sumpah dengan salam tersebut terdapat dua pendapat.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِنْ قَالَ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُكَ وَاللَّهِ لَا كَلَّمْتُكَ حَنِثَ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِإِعَادَةِ الْيَمِينِ مُكَلِّمًا لَهُ وَلَوْ كَلَّمَهُ الْمَحْلُوفُ عَلَيْهِ مَجْنُونٌ أَوْ مُغْمًى عَلَيْهِ وَكَانَ لَا يَعْلَمُ بِالْكَلَامِ لَمْ يَحْنَثْ وَإِنْ عَلِمَ بِالْكَلَامِ وَلَمْ يَفْهَمْهُ حَنِثَ وَلَوْ كَلَّمَهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَإِنْ كَانَ كَلَامًا يوقظ مِثْلَ النَّائِمِ حَنِثَ بِهِ وَإِنْ كَانَ لَا يُوقِظُ مِثْلَ النَّائِمِ لَمْ يَحْنَثْ وَلَوْ كَلَّمَهُ وَهُوَ بَعِيدٌ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ بِحَيْثُ يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَ مِثْلَ كَلَامِهِ حَنِثَ بِهِ سَمِعَ أَوْ لَمْ يَسْمَعْ وَإِنْ كَانَ بِحَيْثُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهُ لَمْ يَحْنَثْ

Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu, demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya, karena dengan mengulangi sumpah tersebut ia telah menjadi orang yang berbicara kepadanya. Jika orang yang disumpahi itu dalam keadaan gila atau pingsan dan tidak mengetahui adanya pembicaraan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun, jika ia mengetahui adanya pembicaraan meskipun tidak memahaminya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Jika ia berbicara kepadanya saat orang itu sedang tidur, maka jika pembicaraannya dapat membangunkan orang yang tidur seperti itu, ia dianggap melanggar sumpah; tetapi jika pembicaraannya tidak dapat membangunkan orang yang tidur seperti itu, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Jika ia berbicara kepadanya dari jarak jauh, maka jika pada jarak tersebut memungkinkan orang seperti itu mendengar pembicaraannya, ia dianggap melanggar sumpah, baik orang itu mendengar maupun tidak; namun jika pada jarak tersebut tidak mungkin orang seperti itu mendengarnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ كَتَبَ إِلَيْهِ كِتَابًا أَوْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولًا فَالْوَرَعُ أَنْ يَحْنَثَ وَلَا يُبَيِّنُ ذَلِكَ لِأَنَّ الرَّسُولَ وَالْكِتَابَ غَيْرُ الْكَلَامِ قَالَ الْمُزَنِيُّ رحمه الله هذا عندي به وبالحق أولى قال الله جل ثناؤه آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَ لَيالٍ سَوِياً إلى قوله بُكْرَةً وَعَشِياً فأفهمهم ما يقوم مقام الكلام ولم يتكلم وقد احتج الشافعي بأن الهجرة محرمةٌ فوق ثلاثٍ فَلَوْ كَتَبَ أَوْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى كَلَامِهِ لَمْ يُخْرِجْهُ هَذَا مِنَ الْهِجْرَةِ التي يأثم بها قال المزني رحمه الله فلو كان الكتاب كلاماً لخرج به من الهجرة فتفهم

Syafi‘i berkata, “Jika seseorang menulis surat kepadanya atau mengirim utusan kepadanya, sikap wara‘ adalah ia tetap melanggar sumpahnya dan tidak menjelaskan hal itu, karena utusan dan surat itu bukanlah ucapan.” Al-Muzani rahimahullah berkata, “Menurutku, inilah yang benar dan lebih utama. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Tandamu adalah bahwa kamu tidak berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat,’ hingga firman-Nya: ‘pagi dan petang.’ Maka ia memberi pemahaman kepada mereka dengan sesuatu yang menggantikan ucapan, namun ia tidak berbicara.” Syafi‘i berdalil bahwa hijrah (memutus hubungan) diharamkan lebih dari tiga hari. Jika seseorang menulis surat atau mengirim utusan kepadanya, padahal ia mampu berbicara dengannya, maka perbuatan itu tidak mengeluarkannya dari hukum hijrah yang ia berdosa karenanya. Al-Muzani rahimahullah berkata, “Seandainya surat itu dianggap sebagai ucapan, tentu ia keluar dari hukum hijrah karenanya. Maka pahamilah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ فُلَانًا فَيَكْتُبُ إِلَيْهِ كِتَابًا أَوْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولًا أَوْ أَشَارَ إِلَيْهِ بِيَدِهِ أَوْ رَمَزَ إِلَيْهِ بِعَيْنٍ أَوْ حَاجِبٍ لَمْ يَحْنَثْ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan berbicara dengan si fulan, lalu ia menulis surat kepadanya, atau mengirim utusan kepadanya, atau memberi isyarat dengan tangannya, atau memberi isyarat dengan matanya atau alisnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.

وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

Dan demikian pula pendapat Abu Hanifah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَحْنَثُ وَذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِيهِ فَجَعَلَهُ بَعْضُهُمْ قَوْلًا لَهُ ثَانِيًا وَتَبِعَهُمْ فِيهِ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ فَخَرَجَ حِنْثُهُ بِذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْهِ وَجَعَلُوا كَلَامَ الْمُزَنِيِّ دَلِيلًا عَلَيْهِمَا وَاخْتِيَارًا لِلصَّحِيحِ مِنْهُمَا

Malik berpendapat bahwa ia dianggap melanggar sumpah, dan pendapat ini disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam pendapat lamanya. Para pengikutnya berbeda pendapat tentang hal ini; sebagian dari mereka menjadikannya sebagai pendapat kedua dari asy-Syafi‘i, dan pendapat ini diikuti oleh Abu Hamid al-Isfara’ini. Maka, pelanggaran sumpah dalam hal ini dikaitkan dengan dua pendapat asy-Syafi‘i, dan mereka menjadikan pernyataan al-Muzani sebagai dalil bagi keduanya serta sebagai pilihan terhadap pendapat yang paling sahih di antara keduanya.

وَذَهَبَ جُمْهُورُهُمْ إِلَى أَنَّهُ ذَكَرَهُ حِكَايَةً عَنْ غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِمَذْهَبٍ لَهُ فَلَا يَحْنَثُ بِهِ قَوْلًا وَجَعَلُوا كَلَامَ الْمُزَنِيِّ احْتِجَاجًا لِلشَّافِعِيِّ وَرَدًّا عَلَى مَالِكٍ

Mayoritas ulama mereka berpendapat bahwa ia (Imam Syafi‘i) menyebutkannya hanya sebagai kisah dari orang lain dan bukan sebagai mazhabnya sendiri, sehingga tidak dianggap sebagai pendapatnya. Mereka menjadikan perkataan al-Muzani sebagai hujjah bagi Syafi‘i dan sebagai bantahan terhadap Malik.

وَاسْتَدَلَّ مَالِكٌ وَمَنْ تَابَعَهُ عَلَى حِنْثِهِ بِالْكِتَابِ وَالرَّسُولِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَجَعَلَ الْوَحْيَ كَلَامًا لِاسْتِثْنَائِهِ مِنْهُ وَقَالَ تَعَالَى آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَةَ أيَّامٍ إِلاَّ رَمْزاً فَجَعَلَ الرَّمْزَ كَلَامًا لِاسْتِثْنَائِهِ مِنْهُ وَلِأَنَّهُ يَقُومُ فِي الْأَفْهَامِ مَقَامَ الْإِفْهَامِ فَصَارَ فِي حُكْمِ الْكَلَامِ

Malik dan para pengikutnya berdalil tentang batalnya sumpah dengan Al-Kitab dan Rasul, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau mengutus seorang rasul.” Maka Allah menjadikan wahyu sebagai bentuk kalam (pembicaraan) karena dikecualikan darinya. Dan firman-Nya Ta‘ala: “Tandamu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat.” Maka Allah menjadikan isyarat sebagai bentuk kalam karena dikecualikan darinya. Karena isyarat dapat menggantikan pemahaman, maka ia diposisikan dalam hukum kalam.

وَدَلِيلُنَا مَا اسْتَدَلَّ بِهِ الْمُزَنِيُّ مِنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَ لَيَالٍ سَوياً فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِياً فَدَلَّ عَلَى خُرُوجِ الْوَحْيِ وَالْإِشَارَةِ مِنَ الْكَلَامِ الَّذِي نَهَى عَنْهُ

Dan dalil kami adalah apa yang dijadikan dalil oleh al-Muzani dari firman Allah Ta‘ala: “Tandamu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam dalam keadaan sehat.” Maka ia keluar menemui kaumnya dari mihrab, lalu ia memberi isyarat kepada mereka agar mereka bertasbih di waktu pagi dan petang. Maka ini menunjukkan bahwa wahyu dan isyarat tidak termasuk dalam pembicaraan yang dilarang.

وَقَالَ تَعَالَى فِي قِصَّةِ مَرْيَمَ إِنِّي نَذَرْتُ لِلْرَّحْمَنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ اليَوْمَ إنْسِياً إِلَى قَوْلِهِ فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ فَدَلَّ عَلَى خروج الإشارة مِنَ الْكَلَامِ الَّذِي نُهِيَتْ عَنْهُ وَلِأَنَّ كَلَامَهُ مُخْتَصٌّ بِجَارِحَةِ لِسَانِهِ وَكَلَامِ الرَّسُولِ بِلِسَانِ غَيْرِهِ وَالْكِتَابِ مِنْ أَفْعَالِ يَدِهِ فَصَارَ كَلَامُهُ مُخَالِفًا لِرِسَالَتِهِ وَكِتَابُهُ مُخْرِجًا عَنْ حُكْمِ كَلَامِهِ وَلِأَنَّ الْأَيْمَانَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْأَسَامِي دُونَ الْمَعَانِي وَالْأَسْمَاءُ في ذلك مختلفة فوجب أن يكون فِي أَحْكَامِ الْأَيْمَانِ مُخْتَلِفَةً وَإِنِ اسْتَدَلَّ الْمُزَنِيُّ بِمَا حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ بِأَنَّ الْهِجْرَةَ مُحَرَّمَةٌ فَوْقَ ثَلَاثٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثلاثٍ وَالسَّابِقُ أَسْبَقُهُمَا إِلَى الْجَنَّةِ

Dan Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah Maryam: “Sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk ar-Rahman, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun,” hingga firman-Nya: “Lalu ia menunjuk kepadanya.” Maka ini menunjukkan bahwa isyarat tidak termasuk dalam pembicaraan yang dilarang baginya. Karena pembicaraan itu khusus dengan anggota lisan, sedangkan pembicaraan seorang rasul dengan lisan orang lain, dan tulisan termasuk perbuatan tangan. Maka pembicaraannya berbeda dengan risalahnya, dan tulisannya keluar dari hukum pembicaraannya. Dan karena sumpah-sumpah itu dibawa pada nama-nama, bukan pada makna-maknanya, dan nama-nama dalam hal itu berbeda-beda, maka wajib hukumnya bahwa dalam hukum-hukum sumpah juga berbeda. Dan jika al-Muzani berdalil dengan apa yang ia riwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa hijrah (memutus hubungan) diharamkan lebih dari tiga hari, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Tidak halal bagi seorang Muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, dan yang lebih dahulu meminta maaf adalah yang lebih dahulu masuk surga.”

قَالَ فَلَوْ كَتَبَ أَوْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى كَلَامِهِ لَمْ يُخْرِجْهُ هَذَا مِنَ الْهِجْرَةِ الَّتِي أَثِمَ بِهَا

Ia berkata: Maka jika seseorang menulis atau mengirim pesan kepadanya, padahal ia mampu berbicara langsung dengannya, hal itu tidak mengeluarkannya dari perbuatan memutus hubungan (hijrah) yang ia berdosa karenanya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أبي إسحاق المروزي إنه عَلَى ظَاهِرِهِ أَنَّهُ لَا يَخْرُجُ بِرَسُولِهِ وَكِتَابِهِ عَنْ مَأْثَمِ الْهِجْرَةِ فَيَكُونُ دَلِيلًا فِي الْمَسْأَلَةِ

Salah satunya, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa maknanya sesuai zahirnya, yaitu seseorang tidak keluar dari dosa hijrah hanya dengan membawa utusan dan suratnya, sehingga hal ini menjadi dalil dalam permasalahan tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ مَأْثَمِ الْهِجْرَةِ كَالْكَلَامِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَلَامًا لِأَنَّ مَقْصُودَ الْكَلَامِ فِي الْهِجْرَةِ نَفْيُ مَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْوَحْشَةِ وَعَوْدُهُمَا إِلَى مَا كَانَا عَلَيْهِ مِنَ الْأُنْسَةِ فَقَامَ ذَلِكَ مَقَامَ الْكَلَامِ فِي الْهِجْرَةِ اعتباراً بمعنى وَلَمْ يَقُمْ مَقَامَ الْكَلَامِ فِي الْيَمِينِ اعْتِبَارًا بِالِاسْمِ لِمَا ذَكَرْنَا مِنْ حَمْلِ الْأَيْمَانِ عَلَى الْأَسَامِي وَحَمْلِ الْأَحْكَامِ عَلَى الْمَعَانِي

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa seseorang keluar dari dosa hijrah (memutus hubungan) dengan berbicara, meskipun bukan berupa ucapan, karena tujuan dari berbicara dalam konteks hijrah adalah menghilangkan permusuhan di antara keduanya dan mengembalikan mereka kepada keakraban seperti semula. Maka hal itu menempati posisi ucapan dalam masalah hijrah, jika dilihat dari maknanya. Namun, hal itu tidak menempati posisi ucapan dalam sumpah, jika dilihat dari segi lafaz, karena sebagaimana telah disebutkan, sumpah didasarkan pada lafaz-lafaz, sedangkan hukum-hukum didasarkan pada makna.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَتَيْنِ فَهُوَ مِنَ الِاسْتِثْنَاءِ الْمُنْقَطِعِ بِمَعْنَى لَكِنْ فَجَازَ أَنْ يَعُودَ إِلَى غَيْرِ جِنْسِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالُكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ مَعْنَاهُ لَكِنْ كُلُوهُ بِتِجَارَةٍ

Adapun jawaban terhadap dua ayat tersebut adalah bahwa itu termasuk istisna’ munqathi‘, yang maknanya seperti “lakin” (tetapi), sehingga boleh kembali kepada selain jenisnya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali jika berupa perdagangan yang didasarkan pada kerelaan di antara kalian,” maksudnya adalah: tetapi makanlah dengan cara perdagangan.

فَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ فَقَدْ تَقَدَّمَ الِانْفِصَالُ عَنْهُ بِأَنَّ الْأَيْمَانَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْأَسَامِي دُونَ الْمَعَانِي

Adapun istidlāl, telah dijelaskan sebelumnya bahwa sumpah-sumpah itu didasarkan pada lafaz, bukan pada makna.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِنْ كَلَّمَ غَيْرَهُ بِكَلَامٍ يَسْمَعُهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَعْرِيضٌ لَهُ لَمْ يَحْنَثْ بِهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ تَعْرِيضٌ لَهُ فَإِنْ كَانَ مُوَاجِهًا بِالْكَلَامِ حَنِثَ بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مُكَلِّمًا لَهُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُوَاجِهٍ بِهِ لَمْ يَحْنَثْ رُوِيَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَمَّا أَرَادَتِ الْخُرُوجَ إِلَى الْبَصْرَةِ أَشَارَتْ عَلَيْهَا أُمُّ سَلَمَةَ أَنْ لَا تَفْعَلَ وَحَلَفَتْ عَلَيْهَا إِنْ خَرَجَتْ أَنْ لَا تُكَلِّمَهَا فَلَمَّا خَرَجَتْ وَعَادَتْ إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ مُعَرِّضَةً بِهَا يَا حَائِطُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ يَا حَائِطُ؟ أَلَمْ أَنْهَكَ؟ فَبَلَّغَتْ غَرَضَهَا وَسَلِمَتْ مِنَ الْحِنْثِ والله أعلم

Jika ia berbicara kepada orang lain dengan ucapan yang dapat didengar, maka jika dalam ucapannya itu tidak ada sindiran kepadanya, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun jika terdapat sindiran kepadanya, maka jika ia mengucapkannya secara langsung kepadanya, ia dianggap melanggar sumpah karena ia telah menjadi orang yang berbicara kepadanya. Tetapi jika tidak secara langsung, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika hendak pergi ke Bashrah, Ummu Salamah menasihatinya agar tidak melakukannya dan bersumpah atasnya bahwa jika ia keluar, ia tidak akan berbicara kepadanya. Ketika ‘Aisyah keluar dan kembali ke Madinah, Ummu Salamah berkata dengan sindiran kepadanya, “Wahai dinding, bukankah sudah kukatakan kepadamu, wahai dinding? Bukankah sudah kularang engkau?” Maka ia telah menyampaikan maksudnya dan terhindar dari pelanggaran sumpah. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَرَى كَذَا إِلَّا رَفَعَهُ إِلَى قاضٍ فَرَآهُ فَلَمْ يُمْكِنْهُ رَفْعُهُ إِلَيْهِ حَتَى مَاتَ ذَلِكَ الْقَاضِي لَمْ يَحْنَثْ حَتَّى يُمْكِنَهُ فَيُفَرِّطُ وَإِنْ عزل فإن كَانَتْ نِيَّتُهُ أَنْ يَرْفَعَهُ إِلَيْهِ إِنْ كَانَ قَاضِيًا فَلَا يَجِبُ رَفْعُهُ إِلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نيةٌ خَشِيتُ أَنْ يَحْنَثَ إِنْ لَمْ يَرْفَعْهُ إِلَيْهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memperlihatkan sesuatu kecuali kepada seorang qadhi, lalu ia melihatnya dan tidak memungkinkan baginya untuk memperlihatkannya kepada qadhi tersebut hingga qadhi itu meninggal, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya sampai memungkinkan baginya untuk memperlihatkannya namun ia lalai. Dan jika qadhi tersebut diberhentikan, maka jika niatnya adalah memperlihatkan kepada orang itu selama ia masih menjadi qadhi, maka tidak wajib memperlihatkannya kepadanya. Namun jika ia tidak memiliki niat demikian, aku khawatir ia dianggap melanggar sumpahnya jika tidak memperlihatkannya kepadanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَرْفَعَ إِلَى الْقَاضِي مَا رَآهُ مِنْ لُقَطَةٍ أَوْ وَصِيَّةٍ أَوْ مُنْكَرٍ فَلَا يَخْلُو حَالُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila seseorang bersumpah untuk tidak melaporkan kepada qadhi apa yang ia lihat berupa barang temuan, wasiat, atau kemungkaran, maka keadaannya tidak lepas dari tiga bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يُعَيِّنَ الْقَاضِي وَيَصِفَهُ بِالْقَضَاءِ

Salah satunya adalah bahwa penguasa harus menetapkan seorang qāḍī dan menyifatinya sebagai pejabat kehakiman.

وَالثَّانِي أَنْ يُعَيِّنَهُ وَلَا يَصِفَهُ بِالْقَضَاءِ

Kedua, ia harus menyebutkannya secara spesifik dan tidak menyifatinya dengan kata “qadhā’” (putusan hukum).

وَالثَّالِثُ أَنْ يَصِفَهُ بِالْقَضَاءِ وَلَا يُعَيِّنَهُ

Ketiga, yaitu menyifatinya dengan qadhā’ tanpa menentukannya secara spesifik.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ إِذَا وَصَفَهُ وَعَيَّنَهُ بِالْقَضَاءِ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَرْفَعُهُ إِلَى فُلَانٍ الْقَاضِي أَوْ إِلَى هَذَا الْقَاضِي فَلِلْحَالِفِ فِيمَا رَآهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

Adapun bagian pertama, yaitu apabila ia menyebutkan dan menentukan hakimnya dalam perkara, yaitu dengan mengatakan, “Aku serahkan perkara ini kepada Fulan sang qādī” atau “kepada qādī ini”, maka bagi orang yang bersumpah dalam hal ini terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَرْفَعَهُ إِلَيْهِ فِي وِلَايَتِهِ فَقَدْ بَرَّ فِي يَمِينِهِ لِوَفَائِهِ بِهَا

Salah satunya adalah ia menyerahkannya kepada orang yang berwenang dalam wilayahnya, maka ia telah menepati sumpahnya karena telah memenuhi apa yang dijanjikannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا يَرْفَعَهُ إِلَيْهِ حَتَّى يَمُوتَ الْقَاضِي أَوِ الْحَالِفُ فَيُنْظَرُ

Keadaan kedua adalah tidak mengangkat perkara itu kepadanya hingga hakim atau orang yang bersumpah meninggal dunia, maka hal itu perlu diteliti.

فَإِنْ كَانَ قَدَرَ عَلَى رَفْعِهِ إِلَيْهِ قَبْلَ الْمَوْتِ حَنِثَ فِي يَمِينِهِ لِتَقْصِيرِهِ بِهَا وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى رَفْعِهِ إِلَيْهِ نُظِرَ فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ لِقُصُورِ الزَّمَانِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ زَمَانَ الْإِمْكَانِ شَرْطٌ فِي الْبِرِّ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ لِعُذْرٍ مَانِعٍ مِنْ إِكْرَاهٍ أَوْ مَرَضٍ فَفِي حِنْثِهِ قَوْلَانِ

Jika ia mampu menyerahkannya kepadanya sebelum kematian, maka ia dianggap melanggar sumpahnya karena kelalaiannya. Namun jika ia tidak mampu menyerahkannya, maka dilihat lagi: jika ia tidak mampu karena waktu yang tidak cukup, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena waktu yang memungkinkan adalah syarat dalam pelaksanaan sumpah. Dan jika ia tidak mampu karena adanya uzur yang menghalangi, seperti paksaan atau sakit, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat mengenai apakah ia dianggap melanggar sumpah atau tidak.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ عَلَى قَوْلِ مَنْ لَا يُرَاعِي الْغَلَبَةَ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah menurut pendapat yang tidak memperhatikan dominasi (kemenangan).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ عَلَى قَوْلِ مَنْ يُرَاعِي الْغَلَبَةَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut pendapat orang yang memperhatikan dominasi (kondisi yang paling banyak terjadi).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُعْزَلَ الْقَاضِي عَنْ وِلَايَتِهِ فَلَا يَخْلُو الْحَالِفُ فِي تَعْيِينِ القاضي بالاسم والقضاء على ثلاثة واحوال

Keadaan yang ketiga adalah apabila seorang qadi dicopot dari jabatannya, maka orang yang bersumpah dalam penunjukan qadi secara spesifik dan dalam perkara peradilan tidak lepas dari tiga keadaan.

أحدهما أَنْ يُرِيدَ رَفْعَهُ إِلَيْهِ فِي أَيَّامِ وِلَايَتِهِ فَيَجْعَلَ الْوِلَايَةَ شَرْطًا فِي الرَّفْعِ فَيَجْرِي عَزْلُهُ عَنْهَا مَجْرَى مَوْتِهِ فِي الْحُكْمِ فِيهِ كَمَا لَوْ لَمْ يَرْفَعْهُ إِلَيْهِ حَتَّى مَاتَ

Pertama, jika ia bermaksud mengangkatnya (perkara) kepadanya selama masa jabatannya, maka ia menjadikan jabatan tersebut sebagai syarat dalam pengangkatan itu. Maka, pencopotannya dari jabatan tersebut diperlakukan seperti kematiannya dalam hukum terkait hal itu, sebagaimana jika ia tidak mengangkat perkara itu kepadanya hingga ia meninggal.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُرِيدَ رَفْعَهُ إِلَيْهِ وَلَا يَجْعَلُ الْوِلَايَةَ شَرْطًا فَيَرْفَعُهُ إِلَيْهِ بَعْدَ عَزْلِهِ وَيَكُونُ كَحَالِهِ لَوْ كَانَ عَلَى وِلَايَتِهِ وَلَا يَلْزَمُهُ رَفْعُهُ إِلَى الْوَالِي بَعْدَهُ وَلَا يَبَرُّ إِنْ رَفَعَهُ إِلَيْهِ

Keadaan kedua adalah ketika ia bermaksud mengajukan perkara itu kepadanya (hakim sebelumnya) tanpa menjadikan kekuasaan (wilāyah) sebagai syarat, maka ia mengajukan perkara itu kepadanya setelah hakim tersebut dicopot, dan keadaannya sama seperti jika hakim itu masih memegang kekuasaan. Ia tidak wajib mengajukan perkara itu kepada penguasa (hakim) setelahnya, dan tidak dianggap berbuat baik jika ia mengajukannya kepadanya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ لَا تَكُونَ له نية في ولاية ولا عزل فهو يُعْتَبَرُ فِيهِ حُكْمُ التَّعْيِينِ أَوْ حُكْمُ الصِّفَةِ على وجهين

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang tidak memiliki niat untuk menerima jabatan atau diberhentikan darinya, maka dalam hal ini berlaku hukum penetapan atau hukum sifat menurut dua pendapat.

الأول فمن حَلَفَ لَا يُكَلِّمُ صَبِيًّا فَكَلَّمَهُ رَجُلًا أَحَدُهُمَا يَغْلِبُ فِيهِ حُكْمُ التَّعْيِينِ لِقُوَّتِهِ فَعَلَى هَذَا يَلْزَمُهُ رَفْعُهُ إِلَيْهِ بَعْدَ عَزْلِهِ وَيَكُونُ كَمَا لَوْ كَانَ عَلَى وِلَايَتِهِ وَيَحْنَثُ بِكَلَامِ الصَّبِيِّ إِذَا صَارَ رَجُلًا

Pertama, barang siapa yang bersumpah tidak akan berbicara dengan seorang anak kecil, lalu ia berbicara dengannya ketika anak itu sudah menjadi seorang laki-laki dewasa, maka dalam hal ini, salah satu dari keduanya lebih dominan padanya hukum penetapan karena kekuatannya. Berdasarkan hal ini, wajib baginya untuk menyerahkannya kepadanya setelah ia diberhentikan, dan keadaannya seperti ketika ia masih dalam kekuasaannya. Ia dianggap melanggar sumpah jika berbicara dengan anak kecil itu setelah ia menjadi seorang laki-laki dewasa.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَغْلِبُ فِيهِ حُكْمُ الصِّفَةِ لِأَنَّهَا كَالشُّرُوطِ فَلَا يَبَرُّ إِنْ رَفَعَهُ إِلَيْهِ بَعْدَ عَزْلِهِ وَلَا يَحْنَثُ بِكَلَامِ الصَّبِيِّ إِذَا صَارَ رَجُلًا

Pendapat kedua lebih mengedepankan hukum sifat, karena sifat itu seperti syarat-syarat; maka tidak dianggap memenuhi sumpah jika ia menyerahkannya kepadanya setelah ia diberhentikan dari jabatannya, dan tidak dianggap melanggar sumpah dengan ucapan anak kecil jika ia telah menjadi dewasa.

فَإِنْ لَمْ يَعُدِ الْقَاضِي إِلَى وِلَايَتِهِ كَانَ كَمَوْتِهِ فِي بِرِّ الْحَالِفِ وَحِنْثِهِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ لِاحْتِمَالِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Jika hakim tidak kembali ke jabatannya, maka keadaannya seperti kematian hakim tersebut dalam hal terpenuhinya sumpah orang yang bersumpah dan batalnya sumpahnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, karena kemungkinan dua sisi ini.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ إِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ خَشِيتُ أَنْ يَحْنَثَ إِنْ لَمْ يَرْفَعْهُ إِلَيْهِ لِمَا فِيهِ مِنِ احْتِمَالِ الْبِرِّ وَالْحِنْثِ وَلَوْ حَنَّثَ نَفْسَهُ وَرَعًا كَانَ أَحْوَطَ

Syafi‘i berkata, “Jika ia tidak memiliki niat, aku khawatir ia akan melanggar sumpah jika tidak mengembalikannya kepadanya, karena di dalamnya terdapat kemungkinan antara menepati sumpah dan melanggarnya. Dan jika ia menganggap dirinya telah melanggar sumpah sebagai bentuk kehati-hatian, itu lebih utama.”

فَهَذَا حُكْمُ الْقِسْمِ الْأَوَّلِ

Inilah hukum untuk bagian pertama.

وَأَمَّا حُكْمُ الْقِسْمِ الثَّانِي فَهُوَ أَنْ لَا يُعَيِّنَهُ وَلَا يَصِفَهُ بِالْقَضَاءِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ أرفعه إِلَى فُلَانٍ أَوْ إِلَى هَذَا فَهَذَا يلزمه رفعه إليه في ولايته وعزله فَيَبِرُّ إِذَا رَفَعَهُ إِلَيْهِ فِي الْحَالَيْنِ وَيَحْنَثُ إِذَا لَمْ يَرْفَعْهُ إِلَيْهِ فِي الْحَالَيْنِ وَلَا يَلْزَمُهُ رَفْعُهُ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ وَلَا يَبِرُّ إِنْ رَفَعَهُ

Adapun hukum pada bagian kedua adalah bahwa ia tidak menyebutkan secara spesifik dan tidak menyifatinya dengan pengadilan, yaitu dengan mengatakan, “Aku akan menyerahkannya kepada si Fulan” atau “kepada orang ini.” Maka, ia wajib menyerahkannya kepada orang tersebut selama masa jabatannya dan setelah diberhentikan. Ia dianggap menepati sumpah jika menyerahkannya kepada orang itu dalam kedua keadaan tersebut, dan ia dianggap melanggar sumpah jika tidak menyerahkannya kepada orang itu dalam kedua keadaan tersebut. Ia tidak wajib menyerahkannya kepada hakim lain, dan ia tidak dianggap menepati sumpah jika menyerahkannya kepada selain orang yang dimaksud.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَصِفَهُ بِالْقَضَاءِ وَلَا يُعَيِّنَهُ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَرْفَعُهُ إِلَى الْقَاضِي أَوْ إِلَى قَاضٍ فَلَا يَبِرُّ إِنْ رَفَعَهُ إِلَى مَعْزُولٍ وَلَا يَسْقُطُ بِعَزْلِ قَاضِي الْوَقْتِ وَمَوْتِهِ وَقَامَ غَيْرُهُ مِنَ الْقُضَاةِ مَقَامَهُ لِعَقْدِ الْيَمِينِ عَلَى وَالِي الْقَضَاءِ ثُمَّ يُنْظَرُ

Adapun bagian ketiga adalah seseorang menyifatinya dengan pengadilan tanpa menyebutkan secara spesifik, yaitu dengan mengatakan, “Aku akan mengadukannya kepada qadhi” atau “kepada seorang qadhi”, maka sumpahnya tidak gugur jika ia mengadukannya kepada qadhi yang telah diberhentikan, dan tidak batal pula karena pemberhentian atau wafatnya qadhi yang sedang menjabat, serta jika ada qadhi lain yang menggantikan posisinya, karena sumpah tersebut diikrarkan atas pejabat qadhi. Kemudian hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ قَالَ أَرْفَعُهُ إِلَى الْقَاضِي بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ لَزِمَهُ رَفْعُهُ إِلَى مَنْ تَقَلَّدَ قَضَاءَ ذَلِكَ الْبَلَدِ دُونَ غَيْرِهِ فَإِنْ رَفَعَهُ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ قُضَاةِ الْأَمْصَارِ لَمْ يَبِرَّ وَإِنْ قَالَ إِلَى قاضٍ بِحَذْفِ الْأَلِفِ وَاللَّامِ وَجَازَ أَنْ يَرْفَعَهُ إِلَى مَنْ شَاءَ مِنْ قُضَاةِ الْأَمْصَارِ وَكَانَ يَرْفَعُهُ إِلَيْهِ بَارًّا لِأَنَّ دُخُولَ الْأَلِفِ وَاللَّامِ تَعْرِيفٌ وَحَذْفَهَا إِبْهَامٌ وَاللَّهُ أعلم

Jika ia berkata, “Aku akan mengadukannya kepada al-qāḍī” dengan menggunakan alif dan lām, maka wajib baginya untuk mengadukan kepada orang yang memegang jabatan qāḍī di negeri tersebut saja, bukan kepada selainnya. Jika ia mengadukan kepada qāḍī lain dari negeri-negeri lain, maka ia tidak dianggap menepati sumpahnya. Namun jika ia berkata, “kepada qāḍī” tanpa alif dan lām, maka boleh baginya mengadukan kepada qāḍī mana saja dari negeri-negeri lain, dan jika ia mengadukan kepada salah satu dari mereka, ia dianggap menepati sumpahnya. Sebab, masuknya alif dan lām menunjukkan makna ta‘rīf (penentuan), sedangkan penghapusannya menunjukkan makna ibhām (ketidakjelasan). Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ مَا لَهُ مالٌ وَلَهُ عرضٌ أَوْ دينٌ حَنَثَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ نَوَى غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَحْنَثُ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah bahwa ia tidak memiliki harta, padahal ia memiliki ‘aradh (barang) atau piutang, maka ia dianggap melanggar sumpahnya, kecuali jika ia berniat selain itu, maka ia tidak dianggap melanggar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْأَمْوَالَ ضَرْبَانِ أَعْيَانٌ وَدُيُونٌ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa harta itu ada dua macam: berupa benda (‘ayn) dan berupa piutang (dayn).

فَأَمَّا الْأَعْيَانُ فَجَمِيعُهَا أَمْوَالٌ مُتَمَوَّلَةٌ إِذَا صَحَّ أَنْ تُمْلَكَ بِعِوَضٍ وَيُزَالُ الْمِلْكُ عَنْهَا بِعِوَضٍ سَوَاءٌ كَانَ مِنَ الْأَعْيَانِ الْمُزَكَّاةِ كَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْمَوَاشِي وَالزُّرُوعِ أَوْ كَانَ غَيْرَ مُزَكًّى كَالثِّيَابِ وَالْأَثَاثِ وَالْعَقَارِ

Adapun benda-benda (‘ayn), semuanya adalah harta yang bernilai jika sah dimiliki dengan imbalan dan kepemilikannya dapat dialihkan dengan imbalan, baik termasuk benda-benda yang wajib dizakati seperti emas, perak, hewan ternak, dan tanaman, maupun yang tidak wajib dizakati seperti pakaian, perabotan, dan properti.

فَإِذَا حَلَفَ مَا لَهُ مالٌ حَنِثَ بِجَمِيعِهَا

Maka jika ia bersumpah bahwa ia tidak memiliki harta, ia dianggap melanggar sumpahnya dengan memiliki salah satu dari seluruh jenis harta itu.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْمَالُ مَا وَجَبَ فِيهِ الزَّكَاةُ وَلَيْسَ بِمَالٍ مَا لَمْ تَجِبْ فِيهِ الزَّكَاةُ

Abu Hanifah berkata, “Harta adalah sesuatu yang wajib dizakati, dan sesuatu yang tidak wajib dizakati bukanlah harta.”

وَقَالَ مَالِكٌ الْمَالُ هُوَ الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ دُونَ غَيْرِهِمَا وَلَا يَحْنَثُ فِي الْيَمِينِ إِلَّا بِهِمَا وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِ اللَّهُ تَعَالَى خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً وَبِقَوْلِهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا لَا زَكَاةَ فِيهِ خَارِجٌ مِنِ اسْمِ الْمَالِ لِخُرُوجِهِ مِنْ حُكْمِ الزَّكَاةِ

Malik berkata, “Harta itu adalah emas dan perak saja, tidak selain keduanya, dan seseorang tidak dianggap melanggar sumpah kecuali dengan keduanya.” Mereka berdalil atas hal itu dengan firman Allah Ta‘ala, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,” dan firman-Nya Ta‘ala, “Dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak yang diketahui.” Maka hal ini menunjukkan bahwa apa yang tidak wajib dizakati, keluar dari sebutan harta karena telah keluar dari hukum zakat.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ اليَتِيمَ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً وَمَعْلُومٌ أَنَّ هَذَا الْحَظْرَ مُتَنَاوِلٌ لِجَمِيعِ الْأَصْنَافِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ جمعيها أَمْوَالٌ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik,” dan firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim…” Dan telah diketahui bahwa larangan ini mencakup semua jenis, maka hal itu menunjukkan bahwa semuanya adalah harta.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ خَيْرُ الْمَالِ سكةٌ مأبورةٌ ومهرةٌ مأمورةٌ يُرِيدُ بِالسِّكَّةِ النَّخِيلَ الْمُصْطَفَّةَ وَمِنْهُ سُمِّيَ الدَّرْبُ سِكَّةً لِامْتِدَادِهِ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik harta adalah pohon kurma yang terawat dan kuda betina yang dipelihara.” Yang dimaksud dengan “sikkah” adalah pohon-pohon kurma yang tersusun rapi, dan dari kata itu pula jalan yang memanjang disebut “sikkah” karena bentuknya yang memanjang.

وَالْمَأْبُورَةُ هِيَ الَّتِي يُؤَبَّرُ ثَمَرُهَا وَالْمُهْرَةُ الْمَأْمُورَةُ هِيَ الْكَثِيرَةُ النَّسْلِ فَجَعَلَ النَّخْلَ وَالْخَيْلَ مِنَ الْأَمْوَالِ وَلِأَنَّ الْأَعْيَانَ الْمُتَمَوَّلَةَ في العادة تكون أموالاً كالمزكاة وَلِأَنَّ حَقِيقَةَ الْمَالِ مَا يُقْتَنَى وَيُتَمَوَّلُ وَهَذَا الْمَعْنَى مَوْجُودٌ فِي غَيْرِ المزَّكَاةِ كَوُجُودِهِ فِي الْمُزَكَّى

Mabūrah adalah pohon kurma yang buahnya dibuahi, sedangkan muhratul ma’mūrah adalah kuda betina yang banyak keturunannya. Maka, pohon kurma dan kuda dijadikan sebagai harta. Karena benda-benda yang biasa dimiliki dalam kebiasaan dianggap sebagai harta, seperti harta yang dikenai zakat. Hakikat harta adalah sesuatu yang dimiliki dan dijadikan kekayaan, dan makna ini terdapat pada benda yang tidak dikenai zakat sebagaimana terdapat pada benda yang dikenai zakat.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَتَيْنِ فَهُوَ أَنَّ الْعُمُومَ وَإِنْ تَنَاوَلَ جَمِيعَهَا فَهُوَ مَخْصُوصٌ فِي الزَّكَاةِ بِبَعْضِهَا مَعَ بَقَاءِ الِاسْمِ فِي الْخُصُوصِ كَمَا بَقِيَ اسْمُ السَّارِقِ عَلَى مَنْ سَرَقَ أَقَلَّ مِنْ نِصَابٍ وَإِنْ خُصَّ بِسُقُوطِ الْقَطْعِ عَنْهُ

Adapun jawaban terhadap dua ayat tersebut adalah bahwa lafaz umum, meskipun mencakup semuanya, telah dikhususkan dalam zakat pada sebagian darinya, sementara nama (istilah) tetap ada dalam kekhususan itu, sebagaimana istilah “pencuri” tetap berlaku bagi orang yang mencuri kurang dari nisab, meskipun ia dikhususkan dengan gugurnya hukuman potong tangan darinya.

فَصْلٌ

Bab

وَأَمَّا الدُّيُونُ فَضَرْبَانِ حَالٌّ وَمُؤَجَّلٌ

Adapun utang, maka terbagi menjadi dua: utang yang jatuh tempo (harus segera dibayar) dan utang yang ditangguhkan (memiliki tenggat waktu).

فَأَمَّا الْحَالُّ فَهُوَ مَالٌ مَمْلُوكٌ تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ وَيَحْنَثُ بِهِ إِذَا حَلَفَ لَا مَالَ لَهُ

Adapun hāl, ia adalah harta yang dimiliki yang wajib dizakati, dan seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika ia bersumpah tidak memiliki harta tersebut.

وَأَمَّا الْمُؤَجَّلُ فَفِي كَوْنِهِ مَالًا مَمْلُوكًا يَحْنَثُ بِهِ وَجْهَانِ

Adapun harta yang masih ditangguhkan, maka dalam statusnya sebagai harta yang dimiliki yang menyebabkan pelanggaran sumpah, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّهُ مَالٌ مَمْلُوكٌ يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ كَالْحَالِّ

Salah satunya adalah bahwa ia merupakan harta yang dimiliki, yang menyebabkan orang yang bersumpah dengannya menjadi melanggar sumpah, sebagaimana harta yang tunai.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَيْسَ بِمَالٍ مَمْلُوكٍ حَتَّى يَحِلَّ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ فَلَا يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ

Adapun pendapat kedua, itu bukanlah harta yang dimiliki sehingga tidak halal, karena ia bukan sesuatu yang berhak dimiliki, maka orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan hal tersebut.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَيْسَ الدَّيْنُ مَالًا مُؤَجَّلًا كَانَ أَوْ حَالًّا وَلَا يَحْنَثُ الْحَالِفُ احْتِجَاجًا بِأَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ بِهِ أَكْثَرَ مِنَ الْمُطَالَبَةِ فَلَمْ يَكُنْ مَالًا كَالشُّفْعَةِ

Abu Hanifah berkata, “Utang bukanlah harta, baik yang ditangguhkan maupun yang segera, dan orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan alasan bahwa dengan utang itu seseorang tidak berhak atas sesuatu selain penagihan, sehingga utang itu tidak dianggap sebagai harta, seperti halnya hak syuf‘ah.”

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ وَفِي الدَّيْنِ الزَّكَاةُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَالٌ وَلِأَنَّ مَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ كَانَ مَمْلُوكًا كَالْأَعْيَانِ

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak yang tertentu,” dan dalam agama, zakat itu adalah harta. Maka ini menunjukkan bahwa zakat adalah harta, dan karena sesuatu yang wajib dizakati itu adalah milik, sebagaimana benda-benda (‘ayān).

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ فَهُوَ أَنَّ الْمُطَالَبَةَ بِقَضَاءِ الدَّيْنِ كالمطالبة بإقباض الأعيان ثم لم يمنع الْمُطَالَبَةُ بِالْأَعْيَانِ مِنْ ثُبُوتِ الْمِلْكِ كَذَلِكَ الْمُطَالَبَةُ بِالدُّيُونِ

Adapun jawaban atas argumentasinya adalah bahwa tuntutan untuk melunasi utang itu seperti tuntutan untuk menyerahkan barang-barang, namun tuntutan terhadap barang-barang tidak menghalangi tetapnya kepemilikan, demikian pula tuntutan terhadap utang.

وَأَمَّا الْمُطَالَبَةُ بِالشُّفْعَةِ فَالْمُسْتَحَقُّ فِيهَا الْحُكْمُ بِهَا وَلِذَلِكَ لَمْ تَجُزِ الْمُعَاوَضَةُ عَنْهَا وَالْمُطَالَبَةُ بِالدَّيْنِ بَعْدَ ثُبُوتِ اسْتِحْقَاقِهِ وَلِذَلِكَ جَازَتِ الْمُعَاوَضَةُ عَنْهُ فَافْتَرَقَا

Adapun tuntutan terhadap hak syuf‘ah, maka yang berhak di dalamnya adalah penetapan hukum atasnya, oleh karena itu tidak diperbolehkan adanya tukar-menukar (mu‘āwaḍah) atasnya. Sedangkan tuntutan terhadap utang setelah terbukti hak atasnya, maka diperbolehkan adanya tukar-menukar atasnya. Maka keduanya pun berbeda.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ كَانَ لِهَذَا الْحَالِفِ مَالٌ مَرْهُونٌ أَوْ مَغْصُوبٌ حَنِثَ بِهِ لِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ وَلَوْ كَانَ لَهُ مَالٌ ضَالٌّ فَفِي حِنْثِهِ بِهِ وَجْهَانِ

Dan jika orang yang bersumpah itu memiliki harta yang sedang digadaikan atau dirampas, maka ia dianggap melanggar sumpahnya karena harta tersebut masih tetap menjadi miliknya. Namun, jika ia memiliki harta yang hilang, maka dalam hal ia melanggar sumpahnya dengan harta itu terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّهُ عَلَى بَقَائِهِ حَتَّى يُعْلَمَ هَلَاكُهُ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena ia berpegang pada keberadaannya sampai diketahui kemusnahannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّ بَقَاءَهُ مَشْكُوكٌ فِيهِ فَلَمْ يَحْنَثْ بِالشَّكِّ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena keberadaannya masih diragukan, sehingga ia tidak dianggap melanggar sumpah hanya karena keraguan.

وَلَوْ كَانَ لَهُ عَبْدٌ مُدَبَّرٌ أَوْ مَكَاتَبٌ حَنِثَ بِهِمَا لِبَقَائِهِمَا عَلَى مِلْكِهِ وَلَوْ كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ فَفِي حِنْثِهِ بِهَا وَجْهَانِ

Dan jika ia memiliki seorang budak mudabbar atau mukatab, maka ia dianggap melanggar sumpah dengan keduanya karena keduanya masih berada dalam kepemilikannya. Dan jika ia memiliki seorang ummu walad, maka dalam hal ia melanggar sumpah dengannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ لِأَنَّهَا كَالْمُكَاتَبِ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena ia seperti seorang mukatab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهَا لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَنْ يُعَاوِضَ عَنْهَا لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ يَصِحُّ أَنْ يُسْتَرَقَّ فَيُبَاعَ وَأُمُّ الْوَلَدِ لَا يَصِحُّ أَنْ تُسْتَرَقَّ فَتُبَاعَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah dengannya, karena tidak sah untuk melakukan akad tukar-menukar atasnya. Sebab, seorang mukatab sah untuk dijadikan budak kembali lalu dijual, sedangkan umm al-walad tidak sah untuk dijadikan budak kembali lalu dijual.

وَلَوْ كَانَ لَهُ وَقْفٌ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ رَقَبَتَهُ غَيْرُ دَاخِلَةٍ فِي مِلْكِهِ لَمْ يَحْنَثْ بِهِ وَإِنْ قِيلَ بِدُخُولِهَا فِي مِلْكِهِ فَفِي حِنْثِهِ بِهَا وَجْهَانِ كَأُمِّ الْوَلَدِ

Dan jika ia memiliki wakaf, maka jika dikatakan bahwa kepemilikan atas dirinya (yakni benda wakaf) tidak termasuk dalam kepemilikannya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan hal itu. Namun jika dikatakan bahwa kepemilikan atas dirinya termasuk dalam kepemilikannya, maka dalam hal ia melanggar sumpah dengan benda wakaf tersebut terdapat dua pendapat, seperti pada kasus umm al-walad.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَيَضْرِبَنَّ عَبْدَهُ مِائَةَ سوطٍ فَجَمَعَهَا فَضَرَبَهُ بِهَا فَإِنْ كَانَ يُحِيطُ الْعِلْمُ أَنَّهَا مَاسَّتْهُ كُلُّهَا بَرَّ وَإِنْ أَحَاطَ أَنَّهَا لَمْ تَمَاسَّهُ كُلُّهَا لَمْ يَبَرَّ وَإِنْ شَكَّ لَمْ يحنث في الحكم ويحنث في الورع واحتج الشافعي بقول الله عز وجل وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثاً فَاضْرِبْ بِهِ وَلاَ تَحْنَثْ وضرب رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بأثكال النخل في الزنا وهذا شيءٌ مجموعٌ غير أنه إذا ضرب بها ماسته قَالَ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا خِلَافُ قَوْلِهِ لو حلف ليفعلن كَذَا لوقتٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ فلانُ فَإِنْ مات أو غبي عَنَّا حَتَّى مَضَى الْوَقْتُ حَنِثَ قَالَ الْمُزَنِيُّ رحمه الله وكلا ما يبر به شكٌّ فكيف يحنث في أحدهما ولا يحنث في الآخر؟ فقياس قوله عندي أن لا يحنث بالشم قال الشافعي ولو لم يقل ضرباً شديداً فأي ضربٍ ضربه إياه لم يحنث لأنه ضاربه

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah akan memukul budaknya seratus cambukan, lalu ia mengumpulkan semua cambukan itu dan memukul budaknya dengan semuanya sekaligus, maka jika dapat dipastikan bahwa semua cambukan itu benar-benar mengenai budaknya, ia dianggap telah memenuhi sumpahnya. Namun jika diketahui bahwa tidak semuanya mengenai budaknya, maka ia belum memenuhi sumpahnya. Jika ia ragu, maka dalam hukum ia tidak dianggap melanggar sumpah, tetapi dalam sikap wara‘ (kehati-hatian) ia dianggap melanggar. Syafi‘i berdalil dengan firman Allah Azza wa Jalla: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), lalu pukullah dengannya dan janganlah kamu melanggar sumpah.” Dan juga dengan perbuatan Rasulullah ﷺ yang memukul pezina dengan seikat pelepah kurma; ini adalah sesuatu yang dikumpulkan, namun jika dipukul dengan itu maka semuanya mengenai. Al-Muzani rahimahullah berkata: Ini berbeda dengan ucapannya, “Jika ia bersumpah akan melakukan sesuatu pada waktu tertentu kecuali jika si fulan menghendaki, lalu si fulan meninggal atau tidak diketahui hingga waktu itu berlalu, maka ia dianggap melanggar sumpah.” Al-Muzani rahimahullah berkata: Keduanya sama-sama mengandung keraguan dalam memenuhi sumpah, lalu bagaimana bisa dalam satu kasus dianggap melanggar dan dalam kasus lain tidak? Maka menurut qiyās pendapat Syafi‘i, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena mencium (bukan memukul). Syafi‘i juga berkata: Jika ia tidak mensyaratkan pukulan yang keras, maka pukulan apa pun yang ia lakukan tidak membuatnya melanggar sumpah, karena ia telah memukulnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَ عَبْدَهُ مِائَةً اشْتَمَلَ حُكْمُ بِرِّهِ عَلَى ثَلَاثَةِ فُصُولٍ

Al-Mawardi berkata, “Jika seseorang bersumpah akan memukul budaknya seratus kali, maka hukum pelaksanaan sumpahnya mencakup tiga bagian.”

أَحَدُهَا عَدَدُ ضَرْبِهِ

Salah satunya adalah jumlah pukulannya.

وَالثَّانِي وُصُولُ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ

Yang kedua adalah sampainya seluruh air tersebut ke tubuhnya.

وَالثَّالِثُ فِي حُصُولِ الْأَلَمِ بِضَرْبِهِ

Dan yang ketiga adalah terjadinya rasa sakit akibat dipukul olehnya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي عَدَدِ ضَرْبِهِ فَمُعْتَبَرٌ بِلَفْظِ يَمِينِهِ وَلَهُ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ

Adapun bagian pertama tentang jumlah cambukan, maka yang dijadikan acuan adalah lafaz sumpahnya, dan dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنْ يَحْلِفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Salah satunya adalah ia bersumpah akan memukulnya seratus kali.

وَالثَّانِي أَنْ يحلف أن يضربه مائة سوط

Dan yang kedua adalah ia bersumpah akan mencambuknya seratus kali.

والثالثة أَنْ يَحْلِفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ ضَرْبَةٍ

Dan yang ketiga adalah bersumpah untuk memukulnya seratus kali pukulan.

فَأَمَّا الْحَالُ الْأُولَى إِذَا حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَ مِائَةَ مَرَّةٍ فَعَلَيْهِ فِي الْبِرِّ أَنْ يُفَرِّقَهَا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَجْمَعَهَا فَإِنْ جَمَعَهَا وَضَرَبَهُ بِهَا كَانَتْ مَرَّةً وَاحِدَةً كَمَا لَوْ رَمَى الْجَمْرَةَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ دُفْعَةً وَاحِدَةً اعْتَدَّهَا بِحَصَاةٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى رَمَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ فِي سَبْعِ مَرَّاتٍ وهذا متفق عليه

Adapun keadaan pertama, yaitu jika seseorang bersumpah untuk memukul seratus kali, maka dalam menunaikan sumpahnya ia wajib memisah-misahkan pukulan tersebut dan tidak boleh menggabungkannya sekaligus. Jika ia menggabungkannya dan memukul dengan semuanya sekaligus, maka itu dihitung sebagai satu kali pukulan, sebagaimana jika seseorang melempar jumrah dengan tujuh kerikil sekaligus, maka itu dihitung satu kerikil saja, sampai ia melempar tujuh kerikil dalam tujuh kali lemparan. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.

وأما الحالة الثَّانِيَةُ إِذَا حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ سَوْطٍ فَيَجُوزُ أَنْ يُفَرِّقَهَا وَيَجُوزُ أَنْ يَجْمَعَهَا وَيَضْرِبَهُ بِمِائَةِ سَوْطٍ دُفْعَةً وَاحِدَةً وَيَكُونَ بَارًّا وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ مَالِكٌ عَلَيْهِ أَنْ يُفَرِّقَهَا وَلَا يَبِرَّ إِنْ جَمَعَهَا كَمَا لَوْ حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Adapun keadaan kedua, yaitu jika seseorang bersumpah akan memukulnya seratus cambukan, maka boleh baginya untuk memisah-misahkan pukulan itu dan boleh juga mengumpulkannya, lalu memukulnya dengan seratus cambukan sekaligus, dan ia dianggap telah menunaikan sumpahnya. Inilah pendapat Abu Hanifah. Sedangkan Malik berpendapat bahwa ia harus memisah-misahkan pukulan itu dan tidak dianggap menunaikan sumpah jika mengumpulkannya, sebagaimana jika ia bersumpah akan memukulnya seratus kali.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثاً فَاضْرِبْ بِهِ وَلاَ تَحْنَثْ وَذَلِكَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ تَعَالَى أَيُّوبَ حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَ امْرَأَتَهُ عَدَدًا سَمَّاهُ فَأَفْتَاهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَجْمَعَ ذَلِكَ العدد فيضرها بِهِ دُفْعَةً وَاحِدَةً لِيَبِرَّ فِي يَمِينِهِ

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), lalu pukullah dengannya dan janganlah kamu melanggar sumpah.” Hal itu karena Nabi Allah Ta‘ala Ayyub telah bersumpah untuk memukul istrinya sejumlah tertentu yang ia sebutkan, maka Allah Ta‘ala memberinya fatwa agar mengumpulkan jumlah tersebut lalu memukulnya sekali saja agar ia tetap menepati sumpahnya.

وَأَمَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي مقعدٍ زَنَا أَنْ يُضْرَبَ بِإِثْكَالِ النَّخْلِ دُفْعَةً وَاحِدَةً

Rasulullah saw. memerintahkan dalam kasus seseorang yang berzina agar ia dipukul dengan pelepah kurma sebanyak satu kali pukulan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ يَقُولَ مِائَةَ مَرَّةٍ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَجْمَعَهَا وَبَيْنَ أَنْ يَقُولَ مِائَةَ سَوْطٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَجْمَعَهَا أَنَّهُ جَعَلَ الْمَعْدُودَ فِي مِائَةِ مَرَّةٍ الْفِعْلَ وَفِي مِائَةِ سَوْطٍ الْأَسْوَاطَ

Perbedaan antara mengatakan “seratus kali” sehingga tidak boleh menggabungkannya, dan mengatakan “seratus cambukan” sehingga boleh menggabungkannya, adalah bahwa yang dihitung dalam “seratus kali” adalah perbuatan, sedangkan dalam “seratus cambukan” adalah alat cambuknya.

وَأَمَّا الْحَالُ الثَّالِثَةُ إِذَا حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ ضَرْبَةٍ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Adapun keadaan yang ketiga, yaitu apabila ia bersumpah akan memukulnya seratus kali pukulan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّ عَلَيْهِ أَنْ يُفَرِّقَهَا وَلَا يَبِرَّ إِنْ جَمَعَهَا كَمَا لَوْ حَلَفَ لَيَضْرِبَهُ مِائَةَ مَرَّةٍ وَيَكُونُ الْعَدَدُ رَاجِعًا إِلَى الْفِعْلِ

Salah satunya adalah bahwa ia wajib memisahkannya dan tidak boleh menepati sumpah jika menggabungkannya, seperti halnya jika seseorang bersumpah akan memukulnya seratus kali, maka jumlah tersebut kembali kepada perbuatan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ ذَلِكَ وَيَبِرُّ بِهِ كَمَا لَوْ حَلَفَ أَنْ يَضْرِبَهُ مِائَةَ سَوْطٍ وَيَكُونُ الْعَدَدُ رَاجِعًا إِلَى الْآلَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua membolehkan hal itu dan dianggap telah menunaikan sumpahnya, sebagaimana jika seseorang bersumpah akan memukulnya seratus cambukan, maka jumlah tersebut dikembalikan kepada alatnya. Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي وُصُولِ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ فَمُعْتَبَرٌ بِلَفْظِهِ فَإِنْ قَالَ أَضْرِبُكَ بِمِائَةِ سَوْطٍ جَازَ إِذَا جَمَعَهَا وَضَرَبَهُ بِهَا أَنْ لَا يَصِلَ جَمِيعُهَا إِلَى بَدَنِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ ضَارِبًا لَهُ بِمِائَةِ سَوْطٍ لِأَنَّ دُخُولَ الْبَاءِ عَلَى الْعَدَدِ تَجْعَلُهُ صِفَةً لِآلَةِ الضَّرْبِ وَلَا تَجْعَلُهُ صِفَةً لِعَدَدِ الضَّرْبِ

Adapun bagian kedua tentang sampainya seluruh cambukan itu ke tubuhnya, maka hal itu dipertimbangkan berdasarkan lafazhnya. Jika seseorang berkata, “Aku akan mencambukmu dengan seratus cambukan,” maka boleh baginya jika ia mengumpulkan semua cambuk itu dan memukulnya dengan sekaligus, asalkan seluruh cambukan itu tidak mengenai tubuhnya, karena ia telah dianggap mencambuknya dengan seratus cambuk. Sebab, masuknya huruf “bi” pada jumlah bilangan menjadikannya sebagai sifat bagi alat pemukul, bukan sebagai sifat bagi jumlah pukulan.

وَإِنْ قَالَ أَضْرِبُكَ مِائَةَ سَوْطٍ وَحَذَفَ الْبَاءَ مِنَ الْعَدَدِ لَبَرَّ بِإِيصَالِ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ لِأَنَّهُ جَعَلَهُ صِفَةً لِعَدَدِ الضَّرْبِ دُونَ الْآلَةِ

Dan jika seseorang berkata, “Aku akan memukulmu seratus cambukan,” lalu ia menghilangkan huruf “bā’” dari jumlahnya, maka ia telah memenuhi sumpahnya dengan menyampaikan seluruh pukulan itu ke tubuhnya, karena ia menjadikan jumlah pukulan sebagai sifat dari jumlah pukulan itu sendiri, bukan dari alatnya.

وَإِذَا كَانَ مِنْ شَرْطِ الْبِرِّ وَصُولُ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي جَمْعِهَا وَضَرْبِهِ بِهَا دُفْعَةً مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ

Dan apabila salah satu syarat sahnya penyucian adalah sampainya seluruh air ke seluruh anggota tubuhnya, maka keadaannya ketika mengumpulkan air tersebut dan menyiramkannya sekaligus tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْلَمَ وُصُولَ جَمِيعِهَا إِلَى بَدَنِهِ فَيَكُونُ بَارًّا

Salah satunya adalah bahwa ia mengetahui seluruhnya telah sampai ke tubuhnya, maka ia dianggap telah berbuat baik.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ بَعْضَهَا لَمْ يَصِلْ إِلَى بَدَنِهِ فَلَا يَكُونُ بَارًّا

Keadaan yang kedua adalah ketika seseorang mengetahui bahwa sebagian dari harta tersebut tidak sampai kepadanya, maka ia tidak dianggap sebagai anak yang berbakti.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَشُكَّ هَلْ وَصَلَ جميعها أو لم يصل فمذهب الشافي إنَّهُ يَكُونُ بَارًّا لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ وُقُوعِهَا علىالبدن أَنَّهُ لَمْ يَحُلْ عَنْهُ حَائِلٌ فَحُمِلَ عَلَى الْبِرِّ فِي الظَّاهِرِ وَلَمْ يَحْنَثْ بِالشَّكِّ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang ragu apakah seluruhnya telah sampai atau belum. Menurut mazhab Syafi‘i, ia dianggap telah memenuhi nazarnya, karena yang tampak dari sampainya sesuatu pada badan adalah tidak ada penghalang yang menghalanginya, maka secara lahiriah dihukumi telah memenuhi nazar, dan ia tidak dianggap melanggar sumpah hanya karena keraguan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْمُزَنِيُّ لَا يَبِرُّ بِشَكِّهِ فِي الْبِرِّ

Abu Hanifah dan al-Muzani berkata, “Seseorang tidak dianggap berbuat baik (birr) jika ia ragu dalam kebaikannya (birr).”

وَاسْتَدَلَّ الْمُزَنِيُّ بِمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فِيمَنْ حَلَفَ لَيَفْعَلَنَّ كَذَا الْوَقْتَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ فُلَانٌ فَإِنْ مَاتَ فُلَانٌ أَوْ غَابَ حَتَّى مَضَى الْوَقْتُ حَنِثَ فَلَمْ يَجْعَلْهُ بِالشَّكِّ فِي الْمَشِيئَةِ بَارًّا فَكَيْفَ جَعَلَهُ بِالشَّكِّ فِي وُصُولِ الضَّرْبِ بَارًّا؟

Al-Muzani berdalil dengan apa yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i tentang seseorang yang bersumpah akan melakukan sesuatu pada waktu tertentu kecuali jika si Fulan menghendaki, maka jika si Fulan meninggal atau pergi hingga waktu itu berlalu, ia dianggap melanggar sumpah. Maka asy-Syafi‘i tidak menganggapnya menepati sumpah hanya karena ragu dalam kehendak (mashi’ah), lalu bagaimana mungkin ia menganggapnya menepati sumpah hanya karena ragu dalam sampainya pukulan?

وَالْجَوَابُ عَنْهُ إنَّهُ جَعَلَ الْمَشِيئَةَ شَرْطًا فِي حِلِّ الْيَمِينِ وَقَدِ انْعَقَدَتْ فَلَمْ تُخِلَّ بِالشَّكِّ مَعَ عَدَمِ الظَّاهِرِ فِيهِ وَجَعَلَ وَصُولَ الضَّرْبِ شَرْطًا فِي الْبِرِّ فَلَمْ يَحْنَثْ بِالشَّكِّ اعْتِبَارًا بِالظَّاهِرِ فِيهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jawabannya adalah bahwa ia menjadikan kehendak (masyi’ah) sebagai syarat dalam kebolehan sumpah, dan sumpah itu telah terikat, sehingga keraguan tidak membatalkannya selama tidak ada indikasi yang jelas. Ia juga menjadikan sampainya pukulan sebagai syarat dalam kebaikan (al-birr), sehingga tidak dianggap melanggar sumpah karena keraguan, dengan mempertimbangkan indikasi yang jelas dalam hal itu. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

فأما الضرب الثَّالِثُ فِي وُصُولِ الْأَلَمِ إِلَى بَدَنِهِ فَلَيْسَ بِشَرْطٍ فِي الْبَرِّ وَلَا حِنْثَ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَأْلَمْ بِهِ

Adapun jenis ketiga dalam hal sampainya rasa sakit ke tubuhnya, maka itu bukanlah syarat dalam nazar, dan tidak ada dosa (pelanggaran) atasnya jika ia tidak merasakan sakit karenanya.

وَقَالَ مَالِكٌ وُصُولُ الْأَلَمِ شرط في البر فن لَمْ يَأْلَمْ بِهِ حَنِثَ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Malik berkata, sampainya rasa sakit merupakan syarat dalam penebusan sumpah, maka jika tidak merasakan sakit dengannya, ia tetap dianggap melanggar sumpah, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا إنَّ مَقْصُودَ الضَّرْبِ بِتَأْثِيرِهِ وَمَا لَا أَلَمَ فِيهِ لَا تَأْثِيرَ لَهُ

Salah satunya adalah bahwa tujuan dari pukulan adalah pengaruh yang ditimbulkannya, dan sesuatu yang tidak menimbulkan rasa sakit tidak memiliki pengaruh.

وَالثَّانِي إنَّهُ لَمَّا كَانَ الْأَلَمُ فِي ضَرْبِ الْحُدُودِ شَرْطًا فِيهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَيْمَانِ شَرْطًا فِيهَا حَمْلًا لِإِطْلَاقِهَا عَلَى عُرْفِ الشَّرْعِ

Kedua, karena rasa sakit dalam pelaksanaan hudud merupakan syarat di dalamnya, maka wajib pula rasa sakit menjadi syarat dalam sumpah, dengan membawa makna umum sumpah kepada pengertian menurut kebiasaan syariat.

وَدَلِيلُنَا أَمْرَانِ احتجاجاً وَانْفِصَالًا

Dalil kami ada dua, sebagai hujah dan sebagai pemisah.

أَحَدُهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ جمع لضرب المقعد عتكالاً لِيَدْفَعَ عَنْهُ الْأَلَمَ وَيَسْتَقِرَّ بِهِ الْحُكْمُ

Salah satunya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan untuk memukul orang yang duduk (tidak berdiri) sebagai bentuk peringatan agar menghilangkan rasa sakit darinya dan agar hukum menjadi tetap dengannya.

وَالثَّانِي إنَّ الْأَيْمَانَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْأَسَامِي دُونَ الْمَعَانِي فَجَازَ الِاقْتِصَارُ فِيهَا عَلَى مُجَرَّدِ الضَّرْبِ دُونَ الْأَلَمِ بِحُصُولِ الِاسْمِ وَالْحُدُودُ أَحْكَامٌ تَتَعَلَّقُ بِالْأَسْمَاءِ وَالْمَعَانِي فَجَازَ أَنْ يَقْتَرِنَ بِالِاسْمِ مَقْصُودُهُ مِنَ الْأَلَمِ

Kedua, sesungguhnya sumpah-sumpah itu didasarkan pada penamaan (istilah) dan bukan pada makna, sehingga boleh dalam hal ini hanya cukup dengan sekadar pukulan tanpa harus menimbulkan rasa sakit, karena sudah tercapai penamaannya. Sedangkan hudud adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan penamaan dan makna sekaligus, sehingga boleh disertakan bersama penamaan itu tujuan utamanya, yaitu rasa sakit.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ عَلَيْهِ لِبَاسٌ يَمْنَعُ مِنْ وُصُولِ الضَّرْبِ إِلَى بَشَرَةِ بَدَنِهِ اعْتُبِرَ حاله فإن كَانَ كَثِيفًا يَخْرُجُ عَنِ الْعُرْفِ وَيَمْنَعُ مِنَ الْإِحْسَاسِ بِالضَّرْبِ لَمْ يَبِرَّ وَإِنْ كَانَ مَأْلُوفًا لَا يَخْرُجُ عَنِ الْعُرْفِ وَلَا يَمْنَعُ مِنَ الْإِحْسَاسِ بِالضَّرْبِ بَرَّ وَإِنْ لَمْ يَأْلَمْ وَاللَّهُ أعلم

Adapun jika seseorang mengenakan pakaian yang menghalangi sampainya pukulan ke kulit tubuhnya, maka keadaannya diperhatikan: jika pakaian itu tebal, keluar dari kebiasaan, dan menghalangi dari merasakan pukulan, maka ia tidak dianggap memenuhi (hukuman). Namun jika pakaian itu biasa dipakai, tidak keluar dari kebiasaan, dan tidak menghalangi dari merasakan pukulan, maka hukuman dianggap sah meskipun ia tidak merasakan sakit. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ لَا يَهَبُ لَهُ هِبَةً فَتَصَدَّقَ عَلَيْهِ أَوْ نَحَلَهُ أَوْ أَعْمَرَهُ فَهُوَ هبةٌ فَإِنْ أَسْكَنَهُ فَإِنَّمَا هِيَ عاريةٌ لَمْ يُمْلِكْهُ إِيَّاهَا فَمَتَى شَاءَ رَجَعَ فِيهَا وَكَذَلِكَ إِنْ حبس عليه

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah tidak akan memberinya hibah, lalu ia bersedekah kepadanya, atau memberinya hadiah, atau memberinya ‘umra, maka itu termasuk hibah. Jika ia memberinya tempat tinggal, maka itu hanyalah ‘ariyah, ia tidak memilikinya, sehingga kapan saja ia mau, ia bisa mengambilnya kembali. Demikian pula jika ia mewakafkan kepadanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ لَا يَهَبُ لَهُ هِبَةً فَالْهِبَةُ مِمَّا تَبَرَّعَ بِتَمْلِيكِهِ مِنَ الْأَعْيَانِ فِي حَيَاتِهِ مِنْ غَيْرِ عِوَضٍ يَتَمَلَّكُ عَنْهَا فَيَحْنَثُ بِالْهِبَةِ إِذَا قَبَضَهَا بَعْدَ الْعَقْدِ وَلَا يَحْنَثُ بِالْعَقْدِ قَبْلَ الْقَبْضِ وَيَحْنَثُ بِالْهَدِيَّةِ إِذَا قُبِضَتْ وَإِنْ لَمْ يَتَقَدَّمْهَا عُقْدَةٌ لأن العقد يعتبر فِي الْهِبَاتِ وَلَا يُعْتَبَرُ فِي الْهَدَايَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَحْكَامِهَا فِي كِتَابِ الْعَطَايَا وَيَحْنَثُ بِالْعُمْرَى وَالرُّقْبَى لِأَنَّهَا مِنَ الْهِبَاتِ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْعُمْرَى لِمَنْ وُهِبَتْ لَهُ وَهَذَا مِمَّا وَافَقَ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ ثُمَّ إِذَا قُبِضَتِ الْهِبَةُ عَنْ عَقْدٍ تَقَدَّمَهَا فَفِي زَمَانِ حِنْثِهِ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ حَتَّى يَمْلِكَ الْهِبَةَ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar apabila seseorang bersumpah tidak akan memberikan hibah kepadanya. Hibah adalah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma berupa kepemilikan suatu benda pada masa hidupnya tanpa imbalan yang dapat dimiliki sebagai gantinya. Maka ia dianggap melanggar sumpah dengan hibah apabila hibah itu telah diterima setelah akad, dan tidak dianggap melanggar sumpah hanya dengan akad sebelum penerimaan. Ia juga dianggap melanggar sumpah dengan hadiah apabila hadiah itu telah diterima, meskipun sebelumnya tidak ada akad, karena akad dianggap dalam hibah dan tidak dianggap dalam hadiah, sebagaimana telah kami jelaskan hukumnya dalam Kitab al-‘Aṭāyā. Ia juga dianggap melanggar sumpah dengan ‘umrā dan ruqbā karena keduanya termasuk hibah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umrā adalah milik orang yang dihibahi.’ Ini adalah pendapat yang disetujui oleh Abu Hanifah. Kemudian, apabila hibah telah diterima dari akad yang mendahuluinya, maka dalam penentuan waktu pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan dua pendapat, hingga ia benar-benar memiliki hibah tersebut.”

أَحَدُهُمَا بِالْقَبْضِ فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ وَقْتَ إِقْبَاضِهَا

Salah satunya adalah dengan penyerahan, maka berdasarkan hal ini, ia dianggap melanggar sumpah pada saat penyerahan itu.

وَالثَّانِي إنَّهُ يَدُلُّ الْقَبْضُ عَلَى مِلْكِهَا وَقْتَ عَقْدِهَا فَعَلَى هَذَا يَكُونُ حَانِثًا وَقْتَ الْعَقْدِ

Kedua, sesungguhnya qabdh menunjukkan kepemilikan atasnya pada saat akad, sehingga berdasarkan hal ini, ia dianggap melanggar pada waktu akad.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ إِذَا عَقَدَ الْهِبَةَ وَنَقَلَ أَوْ سَلَّمَ فَلَمْ يَقْبَلْهَا الْمَوْهُوبُ لَهُ فَرَدَّهَا فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Dari dua pendapat ini, muncul cabang permasalahan: jika seseorang telah melakukan akad hibah dan telah memindahkan atau menyerahkannya, namun penerima hibah tidak menerimanya lalu mengembalikannya, maka dalam hal batalnya (hibah) terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَحْنَثُ لِأَنَّ الْهِبَةَ لَمْ تَتِمَّ تَخْرِيجًا مِنْ قَوْلِهِ إِنَّهَا تُمْلَكُ بِالْقَبْضِ

Salah satunya tidak dianggap melanggar sumpah karena hibah tersebut belum sempurna, berdasarkan pendapat bahwa hibah menjadi milik dengan adanya qabdhu (penguasaan fisik).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّهُ يَحْنَثُ لِتَعَلُّقِهَا بِفِعْلِهِ تَخْرِيجًا مِنْ قَوْلِهِ إِنَّهَا تُمْلَكُ بِالْعَقْدِ

Pendapat kedua, ia dianggap melanggar sumpah karena sumpah tersebut berkaitan dengan perbuatannya, sebagai hasil dari pendapat yang menyatakan bahwa sumpah itu menjadi miliknya melalui akad.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا إِذَا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِالصَّدَقَةِ فَالصَّدَقَةُ ضَرْبَانِ فَرْضٌ وَتَطَوُّعٌ فَإِنْ كَانَتْ فَرْضًا كَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ لَمْ يَحْنَثْ بِهَا اتِّفَاقًا لِخُرُوجِهَا عَنْ تَبَرُّعِ الْهِبَاتِ وَلَوْ كَانَتْ تَطَوُّعًا كَانَتْ هِبَةً يَحْنَثُ بِهَا

Adapun jika diberikan sedekah kepadanya, maka sedekah itu ada dua macam: wajib dan sunnah. Jika sedekah itu wajib seperti zakat dan kafarat, maka tidak dianggap melanggar sumpah secara ijmā‘, karena sedekah tersebut keluar dari kategori pemberian hibah secara sukarela. Namun jika sedekah itu sunnah, maka ia termasuk hibah yang menyebabkan pelanggaran sumpah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَيْسَتْ مِنَ الْهِبَاتِ وَلَا يَحْنَثُ بِهَا احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berkata, “Itu bukan termasuk hibah dan tidak menyebabkan seseorang melanggar sumpah karenanya,” dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا اخْتِلَافُهُمَا فِي الِاسْمِ لِأَنَّ لِكُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا اسْمًا

Salah satunya adalah perbedaan keduanya dalam nama, karena masing-masing dari keduanya memiliki nama tersendiri.

وَالثَّانِي لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْحُكْمِ لِأَنَّ لِكُلِّ واحدٍ مِنْهُمَا حُكْمًا

Dan yang kedua karena perbedaan keduanya dalam hukum, sebab masing-masing dari keduanya memiliki hukum tersendiri.

وَدَلِيلُنَا أَمْرَانِ

Dalil kami ada dua.

أَحَدُهُمَا لِاتِّفَاقِهِمَا فِي التَّبَرُّعِ لِأَنَّ كُلَّ واحدٍ مِنْهُمَا مُتَبَرِّعٌ

Salah satunya karena keduanya sepakat dalam hal tabarru‘, karena masing-masing dari keduanya adalah orang yang melakukan tabarru‘.

وَالثَّانِي لِاتِّفَاقِهِمَا فِي سُقُوطِ الْبَدَلِ لِأَنَّ كُلَّ واحدٍ مِنْهُمَا عَلَى غَيْرِ بَدَلٍ فَأَمَّا اخْتِلَافُهُمَا فِي الِاسْمِ فَلِأَنَّ الصَّدَقَةَ نَوْعٌ فِي الْهِبَةِ فَدَخَلَتْ فِي اسْمِ الْعُمُومِ وَأَمَّا اخْتِلَافُهُمَا فِي الْحُكْمِ فَهُمَا فِيهِ عِنْدَنَا سَوَاءٌ وَإِنَّمَا تَخْتَلِفُ فِي الْمَقَاصِدِ فَالْهَدِيَّةُ لِمَنْ عَلَا قَصْدًا لِاسْتِعْطَافِهِ وَالْهِبَةُ لِمَنْ كَافَأَ قَصْدًا لِمَحَبَّتِهِ وَالصَّدَقَةُ عَلَى مَنْ دَنَا قَصْدًا لِثَوَابِهِ وَالنِّحْلُ عَلَى مَنْ نَاسَبَ قَصْدًا لِبِرِّهِ وَلَا يَمْنَعُ اخْتِلَافُهُمَا فِي الْمَقَاصِدِ مِنْ تَسَاوِيهِمَا فِي الْحُكْمِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Yang kedua, karena keduanya sepakat dalam hal gugurnya pengganti, sebab masing-masing dari keduanya bukanlah sebagai pengganti. Adapun perbedaan keduanya dalam penamaan, karena sedekah adalah salah satu jenis dari hibah, sehingga ia termasuk dalam istilah umum. Sedangkan perbedaan keduanya dalam hukum, menurut kami keduanya sama saja dalam hal itu, hanya saja yang membedakan adalah pada tujuan. Hadiah diberikan kepada orang yang lebih tinggi dengan maksud untuk mengambil hatinya, hibah diberikan kepada orang yang setara dengan maksud karena kecintaan, sedekah diberikan kepada orang yang lebih rendah dengan maksud mengharap pahala, dan nihlah diberikan kepada orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan maksud untuk berbuat baik kepadanya. Perbedaan dalam tujuan tidak menghalangi kesamaan keduanya dalam hukum. Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bab

وَلَوْ حَلَفَ لَا يَهَبُ فَحَابَى فِي بَيْعٍ أَوْ شِرَاءٍ لَمْ يَحْنَثْ بِالْمُحَابَاةِ لِخُرُوجِهَا عَنِ الْهِبَةِ بِلُزُومِهَا فِي الْعَقْدِ كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا يَسْتَوْهِبُ فَغَابَنَ فِي الْبَيْعِ لَمْ يَحْنَثْ بِالْمُغَابَنَةِ وَلَوْ أَبْرَأَ مِنْ دَيْنٍ فَإِنْ جَعَلَ الْقَبُولَ شَرْطًا فِي صِحَّتِهِ حَنِثَ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَجْعَلِ الْقَبُولَ شَرْطًا فِيهِ فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang bersumpah tidak akan memberi hibah, lalu ia melakukan muhabāh (memberi kelebihan dalam jual beli atau pembelian), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena muhabāh keluar dari kategori hibah sebab adanya kewajiban dalam akad, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan meminta hibah lalu ia melakukan mugābanah (menerima kelebihan dalam jual beli), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena mugābanah. Jika ia membebaskan seseorang dari utang, maka jika ia mensyaratkan adanya penerimaan sebagai syarat sahnya pembebasan, ia dianggap melanggar sumpah; namun jika ia tidak mensyaratkan penerimaan, maka dalam hal ini ada dua pendapat mengenai pelanggaran sumpahnya.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّهُ نَوْعٌ مِنَ الْهِبَةِ

Salah satunya menjadi batal sumpahnya karena hal itu termasuk salah satu jenis hibah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِتَعَلُّقِهِ بِالذِّمَّةِ دُونَ الْعَيْنِ وَلَوْ حَلَفَ لَا يَهَبُ لِمُكَاتَبِهِ فَأَبْرَأَ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ لَمْ يَحْنَثْ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ إِبْرَاءَ الْمُكَاتَبِ عِتْقٌ وَالْعِتْقُ لَيْسَ بِهِبَةٍ وَلَوْ حَلَفَ لا يهب فعفى عَنْ قَوَدٍ قَدِ اسْتُحِقَّ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ الْقَوَدَ لَيْسَ بمالٍ فَإِنْ جَازَ أَنْ يَنْتَقِلَ إلى ماله وكذلك لو عفى عَنِ الشُّفْعَةِ لَمْ يَحْنَثْ بِهَا لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعَاوِضَ عَلَيْهَا وَلَوْ وَقَفَ وَقْفًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa sumpah tersebut tidak menyebabkan pelanggaran karena berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) dan bukan pada benda tertentu (‘ain). Jika seseorang bersumpah tidak akan memberikan hadiah kepada mukatabnya, lalu ia membebaskan mukatab tersebut dari kewajiban pembayaran harta kitabahnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah menurut satu pendapat, karena membebaskan mukatab berarti memerdekakannya, sedangkan memerdekakan bukanlah hibah. Jika seseorang bersumpah tidak akan memberi hadiah, lalu ia memaafkan qishash yang telah menjadi haknya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah karena qishash bukanlah harta, meskipun bisa saja berpindah menjadi harta. Demikian pula jika ia memaafkan hak syuf‘ah, ia tidak dianggap melanggar sumpah karena hak syuf‘ah tidak boleh dijadikan objek transaksi. Begitu pula jika ia mewakafkan suatu wakaf…

فَإِنْ قِيلَ إِنَّ رَقَبَةَ الْوَقْفِ لَا تُمَلَّكُ لَمْ يَحْنَثْ بِهِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهَا تُمْلَكُ فَفِي حِنْثِهِ وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa kepemilikan atas harta wakaf tidak dapat dimiliki, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan hal itu. Namun jika dikatakan bahwa harta wakaf dapat dimiliki, maka dalam hal pelanggaran sumpahnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَحْنَثُ بِهِ لِنَقْلِ مِلْكِهِ بِغَيْرِ بَدَلٍ

Salah satunya dianggap melanggar sumpah karena memindahkan kepemilikannya tanpa imbalan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْنَثُ بِهِ لِأَنَّ مِلْكَهُ غَيْرُ تَامٍّ بِمَنْعِهِ مِنْ كَمَالِ التَّصَرُّفِ فِيهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena kepemilikannya tidak sempurna, disebabkan adanya larangan untuk sepenuhnya melakukan tasharruf (pengelolaan) terhadapnya.

وَلَوْ أَوْلَمَ وَدَعَا إِلَى طَعَامِهِ فَأُكِلَ مِنْهُ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّ طَعَامَ الْوَلَائِمِ غَيْرُ مَوْهُوبٍ وَإِنَّمَا هُوَ مَأْذُونٌ فِي اسْتِهْلَاكِهِ عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ سَوَاءٌ قِيلَ إِنَّ الْآكِلَ يَتَمَلَّكُهُ بِالْأَكْلِ أَوْ يَتَمَلَّكُهُ بِالتَّنَاوُلِ لِمَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّعْلِيلِ

Dan jika seseorang mengadakan walimah dan mengundang orang untuk makanannya, lalu makanan itu dimakan, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena makanan walimah bukanlah hibah, melainkan hanya diizinkan untuk dikonsumsi dengan cara tertentu, baik dikatakan bahwa orang yang makan memilikinya dengan makan atau memilikinya dengan mengambil, sebagaimana penjelasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَلَوْ وَصَّى بِوَصِيَّةٍ لَمْ يَحْنَثْ بِهَا لِأَنَّهَا عَطِيَّةٌ تُمْلَكُ بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْحِنْثُ لَا يَقَعُ بَعْدَ الْمَوْتِ

Dan jika seseorang berwasiat dengan suatu wasiat, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya dengan wasiat tersebut, karena wasiat adalah pemberian yang kepemilikannya terjadi setelah kematian, sedangkan pelanggaran sumpah tidak terjadi setelah kematian.

وَلَوْ أَعَارَ عَارِيَةً لَمْ يَحْنَثْ بِهَا لِأَنَّ الْعَوَارِي تُمْلَكُ بِهَا الْمَنَافِعُ دُونَ الْأَعْيَانِ وَالْهِبَاتُ مَا مُلِكَ بِهَا الْأَعْيَانُ وَلِأَنَّ مِلْكَ الْمَنَافِعِ فِي الْعَوَارِي غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ مَا يَسْتَحِقُّهُ الْمُعِيرُ مِنَ الرُّجُوعِ فِيهَا مَتَى شَاءَ وَهُوَ تَعْلِيلُ الشَّافِعِيِّ

Dan jika seseorang meminjamkan barang pinjaman (‘āriyah), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengannya, karena pada barang pinjaman hanya dimiliki manfaatnya saja, bukan bendanya, sedangkan pada hibah, yang dimiliki adalah bendanya. Selain itu, kepemilikan manfaat pada barang pinjaman (‘āriyah) tidak tetap, karena peminjam berhak untuk menarik kembali kapan saja ia mau, dan inilah alasan menurut pendapat Imam Syafi‘i.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي وَلَوْ حَلَفَ أَنْ لَا يَرْكَبَ دَابَّةَ الْعَبْدِ فَرَكِبَ دَابَّةَ الْعَبْدِ لَمْ يَحْنَثْ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ لَهُ إِنَّمَا اسْمُهَا مضافٌ إِلَيْهِ

Syafi‘i berkata: Jika seseorang bersumpah untuk tidak menunggangi kendaraan budak, lalu ia menunggangi kendaraan budak tersebut, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya, karena kendaraan itu bukan milik budak tersebut, hanya saja namanya disandarkan kepadanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَلَفَ لَا يَرْكَبُ دَابَّةَ هَذَا الْعَبْدِ وَكَانَ سَيِّدُهُ قَدْ أَعْطَاهُ دَابَّةً جَعَلَهَا بِرَسْمِ رُكُوبِهِ وَلَمْ يُمَلِّكْهُ إِيَّاهَا فَرَكِبَهَا الْحَالِفُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ لَا سَكَنْتُ دَارَ هَذَا الْعَبْدِ وَكَانَ سيد قَدْ أَعْطَاهُ دَارًا جَعَلَهَا مَسْكَنَهُ لَمْ يَحْنَثْ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, yaitu apabila seseorang bersumpah tidak akan menaiki hewan tunggangan milik budak ini, sementara tuannya telah memberinya seekor hewan tunggangan untuk digunakan sebagai kendaraannya, namun tidak menjadikannya sebagai milik budak tersebut. Maka jika orang yang bersumpah itu menaikinya, ia tidak dianggap melanggar sumpah. Demikian pula jika ia berkata, ‘Aku tidak akan menempati rumah budak ini,’ sementara tuannya telah memberinya sebuah rumah untuk dijadikan tempat tinggalnya, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحْنَثُ فِي الدَّابَّةِ وَلَا يَحْنَثُ فِي الدَّارِ وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ تَصَرُّفَ الْعَبْدِ فِي الدَّابَّةِ أَقْوَى مِنْ تَصَرُّفِهِ فِي الدَّارِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang dianggap melanggar sumpahnya dalam hal hewan tunggangan, tetapi tidak dianggap melanggar sumpahnya dalam hal rumah. Ia membedakan antara keduanya dengan alasan bahwa pengelolaan seorang hamba terhadap hewan tunggangan lebih kuat daripada pengelolaannya terhadap rumah. Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ إِضَافَتَهُمَا إِلَيْهِ سَوَاءٌ فِي الْحُكْمِ فَلَمَّا لَمْ يَحْنَثْ فِي الدَّارِ لِعَدَمِ مِلْكِهِ وَجَبَ أَنْ لَا يَحْنَثَ فِي الدَّابَّةِ لِأَنَّهَا عَلَى غَيْرِ مِلْكِهِ

Salah satunya adalah bahwa penyandaran keduanya kepadanya sama dalam hukum, maka ketika ia tidak dianggap melanggar sumpah pada rumah karena tidak memilikinya, wajib pula ia tidak dianggap melanggar sumpah pada hewan tunggangan karena hewan itu juga bukan miliknya.

وَالثَّانِي إنَّ الْإِضَافَةَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْمِلْكِ حَقِيقَةً وَعَلَى الْيَدِ مَجَازًا وَالْأَيْمَانَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْحَقَائِقِ دُونَ الْمَجَازِ كَمَا لَوْ كَانَتِ الدَّابَّةُ فِي يَدِ سَائِسِهَا فَإِنْ قِيلَ لَوْ حَلَفَ لَا يَمْلِكُ ثَمَرَةَ هَذِهِ النَّخْلَةِ حَنِثَ بِمِلْكِهَا وَإِنْ لَمْ تَكُنْ إِضَافَةَ مِلْكٍ قِيلَ لَمَّا اسْتَحَالَ فِيهَا إِضَافَةُ الْمِلْكِ حُمِلَتْ عَلَى مَا لَا يَسْتَحِيلُ لِوُجُودِهِ فِي شَوَاهِدِ الْمَعْقُولِ وَهِيَ عَلَى الضِّدِّ مِنَ الْإِضَافَةِ إِلَى الْعَبْدِ

Kedua, bahwa penisbatan (kepemilikan) itu secara hakiki bermakna milik, dan secara majazi bermakna kekuasaan atas (sesuatu) di tangan. Sedangkan sumpah (al-aymān) itu dibangun atas makna hakiki, bukan makna majazi, seperti jika seekor hewan berada di tangan penggembalanya. Jika dikatakan: “Jika seseorang bersumpah bahwa ia tidak memiliki buah pohon kurma ini, maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia benar-benar memilikinya, meskipun tidak ada penisbatan kepemilikan.” Maka dijawab: “Karena tidak mungkin ada penisbatan kepemilikan dalam kasus tersebut, maka penisbatan itu diarahkan kepada sesuatu yang mungkin, sesuai dengan kenyataan yang dapat diterima secara akal, dan ini berlawanan dengan penisbatan kepada seorang budak.”

فَصْلٌ

Fasal

وبعكس ما ذكرناه إذا حلف لم يَرْكَبُ دَابَّةَ زَيْدٍ أَوْ لَا يَسْكُنُ دَارَهُ فَرَكِبَ دَابَّةً جَعَلَهَا زَيْدٌ بِرَسْمِ عَبْدِهِ أَوْ سَكَنَ دَارًا جَعَلَهَا بِرَسْمِ عَبْدِهِ حَنِثَ فِي الدَّابَّةِ وَالدَّارِ

Sebaliknya dari apa yang telah kami sebutkan, jika seseorang bersumpah tidak akan menaiki hewan tunggangan Zaid atau tidak akan menempati rumahnya, lalu ia menaiki hewan tunggangan yang Zaid peruntukkan bagi hambanya, atau menempati rumah yang Zaid peruntukkan bagi hambanya, maka ia dianggap melanggar sumpahnya baik dalam hal hewan tunggangan maupun rumah tersebut.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَيَحْنَثُ فِي الدَّارِ وَلَا يَحْنَثُ فِي الدَّابَّةِ بِنَاءً عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ مَذْهَبِهِ وَإِذَا كَانَتِ الْإِضَافَةُ مَحْمُولَةً عَلَى الْمِلْكِ اسْتِعْمَالًا لِحَقِيقَتِهَا دُونَ مَجَازِهَا وَجَدَ بِهِ قِيَاسًا مُسْتَمِرًّا وَأَصْلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذَا حَلَفَ لَا يَسْكُنُ دَارَ زَيْدٍ فَسَكَنَ دَارًا يَسْكُنُهَا زَيْدٌ وَبَكْرٌ لَمْ يَحْنَثْ عِنْدَنَا وَحَنَّثَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ مَعَهُ

Abu Hanifah berkata: Seseorang dianggap melanggar sumpahnya jika berkaitan dengan rumah, namun tidak dianggap melanggar jika berkaitan dengan hewan tunggangan, berdasarkan pendapat mazhabnya yang telah disebutkan sebelumnya. Jika suatu penisbatan (idhafah) dikaitkan dengan kepemilikan, maka hal itu digunakan menurut makna hakikinya, bukan makna majazinya, dan hal ini didasarkan pada qiyās yang berkesinambungan. Pokok permasalahan ini adalah jika seseorang bersumpah tidak akan tinggal di rumah Zaid, lalu ia tinggal di rumah yang dihuni oleh Zaid dan Bakar, maka menurut kami ia tidak dianggap melanggar sumpah, sedangkan menurut Abu Hanifah ia dianggap melanggar sumpah, dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا حَلَفَ لَا يَرْكَبُ دَابَّةَ الْعَبْدِ أَوْ لَا يَسْكُنُ دَارَهُ فَمَلَّكَهُ سَيِّدُهُ دَابَّةً وَدَارًا فَفِي حِنْثِ الْحَالِفِ بِرُكُوبِ دَابَّتِهِ وَسُكْنَى دار قَوْلَانِ بِنَاءً عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ مِنَ الْعَبْدِ هَلْ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ لَا يَمْلِكُ وَإِنْ مُلِّكَ فَعَلَى هَذَا لَا يَحْنَثُ الْحَالِفُ وَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَعَلَى هَذَا يَحْنَثُ بِهِ الْحَالِفُ عَلَى قَوْلِ جُمْهُورٍ لِأَصْحَابِنَا وَشَذَّ بَعْضُهُمْ فَقَالَ لَا يَحْنَثُ بِهِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ وَإِنْ مُلِّكَ لِأَنَّ مِلْكَهُ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ لِمَا تَمَلَّكَهُ السَّيِّدُ مِنَ الرُّجُوعِ فِيهِ وَهَذَا التَّعْلِيلُ مَعْلُولٌ بِالْوَالِدِ إِذَا وَهَبَ لِوَلَدِهِ كَانَ تَامًّا وَإِنِ اسْتَحَقَّ الْوَالِدُ الرُّجُوعَ فِيهِ

Apabila seseorang bersumpah tidak akan menaiki hewan milik budak atau tidak akan menempati rumahnya, lalu tuan budak tersebut memberikan kepemilikan seekor hewan dan sebuah rumah kepada budak itu, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah orang yang bersumpah tersebut dianggap melanggar sumpahnya jika ia menaiki hewan atau menempati rumah budak itu. Hal ini didasarkan pada perbedaan dua pendapat tentang budak: apakah budak memiliki hak kepemilikan jika sesuatu diberikan kepadanya. Menurut pendapat Imam Syafi‘i dalam qaul jadid, budak tidak memiliki hak kepemilikan meskipun sesuatu diberikan kepadanya; berdasarkan pendapat ini, orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpahnya. Sedangkan menurut qaul qadim, budak memiliki hak kepemilikan jika sesuatu diberikan kepadanya; berdasarkan pendapat ini, orang yang bersumpah dianggap melanggar sumpahnya menurut jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan kami. Namun, sebagian kecil dari mereka berpendapat bahwa orang yang bersumpah tidak dianggap melanggar sumpahnya menurut pendapat ini, meskipun sesuatu telah diberikan kepada budak, karena kepemilikan budak tidak tetap, sebab tuan masih memiliki hak untuk menarik kembali pemberiannya. Namun alasan ini dianggap lemah, karena jika seorang ayah memberikan sesuatu kepada anaknya, pemberian itu tetap sah meskipun ayah berhak menarik kembali pemberiannya.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا إِذَا حَلَفَ لَا يَرْكَبُ دَابَّةَ الْمَكَاتَبِ فَرَكِبَ دَابَّتَهُ حَنِثَ بِهَا الْحَالِفُ عَلَى قَوْلِ جُمْهُورِهِمْ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ مَالِكُهَا وَلَمْ يَحْنَثْ بِهَا مِنْ قَوْلِ مَنْ شَذَّ مِنْهُمْ تَعْلِيلًا بِأَنَّ ملكه غير مستقر

Berdasarkan hal ini, jika seseorang bersumpah tidak akan menaiki hewan tunggangan milik mukatab, lalu ia menaikinya, maka menurut pendapat jumhur, orang yang bersumpah itu dianggap melanggar sumpahnya, karena mukatab adalah pemilik hewan tersebut. Namun, menurut pendapat sebagian kecil ulama yang berbeda, ia tidak dianggap melanggar sumpah, dengan alasan bahwa kepemilikan mukatab atas hewan itu belum tetap.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ قَالَ مَالِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ صدقةٌ عَلَى مَعَانِي الْأَيْمَانِ فَمَذْهَبُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وعدةٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وعطاءٌ وَالْقِيَاسُ أَنَّ عَلَيْهِ كَفَّارَةَ يمينٍ وَقَالَ مَنْ حَنَثَ فِي الْمَشْيِ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ فَفِيهِ قولان أحدهما قول عطاء كفارة يمينٍ ومذهبه أن أعمال البر لا تكون إلا ما فرض الله أو تبرراً يراد به الله عز وجل قال الشافعي والتبرر أن يقول لله علي إن شفاني أن أحج نذراً فأما إن لم أقضك حقك فعلي المشي إلى بيت الله فهذا من مِن معاني الأيمان لا معاني النذور قال المزني رحمه الله قد قطع بأنه قول عددٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ والقياس وقد قال في غير هذا الموضع لو قال لله علي نذرٌ حج إن شاء فلانٌ فشاء لم يكن عليه شيءٌ إنما النذر ما أريد بن الله عز وجل ليس على معاني المعلق والشائي غير الناذر

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang berkata, “Hartaku di jalan Allah” atau “sedekah” dengan maksud makna-makna sumpah, maka pendapat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan sejumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – serta pendapat ‘Atha’ dan qiyās – adalah bahwa ia wajib membayar kafarat sumpah. Dan barang siapa yang melanggar sumpah untuk berjalan ke Baitullah, maka ada dua pendapat; salah satunya adalah pendapat ‘Atha’, yaitu kafarat sumpah. Mazhabnya adalah bahwa amal kebaikan tidaklah dianggap kecuali yang diwajibkan Allah atau kebaikan yang diniatkan karena Allah ‘Azza wa Jalla. Imam Syafi‘i berkata: Kebaikan (tabarrur) itu adalah jika seseorang berkata, “Demi Allah, jika aku sembuh, aku akan berhaji sebagai nazar.” Adapun jika ia berkata, “Jika aku tidak menunaikan hakmu, maka aku akan berjalan ke Baitullah,” maka ini termasuk makna sumpah, bukan makna nazar. Al-Muzani rahimahullah berkata: Telah dipastikan bahwa ini adalah pendapat sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan qiyās. Dan beliau berkata di tempat lain: Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku bernazar untuk berhaji jika si Fulan menghendaki,” lalu si Fulan menghendaki, maka tidak wajib atasnya apa pun. Nazar itu hanyalah yang diniatkan karena Allah ‘Azza wa Jalla, bukan yang bergantung pada makna-makna syarat dan keinginan selain niat bernazar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ النَّذْرَ ضَرْبَانِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa nadzar itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا نَذْرُ جَزَاءٍ وَتَبَرُّرٍ وَهُوَ مَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ عَلَى مَا أَوْلَاهُ اللَّهُ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ دَفَعَهُ عَنْهُ مِنْ نِقْمَةٍ كَقَوْلِهِ إِنْ شفى الله مريضي أو رزقني ولداً لله عَلَيَّ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِمَالِي فَيَلْزَمُهُ الْوَفَاءُ بِنَذْرِهِ وَلَا يَجُوزُ لَهُ الْعُدُولُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ فِي كِتَابِهِ

Salah satunya adalah nadzar sebagai balasan dan bentuk kebaikan, yaitu sesuatu yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri karena Allah telah memberinya nikmat atau telah menolak darinya suatu musibah, seperti ucapannya: “Jika Allah menyembuhkan penyakitku atau memberiku anak, maka aku wajib bersedekah dengan hartaku.” Maka ia wajib menunaikan nadzarnya dan tidak boleh beralih kepada selainnya, sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab ini.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي نَذْرُ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ خَرَجَ مَخْرَجَ الْيَمِينِ فَالنَّفْيُ مَا الْتَزَمَ بِهِ نَفْيَ فِعْلٍ كَقَوْلِهِ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَمَالِي صَدَقَةٌ لِيَلْزَمَ بِنَذْرِهِ دُخُولَ الدَّارِ وَالْإِثْبَاتُ مَا الْتَزَمَ بِهِ إِثْبَاتَ فعلٍ كَقَوْلِهِ إِنْ لَمْ أَدْخُلِ الدَّارَ فَمَالِي صَدَقَةٌ لِيَلْتَزِمَ بِنَذْرِهِ دُخُولَ الدَّارِ وَالْإِثْبَاتُ مَا الْتَزَمَ بِهِ النَّفْيُ كَقَوْلِهِ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَمَالِي صَدَقَةٌ لِيَلْتَزِمَ بِنَذْرِهِ أَنْ لَا يَدْخُلَ الدَّارَ إِذَا خَالَفَ عَقْدَ نَذْرِهِ وَحَنِثَ فِيمَا أَوْجَبَهُ على نفسهن فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهِ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى سِتَّةِ مَذَاهِبَ

Jenis kedua adalah nazar berupa penafian dan penetapan yang bentuknya seperti sumpah. Penafian adalah seseorang mewajibkan dirinya untuk tidak melakukan suatu perbuatan, seperti ucapannya: “Jika aku masuk ke rumah, maka hartaku menjadi sedekah,” sehingga dengan nazarnya itu ia mewajibkan dirinya untuk tidak masuk ke rumah. Sedangkan penetapan adalah seseorang mewajibkan dirinya untuk melakukan suatu perbuatan, seperti ucapannya: “Jika aku tidak masuk ke rumah, maka hartaku menjadi sedekah,” sehingga dengan nazarnya itu ia mewajibkan dirinya untuk masuk ke rumah. Penetapan juga bisa berupa mewajibkan penafian, seperti ucapannya: “Jika aku masuk ke rumah, maka hartaku menjadi sedekah,” sehingga dengan nazarnya itu ia mewajibkan dirinya untuk tidak masuk ke rumah. Jika ia melanggar akad nazarnya dan melakukan apa yang telah ia wajibkan atas dirinya, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi enam mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَالْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ وَحَمَّادِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ أَنَّهُ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا كَفَّارَةٍ لِأَنَّهُ وَصَفَ مَالَهُ بِمَا لَا يَصِيرُ مَوْصُوفًا بِهِ فَصَارَ كَقَوْلِهِ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَمَالِي حرامٌ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Ibrahim an-Nakha‘i, al-Hakam bin ‘Utaybah, dan Hammad bin Abi Sulaiman, menyatakan bahwa tidak ada kewajiban zakat maupun kafarat atasnya, karena ia telah menyifati hartanya dengan sesuatu yang tidak mungkin menjadi sifat bagi harta tersebut, sehingga hal itu menjadi seperti ucapannya: “Jika aku masuk ke rumah, maka hartaku haram.”

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ أَنَّهُ يُلْزَمُ الْوَفَاءَ بِنَذْرِهِ وَالصَّدَقَةَ بِجَمِيعِ مَالِهِ لِأَنَّهُ أَحَدُ نَوْعَيِ النَّذْرِ كَالْجَزَاءِ وَالتَّبَرُّرِ

Pendapat kedua, yaitu mazhab ‘Utsman al-Battī, menyatakan bahwa seseorang wajib memenuhi nadzarnya dan bersedekah dengan seluruh hartanya, karena hal itu merupakan salah satu dari dua jenis nadzar, seperti nadzar sebagai balasan (jazā’) dan nadzar sebagai bentuk kebaikan (tabarrur).

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ مِنْ مَالِهِ بِقَدْرِ زَكَاتِهِ لِأَنَّ الصَّدَقَةَ الْمَشْرُوعَةَ هِيَ الزَّكَاةُ

Dan pendapat ketiga, yaitu pendapat Rabi‘ah bin ‘Abdurrahman, bahwa ia wajib bersedekah dari hartanya sebesar kadar zakatnya, karena sedekah yang disyariatkan adalah zakat.

وَالرَّابِعُ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِثُلُثِ مَالِهِ لِأَنَّ أَبَا لُبَابَةَ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْخَلِعُ عَنْ مَالِي؟ فَقَالَ الثُّلُثُ يُجْزِئُكَ

Pendapat keempat, yaitu mazhab Malik, mewajibkan seseorang untuk bersedekah sepertiga hartanya, karena Abu Lubabah al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku melepaskan seluruh hartaku?” Maka beliau bersabda, “Sepertiga sudah mencukupimu.”

وَالْخَامِسُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِجَمِيعِ الْأَمْوَالِ الْمُزَكَّاةِ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِمَا لَيْسَ بِمُزَكًّى

Kelima, yaitu pendapat Abū Ḥanīfah, ia wajib mengeluarkan sedekah dari seluruh harta yang terkena zakat, dan tidak wajib mengeluarkan sedekah dari harta yang tidak terkena zakat.

وَالسَّادِسُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَالِهِ وَبَيْنَ أَنْ يُكَفِّرَ كَفَّارَةَ يَمِينٍ وَهُوَ فِي الصَّحَابَةِ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ وأبي هريرة وعائشة وحفصة وأم مسلمة وَفِي التَّابِعِينَ قَوْلُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَفِي الْفُقَهَاءِ قَوْلُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ وَأَبِي عُبَيْدٍ الْقَاسِمِ بْنِ سَلَّامٍ وَأَبِي ثَوْرٍ وَاسْتَدَلَّ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَنْ تَابَعَهُ فِي الْجُمْلَةِ وَلَمْ يُوجِبْ فِيهِ كَفَّارَةَ يَمِينٍ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللهَ لَئِنْ أَتَاناَ مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَدَّقَّنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَتَوَعَّدَهُ عَلَى تَرْكِ الْوَفَاءِ وبنذره وَالْوَعِيدُ يَتَوَجَّهُ إِلَى تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ نَذَرَ نَذْرًا سَمَّاهُ فَعَلَيْهِ الْوَفَاءُ بِهِ

Keenam, yaitu pendapat mazhab Syafi‘i, bahwa seseorang diberi pilihan antara bersedekah dengan seluruh hartanya atau menunaikan kaffarah yamin. Di kalangan sahabat, ini adalah pendapat Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Hafshah, dan Ummu Salamah. Di kalangan tabi‘in, ini adalah pendapat Hasan al-Bashri dan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Di kalangan fuqaha, ini adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, dan Abu Tsaur. Abu Hanifah dan para pengikutnya secara umum berdalil dan tidak mewajibkan kaffarah yamin dalam hal ini dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, ‘Sungguh jika Allah memberi kami karunia-Nya, pasti kami akan bersedekah dan pasti kami akan menjadi orang-orang yang saleh.’ Namun ketika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka, mereka kikir dan berpaling, padahal mereka adalah orang-orang yang enggan.” Maka Allah mengancam mereka karena tidak menunaikan janji dan nadzarnya, dan ancaman itu ditujukan kepada orang yang meninggalkan kewajiban. Juga berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bernadzar dengan suatu nadzar yang ia sebutkan, maka wajib baginya menunaikannya.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ نَذَرَ نَذْرًا يُطِيقُهُ فَلْيَفِ بِهِ فَكَانَ ذَلِكَ عَلَى عُمُومِهِ وَلِأَنَّهُ عَلَّقَ الصَّدَقَةَ بِشَرْطٍ فَوَجَبَ أَنْ يُلْزَمَ بِوُجُودِ الشَّرْطِ كالجزاء بالتبرر ولأن كل حقٍّ لوم بِنَذْرِ الْجَزَاءِ وَالتَّبَرُّرُ لَزِمَهُ بِنَفْيِ النَّذْرِ وَالْإِثْبَاتِ كَالْعَتَاقِ وَالطَّلَاقِ وَدَلِيلُنَا عُمُومُ قَوْله تَعَالَى فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ إلى قوله ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا طَلَقْتُمْ فَكَانَ مَحْمُولًا عَلَى كُلِّ يَمِينٍ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bernazar dengan nazar yang mampu dipenuhinya, maka hendaklah ia menunaikannya.” Maka hal itu berlaku secara umum. Karena ia telah menggantungkan sedekah pada suatu syarat, maka wajib baginya untuk melaksanakannya ketika syarat itu terpenuhi, sebagaimana hukuman dalam bentuk kebaikan. Dan karena setiap hak yang wajib dengan nazar jazā’ dan tabarrur menjadi wajib dengan adanya atau tidak adanya nazar, seperti halnya pembebasan budak dan talak. Dalil kami adalah keumuman firman Allah Ta‘ala: “Maka kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin,” hingga firman-Nya: “Itulah kaffarah sumpah-sumpah kalian apabila kalian melanggarnya.” Maka ayat ini berlaku untuk setiap sumpah.

وَرَوَى عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أنه قال كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ وَهَذَا نَصٌّ

Uqbah bin Amir meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Kafarat nazar adalah seperti kafarat sumpah,” dan ini adalah nash.

وَرَوَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ نَذَرَ وَلَمْ يُسَمِّ فَعَلَيْهِ كَفَّارَةُ يمينٍ وَمَنْ نَذَرَ مَا لَا يُطِيقُ فَعَلَيْهِ كَفَّارَةُ يمينٍ

Abdullah bin Abbas meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: Barang siapa bernazar namun tidak menyebutkan (nazarnya), maka wajib atasnya membayar kafarat yamin (denda sumpah). Dan barang siapa bernazar terhadap sesuatu yang tidak mampu ia lakukan, maka wajib atasnya membayar kafarat yamin.

وَرَوَتْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ مَنْ حَلَفَ بِالْهَدْيِ أَوْ جَعَلَ مَالَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ فِي الْمَسَاكِينِ أَوْ فِي رِتَاجِ الْكَعْبَةِ فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ وَهَذِهِ الْأَخْبَارُ كُلُّهَا نَصٌّ وَلِأَنَّهُ بِانْتِشَارِهِ عَنْ سَبْعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ لَمْ يَظْهَرْ خِلَافُهُمْ إِجْمَاعٌ لَا يَجُوزُ خِلَافُهُ

Aisyah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan hadyu, atau menjadikan hartanya di jalan Allah, atau untuk orang-orang miskin, atau untuk penutup Ka’bah, maka kafaratnya adalah kafarat sumpah.” Seluruh riwayat ini adalah nash, dan karena telah tersebar dari tujuh sahabat tanpa diketahui adanya perbedaan di antara mereka, maka itu adalah ijmā‘ yang tidak boleh diselisihi.

رَوَى عُمَرُ بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَخَوَيْنِ مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ بَيْنَهُمَا مِيرَاثٌ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ قسمه فَقَالَ لَهُ إِنْ عُدْتَ بِذِكْرِ الْقِسْمَةِ لَا أُكَلِّمُكَ أَبَدًا وَكُلُّ مَالِي فِي رِتَاجِ الْكَعْبَةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ الْكَعْبَةَ لَغَنِيَّةٌ عَنْ مَالِكَ كَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَكَلِّمْ أَخَاكَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَقُولُ لَا يَمِينَ عَلَيْكَ فِي مَعْصِيَةِ الرَّبِّ وَلَا فِي قَطِيعَةِ الرَّحِمِ وَلَا فِيمَا لَيْسَ لَكَ

Umar bin Syu‘aib meriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab bahwa dua saudara dari kalangan Anshar memiliki warisan di antara mereka. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, “Bagilah.” Maka yang lain berkata, “Jika engkau kembali menyebut pembagian, aku tidak akan pernah berbicara denganmu lagi, dan seluruh hartaku akan aku letakkan di pintu Ka‘bah.” Maka Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ka‘bah tidak membutuhkan hartamu. Tebuslah sumpahmu dan bicaralah dengan saudaramu. Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada sumpah atasmu dalam maksiat kepada Rabb, tidak pula dalam memutuskan silaturahmi, dan tidak pula dalam perkara yang bukan milikmu.’”

وَرَوَى بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ قَالَتْ مَوْلَاتِي لَأُفَرِّقَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَ امْرَأَتِكَ وَكُلُّ مَالِي فِي رِتَاجِ الْكَعْبَةِ وَأَنَا يومٌ يهوديةٌ ويومٌ نصرانيةٌ ويومٌ مجوسيةٌ إِنْ لَمْ أُفَرِّقْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ امْرَأَتِكَ قَالَ فَأَتَيْتُ ابْنَ عُمَرَ فَأَخْبَرْتُهُ فَجَاءَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْبَابِ فَقَالَ هَاهُنَا هَارُوتُ وَمَارُوتُ فَقَالَتْ يَا طَيِّبَ بْنَ الطَّيِّبِ ادْخُلْ أَعُوَذُ بِاللَّهِ مِنْ غَضَبِكَ قَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تُفَرِّقِي بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ قَالَتْ إِنِّي جَعَلْتُ كُلَّ مَالِي فِي رِتَاجِ الْكَعْبَةِ وَقُلْتُ إِنَّهَا يومٌ يهوديةٌ ويومٌ نصرانيةٌ وَيَوْمٌ مجوسيةٌ قَالَ تُكَفِّرِينَ يَمِينَكِ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ فَتَاكِ وَفَتَاتِكِ

Bakar bin Abdullah al-Muzani meriwayatkan dari Abu Rafi‘, ia berkata: Majikanku berkata, “Sungguh aku akan memisahkan antara engkau dan istrimu, dan seluruh hartaku akan aku letakkan di pintu Ka‘bah, dan aku akan menjadi sehari Yahudi, sehari Nasrani, dan sehari Majusi, jika aku tidak memisahkan antara engkau dan istrimu.” Maka aku mendatangi Ibnu Umar dan memberitahukan kepadanya, lalu ia datang hingga sampai di depan pintu dan berkata, “Apakah di sini ada Harut dan Marut?” Maka majikanku berkata, “Wahai orang baik, anak orang baik, masuklah. Aku berlindung kepada Allah dari kemarahanmu.” Ia berkata, “Apakah engkau ingin memisahkan antara seorang laki-laki dan istrinya?” Ia menjawab, “Aku telah meletakkan seluruh hartaku di pintu Ka‘bah, dan aku berkata bahwa aku akan menjadi sehari Yahudi, sehari Nasrani, dan sehari Majusi.” Ia berkata, “Tebuslah sumpahmu dan satukan kembali budak laki-lakimu dan budak perempuanmu.”

وَرُوِيَ أَنَّهَا سَأَلَتِ ابْنَ عَبَّاسٍ وَأَبَا هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ قَالَ لَهَا كَفِّرِي عَنْ يَمِينِكِ وَخَلِّي بَيْنَهُمَا فَفَعَلَتْهُ

Diriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Hafshah, dan Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anhum, lalu semuanya berkata kepadanya, “Bayarlah kafarat atas sumpahmu dan biarkanlah keduanya,” maka ia pun melakukannya.

وَرَوَى خِلَاسُ بْنُ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ سُئِلَ عَنِ امْرَأَةٍ أَهْدَتْ ثَوْبَهَا إِنْ مَسَّتْهُ فَقَالَ لِتُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهَا وَلِتَلْبَسْ ثَوْبَهَا وَإِذَا كَانَ هَذَا مَرْوِيًّا عَنْ هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَلَمْ يَظْهَرْ خِلَافُهُمْ فَهُوَ إِجْمَاعٌ قَاطِعٌ فَاعْتَرَضَ عَلَى هَذَا الْإِجْمَاعِ مَا حَكَاهُ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الله الهندواي أَنَّ الْقَوْلَ بِالْوَفَاءِ قَوْلُ الْعَبَادِلَةِ مِنَ الصَّحَابَةِ

Khilas bin Umar meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seorang wanita yang menghadiahkan pakaiannya, lalu ia menyentuh pakaian itu. Ibnu Abbas berkata, “Hendaklah ia membayar kafarat sumpahnya dan mengenakan pakaiannya.” Jika hal ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat dan tidak tampak adanya perbedaan pendapat di antara mereka, maka itu merupakan ijmā‘ yang pasti. Namun, ijmā‘ ini ditentang oleh apa yang diriwayatkan oleh para pengikut Abu Hanifah dari Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah al-Hinduwai, bahwa pendapat tentang wajibnya memenuhi (nazar) adalah pendapat al-‘Abādilah dari kalangan sahabat.

قِيلَ لَهُمْ هَذِهِ دَعْوَى يَدْفَعُهَا مَا رَوَيْنَاهُ عن عبد بْنِ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَّ أَحَدًا مِنْ نَقَلَةِ السُّنَنِ وَالْآثَارِ لَمْ يَرْوِ خِلَافَهُ

Dikatakan kepada mereka: Ini adalah sebuah klaim yang dibantah oleh apa yang kami riwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Abdullah bin ‘Abbas, dan tidak ada seorang pun dari para perawi sunah dan atsar yang meriwayatkan sebaliknya.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ الْقِيَاسِ أَنَّهُ حَقٌّ لِلَّهِ تَعَالَى يَتَعَلَّقُ بِفِعْلِهِ وَيَجِبُ بِحِنْثِهِ كَفَّارَةٌ فَوَجَبَ أَنْ يَسْقُطَ بِكَفَّارَةِ يَمِينٍ كَسَائِرِ الْأَيْمَانِ وَلِأَنَّ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ فِي حِنْثِهِ بِاللَّهِ جَازَ أَنْ يَسْقُطَ بِهِ حُكْمُ حِنْثِهِ فِي النَّذْرِ كَقَوْلِهِ إِنْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَلِلَّهِ علي نذره

Dan dalil dari qiyās menunjukkan bahwa hal itu merupakan hak Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan perbuatannya, dan apabila ia melanggarnya maka wajib membayar kafārah, sehingga wajib gugur dengan kafārah yamin seperti sumpah-sumpah lainnya. Karena apa yang wajib atasnya ketika melanggar sumpah dengan nama Allah, maka boleh gugur pula hukum pelanggarannya dalam nadzar, seperti ucapannya: “Jika aku melakukan ini dan itu, maka karena Allah aku bernadzar.”

وَلِأَنَّهُ لَوْ جَرَّدَ نَذْرَهُ عَنْ يَمِينٍ لَزِمَهُ الْوَفَاءُ وَلَوْ جَرَّدَ يَمِينَهُ عَنْ نَذْرٍ لَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ وَهَذَا النَّذْرُ مُشْتَرَكٌ بَيْنَ الْأَيْمَانِ الْمَحْضَةِ وَالنُّذُورِ الْمَحْضَةِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْحِنْثُ فِيهِ مُشْتَرَكًا بَيْنَ حِنْثِ الْأَيْمَانِ وَحِنْثِ النُّذُورِ

Karena jika seseorang mengucapkan nadzar tanpa dikaitkan dengan sumpah, maka wajib baginya menunaikannya; dan jika ia mengucapkan sumpah tanpa dikaitkan dengan nadzar, maka wajib baginya membayar kafarat. Sedangkan nadzar ini merupakan gabungan antara sumpah murni dan nadzar murni, maka pelanggaran terhadapnya pun harus merupakan gabungan antara pelanggaran sumpah dan pelanggaran nadzar.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَهِيَ وَارِدَةٌ فِي نَذْرِ جَزَاءٍ وَتَبَرُّرٍ عَقَدَهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمْ يَفِ بِهِ وَكَذَلِكَ الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرَيْنِ

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut, maka ayat itu berkaitan dengan nazar sebagai balasan dan bentuk kebaikan yang diikrarkan atas dirinya sendiri, lalu ia tidak menunaikannya. Demikian pula jawaban terhadap kedua hadits tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى نَذْرِ الْجَزَاءِ وَالتَّبَرُّرِ فَمِنْ وجهن

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan nadzar al-jazā’ dan tabarrur adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا إنَّ النَّذْرَ لَا لِمَحْضِ مُعَاوَضَةٍ قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ فَيَجْعَلُ النَّذْرَ لَازِمًا فِي الْجَزَاءِ وَلَا يَجْعَلُهُ لَازِمًا فِي التَّبَرُّرِ الْمُبْتَدَأِ

Salah satunya adalah bahwa nadzar tidak dimaksudkan semata-mata sebagai bentuk mu‘āwaḍah (pertukaran). Abu Ishaq al-Marwazi berkata, maka nadzar menjadi wajib dalam hal balasan, namun tidak menjadikannya wajib dalam kebaikan yang dimulai tanpa sebab.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي إنَّ مَقْصُودَ النَّذْرِ طَاعَةُ اللَّهِ وَمَقْصُودَ هَذَا الْتِزَامُ فِعْلٍ أَوِ الِامْتِنَاعُ مِنْ فِعْلٍ فَلِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْمَقْصُودِ مَا اخْتَلَفَا فِي الحكم وهذا قول من جعل نذراً التَّبَرُّرِ لَازِمًا كَمَا كَانَ نَذْرُ الْجَزَاءِ لَازِمًا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ

Jawaban kedua: Sesungguhnya maksud dari nadzar adalah ketaatan kepada Allah, sedangkan maksud dari ini adalah berkomitmen melakukan suatu perbuatan atau meninggalkan suatu perbuatan. Karena perbedaan tujuan di antara keduanya, maka berbeda pula hukum keduanya. Inilah pendapat orang yang menganggap nadzar tabarrur (nadzar kebaikan) itu wajib sebagaimana nadzar jazā’ (nadzar sebagai balasan) juga wajib, dan ini adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ تَعْلِيقِ هَذَا النَّذْرِ بِالْعَتَاقِ وَالطَّلَاقِ فَهُوَ أَنَّهُ وُقُوعُ عِتْقٍ وَطَلَاقٍ بِصِفَةٍ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى اسْتِئْنَافِ عِتْقٍ وَطَلَاقٍ مُخَالِفٌ حُكْمَ تَعْلِيقِهِ بِالصَّدَقَةِ الَّتِي تَفْتَقِرُ إِلَى فِعْلِهِ فَإِذَا تَقَرَّرَ تَخْيِيرُهُ بَيْنَ هَذَا النَّذْرِ وَبَيْنَ الْوَفَاءِ وَالْكَفَّارَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْوَاجِبِ عَلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban mengenai pengaitan nazar ini dengan pembebasan budak dan talak adalah bahwa terjadinya pembebasan budak dan talak dengan suatu sifat tidak memerlukan pembebasan budak dan talak yang baru; ini berbeda hukumnya dengan pengaitan nazar dengan sedekah yang memerlukan perbuatan darinya. Maka, apabila telah tetap adanya pilihan baginya antara nazar ini dengan menunaikan atau membayar kafarat, para ulama kami berbeda pendapat mengenai kewajiban atasnya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ أَحَدُهُمَا وَهُمَا فِي الْوُجُوبِ عَلَى سَوَاءٍ وَلَهُ الْخِيَارُ فِيمَا شَاءَ مِنْهُمَا

Salah satunya adalah bahwa kewajiban atasnya adalah salah satu dari dua hal tersebut, dan keduanya sama dalam hal kewajiban, serta ia memiliki pilihan untuk melakukan salah satu di antara keduanya sesuai yang ia kehendaki.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي إنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ وَلَهُ إِسْقَاطُهُمَا بِالنَّذْرِ لِأَنَّ حُكْمَ الْيَمِينِ أَغْلَبُ وَهِيَ بِاللَّهِ تَعَالَى أَغْلَظُ وَإِنْ كَانَ الْوَفَاءُ بِالنَّذْرِ أَفْضَلَ

Adapun pendapat kedua, sesungguhnya orang yang wajib atasnya membayar kafārah boleh menggugurkan kewajiban tersebut dengan menunaikan nadzar, karena hukum sumpah (yamin) lebih kuat, dan sumpah dengan nama Allah Ta‘ala lebih berat, meskipun menunaikan nadzar itu lebih utama.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا فَالنُّذُورُ تَنْقَسِمُ عَلَى سَبْعَةِ أَقْسَامٍ

Maka apabila hal ini telah ditetapkan, nazar terbagi menjadi tujuh bagian.

أَحَدُهَا مَا يَلْزَمُهُ فِيهِ الْوَفَاءُ بِمَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ نَذْرُ الْجَزَاءِ وَالتَّبَرُّرِ إِذَا قَالَ إِنْ شَفَانِي اللَّهُ تَصَدَّقْتُ بِمَالِي أَوْ حَجَجْتُ الْبَيْتَ الْحَرَامَ أَوْ صُمْتُ شَهْرًا أَوْ صَلَّيْتُ أَلْفَ رَكْعَةٍ فَعَلَيْهِ إِذَا شَفَاهُ اللَّهُ أَنْ يَفْعَلَ مَا الْتَزَمَهُ مِنَ الصَّدَقَةِ بِمَالِهِ كُلِّهِ

Salah satunya adalah apa yang mewajibkan dirinya untuk menunaikan apa yang telah ia wajibkan atas dirinya sendiri, yaitu nadzar jenis balasan dan kebaikan. Misalnya, jika seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkanku, aku akan bersedekah dengan seluruh hartaku, atau aku akan berhaji ke Baitullah al-Haram, atau aku akan berpuasa selama sebulan, atau aku akan shalat seribu rakaat,” maka apabila Allah telah menyembuhkannya, ia wajib melaksanakan apa yang telah ia janjikan, seperti bersedekah dengan seluruh hartanya.

وَفِي قَدْرِ مَا يَسْتُرُ بِهِ عَوْرَتَهُ وَجْهَانِ

Dalam hal kadar yang digunakan untuk menutupi auratnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَتَصَدَّقُ بِهِ لِأَنَّهُ مِنْ مَالِهِ

Salah satunya adalah ia bersedekah dengannya karena itu merupakan hartanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ لِاسْتِثْنَائِهِ بِالشَّرْعِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى فَخَرَجَ مِنْ عُمُومِ نَذْرِهِ

Pendapat kedua, tidak boleh disedekahkan karena telah dikecualikan oleh syariat dalam hak-hak Allah Ta‘ala, sehingga keluar dari keumuman nadzarnya.

وَإِنْ أَوْجَبَ الْحَجَّ لَزِمَهُ أَنْ يَحُجَّ مُسْتَطِيعًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُسْتَطِيعٍ بِخِلَافِ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ الَّتِي يَتَعَلَّقُ وُجُوبُهَا بِالِاسْتِطَاعَةِ وَتَعَلَّقَ وُجُوبُ هَذِهِ بِالنُّذُورِ وَإِنْ أَوْجَبَ الصَّلَاةَ صَلَّى وَفِي وُجُوبِ الْقِيَامِ فِيهَا وَجْهَانِ

Jika seseorang mewajibkan haji atas dirinya, maka ia wajib menunaikan haji, baik dalam keadaan mampu maupun tidak mampu, berbeda dengan haji Islam yang kewajibannya bergantung pada kemampuan, sedangkan kewajiban haji nazar ini bergantung pada nadzar. Jika seseorang mewajibkan shalat atas dirinya, maka ia harus melaksanakan shalat, dan dalam hal kewajiban berdiri di dalamnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَلْزَمُهُ الْقِيَامُ فِيهَا مَعَ الْقُدْرَةِ لِوُجُوبِهَا كَالْفُرُوضِ

Salah satunya adalah wajib melaksanakan salat dengan berdiri di dalamnya jika mampu, karena kewajibannya seperti kewajiban fardhu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَلْزَمُهُ الْقِيَامُ فِيهَا لِأَنَّهَا لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ بِأَصْلِ الشَّرْعِ فَكَانَتْ بِالتَّطَوُّعِ أَشْبَهَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak wajib baginya untuk berdiri di dalamnya, karena shalat itu tidak diwajibkan atasnya berdasarkan hukum asal syariat, sehingga lebih menyerupai shalat tathawwu‘ (sunnah).

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا يَلْزَمُهُ فِيهِ مِنَ الصَّدَقَةِ بِقَلِيلِ مَالِهِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ إن شفاني الله فلله عَلَيَّ نَذْرٌ فَيَنْصَرِفُ إِطْلَاقُ هَذَا النَّذْرِ إِلَى الصَّدَقَةِ لِأَنَّهَا الْأَغْلَبُ مِنْ عُرْفِ النُّذُورِ وَلَا يَتَعَذَّرُ إِطْلَاقُهَا بِمَالٍ فَجَازَتْ بِقَلِيلِ الْمَالِ اعْتِبَارًا بِالِاسْمِ

Bagian kedua adalah kewajiban yang harus dipenuhi berupa sedekah dengan harta yang sedikit, yaitu ketika seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkanku, maka aku bernazar karena Allah.” Lafal nazar yang diucapkan secara mutlak ini diarahkan kepada sedekah, karena sedekah adalah yang paling umum dalam tradisi nazar. Tidak sulit untuk mengaitkannya dengan harta, sehingga boleh dipenuhi dengan harta yang sedikit, berdasarkan penamaan tersebut.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا يَلْزَمُ فِيهِ الْكَفَّارَةُ وَحْدَهَا وَهُوَ أَنْ يَقُولَ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَلِلَّهِ عَلَيَّ نَذْرٌ فَيَلْزَمُهُ الْكَفَّارَةُ وَحْدَهَا تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْيَمِينِ عَلَى النُّذُرِ لِأَنَّ كَفَّارَةَ الْيَمِينِ مَعْلُومَةٌ وَمُوجَبُ النَّذْرِ الْمُطْلَقِ مَجْهُولٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَقَعَ التَّمْيِيزُ بَيْنَ مَعْلُومٍ وَمَجْهُولٍ

Bagian ketiga adalah perkara yang mewajibkan kafārah saja, yaitu ketika seseorang berkata, “Jika aku masuk ke rumah, maka aku bernazar karena Allah.” Maka yang wajib baginya hanyalah kafārah saja, dengan mengedepankan hukum yamin atas nazar, karena kafārah yamin itu jelas, sedangkan kewajiban dari nazar mutlak itu tidak diketahui. Maka tidak boleh membedakan antara sesuatu yang jelas dan yang tidak diketahui.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا يَكُونُ مُخَيَّرًا فِي الْتِزَامِهِ بَيْنَ الْوَفَاءِ بِمَا أَوْجَبَهُ عَلَى نَفْسِهِ وَبَيْنَ كَفَّارَةِ يَمِينٍ وَهُوَ مَا قَدَّمْنَاهُ فِي مَسْأَلَةِ الْكِتَابِ أَنْ يُعَلِّقَ نَذْرَهُ بِفِعْلِ نَفْسِهِ وَلَا يُعَلِّقَهُ بِفِعْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِيهِ لِيَمْنَعَ نَفْسَهُ بِالنَّذْرِ مِنْ فِعْلِ شَيْءٍ أَوْ يَلْتَزِمَ بِهِ فِعْلَ شَيْءٍ فَيَصِيرُ يَمِينًا عَقَدَهَا بِنَذْرٍ فَهِيَ الَّتِي يَكُونُ فِيهَا مُخَيَّرًا بَيْنَ الْوَفَاءِ بِنَذْرِهِ وَبَيْنَ كَفَّارَةِ يَمِينٍ لِتَرَدُّدِهَا بَيْنَ أَصْلِ النَّذْرِ وَأَصْلِ الْأَيْمَانِ فَإِنْ كَانَ النَّذْرُ بِمَالٍ أَوْ صَلَاةٍ كَانَ مُخَيَّرًا بَيْنَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَبَيْنَ الْكَفَّارَةِ وَإِنْ كَانَ النَّذْرُ بِحَجٍّ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ فِيهِ قَوْلَانِ فَتَمَسَّكَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ بِظَاهِرِ كَلَامِهِ وَوَهِمَ فِي مُرَادِهِ فَخَرَجَ مَذْهَبُهُ فِيهِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Bagian keempat adalah perkara di mana seseorang diberi pilihan dalam menunaikannya, antara memenuhi apa yang telah diwajibkan atas dirinya sendiri atau membayar kafarat yamin. Ini sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam pembahasan kitab, yaitu ketika seseorang menggantungkan nazarnya pada perbuatannya sendiri dan tidak menggantungkan pada perbuatan Allah Ta‘ala, sehingga ia mencegah dirinya dengan nazar dari melakukan sesuatu atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu, maka hal itu menjadi sumpah yang diikrarkan dengan nazar. Dalam hal ini, ia diberi pilihan antara menunaikan nazarnya atau membayar kafarat yamin, karena perkara ini berada di antara hukum asal nazar dan hukum asal sumpah. Jika nazar tersebut berupa harta atau shalat, maka ia diberi pilihan antara menunaikan salah satunya atau membayar kafarat. Namun jika nazar tersebut berupa haji, menurut Imam Syafi‘i dalam Kitab al-Umm terdapat dua pendapat. Abu Hamid al-Isfarayini berpegang pada makna lahir dari ucapannya dan keliru dalam memahami maksudnya, sehingga dalam masalah ini muncul dua pendapat dalam mazhab beliau.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مُخَيَّرًا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْكَفَّارَةِ كَمَا كَانَ مُخَيَّرًا بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالْكَفَّارَةِ

Salah satunya adalah ia diberi pilihan antara haji dan kafārah, sebagaimana ia juga diberi pilihan antara shalat dan kafārah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَلْزَمُهُ الْحَجُّ وَلَا يَجُوزُ لَهُ الْعُدُولُ عَنْهُ إِلَى الْكَفَّارَةِ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتَكَلَّفَ الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الْحَجَّ يَلْزَمُ بِالدُّخُولِ فِيهِ دُونَ غَيْرِهِ فَصَارَ أَغْلَظَ فِي الِالْتِزَامِ مِنْ غَيْرِهِ وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّ مَذْهَبَهُ لَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِ كَمَا لَمْ يَخْتَلِفْ فِي غَيْرِهِ وَأَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْحَجِّ وَالْكَفَّارَةِ كَمَا كَانَ مُخَيَّرًا بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَبَيْنَ الْكَفَّارَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia wajib menunaikan haji dan tidak boleh beralih darinya kepada kifarat, berbeda dengan shalat dan sedekah. Mereka berusaha membedakan antara keduanya dengan alasan bahwa haji menjadi wajib dengan memulainya, tidak seperti yang lain, sehingga haji menjadi lebih berat dalam hal kewajiban dibandingkan yang lain. Mayoritas ulama mazhab kami berpendapat bahwa pendapatnya tidak berbeda dalam hal ini, sebagaimana tidak berbeda dalam hal yang lain, dan bahwa ia diberi pilihan antara haji dan kifarat, sebagaimana ia diberi pilihan antara shalat dan sedekah serta antara kifarat.

وَحَمَلُوا قَوْلَ الشَّافِعِيِّ فِيهِ قَوْلَانِ عَلَى أَنَّهُ يُرِيدُ بِهِ لِلْفُقَهَاءِ لِأَنَّ لَهُمْ فِي الصَّدَقَةِ أَقَاوِيلَ حَكَاهَا وَلَيْسَ لَهُمْ فِي الْحَجِّ إِلَّا قَوْلَانِ

Mereka menafsirkan ucapan asy-Syafi‘i tentang adanya dua pendapat di dalamnya bahwa yang dimaksud adalah pendapat para fuqaha, karena para fuqaha memiliki beberapa pendapat dalam masalah zakat yang telah beliau sebutkan, sedangkan dalam masalah haji mereka hanya memiliki dua pendapat.

إِمَّا الْتِزَامُهُ وَإِمَّا التَّخْيِيرُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّكْفِيرِ وَإِنْ كَانَ مَذْهَبُهُ فِيهِ التَّخْيِيرَ

Yaitu antara mewajibkannya atau memberikan pilihan antara itu dan takfir, meskipun pendapatnya dalam hal ini adalah memberikan pilihan.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ مَا اخْتَلَفَ حُكْمُهُ بِاخْتِلَافِ مُرَادِهِ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ إِذَا دَخَلْتُ الْبَصْرَةَ فَعَلَيَّ صَدَقَةٌ أَوْ إِنْ رَأَيْتُ زَيْدًا فَعَلَيَّ الْحَجُّ فَيُنْظَرُ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ التَّرَجِّيَ لِدُخُولِ الْبَصْرَةِ وَلِلِقَاءِ زَيْدٍ فَهُوَ مَعْقُودٌ عَلَى فِعْلٍ لِلَّهِ تَعَالَى دُونَ فِعْلِ نَفْسِهِ فَهُوَ نَذْرُ جَزَاءٍ وَتَبَرُّرٍ فَيَلْزَمُهُ الْوَفَاءُ بِنَذْرِهِ وَإِنْ أَرَادَ بِهِ مَنْعَ نَفْسِهِ مِنْ دُخُولِ الْبَصْرَةِ وَرُؤْيَةِ زَيْدٍ فَهِيَ يَمِينٌ عَقَدَهَا عَلَى نَذْرٍ فَيَكُونُ مُخَيَّرًا فِيهَا بَيْنَ الْوَفَاءِ وَالتَّكْفِيرِ

Bagian kelima adalah apa yang hukumnya berbeda-beda tergantung pada maksud orang yang mengucapkannya, yaitu seperti seseorang berkata, “Jika aku masuk ke Basrah, maka wajib atasku sedekah,” atau “Jika aku melihat Zaid, maka wajib atasku haji.” Maka hal itu perlu diteliti: jika maksudnya adalah berharap dapat masuk ke Basrah dan bertemu Zaid, maka ucapan tersebut terkait dengan perbuatan karena Allah Ta‘ala, bukan perbuatannya sendiri, sehingga itu termasuk nadzar janji dan kebaikan, maka wajib baginya menunaikan nadzarnya. Namun jika maksudnya adalah untuk mencegah dirinya masuk ke Basrah dan melihat Zaid, maka itu adalah sumpah yang diucapkan dalam bentuk nadzar, sehingga ia diberi pilihan antara menunaikan nadzar atau membayar kafarat.

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ مَا اخْتَلَفَ حُكْمُهُ لِاخْتِلَافِ الرِّوَايَةِ فِيهِ وَهُوَ أَنْ يُعَلِّقَ نَذْرَهُ بِتَحْرِيمِ مَالِهِ عَلَيْهِ فَيَقُولُ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ فَمَالِي عَلَيَّ حَرَامٌ فَهُوَ مَوْقُوفٌ عَلَى مَا حَرَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ مَارِيَةَ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتِ أَزْوَاجِكَ ثُمَّ قَالَ قَدْ فَرَضَ اللهُ لَكُمْ تِحِلَّةَ أيْمَانِكُمْ

Bagian keenam adalah perkara yang hukumnya berbeda karena perbedaan riwayat di dalamnya, yaitu seseorang menggantungkan nadzarnya dengan mengharamkan hartanya atas dirinya, misalnya ia berkata: “Jika aku masuk ke rumah itu, maka hartaku haram atasku.” Maka hal ini dikaitkan dengan apa yang pernah diharamkan Rasulullah ﷺ atas dirinya dari Mariyah, hingga Allah menurunkan ayat: “Mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, demi mencari keridhaan istri-istrimu?” Kemudian Allah berfirman: “Sungguh Allah telah mewajibkan kepadamu jalan untuk membatalkan sumpah-sumpahmu.”

فَاخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي الَّذِي حَرَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَى نَفْسِهِ فَرَوَى الْأَكْثَرُونَ أَنَّهُ حَرَّمَ مَارِيَةَ فَعَلَى هَذَا لَا يَلْزَمُ الْحَالِفَ فِي تَحْرِيمِهِ غَيْرَ ذَاتِ الْفُرُوجِ مِنْ مَالِهِ شَيْءٌ وَتَكُونُ اليمين فيه لغواً

Terdapat perbedaan riwayat mengenai apa yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya. Mayoritas meriwayatkan bahwa beliau mengharamkan Maria. Berdasarkan hal ini, maka orang yang bersumpah mengharamkan selain perempuan (yang halal dinikahi) dari hartanya, tidak wajib baginya apa pun, dan sumpah tersebut dianggap sumpah yang sia-sia (laghw).

وروى طَائِفَةٌ أَنَّ الَّذِي حَرَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْعَسَلُ أَوِ الْمَعَافِيرُ فَعَلَى هَذَا يَلْزَمُ الْحَالِفَ بِتَحْرِيمِ مَالِهِ عَلَيْهِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ كَمَا يَلْزَمُهُ فِي تَحْرِيمِ ذَاتِ الْفُرُوجِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ

Sekelompok ulama meriwayatkan bahwa yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah madu atau al-ma‘āfīr. Berdasarkan hal ini, orang yang bersumpah mengharamkan hartanya atas dirinya wajib membayar kafarat yamin, sebagaimana ia juga wajib membayar kafarat yamin jika mengharamkan perempuan atas dirinya.

وَالْقِسْمُ السَّابِعُ مَا لَا يَلْزَمُهُ فِي النَّذْرِ بِهِ وَفَاءٌ وَلَا كَفَّارَةٌ سَوَاءٌ جَعَلَهُ نَذْرَ تَبَرُّرٍ أَوْ نَذْرَ يَمِينٍ وَيَكُونُ عَفْوًا وَهُوَ أَنْ يَقُولَ إِنْ جَعَلَهُ نَذْرَ تَبَرُّرٍ لِلَّهِ عَلَيَّ الْحَجُّ إِنْ شَاءَ زَيْدٌ أَوْ يَقُولُ إِنْ جَعَلَهُ نَذْرَ يَمِينٍ إِنْ دَخَلْتُ الدَّارَ تَصَدَّقْتُ بِمَالِي إِنْ شَاءَ عَمْرٌو فَلَا يَلْزَمُهُ فِي الْحَالَيْنِ أَنْ يَفِيَ بِنَذْرِهِ وَلَا أَنْ يُكَفِّرَ عَنْ يَمِينِهِ لِأَنَّ النَّذْرَ مَا عَلَّقَهُ بِفِعْلِ اللَّهِ وَالْيَمِينَ مَا عَلَّقَهَا بِفِعْلِ نَفْسِهِ وَهَذَا النَّذْرُ وَالْيَمِينُ مُعَلَّقَانِ بِمَشِيئَةِ غَيْرِهِ فَخَرَجَا عَنْ شَرْطِ النَّذْرِ وَشَرْطِ الْيَمِينِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِمَا وُجُوبٌ بِمَشِيئَةٍ لَا مَدْخَلَ لَهَا فِي الْوُجُوبِ والله أعلم

Bagian ketujuh adalah sesuatu yang tidak wajib dipenuhi dalam nazar, baik berupa pelaksanaan maupun kaffarah, baik ia menjadikannya sebagai nazar tabarrur maupun nazar yamin, dan hal itu dianggap gugur. Contohnya adalah jika seseorang berkata, apabila ia menjadikannya sebagai nazar tabarrur: “Demi Allah, atas diriku untuk berhaji jika Zaid menghendaki,” atau ia berkata, apabila menjadikannya sebagai nazar yamin: “Jika aku masuk ke rumah, aku akan bersedekah dengan hartaku jika Amr menghendaki.” Maka dalam kedua keadaan tersebut, ia tidak wajib menunaikan nazarnya dan tidak pula wajib membayar kaffarah atas sumpahnya. Sebab, nazar adalah sesuatu yang digantungkan pada perbuatan Allah, dan yamin (sumpah) adalah sesuatu yang digantungkan pada perbuatan dirinya sendiri, sedangkan nazar dan yamin ini digantungkan pada kehendak orang lain. Maka keduanya keluar dari syarat nazar dan syarat yamin, sehingga tidak terkait kewajiban atas keduanya dengan suatu kehendak yang tidak ada kaitannya dengan kewajiban. Dan Allah Maha Mengetahui.