(مختصر من الجامع من اختلاف الحكام والشهادات ومن أحكام القرآن ومن مسائل شتى سمعتها منه لفظا)

(Ringkasan dari al-Jāmi‘ tentang perbedaan para hakim dan kesaksian, tentang hukum-hukum al-Qur’an, dan tentang berbagai permasalahan lain yang aku dengar langsung darinya secara lisan)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ} فَاحْتَمَلَ أَمْرُهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مُبَاحًا تَرْكُهُ وَالَآخَرُ حَتْمًا يَعْصِي مَنْ تَرَكَهُ بِتَرْكِهِ فَلَمَّا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ في آية الدين والدين تبايع بالإشهاد وقال فيها {فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أمانته} دل على أن الأولى دلالة على الحظ لما في الإشهاد من منع التظالم بالجحود أو بالنسيان ولما في ذلك من براءات الذمم بعد الموت لا غير وكل أمر ندب الله إليه فهو الخير الذي لا يعتاض منه من تركه وقد حفظ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أنه بايع أعرابيا فرسا فجحده بأمر بعض المنافقين ولم يكن بينهما إشهاد فلو كان حتما ما تركه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: {Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli} (QS. Al-Baqarah: 282). Maka perintah-Nya yang Mahasuci itu mengandung dua kemungkinan: salah satunya adalah boleh untuk tidak dilakukan, dan yang lainnya adalah wajib sehingga siapa yang meninggalkannya berdosa karena meninggalkannya. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan dalam ayat tentang utang—dan utang adalah jual beli—untuk menghadirkan saksi, lalu berfirman di dalamnya: {Jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang diberi amanah menunaikan amanahnya} (QS. Al-Baqarah: 283), ini menunjukkan bahwa yang pertama adalah anjuran demi kemaslahatan, karena dalam persaksian itu terdapat pencegahan dari saling menzalimi baik karena pengingkaran maupun karena lupa, dan juga terdapat pembebasan tanggungan setelah kematian, tidak lebih dari itu. Setiap perkara yang Allah anjurkan, maka itu adalah kebaikan yang tidak ada pengganti bagi orang yang meninggalkannya. Telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau pernah berjual beli kuda dengan seorang Arab Badui, lalu orang itu mengingkarinya karena hasutan sebagian munafik, dan tidak ada persaksian di antara mereka. Seandainya hal itu wajib, niscaya Rasulullah ﷺ tidak akan meninggalkannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الشَّهَادَةُ، فَهِيَ إِحْدَى الْوَثَائِقِ فِي الْحُقُوقِ وَالْعُقُودِ، وَهِيَ أَعَمُّ مِنَ الرَّهْنِ وَالضَّمَانِ لِجَوَازِهَا فِيمَا لَا يَجُوزُ فِيهِ الرَّهْنُ وَالضَّمَانُ، وَنَدَبَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهَا احْتِيَاطًا فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِهِ الْعَزِيزِ، فَقَالَ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا إذا تبايعتم} [البقرة: 282] ، وقال تعالى: {فاستشهدوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ، فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282] وَقَالَ تَعَالَى: {فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ} [الطلاق: 2] ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةِ وَمَنْ يَكْتُمْهَا، فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ} [البقرة: 283] .

Al-Mawardi berkata: Adapun syahadat (kesaksian), maka ia adalah salah satu bentuk penjaminan dalam hak-hak dan akad-akad, dan ia lebih umum daripada rahn (gadai) dan dhaman (penjaminan), karena diperbolehkan pada perkara-perkara yang tidak diperbolehkan padanya rahn dan dhaman. Allah Ta‘ala menganjurkan syahadat sebagai bentuk kehati-hatian dalam beberapa tempat di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli.” (al-Baqarah: 282), dan Allah Ta‘ala berfirman: “Maka persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian; jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai.” (al-Baqarah: 282), dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tahanlah mereka (istri-istri) dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik, dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian, dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (ath-Thalaq: 2), dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian menyembunyikan kesaksian, barang siapa yang menyembunyikannya maka sungguh hatinya berdosa.” (al-Baqarah: 283).

فَدَلَّ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْآيَاتِ الثَّلَاثِ عَلَى الْأَمْرِ بِالشَّهَادَةِ فِي الْحُقُوقِ، وَدَلَّ مَا تَأَخَّرَ مِنَ الْآيَتَيْنِ عَلَى وُجُوبِ أَدَائِهَا عَلَى الشُّهُودِ، فَدَلَّ مَا ذَكَرْنَا عَلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهَا.

Maka ayat-ayat tiga yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan perintah untuk memberikan kesaksian dalam perkara hak, dan dua ayat setelahnya menunjukkan kewajiban menunaikannya atas para saksi. Maka apa yang telah kami sebutkan menunjukkan bahwa kesaksian itu dianjurkan.

وَمَا يُشْهَدُ فِيهِ ضَرْبَانِ: حُقُوقٌ وَعُقُودٌ. فَأَمَّا الْحُقُوقُ فَالشَّهَادَةُ فِيهَا مَنْدُوبٌ إِلَيْهَا لِحِفْظِهَا عَلَى أَهْلِهَا، وَأَمَّا الشَّهَادَةُ فِي الْعُقُودِ، فَالشَّهَادَةُ فِيهَا تَنْقَسِمُ ثلاثة أقسام: أحدهما: مَا كَانَتِ الشَّهَادَةُ وَاجِبَةً فِيهِ، وَشَرْطًا فِي صِحَّتِهِ، وَهِيَ عُقُودُ الْمَنَاكِحِ، وَقَدْ ذَكَرْنَاهُ فِي كتاب النكاح. وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِيهِ وَثِيقَةً، وَلَمْ تَكُنْ شَرْطًا فِي صِحَّةِ عَقْدِهِ كَالْإِجَارَةِ وَالرَّهْنِ وَالْقِرَاضِ وَالْوَكَالَةِ. وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا كَانَ مُخْتَلَفًا فِي وُجُوبِهَا فِيهِ، وَهُوَ عُقُودُ الْبِيَاعَاتِ، فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الشَّهَادَةَ فِي الْبَيْعِ مُسْتَحَبَّةٌ وَلَيْسَتْ وَاجِبَةً.

Perkara yang menjadi objek persaksian terbagi menjadi dua: hak-hak dan akad-akad. Adapun persaksian dalam hak-hak, maka dianjurkan untuk melakukannya demi menjaga hak tersebut bagi pemiliknya. Sedangkan persaksian dalam akad-akad, maka persaksian di dalamnya terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, persaksian yang wajib dan menjadi syarat sahnya akad, yaitu akad nikah, dan hal ini telah disebutkan dalam kitab nikah. Bagian kedua, persaksian yang berfungsi sebagai penguat, namun tidak menjadi syarat sahnya akad, seperti akad ijarah (sewa-menyewa), rahn (gadai), qiradh (mudharabah), dan wakalah (perwakilan). Bagian ketiga, perkara yang diperselisihkan tentang kewajiban persaksiannya, yaitu akad jual beli. Menurut madzhab Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, dan mayoritas fuqaha, persaksian dalam jual beli hukumnya mustahab (dianjurkan) dan tidak wajib.

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَدَاوُدُ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ إِنَّ الشَّهَادَةَ فِي الْبَيْعِ وَاجِبَةٌ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ} [البقرة: 282] وَهَذَا أَمْرٌ يَدُلُّ عَلَى الْوُجُوبِ، وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” ثَلَاثَةٌ يَدْعُونَ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمُ رَجُلٌ أَتَى السَّفِيهَ مَالَهُ، فَهُوَ يَدْعُو عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ} [النساء: 5] ، وَرَجُلٌ لَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ، فَهُوَ يَدْعُو عَلَيْهَا لِلْخَلَاصِ مِنْهَا وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ إِلَيْهِ طَلَاقَهَا، وَرَجُلٌ بَاعَ بَيْعًا فَلَمْ يُشْهِدْ وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ} [البقرة: 282] ، فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ الشَّهَادَةِ فِي الْبَيْعِ.

Said bin al-Musayyab, Dawud, dan sekelompok ulama dari kalangan Ahl azh-Zhahir berpendapat bahwa persaksian dalam jual beli adalah wajib, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli” (al-Baqarah: 282), dan ini adalah perintah yang menunjukkan kewajiban. Juga berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tiga golongan yang berdoa namun tidak dikabulkan: seorang laki-laki yang memberikan hartanya kepada orang bodoh, lalu ia berdoa atasnya—Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan janganlah kalian berikan harta kalian kepada orang-orang yang bodoh’ (an-Nisa’: 5); seorang laki-laki yang memiliki istri berakhlak buruk, lalu ia berdoa agar terbebas darinya, padahal Allah telah memberikan hak talak kepadanya; dan seorang laki-laki yang melakukan jual beli tanpa menghadirkan saksi, padahal Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli’ (al-Baqarah: 282).” Maka hal ini menunjukkan wajibnya persaksian dalam jual beli.

وَدَلِيلُنَا مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ} [البقرة: 282] وَالدَّيْنُ الْمُؤَجَّلُ لَا يَثْبُتُ إِلَّا فِي البيوع، والكتاب يكون للشهادة، ثم قال {فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ} [البقرة: 283] . فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ فِي الْبَيْعِ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْإِرْشَادِ وَالِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْحَتْمِ وَالْوُجُوبِ.

Dalil kami adalah apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dari firman Allah Ta‘ala: “Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. al-Baqarah: 282). Utang yang ditangguhkan hanya berlaku dalam jual beli, dan penulisan itu untuk keperluan persaksian. Kemudian Allah berfirman: “Jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya.” (QS. al-Baqarah: 283). Maka ini menunjukkan bahwa persaksian dalam jual beli itu bersifat anjuran dan istihbab, bukan kewajiban dan keharusan.

وَرُوِيَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ: تَخَلَّفْتُ عَنِ النَّاسِ فِي السَّيْرِ، فلحقني النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: ” بِعْنِي جَمَلَكَ وَأَسْتَثْنِي لَكَ ظَهْرَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ: فَبِعْتُهُ مِنْهُ ” فَدَلَّ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَمْ يُشْهِدْ.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia berkata: Aku tertinggal dari rombongan dalam perjalanan, lalu Nabi ﷺ menyusulku dan bersabda: “Juallah untamu kepadaku, dan aku memberi syarat kepadamu agar aku tetap membiarkan punggungnya untukmu sampai ke Madinah.” Ia berkata: Maka aku pun menjualnya kepada beliau. Maka, tampak dari zahirnya bahwa beliau tidak menghadirkan saksi.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ابْتَاعَ مِنْ أَعْرَابِيٍّ شَيْئًا فَاسْتَتْبَعَهُ لِيَقْضِيَهُ الثَّمَنَ فَلَمَّا رَآهُ الْمُشْرِكُونَ فَطَفِقُوا وَطَلَبُوهُ بِأَكْثَرَ، فَقَالَ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” قَدِ ابْتَعْتُهُ فَجَحَدَهُ الْأَعْرَابِيُّ، فَقَالَ: مَنْ يَشْهَدُ لِي، فَقَالَ خُزَيْمَةُ بْنُ ثَابِتٍ: أَنَا أَشْهَدُ لَكَ. قَالَ: بِمَ تَشْهَدُ، وَلَمْ تَحْضُرْ، فَقَالَ: نُصَدِّقُكَ عَلَى أَخْبَارِ السَّمَاءِ وَلَا نُصَدِّقُكَ عَلَى أَخْبَارِ الْأَرْضِ؟ فَسَمَّاهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ذا الشَّهَادَتَيْنِ ” فَلَوْ وَجَبَتِ الشَّهَادَةُ فِي الْبَيْعِ لَمَا تَرَكَهَا فِي ابْتِيَاعِهِ مِنَ الْأَعْرَابِيِّ، وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَسْلَمَ فَلْيُسْلِمْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ ” فَذَكَرَ شُرُوطَ الْعَقْدِ وَلَمْ يَذْكُرِ الشَّهَادَةَ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ membeli sesuatu dari seorang Arab Badui, lalu beliau mengikutinya untuk membayar harganya. Ketika orang-orang musyrik melihatnya, mereka mulai menawar barang itu dengan harga lebih tinggi. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Aku telah membelinya,” namun Arab Badui itu mengingkarinya. Nabi ﷺ lalu berkata, “Siapa yang menjadi saksi untukku?” Maka Khuzaymah bin Tsabit berkata, “Aku menjadi saksi untukmu.” Nabi ﷺ bertanya, “Dengan apa engkau bersaksi, padahal engkau tidak hadir?” Ia menjawab, “Kami membenarkan engkau dalam berita dari langit, apakah kami tidak membenarkan engkau dalam urusan di bumi?” Maka Nabi ﷺ pun memberinya gelar Dzu asy-Syahadatayn (pemilik dua kesaksian). Seandainya kesaksian itu wajib dalam jual beli, niscaya Nabi ﷺ tidak akan meninggalkannya ketika membeli dari Arab Badui itu. Nabi ﷺ juga bersabda, “Barang siapa melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka), hendaklah ia melakukannya dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan waktu yang jelas.” Maka beliau menyebutkan syarat-syarat akad, namun tidak menyebutkan kesaksian.

وَلِأَنَّهَا وَثِيقَةٌ فِي الْبَيْعِ فَلَمْ تَجِبْ فِيهِ كَالرَّهْنِ وَالضَّمَانِ، وَلِأَنَّهُ عَقْدُ معارضة مَحْضَةٍ فَلَمْ تَجِبْ فِيهِ الشَّهَادَةُ كَالْإِجَارَةِ، وَلِأَنَّ مَا صَحَّ فِيهِ الْإِبَاحَةُ لَمْ تَجِبْ فِيهِ الشَّهَادَةُ كَبَيْعِ الشَّيْءِ التَّافِهِ، وَلِأَنَّ مَا قُصِدَ بِهِ تَمْلِيكُ الْمَالِ لَمْ تَجِبْ فِيهِ الشَّهَادَةُ كَالْهِبَةِ.

Karena ia merupakan bentuk jaminan dalam jual beli, maka tidak wajib di dalamnya seperti halnya rahn dan dhaman. Dan karena ia adalah akad mu‘awadhah murni, maka tidak wajib di dalamnya kesaksian seperti pada ijarah. Dan karena sesuatu yang sah dilakukan dengan cara ibahah, tidak wajib di dalamnya kesaksian seperti pada penjualan barang yang remeh. Dan karena sesuatu yang dimaksudkan untuk pemilikan harta, tidak wajib di dalamnya kesaksian seperti pada hibah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَمْرَهُ بِهَا بَعْدَ الْبَيْعِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا غَيْرُ وَاجِبَةٍ فِي الْبَيْعِ. وَالثَّانِي: مَا أَجَابَ بِهِ الشَّافِعِيُّ عَنْهَا.

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut ada dua sisi: Pertama, perintah Allah tentangnya setelah terjadinya jual beli merupakan dalil bahwa hal itu tidak wajib dalam jual beli. Kedua, adalah jawaban yang dikemukakan oleh Imam Syafi‘i tentang ayat tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى عَلِيٍّ وَلَيْسَ بِمُتَّصِلٍ. وَالثَّانِي: إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ بِدَلِيلِ مَا قَرَّرْنَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب.

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut ada dua sisi: Pertama, hadis itu mauquf pada Ali dan tidak bersambung. Kedua, hadis itu dimaknai sebagai anjuran (istihbab), berdasarkan dalil yang telah kami tetapkan. Allah lebih mengetahui kebenarannya.

(بَابُ عِدَّةِ الشُّهُودِ وَحَيْثُ لَا يَجُوزُ فِيهِ النساء وَحَيْثُ يَجُوزُ وَحُكْمِ الْقَاضِي بِالظَّاهِرِ)

(Bab tentang jumlah saksi, perkara-perkara yang tidak boleh dihadiri perempuan, perkara-perkara yang boleh dihadiri perempuan, dan keputusan qadhi berdasarkan zhahir)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” وَدَلَّ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ عَلَى أَنْ لَا يَجُوزَ فِي الزِّنَا أَقَلُّ مِنْ أَرْبَعَةٍ لِقَوْلِهِ {لولا جاؤوا عليه بأربعة شهداء} وقال سعد يا رسول الله أرأيت لو وَجَدْتُ مَعَ امْرَأَتِي رَجُلًا أُمْهِلُهُ حَتَّى آتِيَ بأربعة شهداء؟ فقال ” نعم “: وجلد عمر بن الخطاب رضي الله عنه ثلاثة لما لم يقم الرابع وقال الله جل ثناؤه في الإمساك والفراق {وأشهدوا ذوي عدل منكم} فانتهى إلى شاهدين ودل على ما دل قبله من نفي أن يجوز فيه إلا رجال لا نساء معهم لأنه لا يحتمل إلا أن يكونا رجلين وقال الله جل ثناؤه في آية الدين {فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان} ولم يذكر في شهود الزنا ولا الفراق ولا الرجعة امرأة ووجدنا شهود الزنا يشهدون على حد لا مال والطلاق والرجعة تحريم بعد تحليل وتثبيت تحليل لا مال والوصية إلى الموصى إليه قيام بما أوصي به إليه لا أن له مالا ولا أعلم أحدا من أهل العلم خالف في أنه لا يجوز في الزنا إلا الرجال وأكثرهم قال ولا في الطلاق ولا في الرجعة إذا تناكر الزوجان وقالوا ذلك في الوصية فكان ذلك كالدلالة على ظاهر القرآن وكان أولى الأمور بأن يصار إليه ويقاس عليه والدين مال فما أخذ به المشهود له مالا جازت فيه شهادة النساء مع الرجال وما عدا ذلك فلا يجوز فيه إلا الرجال (قال الشافعي) رحمه الله: وفي قول الله تبارك وتعالى {فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان} وقال: {أن تضل إحداهما فتذكر إحداهما الأخرى} دلالة على أن لا تجوز شهادة النساء حيث يجزن إلا مع الرجل ولا يجوز منهن إلا امرأتان فصاعدا وأصل النساء أنه قصر بهن عن أشياء بلغها الرجال أنهم جعلوا قوامين عليهن وحكاما ومجاهدين وأن لهم السهمان من الغنيمة دونهن وغير ذلك فالأصل أن لا يجزن فإذا أجزن في موضع لم يعد بهن ذلك الموضع وكيف أجازهن محمد بن الحسن في الطلاق والعتاق وردهن في الحدود (قال الشافعي) رحمه الله: وفي إجماعهم على أن لا يجزن على الزنا ولم يستنبن في الإعواز من الأربعة دليل على أن لا يجزن في الوصية إذ لم يستنبن في الإعواز من شاهدين “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Allah Jalla Sya’nuhu telah menunjukkan bahwa tidak boleh dalam perkara zina kurang dari empat orang saksi, berdasarkan firman-Nya: {Mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi atasnya} (QS. an-Nur: 13). Sa‘d berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mendapati seorang laki-laki bersama istriku, apakah aku harus menundanya sampai aku mendatangkan empat orang saksi?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Umar bin al-Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu pernah mencambuk tiga orang karena tidak menghadirkan saksi keempat. Allah Jalla Sya’nuhu berfirman tentang penahanan dan perceraian: {Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian} (QS. ath-Thalaq: 2), maka batasnya adalah dua orang saksi, dan ini menunjukkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tidak boleh dalam hal ini kecuali laki-laki, tidak bersama perempuan, karena tidak mungkin kecuali keduanya laki-laki. Allah Jalla Sya’nuhu berfirman dalam ayat utang: {Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan} (QS. al-Baqarah: 282), dan tidak disebutkan perempuan dalam persaksian zina, perceraian, maupun rujuk. Kami dapati bahwa saksi-saksi zina bersaksi atas hudud, bukan harta; talak dan rujuk adalah pengharaman setelah dihalalkan dan penetapan kehalalan, bukan perkara harta; wasiat kepada penerima wasiat adalah pelaksanaan amanat, bukan karena ia memiliki harta; dan aku tidak mengetahui ada seorang pun dari ahli ilmu yang berbeda pendapat bahwa tidak boleh dalam perkara zina kecuali laki-laki, dan kebanyakan mereka juga berkata demikian dalam talak dan rujuk jika suami istri saling mengingkari, dan mereka juga berkata demikian dalam wasiat. Maka hal ini seperti menjadi petunjuk atas zahir al-Qur’an, dan merupakan perkara yang paling utama untuk dijadikan pegangan dan qiyās atasnya. Adapun utang adalah perkara harta, sehingga jika yang disaksikan itu berkaitan dengan harta, maka boleh persaksian perempuan bersama laki-laki, sedangkan selain itu tidak boleh kecuali laki-laki. (Imam Syafi‘i) raḥimahullāh berkata: Dalam firman Allah Ta‘ala: {Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan} dan firman-Nya: {Agar jika salah seorang dari keduanya lupa, maka yang lain mengingatkannya} terdapat dalil bahwa tidak boleh persaksian perempuan di tempat yang dibolehkan kecuali bersama laki-laki, dan tidak boleh kecuali dua orang perempuan atau lebih. Pada asalnya, perempuan itu tidak diberikan kedudukan dalam beberapa perkara yang dicapai laki-laki, seperti dijadikan pemimpin atas mereka, hakim, mujahid, dan mendapat bagian ghanimah, serta lainnya. Maka asalnya, mereka tidak diterima persaksiannya; jika diterima di suatu tempat, tidak berlaku di tempat lain. Bagaimana mungkin Muhammad bin al-Hasan membolehkan persaksian perempuan dalam talak dan pembebasan budak, namun menolaknya dalam hudud? (Imam Syafi‘i) raḥimahullāh berkata: Dalam ijmā‘ mereka bahwa perempuan tidak diterima persaksiannya dalam zina, dan mereka tidak mengambil perempuan sebagai pengganti jika kurang dari empat orang saksi, terdapat dalil bahwa tidak diterima persaksian perempuan dalam wasiat, sebagaimana mereka tidak mengambil perempuan sebagai pengganti jika kurang dari dua orang saksi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَجُمْلَةُ الشَّهَادَةِ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ فِيهَا ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ الْعَدَدُ وَالْجِنْسُ وَالْعَدَالَةُ فَأَمَّا الْعَدَالَةُ فَمُعْتَبَرَةٌ فِي كُلِّ شَهَادَةٍ، وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْفَاسِقِ بِحَالٍ، وَأَمَّا الْعَدَدُ وَالْجِنْسُ فَيُعْتَبَرَانِ بِالْمَشْهُودِ فِيهِ وَهُوَ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا: مَا لَا يُقْبَلُ فِيهِ أَقَلُّ مِنْ أَرْبَعَةِ رِجَالٍ لَا امْرَأَةَ فِيهِمْ، وَهُوَ الزِّنَا وَاللِّوَاطُ وَإِتْيَانُ الْبَهَائِمِ؛ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ} [النور: 4] الآية. وقال تعالى: {ولولا جاؤوا عليه بأربعة شهداء} الْآيَةَ. وَقَالَ تَعَالَى: {وَاللاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ} [النساء: 15] وَقَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَجَدْتُ مَعَ امْرَأَتِي رَجُلًا أُمْهِلُهُ حَتَّى آتِيَ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ؟ قَالَ: ” نَعَمْ ” شَهِدَ عِنْدَ عُمَرَ عَلَى الْمُغِيرَةِ بِالزِّنَا أَبُو بَكْرَةَ، وَنَافِعٌ وَنُفَيْعٌ وَتَوَقَّفَ زِيَادٌ عَنْ إِكْمَالِ الشَّهَادَةِ، فَجَلَدَ عُمَرُ الثَّلَاثَةَ، وَلَمْ يَرْجُمِ الْمُغِيرَةَ.

Al-Mawardi berkata: Secara umum, syahadat (kesaksian) itu mensyaratkan tiga hal: jumlah, jenis, dan keadilan. Adapun keadilan, maka itu adalah syarat dalam setiap kesaksian, dan tidak diterima kesaksian orang fasik dalam keadaan apa pun. Sedangkan jumlah dan jenis, keduanya disesuaikan dengan perkara yang disaksikan, dan perkara itu terbagi menjadi dua macam: Pertama, hak-hak Allah Ta‘ala, yang terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, perkara yang tidak diterima di dalamnya kurang dari empat laki-laki tanpa ada perempuan di antara mereka, yaitu zina, liwath (homoseksual), dan mendatangi hewan; berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terjaga (berbuat zina), kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi…” (an-Nur: 4) dan firman-Nya: “Mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi atas tuduhan itu?” serta firman-Nya: “Dan perempuan-perempuan di antara kalian yang melakukan perbuatan keji, maka mintalah kesaksian terhadap mereka dari empat orang di antara kalian.” (an-Nisa’: 15). Sa‘d bin ‘Ubadah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku mendapati seorang laki-laki bersama istriku, apakah aku harus menunggu sampai aku mendatangkan empat orang saksi?” Beliau menjawab: “Ya.” Pernah Abu Bakrah, Nafi‘, dan Nufai‘ bersaksi di hadapan ‘Umar atas perbuatan zina yang dilakukan oleh al-Mughirah, namun Ziyad tidak menyempurnakan kesaksiannya, maka ‘Umar mencambuk ketiganya dan tidak merajam al-Mughirah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَاهِدَانِ لَا امْرَأَةَ فِيهِمَا، وَهُوَ مَا سِوَى الزِّنَا مِنْ حُدُودِ اللَّهِ تَعَالَى كَالْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ، وَحَدِّ الْحِرَابَةِ، وَالْجَلْدِ فِي الْخَمْرِ وَالْقَتْلِ فِي الرِّدَّةِ، وَهُوَ قَوْلُ جمهور الفقهاء. وقال الحسن البصري: كلما أَوْجَبَ الْقَتْلَ لَا أَقْبَلُ فِيهِ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَالزِّنَا، وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الزِّنَا مُخْتَلِفٌ فَبَعْضُهُ يُوجِبُ الرَّجْمَ، وَبَعْضُهُ يُوجِبُ الْجَلْدَ، وَالشَّهَادَةُ فِيهِمَا وَاحِدَةٌ، فَوَجَبَ أَنْ يُخَالِفَ مَا عَدَاهُ فِيمَا يُوجِبُ الْقَتْلَ، وَلَا يُوجِبُهُ فِي ذَلِكَ أَنْ تَكُونَ الْبَيِّنَةُ فِيهِ وَاحِدَةً، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ شَهَادَةَ النِّسَاءِ فِي الْحُدُودِ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ عَطَاءٍ وَحَمَّادِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ أَنَّ شَهَادَةَ النِّسَاءِ فِي الْحُدُودِ مَقْبُولَةٌ كَالْأَمْوَالِ، وَهَذَا فَاسِدٌ. لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] ، وَلِأَنَّ حُدُودَ اللَّهِ تَعَالَى تُدْرَأُ بِالشُّبُهَاتِ فَكَانَتِ الشَّهَادَةُ فِيهَا أَغْلَظَ مِنَ الشَّهَادَةِ فِي غَيْرِهَا مِمَّا لَا يُدْرَأُ بِالشُّبُهَاتِ كَمَا أَنَّ الزِّنَا لَمَّا كَانَ أَغْلَظَ مِنَ السَّرِقَةِ لِتَعَدِّيهِ إِلَى اثْنَيْنِ وَاخْتِصَاصِهِ بإسقاط نسب الوالد كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِيهِ أَغْلَظَ مِنْهَا فِيمَا عَدَاهُ.

Bagian kedua: perkara yang diterima di dalamnya dua orang saksi laki-laki tanpa adanya perempuan di antara mereka, yaitu selain zina dari hudud Allah Ta‘ala seperti potong tangan dalam kasus pencurian, hukuman bagi hirabah, cambuk dalam kasus khamar, dan hukuman mati dalam kasus riddah. Inilah pendapat jumhur fuqaha. Al-Hasan al-Bashri berkata: Setiap perkara yang mewajibkan hukuman mati, aku tidak menerima kurang dari empat saksi seperti dalam kasus zina. Pendapat ini tidak benar, karena zina itu bermacam-macam; sebagian darinya mewajibkan rajam, sebagian lagi mewajibkan cambuk, padahal kesaksian pada keduanya sama, maka harus dibedakan dengan perkara lain yang mewajibkan hukuman mati, dan tidak mesti bahwa bukti dalam perkara tersebut sama. Mereka sepakat bahwa kesaksian perempuan dalam hudud tidak diterima, kecuali apa yang dinukil dari ‘Atha’ dan Hammad bin Abi Sulaiman bahwa kesaksian perempuan dalam hudud diterima seperti dalam perkara harta, dan ini tidak benar. Karena firman Allah Ta‘ala: {Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu} [at-Talaq: 2], dan karena hudud Allah Ta‘ala digugurkan dengan adanya syubhat, maka kesaksian di dalamnya lebih berat daripada kesaksian dalam perkara lain yang tidak digugurkan dengan syubhat. Sebagaimana zina lebih berat daripada pencurian karena melibatkan dua orang dan khusus dalam menggugurkan nasab ayah, maka kesaksian di dalamnya lebih berat daripada kesaksian dalam perkara selainnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتَلَفَ عَدَدُ الشَّهَادَةِ فِيهِ وَهُوَ الْإِقْرَارُ بِالزِّنَا، وَفِيهِ لِلشَّافِعِيِّ قَوْلَانِ:

Bagian ketiga: perkara yang jumlah saksi di dalamnya berbeda, yaitu pengakuan zina, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat Imam Syafi‘i.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَا يَثْبُتُ بِأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ شُهُودٍ لَا امْرَأَةَ فِيهِمْ، لِأَنَّهُ مُوجِبٌ لِحَدِّ الزِّنَا كَالشَّهَادَةِ عَلَى فِعْلِ الزِّنَا.

Salah satunya: Bahwa hal itu tidak dapat dibuktikan dengan kurang dari empat orang saksi, tanpa ada perempuan di antara mereka, karena hal itu mewajibkan hukuman had zina sebagaimana kesaksian atas perbuatan zina.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهُ يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ، لِأَنَّهُ إِقْرَارٌ فَأَشْبَهَ الْإِقْرَارُ بِمَا عَدَاهُ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya hal itu dapat ditetapkan dengan dua orang saksi, karena hal tersebut merupakan iqrar, sehingga disamakan dengan iqrar dalam perkara selainnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، وَهِيَ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ تَخْتَلِفُ فِي الْجِنْسِ وَالْعَدَدِ:

Jenis yang kedua: yaitu hak-hak manusia, yang terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda dalam jenis dan jumlahnya.

أَحَدُهَا: وَهُوَ أَوْسَعُهَا، وَهُوَ مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَاهِدَانِ وَشَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ، وَشَاهِدٌ وَيَمِينٌ، وَهُوَ الْمَالُ وَمَا كَانَ مَقْصُودُهُ الْمَالَ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] وَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Salah satunya, dan ini yang paling luas, adalah perkara yang diterima di dalamnya dua orang saksi, atau satu orang saksi dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah. Hal ini berkaitan dengan harta dan segala sesuatu yang tujuan utamanya adalah harta, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan.” (QS. Al-Baqarah: 282). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، وَهُوَ الْوِلَادَةُ وَالِاسْتِهْلَالُ وَالرَّضَاعُ، وَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ الرِّجَالُ الْأَجَانِبُ مِنَ الْعُيُوبِ الْمَسْتُورَةِ بِالْعَوْرَةِ، فَيُقْبَلُ فِيهِ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ، وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ فِي الْوِلَادَةِ قَبُولَ شَهَادَةِ الْقَابِلَةِ وَحْدَهَا، وَالْكَلَامُ مَعَهُ يَأْتِي.

Pendapat kedua: perkara-perkara yang diterima di dalamnya kesaksian perempuan secara sendiri, yaitu kelahiran, tangisan bayi saat lahir, dan penyusuan, serta hal-hal yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki asing berupa aib-aib yang tersembunyi karena menutupi aurat. Dalam hal ini, diterima kesaksian empat perempuan. Abu Hanifah membolehkan dalam perkara kelahiran diterimanya kesaksian bidan saja, dan pembahasan tentang hal ini akan dijelaskan kemudian.

فَإِنْ شَهِدَ بِذَلِكَ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ قُبِلَ، لِأَنَّ شَهَادَةَ الرِّجَالِ أَغْلَظُ، وَلَا يُقْبَلُ فيه شاهد ويمين.

Jika hal itu disaksikan oleh dua orang saksi laki-laki, atau satu orang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, maka diterima, karena kesaksian laki-laki lebih kuat. Dan tidak diterima dalam hal ini satu saksi dan sumpah.

والقسم الثاني: مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ وَلَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ بِحَالٍ، وَهُوَ كُلُّ مَا لم يكن حالا وَلَا الْمَقْصُودُ مِنْهُ الْمَالَ، وَيَجُوزُ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ الرِّجَالُ الْأَجَانِبُ كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ، وَالْخُلْعِ، وَالرَّجْعَةِ، وَالْقِصَاصِ، وَالْقَذْفِ، وَالْعِتْقِ وَالنَّسَبِ، وَالْكِتَابَةِ، وَالتَّدْبِيرِ، وَعَقْدِ الْوِكَالَةِ وَالْوَصِيَّةِ، فَلَا يُقْبَلُ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ شَهَادَةُ النِّسَاءِ.

Bagian kedua: yaitu perkara-perkara yang diterima di dalamnya kesaksian dua orang laki-laki dan tidak diterima sama sekali kesaksian perempuan, yaitu segala sesuatu yang bukan berupa keadaan (hal) dan bukan pula yang dimaksudkan darinya adalah harta, serta boleh diketahui oleh laki-laki asing seperti nikah, talak, khulu‘, ruju‘, qishāsh, qazaf, ‘itq, nasab, kitābah, tadbīr, akad wakālah, dan wasiat. Maka dalam semua perkara tersebut tidak diterima kesaksian perempuan.

وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَالنَّخَعِيُّ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ.

Pendapat ini juga dikatakan oleh Malik, al-Awza‘i, an-Nakha‘i, dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: أَقْبَلُ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ شَهَادَةَ رَجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ إِلَّا فِي الْقِصَاصِ وَالْقَذْفِ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] فَكَانَ مَحْمُولًا عَلَى عُمُومِهِ فِي كُلِّ حَقٍّ إِلَّا مَا خَصَّهُ دَلِيلٌ.

Abu Hanifah dan para sahabatnya serta Sufyan ats-Tsauri berkata: Aku menerima dalam semua hal tersebut kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan, kecuali dalam kasus qishāsh dan qazaf, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian; jika tidak ada dua laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua perempuan.” (al-Baqarah: 282). Maka ayat ini dipahami secara umum untuk setiap hak, kecuali yang dikecualikan oleh dalil.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ حَتَّى يَثْبُتَ مَعَ الشُّبْهَةِ، فَجَازَ أَنْ يَثْبُتَ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ كَالْأَمْوَالِ.

Mereka berkata: Karena sesuatu dapat ditetapkan meskipun ada syubhat, maka boleh juga ditetapkan dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan seperti dalam perkara harta.

وَدَلِيلُنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَصَّ فِي الشَّهَادَةِ فِيمَا سِوَى الْأَمْوَالِ عَلَى الرِّجَالِ دُونَ النِّسَاءِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ فِي الطَّلَاقِ وَالرَّجْعَةِ وَالْوَصِيَّةِ، فَقَالَ تَعَالَى: {فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] وَقَالَ فِي الْوَصِيَّةِ: {إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ} [المائدة: 106] فَنَصَّ عَلَى شَهَادَةِ الرِّجَالِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقْبَلَ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ كَالزِّنَا.

Dalil kami adalah bahwa Allah Ta‘ala secara tegas menyebutkan dalam perkara kesaksian selain harta, bahwa yang menjadi saksi adalah laki-laki tanpa menyebutkan perempuan, pada tiga tempat, yaitu dalam masalah talak, ruju‘, dan wasiat. Allah Ta‘ala berfirman: “Tahanlah mereka (istri-istrimu) dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik, dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian.” (QS. ath-Thalaq: 2). Dan Allah berfirman tentang wasiat: “Apabila salah seorang di antara kalian didatangi kematian, saat berwasiat, hendaklah ada dua orang yang adil di antara kalian sebagai saksi.” (QS. al-Ma’idah: 106). Maka Allah secara tegas menyebutkan kesaksian laki-laki, sehingga tidak boleh diterima kesaksian perempuan dalam hal ini, sebagaimana dalam kasus zina.

فَرَوَى مَالِكٌ عَنْ عَقِيلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: مَضَتِ السُّنَّةُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ لَا يَجُوزُ شَهَادَةُ النِّسَاءِ فِي الْحُدُودِ، وَلَا فِي النِّكَاحِ، وَلَا فِي الطَّلَاقِ.

Malik meriwayatkan dari ‘Aqil, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Sunnah dari Rasulullah ﷺ telah berlaku bahwa tidak boleh diterima kesaksian perempuan dalam perkara hudud, tidak pula dalam pernikahan, dan tidak pula dalam talak.

وَهَذَا وَإِنْ كَانَ مُرْسَلًا، فَهُوَ لَازِمٌ لَهُمْ، لِأَنَّ المراسيل حجة عندهم، ولأن كلما لَمْ يَكُنِ الْمَقْصُودُ مِنْهُ الْمَالَ إِذَا لَمْ يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ عَلَى الِانْفِرَادِ لَمْ يُقْبَلْنَ فِيهِ مَعَ الرِّجَالِ، كَالْقِصَاصِ.

Meskipun riwayat ini berstatus mursal, ia tetap menjadi hujjah bagi mereka, karena mursal dianggap sebagai hujjah menurut mereka. Selain itu, setiap perkara yang bukan bertujuan pada harta, jika kesaksian perempuan secara sendiri tidak diterima di dalamnya, maka kesaksian mereka bersama laki-laki pun tidak diterima, seperti dalam kasus qishāsh.

وَإِنِ اعْتَرَضُوا بِالْوِكَالَةِ وَالْوَصِيَّةِ أَنَّ الْمَالَ يَتَعَلَّقُ بِهِمَا، فَهَلَّا جَازَ إِثْبَاتُهُمَا بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ؟

Dan jika mereka membantah dengan (kasus) wakālah dan wasiat bahwa harta berkaitan dengan keduanya, maka mengapa tidak boleh penetapan keduanya dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan?

قِيلَ: لَيْسَ فِي عَقْدِ الْوِكَالَةِ وَالْوَصِيَّةِ مَالٌ وَإِنَّمَا أُرِيدَ بِهِمَا التَّصَرُّفُ فِي الْمَالِ، وَإِنَّمَا هِيَ تَوْلِيَةٌ أُقِيمَ الرَّجُلُ فِيهَا مَقَامَ غَيْرِهِ، وَلِأَنَّ الْحُقُوقَ ضَرْبَانِ: حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى، وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ، فَلَمَّا وَقَعَ الْفَرْقُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى بَيْنَ أَعْلَاهَا وَأَدْنَاهَا فِي الْعَدَدِ. فَأَعْلَاهَا الزِّنَا، وَأَدْنَاهَا الْخَمْرُ، وَجَبَ أَنْ يَقَعَ الْفَرْقُ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ بَيْنَ أَعْلَاهَا وَأَدْنَاهَا فِي الْجِنْسِ فَأَعْلَاهَا، حُقُوقُ الْأَبْدَانِ، وَأَدْنَاهَا، حُقُوقُ الْأَمْوَالِ فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ، فَهُوَ أَنَّهَا نَصٌّ فِي الْأَمْوَالِ، فَلَمْ يَصِحَّ اسْتِعْمَالُ الْعُمُومِ فِيهَا.

Dikatakan: Dalam akad wakalah dan wasiat tidak terdapat harta, melainkan yang dimaksudkan dari keduanya adalah pengelolaan harta, dan keduanya hanyalah pelimpahan wewenang di mana seseorang ditempatkan pada posisi orang lain. Karena hak-hak itu terbagi menjadi dua: hak Allah Ta‘ala dan hak manusia. Ketika terdapat perbedaan dalam hak Allah Ta‘ala antara yang paling berat dan yang paling ringan dalam jumlahnya—yang paling berat adalah zina dan yang paling ringan adalah khamar—maka wajib pula ada perbedaan dalam hak-hak manusia antara yang paling tinggi dan yang paling rendah dalam jenisnya; yang paling tinggi adalah hak-hak atas badan, dan yang paling rendah adalah hak-hak atas harta. Adapun jawaban terhadap ayat tersebut adalah bahwa ayat itu secara tegas berbicara tentang harta, sehingga tidak sah menggunakan keumuman makna dalam ayat tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى الْأَمْوَالِ، فَهُوَ أَنَّهُ يَصِحُّ الْإِبْرَاءُ مِنْهَا وَالْإِبَاحَةُ لَهَا.

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan harta, maka sesungguhnya sah melakukan ibra’ darinya dan membolehkannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا، وَاخْتَلَفَ الزَّوْجَانِ فِي الصَّدَاقِ مَعَ اتِّفَاقِهِمَا فِي النِّكَاحِ سُمِعَ فِيهِ شَهَادَةُ رَجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ، وَلَوِ اخْتَلَفَا فِي النِّكَاحِ لَمْ يُسْمَعْ فِيهِ إِلَّا شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ، لِأَنَّ الصَّدَاقَ مَالٌ، وَالنِّكَاحُ عَقْدٌ، وَيَصِحُّ انْفِرَادُ هَذَا بِهِ.

Apabila telah ditetapkan sebagaimana yang telah kami jelaskan, lalu suami istri berselisih mengenai mahar sementara keduanya sepakat dalam akad nikah, maka dalam hal ini diterima kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan. Namun jika mereka berselisih dalam akad nikah, maka tidak diterima kecuali kesaksian dua laki-laki, karena mahar adalah harta, sedangkan nikah adalah akad, dan masing-masing dapat berdiri sendiri.

وَلَوِ ادَّعَتِ الزَّوْجَةُ الْخُلْعَ، وَأَنْكَرَ الزَّوْجُ لَمْ يُسْمَعْ فِيهِ إِلَّا شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ، وَلَوِ ادَّعَاهُ الزَّوْجُ، وَأَنْكَرَتْهُ الزَّوْجَةُ سُمِعَ فِيهِ شَهَادَةُ رَجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ.

Jika istri mengklaim telah terjadi khulu‘, lalu suami mengingkarinya, maka yang dapat diterima sebagai bukti hanyalah kesaksian dua orang laki-laki. Namun jika suami yang mengklaim telah terjadi khulu‘, lalu istri mengingkarinya, maka yang dapat diterima sebagai bukti adalah kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا إِنَّ بَيِّنَةَ الزَّوْجَةِ لِإِثْبَاتِ الطَّلَاقِ، وَبَيِّنَةَ الزوج لإثبات المال.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa bukti dari istri untuk menetapkan terjadinya talak, sedangkan bukti dari suami untuk menetapkan hak harta.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا إِنْ شَهِدَتِ امْرَأَتَانِ لِرَجُلٍ بمال حلف معهن وَلَقَدْ خَالَفَهُ عَدَدٌ أَحْفَظُ ذَلِكَ عَنْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَهَذَا إِجَازَةُ النِّسَاءِ بِغَيْرِ رَجُلٍ فَيَلْزَمُهُ أَنْ يُجِيزَ أَرْبَعًا فَيُعْطِيَ بِهِنَّ حَقًّا فإن قال إنهما مع يمين رجل فيلزمه أن لا يجيزهما مع يمين امرأة والحكم فيهما واحد (قال الشافعي) رحمه الله: وكان القتل والجراح وشرب الخمر والقذف مما لم يذكر فيه عدد الشهود فكان ذلك قياسا على شاهدي الطلاق وغيره مما وصفت “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sebagian sahabat kami berpendapat, jika dua orang wanita bersaksi untuk seorang laki-laki dalam perkara harta, maka ia bersumpah bersama mereka. Namun, sejumlah ulama dari penduduk Madinah yang aku hafal pendapat mereka telah menyelisihinya. Ini berarti membolehkan kesaksian wanita tanpa adanya laki-laki, sehingga ia harus membolehkan empat orang wanita dan memberikan hak berdasarkan kesaksian mereka. Jika ia berkata bahwa keduanya bersama sumpah seorang laki-laki, maka ia harus tidak membolehkan keduanya bersama sumpah seorang wanita, padahal hukum pada keduanya sama.” (Imam Syafi‘i) raḥimahullāh berkata: “Adapun dalam perkara pembunuhan, luka, minum khamar, dan qadzaf (tuduhan zina), tidak disebutkan jumlah saksi secara khusus, maka hal itu diqiyās-kan dengan dua saksi pada perkara talak dan selainnya sebagaimana telah aku jelaskan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا أَرَادَ بِهِ مَالِكًا لِأَنَّهُ يُوافِقُ عَلَى الْقَضَاءِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ فِي الْأَمْوَالِ، وَإِنْ خَالَفَ فِيهِ أَبُو حَنِيفَةَ ثُمَّ تَجَاوَزَ مَالِكٌ، فَقَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ شَهَادَةِ امْرَأَتَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَرَهُ الشَّافِعِيُّ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَقَامَ شَهَادَةَ امْرَأَتَيْنِ مَقَامَ شَهَادَةِ رَجُلٍ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] ثُمَّ ثَبَتَ جَوَازُ الْقَضَاءِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَكَذَلِكَ بِالْمَرْأَتَيْنِ وَالْيَمِينِ.

Al-Mawardi berkata: Yang dimaksud di sini adalah Malik, karena ia sependapat dengan keputusan berdasarkan sumpah bersama satu saksi dalam perkara harta, meskipun Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini. Kemudian Malik melangkah lebih jauh, sehingga memutuskan dengan sumpah bersama kesaksian dua orang perempuan, meskipun Syafi‘i tidak melihat hal itu sebagai dalil, dengan alasan bahwa Allah Ta‘ala telah menempatkan kesaksian dua perempuan setara dengan kesaksian satu laki-laki, berdasarkan firman-Nya Ta‘ala: “Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan” (QS. Al-Baqarah: 282). Kemudian telah tetap kebolehan memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah, maka demikian pula dengan dua perempuan dan sumpah.

وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: {أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى} [البقرة: 282] وفي قوله (فتذكر) قراءاتان: إِحْدَاهُمَا: بِالتَّشْدِيدِ مِنَ النِّسْيَانِ. وَالثَّانِيَةُ: بِالتَّخْفِيفِ أَيْ: يَكُونَانِ كَالذَّكَرِ، فَيَكُونُ الِاسْتِدْلَالُ بِهَذِهِ الْقِرَاءَةِ نَصًّا، وَبَالْأُولَى تَنْبِيهًا.

Dan karena Allah Ta‘ala berfirman: “Agar jika salah satu dari keduanya lupa, maka yang lain mengingatkannya” (QS. al-Baqarah: 282). Pada kata “mengingatkan” (fatudzakkira) terdapat dua qirā’ah: yang pertama dengan tasydid, bermakna karena lupa; dan yang kedua dengan takhfif, yaitu keduanya seperti laki-laki, sehingga istidlāl dengan qirā’ah ini bersifat nash, sedangkan dengan qirā’ah pertama bersifat tanbīh.

وَدَلِيلُنَا: هُوَ أَنَّ شَهَادَةَ الرَّجُلَيْنِ أَقْوَى مِنْ شَهَادَةِ الْمَرْأَتَيْنِ، لِأَنَّ شَهَادَةَ الرَّجُلَيْنِ مَقْبُولَةٌ فِي الْحُدُودِ وَالْأَمْوَالِ، وَشَهَادَةَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَتَيْنِ مَرْدُودَةٌ فِي الْحُدُودِ، وَإِنْ قُبِلَتْ فِي الْأَمْوَالِ، وَالْحُكْمُ بِالْيَمِينِ أَضْعَفُ مِنَ الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ لِتَقَدُّمِهَا عَلَى الْيَمِينِ، فَحَكَمْنَا بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ لِاجْتِمَاعِ قَوِيٍّ مَعَ ضَعِيفٍ كَمَا حَكَمْنَا بِرَجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ، وَلَمْ نَحْكُمْ بَامْرَأَتَيْنِ وَيَمِينٍ لِاجْتِمَاعِ ضَعِيفٍ مَعَ ضَعِيفٍ، وَكَمَا لَمْ نَحْكُمْ فِي الْأَمْوَالِ بِأَرْبَعِ نِسْوَةٍ.

Dalil kami adalah bahwa kesaksian dua laki-laki lebih kuat daripada kesaksian dua perempuan, karena kesaksian dua laki-laki diterima dalam perkara hudud dan harta, sedangkan kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan ditolak dalam perkara hudud, meskipun diterima dalam perkara harta. Putusan dengan sumpah lebih lemah daripada putusan dengan bayyinah karena bayyinah didahulukan atas sumpah. Maka kami memutuskan dengan satu saksi dan sumpah karena menggabungkan yang kuat dengan yang lemah, sebagaimana kami memutuskan dengan satu laki-laki dan dua perempuan. Kami tidak memutuskan dengan dua perempuan dan sumpah karena menggabungkan yang lemah dengan yang lemah, sebagaimana kami juga tidak memutuskan dalam perkara harta dengan empat perempuan.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّمَا أُعْطَى مَعَ يَمِينِ رَجُلٍ. قِيلَ: فَيَلْزَمُكَ أَنْ لَا تُعْطِيَ مَعَ يَمِينِ امْرَأَةٍ وَأَنْتَ تُسَوِّي بَيْنَهُمَا فِي الْيَمِينِ وَفِي هذا انفصال عن استدلاله.

Jika dikatakan: “Itu hanya diberikan bersamaan dengan sumpah seorang laki-laki.” Maka dijawab: “Konsekuensinya, engkau tidak boleh memberikan bersamaan dengan sumpah seorang perempuan, padahal engkau menyamakan keduanya dalam hal sumpah. Dan dalam hal ini terdapat pemisahan dari argumentasinya.”

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: (قال) ” ولا يحل حُكْمُ الْحَاكِمِ الْأُمُورَ عَمَّا هِيَ عَلَيْهِ أَخْبَرَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ يَقْضِي بِالظَّاهِرِ وَيَتَوَلَّى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّرَائِرَ فَقَالَ: ” مَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ بِشَيْءٍ فَلَا يَأْخُذْهُ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قطعة من النار ” فلو شهدا بزور أن رجلا طلق امرأته ثلاثا ففرق الحاكم بينهما كانت له حلالا غير أنا نكره أن يطأها فيحدا ويلزم من زعم أن فرقته فرقة تحرم بها على الزوج ويحل لأحد الشاهدين أن يتزوجها فيما بينه وبين الله عز وجل أن يقول لو شهدا له بزور أن هذا قتل ابنه عمدا فأباح له الحاكم دمه أن يريق دمه ويحل له فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidaklah keputusan hakim mengubah perkara dari apa adanya. Rasulullah ﷺ telah memberitakan bahwa beliau memutuskan perkara berdasarkan yang tampak, dan Allah ‘Azza wa Jalla yang menangani urusan batin. Beliau bersabda: ‘Barang siapa yang aku putuskan untuknya sesuatu dari hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya aku hanya memotongkan untuknya sepotong dari api neraka.’ Maka, seandainya dua orang bersaksi palsu bahwa seorang laki-laki telah mentalak istrinya tiga kali, lalu hakim memisahkan keduanya, maka perempuan itu tetap halal baginya, hanya saja kami tidak suka jika ia menggaulinya, sehingga ia harus dihukum had. Dan barang siapa yang menganggap bahwa perpisahan itu adalah perpisahan yang mengharamkan perempuan atas suaminya, maka menurutnya boleh bagi salah satu saksi untuk menikahinya di antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka ia harus mengatakan, seandainya keduanya bersaksi palsu bahwa seseorang telah membunuh anaknya dengan sengaja, lalu hakim membolehkan darahnya, maka boleh baginya untuk menumpahkan darahnya dan halal baginya di antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا كَمَا قَالَ. إِذَا حُكِمَ الْحَاكِمُ لِطَالِبِ حَقٍّ بِشَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ فَإِنْ كَانَا صَادِقَيْنِ كَانَ حُكْمُهُ صَحِيحًا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَإِنْ كَانَا كَاذِبَيْنِ كَانَ حُكْمُهُ نَافِذًا فِي الظَّاهِرِ وَبَاطِلًا فِي الْبَاطِنِ، وَلَمْ يَحِلَّ لِلْمَحْكُومِ لَهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى، أَنْ يَسْتَبِيحَ مَا حَكَمَ بِهِ سَوَاءٌ كَانَ مَالًا أَوْ فَرْجًا أَوْ قَتْلًا، وَهَكَذَا لَوْ طُولِبَ بِمَالٍ يُقْبَلُ فِيهِ قَوْلُهُ مَعَ يَمِينِهِ كَالْوَدَائِعِ، وَالشِّرَكِ، وَالْمُضَارَبَاتِ، فَأَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ عِنْدَ إِنْكَارِهِ وَإِنْ كان صادقا برىء في الظاهر والباطن، وإن كان كاذبا برىء فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ، وَلَمْ يَسْتَبِحْ مَا حَلَفَ عَلَيْهِ، وَلَا يُحِيلُ حُكْمُ الْحَاكِمِ الْأُمُورَ عَمَّا هِيَ عَلَيْهِ فِي الْبَاطِنِ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ.

Al-Mawardi berkata: Dan hal ini sebagaimana yang telah dikatakan. Jika seorang hakim memutuskan perkara untuk orang yang menuntut hak berdasarkan kesaksian dua orang saksi, maka jika keduanya jujur, putusan hakim itu sah secara lahir dan batin. Namun jika keduanya berdusta, putusannya tetap berlaku secara lahir, tetapi batil secara batin, dan tidak halal bagi pihak yang dimenangkan dalam perkara itu, antara dia dengan Allah Ta‘ala, untuk mengambil apa yang telah diputuskan hakim, baik berupa harta, kehormatan, maupun pembunuhan. Demikian pula jika seseorang dituntut harta yang dalam perkara tersebut diterima pengakuannya dengan sumpah, seperti dalam kasus titipan, kemitraan, dan mudharabah, lalu hakim menyuruhnya bersumpah ketika ia mengingkari, maka jika ia jujur, ia bebas dari tuntutan secara lahir dan batin, namun jika ia berdusta, ia bebas secara lahir saja, tidak secara batin, dan ia tidak halal mengambil apa yang ia sumpahkan atasnya. Putusan hakim tidak mengubah hakikat perkara di sisi batin. Inilah pendapat Malik, Abu Yusuf, dan Muhammad.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَنْفُذُ حُكْمُهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فِيمَا تَعَلَّقَ بِالْفُرُوجِ دُونَ الْقَتْلِ وَالْأَمْوَالِ حَتَّى قَالَ فِي شاهدين زُورٍ شَهِدَا لِرَجُلٍ بِنِكَاحِ امْرَأَةٍ حَلَّ لَهُ إِصَابَتُهَا وَوَرِثَهَا: إِنْ مَاتَتْ وَإِنْ عَلِمَ كَذِبَ الشَّاهِدَيْنِ.

Abu Hanifah berkata: Putusan hakim berlaku secara lahir dan batin dalam perkara yang berkaitan dengan masalah farj (hubungan suami istri), namun tidak berlaku dalam perkara pembunuhan dan harta. Bahkan beliau berkata mengenai dua orang saksi palsu yang bersaksi untuk seorang laki-laki bahwa ia telah menikahi seorang wanita, maka halal baginya menggaulinya dan mewarisinya jika wanita itu meninggal, meskipun ia mengetahui bahwa kedua saksi tersebut berdusta.

وَقَالَ: لَوْ شَهِدَا بِزُورٍ عَلَى رَجُلٍ بِطَلَاقِ زَوْجَتِهِ حَلَّ لَهَا أَنْ تَتَزَوَّجَ غَيْرَهُ، وَحَلَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الزُّورِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ بِشَهَادَتِهِمَا، وَقَالَ فِي شَاهِدَيْ زُورٍ شَهِدَا لِرَجُلٍ أَنَّ هَذِهِ الْمَرْأَةَ بِنْتُهُ ثَبَتَ نَسَبُهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَصَارَ مَحْرَمًا لَهَا وَوَرِثَهَا إِنْ مَاتَتْ اسْتِدْلَالًا بِمَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا ادَّعَى نِكَاحَ امْرَأَةٍ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَجَحَدَتْهُ فَشَهِدَ لَهُ بِنِكَاحِهَا شَاهِدَانِ، فَحَكَمَ بَيْنَهُمَا بِالزَّوْجِيَّةِ، فَقَالَتْ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، وَاللَّهِ مَا تَزَوَّجَنِي. فَاعْقِدْ بَيْنَنَا عَقْدًا أَحِلَّ بِهِ لَهُ فَقَالَ: شَاهِدَاكِ زَوَّجَاكِ. أَيْ: جَعَلَاكِ زَوْجَتَهُ. قَالُوا: وَلِأَنَّ مَا لَزِمَ بِهِ الْحُكْمُ أَنْفَذُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ كَشَاهِدَيِ الصِّدْقِ. قَالُوا: وَلِأَنَّهُ حُكْمٌ يَنْفُذُ مَعَ ظُهُورِ الصِّدْقِ، فَجَازَ أَنْ يُنْفَذَ مَعَ ظُهُورِ الْكَذِبِ كَاللِّعَانِ.

Dan ia berkata: Jika dua orang memberikan kesaksian palsu terhadap seorang laki-laki bahwa ia telah menceraikan istrinya, maka halal bagi wanita itu untuk menikah dengan laki-laki lain, dan halal pula bagi masing-masing dari dua saksi palsu tersebut untuk menikahinya jika hakim memutuskan berdasarkan kesaksian mereka. Ia juga berkata tentang dua saksi palsu yang bersaksi untuk seorang laki-laki bahwa wanita ini adalah putrinya, maka nasabnya menjadi tetap secara lahir dan batin, dan ia menjadi mahram baginya serta mewarisinya jika wanita itu meninggal, berdasarkan dalil dari riwayat bahwa ada seorang laki-laki yang mengaku telah menikahi seorang wanita di hadapan Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, lalu wanita itu mengingkarinya, kemudian ada dua saksi yang bersaksi untuknya bahwa ia telah menikahinya, maka Ali memutuskan hubungan suami istri di antara mereka. Wanita itu berkata: Wahai Amirul Mukminin, demi Allah, ia tidak pernah menikahiku. Maka nikahkanlah kami dengan akad yang membuatku halal baginya. Ali berkata: Kedua saksimu telah menikahkanmu dengannya, maksudnya: mereka telah menjadikanmu sebagai istrinya. Mereka berkata: Karena apa yang telah ditetapkan dengan hukum, berlaku secara lahir dan batin seperti dua saksi yang jujur. Mereka juga berkata: Karena itu adalah hukum yang berlaku meskipun tampak kebenaran, maka boleh juga diberlakukan meskipun tampak kebohongan, seperti dalam kasus li‘ān.

قَالُوا: وَلِأَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ إِذَا نَفَذَ بَاجْتِهَادِهِ فِيمَا اخْتُلِفَ فِيهِ نُفِّذَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، كَتَوْرِيثِ الْجَدِّ جَمِيعَ الْمَالِ مَعَ الْإِخْوَةِ، وَكَانْقِطَاعِ الْفُرْقَةِ فِيمَنْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ أَنْتِ عَلَيَّ حَرَامٌ، وَجَازَ أَنْ يَسْتَبِيحَ الْمَحْكُومُ لَهُ بِذَلِكَ، وَإِنِ اعْتَقَدَ خِلَافَهُ كَذَلِكَ فِي الْمَحْكُومِ لَهُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ، لِنُفُوذِ الْحُكْمِ بِهِمَا فِي الْحَالَيْنِ.

Mereka berkata: Karena keputusan hakim yang dijalankan berdasarkan ijtihadnya dalam perkara yang diperselisihkan, maka keputusan itu berlaku secara lahir dan batin, seperti dalam hal mewariskan seluruh harta kepada kakek bersama saudara-saudara, atau seperti terputusnya hubungan suami istri bagi seseorang yang berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku.” Maka boleh bagi pihak yang diputuskan untuknya oleh hakim untuk mengambil manfaat dari keputusan tersebut, meskipun ia meyakini pendapat yang berbeda, demikian pula halnya bagi orang yang diputuskan untuknya melalui kesaksian palsu, karena keputusan hakim berlaku dalam kedua keadaan tersebut.

وَدَلِيلُنَا الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالِاعْتِبَارُ. فَأَمَّا الْكِتَابُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: {وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ، لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ} [البقرة: 188] الْآيَةَ. وَفِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ دلائل كالنصوص فقوله: {ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل} فِيهِ تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: بِالظُّلْمِ. وَالثَّانِي: بِالْحَرَامِ. وَلَا يَنْفَكُّ الْحُكْمُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ مِنْهَا.

Dalil kami adalah al-Qur’an, sunnah, dan i‘tibār (pertimbangan rasional). Adapun dalil dari al-Qur’an adalah firman-Nya: “Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil dan janganlah kalian membawa (urusan) itu kepada para hakim, agar kalian dapat memakan sebagian dari harta orang lain…” (QS. al-Baqarah: 188). Dalam tafsir ayat ini terdapat dalil-dalil yang jelas seperti nash. Firman-Nya: “Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil” memiliki dua tafsiran: yang pertama, dengan cara zalim; dan yang kedua, dengan cara haram. Dan hukum dengan kesaksian palsu tidak terlepas dari keduanya.

وَفِي قَوْله تعالى: {وتدلوا بها إلى الحكام} تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: وَتَتَرَافَعُوا فِيهَا إِلَى الْحُكَّامِ. وَالثَّانِي: وَتَحْتَجُّوا بِهَا عِنْدَ الْحُكَّامِ.

Dalam firman Allah Ta‘ala: {dan kalian bawa (harta itu) kepada para hakim}, terdapat dua tafsiran: Pertama, kalian mengadukannya kepada para hakim. Kedua, kalian menjadikannya sebagai alasan di hadapan para hakim.

وَهَذِهِ صِفَةُ الْمَشْهُودِ لَهُ بِالزُّورِ.

Inilah sifat orang yang memberikan kesaksian palsu.

وَفِي قَوْلِهِ: {لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أموال الناس بالإثم وأنتم تعلمون} أي: أموال فريق من الناس.

Dan dalam firman-Nya: {agar kalian dapat memakan sebagian harta manusia dengan cara yang batil, padahal kalian mengetahui}, maksudnya adalah: harta sebagian kelompok dari manusia.

{بالإثم} فِيهِ تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: بِشَهَادَةِ الزُّورِ، وَهَذَا نَصٌّ. وَالثَّانِي: بِالْجُحُودِ، وَهُوَ فِي مَعْنَى النَّصِّ.

Tentang {dosa}, terdapat dua penafsiran: yang pertama, dengan kesaksian palsu, dan ini adalah makna tekstualnya. Yang kedua, dengan pengingkaran, dan ini memiliki makna yang sama dengan teks tersebut.

وَأَمَّا السُّنَّةُ فَمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى غَيْرِهِ بِمَا أَسْمَعُ مِنْهُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ، فَلَا يَأْخُذْهُ مِنْهُ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ ” وَهَذَا نَصٌّ، لِأَنَّهُ أَخْبَرَ أَنَّهُ يَقْضِي بِالظَّاهِرِ، وَأَنَّهُ عَلَى حَقِيقَتِهِ فِي الْبَاطِنِ لَا يُحِلُّ حَرَامًا، وَلَا يُحَرِّمُ حَلَالًا.

Adapun sunnah adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari Zainab binti Abu Salamah dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, dan kalian berselisih perkara kepadaku. Barangkali sebagian dari kalian lebih pandai dalam mengemukakan argumennya daripada yang lain, sehingga aku memutuskan perkara untuknya berdasarkan apa yang aku dengar darinya. Maka barang siapa yang aku putuskan untuknya sesuatu dari hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya aku telah memotongkan untuknya sepotong dari api neraka.” Ini adalah nash, karena beliau memberitakan bahwa beliau memutuskan perkara berdasarkan yang tampak, dan bahwa pada hakikatnya secara batin, keputusan itu tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal.

وَرَوَى أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قُتِلَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَرُفِعَ الْقَاتِلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَدَفَعَهُ إِلَى وَلِيِّ الْمَقْتُولِ، فَقَالَ الْقَاتِلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَا أَرَدْتُ قَتْلَهُ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْوَلِيِّ: ” أَمَا إِنَّهُ إِنْ كَانَ صَادِقًا فَقَتَلْتَهُ دخلت النار ” سَبِيلَهُ فَخَرَجَ يَجُرُّ نَسْعَتَهُ فَسُمِّيَ ذَا النَّسْعَةِ.

Abu Mu‘awiyah meriwayatkan dari Al-A‘mash, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Pernah terjadi pembunuhan seorang laki-laki pada masa Rasulullah ﷺ, lalu si pembunuh dibawa kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau menyerahkannya kepada wali dari orang yang terbunuh. Si pembunuh berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, aku tidak bermaksud membunuhnya.” Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada wali tersebut, “Ketahuilah, jika ia benar (tidak sengaja membunuh), lalu engkau membunuhnya, maka engkau akan masuk neraka.” Maka wali itu pun pergi sambil menyeret tali sandalnya, sehingga ia dijuluki Dza an-Nas‘ah (orang yang menyeret tali sandal).

فَمَوْضِعُ الدَّلِيلِ مِنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بعد إذنه في قتله أخبر أنه كان صادقا، فأحرم قَتْلَهُ، فَدَلَّ عَلَى نُفُوذِ الْحُكْمِ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ

Maka letak dalil dari hal ini adalah bahwa Nabi ﷺ, setelah beliau mengizinkan untuk membunuhnya, kemudian memberitahukan bahwa orang itu sebenarnya jujur, maka beliau mengharamkan pembunuhannya. Ini menunjukkan bahwa hukum berlaku pada yang tampak (zhahir) dan bukan pada yang tersembunyi (batin).

وَأَمَّا الِاعْتِبَارُ فَهُوَ أَنَّ شَهَادَةَ الزُّورِ أَفْسَدُ مِنْ شَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ، وَحُكْمُ الْأَمْوَالِ أَخَفُّ مِنْ حُكْمِ الْفُرُوجِ، فَلَمَّا لَمْ يَنْفُذِ الْحُكْمُ فِي الْبَاطِنِ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ كان أولى أن لا تنفذ في الفروج بِشَهَادَةِ الزُّورِ، وَلَمَّا لَمْ يَنْفُذْ بِشَهَادَةِ الزُّورِ فِي الْأَمْوَالِ كَانَ أُولَى أَنْ لَا تَنْفُذَ فِي الْفُرُوجِ، وَيَتَحَرَّرُ مِنِ اعْتِلَالِ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسَانِ:

Adapun al-i‘tibār (pertimbangan), maka sesungguhnya kesaksian palsu (syahādat az-zūr) lebih rusak daripada kesaksian seorang budak dan orang kafir, dan hukum terkait harta lebih ringan daripada hukum terkait kehormatan (al-furūj). Maka ketika hukum secara batin tidak berlaku dengan kesaksian budak dan orang kafir, maka lebih utama lagi untuk tidak diberlakukan dalam perkara kehormatan dengan kesaksian palsu. Dan ketika hukum tidak berlaku dengan kesaksian palsu dalam perkara harta, maka lebih utama lagi untuk tidak diberlakukan dalam perkara kehormatan. Dari kelemahan istidlāl (argumentasi) ini, terdapat dua qiyās yang dapat disimpulkan.

أَحَدُهُمَا: إِنَّ كُلَّ شَهَادَةٍ لَا يَنْفُذُ بِهَا حُكْمُ الْبَاطِنِ فِي الْأَمْوَالِ لَمْ يَنْفُذْ فِي الْفُرُوجِ قِيَاسًا عَلَى شَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ.

Salah satunya: Sesungguhnya setiap kesaksian yang tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukum batin dalam masalah harta, maka tidak dapat pula dijadikan dasar dalam masalah kehormatan (pernikahan), berdasarkan qiyās terhadap kesaksian budak dan orang kafir.

وَالْقِيَاسُ الثَّانِي: إِنَّ كُلَّ حُكْمٍ لَا يَنْفُذُ فِي الْبَاطِنِ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ لَمْ يَنْفُذْ بِشَهَادَةِ الزُّورِ، بِخِلَافِ الْحُكْمِ فِي الْأَمْوَالِ.

Qiyās yang kedua: Sesungguhnya setiap hukum yang tidak berlaku secara batin dengan kesaksian seorang hamba sahaya dan orang kafir, maka tidak berlaku pula dengan kesaksian palsu, berbeda halnya dengan hukum dalam perkara harta.

فَإِنْ قَالُوا: الْأَمْوَالُ لَا مَدْخَلَ لِلْحُكَّامِ فِي نَقْلِهَا، وَلَهُمْ مَدْخَلٌ فِي نَقْلِ الْفُرُوجِ بِتَزْوِيجِ الْأَيَامَى، وَوُقُوعِ الْفُرْقَةِ بِالْعُنَّةِ وَالْفَسْخِ بِالْعُيُوبِ، فَلِذَلِكَ وَقَعَ الْفَرْقُ بَيْنَ الْأَمْوَالِ وَالْفُرُوجِ.

Jika mereka berkata: Harta tidak ada campur tangan hakim dalam pemindahannya, sedangkan mereka (hakim) memiliki campur tangan dalam pemindahan status pernikahan dengan menikahkan para janda, terjadinya perpisahan karena ‘innah (impotensi), dan pembatalan nikah karena cacat, maka karena itulah terdapat perbedaan antara harta dan pernikahan.

وَالْعَبْدُ وَالْكَافِرُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ، وَشَاهِدُ الزُّورِ مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ، فَلِذَلِكَ وَقَعَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا.

Budak dan orang kafir bukan termasuk ahli syahadah, sedangkan saksi palsu termasuk ahli syahadah, karena itulah terdapat perbedaan antara keduanya.

قِيلَ: الْجَوَابُ عن فرقة بَيْنَ الْأَمْوَالِ وَالْفُرُوجِ مِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ لَهُ فِي نَقْلِ الْأَمْوَالِ وِلَايَةً كَالْفُرُوجِ: لِأَنَّ لَهُ أَنْ يُبِيحَ عَلَى الصَّغِيرِ مَالَهُ لِحَاجَتِهِ وَعَلَى الْمُفْلِسِ مَالَهُ لِحَاجَةِ غُرَمَائِهِ. وَالثَّانِي: لَيْسَ لَهُ وِلَايَةٌ فِي نَقْلِ الْفُرُوجِ، كَمَا لَيْسَ لَهُ وِلَايَةٌ فِي نَقْلِ الْأَمْوَالِ، لِأَنَّهُ لَا يُزَوِّجُ، وَلَا يَفْسِخُ إِلَّا بِاخْتِيَارٍ، وَلَوْ مَلَكَ الْوَلَايَةَ لَنَقَلَهَا بِالِاخْتِيَارِ.

Dikatakan: Jawaban mengenai perbedaan antara harta dan farj (kehormatan/nikah) ada dua sisi: Pertama, bahwa ia memiliki wewenang dalam memindahkan harta sebagaimana pada farj, karena ia boleh membolehkan harta anak kecil untuk kebutuhannya, dan membolehkan harta orang yang bangkrut untuk kebutuhan para krediturnya. Kedua, bahwa ia tidak memiliki wewenang dalam memindahkan farj, sebagaimana ia tidak memiliki wewenang dalam memindahkan harta, karena ia tidak menikahkan dan tidak membatalkan kecuali dengan pilihan, dan seandainya ia memiliki wewenang, tentu ia dapat memindahkannya dengan pilihannya.

وَعَنْ فَرْقِهِ بَيْنَ شَهَادَةِ الزُّورِ وَبَيْنَ شَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ جَوَابَانِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَمَّا اسْتَوَيَا فِي إِبْطَالِ الْحُكْمِ عِنْدَ الْعِلْمِ بِهِمَا قَبْلَ الْحُكْمِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِيهِ عِنْدَ الْعِلْمِ بِهِمَا بَعْدَ الْحُكْمِ. وَالثَّانِي: إِنَّهُ سَمِعَ شَهَادَةَ الزُّورِ عَلَى أَنَّهَا لَيْسَتْ بُزُورٍ، كَمَا يَسْمَعُ شَهَادَةَ الْعَبْدِ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِعَبْدٍ، فَلَمَّا كَانَ خَطَؤُهُ فِي الْعَبْدِ مُبْطِلًا لِحُكْمِهِ فِي الْحَالَيْنِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ خَطَؤُهُ فِي شَهَادَةِ الزُّورِ مُبْطِلًا لِحُكْمِهِ فِي الْحَالَيْنِ، وَلِأَنَّهُ يَصِيرُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ فَاسِقًا وَحُكْمُهُ بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ مَرْدُودٌ فِي الْحَالَيْنِ نَصًّا، وَرَدَّ شَهَادَةَ الْعَبْدِ فِي الْحَالَيْنِ اجْتِهَادًا، ثُمَّ مِنَ الدَّلِيلِ عَلَى ذَلِكَ إِنَّ الْحُكْمَ يَبْطُلُ بِفَسَادِ الشَّهَادَةِ كَمَا يَبْطُلُ إِذَا خَالَفَ بِاجْتِهَادِهِ نصا، فلما كان فساده مخالفة النَّصِّ يَبْطُلُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَجَبَ أَنْ يَكُونَ فساد بِشَهَادَةٍ مُوجِبًا لِإِبْطَالِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.

Tentang perbedaan antara syahadah zur (kesaksian palsu) dan kesaksian budak serta orang kafir, terdapat dua jawaban: Pertama, karena keduanya sama-sama membatalkan hukum ketika diketahui sebelum adanya keputusan, maka wajib hukumnya keduanya juga disamakan ketika diketahui setelah adanya keputusan. Kedua, bahwa seseorang mendengar kesaksian palsu dengan anggapan bahwa itu bukanlah kesaksian palsu, sebagaimana ia mendengar kesaksian budak dengan anggapan bahwa ia bukan budak. Maka, ketika kesalahan dalam kesaksian budak membatalkan keputusan dalam kedua keadaan, wajib pula kesalahan dalam syahadah zur membatalkan keputusan dalam kedua keadaan. Selain itu, karena dengan syahadah zur seseorang menjadi fāsiq, dan keputusan berdasarkan kesaksian fāsiq secara nash ditolak dalam kedua keadaan, sedangkan penolakan kesaksian budak dalam kedua keadaan berdasarkan ijtihad. Kemudian, di antara dalil atas hal tersebut adalah bahwa keputusan menjadi batal karena rusaknya kesaksian, sebagaimana batal jika ijtihadnya bertentangan dengan nash. Maka, ketika kerusakannya karena bertentangan dengan nash membatalkan secara lahir dan batin, wajib pula kerusakan karena kesaksian menyebabkan pembatalan secara lahir dan batin.

فَإِنْ قِيلَ: مَا خَالَفَ النَّصَّ لَا يَكُونُ حُكْمًا. قِيلَ: وَكَذَلِكَ مَا أَمْضَاهُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ لَا يَكُونُ حُكْمًا، وَلِأَنَّهُ حُكْمٌ بِشَهَادَةِ زُورٍ، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ بَاطِلًا كَالْحُكْمِ بِالْقِصَاصِ.

Jika dikatakan: Apa yang bertentangan dengan nash tidak bisa disebut sebagai hukum. Maka dijawab: Demikian pula apa yang diputuskan berdasarkan kesaksian palsu tidak bisa disebut sebagai hukum, karena itu adalah keputusan berdasarkan kesaksian palsu, sehingga wajib dianggap batal sebagaimana hukum qishāsh.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ قَوْلِهِ: شَاهِدَاكِ زَوَّجَاكِ، فَمِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: أَحَدُهَا: إِنَّهُ مَجْهُولٌ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ، فَكَانَ أَسْوَأَ حَالًا مِمَّا ضعف إسناده. والثاني: أنه لَمْ يَعْلَمْ كَذِبَ الشُّهُودِ، فَلَمْ يُبْطِلْ شَهَادَتَهُمْ، وَالْخِلَافُ إِذَا عَلِمَهَا.

Adapun jawaban terhadap hadis Ali—‘alaihis salam—dari ucapannya: “Dua saksimu yang menikahkanmu”, maka ada tiga sisi: Pertama, hadis itu tidak dikenal di kalangan para ahli hadis, sehingga keadaannya lebih buruk daripada hadis yang sanadnya lemah. Kedua, ia (Ali) tidak mengetahui kebohongan para saksi, maka ia tidak membatalkan kesaksian mereka; sedangkan perbedaan pendapat terjadi jika kebohongan itu diketahui.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهُمْ لَا يَحْمِلُونَهُ عَلَى قَوْلِهِ: شَاهِدَاكِ زَوَّجَاكِ، لِأَنَّهُمْ يَجْعَلُونَ الْحَاكِمَ مُزَوِّجًا لَهَا دُونَ الشَّاهِدِ، وَقَدْ كَانَ شُرَيْحٌ يَقْضِي فِي أَيَّامِ عَلِيٍّ، فَإِذَا حَكَمَ لِرَجُلٍ بِشَاهِدَيْنِ، قَالَ لَهُ: يَا هَذَا إِنَّ حُكْمِي لَا يُبِيحُ لَكَ مَا هُوَ حَرَامٌ عَلَيْكَ، وَلَوْ خَالَفَهُ عَلِيٌّ فِيهِ لَأَنْكَرَهُ عَلَيْهِ.

Ketiga: Mereka tidak memaknainya dengan ucapan: “Dua saksimu telah menikahkanmu,” karena mereka menjadikan hakim sebagai pihak yang menikahkan perempuan itu, bukan saksi. Dahulu, Syuraih pernah menjadi hakim pada masa Ali, maka apabila ia memutuskan suatu perkara untuk seseorang dengan dua orang saksi, ia berkata kepadanya: “Wahai orang ini, putusanku tidak membolehkan bagimu sesuatu yang haram atasmu.” Seandainya Ali menyelisihinya dalam hal itu, niscaya ia akan mengingkarinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى شَهَادَةِ الصِّدْقِ فَهُوَ اسْتِحَالَةُ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا بِالْقَبُولِ؛ لِقَبُولِ الصِّدْقِ وَرَدِّ الْكَذِبِ وَنُفُوذِ الْحُكْمِ فِي الظَّاهِرِ، لِاسْتِوَائِهِمَا فِي الْجَهْلِ بِالْكَذِبِ، وَلَوْ عَلِمَ لَمَا نَفَذَ فِي الظَّاهِرِ كَمَا لَمْ يَنْفُذْ فِي الْبَاطِنِ.

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan kesaksian yang benar adalah mustahil menggabungkan keduanya dalam hal penerimaan; karena kebenaran diterima dan kebohongan ditolak, serta keputusan berlaku secara lahiriah, karena keduanya sama-sama tidak diketahui kebohongannya. Seandainya diketahui (kebohongannya), maka keputusan tidak akan berlaku secara lahiriah, sebagaimana tidak berlaku secara batiniah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى اللِّعَانِ، فَمِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْحُكْمَ لَمْ يَنْفُذْ بِالْكَذِبِ، وَإِنَّمَا نَفَذَ بِاللِّعَانِ. وَالثَّانِي: إِنَّ اللِّعَانَ اسْتِئْنَافُ فُرْقَةٍ وَالْحُكْمُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ، إِنَّمَا هُوَ تَنْفِيذٌ لِفُرْقَةٍ سَابِقَةٍ فَإِذَا لَمْ تَكُنْ لَمْ يَصِحَّ تَنْفِيذُ مَعْدُومٍ.

Adapun jawaban atas qiyās mereka terhadap li‘ān, maka dari dua sisi: Pertama, hukum itu tidak berlaku karena dusta, melainkan berlaku karena li‘ān. Kedua, li‘ān adalah permulaan perpisahan, sedangkan hukum dengan kesaksian palsu hanyalah pelaksanaan atas perpisahan yang sudah terjadi sebelumnya. Maka jika perpisahan itu belum ada, tidak sah melaksanakan sesuatu yang tidak ada.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنْ حُكْمِ الْحَاكِمِ مِنْ مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ، فَهُوَ أَنْ لَيْسَ فِي الْبَاطِنِ مَا يُخَالِفُ الظَّاهِرَ، فَلِذَلِكَ نَفَذَ حُكْمُهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، وَخَالَفَ شَهَادَةَ الزُّورِ الَّتِي تُخَالَفُ الظَّاهِرُ فِيهَا الْبَاطِنَ، فَلِذَلِكَ نَفَذَ حُكْمُهُ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ، وَسَنَشْرَحُ مِنْ فُرُوعِ هَذَا الْأَصْلِ مَا يَسْتَقِرُّ بِهِ حكمه.

Adapun jawaban terhadap dalil yang mereka gunakan mengenai keputusan hakim dalam masalah-masalah ijtihad adalah bahwa tidak ada sesuatu di dalam batin yang bertentangan dengan yang lahir, sehingga karena itu keputusan hakim berlaku baik secara lahir maupun batin. Hal ini berbeda dengan kesaksian palsu, di mana yang lahir bertentangan dengan yang batin, sehingga keputusan hakim hanya berlaku secara lahir, tidak secara batin. Kami akan menjelaskan cabang-cabang dari kaidah ini yang dapat memperjelas ketetapan hukumnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ فِي الظَّاهِرِ لَا يُحِيلُ الْأُمُورَ عَمَّا هِيَ عَلَيْهِ فِي الْبَاطِنِ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ انْقَسَمَتْ أَحْكَامُهُ سِتَّةَ أَقْسَامٍ:

Maka apabila telah jelas dengan apa yang telah kami sebutkan bahwa keputusan hakim secara lahiriah tidak mengubah perkara dari hakikatnya yang sebenarnya (batin), dan jika demikian, maka keputusan-keputusannya terbagi menjadi enam bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يُحْكَمَ بِشَهَادَةِ صِدْقٍ أَوْ يَمِينِ صِدْقٍ فِيمَا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ مَذَاهِبُ الْفُقَهَاءِ، فَحُكْمُهُ نَافِذٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، وَعَلَى الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَهُ فِيمَا كَانَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَلِلْمَحْكُومِ لَهُ أَنْ يَسْتَبِيحَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.

Salah satunya: apabila suatu keputusan dijatuhkan berdasarkan kesaksian yang benar atau sumpah yang benar dalam perkara yang tidak diperselisihkan oleh mazhab-mazhab para fuqaha, maka hukum tersebut berlaku secara lahir dan batin. Orang yang diputuskan atasnya wajib menerimanya, baik secara lahir maupun batin, dan orang yang diputuskan untuknya berhak memanfaatkannya, baik secara lahir maupun batin.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يُحْكَمَ بِشَهَادَةِ زُورٍ أَوْ يَمِينٍ كَاذِبَةٍ فِيمَا لَا تختلف فيه مذاهب الفقهاء، كشاهدين زُورٍ شَهِدَا لِرَجُلٍ بِنِكَاحِ امْرَأَةٍ مُنْكِرَةٍ، فَحَكَمَ لَهُ الْحَاكِمُ بِنِكَاحِهَا، فَهِيَ حَلَالٌ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَحَرَامٌ عَلَيْهِ فِي الْبَاطِنِ، وَلَهَا أَنْ تَنْكِحَ غَيْرَهُ فِي الْبَاطِنِ، وَلَيْسَ لَهَا نِكَاحُهُ فِي الظَّاهِرِ.

Bagian kedua: yaitu jika suatu keputusan dijatuhkan berdasarkan kesaksian palsu atau sumpah dusta dalam perkara yang tidak diperselisihkan oleh mazhab-mazhab fiqh, seperti dua orang saksi palsu yang bersaksi untuk seorang laki-laki tentang pernikahan dengan seorang wanita yang mengingkarinya, lalu hakim memutuskan bahwa wanita itu menjadi istrinya. Maka secara lahiriah, wanita itu halal baginya, namun secara batin haram atasnya. Dan wanita itu boleh menikah dengan laki-laki lain secara batin, tetapi tidak boleh menikah dengannya secara lahiriah.

وَلَوْ طَلَّقَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ ثَلَاثًا، وَأَنْكَرَهَا، وَحَاكَمَتْهُ فَأَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ لَهَا حَلَّتْ لَهُ فِي الظَّاهِرِ، وَحَرُمَتْ عَلَيْهِ فِي الْبَاطِنِ، وَحَلَّ لَهَا أَنْ تَتَزَوَّجَ غَيْرَهُ فِي الْبَاطِنِ، وَمُنِعَتْ مِنَ التَّزْوِيجِ بِغَيْرِهِ فِي الظَّاهِرِ ثَمَّ عَلَى هَذَا.

Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya tiga kali, lalu ia mengingkarinya, dan istrinya mengadukannya ke pengadilan, kemudian hakim meminta laki-laki itu bersumpah untuk istrinya, maka secara lahiriah perempuan itu halal baginya, namun secara batin perempuan itu haram baginya. Dan secara batin, perempuan itu halal untuk menikah dengan laki-laki lain, namun secara lahiriah ia dilarang menikah dengan laki-laki lain selain suaminya, berdasarkan hal ini.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يُحْكَمَ بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرُهُ لِبَاطِنِهِ، وَلَا تَنْبَرِمُ عَلَانِيَتُهُ بَعْدَ حُكْمِهِ كَرَجُلٍ بَاعَ جَارِيَةً عَلَى رَجُلٍ وَجَحَدَهُ الْمُشْتَرِي، وَحَاكَمَهُ، فَأَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ أَنَّهُ لَمْ يَشْتَرِهَا وَعَادَتِ الْجَارِيَةُ إِلَى بَائِعِهَا، فَالْأَوْلَى لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْمِلَ الْمُشْتَرِيَ عَلَى الِاسْتِقَالَةِ، وَيَحْمِلَ الْبَائِعَ عَلَى الْإِقَالَةِ؛ لِتَحِلَّ لِبَائِعِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ أَوْ فَعَلَ، فَلَمْ يُجِبِ الْمُشْتَرِي إِلَى الِاسْتِقَالَةِ وَلَا الْبَائِعُ إِلَى الْإِقَالَةِ، فَفِيهَا لِأَصْحَابِنَا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Bagian ketiga: yaitu apabila diputuskan dengan sesuatu yang lahirnya bertentangan dengan batinnya, dan keadaannya secara lahir tidak menjadi pasti setelah adanya keputusan, seperti seorang laki-laki yang menjual seorang budak perempuan kepada orang lain, lalu pembeli mengingkarinya dan membawanya ke pengadilan, kemudian hakim menyuruh pembeli bersumpah bahwa ia tidak membelinya, sehingga budak perempuan itu kembali kepada penjualnya. Maka yang utama bagi hakim adalah mendorong pembeli untuk melakukan pembatalan (istiqālah) dan mendorong penjual untuk menerima pembatalan (iqālah), agar budak perempuan itu menjadi halal bagi penjualnya secara lahir dan batin. Jika hal itu tidak dilakukan, atau telah dilakukan tetapi pembeli tidak mau melakukan istiqālah dan penjual tidak mau menerima iqālah, maka dalam masalah ini menurut para ulama kami terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: أَنْ تَعُودَ إِلَى الْبَائِعِ مِلْكًا لِلْمُشْتَرِي لِيَبِيعَهَا، فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ مِنْ ثَمَنِهَا عَلَيْهِ، وَلَا يَحِلُّ لَهُ وَطْؤُهَا وَمَا بَاعَهَا بِهِ مِنْ زِيَادَةٍ فِي الثَّمَنِ لَزِمَهُ رَدُّهَا، وَمَا بَقِيَ لَهُ مِنْ ثَمَنِهَا كَانَ حَقًّا لَهُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّ الْبَاطِنَ مُخَالِفٌ لِلظَّاهِرِ.

Salah satunya: bahwa barang tersebut kembali kepada penjual sebagai milik pembeli agar ia menjualnya, untuk mendapatkan bagian dari harganya yang menjadi haknya atas pembeli. Namun, tidak halal baginya untuk menyetubuhinya, dan kelebihan harga yang didapat dari penjualannya wajib dikembalikan. Adapun sisa harga yang masih menjadi haknya, maka itu tetap menjadi haknya atas pembeli; karena yang tersembunyi berbeda dengan yang tampak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّ الْجَحُودَ يَجْرِي مَجْرَى الرَّدِّ بِالْإِقَالَةِ، فَإِنْ أَرَادَ الْبَائِعُ إِعَادَتَهَا إِلَى مِلْكِهِ أَظْهَرَ الْإِقَالَةَ، وَحَكَمَ لَهُ بَعْدَ إِظْهَارِهَا، وَإِنْ لَمْ يُرِدْ إِعَادَتَهَا إِلَى مِلْكِهِ لَمْ تَحِلَّ لَهُ، وَكَانَتْ فِي يَدِهِ لِيَسْتَوْفِيَ بِبَيْعِهَا مَالَهُ مِنْ ثَمَنِهَا، وَفِي جَوَازِ تَفَرُّدِهِ بِبَيْعِهَا وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Sesungguhnya pengingkaran (al-juhūd) berlaku seperti penolakan melalui pembatalan (‘iqālah). Jika penjual ingin mengembalikan barang itu ke dalam kepemilikannya, ia menampakkan pembatalan, dan setelah menampakkannya, hukum dikembalikan kepadanya. Namun jika ia tidak ingin mengembalikan barang itu ke dalam kepemilikannya, maka barang itu tidak halal baginya, dan barang itu tetap berada di tangannya agar ia dapat mengambil haknya dari hasil penjualan barang tersebut. Dalam hal kebolehan ia sendiri yang menjual barang itu, terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنَّ الْجُحُودَ يَجْرِي مَجْرَى الْفَلَسِ لِتَعَذُّرِ الْوُصُولِ إِلَى الثَّمَنِ، فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا قَالَ، قَدِ اخْتَرْتُ عَيْنَ مَالِي بِاسْتِرْجَاعِهَا، وَفِي جَوَازِ تَفَرُّدِهِ بِهَذَا الْقَوْلِ مِنْ غَيْرِ حَاكِمٍ وَجْهَانِ، ثُمَّ هِيَ حَلَالٌ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُرِدْ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا كَانَتْ فِي يَدِهِ لِلْمُشْتَرِي يَسْتَوْفِي ثَمَنَهَا مِنْ بَيْعِهَا.

Pendapat ketiga: Sesungguhnya pengingkaran (al-juhūd) diperlakukan seperti kebangkrutan karena tidak memungkinkan untuk memperoleh harga barang. Jika penjual ingin memiliki kembali barang tersebut, ia berkata, “Aku memilih barangku sendiri dengan mengambilnya kembali.” Dalam hal kebolehan ia mengucapkan pernyataan ini secara sepihak tanpa keputusan hakim, terdapat dua pendapat. Kemudian, barang itu menjadi halal baginya. Namun jika ia tidak ingin memilikinya kembali, maka barang itu tetap berada di tangannya untuk pembeli, agar pembeli dapat mengambil harga barang tersebut dari hasil penjualannya.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ يَحْكُمَ بِمَا اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهِ، فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أضرب: أَحَدُهَا: أَنْ يَحْكُمَ بِأَقْوَى الْمَذْهَبَيْنِ أَصْلًا، فَحُكْمُهُ نَافِذٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ. وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَحْكُمَ بِأَضْعَفِ الْمَذْهَبَيْنِ أَصْلًا مِمَّا يَنْقُضُهُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ مِنَ الْقُضَاةِ فَحُكْمُهُ بَاطِلٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ.

Bagian keempat: yaitu apabila hakim memutuskan perkara dalam masalah yang diperselisihkan para fuqaha, maka hal ini terbagi menjadi tiga bentuk: Pertama, apabila hakim memutuskan dengan pendapat yang paling kuat di antara dua mazhab secara asal, maka keputusannya sah secara lahir maupun batin. Bentuk kedua, apabila hakim memutuskan dengan pendapat yang paling lemah di antara dua mazhab secara asal, yang mana keputusan tersebut dapat dibatalkan oleh hakim lain, maka keputusannya batal secara lahir maupun batin.

وَهَلْ يَفْتَقِرُ بُطْلَانُهُ إِلَى حُكْمِ حَاكِمٍ لَهُ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apakah kebatalannya memerlukan keputusan hakim untuk menetapkannya? Ada dua pendapat dalam hal ini:

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَحْكُمَ فِيمَا يَحْتَمِلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذْهَبَيْنِ، وَلَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ أَنْ يَنْقُضَهُ عَلَيْهِ، فَحُكْمُهُ نَافِذٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، فَإِنْ كَانَ الْمَحْكُومُ لَهُ وَعَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ كَانَ لَازِمًا لِلْمَحْكُومِ عَلَيْهِ وَمُبَاحًا لِلْمَحْكُومِ لَهُ، وَإِنْ كَانَا مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ كَانَ لَازِمًا لِلْمَحْكُومِ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِي إِبَاحَتِهِ لِلْمَحْكُومِ لَهُ إِذَا خَالَفَ مُعْتَقَدَهُ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: يَسْتَبِيحُهُ لِنُفُوذِ الْحُكْمِ بِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ. وَالثَّانِي: لَا يَسْتَبِيحُهُ فِي الْبَاطِنِ وَإِنِ اسْتَبَاحَهُ فِي الظَّاهِرِ لِاعْتِقَادِهِ بِحَظْرِهِ.

Jenis yang ketiga adalah apabila hakim memutuskan dalam perkara yang masing-masing dapat ditoleransi oleh kedua mazhab, maka tidak boleh bagi hakim lain untuk membatalkan putusannya. Maka, putusannya berlaku baik secara lahir maupun batin. Jika pihak yang diputuskan untuknya dan pihak yang diputuskan atasnya bukan dari kalangan ahli ijtihad, maka putusan itu wajib dilaksanakan oleh pihak yang diputuskan atasnya dan boleh dimanfaatkan oleh pihak yang diputuskan untuknya. Namun jika keduanya dari kalangan ahli ijtihad, maka putusan itu wajib dilaksanakan oleh pihak yang diputuskan atasnya, karena ia diberi pilihan untuk membolehkan atau tidak membolehkan bagi pihak yang diputuskan untuknya jika bertentangan dengan keyakinannya. Dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, ia membolehkannya karena putusan itu berlaku baik secara lahir maupun batin; kedua, ia tidak membolehkannya secara batin meskipun membolehkannya secara lahir karena keyakinannya bahwa hal itu terlarang.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ: الْحُكْمُ فِي الْمَنَاكِحِ الْمُخْتَلَفِ فِيهَا كَالنِّكَاحِ بِغَيْرِ وَلِيٍّ، وَنَحْوِهِ، فَلِلزَّوْجَيْنِ فِيهَا حَالَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: فِي عَقْدِهِ. وَالثَّانِي: فِي حِلِّهِ.

Bagian kelima: Hukum dalam pernikahan yang diperselisihkan, seperti nikah tanpa wali dan semacamnya, maka bagi kedua mempelai terdapat dua keadaan: pertama, pada saat akadnya; dan kedua, pada kehalalannya.

فَأَمَّا حَالُ الْعَقْدِ، فَلِلزَّوْجَيْنِ حَالَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَا مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، فَيَجُوزُ لَهُمَا أَنْ يَنْفَرِدَا بِالْعَقْدِ بِاجْتِهَادِهِمَا مِنْ غَيْرِ حُكْمِ حَاكِمٍ، وَلَا اسْتِفْتَاءِ مُجْتَهِدٍ، وَإِنْ كَانَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، فَفِي جَوَازِ انْفِرَادِهِمَا بِالْعَقْدِ مِنْ غَيْرِ اجْتِهَادِ حَاكِمٍ وَاسْتِفْتَاءِ مُجْتَهِدٍ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ مَا لَمْ يَمْنَعْهُمَا ذُو حُكْمٍ لِمَا فِي الِاجْتِهَادِ مِنْ إِبَاحَتِهِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ مَا لَمْ يَأْذَنْ لَهُمَا ذُو حُكْمٍ لِمَا فِي الِاجْتِهَادِ مِنْ حَظْرِهِ.

Adapun pada saat akad, maka bagi kedua mempelai terdapat dua keadaan: Pertama, jika keduanya termasuk ahli ijtihad, maka boleh bagi mereka berdua untuk melakukan akad sendiri berdasarkan ijtihad mereka tanpa keputusan hakim dan tanpa meminta fatwa dari seorang mujtahid. Namun jika keduanya bukan termasuk ahli ijtihad, maka dalam hal kebolehan mereka melakukan akad sendiri tanpa ijtihad hakim dan tanpa meminta fatwa mujtahid terdapat dua pendapat: Pendapat pertama, boleh selama tidak ada pihak yang berwenang melarang mereka, karena dalam ijtihad terdapat kebolehan. Pendapat kedua, tidak boleh selama belum ada izin dari pihak yang berwenang, karena dalam ijtihad terdapat larangan.

فَأَمَّا حَالُ الرَّفْعِ وَالْحِلِّ، فَلَهُمَا حَالَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَخْتَلِفَ الزَّوْجَانِ فِيهِ فَلَا يَرْتَفِعُ، وَيَنْحَلُّ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ. وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ طَلَاقٍ فَلَهُمَا حَالَتَانِ:

Adapun keadaan pembatalan dan pelepasan, maka keduanya memiliki dua keadaan: Pertama, apabila suami istri berselisih tentangnya, maka tidak dapat dibatalkan dan dilepaskan kecuali dengan keputusan hakim. Keadaan kedua, apabila keduanya sepakat atasnya tanpa adanya talak, maka terdapat dua keadaan bagi keduanya:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، فَلَا يَرْتَفِعُ بِأَنْفُسِهِمَا، وَنُظِرَ: فَإِنْ زَوَّجَهُمَا حَاكِمٌ لَمْ يَرْتَفِعْ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ وَإِنْ تَزَوَّجَا بِاسْتِفْتَاءِ ففيه مُجْتَهِدٍ، فَفِيمَا يَرْتَفِعُ بِهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: يَرْتَفِعُ بِاسْتِفْتَاءِ مُجْتَهِدٍ اعْتِبَارًا بِعَقْدِهِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ: لَا يَرْتَفِعُ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ لِتَجَاوُزِهِ إِلَى مَنْ يَعْقِدُ النِّكَاحَ مِنْ بَعْدِهِ.

Pertama: Jika keduanya bukan termasuk ahl al-ijtihad, maka status pernikahan mereka tidak menjadi sah dengan sendirinya. Ada pendapat: jika keduanya dinikahkan oleh seorang hakim, maka status pernikahan itu tidak menjadi sah kecuali dengan putusan hakim. Namun jika mereka menikah dengan meminta fatwa kepada seorang mujtahid, maka dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, status pernikahan menjadi sah dengan meminta fatwa kepada mujtahid, karena memperhatikan akad yang dilakukan. Pendapat kedua, yang merupakan pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj: status pernikahan tidak menjadi sah kecuali dengan putusan hakim, karena hal itu berkaitan dengan pihak yang akan melangsungkan akad nikah setelahnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الزَّوْجَانِ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، فَفِيمَا يَرْتَفِعُ بِهِ الْعَقْدُ وَجْهَانِ:

Keadaan kedua: apabila kedua pasangan adalah termasuk ahli ijtihad, maka dalam hal yang menyebabkan akad menjadi batal terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَرْتَفِعُ بِاجْتِهَادِهِمَا اعْتِبَارًا بِعَقْدِهِ.

Salah satunya: statusnya naik berdasarkan ijtihad mereka berdua, dengan mempertimbangkan akadnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ لَا يَرْتَفِعُ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ، لِتَجَاوُزِهِمَا إِلَى مَنْ يَعْقِدُ النِّكَاحَ مِنْ بَعْدِهِ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, bahwa larangan tersebut tidak hilang kecuali dengan keputusan hakim, karena keduanya telah melampaui pihak yang berwenang melakukan akad nikah setelahnya.

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ: مَا وَقَفَتِ اسْتِبَاحَتُهُ عَلَى حُكْمِ الْحَاكِمِ كَفَسْخِ النِّكَاحِ بِعُنَّةِ الزَّوْجِ وَإِعْسَارِهِ بِالنَّفَقَةِ، فَلَا يَجُوزُ فَسْخُهُ بِالْعُنَّةِ إِلَّا أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِتَأْجِيلِ الزَّوْجِ سَنَةً، ثُمَّ يَحْكُمُ بِعُنَّتِهِ بَعْدَ انْقِضَائِهَا، فَإِذَا حَكَمَ بِالْعُنَّةِ بَعْدَ انْقِضَائِهَا، فَفِي الْفَسْخِ وَجْهَانِ:

Bagian keenam: Yaitu perkara yang kebolehannya bergantung pada keputusan hakim, seperti pembatalan nikah karena suami mengalami ‘innah (impotensi) atau tidak mampu memberi nafkah. Maka tidak boleh membatalkan nikah karena ‘innah kecuali jika hakim memutuskan untuk menangguhkan suami selama satu tahun, kemudian hakim memutuskan tentang ‘innah-nya setelah masa itu berakhir. Jika hakim telah memutuskan tentang ‘innah-nya setelah masa itu berakhir, maka dalam hal pembatalan nikah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ: إِنَّهُ لَا يَقَعُ الْفَسْخُ إِلَّا بِحُكْمِ الْحَاكِمِ كَمَا لَمْ تَثْبُتِ الْعُنَّةُ إِلَّا بِحُكْمِهِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, yaitu bahwa pembatalan (fasakh) tidak terjadi kecuali dengan keputusan hakim, sebagaimana ‘innah (cacat impoten) juga tidak dapat ditetapkan kecuali dengan keputusannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ تَنْفَرِدَ الزَّوْجَةُ بِالْفَسْخِ؛ لِأَنَّ الْفَسْخَ بِالْعُنَّةِ بَعْدَ ثُبُوتِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَكَذَا الْفَسْخُ بِإِعْسَارِ الزَّوْجِ بِالنَّفَقَةِ لَا يَصِحُّ إِلَّا أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِجَوَازِ الْفَسْخِ، فَإِذَا حَكَمَ بِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Diperbolehkan bagi istri untuk sendiri melakukan fasakh; karena fasakh akibat ‘innah (impotensi) setelah terbukti adalah sesuatu yang telah disepakati, demikian pula fasakh karena suami tidak mampu memberi nafkah tidak sah kecuali jika hakim memutuskan bolehnya fasakh. Jika hakim telah memutuskan demikian, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ الْفَسْخُ إِلَّا أَنْ يَتَوَلَّاهُ الْحَاكِمُ.

Salah satunya: fasakh tidak sah kecuali dilakukan oleh hakim.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ تَتَوَلَّاهُ الزَّوْجَةُ.

Pendapat kedua: Boleh istri sendiri yang melakukannya.

فَأَمَّا إِذَا أُعْتِقَتِ الزَّوْجَةُ تَحْتَ عَبْدٍ، فَلَهَا أَنْ تَنْفَرِدَ بِفَسْخِ النِّكَاحِ، لِأَنَّ فَسْخَهُ بِالْعِتْقِ تَحْتَ عَبْدٍ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى حُكْمٍ، لِانْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ عَلَيْهِ.

Adapun jika istri dimerdekakan sementara ia berada di bawah pernikahan dengan seorang budak, maka ia berhak secara mandiri membatalkan akad nikah, karena pembatalan nikah akibat kemerdekaan dari pernikahan dengan seorang budak tidak memerlukan keputusan hakim, sebab telah terjadi ijmā‘ atas hal itu.

فَأَمَّا عُيُوبُ الزَّوْجَيْنِ إِذَا أَرَادَ الزَّوْجُ أَنْ يَفْسَخَ بِهَا إِذَا كَانَتِ الزَّوْجَةُ مَعِيبَةً أَوْ أَرَادَتِ الزَّوْجَةُ أَنْ تَفْسَخَ إِذَا كَانَ الزَّوْجُ مَعِيبًا، فَإِنْ كَانَتْ مِنَ الْعُيُوبِ الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا جَازَ أَنْ يَنْفَرِدَ الزَّوْجَانِ بِالْفَسْخِ بِهَا، وَإِنْ كَانَتْ مُخْتَلَفًا فِيهَا لَمْ يَجُزِ الْفَسْخُ بِهَا إِلَّا أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِجَوَازِ الْفَسْخِ ثُمَّ عَلَى الْوَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ الْفَسْخُ حَتَّى يَتَوَلَّاهُ الْحَاكِمُ. وَالثَّانِي: يَصِحُّ إِذَا تَوَلَّاهُ مُسْتَحِقُّهُ وَهَكَذَا رُجُوعُ الْبَائِعِ بِعَيْنِ مَالِهِ إِذَا أفلس الْمُشْتَرِي لَا يَصِحُّ إِلَّا أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِفَلَسِهِ ثُمَّ يَحْكُمُ بِجَوَازِ الرُّجُوعِ بِالْأَعْيَانِ الْمَبِيعَةِ

Adapun cacat pada suami istri, apabila suami ingin membatalkan pernikahan karena adanya cacat pada istri, atau istri ingin membatalkan pernikahan karena adanya cacat pada suami, maka jika cacat tersebut termasuk cacat yang telah disepakati (ijmā‘), maka suami istri boleh membatalkan pernikahan sendiri karena cacat itu. Namun jika cacat tersebut masih diperselisihkan, maka tidak boleh membatalkan pernikahan kecuali setelah hakim memutuskan bolehnya pembatalan. Kemudian, dalam kedua keadaan tersebut terdapat dua pendapat: pertama, pembatalan tidak sah kecuali dilakukan oleh hakim; kedua, pembatalan sah jika dilakukan oleh pihak yang berhak. Demikian pula, pengembalian barang oleh penjual jika pembeli jatuh pailit, tidak sah kecuali setelah hakim memutuskan kepailitan pembeli, lalu memutuskan bolehnya pengembalian barang yang dijual.

فَإِذَا حَكَمَ فِي الْفَلَسِ بِجَوَازِ الرُّجُوعِ فَفِيهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَرْجِعُ بِهِ الْبَائِعُ إِلَّا أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِرَدِّهِ عَلَيْهِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَرْجِعَ بِهِ الْبَائِعُ إِذَا حَكَمَ لَهُ الْحَاكِمُ بِجَوَازِ الرُّجُوعِ، وَكَذَلِكَ عَلَى قِيَاسِ هَذَا فِي نَظَائِرِهِ، وَبَاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Apabila hakim memutuskan dalam perkara pailit tentang bolehnya penjual menarik kembali barang, maka terdapat dua pendapat: Pertama, penjual tidak boleh menarik kembali barang kecuali jika hakim memutuskan untuk mengembalikannya kepada penjual. Pendapat kedua, penjual boleh menarik kembali barang apabila hakim memutuskan bolehnya penarikan kembali. Demikian pula, hal ini berlaku menurut qiyās pada kasus-kasus serupa. Dan hanya kepada Allah pertolongan dimohon.

(بَابُ شَهَادَةِ النِّسَاءِ لَا رَجُلَ مَعَهُنَّ وَالرَّدِّ عَلَى مَنْ أَجَازَ شَهَادَةَ امْرَأَةٍ مِنْ هَذَا الْكِتَابِ وَمِنَ كِتَابِ اخْتِلَافِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وأبي حنيفة)

(Bab tentang kesaksian perempuan tanpa adanya laki-laki bersama mereka, dan bantahan terhadap orang yang membolehkan kesaksian satu perempuan dari kitab ini dan dari kitab Ikhtilāf Ibn Abī Lailā dan Abū Hanīfah)

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَالْوِلَادَةُ وَعُيُوبُ النِّسَاءِ مِمَّا لَمْ أَعْلَمْ فِيهِ مُخَالِفًا فِي أَنَّ شَهَادَةَ النِّسَاءِ جَائِزَةٌ فِيهِ لَا رَجُلَ مَعَهُنَّ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Kelahiran dan cacat pada perempuan termasuk perkara yang aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di dalamnya bahwa kesaksian perempuan diterima dalam hal itu tanpa disyaratkan adanya laki-laki bersama mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْوِلَادَةُ فَلَا اخْتِلَافَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ تُقْبَلَ فِيهَا شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ الْجَوَازِ، فَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مِمَّا لَا يَحْضُرُهُ الرِّجَالُ، وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ مِمَّا لَا يُبَاشِرُهُ إِلَّا النِّسَاءُ.

Al-Mawardi berkata: Adapun kelahiran, tidak ada perbedaan di antara para fuqaha bahwa boleh diterima kesaksian perempuan secara sendiri-sendiri di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai alasan kebolehannya. Menurut asy-Syafi‘i, hal itu karena perkara yang tidak dihadiri oleh laki-laki, sedangkan menurut Abu Hanifah, karena perkara yang hanya dapat dilakukan langsung oleh perempuan.

وَأَمَّا الشَّهَادَةُ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ أَحْوَالِ أَبْدَانِهِنَّ، فَتَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun kesaksian dalam hal-hal selain itu yang berkaitan dengan keadaan tubuh mereka, maka terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: مَا اتَّفَقُوا عَلَى جَوَازِ شَهَادَةِ النِّسَاءِ الْمُنْفَرِدَاتِ فِيهِ، وَهُوَ مَا حَرُمَ عَلَى ذَوِي الْمَحَارِمِ تَعَمُّدُ النَّظَرِ إِلَيْهِ فِيمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ سَوَاءٌ كَانَ فِي الْفَرْجِ كَالْقَرْنِ، وَالرَّتْقِ أَوْ كَانَ مِمَّا عَدَاهُ مِنْ بَرَصٍ أَوْ غَيْرِهِ، تَعْلِيلًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ بِأَنَّهُ لَا يُشَاهِدُهُ الرِّجَالُ، وَتَعْلِيلًا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ بِأَنَّهُ لَا يُبَاشِرُهُ إِلَّا النِّسَاءُ.

Salah satunya: perkara yang mereka sepakati atas bolehnya kesaksian perempuan saja di dalamnya, yaitu perkara yang haram bagi para mahram untuk sengaja melihatnya pada bagian antara pusar dan lutut, baik itu pada kemaluan seperti tanduk (kelainan pada kemaluan), atau kerusakan bawaan, maupun selainnya seperti belang atau lainnya. Menurut pendapat Imam Syafi‘i, alasannya adalah karena laki-laki tidak melihatnya, sedangkan menurut pendapat Abu Hanifah, alasannya adalah karena yang menangani hal itu hanyalah perempuan.

فَإِنْ قِيلَ: فَهِيَ عَوْرَةٌ مِنَ الْمَرْأَةِ تَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، فَلِمَ جَوَّزْتُمْ فِيهَا شَهَادَةَ النِّسَاءِ مَعَ مُشَارَكَتِهِنَّ لِلرِّجَالِ فِي التَّحْرِيمِ؟

Jika dikatakan: Itu adalah aurat dari perempuan yang haram dilihat oleh laki-laki dan perempuan, maka mengapa kalian membolehkan kesaksian perempuan dalam hal itu, padahal mereka sama dengan laki-laki dalam keharamannya?

قِيلَ: لِأَنَّهَا فِي حُقُوقِ الرِّجَالِ أَغْلَظُ تَحْرِيمًا مِنْهَا فِي حُقُوقِ النِّسَاءِ، لِأَنَّ تَحْرِيمَهَا فِي الرِّجَالِ مُخْتَصٌّ بِمَعْنَيَيْنِ: أَحَدُهُمَا: سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَالثَّانِي: قَطْعُ الشَّهْوَةِ.

Dikatakan: Karena dalam hak-hak laki-laki, larangannya lebih berat dibandingkan dalam hak-hak perempuan, sebab keharamannya bagi laki-laki terkait dengan dua makna: Pertama, menutup aurat. Kedua, mencegah syahwat.

وَتَحْرِيمُهَا فِي النِّسَاءِ مُخْتَصٌّ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَهُوَ سَتْرُ الْعَوْرَةِ فَلَمَّا دَعَتِ الضَّرُورَةُ فِيهِ إِلَى الشَّهَادَةِ أُبِيحَتْ لِأَخَفِّ الْجِنْسَيْنِ حَظْرًا.

Dan keharamannya pada perempuan khusus karena satu makna, yaitu menutup aurat. Maka ketika ada kebutuhan mendesak dalam hal ini untuk keperluan persaksian, diperbolehkan bagi yang larangannya lebih ringan di antara kedua jenis.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا لَا يُقْبَلُ فِيهِ إِلَّا الرِّجَالُ دُونَ النِّسَاءِ، وَهُوَ مَا لَمْ يَكُنْ مِنْ عَوْرَاتِ أَبْدَانِهِنَّ كَالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، فَلَا يُقْبَلُ فِي عُيُوبِهِ إِلَّا شَهَادَةُ الرِّجَالِ دُونَ النِّسَاءِ إِجْمَاعًا، لِخُرُوجِهِ عَنِ الْعَوْرَةِ فِي حقوق الرجال والنساء، فلم تدع الضرورة إلى فيه انفراد النساء.

Bagian kedua: adalah perkara yang hanya diterima kesaksian laki-laki saja tanpa perempuan, yaitu perkara yang tidak termasuk aurat tubuh mereka seperti wajah dan telapak tangan. Maka, dalam hal cacat-cacat tersebut, hanya kesaksian laki-laki saja yang diterima, tidak perempuan, berdasarkan ijmā‘, karena perkara itu tidak termasuk aurat baik dalam hak laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan perempuan saja yang bersaksi di dalamnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتُلِفَ فِيهِ، وَهُوَ فِيمَا كَانَ عَوْرَةً مَعَ الْأَجَانِبِ، وَلَمْ يَكُنْ عَوْرَةً مَعَ ذَوِي الْمَحَارِمِ، كَالَّذِي عَلَا عَنِ السُّرَّةِ وَانْحَدَرَ عَنِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، وَمِنْهُ الرَّضَاعُ مِنَ الثَّدْيَيْنِ، فَمَذْهَبُ مَالِكٍ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُقْبَلَ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، لِتَحْرِيمِهِ عَلَى الْأَجَانِبِ وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ لَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، لِإِبَاحَتِهِ لِذَوِي الْمَحَارِمِ، وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي الرَّضَاعِ.

Bagian ketiga: yaitu perkara yang diperselisihkan, yaitu sesuatu yang dianggap aurat di hadapan orang asing, namun tidak dianggap aurat di hadapan mahram, seperti bagian tubuh yang berada di atas pusar dan di bawah wajah serta telapak tangan, dan termasuk di dalamnya adalah menyusui dari kedua payudara. Menurut mazhab Malik, boleh diterima kesaksian perempuan saja dalam hal ini, karena keharamannya bagi orang asing. Sedangkan menurut Abu Hanifah, tidak diterima kesaksian perempuan saja dalam hal ini, karena hal tersebut dibolehkan bagi mahram. Masalah ini telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang menyusui.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَكُلُّ مَا جَازَ أَنْ تُقْبَلَ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ جَازَ أَنْ يُقْبَلَ فِيهِ شَهَادَةُ الرِّجَالِ مُنْفَرِدِينَ، وَشَهَادَةُ الرِّجَالِ مَعَ النِّسَاءِ إِذَا بَقِيَ الرِّجَالُ فِي الْمُشَاهَدَةِ عَلَى عَدَالَتِهِمْ، وَلَهُمْ فِي مُشَاهَدَةِ الْوِلَادَةِ وَالْعُيُوبِ الْبَاطِنَةِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Segala perkara yang boleh diterima di dalamnya kesaksian perempuan secara sendiri-sendiri, maka boleh pula diterima di dalamnya kesaksian laki-laki secara sendiri-sendiri, dan kesaksian laki-laki bersama perempuan apabila laki-laki tetap pada keadilan mereka dalam penyaksian tersebut. Adapun dalam penyaksian kelahiran dan cacat-cacat yang tersembunyi, terdapat tiga keadaan bagi mereka.

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولُوا: حَانَتْ مِنَّا الْتِفَاتَةٌ مِنْ غَيْرِ تَعَمُّدٍ، فَرَأَيْنَا فَهُمْ بَاقُونَ عَلَى الْعَدَالَةِ، وَيَجُوزُ أَنْ تُقْبَلَ فِيهِ شَهَادَتُهُمْ، وَكَذَلِكَ فِي الزِّنَا.

Salah satunya: Mereka mengatakan, “Kami sempat menoleh tanpa sengaja, lalu kami melihat bahwa mereka masih tetap dalam keadaan ‘adālah, dan boleh diterima kesaksian mereka dalam hal ini, demikian pula dalam kasus zina.”

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولُوا: تَعَمَّدْنَا النَّظَرَ لِغَيْرِ شَهَادَةٍ، فَرَأَيْنَا، فَقَدْ فَسَقُوا بِتَعَمُّدِ النَّظَرِ لِغَيْرِهِ، فَوَجَبَ أَنْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ، وَكَذَلِكَ فِي الزِّنَا.

Keadaan kedua: yaitu apabila mereka berkata, “Kami sengaja melihat bukan untuk keperluan persaksian, lalu kami melihatnya,” maka mereka telah berbuat fasiq karena sengaja melihat bukan untuk tujuan tersebut, sehingga wajib untuk tidak diterima persaksian mereka, demikian pula dalam kasus zina.

والحال الثالث: أَنْ يَقُولُوا: تَعَمَّدْنَا النَّظَرَ لِإِقَامَةِ الشَّهَادَةِ، فَفِي فِسْقِهِمْ بِهَذَا النَّظَرِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Keadaan ketiga: apabila mereka berkata, “Kami sengaja melihat untuk menegakkan kesaksian,” maka dalam hal kefasikan mereka karena pandangan ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ: إِنَّهُ يَحْرُمُ فِي الزِّنَا، وَغَيْرِ الزِّنَا؛ لِأَنَّهُ اسْتِبَاحَةُ مَحْظُورٍ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ، فَيَصِيرُوا بِهَذَا النَّظَرِ فَسَقَةً، لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, menyatakan bahwa hal itu diharamkan baik dalam kasus zina maupun selain zina; karena hal tersebut merupakan tindakan menghalalkan sesuatu yang terlarang tanpa adanya kebutuhan darurat, sehingga dengan pandangan ini mereka menjadi orang-orang fasik yang kesaksiannya tidak diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَحِلُّ فِي الزِّنَا وَغَيْرِ الزِّنَا؛ لِأَنَّهُ نَظَرٌ لِحِفْظِ حَقٍّ، فَيَكُونُوا عَلَى عَدَالَتِهِمْ، وَتُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, bahwa hal itu diperbolehkan baik dalam kasus zina maupun selain zina; karena hal tersebut merupakan upaya untuk menjaga suatu hak, sehingga mereka tetap berada dalam keadilan mereka, dan kesaksian mereka diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنَّهُ يُحَرَّمُ فِي غَيْرِ الزِّنَا، وَيَحِلُّ فِي الزِّنَا، لِأَنَّ الزَّانِيَ هَاتِكٌ لِحُرْمَتِهِ وَغَيْرَ الزَّانِي حَافِظٌ لَهَا، فَيُفَسَّقُوا بِالنَّظَرِ فِي غَيْرِ الزِّنَا، وَلَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَتُهُمْ، وَلَا يُفَسَّقُوا بِالنَّظَرِ فِي الزِّنَا، وتقبل فيه شهادتهم.

Pendapat ketiga: Sesungguhnya hal itu diharamkan dalam selain kasus zina, dan dibolehkan dalam kasus zina, karena pezina telah merusak kehormatannya, sedangkan selain pezina menjaga kehormatannya. Maka mereka dianggap fāsiq karena melihat (aurat) dalam selain kasus zina, sehingga kesaksiannya tidak diterima dalam hal itu, dan mereka tidak dianggap fāsiq karena melihat (aurat) dalam kasus zina, sehingga kesaksiannya diterima dalam hal itu.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” واختلفوا في عددها فقال عطاء لا يكون في شهادة النساء لا رجل معهن في أمر النساء أقل من أربع عدول (قال الشافعي) رحمه الله: وبهذا نأخذ ولما ذكر الله النساء فجعل امرأتين يقومان مقام رجل في الموضع الذي أجازهما فيه دل والله أعلم إذ أجاز المسلمون شهادة النساء في موضع أن لا يجوز منهن إلا أربع عدول لأن ذلك معنى حكم الله عز وجل (قال الشافعي) وقلت لمن يجيز شهادة امرأة في الولادة كما يجيز الخبر بها لا من قبل الشهادة وأين الخبر من الشهادة أتقبل امرأة عن امرأة أن امرأة رجل ولدت هذا الولد قال لا قلت فتقبل في الخبر أخبرنا فلان عن فلان؟ قال: نعم قلت فالخبر هو ما استوى فيه المخبر والمخبر والعامة من حلال أو حرام؟ قال نعم قلت والشهادة ما كان الشاهد منه خليا والعامة وإنما تلزم المشهود عليه؟ قال نعم: قلت أفترى هذا مشبها لهذا؟ قال أما في هذا فلا “.

Imam Syafi‘i ra. berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya. ‘Atha’ berkata, tidak boleh dalam persaksian perempuan tanpa adanya laki-laki bersama mereka dalam urusan perempuan, kecuali minimal empat orang perempuan yang adil.” (Imam Syafi‘i) rahimahullah berkata: “Dan dengan pendapat ini kami berpegang. Ketika Allah menyebutkan perempuan, lalu menjadikan dua perempuan setara dengan satu laki-laki dalam perkara yang Allah perbolehkan bagi mereka, maka hal itu menunjukkan—dan Allah lebih mengetahui—bahwa ketika kaum muslimin membolehkan persaksian perempuan dalam suatu perkara, maka tidak boleh kecuali empat perempuan yang adil, karena itulah makna hukum Allah ‘azza wa jalla.” (Imam Syafi‘i) berkata: “Aku berkata kepada orang yang membolehkan persaksian seorang perempuan dalam kelahiran sebagaimana membolehkan berita tentangnya, bukan dari sisi persaksian. Lalu, di mana letak perbedaan antara berita dan persaksian? Apakah engkau menerima seorang perempuan dari perempuan lain bahwa istri si fulan telah melahirkan anak ini?” Ia menjawab, ‘Tidak.’ Aku berkata, ‘Lalu apakah engkau menerima dalam berita, misalnya si fulan memberitakan dari si fulan?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Berita itu adalah sesuatu yang sama antara pemberi berita, penerima berita, dan masyarakat umum, baik dalam perkara halal maupun haram?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Sedangkan persaksian adalah sesuatu yang khusus bagi saksi dan tidak berlaku bagi masyarakat umum, dan hanya mengikat pihak yang disaksikan?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Apakah menurutmu ini sama dengan itu?’ Ia menjawab, ‘Untuk yang ini, tidak.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَإِذْ قَدْ مَضَى مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي عَدَدِ الْمَقْبُولِ مِنْهُنَّ عَلَى خَمْسَةِ مَذَاهِبَ: أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَبِهِ قَالَ عَطَاءٌ إِنَّهُ لَا يُقْبَلُ أَقَلُّ مِنْ أَرْبَعِ نِسْوَةٍ. وَالثَّانِي: وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ أَنَسٍ وَيُحْكَى عَنْ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ إِنَّهُ يُقْبَلُ فِيهِ ثَلَاثَةُ نِسْوَةٍ، وَلَا يُقْبَلُ أَقَلُّ مِنْهُنَّ. وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالثَّوْرِيِّ: إِنَّهُ يُقْبَلُ شَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ. وَالرَّابِعُ: وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُقْبَلُ فِي الْوِلَادَةِ شَهَادَةُ الْقَابِلَةِ وَحْدَهَا، وَلَا يُقْبَلُ شَهَادَةُ غَيْرِ الْقَابِلَةِ إِلَّا مَعَ غَيْرِهَا.

Al-Mawardi berkata: Setelah dijelaskan perkara-perkara yang diterima di dalamnya kesaksian perempuan secara sendiri-sendiri, para fuqaha berbeda pendapat mengenai jumlah perempuan yang kesaksiannya diterima dalam hal tersebut menjadi lima pendapat. Pertama, yaitu mazhab Syafi‘i, dan ini juga pendapat ‘Atha’, bahwa tidak diterima kurang dari empat perempuan. Kedua, diriwayatkan dari Anas dan dinukil dari ‘Utsman al-Batti bahwa diterima tiga perempuan, dan tidak diterima kurang dari itu. Ketiga, yaitu mazhab Malik dan ats-Tsauri: diterima kesaksian dua perempuan. Keempat, yaitu mazhab al-Hasan al-Bashri dan ini juga pendapat Ibnu ‘Abbas, bahwa dalam perkara kelahiran diterima kesaksian bidan saja, dan tidak diterima kesaksian selain bidan kecuali bersama orang lain.

وَالْخَامِسُ: وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ الْقَابِلَةَ كَانَتْ أَوْ غَيْرَ قَابِلَةٍ إِلَّا وِلَادَةَ الْمُطَلَّقَةِ، فَلَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْوَاحِدَةِ، اسْتِدْلَالًا بِمَا رَوَى ابْنُ الْمَدَائِنِيِّ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَجَازَ شَهَادَةَ الْقَابِلَةِ ” وَبِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ” أَنَّهُ أَجَازَ شَهَادَتَهَا “، وَلَا مُخَالِفَ لَهُ، فَكَانَ هَذَا نَصًّا وَإِجْمَاعًا، وَلِأَنَّهَا شَهَادَةٌ تَتَضَمَّنُ مَعْنَى الْخَبَرِ، فَلَمَّا قُبِلَتْ وَحْدَهَا فِي الْأَخْبَارِ قُبِلَتْ فِي هَذِهِ الشَّهَادَةِ، وَلِأَنَّهَا حَالٌ يَحْتَشِمُ فِيهَا مَنْ عَدَا الْقَابِلَةَ، فَجَازَ قَبُولُ شَهَادَتِهَا وَحْدَهَا، اعْتِبَارًا بِالضَّرُورَةِ.

Kelima: Ini adalah mazhab Abu Hanifah, yang menerima kesaksian perempuan bidan, baik ia bidan maupun bukan, kecuali dalam kasus kelahiran wanita yang ditalak, maka tidak diterima kesaksian satu orang perempuan saja. Hal ini didasarkan pada riwayat Ibnu al-Madā’inī dari al-A‘mash dari Abu Wā’il dari Hudzaifah bahwa Nabi ﷺ “menerima kesaksian bidan”, dan juga riwayat dari Ali ‘alaihis salam bahwa “beliau menerima kesaksiannya”, dan tidak ada yang menentangnya, sehingga hal ini menjadi nash dan ijmā‘. Karena kesaksian ini mengandung makna pemberitaan, maka ketika pemberitaan satu orang diterima, demikian pula kesaksian ini diterima. Selain itu, karena situasi tersebut adalah keadaan yang membuat orang selain bidan merasa sungkan, maka boleh menerima kesaksiannya sendiri, dengan pertimbangan darurat.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى رَدُّ الْوَاحِدِ وَمَنْ زَادَ عَلَيْهَا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي لَا يُقْبَلْنَ فِيهِ وَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْوَاحِدَةُ مُسَاوِيَةً لِمَنْ زَادَ عَلَيْهَا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي تُقْبَلُ فِيهِ.

Dan karena ketika penolakan terhadap satu orang dan lebih dari satu orang adalah sama dalam perkara yang tidak diterima kesaksiannya, maka wajiblah bahwa satu orang itu juga setara dengan yang lebih dari satu orang dalam perkara yang diterima kesaksiannya.

وَأَمَّا مَالِكٌ فَاسْتَدَلَّ بِأَنَّهُنَّ لَمَّا قُمْنَ فِي انْفِرَادِهِنَّ بِالْقَبُولِ مَقَامَ الرِّجَالِ، وَجَبَ أَنْ يَقُمْنَ فِي الْعَدَدِ مَقَامَ الرِّجَالِ فِي الْقَبُولِ، وَأَكْثَرُ عَدَدِ الرِّجَالِ اثْنَانِ، فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ أَكْثَرُ عَدَدِ النِّسَاءِ اثْنَتَيْنِ وَأَمَّا الْبَتِّيُّ فَاسْتَدَلَّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى ضَمَّ شَهَادَةَ الْمَرْأَتَيْنِ لِلرَّجُلِ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي لَا يَنْفَرِدْنَ فِيهِ فَوَجَبَ أَنْ يُسْتَبْدَلَ الرَّجُلُ بِامْرَأَةٍ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يَنْفَرِدْنَ فِيهِ فَيَصِيرُونَ ثَلَاثًا.

Adapun Malik, ia berdalil bahwa ketika para perempuan berdiri sendiri dalam penerimaan (persaksian), mereka menempati posisi laki-laki, maka wajib pula mereka menempati posisi laki-laki dalam jumlah pada penerimaan itu. Jumlah laki-laki terbanyak adalah dua, maka hal itu menuntut agar jumlah perempuan terbanyak adalah dua. Adapun al-Battiy, ia berdalil bahwa Allah Ta‘ala telah menggabungkan kesaksian dua perempuan dengan satu laki-laki pada perkara yang mereka tidak berdiri sendiri di dalamnya, maka wajib mengganti satu laki-laki dengan satu perempuan pada perkara yang mereka berdiri sendiri di dalamnya, sehingga jumlahnya menjadi tiga.

وَدَلِيلُنَا عَلَى جَمِيعِهِمْ أَنَّ شَهَادَةَ النِّسَاءِ أَنْقَصُ مِنْ شَهَادَةِ الرِّجَالِ مِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَجَازَ شَهَادَةَ امْرَأَتَيْنِ مَقَامَ شَهَادَةِ رَجُلٍ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] . وَالثَّانِي: إِنَّهُنَّ لَا يُقْبَلْنَ فِي مَوَاضِعَ يُقْبَلُ فِيهَا شَهَادَةُ الرِّجَالِ، وَيُقْبَلُ الرِّجَالُ فِي الْمَوَاضِعِ الَّذِي يُقْبَلُ فِيهَا شَهَادَةُ النِّسَاءِ، فَلَمَّا لَمْ يُقْبَلْ شَهَادَةُ الْوَاحِدِ مِنَ الرِّجَالِ مَعَ قُوَّتِهِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا تُقْبَلَ شَهَادَةُ الْوَاحِدَةِ مِنَ النِّسَاءِ مَعَ ضَعْفِهَا.

Dalil kami terhadap semuanya adalah bahwa kesaksian perempuan lebih rendah daripada kesaksian laki-laki dari dua sisi: Pertama, Allah Ta‘ala membolehkan kesaksian dua perempuan menggantikan kesaksian satu laki-laki, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan.” (al-Baqarah: 282). Kedua, perempuan tidak diterima kesaksiannya dalam perkara-perkara yang diterima kesaksian laki-laki, sedangkan laki-laki diterima kesaksiannya dalam perkara-perkara yang diterima kesaksian perempuan. Maka, ketika kesaksian satu laki-laki saja tidak diterima padahal lebih kuat, maka lebih utama lagi kesaksian satu perempuan tidak diterima karena lebih lemah.

وَلِأَنَّهَا شَهَادَةٌ يَنْفَرِدُ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ بِالْتِزَامِهَا، فَوَجَبَ أَنْ يَفْتَقِرَ إِلَى الْعَدَدِ كَسَائِرِ الْحُقُوقِ، وَقَدْ حَكَى الْمُزَنِيُّ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ: ” وَالشَّهَادَةُ مَا كَانَ الشَّاهِدُ مِنْهُ خَلِيًّا “. وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ:

Karena ia merupakan kesaksian yang hanya dibebankan kepada pihak yang disaksikan, maka wajib disyaratkan adanya jumlah (saksi) sebagaimana hak-hak lainnya. Al-Muzani meriwayatkan pendapat asy-Syafi‘i: “Kesaksian adalah sesuatu yang darinya saksi bebas (tidak terlibat).” Dalam hal ini terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ خَلِيًّا مِنْ نَفْعٍ يَعُودُ عَلَيْهِ بِالشَّهَادَةِ، لِيُوضِّحَ بِهِ الْفَرْقَ بَيْنَ الشَّهَادَةِ وَالْأَخْبَارِ الَّتِي تُقْبَلُ وَإِنْ عَادَتْ بِنَفْعٍ عَلَى الْمُخْبِرِ.

Salah satunya adalah bahwa saksi harus bebas dari manfaat yang kembali kepadanya karena kesaksiannya, untuk menjelaskan perbedaan antara kesaksian dan berita yang diterima meskipun memberikan manfaat kepada pemberi berita.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ خَلِيًّا أَنْ يَتَعَلَّقَ عَلَيْهِ بِالشَّهَادَةِ حُكْمٌ، فَإِنَّ الْوَارِثَيْنِ إِذَا شَهِدَا بِدَيْنٍ عَلَى الْمَيِّتِ كَانَ مَا عَلَيْهِمَا مِنْهُ وَاجِبًا بِإِقْرَارِهِمَا، وَمَا عَلَى غَيْرِهِمَا مِنْهُ وَاجِبًا بِشَهَادَتِهِمَا، وَيَدُلُّ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ خَاصَّةً أَنَّهَا شَهَادَةٌ عَلَى وِلَادَةٍ، فَلَمْ يَقْبَلْ فِيهَا شَهَادَةً وَاحِدَةً كَالشَّهَادَةِ عَلَى وِلَادَةِ الْمُطَلَّقَةِ.

Kedua: Syaratnya harus bebas dari adanya keterkaitan hukum atasnya karena kesaksian tersebut. Sebab, jika dua orang ahli waris bersaksi tentang adanya utang atas si mayit, maka bagian utang yang menjadi tanggungan mereka berdua menjadi wajib atas pengakuan mereka sendiri, sedangkan bagian utang yang menjadi tanggungan selain mereka berdua menjadi wajib berdasarkan kesaksian mereka. Dan menurut pendapat Abu Hanifah secara khusus, ini adalah kesaksian atas kelahiran, sehingga tidak diterima di dalamnya satu kesaksian saja, sebagaimana kesaksian atas kelahiran wanita yang ditalak.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْحَدِيثِ فِي شَهَادَةِ الْقَابِلَةِ مَعَ ضَعْفِهِ وَأَنَّ الْمَدَائِنِيَّ تَفَرَّدَ بِرِوَايَتِهِ، وَهُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ، فَلَا دَلِيلَ فِيهِ، لِأَنَّهُ قَبِلَهَا وَلَمْ يَنْفَرِدْ بِقَبُولِهَا وَحْدَهَا، وَتَكُونُ فَائِدَةُ الْحَدِيثِ أَنَّهَا وَإِنْ بَاشَرَتْ أَحْوَالَ الْوِلَادَةِ، فَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهَا، وَكَذَلِكَ الْمَرْوِيُّ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Adapun jawaban mengenai hadis tentang kesaksian bidan, dengan kelemahannya dan bahwa al-Madā’inī sendirilah yang meriwayatkannya, sedangkan ia dianggap lemah menurut para ahli hadis, maka tidak ada dalil di dalamnya. Karena hadis itu menerima kesaksian bidan, namun tidak hanya menerima kesaksiannya saja secara tunggal. Maka manfaat dari hadis tersebut adalah bahwa meskipun bidan tersebut menyaksikan keadaan-keadaan kelahiran, hal itu tidak menghalangi diterimanya kesaksiannya. Demikian pula riwayat yang berasal dari ‘Ali ‘alaihis salam.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ فِيهَا مَعْنَى الْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa di dalamnya terdapat makna khabar adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا لَوْ جَرَتْ مَجْرَى الْخَبَرِ لَقُبِلَ فِيهَا شَهَادَةُ الْعَبْدِ وَالْأَمَةِ، كَمَا يُقْبَلُ غَيْرُهُمَا وَلَقُبِلَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ عَنِ الْمَرْأَةِ كَمَا يُقْبَلُ خَبَرُ الْمَرْأَةِ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” يُقْبَلُ خَبَرُ الْمُعَنْعِنِ وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُعَنْعِنِ “، يَعْنِي فُلَانًا عَنْ فُلَانٍ عَنْ فُلَانٍ.

Salah satunya: Jika ia diperlakukan seperti khabar, maka akan diterima di dalamnya kesaksian budak laki-laki dan budak perempuan, sebagaimana diterima selain mereka, dan akan diterima pula kesaksian perempuan atas perempuan sebagaimana diterima khabar perempuan atas perempuan. Dan Imam Syafi‘i telah berkata: “Diterima khabar mu‘an‘an, tetapi tidak diterima kesaksian mu‘an‘an,” yaitu fulan dari fulan dari fulan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْخَبَرَ يَتَسَاوَى فِيهِ الْمُخْبِرُ وَالْمَخْبَرُ فِي الِالْتِزَامِ وَالِانْتِفَاعِ، وَلَا يَتَسَاوَى الشَّاهِدُ وَمَنْ شَهِدَ لَهُ وَعَلَيْهِ.

Kedua: Sesungguhnya dalam khabar, pihak yang memberitakan dan pihak yang diberi berita itu setara dalam hal komitmen dan manfaat, sedangkan dalam kesaksian, saksi dan orang yang disaksikan untuknya atau atasnya tidaklah setara.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِاحْتِشَامِ مَنْ عَدَا الْقَابِلَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْعُرْفَ جَارٍ بِاجْتِمَاعِ النِّسَاءِ عِنْدَ الْوِلَادَةِ لِلتَّعَاوُنِ وَفَضْلِ الْمُرَاعَاةِ. وَالثَّانِي: إِنَّ هَذَا الْمَعْنَى يَقْتَضِي أَنْ لَا تُقْبَلَ شَهَادَةُ غَيْرِ الْقَابِلَةِ وَهُوَ أَنْ يكون لِلْحَسَنِ دَلِيلٌ وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الِاسْتِدْلَالِ بِالرَّدِّ وَالْإِجَازَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban atas argumentasi mereka dengan alasan kehati-hatian selain dari bidan, maka ada dua sisi: Pertama, bahwa kebiasaan yang berlaku adalah berkumpulnya para wanita saat persalinan untuk saling membantu dan memberikan perhatian lebih. Kedua, makna ini menuntut agar kesaksian selain bidan tidak diterima, dan ini merupakan dalil bagi Hasan. Adapun jawaban atas argumentasi dengan penolakan dan pembolehan, maka juga ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ اعْتِبَارٌ بِالضِّدِّ، لِأَنَّهُ اعْتَبَرَ الْإِجَازَةَ بِالرَّدِّ، وَالرَّدُّ ضِدُّ الْإِجَازَةِ وَالشَّيْءُ إِنَّمَا يُعْتَبَرُ بِنَظِيرِهِ وَلَا يُعْتَبَرُ بِضِدِّهِ.

Salah satunya adalah bahwa itu merupakan qiyās dengan lawan, karena ia membandingkan ijāzah dengan penolakan, padahal penolakan adalah lawan dari ijāzah, dan sesuatu itu seharusnya dibandingkan dengan yang serupa dengannya, bukan dengan lawannya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَوْ جَازَ هَذَا الِاعْتِبَارُ لَجَازَ أَنْ يُقَالَ: لَمَّا رَدَّ بِالْفِسْقِ شَهَادَةَ الْوَاحِدِ. وَالْعَدَدِ وَجَبَ أَنْ يَقْبَلَ بِالْعَدَالَةِ شَهَادَةَ الْوَاحِدِ وَالْعَدَدِ، وَهَذَا غَيْرُ جَائِزٍ، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَا ذَكَرُوهُ أَيْضًا غَيْرَ جَائِزٍ.

Kedua: Sesungguhnya, jika pertimbangan seperti ini dibolehkan, niscaya boleh juga dikatakan: ketika kesaksian satu orang dan sejumlah orang ditolak karena kefasikan, maka seharusnya kesaksian satu orang dan sejumlah orang diterima karena keadilan. Padahal, hal ini tidak dibolehkan, maka apa yang mereka sebutkan juga seharusnya tidak dibolehkan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ شَهِدَ الرِّجَالُ فِيمَا يَنْفَرِدُ فِيهِ النِّسَاءُ قُبِلُوا، وَلَمْ يَحْكُمْ بِأَقَلَّ مِنْ شَاهِدَيْنِ لِأَنَّ شَهَادَةَ الرِّجَالِ أَقْوَى، فَكَانَتْ بِالْقَبُولِ أَوْلَى، وَإِنْ شَهِدْنَ مَعَ الرِّجَالِ جَازَ، وَقُبِلَ فِيهِ رَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ وبالله التوفيق … .

Jika para laki-laki memberikan kesaksian dalam perkara yang biasanya hanya diketahui oleh perempuan, maka kesaksian mereka diterima, dan tidak boleh memutuskan perkara dengan kurang dari dua orang saksi laki-laki, karena kesaksian laki-laki lebih kuat, sehingga lebih layak untuk diterima. Jika perempuan bersaksi bersama laki-laki, maka hal itu diperbolehkan, dan dalam hal ini diterima kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan. Dan hanya kepada Allah-lah taufik diberikan.

(باب شهادة القاذف)

(Bab tentang kesaksian orang yang menuduh zina)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” أَمَرَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُضْرَبَ الْقَاذِفُ ثَمَانِينَ وَلَا تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ أَبَدًا وَسَمَّاهُ فَاسِقًا إِلَّا أَنْ يَتُوبَ فَإِذَا تَابَ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ وَلَا خِلَافَ بَيْنَنَا فِي الْجُرْمَيْنِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا فِي أَنَّهُ إِذَا تَابَ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan agar pelaku qadzaf (penuduh zina tanpa bukti) dihukum dera sebanyak delapan puluh kali cambukan, dan kesaksiannya tidak diterima selamanya, serta menyebutnya sebagai fasiq, kecuali jika ia bertaubat. Jika ia telah bertaubat, maka kesaksiannya diterima. Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami, baik dahulu maupun sekarang, bahwa jika ia bertaubat, maka kesaksiannya diterima.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ لِلْقَاذِفِ بِالزِّنَا حَالَتَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa bagi orang yang menuduh zina terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: إِنْ تَحَقَّقَ قَذْفُهُ فِي الْأَجْنَبِيِّ وَالْأَجْنَبِيَّةِ يَكُونُ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا بِإِقْرَارِ الْمَقْذُوفِ بِالزِّنَا وَإِمَّا بِقِيَامِ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ بِفِعْلِ الزِّنَا، وَتَحَقُّقُهُ فِي الزَّوْجَةِ يَكُونُ مَعَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ بِثَالِثٍ وَهُوَ اللِّعَانُ، فَإِذَا حَقَّقَ قَذْفَهُ بِمَا ذَكَرْنَا كَانَ عَلَى حَالِهِ قَبْلَ الْقَذْفِ فِي عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَأَنْ لَا حَدَّ عَلَيْهِ لِقَذْفِهِ.

Pertama: Jika tuduhan zina terhadap laki-laki atau perempuan asing terbukti, maka hal itu terjadi dengan salah satu dari dua hal: yaitu dengan pengakuan orang yang dituduh melakukan zina, atau dengan adanya bayyinah atas perbuatan zina tersebut. Adapun pembuktiannya pada istri, selain dengan dua hal tersebut, juga dengan yang ketiga, yaitu li‘ān. Jika tuduhan zina telah terbukti dengan cara-cara yang telah disebutkan, maka keadaan orang yang menuduh tetap seperti sebelum menuduh, baik dalam keadilannya maupun diterimanya kesaksiannya, dan tidak dikenakan had atasnya karena tuduhan tersebut.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ لا يحقق قَذْفَهُ بِبَيِّنَةٍ وَلَا تَصْدِيقٍ وَلَا لِعَانٍ، فَيَتَعَلَّقُ بِقَذْفِهِ ثَلَاثُ أَحْكَامٍ: أَحَدُهَا: وُجُوبُ الْحَدِّ ثَمَانِينَ جَلْدَةً. وَالثَّانِي: فِسْقُهُ الْمُسْقِطُ لِعَدَالَتِهِ.

Keadaan kedua: yaitu apabila tuduhan zinanya tidak dapat dibuktikan dengan bayyinah, tidak pula dengan pengakuan, dan tidak juga dengan li‘ān, maka terhadap tuduhan zinanya tersebut berlaku tiga hukum: Pertama, wajib dikenakan had sebanyak delapan puluh cambukan. Kedua, ia menjadi fasiq yang menyebabkan gugurnya keadilannya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا يُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ أَبَدًا مَا لَمْ يَتُبْ، وَهَذِهِ الْأَحْكَامُ الثَّلَاثَةُ مَأْخُوذَةٌ نَصًّا مِنْ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [النور: 4] وَيَكُونُ الْقَذْفُ هُوَ الْمُوجِبُ لِهَذِهِ الْأَحْكَامِ الثَّلَاثَةِ مِنَ الْجَلْدِ، وَالْفِسْقِ، وَرَدِّ الشَّهَادَةِ.

Ketiga: Tidak diterima kesaksiannya selamanya selama ia belum bertobat. Ketiga hukum ini diambil secara tekstual dari firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali cambukan dan janganlah kalian terima kesaksian mereka selamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 4). Maka perbuatan qadzaf (menuduh zina) itulah yang menyebabkan tiga hukum ini, yaitu hukuman cambuk, status fasiq, dan penolakan kesaksian.

قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنَّ الْقَذْفَ مُوجِبٌ لِلْجَلْدِ وَحْدَهُ، فَأَمَّا الْفِسْقُ وَرَدُّ الشَّهَادَةِ فَيَتَعَلَّقُ بِالْجَلْدِ دُونَ الْقَذْفِ، فَيَكُونُ عَلَى عَدَالَتِهِ، وَيَجُوزُ أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَتُهُ مَا لَمْ يُجْلَدْ، فَإِذَا جُلِدَ فُسِّقَ وَلَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ أَبَدًا اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهُ قَبْلَ الْجَلْدِ مُتَعَرِّضٌ لِتَحْقِيقِ الْقَذْفِ وَسُقُوطِ الْجَلْدِ، فَلَمْ يَسْتَقِرَّ حُكْمُ الْقَذْفِ إِلَّا بِالْجَلْدِ.

Abu Hanifah berkata: Sesungguhnya qazaf (menuduh zina tanpa bukti) mewajibkan hukuman cambuk saja. Adapun kefasikan dan penolakan kesaksian, keduanya berkaitan dengan hukuman cambuk, bukan dengan qazaf itu sendiri. Maka, pelaku tetap dianggap adil dan kesaksiannya boleh diterima selama ia belum dicambuk. Namun, jika ia telah dicambuk, maka ia menjadi fasiq dan kesaksiannya tidak diterima selamanya. Hal ini didasarkan pada bahwa sebelum dicambuk, ia masih berpeluang untuk membuktikan tuduhannya atau gugurnya hukuman cambuk, sehingga hukum qazaf tidak tetap kecuali dengan pelaksanaan hukuman cambuk.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فِسْقِهِ، وَرَدِّ شَهَادَتِهِ بِالْقَذْفِ دُونَ الْجَلْدِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا، وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [النور: 4] فَعَلَّقَ عَلَى الْقَذْفِ ثَلَاثَةَ أَحْكَامٍ الْجَلْدِ، وَالْفِسْقِ، وَرَدِّ الشَّهَادَةِ، فَلَمَّا تَعَلَّقَ الْجَلْدُ بِالْقَذْفِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَا ضُمَّ إِلَيْهِ وَقُرِنَ بِهِ مُتَعَلِّقًا بِالْقَذْفِ، وَلِأَنَّ الْجَلْدَ تَطْهِيرٌ وَتَكْفِيرٌ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْحُدُودُ كُفَّارَاتٌ لِأَهْلِهَا ” فَلَمْ يُجِزْ أَنْ يَكُونَ تَكْفِيرُ ذَنْبِهِ مُوجِبًا لِتَغْلِيظِ حُكْمِهِ.

Dalil tentang kefasikan pelaku, serta penolakan kesaksiannya karena qazaf tanpa cambuk, adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 4). Maka Allah menggantungkan pada perbuatan qazaf tiga hukum: cambuk, kefasikan, dan penolakan kesaksian. Ketika hukuman cambuk dikaitkan dengan qazaf, maka wajib pula apa yang disertakan dan digandengkan dengannya juga berkaitan dengan qazaf. Selain itu, cambuk adalah bentuk pensucian dan penebusan dosa, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Hudud adalah penebus dosa bagi pelakunya.” Maka tidak dibenarkan penebusan dosanya justru menjadi sebab pemberatan hukumnya.

وَلِأَنَّ فِسْقَهُ وَرَدَّ شَهَادَتِهِ إِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِفِعْلِهِ لَا بِفِعْلِ غَيْرِهِ، وَالْقَذْفُ مِنْ فِعْلِهِ، وَالْجَلْدُ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ. وَلِأَنَّهُ لَمَّا فُسِّقَ بِالسَّرِقَةِ دُونَ الْقَطْعِ وَبِالزِّنَا دُونَ الْحَدِّ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْقَذْفُ بِمَثَابَتِهِمَا، لِأَنَّ الْحُدُودَ مَوْضُوعَةٌ لِاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَبِهِ يَقَعُ الِانْفِصَالُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ.

Karena kefasikan dan penolakan kesaksiannya itu berkaitan dengan perbuatannya sendiri, bukan perbuatan orang lain; sedangkan qadzaf adalah perbuatannya sendiri, sementara hukuman cambuk adalah perbuatan orang lain. Dan karena seseorang dinyatakan fasiq karena mencuri tanpa harus dipotong tangannya, dan karena berzina tanpa harus dikenai had, maka qadzaf harus diperlakukan sama dengan keduanya. Sebab, hudud ditetapkan untuk menunaikan hak-hak, dan dengan pelaksanaan hudud itulah terjadi pemisahan dari dalil yang diajukannya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا اسْتَقَرَّ بِقَذْفِهِ وُجُوبُ الْأَحْكَامِ الثَّلَاثَةِ، فَإِنَّ مَنْ قَذَفَ لَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ الْجَلْدُ بِاتِّفَاقٍ، وَزَالَ فِسْقُهُ بِاتِّفَاقٍ وَاخْتُلِفَ فِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ بَعْدَ التَّوْبَةِ، فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ فِي ذَلِكَ وَفُقَهَاءُ الْحَرَمَيْنِ إِلَى قَبُولِ شَهَادَتِهِ قَبْلَ الْجَلْدِ وَبَعْدِهِ، وَهُوَ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِهِ قَالَ الزُّهْرِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَالشَّعْبِيُّ، وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ.

Maka apabila telah tetap dengan tuduhan zina itu kewajiban tiga hukum, maka siapa yang menuduh zina, hukuman cambuk tidak gugur darinya dengan taubat menurut kesepakatan, dan kefasikannya hilang dengan kesepakatan, serta terjadi perbedaan pendapat mengenai diterimanya kesaksiannya setelah bertaubat. Syafi‘i dan para fuqaha dari dua Tanah Suci berpendapat bahwa kesaksiannya diterima baik sebelum maupun sesudah dicambuk, dan ini adalah pendapat ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, serta pendapat Az-Zuhri, Al-Auza‘i, Asy-Sya‘bi, Ahmad, dan Ishaq.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا أَقْبَلُ شَهَادَتَهُ بَعْدَ الْجَلْدِ أَبَدًا وَبِهِ قَالَ شُرَيْحٌ وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَالنَّخَعِيُّ وَالثَّوْرِيُّ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلا تقبلوا لهم شهادة أبدا} ، وَمَا أَبَّدَ اللَّهُ حُكْمَهُ لَمْ يَزُلْ.

Abu Hanifah berkata: Aku tidak menerima kesaksiannya setelah ia dijilid selamanya. Pendapat ini juga dikatakan oleh Syuraih, Hasan al-Bashri, an-Nakha‘i, dan ats-Tsauri, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya,” dan apa yang Allah tetapkan hukumnya untuk selamanya, maka tidak akan hilang.

وَبِرِوَايَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا مَحْدُودٍ فِي قَذْفٍ “.

Dan dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak diterima kesaksian seorang pengkhianat laki-laki maupun perempuan, dan tidak pula orang yang telah dijatuhi had karena menuduh zina (qadzaf).”

قَالُوا: وَهَذَا نَصٌّ لَا يَرْتَفِعُ بِالتَّوْبَةِ، وَلِأَنَّ مَا تَعَلَّقَ بِالْقَذْفِ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ لَمْ يَسْقُطْ بِالتَّوْبَةِ كَالْجَلْدِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ. وَالدَّلِيلُ عَلَى قَبُولِ شَهَادَتِهِ بَعْدَ التَّوْبَةِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا} [النور: 4] {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 5] وَالِاسْتِدْلَالُ بِهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Mereka berkata: Ini adalah nash yang tidak gugur dengan taubat, karena hak-hak manusia yang berkaitan dengan qazaf tidak hilang dengan taubat, seperti hukuman cambuk dan kesaksian yang termasuk hak-hak manusia. Dalil diterimanya kesaksian pelaku qazaf setelah bertaubat adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka selama-lamanya” (an-Nur: 4), “kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (an-Nur: 5). Pengambilan dalil dari ayat ini dilakukan dari tiga sisi:

أَحَدُهَا: أَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ [بِالتَّوْبَةِ] يَرْفَعُ حُكْمَ مَا تَقَدَّمَ، وَالِاسْتِثْنَاءُ إِذَا انْعَطَفَ عَلَى جُمْلَةٍ عَادَ إِلَى جَمِيعِهَا، وَلَمْ يَخْتَصَّ بِبَعْضِهَا، كَقَوْلِهِ زَيْنَبُ طَالِقٌ وَسَالِمٌ حُرٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يَعُودُ الِاسْتِثْنَاءُ إِلَيْهِمَا، وَلَا يَخْتَصُّ بِأَقْرَبِهِمَا، فَلَا تُطَلَّقُ زَيْنَبَ كَمَا لَمْ يُعْتَقْ سَالِمٌ.

Salah satunya: bahwa istisna’ (pengecualian) dengan taubat menghapus hukum yang telah disebutkan sebelumnya, dan istisna’ apabila kembali kepada suatu kalimat, maka ia berlaku untuk seluruh bagian kalimat tersebut, tidak khusus pada sebagian saja. Seperti ucapan: “Zainab tertalak dan Salim merdeka jika Allah menghendaki,” maka istisna’ itu kembali kepada keduanya, tidak khusus pada yang paling dekat saja. Maka Zainab tidak tertalak sebagaimana Salim juga tidak dimerdekakan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْجَلْدَ وَرَدَّ الشَّهَادَةِ حُكْمَانِ وَالْفِسْقُ عِلَّةٌ وَالِاسْتِثْنَاءُ رَاجِعٌ إِلَى الْحُكْمِ دُونَ الْعِلَّةِ.

Kedua: Sesungguhnya hukuman cambuk dan penolakan kesaksian adalah dua ketetapan hukum, sedangkan kefasikan adalah ‘illat (alasan hukum), dan pengecualian itu kembali kepada hukum, bukan kepada ‘illat.

كَمَّا لَوْ قَالَ: إِنْ دَخَلَ زَيْدٌ الدَّارَ وَجَلَسَ، فَأُعْطِهِ دِرْهَمًا، لِأَنَّهُ صَدِيقٌ، فَدَخَلَ وَلَمْ يَجْلِسْ فَلَمْ يَسْتَحِقَّ الدِّرْهَمَ، وَكَانَ عَلَى الصَّدَاقَةِ، لِأَنَّ الدِّرْهَمَ جَزَاءٌ، وَالصَّدَاقَةُ عِلَّةٌ.

Seperti halnya jika seseorang berkata: “Jika Zaid masuk ke rumah dan duduk, maka berikanlah kepadanya satu dirham, karena ia adalah seorang teman.” Lalu Zaid masuk tetapi tidak duduk, maka ia tidak berhak mendapatkan dirham tersebut, dan (hubungan) pertemanan tetap ada, karena dirham adalah sebagai balasan, sedangkan pertemanan adalah sebab (alasan).

وَالثَّالِثُ: إِنَّ الْفِسْقَ إِخْبَارٌ عَنْ مَاضٍ، وَرَدُّ الشَّهَادَةِ حُكْمٌ مُسْتَقْبَلٌ وَالِاسْتِثْنَاءُ يَرْجِعُ إِلَى مُسْتَقْبَلِ الْأَحْكَامِ، وَلَا يَرْجِعُ إِلَى مَاضِي الْأَخْبَارِ. وَاعْتَرَضُوا عَلَى الِاسْتِدْلَالِ بِهَذِهِ الْآيَةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Ketiga: Sesungguhnya kefasikan adalah pemberitaan tentang masa lalu, sedangkan penolakan kesaksian adalah hukum untuk masa yang akan datang, dan pengecualian itu kembali kepada hukum-hukum yang akan datang, tidak kembali kepada pemberitaan masa lalu. Mereka mengkritik pendalilan dengan ayat ini dari tiga sisi:

أَحَدُهَا: إِنَّهُ لَمَّا لَمْ يَعُدِ الِاسْتِثْنَاءُ بِالتَّوْبَةِ إِلَى الْجَلْدِ مُنِعَ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الْعُمُومِ، وَدَلَّ عَلَى اخْتِصَاصِهِ بِأَقْرَبِ مَذْكُورٍ، وَهُوَ الْفِسْقُ دُونَ رَدِّ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمْ أَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ يَخْتَصُّ بِأَقْرَبِ مَذْكُورٍ عنه جَوَابَانِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَمْ يُعْدَلْ إِلَى الْجَلْدِ لِدَلِيلٍ خَصَّهُ وَهُوَ أَنَّهُ حَقٌّ آدَمِيٌّ، فَبَقِيَ مَا عَدَاهُ عَلَى حُكْمِ أَصْلِهِ. وَالثَّانِي: إِنَّ الْفِسْقَ عِلَّةٌ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ، وَارْتِفَاعُ الْعِلَّةِ مُوجِبٌ لِرَفْعِ حُكْمِهَا، وَلَيْسَ الْفِسْقُ عِلَّةً فِي وُجُوبِ الْحَدِّ. فَلِذَلِكَ ارْتَفَعَ رَدُّ الشَّهَادَةِ، وَلَمْ يَرْتَفِعْ وُجُوبُ الْحَدِّ.

Salah satunya: Ketika pengecualian dengan tobat tidak kembali kepada hukuman cambuk, maka tidak boleh membawanya kepada makna umum, dan hal itu menunjukkan kekhususannya pada hal yang paling dekat disebutkan, yaitu kefasikan tanpa penolakan kesaksian. Meskipun menurut mazhab mereka, pengecualian itu dikhususkan pada hal yang paling dekat disebutkan, ada dua jawaban: Pertama, pengecualian tidak diarahkan kepada hukuman cambuk karena ada dalil yang mengkhususkannya, yaitu bahwa hukuman cambuk adalah hak manusia, sehingga selainnya tetap pada hukum asalnya. Kedua, kefasikan adalah ‘illat (alasan hukum) dalam penolakan kesaksian, dan hilangnya ‘illat menyebabkan hilangnya hukumnya, sedangkan kefasikan bukanlah ‘illat dalam kewajiban hudud. Oleh karena itu, penolakan kesaksian menjadi gugur, namun kewajiban hudud tidak gugur.

وَالِاعْتِرَاضُ الثَّانِي: أَنْ قَالُوا: فقوله {إلا الذين تابوا} عَائِدٌ إِلَى مَا بَعْدَهُ مِنَ الْكَلَامِ لَا إِلَى مَا قَبْلَهُ، لِأَنَّهُ قَالَ: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 5] أَيْ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لَهُمْ، وَيَرْحَمُهُمْ فَتَعُودُ التَّوْبَةُ إِلَى الْغُفْرَانِ وَالرَّحْمَةِ، وَلَا تَعُودُ إِلَى الْفِسْقِ وَرَدِّ الشَّهَادَةِ لِئَلَّا يَصِيرَ مَا بَعْدَهُ مِنَ الْكَلَامِ مُنْقَطِعًا وَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Keberatan kedua: Mereka berkata, firman Allah {kecuali orang-orang yang bertobat} kembali kepada apa yang disebutkan setelahnya, bukan kepada apa yang sebelumnya. Karena Allah berfirman: {kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang} (an-Nur: 5), yaitu kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri, maka Allah akan mengampuni mereka dan merahmati mereka. Maka, tobat itu kembali kepada ampunan dan rahmat, dan tidak kembali kepada kefasikan dan penolakan kesaksian, agar kalimat setelahnya tidak menjadi terputus. Terhadap hal ini terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ قوله: {فإن الله غفور رحيم} صِفَةٌ لِذَاتِهِ لَا تَتَعَلَّقُ بِاسْتِثْنَاءٍ وَلَا شَرْطٍ.

Salah satunya: Sesungguhnya firman-Nya: {Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} adalah sifat bagi Dzat-Nya yang tidak terkait dengan pengecualian maupun syarat apa pun.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَمَّا كَانَ قَوْلُهُ فِي آيَةِ الْحِرَابَةِ: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [المائدة: 34] اسْتِثْنَاءٌ يَعُودُ إِلَى مَا قَبْلَهُ، وَإِنْ كَانَ مَا بَعْدَهُ مُنْقَطِعًا، لِأَنَّهُ صِفَةٌ، كَذَلِكَ صِفَةُ هَذَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ.

Kedua: Sesungguhnya, ketika firman-Nya dalam ayat tentang hirabah: “kecuali orang-orang yang bertobat sebelum kamu dapat menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (al-Mā’idah: 34) merupakan pengecualian yang kembali kepada apa yang sebelumnya, meskipun apa yang datang setelahnya terputus, karena ia merupakan sifat, demikian pula sifat dalam ayat ini.

وَالِاعْتِرَاضُ الثَّالِثُ: أَنْ قَالُوا: رَدُّ الشَّهَادَةِ حُكْمٌ، وَالْفِسْقُ تَسْمِيَةٌ وَالْخِطَابُ إِذَا اشْتَمَلَ عَلَى حُكْمٍ وَتَسْمِيَةٍ وَتَعَقَّبَهَا اسْتِثْنَاءٌ يَعُودُ إِلَى التَّسْمِيَةِ دُونَ الْحُكْمِ، كَقَوْلِهِ: أَعْطِ زَيْدًا وَعَمْرًا الْفَاسِقَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ يَعْنِي فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ فَاسِقًا، وَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Keberatan ketiga: Mereka berkata, “Penolakan kesaksian adalah hukum, sedangkan kefasikan adalah penamaan. Jika suatu khithab (pernyataan hukum) mencakup hukum dan penamaan, lalu setelahnya ada pengecualian, maka pengecualian itu kembali kepada penamaan, bukan kepada hukum. Seperti ucapannya: ‘Berikanlah kepada Zaid dan Amr yang fāsiq, kecuali jika ia bertobat,’ maksudnya ialah bahwa ia tidak lagi disebut fāsiq.” Terhadap hal ini ada dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْفِسْقَ وَرَدَّ الشَّهَادَةِ حُكْمَانِ، فَلَمْ يَسْلَمْ لَهُمْ مَا ادَّعَوْا.

Salah satunya: Sesungguhnya fasiq dan penolakan kesaksian adalah dua hukum, sehingga tidak benar apa yang mereka klaim.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَوْ جَازَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا، لَكَانَ عَوْدُ الِاسْتِثْنَاءِ بِالتَّوْبَةِ إِلَى الْحُكْمِ أَوْلَى مِنْ عُودِهِ إِلَى الِاسْمِ، لِأَنَّ التَّوْبَةَ تُغَيِّرُ الْأَحْكَامَ وَلَا تُغَيِّرُ الْأَسْمَاءَ، ثُمَّ تَدُلُّ عَلَى الْمَسْأَلَةِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ} [الشورى: 42] فَأَخْبَرَ أَنَّ التَّوْبَةَ تُوجِبُ الْقَبُولَ، وَالْعَفْوَ، وَهُمْ حَمَلُوهَا عَلَى الْقَبُولِ دُونَ الْعَفْوِ، وَلِذَلِكَ قَالَ لَهُمُ الشَّعْبِيُّ: يَقْبَلُ اللَّهُ تَوْبَتَهُ وَلَا تَقْبَلُونَ شَهَادَتَهُ؟

Kedua: Jika memang boleh membedakan antara keduanya, maka pengembalian pengecualian dengan taubat kepada hukum lebih utama daripada pengembaliannya kepada nama, karena taubat mengubah hukum-hukum dan tidak mengubah nama-nama. Kemudian, hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala: “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan” (QS. asy-Syura: 42). Maka Allah memberitakan bahwa taubat menyebabkan diterimanya (amal) dan diampuninya (dosa), sedangkan mereka memaknainya hanya pada diterimanya (amal) tanpa pengampunan. Oleh karena itu, asy-Sya‘bi berkata kepada mereka: “Allah menerima taubatnya, tetapi kalian tidak menerima kesaksiannya?”

ثُمَّ يَدُلُّ عَلَيْهِ مِنْ جِهَةِ السُّنَّةِ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” التَّوْبَةُ تَجُبُّ مَا قَبْلَهَا ” أَيْ تَقْطَعُهُ، وَتَرْفَعُهُ، فَوَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى الْعُمُومِ دُونَ الْخُصُوصُ.

Kemudian, dalil dari sisi sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tobat menghapus apa yang sebelumnya,” yaitu memutus dan menghilangkannya. Maka wajib memaknainya secara umum, bukan khusus.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ وَهُوَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ لَمَّا جَلَدَ أَبَا بَكْرَةَ فِي شَهَادَتِهِ عَلَى الْمُغِيرَةِ بِالزِّنَا، قَالَ لَهُ: تُبْ أَقْبَلْ شَهَادَتَكَ، فَقَالَ: لَا أَتُوبُ، وَكَانَ هَذَا الْقَوْلُ مِنْهُ بِمَشْهَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ؛ لِأَنَّهَا قِصَّةٌ اجْتَمَعُوا لَهَا فَمَا أَنْكَرَ قَوْلَهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ، فَدَلَّ عَلَى إِجْمَاعِهِمْ.

Dan hal ini didukung oleh ijmā‘ para sahabat, yaitu ketika Umar bin al-Khattab mencambuk Abu Bakrah karena kesaksiannya terhadap al-Mughirah dalam kasus zina, Umar berkata kepadanya: “Bertaubatlah, maka aku akan menerima kesaksianmu.” Namun Abu Bakrah menjawab: “Aku tidak akan bertaubat.” Perkataan ini diucapkan olehnya di hadapan para sahabat, karena peristiwa ini adalah kisah yang mereka hadiri bersama, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari perkataannya, sehingga hal ini menunjukkan adanya ijmā‘ di antara mereka.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ مِنَ الِاعْتِبَارِ: أَنَّ الشَّهَادَةَ إِذَا رُدَّتْ بِفِسْقٍ قُبِلَتْ بِزَوَالِ الْفِسْقِ؛ قِيَاسًا عَلَى جَمِيعِ مَا يُفَسَّقُ بِهِ.

Dan dalil atas hal itu dari pertimbangan (‘itibār) adalah bahwa kesaksian apabila ditolak karena kefasikan, maka akan diterima kembali dengan hilangnya kefasikan tersebut; berdasarkan qiyās terhadap seluruh hal yang menyebabkan seseorang dianggap fāsiq.

وَلِأَنَّ مَنْ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ بِالتَّوْبَةِ قَبْلَ الْحَدِّ قُبِلَتْ بِالتَّوْبَةِ بَعْدَ الْحَدِّ قِيَاسًا عَلَى سَائِرِ الْحُدُودِ.

Dan karena siapa saja yang diterima kesaksiannya dengan taubat sebelum pelaksanaan hudud, maka diterima pula dengan taubat setelah pelaksanaan hudud berdasarkan qiyās terhadap hudud-hudud yang lain.

وَلِأَنَّهُ مَحْدُودٌ فِي قَذْفٍ، فَوَجَبَ أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَتُهُ مِنْ بَعْدِ التَّوْبَةِ قِيَاسًا عَلَى الذِّمِّيِّ إِذَا حُدَّ فِي قَذْفٍ ثُمَّ أَسْلَمَ.

Dan karena ia dikenai had dalam kasus qadzaf, maka wajib diterima kesaksiannya setelah bertobat, berdasarkan qiyās dengan orang dzimmi yang dikenai had dalam kasus qadzaf kemudian masuk Islam.

وَلِأَنَّ فِعْلَ الزِّنَا أَغْلَظُ مِنَ الْقَذْفِ بِالزِّنَا لِتَرَدُّدِ الْقَذْفِ بَيْنَ الصِّدْقِ وَالْكَذِبِ، فَلَمَّا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ بِالتَّوْبَةِ مِنْ أَغْلَظِ الْإِثْمَيْنِ قَبْلَ الْحَدِّ وَبَعْدَهُ كَانَ قَبُولُهُ بِالتَّوْبَةِ مَنْ أَخَفِّهِمَا قَبْلَ الْحَدِّ وَبَعْدَهُ أَوْلَى.

Karena perbuatan zina lebih berat daripada menuduh zina, sebab tuduhan zina masih mungkin antara benar dan dusta. Maka ketika taubat diterima dari pelaku dosa yang lebih berat sebelum dan sesudah ditegakkannya hudud, maka menerima taubat dari pelaku dosa yang lebih ringan sebelum dan sesudah hudud ditegakkan tentu lebih utama.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا عَادَ إِلَى الْعَدَالَةِ فِي قَبُولِ رِوَايَتِهِ وَجَبَ أَنْ يَعُودَ إِلَيْهَا فِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرَةَ عَلَى إِصْرَارِهِ يُسْتَرْوَى فَيَرْوِي وَيُسْتَشْهَدُ [فَلَا] يَشْهَدُ.

Dan karena ketika ia telah kembali kepada keadilan dalam penerimaan riwayatnya, maka wajib pula untuk kembali kepadanya dalam penerimaan kesaksiannya. Abu Bakrah, meskipun tetap pada pendiriannya, tetap diminta meriwayatkan sehingga ia meriwayatkan, dan diminta menjadi saksi namun tidak memberikan kesaksian.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ رَدَّ الشَّهَادَةِ مُؤَبَّدًا، فَهُوَ مَشْرُوطُ الْإِطْلَاقِ بِعَدَمِ التَّسْوِيَةِ ومستثنى التأييد بِالتَّوْبَةِ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan penolakan kesaksian itu bersifat permanen, maka hal itu bersyarat pada ketidakadaan penyetaraan dan dikecualikan dari keabadian tersebut dengan adanya tobat.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَهُوَ اسْتِعْمَالُهُ فِيمَنْ لَمْ يَتُبْ أَصْلًا.

Adapun jawaban terhadap hadis ‘Aisyah ra. adalah bahwa hadis tersebut digunakan untuk orang yang sama sekali tidak bertobat.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الشَّهَادَةَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، فَهُوَ أَنَّهَا مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ} [الطلاق: 2] .

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa kesaksian termasuk hak-hak manusia, maka sesungguhnya kesaksian itu merupakan perkara yang mencakup hak Allah Ta‘ala dan hak manusia, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tegakkanlah kesaksian karena Allah” (QS. ath-Thalaq: 2).

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَالتَّوْبَةُ إِكْذَابُهُ نَفْسَهُ لِأَنَّهُ أَذْنَبَ بِأَنْ نَطَقَ بِالْقَذْفِ وَالتَّوْبَةُ مِنْهُ أَنْ يَقُولَ: الْقَذْفُ بَاطِلٌ كَمَا تَكُونَ الرِّدَّةُ بِالْقَوْلِ، وَالتَّوْبَةُ عَنْهَا بِالْقَوْلِ. فَإِنْ كَانَ عَدْلًا قُبِلَتْ شهادته وإلا فحتى يحسن حاله (قال الشافعي) أخبرنا سفيان بن عيينة قال سمعت الزهري يقول زعم أهل العراق أن شهادة القاذف لا تجوز فأشهد لأخبرني ثم سمى الذي أخبره أن عمر قال لأبي بكرة تب تقبل شهادتك أو قال إن تبت قبلت شهادتك (قال) وبلغني عن ابن عباس مثل معنى هذا وقال ابن أبي نجيح كلنا نقوله قلت من قال؟ عطاء وطاوس ومجاهد وقال الشَّعْبِيُّ يَقْبَلُ اللَّهُ تَوْبَتَهُ وَلَا تَقْبَلُونَ شَهَادَتَهُ؟ (قال الشافعي) وهو قبل أن يحد شر منه حين يحد لأن الحدود كفارات لأهلها فكيف تردونها في أحسن حالاته وتقبلونها في شر حالاته؟ وإذا قبلتم توبة الكافر والقاتل عمدا كيف لا تقبلون توبة القاذف وهو أيسر ذنبا؟ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Tobat itu adalah mendustakan dirinya sendiri, karena ia telah berbuat dosa dengan mengucapkan tuduhan zina, dan tobat darinya adalah dengan mengatakan: ‘Tuduhan itu batil,’ sebagaimana riddah (murtad) terjadi dengan ucapan, maka tobat darinya juga dengan ucapan. Jika ia seorang yang adil, maka kesaksiannya diterima, jika tidak, maka sampai keadaannya membaik. (Imam Syafi‘i berkata:) Sufyan bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar az-Zuhri berkata: ‘Penduduk Irak mengklaim bahwa kesaksian orang yang menuduh zina tidak boleh diterima, maka aku bersaksi bahwa aku diberitahu—lalu ia menyebutkan nama orang yang memberitahunya—bahwa Umar berkata kepada Abu Bakrah: ‘Bertaubatlah, maka kesaksianmu akan diterima,’ atau ia berkata: ‘Jika engkau bertaubat, kesaksianmu akan diterima.’ (Imam Syafi‘i berkata:) Dan telah sampai kepadaku dari Ibnu ‘Abbas makna yang serupa dengan ini. Ibnu Abi Najih berkata: ‘Kami semua mengatakan demikian.’ Aku bertanya: ‘Siapa yang mengatakan?’ Ia menjawab: ‘‘Atha’, Thawus, dan Mujahid.’ Asy-Sya‘bi berkata: ‘Allah menerima tobatnya, tetapi kalian tidak menerima kesaksiannya?’ (Imam Syafi‘i berkata:) Padahal sebelum ia dikenai had, keadaannya lebih buruk daripada setelah dikenai had, karena hudud adalah penebus dosa bagi pelakunya. Bagaimana mungkin kalian menolaknya dalam keadaan terbaiknya dan menerimanya dalam keadaan terburuknya? Jika kalian menerima tobat orang kafir dan pembunuh dengan sengaja, bagaimana mungkin kalian tidak menerima tobat orang yang menuduh zina, padahal dosanya lebih ringan?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْقَاذِفَ إِذَا حَقَّقَ قَذْفَهُ بِمَا قَدَّمْنَاهُ كَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يُحَقِّقْهُ تَعَلَّقَ بِهِ مَا ذكرناه مِنَ الْأَحْكَامِ الثَّلَاثَةِ، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ قَذْفِهِ اسْتَقَرَّتِ الْأَحْكَامُ فِيهِ، وَإِنْ تَابَ ارْتَفَعَ مَا سِوَى الْجَلْدِ، فَلَزِمَ أَنْ نَذْكُرَ شُرُوطَ التوبة، وشروطها يختلف بِاخْتِلَافِ الذَّنْبِ، وَلِلذَّنْبِ حَالَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهِ حَقٌّ. وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِهِ حَقٌّ، فَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِالذَّنْبِ حَقٌّ سِوَى الْإِثْمِ كَمَنْ قَبَّلَ أَجْنَبِيَّةً أَوِ اسْتَمْتَعَ بِمَا دَوَنَ الْفَرْجِ مِنْهَا فَمَأْثَمُ هَذَا الذَّنْبِ مُخْتَصٌّ بِحَقِّ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَتَجَاوَزُهُ إِلَى مَخْلُوقٍ، فَالتَّوْبَةُ مِنْهُ تَكُونُ بِشَرْطَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa seseorang yang menuduh zina (qadzaf), apabila ia membuktikan tuduhannya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, maka tetaplah keadilannya dan diterima kesaksiannya. Namun jika ia tidak membuktikannya, maka berlaku atasnya tiga hukum yang telah kami sebutkan. Jika ia tidak bertobat dari tuduhan zinanya, maka hukum-hukum tersebut tetap berlaku padanya. Jika ia bertobat, maka gugurlah semua hukuman kecuali hukuman cambuk. Maka wajib bagi kami untuk menyebutkan syarat-syarat tobat. Syarat-syarat tobat berbeda-beda sesuai dengan jenis dosa. Dosa itu ada dua keadaan: Pertama, dosa yang berkaitan dengan hak orang lain; kedua, dosa yang tidak berkaitan dengan hak orang lain. Jika dosa itu tidak berkaitan dengan hak siapa pun selain dosa itu sendiri, seperti seseorang yang mencium perempuan asing atau menikmati sesuatu dari dirinya selain kemaluan, maka dosa ini khusus berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala dan tidak melampaui kepada makhluk. Maka tobat dari dosa ini memiliki dua syarat:

أَحَدُهُمَا: النَّدَمُ عَلَى مَا فَعَلَ، وَالْعَزْمُ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، فَتَصِحُّ تَوْبَتُهُ بِهِمَا، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا على ما فعلوا وهم يعلمون أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ} [آل عمران: 135، 136] قوله {فاستغفروا لذنوبهم} يُرِيدُ بِهِ النَّدَمَ، لِأَنَّ ظُهُورَهُ يَكُونُ بِالِاسْتِغْفَارِ، وَقَوْلُهُ: {وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يعلمون} هُوَ الْعَزْمُ عَلَى تَرْكِهِ مِنْ بَعْدِ وَقَبْلَ تَوْبَتِهِ بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَرْكُ الْإِصْرَارِ، لِأَنَّهَا تَوْبَةٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، وَهِيَ فِي الْبَاطِنِ النَّدَمُ عَلَيْهِ وَالْعَزْمُ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ، فَإِنْ كَانَ هَذَا الذَّنْبُ بَاطِنًا أَقْنَعَ فِيهِ التَّوْبَةُ الْبَاطِنَةُ، وَإِنْ كَانَ ظَاهِرًا أَقْنَعَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى التَّوْبَةُ الْبَاطِنَةُ، وَلَمْ يُقْنِعْ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْعِبَادِ إِلَّا التَّوْبَةُ الظَّاهِرَةُ، فَإِنْ تَجَاوَزَ مَأْثَمُ هَذَا الذَّنْبِ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى أَنْ أَثِمَ بِهِ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ وَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ غُرِّمَ وَلَا حَدَّ، كَمَنْ تَعَدَّى بِضَرْبِ إِنْسَانٍ فَآلَمَهُ احْتَاجَ مَعَ التَّوْبَةِ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى بِالنَّدَمِ وَالْعَزْمِ إِلَى اسْتِحْلَالِ الْمَضْرُوبِ بِاسْتِطَابَةِ نَفْسِهِ لِيَزُولَ عَنْهُ الْإِثْمُ فِي حَقِّهِ، فَإِنْ أَحَلَّهُ مِنْهُ عَفْوًا وَإِلَّا مَكَّنَهُ مِنْ نَفْسِهِ لِيُقَاتِلَهُ عَلَى مِثْلِ فِعْلِهِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِي الْحُكْمِ قِصَاصٌ وَلَا غُرْمٌ، لِأَنَّنَا نَعْتَبِرُ فِي الْقِصَاصِ المماثلة، وهي هاهنا مُتَعَذِّرَةٌ، وَيُعْتَبَرُ فِي التَّوْبَةِ الِانْقِيَادُ وَالطَّاعَةُ، وَهِيَ هاهنا مَوْجُودَةٌ وَرَوَى إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيِّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَهَى الرِّجَالَ أَنْ يَطُوفُوا مَعَ النِّسَاءِ فَرَأَى رَجُلًا يُصَلِّي مَعَ النِّسَاءِ فَضَرَبَهُ بِالدِّرَّةِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللَّهِ لَئِنْ كُنْتُ أَحْسَنْتُ لَقَدْ ظَلَمْتَنِي، وَإِنْ كُنْتُ أَسَأْتُ فَمَا أَعْلَمْتَنِي، فَقَالَ عُمَرُ: أَمَا شَهِدْتَ عَزْمَتِي؟ قَالَ: مَا شَهِدْتُ لَكَ عَزْمَةً، فَأَلْقَى إِلَيْهِ الدِّرَّةَ، وَقَالَ: اقْتَصَّ قَالَ: لَا أَقْتَصُّ الْيَوْمَ، قَالَ: فَاعْفُ قَالَ: لَا أَعْفُو فَافْتَرَقَا عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ لَقِيَهُ مِنَ الْغَدِ، فَتَغَيَّرَ لَوْنُ عُمَرَ، فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَرَى مَا كَانَ مِنِّي قَدْ أَسْرَعَ فِيكَ، قَالَ: أَجَلْ قَالَ: فَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ عَفَوْتُ عَنْكَ.

Salah satunya adalah: penyesalan atas apa yang telah dilakukan, dan tekad untuk meninggalkan perbuatan serupa di masa depan. Dengan keduanya, taubatnya menjadi sah. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus melakukan perbuatan itu sedang mereka mengetahui. Mereka itulah yang mendapat balasan ampunan dari Rabb mereka.” (Ali Imran: 135-136). Firman-Nya “lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka” maksudnya adalah penyesalan, karena penyesalan itu tampak melalui istighfar. Dan firman-Nya: “dan mereka tidak terus-menerus melakukan perbuatan itu sedang mereka mengetahui” adalah tekad untuk meninggalkannya setelah dan sebelum taubat dengan istighfar serta meninggalkan sikap terus-menerus, karena itu adalah taubat secara lahir dan batin. Secara batin, ia adalah penyesalan atasnya dan tekad untuk meninggalkan perbuatan serupa. Jika dosa itu bersifat batin, maka taubat batin sudah cukup. Jika dosa itu tampak, maka antara dirinya dengan Allah Ta‘ala cukup dengan taubat batin, namun antara dirinya dengan sesama hamba tidak cukup kecuali dengan taubat lahir. Jika dosa tersebut melampaui hak Allah Ta‘ala hingga menimbulkan dosa dalam hak-hak sesama hamba, meskipun tidak ada kewajiban ganti rugi atau hudud, seperti seseorang yang memukul orang lain hingga menyakitinya, maka ia membutuhkan, selain taubat kepada Allah Ta‘ala dengan penyesalan dan tekad, juga meminta kehalalan dari orang yang dipukul dengan kerelaan hatinya agar hilang dosa dalam haknya. Jika orang itu memaafkannya, maka selesai, jika tidak, ia harus memberinya kesempatan untuk membalas seperti perbuatannya, meskipun secara hukum tidak wajib qishash atau ganti rugi, karena dalam qishash dipertimbangkan kesetaraan, yang dalam kasus ini sulit dilakukan. Dalam taubat dipertimbangkan kepatuhan dan ketaatan, yang dalam kasus ini telah ada. Ibrahim an-Nakha‘i meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melarang laki-laki bertawaf bersama perempuan, lalu ia melihat seorang laki-laki shalat bersama perempuan, maka Umar memukulnya dengan cambuk. Laki-laki itu berkata, “Demi Allah, jika aku berbuat baik, engkau telah menzalimiku, dan jika aku berbuat salah, engkau tidak memberitahuku.” Umar berkata, “Bukankah engkau menyaksikan aku telah menegaskan larangan?” Ia menjawab, “Aku tidak menyaksikan adanya penegasan darimu.” Maka Umar melemparkan cambuk kepadanya dan berkata, “Balaslah!” Ia menjawab, “Hari ini aku tidak akan membalas.” Umar berkata, “Kalau begitu, maafkanlah!” Ia menjawab, “Aku tidak memaafkan.” Maka mereka berpisah dalam keadaan demikian. Keesokan harinya, Umar menemuinya, wajah Umar pun berubah. Laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku melihat apa yang terjadi kemarin telah membuatmu gelisah.” Umar menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Maka aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah memaafkanmu.”

فَبَذَلَ لَهُ الْقِصَاصَ مِنَ الضَّرْبِ وَإِنْ لَمْ يُجِبْ لِيَزُولَ عَنْهُ مَأْثَمُ الْخَطَأِ فِي حَقِّهِ، وَإِنْ كَانَ الْخَطَأُ فِي حَقِّ اللَّهِ عَفْوًا، فَإِنْ قَادَ نَفْسَهُ فَلَمْ يَسْتَوْفِ مِنْهُ صَحَّتْ تَوْبَتُهُ، لِأَنَّ عَلَيْهِ الِانْقِيَادَ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ الِاسْتِيفَاءُ.

Maka ia menawarkan kepada korban qishash atas pukulan itu, meskipun korban tidak wajib menerimanya, agar hilang darinya dosa kesalahan terhadap hak korban. Adapun jika kesalahan itu berkaitan dengan hak Allah, maka itu dimaafkan. Jika ia menyerahkan dirinya untuk qishash namun korban tidak menuntut balasan darinya, maka taubatnya sah, karena yang wajib baginya adalah bersikap tunduk, bukan menuntut pelaksanaan qishash.

(فَصْلٌ)

(Bab)

وَإِنْ كَانَ الذَّنْبُ مَعْصِيَةً يَتَعَلَّقُ بِهَا مَعَ الْإِثْمِ حَقٌّ، فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ فِعْلٍ وَقَوْلٍ، فَأَمَّا الْفِعْلُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ: أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ الْحَقُّ الْمُتَعَلِّقُ بِهِ مُخْتَصًّا بِالْآدَمِيِّينَ كَالْغُصُوبِ وَالْقَتْلِ، فَصِحَّةُ تَوْبَتِهِ مِنْهُ مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ: أَحَدُهَا: بِالنَّدَمِ عَلَى فِعْلِهِ. وَالثَّانِي: بِالْعَزْمِ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ. وَالثَّالِثُ: بِرَدِّ الْمَغْصُوبِ أَوْ بَدَلِهِ إِنْ عُدِمَ عَلَى صَاحِبِهِ، وَتَسْلِيمُ نَفْسِهِ إِلَى مُسْتَحِقِّ الْقِصَاصِ ليقتص أو يعفوا، فَإِنْ أَعْسَرَ بِالْمَالِ أُنْظِرَ إِلَى مَيْسَرَتِهِ، وَالتَّوْبَةُ قَدْ صَحَّتْ، وَهَذِهِ التَّوْبَةُ مُعْتَبَرَةٌ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، لِأَنَّ الْغَصْبَ ظَاهِرٌ.

Jika dosa itu merupakan maksiat yang selain mengandung dosa juga berkaitan dengan adanya hak, maka dosa tersebut terbagi menjadi dua jenis: perbuatan dan ucapan. Adapun perbuatan, terbagi menjadi dua: pertama, jika hak yang terkait dengannya khusus bagi sesama manusia, seperti perampasan dan pembunuhan, maka sahnya tobat dari dosa tersebut bergantung pada tiga syarat: pertama, menyesali perbuatannya; kedua, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan serupa; ketiga, mengembalikan barang yang dirampas atau menggantinya jika barang itu sudah tidak ada, kepada pemiliknya, serta menyerahkan diri kepada pihak yang berhak melakukan qishāsh agar ia dapat menuntut balas atau memaafkan. Jika ia tidak mampu mengganti dengan harta, maka ia diberi tenggang waktu hingga mampu, dan tobatnya tetap sah. Tobat seperti ini berlaku baik secara lahir maupun batin, karena perampasan adalah perbuatan yang tampak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا كَانَ الْحَقُّ الْمُتَعَلِّقُ بِهِ مُخْتَصًّا بِاللَّهِ تَعَالَى كَالزِّنَا، وَاللِّوَاطِ، وَشُرْبِ الْخَمْرِ فَلَهُ فِي فِعْلِهِ حَالَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ قَدِ اسْتَتَرَ بِفِعْلِهِ، وَلَمْ يَتَظَاهَرْ بِهِ، فَالْأَوْلَى بِهِ أَنْ يَسْتُرَهُ عَلَى نَفْسِهِ وَلَا يُظْهِرَهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ أَبْدَى لَنَا صَفْحَتَهُ أَقَمْنَا عَلَيْهِ حَدَّ اللَّهِ ” وَكَانَتْ تَوْبَتُهُ مُعْتَبَرَةً بِشَرْطَيْنِ: أَحَدُهُمَا: النَّدَمُ عَلَى فِعْلِهِ. وَالثَّانِي: الْعَزْمُ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ، فَإِنْ أَظْهَرَهُ لَمْ يَأْثَمْ بِإِظْهَارِهِ لِأَنَّ مَاعِزًا وَالْغَامِدِيَّةَ اعْتَرَفَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالزِّنَا فَرَجَمَهُمَا، وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمَا اعْتِرَافَهُمَا.

Golongan kedua: yaitu hak yang berkaitan dengannya khusus bagi Allah Ta‘ala, seperti zina, liwath (homoseksualitas), dan minum khamar. Dalam pelaksanaannya terdapat dua keadaan: Pertama, jika ia menyembunyikan perbuatannya dan tidak menampakkannya, maka yang utama baginya adalah menutupi dirinya sendiri dan tidak menampakkannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa melakukan salah satu dari perbuatan keji ini, hendaklah ia berlindung dengan perlindungan Allah, karena siapa yang menampakkan perbuatannya kepada kami, maka kami akan menegakkan had Allah atasnya.” Taubatnya dianggap sah dengan dua syarat: pertama, menyesali perbuatannya; kedua, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan serupa. Jika ia menampakkannya, maka ia tidak berdosa karena menampakkannya, karena Ma‘iz dan wanita Ghamidiyah mengakui perbuatan zina di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu beliau merajam keduanya, dan beliau tidak mengingkari pengakuan mereka.

وَقَالَ لِهَزَّالِ بْنِ شُرَحْبِيلَ وَقَدْ أَشَارَ عَلَى مَاعِزٍ بِالِاعْتِرَافِ بِالزِّنَا. ” هَلَّا سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ يَا هَزَّالُ “، فَإِنْ أَظْهَرَ ذَلِكَ قَبْلَ التَّوْبَةِ وَجَبَ الْحَدُّ عَلَيْهِ، وَكَانَتْ تَوْبَتُهُ مُعْتَبَرَةً بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ: النَّدَمِ عَلَى فِعْلِهِ، وَالْعَزْمِ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ، وَتَسْلِيمِ نَفْسِهِ لِلْحَدِّ، فَإِنْ سَلَّمَهَا، وَلَمْ يُحَدَّ صَحَّتْ تَوْبَتُهُ، وَكَانَ الْمَأْثَمُ فِي تَرْكِ الْحَدِّ عَلَى مَنْ يَلْزَمُهُ اسْتِيفَاؤُهُ مِنَ الْإِمَامِ أَوْ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ، فَإِنْ أَظْهَرَ ذَلِكَ بَعْدَ تَوْبَتِهِ، فَالتَّوْبَةُ صَحِيحَةٌ يَسْقُطُ بِهَا حُدُودُ الْحِرَابَةِ.

Dan beliau berkata kepada Hazzal bin Syurahbil, yang telah menyarankan Ma’iz untuk mengakui perbuatan zina: “Mengapa engkau tidak menutupinya dengan pakaianmu, wahai Hazzal?” Maka jika seseorang menampakkan perbuatan itu sebelum bertobat, wajib ditegakkan hudud atasnya. Tobatnya dianggap sah dengan tiga syarat: menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan menyerahkan diri untuk ditegakkan hudud. Jika ia telah menyerahkan diri namun tidak ditegakkan hudud atasnya, maka tobatnya tetap sah, dan dosa karena tidak ditegakkannya hudud menjadi tanggungan pihak yang berkewajiban menegakkannya, baik imam maupun wakilnya. Jika ia menampakkan perbuatan itu setelah bertobat, maka tobatnya sah dan dengan itu gugur hudud hirabah.

وَفِي سُقُوطِ مَا عَدَاهَا مِنْ حُدُودِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الزِّنَا وَالْخَمْرِ وَقَطْعِ السَّرِقَةِ قَوْلَانِ:

Adapun mengenai gugurnya selain hukuman tersebut dari hudud Allah Ta‘ala dalam kasus zina, khamar, dan pemotongan tangan pencuri, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تَسْقُطُ كَالْحِرَابَةِ، فَعَلَى هَذَا تَكُونُ صِحَّةُ تَوْبَتِهِ مُعْتَبَرَةً بِشَرْطَيْنِ النَّدَمِ وَالْعَزْمِ.

Salah satunya: gugur seperti pada kasus hirabah, maka dalam hal ini keabsahan taubatnya dianggap sah dengan dua syarat, yaitu penyesalan dan tekad.

وَالثَّانِي: لَا تَسْقُطُ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ صِحَّةُ تَوْبَتِهِ مُعْتَبَرَةً بَعْدَ الشَّرْطَيْنِ بِثَالِثٍ، وَهُوَ تَسْلِيمُ نَفْسِهِ لِلْحَدِّ، وَهَذَا إِذَا تَابَ قَبْلَ ظُهُورِ حَالِهِ، وَيَعُودُ بَعْدَ التَّوْبَةِ إِلَى حَالِهِ قَبْلَ الْمَعْصِيَةِ.

Dan pendapat kedua: hukuman hadd tidak gugur. Maka berdasarkan pendapat ini, sahnya tobat seseorang setelah dua syarat itu harus ditambah dengan syarat ketiga, yaitu menyerahkan diri untuk menjalani hukuman hadd. Hal ini berlaku jika ia bertobat sebelum perbuatannya diketahui. Setelah bertobat, ia kembali kepada keadaan sebelum melakukan maksiat.

فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يُقْبَلُ شَهَادَتُهُ قَبْلَ الْمَعْصِيَةِ قُبِلَتْ بَعْدَ التَّوْبَةِ، وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا تُقْبَلُ قَبْلَ الْمَعْصِيَةِ لَمْ تُقْبَلْ بَعْدَ التَّوْبَةِ وَلَا يَتَوَقَّفْ عَنْهُ لِاسْتِبْرَاءِ صَلَاحِهِ، لِأَنَّهُ مَا أَظْهَرَ التَّوْبَةَ فِيمَا كَانَ مَسْتُورًا عَلَيْهِ إِلَّا عَنْ صَلَاحٍ يُغْنِي عَنِ اسْتِبْرَاءِ الْحَالِ.

Jika seseorang termasuk orang yang diterima kesaksiannya sebelum melakukan maksiat, maka kesaksiannya diterima setelah bertobat. Namun jika ia termasuk orang yang tidak diterima kesaksiannya sebelum maksiat, maka kesaksiannya tidak diterima setelah bertobat, dan tidak perlu menunggu untuk memastikan kebaikannya. Sebab, ia tidak menampakkan tobat atas sesuatu yang sebelumnya tersembunyi kecuali karena kebaikan yang telah cukup untuk menggantikan keharusan memastikan keadaan dirinya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ قَدْ تَظَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ مِنَ الزِّنَا وَاللِّوَاطِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَظَاهَرَ بِالتَّوْبَةِ كَمَا تَظَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِنْ ثَبَتَ الْحَدُّ عَلَيْهِ عِنْدَ مُسْتَوْفِيهِ لَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ، وَيُعْتَبَرُ صِحَّةُ تَوْبَتِهِ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ، النَّدَمِ عَلَى فِعْلِهِ وَالْعَزْمِ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ، وَأَنْ يُسَلِّمَ نَفْسَهُ لِإِقَامَةِ الْحَدِّ عَلَيْهِ وَإِنْ تَابَ قَبْلَ ثُبُوتِ الْحَدِّ عَلَيْهِ

Keadaan kedua: Jika seseorang telah terang-terangan melakukan maksiat seperti zina, liwath, dan meminum khamar, maka ia wajib menampakkan taubat sebagaimana ia telah menampakkan maksiat. Jika hukuman had telah ditetapkan atasnya oleh pihak yang berwenang, maka taubat tidak menggugurkan hukuman tersebut. Keabsahan taubatnya dipersyaratkan dengan tiga hal: menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan serupa, dan menyerahkan diri untuk pelaksanaan hukuman had atasnya, meskipun ia telah bertaubat sebelum hukuman had itu ditetapkan atas dirinya.

فَفِي سُقُوطِهِ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا: قَدْ سَقَطَ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ، فَعَلَى هَذَا يُعْتَبَرُ فِي تَوْبَتِهِ شَرْطَانِ النَّدَمُ وَالْعَزْمُ. وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يَسْقُطُ بِالتَّوْبَةِ فَعَلَى هَذَا يُعْتَبَرُ فِي تَوْبَتِهِ ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ النَّدَمُ عَلَى مَا فَعَلَ، وَالْعَزْمُ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ فِي الْمُسْتُقْبَلِ، وَالِاعْتِرَافُ بِهِ عِنْدَ مُسْتَوْفِي الْحَدِّ، لِيُقِيمَهُ عَلَيْهِ، فَإِذَا اسْتَكْمَلَهَا صَحَّتْ تَوْبَتُهُ فِي سُقُوطِ الْمَأْثَمِ، وَمَا تَعَلَّقَ بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى.

Dalam hal gugurnya hukuman darinya dengan taubat, terdapat dua pendapat: Pertama, hukuman itu telah gugur darinya dengan taubat. Maka, menurut pendapat ini, dalam taubatnya disyaratkan dua hal: penyesalan dan tekad (untuk tidak mengulangi). Pendapat kedua: hukuman tidak gugur dengan taubat. Maka, menurut pendapat ini, dalam taubatnya disyaratkan tiga hal: penyesalan atas apa yang telah dilakukan, tekad untuk meninggalkan perbuatan serupa di masa depan, dan pengakuan kepada pihak yang berwenang menegakkan hudud agar hukuman ditegakkan atasnya. Jika ketiganya telah dipenuhi, maka taubatnya sah dalam menggugurkan dosa dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta‘ala.

فَأَمَّا ثُبُوتُ الْعَدَالَةِ وَقَبُولُ الشَّهَادَةِ فَمُعْتَبَرٌ بَعْدَ التَّوْبَةِ بِصَلَاحِ حَالِهِ وَاسْتِبْرَاءِ أَفْعَالِهِ بِزَمَانٍ يُخْتَبَرُ فِيهِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِلا مَنْ تاب وآمن وعمل صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الفرقان: 25] .

Adapun penetapan keadilan dan diterimanya kesaksian, maka hal itu dipertimbangkan setelah taubat dengan memperbaiki keadaan dirinya dan membersihkan perbuatannya dalam kurun waktu yang dapat diuji, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, maka mereka itulah yang Allah akan gantikan keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 25).

وَصَلَاحُ حَالِهِ مُعْتَبَرٌ بِزَمَانٍ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حَدِّهِ، فَاعْتَبَرَهُ بَعْضُهُمْ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ، وَاعْتَبَرَهُ أَصْحَابُنَا بِسَنَةٍ كَامِلَةٍ، لِأَنَّ السُّنَّةَ فِي الشَّرْعِ أَصْلٌ مُعْتَبَرٌ فِي الزَّكَاةِ وَالْجِزْيَةِ وَأَجَلِ الْعُنَّةِ، وَلِأَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى الْفُصُولِ الْأَرْبَعَةِ الْمُهَيِّجَةِ لِلطِّبَاعِ، فَإِذَا سَلِمَ فِيهَا مِنِ ارْتِكَابِ مَا كَانَ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَاصِي صَحَّتْ عَدَالَتُهُ، وَقُبِلَتْ شَهَادَتُهُ

Keadaan baik seseorang dipertimbangkan dalam jangka waktu yang para fuqaha berbeda pendapat mengenai batasannya. Sebagian dari mereka menetapkannya selama enam bulan, sedangkan ulama mazhab kami menetapkannya selama satu tahun penuh, karena satu tahun dalam syariat merupakan dasar yang dipertimbangkan dalam zakat, jizyah, dan masa penantian bagi suami yang impoten. Selain itu, satu tahun mencakup empat musim yang dapat memengaruhi tabiat manusia. Maka apabila seseorang selama waktu tersebut terbebas dari melakukan maksiat yang sebelumnya pernah ia lakukan, maka keadilannya dianggap sah dan kesaksiannya diterima.

وَفِي اعْتِبَارِ هَذِهِ السُّنَّةِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيقِ. وَالثَّانِي: عَلَى وَجْهِ التَّقْرِيبِ.

Dalam mempertimbangkan sunnah ini terdapat dua pendapat: Pertama, bahwa sunnah ini dianggap secara hakiki. Kedua, bahwa sunnah ini dianggap secara pendekatan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

وَأَمَّا الْمَعْصِيَةُ بِالْقَوْلِ فَضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا: رِدَّةٌ فِي الدِّينِ يَتَعَلَّقُ بِهَا حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى. وَالثَّانِي: قَذْفٌ بِالزِّنَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقُّ آدَمِيٍّ.

Adapun maksiat dengan ucapan terbagi menjadi dua macam: Pertama, riddah dalam agama yang berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala. Kedua, qadzaf (menuduh zina) yang berkaitan dengan hak manusia.

فَأَمَّا الرِّدَّةُ عَنِ الْإِسْلَامِ فَالتَّوْبَةُ عَنْهَا بَعْدَ النَّدَمِ وَالْعَزْمِ، يَكُونُ بِمَا أَسْلَمَ بِهِ الْكَافِرُ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ، وَالْبَرَاءَةِ مِنْ كُلِّ دِينٍ خَالَفَ الْإِسْلَامَ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَتْ مَعْصِيَتُهُ بِالْقَوْلِ كَانَتْ تَوْبَتُهُ بِالْقَوْلِ، كَمَا أَنَّ مَعْصِيَةَ الزِّنَا لِمَا كَانَتْ بِالْفِعْلِ كَانَتِ التَّوْبَةُ مِنْهَا بِالْفِعْلِ، فَإِذَا أَتَى الْمُرْتَدُّ بِمَا يَكُونُ بِهِ تَائِبًا عَادَ إِلَى حَالِهِ قَبْلَ رِدَّتِهِ، فَإِنْ كَانَ مَنْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ قَبْلَ رِدَّتِهِ لَمْ تُقْبَلْ بَعْدَ تَوْبَتِهِ حَتَّى تَظْهَرَ مِنْهُ شُرُوطُ الْعَدَالَةِ، وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ قَبْلَ الرِّدَّةِ نُظِرَ فِي التَّوْبَةِ، فَإِنْ كَانَتْ عَنْهُ اتِّقَاءً مِنْهُ لِلْقَتْلِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ بَعْدَ التَّوْبَةِ إِلَّا أَنْ تَظْهَرَ مِنْهُ شُرُوطُ الْعَدَالَةِ بِاسْتِبْرَاءِ حَالِهِ وَصَلَاحِ عَمَلِهِ، وَإِنْ تَابَ مِنَ الرِّدَّةِ عَفْوًا غَيْرَ مُتَّقٍ بِهَا الْقَتْلَ عَادَ بَعْدَ التَّوْبَةِ إِلَى عَدَالَتِهِ.

Adapun riddah dari Islam, maka tobat darinya setelah menyesal dan bertekad, dilakukan dengan apa yang digunakan orang kafir untuk masuk Islam, yaitu dua kalimat syahadat dan berlepas diri dari setiap agama yang bertentangan dengan Islam; karena ketika maksiatnya dilakukan dengan ucapan, maka tobatnya pun dengan ucapan, sebagaimana maksiat zina karena dilakukan dengan perbuatan maka tobat darinya pun dengan perbuatan. Maka apabila seorang murtad melakukan apa yang menjadikannya bertobat, ia kembali kepada keadaannya sebelum murtad. Jika ia termasuk orang yang kesaksiannya tidak diterima sebelum murtad, maka tidak diterima pula setelah tobatnya hingga tampak darinya syarat-syarat keadilan. Dan jika ia termasuk orang yang kesaksiannya diterima sebelum riddah, maka dilihat pada tobatnya: jika tobat itu dilakukan karena takut dibunuh, maka kesaksiannya tidak diterima setelah tobat kecuali jika tampak darinya syarat-syarat keadilan dengan memperhatikan keadaannya dan baik amalnya. Namun jika ia bertobat dari riddah secara sukarela, bukan karena takut dibunuh, maka setelah tobat ia kembali kepada keadilannya.

وَأَمَّا الْقَذْفُ بِالزِّنَا، وَهُوَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ، فَلَا يَكُونُ بَعْدَ النَّدَمِ وَالْعَزْمِ إِلَّا بِالْقَوْلِ، لأن معصية بِالْقَوْلِ كَالرِّدَّةِ، فَيُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ تَوْبَتِهِ ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ: أَحَدُهَا: النَّدَمُ عَلَى قَذْفِهِ. وَالثَّانِي: الْعَزْمُ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ. وَالثَّالِثُ: إِكْذَابُ نَفْسِهِ عَلَى مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَأْوِيلِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun menuduh zina, yang merupakan pokok pembahasan kitab ini, maka setelah adanya penyesalan dan tekad, hal itu hanya terjadi melalui ucapan, karena maksiat dengan ucapan seperti riddah. Maka dalam keabsahan taubatnya dipersyaratkan tiga syarat: Pertama, menyesal atas tuduhan zinanya. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan serupa. Ketiga, mendustakan dirinya sendiri atas tuduhan tersebut menurut pendapat asy-Syafi‘i. Para ulama kami berbeda pendapat dalam menafsirkan syarat ketiga ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الِاصْطَخْرِيِّ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَهُوَ أَنْ يَقُولَ: وَإِنِّي كَاذِبٌ فِي قَذْفِي لَهُ بِالزِّنَا، وَقَدْ رَوَى عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” تَوْبَةُ الْقَاذِفِ إِكْذَابُهُ نَفْسَهُ “.

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri bahwa hal itu dipahami menurut makna zahirnya, yaitu seseorang berkata: “Sesungguhnya aku berdusta dalam menuduhnya berzina.” Umar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tobat orang yang menuduh (qadzaf) adalah dengan mendustakan dirinya sendiri.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّ إِكْذَابَ نَفْسَهُ أَنْ يَقُولَ قَذْفِي لَهُ بِالزِّنَا كَانَ بَاطِلًا، وَلَا يَقُولُ: كُنْتُ كَاذِبًا فِي قَذْفِي لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ صَادِقًا، فَيَصِيرُ عَاصِيًا بِكَذِبِهِ كَمَا كَانَ عَاصِيًا بِقَذْفِهِ، وَهَلْ يَحْتَاجُ أَنْ يَقُولَ فِي التَّوْبَةِ: وَلَا أَعُودُ إِلَى مِثْلِهِ أَوْ لَا؟ فِيهِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah, bahwa yang dimaksud dengan mendustakan dirinya sendiri adalah dengan mengatakan, “Tuduhan saya kepadanya berzina adalah batil,” dan tidak mengatakan, “Saya telah berdusta dalam menuduhnya,” karena bisa jadi ia benar. Maka ia menjadi berdosa karena dustanya sebagaimana ia berdosa karena menuduh. Apakah dalam taubat ia perlu mengatakan, “Dan saya tidak akan kembali melakukan hal yang serupa,” atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، لِأَنَّ الْعَزْمَ عَلَى تَرْكِ مِثْلِهِ يُغْنِي عَنْهُ.

Salah satunya: tidak membutuhkannya, karena tekad untuk meninggalkan hal semacam itu sudah mencukupi tanpa adanya hal tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا بُدَّ أَنْ يَقُولَ لَا أَعُودُ إِلَى مِثْلِهِ، لِأَنَّ الْقَوْلَ فِي هَذِهِ التَّوْبَةِ مُعْتَبَرٌ، وَالْعَزْمُ لَيْسَ بِقَوْلٍ، وَإِذَا كَانَتِ التَّوْبَةُ مِنَ الْقَذْفِ مُعْتَبَرَةً بِهَذِهِ الشُّرُوطِ، فَالْقَذْفُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: قَذْفُ نَسَبٍ، وَقَذْفُ شَهَادَةٍ.

Pendapat kedua: Seseorang harus mengucapkan, “Aku tidak akan kembali melakukan hal seperti itu,” karena ucapan dalam tobat ini dianggap penting, sedangkan tekad bukanlah sebuah ucapan. Jika tobat dari qazaf (menuduh zina) dianggap sah dengan syarat-syarat ini, maka qazaf terbagi menjadi dua jenis: qazaf nasab dan qazaf syahadah.

وَأَمَّا قَذْفُ النَّسَبِ، فَلَا يَخْلُو حَالُ التَّائِبِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الْقَذْفِ مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ أَوْ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهَا، فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ بَعْدَ التَّوْبَةِ إِلَّا بِاسْتِبْرَاءِ حَالِهِ، وَصَلَاحِ عَمَلِهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 5] وَإِنْ كَانَ قَبْلَ الْقَذْفِ عَدْلًا مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ، فَهَلْ يُرَاعَى فِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ بَعْدَ التَّوْبَةِ صَلَاحُ عَمَلِهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun menuduh nasab, maka keadaan orang yang bertobat tidak lepas dari dua kemungkinan: sebelum melakukan tuduhan, ia termasuk orang yang diterima kesaksiannya atau bukan dari golongan tersebut. Jika ia termasuk orang yang diterima kesaksiannya, maka kesaksiannya setelah bertobat tidak diterima kecuali setelah diteliti keadaannya dan diperbaiki amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (an-Nur: 5). Jika sebelum melakukan tuduhan ia adalah orang adil yang termasuk golongan yang diterima kesaksiannya, maka apakah dalam menerima kesaksiannya setelah bertobat harus memperhatikan perbaikan amalnya atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ إِلَّا بَعْدَ اسْتِبْرَاءِ حَالِهِ وَصَلَاحِ عَمَلِهِ لِارْتِفَاعِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعَدَالَةِ بِمَا حَدَثَ مِنَ الْفِسْقِ.

Salah satunya: kesaksiannya tidak diterima kecuali setelah diselidiki keadaannya dan kebaikan amalnya, karena hilangnya keadilan yang sebelumnya disebabkan oleh kefasikan yang terjadi.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ، وَتَثْبُتُ عَدَالَتُهُ بِحُدُوثِ تَوْبَتِهِ لِأَنَّهَا رَافِعَةٌ لِحُكْمِ فِسْقِهِ.

Pendapat kedua: Kesaksiannya diterima, dan keadilannya tetap berlaku dengan terjadinya tobatnya, karena tobat itu menghapuskan hukum kefasikannya.

وَأَمَّا قَذْفُ الشَّهَادَةِ إِذَا لَمْ يُسْتَكْمَلْ عَدَدُ الشُّهُودِ، فَفِي وُجُوبِ حَدِّهِمْ قَوْلَانِ:

Adapun tuduhan zina dalam persaksian apabila jumlah saksi tidak terpenuhi, maka mengenai kewajiban had atas mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا حَدَّ عَلَيْهِمْ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُونَ عَلَى عَدَالَتِهِمْ، وَلَا يُؤْخَذُونَ بِالتَّوْبَةِ، لِأَنَّهُمْ قَصَدُوا إِقَامَةَ حَدِّ اللَّهِ تَعَالَى.

Salah satu pendapat: tidak ada hudud atas mereka, maka menurut pendapat ini mereka tetap dalam keadilan mereka, dan tidak diminta untuk bertobat, karena mereka bermaksud menegakkan hudud Allah Ta‘ala.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْحَدُّ عَلَيْهِمْ وَاجِبٌ لِأَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّهُمْ حِينَ لَمْ يَكْمُلْ عَدَدُهُمْ فَعَلَى هَذَا يُحْكَمُ بِفِسْقِهِمْ، وَيَجِبُ عَلَيْهِمُ التَّوْبَةُ مِنْ فِسْقِهِمْ، وَيُعْتَبَرُ فِي تَوْبَتِهِمْ مِنَ الشُّرُوطِ الْمُتَقَدِّمَةِ فِي قَذْفِ النَّسَبِ أَنْ يَقُولَ: قَذْفِي بَاطِلٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى النَّدَمِ، وَتَرْكِ الْعَزْمِ، لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَا أَنْ يَقُولَ: إِنِّي كَاذِبٌ وَلَا يَقُولُ لَا أَعُودُ إِلَى مِثْلِهِ لِأَنَّهُ لَوْ كَمُلَ عَدَدُ الشُّهُودِ لَزِمَهُ أَنْ يَشْهَدَ، فَإِنْ تَابَ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ بَعْدَ تَوْبَتِهِ مِنْ غَيْرِ اسْتِبْرَاءٍ لِحَالِهِ، وَصَلَاحِ عَمَلِهِ، لِأَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِأَبِي بَكْرَةَ: تُبْ أَقْبَلْ شَهَادَتَكَ وَمَا يَجُوزُ لِلْإِمَامِ إِذَا حَدَّهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ مِثْلَ قَوْلِ عُمَرَ لِأَبِي بَكْرَةَ تُبْ أَقْبَلْ شَهَادَتَكَ.

Pendapat kedua: Hudud wajib dijatuhkan kepada mereka karena Umar radhiyallahu ‘anhu pernah menjatuhkan hudud kepada mereka ketika jumlah mereka belum lengkap. Berdasarkan hal ini, mereka dihukumi sebagai fasiq, dan mereka wajib bertobat dari kefasikan tersebut. Dalam tobat mereka, disyaratkan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya dalam kasus qadzaf nasab, yaitu mereka harus mengatakan: “Tuduhan saya batil,” tanpa perlu menyesal atau meninggalkan tekad, karena ini adalah kesaksian dalam hak Allah Ta‘ala. Mereka juga tidak perlu mengatakan: “Saya berdusta,” atau “Saya tidak akan mengulangi perbuatan ini,” karena jika jumlah saksi telah lengkap, maka ia wajib bersaksi. Jika mereka bertobat, maka kesaksiannya diterima setelah tobatnya tanpa perlu menunggu waktu untuk memastikan keadaannya atau memperbaiki amalnya, karena Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Abu Bakrah: “Bertobatlah, aku akan menerima kesaksianmu.” Dan tidak boleh bagi imam, jika telah menjatuhkan hudud, untuk mengatakan kepada pelaku seperti perkataan Umar kepada Abu Bakrah: “Bertobatlah, aku akan menerima kesaksianmu.”

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا أَعْرِفُ لِقَوْلِهِ ذَلِكَ وَجْهًا، وَهَذَا رَدٌّ مِنْهُ عَلَى عُمَرَ فِي قَوْلٍ انْتَشَرَ فِي الصَّحَابَةِ، فَوَافَقُوهُ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ قَذْفِهِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ، وَقُبِلَتْ رِوَايَتُهُ لِأَنَّ أَبَا بَكْرَةَ لَمْ يَتُبْ فَقُبِلَتْ رِوَايَتُهُ وَلَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ.

Malik berkata: “Aku tidak mengetahui alasan bagi pendapatnya itu.” Ini merupakan bantahan darinya terhadap Umar dalam suatu pendapat yang telah tersebar di kalangan para sahabat, lalu mereka pun menyetujuinya. Jika seseorang tidak bertobat dari tuduhan qazaf, maka kesaksiannya tidak diterima, namun riwayatnya tetap diterima. Sebab, Abu Bakrah tidak bertobat, tetapi riwayatnya diterima dan kesaksiannya tidak diterima.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الشَّهَادَةِ وَالرِّوَايَةِ تَغْلِيظُ الشَّهَادَةِ حِينَ لَمْ تُقْبَلْ مِنْ وَاحِدٍ، وَتَخْفِيفُ الرِّوَايَةِ حِينَ قُبِلَتْ مِنْ وَاحِدٍ.

Perbedaan antara syahadah dan riwayah adalah pengetatan pada syahadah, di mana tidak diterima dari satu orang saja, dan keringanan pada riwayah, di mana diterima dari satu orang saja.

فَأَمَّا قَذْفُ النَّسَبِ فَلَا يُقْبَلُ مِنْ قَاذِفِهِ قَبْلَ التَّوْبَةِ شَهَادَةٌ وَلَا تُسْمَعُ لَهُ رِوَايَةٌ: لِأَنَّ الْفِسْقَ بِقَذْفِ النَّسَبِ نَصٌّ، وَبِقَذْفِ الشَّهَادَةِ اجْتِهَادٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun menuduh nasab, maka tidak diterima kesaksian dari orang yang menuduhnya sebelum bertaubat, dan tidak didengarkan pula riwayat darinya; karena kefasikan akibat menuduh nasab adalah berdasarkan nash, sedangkan menuduh kesaksian adalah hasil ijtihad. Dan Allah lebih mengetahui.

(باب التحفظ في الشهادة والعلم بها)

(Bab kehati-hatian dalam memberikan kesaksian dan pengetahuan tentangnya)

قال الشافعي قَالَ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا} وَقَالَ {إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} قَالَ فَالْعِلْمُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ مِنْهَا مَا عَايَنَهُ فَيَشْهَدُ بِهِ وَمِنْهَا مَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ وَثَبَتَتْ مَعْرِفَتُهُ فِي الْقُلُوبِ فَيَشْهَدُ عَلَيْهِ وَمِنْهَا مَا أَثْبَتَهُ سَمْعًا مَعَ إِثْبَاتِ بَصَرٍ مِنَ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ “.

Imam Syafi‘i berkata: Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” Dan Dia berfirman, “Kecuali orang yang memberikan kesaksian dengan benar, sedang mereka mengetahui.” Ia berkata: Maka ilmu itu ada tiga macam: di antaranya apa yang disaksikan langsung, maka ia bersaksi atasnya; di antaranya apa yang diperkuat oleh berita-berita dan pengetahuannya telah mantap dalam hati, maka ia bersaksi atasnya; dan di antaranya apa yang dibuktikan dengan pendengaran bersamaan dengan pembuktian penglihatan terhadap hal yang disaksikan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ الشَّهَادَةَ لَا تَصِحُّ لِغَلَبَةِ الظَّنِّ حَتَّى يَتَحَقَّقَ الْعِلْمُ بِهَا فِي حَالَةِ التَّحَمُّلِ وَحَالَةِ الْأَدَاءِ.

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa kesaksian tidak sah hanya berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan) sampai benar-benar diyakini ilmunya, baik pada saat menerima (kesaksian) maupun pada saat menyampaikannya.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا} [الإسراء: 36] فَكَانَ دَلِيلُهُ أَنْ يَشْهَدَ بِمَا عَلِمَهُ بِسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ وَفُؤَادِهِ، فَالسَّمْعُ لِلْأَصْوَاتِ، وَالْبَصَرُ لِلْمَرْئِيَّاتِ، وَالْفُؤَادُ لِلْمَعْلُومَاتِ، فَجَمَعَ فِي الْعِلْمِ بِهِ بَيْنَ جَمِيعِ أَسْبَابِهِ، لِيَخْرُجَ مِنْ غَلَبَةِ الظَّنِّ إِلَى حَقِيقَةِ الْعِلْمِ، وَقَالَ تَعَالَى: {إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [الزخرف: 86] فَشَرَطَ فِي الشَّهَادَةِ أَنْ يَكُونَ بِحَقٍّ مَعْلُومٍ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهَا لَا تَجُوزُ بِحَقٍّ غَيْرِ مَعْلُومٍ، وَلَا أَنْ يَكُونَ بِمَعْلُومٍ لَيْسَ بِحَقٍّ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا شَهِدْنَا إِلا بِمَا عَلِمْنَا} [يوسف: 81] فَأَخْبَرَ أَنَّ الشَّهَادَةَ تَكُونُ بِالْعِلْمِ، فَامْتَنَعَ أَنْ يَشْهَدَ بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَقَالَ تَعَالَى: {سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ} [الزخرف: 43] وَهَذَا وَعِيدٌ يُوجِبُ التَّحَفُّظَ فِي الْعَاجِلِ، وَالْجَزَاءَ فِي الْآجِلِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (al-Isrā’: 36). Maka dalilnya adalah bahwa seseorang harus bersaksi atas apa yang ia ketahui melalui pendengarannya, penglihatannya, dan hatinya. Pendengaran untuk suara-suara, penglihatan untuk hal-hal yang tampak, dan hati untuk pengetahuan. Dengan demikian, dalam ilmu, Allah menggabungkan seluruh sebab-sebabnya, agar seseorang keluar dari dominasi prasangka menuju hakikat ilmu. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka mengetahui.” (az-Zukhruf: 86). Maka Allah mensyaratkan dalam persaksian itu harus dengan kebenaran yang diketahui, sehingga menunjukkan bahwa persaksian tidak boleh atas kebenaran yang tidak diketahui, dan tidak pula atas sesuatu yang diketahui namun bukan kebenaran. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Kami tidak bersaksi kecuali atas apa yang kami ketahui.” (Yūsuf: 81). Maka Allah memberitakan bahwa persaksian itu harus berdasarkan ilmu, sehingga tidak boleh bersaksi tanpa ilmu. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan ditanya.” (az-Zukhruf: 43). Ini adalah ancaman yang mewajibkan kehati-hatian di dunia dan balasan di akhirat.

وَرَوَى عَطَاءٌ وَطَاوُسٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ الشَّهَادَةِ فَقَالَ: ” هَلْ تَرَى الشَّمْسَ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَعَلَى مِثْلِهَا فَاشْهَدْ أَوْ دَعْ ” وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ مُشْتَقَّةٌ مِنَ الْمُشَاهَدَةِ الَّتِي هِيَ أَقْوَى الْحَوَاسِّ دَرْكًا، وَأَثْبَتُهَا عِلْمًا، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ إِلَّا بِأَقْوَى أَسْبَابِ الْعِلْمِ فِي التحمل والأداء.

Atha’ dan Thawus meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang kesaksian, maka beliau bersabda: “Apakah engkau melihat matahari?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka atas sesuatu yang seperti itu, bersaksilah atau tinggalkanlah.” Karena kesaksian itu diambil dari kata musyahadah (menyaksikan langsung) yang merupakan indra paling kuat dalam menangkap (sesuatu) dan paling kokoh dalam memberikan pengetahuan, maka tidak boleh seseorang memberikan kesaksian kecuali dengan sebab-sebab ilmu yang paling kuat, baik dalam menerima maupun menyampaikan kesaksian.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا، فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” فَالْعِلْمُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: مِنْهَا مَا عَايَنَهُ، فَيَشْهَدُ بِهِ وَمِنْهَا مَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ، وَثَبَتَتْ مَعْرِفَتُهُ فِي الْقُلُوبِ، فَيَشْهَدُ عَلَيْهِ، وَمِنْهَا مَا أَثْبَتَهُ سَمْعًا مَعَ إِثْبَاتِ بَصَرٍ مِنَ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ “

Maka apabila hal ini telah jelas, Imam Syafi‘i berkata: “Ilmu itu berasal dari tiga sumber: di antaranya ada yang disaksikan langsung, maka ia dapat memberikan kesaksian atasnya; di antaranya ada yang dikuatkan oleh berita-berita dan pengetahuannya telah menetap dalam hati, maka ia dapat memberikan kesaksian atasnya; dan di antaranya ada yang ditetapkan melalui pendengaran bersamaan dengan penetapan secara penglihatan dari apa yang disaksikan.”

فَتَنْقَسِمُ الشَّهَادَاتُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا: مَا لَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِلَّا أَنْ يُشَاهِدَهُ مُعَايَنَةً بِبَصَرِهِ. وَالثَّانِي: مَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِذَا سَمِعَهُ بِالْخَبَرِ الشَّائِعِ. وَالثَّالِثُ: مَا لَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِلَّا بِالْمُعَايَنَةِ وَالسَّمَاعِ.

Kesaksian terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, kesaksian yang tidak sah kecuali jika disaksikan secara langsung dengan mata kepala sendiri. Kedua, kesaksian yang sah apabila didengar melalui berita yang tersebar luas. Ketiga, kesaksian yang tidak sah kecuali dengan penglihatan langsung dan pendengaran.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ مَا لَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِلَّا بِالْمُشَاهَدَةِ، وَيُبْصِرَهُ فَالْأَفْعَالُ كَالْقَتْلِ، وَالسَّرِقَةِ، وَالْغَصْبِ، وَالزِّنَا، وَالرَّضَاعِ، وَالْوِلَادَةِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ، وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْمُشَاهَدَةِ، فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ فِيهَا إِلَّا إِذَا شَاهَدَهَا بِبَصَرِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى الْعِلْمِ بِهَا مِنْ أَقْصَى جِهَاتِهَا، وَهِيَ الْمُشَاهَدَةُ، فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ فِيهَا بِالسَّمَاعِ وَالْخَبَرِ وَإِنْ كَانَ شَائِعًا مُسْتَفِيضًا، لِأَنَّ مَا أَمْكَنَ الْوُصُولُ إِلَى عِلْمِهِ بِالْأَقْوَى لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِذَا عَلِمَهُ بِمَا هُوَ أَضْعَفُ، بِحَمْلِهِ عَلَى الْعِلْمِ بِهِ مِنْ أَقْصَى جِهَاتِهِ الْمُتَمَكِّنَةِ.

Adapun bagian pertama, yaitu perkara yang tidak sah untuk disaksikan kecuali dengan penyaksian langsung dan melihatnya secara nyata, seperti perbuatan-perbuatan: pembunuhan, pencurian, perampasan, zina, penyusuan, kelahiran, meminum khamar, dan perbuatan lain yang serupa yang dapat disaksikan secara langsung, maka tidak sah memberikan kesaksian atasnya kecuali jika ia benar-benar menyaksikannya dengan matanya sendiri. Hal ini karena pengetahuan tentang perbuatan tersebut hanya dapat diperoleh secara pasti melalui penyaksian langsung. Maka tidak sah memberikan kesaksian atasnya hanya berdasarkan pendengaran atau berita, meskipun berita itu tersebar luas dan masyhur, karena sesuatu yang mungkin diketahui dengan cara yang lebih kuat tidak boleh disaksikan jika ia mengetahuinya dengan cara yang lebih lemah, dengan menganggap bahwa pengetahuan tentangnya harus diperoleh melalui cara yang paling kuat dan memungkinkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: هُوَ مَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِذَا عَلِمَهُ بِالسَّمْعِ وَالْخَبَرِ الشَّائِعِ، فَضَرْبَانِ: مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَمُخْتَلَفٌ فِيهِ.

Adapun bagian kedua: yaitu perkara yang boleh disaksikan apabila diketahui melalui pendengaran dan berita yang tersebar, maka terbagi menjadi dua: yang disepakati dan yang diperselisihkan.

فَأَمَّا الْمُتَّفَقُ عَلَيْهِ فَثَلَاثَةٌ: النَّسَبُ، وَالْمِلْكُ، وَالْمَوْتُ. وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَثَلَاثَةٌ: الْوَقْفُ، وَالْوَلَاءُ، وَالزَّوْجِيَّةُ.

Adapun yang disepakati ada tiga: nasab, kepemilikan, dan kematian. Sedangkan yang diperselisihkan ada tiga: wakaf, wala’, dan pernikahan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا النَّسَبُ فَيَثْبُتُ بِسَمَاعِ الْخَبَرِ الشَّائِعِ الْخَارِجِ إِلَى حَدِّ الِاسْتِفَاضَةِ فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ وَأَحْوَالٍ مُتَبَايِنَةٍ مِنْ مَدْحٍ، وَذَمٍّ، وسخط، ورضى يُسْمَعُ النَّاسُ فِيهَا عَلَى اخْتِلَافِهِمْ، يَقُولُونَ: هَذَا فلان ابن فُلَانٍ فَيَخُصُّونَهُ بِالنَّسَبِ إِلَى أَبٍ أَوْ يَعُمُّونَهُ بِنَسَبٍ أَعْلَى، فَيَقُولُونَ: هَذَا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ أَوْ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ، فَيَثْبُتُ نَسَبُهُ فِي الْخُصُوصِ، وَالْعُمُومِ، بِالْخَبَرِ الشَّائِعِ، وَإِنْ كَانَ اسْتِدْلَالًا لَا يُقْطَعُ بِمُعَيَّنٍ، لِأَنَّ الْأَنْسَابَ تَلْحَقُ بِالِاسْتِدْلَالِ دون القطع، فجازرت لِشَهَادَةٍ فِيهَا بِالِاسْتِدْلَالِ دُونَ الْقَطْعِ، وَأَقَلُّ الْعَدَدِ فِي اسْتِفَاضَةِ هَذَا الْخَبَرِ أَنْ يَبْلُغُوا عَدَدَ التَّوَاتُرِ، وَقَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي: أَقَلُّهُ عَدْلَانِ يَذْكُرَانِ نَسَبَهُ خَبَرًا لَا شَهَادَةً، فَيَشْهَدُ بِهِ السَّامِعُ شَهَادَةَ نَفْسِهِ، وَلَا يَشْهَدُ بِهِ عَنْ شَهَادَةِ غَيْرِهِ، وَهَذَا وَهْمٌ مِنْهُ لِأَنَّ قَوْلَ الاثنين من أخبار الآحاد، وأخبار لَا تَبْلَغُ حَدَّ الشَّائِعِ الْمُسْتَفِيضِ، فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ الْعَدَدُ الْمَقْطُوعُ بِصِدْقِ مُخْبِرِهِ، وَهُوَ عَدَدُ التَّوَاتُرِ الْمُنْتَفَى عَنْهُ الْمُواطَأَةُ وَالْغَلَطُ.

Adapun nasab, maka dapat ditetapkan dengan mendengar kabar yang tersebar luas hingga mencapai derajat istifādhah pada waktu-waktu yang berbeda dan keadaan-keadaan yang beragam, baik dalam pujian, celaan, kemarahan, maupun kerelaan, yang didengar oleh orang-orang di dalamnya meskipun mereka berbeda-beda, mereka berkata: “Ini adalah si Fulan anak si Fulan,” lalu mereka mengkhususkannya dengan nasab kepada seorang ayah atau menggeneralisasikannya dengan nasab yang lebih tinggi, sehingga mereka berkata: “Ini dari Bani Hasyim” atau “dari Bani Umayyah.” Maka nasabnya dapat ditetapkan, baik secara khusus maupun umum, dengan kabar yang tersebar luas, meskipun itu merupakan istidlāl yang tidak sampai pada kepastian tertentu, karena nasab-nasab itu mengikuti istidlāl tanpa kepastian, sehingga diperbolehkan memberikan kesaksian di dalamnya berdasarkan istidlāl tanpa kepastian. Jumlah minimal dalam istifādhah kabar ini adalah mencapai jumlah tawātur. Abu Hamid al-Isfara’ini berkata: “Jumlah minimalnya adalah dua orang adil yang menyebutkan nasabnya sebagai kabar, bukan sebagai kesaksian, sehingga orang yang mendengarnya bersaksi berdasarkan pengetahuannya sendiri, dan tidak bersaksi berdasarkan pengetahuan orang lain.” Ini adalah kekeliruan darinya, karena ucapan dua orang termasuk khabar āhād, dan khabar tersebut tidak mencapai derajat kabar yang tersebar luas dan istifādhah, maka wajib dipertimbangkan jumlah yang pasti kebenaran para pembawanya, yaitu jumlah tawātur yang terhindar dari kesepakatan dan kekeliruan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا قَالَ رَجُلٌ لِرَجُلٍ: أَنَا ابْنُكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Apabila seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lain: “Aku adalah anakmu,” maka keadaan orang yang didakwa tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يُصَدِّقَهُ، فَيَثْبُتَ نَسَبُهُ بِتَصْدِيقِهِ، وَيَكُونُ بِثُبُوتِ النَّسَبِ بَيْنَهُمَا بِالْإِقْرَارِ، وَتَكُونُ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الْإِقْرَارِ، فَلَوْ تَنَاكَرَا النَّسَبَ بَعْدَ الِاعْتِرَافِ لَمْ يَنْتَفِ.

Salah satunya: jika ia membenarkannya, maka nasabnya menjadi tetap dengan pembenaran tersebut, dan penetapan nasab di antara keduanya terjadi melalui ikrar. Kesaksian atasnya sama seperti kesaksian atas ikrar. Maka, jika setelah pengakuan mereka saling mengingkari nasab, nasab itu tidak bisa dibatalkan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُنْكِرَهُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَلَا يَثْبُتُ نَسَبُ الْمُدَّعِي فَلَوْ عَادَ الْمُنْكِرُ فَاعْتَرَفَ بِالنَّسَبِ بَعْدَ إِنْكَارِهِ ثَبَتَ النَّسَبُ، وَلَوْ عَادَ الْمُدَّعِي فَأَنْكَرَ بَعْدَ إِقْرَارِهِ لَمْ يَنْتَفِ النَّسَبُ، لِأَنَّ الْإِقْرَارَ بَعْدَ الْإِنْكَارِ مَقْبُولٌ وَالْإِنْكَارُ بَعْدَ الْإِقْرَارِ مَرْدُودٌ.

Keadaan kedua: Jika orang yang didakwa mengingkarinya, maka nasab pihak yang mengaku tidak dapat ditetapkan. Namun, jika orang yang mengingkari itu kemudian kembali dan mengakui nasab setelah sebelumnya mengingkari, maka nasab tersebut menjadi tetap. Sebaliknya, jika pihak yang mengaku kemudian kembali mengingkari setelah sebelumnya mengakui, maka nasab tidak gugur, karena pengakuan setelah pengingkaran diterima, sedangkan pengingkaran setelah pengakuan ditolak.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُمْسِكَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنِ الْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ، فَإِنْ لَمْ يَشْهَدْ حَالَ إِمْسَاكِهِ بِالرِّضَا لَمْ يَثْبُتِ النَّسَبُ، وَإِنْ شَهِدَتْ حَالُ إِمْسَاكِهِ بِالرِّضَا، فَقَدْ قَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي: يَثْبُتُ النَّسَبُ، لِأَنَّ الرِّضَا مِنْ شَوَاهِدِ الِاعْتِرَافِ، وَهَذَا عَلَى الْإِطْلَاقِ لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَالْحُكْمُ فِيهِ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ لَمْ يَكُنِ اعْتِرَافًا بِالنَّسَبِ وَإِنْ تَكَرَّرَ وَزَالَ عَنْهُ شَوَاهِدُ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فِي أَحْوَالٍ مُخْتَلِفَةٍ صَارَ اعْتِرَافًا بِالنَّسَبِ، لِأَنَّ أَكْثَرَ الْأَنْسَابِ بِمِثْلِهِ تَثْبُتُ وَهَكَذَا لَوِ ابْتَدَأَ أَحَدُهُمَا، فَقَالَ لِلْآخَرِ: أَنَا أَبُوكَ اعْتُبِرَتْ حَالُ الِابْنِ بِمِثْلِ مَا اعْتُبِرَتْ بِهِ حَالُ الْأَبِ، وَكَانَ الْجَوَابُ فِيهِمَا سَوَاءً.

Keadaan ketiga: yaitu ketika pihak yang didakwa menahan diri dari pengakuan maupun penolakan. Jika pada saat ia diam tidak ada kesaksian adanya kerelaan, maka nasab tidak dapat ditetapkan. Namun jika pada saat ia diam ada kesaksian adanya kerelaan, maka menurut Abu Hamid al-Isfara’ini: nasab dapat ditetapkan, karena kerelaan termasuk tanda-tanda pengakuan. Namun, secara mutlak pendapat ini tidaklah benar. Ketentuannya adalah, jika ia tidak mengingkari hal itu, maka itu belum dianggap sebagai pengakuan nasab. Namun jika hal itu berulang dan telah hilang dari dirinya tanda-tanda ketakutan dan harapan dalam berbagai keadaan, maka itu menjadi pengakuan nasab, karena kebanyakan nasab memang ditetapkan dengan cara seperti itu. Demikian pula jika salah satu dari keduanya memulai, lalu berkata kepada yang lain: “Aku adalah ayahmu,” maka keadaan anak dipertimbangkan sebagaimana keadaan ayah dipertimbangkan, dan jawabannya pada keduanya sama.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ هَذَا وَكَّلَ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ هَذَا، فَقَدِ اخْتُلِفَ هَلْ تَكُونُ الشَّهَادَةُ بِالْوَكَالَةِ مُوجِبَةً لِلشَّهَادَةِ بِنَسَبِهِمَا، فذهب مَالِك إِلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ مَقْصُورَةٌ عَلَى الْوِكَالَةِ دُونَ النَّسَبِ اعْتِبَارًا بِالْمَقْصُودِ فِيهِمَا، وَعَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ تَكُونُ شَهَادَةٌ بِالْوِكَالَةِ وَبِالنَّسَبِ جَمِيعًا، وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ بِهَا الْوِكَالَةَ دُونَ النَّسَبِ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ تُوجِبُ إِثْبَاتَ مَا تَضَمَّنَهَا مِنْ مَقْصُودٍ وَغَيْرِ مَقْصُودٍ، كَمَنْ شَهِدَ بِثَمَنٍ فِي مَبِيعٍ وَصَدَاقٍ فِي نِكَاحٍ كَانَتْ شَهَادَةٌ بِالْمَبِيعِ وَالنِّكَاحِ، وَإِنْ قَصَدَ بِهَا الثَّمَنَ وَالصَّدَاقَ.

Dan jika dua orang saksi bersaksi bahwa si Fulan bin Fulan ini telah mewakilkan kepada si Fulan bin Fulan itu, maka terdapat perbedaan pendapat apakah kesaksian tentang wakalah (perwakilan) juga mewajibkan kesaksian tentang nasab (garis keturunan) keduanya. Malik berpendapat bahwa kesaksian itu terbatas pada wakalah saja tanpa mencakup nasab, dengan mempertimbangkan maksud utama dalam keduanya. Sedangkan menurut mazhab Syafi‘i, kesaksian itu berlaku untuk wakalah dan nasab sekaligus, meskipun yang dimaksudkan hanyalah wakalah tanpa nasab, karena kesaksian itu mewajibkan penetapan apa yang terkandung di dalamnya, baik yang dimaksudkan maupun yang tidak dimaksudkan, seperti seseorang yang bersaksi tentang harga dalam jual beli dan mahar dalam pernikahan, maka itu merupakan kesaksian atas jual beli dan pernikahan, meskipun yang dimaksudkan hanyalah harga dan mahar.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْمِلْكُ الْمُطْلَقُ فَيَثْبُتُ بِسَمَاعِ الْخَبَرِ الشَّائِعِ الْمُتَظَاهَرِ بِسَمْعِ النَّاسِ عَلَى اخْتِلَافِهِمْ يَقُولُونَ: هَذَا الدَّارُ لِفُلَانٍ، وَهَذِهِ الضَّيْعَةُ لِفُلَانٍ، وَهَذِهِ الدَّابَّةُ لِفُلَانٍ، وَهَذَا الْعَبْدُ لِفُلَانٍ، وَهَذَا الثَّوْبُ لِفُلَانٍ، وَيَتَكَرَّرُ ذَلِكَ مِنْهُمْ عَلَى مُرُورِ الزَّمَانِ لَا يُرَى فِيهِمْ مُنْكِرٌ لِذَلِكَ، وَلَا مُنَازِعٌ فِيهِ فَتَصِحُّ الشَّهَادَةُ بِهَذَا الْخَبَرِ الْمُتَظَاهَرِ بِالْمِلْكِ دُونَ سَبَبِهِ، لِأَنَّ أَسْبَابَ الْمِلْكِ كَثِيرَةٌ تَخْتَلِفُ، فَتَكُونُ تَارَةً بِالشِّرَاءِ، وَتَارَةً بِالْمِيرَاثِ، وَأُخْرَى بِالْهِبَةِ، وَأُخْرَى بِالْوَصِيَّةِ، وَأُخْرَى بِالْإِحْيَاءِ وَأُخْرَى بِالْغَنِيمَةِ فَلَمَّا تَنَوَّعَتْ أَسْبَابُهُ جَازَ إِذَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ أَنْ يُشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ الْمُطْلَقِ دُونَ سَبَبِهِ الَّذِي صَارَ بِهِ مَالِكًا، لِأَنَّ السَّبَبَ يُعْلَمُ بِالْمُشَاهَدَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْمَلَ فِيهِ عَلَى الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يُشْهَدَ بِالْمِلْكِ الْمُتَظَاهِرِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ سَبَبُ مِلْكِهِ الْمِيرَاثَ، فَيَجُوزُ أَنْ يُشْهَدَ فِيهِ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، لِأَنَّ الْمِيرَاثَ مُسْتَحَقٌّ بِالْمَوْتِ وَالنَّسَبِ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَثْبُتُ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، وَلَا يَجُوزُ فِيمَا عَدَاهُ مِنَ الْأَسْبَابِ كَالشِّرَاءِ وَالْهِبَةِ، وَالْإِحْيَاءِ، لِأَنَّهَا تُعْلَمُ بِالْمُشَاهَدَةِ، وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا مَعَ تَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِمِلْكِهِ، هَلْ يَصِحُّ أَنْ يُشْهَدَ بِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرَاهُ مُتَصَرِّفًا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun kepemilikan mutlak dapat ditetapkan dengan mendengar kabar yang masyhur dan tersebar luas di tengah masyarakat dari berbagai kalangan, di mana mereka mengatakan: rumah ini milik si Fulan, tanah ini milik si Fulan, hewan ini milik si Fulan, budak ini milik si Fulan, pakaian ini milik si Fulan, dan hal itu terus diucapkan oleh mereka sepanjang waktu tanpa ada seorang pun di antara mereka yang mengingkarinya atau mempermasalahkannya. Maka, kesaksian atas kabar yang tersebar luas tentang kepemilikan ini sah, tanpa harus mengetahui sebab kepemilikannya, karena sebab-sebab kepemilikan itu banyak dan beragam; kadang melalui jual beli, kadang melalui warisan, kadang melalui hibah, kadang melalui wasiat, kadang melalui ihya’ (menghidupkan tanah mati), dan kadang melalui ghanimah (harta rampasan perang). Karena sebab-sebabnya beragam, maka apabila kabar yang tersebar luas telah menetapkan kepemilikan, boleh memberikan kesaksian atas kepemilikan mutlak tanpa mengetahui sebab yang menjadikannya sebagai pemilik, karena sebab itu hanya dapat diketahui dengan pengamatan langsung, sehingga tidak boleh bersandar pada kabar yang tersebar luas dalam hal sebab kepemilikan, meskipun boleh bersaksi atas kepemilikan yang tersebar luas, kecuali jika sebab kepemilikannya adalah warisan, maka boleh bersaksi atasnya dengan kabar yang tersebar luas, karena warisan itu ditetapkan dengan kematian dan nasab, dan keduanya dapat dibuktikan dengan kabar yang tersebar luas. Tidak boleh bersaksi atas sebab-sebab lain seperti jual beli, hibah, atau ihya’, karena hal-hal tersebut hanya dapat diketahui dengan pengamatan langsung. Para ulama kami berbeda pendapat, apabila telah tersebar kabar tentang kepemilikannya, apakah sah bersaksi atasnya tanpa melihatnya secara langsung melakukan pengelolaan terhadap harta tersebut, ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ حَتَّى يُشَاهِدَ تَصَرُّفَهُ فِيهِ، فَيَجْمَعَ الشَّاهِدُ فِي الْعِلْمِ بِهِ بَيْنَ السَّمَاعِ وَالْمُشَاهَدَةِ لِيَصِلَ إِلَيْهِ مِنْ أَقْصَى جِهَاتِهِ الْمُمْكِنَةِ.

Salah satu pendapat menyatakan: Tidak sah hingga saksi menyaksikan tindakan terhadapnya, sehingga saksi menggabungkan pengetahuan tentangnya antara mendengar dan melihat secara langsung, agar ia dapat mengetahui dari segala sisi yang mungkin.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِهِمْ يَجُوزُ أَنْ يُشْهَدَ بِسَمَاعِ الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، وَإِنْ لَمْ يُشَاهَدِ التَّصَرُّفُ، لِأَنَّ الْخَبَرَ الْمُتَظَاهِرَ أَنْفَى لِلِاحْتِمَالِ مِنَ التَّصَرُّفِ الَّذِي قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ بِمِلْكٍ وَغَيْرِ مِلْكٍ، وَأَصْلُ الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ فِيهِ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْعَدَدِ الْمُعْتَبَرِ فِي التَّوَاتُرِ، وَوَهِمَ أَبُو حَامِدٍ فَاعْتَبَرَهُ بِشَاهِدَيْنِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat mayoritas ulama, membolehkan untuk memberikan kesaksian berdasarkan mendengar khabar mutawatir, meskipun tidak menyaksikan langsung perbuatan (yang diberitakan), karena khabar mutawatir lebih meniadakan kemungkinan keraguan dibandingkan perbuatan yang mungkin saja terjadi atas dasar kepemilikan atau tanpa kepemilikan. Dasar dari khabar mutawatir di sini adalah harus berasal dari jumlah orang yang dianggap cukup menurut syarat tawatur. Abu Hamid telah keliru dengan menganggap cukup dua orang saksi, sebagaimana telah kami sebutkan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا مُشَاهَدَةُ التَّصَرُّفِ فِي الْمِلْكِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَشِرَ بِهِ الْخَبَرُ الْمُتَظَاهِرُ فَيَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لِلْمُتَصَرِّفِ فِيهِ بِالْيَدِ، لِيُحْكَمَ بِهَا عِنْدَ مُنَازَعَتِهِ فِيهِ.

Adapun menyaksikan adanya tindakan terhadap suatu kepemilikan tanpa tersebarnya berita yang mutawatir tentangnya, maka boleh bagi seseorang untuk memberikan kesaksian bagi orang yang melakukan tindakan tersebut berdasarkan penguasaannya (atas barang itu), agar dapat dijadikan dasar keputusan ketika terjadi sengketa atasnya.

فَأَمَّا إِنْ أَرَادَ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ بِمِلْكٍ عِنْدَ مُشَاهَدَةِ التَّصَرُّفِ، فَقَدْ جَوَّزَهُ أَبُو حَنِيفَةَ فِي قَلِيلِ التَّصَرُّفِ وَكَثِيرِهِ، لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى بَيْعِهِ لِمَا فِي يَدِهِ جَازَ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ بِمِلْكِهِ، وَهُوَ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ مُعْتَبَرٌ بِالتَّصَرُّفِ وَإِنْ قَلَّ زَمَانُهُ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ لِأَمْرَيْنِ:

Adapun jika seseorang bermaksud untuk memberikan kesaksian bahwa seseorang memiliki suatu barang berdasarkan pengamatan terhadap tindakannya dalam mengelola barang tersebut, maka Abu Hanifah membolehkannya baik dalam tindakan yang sedikit maupun yang banyak. Sebab, ketika diperbolehkan memberikan kesaksian atas penjualan barang yang ada di tangannya, maka diperbolehkan pula memberikan kesaksian atas kepemilikannya. Sedangkan menurut mazhab Syafi‘i, hal itu dianggap berdasarkan tindakan pengelolaan, meskipun waktunya singkat, namun tidak boleh memberikan kesaksian atas kepemilikan karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ قَدْ يَتَصَرَّفُ تَارَةً بِالْمِلْكِ، وَتَارَةً بِإِجَارَةٍ وَوَكَالَةٍ، وَاسْتِعَارَةٍ، فَلَمْ يَتَعَيَّنِ الْمِلْكُ بِالتَّصَرُّفِ.

Salah satunya: bahwa seseorang terkadang melakukan tindakan berdasarkan kepemilikan, dan terkadang berdasarkan sewa, wakalah, atau pinjaman, sehingga kepemilikan tidak dapat dipastikan hanya dengan tindakan tersebut.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَوْ دَلَّتِ الْيَدُ وَالتَّصَرُّفُ عَلَى الْمِلْكِ لَمَا جَازَ لِلْمُدَّعِي عِنْدَ الْحَاكِمِ أَنْ يَدَّعِيَ دَارًا فِي يَدِ رَجُلٍ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُقِرًّا لَهُ بِمِلْكِهَا، وَفِي جَوَازِ ادِّعَائِهَا بَعْدَ ذِكْرِ يَدِهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْيَدَ غَيْرُ مُوجِبَةٍ لِلْمِلْكِ، وَلَا يُمْنَعُ صَاحِبُ الْيَدِ مِنَ الْبَيْعِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَبِيعُ بِالْمِلْكِ تَارَةً، وَبَالْوِكَالَةِ أُخْرَى.

Kedua: Jika kepemilikan dan tindakan atas suatu barang menunjukkan kepemilikan, maka tidak boleh bagi penggugat di hadapan hakim untuk mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, karena berarti ia mengakui kepemilikan orang tersebut atas rumah itu. Dan kenyataan bahwa klaim atas rumah itu tetap diperbolehkan setelah disebutkan bahwa rumah itu berada dalam penguasaan orang tersebut, menunjukkan bahwa penguasaan (yad) tidak secara otomatis menetapkan kepemilikan. Pemilik penguasaan juga tidak dilarang untuk menjualnya, karena terkadang ia menjualnya atas dasar kepemilikan, dan di lain waktu atas dasar wakalah (perwakilan).

فَأَمَّا إِذَا طَالَ زَمَانُ تَصَرُّفِهِ حَتَّى اسْتَمَرَّ، وَكَانَ تَصَرُّفُهُ في العين كالتصرف بالسكنى، والإجازة، وَالْهَدْمِ، وَالْبِنَاءِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَصِحُّ الشَّهَادَةُ لَهُ بِالْمِلْكِ عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا تَصِحُّ لَهُ الشَّهَادَةُ بِالْمِلْكِ لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ تَعْلِيلِ الْأَمْرَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ يَصِحُّ أَنْ يُشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ لِأَمْرَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّ أَحْكَامَ الْمِلْكِ مِنْ شَوَاهِدِ الْمِلْكِ. وَالثَّانِي: إِنَّ إِطْلَاقَ التَّصَرُّفِ فِي الْعُرْفِ مِنْ دَلَائِلِ الْمِلْكِ، وَالْأَوَّلُ أَشْبَهُ.

Adapun jika masa pengelolaannya berlangsung lama hingga berkelanjutan, dan pengelolaannya terhadap barang tersebut seperti pengelolaan berupa menempati, mengizinkan, merobohkan, dan membangun, maka para ulama kami berbeda pendapat apakah sah memberikan kesaksian kepemilikan untuknya dalam dua pendapat: Pertama, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, tidak sah memberikan kesaksian kepemilikan untuknya karena alasan yang telah kami sebutkan pada dua perkara sebelumnya. Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dan Abu Sa‘id al-Istakhri, sah untuk memberikan kesaksian kepemilikan untuknya karena dua alasan: Pertama, bahwa hukum-hukum kepemilikan termasuk tanda-tanda kepemilikan. Kedua, bahwa kebebasan dalam mengelola menurut kebiasaan merupakan salah satu bukti kepemilikan. Namun, pendapat pertama lebih mendekati kebenaran.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

وَأَمَّا الْمَوْتُ فَيَثْبُتُ بِسَمَاعِ الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ بِأَنَّ فُلَانًا مَاتَ، وَكَذَلِكَ إِذَا رَأَى الْجِنَازَةَ عَلَى بَابِهِ، وَالصُّرَاخَ فِي دَارِهِ، وَقِيلَ: قَدْ مَاتَ، وَيَكُونُ الْعَدَدُ فِي الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ بِمَوْتِهِ أَعْدَادَ التَّوَاتُرِ، وَوَهِمَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي فَاعْتَبَرَهُ بِشَاهِدَيْنِ، وَإِنْ شَاهَدَ الْجِنَازَةَ وَسَمِعَ الصُّرَاخَ وَلَمْ يُذْكَرْ لَهُ مَوْتُهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْمَيِّتُ غَيْرَهُ، فَإِنْ ذُكِرَ لَهُ مَوْتُهُ كَانَ الْخَبَرُ الْمُعْتَبَرُ فِيهِ غَيْرَ مُعْتَبَرٍ بِالتَّوَاتُرِ، لِأَنَّهُ قَدِ اقْتَرَنَ بِهِ مِنْ شَوَاهِدِ الْحَالِ مَا يَقُومُ مَقَامَ التَّوَاتُرِ، وَإِنَّمَا جَازَ أَنْ يُشْهَدَ بِالْمَوْتِ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ لِتَنَوُّعِ أَسْبَابِهِ فَجَازَ أَنْ يُعْدَلَ فِي الشَّهَادَةِ بِإِطْلَاقِهِ عَلَى الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يُعْزِيَهُ إِلَى أَحَدِ أَسْبَابِهِ لَمْ يَجُزْ إِلَّا بِالْمُشَاهَدَةِ، كَمَا لَا يُعْتَبَرُ سَبَبُ الْمِلْكِ إِلَّا بِالْمُشَاهَدَةِ.

Adapun kematian, maka dapat dipastikan dengan mendengar kabar yang mutawatir bahwa si fulan telah wafat, demikian pula jika melihat jenazah di depan rumahnya, dan terdengar suara tangisan di rumahnya, serta dikatakan: “Ia telah meninggal.” Jumlah orang yang menyampaikan kabar mutawatir tentang kematiannya harus mencapai jumlah yang memenuhi syarat tawatur. Abu Hamid al-Isfara’ini keliru ketika mensyaratkan dua orang saksi saja. Jika seseorang menyaksikan jenazah dan mendengar suara tangisan, namun tidak disebutkan kepadanya bahwa yang wafat adalah orang tersebut, maka tidak boleh ia memberikan kesaksian, karena bisa jadi yang meninggal adalah orang lain. Namun jika disebutkan kepadanya bahwa yang wafat adalah orang tersebut, maka kabar yang dianggap dalam hal ini tidak lagi disyaratkan harus mutawatir, karena telah disertai bukti-bukti keadaan yang dapat menggantikan syarat tawatur. Diperbolehkan memberikan kesaksian atas kematian berdasarkan kabar yang mutawatir karena beragamnya sebab-sebab kematian, sehingga boleh pula memberikan penilaian dalam kesaksian dengan menyandarkannya secara umum pada kabar mutawatir. Namun jika ingin menisbatkan kematian itu pada salah satu sebab tertentu, maka tidak boleh kecuali dengan penyaksian langsung, sebagaimana sebab kepemilikan juga tidak dianggap kecuali dengan penyaksian langsung.

(فَصْلٌ)

(Bab)

وَأَمَّا الْوَقْفُ فِي تَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِهِ إِذَا سَمِعَ عَلَى مُرُورِ الْأَوْقَاتِ، فَلَا يَثْبُتُ وَقْفُهُ بِسَمَاعِ الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، لِأَنَّهُ عَنْ لَفْظٍ يَفْتَقِرُ إِلَى سَمَاعِهِ مَنْ عَاقَدَهُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْمَلَ فِيهِ عَلَى تَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِهِ فَأَمَّا ثُبُوتُهُ وَقْفًا مُطْلَقًا وَالشَّهَادَةُ عَلَى أَنَّ هَذَا وَقْفُ آلِ فُلَانٍ أَوْ هَذَا وَقْفٌ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي ثُبُوتِهِ وَجَوَازِ الشَّهَادَةِ بِهِ عِنْدَ سَمَاعِ الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ بِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ لِأَنَّهُ عَيْنُ عَقْدٍ يَفْتَقِرُ إِلَى سَمَاعٍ وَمُشَاهَدَةٍ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ، يَصِحُّ لِأَنَّهُ قَدْ يَتَقَادَمُ عَهْدُهُ بِمَوْتِ شُهُودِهِ، فَلَوْ لَمْ يَعْمَلْ فِيهِ عَلَى الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ لَأَفْضَى إِلَى دِرَاسَتِهِ وَتَعْطِيلِ سُبُلِهِ، فَاقْتَضَى جَوَازَهُ الْعُرْفُ وَالضَّرُورَةُ.

Adapun mengenai wakaf dalam hal tersebarnya kabar tentangnya ketika didengar seiring berjalannya waktu, maka tidak tetap status wakaf hanya dengan mendengar kabar yang tersebar, karena hal itu berkaitan dengan lafaz yang membutuhkan pendengaran dari orang yang melakukan akadnya. Maka tidak boleh beramal dalam hal ini hanya berdasarkan tersebarnya kabar tentangnya. Adapun penetapan wakaf secara mutlak dan kesaksian bahwa ini adalah wakaf keluarga Fulan atau ini adalah wakaf untuk fakir miskin, para ulama kami berbeda pendapat mengenai penetapannya dan bolehnya memberikan kesaksian atasnya ketika mendengar kabar yang tersebar tentangnya menjadi dua pendapat: Pertama, tidak sah karena ini adalah inti dari akad yang membutuhkan pendengaran dan penyaksian. Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, sah karena bisa jadi telah berlalu masa yang lama sehingga para saksinya telah meninggal, maka jika tidak diamalkan berdasarkan kabar yang tersebar, hal itu akan menyebabkan hilangnya dan terabaikannya wakaf tersebut, sehingga kebiasaan (‘urf) dan kebutuhan (darurat) menuntut bolehnya hal itu.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْوَلَاءُ فَهُوَ مُسْتَحَقٌّ عَنِ الْعِتْقِ وَثُبُوتُ الْعِتْقِ بِتَظَاهُرِ الْخَبَرِ لَا يَصِحُّ أَنْ يُضَافَ إِلَى لَفْظِ مُعْتِقِهِ، وَيَشْهَدُ بِسَبَبِ عِتْقِهِ، وَفِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ بِأَنَّهُ قَدْ عَتَقَ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ السَّبَبِ فِي عِتْقِهِ لِتَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ عَنْ لَفْظٍ مَسْمُوعٍ. وَالثَّانِي: يَجُوزُ لِأَمْرَيْنِ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ قَدْ يَكُونُ عَنْ أَسْبَابٍ مُخْتَلِفَةٍ، فَجَرَى مَجْرَى الشَّهَادَةِ بِالْمِلْكِ. وَالثَّانِي: أَنَّهُ قَدْ يَتَقَادَمُ عَهْدُهُ فَتُحْفَظُ حُرِّيَّتُهُ.

Adapun al-walā’ itu merupakan hak yang timbul dari pembebasan budak, dan penetapan pembebasan budak berdasarkan banyaknya berita yang tersebar tidak sah jika disandarkan kepada lafaz orang yang membebaskannya, dan seseorang dapat bersaksi karena sebab pembebasannya. Dalam hal kebolehan bersaksi bahwa seseorang telah dimerdekakan tanpa menyebutkan sebab pembebasannya, karena banyaknya berita tentang hal itu, terdapat dua pendapat: Pertama, tidak boleh, karena hal itu berkaitan dengan lafaz yang didengar. Kedua, boleh karena dua alasan: Pertama, karena pembebasan budak bisa terjadi karena berbagai sebab, sehingga kedudukannya seperti kesaksian atas kepemilikan. Kedua, karena bisa jadi sudah berlalu waktu yang lama sehingga kemerdekaannya tetap terjaga.

فَأَمَّا الْوَلَاءُ الْمُسْتَحَقُّ بِالْعِتْقِ إِذَا تَظَاهَرَ الْخَبَرُ بِأَنَّ هَذَا مَوْلَى فُلَانٍ أَوْ مَوْلَى آلِ فُلَانٍ، فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ خَرَّجَ جَوَازَ الشَّهَادَةِ بِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ، كَالْعِتْقِ لِحُدُوثِهِ عنه، وَمِنْهُمْ مَنْ جَوَّزَهُ وَجْهًا وَاحِدًا؛ لِأَنَّ الْوَلَاءَ كَالنَّسَبِ الثَّابِتِ يَتَظَاهَرُ الْخَبَرُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ “.

Adapun walā’ yang diperoleh karena pembebasan budak, apabila telah tersebar kabar bahwa seseorang adalah maula (bekas budak) dari si fulan atau maula keluarga si fulan, maka di antara ulama kami ada yang mengeluarkan pendapat bolehnya memberikan kesaksian atasnya dengan dua wajah, seperti halnya pembebasan budak karena terjadinya dari pihaknya. Dan di antara mereka ada yang membolehkannya hanya dengan satu wajah, karena walā’ itu seperti nasab yang tetap, di mana kabar tentangnya tersebar, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Walā’ itu adalah ikatan seperti ikatan nasab.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

وَأَمَّا الزَّوْجِيَّةُ فَلَا يَثْبُتُ عَقْدُ نِكَاحِهَا وَالشَّهَادَةُ بِهِ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، لِأَنَّهُ مِنَ الْعُقُودِ الْمُفْتَقِرَةِ إِلَى سَمَاعِ اللَّفْظِ وَمُشَاهَدَةِ الْعَاقِدِ.

Adapun mengenai istri, maka akad nikahnya dan persaksian atasnya tidak dapat ditetapkan hanya dengan berita yang tersebar luas, karena akad tersebut termasuk akad-akad yang memerlukan pendengaran lafaz dan penyaksian terhadap pihak yang berakad.

فَأَمَّا الشَّهَادَةُ بِأَنَّ هَذِهِ الْمَرْأَةَ زَوْجَةُ فُلَانٍ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ، فَفِيهِ وَجْهَانِ كَالْوَقْفِ وَالْعِتْقِ: أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ، لِأَنَّهُ عَنْ عَقْدٍ. وَالثَّانِي: يَجُوزُ لِأَنَّهُ قَدْ يَتَقَادَمُ عَهْدُهُ، فعلى هَلْ يَحْتَاجُ فِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ بِهَا أَنْ يُرَى الزَّوْجُ دَاخِلًا عَلَيْهَا وَخَارِجًا مِنْ عِنْدِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ كَالتَّصَرُّفِ فِي الْمِلْكِ مَعَ تَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِهِ.

Adapun kesaksian bahwa wanita ini adalah istri si Fulan berdasarkan berita yang masyhur, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat seperti pada kasus wakaf dan ‘itq: Pertama, tidak boleh, karena hal itu berkaitan dengan akad. Kedua, boleh, karena bisa jadi sudah berlalu masa yang lama sejak akad tersebut. Lalu, apakah dalam kebolehan memberikan kesaksian tersebut disyaratkan harus melihat suami masuk ke rumah istrinya dan keluar dari sisinya? Dalam hal ini juga terdapat dua pendapat, seperti dalam hal tasharruf dalam kepemilikan dengan adanya berita yang masyhur tentangnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: وَهُوَ مَا لَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ إِلَّا قَطْعًا بِالسَّمَاعِ وَالْمُعَايَنَةِ إِذَا اجْتَمَعَا فِيهِ لِيَصِلَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ مِنْ أَقْصَى جِهَاتِهِ الْمُمْكِنَةِ، وَهُوَ الْعُقُودُ مِنَ الْمُنَاكَحِ، وَالْبُيُوعِ، وَالْإِجَارَاتِ الْمُفْتَقِرَةِ إِلَى مُشَاهَدَةِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ وَسَمَاعِ لَفْظِهِمَا بِالْعَقْدِ بَذْلًا وَقَبُولًا، وَكَذَلِكَ الْإِقْرَارُ وَالطَّلَاقُ الْمُفْتَقِرُ إِلَى مُشَاهَدَةِ الْمُقِرِّ وَالْمُطَلِّقِ، وَسَمَاعِ لَفْظِهِمَا بِالْإِقْرَارِ وَالطَّلَاقِ، فَلَا تَصِحُّ الشَّهَادَةُ فِيهِمَا بِالْأَخْبَارِ الْمُتَظَاهِرَةِ، لِأَنَّ مَا أَمْكَنَ إِدْرَاكُهُ بِعَلَمِ الْحَوَاسِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْمَلَ فِيهِ بِالِاسْتِدْلَالِ الْمُفْضِي إِلَى غَالِبِ الظَّنِّ، وَهَكَذَا لَا يَصِحُّ أَنْ يُشْهَدَ فِيهِ بِالْمُشَاهَدَةِ دُونَ السَّمَاعِ، وَلَا بِالسَّمَاعِ دُونَ الْمُشَاهَدَةِ لِجَوَازِ اشْتِبَاهِ الْأَصْوَاتِ.

Adapun bagian ketiga: yaitu perkara yang tidak sah untuk disaksikan kecuali dengan keyakinan pasti melalui pendengaran dan penglihatan secara bersamaan, agar dapat diperoleh pengetahuan tentangnya dari segala sisi yang mungkin. Contohnya adalah akad-akad seperti pernikahan, jual beli, dan sewa-menyewa yang memerlukan penyaksian terhadap kedua pihak yang berakad serta mendengar ucapan mereka dalam akad, baik berupa penyerahan maupun penerimaan. Demikian pula pengakuan dan talak yang memerlukan penyaksian terhadap orang yang mengaku atau yang menjatuhkan talak, serta mendengar ucapan mereka dalam pengakuan dan talak. Maka tidak sah persaksian dalam hal-hal tersebut hanya berdasarkan berita yang tersebar, karena sesuatu yang mungkin diketahui dengan pancaindra tidak boleh diputuskan dengan istidlāl yang hanya menghasilkan dugaan kuat. Demikian pula, tidak sah memberikan kesaksian hanya dengan melihat tanpa mendengar, atau hanya dengan mendengar tanpa melihat, karena dimungkinkan terjadinya kekeliruan dalam suara.

فَلَوْ سَمِعَ الشَّاهِدَانِ لَفْظَ الْمُتَعَاقِدَيْنِ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ، وَعَرِفَا صَوْتَهُمَا لَمْ تَصِحَّ الشَّهَادَةُ بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يُحَاكِي الْإِنْسَانُ صَوْتَ غَيْرِهِ، فَيَتَشَبَّهُ بِهِ فَإِنْ كَانَ الْحَائِلُ ثَوْبًا نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ صَفِيقًا يَمْنَعُ مِنْ تَحْقِيقِ النَّظَرِ مُنِعَ مِنَ الشَّهَادَةِ وَإِنْ كَانَ خَفِيفًا يَشُفُّ، فَفِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: تَجُوزُ لِأَنَّهُ لَا يَمْنَعُ مَنْ يُشَاهِدُهُ مَا وَرَاءَهُ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تَجُوزُ لِأَنَّ الِاشْتِبَاهَ مَعَهُ يجوز.

Jika dua saksi mendengar ucapan kedua pihak yang berakad dari balik penghalang, dan mereka mengenali suara keduanya, maka kesaksian atas hal itu tidak sah, karena seseorang bisa saja menirukan suara orang lain sehingga menyerupainya. Jika penghalangnya adalah kain, maka dilihat lagi: jika kain itu tebal sehingga menghalangi penglihatan secara jelas, maka tidak boleh memberikan kesaksian. Namun jika kain itu tipis dan tembus pandang, maka dalam kebolehan memberikan kesaksian terdapat dua pendapat: salah satunya membolehkan karena kain tersebut tidak menghalangi orang yang melihatnya untuk mengetahui apa yang ada di baliknya; pendapat kedua tidak membolehkan karena masih ada kemungkinan terjadi kekeliruan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” فَبِذَلِكَ قُلْنَا. لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ أَعْمَى لِأَنَّ الصَّوْتَ يُشْبِهُ الصَّوْتَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَثْبَتُ شَيْئًا يُعَايِنُهُ وَسَمْعًا وَنَسَبًا ثَمَّ عَمِيَ فَيَجُوزُ ولا علة في رده (قال) والشهادة على ملك الرجل الدار والثوب على ظاهر الأخبار بأنه مالك ولا يرى منازعا في ذلك فتثبت معرفته في القلب فتسمع الشهادة عليه وعلى النسب إذا سمعه ينسبه زمانا وسمع غيره ينسبه إلى نسبه ولم يسمع دافعا ولا دلالة يرتاب لها “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Karena itulah kami berpendapat bahwa tidak sah kesaksian orang buta, karena suara bisa mirip dengan suara lain, kecuali jika ia telah menetapkan sesuatu yang pernah ia saksikan secara langsung, ia dengar, dan ia ketahui nasabnya, kemudian setelah itu ia menjadi buta, maka kesaksiannya boleh diterima. Tidak ada alasan untuk menolaknya. (Beliau berkata lagi:) Dan kesaksian atas kepemilikan seseorang terhadap rumah atau pakaian didasarkan pada zhahir riwayat bahwa ia adalah pemiliknya dan tidak ada yang mempermasalahkan hal itu, sehingga pengetahuan tentangnya tertanam dalam hati, maka kesaksian atas hal itu dan atas nasab dapat diterima jika ia telah mendengar orang menisbatkannya dalam waktu yang lama, dan mendengar orang lain juga menisbatkannya kepada nasabnya, serta tidak pernah mendengar ada yang menolaknya atau ada tanda-tanda yang menimbulkan keraguan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. وَشَهَادَةُ الْأَعْمَى يَخْتَلِفُ قَبُولُهَا بِاخْتِلَافِ مَا رَتَّبْنَاهُ مِنْ أَقْسَامِ الشَّهَادَاتِ الثَّلَاثَةِ مِمَّا كَانَ طَرِيقُ الْعِلْمِ بِهِ الْمُعَايَنَةَ بِالْبَصَرِ كَالْأَفْعَالِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Kesaksian orang buta berbeda penerimaannya sesuai dengan pembagian tiga jenis kesaksian yang telah kami susun, yaitu pada perkara yang jalan untuk mengetahuinya adalah dengan penglihatan secara langsung, seperti perbuatan-perbuatan.

فَشَهَادَةُ الْأَعْمَى مَرْدُودَةٌ بِإِجْمَاعٍ لِفَقْدِ آلَتِهِ بِذَهَابِ بَصَرِهِ فِيمَا يَصِيرُ عَالِمًا بِهِ، وَمَا كَانَ طَرِيقُ الْعِلْمِ بِهِ السَّمَاعَ كَالْأَنْسَابِ، وَالْأَمْلَاكِ، وَالْمَوْتِ، فَشَهَادَةُ الْأَعْمَى مَقْبُولَةٌ فِيهِ لِمُسَاوَاتِهِ لِلْبَصِيرِ فِي إِدْرَاكِهَا بِالسَّمْعِ الْمُتَكَافِئَانِ فِيهِ.

Maka kesaksian orang buta ditolak berdasarkan ijmā‘ karena ia kehilangan alatnya dengan hilangnya penglihatan dalam hal-hal yang dapat ia ketahui dengannya. Adapun perkara yang jalan untuk mengetahuinya adalah pendengaran, seperti nasab, kepemilikan, dan kematian, maka kesaksian orang buta diterima di dalamnya karena ia setara dengan orang yang dapat melihat dalam hal mengetahui perkara-perkara tersebut melalui pendengaran, yang keduanya sama dalam hal ini.

وَلَوْ تَحَمَّلَ الشَّهَادَةَ عَلَى الْأَفْعَالِ، وَهُوَ بَصِيرٌ ثُمَّ عَمِيَ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ، وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهَا مَرْدُودَةٌ فِيمَا يُدْرَكُ بِالسَّمْعِ، كَرَدِّهَا فِيمَا يُدْرَكُ بِالْبَصَرِ وَأَجْرَى الْعَمَى مَجْرَى الْفِسْقِ حِينَ قَالَ لَوْ سَمِعَ الْحَاكِمُ شَهَادَتَهُ، وَهُوَ بَصِيرٌ فَلَمْ يَحْكُمْ بِهَا حَتَّى عَمِيَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا بَعْدَ عَمَاهُ، كَمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَةِ مَنْ حَدَثَ فِسْقُهُ بَعْدَ الشَّهَادَةِ وَقَبْلَ الْحُكْمِ، وَبِهِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ، وَخَالَفَهُمَا بِالْمَصِيرِ إِلَى قَوْلِنَا أَبُو يُوسُفَ، وَاسْتَدَلَّ بِأَنَّ الْكَمَالَ مُعْتَبَرٌ فِي الشَّهَادَةِ كَاعْتِبَارِهِ فِي وِلَايَةِ الْإِمَامَةِ، وَالْقَضَاءِ لِاعْتِبَارِ الْحُرِّيَّةِ وَالْعَدَالَةِ فِي جَمِيعِهَا، فَلَا يَجُوزُ فِيهِمَا تَقْلِيدُ عَبْدٍ، وَلَا فَاسِقٍ، وَلَا أَعْمَى، فَوَجَبَ إِذَا رُدَّ فِي الشَّهَادَةِ الْعَبْدُ وَالْفَاسِقُ أَنْ يُرَدَّ فِيهَا شَهَادَةُ الْأَعْمَى، قَالُوا: وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ فِي الْأَفْعَالِ لَمْ تُقْبَلْ فِي الْأَقْوَالِ، كَالْعَبْدِ وَالْفَاسِقِ.

Jika seseorang memikul kesaksian atas perbuatan-perbuatan, sementara ia masih dapat melihat, kemudian ia menjadi buta, maka kesaksiannya tetap diterima. Namun menurut Abu Hanifah, kesaksian tersebut ditolak dalam perkara yang dapat diketahui dengan pendengaran, sebagaimana ia menolaknya dalam perkara yang dapat diketahui dengan penglihatan. Ia menyamakan kebutaan dengan kefasikan, ketika ia berkata: “Jika hakim mendengar kesaksiannya saat ia masih dapat melihat, lalu hakim belum memutuskan hingga ia menjadi buta, maka tidak boleh hakim memutuskan dengan kesaksian itu setelah ia buta, sebagaimana tidak boleh memutuskan dengan kesaksian orang yang menjadi fasik setelah memberikan kesaksian dan sebelum keputusan dijatuhkan.” Pendapat ini juga dipegang oleh Muhammad bin al-Hasan. Namun Abu Yusuf berbeda pendapat dengan mereka berdua dan mengikuti pendapat kami. Ia berdalil bahwa kesempurnaan (sifat) dianggap dalam kesaksian sebagaimana dianggap dalam wilayah imamah dan qadha’, sebagaimana dipertimbangkan juga kebebasan dan keadilan dalam semuanya, sehingga tidak boleh menyerahkan jabatan tersebut kepada seorang budak, orang fasik, atau orang buta. Maka, jika kesaksian budak dan orang fasik ditolak dalam kesaksian, maka wajib juga menolak kesaksian orang buta. Mereka berkata: “Karena siapa pun yang tidak diterima kesaksiannya dalam perbuatan, maka tidak diterima pula dalam ucapan, seperti budak dan orang fasik.”

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا أُدْرِكَ بِالسَّمَاعِ اسْتَوَى فِيهِ الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ كَمَا أَنَّ مَا أُدْرِكَ بِالْبَصَرِ اسْتَوَى فِيهِ الْأَصَمُّ وَالسَّمِيعُ لِاخْتِصَاصِ الْعِلْمِ بِجَارِحَتِهِ الْمَحْسُوسِ بِهَا، وَلِأَنَّهُ فَقْدُ عُضْوٍ لَا يُدْرَكُ بِهِ الشَّهَادَةُ، فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِي صِحَّتِهَا مَعَ إِمْكَانِ إِدْرَاكِهَا كَقَطْعِ الْيَدِ.

Dalil kami adalah bahwa apa yang dapat diketahui melalui pendengaran, baik orang buta maupun orang yang dapat melihat adalah sama, sebagaimana apa yang dapat diketahui melalui penglihatan, baik orang tuli maupun orang yang dapat mendengar adalah sama, karena ilmu itu khusus dengan anggota tubuh yang digunakan untuk merasakannya. Selain itu, kehilangan anggota tubuh yang tidak digunakan untuk mengetahui suatu kesaksian tidak mempengaruhi keabsahannya selama masih memungkinkan untuk mengetahuinya, seperti halnya kehilangan tangan.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى الْإِنْسَانِ لَا تُؤَثِّرُ فِيهَا، فَقْدُ رُؤْيَةِ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى مَيِّتٍ أَوْ غَائِبٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ حُدُوثَ الْعَمَى بَعْدَ صِحَّةِ الْأَدَاءِ لَا يَمْنَعُ مِنْ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِهَا أَنَّ الْمَوْتَ الْمُبْطِلَ لِحَاسَّةِ الْبَصَرِ، وَجَمِيعِ الْحَوَاسِّ إِذَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِالشَّهَادَةِ فَذَهَابُ الْبَصَرِ مَعَ بَقَاءِ غَيْرِهِ مِنَ الْحَوَاسِّ أَوْلَى أَنْ لَا يَمْنَعَ مِنْ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِالشَّهَادَةِ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ لِلْأَصَمِّ أَنْ يَشْهَدَ بِمَا اخْتُصَّ بِالْمُعَايَنَةِ، وَإِنْ فَقَدَ حَاسَّةَ السَّمْعِ جَازَ لِلْأَعْمَى أَنْ يَشْهَدَ بِمَا اخْتَصَّ بِالسَّمَاعِ، وَإِنْ فَقَدَ حَاسَّةَ الْبَصَرِ، لِاخْتِصَاصِ الِاعْتِبَارِ بِالْحَاسَّةِ الْمُدْرِكَةِ، وَاعْتِبَارِ الشَّهَادَةِ بِالْوِلَايَةِ يَبْطُلُ فَالْمَرْأَةُ تَجُوزُ شَهَادَتُهَا، وَإِنْ لَمْ تَصِحَّ وِلَايَتُهَا.

Karena kesaksian terhadap seseorang tidak dipengaruhi oleh tidak melihat orang yang disaksikan, seperti kesaksian terhadap orang yang sudah meninggal atau yang tidak hadir. Dalil bahwa terjadinya kebutaan setelah sebelumnya mampu memberikan kesaksian dengan benar tidak menghalangi berlakunya hukum berdasarkan kesaksian tersebut adalah bahwa kematian yang menghilangkan indra penglihatan dan seluruh indra lainnya, jika tidak menghalangi berlakunya hukum berdasarkan kesaksian, maka hilangnya penglihatan sementara indra lainnya masih ada tentu lebih utama untuk tidak menghalangi berlakunya hukum berdasarkan kesaksian. Dan karena jika orang tuli boleh bersaksi dalam perkara yang membutuhkan penglihatan meskipun ia kehilangan indra pendengaran, maka orang buta juga boleh bersaksi dalam perkara yang membutuhkan pendengaran meskipun ia kehilangan indra penglihatan, karena pertimbangan didasarkan pada indra yang digunakan untuk mengetahui perkara tersebut. Pertimbangan kesaksian berdasarkan wilayah (kewenangan) menjadi batal, sehingga perempuan pun boleh diterima kesaksiannya meskipun ia tidak sah wilayahnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى الْأَفْعَالِ فَهُوَ أَنَّ مَا أُدْرِكَتْ بِهِ الْأَفْعَالُ مَفْقُودٌ فِي الْأَعْمَى، وَمَا أُدْرِكَتْ بِهِ الْأَقْوَالُ مَوْجُودٌ فِيهِ فافترقا.

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan perbuatan adalah bahwa apa yang digunakan untuk memahami perbuatan itu tidak dimiliki oleh orang buta, sedangkan apa yang digunakan untuk memahami ucapan itu ada pada dirinya, maka keduanya berbeda.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا شَهَادَةُ الْأَعْمَى فِيمَا يُدْرِكُ بِالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ مِنَ الْعُقُودِ وَالْإِقْرَارِ، فَمَرْدُودَةٌ عِنْدَنَا وَغَيْرُ مَقْبُولَةٍ، وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَمِنَ التَّابِعِينَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَالنَّخَعِيُّ، وَمِنَ الْفُقَهَاءِ سفيان الثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ وَصَاحِبَاهُ وَسَوَّارُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقَاضِي مِنْ فُقَهَاءِ الْبَصْرَةِ، وَأَكْثَرُ فُقَهَاءِ الْكُوفَةِ.

Adapun kesaksian orang buta dalam hal-hal yang dapat diketahui melalui pendengaran dan penglihatan, seperti akad dan pengakuan, maka menurut kami kesaksian tersebut ditolak dan tidak diterima. Pendapat ini juga dipegang oleh Ali bin Abi Thalib ra. dari kalangan sahabat, serta dari kalangan tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Sa‘id bin Jubair, dan an-Nakha‘i, dan dari kalangan fuqaha seperti Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah beserta kedua sahabatnya, Sawwar bin Abdullah al-Qadhi dari fuqaha Bashrah, serta mayoritas fuqaha Kufah.

وَقَالَ مَالِكٌ: تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْأَعْمَى إِذَا عَرَفَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ بِصَوْتِهِ الَّذِي عَرَفَهُ بِهِ عَلَى قَدِيمِ الْوَقْتِ وَحَدِيثِهِ، وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، وَمِنَ التَّابِعِينَ شُرَيْحٌ وَعَطَاءٌ، وَالزُّهْرِيُّ، وَمِنَ الْفُقَهَاءِ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَدَاوُدُ، وَابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ، وَحُكِيَ ذَلِكَ عَنِ الْمُزَنِيِّ، اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِي الْبَصِيرِ وَالْأَعْمَى، وَلِأَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ شُعَيْبًا قَدْ كَانَ أَعْمَى، وَقَدْ نَبَّهَ عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى {وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا} [هود: 91] أَيْ ضَرِيرًا، {وَلَوْلا رهطك لرجعناك} [هود: 91] أَيْ قَوْمُكَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ أَيْ: شَيْبَتُكَ الْبَيْضَاءُ، لِأَنَّهُ قَدْ يُحْتَشَمُ لِأَجْلِ الشَّيْبَةِ كَمَا يُحْتَشَمُ لِأَجْلِ رَهْطِهِ، فَلَمَّا لَمْ يَمْنَعِ الْعَمَى مِنَ الشَّهَادَةِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا يَمْنَعَ مِنَ الشَّهَادَةِ عَلَى الْمَخْلُوقِينَ بِالْأَمْوَالِ.

Malik berkata: Diterima kesaksian orang buta apabila ia mengenali orang yang disaksikan melalui suaranya yang telah ia kenali sejak dahulu maupun sekarang. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abdullah bin Abbas dari kalangan sahabat, dan dari kalangan tabi’in oleh Syuraih, ‘Atha’, dan az-Zuhri, serta dari para fuqaha oleh Laits bin Sa‘d, Ibnu Abi Laila, Dawud, Ibnu Jarir ath-Thabari, dan diriwayatkan pula dari al-Muzani. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: {Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian} (QS. al-Baqarah: 282), maka ayat ini berlaku umum baik bagi orang yang dapat melihat maupun yang buta. Selain itu, Nabi Allah Syu‘aib juga pernah buta, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya Ta‘ala: {Dan sungguh kami melihatmu di antara kami sebagai orang yang lemah} (QS. Hud: 91), maksudnya adalah buta, {Dan kalau bukan karena kaummu, niscaya kami telah merajammu} (QS. Hud: 91), maksudnya adalah kaummu. Sebagian ulama berkata: maksudnya adalah ubanmu yang putih, karena seseorang bisa dihormati karena uban sebagaimana dihormati karena kaumnya. Maka, ketika kebutaan tidak menghalangi kesaksian atas kenabian kepada Allah Ta‘ala, maka lebih utama lagi kebutaan tidak menghalangi kesaksian atas makhluk dalam perkara harta.

وَلِأَنَّ مَنْ صَحَّ أَنْ يَتَحَمَّلَ الشَّهَادَةَ فِي الْأَنْسَابِ وَالْأَمْلَاكِ صَحَّ أَنْ يَتَحَمَّلَهَا فِي الْعُقُودِ وَالْإِقْرَارِ، كَالْبَصِيرِ.

Dan karena siapa saja yang sah untuk memikul kesaksian dalam masalah nasab dan kepemilikan, maka sah pula baginya untuk memikul kesaksian dalam akad dan pengakuan, seperti orang yang dapat melihat.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ إِذَا افْتَقَرَتْ إِلَى حَاسَّةٍ لَمْ يُعْتَبَرْ فِيهَا حَاسَّةٌ أُخْرَى، لِأَنَّ الْأَفْعَالَ لَمَّا افْتُقِرَ فِيهَا إِلَى الْبَصَرِ لَمْ يُعْتَبَرْ فِيهَا السَّمَاعُ، وَالْأَنْسَابُ لَمَّا افْتَقَرَتْ إِلَى السَّمَاعِ لَمْ يُعْتَبَرْ فِيهَا الْبَصَرُ، فَوَجَبَ إِذَا افْتَقَرَتِ الْعُقُودُ إِلَى السَّمَاعِ أَنْ لَا يُعْتَبَرَ فِيهَا الْمُشَاهَدَةُ، لِأَنَّ أُصُولَ الشَّهَادَةِ تَمْنَعُ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ حَاسَّتَيْنِ وَلِأَنَّ الصُّورَ تَخْتَلِفُ وَالْأَصْوَاتَ تَخْتَلِفُ، فَلَمَّا لَمْ يَمْنَعِ اخْتِلَافُ الصُّورِ مِنَ الشَّهَادَةِ لَمْ يَمْنَعِ اخْتِلَافُ الْأَصْوَاتِ مِنَ الشَّهَادَةِ بِهَا.

Karena kesaksian, apabila membutuhkan salah satu indera, maka tidak dianggap indera yang lain di dalamnya. Sebab, ketika perbuatan membutuhkan penglihatan, maka pendengaran tidak dianggap di dalamnya; dan nasab, ketika membutuhkan pendengaran, maka penglihatan tidak dianggap di dalamnya. Maka wajib, apabila akad membutuhkan pendengaran, penglihatan tidak dianggap di dalamnya. Karena prinsip-prinsip kesaksian melarang penggabungan dua indera sekaligus, dan karena rupa berbeda-beda dan suara pun berbeda-beda. Maka, ketika perbedaan rupa tidak menghalangi kesaksian, perbedaan suara pun tidak menghalangi kesaksian atasnya.

وَلِأَنَّ الصَّوْتَ يَدُلُّ عَلَى مَعْرِفَةِ الْمُصَوِّتِ كَمَا يَسْتَدِلُّ الْأَعْمَى بِصَوْتِ زَوْجَتِهِ عَلَى إِبَاحَةِ الِاسْتِمْتَاعِ بِهَا، وَكَمَا يُسْتَدَلُّ بِصَوْتِ الْمُحَدِّثِ عَلَى سَمَاعِ الْحَدِيثِ مِنْهُ وَرِوَايَتِهِ عَنْهُ، كَذَلِكَ يُسْتَدَلُّ بِصَوْتِ الْعَاقِدِ وَالْمُقِرِّ عَلَى جَوَازِ الشَّهَادَةِ عَلَيْهِمَا وَقَدْ سَمِعَتِ الصَّحَابَةُ الْحَدِيثَ مِنْ أَزْوَاجِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، وَلَمْ تَكُنِ الْمُشَاهَدَةُ مَعَ مَعْرِفَةِ الصَّوْتِ مُعْتَبَرَةً.

Karena suara menunjukkan kepada siapa yang bersuara, sebagaimana orang buta dapat mengetahui istrinya melalui suaranya sehingga ia boleh menikmati istrinya, dan sebagaimana suara seorang muhaddits (ahli hadis) dijadikan dasar untuk mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya, demikian pula suara orang yang melakukan akad dan orang yang mengakui dijadikan dasar untuk membolehkan bersaksi atas keduanya. Para sahabat telah mendengar hadis dari istri-istri Rasulullah ﷺ sementara mereka berada di balik hijab, dan kehadiran secara langsung tidaklah dianggap penting selama suara sudah dikenal.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَمَا يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ} [فاطر: 35] فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ إِلَّا مَا خَصَّهُ دَلِيلٌ وَقَالَ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كان عنه مسؤولا} [الإسراء: 36] فَجَمَعَ فِي الْعِلْمِ بَيْنَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ فِي الْإِدْرَاكِ، وَضَمَّ الْفُؤَادَ إِلَيْهَا فِي الْإِثْبَاتِ، فَدَلَّ عَلَى اسْتِقْرَارِ الْعِلْمِ بِجَمِيعِهَا فِيمَا أُدْرِكَ إِثْبَاتُهُ بِهَا، فَاقْتَضَى أَنْ لَا يَسْتَقِرَّ بِبَعْضِهَا، لِأَنَّهُ يَصِيرُ ظَنًّا فِي مَحَلِّ الْيَقِينِ، وَلِأَنَّ شَهَادَةَ الْبَصِيرِ فِي الظُّلْمَةِ، وَمِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ أَثْبَتُ مِنْ شَهَادَةِ الْأَعْمَى، لِأَنَّهُ قَدْ يَتَخَيَّلُ مِنَ الْأَشْخَاصِ بِبَصَرِهِ مَا يَعْجِزُ عَنْهُ الْأَعْمَى، ثُمَّ لَمْ تَمْضِ شَهَادَةُ الْبَصِيرِ فِي هَذِهِ الْحَالِ فَأَوْلَى أَنْ لَا تَمْضِيَ شَهَادَةُ الْأَعْمَى الْمُقَصِّرِ عَنْ هَذِهِ الْحَالِ.

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat” (Fāṭir: 35), maka ayat ini berlaku umum kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Dan firman-Nya Ta‘ala: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (Al-Isrā’: 36). Maka Allah mengumpulkan dalam ilmu antara pendengaran dan penglihatan dalam hal persepsi, dan menggabungkan hati kepada keduanya dalam hal penetapan, sehingga menunjukkan bahwa ilmu itu tetap dengan semuanya dalam hal yang dapat ditetapkan dengannya. Maka hal ini menuntut agar ilmu tidak tetap hanya dengan sebagian dari alat-alat tersebut, karena jika demikian maka itu hanya akan menjadi dugaan pada tempat yang seharusnya yakin. Dan karena kesaksian orang yang melihat dalam kegelapan atau dari balik penghalang lebih kuat daripada kesaksian orang buta, sebab orang yang melihat dapat membayangkan sesuatu dengan penglihatannya yang tidak mampu dilakukan oleh orang buta. Kemudian, jika kesaksian orang yang melihat dalam keadaan seperti ini tidak diterima, maka lebih utama lagi kesaksian orang buta yang lebih lemah dari keadaan tersebut tidak diterima.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى الْعَقْدِ إِذَا عَرِيَتْ عَنْ رُؤْيَةِ الْعَاقِدِ لَمْ تَصِحَّ كَالشَّهَادَةِ بِالِاسْتِفَاضَةِ، وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ تَصَحَّ مِنْهُ الشَّهَادَةُ عَلَى الْأَفْعَالِ لَمْ تَصِحَّ الشَّهَادَةُ عَلَى الْعُقُودِ كَالْأَخْرَسِ طَرْدًا وَالْبَصِيرِ عَكْسًا.

Karena kesaksian atas akad jika tidak disertai dengan melihat pelaku akad, maka tidak sah, seperti halnya kesaksian berdasarkan istifādhah. Dan karena orang yang tidak sah darinya kesaksian atas perbuatan, maka tidak sah pula kesaksian atas akad, seperti orang bisu secara konsisten, dan orang yang dapat melihat sebaliknya.

وَلِأَنَّ الصَّوْتَ يَدُلُّ عَلَى الْمُصَوِّتِ كَمَا يَدُلُّ اللَّمْسُ عَلَى الْمَلْمُوسِ، فَلَمَّا امْتَنَعَتِ الشَّهَادَةُ بِاللَّمْسِ لِاشْتِبَاهِ الْمَلْمُوسِ امْتَنَعَتْ بِالصَّوْتِ لِاشْتِبَاهِ الْأَصْوَاتِ.

Dan karena suara menunjukkan kepada yang bersuara sebagaimana sentuhan menunjukkan kepada yang disentuh, maka ketika kesaksian dengan sentuhan tidak diperbolehkan karena adanya kemiripan pada yang disentuh, demikian pula kesaksian dengan suara tidak diperbolehkan karena adanya kemiripan pada suara-suara.

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ بِعُمُومِ الْآيَةِ فَمَخْصُوصٌ بِأَدِلَّتِنَا.

Adapun pengambilan dalil dengan keumuman ayat tersebut telah dikhususkan oleh dalil-dalil kami.

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ بِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يُمْنَعْ مِنَ النُّبُوَّةِ لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الشَّهَادَةِ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي عَمَى شُعَيْبٍ، فَأَنْكَرَهُ بَعْضُهُمْ، وَاعْتَرَفَ آخَرُونَ بِحُدُوثِهِ بَعْدَ الرِّسَالَةِ وَسَلَّمَ آخَرُونَ وَجَوَّدَهُ قَبْلَ أَدَاءِ الرِّسَالَةِ، وَفَرَّقُوا بَيْنَ النُّبُوَّةِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun argumentasi bahwa karena tidak ada larangan bagi orang buta untuk menjadi nabi maka tidak ada pula larangan baginya untuk menjadi saksi, telah terjadi perbedaan pendapat mengenai kebutaan Nabi Syu‘aib. Sebagian orang mengingkarinya, sementara yang lain mengakui bahwa kebutaan itu terjadi setelah beliau diutus sebagai rasul, dan sebagian lainnya menerima serta menganggap baik bahwa kebutaan itu terjadi sebelum beliau menyampaikan risalah. Mereka pun membedakan antara kenabian dan kesaksian dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ إِعْجَازَ النُّبُوَّةِ يُوجِبُ الْقَطْعَ بِصِحَّةِ شَهَادَتِهِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ فِي غَيْرِهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya mukjizat kenabian mewajibkan keyakinan pasti atas kebenaran kesaksiannya, dan hal itu tidak berlaku pada selainnya.

وَالثَّانِي: إِنَّ فِي النُّبُوَّةِ شَهَادَةً عَلَى مَغِيبٍ فَاسْتَوَى فِيهَا الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ، فَخَالَفَ مَنْ عَدَاهُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى مُشَاهَدٍ.

Kedua: Sesungguhnya dalam kenabian terdapat kesaksian atas sesuatu yang gaib, sehingga orang buta dan orang yang melihat sama saja di dalamnya; maka hal ini berbeda dengan selainnya dalam kesaksian atas sesuatu yang disaksikan langsung.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ جَمْعِهِمْ بَيْنَ الْأَنْسَابِ وَالْعُقُودِ، فَهُوَ أَنَّ الْأَنْسَابَ لَا تُعْلَمُ قَطْعًا، فَجَازَ أَنْ تُعْلَمَ بِالِاسْتِدْلَالِ، وَالْعُقُودُ يُمْكِنُ أَنْ تُعْلَمَ قَطْعًا، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُعْلَمَ بِالِاسْتِدْلَالِ كَالْأَفْعَالِ.

Adapun jawaban terhadap penggabungan mereka antara nasab dan akad adalah bahwa nasab tidak dapat diketahui secara pasti, maka boleh diketahui melalui istidlāl (penalaran), sedangkan akad dapat diketahui secara pasti, maka tidak boleh diketahui melalui istidlāl seperti halnya perbuatan-perbuatan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ مَا أُدْرِكَ بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ لَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ غَيْرُهَا، فَهُوَ أَنَّ مَا أُدْرِكَ بِأَحَدِهِمَا كَانَ هَذَا حُكْمَهُ، وَمَا أُدْرِكَ بِالْحَاسَّتَيْنِ اعْتَبَرْنَاهُمَا فِيهِ، وَالْعُقُودُ تُدْرَكُ بِهِمَا فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَا فِيهَا.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa sesuatu yang diketahui melalui indera penglihatan tidak dianggap selainnya, maka jawabannya adalah bahwa sesuatu yang diketahui dengan salah satu dari keduanya (penglihatan atau pendengaran), maka itulah hukumnya. Dan sesuatu yang diketahui dengan kedua indera tersebut, maka keduanya harus dipertimbangkan. Akad-akad diketahui dengan kedua indera tersebut, maka wajib untuk mempertimbangkan keduanya dalam hal ini.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الصُّورَ تَخْتَلِفُ كَالْأَصْوَاتِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa gambar-gambar itu berbeda-beda seperti halnya suara-suara, maka ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الصُّورَ تَشْتَبِهُ فِي المبادىء ثُمَّ تَتَحَقَّقُ فِي الْغَايَاتِ، وَالْأَصْوَاتُ تَشْتَبِهُ فِي المبادىء وَالْغَايَاتِ.

Salah satunya: bahwa bentuk-bentuk itu mirip pada permulaan, kemudian menjadi nyata pada tujuan akhirnya, sedangkan suara-suara itu mirip pada permulaan dan pada tujuan akhirnya.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْمُصَوِّتَ قَدْ يَحْكِي صَوْتَ غَيْرِهِ فَيُشْتَبَهُ، وَفِي الصُّورِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَحْكِيَ صُورَةَ غَيْرِهِ فَلَمْ يُشْتَبَهْ.

Kedua: sesungguhnya suara seseorang bisa saja menirukan suara orang lain sehingga dapat menimbulkan kerancuan, sedangkan pada gambar tidak mungkin menirukan gambar orang lain sehingga tidak terjadi kerancuan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الصَّوْتَ يَدُلُّ عَلَى الْمُصَوِّتِ كَمَا يَسْتَدِلُّ الْأَعْمَى بِصَوْتِ زَوْجَتِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ أَنَّ الِاسْتِمْتَاعَ بِالْأَزْوَاجِ لِخُصُوصِ الِاسْتِحْقَاقِ أَوْسَعُ حُكْمًا مِنَ الشَّهَادَةِ، لِجَوَازِ الِاسْتِدْلَالِ عَلَيْهَا بِاللَّمْسِ، فَجَازَ الِاسْتِدْلَالُ عَلَيْهَا بِالصَّوْتِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَعْتَمِدَ فِي الِاسْتِمْتَاعِ بِالْمَزْفُوفَةِ إِلَيْهِ عَلَى خَبَرِ نَاقِلِهَا إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا، وَذَلِكَ مُمْتَنِعٌ فِي الشَّهَادَةِ، وَكَذَا الْأَخْبَارُ يَنْقُلُهَا الْوَاحِدُ عَنِ الْوَاحِدِ، وَيُقْبَلُ خَبَرُ الْمَرْأَةِ الْوَاحِدَةِ عَنِ الْمَرْأَةِ الْوَاحِدَةِ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ شَهَادَةُ الْوَاحِدَةِ عَنِ الْوَاحِدَةِ فَافْتَرَقَا.

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa suara menunjukkan kepada yang bersuara, sebagaimana orang buta mengenali istrinya melalui suaranya, maka sesungguhnya kenikmatan bersama pasangan karena kekhususan hak lebih luas hukumnya daripada kesaksian, karena boleh mengenali pasangan dengan sentuhan, maka boleh pula mengenalinya dengan suara. Dan boleh pula dalam menikmati istri yang diantarkan kepadanya, ia bersandar pada kabar dari orang yang membawanya, meskipun hanya satu orang, dan hal itu tidak diperbolehkan dalam kesaksian. Demikian pula kabar-kabar yang disampaikan satu orang dari satu orang lainnya, dan diterima pula kabar satu perempuan dari satu perempuan lainnya, meskipun kesaksian satu perempuan atas satu perempuan tidak diterima, maka keduanya berbeda.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْخِلَافِ فِي شَهَادَةِ الْأَعْمَى، فَسَنَذْكُرُ شَرْحَ مَذْهَبِنَا فِي شَهَادَتِهِمْ، فَإِذَا تَحَمَّلَ الشَّهَادَةَ، وَهُوَ بَصِيرٌ ثُمَّ أَدَّاهَا وَهُوَ أَعْمَى لَمْ يَخْلُ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ أَنْ يَكُونَ مُعَيَّنًا بِالْإِشَارَةِ أَوْ يَكُونَ مُعَيَّنًا بِالنَّسَبِ الْمُعْزَى إِلَيْهِ، فَإِنْ كَانَ مُعَيَّنًا بِالْإِشَارَةِ إِلَى جِسْمِهِ دُونَ اسْمِهِ، وَنَسَبِهِ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ أَدَاءُ الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ، وَإِنْ صح التحمل عنه لأنه يعد الْعَمَى لَا يُثْبِتُ الشَّخْصَ الْمُشَارَ إِلَيْهِ كَمَا لَا تَصِحُّ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ غَائِبًا لِلْجَهَالَةِ بِعَيْنِهِ، وَإِنْ تَعَيَّنَ بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ صَحَّ مِنَ الْأَعْمَى أَدَاءُ الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ كَمَا تَصِحُّ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ مَعَ غَيْبَتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ، لِأَنَّهُ يَتَعَيَّنُ بِالِاسْمِ وَالنَّسَبِ، كَمَا يَتَعَيَّنُ بِالْإِشَارَةِ وَهَكَذَا لَوْ تَحَمَّلَ الشَّهَادَةَ عَنْهُ وَهُوَ بَصِيرٌ، وَيَدُهُ فِي يَدِهِ ثُمَّ عَمِيَ، فَشَهِدَ عَلَيْهِ قَبْلَ تَخْلِيَتِهِ مِنْ يَدِهِ صَحَّتْ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ مُعَيَّنًا بِالْإِشَارَةِ لِمَعْرِفَتِهِ قَبْلَ مُفَارَقَتِهِ، فَصَحَّ مِنْهُ التَّحَمُّلُ وَالْأَدَاءُ مَعَ وُجُودِ الْعَمَى فِي الْحَالَيْنِ، وَهَكَذَا شَهَادَتُهُ عَلَى الْمَضْبُوطِ، وَهُوَ أَنْ يُدْنِيَ رَجُلٌ فَمَهُ مِنْ أُذُنِهِ وَيُقِرَّ عِنْدَهُ فَيَضْبُطَهُ، وَيَشْهَدَ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ صَحَّتْ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ وُجِدَ الْعَمَى فِي حَالَتَيِ التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ لِقَطْعِهِ بِالشَّهَادَةِ عَلَيْهِ.

Setelah jelas apa yang telah kami sebutkan mengenai perbedaan pendapat dalam kesaksian orang buta, maka kami akan menjelaskan mazhab kami tentang kesaksian mereka. Jika seseorang memikul kesaksian saat ia masih dapat melihat, kemudian ia menyampaikannya ketika ia sudah buta, maka pihak yang menjadi objek kesaksian itu bisa saja ditentukan dengan isyarat atau dengan nasab yang dinisbatkan kepadanya. Jika ia ditentukan dengan isyarat kepada tubuhnya tanpa menyebut nama dan nasabnya, maka tidak sah baginya menyampaikan kesaksian atas orang tersebut, meskipun sah baginya memikul kesaksian darinya, karena kebutaan tidak dapat memastikan orang yang ditunjuk sebagaimana tidak sah kesaksian atas orang yang tidak hadir karena tidak diketahui secara pasti. Namun, jika ia ditentukan dengan nama dan nasabnya, maka sah bagi orang buta untuk menyampaikan kesaksian atasnya, sebagaimana sah kesaksian atas orang yang tidak hadir setelah kematiannya, karena ia dapat ditentukan dengan nama dan nasab sebagaimana dapat ditentukan dengan isyarat. Demikian juga, jika ia memikul kesaksian atas seseorang saat ia masih dapat melihat dan tangannya berada di tangan orang tersebut, lalu ia menjadi buta, kemudian ia bersaksi atas orang itu sebelum melepaskan tangannya, maka sah kesaksiannya atasnya, meskipun ia hanya dapat mengenalinya dengan isyarat sebelum berpisah. Maka sah baginya memikul dan menyampaikan kesaksian meskipun dalam keadaan buta pada kedua kondisi tersebut. Demikian pula kesaksiannya atas orang yang mengakui (perkara), yaitu ketika seseorang mendekatkan mulutnya ke telinga orang buta dan mengakui sesuatu di hadapannya sehingga ia dapat memastikan pengakuan itu, lalu ia bersaksi atas pengakuan tersebut, maka sah kesaksiannya, meskipun kebutaan ada pada saat memikul dan menyampaikan kesaksian, karena ia benar-benar yakin dengan kesaksiannya atas orang tersebut.

وَتَصِحُّ شَهَادَةُ الْأَعْمَى بِالتَّرْجَمَةِ عِنْدَ الْحُكَّامِ لِأَنَّهُ يَشْهَدُ بِتَفْسِيرِ الْكَلَامِ الْمَسْمُوعِ.

Dan sah kesaksian orang buta melalui penerjemahan di hadapan para hakim, karena ia memberikan kesaksian atas penafsiran ucapan yang didengarnya.

وَيُقْبَلُ شَهَادَةُ الْأَعْمَى بِالنَّسَبِ إِذَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ الْمُدْرَكَةُ بِالسَّمْعِ الَّذِي يَشْتَرِكُ فِيهِ الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ، وَكَذَلِكَ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ بِالْمَوْتِ إِذَا تَظَاهَرَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ.

Diterima kesaksian orang buta mengenai nasab apabila didukung oleh berita-berita yang dapat diketahui melalui pendengaran, yang mana orang buta dan orang yang dapat melihat sama-sama dapat mengetahuinya. Demikian pula, kesaksiannya tentang kematian juga diterima apabila didukung oleh berita-berita tersebut.

فَأَمَّا شَهَادَتُهُ بِالْمِلْكِ بِالْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ فَإِنْ لَمْ يُعْتَبَرْ مُشَاهَدَةُ التَّصَرُّفِ فِي صِحَّةِ الشَّهَادَةِ فبلت فِيهِ شَهَادَةُ الْأَعْمَى لِاعْتِبَارِ السَّمْعِ وَحْدَهُ فِيهِ، وَإِنِ اعْتُبِرَ مَعَ اسْتِفَاضَةِ الْخَبَرِ مُشَاهَدَةُ التَّصَرُّفِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَةُ الْأَعْمَى فِيهِ لِفَقْدِ الْبَصَرِ الْمُعْتَبَرِ فِي وُجُودِ التَّصَرُّفِ، وَهَكَذَا إِذَا قُبِلَتِ الشَّهَادَةُ بِالزَّوْجِيَّةِ بِتَظَاهُرِ الْأَخْبَارِ قُبِلَتْ شَهَادَةُ الْأَعْمَى بِهَا، إِذَا لَمْ تُجْعَلْ مُشَاهَدَةُ الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ شَرْطًا فِيهَا وَرُدَّتْ إِنْ جُعِلَ شَرْطًا.

Adapun kesaksian seseorang tentang kepemilikan berdasarkan berita yang mutawatir, jika tidak disyaratkan adanya penyaksian langsung terhadap tindakan pengelolaan dalam keabsahan kesaksian, maka kesaksian orang buta diterima karena hanya mempertimbangkan pendengaran saja dalam hal ini. Namun, jika bersama dengan tersebarnya berita juga disyaratkan adanya penyaksian langsung terhadap tindakan pengelolaan, maka kesaksian orang buta tidak diterima karena ketiadaan penglihatan yang dianggap penting dalam mengetahui adanya tindakan tersebut. Demikian pula, jika kesaksian tentang pernikahan diterima berdasarkan banyaknya berita yang saling menguatkan, maka kesaksian orang buta juga diterima, selama tidak disyaratkan adanya penyaksian langsung terhadap masuk dan keluarnya pasangan, dan akan ditolak jika hal itu dijadikan syarat.

فَهَذَا مَا يُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْأَعْمَى، وَلَا يُقْبَلُ فِيمَا عَدَاهُ مِنَ الْأَفْعَالِ وَالْعُقُودِ.

Inilah perkara yang diterima kesaksian orang buta padanya, dan tidak diterima pada selainnya dari perbuatan dan akad.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْأَخْرَسُ فَيَصِحُّ مِنْهُ تَحَمُّلُ الشَّهَادَةِ، وَلَا يَصِحُّ مِنْهُ الْأَدَاءُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَقَالَ مَالِكٌ يَصِحُّ مِنْهُ الْأَدَاءُ كَمَا يَصِحُّ مِنْهُ التَّحَمُّلُ، وَبِهِ قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ، وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ النُّطْقَ مُعْتَبَرٌ فِي الْأَدَاءِ وَغَيْرُ مُعْتَبَرٍ فِي التَّحَمُّلِ.

Adapun orang bisu, maka sah baginya untuk menerima kesaksian, namun tidak sah baginya untuk menyampaikan kesaksian menurut mazhab Syafi‘i dan Abu Hanifah. Malik berpendapat bahwa sah baginya untuk menyampaikan kesaksian sebagaimana sah baginya untuk menerima kesaksian, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu al-‘Abbas bin Surayj. Namun, pendapat ini tidak benar, karena ucapan (lisan) dianggap penting dalam penyampaian kesaksian dan tidak dianggap penting dalam penerimaan kesaksian.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِذَا صَحَّ مِنْهُ النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالْإِقْرَارُ، وَأُقِيمَتْ إِشَارَتُهُ فِيهِ مَقَامَ النُّطْقِ.

Jika dikatakan: Jika nikah, talak, dan pengakuan sah darinya, dan isyaratnya dalam hal itu dianggap setara dengan ucapan.

قِيلَ: هَذَا الْجَمْعُ لَيْسَ بِلَازِمٍ لِوُجُودِ الضَّرُورَةِ فِيمَا يَخُصُّهُ مِنَ الْعُقُودِ الَّتِي جُعِلَ إِشَارَتُهُ كَنُطْقِهِ فِيهَا وَعَدَمُ الضَّرُورَةِ فِي الشَّهَادَةِ الَّتِي تَتَعَدَّاهُ إِلَى غَيْرِهِ، أَنْ تُجْعَلَ إِشَارَتُهُ فِيهَا كَنُطْقِهِ لِإِمْكَانِ وُجُودِ النُّطْقِ بِهَا مِنْ غَيْرِهِ.

Dikatakan: Penggabungan ini tidaklah wajib karena adanya kebutuhan mendesak pada akad-akad tertentu yang isyaratnya dianggap seperti ucapannya dalam akad-akad tersebut, dan tidak adanya kebutuhan mendesak dalam kesaksian yang berhubungan dengan orang lain, sehingga isyaratnya tidak dianggap seperti ucapannya dalam hal itu, karena masih dimungkinkan adanya ucapan dari selain dirinya.

(مَسْأَلَةٌ)

(Mas’alah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَكَذَلِكَ يَشْهَدُ عَلَى عَيْنِ الْمَرْأَةِ وَنَسَبِهَا إِذَا تَظَاهَرَتْ لَهُ الْأَخْبَارُ مِمَّنْ يُصَدَّقُ بِأَنَّهَا فُلَانَةٌ وَرَآهَا مَرَّةً وَهَذَا كُلُّهُ شَهَادَةٌ بِعِلْمٍ كَمَا وَصَفْنَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Demikian pula, seseorang dapat memberikan kesaksian atas identitas seorang perempuan dan nasabnya apabila telah tersebar berita-berita yang dapat dipercaya bahwa dia adalah si fulanah, dan ia pernah melihatnya sekali. Semua ini merupakan kesaksian berdasarkan pengetahuan, sebagaimana telah kami jelaskan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَشْهَدَ بِنَسَبِ امْرَأَةٍ كَانَتِ الشَّهَادَةُ أَغْلَظَ مِنْهَا فِي نَسَبِ الرَّجُلِ، لِبُرُوزِ الرَّجُلِ وَخَفَرِ الْمَرْأَةِ وَإِبَاحَةِ النَّظَرِ إِلَى الرَّجُلِ، وَتَحْرِيمُهُ فِي الْمَرْأَةِ، فَصَارَتْ بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ أَغْلَظَ فَاحْتَاجَ فِي الْعِلْمِ بِنَسَبِهَا إِلَى أَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar apabila seseorang ingin memberikan kesaksian tentang nasab seorang perempuan, maka kesaksiannya lebih berat dibandingkan kesaksian tentang nasab seorang laki-laki, karena laki-laki lebih sering tampil di hadapan umum sedangkan perempuan lebih terjaga, serta diperbolehkannya memandang laki-laki dan diharamkannya memandang perempuan. Dengan dua hal ini, kesaksian tentang nasab perempuan menjadi lebih berat, sehingga untuk mengetahui nasabnya dibutuhkan dua hal:

أَحَدُهُمَا: مَعْرِفَةُ عَيْنِهَا بِالْمُشَاهَدَةِ عَلَى وَجْهٍ مُبَاحٍ، وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَحَدِ وُجُوهٍ: مِنْهَا أَنْ يَرَاهَا فِي صِغَرِهَا، وَقَبْلَ بُلُوغِهَا فِي حَالَةٍ لَا يَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا، فَيَثْبُتُ مَعْرِفَةُ عَيْنِهَا فِي الصِّغَرِ حَتَّى لَمْ تَخْفَ عَلَيْهِ فِي الْكِبَرِ.

Salah satunya adalah mengetahui identitasnya secara langsung dengan cara yang diperbolehkan. Hal itu dapat terjadi melalui beberapa cara, di antaranya: seseorang melihatnya ketika masih kecil dan sebelum ia baligh, dalam keadaan di mana tidak diharamkan untuk melihatnya. Maka, pengetahuan tentang identitasnya sejak kecil tetap berlaku sehingga ia tidak samar baginya ketika sudah dewasa.

وَمِنْهَا أَنْ تَكُونَ مِنْ ذَوِي مَحَارِمَ يَسْتَبِيحُ النَّظَرَ إِلَيْهِنَّ فَيَعْرِفُهَا بِالْمُشَاهَدَةِ وَالنَّظَرِ.

Di antaranya adalah bahwa ia termasuk dari kalangan mahram yang diperbolehkan melihat mereka, sehingga ia mengenalnya melalui pertemuan langsung dan penglihatan.

وَمِنْهَا أَنْ يَكْثُرَ دُخُولُهَا عَلَى نِسَاءِ أَهْلِهِ فَيَقُلْنَ لَهُ هَذِهِ فُلَانَةٌ، فَيَعْرِفُ شَخْصَهَا بِمَا يَتَّفِقُ لَهُ مِنْ نَظْرَةٍ بَعْدَ نَظْرَةٍ لَمْ يَقْصِدْهَا، فَيَصِيرُ عَارِفًا بِهَا.

Di antaranya adalah seringnya ia masuk ke rumah keluarganya sehingga para wanita keluarga itu berkata kepadanya, “Ini si fulanah,” lalu ia pun mengenali orangnya karena kebetulan melihatnya sekali atau beberapa kali tanpa sengaja, sehingga ia menjadi mengenalnya.

فَأَمَّا مِعْرِفَةُ كَلَامِهَا، فَلَا يَصِيرُ بِهِ عَارِفًا لَهَا لِاشْتِبَاهِ الْأَصْوَاتِ، وَمِنْهَا أَنْ يَتَعَمَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا حَتَّى يَعْرِفَهَا، فَهَذَا مُوجِبٌ لِمَعْرِفَتِهَا، لَكِنْ إِنْ نَظَرَ إِلَى مَا يُجَاوِزُ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا كَانَ فِسْقًا تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ، فَتُقْبَلُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِهَا مُتَعَمِّدًا لِإِقَامَةِ الشَّهَادَةِ عَلَيْهَا بَعْدَ مَعْرِفَتِهَا كَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ فَتُقْبَلُ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِهَا عَمْدًا لِشَهْوَةٍ كَانَ فِسْقًا تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ تَعَمَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا لِغَيْرِ شَهْوَةٍ، فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ لَعَلِيٍّ: ” لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فإن الأولة لَكَ وَالثَّانِيَةَ عَلَيْكَ ” فِيهِ تَأْوِيلَانِ يَخْتَلِفُ حُكْمُ عدالته باختلافهما:

Adapun mengenal suara perempuan, maka dengan itu seseorang tidak menjadi mengetahui identitasnya karena kemiripan suara. Di antaranya adalah dengan sengaja melihatnya hingga mengenalinya, maka ini menyebabkan ia mengetahui identitasnya. Namun, jika ia melihat kepada bagian selain wajah dan kedua telapak tangannya, maka itu termasuk perbuatan fāsiq yang menyebabkan kesaksiannya ditolak kecuali jika ia bertobat, maka kesaksiannya diterima. Jika ia sengaja melihat wajahnya untuk menegakkan kesaksian atasnya setelah mengenalinya, maka ia tetap dianggap ‘adālah (adil), sehingga kesaksiannya diterima. Namun, jika ia sengaja melihat wajahnya karena syahwat, maka itu termasuk perbuatan fāsiq yang menyebabkan kesaksiannya ditolak. Jika ia sengaja melihatnya bukan karena syahwat, maka telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata kepada Ali: “Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua, karena yang pertama bagimu dan yang kedua atasmu.” Dalam hal ini terdapat dua penafsiran yang hukum ‘adālah-nya berbeda sesuai dengan perbedaan penafsiran tersebut.

أَحَدُهُمَا: يُرِيدُ لَا تُتْبِعْ نَظَرَ عَيْنَيْكَ نَظَرَ قَلْبِكَ، فَعَلَى هَذَا لَا يَأْثَمُ بِالنَّظَرِ لِغَيْرِ شَهْوَةٍ فَيَكُونُ عَلَى عَدَالَتِهِ.

Salah satunya: maksudnya adalah janganlah engkau mengikuti pandangan matamu dengan pandangan hatimu. Maka, berdasarkan hal ini, seseorang tidak berdosa karena memandang tanpa syahwat, sehingga ia tetap berada dalam keadilannya.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي: لَا تتبع النظرة الأولة الَّتِي وَقَعَتْ سَهْوًا بِالنَّظْرَةِ الثَّانِيَةِ الَّتِي تُوقِعُهَا عَمْدًا، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ بِمُعَاوَدَةِ النَّظَرِ آثِمًا يَخْرُجُ بِهِ مِنَ الْعَدَالَةِ، فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ إِلَّا بَعْدَ التَّوْبَةِ.

Penafsiran kedua: Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama yang terjadi karena lupa dengan pandangan kedua yang engkau lakukan dengan sengaja. Maka, berdasarkan hal ini, jika seseorang mengulangi pandangannya, ia berdosa dan keluar dari sifat adil, sehingga kesaksiannya tidak diterima kecuali setelah bertobat.

(فَصْلٌ)

(Bab)

وَإِذَا جَازَ لَهُ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِهَا، لِيَعْرِفَهَا فِي الشَّهَادَةِ لَهَا وَعَلَيْهَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيمَا يَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ مِنْ وَجْهِهَا، فَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى جَمِيعِ وَجْهِهَا؛ لِأَنَّ جَمِيعَهُ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ، وَاخْتَلَفَ الْقَائِلُونَ بِهَذَا فِي جَوَازِ النَّظَرِ إِلَى كَفَّيْهَا، فَجَوَّزَهُ بَعْضُهُمْ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ، وَمَنَعَ مِنْهُ أَكْثَرُهُمْ لِاخْتِصَاصِ الْمَعْرِفَةِ بِالْوَجْهِ دُونَ الْكَفَّيْنِ، وَقَالَ آخَرُونَ: لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى جَمِيعِ وَجْهِهَا، وَيَنْظُرُ مِنْهُ إِلَى مَا يَعْرِفُهَا بِهِ.

Dan apabila diperbolehkan baginya untuk melihat wajahnya, agar dapat mengenalinya dalam persaksian untuknya atau atasnya, maka para ulama berbeda pendapat mengenai bagian mana dari wajahnya yang boleh dilihat. Pendapat mayoritas fuqaha adalah bahwa boleh melihat seluruh wajahnya, karena seluruh wajah bukanlah aurat. Namun, di antara yang berpendapat demikian terdapat perbedaan mengenai kebolehan melihat kedua telapak tangannya; sebagian membolehkannya dengan alasan bahwa telapak tangan bukanlah aurat, sedangkan mayoritas melarangnya karena pengenalan hanya khusus pada wajah, bukan pada telapak tangan. Sementara itu, pendapat lain mengatakan: tidak boleh melihat seluruh wajahnya, melainkan hanya bagian yang dapat digunakan untuk mengenalinya saja.

وَقَالَ آخَرُونَ: إِنْ كَانَتْ شَابَّةً نَظَرَ إِلَى بَعْضِ وَجْهِهَا، وَإِنْ كَانَتْ عَجُوزًا نَظَرَ إِلَى جَمِيعِهِ.

Dan sebagian ulama lain berpendapat: Jika perempuan itu masih muda, maka boleh melihat sebagian wajahnya, dan jika ia sudah tua, maka boleh melihat seluruh wajahnya.

وَقَالَ آخَرُونَ: إِنْ كَانَتْ ذَاتَ جَمَالٍ نَظَرَ إِلَى بَعْضِهِ، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ ذَاتِ جَمَالٍ نَظَرَ إِلَى جَمِيعِهِ تَحَرُّزًا مِنَ الِافْتِتَانِ بِذَاتِ الْجَمَالِ.

Dan sebagian ulama lain berkata: Jika wanita itu memiliki kecantikan, maka ia (calon suami) hanya boleh melihat sebagian saja darinya; namun jika wanita itu tidak memiliki kecantikan, maka ia boleh melihat seluruhnya, sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terfitnah oleh wanita yang cantik.

وَالصَّحِيحُ مِنِ اخْتِلَافِ هَذِهِ الْأَقَاوِيلِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَعْرِفُهَا بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا يَعْرِفُهَا إِلَّا بِالنَّظَرِ إِلَى جَمِيعِ وَجْهِهَا جَازَ لَهُ النَّظَرُ إِلَى جَمِيعِهِ، وَإِنْ كَانَ يَعْرِفُهَا بِالنَّظَرِ إِلَى بَعْضِ وَجْهِهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَتَجَاوَزَهُ إِلَى غَيْرِهِ، وَلَا يَزِيدُ عَلَى النَّظْرَةِ الْوَاحِدَةِ إِلَّا أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ إِثْبَاتُهَا إِلَّا بِنَظْرَةٍ ثَانِيَةٍ، فَيَجُوزُ لَهُ النَّظْرَةُ الثَّانِيَةُ، وَمَتَى خَافَ إِثَارَةَ الشَّهْوَةِ بِالنَّظَرِ كَفَّ، وَلَمْ يَشْهَدْ إِلَّا فِي مُتَعَيَّنٍ عَلَيْهِ بَعْدَ ضَبْطِ نَفْسِهِ، وَإِنْ كَانَتْ فِي نِقَابٍ عَرَفَهَا فِيهِ لَمْ تَكْشِفْهُ، وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْهَا فِيهِ كَشَفَتْ مِنْهُ مَا يَعْرِفُهَا بِهِ، وَلَا يُعَوَّلُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْكَلَامِ لِأَنَّهُ قَدْ يُشْتَبَهُ.

Pendapat yang benar dari perbedaan pendapat ini adalah bahwa seseorang boleh melihat kepada apa yang dapat membuatnya mengenali (perempuan tersebut). Jika ia tidak dapat mengenalinya kecuali dengan melihat seluruh wajahnya, maka boleh baginya melihat seluruhnya. Namun, jika ia dapat mengenalinya hanya dengan melihat sebagian wajahnya, maka tidak boleh baginya melampaui bagian itu ke bagian lain. Ia juga tidak boleh menambah dari satu kali pandangan, kecuali jika kepastian pengenalannya tidak dapat diperoleh kecuali dengan pandangan kedua, maka boleh baginya melakukan pandangan kedua. Kapan pun ia khawatir timbulnya syahwat karena pandangan tersebut, maka ia harus menahan diri, dan tidak boleh menjadi saksi kecuali dalam perkara yang wajib baginya setelah mampu mengendalikan dirinya. Jika perempuan itu mengenakan cadar yang ia dapat dikenali dengannya, maka tidak perlu membuka cadarnya. Namun, jika ia tidak dapat dikenali dengan cadar itu, maka ia boleh membuka bagian yang dapat membuatnya dikenali. Tidak dapat dijadikan sandaran pada pengenalan melalui suara, karena suara bisa saja menimbulkan kerancuan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا عَرَفَهَا بِعَيْنِهَا مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ احْتَاجَ فِي مَعْرِفَةِ نَسَبِهَا إِلَى الْخَبَرِ الْمُتَظَاهِرِ بِأَنَّ فُلَانَةَ هَذِهِ بِعَيْنِهَا هِيَ ابنة فلان ابن فُلَانٍ، وَيَكُونُ مَعْرِفَةُ الْخَبَرِ بِنَسَبِهَا لِعَيْنِهَا، كَمِثْلِ مَعْرِفَتِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ فِي تَظَاهُرِ الْخَبَرِ، فَإِنْ كَانَ مِنْ رِجَالٍ وَنِسَاءٍ وَصِغَارٍ وَكِبَارٍ وَأَحْرَارٍ وَعَبِيدٍ فَهُوَ الْأَوْكَدُ فِي تَظَاهُرِ الْخَبَرِ بِنَسَبِهَا، لِامْتِزَاجِ مَنْ تَصِحُّ شَهَادَتُهُ بِمَنْ لَا تَصِحُّ، وَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ النِّسَاءُ وَالْعَبِيدُ صَحَّ بِهِمْ تَظَاهُرُ الْخَبَرِ، لِقَبُولِ خَبَرِهِمْ، وَإِنْ رُدَّتْ شَهَادَتُهُمْ وَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ الصِّبْيَانُ مَعَ اخْتِلَافِ أَحْوَالِهِمْ وَشَوَاهِدِ الْحَالِ بِانْتِفَاءِ التَّصَنُّعِ وَالْمُواطَأَةِ مِنْهُمْ، احْتَمَلَ صِحَّةُ تَظَاهُرِهِمْ بِهِ وَجْهَيْنِ:

Jika seseorang telah mengenal wanita itu secara pasti melalui salah satu cara tersebut, maka untuk mengetahui nasabnya, ia memerlukan informasi yang mutawatir bahwa wanita ini secara pasti adalah putri si Fulan bin Fulan. Pengetahuan tentang nasabnya itu haruslah sejelas pengetahuan tentang identitasnya. Kemudian, perlu diperhatikan mengenai kekuatan informasi tersebut; jika informasi itu datang dari laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, orang merdeka, dan budak, maka itu adalah yang paling kuat dalam kemutawatiran informasi tentang nasabnya, karena bercampurnya orang-orang yang sah persaksiannya dengan yang tidak sah. Jika informasi itu hanya berasal dari perempuan dan budak, maka kemutawatiran informasi mereka tetap sah, karena berita mereka diterima, meskipun persaksian mereka ditolak. Jika hanya anak-anak yang menyampaikan, dengan berbagai kondisi mereka dan adanya bukti keadaan yang menunjukkan tidak adanya rekayasa dan kesepakatan di antara mereka, maka kemungkinan kemutawatiran informasi mereka ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ تَظَاهُرُهُمْ بِهِ، لِأَنَّ أَخْبَارَ آحَادِهِمْ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ.

Salah satunya: Tidak sah mereka berpegang pada hal itu, karena kabar dari perorangan di antara mereka tidak dapat diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَصِحُّ تَظَاهُرُهُمْ بِهِ، لِأَنَّ أَخْبَارَ آحَادِهِمْ قَدْ تُقْبَلُ فِي الْإِذْنِ وَقَبُولِ الْهَدِيَّةِ وَلِأَنَّهُمْ أَبْعَدُ مِنَ التَّصَنُّعِ وَالتُّهْمَةِ، فَإِذَا صَحَّ لِلشَّاهِدِ مَعْرِفَةُ عَيْنِهَا، وَصَحَّ لَهُ تَظَاهُرُ الْخَبَرِ بِنَسَبِهَا صَحَّ لَهُ الشَّهَادَةُ بِهِ، وَإِنْ لَمْ يَصِحَّ أَحَدُهُمَا لَمْ تَصِحَّ لَهُ الشَّهَادَةُ بِهِ وَرُدَّتْ إِنْ شَهِدَ.

Pendapat kedua: Boleh mereka menampakkan pengetahuan mereka tentangnya, karena kabar dari satu orang di antara mereka dapat diterima dalam hal izin dan penerimaan hadiah, dan karena mereka lebih jauh dari rekayasa dan tuduhan. Maka jika seorang saksi telah mengetahui secara pasti identitasnya, dan telah sah baginya pengetahuan yang tersebar tentang nasabnya, maka sah baginya memberikan kesaksian tentang hal itu. Namun jika salah satu dari keduanya tidak sah, maka tidak sah baginya memberikan kesaksian tentangnya dan kesaksiannya akan ditolak jika ia tetap bersaksi.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَكَذَلِكَ يَحْلِفُ الرَّجُلُ عَلَى مَا يَعْلَمُ بِأَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ فِيمَا أَخَذَ بِهِ مَعَ شَاهِدِهِ وَفِي رَدِّ يَمِينٍ وَغَيْرِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Demikian pula, seseorang bersumpah atas apa yang ia ketahui dengan salah satu dari cara-cara ini, baik dalam perkara yang ia ambil berdasarkan persaksiannya, dalam menolak sumpah, maupun selainnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي وَارِثٍ أَرَادَ أَنْ يُطَالِبَ بِحَقٍّ لِمَيِّتِهِ مِنْ مِلْكٍ أَوْ غَيْرِ مِلْكٍ، فَلِعِلْمِهِ بِهِ حَالَتَانِ:

Al-Mawardi berkata: Adapun bentuknya adalah pada seorang ahli waris yang ingin menuntut hak untuk mayitnya, baik berupa kepemilikan atau selain kepemilikan. Maka, terkait pengetahuannya tentang hak tersebut, terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَعْلَمَ بِهِ مِنْ وَجْهٍ يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ لِغَيْرِهِ عَلَى مَا فصلنا من علم الشهادة بِمَا تَصِحُّ بِهِ شَهَادَتُهُ فَتَصِحُّ لَهُ الْمُطَالَبَةُ بِهِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ، وَيَجُوزُ أن يحلف عليه إن ردت عليه اليمين أَوْ مَعَ شَاهِدٍ إِنْ شَهِدَ لَهُ لِيَسْتَحِقَّهُ بِشَاهِدِهِ مَعَ يَمِينِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ عَلِمَهُ مِنْ أَقْصَى جِهَاتِ الْعِلْمِ بِهِ، وَلِأَنَّ مَا جَازَ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ لِغَيْرِهِ، فَأَوْلَى أَنْ يَدَّعِيَهُ لِنَفْسِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia mengetahui perkara tersebut dengan cara yang sah untuk dijadikan kesaksian bagi orang lain, sebagaimana telah kami jelaskan tentang ilmu yang sah untuk dijadikan dasar kesaksian, sehingga ia berhak menuntutnya, boleh baginya untuk mengklaimnya di hadapan hakim, dan boleh baginya bersumpah atasnya jika sumpah itu dikembalikan kepadanya, atau bersama seorang saksi jika ada yang bersaksi untuknya agar ia berhak mendapatkannya dengan saksi dan sumpahnya, karena ia telah mengetahuinya dengan pengetahuan yang paling kuat, dan karena sesuatu yang boleh dijadikan kesaksian untuk orang lain, maka lebih utama lagi untuk diklaim bagi dirinya sendiri.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْرِفَهُ مِنْ وَجْهٍ لَا تَصِحُّ لَهُ الشَّهَادَةُ بِمِثْلِهِ بِأَنْ أَخْبَرَهُ بِهِ وَاحِدٌ أَوْ وَجَدَهُ مَكْتُوبًا فِي حِسَابٍ أَوْ كِتَابٍ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan kedua: yaitu seseorang mengetahuinya dari sisi yang tidak sah baginya untuk memberikan kesaksian dengannya, seperti jika ada satu orang yang memberitahunya atau ia menemukannya tertulis dalam catatan atau buku, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَشَكَّكَ فِيهِ وَلَا يَثِقُ بِصِدْقِهِ، وَصِحَّتِهِ فَتَجُوزُ لَهُ الْمُطَالَبَةُ لِجَوَازِ أَنْ يَعْتَرِفَ بِهِ الْمَطْلُوبُ فَيَعْلَمُ صِحَّتَهُ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَدَّعِيَهُ عِنْدَ الْحُكَّامِ إِنْ أَنْكَرَهُ، وَلَا أَنْ يَحْلِفَ عليه إن ردت عليه اليمين، لِأَنَّهُ عَلَى غَيْرِ ثِقَةٍ بِصِحَّةِ الدَّعْوَى، وَجَوَازِ الْحَلِفِ، وَلَا تَكُونُ الدَّعْوَى وَالْيَمِينُ إِلَّا بِمَا عَرَفَ.

Salah satunya adalah ketika seseorang ragu terhadapnya dan tidak yakin akan kebenaran serta keabsahannya, maka baginya diperbolehkan untuk menuntut karena ada kemungkinan pihak yang dituntut akan mengakuinya sehingga ia mengetahui kebenarannya. Namun, tidak boleh baginya untuk mengajukan gugatan di hadapan hakim jika pihak yang dituntut mengingkarinya, dan juga tidak boleh bersumpah atasnya jika sumpah itu dikembalikan kepadanya, karena ia tidak yakin terhadap kebenaran gugatan tersebut dan kemungkinan bersumpah, dan gugatan serta sumpah itu hanya boleh dilakukan atas sesuatu yang diketahui.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَقَعَ فِي نَفْسِهِ صِدْقُ الْمُخْبِرِ؛ وَصِحَّةُ الْحِسَابِ وَالْكِتَابِ، فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يُطَالِبَ بِهِ وَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَدَّعِيَهُ عِنْدَ الْحُكَّامِ لِمَعْرِفَتِهِ بِصِحَّتِهِ، وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جواز يمينه عليه إن ردت عليه اليمين أَوْ يَحْلِفُ مَعَ شَاهِدِهِ إِنْ شَهِدَ لَهُ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu ketika dalam dirinya timbul keyakinan akan kebenaran orang yang memberi informasi, serta kebenaran perhitungan dan penulisan, maka boleh baginya untuk menuntut berdasarkan hal itu dan boleh pula baginya untuk mengajukan klaim di hadapan para hakim karena pengetahuannya akan kebenaran tersebut. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai kebolehan sumpahnya atas hal itu jika sumpah dikembalikan kepadanya, atau ia bersumpah bersama saksinya jika ada yang bersaksi untuknya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ عَرَفَهُ بِغَالِبِ ظَنٍّ، يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ، وَجَعَلَهُ قَائِلُ هَذَا الْوَجْهِ كَأَنَّهُ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ.

Salah satunya: Tidak boleh bersumpah atasnya karena ia mengetahuinya berdasarkan dugaan kuat, yang mungkin saja pada hakikatnya berbeda, dan menurut pendapat yang mengatakan hal ini, hal tersebut dianggap seperti yang tampak dari perkataan asy-Syafi‘i.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِلْأَنْصَارِ حِينَ ادَّعَوْا قَتْلَ صَاحِبِهِمْ عَلَى يَهُودِ خَيْبَرَ وَقَدْ غَابُوا عَنْ قَتْلِهِ ” تَحْلِفُونَ وَتَسْتَحِقُّونَ دَمَ صَاحِبِكُمْ “.

Pendapat kedua, dan ini yang lebih sahih, adalah boleh baginya untuk bersumpah atasnya, karena Nabi ﷺ berkata kepada kaum Anshar ketika mereka menuduh orang Yahudi Khaibar membunuh rekan mereka, padahal mereka tidak hadir saat pembunuhannya: “Kalian bersumpah, maka kalian berhak atas darah rekan kalian.”

وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَرْوِيَ خَبَرَ الْوَاحِدِ، وَثَبَتَ بِهِ شَرْعًا جَازَ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهِ لِيَثْبُتَ بِهِ حَقًّا.

Dan karena ketika diperbolehkan seseorang meriwayatkan khabar al-wāḥid, dan dengannya dapat ditetapkan hukum secara syar‘i, maka diperbolehkan pula ia bersumpah atas dasar itu agar suatu hak dapat ditetapkan dengannya.

وَلِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُسْتَعْمَلَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ مَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ بِمِثْلِهِ كَالِاسْتِمْتَاعِ بِزَوْجَتِهِ فِي الظَّلَامِ ومعرفتها باللمس والكلام.

Dan karena boleh jadi seseorang menggunakan sesuatu untuk dirinya sendiri yang tidak boleh dijadikan sebagai kesaksian, seperti menikmati istrinya dalam kegelapan dan mengenalinya melalui sentuhan dan suara.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَقُلْتُ لِمَنْ قَالَ لَا أُجِيزُ الشَّاهِدَ وَإِنْ كَانَ بَصِيرًا حِينَ عَلِمَ حَتَّى يُعَايِنَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ يَوْمَ يُؤَدِّيهَا عَلَيْهِ فَأَنْتَ تُجِيزُ شَهَادَةَ الْبَصِيرِ عَلَى مَيِّتٍ وَعَلَى غَائِبٍ فِي حَالٍ وَهَذَا نَظِيرُ مَا أَنْكَرْتَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku berkata kepada orang yang berpendapat tidak membolehkan kesaksian seseorang, meskipun ia melihat dengan jelas pada saat mengetahui (peristiwa), sampai ia menyaksikan secara langsung objek yang disaksikan pada hari ia memberikan kesaksian: ‘Engkau membolehkan kesaksian orang yang melihat terhadap orang yang telah meninggal dan terhadap orang yang tidak hadir dalam keadaan tertentu, dan ini serupa dengan apa yang engkau ingkari.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا أَرَادَ بِهِ أَبَا حَنِيفَةَ فِي الْبَصِيرِ إِذَا تَحَمَّلَ شَهَادَةً ثُمَّ عَمِيَ، لَمْ تُقْبَلْ عِنْدَهُ شَهَادَةٌ بَعْدَ الْعَمَى، وَهِيَ عِنْدُ الشَّافِعِيِّ مَقْبُولَةٌ، وَقَدْ قَدَّمْنَا الْكَلَامَ فِيهِ لَكِنَّهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ لَهُ فِي أَنَّ الشَّهَادَةَ لَا تَصِحُّ إِلَّا عَلَى حَاضِرٍ، وَالْأَعْمَى لَا يُشَاهِدُ الْحَاضِرَ، فَلَمْ تَصِحَّ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِ، فَنَاقَضَهُ الشَّافِعِيُّ، فَقَالَ: أَنْتَ تُجِيزُ الشَّهَادَةَ عَلَى الْمَيِّتِ، وَهُوَ غَيْرُ حَاضِرٍ، فَكَانَ هَذَا نَقْضًا لِمَذْهَبِهِ، فِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ عَلَى الْغَائِبِ وَإِبْطَالًا لِتَعْلِيلِهِ فِي رَدِّ شَهَادَةِ الْأَعْمَى.

Al-Mawardi berkata: Yang dimaksudkan dengan ini adalah pendapat Abu Hanifah mengenai orang yang dapat melihat, apabila ia menerima kesaksian lalu menjadi buta, maka menurutnya kesaksian setelah ia buta tidak diterima. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i, kesaksian tersebut diterima, dan kami telah membahas hal ini sebelumnya. Namun, menurut Abu Hanifah, hal ini didasarkan pada prinsipnya bahwa kesaksian tidak sah kecuali terhadap sesuatu yang hadir, dan orang buta tidak dapat menyaksikan yang hadir, sehingga kesaksiannya atasnya tidak sah. Maka asy-Syafi‘i membantahnya dengan mengatakan: “Engkau membolehkan kesaksian atas orang mati, padahal ia tidak hadir,” sehingga ini menjadi bantahan terhadap mazhabnya dalam membolehkan kesaksian atas yang ghaib dan membatalkan alasannya dalam menolak kesaksian orang buta.

فَإِنْ قِيلَ شروط الأداء في الشاهدة أَغْلَظُ مِنْ شُرُوطِ التَّحَمُّلِ، لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَتَحَمَّلَهَا، وَهُوَ صَغِيرٌ وَعَبْدٌ، وَفَاسِقٌ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهِ وَحُرِّيَّتِهِ وَعَدَالَتِهِ، فَلَمْ يَجُزْ تَحَمُّلُ الْأَعْمَى لَهَا، فَأَوْلَى أَنْ لَا تَجُوزَ شَهَادَتُهُ بِهَا.

Jika dikatakan bahwa syarat-syarat pelaksanaan dalam persaksian lebih berat daripada syarat-syarat penerimaan (kesaksian), karena boleh saja seseorang menerima kesaksian ketika ia masih kecil, budak, atau fasik, namun tidak boleh melaksanakannya kecuali setelah ia baligh, merdeka, dan adil, maka tidak dibolehkannya orang buta menerima kesaksian, lebih utama lagi tidak boleh kesaksiannya diterima.

قِيلَ: إِنَّمَا أُرِيدَ الْبَصَرُ فِي حَالِ التَّحَمُّلِ لِيَقَعَ لَهُ الْعِلْمُ بِهَا، فَلَمْ يُعْتَبَرِ الْبَصَرُ فِي الْأَدَاءِ لِاسْتِقْرَارِ الْعِلْمِ بِهَا وَلَمْ يَمْنَعِ الصِّغَرُ وَالرِّقُّ، وَالْفِسْقُ مِنَ التَّحَمُّلِ، وَإِنْ مَنَعَ مِنَ الْأَدَاءِ لِأَنَّهَا أَحْوَالٌ لَا تَمْنَعُ مِنْ وُقُوعِ الْعِلْمِ بِهَا وَتَمْنَعُ مِنْ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا.

Dikatakan: Sesungguhnya yang dimaksud adalah penglihatan pada saat menerima (riwayat) agar pengetahuan terhadapnya dapat diperoleh, maka tidak disyaratkan penglihatan pada saat penyampaian karena pengetahuan tentangnya telah mantap. Demikian pula, usia muda, status budak, dan kefasikan tidak menghalangi dalam menerima (riwayat), meskipun menghalangi dalam penyampaian, karena keadaan-keadaan tersebut tidak menghalangi terjadinya pengetahuan tentangnya, namun menghalangi berlakunya hukum dengannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَتَجُوزُ شَهَادَةُ الْأَعْوَرِ وَالْأَعْمَشِ وَالْأَحْوَلِ وَالْأَعْشَى، فَإِنْ كَانَ الْأَحْوَلُ يَرَى الْوَاحِدَ اثْنَيْنِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ فِي الْعَدَدِ، وَقُبِلَ فِيمَا سِوَاهُ.

Diperbolehkan kesaksian orang yang bermata satu, yang rabun, yang juling, dan yang penglihatannya kabur. Namun, jika orang yang juling melihat satu menjadi dua, maka kesaksiannya tidak diterima dalam perkara yang berkaitan dengan jumlah, tetapi diterima dalam perkara selain itu.

وَأَمَّا شَهَادَةُ مَنْ فِي بَصَرِهِ ضَعْفٌ، فَإِنْ كَانَ لَا يُدْرِكُ الْأَشْخَاصَ وَلَا يَعْرِفُ الصُّورَ لَمْ تَصِحَّ شَهَادَتُهُ كَالْأَعْمَى فِيمَا يَخْتَصُّ بِالْبَصَرِ، وَإِنْ كَانَ يَعْرِفُ الصُّورَ بَعْدَ الْمُقَارَبَةِ وَشِدَّةِ التَّأَمُّلِ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ بِهِ كَالْبَصِيرِ.

Adapun kesaksian orang yang penglihatannya lemah, jika ia tidak dapat mengenali orang-orang dan tidak mengetahui rupa mereka, maka kesaksiannya tidak sah seperti orang buta dalam hal-hal yang berkaitan dengan penglihatan. Namun, jika ia dapat mengenali rupa setelah mendekat dan memperhatikan dengan saksama, maka kesaksiannya diterima dalam hal itu seperti orang yang dapat melihat.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الشَّهَادَةُ عَلَى مَنْ لَا يَعْرِفُهُ الشَّاهِدُ وَلِمَنْ لَا يَعْرِفُهُ الشَّاهِدُ فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ فِي أَدَائِهَا وَإِقَامَتِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا عَلَى مَنْ لَا يَعْرِفُهُ وَلِمَنْ لَا يَعْرِفُهُ لِأَنَّ الْجَهْلَ بِمَعْرِفَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَانِعٌ مِنْ صِحَّةِ الشَّهَادَةِ، كَالْجَهْلِ بِمَعْرِفَةِ الْمَشْهُودِ فِيهِ، وَكَمَالُ الْمَعْرِفَةِ أَنْ يَعْرِفَهُ بِعَيْنِهِ وَاسْمِهِ وَنَسَبِهِ، فَإِنْ عَرَفَهُ بِعَيْنِهِ دُونَ اسْمِهِ وَنَسَبِهِ جَازَ فِي الْحَاضِرِ، وَلَمْ يَجُزْ فِي الْغَائِبِ وَإِنْ عَرَفَهُ بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ، وَلَمْ يَعْرِفْهُ بِعَيْنِهِ جَازَ فِي الْمَشْهُودِ لَهُ، وَلَمْ يَجُزْ فِي الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَتَحَمَّلَهَا لِغَائِبٍ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَحَمَّلَهَا عَنْ غَائِبٍ.

Adapun kesaksian terhadap orang yang tidak dikenal oleh saksi, atau untuk orang yang tidak dikenal oleh saksi, maka jika hal itu terjadi dalam pelaksanaan dan penegakannya di hadapan hakim, tidak boleh memberikan kesaksian terhadap orang yang tidak dikenalnya dan untuk orang yang tidak dikenalnya, karena ketidaktahuan terhadap identitas masing-masing dari keduanya menjadi penghalang sahnya kesaksian, sebagaimana ketidaktahuan terhadap objek yang disaksikan. Kesempurnaan dalam mengenal adalah mengetahui orang tersebut secara langsung, namanya, dan nasabnya. Jika ia mengenalnya secara langsung tanpa mengetahui nama dan nasabnya, maka boleh untuk yang hadir, dan tidak boleh untuk yang tidak hadir. Jika ia mengenalnya dengan nama dan nasabnya, namun tidak mengenalnya secara langsung, maka boleh untuk yang disaksikan (pihak yang menerima hak), dan tidak boleh untuk yang disaksikan atasnya (pihak yang dituntut), karena boleh saja ia menanggungnya untuk orang yang tidak hadir, namun tidak boleh menanggungnya dari orang yang tidak hadir.

فَأَمَّا إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَحَمَّلَ الشَّهَادَةَ عَمَّنْ لَا يَعْرِفُهُ، وَلِمَنْ لَا يَعْرِفُهُ، فَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي جَوَازِهِ، فَمَنَعَ مِنْهُ قَوْمٌ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالشَّهَادَةِ أَدَاؤُهَا، وَمَعَ الْجَهَالَةِ لَا تَصِحُّ، فَصَارَ الشَّاهِدُ غَارًّا.

Adapun jika seseorang ingin memikul kesaksian dari orang yang tidak dikenalnya, dan untuk orang yang tidak dikenalnya, maka para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Sebagian melarangnya, karena tujuan dari kesaksian adalah menyampaikannya, dan jika dalam keadaan tidak mengenal, maka kesaksian itu tidak sah, sehingga saksi menjadi menyesatkan.

وَقَالَ قَوْمٌ يُكَلِّفُ الْمُقِرَّ أَنْ يَأْتِيَهُ بِمَنْ يُعَرِّفُهُ ثُمَّ يَشْهَدُ عَلَيْهِ بَعْدَ التَّعْرِيفِ، وَلَا يَشْهَدُ عَلَيْهِ قَبْلَهُ، وَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى مَنْ لَا يَعْرِفُهُ، وَلِمَنْ لَا يَعْرِفُهُ إِذَا أَثْبَتَ صُورَتَهُمَا، وَتَحَقَّقَ أَشْخَاصُهُمَا وَإِنْ لَمْ يَرَهُمَا قَبْلَ الشَّهَادَةِ، فَإِنْ أَرَادَ الشَّاهِدُ إِقَامَتَهَا وَعَرَفَ عِنْدَ أَدَائِهَا شَخْصَ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، وَالْمَشْهُودَ لَهُ بِأَعْيَانِهَا صَحَّ مِنْهُ إِقَامَتُهَا مَعَ الْجَهَالَةِ بِاسْمِهَا وَنَسَبِهَا، وَإِنْ خَفِيَ عَلَيْهِ أَشْخَاصُهُمَا، وَاشْتَبَهَتْ عَلَيْهِ أَعْيَانُهُمَا لَمْ يَجُزْ لَهُ إِقَامَتُهَا.

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang mengakui (sesuatu) dibebani untuk mendatangkan seseorang yang mengenalkannya, kemudian orang tersebut bersaksi atasnya setelah proses pengenalan, dan tidak boleh bersaksi sebelumnya. Adapun pendapat jumhur (mayoritas ulama) adalah diperbolehkan bersaksi atas orang yang tidak dikenalnya, dan untuk orang yang tidak dikenalnya jika telah dipastikan identitas keduanya serta diyakini keberadaan mereka meskipun belum pernah melihat mereka sebelum persaksian. Jika saksi ingin memberikan kesaksian dan saat menyampaikannya ia mengetahui secara pasti orang yang disaksikan dan orang yang menjadi pihak yang disaksikan secara langsung, maka sah baginya memberikan kesaksian meskipun tidak mengetahui nama dan nasabnya. Namun, jika ia tidak mengetahui identitas keduanya dan tidak dapat membedakan secara pasti siapa mereka, maka tidak boleh baginya memberikan kesaksian.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا تَحْلِيَةُ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ مَجْهُولًا، فَقَدْ أَوْجَبَهَا قَوْمٌ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى الْمَعْرِفَةِ، وَمَنَعَ مِنْهَا آخَرُونَ لِأَنَّ الْحُلِيَّ قَدْ يَشْتَبِهُ، وَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهُ اسْتِظْهَارٌ لَهُ بَاعِثُهُ عَلَى التَّذَكُّرِ، كَالْخَطِّ الَّذِي يُرَادُ لِيُذَكِّرَ الشَّهَادَةَ، وَلَا يُعَوَّلُ عَلَيْهِ فِي الْأَدَاءِ، وَإِذَا جَازَتِ التَّحْلِيَةُ اسْتِظْهَارًا بِهَا اشْتَمَلَ الْكَلَامُ فِيهَا عَلَى فَصْلَيْنِ:

Adapun penjelasan tentang orang yang menjadi objek kesaksian apabila ia tidak dikenal, maka sebagian ulama mewajibkannya karena hal itu dapat mengantarkan kepada pengenalan, sementara yang lain melarangnya karena perhiasan bisa saja menimbulkan kerancuan. Adapun pendapat jumhur (mayoritas ulama) adalah bahwa hal itu hanya sebagai sarana untuk membantu mengingat, seperti tulisan yang dimaksudkan untuk mengingatkan pada kesaksian, dan tidak dijadikan sandaran dalam penyampaian (kesaksian). Jika penjelasan tersebut diperbolehkan sebagai sarana untuk membantu mengingat, maka pembahasan tentangnya mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: مَا يَجُوزُ أَنْ يُحَلَّى فِيهِ الْمُقَرُّ بِهِ.

Salah satunya: sesuatu yang boleh dijadikan tempat dihiasinya objek yang diakui (dalam pengakuan).

وَالثَّانِي: مَا يَجُوزُ أَنْ يُحَلَّى فِيهِ الْمُقِرُّ.

Yang kedua: sesuatu yang boleh dijadikan tempat bagi orang yang mengakui (perkara tersebut).

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِيمَا يَجُوزُ أَنْ يُحَلَّى فِيهِ الْمُقِرُّ، فَالْحُقُوقُ الْمُقَرُّ بِهَا عَلَى ثَلَاثَةٍ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian pertama: tentang hal-hal yang boleh dijadikan tempat pengalihan oleh orang yang mengakui (hak), maka hak-hak yang diakui itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى التَّحْلِيَةِ، وَهُوَ الْوَصَايَا، وَمَا لَا يَلْزَمُ فِي الْعُقُودِ.

Salah satunya adalah apa yang tidak memerlukan penguatan, yaitu wasiat, dan apa yang tidak wajib dalam akad-akad.

وَالثَّانِي: مَا يُحْتَاجُ فِيهِ إِلَى التَّحْلِيَةِ، وَهِيَ الدُّيُونُ، وَالْبَرَاءَاتُ، وَالْحُقُوقُ الْمُؤَجَّلَةُ.

Yang kedua: perkara yang membutuhkan penjelasan tambahan, yaitu utang-utang, pembebasan, dan hak-hak yang ditangguhkan.

وَالثَّالِثُ: مَا لَمْ يَجْرِ الْعُرْفُ فِيهِ بِالتَّحْلِيَةِ، وَإِنْ جَازَتْ، وَهِيَ عُقُودُ الْبِيَاعَاتِ النَّاجِزَةِ وَالْمَنَاكِحِ، وَالْوِكَالَاتِ.

Ketiga: yaitu perkara yang tidak lazim menurut ‘urf untuk menggunakan sighat tashliyah (ungkapan penghias), meskipun hal itu dibolehkan, seperti akad-akad jual beli yang telah sempurna, akad nikah, dan akad wakalah.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي: فِيمَا يَجُوزُ أَنْ يُحَلَّى بِهِ الْمُقِرُّ، فَقَدْ حَدَّهُ قَوْمٌ بِأَنَّهُ مَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِهِ الْقَائِفُ فِي إِلْحَاقِ النَّسَبِ، وَمَنَعُوا مِنَ التَّحْلِيَةِ بِمَا يَجُوزُ أَنْ يَحْدُثَ مِنْ آثَارٍ، وَجِرَاحٍ، أَوْ يُمْكِنُ أَنْ يُغَيِّرَ مِنْ شَيْبٍ وَشَبَابٍ.

Adapun bagian kedua: tentang hal-hal yang boleh dijadikan ciri bagi orang yang mengakui (identitas), maka sebagian ulama membatasinya dengan apa yang boleh dijadikan dasar oleh seorang qā’if dalam menetapkan nasab. Mereka melarang penggunaan ciri-ciri yang mungkin timbul dari bekas-bekas, luka-luka, atau yang dapat berubah seperti uban dan usia muda.

وَحَدَّهُ آخَرُونَ بِأَنَّهُ كُلُّ مَا اشْتُهِرَ بِهِ مِنْ أَوْصَافِهِ، وَمَنَعُوا مِنْ تَحْلِيَتِهِ مَا لَمْ يَشْتَهِرْ بِهِ، وَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّ التَّحْلِيَةَ تَكُونُ بِكُلِّ مَا دَلَّتْ عَلَى الْمُحَلَّى مِنْ أَوْصَافِهِ الظَّاهِرَةِ دُونَ الْبَاطِنَةِ، فَمِنْهَا الطُّولُ، وَالْقِصَرُ، وَمِنْهَا اللَّوْنُ مِنْ بَيَاضٍ أَوْ سَوَادٍ أَوْ سُمْرَةٍ، وَمِنْهَا الْبَدَنُ مِنْ سِمَنٍ أَوْ هُزَالٍ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ كَاللُّثْغَةِ، وَالْفَأْفَأَةِ، وَالتَّمْتَمَةِ وَالرَّدَّةِ وَمَا فِي اللِّسَانِ مِنَ الْعَجَلَةِ وَالثِّقَلِ، وَمِنْهَا مَا فِي الْعَيْنِ مِنَ الْكُحْلَةِ، وَالشُّهْلَةِ، وَالشُّكْلَةِ فَقَدْ قِيلَ: إِنَّ الشُّكْلَةَ هِيَ كَمِّيَّةُ الْحُمْرَةِ فِي بَيَاضِ الْعَيْنِ، وَالشُّهْلَةُ كَمِّيَّةُ الْحُمْرَةِ فِي سَوَادِ الْعَيْنِ، وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كَانَ فِي عَيْنِهِ شُكْلَةٌ وَمِنْهَا الشَّعْرُ فِي الْجُعُودَةِ وَالسُّبُوطَةِ، وَقِيلَ: لَا يُحَلَّى بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَتَصَنَّعُ النَّاسُ تَجْعِيدَ السِّبْطِ وَتَسْبِيطَ الْجَعْدِ، وَهَذَا لَيْسَ بِشَيْءٍ لِأَنَّهُ قَدْ يُعْرَفُ الْمَصْنُوعُ مِنَ الْمَخْلُوقِ، وَمِنْهَا سَوَادُ الشَّعْرِ وَبَيَاضُهُ، وَقِيلَ لَا يُحَلَّى بِهِ لِأَنَّ السَّوَادَ قَدْ يَبْيَضُّ والبياض قد يخصب، وَهَذَا لَيْسَ بِشَيْءٍ لِأَنَّ بَيَاضَ السَّوَادِ يَعْلُو السِّنَّ قَدْ بَدَّلَ عَلَيْهِ تَارِيخَ الشَّهَادَةِ، وَخِضَابُ الْبَيَاضِ يَظْهَرُ لِلْمُتَأَمِّلِ وَاخْتُلِفَ فِي جَوَازِ التَّحْلِيَةِ بِالصَّمَمِ فَجَوَّزَهُ قَوْمٌ، وَمَنَعَ مِنْهُ آخَرُونَ، لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ مِنْ مَرَضٍ فَيَزُولُ.

Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai segala sifat yang telah masyhur darinya, dan mereka melarang menyebutkan sifat yang belum masyhur. Adapun pendapat jumhur adalah bahwa penyebutan sifat (taḥliyah) dilakukan dengan semua sifat lahiriah yang menunjukkan orang yang dimaksud, bukan sifat batiniah. Di antaranya adalah tinggi, pendek, warna kulit seperti putih, hitam, atau sawo matang, bentuk badan seperti gemuk atau kurus, serta cara berbicara seperti cadel, gagap, pelo, atau suara yang berat dan ringan pada lidah. Termasuk juga apa yang ada pada mata seperti bercelak, kemerahan, atau bercak pada mata; telah disebutkan bahwa bercak pada mata adalah jumlah kemerahan pada bagian putih mata, sedangkan kemerahan pada bagian hitam mata disebut syuhlah. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pada matanya terdapat bercak (syaklah). Termasuk juga rambut, baik keriting maupun lurus; ada yang berpendapat tidak boleh disebutkan karena orang bisa saja mengeritingkan rambut lurus atau meluruskan rambut keriting, namun pendapat ini tidak kuat karena buatan manusia dapat dibedakan dari ciptaan asli. Termasuk juga warna rambut, hitam atau putih; ada yang berpendapat tidak boleh disebutkan karena rambut hitam bisa memutih dan rambut putih bisa diwarnai, namun pendapat ini juga tidak kuat karena rambut yang memutih karena usia dapat diketahui dari riwayat kesaksian, dan pewarnaan rambut putih dapat dikenali oleh orang yang teliti. Terdapat perbedaan pendapat tentang kebolehan menyebutkan sifat tuli; sebagian membolehkannya, sebagian lain melarangnya karena bisa jadi tuli itu berasal dari penyakit yang dapat sembuh.

فَأَمَّا التَّحْلِيَةُ بِمَا فِي الْفَمِ مِنَ الْأَسْنَانِ، فَيَجُوزُ بِمَا ظَهَرَ مِنَ الثَّنَايَا وَالْأَنْيَابِ، وَيُمْنَعُ مِنْهَا بِمَا بَطَنَ مِنَ الْأَضْرَاسِ، وَتَجُوزُ التَّحْلِيَةُ بِالْجِرَاحِ، وَالشِّجَاجِ، وَالْآثَارِ اللَّازِمَةِ، وَلَا تَجُوزُ بِالثِّيَابِ وَاللِّبَاسِ، وَتَجُوزُ تَحْلِيَةُ النِّسَاءِ بِمَا فِي وُجُوهِهِنَّ، وَبِمَا ظَهَرَ مِنْ طُولٍ وَقِصَرٍ وَهُزَالٍ أَوْ سِمَنٍ، وَتَجُوزُ تَحْلِيَةُ الْمَشْهُودِ لَهُ أَيْضًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Adapun memuji dengan apa yang ada di dalam mulut berupa gigi, maka diperbolehkan memuji dengan apa yang tampak dari gigi seri dan taring, dan dilarang memuji dengan apa yang tersembunyi dari geraham. Diperbolehkan memuji dengan luka, bekas luka, dan bekas-bekas yang menetap. Tidak diperbolehkan memuji dengan pakaian dan busana. Diperbolehkan memuji wanita dengan apa yang ada di wajah mereka, serta dengan apa yang tampak dari tinggi, pendek, kurus, atau gemuk. Diperbolehkan juga memuji orang yang sedang menjadi saksi. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(بَابُ مَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ مِنَ الْقِيَامِ بالشهادة إذا دعي ليشهد أو يكتب)

(Bab tentang kewajiban seseorang untuk melaksanakan kesaksian apabila dipanggil untuk bersaksi atau menuliskannya)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” قَالَ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ {وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قلبه) {قَالَ الشَّافِعِيُّ) وَالَّذِي أَحْفَظُ عَنْ كُلِّ مَنْ سَمِعْتُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ ذَلِكَ فِي الشَّاهِدِ قَدْ لَزِمَتْهُ الشَّهَادَةُ وَأَنَّ فَرْضًا عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِهَا عَلَى وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ لَا تُكْتَمُ عَنْ أَحَدٍ وَلَا يُحَابَى بِهَا أَحَدٌ وَلَا يُمْنَعَهَا أَحَدٌ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Allah Yang Maha Tinggi berfirman: ‘Janganlah kalian menyembunyikan kesaksian, dan barang siapa yang menyembunyikannya maka sungguh ia berdosa hatinya.’ Imam Syafi‘i berkata: Dan yang aku hafal dari semua yang aku dengar dari para ahli ilmu adalah bahwa ayat tersebut berkaitan dengan saksi yang telah diwajibkan atasnya untuk memberikan kesaksian, dan bahwa wajib baginya untuk menunaikannya terhadap ayahnya, anaknya, kerabat dekat maupun jauh; kesaksian itu tidak boleh disembunyikan dari siapa pun, tidak boleh memihak kepada siapa pun, dan tidak boleh ada yang dihalangi dari kesaksian tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الشَّهَادَةَ وَثِيقَةٌ تَتِمُّ بِالتَّحَمُّلِ وَتُسْتَوْفَى بِالْأَدَاءِ فَصَارَتْ جَامِعَةً لِلتَّحَمُّلِ فِي الِابْتِدَاءِ وَالْأَدَاءِ فِي الِانْتِهَاءِ، وَالشَّاهِدُ مَأْمُورٌ بِهَا فِي التَّحَمُّلِ والأداء، قال الله تعلى {وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا} [البقرة: 282] .

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa kesaksian adalah suatu ikatan yang sempurna dengan penerimaan dan disempurnakan dengan penyampaian, sehingga mencakup penerimaan pada permulaan dan penyampaian pada akhirnya. Saksi diperintahkan untuk melaksanakannya baik dalam penerimaan maupun penyampaian, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan para saksi tidak boleh enggan apabila mereka dipanggil.” (QS. Al-Baqarah: 282).

وَفِيهِ لِأَهْلِ الْعِلْمِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Dalam hal ini, para ulama memiliki tiga penafsiran.

أَحَدُهَا: إِذَا دُعُوا لِتَحَمُّلِهَا وَإِثْبَاتِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَتَادَةَ، وَالرَّبِيعِ.

Salah satunya: apabila mereka dipanggil untuk memikul dan menetapkannya di hadapan hakim, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Qatadah, dan ar-Rabi‘.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي: إِذَا دُعُوا لِإِقَامَتِهَا وَأَدَائِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ، وَهُوَ قَوْلُ مُجَاهِدٍ، وَعَطَاءٍ وَالشَّعْبِيِّ.

Penafsiran kedua: apabila mereka diajak untuk menegakkan dan melaksanakannya di hadapan hakim, dan ini adalah pendapat Mujāhid, ‘Aṭā’, dan asy-Sya‘bī.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّالِثُ: إِذَا دُعُوا لِلتَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ جَمِيعًا، وَهُوَ قَوْلُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ.

Penafsiran yang ketiga: apabila mereka diajak untuk menerima dan menyampaikan (hadis) sekaligus, dan ini adalah pendapat Hasan al-Bashri.

وَاخْتَلَفُوا فِي حُكْمِ هَذَا الْأَمْرِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ:

Mereka berbeda pendapat mengenai hukum perkara ini menjadi tiga pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ نَدْبٌ، وَلَيْسَ بِفَرْضٍ، وَهُوَ قَوْلُ عَطَاءٍ، وَعَطِيَّةَ.

Salah satunya: bahwa itu adalah sunnah, bukan wajib, dan ini adalah pendapat ‘Aṭā’ dan ‘Aṭiyyah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّعْبِيِّ.

Pendapat kedua: fardu kifayah, dan ini adalah pendapat asy-Sya‘bi.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: إِنَّهُ فَرْضٌ عَلَى الْأَعْيَانِ، وَهُوَ قَوْلُ قَتَادَةَ، وَالرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ.

Pendapat ketiga: Sesungguhnya itu adalah fardhu ‘ain, dan ini adalah pendapat Qatadah dan ar-Rabi‘ bin Anas.

فَأَمَّا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ فَهُمَا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ، إِنْ كَثُرَ مَنْ يَتَحَمَّلُ وَيُؤَدِّي كَالْجِهَادِ، وَطَلَبِ الْعِلْمِ وَالصَّلَاةِ عَلَى الْجَنَائِزِ، وَهُمَا مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ، إِنْ لَمْ يُوجَدْ غَيْرُهُمَا فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ، وَقَدْ يكون فرض التحمل على الكفاية وفرض الأداء عَلَى الْأَعْيَانِ، إِذَا كَثُرَ عَدَدُهُمْ فِي التَّحَمُّلِ وَقَلَّ عَدَدُهُمْ فِي الْأَدَاءِ، وَيُمْتَنَعُ أَنْ يَكُونَ فَرْضُ التَّحَمُّلِ عَلَى الْأَعْيَانِ وَفَرْضُ الْأَدَاءِ عَلَى الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ الْأَدَاءَ يَكُونُ بَعْدَ التَّحَمُّلِ، غَيْرَ أَنَّ الْأَغْلَبَ مِنْ حَالِ التَّحَمُّلِ أَنَّهُ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، وَرُبَّمَا تَعَيَّنَ وَفِي الْأَغْلَبِ مِنْ حَالِ الْأَدَاءِ أَنَّهُ مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ، وَرُبَّمَا صَارَ عَلَى الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ التَّحَمُّلَ عَامٌّ وَالْأَدَاءَ خَاصٌّ، وَلِذَلِكَ كَثُرَ عَدَدُ الْمُتَحَمِّلِينَ وَقَلَّ عَدَدُ الْمُؤَدِّينَ، وَلِذَلِكَ مَا اخْتِيرَ أَنْ يَكُونَ عَدَدُ الْمُتَحَمِّلِينَ ثَمَانِيَةً اثْنَانِ يَمُوتَانِ، وَاثْنَانِ يَمْرَضَانِ، وَاثْنَانِ يَغِيبَانِ، وَاثْنَانِ يَحْضُرَانِ فَيُؤَدِّيَانِ، وَإِذَا اسْتَوَى التَّحَمُّلُ وَالْأَدَاءُ فِي فُرُوضِ الْكِفَايَةِ، وَفُرُوضِ الْأَعْيَانِ، كَانَ فَرْضُ الْأَدَاءِ أَغْلَظَ مِنْ فَرْضِ التَّحَمُّلِ.

Adapun mazhab Syafi‘i dalam hal tahammul (menerima dan menghafal hadis) dan ada’ (menyampaikan hadis), keduanya termasuk fardhu kifayah jika jumlah orang yang melakukan tahammul dan ada’ banyak, seperti halnya jihad, menuntut ilmu, dan salat jenazah. Namun, keduanya menjadi fardhu ‘ain jika tidak ada selain mereka yang melakukan tahammul dan ada’. Bisa jadi kewajiban tahammul bersifat kifayah sedangkan kewajiban ada’ bersifat ‘ain, jika jumlah orang yang melakukan tahammul banyak namun yang melakukan ada’ sedikit. Tidak mungkin kewajiban tahammul bersifat ‘ain sedangkan kewajiban ada’ bersifat kifayah, karena ada’ terjadi setelah tahammul. Akan tetapi, pada umumnya tahammul termasuk fardhu kifayah, meskipun kadang bisa menjadi fardhu ‘ain, dan umumnya ada’ termasuk fardhu ‘ain, meskipun kadang bisa menjadi fardhu kifayah, karena tahammul bersifat umum sedangkan ada’ bersifat khusus. Oleh karena itu, jumlah orang yang melakukan tahammul lebih banyak dan jumlah orang yang melakukan ada’ lebih sedikit. Karena itu pula, dipilih agar jumlah orang yang melakukan tahammul delapan orang: dua orang meninggal, dua orang sakit, dua orang bepergian, dan dua orang hadir untuk menyampaikan (ada’). Jika tahammul dan ada’ sama-sama berada dalam fardhu kifayah atau fardhu ‘ain, maka kewajiban ada’ lebih berat daripada kewajiban tahammul.

قَالَ تَعَالَى: {وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةِ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ} [البقرة: 283] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian menyembunyikan kesaksian, dan barang siapa yang menyembunyikannya maka sungguh hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah: 283).

وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ:

Di dalamnya terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ فَاجِرٌ قَلْبُهُ فَيُحْمَلُ عَلَى فِسْقِهِ بِكَتْمِهَا فِي الْعُمُومِ، وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ السُّدِّيِّ.

Salah satunya: bahwa ia adalah seorang yang fasik hatinya, sehingga ia terdorong untuk berbuat kefasikan dengan menyembunyikannya secara umum, dan inilah makna perkataan as-Suddi.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ مُكْتَسِبٌ لِإِثْمِ كَتْمِهَا، فَيُحْمَلُ عَلَى مَأْثَمِهِ بِهَا فِي الْخُصُوصِ، وَخُصَّ الْقَلْبُ بِهَا، لِأَنَّهُ مَحَلٌّ لِاكْتِسَابِ الْآثَامِ وَالْأُجُورِ.

Dan yang kedua: sesungguhnya ia memperoleh dosa karena menyembunyikannya, maka ia akan memikul dosa khusus karena hal itu, dan hati disebutkan secara khusus karena ia adalah tempat perolehan dosa dan pahala.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا لَمْ يَخْلُ حَالُ التحمل والأداء من ثلاثة أحوال:

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, tidaklah keadaan tahammul dan ada’ (penerimaan dan penyampaian hadis) lepas dari tiga keadaan:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ الْفَرْضُ فِيهِ عَلَى الْكِفَايَةِ، لِكَثْرَةِ مَنْ يَتَحَمَّلُ وَيُؤَدِّي، وَزِيَادَتِهِمْ عَلَى الْعَدَدِ الْمَشْرُوطِ فِي الْحُكْمِ، فَدَاعِي الشُّهُودِ إِلَى التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ مُخَيَّرٌ فِي الِابْتِدَاءٍ بِدُعَاءِ أَيِّهِمْ شَاءَ، فَإِذَا بَدَأَ بِاسْتِدْعَاءِ أَحَدِهِمْ إِلَى تَحَمُّلِ الشَّهَادَةِ أَوْ أَدَائِهَا، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي حُكْمِ فَرْضِهِ إِذَا ابتدىء عَلَى وَجْهَيْنِ:

Pertama: Kewajiban di dalamnya adalah fardhu kifayah, karena banyaknya orang yang mampu memikul dan menyampaikan (kesaksian), serta jumlah mereka melebihi jumlah yang disyaratkan dalam hukum. Maka orang yang memanggil para saksi untuk memikul dan menyampaikan kesaksian diberi kebebasan untuk memulai dengan memanggil siapa saja yang ia kehendaki. Jika ia telah memulai dengan memanggil salah satu dari mereka untuk memikul atau menyampaikan kesaksian, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum kewajibannya ketika telah dimulai, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ فَرْضُ الْإِجَابَةِ، إِلَّا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ غَيْرَهُ يُجِيبُ، فَلَا يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya kewajiban untuk menjawab itu menjadi wajib atasnya, kecuali jika ia mengetahui bahwa orang lain akan menjawabnya, maka kewajiban itu tidak menjadi khusus atasnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهُ لَا يتعين عليه فرض الإجابة، إلا أن يعلم أَنَّ غَيْرَهُ لَا يُجِيبُ، فَيَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ الْفَرْضُ، فَيَكُونُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ عَاصِيًا حَتَّى يُجِيبَ غَيْرُهُ، وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي غَيْرُ عَاصٍ حَتَّى يَمْتَنِعَ غَيْرُهُ، فَإِذَا أَجَابَ إِلَى التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ الْعَدَدُ الْمَشْرُوطُ فِي الشَّهَادَةِ سَقَطَ فَرْضُهَا عَنِ الْبَاقِينَ، وَإِنِ امْتَنَعُوا جَمِيعًا جُرِحُوا أَجْمَعِينَ، وَكَانَ المبتدىء بِالِاسْتِدْعَاءِ أَغْلَظَهُمْ مَأْثَمًا، لِأَنَّهُ صَارَ مَتْبُوعًا فِي الِامْتِنَاعِ، كَمَا لَوْ بَدَأَ بِالْإِجَابَةِ كَانَ أَكْثَرَهُمْ أَجْرًا، لِأَنَّهُ صَارَ مَتْبُوعًا فِيهَا.

Pendapat kedua: Sesungguhnya tidak wajib baginya untuk menjawab (memenuhi panggilan) secara fardhu, kecuali jika ia mengetahui bahwa orang lain tidak akan menjawab, maka saat itu kewajiban menjadi fardhu atas dirinya. Maka, menurut pendapat pertama, ia berdosa sampai ada orang lain yang menjawab; sedangkan menurut pendapat kedua, ia tidak berdosa sampai orang lain menolak (tidak menjawab). Apabila telah ada sejumlah orang yang disyaratkan dalam persaksian yang memenuhi panggilan untuk menerima dan menyampaikan (kesaksian), maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Namun jika mereka semua menolak, maka semuanya tercela, dan orang yang pertama kali memulai penolakan adalah yang paling besar dosanya, karena ia menjadi panutan dalam penolakan tersebut; sebagaimana jika ia memulai untuk menjawab, maka ia menjadi yang paling besar pahalanya, karena ia menjadi panutan dalam hal itu.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَعَيَّنَ الْفَرْضُ فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ، لِأَنَّهُ لَا يُوجَدُ غَيْرُ الْمَدْعُوِّ إِلَيْهَا فِي الْعَدَدِ الْمَشْرُوطِ فِي الْحُكْمِ الْمَشْرُوطِ فِيهِ، فَلَا يَمْتَنِعُ مَنْ دُعِيَ إِلَى تَحَمُّلِهَا وَأَدَائِهَا أَنْ يَتَوَقَّفَ عَنِ الْإِجَابَةِ، وَهُوَ بِالتَّوَقُّفِ عَاصٍ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، الَّتِي تُدْرَأُ بِالشُّبَهَاتِ، كَالْحُدُودِ فِي الزِّنَا، وَشُرْبِ الْخَمْرِ فَهُوَ مَنْدُوبٌ إِلَى التَّوَقُّفِ عَنْ تَحَمُّلِهَا، لِقَوْلِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” هَلَّا سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ يَا هَزَّالُ “.

Keadaan kedua: yaitu ketika kewajiban menjadi pasti dalam menerima dan menyampaikan (kesaksian), karena tidak ada selain orang yang dipanggil untuk itu dalam jumlah yang disyaratkan pada hukum yang disyaratkan padanya. Maka, tidak boleh bagi orang yang dipanggil untuk menerima dan menyampaikan kesaksian tersebut untuk menolak memenuhi panggilan itu; dan jika ia menolak tanpa uzur, maka ia berdosa, kecuali jika kesaksian itu berkaitan dengan hak-hak Allah Ta‘ala yang dapat gugur karena adanya syubhat, seperti hudud dalam kasus zina dan minum khamar, maka dianjurkan baginya untuk menahan diri dari menerima kesaksian itu, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Mengapa engkau tidak menutupinya dengan bajumu, wahai Hazzal?”

وَأَمَّا تَوَقُّفُهُ عَنْ أَدَائِهَا فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun penundaan pelaksanaannya, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ قي تَوَقُّفِهِ إِيجَابُ حَدٍّ عَلَى غَيْرِهِ، كَمَنْ شَهِدَ بِالزِّنَا فَلَمْ تَكْمُلْ شَهَادَتُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ الْأَدَاءُ، وَأَثِمَ بِالتَّوَقُّفِ.

Salah satunya adalah jika dalam penundaannya terdapat kewajiban menetapkan hudud atas orang lain, seperti seseorang yang bersaksi tentang zina namun kesaksiannya belum lengkap, maka ia wajib menyampaikan (kesaksian), dan berdosa jika menunda.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَجِبَ لِتَوَقُّفِهِ حَدٌّ عَلَى غَيْرِهِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu tidak wajib karena batasannya bergantung pada selainnya, dan ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَظْهَرَ مِنَ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ نَدَمٌ فِيمَا أَوْجَبَ الْحَدَّ عَلَيْهِ فَالْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ أَنْ لَا يُؤَدِّيَ الشَّهَادَةَ عَلَيْهِ، وَلَا يَأْثَمُ بِتَوَقُّفِهِ عَنْهَا.

Salah satunya adalah apabila dari orang yang disaksikan tampak penyesalan atas perbuatan yang mewajibkan had atas dirinya, maka yang dianjurkan bagi saksi adalah tidak memberikan kesaksian terhadapnya, dan ia tidak berdosa jika menahan diri dari memberikan kesaksian tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عَلَى إِصْرَارِهِ غَيْرَ نَادِمٍ عَلَى فِعْلِهِ، فَالْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ أَنْ يُقِيمَ الشَّهَادَةَ، وَيَكُونُ تَوَقُّفُهُ عَنْهَا مَكْرُوهًا وَلَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ، وَإِنَّمَا يَعْصَى بِالتَّوَقُّفِ عَنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Jenis yang kedua: yaitu ketika seseorang tetap bersikeras tanpa merasa menyesal atas perbuatannya, maka yang dianjurkan adalah menegakkan kesaksian, dan menahan diri dari memberikan kesaksian dalam keadaan ini hukumnya makruh dan bukan termasuk maksiat. Seseorang hanya berdosa jika menahan diri dari memberikan kesaksian terkait hak-hak manusia.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ فَرْضُ التَّحَمُّلِ عَلَى الْكِفَايَةِ، وَفَرْضُ الْأَدَاءِ عَلَى الْأَعْيَانِ، لِأَنَّهُمْ عِنْدَ التَّحَمُّلِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الشَّهَادَةِ فَلَمْ يُخَفَّضِ الْفَرْضُ بِبَعْضِهِمْ، وَصَارَ عَلَى الْكِفَايَةِ، وَهُمْ عِنْدَ الْأَدَاءِ مَقْصُورُونَ عَلَى عَدَدِ الشَّهَادَةِ فَأُخْفِضَ الْفَرْضُ بِهِمْ وَتَعَيَّنَ عَلَيْهِمْ فَيَجْرِي عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ حُكْمُهُ فِي اعْتِبَارِ الْكِفَايَةِ فِي التَّحَمُّلِ، وَتَعَيَّنَ الْفَرْضُ فِي الْأَدَاءِ، فَإِنْ مَاتَ أحد شاهدي الْأَدَاءِ وَبَقِيَ الْآخَرُ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمَشْهُودِ من إحدى حالين:

Keadaan ketiga: kewajiban menerima (kesaksian) bersifat kifayah, sedangkan kewajiban menyampaikan (kesaksian) bersifat ‘ain. Sebab, pada saat menerima, jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah saksi yang dibutuhkan, sehingga kewajiban tidak dibebankan kepada sebagian dari mereka saja, melainkan menjadi kewajiban kifayah. Namun, ketika menyampaikan, mereka terbatas pada jumlah saksi yang diperlukan, sehingga kewajiban dibebankan kepada mereka secara khusus dan menjadi kewajiban ‘ain atas mereka. Maka, pada masing-masing dari mereka berlaku hukum kifayah dalam menerima, dan kewajiban menjadi khusus dalam menyampaikan. Jika salah satu dari dua saksi yang menyampaikan meninggal dunia dan yang lain masih hidup, maka keadaan perkara yang disaksikan tidak lepas dari dua kemungkinan:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ مِمَّا لَا يُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ، وَجِنَايَةِ الْعَمْدِ فَيَسْقُطُ فَرْضُ الْأَدَاءِ عَنِ الْبَاقِي، لِأَنَّهُ لَا يَثْبُتُ بِشَهَادَتِهِ حَقٌّ.

Pertama: Jika perkara tersebut termasuk yang tidak dapat diputuskan dengan kesaksian satu orang dan sumpah, seperti nikah, talak, dan jinayah ‘amdan (kejahatan yang disengaja), maka kewajiban memberikan kesaksian gugur bagi saksi yang tersisa, karena dengan kesaksiannya saja tidak dapat ditetapkan suatu hak.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مِمَّا يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَلَا يَخْلُو حَالُ الشَّاهِدِ الْمُؤَدِّي وَالْحَاكِمِ الْمَشْهُودِ عِنْدَهُ مِنْ أربعة أحوال:

Keadaan kedua: yaitu perkara yang boleh diputuskan dengan satu saksi dan sumpah. Maka, keadaan saksi yang memberikan kesaksian dan hakim yang menerima kesaksian tersebut tidak lepas dari empat keadaan:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ يَرَى الْحُكْمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَيَجِبُ عَلَى الشَّاهِدِ أَنْ يَشْهَدَ، وَعَلَى الْمَشْهُودِ عِنْدَهُ أَنْ يَحْكُمَ.

Pertama: jika ia termasuk orang yang berpendapat bahwa putusan dapat dijatuhkan dengan satu saksi dan sumpah, maka wajib bagi saksi untuk memberikan kesaksian, dan bagi hakim yang mendengar kesaksian tersebut untuk memutuskan perkara.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَا يَرَى الْحُكْمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَلَا يَجِبُ عَلَى الشَّاهِدِ أَنْ يَشْهَدَ، وَلَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ.

Keadaan kedua: yaitu apabila seseorang termasuk golongan yang tidak berpendapat bahwa hukum dapat diputuskan dengan satu saksi dan sumpah, maka saksi tidak wajib memberikan kesaksian, dan hakim tidak boleh memutuskan perkara.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ مِمَّنْ يَرَى الْحُكْمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَالْحَاكِمُ مِمَّنْ لَا يَرَى الْحُكْمَ بِهِ، فَلَا يَجِبُ عَلَى الشَّاهِدِ أَنْ يَشْهَدَ، لِأَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ بشهادته إلزام.

Keadaan ketiga: Jika saksi termasuk orang yang membolehkan putusan dengan saksi dan sumpah, sedangkan hakim termasuk orang yang tidak membolehkan putusan dengannya, maka saksi tidak wajib memberikan kesaksian, karena kesaksiannya tidak berkonsekuensi pada adanya kewajiban hukum.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ مِمَّنْ لَا يَرَى الْحُكْمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَالْحَاكِمُ مِمَّنْ يَرَى الْحُكْمَ بِهِ، فَعَلَى الشَّاهِدِ أَنْ يَشْهَدَ، لِأَنَّهُ وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَرَى ذَلِكَ فَهُوَ يَعْتَقِدُ أَنَّ مَا يَشْهَدُ بِهِ حَقٌّ وَاجِبٌ، وَإِنْ كَانَ فِي الْتِزَامِ الْحُكَّامِ غَيْرُ وَاجِبٍ، وَالْإِلْزَامُ مُعْتَبَرٌ بِاجْتِهَادِ الْحَاكِمِ دُونَ اجْتِهَادِ الشَّاهِدِ، وهكذا لو كان مَعَ الشَّاهِدِ امْرَأَتَانِ، فِيمَا اخْتَلَفَ فِيهِ الْحُكْمُ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ، كَانَ مُعْتَبَرًا بِهَذِهِ الْأَحْوَالِ الْأَرْبَعَةِ.

Keadaan keempat: Jika saksi termasuk orang yang tidak berpendapat bahwa hukum dapat ditegakkan dengan saksi dan sumpah, sedangkan hakim termasuk orang yang berpendapat bahwa hukum dapat ditegakkan dengan itu, maka saksi tetap harus memberikan kesaksian. Sebab, meskipun ia termasuk orang yang tidak berpendapat demikian, ia meyakini bahwa apa yang ia saksikan adalah kebenaran dan suatu kewajiban, meskipun menurut pendapatnya, hakim tidak wajib menetapkan hukum berdasar kesaksian tersebut. Penetapan hukum itu sendiri mengikuti ijtihad hakim, bukan ijtihad saksi. Demikian pula jika bersama saksi terdapat dua orang perempuan, dalam perkara yang diperselisihkan tentang penetapan hukum dengan satu saksi dan dua perempuan, maka hal itu juga berlaku pada keempat keadaan ini.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” ثم تتفرع الشهادات (قال الشافعي) قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ ولا شهيد} فَأَشْبَهَ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَنْ تَرَكَ ذَلِكَ ضِرَارًا وَفَرْضُ الْقِيَامِ بِهَا فِي الِابْتِدَاءِ عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَالْجَنَائِزِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَلَمْ أَحْفَظْ خِلَافَ مَا قُلْتُ عَنْ أَحَدٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Kemudian cabang-cabang kesaksian (syahadat) berkembang. (Imam Syafi‘i berkata:) Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: {Dan janganlah penulis dan saksi dirugikan}. Maka tampaknya, orang yang meninggalkan hal itu dengan maksud merugikan telah keluar (dari kewajiban), dan kewajiban melaksanakannya pada awalnya adalah fardu kifayah, seperti jihad, pengurusan jenazah, dan menjawab salam. Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang apa yang aku katakan ini dari siapa pun.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ: ” ثُمَّ تَتَفَرَّعُ الشَّهَادَاتُ … . ” عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

Al-Mawardi berkata: Para pengikut Syafi‘i berbeda pendapat dalam menafsirkan ucapannya: “Kemudian kesaksian-kesaksian bercabang …” menjadi empat pendapat.

أَحَدُهَا: إِنَّهَا تَتَفَرَّعُ بِأَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ فِي حَالٍ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ عِنْدَ كَثْرَةِ الْعَدَدِ، وَفِي حَالٍ مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ عِنْدَ قِلَّةِ الْعَدَدِ وَقَائِلُ هَذَا الْوَجْهِ مُتَأَوِّلٌ عَلَى مَا لَا يُخَالِفُ فِيهِ نَصَّ مَذْهَبِهِ.

Salah satunya: bahwa hal ini bercabang dengan adanya kesaksian yang termasuk dalam fardhu kifayah ketika jumlahnya banyak, dan termasuk dalam fardhu ‘ain ketika jumlahnya sedikit. Orang yang berpendapat demikian menakwilkan hal ini dengan penafsiran yang tidak bertentangan dengan nash mazhabnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهَا تَتَفَرَّعُ بِأَنْ يَكُونَ فَرْضُ تَحَمُّلِهَا عَلَى الْكِفَايَةِ وَفَرْضُ أَدَائِهَا عَلَى الْأَعْيَانِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya ia bercabang dengan ketentuan bahwa kewajiban menanggungnya bersifat kifayah, sedangkan kewajiban melaksanakannya bersifat ‘ain.

وَقَائِلُ هَذَا الْوَجْهِ مُتَأَوِّلٌ لَهُ عَلَى خِلَافِ مَذْهَبِهِ، لِأَنَّ فَرْضَ التَّحَمُّلِ قَدْ يَتَعَيَّنُ إِذَا لَمْ يُوجَدْ غَيْرُ مَنْ دُعِيَ لِلتَّحَمُّلِ، وَفَرْضُ الْأَدَاءِ قَدْ لَا يَتَعَيَّنُ إِذَا وُجِدَ غَيْرُ مَنْ دُعِيَ لِلْأَدَاءِ، فَلَمْ يَمْتَنِعْ فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ مِنْ أَنْ يَنْتَقِلَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ فَرْضِ الْكِفَايَةِ إِلَى فَرْضِ الْأَعْيَانِ، وَمِنْ فَرْضِ الْأَعْيَانِ إِلَى فَرْضِ الْكِفَايَةِ، وَلَئِنْ كَانَ الْمُتَحَمِّلُ مُلْتَزِمًا لِفَرْضِ الْأَدَاءِ فَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ لَا يَتَعَيَّنَ عَلَيْهِ الْأَدَاءُ.

Orang yang berpendapat seperti ini menafsirkannya dengan makna yang berbeda dari mazhabnya, karena kewajiban tahammul (menerima dan mencatat hadis) bisa menjadi wajib ‘ain apabila tidak ada orang lain selain yang dipanggil untuk tahammul, dan kewajiban adā’ (menyampaikan hadis) bisa jadi tidak menjadi wajib ‘ain apabila ada orang lain yang dipanggil untuk adā’. Maka, tidak mustahil dalam tahammul dan adā’ bahwa masing-masing dari keduanya dapat berpindah dari fardhu kifāyah menjadi fardhu ‘ain, dan dari fardhu ‘ain menjadi fardhu kifāyah. Dan meskipun orang yang melakukan tahammul telah berkomitmen untuk kewajiban adā’, tidaklah mustahil bahwa adā’ itu tidak menjadi kewajiban yang ditentukan atasnya.

الْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنَّهَا تَتَفَرَّعُ بِأَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ تَارَةً فِي تَصْحِيحِ عَقْدٍ كَالنِّكَاحِ وَالرَّجْعَةِ، وَتَارَةً فِي نَدْبٍ كَالْبَيْعِ، وَالْإِجَارَةِ وَتَارَةً فِي وَثِيقَةٍ كَالدُّيُونِ.

Aspek ketiga: Bahwa persoalan ini bercabang pada beberapa keadaan, yaitu terkadang kesaksian diperlukan untuk mensahkan suatu akad seperti nikah dan rujuk, terkadang dalam hal yang dianjurkan seperti jual beli dan sewa-menyewa, dan terkadang dalam hal yang bersifat penguatan seperti utang-piutang.

وَقَائِلُ هَذَا الْوَجْهِ لَا يَخْرُجُ بِتَأْوِيلِهِ عِنْدَ مَذْهَبِهِ.

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat ini tidak keluar dari penafsirannya menurut mazhabnya.

فَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي عَقْدِ نِكَاحٍ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِهَا وَجَبَ عَلَى الطَّالِبِ أَنْ يَدْعُوَ إِلَيْهَا لِتَصْحِيحِ عَقْدِهِ.

Jika kesaksian itu berkaitan dengan akad nikah yang tidak sah kecuali dengan adanya kesaksian tersebut, maka wajib bagi pihak yang membutuhkan untuk memanggil saksi demi mensahkan akadnya.

فَإِذَا اقْتَصَرَ بِالشَّهَادَةِ عَلَى تَصْحِيحِ الْعَقْدِ جَازَ أَنْ يَدْعُوَ إِلَيْهَا أَهْلَ الْعَدَالَةِ الظَّاهِرَةِ، وَإِنْ أَرَادَ بِهَا مَعَ تَصْحِيحِ الْعَقْدِ الْوَثِيقَةَ فِي إِثْبَاتِهِ عِنْدَ الْحُكَّامِ دَعَا إِلَيْهَا أَهْلَ الْعَدَالَةِ الْبَاطِنَةِ، لِأَنَّ النِّكَاحَ يَصِحُّ بِالْعَدَالَةِ الظَّاهِرَةِ، وَثُبُوتَهُ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِالْعَدَالَةِ الْبَاطِنَةِ.

Jika dalam persaksian hanya dimaksudkan untuk mensahkan akad, maka boleh mengundang orang-orang yang memiliki keadilan lahiriah. Namun, jika persaksian itu dimaksudkan selain untuk mensahkan akad juga sebagai bukti kuat di hadapan para hakim, maka hendaknya mengundang orang-orang yang memiliki keadilan batiniah. Sebab, akad nikah sah dengan keadilan lahiriah, sedangkan penetapannya tidak sah kecuali dengan keadilan batiniah.

وَأَمَّا الْمَطْلُوبُ لِلشَّهَادَةِ عَلَيْهِ فَهُوَ مَأْمُورٌ بِالْإِجَابَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun orang yang diminta untuk menjadi objek kesaksian, maka ia diperintahkan untuk memenuhi permintaan tersebut dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: فِي تَصْحِيحِ الْعَقْدِ بِحُضُورِهِ.

Salah satunya: dalam mensahkan akad dengan kehadirannya.

وَالثَّانِي: فِي الْوَثِيقَةِ بِتَحَمُّلِهِ، فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْعَدَالَةِ الظَّاهِرَةِ تَفَرَّدَ حُضُورُهُ بِتَصْحِيحِ الْعَقْدِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْعَدَالَةِ الْبَاطِنَةِ جَمَعَ بِحُضُورِهِ بَيْنَ تَصْحِيحِ الْعَقْدِ وَتَحَمُّلِهِ، وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي مَنْدُوبٍ إِلَيْهِ كَالْبَيْعِ كَانَ مَطْلَبُهَا مَنْدُوبًا إِلَيْهَا، وَالْمَطْلُوبُ لَهَا مَنْدُوبًا إِلَى الْحُضُورِ، لِأَنَّهُ فِي الْعَقْدِ عَلَى حُكْمِ الطَّالِبِ، وَفِي الْوَثِيقَةِ مُخَالِفٌ لِحُكْمِ الطَّالِبِ فَيَصِيرُ دَاخِلًا فِي فَرْضِ الْوَثِيقَةِ، وَكَانَ خَارِجًا مِنْ فَرْضِ الْعَقْدِ.

Kedua: dalam hal kepercayaan terhadap pihak yang memikul tanggung jawab, jika ia termasuk orang yang memiliki keadilan lahiriah, maka kehadirannya sendiri sudah cukup untuk mensahkan akad. Jika ia termasuk orang yang memiliki keadilan batiniah, maka dengan kehadirannya terkumpul antara pengesahan akad dan pemikulannya. Jika kesaksian itu dalam perkara yang dianjurkan seperti jual beli, maka permintaan kesaksian itu juga dianjurkan, dan orang yang diminta untuk menjadi saksi juga dianjurkan untuk hadir, karena dalam akad, hukumnya mengikuti kehendak pihak yang meminta, sedangkan dalam kepercayaan (watsiqah), hukumnya berbeda dengan kehendak pihak yang meminta, sehingga ia termasuk dalam kewajiban kepercayaan dan keluar dari kewajiban akad.

وَإِذَا كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى دَيْنٍ فَهِيَ وَثِيقَةٌ مَحْضَةٌ طَالِبُهَا مُخَيَّرٌ فِي طَلَبِهَا، وَالْمَطْلُوبُ بِهَا دَاخِلٌ فِي فَرْضِ تَحَمُّلِهَا.

Apabila kesaksian itu berkaitan dengan utang, maka ia adalah bukti murni; pihak yang memintanya bebas untuk memintanya, sedangkan pihak yang diminta dengannya termasuk dalam kewajiban untuk menanggungnya.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ: إِنَّهَا تَتَفَرَّعُ بِأَنْ يَخْتَلِفَ حَكَمُهَا بِوُجُودِ الْمُضَارَّةِ وَعَدَمِهَا، وَوُجُودِ الْأَعْذَارِ وَعَدَمِهَا. وَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ يَكُونُ التَّفْرِيعُ.

Pendekatan keempat: Sesungguhnya cabang-cabangnya muncul dengan adanya perbedaan hukum karena adanya mudarat atau tidak, serta adanya uzur atau tidak. Dan berdasarkan pendekatan inilah cabang-cabang hukum dikembangkan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْمُضَارَّةُ فَيَسْقُطُ بِهَا فَرْضُ الشَّهَادَةِ إِنْ كَانَتْ فِي حَقِّ الشَّاهِدِ، وَتَتَغَلَّظُ بِهَا فَرْضُ الشَّهَادَةِ إِنْ كَانَتْ فِي حَقِّ الْمَشْهُودِ لَهُ، قَالَ تَعَالَى: {وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ} [البقرة: 282] وَلِأَهْلِ الْعِلْمِ فِيهِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Adapun mudhārah (menimbulkan bahaya), maka dengannya gugurlah kewajiban memberikan kesaksian jika berkaitan dengan hak saksi, dan menjadi lebih berat kewajiban memberikan kesaksian jika berkaitan dengan hak orang yang disaksikan untuknya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah penulis dan saksi dipersulit.” (QS. Al-Baqarah: 282). Para ulama memiliki tiga penafsiran mengenai hal ini.

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْمُضَارَّةَ أَنْ يَكْتُبَ الْكَاتِبُ مَا لَمْ يُمْلَ عَلَيْهِ، وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ بِمَا لَمْ يُسْتَشْهَدْ، وَهُوَ قَوْلُ الْحَسَنِ، وَطَاوُسٍ، وَقَتَادَةَ.

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud dengan mudhārrat adalah penulis menuliskan sesuatu yang tidak didiktekan kepadanya, dan saksi memberikan kesaksian atas sesuatu yang tidak diminta untuk disaksikan, dan ini adalah pendapat al-Hasan, Thawus, dan Qatadah.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْمُضَارَّةَ أَنْ يَمْتَنِعَ الْكَاتِبُ أَنْ يَكْتُبَ، وَيَمْتَنِعَ الشَّاهِدُ أَنْ يَشْهَدَ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٍ، وَعَطَاءٍ.

Kedua: Sesungguhnya yang dimaksud dengan mudharat adalah penolakan penulis untuk menulis, dan penolakan saksi untuk memberikan kesaksian, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan ‘Atha’.

وَالثَّالِثُ: إِنَّ الْمُضَارَّةَ أَنْ يُدْعَى الْكَاتِبُ وَالشَّاهِدُ وَهُمَا مَشْغُولَانِ مَعْذُورَانِ، وَهُوَ قَوْلُ عِكْرِمَةَ، وَالضِّحَاكِ، وَالسُّدِّيِّ، وَالرَّبِيعِ.

Ketiga: Sesungguhnya yang dimaksud dengan mudhārah adalah memanggil penulis dan saksi ketika keduanya sedang sibuk atau memiliki uzur, dan ini adalah pendapat ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, as-Suddi, dan ar-Rabi‘.

وَيَحْتَمِلُ عِنْدِي تَأْوِيلًا رَابِعًا: أَنْ تَكُونَ الْمُضَارَّةَ أَنْ يُدْعَى الْكَاتِبُ أَنْ يَكْتُبَ بِالْبَاطِلِ، وَيُدْعَى الشَّاهِدُ أَنْ يَشْهَدَ بِالزُّورِ فَهَذَا مَا اخْتَلَفَ فِيهِ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ تَأْوِيلِ الْآيَةِ.

Menurut saya, ada kemungkinan penafsiran keempat: bahwa yang dimaksud dengan mudhārrat adalah ketika penulis dipanggil untuk menulis sesuatu yang batil, dan saksi dipanggil untuk memberikan kesaksian palsu. Inilah yang diperselisihkan oleh para ulama dalam menafsirkan ayat ini.

فَإِنْ كَانَتِ الْمُضَارَّةُ فِي حَقِّ الشَّاهِدِ فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika mudarat itu berkaitan dengan hak saksi, maka ia terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَعَلَّقَ بِالْإِجَابَةِ مَأْثَمٌ، وَذَلِكَ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Salah satunya adalah bahwa dalam memenuhi permintaan tersebut terdapat dosa, dan hal itu dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَسْأَلَهُ الْمَشْهُودُ لَهُ أَنْ يَزِيدَ فِي الْحَقِّ.

Salah satunya adalah apabila orang yang bersaksi untuknya meminta agar menambah hak tersebut.

وَالثَّانِي: أَنْ يَسْأَلَهُ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ أَنْ يُنْقِصَهُ مِنَ الْحَقِّ، فَلَا يَسَعُ الطَّالِبُ أَنْ يَسْأَلَ وَلَا يَسَعُ الشَّاهِدُ أَنْ يُجِيبَ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا آثِمٌ إِنْ فَعَلَ.

Kedua: Jika pihak yang menjadi objek kesaksian memintanya untuk mengurangi hak, maka tidak dibenarkan bagi penuntut untuk meminta, dan tidak dibenarkan bagi saksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Masing-masing dari keduanya berdosa jika melakukannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِهَا مَأْثَمٌ، وَذَلِكَ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu tidak terkait dengannya dosa, dan hal itu dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُدْعَى الشَّاهِدُ إِلَى مَا يَضُرُّ بِبَدَنِهِ مِنْ سَفَرٍ.

Salah satunya adalah apabila seorang saksi dipanggil untuk sesuatu yang membahayakan tubuhnya, seperti melakukan perjalanan.

وَالثَّانِي: إِلَى مَا يَضُرُّ بِدُنْيَاهُ مِنِ انْقِطَاعٍ عَنْ مكسب، فالمأثم هاهنا يَتَوَجَّهُ عَلَى الطَّالِبِ إِنْ أَلْزَمَ، وَلَا يَتَوَجَّهُ إِنْ سَأَلَ وَلَكَ هَذَا فَضْلُ الْأَجْرِ إِنْ أَجَابَ، وَإِنْ سَقَطَتْ عَنْهُ الْإِجَابَةُ بِالْمُضَارَّةِ.

Dan yang kedua: kepada sesuatu yang membahayakan urusan duniawinya, seperti terputus dari mata pencaharian. Maka dosa dalam hal ini ditujukan kepada penuntut ilmu jika ia memaksa, dan tidak ditujukan jika ia hanya meminta dan berkata, “Ini adalah keutamaan pahala jika engkau menjawab.” Namun kewajiban menjawab gugur darinya jika terdapat mudarat.

وَأَمَّا إِنْ كَانَتِ الْمُضَارَّةُ فِي حَقِّ الْمَشْهُودِ لَهُ فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun jika kemudaratan itu berkaitan dengan hak orang yang disaksikan untuknya, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَضُرَّ الشَّاهِدُ بِالتَّوَقُّفِ عَنِ الشَّهَادَةِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ.

Salah satunya adalah apabila seorang saksi menimbulkan mudarat dengan menahan diri dari memberikan kesaksian tanpa alasan yang dibenarkan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَضُرَّ بِتَغْيِيرِ الشَّهَادَةِ مِنْ غَيْرِ شُبْهَةٍ فَيَكُونُ بِالتَّوَقُّفِ آثِمًا، وَبِالتَّغْيِيرِ مَعَ الْمَأْثَمِ كَاذِبًا، وَفِسْقُهُ بِالْكَذِبِ مَقْطُوعٌ بِهِ، لِأَنَّهُ مِنَ الْكَبَائِرِ، وَفِسْقُهُ بِالْمَأْثَمِ مُعْتَبَرٌ بِدُخُولِهِ فِي الصَّغَائِرِ وَالْكَبَائِرِ بِحَسَبِ الْحَالِ.

Kedua: Jika perubahan kesaksian itu menimbulkan mudarat tanpa adanya syubhat, maka dengan menahan diri ia berdosa, dan dengan mengubah kesaksian ia, selain berdosa, juga menjadi pendusta. Kefasikan karena dusta telah dipastikan, karena dusta termasuk dosa besar. Adapun kefasikan karena dosa, maka dipertimbangkan dengan masuknya ke dalam dosa kecil atau dosa besar sesuai dengan keadaannya.

فَإِنْ دَخَلَ فِي الصَّغَائِرِ لَمْ يُفَسَّقْ، وَإِنْ دَخَلَ فِي الْكَبَائِرِ فُسِّقَ بِهِ.

Jika ia terjerumus dalam dosa-dosa kecil, maka ia tidak dianggap fāsiq; namun jika ia terjerumus dalam dosa-dosa besar, maka ia dianggap fāsiq karenanya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْأَعْذَارُ فَيَسْتَبِيحُ بِهَا الشَّاهِدُ تَأْخِيرَ الشَّهَادَةِ، سَوَاءٌ تَعَلَّقَتْ بِمَالِهِ أَوْ بِبَدَنِهِ، وَلَا يَسْتَبِيحُ بِهَا تَغَيُّرَ الشَّهَادَةِ سَوَاءٌ تَعَلَّقَتْ بِمَالِهِ أَوْ بَدَنِهِ.

Adapun uzur-uzur, maka seorang saksi diperbolehkan karenanya untuk menunda penyampaian kesaksian, baik uzur itu berkaitan dengan hartanya maupun tubuhnya. Namun, uzur-uzur tersebut tidak membolehkannya mengubah kesaksian, baik berkaitan dengan hartanya maupun tubuhnya.

فَأَمَّا الْأَعْذَارُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِبَدَنِهِ فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun uzur-uzur yang berkaitan dengan badannya, maka uzur tersebut terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: لِعَجْزٍ دَاخِلٍ.

Salah satunya: karena adanya ketidakmampuan dari dalam.

وَالثَّانِي: لِمَشَقَّةٍ دَاخِلَةٍ لَاحِقَةٍ.

Yang kedua: karena adanya kesulitan yang muncul kemudian.

فَأَمَّا الْعَجْزُ فَهُوَ أَنْ يَكُونَ مَرِيضًا يَعْجِزُ عَنِ الْحَرَكَةِ، فَإِنْ دُعِيَ إِلَى الْحَاكِمِ كَانَ مَعْذُورًا فِي التَّأَخُّرِ، وَإِنْ أَحْضَرَهُ الْحَاكِمُ لَمْ يُعْذَرْ فِي التَّوَقُّفِ عَنْهَا.

Adapun ketidakmampuan adalah ketika seseorang sakit sehingga tidak mampu bergerak. Jika ia dipanggil oleh hakim, maka ia diberi uzur untuk menunda (kehadirannya). Namun jika hakim telah menghadirkannya, maka ia tidak diberi uzur untuk menunda (prosesnya).

وَأَمَّا الْمَشَقَّةُ فَضَرْبَانِ ” حَظْرٌ، وَأَذًى.

Adapun kesulitan itu ada dua macam: larangan dan gangguan.

فَأَمَّا الْحَظْرُ فَهُوَ أَنْ يَخَافَ مِنْ سُلْطَانٍ جَائِرٍ، أَوْ مِنْ عَدْوٍ قَاهِرٍ أَوْ مِنْ فِتْنَةٍ عَامَّةٍ، فَيَسْقُطُ مَعَهُ فَرْضُ الْإِجَابَةِ مَعَ بَقَاءِ هَذِهِ الْأَعْذَارِ حَتَّى تَزُولَ، فَتَلْزَمُهُ الْإِجَابَةُ.

Adapun larangan, yaitu ketika seseorang takut kepada penguasa yang zalim, atau musuh yang kuat, atau fitnah yang meluas, maka gugurlah kewajiban untuk memenuhi (panggilan) selama alasan-alasan ini masih ada, hingga alasan tersebut hilang, maka kewajiban untuk memenuhi itu kembali berlaku baginya.

وَأَمَّا الْأَذَى: فَضَرْبَانِ:

Adapun gangguan itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا يُتَوَقَّعُ زَوَالُهُ.

Salah satunya adalah sesuatu yang diharapkan akan hilang.

وَهُوَ أَنْ يُدْعَى فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، أَوْ بَرْدٍ شَدِيدٍ، أَوْ مَطَرٍ جُودٍ فَمَا كَانَ هَذَا الْأَذَى بَاقِيًا. فَفَرْضُ الْإِجَابَةِ سَاقِطٌ.

Yaitu apabila seseorang dipanggil untuk shalat berjamaah dalam keadaan panas yang sangat menyengat, atau dingin yang sangat menusuk, atau hujan yang deras, sehingga gangguan tersebut masih tetap ada. Maka kewajiban untuk memenuhi panggilan shalat berjamaah menjadi gugur.

فَإِذَا زَالَ وَجَبَتِ الْإِجَابَةُ.

Maka apabila halangan itu telah hilang, kewajiban untuk menjawab pun berlaku.

وَأَمَّا الدَّائِمُ: فَهُوَ أَنْ يُدْعَى، مَعَ الصِّحَّةِ إِلَى الْمَشْيِ إِلَيْهَا، لِتَحَمُّلِهَا أَوْ لِأَدَائِهَا، فَإِنْ كَانَ إِلَى مَوْضِعٍ لَا يَخْرُجُ بِهِ عَنْ بَلَدِهِ عُذِرَ بِالتَّأْخِيرِ سَوَاءٌ قَرُبَتِ الْمَسَافَةُ أَمْ بَعُدَتْ، وَسَوَاءٌ كَانَ ذَا مَرْكُوبٍ أَوْ لَمْ يَكُنْ، لِأَنَّ فِي مُفَارَقَةِ وَطَنِهِ مَشَقَّةً يَسْقُطُ مَعَهَا فَرْضُ الْإِجَابَةِ، وَإِنْ كَانَ الْمَوْضِعُ فِي بَلَدِهِ، فَإِنْ قَرُبَتْ أَطْرَافُ بَلَدِهِ لِصِغَرِهِ لَزِمَتْهُ الْإِجَابَةُ، وَإِنْ بَعُدَتْ أَقْطَارُهُ لِسَعَتِهِ اعْتُبِرَ حَالُهُ، فَإِنْ جَرَتْ عَادَتُهُ بِالْمَشْيِ فِي جَمِيعِ أَقْطَارِهِ لَزِمَتْهُ الْإِجَابَةُ، وَإِنْ لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُ بِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ، وَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ، لِأَنَّ مُفَارَقَةَ الْعَادَةِ شَاقٌّ إِلَّا أَنْ يَكُونَ ذَا مَرْكُوبٍ فَلَا مَشَقَّةَ عَلَيْهِ فِي الرُّكُوبِ، فَتَلْزَمُهُ الْإِجَابَةُ، فَإِنْ حُمِلَ إِلَيْهِ مَا يَرْكَبُهُ وَهُوَ غَيْرُ ذِي مَرْكُوبٍ اعْتُبِرَ حَالُهُ، فَإِنْ لَمْ يَتَنَاكَرِ النَّاسُ رُكُوبَ مِثْلِهِ لَزِمَتْهُ الْإِجَابَةُ، وَإِنْ تَنَاكَرُوهَا لَمْ يَلْزَمْهُ، لِأَنَّ مَا يُنْكِرُهُ النَّاسُ مُسْتَقْبَحٌ وَأَمَّا الْأَعْذَارُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِمَالِهِ فَضَرْبَانِ:

Adapun yang bersifat tetap: yaitu apabila seseorang dipanggil, dalam keadaan sehat, untuk berjalan menuju tempat tersebut, baik untuk menerima maupun menyampaikan (kesaksian). Jika tempatnya berada di lokasi yang tidak membuatnya keluar dari kotanya, maka ia dibolehkan menunda, baik jaraknya dekat maupun jauh, dan baik ia memiliki kendaraan atau tidak, karena meninggalkan tanah airnya merupakan kesulitan yang dengannya gugur kewajiban memenuhi panggilan. Namun, jika tempat tersebut masih di dalam kotanya, maka jika wilayah kotanya kecil sehingga jaraknya dekat, ia wajib memenuhi panggilan. Jika wilayah kotanya luas sehingga jaraknya jauh, maka dilihat keadaannya; jika kebiasaannya memang berjalan ke seluruh penjuru kotanya, maka ia wajib memenuhi panggilan. Jika tidak terbiasa melakukannya, maka ia tidak wajib, meskipun ia mampu, karena keluar dari kebiasaan itu berat, kecuali jika ia memiliki kendaraan, maka tidak ada kesulitan baginya untuk berkendara, sehingga ia wajib memenuhi panggilan. Jika disediakan kendaraan untuknya padahal ia bukan pemilik kendaraan, maka dilihat keadaannya; jika masyarakat tidak menganggap aneh ia menaiki kendaraan tersebut, maka ia wajib memenuhi panggilan. Namun jika masyarakat menganggapnya aneh, maka ia tidak wajib, karena sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat adalah tercela. Adapun uzur-uzur yang berkaitan dengan hartanya terbagi menjadi dua:

أَحَدُهُمَا: مَا خَافَ بِهِ ضَيَاعَ مَالٍ.

Salah satunya adalah sesuatu yang dikhawatirkan dapat menyebabkan hilangnya harta.

وَالثَّانِي: مَا تَعَطَّلَ بِهِ عَنِ اكْتِسَابٍ.

Yang kedua: sesuatu yang membuatnya terhalang dari mencari penghasilan.

فَأَمَّا مَا خَافَ بِهِ ضَيَاعَ مَالِهِ فَهُوَ أَنْ يَكُونَ مُقِيمًا عَلَى حِفْظِهِ وَلَيْسَ لَهُ نَائِبٌ يَقُومُ مَقَامَهُ فِيهِ، فَيَسْقُطُ عَنْهُ فَرْضُ الْإِجَابَةِ مَا كَانَ عَلَى حَالِهِ.

Adapun yang dikhawatirkan menyebabkan hilangnya hartanya adalah ketika seseorang tetap tinggal untuk menjaga hartanya dan tidak ada wakil yang dapat menggantikan posisinya dalam menjaga itu, maka gugurlah kewajiban untuk memenuhi panggilan (jihad) selama ia berada dalam keadaan tersebut.

فَإِذَا زَالَ عَنْهَا وَجَبَ فَرْضُهَا، فَإِنْ ضَمِنَ لَهُ الدَّاعِي حِفْظَ مَالِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ الْإِجَابَةُ لِأَنَّهُ لَا يَلْتَزِمُ ائْتِمَانَ النَّاسِ عَلَى مَالِهِ.

Maka apabila halangan itu telah hilang darinya, maka kewajiban tersebut menjadi wajib baginya. Jika orang yang mengundangnya menjamin keamanan hartanya, maka ia tidak wajib memenuhi undangan tersebut, karena ia tidak berkewajiban mempercayakan hartanya kepada orang lain.

وَأَمَّا مَا تَعَطَّلَ بِهِ عَنِ اكْتِسَابِهِ، فَهُوَ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْمَعَائِشِ الْمُكْتَسِبِينَ، فَإِنْ دُعِيَ فِي وَقْتِ اكْتِسَابِهِ لَمْ تَلْزَمْهُ الْإِجَابَةُ، وَإِنْ دُعِيَ فِي غَيْرِهِ لَزِمَتْهُ، فَلَوْ بذل له الدعي قَدْرَ كَسْبِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهُ، وَلَوْ طَلَبَ قَدْرَ كَسْبِهِ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ أُجْرَةِ مِثْلِهِ لَمْ يَجُزْ، وَإِنْ كَانَ قَدْرَ أُجْرَةِ مِثْلِهِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِهِ على ثلاثة أوجه:

Adapun jika seseorang terhalang dari pekerjaannya karena memenuhi undangan, maka maksudnya adalah jika ia termasuk orang yang mencari nafkah dengan bekerja. Jika ia diundang pada waktu ia bekerja, maka ia tidak wajib memenuhi undangan tersebut. Namun jika ia diundang di luar waktu kerjanya, maka ia wajib memenuhi undangan itu. Jika orang yang mengundang memberikan kepadanya sejumlah imbalan sebesar penghasilannya, maka ia tidak wajib menerimanya. Jika ia meminta imbalan sebesar penghasilannya, maka perlu dilihat: jika jumlahnya lebih besar dari upah orang sejenisnya, maka tidak boleh; namun jika sebesar upah orang sejenisnya, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehannya menjadi tiga pendapat.

أحدهما: يَجُوزُ لَهُ أَخْذُهَا، كَمَا يَجُوزُ لِلْكَاتِبِ أَخْذُ الْأُجْرَةِ عَلَى كِتَابَتِهِ.

Pertama: Boleh baginya mengambilnya, sebagaimana penulis boleh mengambil upah atas tulisannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ لَهُ أَخْذُهَا، كَمَا لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الْخُصُومِ أُجْرَةً عَلَى حُكْمِهِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh baginya mengambilnya, sebagaimana tidak boleh bagi hakim mengambil upah dari para pihak yang bersengketa atas putusannya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: لَهُ أَنْ يَأْخُذَهَا عَلَى التَّحَمُّلِ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَهَا عَلَى الْأَدَاءِ، لِأَنَّهُ فِي الْأَدَاءِ مُتَهَوِّمٌ، وَفِي التَّحَمُّلِ غَيْرُ مُتَهَوِّمٍ.

Adapun pendapat ketiga: Ia boleh mengambilnya dalam bentuk tahammul, namun tidak boleh mengambilnya dalam bentuk ada’, karena dalam ada’ ia masih ragu-ragu, sedangkan dalam tahammul ia tidak ragu-ragu.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وأما من تلزمه الشَّهَادَةُ عِنْدَهُ فَهُوَ كُلُّ ذِي وِلَايَةٍ، يَصِحُّ مِنْهُ اسْتِيفَاءُ الْحُقُوقِ لِأَهْلِهَا، مِنَ الْأَئِمَّةِ، وَالْأُمَرَاءِ، وَالْحُكَّامِ، وَسَوَاءٌ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْعَدْلِ، أَوْ مِنْ أَهْلِ الْبَغْيِ، فَإِنْ دُعِيَ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَ جَائِرٍ، فَإِنْ كَانَ جَوْرُهُ فِي الْحَقِّ الْمَشْهُودِ بِهِ لَمْ تَلْزَمْهُ الْإِجَابَةُ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ لَزِمَتْهُ، وَإِنْ دُعِيَ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَ مُتَوَسِّطٍ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَلْتَزِمِ الْخَصْمَانِ حُكْمَ الْوَسَطِ لَمْ تَلْزَمْهُ الشَّهَادَةُ عِنْدَهُ، وَإِنِ الْتَزَمَا حُكْمَهُ فَفِي وُجُوبِ الشَّهَادَةِ عِنْدَهُ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي الْمُحَكَّمِ مِنْ غَيْرِ الْحُكَّامِ، هَلْ يَلْزَمُ الْمُتَرَاضِيَيْنِ بِهِ حُكْمُهُ أَمْ لَا؟

Adapun pihak yang wajib diberikan kesaksian di hadapannya adalah setiap orang yang memiliki wewenang, yang sah darinya untuk menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya, seperti para imam, para amir, dan para hakim, baik mereka termasuk golongan orang-orang yang adil maupun golongan orang-orang yang zalim. Jika seseorang dipanggil untuk memberikan kesaksian di hadapan hakim yang zalim, maka jika kezalimannya terkait dengan hak yang dipersaksikan, ia tidak wajib memenuhi panggilan tersebut; namun jika kezalimannya tidak terkait dengan hak itu, maka ia wajib memenuhi panggilan. Jika seseorang dipanggil untuk memberikan kesaksian di hadapan seorang penengah antara dua pihak yang berselisih, maka jika kedua pihak tidak berkomitmen terhadap keputusan penengah tersebut, ia tidak wajib memberikan kesaksian di hadapannya. Namun jika keduanya berkomitmen terhadap keputusannya, maka kewajiban memberikan kesaksian di hadapannya terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai al-muḥakkam selain para hakim, apakah keputusan penengah yang disepakati kedua belah pihak itu mengikat atau tidak.

فَإِنْ قِيلَ: بِلُزُومِ حُكْمِهِ لَزِمَ الشَّاهِدُ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَهُ.

Jika dikatakan: Dengan wajibnya mengikuti hukumnya, maka wajib pula bagi saksi untuk memberikan kesaksian di hadapannya.

فَإِنْ قِيلَ: لَا يَلْزَمُهُمَا حُكْمُهُ لَمْ يُلْزَمِ الشَّهَادَةُ عِنْدَهُ، وَإِنْ دُعِيَ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَ حَاكِمٍ لَا يَعْلَمُ هَلْ يَقْبَلُ شَهَادَتَهُ أَوْ لَا يَقْبَلُهَا؟ لَزِمَتْهُ الشَّهَادَةُ عِنْدَهُ، لِجَوَازِ أَنْ يَقْبَلَهَا.

Jika dikatakan: Tidak wajib bagi keduanya untuk mengikuti putusannya, maka tidak wajib pula memberikan kesaksian di hadapannya. Namun, jika seseorang dipanggil untuk memberikan kesaksian di hadapan seorang hakim yang tidak diketahui apakah ia akan menerima kesaksiannya atau tidak, maka wajib baginya memberikan kesaksian di hadapannya, karena ada kemungkinan kesaksiannya akan diterima.

فَإِنْ شَهِدَ عِنْدَهُ فَتَوَقَّفَ عَنْ قَبُولِهَا لِاسْتِبْرَاءِ حَالِهِ، لَزِمَهُ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَ غَيْرِهِ مِنَ الْحُكَّامِ إِذَا دُعِيَ إِلَيْهِ، وَلَوْ تَوَقَّفَ عَنْ قَبُولِهَا لَهَا كَحُكْمِهِ بِرَدِّ شَهَادَتِهِ لِجُرْحِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا عِنْدَ غَيْرِهِ إِذَا دُعِيَ إِلَيْهَا، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ الْحُكْمُ بِشَهَادَةٍ قَدْ رُدَّتْ بِحُكْمٍ.

Jika seseorang memberikan kesaksian di hadapan seorang hakim, lalu hakim tersebut menunda penerimaan kesaksian itu untuk memeriksa keadaan saksi, maka saksi wajib memberikan kesaksian di hadapan hakim lain jika ia dipanggil untuk itu. Namun, jika hakim menunda penerimaan kesaksian karena menolaknya, seperti halnya ia memutuskan menolak kesaksian tersebut karena ada cacat pada saksi, maka saksi tidak wajib memberikan kesaksian itu di hadapan hakim lain jika ia dipanggil untuk itu, karena tidak boleh bagi hakim lain memutuskan perkara dengan kesaksian yang telah ditolak melalui suatu putusan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا وَقْتُ الشَّهَادَةِ: فَعِنْدَ اسْتِدْعَائِهَا سَوَاءٌ كَانَتْ فِي حَقٍّ حَالٍّ، أَوْ مُؤَجَّلٍ، وَالْمُسْتَدْعِي لَهَا هُوَ صَاحِبُ الْحَقِّ إِذَا كَانَ جَائِزَ الْأَمْرِ، أَوِ الْحَاكِمُ فِي حَقِّ الْمُوَلَّى عَلَيْهِ.

Adapun waktu penyaksian adalah ketika dimintakan, baik dalam perkara yang sudah jatuh tempo maupun yang masih ditangguhkan. Pihak yang meminta penyaksian adalah pemilik hak jika ia memiliki kewenangan, atau hakim dalam perkara yang berkaitan dengan orang yang berada di bawah perwalian.

فَأَمَّا الشَّهَادَةُ بِالْحَقِّ قَبْلَ اسْتِدْعَاءِ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ كَانَتْ في حق لله تَعَالَى مِنْ زَكَاةٍ، أَوْ كَفَّارَةٍ، أَوْ حَجٍّ كَانَ مَنْدُوبًا إِلَى الشَّهَادَةِ قَبْلَ الِاسْتِشْهَادِ، وَهَكَذَا إِنْ كَانَتْ فِي حَقِّ مُوَلًّى عَلَيْهِ بِجِنُونٍ أَوْ صِغَرٍ، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” خَيْرُ الشُّهُودِ مَنْ أَخْبَرَ بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُدْعَى ” وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ لِآدَمِيٍّ حَاضِرٍ، جَائِزِ الْأَمْرِ عَالِمٍ بِحَقِّهِ، كُرِهَ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ قَبْلَ الِاسْتِدْعَاءِ؛ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثَمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حتى يشهد الرجل قبل أن يستشهد ” فَكَانَ لِاخْتِلَافِ هَذَيْنِ الْخَبَرَيْنِ مَحْمُولًا عَلَى اخْتِلَافِ هَاتَيْنِ الْحَالَتَيْنِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Adapun memberikan kesaksian atas kebenaran sebelum diminta untuk bersaksi, jika itu berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala seperti zakat, kafarat, atau haji, maka dianjurkan untuk memberikan kesaksian sebelum diminta. Demikian pula jika berkaitan dengan hak orang yang berada di bawah perwalian karena gila atau masih kecil, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik saksi adalah orang yang memberitahukan kesaksiannya sebelum diminta.” Namun, jika hak itu milik seseorang yang hadir, cakap, dan mengetahui haknya, maka makruh memberikan kesaksian untuknya sebelum diminta, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka, lalu akan tersebar dusta hingga seseorang bersaksi sebelum diminta untuk bersaksi.” Maka, perbedaan dua hadis ini dipahami sesuai dengan perbedaan dua keadaan tersebut. Allah lebih mengetahui mana yang benar.

(باب شرط الذين تقبل شهادتهم)

(Bab tentang syarat-syarat orang-orang yang diterima kesaksiannya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” قال الله جل ثناؤه {وأشهدوا ذوي عدل منكم} وقال {ممن ترضون من الشهداء} قَالَ فَكَانَ الَّذِي يُعْرَفُ مَنْ خُوطِبَ بِهَذَا أَنَّهُ أُرِيدَ بِذَلِكَ الْأَحْرَارُ الْبَالِغُونَ الْمُسْلِمُونَ الْمَرْضِيُّونَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Allah Ta‘ala berfirman, {Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian} dan Dia berfirman {dari saksi-saksi yang kalian ridhai}. Maka yang diketahui dari siapa yang diajak bicara dengan ayat ini adalah bahwa yang dimaksud dengan itu adalah orang-orang merdeka, baligh, muslim, dan yang diridhai.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الشُّرُوطَ الْمُعْتَبَرَةَ فِي قبول الشاهد خمسة.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa syarat-syarat yang diperhitungkan dalam penerimaan saksi ada lima.

[الأول] : الحرية.

[Yang pertama]: Kebebasan.

[الثاني] : البلوغ.

[Kedua]: Baligh.

[الثالث] : العقل.

[Ketiga]: Akal.

[الرابع] : الإسلام.

Keempat: Islam.

[الخامس] : الْعَدَالَةُ.

[Kelima]: Al-‘adālah (keadilan).

فَأَمَّا شَهَادَةُ الْعَبِيدِ فَمَرْدُودَةٌ عَلَى الْأَحْرَارِ وَالْعَبِيدِ فِي كَثِيرِ الْمَالِ وَقَلِيلِهِ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، وَالْفُقَهَاءِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ.

Adapun kesaksian para budak, maka ditolak baik terhadap orang merdeka maupun sesama budak, dalam perkara harta yang banyak maupun yang sedikit. Ini adalah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para fuqaha, serta merupakan mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, dan Malik.

وَحُكِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِنِ شَهَادَةَ الْعَبْدِ مَقْبُولَةٌ عَلَى الْعَبِيدِ دُونَ الْأَحْرَارِ.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam bahwa kesaksian seorang budak diterima atas (perkara) budak-budak, namun tidak atas (perkara) orang-orang merdeka.

وَحُكِيَ عَنِ الشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ إِنَّ شَهَادَتَهُ مَقْبُولَةٌ فِي الْقَلِيلِ دُونَ الْكَثِيرِ.

Diriwayatkan dari asy-Sya‘bi dan an-Nakha‘i bahwa kesaksiannya diterima dalam perkara yang sedikit, namun tidak dalam perkara yang banyak.

وَحُكِيَ عَنْ دَاوُدَ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ، وَأَبِي ثَوْرٍ إِنَّ شَهَادَةَ الْعَبِيدِ مَقْبُولَةٌ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا.

Diriwayatkan dari Dāwud, Ahmad, Isḥāq, dan Abū Ṯaur bahwa kesaksian para budak diterima dalam seluruh keadaan.

وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ.

Pendapat ini juga dipegang oleh Anas bin Malik dari kalangan sahabat.

وَمِنَ التَّابِعِينَ: شُرَيْحٌ، وَقِيلَ: إِنْ عَبْدًا شَهِدَ عِنْدَهُ فَقَبِلَ شَهَادَتَهُ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ عَبْدٌ فَقَالَ: ” قُمْ ” كُلُّكُمُ ابْنُ عَبْدٍ، وَأَمَةٍ. وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: ” رُبَّ عَبْدٍ خَيْرٌ مِنْ مَوْلَاهُ “.

Di antara para tabi’in adalah Syuraih. Dikatakan bahwa pernah ada seorang budak yang memberikan kesaksian di hadapannya, lalu ia menerima kesaksiannya. Kemudian dikatakan kepadanya, “Dia itu seorang budak.” Maka ia berkata, “Berdirilah, kalian semua adalah anak dari seorang budak laki-laki dan budak perempuan.” Sebagian salaf berkata, “Betapa banyak budak yang lebih baik daripada tuannya.”

وَاسْتَدَلُّوا عَلَى قَبُولِ شَهَادَتِهِ مَعَ اخْتِلَافِ مَذَاهِبِهِمْ، بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] وَظَاهِرُهُ عِنْدَهُمْ فِي الْعَبِيدِ، لِإِضَافَتِهِ إِلَيْنَا بِ ” لَامِ ” التَّمْلِيكِ، وَلِأَنَّ مَنْ قُبِلَ خَبَرُهُ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ كَالْحُرِّ.

Mereka berdalil atas diterimanya kesaksian mereka, meskipun terdapat perbedaan mazhab di antara mereka, dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian” (QS. Al-Baqarah: 282). Lafal ayat ini menurut mereka juga mencakup para budak, karena penisbatannya kepada kita dengan “lām” kepemilikan, dan karena siapa saja yang diterima beritanya, maka diterima pula kesaksiannya seperti halnya orang merdeka.

وَالدَّلِيلُ عَلَى رَدِّ شَهَادَتِهِ، قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى {وأشهدوا ذوي عدل منكم} [البقرة: 282] وَهَذَا الْخِطَابُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْأَحْرَارِ، لِأَنَّهُمْ هُمُ الْمُشْهِدُونَ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ، وَقَوْلُهُ {ذَوَيْ عَدْلٍ منكم} يَبْقَى دُخُولُ الْعَبِيدِ فِيهِمْ، وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْمُفَاضَلَةِ، لِأَنَّ الرَّجُلَ فِيهَا كَالْمَرْأَتَيْنِ، فَمَنَعَتِ الْمُفَاضَلَةُ، مِنْ مُسَاوَاةِ الْعَبْدِ فِيهَا لِلْحُرِّ كَالْقَضَاءِ فِي الْوِلَايَاتِ، وَالْحَجِّ وَالْجِهَادِ، فِي الْعِبَادَاتِ، وَكَالتَّوَارُثِ فِي الْمُمْتَلَكَاتِ، وَلِأَنَّ نَقْصَ الرِّقِّ يَمْنَعُ كَمَالَ الشَّهَادَةِ لِوُرُودِهِ مِنْ جِهَةِ الْكُفْرِ الْمَانِعِ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Dalil tentang penolakan kesaksiannya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian” (Al-Baqarah: 282). Seruan ini ditujukan kepada orang-orang merdeka, karena merekalah yang menjadi saksi dalam hak-hak mereka sendiri. Adapun firman-Nya “dua orang yang adil di antara kalian”, maka masih memungkinkan masuknya para budak di dalamnya. Namun, karena kesaksian itu didasarkan pada keutamaan, di mana satu laki-laki setara dengan dua perempuan, maka adanya keutamaan ini mencegah persamaan budak dengan orang merdeka di dalamnya, sebagaimana dalam peradilan pada urusan kekuasaan, haji, dan jihad dalam ibadah, serta dalam pewarisan pada kepemilikan. Selain itu, kekurangan akibat status budak menghalangi kesempurnaan kesaksian, karena status tersebut berasal dari kekufuran yang menjadi penghalang diterimanya kesaksian.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ من قول الله تعالى {من رجالكم} فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap apa yang mereka jadikan dalil dari firman Allah Ta‘ala {dari kalangan laki-laki kalian} adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: تَخْصِيصُ عُمُومِهَا بِمَا ذَكَرْنَاهُ.

Salah satunya adalah mengkhususkan keumumannya dengan apa yang telah kami sebutkan.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى حَالِ تَحَمُّلِ الشَّهَادَةِ، دُونَ أَدَائِهَا وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اعْتِبَارِ شَهَادَتِهِ بِقَبُولِ خَبَرِهِ، فَهُوَ أَنَّ الْخَبَرَ أَوْسَعُ حُكْمًا مِنَ الشَّهَادَةِ لِقَبُولِ الْوَاحِدِ فِي الْخَبَرِ، وَانْتِقَالِهِ بِالْعَنْعَنَةِ عَنْ وَاحِدٍ بَعْدَ وَاحِدٍ، وَهَذَا مُمْتَنِعٌ في الشهادة، فكذلك في الرق.

Kedua: Sesungguhnya hal itu dimaknai pada saat menerima kesaksian, bukan pada saat menyampaikannya. Adapun jawaban terhadap pertimbangan kesaksiannya dengan diterimanya beritanya, maka sesungguhnya berita (khabar) lebih luas hukumnya daripada kesaksian, karena diterimanya satu orang dalam berita, dan periwayatan dengan ‘an‘anah dari satu orang ke orang lain, dan hal ini tidak mungkin dalam kesaksian; demikian pula dalam masalah budak (riq).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وقوله {شهيدين من رجالكم} يَدُلُّ عَلَى إِبْطَالِ قَوْلِ مَنْ قَالَ تَجُوزُ شَهَادَةُ الصِّبْيَانِ فِي الْجِرَاحِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقُوا فَإِنْ قَالَ أَجَازَهَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فَابْنُ عَبَّاسٍ رَدَّهَا “. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْبُلُوغَ شَرْطٌ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ، فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الصِّبْيَانِ بِحَالٍ فِي قَلِيلٍ وَلَا كَثِيرٍ مِنْ مَالٍ، وَلَا جِرَاحٍ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Firman Allah {dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian} menunjukkan batalnya pendapat orang yang mengatakan bahwa kesaksian anak-anak dibolehkan dalam kasus luka-luka selama mereka belum berpisah. Jika ada yang berkata bahwa Ibnu az-Zubair membolehkannya, maka Ibnu ‘Abbas menolaknya. Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa baligh adalah syarat dalam diterimanya kesaksian, maka kesaksian anak-anak tidak diterima dalam keadaan apa pun, baik dalam perkara harta yang sedikit maupun banyak, ataupun dalam kasus luka-luka, dan inilah pendapat jumhur.

وَقَالَ مَالِكٌ: تُقْبَلُ شَهَادَةُ الصِّبْيَانِ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْجِرَاحِ دُونَ غَيْرِهَا مَا لَمْ يَتَفَرَّقُوا، فَإِنْ تَفَرَّقُوا لَمْ تُقْبَلْ.

Malik berkata: Kesaksian anak-anak sebagian atas sebagian yang lain diterima dalam kasus luka-luka, dan tidak pada selainnya, selama mereka belum berpisah; jika mereka telah berpisah, maka kesaksian itu tidak diterima.

وَبِهِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ.

Dan pendapat ini juga dikatakan oleh ‘Abdullah bin az-Zubair.

وَحُكِيَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصَرِيِّ أَنَّهُ أَجَازَ شَهَادَتَهُمْ فِي الْمُوَضِّحَةِ، وَالسِّنِّ فَمَا دُونَ، وَلَمْ يُجِزْهَا فِيمَا زَادَ، احْتِجَاجًا بِقَضَاءِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِشَهَادَتِهِمْ فِي الْجِرَاحِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقُوا.

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa ia membolehkan kesaksian mereka dalam kasus al-muwaddiḥah dan gigi serta yang di bawahnya, namun tidak membolehkannya untuk yang lebih dari itu, dengan alasan berdasarkan keputusan Abdullah bin az-Zubair yang menerima kesaksian mereka dalam kasus luka selama mereka tidak berpisah.

قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ: فَخَالَفَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، وَصَارَ النَّاسُ إِلَى قَضَاءِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، فَكَانَ إِجْمَاعًا، وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِ الضَّرُورَةِ، كَمَا أُجِيزَتْ شَهَادَةُ النِّسَاءِ الْمُنْفَرِدَاتِ فِي الْوِلَادَةِ، لِأَنَّهَا حَالَةٌ لَا يَحْضُرُهَا الرِّجَالُ، كَذَلِكَ اجْتِمَاعُ الصِّبْيَانِ فِي لَعِبِهِمْ، وَمَا يَتَعَاطَوْنَ مِنْ رَمْيِهِمْ لَا يَكَادُ يَحْضُرُهُمُ الرِّجَالُ، فَجَازَ لِلضَّرُورَةِ أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَةُ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ قَبْلَ افْتِرَاقِهِمْ، لِانْتِفَاءِ التُّهْمَةِ عَنْهُمْ، وَلَمْ يَجُزْ بَعْدَ افْتِرَاقِهِمْ لِتُوَجُّهِ التُّهْمَةِ إِلَيْهِمْ وَالدَّلِيلُ عَلَى رَدِّ شَهَادَتِهِمْ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282] فَدَلَّتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ قَبُولِ شَهَادَةِ الصِّبْيَانِ مِنْ ثَلَاثَةِ أوجه:

Ibnu Abi Mulaikah berkata: Maka Abdullah bin Abbas menyelisihinya, dan orang-orang mengikuti putusan Abdullah bin Zubair, sehingga menjadi ijmā‘. Karena kesaksian itu dipertimbangkan berdasarkan keadaan darurat, sebagaimana dibolehkannya kesaksian perempuan-perempuan saja dalam perkara kelahiran, karena itu adalah keadaan yang tidak dihadiri laki-laki. Demikian pula berkumpulnya anak-anak dalam permainan mereka, dan apa yang mereka lakukan dalam melempar, hampir tidak ada laki-laki yang hadir bersama mereka. Maka karena darurat, boleh diterima kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain sebelum mereka berpisah, karena tidak adanya tuduhan terhadap mereka. Namun tidak boleh setelah mereka berpisah, karena adanya kemungkinan tuduhan terhadap mereka. Dalil atas ditolaknya kesaksian mereka adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai.” (al-Baqarah: 282). Maka ayat ini menunjukkan larangan menerima kesaksian anak-anak dari tiga sisi:

أحدها: قوله: {من رجالكم} وَلَيْسَ الصِّبْيَانُ مِنَ الرِّجَالِ.

Pertama: firman-Nya: {dari kalangan laki-laki kalian}, dan anak-anak laki-laki bukan termasuk laki-laki dewasa.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَمَّا عَدَلَ عَنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَى أَنْ قَالَ: {فَرَجُلٌ وامرأتان} دَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يُعْدَلُ إِلَى غَيْرِهِمْ مِنَ الصِّبْيَانِ.

Kedua: Ketika Allah beralih dari menyebut dua orang laki-laki kepada firman-Nya: “maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan”, hal itu menunjukkan bahwa tidak boleh beralih kepada selain mereka dari kalangan anak-anak.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهُ قَالَ: {مِمَّنْ تَرْضَوْنَ من الشهداء} وَلَيْسَ الصِّبْيَانُ مِمَّنْ يُرْضَى مِنَ الشُّهَدَاءِ.

Ketiga: Sesungguhnya Allah berfirman: “dari saksi-saksi yang kamu ridhai,” dan anak-anak bukanlah termasuk orang yang diridhai sebagai saksi.

وَرَوَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَنْتَبِهَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَفِيقَ ” فَلَمَّا كَانَ الْقَلَمُ مَرْفُوعًا عَنْهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ إِذَا أَقَرَّ، كَانَ أَوْلَى أَنْ يُرْفَعَ فِي حَقِّ غَيْرِهِ، إِذَا شَهِدَ، وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ فِي الْأَمْوَالِ أَخَفُّ مِنْهَا فِي الدِّمَاءِ، وَهِيَ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ مِنْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا تُقْبَلَ فِي الدِّمَاءِ.

Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Pena (pencatatan dosa dan pahala) diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia bermimpi (baligh), dari orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sadar.” Maka, ketika pena telah diangkat darinya dalam urusan dirinya sendiri jika ia mengakui (suatu perbuatan), maka lebih utama lagi pena itu diangkat dalam urusan orang lain jika ia menjadi saksi. Selain itu, kesaksian dalam perkara harta lebih ringan dibandingkan dalam perkara darah (jiwa), dan kesaksian mereka (anak kecil, orang tidur, orang gila) tidak diterima dalam perkara harta, maka lebih utama lagi untuk tidak diterima dalam perkara darah.

وَلِأَنَّهُ لَوْ جَازَ لِأَجْلِ اعْتِزَالِهِمْ عَنِ الرِّجَالِ أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَةُ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ، لَجَازَ لِأَجْلِ اجْتِمَاعِ النِّسَاءِ فِي الْحَمَّامَاتِ وَالْأَعْرَاسِ، أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَةُ بِعَضِّهِنَّ عَلَى بَعْضٍ، وَهِيَ لَا تُقْبَلُ مَعَ الضَّرُورَةِ مَعَ جَوَازِ قَبُولِهِنَّ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْأَمْوَالِ، فَالصِّبْيَانُ الَّذِينَ لَا تُقْبَلُ شهادتهم مع الرجال فأولى أَنْ لَا تُقْبَلَ فِي الِانْفِرَادِ، وَبِهِ يَبْطُلُ اسْتِدْلَالُهُمْ.

Dan karena jika diperbolehkan menerima kesaksian sebagian mereka atas sebagian yang lain hanya karena mereka terpisah dari laki-laki, maka seharusnya juga diperbolehkan menerima kesaksian sebagian perempuan atas sebagian yang lain hanya karena mereka berkumpul di pemandian umum dan pesta pernikahan. Padahal, kesaksian mereka tidak diterima dalam keadaan darurat sekalipun, meskipun diperbolehkan menerima kesaksian mereka bersama laki-laki dalam perkara harta. Maka, anak-anak yang kesaksiannya tidak diterima bersama laki-laki, lebih utama untuk tidak diterima jika mereka sendiri. Dengan demikian, batal pula dalil yang mereka gunakan.

وَقَضَاءُ ابْنِ الزُّبَيْرِ مَعَ خِلَافِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَمْنَعُ مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ. وَالْقِيَاسُ مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ، لِأَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ فِي الْأَمْوَالِ لَمْ تُقْبَلْ فِي الْجِرَاحِ، كالفسقة.

Putusan Ibnu Zubair beserta perbedaan pendapat Ibnu Abbas mencegah terjadinya ijmā‘. Qiyās sejalan dengan pendapat Ibnu Abbas, karena setiap orang yang kesaksiannya tidak diterima dalam perkara harta, maka tidak diterima pula dalam perkara luka, seperti para fāsiq.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي ” وَلَا تَجُوزُ شَهَادَةُ مَمْلُوكٍ وَلَا كَافِرٍ وَلَا صبي بحال لأن المماليك يغلبهم من يملكهم على أمورهم وأن الصبيان لا فرائض عليهم فكيف يجب بقولهم فرض والمعروفون بالكذب من المسلمين لا تجوز شهادتهم فكيف تجوز شهادة الكافرين مع كذبهم على الله جل وعز (قال المزني) أحسن الشافعي “.

Imam Syafi‘i berkata: “Tidak sah kesaksian seorang budak, orang kafir, maupun anak kecil dalam keadaan apa pun, karena para budak seringkali dipengaruhi oleh tuan mereka dalam urusan mereka, dan anak-anak tidak dibebani kewajiban, maka bagaimana mungkin kewajiban dapat ditetapkan berdasarkan ucapan mereka. Orang-orang yang dikenal suka berdusta dari kalangan muslim pun tidak diterima kesaksiannya, maka bagaimana mungkin diterima kesaksian orang kafir yang berdusta atas nama Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.” (Al-Muzani berkata) “Imam Syafi‘i telah berpendapat dengan baik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْمَمْلُوكُ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ شَهَادَتَهُ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ، وَكَذَلِكَ مَنْ بَقِيَتْ فِيهِ أَحْكَامُ الرِّقِّ، وَإِنِ انْعَقَدَتْ لَهُ أَسْبَابُ الْعِتْقِ مِنَ الْمُدَبَّرُ، وَالْمُكَاتَبُ، وَأُمُّ الْوَلَدِ، وَمَنْ رَقَّ بَعْضُهُ وَعُتِقَ بَعْضُهُ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ، لِجَرَيَانِ أَحْكَامِ الرِّقِّ عَلَيْهِمْ، فَإِذَا تَكَامَلَ عِتْقُ أَحَدِهِمْ وَصَارَ حُرًّا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ كَانَ وَلَاءُ الْعِتْقِ جَارِيًا عَلَيْهِ، وَهُوَ مِنْ أَحْكَامِ الرِّقِّ، لِأَنَّ الْوَلَاءَ جَارٍ مَجْرَى النَّسَبِ فِي الْمِيرَاثِ، فَخَرَجَ عَنْ أَحْكَامِ الرِّقِّ فِي النَّقْضِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun budak, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa kesaksiannya tidak diterima, demikian pula orang yang masih berlaku padanya hukum-hukum perbudakan, meskipun telah ada sebab-sebab kemerdekaan baginya, seperti mudabbar, mukatab, ummu walad, dan orang yang sebagian dirinya masih berstatus budak dan sebagian lainnya telah merdeka, maka kesaksian mereka tidak diterima karena hukum-hukum perbudakan masih berlaku atas mereka. Apabila kemerdekaan salah satu dari mereka telah sempurna dan ia telah menjadi orang merdeka, maka kesaksiannya diterima, meskipun masih berlaku wala’ ‘itq padanya, yang merupakan salah satu hukum perbudakan, karena wala’ itu kedudukannya seperti nasab dalam warisan, sehingga ia keluar dari hukum-hukum perbudakan dalam hal pembatalan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الصَّبِيُّ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ شَهَادَتَهُ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ بِحَالٍ، سَوَاءٌ رَاهَقَ أَوْ لَمْ يُرَاهِقْ، وَسَوَاءٌ حُكِمَ بِصِحَّةِ إِسْلَامِهِ، أَوْ لَمْ يُحْكَمْ، فَإِنْ بَلَغَ الِاحْتِلَامَ قَبْلَ اسْتِكْمَالِ السِّنِّ قُبِلَ، وَكَذَلِكَ لَوْ بَلَغَ بِاسْتِكْمَالِ السِّنِّ قُبِلَ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالِغًا، فَلَمْ يُعْتَبَرِ اجْتِمَاعُهُمَا فِيهِ.

Adapun anak kecil, telah kami sebutkan bahwa kesaksiannya tidak diterima dalam keadaan apa pun, baik ia sudah mendekati usia baligh maupun belum, baik telah diputuskan keabsahan keislamannya maupun belum. Jika ia telah mencapai usia mimpi basah sebelum mencapai usia sempurna, maka kesaksiannya diterima. Demikian pula jika ia baligh dengan mencapai usia sempurna, maka kesaksiannya juga diterima, karena dengan salah satu dari keduanya ia telah menjadi baligh, sehingga tidak disyaratkan harus berkumpul keduanya pada dirinya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْكَافِرُ فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لِمُسْلِمٍ، وَلَا عَلَيْهِ فِي وَصِيَّةٍ، وَلَا غَيْرِهَا، فِي سِفْرٍ كَانَ أَوْ حَضَرٍ.

Adapun orang kafir, maka kesaksiannya tidak diterima untuk (kepentingan) seorang Muslim, maupun terhadapnya dalam wasiat, ataupun selainnya, baik dalam keadaan safar maupun mukim.

وَحُكِيَ عَنْ دَاوُدَ: أَنَّهُ أَجَازَ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي وَصِيَّتِهِ، فِي السَّفَرِ دُونَ الْحَضَرِ.

Diriwayatkan dari Dawud bahwa ia membolehkan kesaksian ahludz-dzimmah atas seorang Muslim dalam wasiatnya, ketika dalam perjalanan, namun tidak ketika di tempat tinggal.

وَبِهِ قَالَ مِنَ التَّابِعِينَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، وَعِكْرِمَةُ. فَأَمَّا قَبُولُ شَهَادَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ، وَعَلَى بَعْضٍ، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي جَوَازِهَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Pendapat ini juga dipegang oleh para tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Sa‘id bin al-Musayyib, dan ‘Ikrimah. Adapun mengenai diterimanya kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, atau atas sebagian yang lain, maka para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya menjadi tiga mazhab:

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ إِنَّهُ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ بِحَالٍ سَوَاءٌ اتَّفَقَتْ مِلَلُهُمْ أَوِ اخْتَلَفَتْ.

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa kesaksian mereka tidak diterima dalam keadaan apa pun, baik agama mereka sama maupun berbeda.

وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ، وَالْأَوْزَاعِيُّ، وَابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ.

Pendapat ini juga dikatakan oleh Malik, al-Awza‘i, Ibnu Abi Laila, dan Ahmad bin Hanbal.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِهِ إِنَّ شَهَادَةَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ مَقْبُولَةٌ مَعَ اتِّفَاقِ مِلَلِهِمْ وَاخْتِلَافِهَا، وَبِهِ قَالَ حَمَّادُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَقُضَاةُ الْبَصْرَةِ الْحَسَنُ، وَسَوَّارٌ وَعُبَيْدُ اللَّهِ.

Mazhab kedua, yaitu pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya, menyatakan bahwa kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dapat diterima, baik agama mereka sama maupun berbeda. Pendapat ini juga dipegang oleh Hammad bin Abi Sulaiman, Sufyan ats-Tsauri, para qadhi di Bashrah seperti al-Hasan, Sawwar, dan Ubaidullah.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ: وَهُوَ قَوْلُ الزُّهْرِيِّ، وَالشَّعْبِيِّ، وَقَتَادَةَ إِنَّهُ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ لِأَهْلِ مِلَّتِهِمْ وَعَلَيْهِمْ، وَلَا تُقْبَلُ عَلَى غَيْرِ أَهْلِ مِلَّتِهِمْ كَالْيَهُودِ عَلَى النَّصَارَى، وَالنَّصَارَى عَلَى الْيَهُودِ. وَاسْتَدَلُّوا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ} [المائدة: 106] .

Mazhab ketiga, yaitu pendapat az-Zuhri, asy-Sya‘bi, dan Qatadah, menyatakan bahwa kesaksian mereka diterima untuk orang-orang seagama mereka dan terhadap mereka, namun tidak diterima terhadap selain orang seagama mereka, seperti kesaksian orang Yahudi terhadap orang Nasrani, dan orang Nasrani terhadap orang Yahudi. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang di antara kamu menghadapi kematian, saat membuat wasiat, hendaklah disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang lain dari selain kamu.” (QS. al-Ma’idah: 106).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مِنْ غَيْرِ دِينِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَجَعَلَهُ دَاوُدُ مَقْصُورًا عَلَى الْوَصِيَّةِ، وَجَعَلَهُ أَبُو حَنِيفَةَ مَقْصُورًا عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ، وَجَعَلَهُ الزُّهْرِيُّ، وَالشَّعْبِيُّ مَقْصُورًا عَلَى الْمُوافِقِينَ فِي الْمِلَّةِ دُونَ الْمُخَالِفِينَ وَرَوَى الشَّعْبِيُّ عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَجَازَ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ ” قَالُوا: وَهَذَا نَصٌّ.

Ibnu ‘Abbas berkata: “(Mereka adalah) dari selain agamamu, yaitu dari kalangan Ahli Kitab.” Maka Dawud membatasi hal itu hanya pada wasiat, sedangkan Abu Hanifah membatasinya hanya pada Ahli Dzimmi. Az-Zuhri dan Asy-Sya‘bi membatasinya pada orang-orang yang seagama saja, tidak termasuk yang berbeda agama. Asy-Sya‘bi meriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi ﷺ membolehkan kesaksian sebagian Ahli Dzimmi atas sebagian yang lain. Mereka berkata: “Ini adalah nash (teks yang jelas).”

وَرَوَى أَبُو أُسَامَةَ عَنْ مُجَالِدٍ عَنْ عَامِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ جَاءَتِ الْيَهُودُ بِرَجُلٍ وَامْرَأَةٍ مِنْهُمْ زَنَيَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: ” ائْتُونِي بِأَعْلَمِ رَجُلَيْنِ مِنْكُمْ ” فَأَتَوْهُ بابني صوريا ” فنشهدما كَيْفَ تَجِدُونَ أَمْرَ هَذَيْنِ فِي التَّوْرَاةِ ” فَقَالَا نَجِدُ فِي التَّوْرَاةِ إِذَا شَهِدَ أَرْبَعَةٌ أَنَّهُمْ رَأَوْا ذَكَرَهُ فِي فَرْجِهَا مِثْلَ الْمَيْلِ فِي الْمُكْحُلَةِ رُجِمَا، قَالَ: ” فَمَا مَنَعَكُمَا أَنْ تَرْجُمُوهُمَا ” قَالَا ذَهَبَ سُلْطَانُنَا فَكَرِهْنَا الْقَتْلَ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بالشهود فجاؤوا بِأَرْبَعَةٍ فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوْا ذَكَرَهُ فِي فَرْجِهَا مِثْلَ الْمَيْلِ فِي الْمُكْحُلَةِ، ” فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِرَجْمِهِمَا “.

Abu Usamah meriwayatkan dari Mujalid, dari ‘Amir, dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata: Orang-orang Yahudi membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan dari kalangan mereka yang telah berzina kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, “Bawalah kepadaku dua orang yang paling alim di antara kalian.” Maka mereka mendatangkan dua anak Suraya. Beliau bertanya kepada keduanya, “Bagaimana kalian dapati hukum dua orang ini dalam Taurat?” Keduanya menjawab, “Kami dapati dalam Taurat, apabila ada empat orang yang bersaksi bahwa mereka melihat kemaluan laki-laki itu masuk ke dalam kemaluan perempuan seperti batang kayu celak masuk ke wadahnya, maka keduanya dirajam.” Beliau bersabda, “Lalu apa yang menghalangi kalian untuk merajam keduanya?” Mereka menjawab, “Kekuasaan kami telah hilang, maka kami tidak suka melakukan pembunuhan.” Maka Rasulullah ﷺ memanggil para saksi, lalu datanglah empat orang dan mereka bersaksi bahwa mereka melihat kemaluan laki-laki itu masuk ke dalam kemaluan perempuan seperti batang kayu celak masuk ke wadahnya. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar keduanya dirajam.

فَدَلَّ عَلَى قَبُولِ شَهَادَةِ أَهْلِ الذِّمَّةِ، بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ قَالُوا: وَلِأَنَّ الْكُفْرَ لَا يُنَافِي الْوِلَايَةَ، لِأَنَّ الْكَافِرَ يَلِي عَلَى أَطْفَالِهِ وَعَلَى نِكَاحِ بَنَاتِهِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يُمْنَعَ مِنَ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّهَا أَخَفُّ شُرُوطًا مِنَ الْوِلَايَةِ.

Maka hal ini menunjukkan diterimanya kesaksian Ahludz-dzimmah, sebagian mereka atas sebagian yang lain. Mereka berkata: Karena kekufuran tidak menafikan kewalian, sebab orang kafir tetap menjadi wali atas anak-anaknya dan atas pernikahan putri-putrinya, maka lebih utama lagi jika ia tidak dilarang dari memberikan kesaksian, karena kesaksian itu syarat-syaratnya lebih ringan daripada kewalian.

قَالُوا: وَلِأَنَّ مَنْ كَانَ عَدْلًا مِنْ أَهْلِ دِينِهِ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ كَالْمُسْلِمِينَ.

Mereka berkata: Dan karena siapa pun yang adil dari kalangan pemeluk agamanya, kesaksiannya diterima sebagaimana kaum Muslimin.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ فُسِّقَ عَلَى وَجْهِ التَّأْوِيلِ، فَلَمْ يُمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ كَأَهْلِ الْبَغْيِ.

Mereka berkata: Karena ia dianggap fāsiq berdasarkan penafsiran (ta’wil), maka ia tidak dilarang untuk diterima kesaksiannya, seperti halnya ahl al-baghy.

وَدَلِيلُنَا: قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] فَمَنَعَتْ هَذِهِ الْآيَةُ مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِمْ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian” (QS. ath-Thalaq: 2). Maka ayat ini melarang diterimanya kesaksian mereka dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ غَيْرُ عُدُولٍ.

Salah satunya: bahwa mereka bukanlah orang-orang yang ‘adūl (adil/terpercaya).

وَالثَّانِي: إِنَّهُمْ لَيْسُوا مِنَّا.

Dan yang kedua: Sesungguhnya mereka bukan bagian dari kami.

وَقَالَ تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6] وَالْكَافِرُ فَاسِقٌ، فَوَجَبَ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي خَبَرِهِ، وَالشَّهَادَةُ أَغْلَظُ مِنَ الْخَبَرِ، فَأَوْجَبَتِ التَّوَقُّفَ عَنْ شَهَادَتِهِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6). Orang kafir adalah fasik, maka wajib untuk memastikan kebenaran beritanya. Kesaksian lebih berat daripada sekadar berita, sehingga hal itu mewajibkan untuk menahan diri dari menerima kesaksiannya.

وَرَوَى عُبَادَةُ بْنُ نُسَيٍّ عَنِ ابْنِ غَنْمٍ قَالَ: سَأَلْتُ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ عَنْ شَهَادَةِ الْيَهُودِيِّ عَلَى النَّصْرَانِيِّ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ أَهْلِ دِينٍ عَلَى غَيْرِ أَهْلِ دِينِهِمْ إِلَّا الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّهُمْ عُدُولٌ عَلَى أَنْفُسِهِمْ، وَعَلَى غَيْرِهِمْ ” فَإِذَا مَنَعَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِمْ عَلَى غَيْرِ أَهْلِ دِينِهِمْ، وَأَبُو حَنِيفَةَ يُسَوِّي بَيْنَ أَهْلِ دِينِهِمْ وَغَيْرِهِمْ دَلَّ عَلَى أَنَّهَا لَا تُقْبَلُ عَلَى أَهْلِ دِينِهِمْ، وَعَلَى غَيْرِهِمْ، وَلِأَنَّ الْفَاسِقَ الْمُسْلِمَ أَكْمَلُ مِنَ الْكَافِرِ الْعَدْلِ، لِصِحَّةِ الْعِبَادَاتِ مِنَ الْفَاسِقِ، وَاسْتِحْقَاقِ الْمِيرَاثِ، وَذَلِكَ لَا يَصِحُّ مِنَ الْكَافِرِ، ولا يستحق ميراث مسلم، ثم كَانَ الْفِسْقُ مَانِعًا مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، فَكَانَ الْكُفْرُ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مَانِعًا مِنْهَا.

Ubadah bin Nusay meriwayatkan dari Ibnu Ghanm, ia berkata: Aku bertanya kepada Mu’adz bin Jabal tentang kesaksian orang Yahudi atas orang Nasrani. Ia menjawab: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak diterima kesaksian ahli agama tertentu atas selain pemeluk agamanya, kecuali kaum Muslimin, karena mereka adalah orang-orang yang adil terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain.” Maka, ketika Nabi ﷺ melarang menerima kesaksian mereka atas selain pemeluk agamanya, dan Abu Hanifah menyamakan antara sesama pemeluk agama dan selainnya, hal itu menunjukkan bahwa kesaksian tersebut tidak diterima baik atas sesama pemeluk agama maupun atas selainnya. Selain itu, Muslim yang fasiq lebih utama daripada orang kafir yang adil, karena ibadah dari orang fasiq tetap sah dan ia berhak menerima warisan, sedangkan hal itu tidak sah dari orang kafir dan ia tidak berhak menerima warisan dari Muslim. Maka, jika kefasikan menjadi penghalang diterimanya kesaksian, maka kekufuran lebih utama untuk menjadi penghalang dari kesaksian tersebut.

وَيَتَحَرَّرُ لك مِنْ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسَانِ.

Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan dua qiyās.

أَحَدُهُمَا: إِنَّ مَنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ عَلَى الْمُسْلِمِ، لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ عَلَى غَيْرِ الْمُسْلِمِ كَالْفَاسِقِ.

Salah satunya: Sesungguhnya siapa saja yang kesaksiannya tidak diterima terhadap seorang Muslim, maka kesaksiannya juga tidak diterima terhadap non-Muslim, seperti orang fasik.

وَالثَّانِي: إِنَّ مَنْ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ بِالْفِسْقِ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ بِالْكُفْرِ، كالشهادة على الْمُسْلِمِ، وَلِأَنَّ الْكَذِبَ يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، وَالْكَذِبُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى أَعْظَمُ مِنَ الْكَذِبِ عَلَى عِبَادِهِ، ثُمَّ كَانَتْ شَهَادَةٌ مَنْ كَذَبَ عَلَى النَّاسِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ مَرْدُودَةً، وَالْكَافِرُ الْكَاذِبُ عَلَى اللَّهِ أَوْلَى أَنْ تُرَدَّ شَهَادَتُهُ، وَقَدْ وصف الله تعالى كذبهم فقال: {لا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ} [المائدة: 5] وَقَالَ تَعَالَى: {وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [آل عمران: 3] .

Kedua: Sesungguhnya, siapa pun yang kesaksiannya ditolak karena kefasikan, maka kesaksiannya juga ditolak karena kekufuran, sebagaimana kesaksian atas seorang Muslim. Karena dusta menghalangi diterimanya kesaksian, dan berdusta atas Allah Ta‘ala lebih besar dosanya daripada berdusta kepada hamba-hamba-Nya. Maka, kesaksian seorang Muslim yang berdusta kepada manusia saja sudah ditolak, apalagi seorang kafir yang berdusta atas nama Allah, tentu lebih utama untuk ditolak kesaksiannya. Allah Ta‘ala telah menggambarkan kedustaan mereka dengan firman-Nya: “Mereka tidak mengubah-ubah perkataan dari tempatnya,” (al-Mā’idah: 5) dan firman-Nya: “Dan mereka mengatakan dusta atas (nama) Allah, padahal mereka mengetahui,” (Āl ‘Imrān: 3).

وَيَتَحَرَّرُ مِنْ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسَانِ:

Dari penjelasan istidlāl ini dapat disimpulkan dua qiyās:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ مَنْ كَانَ مَوْسُومًا بِالْكَذِبِ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ كَالْمُسْلِمِ.

Salah satunya: Sesungguhnya siapa saja yang dikenal sebagai pendusta, maka kesaksiannya ditolak, sebagaimana halnya seorang Muslim.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْكَذِبَ إِذَا رُدَّتْ بِهِ شَهَادَةُ الْمُسْلِمِ، فَأَوْلَى أَنْ تُرَدَّ بِهِ شَهَادَةُ الْكَافِرِ، كَالْكَذِبِ عَلَى النَّاسِ، وَلِأَنَّ نَقْصَ الْكُفْرِ أَغْلَظُ مِنْ نَقْصِ الرِّقِّ، لِوَجْهَيْنِ:

Kedua: Sesungguhnya jika kesaksian seorang Muslim ditolak karena dusta, maka lebih utama lagi kesaksian seorang kafir ditolak karena dusta, sebagaimana dusta terhadap manusia. Selain itu, kekurangan akibat kekufuran lebih berat daripada kekurangan akibat perbudakan, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ نَقْصَ الْكَفْرِ يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الْعِبَادَاتِ، وَلَا يَمْنَعُ مِنْهَا نَقْصُ الرِّقِّ.

Salah satunya: Kekurangan karena kekufuran mencegah sahnya ibadah, sedangkan kekurangan karena status budak tidak mencegah sahnya ibadah.

وَالثَّانِي: إِنَّ نَقْصَ الْكَفْرِ يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الْخَبَرِ، وَلَا يَمْنَعُ مِنْهُ نَقْصُ الرِّقِّ، ثُمَّ ثَبَتَ بِاتِّفَاقِنَا وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنْ نَقْصَ الرِّقِّ يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَمْنَعَ مِنْ قَبُولِهَا نَقْصُ الْكَفْرِ وَلِهَذِهِ الْمَعَانِي مَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ قَبُولِ شَهَادَةِ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ اعْتِبَارًا بِنَقْصِ الْكَفْرِ، فَكَذَلِكَ أَهْلُ الْكِتَابِ.

Kedua: Sesungguhnya kekurangan karena kekufuran mencegah diterimanya sebuah khabar (berita), sedangkan kekurangan karena status budak tidak mencegahnya. Kemudian telah tetap menurut kesepakatan kami dan Abu Hanifah bahwa kekurangan karena status budak mencegah diterimanya kesaksian, maka lebih utama lagi kekurangan karena kekufuran mencegah diterimanya kesaksian. Karena alasan-alasan inilah Abu Hanifah melarang diterimanya kesaksian para penyembah berhala, dengan pertimbangan kekurangan karena kekufuran; demikian pula halnya dengan Ahli Kitab.

وَيَتَحَرَّرُ مِنْ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسَانِ:

Dari penalaran ini dapat disimpulkan dua qiyās:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا شَهَادَةٌ يَمْنَعُ مِنْهَا الرِّقَّ، فَوَجَبَ أَنْ يُمْنَعَ مِنْهَا الْكُفْرُ، قِيَاسًا عَلَى شَهَادَةِ الْوَثَنِيِّ.

Salah satunya: bahwa itu adalah kesaksian yang terhalang oleh status budak, maka wajib juga dihalangi oleh kekufuran, berdasarkan qiyās dengan kesaksian orang musyrik.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا شَهَادَةٌ يَمْنَعُ مِنْهَا كُفْرُ الْوَثَنِيِّ، فَوَجَبَ أَنْ يَمْنَعَ مِنْهَا كُفْرُ الْكِتَابِيِّ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الْمُسْلِمِ.

Kedua: Sesungguhnya itu adalah kesaksian yang dihalangi oleh kekafiran seorang penyembah berhala, maka wajib juga dihalangi oleh kekafiran seorang ahli kitab, sebagaimana kesaksian atas seorang muslim.

فَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُ بِالْآيَةِ فَسَنَذْكُرُ مِنِ اخْتِلَافِ أَهْلِ التَّأْوِيلِ فِي تَفْسِيرِهَا مَا يَتَكَافَأُ بِهِ الِاسْتِدْلَالُ بِهَا.

Adapun dalil yang ia gunakan dengan ayat tersebut, maka kami akan menyebutkan perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam menafsirkannya, yang dengan itu dalil yang diambil darinya menjadi seimbang (tidak kuat).

وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى: {شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ} [المائدة: 106] فَفِيهِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Adapun firman Allah Ta‘ala: {kesaksian di antara kalian} (Al-Ma’idah: 106), maka di dalamnya terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا: إِنَّهَا الشَّهَادَةُ بِالْحُقُوقِ عِنْدَ الْحُكَّامِ.

Salah satunya: bahwa itu adalah kesaksian atas hak-hak di hadapan para hakim.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا شَهَادَةُ الْحُضُورِ لِلْوَصِيَّةِ.

Kedua: Sesungguhnya itu adalah kesaksian hadir dalam wasiat.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهَا أَيْمَانٌ، وَمَعْنَى ذَلِكَ أَيْمَانُ بَيْنِكُمْ فَعَبَّرَ عَنِ الْيَمِينِ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا قَالَ فِي أَيْمَانِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ {فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ} [النور: 6] فَلَا يَكُونُ لِأَبِي حَنِيفَةَ فِيهَا دَلِيلٌ إِلَّا عَلَى التَّأْوِيلِ الْأَوَّلِ، وَيَمْنَعُهُ التَّأْوِيلَانِ الْآخَرَانِ مِنْهُمَا، وَلَا يَكُونُ لِدَاوُدَ فِيهَا دَلِيلٌ إِلَّا عَلَى التَّأْوِيلِ الثَّانِي، وَيَمْنَعُهُ التَّأْوِيلَانِ الْآخَرَانِ فِيهِمَا.

Ketiga: Sesungguhnya itu adalah sumpah-sumpah, dan maksudnya adalah sumpah-sumpah di antara kalian. Maka, sumpah diungkapkan dengan istilah kesaksian, sebagaimana firman Allah tentang sumpah dua orang yang saling melaknat: “Maka kesaksian salah satu dari mereka berdua adalah empat kali bersaksi dengan nama Allah” (an-Nur: 6). Maka, Imam Abu Hanifah tidak memiliki dalil dalam hal ini kecuali menurut tafsir pertama, dan dua tafsir lainnya menafikannya. Sedangkan bagi Dawud, ia tidak memiliki dalil kecuali menurut tafsir kedua, dan dua tafsir lainnya menafikannya.

وفي قوله: {اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ} [المائدة: 106] تَأْوِيلَانِ:

Dalam firman-Nya: {dua orang yang adil di antara kamu} [al-Mā’idah: 106] terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا: يَعْنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٍ.

Salah satunya: yaitu dari kalangan Muslimin, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Mujahid.

وَالثَّانِي: يَعْنِي: وَصِيَّ الْمُوصِي، وَهُوَ قَوْلُ الْحَسَنِ، وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَفِيهِمَا قَوْلَانِ:

Yang kedua: yaitu washi dari al-mushi, dan ini adalah pendapat al-Hasan dan Sa‘id bin al-Musayyab, dan dalam keduanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا شَاهِدَانِ يَشْهَدَانِ عَلَى وَصِيَّةِ الْمُوصِي.

Salah satunya adalah bahwa keduanya merupakan dua saksi yang memberikan kesaksian atas wasiat dari orang yang berwasiat.

وَالثَّانِي: أنهما وصيان وَلِيِّهِ، وَلِأَبِي حَنِيفَةَ وَدَاوُدَ دَلِيلٌ عَلَى التَّأْوِيلَيْنِ الْآخَرَيْنِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ لَهُمَا دَلِيلٌ عَلَى التَّأْوِيلَيْنِ الْأَوَّلَيْنِ.

Kedua: bahwa keduanya adalah wasiat dari wali anak, dan menurut Abu Hanifah dan Dawud, terdapat dalil untuk dua penafsiran terakhir, meskipun dimungkinkan juga bahwa keduanya memiliki dalil untuk dua penafsiran pertama.

وقَوْله تَعَالَى: {أَوْ آخَرَانِ من غيركم} فِيهِ تَأْوِيلَانِ:

Dan firman-Nya Ta‘ālā: {atau dua orang lain dari selain kalian} memiliki dua tafsiran:

أَحَدُهُمَا: مِنْ غَيْرِ دِينِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، وَشُرَيْحٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ.

Salah satunya: dari selain agama kalian, yaitu dari kalangan Ahlul Kitab, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Abu Musa al-Asy‘ari, Syuraih, dan Sa‘id bin Jubair.

وَالثَّانِي: مِنْ غَيْرِ قَبِيلَتِكُمْ وَعَشِيرَتِكُمْ، وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ، وَعِكْرِمَةَ، وَالزُّهْرِيِّ، وَلَيْسَ لَهُمَا فِيهِمَا عَلَى هَذَا التَّأْوِيلِ دَلِيلٌ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ لَهُمَا عَلَى التَّأْوِيلِ الْأَوَّلِ دَلِيلٌ.

Dan yang kedua: dari selain kabilah dan keluarga kalian, dan ini adalah pendapat Hasan, ‘Ikrimah, dan az-Zuhri. Namun, menurut penafsiran ini, mereka berdua tidak memiliki dalil dalam masalah ini, meskipun mungkin saja mereka memiliki dalil menurut penafsiran yang pertama.

وَفِي هَذَا الْمَوْضِعِ قَوْلَانِ:

Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا عَلَى التَّخْيِيرِ فِي اثْنَيْنِ مِنَّا، أَوْ آخَرَيْنِ مِنْ غَيْرِنَا.

Salah satunya: bahwa hal itu bersifat pilihan antara dua orang dari kami, atau dua orang lainnya dari selain kami.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا لِغَيْرِ التَّخْيِيرِ، وَأَنَّ مَعْنَى الْكَلَامِ، أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ لَمْ تَجِدُوا مِنْكُمْ، وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَشُرَيْحٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ {إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ} [المائدة: 106] يَعْنِي سافرتم ” فأصابتكم مصيبة الموت “، وَفِي الْكَلَامِ مَحْذُوفٌ، وَتَقْدِيرُهُ، وَقَدْ أَسْنَدْتُمُ الْوَصِيَّةَ إليهما.

Kedua: bahwa ayat tersebut bukan untuk memberikan pilihan, dan makna dari kalimatnya adalah: “atau dua orang lain dari selain kalian jika kalian tidak menemukan dari kalian,” dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Syuraih, dan Sa‘id bin Jubair. {Jika kalian bepergian di bumi} [Al-Ma’idah: 106] maksudnya adalah jika kalian melakukan perjalanan, lalu kalian ditimpa musibah kematian, dan dalam kalimat tersebut terdapat bagian yang dihilangkan, dan takdirnya adalah: dan kalian telah menyerahkan wasiat kepada keduanya.

وقوله: {تحبسونها مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ} [المائدة: 106] أَيْ تَسْتَوْثِقُوا بِهِمَا لِلْأَيْمَانِ، وَهَذَا خِطَابٌ لِلْوَرَثَةِ، وَفِي هَذِهِ الصَّلَاةِ قَوْلَانِ:

Dan firman-Nya: {Kamu tahan kedua orang itu setelah salat} [al-Mā’idah: 106], maksudnya adalah kalian meminta jaminan dari keduanya dengan sumpah, dan ini adalah seruan kepada para ahli waris. Mengenai salat yang dimaksud di sini, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: مِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعَصْرِ، وَهَذَا قَوْلُ شُرَيْحٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ.

Salah satunya: setelah salat Asar, dan ini adalah pendapat Syuraih dan Sa‘id bin Jubair.

وَالثَّانِي: مِنْ بَعْدِ صَلَاةِ أَهْلِ دِينِهِمَا وَمِلَّتِهِمَا مِنْ أَهْلِ الذمة، وهذا قول ابن عباس، والسدي. {فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا} [المائدة: 106] فِيهَا قَوْلَانِ:

Kedua: setelah salat menurut agama dan kepercayaan mereka dari kalangan ahludz-dzimmah. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan As-Suddi. “Maka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu: ‘Kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga apa pun’” (QS. Al-Ma’idah: 106), dalam ayat ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنِ ارْتَبْتُمْ بِالْوَصِيَّيْنِ فِي الْخِيَانَةِ أَحْلَفَهُمَا الْوَرَثَةُ.

Salah satunya: Jika kalian meragukan kedua washi (pelaksana wasiat) dalam hal pengkhianatan, maka para ahli waris dapat meminta keduanya bersumpah.

وَالثَّانِي: إِنِ ارْتَبْتُمْ بِالشَّاهِدَيْنِ فِي الْعَدَالَةِ، وَالْجَرْحِ أَحْلَفَهُمَا الْحَاكِمُ.

Kedua: Jika kalian meragukan keadilan kedua saksi dan adanya celaan terhadap mereka, maka hakim harus meminta keduanya bersumpah.

وفي قوله: {لا نشتري به ثمنا} فيهما تَأْوِيلَانِ:

Dalam firman-Nya: {kami tidak menukarnya dengan harga}, terdapat dua penafsiran.

أَحَدُهُمَا: لَا نَأْخُذُ عَلَيْهِ رِشْوَةً، وَهَذَا قَوْلُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ.

Salah satunya: kita tidak mengambil suap darinya, dan ini adalah pendapat ‘Abdurrahman bin Zaid.

وَالثَّانِي: لَا يعتاض عليه بحق، {ولو كان ذا قربى} أَيْ لَا يَمِيلُ مَعَ ذِي الْقُرْبَى فِي قول الزور والشهادة بغير حق، ولا يكتم شهادة الله، عِنْدَنَا فِيمَا أَوْجَبَهُ مِنْ أَدَائِهَا عَلَيْنَا.

Dan yang kedua: Tidak boleh mengambil imbalan atasnya dengan hak, meskipun terhadap kerabat dekat, yaitu tidak condong kepada kerabat dalam hal kesaksian palsu dan memberikan kesaksian yang tidak benar, serta tidak menyembunyikan kesaksian Allah, menurut kami, dalam hal yang telah diwajibkan untuk menunaikannya atas kita.

وقَوْله تَعَالَى: {فَإِنْ عُثِرَ عَلَى أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فآخران يقومان مقامهما} [المائدة: 107] وفي {عثر} تَأْوِيلَانِ:

Dan firman-Nya Ta‘ala: “Jika diketahui bahwa keduanya telah berhak mendapat dosa, maka dua orang lain menggantikan keduanya” (QS. Al-Mā’idah: 107). Dalam kata “‘uthira” terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: ظَهَرَ، حَكَاهُ ابْنُ عِيسَى.

Salah satunya: telah tampak, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Isa.

وَالثَّانِي: اطَّلَعَ، قَالَهُ النَّخَعِيُّ.

Yang kedua: mengetahui, sebagaimana dikatakan oleh an-Nakha‘i.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا وَإِنْ تَقَارَبَ مَعْنَاهُمَا: أَنَّ الظُّهُورَ مَا بَانَ بِنَفْسِهِ وَالِاطِّلَاعَ ما بان بالكشف عنه.

Perbedaan antara keduanya, meskipun maknanya berdekatan, adalah bahwa zhuhur (tampak) adalah sesuatu yang jelas dengan sendirinya, sedangkan ittithā‘ (mengetahui) adalah sesuatu yang menjadi jelas setelah disingkap.

وقوله: {استحقا إثما إن كذبا وخانا} [المائدة: 107] فعبر عن الكذب والخيانة بالإثم، لحدوثه عنهما، وَفِي الَّذِي {عُثِرَ عَلَى أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا} قَوْلَانِ:

Dan firman-Nya: “Maka keduanya berhak mendapat dosa jika keduanya berdusta dan berkhianat” (QS. Al-Ma’idah: 107), maka Allah mengekspresikan dusta dan khianat dengan istilah dosa, karena dosa itu muncul dari keduanya. Dalam ayat “jika diketahui bahwa keduanya berhak mendapat dosa”, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا الشَّاهِدَانِ، وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ.

Salah satunya adalah bahwa keduanya adalah dua saksi, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي: إِنَّهُمَا الْوَصِيَّانِ، وَهَذَا قَوْلُ سَعِيدِ بن جبير. {فآخران} يعني من الورثة.

Kedua: bahwa keduanya adalah para washi (pelaksana wasiat), dan ini adalah pendapat Sa‘id bin Jubair. {Maka dua orang yang lain} maksudnya dari para ahli waris.

{يقومان مقامهما} يَعْنِي فِي اليمين حِينِ ظَهَرَ لَهُمَا الْخِيَانَةُ من الذين استحق عليهما الأوليان. فِيهِ قَوْلَانِ:

“Keduanya menggantikan posisi mereka,” yaitu dalam hal sumpah ketika telah tampak bagi keduanya adanya pengkhianatan dari orang-orang yang memiliki hak atas keduanya sebagai pihak yang lebih berhak. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: الْأَوْلَيَانِ بِالْمَيِّتِ مِنَ الْوَرَثَةِ، وَهَذَا قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ.

Salah satunya adalah orang yang paling berhak terhadap mayit dari kalangan ahli waris, dan ini adalah pendapat Sa‘id bin Jubair.

وَالثَّانِي: الْأَوْلَيَانِ بِالشَّهَادَةِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَشُرَيْحٍ وَسَبَبُ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ، مَا رَوَى عَبْدُ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَهْمٍ، قِيلَ: إِنَّهُ ابْنُ أَبِي مارية، مولى العاصي بْنِ وَائِلٍ السَّهْمِيِّ مَعَ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، وَعُدَيِّ بْنِ بَدَّاءٍ فَمَاتَ السَّهْمِيُّ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا مُسْلِمٌ، فَلَمَّا قَدِمَا بِتَرِكَتِهِ فَقَدُوا جَامًا مِنْ فِضَّةٍ مُخَوَّصًا بِالذَّهَبِ، فَأَحْلَفَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ثُمَّ وَجَدَ الْجَامَ بِمَكَّةَ، فَقَالُوا: اشْتَرَيْنَاهُ مِنْ تميم الداري، وعدي بن براء، فقام رجلان من أولياء السهمي، قيل: إنه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، وَالْمُطَّلِبُ بْنُ أَبِي وَدَاعَةَ فَحَلَفَا لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا، وَأَنَّ الْجَامَ لِصَاحِبِهِمْ فَنَزَلَتْ فِيهِمْ هَاتَانِ الْآيَتَانِ، فَعِنْدَ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” سافروا مع ذوي الجدود والمسيرة “.

Kedua: yang lebih utama dalam memberikan kesaksian adalah dari kalangan Muslimin. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Syuraih. Adapun sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdul Malik bin Sa‘id bin Jubair dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani Sahm, dikatakan bahwa ia adalah Ibnu Abi Mariyah, maula al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmi, bepergian bersama Tamim ad-Dari dan ‘Uday bin Badda’. Lalu orang Sahmi itu meninggal di suatu negeri yang tidak ada seorang Muslim pun di sana. Ketika keduanya pulang membawa harta peninggalannya, mereka kehilangan sebuah mangkuk perak yang berhiaskan emas. Maka Rasulullah ﷺ meminta keduanya bersumpah. Kemudian mangkuk itu ditemukan di Makkah. Mereka berkata: “Kami membelinya dari Tamim ad-Dari dan ‘Uday bin Badda’.” Maka berdirilah dua orang dari kerabat Sahmi, dikatakan bahwa mereka adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan al-Muththalib bin Abi Wada‘ah, lalu keduanya bersumpah: “Kesaksian kami lebih berhak daripada kesaksian mereka, dan mangkuk itu milik kerabat kami.” Maka turunlah dua ayat ini berkenaan dengan mereka. Pada saat itu, Nabi ﷺ bersabda: “Bepergianlah bersama orang-orang yang memiliki kehormatan dan perjalanan.”

وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ، هَلْ هُوَ منسوخ أو ثابت؟ فقال ابن عباس: حكمها مَنْسُوخٌ.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum kedua ayat ini, apakah hukumnya telah di-naskh atau tetap berlaku? Ibnu Abbas berkata: Hukumnya telah di-naskh.

وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: حُكْمُهُمَا ثَابِتٌ، وَقَدْ تَجَاوَزْنَا بِتَفْسِيرِ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ حَدَّ الْجَوَابِ لِيُعْرَفَ حُكْمُهُمَا، وَلَيْسَ مَعَ هَذَا الِاخْتِلَافِ دَلِيلٌ فِيهِمَا، فَإِنِ اسْتَدَلَّ مَنْ نَصَرَ مَذْهَبَ دَاوُدَ بِمَا رَوَاهُ غَيْلَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: شَهِدَ رَجُلَانِ نَصْرَانِيَّانِ مِنْ أَهْلِ دَقُوقَاءَ عَلَى وَصِيَّةِ مُسْلِمٍ، وَأَنَّ أَهْلَ الْوَصِيَّةِ أَقَرَّا بِهِمَا أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ، فَاسْتَحْلَفَهُمَا بِاللَّهِ بَعْدَ الْعَصْرِ مَا اشْتَرَيْنَا ثَمَنًا، وَلَا كَتَمْنَا شَهَادَةً بِاللَّهِ، إِنَّا إِذًا، لَمِنَ الْآثِمِينَ، ثُمَّ قَالَ أَبُو مُوسَى، وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَقَضِيَّةٌ مَا قُضِيَ بِهَا مُنْذُ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَبْلَ الْيَوْمِ.

Al-Hasan al-Bashri berkata: Hukum keduanya tetap berlaku, dan kami telah melampaui batas jawaban dalam menafsirkan kedua ayat ini agar diketahui hukumnya. Namun, dengan adanya perbedaan ini, tidak ada dalil di dalamnya. Jika ada yang membela mazhab Dawud dengan berdalil pada riwayat yang dibawakan oleh Ghailan dari Isma‘il bin Abi Khalid dari Sufyan dari ‘Amir asy-Sya‘bi, ia berkata: Dua orang laki-laki Nasrani dari penduduk Daqūqā’ menjadi saksi atas wasiat seorang Muslim, dan keluarga yang menerima wasiat itu mengakui keduanya di hadapan Abu Musa al-Asy‘ari, lalu Abu Musa meminta keduanya bersumpah dengan nama Allah setelah waktu ashar: “Kami tidak membeli dengan harga apa pun, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian apa pun demi Allah. Jika kami melakukannya, sungguh kami termasuk orang-orang yang berdosa.” Kemudian Abu Musa berkata, “Demi Allah, ini adalah perkara yang belum pernah diputuskan sejak wafatnya Rasulullah ﷺ hingga hari ini.”

قِيلَ: هَذَا خِلَافٌ بَيْنَ الصَّحَابَةِ، فلم يحج بَعْضُهُمْ بَعْضًا، لَا سِيَّمَا وَالْأَكْثَرُونَ عَلَى خِلَافِهِ.

Dikatakan: Ini adalah perbedaan pendapat di antara para sahabat, namun mereka tidak saling mencela satu sama lain, terutama karena mayoritas di antara mereka berpendapat sebaliknya.

ثُمَّ هَذِهِ قَضِيَّةٌ فِي عَيْنٍ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ لَهَا تَأْوِيلٌ، فَامْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ فِيهَا دَلِيلٌ.

Kemudian, ini adalah kasus tertentu yang mungkin memiliki takwil, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِحَدِيثِ جَابِرٍ أَنَّهُ أَجَازَ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ فَهُوَ أَنَّهُ أَرَادَ بِالشَّهَادَةِ اليمين كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً} [المنافقون: 2] ، وَكَمَا قَالَ فِي الْمُنَافِقِينَ: {قَالُوا: نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ} [المنافقون: 1] أَيْ: نَحْلِفُ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan hadis Jabir bahwa ia membolehkan kesaksian Ahludz-dzimmah sebagian mereka atas sebagian yang lain, maka maksudnya dengan “kesaksian” di sini adalah sumpah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: {Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai} (al-Munafiqun: 2), dan sebagaimana firman-Nya tentang orang-orang munafik: {Mereka berkata: Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah} (al-Munafiqun: 1), maksudnya: kami bersumpah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ رَجْمِ الزَّانِيَيْنِ الْيَهُودِيَّيْنِ: فَهُوَ أَنَّهُ لَمْ يُرْوَ أَنَّهُ قَبِلَ شَهَادَةَ الْيَهُودِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الشُّهُودُ مُسْلِمِينَ، أَوْ حَصَلَ مَعَ شَهَادَةِ الْيَهُودِ اعْتِرَافُ الزَّانِيَيْنِ.

Adapun jawaban mengenai rajam terhadap dua pezina dari kalangan Yahudi: sesungguhnya tidak diriwayatkan bahwa Nabi menerima kesaksian dari orang-orang Yahudi, dan boleh jadi para saksi itu adalah kaum Muslimin, atau bersama dengan kesaksian orang-orang Yahudi terdapat pula pengakuan dari kedua pezina tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِصِحَّةِ وِلَايَتِهِمْ: فَهُوَ أَنَّ الْوِلَايَةَ خَاصَّةٌ فَخَفَّ حُكْمُنَا، لِمَا يُرَاعَى فِيهَا عَدَالَةُ الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ، وَيُرَاعَى فِي الشَّهَادَةِ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، فَلِذَلِكَ رُدَّتْ شَهَادَةُ الْكَافِرِ، وَإِنْ صَحَّتْ وِلَايَتُهُ.

Adapun jawaban atas dalil mereka tentang sahnya wilayah mereka adalah bahwa wilayah itu bersifat khusus sehingga hukum kami menjadi lebih ringan, karena dalam hal ini yang diperhatikan adalah keadilan lahiriah saja, bukan batiniah. Sedangkan dalam kesaksian, yang diperhatikan adalah keadilan lahiriah dan batiniah sekaligus. Oleh karena itu, kesaksian orang kafir ditolak, meskipun wilayahnya sah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّهُمْ عُدُولٌ: فَهُوَ أَنَّ كِتَابَ اللَّهِ الْوَارِدَ بِتَكْذِيبِهِمْ يَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمْ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang adil: sesungguhnya Kitab Allah yang datang dengan mendustakan mereka menghalangi tetapnya keadilan mereka.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى أَهْلِ الْبَغْيِ، لِأَنَّ فِسْقَهُمْ بِتَأْوِيلٍ: فَهُوَ أَنَّ مَنْ حُكِمَ بِفِسْقِهِ مِنْهُمْ لِظُهُورِ الْخَطَأِ فِي تَأْوِيلِهِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ، وَمَنْ كَانَ تَأْوِيلُ شُبْهَتِهِ مُحْتَمَلًا كَانُوا عَلَى عَدَالَتِهِمْ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِمْ.

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka atas Ahlul Baghy, karena kefasikan mereka disebabkan oleh penafsiran: maka barang siapa di antara mereka yang dihukumi fasiq karena jelasnya kesalahan dalam penafsirannya, maka kesaksiannya tidak diterima. Dan barang siapa yang penafsiran syubhatnya masih mungkin diterima, maka mereka tetap dalam keadilan mereka dan kesaksian mereka diterima.

Kitab al-Aqdiyah dan sumpah bersama saksi serta hal-hal yang termasuk di dalamnya berupa perbedaan hadis dan lain sebagainya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ الْمَخْزُومِيُّ عَنْ سَيْفِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ قَالَ عَمْرٌو فِي الْأَمْوَالِ وَرَوَاهُ مِنْ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ وَمِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ وَرَوَاهُ عَنْ عَلِيٍّ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَشُرَيْحٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Abdullah bin al-Harits bin Abdul Malik al-Makhzumi telah memberitakan kepada kami, dari Saif bin Sulaiman, dari Qais bin Sa‘d, dari ‘Amr bin Dinar, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara dengan sumpah bersama satu saksi.” ‘Amr berkata: “(Keputusan ini) dalam perkara harta.” Hadis ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara dengan sumpah bersama satu saksi, dan dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara dengan sumpah bersama satu saksi. Hadis ini juga diriwayatkan dari ‘Ali, Ubay bin Ka‘b, Umar bin Abdul Aziz, dan Syuraih.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْحُكْمِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى جَوَازِ الْحُكْمِ بِهِ.

Al-Mawardi berkata: Para ulama berbeda pendapat mengenai penetapan hukum dengan satu saksi dan sumpah. Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa boleh menetapkan hukum dengannya.

وَهُوَ فِي الصَّحَابَةِ قَوْلُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Ini adalah pendapat para imam yang empat rahimahumullah di kalangan para sahabat, serta pendapat Ubay bin Ka‘b, Jabir bin ‘Abdillah, Zaid bin Tsabit, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

وَمِنَ التَّابِعِينَ: قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَشُرَيْحٍ، وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَابْنِ سِيرِينَ، وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ.

Dan dari kalangan tabi‘in: pendapat ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, Syuraih, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Abu Salamah bin ‘Abd al-Rahman.

وَهُوَ قَوْلُ الْفُقَهَاءِ السَّبْعَةِ، وَرَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَمَالِكٍ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى وَالْأَوْزَاعِيِّ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ.

Ini adalah pendapat para fuqaha tujuh, Rabi‘ah bin Abi ‘Abdirrahman, Malik, Ibnu Abi Laila, al-Auza‘i, dan Ahmad bin Hanbal.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ بِالْيَمِينِ وَالشَّاهِدِ، وَوَافَقَهُ أَصْحَابُهُ عَلَيْهِ، حَتَّى قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ: انْقَضَّ حُكْمُ الْحَاكِمِ إِذَا حَكَمَ بِهِ.

Abu Hanifah berkata: Tidak boleh memutuskan perkara dengan sumpah dan satu saksi, dan para sahabatnya sependapat dengannya dalam hal ini, bahkan Muhammad bin al-Hasan berkata: Batal keputusan hakim jika ia memutuskan dengan cara tersebut.

وَبِهِ قَالَ مِنَ التَّابِعِينَ: الزُّهْرِيُّ، وَالنَّخَعِيُّ، وَالشَّعْبِيُّ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ: ابْنُ شُبْرُمَةَ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] فَجُعِلَ الْقَضَاءُ مَقْصُورًا عَلَى أَحَدِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ، فَكَانَ الْقَضَاءُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ زِيَادَةٌ عَلَيْهِمَا، وَالزِّيَادَةُ عَلَى النَّصِّ تَكُونُ عِنْدَهُمْ نَسْخًا.

Pendapat ini juga dipegang oleh para tabi’in seperti az-Zuhri, an-Nakha’i, dan asy-Sya’bi, serta dari kalangan fuqaha seperti Ibnu Syubrumah dan Sufyan ats-Tsauri. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian; jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan.” (al-Baqarah: 282). Maka, keputusan hukum dibatasi hanya pada dua bentuk ini. Oleh karena itu, menetapkan hukum dengan satu saksi dan sumpah merupakan tambahan atas keduanya, dan tambahan atas nash menurut mereka dianggap sebagai nasakh.

وَبِرِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ “.

Dan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas: Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda, “Bukti itu wajib atas pihak yang mengklaim, dan sumpah itu atas pihak yang mengingkari.”

فَخُصَّ الْمُدَّعِي بِالْبَيِّنَةِ، وَالْمُنْكِرُ بِالْيَمِينِ.

Maka pihak yang mengklaim (mudda‘ī) dibebani dengan pembuktian (bayyinah), sedangkan pihak yang menyangkal (munkir) dibebani dengan sumpah (yamin).

وَبِرِوَايَةِ سِمَاكٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ كِنْدَةَ، وَرَجُلًا مِنْ حَضْرَمَوْتَ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هَذَا غَصَبَنِي أَرْضِي، وَرِثْتُهَا مِنْ أَبِي، وَقَالَ الْكِنْدِيُّ: أرضي وفي يدي، أزرعها لا حق له فِيهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ: ” أَلَكَ بَيِّنَةٌ “، قَالَ: لَا، قَالَ: ” لَكَ يَمِينُهُ “، فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ: إِنَّهُ فَاجِرٌ، لَا يُبَالِي على ما حلف، إنه لا يتورع من شَيْءٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ ” فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا عَدَا الْبَيِّنَةَ لَا يَسْتَوْجِبُ بِهِ حَقًّا، وَلِأَنَّ الْبَيِّنَةَ مَوْضُوعَةٌ لِإِثْبَاتِ الدَّعْوَى، وَالْيَمِينَ مَوْضُوعَةٌ لِإِنْكَارِهَا، فَلَمَّا لَمْ تُنْقَلِ الْبَيِّنَةُ إِلَى نفي المنكر، وجب أن لا تنقل اليمين إِلَى إِثْبَاتِ الْمُدَّعِي.

Dalam riwayat Simak dari Alqamah bin Wa’il bin Hujr dari ayahnya, disebutkan bahwa seorang laki-laki dari Kindah dan seorang laki-laki dari Hadhramaut datang kepada Rasulullah ﷺ. Laki-laki Hadhramaut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini telah merampas tanahku, aku mewarisinya dari ayahku.” Laki-laki Kindah berkata, “Tanah itu milikku dan ada di tanganku, aku menggarapnya, dia tidak punya hak di dalamnya.” Maka Nabi ﷺ berkata kepada laki-laki Hadhramaut, “Apakah engkau punya bayyinah (bukti)?” Ia menjawab, “Tidak.” Nabi bersabda, “Maka bagimu adalah sumpahnya.” Laki-laki Hadhramaut berkata, “Sesungguhnya dia seorang fasik, dia tidak peduli atas apa yang dia bersumpah, dia tidak menjaga diri dari apa pun.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada hak bagimu darinya kecuali itu.” Ini menunjukkan bahwa selain bayyinah tidak dapat dijadikan dasar untuk memperoleh hak, dan karena bayyinah ditetapkan untuk membuktikan suatu dakwaan, sedangkan sumpah ditetapkan untuk menolaknya. Maka ketika bayyinah tidak dipindahkan kepada penafian dari pihak yang mengingkari, wajib pula bahwa sumpah tidak dipindahkan untuk menetapkan hak bagi pihak penggugat.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا: أَنَّهَا حُجَّةٌ لِأَحَدِ الْمُتَنَازِعَيْنِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُنْقَلَ إِلَى خَصْمِهِ كَالْبَيِّنَةِ.

Penjelasannya secara qiyās: bahwa ia merupakan hujjah bagi salah satu pihak yang bersengketa, maka tidak boleh dipindahkan kepada lawannya seperti halnya bayyinah.

وَلِأَنَّ نُقْصَانَ الْعَدَدِ الْمَشْرُوعِ فِي الْبَيِّنَةِ يَمْنَعُ مِنَ الْحُكْمِ بِهَا كَالْيَمِينِ مَعَ الْمَرْأَتَيْنِ.

Dan karena kekurangan jumlah yang disyariatkan dalam bayyinah menghalangi untuk memutuskan hukum dengannya, seperti halnya sumpah bersama dua orang perempuan.

وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَتْ يَمِينُ الْمُدَّعِي مَعَ شَهَادَةِ الشَّاهِدِ تَقُومُ مَقَامَ شَاهِدٍ لَمَا قُبِلَتْ فِيهِ يَمِينُ عَبْدٍ وَلَا فَاسِقٍ، وَفِي إِجَازَتِكُمْ لِيَمِينِ الْعَبْدِ وَالْفَاسِقِ مَا يَمْنَعُ أَنْ تَقُومَ اليمين مَقَامَ الشَّاهِدِ، وَلِأَنَّهُ لَوْ قَامَتْ يَمِينُهُ مَقَامَ شَاهِدٍ لَمَا تَرَتَّبَ بَعْدَ شَهَادَةِ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ الشَّاهِدَيْنِ لَا يَتَرَتَّبَانِ، وَيَجُوزُ تَقْدِيمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ، وَفِي قَوْلِكُمْ: إِنَّ يَمِينَهُ لَا تُقْبَلُ إِلَّا بَعْدَ الشَّاهِدِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا لَا تَقُومُ مَقَامَ شَاهِدٍ.

Dan karena jika sumpah penggugat bersama kesaksian seorang saksi dianggap setara dengan satu saksi, maka tidak akan diterima sumpah seorang budak maupun orang fasik dalam hal ini. Padahal, dengan Anda membolehkan sumpah budak dan orang fasik, berarti tidak ada hal yang menghalangi sumpah tersebut untuk menggantikan posisi saksi. Selain itu, jika sumpahnya dapat menggantikan posisi saksi, maka tidak perlu diurutkan setelah kesaksian saksi, karena dua saksi tidak harus diurutkan, dan masing-masing dari keduanya boleh didahulukan dari yang lain. Dalam pernyataan Anda bahwa sumpahnya tidak diterima kecuali setelah kesaksian saksi, terdapat dalil bahwa sumpah tersebut tidak dapat menggantikan posisi saksi.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَدَلِيلُنَا: مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ فِي صَدْرِ الْبَابِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ ” فَإِنْ قِيلَ: هَذَا الْحَدِيثُ مُنْقَطِعٌ وَمُرْسَلٌ، لِأَنَّ عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ لَمْ يَلْقَ ابْنَ عَبَّاسٍ؟ قِيلَ: قَدْ رَوَاهُ مُسْلِمُ بْنُ خَالِدٍ الزِّنْجِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَدْ رَوَاهُ الشَّافِعِيِّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيِّ عَنْ رَبِيعَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ “.

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i di awal bab dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama seorang saksi. Jika dikatakan: Hadis ini terputus (munqathi‘) dan mursal, karena ‘Amr bin Dinar tidak bertemu dengan Ibnu ‘Abbas? Maka dijawab: Hadis ini telah diriwayatkan oleh Muslim bin Khalid az-Zinji dari ‘Amr bin Dinar dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, dan juga telah diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad ad-Darawardi dari Rabi‘ah dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama seorang saksi.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَذَا الْحَدِيثُ مَعْلُولٌ، لِأَنَّ عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ مُحَمَّدٍ قال: لقيت سهل بْنَ أَبِي صَالِحٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ، فَقَالَ أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ وَهُوَ عِنْدِي ثِقَةٌ أَنِّي حَدَّثْتُهُ إِيَّاهُ، وَلَا أَحْفَظُهُ.

Jika dikatakan: Hadis ini memiliki cacat (‘illah), karena ‘Abd al-‘Aziz bin Muhammad berkata: Aku bertemu Sahl bin Abi Shalih lalu aku menanyakan hadis ini kepadanya, maka ia berkata: Rabi‘ah, yang menurutku adalah seorang yang tepercaya, memberitahuku bahwa aku telah menceritakan hadis itu kepadanya, namun aku sendiri tidak mengingatnya.

قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ: وَكَانَ أَصَابَ سُهَيْلًا عِلَّةٌ ذَهَبَ بِهَا بَعْضُ عَقْلِهِ، فَنَسِيَ بَعْضَ حَدِيثِهِ، فَكَانَ سُهَيْلٌ إِذَا رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ: أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.

Abdul Aziz berkata: Suhail pernah mengalami suatu penyakit yang menyebabkan sebagian akalnya hilang, sehingga ia lupa sebagian hadisnya. Maka ketika Suhail meriwayatkan hadis ini, ia berkata: Rabi‘ah memberitahukan kepadaku dari Abu Hurairah.

قِيلَ: نِسْيَانُ الرَّاوِي لَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ حَدِيثِهِ، قَبْلَ نِسْيَانِهِ، وَلَيْسَ النِّسْيَانُ أَكْثَرَ مِنَ الْمَوْتِ الَّذِي لَا يُرَدُّ بِهِ الْحَدِيثُ، وَضَبْطُهُ لِنَفْسِهِ حَتَّى نَسِيَ الرِّوَايَةَ فَحَدَّثَ بِهَا عَنْ رَبِيعَةَ عَنْ نَفْسِهِ دَلِيلٌ عَلَى صِحَّةِ عَقْلِهِ.

Dikatakan: Lupa yang dialami oleh perawi tidak menghalangi diterimanya hadisnya sebelum ia lupa, dan lupa itu tidak lebih besar dari kematian yang juga tidak menyebabkan hadisnya ditolak. Kemampuannya menjaga hafalannya sendiri hingga ia lupa riwayat tersebut, lalu ia meriwayatkannya dari Rabi‘ah dari dirinya sendiri, merupakan bukti atas kesehatan akalnya.

وَقَدْ رَوَاهُ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. فَكَانَ مَرْوِيًّا مِنْ طَرِيقَيْنِ ثَابِتَيْنِ. وَرَوَى جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” قَضَى بِالشَّاهِدِ الْوَاحِدِ مَعَ يَمِينِ مَنْ لَهُ الْحَقُّ “.

Ibnu al-Mubarak telah meriwayatkannya dari al-Mughirah bin Abdurrahman bin Abi al-Zinad, dari al-A‘raj, dari Abu Hurairah. Maka hadis ini diriwayatkan melalui dua jalur yang sahih. Ja‘far bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, Ali bin Abi Thalib, bahwa Nabi ﷺ memutuskan dengan satu saksi bersama sumpah dari pihak yang memiliki hak.

قَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ: وَلَقِيتُ الْحَكَمَ بْنَ عُتَيْبَةَ يَسْأَلُ أَبِي، وَقَدْ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جِدَارٍ، لِيَقُومَ، أَقَضَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Ja‘far bin Muhammad berkata: Aku pernah bertemu dengan al-Hakam bin ‘Utaybah yang sedang bertanya kepada ayahku, sementara ia meletakkan tangannya di dinding untuk berdiri, “Apakah Nabi ﷺ pernah memutuskan perkara dengan sumpah bersama satu saksi?” Ayahku menjawab, “Ya.”

وَقَضَى بِهِ عَلِيٌّ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بِالْعِرَاقِ.

Dan Ali telah memutuskan dengan hal itu di tengah-tengah kalian di Irak.

وَرَوَى جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَمَرَنِي أَنْ أَقْضِيَ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ “

Ja‘far bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya, dari Jabir, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk memutuskan perkara dengan sumpah bersama seorang saksi.”

وَرَوَى مُطَرِّفُ بْنُ مَازِنٍ، عَنِ ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ ” وَرَوَى سَعِيدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَنَّهُ قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ الْوَاحِدِ فِي الْحُقُوقِ “.

Mutarrif bin Mazin meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: bahwa Nabi ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama seorang saksi. Sa’id bin Amru bin Syurahbil meriwayatkan dari Sa’id bin Sa’d bin Ubadah al-Anshari, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ bahwa beliau memutuskan dengan sumpah bersama satu orang saksi dalam perkara hak.

وَرَوَى أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ أَنَّهُ: قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، فَصَارَ هَذَا الْحَدِيثُ مَرْوِيًّا عَنْ ثَمَانِيَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، علي، وابن عباس، وأبو هُرَيْرَةَ، وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، وَسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَلَعَلَّهُ قَدْ رَوَاهُ غَيْرُهُمْ، فَكَانَ مِنْ أَشْهَرِ الْأَحَادِيثِ وَأَثْبَتِهَا، وَقَدْ قَضَى عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِالْكُوفَةِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ عَلَى الْمِنْبَرِ.

Ubay bin Ka‘b dan Zaid bin Tsabit meriwayatkan bahwa beliau memutuskan perkara dengan sumpah bersama satu saksi. Maka hadis ini diriwayatkan dari delapan sahabat: Ali, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin Ash, Ubay bin Ka‘b, Zaid bin Tsabit, dan Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhum. Mungkin juga ada selain mereka yang meriwayatkannya, sehingga hadis ini menjadi salah satu hadis yang paling masyhur dan paling kuat. Ali bin Abi Thalib pernah memutuskan perkara di Kufah dengan sumpah bersama satu saksi di atas mimbar.

مَعْنَاهُ: أَنَّهُ أَحْلَفَ الْمُدَّعِيَ قَائِمًا عَلَى الْمِنْبَرِ، لَا أَنَّهُ حَكَمَ بِهِ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ.

Artinya: bahwa ia menyuruh penggugat bersumpah dalam keadaan berdiri di atas mimbar, bukan bahwa ia memutuskan perkara tersebut saat berada di atas mimbar.

فَاعْتَرَضُوا عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Mereka mengajukan keberatan terhadap hadis ini dari tiga sisi:

أَحَدُهَا: الطَّعْنُ فِيهِ وَالْقَدْحُ فِي صِحَّتِهِ بِمَا حَكَوْهُ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ: أَنْ لَيْسَ فِي الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خَبَرٌ يَصِحُّ.

Salah satunya adalah mencela dan meragukan keabsahannya dengan apa yang mereka riwayatkan dari Yahya bin Ma‘in, yaitu bahwa tidak ada satu pun hadis yang sahih dari Rasulullah ﷺ tentang sumpah bersama saksi.

وَهَذَا الْقَدْحُ فَاسِدٌ، لِأَنَّ مَالِكًا، وَالشَّافِعِيَّ قَدْ أَثْبَتَاهُ، وَقَالَا بِهِ، وَهَمَّا أَعْرَفُ بِصِحَّةِ الْحَدِيثِ وَأَقْرَبُ إِلَى زَمَنِ مَعْرِفَتِهِ مِنْ يَحْيَى، وَإِنْ كَانَ الْحِكَايَةُ عَنْهُ فِي قَدْحِهِ ضَعِيفَةً، وَقَدْ أَثْبَتَهُ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ فِي الصَّحِيحِ.

Celaan ini tidak benar, karena Malik dan asy-Syafi‘i telah menetapkannya dan berpendapat dengannya, dan mereka berdua lebih mengetahui tentang keshahihan hadis serta lebih dekat dengan masa diketahuinya hadis tersebut dibandingkan Yahya. Meskipun riwayat tentang celaannya itu lemah, hadis tersebut telah ditetapkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam kitab Shahih-nya.

وَالِاعْتِرَاضُ الثَّانِي: بَعْدَ تَسْلِيمِ صِحَّتِهِ أَنْ قَالُوا: يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَضَى بِشَهَادَةِ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِشَهَادَتِهِ وَحْدَهُ، وَسَمَّاهُ ذَا الشَّهَادَتَيْنِ، وَهَذِهِ الشَّهَادَةُ يَخُصُّ بِهَا خُزَيْمَةَ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُعْتَبَرَ فِي غَيْرِهِ. وَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Keberatan kedua: Setelah mengakui kebenarannya, mereka berkata: “Bisa jadi beliau memutuskan perkara dengan kesaksian Khuzaymah bin Tsabit, karena Nabi ﷺ pernah memutuskan perkara hanya dengan kesaksiannya saja, dan beliau memberinya gelar Dzu asy-Syahadatayn (pemilik dua kesaksian). Kesaksian ini adalah kekhususan bagi Khuzaymah, sehingga tidak boleh dijadikan pertimbangan pada selain dirinya.” Terhadap hal ini terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ خُزَيْمَةَ إِنَّمَا شَهِدَ وَحْدَهُ فِي قِصَّةِ الْأَعْرَابِيِّ حِينَ بَاعَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَرَسًا، ثُمَّ جَحَدَهُ إِلَى أَنْ شَهِدَ خُزَيْمَةُ فَاعْتَرَفَ الْأَعْرَابِيُّ بَعْدَ شَهَادَتِهِ، فَلَمْ يَخْتَصَّ خُزَيْمَةُ إِلَّا بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ.

Salah satunya: Sesungguhnya Khuzaymah hanya bersaksi sendirian dalam kisah seorang Arab Badui ketika Nabi ﷺ menjual seekor kuda, kemudian orang Arab Badui itu mengingkarinya hingga Khuzaymah memberikan kesaksian, lalu setelah kesaksiannya, orang Arab Badui itu mengakuinya. Maka Khuzaymah tidak memiliki keistimewaan kecuali dalam kesaksian ini saja.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَوْ كَانَ ذَلِكَ فِي شَهَادَةِ خُزَيْمَةَ، لَمَا احْتَاجَ إِلَى إِحْلَافِ الْمُدَّعِي مَعَ شَهَادَتِهِ.

Kedua: Sesungguhnya, jika hal itu terjadi pada kesaksian Khuzaymah, niscaya tidak diperlukan lagi sumpah dari pihak penggugat bersama kesaksiannya.

وَالِاعْتِرَاضُ الثَّالِثُ: أَنْ قَالُوا: اسْتِعْمَالُ الْحَدِيثِ، أَنَّهُ قَضَى بِيَمِينِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَعَ شَاهِدِ الْمُدَّعِي، لِقُصُورِ بَيِّنَتِهِ، فِي نَقْصِهَا عَنْ عَدَدِ الْكَمَالِ. وَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Keberatan ketiga: Mereka berkata, penggunaan hadis bahwa Nabi memutuskan dengan sumpah tergugat bersama satu saksi dari penggugat, karena bukti penggugat kurang, yaitu tidak mencapai jumlah yang sempurna. Terhadap hal ini terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ قَضَاءَهُ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ مُوجِبٌ أَنْ يَكُونَ الْقَضَاءُ مُتَعَلِّقًا بِهِمَا، وَهَذَا عَلَى مَا قَالُوهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْيَمِينِ دُونَ الشَّاهِدِ.

Salah satunya: Sesungguhnya putusan hakim dengan sumpah bersama seorang saksi mewajibkan bahwa putusan itu berkaitan dengan keduanya, dan hal ini menurut pendapat mereka berkaitan dengan sumpah saja, bukan dengan saksi.

وَالثَّانِي: إِنَّ فِي رِوَايَةِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهُ قَضَى بِالشَّاهِدِ الْوَاحِدِ مَعَ يَمِينِ مَنْ لَهُ الحق إبطالا لهذا الاعتراض وإبطالا لهذه التَّأْوِيلِ.

Kedua: Sesungguhnya dalam riwayat Ali bin Abi Thalib bahwa beliau memutuskan perkara dengan satu saksi disertai sumpah dari pihak yang memiliki hak, merupakan pembatalan terhadap keberatan ini dan pembatalan terhadap penafsiran ini.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ انْعِقَادُ الْإِجْمَاعِ بِهِ، فَقَدْ قَضَى عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِالْكُوفَةِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ أَحْلَفَ الْمُدَّعِيَ قَائِمًا، لَا أَنَّهُ حَكَمَ وَهُوَ عَلَى المنبر.

Hal ini juga didukung oleh terjadinya ijmā‘ atasnya, karena Ali bin Abi Thalib pernah memutuskan perkara di Kufah dengan sumpah bersama satu saksi di atas mimbar. Maksudnya adalah beliau menyuruh penggugat bersumpah dalam keadaan berdiri, bukan berarti beliau memutuskan perkara saat berada di atas mimbar.

وَرَوَى أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: شَهِدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ يَقْضُونَ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ وَأَخْبَرَ يَحْيَى أَنَّهُ قَضَى بِهَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَقَضَى بِهَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَكُتِبَ بِهَا إِلَى خُلَفَائِهِ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ، وَمِثْلُ هَذَا الْعَمَلِ الْمَشْهُورِ إِذَا لَمْ يُعَارَضْ بِالْخِلَافِ كَانَ إِجْمَاعًا مُنْتَشِرًا، وَحِجَاجًا قَاطِعًا.

Abu al-Zinad meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amir, ia berkata: Aku menyaksikan Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Utsman memutuskan perkara dengan sumpah bersama seorang saksi. Yahya mengabarkan bahwa Ubay bin Ka‘b dan Zaid bin Tsabit juga memutuskan dengan cara itu, demikian pula Umar bin Abdul Aziz, dan hal itu juga ditulis kepada para gubernurnya di seluruh wilayah. Praktik yang masyhur seperti ini, apabila tidak ditentang oleh pendapat yang berbeda, maka itu menjadi ijmā‘ yang tersebar luas dan menjadi hujjah yang kuat.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ قَالَ الزُّهْرِيَّ الْقَضَاءُ بِالشَّاهِدِ مَعَ الْيَمِينِ بِدْعَةٌ وَأَوَّلُ مَنْ قَضَى بِهِ مُعَاوِيَةُ.

Jika dikatakan: Telah berkata Az-Zuhri, “Keputusan hukum dengan satu saksi disertai sumpah adalah bid‘ah, dan orang pertama yang memutuskan dengan cara itu adalah Mu‘awiyah.”

قِيلَ: قَوْلُ الزُّهْرِيِّ مَعَ عَمَلِ مَنْ ذَكَرْنَاهُ مَرْدُودٌ وَقِيلَ: قَالَ الشَّافِعِيُّ: إِنَّ الزُّهْرِيَّ قَضَى بِهَا حِينَ وَلِيَ، وَالْإِثْبَاتُ الْمُوافِقُ لِلْجَمَاعَةِ أَوْلَى مِنَ النَّفْيِ الْمُخَالِفِ لَهُمْ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنْ طَرِيقِ الِاعْتِبَارِ أَنَّهُ أحد المتداعيين، فجاز أن يكون اليمين فِي جَنَبَتِهِ، كَالْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلِأَنَّ أُصُولَ الْأَحْكَامِ موضوعة على أن اليمين تَكُونَ فِي جَنَبَةِ أَقْوَى الْمُتَدَاعِيَيْنِ، وَأَقْوَاهُمَا مَعَ عدم الشهادة جنبة المدعي عليه، لأن الْأَصْلَ بَرَاءَةُ ذِمَّتِهِ، فَإِذَا حَصَلَ مَعَ الْمُدَّعِي شاهد صار أقوى فوجب أن تكون اليمين فِي جَنَبَتِهِ.

Dikatakan: Pendapat az-Zuhri bersama dengan praktik orang-orang yang telah kami sebutkan adalah tertolak. Dan dikatakan: asy-Syafi‘i berkata, “Sesungguhnya az-Zuhri memutuskan dengan pendapat itu ketika beliau menjabat, dan penetapan yang sesuai dengan ijmā‘ lebih utama daripada penafian yang bertentangan dengan mereka.” Hal ini juga didukung secara pertimbangan (‘itibār) bahwa ia adalah salah satu dari dua pihak yang bersengketa, maka boleh saja sumpah berada di pihaknya, seperti halnya pada pihak tergugat. Karena prinsip dasar hukum-hukum ditetapkan bahwa sumpah berada di pihak yang lebih kuat di antara dua pihak yang bersengketa, dan yang lebih kuat di antara keduanya ketika tidak ada kesaksian adalah pihak tergugat, karena asalnya adalah kebersihan tanggungannya. Maka jika penggugat memiliki seorang saksi, ia menjadi lebih kuat, sehingga wajib sumpah berada di pihaknya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْآيَةِ، وَأَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَيْهَا نُسِخَ فَمِنْ ثَلَاثَةِ أوجه:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan ayat tersebut, dan bahwa penambahan atasnya telah di-naskh, maka terdapat tiga sisi:

أحدهما: إِنَّ النَّسْخَ عِنْدَنَا رَفْعُ مَا لَزَمَ دَوَامُهُ، والنسخ عندهم أن يصير ما كان مجزءا، غير مجزىء، وَلَيْسَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ رَفْعُ مَا لَزَمَ دَوَامُهُ، فَيَكُونُ نَسْخًا عِنْدَنَا، وَلَا فِيهِمَا، إِنْ صار ما يجزىء غير مجزىء، فَيَكُونُ نَسْخًا عِنْدَهُمْ فَصِرْنَا مُجْمِعِينَ عَلَى أَنْ لَيْسَ فِي هَذَا نَسْخٌ.

Pertama: Menurut kami, nasakh adalah penghapusan terhadap sesuatu yang wajib untuk terus berlaku; sedangkan menurut mereka, nasakh adalah ketika sesuatu yang sebelumnya mencukupi menjadi tidak mencukupi. Dalam ayat ini tidak terdapat penghapusan terhadap sesuatu yang wajib untuk terus berlaku, sehingga menurut kami ini bukanlah nasakh. Demikian pula, jika menurut mereka sesuatu yang mencukupi menjadi tidak mencukupi, maka itu adalah nasakh menurut mereka. Maka, kita sepakat bahwa dalam hal ini tidak terdapat nasakh.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: إِنَّنَا قَدْ رَدَدْنَا عَلَى مَا فِي آيَةِ الشَّهَادَةِ، إِنْ قَبِلْنَا فِي الْوِلَادَةِ شَهَادَةَ النِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ، وَهُمْ قَبِلُوا شَهَادَةَ الْقَابِلَةِ، وَحْدَهَا. فَلَمَّا لَمْ تَكُنْ هَذِهِ الزِّيَادَةُ نَسْخًا لَمْ تَكُنِ الْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ نَسْخًا.

Jawaban kedua: Sesungguhnya kami telah membantah apa yang terdapat dalam ayat kesaksian, jika kami menerima dalam perkara kelahiran kesaksian perempuan secara sendiri-sendiri, dan mereka pun menerima kesaksian bidan saja. Maka ketika tambahan ini tidak dianggap sebagai nasakh, maka sumpah bersama saksi pun tidak dianggap sebagai nasakh.

وَالْجَوَابُ الثَّالِثُ: إِنَّ مَا فِي آيَةِ الشَّهَادَةِ مَحْمُولٌ عَلَى حَالِ التَّحَمُّلِ، وَالْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ مُعْتَبَرَةٌ فِي الْأَدَاءِ دُونَ التَّحَمُّلِ، فَلَمْ تَصِرْ زِيَادَةً عَلَى النَّصِّ.

Jawaban yang ketiga: Sesungguhnya yang terdapat dalam ayat tentang kesaksian itu dimaknai pada keadaan tahammul (penerimaan kesaksian), sedangkan sumpah bersama saksi dianggap berlaku dalam keadaan adā’ (penyampaian kesaksian) dan bukan pada tahammul, sehingga hal itu tidak menjadi tambahan atas nash.

وَأَمَّا الجواب عن الخبرين فهو أن اليمين الَّتِي جَعَلَهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في جنبة المدعى عليه، هي غير اليمين الَّتِي جَعَلْنَاهَا فِي جَنَبَةِ الْمُدَّعِي، لِاخْتِلَافِهِمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dua hadis tersebut adalah bahwa sumpah yang dijadikan oleh Nabi ﷺ pada pihak tergugat, berbeda dengan sumpah yang kami jadikan pada pihak penggugat, karena keduanya berbeda dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: وُجُوبُهَا مِنَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَجَوَازُهَا فِي جَنَبَةِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: kewajiban sumpah itu atas pihak tergugat, dan kebolehannya pada pihak penggugat.

وَالثَّانِي: أَنَّ تِلْكَ لِلنَّفْيِ، وَهَذِهِ لِلْإِثْبَاتِ فَلَمْ يَصِحَّ الْمَنْعُ، وَبِمِثْلِهِ يُجَابُ عَنِ الِاسْتِدْلَالِ الْأَوَّلِ.

Kedua: bahwa yang itu untuk penafian, sedangkan yang ini untuk penetapan, maka tidak sah larangan tersebut, dan dengan alasan yang serupa pula dijawab argumen yang pertama.

وَقِيَاسُهُمْ عَلَى الْيَمِينِ، مَعَ الْمَرْأَتَيْنِ وَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّ الْمَرْأَتَيْنِ فِي الشَّهَادَةِ يَضْعُفَانِ عَنْ حُكْمِ الرَّجُلِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Qiyās mereka terhadap sumpah, bersama dua orang perempuan, dan jawabannya adalah bahwa dua perempuan dalam kesaksian lebih lemah dari hukum seorang laki-laki dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا يُقْبَلَانِ مَعَ الرَّجُلِ فِي الْأَمْوَالِ فَقَطْ وَيُقْبَلُ الرَّجُلُ مَعَ الرَّجُلِ فِي كُلِّ الْأَحْكَامِ.

Salah satunya: bahwa keduanya (dua perempuan) diterima bersama seorang laki-laki hanya dalam perkara harta saja, sedangkan seorang laki-laki bersama laki-laki lain diterima dalam semua hukum.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْمَرْأَتَيْنِ لَوِ انْضَافَ إِلَيْهِمَا مَثْلُهُمَا فِي الْأَمْوَالِ فَصِرْنَ أَرْبَعًا لَمْ يُحْكَمْ بِهِنَّ، وَيُحْكَمُ بِالرَّجُلِ، إِذَا انْضَافَ إِلَى الرَّجُلِ، فَلَمَّا كَانَ الرَّجُلُ أَقْوَى من المرأتين، جاز أن تضاف اليمين إِلَى الْأَقْوَى، وَيُمْنَعُ مِنْهَا مَعَ الْأَضْعَفِ. وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِيَمِينِ الْعَبْدِ، وَالْفَاسِقِ، فَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّهُ مَا تَعَلَّقَ بِالْيَمِينِ، لَمْ تُعْتَبَرْ فِيهِ الْحُرِّيَّةُ وَالْعَدَالَةُ كَمَا لَمْ تُعْتَبَرْ فِي يَمِينِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَئِنْ قَامَتْ مَقَامَ الشَّاهِدِ فِي اسْتِيفَاءِ الْحَصْرِ، فَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِمَا مَا يُعْتَبَرُ فِي الشَّهَادَةِ، كَالْأَيْمَانِ فِي الْقَسَامَةِ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عِنْدَ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ تَرْتِيبَ الْيَمِينِ بَعْدَ الشَّهَادَةِ يَمْنَعُ أَنْ يَكُونَ كَالشَّاهِدِ فَهُوَ أَنَّهَا مُقَوِّيَةٌ بِشَهَادَةِ الشَّاهِدِ، فَلِذَلِكَ لَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ إِلَّا بَعْدَهَا، وَخَالَفَ حَالُ الشَّاهِدَيْنِ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ منهما مقو بصاحبه.

Kedua: Jika dua orang perempuan ditambah dengan dua orang perempuan lain dalam perkara harta sehingga menjadi empat orang, maka kesaksian mereka tidak diputuskan (tidak diterima), sedangkan kesaksian seorang laki-laki diputuskan jika ditambah dengan laki-laki lain. Maka, ketika laki-laki lebih kuat daripada dua perempuan, boleh sumpah ditambahkan kepada yang lebih kuat, dan dicegah dari yang lebih lemah. Adapun dalil mereka dengan sumpah budak dan orang fasik, jawabannya adalah bahwa dalam perkara yang berkaitan dengan sumpah, tidak disyaratkan adanya kemerdekaan dan keadilan, sebagaimana juga tidak disyaratkan dalam sumpah terdakwa; dan jika sumpah itu menempati posisi saksi dalam memenuhi jumlah, maka pada keduanya tidak disyaratkan apa yang disyaratkan dalam kesaksian, seperti sumpah dalam kasus qasāmah. Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa penempatan sumpah setelah kesaksian mencegahnya untuk menjadi seperti saksi adalah bahwa sumpah itu menguatkan dengan kesaksian saksi, karena itu tidak boleh dilakukan kecuali setelahnya, dan berbeda dengan keadaan dua saksi, karena masing-masing dari keduanya saling menguatkan satu sama lain.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” فَإِذَا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ وَقَالَ عَمْرٌو وَهُوَ الَّذِي رَوَى الْحَدِيثَ فِي الْأَمْوَالِ وَقَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ مِنْ رِوَايَةِ مُسْلِمِ بْنِ خَالِدٍ فِي الدَّيْنِ وَالدَّيْنُ مَالٌ دَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ لَا يُقْضَى بِهَا فِي غَيْرِ مَا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أو مثل معناه (قال الشافعي) رحمه الله: والبينة في دلالة سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بينتان بينة كاملة هي بعدد شهود لا يحلف مقيمها معها وبينة ناقصة العدد في المال يحلف مقيمها معها “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Apabila Rasulullah ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama seorang saksi, dan ‘Amr—yang meriwayatkan hadis ini—berkata bahwa itu dalam perkara harta, dan Ja‘far bin Muhammad dari riwayat Muslim bin Khalid berkata bahwa itu dalam perkara utang, dan utang itu adalah harta, maka hal itu menunjukkan bahwa tidak diputuskan dengan cara tersebut kecuali pada perkara yang memang diputuskan oleh Rasulullah ﷺ atau yang semakna dengannya. (Imam Syafi‘i) rahimahullah berkata: Dan bukti dalam petunjuk sunnah Rasulullah ﷺ ada dua macam: bukti yang sempurna, yaitu dengan jumlah saksi yang lengkap sehingga yang mengajukannya tidak perlu bersumpah bersamanya, dan bukti yang kurang dari jumlah tersebut dalam perkara harta, maka yang mengajukannya bersumpah bersamanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا ثَبَتَ جَوَازُ الْحُكْمِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فَهُوَ مُخْتَصٌّ بِالْأَمْوَالِ، وَمَا كَانَ الْمَقْصُودُ مِنْهُ الْمَالَ وَلَا يُحْكَمُ بِهَا فِي غَيْرِ الْمَالِ مِنْ نِكَاحٍ أَوْ طَلَاقٍ أَوْ عَتَاقٍ أَوْ حَدٍّ وَقَالَ مَالِكٌ: أَحْكُمُ بِهَا فِي جَمِيعِ الْحُقُوقِ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْحُدُودِ، اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، وَلَمْ يَخُصَّ الْمَالَ مِنْ غَيْرِهِ، فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ قَالَ: وَلِأَنَّ مَا كَانَ بَيِّنَةً فِي الْأَمْوَالِ، جَازَ أَنْ يَكُونَ بَيِّنَةً فِي الْحُدُودِ، كَالشَّاهِدَيْنِ، وَلِأَنَّ يَمِينَ الْمُدَّعِي فِي النُّكُولِ، لَمَّا جَازَ أَنْ تُثْبَتَ بِهَا الْأَمْوَالُ، وَالْحُدُودُ جَازَ أَنْ يُحْكَمَ بِمِثْلِهِ فِي يَمِينِهِ مَعَ شَاهِدِهِ.

Al-Mawardi berkata: Jika telah tetap bolehnya menetapkan hukum dengan satu saksi dan sumpah, maka hal itu khusus untuk perkara harta, dan segala sesuatu yang tujuan utamanya adalah harta, serta tidak boleh menetapkan hukum dengannya dalam perkara selain harta seperti nikah, talak, pembebasan budak, atau hudud. Malik berkata: Aku menetapkan hukum dengannya dalam seluruh hak, baik yang berkaitan dengan harta maupun hudud, dengan dalil bahwa Rasulullah ﷺ menetapkan hukum dengan sumpah bersama saksi, dan beliau tidak mengkhususkan pada perkara harta dari selainnya, maka hukumnya tetap berlaku secara umum. Ia berkata: Karena sesuatu yang dapat menjadi bukti dalam perkara harta, boleh juga menjadi bukti dalam perkara hudud, seperti dua orang saksi. Dan karena sumpah penggugat dalam kasus penolakan, ketika boleh digunakan untuk menetapkan harta dan hudud, maka boleh juga menetapkan hukum dengan sumpahnya bersama saksinya.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالشَّاهِدِ مَعَ الْيَمِينِ قَالَ الرَّاوِي: فِي الْأَمْوَالِ، وَقِيلَ فِي الدَّيْنِ، وَالدَّيْنُ مَالٌ، فَوَجَبَ أَنْ يَقْضِيَ بِهَا فِي مِثْلِ مَا قَضَى بِهِ، لِأَنَّ الْقَضَايَا فِي الْأَعْيَانِ لَا تُسْتَعْمَلُ عَلَى الْعُمُومِ، لِحُدُوثِهَا فِي مَخْصُوصٍ، وَقَدْ رَوَى الدارقطني فِي سُنَنِهِ حَدِيثًا أَسْنَدَهُ إِلَى أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” اسْتَشَرْتُ جِبْرِيلَ فِي الْقَضَاءِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، فَأَشَارَ عَلَيَّ بِذَلِكَ فِي الْأَمْوَالِ لَا تَعْدُو ذَلِكَ “. وَهَذَا نَصٌّ، وَلِأَنَّ الشَّاهَدَ وَالْمَرْأَتَيْنِ أَقْوَى مِنَ الَشَاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَلَمَّا لَمْ يُحْكَمْ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ فِي غَيْرِ الْأَمْوَالِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا يُحْكَمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِيهِ، وَلِأَنَّ الْأَمْوَالَ نَفْعُ جهات تملكها، فاتبع حكم الشاهدة بِهَا، وَلَمَّا ضَاقَتْ جِهَاتُ مَا عَدَّا الْأَمْوَالَ ضَاقَ حُكْمُ الشَّهَادَةِ بِهَا.

Dalil kami adalah riwayat bahwa Nabi ﷺ memutuskan perkara dengan satu saksi disertai sumpah. Perawi berkata: dalam perkara harta, dan ada yang mengatakan dalam perkara utang, sedangkan utang adalah bagian dari harta. Maka wajiblah memutuskan perkara dengan cara tersebut dalam kasus yang serupa dengan apa yang telah beliau putuskan, karena putusan-putusan dalam hal tertentu tidak berlaku secara umum, sebab terjadinya pada kasus khusus. Al-Daraquthni meriwayatkan dalam Sunan-nya sebuah hadits yang ia sandarkan kepada Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku meminta pendapat Jibril tentang memutuskan perkara dengan sumpah disertai satu saksi, maka ia memberi isyarat kepadaku untuk itu hanya dalam perkara harta, tidak lebih dari itu.” Ini adalah nash. Dan karena satu saksi dan dua perempuan lebih kuat daripada satu saksi dan sumpah, maka ketika tidak diputuskan perkara dengan satu saksi dan dua perempuan dalam selain perkara harta, maka lebih utama lagi tidak diputuskan dengan satu saksi dan sumpah dalam hal itu. Dan karena harta memiliki banyak sisi kepemilikan, maka hukum kesaksian mengikutinya, dan ketika sisi-sisi selain harta itu terbatas, maka hukum kesaksian padanya pun menjadi terbatas.

وَلَا وَجْهَ لِاسْتِدْلَالِ مَالِكٍ بِالْحَدِيثِ، لِأَنَّ قَضَايَا الْأَعْيَانِ لَا يُدَّعَى فِيهَا الْعُمُومُ.

Tidak ada alasan bagi Malik untuk berdalil dengan hadis tersebut, karena kasus-kasus individu tidak dapat dijadikan dasar untuk klaim keumuman.

وَقِيَاسُهُ عَلَى الشَّاهِدَيْنِ مُنْتَقَضٌ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ، وَاسْتِدْلَالُهُ بِالْيَمِينِ فِي النُّكُولِ، فَلِوُجُوبِهَا عَنِ اخْتِيَارِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فَعَمَّتْ فِي حَقِّهِ، وَالْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ وَجَبَتْ مِنْ غَيْرِ اخْتِيَارٍ، فَجُعِلَتْ مَقْصُورَةً عَلَى مَا اتَّسَعَ حُكْمُهُ، وَلَمْ يَضِقْ.

Qiyās terhadap dua orang saksi dapat dibantah dengan kasus satu orang saksi dan dua orang perempuan. Dalilnya dengan sumpah dalam kasus penolakan, karena kewajiban sumpah itu bergantung pada pilihan tergugat, sehingga berlaku umum baginya. Adapun sumpah bersama satu orang saksi diwajibkan tanpa adanya pilihan, maka diberlakukan terbatas pada perkara yang hukumnya luas dan tidak sempit.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ اخْتِصَاصُ الْحُكْمِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ فِي الْأَمْوَالِ، دُونَ غَيْرِهَا. فَمُدَّعِي الْمَالِ إِذَا قَدَرَ عَلَى إِثْبَاتِ حَقِّهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:

Maka apabila telah tetap bahwa kekhususan hukum sumpah bersama satu saksi hanya berlaku dalam perkara harta, dan tidak pada selainnya, maka orang yang mengklaim harta, jika mampu membuktikan haknya, memiliki pilihan di antara tiga hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُثْبِتَهُ بِشَاهِدَيْنِ وَهُوَ أَقْوَاهُمَا، فَيُحْكَمُ لَهُ بِالْمَالِ.

Salah satunya adalah menetapkannya dengan dua orang saksi, dan ini adalah yang paling kuat di antara keduanya, sehingga diputuskan baginya hak atas harta.

وَالثَّانِي: أَنْ يُثْبِتَهُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ، فَيُحْكَمُ لَهُ بِالْمَالِ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ، إِلَّا مَعَ عَدَمِ الشَّاهِدَيْنِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] .

Kedua: Membuktikannya dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, maka diputuskan haknya atas harta dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, kecuali jika tidak ada dua saksi laki-laki, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua perempuan.” (Al-Baqarah: 282).

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَاطَبَ بِهَذِهِ الْآيَةِ الْمُسْتَشْهَدِينَ فِي تَوَثُّقِهِمْ بِالشَّهَادَةِ دُونَ الْحُكَّامِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ} [البقرة: 282] وَقَدْ وَافَقَ مَالِكٌ عَلَى جَوَازِ أَنْ يَتَوَثَّقَ الْمُسْتَشْهِدُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى شَاهِدَيْنِ، فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ الْحُكْمِ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ، مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الشَّاهِدَيْنِ، لِأَنَّ مَقْصُودَ التَّوَثُّقِ بِالشَّهَادَةِ: إِثْبَاتُ الْحُقُوقِ بِهَا عِنْدَ الْحُكَّامِ.

Dalil kami adalah bahwa Allah Ta‘ala dalam ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang meminta kesaksian agar mereka memastikan kebenaran dengan kesaksian, bukan kepada para hakim, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (cukup) seorang laki-laki dan dua orang perempuan.” (QS. Al-Baqarah: 282). Malik juga sepakat atas bolehnya orang yang meminta kesaksian untuk memastikan kebenaran dengan seorang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, meskipun mampu menghadirkan dua orang saksi laki-laki. Hal ini menunjukkan bolehnya hakim memutuskan perkara dengan seorang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, meskipun mampu menghadirkan dua orang saksi laki-laki, karena tujuan dari memastikan kebenaran dengan kesaksian adalah untuk menetapkan hak-hak melalui kesaksian tersebut di hadapan para hakim.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يُثْبِتَهُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، فَإِنْ كَانَ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ الْكَامِلَةِ بِشَاهِدَيْنِ، أَوْ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ، جَازَ وَثَبَتَ بِهِ الْحَقُّ، وَإِنْ كَانَ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْبَيِّنَةِ الْكَامِلَةِ، فَفِي جَوَازِ إِثْبَاتِهِ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ وَجْهَانِ:

Ketiga: Membuktikannya dengan satu saksi dan sumpah. Jika tidak terdapat bayyinah yang lengkap berupa dua orang saksi, atau satu saksi dan dua orang perempuan, maka hal itu diperbolehkan dan hak dapat ditetapkan dengannya. Namun, jika memungkinkan untuk menghadirkan bayyinah yang lengkap, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan menetapkannya dengan satu saksi dan sumpah.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ مَعَ وُجُودِ مَا هُوَ أَكْمَلُ مِنْهَا، كَمَا يَجُوزُ إِثْبَاتُهُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ مَعَ وُجُودِ شَاهِدَيْنِ.

Salah satunya: boleh dilakukan meskipun ada yang lebih sempurna darinya, seperti diperbolehkannya menetapkan (suatu perkara) dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan padahal ada dua saksi laki-laki.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ إِثْبَاتُهُ بِهَا مَعَ وُجُودِ الْبَيِّنَةِ الْكَامِلَةِ، لِأَنَّ نَقْصَهَا عَنِ الْكَمَالِ، يَبْعَثُ عَلَى الْحُكْمِ بِهَا فِي الِاضْطِرَارِ دُونَ الِاخْتِيَارِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh menetapkan (hukum) dengannya jika ada bukti yang lengkap, karena kekurangannya dari kesempurnaan mendorong untuk memutuskan dengannya hanya dalam keadaan darurat, bukan dalam keadaan pilihan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ عَدَلَ الْمُدَّعِي عَنْ إِثْبَاتِ حَقِّهِ بِالْبَيِّنَةِ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا، إِلَى إِحْلَافِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، عِنْدَ إِنْكَارِهِ لَمْ يُمْنَعْ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ حَقٌّ لَهُ، وَلَيْسَتْ بِحَقٍّ عَلَيْهِ، فَلَوْ أَقَامَ شَاهِدَيْنِ ثُمَّ طَلَبَ أَنْ لَا يُحْكَمَ لَهُ بِهِمَا، وَيَحْلِفُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، أُجِيبَ إِلَى إِحْلَافِهِ، فَلَوْ مَنَعَ مِنْ إِحْلَافِهِ وَطَلَبَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِبَيِّنَةٍ أُجِيبَ إلى الحكم بها، وقطعت اليمين عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَوْ أَقَامَ شَاهِدًا وَاحِدًا، وَامْتَنَعَ مَنْ اليمين مَعَهُ وَرَضِيَ بِإِحْلَافِ الْمُنْكِرِ، ثُمَّ رَجَعَ عَنِ اسْتِحْلَافِهِ لِيَحْلِفَ مَعَ شَاهِدِهِ، لَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، لِأَنَّهُ قَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ مِنَ الْيَمِينِ بِمَا طَلَبَهُ مِنْ إِحْلَافِ الْمُنْكِرِ كَمَا لَمْ يَكُنْ لِلْمُنْكِرِ إِذَا نَكَلَ عن اليمين أَنْ يَرْجِعَ فِي رَدِّهَا عَلَى الْمُدَّعِي لِيَحْلِفَ عَلَى إِنْكَارِهِ لِإِسْقَاطِهَا فِي حَقِّهِ بِرَدِّهَا عَلَى خَصْمِهِ، وَخَالَفَ الْبَيِّنَةَ الْكَامِلَةَ الَّتِي لَا يَسْقُطُ حقه منها بطلب اليمين لِأَنَّهَا لَا تُنْقَلُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ، فَإِنْ لَمْ يَحْلِفِ الْمُدَّعِي مَعَ شَاهِدِهِ، وَطَلَبَ إِحْلَافَهُ المنكر، أجيب إلى إحلافه، فإن حلف برىء، وَلَمْ يَكُنْ لِلشَّاهِدِ تَأْثِيرٌ، وَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ لَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِالشَّاهِدِ الْوَاحِدِ مَعَ نُكُولِ الْمُنْكِرِ وَقَالَ مَالِكٌ: أَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالشَّاهِدِ الْوَاحِدِ، مَعَ نُكُولِهِ، وَلَا أُحْلِفُ الْمُدَّعِيَ وَإِنْ وَافَقَ عَلَى أَنْ لَا يَحْكُمَ بِالنُّكُولِ إِلَّا مَعَ يَمِينِ الْمُدَّعِي، اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ النُّكُولَ كَالشَّاهِدِ، فَإِذَا انْضَمَّ إِلَى شَاهِدٍ، صَارَ كَالشَّاهِدَيْنِ فَلَمْ يَحْتَجْ مَعَهُمَا إِلَى يَمِينِ الطَّالِبِ.

Jika penggugat beralih dari membuktikan haknya dengan bayyinah melalui salah satu dari tiga cara ini, padahal ia mampu melakukannya, kepada permintaan agar tergugat disumpah ketika tergugat mengingkari, maka hal itu tidak dilarang, karena bayyinah adalah hak bagi penggugat dan bukan kewajiban atasnya. Maka jika ia telah menghadirkan dua orang saksi, lalu meminta agar tidak diputuskan untuknya dengan kesaksian itu, dan meminta agar tergugat disumpah, permintaannya untuk menyumpah tergugat dikabulkan. Jika tergugat menolak untuk disumpah dan penggugat meminta agar diputuskan dengan bayyinah, maka permintaannya dikabulkan dan sumpah tidak lagi menjadi hak tergugat. Jika penggugat hanya menghadirkan satu orang saksi, dan ia menolak untuk bersumpah bersama saksi tersebut serta rela agar penyangkal yang disumpah, lalu ia menarik kembali permintaannya untuk menyumpah penyangkal agar ia dapat bersumpah bersama saksinya, maka ia tidak berhak atas hal itu, karena ia telah menggugurkan haknya atas sumpah dengan permintaannya untuk menyumpah penyangkal, sebagaimana penyangkal yang menolak bersumpah tidak dapat menarik kembali penolakannya untuk mengembalikan sumpah kepada penggugat agar penggugat bersumpah atas pengingkarannya, karena ia telah menggugurkan haknya atas sumpah dengan mengembalikannya kepada lawannya. Hal ini berbeda dengan bayyinah yang sempurna, di mana haknya tidak gugur dengan permintaan sumpah, karena bayyinah tidak dapat dialihkan darinya kepada selainnya. Jika penggugat tidak bersumpah bersama saksinya dan meminta agar penyangkal yang disumpah, maka permintaannya dikabulkan; jika penyangkal bersumpah, ia bebas dari tuntutan dan kesaksian saksi tidak berpengaruh; jika penyangkal menolak bersumpah, maka tidak diputuskan atasnya dengan satu saksi saja beserta penolakan penyangkal. Malik berkata: Aku memutuskan atasnya dengan satu saksi beserta penolakannya, dan aku tidak menyumpah penggugat. Dan jika ia setuju bahwa tidak diputuskan dengan penolakan kecuali bersama sumpah penggugat, dengan alasan bahwa penolakan itu seperti saksi, maka jika penolakan itu bergabung dengan satu saksi, kedudukannya seperti dua saksi sehingga tidak diperlukan lagi sumpah dari penggugat.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الشَّاهِدَ فِي الْأَمْوَالِ كَاللَّوْثِ فِي الدِّمَاءِ، فَلَمَّا لَمْ يُحْكَمْ بِاللَّوْثِ مَعَ عَدَمِ الْأَيْمَانِ، لَمْ يُحْكَمْ بِالشَّاهِدِ مَعَ عَدَمِ الْيَمِينِ، وَلَا وَجْهَ لِجَعْلِ النُّكُولِ كَالشَّاهِدِ، لِأَنَّ الشَّاهِدَ مُثْبِتٌ، وَالنَّاكِلَ نَافٍ فَتَضَادَّا.

Ini tidak benar, karena saksi dalam perkara harta seperti al-luṯ dalam perkara darah. Maka, sebagaimana tidak diputuskan hukum dengan al-luṯ tanpa adanya sumpah, demikian pula tidak diputuskan hukum dengan saksi tanpa adanya sumpah. Tidak ada alasan untuk menyamakan penolakan sumpah dengan saksi, karena saksi itu menetapkan (kebenaran), sedangkan orang yang menolak sumpah itu meniadakan, sehingga keduanya saling bertentangan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ عَلَى النَّاكِلِ بِالنُّكُولِ مَعَ الشَّاهِدِ، لَمْ يَكُنْ لِلْمُدَّعِي أَنْ يَحْلِفَ مَعَ شَاهِدِهِ، لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ مِنْ تِلْكَ الْيَمِينِ بِرَدِّهَا، عَلَى الْمُنْكِرِ، فَإِنْ طَلَبَ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِ اليمين الَّتِي نَكَلَ عَنْهَا الْمُنْكِرُ، فَفِي جَوَازِ رَدِّهَا عَلَيْهِ قَوْلَانِ:

Maka apabila telah tetap bahwa tidak boleh dijatuhkan hukum atas orang yang enggan bersumpah (nākil) dengan sebab keengganannya itu bersama adanya satu saksi, maka penggugat tidak berhak untuk bersumpah bersama saksinya, karena haknya atas sumpah tersebut telah gugur dengan pengembaliannya kepada pihak yang mengingkari. Jika penggugat meminta agar sumpah yang telah ditinggalkan oleh pihak yang mengingkari itu dikembalikan kepadanya, maka dalam kebolehan mengembalikannya kepadanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ قَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ مِنْهَا بِرَدِّهَا عَلَى الْمُنْكِرِ، فَلَمْ تَعُدْ إِلَيْهِ بَعْدَ سُقُوطِهَا.

Salah satunya: Tidak boleh dikembalikan kepadanya, karena ia telah menggugurkan haknya atasnya dengan mengembalikannya kepada orang yang mengingkarinya, sehingga hak itu tidak kembali kepadanya setelah gugur.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ، إِنَّهُ تُرَدُّ عَلَيْهِ هَذِهِ الْيَمِينُ الْمُسْتَحَقَّةُ بِالنُّكُولِ، وَإِنْ لَمْ تُرَدَّ عليه هذه اليمين الْمُسْتَحَقَّةُ مَعَ الشَّاهِدِ، لِاخْتِلَافِ مُوجِبِهِمَا فَلَمْ يَكُنْ سُقُوطُ حَقِّهِ مِنْ إِحْدَاهُمَا مُوجِبًا لِسُقُوطِهِ مِنَ الْأُخْرَى، مَعَ اخْتِلَافِهِمَا فِي السَّبَبِ الْمُوجِبِ، وَلَيْسَ التَّوَقُّفَ عَنِ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ نُكُولًا، حَتَّى يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِنُكُولِهِ فِيهَا، بَعْدَ تَوَقُّفِهِ فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَانِ الْقَوْلَانِ:

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih shahih, yaitu bahwa sumpah yang menjadi hak karena penolakan (nukūl) itu dikembalikan kepadanya, meskipun sumpah yang menjadi hak bersama saksi tidak dikembalikan kepadanya, karena perbedaan sebab yang mewajibkan keduanya. Maka, gugurnya hak dari salah satunya tidak menyebabkan gugurnya hak dari yang lainnya, karena perbedaan sebab yang mewajibkan. Dan menahan diri dari bersumpah bersama saksi bukanlah termasuk nukūl, sampai hakim memutuskan bahwa itu adalah nukūl setelah ia menahan diri. Jika dua pendapat ini telah dijelaskan:

فَإِنْ قُلْنَا بِالْأَوْلِ إِنَّ يَمِينَ النُّكُولِ تُرَدُّ عَلَى الْمُدَّعِي، عُرِضَتْ عَلَيْهِ، فَإِنْ حَلَفَ اسْتَحَقَّ مَا ادَّعَاهُ بِيَمِينِهِ لَا بشاهده، وإن نكل سقط حقه من اليمين بَعْدِ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِنُكُولِهِ فِيهَا بَعْدَ تَوَقُّفِهِ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ بِنُكُولِهِ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَهُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، أَنْ يَحْكُمَ عَلَى الْمُدَّعِي بِالنُّكُولِ عَنْ يَمِينِ الرَّدِّ، لِأَنَّ قَصْدَ الْحَاكِمِ بِنُكُولِهِ حَقٌّ لَهُ، وَلَا يَكُونُ نُكُولُهُ عَنِ الرَّدِّ مَعَ الشَّاهِدِ قَدْحًا فِي الشَّاهِدِ، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِشَهَادَتِهِ شَهَادَةُ غَيْرِهِ ثَبَتَتِ الْبَيِّنَةُ بِهِمَا، وَحُكِمَ لَهُ بِالْحَقِّ، وَإِنِ انْفَصَلَتِ الْمُحَاكَمَةُ بِالنُّكُولِ لِأَنَّ فَصْلَ الْمُحَاكَمَةِ بِالْأَيْمَانِ أَقْوَى، وَلَا يُمْنَعُ مِنْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَمْنَعَ فِي سَمَاعِهَا فَصْلُهَا بِالنُّكُولِ الَّذِي هُوَ أَضْعَفُ، فَإِنْ عُدِمَ شَاهِدٌ آخَرُ سَقَطَ حُكْمُ الْبَيِّنَةِ، وَخُلِّيَ سَبِيلَ الْمُنْكِرِ.

Jika kita berpendapat bahwa sumpah nukul (sumpah penolakan) dikembalikan kepada penggugat, maka sumpah itu ditawarkan kepadanya. Jika ia bersumpah, ia berhak atas apa yang ia tuntut dengan sumpahnya, bukan dengan saksinya. Namun jika ia menolak, maka gugurlah haknya atas sumpah tersebut setelah hakim memutuskan bahwa ia telah menolak sumpah itu, setelah sebelumnya ia ragu-ragu. Hakim tidak boleh memutuskan penolakan sumpah kecuali jika tergugat memintanya untuk memutuskan bahwa penggugat telah menolak sumpah rad (sumpah balasan), karena tujuan hakim dalam penolakan sumpah adalah hak bagi tergugat. Penolakan penggugat terhadap sumpah rad bersama adanya saksi tidaklah mencederai kesaksian saksi tersebut. Jika kesaksian saksi itu disertai dengan kesaksian orang lain, maka bukti telah sempurna dengan keduanya, dan diputuskan hak bagi penggugat. Namun jika persidangan dipisahkan dengan sumpah nukul, karena penyelesaian perkara dengan sumpah lebih kuat, maka tidak dilarang untuk mendengarkan bukti, sehingga lebih utama untuk tidak melarang penyelesaian perkara dengan sumpah nukul yang lebih lemah. Jika tidak ada saksi lain, maka gugurlah ketetapan bukti, dan orang yang mengingkari dibebaskan.

وَإِنْ قُلْنَا بِالثَّانِي: إِنَّ يَمِينَ النُّكُولِ لَا تُرَدُّ عَلَى الْمُدَّعِي، فَقَدْ قَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي: إِنَّ الْمُنْكِرَ يُحْبَسُ بِالشَّاهِدِ حَتَّى يَحْلِفَ أَوْ يُغَرَّمَ وَهَذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ الْحَبْسَ عَلَى الْحُقُوقِ يَكُونُ بَعْدَ ثُبُوتِ اسْتِحْقَاقِهَا، وَلَمْ يَثْبُتِ الْحَقُّ بِالشَّاهِدِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْبَسَ بِهِ وَلَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ شَيْءٌ وَوَجَبَ تَخْلِيَةُ سَبِيلِهِ.

Dan jika kita memilih pendapat kedua, yaitu bahwa sumpah nikul tidak dikembalikan kepada penggugat, maka Abu Hamid al-Isfirayini berkata: Sesungguhnya orang yang mengingkari ditahan dengan adanya saksi sampai ia bersumpah atau membayar ganti rugi. Namun, ini adalah kesalahan, karena penahanan atas hak-hak itu dilakukan setelah terbukti adanya hak tersebut, sedangkan hak itu belum terbukti hanya dengan adanya saksi. Maka tidak boleh menahan seseorang karenanya dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya, serta wajib membebaskannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَيَتَفَرَّعُ عَلَى قِيَاسِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ أَنْ يَنْكُلَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، إِذَا أَنْكَرَ عَنِ الْيَمِينِ قَبْلَ شَهَادَةِ الْوَاحِدِ عَلَيْهِ، وَرُدَّتْ يَمِينُهُ عَلَى الْمُدَّعِي، فَنَكَلَ عَنْهَا، ثُمَّ أَقَامَ شَاهِدًا، فَحَلَفَ مَعَ شَاهِدِهِ بَعْدَ الْحُكْمِ بِنُكُولِهِ، عَنْ يَمِينِ الرَّدِّ، كَانَ جَوَازُ إِحْلَافِهِ مَعَ شَاهِدِهِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Dan cabang dari qiyās dua pendapat ini adalah apabila tergugat menolak bersumpah, yaitu ketika ia mengingkari sebelum adanya kesaksian satu orang atasnya, lalu sumpahnya dialihkan kepada penggugat, kemudian penggugat juga menolak bersumpah, lalu setelah itu ia menghadirkan seorang saksi, kemudian ia bersumpah bersama saksinya setelah adanya putusan bahwa ia telah menolak sumpah yang dialihkan, maka kebolehan untuk ia bersumpah bersama saksinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ شَاهِدِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ يُمْنَعُ مِنْ يَمِينِ الرَّدِّ، إِذَا امْتَنَعَ مِنَ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ.

Salah satunya: Tidak boleh bersumpah bersama dengan saksinya jika dikatakan bahwa ia dilarang dari sumpah rad, apabila ia menolak bersumpah bersama saksi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ يَمِينَ الرَّدِّ، إِذَا امْتَنَعَ مِنَ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ.

Pendapat kedua: Boleh bersumpah bersama saksi jika dikatakan bahwa boleh bersumpah dengan sumpah rad, apabila ia menolak bersumpah bersama saksi.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” فكل ما كَانَ مِنْ مَالٍ يَتَحَوَّلُ إِلَى مَالِكٍ مِنْ مَالِكٍ غَيْرِهِ حَتَّى يَصِيرَ فِيهِ مِثْلَهُ أَوْ فِي مِثْلِ مَعْنَاهُ قُضِيَ فِيهِ بِالشَّاهِدِ مَعَ الْيَمِينِ وَكَذَلِكَ كُلُّ مَا وَجَبَ بِهِ مَالٌ مِنْ جُرْحٍ أَوْ قَتْلٍ لَا قِصَاصَ فِيهِ أَوْ إِقْرَارٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يُوجِبُ الْمَالَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Setiap harta yang berpindah dari satu pemilik kepada pemilik lain, sehingga menjadi miliknya atau dalam makna yang serupa, maka diputuskan di dalamnya dengan satu saksi disertai sumpah. Demikian pula setiap harta yang wajib dibayarkan karena luka atau pembunuhan yang tidak ada qishāsh di dalamnya, atau karena pengakuan, atau selain itu dari hal-hal yang mewajibkan pembayaran harta.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ ثَبَتَ بِمَا قَدَّمْنَاهُ جَوَازُ الْحُكْمِ، بِالشَّاهِدِ، وَالْيَمِينِ فِي الْأَمْوَالِ خَاصَّةً، فَكُلُّ مَا كَانَ مَالًا مِنْ دَيْنٍ، أَوْ عَيْنٍ، فَالدَّيْنُ مَا كَانَ فِي الذِّمَّةِ مِنْ ثَمَنٍ، أَوْ قَرْضٍ. وَالْعَيْنُ، مَا كَانَ فِي الْيَدِ مِنْ مَنْقُولٍ، كَالثَّوْبِ، وَالْعَبْدِ، أَوْ غَيْرِ مَنْقُولٍ كَالدَّارِ وَالْأَرْضِ، فَيُحْكَمُ لِمُدَّعِيهِ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، وَكَذَلِكَ مَا اسْتُفِيدَ بِهِ مِنَ الْأَمْوَالِ مِنَ العقود كَالْبَيْعِ، وَالْإِجَارَةِ، وَالْهِبَةِ، تَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِأَنَّهَا عُقُودٌ مَوْضُوعَةٌ، لِنَقْلِ مَالٍ مِنْ مَالِكٍ إِلَى مَالِكٍ، أَوْ لِنَقْلِ مَا هُوَ بِمَعْنَى الْمَالِ مِنْ مَنَافِعَ الْإِجَارَةِ.

Al-Mawardi berkata: Telah tetap, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, bolehnya menetapkan hukum dengan satu saksi dan sumpah, khusus dalam perkara harta. Maka segala sesuatu yang termasuk harta, baik berupa utang maupun barang, maka utang adalah apa yang menjadi tanggungan berupa harga atau pinjaman. Sedangkan barang (‘ayn) adalah apa yang ada di tangan berupa benda bergerak seperti pakaian dan budak, atau benda tidak bergerak seperti rumah dan tanah. Maka diputuskan untuk pihak yang mengakuinya dengan satu saksi dan sumpah. Demikian pula segala sesuatu yang diperoleh dari harta melalui akad seperti jual beli, sewa-menyewa, dan hibah, dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, karena akad-akad tersebut memang ditetapkan untuk memindahkan harta dari satu pemilik ke pemilik lain, atau untuk memindahkan sesuatu yang sepadan dengan harta, seperti manfaat dari sewa-menyewa.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا عَقْدُ النِّكَاحِ، فَلَا يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ، وَالْيَمِينِ، لِأَنَّ مَقْصُودَهُ الِاسْتِمْتَاعُ وَالصَّدَاقُ تَبَعٌ، وَكَذَلِكَ الرَّجْعَةُ، وَالطَّلَاقُ، فَإِنْ تَصَادَقَا عَلَى النِّكَاحِ وَاخْتَلَفَا فِي الصَّدَاقِ، ثَبَتَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ فِيهِ مَقْصُورَةٌ عَلَى الْمَالِ، دُونَ النِّكَاحِ، وَكَذَلِكَ عِنْدَ الْخُلْعِ، إِذَا اخْتَلَفَا فِي أَصْلِهِ، لَمْ يُثْبِتْ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، لِأَنَّ فِيهِ طَلَاقًا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِنِ اتَّفَقَا عَلَى أَصْلِهِ، وَاخْتَلَفَا فِي قَدْرِ عِوَضِهِ، حُكِمَ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ فِيهِ مَقْصُورَةٌ عَلَى الْمَالِ، دُونَ الطَّلَاقِ.

Adapun akad nikah, maka tidak dapat ditetapkan dengan saksi dan sumpah, karena tujuan utamanya adalah kenikmatan (hubungan suami istri) dan mahar hanyalah sebagai pelengkap. Demikian pula halnya dengan rujuk dan talak. Jika kedua belah pihak sepakat tentang adanya pernikahan namun berselisih mengenai mahar, maka dapat ditetapkan dengan saksi dan sumpah, karena bukti dalam hal ini terbatas pada harta, bukan pada pernikahan itu sendiri. Begitu pula dalam kasus khulu‘, jika keduanya berselisih tentang pokok khulu‘, maka tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi, karena di dalamnya terdapat talak yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan keduanya. Namun jika keduanya sepakat tentang pokok khulu‘ dan berselisih mengenai besaran kompensasinya, maka diputuskan dengan saksi dan sumpah, karena bukti dalam hal ini terbatas pada harta, bukan pada talak.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْوَصِيَّةُ، فَإِنْ كَانَتِ الْوِلَايَةُ عَلَيْهَا لَمْ تَثْبُتْ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، وَإِنْ كَانَ فِي تَمَلُّكِ الْمَالِ بِهَا، ثَبَتَتْ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ.

Adapun wasiat, jika berkaitan dengan perwalian atasnya, maka tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi. Namun jika berkaitan dengan kepemilikan harta melalui wasiat, maka dapat ditetapkan dengan satu orang saksi dan sumpah.

وَأَمَّا الْوِكَالَةُ، فَلَا تَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ سَوَاءٌ كَانَتْ بِمَالٍ أَوْ غَيْرِ مَالٍ، لِأَنَّهَا عَقْدُ نِيَابَةٍ كَالْوَصِيَّةِ.

Adapun wakalah, maka tidak sah kecuali dengan dua orang saksi, baik berkaitan dengan harta maupun selain harta, karena ia adalah akad perwakilan seperti wasiat.

وَأَمَّا الْعِتْقُ، فَلَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ لِأَنَّهُ وَإِنْ كَانَ مُزِيلًا لِمِلْكِ مَالٍ فَلَيْسَ يَنْتَقِلُ مِنْ مَالِكٍ إِلَى مَالِكٍ، لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ، وَكَذَلِكَ التَّدْبِيرُ لَا يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ لِأَنَّهُ يَؤُولُ إِلَى الْمُعْتِقِ.

Adapun pembebasan budak (al-‘itq), maka tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi, karena meskipun ia menghilangkan kepemilikan atas harta, namun tidak berpindah dari satu pemilik ke pemilik lain, sebab budak tidak memiliki dirinya sendiri. Demikian pula tadbīr tidak dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, karena pada akhirnya kembali kepada orang yang membebaskan.

فَأَمَّا الْكِتَابَةُ، فَلَا يَثْبُتُ عَقْدُهَا إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، لِإِفْضَائِهَا إِلَى الْعِتْقِ وَيَثْبُتُ أَدَاءُ الْمَالِ فِيهَا بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ لِأَنَّهُ وَإِنْ أَفْضَى إِلَى الْعِتْقِ، فَهُوَ كَالْعَقْدِ الَّذِي اتَّفَقَا عَلَيْهِ.

Adapun kitabah, maka akadnya tidak sah kecuali dengan dua orang saksi, karena kitabah itu berujung pada pembebasan budak. Adapun pembayaran harta dalam kitabah dapat dibuktikan dengan satu orang saksi dan sumpah, karena meskipun hal itu juga berujung pada pembebasan budak, namun ia seperti akad yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا السَّرِقَةُ فَمُوجِبَةٌ لِلْقَطْعِ، وَالْغُرْمِ، فَإِنْ كَانَتِ الْبَيِّنَةُ بِشَاهِدَيْنِ، ثَبَتَ بِهِمَا الْقَطْعُ، وَالْغُرْمُ، وَإِنْ كَانَتْ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ، أَوْ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، ثَبَتَ بِهَا الْغُرْمُ وَلَمْ يَثْبُتْ بِهَا الْقَطْعُ، لِأَنَّهُمَا قَدْ يَتَمَيَّزَانِ فِي الِاسْتِحْقَاقِ، لِوُجُوبِ الْغُرْمِ مَعَ عَدَمِ الْقَطْعِ.

Adapun pencurian, maka mewajibkan hukuman potong tangan dan penggantian kerugian. Jika ada bukti berupa dua orang saksi laki-laki, maka dengan keduanya ditetapkan hukuman potong tangan dan penggantian kerugian. Jika buktinya berupa satu orang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi laki-laki dan sumpah, maka yang ditetapkan adalah penggantian kerugian dan tidak ditetapkan hukuman potong tangan, karena keduanya dapat dibedakan dalam hal hak, yaitu wajibnya penggantian kerugian tanpa adanya hukuman potong tangan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْوَقْفُ، فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِنَقْلِ الْمِلْكِ، مِنَ الْوَاقِفِ إِلَى الْمَوْقُوفِ عَلَيْهِ، ثَبَتَ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ غَيْرُ مُوجِبٍ لِنَقْلِ الْمِلْكِ، فَفِي ثُبُوتِهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ وَجْهَانِ، نَذْكُرُهُمَا مِنْ بَعْدُ.

Adapun wakaf, jika dikatakan bahwa wakaf itu menyebabkan perpindahan kepemilikan dari wakif kepada maukuf ‘alaih, maka ia dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah. Namun jika dikatakan bahwa wakaf itu tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan, maka dalam penetapannya dengan satu saksi dan sumpah terdapat dua pendapat, yang akan kami sebutkan setelah ini.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْجِنَايَاتُ فَضَرْبَانِ: عَمْدٌ وَخَطَأٌ.

Adapun jināyah terbagi menjadi dua jenis: sengaja (‘amdan) dan tidak sengaja (khaṭa’an).

فَأَمَّا الْخَطَأُ فَيَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، لِأَنَّهَا مَقْصُورَةٌ عَلَى اسْتِحْقَاقِ الْمَالِ. وَأَمَّا الْعَمْدُ فَضَرْبَانِ:

Adapun kesalahan (al-khathā’), maka dapat dibuktikan dengan satu saksi dan sumpah, karena ia terbatas pada hak memperoleh harta. Adapun kesengajaan (al-‘amdu), maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا لَمْ يَجِبْ فِيهِ قِصَاصٌ، كَجِنَايَةِ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ، وَالْمُسْلِمِ عَلَى الْكَافِرِ وَالْحُرِّ عَلَى الْعَبْدِ، فَيَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِأَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ بِهَا إِلَّا الْمَالَ، فَصَارَتْ كَالْخَطَأِ.

Pertama: perkara yang tidak wajib di dalamnya qishāsh, seperti tindak pidana orang tua terhadap anak, seorang Muslim terhadap non-Muslim, dan orang merdeka terhadap budak; maka hal itu dapat dibuktikan dengan satu saksi dan sumpah, karena yang berhak diperoleh darinya hanyalah harta, sehingga hukumnya seperti kesalahan (khathā’).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا وَجَبَ فِيهِ الْقِصَاصُ، فَلَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، لِأَنَّهُ اسْتِهْلَاكُ نَفْسٍ.

Jenis kedua: perkara yang wajib di dalamnya qishāsh, maka tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi, karena hal itu merupakan penghilangan nyawa.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلَّا أَوْجَبْتُمْ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِيهِ الدِّيَةَ دُونَ الْقِصَاصِ، كَمَا أَوْجَبْتُمْ فِي السَّرِقَةِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ الْغُرْمَ، دُونَ الْقَطْعِ؟ قِيلَ: لِأَنَّ الْقَطْعَ فِي السَّرِقَةِ تَابِعٌ لِلْمَالِ، لَا يُثْبِتُ إِلَّا مَعَ اسْتِحْقَاقِهِ، فَصَارَ الْمَالُ فِيهَا أَصْلًا، وَالْقَطْعُ فَرْعًا.

Jika dikatakan: “Mengapa kalian tidak mewajibkan diyat dengan satu saksi dan sumpah dalam kasus ini, tanpa qishash, sebagaimana kalian mewajibkan ganti rugi dalam pencurian dengan satu saksi dan sumpah, tanpa hukuman potong tangan?” Maka dijawab: Karena hukuman potong tangan dalam pencurian mengikuti harta, tidak dapat ditetapkan kecuali dengan adanya hak atas harta tersebut. Maka harta dalam hal ini menjadi pokok, sedangkan hukuman potong tangan adalah cabang.

وَالدِّيَةُ فِي الْعَمْدِ تَابِعَةٌ لِلْقِصَاصِ، يَكُونُ الْقِصَاصُ فِيهَا أَصْلًا، وَالدِّيَةُ فَرْعًا، فَجَازَ أَنْ يَسْتَحِقَّ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ الْغُرْمَ فِي السَّرِقَةِ، وَإِنْ لَمْ يَسْتَحِقَّ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ الدِّيَةَ فِي الْجِنَايَةِ.

Diyat dalam kasus pembunuhan sengaja mengikuti hukum qishash; qishash menjadi hukum asal, sedangkan diyat adalah cabang. Maka diperbolehkan untuk menetapkan kewajiban ganti rugi dalam kasus pencurian dengan satu saksi dan sumpah, meskipun tidak boleh menetapkan diyat dalam kasus jinayah (kejahatan terhadap jiwa) hanya dengan satu saksi dan sumpah.

فَأَمَّا جِرَاحُ الْعَمْدِ، فَمَا سَقَطَ فِيهِ الْقِصَاصُ كَالْجَائِفَةِ، وَمَا دُونَ الْمُوَضِّحَةِ فَيُسْتَحَقُّ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَمَا وَجَبَ فِيهِ الْقِصَاصُ كَالْمُوضِّحَةِ وَالْأَطْرَافِ لَمْ يُسْتَحَقَّ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ وَمَا جَمَعَ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ كَالْهَاشِمَةِ، وَالْمُنْقِلَةِ لَمْ يَثْبُتْ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ.

Adapun luka sengaja, maka untuk luka yang tidak dikenakan qishāsh seperti luka yang menembus rongga tubuh, dan luka yang di bawah tingkat mudhihah, dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah. Sedangkan untuk luka yang wajib qishāsh seperti mudhihah dan anggota tubuh, tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi. Adapun luka yang menggabungkan kedua hal tersebut seperti hasyimah dan munqilah, tidak dapat dibuktikan kecuali dengan dua orang saksi.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا إِسْقَاطُ الْحُقُوقِ فَضَرْبَانِ:

Adapun pengguguran hak-hak itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: بَرَاءَةٌ مِنْ مَالٍ، وَيَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ.

Salah satunya adalah pembebasan dari harta, dan hal itu dapat dibuktikan dengan satu saksi dan sumpah.

وَالثَّانِي: عَفْوٌ عَنْ حَدٍّ أَوْ قِصَاصٍ، فَلَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، لِيَكُونَ إِسْقَاطُهُمَا بَعْدَ الْوُجُوبِ مُعْتَبَرًا بِإِيجَابِهِمَا قَبْلَ السُّقُوطِ.

Kedua: pengampunan terhadap hudud atau qishash, maka hal itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi, agar pengguguran keduanya setelah kewajiban dianggap sah sebagaimana penetapannya sebelum gugur.

وَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ عَلَى رَجُلٍ بِحَقٍّ فَادَّعَى الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ، مَا يُوجِبُ رَدَّ شَهَادَتِهِمَا، فَإِنْ كَانَتْ دَعْوَاهُ فِي جُرْحِ الشَّاهِدَيْنِ، لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، وَإِنْ كَانَتْ دَعْوَاهُ فِي أَنَّ الْمُدَّعِيَ أَكْذَبُ الشَّاهِدَيْنِ، حُكِمَ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ لِأَنَّ إِكْذَابَ الْمُدَّعِي لِبَيِّنَتِهِ، يُوجِبُ سُقُوطَ حَقِّهِ، وَلَا يُوجِبُ جُرْحَ شُهُودِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب.

Jika dua orang saksi memberikan kesaksian atas seseorang mengenai suatu hak, lalu orang yang disaksikan itu mengajukan klaim yang dapat membatalkan kesaksian mereka, maka jika klaimnya berkaitan dengan mencacatkan kedua saksi, klaim tersebut tidak diterima kecuali dengan dua orang saksi. Namun jika klaimnya adalah bahwa penggugat lebih berdusta daripada kedua saksi, maka perkara itu diputuskan dengan satu saksi dan sumpah, karena pengingkaran penggugat terhadap bukti yang diajukannya sendiri menyebabkan gugurnya haknya, dan tidak menyebabkan cacat pada para saksinya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ أَتَى قَوْمٌ بِشَاهِدٍ أَنَّ لِأَبِيهِمْ عَلَى فلان حقا أو أن فُلَانًا قَدْ أَوْصَى لَهُمْ فَمَنْ حَلَفَ مِنْهُمْ مَعَ شَاهِدِهِ اسْتَحَقَّ وِرْثَهُ أَوْ وَصِيَّتَهُ دُونَ مَنْ لَمْ يَحْلِفْ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika suatu kaum datang dengan membawa seorang saksi bahwa ayah mereka memiliki hak atas si Fulan, atau bahwa si Fulan telah berwasiat kepada mereka, maka siapa saja di antara mereka yang bersumpah bersama saksinya, ia berhak mendapatkan warisan atau wasiatnya, sedangkan yang tidak bersumpah tidak berhak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي وَرَثَةِ مَيِّتٍ، ادَّعَوْا أَنَّ لِمَيِّتِهِمْ دَيْنًا عَلَى رَجُلٍ مُنْكِرٍ، أَوِ ادَّعَوْا وَصِيَّةً وَصَّى بِهَا لِمَيِّتِهِمْ، وَأَقَامُوا عَلَى الدَّيْنِ وَالْوَصِيَّةِ شَاهِدًا وَاحِدًا، فَلَهُمْ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada ahli waris seseorang yang telah meninggal, mereka mengklaim bahwa si mayit memiliki piutang pada seseorang yang mengingkarinya, atau mereka mengklaim adanya wasiat yang diwasiatkan kepada si mayit, lalu mereka menghadirkan satu orang saksi atas piutang dan wasiat tersebut. Maka, dalam hal ini terdapat tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَحْلِفُوا جَمِيعًا مَعَ شَاهِدٍ مِنْهُمْ، فَيَسْتَحِقُّوا بِأَيْمَانِهِمْ مَعَ شَاهِدٍ مِنْهُمْ مَا ادَّعُوهُ مِنَ الدَّيْنِ، وَالْوَصِيَّةِ لِأَنَّهُمَا مِنْ حُقُوقِ الْأَمْوَالِ الْمَحْكُومِ فِيهَا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَيَكُونُ الدَّيْنُ مَقْسُومًا بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ. فَأَمَّا الْوَصِيَّةُ فَلَا يَخْلُو حَالُهُمْ فِيهَا مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ:

Salah satunya: mereka semua bersumpah bersama dengan seorang saksi dari mereka, maka mereka berhak mendapatkan dengan sumpah mereka bersama seorang saksi dari mereka apa yang mereka klaim berupa utang dan wasiat, karena keduanya termasuk hak-hak harta yang diputuskan di dalamnya dengan saksi dan sumpah. Utang tersebut dibagi di antara mereka sesuai dengan bagian warisan mereka. Adapun wasiat, maka keadaan mereka di dalamnya tidak lepas dari dua kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَدَّعُوا أَنَّ مَيِّتَهُمْ قَبِلَهَا قَبْلَ مَوْتِهِ، فَتَكُونَ الْوَصِيَّةُ بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ، لِأَنَّ مَيِّتَهُمْ قَدْ مَلَكَهَا بِقَبُولِهِ، فَصَارَتْ كَسَائِرِ أَمْوَالِهِ الْمَوْرُوثَةِ عَنْهُ.

Salah satunya adalah: mereka mengklaim bahwa orang yang telah meninggal di antara mereka telah menerima wasiat itu sebelum wafatnya, sehingga wasiat tersebut menjadi milik mereka sesuai dengan bagian warisan masing-masing, karena orang yang telah meninggal itu telah memilikinya dengan penerimaannya, sehingga wasiat itu menjadi seperti harta warisan lainnya yang diwariskan darinya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرُوا أَنَّهُ لَمْ يَقْبَلْهَا، وَأَنَّهُمُ الْقَابِلُونَ لَهَا بَعْدَ مَوْتِهِ، فَفِي كَيْفِيَّةِ اسْتِحْقَاقِهِمْ لَهَا بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ قَوْلَانِ:

Kedua: bahwa mereka menyebutkan bahwa ia (pewaris) belum menerimanya, dan bahwa merekalah yang menerimanya setelah kematiannya. Maka, dalam hal bagaimana mereka berhak atasnya setelah sumpah mereka, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَكُونُ بَيْنَهُمْ بِالسَّوِيَّةِ، إِذَا قِيلَ: إِنَّ الْوَصِيَّةَ تُمْلَكُ بِالْقَبُولِ لِأَنَّ مِنْ حُكْمِ الْوَصِيَّةِ أَنْ يَتَسَاوَى فِيهَا أَهْلُ الْوَصَايَا، فَيَكُونَ لِلْوَارِثِينَ عَنْ مَيِّتِهِمْ حَقُّهُ مِنَ الْقَبُولِ، فَيَصِيرُوا هُمُ الْمَالِكِينَ لَهَا بِالْقَبُولِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَدْخُلَ فِي مِلْكِ مَيِّتِهِمْ. فَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ عَلَى أبيهم دين لم يقض منهما.

Salah satunya: hak itu terbagi rata di antara mereka, jika dikatakan bahwa wasiat dimiliki dengan penerimaan, karena di antara hukum wasiat adalah bahwa para penerima wasiat harus setara di dalamnya. Maka para ahli waris dari orang yang meninggal memiliki hak mereka dari penerimaan, sehingga mereka menjadi pemilik wasiat itu dengan penerimaan, tanpa wasiat itu masuk ke dalam kepemilikan orang yang telah meninggal. Berdasarkan hal ini, jika ayah mereka memiliki utang, maka utang itu tidak dibayar dari wasiat tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: تَكُونُ بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ، إِذَا قِيلَ: إِنَّ الْقَبُولُ يُبْنَى عَلَى مِلْكٍ سَابِقٍ، مِنْ حِينِ مَاتَ الْمُوصِي فَيَكُونُ قَبُولُهُمْ موجبا لدخولها في ملك ميتهم، ثم ملوكها عَنْهُ بِالْمِيرَاثِ فَصَارُوا فِيهَا عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ، فَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيهِمْ دَيْنٌ قُضِيَ مِنْهَا.

Pendapat kedua: bagian mereka adalah sesuai dengan kadar warisan mereka, jika dikatakan bahwa penerimaan (hibah wasiat) didasarkan pada kepemilikan sebelumnya, yaitu sejak wafatnya orang yang berwasiat, maka penerimaan mereka menyebabkan harta itu masuk ke dalam kepemilikan orang yang telah wafat, kemudian mereka memilikinya darinya melalui warisan, sehingga mereka mendapatkannya sesuai dengan kadar warisan mereka. Berdasarkan hal ini, jika ayah mereka memiliki utang, maka utang itu dilunasi dari harta tersebut.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَمْتَنِعُوا جَمِيعًا مِنَ الْيَمِينِ مَعَ شَاهِدٍ مِنْهُمْ، فَلَا حَقَّ لَهُمْ فِيمَا شَهِدَ بِهِ شَاهِدُهُمْ مِنَ الدَّيْنَ وَالْوَصِيَّةِ.

Keadaan kedua: apabila mereka semua menolak untuk bersumpah bersama seorang saksi dari mereka, maka mereka tidak memiliki hak atas apa yang disaksikan oleh saksi mereka berupa utang dan wasiat.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلَّا اسْتَحَقُّوا النِّصْفَ، لِأَنَّ لَهُمْ نِصْفَ الْبَيِّنَةِ، قِيلَ: الْبَيِّنَةُ لَا تَتَبَعَّضُ فِي الِاسْتِحْقَاقِ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ مِنَ الْحَقِّ لَا يُسْتَحَقُّ إِلَّا بِكَمَالِ الْبَيِّنَةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَحِقَّ بَعْضَهُ بِبَعْضِ الْبَيِّنَةِ، فَإِنْ مَاتَ الْوَرَثَةُ وَأَرَادَ وَرَثَتُهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا مَعَ شَاهِدِهِمْ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika dikatakan: Mengapa mereka tidak berhak atas setengah, karena mereka memiliki setengah dari bayyinah? Maka dijawab: Bayyinah tidak dapat dibagi-bagi dalam hal perolehan hak, karena setiap bagian dari hak itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan sempurnanya bayyinah. Maka tidak boleh memperoleh sebagian hak hanya dengan sebagian bayyinah. Jika para ahli waris telah meninggal dan para ahli waris mereka ingin bersumpah bersama saksi mereka, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ امْتِنَاعُهُمْ مِنَ الْأَيْمَانِ، لِنُكُولِهِمْ عَنْهَا، فَلَا يَجُوزُ لِوَرَثَتِهِمْ أَنْ يَحْلِفُوا بَعْدَ مَوْتِهِمْ، لِأَنَّهُمْ قَدْ أَسْقَطُوا حُقُوقَهُمْ مِنَ الْأَيْمَانِ بِنُكُولِهِمْ.

Salah satunya adalah: jika mereka menolak bersumpah karena enggan melakukannya, maka tidak boleh bagi ahli waris mereka untuk bersumpah setelah mereka meninggal, karena mereka telah menggugurkan hak mereka atas sumpah itu dengan penolakan mereka.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونُوا قَدْ تَوَقَّفُوا عَنِ الْأَيْمَانِ لِيَحْلِفُوا بِهَا مِنْ غَيْرِ نُكُولٍ عَنْهَا، فَيَجُوزُ لِوَرَثَتِهِمْ أَنْ يَحْلِفُوا بَعْدَ مَوْتِهِمْ، وَيَسْتَحِقُّوا مَا كَانَ لَهُمْ لِأَنَّ حُقُوقَهُمْ مِنَ الْأَيْمَانِ لَمْ تَسْقُطْ بِالتَّوَقُّفِ، إِنَّمَا تَسْقُطُ بِالنُّكُولِ، وَلَيْسَ التَّوَقُّفُ نُكُولًا.

Golongan kedua: yaitu mereka yang menunda sumpah untuk bersumpah dengannya tanpa menolaknya, maka diperbolehkan bagi ahli waris mereka untuk bersumpah setelah mereka meninggal, dan mereka berhak mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, karena hak-hak mereka atas sumpah tersebut tidak gugur hanya karena penundaan, melainkan gugur karena penolakan, dan penundaan itu bukanlah penolakan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَحْلِفَ بَعْضُ الْوَرَثَةِ مَعَ الشَّاهِدِ، وَيَنْكُلَ بَعْضُهُمْ، فَيُحْكَمَ لِمَنْ حَلَفَ بِحَقِّهِ مِنَ الدَّيْنِ وَالْوَصِيَّةِ، وَلَا شَيْءَ لِمَنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ لِأَمْرَيْنِ:

Keadaan ketiga: sebagian ahli waris bersumpah bersama saksi, sementara sebagian lainnya enggan bersumpah. Maka diputuskan hak bagi yang bersumpah atas bagian utangnya dan wasiatnya, dan tidak ada hak apa pun bagi yang enggan bersumpah karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الشَّاهِدَ الْوَاحِدَ كَالْيَدِ عِنْدَ التَّنَازُعِ، وَلَوْ حَلَفَ بَعْضُ ذَوِي الْأَيْدِي حُكِمَ لَهُ بِيَمِينِهِ، دُونَ مَنْ نَكَلَ كَذَلِكَ هُنَا.

Salah satunya: bahwa satu orang saksi itu seperti tangan dalam kasus perselisihan; jika sebagian dari para pemilik tangan bersumpah, maka diputuskan untuknya berdasarkan sumpahnya, sedangkan yang enggan bersumpah tidak mendapatkan keputusan demikian pula di sini.

وَالثَّانِي: إِنَّ الشَّاهِدَ الْوَاحِدَ حُجَّةٌ، قَدْ قَبِلَهَا الْحَالِفُ، فَثَبَتَ حَقُّهُ بِهَا، وَرَدَّهَا النَّاكِلُ فَسَقَطَ حَقُّهُ مِنْهَا، وَصَارَ كَأَخَوَيْنِ ادَّعَيَا حَقًّا مِنْ مِيرَاثٍ عَلَى مُنْكِرٍ فَنَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ، فَرُدَّتْ عَلَى الْأَخَوَيْنِ، فَحَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ، قَضَى لِلْحَالِفِ بِحَقِّهِ دُونَ النَّاكِلِ.

Kedua: Satu orang saksi adalah hujjah yang telah diterima oleh pihak yang bersumpah, sehingga haknya ditetapkan dengan kesaksian itu. Adapun pihak yang enggan bersumpah, maka gugurlah haknya dari kesaksian tersebut. Keadaannya seperti dua saudara yang mengklaim suatu hak warisan terhadap seorang yang mengingkarinya, lalu pihak yang dituduh enggan bersumpah, sehingga sumpah itu dikembalikan kepada kedua saudara tersebut. Salah satu dari keduanya bersumpah, sedangkan yang lain enggan, maka diputuskan hak bagi yang bersumpah tanpa yang enggan.

فَإِنْ قِيلَ: إِذَا كَانَ الشَّاهِدُ وَالْيَمِينُ بَيِّنَةً فِي ثُبُوتِ الْحَقِّ كَالشَّاهِدَيْنِ، وَلَوْ أَقَامَ أَحَدُ الْوَرَثَةِ الْبَيِّنَةَ بِشَاهِدَيْنِ حُكِمَ بِالْحَقِّ لِمَنْ أَقَامَ الْبَيِّنَةَ وَلِمَنْ لَمْ يُقِمْهَا، فَهَلَّا كَانَ فِي الشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَذَلِكَ.

Jika dikatakan: Jika saksi dan sumpah merupakan bayyinah dalam penetapan hak sebagaimana dua orang saksi, dan jika salah satu ahli waris mengajukan bayyinah dengan dua orang saksi maka diputuskan hak bagi yang mengajukan bayyinah maupun yang tidak mengajukannya, maka mengapa tidak berlaku demikian pula pada saksi dan sumpah?

قِيلَ: لِأَنَّ الشَّاهِدَيْنِ بَيِّنَةٌ كَامِلَةٌ فِي ثُبُوتِ الْحَقِّ، فَثَبَتَ لِجَمِيعِهِمْ، وَالشَّاهِدُ الْوَاحِدُ تَكْمُلُ بِهِ الْبَيِّنَةُ مَعَ أَيْمَانِهِمْ، فَكَمُلَتْ بَيِّنَةُ مَنْ حَلَفَ، وَنَقَصَتْ بِهِ بَيِّنَةُ مَنْ نَكَلَ فَلِذَلِكَ لَمْ يَسْتَحِقَّ النَّاكِلُ وَاسْتَحَقَّ الْحَالِفُ.

Dikatakan: Karena dua orang saksi merupakan bayyinah yang sempurna dalam penetapan hak, maka hak itu ditetapkan untuk semuanya. Sedangkan satu orang saksi, bayyinah menjadi sempurna dengan sumpah mereka, sehingga bayyinah menjadi sempurna bagi orang yang bersumpah, dan bayyinah menjadi kurang bagi orang yang enggan bersumpah. Oleh karena itu, orang yang enggan bersumpah tidak berhak, sedangkan orang yang bersumpah berhak.

فَإِنْ قِيلَ: هَذَا مِيرَاثٌ يَجِبُ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ جَمِيعُ الْوَرَثَةِ، كَأَخَوَيْنِ ادَّعَيَا دَارًا مِيرَاثًا، فَصَدَّقَ عَلَيْهِ أَحَدُهُمَا، وَأَكْذَبَ الْآخَرُ، كَانَ النِّصْفُ الَّذِي اسْتَحَقَّهُ الْمُصَدِّقُ بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ، لِكَوْنِهِ مِيرَاثًا يُوجِبُ تَسَاوِيهِمَا فِيهِ، فَهَلَّا كَانَ مَا اسْتَحَقَّهُ الْحَالِفُ مَعَ شَاهِدِهِ مَقْسُومًا بَيْنَ جَمِيعِهِمْ، لِكَوْنِهِ مِيرَاثًا.

Jika dikatakan: Ini adalah warisan yang seharusnya dibagi kepada seluruh ahli waris, seperti dua saudara yang mengaku memiliki sebuah rumah sebagai warisan, lalu salah satu dari keduanya membenarkan (pengakuan itu) dan yang lain mengingkarinya, maka separuh bagian yang menjadi hak orang yang membenarkan dibagi antara kedua saudara tersebut, karena warisan menuntut adanya kesetaraan di antara mereka. Maka mengapa bagian yang didapatkan oleh orang yang bersumpah bersama saksinya tidak dibagi kepada seluruh ahli waris, karena hal itu merupakan warisan?

قِيلَ: الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا إِنَّ الْمَجْحُودَ، كَالْمَغْصُوبِ، وَغَصْبُ بَعْضِ التَّرِكَةِ يُوجِبُ تَسَاوِي الْوَرَثَةِ، فِي غَيْرِ الْمَغْصُوبِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ فِي النُّكُولِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى الْوُصُولِ إِلَى حَقِّهِ بِيَمِينِهِ، فَصَارَ بِنُكُولِهِ، كَالْمُسَلِّمِ وَالتَّارِكِ لَهُ عَلَى خَصْمِهِ، وَجَرَى ذَلِكَ مَجْرَى أَخَوَيْنِ أَقَرَّ رَجُلٌ لِأَبِيهِمَا بِدَيْنٍ، فَقَبِلَهُ أَحَدُهُمَا وَلَمْ يَقْبَلْهُ الْآخَرُ، كَانَ حَقُّ الْقَابِلِ خَالِصًا لَهُ، لَا يُشَارِكُهُ فِيهِ غَيْرُ الْقَابِلِ، لِأَنَّهُ تَارِكٌ لِحَقِّهِ مِنْهُ، كَذَلِكَ حُكْمُ النَّاكِلِ مَعَ الحالف.

Dikatakan: Perbedaan antara keduanya adalah bahwa harta yang diingkari, seperti harta yang dighasab, dan pengghasab sebagian warisan mewajibkan persamaan para ahli waris dalam bagian yang tidak dighasab, dan tidak demikian halnya dalam kasus penolakan bersumpah bersama saksi, karena ia mampu memperoleh haknya dengan sumpahnya. Maka dengan penolakannya, ia seperti orang yang menyerahkan dan meninggalkan haknya kepada lawannya. Hal ini seperti dua saudara yang seorang laki-laki mengakui adanya utang kepada ayah mereka, lalu salah satu dari keduanya menerima pengakuan itu dan yang lainnya tidak menerimanya, maka hak yang menerima menjadi khusus baginya, tidak ada yang ikut serta di dalamnya selain yang menerima, karena yang lain telah meninggalkan haknya. Demikian pula hukum bagi orang yang menolak bersumpah bersama orang yang bersumpah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ كَانَ فِيهِمْ مَعْتُوهٌ وُقِفَ حَقُّهُ حَتَّى يَعْقِلَ فَيَحْلِفَ أَوْ يَمُوتَ فَيَقُومَ وَارِثُهُ مَقَامَهُ فَيَحْلِفَ وَيَسْتَحِقَّ وَلَا يَسْتَحِقُّ أَخٌ بِيَمِينِ أَخِيهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika di antara mereka terdapat seseorang yang kurang akal (ma‘tūh), maka haknya ditangguhkan sampai ia berakal sehingga ia dapat bersumpah, atau sampai ia meninggal dunia sehingga ahli warisnya menggantikan posisinya, lalu bersumpah dan berhak menerima. Dan seorang saudara tidak berhak menerima dengan sumpah saudaranya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا كَانَ فِي الْوَرَثَةِ الَّذِينَ أَقَامُوا بِدَيْنِ مَيِّتِهِمْ، شَاهِدًا وَاحِدًا مَعْتُوهٌ، أَوْ طِفْلٌ لَمْ يَسْتَحِقَّ شَيْئًا بِيَمِينٍ من حلف كَمَا لَمْ يَسْتَحِقَّ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ إِذَا لَمْ يَحْلِفْ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَحْلِفَ الْمَعْتُوهُ وَالطِّفْلُ، لِأَنَّهُ لَا حُكْمَ لِأَيْمَانِهِمَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ وَلِيُّهُمَا، لِأَنَّهُ لَا يَثْبُتُ لِأَحَدٍ حَقُّ يَمِينِ غَيْرِهِ، وَلِأَنَّ النِّيَابَةَ فِي الْأَيْمَانِ لَا تَصِحُّ، وَيَكُونُ حَقُّ الْمَعْتُوهِ وَالطِّفْلِ مَوْقُوفًا عَلَى إِفَاقَةِ الْمَعْتُوهِ، وَبُلُوغِ الطِّفْلِ، لِيَحْلِفَا بَعْدَ الْعَقْلِ وَالْبُلُوغِ وَيَسْتَحِقَّا، وَيَكُونَ تَصَرُّفُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِيمَا يَسْتَحِقَّانِ بِأَيْمَانِهِمَا نَافِذًا، سَوَاءٌ كَانَ دَيْنًا، أَوْ يَمِينًا، لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ لَهُمَا بِالشَّاهِدِ قَبْلَ الْيَمِينِ حَقٌّ يُوجِبُ وَقْفَهُ وَإِنَّمَا الْوَقْفُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْحُكْمِ بِالْحَقِّ، إِنْ حَلَفَا وَلَيْسَ عَلَيْهِمَا قَبْلَ الْيَمِينِ حَقٌّ يُوقَفُ عَلَيْهِمَا، وَإِنْ حُكِمَ بِاسْتِحْقَاقِ الْحَالِفِينَ مِنْ شُرَكَائِهِمَا، فَلَا وَجْهَ لِمَا وَهَمَ فِيهِ بَعْضُ أَصْحَابِنَا، أَنَّهُ يُوقَفُ الْحَقُّ عَلَيْهِمَا فَإِنْ مَاتَا قَبْلَ الْبُلُوغِ، وَالْعَقْلِ قَامَ وَرَثَتُهُمَا مَقَامَهُمَا فِي الْيَمِينِ، فَيَحْلِفُ الْوَرَثَةُ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ لِأَنَّهُمْ وَرِثُوا اسْتِحْقَاقَ الْيَمِينِ الَّتِي يُسْتَحَقُّ بِهَا الدَّيْنُ، وَيَصِيرُونَ مَالِكِينَ لِحُقُوقِهِمْ مِنَ الدَّيْنِ، بِأَيْمَانِهِمْ عَنِ الْمَعْتُوهِ وَالطِّفْلِ، فَإِنْ كَانَ عَلَى الْمَعْتُوهِ وَالطِّفْلِ دَيْنٌ قُضِيَ مِنْهُ، وَلَوْ كَانَ عَلَى الْمَيِّتِ الْأَوَّلِ دَيْنٌ قُضِيَ مِنْهُ بِقَدْرِ حَقِّ الْمَعْتُوهِ وَالطَّفْلِ، فَلَوِ اجْتَمَعَ فِي هَذَا السَّهْمِ دَيْنَانِ، دَيْنٌ عَلَى الْمَيِّتِ الْأَوَّلِ، وَدَيْنٌ عَلَى الْمَعْتُوهِ وَالطِّفْلِ، قُضِيَ الدَّيْنَانِ مِنْهُ، فَإِنْ ضَاقَ السَّهْمُ عَنْهُمَا قُدِّمَ دَيْنُ الْمَيِّتِ الْأَوَّلِ عَلَى دَيْنِ الْمَعْتُوهِ، وَالطِّفْلِ، لِأَنَّهُمَا يَرِثَانِ مَا بَقِيَ بَعْدَ قضاء الدين.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila di antara para ahli waris yang menuntut hak atas utang mayit mereka terdapat seorang saksi tunggal yang adalah orang gila atau anak kecil yang belum berhak mendapatkan apa pun melalui sumpah, sebagaimana orang dewasa yang berakal juga tidak berhak jika tidak bersumpah. Tidak boleh meminta sumpah kepada orang gila dan anak kecil, karena sumpah mereka tidak memiliki kekuatan hukum, dan tidak boleh pula wali mereka bersumpah atas nama mereka, karena tidak ada seorang pun yang memiliki hak atas sumpah orang lain, dan perwakilan dalam sumpah tidak sah. Hak orang gila dan anak kecil ditangguhkan sampai orang gila tersebut sembuh dan anak kecil tersebut mencapai usia baligh, agar keduanya dapat bersumpah setelah berakal dan baligh lalu memperoleh haknya. Segala tindakan pihak tergugat atas hak yang akan didapatkan melalui sumpah mereka tetap sah, baik berupa utang maupun sumpah, karena sebelum adanya sumpah, keduanya belum memiliki hak yang ditetapkan oleh saksi yang mengharuskan penangguhan, dan penangguhan itu hanya terkait dengan penetapan hukum atas hak, jika keduanya telah bersumpah. Sebelum sumpah, tidak ada hak yang harus ditangguhkan atas keduanya. Jika telah diputuskan hak bagi para pewaris yang bersumpah dari rekan-rekan mereka, maka tidak ada alasan bagi sebagian ulama kami yang beranggapan bahwa hak tersebut harus ditangguhkan atas keduanya. Jika keduanya meninggal sebelum baligh dan berakal, maka ahli waris mereka menggantikan posisi mereka dalam sumpah, sehingga para ahli waris bersumpah untuk hak mereka sendiri, karena mereka mewarisi hak atas sumpah yang dengannya utang dapat diperoleh, dan mereka menjadi pemilik hak atas utang tersebut melalui sumpah mereka atas nama orang gila dan anak kecil. Jika ada utang atas orang gila dan anak kecil, maka utang itu dibayarkan dari bagian mereka, dan jika ada utang atas mayit pertama, maka utang itu juga dibayarkan dari bagian orang gila dan anak kecil. Jika dalam bagian ini terdapat dua utang, yaitu utang atas mayit pertama dan utang atas orang gila dan anak kecil, maka kedua utang itu dibayarkan dari bagian tersebut. Jika bagian itu tidak mencukupi untuk keduanya, maka utang mayit pertama didahulukan atas utang orang gila dan anak kecil, karena keduanya hanya mewarisi sisa setelah utang diselesaikan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَيْسَ الْغَرِيمُ وَلَا الْمُوصَى لَهُ مِنْ مَعْنَى الْوَارِثِ فِي شَيْءٍ وَإِنْ كَانُوا أَوْلَى بِمَالِ مَنْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ فَلَيْسَ مِنْ وَجْهٍ أَنَّهُمْ يَقُومُونَ مَقَامَهُ وَلَا يَلْزَمُهُمْ مَا يَلْزَمُ الْوَارِثَ مِنْ نَفَقَةِ عَبِيدِهِ الزَّمْنَى أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَوْ ظَهَرَ مَالٌ سِوَى مَالِهِ الَّذِي يُقَالُ لِلْغَرِيمِ احْلِفْ عَلَيْهِ كَانَ لِلْوَرَثَةِ أَنْ يُعْطُوهُ من ذلك المال الظاهر الَذِي لَمْ يَحْلِفْ عَلَيْهِ الْغَرِيمُ قَالَ وَإِذَا حَلَفَ الْوَرَثَةُ فَالْغُرَمَاءُ أَحَقُّ بِمَالِ الْمَيِّتِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang yang berpiutang (al-gharīm) maupun orang yang menerima wasiat (al-mūṣā lahu) tidak termasuk dalam makna ahli waris dalam hal apa pun. Meskipun mereka lebih berhak atas harta orang yang bersumpah, namun tidak berarti mereka menempati posisinya, dan tidak wajib atas mereka apa yang wajib atas ahli waris, seperti menafkahi budak-budaknya yang cacat. Tidakkah engkau melihat, jika ternyata ada harta lain selain harta yang dikatakan kepada al-gharīm untuk bersumpah atasnya, maka ahli waris berhak memberikan kepada mereka dari harta yang tampak itu, yang atasnya al-gharīm tidak bersumpah. Ia berkata: Dan apabila para ahli waris telah bersumpah, maka para kreditur (al-ghuramā’) lebih berhak atas harta mayit.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَمُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَنْ تَرِكَةٍ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَلَكَ الْوَرَثَةُ تَرِكَتَهُ، وَإِنْ أَحَاطَ الدَّيْنُ بِهَا، وَمُنِعُوا مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهَا، إِلَّا بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، وَهُمْ فِي قَضَائِهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَقْضُوهُ مِنْهَا، أَوْ مِنْ غَيْرِهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَتَكُونُ التَّرِكَةُ كَالْمَرْهُونَةِ بِالدَّيْنِ، وَالْوَرَثَةُ فِيهَا بِمَنْزِلَةِ الرَّاهِنِ الَّذِي يُمْنَعُ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي الرَّهْنِ، حَتَّى يَقْضِيَ مَا فِيهِ مِنَ الدَّيْنِ، إِمَّا مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ عَيْنِ الرَّهْنِ، وَالدَّيْنُ بَاقٍ فِي ذِمَّةِ الْمَيِّتِ، دُونَ الْوَرَثَةِ حَتَّى يَقْضِيَهُ الْوَرَثَةُ، وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا: إِنْ أَحَاطَ الدَّيْنُ بِالتَّرِكَةِ لَمْ يَمْلِكْهَا الْوَرَثَةُ إِلَّا بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، وَكَانَتْ بَاقِيَةً عَلَى مِلْكِ الْمَوْرُوثِ فَإِذَا قَضَوْهُ انْتَقَلَ مِلْكُهَا إِلَيْهِمْ، وَإِنْ أَحَاطَ الدَّيْنُ بِبَعْضِ التَّرِكَةِ، مَلَكُوا مِنَ التَّرِكَةِ مَا زَادَ عَلَى قَدْرِ الدَّيْنِ، وَلَمْ يَمْلِكُوا مَا أَحَاطَ بِقَدْرِ الدَّيْنِ إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ.

Al-Mawardi berkata: Pendahuluan dari permasalahan ini adalah bahwa siapa saja yang meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan, sementara ia memiliki utang, maka para ahli waris memiliki harta warisan tersebut, meskipun utang itu meliputi seluruh harta, namun mereka dilarang untuk melakukan tindakan apa pun terhadapnya kecuali setelah utang tersebut dilunasi. Dalam pelunasan utang itu, mereka diberi pilihan antara melunasinya dari harta warisan atau dari harta mereka sendiri. Harta warisan itu kedudukannya seperti barang yang digadaikan atas utang, dan para ahli waris dalam hal ini seperti orang yang menggadaikan, yang dilarang melakukan tindakan terhadap barang gadai sampai ia melunasi utang yang ada padanya, baik dari hartanya sendiri maupun dari barang gadai itu. Utang tersebut tetap menjadi tanggungan mayit, bukan tanggungan ahli waris, sampai para ahli waris melunasinya. Abu Sa‘id al-Istakhri dari kalangan ulama kami berkata: Jika utang itu meliputi seluruh harta warisan, maka para ahli waris tidak memilikinya kecuali setelah utang itu dilunasi, dan harta tersebut tetap menjadi milik si mayit. Jika mereka telah melunasinya, maka kepemilikan harta itu berpindah kepada mereka. Jika utang itu hanya meliputi sebagian harta warisan, maka mereka memiliki bagian harta warisan yang melebihi jumlah utang, dan mereka tidak memiliki bagian yang setara dengan jumlah utang kecuali setelah utang itu dilunasi.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنْ أَحَاطَ الدَّيْنُ بِجَمِيعِ التَّرِكَةِ، لَمْ يَمْلِكُوهَا إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ وَإِنْ أَحَاطَ بِبَعْضِ التَّرِكَةِ مَلَكُوهَا جَمِيعًا، قَبْلَ قَضَائِهِ مَعَ مُوافَقَتِهِمَا، أَنَّ لِلْوَرَثَةِ قَضَاءَ الدَّيْنِ مِنَ التَّرِكَةِ، وَمِنْ غَيْرِ التَّرِكَةِ، وَاسْتَدَلَّا عَلَى أَنَّ الدَّيْنَ مَانِعٌ مِنْ مِلْكِ الْوَرَثَةِ لِلتَّرِكَةِ، إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ، وَتَأْثِيرُ هَذَا الْخِلَافِ يَكُونُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Abu Hanifah berkata: Jika utang meliputi seluruh harta warisan, maka para ahli waris tidak memilikinya kecuali setelah utang tersebut dilunasi. Namun jika utang hanya meliputi sebagian harta warisan, maka mereka memiliki seluruh harta warisan itu sebelum utang dilunasi, dengan syarat mereka sepakat bahwa para ahli waris boleh melunasi utang dari harta warisan maupun dari selain harta warisan. Mereka berdua berdalil bahwa utang merupakan penghalang bagi kepemilikan ahli waris atas harta warisan, kecuali setelah utang tersebut dilunasi. Pengaruh perbedaan pendapat ini terjadi dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: مَا يَحْدُثُ فِي التَّرِكَةِ مِنَ النَّمَاءِ قَبْلَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، كَالثَّمَرَةِ، وَالنَّتَاجِ وَأُجُورِ الْعَقَارِ، وَكَسْبِ الْعَبِيدِ، يَكُونُ مِلْكًا لِلْوَرَثَةِ عَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَهُمْ مَالِكِينَ لِلتَّرِكَةِ، لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ قَضَاءُ الدَّيْنُ وَيَكُونُ مَضْمُومًا إِلَى التَّرِكَةِ عَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَهُمْ غَيْرَ مَالِكِينَ لَهَا فِي قَوْلِ مَنْ جَعَلَهَا بَاقِيَةً عَلَى مِلْكِ الْمَيِّتِ لِيَتَعَلَّقَ بِهَا قَضَاءُ الدَّيْنِ.

Pertama: Apa yang terjadi pada harta warisan berupa pertambahan sebelum pelunasan utang, seperti buah-buahan, hasil ternak, upah dari properti, dan penghasilan budak. Hal ini menjadi milik para ahli waris menurut pendapat yang menyatakan bahwa mereka adalah pemilik harta warisan; sehingga pelunasan utang tidak terkait dengannya. Namun, menurut pendapat yang menyatakan bahwa mereka bukan pemilik harta warisan, maka pertambahan tersebut dianggap sebagai bagian dari harta warisan, menurut pendapat yang menyatakan bahwa harta warisan tetap menjadi milik mayit agar pelunasan utang tetap terkait dengannya.

وَالثَّانِي: مَا يَجِبُ فِيهِ مِنْ زَكَاةِ الْأَعْيَانِ وَفِطْرَةِ الْعَبِيدِ، وَنَفَقَاتُهُمْ تَكُونُ عَلَى الْوَرَثَةِ فِي قَوْلِ مَنْ جَعَلَهُمْ مَالِكِينَ لِلتَّرِكَةِ، وَتَكُونُ فِي التَّرِكَةِ عَلَى قَوْلِ مَنْ لَمْ يَجْعَلْهُمْ مَالِكِينَ لِلتَّرِكَةِ.

Kedua: Apa yang wajib dikeluarkan darinya berupa zakat atas harta benda dan zakat fitrah bagi para budak, serta nafkah mereka menjadi tanggungan para ahli waris menurut pendapat yang menjadikan mereka sebagai pemilik harta warisan, dan menjadi tanggungan harta warisan menurut pendapat yang tidak menjadikan mereka sebagai pemilik harta warisan.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ جَعَلَ الدَّيْنَ مَانِعًا مِنْ مِلْكِ الْوَرَثَةِ لِلتَّرِكَةِ، إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ بِقَوْلِ اللَّهُ تَعَالَى: {يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ} إِلَى قَوْله تَعَالَى: {مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ} [النساء: 11] ، وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ فِي التَّرِكَةِ أَبُ الْوَارِثِ لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ قَبْلَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، مِثْلَ أَنْ يَكُونَ الْمَيِّتُ مَلَكَ عَمَّهُ، وَخَلَّفَ ابْنَ عَمِّهِ حُرًّا، وَأَبَاهُ مَمْلُوكًا فَلَا يُعْتَقُ عَلَى أَبِيهِ حَتَّى يَقْضِيَ الدَّيْنَ، فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ.

Orang yang berpendapat bahwa utang menjadi penghalang bagi ahli waris untuk memiliki harta warisan, kecuali setelah utang tersebut dilunasi, berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Allah mewasiatkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan,” hingga firman-Nya: “setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau (setelah dibayar) utangnya” (QS. an-Nisā’: 11). Selain itu, jika di dalam harta warisan terdapat ayah dari ahli waris, maka ia tidak akan merdeka sebelum utang dilunasi. Misalnya, jika si mayit memiliki pamannya, lalu meninggalkan anak paman yang merdeka dan ayahnya yang masih berstatus budak, maka ayahnya tidak akan merdeka sebelum utang dilunasi, setelah itu barulah ia merdeka.

وَلَوْ دَخَلَ فِي مِلْكِهِ قَبْلَ قَضَائِهِ، أُعْتِقَ عَلَيْهِ، وَهَذَا دَلِيلٌ يَمْنَعُ مِنْ دُخُولِ التَّرِكَةِ فِي مِلْكِ الْوَرَثَةِ قَبْلَ قَضَاءِ الدَّيْنِ. وَالدَّلِيلُ عَلَى انْتِقَالِ الْمِلْكِ إِلَى الْوَرَثَةِ قَبْلَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، أَنَّهُ لَمَّا كَانَ لِلْوَرَثَةِ مَنْعُ الْغُرَمَاءِ مِنْ أَعْيَانِ التَّرِكَةِ، وَقَضَاءُ الدُّيُونِ مِنْ أَمْوَالِهِمْ، دَلَّ ذَلِكَ عَلَى دُخُولِهَا في ملكهم، ولأنه الْوَرَثَةَ لَوْ لَمْ يَمْلِكُوا التَّرِكَةَ إِلَّا بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ، لَوَجَبَ إِذَا مَاتَ وَخَلَّفَ ابْنَيْنِ، وَمَاتَ أَحَدُهُمَا وَخَلَّفَ ابْنًا، ثُمَّ قَضَى الدَّيْنَ أَنْ تَكُونَ التَّرِكَةُ، لِلِابْنِ الْبَاقِي دُونَ ابْنِ الابن.

Dan jika seseorang memasuki kepemilikannya sebelum pelunasan utang, maka ia menjadi merdeka atasnya. Ini adalah dalil yang mencegah masuknya harta warisan ke dalam kepemilikan para ahli waris sebelum pelunasan utang. Adapun dalil yang menunjukkan berpindahnya kepemilikan kepada para ahli waris sebelum pelunasan utang adalah, ketika para ahli waris berhak mencegah para kreditur dari mengambil barang-barang warisan, dan pelunasan utang dilakukan dari harta mereka, hal itu menunjukkan bahwa harta warisan telah masuk ke dalam kepemilikan mereka. Karena jika para ahli waris tidak memiliki harta warisan kecuali setelah pelunasan utang, maka seandainya seseorang meninggal dan meninggalkan dua anak, lalu salah satu dari keduanya meninggal dan meninggalkan seorang anak, kemudian utang dilunasi, maka harta warisan itu hanya menjadi milik anak yang masih hidup, bukan milik cucu.

وفي انعقاد الإجماع على أنهما تَكُونُ لِلِابْنِ وَابْنِ الِابْنِ اعْتِبَارًا بِمَوْتِ الْمُورِّثِ دَلِيلٌ عَلَى انْتِقَالِ التَّرِكَةِ إِلَيْهِمْ بِمَوْتِهِ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْوَرَثَةُ أَحَقَّ بِاقْتِضَاءِ دُيُونِهِ مِنَ الْغُرَمَاءِ، وَكَانُوا أَوْلَى بِالتَّصَرُّفِ فِي التَّرِكَةِ مِنْهُمْ، وَهُمْ لَا يَتَصَرَّفُونَ إِلَّا بِحُكْمِ الْمِلْكِ، دَلَّ عَلَى انْتِقَالِهَا إِلَى مِلْكِهِمْ.

Dalam ijmā‘ yang menetapkan bahwa keduanya (warisan) menjadi milik anak dan cucu dengan memperhitungkan wafatnya pewaris, terdapat dalil bahwa harta warisan berpindah kepada mereka dengan kematian pewaris. Karena para ahli waris lebih berhak menagih utang pewaris dibandingkan para kreditur, dan mereka juga lebih berhak mengelola harta warisan daripada para kreditur, sementara mereka tidak dapat mengelola kecuali berdasarkan hukum kepemilikan, maka hal itu menunjukkan bahwa harta warisan telah berpindah ke dalam kepemilikan mereka.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دين} فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى الْمَنْعِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ.

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: {setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau utang}, maka maksudnya adalah larangan untuk melakukan tindakan terhadap hak-hak mereka sendiri kecuali setelah keduanya diselesaikan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْعِتْقِ، فَهُوَ أَنَّ الدَّيْنَ قَدْ أَوْقَعَ حَجْرًا عَلَيْهِ كَحَجْرِ الْمُرْتَهِنِ وَذَلِكَ مَانِعٌ مِنَ الْعِتْقِ مَعَ اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِ كَالرَّهْنِ.

Adapun jawaban mengenai pembebasan budak, maka sesungguhnya utang telah menyebabkan adanya pembatasan terhadapnya, seperti pembatasan pada orang yang menggadaikan, dan hal itu menjadi penghalang dari pembebasan budak meskipun kepemilikan telah tetap, sebagaimana pada gadai.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْمُقَدِّمَةُ فَصُورَةُ الْمَسْأَلَةِ فِي رَجُلٍ أَقَامَ شَاهِدًا وَاحِدًا بَالدَّيْنِ لَهُ، وَمَاتَ قَبْلَ حَلِفِهِ مَعَ شَاهِدِهِ فَلِوَارِثِهِ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ، وَيَسْتَحِقَّ دَيْنَهُ، لِأَنَّهُ يَقُومُ فِي التَّرِكَةِ مَقَامَ مَوْرُوثِهِ. فَإِنْ حَلَفَ وَعَلَى الْمَيِّتِ دُيُونٌ وَوَصَايَا قضى مِنْهُ دُيُونُهُ، وَنَفَذَتْ مِنْهُ وَصَايَاهُ وَإِنْ نَكَلَ الْوَرَثَةُ عَنْ الْيَمِينِ وَأَرَادَ الْغُرَمَاءُ، وَأَهْلُ الْوَصَايَا أَنْ يَحْلِفُوا مَعَ الشَّاهِدِ لِيَسْتَوْجِبُوهُ فِي دُيُونِهِمْ، وَوَصَايَاهُمْ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Setelah penjelasan ini ditetapkan, maka gambaran masalahnya adalah tentang seorang laki-laki yang menghadirkan satu orang saksi atas utangnya, lalu ia meninggal sebelum bersumpah bersama saksinya tersebut. Maka ahli warisnya berhak bersumpah bersama saksi itu, dan berhak mendapatkan utangnya, karena ia menempati posisi pewarisnya dalam harta warisan. Jika ia telah bersumpah, sementara si mayit memiliki utang dan wasiat, maka utangnya dibayarkan dari harta tersebut, dan wasiatnya pun dilaksanakan dari harta itu. Jika para ahli waris enggan bersumpah, lalu para kreditur dan ahli wasiat ingin bersumpah bersama saksi untuk menuntut hak mereka dalam utang dan wasiat mereka, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ يَجُوزُ لَهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا؛ وَيَسْتَحِقُّوا لِأَنَّ الْحَقَّ إِذَا ثَبَتَ صَارَ إِلَيْهِمْ، فَكَانُوا فِيهِ كَالْوَرَثَةِ.

Salah satunya: Ia mengatakannya dalam pendapat lama, dan itu adalah mazhab Malik, bahwa mereka boleh bersumpah; dan mereka berhak mendapatkannya karena jika hak itu telah tetap maka hak itu berpindah kepada mereka, sehingga mereka dalam hal ini seperti para ahli waris.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ، وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيْهِ فِي الْقَدِيمِ لَا يَجُوزُ لَهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا؛ لِأَنَّهُ لَوْ جَازَ أَنْ يَمْلِكُوا الدَّيْنَ بِأَيْمَانِهِمْ، لَجَازَ أَنْ يَسْقُطَ بِإِبْرَائِهِمْ، وَهُوَ لَا يَسْقُطُ لَوْ بَرِئُوا مِنْهُ، فَكَذَلِكَ لَا يَسْتَحِقُّ إِذَا حَلَفُوا عَلَيْهِ.

Pendapat kedua: Disebutkan dalam pendapat baru, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat dalam pendapat lama, bahwa tidak boleh bagi mereka untuk bersumpah; karena jika dibolehkan bagi mereka untuk memiliki hak atas utang dengan sumpah mereka, maka seharusnya boleh juga hak itu gugur dengan pembebasan mereka, padahal hak itu tidak gugur jika mereka dibebaskan darinya, maka demikian pula mereka tidak berhak atasnya jika mereka bersumpah atasnya.

وَلِأَنَّهُمْ لَوْ مَلَكُوا أَنْ يَحْلِفُوا عَلَيْهِ لَمَلَكُوا أَنْ يَدَّعُوهُ، وَدَعْوَاهُمْ مَرْدُودَةٌ، فَكَذَلِكَ أَيْمَانُهُمْ.

Dan karena jika mereka berhak untuk bersumpah atasnya, tentu mereka juga berhak untuk mengklaimnya, sedangkan klaim mereka ditolak, maka demikian pula sumpah mereka.

وَلِأَنَّ الدَّيْنَ لَوِ اسْتُحِقَّ بِأَيْمَانِهِمْ، لَجَازَ أَنْ يُمَلَّكَ الْوَرَثَةُ بِهَا، ما فضل عن ديونهم، ولجاز إذا أبرؤوا الْمَيِّتَ مِنْ دُيُونِهِمْ، بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ أَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ مِلْكًا لِلْوَرَثَةِ، وَفِي الْإِجْمَاعِ عَلَى أَنَّ الْوَرَثَةَ لَا يَمْلِكُونَهُ، دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمَيِّتَ لَمْ يَثْبُتْ لَهُ، وَلِأَنَّ الْوَرَثَةَ لَوْ أَكْذَبُوا الشَّاهِدَ وَصَدَّقَهُ الْغُرَمَاءُ، لَمْ يَكُنْ لِلْغُرَمَاءِ أَنْ يَحْلِفُوا مَعَهُ، وَلَوْ صَدَّقَهُ الْوَرَثَةُ وَكَذَّبَهُ الْغُرَمَاءُ كَانَ لِلْوَرَثَةِ أَنْ يَحْلِفُوا مَعَهُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مِلْكَ الدَّيْنِ الْمَحْلُوفِ عَلَيْهِ لِلْوَرَثَةِ دُونَ الْغُرَمَاءِ.

Dan karena jika utang itu dapat ditetapkan dengan sumpah mereka, niscaya boleh bagi para ahli waris untuk memilikinya dengan sumpah tersebut, atas sisa dari utang-utang mereka. Dan jika mereka membebaskan mayit dari utang-utang mereka setelah sumpah mereka, niscaya hal itu menjadi milik para ahli waris. Dan dalam ijmā‘ atas bahwa para ahli waris tidak memilikinya, terdapat dalil bahwa mayit tidak tetap memilikinya. Dan jika para ahli waris mendustakan saksi dan para kreditur membenarkannya, maka para kreditur tidak berhak bersumpah bersamanya. Namun jika para ahli waris membenarkannya dan para kreditur mendustakannya, maka para ahli waris berhak bersumpah bersamanya. Maka ini menunjukkan bahwa kepemilikan atas utang yang disumpahkan itu adalah milik para ahli waris, bukan para kreditur.

وَهَكَذَا لَوِ ادَّعَى وَرَثَةُ الْمَيِّتِ دَيْنًا عَلَى مُنْكِرٍ، وَنَكَلَ الْمُنْكِرُ عَنْ الْيَمِينِ فَرُدَّتْ عَلَى الْوَرَثَةِ فَلَمْ يَحْلِفُوا وَأَجَابَ غُرَمَاءُ الْمَيِّتِ إِلَى الْيَمِينِ فَفِي إِحْلَافِهِمْ قَوْلَانِ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَاهُ.

Demikian pula, jika para ahli waris orang yang telah meninggal mengklaim adanya utang atas seseorang yang mengingkarinya, lalu orang yang mengingkari tersebut menolak bersumpah, maka sumpah itu dialihkan kepada para ahli waris. Jika para ahli waris tidak bersumpah, kemudian para kreditur si mayit meminta untuk bersumpah, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan mereka bersumpah, dengan alasan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وَهَكَذَا غُرَمَاءُ الْمُفْلِسِ إِذَا أَقَامَ شَاهِدًا بَدَيْنٍ وَلَمْ يَحْلِفْ مَعَهُ وَأَجَابَ غُرَمَاؤُهُ إِلَى اليمين لمراجع أوردت يَمِينَ النُّكُولِ عَلَيْهِ فَلَمْ يَحْلِفْ وَأَجَابَ غُرَمَاؤُهُ إِلَيْهَا فَفِي رَدِّهَا قَوْلَانِ:

Demikian pula para kreditur dari orang yang pailit, apabila salah satu dari mereka menghadirkan seorang saksi atas adanya utang namun tidak bersumpah bersamanya, lalu para kreditur lainnya menerima untuk bersumpah, menurut referensi yang menyebutkan sumpah nukul (sumpah karena penolakan) atasnya, kemudian ia tidak bersumpah dan para kreditur lainnya menerima untuk bersumpah, maka dalam hal pengembalian sumpah tersebut terdapat dua pendapat.

فَأَمَّا إِذَا وَصَّى الْمَيِّتُ بِعَيْنٍ قَائِمَةٍ فِي يَدِ زَيْدٍ، وَوَصَّى بِهَا لِعَمْرٍو فَأَنْكَرَهَا زَيْدٌ، وَنَكَلَ عَنْ الْيَمِينِ فردت اليمين عَلَى الْوَرَثَةِ، فَإِنْ حَلَفُوا اسْتُحِقَّتِ الْعَيْنُ، وَدُفِعَتْ إِلَى الْمُوصَى لَهُ، وَإِنْ نَكَلُوا وَأَجَابَ الْمُوصَى لَهُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا، فَخَرَّجَهُ بَعْضُهُمْ عَلَى قَوْلَيْنِ، كَالدُّيُونِ.

Adapun jika seseorang yang meninggal berwasiat tentang suatu barang tertentu yang ada di tangan Zaid, dan ia mewasiatkannya kepada Amr, lalu Zaid mengingkari barang tersebut dan menolak bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada para ahli waris. Jika mereka bersumpah, barang tersebut menjadi hak mereka dan diserahkan kepada penerima wasiat. Namun jika mereka menolak dan penerima wasiat bersedia bersumpah atasnya, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka mengeluarkan dua pendapat, sebagaimana dalam kasus utang.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِلْمُوصَى لَهُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهَا، وَيَسْتَحِقَّهَا قَوْلًا وَاحِدًا بِخِلَافِ الدُّيُونِ لِأَنَّ الْأَعْيَانَ مُخَالِفَةٌ لِلدُّيُونِ لِسُقُوطِ حُقُوقِ الْوَرَثَةِ مِنَ الْأَعْيَانِ وَبِثُبُوتِهِ فِي الدين، لِأَنَّ لَهُمْ قَضَاءَ الدَّيْنِ مِنْ غَيْرِ التَّرِكَةِ، وَلَيْسَ لَهُمْ إِبْدَالُ الْوَصِيَّةِ بِغَيْرِ الْعَيْنِ.

Sebagian ulama berpendapat: bagi penerima wasiat boleh bersumpah atasnya, dan ia berhak mendapatkannya secara mutlak, berbeda dengan utang, karena harta benda berbeda dengan utang. Hak ahli waris gugur dari harta benda, sedangkan pada utang hak mereka tetap ada, karena mereka dapat melunasi utang dari selain harta warisan, dan mereka tidak boleh mengganti wasiat dengan selain harta benda yang diwasiatkan.

وَعَلَى هَذَا لَوِ اخْتَلَفُوا فِي الْجَارِيَةِ الْمَرْهُونَةِ، إِذَا أَحْبَلَهَا الرَّاهِنُ وَادَّعَى وَطْأَهَا بِإِذْنِ الْمُرْتَهِنِ، وَأَنْكَرَ الْمُرْتَهِنُ الْإِذْنَ فَجَعَلَ الْقَوْلَ قَوْلَ الْمُرْتَهِنِ مَعَ يَمِينِهِ، فِي إِنْكَارِ الْإِذْنِ، فَلَمْ يَحْلِفْ فَرُدَّتْ اليمين عَلَى الرَّاهِنِ فَلَمْ يَحْلِفْ وَأَجَابَتِ الْجَارِيَةُ الْمَرْهُونَةُ إِلَى أَنْ تَحْلِفَ فَخَرَّجَهَا أَكْثَرُ أَصْحَابِنَا عَلَى قَوْلَيْنِ، وَجَوَّزَ بَعْضُهُمْ أَنْ تَحْلِفَ قَوْلًا وَاحِدًا لِتَعْيِينِ حَقِّهَا فِي مَصِيرِهَا أُمَّ وَلَدٍ لِسَيِّدِهَا.

Berdasarkan hal ini, jika terjadi perbedaan pendapat mengenai budak perempuan yang digadaikan, ketika si penggadai menghamilinya dan mengaku telah menggaulinya dengan izin penerima gadai, lalu penerima gadai mengingkari adanya izin tersebut, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat penerima gadai dengan sumpahnya dalam mengingkari izin tersebut. Jika ia tidak bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada penggadai, dan jika penggadai juga tidak bersumpah, lalu budak perempuan yang digadaikan bersedia untuk bersumpah, maka mayoritas ulama kami mengeluarkan dua pendapat dalam hal ini. Sebagian dari mereka membolehkan budak perempuan tersebut bersumpah dalam satu pendapat saja, karena penetapan haknya dalam statusnya sebagai umm walad bagi tuannya.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ شَاهِدًا أَنَّهُ سَرَقَ لَهُ مَتَاعًا مِنْ حِرْزٍ يُسَاوِي مَا تُقْطَعُ فِيهِ الْيَدُ حَلَفَ مَعَ شَاهِدِهِ وَاسْتَحَقَّ وَلَا يُقْطَعُ لِأَنَّ الْحَدَّ لَيْسَ بِمَالٍ كَرَجُلٍ قَالَ امْرَأَتِي طَالِقٌ وَعَبْدِي حُرٌّ إِنْ كُنْتُ غَصَبْتُ فُلَانًا هَذَا الْعَبْدَ فَيَشْهَدُ لَهُ عَلَيْهِ بِغَصْبِهِ شَاهِدٌ فَيَحْلِفُ وَيَسْتَحِقُّ الْغَصْبَ وَلَا يَثْبُتُ عَلَيْهِ طَلَاقٌ وَلَا عِتْقٌ لِأَنَّ حُكْمَ الْحِنْثِ غَيْرُ حُكْمِ الْمَالِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang menghadirkan seorang saksi bahwa ada orang yang mencuri barang miliknya dari tempat yang terjaga, dan nilainya setara dengan nilai yang menyebabkan tangan dipotong, maka ia bersumpah bersama saksinya dan berhak mendapatkan barang tersebut, namun pencuri tidak dipotong tangannya, karena ḥadd bukanlah perkara harta. Seperti halnya seseorang berkata, ‘Istriku tertalak dan budakku merdeka jika aku telah merampas budak ini dari si Fulan,’ lalu ada seorang saksi yang bersaksi atas perampasan tersebut, maka ia bersumpah dan berhak atas harta rampasan itu, namun talak dan pembebasan budak tidak berlaku atasnya, karena hukum pelanggaran sumpah berbeda dengan hukum harta.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَقَدْ ثَبَتَ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّ الشَّاهِدَ وَالْيَمِينَ يُحْكَمُ بِهِ فِي الْأَمْوَالِ دُونَ الْحُدُودِ، فَإِذَا ادَّعَى سَرِقَةَ مَالٍ يُوجِبُ الْقَطْعَ، وَأَقَامَ عَلَيْهَا شَاهِدًا، وَيَمِينًا وَجَبَ الْغُرْمُ، وَسَقَطَ الْقَطْعُ لِأَنَّ الْغُرْمَ مَالٌ وَالْقَطْعَ حَدٌّ، وَلَا يَمْتَنِعُ، إِذَا اجْتَمَعَ فِي الدَّعْوَى أَنْ يَجْرِيَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُكْمُهُ لَوِ انْفَرَدَ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَثْبُتَ الْغُرْمُ دُونَ الْقَطْعِ إِذَا سَرَقَ مِنْ غَيْرِ حِرْزٍ، أَوْ سَرَقَ أَقَلَّ مِنْ نِصَابٍ.

Al-Mawardi berkata: Telah tetap dalam mazhab kami bahwa kesaksian dan sumpah dapat dijadikan dasar hukum dalam perkara harta, namun tidak dalam perkara hudud. Maka, jika seseorang mengaku telah terjadi pencurian harta yang mewajibkan hukuman potong tangan, lalu ia menghadirkan satu orang saksi dan bersumpah, maka wajib diganti rugi, namun hukuman potong tangan gugur. Sebab, ganti rugi adalah perkara harta, sedangkan potong tangan adalah hudud. Tidaklah mengapa jika dalam satu gugatan terkumpul dua hal, lalu masing-masing diberlakukan hukum yang berlaku seandainya berdiri sendiri. Boleh jadi, ganti rugi dapat ditetapkan tanpa potong tangan, seperti jika pencurian terjadi bukan dari tempat penyimpanan yang aman, atau jika yang dicuri kurang dari nisab.

وَيَجُوزُ أَنْ يَثْبُتَ الْقَطْعُ دُونَ الْغُرْمِ، إِذَا وُهِبَتْ لَهُ السَّرِقَةُ فَلَمْ يَمْتَنِعْ أَنْ يُثْبِتَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ الْغُرْمَ دُونَ الْقَطْعِ.

Dan boleh saja penetapan hukuman potong tangan berlaku tanpa kewajiban ganti rugi, jika barang curian itu dihibahkan kepadanya, maka tidak mustahil untuk menetapkan kewajiban ganti rugi dengan satu saksi dan sumpah, tanpa menetapkan hukuman potong tangan.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلَّا أَوْجَبْتُمْ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِي قَتْلِ الْعَمْدِ الدِّيَةَ، دُونَ الْقَوَدِ، لِأَنَّ الدِّيَةَ مَالٌ، وَالْقَوَدُ حَدٌّ، كَمَا أَوْجَبْتُمْ بِهِ فِي السَّرِقَةِ الْغُرْمَ، دُونَ الْقَطْعِ قِيلَ: لِفَرْقَيْنِ مَنَعَا مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا:

Jika dikatakan: “Mengapa kalian tidak mewajibkan dengan saksi dan sumpah dalam kasus pembunuhan sengaja berupa diyat, bukan qishāsh, karena diyat adalah harta, sedangkan qishāsh adalah hudud, sebagaimana kalian mewajibkan dengan itu dalam kasus pencurian berupa ganti rugi, bukan potong tangan?” Maka dijawab: “Ada dua perbedaan yang mencegah untuk menyamakan antara keduanya.”

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْمَالَ فِي السَّرِقَةِ أَصْلٌ وَالْقَطْعَ فَرْعٌ فَجَازَ أَنْ يَثْبُتَ حُكْمُ الْأَصْلِ مَعَ سُقُوطِ فَرْعِهِ، وَالْقَوَدُ فِي الْقَتْلِ أَصْلٌ، وَالدِّيَةُ فَرْعٌ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَثْبُتَ حُكْمٌ لِلْفَرْعِ مَعَ سُقُوطِ أَصْلِهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya harta dalam kasus pencurian adalah pokok, sedangkan hukuman potong tangan adalah cabang, sehingga boleh saja hukum pokok tetap berlaku meskipun cabangnya gugur. Sedangkan qishāsh dalam kasus pembunuhan adalah pokok, dan diyat adalah cabang, maka tidak boleh hukum cabang tetap berlaku jika pokoknya gugur.

وَالثَّانِي: إِنَّ فِي قَتْلِ الْعَمْدِ قَوْلَيْنِ:

Kedua: Dalam kasus pembunuhan sengaja terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلْقَوَدِ، وَأَنَّ الدِّيَةَ تَجِبُ بِالْعَفْوِ عَنِ الْقَوَدِ، وَاخْتِيَارِ الدِّيَةِ، فَلِذَلِكَ لَمْ يَسْتَحِقَّ الدِّيَةَ إِلَّا مَنْ يَسْتَحِقُّ الْقَوَدَ.

Salah satunya: bahwa hal itu mewajibkan qisas, dan diyat menjadi wajib jika ada pemaafan terhadap qisas dan memilih diyat. Oleh karena itu, yang berhak mendapatkan diyat hanyalah orang yang berhak mendapatkan qisas.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّ قَتْلَ الْعَمْدِ مُوجِبٌ لِأَحَدِ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْقَوَدِ أَوِ الدِّيَةِ، وَأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَدَلٌ عَنِ الْآخَرِ يَكُونُ مُسْتَحِقُّهُ مُخَيَّرًا فِي أَحَدِهِمَا فَإِذَا امْتَنَعَ اسْتِحْقَاقُهُمَا، وَثُبُوتُ الْخِيَارِ فِيهِمَا امْتَنَعَ وُجُوبُ أَحَدِهِمَا. وَهَذَانِ الْأَمْرَانِ مَعْدُومَانِ فِي السَّرِقَةِ لِجَوَازِ ثُبُوتِ الْغُرْمِ دُونَ الْقَطْعِ، وَثُبُوتِ الْقَطْعِ دُونَ الْغُرْمِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya pembunuhan sengaja mewajibkan salah satu dari dua hal, yaitu qishāsh atau diyat, dan masing-masing dari keduanya merupakan pengganti bagi yang lain, sehingga pihak yang berhak dapat memilih salah satunya. Maka jika tidak ada yang berhak atas keduanya, dan pilihan atas keduanya tidak tetap, maka tidak wajib salah satunya. Kedua hal ini tidak terdapat dalam kasus pencurian, karena dimungkinkan adanya kewajiban ganti rugi tanpa hukuman potong tangan, dan dimungkinkan pula adanya hukuman potong tangan tanpa kewajiban ganti rugi.

وَقَدْ أَوْضَحَ الشَّافِعِيُّ ذَلِكَ بِمِثَالٍ ضَرَبَهُ فِي رَجُلٍ ادَّعَى عَبْدًا فِي يَدِ رَجُلٍ غَصَبَهُ عَلَيْهِ، فَحَلَفَ الْمُدَعَّى عَلَيْهِ بِالْعِتْقِ وَالطَّلَاقِ أَنَّهُ مَا غَصَبَهُ الْعَبْدَ الَّذِي ادَّعَاهُ، فَإِنْ أَقَامَ مُدَّعِي الْغَصْبِ شَاهِدَيْنِ حُكِمَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِالْغَصْبِ، وَحُكِمَ عَلَيْهِ بِالْحِنْثِ فِي الطَّلَاقِ، وَالْعَتَاقِ، وَلَوْ أَقَامَ عَلَيْهِ شَاهِدًا وَامْرَأَتَيْنِ أَوْ شَاهِدًا وَيَمِينًا حُكِمَ عَلَيْهِ بِالْغَصْبِ، وَلَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِالْحِنْثِ فِي الطلاق والعتاق، ولأن الْغَصْبَ مَالٌ، وَالطَّلَاقَ وَالْعِتْقَ لَيْسَا بِمَالٍ.

Syafi‘i telah menjelaskan hal itu dengan sebuah contoh yang ia kemukakan tentang seorang laki-laki yang mengklaim seorang budak yang berada di tangan orang lain yang telah merampasnya darinya. Lalu orang yang dituduh bersumpah dengan sumpah pembebasan budak dan talak bahwa ia tidak merampas budak yang diklaim tersebut. Jika pengklaim perampasan menghadirkan dua orang saksi, maka diputuskan atas orang yang dituduh bahwa ia telah melakukan perampasan, dan diputuskan pula bahwa ia melanggar sumpah dalam hal talak dan pembebasan budak. Namun, jika ia hanya menghadirkan satu orang saksi dan dua perempuan, atau satu saksi dan satu sumpah, maka diputuskan atasnya bahwa ia telah melakukan perampasan, tetapi tidak diputuskan bahwa ia melanggar sumpah dalam hal talak dan pembebasan budak, karena perampasan berkaitan dengan harta, sedangkan talak dan pembebasan budak bukanlah harta.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَذَكَرَ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ إِذَا عَمَدَ الرامي بسهمه إِنْسَانًا، فَأَصَابَهُ، وَنَفَذَ السَّهْمُ مِنَ الْأَوَّلِ إِلَى آخَرَ، فَأَصَابَهُ أَنَّ الْأَوَّلَ عَمْدٌ يُوجِبُ الْقَوَدَ. وَالثَّانِي خَطَأٌ يُوجِبُ الدِّيَةَ دُونَ الْقَوَدِ.

Syafi‘i menyebutkan dalam kitab Al-Umm: Jika seseorang sengaja membidikkan anak panahnya kepada seseorang, lalu mengenainya, dan anak panah itu menembus orang pertama hingga mengenai orang kedua, maka pada orang pertama dihukumi sebagai pembunuhan sengaja yang mewajibkan qishāsh. Sedangkan pada orang kedua dihukumi sebagai pembunuhan tidak sengaja yang mewajibkan pembayaran diyat tanpa qishāsh.

فَإِنِ ادُّعِيَتْ هَذِهِ الْجِنَايَةُ عَلَى إِنْسَانٍ فَأَنْكَرَهَا، وَأَقَامَ مُدَّعِيهَا شَاهِدًا وَيَمِينًا، فَإِنْ كَانَ الْعَمْدُ مِمَّا يَسْقُطُ فِيهِ الْقَوَدُ، لِأَنَّهُ مِنْ وَالِدٍ عَلَى وَلَدٍ، وَمِنْ حُرٍّ عَلَى عَبْدٍ أَوْ مِنْ مُسْلِمٍ عَلَى كَافِرٍ ثَبَتَتِ الْجِنَايَتَانِ مَعًا، بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِاجْتِمَاعِهِمَا فِي وُجُوبِ الدِّيَةِ دُونَ الْقَوَدِ، فَإِنْ كَانَ الْعَمْدُ مُوجِبًا لِلْقَوَدِ لَمْ يَثْبُتْ حُكْمُ الْعَمْدِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَفِي وُجُوبِ الْخَطَأِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ قَوْلَانِ:

Jika tuduhan jinayah ini diarahkan kepada seseorang lalu ia mengingkarinya, kemudian pihak yang menuduh mendatangkan satu saksi dan sumpah, maka jika jinayah ‘amdan (sengaja) tersebut termasuk yang tidak dikenakan qishash—karena dilakukan oleh orang tua terhadap anak, atau oleh orang merdeka terhadap budak, atau oleh Muslim terhadap kafir—maka kedua jinayah (sengaja dan tidak sengaja) sama-sama dapat ditetapkan dengan saksi dan sumpah, karena keduanya sama-sama mewajibkan pembayaran diyat, bukan qishash. Namun, jika jinayah ‘amdan tersebut mewajibkan qishash, maka hukum ‘amdan tidak dapat ditetapkan hanya dengan saksi dan sumpah. Adapun mengenai kewajiban jinayah khatha’ (tidak sengaja) dengan saksi dan sumpah dalam kasus ini, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَثْبُتُ بِهِ حُكْمُهُ، لِاخْتِصَاصِهِ بِالْمَالِ.

Salah satunya: dengannya ditetapkan hukumnya, karena kekhususannya dalam hal harta.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يَثْبُتُ بِهِ حُكْمُهُ، لِأَنَّهُ حَدَثَ عَنْ عَمْدٍ سَقَطَ حُكْمُهُ، فَسَقَطَ بِهِ حُكْمُ مَا حَدَثَ عَنْهُ، وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ لِجَوَازِ انْفِرَادِ كُلِّ واحد منهما بحكمه.

Pendapat kedua: Hukumnya tidak ditetapkan dengannya, karena itu terjadi secara sengaja sehingga hukumnya gugur, maka gugur pula hukum dari apa yang terjadi karenanya. Namun pendapat pertama lebih benar, karena dimungkinkan masing-masing dari keduanya memiliki hukum tersendiri.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ شَاهِدًا عَلَى جَارِيَةٍ أَنَّهَا لَهُ وَابْنَهَا وَلَدٌ مِنْهُ حَلَفَ وَقُضِيَ لَهُ بِالْجَارِيَةِ وَكَانَتْ أُمَّ وَلَدِهِ بِإِقْرَارِهِ لِأَنَّ أُمَّ الْوَلَدِ مَمْلُوكَةٌ وَلَا يُقْضَى لَهُ بِالابْنِ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهُ عَلَى أَنَّهُ ابْنُهُ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ: وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ يَأْخُذُهَا وَوَلَدَهَا ويكون ابنه (قال المزني) رحمه الله: وهذا أشبه بقوله الآتي لَمْ يختلف وَهُوَ قَوْلُهُ لَوْ أَقَامَ شَاهِدًا عَلَى عَبْدٍ فِي يَدَيْ رَجُلٍ يَسْتَرِقُّهُ أَنَّهُ كَانَ عَبْدًا لَهُ فَأَعْتَقَهُ ثُمَّ غَصَبَهُ هَذَا بَعْدَ الْعِتْقِ حَلَفَ وَأَخَذَهُ وَكَانَ مَوْلًى لَهُ (قال المزني) رحمه الله: فهو لا يأخذه مولاه على أنه يسترقه كما أنه لا يأخذ ابنه على أنه يسترقه فإذا أجازه في المولى لزمه في الابن “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan seorang saksi atas seorang budak perempuan bahwa ia adalah miliknya dan anaknya adalah anak darinya, maka ia bersumpah dan diputuskan budak perempuan itu menjadi miliknya, dan budak perempuan itu menjadi umm walad-nya berdasarkan pengakuannya, karena umm walad adalah budak, dan tidak diputuskan anak itu menjadi miliknya karena ia tidak memilikinya sebagai anaknya.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Dan beliau berkata di tempat lain: ia mengambil budak perempuan itu dan anaknya, dan anak itu menjadi anaknya.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Dan ini lebih mirip dengan pendapat beliau yang lain yang tidak ada perbedaan, yaitu pendapat beliau: jika seseorang mendatangkan saksi atas seorang budak laki-laki yang berada di tangan seseorang yang memperbudaknya, bahwa budak itu dulu adalah budaknya, lalu ia memerdekakannya, kemudian orang ini merampasnya setelah dimerdekakan, maka ia bersumpah dan mengambilnya, dan budak itu menjadi maulā baginya.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Maka maulā itu tidak mengambilnya sebagai budak, sebagaimana ia tidak mengambil anaknya sebagai budak. Jika hal itu dibolehkan pada maulā, maka wajib pula pada anak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي جَارِيَةٍ وَلَدَتْ وَلَدًا فِي يَدَيْ رَجُلٍ يَسْتَرِقُّهُمَا، فَادَّعَاهَا وَوَلَدَهَا مُدَّعٍ فَلَهُ فِي دَعْوَاهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang budak perempuan yang melahirkan anak saat berada dalam kekuasaan seorang laki-laki yang memperbudak keduanya. Kemudian ada seseorang yang mengaku bahwa budak perempuan itu dan anaknya adalah miliknya. Maka dalam pengakuannya itu terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا: أَنْ يَدَّعِيَهَا مِلْكًا لِنَفْسِهِ، فَيُحْكَمَ لَهُ فِيهَا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، لِاخْتِصَاصِ الدَّعْوَى بِالْمِلْكِ.

Salah satunya: apabila seseorang mengakuinya sebagai miliknya sendiri, maka diputuskan hak atasnya baginya dengan satu saksi dan sumpah, karena klaim tersebut khusus mengenai kepemilikan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَدَّعِيَ أَنَّهَا حُرَّةٌ تَزَوَّجَهَا، وَأَنَّ وَلَدَهَا ابْنُهُ مِنْهَا، حُرٌّ، لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ رِقٌّ، فَلَا يُحْكَمُ لَهُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، حَتَّى يَشْهَدَ لَهُ شَاهِدَانِ بِدَعْوَاهُ، لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ حُرِّيَّةً وَزَوْجِيَّةً وَنَسَبًا.

Keadaan kedua: yaitu seseorang mengaku bahwa perempuan itu adalah wanita merdeka yang dinikahinya, dan bahwa anaknya adalah anaknya dari perempuan tersebut, seorang yang merdeka, yang tidak pernah mengalami perbudakan. Maka tidak dapat diputuskan hukum baginya hanya dengan satu saksi dan sumpah, hingga ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atas pengakuannya, karena pengakuan tersebut mencakup unsur kemerdekaan, pernikahan, dan nasab.

وَالشَّهَادَةُ بِحُرِّيَّتِهَا بَيِّنَةٌ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ وَالشَّهَادَةُ بِالزَّوْجِيَّةِ بَيِّنَةٌ عَلَيْهَا إِنْ كَانَتْ مُعْتَرِفَةً بِحُرِّيَّتِهَا، وَإِنْ لَمْ تَعْتَرِفْ بِحُرِّيَّتِهَا كَانَتْ بَيِّنَةً عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ، وَتُسْمَعُ الْبَيِّنَةُ بِحُرِّيَّتِهَا، وَإِنْ لَمْ تَدَّعِيهَا لِمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ صِحَّةِ نِكَاحِ الْمُدَّعِي، وَحُرِّيَّةِ وَلَدِهِ مِنْهَا، وَالشَّهَادَةُ بِنَسَبِ الْوَلَدِ بَيِّنَةٌ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ وَالْوَلَدِ.

Kesaksian tentang kemerdekaannya merupakan bukti terhadap pemilik kekuasaan (atas dirinya), dan kesaksian tentang status pernikahan merupakan bukti terhadap dirinya jika ia mengakui kemerdekaannya. Namun jika ia tidak mengakui kemerdekaannya, maka kesaksian tersebut menjadi bukti terhadap pemilik kekuasaan. Bukti tentang kemerdekaannya dapat diterima meskipun ia tidak mengakuinya, karena hal itu berkaitan dengan keabsahan pernikahan pihak yang mengklaim, serta kemerdekaan anak yang lahir darinya. Kesaksian tentang nasab anak merupakan bukti terhadap pemilik kekuasaan dan terhadap anak tersebut.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ أَنْ يَدَّعِيَ أَنَّهَا كَانَتْ أَمَتَهُ، وَأَنَّهُ أَوْلَدَهَا هَذَا الْوَلَدَ، فَصَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ، فَتَعَلَّقَ بِدَعْوَاهُ فِي الْأُمِّ حُكْمَانِ:

Keadaan ketiga, yaitu masalah kitab, adalah ketika seseorang mengaku bahwa perempuan itu dahulu adalah budaknya, dan bahwa ia telah melahirkan anak ini darinya, sehingga perempuan itu menjadi umm walad karena anak tersebut. Maka, dari pengakuannya itu terkait ibu, terdapat dua hukum yang berkaitan.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا أَمَتُهُ.

Salah satunya: bahwa dia adalah budaknya.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا أُمُّ وَلَدِهِ، وَتَعَلَّقَ بِهَا فِي الْوَلَدِ حُكْمَانِ:

Kedua: Sesungguhnya ia adalah umm walad-nya, dan berkaitan dengannya dalam hal anak terdapat dua hukum:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ ابْنُهُ.

Salah satunya: bahwa dia adalah anaknya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ حُرٌّ، فَلَمْ يَخْتَلِفْ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُحْكَمُ لَهُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِي الْإِقْرَارِ أَنَّهَا أَمَتُهُ، وَأَنَّهَا أُمُّ وَلَدِهِ تُعْتَقُ عَلَيْهِ بِمَوْتِهِ، لِأَمْرَيْنِ:

Kedua: bahwa ia adalah seorang yang merdeka, maka tidak ada perbedaan dalam mazhab Syafi‘i bahwa diputuskan baginya dengan satu saksi dan sumpah dalam pengakuan bahwa perempuan itu adalah budaknya, dan bahwa perempuan itu adalah umm walad-nya yang akan merdeka karena kematiannya, karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ أَحْكَامَ الرِّقِّ جَارِيَةٌ عَلَيْهَا فِي اسْتِخْدَامِهَا وَالِاسْتِمْتَاعِ بِهَا وَإِجَارَتِهَا، وَتَمَلُّكِ مَنَافِعِهَا، وَأَخْذِ الْقِيمَةِ مِنْ قَاتِلِهَا وَالرِّقِّ قَالَ: ” وَيُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ “.

Pertama: Bahwa hukum-hukum perbudakan berlaku atasnya dalam hal pemanfaatan, penggunaan, penyewaan, kepemilikan manfaatnya, pengambilan nilai dari orang yang membunuhnya, dan perbudakan. Ia berkata: “Dan diputuskan hukum atasnya dengan satu saksi dan sumpah.”

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَمَّا حَرُمَ عَلَيْهِ بَيْعُهَا، صَارَ الْمِلْكُ وَالدَّعْوَى مَقْصُورَيْنِ عَلَى مَنَافِعِهَا، وَالْمَنَافِعُ فِي حُكْمِ الْأَمْوَالِ الْمَحْكُومِ بِهَا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Kedua: Ketika penjualannya diharamkan baginya, maka kepemilikan dan klaim hanya terbatas pada manfaatnya, dan manfaat itu dalam hukum dianggap sebagai harta yang dapat diputuskan (kepemilikannya) dengan saksi dan sumpah.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا لِاخْتِلَافِ هَذَا التَّعْلِيلِ: هَلْ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ بِالْبَيِّنَةِ أَوْ بِإِقْرَارِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat karena perbedaan alasan ini: apakah seorang perempuan menjadi umm walad dengan adanya bukti (bayyinah) atau dengan pengakuan tuannya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ مَنْصُوصُ الشَّافِعِيِّ: أَنَّهَا صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ بِإِقْرَارِهِ الشَّاهِدَ وَالْيَمِينَ، فَوَجَبَ تَمَلُّكُ رِقِّهَا.

Salah satunya, yang merupakan pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i, adalah bahwa perempuan tersebut menjadi umm walad berdasarkan pengakuan, kesaksian, dan sumpahnya, sehingga wajib dimiliki status perbudakannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهَا صَارَتْ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ أَمَتَهُ وَأُمَّ وَلَدِهِ، قَضَاءً بِالشَّهَادَةِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya, dengan adanya saksi dan sumpah, perempuan itu menjadi budak miliknya dan umm walad-nya, berdasarkan keputusan yang ditetapkan melalui kesaksian.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْوَلَدُ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Adapun mengenai anak, terdapat dua pendapat tentangnya.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَالْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي كُتُبِهِ، أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ لَهُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ مَا ادَّعَاهُ مِنْ نَسَبِهِ وَحُرِّيَّتِهِ، وَيَكُونُ فِي يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ عَلَى مَا يَذْكُرُهُ فِيهِ أَنَّهُ عَبْدُهُ أَوْ وَلَدُهُ مَعَ يَمِينِهِ، كَمَا لَوْ تَجَرَّدَتِ الدَّعْوَى عَنْ بَيِّنَةٍ إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ بِهَا شَاهِدَانِ، فَيُحْكَمَ لَهُ بِالنَّسَبِ وَالْحُرِّيَّةِ، لِأَنَّ الدَّعْوَى لَوِ انْفَرَدَتْ بِنَسَبِهِ وَبِحُرِّيَّتِهِ لَمْ يُحْكَمْ فِيهَا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَذَلِكَ إِذَا أَقَرَّ بِادِّعَاءِ أَمَتِهِ.

Salah satunya, yaitu pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi‘i dan yang dinyatakan dalam kitab-kitabnya, adalah bahwa tidak dapat ditetapkan baginya dengan satu saksi dan sumpah apa yang ia klaim berupa nasab dan kemerdekaannya. Maka, ia tetap berada dalam kekuasaan orang yang memegangnya, berdasarkan apa yang disebutkan bahwa ia adalah budaknya atau anaknya, beserta sumpahnya, sebagaimana jika klaim tersebut tidak disertai bukti kecuali jika ada dua orang saksi yang bersaksi, maka ditetapkan baginya nasab dan kemerdekaan. Karena jika klaim itu hanya berkaitan dengan nasab dan kemerdekaannya saja, tidak dapat diputuskan dengan satu saksi dan sumpah, demikian pula jika ia mengakui klaim terhadap budaknya perempuan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَحَكَّاهُ الْمُزَنِيُّ عَنْهُ، وَلَمْ يُوجَدْ فِي كُتُبِهِ أَنَّهُ يَصِيرُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ تَبَعًا لِأُمِّهِ فِي ثُبُوتِ نَسَبِهِ وَحُرِّيَّتِهِ، لِأَنَّهَا فِي الدَّعْوَى أَصْلٌ مَتْبُوعٌ، وَهُوَ فِيهَا فَرْعٌ تَابِعٌ، فَأَوْجَبَ ثُبُوتُ الْأَصْلِ ثُبُوتَ فَرْعِهِ، وَاسْتَشْهَدَ لَهُ الْمُزَنِيُّ بِمَا حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي رَجُلٍ ادَّعَى عَبْدًا فِي يَدِ رَجُلٍ لِيَسْتَرِقَّهُ أَنَّهُ كَانَ عَبْدَهُ، وَأَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَغَصَبَهُ صَاحِبُ الْيَدِ، بَعْدَ حُرِّيَّتِهِ، وَأَقَامَ بِمَا ادَّعَاهُ مِنَ الْمِلْكِ وَالْعِتْقِ شَاهِدًا وَيَمِينًا قُضِيَ لَهُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَإِنْ كَانَ مَقْصُودُ الدَّعْوَى اسْتِحْقَاقَ الْوَلَاءِ، لِأَنَّهُ تَابِعٌ لِدَعْوَى رِقٍّ وَعِتْقٍ. كَذَلِكَ دَعْوَى الْوَلَدِ، لِأَنَّهُ تَابِعٌ لِرِقِّ أُمِّهِ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حُكْمِ مَا اسْتَشْهَدَ بِهِ الْمُزَنِيُّ مِنْ دَعْوَى الْعَبْدِ الْمُعْتَقِ، فَكَانَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ يُسَوِّي بَيْنَهُمَا، وَلَا يُفَرِّقُ وَيَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ نَسَبِ الْوَلَدِ وَعِتْقِ الْعَبْدِ، وَإِنْ خَرَّجَ فِي نَسَبِ الْوَلَدِ قَوْلٌ ثَانٍ خَرَجَ فِي عِتْقِ الْعَبْدِ.

Pendapat kedua, yang dinukil oleh al-Muzani darinya, dan tidak ditemukan dalam kitab-kitabnya bahwa seseorang dapat menjadi ikut kepada ibunya dalam penetapan nasab dan kemerdekaannya dengan syahadah (kesaksian) dan sumpah, karena dalam gugatan, ibu adalah pokok yang diikuti, sedangkan anak adalah cabang yang mengikuti. Maka, penetapan pokok mewajibkan penetapan cabangnya. Al-Muzani menguatkan pendapat ini dengan apa yang ia nukil dari asy-Syafi‘i tentang seorang laki-laki yang mengklaim seorang budak yang berada di tangan seseorang untuk diperbudak, bahwa budak itu dahulu adalah miliknya, lalu ia memerdekakannya, kemudian orang yang memegang budak itu telah merampasnya setelah kemerdekaannya. Jika ia mendatangkan satu saksi dan bersumpah atas klaim kepemilikan dan pemerdekaan, maka diputuskan untuknya dengan saksi dan sumpah. Meskipun tujuan utama gugatan adalah memperoleh hak wala’, karena hak wala’ mengikuti gugatan perbudakan dan pemerdekaan. Demikian pula gugatan terhadap anak, karena ia mengikuti status perbudakan ibunya. Maka, para ulama kami berbeda pendapat mengenai hukum yang dijadikan dalil oleh al-Muzani dari gugatan budak yang telah dimerdekakan. Abu al-‘Abbas bin Suraij menyamakan keduanya, tidak membedakan dan tidak membolehkan penetapan nasab anak dan pemerdekaan budak, meskipun dalam penetapan nasab anak terdapat pendapat kedua yang juga muncul dalam pemerdekaan budak.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى تَصْحِيحِ مَا قَالَهُ الْمُزَنِيُّ فِي عِتْقِ الْعَبْدِ، وَفَرَّقُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَسَبِ الْوَلَدِ بِأَنَّ الْعَبْدَ قَدْ جَرَى عَلَيْهِ رِقٌّ يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَاسْتَصْحَبَ حُكْمُهُ فِيهِ، وَإِنْ عُتِقَ بِإِقْرَارِ مَالِكِهِ، وَالْوَلَدُ لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ رِقٌّ يَسْتَصْحِبُ حُكْمُهُ فِيهِ، فَتَجَرَّدَتْ دَعْوَاهُ بِإِثْبَاتِ النَّسَبِ الَّذِي لَا يُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Mayoritas ulama kami berpendapat membenarkan apa yang dikatakan oleh al-Muzani mengenai pembebasan budak, dan mereka membedakan antara hal itu dengan penetapan nasab anak, dengan alasan bahwa pada budak telah berlaku status perbudakan yang dapat ditetapkan dengan saksi dan sumpah, sehingga hukum tersebut tetap melekat padanya, meskipun ia dimerdekakan berdasarkan pengakuan tuannya. Adapun anak, tidak pernah berlaku atasnya status perbudakan yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukumnya, sehingga klaim penetapan nasab itu berdiri sendiri, yang tidak dapat diputuskan hanya dengan saksi dan sumpah.

فَأَمَّا التَّعْلِيلُ بِأَنَّ الْوَلَدَ تَابِعٌ لِأُمِّهِ، فَهُوَ وَإِنْ كَانَ تَابِعًا لَهَا فِي الْبُنُوَّةِ، فَهِيَ تَابِعَةٌ لَهُ فِي الْحُرِّيَّةِ، لِأَنَّهَا تُعْتَقُ بحريته.

Adapun alasan bahwa anak mengikuti ibunya, maka meskipun ia memang mengikuti ibunya dalam nasab, namun sang ibu mengikuti anaknya dalam hal kemerdekaan, karena ia menjadi merdeka dengan kemerdekaan anaknya.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ شَاهِدًا أَنْ أَبَاهُ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِهَذِهِ الدَّارِ صَدَقَةً مُحَرَّمَةً مَوْقُوفَةً وَعَلَى أَخَوَيْنِ لَهُ فَإِذَا انْقَرَضُوا فَعَلَى أَوْلَادِهِمْ أَوْ عَلَى الْمَسَاكِينِ فَمَنْ حَلَفَ مِنْهُمْ ثَبَتَ حَقُّهُ وَصَارَ ما بقي ميراثا فإن حلفوا معا خرجت الدار من ملك صاحبها إلى من جعلت له حياته ومضى الحكم فيها لهم فمن جاء بعدهم ممن وقفت عليه إذا ماتوا قام مقام الوارث وإن لم يحلف إلا واحد فنصيبه منها وهو الثلث صدقة على ما شهد به شاهده ثم نصيبه على من تصدق به أبوه عليه بعده أخويه فإن قال الذين تصدق به عليهم بعد الاثنين نحن نحلف على ما أبى أن يحلف عليه الاثنان ففيها قولان: أحدهما أنه لا يكون لهم إلا ما كان للاثنين قبلهم والآخر أن ذلك لهم من قبل أنهم إنما يملكون إذا حلفوا بعد موت الذي جعل لهم ملك إذا مات وهو أصح القولين وبه أقول والله أعلم “.

Imam Syafi‘i ra. berkata: “Jika seseorang menghadirkan seorang saksi bahwa ayahnya telah mewakafkan rumah ini kepadanya sebagai sedekah yang terlarang dan tergantung, serta kepada dua saudaranya, lalu jika mereka telah tiada maka kepada anak-anak mereka atau kepada orang-orang miskin, maka siapa pun di antara mereka yang bersumpah, haknya menjadi tetap dan sisanya menjadi warisan. Jika mereka semua bersumpah bersama, rumah itu keluar dari kepemilikan pemiliknya kepada orang yang dijadikan sebagai penerima selama hidupnya, dan hukum berlaku bagi mereka. Maka siapa pun yang datang setelah mereka dari orang-orang yang telah diwakafkan kepadanya, jika mereka telah wafat, maka ia menempati posisi ahli waris. Jika hanya satu orang yang bersumpah, maka bagiannya, yaitu sepertiga, menjadi sedekah sesuai dengan kesaksian saksinya, kemudian bagiannya itu diberikan kepada orang yang ayahnya sedekahkan kepadanya setelah kedua saudaranya. Jika orang-orang yang disedekahi setelah dua orang itu berkata, ‘Kami bersumpah atas apa yang enggan disumpahi oleh dua orang sebelumnya,’ maka ada dua pendapat: salah satunya, mereka hanya mendapatkan apa yang didapatkan oleh dua orang sebelum mereka; dan pendapat lainnya, hal itu menjadi hak mereka karena mereka baru memilikinya jika mereka bersumpah setelah wafatnya orang yang dijadikan sebagai pemilik ketika ia wafat, dan ini adalah pendapat yang paling sahih dan aku berpendapat demikian, wallahu a‘lam.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَمُقَدِّمَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ: هَلْ يَثْبُتُ الْوَقْفُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي انْتِقَالِ مَالِكِ الْوَقْفِ بَعْدَ زَوَالِ مِلْكِ الْوَاقِفِ عَنْهُ، فَأَحَدُ قَوْلَيْهِ نَصَّ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّهُ يَنْتَقِلُ إِلَى مِلْكِ الْوَقْفِ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ مَالِكٌ لِمَنَافِعِهِ، فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ مَالِكًا لِرَقَبَتِهِ.

Al-Mawardi berkata: Pendahuluan dari masalah ini adalah: Apakah wakaf dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, dan hal ini dibangun di atas perbedaan dua pendapat Imam Syafi‘i mengenai perpindahan kepemilikan harta wakaf setelah kepemilikan wakif atasnya hilang. Salah satu dari dua pendapat beliau, yang dinyatakan secara tegas dalam masalah ini, adalah bahwa kepemilikan tersebut berpindah kepada orang yang menerima wakaf, karena ia adalah pemilik manfaatnya, sehingga hal itu menuntut agar ia juga menjadi pemilik atas pokok harta tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الْوَقْفِ إِنَّهُ يَنْتَقِلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لَا إِلَى مَالِكٍ كَالْعِتْقِ الَّذِي بِوُجُودِهِ يَنْتَقِلُ الْمِلْكُ بِهِ مِنْ حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى لَا إِلَى مَالِكٍ وَلِمَنْ قَالَ بِالْأَوَّلِ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَقْفِ وَالْعِتْقِ بِأَنَّ الْوَقْفَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمِلْكِ فِي ضَمَانِهِ بِالْيَدِ وَغُرْمِ قِيمَتِهِ بِالْإِتْلَافِ وَالْعِتْقُ لَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْمِلْكِ، فَلَا يُضْمَنُ بِالتَّلَفِ، وَلَا تُغْرَمُ قِيمَتُهُ بِالْإِتْلَافِ.

Pendapat kedua: Dalam Kitab al-Waqf dinyatakan bahwa kepemilikan berpindah kepada Allah Ta‘ala, bukan kepada pemilik lain, sebagaimana pada kasus ‘itq (pembebasan budak) yang dengan terjadinya, kepemilikan berpindah menjadi hak Allah Ta‘ala, bukan kepada pemilik lain. Adapun mereka yang berpendapat seperti pendapat pertama, membedakan antara waqf dan ‘itq dengan alasan bahwa pada waqf berlaku hukum kepemilikan, seperti tanggungan atas barang tersebut jika berada dalam genggaman, dan kewajiban mengganti nilainya jika dirusak. Sedangkan pada ‘itq tidak berlaku hukum kepemilikan, sehingga tidak ada tanggungan jika rusak, dan tidak wajib mengganti nilainya jika dirusak.

فَإِنْ قِيلَ بِالْأَوَّلِ إِنَّهُ مِلْكٌ لِلْمُوقَفِ عَلَيْهِ حُكِمَ فِي إِثْبَاتِهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَسَائِرِ الْأَمْوَالِ.

Jika dikatakan menurut pendapat pertama bahwa itu adalah milik bagi orang yang menerima wakaf, maka dalam penetapannya diputuskan dengan saksi dan sumpah seperti harta-harta lainnya.

وَإِنْ قِيلَ بِالثَّانِي إِنَّ الْمِلْكَ زَائِلٌ عَنْهُ إِلَى غَيْرِ مَالِكٍ، فَفِي إِثْبَاتِهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan menurut pendapat kedua bahwa kepemilikan telah hilang darinya kepada selain pemilik, maka dalam penetapannya dengan saksi dan sumpah menurut ulama kami terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ، لَا يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَالْعِتْقِ لِزَوَالِ الْمِلْكِ بِهِمَا إِلَى غَيْرِ مَالِكٍ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu tidak dapat ditetapkan dengan saksi dan sumpah, seperti halnya pembebasan budak, karena kepemilikan hilang karenanya kepada selain pemilik.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ بِخِلَافِ الْعِتْقِ وَإِنْ زَالَ الْمِلْكُ بِهِمَا إِلَى غَيْرِ مَالِكٍ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, bahwa hak dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, berbeda dengan pembebasan budak, meskipun kepemilikan hilang karenanya kepada selain pemilik, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَحْكَامَ الْمِلْكِ بَاقِيَةٌ عَلَى الْوَقْفِ فِي ضَمَانِهِ بِالْيَدِ، وَغُرْمِهِ بِالْقِيمَةِ، وَزَائِلٌ عَنِ الْمُعْتِقِ، لِأَنَّهُ لَا يُضْمَنُ بِالْيَدِ، وَلَا يُغْرَمُ بِالْقِيمَةِ.

Salah satunya: bahwa hukum-hukum kepemilikan tetap berlaku atas harta wakaf dalam hal tanggung jawab atas barang tersebut ketika berada di tangan seseorang, dan kewajiban mengganti dengan nilai jika terjadi kerusakan, sedangkan hukum-hukum tersebut tidak berlaku atas orang yang memerdekakan budak, karena ia tidak bertanggung jawab atas barang tersebut ketika berada di tangannya, dan tidak wajib mengganti dengan nilai.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْمَقْصُودَ بِالْوَقْفِ مِلْكُ مَنَافِعِهِ الَّتِي هِيَ أَمْوَالٌ، وَالْمَقْصُودَ بِالْعِتْقِ كَمَالُ أَحْكَامِهِ فِي مِيرَاثِهِ وَشَهَادَتِهِ وَوِلَايَتِهِ، وَلِهَذَيْنِ الْفَرْقَيْنِ ثَبَتَ الْوَقْفُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَلَمْ يَثْبُتْ بِهِمَا الْعِتْقُ.

Kedua: Sesungguhnya maksud dari wakaf adalah kepemilikan atas manfaatnya yang merupakan harta, sedangkan maksud dari ‘itq adalah kesempurnaan hukum-hukumnya dalam hal warisan, kesaksian, dan perwaliannya. Karena dua perbedaan ini, wakaf dapat ditetapkan dengan kesaksian dan sumpah, sedangkan ‘itq tidak dapat ditetapkan dengan keduanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صُورَةِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Setelah apa yang telah kami jelaskan menjadi jelas, para ulama kami berbeda pendapat mengenai bentuk permasalahan ini dalam dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي حامد الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهَا مُصَوَّرَةٌ فِي رَجُلٍ مَاتَ وَخَلَّفَ دَارًا عَلَى وَرَثَةٍ مِنْ بَنِينَ وَبَنَاتٍ وَزَوْجَاتٍ، فَادَّعَى أَحَدُ بَنِيهِ أَنَّ أَبَاهُ وَقَفَ هَذِهِ الدَّارَ عَلَيْهِ، وَعَلَى أَخَوَيْهِ هَذَيْنِ دُونَ بَاقِي الْوَرَثَةِ، وَصَدَّقَهُ الْأَخَوَانِ عَلَى الدَّعْوَى، فَيَكُونُ دَعْوَى الْأُخْوَةِ عَلَى أَبِيهِمْ.

Salah satunya: yaitu pendapat Abu al-‘Abbas bin Suraij, Abu Ishaq al-Marwazi, dan Abu Hamid al-Marwazi, bahwa kasus ini digambarkan pada seorang laki-laki yang meninggal dunia dan meninggalkan sebuah rumah untuk para ahli warisnya, baik anak laki-laki, anak perempuan, maupun istri-istrinya. Lalu salah satu anak laki-lakinya mengklaim bahwa ayahnya telah mewakafkan rumah tersebut untuk dirinya dan kedua saudaranya ini saja, tidak untuk ahli waris lainnya. Kedua saudaranya membenarkan klaim tersebut, sehingga klaim ini menjadi klaim bersaudara terhadap ayah mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّهَا مُصَوَّرَةٌ فِي رَجُلٍ أَجْنَبِيٍّ خَلَّفَ دَارًا عَلَى وَلَدِهِ، فَادَّعَى أَجْنَبِيٌّ مِنْهُ أَنَّ صَاحِبَهَا وَقَفَهَا عَلَيْهِ، وَعَلَى إِخْوَتِهِ.

Pendapat kedua adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yaitu bahwa kasus ini digambarkan pada seseorang asing yang mewariskan sebuah rumah kepada anak-anaknya, lalu ada orang asing lain yang mengklaim bahwa pemilik rumah tersebut telah mewakafkannya untuk dirinya dan saudara-saudaranya.

وَتَصْوِيرُهَا عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ أَشْبَهُ بِكَلَامِ الشَّافِعِيِّ مِنَ الْوَجْهِ الثَّانِي، وَإِنْ كَانَ لِلثَّانِي فِي الِاحْتِمَالِ وَجْهٌ ضَعِيفٌ، وَلَيْسَ هَذَا الِاخْتِلَافُ فِي صُورَةِ الْمَسْأَلَةِ مُوجِبًا لِلِاخْتِلَافِ فِي حُكْمِهَا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْوَجْهَيْنِ، وَإِنِ اخْتَلَفَتِ الْأَحْكَامُ بِاخْتِلَافِ الصُّورَةِ، وَنَحْنُ نَذْكُرُهُمَا مَعًا.

Penggambaran masalah ini menurut cara pertama lebih mirip dengan pendapat asy-Syafi‘i dibandingkan dengan cara kedua, meskipun cara kedua masih memiliki kemungkinan yang lemah. Perbedaan dalam bentuk masalah ini tidak menyebabkan perbedaan dalam hukumnya pada masing-masing cara, meskipun hukum-hukumnya bisa berbeda sesuai dengan perbedaan bentuknya. Kami akan menyebutkan keduanya sekaligus.

فَأَمَّا تَصْوِيرُهَا عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ، وَهُوَ: أَنْ يَقُولَ الْمُدَّعِي، إِنَّ أَبِي وَقَفَ دَارَهُ هَذِهِ عَلَيَّ وَعَلَى إِخْوَتِي دُونَ غَيْرِنَا مِنْ شُرَكَائِنَا فِي الْمِيرَاثِ، فَإِذَا انْقَرَضْنَا، فَهِيَ عَلَى أَوْلَادِنَا مَا بَقَوْا، ثُمَّ عَلَى الْمَسَاكِينِ إِذَا انْقَرَضُوا، فَإِنْ صَدَّقَهُ الْبَاقُونَ مِنَ الْوَرَثَةِ كَانَتِ الدَّارُ وَقْفًا عَلَيْهِمْ، ثُمَّ عَلَى أَوْلَادِهِمْ، ثُمَّ عَلَى الْمَسَاكِينِ بِإِقْرَارِ الْوَرَثَةِ مِنْ غَيْرِ يَمِينٍ يَلْزَمُ الْمُسْتَحِقِّينَ لِوَقْفِهَا مِنَ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْبُطُونِ.

Adapun gambaran kasus pada bentuk pertama, yaitu: ketika penggugat berkata, “Ayahku telah mewakafkan rumahnya ini untukku dan untuk saudara-saudaraku, bukan untuk selain kami dari para sekutu kami dalam warisan. Jika kami telah tiada, maka (wakaf itu) untuk anak-anak kami selama mereka masih ada, kemudian untuk orang-orang miskin jika mereka pun telah tiada.” Maka jika para ahli waris yang tersisa membenarkannya, maka rumah tersebut menjadi wakaf untuk mereka, kemudian untuk anak-anak mereka, lalu untuk orang-orang miskin, berdasarkan pengakuan para ahli waris tanpa adanya sumpah yang diwajibkan kepada para penerima hak wakaf dari generasi pertama dan generasi setelahnya.

وَإِنْ أَنْكَرَ الْبَاقُونَ مِنَ الْوَرَثَةِ أَنْ تَكُونَ وَقْفًا، وَأَقَامَ مُدَّعُوهَا شَاهِدَيْنِ صَارَتْ وَقْفًا بِإِقْرَارِ الْمَيِّتِ عِنْدَ الشَّاهِدَيْنِ، وَإِنْ أَقَامُوا شَاهِدًا وَاحِدًا، وَقِيلَ بِأَنَّ الْوَقْفَ يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ، لَمْ يَخْلُ حَالُ الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Jika para ahli waris yang lain mengingkari bahwa harta tersebut adalah wakaf, lalu pihak yang mengklaimnya mendatangkan dua orang saksi, maka harta itu menjadi wakaf berdasarkan pengakuan si mayit di hadapan kedua saksi tersebut. Namun jika mereka hanya mendatangkan satu orang saksi, ada pendapat yang mengatakan bahwa wakaf dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, dan inilah permasalahan yang dibahas dalam kitab. Maka, keadaan tiga orang saudara itu tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَحْلِفُوا مَعَ شَاهِدِهِمْ.

Salah satunya adalah mereka bersumpah bersama saksi mereka.

وَالثَّانِي: أَنْ يَنْكُلُوا.

Yang kedua: mereka enggan bersumpah.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَحْلِفَ بَعْضُهُمْ، وَيَنْكُلَ بَعْضُهُمْ، فَإِنْ حَلَفُوا جَمِيعًا كَانَتِ الدَّارُ وَقْفًا عَلَيْهِمْ، وَمَنْفَعَتُهَا بَيْنَهُمْ عَلَى سَوَاءٍ مِنْ غَيْرِ تَفْضِيلٍ، لِأَنَّهَا عَطِيَّةٌ مُطْلَقَةٌ كَالْهِبَةِ، وَلَا حَقَّ فِيهَا لِأَوْلَادِهِمْ مَا بَقِيَ أَحَدُهُمْ، لِأَنَّهَا مُصَوَّرَةٌ فِي تَرْتِيبِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ عَلَى الثَّانِي، فَإِنْ مَاتَ الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ لَمْ يَخْلُ انْقِرَاضُهُمْ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَعًا فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ أَوْ يَنْقَرِضُوا وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ، فَإِنِ انْقَرَضُوا مَعًا انْتَقَلَ الْوَقْفُ إِلَى أَوْلَادِهِمْ، وَاخْتُلِفَ فِي اسْتِحْقَاقِهِمْ لَهُ هَلْ يَكُونُ بِأَيْمَانِهِمْ أَوْ بِأَيْمَانِ آبَائِهِمْ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Ketiga: Jika sebagian dari mereka bersumpah dan sebagian lainnya enggan bersumpah, maka jika mereka semua bersumpah, rumah itu menjadi wakaf atas mereka, dan manfaatnya dibagi di antara mereka secara merata tanpa ada keutamaan satu atas yang lain, karena itu merupakan pemberian mutlak seperti hibah. Anak-anak mereka tidak memiliki hak atasnya selama masih ada salah satu dari mereka, karena wakaf tersebut diatur berdasarkan urutan generasi pertama atas generasi kedua. Jika ketiga saudara itu meninggal, maka tidak terlepas dari kemungkinan mereka punah secara bersamaan dalam satu waktu atau punah satu demi satu. Jika mereka punah secara bersamaan, maka wakaf itu berpindah kepada anak-anak mereka. Terdapat perbedaan pendapat mengenai hak anak-anak tersebut atas wakaf itu, apakah didasarkan pada sumpah mereka sendiri atau sumpah ayah-ayah mereka, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إِنَّهُمْ لَا يَسْتَحِقُّونَهُ إِلَّا بِأَيْمَانِهِمْ مَعَ شَاهِدِ آبَائِهِمْ، لِأَنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَهُ عَنِ الْوَاقِفِ لَا عَنْ آبَائِهِمْ، فَلَمَّا اسْتَحَقَّهُ الْآبَاءُ بِأَيْمَانِهِمْ وَجَبَ أَنْ يَسْتَحِقَّهُ الأبناء بأيمانهم.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, yaitu bahwa mereka tidak berhak mendapatkannya kecuali dengan sumpah mereka sendiri bersama kesaksian ayah-ayah mereka, karena mereka berhak mendapatkannya dari pihak yang mewakafkan, bukan dari ayah-ayah mereka. Maka ketika para ayah berhak mendapatkannya dengan sumpah mereka, wajib pula anak-anak berhak mendapatkannya dengan sumpah mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَهُ بِأَيْمَانِ آبَائِهِمْ، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِأَيْمَانِهِمْ وَقْفًا مُؤَبَّدًا، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكْمُلَ لِلْأَبْنَاءِ أَنْ يَصِيرَ مِلْكًا مُطْلَقًا.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa mereka (anak-anak) berhak atasnya karena sumpah (ikrar) orang tua mereka, karena dengan sumpah tersebut harta itu telah menjadi wakaf untuk selamanya, sehingga tidak boleh bagi anak-anak untuk memilikinya secara mutlak.

فَإِنِ انْقَرَضَ الْأَبْنَاءُ وَأَفْضَى الْوَقْفُ إِلَى الْمَسَاكِينِ، فَلَا أَيْمَانَ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّهُمْ غَيْرُ مُتَعَيِّنِينَ وَاسْتِحْقَاقُهُمْ لَهُ مُعْتَبَرٌ بِالْأَبْنَاءِ.

Jika para anak telah habis dan wakaf itu beralih kepada para miskin, maka tidak ada sumpah atas mereka, karena mereka tidak tertentu dan hak mereka atas wakaf itu bergantung pada (keberadaan) para anak.

فَإِنْ قِيلَ بِالظَّاهِرِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَهُ بِأَيْمَانِ آبَائِهِمِ اسْتَحَقَّهُ الْمَسَاكِينُ، بِتِلْكَ الْأَيْمَانِ.

Jika dikatakan menurut zahir mazhab Syafi‘i bahwa mereka (ahli waris) berhak atasnya karena sumpah orang tua mereka, maka orang-orang miskin juga berhak atasnya dengan sumpah-sumpah tersebut.

وَإِنْ قِيلَ: بِمَذْهَبِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إِنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّهُ الْأَبْنَاءُ إِلَّا بِأَيْمَانِهِمْ، فَلَهُ فِي اسْتِحْقَاقِ الْمَسَاكِينِ وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan: menurut mazhab Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, anak-anak tidak berhak mendapatkannya kecuali dengan sumpah mereka, maka dalam hal hak kaum miskin terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَهُ بِغَيْرِ يَمِينٍ لِلضَّرُورَةِ فِي عَدَمِ التَّعْيِينِ.

Salah satunya: bahwa mereka berhak mendapatkannya tanpa sumpah karena adanya kebutuhan mendesak dalam ketidakjelasan penetapan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهُ لَا حَقَّ لَهُمْ فِيهِ، ويعود ملكا مطلقا.

Pendapat kedua: Sesungguhnya mereka tidak memiliki hak di dalamnya, dan kepemilikan itu kembali menjadi milik mutlak.

ومن مَذْهَبِ أَبِي الْعَبَّاسِ أَنَّ الْوَقْفَ الْمُقَدَّرَ بِمُدَّةٍ يَصِحُّ، وَإِنْ كَانَ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لَا يَصِحُّ حَتَّى يَكُونَ مُؤَبَّدًا، وَإِنْ مَاتَ الْأُخْوَةُ الثَّلَاثَةُ وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ، فَإِنْ مَاتَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ عَادَ نَصِيبُهُ إِلَى أَخَوَيْهِ، وَصَارَتْ مَنْفَعَةُ الْوَقْفِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، وَإِنْ مَاتَ ثَانٍ عَادَ نَصِيبُهُ إِلَى الْبَاقِي، فَصَارَ لَهُ جَمِيعُ الْمَنْفَعَةِ إِذَا كَانَ شَرْطُ الْوَقْفِ الْمُرَتَّبِ أَنْ يَعُودَ سَهْمُ مَنْ مَاتَ، اسْتَحَقَّهُ هُوَ فِي دَرَجَتِهِ، فَإِنْ أَطْلَقَ الشَّرْطَ، فَفِي مُسْتَحَقِّ سَهْمِ الْمَيِّتِ قَبْلَ انْقِرَاضِهِمْ جَمِيعِهِمْ وَجْهَانِ:

Menurut pendapat Abu al-‘Abbas, wakaf yang ditentukan dengan jangka waktu tertentu adalah sah, meskipun menurut mazhab Syafi‘i tidak sah kecuali jika bersifat abadi. Jika tiga bersaudara itu meninggal satu demi satu, maka jika salah satu dari mereka meninggal, bagiannya kembali kepada dua saudaranya, sehingga manfaat wakaf menjadi terbagi dua di antara mereka. Jika yang kedua meninggal, bagiannya kembali kepada yang tersisa, sehingga seluruh manfaat menjadi miliknya, jika syarat wakaf yang berurutan adalah bahwa bagian orang yang meninggal kembali kepada yang masih hidup pada tingkatannya. Jika syarat tersebut disebutkan secara mutlak, maka dalam hal siapa yang berhak atas bagian orang yang meninggal sebelum semuanya habis, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَسْتَحِقُّهُ مَنْ فِي دَرَجَتِهِ كَمَا لَوْ كَانَ ذَلِكَ مَشْرُوطًا.

Salah satunya: berhak mendapatkannya adalah orang yang berada pada derajatnya, sebagaimana jika hal itu disyaratkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَسْتَحِقُّهُ الْمَسَاكِينُ حَتَّى يَنْقَرِضَ جَمِيعُهُمْ، فَيَسْتَحِقُّهُ الْبَطْنُ الثَّانِي، وَإِذَا وَجَبَ عَوْدُ هَذَا الْوَقْفِ إِلَى الْبَاقِي مِنَ الثَّلَاثَةِ كَانَ فِي اسْتِحْقَاقِهِ بِالْيَمِينِ مُعْتَبَرًا بِاسْتِحْقَاقِ الْبَطْنِ الثَّانِي، فَإِنْ جُعِلَ لَهُمْ بِغَيْرِ يَمِينٍ كَانَ مَا عَادَ إِلَى الْبَاقِي عَلَى أَخَوَيْهِ مُسْتَحِقًّا لَهُ بِغَيْرِ يَمِينٍ، وَإِنْ لَمْ يُجْعَلْ لِلْبَطْنِ الثَّانِي إِلَّا بِأَيْمَانِهِمْ، فَفِيمَا عَادَ إِلَى الْبَاقِي عَنْ إِخْوَتِهِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Harta wakaf itu menjadi hak para miskin hingga mereka semua habis, lalu menjadi hak generasi kedua. Jika harta wakaf itu wajib kembali kepada sisa dari tiga kelompok, maka dalam hal hak kepemilikannya dengan sumpah dipertimbangkan sebagaimana hak generasi kedua. Jika diberikan kepada mereka tanpa sumpah, maka apa yang kembali kepada dua saudaranya menjadi hak mereka tanpa sumpah. Namun, jika generasi kedua hanya diberikan dengan sumpah mereka, maka dalam hal apa yang kembali kepada sisa dari saudara-saudaranya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّهُ إِلَّا بِيَمِينٍ، لِأَنَّهُ صَارَ إِلَيْهِ عَنْ غَيْرِهِ كَالْبَطْنِ الثَّانِي.

Salah satunya: bahwa ia tidak berhak atasnya kecuali dengan sumpah, karena harta itu sampai kepadanya dari orang lain seperti perut kedua.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهُ يَسْتَحِقُّهُ بِغَيْرِ يَمِينٍ، لِأَنَّهُ قَدْ حَلَفَ عَلَيْهِ مَرَّةً، فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى يَمِينٍ ثَانِيَةٍ. وَمِنْ هَذَا الْوَجْهِ خَالَفَ الْبَطْنُ الثَّانِي ثُمَّ حُكْمُ الْبَطْنِ الثَّالِثِ بَعْدَ الثَّانِي كَحُكْمِ الْبَطْنِ الثَّانِي بَعْدَ الْأَوَّلِ.

Pendapat kedua: Ia berhak mendapatkannya tanpa sumpah, karena ia telah bersumpah atasnya sekali, sehingga tidak perlu sumpah kedua. Dari sisi inilah perut kedua berbeda, kemudian hukum perut ketiga setelah yang kedua sama dengan hukum perut kedua setelah yang pertama.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْحَالُ الثَّانِيَةُ: وَهُوَ أَنْ يَنْكُلَ الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ عَنِ الْيَمِينِ مَعَ شَاهِدِهِمْ، فَتَكُونَ الدَّارُ بَعْدَ إِحْلَافِ بَقِيَّةِ الْوَرَثَةِ تَرِكَةً فِي الظَّاهِرِ، فَإِنْ كَانَ عَلَى الْمَيِّتِ دُيُونٌ يَسْتَوْعِبُهَا قُضِيَتْ مِنْ ثَمَنِهَا، وَبَطَلَ وَقْفُهَا، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ دُيُونٌ، فَكَانَتْ وَصَايَا أَمْضَى مِنْ وَصَايَاهُ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ دُيُونٌ وَلَا وَصَايَا كَانَتْ مِيرَاثًا بَيْنَ جَمِيعِ الْوَرَثَةِ يَمْلِكُ هُوَ لَا الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ مِيرَاثَهُمْ مِنْهَا، وَتَصِيرُ وَقْفًا بِإِقْرَارِهِمْ لِأَنَّ مَا ادَّعَوْهُ مِنْ وَقْفِهَا مَقْبُولٌ فِي حَقِّهِمْ وَغَيْرُ مَقْبُولٍ فِي حَقِّ غَيْرِهِمْ.

Adapun keadaan kedua: yaitu ketika ketiga saudara menolak bersumpah bersama saksi mereka, maka rumah tersebut, setelah para ahli waris lainnya bersumpah, secara lahiriah menjadi harta warisan. Jika si mayit memiliki utang yang nilainya mencakup seluruh rumah, maka utang tersebut dibayarkan dari hasil penjualan rumah itu, dan status wakafnya batal. Jika tidak ada utang, namun ada wasiat, maka wasiat yang dijalankan adalah yang nilainya tidak melebihi sepertiga harta. Jika tidak ada utang maupun wasiat, maka rumah itu menjadi warisan di antara seluruh ahli waris, di mana dia (ahli waris yang bersumpah) memiliki hak warisnya, sedangkan ketiga saudara tidak mendapatkan bagian warisan dari rumah itu. Rumah tersebut kemudian menjadi wakaf dengan pengakuan mereka, karena apa yang mereka klaim sebagai wakaf diterima untuk hak mereka sendiri, namun tidak diterima untuk hak orang lain.

فَإِذَا انْقَرَضَ الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ انْتَقَلَ الْوَقْفُ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي بِغَيْرِ يَمِينٍ، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ وَقْفًا عَلَى الْبَطْنِ الْأَوَّلِ بِغَيْرِ يَمِينٍ، فَصَارَ الْبَطْنُ الثَّانِي بِمَثَابَتِهِ، وَكَذَلِكَ مَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْبُطُونِ، وَكَانَ بَقِيَّةُ الدَّارِ مِلْكًا مُطْلَقًا لِبَقِيَّةِ الْوَرَثَةِ، فَإِنْ مَاتَ الْبَاقُونَ مِنَ الْوَرَثَةِ عَنْ نَصِيبِهِمْ مِنْهَا، وَعَادَ مِيرَاثُهُمْ إِلَى الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ صَارَ جَمِيعُ الدَّارِ وَقْفًا بإقرارهم، لأنهم ملكوا جميعا، وَإِنْ وَرِثَهُمْ غَيْرُهُمْ، وَعَادَ الْإِخْوَةُ، فَادَّعَوْا وَقْفَ بَقِيَّتِهَا عَلَيْهِمْ بَعْدَ انْبِرَامِ الْحُكْمِ مَعَ مَنْ تَقَدَّمَهُمْ، فَإِنِ ادَّعَوْا عَلَيْهِمْ بِوَقْفِهَا صَحَّتِ الدَّعْوَى عَلَيْهِمْ، لِأَنَّهُمْ لَوِ اعْتَرَفُوا بِوَقْفِهَا صَارَ حَقُّهُمْ وَقْفًا، وَإِنْ لَمْ يَدَّعُوا عَلَيْهِمْ لَمْ تَصِحَّ الدَّعْوَى عَلَيْهِمْ، لِأَنَّ انْبِرَامَ الْحُكْمِ مَعَ تَقَدُّمِهِمْ قَدْ أَسْقَطَ دَعْوَاهُمْ.

Apabila ketiga saudara tersebut telah tiada, maka wakaf berpindah kepada generasi kedua tanpa sumpah, karena sebelumnya telah menjadi wakaf atas generasi pertama tanpa sumpah, sehingga generasi kedua pun diperlakukan sama, demikian pula generasi-generasi berikutnya. Adapun sisa rumah menjadi milik mutlak bagi para ahli waris yang tersisa. Jika para ahli waris yang tersisa meninggal dunia atas bagian mereka dari rumah tersebut, lalu warisan mereka kembali kepada ketiga saudara itu, maka seluruh rumah menjadi wakaf dengan pengakuan mereka, karena mereka telah memilikinya seluruhnya. Namun jika yang mewarisi mereka adalah selain mereka, lalu para saudara kembali dan mengklaim bahwa sisa rumah itu diwakafkan atas mereka setelah adanya putusan hukum bersama para pendahulu mereka, maka jika mereka mengajukan klaim wakaf atas rumah tersebut, klaim itu sah atas mereka, karena jika mereka mengakui wakafnya, maka hak mereka menjadi wakaf. Tetapi jika tidak diajukan klaim terhadap mereka, maka klaim tersebut tidak sah atas mereka, karena putusan hukum yang telah ditetapkan bersama para pendahulu mereka telah menggugurkan klaim mereka.

فَلَوْ بَذَلَ الْبَطْنُ الثَّانِي الْيَمِينَ مَعَ الشَّاهِدِ عِنْدَ نُكُولِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ عَنْهَا، فَفِي إِحْلَافِهِمْ قَوْلَانِ:

Maka jika pihak kedua mengajukan sumpah bersama dengan saksi ketika pihak pertama menolak bersumpah, terdapat dua pendapat mengenai boleh tidaknya mereka disumpah.

أَحَدُهُمَا: لَا يَحْلِفُونَ، لِأَنَّهُمْ فَرْعٌ لِأَصْلٍ صَارُوا لَهُ تَبَعًا، فَإِذَا بَطَلَ حُكْمُ الْأَصْلِ الْمَتْبُوعِ بَطَلَ حُكْمُ الْفَرْعِ التَّابِعِ.

Salah satunya: mereka tidak bersumpah, karena mereka adalah cabang dari pokok yang menjadi tempat mereka mengikuti, maka apabila hukum pokok yang diikuti batal, batal pula hukum cabang yang mengikuti.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ أَظْهَرُ لَهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا، لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua, yang lebih kuat menurut mereka, adalah bahwa mereka harus bersumpah, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْوَقْفَ يَصِيرُ إِلَيْهِمْ عَنِ الْوَاقِفِ لَا عَنِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ، فَصَارُوا فِي إِفْضَائِهِ إِلَيْهِمْ فِي حُكْمِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ.

Salah satu di antaranya: sesungguhnya wakaf itu berpindah kepada mereka dari pihak pewakaf, bukan dari generasi pertama, sehingga mereka dalam hal sampainya wakaf kepada mereka berada dalam kedudukan seperti generasi pertama.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَوِ امْتَنَعَ الْبَطْنُ الثَّانِي مِنَ الْأَيْمَانِ، لِامْتِنَاعِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ مِنْهَا لَمَلَكَ بِهِ الْبَطْنُ الْأَوَّلُ إِبْطَالَ الْوَقْفِ عَلَى الْبَطْنِ الثَّانِي، وَهَذَا مُمْتَنِعٌ، فَكَانَ تَمْكِينُ الْبَطْنِ الثَّانِي مِنَ الْأَيْمَانِ غَيْرَ مُمْتَنَعٍ.

Kedua: Sesungguhnya, jika generasi kedua tidak diperbolehkan bersumpah karena generasi pertama tidak diperbolehkan melakukannya, maka generasi pertama akan memiliki hak untuk membatalkan waqaf atas generasi kedua, dan hal ini tidak mungkin terjadi. Maka, membolehkan generasi kedua untuk bersumpah tidaklah terlarang.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي أَصْلِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai asal dari dua pendapat ini menjadi dua pandangan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي الْوَقْفِ إِذَا كَانَ عَلَى أَصْلٍ مَعْدُومٍ وَفَرْعٍ مَوْجُودٍ، هَلْ يَبْطُلُ الْفَرْعُ لِبُطْلَانِهِ فِي الْأَصْلِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Salah satunya: Bahwa keduanya didasarkan pada perbedaan dua pendapat Imam Syafi‘i mengenai wakaf apabila dilakukan atas sesuatu yang pokoknya tidak ada dan cabangnya ada, apakah cabang tersebut menjadi batal karena batalnya pada pokoknya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَبْطُلُ فِي الْفَرْعِ كَبُطْلَانِهِ فِي الْأَصْلِ، لِامْتِزَاجِهِمَا فِي الصِّحَّةِ وَالْفَسَادِ، فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْلِفَ الْبَطْنُ الثَّانِي مَعَ نُكُولِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ لِبُطْلَانِهِ فِي حُقُوقِهِمْ، فَيَبْطُلُ فِي حَقِّ مَنْ بَعْدَهُمْ.

Salah satunya: batal pada cabang sebagaimana batal pada asal, karena keduanya bercampur dalam hal keabsahan dan kebatalan. Maka, berdasarkan hal ini, tidak boleh kelompok kedua bersumpah ketika kelompok pertama menolak bersumpah, karena sumpah itu batal dalam hak mereka, sehingga menjadi batal pula bagi orang-orang setelah mereka.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يَبْطُلُ فِي الْفَرْعِ، وَإِنْ بَطَلَ فِي الْأَصْلِ، لِأَنَّ حَقَّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَا يَتَعَدَّاهُ، فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ لِلْبَطْنِ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفَ مَعَ نُكُولِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ.

Pendapat kedua: Tidak batal pada cabang, meskipun batal pada asal, karena hak masing-masing tidak saling melampaui. Maka berdasarkan hal ini, boleh bagi generasi kedua untuk bersumpah ketika generasi pertama menolak bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّ الْمَسْأَلَةَ أَصْلٌ فِي نَفْسِهَا، وَالْقَوْلَانِ مَنْصُوصَانِ فِيهَا، فَإِذَا اسْتَقَرَّ الْقَوْلَانِ فِيهَا، إِمَّا بِنَاءً وَإِمَّا أَصْلًا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مَوْضِعِ الْقَوْلَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Pendapat kedua: Sesungguhnya masalah ini merupakan pokok tersendiri, dan dua pendapat telah dinyatakan secara eksplisit di dalamnya. Maka apabila dua pendapat tersebut telah tetap dalam masalah ini, baik sebagai cabang maupun sebagai pokok, para ulama kami telah berbeda pendapat mengenai tempat adanya dua pendapat tersebut menjadi dua pandangan.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ: إِنْ كَانَ الْبَطْنُ الْأَوَّلُ بَاقِينَ لَمْ يَكُنْ لِلْبَطْنِ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفُوا قَوْلًا وَاحِدًا، وَإِنِ انْقَرَضُوا فَإِحْلَافُ الْبَطْنِ الثَّانِي عَلَى الْقَوْلَيْنِ.

Salah satunya, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi: Jika kelompok pertama masih ada, maka kelompok kedua tidak berhak bersumpah menurut satu pendapat. Namun jika kelompok pertama telah tiada, maka sumpah kelompok kedua diperselisihkan menurut dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِعَكْسِ الْأَوَّلِ: إِنِ انْقَرَضَ الْبَطْنُ الْأَوَّلُ كَانَ لِلْبَطْنِ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفُوا قَوْلًا وَاحِدًا، وَإِنْ كَانُوا بَاقِينَ، فَإِحْلَافُ الْبَطْنِ الثَّانِي عَلَى الْقَوْلَيْنِ وَقَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ أَشْبَهُ بِالصَّوَابِ، لِأَنَّ تَرْتِيبَ الْبُطُونِ يَمْنَعُ مِنِ اسْتِحْقَاقِ الثَّانِي مَعَ بَقَاءِ الْأَوَّلِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah yang berlawanan dengan pendapat pertama: jika generasi pertama telah habis, maka generasi kedua berhak untuk bersumpah menurut satu pendapat; namun jika generasi pertama masih ada, maka sumpah generasi kedua diperselisihkan menurut dua pendapat. Pendapat Abu Ishaq lebih mendekati kebenaran, karena urutan generasi (al-butūn) mencegah generasi kedua untuk berhak (atas warisan) selama generasi pertama masih ada.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْحَالُ الثَّالِثَةُ: وَهُوَ أَنْ يَحْلِفَ بَعْضُهُمْ، وَيَنْكُلَ بَعْضُهُمْ مِثْلَ: أَنْ يَحْلِفَ مِنَ الثَّلَاثَةِ الْإِخْوَةِ وَاحِدٌ، وَيَنْكُلُ اثْنَانِ، فَيَكُونَ ثُلُثُهَا وَقْفًا عَلَى الْحَالِفِ بِيَمِينِهِ، وَثُلُثَاهَا مِلْكًا مَوْرُوثًا بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ وَبَقِيَّةِ الْوَرَثَةِ، وَلَا يَرِثُ الْحَالِفُ مِنْهُ شَيْئًا، لِأَنَّهُ مُقِرٌّ بِأَنَّ الْبَاقِيَ مِنَ الدَّارِ وَقْفٌ عَلَى أَخَوَيْهِ، وَيَصِيرُ مَا وَرِثَهُ الْأَخَوَانِ مِنْهَا وَقْفًا عَلَيْهِمَا بِإِقْرَارِهِمَا وَسِهَامُ بَاقِي الْوَرَثَةِ مِلْكًا لَهُمْ طَلْقًا.

Adapun keadaan ketiga: yaitu ketika sebagian dari mereka bersumpah, dan sebagian lainnya enggan bersumpah, seperti: dari tiga bersaudara, satu orang bersumpah dan dua orang enggan. Maka sepertiga bagian menjadi wakaf bagi yang bersumpah dengan sumpahnya, dan dua pertiganya menjadi milik warisan yang dibagi antara dua saudara yang tidak bersumpah dan para ahli waris lainnya. Orang yang bersumpah tidak mewarisi bagian tersebut sama sekali, karena ia mengakui bahwa sisa rumah itu adalah wakaf bagi kedua saudaranya. Apa yang diwarisi oleh kedua saudara tersebut dari bagian itu menjadi wakaf bagi mereka berdua karena pengakuan mereka, sedangkan bagian para ahli waris lainnya tetap menjadi milik mereka secara bebas.

فَإِنْ أَرَادَ الْبَطْنُ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفُوا عَلَيْهِ كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ فِي الْبِنَاءِ وَالْمَحَلِّ، فَإِنْ مَاتَ الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ انْتَقَلَتْ حُقُوقُهُمْ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي، وَكَانَ نَصِيبُ مَنْ وَرِثَ وَلَمْ يَحْلِفْ مُنْتَقِلًا إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي بِغَيْرِ يَمِينٍ، لِأَنَّهُ صَارَ وَقَفًا عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ بِغَيْرِ يَمِينٍ، وَكَانَ نَصِيبُ مَنْ حَلَفَ مُنْتَقِلًا إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي بِيَمِينٍ أَوْ بِغَيْرِ يَمِينٍ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ فِي يَمِينِ الْبَطْنِ الثَّانِي بَعْدَ يَمِينِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ، وَيَسْتَوِي فِيهِ وَرَثَةُ الْحَالِفِ وَغَيْرِ الْحَالِفِ مِنَ الْبَطْنِ الثَّانِي.

Jika kelompok kedua ingin bersumpah atasnya, maka hukumnya mengikuti dua pendapat yang telah kami sebutkan mengenai bangunan dan tempat. Jika tiga saudara tersebut meninggal dunia, maka hak-hak mereka berpindah kepada kelompok kedua, dan bagian orang yang mewarisi namun tidak bersumpah berpindah kepada kelompok kedua tanpa sumpah, karena bagian itu telah menjadi hak mereka dengan pengakuan tanpa sumpah. Adapun bagian orang yang telah bersumpah, maka berpindah kepada kelompok kedua dengan sumpah atau tanpa sumpah, sesuai dengan dua pendapat yang telah kami kemukakan mengenai sumpah kelompok kedua setelah sumpah kelompok pertama. Dalam hal ini, para ahli waris dari yang bersumpah maupun yang tidak bersumpah dari kelompok kedua memiliki kedudukan yang sama.

وَلَوْ مَاتَ مِنَ الْإِخْوَةِ اللَّذَانِ لَمْ يَحْلِفَا انْتَقَلَ نَصِيبُهُمْ إِلَى الْأَخِ الْحَالِفِ بِغَيْرِ يَمِينٍ.

Jika dua saudara yang tidak bersumpah itu meninggal, maka bagian mereka berpindah kepada saudara yang telah bersumpah tanpa perlu sumpah lagi.

وَلَوْ مَاتَ الْأَخُ الْحَالِفُ وَبَقِيَ أَخَوَاهُ.

Dan jika saudara yang bersumpah itu meninggal dunia, sementara kedua saudaranya yang lain masih hidup.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ أَيْمَانَ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ تُسْقِطُ الْأَيْمَانَ عَنِ الْبَطْنِ الثَّانِي انْتَقَلَ نَصِيبُ الْحَالِفِ إِلَى أَخَوَيْهِ النَّاكِلَيْنِ، وَلَمْ يَنْتَقِلْ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي لِاسْتِحْقَاقِ التَّرْتِيبِ بَيْنَ الْبُطُونِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya sumpah-sumpah dari kelompok pertama menggugurkan kewajiban sumpah dari kelompok kedua, maka bagian dari orang yang bersumpah berpindah kepada dua saudaranya yang menolak bersumpah, dan tidak berpindah kepada kelompok kedua karena adanya ketentuan urutan di antara kelompok-kelompok tersebut.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ أَيْمَانَ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ لَا تُسْقِطُ الْأَيْمَانَ عَنِ الْبَطْنِ الثَّانِي لَمْ يَنْتَقِلْ نَصِيبُ الْحَالِفِ إِلَى أَخَوَيْهِ، لِنُكُولِهِمَا عَنِ الْيَمِينِ، وَفِي انْتِقَالِهِ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي إِنْ حلفوا وجهان:

Dan jika dikatakan: Sumpah-sumpah dari kelompok pertama tidak menggugurkan sumpah dari kelompok kedua, maka bagian orang yang bersumpah tidak berpindah kepada kedua saudaranya, karena keduanya enggan bersumpah. Adapun mengenai berpindahnya bagian tersebut kepada kelompok kedua jika mereka bersumpah, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَنْتَقِلُ إِلَيْهِمْ، وَإِنْ كَانَ التَّرْتِيبُ مُسْتَحَقًّا لِلضَّرُورَةِ الدَّاعِيَةِ إِلَى حِفْظِ الْوَقْفِ عَلَى الْبُطُونِ الْآتِيَةِ.

Salah satunya: berpindah kepada mereka, meskipun urutan itu menjadi hak karena adanya kebutuhan mendesak untuk menjaga wakaf bagi generasi-generasi berikutnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَنْتَقِلُ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي مَا كَانَ الْأَخَوَانِ النَّاكِلَانِ بَاقِيَيْنِ اعْتِبَارًا بِشَرْطِ الْوَقْفِ فِي تَرْتِيبِ الْبُطُونِ.

Pendapat kedua: Tidak berpindah ke generasi kedua selama dua saudara yang menolak masih ada, dengan mempertimbangkan syarat wakaf dalam urutan generasi.

فَعَلَى هَذَا فِي مَصْرِفِهِ إِلَى انْقِرَاضِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ وَجْهَانِ:

Dengan demikian, dalam hal penyalurannya hingga punahnya generasi pertama, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، حَتَّى يَنْقَرِضَ الْبَطْنُ الْأَوَّلُ، فَيُرَدُّ عَلَى الْبَطْنِ الثَّانِي بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ.

Salah satunya: kepada para fakir dan miskin, hingga kelompok pertama habis, lalu diberikan kepada kelompok kedua setelah mereka bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُصْرَفُ إِلَى أَقْرَبِ النَّاسِ بِالْوَاقِفِ، وَيَكُونُ الْأَخَوَانِ النَّاكِلَانِ وَهُمَا مِنْ أَقْرَبِ النَّاسِ بِهِ وَمَنْ فِي دَرَجَتِهِمَا مِنَ الْأَقَارِبِ فِيهِ سَوَاءٌ.

Pendapat kedua: Harta tersebut diberikan kepada kerabat terdekat dari orang yang mewakafkan, dan kedua saudara yang menolak (menerima wakaf) — padahal mereka termasuk kerabat terdekat — serta siapa pun dari kerabat yang setingkat dengan mereka, semuanya memiliki kedudukan yang sama dalam hal ini.

فَإِذَا مَاتَ الْأَخَوَانِ انْتَقَلَ جَمِيعُ هَذَا النَّصِيبِ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ، لِإِفْضَاءِ الْوَقْفِ إِلَيْهِمْ بَعْدَ انْقِرَاضِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ.

Maka apabila kedua saudara itu meninggal, seluruh bagian ini berpindah kepada generasi kedua setelah mereka bersumpah, karena wakaf itu beralih kepada mereka setelah generasi pertama telah habis.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ كَانَ الْإِخْوَةُ الثَّلَاثَةُ عِنْدَ ادِّعَاءِ الْوَقْفِ عَلَيْهِمْ هُمْ وَرَثَةَ الْوَاقِفِ، وَلَا يُشْرِكُهُمْ غَيْرُهُمْ، صَارَتِ الدَّارُ وَقْفًا عَلَيْهِمْ بِإِقْرَارِهِمْ، لَا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَانْتَقَلَ الْوَقْفُ عَنْهُمْ إِلَى الْبَطْنِ الثَّانِي، وَمَا يَلِيهِ بِغَيْرِ يَمِينٍ كَمَا صَارَ لِلْأَوَّلِ بِغَيْرِ يَمِينٍ.

Dan jika ketiga saudara tersebut pada saat pengakuan wakaf atas mereka adalah para ahli waris dari pewakaf, dan tidak ada selain mereka yang turut serta, maka rumah itu menjadi wakaf atas mereka berdasarkan pengakuan mereka, bukan berdasarkan kesaksian dan sumpah. Kemudian wakaf itu berpindah dari mereka kepada generasi kedua dan seterusnya tanpa sumpah, sebagaimana wakaf itu menjadi milik generasi pertama tanpa sumpah.

فَإِنْ كَانَ عَلَى الْوَاقِفِ دَيْنٌ يُحِيطُ بِالْوَقْفِ، فَإِنْ قَضَوْهُ مِنْ أَمْوَالِهِمْ خَلَصَ الْوَقْفُ لَهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَقْضُوهُ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بِإِسْقَاطِ الدُّيُونِ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ، وَنُظِرَ:

Jika pewakaf memiliki utang yang nilainya mencakup seluruh harta wakaf, maka jika para ahli waris melunasi utang tersebut dari harta mereka sendiri, wakaf itu menjadi murni milik mereka. Namun jika mereka tidak melunasinya, mereka tidak berhak menggugurkan utang-utang tersebut tanpa bukti yang jelas, dan hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ كَانَ الْوَاقِفُ فِي الْمَرَضِ بَطَلَ، لِأَنَّهُ وَصِيَّةٌ تَبْطُلُ بِاسْتِغْرَاقِ الدُّيُونِ، وَلَا يَكُونُ لِبَيِّنَتِهِمْ تَأْثِيرٌ، وَإِنْ كَانَ فِي الصِّحَّةِ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُمْ، وَثَبَتَ الْوَقْفُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ عَلَى قَوْلِ مَنْ يَرَاهُ؛ لِأَنَّهَا عَطِيَّةٌ فِي الصِّحَّةِ، فَلَمْ تُرَدَّ بِالدُّيُونِ، وَإِنْ عُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ حَلَفَ أَرْبَابُ الدُّيُونِ عَلَى إِبْطَالِ الْوَقْفِ، فَكَانَ مَصْرُوفًا فِي دُيُونِهِمْ، فَإِنْ نَكَلُوا عَنِ الْأَيْمَانِ رُدَّتْ عَلَى الْوَرَثَةِ، فَإِنْ حَلَفُوا ثَبَتَ الْوَقْفُ، وَإِنْ نَكَلُوا صَرَفَهُ فِي أَرْبَابِ الدُّيُونِ.

Jika wakaf dilakukan oleh seseorang yang sedang sakit, maka wakaf tersebut batal, karena ia dianggap sebagai wasiat yang batal apabila seluruh harta digunakan untuk membayar utang, dan bukti dari pihak mereka tidak berpengaruh. Namun jika wakaf dilakukan saat sehat, maka bukti dari pihak mereka dapat diterima, dan wakaf tersebut dapat ditetapkan dengan kesaksian dan sumpah menurut pendapat yang membolehkannya; karena wakaf saat sehat dianggap sebagai pemberian yang tidak gugur karena utang. Jika tidak ada bukti, para pemilik utang bersumpah untuk membatalkan wakaf tersebut, sehingga harta itu digunakan untuk membayar utang mereka. Jika mereka enggan bersumpah, maka hak bersumpah berpindah kepada ahli waris; jika ahli waris bersumpah, maka wakaf itu tetap berlaku, dan jika mereka enggan, maka harta tersebut digunakan untuk membayar para pemilik utang.

وَلَوْ كَانَتِ الدَّارُ الَّتِي أَقَرُّوا بِوَقْفِهَا مَغْصُوبَةً فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ قَضَى لَهُمْ عَلَى الْغَاصِبِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ قَوْلًا وَاحِدًا، لِأَنَّ الْغَصْبَ يُسْتَحَقُّ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَالْغُصُوبُ تَتَوَجَّهُ إِلَى الْوَقْفِ كَمَا تَتَوَجَّهُ إِلَى الْمِلْكِ الْمُطْلَقِ، فَإِذَا أُزِيلَتْ يَدُ الْغَاصِبِ عَنْهُ كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ مَغْصُوبًا.

Dan jika rumah yang mereka akui sebagai wakaf itu sedang digarap secara zalim oleh pihak lain (ghashib) yang bukan pemiliknya, maka diputuskan hak mereka atas rumah tersebut terhadap ghashib dengan satu saksi dan sumpah, menurut satu pendapat. Sebab, hak atas barang yang digarap secara zalim dapat diperoleh dengan satu saksi dan sumpah, dan tindakan penggarapan secara zalim dapat terjadi pada harta wakaf sebagaimana dapat terjadi pada kepemilikan mutlak. Maka apabila tangan ghashib telah diangkat dari rumah itu, keadaannya kembali seperti yang telah kami sebutkan, seolah-olah rumah itu tidak pernah digarap secara zalim.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا تَصْوِيرُ الْمَسْأَلَةِ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي فِي ادِّعَاءِ الْوَقْفِ عَلَى أَجْنَبِيٍّ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَإِنْ صَدَّقَهُمْ وَارِثُهُ فَالدَّارُ وَقْفٌ عَلَيْهِمْ، وَتَنْتَقِلُ عَنْهُمْ إِلَى مَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْبُطُونِ بِغَيْرِ يَمِينٍ لِمَصِيرِهَا إِلَى الْبَطْنِ الْأَوَّلِ بِغَيْرِ يَمِينٍ، وَإِنْ أَكْذَبَهُمُ الْوَارِثُ، وَأَقَامُوا شَاهِدًا لِيَحْلِفُوا مَعَهُ كَانَ حُكْمُهُمْ فِيهَا كَحُكْمِهِمْ لَوِ ادَّعَوْهَا وَقْفًا مِنْ أَبِيهِمْ إِلَّا فِي حُكْمٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ أَنَّهُمْ إِذَا نَكَلُوا عَنِ الْيَمِينِ مَعَ شَاهِدِهِمْ صَارَ جَمِيعُهَا مِلْكًا طَلْقًا لِلْوَارِثِ، وَلَوْ كَانَتْ مِنْ أَبِيهِمْ، لَكَانَ قَدْرَ مَوَارِيثِهِمْ مِنْهَا وَقْفًا عَلَيْهِمْ بِإِقْرَارِهِمْ، وَمَا عَدَا هَذَا الْحُكْمَ فَهُوَ فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ عَلَى السَّوَاءِ.

Adapun gambaran masalah pada sisi kedua dalam klaim wakaf kepada orang asing setelah kematiannya, maka jika ahli warisnya membenarkan mereka, rumah tersebut menjadi wakaf atas mereka, dan berpindah dari mereka kepada generasi berikutnya tanpa sumpah, karena telah berpindah kepada generasi pertama tanpa sumpah. Namun jika ahli waris mendustakan mereka, lalu mereka mendatangkan seorang saksi untuk bersumpah bersama mereka, maka hukumnya sama seperti jika mereka mengklaimnya sebagai wakaf dari ayah mereka, kecuali dalam satu hukum, yaitu jika mereka enggan bersumpah bersama saksi mereka, maka seluruhnya menjadi milik mutlak ahli waris. Seandainya itu dari ayah mereka, maka bagian warisan mereka darinya menjadi wakaf atas mereka dengan pengakuan mereka, dan selain hukum ini, maka dalam kedua masalah tersebut hukumnya sama.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” ولو قَالَ وَعَلَى أَوْلَادِهِمْ وَأَوُلَادِ أَوْلَادِهِمْ مَا تَنَاسَلُوا قَالَ فَإِذَا حَدَثَ وَلَدٌ نَقَصَ مَنْ لَهُ حَقٌّ فِي الْحَبْسِ وَيُوقَفُ حَقُّ الْمَوْلُودِ حَتَّى يَبْلُغَ فَيَحْلِفَ فَيَأْخُذُ أَوْ يَدَعَ فَيَبْطُلَ حَقُّهُ وَيَرُدُّ كِرَاءَ مَا وُقِفَ لَهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى الَّذِينَ انْتَقَصُوا مِنْ أَجْلِهِ حَقُوقَهُمْ سَوَاءً بَيْنَهُمْ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Dan (wakaf ini) untuk anak-anak mereka dan anak-anak dari anak-anak mereka selama mereka terus berkembang biak,’ maka apabila lahir seorang anak, hak orang yang berhak atas wakaf itu berkurang, dan hak anak yang baru lahir itu ditahan sampai ia dewasa, lalu ia bersumpah, kemudian ia mengambil haknya atau meninggalkannya sehingga gugur haknya, dan sewa bagian yang telah ditahan untuknya dari haknya dikembalikan kepada mereka yang haknya berkurang karenanya, secara merata di antara mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُوافِقَةٌ لِمَا تَقَدَّمَهَا مِنْ وَجْهٍ، وَمُخَالِفَةٌ لَهَا مِنْ وَجْهٍ:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini sesuai dengan masalah sebelumnya dari satu sisi, dan berbeda darinya dari sisi yang lain.

وَصُورَتُهَا: أَنْ يَدَّعِيَ وَاحِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ إِخْوَةٍ أَنَّ أَبَاهُمْ وَقَفَ هَذِهِ الدَّارَ عَلَيْهِمْ، وَعَلَى أَوْلَادِهِمْ وَأَوْلَادِ أَوْلَادِهِمْ مَا تَنَاسَلُوا، فَإِذَا انْقَرَضُوا فَعَلَى الْفُقَرَاءِ، فَجَعَلَ الْبَطْنَ الثَّانِيَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مُشَارِكًا لِلْبَطْنِ الْأَوَّلِ، وَفِي الْمَسْأَلَةِ الْأُولَى جَعَلَ الْبَطْنَ الثَّانِيَ مُتَرَتِّبًا بَعْدَ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ، وَهُمَا فِيمَا عَدَا ذَلِكَ عَلَى سَوَاءٍ.

Adapun bentuknya adalah: salah satu dari tiga bersaudara mengklaim bahwa ayah mereka telah mewakafkan rumah ini untuk mereka, anak-anak mereka, dan cucu-cucu mereka selama mereka masih ada keturunan, kemudian jika mereka telah habis maka untuk para fakir miskin. Maka pada kasus ini, generasi kedua dijadikan sebagai peserta bersama dengan generasi pertama, sedangkan pada kasus pertama generasi kedua dijadikan sebagai penerus setelah generasi pertama. Keduanya, selain dari itu, berada pada kedudukan yang sama.

فَإِذَا أَقَامَ بِهَذِهِ الدَّعْوَى شَاهِدًا لِيَحْلِفُوا مَعَهُ، لَمْ يَخْلُ حَالُ الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَعَهُمْ مِنْ أَوْلَادِهِمْ أَحَدٌ أَوْ لَا يَكُونَ.

Jika ia menghadirkan seorang saksi atas gugatan ini agar mereka bersumpah bersamanya, maka keadaan tiga saudara itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ada salah satu anak mereka bersama mereka atau tidak ada.

فَإِنْ كَانَ مَعَهُمْ مِنْ أَوْلَادِهِمْ وَاحِدٌ صَارُوا بِهِ فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَقْفِ أَرْبَعَةً، لِأَنَّهُ يُشَارِكُهُمْ فِيهِ، فَلَا يَسْتَحِقُّ نَصِيبَهُ مِنَ الْوَقْفِ إِلَّا بِيَمِينِهِ، وَلَا تُغْنِيهِ يَمِينُ أَبِيهِ كَمَا لَا يَسْتَحِقُّهُ أَحَدُ الثَّلَاثَةِ إِلَّا بِيَمِينِهِ، وَلَا يُغْنِيهِ أَيْمَانُ إِخْوَتِهِ، فَإِنْ حَلَفَ مَعَهُمْ قُسِّمَ الْوَقْفُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَرْبَعَةِ أَسْهُمٍ، وَإِنْ نَكَلَ سَقَطَ حَقُّهُ، وَكَانَ حُكْمُهُ كَحُكْمِ أَحَدِ الثَّلَاثَةِ إِذَا نَكَلَ مَعَ يَمِينِ أَخَوَيْهِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَ الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ عِنْدَ ادِّعَاءِ الْوَقْفِ أَحَدٌ مِنَ الْبَطْنِ الثَّانِي، وَحَلَفُوا مَعَ شَاهِدِهِمُ اسْتَحَقُّوا الْوَقْفَ بَيْنَهُمْ أَثْلَاثًا، لِأَنَّهُ لَا مُشَارِكَ لَهُمْ فِيهِ عِنْدَ اسْتِحْقَاقِهِمْ.

Jika bersama mereka terdapat salah satu anak mereka, maka mereka menjadi berempat dalam berhak atas wakaf itu, karena dia ikut serta bersama mereka. Maka dia tidak berhak atas bagiannya dari wakaf kecuali dengan sumpahnya sendiri, dan sumpah ayahnya tidak mencukupi baginya, sebagaimana salah satu dari tiga orang itu juga tidak berhak atasnya kecuali dengan sumpahnya sendiri, dan sumpah saudara-saudaranya tidak mencukupi baginya. Jika dia bersumpah bersama mereka, maka wakaf itu dibagi di antara mereka menjadi empat bagian. Namun jika dia enggan bersumpah, gugurlah haknya, dan hukumnya sama seperti salah satu dari tiga orang itu jika dia enggan bersumpah bersama sumpah kedua saudaranya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika tidak ada seorang pun dari generasi kedua bersama tiga saudara itu ketika mengklaim wakaf, dan mereka bersumpah bersama saksi mereka, maka mereka berhak atas wakaf itu di antara mereka bertiga, karena tidak ada yang ikut serta bersama mereka dalam hak tersebut pada saat mereka berhak atasnya.

فَإِنْ وُلِدَ لَهُمْ وَلَدٌ صَارَ مُشَارِكًا لَهُمْ فِي الْوَقْفِ، وَصَارَ مَعَهُمْ رَابِعًا، فَوَجَبَ أَنْ يُوقَفَ بِهِ نَصِيبُهُ مِنَ الْوَقْفِ وَهُوَ الرُّبُعُ، لِأَنَّهُ وَاحِدٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ، وَيَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي الْوَقْفِ الْمُرَتَّبِ يَأْخُذُهُ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ بِغَيْرِ يَمِينٍ.

Jika lahir seorang anak bagi mereka, maka anak tersebut menjadi peserta bersama mereka dalam wakaf, dan ia menjadi yang keempat bersama mereka. Maka wajib untuk menetapkan bagian wakaf untuknya, yaitu seperempat, karena ia satu dari empat orang. Dan bagian tersebut menjadi haknya setelah ia baligh dengan sumpah. Namun, jika dalam wakaf yang berurutan, menurut pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat, ia mendapatkannya tanpa sumpah.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ إِنَّهُمْ فِي الْوَقْفِ الْمُرَتَّبِ بَيْنَهُمْ، وَبَيْنَ الْوَاقِفِ وَاسِطَةٌ مِنَ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ قَدْ ثَبَتَ الْوَقْفُ بِهِمْ، وَالْبَطْنُ الثَّانِي بَدَلٌ مِنْهُمْ، فَانْتَقَلَ إِلَيْهِمْ مِنَ الْوَقْفِ مَا كَانَ لَهُمْ.

Perbedaan antara kedua hal tersebut adalah bahwa dalam waqaf yang berurutan di antara mereka, terdapat perantara dari generasi pertama antara mereka dan wakif, di mana waqaf telah ditetapkan untuk mereka, dan generasi kedua menjadi pengganti mereka, sehingga berpindahlah kepada mereka dari waqaf apa yang sebelumnya menjadi hak mereka.

وَإِذَا كَانَ الْوَقْفُ مُشْتَرَكًا، فَكُلُّ بَطْنٍ فِيهِ أَصْلٌ بِأَنْفُسِهِمْ مِنْ غَيْرِ وَسِيطٍ بَيْنَهُمْ، وَبَيْنَ الْوَاقِفِ، فَكَانَ حُكْمُ كُلِّ بَطْنٍ فِيهِ كَحُكْمِ الْبَطْنِ الْأَوَّلِ لَا يَسْقُطُ بِأَيْمَانِ بَعْضِهِمْ أَيْمَانُ غَيْرِهِمْ. فَإِنْ قِيلَ: فَقَدِ اعْتَرَفَ لَهُ شُرَكَاؤُهُ بِحَقِّهِ فِيهِ، فَلَمْ يَحْلِفْ عَلَيْهِ مَعَ اعْتِرَافِ مُسْتَحِقِّيهِ كَمَا لَوِ اعْتَرَفَ ثَلَاثَةُ شُرَكَاءَ فِي دَارٍ بِرَابِعٍ أَنَّهُ شَرِيكُهُمْ فِيهَا اسْتَحَقَّ سَهْمَهُ فِيهَا بِغَيْرِ يَمِينٍ قِيلَ: قَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا مَعَ نَصِّ الشَّافِعِيِّ، عَلَى أَنَّ نَصِيبَ الْحَادِثِ مَوْقُوفٌ عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Jika wakaf itu bersifat musytarak (bersama), maka setiap generasi (bathan) di dalamnya adalah asal (pokok) tersendiri tanpa perantara antara mereka dan wakif, sehingga hukum setiap generasi di dalamnya sama dengan hukum generasi pertama; hak mereka tidak gugur karena sumpah sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Jika dikatakan: Para mitranya telah mengakui haknya di dalamnya, maka ia tidak perlu bersumpah atasnya karena pengakuan para mustahiq, sebagaimana jika tiga orang mitra dalam sebuah rumah mengakui bahwa yang keempat adalah mitra mereka di dalamnya, maka ia berhak atas bagiannya tanpa sumpah. Maka dijawab: Para ulama kami berbeda pendapat dengan nash Imam Syafi‘i, bahwa bagian orang yang baru (hadits) tergantung pada sumpahnya setelah ia baligh, menurut tiga pendapat.

أَحَدُهَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْفَيَّاضِ الْبَصْرِيِّ أَنَّ الْجَوَابَ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ الْوَاقِفَ شَرَطَ فِي وَقْفِهِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَقْبَلْهُ كَانَ نَصِيبَهُ عَلَى شُرَكَائِهِ، فَلِذَلِكَ حَلَفَ الْحَادِثُ إِنْ صَدَّقَهُ الشُّرَكَاءُ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ مِنْ أَهْلِهِ بِقَبُولِهِ، وَقَبُولُهُ يَكُونُ بِيَمِينِهِ، لِأَنَّ سَهْمَهُ إِذَا لَمْ يُقْبَلْ عَائِدٌ عَلَيْهِمْ، وَلَوْ لَمْ يَشْتَرِطِ الْوَاقِفُ هَذَا اسْتَحَقَّ الْحَادِثُ سَهْمَهُ بِاعْتِرَافِ شُرَكَائِهِ بِغَيْرِ يَمِينٍ كَالدَّارِ الْمَمْلُوكَةِ بَيْنَ الشُّرَكَاءِ الثَّلَاثَةِ إِذَا اعْتَرَفُوا بِشَرِيكٍ رَابِعٍ فِيهَا.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-Fayyadh al-Bashri, yaitu bahwa jawaban tersebut didasarkan pada anggapan bahwa wakif mensyaratkan dalam wakafnya bahwa siapa pun yang tidak menerima bagian wakaf, maka bagiannya akan kembali kepada para syarikatnya. Oleh karena itu, orang yang baru datang harus bersumpah jika para syarikat membenarkannya, karena ia menjadi bagian dari mereka dengan penerimaannya, dan penerimaannya itu terjadi dengan sumpahnya. Sebab, jika bagiannya tidak diterima, maka bagian itu kembali kepada mereka. Namun, jika wakif tidak mensyaratkan hal ini, maka orang yang baru datang berhak atas bagiannya dengan pengakuan para syarikat tanpa sumpah, sebagaimana rumah milik bersama antara tiga orang syarikat, jika mereka mengakui adanya syarikat keempat di dalamnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ الْبَصْرِيِّينَ أَيْضًا إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى إِطْلَاقِ الْوَقْفِ إِذَا قِيلَ: إِنَّ سَهْمَ مَنْ لَمْ يُقْبَلْ أَوْ مَاتَ بَعْدَ قَبُولِهِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ رَاجِعٌ عَلَى الشُّرَكَاءِ، فَيُسْتَحْلَفُ الْحَادِثُ، وَيَرْجِعُ عَلَى الشُّهَدَاءِ إِنْ لَمْ يَحْلِفْ.

Pendapat kedua, yang juga merupakan pendapat sebagian ulama Basrah, adalah bahwa hal itu dimaknai sebagai kebolehan melepaskan wakaf secara mutlak, apabila dikatakan: bagian orang yang tidak diterima atau yang meninggal setelah diterima, dan ia tidak memiliki anak, maka bagian tersebut kembali kepada para sekutu. Maka orang yang baru datang diminta bersumpah, dan jika ia tidak bersumpah, maka bagian tersebut kembali kepada para saksi.

فَأَمَّا إِذَا قِيلَ: إِنَّ سَهْمَهُ رَاجِعٌ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ لَمْ يُسْتَحْلَفِ الْحَادِثُ، وَلَمْ يَرْجِعْ عَلَى الشُّرَكَاءِ إِنْ لَمْ يَحْلِفْ، لِأَنَّ أَصْحَابَ الشَّافِعِيِّ قَدِ اخْتَلَفُوا فِي مَذْهَبِهِ فِي الْوَقْفِ إِذَا لَمْ يَقْبَلْهُ أَحَدُ أَرْبَابِهِ، هَلْ يَكُونُ نَصِيبُهُ مَعَ إِطْلَاقِ شَرْطِ الْوَقْفِ عَائِدًا عَلَى شُرَكَائِهِ أَوْ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun jika dikatakan bahwa bagiannya kembali kepada fakir miskin, maka orang yang baru tidak diminta bersumpah, dan tidak kembali kepada para sekutu jika ia tidak bersumpah, karena para pengikut Imam Syafi‘i telah berbeda pendapat dalam mazhabnya mengenai wakaf apabila tidak ada seorang pun dari para pemiliknya yang menerimanya, apakah bagiannya dengan syarat wakaf yang bersifat umum kembali kepada para sekutunya atau kepada fakir miskin? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ: إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْأَمْوَالِ كُلِّهَا فِي أَنَّ الْحَادِثَ لَا يَسْتَحِقُّ نَصِيبَهُ، وَإِنِ اعْتَرَفَ لَهُ الشُّرَكَاءُ إِلَّا بِيَمِينِهِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَقْفِ، وَبَيْنَ الدَّارِ الْمَمْلُوكَةِ بَيْنَ الشُّرَكَاءِ بِفَرْقَيْنِ:

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Abu Hamid al-Isfara’ini, menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk seluruh harta, yaitu bahwa ahli waris yang muncul belakangan tidak berhak atas bagiannya, meskipun para sekutu mengakuinya, kecuali dengan sumpahnya. Ia membedakan antara wakaf dan rumah milik bersama di antara para sekutu dengan dua perbedaan.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ فِي الْوَقْفِ مُقِرُّونَ عَلَى الْوَاقِفِ، وَفِي غَيْرِ الْوَقْفِ مُقِرُّونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ.

Salah satunya: bahwa mereka dalam masalah wakaf mengakui atas (nama) pewakaf, sedangkan dalam selain wakaf mereka mengakui atas diri mereka sendiri.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي: إِنَّ فِي الْوَقْفِ حَقًّا لِلْبَطْنِ الثَّانِي، فَلَمْ يَنْفُذْ إِقْرَارُهُمْ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ فِي الْمِلْكِ حَقٌّ لِغَيْرِهِمْ.

Perbedaan kedua: Pada wakaf terdapat hak bagi generasi kedua, sehingga pengakuan mereka tidak berlaku atasnya, sedangkan dalam kepemilikan tidak terdapat hak bagi selain mereka.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا كَانَ سَهْمُ الرَّابِعِ وَهُوَ الرُّبْعُ مَوْقُوفًا عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ، وَلَوْ حَدَثَ خَامِسٌ وُقِفَ لَهُ خُمْسُ الْوَقْفِ عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ، فَإِنْ بَلَغَ الْحَادِثَانِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمَا بَعْدَ بُلُوغِهِمَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Maka apabila telah dipastikan apa yang telah kami sebutkan, maka bagian keempat, yaitu seperempat, digantungkan pada anak laki-laki yang lebih muda setelah ia baligh. Dan jika muncul anak kelima, maka seperlima dari wakaf digantungkan untuknya setelah ia baligh. Jika kedua anak yang baru lahir itu telah baligh, maka keadaan mereka berdua setelah baligh tidak lepas dari tiga kemungkinan:

إِمَّا أَنْ يَحْلِفَا أَوْ يَنْكُلَا أَوْ يَحْلِفَ أَحَدُهُمَا، وَيَنْكُلَ الْآخَرُ.

Yaitu, baik keduanya bersumpah, atau keduanya menolak bersumpah, atau salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lainnya menolak bersumpah.

فَإِنْ حَلَفَا اسْتَحَقَّ الرَّابِعُ الرُّبُعَ قَبْلِ حُدُوثِ الْخَامِسِ، وَالْخُمُسَ بَعْدَ حُدُوثِهِ، وَاسْتَحَقَّ الْخَامِسُ الْخُمُسَ لَا غَيْرَهُ، وَإِنْ نَكَلَا جَمِيعًا رُدَّ مَا وُقِفَ مِنْ رُبُعِ الرَّابِعِ وَخُمُسِ الْخَامِسِ عَلَى الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ.

Jika keduanya bersumpah, maka yang keempat berhak atas seperempat bagian sebelum munculnya yang kelima, dan berhak atas seperlima setelah munculnya yang kelima, sedangkan yang kelima hanya berhak atas seperlima saja, tidak lebih. Jika keduanya sama-sama menolak bersumpah, maka bagian seperempat milik yang keempat dan seperlima milik yang kelima dikembalikan kepada tiga saudara yang lain.

وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ سَقَطَ حَقُّ النَّاكِلِ، وَصَارَ الْوَقْفُ بَيْنَ أَرْبَعَةٍ، فَيَكْمُلُ لِلرَّابِعِ رُبُعُ الْوَقْفِ مِنْ حِينِ حُدُوثِهِ، وإلى وقت يمينه، ويرد ما زاد عليه عَلَى الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ. وَبَاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lainnya enggan (untuk bersumpah), maka gugurlah hak orang yang enggan, dan harta wakaf menjadi terbagi di antara empat orang. Maka, bagian seperempat harta wakaf menjadi sempurna bagi orang keempat sejak terjadinya (wakaf) hingga waktu ia bersumpah, dan kelebihan dari itu dikembalikan kepada tiga saudara lainnya. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” فإن مَاتَ مِنَ الْمُنْتَقَصِ حُقُوقُهُمْ أَحَدٌ فِي نِصْفِ عُمُرِ الَّذِي وُقِفَ لَهُ إِلَى أَنْ يَبْلُغَ رَدَّ حِصَّةَ الْمُوقَفِ عَلَى مَنْ مَعَهُ فِي الْحَبْسِ وَأُعْطِيَ وَرَثَةُ الْمَيِّتِ مِنْهُمْ بِقَدْرِ مَا اسْتَحَقَّ مِمَّا رُدَّ عَلَيْهِ بِقَدْرِ حَقِّهِ (قَالَ المزني) أصل قول الشافعي أن المحبس أزال ملك رقبته لله عز وجل وإنما يملك المحبس عليه منفعته لا رقبته كما أزال المعتق ملكه عن رقبة عبده وإنما يملك المعتق منفعة نفسه لا رقبته وهو لا يجيز اليمين مع الشاهد إلا فيما يملكه الحالف فكيف يخرج رقبة ملك رجل بيمين من لا يملك تلك الرقبة وهو لا يجيز يمين العبد مع شاهده بأن مولاه أعتقه لأنه لا يملك ما كان السيد يملكه من رقبته فكذلك يَنْبَغِي فِي قِيَاسِ قَوْلِهِ أَنْ لَا يُجِيزَ يمين المحبس عليه في رقبته الحبس لأنه لا يملك ما كان المحبس يملكه من رقبته (قال المزني) وإذا لم تزل رقبة الحبس بيمينه بطل الحبس من أصله وهذا عندي قياس قوله على أصله الذي وصفت ولو جاز الحبس على ما وصف الشافعي ما جاز أن يقر أهله أن لهم شريكا وينكر الشريك الحبس فيأخذون حقه لامتناعه من أن يحلف معهم فأصل قوله أن حق من لم يحلف موقوف حتى يحلف له ووارثه إن مات يقوم مقامه ولا يأخذ من حق أقر به لصاحبه شيئا لأن أخذه ذلك حرام “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika salah satu dari orang yang haknya dikurangi meninggal dunia di pertengahan masa yang telah ditetapkan baginya hingga ia baligh, maka bagian wakaf dikembalikan kepada orang yang bersamanya dalam tahanan (wakaf), dan ahli waris dari yang meninggal di antara mereka diberikan bagian sesuai dengan apa yang menjadi haknya dari apa yang dikembalikan kepadanya, sesuai dengan haknya.” (Al-Muzani berkata): Dasar pendapat Imam Syafi‘i adalah bahwa orang yang mewakafkan telah menghilangkan kepemilikan atas pokok (raqabah) harta itu karena Allah ‘azza wa jalla, dan yang dimiliki oleh penerima wakaf hanyalah manfaatnya, bukan pokoknya, sebagaimana orang yang memerdekakan budak telah menghilangkan kepemilikan atas pokok budaknya, dan yang dimiliki oleh orang yang memerdekakan hanyalah manfaat dirinya, bukan pokoknya. Ia (Imam Syafi‘i) tidak membolehkan sumpah bersama saksi kecuali dalam perkara yang dimiliki oleh orang yang bersumpah. Maka bagaimana mungkin pokok kepemilikan seseorang bisa keluar dengan sumpah orang yang tidak memilikinya? Ia juga tidak membolehkan sumpah budak bersama saksinya bahwa tuannya telah memerdekakannya, karena ia tidak memiliki apa yang dahulu dimiliki tuannya dari pokok budaknya. Maka demikian pula, menurut qiyās pendapatnya, tidak seharusnya membolehkan sumpah penerima wakaf atas pokok harta wakaf, karena ia tidak memiliki apa yang dahulu dimiliki oleh pewakaf dari pokoknya.” (Al-Muzani berkata): “Jika pokok harta wakaf tidak hilang dengan sumpahnya, maka batal wakaf itu dari asalnya. Dan menurutku, ini adalah qiyās pendapatnya atas dasar yang telah aku sebutkan. Seandainya wakaf itu sah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafi‘i, tidaklah boleh bagi keluarganya untuk mengakui bahwa mereka memiliki seorang sekutu, lalu sekutu itu mengingkari wakaf, sehingga mereka mengambil haknya karena ia menolak bersumpah bersama mereka. Maka dasar pendapatnya adalah bahwa hak orang yang tidak bersumpah tetap tertahan hingga ia bersumpah atau ahli warisnya jika ia meninggal menggantikan posisinya, dan ia tidak mengambil bagian yang telah diakui untuk temannya sedikit pun, karena mengambil bagian itu adalah haram.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَالْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي الْوَقْفِ الْمُشْتَرَكِ إِذَا وُقِفَ سَهْمُ مَنْ حَدَثَ عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ الشَّاهِدِ، فَمَاتَ بَعْضُ أَهْلِهِ، وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Permasalahan ini digambarkan dalam waqaf musytarak (waqaf bersama) apabila bagian seseorang yang baru datang setelah saksi diberikan kepadanya, kemudian sebagian keluarganya meninggal dunia. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَمُوتَ بَعْضُ مَنْ حَلَفَ، كَأَنَّهُ وَقَفَ سَهْمٌ رَابِعٌ حَادِثٌ، فَمَاتَ أَحَدُ الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ حَلَفُوا بَعْدَ أَنْ مَضَى للصبي الحادث الموقوف سهمه نصف عمر الصغر، وَهُوَ سَبْعُ سِنِينَ وَنِصْفٌ، لِأَنَّ مُدَّةَ الصِّغَرِ مِنْ وَقْتِ الْوِلَادَةِ إِلَى زَمَانِ الْبُلُوغِ، وَذَلِكَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَيُوقَفُ لِلْحَادِثِ بَعْدَ مَوْتِ أَحَدِ الثَّلَاثَةِ بَعْدَ أَنْ كَانَ الْمُوقَفُ لَهُ الرُّبُعَ، لِأَنَّهُ كَانَ قَبْلَ مَوْتِ أَحَدِ الثَّلَاثَةِ وَاحِدًا مِنْ أَرْبَعَةٍ، فَكَانَ نَصِيبُهُ الرُّبُعَ، وَصَارَ بَعْدَ مَوْتِ الثَّالِثِ وَاحِدًا مِنْ ثَلَاثَةٍ، فَصَارَ نَصِيبُهُ الثُّلُثَ، فَإِنْ بَلَغَ الْحَادِثَ، وَحَلَفَ اسْتَحَقَّ جَمِيعَ مَا وُقِفَ لَهُ مِنَ الرُّبُعِ فِي النِّصْفِ الْأَوَّلِ مِنْ عُمُرِ صِغَرِهِ، وَالثُّلُثَ فِي النِّصْفِ الثَّانِي مِنْ عُمُرِ صِغَرِهِ.

Salah satunya adalah: jika salah satu dari orang yang bersumpah meninggal dunia, misalnya ada bagian keempat yang ditahan untuk seorang anak yang baru lahir, lalu salah satu dari tiga saudara yang telah bersumpah itu meninggal setelah anak yang baru lahir itu melewati setengah masa kecilnya, yaitu tujuh setengah tahun, karena masa kecil dihitung sejak lahir hingga masa baligh, yaitu lima belas tahun. Maka bagian yang ditahan untuk anak yang baru lahir itu, setelah kematian salah satu dari tiga orang tersebut, yang sebelumnya bagian yang ditahan untuknya adalah seperempat, karena sebelum kematian salah satu dari tiga orang itu ia adalah satu dari empat orang sehingga bagiannya seperempat, lalu setelah kematian salah satu dari tiga orang itu ia menjadi satu dari tiga orang sehingga bagiannya menjadi sepertiga. Jika anak yang baru lahir itu telah baligh dan bersumpah, maka ia berhak mendapatkan seluruh bagian yang ditahan untuknya, yaitu seperempat pada setengah pertama masa kecilnya, dan sepertiga pada setengah kedua masa kecilnya.

وَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ سَقَطَ حَقُّهُ مِنَ الْوَقْفِ، وَرُدَّ الرُّبُعُ الْمَوْقُوفُ فِي الْأَوَّلِ عَلَى الْأَخَوَيْنِ الْبَاقِيَيْنِ وَعَلَى وَرَثَةِ الْمَيِّتِ الثَّالِثِ، وَرُدَّ الثُّلُثُ الْمَوْقُوفُ فِي الْآخِرِ عَلَى الْأَخَوَيْنِ خَاصَّةً دُونَ وَرَثَةِ الثَّالِثِ، لِأَنَّ الْمَيِّتَ يَسْتَحِقُّ اسْتِرْجَاعَ مَا وَقَفَ فِي حَيَاتِهِ، وَلَا يَسْتَحِقُّ اسْتِرْجَاعَ مَا وَقَفَ بَعْدَ مَوْتِهِ.

Jika ia menolak bersumpah, maka gugurlah haknya atas wakaf tersebut, dan seperempat bagian wakaf yang pertama dikembalikan kepada dua saudara yang masih hidup dan kepada ahli waris dari saudara ketiga yang telah meninggal, sedangkan sepertiga bagian wakaf yang terakhir dikembalikan hanya kepada dua saudara tersebut tanpa ahli waris dari yang ketiga, karena orang yang telah meninggal hanya berhak untuk mengambil kembali apa yang diwakafkan semasa hidupnya, dan tidak berhak mengambil kembali apa yang diwakafkan setelah kematiannya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَمُوتَ الْحَادِثُ الْمَوْقُوفُ سَهْمُهُ قَبْلَ بُلُوغِهِ، فَيَقُومُ وَرَثَتُهُ فِيهِ مَقَامَهُ لِانْتِقَالِ حَقِّهِ إِلَيْهِمْ بِالْمَوْتِ، وَهَكَذَا لَوْ وُقِفَ سَهْمُ مَجْنُونٍ حَتَّى يَفِيقَ [فَمَاتَ بَعْدَ بُلُوغِهِ وَقَبْلَ إِفَاقَتِهِ قَامَ وَرَثَتُهُ مَقَامَهُ، فَيَحْلِفُونَ وَيَسْتَحِقُّونَ أَوْ يَنْكُلُونَ] فَيُرَدُّ عَلَى أَهْلِ الْوَقْفِ وَإِذَا كَانَ هَكَذَا لَمْ يَخْلُ حَالُ وَارِثِ هَذَا الْمَيِّتِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Jenis kedua: Jika anak yang baru lahir yang bagian wakafnya ditahan meninggal sebelum baligh, maka para ahli warisnya menggantikan posisinya karena haknya berpindah kepada mereka melalui kematian. Demikian pula jika bagian seorang yang gila ditahan sampai ia sadar, lalu ia meninggal setelah baligh dan sebelum sadar, maka para ahli warisnya menggantikan posisinya; mereka bersumpah dan berhak menerima, atau menolak bersumpah sehingga bagian tersebut dikembalikan kepada ahli wakaf. Jika demikian, maka keadaan ahli waris orang yang meninggal ini tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَرِثَهُ عُمُومَتُهُ الثَّلَاثَةُ الَّذِينَ حَلَفُوا، فَهَلْ يَلْزَمُهُمْ فِي مِيرَاثِ سَهْمِهِ أَنْ يَحْلِفُوا عَلَى اسْتِحْقَاقِهِ لَهُ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ، قَدَّمْنَاهُمَا في الوقف المرتب:

Salah satunya: bahwa yang mewarisinya adalah tiga orang paman yang telah bersumpah, maka apakah mereka wajib bersumpah atas hak mereka terhadap bagian warisannya atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini, yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam pembahasan wakaf yang berurutan.

أحدها: لَا يَلْزَمُهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا، لِأَنَّهُمْ قَدْ حَلَفُوا.

Pertama: Mereka tidak wajib bersumpah, karena mereka telah bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَلْزَمُهُمْ أَنْ يَحْلِفُوا، لِأَنَّهُمْ حَلَفُوا فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ، وَهَذِهِ يَمِينٌ فِي حَقِّ غيرهم، فإن نكلوا عن هذه اليمين لَمْ يَسْتَحِقُّوا سَهْمَ الْمَيِّتِ، وَإِنِ اسْتَحَقُّوا سِهَامَ أَنْفُسِهِمْ.

Pendapat kedua: Mereka wajib bersumpah, karena mereka telah bersumpah untuk hak diri mereka sendiri, sedangkan sumpah ini berkaitan dengan hak orang lain. Jika mereka enggan bersumpah atas sumpah ini, maka mereka tidak berhak atas bagian dari harta si mayit, meskipun mereka berhak atas bagian untuk diri mereka sendiri.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ وَرَثَةُ الْمَيِّتِ مِمَّنْ لَا مَدْخَلَ لَهُمْ فِي الْوَقْفِ كَالزَّوْجَةِ وَالْأُمِّ وَالْجَدَّةِ وَالْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ لِلْأُمِّ، فَلَا حَقَّ لَهُمْ فِي سَهْمِهِمُ الْمَوْقُوفِ إِلَّا بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ، لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَسْتَحِقَّهُ الْمَيِّتُ إِلَّا بِيَمِينِهِ لَمْ يَسْتَحِقَّهُ وَرَثَتُهُ إِلَّا بِأَيْمَانِهِمْ، فَإِنْ حَلَفُوا جَمِيعًا اسْتَحَقُّوا جَمِيعَ الْمَوْقُوفِ، وَإِنْ حَلَفَ بَعْضُهُمْ، وَنَكَلَ بَعْضُهُمُ اسْتَحَقَّ الْحَالِفُ مِنْهُمْ قَدْرَ نَصِيبِهِ، وَرُدَّ نَصِيبُ مَنْ لَمْ يَحْلِفْ عَلَى الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ.

Jenis kedua: yaitu apabila para ahli waris dari orang yang meninggal adalah mereka yang tidak memiliki bagian dalam wakaf, seperti istri, ibu, nenek, saudara laki-laki dan perempuan seibu. Maka mereka tidak berhak atas bagian mereka yang diwakafkan kecuali setelah mereka bersumpah, karena ketika si mayit tidak berhak atasnya kecuali dengan sumpahnya, maka para ahli warisnya pun tidak berhak atasnya kecuali dengan sumpah mereka. Jika mereka semua bersumpah, maka mereka semua berhak atas seluruh bagian yang diwakafkan. Jika sebagian dari mereka bersumpah dan sebagian lainnya enggan, maka yang bersumpah berhak atas bagian sesuai bagiannya, dan bagian dari yang tidak bersumpah dikembalikan kepada tiga saudara.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ وَارِثُهُ مِمَّنْ لَهُ مَدْخَلٌ فِي الْوَقْفِ كَمَوْتِ الْمَجْنُونِ عَنْ حَمْلٍ وُلِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَيُوقَفُ مَا وَرِثَهُ عَنْ سَهْمِ أَبِيهِ عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ، وَيُسْتَأْنَفُ لَهُ وَقْفُ سَهْمِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ مِنْ أَصْلِ الْوَقْفِ عَلَى يَمِينِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ، فَيَصِيرُ الْمَوْقُوفُ لَهُ سَهْمَيْنِ: سَهْمُ أَبِيهِ وَسَهْمُ نفسه.

Jenis ketiga: yaitu apabila ahli warisnya adalah seseorang yang memiliki keterkaitan dalam wakaf, seperti kematian orang gila yang meninggalkan janin yang lahir setelah kematiannya. Maka, harta warisan yang diperolehnya dari bagian ayahnya diwakafkan untuknya setelah ia dewasa, dan dilakukan wakaf baru untuknya atas hak dirinya sendiri dari asal wakaf setelah ia dewasa. Dengan demikian, bagian yang diwakafkan untuknya menjadi dua bagian: bagian ayahnya dan bagian dirinya sendiri.

فَإِذَا بَلَغَ، فَفِي يَمِينِهِ وَجْهَانِ:

Maka apabila ia telah baligh, terdapat dua pendapat mengenai sumpahnya:

أَحَدُهُمَا: يَحْلِفُ يَمِينًا وَاحِدَةً عَلَى اسْتِحْقَاقِهِ لِسَهْمِ نَفْسِهِ، فَيَسْتَحِقُّ بِهَا سَهْمَ أَبِيهِ، وَسَهْمَ نَفْسِهِ إِذَا قِيلَ: إِنَّ عُمُومَتَهُ لَوْ وَرِثُوهُ لَمْ يَحْلِفُوا، فَإِنْ حَلَفَ عَلَى اسْتِحْقَاقِ سَهْمِ أَبِيهِ اسْتَحَقَّهُ؛ وَلَمْ يَسْتَحِقَّ سَهْمَ نَفْسِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَسْتَحِقُّ سَهْمَ أَبِيهِ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الْوَقْفِ.

Salah satunya: ia bersumpah satu kali atas haknya terhadap bagian dirinya sendiri, maka dengan sumpah itu ia berhak atas bagian ayahnya dan bagian dirinya sendiri, jika dikatakan bahwa para paman dari pihak ayahnya, seandainya mereka mewarisinya, tidak akan bersumpah. Namun jika ia bersumpah atas haknya terhadap bagian ayahnya, maka ia berhak atas bagian itu, tetapi tidak berhak atas bagian dirinya sendiri, karena bisa jadi ada orang yang berhak atas bagian ayahnya yang bukan termasuk ahli wakaf.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَحْلِفُ يَمِينَيْنِ، وَيَسْتَحِقُّ بِإِحْدَاهُمَا سَهْمَ أَبِيهِ، وَيَسْتَحِقُّ بِالْآخَرِ سَهْمَ نَفْسِهِ، إِذَا قِيلَ: إِنَّ عُمُومَتَهُ لَوْ وَرِثُوهُ حَلَفُوا.

Pendapat kedua: Ia bersumpah dua kali, dan dengan salah satu sumpah tersebut ia berhak atas bagian ayahnya, dan dengan sumpah yang lain ia berhak atas bagiannya sendiri, jika dikatakan bahwa para paman dari pihak ayahnya, jika mereka mewarisinya, mereka pun akan bersumpah.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Jika demikian, maka ada empat keadaan baginya:

الْأُولَى: أَنْ يَحْلِفَ الْيَمِينَيْنِ فَيَسْتَحِقَّ بِهِمَا السَّهْمَيْنِ.

Pertama: Seseorang bersumpah dua kali, sehingga ia berhak mendapatkan dua bagian.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَنْكُلَ عَنِ الْيَمِينَيْنِ، فَلَا يَسْتَحِقَّ السَّهْمَيْنِ.

Keadaan kedua: jika ia enggan bersumpah dua kali, maka ia tidak berhak mendapatkan dua bagian.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَحْلِفَ عَلَى حَقِّ أَبِيهِ، وَلَا يَحْلِفَ عَلَى حَقِّ نَفْسِهِ، فَيَسْتَحِقَّ سَهْمَ أَبِيهِ، وَلَا يَسْتَحِقَّ سَهْمَ نَفْسِهِ، وَيَخْرُجُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْوَقْفِ.

Keadaan ketiga: yaitu apabila ia bersumpah atas hak ayahnya, dan tidak bersumpah atas hak dirinya sendiri, maka ia berhak atas bagian ayahnya, dan tidak berhak atas bagiannya sendiri, serta ia keluar dari golongan orang-orang yang berhak menerima wakaf.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَحْلِفَ عَلَى حَقِّ نَفْسِهِ، وَلَا يَحْلِفَ عَلَى حَقِّ أَبِيهِ، فَيَسْتَحِقَّ سَهْمَ نَفْسِهِ، وَيَصِيرَ مِنْ أَهْلِ الْوَقْفِ، وَلَا يَسْتَحِقَّ سَهْمَ أَبِيهِ، وَيُرَدُّ عَلَى الْإِخْوَةِ الثَّلَاثَةِ.

Keadaan keempat: yaitu apabila ia bersumpah atas hak dirinya sendiri, dan tidak bersumpah atas hak ayahnya, maka ia berhak atas bagian untuk dirinya sendiri, dan menjadi termasuk ahli wakaf, namun ia tidak berhak atas bagian ayahnya, dan bagian tersebut dikembalikan kepada tiga saudara yang lain.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ، فَكَلَامُهُ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ، قَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَلَيْهِمَا:

Adapun al-Muzani, maka ucapannya mencakup dua bagian yang pembahasannya telah dijelaskan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْوَقْفَ كَالْعِتْقِ الَّذِي يَزُولُ بِهِ الْمِلْكُ إِلَى غَيْرِ مَالِكٍ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، كَذَلِكَ الْوَقْفُ لَا يُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْفَصْلِ حُكْمَيْنِ:

Salah satunya: Sesungguhnya wakaf itu seperti ‘itq (pembebasan budak) yang dengannya kepemilikan berpindah kepada selain pemilik, maka tidak boleh diputuskan dalam perkara ini dengan satu saksi dan sumpah; demikian pula wakaf, tidak boleh diputuskan di dalamnya dengan satu saksi dan sumpah. Maka pada bagian ini digantungkan dua hukum:

أَحَدُهُمَا: أَنْ جَعَلَ الْوَقْفَ غَيْرَ مَمْلُوكِ الرَّقَبَةِ، وَهُوَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa wakaf dianggap bukan milik atas kepemilikan barang, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: هُوَ مَمْلُوكُ الرَّقَبَةِ، وَقَدْ ذَكَرْنَا تَوْجِيهَ الْقَوْلَيْنِ.

Pendapat kedua: ia adalah milik penuh atas tubuh (mamlūk ar-raqabah), dan kami telah menyebutkan penjelasan kedua pendapat tersebut.

وَالْحُكْمُ الثَّانِي: إِنَّهُ لَا يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَقَدْ ذَكَرْنَا اخْتِلَافَ أَصْحَابِنَا فِيهِ، فَعَلَى قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَالْعِتْقِ، مُوافَقَةً لِلْمُزْنِيِّ فِيهِ.

Hukum kedua: Sesungguhnya ia tidak dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, dan kami telah menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami tentang hal ini. Menurut pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, hal itu tidak dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, sebagaimana halnya pembebasan budak, sejalan dengan pendapat al-Muzani dalam masalah ini.

وَعَلَى قَوْلِ أَبِي الْعَبَّاسِ يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، بِخِلَافِ الْعِتْقِ، وَإِنْ لَمْ يَمْلِكَا، فَخَالَفَهُ الْمُزَنِيُّ لِمَا ذَكَرَهُ مِنَ الْفَرْقَيْنِ بَيْنَ الْوَقْفِ وَالْعِتْقِ.

Menurut pendapat Abu al-‘Abbas, wakaf dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah, berbeda dengan pembebasan budak (‘itq). Meskipun keduanya tidak memiliki (harta), pendapat ini berbeda dengan pendapat al-Muzani karena alasan yang telah disebutkan mengenai perbedaan antara wakaf dan pembebasan budak.

وَالْفَصْلُ الثَّانِي: إِنَّ الْإِخْوَةَ الثَّلَاثَةَ إِذَا حَلَفُوا، وَصَارَ بِأَيْمَانِهِمْ وَقْفًا، وَانْتَقَلَ إِلَى غَيْرِهِمْ لَمْ يَحْلِفْ، وَلَا يُرَدُّ سَهْمُ مَنْ نَكَلَ عَلَى الْحَالِفِينَ، لِاعْتِرَافِهِمْ أَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُمْ فِيهِ، فَعَلَّقَ عَلَى هَذَا الْفَصْلِ حُكْمَيْنِ:

Bagian kedua: Sesungguhnya, jika tiga orang saudara bersumpah, lalu dengan sumpah mereka itu menjadi waqaf, dan kemudian berpindah kepada selain mereka yang tidak bersumpah, maka bagian orang yang enggan bersumpah tidak dikembalikan kepada orang-orang yang telah bersumpah, karena mereka telah mengakui bahwa mereka tidak memiliki hak di dalamnya. Maka, pada bagian ini terdapat dua hukum yang terkait.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَا يَحْلِفُ مَنْ دَخَلَ فِي الْوَقْفِ بَعْدَ أَيْمَانِ مَنْ تَقَدَّمَهُ.

Salah satunya: bahwa orang yang masuk ke dalam wakaf setelah sumpah orang-orang yang mendahuluinya, tidak bersumpah.

وَقَدْ ذَكَرْنَا اخْتِلَافَ أَصْحَابِنَا فِيهِ بِمَا أَغْنَى عَنْ إِعَادَتِهِ.

Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat para sahabat kami dalam masalah ini sehingga tidak perlu mengulanginya.

وَالْحُكْمُ الثَّانِي: إِنَّهُ لَا يُرَدُّ سَهْمُ النَّاكِلِ عَلَى الْحَالِفِ، وَقَدْ ذَكَرْنَا وُجُوهَ أَصْحَابِنَا فِي مَوْضُوعِ الْمَسْأَلَةِ، وَلَيْسَ بِمُمْتَنِعٍ أَنْ يُرَدَّ عَلَيْهِمْ، وَإِنِ اعْتَرَفُوا لَهُ بِالْحَقِّ، لِأَنَّ امْتِنَاعَهُ مِنَ الْيَمِينِ امْتِنَاعٌ مِنَ الْقَبُولِ، وَتَرْكَهُ لِقَبُولِ الْوَقْفِ يَجْعَلُهُ فِيهِ كَالْمَعْدُومِ فِي رَدِّهِ عَلَى الْمَوْجُودِينَ مِنْ أَهْلِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Hukum kedua: Sesungguhnya bagian orang yang menolak bersumpah tidak dikembalikan kepada orang yang bersumpah. Kami telah menyebutkan pendapat-pendapat para ulama kami dalam permasalahan ini, dan tidak mustahil untuk mengembalikannya kepada mereka, meskipun mereka mengakui haknya, karena penolakannya untuk bersumpah berarti penolakan untuk menerima, dan ketidaksediaannya menerima wakaf menjadikannya dalam hal ini seperti tidak ada ketika dikembalikan kepada ahli waris yang ada. Dan Allah Maha Mengetahui.

(باب الخلاف في اليمين مع الشاهد)

(Bab tentang perbedaan pendapat dalam sumpah bersama saksi)

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” قَالَ بَعْضُ النَّاسِ فَقَدْ أَقَمْتُمُ الْيَمِينَ مَقَامَ شَاهِدٍ قُلْتُ وَإِنْ أعطيت بها كما أعطيت بشاهد فليس معناها معنى شاهد وأنت تبرىء المدعى عليه بشاهدين وبيمينه إن لم يكن لَهُ بَيِّنَةٌ وَتُعْطِي الْمُدَّعِيَ حَقَّهُ بِنُكُولِ صَاحِبِهِ كما تعطيه بشاهدين أفمعنى ذلك معنى شاهدين؟ قال فكيف يَحْلِفُ مَعَ شَاهِدِهِ عَلَى وَصِيَّةٍ أَوْصَى بِهَا مَيِّتٌ أَوْ أَنَّ لِأَبِيهِ حَقًّا عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ صَغِيرٌ وَهُوَ إِنْ حَلَفَ حَلَفَ عَلَى ما لم يعلم قلت فأنت تجيز أن يشهد أن فلانا ابن فلان وأبوه غائب لم يرياه قط ويحلف ابْنَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً مَشْرِقِيًّا اشْتَرَى عَبْدًا ابْنَ مِائَةِ سَنَةٍ مَغْرِبِيًّا وُلِدَ قَبْلَ جَدِّهِ فَبَاعَهُ فَآبِقَ أَنَّكَ تُحَلِّفُهُ لَقَدْ بَاعَهُ بَرِيئًا من الإباق على البت قَالَ مَا يَجِدُ النَّاسُ بُدًّا مِنْ هَذَا غير أن الزهري أنكرها قلت فقد قضى بها حين ولي أرأيت ما رويت عن علي من إنكاره على معقل حديث بروع أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – جعل لها المهر والميراث ورد حديثه ومع علي زيد وابن عمر فهل رددت شيئا بالإنكار فكيف يحتج بإنكار الزهري وقلت له وكيف حكمت بشهادة قابلة في الاستهلال وهو ما يراه الرجال أم كَيْفَ حَكَمْتَ عَلَى أَهْلِ مَحَلَّةٍ وَعَلَى عَوَاقِلِهِمْ بِدِيَةِ الْمَوْجُودِ قَتِيلًا فِي مَحَلَّتِهِمْ فِي ثَلَاثِ سِنِينَ وَزَعَمْتَ أَنَّ الْقُرْآنَ يُحَرِّمُ أَنْ يَجُوزَ أَقَلُّ مِنْ شَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ وَزَعَمْتَ أَنَّ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْيَمِينَ بَرَاءَةٌ لِمَنْ حَلَفَ فخالفت في جملة قولك الكتاب والسنة أرأيت لو قال لك أهل المحلة أتدعي علينا فأحلف جميعنا وأبرئنا قال لا أحلفهم إذا جاوزوا خمسين رجلا ولا أبرئهم بأيمانهم وأغرمهم قلت فكيف جاز لك هذا قال روينا هذا عن عمر بن الخطاب رحمة الله عليه فقلت فإن قيل لك لا يجوز على عمر أن يخالف الكتاب والسنة وقال عمر نَفْسِهِ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قال لا يجوز أن أتهم من أثق به ولكن أقول بالكتاب والسنة وقول عمر على الخاص: قلت فلم لم يجز لنا مِنْ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ما أجزت لنفسك من عمر؟ قلت وقد رويتم أن عمر كتب فجلبهم إلى مكة وهو مسيرة اثنين وعشرين يوما فأحلفهم في الحجر وَقَضَى عَلَيْهِمْ بِالدِّيَةِ فَقَالُوا مَا وَقَتْ أَمْوَالَنَا أَيْمَانَنَا وَلَا أَيْمَانُنَا أَمْوَالَنَا فَقَالَ حَقَنْتُمْ بأيمانكم دماءكم فخالفتم في ذلك عمر فلا أنتم أخذتم بكل حكمه ولا تركتموه ونحن نروي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بالإسناد الصحيح أنه بدأ في القسامة بالمدعين فلما لم يحلفوا قال تبرئكم يهود بخمسين يمينا وإذ قال تبرئكم يهود فلا يكون عليهم غرم ويروى عن عمر أنه بدى المدعى عليهم ثم رد اليمين على المدعين وهذان جميعا يخالفان ما رويتم عنه وَقَدْ أَجَزْتُمْ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَهُمْ غَيْرُ الذين شرط الله عز وجل أَنْ تَجُوزَ شَهَادَتُهُمْ وَرَدَدْتُمْ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في اليمين مع الشاهد قال فإنا أجزنا شهادة أهل الذمة بقول الله عز وجل {أو آخران من غيركم} قلت سمعت من أرضى يقول من غير قبيلتكم من المسلمين ويحتج بقول الله جل وعز {تحبسونهما من بعد الصلاة} قلت والمنزل فيه هذه الآية رجل من العرب فأجزت شهادة مشركي العرب بعضهم على بعض قال: لا، إلا شهادة أهل الكتاب قلت فإن قال قائل لا إلا شهادة مشركي العرب فما الفرق فقلت له أفتجيز اليوم شهادة أهل الكتاب على وصية مسلم كما زعمت أنها في القرآن؟ قال لا لأنها منسوخة قلت بماذا؟ قال بقول الله عز وجل {وأشهدوا ذوي عدل منكم} قلت فقد زعمت بلسانك أنك خالفت القرآن إذ لم يجز الله إلا مسلما فأجزت كافرا وقال لي قائل إذا نص الله حُكْمًا فِي كِتَابِهِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ سَكَتَ عَنْهُ وَقَدْ بَقِيَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ مَا لَيْسَ في القرآن قلت فقد نص الله عز وجل الوضوء في كتابه فأحدث فِيهِ الْمَسْحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَنَصَّ مَا حَرَّمَ من النساء وَأَحَلَّ مَا وَرَاءَهُنَّ فَقُلْتَ لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلَا عَلَى خَالَتِهَا وَنَصَّ الْمَوَارِيثَ فقلت لَا يَرِثُ قَاتِلٌ وَلَا مَمْلُوكٌ وَلَا كَافِرٌ وإن كانوا ولدا أو والدا ونص حجب الأم بالإخوة فحجبتها بِأَخَوَيْنِ وَنَصَّ لِلْمُطَلَّقَةِ قَبْلَ أَنْ تُمَسَّ نِصْفَ المهر ورفع العدة فقلت إِنْ خَلَا بِهَا وَلَمْ يَمَسَّهَا فَلَهَا الْمَهْرُ وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَهَذِهِ أَحْكَامٌ مَنْصُوصَةٌ فِي الْقُرْآنِ فَهَذَا عِنْدَكَ خِلَافُ ظَاهِرِ الْقُرْآنِ وَالْيَمِينُ مَعَ الشاهد لا يخالف ظاهر القرآن شيئا والقرآن عربي فيكون عاما يُرَادُ بِهِ الْخَاصَّ وَكُلُّ كَلَامٍ احْتَمَلَ فِي الْقُرْآنِ مَعَانِيَ فَسُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَدُلُّ عَلَى أَحَدِ مَعَانِيهِ مُوافِقَةً لَهُ لَا مخالفة للقرآن (قال الشافعي) رحمه الله وما تركنا من الحجة عليهم أكثر مما كتبناه وبالله التوفيق “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Sebagian orang berkata, ‘Kalian telah menempatkan sumpah pada posisi seorang saksi.’ Aku katakan, meskipun aku memberikan hak dengan sumpah sebagaimana aku memberikannya dengan seorang saksi, maknanya tidak sama dengan makna saksi. Engkau membebaskan tergugat dengan dua orang saksi dan dengan sumpahnya jika ia tidak memiliki bukti, dan engkau memberikan hak kepada penggugat dengan penolakan lawannya sebagaimana engkau memberikannya dengan dua saksi. Apakah maknanya sama dengan dua saksi? Ia berkata, ‘Bagaimana seseorang bersumpah bersama saksinya atas wasiat yang diwasiatkan oleh orang yang telah meninggal, atau bahwa ayahnya memiliki hak atas seseorang, sementara ia masih kecil, dan jika ia bersumpah, ia bersumpah atas sesuatu yang tidak ia ketahui?’ Aku katakan, ‘Engkau membolehkan seseorang bersaksi bahwa si Fulan adalah anak si Fulan, padahal ayahnya sedang tidak ada dan keduanya belum pernah saling melihat, dan engkau membolehkan seorang anak berusia lima belas tahun dari Timur membeli seorang budak berusia seratus tahun dari Barat yang lahir sebelum kakeknya, lalu ia menjualnya, kemudian budak itu melarikan diri, lalu engkau menyuruhnya bersumpah bahwa ia benar-benar telah menjualnya dan terbebas dari tuduhan melarikan diri secara mutlak.’ Ia berkata, ‘Manusia tidak menemukan jalan keluar dari hal ini, hanya saja az-Zuhri mengingkarinya.’ Aku katakan, ‘Namun ia telah memutuskan dengan hal itu ketika ia menjabat. Bagaimana pendapatmu tentang riwayat dari ‘Ali yang mengingkari Ma‘qil dalam hadis Barwa‘ bahwa Nabi ﷺ menetapkan mahar dan warisan untuknya dan menolak hadisnya, dan bersama ‘Ali ada Zaid dan Ibnu ‘Umar. Apakah engkau menolak sesuatu hanya karena pengingkaran? Lalu bagaimana engkau berhujah dengan pengingkaran az-Zuhri? Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana engkau memutuskan dengan kesaksian bidan dalam perkara tangisan bayi yang tidak dilihat oleh laki-laki? Atau bagaimana engkau memutuskan atas penduduk suatu wilayah dan para penanggung diyat mereka dengan diyat seseorang yang ditemukan terbunuh di wilayah mereka selama tiga tahun, sementara engkau mengklaim bahwa Al-Qur’an mengharamkan diterimanya kurang dari seorang saksi laki-laki dan dua perempuan, dan engkau mengklaim bahwa sunnah Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa sumpah adalah pembebasan bagi siapa yang bersumpah? Maka dalam keseluruhan ucapanmu, engkau telah menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah. Bagaimana jika penduduk wilayah itu berkata kepadamu, ‘Apakah engkau menuduh kami? Maka bersumpahlah kami semua dan bebaskanlah kami.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan menyuruh mereka bersumpah jika jumlah mereka lebih dari lima puluh orang, dan aku tidak membebaskan mereka dengan sumpah mereka, tetapi aku membebankan diyat kepada mereka.’ Aku katakan, ‘Bagaimana engkau membolehkan hal ini?’ Ia berkata, ‘Kami meriwayatkan hal ini dari ‘Umar bin Khattab rahimahullah.’ Aku katakan, ‘Jika dikatakan kepadamu, tidak boleh bagi ‘Umar untuk menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan ‘Umar sendiri berkata, “Bukti atas penggugat dan sumpah atas tergugat.”’ Ia berkata, ‘Tidak boleh aku menuduh orang yang aku percaya, tetapi aku berpegang pada Al-Kitab, As-Sunnah, dan ucapan ‘Umar dalam perkara khusus.’ Aku katakan, ‘Mengapa tidak boleh bagi kami dari sunnah Rasulullah ﷺ apa yang engkau bolehkan untuk dirimu dari ‘Umar?’ Aku katakan, ‘Kalian juga meriwayatkan bahwa ‘Umar menulis surat lalu mengumpulkan mereka ke Mekah yang jaraknya dua puluh dua hari perjalanan, lalu ia menyuruh mereka bersumpah di Hijr dan memutuskan diyat atas mereka. Mereka berkata, “Harta kami tidak dapat menebus sumpah kami, dan sumpah kami tidak dapat menebus harta kami.” Lalu ia berkata, “Kalian telah melindungi darah kalian dengan sumpah kalian.” Maka kalian telah menyelisihi ‘Umar dalam hal itu. Kalian tidak mengambil seluruh keputusannya dan tidak pula meninggalkannya. Kami meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ dengan sanad yang sahih bahwa beliau memulai dalam kasus qasāmah dengan para penggugat. Ketika mereka tidak bersumpah, beliau berkata, “Apakah kalian membebaskan diri kalian dengan lima puluh sumpah dari pihak Yahudi?” Dan jika beliau berkata demikian, maka tidak ada kewajiban diyat atas mereka. Diriwayatkan pula dari ‘Umar bahwa ia memulai dari pihak tergugat, lalu mengembalikan sumpah kepada penggugat. Kedua hal ini bertentangan dengan apa yang kalian riwayatkan darinya. Kalian juga membolehkan kesaksian ahludz-dzimmah, padahal mereka bukanlah orang-orang yang Allah syaratkan agar kesaksiannya diterima, dan kalian menolak sunnah Rasulullah ﷺ tentang sumpah bersama saksi.’ Ia berkata, ‘Kami membolehkan kesaksian ahludz-dzimmah berdasarkan firman Allah {atau dua orang lain dari selain kalian}.’ Aku katakan, ‘Aku mendengar dari orang yang aku percaya bahwa maksudnya adalah dari selain kabilah kalian dari kalangan muslimin, dan ia berhujah dengan firman Allah {tahanlah mereka berdua setelah salat}.’ Aku katakan, ‘Ayat ini turun tentang seorang laki-laki Arab, lalu engkau membolehkan kesaksian musyrik Arab sebagian mereka atas sebagian yang lain?’ Ia berkata, ‘Tidak, kecuali kesaksian ahlul kitab.’ Aku katakan, ‘Jika ada yang berkata, tidak boleh kecuali kesaksian musyrik Arab, apa bedanya?’ Aku katakan kepadanya, ‘Apakah engkau membolehkan hari ini kesaksian ahlul kitab atas wasiat seorang muslim sebagaimana yang engkau klaim ada dalam Al-Qur’an?’ Ia berkata, ‘Tidak, karena telah di-nasakh.’ Aku katakan, ‘Dengan apa?’ Ia berkata, ‘Dengan firman Allah {dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian}.’ Aku katakan, ‘Engkau telah menyatakan dengan lisanmu bahwa engkau telah menyelisihi Al-Qur’an, karena Allah tidak membolehkan kecuali muslim, sementara engkau membolehkan kafir.’ Ada yang berkata kepadaku, ‘Jika Allah telah menetapkan suatu hukum dalam kitab-Nya, maka tidak boleh ada yang tersisa darinya, dan tidak boleh bagi siapa pun untuk membuat sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur’an.’ Aku katakan, ‘Allah telah menetapkan wudhu dalam kitab-Nya, lalu engkau menambahkan mengusap khuf, dan Allah telah menetapkan apa yang diharamkan dari wanita dan menghalalkan selain mereka, lalu engkau berkata, tidak boleh menikahi seorang wanita bersama bibinya atau bersama tante dari pihak ibu, dan Allah telah menetapkan hukum waris, lalu engkau berkata, pembunuh, budak, dan kafir tidak mewarisi, meskipun mereka adalah anak atau orang tua, dan Allah telah menetapkan penghalangan ibu oleh saudara, lalu engkau menghalanginya dengan dua saudara, dan Allah telah menetapkan bagi wanita yang dicerai sebelum digauli setengah mahar dan tidak ada masa iddah, lalu engkau berkata, jika telah berduaan dengannya tanpa menggaulinya maka ia berhak atas mahar penuh dan wajib menjalani iddah. Ini semua adalah hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, maka menurutmu ini menyelisihi zhahir Al-Qur’an, sedangkan sumpah bersama saksi tidak menyelisihi zhahir Al-Qur’an sedikit pun. Al-Qur’an berbahasa Arab, maka ia bersifat umum yang dimaksudkan untuk yang khusus, dan setiap lafaz dalam Al-Qur’an yang mengandung beberapa makna, maka sunnah Rasulullah ﷺ menunjukkan salah satu maknanya yang sesuai dengannya, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.” (Imam Syafi‘i rahimahullah berkata:) “Apa yang kami tinggalkan dari hujjah atas mereka lebih banyak dari yang kami tulis, dan hanya kepada Allah-lah taufik.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يُرِيدُ الشَّافِعِيُّ بِمَنْ حَكَى عَنْهُ بَعْضَ النَّاسِ، إِمَّا مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ أَوْ غَيْرَهُ مِنْ فُقَهَاءِ الْعِرَاقِ أَنَّهُ اعْتَرَضَ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِي حُكْمِهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فِي الْأَمْوَالِ دُونَ غَيْرِهَا، بِأَنَّهُ لَوْ أَقَامَ مَقَامَ الشَّاهِدَيْنِ فِي الْأَمْوَالِ، لَقَامَ مَقَامَهُمَا فِي غَيْرِ الْأَمْوَالِ، فَأَجَابَ الشَّافِعِيُّ عَنْ هَذَا، وَإِنْ كُنَّا قَدْ قَدَّمْنَا مِنْ دَلَائِلِ إِثْبَاتِهِ، وَنَفْيِهِ وَمَا أَوْضَحَ بِهِ الشَّافِعِيُّ حِجَاجَهُ، وَأَبْطَلَ بِهِ قَوْلَ مَنْ رَدَّ عَلَيْهِ، فَيَحْسُنُ تَوْضِيحُهُ، وَإِنْ تَقَدَّمَ مَا أَغْنَى عَنْهُ، فَقَالَ الشَّافِعِيُّ لِمَنْ عَارَضَهُ بِهَذَا الرَّدِّ: ” أَنَا وَإِنْ أَعْطَيْتُ بِهَا “، يَعْنِي: بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ مَا أُعْطِي بِشَاهِدَيْنِ ” فَلَيْسَ مَعْنَاهَا مَعْنَى شَاهِدٍ ” يَعْنِي فَلَيْسَ مَعْنَاهَا فِي كُلِّ مَوْضِعٍ مَعْنَى شَاهِدٍ، وَإِنْ كَانَ مَعْنَاهَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ مَعْنَى شَاهِدٍ ثُمَّ بَيَّنَ له الشافعي فساد اعتراضه، فقال: ” وأنت تبرىء الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِشَاهِدَيْنِ، وَبِيَمِينِهِ إِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ، وَتُعْطِي الْمُدَّعِيَ حَقَّهُ بِنُكُولِ صَاحِبِهِ كَمَا تُعْطِي بِالشَّاهِدَيْنِ، أَفَمَعْنَى ذَلِكَ مَعْنَى شَاهِدَيْنِ؟ ” يَعْنِي أَنَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ يَبْرَأُ بِيَمِينِهِ كَمَا يبرأ بشاهدين، وإن لم تكن اليمين فِي كُلِّ مَوْضِعٍ كَالشَّاهِدَيْنِ، وَأَنَّهُ يُحْكَمُ لِلْمُدَّعِي بِنُكُولِ صَاحِبِهِ كَمَا يُحْكَمُ لَهُ بِشَاهِدَيْنِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ النُّكُولُ فِي كُلِّ مَوْضِعٍ كَالشَّاهِدَيْنِ صَحَّ، وَأَنَّ الْحُكْمَ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ فِي مَوْضِعٍ لَا يُوجِبُ الْحُكْمَ بِهِمْ فِي كُلِّ مَوْضِعٍ، كَذَلِكَ الْحُكْمُ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ فِي مَوْضِعٍ لَا يُوجِبُ الْحُكْمَ بِهِ فِي كُلِّ مَوْضِعٍ، وَهَذَا جَوَابٌ مُقْنِعٌ.

Al-Mawardi berkata: Yang dimaksud asy-Syafi‘i dengan “sebagian orang yang ia nukil pendapatnya” adalah Muhammad bin al-Hasan atau selainnya dari para fuqaha Irak, yaitu bahwa ia mengkritik asy-Syafi‘i dalam menetapkan hukum dengan satu saksi dan sumpah dalam perkara harta, bukan selainnya, dengan alasan bahwa jika hal itu dapat menggantikan posisi dua saksi dalam perkara harta, maka seharusnya dapat pula menggantikan posisi keduanya dalam perkara selain harta. Maka asy-Syafi‘i menjawab hal ini, meskipun sebelumnya telah kami sebutkan dalil-dalil yang menetapkannya, menafikannya, serta penjelasan asy-Syafi‘i dalam berhujah dan pembatalan beliau terhadap pendapat orang yang menentangnya. Maka penjelasan ini tetap baik, meskipun sebelumnya telah ada penjelasan yang cukup. Asy-Syafi‘i berkata kepada orang yang menentangnya dengan bantahan ini: “Aku meskipun menetapkan dengan itu,” maksudnya: dengan sumpah bersama saksi, tidaklah sama dengan menetapkan dengan dua saksi, “maka maknanya tidak sama dengan makna saksi,” maksudnya, tidaklah maknanya dalam setiap tempat sama dengan makna saksi, meskipun dalam konteks ini maknanya seperti saksi. Kemudian asy-Syafi‘i menjelaskan kerusakan kritik tersebut, beliau berkata: “Dan engkau membebaskan tergugat dengan dua saksi, dan dengan sumpahnya jika ia tidak memiliki bukti, dan engkau memberikan hak kepada penggugat dengan penolakan lawannya sebagaimana engkau memberikannya dengan dua saksi. Apakah maknanya sama dengan makna dua saksi?” Maksudnya, bahwa tergugat bisa bebas dengan sumpahnya sebagaimana ia bebas dengan dua saksi, meskipun sumpah tidak selalu sama dengan dua saksi dalam setiap keadaan, dan bahwa diputuskan untuk penggugat dengan penolakan lawannya sebagaimana diputuskan untuknya dengan dua saksi, meskipun penolakan tidak selalu sama dengan dua saksi dalam setiap keadaan. Dan bahwa menetapkan hukum dengan satu saksi dan dua perempuan dalam suatu perkara tidak mewajibkan penetapan hukum dengan mereka dalam setiap perkara, demikian pula menetapkan hukum dengan sumpah bersama saksi dalam suatu perkara tidak mewajibkan penetapan hukum dengan keduanya dalam setiap perkara. Dan ini adalah jawaban yang memuaskan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَحَكَى الشَّافِعِيُّ عَنِ الْمُعْتَرِضِ عَلَيْهِ اعْتِرَاضًا ثَانِيًا، فَقَالَ فِي الرَّدِّ عَلَى الْحُكْمِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ: ” وَكَيْفَ يَحْلِفُ مَعَ شَاهِدِهِ عَلَى وَصِيَّةٍ أَوْصَى بِهَا مَيِّتٌ أَوْ أَنَّ لِأَبِيهِ حَقًّا عَلَى رَجُلٍ آخَرَ، وَهُوَ صَغِيرٌ؟ وَهُوَ إِنْ حَلَفَ حَلَفَ عَلَى مَا لَا يَعْلَمُ “؟

Syafi‘i meriwayatkan dari pihak yang mengkritiknya sebuah keberatan kedua, lalu ia berkata dalam bantahan terhadap penetapan hukum dengan satu saksi dan sumpah: “Bagaimana mungkin seseorang bersumpah bersama saksinya atas wasiat yang diwasiatkan oleh orang yang telah meninggal, atau bahwa ayahnya memiliki hak atas orang lain, padahal ia masih kecil? Jika ia bersumpah, maka ia bersumpah atas sesuatu yang tidak ia ketahui.”

يُرِيدُ الْمُعْتَرِضُ بِهَذَا الْفَصْلِ أَنْ اليمين تَكُونَ فِيمَا يَقْطَعُ الْحَالِفُ بِصِحَّتِهِ، وَأَنْتُمْ تُحَلِّفُونَهُ مَعَ شَاهِدِهِ فِيمَا لَا يَقْطَعُ بِصِحَّتِهِ مِنْ وَصِيَّةِ مَيِّتٍ لَهُ وَفِي دَيْنِ أَبِيهِ إِذَا مَاتَ عَنْهُ، وَهُوَ صَغِيرٌ، وَهُوَ لَا يَقْطَعُ بِصِحَّةِ الْوَصِيَّةِ، وَلَا بِاسْتِحْقَاقِ الدَّيْنِ؟ .

Yang dimaksud oleh pihak yang mengajukan keberatan dalam bagian ini adalah bahwa sumpah hanya berlaku pada perkara yang benar-benar diyakini kebenarannya oleh orang yang bersumpah, sedangkan kalian mewajibkan sumpah bersama saksinya dalam perkara yang tidak diyakini kebenarannya, seperti wasiat dari orang yang telah meninggal untuknya, atau dalam utang ayahnya jika ayahnya meninggal dan ia masih kecil, padahal ia tidak yakin akan kebenaran wasiat tersebut, maupun kepastian hak atas utang itu.

فَأَجَابَ الشَّافِعِيُّ عَنْ هَذَا الِاعْتِرَاضِ بِرَدِّهِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Maka asy-Syafi‘i menjawab keberatan ini dengan menolaknya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ قَالَ لِلْمُعْتَرِضِ: ” وَأَنْتَ تُجِيزُ أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ فُلَانَ ابْنُ فُلَانٍ، وَأَبُوهُ غَائِبٌ لَمْ يَرَ أَبَاهُ قَطُّ “، يَعْنِي فِي الشَّاهِدِ يَشْهَدُ لَهُ بِالنَّسَبِ أَوْ فِي الْوَلَدِ يَحْلِفُ عَلَى نَسَبِهِ، وَإِنْ لَمْ يَرَ أَبَاهُ، وَلَا سَبِيلَ لَهُمَا إِلَى الْقَطْعِ بِصِحَّةِ النَّسَبِ، فَلَمْ يَمْتَنِعْ مِثْلُ ذَلِكَ فِي الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ لِلْحَالِفِ طَرِيقًا إِلَى الْعِلْمِ بِهِ مِنْ وَجْهٍ يَقَعُ فِي نَفْسِهِ صِدْقُهُ إِمَّا مِنْ أَخْبَارٍ تَوَاتَرَ الْقَطْعُ بِهَا، وَإِمَّا أَخْبَارُ آحَادٍ يَقَعُ فِي النَّفْسِ صِدْقُهَا.

Salah satunya: Ia berkata kepada pihak yang mengajukan keberatan, “Dan engkau membolehkan seseorang bersaksi bahwa si Fulan adalah anak si Fulan, padahal ayahnya sedang tidak ada dan ia sama sekali belum pernah melihat ayahnya,” maksudnya adalah pada saksi yang bersaksi tentang nasabnya atau pada anak yang bersumpah atas nasabnya, meskipun ia belum pernah melihat ayahnya. Tidak ada jalan bagi keduanya untuk memastikan kebenaran nasab tersebut secara pasti, namun hal seperti itu tidak dihalangi dalam sumpah bersama saksi, karena bagi orang yang bersumpah terdapat jalan untuk mengetahui hal itu dari sisi yang membuat dirinya yakin akan kebenarannya, baik melalui berita-berita yang telah mutawatir sehingga pasti kebenarannya, maupun melalui berita-berita ahad yang membuat dirinya yakin akan kebenarannya.

وَالثَّانِي: إِنْ قَالَ لِلْمُعْتَرِضِ: ” وَأَنْتَ تُحَلِّفُ ابْنَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً مَشْرِقِيًّا اشْتَرَى عَبْدًا ابْنَ مِائَةِ سَنَةٍ مَغْرِبِيًّا وُلِدَ قَبْلَ جَدِّهِ، فَبَاعَهُ، فَآبِقَ، أَنَّكَ تُحَلِّفُهُ، لَقَدْ بَاعَهُ بَرِيئًا مِنَ الْإِبَاقِ عَلَى الْبَتِّ، فَأَجَابَهُ الْمُخَالِفُ بِأَنْ قَالَ: ” مَا يَجِدُ النَّاسُ بُدًّا مِنْ هَذَا “، وَهَذَا اعْتِذَارُ مَنْ يَضِيقُ عَلَيْهِ الِانْفِصَالُ، وَلَيْسَ بِجَوَابٍ.

Kedua: Jika ia berkata kepada pihak yang mengajukan keberatan: “Dan engkau bersumpah atas seorang anak berusia lima belas tahun dari wilayah timur yang membeli seorang budak berusia seratus tahun dari wilayah barat yang lahir sebelum kakeknya, lalu ia menjualnya, kemudian budak itu melarikan diri, maka engkau bersumpah bahwa sungguh ia telah menjualnya dalam keadaan bebas dari pelarian secara mutlak,” lalu pihak yang menentang menjawab: “Manusia tidak menemukan jalan keluar dari hal seperti ini,” maka ini adalah alasan dari orang yang kesulitan untuk melepaskan diri, dan itu bukanlah jawaban.

وَطُرُقُ الْعِلْمِ فِي هَذَا مُمْتَنِعَةٌ، وَلَا يُمْنَعُ مِنَ الْيَمِينِ فِيهِ عَلَى الْبَتِّ، فَكَيْفَ يُمْنَعُ مِنْهَا مَعَ الشَّاهِدِ فِيمَا تَكْثُرُ طُرُقُ الْعِلْمِ بِصِحَّتِهِ.

Dan jalan-jalan untuk memperoleh ilmu dalam hal ini tertutup, namun sumpah tidak dilarang secara mutlak di dalamnya. Maka bagaimana mungkin sumpah dilarang bersamaan dengan adanya saksi dalam perkara yang banyak jalan untuk mengetahui kebenarannya?

فَأَمَّا مَذْهَبُنَا فِي يَمِينِ هَذَا الصَّبِيِّ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun mazhab kami mengenai sumpah anak kecil ini, para sahabat kami berbeda pendapat di dalamnya menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِنْ يَمِينَهُ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ، كَقَوْلِ الْعِرَاقِيِّينَ، وَإِنَّمَا أَوْرَدَهُ الشَّافِعِيُّ عَلَى وَجْهِ الْمُعَارَضَةِ دُونَ الْإِنْكَارِ.

Salah satunya: jika sumpahnya bersifat pasti dan tegas, seperti pendapat para ulama Irak, dan sesungguhnya Imam Syafi‘i mengemukakannya dalam bentuk perbandingan, bukan sebagai penolakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يُحْلِفَهُ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْقَطْعِ، فَيَحْلِفُ بِاللَّهِ لَقَدْ بَاعَهُ، وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ آبِقٌ، لِأَنَّهُ غَايَةُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ، فَيَكُونُ ذِكْرُ الشَّافِعِيِّ لَهُ عَلَى وَجْهِ الْمُعَارَضَةِ، وَإِنْكَارِ إِحْلَافِهِ عَلَى الْبَتِّ.

Pendapat kedua: Seseorang diminta bersumpah atas dasar pengetahuan, bukan atas dasar keyakinan pasti. Maka ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia benar-benar telah menjualnya, dan ia tidak mengetahui bahwa barang itu adalah budak yang melarikan diri, karena itulah batas kemampuan yang ia miliki. Maka penyebutan Imam Syafi‘i terhadap hal ini adalah dalam rangka perlawanan dan penolakan terhadap permintaan sumpah atas dasar keyakinan pasti.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَحَكَى الشَّافِعِيُّ عَنْهُ اعْتِرَاضًا ثَالِثًا، قَدَحَ بِهِ فِي خَبَرِ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، أَنَّ الزُّهْرِيَّ أَنْكَرَهَا، فَجَعَلَ إِنْكَارَ الزُّهْرِيِّ قَدْحًا فِي الْخَبَرِ، وَمَانِعًا مِنَ الْعَمَلِ بِهِ.

Syafi‘i meriwayatkan darinya (Imam Malik) sebuah keberatan ketiga, yang beliau jadikan sebagai celaan terhadap hadis tentang sumpah bersama satu saksi, yaitu bahwa az-Zuhri mengingkarinya. Maka beliau menjadikan pengingkaran az-Zuhri sebagai celaan terhadap hadis tersebut dan sebagai penghalang untuk mengamalkannya.

وَأَجَابَ الشَّافِعِيُّ عَنْهُ بِجَوَابَيْنِ، وَأَجَابَ أَصْحَابُهُ عَنْهُ بِجَوَابَيْنِ.

Syafi‘i menjawab permasalahan tersebut dengan dua jawaban, dan para pengikutnya juga memberikan dua jawaban atasnya.

أَحَدُ جَوَابَيِ الشَّافِعِيِّ مَا رَوَاهُ الزُّهْرِيُّ قَضَاءً بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ حِينَ وَلَّى، وَلَا يَثْبُتُ إِنْكَارُهَا مَعَ الْعَمَلِ بِهَا.

Salah satu jawaban asy-Syafi‘i adalah riwayat dari az-Zuhri tentang putusan dengan sumpah bersama satu saksi ketika beliau menjadi hakim, dan tidak dapat dipastikan penolakannya terhadap hal itu selama beliau tetap mengamalkannya.

وَالثَّانِي: أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ قَدْ أَنْكَرَ عَلَى مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ مَا رَوَاهُ مِنْ حَدِيثِ بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍّ أَنَّ زَوْجَهَا مَاتَ عَنْهَا قَبْلَ الدُّخُولِ، وَقَدْ نَكَحَهَا عَلَى غَيْرِ صَدَاقٍ، وَأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – جَعَلَ لَهَا الْمَهْرَ وَالْمِيرَاثَ.

Kedua: Ali ‘alaihis salam telah mengingkari Ma‘qil bin Yasar atas apa yang diriwayatkannya dari hadis Barwa‘ binti Washiq, bahwa suaminya wafat sebelum berhubungan dengannya, dan ia telah menikahinya tanpa mahar, lalu Nabi ﷺ menetapkan baginya mahar dan warisan.

وَوَافَقَ عَلِيًّا فِي إِنْكَارِهِ عَلَى مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ مِنْ جُلَّةِ الصَّحَابَةِ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، فَعَمِلَ بِهِ أَبُو حَنِيفَةَ، وَلَمْ يَرُدُّهُ بِإِنْكَارِ عَدَدٍ مِنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ.

Dan di antara para sahabat utama yang sependapat dengan Ali dalam mengingkari Ma‘qil bin Yasar adalah Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Maka Abu Hanifah pun beramal dengan pendapat tersebut, dan tidak menolaknya meskipun ada sejumlah sahabat senior yang mengingkarinya.

وَرَدَّ عَلَيْنَا حَدِيثَ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ بِإِنْكَارِ الزُّهْرِيِّ، وَهُوَ وَاحِدٌ مِنَ التَّابِعِينَ، وَأَحَدُ جَوَابَيْ أَصْحَابِهِ أَنَّ إِنْكَارَ الزُّهْرِيِّ لِلْقَضَاءِ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ إِنَّمَا كَانَ فِي الدِّمَاءِ دُونَ الْأَمْوَالِ حِينَ بَلَغَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ قَضَى بِهِ فِي الشِّجَاجِ.

Ia menolak hadis tentang sumpah bersama satu saksi dengan alasan penolakan az-Zuhri, yang merupakan salah satu tabi’in. Salah satu jawaban dari para pengikutnya adalah bahwa penolakan az-Zuhri terhadap putusan dengan sumpah bersama satu saksi itu hanya berlaku dalam perkara darah, bukan dalam perkara harta, ketika sampai kepadanya bahwa Mu’awiyah memutuskan demikian dalam kasus luka-luka.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ قَدْ تَقَابَلَ فِي الزُّهْرِيِّ إِنْكَارُهُ وَعَمَلُهُ، فَسَقَطَا بِالْمُعَارَضَةِ، وَلَمْ يَكُنْ فِي أَحَدِهِمَا حُجَّةٌ.

Kedua: Sesungguhnya pada al-Zuhri terdapat pertentangan antara pengingkarannya dan amal perbuatannya, sehingga keduanya gugur karena saling bertentangan, dan tidak terdapat hujjah pada salah satunya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: ثُمَّ إِنَّ الشَّافِعِيَّ عَارَضَهُمْ فِي هَذَا الْفَصْلِ الرَّابِعِ، بِمَا تَنَاقَضَتْ فِيهِ مَذَاهِبُهُمْ، وَخَالَفُوا بِهِ أُصُولَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kemudian, asy-Syafi‘i membantah mereka dalam pasal keempat ini, dengan menunjukkan kontradiksi dalam mazhab-mazhab mereka, dan bahwa mereka telah menyelisihi prinsip-prinsip al-Kitab dan as-Sunnah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ حَكَمُوا فِي الِاسْتِهْلَالِ بِشَهَادَةِ امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهُوَ مِمَّا يَرَاهُ الرِّجَالُ، وَهَذَا إِنَّمَا أَوْرَدَهُ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّهُمْ مَنَعُوا مِنَ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اسْتَوْفَى الشَّهَادَاتِ فِي كِتَابِهِ، وَلَمْ يَذْكُرِ الْيَمِينَ مَعَ الشَّاهِدِ، فَصَارَ زَائِدًا عَلَى النَّصِّ

Salah satunya adalah: mereka memutuskan dalam perkara istihlal dengan kesaksian satu orang perempuan saja, padahal itu adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh laki-laki. Hal ini hanya disebutkan kepada mereka karena mereka melarang sumpah bersama saksi, sebab Allah Ta‘ala telah menyempurnakan ketentuan tentang kesaksian dalam Kitab-Nya dan tidak menyebutkan sumpah bersama saksi, sehingga hal itu menjadi tambahan atas nash.

الْمُفْضِي إِلَى النَّسْخِ، فَأَوْرَدَ عَلَيْهِمْ شَهَادَةَ الْمَرْأَةِ الْوَاحِدَةِ فِي الِاسْتِهْلَالِ عِنْدَ التَّنَازُعِ فِيهِ وَلَيْسَتِ الْمَرْأَةُ الْوَاحِدَةُ بِبَيِّنَةٍ، وَلَا لَهَا فِي النَّصِّ ذِكْرٌ، وَالشَّاهِدُ وَالْيَمِينُ أَقْوَى مِنْهَا، فَكَيْفَ رَدَدْتُمُ الْأَقْوَى، وَأَجَزْتُمُ الْأَضْعَفَ؟ ، وَجَعَلْتُمُ الْأَقْوَى زَائِدًا عَلَى النَّصِّ الْمُفْضِي إِلَى النَّسْخِ، وَلَمْ تَجْعَلُوا ذَلِكَ فِي الْأَضْعَفِ؟ هَلْ هُوَ إِلَّا تَنَاقُضٌ فِي الْقَوْلِ وَإِبْطَالٌ لِمَعْنَى النَّصِّ فِي شَهَادَةِ النِّسَاءِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى} [البقرة: 282] ، فَاقْتَصَرُوا عَلَى الْمَرْأَةِ الْوَاحِدَةِ، وَإِنْ لَمْ تُذَكِّرْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى.

Hal yang mengarah pada nasakh, maka mereka mengemukakan tentang kesaksian satu orang perempuan dalam perkara istihlal ketika terjadi perselisihan padanya, padahal satu orang perempuan bukanlah suatu bayyinah, dan tidak disebutkan dalam nash, sementara saksi dan sumpah lebih kuat darinya. Maka bagaimana kalian menolak yang lebih kuat, namun membolehkan yang lebih lemah? Dan kalian menganggap yang lebih kuat sebagai tambahan atas nash yang mengarah pada nasakh, namun tidak melakukan hal itu pada yang lebih lemah? Bukankah ini merupakan kontradiksi dalam ucapan dan pembatalan makna nash dalam kesaksian perempuan dengan firman-Nya Ta‘ala: {agar jika salah satu dari mereka lupa, maka yang lain mengingatkannya} (al-Baqarah: 282), lalu mereka mencukupkan dengan satu orang perempuan, meskipun salah satu dari mereka tidak mengingatkan yang lain.

وَالثَّانِي: إِنْ قَالَ لِمُعْتَقِدِ مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ: كَيْفَ حَكَمْتَ عَلَى أَهْلِ مَحَلَّةٍ، وَعَلَى عَوَاقِلِهِمْ بِدِيَةِ الْمَوْجُودِ قَتِيلًا فِي مَحَلَّتِهِمْ فِي ثَلَاثِ سِنِينَ؟ وَزَعَمْتَ أَنَّ الْقُرْآنَ يُحَرِّمُ أَنْ يَجُوزَ أَقَلُّ مِنْ شَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ وَزَعَمْتَ أَنَّ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْيَمِينَ بَرَاءَةٌ لِمَنْ حَلَفَ، فَخَالَفْتَ فِي جُمْلَةِ قَوْلِكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؟ وَأَرَادَ الشَّافِعِيُّ بِهَذَا الرَّدَّ عَلَيْهِمْ فِي أَمْرَيْنِ:

Kedua: Jika seseorang berkata kepada penganut mazhab Abu Hanifah: Bagaimana engkau memutuskan atas penduduk suatu daerah, dan atas ‘āqilah mereka, untuk membayar diyat atas seseorang yang ditemukan terbunuh di daerah mereka dalam waktu tiga tahun? Dan engkau mengklaim bahwa Al-Qur’an mengharamkan untuk menerima kurang dari satu saksi laki-laki dan dua perempuan, dan engkau mengklaim bahwa sunnah Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa sumpah adalah pembebasan bagi siapa yang bersumpah, maka dengan keseluruhan perkataanmu itu engkau telah menyelisihi Al-Kitab dan sunnah? Dan dengan ini, asy-Syafi‘i bermaksud membantah mereka dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ أَجَازُوا فِي الْقَسَامَةِ مَا تُمْنَعُ مِنْهُ الأصول بغير أصل، وردوا اليمين مَعَ الشَّاهِدِ، وَهُوَ غَيْرُ مُخَالِفٍ لِلْأُصُولِ، وَلَهُ فِيهِ أَصْلٌ.

Salah satunya: mereka membolehkan dalam kasus qasāmah sesuatu yang dilarang oleh prinsip-prinsip dasar tanpa adanya dasar, dan mereka menolak sumpah bersama saksi, padahal hal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar, dan ada dasarnya dalam hal tersebut.

وَالثَّانِي: إِنَّ السُّنَّةَ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْيَمِينَ مُبَرِّئَةٌ، وَهُمْ جَعَلُوهَا، مُلْزِمَةً، فَعَلَّقُوا عَلَيْهَا ضِدَّ مُوجِبِهَا، وَلَيْسَ يَتَعَلَّقُ عَلَى الشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ ضِدُّ مُوجِبِهِ، فَأَجَابُوهُ عَنِ اعْتِرَاضِهِ عَلَيْهِمْ بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ بِأَنْ قَالُوا: رَوَيْنَا هَذَا عَنْ عُمَرَ، فَاتَّبَعْنَاهُ، وَكَانَ أَصْلًا فِيهِ، فَرَدَّ الشَّافِعِيُّ عَلَيْهِمْ هَذَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Kedua: Sesungguhnya sunnah menunjukkan bahwa sumpah itu bersifat membebaskan, sedangkan mereka menjadikannya bersifat mewajibkan, sehingga mereka menggantungkan padanya sesuatu yang bertentangan dengan konsekuensinya. Tidaklah sesuatu yang bertentangan dengan konsekuensinya digantungkan pada saksi dan sumpah. Mereka menjawab keberatan terhadap mereka dalam dua hal ini dengan mengatakan: Kami meriwayatkan hal ini dari ‘Umar, maka kami mengikutinya, dan itu menjadi dasar dalam masalah ini. Maka asy-Syafi‘i membantah mereka dalam hal ini dari tiga sisi:

أَحَدُهَا: قَالَ: إِنَّ عُمَرَ لَا يَسْتَجِيزُ أَنْ يُخَالَفَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ، وَقَوْلُهُ فِي نَفْسِهِ: ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ “، وَقَدْ جَعَلُوهُ بِهَذَا مُخَالِفًا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَقَوْلِ نَفْسِهِ. وَرَدَدْتُمُ الْيَمِينَ مَعَ الشَّاهِدِ، وَفِيهِ سُنَّةٌ لَا تُخَالِفُ الْكِتَابَ، وَلَا السُّنَّةَ.

Salah satunya: Ia berkata, sesungguhnya Umar tidak membenarkan untuk menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, dan ucapannya sendiri: “Bukti ada pada pihak yang menuntut, dan sumpah atas pihak yang dituntut,” dan mereka menganggapnya dengan hal ini telah menyelisihi al-Kitab, as-Sunnah, dan ucapannya sendiri. Kalian telah menolak sumpah bersama saksi, padahal di dalamnya terdapat sunnah yang tidak menyelisihi al-Kitab maupun as-Sunnah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ قَالَ: قَدْ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ مَا لَمْ يَعْمَلُوا بِهِ، وَخَالَفْتُمُوهُ فِي أَرْبَعَةِ أَحْكَامٍ:

Pendapat kedua: Ia berkata, “Telah diriwayatkan dari Umar sesuatu yang tidak mereka amalkan, dan kalian telah menyelisihinya dalam empat hukum.”

أَحَدُهَا: إِنَّهُ جَلَبَهُمْ إِلَى مَكَّةَ مِنْ مَسِيرَةِ اثْنَيْنِ وَعِشْرِينَ يَوْمًا، وَهُمْ لَا يَرَوْنَ نَقْلَ الْخَصْمِ مِنْ بَلَدِهِ إِلَى غَيْرِ بَلَدِهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya ia telah membawa mereka ke Makkah dari jarak perjalanan dua puluh dua hari, padahal mereka tidak membolehkan memindahkan pihak lawan dari negerinya ke negeri lain.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ أَحْلَفَهُمْ فِي الْحِجْرِ، تَغْلِيظًا بِالْمَكَانِ، وَهُمْ لَا يَرَوْنَ تَغْلِيظَ الْأَيْمَانِ بِالْمَكَانِ.

Kedua: Sesungguhnya beliau menyuruh mereka bersumpah di Hijr, sebagai bentuk penegasan dengan tempat, sedangkan mereka tidak memandang adanya penegasan sumpah dengan tempat.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهُ اخْتَارَ مِنْ أَهْلِ الْحِجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا أَحْلَفَهُمْ، وَهُمْ يَجْعَلُونَ الْخِيَارَ لِوَلِيِّ الدَّمِ دُونَ الْوَالِي.

Ketiga: Sesungguhnya ia memilih dari kalangan penduduk Al-Hijr lima puluh orang laki-laki, lalu ia meminta mereka bersumpah, dan mereka memberikan hak pilihan (khiyār) kepada wali darah, bukan kepada penguasa.

وَالرَّابِعُ: إِنَّهُ أَلْزَمَهُمُ الدِّيَةَ، لَمَّا حَلَفُوا، فَقَالُوا: مَا وَفَّتْ أَمْوَالُنَا أَيْمَانَنَا، وَلَا أَيْمَانُنَا أَمْوَالَنَا، فَقَالَ: حَقَنْتُمْ بِأَيْمَانِكُمْ دِمَاءَكُمْ، فَصَرَّحَ بِأَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَحْلِفُوا أُقِيدُوا، وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْقَوَدَ، فَلَا بِكُلِّ قَوْلِ عُمَرَ أَخَذُوا، وَلَا لِجَمِيعِهِ رَدُّوا، فَإِنْ كَانَ قَوْلُهُ حُجَّةً فِيمَا أَخَذُوهُ كَانَ حُجَّةً فِيمَا رَدُّوهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حُجَّةً فِيمَا رَدُّوهُ، فَلَيْسَ بِحُجَّةٍ فِيمَا أَخَذُوهُ.

Keempat: Sesungguhnya Umar mewajibkan mereka membayar diyat ketika mereka telah bersumpah. Mereka berkata: “Harta kami tidak sebanding dengan sumpah kami, dan sumpah kami tidak sebanding dengan harta kami.” Maka Umar berkata: “Kalian telah melindungi darah kalian dengan sumpah kalian.” Dengan demikian, Umar menegaskan bahwa jika mereka tidak bersumpah, maka qishāsh akan diberlakukan kepada mereka, padahal mereka tidak berpendapat adanya qishāsh. Maka, mereka tidak mengambil seluruh pendapat Umar, dan tidak pula menolak seluruhnya. Jika pendapat Umar menjadi hujjah dalam hal yang mereka ambil, maka itu juga menjadi hujjah dalam hal yang mereka tolak. Dan jika pendapatnya bukan hujjah dalam hal yang mereka tolak, maka itu juga bukan hujjah dalam hal yang mereka ambil.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنْ قَالَ لَهُمْ: عَمِلْتُمْ بِقَوْلِ عُمَرَ فِي الْقَسَامَةِ بِمَا يُخَالِفُ الْأُصُولَ، وَلَمْ تَعْمَلُوا بِقَوْلِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي الشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ وَهُوَ غَيْرُ مُخَالِفٍ لِلْأُصُولِ، وَهُوَ حُجَّةٌ تَدْفَعُ قَوْلَ عُمَرَ، وَلَيْسَ قَوْلُ عُمَرَ حُجَّةً تَدْفَعُ قَوْلَ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، وَمَا خَالَفَ الْأُصُولَ مُمْتَنِعٌ، وَمَا لَمْ يُخَالِفْهَا فَتَبَعٌ، فَعَمِلُوا بِخِلَافِ مَا أَوْجَبَهُ الشَّرْعُ، وَرَدُّوا مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ.

Pendapat ketiga: Jika dikatakan kepada mereka: Kalian berpegang pada pendapat Umar dalam kasus al-qasāmah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar (al-uṣūl), namun kalian tidak berpegang pada sabda Rasulullah ﷺ tentang persaksian dan sumpah, padahal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar, dan itu adalah hujjah yang dapat membantah pendapat Umar, sedangkan pendapat Umar bukanlah hujjah yang dapat membantah sabda Rasulullah ﷺ. Apa yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar adalah sesuatu yang mustahil diterima, sedangkan apa yang tidak bertentangan dengannya adalah sesuatu yang mengikuti (prinsip-prinsip dasar). Maka mereka telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diwajibkan oleh syariat, dan menolak apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَعَارَضَهُمُ الشَّافِعِيُّ بِهَذَا الْفَصْلِ الْخَامِسِ، فَقَالَ: وَقَدْ أَجَزْتُمْ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ، وَهُمْ غَيْرُ الَّذِينَ شَرَطَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ تَجُوزَ شَهَادَتُهُمْ، وَرَدَدْتُمْ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ؟ يَعْنِي أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى شَرَطَ: {مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282] ، وليس الكفار بمرضيين، ولا يجعلوه مُخَالِفًا لِلنَّصِّ، وَيَجْعَلُونَ الْقَضَاءَ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، وَلَيْسَ بِمُخَالِفٍ لِلنَّصِّ، مُخَالِفًا لِلنَّصِّ، فَأَجَابُوهُ بِمَا حَكَاهُ عَنْهُمْ أَنْ قَالُوا: إِنَّمَا أَجَزْنَا شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ، بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ} [المائدة: 106] ، فَأَبْطَلَ جَوَابَهُمْ مِنْ أَرْبَعَةِ أوجه:

Syafi‘i membantah mereka dengan bab kelima ini, seraya berkata: “Kalian telah membolehkan kesaksian ahludz-dzimmah, padahal mereka bukanlah orang-orang yang Allah Ta‘ala syaratkan agar kesaksiannya boleh diterima, dan kalian telah menolak sunnah Rasulullah ﷺ tentang sumpah bersama saksi. Maksudnya, Allah Ta‘ala telah mensyaratkan: {dari saksi-saksi yang kalian ridhai} (al-Baqarah: 282), sedangkan orang kafir bukanlah orang yang diridhai, dan mereka tidak menganggap hal itu bertentangan dengan nash, serta mereka menetapkan keputusan dengan sumpah bersama saksi, dan tidak menganggapnya bertentangan dengan nash, padahal itu bertentangan dengan nash.” Maka mereka menjawabnya, sebagaimana yang dinukil darinya, bahwa mereka berkata: “Kami hanya membolehkan kesaksian ahludz-dzimmah berdasarkan firman Allah Ta‘ala: {atau dua orang lain dari selain kalian} (al-Ma’idah: 106).” Maka ia membatalkan jawaban mereka dari empat sisi:

الأول: إِنْ قَالَ: سَمِعْتُ مَنْ أَرْضَى بِقَوْلِهِ: ” مِنْ غَيْرِ قَبِيلَتِكُمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ” وَلَئِنْ تَرَدَّدَ التَّأْوِيلُ بَيْنَ احْتِمَالَيْنِ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ دَيْنِكُمْ، وَمِنْ غير أهل قبلتكم فَحَمْلُهُ عَلَى غَيْرِ أَهْلِ الْقَبِيلَةِ، لِمُوافَقَةِ النَّصِّ أَوْلَى مِنْ حَمْلِهِ عَلَى غَيْرِ أَهْلِ الدَّيْنِ لِمُخَالَفَةِ النَّصِّ مَعَ قَوْلِهِ: {تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ} [المائدة: 106] .

Pertama: Jika ia berkata, “Aku mendengar dari orang yang aku ridai ucapannya: ‘dari selain kabilah kalian dari kalangan Muslimin’,” dan jika penafsiran itu masih ragu antara dua kemungkinan, yaitu: dari selain agama kalian, atau dari selain kabilah kalian, maka menafsirkannya dengan ‘selain kabilah’ lebih utama karena sesuai dengan nash, dibandingkan menafsirkannya dengan ‘selain agama’ yang bertentangan dengan nash, sebagaimana firman Allah: {Kalian tahan kedua orang itu setelah salat} (QS. Al-Ma’idah: 106).

وَالثَّانِي: إِنَّهَا نَزَلَتْ فِي الْعَرَبِ، وَكُفَّارُهُمْ مُشْرِكُونَ لَا يَقْبَلُ أَبُو حَنِيفَةَ شَهَادَتَهُمْ، وَإِنَّمَا يَقْبَلُ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَالْكِتَابِ.

Kedua: Sesungguhnya ayat tersebut turun mengenai orang-orang Arab, dan orang-orang kafir di antara mereka adalah musyrik yang kesaksiannya tidak diterima oleh Abu Hanifah, dan beliau hanya menerima kesaksian dari ahludz-dzimmah dan ahli kitab.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهَا نَزَلَتْ فِي وَصِيَّةِ مُسْلِمٍ، وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُجِيزُ شَهَادَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ لِمُسْلِمٍ، وَلَا عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا يُجِيزُهَا لِبَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ، فَإِنَّهُ مَنَعَ مِنْهَا فِي الْمُسْلِمِ مَعَ مَجِيءِ الْقُرْآنِ بِهَا، لِأَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ عِنْدَهُ، وَرَدَّ شَهَادَةَ أَهْلِ الشِّرْكِ عُمُومًا، وَفِي أَهْلِ الْكِتَابِ لِمُسْلِمٍ، وَعَلَى مُسْلِمٍ.

Ketiga: Sesungguhnya ayat tersebut turun berkenaan dengan wasiat seorang Muslim, dan Abu Hanifah tidak membolehkan kesaksian Ahlul Kitab untuk (kepentingan) seorang Muslim, maupun terhadapnya, melainkan hanya membolehkannya di antara sesama mereka saja. Maka ia melarang hal itu pada (perkara) Muslim, meskipun Al-Qur’an telah menyebutkannya, karena menurutnya ayat tersebut telah di-nasakh. Ia juga menolak kesaksian para penyembah berhala secara umum, dan (menolak) kesaksian Ahlul Kitab untuk seorang Muslim maupun terhadap seorang Muslim.

فَاعْتَرَضَ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ، فَقَالَ: ” بِمَاذَا نُسِخَتْ “؟ ، فَقَالَ: بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282] ، فَأَجَابَهُ الشَّافِعِيُّ عَنْهُ، فَقَالَ: زَعَمْتَ بلسانك أَنَّكَ خَالَفْتَ الْكِتَابَ إِذْ لَمْ يُجِزِ اللَّهُ إِلَّا مُسْلِمًا، وَأَجَزْتَ كَافِرًا.

Lalu Imam Syafi‘i menanggapi, seraya berkata: “Dengan apa ayat itu di-nasakh-kan?” Ia menjawab: “Dengan firman Allah Ta‘ala: {dari saksi-saksi yang kalian ridhai} (QS. Al-Baqarah: 282).” Maka Imam Syafi‘i membalasnya, seraya berkata: “Dengan ucapanmu sendiri, engkau telah mengakui bahwa engkau telah menyelisihi al-Kitab, karena Allah tidak membolehkan kecuali (saksi) seorang Muslim, sedangkan engkau membolehkan (saksi) seorang kafir.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَحَكَى الشَّافِعِيُّ عَنْهُمْ فِي هَذَا الْفَصْلِ السَّادِسِ أَنَّهُ إِذَا نَصَبَ اللَّهُ تَعَالَى حُكْمًا فِي كِتَابِهِ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ سَكَتَ عَنْهُ، وَقَدْ بَقِيَ مِنْهُ شَيْءٌ، وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ مَا لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ.

Syafi‘i meriwayatkan dari mereka dalam bab keenam ini bahwa apabila Allah Ta‘ala telah menetapkan suatu hukum dalam Kitab-Nya, maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah diam terhadapnya sementara masih ada bagian darinya yang tersisa, dan tidak boleh bagi siapa pun untuk membuat sesuatu yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

مُرَادُهُمْ بِهَذَا: أَنْ يَمْنَعُوا مِنَ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ بَيَّنَ الشَّهَادَاتِ، فَاقْتَضَى أَنْ تَكُونَ مَقْصُورَةً عَلَى مَا تَضَمَّنَهُ الْكِتَابُ، وَلَيْسَ فِيهِ الشَّاهِدُ وَالْيَمِينُ، وَهَذَا مِمَّا يُخَالِفُهُمْ فِيهِ الشَّافِعِيُّ حُكْمًا وَوُجُودًا، فَحَكَى مِنْ وُجُودِهِ مَا وَافَقُوا عَلَيْهِ، وَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِهِ، فَقَالَ: ” قَدْ نَصَّ اللَّهُ الْوُضُوءَ فِي كِتَابِهِ، فَأَجَزْتَ فِيهِ الْمَسْحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ، وَنَصَّ مَا حَرَّمَ مِنَ النِّسَاءِ فِي كِتَابِهِ، وَأَحَلَّ مَا وَرَاءَهُنَّ، فَقُلْتَ: لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا، وَلَا عَلَى خَالَتِهَا، وَنَصَّ الْمَوَارِيثَ، فَقَالَ: ” لَا يَرِثُ قَاتِلٌ وَلَا مَمْلُوكٌ، وَلَا كَافِرٌ، وَإِنْ كَانُوا وَلَدًا أَوْ وَالِدًا “، وَحَجَبَ الْأُمَّ بِالْإِخْوَةِ كَحَجَبْتَهَا بِأَخَوَيْنِ، وَنَصَّ لِلْمُطَلَّقَةِ قَبْلَ أَنْ تُمَسَّ نِصْفَ الْمَهْرِ، وَرَفْعَ الْعِدَّةِ، وَقُلْتُ: إِنْ خَلَا بِهَا، وَلَمْ يَمَسَّهَا فَلَهَا الْمَهْرُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ، فَهَذِهِ أَحْكَامٌ مَنْصُوصَةٌ فِي الْقُرْآنِ، فَهَذَا عِنْدَكَ خِلَافُ ظَاهِرِ الْقُرْآنِ، وَالْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ لَا يُخَالِفُ مِنْ ظَاهِرِ الْقُرْآنِ شَيْئًا. فَبَيَّنَ الشَّافِعِيُّ وُجُودَهُ، وَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِهِ، ثُمَّ أَوْضَحَ طَرِيقَ جَوَازِهِ، فَقَالَ: ” وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ، فَيَكُونُ عَامُّ الظَّاهِرِ يُرَادُ بِهِ الْخَاصَّ، وَكُلُّ كَلَامٍ احْتَمَلَ فِي الْقُرْآنِ مَعَانِيَ، فَسُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَدُلُّ عَلَى أَحَدِ مَعَانِيهِ، مُوافِقَةً لَهُ لَا مُخَالِفَةً لِلْقُرْآنِ “. يُرِيدُ بِذَلِكَ إِنَّ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ عَامٍّ وَمُجْمَلٍ، فَفِي سُنَّةِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَخْصِيصُ مَا أُرِيدَ بِالْعُمُومِ، وَتَفْسِيرُ مَا أُرِيدَ بِالْمُجْمَلِ، فَلَمْ يَمْتَنِعْ أَنْ يُبَيِّنَ بِسُنَّتِهِ فِي الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ مَا يَكُونُ مُوافِقًا لِلْقُرْآنِ، وَغَيْرَ مُخَالِفٍ لَهُ، فَهَذِهِ سِتَّةُ أُصُولٍ أَوْرَدَهَا الشَّافِعِيُّ بَيْنَ ثَلَاثَةِ فُصُولٍ مِنْهَا، فَسَادُ مَا اعْتَرَضَ بِهِ الْمُخَالِفُ، وَبَيْنَ ثَلَاثَةٍ مِنْهَا تُنَاقِضُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْمُخَالِفُ عَلَى أَوْضَحِ شَرْحٍ وبيان، وبالله التوفيق.

Maksud mereka dengan hal ini adalah untuk melarang sumpah bersama saksi, karena Allah Ta‘ala telah menjelaskan tentang persaksian, sehingga hal itu menuntut agar persaksian terbatas pada apa yang tercantum dalam kitab (Al-Qur’an), dan di dalamnya tidak terdapat (ketentuan) saksi dan sumpah. Dalam hal ini, Imam Syafi‘i berbeda dengan mereka baik dalam hukum maupun kenyataannya. Ia menyebutkan adanya (sumpah bersama saksi) pada perkara yang mereka sepakati, dan itu merupakan dalil atas kebolehannya. Ia berkata: “Allah telah menegaskan tentang wudhu dalam kitab-Nya, lalu engkau membolehkan mengusap khuf (sepatu kulit) dalam wudhu; Allah telah menegaskan tentang apa yang diharamkan dari wanita dalam kitab-Nya, dan menghalalkan selain mereka, lalu engkau berkata: tidak boleh menikahi seorang wanita bersamaan dengan bibinya dari pihak ayah maupun ibu; Allah telah menegaskan tentang warisan, lalu engkau berkata: ‘Pembunuh, budak, dan orang kafir tidak mewarisi, meskipun mereka adalah anak atau orang tua’; dan engkau menghalangi ibu (mendapat warisan) karena adanya saudara, sebagaimana engkau menghalanginya dengan dua saudara; Allah telah menegaskan bagi wanita yang dicerai sebelum digauli setengah mahar dan tidak ada masa iddah, lalu engkau berkata: jika telah berduaan dengannya namun belum digauli, maka ia berhak atas mahar penuh dan wajib menjalani iddah.” Ini semua adalah hukum-hukum yang telah disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an, maka menurutmu ini bertentangan dengan zahir Al-Qur’an, sedangkan sumpah bersama saksi tidak bertentangan dengan zahir Al-Qur’an sedikit pun. Maka Imam Syafi‘i telah menjelaskan keberadaannya, dan itu adalah dalil atas kebolehannya. Kemudian ia menjelaskan cara kebolehannya, seraya berkata: “Al-Qur’an itu berbahasa Arab, maka keumuman zahirnya bisa dimaksudkan untuk yang khusus, dan setiap lafaz dalam Al-Qur’an yang mengandung beberapa makna, maka sunnah Rasulullah ﷺ menunjukkan salah satu maknanya, yang sesuai dengannya dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.” Maksudnya adalah bahwa apa yang ada dalam Al-Qur’an berupa lafaz umum dan mujmal, maka dalam sunnah Rasulullah ﷺ terdapat penjelasan khusus untuk apa yang dimaksudkan dengan keumuman, dan penafsiran untuk apa yang dimaksudkan dengan kemujmalan, sehingga tidak terhalang untuk menjelaskan dengan sunnahnya tentang sumpah bersama saksi yang sesuai dengan Al-Qur’an dan tidak bertentangan dengannya. Inilah enam kaidah yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i di antara tiga bagian darinya, sehingga batal apa yang dijadikan alasan oleh pihak yang menentang, dan di antara tiga bagian darinya bertentangan dengan apa yang ditempuh oleh pihak yang menentang dengan penjelasan yang paling jelas dan terang. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.

(باب موضع اليمين)

(Bab Tempat Sumpah)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” مَنِ ادَّعَى مَالًا فَأَقَامَ عَلَيْهِ شَاهِدًا أَوِ ادُّعِيَ عَلَيْهِ مَالٌ أَوْ جِنَايَةُ خَطَأٍ بِأَنْ بَلَغَ ذَلِكَ عِشْرِينَ دِينَارًا أَوِ ادَّعَى عَبْدٌ عِتْقًا تَبْلُغُ قِيمَتُهُ عِشْرِينَ دِينَارًا أَوِ ادَّعَى جِرَاحَةَ عَمْدٍ صَغُرَتْ أَوْ كَبُرَتْ أَوْ فِي طَلَاقٍ أَوْ لِعَانٍ أَوْ حَدٍّ أَوْ رَدِّ يَمِينٍ فِي ذَلِكَ فَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ بِمَكَّةَ كَانَتِ الْيَمِينُ بَيْنَ الْمَقَامِ وَالْبَيْتِ وَإِنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ كَانَتْ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَإِنْ كَانَتْ بِبَلَدٍ غَيْرِ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ أُحْلِفَ بَعْدَ الْعَصْرِ فِي مَسْجِدِ ذَلِكَ الْبَلَدِ بِمَا تُؤَكَّدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَيُتْلَى عَلَيْهِ {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قليلا} الْآيَةَ قَالَ وَهَذَا قَوْلُ حُكَّامِ الْمَكِّيِّينَ وَمُفْتِيهِمْ ومن حجتهم فيه أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ رَأَى قَوْمًا يحلفون بين المقام والبيت فَقَالَ أَعْلَى دَمٍ؟ قَالُوا لَا قَالَ أَفَعَلَى أمر عظيم؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَتَهَاوَنَ النَّاسُ بِهَذَا الْمَقَامِ قال فذهبوا إلى أن العظيم من الأموال ما وصفت من عشرين دينارا فصاعدا قال ابن أبي مليكة كَتَبَ إِلَيَّ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي جَارِيَتَيْنِ ضَرَبَتْ إحداهما الأخرى أَنْ أَحْبِسَهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ ثُمَّ أَقْرَأَ عَلَيْهِمَا {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قليلا} ففعلت فاعترفت قال واستدللت بقول الله جل ثناؤه {تحبسونهما من بعد الصلاة} قال المفسرون صلاة العصر على تأكيد اليمين على الحالف في الوقت الذي تعظم فيه اليمين وبكتاب أبي بكر الصديق رضي الله عنه يحلف عند المنبر مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وما بلغني أن عمر حلف عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في خصومة بينه وبين رجل وأن عثمان ردت عليه اليمين على المنبر فاتقاها وقال أخاف أن توافق قدر بلاء فيقال بيمينه قال وبسنة رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وأصحابه وأهل العلم ببلدنا دار السنة والهجرة وحرم الله عز وجل وحرم رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – اقتدينا “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Barang siapa mengklaim harta lalu mendatangkan seorang saksi atasnya, atau ada yang mengklaim harta terhadapnya, atau jinayah (tindak pidana) karena kesalahan yang nilainya mencapai dua puluh dinar, atau seorang budak mengklaim kemerdekaan yang nilainya dua puluh dinar, atau mengklaim luka sengaja, baik kecil maupun besar, atau dalam perkara talak, li‘an, hudud, atau penolakan sumpah dalam perkara tersebut, maka jika pengadilan dilakukan di Makkah, sumpah dilakukan di antara Maqam Ibrahim dan Ka‘bah. Jika di Madinah, sumpah dilakukan di atas mimbar Rasulullah ﷺ. Jika di negeri selain Makkah dan Madinah, maka bersumpah setelah Ashar di masjid negeri tersebut dengan cara yang menguatkan sumpah, dan dibacakan kepadanya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…} (QS. Ali Imran: 77). Ia berkata: Inilah pendapat para hakim dan mufti Makkah, dan di antara dalil mereka adalah bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf melihat sekelompok orang bersumpah di antara Maqam dan Ka‘bah, lalu ia bertanya: ‘Apakah ini karena darah (pembunuhan)?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia bertanya lagi: ‘Apakah karena perkara besar?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Aku khawatir orang-orang akan meremehkan tempat ini.’ Maka mereka berpendapat bahwa perkara besar dari harta adalah seperti yang aku sebutkan, yaitu dua puluh dinar ke atas. Ibnu Abi Mulaikah berkata: Ibnu ‘Abbas menulis surat kepadaku tentang dua budak perempuan, salah satunya memukul yang lain, agar aku menahan mereka berdua setelah Ashar, lalu aku bacakan kepada mereka ayat {Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…}, maka aku lakukan dan mereka mengakuinya. Ia berkata: Aku berdalil dengan firman Allah Ta‘ala {Kamu tahan mereka berdua setelah salat} (QS. Al-Ma’idah: 106), para mufassir mengatakan maksudnya adalah salat Ashar, untuk menegaskan sumpah pada waktu yang agung. Dan juga dengan surat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa sumpah dilakukan di dekat mimbar Rasulullah ﷺ. Aku juga mendengar bahwa ‘Umar bersumpah di atas mimbar Rasulullah ﷺ dalam perselisihan antara dia dan seseorang, dan bahwa ‘Utsman dikembalikan sumpah kepadanya di atas mimbar, lalu ia menghindarinya dan berkata: ‘Aku khawatir ini bertepatan dengan takdir musibah, lalu dikatakan karena sumpahnya.’ Juga dengan sunnah Rasulullah ﷺ, para sahabatnya, dan para ulama di negeri kami, negeri sunnah dan hijrah, Tanah Haram Allah dan Haram Rasulullah ﷺ, kami mengikuti mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: الْأَيْمَانُ مَوْضُوعَةٌ لِلزَّجْرِ، حَتَّى لَا يَتَعَدَّى طَالِبٌ، وَلَا مَطْلُوبٌ، فَجَازَ تَغْلِيظُهَا بِمَا سَاغَ فِي الشَّرْعِ مِنَ التَّغْلِيظِ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَالْعَدَدِ، وَاللَّفْظِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ، وَأَهْلِ الْحَرَمَيْنِ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Al-Mawardi berkata: Sumpah-sumpah itu ditetapkan untuk mencegah, agar tidak ada penuntut maupun yang dituntut yang melampaui batas. Maka diperbolehkan memperberat sumpah dengan cara-cara yang dibenarkan syariat, seperti memperberat dengan tempat, waktu, jumlah, dan lafaz. Inilah pendapat Syafi‘i, Malik, para ulama Haramain di Makkah dan Madinah, serta mayoritas fuqaha.

وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ تَغْلِيظَهَا بِالْعَدَدِ، وَاللَّفْظِ، وَمَنَعَ مِنْ تَغْلِيظِهَا بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَاسْتَبْدَعَهُ مِنَ الْحُكَّامِ احْتِجَاجًا بِرِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” فأطلق اليمين، كما أطلق البينة، فَوَجَبَ أَنْ تُحْمَلَ عَلَى إِطْلَاقِهَا مِنْ غَيْرِ تَغْلِيظٍ بِمَكَانٍ وَزَمَانٍ كَمَا حُمِلَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَى إِطْلَاقِهَا مِنْ غَيْرِ تَغْلِيظٍ بِمَكَانٍ وَزَمَانٍ وَلِأَنَّ اليمين حُجَّةَ الْمَطْلُوبِ، وَالْبَيِّنَةُ حُجَّةُ الطَّالِبِ. فَلَوْ جَازَ التَّغْلِيظُ فِي حُجَّةِ أَحَدِهِمَا لَجَازَ فِي حُجَّتِهِمَا، لِوُجُوبِ التَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمَا. وَفِي سُقُوطِهَا مِنْ حُجَّةِ الطَّالِبِ دَلِيلٌ عَلَى سُقُوطِهَا مِنْ حُجَّةِ الْمَطْلُوبِ، وَلِأَنَّهُ لَوْ جَازَ تَغْلِيظُهُمَا فِي بَعْضِ الْحُقُوقِ لَجَازَ تَغْلِيظُهُمَا فِي جَمِيعِ الْحُقُوقِ، لِأَنَّ مَا اسْتُحِقَّ فِي الْكَثِيرِ كَانَ مُسْتَحَقًّا فِي الْقَلِيلِ، كَالْبَيِّنَةِ وَالْيَمِينِ، فَلَمَّا لَمْ يُعْتَبَرِ التَّغْلِيظُ فِي الْقَلِيلِ لَمْ يُعْتَبَرْ فِي الْكَثِيرِ.

Abu Hanifah membolehkan penegasan sumpah dengan jumlah dan lafaz, namun melarang penegasannya dengan tempat dan waktu. Ia menganggap hal itu aneh dari para hakim yang beralasan dengan riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Bukti ada pada pihak yang menuntut, dan sumpah atas pihak yang dituntut.” Maka Nabi ﷺ mengumumkan sumpah sebagaimana mengumumkan bukti, sehingga wajib untuk memaknai sumpah secara umum tanpa penegasan dengan tempat dan waktu, sebagaimana bukti juga dimaknai secara umum tanpa penegasan dengan tempat dan waktu. Karena sumpah adalah hujjah bagi pihak yang dituntut, dan bukti adalah hujjah bagi pihak yang menuntut. Jika penegasan dibolehkan pada hujjah salah satu pihak, maka boleh juga pada hujjah keduanya, karena harus ada kesetaraan di antara keduanya. Dan dalam gugurnya penegasan dari hujjah pihak penuntut terdapat dalil atas gugurnya dari hujjah pihak yang dituntut. Dan jika penegasan itu dibolehkan pada sebagian hak, maka boleh juga pada seluruh hak, karena apa yang menjadi hak pada perkara besar juga menjadi hak pada perkara kecil, seperti bukti dan sumpah. Maka ketika penegasan tidak dianggap pada perkara kecil, maka tidak dianggap pula pada perkara besar.

وَدَلِيلُنَا: مَا رَوَاهُ صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَنْ حَلَفَ عِنْدَ مِنْبَرِي (وَرُوِيَ: عَلَى مِنْبَرِي) بِيَمِينٍ آثِمَةٍ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ولو قَضِيبٍ مِنْ أَرَاكٍ “.

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh Shafwan bin Sulaim dari Abdullah bin Abi Umamah dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bersumpah dusta di dekat mimbarku (atau: di atas mimbarku) dengan sumpah yang berdosa, maka ia telah menempati tempat duduknya di neraka, meskipun hanya dengan sebatang kayu siwak.”

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ تَغْلِيظَ الْيَمِينِ بِالْمِنْبَرِ مَشْرُوعٌ، وَالْحَالِفُ عِنْدَهُ مَزْجُورٌ، وَلِأَنَّ عَمَلَ الصَّحَابَةِ بِهِ شَائِعٌ، وَإِجْمَاعَهُمْ عَلَيْهِ مُنْعَقِدٌ.

Ini menunjukkan bahwa penegasan sumpah dengan menggunakan mimbar adalah sesuatu yang disyariatkan, dan orang yang bersumpah di dekatnya akan merasa terhalang (untuk berbohong), karena praktik para sahabat dalam hal ini sudah tersebar luas, dan ijmā‘ mereka atas hal tersebut telah terwujud.

رَوَى الْمُهَاجِرُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ: كَتَبَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقِ إِنْ أَبْعَثَ إِلَيْهِ بِقَيْسِ بْنِ الْمَكْشُوحِ فِي وِثَاقٍ، فَبَعَثْتُ بِهِ، فَأَحْلَفَهُ فِي قَتْلٍ عَلَى الْمِنْبَرِ خَمْسِينَ يَمِينًا.

Muhajir bin Abi Umayyah meriwayatkan: Abu Bakar Ash-Shiddiq menulis surat kepadaku agar aku mengirimkan Qais bin Al-Maksyuh kepadanya dalam keadaan terikat, maka aku pun mengirimkannya. Lalu Abu Bakar menyuruhnya bersumpah di atas mimbar sebanyak lima puluh sumpah dalam perkara pembunuhan.

وَرُوِيَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَوَجَّهَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ فِي خُصُومَةٍ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فِي أَرْضٍ، فَحَلَفَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ وَهَبَ لَهُ الْأَرْضَ بَعْدَ يَمِينِهِ. وَأَحْلَفَ عُمَرُ أَهْلَ الْقَسَامَةِ فِي الْحِجْرِ.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah terkena kewajiban sumpah dalam suatu perselisihan antara dirinya dan Ubay bin Ka‘b mengenai sebidang tanah. Maka Umar bersumpah di atas mimbar, kemudian setelah bersumpah ia menghadiahkan tanah itu kepada Ubay. Umar juga pernah menyuruh penduduk al-qasāmah untuk bersumpah di al-Hijr.

وَرُوِيَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَوَجَّهَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فِي أَرْبَعِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ، فَاتَّقَاهَا، وَدَفَعَ الْمَالَ، وَقَالَ: أَخَافُ أَنْ يُوافِقَ قَدَرَ بَلَاءٍ، فَيُقَالَ: بِيَمِينِهِ “.

Diriwayatkan bahwa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu pernah terkena kewajiban sumpah, ketika beliau berada di atas mimbar dalam perkara empat puluh ribu dirham. Maka beliau menghindari sumpah itu dan membayar uang tersebut, seraya berkata: “Aku khawatir akan bertepatan dengan takdir musibah, lalu dikatakan: karena sumpahnya.”

وَرُوِيَ أَنَّ ابْنَ أَبِي مُطِيعٍ، وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ اخْتَصَمَا إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ، وَكَانَ وَالِيًا عَلَى الْمَدِينَةِ، فَتَوَجَّهَتِ الْيَمِينُ عَلَى زَيْدٍ، فَأَمَرَهُ مَرْوَانُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَجَعَلَ زَيْدٌ يَمْتَنِعُ، وَيَحْلِفُ بِاللَّهِ أَنَّ حَقَّهُ لَحَقٌّ، فَقَالَ مَرْوَانُ: لَا وَاللَّهِ إِلَّا عِنْدَ مَقَاطِعِ الْحُقُوقِ، فَامْتَنَعَ، وَجَعَلَ مَرْوَانُ يَعْجَبُ من ذلك “.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi Muti‘ dan Zaid bin Tsabit berselisih di hadapan Marwan bin Hakam, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Madinah. Sumpah pun diarahkan kepada Zaid, lalu Marwan memerintahkannya untuk bersumpah di atas mimbar. Namun, Zaid menolak dan bersumpah demi Allah bahwa haknya memang benar. Maka Marwan berkata, “Tidak, demi Allah, kecuali di tempat pemutusan hak-hak.” Zaid tetap menolak, dan Marwan pun merasa heran atas hal itu.

قَالَ مَالِكٌ: أَكْرَهُ حَبْسَ الْيَمِينِ.

Malik berkata: Aku tidak menyukai penahanan sumpah.

وَرَوَى ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: كَتَبَ إِلَيَّ ابْنُ عَبَّاسٍ في جارية ضَرَبَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى، فَكَتَبَ إِلَيَّ أَنْ أَحْبِسَهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ، ثُمَّ أَقْرَأَ عَلَيْهِمَا: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا} [آل عمران: 77] فَفَعَلْتُ، فَاعْتَرَفَتْ.

Ibnu Abi Mulaikah meriwayatkan: Ibnu Abbas menulis surat kepadaku tentang seorang budak perempuan yang memukul budak perempuan lainnya. Maka ia menulis kepadaku agar aku menahan mereka berdua setelah waktu asar, kemudian membacakan kepada mereka ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…” (Ali Imran: 77). Maka aku pun melakukannya, lalu salah satu dari mereka mengakui perbuatannya.

وَرُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ رَأَى قَوْمًا يَحْلِفُونَ بَيْنَ الْبَيْتِ وَالْمَقَامِ، فَقَالَ: أَعْلَى دَمٍ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: أَفَعَلَى عَظِيمٍ مِنَ الْمَالِ؟ قَالُوا: لَا. قَالَ: لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَهْزَأَ النَّاسُ بِهَذَا الْمَقَامِ.

Diriwayatkan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf melihat sekelompok orang bersumpah di antara Ka‘bah dan Maqam Ibrahim. Ia berkata, “Apakah ini karena darah (pembunuhan)?” Mereka menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Apakah karena harta yang sangat besar?” Mereka menjawab, “Tidak.” Ia pun berkata, “Sungguh aku khawatir orang-orang akan meremehkan maqam ini.”

فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمْ يَحْلِفُونَ فِيهِ عَلَى الدَّمِ، وَعَلَى عَظِيمٍ مِنَ الْمَالِ، فَهَذَا مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ مَنْ ذَكَرْنَا مِنَ الصَّحَابَةِ قَوْلًا وَعَمَلًا، وَلَيْسَ يُعْرَفُ لَهُمْ فِيهِ مُخَالِفٌ، فَثَبَتَ أَنَّهُ إِجْمَاعٌ فَإِنْ قِيلَ: امْتِنَاعُ زَيْدٍ مِنَ الْيَمِينِ عَلَى الْمِنْبَرِ دَلِيلٌ عَلَى خِلَافِهِ، وَارْتِفَاعِ الْإِجْمَاعِ قِيلَ: لَمْ يَمْتَنِعْ إِلَّا لِلتَّوَقِّي دُونَ الْخِلَافِ، وَلَوْ لَمْ يَرَهُ جَائِزًا، لَأَنْكَرَهُ عَلَى مَرْوَانَ، فَقَدْ كَانَ يُنْكِرُ عَلَيْهِ كَثِيرًا مِنْ أَفْعَالِهِ، فَيُطِيعُهُ مَرْوَانُ، حَتَّى قَالَ لَهُ ذَاتَ يَوْمٍ بِمَشْهَدِ الْمَلَأِ: إِنَّكَ أَحْلَلْتَ الرِّبَا، فَقَالَ مَرْوَانُ: مَعَاذَ اللَّهِ! ، فَقَالَ زَيْدٌ: إِنَّ النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ الْأَمْلَاكَ بِالصُّكُوكِ قَبْلَ أَنْ يَقْبِضُوا، فَوَجَّهَ مَرْوَانُ مُسْرِعًا، فَمَنَعَهُمْ مِنْ ذَلِكَ طَاعَةً لِزَيْدٍ.

Maka hal ini menunjukkan bahwa mereka bersumpah dalam perkara ini atas kasus darah dan atas perkara besar dari harta. Inilah yang telah disepakati oleh para sahabat yang telah kami sebutkan, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dan tidak diketahui adanya yang menyelisihi mereka dalam hal ini. Maka tetaplah bahwa hal itu merupakan ijmā‘. Jika dikatakan: Penolakan Zaid untuk bersumpah di atas mimbar adalah bukti adanya perbedaan pendapat darinya dan gugurnya ijmā‘, maka dijawab: Ia tidak menolak kecuali karena kehati-hatian, bukan karena perbedaan pendapat. Seandainya ia tidak menganggapnya boleh, tentu ia akan mengingkari Marwan, karena ia sering mengingkari banyak perbuatan Marwan, dan Marwan pun menaatinya. Hingga pada suatu hari, di hadapan banyak orang, ia berkata kepada Marwan: “Engkau telah menghalalkan riba.” Maka Marwan berkata: “Aku berlindung kepada Allah!” Zaid berkata: “Sesungguhnya orang-orang melakukan jual beli properti dengan surat sebelum mereka menerima barangnya.” Maka Marwan segera mengutus seseorang dan melarang mereka dari hal itu sebagai bentuk ketaatan kepada Zaid.

وَقَدْ قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ} : إِنَّهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فِي أَيْمَانِ مَنْ نَزَلَتْ فِيهِ الْآيَةُ مِنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، وَعَدَيِّ بْنِ زَيْدٍ.

Para ahli tafsir telah berkata mengenai firman Allah Ta‘ala: {Kamu tahan kedua orang itu setelah salat, lalu mereka berdua bersumpah dengan nama Allah}, bahwa maksudnya adalah setelah salat Asar, dalam sumpah yang berkaitan dengan orang yang turun ayat ini tentang mereka, yaitu Tamim ad-Dari dan ‘Adi bin Zaid.

أَوْ لِأَنَّ الْأَيْمَانَ مَوْضُوعَةٌ لِلزَّجْرِ، والزمان والمكان أزجر، فكان بِاسْتِعْمَالِهِ فِي الْأَيْمَانِ أَجْدَرَ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ تَغْلِيظُهَا بِالْعَدَدِ وَاللَّفْظِ، جَازَ بِالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ.

Atau karena sumpah itu ditetapkan untuk memberikan efek jera, sedangkan waktu dan tempat lebih memberikan efek jera, maka menggunakan waktu dan tempat dalam sumpah lebih utama. Dan karena jika diperbolehkan menegaskan sumpah dengan jumlah dan lafaz, maka diperbolehkan pula dengan waktu dan tempat.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ خَبَرِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَهُوَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ وُجُوبُ الْيَمِينِ دُونَ صِفَتِهَا، وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اعْتِبَارِهِمْ بِالْبَيِّنَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap hadis Ibnu ‘Abbas, maka yang dimaksud darinya adalah kewajiban sumpah tanpa memperhatikan sifatnya. Adapun jawaban terhadap pertimbangan mereka dengan al-bayyinah, maka ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْبَيِّنَةَ لَا تَشْهَدُ بِحَقٍّ لَهَا، فَارْتَفَعَتِ التُّهْمَةُ عَنْهَا، فَاسْتَغْنَتْ عَنِ الزَّجْرِ، وَالْحَالِفُ يُثْبِتُ حَقًّا لِنَفْسِهِ.

Salah satunya: bahwa al-bayyinah tidak memberikan kesaksian untuk hak miliknya sendiri, sehingga tuduhan tidak berlaku atasnya, maka tidak membutuhkan pencegahan, sedangkan orang yang bersumpah menetapkan hak untuk dirinya sendiri.

وَالثَّانِي: إِنَّ زَجْرَ الْبَيِّنَةِ يُفْضِي إِلَى تَوَقُّفِهَا عَنْ مَا لَزِمَهَا مِنْ أَدَاءِ الشَّهَادَةِ، وَذَلِكَ مَعْصِيَةٌ يُخَالِفُ بِهَا حُكْمَ الْحَالِفِ.

Kedua: Sesungguhnya mencegah al-bayyinah (saksi yang memberikan keterangan) akan menyebabkan mereka berhenti dari kewajiban mereka untuk memberikan kesaksian, dan hal itu merupakan suatu kemaksiatan yang bertentangan dengan hukum orang yang bersumpah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ جَمْعِهِمْ بَيْنَ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban mengenai penggabungan mereka antara yang sedikit dan yang banyak adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْقَلِيلَ يُكْتَفَى فِي الزَّجْرِ عَنْهُ بِالْيَمِينِ، وَالْكَثِيرُ لَا يُكْتَفَى فِيهِ بِالْيَمِينِ حَتَّى يَقْتَرِنَ بِهَا مَا يَزْجُرُ عَنِ الكثير.

Salah satunya: Sesungguhnya untuk perkara yang sedikit cukup dicegah dengan sumpah, sedangkan untuk perkara yang banyak tidak cukup hanya dengan sumpah sampai disertai dengan sesuatu yang dapat mencegah dari perkara yang banyak itu.

وَالثَّانِي: إِنَّ الشَّرْعَ لَمَّا فَرَّقَ بَيْنَ قَلِيلِ الْمَالِ وَكَثِيرِهِ فِي وُجُوبِ الزَّكَاةِ، وَقَطْعِ السَّرِقَةِ لَمْ يَمْنَعْ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا فِي التَّغْلِيظِ.

Kedua: Sesungguhnya syariat, ketika membedakan antara sedikit dan banyaknya harta dalam kewajiban zakat dan dalam penetapan hukuman potong tangan bagi pencurian, tidak melarang adanya perbedaan antara keduanya dalam hal pemberatan hukuman.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ التَّغْلِيظِ فِي الْأَيْمَانِ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ، وَلَيْسَ بِمُسْتَبْدَعٍ، وَهُوَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ مُسْتَبْدَعٌ غَيْرُ مَشْرُوعٍ، وَعَلَيْهِ وَقَعَ الْخِلَافُ.

Maka apabila telah tetap kebolehan memperberat sumpah dengan tempat dan waktu, maka hal itu disyariatkan dan tidak dianggap mustahil. Namun menurut Abu Hanifah, hal itu dianggap mustahil dan tidak disyariatkan, dan pada masalah inilah terjadi perbedaan pendapat.

وَالْكَلَامُ فِي التَّغْلِيظِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Pembahasan mengenai penegasan mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: جِنْسُ مَا تُغَلَّظُ فِيهِ الْأَيْمَانُ مِنَ الْحُقُوقِ.

Salah satunya adalah jenis hak yang sumpahnya diperberat.

وَالثَّانِي: صِفَةُ التَّغْلِيظِ بِمَكَانِهِ وَزَمَانِهِ.

Yang kedua: sifat penegasan dengan tempat dan waktunya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِيمَا تُغَلَّظُ فِيهِ الْأَيْمَانُ مِنَ الْحُقُوقِ، فَفِيهِ لِلْفُقَهَاءِ ثَلَاثَةُ مَذَاهِبَ:

Adapun bagian pertama mengenai hak-hak yang sumpahnya diperberat, para fuqaha memiliki tiga mazhab di dalamnya:

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ طَائِفَةٍ مِنْ حُكَّامِ الْحِجَازِ وَابْنِ جَرِيرٍ الطَّبَرِيِّ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ: أَنَّهَا تُغَلَّظُ فِي كُلِّ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ، لِأَنَّهُ صِفَةٌ لِلْيَمِينِ، كَالْبَيِّنَةِ الَّتِي يَسْتَوِي حُكْمُهَا فِي كُلِّ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ.

Pendapat pertama, yang merupakan mazhab sekelompok hakim di Hijaz dan Ibn Jarir ath-Thabari dari kalangan ulama Irak, menyatakan bahwa sumpah yang diperberat (yamin mughallazhah) berlaku pada perkara kecil maupun besar, karena ia merupakan sifat dari sumpah, sebagaimana bukti (bayyinah) yang hukumnya sama baik dalam perkara kecil maupun besar.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ إِنَّهَا تُغَلَّظُ فِيمَا يُقْطَعُ فِيهِ الْيَدُ، وَلَا تُغَلَّظُ فِيمَا لَا يُقْطَعُ فِيهِ، لِقَوْلِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ” لَمْ تَكُنِ الْيَدُ لِتُقْطَعَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي الشَّيْءِ التَّافِهِ “. تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَا تُقْطَعُ فِيهِ لَيْسَ بِتَافِهٍ، فَكَانَ كَثِيرًا.

Pendapat kedua, yaitu mazhab Malik, menyatakan bahwa sumpah diperberat (mughallazhah) dalam perkara yang menyebabkan dipotongnya tangan, dan tidak diperberat dalam perkara yang tidak menyebabkan pemotongan tangan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Tangan tidaklah dipotong pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena perkara yang sepele.” Ini menunjukkan bahwa perkara yang menyebabkan dipotongnya tangan bukanlah perkara yang sepele, melainkan perkara yang besar.

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، إِنَّ مَا خَرَجَ عَنِ الْأَمْوَالِ، وَلَمْ يَثْبُتْ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ كَالْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ، وَالنِّكَاحِ، وَالطَّلَاقِ، فَالْأَيْمَانُ فِيهِ مُغَلَّظَةٌ، فِيمَا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ، وَمَا ثَبَتَ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ مِنَ الْأَمْوَالِ، فَتُغَلَّظُ الْأَيْمَانُ فِي كَثِيرِهِ دُونَ قَلِيلِهِ، وَكَثِيرُهُ عِشْرُونَ دِينَارًا؛ لِحَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، حِينَ مَرَّ بِقَوْمٍ يَحْلِفُونَ بَيْنَ الْبَيْتِ وَالْمَقَامِ، فَقَالَ: أَعْلَى دَمٍ؟ قَالُوا: لَا. قَالَ: أَفَعَلَى عَظِيمٍ مِنَ الْمَالِ؟ قَالُوا: لَا. قَالَ: لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَتَهَاوَنَ النَّاسُ بِهَذَا الْمَقَامِ. فَعَقَلَ السَّامِعُونَ لِقَوْلِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، أَنَّهُ أَرَادَ بِالْعَظِيمِ مِنَ الْمَالِ عِشْرِينَ مِثْقَالًا، فَصَارَ هَذَا الْمِقْدَارُ أَصْلًا فِي تَغْلِيظِ الْأَيْمَانِ.

Ketiga: yaitu mazhab Syafi‘i, bahwa perkara yang keluar dari kategori harta, dan tidak dapat dibuktikan kecuali dengan dua saksi seperti hudud, qishash, nikah, dan talak, maka sumpah di dalamnya diperberat, baik sedikit maupun banyak. Adapun perkara harta yang dapat dibuktikan dengan satu saksi dan dua perempuan, maka sumpah diperberat pada jumlah yang banyak, tidak pada yang sedikit. Batasan banyaknya adalah dua puluh dinar; berdasarkan hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ketika beliau melewati sekelompok orang yang bersumpah antara Ka‘bah dan Maqam Ibrahim, lalu beliau berkata: “Apakah ini terkait darah?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah terkait harta yang besar nilainya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Sungguh aku khawatir manusia akan meremehkan kedudukan ini.” Maka para pendengar dari kalangan ahli ilmu memahami dari perkataannya bahwa yang dimaksud dengan harta yang besar adalah dua puluh mitsqal, sehingga ukuran ini menjadi dasar dalam memperberat sumpah.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِذَا جَعَلْتُمْ هَذَا قَدْرًا فِي التَّغْلِيظِ، فَهَلَّا جَعَلْتُمُوهُ قَدْرًا فِي الْإِقْرَارِ إِذَا أَقَرَّ بِمَالٍ عَظِيمٍ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ أَقَلُّ مِنْ عِشْرِينَ دِينَارًا، وَأَنْتُمْ تَقْبَلُونَ مِنْهُ مَا قَلَّ وَكَثُرَ؟

Jika dikatakan: Jika kalian telah menetapkan batasan ini dalam hal penegasan (hukuman), mengapa kalian tidak menetapkannya juga sebagai batasan dalam pengakuan, yaitu jika seseorang mengakui memiliki harta yang besar, maka tidak diterima darinya kurang dari dua puluh dinar, padahal kalian menerima dari seseorang pengakuan atas harta yang sedikit maupun yang banyak?

قِيلَ: لِأَنَّهُ فِي الْإِقْرَارِ مُتَرَدِّدُ الِاحْتِمَالِ بَيْنَ إِرَادَةِ الْقَدْرِ، وَإِرَادَةِ الصِّفَةِ، وَفِي التَّغْلِيظِ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا إِرَادَةَ الْقَدْرِ، فَلِذَلِكَ جَعَلْنَاهُ قَدْرًا فِي التَّغْلِيظِ، لِأَنَّهُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَهُ.

Dikatakan: Karena dalam pengakuan terdapat kemungkinan yang masih samar antara maksud jumlah (kadar) dan maksud sifat, sedangkan dalam sumpah yang diperberat (at-taghliẓ) tidak mengandung kemungkinan selain maksud jumlah (kadar). Oleh karena itu, kami menetapkannya sebagai jumlah (kadar) dalam sumpah yang diperberat, karena tidak mungkin dimaksudkan selain itu.

وَإِذَا كَانَ هَكَذَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَقْدِيرِهِ بِالْعِشْرِينِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika demikian, para ulama kami berbeda pendapat dalam menetapkan ukurannya dengan dua puluh pada dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لِأَنَّهَا نِصَابٌ فِي الزَّكَاةِ، لِيَكُونَ الْمِقْدَارُ مُعْتَبَرًا بِأَصْلٍ مَشْرُوعٍ، فَعَلَى هَذَا إِنْ وَجَبَتِ الْيَمِينُ فِي الدَّرَاهِمِ غُلِّظَتْ فِي مِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَصَاعِدًا.

Salah satunya: karena dua ratus dirham adalah nisab dalam zakat, sehingga jumlah tersebut dianggap berdasarkan asal yang disyariatkan. Maka, berdasarkan hal ini, jika sumpah diwajibkan dalam perkara dirham, maka sumpah tersebut diperberat pada dua ratus dirham ke atas.

وَإِنْ وَجَبَتْ فِي الْغَنَمِ غُلِّظَتْ فِي أَرْبَعِينَ شَاةً فَصَاعِدًا.

Dan jika wajib pada kambing, maka ketentuannya diperberat pada empat puluh ekor kambing ke atas.

وَإِنْ وَجَبَتْ فِي الْبَقَرِ غُلِّظَتْ فِي ثَلَاثِينَ بَقَرَةً فَصَاعِدًا.

Dan jika wajib pada sapi, maka ketentuannya diperberat pada tiga puluh ekor sapi ke atas.

وَإِنْ وَجَبَتْ فِي الْإِبِلِ غُلِّظَتْ فِي خَمْسٍ مِنَ الْإِبِلِ فَصَاعِدًا.

Dan jika zakat itu wajib pada unta, maka ketentuannya diperberat pada lima ekor unta ke atas.

وَإِنْ وَجَبَتْ فِي الْحُبُوبِ وَالثِّمَارِ غُلِّظَتْ فِي خَمْسَةِ أَوْسُقٍ فَصَاعِدًا.

Dan jika zakat wajib pada biji-bijian dan buah-buahan, maka ketentuannya diperberat pada lima wasaq atau lebih.

سَوَاءٌ بَلَغَ قِيمَةُ ذَلِكَ عِشْرِينَ دِينَارًا أَوْ لَمْ يَبْلُغْ، وَإِنْ وَجَبَتْ فِي أَقَلَّ مِنْ هَذِهِ النُّصُبِ الْمُزَكَّاةِ لَمْ يُغَلَّظْ، سَوَاءٌ بَلَغَ قِيمَةُ ذَلِكَ عِشْرِينَ دِينَارًا أَوْ لَمْ تَبْلُغْ.

Baik nilai tersebut mencapai dua puluh dinar maupun tidak, dan jika kewajiban itu berlaku pada jumlah yang kurang dari nishab yang wajib dizakati, maka tidak diberatkan, baik nilainya mencapai dua puluh dinar maupun tidak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهُ قُدِّرَ بِالْعِشْرِينِ؛ لِأَنَّهُ أَصْلٌ عَنْ تَوْقِيفٍ، أَوِ اجْتِهَادٍ لَا يُعْتَبَرُ بِغَيْرِهِ، فعلى هذا لا تغلظ اليمين فِي الدَّرَاهِمِ وَالثِّمَارِ وَالْمَوَاشِي إِلَّا أَنْ تَبْلُغَ قِيمَتُهَا عِشْرِينَ دِينَارًا، فَتُغَلَّظَ، وَإِنْ لَمْ تَبْلُغْ نِصَابًا، وَإِنْ نَقَصَتْ قِيمَتُهَا عَنِ الْعِشْرِينَ، لَمْ تُغَلَّظْ، وَإِنْ بَلَغَتْ نِصَابًا. فَأَمَّا الْأَمْوَالُ الَّتِي لَا زَكَاةَ فِي جِنْسِهَا، فَيَصِيرُ فِي تَغْلِيظِ الْيَمِينِ فِيهَا أَنْ تَبْلُغَ قِيمَتُهَا عِشْرِينَ دِينَارًا مِنْ غَالَبِ دَنَانِيرِ الْبَلَدِ الْخَالِصَةِ مِنَ الْغِشِّ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya batasannya adalah dua puluh (dinar); karena itu merupakan dasar yang didasarkan pada tauqīf atau ijtihad yang tidak dapat diukur dengan selainnya. Maka berdasarkan hal ini, sumpah tidak diperberat dalam perkara dirham, buah-buahan, dan hewan ternak kecuali jika nilainya mencapai dua puluh dinar, maka sumpah diperberat, meskipun belum mencapai nisab. Namun jika nilainya kurang dari dua puluh dinar, maka sumpah tidak diperberat, meskipun telah mencapai nisab. Adapun harta-harta yang tidak ada zakat pada jenisnya, maka dalam memperberat sumpah padanya adalah apabila nilainya mencapai dua puluh dinar dari dinar-dinar murni yang berlaku di negeri tersebut dan bebas dari campuran.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ فِي جِنَايَةٍ، لَا يَجِبُ فِيهَا الْقَوَدُ مِنَ الْخَطَأِ وَشِبْهِ الْعَمْدِ، وَمَا لَا قَوَدَ فِيهِ مِنَ الْعَمْدِ غُلِّظَتْ إِذَا بَلَغَ أَرْشُهَا عِشْرِينَ دِينَارًا، وَلَمْ تُغَلَّظْ إِنْ نَقَصَ أَرْشُهَا عَنِ الْعِشْرِينَ وَإِنْ كَانَتْ جِنَايَةَ عَمْدٍ تُوجِبُ الْقَوَدَ غُلِّظَتْ فِي قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا، وَإِنْ وَجَبَتِ الْيَمِينُ فِي الْعِتْقِ، فَإِنْ تَوَجَّهَتْ عَلَى السَّيِّدِ لِإِنْكَارِهِ لَمْ تُغَلَّظِ الْيَمِينُ إِلَّا أَنْ تَبْلُغَ قِيمَتُهُ عِشْرِينَ دِينَارًا، وَإِنْ وَجَبَتْ عَلَى الْعَبْدِ لِرَدِّ الْيَمِينِ عَلَيْهِ غُلِّظَتْ، وَإِنْ نَقَصَتْ قِيمَتُهُ عَنِ الْعِشْرِينَ، لِأَنَّهَا فِي حَقِّ السَّيِّدِ عَلَى مَالٍ، وَفِي حَقِّ الْعَبْدِ عَلَى عِتْقٍ، وَهَكَذَا الْمُكَاتَبُ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ إِنْ تَوَجَّهَتِ الْيَمِينُ فِيهِ، عَلَى السَّيِّدِ لَمْ تُغَلَّظْ إِنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ، وَإِنْ تَوَجَّهَتْ عَلَى الْمُكَاتَبِ غُلِّظَتْ وَإِنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ لِأَنَّهَا فِي حَقِّ السَّيِّدِ لِلْمَالِ، وَفِي حَقِّ الْمُكَاتَبِ لِلْعِتْقِ.

Jika sumpah itu berkaitan dengan jinayah, di mana tidak wajib qisas atas kesalahan (khata’) dan syibh al-‘amd, serta pada kasus jinayah ‘amd yang tidak ada qisas di dalamnya, maka sumpah tersebut diperberat jika nilai diyatnya mencapai dua puluh dinar, dan tidak diperberat jika nilainya kurang dari dua puluh dinar. Namun, jika jinayah ‘amd yang mewajibkan qisas, maka sumpah diperberat baik pada kasus yang kecil maupun besar. Jika sumpah wajib dalam masalah pembebasan budak (itq), maka jika sumpah itu ditujukan kepada tuan karena ia mengingkari, sumpah tidak diperberat kecuali jika nilai budak itu mencapai dua puluh dinar. Jika sumpah itu wajib atas budak karena sumpah dikembalikan kepadanya, maka sumpah diperberat meskipun nilainya kurang dari dua puluh dinar, karena dalam hak tuan terkait dengan harta, sedangkan dalam hak budak terkait dengan pembebasan. Demikian pula halnya dengan mukatab dalam akad kitabah, jika sumpah itu ditujukan kepada tuan, maka tidak diperberat jika nilainya sedikit, dan jika ditujukan kepada mukatab, maka sumpah diperberat meskipun nilainya sedikit, karena dalam hak tuan terkait dengan harta, sedangkan dalam hak mukatab terkait dengan pembebasan.

وَإِنْ وَجَبَتِ الْيَمِينُ فِي وَقْفٍ عُطِّلَتْ، وَإِنْ نَقَصَتْ قِيمَتُهُ عَنِ الْعِشْرِينَ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، وَلَمْ تُغَلَّظْ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، وَإِنْ وَجَبَتْ اليمين فِي الْوَصِيَّةِ فَإِنْ تَوَجَّهَتْ عَلَى الْمُوصِي بِالْوِلَايَةِ عَلَيْهَا تَغَلَّظَتْ فِي الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ، وَإِنْ تَوَجَّهَتْ عَلَى الْمُوصَى لَهُ تَغَلَّظَتْ فِي الْكَثِيرِ دُونَ الْقَلِيلِ، إِلَّا أَنْ تَكُونَ فِي عَبْدٍ قَدْ وَصَّى بِعِتْقِهِ أَوْ فِي وَالِدٍ قَدْ وَصَّى لَهُ بِوَلَدِهِ، فَتَكُونَ عَلَى التَّغْلِيظِ، فِي الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ.

Jika sumpah diwajibkan dalam perkara wakaf, maka ia tidak diperberat, dan jika nilainya kurang dari dua puluh (dirham), apabila dikatakan bahwa perkara tersebut tidak dapat dibuktikan kecuali dengan dua orang saksi. Sumpah juga tidak diperberat apabila dikatakan bahwa perkara tersebut dapat dibuktikan dengan satu saksi dan sumpah. Jika sumpah diwajibkan dalam wasiat, maka apabila sumpah itu ditujukan kepada orang yang berwasiat karena kewenangannya atas wasiat tersebut, maka sumpah diperberat baik dalam perkara yang sedikit maupun yang banyak. Namun, jika sumpah itu ditujukan kepada penerima wasiat, maka sumpah diperberat dalam perkara yang banyak saja, tidak pada yang sedikit, kecuali jika berkaitan dengan budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan atau orang tua yang diwasiatkan untuk anaknya, maka sumpah tetap diperberat baik dalam perkara yang sedikit maupun yang banyak.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي: فِي صِفَةِ التَّغْلِيظِ بِمَكَانِهِ وَزَمَانِهِ.

Adapun bagian kedua: tentang sifat penegasan yang berkaitan dengan tempat dan waktunya.

أَمَّا الْمَكَانُ، فَيُعْتَبَرُ بِأَشْرَفِ الْبِقَاعِ مِنَ الْبَلَدِ، فَإِنْ كَانَ بِمَكَّةَ، فَبَيْنَ الْبَيْتِ وَالْمَقَامِ، وَتُصَانُ الْكَعْبَةُ عَنْهُ.

Adapun tempat, maka yang dijadikan pertimbangan adalah tempat yang paling mulia dari suatu negeri; jika berada di Makkah, maka antara Ka’bah dan Maqam Ibrahim, dan Ka’bah harus dijaga dari hal tersebut.

وَأَمَّا الْحِجْرُ، فَقَدْ أَحْلَفَ عُمَرُ أَهْلَ الْقَسَامَةِ فِيهِ، وَلَوْ صِينَ عَنْهُ كَانَ أَوْلَى؛ لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْبَيْتِ.

Adapun al-Hijr, Umar telah meminta sumpah kepada para ahli qasāmah di dalamnya, dan seandainya ia dijaga dari hal itu, tentu lebih utama; karena ia termasuk dalam hukum Ka’bah.

وَإِنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ، فَفِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَعَلَى مِنْبَرِهِ، كَمَا أَحْلَفَ الْمُتَلَاعِنَيْنِ عَلَيْهِ.

Dan jika berada di Madinah, maka (sumpah) dilakukan di Masjid Rasulullah ﷺ dan di atas mimbar beliau, sebagaimana beliau pernah mengambil sumpah dari dua orang yang saling melaknat (li‘ān) di sana.

وَقَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ: يَحْلِفُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ، لَا عَلَيْهِ، لِأَنَّ عُلُوَّ الْمِنْبَرِ تَشْرِيفٌ يُصَانُ عَنْ مَأْثَمِ الْأَيْمَانِ، لَكِنْ يَرْقَى عَلَيْهِ الحاكم المستخلف، لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْوِلَايَاتِ، وَلَا يَرْقَى عَلَيْهِ الطَّالِبُ إِلَّا أَنْ يَرْقَى عَلَيْهِ الْحَالِفُ، لِوُجُوبِ التَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ.

Abu Ali bin Abi Hurairah berkata: Sumpah dilakukan di dekat mimbar, bukan di atasnya, karena ketinggian mimbar merupakan bentuk pemuliaan yang harus dijaga dari perbuatan dosa sumpah. Namun, hakim yang diangkat boleh naik ke atasnya, karena ia termasuk golongan yang berwenang. Sedangkan pihak yang bersengketa tidak boleh naik ke atasnya, kecuali jika orang yang bersumpah juga naik ke atasnya, demi menjaga keadilan antara kedua pihak yang bersengketa.

وَإِنْ كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَفِي مَسْجِدِهَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ، لِأَنَّهَا أَشْرَفُ بِقَاعِهِ، وَيُسْتَحْلَفُ قَائِمًا، لَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ، لِأَنَّ الْمَنَابِرَ مَقَامَاتُ الْوُقُوفُ فِي الْوُلَاةِ، فَكَانَ فِي الِاسْتِحْلَافِ أَوْلَى، وَلَا بَأْسَ أَنْ يَكُونَ الطَّالِبُ الْمُسْتَحْلِفُ جَالِسًا عِنْدَ قِيَامِ الْحَاكِمِ، لِأَنَّهُ هُوَ الْمَزْجُورُ دُونَ الْمُسْتَحْلَفِ.

Dan jika berada di Baitul Maqdis, maka dilakukan di masjidnya, di dekat batu (shakhrah), karena itu adalah tempat paling mulia di sana. Sumpah diucapkan dalam keadaan berdiri, terutama jika berada di atas mimbar, karena mimbar adalah tempat berdiri bagi para penguasa, sehingga lebih utama untuk bersumpah di sana. Tidak mengapa jika pihak yang meminta sumpah (penuntut) duduk sementara hakim berdiri, karena yang ditegur adalah hakim, bukan pihak yang diminta bersumpah.

فَأَمَّا الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى إِذَا تَغَلَّظَتْ عَلَيْهِمُ الْأَيْمَانُ، فَفِي كَنَائِسِهِمْ، وَبِيَعِهِمْ؛ لِأَنَّهَا وَإِنْ لَمْ تَكُنْ أَشْرَفَ الْبِقَاعِ عِنْدَنَا، فَهِيَ أَشْرَفُهَا عِنْدَهُمْ، وَهُمُ الْمَزْجُورُونَ بِهَا، فَاعْتَبَرْنَا مَا هُوَ أَشْرَفُ فِي مُعْتَقَدِهِمْ لَا فِي مُعْتَقَدِنَا.

Adapun orang Yahudi dan Nasrani, apabila sumpah atas mereka diperberat, maka dilakukan di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah mereka; karena meskipun tempat-tempat itu bukanlah tempat paling mulia menurut pandangan kita, namun itu adalah tempat paling mulia menurut pandangan mereka, dan merekalah yang dikenai peringatan dengan tempat tersebut. Maka yang dijadikan pertimbangan adalah apa yang paling mulia menurut keyakinan mereka, bukan menurut keyakinan kita.

وَأَمَّا التَّغْلِيظُ بِالزَّمَانِ، فَبَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ [لِمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي قَوْله تَعَالَى: {تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ فَيُقْسِمَانِ} [المائدة: 106] أَنَّهَا صَلَاةُ الْعَصْرِ] وَلِأَنَّهُ وَقْتٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ، وَتُجَابُ فِيهِ الدَّعَوَاتُ.

Adapun penegasan dengan waktu, maka itu adalah setelah salat Asar, berdasarkan pendapat ahli tafsir mengenai firman Allah Ta‘ala: “Kamu tahan kedua orang itu setelah salat, lalu mereka berdua bersumpah” (Al-Ma’idah: 106), bahwa yang dimaksud adalah salat Asar. Selain itu, karena waktu tersebut adalah saat di mana amal-amal diangkat dan doa-doa dikabulkan.

فَأَمَّا الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَبَعْدَ صَلَاتِهِمُ الَّتِي يَرَوْنَهَا أَعْظَمَ صَلَوَاتِهِمْ.

Adapun orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka (mereka menyembelih) setelah salat mereka yang mereka anggap sebagai salat terbesar mereka.

وَأَمَّا التَّغْلِيظُ بِالْعَدَدِ فَفِي الْحُقُوقِ الَّتِي شُرِعَ فِيهَا الْعَدَدُ، وَهِيَ الدِّمَاءُ: تُغَلَّظُ بِخَمْسِينَ يَمِينًا، وَفِي اللِّعَانِ بِخَمْسَةِ أَيْمَانٍ.

Adapun penegasan dengan jumlah sumpah, maka hal itu berlaku pada hak-hak yang disyariatkan adanya jumlah tertentu, yaitu dalam perkara darah: ditekankan dengan lima puluh sumpah, dan dalam li‘ān dengan lima sumpah.

وَأَمَّا التَّغْلِيظُ بِاللَّفْظِ: فَهُوَ أَنْ يُذْكَرَ مَعَ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ الْخَارِجَةِ عَنِ الْعُرْفِ الْمَأْلُوفِ فِي لَغْوِ الْيَمِينِ، مَا يَكُونُ أَزْجَرَ وَأَرْدَعَ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ فِي صِفَةِ الْيَمِينِ. وَأَمَّا التَّغْلِيظُ بِالْوَعْظِ، فَيَكُونُ قَبْلَ الْيَمِينِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا} [آل عمران: 77] وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” من حلف يمينا فاجرة، ليقتطع مال امرىء مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ يَلْقَاهُ، وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ “.

Adapun penegasan dengan lafaz, yaitu menyebutkan bersama nama Allah Ta‘ala sifat-sifat Dzat-Nya yang keluar dari kebiasaan yang dikenal dalam sumpah biasa, yang lebih keras dan lebih menahan, sebagaimana akan kami sebutkan dalam penjelasan tentang sifat sumpah. Adapun penegasan dengan nasihat, dilakukan sebelum sumpah dengan firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…” (Ali Imran: 77), dan dengan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa bersumpah dusta untuk mengambil harta seorang Muslim, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat dalam keadaan Allah murka kepadanya.”

فَأَمَّا الْإِحْلَافُ بِالْمُصْحَفِ تَغْلِيظًا، فَقَدْ كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَفْعَلُهُ، وَقَدْ حَكَّاهُ الشَّافِعِيُّ عَنِ بَعْضِ قُضَاتِهِمُ اسْتِحْسَانًا، وَلَيْسَ بِمُسْتَحَبٍّ عِنْدَهُ، وَإِنْ أَجَازَهُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ كَانَ حَالِفًا، فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ “، وهل يجزىء الْحَلِفُ بِهِ عَنِ الْحَلِفِ بِاللَّهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun bersumpah dengan mushaf sebagai bentuk penegasan, maka Ibnu Zubair pernah melakukannya, dan asy-Syafi‘i meriwayatkan hal itu dari sebagian qadhi mereka sebagai sesuatu yang dianggap baik. Namun, menurut asy-Syafi‘i, hal itu tidak disunnahkan, meskipun beliau membolehkannya karena sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa yang hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam.” Apakah bersumpah dengan mushaf dapat menggantikan sumpah dengan nama Allah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أحدهما: يجزىء، وَيَسْقُطُ بِهِ وُجُوبَ الْيَمِينِ، لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الْحِنْثِ بِهِمَا، وَوُجُوبِ التَّكْفِيرِ فِيهِمَا.

Pertama: Diperbolehkan, dan dengan itu gugur kewajiban sumpah, karena keduanya sama-sama mengandung pelanggaran sumpah dan kewajiban membayar kafarat pada keduanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يجزىء، وَلَا يَسْقُطُ بِهِ وُجُوبُ الْيَمِينِ، لِأَنَّ مِنَ الفقهاء من لا يُعَلِّقُ عَلَيْهِ حِنْثًا، وَلَا يُوجِبُ بِهِ تَكْفِيرًا.

Pendapat kedua: Tidak mencukupi, dan kewajiban sumpah tidak gugur karenanya, karena di antara para fuqaha ada yang tidak mengaitkan pelanggaran sumpah dengannya, dan tidak mewajibkan kafarat karenanya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ تَرَكَ التَّغْلِيظَ بِمَا وَصَفْنَا انْقَسَمَ تركه ثلاثة أقسام:

Jika seseorang meninggalkan penegasan sumpah sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka meninggalkannya terbagi menjadi tiga bagian:

أحدها: لا تجزىء الْيَمِينُ بِتَرْكِهِ، وَهُوَ الْعَدَدُ فِيمَا يُسْتَحَقُّ فِيهِ الْعَدَدُ مِنَ الْقَسَامَةِ وَاللِّعَانِ.

Pertama: Sumpah tidak dianggap sah dengan meninggalkannya, yaitu jumlah dalam perkara yang disyaratkan jumlah tersebut seperti pada kasus qasāmah dan li‘ān.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا تجزىء الْيَمِينُ بِتَرْكِهِ، وَهُوَ الْأَلْفَاظُ الْمُضَافَةُ إِلَى اسْمِ اللَّهِ، تعالى وَمَا سِوَى الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ.

Bagian kedua: yaitu apa yang cukup dengan meninggalkannya dalam sumpah, yaitu lafaz-lafaz yang disandarkan kepada nama Allah Ta‘ala dan selain tempat serta waktu.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتُلِفَ فِي إِجْزَاءِ الْيَمِينِ بِتَرْكِهِ، وَهُوَ التَّغْلِيظُ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَفِي إِجْزَائِهَا لِلشَّافِعِيِّ قولان:

Bagian ketiga: yaitu perkara yang diperselisihkan mengenai cukup atau tidaknya sumpah dengan meninggalkannya, yaitu penegasan sumpah dengan tempat dan waktu. Dalam hal cukup atau tidaknya sumpah tersebut menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat.

أحدهما: تجزىء، كذلك التغليظ باللفظ.

Yang pertama: itu sudah mencukupi, demikian pula penegasan dengan lafaz.

والثاني: لا تجزىء كَتَرْكِ التَّغْلِيظِ بِالْعَدَدِ.

Dan yang kedua: tidak mencukupi seperti meninggalkan penegasan dengan jumlah.

وَفَرَّقَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي بَيْنَ التَّغْلِيظِ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَجَعَلَ الْيَمِينَ بِتَرْكِ الزَّمَانِ مُجْزِئَةً وَبِتَرْكِ الْمَكَانِ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَجُمْهُورُ أَصْحَابِنَا عَلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ.

Abu Hamid al-Isfara’ini membedakan antara penegasan sumpah berdasarkan tempat dan waktu. Ia berpendapat bahwa sumpah dengan meninggalkan waktu dianggap sah, sedangkan sumpah dengan meninggalkan tempat terdapat dua pendapat. Mayoritas ulama mazhab kami berpendapat bahwa keduanya disamakan.

وَيَسْتَوِي فِي تَغْلِيظِ الْيَمِينِ أَنْ يُسْتَحْلَفَ بِهَا الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِذَا أَنْكَرَ، أَوْ يُسْتَحْلَفَ بِهَا الْمُدَّعِي إِذَا رُدَّتْ عَلَيْهِ، أَوْ إِذَا أَقَامَ شَاهِدًا، لِيَحْلِفَ مَعَهُ، فَإِنْ كَانَتْ عَلَى الْحَالِفِ يَمِينٌ مُتَقَدِّمَةٌ أَنْ لَا يَحْلِفَ فِي مَكَانِ التَّغْلِيظِ مِنْ مَكَّةَ أَوِ الْمَدِينَةِ وَأَنْ لَا يَحْلِفَ فِي زمان التَّغْلِيظِ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَفِيهِ قَوْلَانِ بِنَاءً عَلَى التَّغْلِيظِ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ: وَهَلْ هُوَ شَرْطٌ فِي إِجْزَاءِ الْيَمِينِ أَمْ لَا؟

Sama saja dalam penegasan sumpah, baik yang diminta bersumpah dengan sumpah tersebut adalah tergugat ketika ia mengingkari, atau penggugat ketika sumpah itu dikembalikan kepadanya, atau ketika ia menghadirkan seorang saksi agar ia bersumpah bersamanya. Jika pada orang yang bersumpah terdapat sumpah sebelumnya bahwa ia tidak akan bersumpah di tempat penegasan seperti di Mekah atau Madinah, atau tidak akan bersumpah pada waktu penegasan setelah Ashar, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat, berdasarkan pada penegasan dengan tempat dan waktu: apakah hal tersebut merupakan syarat sahnya sumpah atau tidak?

أَحَدُهُمَا: يُعْفَى مِنَ التغليظ بالمكان والزمان، لأن لا يُحْمَلَ عَلَى الْحِنْثِ فِي الْيَمِينِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَهَذَا عَلَى الْقَوْلِ الَّذِي يَجْعَلُ الْيَمِينَ بِتَرْكِ التَّغْلِيظِ مُجْزِئَةً.

Salah satunya: dimaafkan dari penekanan sumpah karena tempat dan waktu, agar tidak dianggap melanggar sumpah yang telah diucapkan sebelumnya, dan ini menurut pendapat yang membolehkan sumpah tanpa penekanan dianggap sah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يُعْفَى، وَيُؤْخَذُ بِالتَّغْلِيظِ، وَإِنْ أَفْضَى إِلَى حِنْثِهِ، وَهَذَا عَلَى الْقَوْلِ الَّذِي يَجْعَلُ الْيَمِينَ بِتَرْكِ التَّغْلِيظِ غَيْرَ مُجْزِئَةٍ.

Pendapat kedua: Tidak ada keringanan, dan sumpah diambil dengan penekanan (takhliyzh), meskipun hal itu menyebabkan ia melanggar sumpahnya. Ini menurut pendapat yang menyatakan bahwa sumpah tanpa penekanan (takhliyzh) tidak dianggap sah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالْمُسْلِمُونَ الْبَالِغُونَ رِجَالُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ وَأَحْرَارُهُمْ وَعَبِيدُهُمْ وَمَمَالِيكُهُمْ يحلفون كَمَا وَصَفْنَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Kaum muslimin yang telah baligh, baik laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak, serta para mamlūk, semuanya bersumpah sebagaimana yang telah kami jelaskan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا وَجَبَتِ الْيَمِينُ الْمُغَلَّظَةُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، فَإِنْ كَانَ رَجُلًا حُرًّا تَغَلَّظَتْ عَلَى مَا وَصَفْنَا بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَمَا عَدَاهُمَا، فَإِنْ كَانَ زَمِنًا لَا يَقْدِرُ عَلَى الْمَشْيِ، إِلَى مَكَانِ التَّغْلِيظِ إِلَّا بِأُجْرَةِ مَرْكُوبٍ، كَانَ أُجْرَةُ مَرْكُوبِهِ إِلَى مَكَانِ التَّغْلِيظِ مُسْتَحَقَّةً عَلَى الْمُسْتَحْلَفِ لَهُ، لِأَنَّهُ لَيْسَ بِحَقٍّ عَلَى الْحَالِفِ، وَإِنَّمَا هُوَ حَقٌّ لِلْمُسْتَحْلِفِ وَكَانَتْ أُجْرَةُ عَوْدِهِ عَلَى الْحَالِفِ، لِأَنَّهُ يَعُودُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ امْرَأَةً لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ أَنْ تَكُونَ بَرْزَةً، أَوْ خَفِرَةً، فَإِنْ كَانَتْ بَرْزَةً غُلِّظَتْ يَمِينُهَا بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ كَالرَّجُلِ، لَكِنْ تُخَالِفُهُ فِي أَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Jika sumpah yang diperberat (al-yamīn al-mughallazhah) diwajibkan atas kaum Muslimin, maka jika yang bersumpah adalah seorang laki-laki merdeka, sumpah itu diperberat sebagaimana telah kami jelaskan, baik dari segi tempat, waktu, maupun selain keduanya. Jika ia adalah orang yang tidak mampu berjalan ke tempat pengambilan sumpah yang diperberat kecuali dengan membayar ongkos kendaraan, maka ongkos kendaraannya ke tempat pengambilan sumpah yang diperberat menjadi tanggungan orang yang meminta sumpah, karena hal itu bukan merupakan hak atas orang yang bersumpah, melainkan hak bagi orang yang meminta sumpah. Adapun ongkos kepulangan menjadi tanggungan orang yang bersumpah, karena ia kembali demi kepentingan dirinya sendiri. Jika yang bersumpah adalah seorang perempuan, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia adalah perempuan yang biasa keluar rumah (barzah) atau perempuan yang terjaga (khafirah). Jika ia adalah barzah, maka sumpahnya diperberat dari segi tempat dan waktu sebagaimana laki-laki, namun ia berbeda dengan laki-laki dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا تَحْلِفُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ، لَا عَلَيْهِ.

Salah satunya: bahwa ia bersumpah di dekat mimbar, bukan di atasnya.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا تَحْلِفُ جَالِسَةً، لَا قَائِمَةً، سَتْرًا لَهَا، لِأَنَّهَا عَوْرَةٌ.

Kedua: Ia bersumpah dalam keadaan duduk, bukan berdiri, sebagai bentuk perlindungan baginya, karena ia adalah aurat.

وَإِنْ كَانَتْ خَفِرَةً لَا تَبْرُزُ، اسْتَخْلَفَ الْحَاكِمُ مَنْ يُحْلِفُهَا فِي مَنْزِلِهَا، وَسَقَطَ تَغْلِيظُ يَمِينِهَا بِالْمَكَانِ، لِحِفْظِ صِيَانَتِهَا بِإِقْرَارِهَا فِي مَنْزِلِهَا، وَغُلِّظَتْ يَمِينُهَا بِالزَّمَانِ كَغَيْرِهَا، وَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ عَبْدًا غُلِّظَتْ يَمِينُهُ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ كَالْحُرِّ، فَإِنْ كَانَ مُقِيمًا عَلَى حِفْظِ مَالٍ لِسَيِّدِهِ يَخَافُ إِنْ فَارَقَهُ إِلَى مَكَانِ التَّغْلِيظِ أَنْ يُتَخَطَّفَ نُظِرَ:

Jika perempuan itu adalah wanita terhormat yang tidak biasa keluar rumah, maka hakim menunjuk seseorang untuk mengambil sumpahnya di rumahnya, dan gugurlah penegasan sumpahnya dengan tempat, demi menjaga kehormatannya dengan tetap berada di rumahnya. Namun, sumpahnya tetap ditegaskan dengan waktu sebagaimana yang lain. Jika yang bersumpah adalah seorang budak, maka sumpahnya ditegaskan dengan tempat dan waktu sebagaimana orang merdeka. Namun, jika ia sedang menjaga harta milik tuannya dan khawatir jika meninggalkan harta itu untuk pergi ke tempat penegasan sumpah akan terjadi pencurian, maka dipertimbangkan:

فَإِنْ كَانَ سَيِّدُهُ حَاضِرًا تَوَلَّى حِفْظَ مَالِهِ، وَحُمِلَ الْعَبْدُ إِلَى مَكَانِ التَّغْلِيظِ، وَإِنْ كَانَ سَيِّدُهُ غَائِبًا أُقِرَّ الْعَبْدُ عَلَى حِفْظِهِ، وَقِيلَ لِلْمُسْتَحْلِفِ: أَنْتَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ تُنْظِرَهُ بِالْيَمِينِ إِلَى وَقْتِ إِمْكَانِهِ مِنْ حُضُورِ الْمَكَانِ مِنْ غَيْرِ ضَرَرٍ، وَيَدْخُلُ عَلَى سَيِّدِهِ أَوْ تُعَجِّلَ إِحْلَافَهُ فِي مَكَانِهِ.

Jika tuannya hadir, maka ia yang mengurus penjagaan hartanya, dan budak dibawa ke tempat pengambilan sumpah yang berat. Namun jika tuannya tidak hadir, maka budak tetap diberi tanggung jawab menjaga harta tersebut, dan kepada pihak yang meminta sumpah dikatakan: “Kamu boleh memilih antara menunggu hingga ia bisa hadir ke tempat tersebut tanpa ada mudarat, sehingga ia dapat menemui tuannya, atau kamu dapat segera meminta sumpahnya di tempatnya sekarang.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُنْقَلَ مُسْتَحْلَفٌ مِنْ بَلَدِهِ، لِتَغْلِيظِ يَمِينِهِ بِمَكَّةَ أَوِ الْمَدِينَةِ، فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ نَقَلَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَيْسَ بْنَ الْمَكْشُوحِ فِي وِثَاقٍ مِنَ الْيَمَنِ إِلَى الْمَدِينَةِ، حَتَّى أَحْلَفَهُ بِهَا، وَنَقَلَ عُمَرُ أَهْلَ الْقَسَامَةِ مِنْ مَسَافَةِ اثْنَيْنِ وَعِشْرِينَ يَوْمًا إِلَى مَكَّةَ حتى أَحْلَفَهُمْ فِي الْحِجْرِ، قِيلَ: إِنَّمَا فَعَلَا ذَلِكَ فِي حَقِّ السِّيَاسَةِ الْمُعْتَبَرَةِ بِالرَّأْيِ وَالْمَصْلَحَةِ، وَلَمْ يَنْقُلَا فِي حَقِّ الْمُسْتَحْلِفِ.

Dan tidak boleh memindahkan orang yang akan disumpah dari negerinya untuk memperberat sumpahnya di Makkah atau Madinah. Jika ada yang berkata: Bukankah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah memindahkan Qais bin al-Maksyuh dalam keadaan terikat dari Yaman ke Madinah hingga ia menyuruhnya bersumpah di sana, dan Umar pernah memindahkan para ahli qasamah dari jarak dua puluh dua hari perjalanan ke Makkah hingga ia menyuruh mereka bersumpah di Hijr? Maka dijawab: Sesungguhnya keduanya melakukan hal itu dalam perkara siyasah yang dipertimbangkan dengan pertimbangan akal dan kemaslahatan, dan keduanya tidak memindahkan dalam perkara hak orang yang menyuruh bersumpah.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي بَلَدِ الْحَالِفِ حَاكِمٌ يُغَلِّظُ الْيَمِينَ إِذَا اسْتَحْلَفَ جَازَ نَقْلُهُ لِلْيَمِينِ، وَتَغْلِيظُهَا إِلَى بَلَدٍ يَقْصُرُ عَنْ مَسَافَةِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَلَمْ يَجُزْ نقله إلى ما زاد، لأن لا يَبْلُغَ سَفَرَ الْقَصْرِ، وَاسْتَنَابَ حَاكِمُ الْبَلَدِ الْبَعِيدِ مَنْ يَسْتَحْلِفُهُ، وَيُغَلِّظُ يَمِينَهُ مِنْ أَهْلِ بَلَدِهِ إذا كان من بلاد عمله.

Jika di negeri tempat orang yang bersumpah tidak ada hakim yang dapat memperberat sumpah ketika ia diminta bersumpah, maka boleh memindahkan sumpah tersebut dan memperberatnya ke negeri lain yang jaraknya kurang dari satu hari satu malam perjalanan. Tidak boleh memindahkannya ke tempat yang lebih jauh dari itu, agar tidak mencapai jarak safar qashar. Hakim di negeri yang jauh dapat mewakilkan kepada seseorang dari penduduk negerinya untuk meminta sumpah dan memperberat sumpahnya, jika orang tersebut berasal dari wilayah kerjanya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَيَحْلِفُ الْمُشْرِكُونَ أَهْلُ الذِّمَّةِ وَالْمُسْتَأْمَنُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِمَا يُعَظِّمُ مِنَ الْكُتُبِ وَحَيْثُ يُعَظِّمِ مِنَ الْمَوَاضِعِ مِمَّا يَعْرِفُهُ الْمُسْلِمُونَ وَمَا يُعَظِّمُ الْحَالِفُ مِنْهُمْ مِثْلَ قَوْلِهِ وَاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى، وَاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْإِنْجِيلَ عَلَى عِيسَى، وَمَا أَشْبَهَ هَذَا وَلَا يَحْلِفُونَ بِمَا يَجْهَلُ مَعْرِفَتَهُ الْمُسْلِمُونَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang-orang musyrik, ahludz-dzimmah, dan musta’man, masing-masing dari mereka bersumpah dengan sesuatu yang mereka agungkan dari kitab-kitab suci dan di tempat-tempat yang mereka muliakan, yang dikenal oleh kaum Muslimin, serta dengan apa yang diagungkan oleh orang yang bersumpah di antara mereka, seperti ucapannya: ‘Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa, demi Allah yang menurunkan Injil kepada Isa,’ dan semisalnya. Mereka tidak bersumpah dengan sesuatu yang tidak diketahui oleh kaum Muslimin.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ يَحْلِفُ الْكَفَّارُ فِي الْحُقُوقِ بِاللَّهِ تَعَالَى كَمَا يَحْلِفُ الْمُسْلِمُونَ إِذَا جَرَى عَلَيْهِمْ أَحْكَامُ الْإِسْلَامِ بِذِمَّةٍ أَوْ بِجِزْيَةٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, orang-orang kafir bersumpah dalam perkara hak dengan nama Allah Ta‘ala sebagaimana kaum Muslimin bersumpah, apabila hukum-hukum Islam berlaku atas mereka karena perjanjian (dzimmah) atau karena membayar jizyah.

وَهُمْ ضَرْبَانِ: مُقِرٌّ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَجَاحِدٌ لَهُ.

Mereka terbagi menjadi dua golongan: yang mengakui Allah Ta‘ala, dan yang mengingkari-Nya.

فَأَمَّا الْمُقِرُّ بِهِ فَضَرْبَانِ: أَهْلُ الْكِتَابِ، وَغَيْرُ أَهْلِ كِتَابٍ.

Adapun orang yang mengakuinya terbagi menjadi dua golongan: Ahli Kitab dan selain Ahli Kitab.

فَأَمَّا أَهْلُ الْكِتَابِ، فَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، وَقَدْ أَجْرَى الْمُسْلِمُونَ الْمَجُوسَ مَجْرَاهُمْ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ “.

Adapun Ahlul Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan kaum Muslimin telah memperlakukan orang-orang Majusi seperti mereka, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Perlakukanlah mereka sebagaimana memperlakukan Ahlul Kitab.”

وَيُسْتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ فِي الْيَمِينِ بِاللَّهِ بِمَا يَنْفِي عَنْهُ احْتِمَالَ التَّأْوِيلِ، وَتُغَلَّظُ الْأَيْمَانَ عَلَيْهِمْ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ كَمَا تُغَلَّظُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، فَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ يَهُودِيًّا أَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ بِاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى.

Mereka diminta untuk bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang meniadakan kemungkinan adanya penafsiran lain, dan sumpah mereka diperberat dengan memperhatikan tempat dan waktu sebagaimana sumpah diperberat atas kaum Muslimin. Jika yang bersumpah adalah seorang Yahudi, maka hakim menyuruhnya bersumpah dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa.

وَإِنْ رَأَى أَنْ يَزِيدَ عَلَى هَذَا، فَيَقُولَ: الَّذِي نَجَّى مُوسَى وَقَوْمَهُ مِنَ الْيَمِّ، وَأَغْرَقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَعَلَ. وَهَذَا فِي كل يمين وجب تغليظهما أَوْ لَمْ يَجِبْ، لِيَزُولَ الِاحْتِمَالُ عَنِ اسْمِ من يخلف بِهِ، وَلِيَخْرُجَ عَنِ الْمَأْلُوفِ مِنْ لَغْوِ أَيْمَانِهِمْ كَمَا يَحْلِفُ الْمُسْلِمُ بِاللَّهِ الطَّالِبُ الْغَالِبُ، فِيمَا يَجِبُ تَغْلِيظُهُ، وَفِيمَا لَا يَجِبُ.

Dan jika ia ingin menambah dari itu, maka ia boleh mengatakan: “(Demi) Dzat yang telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dari laut, dan menenggelamkan Fir‘aun dan kaumnya di dalamnya.” Maka hal itu boleh dilakukan. Dan ini berlaku pada setiap sumpah yang wajib ditegaskan atau tidak wajib, agar hilang kemungkinan terkait nama yang dijadikan sumpah, dan agar keluar dari kebiasaan lafaz sumpah sia-sia mereka, sebagaimana seorang Muslim bersumpah dengan nama Allah, Dzat yang Maha Penuntut dan Maha Mengalahkan, baik pada sumpah yang wajib ditegaskan maupun yang tidak wajib.

فَإِنْ كَانَتْ يَمِينُ الْيَهُودِ يَجِبُ تَغْلِيظُهَا بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَمَكَانُ تَغْلِيظِهَا كَنَائِسُ الْيَهُودِ، لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَهَا أَشْرَفَ بِقَاعِهِمْ، وَإِنْ لَمْ يَرَهَا الْمُسْلِمُونَ كَذَلِكَ.

Jika sumpah orang Yahudi harus ditegaskan (diperberat) dengan tempat dan waktu, maka tempat penegasannya adalah sinagoga-sinagoga Yahudi, karena mereka memandangnya sebagai tempat paling mulia di antara wilayah mereka, meskipun kaum Muslimin tidak memandangnya demikian.

وَأَمَّا تَغْلِيظُهَا بِالزَّمَانِ، فَفِي وَقْتِ أَشْرَفِ صَلَوَاتِهِمْ عِنْدَهُمْ، وَلَا يُحْلِفُهُمْ بِمَا لَا يَعْرِفُهُ الْمُسْلِمُونَ مِنْ أَيْمَانِهِمْ كَقَوْلِهِمْ: أَهَيَا اشَرَاهَيَا وَلَا بِالْعَشْرِ كَلِمَاتٍ الَّتِي يَدْعُونَهَا، وَلَا يَعْرِفُهَا الْمُسْلِمُونَ، وَلَا بِاللِّسَانِ الْعِبْرَانِيِّ إِذَا تَكَلَّمُوا بِغَيْرِهِ، فَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمُوا إِلَّا بِهِ، وَلَمْ يَعْرِفُوا غَيْرَهُ أَحْلَفَهُمْ بِهِ إِذَا كَانَ فِي الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْرِفُهُ.

Adapun penegasan sumpah dengan waktu, maka dilakukan pada waktu salat paling mulia menurut mereka. Dan tidak boleh menyuruh mereka bersumpah dengan sesuatu yang tidak dikenal oleh kaum Muslimin dari sumpah-sumpah mereka, seperti ucapan mereka: Ahaya Ashrahaya, atau dengan sepuluh kata yang mereka sebut-sebut, yang tidak dikenal oleh kaum Muslimin, dan tidak pula dengan bahasa Ibrani jika mereka berbicara dengan bahasa lain. Namun, jika mereka hanya berbicara dengan bahasa itu dan tidak mengetahui selainnya, maka boleh menyuruh mereka bersumpah dengan bahasa tersebut jika di antara kaum Muslimin ada yang mengetahuinya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ نَصْرَانِيًّا أَحْلَفَهُ بِاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْإِنْجِيلَ عَلَى عِيسَى.

Jika orang yang bersumpah adalah seorang Nasrani, maka ia disumpahkan dengan nama Allah yang telah menurunkan Injil kepada Isa.

وَإِنْ رَأَى أَنْ يَزِيدَ عَلَى هَذَا، فَيَقُولَ: الذي أبرأ له الأكمة والأبرص، وأحي لَهُ الْمَوْتَى بِإِذْنِهِ فَعَلَ، فَإِنْ تَغَلَّظَتْ يَمِينُهُ بِالْمَكَانِ، وَالزَّمَانِ كَانَ مَكَانُ تَغْلِيظِهَا بِيَعَ النَّصَارَى، لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَهَا أَشْرَفَ بِقَاعِهِمْ، وَكَانَ زَمَانُ تَغْلِيظِهَا فِي وَقْتِ أَشْرَفِ صَلَوَاتِهِمْ عِنْدَهُمْ.

Dan jika ia ingin menambah atas hal tersebut, maka ia boleh mengatakan: “(Demi) Dzat yang telah menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta, serta menghidupkan orang mati untuknya dengan izin-Nya, telah melakukan (hal itu).” Jika sumpahnya ingin diperberat dengan tempat dan waktu, maka tempat memperberat sumpah tersebut adalah di gereja-gereja Nasrani, karena mereka memandangnya sebagai tempat paling mulia di antara mereka, dan waktu memperberat sumpah tersebut adalah pada saat waktu salat paling mulia menurut mereka.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ مَجُوسِيًّا، أَحْلَفَهُ بِاللَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي وَرَزَقَنِي.

Jika orang yang bersumpah itu seorang Majusi, maka ia disuruh bersumpah dengan mengucapkan: “Demi Allah yang telah menciptakanku dan memberiku rezeki.”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ يُحْلِفُهُ بِاللَّهِ الَّذِي خَلَقَ النَّارَ، وَالنُّورَ.

Para ulama kami berbeda pendapat: apakah ia disumpah dengan (mengucapkan), “Demi Allah yang telah menciptakan api dan cahaya.”

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: يُحْلِفُهُ بِذَلِكَ، لِاخْتِصَاصِهِمْ بِتَعْظِيمِ النَّارِ وَالنُّورِ.

Maka sebagian dari mereka berkata: Ia boleh menyuruhnya bersumpah dengan hal itu, karena mereka secara khusus mengagungkan api dan cahaya.

وَقَالَ آخَرُونَ: لَا يُحْلِفُهُمْ بِذَلِكَ، لِأَنَّهُمْ يَعْتَقِدُونَ قِدَمَ النَّارِ وَالنُّورِ. فَأَمَّا تَغْلِيظُ يَمِينِهِ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ فَأَجَلُّ الْأَمْكِنَةِ عِنْدَهُمْ بَيْتُ النَّارِ.

Dan sebagian yang lain berkata: Tidak boleh mempersumpahkan mereka dengan hal itu, karena mereka meyakini kekekalan api dan cahaya. Adapun penegasan sumpah mereka dengan tempat dan waktu, maka tempat yang paling mulia menurut mereka adalah rumah api.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَغْلِيظِ أَيْمَانِهِمْ فِيهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا تُغَلَّظُ فِيهِ، لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ تَعْظِيمَ النَّارِ دُونَ الْبَيْتِ الَّذِي فِيهِ النَّارُ، فَخَالَفُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى فِي قَصْدِ الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ لِصَلَوَاتِهِمْ، وَعِبَادَاتِهِمْ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا} [الحج: 40] .

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai penegasan sumpah mereka dalam hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa sumpah tersebut tidak perlu ditegaskan, karena mereka memuliakan api, bukan rumah yang di dalamnya terdapat api. Dengan demikian, mereka berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani dalam hal mendatangi gereja dan rumah ibadah mereka untuk melaksanakan shalat dan ibadah. Allah Ta‘ala telah berfirman: “Niscaya akan dihancurkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (QS. Al-Hajj: 40).

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا: بَلْ يَحْلِفُونَ فِي بَيْتِ النَّارِ، لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ أَشْرَفَ الْبِقَاعِ عِنْدَهُمْ، وَإِنْ شَرَّفُوهُ، لِتَعْظِيمِ النَّارِ عِنْدَهُمْ.

Dan sebagian lain dari kalangan sahabat kami berkata: Bahkan mereka bersumpah di dalam rumah api, karena mereka memandangnya sebagai tempat yang paling mulia menurut mereka, dan jika mereka memuliakannya, itu karena pengagungan mereka terhadap api.

وَأَمَّا الزَّمَانُ فَلَيْسَ لَهُمْ صَلَوَاتٌ مُؤَقَّتَاتٌ يَحْلِفُونَ فِيهَا، وَإِنَّمَا لَهُمْ زَمْزَمَةٌ يَرَوْنَهَا قُرْبَةً، فَإِنْ كَانَتْ مُؤَقَّتَةً عِنْدَهُمْ أُحْلِفُوا فِي أَعْظَمِ أَوْقَاتِهَا عِنْدَهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مؤقتة سَقَطَ تَغْلِيظُ أَيْمَانِهِمْ بِالزَّمَانِ، إِلَّا أَنَّهُمْ يَرَوْنَ النَّهَارَ أَشْرَفَ مِنَ اللَّيْلِ، لِأَنَّ النُّورَ عِنْدَهُمْ أَشْرَفُ مِنَ الظُّلْمَةِ، فَيَحْلِفُونَ فِي النَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ.

Adapun mengenai waktu, mereka tidak memiliki salat-salat yang ditentukan waktunya untuk bersumpah di dalamnya, melainkan mereka hanya memiliki zamsamah yang mereka anggap sebagai bentuk pendekatan diri (kepada Allah). Jika zamsamah itu memiliki waktu tertentu menurut mereka, maka sumpah dilakukan pada waktu yang paling agung menurut mereka. Namun jika tidak ada waktu tertentu, maka penegasan sumpah mereka dengan waktu menjadi gugur, kecuali mereka memandang siang lebih mulia daripada malam, karena cahaya menurut mereka lebih mulia daripada kegelapan, sehingga mereka bersumpah pada siang hari dan tidak pada malam hari.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ وَثَنِيًّا لَمْ يَحْلِفْ بِمَا يُعَظِّمُهُ مِنَ الْأَوْثَانِ، وَالْأَصْنَامِ، وَحَلَّفَهُ بِاللَّهِ، وَلَمْ يَقُلْ: الَّذِي خَلَقَ الْأَوْثَانَ وَالْأَصْنَامَ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ أَجْسَامَهَا كَمَا خَلَقَ أَجْسَامَ غَيْرِهَا، وَهُمُ اخْتَلَفُوا مَا أَحْدَثُوهُ مِنَ الْمَعَاصِي بِعِبَادَتِهَا، وَلَكِنْ يُحْلِفُهُ بِاللَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي، وَرَزَقَنِي، وَأَحْيَانِي.

Jika orang yang disuruh bersumpah itu seorang penyembah berhala, maka ia tidak boleh disuruh bersumpah dengan sesuatu yang ia agungkan dari berhala-berhala dan patung-patung, melainkan disuruh bersumpah dengan nama Allah. Tidak boleh dikatakan: “(Bersumpahlah) demi Dzat yang menciptakan berhala dan patung,” karena Allah Ta‘ala memang menciptakan jasad-jasad itu sebagaimana Dia menciptakan jasad-jasad selainnya, sedangkan mereka berbeda dalam hal maksiat yang mereka lakukan dengan menyembahnya. Namun, ia disuruh bersumpah dengan nama Allah yang telah menciptakanku, memberiku rezeki, dan menghidupkanku.

فَأَمَّا تَغْلِيظُهَا بِالْمَكَانِ، فَسَاقِطٌ فِي حُقُوقِهِمْ، لِأَنَّهُمْ يُعَظِّمُونَ بُيُوتَ أَصْنَامِهِمْ، وَهِيَ مُخَالِفَةٌ لِكَنَائِسِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، لِأَنَّ دُخُولَ الْمُسْلِمِينَ بُيُوتَ أَصْنَامِهِمْ مَعْصِيَةٌ، وَدُخُولَهُمْ كَنَائِسَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى غَيْرُ مَعْصِيَةٍ، لِأَنَّ بُيُوتَ الْأَصْنَامِ لَمْ تُوضَعْ فِي الِابْتِدَاءِ وَالِانْتِهَاءِ إِلَّا لِأَجْلِ مَعْصِيَةٍ، وَقَدْ كَانَتِ الْكَنَائِسُ وَالْبِيَعُ مَوْضُوعَةً فِي الِابْتِدَاءِ عَلَى طَاعَةٍ نُسِخَتْ، فَصَارَتْ مَعْصِيَةً، وَكَذَلِكَ تَغْلِيظُ الزَّمَانِ يَسْقُطُ عَنْهُمْ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْأَيَّامِ عِنْدَهُمْ يَوْمٌ يَرَوْنَهُ أَشْرَفَ الْأَيَّامِ، فَإِنْ بَعُدَ ذَلِكَ الْيَوْمُ، وَتَأَخَّرَ لَمْ تُؤَخَّرِ الْيَمِينُ إِلَيْهِ، لِاسْتِحْقَاقِ تَقَدُّمِهَا، وَإِنْ قَرُبَ وَتَعَجَّلَ احْتَمَلَ أَنْ تُغَلَّظَ أَيْمَانُهُمْ فِيهِ، كَمَا تُغَلَّظُ بِأَوْقَاتِ الْعِبَادَاتِ، وَاحْتَمَلَ أَنْ لَا يُغَلَّظَ فِيهِ، لِأَنَّ عِبَادَاتِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى قَدْ كَانَتْ طَاعَةً، وَإِنْ صَارَتْ بَعْدَ النَّسْخِ مَعْصِيَةً، وَيَوْمُ هَؤُلَاءِ لَمْ يَخْتَصَّ بِعِبَادَةٍ تَكُونُ طَاعَةً، فَسَاوَى غَيْرَهُ مِنَ الْأَيَّامِ.

Adapun penegasan sumpah dengan tempat, maka hal itu gugur dalam hak mereka, karena mereka mengagungkan rumah-rumah berhala mereka, dan ini berbeda dengan gereja-gereja Yahudi dan Nasrani. Sebab, masuknya kaum Muslimin ke rumah-rumah berhala mereka adalah maksiat, sedangkan masuknya mereka ke gereja-gereja Yahudi dan Nasrani bukanlah maksiat. Karena rumah-rumah berhala sejak awal hingga akhir memang didirikan hanya untuk tujuan maksiat, sedangkan gereja-gereja dan biara-biara pada awalnya didirikan untuk ketaatan yang kemudian telah di-naskh, sehingga berubah menjadi maksiat. Demikian pula penegasan sumpah dengan waktu, hal itu gugur atas mereka, kecuali jika di antara hari-hari itu ada satu hari yang menurut mereka adalah hari paling mulia. Jika hari itu masih jauh dan belum tiba, maka sumpah tidak diakhirkan hingga hari itu, karena sumpah berhak untuk didahulukan. Namun jika hari itu sudah dekat dan segera tiba, maka dimungkinkan sumpah mereka ditegaskan pada hari itu, sebagaimana sumpah ditegaskan pada waktu-waktu ibadah. Dan dimungkinkan juga tidak ditegaskan pada hari itu, karena ibadah-ibadah Yahudi dan Nasrani dahulunya adalah ketaatan, meskipun setelah di-naskh menjadi maksiat, sedangkan hari mereka itu tidak dikhususkan dengan ibadah yang merupakan ketaatan, sehingga sama saja dengan hari-hari lainnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ دَهْرِيًّا، لَا يَعْتَقِدُ خَالِقًا، وَلَا مَعْبُودًا، اقْتَصَرَ الْحَاكِمُ عَلَى إِحْلَافِهِ بِاللَّهِ الْخَالِقِ الرَّازِقِ، وَإِنْ لَمْ يَعْتَقِدْ إِلَهًا خَالِقًا رَازِقًا.

Jika orang yang bersumpah itu seorang dahriyyun, yang tidak meyakini adanya Pencipta dan tidak meyakini adanya yang disembah, maka hakim cukup mengambil sumpahnya dengan menyebut nama Allah, Sang Pencipta dan Pemberi rezeki, meskipun ia tidak meyakini adanya Tuhan yang mencipta dan memberi rezeki.

فَإِنْ قِيلَ: فَلَيْسَتْ يَمِينُهُ زَاجِرَةً لَهُ، فَمَا الْفَائِدَةُ فِيهَا؟ قِيلَ: أَمْرَانِ:

Jika dikatakan: Sumpahnya itu tidak menjadi pencegah baginya, lalu apa manfaatnya? Maka dijawab: Ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِجْرَاءُ حُكْمِهَا عَلَيْهِمْ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ} [المائدة: 49] .

Salah satunya adalah menerapkan hukum atas mereka, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Mā’idah: 49).

وَالثَّانِي: لِيَزْدَادَ بِهَا إِثْمًا رُبَّمَا يُعَجِّلُ به انتقاما، والله أعلم.

Dan yang kedua: agar dengan perbuatan itu ia semakin bertambah dosanya, yang mungkin akan mempercepat datangnya balasan, dan Allah lebih mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَيَحْلِفُ الرَّجُلُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَفِيمَا عَلَيْهِ بِعَيْنِهِ عَلَى الْبَتِّ مِثْلَ أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ بَرَاءَةٌ مِنْ حَقٍّ لَهُ فَيَحْلِفُ بِاللَّهِ إِنَّ هَذَا الْحَقَّ وَيُسَمِّيهِ لَثَابِتٌ عَلَيْهِ مَا اقْتَضَاهُ وَلَا شَيْئًا مِنْهُ وَلَا مُقْتَضًى بِأَمْرٍ يَعْلَمُهُ وَلَا أَحَالَ بِهِ وَلَا بِشَيْءٍ مِنْهُ وَلَا أَبْرَأَهُ مِنْهُ ولَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهُ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ وَإِنَّهُ لَثَابِتٌ عَلَيْهِ إِلَى أَنْ حلف بهذا اليمين وإن كان حقا لأبيه حلف في نفسه على البت وفي أبيه على العلم “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seseorang bersumpah atas hak dirinya sendiri dan atas sesuatu yang menjadi tanggungannya secara tegas, seperti ketika ia didakwa telah bebas dari suatu hak yang menjadi tanggungannya, maka ia bersumpah demi Allah bahwa hak tersebut—dan ia menyebutkan hak itu—benar-benar tetap menjadi tanggungannya, sesuai dengan apa yang dituntut, dan bahwa tidak ada sedikit pun darinya, atau tuntutan apa pun berdasarkan sesuatu yang diketahuinya, yang telah dialihkan atau dipindahkan, atau telah dibebaskan darinya, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan cara apa pun, dan bahwa hak itu benar-benar tetap menjadi tanggungannya sampai ia bersumpah dengan sumpah ini. Jika hak itu milik ayahnya, maka ia bersumpah atas dirinya sendiri secara tegas, dan atas ayahnya berdasarkan pengetahuan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. إِذَا أَرَادَ الْحَاكِمُ اسْتِيفَاءَ يَمِينٍ تَوَجَّهَتْ عَلَى خَصْمٍ فِي إِثْبَاتٍ أَوْ نَفْيٍ اشْتَمَلَ شَرْطُهَا الْمُعْتَبَرُ فِي إِجْزَائِهَا وَانْبِرَامِ الْحُكْمِ بِهَا عَلَى فَصْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Jika hakim ingin meminta sumpah yang ditujukan kepada pihak lawan dalam rangka penetapan atau penolakan, maka syarat sumpah yang dianggap sah untuk pelaksanaannya dan berlakunya putusan dengannya mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: شَرْطُهَا فِي الْعِلْمِ وَالْبَتِّ.

Salah satunya: syaratnya adalah pada pengetahuan dan ketetapan.

وَالثَّانِي: شَرْطُهَا فِي الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ.

Kedua: syarat qiyās dalam penetapan dan penafian.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ، وَهُوَ شَرْطُهَا فِي الْحَلِفِ بِهَا عَلَى الْعِلْمِ وَالْبَتِّ، فَالْيَمِينُ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian pertama, yaitu syarat sumpah dengan menggunakan lafaz tersebut atas dasar pengetahuan dan kepastian, maka sumpah terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ عَلَى إِثْبَاتٍ.

Salah satunya adalah bahwa ia bersifat penetapan.

وَالثَّانِي: أَنْ تَكُونَ عَلَى نَفْيٍ.

Kedua: harus berupa penafian.

فَإِنْ كَانَتْ عَلَى إِثْبَاتٍ، فَهِيَ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ، سَوَاءٌ أَثَبَتَ بِهَا الْحَالِفُ مَا حَدَثَ عَنْ فِعْلِهِ أَوْ مَا حَدَثَ عَنْ فِعْلِ غَيْرِهِ.

Jika sumpah itu berisi penetapan, maka ia bersifat pasti dan tegas, baik orang yang bersumpah menetapkan sesuatu yang terjadi dari perbuatannya sendiri maupun yang terjadi dari perbuatan orang lain.

وَالْحَادِثُ عَنْ فِعْلِهِ أَنْ يَقُولَ قَطْعًا بَاتًّا: وَاللَّهِ لَقَدْ بِعْتُكَ دَارِي أَوِ اشْتَرَيْتُ دَارَكَ أَوْ أَجَّرْتُكَ عَبْدِي، أَوِ اسْتَأْجَرْتُ عَبْدَكَ، أَوْ أَقْرَضْتُكَ أَلْفًا، أَوِ اقْتَرَضْتَ مِنِّي أَلْفًا سَوَاءٌ أَضَافَ ذَلِكَ إِلَى نَفْسِهِ أَوْ إِلَى خَصْمِهِ، لِأَنَّهُ بِهَا تَمَّ، فَصَارَ حَادِثًا عَنْ فِعْلِهِ.

Adapun yang dimaksud dengan pernyataan tegas tentang perbuatannya adalah seseorang berkata dengan tegas dan pasti: “Demi Allah, sungguh aku telah menjual rumahku kepadamu,” atau “Aku telah membeli rumahmu,” atau “Aku telah menyewakan budakku kepadamu,” atau “Aku telah menyewa budakmu,” atau “Aku telah meminjamkan seribu kepadamu,” atau “Engkau telah meminjam seribu dariku,” baik ia menisbatkan hal itu kepada dirinya sendiri maupun kepada lawannya, karena dengan pernyataan tersebut transaksi telah sempurna, sehingga hal itu menjadi pernyataan tegas tentang perbuatannya.

وَأَمَّا الْحَادِثُ عَنْ فِعْلِ غَيْرِهِ، فَهُوَ أَنْ يَقُولَ: وَاللَّهِ لَقَدِ اشْتَرَى مِنْكَ أَبِي دَارَكَ، أَوِ اشْتَرَيْتَ مِنْ أَبِي دَارَهُ، أَوْ لَقَدِ اسْتَأْجَرَ مِنْكَ أَبِي عَبْدَكَ، أَوِ اسْتَأْجَرْتَ مِنْ أَبِي عَبْدَهُ، أَوْ لَقَدْ أَقْرَضَكَ أَبِي أَلْفًا، أَوْ لَقَدِ اقْتَرَضْتَ مِنْ أَبِي أَلْفًا، فَتَكُونُ يَمِينُ الْإِثْبَاتِ لِفِعْلِهِ، وَفِعْلِ غَيْرِهِ عَلَى الْبَتِّ، وَالْقَطْعِ فِي الْحَالَتَيْنِ مَعًا، لِأَنَّهُ عَلَى إِحَاطَةِ عِلْمٍ بِفِعْلِهِ، وَمَا ادَّعَى فِعْلَ غَيْرِهِ إِلَّا بَعْدَ إِحَاطَتِهِ بِفِعْلِهِ.

Adapun peristiwa yang berkaitan dengan perbuatan orang lain, yaitu seperti seseorang berkata: “Demi Allah, sungguh ayahku telah membeli rumahmu darimu,” atau “Engkau telah membeli rumahnya dari ayahku,” atau “Sungguh ayahku telah menyewa budakmu darimu,” atau “Engkau telah menyewa budaknya dari ayahku,” atau “Sungguh ayahku telah meminjamkanmu seribu,” atau “Engkau telah meminjam seribu dari ayahku.” Maka sumpah dalam hal ini adalah sumpah penetapan atas perbuatannya sendiri dan perbuatan orang lain secara pasti dan tegas dalam kedua keadaan tersebut, karena ia memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang perbuatannya sendiri, dan ia tidak mengklaim perbuatan orang lain kecuali setelah ia benar-benar mengetahui perbuatan tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ عَلَى نَفْيٍ لِبَيْعٍ أَوْ إِجَارَةٍ أَوْ قَرْضٍ، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهَا: هَلْ تَكُونُ عَلَى الْبَتِّ أَوْ عَلَى الْعِلْمِ؟ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Jika sumpah itu berkaitan dengan penafian terhadap jual beli, sewa-menyewa, atau pinjaman, para fuqaha berbeda pendapat mengenai hal ini: apakah sumpah tersebut harus bersifat pasti (al-batt) atau berdasarkan pengetahuan (‘ala al-‘ilm)? Terdapat tiga mazhab dalam masalah ini.

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ ابْنِ أَبِي لَيْلَى: إِنَّهَا عَلَى الْبَتِّ كَالْإِثْبَاتِ سَوَاءٌ كَانَتْ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ نَفْسِهِ أَوْ فِعْلِ غَيْرِهِ.

Salah satunya, yaitu pendapat Ibn Abi Laila: sesungguhnya ia (lafaz nafi) bersifat pasti seperti lafaz itsbat, baik ia berupa penafian terhadap perbuatan dirinya sendiri maupun perbuatan orang lain.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ: إِنَّهَا عَلَى الْعِلْمِ سَوَاءٌ كَانَتْ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ نَفْسِهِ أَوْ فِعْلِ غَيْرِهِ.

Yang kedua: yaitu pendapat asy-Sya‘bi dan an-Nakha‘i: bahwa sumpah itu berlaku atas pengetahuan, baik sumpah tersebut berkaitan dengan penafian perbuatan dirinya sendiri maupun perbuatan orang lain.

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ: إِنَّهَا إِنْ كَانَتِ الْيَمِينُ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ نَفْسِهِ، فَهِيَ عَلَى الْبَتِّ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا فَعَلْتُ، وَلَا بِعْتُ، وَلَا أَجَّرْتُ، وَلَا نَكَحْتُ، وَلَا طَلَّقْتُ. وَإِنْ كَانَتْ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ غَيْرِهِ، فَهِيَ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ أَنَّ أَبِي بَاعَكَ، وَلَا أَعْلَمُ أَنَّهُ آجَرَكَ، وَلَا أَعْلَمُ أَنَّهُ اقْتَرَضَ مِنْكَ، وَلَا أَعْلَمُ أَنَّهُ وَصَّى لَكَ، لِأَنَّهُ عَلَى إِحَاطَةِ عِلْمٍ بِمَا نَفَاهُ عَنْ نَفْسِهِ، فَكَانَتْ يَمِينُهُ فِيهِ قَطْعًا عَلَى الْبَتِّ وَلَيْسَ عَلَى إِحَاطَةِ عِلْمٍ بِمَا نَفَاهُ عَنْ غَيْرِهِ، لِتَعَذُّرِ التَّوَاتُرِ فِيهِ، وَاسْتِعْمَالِ الْمَظْنُونِ مِنْ أخبار الآحاد، فكانت اليمين فِيهَا بِحَسَبِ مَا أَدَّاهُ إِلَى الْعِلْمِ بِهِمَا، وَهُوَ يَعْلَمُ نَفْيَ فِعْلِهِ قَطْعًا، وَنَفْيَ فِعْلِ غَيْرِهِ ظَنًّا، فَحَلَفَ فِيمَا قَطَعَ بِهِ عَلَى الْبَتِّ، وَفِيمَا اسْتَعْمَلَ فِيهِ غَلَبَةَ الظَّنِّ عَلَى الْعِلْمِ، فَعَلَى هَذَا لَوْ وَجَبَ إِحْلَافُهُ عَلَى الْبَتِّ، فَأَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ عَلَى الْعِلْمِ كَانَتْ يَمِينُهُ غَيْرَ مُجْزِئَةٍ، وَهُوَ فِي الْحُكْمِ بِهَا بِمَثَابَةِ مَنْ لَمْ يَحْلِفْ، وَيَجُوزُ لِلْخَصْمِ أَنْ يَسْتَأْنِفَ الدَّعْوَى عَلَيْهِ عِنْدَ ذَلِكَ الْحَاكِمِ، أَوْ عِنْدَ غَيْرِهِ.

Ketiga: Ini adalah mazhab Syafi‘i dan mayoritas fuqaha: Jika sumpah itu untuk menafikan perbuatan dirinya sendiri, maka sumpah tersebut harus secara pasti (al-batt), sehingga ia berkata: “Demi Allah, saya tidak melakukannya, saya tidak menjual, saya tidak menyewakan, saya tidak menikah, saya tidak menceraikan.” Namun jika sumpah itu untuk menafikan perbuatan orang lain, maka sumpah tersebut berdasarkan pengetahuan (al-‘ilm) dan bukan secara pasti, sehingga ia berkata: “Demi Allah, saya tidak mengetahui bahwa ayah saya menjual kepadamu, saya tidak mengetahui bahwa ia menyewakan kepadamu, saya tidak mengetahui bahwa ia meminjam darimu, saya tidak mengetahui bahwa ia berwasiat kepadamu.” Sebab, dalam menafikan perbuatan dirinya sendiri, ia memiliki pengetahuan yang menyeluruh, sehingga sumpahnya dalam hal ini secara pasti (al-batt). Sedangkan dalam menafikan perbuatan orang lain, ia tidak memiliki pengetahuan yang menyeluruh, karena sulitnya mendapatkan informasi secara mutawatir dan hanya mengandalkan dugaan dari berita ahad, maka sumpah dalam hal ini sesuai dengan kadar pengetahuan yang ia miliki. Ia mengetahui penafian perbuatannya sendiri secara pasti, dan penafian perbuatan orang lain hanya berdasarkan dugaan. Maka ia bersumpah secara pasti dalam hal yang ia yakini, dan bersumpah berdasarkan dugaan kuat dalam hal yang hanya ia ketahui secara dugaan. Berdasarkan hal ini, jika ia diwajibkan bersumpah secara pasti, namun hakim menyuruhnya bersumpah berdasarkan pengetahuan, maka sumpahnya tidak sah, dan dalam hukum dianggap seperti orang yang tidak bersumpah. Maka lawan sengketa boleh mengajukan gugatan baru kepadanya di hadapan hakim tersebut atau hakim yang lain.

وَلَوْ وَجَبَ إِحْلَافُهُ عَلَى الْعِلْمِ، فَأَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ عَلَى الْبَتِّ أَجْزَأَتْ يَمِينُهُ، وَثَبَتَ بِهَا الْحُكْمُ فِيمَا حَلَفَ عَلَيْهِ، لِأَنَّ يَمِينَ الْبَتِّ أَغْلَظُ، وَيَمِينَ الْعِلْمِ أَخَفُّ، فَجَازَ أَنْ يَسْقُطَ الْأَخَفُّ بِالْأَعْلَى، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْقَطَ الْأَغْلَظُ بِالْأَخَفِّ، وَلَئِنْ حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ فِي مَوْضِعِ العلم، فإنها تؤول بِهِ إِلَى الْعِلْمِ لِامْتِنَاعِ الْقَطْعِ مِنْهُ.

Jika seseorang diwajibkan bersumpah atas dasar pengetahuan (‘ilm), lalu hakim menyuruhnya bersumpah dengan sumpah tegas (al-batt), maka sumpahnya sah dan dengan itu keputusan hukum ditetapkan atas perkara yang ia sumpahkan, karena sumpah tegas (yamin al-batt) lebih berat, sedangkan sumpah atas dasar pengetahuan (yamin al-‘ilm) lebih ringan. Maka boleh yang lebih ringan gugur dengan yang lebih berat, dan tidak boleh yang lebih berat gugur dengan yang lebih ringan. Jika ia bersumpah dengan sumpah tegas pada tempat yang seharusnya sumpah pengetahuan, maka sumpah itu diarahkan kepada pengetahuan, karena tidak mungkin ia memastikan secara mutlak.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَهُوَ مَا تَضَمَّنَهُ الْيَمِينُ مِنْ شُرُوطِ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ: يَمِينٌ عَلَى النَّفْيِ تَخْتَصُّ بِالْمُدَّعَى عَلَيْهِ، يَمِينٌ عَلَى الْإِثْبَاتِ تَخْتَصُّ بِالْمُدَّعِي. فَأَمَّا يَمِينُ النَّفْيِ، فَتَجِبُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَلَى حُكْمِ الدَّعْوَى، وَهِيَ أَرْبَعَةُ أَضْرُبٍ:

Yaitu apa yang terkandung dalam sumpah berupa syarat-syarat penafian dan penetapan. Maka sumpah itu terbagi menjadi dua jenis: sumpah untuk menafikan yang khusus bagi tergugat, dan sumpah untuk menetapkan yang khusus bagi penggugat. Adapun sumpah penafian, maka wajib atas tergugat sesuai dengan ketentuan gugatan, dan sumpah ini terbagi menjadi empat jenis.

أَحَدُهَا: أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ دَيْنٌ فِي ذِمَّتِهِ.

Pertama: apabila seseorang dituduh memiliki utang dalam tanggungannya.

والثاني: أن يدعي عليه يمين فِي يَدِهِ.

Kedua: bahwa ia menuntut sumpah atas sesuatu yang ada di tangannya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ دَيْنٌ فِي ذِمَّةِ أَبِيهِ.

Ketiga: apabila seseorang dituntut atas utang yang menjadi tanggungan ayahnya.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ عَيْنٌ فِي يَدِ أَبِيهِ.

Keempat: apabila ada klaim terhadap suatu barang yang berada di tangan ayahnya.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ دَيْنٌ فِي ذِمَّتِهِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun jenis pertama, yaitu apabila seseorang dituduh memiliki utang dalam tanggungannya, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى مُطْلَقَةً لَمْ يَقْتَرِنْ بِهَا ذِكْرُ السَّبَبِ كَقَوْلِهِ: لِي عَلَيْهِ أَلْفُ دِرْهَمٍ، وَلَا يَذْكُرُ سَبَبَ اسْتِحْقَاقِهَا، فَهِيَ دَعْوَى صَحِيحَةٌ. وَلَا يَلْزَمُ سُؤَالُهُ عَنْ سَبَبِهَا، فَإِنْ سَأَلَهُ الْحَاكِمُ كَانَ مُخْطِئًا، وَلَمْ تَلْزَمْهُ إِبَانَةُ السَّبَبِ، لِأَنَّ تَنَوُّعَ الْأَسْبَابِ لَا يُوجِبُ اخْتِلَافَ الْحُقُوقِ، فَتَكُونُ يَمِينُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِذَا أَنْكَرَهَا عَلَى الْبَتِّ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا لَهُ عَلَيَّ هَذِهِ الْأَلْفُ، وَلَا شَيْءٌ مِنْهَا بِوَجْهٍ، وَلَا سَبَبٍ.

Salah satunya adalah: apabila gugatan itu bersifat mutlak tanpa disertai penyebutan sebab, seperti ucapannya: “Saya memiliki hak seribu dirham atasnya,” dan ia tidak menyebutkan sebab berhaknya atas harta tersebut, maka itu adalah gugatan yang sah. Tidak wajib menanyakan kepadanya tentang sebabnya; jika hakim menanyakannya, maka hakim itu keliru, dan ia tidak wajib menjelaskan sebabnya, karena beragamnya sebab tidak menyebabkan perbedaan hak. Maka sumpah tergugat jika ia mengingkarinya adalah secara mutlak, sehingga ia berkata: “Demi Allah, ia tidak memiliki seribu dirham itu atas saya, dan tidak ada sedikit pun darinya dengan cara apa pun, atau sebab apa pun.”

وَقَوْلُهُ: وَلَا شَيْءٌ مِنْهَا، شَرْطٌ مُسْتَحَقٌّ فِي يَمِينِهِ، لِأَنَّهُ رُبَّمَا كَانَ عَلَيْهِ بَعْضُهَا، فَهُوَ إِذَا حَلَفَ أَنَّهَا لَيْسَتْ عَلَيْهِ بَرَّ فِي يَمِينِهِ، وَإِنْ وَجَبَ عَلَيْهِ بَاقِيهَا، وَقَوْلُهُ: ” بِوَجْهٍ وَلَا سَبَبٍ ” تَأْكِيدًا فَإِنْ أَغْفَلَهُ جَازَ.

Dan ucapannya: “dan tidak ada sedikit pun darinya,” adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sumpahnya, karena bisa jadi sebagian dari hal itu memang menjadi tanggungannya. Maka jika ia bersumpah bahwa tidak ada satu pun darinya yang menjadi tanggungannya, ia telah benar dalam sumpahnya, meskipun sebagian sisanya tetap menjadi tanggungannya. Dan ucapannya: “dengan cara apa pun atau sebab apa pun” adalah sebagai penegasan; jika ia meninggalkannya, maka hal itu tetap diperbolehkan.

وَلَوْ قَالَ: وَاللَّهِ إِنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا كَانَ مُجْزِئًا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَزِيدَ عَلَيْهِ فِي يَمِينِهِ، وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُونَ يَمِينُهُ بِحَسَبِ جَوَابِهِ فِي إِنْكَارِهِ.

Jika seseorang berkata: “Demi Allah, sesungguhnya dia tidak berhak atas diriku sedikit pun,” maka itu sudah mencukupi, dan dia tidak diwajibkan menambah apa pun dalam sumpahnya. Namun yang lebih utama adalah sumpahnya sesuai dengan jawaban yang ia berikan dalam penolakannya.

فَإِنْ قَالَ فِي الْإِنْكَارِ: لَيْسَ لَهُ عَلَيَّ مَا ادَّعَاهُ مِنْ هَذِهِ الْأَلْفِ، وَلَا شَيْءٌ مِنْهَا كَانَ جَوَابًا مُقَابِلًا لِلدَّعْوَى، وَحَلَفَ عَلَى مِثْلِ جَوَابِهِ: وَاللَّهِ مَا لَهُ عَلَيَّ هَذَا الْأَلْفُ، وَلَا شَيْءٌ مِنْهُ. وَإِنْ قَالَ: لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا كَانَ جَوَابًا كَافِيًا، وَحَلَفَ عَلَى مِثْلِ جَوَابِهِ: وَاللَّهِ مَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا، فَإِنْ قَالَ: وَاللَّهِ مَا لَهُ عَلَيَّ شَيْءٌ كَانَتْ مَعْلُولَةً غَيْرَ مُقْنِعَةٍ، لِاحْتِمَالِ مَا لَهُ عَلَى جَسَدِي شَيْءٌ، فَإِذَا قَالَ: لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا انْتَفَى هَذَا الِاحْتِمَالُ.

Jika dalam penolakan ia berkata: “Dia tidak memiliki hak atas seribu yang dia klaim dari saya ini, dan tidak ada sedikit pun darinya,” maka itu merupakan jawaban yang sepadan dengan gugatan, dan ia bersumpah sesuai dengan jawabannya: “Demi Allah, dia tidak memiliki seribu ini atas saya, dan tidak ada sedikit pun darinya.” Dan jika ia berkata: “Dia tidak berhak atas apa pun dari saya,” maka itu adalah jawaban yang cukup, dan ia bersumpah sesuai dengan jawabannya: “Demi Allah, dia tidak berhak atas apa pun dari saya.” Namun jika ia berkata: “Demi Allah, dia tidak memiliki apa pun atas saya,” maka itu dianggap lemah dan tidak meyakinkan, karena masih ada kemungkinan maksudnya adalah “dia tidak memiliki apa pun atas tubuh saya.” Maka jika ia berkata: “Dia tidak berhak atas apa pun dari saya,” kemungkinan tersebut menjadi gugur.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى مُقْتَرِنَةً بِذِكْرِ السَّبَبِ، فَيَقُولَ: لِي عَلَيْهِ أَلْفُ قَرْضٍ أَوْ غَصْبٌ أَوْ ثَمَنُ مَبِيعٍ أَوْ قِيمَةُ مُتْلَفٍ، أَوْ أَرْشُ جِنَايَةٍ، فَيَكُونَ فِي الْجَوَابِ عَلَى إِنْكَارِهِ مُخَيَّرًا بَيْنَ أَنْ يَعُمَّ بِإِنْكَارِهِ، فَيَقُولَ: لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا، فَيَكُونَ جَوَابُهُ أَوْفَى، وَتَكُونَ يَمِينُهُ عَلَى الْبَتِّ بِحَسَبِ جَوَابِهِ، وَاللَّهِ لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا.

Jenis kedua: yaitu apabila gugatan disertai dengan penyebutan sebab, misalnya ia berkata: “Ia berutang seribu kepadaku karena pinjaman, atau karena ghasab, atau harga barang yang dijual, atau nilai barang yang rusak, atau denda karena tindak pidana.” Maka dalam menjawab penolakannya, tergugat diberi pilihan antara mengingkari secara umum, dengan mengatakan: “Ia tidak berhak menuntut apa pun dariku,” sehingga jawabannya menjadi lebih sempurna, dan sumpahnya pun dilakukan secara tegas sesuai dengan jawabannya, misalnya: “Demi Allah, ia tidak berhak menuntut apa pun dariku.”

فَإِنْ أَرَادَ الْحَاكِمُ أَنْ يُحْلِفَهُ مَا اقْتَرَضَ مِنْهُ أَلْفًا وَلَا غَصَبَهُ أَلْفًا لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اقْتَرَضَهَا ثُمَّ قَضَاهَا، فَيَحْنَثَ فِي يَمِينِهِ، وَإِنْ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ، فَهَذَا أَحَدُ خِيَارَيْهِ فِي الْإِنْكَارِ.

Jika hakim ingin menyuruhnya bersumpah bahwa ia tidak meminjam seribu darinya dan tidak merampas seribu darinya, maka itu tidak boleh, karena bisa jadi ia memang pernah meminjamnya lalu telah mengembalikannya, sehingga ia akan melanggar sumpahnya, padahal ia tidak wajib (membayar lagi). Inilah salah satu dari dua pilihan dalam pengingkaran.

وَالْخِيَارُ الثَّانِي: أَنْ يَقْتَصِرَ فِي إِنْكَارِهِ عَلَى ذِكْرِ السَّبَبِ، فَيَقُولَ: مَا اقْتَرَضْتُ مِنْهُ وَلَا غَصَبْتُ مِنْهُ شَيْئًا، فَيَقْنَعُ مِنْهُ بِهَذَا الْجَوَابِ، وَلَوْ قَالَ: مَا اقْتَرَضْتُ مِنْهُ أَلْفًا، وَلَا غَصَبْتُهُ أَلْفًا لَمْ يُقْنِعْ حَتَّى يَقُولَ: وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَضَ أَوْ غَصَبَ بَعْضَهَا.

Pilihan kedua: ia membatasi pengingkarannya hanya pada penyebutan sebab, lalu ia berkata: “Saya tidak meminjam darinya dan tidak merampas sesuatu pun darinya,” maka jawaban ini sudah dianggap cukup darinya. Namun, jika ia berkata: “Saya tidak meminjam seribu darinya, dan tidak merampas seribu darinya,” maka itu belum dianggap cukup sampai ia berkata: “dan tidak sesuatu pun darinya,” karena mungkin saja ia telah meminjam atau merampas sebagian dari jumlah tersebut.

فَإِذَا اقْتَصَرَ عَلَى ذِكْرِ السَّبَبِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِفَةِ إِحْلَافِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika hanya disebutkan sebabnya, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai cara pengambilan sumpahnya menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْحَاكِمَ يُحْلِفُهُ قَطْعًا عَلَى الْعُمُومِ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ إِنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيَّ شَيْئًا احْتِرَازًا مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ غَصَبَ أَوِ اقْتَرَضَ ثُمَّ قَضَى.

Salah satunya adalah bahwa hakim pasti menyuruhnya bersumpah secara umum, dengan mengatakan: “Demi Allah, sesungguhnya dia tidak berhak atas apa pun dariku,” sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjadi kemungkinan dia pernah merampas atau meminjam lalu telah mengembalikannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُحْلِفُهُ قَطْعًا بِاللَّهِ إِنَّهُ مَا اقْتَرَضَهَا، وَلَا غَصَبَهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، لِأَنَّ احْتِمَالَ الْقَضَاءِ قَدِ ارْتَفَعَ عَنْهَا بِقَوْلِهِ، مَا اقْتَرَضْتُ وَلَا غَصَبْتُ.

Pendapat kedua: Ia harus menyuruhnya bersumpah dengan tegas atas nama Allah bahwa ia tidak meminjamnya, tidak merampasnya, dan tidak mengambil sedikit pun darinya, karena kemungkinan adanya pelunasan telah hilang dengan pernyataannya, “Saya tidak meminjam dan tidak merampas.”

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي، وَهُوَ أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ يَمِينٌ فِي يَدَيْهِ كَدَارٍ أَوْ عَبْدٍ أَوْ ثَوْبٍ، فَلَا يَسْتَقِلُّ بِهَذِهِ الدَّعْوَى إِلَّا أَنْ يَصِلَهَا بِمَا يُوجِبُ انْتِزَاعَهَا مِنْ يَدِهِ، فَيَقُولَ: وَقَدْ غَصَبَنِي عَلَيْهَا، أَوْ مَنَعَنِي مِنْهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، لِأَنَّهَا قَدْ تَكُونُ لَهُ، وَلَا يَسْتَحِقُّ انْتِزَاعَهَا مِنْ يَدِهِ، لِأَنَّهَا مُسْتَأْجَرَةٌ أَوْ مَرْهُونَةٌ، فَإِذَا كَمُلَتِ الدَّعْوَى بِقَوْلِ الْمُدَّعِي هَذِهِ الدَّارُ لِي، وَقَدْ غَصَبَنِي عَلَيْهَا، فَلِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِي إِنْكَارِهِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Adapun jenis kedua, yaitu ketika seseorang mengklaim adanya hak atas sesuatu yang berada di tangan orang lain, seperti rumah, budak, atau pakaian, maka klaim semacam ini tidak berdiri sendiri kecuali jika disertai dengan sesuatu yang mewajibkan pengambilannya dari tangan orang tersebut. Misalnya dengan mengatakan: “Dia telah merampasnya dariku,” atau “Dia telah mencegahku darinya tanpa hak,” karena bisa jadi barang itu memang miliknya dan tidak berhak diambil dari tangannya, seperti jika barang itu disewa atau digadaikan. Maka apabila klaim telah sempurna dengan ucapan penggugat, “Rumah ini milikku dan dia telah merampasnya dariku,” maka pihak tergugat dalam penolakannya memiliki empat keadaan.

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولَ: لَا حَقَّ لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ، فَهَذَا جَوَابٌ مُقْنِعٌ، وَلَا يَتَضَمَّنُ أَنَّهَا مِلْكُ الْمُنْكِرِ، وَلَا أَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا بِتَحْلِفَةِ الْحَاكِمِ عَلَى الْبَتِّ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِيهَا، وَلَا يَحْتَاجُ أَنْ يَقُولَ: وَلَا فِي شَيْءٍ مِنْهَا، لِأَنَّ قَوْلَهُ: ” لَا حَقَّ لَهُ فِيهَا “. مُسْتَوْعِبٌ لِجَمِيعِ أَجْزَائِهَا.

Salah satunya: ia berkata, “Tidak ada hak baginya atas rumah ini.” Ini adalah jawaban yang memadai, dan tidak mengandung makna bahwa rumah itu adalah milik orang yang mengingkari, juga tidak berarti bahwa ia tidak memilikinya dengan sumpah hakim secara pasti dengan nama Allah bahwa tidak ada hak baginya atas rumah itu. Ia juga tidak perlu mengatakan, “dan tidak pada bagian manapun darinya,” karena ucapannya, “tidak ada hak baginya atas rumah ini,” sudah mencakup seluruh bagian rumah tersebut.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ: لَا يَسْتَحِقُّ هَذِهِ الدَّارَ، فَيَحْتَاجُ أَنْ يَقُولَ: وَلَا شيئا منها، لأن قوله: ” لا يَسْتَحِقُّهَا ” لَا يَمْنَعُ أَنْ يَسْتَحِقَّ بَعْضَهَا، فَيُحْلِفُهُ الْحَاكِمُ بِاللَّهِ أنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ هَذِهِ الدَّارَ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا.

Keadaan kedua: yaitu ketika ia berkata, “Ia tidak berhak atas rumah ini,” maka ia perlu menambahkan, “dan tidak juga atas sebagian darinya,” karena ucapannya “tidak berhak atasnya” tidak mencegah kemungkinan ia berhak atas sebagian dari rumah itu. Maka hakim akan menyuruhnya bersumpah atas nama Allah bahwa ia tidak berhak atas rumah ini, dan tidak juga atas sebagian darinya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ: هَذِهِ الدَّارُ لِي دُونَهُ، فَيَكُونَ هَذَا جَوَابًا كَافِيًا، فَإِنْ قَالَ: هَذِهِ الدَّارُ لِي وَلَمْ يَقُلْ دُونَهُ أَقْنَعَ؛ لِأَنَّهَا إِذَا كَانَتْ لَهُ فَلَا شَيْءَ فِيهَا لِغَيْرِهِ، فَيُحْلِفُهُ الْحَاكِمُ عَلَى الْبَتِّ عَلَى نَفْيِ مِلْكِ الْمُدَّعِي، وَلَا يُحْلِفُهُ عَلَى إِثْبَاتِ مِلْكِهِ، لِأَنَّهَا يَمِينٌ عَلَيْهِ، وَلَيْسَتْ بِيَمِينٍ لَهُ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ إِنَّهُ لَا يَمْلِكُ هَذِهِ الدَّارَ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، أَوْ لَا مِلْكَ لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ أَوْ لَا حَقَّ لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ.

Keadaan ketiga: Jika ia berkata, “Rumah ini milikku, bukan miliknya,” maka ini merupakan jawaban yang cukup. Jika ia berkata, “Rumah ini milikku,” tanpa menambahkan “bukan miliknya,” itu pun sudah memadai; karena jika rumah itu miliknya, maka tidak ada bagian apa pun di dalamnya untuk orang lain. Maka hakim akan menyuruhnya bersumpah secara tegas untuk menafikan kepemilikan pihak penggugat, dan tidak menyuruhnya bersumpah untuk menetapkan kepemilikannya sendiri, karena sumpah itu atas dirinya, bukan untuk kepentingannya. Maka ia berkata, “Demi Allah, dia tidak memiliki rumah ini, dan tidak memiliki bagian apa pun darinya, atau tidak ada kepemilikan baginya atas rumah ini, atau tidak ada hak baginya atas rumah ini.”

فَإِنْ زَادَ فِي يَمِينِهِ: وَإِنَّهَا لِي دُونَهُ جَازَ، وَكَانَتْ مِلْكًا لَهُ فِي الظَّاهِرِ بِيَدِهِ لَا بِيَمِينِهِ،

Jika ia menambahkan dalam sumpahnya: “Dan sesungguhnya itu milikku, bukan miliknya,” maka hal itu diperbolehkan, dan secara lahiriah menjadi miliknya karena berada dalam genggamannya, bukan karena sumpahnya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَقُولَ: مَا غَصَبْتُ هَذِهِ الدَّارَ، فَلَا يُقْنَعُ هَذَا الْجَوَابُ، لِأَنَّهُ ادَّعَى عَلَيْهِ مِلْكَ الدَّارِ وَغَصْبِهَا، فَأَنْكَرَ الْغَصْبَ، وَلَمْ يَنْكَرِ الْمِلْكَ، فَلَا يَمْنَعُ إِذَا لَمْ يَغْصِبْهَا مِنْهُ أَنْ تَكُونَ مِلْكًا لَهُ.

Keadaan keempat: Jika ia berkata, “Saya tidak pernah merampas rumah ini,” maka jawaban ini tidaklah cukup, karena penggugat menuduhnya memiliki rumah tersebut dan telah merampasnya, sedangkan ia hanya mengingkari perampasan, tetapi tidak mengingkari kepemilikan. Maka, jika ia tidak merampas rumah itu darinya, hal itu tidak menghalangi kemungkinan rumah tersebut memang miliknya.

فَإِذَا قَالَ: مَا غَصَبْتُهُ إِيَّاهَا، وَهِيَ لِي دُونَهُ، كَانَ جَوَابَ الْإِنْكَارِ، وَكَانَ فِي إِحْلَافِ الْحَاكِمِ لَهُ وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى:

Maka jika ia berkata: “Aku tidak merampasnya darinya, dan barang itu milikku, bukan miliknya,” maka itu merupakan jawaban atas pengingkaran, dan dalam hal hakim menyuruhnya bersumpah terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا: يُحْلِفُهُ عَلَى مَا أَجَابَ بِهِ: وَاللَّهِ مَا غَصَبْتُهُ هَذِهِ الدَّارَ، وَإنَّهَا لِي دُونَهُ.

Salah satunya adalah: ia disuruh bersumpah atas apa yang telah dijawabnya: “Demi Allah, aku tidak merampas rumah ini darinya, dan sesungguhnya rumah ini milikku, bukan miliknya.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُحْلِفُهُ أَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ، وَلَا بِسَبَبِهَا، لِأَنَّ الْغَصْبَ مُوجِبٌ لِلْأُجْرَةِ، فَصَارَ بِادِّعَاءِ غَصْبِهَا وَمِلْكِهَا مُدَّعِيًا لَهَا وَلِأُجْرَتِهَا، فَاحْتَاجَتْ يَمِينُهُ أَنْ تَتَضَمَّنَ نَفْيَ الْأَمْرَيْنِ: الْمِلْكِ وَالْأُجْرَةِ.

Pendapat kedua: Ia harus disumpah bahwa ia tidak memiliki hak atas rumah ini, dan tidak pula karena sebab apa pun yang berkaitan dengannya, karena ghashab (perampasan) mewajibkan pembayaran sewa. Maka, dengan mengaku telah melakukan ghashab dan mengaku memiliki rumah tersebut, berarti ia mengaku memiliki rumah itu dan sewanya. Oleh karena itu, sumpahnya harus mencakup penafian atas dua hal: kepemilikan dan sewa.

فَلِذَلِكَ قَالَ فِي يَمِينِهِ: لَا حَقَّ لَهُ فِيهَا، وَلَا بِسَبَبِهَا، لِأَنَّهُ لَا يُمْتَنَعُ أَنْ يَزُولَ مِلْكُهُ عَنْهَا بَعْدَ اسْتِحْقَاقِ أُجْرَتِهَا بِالْغَصْبِ.

Oleh karena itu, ia berkata dalam sumpahnya: “Ia tidak memiliki hak atasnya, dan tidak pula karena sebabnya,” karena tidak mustahil kepemilikannya atasnya hilang setelah ia berhak atas upahnya akibat perampasan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَدَّعِيَ عَلَيْهِ دَارًا فِي يَدِ أَبِيهِ، فَسَمَاعُ هَذِهِ الدَّعْوَى مُعْتَبَرٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Adapun jenis yang ketiga, yaitu seseorang mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan ayahnya, maka penerimaan gugatan ini dipertimbangkan dengan tiga syarat:

أَحَدُهَا: إِنْ ثَبَتَ مَوْتُ أَبِيهِ، فَإِنْ كَانَ حَيًّا، وَأَنْكَرَ الِابْنُ مَوْتَهُ لَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ الدَّعْوَى عَلَيْهِ.

Salah satunya: Jika kematian ayahnya telah terbukti, maka jika ayahnya masih hidup dan anaknya mengingkari kematiannya, gugatan anak tersebut terhadap ayahnya tidak dapat diterima.

وَالثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الدَّارُ فِي تَرِكَتِهِ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِي تَرِكَتِهِ لَمْ تُسْمَعِ الدَّعْوَى عَلَيْهِ، وَسُمِعَتْ عَلَى مَنْ هِيَ فِي يَدَيْهِ إِلَّا أَنْ يَدَّعِيَ الْأُجْرَةَ، فَتُسْمَعُ دَعْوَى الْغَصْبِ فِي اسْتِحْقَاقِ الْأُجْرَةِ دُونَ الْعَيْنِ. وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ هَذَا الِابْنُ وَارِثًا، وَلَا يَكُونُ قَاتِلًا، وَلَا كَافِرًا، فَإِنْ لَمْ يَرِثْهُ سُمِعَتِ الدَّعْوَى عَلَى مَنْ يَرِثُهُ.

Kedua: Rumah tersebut harus termasuk dalam harta warisan. Jika rumah itu tidak termasuk dalam harta warisan, maka gugatan tidak dapat diajukan terhadapnya, melainkan gugatan diajukan kepada orang yang menguasai rumah tersebut, kecuali jika ia mengklaim adanya sewa, maka gugatan ghashab (perampasan) didengar dalam hal hak atas sewa, bukan atas barangnya. Ketiga: Anak tersebut haruslah ahli waris, dan bukan pembunuh, serta bukan kafir. Jika ia tidak mewarisinya, maka gugatan diajukan kepada orang yang mewarisinya.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ شُرُوطُ سَمَاعِهَا كَانَ جَوَابُ إِنْكَارِهِ وَشُرُوطُ يَمِينِهِ مُتَرَدِّدَةً بَيْنَ الْأَحْوَالِ الْأَرْبَعَةِ فِي ادِّعَائِهَا فِي يَدِهِ إِلَّا فِي شَيْئَيْنِ:

Maka apabila telah terpenuhi syarat-syarat diterimanya (kesaksian itu), maka jawaban atas penolakannya dan syarat-syarat sumpahnya akan berbeda-beda sesuai dengan empat keadaan dalam pengakuannya atas barang yang berada dalam genggamannya, kecuali dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يُقْتَنَعُ مِنْهُ فِي جَوَازِ إِنْكَارِهِ أَنْ يَقُولَ: لَا أَعْلَمُ أَنَّكَ تَسْتَحِقُّهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَلَوْ كَانَتِ الدَّعْوَى عَلَيْهِ، لَمْ يُقْتَنَعْ مِنْهُ إِلَّا بِالْقَطْعِ أَنْ يَقُولَ: لَا تَسْتَحِقُّهَا وَلَا شَيْئًا مِنْهَا.

Salah satunya adalah bahwa dalam kebolehan mengingkarinya, cukup baginya untuk mengatakan: “Aku tidak tahu bahwa engkau berhak atasnya, atau atas sebagian darinya.” Namun, jika gugatan itu ditujukan kepadanya, maka tidak cukup darinya kecuali dengan penegasan tegas untuk mengatakan: “Engkau tidak berhak atasnya, dan tidak atas sebagian darinya.”

وَالثَّانِي: أَنْ تَكُونَ يَمِينُهُ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ، فَيَقُولَ: وَاللَّهِ إِنِّي لَا أَعْلَمُ أَنَّكَ تَسْتَحِقُّهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، لِأَنَّ مَا نَفَاهُ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ مَحْمُولٌ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ، لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لَهُ إِلَى الْقَطْعِ بِمَا ادَّعَى عَلَيْهِ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ فَحُمِلَ إِنْكَارُهُ وَيَمِينُهُ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ.

Kedua: Sumpahnya didasarkan pada pengetahuan, bukan pada kepastian mutlak. Misalnya, ia berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa engkau berhak atasnya, atau atas sebagian darinya.” Karena apa yang ia sangkal dari perbuatan orang lain itu didasarkan pada pengetahuan, bukan pada kepastian mutlak, sebab tidak mungkin baginya memastikan secara pasti apa yang dituduhkan kepadanya dari perbuatan orang lain. Maka penyangkalan dan sumpahnya dianggap berdasarkan pengetahuan, bukan pada kepastian mutlak.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأما الضَّرْبُ الرَّابِعُ: وَهُوَ أَنْ يُدَّعَى عَلَيْهِ دَيْنٌ فِي ذِمَّةِ أَبِيهِ، فَسَمَاعُ هَذِهِ الدَّعْوَى مُعْتَبَرٌ بِمَا ذَكَرْنَا مِنَ الشَّرَائِطِ الثَّلَاثَةِ: أَنْ يَكُونَ أَبُوهُ مَيِّتًا وَأَنْ يَكُونَ هُوَ وَارِثًا، وَأَنْ يُخَلِّفَ أَبُوهُ تَرِكَةً.

Adapun jenis keempat: yaitu apabila seseorang didakwa memiliki utang yang menjadi tanggungan ayahnya, maka penerimaan dakwaan ini dipertimbangkan dengan tiga syarat yang telah kami sebutkan: ayahnya telah meninggal dunia, dia adalah ahli waris, dan ayahnya meninggalkan harta warisan.

فَإِنْ مَاتَ مُعْدِمًا لَمْ تُسْمَعِ الدَّعْوَى؛ لِأَنَّهَا عَلَى الْأَبِ دُونَهُ، فَإِذَا تَكَامَلَتْ وَأَنْكَرَهَا كَانَ إِنْكَارُهُ عَلَى نَفْيِ الْعِلْمِ، فَيَقُولُ: لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلَى أَبِي هَذِهِ الْأَلْفَ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، فَإِنْ قَالَ: لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلَى أَبِي حَقًّا أَجْزَأَ، وَلَوْ أَنْكَرَ قَطْعًا، فَقَالَ: لَيْسَ لَكَ عَلَى أَبِي حَقٌّ كَانَ أَبْلَغَ فِي لَفْظِ الْإِنْكَارِ، وَإِنْ كَانَ مَحْمُولًا فِي الْمَعْنَى عَلَى نَفْيِ الْعِلْمِ ثُمَّ يَكُونُ يَمِينُهُ بَعْدَ إِنْكَارِهِ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ بِحَسَبَ إِنْكَارِهِ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلَى أَبِي هَذِهِ الْأَلْفَ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَوَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلَى أَبِي حَقًّا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ وَارِثٌ سِوَاهُ سَقَطَتِ الدَّعْوَى بِيَمِينِهِ، وَزَالَتِ الْمُطَالَبَةُ بِهَا، وَإِنْ كَانَ مَعَهُ وَارِثٌ سِوَاهُ أُحْلِفَ بِمِثْلِ يَمِينِهِ إِذَا أَنْكَرَ كَإِنْكَارِهِ، وَسَوَاءٌ قَلَّ سَهْمُهُ أَوْ كَثُرَ.

Jika ia meninggal dalam keadaan tidak mampu, maka gugatan tidak dapat diterima; karena gugatan itu ditujukan kepada ayah, bukan kepadanya. Apabila gugatan telah lengkap dan ia mengingkarinya, maka pengingkarannya adalah atas dasar tidak mengetahui, sehingga ia berkata: “Aku tidak tahu bahwa engkau memiliki seribu ini atas ayahku, atau sebagian darinya.” Jika ia berkata: “Aku tidak tahu bahwa engkau memiliki hak atas ayahku,” itu sudah cukup. Dan jika ia mengingkari secara tegas, lalu berkata: “Engkau tidak memiliki hak atas ayahku,” maka itu lebih tegas dalam lafaz pengingkaran, meskipun maknanya tetap kembali pada penafian pengetahuan. Kemudian sumpahnya setelah pengingkaran adalah atas dasar tidak mengetahui, bukan secara pasti, sesuai dengan bentuk pengingkarannya. Maka ia berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu bahwa engkau memiliki seribu ini atas ayahku, atau sebagian darinya. Demi Allah, aku tidak tahu bahwa engkau memiliki hak atas ayahku.” Jika tidak ada ahli waris selain dia, maka gugatan gugur dengan sumpahnya, dan tuntutan atasnya pun hilang. Namun jika ada ahli waris lain bersamanya, maka mereka juga disumpah dengan sumpah yang serupa jika mereka mengingkari sebagaimana pengingkarannya, baik bagian waris mereka sedikit maupun banyak.

فَإِنْ أَنْكَرَ أَحَدُ الْوَارِثِينَ، وَاعْتَرَفَ الْآخَرُ أُلْزِمَ الْمُنْكِرُ حُكْمَ إِنْكَارِهِ، وَأُلْزِمَ الْمُعْتَرِفُ حُكْمَ اعْتِرَافِهِ، وَهَلْ يَلْزَمُهُ قَضَاءُ جَمِيعِ الدَّيْنِ أَوْ قَدْرُ حَقِّهِ مِنْهُ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا فِي كِتَابِ الْإِقْرَارِ.

Jika salah satu ahli waris mengingkari dan yang lain mengakui, maka yang mengingkari dikenai hukum atas pengingkarannya, dan yang mengakui dikenai hukum atas pengakuannya. Apakah ia wajib membayar seluruh utang atau hanya sebesar bagian haknya dari utang tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan dalam Kitab al-Iqrār.

فَإِنْ شَهِدَ بِالدَّيْنِ عَلَى الْمُنْكَرِ، لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ إِنْ أُلْزِمَ جَمِيعَ الدَّيْنِ، وَقُبِلَتْ إِنْ أُلْزِمَ قَدْرَ حَقِّهِ مِنْهُ.

Jika ia memberikan kesaksian tentang utang terhadap orang yang mengingkarinya, maka kesaksiannya tidak diterima jika ia mewajibkan seluruh utang tersebut, dan diterima jika ia mewajibkan sebesar haknya dari utang itu.

فَهَذَا حُكْمٌ اليمين عَلَى النَّفْيِ، وَإِنَّهَا مُسْتَحَقَّةٌ فِي الْإِنْكَارِ.

Ini adalah hukum sumpah atas penolakan, dan sesungguhnya sumpah itu berhak dilakukan dalam penyangkalan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْيَمِينُ عَلَى الْإِثْبَاتِ، فَمُسْتَحَقُّهُ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ:

Adapun sumpah untuk penetapan, maka yang berhak atasnya ada pada tiga keadaan:

أَحَدُهَا: فِي الدِّمَاءِ مَعَ اللَّوْثِ، وَقَدْ مَضَتْ فِي الْقَسَامَةِ.

Salah satunya: dalam kasus darah (pembunuhan) yang disertai dengan adanya tanda, dan hal ini telah dijelaskan dalam pembahasan qasāmah.

وَالثَّانِي: يَمِينُ الرَّدِّ عَلَى الْمُدَّعِي بَعْدَ نُكُولِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Kedua: sumpah penolakan diberikan kepada penggugat setelah tergugat menolak bersumpah.

وَالثَّالِثُ: الْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ الْقَائِمَةُ مَقَامَ شَاهِدٍ.

Ketiga: sumpah bersama satu orang saksi menempati kedudukan satu orang saksi.

فَأَمَّا يَمِينُ الرَّدِّ، فَعَلَى ضَرْبَيْنِ: فِي يَمِينٍ، وَدَيْنٍ.

Adapun sumpah penolakan, maka terbagi menjadi dua jenis: dalam perkara sumpah, dan dalam perkara utang.

فَأَمَّا الْيَمِينُ فِي الْعَيْنِ فَعَلَى ضربين:

Adapun sumpah mengenai ‘ain terbagi menjadi dua jenis:

أحدهما: أنه يدعيها لنفسها.

Pertama: bahwa ia mengakuinya untuk dirinya sendiri.

وَالثَّانِي: لِأَبِيهِ.

Dan yang kedua: untuk ayahnya.

فَإِنِ ادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ كَادِّعَائِهِ مِلْكَ دَارٍ أَوْ عَبْدٍ فِي يَدِ مُنْكِرٍ نَاكِلٍ، فَيَحْلِفُ بِاللَّهِ: إِنَّ هَذِهِ الدَّارَ لِي فِي مِلْكِي، لَا حَقَّ فِيهَا لِصَاحِبِ الْيَدِ، وَالْجَمْعُ بَيْنَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ احْتِيَاطٌ وَتَأْكِيدٌ. وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى أَنْ حَلَفَ أَنَّ هَذِهِ الدَّارَ لِي أَجْزَأَتْ.

Jika seseorang mengklaimnya untuk dirinya sendiri, seperti mengklaim kepemilikan rumah atau budak yang berada di tangan orang yang mengingkari dan menolak bersumpah, maka ia bersumpah dengan nama Allah: “Sesungguhnya rumah ini milikku, berada dalam kepemilikanku, tidak ada hak bagi pemegangnya.” Menggabungkan tiga ungkapan ini adalah bentuk kehati-hatian dan penegasan. Namun, jika ia hanya bersumpah dengan mengatakan, “Sesungguhnya rumah ini milikku,” maka itu sudah mencukupi.

وَكَذَلِكَ لَوْ حَلَفَ وَاقْتَصَرَ عَلَى إِنَّهَا مِلْكِي أَجْزَأَ، وَهُوَ أَوْكَدُ مِنْ قَوْلِهِ: إِنَّهَا لِي. وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى أَنَّهُ لَا حَقَّ فِيهَا لِصَاحِبِ الْيَدِ لَمْ تُجْزِهِ، وَلَمْ يَصِرْ بِيَمِينِهِ مَالِكًا لَهَا، لِأَنَّهَا قَدْ تَكُونُ فِي يَدِهِ مِلْكًا لِغَيْرِهِ.

Demikian pula, jika ia bersumpah dan hanya mengatakan, “Sesungguhnya ini milikku,” maka itu sudah cukup, dan hal itu lebih kuat daripada ucapannya, “Ini milikku.” Namun, jika ia hanya mengatakan, “Tidak ada hak bagi pemegang barang ini di dalamnya,” maka itu tidak cukup, dan dengan sumpahnya itu ia tidak menjadi pemilik barang tersebut, karena bisa jadi barang itu berada di tangannya namun merupakan milik orang lain.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوِ ادَّعَاهَا لِأَبِيهِ سُمِعَتْ دَعْوَاهُ بِشَرْطَيْنِ:

Dan jika ia mengakuinya untuk ayahnya, maka pengakuannya didengar dengan dua syarat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ أَبُوهُ مَيِّتًا، فَإِنْ كَانَ حَيًّا لَمْ تُسْمَعْ.

Salah satunya adalah ayahnya telah meninggal dunia; jika ayahnya masih hidup, maka permohonannya tidak didengarkan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ وَارِثًا، فَإِنْ لَمْ يَرِثْهُ، لِكَوْنِهِ قاتلا أو كافرا لم تسمع.

Kedua: haruslah ia seorang ahli waris. Jika ia bukan ahli waris, karena ia seorang pembunuh atau kafir, maka tidak diterima.

فإذا استكملت الشَّرْطَيْنِ جَازَ أَنْ يَحْلِفَ عَلَى الْبَتِّ بِاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ الدَّارَ لِأَبِيهِ، وَعَلَى مِلْكِهِ، إِلَى أَنْ مَاتَ عَنْهَا لَا حَقَّ فِيهَا لِصَاحِبِ الْيَدِ، وَلَوْ لَمْ يَقِلْ: إِلَى أَنْ مَاتَ عَنْهَا، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ أَحْوَطَ، لِأَنَّهُ إِذَا أَثْبَتَ مِلْكَ أَبِيهِ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَقَدْ أَثْبَتَ مِلْكَهُ إِلَى حِينِ مَوْتِهِ. فَإِذَا حَلَفَ جَرَى عَلَيْهَا مِلْكُ أَبِيهِ، وَانْتَقَلَتْ إِلَيْهِ مِيرَاثًا، وَقَضَى مِنْهَا دُيُونَهُ، وَنَفَّذَ مِنْهَا وَصَايَاهُ.

Jika kedua syarat tersebut telah terpenuhi, maka boleh baginya bersumpah secara tegas dengan menyebut nama Allah bahwa rumah ini milik ayahnya, dan bahwa rumah itu adalah miliknya hingga ayahnya wafat, serta tidak ada hak bagi pemilik tangan atas rumah tersebut, meskipun ia tidak mengatakan: “hingga ayahnya wafat”, meskipun hal itu lebih hati-hati. Sebab jika ia telah menetapkan kepemilikan ayahnya setelah wafatnya, berarti ia telah menetapkan kepemilikannya sampai saat wafatnya. Maka apabila ia telah bersumpah, rumah itu tetap menjadi milik ayahnya, lalu berpindah kepadanya sebagai warisan, dan dari rumah itu ia melunasi utang-utang ayahnya serta melaksanakan wasiat-wasiatnya.

فَإِنْ قِيلَ: أَفَلَسْتُمْ تَقُولُونَ: إِنَّهُ لَا يَمْلِكُ أَحَدٌ مَالًا بِيَمِينِ غَيْرِهِ؟ فَلِمَ قُلْتُمْ: الْأَبُ مَالِكٌ بِيَمِينِ ابْنِهِ؟

Jika dikatakan: Bukankah kalian mengatakan bahwa tidak seorang pun dapat memiliki harta dengan sumpah orang lain? Lalu mengapa kalian mengatakan bahwa ayah dapat memiliki (harta) dengan sumpah anaknya?

قِيلَ: لِأَنَّ الِابْنَ قَائِمٌ مَقَامَ الْأَبِ فِي اسْتِحْقَاقِ الْمِلْكِ، فَقَامَ مَقَامَهُ فِي إِثْبَاتِهِ بِالْيَمِينِ، كَمَا يَحْلِفُ الْوَكِيلُ عَلَى مَا ابْتَاعَهُ لِمُوكِّلِهِ، وَيَحْلِفُ الْعَبْدُ عَلَى مَا ابْتَاعَهُ، وَإِنْ كَانَ الْمِلْكُ لِغَيْرِهِ. فَإِنْ نَكَلَ هَذَا الِابْنُ عَنْ يَمِينِ الرَّدِّ، وَأَجَابَ إِلَيْهَا أَرْبَابُ الدُّيُونِ وَالْوَصَايَا نُظِرَ: فَإِنِ اتَّسَعَتِ التَّرِكَةُ لِقَضَاءِ دُيُونِهِمْ وَوَصَايَاهُمْ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْلِفُوا. وَإِنْ ضَاقَتِ التَّرِكَةُ عَنْ دُيُونِهِمْ وَوَصَايَاهُمْ، فَفِي جَوَازِ إِحْلَافِهِمْ عَلَيْهَا قَوْلَانِ مَضَيَا. فَإِذَا أُحْلِفُوا ثَبَتَ مِنْ مِلْكِ الْمَيِّتِ بِقَدْرِ الدُّيُونِ وَالْوَصَايَا، وَبَقِيَ مَا زَادَ عَلَيْهَا عَلَى مِلْكٍ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، لَا يَمْلِكُهُ الْوَرَثَةُ كَمَا لَوْ حَلَفَ بَعْضٌ الْوَرَثَةِ أَثْبَتَ بِيَمِينِهِ حَقَّ نَفْسِهِ، وَلَمْ يَثْبُتْ بِهَا حَقُّ غَيْرِهِ مِنَ الْوَرَثَةِ.

Dikatakan: Karena anak menempati posisi ayah dalam berhak atas kepemilikan, maka ia juga menempati posisinya dalam menetapkan kepemilikan itu dengan sumpah, sebagaimana wakil bersumpah atas apa yang dibelinya untuk orang yang mewakilkannya, dan budak bersumpah atas apa yang dibelinya, meskipun kepemilikan itu milik orang lain. Jika anak ini menolak sumpah balasan, dan para pemilik utang serta wasiat menerima untuk bersumpah, maka dilihat: jika harta peninggalan cukup untuk melunasi utang dan wasiat mereka, maka tidak boleh mereka bersumpah. Namun jika harta peninggalan tidak mencukupi untuk utang dan wasiat mereka, maka ada dua pendapat tentang bolehnya mereka bersumpah yang telah disebutkan sebelumnya. Jika mereka bersumpah, maka yang tetap menjadi milik mayit adalah sebesar utang dan wasiat, dan sisanya menjadi milik orang yang didakwa, yang tidak dimiliki oleh para ahli waris, sebagaimana jika sebagian ahli waris bersumpah, maka dengan sumpahnya itu ia menetapkan hak untuk dirinya sendiri, dan tidak menetapkan hak untuk ahli waris lainnya.

وَأَمَّا الْيَمِينُ فِي الدَّيْنِ، فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun sumpah dalam perkara utang, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: لِنَفْسِهِ.

Salah satunya: untuk dirinya sendiri.

وَالثَّانِي: لِأَبِيهِ.

Dan yang kedua: untuk ayahnya.

فَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ لَهُ كَادِّعَائِهِ أَلْفَ دِرْهَمٍ دَيْنًا لَهُ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika utang itu miliknya, seperti pengakuannya bahwa ia memiliki seribu dirham sebagai utang yang menjadi haknya, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُطْلِقَهَا.

Salah satunya adalah menceraikannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ سَبَبَهَا.

Kedua: menyebutkan sebabnya.

فَإِنْ أَطْلَقَهَا حَلَفَ يَمِينًا عَلَى إِثْبَاتِهَا، وَنَفَى مَا يُسْقِطُهَا، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ إِنَّ لِي عَلَيْهِ أَلْفَ دِرْهَمٍ مَا قَبَضْتُهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَلَا قُبِضَتْ لِي، وَلَا شَيْءٌ مِنْهَا، وَلَا أَحَلْتُ بِهَا، وَلَا بِشَيْءٍ مِنْهَا، وَلَا أَبْرَأْتُهُ مِنْهَا، وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا، وَلَا وَجَبَ لَهُ عَلَيَّ مَا يَبْرَأُ بِهِ مِنْهَا أَوْ مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا، لِأَنَّهُ قَدْ يَجْنِي عَلَيْهِ أَوْ يَشْتَرِي مِنْهُ بِقَدْرِ دَيْنِهِ، فَيَصِيرُ قِصَاصًا فِي قَوْلِ مَنْ يَجْعَلُ الدُّيُونَ الْمُتَمَاثِلَةَ قِصَاصًا.

Jika ia mengucapkannya secara mutlak, maka ia harus bersumpah dengan sumpah untuk menegaskannya, dan menafikan segala sesuatu yang dapat menggugurkannya. Ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku memiliki hak atasnya seribu dirham yang belum aku terima, dan tidak sedikit pun darinya, dan tidak diterima untukku, dan tidak sedikit pun darinya, dan aku tidak mengalihkan hak itu kepada siapa pun, dan tidak sedikit pun darinya, dan aku tidak membebaskannya dari hak itu, dan tidak sedikit pun darinya, dan tidak ada sesuatu pun yang menyebabkan ia terbebas dari hak itu atau dari sebagian darinya.” Karena bisa jadi ia telah berbuat sesuatu terhadapnya, atau membeli sesuatu darinya seharga utangnya, sehingga menjadi qishāsh menurut pendapat yang menjadikan utang-utang yang sejenis sebagai qishāsh.

ثُمَّ يَقُولُ: وَإِنَّهَا لَثَابِتَةٌ عَلَيْهِ إِلَى وَقْتِي هَذَا، فَتَكُونُ يَمِينُهُ إِذَا اسْتُوفِيَتْ بِكَمَالِهَا مُشْتَمِلَةً عَلَى ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:

Kemudian ia berkata: “Dan sungguh, hal itu tetap berlaku atasnya hingga saat ini.” Maka sumpahnya, apabila diucapkan secara sempurna, mencakup tiga hal:

أَحَدُهَا: إِثْبَاتُ اسْتِحْقَاقِهَا.

Salah satunya: menetapkan hak kepemilikannya.

وَالثَّانِي: نَفْيُ سُقُوطِهَا.

Yang kedua: menafikan gugurnya (kewajiban) tersebut.

وَالثَّالِثُ: بَقَاؤُهَا إِلَى وَقْتِ يَمِينِهِ.

Ketiga: tetapnya (hukum) hingga waktu ia bersumpah.

فَأَمَّا إِثْبَاتُهَا بِالْيَمِينِ، فَمُسْتَحَقٌّ.

Adapun penetapannya dengan sumpah, maka itu memang berhak.

وَأَمَّا بَقَاؤُهَا إِلَى وَقْتِ الْيَمِينِ فَمُسْتَحَبٌّ.

Adapun mempertahankannya hingga waktu sumpah adalah sunnah.

وَأَمَّا نَفْيُ إِسْقَاطِهَا، فَفِيهِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Adapun penafian penggugurannya, maka di dalamnya terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا: مُسْتَحَقٌّ، لِأَنَّ ثُبُوتَهَا لَا يَمْنَعُ مِنْ حُدُوثِ مَا يُسْقِطُهَا.

Salah satunya: merupakan hak yang tetap, karena keberadaannya tidak menghalangi terjadinya sesuatu yang dapat menggugurkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: مُسْتَحَبٌّ، لِأَنَّ إِثْبَاتَهَا فِي الْحَالِ يَمْنَعُ مِنْ سُقُوطِهَا مِنْ قبل.

Pendapat kedua: hukumnya mustahab, karena penetapannya pada saat ini mencegah gugurnya dari sebelumnya.

وَإِنْ ذَكَرَ سَبَبَ اسْتِحْقَاقِهَا أَنَّهُ مِنْ قَرْضٍ أَوْ غَصْبٍ أَوْ قِيمَةِ مُتْلَفٍ أَوْ ثَمَنِ مَبِيعٍ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ السَّبَبُ ظاهرا يحتمل أن يكون له فيه بينة وجب أن يذكر سَبِّبُ الِاسْتِحْقَاقَ فِي يَمِينِهِ، لِأَنْ لَا يُقِيمَهَا، فَيَسْتَحِقُّ بِهَا أَلْفًا أُخْرَى، وَإِنْ كَانَ السَّبَبُ خَفِيًّا لَمْ يَجِبْ ذِكْرُهُ فِي الْيَمِينِ، وَكَانَ ذِكْرُهُ فِيهَا احْتِيَاطًا.

Dan jika ia menyebutkan sebab haknya, misalnya karena pinjaman, atau ghasab, atau nilai barang yang dirusak, atau harga barang yang dijual, maka dilihat: jika sebab tersebut tampak dan memungkinkan baginya untuk memiliki bukti atasnya, maka wajib menyebutkan sebab hak tersebut dalam sumpahnya, agar ia tidak menegakkannya lalu berhak atas seribu yang lain dengan sumpah itu. Namun jika sebabnya tersembunyi, maka tidak wajib menyebutkannya dalam sumpah, dan menyebutkannya dalam sumpah hanya sebagai bentuk kehati-hatian.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ لِأَبِيهِ حَلَفَ عَلَى إِثْبَاتِهِ قَطْعًا، وَعَلَى نَفْيِ سُقُوطِهِ عِلْمًا، فَقَالَ: وَاللَّهِ إِنَّ لِأَبِي عَلَيْكَ أَلْفًا لَا أَعْلَمُهُ قَبَضَهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ، لِأَنَّ إِثْبَاتَ فِعْلِ الْغَيْرِ مُسْتَحَقٌّ عَلَى الْبَتِّ، وَنَفْيَ فِعْلِ الْغَيْرِ مُسْتَحَقٌّ عَلَى الْعِلْمِ. فَإِنْ كَانَ الِابْنُ هُوَ الْوَارِثَ وَحْدَهُ، اسْتَحَقَّ جَمِيعَهَا، وَإِنْ كَانَ أَحَدَ الْوَرَثَةِ اسْتَحَقَّ مِنْهَا قَدْرَ نَصِيبِهِ، وَكَانَ بَاقِيهَا مَوْقُوفًا عَلَى إِثْبَاتِ شُرَكَائِهِ فِيهَا، وَلَيْسَ لَهُمْ إِنْ نَكَلُوا أَنْ يُشَارِكُوا الْحَالِفَ فِي حَقِّهِ، لِأَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَى الْوُصُولِ إِلَى حُقُوقِهِمْ بِمِثْلِ وُصُولِهِ.

Jika utang itu milik ayahnya, maka ia bersumpah untuk menegaskannya secara pasti, dan untuk menafikan gugurnya utang itu berdasarkan pengetahuan. Ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ayahku memiliki hak atasmu seribu (dirham), aku tidak mengetahui bahwa ia telah mengambilnya, atau sebagian darinya,” sebagaimana telah kami sebutkan. Karena penetapan perbuatan orang lain harus dilakukan secara pasti, sedangkan penafian perbuatan orang lain dilakukan berdasarkan pengetahuan. Jika anak itu adalah satu-satunya ahli waris, maka ia berhak atas seluruhnya. Jika ia salah satu dari para ahli waris, maka ia berhak atas bagian sesuai bagiannya, dan sisanya tergantung pada penetapan para sekutunya dalam warisan itu. Mereka tidak berhak untuk ikut serta dengan orang yang bersumpah dalam haknya jika mereka enggan bersumpah, karena mereka mampu memperoleh hak mereka sebagaimana ia mampu memperolehnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْيَمِينُ مَعَ الشَّاهِدِ، فَهِيَ كَيَمِينِ الْإِثْبَاتِ فِي الرَّدِّ بَعْدَ النُّكُولِ.

Adapun sumpah bersama saksi, maka hukumnya seperti sumpah pembuktian dalam kasus penolakan setelah penolakan bersumpah.

وَاخْتَلَفَ أصحابنا هل يلزمه أن يذكر فيها؛ وأن مَا شَهِدَ بِهِ شَاهِدُهُ حَقٌّ، وَصِدْقٌ عَلَى مَا شَهِدَ بِهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat apakah wajib baginya untuk menyebutkan di dalamnya bahwa apa yang disaksikan oleh saksinya adalah benar dan sesuai dengan kenyataan yang ia saksikan; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يَلْزَمُهُ ذَاكَ تَحْقِيقًا لِشَهَادَتِهِ، وَإِثْبَاتًا لِقَوْلِهِ.

Salah satunya: hal itu wajib baginya sebagai bentuk realisasi dari kesaksiannya dan penegasan atas ucapannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَلْزَمُهُ ذَلِكَ، لِأَنَّهُ فِي يَمِينِهِ بِمَثَابَةِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ، وَلَيْسَ يَلْزَمُ الشَّاهِدُ أَنْ يَشْهَدَ بِصِدْقِ الْآخَرِ وَصِحَّةِ شَهَادَتِهِ.

Pendapat kedua: Hal itu tidak wajib baginya, karena dalam sumpahnya ia berada pada posisi seperti saksi yang lain, dan tidak wajib bagi seorang saksi untuk bersaksi atas kebenaran saksi yang lain dan keabsahan kesaksiannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي أَيْمَانِ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ، فَصُورَةُ مَسْأَلَتِنَا فِي رَجُلٍ ادَّعَى عَلَى رَجُلٍ أَلْفًا، فذكر المدعى عليه أنه قد برىء مِنْهَا، فَصَارَ مُقِرًّا بِهَا، وَمُدَّعِيًا لِسُقُوطِهَا عَنْهُ بعد وجوبها عليه، وصار المدعي مدعيا عَلَيْهِ قَدِ اسْتَحَقَّ الْأَلْفَ بِالْإِقْرَارِ، وَوَجَبَتْ عَلَيْهِ يَمِينُ النَّفْيِ فِي الْإِنْكَارِ. وَهِيَ مُعْتَبَرَةٌ بِدَعْوَى الْبَرَاءَةِ، وَدَعْوَاهَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Maka apabila telah dipastikan apa yang telah kami sebutkan mengenai sumpah penolakan dan penetapan, maka gambaran masalah kita adalah tentang seorang laki-laki yang menuntut kepada laki-laki lain seribu (uang), lalu tergugat menyebutkan bahwa ia telah bebas darinya. Maka ia menjadi orang yang mengakui (utang tersebut), dan mengklaim bahwa utang itu telah gugur darinya setelah sebelumnya wajib atasnya. Sedangkan penuntut menjadi orang yang menuntut atas dasar bahwa ia berhak atas seribu itu berdasarkan pengakuan, dan wajib atas tergugat untuk bersumpah menolak dalam penyangkalan. Sumpah ini dianggap sebagai tuntutan pembebasan, dan tuntutan pembebasan itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُطْلِقَهَا.

Salah satunya adalah menceraikannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يُعَيِّنَهَا.

Kedua: hendaknya ia menentukannya.

فَإِنْ أَطْلَقَهَا وَقَالَ: قَدْ بَرِئْتُ إِلَيْهِ مِنْهَا، فَقَدْ عَمَّ، وَلَمْ يَخُصَّ، فَيَكُونُ يَمِينُ الْمُنْكِرِ لَهَا عَلَى الْعُمُومِ عَلَى مَا وَصَفَهَا الشَّافِعِيُّ فِي اشْتِمَالِ يَمِينِهِ عَلَى جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبَرَاءَاتِ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا قَبَضْتُهَا، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَلَا قَبَضَهَا لَهُ قَابِضٌ بِأَمْرِهِ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَعَبَّرَ الشَّافِعِيُّ عَنِ الْقَبْضِ بِالِاقْتِضَاءِ، وَعَنِ الْأَمْرِ بِالْعِلْمِ، وَذِكْرُ الْقَبْضِ أَوْلَى مِنَ الِاقْتِضَاءِ لِأَنَّ الِاقْتِضَاءَ الْمُطَالَبَةُ وَالْقَبْضَ الِاسْتِيفَاءُ، وَهُوَ لَا يَبْرَأُ بِالِاقْتِضَاءِ، وَيَبْرَأُ بِالِاسْتِيفَاءِ.

Jika ia mengucapkannya secara umum dan berkata: “Aku telah bebas darinya kepadamu,” maka itu mencakup secara umum dan tidak dikhususkan, sehingga sumpah orang yang mengingkarinya berlaku secara umum sebagaimana yang dijelaskan oleh asy-Syafi‘i dalam cakupan sumpahnya atas seluruh jenis pembebasan. Maka ia berkata: “Demi Allah, aku tidak menerimanya, dan tidak sedikit pun darinya, dan tidak ada seorang pun yang menerimanya untuknya atas perintahku, dan tidak sedikit pun darinya.” Asy-Syafi‘i mengungkapkan penerimaan dengan istilah “iqtidha’” (penagihan), dan perintah dengan istilah “ilmu” (pengetahuan). Menyebutkan “penerimaan” lebih utama daripada “penagihan”, karena “penagihan” adalah permintaan, sedangkan “penerimaan” adalah pengambilan secara penuh, dan ia tidak bebas dengan penagihan, tetapi bebas dengan pengambilan secara penuh.

وَذِكْرُ الْأَمْرِ أَوْلَى مِنَ الْعِلْمِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَعْلَمُ أَنَّهُ قَبَضَهَا مَنْ لَمْ يَأْمُرْهُ، فَلَا يَبْرَأُ بِهِ.

Menyebutkan perintah lebih utama daripada pengetahuan, karena bisa saja seseorang mengetahui bahwa yang menerima (barang) itu adalah orang yang tidak memerintahkannya, sehingga ia tidak terbebas (dari tanggung jawab) karenanya.

ثُمَّ يَقُولُ: وَلَا أَحَالَ بِهَا عَلَيْهِ وَلَا بِشَيْءٍ مِنْهَا، وَلَا أَبْرَأَهُ مِنْهَا، وَلَا عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا. وَزَادَ الشَّافِعِيُّ فِي ” الْأُمِّ “: ” وَلَا كَانَ مِنْهُ مَا يَبْرَأُ بِهِ مِنْهَا، وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا ” يَعْنِي: مِنْ جِنَايَةٍ عَلَيْهِ أَوْ إِتْلَافٍ لِمَالِهِ بِقَدْرِ دَيْنِهِ، وَيَقُولُ: وَإِنَّهَا لَثَابِتَةٌ عَلَيْهِ إِلَى وَقْتِ يَمِينِهِ هَذِهِ.

Kemudian ia berkata: “Aku tidak mengalihkan (utang) itu kepadanya, tidak pula kepada sebagian darinya, dan aku tidak membebaskannya dari utang itu, maupun dari sebagian darinya.” Asy-Syafi‘i menambahkan dalam kitab “al-Umm”: “Dan tidak ada darinya sesuatu yang dapat membebaskannya dari utang itu, atau dari sebagian darinya,” maksudnya: dari tindak pidana terhadapnya atau perusakan hartanya sebesar utangnya. Dan ia berkata: “Dan sungguh utang itu tetap menjadi tanggungannya hingga saat ia mengucapkan sumpah ini.”

فَهَذِهِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ ذَكَرَهَا الشَّافِعِيُّ فِي اشْتِمَالِ يَمِينِهِ عَلَيْهَا، اخْتَصَّ الشَّافِعِيُّ بِذِكْرِهَا وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا أَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ، فَلَمْ يَخْتَلِفْ أَصْحَابُهُ أَنَّ السَّادِسَ مِنْهَا، وَهُوَ قَوْلُهُ: ” وَإِنَّهَا لَثَابِتَةٌ عَلَيْهِ إِلَى وَقْتِ يَمِينِهِ ” أَنَّهُ اسْتِظْهَارٌ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ.

Inilah enam hal yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam sumpahnya yang mencakup hal-hal tersebut. Asy-Syafi‘i secara khusus menyebutkannya meskipun kebanyakan fuqaha tidak menyebutkannya. Para pengikutnya tidak berbeda pendapat bahwa hal keenam darinya, yaitu ucapannya: “Dan sesungguhnya hal itu tetap berlaku atasnya sampai waktu sumpahnya,” adalah bentuk kehati-hatian (istizhār), dan bukan sesuatu yang wajib.

وَاخْتَلَفُوا فِي الْخَمْسَةِ الْبَاقِيَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Mereka berbeda pendapat mengenai lima hal yang tersisa menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ لِتَشْتَمِلَ على أنواع البراءات، فينتهي بهما احْتِمَالُ التَّأْوِيلِ.

Salah satunya, yaitu pendapat mayoritas ulama, bahwa ia wajib karena mencakup berbagai jenis pembebasan, sehingga dengan keduanya kemungkinan adanya ta’wil pun berakhir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ هَذَا التَّفْصِيلَ اسْتِظْهَارٌ، وَلَوِ اقْتَصَرَ فِي يَمِينِهِ عَلَى أَنْ قال: ما برىء إِلَيَّ مِنْهَا، وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا، لَعَمَّ فِي الْحُكْمِ جَمِيعَ أَنْوَاعِهَا مِنْ قَبْضٍ وَحَوَالَةٍ وَإِبْرَاءٍ، وَمَا يُوجِبُ الْإِبْرَاءَ.

Adapun sisi kedua: bahwa perincian ini adalah bentuk kehati-hatian, dan seandainya dalam sumpahnya ia hanya mengatakan: “Tidak ada yang dibebaskan kepadaku darinya, dan tidak pula dari sesuatu pun darinya,” maka dalam hukum sudah mencakup seluruh jenisnya, baik berupa penerimaan, hawālah, pembebasan (ibrā’), maupun segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya pembebasan (ibrā’).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ خَصَّ بِنَوْعِ الْإِبْرَاءِ مَا يَعُمُّ، فَقَالَ: دَفَعْتُهَا إِلَيْهِ أَوْ قَالَ: أَحَالَ بِهَا عَلَيَّ، أَوْ قَالَ: أَبْرَأَنِي مِنْهَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ تَكُونُ يَمِينُهُ مَقْصُورَةً عَلَى النَّوْعِ الَّذِي ادَّعَاهُ أَوْ مُشْتَمِلَةً عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْأَنْوَاعِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan jika ia mengkhususkan jenis pembebasan dari sesuatu yang bersifat umum, lalu ia berkata: “Aku telah memberikannya kepadanya,” atau ia berkata: “Ia telah mengalihkan (utang) itu kepadaku,” atau ia berkata: “Ia telah membebaskanku darinya,” maka para sahabat kami berbeda pendapat: Apakah sumpahnya terbatas pada jenis yang ia klaim saja, ataukah mencakup jenis-jenis lain juga? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ ظَاهِرُ مَا أَطْلَقَهُ الشَّافِعِيُّ: أَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى عُمُومِ أَنْوَاعِ الْبَرَاءَاتِ فِي ذِكْرِ الْأَنْوَاعِ الْخَمْسَةِ، لِأَنَّهَا أَنْفَى لِلِاحْتِمَالِ، وَهَلْ تَكُونُ عَلَى الِاحْتِيَاطِ أَوْ عَلَى الْوُجُوبِ؟ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ.

Salah satunya, yang merupakan zahir dari apa yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i, adalah bahwa hal itu mencakup seluruh jenis al-barā’āt dalam penyebutan lima macam, karena hal itu lebih menafikan kemungkinan (keraguan). Apakah hal itu bersifat kehati-hatian (iḥtiyāṭ) atau bersifat wajib (wujūb)? Hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ أَنَّ يَمِينَهُ تَكُونُ مَقْصُورَةً عَلَى النَّوْعِ الَّذِي ادَّعَى الْبَرَاءَةَ بِهِ دُونَ غَيْرِهِ، لِأَنَّ مَا لَمْ يَذْكُرْهُ لَمْ يُتَبَرَّعْ بِهِ لَهُ، وَمَا لَمْ يَدَّعِهِ لَمْ يَحْلِفْ عَلَيْهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Pendapat kedua, dan ini yang lebih sahih, adalah bahwa sumpahnya terbatas pada jenis yang ia nyatakan dirinya bebas darinya, tidak mencakup selainnya. Sebab, apa yang tidak disebutkannya, ia tidak bersedia memberikannya secara sukarela, dan apa yang tidak didakwakan kepadanya, ia tidak bersumpah atasnya. Allah lebih mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ أُحْلِفَ قَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَعْلَمُ مِنَ السِّرِّ مَا يَعْلَمُ مِنَ الْعَلَانِيَةِ ثُمَّ يَنْسِقُ الْيَمِينَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang disuruh bersumpah, hendaklah ia mengucapkan: ‘Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang mengetahui rahasia sebagaimana mengetahui yang terang-terangan,’ kemudian ia menyusun sumpahnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا هُوَ الْأَوْلَى فِي صِفَةِ الْيَمِينِ، لِأَنَّهَا مَوْضُوعَةٌ لِلزَّجْرِ، فَعَدَلَ بِهَا عَنْ مَعْهُودِ الْأَيْمَانِ، فِيمَا يُكْثِرُونَهُ فِي كَلَامِهِمْ مِنْ لَغْوِ الْيَمِينِ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي الزَّجْرِ عَنْهَا، وَأَمْنَعُ مِنَ الْإِقْدَامِ عَلَيْهَا.

Al-Mawardi berkata: Inilah yang lebih utama dalam sifat sumpah, karena sumpah itu ditetapkan untuk memberikan efek jera. Maka, ia menyelisihi kebiasaan sumpah yang biasa mereka lakukan dalam ucapan mereka berupa sumpah yang sia-sia (laghw al-yamīn), karena hal itu lebih kuat dalam memberikan efek jera darinya dan lebih mencegah seseorang untuk melakukannya.

وَأَوْلَى الْأَيْمَانِ الزَّاجِرَةِ مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ أَنْ يَقُولَ: وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الَّذِي يَعْلَمُ مِنَ السِّرِّ مَا يَعْلَمُ مِنَ العلانية، وقال في الأم {الَّذِي يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ، وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} ، وَهُمَا سَوَاءٌ فِي الْمَعْنَى، وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ أَوْلَى لِأَنَّ نَسَقَهَا إِلَى الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَدْ تضمنها القرآن، وقوله: ” الَّذِي يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ، تَنْبِيهًا لِلْحَالِفِ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ بِصِدْقِهِ، وَكَذِبِهِ، فَإِنَّ ذَلِكَ فِي إِحْلَافِهِ مِمَّا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنَ الْحُكَّامِ: بِاللَّهِ الطَّالِبِ الْغَالِبِ، الضَّارِّ، النَّافِعِ، الْمُدْرِكِ، الْمُهْلِكِ، جَازَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي نَسَقِ تِلَاوَتِهَا فِي الْقُرْآنِ لِمَا فِيهِ مِنْ تَنْبِيهِ الْحَالِفِ عَلَى اسْتِدْفَاعِ مَضَارِّهِ، وَاجْتِلَابِ مَنَافِعِهِ، وَمِنْ زَجْرِ الْحَالِفِ أَنْ يَعِظَهُ الْحَاكِمُ قَبْلَ إِحْلَافِهِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا} [آل عمران: 77] وبقول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ حَلَفَ يَمِينًا كَاذِبَةً، لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امرىء مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ، وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ “.

Sumpah yang paling utama untuk mencegah (perbuatan dusta) adalah sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i, yaitu dengan mengucapkan: “Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang mengetahui rahasia sebagaimana Dia mengetahui yang terang-terangan.” Dalam kitab al-Umm, beliau berkata: “Yang mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” Keduanya sama dalam makna. Hal itu lebih utama karena rangkaian sumpah tersebut hingga “ar-Rahman ar-Rahim” telah termuat dalam al-Qur’an. Ucapan: “Yang mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyikan oleh hati,” dimaksudkan untuk mengingatkan orang yang bersumpah akan pengetahuan Allah terhadap kejujuran dan kedustaannya. Dalam praktik sumpah, banyak hakim yang melakukannya dengan ucapan: “Demi Allah, Yang Maha Menuntut, Maha Mengalahkan, Maha Memberi mudarat, Maha Memberi manfaat, Maha Mengetahui, Maha Membinasakan.” Hal itu boleh saja, meskipun tidak terdapat dalam urutan tilawahnya di al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat peringatan bagi orang yang bersumpah agar ia memohon perlindungan dari mudarat-Nya dan mengharapkan manfaat-Nya. Di antara bentuk pencegahan bagi orang yang bersumpah adalah hendaknya hakim menasihatinya sebelum ia bersumpah dengan firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…” (Ali Imran: 77) dan dengan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa bersumpah dusta untuk mengambil harta seorang Muslim, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.”

وَحُكِيَ أَنَّ رَجُلًا قَدِمَ إِلَى الْحَاكِمِ، فَهَمَّ بِالْيَمِينِ، فَلَمَّا وَعَظَهُ بِهَذَا امْتَنَعَ وَأَقَرَّ، وَقَالَ: مَا ظَنَنْتُ أَنَّ الْحَالِفَ يَسْتَحِقُّ هَذَا الْوَعِيدَ.

Diceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada hakim, lalu ia hampir saja bersumpah. Namun ketika hakim menasihatinya dengan hal ini, ia menolak bersumpah dan mengakui (kesalahannya), seraya berkata: “Aku tidak menyangka bahwa orang yang bersumpah berhak mendapatkan ancaman seperti ini.”

فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى إِحْلَافِهِ بِاللَّهِ أَوْ بِصِفَةٍ مِنْ صِفَةِ ذَاتِهِ، كَقَوْلِهِ: وَعِزَّةِ اللَّهِ، وَعَظَمَةِ اللَّهِ، جَازَ.

Jika ia membatasi sumpahnya hanya dengan menyebut Allah atau salah satu sifat dari sifat-sifat-Nya, seperti ucapannya: “Demi kemuliaan Allah” atau “Demi keagungan Allah”, maka hal itu diperbolehkan.

قَدِ اقْتَصَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي إِحْلَافِ رُكَانَةَ عَلَى أَنْ أَحْلَفَهُ بِاللَّهِ، لِأَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْمَائِهِ، وَقِيلَ: هُوَ اسْمُهُ الْأَعْظَمُ، وَقِيلَ: فِي تَأْوِيلِ قَوْله تَعَالَى: {هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} [مريم: 65] ، أَيْ: مَنْ يَتَسَمَّى بِاللَّهِ، لِأَنَّهُ لَمْ يَتَسَمَّ بِهِ أَحَدٌ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَإِنْ تَسَمُّوا بِغَيْرِهِ مِنْ أَسْمَائِهِ.

Rasulullah ﷺ hanya membatasi sumpah Rukanah dengan bersumpah atas nama Allah, karena itu adalah salah satu nama-Nya yang paling agung. Ada yang mengatakan: itu adalah nama-Nya yang paling agung. Ada pula yang menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Apakah kamu mengetahui ada yang setara dengan-Nya?” (Maryam: 65), yaitu: adakah yang menamakan dirinya dengan nama Allah, karena tidak ada seorang pun dari makhluk yang menamakan dirinya dengan nama tersebut, meskipun mereka menamakan diri dengan selainnya dari nama-nama Allah.

وَشَذَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا، فَقَالَ: لَا يُجْزِئُهُ إِحْلَافُهُ بِاللَّهِ، حَتَّى يُغَلِّظَهَا بِمَا وَصَفْنَا، لِيَخْرُجَ بِهَا عَنْ عَادَتِهِ، وَيُعِيدَهَا الْحَاكِمُ عَلَيْهِ مُغَلَّظَةً.

Sebagian dari ulama kami berpendapat secara berbeda, mereka mengatakan: tidak cukup baginya bersumpah dengan nama Allah saja, hingga ia memperberat sumpah tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan, agar ia keluar dari kebiasaannya, dan hakim mengulangi sumpah itu atasnya dengan sumpah yang diperberat.

فَأَمَّا إِحْلَافُهُ بِالْمُصْحَفِ، وَمَا فِيهِ مِنَ الْقُرْآنِ، فَقَدْ حَكَى الشَّافِعِيُّ عَنْ مُطَرِّفٍ أَنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يحلف على المصحف، قال: ورأيت مطرفا بضعا يَحْلِفُ عَلَى الْمُصْحَفِ.

Adapun bersumpah dengan mushaf, dan apa yang ada di dalamnya berupa Al-Qur’an, maka asy-Syafi‘i meriwayatkan dari Mutarrif bahwa Ibnu az-Zubair biasa bersumpah di atas mushaf. Ia berkata: Aku melihat Mutarrif beberapa kali bersumpah di atas mushaf.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَهُوَ حَسَنٌ، وَعَلَيْهِ الْحُكَّامُ بِالْيَمَنِ، وَهَذَا إِنَّمَا اسْتَحْسَنَهُ فِيمَا تُغَلَّظُ فِيهِ الْيَمِينُ بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ.

Syafi‘i berkata: Itu adalah baik, dan para hakim di Yaman memutuskan dengannya, dan hal ini hanya dianggap baik dalam perkara yang sumpahnya diperberat dengan tempat dan waktu.

فَأَمَّا إِحْلَافُهُ بِالْمَلَائِكَةِ وَالرُّسُلِ وَمَا يَعْظُمُ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، فَلَا يَجُوزُ، لِمَا رَوَى عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ” سَمِعَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَأَنَا أَقُولُ: وَذِمَّةِ الْخَطَّابِ، فَضَرَبَ كَتِفِي وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كان حالفا، فليحلف بالله أو فليصمت “. قال عمر: فما حلفت بها بعد ذَاكِرًا وَلَا آثِرًا، وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ:

Adapun bersumpah dengan malaikat, para rasul, dan makhluk-makhluk lain yang diagungkan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarku ketika aku berkata: ‘Demi kehormatan Al-Khaththab.’ Maka beliau menepuk pundakku dan bersabda: ‘Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian. Barang siapa yang hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam.’” Umar berkata: “Sejak itu aku tidak pernah bersumpah dengannya, baik secara sadar maupun tidak.” Dalam hal ini terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: عَاهِدًا، وَلَا نَاسِيًا.

Salah satunya adalah dalam keadaan berjanji, bukan dalam keadaan lupa.

وَالثَّانِي: قَائِلًا وَلَا حَاكِيًا.

Dan yang kedua: sebagai orang yang mengatakan, bukan sebagai orang yang mengutip.

فَإِنْ أَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، فَقَدْ أَسَاءَ وَأَثِمَ، وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهَا حُكْمُ الْيَمِينِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحَلِّفَ أَحَدًا بِطَلَاقٍ وَلَا عِتْقٍ وَلَا نَذْرٍ، لِأَنَّهَا تَخْرُجُ عَنْ حُكْمِ الْيَمِينِ إِلَى إِيقَاعِ فُرْقَةٍ، وَالْتِزَامِ غُرْمٍ، وَهُوَ مُسْتَبْدَعٌ، وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ:

Jika seorang hakim menyuruh seseorang bersumpah dengan sesuatu dari makhluk, maka ia telah berbuat buruk dan berdosa, dan tidak terkait dengannya hukum sumpah. Tidak boleh pula seseorang disuruh bersumpah dengan talak, atau pembebasan budak, atau nazar, karena hal-hal tersebut keluar dari hukum sumpah menuju terjadinya perpisahan, atau kewajiban membayar denda, dan hal itu sangat tidak layak. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

(رَأَيْتُ كُلَيْبًا أَحْدَثَتْ فِي قَضَائِهَا … طَلَاقَ نِسَاءٍ لَمْ يَسُوقُوا لَهَا مَهْرًا)

Aku melihat bahwa Kulaib telah membuat kebiasaan baru dalam putusannya… yaitu menjatuhkan talak kepada para istri yang belum diberikan mahar kepada mereka.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَمَتَى بَلَغَ الْإِمَامُ أَنَّ حَاكِمًا يَسْتَحْلِفُ النَّاسَ بِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ عَزَلَهُ عَنِ الْحُكْمِ، لأنه جاهل. والله أعلم بالصواب.

Syafi‘i berkata: Apabila sampai kepada imam bahwa seorang hakim membiarkan orang-orang bersumpah dengan talak dan pembebasan budak, maka ia harus mencopotnya dari jabatan hakim, karena ia adalah orang yang jahil. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ الْيَمِينُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَسْتَحْلِفَهُ الْحَاكِمُ وَاحْتَجَّ بِأَنَّ رَكَانَةَ قَالَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِنِّي طَلَّقْتُ امْرَأَتِي الْبَتَّةَ وَاللَّهِ مَا أَرَدْتُ إِلَّا وَاحِدَةً فَقَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ ” وَاللَّهِ مَا أَرَدْتَ إِلَّا وَاحِدَةً “؟ فَرَدَّهَا إِلَيْهِ وَهَذَا تجويزا لِلْيَمِينِ فِي الطَّلَاقِ وَالرَّجْعَةِ فِي طَلَاقِ الْبَتَّةِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sumpah darinya tidak diterima kecuali setelah hakim memintanya bersumpah. Beliau berdalil dengan kisah bahwa Rukānah berkata kepada Nabi ﷺ: ‘Aku telah menceraikan istriku dengan talak ba’in, demi Allah, aku tidak bermaksud kecuali satu kali talak.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Demi Allah, engkau tidak bermaksud kecuali satu kali?’ Lalu beliau mengembalikan istrinya kepadanya. Ini merupakan pembolehan sumpah dalam masalah talak dan kembalinya istri pada talak ba’in.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا وَجَبَتِ الْيَمِينُ على خصم في نفي أو إثبات، فعجلها عِنْدَ الْحَاكِمِ قَبْلَ اسْتِحْلَافِهِ، لَمْ تُجْزِهِ، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا الْحُكْمُ الْمَطْلُوبُ، وَاسْتَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ عَلَيْهَا، وَإِنْ تَقَدَّمَ سَمَاعُهَا مِنْهُ؛ لِأُمُورٍ مِنْهَا: مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ حَدِيثِ رُكَانَةَ أَنَّهُ قَالَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” إِنِّي طَلَّقْتُ امْرَأَتِي الْبَتَّةَ، وَوَاللَّهِ مَا أَرَدْتُ إِلَّا وَاحِدَةً، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” وَاللَّهِ مَا أَرَدْتَ إِلَّا وَاحِدَةً “؟ فَرَدَّهَا عَلَيْهِ، وَإِنْ سَمِعَهَا مِنْهُ؛ لِأَنَّهُ قَدَّمَهَا قَبْلَ اسْتِحْلَافِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila sumpah telah diwajibkan atas seorang pihak dalam menolak atau menetapkan suatu perkara, lalu ia menyegerakan sumpah itu di hadapan hakim sebelum hakim memintanya bersumpah, maka sumpah tersebut tidak sah dan tidak terkait dengannya hukum yang dimaksudkan, dan hakim tetap meminta sumpah kepadanya atas perkara itu, meskipun hakim telah mendengar sumpah itu darinya sebelumnya; karena beberapa hal, di antaranya apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dari hadis Rukanah, bahwa ia berkata kepada Nabi ﷺ: “Aku telah menceraikan istriku dengan talak ba’in, demi Allah aku tidak bermaksud kecuali satu kali,” maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: “Demi Allah, engkau tidak bermaksud kecuali satu kali?” Lalu Nabi mengembalikan istrinya kepadanya, meskipun beliau telah mendengar sumpah itu darinya; karena ia telah mendahulukannya sebelum diminta bersumpah.

ولأن من شرط اليمين استيفاء الحاكم لها، لِتَكُونَ عَلَى نِيَّةِ الْمُسْتَحْلِفِ دُونَ الْحَالِفِ، وَهَذَا الشَّرْطُ مَعْدُومٌ فِي الْيَمِينِ الْمُتَقَدِّمَةِ، فَلَمْ يَقَعْ مَوْقِعَ الْإِجْزَاءِ.

Karena salah satu syarat sumpah adalah sumpah tersebut diambil oleh hakim, agar sumpah itu sesuai dengan niat pihak yang meminta sumpah, bukan niat orang yang bersumpah. Syarat ini tidak terpenuhi pada sumpah yang telah diucapkan sebelumnya, sehingga sumpah tersebut tidak dianggap sah atau mencukupi.

وَلِأَنَّهَا مُؤَقَّتَةٌ بَعْدَ نَظَرِ الْحَاكِمِ وَاجْتِهَادِهِ، فَكَانَ تَقْدِيمُهَا فِي مَجْلِسِهَا كَتَقْدِيمِهَا فِي غَيْرِ مَجْلِسِهِ، وَكَلِعَانِ الزَّوْجَيْنِ إِذَا قَدَّمَاهُ قَبْلَ لِعَانِ الْحَاكِمِ بَيْنَهُمَا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ حُكْمُ اللِّعَانِ.

Karena ia bersifat sementara setelah pertimbangan dan ijtihad hakim, maka mengajukannya di majelisnya sama saja dengan mengajukannya di luar majelisnya, dan seperti li‘ān antara suami istri, jika keduanya melakukannya sebelum hakim melakukan li‘ān di antara mereka, maka tidak terkait padanya hukum li‘ān.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ الْيَمِينَ الْمُسْتَحَقَّةَ فِي النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ هِيَ الَّتِي يَسْتَوْفِيهَا الْحَاكِمُ عَلَى الْحَالِفِ، فَمِنْ صِفَتِهِ فِي أَخْذِهَا عَلَيْهِ أَنْ يَأْمُرَهُ بِهَا، فَصْلًا بَعْدَ فَصْلٍ، يَقُولُ الْحَالِفَ فِي كُلِّ فَصْلٍ مِنْهَا مِثْلَ مَا يَأْمُرُهُ الْحَاكِمُ عَلَى سَوَاءٍ، لِأَنَّ يَمِينَهُ مَحْمُولَةٌ عَلَى اجْتِهَادِ الْحَاكِمِ، فَلَمْ يَجُزْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يُفَوِّضَهَا إِلَيْهِ، فَتَكُونَ مَرْدُودَةً إِلَى اجْتِهَادِهِ، فَتَصِيرَ مَحْمُولَةً عَلَى نِيَّتِهِ لَا عَلَى نِيَّةِ مُسْتَحْلِفِهِ، فَإِنْ فَوَّضَهَا الْحَاكِمُ إِلَيْهِ، فَاسْتَوْفَاهَا الْحَالِفُ عَلَى نَفْسِهِ كَانَ الْحَاكِمُ مُقَصِّرًا فِي حَقِّ الْمُسْتَحْلِفِ.

Maka apabila telah tetap dengan apa yang telah kami sebutkan bahwa sumpah yang berhak dilakukan dalam penafian dan penetapan adalah sumpah yang diambil oleh hakim atas orang yang bersumpah, maka di antara tata cara hakim dalam mengambil sumpah tersebut adalah memerintahkannya untuk bersumpah, bagian demi bagian, di mana orang yang bersumpah mengucapkan pada setiap bagian seperti yang diperintahkan oleh hakim secara sama, karena sumpahnya itu mengikuti ijtihad hakim. Maka tidak boleh bagi hakim untuk menyerahkan sumpah itu kepadanya sehingga sumpah tersebut kembali kepada ijtihadnya sendiri, lalu menjadi mengikuti niatnya, bukan niat orang yang memintanya bersumpah. Jika hakim menyerahkan sumpah itu kepadanya, lalu orang yang bersumpah melakukannya sendiri, maka hakim telah lalai terhadap hak orang yang meminta sumpah.

وَفِي إِجْزَاءِ الْيَمِينِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Dalam keabsahan sumpah terdapat dua pendapat yang mungkin.

أحدهما: تجزىء فِيمَا يَجِبُ بِهَا مِنْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ، لِأَنَّهَا بِاجْتِهَادِ الْحَاكِمِ، وَعَنْ أَمْرِهِ.

Pertama: Sumpah tersebut mencukupi dalam hal yang wajib dengannya, baik berupa penafian maupun penetapan, karena sumpah itu berdasarkan ijtihad hakim dan atas perintahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تجزىء، لِأَنَّهَا تَصِيرُ مَحْمُولَةً عَلَى نِيَّةِ الْحَالِفِ، وَهِيَ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَى نِيَّةِ الْمُسْتَحْلِفِ، فَكَانَتْ غَيْرَ الْمُسْتَحَقَّةِ.

Pendapat kedua: Tidak mencukupi, karena sumpah tersebut menjadi tergantung pada niat orang yang bersumpah, padahal sumpah itu seharusnya mengikuti niat orang yang meminta sumpah, sehingga sumpah tersebut menjadi tidak sesuai dengan yang seharusnya.

وَإِذَا أَخَذَهَا الْحَاكِمُ عَلَى الْحَالِفِ، فَقَالَ بَعْدَ يَمِينِهِ: ” إِنْ شَاءَ اللَّهُ ” أَعَادَهَا عَلَيْهِ، لِأَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى يَرْفَعُ حُكْمَهُ، وَكَذَلِكَ لَوْ عَلَّقَهَا بِشَرْطٍ أَوْ وَصَلَهَا بِكَلَامٍ لَمْ يَفْهَمْهُ الْحَاكِمُ أَعَادَهَا عَلَيْهِ، وَهَكَذَا لَوْ قَطَعَهَا الْحَالِفُ أَوْ أَدْخَلَ فِي إِثْبَاتِهَا مَا لَيْسَ مِنْهَا أَعَادَهَا الْحَاكِمُ عَلَيْهِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا، وَزَجَرَهُ عَلَيْهِ إِنْ عَمَدَ حَتَّى تُخَلَّصَ الْيَمِينُ مِنِ اسْتِثْنَاءٍ يَرْفَعُهَا أَوْ شَرْطٍ يُفْسِدُهَا، أَوْ إِدْخَالِ كَلَامٍ يَقْطَعُهَا، أَوْ سُكُوتٍ يُبْطِلُ مَا تَقَدَّمَهَا.

Jika hakim mengambil sumpah dari orang yang bersumpah, lalu setelah sumpahnya ia berkata, “insya Allah”, maka hakim mengulanginya atasnya, karena pengecualian dengan kehendak Allah Ta‘ala menghapuskan hukum sumpah tersebut. Demikian pula jika ia menggantungkan sumpahnya dengan suatu syarat atau menyambungkannya dengan ucapan yang tidak dipahami oleh hakim, maka hakim mengulanginya atasnya. Begitu juga jika orang yang bersumpah memutus sumpahnya atau memasukkan sesuatu dalam penetapannya yang bukan bagian darinya, maka hakim mengulanginya atasnya dari awal hingga akhir, dan menegurnya jika ia sengaja melakukannya, hingga sumpah tersebut terbebas dari pengecualian yang membatalkannya, atau syarat yang merusaknya, atau memasukkan ucapan yang memutusnya, atau diam yang membatalkan apa yang telah didahuluinya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا كَانَ مَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ أَخْرَسَ، فَإِنْ كَانَ مَفْهُومَ الْإِشَارَةِ أُحْلِفَ بِالْإِشَارَةِ لِأَنَّهَا فِي حَقِّ الْأَخْرَسِ تَقُومُ مَقَامَ الْعِبَارَةِ فِي حَقِّ النَّاطِقِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَفْهُومِ الْإِشَارَةِ كَانَ الْحُكْمُ مَوْقُوفًا إِلَى أَنْ يَزُولَ مَا بِهِ أَوْ تُفْهَمَ إِشَارَتُهُ، كَمَا يُوقَفُ الْحُكْمُ فِي حَقِّ الْمَجْنُونِ إِلَى حَالِ إِفَاقَتِهِ، فَإِنْ طَلَبَ الْمُدَّعِي رَدَّ الْيَمِينِ عَلَيْهِ، لِتَعَذُّرِ الْيَمِينِ مِنْ جِهَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّهَا لَا تُرَدُّ إِلَّا بَعْدَ النُّكُولِ عَنْهَا، وَلَمْ يُعْرَفْ نُكُولُ الْأَخْرَسِ عَنْهَا.

Jika orang yang diwajibkan bersumpah itu bisu, maka jika isyaratnya dapat dipahami, ia disumpahkan dengan isyarat, karena bagi orang bisu, isyarat menempati posisi ucapan bagi orang yang dapat berbicara. Namun jika isyaratnya tidak dapat dipahami, maka hukum ditangguhkan sampai hilang hal yang menghalanginya atau sampai isyaratnya dapat dipahami, sebagaimana hukum juga ditangguhkan bagi orang gila sampai ia sadar. Jika penggugat meminta agar sumpah dialihkan kepadanya karena sumpah tidak mungkin dilakukan oleh tergugat, maka hal itu tidak diperbolehkan, karena sumpah tidak dapat dialihkan kecuali setelah ada penolakan dari pihak yang bersumpah, sedangkan penolakan sumpah dari orang bisu tidak diketahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” وَهَكَذَا يَجُوزُ الْيَمِينُ فِي الطَّلَاقِ وَالرَّجْعَةُ فِي طَلْقَةِ الْبَتَّةِ “، يُرِيدُ بِهِ حَدِيثَ رُكَانَةَ، فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ بَعْدَ أَنْ دَلَّ عَلَى إِعَادَةِ الْيَمِينِ إِذَا قُدِّمَتْ عَلَى الِاسْتِحْلَافِ، فَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ عَلَى حُكْمَيْنِ:

Syafi‘i berkata: “Demikian pula sah sumpah dalam talak dan rujuk pada talak bain,” yang beliau maksudkan adalah hadis Rukanah, terkait dengan hukum-hukum yang berkaitan dengannya setelah menunjukkan kewajiban mengulangi sumpah jika didahulukan sebelum permintaan bersumpah. Dengan hadis itu, Syafi‘i menetapkan dua hukum:

أَحَدُهُمَا: وُجُوبُ الْيَمِينِ فِي الطَّلَاقِ.

Salah satunya adalah wajibnya sumpah dalam talak.

وَالثَّانِي: اسْتِحْقَاقُ الرَّجْعَةِ فِي طَلْقَةِ الْبَتَّةِ.

Yang kedua: hak untuk rujuk pada talak bain.

وَقَدِ اسْتَخْرَجَ أَصْحَابُنَا مِنْهُ أَدِلَّةً عَلَى أَحْكَامٍ فِي ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Para ulama kami telah mengeluarkan darinya dalil-dalil atas hukum-hukum dalam tiga bagian.

أَحَدُهَا: الِاسْتِحْلَافُ، وَفِيهِ أَدِلَّةٌ عَلَى خمسة أحكام:

Salah satunya adalah istihlaf, dan di dalamnya terdapat dalil-dalil atas lima hukum.

أحدهما: أن تعجل اليمين قبل الاستحلاف لا يجزىء.

Pertama: Sumpah yang diucapkan sebelum diminta bersumpah tidak dianggap sah.

وَالثَّانِي: جَوَازُ الِاقْتِصَارِ فِي الْيَمِينِ عَلَى إِحْلَافِهِ بِاللَّهِ مِنْ غَيْرِ تَغْلِيظٍ بِصِفَاتِهِ.

Kedua: Boleh membatasi sumpah hanya dengan menyuruhnya bersumpah atas nama Allah tanpa penegasan dengan sifat-sifat-Nya.

وَالثَّالِثُ: جَوَازُ حَذْفِ وَاوِ الْقَسَمِ مِنَ الْيَمِينِ، فَقَدْ رُوِيَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِرُكَانَةَ: ” اللَّهِ إِنَّكَ أَرَدْتَ وَاحِدَةً؟ ” فَقَالَ: اللَّهِ إِنِّي أَرَدْتُ وَاحِدَةً “.

Ketiga: Bolehnya menghilangkan huruf wāw pada sumpah, sebagaimana telah diriwayatkan dalam sebagian hadis bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Rukanah: “Allah, apakah engkau menginginkan satu kali?” Maka ia menjawab: “Allah, sungguh aku menginginkan satu kali.”

وَالرَّابِعُ: اسْتِحْقَاقُ الْيَمِينِ فِي الطَّلَاقِ وَالنِّكَاحِ وَالرَّجْعَةِ إِذَا وَقَعَ فِيهِ الْخِلَافُ وَالتَّنَازُعُ بِخِلَافِ مَا يَقُولُهُ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَمِينَ فِي ذَلِكَ.

Keempat: Berhaknya sumpah dalam perkara talak, nikah, dan rujuk apabila terjadi perselisihan dan pertentangan di dalamnya, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang mengatakan: tidak ada sumpah dalam hal tersebut.

وَالْخَامِسُ: اسْتِحْلَافُهُ عَلَى نِيَّتِهِ، وَإِنْ لَمْ تُعْلَمْ إِلَّا مِنْ جِهَتِهِ.

Kelima: Mengambil sumpahnya berdasarkan niatnya, meskipun niat itu hanya diketahui dari pihaknya sendiri.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: الطَّلَاقُ، وَفِيهِ أَدِلَّةٌ عَلَى خَمْسَةِ أَحْكَامٍ:

Bagian kedua: talak, dan di dalamnya terdapat dalil-dalil atas lima hukum.

أَحَدُهَا: أَنَّ الْبَتَّةَ لَا تَكُونُ طَلَاقًا ثَلَاثًا، بِخِلَافِ مَا قَالَهُ مَالِكٌ، فَإِنَّهُ جَعَلَ الْبَتَّةَ ثَلَاثًا، وَقَدْ جَعَلَهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَاحِدَةً بِإِرَادَةِ رُكَانَةَ.

Salah satunya: bahwa lafaz “al-battah” tidaklah berarti talak tiga, berbeda dengan pendapat Malik yang menjadikan “al-battah” sebagai talak tiga. Nabi ﷺ telah menjadikannya satu talak sesuai dengan maksud Rukanah.

وَالثَّانِي: أَنَّ اللَّفْظَ مَحْمُولٌ عَلَى إِرَادَةِ الْمُطَلِّقِ، فَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهِ الطَّلَاقَ لَمْ يَقَعْ.

Kedua: bahwa lafaz tersebut disandarkan pada maksud orang yang menjatuhkan talak; maka jika ia tidak bermaksud talak dengan lafaz itu, maka talak tidak terjadi.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يُحْمَلَ عَلَى إِرَادَتِهِ فِي الْعَدَدِ، وَأَنَّهُ إِنْ أَرَادَ طَلْقَتَيْنِ وَقَعَتَا بِخِلَافِ مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ، أَنَّهُ لَا يَقَعُ بِهِ إِلَّا وَاحِدَةً أَوْ ثَلَاثًا، وَلَا يَقَعُ بِهِ طَلْقَتَانِ، وَقَدْ أُحْلِفَ رُكَانَةَ عَلَى مَا أَرَادَهُ.

Ketiga: Bahwa hal itu dibawa pada maksudnya dalam jumlah, yaitu jika ia menginginkan dua talak maka jatuhlah dua talak, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang menyatakan bahwa dengan lafaz tersebut tidak jatuh kecuali satu atau tiga talak, dan tidak jatuh dua talak. Rukanah pun telah disumpah atas apa yang ia maksudkan.

وَالرَّابِعُ: أَنَّ طَلَاقَ الثَّلَاثَةِ يَقَعُ دُفْعَةً وَاحِدَةً إِذَا أُرِيدَ، بِخِلَافِ مَا قَالَهُ أَهْلُ الظَّاهِرِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ، تَقَعُ بِهِ وَاحِدَةٌ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: لَا يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ بِحَالٍ.

Keempat: Bahwa talak tiga dapat jatuh sekaligus dalam satu waktu jika dikehendaki, berbeda dengan pendapat Ahl az-Zhahir dan orang-orang yang sepaham dengan mereka; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang jatuh hanya satu talak, dan ada pula yang berpendapat bahwa talak sama sekali tidak jatuh dalam keadaan tersebut.

وَلَوْ لَمْ تَقَعِ الثَّلَاثَةُ مَا أُحْلِفَ رُكَانَةَ عَلَى إِرَادَةِ الواحدة.

Seandainya tiga talak itu tidak terjadi, niscaya Rukānah tidak akan disumpah atas niat satu talak.

وَالْخَامِسُ: أَنَّ طَلَاقَ الثَّلَاثِ لَيْسَ بِبِدْعَةٍ وَلَا حَرَامٍ بِخِلَافِ مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ مُبْتَدَعًا حَرَامًا مَا أُحْلِفَ رُكَانَةَ عَلَيْهِ، وَلَبَيَّنَهُ الرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَهُ.

Kelima: Bahwa talak tiga bukanlah bid‘ah dan tidak haram, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Abu Hanifah; karena jika memang talak tiga itu sesuatu yang diada-adakan dan haram, niscaya Rukanah tidak akan disuruh bersumpah atasnya, dan Rasulullah ﷺ pasti akan menjelaskannya kepadanya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: الرَّجْعَةُ، وَفِيهِ أَدِلَّةٌ عَلَى خمسة أحكام:

Bagian ketiga: rujuk, dan di dalamnya terdapat dalil-dalil atas lima hukum.

أحدهما: أَنَّ الرَّجْعَةَ مُسْتَحَقَّةٌ فِي الْبَتَّةِ بِخِلَافِ مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ إنَّهَا تَكُونُ طَلْقَةً بَائِنَةً، لأن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَقَرَّ رُكَانَةَ عَلَى زَوْجَتِهِ “.

Pertama: Bahwa ruju‘ tetap menjadi hak dalam talak ba’in, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang mengatakan bahwa itu merupakan talak bain, karena Nabi ﷺ membolehkan Rukanah kembali kepada istrinya.

وَالثَّانِي: اسْتِحْقَاقُ الرَّجْعَةِ فِي كُلِّ طَلَاقٍ، لَمْ يُبَتَّ.

Kedua: berhaknya melakukan ruju‘ pada setiap talak yang belum diputuskan secara final.

وَالثَّالِثُ: اخْتِصَاصُ الرَّجْعَةِ بِالْقَوْلِ فِي قِصَّةِ رُكَانَةَ بِرَدِّهَا عَلَيْهِ.

Ketiga: kekhususan rujuk dengan ucapan dalam kisah Rukanah, yaitu dengan mengembalikannya kepadanya.

وَالرَّابِعُ: جَوَازُ الرَّجْعَةِ بِغَيْرِ عِلْمِ الزَّوْجَةِ، لِرَجْعَةِ رُكَانَةَ بِغَيْرِ عِلْمِهَا.

Keempat: Bolehnya rujuk tanpa sepengetahuan istri, berdasarkan peristiwa rujuknya Rukanah tanpa sepengetahuan istrinya.

وَالْخَامِسُ: جَوَازُهَا بِغَيْرِ شَهَادَةٍ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Kelima: Bolehnya (ijmā‘) tanpa adanya kesaksian menurut salah satu dari dua pendapat. Allah lebih mengetahui.

(باب الامتناع من اليمين)

(Bab tentang menolak bersumpah)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَتِ الدَّعْوَى غَيْرَ دَمٍ فِي مَالٍ أحلف المدعى عليه فإن حلف برىء وَإِنْ نَكَلَ قِيلَ لِلْمُدَّعِي احْلِفْ وَاسْتَحِقَّ فَإِنْ أَبَيْتَ سَأَلْنَاكَ عَنْ إِبَائِكَ فَإِنْ كَانَ لِتَأْتِيَ بِبَيِّنَةٍ أَوْ لِتَنْظُرَ فِي حِسَابِكَ تَرَكْنَاكَ وَإِنْ قُلْتَ لَا أُؤَخِّرُ ذَلِكَ لِشَيْءٍ غَيْرَ أَنَّى لَا أَحْلِفُ أَبْطَلْنَا أَنْ تَحْلِفَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila gugatan bukan mengenai darah, melainkan tentang harta, maka yang bersumpah adalah tergugat. Jika ia bersumpah, ia bebas dari tuntutan. Namun jika ia enggan bersumpah, maka dikatakan kepada penggugat: ‘Bersumpahlah dan ambillah hakmu.’ Jika penggugat menolak, kami akan menanyakan alasan penolakannya. Jika penolakannya karena ingin menghadirkan bayyinah (bukti) atau untuk memeriksa perhitungannya, maka kami biarkan. Namun jika ia berkata, ‘Aku tidak menunda hal itu karena alasan apa pun selain karena aku tidak mau bersumpah,’ maka kami batalkan haknya untuk bersumpah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، وَإِنَّمَا شَرَطَ أَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى فِي غَيْرِ دَمٍ، لِأَنَّ دَعْوَى الدَّمِ مُخَالِفَةٌ لِدَعْوَى الْمَالِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan syarat bahwa gugatan itu bukan dalam perkara darah, karena gugatan darah berbeda dengan gugatan harta dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَبْدَأُ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي مَعَ اللَّوْثِ.

Salah satunya adalah bahwa dimulai dengan sumpah pihak penggugat apabila terdapat adanya indikasi kuat (al-lawts).

وَالثَّانِي: أَنْ يَحْلِفَ فِي الدَّمِ خَمْسِينَ يَمِينًا.

Kedua: bersumpah sebanyak lima puluh sumpah dalam kasus darah.

وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ مُمْتَنِعَانِ فِي دَعْوَى الْأَمْوَالِ.

Kedua pendapat ini tidak dapat diterima dalam klaim mengenai harta.

فَإِذَا كَانَتِ الدَّعْوَى فِي مَالٍ، وَأَنْكَرَهُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Maka apabila gugatan itu mengenai harta, dan tergugat mengingkarinya.

قِيلَ لِلْمُدَّعِي: أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟ فَإِنْ أَقَامَهَا حُكِمَ لَهُ بِهَا، وَلَمْ يَحْلِفِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَعَهَا، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ لَمَّا تَحَاكَمَ إِلَيْهِ مَعَ الْكِنْدِيِّ: ” أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟ ” قَالَ: لَا، قَالَ: لَكَ يَمِينُهُ لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ “. فَقَدَّمَ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْيَمِينِ، وَلِأَنَّ الْبَيِّنَةَ حُجَّةٌ خَارِجَةٌ عَنِ الْمُحْتَجِّ بِهَا، فَانْتَفَتِ التُّهْمَةُ عَنْهَا، وَالْيَمِينُ صَادِرَةٌ عَنِ الْمُحْتَجِّ بِهَا فَتَوَجَّهَتِ التُّهْمَةُ إِلَيْهَا، وَمَا عُدِمَتِ التُّهْمَةُ فِيهِ أَقْوَى مِمَّا تَوَجَّهَتْ إِلَيْهِ.

Dikatakan kepada penggugat: “Apakah engkau memiliki bayyinah (bukti)?” Jika ia dapat mengajukannya, maka diputuskan untuknya berdasarkan bukti tersebut, dan pihak tergugat tidak disumpah bersamanya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada al-Hadhrami ketika ia bersengketa di hadapan beliau dengan al-Kindi: “Apakah engkau memiliki bayyinah?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Maka bagimu hanya sumpahnya, tidak ada hak bagimu darinya kecuali itu.” Maka Nabi mendahulukan bayyinah atas sumpah, karena bayyinah adalah hujjah yang berasal dari luar pihak yang mengajukannya, sehingga tuduhan tidak berlaku atasnya. Sedangkan sumpah berasal dari pihak yang mengajukannya, sehingga tuduhan dapat diarahkan kepadanya. Dan sesuatu yang tidak mengandung tuduhan lebih kuat daripada yang mengandung tuduhan.

وَتَقْدِيمُ الْأَقْوَى عَلَى الْأَضْعَفِ أَوْلَى مِنْ تَقْدِيمِ الْأَضْعَفِ عَلَى الْأَقْوَى؛ وَلِأَنَّ الْبَيِّنَةَ قَوْلُ اثْنَيْنِ، وَالْيَمِينَ قَوْلُ وَاحِدٍ، وَقَوْلُ الِاثْنَيْنِ أَوْلَى مِنْ قَوْلِ الْوَاحِدِ.

Mendahulukan yang lebih kuat atas yang lebih lemah lebih utama daripada mendahulukan yang lebih lemah atas yang lebih kuat; karena bayyinah adalah pernyataan dua orang, sedangkan sumpah (yamin) adalah pernyataan satu orang, dan pernyataan dua orang lebih utama daripada pernyataan satu orang.

فَإِنْ لَمْ يُقِمِ الْمُدَّعِي الْبَيِّنَةَ، فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَعَ يَمِينِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ أَقْوَى مِنَ الْمُدَّعِي، لِأَنَّ الدَّعْوَى إِنْ كَانَتْ فِي دَيْنٍ يَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ، فَالْأَصْلُ بَرَاءَةُ ذِمَّتِهِ.

Jika penggugat tidak dapat menghadirkan bukti, maka pernyataan tergugatlah yang diterima disertai sumpahnya, karena dengan tidak adanya bukti, posisi tergugat menjadi lebih kuat daripada penggugat. Sebab, jika gugatan itu terkait dengan utang yang menjadi tanggungannya, maka pada dasarnya tanggungannya bebas dari utang.

وَإِنْ كَانَتْ فِي عَيْنٍ بِيَدِهِ دَلَّتِ الْيَدُ فِي الظَّاهِرِ عَلَى مِلْكِهِ، وَقِيلَ لِلْمُدَّعِي: قَدْ وَجَبَتْ لَكَ عَلَيْهِ الْيَمِينُ، فَأَنْتَ فِي اسْتِقْضَائِهَا عَلَيْهِ مُخَيَّرٌ، فَإِنْ أَعْفَاهُ أَمْسَكَ عَنِ الْمُطَالَبَةِ، وَإِنْ طَالَبَ بِهَا قِيلَ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ: أَتَحْلِفُ؟ فَإِنْ حَلَفَ سَقَطَتِ الدَّعْوَى وَإِنْ نَكَلَ لَمْ يُسْأَلْ عَنْ سَبَبِ النُّكُولِ إِلَّا أَنْ يبتدىء، فَيَقُولَ: أَنَا مُتَوَقِّفٌ عَنِ الْيَمِينِ، لِأَنْظُرَ فِي حِسَابِي، وَأَسْتَثْبِتَ حَقِيقَةَ أَمْرِي، فَيُنْظَرَ مَا قَلَّ مِنَ الزَّمَانِ، وَلَا يَبْلُغُ إِنْظَارُهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.

Jika barang tersebut berada dalam kekuasaan seseorang, maka secara lahiriah kepemilikan barang itu menunjukkan bahwa ia adalah miliknya. Kepada penggugat dikatakan: “Kamu berhak meminta sumpah darinya.” Maka kamu diberi pilihan untuk menuntut sumpah itu darinya. Jika kamu memaafkannya, maka kamu tidak lagi menuntutnya. Namun jika kamu tetap menuntut sumpah itu, maka kepada tergugat dikatakan: “Apakah kamu mau bersumpah?” Jika ia bersumpah, gugatan pun gugur. Namun jika ia menolak bersumpah, maka ia tidak ditanya tentang alasan penolakannya kecuali jika ia sendiri yang memulai dengan berkata: “Aku menunda bersumpah untuk memeriksa catatanku dan memastikan kebenaran urusanku.” Maka ia diberi waktu yang sedikit, dan penundaan itu tidak boleh melebihi tiga hari.

وإن لم يبتدىء بِذِكْرِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِتَوَقُّفِهِ حُكِمَ بِنُكُولِهِ، وَلَمْ يُقْضَ عَلَيْهِ بِالدَّعْوَى حَتَّى يَحْلِفَ الْمُدَّعِي عَلَى اسْتِحْقَاقِهَا.

Dan jika ia tidak memulai dengan menyebutkan sebab yang menyebabkan ia menahan diri, maka diputuskan bahwa ia telah menolak bersumpah, dan tidak diputuskan perkara atas dirinya berdasarkan gugatan sampai penggugat bersumpah atas haknya.

وَحَكَمَ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ بِالْحَقِّ إِذَا نَكَلَ. وَالْكَلَامُ مَعَهُ يَأْتِي.

Abu Hanifah memutuskan perkara atasnya dengan kebenaran apabila ia enggan bersumpah. Pembahasan mengenai hal ini akan dijelaskan kemudian.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: لِأَنَّ نُكُولَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنِ الْيَمِينِ لَيْسَ بِإِقْرَارٍ مِنْهُ بِالْحَقِّ، وَلَا بِحُجَّةٍ لِلْمُدَّعِي، فَلَا أَقْضِي عَلَيْهِ، فَإِنْ بَذَلَ الْيَمِينَ، بَعْدَ نُكُولِهِ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ، لِسُقُوطِ حَقِّهِ مِنْهَا بِالنُّكُولِ. وَسَوَاءٌ كَانَ بَعْدَ رَدِّ الْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعِي أَوْ قَبْلَهُ.

Syafi‘i berkata: Karena penolakan tergugat untuk bersumpah bukanlah pengakuan darinya atas kebenaran, dan bukan pula merupakan hujjah bagi penggugat, maka aku tidak memutuskan perkara atasnya. Jika setelah menolak ia kemudian bersedia bersumpah, sumpah itu tidak diterima darinya, karena haknya atas sumpah itu telah gugur akibat penolakannya. Hal ini sama saja, baik setelah sumpah dialihkan kepada penggugat maupun sebelumnya.

فَإِذَا حَلَفَ الْمُدَّعِي صَارَ بِيَمِينِهِ مَعَ نُكُولِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَقْوَى مِنْهُ، فَقَضَى بِحَقِّهِ عَلَيْهِ، وَاخْتُلِفَ هَلْ تَكُونُ يَمِينُهُ مَعَ النُّكُولِ قَائِمَةً مَقَامَ الْإِقْرَارِ أَوْ مَقَامَ الْبَيِّنَةِ عَلَى قولين فذكرهما مِنْ بَعْدُ. وَإِنْ تَوَقَّفَ الْمُدَّعِي عَنِ الْيَمِينِ لَمْ يُحْكَمْ بِنُكُولِهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ سَبَبِ تَوَقُّفِهِ، فَإِنْ ذَكَرَ أَنَّهُ مُتَوَقِّفٌ عَنِ الْيَمِينِ، لِيَرْجِعَ إِلَى حِسَابِهِ، وَيَسْتَظْهِرَ لِنَفْسِهِ أُنْظِرَ بِهَا، وَكَانَ عَلَى حَقِّهِ مِنَ الْيَمِينِ، وَلَمْ تُضَيَّقْ عَلَيْهِ الْمُدَّةُ.

Jika penggugat bersumpah, maka dengan sumpahnya dan penolakan tergugat untuk bersumpah, posisi penggugat menjadi lebih kuat darinya, sehingga diputuskan haknya atas tergugat. Terdapat perbedaan pendapat apakah sumpah penggugat yang disertai penolakan tergugat itu menempati posisi seperti pengakuan atau seperti bayyinah; ada dua pendapat yang akan disebutkan setelah ini. Jika penggugat menunda bersumpah, maka tidak diputuskan bahwa ia menolak bersumpah sampai ditanyakan alasan penundaannya. Jika ia menyebutkan bahwa ia menunda bersumpah untuk memeriksa kembali perhitungannya dan memastikan kebenaran bagi dirinya, maka ia diberi waktu untuk itu dan tetap berhak atas sumpahnya, serta tidak dibatasi waktu baginya.

وَلَوْ تَرَكَهَا تَارِكٌ بِخِلَافِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِذَا اسْتُنْظِرَ، لِأَنَّ يَمِينَ الْمُدَّعِي حَقٌّ لَهُ، وَيَمِينَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ حَقٌّ عَلَيْهِ.

Dan jika seseorang meninggalkannya, berbeda dengan tergugat ketika diminta penundaan, karena sumpah bagi penggugat adalah hak baginya, sedangkan sumpah bagi tergugat adalah kewajiban atasnya.

فَإِنْ لَمْ يَذْكُرِ الْمُدَّعِي فِي تَوَقُّفِهِ عَنِ الْيَمِينِ عُذْرًا إِلَّا أَنَّهُ لَا يَخْتَارُ أَنْ يَحْلِفَ، حُكِمَ بِنُكُولِهِ، وَسُقُوطِ دَعْوَاهُ.

Jika penggugat tidak menyebutkan alasan apa pun dalam penolakannya untuk bersumpah selain bahwa ia tidak memilih untuk bersumpah, maka diputuskan bahwa ia telah menolak bersumpah dan gugatan yang diajukannya gugur.

فَإِنْ دَعَا إِلَى الْيَمِينِ بَعْدَ نُكُولِهِ عَنْهَا لَمْ يُسْتَحْلَفْ بَعْدَ الْحُكْمِ بِنُكُولِهِ، وَقِيلَ: لَكَ أَنْ تَسْتَأْنِفَ الدَّعْوَى، فتصير كالمبتدىء بِهَا، وَيَكُونُ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنْ يَحْلِفَ إِذَا أَنْكَرَهَا؛ لِأَنَّهَا غَيْرُ الدَّعْوَى الَّتِي حُكِمَ بِنُكُولِهِ فيها، فإن حلف برىء وَسَقَطَتِ الدَّعْوَى، وَإِنْ نَكَلَ رُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِي، فَإِذَا حَلَفَ حُكِمَ لَهُ بِالدَّعْوَى.

Jika ia meminta sumpah setelah pihak lawan menolak bersumpah, maka tidak boleh lagi meminta sumpah setelah diputuskan berdasarkan penolakannya. Namun, ada pendapat yang mengatakan: Anda boleh mengajukan gugatan baru, sehingga menjadi seperti memulai perkara dari awal, dan pihak tergugat berhak bersumpah jika ia mengingkarinya; karena itu adalah gugatan yang berbeda dari gugatan yang telah diputuskan berdasarkan penolakannya. Jika ia bersumpah, ia bebas dari tuntutan dan gugatan gugur; namun jika ia menolak, sumpah dikembalikan kepada penggugat, sehingga jika penggugat bersumpah, maka diputuskan kemenangannya dalam perkara tersebut.

فَإِنْ قِيلَ: فَلِمَ سَأَلْتُمُ الْمُدَّعِيَ عَنْ سَبَبِ نُكُولِهِ، وَلَمْ تَسْأَلُوا الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنْ سَبَبِ نُكُولِهِ؟ قِيلَ: لِأَنَّ نُكُولَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَدْ أَوْجَبَ حَقًّا لِلْمُدَّعِي فِي رَدِّ الْيَمِينِ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَعَرَّضَ الْحَاكِمُ لِإِسْقَاطِهِ بِسُؤَالِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَيَمِينُ الْمُدَّعِي مَقْصُورَةٌ عَلَى حَقِّ نَفْسِهِ، لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا حَقٌّ لِغَيْرِهِ، فَجَازَ أَنْ يُسْأَلَ عن سبب امتناعه منها.

Jika dikatakan: Mengapa kalian menanyakan kepada penggugat tentang alasan penolakannya (untuk bersumpah), namun kalian tidak menanyakan kepada tergugat tentang alasan penolakannya? Maka dijawab: Karena penolakan tergugat telah menyebabkan adanya hak bagi penggugat untuk mengembalikan sumpah kepadanya, sehingga tidak boleh bagi hakim untuk berupaya menggugurkan hak tersebut dengan menanyakan kepada tergugat. Adapun sumpah penggugat terbatas pada hak dirinya sendiri, tidak berkaitan dengan hak orang lain, maka boleh ditanyakan kepadanya tentang alasan ia menolak bersumpah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ حَلَفَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَحْلِفْ فَنَكَلَ الْمُدَّعِي فَأَبْطَلْنَا يَمِينَهُ ثَمَّ جَاءَ بِشَاهِدَيْنِ أَوْ بِشَاهِدٍ وَحَلَفَ مَعَ شَاهِدِهِ أَخَذْنَا لَهُ حَقَّهُ وَالْبَيِّنَةُ الْعَادِلَةُ أَحَقُّ مِنَ الْيَمِينِ الْفَاجِرَةِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tergugat telah bersumpah atau tidak bersumpah, lalu penggugat enggan bersumpah sehingga kami membatalkan sumpahnya, kemudian ia datang dengan dua orang saksi, atau dengan satu orang saksi dan ia bersumpah bersama saksinya, maka kami berikan haknya. Bukti (bayyinah) yang adil lebih berhak daripada sumpah yang dusta.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي دَعْوَى أُحْلِفَ الْمُنْكِرُ عَلَيْهَا، ثُمَّ أَحْضَرَ الْمُدَّعِي بَعْدَ الْيَمِينِ بَيِّنَةً، سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ فِي قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya dalam gugatan adalah pihak yang mengingkari diminta bersumpah atasnya, kemudian setelah sumpah, pihak penggugat menghadirkan bukti, maka menurut pendapat jumhur fuqaha, bukti tersebut tetap didengarkan.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى: لَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بَعْدَ يَمِينِهِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الْحُكْمَ قَدْ نَفَذَ بِسُقُوطِ الدَّعْوَى، وَبَرَاءَةِ الذِّمَّةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُنْقَضَ بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ وَاسْتِحْقَاقِ الدَّعْوَى.

Ibnu Abi Laila berkata: Tidak diterima kesaksian atas tergugat setelah ia bersumpah, dengan alasan bahwa putusan telah berlaku dengan gugurnya gugatan dan bebasnya tanggungan, sehingga tidak boleh dibatalkan dengan mendengarkan kesaksian dan menetapkan hak atas gugatan.

وَلِأَنَّهُ قَدِ اعْتَاضَ عَنِ الدَّعْوَى بِالْيَمِينِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ عِوَضَيْنِ.

Dan karena ia telah mengganti gugatan dengan sumpah, maka tidak boleh menggabungkan dua pengganti sekaligus.

وَدَلِيلُنَا: مَا رَوَاهُ رَجَاءُ بْنُ حَيْوَةَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: اخْتَصَمَ رِجَالٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: ” مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ يَقْتَطِعُ بِهَا مال امرىء مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ، وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ “.

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan oleh Raja’ bin Haywah dari Ibnu Umar, ia berkata: Sekelompok laki-laki dari Hadhramaut berselisih di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan sumpah palsu untuk mengambil harta seorang Muslim, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.”

فَمَوْضِعُ الدَّلِيلِ مِنْهُ أَنَّهُ لَمْ يَجْعَلِ الْيَمِينَ مُبَرِّئَةً فِي الْبَاطِنِ، وَإِنِ انْقَطَعَتْ بِهَا الْمُطَالَبَةُ فِي الظَّاهِرِ فَإِذَا قَامَتْ بِهَا الْبَيِّنَةُ لَزِمَتْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ.

Maka letak dalil dari hal ini adalah bahwa sumpah tidak menjadikan seseorang terbebas secara batin, meskipun dengan sumpah tersebut tuntutan secara lahiriah terputus. Jika ada bukti (bayyinah) yang menegaskannya, maka kewajiban itu berlaku baik secara lahiriah maupun batiniah.

وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: الْبَيِّنَةُ أَحَقُّ مِنَ الْيَمِينِ الْفَاجِرَةِ.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab ra. bahwa beliau berkata: Bukti (al-bayyinah) lebih berhak daripada sumpah palsu.

وَقَدْ رُوِيَ هَذَا مُسْنَدًا مِنْ طَرِيقٍ لَا يَثْبُتُ، وَهُوَ صَرِيحٌ فِي مَوْضِعِ الْخِلَافِ، وَحُجَّتُهُ أَنْ وُقِفَ وَأُسْنِدَ، لِأَنَّهُ لَمْ يَظْهَرْ لِعُمَرَ فِيهِ مُخَالِفٌ، وَلِأَنَّ الْحَقَّ يَثْبُتُ بِالْإِقْرَارِ تَارَةً، وَبَالْبَيِّنَةِ أُخْرَى.

Telah diriwayatkan hadis ini secara musnad melalui jalur yang tidak kuat, dan hadis ini secara jelas berkaitan dengan masalah yang diperselisihkan. Dalilnya adalah bahwa hadis ini berhenti pada sahabat dan disandarkan kepadanya, karena tidak tampak adanya sahabat lain yang menyelisihi pendapat ‘Umar dalam hal ini, dan karena kebenaran dapat ditetapkan kadang-kadang dengan pengakuan, dan di lain waktu dengan bukti.

فَإِذَا لَمْ تَمْنَعِ الْيَمِينُ مِنْ ثُبُوتِ الْحَقِّ بِالْإِقْرَارِ، لَمْ تمنع من ثبوته بالبينة ولو برىء بِالْيَمِينِ لَسَقَطَ بِالْإِقْرَارِ، وَفِيهِ جَوَابٌ عَنِ الِاسْتِدْلَالِ بالبراءة، وتأخذ الْعِوَضُ بِالْيَمِينِ، لِأَنَّ الْيَمِينَ تُسْقِطُ الْمُطَالَبَةَ، وَلَا تبرىء مِنَ الْحَقِّ، وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَلَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ، فلا يأخذه، فإنما أقطع له قطعة من النَّارِ “.

Maka jika sumpah tidak mencegah penetapan hak melalui pengakuan, maka sumpah juga tidak mencegah penetapan hak melalui bukti, meskipun seseorang terbebas dengan sumpah, niscaya hal itu gugur dengan pengakuan. Dalam hal ini terdapat jawaban terhadap argumentasi dengan pembebasan, dan seseorang dapat mengambil ganti rugi dengan sumpah, karena sumpah menggugurkan tuntutan, namun tidak membebaskan dari hak. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kalian berselisih perkara kepadaku, dan aku hanyalah seorang manusia. Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai dalam mengemukakan argumentasinya daripada yang lain, maka siapa yang aku putuskan untuknya sesuatu dari hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya aku telah memotongkan untuknya sepotong dari api neraka.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ قِيلَ: فَكَيْفَ يُسْتَحْلَفُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَعَ إِمْكَانِ الْبَيِّنَةِ، فَإِنَّمَا يُسْتَحْلَفُ مَعَ عَدَمِهَا.

Jika dikatakan: Bagaimana mungkin tergugat disumpah padahal masih dimungkinkan adanya bayyinah (alat bukti), padahal sumpah itu hanya dilakukan ketika bayyinah tidak ada?

قِيلَ: لِلْمُدَّعِي عِنْدَ الْمُطَالَبَةِ بِاسْتِحْلَافِ الْمُدَّعَى عليه ثلاثة أحوال:

Dikatakan: Bagi penggugat ketika menuntut agar tergugat disumpah, terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولَ لِي بَيِّنَةٌ لَا أَقْدِرُ عَلَيْهَا لِغَيْبَةٍ أَوْ عُذْرٍ، فَيُسْتَحْلَفُ خَصْمُهُ، ثُمَّ تُحْضَرُ بَيِّنَتُهُ، فَتُسْمَعُ.

Salah satunya: seseorang berkata, “Saya memiliki bukti, tetapi saya tidak mampu mengajukannya karena ada yang tidak hadir atau ada uzur,” maka lawannya disumpah terlebih dahulu, kemudian bukti tersebut dihadirkan dan didengarkan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ: لِي بَيِّنَةٌ حَاضِرَةٌ، وَأَنَا أَطْلُبُ إِحْلَافَ خَصْمِي، فَلَا يُمْنَعُ مِنِ اسْتِحْلَافِهِ، وَلَا مِنْ إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ بَعْدَ يَمِينِهِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ حُجَّةٌ لَا يُجْبَرُ عَلَى إِقَامَتِهَا، وَيَجُوزُ أَنْ يَعْدِلَ عَنْهَا إِلَى طَلَبِ الْيَمِينِ، إِمَّا لِيَنْزَجِرَ بِهَا، فَيُقِرَّ، وَإِمَّا لِيَحْتَقِبَ بِهَا وِزْرًا.

Keadaan kedua: Jika seseorang berkata, “Saya memiliki bayyinah yang hadir, dan saya meminta agar lawan saya disumpah,” maka ia tidak dilarang untuk meminta sumpah darinya, dan juga tidak dilarang untuk mengajukan bayyinah setelah sumpah lawannya. Sebab, bayyinah adalah hujjah yang tidak wajib segera diajukan, dan boleh saja ia beralih dari mengajukan bayyinah kepada meminta sumpah, baik agar lawannya jera lalu mengakui, maupun agar lawannya memikul dosa karena sumpahnya.

فَإِذَا لَمْ يُزْجَرْ بِهَا عَنِ الْإِنْكَارِ جَازَ أَنْ يُقِيمَ الْحُجَّةَ بِبَيِّنَتِهِ، وَيُظْهِرَ بِهَا صِدْقَ الدَّعْوَى، وَكَذِبَ الْإِنْكَارِ، وَحِنْثَ الْيَمِينِ.

Maka jika dengan sumpah tersebut tidak dapat mencegah penyangkalan, boleh baginya menegakkan hujjah dengan bukti yang dimilikinya, serta menampakkan kebenaran klaimnya, kebohongan penyangkalan, dan pelanggaran sumpah.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ: لَيْسَ لِي بَيِّنَةٌ، وَأَنَا أَطْلُبُ الْيَمِينَ، لِعَدَمِ الْبَيِّنَةِ، فَإِذَا أَقَامَهَا بَعْدَ إِحْلَافِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي قَبُولِهَا.

Keadaan ketiga: Seseorang berkata, “Saya tidak memiliki bayyinah, dan saya meminta sumpah karena tidak adanya bayyinah.” Jika kemudian ia menghadirkan bayyinah setelah tergugat disumpah, maka para ulama berbeda pendapat mengenai diterimanya bayyinah tersebut.

وَقَدْ حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، وَبَعْضِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا لَا تُسْمَعُ، لِأَنَّ فِي إِنْكَارِ الْبَيِّنَةِ حَرَجًا لِمَنْ يَشْهَدُ بِهَا، وَلَا تُسْمَعُ لَهُ بَيِّنَةٌ قَدْ جَحَدَهَا.

Telah dinukil dari Muhammad bin al-Hasan dan sebagian sahabat asy-Syafi‘i bahwa gugatan tersebut tidak dapat diterima, karena dalam penolakan terhadap bayyinah (alat bukti yang jelas) terdapat kesulitan bagi orang yang memberikan kesaksian dengannya, dan tidak dapat diterima bayyinah darinya yang sebelumnya telah ia ingkari.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ، وَهُوَ الظَّاهِرِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَقَوْلِ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ تُنْسَى الْبَيِّنَةُ ثُمَّ يَذْكُرُهَا، وَقَدْ تَكُونُ لَهُ بَيِّنَةٌ، وَلَا يَعْلَمُ بِهَا، ثُمَّ يَعْرِفُهَا، فَلَمْ يَكُنْ فِي قَوْلِهِ حَرَجٌ، وَلَا تَكْذِيبٌ.

Abu Yusuf berkata: Kesaksiannya dapat diterima, dan ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab asy-Syafi‘i serta pendapat mayoritas para pengikutnya, karena bisa saja seseorang lupa terhadap bukti lalu kemudian mengingatnya, atau bisa jadi ia memiliki bukti namun tidak mengetahuinya, lalu setelah itu ia mengetahuinya. Maka dalam ucapannya itu tidak terdapat kesulitan dan tidak pula kebohongan.

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ مَذْهَبًا ثَالِثًا: إِنْ كَانَ هُوَ الَّذِي اسْتَوْثَقَ بِإِشْهَادِ الْبَيِّنَةِ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ إِذَا أَنْكَرَهَا.

Sebagian pengikut Syafi‘i berpendapat dengan pendapat ketiga: jika dialah yang memastikan dengan menghadirkan bukti (syahadah al-bayyinah), maka kesaksiannya tidak diterima darinya apabila ia mengingkarinya.

وَإِنْ كَانَ قَدِ اسْتَوْثَقَ بِهَا وَلِيُّهُ فِي صِغَرِهِ أَوْ وَكِيلُهُ فِي كِبَرِهِ قُبِلَتْ مِنْهُ إِذَا أَنْكَرَهَا، لِأَنَّهُ لَا يَجْهَلُ فِعْلَ نَفْسِهِ، وَقَدْ يَجْهَلُ فِعْلَ غَيْرِهِ.

Dan jika telah dipastikan kebenarannya oleh walinya ketika ia masih kecil, atau oleh wakilnya ketika ia sudah dewasa, maka diterima pengingkarannya jika ia mengingkarinya, karena seseorang tidak mungkin tidak mengetahui perbuatannya sendiri, sedangkan ia mungkin tidak mengetahui perbuatan orang lain.

وَهَذَا الْفَرْقُ لَا وَجْهَ لَهُ، لِأَنَّهُ إِنْ لَمْ يَجْهَلْ فِعْلَ نَفْسِهِ فِي وَقْتِهِ، فَقَدْ يَنْسَاهُ بَعْدَ وَقْتِهِ، وَسَوَاءٌ كَانَتْ هَذِهِ الْبَيِّنَةُ بَعْدَ يَمِينِ الْمُنْكِرِ بِشَاهِدَيْنِ أَوْ شَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ أَوْ شَاهِدٍ وَيَمِينِهِ إِذَا كَانَ مِمَّا يُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Perbedaan ini tidak memiliki dasar, karena jika seseorang tidak lupa perbuatannya sendiri pada waktunya, bisa jadi ia melupakannya setelah waktu itu berlalu. Sama saja apakah bukti tersebut muncul setelah sumpah orang yang mengingkari dengan dua saksi, atau satu saksi dan dua perempuan, atau satu saksi dan sumpahnya, jika perkara tersebut termasuk yang dapat diputuskan dengan satu saksi dan sumpah.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا إِذَا نَكَلَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنِ الْيَمِينِ، وَرُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِي، فَنَكَلَ عَنْهَا، وَأَقَامَ شَاهِدًا، لِيَحْلِفَ مَعَ شَاهِدِهِ فَفِي جَوَازِ إِحْلَافِهِ مَعَ شَاهِدِهِ قَوْلَانِ:

Adapun jika tergugat enggan bersumpah, lalu sumpah itu dialihkan kepada penggugat, kemudian penggugat juga enggan bersumpah, namun ia menghadirkan seorang saksi agar ia dapat bersumpah bersama saksinya, maka dalam kebolehan penggugat bersumpah bersama saksinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ مَنْصُوصُ الشَّافِعِيِّ فِي كِتَابِ ” الْأُمِّ “، وَفِي ” الْجَامِعِ الْكَبِيرِ ” لِلْمُزَنِيِّ: لَا يُحْكَمُ لَهُ بِالْيَمِينِ مَعَ شَاهِدِهِ، لِأَنَّهُ بِنُكُولِهِ عَنْهَا فِي الرَّدِّ قَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ بِهَا مِنْ بَعْدُ.

Salah satunya, sebagaimana dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab “al-Umm” dan dalam “al-Jāmi‘ al-Kabīr” karya al-Muzani: Tidak diputuskan baginya (hak) dengan sumpah bersama saksinya, karena dengan penolakannya terhadap sumpah tersebut dalam pembelaan, ia telah menggugurkan haknya dengan sumpah itu setelahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَحَكَاهُ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْمُخْتَصِرِ أَنَّهُ يُحْكَمُ لَهُ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ يَمِينَ الرَّدِّ غَيْرُ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، لِاخْتِلَافِ السَّبَبَيْنِ، وَافْتِرَاقِ الْمَعْنَيَيْنِ، فَلَمْ يَكُنْ سُقُوطُ إِحْدَاهُمَا مُوجِبًا لِسُقُوطِ الْأُخْرَى.

Pendapat kedua, yang dinukil oleh al-Muzani dalam mukhtashar ini, adalah bahwa diputuskan baginya dengan sumpah bersama satu saksi. Sebab, sumpah rad berbeda dengan sumpah bersama saksi, karena perbedaan sebab dan perbedaan makna keduanya. Maka, gugurnya salah satunya tidak menyebabkan gugurnya yang lain.

وَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ بِالْعَكْسِ، وَهُوَ إِذَا نَكَلَ الْمُدَّعِي عَنِ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، فَرُدَّتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ بِنُكُولِ الْمُنْكِرِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَأَرَادَ أَنْ يَحْلِفَ كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْقَوْلَيْنِ:

Oleh karena itu, jika keadaannya sebaliknya, yaitu apabila pihak penggugat enggan bersumpah bersama saksi, lalu sumpah itu dikembalikan kepadanya karena pihak tergugat yang mengingkari juga enggan bersumpah, kemudian penggugat ingin bersumpah, maka hal itu mengikuti dua pendapat yang telah kami sebutkan.

أَحَدُهُمَا: لَا يَحْلِفُ تَعْلِيلًا بِأَنَّهُ قَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ مِنَ الْيَمِينِ بِالنُّكُولِ.

Salah satunya: ia tidak bersumpah dengan alasan bahwa ia telah menggugurkan haknya atas sumpah dengan menolak bersumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَحْلِفُ تَعْلِيلًا بِاخْتِلَافِهَا في السبب والمعنى.

Pendapat kedua: ia bersumpah, dengan alasan perbedaan keduanya dalam sebab dan makna.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ رَدَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ الْيَمِينَ فَقَالَ لِلْمُدَّعِي احْلِفْ فَقَالَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنَا أَحْلِفُ لَمْ أَجْعَلْ ذَلِكَ لَهُ لِأَنِّي قَدْ أَبْطَلْتُ أَنْ يَحْلِفَ وَحَوَّلْتُ الْيَمِينَ عَلَى صَاحِبِهِ “.

Imam Syafi’i ra. berkata: “Jika tergugat mengembalikan sumpah kepada penggugat, lalu berkata kepada penggugat, ‘Bersumpahlah!’ kemudian tergugat berkata, ‘Aku yang akan bersumpah,’ maka aku tidak membolehkannya baginya, karena aku telah membatalkan haknya untuk bersumpah dan telah memindahkan sumpah itu kepada lawannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar.

وَقَدْ قَدَّمْنَاهُ، وَقُلْنَا: إِذَا نَكَلَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنِ الْيَمِينِ وَجَبَ رَدُّهَا عَلَى الْمُدَّعِي، فَأَجَابَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِلَى الْيَمِينِ بَعْدَ نُكُولِهِ لَمْ يُسْتَحْلَفْ، وَكَانَ الْمُدَّعِي أَحَقَّ بِالْيَمِينِ لِإِثْبَاتِ حَقِّهِ، لِأَنَّهُ قَدِ اسْتَحَقَّهَا بِنُكُولِ خَصْمِهِ، فَلَمْ يَكُنْ لِلْخَصْمِ إِبْطَالُهَا عَلَيْهِ فَإِنْ قِيلَ: أَفَلَيْسَ لَوِ امْتَنَعَ الْمُدَّعِي مِنْ إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ، وَاسْتَحَقَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنْ يَحْلِفَ لِسُقُوطِ الدَّعْوَى عَنْهُ، فَلَوْ أَقَامَ الْمُدَّعِي الْبَيِّنَةَ كَانَ لَهُ، وَأَسْقَطَ بِهَا يَمِينَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَهَلَّا كَانَا سَوَاءً؟

Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dan kami katakan: Jika tergugat menolak untuk bersumpah, maka sumpah itu wajib dialihkan kepada penggugat. Jika kemudian tergugat bersedia bersumpah setelah sebelumnya menolak, maka ia tidak lagi diminta bersumpah, dan penggugat lebih berhak atas sumpah tersebut untuk menegakkan haknya, karena ia telah berhak atas sumpah itu akibat penolakan lawannya. Maka lawannya tidak berhak membatalkan hak tersebut atas dirinya. Jika ada yang bertanya: Bukankah jika penggugat menolak untuk menghadirkan bayyinah, maka tergugat berhak bersumpah sehingga gugatan terhadapnya gugur? Jika kemudian penggugat menghadirkan bayyinah, maka hak itu menjadi miliknya dan dengan itu ia menggugurkan sumpah tergugat. Tidakkah keduanya sama?

قِيلَ: لَا يَسْتَوِيَانِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ تَجُوزُ أَنْ تُقَامَ بَعْدَ يَمِينِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَكَانَ إِقَامَتُهَا قَبْلَ يَمِينِهِ أَوْلَى، لِأَنَّ الْيَمِينَ وَالْبَيِّنَةَ مَعًا حَقٌّ لِلْمُدَّعِي، فَكَانَ لَهُ الْخِيَارُ فِي أَيِّهِمَا شَاءَ، وَلَهُ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا إِذَا تَقَدَّمَتِ الْيَمِينُ، وَلَيْسَ لَهُ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا إِذَا قَدَّمَ البينة.

Dikatakan: Keduanya tidaklah sama, karena bukti (bayyinah) boleh ditegakkan setelah sumpah terdakwa, maka menegakkannya sebelum sumpahnya lebih utama, karena sumpah dan bukti (bayyinah) keduanya merupakan hak bagi penggugat, sehingga ia memiliki pilihan pada salah satunya yang ia kehendaki, dan ia boleh menggabungkan keduanya jika sumpah didahulukan, namun ia tidak boleh menggabungkan keduanya jika bukti (bayyinah) yang didahulukan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ قَالَ أُحْلِفُهُ مَا اشْتَرَيْتَ هَذِهِ الدَّارَ الَّتِي فِي يَدَيْهِ لَمْ أُحْلِفْهُ إِلَّا مَا لِهَذَا وَيُسَمِّيهِ فِي هَذِهِ الدَّارِ حَقٌّ بِمِلْكٍ وَلَا غَيْرِهِ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَمْلِكُهَا وَتَخْرُجُ مِنْ يَدَيْهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Aku akan menyuruhnya bersumpah bahwa engkau tidak membeli rumah ini yang ada di tangannya,’ maka aku tidak akan menyuruhnya bersumpah kecuali mengenai rumah ini saja, dan ia menyebutkan bahwa pada rumah ini ada hak kepemilikan, dan tidak selain itu dengan cara apa pun, karena bisa saja ia memilikinya lalu rumah itu keluar dari tangannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ قَدْ مَضَى نَظَائِرُهَا فِي جُمْلَةِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ قَبْلُ: وَقُلْتُ: فَإِذَا ادَّعَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ دَارًا فِي يَدَيْهِ أَنَّهُ اشْتَرَاهَا مِنْهُ، لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِي الْإِنْكَارِ مِنْ أَنْ يَقُولَ: مَا لَهُ فِيهَا حَقٌّ، أَوْ يَقُولَ: مَا اشْتَرَاهَا مِنِّي.

Al-Mawardi berkata: Masalah ini memiliki beberapa analogi yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan terdahulu. Saya katakan: Jika seseorang mengklaim terhadap orang lain sebuah rumah yang ada di tangannya, bahwa ia telah membelinya darinya, maka keadaan orang yang dituduh dalam mengingkari tidak lepas dari dua kemungkinan: ia berkata, “Dia tidak memiliki hak atasnya,” atau ia berkata, “Dia tidak membelinya dariku.”

فَإِنْ كَانَ جَوَابُ إِنْكَارِهِ أَنَّهُ مَا لَهُ فِيهَا حَقُّ تَمْلِيكٍ، وَلَا غَيْرِهِ كَانَ جَوَابُهُ مُقْنِعًا، وَأُحْلِفَ بِمِثْلِهِ، وَلَمْ يُحْلَفْ أَنَّهُ مَا اشْتَرَاهَا مِنْهُ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَهَا عَلَيْهِ، وَيَبْتَاعَهَا مِنْهُ، فَيَجِبُ أَنْ يَحْلِفَ: مَا اشْتَرَاهَا، وَإِنْ كَانَ مَالِكًا لَهَا، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، حَلَفَ، فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا لِهَذَا وَيُسَمِّيهِ، وَتَسْمِيَتُهُ اسْتِظْهَارٌ، وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، لِأَنَّ الْإِشَارَةَ إِلَيْهِ تُغْنِي عَنْ تَسْمِيَتِهِ: مَا لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ حَقٌّ بِمِلْكٍ، وَلَا غَيْرِهِ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ، وَهَذَا تَأْكِيدٌ.

Jika jawaban penolakannya adalah bahwa ia tidak memiliki hak kepemilikan atasnya, maupun hak lainnya, maka jawabannya dianggap memadai, dan ia disuruh bersumpah dengan sumpah yang serupa, serta tidak disuruh bersumpah bahwa ia tidak membelinya darinya, karena mungkin saja ia pernah menjualnya kepadanya dan kemudian membelinya kembali darinya. Maka ia wajib bersumpah: “Saya tidak membelinya,” meskipun ia adalah pemiliknya. Jika demikian keadaannya, ia bersumpah dengan mengatakan: “Demi Allah, tidak ada untuk orang ini (lalu ia menyebut namanya)—dan penyebutan nama ini bersifat ihtiyāṭ (kehati-hatian), bukan kewajiban, karena menunjuk kepadanya sudah cukup tanpa harus menyebut namanya—hak kepemilikan atau hak lain apa pun atas rumah ini dalam bentuk apa pun.” Dan ini merupakan bentuk penegasan.

وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى أَنَّ مَا لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ حَقٌّ أَجْزَأَ، لِأَنَّهُ يَعُمُّ الْمِلْكَ وَغَيْرَهُ مِنْ جَمِيعِ الْوُجُوهِ. وَإِنْ كَانَ جَوَابُ الْمُنْكِرِ مُقَابِلًا لِدَعْوَى الْمُدَّعِي، فَقَالَ: مَا اشْتَرَاهَا مِنِّي. فَفِي يَمِينِهِ وَجْهَانِ:

Jika ia hanya membatasi pada pernyataan bahwa apa yang ia miliki di rumah ini adalah hak, maka itu sudah cukup, karena pernyataan tersebut mencakup kepemilikan dan selainnya dari segala aspek. Dan jika jawaban pihak yang mengingkari berlawanan dengan klaim pihak yang menuntut, lalu ia berkata: “Ia tidak membelinya dariku,” maka dalam sumpahnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَحْلِفُ عَلَى مِثْلِ مَا تَقَدَّمَ، أَنَّهُ مَا لَهُ فِي هَذِهِ الدَّارِ حَقٌّ اسْتِظْهَارًا مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَلَكَهَا بَعْدَ الْبَيْعِ.

Salah satunya adalah bahwa ia bersumpah seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa ia tidak memiliki hak apa pun atas rumah ini, sebagai tindakan kehati-hatian dari kemungkinan bahwa ia telah memilikinya kembali setelah penjualan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: بَلْ يَكُونُ يَمِينُهُ مُوافِقَةً لِجَوَابِ إِنْكَارِهِ، لِأَنَّ هَذَا الِاحْتِمَالَ قَدِ ارْتَفَعَ بِقَوْلِهِ: مَا اشْتَرَاهَا مِنْهُ، [فَعَلَى هَذَا يَحْلِفُ بِاللَّهِ أَنَّهُ مَا اشْتَرَاهَا مِنْهُ] وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَلَا اشْتُرِيَتْ لَهُ، وَلَا شَيْءَ مِنْهَا.

Adapun pendapat kedua: Sumpahnya harus sesuai dengan jawaban penolakannya, karena kemungkinan ini telah hilang dengan ucapannya: “Saya tidak membelinya darinya.” Maka dalam hal ini, ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia tidak membelinya darinya, tidak sedikit pun darinya, dan tidak dibelikan untuknya, serta tidak ada sedikit pun darinya.

وَلَوْ حَلَفَ بِاللَّهِ مَا بَاعَهَا عَلَيْهِ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا، وَلَا بَاعَهَا عَلَى أَحَدٍ اشْتَرَاهَا لَهُ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا وَلَا بَاعَهَا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ جِهَتِهِ، وَلَا شَيْئًا مِنْهَا أَجْزَأَ لِأَنَّ نَفْيَ الشِّرَاءِ مُوجِبٌ لِنَفْيِ الْبَيْعِ، وَنَفْيُ الْبَيْعِ مُوجِبٌ لِنَفْيِ الشِّرَاءِ، فَقَامَ نَفْيُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، مَقَامَ نَفْيِ الْآخَرِ.

Dan jika ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia tidak menjualnya kepadanya, dan tidak sedikit pun darinya, dan tidak menjualnya kepada siapa pun yang membelinya untuknya, dan tidak sedikit pun darinya, dan tidak ada seorang pun dari pihaknya yang menjualnya kepadanya, dan tidak sedikit pun darinya, maka itu sudah mencukupi. Karena penafian pembelian mengharuskan penafian penjualan, dan penafian penjualan mengharuskan penafian pembelian, sehingga penafian masing-masing dari keduanya menempati posisi penafian yang lain.

وَفِي أَوْلَاهُمَا بِالْيَمِينِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Dan dalam hal mana di antara keduanya yang lebih utama untuk bersumpah, terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْأَوْلَى أَنْ يَحْلِفَ مَا اشْتَرَاهَا مِنْهُ، لِأَنَّهَا مُقَابِلَةٌ لِلدَّعْوَى.

Salah satunya: bahwa yang lebih utama adalah orang yang membeli barang itu darinya yang bersumpah, karena sumpah tersebut sebagai tanggapan atas gugatan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: بَلِ الْأَوْلَى أَنْ يَحْلِفَ مَا بَاعَهَا عَلَيْهِ، لِأَنَّهَا أَخَصُّ بِنَفْيِ فِعْلِهِ.

Pendapat kedua: Bahkan yang lebih utama adalah ia bersumpah bahwa ia tidak menjualnya kepadanya, karena hal itu lebih khusus dalam menafikan perbuatannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَلَوِ ادَّعَى عَلَيْهِ أَنَّهُ قَتَلَ أَبَاهُ، وَكَمَّلَ الدَّعْوَى بِذِكْرِ صِفَةِ الْقَتْلِ، فَلِلْمُنْكِرِ حَالَتَانِ:

Dan jika seseorang menuduh orang lain bahwa ia telah membunuh ayahnya, serta melengkapi tuduhannya dengan menyebutkan rincian cara pembunuhan, maka bagi pihak yang menyangkal terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يُنْكِرَ الْقَتْلَ.

Salah satunya adalah mengingkari terjadinya pembunuhan.

وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يُنْكِرَ بِهَذِهِ الدَّعْوَى عليه حق.

Dan yang kedua: bahwa dengan pengakuan ini, ia menolak adanya hak atas dirinya.

فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ جَوَابَيْ هَذَا الْإِنْكَارِ مُقْنِعٌ، فَيَحْلِفُ إِنْ أَنْكَرَ الْحَقَّ أَنَّهُ مَا يَسْتَحَقُّ عَلَيْهِ بِدَعْوَى هَذَا الْقَتْلِ حَقٌّ مِنْ قَوَدٍ وَلَا دِيَةٍ، وَلَا يَحْلِفُ أَنَّهُ مَا قَتَلَ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَتَلَهُ قَوَدًا أَوْ قَتَلَهُ مُرْتَدًّا، أَوْ قَتَلَهُ لِأَنَّهُ وَجَدَهُ عَلَى امْرَأَتِهِ، أَوْ قَتَلَهُ لِدَفْعِهِ عَنْ نَفْسِهِ، فَلِذَلِكَ جَازَ أَنْ يَعْدِلَ فِي إِنْكَارِهِ وَيَمِينِهِ إِلَى نَفْيِ الْحَقِّ دُونَ الْقَتْلِ.

Masing-masing dari dua jawaban atas penolakan ini sudah memadai, sehingga jika ia mengingkari hak tersebut, ia bersumpah bahwa tidak ada hak yang wajib atasnya berdasarkan tuntutan pembunuhan ini, baik berupa qishāsh maupun diyat, dan ia tidak bersumpah bahwa ia tidak membunuh, karena mungkin saja ia membunuhnya dalam rangka qishāsh, atau membunuhnya karena ia murtad, atau membunuhnya karena mendapati orang itu bersama istrinya, atau membunuhnya untuk membela diri. Oleh karena itu, diperbolehkan baginya untuk mengalihkan pengingkaran dan sumpahnya kepada penafian hak, bukan penafian pembunuhan.

وَإِنْ كَانَ قَدْ أَنْكَرَ الْقَتْلَ كَانَتْ يَمِينُهُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ:

Dan jika ia mengingkari pembunuhan, maka sumpahnya dilakukan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam dua pendapat tersebut.

أَحَدُهُمَا: مَا قَتَلَ.

Salah satunya: apa yang membunuh.

وَالثَّانِي: مَا عَلَيْهِ حَقٌّ بِهَذَا الْقَتْلِ مِنْ قَوَدٍ، وَلَا عَقْلٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Kedua: Orang yang memiliki hak akibat pembunuhan ini berupa qishāsh, bukan diyat. Dan Allah lebih mengetahui.

(باب النكول ورد اليمين من الجامع ومن اختلاف الشهادات والحكام ومن الدعوى والبينات ومن إملاء في الحدود)

(Bab tentang penolakan sumpah dan pengembalian sumpah, dari Kitab al-Jāmi‘, serta tentang perbedaan kesaksian dan para hakim, juga tentang gugatan dan bukti-bukti, serta tentang pengucapan dalam perkara hudud.)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَا يَقُومُ النُّكُولُ مَقَامَ إِقْرَارٍ فِي شَيْءٍ حَتَّى يَكُونَ معه يمين المدعي فإن قيل فكيف أحلفت في الحدود والطلاق والنسب والأموال وجعلت الأيمان كلها تجب على المدعى عليه وجعلتها ترد على المدعي؟ قيل قلته استدلالا بالكتاب والسنة ثم الخبر عن عمر حكم الله على القاذف غير الزوج بالحد ولم يجعل له مخرجا منه إلا بأربعة شهداء وأخرج الزوج من الحد بأن يحلف أربعة أيمان ويلتعن بخامسة فيسقط عنه الحد ويلزمها إن لم تخرج منه بأربعة أيمان والتعانها وسن بينهما الفرقة ودرأ الله عنهما الحد بالأيمان والتعانه وكانت أحكام الزوجين وإن خالفت أحكام الأجنبيين في شيء فهي مجامعة لها في غيره وذلك أن اليمين فيه جمعت درء الحد عن الرجل والمرأة وفرقة ونفي ولد فكان هذا الحد والفراق والنفي معا داخلة فيها ولا يحق الحد على المرأة حين يقذفها الزوج إلا بيمينه وتنكل عن اليمين ألا ترى أن الزوج لو لم يلتعن حد بالقذف ولترك الخروج منه باليمين ولم يكن على المرأة حد ولا لعان أو لا تَرَى أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قال للأنصاريين ” تحلفون وتستحقون دم صاحبكم ” فلما لم يحلفوا رد الأيمان على يهود ليبرؤوا بها فلما لم يقبلها الأنصاريون تركوا حقهم أو لا ترى عمر جعل الأيمان على المدعى عليهم فلما لم يحلفوا ردها على المدعين وكل هذا تحويل يمين من موضع قد ندبت فيه إلى الموضع الذي يخالفه وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” وعلى المدعى عليه اليمين ” ولا يجوز أن تكون على مدعى عليه دون غيره إلا بخبر لازم وهما لفظان مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” مخرجهما واحد فكيف يجوز أن يقال إن جاء المدعي بالبينة أخذ وإن لم يأت بها حدث له حكم غيرها وهو استحلاف من ادعى عليه وإن جاء المدعى عليه باليمين برىء وإن لم يأت بها لزمه ما نكل عنه ولم يحدث له حكم غيرها ويجوز رد اليمين كما حدث للمدعي إن لم يأت بها حكم غيره وهو اليمين وإذ حول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – اليمين حيث وضعها فكيف لم تحول كما حولها “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Nukūl (penolakan bersumpah) tidak dapat menggantikan pengakuan dalam perkara apa pun sampai disertai dengan sumpah dari pihak penggugat. Jika ada yang bertanya: Bagaimana engkau mewajibkan sumpah dalam perkara hudūd, talak, nasab, dan harta, serta menjadikan seluruh sumpah itu wajib atas pihak tergugat, lalu engkau memindahkannya kepada penggugat? Maka dijawab: Aku mengatakannya berdasarkan istidlāl (penalaran) dari al-Qur’an dan sunnah, kemudian berdasarkan riwayat dari Umar, di mana Allah menetapkan hukuman had atas orang yang menuduh zina (qadzaf) selain suami dengan hukuman had, dan tidak memberinya jalan keluar kecuali dengan empat orang saksi. Sedangkan suami dikeluarkan dari hukuman had dengan bersumpah empat kali dan melaknat pada sumpah kelima, sehingga gugurlah hukuman had darinya dan menjadi wajib atas istri jika ia tidak membebaskan dirinya dengan empat sumpah dan la‘an, serta disyariatkan perpisahan di antara keduanya. Allah menggugurkan hukuman had dari keduanya dengan sumpah dan la‘an. Hukum antara suami istri, meskipun berbeda dengan hukum antara orang lain dalam beberapa hal, tetap memiliki kesamaan dalam hal lain. Hal ini karena sumpah di dalamnya mengandung pengguguran hukuman had dari laki-laki dan perempuan, perpisahan, dan penafian anak, sehingga hukuman had, perpisahan, dan penafian anak semuanya termasuk di dalamnya. Tidaklah hukuman had dijatuhkan atas perempuan ketika ia dituduh zina oleh suaminya kecuali dengan sumpah suami dan penolakan istri untuk bersumpah. Tidakkah engkau melihat bahwa jika suami tidak melakukan la‘an, ia dikenai hukuman qadzaf, karena ia tidak keluar dari hukuman itu dengan sumpah, dan tidak ada hukuman had atau la‘an atas perempuan? Atau tidakkah engkau melihat bahwa Nabi ﷺ berkata kepada kaum Anshar: ‘Kalian bersumpah dan berhak atas darah sahabat kalian.’ Ketika mereka tidak bersumpah, beliau memindahkan sumpah kepada orang Yahudi agar mereka bisa membebaskan diri, dan ketika kaum Anshar tidak menerima sumpah itu, mereka pun meninggalkan hak mereka. Atau tidakkah engkau melihat bahwa Umar meletakkan sumpah atas pihak tergugat, lalu ketika mereka tidak bersumpah, ia memindahkannya kepada penggugat? Semua ini adalah pemindahan sumpah dari tempat yang telah ditetapkan ke tempat yang berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Atas tergugatlah sumpah.’ Tidak boleh sumpah itu dibebankan kepada tergugat saja tanpa selainnya kecuali dengan dalil yang pasti. Dan dua sabda Rasulullah ﷺ: ‘Bukti atas penggugat dan sumpah atas tergugat,’ keduanya berasal dari sumber yang sama. Bagaimana mungkin dikatakan: Jika penggugat membawa bukti, ia menang, dan jika tidak, berlaku hukum lain, yaitu mewajibkan sumpah kepada tergugat. Jika tergugat bersumpah, ia bebas, dan jika tidak, ia menanggung akibat dari penolakannya, tanpa berlaku hukum lain. Dan boleh memindahkan sumpah sebagaimana terjadi pada penggugat, jika ia tidak membawa bukti, berlaku hukum lain, yaitu sumpah. Ketika Nabi ﷺ memindahkan sumpah dari tempat asalnya, mengapa tidak boleh dipindahkan sebagaimana beliau memindahkannya?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ كَمَا قَالَ.

Al-Mawardi berkata: Dan memang sebagaimana yang ia katakan.

إِذَا نَكَلَ الْمُنْكِرُ عَنِ الْيَمِينِ، لَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، حَتَّى يَحْلِفَ الْمُدَّعِي، فَيَسْتَحِقَّ الدَّعْوَى بِيَمِينِهِ لَا بِنُكُولِ خَصْمِهِ.

Apabila pihak yang mengingkari enggan bersumpah, maka tidak diputuskan atasnya dengan keengganan tersebut, sampai pihak penggugat bersumpah. Maka, ia berhak atas tuntutannya dengan sumpahnya sendiri, bukan karena keengganan lawannya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” لَيْسَ النُّكُولُ إِقْرَارًا مِنْهُ بِالْحَقِّ، وَلَا بَيِّنَةً لِلْمُدَّعِي، فَلَا أَقْضِي عَلَيْهِ بِهِ “.

Syafi‘i berkata: “Nukūl (penolakan bersumpah) bukanlah pengakuan darinya atas hak tersebut, dan bukan pula sebagai bayyinah bagi pihak penggugat, maka aku tidak memutuskan perkara atas dasar itu.”

وَهَذَا صَحِيحٌ، لِأَنَّ الْحُقُوقَ تَثْبُتُ بِالْإِقْرَارِ أَوِ الْبَيِّنَةِ، وَلَيْسَ النُّكُولُ وَاحِدًا مِنْهَا، وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْحُكَّامِ.

Dan ini benar, karena hak-hak itu ditetapkan dengan pengakuan atau bukti yang jelas, sedangkan penolakan bersumpah bukanlah salah satunya, dan ini adalah pendapat mayoritas para fuqaha dan para hakim.

وَسَوَاءٌ كَانَتِ الدَّعْوَى فِيمَا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالْخُلْعِ وَالرَّجْعَةِ، وَالْقِصَاصِ وَالْعِتْقِ، أَوْ كَانَتْ فِيمَا تَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ أَوْ شَاهِدٍ وَيَمِينٍ كَالْأَمْوَالِ أَوْ مَا يَكُونُ مَقْصُودُهُ الْمَالَ.

Sama saja, apakah gugatan itu mengenai perkara yang hanya dapat dibuktikan dengan dua orang saksi seperti nikah, talak, khulu‘, rujuk, qishāsh, dan pembebasan budak, atau mengenai perkara yang dapat dibuktikan dengan satu orang saksi dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah, seperti harta benda atau sesuatu yang tujuannya adalah harta.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا أَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، لَكِنْ إِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي مَالٍ يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ رَدَدْتُ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعِي، وَإِنْ كَانَتْ فِيمَا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالْعِتْقِ وَالْقَتْلِ حَبَسْتُهُ حَتَّى يَحْلِفَ أَوْ يُقِرَّ.

Malik berkata: Aku tidak memutuskan atasnya dengan hukum enggan bersumpah (nukūl), tetapi jika gugatan itu mengenai harta yang dapat dibuktikan dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, aku kembalikan sumpah kepada penggugat. Namun, jika perkara itu mengenai sesuatu yang hanya dapat dibuktikan dengan dua orang saksi laki-laki, seperti nikah, talak, pembebasan budak, dan pembunuhan, maka aku menahannya sampai ia bersumpah atau mengakui.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: أَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ فِي الْأَمْوَالِ، بَعْدَ أَنْ أَقُولَ لَهُ ثَلَاثًا: إِنْ حَلَفْتَ، وَإِلَّا قَضَيْتُ عَلَيْكَ، وَلَا أَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالْقَتْلِ فِي النُّكُولِ.

Abu Hanifah berkata: Aku memutuskan atasnya dengan hukuman nukul (menolak bersumpah) dalam perkara harta, setelah aku berkata kepadanya tiga kali: Jika engkau bersumpah, (maka selesai perkara), jika tidak, aku akan memutuskan atasmu. Dan aku tidak memutuskan atasnya dengan hukuman mati dalam kasus nukul.

وَخَالَفَهُ أَبُو يُوسُفَ، فَحَكَمَ عَلَيْهِ فِي الْقَتْلِ بِالدِّيَةِ دُونَ الْقَوَدِ، وَحَكَمَ عَلَيْهِ فِيمَا دُونَ النَّفْسِ بِالْقَوَدِ.

Abu Yusuf berpendapat berbeda darinya; ia memutuskan bahwa dalam kasus pembunuhan, pelaku dikenai diyat tanpa qisas, sedangkan dalam kasus selain pembunuhan, pelaku dikenai qisas.

وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي نِكَاحٍ أَوْ طَلَاقٍ أَوْ عِتْقٍ أَوْ نَسَبٍ لَمْ أُوجِبْ عَلَى الْمُنْكِرِ الْيَمِينَ، وَلَمْ أَحْكُمْ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ.

Dan jika gugatan itu mengenai nikah, talak, ‘itq (pembebasan budak), atau nasab, maka aku tidak mewajibkan sumpah atas pihak yang mengingkari, dan aku tidak memutuskan hukum atasnya karena enggan bersumpah.

وَلِوُجُوبِ الْأَيْمَانِ فِي جَمِيعِ الدَّعَاوَى مَوْضِعٌ يَأْتِي، وَهَذَا الْمَوْضِعُ مُخْتَصٌّ بِالنُّكُولِ عَنِ الْيَمِينِ إِذَا وَجَبَتْ عَلَى الْمُنْكِرِ، هَلْ يُقْضَى عَلَيْهِ بِنُكُولِهِ عَنْهَا؟

Adapun kewajiban sumpah dalam seluruh gugatan akan dibahas pada tempatnya. Adapun pembahasan ini khusus mengenai penolakan untuk bersumpah apabila sumpah itu telah diwajibkan atas pihak yang mengingkari, apakah diputuskan perkara atasnya karena ia menolak bersumpah?

وَاسْتَدَلَّ مَنْ قَضَى عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، بِبِنَائِهِ عَلَى مَذْهَبِهِ أَنَّ الْيَمِينَ تَخْتَصُّ بِالْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تُنْقَلَ إِلَى الْمُدَّعِي، وَلِذَلِكَ لَمْ يُقْضَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَكَانَتِ الدَّلَائِلُ مُشْتَرِكَةً فِي الْمَوْضِعَيْنِ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ حِينَ أَنْكَرَهُ الْكِنْدِيُّ: ” أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: لَكَ يَمِينُهُ لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ “، فَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ حَقَّهُ فِي أَحَدِ أَمْرَيْنِ بَيِّنَتُهُ أَوْ يَمِينُ خَصْمِهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ لَا حَقَّ لَهُ فِي يَمِينِ نَفْسِهِ قَالُوا: وَلِأَنَّ الْبَيِّنَةَ حُجَّةٌ لِلْمُدَّعِي، وَالْيَمِينَ حُجَّةٌ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ تُنْقَلَ حُجَّةُ الْمُدَّعِي، وَهِيَ الْبَيِّنَةُ إِلَى الْمُدَّعِي لَمْ يَجُزْ أَنْ تَنْقِلَ حَقَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَهُوَ الْيَمِينُ إِلَى الْمُدَّعِي قَالُوا وَلِأَنَّ الْبَيِّنَةَ مَوْضُوعَةٌ لِلْإِثْبَاتِ، وَالْيَمِينَ مَوْضُوعَةٌ لِلنَّفْيِ، فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْدَلَ بِالْبَيِّنَةِ إِلَى النَّفْيِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْدَلَ بِالْيَمِينِ إِلَى الْإِثْبَاتِ.

Orang yang memutuskan perkara atas dasar penolakan sumpah berdalil dengan membangunnya di atas mazhabnya bahwa sumpah itu khusus bagi tergugat, dan tidak boleh dipindahkan kepada penggugat. Oleh karena itu, tidak diputuskan perkara dengan saksi dan sumpah. Maka, dalil-dalilnya sama dalam kedua posisi tersebut, dengan berdalil pada sabda Nabi ﷺ kepada al-Hadhrami ketika al-Kindi mengingkarinya: “Apakah engkau punya bukti?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Engkau hanya berhak atas sumpahnya, tidak ada hak bagimu darinya kecuali itu.” Maka beliau menjelaskan kepadanya bahwa haknya ada pada salah satu dari dua hal: buktinya atau sumpah lawannya. Ini menunjukkan bahwa ia tidak berhak atas sumpah dirinya sendiri. Mereka berkata: Karena bukti adalah hujjah bagi penggugat, dan sumpah adalah hujjah bagi tergugat. Maka, ketika tidak boleh memindahkan hujjah penggugat, yaitu bukti, kepada tergugat, tidak boleh pula memindahkan hak tergugat, yaitu sumpah, kepada penggugat. Mereka juga berkata: Karena bukti itu ditetapkan untuk menetapkan (kebenaran), dan sumpah ditetapkan untuk menolak (gugatan). Maka, sebagaimana tidak boleh mengalihkan bukti untuk menolak, tidak boleh pula mengalihkan sumpah untuk menetapkan.

قَالُوا: وَلِأَنَّهَا قَوْلُ الْمُدَّعِي، فَوَجَبَ أَنْ لَا يَلْزَمَ بِهِ حُكْمٌ كَالدَّعْوَى.

Mereka berkata: Karena itu adalah pernyataan pihak yang mengklaim, maka tidak wajib ditetapkan hukum atasnya, sebagaimana gugatan.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ رَجَّحَ دَعْوَاهُ بِقَوْلِهِ، فَلَمْ يَقْضِ فِيهِ، كَتَكْرِيرِ الدَّعْوَى.

Mereka berkata: Karena ia telah menguatkan pengakuannya dengan ucapannya, maka tidak diputuskan perkara tersebut, seperti halnya pengulangan pengakuan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَدَلِيلُنَا مِنَ الْكِتَابِ قَوْله تَعَالَى: {أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ} [المائدة: 108] أَيْ بَعْدَ الِامْتِنَاعِ مِنَ الْأَيْمَانِ الْوَاجِبَةِ، فَدَلَّ عَلَى نَقْلِ الْأَيْمَانِ مِنْ جِهَةٍ إِلَى جِهَةٍ. وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ السُّنَّةِ مَا رَوَاهُ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ طَلَبَ طَلَبَهُ بِغَيْرِ بَيَّنَةٍ، فَالْمَطْلُوبُ أَوْلَى بِالْيَمِينِ مِنَ الْطَالِبِ “.

Dan dalil kami dari al-Kitab adalah firman Allah Ta‘ala: “Atau mereka takut bahwa akan dikembalikan sumpah-sumpah setelah sumpah-sumpah mereka” (al-Mā’idah: 108), yaitu setelah menolak untuk bersumpah yang wajib. Maka ini menunjukkan adanya perpindahan sumpah dari satu pihak ke pihak lain. Dan yang menunjukkan hal itu dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa menuntut sesuatu tanpa bukti, maka pihak yang dituntut lebih berhak untuk bersumpah daripada pihak yang menuntut.”

وَرَوَى عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْمَطْلُوبُ أَوْلَى بِالْيَمِينِ مِنَ الطَّالِبِ “.

Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Pihak yang dituntut lebih berhak bersumpah daripada pihak yang menuntut.”

فَوَجْهُ الدَّلِيلِ مِنْ هَذَيْنِ الْخَبَرَيْنِ [أَنْ ” أَوْلَى “] يُسْتَعْمَلُ حَقِيقَةً فِي الِاشْتِرَاكِ فِيمَا يَتَرَجَّحُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ، كَقَوْلِكَ: زِيدٌ أَفْقَهُ مِنْ عَمْرٍو، إِذَا اشْتَرَكَا فِي الْفِقْهِ، وَزَادَ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ.

Jadi, sisi pendalilan dari dua hadis ini adalah bahwa kata “awlā” (lebih utama) digunakan secara hakiki dalam makna adanya kesamaan dalam suatu hal di mana salah satunya lebih unggul dari yang lain, seperti ucapanmu: “Zaid lebih faqih daripada Amr,” apabila keduanya sama-sama memiliki ilmu fiqh, namun salah satunya melebihi yang lain.

وَلَا يُقَالُ: زِيدٌ أَفْقَهُ فِيمَنْ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، إِلَّا عَلَى وَجْهِ الْمَجَازِ.

Dan tidak dikatakan: “Zaid lebih faqih di antara orang yang bukan faqih,” kecuali dalam makna majaz (kiasan).

فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلطَّالِبِ حَقٌّ فِي الْيَمِينِ لَمَا جُعِلَ الْمَطْلُوبُ أَوْلَى مِنْهُ، فَيَكُونُ أَوْلَى فِي الِابْتِدَاءِ، وَيُنْقَلُ عِنْدَ امْتِنَاعِهِ فِي الِانْتِهَاءِ.

Maka, jika penuntut tidak memiliki hak atas sumpah, tentu pihak yang dituntut tidak akan lebih utama darinya. Maka, pihak yang dituntut lebih utama dalam permulaan, dan sumpah itu berpindah kepada penuntut ketika pihak yang dituntut menolak di akhir.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَى اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَدَّ الْيَمِينَ عَلَى طَالِبِ حَقٍّ، وَهَذَا نَصٌّ ذَكَرَهُ أَبُو الْوَلِيدِ فِي الْمُخَرَّجِ، وَالدَّارَقُطْنِيُّ فِي الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، وَلِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِلْأَنْصَارِ فَيَ دَعْوَى الْقَتْلِ عَلَى يَهُودِ خَيْبَرَ: ” تَحْلِفُونَ وَتَسْتَحِقُّونَ دَمَ صَاحِبِكُمْ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَيُبَرِّئُكُمْ يَهُودُ بِخَمْسِينَ يَمِينًا “.

Hal ini didukung oleh riwayat dari Laits bin Sa‘d dari Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi ﷺ mengembalikan sumpah kepada pihak yang menuntut hak. Ini adalah nash yang disebutkan oleh Abu al-Walid dalam al-Mukharrij dan oleh ad-Daraquthni dalam bab sumpah bersama saksi. Karena Nabi ﷺ pernah berkata kepada kaum Anshar dalam perkara tuduhan pembunuhan terhadap Yahudi Khaibar: “Apakah kalian akan bersumpah dan berhak atas darah saudara kalian?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, Yahudi membebaskan kalian dengan lima puluh sumpah.”

فَدَلَّ هَذَا عَلَى نَقْلِ الْيَمِينِ مِنْ جِهَةٍ إِلَى جِهَةٍ، وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يَرَاهُ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ. وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَعْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَجْرَى فَرَسًا، فوطىء عَلَى أُصْبُعِ رَجُلٍ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَتَأَلَّمَ مِنْهَا دَهْرًا، ثُمَّ مَاتَ، فَتَنَازَعُوا إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِمْ: تَحْلِفُونَ خَمْسِينَ يَمِينًا أَنَّهُ مَا مَاتَ مِنْهَا، فَأَبَوْا، فَقَالَ لِلْمُدَّعِينَ: احْلِفُوا أَنْتُمْ، فَأَبَوْا “.

Maka hal ini menunjukkan adanya pemindahan sumpah dari satu pihak ke pihak lain, sedangkan Abu Hanifah tidak memandang demikian, dan hal ini didukung oleh ijmā‘ para sahabat. Asy-Syafi‘i meriwayatkan dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sulaiman bin Yasar, bahwa seorang laki-laki dari Bani Sa‘d bin Tsabit menjalankan kudanya, lalu kuda itu menginjak jari seorang laki-laki dari Juhainah, sehingga ia merasakan sakit karenanya dalam waktu yang lama, kemudian ia meninggal dunia. Maka mereka berselisih dan mengadukannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar berkata kepada pihak yang didakwa: “Kalian bersumpah lima puluh kali bahwa ia tidak mati karena sebab itu.” Namun mereka menolak. Lalu Umar berkata kepada pihak penggugat: “Kalian bersumpahlah.” Namun mereka juga menolak.

وَهَذِهِ قَضِيَّةٌ مَشْهُورَةٌ فِي رَدِّ الْيَمِينِ لَمْ يَظْهَرْ فِيهَا مُخَالِفٌ.

Ini adalah kasus yang masyhur dalam hal pengembalian sumpah, di mana tidak tampak adanya pihak yang berbeda pendapat di dalamnya.

وَقَدْ رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى عُمَرَ، فَحَلَفَ، وَاسْتَحَقَّ، وَرُدَّتْ عَلَى زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، فَحَلَفَ. وَرُوِيَ أَنَّ الْمِقْدَادَ اقْتَرَضَ مِنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ مَالًا، قَالَ عُثْمَانُ: هِيَ سَبْعَةُ آلَافٍ، فَاعْتَرَفَ الْمِقْدَادُ بِأَرْبَعَةِ آلَافٍ، وَتَنَازَعَا إِلَى عُمَرَ، فَقَالَ الْمِقْدَادُ لِعُثْمَانَ: احْلِفْ إِنَّهَا سَبْعَةُ آلَافٍ! فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ أَنْصَفَكَ، فَلَمْ يَحْلِفْ عُثْمَانُ، فَلَمَّا وَلَّى الْمِقْدَادُ قَالَ عُثْمَانُ: وَاللَّهِ لَقَدْ أَقْرَضْتُهُ سَبْعَةَ آلَافٍ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لِمَ لَمْ تَحْلِفْ قَبْلُ أَوْلَى؟ فَقَالَ: وَمَا عَلَيَّ أَنْ أَحْلِفَ، وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَأَرْضٌ وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَسَمَاءٌ، فَقَالَ عُثْمَانُ: خَشِيتُ أَنْ يُوافِقَ قَدَرَ بَلَاءٍ، فَيُقَالَ: بِيَمِينِهِ “.

Sumpah pernah dikembalikan kepada ‘Umar, lalu ia bersumpah dan berhak (atas haknya), dan juga dikembalikan kepada Zaid bin Tsabit, lalu ia pun bersumpah. Diriwayatkan bahwa Al-Miqdad pernah meminjam uang dari ‘Utsman bin ‘Affan. ‘Utsman berkata, “Jumlahnya tujuh ribu.” Al-Miqdad mengakui empat ribu, lalu mereka berselisih dan mengadukannya kepada ‘Umar. Al-Miqdad berkata kepada ‘Utsman, “Bersumpahlah bahwa itu memang tujuh ribu!” Maka ‘Umar berkata kepadanya, “Sungguh, ia telah berlaku adil kepadamu.” Namun ‘Utsman tidak bersumpah. Ketika Al-Miqdad pergi, ‘Utsman berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah meminjamkannya tujuh ribu.” ‘Umar pun berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak bersumpah tadi saja?” Ia menjawab, “Apa urusanku harus bersumpah? Demi Allah, ini adalah bumi, demi Allah, ini adalah langit.” Lalu ‘Utsman berkata, “Aku khawatir sumpah itu bertepatan dengan takdir musibah, lalu dikatakan: ‘Karena sumpahnya.’”

وَهَذَا مُسْتَفِيضٌ فِي الصَّحَابَةِ لَمْ يَظْهَرْ فِيهِمْ مُخَالِفٌ، فَثَبَتَ أَنَّهُ إِجْمَاعٌ.

Hal ini telah tersebar luas di kalangan para sahabat dan tidak tampak di antara mereka orang yang menyelisihi, maka tetaplah bahwa hal itu merupakan ijmā‘.

فَإِنْ قِيلَ: قَدْ خَالَفَهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِيمَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا ابْتَاعَ مِنْ رَجُلٍ عَبْدًا، فَأَصَابَ بِهِ عَيْبًا، فَتَرَافَعَا إِلَى شُرَيْحٍ، فَقَالَ لِلْبَائِعِ: احْلِفْ، فَقَالَ: أَرُدُّ الْيَمِينَ، فَقَالَ شُرَيْحٌ: لَا، فَقَالَ عَلِيٌّ: قَالُونَ، وَهِيَ كَلِمَةٌ رُومِيَّةٌ قِيلَ: إِنْ مَعْنَاهَا جَيِّدٌ، فَصَوَّبَ بِهَا امْتِنَاعَ شُرَيْحٍ مِنْ رَدِّ الْيَمِينِ، فَصَارَ قَائِلًا بِهِ، وَمَنَعَ هَذَا مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ.

Jika dikatakan: Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam telah berbeda pendapat dengan mereka dalam riwayat bahwa seorang laki-laki membeli seorang budak dari laki-laki lain, lalu ia mendapati ada cacat pada budak itu, maka keduanya mengadukan perkara kepada Syuraih. Syuraih berkata kepada penjual: “Bersumpahlah.” Penjual berkata: “Saya menolak sumpah.” Syuraih berkata: “Tidak.” Maka Ali berkata: “Qālūn,” yaitu sebuah kata dalam bahasa Romawi yang dikatakan bermakna “baik.” Dengan kata itu, Ali membenarkan penolakan Syuraih untuk menerima penolakan sumpah, sehingga Ali menjadi pendukung pendapat tersebut, dan hal ini mencegah terjadinya ijmā‘.

قِيلَ: هَذِهِ كَلِمَةٌ لَا تَعْرِفُ الْعَرَبُ مَعْنَاهَا، لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ لُغَتِهِمْ، وَلَوْ أَرَادَ مَا ذُكِرَ مِنْ مَعْنَاهَا: لَأَفْصَحَ بِهِ، وَلَعَبَّرَ عَنْهُ بِمَا يُفْهَمُ مِنْهُ، عَلَى أَنَّ قَوْلَهُ: قَالُونَ بِمَعْنَى جَيِّدٍ، يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ أَنَّ مَا قَالَهُ شُرَيْحٌ جَيِّدٌ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ أَنَّ مَا قَالَهُ الْبَائِعُ جَيِّدٌ، فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ مَعَ هَذَا الِاحْتِمَالِ، مَا يَمْنَعُ مِنِ انْعِقَادِ إِجْمَاعٍ قَدِ انْتَفَى عَنْهُ الِاحْتِمَالُ.

Dikatakan: Ini adalah sebuah kata yang tidak diketahui maknanya oleh orang Arab, karena kata tersebut bukan berasal dari bahasa mereka. Seandainya yang dimaksud adalah makna yang telah disebutkan, tentu akan diungkapkan dengan jelas dan diekspresikan dengan kata-kata yang dapat dipahami darinya. Adapun ucapannya: “Qālūn” yang bermakna “baik”, bisa jadi yang dimaksud adalah bahwa apa yang dikatakan oleh Syuraih itu baik, dan bisa juga yang dimaksud adalah bahwa apa yang dikatakan oleh penjual itu baik. Maka, selama masih ada kemungkinan seperti ini, tidak ada sesuatu pun yang dapat mencegah terjadinya ijmā‘ yang telah terbebas dari kemungkinan tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَيَدُلُّ عَلَيْهِ الِاعْتِبَارُ بِالْمَعَانِي الْمَعْقُولَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Hal ini juga didukung oleh pertimbangan makna-makna yang dapat dipahami dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: امْتِنَاعُ الْحُكْمِ بِالنُّكُولِ.

Salah satunya adalah tidak bolehnya menetapkan hukum dengan penolakan.

وَالثَّانِي: جَوَازُ رَدِّ الْيَمِينِ.

Kedua: Bolehnya mengembalikan sumpah.

فَأَمَّا امْتِنَاعُ الْحُكْمِ بِالنُّكُولِ فَدَلِيلُهُ مِنْ وُجُوهٍ مِنْهَا: أَنَّ إِثْبَاتَ الْحَقِّ لَا يَكُونُ بِنَفْيِهِ، لِأَنَّهُ ضِدُّ مُوجِبِهِ، وَمِنَ الْمُمْتَنِعِ أَنَّ وُجُودَ الضِّدِّ نافي لِحُكْمِهِ، وَمُثْبِتٌ لِحُكْمِ ضِدِّهِ، كَالْإِقْرَارِ لَا يُوجِبُ إِنْكَارًا كَذَلِكَ الْإِنْكَارُ لَا يُوجِبُ إِقْرَارًا، وَيَجْرِي هَذَا الِاسْتِدْلَالُ قِيَاسًا، وَإِنْ كَانَ الِاسْتِدْلَالُ أَصَحَّ أَنَّهُ إِنْكَارٌ، فَلَمْ يَثْبُتْ بِهِ حِكَمُ الْإِقْرَارِ، كَالتَّكْذِيبِ لَا يَثْبُتُ بِهِ حَقُّ التَّصْدِيقِ.

Adapun larangan menetapkan hukum berdasarkan penolakan (nukūl), dalilnya ada beberapa sisi. Di antaranya: menetapkan hak tidak bisa dilakukan dengan menafikannya, karena itu adalah lawan dari sebab yang mewajibkannya. Dan tidak mungkin keberadaan sesuatu yang berlawanan menafikan hukum dari lawannya, serta menetapkan hukum bagi lawan tersebut. Seperti halnya pengakuan tidak mewajibkan penolakan, demikian pula penolakan tidak mewajibkan pengakuan. Dalil ini berlaku secara qiyās, meskipun dalil yang lebih tepat adalah bahwa penolakan itu adalah penolakan, sehingga tidak dapat ditetapkan hukum pengakuan dengannya, sebagaimana pendustaan tidak dapat menetapkan hak pembenaran.

وَمِنْهَا أَنَّهُ نُكُولٌ عَنْ يَمِينٍ، فَلَمْ يَجِبْ بِهَا قَبُولُ الْحَقِّ كَالْحَدِّ وَالْقِصَاصِ.

Di antaranya adalah bahwa ia merupakan penolakan terhadap sumpah, sehingga tidak wajib dengan itu menerima hak, seperti dalam kasus hudud dan qishash.

فَإِنْ قِيلَ: النُّكُولُ حُجَّةٌ ضَعِيفَةٌ، فَجَازَ أَنْ يَثْبُتَ بِهَا أَخَفُّ الْحُقُوقِ دُونَ أَغْلَظِهَا كَالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ يَثْبُتُ بِهَا الْأَمْوَالُ، وَلَا يَثْبُتُ بِهَا الْحُدُودُ وَالْقِصَاصُ.

Jika dikatakan: penolakan bersumpah (nukūl) adalah hujjah yang lemah, maka boleh jadi dengannya dapat ditetapkan hak-hak yang ringan saja, tidak hak-hak yang berat, sebagaimana kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan dapat menetapkan perkara harta, namun tidak dapat menetapkan hudūd dan qishāsh.

قِيلَ: إِنَّمَا ضَعُفَ الشَّاهِدُ وَالْمَرْأَتَانِ لِنَقْصِ النِّسَاءِ عَنْ كَمَالِ الرِّجَالِ، وَالنَّاكِلُ عَنْ الْيَمِينِ كَامِلٌ، وَجَبَ أَنْ يَجْرِيَ عَلَى نُكُولِهِ حُكْمُ الْكَمَالِ، وَلَمْ يَقَعْ بِهِ الْفَرْقُ بَيْنَ نُكُولِ الرِّجَالِ، وَالنِّسَاءِ، فَبَطَلَ بِهِ هَذَا التَّعْلِيلُ.

Dikatakan: Saksi laki-laki dan dua perempuan itu dianggap lemah karena perempuan dianggap kurang sempurna dibandingkan laki-laki, sedangkan orang yang menolak bersumpah adalah orang yang sempurna, maka seharusnya pada penolakannya berlaku hukum kesempurnaan. Tidak ada perbedaan antara penolakan sumpah oleh laki-laki dan perempuan, sehingga alasan ini menjadi batal.

فَإِنْ قِيلَ: النُّكُولُ عَنِ الْيَمِينِ يَجْرِي مَجْرَى تَرْكِ الْحَقِّ، وَبَذْلُ الْأَمْوَالِ يَصِحُّ، فَيَثْبُتُ بِالنُّكُولِ، وَبَذْلُ الْحُدُودِ وَالنُّفُوسِ لَا يَصِحُّ، فَلَمْ يَثْبُتْ بِالنُّكُولِ.

Jika dikatakan: menolak bersumpah itu sama dengan meninggalkan hak, dan penyerahan harta itu sah, maka hak dapat ditetapkan dengan penolakan bersumpah; sedangkan penyerahan hudud dan jiwa tidak sah, maka hudud dan jiwa tidak dapat ditetapkan dengan penolakan bersumpah.

قِيلَ: النُّكُولُ تَرْكٌ لِلْحُجَّةِ، وَلَيْسَ بِبَذْلٍ لِلْحَقِّ، وَلَوْ كَانَ بَذْلًا لَثَبَتَ حُكْمُهُ بِالنُّكُولِ الْأَوَّلِ كَسَائِرِ الْبُذُولِ، وَهُمْ لَا يُثْبِتُونَهُ إِلَّا بَعْدَ نُكُولِهِ ثَلَاثًا، 7 فَخَرَجَ عَنْ صِفَةِ الْبَذْلِ، فَزَالَ عَنْهُ حُكْمُ الْبَذْلِ، وَيَتَحَرَّرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى قِيَاسَانِ:

Dikatakan: Nukul (menolak bersumpah) adalah meninggalkan hujjah, dan bukan merupakan penyerahan hak. Jika itu adalah penyerahan, maka hukumnya akan tetap dengan nukul yang pertama seperti halnya penyerahan-penyerahan lainnya, sedangkan mereka (para ulama) tidak menetapkannya kecuali setelah ia menolak bersumpah tiga kali. Maka, hal itu keluar dari sifat penyerahan, sehingga hukum penyerahan tidak berlaku padanya. Dari makna ini, terdapat dua qiyās yang dapat disimpulkan.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ نُكُولٌ لَا يُقْضَى بِهِ فِي الْقِصَاصِ، فَلَمْ يُقْضَ بِهِ فِي الْأَمْوَالِ كَالنُّكُولِ الْأَوَّلِ.

Salah satunya: bahwa itu adalah penolakan (nukūl) yang tidak dapat dijadikan dasar putusan dalam kasus qishāsh, maka tidak diputuskan pula dengannya dalam perkara harta, sebagaimana penolakan (nukūl) yang pertama.

وَالْقِيَاسُ الثَّانِي: أَنَّهُ حَقٌّ لَا يَثْبُتُ بِالنُّكُولِ الْأَوَّلِ، فَلَمْ يَثْبُتْ بِالنُّكُولِ الثَّالِثِ كَالْقِصَاصِ.

Qiyās yang kedua: Sesungguhnya itu adalah hak yang tidak dapat ditetapkan dengan penolakan yang pertama, maka tidak dapat pula ditetapkan dengan penolakan yang ketiga, seperti qishāsh.

وَمِنْهَا: أَنَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لَوْ سَكَتَ عَنْ جَوَابِ الدَّعْوَى، فَلَمْ يُقِرَّ، وَلَمْ يُنْكِرْ لَمْ يُقْضَ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ، فَكَانَ إِذَا أَنْكَرَ وَنَكَلَ أَوْلَى أَنْ يُقْضَى عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ لِأَمْرَيْنِ:

Di antaranya: Jika tergugat diam saja tanpa menjawab gugatan, tidak mengakui dan tidak pula mengingkari, maka menurut Abu Hanifah tidak diputuskan atasnya dengan hukum nukul (menolak bersumpah). Maka apabila ia mengingkari lalu menolak bersumpah, lebih utama untuk diputuskan atasnya dengan hukum nukul karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ السُّكُوتَ يَحْتَمِلُ الْإِقْرَارَ وَالْإِنْكَارَ لَا يَحْتَمِلُ الْإِقْرَارَ.

Salah satunya adalah bahwa diam itu bisa mengandung pengakuan dan penolakan, tidak hanya mengandung pengakuan.

وَالثَّانِي: أَنَّ فِي سُكُوتِهِ امْتِنَاعًا مِنْ أَمْرَيْنِ: الْجَوَابُ وَالْيَمِينُ وَفِي نُكُولِهِ امْتِنَاعٌ مِنَ الْيَمِينِ دُونَ الْجَوَابِ، فَكَانَ امْتِنَاعُهُ مِنْ أَحَدِهِمَا أَخَفَّ حُكْمًا مِنِ امْتِنَاعِهِ مِنْهُمَا وَيَتَحَرَّرُ مِنْ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسَانِ:

Kedua: Sesungguhnya dalam diamnya terdapat penolakan terhadap dua hal: jawaban dan sumpah, sedangkan dalam penolakannya (nukūl) hanya terdapat penolakan terhadap sumpah tanpa jawaban. Maka penolakannya terhadap salah satu dari keduanya lebih ringan hukumnya daripada penolakannya terhadap keduanya sekaligus. Dari istidlāl ini dapat diambil dua qiyās.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ امْتِنَاعٌ مِنْ لَفْظٍ وَجَبَ بِالدَّعْوَى، فَلَمْ يُوجِبِ الْحُكْمَ بِالدَّعْوَى كَالثَّالِثِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan penolakan terhadap suatu lafaz yang diwajibkan karena adanya klaim, maka hal itu tidak mewajibkan penetapan hukum berdasarkan klaim tersebut, sebagaimana halnya pada kasus yang ketiga.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ أَحَدُ لَفْظَيْ مَا وَجَبَ بِالدَّعْوَى، فَلَمْ يَكُنِ السُّكُوتُ عَنْهُ مُوجِبًا لِلْحُكْمِ بِالدَّعْوَى كَالْجَوَابِ.

Kedua: Sesungguhnya ia adalah salah satu dari dua lafaz yang wajib dalam dakwaan, maka diam darinya tidak menyebabkan ditetapkannya hukum atas dakwaan sebagaimana jawaban.

وَمِنْهَا: أَنْ يَمِينَ الْمُنْكَرِ يَقْطَعُ الْخُصُومَةَ، وَلَا يُسْقِطُ الْحَقَّ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ لَوْ قَامَتْ بِهِ بَعْدَ الْيَمِينِ وَجَبَ، فَاقْتَضَى ذَلِكَ أَنْ يَثْبُتَ بِالنُّكُولِ عَنْهَا مَا كَانَ مُنْقَطِعًا، وَهُوَ بَقَاءُ الْخُصُومَةِ لَا ثُبُوتُ الْحَقِّ كَمَا أَنَّ الْبَيِّنَةَ لما كانت موجبة لثبوت الحق كان العدول عَنْهَا مَانِعًا مِنْ سُقُوطِهِ بِهَا.

Di antaranya: Sumpah penolakan memutuskan persengketaan, namun tidak menggugurkan hak, karena jika ada bayyinah (bukti yang jelas) yang muncul setelah sumpah, maka hak tersebut tetap wajib. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penolakan sumpah, yang tetap hanyalah keberlangsungan persengketaan, bukan penetapan hak. Sebagaimana bayyinah, karena ia menetapkan hak, maka berpaling darinya menjadi penghalang bagi gugurnya hak dengan sumpah.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا هُوَ أَنَّ مَا يَثْبُتُ بِحُجَّةٍ وُقِفَ بِعَدَمِهَا كَالْبَيِّنَةِ.

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa sesuatu yang dapat ditetapkan dengan suatu hujah, maka jika hujah itu tidak ada, penetapannya pun terhenti, sebagaimana halnya dengan bayyinah.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْوَجْهُ الثَّانِي فِي جَوَازِ رَدِّ الْيَمِينِ فَالدَّلِيلُ عَلَى جَوَازِهِ مِنْ طَرِيقِ الْمَعْنَى هُوَ أَنَّ يَمِينَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ حُجَّةٌ لَهُ فِي النَّفْيِ، كَمَا أَنَّ بَيِّنَةَ الْمُدَّعِي حِجَّةٌ لَهُ فِي الْإِثْبَاتِ، فَلَمَّا كَانَ تَرْكُ الْمُدَّعِي لِحُجَّتِهِ مُوجِبًا لِلْعُدُولِ إِلَى يَمِينِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ تَرْكُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لِحُجَّتِهِ مُوجِبًا لِلْعُدُولِ إِلَى يَمِينِ الْمُدَّعِي.

Adapun alasan kedua tentang bolehnya pemindahan sumpah, dalil yang menunjukkan kebolehannya dari segi makna adalah bahwa sumpah yang diucapkan oleh tergugat merupakan hujjah baginya dalam menolak tuntutan, sebagaimana bukti (bayyinah) yang diajukan oleh penggugat merupakan hujjah baginya dalam menetapkan tuntutan. Maka, ketika penggugat meninggalkan hujjahnya sehingga beralih kepada sumpah tergugat, seharusnya ketika tergugat meninggalkan hujjahnya juga beralih kepada sumpah penggugat.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا أَنَّهَا حُجَّةُ أَحَدِ الْمُتَدَاعِيَيْنِ ابْتِدَاءً، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ تَرْكُهَا مُوجِبًا لِلْعُدُولِ إِلَى يَمِينِ صَاحِبِهِ، كَتَرْكِ الْبَيِّنَةِ.

Dan penjelasannya secara qiyās adalah bahwa sumpah itu merupakan hujjah salah satu dari kedua pihak yang bersengketa pada awalnya, maka wajib jika ia meninggalkannya untuk beralih kepada sumpah lawannya, sebagaimana meninggalkan bayyinah.

فَإِنْ قِيلَ: هَذَا بَاطِلٌ تُرَدُّ الْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعِي إِذَا امْتَنَعَ مِنْهَا لَمْ يُوجِبْ رَدَّهَا عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، قُلْنَا: التَّعْلِيلُ إِنَّمَا كَانَ لِلْحُجَّةِ الْمُبْتَدَأَةِ، وَبِذَلِكَ قُلْنَا: إِنَّهَا حُجَّةُ أَحَدِ الْمُتَدَاعِيَيْنِ ابْتِدَاءً، وَلَيْسَتْ يَمِينُ الرَّدِّ مِنَ الْحُجَجِ الْمُبْتَدَأَةِ، فَلَمْ يَقْدَحْ فِي التَّعْلِيلِ.

Jika dikatakan: Ini tidak benar, sumpah dikembalikan kepada penggugat jika tergugat menolak bersumpah, tidak mewajibkan pengembaliannya kepada tergugat; kami katakan: alasan tersebut hanya berlaku untuk dalil yang diajukan pertama kali, dan karena itu kami katakan: sumpah itu adalah dalil salah satu dari dua pihak yang bersengketa pada awalnya, dan sumpah pengembalian bukanlah termasuk dalil yang diajukan pertama kali, sehingga hal itu tidak merusak alasan tersebut.

فَإِنْ قَالُوا: نَقْلِبُهَا، فَنَقُولُ؛ لِأَنَّهَا حُجَّةُ أَحَدِ الْمُتَدَاعِيَيْنِ، فَإِذَا امْتَنَعَ مِنْهَا لَمْ تُنْقَلْ إِلَى جَنَبَةِ صَاحِبِهِ، كَالْبَيِّنَةِ.

Jika mereka berkata: “Kami membaliknya,” maka kami katakan: Karena itu adalah hujjah salah satu dari dua pihak yang bersengketa, maka apabila ia menolak darinya, tidak dipindahkan kepada pihak lawannya, seperti halnya bayyinah.

قُلْنَا: نَقُولُ بِهَذَا الْقَلْبِ، لِأَنَّ يَمِينَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لِلنَّفْيِ، وَهِيَ لَا تُنْقَلُ إِلَى الْمُدَّعِي، وَإِنَّمَا تُنْقَلُ إليه يمين الإثبات، وبينة المدعي للإثبات، وَنَقْلُهَا إِلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لِلنَّفْيِ، وَالْبَيِّنَةُ مُسْتَعْمَلَةٌ فِي الْإِثْبَاتِ دُونَ النَّفْيِ، وَالْيَمِينُ مُسْتَعْمَلَةٌ فِي الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ، فَصَحَّ قَلْبُنَا، وَفَسَدَ قَلْبُهُمْ.

Kami katakan: Kami berpendapat dengan pembalikan ini, karena sumpah yang dibebankan kepada tergugat adalah untuk penolakan, dan sumpah tersebut tidak dipindahkan kepada penggugat. Yang dipindahkan kepadanya adalah sumpah untuk penetapan, sedangkan bukti dari penggugat adalah untuk penetapan. Memindahkan bukti kepada tergugat adalah untuk penolakan, sementara bukti digunakan untuk penetapan, bukan untuk penolakan. Sumpah digunakan untuk penetapan dan penolakan. Maka benarlah pembalikan menurut kami, dan rusaklah pembalikan menurut mereka.

وَلِأَنَّ أُصُولَ الشَّرْعِ مَوْضُوعَةٌ عَلَى إِثْبَاتِ الْيَمِينِ فِي جَنَبَةِ أَقْوَى الْخَصْمَيْنِ، وَأَقْوَاهُمَا فِي الِابْتِدَاءِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ،. لِأَنَّ الْأَصْلَ بَرَاءَةُ ذِمَّتِهِ، مِمَّا ادُّعِىَ عَلَيْهِ وَثُبُوتُ مِلْكِهِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ، فَجُعِلَتِ الْيَمِينُ فِي جَنَبَتِهِ، فَلَمَّا نَكَلَ فِيهَا، صَارَ الْمُدَّعِي أَقْوَى مِنْهُ؛ لِأَنَّ تَوَقُّفَهُ عَنِ الْيَمِينِ شُبْهَةٌ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى، فَصَارَ الْمُدَّعِي بِهَا أَقْوَى مِنْهُ، فَاسْتَحَقَّتِ الْيَمِينُ فِي جَنَبَتِهِ، لِقُوَّتِهِ. [كَمَا ثَبَتَتْ فِي جَنَبَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ حَالَ ثُبُوتِ قُوَّتِهِ] ،

Karena prinsip-prinsip syariat ditetapkan untuk meletakkan sumpah pada pihak yang lebih kuat di antara dua pihak yang bersengketa, dan yang lebih kuat pada awalnya adalah pihak tergugat, karena pada dasarnya ia bebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan kepemilikannya atas apa yang ada di tangannya dianggap sah. Maka sumpah pun diletakkan pada pihaknya. Namun ketika ia enggan bersumpah, maka pihak penggugat menjadi lebih kuat darinya, karena penolakannya untuk bersumpah menimbulkan dugaan kebenaran gugatan. Dengan demikian, penggugat menjadi lebih kuat darinya, sehingga sumpah beralih kepada pihak penggugat karena kekuatannya, sebagaimana sumpah itu sebelumnya ditetapkan pada pihak tergugat ketika ia yang lebih kuat.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا: أَنَّهَا جَنَبَةٌ قَوِيَتْ عَلَى صَاحِبَتِهَا، فَاقْتَضَى أَنْ تَكُونَ الْيَمِينُ مِنْ جِهَتِهَا كَالْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَبْلَ النُّكُولِ، وَهِيَ حَالُ قُوَّتِهَا.

Penjelasannya secara qiyās: bahwa ia adalah jinābah yang lebih kuat atas pemiliknya, sehingga mengharuskan sumpah (yamin) berasal dari pihaknya, seperti halnya orang yang didakwa sebelum menolak (bersumpah), dan itulah keadaan ketika ia dalam kondisi kuatnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ بِنَائِهِمْ عَلَى رَدِّ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ، فَهُوَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ إِثْبَاتِ الْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ.

Adapun jawaban terhadap dasar mereka yang membangun pendapat atas penolakan sumpah bersama saksi, maka itu adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya tentang penetapan sumpah bersama saksi.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِقَوْلِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ: ” لَكَ يَمِينُهُ لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ “. فَهُوَ أَنَّ خَصْمَهُ كَانَ بَاذِلًا لِلْيَمِينِ، وَلَيْسَ لِلطَّالِبِ مَعَ بَذْلِ الْيَمِينِ إِلَّا الْيَمِينُ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan sabda Rasulullah ﷺ kepada orang Hadhrami: “Bagimu hanyalah sumpahnya, tidak ada hak bagimu darinya kecuali itu,” maka sesungguhnya lawannya telah bersedia mengucapkan sumpah, dan bagi pihak yang menuntut, jika lawan telah bersedia bersumpah, maka ia hanya berhak atas sumpah tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْبَيِّنَةِ، فَهُوَ أَنَّ الْبَيِّنَةَ مُسْتَعْمَلَةٌ فِي الْإِثْبَاتِ دُونَ النَّفْيِ، فَلَمْ تُنْقَلْ إِلَى جَنَبَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ يَنْفِي بِهَا، وَلَا يُثْبِتُ، وَالْيَمِينُ مُسْتَعْمَلَةٌ فِي النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ جَمِيعًا، فَجَازَ نَقْلُهَا عَنِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِذَا لَمْ يَنْفِ بِهَا إِلَى الْمُدَّعِي لِيُثْبِتَ بِهَا.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan al-bayyinah adalah bahwa al-bayyinah digunakan untuk pembuktian, bukan untuk penolakan. Oleh karena itu, al-bayyinah tidak dialihkan kepada pihak tergugat, karena ia menggunakannya untuk menolak, bukan untuk membuktikan. Sedangkan sumpah (al-yamīn) digunakan baik untuk menolak maupun membuktikan, sehingga boleh dialihkan dari pihak tergugat—jika ia tidak menggunakannya untuk menolak—kepada pihak penggugat agar ia dapat membuktikan dengannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: إِنَّ يَمِينَ الْمُدَّعِي مِنْ قَوْلِهِ كَالدَّعْوَى، فَهُوَ أَنَّ الْيَمِينَ حُجَّةٌ تُخَالِفُ الْقَوْلَ، كَمَا أَنَّ يَمِينَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ. تُخَالِفُ الْإِنْكَارَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْإِنْكَارُ حُجَّةً، فَصَارَتْ يَمِينُ الْمُدَّعِي حُجَّةً، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ دَعْوَاهُ حُجَّةً.

Adapun jawaban atas ucapannya: “Sesungguhnya sumpah penggugat menurut pendapatnya seperti dakwaan,” maka sesungguhnya sumpah adalah hujjah yang berbeda dengan ucapan, sebagaimana sumpah tergugat berbeda dengan pengingkaran, meskipun pengingkaran bukanlah hujjah. Maka, sumpah penggugat menjadi hujjah, meskipun dakwaannya sendiri bukanlah hujjah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى تَكْرَارِ الدَّعْوَى مِرَارًا، فَهُوَ أَنَّ تَكْرَارَ الْإِنْكَارِ لَمَّا لَمْ يَكُنْ حُجَّةً لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ، لَمْ يَكُنْ تَكْرَارُ الدَّعْوَى حُجَّةً لِلْمُدَّعِي، وَلَمَّا كَانَتِ الْيَمِينُ حُجَّةً لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ جَازَ أَنْ تَكُونَ حُجَّةً لِلْمُدَّعِي. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun jawaban atas qiyās mereka terhadap pengulangan gugatan berkali-kali, maka sesungguhnya pengulangan penolakan, karena tidak menjadi hujjah bagi tergugat, maka pengulangan gugatan pun tidak menjadi hujjah bagi penggugat. Dan karena sumpah merupakan hujjah bagi tergugat, maka boleh saja sumpah menjadi hujjah bagi penggugat. Dan Allah Maha Mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ النُّكُولَ عَنِ الْيَمِينِ لَا يُوجِبُ ثُبُوتَ الْحَقِّ، فَهُوَ مُعْتَبَرٌ فِيمَا أَمْكَنَ مِنْ رَدِّ الْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعِي.

Dan apabila telah dipastikan bahwa menolak bersumpah tidak menyebabkan hak menjadi tetap, maka hal itu dipertimbangkan dalam hal yang memungkinkan untuk mengembalikan sumpah kepada pihak penggugat.

فَأَمَّا مَا تَعَذَّرَ فِيهِ رَدُّ الْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعِي، فَقَدْ ذَكَرَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ مَسْأَلَتَيْنِ، وَلَهُمَا نَظَائِرُ، خَرَّجَ الْحُكْمَ فِيهَا بِالنُّكُولِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun perkara yang tidak memungkinkan untuk mengembalikan sumpah kepada penggugat, Abu Sa‘id al-Istakhri telah menyebutkan dua permasalahan, dan keduanya memiliki beberapa contoh serupa. Ia menetapkan hukum dalam perkara-perkara tersebut terkait penolakan sumpah dengan dua pendapat.

إِحْدَى الْمَسْأَلَتَيْنِ فِيمَنْ مَاتَ، وَلَا وَارِثَ لَهُ، إِلَّا كَافَّةُ الْمُسْلِمِينَ، فَظَهَرَ فِي حِسَابِهِ الْمَوْثُوقِ بِهِ دَيْنٌ عَلَى رَجُلٍ أَنْكَرَهُ، وَنَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ، أَوْ شَهِدَ بِهِ شَاهِدٌ وَاحِدٌ لَمْ تَكْمُلْ بِهِ الْبَيِّنَةُ إِلَّا مَعَ يَمِينٍ، فَالْيَمِينُ هَاهُنَا فِي الرَّدِّ وَمَعَ الشَّاهِدِ مُتَعَذِّرَةٌ، لِأَنَّ الْمُسْتَحِقَّ لَهُ كَافَّةُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِحْلَافُهُمْ جَمِيعُهُمْ غَيْرُ مُمْكِنٍ، وَإِحْلَافُ بَعْضِهِمْ غَيْرُ مُتَعَيَّنٍ، وَالْإِمَامُ وَإِنْ تَعَيَّنَ فِي الْمُطَالَبَةِ، فَهُوَ نَائِبٌ، وَالنِّيَابَةُ فِي الْأَيْمَانِ لَا تَصِحُّ.

Salah satu dari dua permasalahan adalah tentang seseorang yang meninggal dunia dan tidak memiliki ahli waris kecuali seluruh kaum Muslimin. Kemudian dalam catatan keuangannya yang terpercaya ditemukan adanya utang pada seseorang yang mengingkarinya dan menolak bersumpah, atau ada satu orang saksi yang bersaksi tentangnya namun kesaksian tersebut belum cukup sebagai bukti kecuali dengan sumpah. Maka sumpah dalam kasus ini, baik sebagai penolakan maupun bersama saksi, menjadi sulit dilakukan karena yang berhak atas harta tersebut adalah seluruh kaum Muslimin, dan tidak mungkin meminta sumpah kepada mereka semua, serta tidak dapat ditentukan siapa di antara mereka yang harus bersumpah. Adapun imam, meskipun ia ditetapkan sebagai pihak yang menuntut, ia hanyalah wakil, dan perwakilan dalam sumpah tidak sah.

وَإِذَا امْتَنَعَ الرَّدُّ فِي الْأَيْمَانِ بِمَا ذَكَرْنَا، فَفِي الْحُكْمِ بِالنُّكُولِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ:

Dan apabila penolakan sumpah tidak dapat dilakukan sebagaimana telah kami sebutkan, maka dalam menetapkan hukum karena penolakan sumpah terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Ishthakhri.

أَحَدُهُمَا: يُحْكَمُ بِالنُّكُولِ، لِأَنَّهُ مَوْضِعُ ضَرُورَةٍ خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْإِمْكَانِ.

Salah satunya: diputuskan dengan nukuul, karena ini adalah situasi darurat yang keluar dari hukum kemungkinan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ اعْتِبَارًا بِمُوجَبِ الْأَصْلِ، الَّذِي تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ وَلَكِنْ يُحْبَسُ حَتَّى يَحْلِفَ أَوْ يَعْتَرِفَ بِالْحَقِّ، فَهَذِهِ إِحْدَى الْمَسْأَلَتَيْنِ.

Pendapat kedua: Tidak diputuskan atasnya sebagai orang yang menolak bersumpah berdasarkan ketentuan asal yang telah dijelaskan sebelumnya, namun ia ditahan sampai ia bersumpah atau mengakui kebenaran, maka inilah salah satu dari dua permasalahan.

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: فِي رَجُلٍ ادَّعَى عَلَى وَرَثَةٍ أَنَّ مَيِّتَهُمْ وَصَّى إِلَيْهِ بِإِخْرَاجِ ثُلُثِهِ مِنْ مَالِهِ وَتَفْرِقَتِهِ فِي الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، فَأَنْكَرُوهُ، وَنَكَلُوا عَنِ الْيَمِينِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ تُرَدَّ الْيَمِينُ عَلَى الْوَصِيِّ، لِأَنَّهُ نَائِبٌ، وَلَا عَلَى الْفُقَرَاءِ، لِأَنَّهُمْ لَا يَنْحَصِرُونَ.

Masalah kedua: tentang seorang laki-laki yang mengklaim kepada para ahli waris bahwa orang yang telah meninggal dunia dari mereka telah berwasiat kepadanya untuk mengeluarkan sepertiga hartanya dan membagikannya kepada fakir miskin, lalu para ahli waris mengingkarinya dan menolak bersumpah. Maka tidak boleh sumpah itu dialihkan kepada washi (pelaksana wasiat), karena ia hanyalah seorang wakil, dan tidak pula kepada para fakir miskin, karena mereka tidak terbatas jumlahnya.

وَفِي الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ وَجْهَانِ حَكَّاهُمَا أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ أَيْضًا تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَا.

Dalam menetapkan hukum atasnya dengan nukūl, terdapat dua pendapat yang juga dinukil oleh Abu Sa‘id al-Iṣṭakhrī, sebagai penjelasan berdasarkan apa yang telah kami sebutkan.

فَأَمَّا إِذَا ادَّعَى الْوَصِيُّ حَقًّا لِطِفْلٍ، فَأَنْكَرَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ذَلِكَ، وَنَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ، لَمْ يَحْلِفِ الْوَصِيُّ وَلَمْ يُحْكَمْ بِالنُّكُولِ وَجْهًا وَاحِدًا، وَكَانَ رَدُّ الْيَمِينِ مَوْقُوفًا عَلَى بُلُوغِ الطِّفْلِ، لِأَنَّ لِرَدِّ الْيَمِينِ وَقْتًا مُنْتَظَرًا.

Adapun jika seorang wali wasiat mengklaim suatu hak untuk anak kecil, lalu pihak yang dituduh mengingkari hal itu dan menolak bersumpah, maka wali wasiat tidak bersumpah dan tidak diputuskan hukum berdasarkan penolakan sumpah menurut satu pendapat, serta pengembalian sumpah ditangguhkan sampai anak kecil tersebut baligh, karena pengembalian sumpah memiliki waktu yang harus ditunggu.

فَأَمَّا مَا أَوْجَبْنَاهُ فِي الزَّكَاةِ بِنُكُولِ رَبِّ الْمَالِ، فِيمَا يَدَّعِيهِ مِنْ سُقُوطِهَا عَنْهُ بَعْدَ ظُهُورِ وُجُوبِهَا عَلَيْهِ، فَقَدْ ذَكَرْنَا فِي مَوَاضِعِهِ أنه حكم بالظاهر المتقدم دون النكول الطارىء وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun apa yang kami wajibkan dalam zakat karena penolakan pemilik harta, terkait klaimnya bahwa kewajiban zakat telah gugur darinya setelah tampak kewajiban tersebut atasnya, maka telah kami sebutkan pada tempatnya bahwa hukum ditetapkan berdasarkan keadaan lahiriah yang telah ada sebelumnya, bukan berdasarkan penolakan yang muncul belakangan. Allah lebih mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: كُلُّ حَقٍّ سُمِعَتِ الدَّعْوَى فِيهِ، وَجَازَتِ الْمُطَالَبَةُ بِهِ وَجَبَتِ الْيَمِينُ عَلَى مُنْكِرِهِ، وَرُدَّتِ الْيَمِينُ بِالنُّكُولِ عَنْهُ عَلَى مُدَّعِيهِ سَوَاءٌ كَانَ الْحَقُّ مَالًا كَالْعَيْنِ وَالدَّيْنِ أَوْ غَيْرَ مَالٍ مِنْ قِصَاصٍ أَوْ نِكَاحٍ أَوْ طلاق أو عتق أو نسب. [هذا مذهب الشافعي] .

Setiap hak yang dapat diajukan gugatan atasnya dan boleh dituntut, maka wajib sumpah atas orang yang mengingkarinya, dan sumpah itu dikembalikan kepada penggugat jika tergugat menolak bersumpah, baik hak tersebut berupa harta seperti barang atau utang, maupun bukan harta seperti qishāsh, nikah, talak, pembebasan budak, atau nasab. [Ini adalah mazhab Syafi‘i].

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: رَحِمَهُ اللَّهُ كُلُّ مَا لم يكن مالا، ولا المقصود منه المال.

Abu Hanifah rahimahullah berkata: Segala sesuatu yang bukan merupakan harta, dan bukan pula yang dimaksudkan darinya adalah harta.

وَذَلِكَ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالرَّجْعَةُ، وَالْفَيْئَةُ فِي الْإِيلَاءِ، وَدَعْوَى الرِّقِّ، وَالِاسْتِيلَادُ، وَالنَّسَبُ، وَالْوَلَاءُ، وَالْقَذْفُ.

Dan itu ada delapan perkara: nikah, talak, rujuk, kembali dalam kasus ila’, pengakuan terhadap status budak, istilaad (pengakuan anak dari budak perempuan), nasab, wala’, dan qadzaf (tuduhan zina).

وَلَا تَجِبُ الْيَمِينُ فِيهِ عَلَى الْمُنْكِرِ، وَلَا تُرَدُّ فِيهِ أَيْضًا عَلَى الْمُدَّعِي، فَلَوِ ادَّعَى رَجُلٌ عَلَى امْرَأَةٍ نِكَاحًا، فَأَنْكَرَتْهُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهَا، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهَا.

Sumpah tidak wajib dalam hal ini atas orang yang mengingkari, dan juga tidak dikembalikan kepada pihak yang mengklaim. Maka jika seorang laki-laki mengaku telah menikah dengan seorang perempuan, lalu perempuan itu mengingkarinya, maka perkataan perempuan itulah yang diterima, dan tidak ada sumpah atasnya.

وَلَوِ ادَّعَتْ عَلَى زَوْجِهَا طَلَاقًا، فَأَنْكَرَهُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ، بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ. وَأَنَّ وُجُوبَ الْيَمِينِ لِيُحْكَمَ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، وَلَا يُحْكَمُ بِالنُّكُولِ فِيمَا لَا تَصِحُّ إِبَاحَتُهُ، فَسَقَطَتْ فِيهِ الْيَمِينُ، وَاسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الْبَذْلَ لَا يَصِحُّ فِيهَا، وَالنُّكُولُ بَذْلٌ، فَلَمْ يُحْكَمْ فِيهَا بِالنُّكُولِ، وَلَمْ يَسْتَحِقَّ فِيهَا الْيَمِينُ قِيَاسًا عَلَى حُدُودِ اللَّهِ الْمَحْضَةِ.

Jika seorang istri mengaku kepada suaminya bahwa ia telah ditalak, lalu suaminya mengingkarinya, maka yang dipegang adalah pernyataan suami, dan tidak ada sumpah atasnya, berdasarkan prinsip dasarnya. Kewajiban sumpah itu bertujuan agar dapat diputuskan atas dasar penolakan bersumpah (nukūl), dan tidak diputuskan dengan nukūl dalam perkara yang tidak sah untuk diizinkan, maka gugurlah sumpah dalam hal ini. Sebagai dalil, karena pemberian (hak) tidak sah dalam perkara ini, sedangkan nukūl adalah pemberian, maka tidak diputuskan dengan nukūl dalam hal ini, dan tidak berhak atas sumpah di dalamnya dengan qiyās kepada hudūd Allah yang murni.

وَدَلِيلُنَا: رِوَايَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ “، فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ، وَلِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَحْلَفَ رُكَانَةَ بْنِ عَبْدِ يَزِيدَ حِينَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ سُهَيْمَةَ الْبَتَّةَ، وَأَنَّهُ أَرَادَ بِالْبَتَّةِ وَاحِدَةً، وَلِأَنَّ كُلَّ دَعْوَى لَزِمَتِ الْإِجَابَةُ عَنْهَا وَجَبَتِ الْيَمِينُ فِيهَا كَالْقِصَاصِ، وَلِأَنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ لَا يَمْتَنِعُ فِيهَا اسْتِحْقَاقُ الْيَمِينِ اعْتِبَارًا بِسَائِرِ حُقُوقِهِمْ.

Dan dalil kami adalah riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Bukti itu atas pihak yang mengklaim, dan sumpah atas pihak yang mengingkari.” Maka, hukum ini berlaku secara umum. Juga karena Nabi ﷺ pernah meminta Rukānah bin ‘Abd Yazīd bersumpah ketika ia menceraikan istrinya Suhaimah dengan talak ba’in, dan ia bermaksud dengan talak ba’in itu satu kali talak. Dan karena setiap gugatan yang wajib dijawab, maka wajib pula sumpah di dalamnya, seperti dalam kasus qishāsh. Dan karena hak-hak manusia tidak terhalang untuk mewajibkan sumpah di dalamnya, sebagaimana pada hak-hak mereka yang lain.

فَأَمَّا حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى فَضَرْبَانِ:

Adapun hak-hak Allah Ta‘ala terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقٌّ لِآدَمِيٍّ الْبَتَّةَ كَحَدِّ الزِّنَا وَحَدِّ شُرْبِ الْخَمْرِ، فَلَا تَصِحُّ الدَّعْوَى فِيهِ، وَلَا يَلْزَمُ الْجَوَابُ عَنْهُ لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِسَتْرِهِ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا، فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ، فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِ لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ حَدَّ اللَّهِ عَلَيْهِ “. وَلِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” هَلَّا سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ يَا هَزَّالُ “، وَلِأَنَّهُ لَوْ أَقَرَّ بِالزِّنَا، ثُمَّ رَجَعَ لَمْ يُحَدَّ، وَلِأَنَّ الدَّعْوَى لَا تَصِحُّ إِلَّا مِنْ خَصْمٍ فِي حَقِّهِ أَوْ حَقِّ غَيْرِهِ، وَهُوَ غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي هَذِهِ الدَّعْوَى.

Pertama: perkara yang sama sekali tidak berkaitan dengan hak manusia, seperti hudud zina dan hudud minum khamar. Maka, gugatan tidak sah dalam hal ini, dan tidak wajib memberikan jawaban atasnya karena syariat memerintahkan untuk menutupinya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa melakukan salah satu dari perbuatan keji ini, hendaklah ia menutupinya dengan penutup Allah, karena siapa yang menampakkan perbuatannya kepada kami, maka kami akan menegakkan hudud Allah atasnya.” Dan juga sabda beliau ﷺ: “Mengapa engkau tidak menutupinya dengan pakaianmu, wahai Hazzal?” Selain itu, jika seseorang mengakui zina lalu ia menarik kembali pengakuannya, maka ia tidak dikenai hudud. Sebab, gugatan tidak sah kecuali dari pihak yang memiliki hak, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, dan hal ini tidak terdapat dalam gugatan seperti ini.

فَإِنْ تَعَلَّقَ بِالزِّنَا حَقٌّ لِآدَمِيٍّ كَالْقَاذِفِ بِالزِّنَا إِذَا طُولِبَ بِالْحَدِّ، فَقَالَ: أَنَا صَادِقٌ فِي قَذْفِهِ بِالزِّنَا، وَادَّعَاهُ عَلَى الْمَقْذُوفِ سُمِعَتْ حِينَئِذٍ هَذِهِ الدَّعْوَى، لِيَكُونَ الْإِقْرَارُ بِهِ مُسْقِطًا لِحَدِّ الْقَذْفِ، فَإِنْ أَنْكَرَ الْمَقْذُوفُ أُحْلِفَ، فَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْقَاذِفِ، فَإِنْ حَلَفَ سَقَطَ عَنْهُ حَدُّ الْقَذْفِ، وَلَمْ يَجِبْ بِيَمِينِهِ حَدُّ الزِّنَا عَلَى الْمَقْذُوفِ.

Jika zina berkaitan dengan hak seorang manusia, seperti kasus orang yang menuduh orang lain berzina (qadzaf) ketika ia dituntut untuk menjalani had, lalu ia berkata: “Aku benar dalam menuduhnya berzina,” dan ia mengklaim tuduhannya terhadap orang yang dituduh, maka pada saat itu klaim ini didengar, agar pengakuan tersebut dapat menggugurkan had qadzaf. Jika orang yang dituduh menyangkal, maka ia diminta bersumpah. Jika ia enggan bersumpah, sumpah itu dikembalikan kepada penuduh. Jika ia bersumpah, maka had qadzaf gugur darinya, dan dengan sumpahnya itu tidak wajib dijatuhkan had zina atas orang yang dituduh.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ: مَا تَعَلَّقَ بِهِ حَقٌّ لِآدَمِيٍّ، لِسَرِقَةٍ تُوجِبُ الْغُرْمَ، وَهُوَ حَقٌّ لِآدَمِيٍّ، وَالْقَطْعُ، وَهُوَ حَقُّ لِلَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ سَقَطَ الْغُرْمُ بِتَحْلِيلٍ أَوْ إِبْرَاءٍ، لَمْ تَصِحَّ الدَّعْوَى فِيهِ حِينَئِذٍ وَسَقَطَ وُجُوبُ الْيَمِينِ فِيهَا، وَإِنْ كَانَ الْغُرْمُ بَاقِيًا صَحَّتْ فِيهِ الدَّعْوَى، وَوَجَبَتْ فِيهِ الْيَمِينُ فَإِنْ نَكَلَ السَّارِقُ عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِي، فَإِذَا حَلَفَ اسْتَحَقَّ الْغُرْمَ، وَلَمْ يَجِبِ الْقَطْعُ، لِأَنَّ الْغُرْمَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، وَالْقَطْعَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى فَأَجْرَى عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُكْمَ انْفِرَادِهِ، وَلَمْ يَتَغَيَّرْ بِالِاجْتِمَاعِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jenis kedua dari hak-hak Allah adalah yang berkaitan dengannya terdapat juga hak bagi manusia, seperti pencurian yang mewajibkan ganti rugi, yang merupakan hak manusia, dan hukuman potong tangan, yang merupakan hak Allah Ta‘ala. Jika kewajiban ganti rugi gugur karena adanya penghalalan atau pembebasan, maka gugurlah tuntutan atasnya dan tidak wajib sumpah di dalamnya. Namun jika kewajiban ganti rugi masih ada, maka tuntutan tetap sah dan sumpah pun wajib dilakukan. Jika pencuri enggan bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada pihak penuntut. Jika penuntut bersumpah, ia berhak mendapatkan ganti rugi, namun hukuman potong tangan tidak wajib, karena ganti rugi termasuk hak manusia, sedangkan potong tangan termasuk hak Allah Ta‘ala. Maka, masing-masing dari keduanya diberlakukan hukum tersendiri sebagaimana jika berdiri sendiri, dan tidak berubah karena berkumpulnya kedua hak tersebut. Allah Maha Mengetahui.

(مُخْتَصَرٌ مِنْ كِتَابِ الشَّهَادَاتِ وَمَا دَخَلَهُ مِنَ الرِّسَالَةِ)

Ringkasan dari Kitab asy-Syahadat dan apa yang termasuk di dalamnya dari ar-Risalah.

(بَابُ مَنْ تَجُوزُ شَهَادَتُهُ وَمَنْ لَا تجوز ومن يشهد بعد رد شهادته من الجامع ومن اختلاف الحكام وأدب القاضي وغير ذلك)

(Bab tentang siapa saja yang kesaksiannya boleh diterima dan siapa yang tidak boleh diterima, siapa yang boleh bersaksi setelah kesaksiannya ditolak, tentang al-jāmi‘, tentang perbedaan para hakim, adab qādī, dan hal-hal lainnya.)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” لَيْسَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ نَعْلَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَلِيلًا يُمَحِّضُ الطَّاعَةَ وَالْمُرُوءَةَ حَتَّى لَا يَخْلِطَهُمَا بِمَعْصِيَةٍ وَلَا يُمَحِّضُ الْمَعْصِيَةَ وَتَرْكَ الْمُرُوءَةِ حَتَّى لَا يَخْلِطَهُمَا شَيْئًا مِنَ الطَّاعَةِ وَالْمُرُوءَةِ فَإِذَا كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَى الرَّجُلِ الْأَظْهَرُ مِنْ أَمْرِهِ الطَّاعَةَ وَالْمُرُوءَةَ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ وَإِذَا كَانَ الْأَغْلَبُ الْأَظْهَرُ مِنْ أَمْرِهِ الْمَعْصِيَةَ وَخِلَافَ الْمُرُوءَةِ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak ada seorang pun dari manusia yang kami ketahui kecuali hanya sedikit yang benar-benar murni dalam ketaatan dan menjaga muru’ah, sehingga tidak mencampurinya dengan maksiat, dan tidak pula benar-benar murni dalam maksiat dan meninggalkan muru’ah sehingga tidak mencampurinya dengan sedikit pun ketaatan dan muru’ah. Maka jika yang lebih dominan dan tampak dari keadaan seseorang adalah ketaatan dan muru’ah, maka kesaksiannya diterima. Namun jika yang lebih dominan dan tampak dari keadaannya adalah maksiat dan bertentangan dengan muru’ah, maka kesaksiannya ditolak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَإِنَّمَا فَصَلَ الْمُزَنِيُّ الشَّهَادَاتِ كِتَابَيْنِ، أَوَّلًا وَثَانِيًا، لِأَنَّ الْأَوَّلَ مُتَّصِلٌ بِالْحُكْمِ فَأَضَافَهُ إِلَى أَدَبِ الْقَاضِي.

Al-Mawardi berkata: Al-Muzani memisahkan pembahasan kesaksian menjadi dua kitab, yang pertama dan yang kedua, karena yang pertama berkaitan langsung dengan hukum sehingga ia mengaitkannya dengan adab qadhi.

وَالثَّانِي: فِي صِفَةِ الشَّاهِدِ فِي الْقَبُولِ وَالرَّدِّ أَفْرَدَهُ عَنِ الأول.

Kedua: tentang sifat saksi dalam hal diterima atau ditolaknya kesaksian, ia membahasnya secara terpisah dari yang pertama.

والمقبول الشهادة، وهو الْعَدْلُ، وَالْمَرْدُودُ الشَّهَادَةِ هُوَ الْفَاسِقُ فَأَمَّا قَبُولُ شَهَادَةٍ مِنَ الْعَدْلِ، فَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] . وَلِقَوْلِهِ: {مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282] وَالرِّضَا مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْعَدْلِ مُنْتَفٍ عَنِ الْفَاسِقِ.

Saksi yang diterima kesaksiannya adalah orang yang ‘adl (adil), sedangkan yang ditolak kesaksiannya adalah orang fāsiq. Adapun diterimanya kesaksian dari orang yang ‘adl, hal itu berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian” (ath-Thalaq: 2), dan firman-Nya: “dari saksi-saksi yang kalian ridhai” (al-Baqarah: 282). Keridhaan itu tertuju kepada orang yang ‘adl dan tidak berlaku bagi orang yang fāsiq.

وَأَمَّا التَّوَقُّفُ عَنْ شَهَادَةِ الْفَاسِقِ فَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} [الحجرات: 6] . وَالنَّبَأُ الْخَبَرُ. وَكُلُّ شَهَادَةٍ خبر وإن لم يكن كل خبر شهادة.

Adapun menahan diri dari menerima kesaksian seorang fāsiq adalah berdasarkan firman Allah Ta‘ālā: “Jika datang kepada kalian seorang fāsiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesali perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurāt: 6). An-naba’ berarti berita. Setiap kesaksian adalah berita, meskipun tidak setiap berita merupakan kesaksian.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ} [السجدة: 18] فَالْمَنْعُ مِنَ الْمُسَاوَاةِ إِذَا أَوْجَبَ قَبُولَ الْعَدْلِ أَوْجَبَ رَدَّ الْفَاسِقِ وَقِيلَ إِنَّ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ فِي الْفَاسِقِ نَزَلَتَا فِي الْوَلِيدِ بْنِ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ.

Dan berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (QS. As-Sajdah: 18). Maka, larangan untuk menyamakan (keduanya) jika mewajibkan diterimanya (kesaksian) orang yang adil, maka juga mewajibkan ditolaknya (kesaksian) orang yang fasik. Dan dikatakan bahwa dua ayat ini tentang orang fasik turun berkenaan dengan al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith.

وَسَبَبُ نُزُولِ الْآيَةِ الْأُولَى فِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْفَذَهُ إِلَى قَبِيلَةٍ مُصْدِقًا فَأَخَذَ مِنْ صَدَقَتِهَا، وَكَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقَوْمِ إِحَنٌ، فَتَوَجَّهَ إِلَيْهِمْ، وَعَادَ فَأَخْبَرَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُمْ مَنَعُوهُ الصَّدَقَةَ وَلَمْ يَمْنَعُوهُ، فَهَمَّ بِغَزْوِهِمْ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ إِنْ جَاءَكُمْ فاسق بنبأ فتبينوا فكفى عَنْهُمْ وَعَلِمَ بِحَالِهِمْ.

Adapun sebab turunnya ayat pertama tentangnya adalah bahwa Nabi ﷺ mengutusnya ke sebuah kabilah sebagai petugas pengumpul zakat, lalu ia mengambil zakat dari mereka, sementara antara dia dan kaum tersebut terdapat permusuhan. Ia pun mendatangi mereka, kemudian kembali dan memberitahu Rasulullah ﷺ bahwa mereka telah menolak memberikan zakat kepadanya, padahal mereka tidak menolaknya. Maka Nabi ﷺ berniat untuk memerangi mereka, hingga Allah Ta‘ala menurunkan ayat tentangnya: “Jika datang kepada kalian seorang fāsiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti,” sehingga Nabi ﷺ menahan diri dari mereka dan mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya.

وَأَمَّا الْآيَةُ الثَّانِيَةُ فَسَبَبُ نُزُولِهَا: أَنَّهُ اسْتَطَالَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ ذَاتَ يَوْمٍ وَقَالَ: أَنَا أَثْبَتُ مِنْكَ جَنَانًا، وأفصح منك لسانا، وأهد مِنْكَ سِنَانًا فَنَزَلَ فِيهِ {أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يستوون} يَعْنِي بِالْمُؤْمِنِ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَبَالْفَاسِقِ الوليد بن عقبة. {لا يستوون} يَعْنِي فِي أَحْكَامِ الدُّنْيَا وَمَنَازِلِ الْآخِرَةِ.

Adapun ayat kedua, sebab turunnya adalah: Suatu hari, seseorang menyombongkan diri di hadapan Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam dan berkata, “Aku lebih berani darimu dalam hati, lebih fasih lidahku daripada lidahmu, dan lebih tajam tombakku daripada tombakmu.” Maka turunlah ayat tentangnya: {Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama}. Yang dimaksud dengan orang beriman adalah Ali bin Abi Thalib, dan yang dimaksud dengan orang fasik adalah al-Walid bin ‘Uqbah. {Mereka tidak sama}, maksudnya dalam hukum-hukum dunia dan derajat di akhirat.

وَأَمَّا اسْمُ الْعَدْلِ فَهُوَ الْعَدِيلُ، لِأَنَّهُ مُعَادِلٌ لِمَا جَازَاهُ وَالْمُعَادَلَةُ الْمُسَاوَاةُ. وَهُوَ فِي الشَّرْعِ حَقِيقَةٌ فِيمَنْ كَانَ مَرْضِيَّ الدَّيْنِ وَالْمُرُوءَةِ لِاعْتِدَالِهِ.

Adapun nama “al-‘adl” (adil) berarti “yang setara”, karena ia sepadan dengan apa yang dibalasnya, dan “mu‘ādalah” berarti kesetaraan. Dalam syariat, istilah ini secara hakiki digunakan untuk menyebut seseorang yang baik agama dan kehormatannya karena keseimbangannya.

وَأَمَّا اسْمُ الْفَاسِقِ فَهُوَ فِي اللُّغَةِ: مَأْخُوذٌ مِنَ الْخُرُوجِ عَنِ الشَّيْءِ يُقَالُ: فَسَقَتِ الرُّطْبَةُ إِذَا خَرَجَتْ مِنْ قِشْرِهَا. فَسُمِّيَ الْغُرَابُ فَاسِقًا لِخُرُوجِهِ مِنْ مَأْلَفِهِ وَسُمِّيَتِ الْفَأْرَةُ فُوَيْسِقَةً لِخُرُوجِهَا مِنْ جُحْرِهَا.

Adapun istilah “fāsiq” dalam bahasa adalah diambil dari makna keluar dari sesuatu. Dikatakan: “fasaqat ar-rutbah” jika kurma basah keluar dari kulitnya. Maka burung gagak disebut “fāsiq” karena ia keluar dari tempat tinggalnya, dan tikus disebut “fuwaysiqah” karena ia keluar dari lubangnya.

وَهُوَ فِي الشَّرْعِ حَقِيقَةٌ فِيمَنْ كَانَ مَسْخُوطَ الدِّينِ وَالطَّرِيقَةِ لِخُرُوجِهِ عَنِ الِاعْتِدَالِ.

Dalam syariat, ia secara hakiki adalah sebutan bagi orang yang dibenci dalam agama dan jalan hidupnya karena telah keluar dari sikap moderat.

( [صِفَةُ الْعَدْلِ وَالْفَاسِقِ] )

(Sifat orang yang ‘adl dan fāsiq)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ فَرْقُ مَا بَيْنَ الْعَدْلِ وَالْفَاسِقِ، وَجَبَ الْعُدُولُ إِلَى صِفَةِ الْعَدْلِ وَإِلَى صِفَةِ الْفَاسِقِ، لِيَكُونَ مَنْ وُجِدَتْ فِيهِ الْعَدَالَةُ مَقْبُولًا، وَمَنْ وُجِدَ فِيهِ الْفِسْقُ مَرْدُودًا.

Maka apabila telah dijelaskan perbedaan antara orang yang adil dan orang yang fasiq, wajib kembali kepada sifat adil dan sifat fasiq, agar siapa pun yang terdapat sifat ‘adālah padanya diterima, dan siapa pun yang terdapat sifat fisq padanya ditolak.

فَالْعَدْلُ فِي الشَّهَادَةِ مَنْ تَكَامَلَتْ فِيهِ ثَلَاثَةُ خِصَالٍ:

Keadilan dalam kesaksian adalah pada siapa yang telah sempurna padanya tiga sifat:

إِحْدَاهُنَّ: أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا، وَذَلِكَ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ: أَنْ يَكُونَ مُكَلَّفًا، حُرًّا، مُسْلِمًا.

Salah satunya adalah bahwa ia harus termasuk dari kalangan mereka, yaitu dengan tiga hal: ia harus mukallaf, merdeka, dan muslim.

وَلَيْسَ عَدَمُ التَّكْلِيفِ وَالْحُرِّيَّةِ مُوجِبًا لِفِسْقِهِ وَإِنْ كَانَ وَجُودُهُمَا شَرْطًا فِي عَدَالَتِهِ.

Tidak adanya taklif dan kebebasan tidak menyebabkan seseorang menjadi fasiq, meskipun keberadaan keduanya merupakan syarat bagi keadilannya.

وَالْخَصْلَةُ الثَّانِيَةُ: كَمَالُ دَيْنِهِ، وَذَلِكَ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ:

Sifat kedua: kesempurnaan agamanya, dan hal itu terdiri dari tiga perkara:

أَنْ يَكُونَ مُحَافِظًا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَامِرِهِ مُجَانِبًا لِكَبَائِرِ الْمَعَاصِي غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَى صَغَائِرِهَا.

Hendaknya ia menjaga ketaatan kepada Allah Ta‘ala dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi dosa-dosa besar, dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.

وَالْكَبَائِرُ: مَا وَجَبَتْ فِيهَا الْحُدُودُ وَتَوَجَّهَ إِلَيْهَا الْوَعِيدُ.

Dosa-dosa besar adalah segala perbuatan yang dikenakan hudud dan diancam dengan ancaman keras.

وَالصَّغَائِرُ: مَا قَلَّ فِيهَا الْإِثْمُ.

Dan dosa-dosa kecil adalah dosa yang kadar dosanya sedikit.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ} [النساء: 31] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami akan hapuskan kesalahan-kesalahan kalian.” (QS. an-Nisā’: 31)

وَقَالَ اللَّهِ تَعَالَى: {الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ} [النجم: 32]

Allah Ta‘ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil.” (QS. an-Najm: 32)

وَفِي هَذِهِ الْكَبَائِرِ لِأَهْلِ التَّأْوِيلِ أَرْبَعَةُ أَقَاوِيلَ:

Dalam hal dosa-dosa besar ini, menurut para ahli ta’wil, terdapat empat pendapat.

أَحَدُهَا: مَا زُجِرَ عَنْهُ بالحد.

Salah satunya adalah sesuatu yang dilarang dengan hukuman had.

وَالثَّانِي: مَا لَا يُكَفَّرُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ.

Yang kedua: dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali dengan taubat.

وَالثَّالِثُ: ما رواه شرحبيل عن ابن مَسْعُودٍ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ الْكَبَائِرِ. فَقَالَ: ” أَنْ تَدْعُوَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يطعم معك، وأن تزاني بِحَلِيلَةِ جَارِكَ “.

Ketiga: Riwayat yang disampaikan oleh Syurahbil dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau bersabda: “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu, engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu, dan engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

وَالرَّابِعُ: مَا رَوَى سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ: كَمِ الْكَبَائِرُ؟ أَسَبْعٌ هِيَ؟ قَالَ: هِيَ إِلَى سَبْعِمِائَةٍ أَقْرَبُ مِنْهَا إِلَى سَبْعٍ. لَا كَبِيرَةَ مَعَ اسْتِغْفَارٍ وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ إِصْرَارٍ. فَكَانَ يَرَى كَبَائِرَ الْإِثْمِ مَا لَمْ يُسْتَغْفَرِ اللَّهَ عَنْهُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ.

Keempat: Diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Berapa jumlah dosa besar itu? Apakah tujuh?” Ia menjawab: “Dosa besar itu lebih dekat kepada tujuh ratus daripada tujuh.” Tidak ada dosa besar jika disertai istighfar, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus. Maka beliau memandang bahwa dosa besar adalah dosa yang tidak dimintakan ampunan kepada Allah darinya kecuali dengan taubat.

وَأَمَّا الْفَوَاحِشُ فَفِيهَا قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا الزِّنَا. وَالثَّانِي: أَنَّهَا جَمِيعُ الْمَعَاصِي.

Adapun al-fawāḥisy, terdapat dua pendapat mengenainya: yang pertama, bahwa itu adalah zina; dan yang kedua, bahwa itu mencakup seluruh maksiat.

وَأَمَّا اللَّمَمُ فَفِيهِ أَرْبَعَةُ أَقَاوِيلَ: –

Adapun al-lamam, terdapat empat pendapat mengenainya:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْزِمَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ ثُمَّ يَرْجِعَ عَنْهَا قَدْ رَوَى عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِنْ تَغْفِرِ اللَّهُمَّ تَغْفِرْ جَمًّا وَأَيُّ عَبْدٍ لَكَ لَا أَلَمَّا “.

Salah satunya adalah seseorang berniat melakukan maksiat kemudian ia membatalkannya. Amru bin Dinar meriwayatkan dari ‘Atha’ dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika Engkau mengampuni, ya Allah, maka ampunilah seluruhnya, dan hamba manakah milik-Mu yang tidak pernah berbuat dosa?”

وَالثَّانِي: أَنْ يُلِمَّ بِالْمَعْصِيَةِ يَفْعَلُهَا ثُمَّ يَتُوبَ عَنْهَا، قَالَهُ الْحَسَنُ وَمُجَاهِدٌ.

Dan yang kedua: seseorang melakukan maksiat, kemudian ia bertobat darinya; demikian dikatakan oleh al-Hasan dan Mujahid.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ اللَّمَمَ مَا لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ حَدٌّ فِي الدُّنْيَا، وَلَمْ يُسْتَحَقَّ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ عِقَابٌ. قَالَهُ مُجَاهِدٌ.

Ketiga: bahwa al-lamam adalah dosa-dosa yang tidak dikenakan hudud di dunia, dan tidak berhak mendapat hukuman di akhirat. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid.

وَالرَّابِعُ: أَنَّ اللَّمَمَ مَا دُونَ الْوَطْءِ مِنَ الْقُبْلَةِ وَالْغَمْزَةِ، وَالنَّظْرَةِ، وَالْمُضَاجَعَةِ. قَالَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ.

Keempat: bahwa al-lamam adalah segala sesuatu selain jima‘, seperti ciuman, sentuhan, pandangan, dan berbaring bersama. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Mas‘ud.

وَرَوَى طَاوُسٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَا رَأَيْتُ أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِنْ قَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” كَتَبَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ حَظَّهَا مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ، وَاللِّسَانِ النُّطْقُ، هِيَ النَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ “.

Tawus meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan al-lamam daripada perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ: “Allah telah menetapkan bagi setiap jiwa bagiannya dari zina, ia pasti akan mengalaminya tanpa bisa dihindari. Maka zina kedua mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, jiwa berangan-angan dan menginginkan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan hal itu.”

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْخَصْلَةُ الثَّالِثَةُ: ظُهُورُ الْمُرُوءَةِ. وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Dan sifat ketiga: tampaknya muru’ah. Ia terbagi menjadi tiga macam:

ضَرْبٌ يَكُونُ شَرْطًا فِي الْعَدَالَةِ. وَضَرْبٌ لَا يَكُونُ شَرْطًا فِيهَا. وَضَرْبٌ مُخْتَلَفٌ فِيهِ.

Ada jenis yang menjadi syarat dalam keadilan, ada jenis yang tidak menjadi syarat di dalamnya, dan ada jenis yang diperselisihkan statusnya.

وَأَمَّا مَا يَكُونُ شَرْطًا فِيهَا فَهُوَ: مُجَانَبَةُ مَا سَخُفَ مِنَ الْكَلَامِ الْمُؤْذِي أَوِ الْمُضْحِكِ وَتَرْكُ مَا قَبُحَ مِنَ الضَّحِكِ الَّذِي يَلْهُو بِهِ. أَوْ يُسْتَقْبَحُ لِمَعْرِفَتِهِ أَوْ أَدَائِهِ. فَمُجَانَبَةُ ذَلِكَ مِنَ الْمُرُوءَةِ الَّتِي هِيَ شَرْطٌ فِي الْعَدَالَةِ، وَارْتِكَابُهَا مُفْضٍ إِلَى الْفِسْقِ.

Adapun hal yang menjadi syarat di dalamnya adalah: menjauhi ucapan yang rendah yang menyakiti atau membuat orang tertawa, serta meninggalkan tawa yang buruk yang digunakan untuk bersenda gurau atau yang dianggap buruk karena diketahui atau dilakukan. Menjauhi hal-hal tersebut termasuk bagian dari muru’ah yang merupakan syarat dalam keadilan, dan melakukannya dapat mengantarkan kepada kefasikan.

وَلِذَلِكَ نَتْفُ اللِّحْيَةِ مِنَ السَّفَهِ الَّذِي تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ، وكذلك خضاب اللحية من السفه التي تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ، لِمَا فِيهَا مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى.

Oleh karena itu, mencabut jenggot termasuk perbuatan tidak pantas yang menyebabkan kesaksian seseorang ditolak, demikian pula mewarnai jenggot termasuk perbuatan tidak pantas yang menyebabkan kesaksian seseorang ditolak, karena di dalamnya terdapat perubahan terhadap ciptaan Allah Ta‘ala.

فَأَمَّا مَا لَا يَكُونُ شَرْطًا فِيهَا فَهُوَ الْإِفْضَالُ بِالْمَالِ وَالطَّعَامِ وَالْمُسَاعَدَةُ بِالنَّفْسِ وَالْجَاهِ، فَهَذَا مِنَ الْمُرُوءَةِ وَلَيْسَ بِشَرْطٍ فِي الْعَدَالَةِ.

Adapun hal-hal yang bukan merupakan syarat di dalamnya adalah memberikan keutamaan dalam harta dan makanan, serta membantu dengan tenaga dan kedudukan; semua ini termasuk dalam kemuliaan akhlak dan bukan merupakan syarat dalam keadilan.

فَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَضَرْبَانِ: عَادَاتٌ، وَصَنَائِعُ.

Adapun perkara yang diperselisihkan itu terbagi menjadi dua macam: adat kebiasaan dan pekerjaan (profesi).

فَأَمَّا الْعَادَاتُ فَهُوَ أَنْ يُقْتَدَي فِيهَا بِأَهْلِ الصِّيَانَةِ دُونَ أَهْلِ الْبَذْلَةِ، فِي مَلْبَسِهِ وَمَأْكَلِهِ وَتَصَرُّفِهِ.

Adapun dalam urusan adat kebiasaan, maka hendaknya mengikuti orang-orang yang menjaga kehormatan diri, bukan orang-orang yang meremehkan penampilan, baik dalam pakaian, makanan, maupun perilakunya.

فَلَا يَتَعَرَّى عَنْ ثِيَابِهِ فِي بَلَدٍ يَلْبَسُ فِيهِ أَهْلُ الصِّيَانَةِ ثِيَابَهُمْ. وَلَا يَنْزِعُ سَرَاوِيلَهُ فِي بَلَدٍ يَلْبَسُ فِيهِ أَهْلُ الصِّيَانَةِ سَرَاوِيلَهُمْ، وَلَا يَكْشِفُ رَأْسَهُ فِي بَلَدٍ يغطي فيه أهل الصيانة فيه رؤوسهم.

Maka janganlah ia menanggalkan pakaiannya di negeri di mana orang-orang yang menjaga kehormatan mengenakan pakaian mereka. Dan janganlah ia melepas celananya di negeri di mana orang-orang yang menjaga kehormatan mengenakan celana mereka, dan janganlah ia menyingkap kepalanya di negeri di mana orang-orang yang menjaga kehormatan menutupi kepala mereka.

وَإِنْ كَانَ فِي بَلَدٍ لَا يُجَافِي أَهْلُ الصِّيَانَةِ ذَلِكَ فِيهِ، كَانَ عَفْوًا، كَالْحِجَازِ وَالْبَحْرِ الَّذِي يَقْتَصِرُ أَهْلُهُ فِيهِ عَلَى لَبْسِ الْمِئْزَرِ.

Dan jika berada di negeri di mana orang-orang terhormat di sana tidak melakukan hal itu, maka hal tersebut dimaafkan, seperti di Hijaz dan daerah pesisir, di mana penduduknya hanya mengenakan kain penutup (izar).

وَأَمَّا الْمَأْكَلُ فَلَا يَأْكُلُ عَلَى قَوَارِعِ الطُّرُقِ وَلَا فِي مَشْيِهِ، وَلَا يَخْرُجُ عَنِ الْعُرْفِ فِي مَضْغِهِ، وَلَا يُعَانِي بِكَثْرَةِ أَكْلِهِ.

Adapun mengenai makanan, maka ia tidak makan di pinggir-pinggir jalan dan tidak pula saat berjalan, tidak melampaui kebiasaan dalam mengunyahnya, dan tidak berlebihan dalam banyak makan.

وَأَمَّا التَّصَرُّفُ فَلَا يُبَاشِرُ ابْتِيَاعَ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ وَحَمْلَهُ بِنَفْسِهِ فِي بَلَدٍ يَتَجَافَاهُ أَهْلُ الصِّيَانَةِ. إِلَى نَظَائِرِ هَذَا مِمَّا فِيهِ بَذْلَةٌ وَتَرْكُ تَصَوُّنٍ.

Adapun dalam hal bertindak, maka ia tidak secara langsung membeli makanan dan minumannya serta membawanya sendiri di negeri yang para penjaga kehormatan menghindari hal tersebut. Demikian pula hal-hal serupa yang mengandung sikap merendahkan diri dan meninggalkan penjagaan kehormatan.

وَفِي اعْتِبَارِ هَذَا الضَّرْبِ مِنَ الْمُرُوءَةِ فِي شُرُوطِ الْعَدَالَةِ أَرْبَعَةُ أَوْجُهٍ:

Dalam mempertimbangkan jenis muru’ah ini dalam syarat-syarat keadilan, terdapat empat aspek:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ فِيهَا لِإِبَاحَتِهِ.

Salah satunya: bahwa hal itu tidak dianggap di dalamnya karena kebolehannya.

قَدْ بَاعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَاشْتَرَى فِيمَنْ يَزِيدُ، وَاشْتَرَى سَرَاوِيلَ بِأَرْبَعَةِ دَرَاهِمَ. وَقَالَ: ” يَا وَزَّانُ زِنْ وَأَرْجِحْ “. وَقَالَ الرَّاوِي: فَأَخَذْتُهُ لِأَحْمِلَهُ. فَقَالَ: ” دَعْهُ فَصَاحِبُ الْمَتَاعِ أَحَقُّ بِحَمْلِهِ “.

Rasulullah ﷺ pernah menjual dan membeli barang yang harganya lebih tinggi, dan beliau membeli celana seharga empat dirham. Beliau bersabda, “Wahai Wazzan, timbanglah dan lebihkanlah timbangan.” Perawi berkata, “Lalu aku mengambilnya untuk membawanya.” Maka beliau bersabda, “Biarkan, karena pemilik barang lebih berhak membawanya.”

وَقِيلَ لِعَائِشَةَ: مَا كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي مَنْزِلِهِ إِذَا خَلَا؟ قَالَتْ: كَانَ يَخْصِفُ النعل ويرقع الدَّلْوَ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَسْلُكُ الطَّرِيقَ فِي خِلَافَتِهِ وَهُوَ مُتَخَلِّلٌ بِعَبَاءَةٍ قَدْ رَبَطَهَا بِشَوْكَةٍ.

Pernah ditanyakan kepada ‘Aisyah: Apa yang biasa dilakukan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di rumahnya ketika sedang sendirian? Ia menjawab: Beliau biasa menjahit sandal dan menambal ember. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga berjalan di masa kekhalifahannya dengan memakai kain wol yang telah diikat dengan duri.

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَلْبَسُ الْمُرَقَّعَةَ. وَيَهْنَأُ بِعِيرَهُ بِيَدِهِ وَيَقُودُهُ.

Umar radhiyallahu ‘anhu biasa mengenakan pakaian tambalan. Ia juga mengobati untanya sendiri dengan tangannya dan menuntunnya.

وَقَدِ اشْتَرَى عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَمِيصًا وَأَتَى تَجَّارًا فَوَضَعَ كُمَّهُ وَقَالَ: اقْطَعْ مَا فَضَلَ عَنِ الْأَصَابِعِ، فَقَطَعَهُ بِفَأْسٍ فَقِيلَ لَهُ: لَوْ كَفَفْتَهُ؟ فَقَالَ دَعْهُ يَتَسَلَّلْ مَعَ الزَّمَانِ.

Ali radhiyallahu ‘anhu pernah membeli sebuah baju, lalu ia mendatangi para pedagang dan meletakkan lengan bajunya seraya berkata, “Potonglah bagian yang melebihi jari-jariku.” Maka mereka memotongnya dengan kapak. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Mengapa tidak engkau lipat saja?” Ia menjawab, “Biarkan saja, nanti akan rusak dengan berjalannya waktu.”

وَعَمِلَ بِالْأَجْرِ فِي حَائِطٍ وَأَجَّرَ نَفْسَهُ مِنْ يَهُودِيَّةٍ لِيَسْقِيَ كُلَّ دَلْوٍ بِتَمْرَةٍ.

Dan ia bekerja dengan upah di sebuah kebun, serta menyewakan dirinya kepada seorang wanita Yahudi untuk mengambil air, setiap satu timba dibayar dengan satu butir kurma.

وَمَا فَعَلَهُ الرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وأصحابه وجاز، لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَادِحًا فِي الْعَدَالَةِ، لِأَنَّ الْمُرُوءَةَ مُشْتَقَّةٌ مِنَ الْمَرْءِ، وَهُوَ الْإِنْسَانُ فَصَارَتِ الْإِشَارَةُ بِهَا إِلَى الْإِنْسَانِيَّةِ، فَانْتَفَتِ الْعَدَالَةُ عَنْ مَنْ لَا إِنْسَانِيَّةَ فِيهِ، وَلِأَنَّ الْمُرُوءَةَ مِنْ دَوَاعِي الْحَيَاةِ.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya serta dibolehkan, tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang mencederai keadilan, karena muru’ah berasal dari kata al-mar’ (manusia), sehingga maknanya merujuk pada kemanusiaan. Maka, keadilan tidak ada pada orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, dan karena muru’ah termasuk salah satu pendorong kehidupan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ هَذَا الضَّرْبَ مِنَ الْمُرُوءَةِ شَرْطٌ مُعْتَبَرٌ فِي الْعَدَالَةِ، ولأن الْمُرُوءَةَ مُشْتَقَّةٌ مِنَ الْمَرْءِ وَهُوَ الْإِنْسَانُ، فَصَارَتِ الإشارة بها للإنسانية، فَانْتَفَتِ الْعَدَالَةُ عَنْ مَنْ لَا إِنْسَانِيَّةَ فِيهِ، ولأن حفظ المروءة من دواعي الحياء. وإن كان لا يَفْسُقُ بِهِ، لِأَنَّ الْعَدَالَةَ فِي الشَّهَادَةِ لِلْفَضِيلَةِ الْمُخْتَصَّةِ بِهَا، وَهِيَ تَالِيَةٌ لِفَضِيلَةِ النُّبُوَّةِ.

Pendapat kedua: Bahwa jenis muru’ah ini merupakan syarat yang diperhitungkan dalam keadilan. Karena muru’ah berasal dari kata “al-mar’” yang berarti manusia, maka isyaratnya mengacu pada sifat kemanusiaan. Maka, keadilan tidak ada pada orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan. Selain itu, menjaga muru’ah termasuk hal yang mendorong timbulnya rasa malu. Meskipun hal itu tidak menyebabkan kefasikan, karena keadilan dalam persaksian berkaitan dengan keutamaan khusus yang dimilikinya, dan keutamaan tersebut berada di bawah keutamaan kenabian.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا} [النساء: 41] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir itu), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?” (QS. an-Nisā’: 41).

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا} [البقرة: 143] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang wasath (pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143).

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ هم بشهاداتهم قائمون أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ} [المعارج: 33، 35] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara kesaksian-kesaksian mereka, mereka itulah yang akan berada di dalam surga-surga yang dimuliakan.”

وَمَا كَانَ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ مِنَ الْفَضِيلَةِ امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ مُسْتَرْسِلًا فِي الْبَذْلَةِ. وَلَيْسَ مَا فَعلَّهُ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ بَذْلَةً، لِأَنَّهُ لَمْ يَخْرُجْ عَنْ عُرْفِ أَهْلِهِ فِي الزَّهَادَةِ وَالِانْحِرَافِ عَنِ الدُّنْيَا إِلَى الْآخِرَةِ.

Dan sesuatu yang memiliki kedudukan keutamaan seperti ini, mustahil bersikap berlebihan dalam penampilan yang lusuh. Apa yang dilakukan oleh generasi pertama bukanlah sikap berlebihan, karena hal itu tidak keluar dari kebiasaan mereka dalam kezuhudan dan berpaling dari dunia menuju akhirat.

وَقَدْ رَوَى أَبُو مَسْعُودٍ الْبَدْرِيُّ عَنِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنَ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “.

Abu Mas‘ud al-Badri meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian adalah: Jika engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”

وَلِأَنَّ إِقْدَامَهُ عَلَى الْبَذْلَةِ وَالْعُدُولَ عَنِ الصِّيَانَةِ دَلِيلٌ عَلَى اطِّرَاحِ الصِّيَانَةِ وَالتَّحَفُّظِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَقِلَّ تَحَفُّظُهُ فِي حَقِّ غَيْرِهِ.

Karena keberaniannya untuk memberikan sesuatu dan meninggalkan sikap menjaga diri merupakan bukti bahwa ia telah menanggalkan sikap menjaga dan kehati-hatian terhadap dirinya sendiri, maka lebih utama lagi jika kehati-hatiannya terhadap orang lain menjadi lebih sedikit.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ قَدْ نَشَأَ عَلَيْهَا مِنْ صِغَرِهِ لَمْ تقدح في عدالته وإن استحدثها في كبيره قَدَحَتْ فِي عَدَالَتِهِ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِالْمَنْشَأِ مَطْبُوعًا بِهَا وَبَالِاسْتِحْدَاثِ مُخْتَارًا لَهَا.

Pendapat ketiga: Jika seseorang telah tumbuh dengan kebiasaan itu sejak kecil, maka hal tersebut tidak merusak keadilannya. Namun jika ia melakukannya setelah dewasa, maka hal itu merusak keadilannya. Sebab, dengan tumbuh bersama kebiasaan itu, ia menjadi terbentuk dengannya secara alami, sedangkan jika ia melakukannya setelah dewasa, berarti ia memilihnya secara sadar.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ: إِنِ اخْتَصَّتْ بِالدِّينِ قَدَحَتْ فِي عَدَالَتِهِ كَالْبَوْلِ قَائِمًا وَفِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ، وَكَشْفِ الْعَوْرَةِ إِذَا خَلَا، وإن يتحدث بمساوىء النَّاسِ، وَإِنِ اخْتَصَّتْ بِالدُّنْيَا لَمْ تَقْدَحْ فِي عَدَالَتِهِ. كَالْأَكْلِ فِي الطَّرِيقِ وَكَشْفِ الرَّأْسِ ” بَيْنَ النَّاسِ ” وَالْمَشْيِ حَافِيًا، لِأَنَّ مُرُوءَةَ الدِّينِ مَشْرُوعَةٌ وَمُرُوءَةَ الدُّنْيَا مُسْتَحْسَنَةٌ.

Pendapat keempat: Jika perbuatan itu khusus berkaitan dengan agama, maka hal itu mencederai keadilannya, seperti buang air kecil sambil berdiri, buang air di air yang tergenang, membuka aurat ketika sendirian, atau membicarakan keburukan orang lain. Namun jika perbuatan itu khusus berkaitan dengan urusan dunia, maka hal itu tidak mencederai keadilannya, seperti makan di jalan, membuka kepala di hadapan orang banyak, atau berjalan tanpa alas kaki. Sebab, muru’ah dalam urusan agama adalah sesuatu yang disyariatkan, sedangkan muru’ah dalam urusan dunia hanya sesuatu yang dianggap baik.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الصَّنَائِعُ فَضَرْبَانِ: مُسْتَرْذَلٌ وَغَيْرُ مُسْتَرْذَلٍ.

Adapun pekerjaan-pekerjaan (kerajinan) itu terbagi menjadi dua: yang dipandang rendah dan yang tidak dipandang rendah.

فَأَمَّا غَيْرُ الْمُسْتَرْذَلِ كَالزِّرَاعَةِ وَالصِّنَاعَةِ، فَغَيْرُ قَادِحٍ فِي الْعَدَالَةِ، لِأَنَّهُ (مِمَّا) لَا يَسْتَغْنِي النَّاسُ عَنِ الِاكْتِسَابِ بِصَنَائِعِهِمْ وَمَتَاجِرِهِمْ وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَا يُكَفِّرُهُ صَوْمٌ وَلَا صَلَاةٌ وَيُكَفِّرُهُ عَرَقُ الْجَبِينِ فِي طَلَبِ الْحِرْفَةِ “.

Adapun pekerjaan yang tidak dianggap hina, seperti pertanian dan industri, maka hal itu tidak merusak keadilan, karena manusia tidak dapat hidup tanpa mencari penghasilan melalui keahlian dan perdagangan mereka. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat dihapuskan oleh puasa dan salat, tetapi dihapuskan oleh keringat di dahi dalam mencari pekerjaan.”

وَرُوِيَ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” الْكَادُّ عَلَى عِيَالِهِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ “.

Diriwayatkan dari beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda: “Orang yang bersungguh-sungguh mencari nafkah untuk keluarganya seperti mujahid di jalan Allah.”

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” أَكْذَبُ النَّاسِ الصَّبَّاغُونَ وَالصَّوَّاغُونَ “.

Jika dikatakan: Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Orang yang paling banyak berdusta adalah para tukang celup kain dan para tukang emas.”

(قِيلَ) هَذَا مَوْقُوفٌ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَيْسَ بِمُسْنَدٍ، لِأَنَّهُ سَمِعَ قَوْمًا يَرْجُفُونَ بِشَيْءٍ فَقَالَ: كِذْبَةٌ قَالَهَا الصَّبَّاغُونَ وَالصَّوَّاغُونَ.

Dikatakan bahwa ini adalah mauqūf pada Abu Hurairah dan bukan musnad, karena ia mendengar sekelompok orang membicarakan sesuatu dengan gempar, lalu ia berkata: “Itu adalah kebohongan yang diucapkan oleh para penyamak kulit dan para pandai emas.”

وَإِنْ ثَبَتَ مُسْنَدًا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي تَأْوِيلِهِ.

Dan jika hadis tersebut sahih dengan sanad yang bersambung, maka para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan maknanya.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِأَنَّهُمْ يَعِدُونَ وَيَخْلُفُونَ. وَإِخْلَافُ الْوَعْدِ كَذِبٌ.

Sebagian dari mereka berkata: Karena mereka berjanji lalu mengingkari. Mengingkari janji adalah kebohongan.

وَقَالَ آخَرُونَ لِأَنَّ الصَّبَّاغِينَ يُسَمُّونَ الْأَلْوَانَ بِمَا أَشْبَهَهَا فَيَقُولُونَ: هَذَا لَوْنُ الشَّقَائِقِ وَلَوْنُ الشَّفَقِ وَلَوْنُ النَّارِنْجِ.

Dan sebagian yang lain berkata, karena para penyamak (pewarna kain) menamai warna-warna sesuai dengan yang mirip dengannya, maka mereka berkata: ini adalah warna syaqā’iq, warna syafaq, dan warna nāranj.

وَالصَّوَّاغُونَ يُسَمُّونَ الْأَشْكَالَ بِمَا يُمَاثِلُهَا، فَيَقُولُونَ: هَذَا زَرْعٌ وَهَذَا شَجَرٌ، وَتَسْمِيَةُ الشَّيْءِ بِغَيْرِ اسْمِهِ كَذِبٌ.

Para pembuat perhiasan menamai bentuk-bentuk sesuai dengan apa yang menyerupainya, maka mereka berkata: “Ini adalah tanaman, dan ini adalah pohon.” Menamai sesuatu dengan nama selain namanya adalah kebohongan.

وَقَالَ آخَرُونَ: يُرِيدُونَ بِالصَّبَّاغِينَ الَّذِينَ يَصْبُغُونَ الْكَلَامَ فَيُغَيِّرُونَ الصِّدْقَ بَالْكَذِبِ، لِأَنَّ الصَّبْغَ تَغْيِيرُ اللَّوْنِ بِغَيْرِهِ. وَيُرِيدُ بِالصَّوَّاغِينَ الَّذِينَ يَصُوغُونَ الْكَلَامَ. وَمِنْهُمُ الشُّعَرَاءُ. لِأَنَّهُمْ يَكْذِبُونَ فِي التَّشْبِيهِ وَالتَّشْبِيبِ.

Dan sebagian yang lain berkata: Yang mereka maksud dengan “para penyamak” adalah orang-orang yang mewarnai perkataan, sehingga mengubah kebenaran dengan kebohongan, karena menyamak berarti mengubah warna dengan warna lain. Dan yang dimaksud dengan “para perajin” adalah orang-orang yang merangkai perkataan. Di antara mereka adalah para penyair, karena mereka berdusta dalam membuat perumpamaan dan penggambaran.

فَإِنْ كَانُوا عَلَى التَّأْوِيلِ الْأَوَّلِ رُدَّتْ بِهِ شَهَادَتُهُمْ، لِأَنَّ مُخَالَفَةَ الْوَعْدِ كَذِبٌ. وَإِنْ كَانُوا عَلَى التَّأْوِيلِ الثَّانِي، لَمْ تُرَدَّ بِهِ الشَّهَادَةُ، لِأَنَّ مُخَالَفَةَ الِاسْمِ اسْتِعَارَةٌ، وَإِنْ كَانُوا عَلَى التَّأْوِيلِ الثَّالِثِ، رُدَّتِ الشَّهَادَةُ فِي الصَّبَّاغِينَ وَلَمْ تُرَدَّ فِي الصَّوَّاغِينَ إِذَا سَلِمُوا مِنَ الْكَذِبِ.

Jika mereka berada pada penafsiran pertama, maka kesaksian mereka ditolak karenanya, karena menyelisihi janji adalah suatu kebohongan. Jika mereka berada pada penafsiran kedua, maka kesaksian tidak ditolak karenanya, karena penyelisihan terhadap nama hanyalah suatu majas. Dan jika mereka berada pada penafsiran ketiga, maka kesaksian ditolak pada para penyamak, namun tidak ditolak pada para pandai emas jika mereka terjaga dari kebohongan.

وَأَمَّا الْمُسْتَرْذَلُ مِنَ الصَّنَائِعِ فَضَرْبَانِ:

Adapun pekerjaan yang dianggap rendah itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مُسْتَرْذَلًا فِي الدِّينِ كَالْمُبَاشِرِينَ لِلْأَنْجَاسِ مِنَ الْكَنَّاسِينَ وَالزَّبَّالِينَ، وَالْحَجَّامِينَ، أَوِ الْمُشَاهِدِينَ لِلْعَوْرَاتِ كَالْقَيِّمِ وَالْمُزَيِّنِ.

Salah satunya adalah pekerjaan yang dianggap hina dalam agama, seperti mereka yang langsung bersentuhan dengan najis, seperti petugas kebersihan dan pemungut sampah, serta tukang bekam, atau mereka yang melihat aurat, seperti penjaga dan tukang rias.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا كَانَ مُسْتَرْذَلًا فِي الدُّنْيَا كَالنَّسِيجِ وَالْحِيَاكَةِ، وَمَا يُدَنِّسُ بِرَائِحَتِهِ كَالْقَصَّابِ وَالسَّمَّاكِ. فَإِنْ لَمْ يُحَافِظْ هَؤُلَاءِ عَلَى إِزَالَةِ الْأَنْجَاسِ مِنْ أَيْدِيهِمْ وَثِيَابِهِمْ فِي أَوْقَاتِ صَلَوَاتِهِمْ وَقَصَّرُوا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ، كَانَ ذَلِكَ جُرْحًا فِي عَدَالَتِهِمْ وَقَدْحًا فِي دِيَانَتِهِمْ.

Golongan kedua adalah pekerjaan yang dianggap rendah di dunia seperti menenun dan menjahit, serta pekerjaan yang menimbulkan bau tidak sedap seperti tukang daging dan penjual ikan. Jika mereka tidak menjaga kebersihan dari najis pada tangan dan pakaian mereka di waktu-waktu salat, dan mereka lalai dalam menunaikan hak-hak Allah Ta‘ala atas mereka, maka hal itu menjadi cacat dalam keadilan mereka dan celaan terhadap agama mereka.

وَإِنْ حَافَظُوا عَلَى إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ، وَالْقِيَامِ بِحُقُوقِ الْعَدَالَةِ، فَفِي قَدْحِ ذَلِكَ فِي عَدَالَتِهِمْ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dan jika mereka tetap menjaga kebersihan dari najis serta menunaikan hak-hak keadilan, maka terdapat tiga pendapat mengenai apakah hal itu dapat mencederai keadilan mereka.

أَحَدُهَا: أَنَّهُ يقدح فيها، لأن الرضا بها مع الاسترزال قَدْحٌ.

Salah satunya: bahwa hal itu mencederai (kesaksian), karena ridha terhadapnya disertai dengan meremehkan adalah suatu celaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَقْدَحُ فِي الْعَدَالَةِ لِأَنَّهُ لَا يَجِدُ النَّاسُ مِنْهَا بُدًّا. وَلِأَنَّهَا مُسْتَبَاحَةٌ شَرْعًا.

Pendapat kedua: Hal itu tidak merusak keadilan karena manusia tidak dapat menghindarinya, dan karena hal tersebut dibolehkan secara syariat.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ يَقْدَحُ فِي الْعَدَالَةِ مِنْهَا مَا اسْتُرْذِلَ فِي الدِّينِ. وَلَا يَقْدَحُ فِيهَا مَا اسْتُرْذِلَ فِي الدُّنْيَا، لَا سِيَّمَا الْحِيَاكَةِ لِكَثْرَةِ الْخَيْرِ فِي أَهْلِهَا.

Pendapat ketiga: Bahwa yang merusak keadilan adalah hal-hal yang dianggap hina dalam agama. Adapun hal-hal yang dianggap hina dalam urusan dunia, tidak merusak keadilan, terutama pekerjaan menenun, karena banyaknya kebaikan pada orang-orang yang melakukannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ شُرُوطِ الْعَدَالَةِ وَأَنَّهَا فِعْلُ الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابُ الْمَعَاصِي، وَلُزُومُ الْمُرُوءَةِ، عَلَى التَّفْصِيلِ الَّذِي ذَكَرْنَا.

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan mengenai syarat-syarat keadilan, yaitu melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat, serta menjaga muru’ah, sesuai dengan rincian yang telah kami sebutkan.

فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ نَعْلَمُهُ إِلَّا أن يكون قليلا بمحض الطَّاعَةَ وَالْمُرُوءَةَ. حَتَّى لَا يَخْلِطَهُمَا بِمَعْصِيَةٍ وَلَا بمحض الْمَعْصِيَةَ وَتَرْكَ الْمُرُوءَةِ حَتَّى لَا يَخْلِطَهُمَا بِشَيْءٍ مِنَ الطَّاعَةِ وَالْمُرُوءَةِ.

Imam Syafi‘i berkata: “Tidak ada seorang pun dari manusia yang kami ketahui kecuali ia sedikit sekali yang benar-benar murni dalam ketaatan dan muru’ah, sehingga tidak tercampur dengan maksiat; dan tidak pula benar-benar murni dalam maksiat dan meninggalkan muru’ah, sehingga tidak tercampur dengan sedikit pun dari ketaatan dan muru’ah.”

وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ فِي غَرَائِزِ أَنْفُسِهِمْ دَوَاعِيَ الطَّاعَاتِ وَدَوَاعِيَ الْمَعَاصِي فَلَمْ يَتَمَحَّضْ وُجُودُ أَحَدِهِمَا مَعَ اجْتِمَاعِ سَبَبِهِمَا وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ:

Dan ini benar, karena dalam naluri jiwa mereka terdapat dorongan untuk taat dan dorongan untuk maksiat, sehingga tidak murni hanya salah satunya yang ada ketika kedua sebabnya berkumpul. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

(مَنْ لَكَ بِالْمَحْضِ وَلَيْسَ مَحْضٌ … يَحِيقُ بَعْضٌ وَيَطِيبُ بَعْضُ)

Siapa yang memiliki sesuatu secara murni, padahal tidak ada yang benar-benar murni… sebagian akan terkena dampak buruk, dan sebagian akan menjadi baik.

وَلِأَنَّ أَفْضَلَ النَّاسِ الْأَنْبِيَاءُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى} [طه: 121] .

Karena sesungguhnya manusia terbaik adalah para nabi, dan Allah Ta‘ala telah berfirman: “Dan Adam telah durhaka kepada Tuhannya, maka ia tersesat.” (Thaha: 121).

وَقَالَ تعالى: {وظن داود أنما فتنه فاستغفر ربه} [ص: 24] وقال: {وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ} [يوسف: 24] وَقَالَ تَعَالَى فِي يُونُسَ: {لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ} [الأنبياء: 87] .

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dawud pun mengetahui bahwa Kami telah mengujinya, maka ia memohon ampun kepada Tuhannya.” (Shad: 24). Dan Dia berfirman: “Dan sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan sesuatu) terhadap Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan sesuatu) terhadapnya, sekiranya dia tidak melihat bukti dari Tuhannya.” (Yusuf: 24). Dan Allah Ta’ala berfirman tentang Yunus: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya: 87).

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَا مِنَّا مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا مَنْ عَصَى اللَّهَ أَوْ هَمَّ بِمَعْصِيَةٍ إِلَّا أَخِي يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak ada di antara kami, para nabi, kecuali pernah bermaksiat kepada Allah atau terlintas dalam hatinya untuk bermaksiat, kecuali saudaraku Yahya bin Zakariya.”

وَقِيلَ: إِنَّهُ اخْتُبِرَ يَحْيَى فِي كُوزِ مَاءٍ رَآهُ مَمْلُوءًا وَفَرَغَ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ.

Dikatakan: Sesungguhnya Yahya diuji dengan sebuah kendi air; ia melihatnya dalam keadaan penuh lalu kosong, sementara ia tidak mengetahuinya.

وَقِيلَ لَهُ: مَا فِي [الْكُوزِ] فَقَالَ: كَانَ فِيهِ مَاءٌ. وَلَمْ يَقُلْ فِيهِ مَاءٌ فَيَكُونُ كَذِبًا فَتَحَفَّظَ حَتَّى سَلِمَ.

Dan dikatakan kepadanya: “Apa yang ada di dalam [kendi] itu?” Ia menjawab: “Di dalamnya tadi ada air.” Ia tidak mengatakan, “Di dalamnya ada air,” sehingga menjadi dusta. Ia berhati-hati hingga selamat.

وَلِأَنَّ أَعْصَى خَلْقِ اللَّهِ إِبْلِيسُ وَقَدْ كَانَتْ مِنْهُ طَاعَةٌ فِي قَوْله تَعَالَى: {فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أجمعين إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ} [ص: 82، 83]

Dan karena makhluk Allah yang paling durhaka adalah Iblis, padahal darinya pernah muncul ketaatan, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang mukhlashīn (yang disucikan).” (QS. Shad: 82-83)

وَإِذَا لَمْ يَسْلَمْ أَحَدٌ مِنَ الطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ الْعَدَالَةُ مَقْصُورَةً عَلَى خُلُوصِ الطَّاعَاتِ. وَلَا الْفِسْقُ مَقْصُورًا عَلَى خُلُوصِ الْمَعَاصِي. لِامْتِنَاعِ خُلُوصِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا. وَلَا اعْتِبَارَ بِالْمُمْتَنِعِ فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ الْأَغْلَبُ مِنْ أَحْوَالِ الْإِنْسَانِ.

Dan apabila tidak ada seorang pun yang terbebas dari ketaatan dan kemaksiatan, maka tidak boleh keadilan itu hanya terbatas pada kemurnian ketaatan saja, dan kefasiqan hanya terbatas pada kemurnian maksiat saja, karena mustahil salah satu dari keduanya benar-benar murni. Sesuatu yang mustahil tidak dapat dijadikan pertimbangan, maka wajib mempertimbangkan keadaan yang paling dominan dari seseorang.

فَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ الطَّاعَةَ وَالْمُرُوءَةَ. حُكِمَ بِعَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَإِنْ عَصَى بِبَعْضِ الصَّغَائِرِ، وَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ الْمَعْصِيَةَ وَتَرْكَ الْمُرُوءَةِ، حُكِمَ بِفِسْقِهِ وَرَدِّ شَهَادَتِهِ وَإِنْ أَطَاعَ فِي بَعْضِ أَحْوَالِهِ.

Jika seseorang lebih dominan dalam ketaatan dan menjaga muru’ah, maka ia dihukumi sebagai orang yang ‘adalah (adil) dan kesaksiannya diterima, meskipun ia melakukan sebagian dosa kecil. Namun jika yang lebih dominan pada dirinya adalah maksiat dan meninggalkan muru’ah, maka ia dihukumi sebagai orang yang fāsiq dan kesaksiannya ditolak, meskipun ia taat dalam sebagian keadaannya.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَمَنْ ثَقُلَتْ موازينه فأولئك هم المفلحون وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ} [المؤمنون: 103، 102]

Allah Ta‘ala berfirman: “Maka barang siapa yang timbangan amalnya berat, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang timbangan amalnya ringan, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri; mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minun: 102-103)

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا} [البقرة: 219] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Al-Baqarah: 219)

فَغَلَّبَ حُكْمَ الْأَغْلَبِ كَمَا غَلَّبَ فِي الْإِبَاحَةِ وَالْحَظْرِ حُكْمَ الْأَغْلَبِ وَفِي اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ إِذَا اخْتَلَطَ بِمَائِعٍ.

Maka ia mengedepankan hukum yang lebih dominan, sebagaimana ia juga mengedepankan hukum yang lebih dominan dalam perkara kebolehan dan larangan, serta dalam penggunaan air apabila bercampur dengan cairan lain.

وَفِي نِكَاحِ النِّسَاءِ إِذَا اخْتَلَطَتْ بِأُخْتٍ إِنْ كَانَتْ فِي عَدَدٍ مَحْصُورٍ، حُرِّمْنَ عَلَيْهِ حَتَّى تَتَعَيَّنَ لَهُ مَنْ لَيْسَتْ بِأُخْتٍ فَتَحِلَّ. وَإِنْ كَانَتْ فِي جَمٍّ غَفِيرٍ حَلَلْنَ لَهُ حَتَّى تَتَعَيَّنَ لَهُ مَنْ هِيَ أخت فتحرم.

Dalam pernikahan perempuan, apabila terdapat percampuran dengan saudara perempuan (dari pihak istri) dan jumlahnya terbatas, maka seluruh perempuan itu diharamkan baginya sampai dapat dipastikan siapa di antara mereka yang bukan saudara perempuan, sehingga ia menjadi halal baginya. Namun jika percampurannya terjadi dalam kelompok yang sangat banyak, maka seluruh perempuan itu halal baginya sampai dapat dipastikan siapa di antara mereka yang merupakan saudara perempuan, sehingga ia menjadi haram baginya.

فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ حُكْمُ الْأَغْلَبِ أَصْلًا مُعْتَبَرًا في العدالة والفسق.

Maka wajib bahwa hukum mayoritas dijadikan sebagai dasar yang diperhitungkan dalam keadilan dan kefasikan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا يُقْبَلُ الشَّاهِدُ حَتَّى يَثْبُتَ عِنْدَهُ بِخَبَرٍ مِنْهُ أَوْ بَيِّنَةٍ أَنَّهُ حُرٌّ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang saksi tidak diterima kesaksiannya sampai terbukti baginya, baik melalui berita darinya sendiri atau melalui bayyinah, bahwa ia adalah seorang yang merdeka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَقَدْ تَقَرَّرَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ الْعَدَالَةَ فِي الشَّهَادَةِ مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: بِدِينِهِ، وَمُرُوءَتِهِ، وَأَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا.

Al-Mawardi berkata: Telah tetap dengan apa yang telah kami sebutkan bahwa keadilan dalam persaksian dipertimbangkan pada tiga hal: agamanya, muru’ah-nya, dan bahwa ia termasuk orang yang layak memberikan persaksian.

فَأَمَّا اعْتِبَارُهَا بِدِينِهِ، فَيَكُونُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:

Adapun pertimbangan terhadap agamanya, maka hal itu dilakukan dengan tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنْ يُواظِبَ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ.

Salah satunya: senantiasa menjaga pelaksanaan ketaatan dalam ibadah dan muamalah.

وَالثَّانِي: أَنْ يَجْتَنِبَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْمَعَاصِي مِنَ الزِّنَا وَاللِّوَاطِ وَالْقَتْلِ وَالْغَصْبِ وَالسَّرِقَةِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ.

Kedua: Hendaknya ia menjauhi dosa-dosa besar dan maksiat, seperti zina, liwath (homoseksualitas), pembunuhan, perampasan, pencurian, dan meminum khamr.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا يُصِرَّ عَلَى صَغَائِرِ الْمَعَاصِي، وَإِصْرَارُهُ عَلَيْهَا الْإِكْثَارُ مِنْهَا وَقِلَّةُ الِانْقِبَاضِ عَنْهَا، وَهَذَا مُعْتَبَرٌ فِيهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا، وَثُبُوتُهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ قَدْ يَكُونُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ketiga: Tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil, dan yang dimaksud dengan terus-menerus di sini adalah sering melakukannya dan sedikitnya rasa menahan diri darinya. Hal ini diperhitungkan baik secara batin maupun lahir. Penetapannya di hadapan hakim bisa terjadi melalui dua cara:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَعْلَمَهُ مِنْ حَالِهِ، فَيَجُوزَ أَنْ يَعْمَلَ فِيهِ بِعِلْمِهِ سَوَاءٌ قِيلَ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ أَمْ لَا. لِأَنَّهَا صِفَةُ إِخْبَارٍ تَتَقَدَّمُ عَلَى الْحُكْمِ.

Salah satunya adalah bahwa ia mengetahuinya dari keadaannya sendiri, maka boleh baginya untuk beramal berdasarkan pengetahuannya itu, baik dikatakan bahwa hakim boleh memutuskan dengan ilmunya sendiri maupun tidak. Karena hal itu merupakan sifat pemberitahuan yang mendahului keputusan hukum.

وَالثَّانِي: أَنْ يَجْهَلَ حَالَهُ فَتَثْبُتَ عَدَالَتُهُ بِالْبَيِّنَةِ الْعَادِلَةِ عَلَى مَا وَصَفْنَا فِي أَدَبِ الْقَاضِي. مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الْبَاطِنَةِ بِهِ.

Kedua: Jika keadaannya tidak diketahui, maka keadilannya dapat dibuktikan dengan kesaksian yang adil, sebagaimana telah kami jelaskan dalam adab qāḍī, dari orang-orang yang benar-benar mengenalnya secara mendalam.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ بِعَدَالَتِهِ بِقَوْلِهِ: إِنَّنِي عَدْلٌ، وَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِفِسْقِهِ بِقَوْلِهِ: إِنِّي فَاسِقٌ. لِأَنَّهُ مَتْهُومٌ فِي التَّعْدِيلِ وَغَيْرُ مَتْهُومٍ فِي الْجَرْحِ، لِأَنَّ الْعَدَالَةَ تُوجِبُ لَهُ حَقًّا وَالْفِسْقَ يُوجِبُ عَلَيْهِ حَقًّا.

Tidak boleh menetapkan keadilannya hanya berdasarkan pengakuannya sendiri dengan berkata, “Saya adalah orang yang adil.” Namun, boleh menetapkan kefasikannya berdasarkan pengakuannya sendiri dengan berkata, “Saya adalah orang fasik.” Sebab, dalam hal keadilan ia dianggap memiliki tendensi untuk membela diri, sedangkan dalam hal jarḥ (celaan) ia tidak memiliki tendensi demikian, karena keadilan akan memberikan hak baginya, sedangkan kefasikan akan menimbulkan kewajiban atas dirinya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْمُرُوءَةُ فَقَدْ ذَكَرْنَا مَا يُعْتَبَرُ فِيهَا مِنَ الْمُرُوءَةِ فِي الْعَدَالَةِ وَمَا لَا يُعْتَبَرُ. وَلَيْسَ لِمَا لَا يُعْتَبَرُ مِنْهَا تَأْثِيرٌ.

Adapun muru’ah, kami telah menjelaskan hal-hal yang dianggap sebagai bagian dari muru’ah dalam keadilan dan hal-hal yang tidak dianggap. Dan apa yang tidak dianggap dari muru’ah tersebut tidak memiliki pengaruh.

وَأَمَّا الْمُعْتَبَرُ مِنْهَا، فَهُوَ ظَاهِرٌ فِي أَفْعَالِ الْعَدْلِ. فَإِنْ عَرَفَهُ الْحَاكِمُ عَمِلَ فِيهَا بِمَعْرِفَتِهِ. وَإِنْ خَفِيَتْ عَلَيْهِ سَأَلَ عَنْهَا. وَهَلْ تَثْبُتُ عِنْدَهُ بِخَبَرٍ أَوْ شَهَادَةٍ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun yang dianggap sah darinya, maka hal itu tampak jelas dalam perbuatan orang yang adil. Jika hakim mengetahuinya, maka ia memutuskan berdasarkan pengetahuannya itu. Namun jika hal itu tersembunyi baginya, ia harus menanyakannya. Apakah hal tersebut dapat dibuktikan di hadapannya dengan kabar atau kesaksian? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: لَا تَثْبُتُ عِنْدَهُ إِلَّا بِشَهَادَةٍ، كَالْعَدَالَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا تَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْ عَدْلٍ قَدْ جرياه عَلَى قَدِيمِ الْوَقْتِ وَحَدِيثِهِ.

Salah satunya: tidak dapat ditetapkan menurutnya kecuali dengan kesaksian, seperti keadilan dalam agama, dan itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi yang adil yang telah menjalankan (keadilan itu) baik di masa lalu maupun masa sekarang.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهَا خَبَرٌ تَثْبُتُ بِقَوْلِ مَنْ يُوثَقُ بِهِ وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا، لِأَنَّ الْعَدَالَةَ فِي الدِّينِ بَاعِثَةٌ عَلَيْهَا. فَقَوِيَ الْخَبَرُ بِهَا فَأَقْنَعَ.

Pendapat kedua: Bahwa ia adalah sebuah khabar (berita) yang dapat ditetapkan dengan ucapan seseorang yang terpercaya, meskipun hanya satu orang, karena keadilan dalam agama mendorong untuk menyampaikannya. Maka khabar tersebut menjadi kuat karenanya sehingga memadai.

وَأَمَّا كَوْنُهُ مِنْ أَهْلِ الْعَدَالَةِ فِي الدِّينِ فَتَكُونُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ:

Adapun syarat seseorang termasuk ahli ‘adālah dalam agama, maka hal itu terwujud dengan empat hal:

بِبُلُوغِهِ، وَعَقْلِهِ، وَإِسْلَامِهِ، وَحُرِّيَّتِهِ.

Dengan telah baligh, berakal, beragama Islam, dan merdeka.

فَأَمَّا الْبُلُوغُ، فَإِنْ لَمْ يُشْتَبَهْ حَالُهُ فِيهِ لِكَوْنِهِ رَجُلًا مُشْتَدًّا فَهُوَ مَقْطُوعٌ بِهِ وَإِنِ اشْتَبَهَتْ حَالُهُ فِيهِ، لِكَوْنِهِ رَجُلًا، أَمْرَدَ، فَحَكَمَ بِحُكْمِ الْحَاكِمِ بِبُلُوغِهِ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun mengenai baligh, jika keadaannya tidak diragukan karena ia adalah seorang laki-laki yang sudah kuat, maka hal itu sudah pasti. Namun jika keadaannya diragukan karena ia adalah seorang laki-laki yang belum tumbuh janggut (amrad), maka keputusan hakim tentang kebalighannya dapat didasarkan pada salah satu dari empat cara:

أَحَدُهَا: أَنْ يَظْهَرَ عَلَيْهِ شَوَاهِدُ الْبُلُوغِ بِالْإِثْبَاتِ، إِذَا جُعِلَ الْإِثْبَاتُ فِي الْمُسْلِمِ بُلُوغًا.

Salah satunya: apabila pada dirinya tampak tanda-tanda baligh secara penetapan, jika penetapan tersebut pada seorang Muslim dianggap sebagai baligh.

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْرِفَ الْحَاكِمُ سِنَّهُ فَيَحْكُمَ بِبُلُوغِهِ إِذَا اسْتَكْمَلَ سِنَّ الْبُلُوغِ.

Kedua: Hendaknya hakim mengetahui usianya, lalu memutuskan telah baligh jika ia telah mencapai usia baligh.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَشْهَدَ بِبُلُوغِهِ شَاهِدَا عَدْلٍ فَيَحْكُمَ بِبُلُوغِهِ إِذَا اسْتَكْمَلَ سِنَّ الْبُلُوغِ فَتَكُونَ شَهَادَةً لَا خَبَرًا.

Ketiga: Jika dua orang saksi yang adil memberikan kesaksian tentang telah balighnya seseorang, maka diputuskan bahwa ia telah baligh apabila telah mencapai usia baligh, sehingga kesaksian tersebut menjadi sebuah persaksian, bukan sekadar pemberitahuan.

وَالرَّابِعُ: أن يقوم الْغُلَامُ: قَدْ بَلَغْتُ فَيُحْكَمَ بِبُلُوغِهِ فَتَكُونَ شَهَادَةٌ بِقَوْلِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَبْلُغُ بِالِاحْتِلَامِ الَّذِي لَا يُعْلَمُ إِلَّا مِنْ جِهَتِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ تَتَغَلَّظُ أَحْكَامُهُ بِتَوَجُّهِ التَّكْلِيفِ إِلَيْهِ فَكَانَ غَيْرَ مُتَّهَمٍ فِيهِ.

Keempat: Jika seorang anak laki-laki berkata, “Aku telah baligh,” maka ditetapkanlah status baligh baginya berdasarkan ucapannya, sehingga hal itu menjadi sebuah kesaksian dari dirinya sendiri. Sebab, bisa jadi ia mencapai baligh melalui mimpi basah yang hanya dapat diketahui dari dirinya sendiri. Karena dengan baligh, hukum-hukum syariat yang lebih berat mulai berlaku atasnya, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang patut dicurigai dalam hal ini.

وَأَمَّا الْعَقْلُ فَيُعْلَمُ مُشَاهَدَةً بِظُهُورِ نَتَائِجِهِ، وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى بَيِّنَةٍ إِنْ خَفِيَ لِإِمْكَانِ اخْتِبَارِهِ مَعَ الِاشْتِبَاهِ.

Adapun akal, maka diketahui secara langsung melalui tampaknya hasil-hasilnya, dan tidak membutuhkan bukti jika tersembunyi, karena dapat diuji meskipun ada keraguan.

حُكِيَ أَنَّ امْرَأَةً حَضَرَتْ عِنْدَ شُرَيْحٍ فِي مُحَاكَمَةٍ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهَا مَجْنُونَةٌ. فَقَالَ لَهَا مُخْتَبِرًا: أَيُّ رِجْلَيْكِ أَطْوَلُ؟

Diceritakan bahwa seorang wanita menghadiri sidang di hadapan Syuraih dalam suatu perkara, lalu dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya wanita ini gila.” Maka Syuraih berkata kepadanya untuk menguji: “Kaki mana yang lebih panjang darimu?”

فَمَدَّتْهُمَا لِتُقَدِّرَهُمَا، فَصَرَفَهَا وَحَكَمَ بِعَقْلِهَا.

Lalu ia mengulurkan keduanya untuk mengukurnya, maka ia mengalihkan keduanya dan memutuskan dengan akalnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْإِسْلَامُ فَيُعْلَمُ بِأَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun Islam dapat diketahui melalui empat cara:

أَحَدُهَا: أَنْ يُعْلَمَ إِسْلَامُ أَحَدِ أَبَوَيْهِ أَوْ كِلَيْهِمَا قَبْلَ بُلُوغِهِ فَيُحْكَمَ بِإِسْلَامِهِ.

Pertama: Jika diketahui bahwa salah satu dari kedua orang tuanya atau keduanya telah memeluk Islam sebelum anak tersebut baligh, maka anak itu dihukumi sebagai Muslim.

وَالثَّانِي: أَنْ يَتَلَفَّظَ بِالشَّهَادَتَيْنِ فَيُحْكَمَ بِإِسْلَامِهِ.

Kedua: Mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia dihukumi telah masuk Islam.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يُرَى مُصَلِّيًا فِي مَسَاجِدِنَا عَلَى قَدِيمِ الْوَقْتِ وَحَدِيثِهِ فَيُحْكَمَ بِإِسْلَامِهِ بِظَاهِرِ الْحَالِ لَا بِالصَّلَاةِ لِأَنَّنَا لَا نَحْكُمُ بِإِسْلَامِ الْكَافِرِ إِذَا صَلَّى.

Ketiga: Jika seseorang terlihat sedang shalat di masjid-masjid kita, baik pada waktu lama maupun baru, maka dihukumi sebagai seorang Muslim berdasarkan keadaan lahiriahnya, bukan karena shalatnya. Sebab, kita tidak menghukumi seorang kafir menjadi Muslim hanya karena ia melakukan shalat.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَقُولَ إِنَّنِي مُسْلِمٌ فَيُحْكَمَ بِإِسْلَامِهِ. وَهَلْ يَحْتَاجُ إِلَى اخْتِبَارِهِ بِالشَّهَادَتَيْنِ مَعَ الْجَهْلِ بِحَالِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Keempat: Jika seseorang berkata, “Saya seorang Muslim,” maka ia diputuskan sebagai seorang Muslim. Apakah perlu mengujinya dengan dua kalimat syahadat ketika tidak diketahui keadaannya atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُخْتَبَرُ بِهِمَا لِأَنَّهُ أَحْوَطُ.

Salah satunya: diuji dengan keduanya karena itu lebih berhati-hati.

وَالثَّانِي: لَا يَلْزَمُ اخْتِبَارُهُ بَعْدَ إِقْرَارِهِ لِجَرَيَانِ أَحْكَامِ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ إِنْ أَنْكَرَ فَإِنْ عَلِمَ الْحَاكِمُ إِسْلَامَهُ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ حُكِمَ بِهِ. وَإِنْ جَهِلَهُ وَقَامَتِ الْبَيِّنَةُ بِإِسْلَامِهِ حُكِمَ بِهِ. وَلَمْ يُسْأَلِ الشُّهُودُ عَنْ سَبَبِ إِسْلَامِهِ.

Kedua: Tidak wajib mengujinya setelah ia mengakui (keislamannya), karena hukum-hukum Islam berlaku atasnya. Jika ia mengingkari, maka jika hakim mengetahui keislamannya dari salah satu cara ini, maka diputuskan (keislamannya) dengannya. Jika hakim tidak mengetahuinya dan ada bukti yang menunjukkan keislamannya, maka diputuskan (keislamannya) dengannya. Para saksi tidak ditanya tentang sebab keislamannya.

فَأَمَّا إِذَا شُوهِدَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ عَلَى قَدِيمِ الْوَقْتِ وَحَدِيثِهِ، حُكِمَ بِإِسْلَامِهِ فِي الظَّاهِرِ. مَا لَمْ يُعْلَمْ كُفْرُهُ، لِأَنَّ مَيِّتًا لَوْ وُجِدَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ، مَجْهُولَ الْحَالِ، وَجَبَ غَسْلِهِ وَتَكْفِينِهِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ اعْتِبَارًا بِظَاهِرِ الدَّارِ.

Adapun jika seseorang terlihat di wilayah Islam, baik pada masa lalu maupun masa kini, maka secara lahiriah dihukumi sebagai seorang Muslim, selama tidak diketahui kekafirannya. Sebab, jika ada jenazah yang ditemukan di wilayah Islam dan tidak diketahui keadaannya, maka wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin, berdasarkan pertimbangan lahiriah wilayah tersebut.

وَهَلْ يَكُونُ الْحُكْمُ إسلامه فِي الظَّاهِرِ مُوجِبًا لِلْحُكْمِ بِإِسْلَامِهِ فِي الْبَاطِنِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apakah hukum keislamannya secara lahiriah mewajibkan untuk menghukumi keislamannya secara batiniah? Ada dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ فِي الْبَاطِنِ تَبَعًا، فَيَرِثُ وَيُورَثُ مِنْ غَيْرِ اسْتِكْشَافٍ عَنْ إِسْلَامِهِ اكْتِفَاءً بِظَاهِرِهِ.

Salah satunya: Ditetapkan keislamannya secara batin sebagai ikutan, sehingga ia mewarisi dan diwarisi tanpa perlu menelusuri keislamannya, cukup dengan apa yang tampak darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ فِي الْبَاطِنِ وَإِنْ حُكِمَ بِهِ فِي الظَّاهِرِ لِأَنَّهُ لَوْ أَقَرَّ بِالْكُفْرِ قُبِلَ مِنْهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُهُ، وَلَوْ حُكِمَ بِإِسْلَامِهِ فِي الْبَاطِنِ لَمْ يُقْبَلْ إِقْرَارُهُ بِالْكُفْرِ. وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الرِّدَّةِ، وَهَذَا أَظْهَرُ الْوَجْهَيْنِ.

Pendapat kedua: Tidak dihukumi sebagai Muslim secara batin, meskipun dihukumi sebagai Muslim secara lahiriah, karena jika ia mengakui kekufuran, pengakuannya diterima dan hukum kekufuran diberlakukan atasnya. Jika ia dihukumi sebagai Muslim secara batin, maka pengakuan kekufurannya tidak akan diterima dan hukum riddah akan diberlakukan atasnya. Pendapat ini adalah yang lebih kuat di antara dua pendapat tersebut.

وَإِنْ حُكِمَ بِإِسْلَامِهِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ لَمْ يُسْأَلْ عَنْ إسلامه إن شهد وسأل عَنْ عَدَالَتِهِ. وَإِنْ حُكِمَ بِهِ فِي الظَّاهِرِ دون الباطن سأل عَنْ إِسْلَامِهِ ثُمَّ عَنْ عَدَالَتِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika telah diputuskan keislamannya secara lahir dan batin, maka tidak ditanyakan lagi tentang keislamannya jika ia bersaksi, melainkan ditanyakan tentang keadilannya. Namun jika hanya diputuskan keislamannya secara lahir saja tanpa batin, maka ditanyakan terlebih dahulu tentang keislamannya, kemudian tentang keadilannya. Dan Allah lebih mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْحُرِّيَّةُ وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ. فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهَا شَرْطٌ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ، وَلَيْسَتْ شَرْطًا فِي صِحَّةِ الْعَدَالَةِ، لِأَنَّ قَوْلَهُ مَقْبُولٌ فِي الْفُتْيَا وَالْأَخْبَارِ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ فِي الشَّهَادَةِ.

Adapun kebebasan, yang merupakan pokok bahasan dalam kitab ini, telah kami sebutkan bahwa kebebasan adalah syarat diterimanya kesaksian, namun bukan syarat sahnya keadilan. Sebab, perkataannya diterima dalam fatwa dan berita, meskipun tidak diterima dalam kesaksian.

وَحُرِّيَّتُهُ تُعْلَمُ مِنْ وَجْهَيْنِ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِمَا وَثَالِثٍ مُخْتَلَفٍ فِيهِ:

Kebebasannya diketahui dari dua sisi yang telah disepakati dan satu sisi ketiga yang diperselisihkan.

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَلِدَهُ حُرَّةٌ فَيَكُونَ حُرَّ الْأَصْلِ.

Salah satunya adalah bahwa ia dilahirkan oleh seorang perempuan merdeka, sehingga ia menjadi orang yang asalnya merdeka.

وَالثَّانِي: أَنْ يُعْتِقَهُ مَالِكٌ فَيَصِيرَ حُرًّا بَعْدَ الرِّقِّ.

Kedua: yaitu seorang pemilik memerdekakannya sehingga ia menjadi orang merdeka setelah sebelumnya berstatus budak.

وَالثَّالِثُ: الْمُخْتَلَفُ فِيهِ: أَنْ يَقُولَ: أَنَا حُرٌّ، فَفِي ثُبُوتِ حُرِّيَّتِهِ بِقَوْلِهِ وَجْهَانِ:

Ketiga: perkara yang diperselisihkan, yaitu apabila seseorang berkata, “Aku merdeka,” maka dalam penetapan status kemerdekaannya dengan ucapannya itu terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ: لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ حَتَّى يَثْبُتَ عِنْدَهُ بِخَبَرٍ مِنْهُ أَوْ بَيِّنَةٍ أَنَّهُ حُرٌّ، فَكَانَ ظَاهِرُ كَلَامِهِ أَنَّ خَبَرَهُ فِي حُرِّيَّتِهِ مَقْبُولٌ، لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ قَوْلُهُ فِي إِسْلَامِهِ مَقْبُولًا، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنَ الدَّارِ إِسْلَامُ أَهْلِهَا، كَانَ قَوْلُهُ فِي حُرِّيَّتِهِ مَقْبُولًا. لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ دَارِ الْإِسْلَامِ حُرِّيَّةُ أَهْلِهَا.

Salah satunya, yang merupakan pendapat zahir dari Imam Syafi‘i raḥimahullāh dalam masalah ini: kesaksiannya tidak diterima sampai terbukti baginya melalui berita darinya atau melalui bayyinah bahwa ia adalah seorang merdeka. Maka, zahir dari ucapannya adalah bahwa beritanya tentang status kemerdekaannya diterima, karena ketika ucapannya tentang keislamannya diterima—sebab yang tampak dari suatu negeri adalah keislaman penduduknya—maka ucapannya tentang kemerdekaannya juga diterima, karena yang tampak dari Dar al-Islam adalah kemerdekaan penduduknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ قَوْلَهُ فِي حُرِّيَّتِهِ غَيْرُ مَقْبُولٍ، وَإِنْ كَانَ قَوْلُهُ فِي إِسْلَامِهِ مَقْبُولًا. وَهَذَا أَظْهَرُ الْوَجْهَيْنِ.

Pendapat kedua: bahwa pernyataannya mengenai status kemerdekaannya tidak dapat diterima, meskipun pernyataannya mengenai keislamannya dapat diterima. Dan inilah pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat tersebut.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْإِسْلَامِ وَالْحُرِّيَّةِ، أَنَّهُ يَمْلِكُ الْإِسْلَامَ إِذَا كَانَ كَافِرًا فَمَلَكَ الْإِقْرَارَ بِهِ. وَلَمْ يَمْلِكِ الْحُرِّيَّةَ إِذَا كَانَ عَبْدًا فَلَمْ يَمْلِكِ الْإِقْرَارَ بِهَا.

Perbedaan antara Islam dan kebebasan adalah bahwa seseorang dapat memiliki status Islam jika ia seorang kafir, maka ia berhak untuk mengakui Islam. Namun, seseorang tidak dapat memiliki status kebebasan jika ia seorang budak, maka ia tidak berhak untuk mengakui kebebasan.

وَيَكُونُ مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، إِلَّا بِخَبَرٍ مِنْهُ: يَعْنِي مِنَ الحاكم؛ لأن يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فِي أَسْبَابِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا.

Dan makna perkataan Imam Syafi‘i raḥimahullāh, “kecuali dengan berita darinya,” maksudnya adalah dari hakim; karena diperbolehkan bagi hakim untuk memutuskan berdasarkan pengetahuannya sendiri dalam hal-hal yang berkaitan dengan jarḥ dan ta‘dīl menurut kedua pendapat (yang ada) sekaligus.

وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ يَحْمِلُ الْجَمِيعَ عَلَى الْقَوْلَيْنِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، هَلِ الْحَكَمُ يَعْمَلُ فِيهِمَا بِعِلْمِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Sebagian sahabatnya mengaitkan seluruh permasalahan ini dengan dua pendapat dalam masalah jarḥ dan ta‘dīl, yaitu: apakah hakim boleh memutuskan perkara di antara keduanya berdasarkan pengetahuannya sendiri atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَوْلَى لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْمَعْنَى.

Perbedaan antara keduanya lebih utama, karena alasan yang telah kami sebutkan dari segi makna.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: وَلَا يُقْبَلُ الشَّاهِدُ حَتَّى يَثْبُتَ عِنْدَهُ بِخَبَرٍ مِنْهُ أَوْ بَيِّنَةٍ تَشْهَدُ أَنَّهُ حُرٌّ. فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مُرَادِهِ بِنَفْيِ الْقَبُولِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun pendapat asy-Syafi‘i: “Tidak diterima kesaksian seseorang sampai terbukti baginya melalui kabar darinya atau bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang merdeka.” Maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai maksud beliau dalam menafikan penerimaan itu menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا تُسْمَعُ الشَّهَادَةُ حَتَّى يَعْلَمَ حُرِّيَّةَ الشَّاهِدِ وَإِسْلَامَهُ فَيَسْمَعُهَا ثُمَّ يَسْأَلُ عَنْ عَدَالَتِهِ بِظُهُورِ الْحُرِّيَّةِ وَالْإِسْلَامِ، وَخَفَاءِ الْعَدَالَةِ.

Salah satunya: Kesaksian tidak diterima sampai diketahui status merdeka dan keislaman saksi, maka kesaksian itu didengarkan terlebih dahulu, kemudian ditanyakan tentang keadilannya, karena kemerdekaan dan keislaman itu tampak jelas, sedangkan keadilan tersembunyi.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُحْكَمُ بِهَا حَتَّى يَعْلَمَ حُرِّيَّتَهُ وَإِسْلَامَهُ وَيَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهَا قَبْلَ الْعِلْمِ بِحُرِّيَّتِهِ وَإِسْلَامِهِ كالعدالة والله أعلم.

Pendapat kedua: Tidak boleh diputuskan dengannya hingga diketahui status merdeka dan keislamannya, namun boleh mendengarkannya sebelum mengetahui status merdeka dan keislamannya, sebagaimana (boleh mendengarkan) tentang keadilan. Allah lebih mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا تَجُوزُ شَهَادَةُ جَارٍ إِلَى نَفْسِهِ وَلَا دَافِعٍ عَنْهَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak sah kesaksian seseorang yang memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, dan tidak pula kesaksian orang yang menolak mudarat dari dirinya sendiri.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. لِأَنَّ مِنْ شُرُوطِ قَبُولِ الشَّهَادَةِ أَنْ يَخْلُوَ مِنَ التُّهَمِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا} [البقرة: 282] وَالتُّهْمَةُ رِيبَةٌ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Karena salah satu syarat diterimanya kesaksian adalah terbebas dari tuduhan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih kuat (menegakkan) kesaksian serta lebih dekat agar kamu tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Baqarah: 282) Dan tuduhan itu adalah keraguan.

وَرَوَى الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ خَصْمٍ وَلَا ظَنِينٍ وَلَا ذِي الْإِحْنَةِ ” فَالْخَصْمُ الْمُنَازِعُ وَالظَّنِينُ: الْمُتَّهَمُ. وَذِي الْإِحْنَةِ: الْعَدُوُّ.

Al-Qasim bin Muhammad meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak diterima kesaksian pihak yang bersengketa, orang yang dicurigai, dan orang yang memiliki permusuhan.” Pihak yang bersengketa adalah orang yang berperkara, orang yang dicurigai adalah yang dituduh, dan orang yang memiliki permusuhan adalah musuh.

فَمِنَ الْمَتْهُومِينَ فِي الشَّهَادَةِ وَإِنْ كَانُوا عُدُولًا، مَنْ يَجُرُّ بِشَهَادَتِهِ إِلَى نَفْسِهِ نَفْعًا، أَوْ يَدْفَعُ عَنْهَا ضَرَرًا. فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ.

Di antara orang-orang yang diragukan dalam kesaksiannya, meskipun mereka adalah orang-orang yang adil, adalah mereka yang dengan kesaksiannya dapat menarik manfaat untuk dirinya sendiri atau menolak bahaya dari dirinya. Maka kesaksiannya tidak diterima.

فَمِنْ جَرِّ النَّفْعِ، أَنْ يَشْهَدَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ أَوْ مُكَاتَبِهِ، لِأَنَّهُ مَالِكٌ لِمَالِ عَبْدِهِ، وَمُسْتَحِقٌّ أَخْذَ الْمَالِ مِنْ مُكَاتَبِهِ لِجَوَازِ عَوْدِهِ إِلَى رِقِّهِ.

Di antara bentuk menarik manfaat adalah seorang tuan bersaksi untuk budaknya atau untuk mukatab-nya, karena ia adalah pemilik harta budaknya, dan berhak mengambil harta dari mukatab-nya, sebab dimungkinkan kembalinya mukatab itu kepada status budak.

وَمِنْهَا أَنْ يَشْهَدَ الْوَكِيلُ لِمُوَكِّلِهِ فِيمَا هُوَ وَكِيلٌ فِيهِ، لِجَوَازِ تَصَرُّفِهِ فِيهِ إِذَا ثَبَتَ، فَكَانَ نَفْعًا. وَفِي جَوَازِ شَهَادَتِهِ لَهُ فِي غَيْرِ مَا هُوَ وَكِيلٌ فيه وجهان: أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ، لِعَدَمِ تَصَرُّفِهِ فِيهِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالنِّيَابَةِ عَنْ ذِي الْحَقِّ مَتْهُومًا وَمِنْهَا شَهَادَةُ الْوَلِيِّ لِلْمُولَّى عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ قَدْ قَامَ مَقَامَهُ فِي النِّيَابَةِ عَنْهُ.

Di antaranya adalah bahwa seorang wakil boleh menjadi saksi untuk orang yang mewakilkannya dalam perkara yang ia menjadi wakil di dalamnya, karena ia dibolehkan melakukan tindakan dalam perkara tersebut jika telah terbukti, sehingga hal itu menjadi suatu manfaat. Adapun mengenai kebolehan kesaksiannya untuk orang yang mewakilkannya dalam perkara selain yang ia menjadi wakil di dalamnya, terdapat dua pendapat: pertama, boleh, karena ia tidak melakukan tindakan dalam perkara tersebut; dan pendapat kedua, tidak boleh, karena dengan menjadi perwakilan dari pemilik hak, ia menjadi pihak yang dicurigai. Termasuk juga di antaranya adalah kesaksian wali untuk orang yang berada di bawah perwaliannya, karena ia telah menempati posisinya dalam mewakilinya.

وَمِنْهَا شَهَادَةُ الْوَصِيِّ لِلْمُوصِي بَعْدَ مَوْتِهِ أَوْ لِأَبِيهِ عَلَى مَا شَهِدَ بِهِ، وَتَجُوزُ شَهَادَتُهُ لَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ لِعَدَمِ وَلَايَتِهِ.

Di antaranya adalah kesaksian seorang wasi untuk orang yang berwasiat setelah wafatnya, atau untuk ayahnya atas apa yang ia saksikan, dan kesaksiannya untuknya sebelum wafatnya diperbolehkan karena belum adanya wilayah (kewenangan).

وَمِنْهَا شَهَادَةُ ” الْمُوصَى لَهُ بِحَقٍّ ” لِلْمُوصِي ” بَعْدَ مَوْتِهِ ” إِذَا كَانَ لَهُ تَعَلُّقٌ بِحَقِّ وَصِيَّتِهِ. وَتَجُوزُ شَهَادَتُهُ لَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ لِعَدَمِ وِلَايَتِهِ؛ فَإِنْ شَهِدَ لَهُ بِمَا لَا حَقَّ لَهُ فِيهِ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ وَجْهًا وَاحِدًا. بِخِلَافِ الْوَكِيلِ فِي أحد الوجهين لأن الوكيل قد تجوز أَنْ يَتَقَرَّبَ بِشَهَادَتِهِ إِلَى مُوَكِّلِهِ. وَالْمُوصَى لَهُ لَا يَتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى الْمُوصِي بَعْدَ مَوْتِهِ. فَصَارَ الْوَكِيلُ مَتْهُومًا وَالْمُوصَى لَهُ غَيْرُ مَتْهُومٍ.

Di antaranya adalah kesaksian “orang yang menerima wasiat dengan suatu hak” untuk pemberi wasiat “setelah wafatnya” jika ia memiliki keterkaitan dengan hak wasiat tersebut. Dan diperbolehkan kesaksiannya untuk pemberi wasiat sebelum wafatnya karena tidak adanya kekuasaan (wilayah) baginya; maka jika ia bersaksi untuk pemberi wasiat dalam perkara yang tidak ada hak baginya, kesaksiannya diterima secara mutlak. Berbeda dengan wakil dalam salah satu pendapat, karena wakil mungkin saja mendekatkan diri kepada pihak yang mewakilkannya dengan kesaksiannya. Sedangkan orang yang menerima wasiat tidak dapat mendekatkan diri kepada pemberi wasiat setelah wafatnya. Maka wakil dianggap patut dicurigai, sedangkan orang yang menerima wasiat tidak dicurigai.

وَمِنْهَا أَنْ يَكُونَ لِلشَّاهِدِ عَلَى الْمَشْهُودِ لَهُ دَيْنٌ، فَيَشْهَدَ لَهُ بِدَيْنٍ عَلَى غَيْرِهِ. فَلِلْمَشْهُودِ لَهُ حَالَتَانِ: مُوسِرٌ، وَمُعْسِرٌ.

Di antaranya adalah apabila seorang saksi memiliki piutang terhadap orang yang disaksikan untuknya, lalu ia memberikan kesaksian untuknya atas utang terhadap orang lain. Maka orang yang disaksikan untuknya memiliki dua keadaan: mampu (mampu membayar utang) dan tidak mampu (tidak mampu membayar utang).

فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ لَهُ، لِأَنَّهُ لَا يَجُرُّ بِهَا نفعا لوصوله إلى دينه من يساره.

Jika ia adalah orang yang mampu, maka kesaksiannya untuknya diterima, karena ia tidak memperoleh manfaat dengan kesaksiannya tersebut berupa pelunasan utangnya akibat kemampuannya.

وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَلَهُ حَالَتَانِ:

Dan jika ia dalam keadaan sulit (tidak mampu membayar), maka ada dua keadaan baginya:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يُحْكَمَ بِفَلَسِهِ، فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لَهُ. لِأَنَّ مَا شَهِدَ بِهِ مِنَ الدَّيْنِ صَائِرٌ إِلَيْهِ. فصار نفعا يترحم به.

Salah satunya: jika telah diputuskan bahwa ia bangkrut, maka kesaksiannya untuk dirinya sendiri tidak diterima. Karena apa yang ia saksikan berupa utang akan kembali kepadanya, sehingga hal itu menjadi manfaat yang diharapkan olehnya.

والحالة الثَّانِيَةُ: أَنْ لَا يُحْكَمَ بِفَلَسِهِ. فَفِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ لَهُ وَجْهَانِ:

Keadaan yang kedua: yaitu apabila belum diputuskan pailit atas dirinya. Maka dalam hal diterimanya kesaksiannya untuk dirinya sendiri terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْأَظْهَرُ أَنَّهَا لَا تُقْبَلُ. لِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ بِهَا مُطَالَبَةَ الْمُعْسِرِ بِدَيْنِهِ كَالْمَحْكُومِ بِفَلَسِهِ.

Salah satu pendapat, dan ini yang lebih kuat, adalah bahwa ia tidak diterima. Karena dengan itu, ia berhak menuntut orang yang sedang kesulitan membayar utangnya, sebagaimana orang yang telah diputuskan pailit.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: قَالَهُ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي: تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لَهُ وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ إِذَا حُكِمَ بِفَلَسِهِ. وَفَرَّقَا بَيْنَ الْمُعْسِرِ وَالْمَحْكُومِ بِفَلَسِهِ. بِأَنَّهُ قَدْ حُكِمَ لَهُ بِمَالِ التَّفْلِيسِ وَلَمْ يُحْكَمْ لَهُ بِمَالِ الْمُعْسِرِ، وَهَذَا الْفَرْقُ لَا يَمْنَعُ مِنْ تَسَاوِيهِمَا فِي غَيْرِهِ، وَهُوَ وُصُولُهُ إِلَى حَقِّهِ بَعْدَ تَعَذُّرِهِ.

Pendapat kedua: Abu Hamid al-Isfara’ini berkata: Kesaksiannya diterima untuk dirinya, meskipun tidak diterima jika telah diputuskan pailit atasnya. Ia membedakan antara orang yang dalam keadaan sulit (mu‘sir) dan orang yang telah diputuskan pailit (mahkūm bifulūsih). Perbedaannya adalah bahwa telah diputuskan baginya harta kepailitan, sedangkan belum diputuskan baginya harta orang yang dalam kesulitan. Perbedaan ini tidak menghalangi keduanya untuk disamakan dalam hal lain, yaitu sampainya ia kepada haknya setelah sebelumnya sulit didapatkan.

وَمِنْهَا شَهَادَةُ الشَّرِيكِ لِشَرِيكِهِ فِيمَا هُوَ يُشْرِكُهُ فِيهِ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ شَاهِدًا لِنَفْسِهِ. فَإِنْ شَهِدَ لَهُ بِمَا لَيْسَ بِشَرِيكٍ، جَازَ بِخِلَافِ الْوَكِيلِ، لِأَنَّ لِلْوَكِيلِ نِيَابَةً وَلَيْسَ لِلشَّرِيكِ نِيَابَةٌ. وَلِهَذَا نَظَائِرُ تَجْرِي عَلَى حُكْمِهَا.

Di antaranya adalah kesaksian seorang mitra terhadap mitranya dalam perkara yang mereka miliki bersama, karena hal itu berarti ia menjadi saksi untuk dirinya sendiri. Namun, jika ia bersaksi untuk mitranya dalam perkara yang bukan merupakan bagian kemitraannya, maka kesaksiannya boleh diterima, berbeda dengan wakil, karena wakil memiliki kedudukan sebagai perwakilan, sedangkan mitra tidak memiliki kedudukan sebagai perwakilan. Dan terdapat beberapa kasus serupa yang mengikuti hukum ini.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا دَفْعُهُ بِشَهَادَته ضَرَرًا، فَهِيَ الشَّهَادَةُ بِضِدِّ مَا ذَكَرْنَا فِي ضِدِّهِ فَمِنْهَا شَهَادَةُ السَّيِّدِ بِجَرْحِ مَنْ شَهِدَ عَلَى عَبْدِهِ أَوْ مُكَاتَبِهِ، لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِهَا نَقْصًا فِي حَقِّهِ. وَكَذَلِكَ شَهَادَةُ الْوَكِيلِ بِجَرْحِ شُهُودٍ شَهِدُوا عَلَى مُوَكِّلِهِ.

Adapun menolak bahaya dengan kesaksiannya, maka itu adalah kesaksian yang berlawanan dengan apa yang telah kami sebutkan pada lawannya. Di antaranya adalah kesaksian seorang tuan yang mencacatkan orang yang bersaksi atas budaknya atau mukatab-nya, karena dengan itu ia menolak kekurangan pada haknya. Demikian pula kesaksian seorang wakil yang mencacatkan para saksi yang bersaksi atas orang yang mewakilkannya.

وَمِنْهَا شَهَادَةُ الْوَصِيِّ بِالْإِبْرَاءِ مِنْ دَيْنٍ كَانَ عَلَى الْمُوصِي. لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِهَا الْمُطَالَبَةَ عَنْ نَفْسِهِ.

Di antaranya adalah kesaksian washi (pelaksana wasiat) tentang pelepasan dari utang yang menjadi tanggungan al-mūshī (orang yang berwasiat), karena dengan kesaksian itu ia menolak tuntutan terhadap dirinya.

وَمِنْهَا أَنْ يَشْهَدَ الْمُوصَى لَهُ بِعَزْلِ مُشَارِكٍ لَهُ فِي الْوَصِيَّةِ. لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِهَا مُزَاحَمَتَهُ فِي الْوَصِيَّةِ.

Di antaranya adalah apabila penerima wasiat memberikan kesaksian tentang pencopotan seseorang yang menjadi mitranya dalam wasiat, karena dengan demikian ia menyingkirkan persaingan orang tersebut dalam wasiat.

وَمِنْهَا أَنْ يَشْهَدَ غُرَمَاءُ الْمُفْلِسِ بِالْإِبْرَاءِ مِنْ دَيْنٍ كَانَ عَلَى الْمُفْلِسِ، لِأَنَّهُمْ يَدْفَعُونَ بِهَا مُزَاحَمَةَ صَاحِبِ الدَّيْنِ لَهُمْ.

Di antaranya adalah para kreditur orang yang pailit memberikan kesaksian tentang pembebasan dari utang yang menjadi tanggungan orang yang pailit, karena dengan kesaksian itu mereka menolak adanya persaingan dari pemilik utang terhadap mereka.

وَمِنْهَا أَنْ تَشْهَدَ الْقَافِلَةُ بِجَرْحِ شُهُودٍ شَهِدُوا بِالْقَتْلِ الْخَطَأِ، لِأَنَّهُمْ يَدْفَعُونَ بِهَا تَحَمُّلَ الدِّيَةِ عَنْ أَنْفُسِهِمْ. إِلَى نَظَائِرِ هَذَا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Di antaranya adalah kafilah memberikan kesaksian tentang cacat (aib) para saksi yang telah bersaksi mengenai pembunuhan karena kesalahan, karena dengan kesaksian itu mereka berupaya membebaskan diri mereka dari tanggungan diyat. Dan masih banyak contoh lain yang serupa dengan ini. Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْعَدُوِّ وَالْخَصْمِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian musuh dan lawan)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا عَلَى خَصْمٍ لِأَنَّ الْخُصُومَةَ مَوْضِعُ عَدَاوَةٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak (diterima persaksiannya) atas seorang pihak lawan, karena persengketaan adalah tempat permusuhan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَمَّا شَهَادَةُ الْعَدُوِّ عَلَى عَدُوِّهِ فَمَرْدُودَةٌ لَا تُقْبَلُ. وَأَجَازَهَا أَبُو حَنِيفَةَ. احْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ. وَلِأَنَّ الدِّينَ وَالْعَدَالَةِ يَمْنَعَانِ مِنَ الشَّهَادَةِ بِالزُّورِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun kesaksian musuh terhadap musuhnya maka ditolak, tidak diterima. Namun Abu Hanifah membolehkannya, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki di antara kalian” (QS. Al-Baqarah: 282), sehingga berlaku secara umum. Dan karena agama serta keadilan mencegah seseorang dari memberikan kesaksian palsu.

وَلِأَنَّ الْعَدَاوَةَ إِنْ كَانَتْ فِي الدِّينِ لَمْ تَمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، كَمَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُسْلِمِ عَلَى الْكَافِرِ مَعَ ظُهُورِ الْعَدَاوَةِ. وَإِنْ كَانَتْ فِي الدُّنْيَا فَهِيَ أَسْهَلُ مِنْ عَدَاوَةِ الدِّينِ فَكَانَتْ أَوْلَى أَنْ تُقْبَلَ.

Dan karena permusuhan, jika terjadi dalam urusan agama, tidak menghalangi diterimanya kesaksian, sebagaimana diterima kesaksian seorang Muslim terhadap orang kafir meskipun jelas terdapat permusuhan. Dan jika permusuhan itu dalam urusan dunia, maka itu lebih ringan daripada permusuhan dalam urusan agama, sehingga lebih utama untuk diterima.

وَدَلِيلُنَا: قَوْله تَعَالَى: {ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ الله وأقوم للشهادة وأدنى ألا ترتابوا} .

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Itulah yang lebih adil di sisi Allah, lebih kuat untuk kesaksian, dan lebih dekat agar kalian tidak ragu.”

وَالْعَدَاوَةُ مِنْ أَقْوَى الرَّيْبِ.

Permusuhan adalah salah satu bentuk keraguan yang paling kuat.

وَرَوَى أَبُو دَاوُدَ فِي سُنَنِهِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا زَانٍ وَلَا زَانِيَةٍ وَلَا ذِي غَمْرٍ عَلَى أَخِيهِ “.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak diterima kesaksian seorang pengkhianat laki-laki maupun perempuan, pezina laki-laki maupun perempuan, dan orang yang menyimpan dendam terhadap saudaranya.”

وَالْغَمْرُ: الْعَدَاوَةُ، وَهَذَا نَصٌّ.

Al-ghamr adalah permusuhan, dan ini adalah sebuah nash (teks yang tegas).

وَلِأَنَّهَا شَهَادَةٌ تَقْتَرِنُ بِتُهْمَةٍ، فَلَمْ تُقْبَلْ كَشَهَادَةِ الْوَالِدِ للولد.

Karena kesaksian tersebut disertai dengan adanya tuduhan, maka tidak diterima sebagaimana kesaksian orang tua untuk anaknya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ عُمُومِ الْآيَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap keumuman ayat tersebut ada dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: تَخْصِيصُهَا بِأَدِلَّتِنَا.

Salah satunya adalah mengkhususkannya dengan dalil-dalil kita.

وَالثَّانِي: حَمْلُهَا عَلَى التَّحَمُّلِ دُونَ الْأَدَاءِ.

Yang kedua: memaknainya sebagai menerima (hadis) tanpa menyampaikannya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّ الدين والعدالة يمنعان من الشهادة بالزور وهو أَنَّ هَذَا الْمَعْنَى لَمَّا لَمْ يَبْعَثْ عَلَى قَبُولِ شَهَادَةِ الْوَالِدِ لِلْوَلَدِ لَمْ يُوجِبْ قَبُولَ شَهَادَةِ الْعَدُوِّ عَلَى عَدْوِهِ.

Adapun jawaban atas pernyataan mereka bahwa agama dan keadilan mencegah seseorang dari memberikan kesaksian palsu, maka makna ini, ketika tidak mendorong untuk menerima kesaksian seorang ayah bagi anaknya, juga tidak mewajibkan diterimanya kesaksian seorang musuh terhadap musuhnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ: إِنَّ الْعَدَاوَةَ فِي الدُّنْيَا أَسْهَلُ: فَهُوَ أن العداوة في الدين يبعث عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجِبِهِ فَزَالَتِ التُّهْمَةُ فِيهِ. وَالْعَدَاوَةُ فِي الدُّنْيَا أَغْلَظُ لِلْعُدُولِ بِهَا عَنْ أَحْكَامِ الدِّينِ.

Adapun jawaban atas pernyataan mereka: “Sesungguhnya permusuhan di dunia itu lebih ringan,” maka sesungguhnya permusuhan dalam agama mendorong untuk bertindak sesuai dengan konsekuensinya, sehingga hilanglah tuduhan di dalamnya. Sedangkan permusuhan di dunia lebih berat karena menyimpang dari hukum-hukum agama.

وَإِذَا كَانَ ذَلِكَ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَةُ الْمَقْذُوفِ عَلَى الْقَاذِفِ وَلَا الْمَغْصُوبِ مِنْهُ عَلَى الْغَاصِبِ وَلَا الْمَسْرُوقِ مِنْهُ عَلَى السَّارِقِ وَوَلِيِّ الْمَقْتُولِ عَلَى الْقَاتِلِ وَالزَّوْجِ عَلَى امْرَأَتِهِ إِذَا زَنَتْ فِي فِرَاشِهِ، إِلَى نَظَائِرِ هَذَا.

Jika demikian, maka tidak diterima kesaksian orang yang dituduh zina terhadap penuduhnya, atau orang yang dirampas hartanya terhadap perampasnya, atau orang yang kecurian terhadap pencurinya, atau wali dari orang yang terbunuh terhadap pembunuhnya, dan suami terhadap istrinya jika ia berzina di tempat tidurnya, serta hal-hal serupa lainnya.

وَإِذَا مَنَعَتِ الْعَدَاوَةُ مِنَ الشَّهَادَةِ عَلَى الْعَدُوِّ، لَمْ تَمْنَعْ مِنَ الشَّهَادَةِ لَهُ، لِأَنَّهُ مَتْهُومٌ فِي الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ وَغَيْرُ مَتْهُومٍ فِي الشَّهَادَةِ لَهُ. لِأَنَّ مَا بَعَثَ عَلَى الْعَدَاوَةِ لَا يَكُونُ جَرْحًا تَسْقُطُ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Jika permusuhan menghalangi seseorang untuk memberikan kesaksian terhadap musuhnya, maka hal itu tidak menghalanginya untuk memberikan kesaksian yang menguntungkan musuhnya. Sebab, ia dicurigai dalam kesaksiannya yang memberatkan musuh, namun tidak dicurigai dalam kesaksiannya yang menguntungkan musuh. Karena sebab yang mendorong permusuhan itu bukanlah aib yang menyebabkan kesaksian menjadi gugur.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْخَصْمِ عَلَى خَصْمِهِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian pihak lawan terhadap lawannya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا شَهَادَةُ الْخَصْمِ عَلَى خَصْمِهِ فَتُرَدُّ فِيمَا هُوَ خَصْمٌ فِيهِ لِرِوَايَةِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ ” لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ خَصْمٍ وَلَا ظَنِينٍ ولا ذي الإحنة “.

Adapun kesaksian pihak yang bersengketa terhadap lawan sengketanya, maka ditolak dalam perkara yang ia sendiri menjadi pihak di dalamnya, berdasarkan riwayat al-Qasim bin Muhammad dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak diterima kesaksian pihak yang bersengketa, orang yang dicurigai, dan orang yang memiliki dendam.”

ولأن الخصومة تؤول إِلَى الْعَدَاوَةِ، وَالْعَدَاوَةُ تَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لِخَصْمِهِ وَإِنْ لَمْ يَشْهَدْ عَلَيْهِ. فَلَوْ شَهِدَ عَلَيْهِ وَلَا خُصُومَةَ بَيْنَهُمَا ثم قذف المشهود فلو عَلَيْهِ الشَّاهِدَ فَصَارَ بِالْقَذْفِ خَصْمًا قَبْلَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ. لَمْ تُرَدَّ وَجَازَ الْحُكْمُ بِهَا مَعَ حُدُوثِ الْخُصُومَةِ وَالْعَدَاوَةِ بِخِلَافِ حُدُوثِ الْفِسْقِ قَبْلَ الْحُكْمِ بِالشُّهُودِ. وَلِأَنَّ حُدُوثَ الْخُصُومَةِ وَالْعَدَاوَةِ لَيْسَ بِجَرْحٍ يُوجِبُ رَدَّ الشَّهَادَةِ، وَلَوْ مَنَعَ حُدُوثَ ذَلِكَ. مِنَ الْحُكْمِ بِهَا لَمَا صَحَّتْ شَهَادَةٌ عَلَى أَحَدٍ، لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى إِسْقَاطِهَا بِحُدُوثِ نِزَاعٍ وَخُصُومَةٍ وَمَا أَدَّى إِلَى هَذَا بَطَلَ اعْتِبَارُهُ.

Karena persengketaan berujung pada permusuhan, dan permusuhan mencegah diterimanya kesaksian, maka boleh seseorang bersaksi untuk lawan sengketanya meskipun ia tidak boleh bersaksi atasnya. Jika ia bersaksi atasnya padahal tidak ada persengketaan di antara keduanya, lalu orang yang disaksikan itu menuduh saksi dengan tuduhan keji, sehingga dengan tuduhan itu ia menjadi lawan sengketa sebelum diputuskan berdasarkan kesaksiannya, maka kesaksiannya tidak ditolak dan boleh diputuskan dengannya meskipun terjadi persengketaan dan permusuhan, berbeda dengan terjadinya kefasikan sebelum diputuskan berdasarkan kesaksian para saksi. Karena terjadinya persengketaan dan permusuhan bukanlah cacat yang mewajibkan penolakan kesaksian, dan jika terjadinya hal itu menghalangi diputuskan dengannya, maka tidak akan sah satu pun kesaksian terhadap siapa pun, karena seseorang dapat menggugurkannya dengan menimbulkan perselisihan dan persengketaan, dan apa yang mengarah pada hal ini maka batal pula pertimbangannya.

( [شَهَادَةُ الصِّدِّيقِ لِصَدِيقِهِ] )

(Persaksian seorang sahabat untuk sahabatnya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَتُقْبَلُ شَهَادَةُ الصَّدِيقِ لِصَدِيقِهِ، وَإِنْ كَانَ مُلَاطِفًا، وَالْمُلَاطِفُ، والْمُهَادِي، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ.

Diterima kesaksian seorang sahabat untuk sahabatnya, meskipun ia bersikap ramah, dan orang yang bersikap ramah atau memberi hadiah, dan pendapat ini dikatakan oleh Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الصَّدِيقِ الْمُلَاطِفِ لِصَدِيقِهِ، وَتُقْبَلُ شَهَادَةُ غَيْرِ الْمُلَاطِفِ، لِتَوَجُّهِ التُّهْمَةِ إِلَيْهِ بِأَنْ يَشْهَدَ لَهُ بِمَالٍ يَصِيرُ إِلَيْهِ بِالْمُلَاطَفَةِ بَعْضُهُ. فَصَارَ جَارًّا بِهَا نَفْعًا.

Malik berkata: Tidak diterima kesaksian seorang sahabat yang sangat akrab terhadap sahabatnya, namun diterima kesaksian selain yang sangat akrab, karena adanya tuduhan bahwa ia bersaksi demi harta yang sebagian darinya akan sampai kepadanya melalui keakraban tersebut. Maka dengan itu, ia telah menarik manfaat bagi dirinya.

وَدَلِيلُنَا: هُوَ أَنَّ الْمَوَدَّةَ مَأْمُورٌ بِهَا، وَالْهَدِيَّةُ مَنْدُوبٌ إِلَيْهَا. فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وُرُودُ الشَّرْعِ بِهَا مُوجِبًا لِرَدِّ الشَّهَادَةِ، وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَارَقَ الْعَدُوَّ لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِالنَّهْيِ عَنِ الْعَدَاوَةِ.

Dalil kami adalah bahwa kasih sayang itu diperintahkan, dan memberi hadiah itu dianjurkan. Maka tidak boleh kedatangan syariat terhadap hal tersebut menjadi alasan untuk menolak kesaksian, dan dengan makna inilah ia berbeda dengan permusuhan, karena syariat datang dengan larangan terhadap permusuhan.

وَلِأَنَّ ذوي الأنساب مِنَ الْإِخْوَةِ وَالْأَعْمَامِ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَنْتَقِلَ إليهم بالميراث فاشهدوا بِهِ وَسَائِرِ أَمْوَالِهِ، ثُمَّ لَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ. وَالصَّدِيقُ الْمُلَاطِفُ لَا يَسْتَحِقُّ الْمِيرَاثَ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مَقْبُولَ الشَّهَادَةِ.

Karena kerabat dari jalur nasab seperti saudara dan paman mungkin saja dapat menerima warisan, maka persaksian mereka atas hal itu dan atas seluruh hartanya tetap sah, dan hal tersebut tidak menghalangi diterimanya kesaksian mereka. Sedangkan sahabat dekat yang bersikap ramah tidak berhak menerima warisan, sehingga lebih utama untuk diterima kesaksiannya.

وَلَا وَجْهَ لِمَا ذَكَرَ مِنْ جَوَازِ عَوْدِهِ إِلَى الصَّدِيقِ بِالْهَدِيَّةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يهاديه [ولا يُهَادِيَهُ] ، وَيَجُوزُ أَنْ يَمُوتَ قَبْلَ مُهَادَاتِهِ وَيَجُوزُ إِذَا هَادَاهُ أَنْ يَعْدِلَ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ أَمْوَالِهِ فَلَمْ يَكُنْ لِتَعْلِيلِ الْمَنْعِ بِهَذَا وَجْهٌ والله أعلم.

Tidak ada alasan bagi pendapat yang membolehkan kembalinya hadiah itu kepada teman, karena bisa saja ia membolehkannya untuk memberi hadiah, atau tidak memberinya hadiah, dan bisa saja ia meninggal sebelum sempat saling memberi hadiah, dan bisa juga jika ia telah memberinya hadiah, ia mengalihkannya kepada selainnya dari hartanya. Maka tidak ada alasan untuk menjadikan hal ini sebagai sebab larangan. Allah lebih mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا لِوَلَدِ بَنِيهِ وَلَا لِوَلَدِ بَنَاتِهِ وَإِنْ سَفُلُوا وَلَا لِآبَائِهِ وَأُمَّهَاتِهِ وَإِنْ بَعُدُوا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak (berhak menjadi wali) bagi anak-anak laki-laki dari anak laki-lakinya, tidak pula bagi anak-anak perempuan dari anak perempuannya, meskipun mereka jauh (dari garis keturunan), dan tidak pula bagi ayah-ayahnya dan ibu-ibunya, meskipun mereka jauh (dari garis keturunan).”

قَالَ الماوردي: وهذا صحيح، ولا تقبل شهادة الوالد لمولديه بِهِ وَإِنْ سَفُلُوا، وَلَا شَهَادَةُ الْوَلَدِ لِوَالِدَيْهِ وَإِنْ بَعُدُوا.

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan tidak diterima kesaksian ayah untuk anak-anaknya, baik yang dekat maupun yang jauh, dan juga tidak diterima kesaksian anak untuk kedua orang tuanya, meskipun hubungan mereka jauh.

وَهَذَا قَوْلُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Dan inilah pendapat Malik, Abu Hanifah, dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ أَبُو إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيُّ وَدَاوُدُ بْنُ عَلِيٍّ: شَهَادَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَالْوَلَدِ لِوَالِدِهِ جَائِزَةٌ.

Abu Ibrahim al-Muzani dan Dawud bin Ali berkata: Kesaksian orang tua untuk anaknya dan anak untuk orang tuanya adalah diperbolehkan.

وَبِهِ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ احْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ} [النساء: 135] وَلَا يُؤْمَرُ بِالْقِسْطِ فِي هَذِهِ الشَّهَادَةِ إِلَّا وَهِيَ مَقْبُولَةٌ وَلِأَنَّ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ حَاكَمَ يَهُودِيًّا إِلَى شُرَيْحٍ فِي دِرْعٍ ادَّعَاهُ فِي يَدِهِ فَأَنْكَرَهَا. فَشَهِدَ لَهُ ابْنُهُ الْحَسَنُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَرَدَّ شَهَادَتَهُ.

Pendapat ini juga dipegang oleh Umar bin al-Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, dengan berdalil pada firman Allah Ta’ala: “Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kerabat.” (an-Nisa: 135). Tidaklah diperintahkan untuk berlaku adil dalam persaksian ini kecuali persaksian itu diterima. Dan karena Ali bin Abi Thalib—semoga Allah memuliakan wajahnya—pernah bersengketa dengan seorang Yahudi di hadapan Syuraih mengenai baju besi yang diakui berada di tangannya, lalu orang Yahudi itu mengingkarinya. Maka putranya, al-Hasan ‘alaihis salam, bersaksi untuknya, namun persaksiannya ditolak.

وَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، كَيْفَ أَقْبَلُ شَهَادَةَ ابْنِكَ لَكَ؟

Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana aku dapat menerima kesaksian anakmu untukmu?”

فَقَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَيِّ كِتَابٍ وَجَدْتَ هَذَا؟ أَوْ فِي أَيِّ سُنَّةٍ. وَعَزَلَهُ وَنَفَاهُ إلى قرية يقال لها بالصفا، نَيِّفًا وَعِشْرِينَ يَوْمًا، ثُمَّ أَعَادَهُ إِلَى الْقَضَاءِ، وَلِأَنَّ الدِّينَ وَالْعَدَالَةَ يَحْجِزَانِ عَنِ الشَّهَادَةِ بِالزُّورِ والكذب.

Maka Ali ‘alaihis salam berkata, “Dalam kitab mana engkau menemukan hal ini? Atau dalam sunah mana?” Lalu ia memberhentikannya dan mengasingkannya ke sebuah desa yang disebut Al-Shafa selama lebih dari dua puluh hari, kemudian ia mengembalikannya lagi untuk menjalankan tugas kehakiman. Karena agama dan keadilan mencegah seseorang dari memberikan kesaksian palsu dan berbohong.

وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى: {ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا} [البقرة: 282] وَالرِّيبَةُ مُتَوَجِّهَةٌ إِلَى شَهَادَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا لِمَا جُبِلُوا عَلَيْهِ مِنَ الْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ. وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْوَلَدُ مَحْزَنَةٌ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَجْهَلَةٌ “.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih kuat untuk menjadi saksi, dan lebih dekat agar kalian tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Baqarah: 282). Keraguan itu tertuju pada kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain karena kecenderungan dan kasih sayang yang memang sudah menjadi tabiat mereka. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, “Anak itu menyebabkan kesedihan, penakutan, kekikiran, dan kebodohan.”

وَرُوِيَ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ” يَا عَائِشَةُ فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يَرِيبُنِي مَا يَرِيبُهَا ” فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْوَلَدَ بَعْضُ أَبِيهِ.

Diriwayatkan dari beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Wahai ‘Aisyah, Fathimah adalah bagian dariku, apa yang menyakitinya juga menyakitiku.” Maka hal ini menunjukkan bahwa anak adalah bagian dari ayahnya.

وَقَدْ قِيلَ فِي تَأْوِيلِ قَوْله تَعَالَى: {وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا} [الزخرف: 15] أَيْ وَلَدًا فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ لَهُ كَالشَّهَادَةِ لِنَفْسِهِ.

Dan telah dikatakan dalam penafsiran firman-Nya Ta‘ala: “Dan mereka menjadikan bagi-Nya dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian” (az-Zukhruf: 15), yaitu anak, maka kesaksian untuk-Nya menjadi seperti kesaksian untuk diri-Nya sendiri.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ لِأَبِي مَعْشَرٍ الدَّارِمِيِّ: ” أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ ” فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ بِمَالِ أَبِيهِ كَالشَّهَادَةِ بِمَالِ نَفْسِهِ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata kepada Abu Ma‘syar ad-Dārimi: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” Maka kesaksian mengenai harta ayahnya menjadi seperti kesaksian mengenai hartanya sendiri.

وَذَكَرَ الشَّافِعِيُّ حَدِيثًا رَوَاهُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا مَحْدُودٍ حَدًّا وَلَا ذِي غِمْرٍ عَلَى أَخِيهِ وَلَا مُجَرَّبٍ فِي شَهَادَةِ زُورٍ وَلَا ظَنِينٍ فِي قَرَابَةٍ وَلَا وَلَاءٍ وَلَا شَهَادَةُ الْقَانِعِ لِأَهْلِ الْبَيْتِ ” وَوَصَلَ بِذَلِكَ ” وَلَا شَهَادَةُ الْوَلَدِ لِوَالِدِهِ وَلَا الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ ” ثُمَّ قَالَ وَهَذَا لَا يُثْبِتُهُ أَهْلُ النَّقْلِ، فَإِنْ ثَبَتَ هَذَا فَهُوَ نَصٌّ. وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ فَفِي قَوْلِهِ: ” وَلَا ظَنِينٍ فِي قَرَابَةٍ ” دَلِيلٌ عَلَى الْوَالِدِ وَالْوَلَدِ.

Syafi‘i menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkannya dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak diterima kesaksian seorang pengkhianat laki-laki maupun perempuan, tidak pula orang yang pernah dijatuhi had, tidak pula orang yang memiliki permusuhan terhadap saudaranya, tidak pula orang yang pernah terbukti memberikan kesaksian palsu, tidak pula orang yang dicurigai karena hubungan kekerabatan atau wala’, dan tidak pula kesaksian pelayan untuk keluarga majikannya.” Kemudian beliau menyambungnya dengan, “dan tidak pula kesaksian anak untuk orang tuanya, atau orang tua untuk anaknya.” Setelah itu beliau berkata, “Hadis ini tidak ditetapkan oleh para ahli naql (periwayat hadis). Jika hadis ini sahih, maka itu adalah nash. Namun jika tidak sahih, maka dalam sabdanya: ‘dan tidak pula orang yang dicurigai karena hubungan kekerabatan’ terdapat dalil mengenai orang tua dan anak.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ ” وَهُوَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لِكَسْبِهِ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik makanan yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk hasil usahanya.” Namun, tidak diperbolehkan baginya untuk bersaksi demi hasil usahanya itu.

وَلِأَنَّ وُرُودَ النَّصِّ بِالْمَنْعِ مِنْ شَهَادَةِ الظَّنِينِ وَهُوَ الْمُتَّهَمُ يُوجِبُ الْمَنْعَ مِنْ شَهَادَةِ الْوَالِدِ لِلْوَلَدِ لِأَنَّهُ مُتَّهَمٌ.

Dan karena adanya nash yang melarang kesaksian orang yang dicurigai, yaitu orang yang tertuduh, maka hal itu mewajibkan larangan kesaksian orang tua untuk anaknya, karena ia termasuk orang yang tertuduh.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا دَالَّةٌ عَلَى الشَّهَادَةِ عَلَيْهِمْ لَا لَهُمْ.

Salah satunya: bahwa ayat tersebut menunjukkan kesaksian atas mereka, bukan untuk mereka.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا قَرَنَهَا لِنَفْسِهِ فِي قَوْلِهِ {شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ} دَلَّ عَلَى خُرُوجِهَا مَخْرَجَ الزَّجْرِ، أَنْ يُخْبِرَ عَلَى نَفْسِهِ، أَوْ وَلَدِهِ بِغَيْرِ الْحَقِّ.

Kedua: Ketika Allah menyandingkannya dengan diri-Nya dalam firman-Nya, “(jadilah) saksi-saksi karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri atau kedua orang tuamu,” hal itu menunjukkan bahwa larangan tersebut dimaksudkan sebagai peringatan keras, yaitu agar seseorang tidak memberikan kesaksian atas dirinya sendiri atau anaknya dengan cara yang tidak benar.

وَلَا يَمْنَعُ الدِّينُ وَالْعَدَالَةُ مِنْ رَدِّ الشَّهَادَةِ، كَشَهَادَةِ السَّيِّدِ لِعَبْدِهِ وَمُكَاتَبِهِ. وَأَمَّا إِنْكَارُ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى شُرَيْحٍ، فَلِأَنَّ شُرَيْحًا وَهِمَ فِي الدعوى؛ لأن عليا عليه السلام ادَّعَى الدِّرْعَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي بَيْتِ الْمَالِ، وَلِذَلِكَ اسْتَشْهَدَ بِابْنِهِ الْحَسَنِ، وَلَمْ يَدَّعِهَا لِنَفْسِهِ، وَإِنَّمَا كَانَ فِي الدَّعْوَى نَائِبًا عَنْ كَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ كَالْوَكِيلِ. فَوَهِمَ شُرَيْحٌ وَظَنَّ أَنَّ الدَّعْوَى لِنَفْسِهِ. وَلِذَلِكَ أَنْكَرَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَعَزَلَهُ، لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي الْفَحْصِ عَنْ حَقِيقَةِ الْحَالِ، فَيَعْلَمْ بِهَا جَوَازَ الشَّهَادَةِ، فَصَارَتْ دَلِيلًا عَلَى الْمَنْعِ مِنْ شَهَادَةِ الْوَلَدِ لِوَالِدِهِ.

Agama dan keadilan tidaklah menghalangi penolakan kesaksian, seperti kesaksian seorang tuan untuk budaknya dan mukatab-nya. Adapun penolakan Ali—‘alaihis salam—terhadap Syuraih, itu karena Syuraih keliru dalam perkara gugatan; sebab Ali ‘alaihis salam mengklaim baju zirah itu untuk kaum Muslimin di Baitul Mal, dan karena itulah ia menghadirkan putranya, Hasan, sebagai saksi, bukan mengklaimnya untuk dirinya sendiri. Dalam perkara tersebut, ia bertindak sebagai wakil seluruh kaum Muslimin, seperti seorang wakil. Syuraih pun keliru dan mengira bahwa gugatan itu untuk dirinya sendiri. Karena itulah Ali ‘alaihis salam menolaknya dan memecatnya, karena ia tidak meneliti secara mendalam hakikat keadaan, sehingga ia dapat mengetahui kebolehan kesaksian tersebut. Maka, hal itu menjadi dalil atas larangan kesaksian anak untuk orang tuanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا شَهَادَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ فَمَقْبُولَةٌ عَلَى الْعُمُومِ فِي جَمِيعِ الْحُقُوقِ، لِأَنَّهُ لَا يُتَّهَمُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ. وَإِنْ كَانَ مُتَّهَمًا فِي الشَّهَادَةِ لَهُ.

Adapun kesaksian orang tua terhadap anaknya, maka diterima secara umum dalam semua hak, karena ia tidak dicurigai dalam memberikan kesaksian terhadap anaknya. Namun, jika ia memberikan kesaksian untuk kepentingan anaknya, maka ia dianggap memiliki tendensi tertentu dalam kesaksiannya.

وَأَمَّا شَهَادَةُ الْوَلَدِ عَلَى وَالِدِهِ فَتُقْبَلُ فِي كُلِّ مَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَحِقَّهُ الْوَلَدُ عَلَى وَالِدِهِ مِنْ جَمِيعِ الْحُقُوقِ، وَفِي قَبُولِهَا فِيمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَحِقَّهُ الْوَلَدُ عَلَى وَالِدِهِ مِنْ حَدِّ قَذْفٍ أَوْ قِصَاصٍ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Adapun kesaksian anak terhadap orang tuanya, maka diterima dalam semua hal yang boleh menjadi hak anak atas orang tuanya dari seluruh hak-hak. Adapun mengenai diterimanya kesaksian tersebut dalam perkara yang tidak boleh menjadi hak anak atas orang tuanya, seperti hudud qadzaf atau qishash, maka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تُقْبَلُ، لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يُقْتَلْ بِقَتْلِهِ لَمْ يُقْتَلْ بِقَوْلِهِ: كَالْعَبْدِ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الْحَرِّ.

Salah satu pendapat: Tidak diterima, karena ketika ia tidak dihukum mati karena perbuatannya membunuh, maka ia juga tidak dihukum mati karena kesaksiannya; seperti budak dalam kesaksian terhadap orang merdeka.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ الْأَصَحُّ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِ كَمَا تُقْبَلُ فِي غَيْرِهِ كَالْحُرِّ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ عَلَى الْعَبْدِ وَإِنْ لَمْ يُقْتَلْ بِالْعَبْدِ.

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih sahih, adalah bahwa kesaksiannya diterima terhadapnya sebagaimana diterima terhadap selainnya, seperti seorang merdeka yang kesaksiannya diterima terhadap seorang budak, meskipun ia tidak dibunuh karena membunuh budak.

وَأَمَّا الْوَلَدُ مِنَ الرَّضَاعِ وَالْوَالِدُ مِنَ الرَّضَاعِ فَشَهَادَةُ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَلَيْهِ فَمَقْبُولَةٌ، بِخِلَافِ النِّسَبِ. لِاخْتِصَاصِ الرَّضَاعِ بِتَحْرِيمِ النِّكَاحِ. وَبِفَارِقِ النَّسَبِ فِيمَا عَدَاهُ مِنْ أَحْكَامِهِ فِي التَّوَارُثِ وَوُجُوبِ النَّفَقَةِ وَالْعِتْقِ بِالْمِلْكِ، وَلَيْسَ تَحْرِيمُ النِّكَاحِ بِمَانِعٍ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Adapun anak susuan dan orang tua susuan, maka kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain adalah diterima, berbeda dengan nasab. Hal ini karena hubungan susuan hanya khusus dalam pengharaman pernikahan. Adapun nasab, ia memiliki perbedaan dalam hukum-hukum lain seperti warisan, kewajiban nafkah, dan pembebasan budak karena kepemilikan. Pengharaman pernikahan bukanlah penghalang diterimanya kesaksian.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْأَقَارِبِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ مِنْ غَيْرِ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ] )

Pembahasan tentang kesaksian kerabat sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, selain dari garis keturunan atas (asal) dan bawah (cabang).

وَأَمَّا مَنْ عَدَا عُمُومَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ مِنَ الْمُنَاسِبِينَ كَالْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ وَبَنِيهِمَا، وَالْأَعْمَامِ وَالْعَمَّاتِ وَبَنِيهِمَا، وَالْأَخْوَالِ وَالْخَالَاتِ وَبَنِيهِمَا، فَتُقْبَلُ شَهَادَةُ بعضهم البعض. وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Adapun selain ayah dan anak dari kalangan kerabat seperti saudara laki-laki dan perempuan beserta anak-anak mereka, paman dan bibi beserta anak-anak mereka, serta paman dan bibi dari pihak ibu beserta anak-anak mereka, maka kesaksian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dapat diterima. Inilah pendapat Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ: لَا أَقْبَلُهَا مِنْ ذِي مَحْرَمٍ كَالْوَالِدِ وَالْوَلَدِ.

Al-Auza‘i berkata: Aku tidak menerimanya dari mahram seperti ayah dan anak.

وَقَالَ مَالِكٌ: أَقْبَلُهَا فِي كُلِّ حَقٍّ إلا في النسب لأنه منهم باجتذابه والتكثر.

Malik berkata: Aku menerima qiyās dalam segala hak kecuali dalam nasab, karena seseorang menjadi bagian dari mereka dengan penarikannya dan memperbanyak jumlah mereka.

وَكِلَا الْمَذْهَبَيْنِ فَاسِدٌ، لِأَنَّ عُمَرَ وَابْنَ الزُّبَيْرِ أجازاه وليس لهما مخالف فصار إجماعا.

Kedua mazhab tersebut batal, karena Umar dan Ibnu az-Zubair membolehkannya dan tidak ada yang menentang mereka berdua, sehingga hal itu menjadi ijmā‘.

لأنه نَسَبٌ لَا يُوجِبُ الْعِتْقَ وَالنَّفَقَةَ فَلَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ كَغَيْرِ الْمَحْرَمِ مِنْ ذَوِي الأنساب.

Karena nasab tersebut tidak mewajibkan pembebasan budak dan nafkah, maka tidak menghalangi diterimanya kesaksian, sebagaimana selain mahram dari kalangan kerabat nasab.

وَأَمَّا شَهَادَةُ الْمُعْتَقِ لِمُعْتِقِهِ مِنْ أَعْلَى وَأَسْفَلَ فَمَقْبُولَةٌ فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ.

Adapun kesaksian seorang yang dimerdekakan untuk orang yang memerdekakannya, baik dari pihak atas maupun bawah, maka menurut pendapat jumhur, kesaksiannya diterima.

وَمَنَعَ شُرَيْحٌ مِنْ قَبُولِهَا كَالْوِلَادَةِ، وَهَذَا خَطَأٌ، وَقَدْ أَنْكَرَهُ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْوَلَاءَ لَا يَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ النَّفَقَةِ، وَهَذَا أَبْعَدُ مِنْ ذَوِي الْأَنْسَابِ الْبَعِيدَةِ لِتَعَدِّيهِمْ عَلَيْهِ فِي الْمِيرَاثِ. وَاللَّهُ أعلم.

Syuraih melarang penerimaan (nafkah) seperti pada kasus kelahiran, dan ini adalah kesalahan. Ali—semoga salam tercurah kepadanya—telah mengingkari hal itu darinya, karena wala’ tidak menghalangi kewajiban nafkah. Ini (wala’) bahkan lebih jauh daripada kerabat nasab yang jauh, karena mereka (kerabat jauh) masih memiliki hak waris atasnya. Dan Allah lebih mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا مَنْ يُعْرَفُ بِكَثْرَةِ الْغَلَطِ أَوِ الْغَفْلَةِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak (diterima riwayat) dari orang yang dikenal banyak kesalahan atau kelalaiannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الضَّبْطُ وَالتَّيَقُّظُ، فَهُمَا شَرْطَانِ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ. لِيَقَعَ السُّكُونُ إِلَى صِحَّتِهَا، فَإِنْ حَدَثَ مِنَ الشَّاهِدِ سَهْوٌ أَوْ غَلَطٌ، فَإِنْ كَانَ فِيمَا شَهِدَ بِهِ، رُدَّتْ شَهَادَتُهُ وَإِنْ كَانَ سَهْوُهُ وَغَلَطُهُ فِي غَيْرِ تِلْكَ الشَّهَادَةِ نُظِرَ:

Al-Mawardi berkata: Adapun ketelitian dan kewaspadaan, keduanya merupakan syarat dalam penerimaan kesaksian, agar dapat diyakini kebenarannya. Jika seorang saksi melakukan kekeliruan atau kesalahan, maka jika kekeliruan atau kesalahan itu terjadi dalam perkara yang ia saksikan, kesaksiannya ditolak. Namun jika kekeliruan atau kesalahannya terjadi pada selain kesaksian tersebut, maka hal itu perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ السَّهْوَ وَالْغَلَطَ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ جَرْحًا فِي عَدَالَتِهِ. لِأَنَّ النَّفْسَ غَيْرُ سَاكِنَةٍ إِلَيْهِ إِلَى شَهَادَتِهِ لِحَمْلِهَا فِي الْأَغْلَبِ عَلَى السَّهْوِ وَالْغَلَطِ.

Jika seseorang lebih sering lupa dan keliru, maka kesaksiannya ditolak, meskipun hal itu bukanlah celaan terhadap keadilannya. Sebab, jiwa tidak merasa tenang terhadap kesaksiannya karena ia pada umumnya cenderung kepada lupa dan kekeliruan.

وَإِنْ كَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ التَّيَقُّظَ وَالضَّبْطَ، قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ وَإِنْ غَلَطَ فِي بَعْضِ أَخْبَارِهِ وَسَهَا، لِأَنَّهُ مَا مِنْ أَحَدٍ يَخْلُو من سهو أو غلط.

Dan jika yang dominan pada dirinya adalah sifat waspada dan kemampuan menjaga (hafalan), maka kesaksiannya diterima meskipun ia pernah keliru atau lupa dalam sebagian riwayatnya, karena tidak ada seorang pun yang benar-benar terbebas dari lupa atau kesalahan.

وهذا رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ سَهَا وَقَالَ: ” إِنَّمَا أَسْهُو لِأَسُنَّ ” وَإِذَا كَانَ لَا يَخْلُو ضَابِطٌ مِنْ غَلَطٍ وَلَا غَافِلٌ مِنْ ضَبْطٍ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْمُعْتَبَرُ الْأَغْلَبَ. كَمَا يُعْتَبَرُ فِي الطَّاعَاتِ وَالْمَعَاصِي أَغْلَبُهَا فيكون العدل والفسق معتبرا بِمَا يَغْلِبُ مِنْ طَاعَةٍ أَوْ مَعْصِيَةٍ. وَكَذَلِكَ الضَّبْطُ وَالْغَفْلَةُ.

Ini Rasulullah ﷺ pun pernah lupa dan beliau bersabda: “Sesungguhnya aku lupa agar aku menetapkan sunnah.” Jika seorang yang teliti pun tidak luput dari kesalahan, dan seorang yang lalai pun tidak sepenuhnya kehilangan ketelitian, maka yang dijadikan pertimbangan adalah yang paling dominan. Sebagaimana dalam ketaatan dan kemaksiatan, yang paling dominanlah yang dijadikan ukuran, sehingga keadilan dan kefasikan dinilai berdasarkan ketaatan atau kemaksiatan yang lebih dominan. Demikian pula halnya dengan ketelitian dan kelalaian.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الزَّوْجَيْنِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian suami istri)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ كُنْتُ لَا أُجِيزُ شَهَادَةَ الرَّجُلِ لِامْرَأَتِهِ لِأَنَّهُ يَرِثُهَا مَا أَجَزْتُ شَهَادَةَ الْأَخِ لِأَخِيهِ إِذَا كَانَ يَرِثُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seandainya aku tidak membolehkan kesaksian seorang laki-laki untuk istrinya karena ia mewarisinya, niscaya aku juga tidak membolehkan kesaksian seorang saudara untuk saudaranya jika ia mewarisinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي شَهَادَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الزَّوْجَيْنِ لِصَاحِبِهِ.

Al-Mawardi berkata: Para fuqaha berbeda pendapat mengenai kesaksian masing-masing dari suami istri untuk pasangannya.

فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ إِلَى جَوَازِهَا وَقَبُولِ شهادة الزوج لزوجته. وقبول الزَّوْجَةِ لِزَوْجِهَا.

Imam Syafi‘i rahimahullah berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan dan menerima kesaksian suami untuk istrinya, serta menerima kesaksian istri untuk suaminya.

وَقَالَ النَّخَعِيُّ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الزَّوْجَةِ لِزَوْجِهَا؛ لِأَنَّهُ إِذَا أَيْسَرَ وَجَبَ لَهَا عَلَيْهِ نَفَقَةُ الْمُوسِرِينَ. وَتُقْبَلُ شَهَادَةُ الزَّوْجِ لِزَوْجَتِهِ، لِأَنَّهُ لَا يَجُرُّ بِهَا نَفْعًا.

An-Nakha‘i dan Ibnu Abi Laila berpendapat bahwa kesaksian istri untuk suaminya tidak diterima, karena jika suami menjadi mampu, maka wajib baginya memberikan nafkah seperti nafkah orang-orang yang mampu kepada istrinya. Adapun kesaksian suami untuk istrinya diterima, karena dengan kesaksian itu ia tidak menarik manfaat bagi dirinya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُ مَالِكٍ، عَلَى قِيَاسِ قَوْلِهِ فِي الصَّدِيقِ الملاطف.

Abu Hanifah berkata: Tidak diterima kesaksian masing-masing dari keduanya untuk temannya, dan tampaknya pendapat Malik juga demikian, berdasarkan qiyās atas pendapatnya mengenai sahabat yang akrab.

احْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً} [الروم: 21] . وَذَلِكَ مِنْ مُوجِبَاتِ الِارْتِيَابِ وَالتُّهْمَةِ.

Dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang” (QS. ar-Rum: 21). Hal itu termasuk hal-hal yang menimbulkan keraguan dan tuduhan.

وَقَالُوا: وَلِأَنَّهُ سَبَبٌ لَا يَحْجُبُ مِنَ الْإِرْثِ، فَوَجَبَ أَنْ يَمْنَعَ مِنَ الشَّهَادَةِ كَالْأُبُوَّةِ وَالْبُنُوَّةِ.

Mereka berkata: Karena ia adalah sebab yang tidak menghalangi dari warisan, maka wajib baginya untuk mencegah dari kesaksian sebagaimana hubungan ayah dan anak.

قَالُوا: وَلِأَنَّ الْمِيرَاثَ يُسْتَحَقُّ بِنَسَبٍ وَسَبَبٍ فَلَمَّا كَانَ فِي الْأَنْسَابِ مَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، وَجَبَ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَسْبَابِ مَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Mereka berkata: Karena warisan itu diperoleh melalui nasab dan sebab, maka ketika dalam nasab terdapat hal yang menghalangi diterimanya kesaksian, wajib pula ada dalam sebab sesuatu yang menghalangi diterimanya kesaksian.

وَتَحْرِيرُهُ: أَنَّهُ أَحَدُ نَوْعَيْ مَا يُورِثُ بِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ مَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ كَالنَّسَبِ.

Penjelasannya adalah bahwa ia merupakan salah satu dari dua jenis sebab yang menyebabkan pewarisan, maka wajib ada di dalamnya hal yang dapat dijadikan dasar penolakan kesaksian, seperti nasab.

قَالُوا: وَلِأَنَّ اجْتِمَاعَهُمَا فِي الْمَقَامِ وَالظَّعْنِ وَامْتِزَاجَهُمَا فِي الضِّيقِ وَالسَّعَةِ، وَاخْتِصَاصَهُمَا بِالْمَيْلِ وَالْمَحَبَّةِ، قَدْ جَمَعَ مِنْ أَسْبَابِ الِارْتِيَابِ الْمَانِعَةِ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ. فَوَجَبَ أَنْ تُرَدَّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Mereka berkata: Karena kebersamaan mereka dalam menetap dan bepergian, serta percampuran mereka dalam keadaan sempit maupun lapang, dan kekhususan mereka dengan kecenderungan serta kasih sayang, semua itu telah menghimpun sebab-sebab keraguan yang menghalangi diterimanya kesaksian. Maka wajiblah kesaksian itu ditolak karenanya.

وَدَلِيلُنَا عُمُومُ قَوْله تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَلَى عُمُومِهِ.

Dalil kami adalah keumuman firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian” (QS. Al-Baqarah: 282), maka wajib untuk tetap berlaku pada keumumannya.

وَرَوَى مَجَالِدٌ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ سُوِيدِ بْنِ غَفْلَةَ أَنَّ يَهُودِيًّا كَانَ يَسُوقُ امْرَأَةً عَلَى حِمَارٍ فَنَخَسَهَا فَرَمَى بِهَا، فَوَقَعَ عَلَيْهَا، فَشَهِدَ عَلَيْهِ زَوْجُهَا وَأَخُوهَا عِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَبِلَ شَهَادَتَهُمَا. وَقَتَلَهُ وَصَلَبَهُ.

Majalid meriwayatkan dari asy-Sya‘bi dari Suwaid bin Ghaflah bahwa seorang Yahudi pernah menggiring seorang wanita dengan menaikkannya di atas keledai, lalu ia menusuk keledai itu sehingga wanita tersebut terjatuh, kemudian ia menimpanya (menyerang/menzaliminya). Suami dan saudara laki-laki wanita itu memberikan kesaksian atas kejadian tersebut di hadapan ‘Umar bin al-Khattab ra., dan beliau menerima kesaksian mereka berdua. Lalu beliau membunuh dan menyalib orang Yahudi itu.

وَقَالَ سُوِيدُ بْنُ غَفْلَةَ: إِنَّهُ لَأَوَّلُ مَصْلُوبٍ صُلِبَ بِالشَّامِ.

Suwaid bin Ghaflah berkata: “Sesungguhnya dialah orang pertama yang disalib di Syam.”

وَلَيْسَ لِعُمَرَ مُخَالِفٌ فِي الصَّحَابَةِ مَعَ انْتِشَارِ الْقِصَّةِ فَثَبَتَ أَنَّهُ إِجْمَاعٌ لَا مُخَالِفَ لَهُ وَلِأَنَّ بَيْنَهُمَا صِلَةً لَا تُوجِبُ الْعِتْقَ فَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، كَالْعَشِيرَةِ وَلِأَنَّهَا حُرْمَةٌ حَدَثَتْ عَنْ صِلَةٍ، فَلَمْ تَمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ، فآباء الزَّوْجَيْنِ وَأَبْنَائِهِمَا وَلِأَنَّهُ عَقْدٌ عَلَى مَنْفَعَةٍ فَلَمْ يُوجِبْ رَدَّ الشَّهَادَةِ كَالْإِجَارَةِ.

Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang menyelisihi pendapat Umar, padahal kisah ini telah tersebar luas, sehingga hal itu menjadi ijmā‘ yang tidak ada yang menentangnya. Selain itu, antara keduanya terdapat hubungan yang tidak mewajibkan pembebasan (budak), sehingga tidak menghalangi diterimanya kesaksian, seperti halnya hubungan kekerabatan. Dan karena itu merupakan kehormatan yang muncul dari suatu hubungan, maka tidak menghalangi diterimanya kesaksian, sebagaimana ayah dan anak dari kedua pasangan. Dan karena itu adalah akad atas suatu manfaat, maka tidak menyebabkan penolakan kesaksian, seperti halnya akad ijarah (sewa-menyewa).

وَلِأَنَّهُ عَقْدُ مُعَاوَضَةٍ فَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ كَالْبَيْعِ.

Karena akad ini merupakan akad mu‘āwaḍah, maka tidak menghalangi diterimanya kesaksian, sebagaimana dalam jual beli.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً ورحمة} . فَهُوَ أَنَّ الْمَوَدَّةَ لَا تُوجِبُ رَدَّ الشَّهَادَةِ كالأخوين وعلى أنه قد يحدث بينما تَبَاغُضٌ وَعَدَاوَةٌ تَزِيدُ عَلَى الْأَجَانِبِ، فَلَوْ جَازَ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْمَعْنَى عِلَّةً فِي الْمَنْعِ لَفُرِّقَ بَيْنَ الْمُتَحَابِّينَ وَالْمُتَبَاغِضِينَ وَلَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا فَبَطَلَ التَّعْلِيلُ.

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang,” maka sesungguhnya kasih sayang tidaklah menyebabkan penolakan kesaksian, sebagaimana halnya antara dua saudara. Selain itu, bisa saja terjadi di antara mereka saling membenci dan permusuhan yang melebihi orang-orang asing. Maka, jika makna ini boleh dijadikan sebagai ‘illat (alasan) untuk pencegahan, tentu akan dibedakan antara orang-orang yang saling mencintai dan yang saling membenci, padahal tidak ada perbedaan di antara keduanya. Maka batal-lah alasan tersebut.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ تَعْلِيلِهِمْ بِعَدَمِ الْحَجْبِ عَنِ الْمِيرَاثِ، قِيَاسًا عَلَى الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فَلَيْسَ عَدَمُ الْحَجْبِ عَنِ الْمِيرَاثِ عِلَّةً فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّنَا نَرُدُّ شَهَادَةَ مَنْ لَا يرث من الْأَجْدَادِ وَالْجَدَّاتِ، وَإِنَّمَا الْعِلَّةُ، الْبَعْضِيَّةَ الْمُوجِبَةَ لِلْعِتْقِ الَّتِي تَجْرِي عَلَى الْعُمُومِ فِيمَنْ تُرَدُّ شَهَادَتُهُ بِالنَّسَبِ، فَصَارَ هُوَ عِلَّةَ الْحُكْمِ وَهُوَ مَعْدُومٌ فِي الزَّوْجِيَّةِ فَزَالَ عَنْهَا حُكْمُهُ.

Adapun jawaban terhadap alasan mereka dengan tidak adanya penghalang dari warisan, dengan melakukan qiyās kepada bapak dan anak, maka tidak adanya penghalang dari warisan bukanlah ‘illat dalam penolakan kesaksian, karena kita menolak kesaksian orang yang tidak mewarisi dari kakek dan nenek, dan sesungguhnya ‘illatnya adalah sebagian yang menyebabkan ‘itq (pembebasan budak) yang berlaku secara umum pada orang-orang yang kesaksiannya ditolak karena nasab. Maka hal itu menjadi ‘illat hukum, dan hal itu tidak terdapat pada hubungan pernikahan, sehingga hukum tersebut tidak berlaku padanya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى النِّسَبِ، بِأَنَّهُ أَحَدُ نَوْعَيِ الْمِيرَاثِ. فَهُوَ فَاسِدٌ بِالْوَلَاءِ. ثُمَّ لَيْسَ الْمِيرَاثُ عِلَّةً لِمَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّ فِي الْوَالِدَيْنِ المولودين مَنْ لَا يَرِثُ وَشَهَادَتُهُ مَرْدُودَةٌ، وَالْإِخْوَةُ وَالْأَخَوَاتُ وَالْعَصَبَاتُ يَرِثُونَ وَشَهَادَتُهُمْ مَقْبُولَةٌ.

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan nasab, dengan alasan bahwa nasab adalah salah satu dari dua jenis warisan, maka qiyās tersebut batal karena adanya wala’. Selain itu, warisan bukanlah ‘illat (alasan hukum) sebagaimana telah kami sebutkan, karena di antara kedua orang tua yang melahirkan ada yang tidak mewarisi dan kesaksiannya ditolak, sedangkan saudara laki-laki, saudara perempuan, dan ‘ashabah mewarisi dan kesaksian mereka diterima.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِاجْتِمَاعِ أَسْبَابِ التُّهْمَةِ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ فَهُوَ أَنَّ انْفِرَادَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَسْبَابِ لَمَّا لَمْ تُوجِبِ التُّهْمَةُ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ، لَمْ يَضُرَّ اجْتِمَاعُهَا مُوجِبًا لِلتُّهْمَةِ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ الِاجْتِمَاعَ فِي الْمُقَامِ وَالظَّعْنَ لَا يُوجِبُ رَدَّ الشَّهَادَةِ كَالْأَصْحَابِ. لِأَنَّ الِاجْتِمَاعَ فِي الْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ لَا تُوجِبُهَا كَالْأَصْدِقَاءِ، وَالِامْتِزَاجُ فِي الضِّيقِ وَالسَّعَةِ لَا تُوجِبُهَا كَالْخُلْعِ.

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan berkumpulnya sebab-sebab tuduhan dalam penolakan kesaksian adalah bahwa jika masing-masing dari sebab-sebab tersebut secara sendiri-sendiri tidak menyebabkan adanya tuduhan dalam penolakan kesaksian, maka berkumpulnya sebab-sebab itu pun tidak berbahaya sehingga menjadi penyebab adanya tuduhan dalam penolakan kesaksian. Sebab, berkumpul dalam tempat tinggal dan bepergian tidak menyebabkan penolakan kesaksian, sebagaimana halnya para sahabat. Demikian pula, berkumpul dalam kasih sayang dan rahmat tidak menyebabkannya, seperti halnya para sahabat karib. Dan percampuran dalam keadaan sempit dan lapang juga tidak menyebabkannya, seperti halnya dalam kasus khulu‘.

وَأَمَّا ابْنُ أَبِي لَيْلَى فَيُقَالُ لَهُ: يَنْتَفِعُ الزَّوْجُ بِيَسَارِ زَوْجَتِهِ فِي وُجُوبِ نَفَقَةِ ابْنِهِ عَلَيْهَا إِذَا أَعْسَرَ بِهَا وَلَا يُوجِبُ بِذَلِكَ رَدَّ شَهَادَتِهِ لَهَا، كَذَلِكَ انْتِفَاعُهَا بِيَسَارِهِ فِيمَا يَجِبُ لَهَا مِنْ نَفَقَةِ الْمُوسِرِينَ لَا يُوجِبُ رَدَّ شَهَادَتِهَا لَهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun Ibn Abi Laila, maka dikatakan kepadanya: Suami dapat mengambil manfaat dari kecukupan harta istrinya dalam kewajiban nafkah anaknya atas istri tersebut apabila suami tidak mampu, dan hal itu tidak menyebabkan kesaksian suami untuk istrinya menjadi tertolak. Demikian pula, manfaat istri dari kecukupan harta suami dalam hal nafkah yang wajib diberikan kepada istri dari suami yang mampu, tidak menyebabkan kesaksian istri untuk suaminya menjadi tertolak. Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ أهل الأهواء] )

(Pembahasan tentang kesaksian para pengikut hawa nafsu)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا أَرُدُّ شَهَادَةَ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ إِذَا كَانَ لَا يَرَى أَنْ يَشْهَدَ لِمُوافِقِهِ بِتَصْدِيقِهِ وَقَبُولِ يَمِينِهِ وَشَهَادَةُ مَنْ يُرَى كَذِبُهُ شِرْكًا بِاللَّهِ وَمَعْصِيَةً تَجِبُ بِهَا النَّارُ أَوْلَى أَنْ تَطِيبَ النَّفْسُ بِقَبُولِهَا مِنْ شَهَادَةِ مَنْ يُخَفِّفُ الْمَأْثَمَ فِيهَا وَكُلُّ مَنْ تَأَوَّلَ حَرَامًا عِنْدَنَا فِيهِ حَدٌّ أَوْ لَا حَدَّ فِيهِ لَمْ نَرُدَّ بِذَلِكَ شَهَادَتَهُ أَلَا تَرَى أَنَّ مِمَّنْ حُمِلَ عَنْهُ الدِّينُ وَجُعِلَ عَلَمًا فِي الْبُلْدَانِ مِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِلُّ الْمُتْعَةَ وَالدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ نَقْدًا وَهَذَا عِنْدَنَا وَغَيْرِنَا حَرَامٌ وَأَنَّ مِنْهُمْ مَنِ اسْتَحَلَّ سَفْكَ الدِّمَاءِ وَلَا شَيْءَ أَعْظَمُ مِنْهُ بَعْدَ الشِّرْكِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأَوَّلَ فَاسْتَحَلَّ كُلَّ مُسْكِرٍ غَيْرَ الْخَمْرِ وَعَابَ عَلَى مَنْ حَرَّمَهُ وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ سَلَفِ هَذِهِ الْأُمَّةِ يُقْتَدَى بِهِ وَلَا مِنَ التَّابِعِينَ بَعْدَهُمْ رَدَّ شَهَادَةَ أَحَدٍ بِتَأْوِيلٍ وَإِنْ خَطَّأَهُ وَضَلَّلَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku tidak menolak kesaksian seseorang dari kalangan ahli al-ahwā’ (pengikut aliran sesat) jika ia tidak berpendapat bahwa ia boleh bersaksi untuk orang yang sepaham dengannya hanya karena membenarkannya, dan menerima sumpahnya. Kesaksian orang yang menganggap dusta sebagai syirik kepada Allah dan maksiat yang mewajibkan masuk neraka, lebih layak untuk diterima dengan lapang dada daripada kesaksian orang yang menganggap dosa itu ringan. Setiap orang yang menakwilkan sesuatu yang haram menurut kami, baik ada hudud di dalamnya maupun tidak, kami tidak menolak kesaksiannya hanya karena takwil tersebut. Tidakkah engkau melihat bahwa di antara orang-orang yang menjadi rujukan agama dan dijadikan panutan di berbagai negeri, ada di antara mereka yang menghalalkan nikah mut‘ah dan jual beli dinar dengan dua dinar secara tunai, padahal menurut kami dan selain kami itu haram. Dan di antara mereka ada yang menghalalkan penumpahan darah, padahal tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik daripada itu. Ada pula di antara mereka yang menakwilkan sehingga menghalalkan setiap minuman memabukkan selain khamar, dan mencela orang yang mengharamkannya. Kami tidak mengetahui seorang pun dari salaf umat ini yang dijadikan teladan, maupun dari kalangan tabi‘in setelah mereka, yang menolak kesaksian seseorang hanya karena takwil, meskipun ia menganggapnya salah dan sesat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا فَصْلٌ قَدِ اخْتَلَطَ كَلَامُ أَصْحَابِنَا فِيهِ مِمَّنْ تَفَرَّدَ بِالْفِقْهِ دُونَ أُصُولِهِ، فَوَجَبَ أَنْ تُقَرَّرَ قَاعِدَتُهُ لِيُعْلَمَ بِهَا قَوْلُ الْمُخْتَلِفِينَ، وَمَا يُوجِبُهُ اخْتِلَافُهُمْ فِيهِ مِنْ تَعْدِيلٍ وَتَفْسِيقٍ وَتَكْفِيرٍ.

Al-Mawardi berkata: Ini adalah suatu bagian yang telah tercampur pembicaraan para sahabat kami di dalamnya, yaitu dari mereka yang hanya mendalami fiqh tanpa ushulnya. Maka wajib untuk menetapkan kaidahnya agar diketahui pendapat orang-orang yang berbeda, serta apa yang diakibatkan oleh perbedaan mereka di dalamnya berupa penilaian adil, fasik, atau kafir.

فَنَقُولُ: مَنْ تَدَيَّنَ بِمُعْتَقَدٍ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ صِنْفَانِ:

Maka kami katakan: Setiap orang yang beragama dengan suatu keyakinan, seluruh manusia terbagi menjadi dua golongan:

صِنْفٌ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِمُ اسْمُ الْإِسْلَامِ. وَصِنْفٌ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِمُ اسْمُهُ.

Sebagian golongan yang masih dapat disebut sebagai Muslim, dan sebagian golongan lain yang tidak dapat disebut demikian.

فَأَمَّا مَنْ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِمُ اسْمُ الْإِسْلَامِ، فَهُوَ مَنْ كَذَّبَ الرَّسُولَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَلَمْ يَتَّبِعْهُ. فَخَرَجَ بِالتَّكْذِيبِ وَبِتَرْكِ الِاتِّبَاعِ مِنْ مِلَّتِهِ، فَهَؤُلَاءِ كُلُّهُمْ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِمُ اسْمُ الْكَفْرِ، وَسَوَاءٌ مَنْ رَجَعَ مِنْهُمْ إِلَى مِلَّةٍ كَالْيَهُودِ، وَالنَّصَارَى أَوْ لَمْ يَرْجِعْ إِلَى مِلَّةٍ كَعَبَدَةِ الأوثان وما عظم شَمْسٍ وَنَارٍ. وَجَمِيعُهُمْ فِي التَّكْفِيرِ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ سَوَاءٌ.

Adapun orang-orang yang tidak dapat disematkan atas mereka nama Islam, mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rasul ﷺ dan tidak mengikutinya. Maka dengan pendustaan dan tidak mengikuti itu, mereka keluar dari agamanya. Maka semua mereka ini disebut dengan nama kufur, baik di antara mereka ada yang kembali kepada agama seperti Yahudi dan Nasrani, maupun yang tidak kembali kepada agama seperti para penyembah berhala dan yang mengagungkan matahari dan api. Semuanya dalam hal takfir dan penolakan kesaksian adalah sama.

وَإِنْ فَرَّقَ أَبُو حَنِيفَةَ بَيْنَ أَهْلِ الْمِلَلِ وَغَيْرِهِمْ، فَأَجَازَ شَهَادَةَ أَهْلِ الْمِلَلِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ وَرَدَّ شَهَادَةَ غَيْرِهِمْ.

Dan jika Abu Hanifah membedakan antara Ahl al-Milal dan selain mereka, maka beliau membolehkan kesaksian sebagian Ahl al-Milal terhadap sebagian yang lain, dan menolak kesaksian selain mereka.

وَأَمَّا مَنْ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِمُ اسْمُ الْإِسْلَامِ، فَهُوَ مَنْ صَدَّقَ الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَاتَّبَعَهُ، فَصَارَ بِتَصْدِيقِهِ عَلَى النُّبُوَّةِ مِنْ جُمْلَةِ أُمَّتِهِ وَبِصَلَاتِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ دَاخِلًا فِي مِلَّتِهِ. فَخَرَجُوا بِانْطِلَاقِ اسْمِ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْرِيَ عَلَيْهِمْ أَحْكَامُ مَنْ لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ اسْمُ الْإِسْلَامِ مِنَ الْكُفَّارِ. فَهَذَا أَصْلٌ.

Adapun orang-orang yang nama Islam berlaku atas mereka, maka mereka adalah orang-orang yang membenarkan Rasul ﷺ dan mengikutinya. Dengan pembenaran mereka terhadap kenabian, mereka menjadi bagian dari umatnya, dan dengan salat mereka menghadap kiblat, mereka termasuk dalam agamanya. Maka, dengan berlakunya nama Islam atas mereka, mereka tidak dikenai hukum-hukum yang berlaku atas orang-orang kafir yang tidak berlaku atas mereka nama Islam. Inilah prinsip dasarnya.

ثُمَّ يَنْقَسِمُ مَنْ يَنْطَلِقُ اسْمُ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ: مُوافِقٌ، وَمُتَّبَعٌ، وَمُخَالِفٌ.

Kemudian, orang yang disematkan padanya nama Islam terbagi menjadi tiga golongan: yang setuju, yang mengikuti, dan yang menyelisihi.

وَأَمَّا الْمُوافِقُ: فَهُوَ مَنِ اعْتَقَدَ الْحَقَّ وَعَمِلَ بِهِ، فَكَانَ بِاعْتِقَادِ الْحَقِّ مُتَدَيِّنًا وَبَالْعَمَلِ بِهِ مُؤَدِّيًا، فَهَذَا مُجْمَعٌ عَلَى عَدَالَتِهِ فِي مُعْتَقَدِهِ وَقَوْلِهِ مَقْبُولُ الْقَوْلِ فِي خَبَرِهِ وَشَهَادَتِهِ.

Adapun al-muwāfiq, yaitu orang yang meyakini kebenaran dan mengamalkannya, maka dengan keyakinannya terhadap kebenaran ia menjadi seorang yang beragama, dan dengan mengamalkannya ia menjadi orang yang melaksanakan. Maka orang seperti ini telah menjadi ijmā‘ atas keadilannya dalam keyakinannya, dan ucapannya diterima dalam berita dan kesaksiannya.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْمُتَّبِعِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian al-muttaabi‘)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْمُتَّبِعُ: فَهُوَ مَنْ عَمِلَ بِالْحَقِّ وَلَمْ يُخَالِفْ فِي الْمُعْتَقَدِ. كَالْمُقَلِّدِ مِنَ الْعَامَّةِ لِلْعُلَمَاءِ. فَإِنْ كَانَ التَّقْلِيدُ فِي الْفُرُوعِ فَهُوَ فَرْضُهُ، وَهُوَ عَدْلٌ فِي مُعْتَقَدِهِ وَعَمَلِهِ.

Adapun al-muttaabi‘ adalah orang yang mengikuti kebenaran dan tidak menyelisihi dalam akidah, seperti orang awam yang melakukan taqlid kepada para ulama. Jika taqlid itu dalam masalah furu‘, maka itu adalah kewajibannya, dan ia adalah orang yang adil dalam akidah dan amalnya.

وَإِنْ كَانَ تَقْلِيدُهُ فِي أُصُولِ التَّوْحِيدِ، فَمَنْ جَوَّزَ تَقْلِيدَهُ فِيهَا جَعَلَهُ عَدْلًا فِي مُعْتَقَدِهِ وَعَمَلِهِ. وَمَنْ مَنَعَ التَّقْلِيدَ فِيهَا جَعَلَهُ مُقَصِّرًا فِي مُعْتَقَدِهِ وَمُؤَدِّيًا فِي عَمَلِهِ. وَعَدَالَتُهُ مُعْتَبَرَةٌ بِسُكُونِ نَفْسِهِ وَنُفُورِهَا، فَإِنْ كَانَ سَاكِنَ النَّفْسِ إِلَى صِحَّةِ التَّقْلِيدِ لَمْ يَخْرُجْ عَنِ الْعَدَالَةِ، وَإِنْ كَانَ نَافِرَ النَّفْسِ مِنْهُ خَرَجَ مِنَ الْعَدَالَةِ.

Jika taklidnya dalam ushul at-tauhid, maka siapa yang membolehkan taklid dalam hal itu menganggapnya sebagai orang yang adil dalam keyakinan dan amalnya. Sedangkan siapa yang melarang taklid dalam hal itu menganggapnya sebagai orang yang kurang dalam keyakinan namun tetap melaksanakan amalnya. Keadilannya dipertimbangkan berdasarkan ketenangan atau kegelisahan jiwanya; jika jiwanya tenang terhadap kebenaran taklid, maka ia tidak keluar dari keadilan, namun jika jiwanya merasa enggan terhadapnya, maka ia keluar dari keadilan.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْمُخَالِفِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian orang yang berbeda pendapat)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْمُخَالِفُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun pihak yang berbeda pendapat terbagi menjadi dua golongan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُخَالِفَ فِي الْعَمَلِ.

Salah satunya adalah menyelisihi dalam perbuatan.

وَالثَّانِي: فِي الْمُعْتَقَدِ.

Yang kedua: dalam hal akidah.

فَأَمَّا الْمُخَالِفُ فِي الْعَمَلِ، فَهُوَ أَنْ يَعْتَقِدَ مَا لَا يَعْمَلُ بِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي مُبَاحٍ فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي وَاجِبٍ فُسِّقَ بِهِ وَخَرَجَ عَنْ عَدَالَتِهِ، لِأَنَّهُ تَعَمَّدَ الْمَعْصِيَةَ بِتَرْكِ مَا اعْتَقَدَ وَجُوبَهُ وَيَكُونُ كَالْعَمَلِ بِمَا اعْتَقَدَ تَحْرِيمُهُ.

Adapun orang yang menyelisihi dalam perbuatan, yaitu seseorang meyakini sesuatu namun tidak mengamalkannya; jika hal itu berkaitan dengan perkara yang mubah, maka ia tetap dalam keadilannya. Namun jika berkaitan dengan perkara yang wajib, maka ia menjadi fasiq karenanya dan keluar dari keadilannya, karena ia sengaja melakukan maksiat dengan meninggalkan apa yang diyakininya sebagai kewajiban, dan hal itu sama seperti mengerjakan sesuatu yang diyakini keharamannya.

وَأَمَّا الْمُخَالِفُ فِي الْمُعْتَقَدِ فَمُخْتَلِفُ الْحُكْمِ بِخِلَافِهِ فِيمَا انْعَقَدَ عَلَيْهِ الدِّينُ. وَالدِّينُ مُنْعَقِدٌ عَلَى فُرُوعٍ وَأُصُولٍ.

Adapun orang yang berbeda pendapat dalam akidah, maka hukumnya berbeda, tidak seperti perbedaan dalam hal-hal yang menjadi dasar agama. Agama itu sendiri berdiri di atas cabang-cabang (furu‘) dan pokok-pokok (usul).

فَالْأُصُولُ، مَا اخْتَصَّ بِالتَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ. وَالْفُرُوعُ مَا اخْتَصَّ بِالتَّكْلِيفِ وَالتَّعَبُّدِ. وَلِلْأُصُولِ فُرُوعٌ، وَلِلْفُرُوعِ أُصُولٌ.

Jadi, ushul adalah perkara yang khusus berkaitan dengan tauhid dan kenabian. Sedangkan furu‘ adalah perkara yang khusus berkaitan dengan taklif dan ibadah. Ushul memiliki cabang-cabang (furu‘), dan furu‘ juga memiliki pokok-pokok (ushul).

فَأَمَّا أُصُولُ الْأُصُولِ، فَمَا اخْتُصَّ بِإِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ وَإِثْبَاتِ النُّبُوَّةِ. وَفُرُوعُهُ مَا اخْتُصَّ بِالصِّفَاتِ وَأَعْلَامِ النُّبُوَّةِ.

Adapun ushul al-ushul adalah hal-hal yang khusus berkaitan dengan penetapan tauhid dan penetapan kenabian. Sedangkan cabangnya adalah hal-hal yang khusus berkaitan dengan sifat-sifat dan tanda-tanda kenabian.

وَأُصُولُ الْفُرُوعِ مَا عُلِمَ قَطْعًا مِنْ دِينِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَفُرُوعُهُ مَا عُرِفَ بِغَيْرِ مَقْطُوعٍ به.

Adapun ushul dan furu‘, maka yang dimaksud dengan ushul adalah apa yang diketahui secara pasti berasal dari agama Rasul ﷺ, sedangkan furu‘ adalah apa yang diketahui tanpa adanya kepastian mutlak.

فَأَمَّا الْمُخَالِفُ فِي أُصُولِ التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ، فَمَقْطُوعٌ بِكُفْرِهِ، وَيَخْرُجُ مِنِ انْطِلَاقِ اسْمِ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ، وَإِنْ تَظَاهَرَ بِهِ. فَلَا تَثْبُتُ لَهُ عَدَالَةٌ وَلَا تَصِحُّ لَهُ وِلَايَةٌ وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ.

Adapun orang yang menyelisihi dalam pokok-pokok tauhid dan kenabian, maka telah dipastikan kekafirannya, dan ia keluar dari cakupan nama Islam, meskipun ia menampakkan diri sebagai seorang Muslim. Maka tidak tetap baginya keadilan, tidak sah baginya menjadi wali, dan kesaksiannya tidak diterima.

وَأَمَّا الْمُخَالِفُ فِي فُرُوعِ الْأُصُولِ مِنَ الصِّفَاتِ وَأَعْلَامِ النُّبُوَّةِ، فَإِنْ رَدَّهُ خَبَرٌ مَقْطُوعٌ بِصِدْقِهِ مِنْ قُرْآنٍ أَوْ سُنَّةٍ وَأَثَرٍ، كَانَ مُخَالِفُهُ كَافِرًا، لَا تَثْبُتُ لَهُ عَدَالَةٌ، وَلَا تَصِحُّ لَهُ وِلَايَةٌ، وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ. كَذَلِكَ مَا رَدَّتْهُ الْعُقُولُ وَاسْتَحَالَ جَوَازُهُ فِيهَا، وَمَا لَمْ يَرُدَّهُ خَبَرٌ مَقْطُوعٌ بِصِدْقِهِ، وَلَا عَقْلَ يَسْتَحِيلُ بِهِ نُظِرَ. فَإِنِ اتَّفَقَ أَهْلُ الْحَقِّ عَلَى تَكْفِيرِهِ بِهِ، سَقَطَتْ عَدَالَتُهُ وَلَمْ تَصِحَّ وِلَايَتُهُ وَلَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ، وَإِنِ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْحَقِّ فِي تَكْفِيرِهِ بِهِ، فَهُوَ عَلَى الْعَدَالَةِ وَصِحَّةِ الْوِلَايَةِ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Adapun orang yang menyelisihi dalam cabang-cabang ushul seperti sifat-sifat dan tanda-tanda kenabian, maka jika penolakannya terhadap berita yang kebenarannya sudah pasti, baik dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun atsar, maka orang yang menyelisihinya adalah kafir, tidak tetap baginya keadilan, tidak sah baginya wilayah, dan tidak diterima kesaksiannya. Demikian pula terhadap hal-hal yang ditolak oleh akal dan mustahil terjadi menurut akal. Adapun perkara yang tidak ditolak oleh berita yang kebenarannya pasti, dan tidak pula oleh akal yang memustahilkannya, maka perlu diteliti. Jika Ahlul Haq sepakat mengkafirkannya karena hal itu, maka gugurlah keadilannya, tidak sah wilayahnya, dan tidak diterima kesaksiannya. Namun jika Ahlul Haq berbeda pendapat dalam mengkafirkannya karena hal itu, maka ia tetap dianggap adil, sah wilayahnya, dan diterima kesaksiannya.

فَهَذَا أَصْلٌ مُقَرَّرٌ فِي الْأُصُولِ يُغْنِي عَنْ ضَرْبِ مَثَلٍ وَتَعْيِينِ مَذْهَبٍ.

Ini adalah kaidah yang telah ditetapkan dalam ushul yang mencukupi tanpa perlu memberikan contoh atau menentukan mazhab tertentu.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ جَاحِدِ فُرُوعِ الدِّينِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian orang yang mengingkari cabang-cabang agama)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفُرُوعُ: فَأُصُولُهَا كَالْأُصُولِ. فَمَا عُلِمَ قَطْعًا مِنْ دِينِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِإِجْمَاعِ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ عَلَيْهِ، كَوُجُوبِ الصَّلَاةِ وَأَعْدَادِهَا. وَاسْتِقْبَالِ الْكَعْبَةِ بِهَا. وَوُجُوبِ الزَّكَاةِ بَعْدَ حَوْلِهَا. وَفَرْضِ الصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَزَمَانِهِمَا. وَتَحْرِيمِ الزِّنَا وَالرِّبَا وَالْقَتْلِ وَالسَّرِقَةِ.

Adapun cabang-cabang (hukum), maka pokok-pokoknya seperti pokok-pokok (agama). Apa yang diketahui secara pasti dari agama Rasul —shallallahu ‘alaihi wa sallam— dengan ijmā‘ baik dari kalangan khusus maupun umum, seperti kewajiban shalat dan jumlah rakaatnya, menghadap ke Ka‘bah dalam pelaksanaannya, kewajiban zakat setelah haulnya, kewajiban puasa dan haji beserta waktunya, serta keharaman zina, riba, pembunuhan, dan pencurian.

فَإِنْ جَحَدَ وُجُوبَ أَحَدِهَا أَوِ اعْتَقَدَ فِي الصَّلَاةِ نُقْصَانًا مِنْهَا أَوْ زِيَادَةً عَلَيْهَا. أَوْ غَيَّرَ الصِّيَامَ وَالْحَجَّ عَنْ زَمَانِهِمَا مِنْ تَقْدِيمٍ أَوْ تَأْخِيرٍ. أَوْ زَادَ فِي الْقُرْآنِ أَوْ نَقَصَ مِنْهُ بَعْدَ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ عَلَيْهِ، فَهُوَ كَافِرٌ. لِأَنَّهُ جَحَدَ بِهَذَا الْخِلَافِ مَا هُوَ مَقْطُوعٌ بِهِ مِنْ دِينِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -. فَصَارَ كَالْجَاحِدِ لِصِدْقِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَلَا تَثْبُتُ لَهُ عَدَالَةٌ وَلَا تَصِحُّ لَهُ وِلَايَةٌ وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ.

Jika seseorang mengingkari kewajiban salah satu dari rukun tersebut, atau meyakini adanya kekurangan atau penambahan dalam salat, atau mengubah waktu pelaksanaan puasa dan haji dari waktunya, baik dengan mendahulukan atau mengakhirkan, atau menambah atau mengurangi isi Al-Qur’an setelah ijmā‘ telah ditetapkan atasnya, maka ia adalah kafir. Karena dengan perbedaan ini, ia telah mengingkari sesuatu yang sudah pasti dari agama Rasul ﷺ. Maka ia seperti orang yang mengingkari kebenaran Rasul ﷺ, sehingga tidak tetap baginya keadilan, tidak sah baginya menjadi wali, dan tidak diterima persaksiannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفُرُوعُ الَّتِي لَيْسَتْ بِأُصُولٍ، فَالْخِلَافُ فِيهَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun cabang-cabang yang bukan merupakan pokok, maka perbedaan pendapat di dalamnya terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: فِي الْأَدَاءِ.

Salah satunya: dalam pelaksanaan.

وَالثَّانِي: فِي الْأَحْكَامِ.

Dan yang kedua: dalam hukum-hukum.

فَأَمَّا الْخِلَافُ فِي الْأَدَاءِ الْمُنْتَحِلَةِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun perbedaan pendapat dalam pelaksanaan yang diada-adakan itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا اعْتَقَدَ بِهِ تَكْفِيرَ مُخَالِفِهِ وَاسْتِبَاحَةَ مَالِهِ وَدَمِهِ. كَمَنْ يَرَى مِنَ الْخَوَارِجِ، بِمُوالَاتِهِمْ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا تَكْفِيرَ جَمِيعِ الْأُمَّةِ. وَكَالْغُلَاةِ يَرَوْنَ بِمُعْتَقَدِهِمْ فِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عليه السلام، تكفير جميع الأمة.

Pertama: Yaitu keyakinan yang menyebabkan mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengannya serta menghalalkan harta dan darahnya. Seperti yang diyakini oleh kelompok Khawarij, yang karena loyalitas mereka kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, mereka mengkafirkan seluruh umat. Demikian pula para ekstremis yang, karena keyakinan mereka terhadap Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, mengkafirkan seluruh umat.

يرى الْفَرِيقَانِ: بِهَذَا الْمُعْتَقَدِ أَنَّ دَارَ الْإِسْلَامِ دَارُ إِبَاحَةٍ فِي قَتْلِ رِجَالِهَا وَسَبْيِ ذَرَارِيِّهَا وَغَنِيمَةِ أَمْوَالِهَا. فَيُحْكَمُ بِكُفْرِ مَنْ هَذَا اعْتِقَادُهُ مِنَ الْفَرِيقَيْنِ لِأَمْرَيْنِ:

Kedua kelompok berpendapat, dengan keyakinan ini, bahwa Dar al-Islam adalah wilayah yang diperbolehkan untuk membunuh laki-lakinya, menawan anak-anaknya, dan merampas harta bendanya. Maka dihukumi kafir siapa saja dari kedua kelompok yang memiliki keyakinan seperti ini karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: لِتَكْفِيرِهِمُ السَّوَادَ الْأَعْظَمَ الْمُفْضِي إِلَى تَعْطِيلِ الْإِسْلَامِ وَدُرُوسِهِ، وَقَدْ قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” تَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً مِنْهَا وَاحِدَةٌ نَاجِيَةٌ. قِيلَ: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: السَّوَادُ الْأَعْظَمُ “.

Salah satunya adalah karena mereka mengafirkan as-sawād al-a‘zham, yang berakibat pada penonaktifan Islam dan hilangnya ajarannya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu yang selamat.” Ditanyakan: “Siapakah itu?” Beliau menjawab: “As-sawād al-a‘zham.”

وَالثَّانِي: اسْتِبَاحَتُهُمْ لِدَارٍ حَرَّمَ الشَّرْعُ نُفُوسَ أَهْلِهَا وَأَمْوَالَهُمْ. وَقَدْ قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنَعَتْ دَارُ الْإِسْلَامِ وَمَا فِيهَا وَأَبَاحَتْ دَارُ الشِّرْكِ وَمَا فِيهَا “.

Kedua: Mereka menghalalkan negeri yang syariat telah mengharamkan jiwa dan harta penduduknya. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Negeri Islam dan apa yang ada di dalamnya dilindungi, sedangkan negeri syirik dan apa yang ada di dalamnya dihalalkan.”

وَقَالَ يَوْمَ النَّحْرِ كَلَامًا شَهِدَهُ الْجَمُّ الْغَفِيرُ: ” أَلَا إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا “.

Dan pada hari Nahr, beliau menyampaikan sebuah pernyataan yang disaksikan oleh banyak orang: “Ketahuilah, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana sucinya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.”

فَكَانُوا أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ الْعَدَالَةِ وَأَوْلَاهُمْ بِرَدِّ الشَّهَادَةِ.

Maka mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari keadilan dan paling layak untuk ditolak kesaksiannya.

( [شَهَادَةُ مُعْتَقِدِ كُفْرِ مُخَالِفِهِ] )

( [Kesaksian orang yang meyakini kekafiran lawannya] )

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَنْ يَعْتَقِدُ تَكْفِيرَ مُخَالِفِهِ وَلَا يَرَى اسْتِبَاحَةَ دَمِهِ فَيُنْظَرُ فَإِنْ تَعَرَّضَ بِعَرْضٍ بِرَأْيِهِ لِتَكْفِيرِ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ حُكِمَ بِكُفْرِهِ، لِرَدِّهِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي قَوْلِهِ: {لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ} [الفتح: 18] وَرَدِّهِ عَلَى رَسُولِهِ فِي قَوْلِهِ: ” أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ “

Golongan kedua: yaitu orang yang meyakini kafirnya pihak yang berbeda pendapat dengannya, namun tidak menganggap halal darahnya. Maka perlu diperhatikan, jika ia dengan pendapatnya sampai menuduh kafir generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, maka ia dihukumi kafir, karena ia telah menolak Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” (QS. Al-Fath: 18), dan juga menolak Rasul-Nya dalam sabdanya: “Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang, dengan siapa pun di antara mereka kalian mengikuti, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.”

وَقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ” فَتَسْقُطُ عَدَالَتُهُمْ وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُمْ بِكُفْرِهِمْ.

Dan sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian generasi setelah mereka.” Maka gugurlah keadilan mereka dan ditolak kesaksian mereka karena kekafiran mereka.

وَإِنْ لَمْ يَتَعَرَّضُوا لِتَكْفِيرِ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَاعْتَقَدُوا فِيهِمُ الْإِيمَانَ، وَتَفَرَّدُوا بِتَكْفِيرِ أَهْلِ عَصْرِهِمْ فَهُمْ أَهْلُ ضَلَالٍ يُحْكَمُ بِفِسْقِهِمْ دُونَ كُفْرِهِمْ، فَتَسْقُطُ عَدَالَتُهُمْ وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُمْ بِالْفِسْقِ دُونَ الْكُفْرِ.

Dan jika mereka tidak menuduh kafir generasi pertama (para sahabat) dan meyakini keimanan mereka, namun hanya mengkafirkan orang-orang di zaman mereka sendiri, maka mereka adalah golongan yang sesat, yang dihukumi sebagai fasiq, bukan kafir. Maka keadilan mereka gugur dan kesaksian mereka ditolak karena kefasiqan, bukan karena kekafiran.

( [شَهَادَةُ مُبْتَدِعِ الرَّأْيِ] )

(Syahadat pelaku bid‘ah dalam hal ra’yu)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَبْتَدِعَ رَأْيًا وَلَا يَعْتَقِدَ بِهِ تَكْفِيرَ مُخَالِفِهِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Golongan ketiga: yaitu seseorang membuat pendapat baru dan tidak meyakini bahwa orang yang berbeda pendapat dengannya menjadi kafir, maka golongan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَرْتَكِبَ فِيهِ الْهَوَى وَلَا يَتَمَسَّكَ فِيهِ بِتَأْوِيلٍ: فَهُوَ ضَالٌّ يُحْكَمُ بِفِسْقِهِ وَرَدِّ شَهَادَتِهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عن الهوى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى} [النازعات: 41، 40] . وَسُنَّةُ عُمَرَ رضي الله عنه في صبيغ. وَكَانَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ يَطُوفُ بِهَا وَيَسْأَلُ عَنِ الشُّبَهَاتِ وَيَمِيلُ إِلَى الْمُخَالَفَةِ. فَأَمَرَ بِهِ وَضُرِبَ بِالْجَرِيدِ وَشُهِرَ بِالْمَدِينَةِ وَنُفِيَ عَنْهَا.

Salah satunya adalah seseorang mengikuti hawa nafsu dalam hal ini dan tidak berpegang pada takwil; maka ia adalah orang yang sesat, dihukumi sebagai fasiq dan kesaksiannya ditolak. Allah Ta‘ala berfirman: “Adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka surga adalah tempat tinggalnya.” (an-Nazi‘at: 40-41). Ini juga merupakan sunnah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap Shabigh. Ia adalah salah seorang penduduk Madinah yang berkeliling di kota itu dan bertanya-tanya tentang berbagai syubhat serta cenderung menyelisihi. Maka ‘Umar memerintahkan agar ia dipukul dengan pelepah kurma, diumumkan di Madinah, dan diusir dari kota tersebut.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي بَعْضِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ: سنتي فيه سنة عمر في صبيغ وَلِأَنَّ مَنِ ارْتَكَبَ الْهَوَى وَلَمْ يَتَّبِعِ الدَّلِيلَ فَقَدْ ضَلَّ وَأَضَلَّ، إِذْ لَا يُفَرِّقُ بَيْنَ حَقٍّ وَبَاطِلٍ وَلَا بَيْنَ صَحِيحٍ وَفَاسِدٍ، وَلِأَنَّ الْهَوَى أَسْرَعُ إِلَى الْبَاطِلِ مِنَ الْحَقِّ، لِخِفَّةِ الْبَاطِلِ وَثِقَلِ الْحَقِّ.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata tentang sebagian ahli al-ahwa’ (pengikut hawa nafsu): “Sunnahku terhadap mereka adalah seperti sunnah Umar terhadap Shabigh.” Karena siapa saja yang mengikuti hawa nafsu dan tidak mengikuti dalil, maka sungguh ia telah sesat dan menyesatkan, sebab ia tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang batil, juga tidak dapat membedakan antara yang sahih dan yang rusak. Selain itu, hawa nafsu lebih cepat mengarah kepada kebatilan daripada kebenaran, karena kebatilan itu ringan dan kebenaran itu berat.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَمَسَّكَ فِيمَا ابْتَدَعَهُ بِتَأْوِيلٍ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu seseorang berpegang pada sesuatu yang ia ada-adakan dengan takwil, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُخَالِفَ بِهِ الْإِجْمَاعَ مِنْ أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَدْفَعَ مَا اعْتَقَدَهُ الْإِجْمَاعُ. وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ بِمُعْتَقَدِهِ الْإِجْمَاعَ.

Salah satunya adalah bahwa dengannya bertentangan dengan ijmā‘ dari salah satu dua sisi: bisa jadi menolak apa yang diyakini oleh ijmā‘, atau menolak ijmā‘ dengan keyakinannya sendiri.

فَإِنْ دَفَعَ بِمُعْتَقَدِهِ الْإِجْمَاعَ، فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ أَوْ إِجْمَاعَ غَيْرِهِمْ. فَإِنْ خَالَفَ بِهِ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ ضَلَّ بِهِ وَحُكِمَ بِفِسْقِهِ وَرَدِّ شهادته لقوله النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ “.

Jika seseorang menolak ijmā‘ dengan keyakinannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah itu ijmā‘ para sahabat atau ijmā‘ selain mereka. Jika ia menentang ijmā‘ para sahabat dengan keyakinannya, maka ia telah sesat karenanya dan dihukumi sebagai fāsiq serta ditolak kesaksiannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.”

وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، عضوا عليها بالنواجز وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضلالة في النار “.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah itu erat-erat dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid‘ah, setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

وَإِنْ خَالَفَ بِهِ إِجْمَاعَ غَيْرِ الصَّحَابَةِ، فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَقُولُ إِنَّ الْإِجْمَاعَ هُوَ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ دُونَ غَيْرِهِمْ، وَيَعْتَقِدُ اسْتِحَالَةَ إِجْمَاعِ غَيْرِهِمْ لِتَبَاعُدِ أَعْصَارِهِمْ كَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Dan jika ia menyelisihi ijmā‘ selain para sahabat, maka jika ia termasuk orang yang berpendapat bahwa ijmā‘ itu adalah ijmā‘ para sahabat saja dan bukan selain mereka, serta meyakini mustahilnya ijmā‘ selain mereka karena jauhnya masa mereka, maka tetap dianggap adil dan diterima kesaksiannya.

وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَقُولُ بِإِجْمَاعِ كُلِّ عَصْرٍ. فُسِّقَ بِمُخَالَفَةِ الْإِجْمَاعِ وَرُدَّتْ شَهَادَتُهُ.

Dan jika ia termasuk orang yang berpendapat dengan ijmā‘ setiap generasi, maka ia dianggap fāsiq karena menyelisihi ijmā‘ dan kesaksiannya ditolak.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: وَأَنْ لَا يُخَالِفَ بِمُعْتَقَدِهِ الْإِجْمَاعَ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu tidak menyelisihi ijmā‘ dengan keyakinannya, dan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تُفْضِيَ بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى الْقَدْحِ فِي بَعْضِ الصَّحَابَةِ. فَهُوَ عَلَى ضربين: سبب وجرح.

Salah satunya adalah bahwa perbedaan pendapat itu dapat mengantarkan kepada celaan terhadap sebagian sahabat. Hal ini terbagi menjadi dua: sebab dan celaan.

فَإِنْ كَانَ الْقَدْحُ سَبًّا، فُسِّقَ بِهِ وَعُزِّرَ مِنْ أَجْلِهِ.

Jika celaan itu berupa makian, maka pelakunya dihukumi fasiq karenanya dan dikenai hukuman ta‘zir akibat perbuatannya.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ سَبَّ نَبِيًّا فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ سَبَّ صَحَابِيًّا فَقَدْ فَسَقَ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa mencaci seorang nabi maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa mencaci seorang sahabat maka sungguh ia telah fasik.”

وَلَيْسَ مَنْ عاصر الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَشَاهَدَهُ كَانَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَإِنَّمَا يَشْتَمِلُ اسْمُ الصَّحَابَةِ عَلَى مَنِ اجْتَمَعَ فِيهِ شَرْطَانِ:

Tidak setiap orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah ﷺ dan melihat beliau termasuk sahabat. Nama sahabat hanya mencakup orang yang padanya terpenuhi dua syarat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَخَصَّصَ بِالرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Salah satunya adalah bahwa hal itu dikhususkan bagi Rasulullah ﷺ.

والثاني: أن يتخصص به الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Kedua: bahwa hal itu dikhususkan bagi Rasulullah ﷺ.

فَأَمَّا اخْتِصَاصُهُ بِالرَّسُولِ، فَيَكُونُ مِنْ أَمْرَيْنِ.

Adapun kekhususannya bagi Rasul, maka hal itu berasal dari dua perkara.

أَحَدُهُمَا: مُكَاثَرَتُهُ فِي حَضَرِهِ وَسَفَرِهِ.

Yang pertama: memperbanyaknya baik ketika bermukim maupun dalam perjalanan.

وَالثَّانِي: مُتَابَعَتُهُ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا.

Yang kedua: mengikutinya dalam urusan agama dan dunia.

وَلَيْسَ مَنْ قَدِمَ عَلَيْهِ مِنَ الْوُفُودِ، وَلَا مَنْ غَزَا مَعَهُ مِنَ الْأَعْرَابِ، مِنَ الصَّحَابَةِ. لِعَدَمِ هَذَيْنِ الشَّرْطَيْنِ فِيهِمْ.

Dan orang-orang yang datang kepadanya dari delegasi-delegasi, maupun orang-orang Arab Badui yang berperang bersamanya, tidak termasuk sahabat. Karena kedua syarat tersebut tidak terpenuhi pada mereka.

وَأَمَّا اخْتِصَاصُ الرَّسُولِ بِهِ فَيَكُونُ بِهِ بِأَمْرَيْنِ:

Adapun kekhususan Rasul dalam hal ini, maka hal itu terjadi karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَثِقَ بِسَرَائِرِهِمْ.

Salah satunya adalah mempercayai batin mereka.

وَالثَّانِي: أَنْ يَقْضِيَ بِأَوَامِرِهِ وَنَوَاهِيهِ إِلَيْهِمْ.

Kedua: hendaknya ia memutuskan perkara dengan perintah dan larangannya kepada mereka.

وَلِذَلِكَ لَمْ يَكُنِ الْمُنَافِقُونَ مِنَ الصَّحَابَةِ لِعَدَمِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ فِيهِمْ فَصَارَ الصَّحَابِيُّ مَنْ تَكَامَلَ فِيهِ مَا ذَكَرْنَاهُ. وَمَنْ أَخَلَّ بِهَا خَرَجَ مِنْهُمْ.

Oleh karena itu, orang-orang munafik dari kalangan sahabat tidak termasuk sebagai sahabat karena tidak adanya dua hal tersebut pada diri mereka. Maka, yang disebut sahabat adalah orang yang kedua hal yang telah kami sebutkan itu sempurna pada dirinya. Siapa yang mengabaikannya, maka ia keluar dari golongan sahabat.

وَإِنْ كَانَ الْقَدْحُ فِي الصَّحَابَةِ جَرْحًا يَنْسُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى فِسْقٍ وَضَلَالٍ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ مِنْ أَحَدِ الْعَشْرَةِ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالْجَنَّةِ، صَارَ بِاعْتِقَادِهِ لِفِسْقِهِ فَاسِقًا مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ.

Dan jika celaan terhadap para sahabat berupa tuduhan yang menisbatkan sebagian dari mereka kepada kefasikan dan kesesatan, maka hal itu perlu diteliti: jika celaan tersebut ditujukan kepada salah satu dari sepuluh sahabat yang telah diberi kesaksian oleh Rasulullah ﷺ akan masuk surga, maka orang yang meyakini kefasikan mereka menjadi fasik dan kesaksiannya ditolak.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْعَشْرَةِ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ، صَارَ بِتَفْسِيقِ أحدهم فاسقا؛ لأن الله تعالى أخبر بالرضى عَنْهُمْ.

Dan jika ia bukan termasuk dari sepuluh sahabat, maka dilihat lagi: jika ia termasuk dari kalangan ahli Bai‘at ar-Ridwan, maka dengan menfasikkan salah satu dari mereka, ia menjadi fasik; karena Allah Ta‘ala telah memberitakan keridhaan-Nya terhadap mereka.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ قَبْلَ تَنَازُعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي قِتَالِ الْجَمَلِ وَصِفِّينَ، صَارَ بِتَفْسِيقِهِ لِلصَّحَابَةِ فَاسِقًا ” مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ “.

Dan jika ia bukan termasuk ahli Bai‘at Ridwan, maka perlu dilihat: jika ia hidup sebelum terjadinya perselisihan di antara para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dalam Perang Jamal dan Shiffin, maka dengan menfasikkan para sahabat, ia menjadi seorang fasik yang kesaksiannya ditolak.

وَإِنْ كَانَ قَدْ دَخَلَ فِي تَنَازُعِ أَهْلِ الْجَمَلِ وَصِفِّينَ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ فِي تَنَازُعِهِمْ هَلْ نَقَلَهُمْ عَنِ الْحُكْمِ الْمُتَقَدِّمِ فِيهِمْ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan jika ia telah terlibat dalam perselisihan para pelaku Perang Jamal dan Shiffin, maka para ulama dari kalangan kami maupun selain mereka telah berbeda pendapat mengenai perselisihan mereka: apakah perselisihan itu telah memindahkan mereka dari hukum yang telah ditetapkan sebelumnya terhadap mereka atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِهِمْ، أَنَّهُمْ عَلَى اسْتِدَامَةِ حُكْمِ الرَّسُولِ فِيهِمْ مِنَ الْقَطْعِ بِعَدَالَتِهِمْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ. وَلَا يُكْشَفُ عَنْ سَرَائِرِهِمْ فِي رِوَايَةِ خَبَرٍ وَلَا فِي ثُبُوتِ شَهَادَةٍ. اسْتِدَامَةً لِحُكْمِ الصُّحْبَةِ فِيهِمْ، وَمَنْ فَسَّقَ أَحَدَهُمْ كَانَ بِتَفْسِيقِهِ فَاسِقًا، لِأَنَّهُمْ فِي التَّنَازُعِ مُتَأَوِّلُونَ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat mayoritas ulama, menyatakan bahwa mereka tetap berada dalam ketetapan hukum Rasulullah terhadap mereka, yaitu keyakinan pasti atas keadilan mereka baik secara lahir maupun batin. Tidak boleh meneliti rahasia hati mereka dalam periwayatan hadis maupun dalam penetapan kesaksian. Hal ini sebagai kelanjutan dari hukum persahabatan (ṣuḥbah) yang berlaku pada mereka. Barang siapa yang menuduh salah satu dari mereka sebagai fāsiq, maka dengan tuduhannya itu dialah yang menjadi fāsiq, karena dalam perselisihan di antara mereka, masing-masing memiliki alasan (ta’wil) yang dapat diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُمْ صَارُوا بَعْدَ التَّنَازُعِ كَغَيْرِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْأَعْصَارِ عُدُولًا فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ. وَزَالَ عَنْهُمُ الْقَطْعُ بِعَدَالَتِهِمْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ إِلَّا بَعْدَ الْكَشْفِ عَنْ عَدَالَةِ بَاطِنِهِ.

Pendapat kedua: Setelah terjadi perselisihan, mereka menjadi seperti orang-orang lain dari kalangan umat pada masa-masa berikutnya, yaitu adil secara lahiriah namun tidak secara batiniah. Keyakinan pasti tentang keadilan mereka, baik lahir maupun batin, telah hilang. Maka, kesaksian salah seorang dari mereka tidak dapat diterima kecuali setelah dilakukan pemeriksaan terhadap keadilan batinnya.

وَمَنْ فَسَّقَ أَحَدَهُمْ لَمْ يَفْسُقْ بِتَفْسِيقِهِ، وَكَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ فِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ، لِأَنَّهُمُ انْتَقَلُوا بِالتَّنَازُعِ عَنِ الْأُلْفَةِ إِلَى التَّقَاطُعِ، وَقَدْ قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “. وَقَدْ أَحْدَثَ التَّنَازُعُ فِيهِمْ مَا نَهَاهُمْ عَنْهُ.

Dan barang siapa yang menilai salah satu dari mereka sebagai fāsiq, maka orang itu tidak menjadi fāsiq hanya karena penilaian tersebut, dan tetap dianggap adil dalam penerimaan kesaksiannya. Sebab, mereka telah berpindah dari sikap saling bersahabat menjadi saling memutuskan hubungan karena adanya perselisihan. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” Perselisihan di antara mereka telah menimbulkan sesuatu yang dilarang oleh Nabi kepada mereka.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا تُفْضِيَ بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى الْقَدْحِ فِي الصَّحَابَةِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila perbedaan pendapat itu tidak mengakibatkan celaan terhadap para sahabat, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تُفْضِيَ بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى الْبَغْيِ عَلَى إِمَامِهِ بِمُشَاقَّتِهِ وَخَلْعِ طَاعَتِهِ بِشُبْهَةٍ تَأَوَّلَ بِهَا فَسَادَ إِمَامَتِهِ، فَلَهُ حَالَتَانِ:

Salah satunya adalah bahwa perbedaan pendapat itu menyebabkan seseorang memberontak terhadap imamnya dengan memusuhinya dan mencabut ketaatan kepadanya karena suatu syubhat yang ia jadikan alasan untuk menganggap kepemimpinannya rusak. Maka dalam hal ini terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُفَّ عَنِ الْقِتَالِ فَيَكُونَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Yang pertama: jika ia berhenti dari peperangan, maka ia tetap pada keadilannya dan kesaksiannya tetap diterima.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُقَاتِلَ أَهْلَ الْعَدْلِ. فَلَهُ فِي قِتَالِهِ حالتان:

Keadaan kedua: yaitu jika ia memerangi ahl al-‘adl. Maka dalam memerangi mereka, terdapat dua keadaan baginya:

إحداهما: أن يبتدىء بِقِتَالِ أَهْلِ الْعَدْلِ فَيَفْسُقَ بِمَا ابْتَدَأَهُ مِنْ قِتَالِهِمْ فَتُرَدُّ شَهَادَتُهُ لِتَعَدِّيهِ بِالْقِتَالِ. مَعَ خَطَئِهِ فِي الِاعْتِقَادِ.

Pertama: Seseorang memulai memerangi ahl al-‘adl, sehingga ia menjadi fasiq karena perbuatannya yang memulai peperangan terhadap mereka, maka kesaksiannya ditolak karena ia telah melampaui batas dengan peperangan tersebut, disertai kesalahannya dalam keyakinan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَبْدَأَ أَهْلُ الْعَدْلِ بِالْقِتَالِ فَيَدْفَعَ عَنْ نَفْسِهِ قِتَالَهُمْ فَلَهُ فِي قِتَالِهِ حَالَتَانِ:

Keadaan kedua: apabila pihak yang adil memulai peperangan, lalu ia membela diri dari serangan mereka, maka dalam membela dirinya itu terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يُدْعَى إِلَى الطَّاعَةِ لِيُكَفَّ عَنْهُ، فَيَمْتَنِعَ مِنْهَا. فَيَفْسُقَ بِقِتَالِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ يَجِدُ مِنْهُ بُدًّا بِإِظْهَارِ الطَّاعَةِ.

Yang pertama: yaitu seseorang diajak untuk taat agar ia menghentikan perbuatannya, namun ia menolak untuk taat. Maka ia menjadi fāsiq karena memeranginya, karena sebenarnya ia masih memiliki pilihan untuk menampakkan ketaatan.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُبْدَأَ بِالْقِتَالِ مِنْ غَيْرِ اسْتِدْعَاءٍ إِلَى الطَّاعَةِ، فَلَا يَفْسُقَ بِقِتَالِهِ لِأَنَّهُ دَافَعَ بِهَا عَنْ نَفْسِهِ، فَتُقْبَلَ شَهَادَتُهُ، وَقَدْ أَمْضَى عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَنْهُ أَحْكَامَ مَنْ بَغَى عَلَيْهِ فِي قِتَالِ الْجَمَلِ وَصِفِّينَ.

Keadaan kedua: yaitu memulai pertempuran tanpa adanya ajakan terlebih dahulu untuk taat, maka ia tidak dianggap fasik karena perbuatannya itu, sebab ia hanya membela dirinya. Oleh karena itu, kesaksiannya tetap diterima. Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam telah memberlakukan hukum-hukum terhadap orang-orang yang memberontak kepadanya dalam peristiwa Perang Jamal dan Shiffin.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لا يفضى بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى الْبَغْيِ فِي مُشَاقَّةِ أَهْلِ الْعَدْلِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila pelanggaran tersebut tidak mengantarkan kepada tindakan melampaui batas dalam memusuhi orang-orang yang adil, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تُفْضِيَ بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى مُنَابَذَةِ مُخَالِفِيهِ بِالتَّحَزُّبِ وَالتَّعَصُّبِ. فله حالتان:

Salah satunya adalah bahwa perbedaan pendapat itu mengarah pada permusuhan terhadap pihak yang berbeda pendapat dengan membentuk kelompok dan fanatisme. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَبْدَأَ بِهَا لِيَسْتَطِيلَ عَلَى مُخَالِفِيهِ، فَيَكُونَ ذَلِكَ فِسْقًا تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ، لِأَنَّهُ قَدْ جَمَعَ بَيْنَ اعْتِقَادِ الْخَطَأِ وَأَفْعَالِ السُّفَهَاءِ فَيُفَسَّقُ بِفِسْقِهِ لَا بِمُعْتَقَدِهِ.

Salah satunya adalah memulai dengannya untuk menyombongkan diri terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengannya, maka hal itu merupakan kefasikan yang menyebabkan kesaksiannya ditolak, karena ia telah menggabungkan antara keyakinan yang salah dan perbuatan orang-orang bodoh, sehingga ia dianggap fasiq karena kefasikannya, bukan karena keyakinannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَسْتَدْفِعَ بِهَا مُنَابَذَةَ خُصُومِهِ، فَإِنْ وَجَدَ إِلَى دَفْعِهِمْ بِغَيْرِ الْمُنَابَذَةِ سَبِيلًا، صَارَ بِالْمُنَابَذَةِ سَفِيهًا مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَى دَفْعِهِمْ بِغَيْرِهَا سَبِيلًا، فَلَهُ حَالَتَانِ:

Keadaan kedua: yaitu seseorang menggunakan cara tersebut untuk menolak permusuhan lawan-lawannya. Jika ia menemukan cara lain untuk menolak mereka selain dengan permusuhan, maka dengan melakukan permusuhan ia dianggap sebagai orang yang bodoh dan kesaksiannya ditolak. Namun jika ia tidak menemukan cara lain untuk menolak mereka selain dengan permusuhan, maka ada dua keadaan baginya:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ لَا يَسْتَضِرَّ بِاحْتِمَالِهَا وَالصَّبْرِ عَلَيْهَا فَيَكُونَ بِفِعْلِهَا سَفِيهًا تُرَدُّ شُبَهَاتُهُ.

Yang pertama: Tidak menimbulkan mudarat dengan menanggungnya dan bersabar atasnya, sehingga dengan perbuatannya itu ia menjadi orang yang bodoh yang gugur segala syubhatnya.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَسْتَضِرَّ بِهَا فَيَكُونَ فِي دَفْعِهَا بِالْمُقَابَلَةِ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شهادته، ولأن دفع الضرر عذر مستباح لقوله النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “.

Keadaan kedua: jika ia mendapatkan mudarat karenanya, maka dalam menolaknya terdapat pembelaan terhadap keadilannya dan penerimaan kesaksiannya. Sebab, menolak mudarat adalah alasan yang dibenarkan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Tidak boleh menimbulkan mudarat dan tidak boleh membalas mudarat.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا تُفْضِيَ بِهِ الْمُخَالَفَةُ إِلَى الْمُنَابَذَةِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila pelanggaran tersebut tidak mengakibatkan terjadinya pertentangan, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَعْتَقِدَ بِتَصْدِيقِ مُوافِقِيهِ فِي دَعَاوِيهِمْ، وَيَشْهَدَ لَهُمْ بِهَا عَلَى خُصُومِهِمْ كَالْخَطَّابِيَّةِ.

Salah satunya adalah meyakini dengan membenarkan klaim-klaim orang yang sependapat dengannya, serta memberikan kesaksian untuk mereka atas lawan-lawan mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok Khathabiyyah.

يَعْتَقِدُونَ أَنَّ مَنْ كَانَ عَلَى رَأْيِهِمْ لَمْ يَكْذِبْ فَيُصَدِّقُوهُ عَلَى مَا ادَّعَاهُ، وَشَهِدُوا لَهُ عَلَى خَصْمِهِ إِنْ أَنْكَرَ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَظْهِرُ بِإِحْلَافِهِ قَبْلَ الشَّهَادَةِ لَهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَسْتَظْهِرُ، وَيَشْهَدُ لَهُ بِمُجَرَّدِ قَوْلِهِ. وَهِيَ فِي الْحَالَتَيْنِ شَهَادَةُ زُورٍ تَسْقُطُ بِهَا عَدَالَتُهُ وَتُرَدُّ بِهَا شَهَادَتُهُ، لِأَنَّهُ شَهِدَ بِمَا لَمْ يَعْلَمْ، وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {إِلا مَنْ شهد بالحق وهم يعلمون} .

Mereka meyakini bahwa siapa pun yang sependapat dengan mereka tidak akan berbohong, sehingga mereka membenarkan apa pun yang ia klaim, dan mereka memberikan kesaksian untuknya terhadap lawannya jika lawannya mengingkari. Di antara mereka ada yang meminta orang tersebut bersumpah sebelum memberikan kesaksian untuknya, dan ada pula yang tidak meminta sumpah, melainkan langsung memberikan kesaksian hanya berdasarkan ucapannya. Dalam kedua keadaan tersebut, itu adalah kesaksian palsu yang menyebabkan keadilan dirinya gugur dan kesaksiannya ditolak, karena ia telah bersaksi atas sesuatu yang tidak ia ketahui, padahal Allah Ta‘ala berfirman: {kecuali orang yang memberikan kesaksian dengan benar, sedang mereka mengetahui}.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَعْتَقِدَ بِتَصْدِيقِ مُوافِقِيهِ عَلَى مُخَالِفِيهِ، وَيَتَحَفَّظَ فِي الشَّهَادَةِ لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ، حَتَّى يَعْلَمَهَا مِنَ الْوَجْهِ الَّذِي يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا، فَهُمْ أَسْلَمُ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ طَرِيقًا، وَهُمْ صِنْفَانِ:

Golongan kedua: yaitu mereka yang tidak meyakini kebenaran orang-orang yang sepaham dengan mereka atas orang-orang yang berbeda pendapat, dan berhati-hati dalam memberikan kesaksian untuk atau terhadap mereka, hingga mereka mengetahui perkara tersebut dari sisi yang membolehkan untuk memberikan kesaksian. Maka mereka adalah golongan pengikut hawa nafsu yang paling selamat jalannya, dan mereka terbagi menjadi dua kelompok.

صِنْفٌ يَرَوْنَ تَغْلِيظَ الْمَعَاصِي، فَيَجْعَلُهَا بَعْضُهُمْ شِرْكًا وَيَجْعَلُهَا أَهْلُ الْوَعِيدِ خُلُودًا.

Sebagian golongan memandang dosa-dosa sebagai sesuatu yang sangat berat, sehingga sebagian dari mereka menganggapnya sebagai syirik, dan para ahli wa‘īd menganggapnya menyebabkan kekekalan (di neraka).

وَصِنْفٌ يَرَوْنَ تَخْفِيفَ الْمَعَاصِي فِي إِرْجَائِهَا وَتَفْوِيضِهَا.

Dan ada golongan yang memandang peringanan dosa-dosa dengan menunda dan menyerahkannya.

وَكِلَا الصِّنْفَيْنِ فِي الْعَدَالَةِ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ سَوَاءٌ.

Kedua golongan tersebut dalam hal keadilan dan diterimanya kesaksian adalah sama.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَشَهَادَةُ مَنْ يرى كذبه شركا بالله ومعصية تجب بها النَّارُ، أَوْلَى أَنْ تَطِيبَ النَّفْسُ بِقَبُولِهَا مِنْ شَهَادَةِ مَنْ يُخَفِّفُ الْمَأْثَمَ وَلَمْ يُرِدْ أَنَّهَا أولى من شَهَادَةِ أَهْلِ الْحَقِّ فِيهَا يَعْنِي أَنَّ شَهَادَةَ مَنْ يُغَلِّظُ الْمَعَاصِي مِنْ هَذَيْنِ الصِّنْفَيْنِ أَوْلَى أَنْ تَطِيبَ النَّفْسُ بِهَا مِنْ شَهَادَةِ مَنْ يُخَفِّفُهَا.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Kesaksian orang yang memandang bahwa berdusta adalah syirik kepada Allah dan maksiat yang mewajibkan masuk neraka, lebih layak untuk diterima dengan lapang dada dibandingkan kesaksian orang yang menganggap dosa itu ringan. Namun, beliau tidak bermaksud bahwa kesaksian tersebut lebih utama daripada kesaksian ahli kebenaran dalam perkara ini. Maksudnya adalah bahwa kesaksian orang yang menganggap dosa-dosa sebagai perkara besar dari kedua golongan ini, lebih layak untuk diterima dengan lapang dada dibandingkan kesaksian orang yang menganggapnya ringan.

فَصَارَ هَذَا التَّفْصِيلُ مُفْضِيًا إِلَى قَبُولِ شَهَادَةِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ لِسِتَّةِ شُرُوطٍ:

Maka rincian ini mengakibatkan diterimanya kesaksian para pengikut hawa nafsu dan bid‘ah dengan enam syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ مَا انْتَحَلُوهُ بِتَأْوِيلٍ سَائِغٍ.

Salah satunya: bahwa apa yang mereka anut itu berdasarkan takwil yang dapat diterima.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَدْفَعَهُ إِجْمَاعٌ مُنْعَقِدٌ.

Kedua: tidak boleh ada ijmā‘ yang sudah terwujud yang menolaknya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا يُفْضِيَ إِلَى الْقَدْحِ فِي الصَّحَابَةِ.

Ketiga: tidak boleh mengakibatkan celaan terhadap para sahabat.

وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يُقَاتِلَ عَلَيْهِ وَلَا يُنَابِذَ فِيهِ.

Keempat: tidak boleh memerangi atau memberontak karenanya.

وَالْخَامِسُ: أَنْ لَا يَرَى تَصْدِيقَ مُوافِقِهِ عَلَى مُخَالِفِهِ.

Kelima: tidak memandang pembenaran orang yang sependapat dengannya atas orang yang berbeda pendapat dengannya.

وَالسَّادِسُ: أَنْ تَكُونَ أَفْعَالُهُمْ مَرْضِيَّةً، وَتَحَفُّظُهُمْ فِي الشَّهَادَةِ ظَاهِرٌ فَهَذَا حُكْمُ مَا تَعَلَّقَ بِالْآرَاءِ وَالنِّحَلِ.

Keenam: Perbuatan mereka harus terpuji, dan kehati-hatian mereka dalam memberikan kesaksian tampak jelas. Inilah hukum yang berkaitan dengan pandangan dan mazhab.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي أَحْكَامِ الْفُرُوعِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun perbedaan pendapat dalam hukum-hukum cabang terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا ضَلَّ بِهِ.

Salah satunya adalah apa yang ia sesatkan dengannya.

وَالثَّانِي: مَا أَخْطَأَ فِيهِ.

Yang kedua: apa yang ia keliru di dalamnya.

وَالثَّالِثُ: مَا سَاغَ لَهُ.

Ketiga: apa yang diperbolehkan baginya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ مَا ضَلَّ بِهِ، فَهُوَ أَنْ يُخَالِفَ فِيهِ إِجْمَاعَ الْخَاصَّةِ دُونَ الْعَامَّةِ كَالْإِجْمَاعِ عَلَى أَنْ لَا مِيرَاثَ لِقَاتِلٍ، وَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، وَأَنْ لَا تنكح المرأة على عمتها ولا على خالتها، فَالْمُخَالِفُ فِيهِ ضَالٌّ يُحْكَمُ بِفِسْقِهِ وَرَدِّ شَهَادَتِهِ.

Adapun jenis yang pertama, yaitu apa yang menyebabkan seseorang sesat, adalah menyelisihi ijmā‘ kalangan khusus (ulama) tanpa menyelisihi ijmā‘ kalangan umum, seperti ijmā‘ bahwa tidak ada warisan bagi pembunuh, tidak ada wasiat bagi ahli waris, dan bahwa seorang perempuan tidak boleh dinikahi bersamaan dengan bibinya dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Maka siapa yang menyelisihi dalam hal ini adalah orang yang sesat, dihukumi fasik, dan kesaksiannya ditolak.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي: وَهُوَ مَا أَخْطَأَ فِيهِ: فَهُوَ مَا شَذَّ الْخِلَافُ فِيهِ وَعَدَلَ الْمُتَأَخِّرُونَ عَنْهُ، كَاسْتِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ، وَبَيْعِ الدِّينَارِ بِالدِّينَارَيْنِ نَقْدًا، وَمَسْحِ الرِّجْلَيْنِ ” فِي الْوُضُوءِ “.

Adapun jenis kedua, yaitu perkara yang salah di dalamnya: yaitu perkara yang perbedaan pendapatnya sangat lemah dan para ulama muta’akhkhirīn telah meninggalkannya, seperti membolehkan nikah mut‘ah, menjual satu dinar dengan dua dinar secara tunai, dan mengusap kedua kaki dalam wudhu.

وَقَطْعِ [يَدِ] السَّارِقِ مِنَ الْمَنْكِبِ، فَهَذَا خِلَافٌ شَذَّ قَائِلُهُ، وَظَهَرَ فِيهِ خَطَؤُهُ، وَلِأَنَّهُ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ مَنْسُوخٍ كَالْمُتْعَةِ، وَبَيْنَ مَا تَوَالَى فِيهِ النَّقْلُ الصَّحِيحُ كَالرِّبَا فِي النَّقْدِ وَالنِّسَاءِ. وَبَيْنَ مَا ضَعُفَ فِيهِ التَّأْوِيلُ وَظَهَرَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ كَمَسْحِ الرِّجْلَيْنِ وَقَطْعِ السَّارِقِ مِنَ الْمَنْكِبِ، فَحُكِمَ بِخَطَئِهِ لِظُهُورِ الدَّلِيلِ عَلَى فَسَادِهِ، وَلَمْ يَبْلُغْ بِهِ حَدَّ الضَّلَالِ لِلشُّبْهَةِ الْمُعْتَرِضَةِ فِي احْتِمَالِهِ، فَيَكُونُ الْمُخَالِفُ فِيهِ على عدالته وقبول شَهَادَتَهُ.

Dan pemotongan [tangan] pencuri dari pundak, maka ini adalah pendapat yang menyimpang yang diutarakan oleh seseorang, dan telah tampak kesalahannya. Karena hal itu berada di antara perkara yang telah di-naskh seperti mut‘ah, dan antara perkara yang telah diriwayatkan secara sahih secara berkesinambungan seperti riba pada uang dan perempuan. Juga di antara perkara yang lemah penakwilannya dan telah tampak dalil yang jelas atasnya, seperti mengusap kedua kaki dan memotong tangan pencuri dari pundak. Maka diputuskan bahwa itu adalah kesalahan karena telah jelas dalil atas rusaknya pendapat tersebut, namun tidak sampai pada batas kesesatan karena adanya syubhat yang menghalangi kemungkinan tersebut. Maka orang yang menyelisihi dalam hal ini tetap dianggap adil dan diterima kesaksiannya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ: وَهُوَ مَا سَاغَ الْخِلَافُ فِيهِ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ فَهُوَ مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ وَالْمَنَاكِحِ الَّذِي لَمْ يَرِدْ فِيهِ حَدٌّ وَكَانَ لِلِاخْتِلَافِ فِيهِ وَجْهٌ مُحْتَمَلٌ، فَلَا يَتَبَايَنُ فِيهِ الْمُخْتَلِفُونَ، وَلَا يَتَنَابَذُ فِيهِ الْمُتَنَازِعُونَ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ أَقَاوِيلِهِمْ وَجْهٌ، فَمَنْ قَالَ: إِنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ جَعَلَ جَمِيعَ أَقَاوِيلِهِمْ حَقًّا، وَلَمْ يَجْعَلْ قَوْلَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ خَطَأً. وَمَنْ قَالَ: إِنَّ الْحَقَّ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمْ، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ جَازَ أَنْ يَكُونَ مُحِقًّا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي جَمِيعِ أَقَاوِيلِهِمْ مُحِقًّا. وَهُوَ أَسْهَلُ الِاخْتِلَافِ فِي الدِّينِ وَجَمِيعُهُمْ عَلَى الْعَدَالَةِ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Adapun jenis ketiga, yaitu perkara yang perbedaan pendapat di dalamnya masih dapat ditoleransi, dan pelakunya tetap dianggap adil serta diterima kesaksiannya, maka itu adalah masalah-masalah ijtihad dalam ibadah, muamalah, dan pernikahan yang tidak ada ketentuan hukumnya secara tegas, serta perbedaan pendapat di dalamnya masih memiliki alasan yang dapat diterima. Maka, orang-orang yang berbeda pendapat dalam hal ini tidak saling berseberangan, dan mereka yang berselisih tidak saling menolak. Masing-masing pendapat mereka memiliki sisi kebenaran. Barang siapa yang berpendapat bahwa setiap mujtahid itu benar, berarti ia menganggap semua pendapat mereka adalah benar, dan tidak menganggap salah satu dari mereka salah. Dan barang siapa yang berpendapat bahwa kebenaran hanya ada pada salah satu dari mereka, maka masing-masing dari mereka mungkin saja benar, meskipun tidak semua pendapat mereka benar. Inilah bentuk perbedaan pendapat yang paling ringan dalam agama, dan semuanya tetap dianggap adil serta diterima kesaksiannya.

فَهَذَا تَفْصِيلُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عَدَالَةِ الْمُخْتَلِفِينَ فِي الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ. أَنَّهُ لَمْ يَقْبَلْ شَهَادَةَ جَمِيعِهِمْ. وَلَا رَدَّ شَهَادَةَ جَمِيعِهِمْ حَتَّى فَصَّلْنَاهُ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ مَذْهَبُهُ وَأَوْجَبَتْهُ أُصُولُهُ. فَأَوْضَحْنَا بِهَا مَنْ كَانَ مَقْبُولَ الشَّهَادَةِ وَمَرْدُودَهَا. وَخَالَفَهُ فِيهَا أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ.

Inilah perincian mazhab Syafi‘i, semoga Allah meridhainya, mengenai keadilan orang-orang yang berbeda pendapat dalam masalah ushul dan furu‘. Bahwa beliau tidak menerima kesaksian semua dari mereka, dan juga tidak menolak kesaksian semua dari mereka, sampai kami merincinya sesuai dengan apa yang dituntut oleh mazhabnya dan yang diharuskan oleh ushulnya. Dengan itu, kami jelaskan siapa yang diterima kesaksiannya dan siapa yang ditolak. Dalam hal ini, Abu Hanifah dan Malik berbeda pendapat dengannya.

فَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ فَخَفَّفَ الْأَمْرَ فِيهَا وَأَجَازَ شَهَادَةَ كُلِّ مَنْ أُطْلِقَ اسْمُ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ وَاعْتَبَرَ الْعَدَالَةَ بِالْأَفْعَالِ دُونَ الِاعْتِقَادِ.

Adapun Abu Hanifah, beliau memudahkan perkara ini dan membolehkan kesaksian setiap orang yang disematkan nama Islam kepadanya, serta mempertimbangkan keadilan berdasarkan perbuatan, bukan berdasarkan keyakinan.

وَأَمَّا مَالِكٌ فَشَدَّدَ الْأَمْرَ فِيهَا فَرَدَّ شَهَادَةَ جَمِيعِهِمْ وَاقْتَصَرَ بِالْعَدَالَةِ عَلَى أَهْلِ الْحَقِّ. وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ قَوْلَيْهِمَا مَدْفُوعٌ بِمَا أَوْضَحْنَا مِنْ دَلَائِلِ الْقَبُولِ وَالرَّدِّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun Malik, ia memperketat perkara ini dengan menolak kesaksian seluruh mereka dan membatasi keadilan hanya pada Ahlul Haq. Dan setiap pendapat dari keduanya tertolak dengan apa yang telah kami jelaskan berupa dalil-dalil penerimaan dan penolakan. Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ في اللعب بالشطرنج والحمام] )

(Pembahasan tentang bermain catur dan merpati)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَاللَّاعِبُ بِالشِّطْرَنْجِ وَالْحَمَامِ بِغَيْرِ قِمَارٍ وَإِنْ كَرِهْنَا ذلك أخف حالا (قال المزني) رحمه الله فكيف يحد من شرب قليلا من نبيذ شديد ويجيز شَهَادَتَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang yang bermain catur dan merpati tanpa judi, meskipun kami membenci hal itu, keadaannya lebih ringan.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Bagaimana mungkin seseorang dijatuhi had karena meminum sedikit nabidz yang keras, namun kesaksiannya tetap diterima?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي لَعِبِ الشِّطْرَنْجِ.

Salah satunya: dalam bermain catur.

وَالثَّانِي: فِي اللعب بالحمام.

Yang kedua: tentang bermain dengan burung merpati.

فأما اللعب الشِّطْرَنْجِ فَالْكَلَامُ فِيهِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Adapun bermain catur, maka pembahasannya mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي إِبَاحَتِهَا وَحَظْرِهَا.

Salah satunya: dalam hal kebolehan dan pelarangannya.

وَالثَّانِي: فِي عَدَالَةِ اللَّاعِبِ بِهَا وَجَرْحِهِ.

Kedua: tentang keadilan orang yang bermain dengannya dan cacat yang menimpanya.

فَأَمَّا إِبَاحَتُهَا وَحَظْرُهَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Adapun kebolehan dan pelarangannya, para fuqaha berbeda pendapat menjadi tiga mazhab:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، أَنَّهَا حَرَامٌ.

Salah satunya, yaitu mazhab Malik, berpendapat bahwa hal itu haram.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ كَرَاهَةَ تَغْلِيظٍ يُوجِبُ الْمَنْعَ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغْ مَبْلَغَ التَّحْرِيمِ.

Yang kedua: yaitu pendapat Abu Hanifah bahwa hal itu makruh dengan tingkat kemakruhan yang berat sehingga menyebabkan larangan, meskipun belum mencapai derajat keharaman.

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّهَا لَيْسَتْ مُحَرَّمَةً كَمَا قَالَ مَالِكٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَا بِمُغَلَّظَةِ الْكَرَاهَةِ كَمَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، ثُمَّ قَالَ: وَإِنْ كَرِهْنَا ذَلِكَ، وَأَرَادَ بِهِ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ.

Ketiga: yaitu pendapat Imam Syafi‘i ra., bahwa hal itu tidaklah haram sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik ra., dan juga tidak makruh dengan tingkatan berat sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hanifah. Kemudian beliau berkata: “Meskipun kami memakruhkannya,” yang beliau maksudkan adalah makruh tanzih.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِيمَا تَعُودُ كَرَاهَتُهُ إِلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para sahabatnya berbeda pendapat mengenai hal-hal yang makruh yang kembali kepadanya, menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَعُودُ كَرَاهَتُهُ إِلَيْهَا لِأَنَّهُ ضَرْبٌ مِنَ اللَّعِبِ.

Salah satunya: makruh tersebut kembali kepadanya karena hal itu merupakan sejenis permainan.

وَالثَّانِي: تَعُودُ كَرَاهَتُهُ إِلَى مَا يَحْدُثُ عَنْهَا مِنَ الْخَلَاعَةِ.

Kedua: Makruh tersebut kembali kepada apa yang ditimbulkan olehnya berupa perilaku tidak senonoh.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ حَظَرَهَا وَحَرَّمَهَا بِمَا رَوَاهُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ: ” أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – نَهَى عَنِ الْلَعِبِ بِالشِّطْرَنْجِ “.

Orang yang melarang dan mengharamkannya berdalil dengan riwayat dari al-Hasan al-Bashri: “Bahwa Nabi ﷺ melarang bermain catur.”

وَبِمَا رُوِيَ [عَنِ النَّبِيِّ]- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” كُلُّ اللَّعِبِ حَرَامٌ إِلَّا لَعِبَ الرَّجُلِ بِقَوْسِهِ وَلَعِبَهُ بِفَرَسِهِ وَلَعِبَهُ مَعَ زَوْجَتِهِ “. فَعَمَّ تَحْرِيمَ اللَّعِبِ إِلَّا مَا اسْتَثْنَاهُ.

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap permainan itu haram kecuali permainan seseorang dengan busurnya, permainannya dengan kudanya, dan permainannya bersama istrinya.” Maka larangan bermain itu bersifat umum kecuali apa yang dikecualikan.

فَكَانَ الشِّطْرَنْجُ دَاخِلًا فِي عُمُومِ التَّحْرِيمِ وَخَارِجًا مِنِ اسْتِثْنَاءِ الْإِبَاحَةِ.

Maka catur termasuk dalam keumuman larangan dan tidak termasuk dalam pengecualian kebolehan.

وَبِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّ بِقَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِالشِّطْرَنْجِ فَقَالَ: مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟ وَأَلْقَى فِيهَا كَفًّا مِنْ تُرَابٍ فَدَلَّ تَشْبِيهُهُ لَهَا بِالْأَصْنَامِ عَلَى تَحْرِيمِهَا كَالْأَصْنَامِ.

Diriwayatkan bahwa Ali ‘alaihis salam pernah melewati sekelompok orang yang sedang bermain catur, lalu beliau berkata: “Apakah patung-patung yang kalian tekuni ini?” Kemudian beliau melemparkan segenggam tanah ke atasnya. Penyerupaannya terhadap catur dengan berhala menunjukkan keharamannya seperti halnya berhala.

وَسُئِلَ مَالِكٌ عَنْهَا فقال: أحق هي؟ قيل: لا. قال: فما بعد الحق إلا الضلالة فَأَنَّى تَصْرِفُونَ.

Dan Malik ditanya tentang hal itu, lalu beliau berkata: “Apakah itu kebenaran?” Dijawab: “Bukan.” Beliau berkata: “Maka tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan, maka ke manakah kalian berpaling?”

وَاسْتَدَلَّ مَنْ أَبَاحَهَا وَحَلَّلَهَا: بِانْتِشَارِهَا بَيْنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ إِقْرَارًا عَلَيْهَا، وَعَمَلًا بِهَا، فَرَوَى الْخَطِيبُ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَمُرُّ بِنَا وَنَحْنُ نَلْعَبُ بِالشِّطْرَنْجِ فَيُسَلِّمُ عَلَيْنَا وَلَا يَنْهَانَا.

Orang yang membolehkannya dan menghalalkannya berdalil dengan tersebarnya permainan itu di kalangan para sahabat dan tabi’in, baik dengan pengakuan maupun dengan praktiknya. Al-Khatib, maula Sulaiman bin Yasar, meriwayatkan: Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati kami saat kami sedang bermain catur, lalu beliau memberi salam kepada kami dan tidak melarang kami.

وَرَوَى الضَّحَّاكُ بْنُ مُزَاحِمٍ قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّ بِقَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِالشِّطْرَنْجِ فَقَالَ: ادْفَعْ ذَا وَدَعْ ذَا.

Adh-Dhahhak bin Muzahim meriwayatkan, ia berkata: Aku melihat Al-Hasan bin Ali ‘alaihis salam melewati sekelompok orang yang sedang bermain catur, lalu beliau berkata: Singkirkan ini dan tinggalkan itu.

وَرَوَى أَبُو رَاشِدٍ قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَدْعُو غُلَامًا فَيُلَاعِبُهُ بِالشِّطْرَنْجِ.

Abu Rasyid meriwayatkan: Aku melihat Abu Hurairah memanggil seorang anak laki-laki, lalu beliau bermain catur dengannya.

وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ: أَنَّهُ كَانَ يُجِيزُ الشِّطْرَنْجَ ويلعب بها.

Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa beliau membolehkan permainan catur dan memainkannya.

وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ كَانَ يَلْعَبُ بِالشِّطْرَنْجِ.

Abdullah bin az-Zubair meriwayatkan bahwa ia biasa bermain catur.

فَهَؤُلَاءِ خَمْسَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ أَقَرُّوا عَلَيْهَا وَلَعِبُوا بِهَا.

Maka, mereka ini adalah lima sahabat yang menyetujuinya dan mempraktikkannya.

وَأَمَّا التَّابِعُونَ: فَرُوِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ كَانَ يَلْعَبُ بِهَا.

Adapun para tabi‘in: Diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab bahwa beliau biasa memainkannya.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّهُ كَانَ يَلْعَبُ بِهَا اسْتِدْبَارًا. قَالَ الْمُزَنِيُّ: فَقُلْتُ لِلشَّافِعِيِّ: فَكَيْفَ كَانَ يَلْعَبُ بِهَا اسْتِدْبَارًا؟ فَقَالَ: كَانَ يُوَلِّيهَا ظَهْرَهُ وَيَقُولُ لِلْغُلَامِ: بِمَاذَا دَفَعَ؟ فَيَقُولُ: بِكَذَا. فَيَقُولُ: ائْتِ بِكَذَا.

Syafi‘i meriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair bahwa ia biasa bermain dengannya dengan membelakangi. Al-Muzani berkata: Maka aku bertanya kepada Syafi‘i: Bagaimana ia bermain dengannya dengan membelakangi? Ia menjawab: Ia membelakangi permainan itu dan berkata kepada anak kecil: Dengan apa ia melempar? Anak kecil itu menjawab: Dengan ini. Maka ia berkata: Ambilkan ini.

وَرَوَى الزُّهْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ أَنَّهُ كَانَ يُلَاعِبُ أَهْلَهُ بِالشِّطْرَنْجِ.

Az-Zuhri meriwayatkan dari Ali bin Husain bahwa beliau biasa bermain catur bersama keluarganya.

وَرَوَى أَبُو لُؤْلُؤَةَ قَالَ: رَأَيْتُ الشَّعْبِيَّ يَلْعَبُ بِالشِّطْرَنْجِ مَعَ الْغُرَمَاءِ.

Abu Lu’lu’ah meriwayatkan: Aku melihat asy-Sya‘bi bermain catur bersama para penagih utang.

وَرَوَى رَاشِدُ بْنُ كَرَيْبٍ قَالَ: رَأَيْتُ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أُقِيمَ قَائِمًا فِي لَعِبِ الشِّطْرَنْجِ.

Rasyid bin Kuraib meriwayatkan: Aku melihat Ikrimah, maula Ibnu Abbas, berdiri tegak dalam permainan catur.

وَرُوِيَ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سِيرِينَ كَانَ يَلْعَبُ بِالشِّطْرَنْجِ وَقَالَ: هِيَ لُبُّ الرِّجَالِ.

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Sirin biasa bermain catur dan beliau berkata, “Catur adalah inti dari kecerdasan laki-laki.”

وَإِذَا اشْتُهِرَ هَذَا عَمَّنْ ذَكَرْنَا مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَقَدْ عَمِلَ بِهِ مَعَهُمْ مَنْ لَا يُحْصَى عَدَدُهُمْ مِنْ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ وَفُضَلَائِهِمْ، مَنْ حَذَفْنَا ذِكْرَهُمْ إِيجَازًا، خَرَجَ مِنْ حُكْمِ الْحَظْرِ وَكَانَ بِالْإِجْمَاعِ أَشْبَهَ.

Dan apabila hal ini telah masyhur dari para sahabat dan tabi’in yang telah kami sebutkan, serta telah diamalkan bersama mereka oleh para ulama dan tokoh terkemuka dari berbagai negeri yang jumlahnya tak terhitung—yang tidak kami sebutkan satu per satu demi kepraktisan—maka hal itu keluar dari hukum larangan dan lebih mendekati ijmā‘.

وَلَيْسَ إِنْكَارُ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَهَا لِأَجْلِ حَظْرِهَا. وَقِيلَ: لِأَنَّهُمْ سَمِعُوا الْأَذَانَ وَهُمْ مُتَشَاغِلُونَ عَنْهَا. وَقِيلَ: لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَخِفُّونَ فِي الْكَلَامِ عَلَيْهَا.

Bukanlah penolakan Ali raḍiyallāhu ‘anhu terhadap mereka karena melarangnya. Ada yang berpendapat: karena mereka telah mendengar azan sementara mereka sibuk dengan hal lain. Ada juga yang berpendapat: karena mereka meremehkan dalam berbicara saat shalat.

وَمَا رَوَاهُ الْحَسَنُ مُرْسَلٌ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَلَا يُمْنَعُ أَنْ يَكُونَ قِيَاسًا عَلَى مَا اسْتَثْنَاهُ الرَّسُولُ مِنَ اللَّعِبِ؛ لِأَنَّ فِيهَا تَنْبِيهًا عَلَى مَكَائِدِ الْحَرْبِ وَوُجُوهِ الْحَزْمِ وَتَدْبِيرِ الْجُيُوشِ. وَمَا بَعَثَ عَلَى هَذَا، إِنْ لَمْ يَكُنْ نَدْبًا مُسْتَحَبًّا فَأَحْرَى أَنْ لَا يَكُونَ حَظْرًا مُحَرَّمًا.

Apa yang diriwayatkan oleh al-Hasan adalah mursal dan tidak sahih, dan tidak terlarang jika hal itu dianggap sebagai qiyās terhadap apa yang dikecualikan Rasulullah dari permainan; karena di dalamnya terdapat isyarat tentang siasat perang, berbagai bentuk kehati-hatian, dan pengelolaan pasukan. Dan apa yang mendorong kepada hal ini, jika bukan merupakan anjuran yang disunnahkan, maka lebih utama untuk tidak dianggap sebagai larangan yang diharamkan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا عَنْ عَدَالَةِ اللَّاعِبِ بِهَا فَعِنْدَ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ عَدَالَتَهُ سَاقِطَةٌ وَشَهَادَتَهُ مَرْدُودَةٌ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ لَعِبَ بِهَا.

Adapun mengenai keadilan orang yang bermain dengannya, menurut Malik dan Abu Hanifah, keadilannya gugur dan kesaksiannya ditolak dalam keadaan apa pun ia memainkannya.

وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي مُوجِبِ رَدِّهَا، فَرَدَّهَا مَالِكٌ لِحَظْرِهَا، وَرَدَّهَا أَبُو حَنِيفَةَ لِتَغْلِيظِ كَرَاهَتِهَا وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ عَدَالَتَهُ وَجَرْحَهُ مُعْتَبَرٌ بِصِفَةِ لَعِبِهِ بِهَا، فَإِنْ خَرَجَ بِهَا إِلَى خَلَاعَةِ أَهْلِهَا أَوْ قَامَرَ عَلَيْهَا أَوْ تَشَاغَلَ عَنِ الصَّلَاةِ بِهَا خَرَجَ عَنِ الْعَدَالَةِ بِمَا فَعَلَهُ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ فَرُدَّتْ شَهَادَتُهُ بِهَا لَا بِنَفْسِ اللَّعِبِ وَأَمَّا الْخَلَاعَةُ فَهُوَ أَنْ يَسْتَخِفَّ عَلَيْهَا بِلَغْوِ الْكَلَامِ، وَأَنْ يَلْعَبَ بِهَا عَلَى الطَّرِيقِ، وَأَنْ يَنْقَطِعَ إِلَيْهَا لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ حَتَّى يَلْهُوَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا.

Jika mereka berbeda pendapat tentang alasan penolakan (kesaksian) tersebut, maka Malik menolaknya karena pelarangannya, sedangkan Abu Hanifah menolaknya karena sangat dibencinya (perbuatan itu). Menurut asy-Syafi‘i, keadilan dan cacat seseorang dipertimbangkan berdasarkan sifat permainannya dengan benda itu. Jika ia bermain dengannya hingga melakukan perbuatan tidak senonoh seperti yang biasa dilakukan oleh para pelakunya, atau berjudi dengannya, atau lalai dari salat karena sibuk dengannya, maka ia keluar dari keadilan karena salah satu dari tiga perbuatan tersebut, sehingga kesaksiannya ditolak karena perbuatan itu, bukan semata-mata karena bermain. Adapun perbuatan tidak senonoh itu adalah meremehkan dengan ucapan sia-sia saat bermain, bermain dengannya di jalanan, atau menghabiskan malam dan siangnya hanya untuk bermain dengannya hingga melalaikan dari hal lain.

وَأَمَّا الْقِمَارُ فَهُوَ مَا يَأْخُذُهُ مِنَ الْعِوَضِ عَلَيْهَا إِنْ غَلَبَ، أَوْ يَدْفَعُهُ مِنَ الْعِوَضِ عَنْهَا إِنْ غُلِبَ لِتَحْرِيمِ اللَّهِ تَعَالَى الْقِمَارَ نَصًّا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ} [المائدة: 90] .

Adapun qimār adalah sesuatu yang diambil sebagai imbalan atasnya jika menang, atau yang dibayarkan sebagai imbalan atasnya jika kalah, karena Allah Ta‘ala telah mengharamkan qimār secara tegas melalui firman-Nya: “Sesungguhnya khamar, maisir, berhala-berhala, dan anak panah undian adalah najis termasuk perbuatan setan, maka jauhilah itu.” (Al-Mā’idah: 90).

وَالْمَيْسِرُ هُوَ الْقِمَارُ وَالْقِمَارُ مَا لَمْ يَحِلَّ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا آخِذًا أَوْ مُعْطِيًا فَيَأْخُذُ إِنْ كَانَ غَالِبًا وَيُعْطِي إِنْ كَانَ مَغْلُوبًا.

Maisir adalah judi, dan judi adalah sesuatu yang tidak halal di mana masing-masing pihak bisa menjadi pengambil atau pemberi; ia akan mengambil jika menang, dan akan memberi jika kalah.

فَأَمَّا إِنْ عَدَلَا عَنْهُ إِلَى حُكْمِ السَّبْقِ وَالرَّمْيِ، بِأَنْ يَنْفَرِدَ أَحَدُ الْمُتَلَاعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ دُونَ صَاحِبِهِ لِيُؤْخَذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوبًا وَلِيَسْتَرْجِعَهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا، وَيَكُونَ الْآخَرُ آخِذًا إِنْ كَانَ غَالِبًا وَغَيْرَ مُعْطٍ إِنْ كَانَ مَغْلُوبًا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِهِ فِي الشِّطْرَنْجِ مَعَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى جَوَازِهِ فِي السَّبْقِ وَالرَّمْيِ بِنَاءً عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلِهِمْ في قوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا سَبْقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ “.

Adapun jika keduanya beralih dari ketentuan asal kepada hukum sabq (perlombaan) dan ramy (memanah), yaitu dengan salah satu dari dua pihak yang bermain mengeluarkan ‘iwadh (imbalan) tanpa yang lainnya, sehingga imbalan itu diambil darinya jika ia kalah dan dikembalikan kepadanya jika ia menang, sedangkan pihak lainnya akan menerima jika ia menang dan tidak memberikan apa pun jika ia kalah, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehannya dalam permainan catur, meskipun mereka sepakat atas kebolehannya dalam sabq dan ramy. Hal ini didasarkan pada perbedaan pendapat mereka mengenai sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada sabq kecuali pada unta, kuda, atau panah.”

هَلْ هُوَ أَصْلٌ بِذَاتِهِ أَوِ اسْتِثْنَاءٌ مِنْ جُمْلَةِ مَحْظُورٍ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apakah ia merupakan asal (dasar hukum) itu sendiri ataukah pengecualian dari suatu larangan secara keseluruhan? Terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ أَصْلٌ فِي نَفْسِهِ يَجُوزُ الْقِيَاسُ عَلَيْهِ. فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ مِثْلُهُ فِي الشِّطْرَنْجِ قِيَاسًا عَلَى السَّبْقِ وَالرَّمْيِ. لِجَوَازِ الْقِيَاسِ عَلَى أَصْلِ النَّصِّ. وَلَا يَكُونُ إِخْرَاجُ هَذَا الْعِوَضِ فِي الشِّطْرَنْجِ مَحْظُورًا فَلَا يَكُونُ بِهِ مَجْرُوحًا.

Pertama: Bahwa ia merupakan asal (dasar) tersendiri yang boleh dijadikan objek qiyās. Dengan demikian, hal yang serupa dengannya dalam permainan catur dapat dianalogikan (qiyās) dengan perlombaan pacuan dan memanah, karena bolehnya melakukan qiyās terhadap asal yang terdapat dalam nash. Maka, pemberian imbalan dalam permainan catur ini tidaklah terlarang, sehingga tidak dianggap cacat karenanya.

وَالْوَجْهُ الثاني: أن السبق والرمي مستثنا مِنْ جُمْلَةٍ مَحْظُورَةٍ. فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ مِثْلُهُ فِي الشِّطْرَنْجِ، لِأَنَّ الْقِيَاسَ يَكُونُ عَلَى الْأَصْلِ دُونَ الِاسْتِثْنَاءِ وَيَكُونُ إِخْرَاجُ هَذَا الْعِوَضِ فِي الشِّطْرَنْجِ مَحْظُورًا وَيَصِيرُ بِإِخْرَاجِهِ مَجْرُوحًا.

Pendapat kedua: bahwa lomba pacu dan memanah dikecualikan dari suatu ketentuan yang asalnya terlarang. Maka berdasarkan hal ini, tidak boleh melakukan hal serupa pada permainan catur, karena qiyās dilakukan atas dasar hukum asal, bukan pada pengecualian. Maka pemberian imbalan dalam permainan catur hukumnya terlarang, dan dengan pemberian imbalan tersebut, hukumnya menjadi cacat.

وَأَمَّا تَشَاغُلُهُ بِهَا عَنِ الصَّلَاةِ، فَهُوَ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَقْتُهَا فَيَنْقَطِعَ بِهَا عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى يَفُوتَ. فَإِنْ ذَكَرَهَا وَعَلِمَ بِفَوَاتِ الْوَقْتِ. فَقَدْ فسق، ولو كان دَفْعَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ وَلَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ الْوَقْتِ حَتَّى فَاتَ، فَإِنْ كَانَ فِي دَفْعَةٍ وَاحِدَةٍ، لَمْ يَفْسُقْ بِهِ. وَإِنْ تَكَرَّرَ مِنْهُ ذَلِكَ وَكَثُرَ فَسَقَ بِهِ وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُ لِكَثْرَةِ الْفِكْرِ حَتَّى تَكَرَّرَ مِنْهُ نِسْيَانُ الصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا حَتَّى فَاتَ، لَمْ يَفْسُقْ.

Adapun seseorang yang menyibukkan diri dengannya hingga meninggalkan salat, yaitu ketika waktu salat telah masuk namun ia terputus dari salat karena kesibukan itu hingga waktu salat berlalu. Jika ia mengingat salat dan mengetahui bahwa waktunya telah lewat, maka ia telah berbuat fasik, meskipun hanya sekali saja. Namun jika ia lupa salat dan tidak mengetahui bahwa waktu salat telah masuk hingga waktu itu berlalu, maka jika itu terjadi hanya sekali, ia tidak dianggap fasik karenanya. Tetapi jika hal itu sering terjadi dan berulang kali, maka ia menjadi fasik karenanya. Namun jika hal itu berulang karena terlalu banyak berpikir hingga ia sering lupa salat pada waktunya sampai waktu salat berlalu, maka ia tidak dianggap fasik.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا: أَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِ الْفِكْرِ عَنْ نَفْسِهِ إِذَا طَرَأَ، فَلَمْ يَفْسُقْ إِذَا كَثُرَ بِهِ نِسْيَانُ الصَّلَاةِ. وَلَعِبُ الشِّطْرَنْجِ مِنْ فِعْلِهِ وَاخْتِيَارِهِ فَيَفْسُقُ إِذَا كَثُرَ بِهِ نِسْيَانُ الصَّلَاةِ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa seseorang tidak mampu menolak datangnya pikiran dari dirinya sendiri ketika pikiran itu muncul, sehingga ia tidak dianggap fasik jika sering lupa salat karenanya. Sedangkan bermain catur adalah perbuatan dan pilihannya sendiri, maka ia dianggap fasik jika sering lupa salat karenanya.

وَأَمَّا إِذَا تَجَرَّدَ لَعِبُ الشِّطْرَنْجِ عَمَّا يَفْسُقُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ وَاسْتَرْوَحَ بِهِ فِي أَوْقَاتِ خَلَوَاتِهِ، مُسْتَخْفِيًا بِهِ عَنِ الْمُحْتَشِمِينَ، فَكَانَ لَعِبُهُ بِهِ عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ:

Adapun jika permainan catur terbebas dari hal-hal yang menyebabkan kefasikan dari tiga keadaan tersebut, dan seseorang memainkannya untuk mencari hiburan di waktu-waktu senggangnya, serta melakukannya secara tersembunyi dari orang-orang yang menjaga kehormatan, maka permainannya itu berada pada salah satu dari dua keadaan:

إِمَّا لِيَشْفِيَ بِهِ هَمًّا وَيَسْتَحْدِثَ بِهِ رَاحَةً، وَإِمَّا لِيَرْتَاضَ بِهِ فِي تَدْبِيرِهِ وَجَزَالَةِ رَأْيِهِ وَصِحَّةِ حَزْمِهِ فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شهادته.

Entah untuk menghilangkan kesedihan dan memperoleh ketenangan dengannya, atau untuk melatih diri dalam pengelolaan, ketegasan pendapat, dan ketepatan dalam mengambil keputusan, maka ia tetap berada dalam keadilannya dan diterima kesaksiannya.

وَهَلْ يَكُونُ عَفْوًا أَوْ مُبَاحًا.

Apakah hal itu termasuk sesuatu yang dimaafkan (afw) atau dibolehkan (mubah)?

عَلَى مَا قَدَّمْنَا مِنَ الْوَجْهَيْنِ فِي مَعْنَى كَرَاهَةِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَهَا.

Berdasarkan dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai makna ketidaksukaan Imam Syafi‘i rahimahullah terhadap hal itu.

هَلْ كَانَ عَائِدًا إليها أو إلى ما يحدث فيها؟

Apakah itu kembali kepadanya atau kepada apa yang terjadi di dalamnya?

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ عَائِدٌ إِلَيْهَا كَانَ اللَّعِبُ بِهَا مَعْفُوًّا عَنْهُ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya hal itu kembali kepadanya, maka bermain dengannya dimaafkan.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ عَائِدٌ إِلَى مَا يَحْدُثُ عَنْهَا، كَانَ اللَّعِبُ بِهَا مُبَاحًا.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya itu kembali kepada apa yang terjadi darinya, maka bermain dengannya hukumnya mubah.

وَهُوَ عَلَى الْوَجْهَيْنِ غَيْرُ مَانِعٍ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Dan dalam kedua keadaan tersebut, hal itu tidak menghalangi diterimanya kesaksian.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي اللَّعِبِ بِالْحَمَامِ: فَمَذْهَبُ مَالِكٍ تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ.

Adapun bagian kedua tentang bermain dengan burung merpati: menurut mazhab Malik, kesaksian seseorang yang melakukannya ditolak tanpa ada perincian.

وَعَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ يَنْقَسِمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Menurut mazhab Syafi‘i, hal itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ، وَهُوَ مَا يَخْرُجُ بِهِ إِلَى السَّفَاهَةِ، إِمَّا بِالْبَذْلَةِ فِي أَفْعَالِهِ وَإِمَّا بِالْخَنَا فِي كَلَامِهِ، وَالسَّفَاهَةُ خُرُوجٌ عَنِ الْعَدَالَةِ تُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ، وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَأَى رَجُلًا يَسْعَى بِحَمَامَةٍ فَقَالَ: ” شَيْطَانٌ يَتْبَعُ شَيْطَانَةً “.

Salah satunya adalah hal yang menyebabkan kesaksiannya ditolak, yaitu sesuatu yang membuat seseorang keluar menuju sifat safāhah, baik melalui perilaku yang tercela dalam tindakannya maupun melalui ucapan yang kotor dalam perkataannya. Safāhah adalah keluar dari sifat ‘adālah yang menyebabkan kesaksian ditolak karenanya. Telah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki mengejar burung merpati, lalu beliau bersabda: “Setan yang mengikuti setan betina.”

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا لَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ، وَهُوَ مَا كَانَ بِهِ مَحْفُوظَ الْمُرُوءَةِ لِاتِّخَاذِهَا إِمَّا لِلِاسْتِفْرَاخِ، وَإِمَّا لِحَمْلِ الْكُتُبِ إِلَى الْبِلَادِ، وَإِمَّا لِلْأَنَسَةِ بِأَصْوَاتِهَا، فَيَكُونُ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Jenis kedua: yaitu yang tidak menyebabkan kesaksian ditolak, yaitu apabila seseorang tetap menjaga kehormatan dirinya dengan memelihara hewan tersebut, baik untuk digunakan sebagai kendaraan, membawa buku ke berbagai negeri, atau untuk hiburan dengan suaranya. Maka, orang tersebut tetap dianggap adil dan kesaksiannya diterima.

وَرَوَى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْوَحْدَةَ فَقَالَ: ” اتَّخِذْ زَوْجًا مِنْ حَمَامٍ “.

Ubadah bin ash-Shamit meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang kesepian, maka beliau bersabda: “Peliharalah sepasang burung merpati.”

وَلِأَنَّهَا تُسَمِّدُ كَمَا تُسَمِّدُ الْمَوَاشِي.

Karena ia juga menghasilkan pupuk sebagaimana hewan ternak menghasilkan pupuk.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا اخْتُلِفَ فِي رَدِّ الشَّهَادَةِ بِهِ.

Golongan ketiga adalah perkara yang diperselisihkan mengenai penolakan kesaksian dengannya.

وَهُوَ أَنْ يَتَّخِذَهُ لِلْمُسَابَقَةِ بِهِ وَفِيهِ وَجْهَانِ، بِنَاءً عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي قَوْلِهِ: ” لَا سَبْقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ “.

Yaitu menjadikannya sebagai alat untuk berlomba dengannya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang perbedaan dua pendapat dalam sabda Nabi: “Tidak ada perlombaan kecuali pada unta, kuda, atau panah.”

فَإِنْ جُعِلَ فِي أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ أَصْلًا، قِيسَ عَلَيْهِ إِبَاحَةُ السَّبْقِ بِالْحَمَامِ، فَلَمْ يَخْرُجْ بِهِ مِنَ الْعَدَالَةِ وَلَمْ تُرَدَّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Jika dalam salah satu pendapat dijadikan sebagai asal, maka diqiyaskan kepadanya kebolehan perlombaan dengan burung merpati, sehingga hal itu tidak mengeluarkan seseorang dari keadilan dan kesaksiannya tidak ditolak karenanya.

وَإِنْ جُعِلَ فِي الْوَجْهِ الثَّانِي، اسْتِثْنَاءً من جملة محظور لم يقص عَلَيْهِ السَّبْقُ بِالْحَمَامِ. فَخَرَجَ بِهِ مِنَ الْعَدَالَةِ وَرُدَّتْ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Dan jika menurut pendapat kedua, hal itu dijadikan sebagai pengecualian dari keseluruhan larangan yang tidak diqiyās-kan atasnya perlombaan dengan burung merpati. Maka dengan demikian, ia keluar dari keadilan dan kesaksiannya ditolak karenanya.

فَإِنِ اقْتَرَنَ بِهِ بِعِوَضٍ كَانَ حَرَامًا، وَإِنْ تَجَرَّدَ عَنِ الْعِوَضِ كَانَ سَفَهًا.

Jika disertai dengan imbalan, maka hukumnya haram, dan jika tidak disertai imbalan, maka itu merupakan tindakan yang tidak bijak.

وَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: وَاللَّاعِبُ بِالشِّطْرَنْجِ وَالْحَمَامِ أخف حالا.

Adapun pendapat asy-Syafi‘i: pemain catur dan merpati keadaannya lebih ringan.

وَلَمْ يَذْكُرْ مَا صَارَ بِهِ أَخَفَّ حَالًا مِنْهُ. فَقَدْ ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ، وَحَذَفَهُ الْمُزَنِيُّ اخْتِصَارًا. فَقَالَ: أَخَفُّ حَالًا مِنَ الِاخْتِلَافِ فِي فُرُوعِ الدِّينِ.

Dan ia tidak menyebutkan apa yang membuatnya berada dalam keadaan yang lebih ringan darinya. Hal itu telah disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm, namun al-Muzani menghapusnya sebagai bentuk ringkasan. Ia berkata: Keadaan yang lebih ringan adalah perbedaan pendapat dalam furū‘ ad-dīn.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ شَارِبِ الخمر] )

(Pembahasan tentang kesaksian peminum khamar)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَمَنْ شَرِبَ عَصِيرَ الْعِنَبِ الَّذِي عُتِقَ حَتَّى سَكِرَ وَهُوَ يَعْرِفُهَا خَمْرًا رُدَّتْ شَهَادَتُهُ لِأَنَّ تَحْرِيمَهَا نَصٌّ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Barang siapa meminum perasan anggur yang telah difermentasi hingga ia mabuk, sementara ia mengetahui bahwa itu adalah khamr, maka kesaksiannya ditolak karena keharamannya adalah berdasarkan nash.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَمَّا الْخَمْرُ فَهُوَ عَصِيرُ الْعِنَبِ إِذَا أَسْكَرَ وَلَمْ تَمَسُّهُ نَارٌ، وَلَمْ يُخَالِطْهُ مَاءٌ وَلَا يَكُونُ خَمْرًا إِنْ مَسَّتْهُ نَارٌ أَوْ خَالَطَهُ مَاءٌ.

Al-Mawardi berkata: Adapun khamr adalah perasan anggur yang memabukkan, yang tidak terkena api dan tidak bercampur dengan air. Ia tidak disebut khamr jika terkena api atau bercampur dengan air.

وَشُرْبُهُ مُحَرَّمٌ بِنَصِّ الْقُرْآنِ، وَهُوَ قَوْله تَعَالَى: {إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ} [المائدة: 90] .

Meminumnya diharamkan berdasarkan nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan anak panah undian adalah najis termasuk perbuatan setan, maka jauhilah itu.” (Al-Ma’idah: 90).

فَدَلَّتِ الْآيَةُ عَلَى تَحْرِيمِهِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Maka ayat ini menunjukkan keharamannya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: قَوْلُهُ {رجس من عمل الشيطان} وَالرِّجْسُ الْمُضَافُ إِلَى الشَّيْطَانِ يَكُونُ رِجْسًا بِإِضَافَتِهِ إلى الشيطان تغليظا.

Salah satunya adalah firman-Nya: {najis dari perbuatan setan}, dan najis yang disandarkan kepada setan menjadi najis karena penyandarannya kepada setan sebagai bentuk penegasan.

وفي ” الرجس ” أَرْبَعَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Dalam kata “rijs” terdapat empat penafsiran.

أَحَدُهَا: سُخْطٌ.

Salah satunya: kemurkaan.

وَالثَّانِي: شَرٌّ.

Dan yang kedua: keburukan.

وَالثَّالِثُ: إِثْمٌ.

Ketiga: dosa.

وَالرَّابِعُ: حرام.

Keempat: haram.

وقوله {من عمل الشيطان} أَيْ مِمَّا يَدْعُو إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ وَيَأْمُرُ بِهِ.

Dan firman-Nya {termasuk perbuatan setan} maksudnya adalah sesuatu yang setan ajak dan perintahkan.

والثاني: قوله {فاجتنبوه} وَمَا وَرَدَ الْأَمْرُ بِاجْتِنَابِهِ حَرُمَ الْإِقْدَامُ عَلَيْهِ وَفِيمَا أَرَادَ بِقَوْلِهِ ” فَاجْتَنِبُوهُ ” تَأْوِيلَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Kedua: firman-Nya {maka jauhilah itu}, dan setiap kali terdapat perintah untuk menjauhinya, maka haram untuk melakukannya. Adapun maksud dari firman-Nya “maka jauhilah itu” terdapat dua kemungkinan penafsiran:

أَحَدُهُمَا: الرِّجْسُ أَنْ تَفْعَلُوهُ.

Salah satunya adalah: kekotoran itu adalah jika kalian melakukannya.

وَالثَّانِي: الشَّيْطَانُ أَنْ تُطِيعُوهُ.

Dan yang kedua: setan, yaitu jika kalian menaatinya.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ} [الأعراف: 33] . فِيهِ تَأْوِيلَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا الزِّنَا خَاصَّةً. وَمَا ظَهَرَ مِنْهَا الْمناكِح الْفَاسِدَةُ وَمَا بَطَنَ السِّفَاحُ الصَّرِيحُ. وَالثَّانِي: أَنَّ ” الْفَوَاحِشَ ” جَمِيعُ الْمَعَاصِي. مَا ظَهَرَ مِنْهَا: ” أَفْعَالُ الْجَوَارِحِ وَمَا بَطَنَ “: اعْتِقَادُ الْقُلُوبِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar.” (al-A‘raf: 33). Ayat ini memiliki dua tafsiran: Pertama, bahwa yang dimaksud adalah zina secara khusus. Adapun yang tampak darinya adalah pernikahan-pernikahan yang rusak, sedangkan yang tersembunyi adalah perzinaan yang nyata. Kedua, bahwa “al-fawāḥisy” mencakup seluruh maksiat. Yang tampak darinya adalah perbuatan anggota badan, sedangkan yang tersembunyi adalah keyakinan hati.

وَفِي الإثم والبغي تَأْوِيلَانِ:

Dalam hal dosa dan kezhaliman, terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ ” الْإِثْمَ ” الْخِيَانَةُ فِي الْأُمُورِ و ” البغي ” التَّعَدِّي عَلَى النُّفُوسِ.

Salah satunya adalah bahwa “al-itsm” berarti pengkhianatan dalam berbagai urusan, dan “al-baghy” berarti penyerangan terhadap jiwa.

وَالثَّانِي: وَهُوَ أَشْهَرُ: أَنَّ ” الْإِثْمَ ” الْخَمْرُ ” وَالْبَغْيَ ” السُّكْرُ. وَشَاهِدُهُ قَوْلُ الشَّاعِرِ:

Dan pendapat kedua, yang lebih masyhur, adalah bahwa “al-itsm” berarti khamr, sedangkan “al-baghyu” berarti mabuk. Dalilnya adalah perkataan seorang penyair:

(شَرِبْتُ الْإِثْمَ حَتَّى ضَلَّ عَقْلِي … كَذَاكَ الْإِثْمُ يَذْهَبُ بِالْعُقُولِ)

Aku telah meminum dosa hingga akalku tersesat … demikianlah dosa itu menghilangkan akal.

وَاخْتُلِفَ بِأَيِّ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ.

Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat mana di antara kedua ayat ini yang menjadi dasar diharamkannya khamr.

فَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهَا حُرِّمَتْ بِالْآيَةِ الْأُولَى لِلتَّصْرِيحِ بِاسْمِ الْخَمْرِ.

Pendapat yang dipegang oleh jumhur adalah bahwa khamr diharamkan dengan ayat pertama karena secara tegas disebutkan nama khamr.

وَقَالَ قَوْمٌ: بَلْ حُرِّمَتْ بِالْآيَةِ الثَّانِيَةِ لِأَنَّهَا آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ فِيهِ.

Dan sekelompok ulama berkata: Bahkan diharamkan dengan ayat kedua karena itulah ayat terakhir yang turun mengenai hal itu.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أنه قَالَ: ” شَارِبُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ ” فَجَعَلَهُ مَقْرُونًا بِالشِّرْكِ لِتَغْلِيظِ تَحْرِيمِهِ. فَإِنْ شَرِبَ الْخَمْرَ مُسْتَحِلًّا كَفَرَ بِهِ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Peminum khamar seperti penyembah berhala.” Maka beliau menyamakannya dengan syirik untuk menegaskan betapa beratnya pengharaman khamar. Jika seseorang meminum khamar dengan meyakini kehalalannya, maka ia menjadi kafir karenanya.

وَإِنْ قِيلَ: فَقَدِ اسْتَبَاحَ قُدَامَةُ بْنُ مَظْعُونٍ شُرْبَ الْخَمْرِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا} [المائدة: 93] .

Dan jika dikatakan: “Qudāmah bin Maẓ‘ūn telah menghalalkan minum khamar berdasarkan firman Allah Ta‘ala: ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh terhadap apa yang mereka makan, apabila mereka bertakwa, beriman, dan beramal saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman’ (QS. al-Mā’idah: 93).”

وَقَدْ قَالَ: قَدْ أَيْقَنَّا وَآمَنَّا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْنَا فِيمَا شَرِبْنَا، فَلَمْ يُنْكِرْهُ أَحَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ

Dan dia berkata: “Kami telah yakin dan beriman, maka tidak ada dosa atas kami terhadap apa yang telah kami minum,” maka tidak seorang pun dari para sahabat yang mengingkarinya.

قِيلَ: قَدْ أَنْكَرُوا عَلَيْهِ مَا تَأَوَّلَهُ وَأَبْطَلُوهُ، فَرَجَعَ عَنْهُ، وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى فَسَادِ شُبْهَتِهِ، وَصَارَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ بِالنُّصُوصِ الْمَقْطُوعِ بِهَا.

Dikatakan: Mereka telah mengingkari apa yang ia takwilkan dan membatalkannya, lalu ia pun menarik pendapatnya itu, dan ijmā‘ telah terwujud atas rusaknya syubhatnya, sehingga hal itu menjadi termasuk perkara yang diharamkan berdasarkan nash yang pasti.

وَإِنْ شَرِبَ الْخَمْرَ غَيْرَ مُسْتَحِلٍّ لَهَا، كَانَ فَاسِقًا مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ قَلِيلًا شَرِبَ مِنْهَا أَوْ كَثِيرًا، سَكِرَ منها أو لم يسكر، لقوله النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” حُرِّمَتِ الْخَمْرَةُ لِعَيْنِهَا وَالسُّكْرُ مِنْ كُلِّ شَرَابٍ ” فِي رِوَايَةِ الْعِرَاقِيِّينَ وَالْمُسْكِرُ مِنْ كُلِّ شَرَابٍ فِي رِوَايَةِ الْحِجَازِيِّينَ.

Dan jika seseorang meminum khamar tanpa menghalalkannya, maka ia menjadi fāsiq dan kesaksiannya ditolak, baik ia meminumnya sedikit atau banyak, mabuk karenanya atau tidak, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Khamar diharamkan karena zatnya, dan segala yang memabukkan dari setiap minuman (juga diharamkan),” dalam riwayat orang-orang Irak, dan “segala yang memabukkan dari setiap minuman” dalam riwayat orang-orang Hijaz.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَشْرَبَهَا صِرْفًا أَوْ مَمْزُوجَةً.

Tidak ada perbedaan antara meminumnya secara murni atau dalam keadaan tercampur.

وَشَذَّ قَوْمٌ بِأَنْ قَالُوا: إِذَا مَزَجَهَا بِمَا غَلَبَ عَلَيْهَا لَمْ تَحْرُمْ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” حُرِّمَتِ الْخَمْرَةُ لِعَيْنِهَا “.

Sebagian kelompok berpendapat secara menyimpang dengan mengatakan: Jika khamr dicampur dengan sesuatu yang lebih dominan darinya, maka tidak menjadi haram, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Khamr diharamkan karena zatnya.”

وَهَذَا تَأْوِيلٌ فَاسِدٌ، لِأَنَّ الْعَيْنَ مَوْجُودَةٌ فِي الْمَمْزُوجِ بِهَا، لَكِنْ لَوْ مُزِجَتْ بِالْمَاءِ قَبْلَ أَنْ تَشْتَدَّ ثُمَّ صَارَتْ بَعْدَ الْمَزْجِ مُسْكِرًا، كَانَتْ فِي حُكْمِ النَّبِيذِ دُونَ الْخَمْرِ، وَكَذَلِكَ.

Ini adalah penafsiran yang keliru, karena zat aslinya tetap ada dalam campuran tersebut. Namun, jika zat itu dicampur dengan air sebelum menjadi kuat (memabukkan), lalu setelah pencampuran itu menjadi memabukkan, maka hukumnya seperti nabidz, bukan seperti khamr. Demikian pula halnya.

لَوْ غَلِيَتِ بِالنَّارِ بَعْدَ إِسْكَارِهَا كَانَتْ خَمْرًا لَوْ غَلِيَتْ بِالنَّارِ قَبْلَ إِسْكَارِهَا ثُمَّ أَسْكَرَتْ بَعْدَ غَلْيِهَا كَانَتْ نَبِيذًا وَلَمْ تَكُنْ خَمْرًا.

Jika sesuatu direbus dengan api setelah memabukkan, maka ia adalah khamr. Jika direbus dengan api sebelum memabukkan, kemudian setelah direbus ia menjadi memabukkan, maka ia adalah nabidz dan bukan khamr.

( [الْقَوْلُ فِي بَيْعِ الْخَمْرِ وَالْعَقْدِ عَلَيْهَا] )

(Pembahasan tentang jual beli khamar dan akad atasnya)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا بَيْعُ الْخَمْرِ فَحَرَامٌ، وَبَائِعُهَا فَاسِقٌ، وَالْعَقْدُ عَلَيْهَا بَاطِلٌ، وَثَمَنُهَا مُحَرَّمٌ.

Adapun jual beli khamar hukumnya haram, penjualnya adalah fasik, akad atasnya batal, dan harganya pun haram.

رَوَى ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَلَعَنَ بَائِعَهَا ” وَلِأَنَّ بَيْعَهَا مِنْ أَكْلِ الْمَالِ بِالْبَاطِلِ.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Allah melaknat khamr dan melaknat penjualnya.” Selain itu, menjualnya termasuk memakan harta dengan cara yang batil.

وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ} [البقرة: 188] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188).

وَأَمَّا اتِّخَاذُ الْخَمْرِ وَإِمْسَاكُهَا فَمُعْتَبَرٌ بِمَقْصُودِهِ، فَإِنْ قَصَدَ بِهِ أَنْ يَنْقَلِبَ وَيَصِيرَ خَلًّا جَازَ. وَلَمْ يَفْسُقْ بِهِ لِأَنَّهَا تَحِلُّ بِالِانْقِلَابِ.

Adapun menyimpan dan memelihara khamar, hukumnya tergantung pada tujuannya. Jika tujuannya agar khamar tersebut berubah dan menjadi cuka, maka hal itu diperbolehkan. Ia tidak dianggap fasik karenanya, karena khamar menjadi halal dengan berubahnya menjadi cuka.

وَإِنْ قَصَدَ ادِّخَارَهَا عَلَى حَالِهَا، كَانَ مَحْظُورًا، يَفْسُقُ بِهِ، لِأَنَّ إِمْسَاكَهَا دَاعٍ إِلَى شُرْبِهَا. وَمَا دَعَا إِلَى الْحَرَامِ مَحْظُورٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan jika seseorang bermaksud menyimpannya dalam keadaannya (sebagai minuman keras), maka hal itu terlarang, ia menjadi fasik karenanya, karena menyimpannya dapat mendorong untuk meminumnya. Segala sesuatu yang mendorong kepada yang haram adalah terlarang, dan Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ في الأنبذة وشهادة شاربها] )

(Pembahasan tentang an-nabīdh dan kesaksian peminumnya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَمَنْ شَرِبَ سِوَاهَا مِنَ الْمُنْصِفِ أَوِ الْخَلِيطَيْنِ فَهُوَ آثِمٌ وَلَا تُرَدُّ شَهَادَتُهُ إِلَّا أَنْ يَسْكَرَ لِأَنَّهُ عِنْدَ جَمِيَعِهِمْ حَرَامٌ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Barang siapa meminum selain khamr, seperti al-munṣif atau al-khalīṭain, maka ia berdosa dan kesaksiannya tidak ditolak kecuali jika ia mabuk, karena menurut ijmā‘ semuanya itu haram.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ كُلَّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ ” حَرَامٌ ” كَالْخَمْرِ عِنْدَنَا فِي تَحْرِيمِ مَا أَسْكَرَ مِنْهُ وَمَا لَمْ يُسْكِرْ. وَجَعَلَ مُخَالِفُنَا تَحْرِيمَهُ مَقْصُورًا عَلَى السُّكْرِ، فَأَحَلَّ قَلِيلَهُ إِذَا لَمْ يُسْكِرْ، وَحَرَّمَ فِيهِ الْكَثِيرَ إِذَا أَسْكَرَ، وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَلَيْهِ.

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa setiap minuman yang memabukkan hukumnya “haram” seperti khamr menurut kami, baik yang memabukkan maupun yang tidak memabukkan darinya. Sedangkan pihak yang berbeda pendapat dengan kami membatasi keharamannya hanya pada yang memabukkan saja, sehingga mereka membolehkan sedikitnya jika tidak memabukkan, dan mengharamkan yang banyak jika memabukkan. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.

فَجَمِيعُ الْأَنْبِذَةِ الْمُسْكِرَةِ عِنْدَنَا مُحَرَّمَةٌ مِنْ أَيِّ الْأَنْوَاعِ كَانَتْ مِنْ زَبِيبٍ أَوْ تَمْرٍ أَوْ رُطَبٍ أَوْ بُسْرٍ أَوْ عَسَلٍ، مَطْبُوخَةً وَنِيَّةً.

Maka semua minuman yang memabukkan menurut kami hukumnya haram, dari jenis apapun, baik dari anggur kering, kurma, kurma basah, kurma muda, maupun madu, baik yang dimasak maupun yang mentah.

وَحَرَّمَ أَبُو حَنِيفَةَ نِيَّهَا وَأَبَاحَ مَطْبُوخَهَا.

Abu Hanifah mengharamkan memakannya dalam keadaan mentah dan membolehkan yang telah dimasak.

فَإِذَا شَرِبَ نَبِيذًا مُسْكِرًا، فَإِنْ شَرِبَ مِنْهُ مَا أَسْكَرَ فَقَدْ شَرِبَ حَرَامًا في قول الْجَمِيعِ، وَصَارَ بِهِ فَاسِقًا مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ. وَإِنْ شَرِبَ مِنْهُ مَا لَمْ يُسْكِرْهُ فَإِنْ عَاقَرَ عَلَيْهِ أَوْ تَكَلَّمَ بِالْخَنَا وَالْهُجْرِ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ.

Jika seseorang meminum nabidz yang memabukkan, maka jika ia meminumnya sampai mabuk, berarti ia telah meminum sesuatu yang haram menurut kesepakatan semua ulama, dan dengan itu ia menjadi fasiq serta kesaksiannya ditolak. Namun jika ia meminumnya dalam kadar yang tidak membuatnya mabuk, lalu ia melakukan perbuatan tercela atau berkata-kata kotor dan keji, maka kesaksiannya juga ditolak.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ: لَوْ عَاقَرَ عَلَى الْمَاءِ كَانَ حَرَامًا.

Muhammad bin al-Hasan berkata: Jika seseorang melakukan akad atas air, maka hukumnya haram.

وَإِنْ لَمْ يُعَاقِرْ وَشَرِبَ مِنْهُ مَا لَمْ يُسْكَرْ، فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Dan jika ia tidak menenggaknya, lalu meminum darinya namun tidak sampai mabuk, maka ada tiga keadaan baginya:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ تَحْرِيمَهُ إِمَّا بِاجْتِهَادٍ أَوْ تَقْلِيدٍ. فَيَفْسُقَ بِشُرْبِهِ وَيُحَدَّ وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ. لِإِقْدَامِهِ عَلَى مَا يَعْتَقِدُهُ مَعْصِيَةً فَصَارَ بِإِقْدَامِهِ عَاصِيًا.

Salah satunya: yaitu seseorang meyakini keharamannya, baik melalui ijtihad maupun taqlid. Maka ia menjadi fasik karena meminumnya, dikenai hukuman had, dan kesaksiannya tidak diterima. Sebab ia telah berani melakukan sesuatu yang diyakininya sebagai maksiat, sehingga dengan keberaniannya itu ia menjadi orang yang bermaksiat.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْتَقِدَ إِبَاحَتَهُ إِمَّا بِاجْتِهَادٍ أَوْ تَقْلِيدٍ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ يَكُونُ عَلَى عَدَالَتِهِ وَيُحَدُّ وَلَا تُرَدُّ شَهَادَتُهُ.

Keadaan kedua: yaitu seseorang meyakini kebolehannya, baik karena ijtihad maupun taklid. Maka menurut mazhab Syafi‘i, ia tetap dianggap adil, dikenai had, dan kesaksiannya tidak ditolak.

وَقَالَ مَالِكٌ: قَدْ فَسَقَ. فَيُحَدُّ وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُ.

Malik berkata: Ia telah fasik. Maka ia dikenai had dan kesaksiannya ditolak.

وَقَالَ الْمُزَنِيُّ: لا ترد شهادته ولا يحد.

Al-Muzani berkata: Kesaksiannya tidak ditolak dan ia tidak dikenai had.

ومنعا جَمِيعًا مِنِ اجْتِمَاعِ الْحَدِّ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ، فَجَعَلَ مَالِكٌ وُجُوبَ الْحَدِّ مُسْقِطًا لِلشَّهَادَةِ، وَجَعَلَ الْمُزَنِيُّ قَبُولَ الشَّهَادَةِ مُسْقِطًا لِلْحَدِّ، وَفَرَّقَ الشَّافِعِيُّ بَيْنَهُمَا، فَأَوْجَبَ الْحَدَّ وَلَمْ يَرُدَّ الشَّهَادَةَ، لِأَنَّ الْحَدَّ مِنْ حُكْمِ الشُّرْبِ لِلرَّدْعِ عَنْهُ وَرَدَّ الشَّهَادَةِ بِالْفِسْقِ بِالتَّفْسِيقِ فِي حُكْمِ الْمَعْصِيَةِ، وَالْمَعْصِيَةُ فِي تَأْوِيلِ مَا اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِيهِ مُرْتَفِعَةٌ، فَلَمْ يَمْتَنِعِ اجْتِمَاعُ الْحَدِّ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ كَالْقَاذِفِ إِذَا تَابَ قَبْلَ الْحَدِّ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ.

Dan untuk mencegah terkumpulnya hukuman hadd dan penerimaan kesaksian secara bersamaan, Malik berpendapat bahwa wajibnya hukuman hadd menggugurkan kesaksian, sedangkan al-Muzani berpendapat bahwa penerimaan kesaksian menggugurkan hukuman hadd. Sementara itu, asy-Syafi‘i membedakan antara keduanya; ia mewajibkan hukuman hadd namun tidak menolak kesaksian, karena hukuman hadd merupakan ketetapan atas perbuatan minum (khmar) sebagai pencegahan darinya, sedangkan penolakan kesaksian karena kefasikan adalah sebagai bentuk penilaian fasik dalam hukum maksiat. Maksiat dalam penafsiran perkara yang diperselisihkan oleh para ulama menjadi gugur, sehingga tidak terhalang terkumpulnya hukuman hadd dan penerimaan kesaksian, seperti halnya orang yang menuduh zina (qadzaf) apabila ia bertobat sebelum dijatuhi hukuman hadd, maka kesaksiannya diterima.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: إِنْ شَرِبَ غَيْرَ مُعْتَقِدِ الْإِبَاحَةِ وَلَا حَظْرٍ، مَعَ عِلْمِهِ بِاخْتِلَافِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي إباحتها وحظروها، فَفِي فِسْقِهِ وَرَدٍّ شَهَادَتِهِ بَعْدَ وُجُوبِ الْحَدِّ عَلَيْهِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا:

Keadaan yang ketiga: Jika seseorang meminum (minuman tersebut) tanpa meyakini kehalalan maupun keharamannya, sementara ia mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu tentang kebolehan atau keharamannya, maka mengenai kefasikannya dan penolakan kesaksiannya setelah wajibnya hukuman had atasnya, terdapat dua pendapat di kalangan ulama mazhab kami.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهُ فَاسِقٌ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ تَرْكَ الِاسْتِرْشَادِ فِي الشُّبَهَاتِ تَهَاوُنٌ فِي الدِّينِ فَصَارَ فِسْقًا.

Salah satunya, yaitu pendapat mazhab al-Bashriyyin, bahwa ia adalah seorang fasiq yang kesaksiannya ditolak, karena meninggalkan upaya mencari petunjuk dalam perkara-perkara syubhat merupakan bentuk meremehkan agama, sehingga hal itu menjadi kefasikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَغْدَادِيِّينَ أَنَّهُ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ. لِأَنَّ اعْتِقَادَ الْإِبَاحَةِ أَغْلَظُ مِنَ الشُّرْبِ، لِأَنَّ مَنِ اعْتَقَدَ إِبَاحَةَ الْخَمْرِ كَفَرَ. وَمَنْ شَرِبَهَا وَلَمْ يَعْتَقِدْ إِبَاحَتَهَا لَمْ يَكْفُرْ. فَلَمَّا لَمْ يَفْسُقْ مَنِ اعْتَقَدَ إِبَاحَةَ النَّبِيذِ وَشُرْبِهِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا يَفْسُقَ مَنْ شَرِبَهُ وَلَا يَعْتَقِدُ إِبَاحَتَهُ.

Pendapat kedua, yaitu mazhab para ulama Baghdad, menyatakan bahwa seseorang tetap dianggap adil dan kesaksiannya diterima. Sebab, keyakinan akan kebolehan (meminum) lebih berat daripada perbuatan meminumnya itu sendiri. Karena siapa yang meyakini kebolehan khamr, maka ia kafir. Sedangkan siapa yang meminumnya tanpa meyakini kebolehannya, maka ia tidak kafir. Maka, jika orang yang meyakini kebolehan dan meminum nabidz saja tidak dianggap fasiq, maka lebih utama lagi orang yang hanya meminumnya tanpa meyakini kebolehannya tidak dianggap fasiq.

( [الْقَوْلُ فِي الْأَشْرِبَةِ الَّتِي لَا تُسْكِرُ وَشَهَادَةِ شَارِبِهَا] )

(Pembahasan tentang minuman yang tidak memabukkan dan kesaksian peminumnya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا مَا لَا يُسْكَرُ مِنَ الْأَنْبِذَةِ وَالْأَشْرِبَةِ كَالْفُقَاعِ وَالْقَارِصِ فَمُبَاحٌ لَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Adapun minuman dari nabīż dan minuman lainnya yang tidak memabukkan, seperti fuqqā‘ dan qāriṣ, maka hukumnya mubah dan kesaksian tidak ditolak karena meminumnya.

وَحُكِيَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَطَائِفَةٍ مِنَ الشِّيعَةِ وَرُبَّمَا عُزِيَ إِلَى أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ شُرْبَ الْفُقَاعِ وَالْقَارِصِ حَرَامٌ.

Diriwayatkan dari Ja‘far bin Muhammad dan sekelompok ulama Syiah, dan kadang-kadang dinisbatkan kepada Abu Hanifah, bahwa meminum fuqqā‘ dan qāriṣ hukumnya haram.

لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” كُلُّ مُخَمَّرٍ خَمْرٌ “.

Karena telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr.”

وَرُوِيَ أَنَّ عليا عليه السلام مَرَّ عَلَى بَائِعِ فُقَاعٍ فَقَالَ: مِنْ خِمَارٍ مَا أَوْقَحَكَ.

Diriwayatkan bahwa Ali ‘alaihis salam melewati seorang penjual fuqqā‘, lalu beliau berkata: “Dari khamr, betapa lancangnya engkau.”

وَهَذَا تَأْوِيلٌ انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى خِلَافِهِ وَوَرَدَتِ السُّنَّةُ بِرَدِّهِ.

Ini adalah takwil yang telah disepakati ijmā‘ atas kebalikannya dan sunnah pun telah datang untuk menolaknya.

وَرُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: ” كُنَّا نَنْبِذُ لرسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَلَى غَذَائِهِ فَيَشْرَبُهُ عَلَى عَشَائِهِ، وَننُبِذَ لَهُ عَلَى عَشَائِهِ فَيَشْرَبُهُ عَلَى غَذَائِهِ “.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Kami membuat nabidz untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi, lalu beliau meminumnya pada waktu malam. Dan kami membuat nabidz untuk beliau pada waktu malam, lalu beliau meminumnya pada waktu pagi.”

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّا لِنَأْكُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَطْعِمَةِ الْغَلِيظَةِ وَنَشْرَبُ عَلَيْهَا مِنْ هَذِهِ الْأَنْبِذَةِ الشَّدِيدَةِ فَنَقْطَعُهَا فِي أَجْوَافِنَا. يَعْنِي قَبْلَ أَنْ يُسْكِرَ.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kami memakan makanan-makanan yang berat ini dan meminum minuman-minuman keras ini bersamanya, lalu kami memutusnya di dalam perut kami.” Maksudnya, sebelum minuman itu memabukkan.

وَلِأَنَّ عِلَّةَ التَّحْرِيمِ السُّكْرُ، فَمَا لَمْ يُسْكِرْ لَمْ يُحَرَّمْ كَسَائِرِ الْأَشْرِبَةِ.

Karena ‘illat pengharaman adalah memabukkan, maka apa yang tidak memabukkan tidak diharamkan, seperti minuman-minuman lainnya.

وَالِاسْتِدْلَالُ بِالْخَبَرِ مَحْمُولٌ عَلَيْهِ.

Pengambilan dalil dengan khabar didasarkan padanya.

وَلَوْ كَانَ الْفُقَاعُ حَرَامًا عِنْدَ علي عليه السلام لَأَظْهَرَ مِنَ الْإِنْكَارِ وَالْمَنْعِ مَا يَجِبُ بِإِظْهَارِ الْمُنْكَرِ، وَلَمَا اقْتَصَرَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ مَعَ الْإِقْرَارِ عَلَيْهِ.

Seandainya fuqqā‘ itu haram menurut Ali ‘alaihis-salām, tentu beliau akan menampakkan penolakan dan pelarangan sebagaimana kewajiban menampakkan kemungkaran, dan beliau tidak akan cukup hanya dengan ucapan ini disertai membiarkannya.

وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ مِنَ الْمُنْصِفِ وَالْخَلِيطَينِ، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي صِفَتِهَا عَلَى قَوْلَيْنِ:

Adapun apa yang disebutkan mengenai al-munṣif dan al-khalīṭain, maka telah terjadi perbedaan pendapat mengenai sifat keduanya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْمُنْصِفَ مَا طُبِخَ حَتَّى ذَهَبَ نِصْفُهُ، وَالْخَلِيطَانِ خَلِيطُ الْبُسْرِ بِالزبيبِ.

Salah satunya adalah bahwa munṣif adalah sesuatu yang dimasak hingga setengahnya hilang, dan dua campuran itu adalah campuran busr dengan zabib.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْمُنْصِفَ مَا يُنْصَفُ مِنْ تَمْرٍ وَزَبِيبٍ وَالْخَلِيطَانِ خَلِيطُ الْبُسْرِ بِالرُّطَبِ.

Kedua: bahwa nishab tidak ditetapkan dari kurma dan anggur kering, serta dari dua campuran, yaitu campuran busr dengan ruthab.

وَإِنْ كَانَ هَذَا مُسْكِرًا فَهُوَ حَرَامٌ، وَإِنْ لَمْ يُسْكِرْ فَفِي كَرَاهَتِهِ وَجْهَانِ:

Jika benda ini memabukkan maka hukumnya haram, dan jika tidak memabukkan maka terdapat dua pendapat mengenai makruhnya.

أَحَدُهُمَا: لَا يُكْرَهُ كَمَا لَا تُكْرَهُ سَائِرُ الْأَشْرِبَةِ الَّتِي لَا تُسْكِرُ.

Salah satu pendapat: tidak makruh, sebagaimana tidak makruhnya minuman-minuman lain yang tidak memabukkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُكْرَهُ وَإِنْ لَمْ يُكْرَهْ غَيْرُهَا. لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِالنَّهْيِ عَنْهَا.

Pendapat kedua: Bahwa hal itu makruh, meskipun selainnya tidak makruh, karena syariat telah datang dengan larangan terhadapnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ غَيْرِهَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara keduanya dan selainnya terdapat pada dua aspek:

أَحَدُهُمَا: إِسْرَاعُ الْإِدْرَاكِ إِلَيْهَا قَبْلَ غيرها.

Salah satunya adalah bersegera untuk memahaminya sebelum yang lainnya.

وَالثَّانِي: إِسْكَارُهَا مَعَ بَقَاءِ حَلَاوَتِهَا، وَإِسْكَارُ غَيْرِهَا مَعَ حُدُوثِ مَرَارَتِهَا. وَلَا تُرَدُّ شَهَادَةُ شَارِبِهَا كرهت أم لم تكره.

Yang kedua: minuman itu memabukkan sementara rasa manisnya masih ada, dan minuman lain memabukkan setelah muncul rasa pahitnya. Kesaksian orang yang meminumnya tidak ditolak, baik ia meminum karena suka maupun tidak suka.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَأَكْرَهُ اللَّعِبَ بِالنَّرْدِ لِلْخَبَرِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku membenci permainan dadu karena adanya hadis.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي النَّرْدِ فَحَرَّمَهَا مَالِكٌ وَفَسَّقَ اللَّاعِبَ بِهَا وَأَحَلَّهَا الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَلَمْ يُفَسِّقِ اللَّاعِبَ بِهَا إِذَا حَافَظَ عَلَى عِبَادَتِهِ وَمُرُوءَتِهِ.

Al-Mawardi berkata: Para ulama berbeda pendapat tentang permainan dadu; Malik mengharamkannya dan menganggap pelakunya sebagai fasiq, sedangkan Hasan al-Bashri membolehkannya dan tidak menganggap pelakunya sebagai fasiq selama ia tetap menjaga ibadah dan kehormatannya.

وَلَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ النَّرْدَ أَغْلَظُ فِي الْمَنْعِ مِنَ الشِّطْرَنْجِ وَصَرَّحَ فِيهَا بِالْكَرَاهَةِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ هَلْ هِيَ كَرَاهَةُ تَحْرِيمٍ أَمْ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ؟

Tidak ada perbedaan dalam mazhab Syafi‘i bahwa permainan nard (sejenis permainan dadu) lebih keras larangannya dibandingkan catur, dan dalam hal ini beliau menegaskan adanya makruh. Para pengikutnya berbeda pendapat, apakah makruh tersebut adalah makruh tahrim (makruh yang mendekati haram) atau makruh tanzih (makruh yang tidak sampai haram).

فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهَا كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ وَتَغْلِيظٍ، تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ وَإِنْ لَمْ تُحَرَّمْ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu merupakan makruh tanzih dan bentuk penegasan, sehingga kesaksiannya ditolak karenanya meskipun tidak diharamkan.

وَذَهَبَ أَكْثَرُهُمْ، وَهُوَ الصَّحِيحُ إِلَى أَنَّهَا كَرَاهَةُ تَحْرِيمٍ تُوجِبُ فِسْقَ اللَّاعِبِ بِهَا وَرَدَّ شَهَادَتِهِ.

Mayoritas ulama, dan inilah pendapat yang benar, berpendapat bahwa hal itu merupakan makruh tahrim yang menyebabkan pelakunya menjadi fasik dan kesaksiannya ditolak.

وَرَوَى مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ مُوسَى بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِي مُوسَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “.

Malik bin Anas meriwayatkan dari Musa bin Maisarah, dari Sa‘id bin Abi Hind, dari Abu Musa bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bermain dadu, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

وَرُوِيَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قال: ” من لعب بالنرد شير فَكَأَنَّمَا يَغْمِسُ يَدَهُ فِي لَحْمِ الْخِنْزِيرِ وَدَمِهِ “.

Diriwayatkan dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bermain dadu nardasyir, maka seolah-olah ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا يَقْلِبُ كِعَابَهَا أَحَدٌ يَنْتَظِرُ مَا يَأْتِي بِهِ إِلَّا عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seseorang membalik dadu miliknya sambil menunggu apa yang akan didatangkan olehnya, kecuali ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

فَصَارَ فَرْقُ مَا بَيْنَ النَّرْدِ وَالشِّطْرَنْجِ فِي الْحُكْمِ، أَنَّ الشَّطْرَنْجَ لَا يُحَرَّمُ، وَفِي كَرَاهَتِهِ وَجْهَانِ وَالنَّرْدُ مَكْرُوهَةٌ وَفِي تَحْرِيمِهَا وَجْهَانِ، وَالشَّطْرَنْجُ لَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ إِذَا خَلَصَتْ وَتُرَدُّ بِالنَّرْدِ وَإِنْ خَلَصَ.

Maka perbedaan antara nard dan catur dalam hukum adalah bahwa catur tidak diharamkan, dan dalam hal makruhnya terdapat dua pendapat, sedangkan nard hukumnya makruh dan dalam hal pengharamannya juga terdapat dua pendapat. Kesaksian tidak ditolak karena bermain catur jika ia terbebas (dari hal yang tercela), sedangkan kesaksian ditolak karena bermain nard meskipun ia terbebas.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا فِي الْمَعْنَى: أَنَّ الشَّطْرَنْجَ مَوْضُوعَةٌ لِصِحَّةِ الْفِكْرِ وَصَوَابِ التَّدْبِيرِ وَنِظَامِ السِّيَاسَةِ، فَهِيَ صَادِرَةٌ إِنْ ظَهَرَ فِيهَا عَنْ حَذْقَةٍ.

Perbedaan antara keduanya dalam makna adalah: catur diciptakan untuk melatih ketajaman berpikir, ketepatan perencanaan, dan keteraturan dalam strategi, sehingga permainan ini muncul dari kecerdikan jika terlihat di dalamnya.

وَالنَّرْدُ مَوْضُوعَةٌ إِلَى مَا يَأْتِي بِهِ مِنْ كَعَابِهَا وَفُصُوصِهَا، فَهُوَ كَالْأَزْلَامِ.

Permainan dadu didasarkan pada apa yang dihasilkan oleh sisi-sisi dan titik-titiknya, sehingga ia serupa dengan azlām (undian dengan anak panah).

وَقِيلَ: إِنَّهَا مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْبُرُوجِ الِاثْنَيْ عَشَرَ. وَالْكَوَاكِبِ السَّبْعَةِ، لِأَنَّ بُيُوتَهَا اثْنَا عَشَرَ كَالْبُرُوجِ وَيَقْطَعُهَا مِنْ جَانِبَيِ الْفَصِّ سَبْعَةٌ، كَالْكَوَاكِبِ السَّبْعَةِ. فَعَدَلَ بِهَا عَنْ حُكْمِ الشَّرْعِ إِلَى تَدْبِيرِ الْكَوَاكِبِ والبروج.

Dikatakan: Sesungguhnya ia disusun berdasarkan dua belas zodiak dan tujuh planet, karena rumah-rumahnya ada dua belas seperti zodiak, dan melintasinya dari kedua sisi garis edar ada tujuh, seperti tujuh planet. Maka dengan itu, ia berpaling dari hukum syariat menuju pengaturan planet-planet dan zodiak.

وَهَكَذَا اللَّعِبُ بِالْأَرْبَعَةَ عَشَرَ، الْمُفَوَّضَةِ إِلَى الْكَعَابِ، وَمَا ضَاهَاهَا، فِي حُكْمِ النَّرْدِ فِي التَّحْرِيمِ.

Demikian pula bermain dengan empat belas, yang penentuannya diserahkan kepada dadu, dan segala sesuatu yang serupa dengannya, hukumnya sama dengan nard dalam hal keharamannya.

وَأَمَّا اللَّعِبُ بِالْخَاتَمِ فَهُوَ حَدَسِيٌّ لَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Adapun bermain-main dengan cincin, itu bersifat dugaan semata dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak kesaksian.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ أَهْلِ الْغِنَاءِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian para pelaku seni musik)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ كَانَ يُدِيمُ الْغِنَاءَ وَيَغْشَاهُ الْمُغَنُّونُ مُعْلِنًا فَهَذَا سَفَهٌ تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ يَقِلُّ لَمْ تُرَدَّ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang terus-menerus bernyanyi dan para penyanyi sering mendatanginya secara terang-terangan, maka ini adalah tindakan tidak bijak yang menyebabkan kesaksiannya ditolak. Namun, jika hal itu jarang terjadi, maka kesaksiannya tidak ditolak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَالْكَلَامُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Pembahasan dalam masalah ini mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي الْغِنَاءِ.

Salah satunya: tentang nyanyian.

وَالثَّانِي: فِي أَصْوَاتِ الْمَلَاهِي.

Yang kedua: tentang suara-suara alat musik hiburan.

وَأَمَّا الْغِنَاءُ، فَمِنَ الصَّوْتِ، مَمْدُودٌ وَمِنَ الْمَالِ مَقْصُورٌ، كَالْهَوَاءِ وَهُوَ مِنَ الْجَوِّ مَمْدُودٌ وَمِنْ هَوَى النَّفْسِ مَقْصُورٌ.

Adapun al-ghinā’, jika berasal dari suara maka dibaca panjang, dan jika berasal dari makna harta maka dibaca pendek; seperti kata al-hawā’, jika berasal dari udara maka dibaca panjang, dan jika berasal dari hawa nafsu maka dibaca pendek.

كَتَبَ إِلَيَّ أَخِي مِنَ الْبَصْرَةِ وَقَدِ اشْتَدَّ شَوْقُهُ لِلِقَائِي بِبَغْدَادَ شِعْرًا قَالَ فِيهِ:

Saudaraku dari Bashrah menulis surat kepadaku, dan kerinduannya untuk bertemu denganku di Baghdad telah memuncak, dalam bentuk syair yang ia katakan di dalamnya:

(طِيبُ الْهَوَاءِ بِبَغْدَادٍ يُشَوِّقُنِي … قِدْمًا إِلَيْهَا وَإِنْ عَاقَتْ مَقَادِيرُ)

Kesegaran udara di Baghdad selalu membuatku rindu padanya sejak lama, meskipun takdir menghalangiku untuk kembali.

(فَكَيْفَ صَبْرِي عَنْهَا الْآنَ إِذْ جَمَعَتْ … طِيبَ الْهَوَاءَيْنِ مَمْدُودٌ وَمَقْصُورُ)

Bagaimana mungkin aku bisa bersabar darinya sekarang, padahal ia telah menghimpun keharuman dua udara, yang panjang dan yang pendek.

اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ وَحَظْرِهِ، فَأَبَاحَهُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْحِجَازِ وَحَظَرَهُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِرَاقِ.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan dan pelarangan musik; mayoritas ulama Hijaz membolehkannya, sedangkan mayoritas ulama Irak melarangnya.

وَكَرِهَهُ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ فِي أَصَحِّ مَا نُقِلَ عَنْهُمْ، فَلَمْ يُبِيحُوهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَلَمْ يَحْظُرُوهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ، فَتَوَسَّطُوا فِيهِ بِالْكَرَاهَةِ بَيْنَ الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ.

Syafi‘i, Abu Hanifah, dan Malik memakruhkannya menurut pendapat paling sahih yang dinukil dari mereka. Mereka tidak membolehkannya secara mutlak dan tidak pula melarangnya secara mutlak. Maka mereka mengambil posisi tengah dalam hal ini dengan hukum makruh, di antara larangan dan kebolehan.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ أَبَاحَهُ، بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ مَرَّ بِجَارِيَةٍ لِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ تُغَنِّي وَهِيَ تَقُولُ:

Orang yang membolehkannya berdalil dengan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah melewati seorang budak perempuan milik Hassān bin Tsābit yang sedang bernyanyi sambil berkata:

(هَلْ عَلَيَّ وَيْحَكُمَا … إِنْ لَهَوْتُ مِنْ حَرَجِ)

Apakah aku berdosa, celaka kalian berdua… jika aku bersenda gurau, apakah ada dosa bagiku?

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا حَرَجَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “.

Maka Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada kesulitan, insya Allah.”

وَرَوَى الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ: أَمَزْمُورُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” دَعْهُمَا فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ “.

Az-Zuhri meriwayatkan dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Di sisiku ada dua budak perempuan yang bernyanyi, lalu Abu Bakar masuk dan berkata: “Apakah ini seruling setan di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Biarkanlah mereka berdua, karena ini adalah hari-hari ‘id.”

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” الْغِنَاءُ زَادُ الْمُسَافِرِ “.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nyanyian adalah bekal bagi musafir.”

وَكَانَ لِعُثْمَانَ جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ فِي اللَّيْلِ، فَإِذَا جَاءَ وَقْتُ السَّحَرِ قَالَ: أَمْسِكَا فَهَذَا وَقْتُ الِاسْتِغْفَارِ، وَقَامَ إِلَى صَلَاتِهِ.

Utsman memiliki dua budak perempuan yang bernyanyi pada malam hari. Ketika waktu sahur tiba, ia berkata, “Berhentilah, ini adalah waktu istighfar,” lalu ia bangkit untuk melaksanakan salatnya.

وَلِأَنَّهُ لَمْ يَزَلْ أَهْلُ الْحِجَازِ يَتَرَخَّصُونَ فِيهِ وَيُكْثِرُونَ مِنْهُ، وَهُمْ فِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ وَجِلَّةِ الْفُقَهَاءِ. فَلَا يُنْكِرُونَهُ عَلَيْهِمْ وَلَا يَمْنَعُونَهُمْ مِنْهُ إِلَّا فِي إِحْدَى حَالَتَيْنِ:

Karena penduduk Hijaz senantiasa mengambil keringanan dalam hal ini dan banyak melakukannya, padahal mereka hidup pada masa para sahabat dan para ahli fiqh terkemuka. Maka mereka tidak mengingkari perbuatan itu terhadap penduduk Hijaz dan tidak melarang mereka melakukannya kecuali dalam salah satu dari dua keadaan:

إِمَّا فِي الِانْقِطَاعِ إِلَيْهِ، أَوِ الْإِكْثَارِ مِنْهُ. كَالَّذِي حُكِيَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ كَانَ مُنْقَطِعًا إِلَيْهِ وَمُكْثِرًا مِنْهُ، حَتَّى بَدَّدَ فِيهِ أَمْوَالَهُ، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاوِيَةَ فَقَالَ لِعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ: قُمْ بِنَا إِلَيْهِ، فَقَدْ غَلَبَ هَوَاهُ عَلَى شَرَفِهِ وَمُرُوءَتِهِ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَا عَلَيْهِ وَعِنْدَهُ جَوَارِيهِ، يُغَنِّينَ فَأَمَرَهُنَّ بِالسُّكُوتِ، وَأَذِنَ لَهُمَا فِي الدُّخُولِ، فَلِمَا اسْتَقَرَّ بِهِمَا الْجُلُوسُ قَالَ مُعَاوِيَةُ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، مُرْهُنَّ يَرْجِعْنَ إِلَى مَا كُنَّ عَلَيْهِ. فَرَجَعْنَ يُغَنِّينَ، فَطَرِبَ مُعَاوِيَةُ حَتَّى حَرَّكَ رِجْلَيْهِ عَلَى السَّرِيرِ، فَقَالَ عَمْرٌو: إِنَّ مَنْ جِئْتَ تَلْحَاهُ أَحْسَنُ حَالًا مِنْكَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ: إِلَيْكَ عَنِّي يَا عَمْرُو، فَإِنَّ الْكَرِيمَ طَرُوبٌ.

Baik karena terlalu mengasingkan diri kepadanya, atau terlalu banyak melakukannya. Seperti yang diceritakan bahwa ‘Abdullah bin Ja‘far sangat mengasingkan diri dan banyak menghabiskan waktu untuk itu, sampai-sampai ia menghabiskan hartanya untuk hal tersebut. Berita itu sampai kepada Mu‘awiyah, lalu ia berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Mari kita temui dia, karena hawa nafsunya telah mengalahkan kehormatan dan harga dirinya.” Ketika mereka meminta izin untuk masuk dan di sisinya ada para budak perempuan yang sedang bernyanyi, ia memerintahkan mereka untuk diam dan mengizinkan keduanya masuk. Setelah mereka duduk, Mu‘awiyah berkata, “Wahai ‘Abdullah, perintahkan mereka kembali seperti semula.” Maka para budak perempuan itu kembali bernyanyi, hingga Mu‘awiyah pun terhibur sampai-sampai ia menggerakkan kedua kakinya di atas ranjang. Lalu ‘Amr berkata, “Orang yang engkau datangi untuk menegurnya keadaannya lebih baik daripada engkau.” Maka Mu‘awiyah berkata, “Menjauhlah dariku, wahai ‘Amr, karena orang yang mulia memang mudah terhibur.”

وَإمَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْغَنَاءِ مَا يُكْرَهُ كَالَّذِي رُوِيَ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، وَقَدْ عَادَ ابْنُ جَامِعٍ إِلَى مَكَّةَ بِأَمْوَالٍ جَمَّةٍ حَمَلَهَا مِنَ الْعِرَاقِ فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: عَلَامَ لِعَطَاءِ ابْنِ جَامِعٍ هَذِهِ الْأَمْوَالُ؟ فَقَالُوا: عَلَى الْغِنَاءِ، قَالَ: ” ابْنُ جَامِعٍ مَاذَا يَقُولُ فِيهِ “؟ قَالُوا: يَقُولُ:

Atau bisa jadi dalam nyanyian itu terdapat sesuatu yang tidak disukai, seperti yang diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah. Ketika Ibnu Jami‘ kembali ke Makkah dengan membawa harta yang sangat banyak yang dibawanya dari Irak, ia berkata kepada para sahabatnya: “Untuk apa Ibnu Jami‘ mendapatkan harta sebanyak ini?” Mereka menjawab: “Untuk nyanyian.” Ia berkata: “Apa yang dikatakan Ibnu Jami‘ tentang hal itu?” Mereka menjawab: Ia berkata:

(أُطَوِّفُ بِالْبَيْتِ مع مَنْ يُطَوفُ … وأرفع من مئزر السبل)

Aku bertawaf di Ka’bah bersama orang-orang yang sedang bertawaf… dan aku mengangkat kain izar dari seretannya.

قَالَ: هِيَ السُّنَّةُ. ثُمَّ مَاذَا يَقُولُ؟ قَالُوا:

Dia berkata: Itulah sunnah. Lalu apa lagi yang ia katakan? Mereka menjawab:

(وأسجد بالليل حتى الصباح … وأتلوا مِنَ الْمُحْكَمِ الْمُنْزَلِ)

Dan sujudlah di malam hari hingga pagi… dan bacalah dari Al-Muhkam Al-Munazzal (Al-Qur’an yang diturunkan dan terjaga keotentikannya).

قَالَ: أَحْسَنَ وَأَصْلَحَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالُوا:

Dia berkata: “Dia telah berbuat baik dan memperbaiki. Lalu apa lagi?” Mereka berkata:

(عَسَى فَارِجُ الْهَمِّ عَنْ يُوسُفٍ … يُسَخِّرُ لِي رَبَّهَ الْمَحْمَلِ)

Semoga Dzat yang telah membebaskan Yusuf dari kesedihan, memudahkan bagiku urusan kendaraan ini melalui pertolongan Tuhannya.

قَالَ: أَفْسَدَ الْخَبِيثُ مَا أَصْلَحَ لَا سَخَّرَ اللَّهُ لَهُ.

Dia berkata: Si buruk telah merusak apa yang telah diperbaiki; semoga Allah tidak menundukkannya.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ حَظَرَهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ} [الفرقان: 72] . وَفِيهِ أَرْبَعَةُ تَأْوِيلَاتٍ: –

Orang yang mengharamkannya berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu” (al-Furqan: 72). Ayat ini memiliki empat penafsiran:

أَحَدُهَا: الْغِنَاءُ. قَالَهُ مُجَاهِدٌ.

Salah satunya adalah al-ghinā’ (nyanyian). Hal ini dikatakan oleh Mujāhid.

وَالثَّانِي: أَعْيَادُ أَهْلِ الذِّمَّةِ. قَالَهُ ابْنُ سِيرِينَ.

Yang kedua: hari-hari raya Ahludz-dzimmah. Demikian dikatakan oleh Ibnu Sirin.

وَالثَّالِثُ: الْكَذِبُ. قَالَهُ ابْنُ جُرَيْجٍ.

Ketiga: kebohongan. Demikian dikatakan oleh Ibnu Juraij.

وَالرَّابِعُ: الشِّرْكُ، قَالَهُ الضَّحَّاكُ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Keempat: syirik, demikian dikatakan oleh adh-Dhahhak rahimahullah.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} [الفرقان: 72] . وفيه ثلاث تَأْوِيلَاتٍ:

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan apabila mereka melewati sesuatu yang tidak berguna, mereka melewatinya dengan sikap mulia.” (Al-Furqan: 72). Ayat ini memiliki tiga penafsiran.

أَحَدُهَا: إِذَا ذَكَرُوا الْفُرُوجَ وَالنِّكَاحَ كَنَّوْا عَنْهَا.

Salah satunya: Jika mereka menyebutkan tentang kemaluan dan pernikahan, mereka menggunakan ungkapan kiasan untuk menyebutnya.

وَالثَّانِي: إِذَا مَرُّوا بِالْمَعَاصِي أَنْكَرُوهَا قَالَهُ الْحَسَنُ.

Dan yang kedua: Jika mereka melewati kemaksiatan, mereka mengingkarinya; demikian dikatakan oleh al-Hasan.

وَالثَّالِثُ: إِذَا مَرُّوا بِأَهْلِ الْمُشْرِكِينَ أَنْكَرُوهُ قاله عبد الرحمن بن زيد.

Ketiga: Jika mereka melewati kaum musyrik, mereka mengingkarinya; demikian dikatakan oleh Abdurrahman bin Zaid.

وقاله تَعَالَى: {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ} [لقمان: 6] الْآيَةَ. وَفِي لَهْوَ أَرْبَعَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Dan firman-Nya Ta‘ālā: “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna” (Luqman: 6). Dalam kata “lahw” terdapat empat penafsiran:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ الْغِنَاءُ، قَالَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَعِكْرِمَةُ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَقَتَادَةُ.

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud adalah al-ghinā’ (nyanyian), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas‘ūd, Ibnu ‘Abbās, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, dan Qatādah.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ شِرَاءُ الْمُغَنِّيَاتِ.

Kedua: yaitu membeli para penyanyi wanita.

وَرَوَى الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا يَحِلُّ بَيْعُ الْمُغَنِّيَاتِ وَلَا شِرَاؤُهُنَّ وَلَا التِّجَارَاتُ فِيهِنَّ وَأَثْمَانُهُنَ حَرَامٌ وَفِيهِنَّ أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ “.

Al-Qasim bin Abdurrahman meriwayatkan dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tidak halal menjual para penyanyi perempuan, tidak pula membeli mereka, tidak pula berdagang dengan mereka, dan harga mereka adalah haram. Tentang mereka inilah Allah Ta‘ala menurunkan ayat: ‘Dan di antara manusia ada orang yang membeli perkataan yang tidak berguna.'”

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ شِرَاءُ الطَّبْلِ وَالْمِزْمَارِ، قَالَهُ عَبْدُ الْكَرِيمِ.

Ketiga: bahwa itu adalah pembelian rebana dan seruling, sebagaimana dikatakan oleh ‘Abd al-Karim.

وَالرَّابِعُ: أَنَّهُ مَا أَلْهَى عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، قَالَهُ الْحَسَنُ.

Keempat: bahwa (musik) adalah sesuatu yang melalaikan dari Allah Ta‘ala, sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan.

وَفِي قَوْله تَعَالَى: {لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} [لقمان: 6] تَأْوِيلَانِ:

Dalam firman Allah Ta‘ala: {agar menyesatkan (manusia) dari jalan Allah} [Luqman: 6] terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: لِيَمْنَعَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ.

Salah satunya adalah untuk melarang membaca Al-Qur’an, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي: لِيَصُدَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ. حَكَاهُ الطَّبَرِيُّ.

Dan yang kedua: agar dapat menghalangi dari jalan Allah. Hal ini diriwayatkan oleh ath-Thabari.

وَفِي قَوْلِهِ {بِغَيْرِ عِلْمٍ} : تَأْوِيلَانِ. أَحَدُهُمَا: بِغَيْرِ حُجَّةٍ. وَالثَّانِي: بِغَيْرِ رِوَايَةٍ.

Dalam firman-Nya {bi-ghayri ‘ilm}: terdapat dua penafsiran. Pertama: tanpa hujjah. Kedua: tanpa riwayat.

وَفِي قَوْله تَعَالَى: {وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا} [لقمان: 6] تَأْوِيلَانِ:

Dalam firman Allah Ta‘ala: {dan menjadikannya sebagai olok-olokan} [Luqman: 6] terdapat dua tafsiran:

أَحَدُهُمَا: تَكْذِيبًا.

Salah satunya: sebagai bentuk pendustaan.

وَالثَّانِي: اسْتِهْزَاءً بِهَا.

Yang kedua: memperolok-oloknya.

وَمِنَ السُّنَّةِ مَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الْبَقْلَ “.

Dan di antara sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.”

وَرُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” الْغِنَاءُ نَهِيقُ الشَّيْطَانِ “.

Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: “Nyanyian adalah ringkikan setan.”

وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَنْهَاكُمْ عَنْ صَوْتَيْنِ فَاجِرَيْنِ الْغِنَاءِ وَالنِّيَاحَةِ “.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku melarang kalian dari dua suara yang tercela, yaitu nyanyian dan ratapan.”

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: الْغِنَاءُ رُقْيَةُ الزِّنَا.

Sebagian ulama salaf berkata: “Lagu adalah jampi-jampi perzinaan.”

وَإِذَا تَقَابَلَ بِمَا ذَكَرْنَا، دَلَائِلُ الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ، يَخْرُجُ مِنْهَا حُكْمُ الْكَرَاهَةِ. فَلَمْ يُحْكَمْ بِإِبَاحَتِهِ، لِمَا قَابَلَهُ من دلائل الحظر والإباحة وَلَمْ نَحْكُمْ بِحَظْرِهِ لِمَا قَابَلَهُ مِنْ دَلَائِلِ الإباحة. ” فصار يتردده بَيْنَهُمَا مَكْرُوهًا غَيْرَ مُبَاحٍ وَلَا مَحْظُورٍ “.

Apabila dalil-dalil larangan dan kebolehan saling berhadapan sebagaimana telah kami sebutkan, maka dari situ lahirlah hukum makruh. Maka, tidak diputuskan kebolehannya karena adanya dalil-dalil larangan yang berhadapan dengannya, dan tidak pula diputuskan keharamannya karena adanya dalil-dalil kebolehan yang berhadapan dengannya. Maka, ia berada di antara keduanya sebagai sesuatu yang makruh, bukan mubah dan bukan pula mahzūr (terlarang).

وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنِ الْغِنَاءِ: أَحَلَالٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا قَالَ: أَحَرَامٌ هُوَ؟ قَالَ: ” لَا ” يُرِيدُ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ لِتَوَسُّطِهِ بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang musik: “Apakah itu halal?” Ia menjawab: “Tidak.” Ia bertanya lagi: “Apakah itu haram?” Ia menjawab: “Tidak.” Maksudnya adalah bahwa musik itu makruh karena berada di antara halal dan haram. Dan Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي الْمَلَاهِي] )

(Pembahasan tentang al-malāhī)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْمَلَاهِي فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: حَرَامٍ، وَمَكْرُوهٍ، وَحَلَالٍ.

Adapun hiburan terbagi menjadi tiga jenis: haram, makruh, dan halal.

فَأَمَّا الْحَرَامُ: فَالْعُودُ وَالطُّنْبُورُ وَالْمِعْزَفَةُ وَالطَّبْلُ وَالْمِزْمَارُ وَمَا أَلْهَى بِصَوْتٍ مُطْرِبٍ إِذَا انْفَرَدَ.

Adapun yang haram: yaitu ‘ūd, tunbūr, mi‘zafah, tabl, mizmar, dan segala sesuatu yang melalaikan dengan suara yang merdu jika dimainkan secara sendiri.

وَرَوَى عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى أُمَّتِي الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْمِزْرَ وَالْكُوبَةَ وَالْمَزَامِيرَ وَالْقِنِّينَ “.

Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamr, maisir, mizr, kubah, mazamir, dan qinnin.”

فَالْمَيْسِرُ الْقِمَارُ، والمزر نبيذ الذرة، والكوبة الطبل. والقنين البريط. وَلِأَنَّهَا تُلْهِي عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَنِ الصلاة كالشراب.

Maysir adalah judi, mizr adalah minuman keras dari jagung, kubah adalah genderang, dan qanīn adalah alat musik Inggris. Karena semua itu melalaikan dari mengingat Allah Ta‘ala dan dari salat seperti halnya minuman keras.

وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَخُصُّ الْعَوْدَ مِنْ بَيْنِهَا وَلَا يُحَرِّمُهُ، لِأَنَّهُ مَوْضُوعٌ عَلَى حَرَكَاتٍ نَفْسَانِيَّةٍ تَنْفِي الْهَمَّ، وَتُقَوِّي الْهِمَّةَ وَتَزِيدُ فِي النَّشَاطِ.

Sebagian dari ulama kami mengkhususkan alat musik ‘ūd di antara alat-alat musik lainnya dan tidak mengharamkannya, karena alat itu diciptakan untuk menghasilkan gerakan-gerakan jiwa yang menghilangkan kegelisahan, menguatkan semangat, dan menambah aktivitas.

وَهَذَا لَا وَجْهَ لَهُ، لِأَنَّهُ أَكْثَرُ الْمَلَاهِي طَرَبًا، وَأَشْغَلُهَا عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَنِ الصَّلَاةِ. وَإِنْ تَمَيَّزَ بِهِ الْأَمَاثِلُ عَنِ الْأَرَاذِلِ.

Dan pendapat ini tidak memiliki dasar, karena alat musik ini adalah yang paling menimbulkan kegembiraan di antara alat-alat hiburan, dan paling banyak melalaikan dari mengingat Allah Ta‘ala dan dari salat, meskipun dengannya orang-orang terhormat membedakan diri dari orang-orang rendahan.

وَأَمَّا الْمَكْرُوهُ: فَمَا زَادَ بِهِ الْغِنَاءُ طَرَبًا، وَلَمْ يَكُنْ بِانْفِرَادِهِ مُطْرِبًا. كَالْفُسَحِ، وَالْقَضِيبِ. فَيُكْرَهُ مَعَ الْغِنَاءِ لِزِيَادَةِ إِطْرَابِهِ. وَلَا يُكْرَهُ إِذَا انْفَرَدَ لِعَدَمِ إِطْرَابِهِ.

Adapun yang makruh adalah sesuatu yang menambah nyanyian menjadi lebih merdu, namun jika berdiri sendiri tidak membuat merdu. Seperti alat musik fusha dan qadhīb. Maka hal itu dimakruhkan jika disertai nyanyian karena menambah kemerduan. Namun tidak dimakruhkan jika dimainkan sendiri karena tidak menimbulkan kemerduan.

وَأَمَّا الْمُبَاحُ: فَمَا خَرَجَ عَنْ آلَةِ الْإِطْرَابِ. إِمَّا إِلَى إِنْذَارٍ كَالْبُوقِ، وَطَبْلِ الْحَرْبِ. أَوْ لِمَجْمَعٍ وَإِعْلَانٍ كَالدُّفِّ فِي النِّكَاحِ، كَمَا قَالَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْه وَسَلَامُهُ: ” أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفِّ “.

Adapun yang mubah adalah apa yang keluar dari fungsi sebagai alat musik penghibur, baik untuk tujuan memberi peringatan seperti terompet dan genderang perang, atau untuk mengumpulkan orang dan pengumuman seperti rebana dalam pernikahan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Umumkanlah pernikahan ini dan tabuhlah rebana untuknya.”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ ضَرْبُ الدُّفِّ عَلَى النِّكَاحِ عَامٌّ فِي كُلِّ الْبُلْدَانِ وَالْأَزْمَانِ؟ فَعَمَّ بَعْضُهُمْ لِإِطْلَاقِهِ وَخَصَّ بَعْضُهُمْ فِي الْبُلْدَانِ الَّتِي لَا يَتَنَاكَرُ أَهْلُهَا فِي الْمَنَاكِحِ. كَالْقُرَى وَالْبَوَادِي وَيُكْرَهُ فِي غَيْرِهَا، فِي مِثْلِ زَمَانِنَا، لِأَنَّهُ قَدْ عُدِلَ بِهِ إِلَى السَّخَفِ وَالسَّفَاهَةِ.

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah memukul duff (rebana) pada acara pernikahan berlaku umum di seluruh negeri dan masa. Sebagian mereka menganggapnya berlaku umum karena keumuman lafaznya, sementara sebagian lain mengkhususkannya pada negeri-negeri yang penduduknya tidak menganggapnya aneh dalam pernikahan, seperti di desa-desa dan pedalaman, dan memakruhkannya di selain itu, seperti di zaman kita sekarang, karena telah berubah menjadi sesuatu yang dianggap tidak pantas dan kebodohan.

فَأَمَّا الشَّبَّابَةُ: فَهِيَ فِي الْأَمْصَارِ مَكْرُوهَةٌ، لِأَنَّهَا مُسْتَعْمَلَةٌ فِيهَا لِلسُّخْفِ وَالسَّفَاهَةِ وَهِيَ فِي الْأَسْفَارِ وَالرُّعَاةِ مُبَاحَةٌ، لِأَنَّهَا تَحُثُّ عَلَى السَّيْرِ وَتَجْمَعُ الْبَهَائِمَ إِذَا سَرَحَتْ.

Adapun syabbābah, maka di kota-kota hukumnya makruh karena di sana digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna dan kebodohan. Sedangkan dalam perjalanan dan bagi para penggembala, hukumnya mubah karena dapat mendorong untuk berjalan dan mengumpulkan hewan ternak ketika dilepas.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ أَحْكَامُ الْأَغَانِي وَالْمَلَاهِي، فَإِنْ قِيلَ بِتَحْرِيمِهَا فَهِيَ مِنَ الصَّغَائِرِ دُونَ الْكَبَائِرِ يُفْتَقَرُ إِلَى الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا تُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ إِلَّا مَعَ الْإِصْرَارِ.

Maka apabila telah ditetapkan hukum tentang lagu dan hiburan, jika dikatakan bahwa keduanya haram, maka itu termasuk dosa-dosa kecil, bukan dosa besar, yang membutuhkan istighfar, dan kesaksian seseorang tidak ditolak karenanya kecuali jika ia terus-menerus melakukannya.

وَإِنْ قِيلَ بِكَرَاهَتِهَا، فَهِيَ مِنَ الْخَلَاعَةِ لَا يُفْتَقَرُ إِلَى الِاسْتِغْفَارِ وَلَا تُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ إِلَّا مَعَ الْإِصْرَارِ، وَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ فَالْكَلَامُ فِيهَا يَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ فُصُولٍ:

Dan jika dikatakan bahwa hal itu makruh, maka ia termasuk perbuatan khala‘ah yang tidak memerlukan istighfar dan tidak menyebabkan kesaksian ditolak kecuali jika dilakukan secara terus-menerus. Jika demikian, maka pembahasan tentangnya mencakup tiga bagian:

أَحَدُهَا: فِيمَنْ بَاشَرَهَا بِنَفْسِهِ.

Salah satunya: pada orang yang melakukannya sendiri.

وَالثَّانِي: فِيمَنْ يَسْتَعْمِلُهَا لِلَهْوِهِ.

Dan yang kedua: tentang orang yang menggunakannya untuk hiburannya.

وَالثَّالِثُ: فِيمَنْ يَغْشَى أَهْلَهَا.

Ketiga: tentang orang yang berhubungan intim dengan istrinya.

فَأَمَّا الْمُبَاشِرُ لَهَا بِنَفْسِهِ فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Adapun orang yang melakukannya secara langsung, maka ia memiliki tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَصِيرَ مَنْسُوبًا إِلَيْهَا وَمُسَمًّى بِهَا، يُقَالُ إِنَّهُ مُغَنِّي يَأْخُذُ عَلَى غِنَائِهِ أَجْرًا، يَدْعُوهُ النَّاسُ إِلَى دُورِهِمْ أَوْ يَغْشَوْنَهُ لِذَلِكَ فِي دَارِهِ، فَهَذَا سَفِيهٌ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ تَعَرَّضَ لِأَخْبَثِ الْمَكَاسِبِ وَنُسِبَ إِلَى أَقْبَحِ الْأَسْمَاءِ.

Salah satunya: yaitu seseorang menjadi dinisbatkan kepadanya dan disebut dengannya, dikatakan bahwa ia adalah seorang penyanyi yang mengambil upah dari nyanyiannya, orang-orang mengundangnya ke rumah mereka atau mendatanginya di rumahnya untuk itu. Maka orang seperti ini adalah orang yang dungu dan kesaksiannya ditolak, karena ia telah menjerumuskan diri pada pekerjaan yang paling buruk dan dinisbatkan kepada nama yang paling tercela.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُغَنِّيَ لِنَفْسِهِ إِذَا خَلَا في داره باليسر اسْتِرْوَاحًا فَهَذَا مَقْبُولُ الشَّهَادَةِ وَقَدْ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا خَلَا فِي دَارِهِ يَتَرَنَّمُ بِالْبَيْتِ وَالْبَيْتَيْنِ:

Keadaan kedua: seseorang bernyanyi untuk dirinya sendiri ketika sendirian di rumahnya dengan santai sebagai hiburan, maka orang seperti ini diterima kesaksiannya. Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dahulu, jika sedang sendirian di rumahnya, beliau melantunkan satu atau dua bait syair.

وَاسْتُؤْذِنَ عَلَيْهِ ذَاتَ يَوْمٍ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَهُوَ يَتَرَنَّمُ. فَقَالَ: أَسَمِعْتَنِي يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ: إِنَّا إِذَا خَلَوْنَا فِي مَنَازِلِنَا نَقُولُ كَمَا يَقُولُ النَّاسُ.

Pada suatu hari, ‘Abdurrahman bin ‘Auf meminta izin untuk masuk menemuinya, sementara ia sedang bersenandung. Lalu ia berkata, “Apakah engkau mendengarku, wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Ya.” Ia pun berkata, “Sesungguhnya ketika kami berada sendirian di rumah kami, kami mengatakan apa yang biasa dikatakan orang-orang.”

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَكَانَ مِنْ زُهَّادِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ قَالَ: إِنِّي لَأَجُمُّ قَلْبِي بِشَيْءٍ مِنَ الْبَاطِلِ لِأَسْتَعِينَ بِهِ عَلَى الْحَقِّ.

Diriwayatkan dari Abu Darda’, yang merupakan salah satu ahli zuhud di kalangan sahabat, bahwa ia berkata: “Sesungguhnya aku menyegarkan hatiku dengan sesuatu yang tidak bermanfaat agar aku dapat menguatkan diri dalam menegakkan kebenaran.”

فَإِنْ قَرَنَ يَسِيرَ غِنَائِهِ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَلَاهِي مِمَّا حَظَرْنَاهُ، نُظِرَ.

Jika ia mengiringi sedikit nyanyiannya dengan sesuatu dari alat-alat hiburan yang telah kami larang, maka perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ خَرَجَ صَوْتُهُ عَنْ دَارِهِ حَتَّى يُسْمَعَ مِنْهَا، كَانَ سَفَهًا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Jika suaranya terdengar keluar dari rumahnya hingga dapat didengar dari luar, maka itu dianggap sebagai tindakan tidak sopan yang menyebabkan kesaksiannya ditolak.

وَإِنْ خَافَتْ بِهِ وَلَمْ يُسْمَعْ، كَانَ عَفْوًا إِذَا قَلَّ وَلَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Dan jika ia khawatir akan hal itu namun tidak terdengar, maka itu dimaafkan jika sedikit dan kesaksian tidak ditolak karenanya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُغَنِّيَ إِذَا اجْتَمَعَ مَعَ إِخْوَتِهِ لِيَسْتَرْوِحُوا بِصَوْتِهِ وَلَيْسَ بِمُنْقَطِعٍ عَلَيْهِ. وَلَا يَأْخُذُ عَلَيْهِ أَجْرًا نُظِرَ:

Keadaan ketiga: yaitu ketika ia bernyanyi saat berkumpul bersama saudara-saudaranya untuk menghibur mereka dengan suaranya, dan ia tidak melakukannya secara khusus untuk dirinya sendiri. Ia juga tidak mengambil upah atas hal itu. Maka, hal ini perlu diperhatikan:

فَإِنْ كَانَ مَشْهُورًا بِهِ يَدْعُوهُ النَّاسُ لِأَجْلِهِ. كَانَ سَفَهًا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ، وَإِنْ لَمْ يَشْتَهِرْ بِهِ، وَلَا دَعَا النَّاسَ لِأَجْلِهِ، نُظِرَ.

Jika seseorang terkenal dengan hal itu sehingga orang-orang memanggilnya karena hal tersebut, maka itu merupakan kefasikan yang menyebabkan kesaksiannya ditolak. Namun jika ia tidak terkenal dengan hal itu, dan orang-orang tidak memanggilnya karena hal tersebut, maka perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ كَانَ مُتَظَاهِرًا بِهِ مُعْلِنًا لَهُ، رُدَّتْ شَهَادَتُهُ. وَإِنْ كَانَ مُسْتَتِرًا بِهِ، لَمْ تُرَدَّ شَهَادَتُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika seseorang menampakkan dan memperlihatkan perbuatannya itu secara terang-terangan, maka kesaksiannya ditolak. Namun jika ia melakukannya secara tersembunyi, maka kesaksiannya tidak ditolak. Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ مُسْتَمِعِ الْغِنَاءِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian pendengar nyanyian)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا مُسْتَمِعُ الْغِنَاءِ. فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Adapun pendengar nyanyian, maka ia memiliki tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَصِيرَ منقطعا إليه، يدفع عليه حذرا وَيَتَّبِعُ فِيهِ أَهْلَ الْخُدُورِ فَهَذَا سَفِيهٌ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ.

Salah satunya: seseorang menjadi sangat bergantung padanya, selalu membelanya dengan penuh kewaspadaan, dan mengikuti dalam hal itu perilaku orang-orang yang hidup menyendiri; maka orang seperti ini adalah safīh (bodoh) yang kesaksiannya ditolak.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقِلَّ اسْتِمَاعُهُ، وَيَسْمَعَهُ أَحْيَانًا فِي خَلْوَتِهِ اسْتِرْوَاحًا بِهِ فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ إِذَا لَمْ يَقْصِدِ الِاسْتِمَاعَ غناء امْرَأَةٍ غَيْرِ ذَاتِ مَحْرَمٍ.

Keadaan kedua: jika ia jarang mendengarkannya, dan kadang-kadang mendengarnya saat sendirian untuk mencari hiburan, maka ia tetap dalam keadaan adil dan kesaksiannya dapat diterima selama ia tidak bermaksud mendengarkan nyanyian perempuan yang bukan mahram.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” رَوِّحُوا الْقُلُوبَ تَعِي الذِّكْرَ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Segarkanlah hati agar dapat memahami dzikir.”

وَالْحَالُ الثالثة: أن يتوسط بين المكثر والمقل نظر.

Keadaan ketiga: yaitu berada di tengah-tengah antara yang banyak dan yang sedikit, ini membutuhkan pertimbangan.

فَإِنِ اشْتُهِرَ بِهِ وَانْقَطَعَ بِهِ عَنْ أَشْغَالِهِ، صار سفهيا مَرْدُودَ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ لَمْ يَشْتَهِرْ بِهِ وَلَا قَطَعَهُ عَنْ أَشْغَالِهِ، فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Jika seseorang menjadi terkenal karena hal itu dan terputus dari pekerjaannya karenanya, maka ia menjadi safih (orang yang tidak bijak) dan kesaksiannya ditolak. Namun jika ia tidak terkenal karena hal itu dan tidak terputus dari pekerjaannya, maka ia tetap dalam keadaan ‘adālah (integritas) dan kesaksiannya diterima.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا مُقْتَنِي الْمُغَنِّيِينَ وَالْمُغَنِّيَاتِ مِنَ الْغِلْمَانِ وَالْجَوَارِي فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ: أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ جَلِيسًا لَهُمْ، وَمَقْصُودًا لِأَجْلِهِمْ، فَهَذَا سَفِيهٌ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ وَحَالُهُ فِي الْجَوَارِي أَغْلَظُ مِنْ حَالِهِ فِي الْغِلْمَانِ. قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” لِأَنَّهُ قَدْ جَمَعَ سَفَهًا وَدَنَاءَةً “.

Adapun orang yang memelihara para penyanyi laki-laki dan perempuan dari kalangan budak laki-laki dan budak perempuan, maka ada tiga keadaan baginya: Pertama, ia duduk bersama mereka dan kehadirannya memang dimaksudkan untuk mereka, maka orang seperti ini adalah orang dungu yang kesaksiannya ditolak, dan keadaannya bersama budak perempuan lebih berat daripada keadaannya bersama budak laki-laki. Asy-Syafi‘i berkata: “Karena ia telah mengumpulkan antara kebodohan dan kehinaan.”

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقْتَنِيَ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ لِيَسْتَمِعَ غِنَاءَهُمْ إِذَا خَلَا، مُقْبِلًا مُسْتَتِرًا، غَيْرَ مُكَاثِرٍ وَلَا مُجَاهِرٍ. فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Keadaan kedua: yaitu seseorang memiliki hal itu untuk dirinya sendiri agar dapat mendengarkan nyanyian mereka ketika sedang sendirian, dengan sikap menerima dan secara tersembunyi, tidak untuk berbangga-bangga atau terang-terangan. Maka ia tetap dalam keadaan adil dan kesaksiannya tetap dapat diterima.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَدْعُوَ مَنْ يُشَارِكُهُ فِي سَمَاعِهِمْ فَيُنْظَرُ:

Keadaan yang ketiga: yaitu apabila ia mengajak orang lain yang bersamanya dalam mendengarkan mereka, maka hal ini perlu diperhatikan:

فإن كان يدعوهم من لأجل السَّمَاعِ، رُدَّتْ شَهَادَتُهُ.

Jika seseorang mengundang mereka hanya untuk mendengarkan, maka kesaksiannya ditolak.

وَإِنْ دَعَاهُمْ لِغَيْرِ الْغِنَاءِ، نُظِرَ.

Dan jika ia mengundang mereka bukan untuk bernyanyi, maka hal itu perlu diteliti.

فَإِنْ كَثُرَ حَتَّى اشْتُهِرَ، رُدَّتْ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ قَلَّ وَلَمْ يَشْتَهِرْ، فَإِنْ كَانَ الْغِنَاءُ مِنْ غُلَامٍ، لَمْ تُرَدَّ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ كَانَ الْغِنَاءُ مِنْ جَارِيَةٍ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَتْ حُرَّةً رُدَّتْ شَهَادَتُهُ وَشَهَادَةُ مُسْتَمِعِهَا إِذَا اعْتَمَدَ الْمُسْتَمِعُ سَمَاعَهَا، وَإِنْ لَمْ يَعْتَمِدْ لَمْ تُرَدَّ شَهَادَتُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَمَّةً فَسَمَاعُهَا أَخَفُّ مِنْ سَمَاعِ الْحُرَّةِ. لِنَقْصِهَا فِي الْعَوْرَةِ وَأَغْلَظُ مِنْ سَمَاعِ الْغُلَامِ لِزِيَادَتِهَا فِي الْعَوْرَةِ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَغْلِبَ نَقْصُهَا عَنِ الْحُرَّةِ وَإِجْرَائِهَا مَجْرَى الْغُلَامِ. فَلَا تُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَغْلِبَ زِيَادَتُهَا عَلَى الْغُلَامِ وَإِجْرَائِهَا مَجْرَى الْحُرَّةِ فَتُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika perbuatan itu banyak hingga menjadi terkenal, maka kesaksiannya ditolak. Namun jika sedikit dan tidak terkenal, maka jika nyanyian itu berasal dari seorang anak laki-laki, kesaksiannya tidak ditolak. Jika nyanyian itu berasal dari seorang perempuan, maka perlu dilihat lagi: jika ia seorang perempuan merdeka, maka kesaksiannya dan kesaksian orang yang mendengarkannya ditolak jika pendengar tersebut memang sengaja mendengarkannya. Jika tidak sengaja, maka kesaksiannya tidak ditolak. Jika perempuan itu adalah seorang budak, maka mendengarkan nyanyiannya lebih ringan daripada mendengarkan nyanyian perempuan merdeka karena auratnya lebih ringan, namun lebih berat daripada mendengarkan nyanyian anak laki-laki karena auratnya lebih banyak. Maka dimungkinkan kekurangan auratnya dibandingkan perempuan merdeka lebih dominan sehingga diperlakukan seperti anak laki-laki, sehingga kesaksiannya tidak ditolak karenanya. Namun juga dimungkinkan kelebihan auratnya atas anak laki-laki lebih dominan sehingga diperlakukan seperti perempuan merdeka, sehingga kesaksiannya ditolak karenanya. Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْحَادِي والراجز] )

(Pembahasan tentang kesaksian al-hādi dan ar-rājiz)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” فَأَمَّا الِاسْتِمَاعُ لِلْحُدَاءِ وَنَشِيدِ الْأَعْرَابِ فَلَا بَأْسَ بِهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلشَّرِيدِ ” أَمَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ شَيْءٌ؟ ” قَالَ نَعَمْ قَالَ ” هِيهِ ” فَأَنْشَدَهُ بَيْتًا فَقَالَ ” هِيهِ ” حَتَّى بَلَغَتْ مِائَةَ بَيْتٍ وَسَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْحُدَاءَ وَالرَّجَزَ وَقَالَ لِابْنِ رَوَاحَةَ ” حَرِّكْ بِالْقَوْمِ ” فاندفع يرجز (قال المزني) رحمه الله سمعت الشافعي يقول كان سعيد بن جبير يلعب بالشطرنج استدبارا فقلت له كيف يلعب بها استدبارا؟ قال يوليها ظهره ثم يقول: ” بأي شيء وقع ” فيقول بكذا فيقول أوقع عليه بكذا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Adapun mendengarkan al-ḥudā’ (nyanyian pengiring unta) dan nasyid orang-orang Arab, maka tidak mengapa dengannya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada asy-Syarīd: ‘Apakah engkau memiliki syair dari Umayyah?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Bacakanlah.’ Maka ia membacakan satu bait, lalu beliau bersabda: ‘Lanjutkan.’ Hingga mencapai seratus bait. Rasulullah ﷺ juga pernah mendengarkan al-ḥudā’ dan rajaz, dan beliau berkata kepada Ibnu Rawāḥah: ‘Gerakkanlah semangat orang-orang itu!’ Maka Ibnu Rawāḥah pun mulai melantunkan rajaz.” (Al-Muzanī raḥimahullāh berkata: Aku mendengar Imam Syafi‘i berkata: “Sa‘īd bin Jubair bermain catur dengan membelakanginya.” Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana ia bermain catur dengan membelakanginya?” Ia menjawab: “Ia membelakangi papan catur, lalu berkata: ‘Dengan apa yang terjadi?’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Dengan begini.’ Lalu ia berkata: ‘Letakkan ini di atas itu.’”)

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. لَا بَأْسَ بِالْحُدَاءِ وَنَشِيدِ الْأَعْرَابِ، وَالشِّعْرِ، وَالرَّجَزِ، وَهُوَ مُبَاحٌ لَا كَرَاهَةَ فِيهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Tidak mengapa dengan al-huda’, nasyid orang Arab, syair, dan rajaz, dan itu diperbolehkan serta tidak makruh di dalamnya.

وَرَوَى ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ: كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَيْلَةَ نَامَ بِالْوَادِي حَادِيَانِ.

Ibnu Mas‘ud meriwayatkan, ia berkata: Pada malam ketika Rasulullah ﷺ bermalam di lembah, ada dua orang pemandu yang bersama beliau.

وَرَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كُنَّا فِي سَفَرٍ مَعَ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ جَيِّدَ الْحُدَاءِ، فَكَانَ مَعَ الرِّجَالِ وَكَانَ أَنْجَشَةُ مَعَ النِّسَاءِ، فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ: ” حَرِّكْ بِالْقَوْمِ “. فَانْدَفَعَ يَرْتَجِزُ وَتَبِعَهُ أَنْجَشَةُ فَأَعْنَقَتِ الْإِبِلُ فِي السَّيْرِ فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” رُويْدَكَ يَا أَنْجَشَةُ رِفْقًا بِالْقَوَارِيرِ ” يَعْنِي النِّسَاءَ.

Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Kami pernah dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Abdullah bin Rawahah adalah orang yang pandai melantunkan syair untuk mengiringi perjalanan, maka ia bersama para laki-laki, sedangkan Anjasyah bersama para wanita. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdullah bin Rawahah: “Gerakkanlah orang-orang itu.” Maka ia mulai melantunkan syair dan diikuti oleh Anjasyah, sehingga unta-unta berjalan dengan cepat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perlahanlah, wahai Anjasyah, berhati-hatilah terhadap kaca-kaca itu,” maksudnya adalah para wanita.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ثُمَّ قَالَ ” أَمَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ شَيْءٌ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ. فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا آخَرَ. فَقَالَ: هِيهِ. فَأَنْشَدْتُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ مِائَةَ بَيْتٍ “.

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amr bin Syarid, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ memboncengku, kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki syair Umayyah bin Abi Shalt?” Aku menjawab, “Ya.” Maka aku membacakan satu bait kepadanya, lalu beliau bersabda, “Lanjutkan.” Maka aku membacakan satu bait lagi, lalu beliau bersabda, “Lanjutkan.” Maka aku terus membacakannya hingga mencapai seratus bait.

” وَهِيهِ ” مَوْضُوعَةٌ فِي الْكَلَامِ لِلْحَثِّ وَالِاسْتِزَادَةِ، وَإِنَّمَا اسْتَحْسَنَ شَعْرَ أُمَيَّةَ لِأَنَّ أَكْثَرَهُ عِبَرٌ وَأَمْثَالٌ، وَأَذْكَارٌ بِالْبَعْثِ وَالنُّشُورِ وَوَعْدٌ وَوَعِيدٌ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ.

“Kata ‘wahīh’ digunakan dalam percakapan untuk mendorong dan meminta tambahan. Ia menganggap syair Umayyah indah karena sebagian besar isinya berupa pelajaran dan perumpamaan, serta pengingat tentang kebangkitan dan hari berbangkit, juga janji dan ancaman mengenai surga dan neraka.”

وروي أنه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ فِيهِ: ” إِنْ كَادَ لَيُسْلِمَ “.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya: “Sungguh hampir saja ia masuk Islam.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ لَقِيَ فِي سَفَرٍ رَكْبًا مِنْ بَنِي تَمِيمٍ مَعَهُمْ حَادٍ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَحْدُوا، فَقَالُوا: إِنَّ حَادِيَنَا حَدَا وَنَامَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ. ثُمَّ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا أَوَّلُ الْعَرَبِ حُدَاءً بِالْإِبِلِ. قَالَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: إِنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تُغِيرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ، فَأَغَارَ رَجُلٌ مِنَّا عَلَى إِبِلٍ فَاسْتَاقَهَا فَتَبَدَّدَتْ. فَضَرَبَ غُلَامَهُ عَلَى يَدِهِ، فَكَانَ الْغُلَامُ كُلَّمَا ضَرَبَهُ صَاحَ وَايَدَاهُ {وَايَدَاهُ} وَالْإِبِلُ تَجْتَمِعُ لِحُسْنِ صَوْتِهِ. وَهُوَ يَقُولُ: هَكَذَا أَفْعَلُ. وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَضْحَكُ. فَقَالَ: وَمِمَّنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوا: مِنْ مُضَرَ فقال: ” ونحن من مضر فكيف كُنْتُمْ أَوَّلَ الْعَرَبِ حُدَاءً “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau dalam suatu perjalanan bertemu dengan rombongan dari Bani Tamim yang bersama mereka ada seorang penyanyi unta (hādī), lalu beliau memerintahkan mereka untuk bernyanyi, namun mereka berkata, “Penyanyi kami telah bernyanyi dan tertidur di akhir malam.” Kemudian mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami adalah orang Arab pertama yang bernyanyi untuk unta.” Beliau bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Mereka menjawab, “Dahulu orang Arab saling menyerang satu sama lain, lalu seorang dari kami menyerang unta-unta dan menggiringnya hingga tercerai-berai. Maka ia memukul budaknya pada tangannya, setiap kali dipukul budak itu berteriak ‘Wāyadāh, wāyadāh’ dan unta-unta pun berkumpul karena indahnya suaranya. Ia berkata, ‘Beginilah yang aku lakukan,’ dan Nabi ﷺ tertawa. Kemudian beliau bertanya, ‘Kalian dari kabilah mana?’ Mereka menjawab, ‘Dari Mudhar.’ Maka beliau bersabda, ‘Kami juga dari Mudhar, lalu bagaimana kalian bisa menjadi orang Arab pertama yang bernyanyi untuk unta?’”

فَدَلَّ هَذَا الْخَبَرُ عَلَى إِنْشَادِ الرَّجَزِ وَإِبَاحَةِ الْحُدَاءِ، وَجَوَازِ الضَّحِكِ عِنْدَ التَّعَجُّبِ وَلِأَنَّ الْحُدَاءَ غَيْرُ مَقْصُودٍ بِهِ اللَّهْوُ كَالْغِنَاءِ، وَإِنَّمَا يُقْصَدُ بِهِ حَثُّ الْمُطِيِّ وَإِعْنَاقِ السَّيْرِ. فَلَمْ تَتَوَجَّهْ إِلَيْهِ كَرَاهِيَةٌ.

Maka hadis ini menunjukkan kebolehan melantunkan rajaz dan dihalalkannya al-hudā’, serta dibolehkannya tertawa ketika merasa takjub. Sebab al-hudā’ tidak dimaksudkan untuk hiburan seperti nyanyian, melainkan tujuannya adalah untuk mendorong hewan tunggangan agar berjalan lebih cepat. Oleh karena itu, tidak ada unsur makruh padanya.

وَلِأَنَّ الحداء الحسن الرجز فيباح بالصوت الشجمي. فَيُخَفِّفُ كِلَالَ السَّفَرِ، وَيُحْدِثُ نَشَاطَ النَّفْسِ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْكَرَاهَةِ وَجْهٌ. وَسَوَاءٌ فِيهِ الْحَادِي وَالْمُسْتَمِعُ.

Karena lantunan syair rajaz yang indah (al-hadā’) diperbolehkan dengan suara yang merdu. Hal itu dapat meringankan keletihan dalam perjalanan dan membangkitkan semangat jiwa, sehingga tidak ada alasan untuk memakruhkannya. Baik yang melantunkan maupun yang mendengarkan, keduanya sama hukumnya.

وَهَكَذَا التَّغَنِّي بِالرُّكَانِيَّةِ مُبَاحٌ، لِأَنَّهُ ضَرْبٌ مِنَ الْحُدَاءِ، يَعْدِلُ فِيهِ عَنْ أَلْحَانِ الْغِنَاءِ.

Demikian pula, bernyanyi dengan nada Rukaniyyah itu diperbolehkan, karena ia termasuk jenis al-huda’, yang dalam hal ini berbeda dari melodi nyanyian.

وَرُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، اسْتَقْبَلَهُ الْأَنْصَارُ وَخَرَجَ إِلَيْهِ الْفِتْيَانُ بِالدُّفُوفِ وَهُمْ يُنْشِدُونَ:

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika hijrah ke Madinah, beliau disambut oleh kaum Anshar dan para pemuda keluar menemuinya dengan membawa duff (rebana) sambil melantunkan syair:

(طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا … مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ)

Telah terbit bulan purnama di atas kami … dari celah-celah Wada‘.

(وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا … مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعِ)

Wajib bagi kita untuk bersyukur … selama masih ada orang yang berdoa kepada Allah.

وَمَرَّ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِبَعْضِ أَزِقَّةِ الْمَدِينَةِ فَسَمِعَ جِوَارِيَ لِبَنِي النَّجَّارِ يُنْشِدُونَ:

Rasulullah ﷺ pernah melewati salah satu gang di Madinah, lalu beliau mendengar beberapa anak perempuan dari Bani Najjar sedang melantunkan syair:

(نَحْنُ جَوَارٍ لِبَنِي النَّجَّارِ … يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ)

Kami adalah para wanita dari Bani Najjar … alangkah mulianya Muhammad sebagai tetangga.

فَقَالَ: ” يَا حَبَّذَا أَنْتُنَّ “.

Maka beliau berkata, “Alangkah baiknya kalian.”

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَ هَكَذَا كَانَ تَحْسِينُ الصَّوْتِ بِذِكْرِ اللَّهِ وَالْقُرْآنِ أَوْلَى مَحْبُوبًا (قَالَ الشَّافِعِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ كَإِذْنِهِ لِنَبِيٍّ حَسَنِ التَّرَنُّمِ بِالْقُرْآنِ ” وَسَمِعَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ يَقْرَأُ فَقَالَ ” لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ ” (قَالَ الشافعي) رحمه الله لَا بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ بِالْأَلْحَانِ وَتَحْسِينِ الصَّوْتِ بِأَيِّ وَجْهٍ مَا كَانَ وَأَحَبُّ مَا يُقْرَأُ إِلَيَّ حدرا وتحزينا (قال المزني) رحمه الله سمعت الشافعي يقول لو كان معنى يتغنى بالقرآن على الاستغناء لكان يتغانى وتحسين الصوت هو يتغنى ولكنه يراد به تحسين الصوت “.

Imam Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Jika demikian, maka memperindah suara dalam berzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an lebih utama dan disukai.” (Imam Syafi‘i) raḥimahullāh berkata, “Telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Allah tidak pernah memberi izin kepada sesuatu sebagaimana izin-Nya kepada seorang nabi yang memperindah lantunan bacaan Al-Qur’an.’ Nabi ﷺ pernah mendengar ‘Abdullah bin Qais membaca, lalu beliau bersabda: ‘Orang ini telah diberi bagian dari mazāmir (kemerduan suara) keluarga Dawud.’ (Imam Syafi‘i) raḥimahullāh berkata, ‘Tidak mengapa membaca (Al-Qur’an) dengan lagu dan memperindah suara dengan cara apa pun, dan bacaan yang paling aku sukai adalah yang dibaca dengan tartil dan penuh penghayatan.’ (Al-Muzani) raḥimahullāh berkata, ‘Aku mendengar Imam Syafi‘i berkata: Jika makna “yataghanā bil-Qur’ān” adalah merasa cukup (tidak butuh selain Al-Qur’an), maka seharusnya bentuk katanya “yatagānā”. Memperindah suara itulah yang dimaksud dengan “yataghanā”, namun yang dimaksud adalah memperindah suara.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا تَحْسِينُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ حَدْرًا وَتَحْزِينًا فَمُسْتَحَبٌّ، لِمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ كَإِذْنِهِ لِنَبِيٍّ حَسَنِ التَّرَنُّمِ بِالْقُرْآنِ ” وَرُوِيَ ” حُسْنُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ [زينة القرآن] “.

Al-Mawardi berkata: Adapun memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an, baik dengan tartil maupun dengan nada sedih, hukumnya adalah mustahab (dianjurkan), berdasarkan riwayat dari Asy-Syafi‘i ra. dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memperindah lantunan bacaan Al-Qur’an.” Dan juga diriwayatkan: “Suara yang indah dalam membaca Al-Qur’an adalah perhiasan Al-Qur’an.”

وَمَعْنَى قَوْلِهِ أَذِنَ اللَّهُ أَيْ مَا اسْتَمَعَ اللَّهُ. وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى: {وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ} [الانشقاق: 2] أَيْ سَمِعَتْ لَهُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَسْمَعَ.

Dan makna dari firman-Nya “Allah telah mengizinkan” adalah Allah telah mendengarkan. Di antaranya adalah firman-Nya Ta‘ala: {dan patuhlah (langit) kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh} [al-Insyiqāq: 2], yaitu ia telah mendengarkan kepada-Nya dan sudah sepantasnya baginya untuk mendengarkan.

وَرَوَى الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” حَسِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ “.

Al-Barā’ bin ‘Āzib meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Perindahlah al-Qur’an dengan suara-suara kalian.”

وَرَوَى الزُّهْرِيُّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَمِعَ قِرَاءَةَ أَبِي مُوسَى فَقَالَ: ” لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِنَ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ “.

Az-Zuhri meriwayatkan dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, bahwa Nabi ﷺ mendengar bacaan Abu Musa, lalu beliau bersabda: “Sungguh, orang ini telah dianugerahi sebagian dari kemerduan suara keluarga Dawud.”

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْمَعُ قِرَاءَتَكَ ” فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ تَسْمَعُنِي لَحَبَّرْتَهُ تَحْبِيرًا

Diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu.” Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa engkau mendengarku, niscaya aku akan memperindahnya dengan seindah-indahnya.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْ بِقِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ ” يَعْنِي [عَبْدَ اللَّهِ] بْنَ مَسْعُودٍ لِحُسْنِ أَدَائِهِ وَصِحَّةِ تَرْتِيلِهِ وَتَحْقِيقِ أَلْفَاظِهِ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an segar sebagaimana diturunkan, maka bacalah dengan qirā’ah Ibnu Umm ‘Abd,” yaitu [‘Abdullah] bin Mas‘ud, karena bagusnya pelafalan, kebenaran tartīl, dan ketepatan pengucapan lafaz-lafaznya.

وَكَانَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ ذَا صَوْتٍ حَسَنٍ وَأَدَاءٍ صَحِيحٍ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَقَدْ أُمِرْتُ أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ، فَقَرَأَ عَلَيْهِ “.

Ubay bin Ka‘b adalah seseorang yang memiliki suara yang indah dan bacaan yang benar, maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: “Sungguh aku diperintahkan untuk membacakan (Al-Qur’an) kepadamu,” lalu beliau membacakannya kepadanya.

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي قِرَاءَتِهِ عَلَيْهِ.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pembacaan (Al-Qur’an) di atasnya.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِيَسْتَنَّ بِهِ النَّاسُ بَعْدَهُ فَلَا يَسْتَنْكِفُ شَرِيفٌ أَنْ يَقْرَأَ عَلَى مَشْرُوفٍ وَلَا كَبِيرٌ عَلَى صَغِيرٍ.

Sebagian mereka berkata: Supaya orang-orang setelahnya mengikuti sunnah tersebut, sehingga tidak ada orang terpandang yang enggan membaca kepada orang yang kedudukannya di bawahnya, dan tidak pula orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.

وَقَالَ آخَرُونَ: لِيَسْمَعَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ وأداه فَيَأْخُذُونَ عَنْهُ.

Dan yang lain berkata: Agar orang-orang mendengar bacaannya dan pelafalannya, sehingga mereka dapat mengambil (ilmu) darinya.

وَقَالَ آخَرُونَ: أَرَادَ بِهِ تَفْضِيلَ أُبَيٍّ بِذَلِكَ، وَلِأَنَّ فِي تَحْسِينِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ تحريك القلوب الحزن وَالْخُشُوعِ، وَإِنْذَارِ النُّفُوسِ بِالْحَزَنِ وَالْخُضُوعِ فَيَكُونُ أَبْعَثَ عَلَى الطَّاعَةِ وَأَمْنَعَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ.

Dan sebagian yang lain berkata: Yang dimaksud adalah memuliakan Ubayy dengan hal itu, karena dalam memperindah suara saat membaca Al-Qur’an terdapat penggerak hati menuju kesedihan dan kekhusyukan, serta peringatan jiwa dengan kesedihan dan ketundukan, sehingga hal itu lebih mendorong kepada ketaatan dan lebih mencegah dari kemaksiatan.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَرَأَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي تَهَجُّدِهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ إِلَى قَوْله [تَعَالَى] : {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا} [النساء: 41] فَبَكَى حَتَّى عَلَا نَحِيبُهُ، وَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهَا حَتَّى تَحَزَّنَ صَوْتُهُ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pada suatu malam membaca Surah an-Nisā’ dalam salat tahajudnya, hingga ketika beliau sampai pada firman Allah Ta‘ālā: “Maka bagaimanakah (halnya) apabila Kami mendatangkan dari setiap umat seorang saksi, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?” (an-Nisā’: 41), beliau pun menangis hingga terdengar suara tangisannya yang keras, dan beliau terus mengulang-ulang ayat itu sampai suaranya menjadi sedih.

وَمَرَّ بَعْضُ أَهْلِ الْبِطَالَةِ، وَقَدْ هَمَّ بِمَعْصِيَةٍ وَقَتْلِ نَفْسٍ، بِصَالِحٍ الْمُرِّيِّ وَهُوَ يَقْرَأُ {وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا} [الفرقان: 23] فَانْزَجَرَ بِهَا وَأَلْقَى السِّكِّينَ مِنْ يَدِهِ وَخَرَّ مَغْشِيًّا عَلَى وَجْهِهِ وَتَابَ وَصَارَ نَاسِكًا.

Suatu ketika, seorang dari kalangan orang-orang yang suka bermalas-malasan, yang sedang berniat melakukan maksiat dan membunuh seseorang, melewati Shalih al-Murri yang sedang membaca ayat: “Dan Kami hadapkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23). Maka orang itu pun tertegur oleh ayat tersebut, ia melemparkan pisau dari tangannya, lalu jatuh pingsan tersungkur di wajahnya, kemudian ia bertobat dan menjadi seorang ahli ibadah.

( [الْقَوْلُ فِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِالْأَلْحَانِ] )

(Pembahasan tentang membaca Al-Qur’an dengan alhan)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ الْمَوْضُوعَةِ لِلْأَغَانِي فَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيهَا. فَرَخَّصَهَا قَوْمٌ، وَأَبَاحُوهَا لِرِوَايَةِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ “.

Adapun membaca (Al-Qur’an) dengan lagu-lagu yang diciptakan untuk nyanyian, para ulama berbeda pendapat tentangnya. Sebagian membolehkannya dan menghalalkannya berdasarkan riwayat Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.”

وَشَدَّدَهَا آخَرُونَ وَحَظَرُوهَا، لِخُرُوجِهَا عَنِ الزَّجْرِ وَالْعِظَةِ إِلَى اللَّهْوِ وَالطَّرَبِ. وَلِأَنَّهَا خَارِجَةٌ عَنْ عُرْفِ الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَصَحَابَتِهِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ إِلَى مَا اسْتُحْدِثَ مِنْ بَعْدِهِ.

Sebagian ulama lain memperketat dan melarangnya, karena dianggap telah keluar dari tujuan peringatan dan nasihat menuju hiburan dan kesenangan. Selain itu, hal tersebut juga dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya raḍiyallāhu ‘anhum, melainkan merupakan sesuatu yang diada-adakan setelah mereka.

وَقَدْ قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ “.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap perkara baru yang diada-adakan adalah bid‘ah, setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

وَأَمَّا الشَّافِعِيُّ فَإِنَّهُ عَدَلَ عَنْ هَذَيْنِ الْإِطْلَاقَيْنِ فِي الْحَظْرِ وَالْإِبَاحَةِ بِاعْتِبَارِ الألحان، فإذا أخرجت ألفاظ القرآن لمن صِيغَتُهُ، بِإِدْخَالِ حَرَكَاتٍ فِيهِ وَإِخْرَاجِ حَرَكَاتٍ مِنْهُ، يُقْصَدُ بِهَا وَزْنُ الْكَلَامِ وَانْتِظَامُ اللَّحْنِ، أَوْ مَدُّ مَقْصُورٍ، أَوْ قَصْرُ مَمْدُودٍ، أَوْ مَطَطٌ حَتَّى خَفِيَ اللَّفْظُ، وَالْتَبَسَ الْمَعْنَى، فَهَذَا مَحْظُورٌ يفسق به القارىء وَيَأْثَمُ بِهِ الْمُسْتَمِعُ، لِأَنَّهُ قَدْ عَدَلَ بِهِ عَنْ نَهْجِهِ إِلَى اعْوِجَاجِهِ، وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ} [الزمر: 28] .

Adapun Imam Syafi‘i, beliau mengambil jalan berbeda dari dua pendapat sebelumnya dalam hal larangan dan kebolehan dengan mempertimbangkan al-lahn (melodi). Jika lafaz Al-Qur’an yang telah ditetapkan bentuknya diubah dengan memasukkan atau mengeluarkan harakat tertentu, dengan tujuan menyesuaikan irama dan keteraturan lagu, atau memanjangkan yang seharusnya pendek, atau memendekkan yang seharusnya panjang, atau memperpanjang bacaan hingga lafaz menjadi samar dan makna menjadi rancu, maka hal ini adalah terlarang. Pembaca yang melakukannya menjadi fasik, dan pendengar yang mendengarkannya berdosa, karena ia telah menyimpang dari jalan yang lurus menuju kebengkokan. Allah Ta‘ala berfirman: “(Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya.” (Az-Zumar: 28).

وَإِنْ لَمْ يُخْرِجْهُ اللَّحْنُ عَنْ صِيغَةِ لَفْظِهِ وَقِرَاءَتِهِ عَلَى تَرْتِيلِهِ كَانَ مُبَاحًا، لِأَنَّهُ قَدْ زَادَ بِأَلْحَانِهِ فِي تَحْسِينِهِ وَمِيلِ النَّفْسِ إِلَى سَمَاعِهِ.

Dan jika lagu (nada) tidak mengeluarkannya dari bentuk lafaz dan bacaannya sesuai tartil, maka hal itu diperbolehkan, karena dengan lagu tersebut ia menambah keindahan dan membuat jiwa cenderung untuk mendengarkannya.

أما قوله: ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ ” فَفِيهِ تَأْوِيلَانِ:

Adapun sabdanya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an,” maka dalam hal ini terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: مَعْنَاهُ مَنْ لَمْ يَسْتَغْنِ بِالْقُرْآنِ وَهَذَا قَوْلُ الْأَصْمَعِيِّ وَمَالَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ.

Salah satunya: maksudnya adalah siapa saja yang tidak merasa cukup dengan al-Qur’an, dan ini adalah pendapat al-Ashma‘i, yang juga cenderung diikuti oleh asy-Syafi‘i.

وَحَكَى زُهَيْرُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ إِيَاسِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى رَجُلٍ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ، فَقَالَ: يَا هَذَا إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ مُتَغَنِّيًا فَبِالشِّعْرِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: أَلَيْسَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ “، فقال له إياس: إنما أراد [النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -] ، ليس منا من لم يستغني بِالْقُرْآنِ، أَلَمْ تَسْمَعْ حَدِيثَهُ الْآخَرَ ” مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ فَظَنَّ أَنَّ أَحَدًا أَغْنَى مِنْهُ “. أَمَا سَمِعْتَ قَوْلَ الشَّاعِرِ:

Zuhair bin Abi Hind meriwayatkan dari Iyas bin Muawiyah al-Muzani bahwa ia melihat seorang laki-laki melagukan al-Qur’an, lalu ia berkata, “Wahai orang ini, jika engkau memang harus bernyanyi, maka bernyanyilah dengan syair.” Laki-laki itu pun berkata, “Bukankah Nabi ﷺ bersabda: ‘Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan al-Qur’an’?” Maka Iyas berkata kepadanya, “Sesungguhnya yang dimaksud [oleh Nabi ﷺ] adalah: bukan golongan kami orang yang tidak merasa cukup dengan al-Qur’an. Tidakkah engkau mendengar hadits beliau yang lain: ‘Barang siapa menghafal al-Qur’an lalu mengira ada seseorang yang lebih kaya darinya’? Tidakkah engkau mendengar perkataan penyair:

(غَنِينَا بِذِكْرِ اللَّهِ عَمَّا … نَرَاهُ فِي يَدِ الْمُتَمَوِّلِينَا)

Kami merasa cukup dengan zikir kepada Allah dari apa yang kami lihat di tangan orang-orang yang memiliki kekayaan.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي: أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى غِنَاءِ الصَّوْتِ فِي تَحْسِينِهِ وَتَحْزِينِهِ دُونَ أَلْحَانِهِ. وَهَذَا قَوْلُ أَبِي عُبَيْدٍ وَأَنْكَرَ عَلَى مَنْ حَمَلَهُ عَلَى الِاسْتِغْنَاءِ وَقَالَ: لَوْ أراد هذا لقال: ” من لم يتغانى بالقرآن “.

Penafsiran kedua adalah bahwa maksudnya adalah memperindah suara dalam membaca dan membuatnya menyentuh hati, bukan pada melagukannya. Ini adalah pendapat Abu ‘Ubaid, yang mengingkari orang yang memahaminya sebagai bernyanyi, dan ia berkata: “Seandainya maksudnya demikian, tentu dikatakan: ‘Barang siapa yang tidak bernyanyi dengan al-Qur’an.’”

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ أَهْلِ الْعَصَبِيَّةِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian orang-orang yang memiliki ‘ashabiyah)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَيْسَ مِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ وَالْعَصَبِيَّةُ الْمَحْضَةُ أَنْ يُبْغَضَ الرَّجُلُ لِأَنَّهُ مِنْ بَنِي فُلَانٍ فَإِذَا أَظْهَرَهَا وَدَعَا إِلَيْهَا وَتَأَلَّفَ عليها فمرود وقد جمع الله تباك وَتَعَالَى الْمُسْلِمِينَ بِالْإِسْلَامِ وَهُوَ أَشْرَفُ أَنْسَابِهِمْ فَقَالَ جل ثناؤه {إنما المؤمنون إخوة} وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” كُونَوَا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا ” فَمَنْ خَالَفَ أَمْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمْرَ رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رُدَّتْ شَهَادَتُهُ “.

Imam Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Bukan termasuk ‘ashabiyyah jika seseorang mencintai kaumnya, dan ‘ashabiyyah murni adalah ketika seseorang membenci orang lain hanya karena ia berasal dari Bani Fulan. Jika seseorang menampakkan sikap seperti itu, mengajak kepada sikap tersebut, dan berkumpul di atasnya, maka itu tercela. Allah Ta‘ālā telah mempersatukan kaum Muslimin dengan Islam, yang merupakan nasab paling mulia bagi mereka. Allah Ta‘ālā berfirman: {Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara}. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.’ Maka barang siapa yang menyalahi perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan perintah Rasul-Nya ﷺ, maka kesaksiannya ditolak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى الْمُسْلِمِينَ بِالْأُلْفَةِ وَالتَّنَاصُرِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّقَاطُعِ وَالتَّدَابُرِ. وَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ} [الحجرات: 10] وَقَالَ تَعَالَى: {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ} [التوبة: 71] .

Al-Mawardi berkata: Allah Ta‘ala telah memerintahkan kaum Muslimin untuk saling berkasih sayang dan tolong-menolong, serta melarang mereka dari saling memutuskan hubungan dan saling membelakangi. Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10) Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain; mereka menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. at-Taubah: 71).

وَقَالَ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أُمَّتِي كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ” وَقَالَ فِيمَا نَهَاهُمْ عَنْهُ مِنَ التَّقَاطُعِ: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا} [آل عمران: 103] .

Nabi ﷺ bersabda: “Umatku seperti bangunan, yang satu menguatkan yang lain.” Dan beliau bersabda dalam larangannya kepada mereka dari saling memutuskan hubungan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103).

وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، وَالسَّابِقُ أَسْبَقُهُمَا إِلَى الْجَنَّةِ “.

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, dan yang lebih dahulu berdamai di antara keduanya adalah yang lebih dahulu masuk surga.”

فَكَانَ هَذَا أَصْلًا فِي الدِّينِ، لِيَكُونُوا يَدًا عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ فِيهِ، وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ “.

Maka hal ini menjadi prinsip dalam agama, agar mereka bersatu menghadapi siapa pun yang menentang mereka dalam hal itu. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda: “Darah kaum Muslimin setara, mereka bersatu menghadapi selain mereka, dan perlindungan yang diberikan oleh yang paling rendah di antara mereka berlaku bagi semuanya.”

وَيَشْتَمِلُ الْكَلَامُ فِي هَذَا الْفَصْلِ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ:

Pembahasan dalam bab ini mencakup empat subbab:

أَحَدُهَا: فِي الْمَحَبَّةِ.

Salah satunya: dalam hal mahabbah (cinta).

وَالثَّانِي: فِيمَا يُفْضِي إِلَيْهِ مِنَ الْمَعْصِيَةِ.

Yang kedua: pada hal-hal yang dapat mengantarkan kepada maksiat.

وَالثَّالِثُ: فِي الْبُغْضِ.

Ketiga: tentang kebencian.

وَالرَّابِعُ: فِيمَا يُفْضِي إِلَيْهِ مِنَ الْعَدَاوَةِ.

Keempat: pada hal-hal yang dapat mengakibatkan permusuhan.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِي الْمَحَبَّةِ.

Adapun bagian pertama: tentang mahabbah (cinta).

وَنَتَحَدَّثُ عَنْ أَسْبَابٍ يَكُونُ بَعْضُهَا مُسْتَحَبًّا وَبَعْضُهَا مُبَاحًا وَبَعْضُهَا مَكْرُوهًا.

Kita akan membahas tentang sebab-sebab yang sebagian di antaranya hukumnya mustahab, sebagian mubah, dan sebagian lainnya makruh.

فَأَمَّا الْمُسْتَحَبُّ: فَهُوَ الْمَحَبَّةُ فِي الدِّينِ وَظُهُورُ الْخَيْرِ وَمَا قَرَّبَ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَبَاعَدَ مِنْ مَعَاصِيهِ.

Adapun yang mustahab adalah kecintaan dalam agama, tampaknya kebaikan, serta segala sesuatu yang mendekatkan kepada ketaatan kepada Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari maksiat kepada-Nya.

قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: {كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ} [آل عمران: 110] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.” (Ali ‘Imran: 110).

وَلِذَلِكَ آخَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَ أَصْحَابِهِ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ.

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

فَأَمَّا الْمُبَاحُ: فَهُوَ الْمَحَبَّةُ عَلَى النَّسَبِ وَعَلَى التَّجَانُسِ فِي عِلْمٍ أَوْ أَدَبٍ وَعَلَى مَا أُبِيحَ مِنْ صِنَاعَةٍ أَوْ مَكْسَبٍ، فَهَذَا مُبَاحٌ تَقْوَى بِهِ الْعَدَالَةُ وَلَا تَضْعُفُ بِهِ وَلِهَذَا النَّوْعِ أَرَادَ الشَّافِعِيُّ بِقَوْلِهِ: ” وَلَيْسَ مِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ “.

Adapun yang mubah: yaitu kecintaan karena nasab, karena kesamaan dalam ilmu atau sastra, dan karena sesuatu yang dibolehkan dari pekerjaan atau penghasilan. Maka hal ini adalah mubah, yang dapat memperkuat keadilan dan tidak melemahkannya. Untuk jenis ini, Imam Syafi‘i bermaksud dengan ucapannya: “Bukan termasuk ‘ashabiyah jika seseorang mencintai kaumnya.”

هَذَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَهُوَ أَعْدَلُ خَلْقِ اللَّهِ، وَقَدْ أَحَبَّ قُرَيْشًا لِنَسَبِهِ فِيهِمْ حَتَّى خَصَّهُمْ بِخِلَافَتِهِ فَقَالَ: ” الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ “.

Ini adalah Rasulullah ﷺ, beliau adalah makhluk Allah yang paling adil, dan beliau mencintai Quraisy karena nasab beliau ada pada mereka, hingga beliau mengkhususkan mereka dengan kepemimpinan, lalu bersabda: “Para imam itu dari Quraisy.”

وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” قَدِّمُوا قُرَيْشًا وَلَا تَتَقَدَّمُوهَا وَتَعَلَّمُوا مِنْ قُرَيْشٍ وَلَا تُعَالِمُوهَا “.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dahulukanlah Quraisy dan janganlah kalian mendahuluinya, belajarlah dari Quraisy dan janganlah kalian mengajari mereka.”

وَحَمَى لَهُمْ لَمَّا عَادُوا إِلَى الْمَدِينَةِ مِنْ بَدْرٍ وَمَعَهُ مِنَ الْأَنْصَارِ سَلَامَةُ بْنُ وَقْشٍ وَقَدْ سَأَلَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ عَمَّنْ لَقِيَهُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ بِبَدْرٍ، فَقَالَ سَلَامَةُ: وَهَلْ لَقِينَا إِلَّا عَجَائِزَ صُلْعًا. فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: ” أُولَئِكَ الْمَلَأُ مِنْ قُرَيْشٍ “، فَنَفَى عَنْهُمُ الْعَارَ مَعَ كُفْرِهِمْ وَمُحَارَبَتِهِمْ لَهُ.

Dan beliau melindungi mereka ketika mereka kembali ke Madinah dari Badar, bersama beliau dari kalangan Anshar adalah Salamah bin Waqsy. Sebagian penduduk Madinah bertanya kepadanya tentang siapa saja orang musyrik yang mereka temui di Badar. Maka Salamah berkata, “Bukankah yang kami temui hanyalah para wanita tua yang botak?” Maka hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Mereka itulah para pemuka Quraisy.” Dengan demikian, beliau menafikan aib dari mereka meskipun mereka kafir dan memeranginya.

وَسَمِعَ شَاعِرًا من حمير ينشده:

Dan ia mendengar seorang penyair dari Himyar melantunkan syairnya:

(فإني امرؤ حميري حين ينسبني … لا من ربيعة إياي وَلَا مُضَرَ)

Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki dari Himyar ketika aku dinisbatkan, bukan dari Rabi‘ah dan bukan pula dari Mudhar.

فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ذَاكَ أَهْوَنُ لِقَدْرِكَ وَأَبْعَدُ لَكَ مِنَ اللَّهِ ” وَأَمَّا الْمَكْرُوهُ: فَهُوَ الْمَحَبَّةُ عَلَى الْمُوافَقَةِ فِي المعاصي. فقال – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ” فَصَارَ مُحِبُّ الْعَاصِي كالعاصي.

Maka beliau ﷺ bersabda: “Itu lebih ringan bagi derajatmu dan lebih menjauhkanmu dari Allah.” Adapun yang makruh: yaitu mencintai karena kesesuaian dalam maksiat. Maka beliau ﷺ bersabda: “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” Maka orang yang mencintai pelaku maksiat menjadi seperti pelaku maksiat itu sendiri.

فَأَمَّا الْمَحَبَّةُ لِاسْتِحْسَانِ الصُّوَرِ، فَإِنْ كَانَتْ لِهَوًى يُفْضِي إِلَى رِيبَةٍ كُرِهَتْ وَإِنْ كَانَتْ لِاسْتِحْسَانِ صُنْعِ اللَّهَ تَعَالَى وَبَدِيعِ خَلْقِهِ لَمْ تُكْرَهْ وَكَانَتْ بِالْمُسْتَحَبَّةِ أَشْبَهَ.

Adapun rasa cinta karena mengagumi rupa, jika didasari oleh hawa nafsu yang mengarah pada kecurigaan, maka hal itu dibenci. Namun jika karena mengagumi ciptaan Allah Ta‘ala dan keindahan makhluk-Nya, maka hal itu tidak dibenci dan lebih menyerupai perkara yang dianjurkan (mustahabbah).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي الْعَصَبِيَّةِ: فَهِيَ شِدَّةُ الْمُمَايَلَةِ لِقَوْمٍ عَلَى قَوْمٍ وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian kedua tentang ‘ashabiyyah: yaitu kecenderungan yang kuat untuk memihak suatu kelompok atas kelompok lain, dan ‘ashabiyyah ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ عَصَبِيَّتُهُ لَهُمْ عَامَّةً فِي كُلِّ حَقٍّ وَبَاطِلٍ، وَعَلَى كُلِّ مُحِقٍّ وَمُبْطِلٍ، فَهَذَا فِسْقٌ تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ.

Salah satunya adalah bahwa fanatisme seseorang kepada mereka bersifat umum dalam segala hal, baik yang benar maupun yang batil, terhadap siapa pun yang berada di pihak yang benar maupun yang salah; maka ini adalah kefasikan yang menyebabkan kesaksiannya ditolak.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ} [التوبة: 67] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah dari sebagian yang lain; mereka menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari kebaikan.” (at-Taubah: 67).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ عَصَبِيَّتُهُ لَهُمْ مَقْصُورَةً عَلَى أَخْذِ الْحَقِّ لَهُمْ وَدَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ. فَيَكُونُ بِهَا عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2] .

Jenis kedua: fanatisme seseorang kepada kaumnya terbatas pada mengambil hak mereka dan menolak kezaliman dari mereka. Maka dengan itu, ia tetap berada dalam keadilan dan kesaksian darinya dapat diterima, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2).

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ: ” أَعِنْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا “. فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أُعِينُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ أُعِينُهُ ظَالِمًا؟ فَقَالَ: ” تَرُدُّهُ عَنْ ظُلْمِهِ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda kepada seorang laki-laki: “Tolonglah saudaramu, baik dia berbuat zalim maupun dizalimi.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizalimi, lalu bagaimana aku menolongnya jika ia berbuat zalim?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya dari kezalimannya.”

ثُمَّ تُعْتَبَرُ هَذِهِ الْعَصَبِيَّةُ، فَإِنْ كَانَتْ لِمَحَبَّةِ الْقَوْمِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ وَإِنْ كَانَتْ لِنُصْرَةِ الْحَقِّ فَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ.

Kemudian, fanatisme ini perlu dipertimbangkan; jika didasari oleh kecintaan kepada suatu kaum, maka hukumnya mubah, dan jika untuk membela kebenaran, maka hukumnya mustahab.

( [الْقَوْلُ فِي الْبُغْضِ] )

(Pembahasan tentang kebencian)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ: فِي الْبُغْضِ: فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مُسْتَحَبٌّ، وَمُبَاحٌ وَمَكْرُوهٌ.

Adapun bagian ketiga: tentang kebencian, maka kebencian itu terbagi menjadi tiga jenis: yang disunnahkan, yang mubah, dan yang makruh.

فَأَمَّا الْمُسْتَحَبُّ: فَهُوَ بُغْضُهُ لِأَهْلِ الْمَعَاصِي، فَيَكُونُ بُغْضُهُ لَهُمْ طَاعَةً يُؤْجَرُ عَلَيْهَا لِاخْتِصَاصِهِ بِحَقِّ اللَّهِ تَعَالَى.

Adapun yang mustahab: yaitu membenci pelaku maksiat, sehingga kebenciannya kepada mereka menjadi ketaatan yang diberi pahala karena hal itu khusus berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala.

وَأَمَّا الْمُبَاحُ: فَهُوَ بُغْضُهُ لِمَنْ لَوَى حَقَّهُ وَتَظَاهَرَ بِعَدَاوَتِهِ فَيَكُونُ السَّبَبُ الْبَاعِثُ عَلَيْهِ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا مُبَاحًا، وَلَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَلَا يُؤَثَّمُ بِهِ، وَهُوَ فِيهِ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شهادته، وما لَمْ يَتَجَاوَزِ الْبُغْضَ إِلَى غَيْرِهِ.

Adapun yang mubah: yaitu membenci seseorang yang telah merampas haknya dan secara terang-terangan menunjukkan permusuhannya, maka sebab yang mendorong kebencian tersebut berasal dari urusan duniawi yang hukumnya mubah, tidak mendapat pahala dan tidak pula berdosa karenanya, dan orang tersebut tetap dalam keadaan adil serta kesaksiannya tetap diterima, selama kebenciannya tidak melampaui batas kepada hal lain.

وَأَمَّا الْمَكْرُوهُ: فَهُوَ بُغْضُهُ لِمَنْ خَالَفَهُ فِي نَسَبٍ أَوْ عِلْمٍ أَوْ صِنَاعَةٍ فَيَكُونُ الْبُغْضُ لِهَذَا السَّبَبِ مَكْرُوهًا لِمَا فِيهِ مِنَ التَّقَاطُعِ.

Adapun yang makruh: yaitu membenci seseorang karena perbedaan nasab, ilmu, atau pekerjaan, maka kebencian karena sebab-sebab tersebut hukumnya makruh karena di dalamnya terdapat unsur memutuskan hubungan.

فَإِنْ أَلَّبَ عَلَيْهِ وَتَعَصَّبَ فِيهِ كَانَ جَرْحًا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ، وَإِنْ لَمْ يَتَجَاوَزِ الْبُغْضَ إِلَى مَا سِوَاهُ كَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ حَمَى نَفْسَهُ مِنْ نَتَائِجِ الْبُغْضِ.

Jika ia menghasut orang lain terhadapnya dan bersikap fanatik dalam hal itu, maka hal tersebut merupakan cacat yang menyebabkan kesaksiannya ditolak. Namun, jika kebencian itu tidak melampaui selainnya, maka ia tetap dalam keadilannya dan kesaksiannya diterima, karena ia telah menjaga dirinya dari akibat-akibat kebencian.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ بُغْضُهُ لِغَيْرِ سَبَبٍ، فَإِنْ كَانَ خَاصًّا فِي وَاحِدٍ بِعَيْنِهِ لَمْ تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ، لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ قَلْبَهُ. وَإِنْ كَانَ عَامًّا لِكُلِّ أَحَدٍ، فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” شَرُّ النَّاسِ مَنْ يَبْغَضُ النَّاسَ وَيَبْغَضُونَهُ ” فَيَكُونُ ذَلِكَ جَرْحًا فِيهِ، فَتُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ لِخُرُوجِهِ عَنِ الْمَأْمُورِ بِهِ مِنَ الْأُلْفَةِ إِلَى الْمَنْهِيِّ عَنْهُ مِنَ التَّقَاطُعِ.

Adapun jika kebenciannya tanpa sebab, maka jika kebencian itu khusus terhadap satu orang saja, kesaksiannya tidak ditolak karena hal itu, karena ia tidak dapat menguasai hatinya. Namun jika kebencian itu bersifat umum terhadap semua orang, maka telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Seburuk-buruk manusia adalah orang yang membenci manusia dan mereka pun membencinya.” Maka hal itu menjadi aib baginya, sehingga kesaksiannya ditolak karena ia telah keluar dari perintah untuk menjalin keakraban menuju larangan berupa saling memutuskan hubungan.

( [الْقَوْلُ فِي الْعَدَاوَةِ] )

(Pembahasan tentang permusuhan)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ: فِي الْعَدَاوَةِ: وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْبُغْضِ وَالْعَدَاوَةِ، أَنَّ الْبُغْضَ بِالْقَلْبِ، وَالْعَدَاوَةَ بِالْعَمَلِ، وَمَعَ كُلِّ عَدَاوَةٍ بُغْضٌ وَلَيْسَ مَعَ كُلِّ بُغْضٍ عَدَاوَةٌ، فَصَارَتِ الْعَدَاوَةُ أَغْلَظَ مِنَ الْبُغْضِ، فَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مُسْتَحَبَّةٌ، وَمُبَاحَةٌ، وَمَكْرُوهَةٌ.

Adapun bagian keempat: tentang permusuhan. Perbedaan antara kebencian (bughd) dan permusuhan (adaawah) adalah bahwa kebencian itu di dalam hati, sedangkan permusuhan itu dengan perbuatan. Setiap permusuhan pasti disertai kebencian, namun tidak setiap kebencian disertai permusuhan. Maka, permusuhan lebih berat daripada kebencian. Permusuhan itu terbagi menjadi tiga jenis: yang disunnahkan, yang mubah, dan yang makruh.

فَأَمَّا الْمُسْتَحَبَّةُ: فَهِيَ فِي الدِّينِ، لِمَنْ خَرَجَ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ أَوْ تَعَرَّضَ لمعاصيه. وهذا غضب لله تعالى في حقوق أوامر وَنَوَاهِيهِ، فَخَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْعَدَاوَةِ إِلَى نُصْرَةِ الدِّينِ فَكَانَ أَبْلَغَ فِي عَدَالَتِهِ وَأَوْلَى بِقَبُولِ شَهَادَتِهِ، لِأَنَّ مَنْ غَضِبَ لِلَّهِ فِي مَعْصِيَةِ غَيْرِهِ، كَانَ بِدَفْعِ الْمَعْصِيَةِ عَنْ نَفْسِهِ أَوْلَى.

Adapun yang dianjurkan: yaitu kemarahan dalam agama, terhadap orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah atau yang melakukan maksiat kepada-Nya. Ini adalah kemarahan karena Allah Ta‘ala dalam hal-hal yang berkaitan dengan perintah dan larangan-Nya, sehingga keluar dari hukum permusuhan menuju pembelaan agama. Maka hal itu lebih sempurna dalam keadilannya dan lebih layak untuk diterima kesaksiannya, karena siapa yang marah karena Allah atas maksiat yang dilakukan orang lain, maka ia lebih utama dalam menolak maksiat dari dirinya sendiri.

وَأَمَّا الْمُبَاحَةُ: فَهِيَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ إِذَا بدىء بِالْعَدَاوَةِ فَقَابَلَ عَلَيْهَا بِمَا لَمْ يَتَجَاوَزْ فِيهِ حُكْمَ الشَّرْعِ، فَهُوَ مُسْتَوْفٍ لِحَقِّهِ مِنْهُ. غَيْرُ قَادِحٍ فِي عَدَالَتِهِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ} [النحل: 126] .

Adapun yang mubah: yaitu dalam hak dirinya sendiri, apabila permusuhan dimulai terhadapnya lalu ia membalasnya dengan sesuatu yang tidak melampaui batas hukum syariat, maka ia telah mengambil haknya dari orang tersebut. Hal ini tidak mencederai keadilannya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an-Nahl: 126).

وَشَهَادَتُهُ مَقْبُولَةٌ عَلَى غَيْرِهِ، فَأَمَّا قَبُولُهَا عَلَى عَدْوِّهِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِحَالِهِ بَعْدَ الْمُقَابَلَةِ فَإِنْ سَكَنَ بَعْدَ نُفُورِهِ، قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى نُفُورِهِ ردت.

Kesaksiannya diterima terhadap orang lain, adapun penerimaannya terhadap musuhnya maka tergantung pada keadaannya setelah dihadapkan; jika ia menjadi tenang setelah sebelumnya menjauh, maka kesaksiannya diterima, namun jika ia tetap dalam keadaan menjauh, maka kesaksiannya ditolak.

وأما المكروهة: فهو أن يبتدىء بِهَا مِنْ غَيْرِ سَبَبِ ” بِوُجُوبِهَا “، فَيَكُونُ بِهَا مُتَجَوِّزًا، فَإِنْ قَرْنَهَا بِفُحْشٍ فِي قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ صَارَ بِهَا مَجْرُوحًا فِي حَقِّ الْكَافَّةِ. لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لِأَحَدٍ وَلَا عَلَيْهِ، وَإِنْ تَجَرَّدَتْ عَنْ فُحْشٍ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ مَقْبُولُ الشَّهَادَةِ، عَلَى غَيْرِهِ وَمَرْدُودُ الشَّهَادَةِ عَلَى عَدُوِّهِ وَمَقْبُولُ الشَّهَادَةِ لِعَدُّوِهِ.

Adapun sumpah yang makruh adalah ketika seseorang memulainya tanpa sebab yang mewajibkannya, maka dengan itu ia dianggap telah melampaui batas. Jika sumpah tersebut disertai dengan ucapan atau perbuatan yang keji, maka ia menjadi tercela di hadapan semua orang; kesaksiannya tidak diterima baik untuk siapa pun maupun terhadap siapa pun. Namun, jika sumpah itu tidak disertai dengan ucapan atau perbuatan yang keji, maka ia tetap dalam keadilannya, kesaksiannya diterima terhadap selain musuhnya, ditolak terhadap musuhnya, dan diterima untuk kepentingan musuhnya.

( [القول في حكم الشعر] )

(Pembahasan tentang hukum syair)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالشِّعْرُ كَلَامٌ فَحَسَنُهُ كَحَسَنِ الْكَلَامِ وَقَبِيحُهُ كَقَبِيحِهِ وفضله على الكلام أنه سائر وإذا كان الشاعر لا يعرف بشتم الناس وأذاهم ولا يمتدح فيكثر الكذب المحض ولا يتشبب بامرأة بعينها ولا يشهرها بما يشينها فجائز الشهادة وإن كان على خلاف ذلك لم تجز “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Syair adalah perkataan; yang baik darinya seperti baiknya perkataan, dan yang buruk seperti buruknya perkataan. Keutamaannya atas perkataan biasa adalah karena ia tersebar luas. Jika seorang penyair tidak dikenal suka mencela orang lain dan menyakiti mereka, tidak berlebihan dalam memuji sehingga banyak berdusta secara murni, tidak menggubah syair asmara tentang seorang wanita tertentu dan tidak menyebutkannya dengan sesuatu yang mencemarkan kehormatannya, maka boleh diterima kesaksiannya. Namun jika sebaliknya, maka tidak boleh diterima.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِي شَهَادَةِ الشَّاعِرِ إِذَا صَارَ بِالشِّعْرِ مَشْهُورًا وَإِلَيْهِ مَنْسُوبًا، فَمَنَعَ قَوْمٌ مِنْ قَبُولِهَا وَجَعَلُوا تَوَفُّرَهُ عَلَى الشِّعْرِ جَرْحًا تَمَسُّكًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ} [الشعراء: 224] .

Al-Mawardi berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang kesaksian seorang penyair apabila ia menjadi terkenal karena syairnya dan dinisbatkan kepadanya. Sebagian orang melarang diterimanya kesaksiannya dan menganggap keterlibatannya dalam syair sebagai cacat, dengan berpegang pada firman Allah Ta‘ala: “Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 224).

وَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قال: ” لأن يمتلىء جوف أحدكم قبحا حتى يريه خير من أن يمتلىء شِعْرًا “.

Dan berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh, jika perut salah seorang dari kalian dipenuhi dengan nanah hingga membinasakannya, itu lebih baik daripada jika dipenuhi dengan syair.”

وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ قَرْضَ الشِّعْرِ وَإِنْشَادَهُ إِذَا كَانَ سَلِيمًا لَيْسَ بِجَرْحٍ، وَشَهَادَةُ مَنِ انْتَسَبَ إِلَيْهِ مَقْبُولَةٌ عَلَى ما سنوضحه من شرح وتفضيل لِرِوَايَةِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الشِّعْرُ بِمَنْزِلَةِ الْكَلَامِ حَسَنُهُ كَحَسِنِ الْكَلَامِ وَقَبِيحُهُ كَقَبِيحِ الْكَلَامِ “.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggubah dan melantunkan syair, selama isinya baik, tidaklah termasuk aib, dan kesaksian orang yang menekuni syair tetap diterima, sebagaimana akan kami jelaskan lebih lanjut berdasarkan riwayat ‘Abdurrahman bin Ziyad dari ‘Abdurrahman bin Rafi‘ dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Syair itu seperti halnya perkataan; yang baik seperti baiknya perkataan, dan yang buruk seperti buruknya perkataan.”

وَرُوِيَ عَنْ عِصْمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً. وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا وَإِنَّ أَصْدَقَ بَيْتٍ قَالَتْهُ الْعَرَبُ:

Diriwayatkan dari ‘Ismah bin ‘Abdillah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya sebagian syair itu mengandung hikmah. Dan sebagian penjelasan itu adalah sihir. Dan sesungguhnya bait syair yang paling benar yang pernah diucapkan oleh orang Arab adalah:

(أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ … … … … … … … )

Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil (tidak benar/tiada).

ولأن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ وَفَدَ عَلَيْهِ الشُّعَرَاءُ فَأَنْشَدُوهُ وَمَدَحُوهُ وَأَثَابَ عليه ولم ينه عنه، فمنهم أعشى ابن حِرْمَازٍ وَفَدَ عَلَيْهِ وَأَنْشَدَهُ مَا امْتَدَحَهُ بِهِ فَقَالَ:

Karena Nabi ﷺ telah didatangi oleh para penyair, lalu mereka membacakan syair dan memujinya, dan beliau membalas kebaikan mereka atas hal itu serta tidak melarangnya. Di antara mereka adalah A‘sya bin Hirmaz yang datang kepada beliau dan membacakan syair pujian kepadanya, lalu ia berkata:

(يَا مَالِكَ الْأَرْضِ وَدَيَّانَ الْعَرَبْ … إِلَيْكَ أَشْكُو حِقْبَةً مِنَ الْحِقَبْ)

Wahai Pemilik bumi dan Hakim bangsa Arab… kepada-Mu aku mengadu tentang suatu masa dari sekian banyak masa.

إِلَى أَنِ انْتَهَى إلى شكوى امرأته.

Hingga akhirnya ia mengadukan istrinya.

( … … … … … … . . … وَهُنَّ شَرُّ غَالِبٍ لِمَنْ غَلَبْ)

(… dan mereka adalah seburuk-buruk penguasa bagi siapa saja yang mereka kuasai.)

وَمِنْهُمْ كَعْبُ بْنُ زُهَيْرٍ وَكَانَ قَدْ هَدَرَ اللَّهُ دَمَهُ، فَوَرَدَ إِلَى الْمَدِينَةِ مُسْتَخْفِيًا، فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ مُمْتَدِحًا فَقَالَ:

Di antara mereka adalah Ka‘b bin Zuhair, yang darahnya telah dihalalkan oleh Allah. Ia datang ke Madinah secara sembunyi-sembunyi, lalu setelah salat Subuh ia mendatangi Nabi dan memujinya seraya berkata:

(بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ … مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُولُ)

Sujud telah pergi, maka hatiku hari ini tersiksa… Seorang yang tergila-gila padanya, tak kunjung sembuh, terbelenggu.

إِلَى أَنِ انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ:

Hingga sampai pada ucapannya:

(نُبِّئْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ أَوْعَدَنِي … وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ مَأْمُولُ)

Aku diberitahu bahwa Rasulullah telah mengancamku … dan ampunan di sisi Rasulullah adalah sesuatu yang diharapkan.

فَقَامَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا كَعْبُ بْنُ زُهَيْرٍ فَأضْرِبْ عُنُقَهُ. فَقَالَ: ” لَا دَعْهُ فَإِنَّهُ قَدْ أَسْلَمَ ” وَأَعْطَاهُ بُرْدَةً كَانَتْ عَلَيْهِ، فَابْتَاعَهَا مِنْهُ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ بِعَشَرَةِ آلَافِ دِرْهَمٍ، وَهِيَ الَّتِي مَعَ الْخُلَفَاءِ إِلَى الْيَوْمِ.

Maka Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata: “Wahai Rasulullah, ini adalah Ka‘b bin Zuhair, maka perintahkanlah agar lehernya dipenggal.” Maka beliau bersabda: “Jangan, biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam.” Lalu beliau memberinya sebuah burdah yang sedang beliau pakai, kemudian Mu‘awiyah bin Abi Sufyan membelinya darinya seharga sepuluh ribu dirham, dan burdah itulah yang masih ada bersama para khalifah hingga hari ini.

وَقَدْ كَانَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – شُعَرَاءُ مِنْهُمْ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ وَكَعْبُ بْنُ مَالِكٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ، وَكَانُوا يُنْشِدُونَ الشِّعْرَ تَارَةً ابْتِدَاءً وَيَأْمُرُهُمْ بِهِ أُخْرَى لِيَرُدُّوا عَلَى مَنْ هَجَاهُ، كَمَا قَالَ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ:

Nabi ﷺ memiliki para penyair, di antaranya Hassan bin Tsabit, Ka‘b bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah. Mereka terkadang melantunkan syair atas inisiatif sendiri, dan terkadang Nabi memerintahkan mereka untuk bersyair guna membalas orang yang mencelanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hassan bin Tsabit:

(هَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ … وَعِنْدَ اللَّهِ فِي ذَاكَ الْجَزَاءُ)

Engkau telah mencela Muhammad, maka aku membelanya… dan di sisi Allah balasan atas itu.

(أَتَهْجُوهُ وَلَسْتَ لَهُ بِكُفْءٍ … فَشَرُّكُمَا لِخَيْرِكُمَا الْفِدَاءُ)

Apakah engkau mencelanya padahal engkau tidak sepadan dengannya? Maka keburukanmu menjadi tebusan bagi kebaikannya.

(فَإِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِي … لِعِرْضِ مُحْمَدٍ مِنْكُمْ بَقَاءُ)

Sesungguhnya ayahku, kakeknya, dan kehormatanku… demi kehormatan Muhammad dari kalian tetap terjaga.

وَاسْتَنْشَدَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الشَّرِيدَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ وَأَنْشَدَهُ مِنْهُ مِائَةَ بَيْتٍ.

Rasulullah ﷺ pernah meminta Asy-Syarid untuk membacakan syair Umayyah bin Abi Shalt, lalu Asy-Syarid membacakan seratus bait darinya kepada beliau.

وَأَخْبَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ شَهِدَ قِسَّ بْنَ سَاعِدَةَ بِعُكَاظٍ عَلَى جَمَلٍ أَشْهَبَ وَهُوَ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَاشَ مَاتَ، وَمَنْ مَاتَ فَاتَ، وَكُلُّ مَا هُوَ آتٍ آتٍ. مَا لِي أَرَى النَّاسَ يَذْهَبُونَ فَلَا يَرْجِعُونَ، أَرَضُوا بِالْإِقَامَةِ فَأَقَامُوا، أَمْ تُرِكُوا هُنَالِكَ فَنَامُوا. إِنَّ فِي السَّمَاءِ لَخَبَرًا، وإن في الأرض لعبرا سقف مرفوع وسهال مَوْضُوعٌ. وَبِحَارٌ بُحُورٌ، وَتُخُومٌ تَخُورُ ثُمَّ تَغُورُ. أَقْسَمَ قَسٌّ بِاللَّهِ قَسَمًا: إِنَّ للَّهِ لَدِينًا هُوَ أَرْضَى مِنْ دِينٍ نَحْنُ عَلَيْهِ، ثُمَّ تَكَلَّمَ بِأَبْيَاتِ شِعْرٍ مَا أَدْرِي مَا هِيَ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَدْ كُنْتُ شَاهِدًا ذَاكَ وَالْأَبْيَاتُ عِنْدِي. فَقَالَ: أَنْشِدْنِيهَا: فأنشدوه أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa beliau pernah menyaksikan Qis bin Sa‘idah di pasar ‘Ukaz di atas unta yang berwarna keabu-abuan, sementara ia berkata: “Wahai manusia, siapa yang hidup pasti akan mati, dan siapa yang mati pasti akan berlalu, dan segala sesuatu yang akan datang pasti akan datang. Mengapa aku melihat manusia pergi namun tidak kembali? Apakah mereka rela menetap lalu mereka pun menetap, ataukah mereka ditinggalkan di sana lalu mereka pun tertidur? Sungguh, di langit terdapat berita, dan di bumi terdapat pelajaran; atap yang ditinggikan dan tanah yang dibentangkan, lautan yang luas, dan batas-batas yang melemah lalu menghilang. Qis bersumpah demi Allah dengan sumpah: Sungguh, bagi Allah ada agama yang lebih diridhai daripada agama yang kita anut sekarang.” Kemudian ia mengucapkan beberapa bait syair yang aku tidak tahu apa isinya. Maka Abu Bakar ra. berkata: “Aku pernah menyaksikan hal itu dan bait-bait syair itu ada padaku.” Lalu beliau berkata: “Bacakanlah untukku.” Maka Abu Bakar ra. pun membacakannya untuk beliau.

(فِي الذَّاهِبِينَ الْأَوَّلِينَ … مِنَ الْقُرُونِ لَنَا بَصَائِرْ)

Pada generasi-generasi terdahulu yang telah berlalu … dari abad-abad itu, bagi kita terdapat pelajaran-pelajaran.

(لَمَّا رَأَيْتُ مَوَارَدًا … لِلْمَوْتِ لَيْسَ لَهَا مَصَادِرْ)

Ketika aku melihat tempat-tempat datangnya kematian yang tidak ada jalan keluarnya…

(وَرَأَيْتُ قَوْمِي نَحْوَهَا … تَمْضِي الْأَكَابِرُ وَالْأَصَاغِرْ)

Dan aku melihat kaumku menuju ke arahnya… para pembesar dan yang muda-muda pun berjalan mengikutinya.

(لَا يَرْجِعُ الْمَاضِي إِلَيَّ … وَلَا مِنَ الْبَاقِينَ عَابِرْ)

Masa lalu tidak akan kembali kepadaku … dan dari mereka yang masih ada, tak seorang pun akan melewati.

(أَيْقَنْتُ أَنِّي لَا مَحَالَةَ … حَيْثُ صَارَ القَوْمُ صَائِرْ)

Aku benar-benar yakin bahwa aku pasti akan mengalami apa yang telah dialami oleh orang-orang sebelumku, dan akan sampai pada tempat di mana mereka telah sampai.

وَقَدْ أنشد – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – شِعْرَ طَرَفَةَ:

Nabi ﷺ pernah membacakan syair Tarafah.

(سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا … وَيَأْتِيكَ مَنْ لَمْ تُزَوِّدْهُ الْأَخْبَارَ)

Akan memperlihatkan kepadamu hari-hari apa yang sebelumnya tidak kamu ketahui … dan akan datang kepadamu orang yang tidak pernah kamu bekali dengan kabar.

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّهُ قَالَ:

Maka Abu Bakar berkata bahwa ia telah mengatakan:

( … … … … … … … وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ)

(… … … … … … … Dan akan datang kepadamu berita-berita dari orang yang tidak pernah engkau bekali.)

فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مالي وَلِلشِّعْرِ وَمَا لِلشِّعْرِ وَلِي ” يُرِيدُ مَا قَالَهُ اللَّهُ فِيهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وما ينبغي له} وقال – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -:

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa urusanku dengan syair, dan apa urusan syair denganku?” Beliau menginginkan apa yang telah difirmankan Allah tentangnya, Maha Suci dan Maha Tinggi: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya dan itu tidak layak baginya.” Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda:

(تَفَاءَلْ بِمَا تَرْجُو يَكُنْ فَلَقَلَّمَا … … … … … … … )

Berharaplah dengan optimis terhadap apa yang engkau harapkan, niscaya akan terwujud, karena jarang sekali…

فَقَالَ عَلِيٌّ عليه السلام:

Maka Ali ‘alaihis salam berkata:

(بِمَا تَرْجُوهُ أَلَّا تَكُونَا … … … … … …)

(Dengan apa yang kalian harapkan agar kalian berdua tidak…)

فَصَارَ بِمَا تَمَّمَهُ عَلِيٌّ شِعْرًا مُنْتَظِمًا.

Maka dengan apa yang disempurnakan oleh Ali, jadilah ia sebuah syair yang tersusun rapi.

وَاسْتَوْقَفَتْهُ قُتَيْلَةُ بِنْتُ النَّضِرِ بْنِ الْحَارِثِ عَامَ الْفَتْحِ بَعْدَ قَتْلِ أَبِيهَا صَبْرًا فَأَنْشَدَتْهُ:

Qutailah binti an-Nadhr bin al-Harits menahannya pada tahun penaklukan setelah ayahnya dibunuh secara sabar, lalu ia membacakan syair kepadanya:

(أَمُحَمَّدٌ هَا أَنْتَ خَيْرُ نَجِيبَةٍ … مِنْ قَوْمِهَا وَالْفَحْلُ فَحْلٌ مُعْرِقُ)

Wahai Muhammad, engkaulah sebaik-baik keturunan mulia dari kaummu, dan jantan yang sejati adalah jantan yang memiliki garis keturunan yang murni.

(النَّضْرُ أَقْرَبُ مَنْ قَتَلْتَ قَرَابَةً … وَأَحَقُّهُمْ إِنْ كَانَ عِتْقًا يُعْتَقُ)

Nadhr adalah kerabat terdekat dari orang yang kamu bunuh, dan dialah yang paling berhak; jika itu berkaitan dengan pembebasan budak, maka dialah yang dibebaskan.

(مَا كَانَ ضَرُّكَ لَوْ مَنَنْتَ وَرُبَّمَا … مَنَّ الْفَتَى وَهُوَ الْمَغِيظُ الْمُحْنَقُ)

Apa kerugianmu jika engkau berbuat baik? Seringkali seseorang berbuat baik meskipun ia sedang marah dan sangat kesal.

فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْ سَمِعْتُ شِعْرَهَا مَا قَتَلْتُهُ “.

Maka Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya aku mendengar syairnya, niscaya aku tidak akan membunuhnya.”

وَقَدْ كَانَ كَثِيرٌ مِنَ الصَّحَابَةِ يَقُولُونَ الشِّعْرَ وَيَتَمَثَّلُونَ بِأَشْعَارِ الْعَرَبِ. فَلَمْ يُنْكِرْهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -:

Banyak sahabat yang mengucapkan syair dan menirukan syair-syair Arab. Maka Rasulullah ﷺ tidak mengingkarinya.

وَقَدِ اسْتَشْهَدَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ فِيمَا سَأَلَهُ نَافِعُ بْنُ الْأَزْرَقُ فِي مَعَانِي الْقُرْآنِ بِأَشْعَارِ الْعَرَبِ، وَدَلَّ بِهِ عَلَى مَعَانِيهِ وَقَالَ: الشِّعْرُ دِيوَانُ الْعَرَبِ فَمَا أَنْكَرَهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ.

Abdullah bin Abbas pernah menggunakan syair-syair Arab sebagai bukti dalam menjawab pertanyaan Nafi‘ bin al-Azraq tentang makna-makna Al-Qur’an, dan beliau menunjukkan makna-makna tersebut dengan syair itu. Ia berkata, “Syair adalah diwan (catatan) orang Arab.” Maka tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat maupun tabi‘in yang mengingkarinya.

وَسُئِلَ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ أَوَّلِ النَّاسِ إِسْلَامًا فَقَالَ: أبو بكر أنا سَمِعْتَ قَوْلَ حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ.

Ibnu Abbas pernah ditanya tentang siapa orang pertama yang masuk Islam, maka beliau menjawab: Abu Bakar. Aku telah mendengar perkataan Hassan bin Tsabit.

(إِذَا تَذَكَّرْتَ شَجْوًا مِنْ أَخِي ثِقَةٍ … فَاذْكُرْ أَخَاكَ أَبَا بَكْرٍ بِمَا فَعَلَا)

Jika engkau teringat kesedihan yang berasal dari saudara terpercaya, maka ingatlah saudaramu, Abu Bakar, atas apa yang telah ia lakukan.

(خَيْرَ الْبَرِيَّةِ أَتْقَاهَا وَأَعْدَلَهَا … إِلَّا النَبِيِّ وَأَوْفَاهَا بِمَا حَمَلَا)

Yang terbaik di antara makhluk adalah yang paling bertakwa dan paling adil di antara mereka… kecuali Nabi, dan yang paling sempurna dalam menunaikan apa yang mereka emban.

(الثَانِيَ اثْنَيْنِ وَالْمَحْمُودَ مَشْهَدُهُ … وَأَوَّلَ النَّاسِ مِنْهُمْ صَدَّقَ الرُّسُلَا)

Yang kedua dari dua orang, dan yang terpuji adalah kehadirannya… dan orang pertama dari mereka yang membenarkan para rasul.

وَحَبَسَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْحُطَيْئَةَ الشَّاعِرَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ مِنَ الْحَبْسِ شِعْرًا يَقُولُ فِيهِ:

Umar radhiyallahu ‘anhu memenjarakan al-Hutai’ah sang penyair, lalu al-Hutai’ah mengirimkan kepadanya dari dalam penjara sebuah syair yang di dalamnya ia berkata:

(مَاذَا تَقُولُ لِأَفْرَاخٍ بِذِي مَرَخٍ … حُمْرِ الْحَوَاصِلِ لَا مَاءٌ وَلَا شَجَرُ)

Apa yang akan kau katakan kepada anak-anak burung di Dzi Marakh, yang temboloknya merah, tak ada air dan tak ada pohon?

(أَلْقَيْتَ كَاسِبَهُمْ فِي قَعْرِ مُظْلِمَةٍ … فَاغْفِرْ عَلَيْكَ سَلَامُ اللَّهِ يَا عُمَرُ)

Engkau telah melemparkan para pelaku maksiat itu ke dalam dasar yang gelap… Maka ampunilah, atasmu salam Allah, wahai Umar.

(أَنْتَ الْإِمَامُ الَّذِي مِنْ بَعْدِ صَاحِبِهِ … أَلْقَتْ عَلَيْكَ مَقَالِيدَ النُّهَى الْبَشَرُ)

Engkaulah imam yang setelah pendahulumu, manusia telah menyerahkan kepadamu kunci-kunci kebijaksanaan.

(مَا يُؤْثِرُوكَ بها إذا قَدَّمُوكَ لَهَا … لَكِنْ لِأَنْفُسِهِمْ كَانَتْ بِكَ الْأَثَرُ)

Apa yang mereka dahulukan untukmu ketika mereka mengutamakanmu dalam hal itu, sebenarnya bukan karena mereka lebih mengutamakanmu, tetapi karena bagi diri mereka sendirilah hal itu lebih berpengaruh melalui dirimu.

فَلَمَّا وَصَلَ إِلَيْهِ هَذَا الشِّعْرُ أَطْلَقَهُ وَقَالَ: إِنَّ الشِّعْرَ لِيَسْتَنْزِلُ الْكَرِيمَ.

Ketika bait syair ini sampai kepadanya, ia membebaskannya dan berkata, “Sesungguhnya syair benar-benar dapat melunakkan hati orang yang mulia.”

فَإِذَا كَانَ الشِّعْرُ فِي الصَّحَابَةِ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ، وَكَانَ الشُّعَرَاءُ مِنْهُمْ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ جَرْحًا فِي قَائِلِهِ وَلَا مُنْشِدِهِ، لِأَنَّهُمْ لَا يَأْتُونَ مُنْكِرًا وَلَا يُقِرُّونَ عَلَيْهِ.

Jika syair di kalangan para sahabat memiliki kedudukan seperti ini, dan para penyair di antara mereka berada pada posisi seperti itu, maka tidak boleh dianggap sebagai celaan bagi orang yang mengucapkannya maupun yang melantunkannya, karena mereka tidak melakukan kemungkaran dan tidak membiarkannya.

وَقَدْ مَرَّ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ شِعْرَهُ أَحْدَاثًا مِنَ الْأَنْصَارِ وَهُمْ مُعْرِضُونَ عَنْهُ، فَقَالَ: أَتُعْرِضُونَ عَنْهُ وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يُقْبِلُ عَلَيْهِ إِذَا أَنْشَدَهُ فَنَهَضَ حَسَّانُ وَقَبَّلَ يَدَ الزُّبَيْرِ.

Zubair bin Awwam pernah melewati Hassan bin Tsabit di Masjid Rasulullah ﷺ, saat Hassan sedang membacakan syairnya kepada sekelompok pemuda Anshar, namun mereka berpaling darinya. Maka Zubair berkata, “Apakah kalian berpaling darinya, padahal Rasulullah ﷺ dahulu memperhatikannya ketika ia membacakan syair?” Maka Hassan pun bangkit dan mencium tangan Zubair.

وَقِيلَ لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ: إِنْ قَوْمًا يَكْرَهُونَ إِنْشَادَ الشِّعْرِ فِي الْمَسْجِدِ. فَقَالَ: هَؤُلَاءِ يَنْسُكُونَ نُسْكًا أَعْجَمِيًّا.

Dikatakan kepada Sa‘id bin al-Musayyab: “Sesungguhnya ada suatu kaum yang tidak menyukai pembacaan syair di dalam masjid.” Maka beliau berkata: “Mereka ini menjalankan ibadah dengan cara orang ‘ajam (non-Arab).”

وَرَوَى أَبُو بَكْرِ بْنُ سَيْفٍ فِي مُخْتَصَرِ الْمُزَنِيِّ عَنْهُ، وَقَالَ: سَأَلَتْهُ أَيَجُوزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَتَزَوَّجَ الْمَرْأَةَ وَيُصْدِقَهَا شِعْرًا؟ فَقَالَ: إِنْ كَانَ كَقَوْلِ الشَّاعِرِ:

Abu Bakr bin Saif meriwayatkan dalam Mukhtashar al-Muzani darinya, dan berkata: Aku bertanya kepadanya, “Bolehkah seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dan menjadikan maharnya berupa syair?” Ia menjawab: “Jika syair itu seperti perkataan penyair:

(يَوَدُّ الْمَرْءُ أَنْ يُعْطَى مُنَاهُ … وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا مَا أَرَادَا)

Seseorang ingin agar keinginannya terpenuhi, namun Allah tidak menghendaki kecuali apa yang Dia kehendaki.

(يَقُولُ الْمَرْءُ فَائِدَتِي وَمَالِي … وَتَقْوَى اللَّهِ أَفْضَلُ مَا أَفَادَا)

Seseorang berkata, “Keuntunganku dan hartaku … namun takwa kepada Allah adalah sebaik-baik manfaat yang diperoleh.”

جَازَ فَدَلَّ مَا وَصَفْنَا، وَإِنَّ مَعَ الْإِطَالَةِ بِيَسِيرٍ، أَنَّ إِنْشَاءَ الشِّعْرِ وَإِنْشَادَهُ مُبَاحٌ، وَإِنْشَاءُ الشِّعْرِ مَا كَانَ مِنْ قَوْلِهِ. وَإِنْشَادُهُ مَا كَانَ مِنْ قَوْلِ غيره.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan yang telah kami sebutkan, meskipun dengan sedikit penambahan, dapat disimpulkan bahwa membuat syair dan melantunkannya adalah mubah (boleh). Membuat syair adalah jika berasal dari ucapannya sendiri, sedangkan melantunkannya adalah jika berasal dari ucapan orang lain.

فَأَمَّا قَوْله تَعَالَى: {وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ} [الشعراء: 224] فَقَدْ قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ: يُرِيدُ بِالشُّعَرَاءِ الَّذِينَ إِذَا قَالُوا كَذَبُوا وَإِذَا غَضِبُوا سَبُّوا.

Adapun firman-Nya Ta‘ala: “Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (asy-Syu‘ara’: 224), maka para ahli tafsir berkata: Yang dimaksud dengan para penyair adalah mereka yang apabila berbicara, mereka berdusta, dan apabila marah, mereka mencaci.

وَفِي قوله تعالى: {يتبعهم الغاوون} أَرْبَعَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Dalam firman Allah Ta‘ala: {orang-orang sesat mengikuti mereka}, terdapat empat penafsiran.

أَحَدُهَا: الشَّيَاطِينُ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ.

Salah satunya adalah setan-setan, sebagaimana dikatakan oleh Mujahid.

وَالثَّانِي: الْمُشْرِكُونَ، قَالَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدٍ.

Dan yang kedua: orang-orang musyrik, sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Zaid.

وَالثَّالِثُ: السُّفَهَاءُ قَالَهُ الضَّحَّاكُ.

Ketiga: orang-orang yang bodoh, sebagaimana dikatakan oleh adh-Dhahhak.

وَالرَّابِعُ: الرُّوَاةُ قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ.

Keempat: para perawi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas.

وَفِي قَوْله تَعَالَى: {أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ في كل واد يهيمون} [الشعراء: 225] ثلاث تَأْوِيلَاتٍ:

Dalam firman Allah Ta‘ala: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa mereka mengembara di setiap lembah?” (asy-Syu‘ara’: 225) terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا: فِي كُلِّ فَنٍّ مِنَ الْكَلَامِ يَأْخُذُونَ. قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ.

Salah satunya: dalam setiap bidang pembicaraan mereka mengambil (pendapat). Hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّانِي: فِي كُلِّ لَغْوٍ يَخُوضُونَ قَالَهُ قُطْرُبٌ.

Dan yang kedua: dalam setiap perkataan sia-sia yang mereka bicarakan, demikian dikatakan oleh Quthrub.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَمْدَحَ قوما بباطل، ويذم قوما بباطل. قال قَتَادَةُ {وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ} [الشعراء: 226] يَعْنِي مَنْ كَذَبَ فِي مَدْحٍ أَوْ هِجَاءٍ.

Ketiga: memuji suatu kaum dengan kebatilan, dan mencela suatu kaum dengan kebatilan. Qatadah berkata tentang firman Allah {dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan} [asy-Syu‘ara: 226], maksudnya adalah orang yang berdusta dalam pujian atau celaan.

فَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ حَضَرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ وَكَعْبُ بْنُ مَالِكٍ وَحَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَبَكَوْا وَقَالُوا: هَلَكْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ} [الشعراء: 227] فَقَرَأَهَا عَلَيْهِمْ: وَقَالَ هُمْ أَنْتُمْ {وَذَكَرُوا الله كثيرا} فيها وَجْهَانِ:

Ketika ayat ini turun, Abdullah bin Rawahah, Ka‘b bin Malik, dan Hassan bin Tsabit datang menemui Rasulullah ﷺ, lalu mereka menangis dan berkata, “Kami binasa, wahai Rasulullah.” Maka Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya: {Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh} [asy-Syu‘ara: 227]. Lalu beliau membacakannya kepada mereka dan bersabda, “Mereka itu adalah kalian.” Mengenai {dan mereka banyak mengingat Allah} di dalamnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: فِي شِعْرِهِمْ.

Salah satunya: dalam syair mereka.

وَالثَّانِي: فِي كَلَامِهِمْ.

Yang kedua: dalam ucapan mereka.

{وانتصروا من بعد ما ظلموا} أَيْ رَدُّوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا هَجَوْا بِهِ الْمُسْلِمِينَ، فَدَلَّتِ الْآيَةُ عَلَى أَنَّ الْمَذْمُومَ مِنَ الشِّعْرِ مَا فِيهِ مِنْ هَجْوٍ: وَالْهَجْوُ فِي الْكَلَامِ مَذْمُومٌ فَكَيْفَ فِي الشِّعْرِ، وَلِأَنَّ الشِّعْرَ يَحْفَظُهُ نَظْمُهُ فَيَنْتَشِرُ وَيَبْقَى عَلَى الْأَعْصَارِ وَالدُّهُورِ.

Dan mereka membalas setelah mereka dizalimi, yaitu mereka membalas kepada orang-orang musyrik atas ejekan yang ditujukan kepada kaum Muslimin. Maka ayat ini menunjukkan bahwa yang tercela dari syair adalah apa yang mengandung ejekan; dan ejekan dalam ucapan adalah tercela, apalagi dalam syair, karena syair itu terjaga oleh susunannya sehingga mudah tersebar dan tetap ada sepanjang masa dan zaman.

وأما قوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لأن يمتلىء جوف أحدكم قيحا حتى يريه خير من أن يمتلىء شِعْرًا ” فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Adapun sabda beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Sungguh, jika perut salah seorang dari kalian dipenuhi nanah hingga membinasakannya, itu lebih baik daripada dipenuhi syair,” maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مِنَ الشِّعْرِ كَذِبًا وَفُحْشًا وَهِجَاءً.

Salah satunya adalah syair yang berisi kebohongan, kata-kata kotor, dan celaan.

وَالثَّانِي: أَنَّ يَنْقَطِعُ إِلَيْهِ وَيَتَشَاغَلُ عَنِ الْقُرْآنِ وَعُلُومِ الدِّينِ.

Kedua: yaitu seseorang terlalu sibuk dengannya sehingga melalaikan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الشِّعْرَ فِي حُكْمِ الْكَلَامِ لَا يُخْرِجُهُ نَظْمُهُ عَنْ إِبَاحَتِهِ وَحَظْرِهِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ مُسْتَحَبٌّ، وَمُبَاحٌ وَمَحْظُورٌ.

Maka apabila telah dipastikan bahwa syair dalam hukum sama dengan perkataan biasa, susunannya tidak mengeluarkannya dari status boleh atau terlarang, maka syair itu terbagi menjadi tiga jenis: yang dianjurkan, yang dibolehkan, dan yang dilarang.

فَأَمَّا الْمُسْتَحَبُّ فَنَوْعَانِ:

Adapun mustahab terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا حَذَّرَ مِنَ الْآخِرَةِ أَنْشَدَهُ فِيهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ:

Salah satunya adalah apa yang memperingatkan tentang akhirat; sebagian ahli ilmu membacakan syair tentang hal ini kepada Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya:

(فَلَوْ كُنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا … لَكَانَ الْمَوْتُ رَاحَةَ كُلِّ حَيِّ)

Maka jika seandainya ketika kita mati, kita dibiarkan begitu saja… tentu kematian akan menjadi istirahat bagi setiap yang hidup.

(وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا … وَنُسْأَلُ بعده عن كل شيء)

Akan tetapi, apabila kita telah mati, kita akan dibangkitkan … dan setelah itu kita akan ditanya tentang segala sesuatu.

وَأُنْشِدَ لِلْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:

Dan telah dinukil syair dari al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma:

(الْمَوْتُ خَيْرٌ مِنْ رُكُوبِ الْعَارِ … وَالَعَارُ خَيْرٌ مِنْ دُخُولِ النَّارِ)

Kematian lebih baik daripada menanggung kehinaan, dan kehinaan lebih baik daripada masuk neraka.

(وَاللَّهِ، مَا هَذَا وَهَذَا جَارِي … )

Demi Allah, bukan ini dan bukan itu yang sedang berlangsung …

وَالثَّانِي: مَا حَثَّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ كَالْمَحْكِيِّ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ أَنَّهُ مَرَّ بِبَابِ قَوْمٍ فَسَمِعَ رَجُلًا يُنْشِدُ:

Yang kedua: adalah hal-hal yang mendorong kepada akhlak mulia, seperti yang diriwayatkan dari Malik bin Anas bahwa ia pernah melewati pintu sekelompok orang, lalu ia mendengar seorang laki-laki melantunkan:

(أَنْتِ أُخْتِي وَحُرْمَةُ جَارِي … وَحَقِيقٌ عَلَيَّ حِفْظُ الْجِوَارِ)

Engkau adalah saudariku dan kehormatan tetanggaku… Sudah sepantasnya bagiku untuk menjaga hubungan bertetangga.

(إِنَّ لِلْجَارِ إِنْ نُصِيبُ لَنَا … حَافِظًا لِلنَّصِيبِ فِي الْإِسْرَارِ)

Sesungguhnya bagi tetangga, jika kami mendapatkan bagian untuk kami… (ia adalah) penjaga bagi bagian itu dalam kerahasiaan.

(مَا أُبَالِي إِنْ كَانَ بِالْبَابِ سِتْرُهُ … مُسْبَلٌ، أَوْ يَبْقَى بِغَيْرِ سِتَارِ)

Aku tidak peduli apakah di pintu itu ada tirai yang terjulur, atau dibiarkan tanpa tirai.

فَدَقَّ الْبَابَ وَقَالَ: عَلِّمُوا فِتْيَانِكُمْ مِثْلَ هَذَا الشِّعْرِ.

Maka ia mengetuk pintu dan berkata: Ajarkanlah kepada para pemuda kalian syair seperti ini.

فَهَذَانِ النَّوْعَانِ مُسْتَحَبَّانِ، وَهُمَا أَحْفَظُ لِلْعَدَالَةِ، وَأَبْعَثُ عَلَى قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Kedua jenis ini adalah mustahab, dan keduanya lebih menjaga keadilan serta lebih mendorong diterimanya kesaksian.

وَأَمَّا الْمُبَاحُ: فَمَا سَلِمَ مِنْ فُحْشٍ أَوْ كَذِبٍ، وَهُوَ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا: مَا جَلَبَ نَفْعًا. وَالثَّانِي: مَا لَمْ يَعُدْ بِضَرَرٍ.

Adapun yang mubah adalah sesuatu yang terbebas dari keburukan atau kebohongan, dan mubah itu ada dua jenis: yang pertama adalah sesuatu yang mendatangkan manfaat, dan yang kedua adalah sesuatu yang tidak menimbulkan mudarat.

فلا تقدح فِي الشَّهَادَةِ، وَلَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ.

Maka hal itu tidak merusak kesaksian, dan tidak menghalangi diterimanya kesaksian.

وَأَمَّا الْمَحْظُورُ فَنَوْعَانِ: كَذِبٌ وَفُحْشٌ.

Adapun yang terlarang itu ada dua jenis: dusta dan kekejian.

وَهُمَا جَرْحٌ فِي قَائِلِهِ، فَأَمَّا فِي مُنْشِدِهِ، فَإِنْ حَكَاهُ إِنْكَارًا لَمْ يَكُنْ جَرْحًا، وَإِنْ حَكَاهُ اخْتِيَارًا كَانَ جَرْحًا.

Keduanya merupakan celaan terhadap orang yang mengucapkannya. Adapun terhadap orang yang menyampaikannya, jika ia meriwayatkannya dengan maksud mengingkari, maka itu bukanlah celaan. Namun jika ia meriwayatkannya dengan maksud memilih atau menyetujuinya, maka itu adalah celaan.

فَإِنْ تَشَبَّبَ فِي شِعْرِهِ وَوَصَفَ امْرَأَةً، فَإِنْ لَمْ يُعَيِّنْهَا لَمْ يَقْدَحْ فِي عَدَالَتِهِ، وَإِنْ عَيَّنَهَا قَدْحَ فِي عَدَالَتِهِ.

Jika seseorang menggubah syair tentang cinta dan menggambarkan seorang wanita, maka jika ia tidak menyebutkan secara spesifik wanita tersebut, hal itu tidak merusak keadilannya; namun jika ia menyebutkan secara spesifik wanita itu, maka hal itu merusak keadilannya.

فَأَمَّا الْمُكْتَسِبُ بِالشِّعْرِ، فَإِنْ كَانَ يَقْتَضِي إِذَا مَدَحَ ويذم إذا مُنِعَ، فَهُوَ قَدْحٌ فِي عَدَالَتِهِ فَتُرَدُّ شَهَادَتُهُ.

Adapun orang yang mencari penghasilan melalui syair, jika ia memuji ketika diberi dan mencela ketika tidak diberi, maka hal itu merupakan celaan terhadap keadilannya sehingga kesaksiannya ditolak.

وَإِنْ كَانَ لَا يَقْتَضِي إِذَا مَدَحَ وَلَا يَذُمُّ إِذَا مُنِعَ وَتَقَبَّلَ مَا وَصَلَهُ إِلَيْهِ عَفْوًا، فَهُوَ عَلَى عَدَالَتِهِ وَقَبُولِ شَهَادَتِهِ.

Dan jika ia tidak memuji ketika diberi, tidak mencela ketika tidak diberi, serta menerima apa yang sampai kepadanya secara cuma-cuma, maka ia tetap dalam keadilannya dan kesaksiannya tetap dapat diterima.

( [الْقَوْلُ في شهادة الزنا] )

(Pembahasan tentang kesaksian dalam perkara zina)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَيَجُوزُ شَهَادَةُ وَلَدِ الزِّنَا فِي الزِّنَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Diperbolehkan kesaksian anak zina dalam perkara zina.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، لِأَنَّ الْأَنْسَابَ لَيْسَتْ مِنْ شُرُوطِ الْعَدَالَةِ فَتُقْبَلُ شَهَادَةُ وَلَدِ الزِّنَا إِذَا كان عدلا في الزنى وغير الزنى.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, karena nasab bukanlah syarat keadilan, sehingga kesaksian anak zina diterima jika ia adil, baik dalam perkara zina maupun selain zina.

وَقَالَ مَالِكٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا أَقْبَلُ شهادته في الزنى وأقبلها في غير الزنى وَقَالَ غَيْرُهُ مِنْ فُقَهَاءِ الْمَدِينَةِ: لَا أَقْبَلُ شَهَادَتَهُ بِحَالٍ.

Malik raḥimahullāh berkata: Aku tidak menerima kesaksiannya dalam perkara zina, namun aku menerimanya dalam selain zina. Sementara para fuqaha Madinah lainnya berkata: Aku tidak menerima kesaksiannya dalam keadaan apa pun.

اسْتِدْلَالًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أنه قال: ” ولد الزنى شَرُّ الثَّلَاثَةِ “.

Dengan berdalil pada apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Anak hasil zina adalah yang terburuk di antara tiga pihak.”

وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَلَدُ زَنْيَةٍ “.

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Anak hasil zina tidak akan masuk surga.”

وَإِذَا كَانَ شَرًّا مِنَ الزَّانِي وَمَدْفُوعًا مِنَ الْجَنَّةِ، كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ. فَلَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ.

Dan jika ia lebih buruk daripada pezina dan terhalang dari surga, maka ia termasuk golongan pelaku dosa besar (kabā’ir). Maka kesaksiannya tidak diterima.

وَهَذَا قَوْلٌ فَاسِدٌ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُؤَاخِذُ أَحَدًا بِذَنْبِ غَيْرِهِ وَهُوَ تَعَالَى يَقُولُ: {وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى} [الأنعام: 164] فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُؤَاخَذَ وَلَدُ الزَّانِي بِذَنْبِ أَبَوَيْهِ. لِأَنَّهُ ظُلْمٌ. وَاللَّهُ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الظُّلْمِ. وَهُوَ تَعَالَى يَقُولُ: {وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا} [الكهف: 49] وَلِأَنَّ عَارَ النَّسَبِ رُبَّمَا مَنَعَهُ مِنِ ارْتِكَابِ الْعَارِ، لِئَلَّا يَصِيرَ جَامِعًا بَيْنَ عَارَيْنِ فَصَارَ مَزْجُورًا بِمَعَرَّةِ نَسَبِهِ عَنْ مَعَرَّةِ كَذِبِهِ، فَلَمْ يُمْنَعْ مِنْ قَبُولِ الشَّهَادَةِ مَعَ ظهور عدالته.

Ini adalah pendapat yang rusak, karena Allah Ta‘ala tidak menghukum seseorang karena dosa orang lain, dan Dia Ta‘ala berfirman: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (al-An‘ām: 164). Maka tidak boleh anak hasil zina dihukum karena dosa kedua orang tuanya, karena itu adalah kezaliman. Dan Allah Ta‘ala Maha Suci dari kezaliman. Dia Ta‘ala juga berfirman: “Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun” (al-Kahfi: 49). Selain itu, aib nasab bisa saja mencegah seseorang melakukan aib lain, agar ia tidak menjadi orang yang menanggung dua aib sekaligus. Maka, ia telah dicegah dari melakukan aib dusta karena sudah menanggung aib nasabnya, sehingga tidak dilarang untuk diterima kesaksiannya selama keadilannya telah tampak.

وَأَمَّا الْخَبَرُ الْأَوَّلُ وَهُوَ ” وَلَدُ الزِّنَا شَرُّ الثَّلَاثَةِ ” فَهُوَ مِنْ مَنَاكِيرِ الْأَخْبَارِ وَمَا رَوَاهُ إِلَّا مَضْعُوفٌ غَيْرُ مَقْبُولِ الْحَدِيثِ، وَنَصُّ الْقُرْآنِ يَمْنَعُ مِنْهُ. وَلَوْ سَلِمَتِ الرِّوَايَةُ لَكَانَ لِاسْتِعْمَالِهِ وُجُوهًا:

Adapun khabar pertama, yaitu “anak zina adalah yang terburuk di antara tiga”, maka itu termasuk dari riwayat-riwayat yang mungkar dan tidak meriwayatkannya kecuali perawi yang lemah dan tidak diterima hadisnya, serta nash Al-Qur’an melarang hal tersebut. Dan seandainya riwayat itu sahih, maka penggunaannya memiliki beberapa penafsiran:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ شَرُّ الثَّلَاثَةِ نَسَبًا.

Salah satunya: bahwa ia adalah yang terburuk nasabnya di antara tiga itu.

وَالثَّانِي: شَرُّ الثَّلَاثَةِ إِذَا كَانَ زَانِيًا.

Yang kedua: yang terburuk di antara tiga orang itu adalah jika ia seorang pezina.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ كَانَ وَاحِدًا مِنْ ثَلَاثَةٍ، فَأُشِيرَ إِلَيْهِ أَنَّهُ شرهم، فكان ذلك للزنى تَعْرِيفًا لَا تَعْلِيلًا.

Ketiga: bahwa ia adalah salah satu dari tiga orang, lalu ditunjuk kepadanya bahwa ia yang terburuk di antara mereka, maka hal itu berkaitan dengan zina sebagai penjelasan, bukan sebagai alasan.

وَالرَّابِعُ: مَا ذُكِرَ أَنَّ أَبَا عَزَّةَ الْجُمَحِيَّ كَانَ يَهْجُو رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَيَقْدَحُ فِيهِ بِالْعَظَائِمِ فَذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَا يَقُولُهُ وَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ وَلَدُ زَنْيَةٍ. فقال عليه السلام: ” ولد الزنى شَرُّ الثَّلَاثَةِ ” يَعْنِي بِهِ أَبَا عَزَّةَ.

Keempat: Disebutkan bahwa Abu ‘Azzah al-Jumahi biasa mencela Rasulullah ﷺ dan menjelek-jelekkannya dengan tuduhan-tuduhan besar. Lalu apa yang dikatakannya itu disebutkan di hadapan Nabi ﷺ, dan dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya dia adalah anak hasil zina.” Maka beliau bersabda: “Anak zina adalah yang terburuk di antara tiga orang,” yang beliau maksudkan adalah Abu ‘Azzah.

وَأَمَّا الْخَبَرُ الثَّانِي: فَهُوَ أَوْهَى مِنَ الْأَوَّلِ، وَأَضْعَفُ وَأَبْعَدُ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الِاحْتِمَالِ وَجْهٌ، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُحْبِطَ طَاعَتَهُ مَعْصِيَةُ غيره، والكفر أعظم من الزنى، وَلَا يُحْبَطُ عَمَلُ الْمُؤْمِنِ بِكُفْرِ أَبَوَيْهِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَحْبِطَ عَمَلَهُ بِزِنَى وَالِدَيْهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun khabar yang kedua: ia lebih lemah daripada yang pertama, lebih lemah dan lebih jauh kemungkinan untuk dapat diterima, karena tidak mungkin ketaatan seseorang dibatalkan oleh maksiat orang lain, sedangkan kekufuran itu lebih besar daripada zina, dan amal seorang mukmin tidak dibatalkan oleh kekufuran kedua orang tuanya, maka lebih utama lagi amalnya tidak dibatalkan oleh perzinaan kedua orang tuanya. Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْمَحْدُودِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian orang yang dikenai had)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالْمَحْدُودُ فِيمَا حُدَّ فِيهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang yang dikenai ḥadd, hanya dikenai ḥadd pada perkara yang memang ditetapkan ḥadd atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا أَرَادَ بِهِ مَالِكًا، فَإِنَّهُ يَقُولُ: مَنْ حُدَّ فِي مَعْصِيَةٍ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ فِيمَا حُدَّ فِيهِ، وَقُبِلَتْ فِي غَيْرِهِ، فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمَحْدُودِ فِي الزِّنَا إِذَا شَهِدَ بِالزِّنَا، وَلَا الْمَحْدُودِ فِي الْخَمْرِ إِذَا شَهِدَ فِي الْخَمْرِ، وَلَا الْمَقْطُوعِ فِي السَّرِقَةِ إِذَا شَهِدَ بِالسَّرِقَةِ.

Al-Mawardi berkata: Yang dimaksud di sini adalah Malik, karena ia berpendapat: Barang siapa yang dijatuhi had karena suatu maksiat, maka kesaksiannya tidak diterima dalam perkara yang ia dijatuhi had di dalamnya, namun diterima dalam perkara selain itu. Maka, kesaksian orang yang dijatuhi had karena zina tidak diterima jika ia bersaksi dalam perkara zina, begitu pula orang yang dijatuhi had karena khamr tidak diterima kesaksiannya jika ia bersaksi dalam perkara khamr, dan orang yang dipotong tangannya karena mencuri tidak diterima kesaksiannya jika ia bersaksi dalam perkara pencurian.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهَا اسْتِرَابَةٌ يَقْتَضِي الدَّفْعَ عَنِ الشَّهَادَةِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا} [البقرة: 282] .

Dengan berdalil bahwa hal itu merupakan keraguan yang menuntut untuk menolak kesaksian, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih kuat untuk kesaksian, dan lebih dekat agar kalian tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Baqarah: 282).

وَبِقَوْلِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عَهْدِهِ لِأَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ: الْمُسْلِمُونَ عُدُولٌ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا مَجْلُودًا فِي حَدٍّ أَوْ مُجَرَّبًا عَلَيْهِ شَهَادَةُ زُورٍ أَوْ ظَنِينًا فِي وَلَاءٍ أَوْ نَسَبٍ.

Dan berdasarkan perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu dalam suratnya kepada Abu Musa al-Asy‘ari: “Kaum Muslimin adalah orang-orang yang adil satu sama lain, kecuali orang yang pernah dikenai hukuman had, atau yang pernah terbukti memberikan kesaksian palsu, atau yang dicurigai dalam masalah wala’ atau nasab.”

وَتَعَلُّقًا بِمَا رُوِيَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: وَدَّ السَّارِقُ أَنْ يَكُونَ النَّاسُ سُرَّاقًا وَوَدَّ الزَّانِي أَنْ يَكُونَ النَّاسُ زُنَاةً، وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ لِيَنْفِيَ الْمَعَرَّةَ عَنْ نَفْسِهِ بِمُشَارَكَةِ غَيْرِهِ.

Berkaitan dengan apa yang diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Pencuri ingin agar semua orang menjadi pencuri, dan pezina ingin agar semua orang menjadi pezina. Hal itu terjadi agar ia dapat menyingkirkan aib dari dirinya dengan adanya orang lain yang melakukan hal serupa.”

وَهَذَا قَوْلٌ فَاسِدٌ. وَشَهَادَتُهُ إِذَا تَابَ مَقْبُولَةٌ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ إِلا الَّذِينَ تَابُوا} [النور: 4، 5] .

Ini adalah pendapat yang rusak. Kesaksiannya, jika ia telah bertobat, diterima berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali cambukan dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik, kecuali mereka yang telah bertobat.” (an-Nur: 4-5).

وَقَدْ وَافَقَ مَالِكٌ عَلَى أَنَّ شَهَادَةَ الْقَاذِفِ إِذَا تَابَ بَعْدَ حَدِّهِ، أَنَّ شَهَادَتَهُ مَقْبُولَةٌ فِي الْقَذْفِ وَغَيْرِهُ. وَكَذَلِكَ حُكْمُ مَنْ حُدَّ فِي غَيْرِهِ.

Malik berpendapat bahwa kesaksian orang yang menuduh zina (qadzaf), jika ia telah bertobat setelah dijatuhi had, maka kesaksiannya diterima baik dalam perkara qadzaf maupun perkara lainnya. Demikian pula hukum bagi orang yang dijatuhi had dalam perkara selain qadzaf.

وَتَحْرِيرُ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسًا، أَنَّ مَنْ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ فِي غَيْرِ مَا حُدَّ فِيهِ، قُبِلَتْ فِيمَا حُدَّ فِيهِ كَالْقَاذِفِ.

Penjelasan istidlāl ini secara qiyās adalah bahwa siapa saja yang diterima kesaksiannya dalam perkara selain yang dikenakan hudud, maka kesaksiannya juga diterima dalam perkara yang dikenakan hudud, seperti halnya kesaksian pada kasus qadzaf.

وَلَيْسَ لِلتَّعْلِيلِ بِالِارْتِيَابِ وَجْهٌ، لِأَنَّهُ لَوْ صَحَّ لَعَمَّ وَلَمْ يَخُصَّ.

Tidak ada alasan untuk mengaitkan hukum dengan keraguan, karena jika alasan itu benar, maka ia akan berlaku umum dan tidak khusus.

وَلَا دَلِيلَ فِيمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعُثْمَانَ، لِتَوَجُّهِهِ إِلَى مَا قَبْلَ التَّوْبَةِ، فَلَمْ يُحْمَلْ عَلَى مَا بَعْدَهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan tidak ada dalil dalam riwayat yang berasal dari Umar dan Utsman, karena riwayat tersebut mengarah pada keadaan sebelum taubat, sehingga tidak dapat dibawa pada keadaan setelahnya. Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ أَهْلِ الْقُرَى وَالْبَوَادِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ] )

(Pembahasan tentang kesaksian penduduk desa dan pedalaman, sebagian mereka atas sebagian yang lain)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالْقَرَوِيِّ عَلَى الْبَدَوِيِّ وَالْبَدَوِيِّ عَلَى الْقَرَوِيِّ إِذَا كَانُوا عُدُولًا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang desa dapat menjadi saksi bagi orang badui, dan orang badui dapat menjadi saksi bagi orang desa, jika mereka adalah orang-orang yang adil.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا كَانَ الْبَدَوِيُّ عَدْلًا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ عَلَى الْقَرَوِيِّ، كَمَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْقَرَوِيِّ عَلَى الْبَدَوِيِّ.

Al-Mawardi berkata: Jika seorang badui adalah orang yang adil, maka kesaksiannya diterima atas orang desa, sebagaimana kesaksian orang desa juga diterima atas orang badui.

وَقَالَ مَالِكٌ: أَقْبَلُ شَهَادَةَ الْقَرَوِيِّ عَلَى الْبَدَوِيِّ، وَلَا أَقْبَلُ شَهَادَةَ الْبَدَوِيِّ عَلَى الْقَرَوِيِّ. إِلَّا فِي الْجِرَاحِ.

Malik berkata: Aku menerima kesaksian orang desa terhadap orang Badui, dan aku tidak menerima kesaksian orang Badui terhadap orang desa, kecuali dalam kasus luka.

اسْتِدْلَالًا بِرِوَايَةِ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا أَقْبَلُ شَهَادَةَ الْبَدَوِيِّ عَلَى صَاحِبِ قَرْيَةٍ “.

Dengan berdalil pada riwayat ‘Aṭā’ bin Yasār dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku tidak menerima kesaksian orang Badui atas penduduk desa.”

وَلِأَنَّ مَا خَرَجَ عَنِ الْعُرْفِ رِيبَةٌ فِي الشَّهَادَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا} [البقرة: 282] وَالْعُرْفُ جَارٍ بِأَنَّ الْبَدَوِيَّ يَشْهَدُ لِلْقَرَوِيِّ، وَلَمْ يَجْرِ الْعُرْفُ بِإِشْهَادِ الْقَرَوِيِّ لِلْبَدَوِيِّ، فَصَارَ بِخُرُوجِهِ عَنِ الْعُرْفِ مَتْهُومًا.

Karena sesuatu yang keluar dari ‘urf (kebiasaan) menimbulkan keraguan dalam kesaksian, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih kuat untuk kesaksian, dan lebih dekat agar kamu tidak ragu-ragu” (QS. Al-Baqarah: 282). ‘Urf yang berlaku adalah bahwa orang badui memberikan kesaksian untuk orang desa, dan tidak berlaku kebiasaan bahwa orang desa memberikan kesaksian untuk orang badui. Maka, ketika keluar dari ‘urf, hal itu menjadi sesuatu yang dicurigai.

وَدَلِيلُنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَبِلَ شَهَادَةَ الْأَعْرَابِيِّ فِي هِلَالِ رَمَضَانَ وَصَامَ، وَأَمْرَ النَّاسَ بِالصِّيَامِ.

Dan dalil kami adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima kesaksian seorang Arab Badui tentang hilal Ramadan, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.

وَلِأَنَّ اخْتِلَافَ الْأَوْطَانِ لَا تُؤَثِّرُ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ كَأَهْلِ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى.

Dan karena perbedaan negeri tidak berpengaruh dalam diterimanya kesaksian, sebagaimana halnya penduduk kota-kota besar dan desa-desa.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ فِي الْجِرَاحِ أَغْلَظُ مِنْهَا فِي الْأَمْوَالِ فَلَمَّا قُبِلَتْ شَهَادَةُ الْبَدَوِيِّ عَلَى الْقَرَوِيِّ فِي الْجِرَاحِ، كَانَ أَوْلَى أَنَّ تُقْبَلَ فِي غير الجراح.

Dan karena kesaksian dalam perkara luka-luka (al-jirāḥ) lebih berat dibandingkan dalam perkara harta, maka ketika kesaksian orang Badui diterima atas orang desa dalam perkara luka-luka, maka lebih utama lagi untuk diterima dalam perkara selain luka-luka.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا، أَنَّ مَنْ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُ فِي الْجِرَاحِ، قُبِلَتْ فِي غَيْرِ الْجِرَاحِ كَالْقَرَوِيِّ.

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa siapa saja yang diterima kesaksiannya dalam perkara luka, maka kesaksiannya juga diterima dalam perkara selain luka, seperti orang desa.

وَلِأَنَّ أَهْلَ الْبَادِيَةِ أَسْلَمُ فِطْرَةً وَأَقَلُّ حَيَاءً، فَكَانَ الصِّدْقُ فِيهِمْ أَغْلَبُ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونُوا بِقَبُولِ الشَّهَادَةِ أَجْدَرُ.

Dan karena penduduk pedalaman lebih murni fitrahnya dan lebih sedikit rasa malunya, maka kejujuran lebih dominan di antara mereka, sehingga hal itu menuntut agar mereka lebih layak diterima kesaksiannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَرَاوِيهِ عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ. وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَإِنْ صَحَّ فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut, perawinya adalah ‘Ali bin Mus-hir, dan ia adalah perawi yang lemah. Jika pun hadis itu sahih, maka hadis tersebut dapat ditakwilkan pada salah satu dari dua kemungkinan.

إِمَّا عَلَى الْجَهْلِ بِعَدَالَتِهِ لِخَفَاءِ أَحْوَالِ أَهْلِ الْبَادِيَةِ، وَإِمَّا عَلَى بَدَوِيٍّ بِعَيْنِهِ عُلِمَ جُرْحُهُ.

Entah karena ketidaktahuan terhadap keadilannya akibat samaranya keadaan penduduk pedalaman, atau terhadap seorang badui tertentu yang diketahui adanya cacat pada dirinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اعْتِبَارِ الْعُرْفِ. فِي الْإِشْهَادِ فَهُوَ فَاسِدٌ بِأَهْلِ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى، فَإِنَّ الْعُرْفَ جَارٍ بِأَنَّ أَهْلَ الْقُرَى يُشْهِدُونَ أَهْلَ الْأَمْصَارِ، وَلَا يُشْهِدُ أَهْلُ الْأَمْصَارِ أَهْلَ الْقُرَى، وَهَذَا الْعُرْفُ غَيْرُ مُعْتَبَرٍ، وَكَذَلِكَ فِي الْبَادِيَةِ وَالْحَاضِرَةِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun jawaban terhadap pertimbangan ‘urf dalam penyaksian, maka hal itu rusak (tidak sah) berkaitan dengan penduduk kota dan desa. Sebab, ‘urf yang berlaku adalah bahwa penduduk desa menjadi saksi bagi penduduk kota, dan penduduk kota tidak menjadi saksi bagi penduduk desa. ‘Urf seperti ini tidak dianggap (tidak diakui). Demikian pula halnya antara penduduk pedalaman dan penduduk perkotaan. Dan Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الصَّبِيِّ وَالْعَبْدِ وَالْكَافِرِ وَالْفَاسِقِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian anak kecil, budak, orang kafir, dan orang fasik)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا شَهِدَ صَبِيٌّ أَوْ عَبْدٌ أَوْ نَصْرَانِيٌ بِشَهَادَةٍ فَلَا يَسْمَعُهَا وَاسْتِمَاعُهُ لَهَا تَكَلُّفٌ وَإِنْ بَلَغَ الصَّبِيُّ وَأُعْتِقَ الْعَبْدُ وَأَسْلَمَ النَّصْرَانِيُّ ثُمَّ شَهِدُوا بِهَا بِعَيْنِهَا قَبِلْتُهَا فَأَمَا الْبَالِغُ الْمُسْلِمُ أَرُدُّ شَهَادَتَهُ فِي الشَّيْءِ ثُمَّ يَحْسُنُ حَالُهُ فَيَشْهَدُ بِهَا فَلَا أَقْبَلُهَا لَأَنَّا حَكَمْنَا بِإِبْطَالِنَا وَجَرْحِهِ فِيهَا لِأَنَّهُ مِنَ الشَّرْطِ أَنْ لَا يُخْتَبَرَ عَمَلُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila seorang anak kecil, budak, atau Nasrani memberikan kesaksian, maka kesaksiannya tidak didengarkan, dan mendengarkannya adalah suatu hal yang memberatkan diri. Namun, jika anak kecil itu telah baligh, budak itu telah dimerdekakan, dan Nasrani itu telah masuk Islam, kemudian mereka memberikan kesaksian yang sama persis, maka aku menerimanya. Adapun seorang Muslim dewasa yang kesaksiannya pernah aku tolak dalam suatu perkara, lalu kemudian keadaannya menjadi baik dan ia memberikan kesaksian yang sama, maka aku tidak menerimanya, karena kita telah menetapkan penolakan dan mencacatkan kesaksiannya dalam perkara tersebut, sebab salah satu syaratnya adalah tidak diuji amal perbuatannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ: مُشْتَبِهَيْنِ فِي الصُّورَةِ مُخْتَلِفِينَ فِي الْحُكْمِ:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini mencakup dua bagian: keduanya mirip dalam bentuk, namun berbeda dalam hukum.

فَأَحَدُهُمَا: أَنْ يَشْهَدَ صَبِيٌّ قَبْلَ بُلُوغِهِ، أَوْ عَبْدٌ قَبْلَ عِتْقِهِ، أَوْ نَصْرَانِيٌّ قَبْلَ إِسْلَامِهِ بِشَهَادَةٍ، فَيَرُدُّهُمُ الْحَاكِمُ فِيهَا، ثُمَّ يَبْلُغُ الصبي ويعتق العبد، ويسلم النصراني، فيشهدوا بِتِلْكَ الشَّهَادَةِ الَّتِي رَدُّوا فِيهَا عِنْدَ ذَلِكَ الْحَاكِمِ أَوْ عِنْدَ غَيْرِهِ، قُبِلَتْ بَعْدَ تَقَدُّمِ الرَّدِّ.

Salah satunya adalah: apabila seorang anak kecil sebelum baligh, atau seorang budak sebelum dimerdekakan, atau seorang Nasrani sebelum masuk Islam memberikan kesaksian, lalu hakim menolak kesaksian mereka dalam perkara tersebut, kemudian anak itu mencapai usia baligh, budak itu dimerdekakan, dan Nasrani itu masuk Islam, lalu mereka memberikan kesaksian atas perkara yang sama di hadapan hakim tersebut atau hakim yang lain, maka kesaksian itu diterima meskipun sebelumnya telah ditolak.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا أَقْبَلُهَا بَعْدَ رَدِّهَا.

Malik berkata: Aku tidak menerimanya setelah menolaknya.

وَالْفَصْلُ الثَّانِي: تُرَدُّ شَهَادَةُ الْفَاسِقِ وَيَشْهَدُ بِهَا بَعْدَ زَوَالِ الْفِسْقِ.

Bagian kedua: Kesaksian orang fāsiq ditolak, dan ia dapat memberikan kesaksian setelah hilangnya sifat fāsiq tersebut.

أَنْ يَشْهَدَ بَالِغٌ حُرٌّ مُسْلِمٌ بِشَهَادَةٍ، فَيَرُدُّهَا الْحَاكِمُ بِالْفِسْقِ، ثُمَّ تَحْسُنُ حَالُهُ وَيَصِيرُ عَدْلًا، فَيَشْهَدُ بِتِلْكَ الشَّهَادَةِ عِنْدَ ذَلِكَ الْحَاكِمِ أَوْ عِنْدَ غَيْرِهِ، رُدَّتْ وَلَمْ تُقْبَلْ: وَقَالَ أَبُو ثَوْرٍ وَأَبُو إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيُّ: تُقْبَلُ وَلَا تُرَدُّ.

Jika seorang laki-laki dewasa, merdeka, dan Muslim memberikan kesaksian, lalu hakim menolaknya karena kefasikan, kemudian keadaannya membaik dan ia menjadi adil, lalu ia memberikan kesaksian yang sama di hadapan hakim tersebut atau hakim yang lain, maka kesaksiannya ditolak dan tidak diterima. Namun Abu Tsaur dan Abu Ibrahim al-Muzani berpendapat: Kesaksiannya diterima dan tidak ditolak.

فَسِوَى مَالِكٌ بَيْنَ الْفَصْلَيْنِ فِي الرَّدِّ، وَسِوَى أَبُو ثَوْرٍ وَالْمُزَنِيُّ بَيْنَهُمَا في القبول.

Mālik menyamakan antara kedua bab tersebut dalam hal penolakan, sedangkan Abū Tsaur dan al-Muzanī menyamakan antara keduanya dalam hal penerimaan.

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا تُقْبَلُ إِذَا رُدَّتْ بِالصِّغَرِ وَالرِّقِّ وَالْكُفْرِ، وَلَا تُقْبَلُ إِذَا رَدَّتْ بِالْفِسْقِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa kesaksian itu diterima jika ditolak karena masih kecil, status budak, atau kekufuran, dan tidak diterima jika ditolak karena kefasikan, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ حُدُوثَ الْبُلُوغِ وَالْعِتْقِ وَالْإِسْلَامِ يَقِينٌ، وَحُدُوثُ الْعَدَالَةِ مَظْنُونٌ.

Salah satunya adalah bahwa terjadinya baligh, merdeka, dan masuk Islam adalah sesuatu yang pasti, sedangkan terjadinya keadilan bersifat dugaan.

وَالثَّانِي: أَنَّ الصِّغَرَ وَالرِّقَّ وَالْكُفْرَ ظَاهِرٌ يُمْنَعُ مِنْ سَمَاعِ الشَّهَادَةِ، فَصَارَتْ مَرْدُودَةً بِغَيْرِ حُكْمٍ. وَالْفِسْقُ بَاطِنٌ فَصَارَ رَدُّهَا فِيهِ بِحُكْمِ.

Kedua: Bahwa usia kecil, status budak, dan kekufuran adalah hal-hal yang tampak yang mencegah diterimanya kesaksian, sehingga kesaksian tersebut ditolak tanpa adanya keputusan hukum. Sedangkan kefasikan adalah sesuatu yang tersembunyi, maka penolakan kesaksian dalam hal ini harus dengan keputusan hukum.

لَوْ فَرَّقَ عَلَى هَذَا الْفَرْقِ بَيْنَ رَدِّهَا بِالْفِسْقِ الظَّاهِرِ فَتُقْبَلُ، وَبَيْنَ رَدِّهَا بِالْفِسْقِ الْبَاطِنِ فَلَا تُقْبَلُ، لَكَانَ وَجْهًا لِأَنَّ الْفِسْقَ الظَّاهِرَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى اجْتِهَادٍ، فَصَارَ مَرْدُودًا بِغَيْرِ حُكْمٍ كَالْكُفْرِ وَالرِّقِّ وَالصِّغَرِ، وَالْفِسْقَ الْبَاطِنِ يَفْتَقِرُ إِلَى اجْتِهَادٍ فَصَارَ مَرْدُودًا بِالْحُكْمِ، وَمَا نَفَذَ فِيهِ الْحُكْمُ بِاجْتِهَادٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُنْقَضَ بِاجْتِهَادٍ.

Jika dibedakan antara menolaknya karena kefasikan yang tampak sehingga diterima, dan menolaknya karena kefasikan yang tersembunyi sehingga tidak diterima, maka itu adalah suatu pendapat. Sebab, kefasikan yang tampak tidak membutuhkan ijtihad, sehingga menjadi tertolak tanpa keputusan hukum, seperti kekufuran, perbudakan, dan usia anak-anak. Sedangkan kefasikan yang tersembunyi memerlukan ijtihad, sehingga menjadi tertolak dengan keputusan hukum. Dan sesuatu yang telah diputuskan dengan ijtihad, tidak boleh dibatalkan dengan ijtihad lain.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ دُعِيَ الْعَبْدُ أَوِ الْكَافِرُ إلى تحمل الشهادة، لم يلزمها تَحَمُّلُهَا، وَلَوْ دُعِيَا إِلَى أَدَاءِ شَهَادَةٍ قَدْ تَحَمَّلَاهَا، لَمْ يَلْزَمْهُمَا أَدَاؤُهَا، لِأَنَّ التَّحَمُّلَ يُرَادُ بِهِ الْأَدَاءُ، وَالْأَدَاءُ غَيْرُ مَقْبُولٍ، فَلَمْ يَلْزَمَا.

Jika seorang budak atau orang kafir dipanggil untuk menerima kesaksian, maka keduanya tidak wajib menerimanya. Dan jika keduanya dipanggil untuk memberikan kesaksian yang telah mereka terima, maka keduanya juga tidak wajib memberikannya, karena menerima kesaksian dimaksudkan untuk memberikan kesaksian, sedangkan kesaksian mereka tidak diterima, maka keduanya tidak diwajibkan.

وَلَوْ دُعِيَ الْفَاسِقُ، إِلَى تَحَمُّلِ الشَّهَادَةِ، فَإِنْ كَانَ فِسْقُهُ ظَاهِرًا لَمْ يَلْزَمْهُ تَحَمُّلُهَا. وَإِنْ كَانَ فِسْقُهُ بَاطِنًا لَزِمَهُ تَحَمُّلُهَا، وَهَكَذَا، لَوْ دُعِيَ إِلَى أَدَاءِ مَا قَدْ تَحَمَّلَهُ مِنَ الشَّهَادَةِ، وَلَمْ يَلْزَمْهُ أَدَاؤُهُ إِنْ كَانَ ظَاهِرَ الْفِسْقِ، وَلَزِمَهُ أَدَاؤُهَا إِنْ كَانَ بَاطِنَ الْفِسْقِ، لِأَنَّ رَدَّ شَهَادَتِهِ بِالْفِسْقِ الظَّاهِرِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَبِالْفِسْقِ الْبَاطِنِ مُخْتَلِفٌ فِيهِ.

Jika seorang fāsiq dipanggil untuk memikul kesaksian, maka jika kefāsiqannya tampak jelas, ia tidak wajib memikul kesaksian tersebut. Namun jika kefāsiqannya tersembunyi, ia wajib memikulnya. Demikian pula, jika ia dipanggil untuk menyampaikan kesaksian yang telah ia pikul, maka ia tidak wajib menyampaikannya jika kefāsiqannya tampak jelas, dan ia wajib menyampaikannya jika kefāsiqannya tersembunyi. Sebab, penolakan kesaksiannya karena kefāsiqan yang tampak jelas adalah sesuatu yang disepakati, sedangkan karena kefāsiqan yang tersembunyi masih diperselisihkan.

وَإِذَا رَدَّ الْحَاكِمُ شَهَادَةَ رَجُلٍ بِفِسْقٍ، ثُمَّ دُعِيَ لِيَشْهَدَ بِهَا عِنْدَ غَيْرِهِ، لَمْ يَلْزَمْهُ الْإِجَابَةُ، لِأَنَّ رَدَّهَا بِالْحُكْمِ قَدْ أَبْطَلَهَا، وَلَوْ تَوَقَّفَ الْحَاكِمُ عَنْ قَبُولِهَا لِلْكَشْفِ عَنْ عَدَالَتِهِ حَتَّى مَاتَ، أَوْ عُزِلَ، ثُمَّ دُعِيَ لِيَشْهَدَ بِهَا عِنْدَ غَيْرِهِ، لَزِمَتْهُ الْإِجَابَةُ، لِأَنَّهَا لَمْ تُرَدَّ فَلَمْ تَبْطُلْ.

Apabila seorang hakim menolak kesaksian seseorang karena fasiq, kemudian orang tersebut diminta untuk memberikan kesaksian itu di hadapan hakim lain, maka ia tidak wajib memenuhi permintaan tersebut, karena penolakan hakim melalui putusan telah membatalkan kesaksiannya. Namun, jika hakim menunda penerimaan kesaksian itu untuk meneliti keadilannya hingga hakim tersebut meninggal atau diberhentikan, lalu orang itu diminta untuk memberikan kesaksian di hadapan hakim lain, maka ia wajib memenuhi permintaan tersebut, karena kesaksiannya belum ditolak sehingga tidak batal.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا دُعِيَ الْمُتَحَمِّلُ لِلشَّهَادَةِ، إِلَى أَدَائِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ وَهُوَ مِمَّنْ يَصِحُ مِنْهُ الْأَدَاءُ فَامْتَنَعَ وَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ لَا يَقْبَلَ الْحَاكِمُ شَهَادَتِي. لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عُذْرًا فِي امْتِنَاعِهِ، وَلَزِمَهُ الْأَدَاءُ وَلِلْحَاكِمِ اجْتِهَادُهُ فِي الْقَبُولِ أَوِ الرَّدِّ.

Apabila seseorang yang memikul kewajiban untuk memberikan kesaksian dipanggil untuk menyampaikannya di hadapan hakim, dan ia termasuk orang yang sah untuk memberikan kesaksian, lalu ia menolak dan berkata: “Aku khawatir hakim tidak akan menerima kesaksianku,” maka hal itu bukanlah alasan yang dibenarkan untuk penolakannya, dan ia tetap wajib memberikan kesaksian. Adapun hakim, ia berhak menggunakan ijtihadnya dalam menerima atau menolak kesaksian tersebut.

وَلَوِ امْتَنَعَ عَنِ الْأَدَاءِ وَقَالَ: لَيْسَ الْحَاكِمُ عِنْدِي مُسْتَحِقًّا لِلْحُكْمِ، إِمَّا لِفِسْقٍ أَوْ جَهْلٍ. لَزِمَهُ الْأَدَاءُ، وَلَيْسَ لِلشَّاهِدِ اجْتِهَادٌ فِي صِحَّةِ التَّقْلِيدِ وَفَسَادِهِ.

Jika seseorang menolak untuk memberikan kesaksian dan berkata: “Menurutku hakim tidak berhak untuk memutuskan perkara, baik karena kefasikan maupun karena ketidaktahuan,” maka ia tetap wajib memberikan kesaksian. Seorang saksi tidak berwenang melakukan ijtihad dalam menilai sah atau tidaknya taqlid.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا يَلْزَمُهُ أَدَاءُ الشَّهَادَةِ إِذَا اعْتَقَدَ فَسَادَ تَقْلِيدِهِ بِفِسْقٍ أَوْ جَهْلٍ، وَإِنَّمَا تَلْزَمُهُ الشَّهَادَةُ عِنْدَ مَنْ يَرْتَضِي مِنَ الْحُكَّامِ، كَمَا يَلْزَمُ الْحَاكِمَ قَبُولُ شَهَادَةِ مَنْ يَرْتَضِي مِنَ الشهود.

Ahmad bin Hanbal berkata: Seseorang tidak wajib memberikan kesaksian jika ia meyakini bahwa taklidnya rusak karena kefasikan atau kebodohan, dan ia hanya wajib memberikan kesaksian di hadapan hakim yang ia ridai, sebagaimana seorang hakim hanya wajib menerima kesaksian dari saksi yang ia ridai.

وَحُكِيَ أَنَّ أَحْمَدَ لَزِمَتْهُ شَهَادَةٌ فَدُعِيَ إِلَى أَدَائِهَا عِنْدَ بَعْضِ الْحُكَّامِ فَامْتَنَعَ.

Diriwayatkan bahwa Ahmad memiliki kewajiban memberikan kesaksian, lalu ia dipanggil untuk menyampaikannya di hadapan salah seorang hakim, namun ia menolak.

وَقَالَ: إِنَّ الْقَاضِيَ لَيْسَ بِرِضًى، فَقَالَ الدَّاعِي: يُتْلِفُ عَلَيَّ مَالِي.

Dan ia berkata: Sesungguhnya qadhi bukanlah dengan kerelaan, maka si penggugat berkata: Ia akan membinasakan hartaku.

فَقَالَ أَحْمَدُ: مَا أَتَلَفْتُ عَلَيْكَ مَالَكَ، الَّذِي وَلَّى هَذَا الْقَاضِي أَتْلَفَ عَلَيْكَ مَالَكَ.

Ahmad berkata: Aku tidak merusak hartamu; yang merusak hartamu adalah orang yang mengangkat qadhi ini.

وَلَيْسَ لِهَذَا الْقَوْلِ وَجْهٌ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالشَّهَادَةِ وَصُولُ ذِي الْحَقِّ إِلَى حَقِّهِ، فَلَمْ يَفْتَرِقْ فِي وُصُولِهِ إِلَيْهِ حَقُّهُ بَيْنَ صِحَّةِ التَّقْلِيدِ وَفَسَادِهِ.

Pendapat ini tidak memiliki dasar; karena tujuan dari kesaksian adalah agar pemilik hak memperoleh haknya, maka tidak ada perbedaan dalam tercapainya hak tersebut antara sahnya taklid atau rusaknya.

فَإِنْ دُعِيَ الشَّاهِدُ إِلَى أَدَاءِ شَهَادَةٍ عِنْدَ أَمِيرٍ أَوْ ذِي يَدٍ، فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَجُوزُ لَهُ إِلْزَامُ الْحُقُوقِ وَالْإِجْبَارُ عَلَيْهَا، لَزِمَ أَدَاءَ الشَّهَادَةِ عِنْدَهُ، وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ، وَلَا يَصِحُّ مِنْهُ، لَمْ يَلْزَمْهُ أَدَاؤُهَا عِنْدَهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika seorang saksi dipanggil untuk memberikan kesaksian di hadapan seorang amir atau orang yang memiliki kekuasaan, maka jika ia termasuk orang yang berwenang untuk mewajibkan penunaian hak dan memaksa atasnya, wajib baginya memberikan kesaksian di hadapannya. Namun jika ia termasuk orang yang tidak berwenang melakukan hal tersebut dan tidak sah darinya, maka tidak wajib baginya memberikan kesaksian di hadapannya. Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي شَهَادَةِ الْوَارِثِ بِدَيْنٍ عَلَى الْمُوَرِّثِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian ahli waris mengenai utang atas pewaris)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ تَرَكَ الْمَيِّتُ ابْنَيْنِ فَشَهِدَ أَحَدُهُمَا عَلَى أَبِيهِ بِدَيْنٍ فَإِنْ كَانَ عَدْلًا حَلَفَ الْمُدَّعِي وَأَخَذَ الدَّيْنَ مِنْ الِاثْنَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَدْلًا أَخَذَ مِنْ يَدَيِ الشَّاهِدِ بِقَدْرِ مَا كان يأخذه منه لو جازت شهادته لأن موجودا فِي شَهَادَتِهِ أَنَ لَهُ فِي يَدَيْهِ حَقَّا وَفِي يَدَيِ الْجَاحِدِ حَقًّا فَأَعْطَيْتُهُ مِنَ الْمُقِرِّ وَلَمْ أُعْطِهِ مِنَ الْمُنْكِرِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang yang meninggal dunia meninggalkan dua orang anak laki-laki, lalu salah satu dari keduanya bersaksi atas ayahnya mengenai adanya utang, maka jika ia adalah seorang yang ‘adl (adil), pihak yang mengklaim bersumpah dan mengambil utang itu dari keduanya. Namun jika ia bukan seorang yang ‘adl, maka diambil dari tangan saksi tersebut sebesar apa yang akan diambil darinya seandainya kesaksiannya diterima, karena dalam kesaksiannya terdapat pengakuan bahwa ia memiliki hak di tangan saudaranya dan di tangan yang mengingkari juga ada hak. Maka aku memberikannya dari pihak yang mengakui, dan aku tidak memberikannya dari pihak yang mengingkari.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ ادَّعَى دَيْنًا عَلَى مَيِّتٍ وَوَرِثَهُ ابْنَانِ لَهُ فَصَدَّقَهُ أَحَدُهُمَا وَكَذَّبَهُ الْآخَرُ، فَالْمُصَدِّقُ مُقِرٌّ وَالْمُكَذِّبُ مُنْكِرٌ وَلِلْمُقِرِّ حَالَتَانِ:

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang laki-laki yang mengaku memiliki utang pada seseorang yang telah meninggal dunia, lalu orang yang meninggal itu diwarisi oleh dua anak laki-lakinya. Salah satu dari keduanya membenarkan pengakuan tersebut, sedangkan yang lainnya mendustakannya. Maka, yang membenarkan adalah muqir (orang yang mengakui), dan yang mendustakan adalah munkir (orang yang mengingkari). Bagi muqir terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ عَدْلًا، فَيَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لِلْمُدَّعِي بِدَيْنِهِ فِي حَقِّ أَخِيهِ الْمُنْكِرِ مَعَ شَاهِدٍ آخَرَ أَوْ مَعَ يَمِينِ الْمُدَّعِي، وَلَا يَكُونُ الْإِقْرَارُ شَهَادَةً حَتَّى يَسْتَأْنِفَهَا بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ لَفْظَ الْإِقْرَارِ لَا يَكُونُ شَهَادَةً، وَشَهَادَتُهُ تَكُونُ عَلَى أَبِيهِ دُونَ أَخِيهِ لِوُجُوبِ الدَّيْنِ عَلَى الْأَبِ.

Pertama: Syaratnya adalah harus adil, sehingga diperbolehkan baginya untuk menjadi saksi bagi penggugat atas utangnya terhadap saudaranya yang mengingkari, bersama saksi lain atau bersama sumpah penggugat. Pengakuan tidak dianggap sebagai kesaksian sampai ia mengulanginya dengan lafaz kesaksian, karena lafaz pengakuan tidak bisa menjadi kesaksian. Kesaksiannya berlaku terhadap ayahnya, bukan terhadap saudaranya, karena kewajiban utang itu atas ayah.

وَمَنَعَ الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ الْلُؤْلُؤِيُّ مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِ لِمَا يَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ مِنَ التُّهْمَةِ فِي اسْتِدْرَاكِ إِقْرَارِهِ.

Al-Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i melarang diterimanya kesaksiannya karena adanya tuduhan yang dapat diarahkan kepadanya dalam menarik kembali pengakuannya.

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ، وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ أَنَّ شَهَادَتَهُ مَقْبُولَةٌ، لِأَنَّهَا مُوَافِقَةٌ لِإِقْرَارِهِ فَانْتَفَتِ التُّهْمَةِ عَنْهُ، فَلَمْ تَمْنَعْ مِنَ الشَّهَادَةِ عَلَى أَبِيهِ وَإِنْ مُنِعَ مِنَ الشَّهَادَةِ لَهُ.

Mazhab Syafi‘i, Abu Hanifah, dan jumhur fuqaha berpendapat bahwa kesaksiannya diterima, karena kesaksian itu sesuai dengan pengakuannya sendiri sehingga tuduhan kepentingan pribadi hilang darinya. Oleh karena itu, tidak ada halangan baginya untuk memberikan kesaksian terhadap ayahnya, meskipun ia dilarang memberikan kesaksian yang menguntungkan ayahnya.

فَإِذَا صَحَّتِ الشَّهَادَةُ اسْتَحَقَّ صَاحِبُ الدَّيْنِ جَمِيعَ دَيْنِهِ مِنْ أَصْلِ التَّرِكَةِ نِصْفُهُ يَسْتَحِقُّهُ بِالْإِقْرَارِ فِي حَقِّ الْمُصَدِّقِ، وَنِصْفُهُ يَسْتَحِقُّهُ بِالشَّهَادَةِ فِي حَقِّ الْمُنْكِرِ.

Apabila kesaksian telah sah, maka pemilik utang berhak atas seluruh utangnya dari pokok harta warisan: setengahnya ia berhak dapatkan berdasarkan pengakuan terhadap pihak yang membenarkan, dan setengahnya lagi ia berhak dapatkan berdasarkan kesaksian terhadap pihak yang mengingkari.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُقِرُّ غَيْرَ عَدْلٍ، أَوْ يَكُونَ عَدْلًا لَمْ تَكْمُلْ به الشهادة لِعَدَمِ غَيْرِهِ، أَوْ لِأَنَّ الْحَاكِمَ لَا يَرَى الْحُكْمَ بِالْيَمِينِ وَالشَّاهِدِ، أَوْ يَرَاهُ فَلَا يَحْلِفُ مَعَهُ الْمُدَّعِي، فَالْحُكْمُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ عَلَى سَوَاءٍ.

Keadaan kedua: yaitu apabila orang yang mengakui bukanlah seorang yang ‘adl, atau ia seorang yang ‘adl namun kesaksiannya belum sempurna karena tidak ada selain dirinya, atau karena hakim tidak memandang boleh memutuskan perkara dengan sumpah dan satu saksi, atau ia memandang boleh namun penggugat tidak bersumpah bersamanya; maka hukum dalam tiga keadaan ini adalah sama.

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ كُتُبِهِ، وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْحِجَازِ، أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنَ الْمُقِرِّ مِنَ الدَّيْنِ بِقَدْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ النِّصْفُ، وَيَحْلِفُ الْمُنْكِرُ عَلَى النِّصْفِ الْآخَرِ وَيَبْرَأُ، وَيَمِينُهُ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ. وَيَقُولُ: وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَهُ عَلَى أَبِي مَا ادَّعَاهُ أَوْ شَيْئًا مِنْهُ.

Pendapat Syafi‘i yang ditegaskan dalam semua kitabnya, dan merupakan pendapat ahli Hijaz, adalah bahwa diambil dari orang yang mengakui utang sebesar haknya, yaitu setengahnya, lalu orang yang mengingkari bersumpah atas setengah yang lain dan ia terbebas, dan sumpahnya atas dasar pengetahuan, bukan secara pasti. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu bahwa ia memiliki atas ayahku apa yang ia klaim atau sebagian darinya.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِرَاقِ: يَلْزَمُ الْمُقِرَّ جَمِيعُ الدين.

Abu Hanifah dan mayoritas ulama Irak berpendapat: Orang yang mengakui utang wajib membayar seluruh utangnya.

وكان أبو عبيد بن حرثون وَأَبُو جَعْفَرٍ الْإِسْتِرَابَاذِيُّ وَهُمَا مِنْ مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ: يُخَرِّجَانِ هَذَا قَوْلًا ثَانِيًا لِلشَّافِعِيِّ. فَخَالَفَهُمَا مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَكْثَرُهُمْ وَوَافَقَهُمَا أَقَلُّهُمْ، وَجَعَلُوهُ تَخْرِيجًا مِنْ مُقْتَضَى نَصٍّ وَلَيْسَ بِتَخْرِيجٍ مِنْ نَصٍّ وَهُوَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: إِذَا حَلَفَ أَحَدُ الِابْنَيْنِ فِي الْقَسَامَةِ فَاسْتَحَقَّ [بِأَيْمَانِهِ نِصْفَ الدِّيَةِ] وَكَانَ عَلَى الْمَقْتُولِ دَيْنٌ، قَضَي جَمِيعَهُ مِنْ حِصَّةِ الِابْنِ الْحَالِفِ، كَذَلِكَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، فَخَرَّجُوهَا لِأَجْلِ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Abu Ubaid bin Hartsun dan Abu Ja‘far al-Istirabadzi, yang keduanya termasuk ulama Syafi‘iyah generasi belakangan, mengeluarkan pendapat ini sebagai pendapat kedua dari Imam Syafi‘i. Mayoritas ulama Syafi‘iyah berbeda pendapat dengan mereka berdua, sementara sebagian kecil setuju dengan mereka, dan mereka menganggapnya sebagai hasil istinbat dari konsekuensi suatu nash, bukan hasil istinbat langsung dari nash. Adapun Imam Syafi‘i berpendapat: Jika salah satu dari dua anak bersumpah dalam kasus qasāmah lalu ia berhak atas setengah diyat dengan sumpahnya, sementara si terbunuh memiliki utang, maka seluruh utang itu dibayarkan dari bagian anak yang bersumpah. Demikian pula dalam masalah ini, sehingga mereka mengeluarkan dua pendapat dalam masalah tersebut.

وَاخْتَلَفَ من أنكر تخريج هذا القول في ما قَالَهُ فِي الْقَسَامَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Orang-orang yang menolak penarikan pendapat ini berbeda pendapat mengenai apa yang dikatakannya dalam kasus al-qasāmah menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ الَّذِي اسْتَحَقَّهُ أَحَدُ الِابْنَيْنِ بِأَيْمَانِهِ، كَانَ جَمِيعَ التَّرِكَةِ، فَأُخِذَ جَمِيعُ الدَّيْنِ مِنْهُ، وَلَوْ تَرَكَ الْمَيِّتُ غَيْرَهُ مَا لَزِمَهُ مِنَ الدَّيْنِ إِلَّا نِصْفُهُ.

Salah satunya: bahwa hal itu dimaknai bahwa apa yang menjadi hak salah satu dari dua anak laki-laki karena sumpahnya adalah seluruh warisan, sehingga seluruh utang diambil darinya. Seandainya si mayit meninggalkan selain dia, maka utang itu tidak wajib atasnya kecuali setengahnya saja.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ أَخَاهُ مُعْتَرِفٌ بِالدَّيْنِ، فَاسْتَحَقَّ بِاعْتِرَافِهِمَا جَمِيعَ الدَّيْنِ، وَعُجِّلَ قَضَاؤُهُ مِنَ الذِّمَّةِ لِتَأْخِيرِ غَيْرِهِ لِيَرْجِعَ عَلَى أَخِيهِ بِقَدْرِ حَقِّهِ، وَلَوْ كَانَ الْأَخُ مُنْكِرًا لَمْ يُؤْخَذْ مِنَ الْمُقِرِّ إِلَّا قَدْرَ حَقِّهِ.

Pendapat kedua: Bahwa hal itu dimaknai bahwa saudaranya mengakui adanya utang, sehingga dengan pengakuan keduanya, seluruh utang menjadi wajib dibayarkan, dan pelunasannya disegerakan dari tanggungan karena pihak lain menunda, agar ia dapat menuntut kembali kepada saudaranya sesuai dengan bagian haknya. Namun, jika saudaranya mengingkari, maka dari pihak yang mengakui hanya diambil sebesar haknya saja.

وَاسْتَدَلَّ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَنْ وَافَقَهُ عَلَى وُجُوبِ الدَّيْنِ كُلِّهِ عَلَى الْمُقِرِّ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ} [النساء: 12] .

Abu Hanifah dan para ulama yang sepaham dengannya berdalil atas wajibnya seluruh utang atas orang yang mengakuinya dengan firman Allah Ta‘ala: “Setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau utang” (QS. an-Nisa’: 12).

فَجَعْلَ لِلْوَارِثِ مَا فَضَلَ عَنِ الدَّيْنِ وَالْوَصِيَّةِ، فَوَجَبَ أَنْ لَا يَرِثَ إِلَّا بَعْدَ قَضَاءِ جَمِيعِهِ، لِأَنَّ صَاحِبَ الدَّيْنِ مُقَدَّمٌ وَلَيْسَ بِمُشَارِكٍ.

Maka ia menetapkan bagi ahli waris apa yang tersisa setelah pelunasan utang dan wasiat, sehingga wajib bagi ahli waris untuk tidak menerima warisan kecuali setelah seluruhnya dilunasi, karena pemilik utang didahulukan dan tidak termasuk sebagai pihak yang berbagi warisan.

وَلِأَنَّ مَا يَأْخُذُهُ الْمُنْكِرُ مِنَ التَّرِكَةِ كَالْمَغْصُوبِ فِي حَقِّ الدَّيْنِ، وَغَصْبُ بَعْضِ التَّرِكَةِ مُوجِبٌ لِقَضَاءِ الدَّيْنِ مِنْ بَاقِيهَا، فَلَزِمَ أَخْذُ جَمِيعِهِ مِنْهُ.

Karena apa yang diambil oleh orang yang mengingkari (hak waris) dari harta warisan itu seperti barang yang digasak (maghsūb) dalam kaitannya dengan utang, dan penggasakan sebagian harta warisan mewajibkan pelunasan utang dari sisa harta warisan, maka wajiblah mengambil seluruhnya dari harta tersebut.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ عَلَى الْمُقِرِّ مِنْهُمَا نِصْفَ الدَّيْنِ دُونَ جَمِيعِهِ، هُوَ أَنَّ الدَّيْنَ مُسْتَحَقٌّ فِي جَمِيعِ التَّرِكَةِ غَيْرِ مُعَيَّنٍ فِي بَعْضِهَا، وَلَيْسَ مَعَ الْمُقِرِّ إِلَّا نِصْفُهَا، فَلَمْ يَلْزَمْهُ مِنَ الدَّيْنِ إِلَّا نِصْفُهُ كَالْمُقِرَّيْنِ.

Dalil bahwa yang wajib atas orang yang mengakui di antara mereka berdua adalah setengah dari utang, bukan seluruhnya, adalah karena utang itu menjadi hak atas seluruh harta warisan tanpa ditentukan pada sebagian tertentu darinya, sedangkan orang yang mengakui hanya memiliki setengahnya saja, maka yang wajib atasnya dari utang hanyalah setengahnya, sebagaimana halnya dua orang yang sama-sama mengakui.

وَلَوْ أَنَّهُ لَوْ لَزِمَ الْمُقِرَّ جَمِيعُ الدَّيْنِ، لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ عَلَى أَخِيهِ، لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِهَا عَنْ نَفْسِهِ تَحْمُّلَ جَمِيعِ الدَّيْنِ وَفِي مُوَافَقَةِ أَبِي حَنِيفَةَ عَلَى قَبُولِ شَهَادَتِهِ، وَإِنْ خَالَفَهُ الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ اللُّؤْلُؤِيُّ فِي قَبُولِهَا، دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ فِي الدَّيْنِ إِلَّا قَدْرُ حَقِّهِ لِتَسْلَمَ شَهَادَتُهُ عَنْ جَرِّ نَفْعٍ وَدَفْعِ ضَرَرٍ.

Seandainya orang yang mengakui (utang) itu wajib menanggung seluruh utang, maka kesaksiannya terhadap saudaranya tidak akan diterima, karena dengan kesaksian itu ia berupaya menghindarkan dirinya dari menanggung seluruh utang. Dalam hal ini, pendapat Abu Hanifah yang menerima kesaksiannya—meskipun Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i berbeda pendapat dalam penerimaannya—menunjukkan bahwa ia hanya wajib menanggung utang sesuai dengan bagiannya saja, agar kesaksiannya tetap sah dan terbebas dari unsur mencari keuntungan atau menolak kerugian bagi dirinya.

وَلِأَنَّ أَحَدَ الِابْنَيْنِ لَوِ ادَّعَى دَيْنًا لِأَبِيهِ عَلَى مُنْكِرٍ، فَرَدَّ الْيَمِينَ عَلَيْهِ وَحَلِفَ، لَمْ يَسْتَحِقْ مِنَ الدَّيْنِ إِلَّا نِصْفَهُ، وَكَذَلِكَ إِذَا أَقَرَّ بِدَيْنٍ عَلَى أَبِيهِ لَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا نِصْفُهُ، لِأَنَّ مَا لِلْأَبِ مِنَ الدَّيْنِ فِي مُقَابَلَةِ مَا عَلَيْهِ مِنَ الدَّيْنِ.

Karena jika salah satu dari dua anak laki-laki mengklaim adanya utang untuk ayahnya atas seseorang yang mengingkarinya, lalu sumpah itu dikembalikan kepadanya dan ia bersumpah, maka ia hanya berhak atas setengah dari utang tersebut. Demikian pula, jika ia mengakui adanya utang atas ayahnya, maka yang wajib baginya hanyalah setengahnya, karena apa yang dimiliki ayah dari utang itu sebanding dengan apa yang menjadi tanggungannya dari utang tersebut.

وَالْأَصَحُّ مِنْ إِطْلَاقِهَا عِنْدِي، أَنْ يَنْظَرَ فِي التَّرِكَةِ. فَإِنْ لَمْ يَقْتَسِمْ لَهَا الِابْنَانِ حَتَّى أَقَرَّ أَحَدُهُمَا بِالدَّيْنِ، قَضَى جَمِيعَهُ مِنْهَا، فَكَانَ مَحْسُوبًا مِنْ حَقِّ الْمُقِرِّ دُونَ الْمُنْكِرِ.

Pendapat yang paling sahih menurut saya dalam penerapannya adalah melihat terlebih dahulu pada harta warisan. Jika kedua anak laki-laki belum membaginya hingga salah satu dari mereka mengakui adanya utang, maka seluruh utang itu dibayarkan dari harta warisan tersebut, sehingga utang itu dianggap sebagai bagian dari hak yang mengakui, bukan bagian dari yang mengingkari.

وَإِنِ اقْتَسَمَ الِابْنَانِ التَّرِكَةَ، ثُمَّ أَقَرَّ أَحَدُهُمَا بِالدَّيْنِ. لَمْ يَلْزَمْهُ مِنْهُ إِلَّا نِصْفُهُ لِأَنَّ الْمُقِرَّ مُعْتَرِفٌ بِاسْتِحْقَاقِ جَمِيعِ الدَّيْنِ فِي جَمِيعِ التَّرِكَةِ.

Jika dua anak telah membagi warisan, kemudian salah satu dari mereka mengakui adanya utang, maka yang wajib ditanggung olehnya hanyalah setengah dari utang tersebut, karena yang mengakui berarti mengakui bahwa seluruh utang berhak diambil dari seluruh harta warisan.

فَصَارَ قبل القسمة مقرا بجمعه وَبَعْدَ أَخْذِ النِّصْفِ بِالْقِسْمَةِ مُقِرًّا بِنِصْفِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Maka sebelum pembagian, ia mengakui seluruhnya, dan setelah mengambil setengahnya melalui pembagian, ia mengakui setengahnya. Dan Allah lebih mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ، وَقِيلَ: إِنَّهُ لَا يَلْزَمُ الْمُقِرُّ مِنَ الدَّيْنِ إِلَّا بِقَدْرِ حِصَّتِهِ وَهُوَ النِّصْفُ، فَلَا خُصُومَةَ بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ فِي الدَّيْنِ. وَيَكُونُ صَاحِبُ الدَّيْنِ مُخَاصِمًا لِلْمُنْكِرِ فِي بَقِيَّةِ دَيْنِهِ.

Maka apabila ketentuan ini telah dipahami, dan dikatakan: Sesungguhnya orang yang mengakui utang tidak wajib menanggung kecuali sebatas bagiannya, yaitu setengahnya, maka tidak ada perselisihan antara kedua saudara dalam hal utang tersebut. Dan pemilik utang menjadi pihak yang berselisih dengan orang yang mengingkari untuk sisa utangnya.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ يَلْزَمُ الْمُقِرَّ جَمِيعَ الدَّيْنِ، لَمْ يُؤْخَذْ بِدَفْعِ جَمِيعِهِ إِلَّا بَعْدَ إِحْلَافِ أَخِيهِ لِصَاحِبِ الدَّيْنِ، فَإِذَا حَلَفَ أُخِذَ مِنَ الْمُقِرِّ حِينَئِذٍ جَمِيعُ الدَّيْنِ، وَصَارَ الْمُقِرُّ خَصْمًا لِأَخِيهِ الْمُنْكِرِ لِيَسْتَأْنِفَ الدَّعْوَى عَلَيْهِ وَيَحْلِفُ عَلَيْهَا إِنِ اسْتَدَامَ الْإِنْكَارَ، وَلَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْيَمِينُ فِي حَقِّ أَخِيهِ بِالْيَمِينِ الَّتِي حَلَفَهَا لِصَاحِبِ الدَّيْنِ، لِاخْتِلَافِ مُسْتَحِقِّيهَا. كَمَا لَوْ أَدَّى أَحَدُ الْأَخَوَيْنِ دَيْنًا عَلَى مُنْكِرٍ وَأَحْلَفُهُ عَلَيْهِ لَمْ يَسْقُطْ حَقُّ الْأَخِ الْآخَرِ مِنْ إِحْلَافِهِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya orang yang mengakui (utang) wajib membayar seluruh utang, maka ia tidak diambil untuk membayar seluruhnya kecuali setelah saudaranya bersumpah kepada pemilik utang. Jika saudaranya telah bersumpah, barulah seluruh utang diambil dari orang yang mengakui tersebut. Kemudian, orang yang mengakui itu menjadi pihak yang bersengketa dengan saudaranya yang mengingkari, sehingga ia dapat memulai gugatan terhadapnya dan bersumpah atasnya jika saudaranya tetap dalam pengingkaran. Sumpah yang telah ia lakukan untuk pemilik utang tidak menggugurkan kewajiban sumpah terhadap saudaranya, karena perbedaan pihak yang berhak atas sumpah tersebut. Sebagaimana jika salah satu dari dua bersaudara membayar utang atas orang yang mengingkari dan ia telah disumpahkan atasnya, maka hak saudara yang lain untuk menyumpahkannya tidak gugur.

( [الْقَوْلُ فِي إِقْرَارِ الْوَارِثِ بالوصية] )

(Pembahasan tentang pengakuan ahli waris terhadap wasiat)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَكَذَلِكَ لَوْ شَهِدَ أَنَّ أَبَاهُ أَوْصَى لَهُ بِثُلُثِ مَالِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Demikian pula jika ia bersaksi bahwa ayahnya telah berwasiat untuknya sepertiga dari hartanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا كَانَتِ الدَّعْوَى فِي وَصِيَّةٍ اعْتَرَفَ بِهَا أَحَدُ الِابْنَيْنِ وَأَنْكَرَهَا الْآخَرُ. فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila gugatan itu berkaitan dengan wasiat yang diakui oleh salah satu dari dua anak laki-laki dan diingkari oleh yang lainnya. Maka kasusnya terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ غَيْرَ مُعَيَّنَةٍ كَالْوَصِيَّةِ بِالثُّلُثِ، فَلَا يَلْزَمُ الْمُقِرُّ بِهَا إِلَّا قَدْرُ حِصَّتِهِ وَهُوَ نِصْفُ الثُّلُثِ، بِوِفَاقِ أَبِي حَنِيفَةَ وَجَمِيعِ أَصْحَابِنَا. بِخِلَافِ الدَّيْنِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، فَإِنَّ جَمِيعَ الدَّيْنِ مُسْتَحَقٌّ فِيمَا يُوجَدُ مِنْ قَلِيلِ التَّرِكَةِ وَكَثِيرِهَا. وَالْوَصِيَّةُ بِثُلُثِ التَّرِكَةِ لَا يُسْتَحَقُّ إِلَّا مِنْ جَمِيعِهَا.

Salah satunya adalah: jika wasiat itu tidak ditentukan secara spesifik, seperti wasiat sepertiga harta, maka yang wajib dipenuhi oleh orang yang mengakuinya hanyalah sebesar bagian miliknya, yaitu setengah dari sepertiga, sesuai pendapat Abu Hanifah dan seluruh ulama mazhab kami. Berbeda dengan utang yang diperselisihkan, karena terdapat perbedaan antara keduanya; seluruh utang menjadi hak atas apa pun yang ada dari sedikit atau banyaknya harta peninggalan. Sedangkan wasiat sepertiga harta warisan hanya menjadi hak dari keseluruhan harta warisan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْوَصِيَّةُ مُعَيَّنَةٌ فِي ثُلُثَيْ شَيْءٍ مِنَ التَّرِكَةِ، كَالْوَصِيَّةِ بِدَارٍ اعْتَرَفَ بِهَا أَحَدُهُمَا وَأَنْكَرَهَا الْآخَرُ: فَلَا تَخْلُو الدَّارُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Jenis kedua: wasiat yang ditentukan pada dua pertiga dari suatu bagian harta warisan, seperti wasiat atas sebuah rumah yang diakui oleh salah satu dari mereka dan diingkari oleh yang lain. Maka rumah tersebut tidak lepas dari tiga keadaan:

أحدهما: أَنْ تَكُونَ بَاقِيَةً فِي التَّرِكَةِ لَمْ يَقْتَسِمَاهَا، فَلَا يَلْزَمُ الْمُقِرَّ إِلَّا نِصْفُهَا عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ. لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ مِنْهَا إِلَّا النِّصْفَ، وَعَلَى الْمُنْكِرِ الْيَمِينُ فَإِذَا حَلَفَ، حُسِبَ عَلَى الْمُقِرِّ قِيمَةُ النِّصْفِ مِنْ حِصَّتِهِ.

Pertama: Jika harta warisan tersebut masih ada dan belum dibagi oleh keduanya, maka yang wajib ditanggung oleh pihak yang mengakui (al-muqir) hanyalah setengahnya menurut dua pendapat mazhab. Sebab, ia hanya memiliki setengah dari harta tersebut. Sedangkan pihak yang mengingkari (al-munkir) harus bersumpah; jika ia telah bersumpah, maka yang diperhitungkan atas pihak yang mengakui adalah nilai setengah dari bagian miliknya.

فَلَوْ أَقَرَّ أَحَدُهُمَا أَنَّ أَبَاهُ وَصَّى بِجَمِيعِ هَذِهِ الدَّارِ لِزَيْدٍ، وَأَقَرَّ الْآخَرُ أَنَّهُ وَصَّى بِجَمِيعِهَا لِعَمْرٍو. كَانَ نصف الدار لزيد فمن حصته مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ لِعَمْرٍو. وَنِصْفُ الدَّارِ لِعَمْرٍو، وَهُوَ حِصَّةٌ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ لِزَيْدٍ، لِأَنَّهُ لَوْ تَصَادَقَ الْأَخَوَانِ عَلَى الْوَصِيَّتَيْنِ لَكَانَتِ الدَّارُ بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو نِصْفَيْنِ، وَقَدْ صَارَتْ بَيْنَهُمَا كَذَلِكَ فَلَمْ يَكُنِ التَّكْذِيبُ مُضِرًّا، وَانْتَقَلَتِ الْمُنَازَعَةُ بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدَّعِي أَنَّهُ أَحَقُّ بِجَمِيعِهَا مِنْ صَاحِبِهِ، فَيَتَحَالَفَانِ عَلَيْهَا وَتُقِرُّ بَعْدَ أَيْمَانِهِمَا بَيْنَهُمَا، فَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ، قَضَى بِجَمِيعِهَا لِلْحَالِفِ دُونَ النَّاكِلِ.

Jika salah satu dari mereka mengakui bahwa ayahnya telah berwasiatkan seluruh rumah ini kepada Zaid, dan yang lain mengakui bahwa ayahnya telah berwasiatkan seluruhnya kepada Amr, maka setengah rumah menjadi milik Zaid dari bagian yang diakui sebagai sedekah, dan tidak ada sumpah atasnya untuk Amr. Dan setengah rumah menjadi milik Amr, yaitu bagian dari sedekah, dan tidak ada sumpah atasnya untuk Zaid. Karena jika kedua saudara itu saling membenarkan tentang kedua wasiat tersebut, maka rumah itu akan menjadi milik Zaid dan Amr masing-masing setengah, dan kini rumah itu memang telah terbagi demikian, sehingga pendustaan tidaklah merugikan. Perselisihan kemudian berpindah antara Zaid dan Amr, karena masing-masing dari mereka mengklaim bahwa ia lebih berhak atas seluruh rumah daripada yang lain, maka keduanya saling bersumpah atasnya, lalu setelah sumpah mereka, rumah itu tetap di antara mereka. Jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lain enggan, maka seluruh rumah diputuskan menjadi milik yang bersumpah dan bukan milik yang enggan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ تَكُونَ الدَّارُ قَدْ حَصَلَتْ فِي سَهْمِ الْمُقِرِّ بَعْدَ الْقِسْمَةِ. فَيَلْزَمُهُ تَسْلِيمُ جَمِيعِهَا، لِأَنَّهُ مُعْتَرِفٌ بِهَا لِلْمُوصَى لَهُ، وَيَصِيرُ خَصْمًا لِأَخِيهِ فِي نِصْفِهَا، وَلَيْسَ بَيْنَ الْمُوصَى لَهُ وَالْمُنْكِرِ مُخَاصَمَةٌ، لِوُصُولِهِ إِلَى حَقِّهِ مِنَ الْمُقِرِّ.

Keadaan kedua: Jika rumah tersebut jatuh ke bagian orang yang mengakui setelah pembagian, maka ia wajib menyerahkan seluruhnya, karena ia telah mengakui rumah itu sebagai milik penerima wasiat. Ia pun menjadi pihak yang bersengketa dengan saudaranya atas setengah bagian rumah tersebut, dan tidak ada persengketaan antara penerima wasiat dan orang yang mengingkari, karena hak penerima wasiat telah terpenuhi dari pihak yang mengakui.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ تَكُونَ الدَّارُ قَدْ حَصَلَتْ فِي سَهْمِ الْمُنْكِرِ، فَلَا شَيْءَ عَلَى الْمُقِرِّ بِهَا لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا، وَلَا مُطَالَبَةَ عَلَيْهِ بِهَا ولا بقيمتها، فإذا حلف المنكر برىء مِنَ الْمُطَالَبَةِ وَحَصَلَتْ لَهُ الدَّارُ وَبَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِهَا.

Keadaan ketiga: Jika rumah tersebut telah jatuh ke dalam bagian orang yang mengingkari, maka tidak ada kewajiban apa pun atas orang yang mengakui rumah itu, karena ia tidak memilikinya, dan tidak ada tuntutan terhadapnya atas rumah itu maupun atas nilainya. Jika orang yang mengingkari bersumpah, ia terbebas dari tuntutan, rumah itu menjadi miliknya, dan wasiat atas rumah tersebut menjadi batal.

فَإِذَا كَانَ الْمُقِرُّ عَدْلًا فَشَهِدَ عَلَى أَخِيهِ بِالْوَصِيَّةِ بِالدَّارِ سُمِعَتْ شَهَادَتُهُ وَحُكِمَ بِهَا عَلَى أَخِيهِ مَعَ شَاهِدٍ آخَرَ أَوْ مَعَ عَيْنِ الْمُوصَى لَهُ، وَانْتُزِعَتِ الدَّارُ مِنْ يَدِهِ بِالْوَصِيَّةِ، وَلَمْ يَرْجِعْ عَلَى أَخِيهِ بِبَدَلِهَا مِنْ تَرِكَةِ أَبِيهِ وَإِنِ اعْتَرَفَ لَهُ بِذَلِكَ، لِأَنَّهُ بِالْإِنْكَارِ جَاحِدٌ لِاسْتِحْقَاقِ غَيْرِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Jika orang yang mengakui itu adalah seorang yang adil, lalu ia bersaksi atas saudaranya mengenai wasiat rumah, maka kesaksiannya diterima dan diputuskan berdasarkan kesaksian itu terhadap saudaranya bersama satu saksi lain atau bersama orang yang menerima wasiat tersebut. Rumah itu diambil dari tangannya berdasarkan wasiat, dan ia tidak dapat menuntut ganti rumah itu dari warisan ayahnya, meskipun ia mengakui hal tersebut kepada saudaranya. Sebab, dengan pengingkaran itu, ia telah menolak hak orang lain. Dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

(باب الشهادة على الشهادة)

(Bab tentang kesaksian atas kesaksian)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَتَجُوزُ الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ بِكِتَابِ الْقَاضِي فِي كل حق للآدميين مالا أو حدا أو قصاصا وَفِي كُلِّ حَدٍّ لِلَّهِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ تَجُوزُ، وَالْآخَرُ لَا تَجُوزُ مِنْ قِبَلِ دَرْءِ الْحُدُودِ بِالشُّبُهَاتِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Diperbolehkan memberikan kesaksian atas kesaksian dengan surat keputusan qadhi dalam setiap hak milik manusia, baik berupa harta, hudud, atau qishash. Adapun dalam setiap hudud untuk Allah, terdapat dua pendapat: salah satunya membolehkan, dan yang lain tidak membolehkan karena prinsip menolak hudud dengan adanya syubhat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ فَجَائِزَةٌ مَعَ الِاتِّفَاقِ عَلَى جَوَازِهَا لِأَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Adapun kesaksian atas kesaksian, maka hukumnya boleh dengan kesepakatan atas kebolehannya karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الشَّهَادَةَ وَثِيقَةٌ مُسْتَدَامَةٌ وَقَدْ يَطْرَأُ عَلَى الشَّاهِدِ مِنِ احْتِدَامِ الْمَنِيَّةِ، وَالْعَجْزِ عَنِ الشَّهَادَةِ لِغَيْبَةٍ أَوْ مَرَضٍ مَا تَدْعُو الضَّرُورَةُ فِيهِ إِلَى الْإِرْشَادِ عَلَى شَهَادَتِهِ لِيَسْتَدِيمَ بِهَا الْوَثِيقَةَ وَلَا يَقْوَى بِهِ الْحَقُّ.

Salah satunya adalah bahwa kesaksian merupakan dokumen yang bersifat terus-menerus, dan bisa saja terjadi pada seorang saksi keadaan mendesak seperti ajal yang sudah dekat, atau ketidakmampuan untuk memberikan kesaksian karena bepergian atau sakit, yang dalam kondisi darurat tersebut diperlukan untuk menunjukkan kesaksiannya agar dokumen itu tetap berlaku, namun hal itu tidak menguatkan hak.

وَالثَّانِي: أَنَّ الشَّهَادَةَ خَبَرٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كُلُّ خَبَرٍ شَهَادَةٌ، فَلِمَا جَازَ نَقْلُ الْخَبَرِ لِاسْتِدَامَةِ الْعِلْمِ بِهِ، جَازَ نَقْلُ الشَّهَادَةِ لِاسْتِدَامَةِ التَّوْثِيقِ بِهَا. فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُهَا، فَالْكَلَامُ فِيهَا يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ:

Kedua: Bahwa syahadat (kesaksian) adalah sebuah khabar (informasi), meskipun tidak setiap khabar adalah syahadat. Maka, sebagaimana diperbolehkan meriwayatkan khabar demi keberlangsungan pengetahuan tentangnya, diperbolehkan pula meriwayatkan syahadat demi keberlangsungan validasi dengannya. Apabila telah tetap kebolehannya, maka pembahasan tentangnya mencakup empat bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي وُجُوبِ الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Salah satunya: dalam kewajiban memberikan kesaksian atas kesaksian.

وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ شَاهِدِ الْأَصْلِ إِذَا دَعَاهُ صَاحِبُ الْحَقِّ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى شَهَادَتِهِ، وله حالتان:

Hal ini disesuaikan dengan keadaan saksi asal apabila pemilik hak memintanya untuk bersaksi atas kesaksiannya, dan ia memiliki dua keadaan:

أحدهما: أَنْ يُجِيبَ إِلَيْهَا، فَيَكُونُ بِالْإِجَابَةِ مُحْسِنًا، سَوَاءٌ قَدَرَ عَلَى الْأَدَاءِ أَوْ عَجَزَ عنه.

Pertama: ia memenuhi permintaan tersebut, maka dengan memenuhi permintaan itu ia telah berbuat baik, baik ia mampu melaksanakannya maupun tidak mampu.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَمْتَنِعَ عَنْهَا، فَلَهُ حَالَتَانِ:

Keadaan kedua: yaitu ketika ia menahan diri darinya, maka ada dua keadaan baginya:

إحَدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَلَى أَدَائِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ. فَلَا تَلْزَمُهُ الشَّهَادَةُ عَلَى شَهَادَتِهِ، لِأَنَّ تَحَمُّلَ الشَّهَادَةِ مُوجِبٌ لِأَدَائِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ. وَلَيْسَ بِمُوجِبِ الْإِشْهَادِ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَلْزَمُهُ غَيْرُ الْمَقْصُودِ بِتَحَمُّلِهَا.

Salah satunya: bahwa ia mampu menyampaikannya di hadapan hakim. Maka tidak wajib baginya memberikan kesaksian atas kesaksiannya, karena memikul kesaksian itu mewajibkan untuk menyampaikannya di hadapan hakim, dan tidak mewajibkan untuk meminta orang lain menjadi saksi atasnya. Maka tidak wajib baginya sesuatu yang bukan tujuan dari memikul kesaksian tersebut.

والحال الثالثة: أَنْ يَعْجِزَ عَنْ أَدَائِهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ إِمَّا لِمَرَضٍ أَوْ زَمَانَةٍ، أَوْ لِسَفَرٍ وَنَقْلَةٍ، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي وُجُوبِ الْإِشْهَادِ عَلَى شَهَادَتِهِ.

Keadaan ketiga: apabila seseorang tidak mampu menyampaikan kesaksiannya di hadapan hakim, baik karena sakit atau cacat, atau karena sedang bepergian dan berpindah tempat, maka para ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban menghadirkan saksi atas kesaksiannya.

فَذَهَبَ بَعْضُ فُقَهَاءِ الْعِرَاقِ إِلَى وُجُوبِ إِشْهَادِهِ عَلَى شَهَادَتِهِ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَدَاؤُهَا عِنْدَ الْحُكَّامِ، لِمَا فِيهِ مِنْ حِفْظِ الْحَقِّ عَلَى صَاحِبِهِ فِي الْحَالَيْنِ.

Sebagian fuqaha Irak berpendapat bahwa wajib baginya menghadirkan saksi atas kesaksiannya, sebagaimana wajib baginya menyampaikan kesaksian itu di hadapan para hakim, karena hal itu menjaga hak pemiliknya dalam kedua keadaan.

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، يَجِبُ عَلَيْهِ أَدَاءُ شَهَادَتِهِ وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْإِشْهَادُ عَلَى شهادته لثلاث مَعَانٍ:

Menurut mazhab Syafi‘i, ia wajib memberikan kesaksiannya, namun tidak wajib menghadirkan saksi atas kesaksiannya karena tiga alasan:

أَحَدُهَا: أَنَّ الْمَقْصُودَ بِتَحَمُّلِ الشَّهَادَةِ أَدَاؤُهَا دُونَ الْإِشْهَادِ عَلَيْهَا، فَلَمْ يَلْزَمْهُ فِي التَّحَمُّلِ غَيْرِ الْمَقْصُودِ بِهِ.

Salah satunya: bahwa yang dimaksud dengan memikul kesaksian adalah menyampaikannya, bukan menghadirkan saksi atasnya, maka tidak wajib baginya dalam memikul kesaksian selain dari apa yang menjadi tujuannya.

وَالثَّانِي: الْإِشْهَادُ عَلَيْهَا لَا يُسْقِطُ فَرْضَ أَدَائِهَا فَلَمْ يَلْزَمْهُ بِالتَّحَمُّلِ فَرْضَانِ.

Kedua: Persaksian atasnya tidak menggugurkan kewajiban pelaksanaannya, sehingga tidak wajib baginya menanggung dua kewajiban sekaligus.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ الْمُقِرَّ، لَمَّا لَمْ يَلْزَمْهُ الْإِشْهَادُ عَلَى إِقْرَارِهِ لَمْ يَلْزَمِ الشَّاهِدَ الْإِشْهَادُ عَلَى شَهَادَتِهِ.

Ketiga: Bahwa orang yang mengakui, karena tidak diwajibkan baginya untuk menghadirkan saksi atas pengakuannya, maka demikian pula saksi tidak diwajibkan untuk menghadirkan saksi atas kesaksiannya.

وَالَّذِي أَرَاهُ أَوْلَى الْمَذْهَبَيْنِ عِنْدِي أَنْ يُعْتَبَرَ الْحَقُّ الْمَشْهُودُ فِيهِ، فَإِنْ كَانَ مِمَّا يَنْتَقِلُ إِلَى الْأَعْيَانِ كَالْوَقْفِ الْمُؤَبَّدِ الَّذِي يَنْتَقِلُ إِلَى بَطْنٍ بَعْدَ بَطْنٍ، لَزِمَهُ الْإِشْهَادُ عَلَى شَهَادَتِهِ، لِأَنَّ الْبَطْنَ الْمَوْجُودَ يَصِلُ إِلَى حَقِّهِ بِالْأَدَاءِ، فَلَمْ يَلْزَمْهُ غَيْرُهُ. وَالْبَطْنُ الْمَفْقُودُ قَدْ لَا يَصِلُ إِلَى حَقِّهِ إِلَّا بِالْإِشْهَادِ عَلَى شَهَادَتِهِ، فَلَزِمَهُ الْإِشْهَادُ عَلَيْهَا فِي حَقِّهِ.

Menurut pendapat yang saya anggap lebih kuat di antara dua mazhab, yang seharusnya diperhatikan adalah hak yang disaksikan di dalamnya. Jika hak tersebut termasuk yang berpindah kepada individu-individu tertentu, seperti wakaf mu’abbad yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka wajib dilakukan penyaksian atas kesaksiannya, karena generasi yang ada saat ini memperoleh haknya melalui pelaksanaan, sehingga tidak wajib bagi selainnya. Adapun generasi yang belum ada, mungkin tidak dapat memperoleh haknya kecuali dengan adanya penyaksian atas kesaksiannya, maka wajib dilakukan penyaksian atasnya untuk hak mereka.

وَكَذَلِكَ الْإِجَارَةُ الْمَعْقُودَةُ إِلَى مُدَّةٍ قَدْ لَا يَعِيشُ الشُّهُودُ إِلَى انْقِضَائِهَا فِي الْأَغْلَبِ، فَهِيَ بِمَثَابَةِ الْمُنْتَقَلِ فِي وُجُوبِ الْإِشْهَادِ عَلَى شَهَادَتِهِ.

Demikian pula halnya dengan akad ijarah yang disepakati untuk jangka waktu tertentu, di mana para saksi mungkin tidak hidup sampai masa berakhirnya akad tersebut pada umumnya, maka hal ini serupa dengan perkara yang berpindah dalam kewajiban menghadirkan saksi atas kesaksiannya.

وَكَذَلِكَ الدُّيُونُ الْمُؤَجَّلَةِ بِالْأَجَلِ الْبَعِيدِ.

Demikian pula, utang-utang yang jatuh temponya masih lama.

فَأَمَّا فِي الْحُقُوقِ الْمُعَجَّلَةِ، أَوْ فِي الْبَيَاعَاتِ الْمَقْبُوضَةِ النَّاجِزَةِ، فَلَا يَلْزَمُهُ فِيهَا غَيْرُ الْأَدَاءِ عِنْدَ التَّنَازُعِ، لِأَنَّ التَّوْثِيقَ بِهَا غَيْرُ مُسْتَدَامٍ وَأَمَّا إِذَا ابْتَدَأَ الشَّاهِدُ بِالْإِشْهَادِ عَلَى شَهَادَتِهِ مِنْ غَيْرِ طَلَبٍ جَازَ، وَكَانَ بِهَا مُتَطَوِّعًا، لِأَنَّهَا اسْتِظْهَارٌ فِي التَّوْثِيقِ لِصَاحِبِ الْحَقِّ، كَالْمُتَحَمِّلِ لِلْخَبَرِ إِذَا ابْتَدَأَ بِرِوَايَتِهِ مِنْ غَيْرِ طَلَبٍ جَازَ وَكَانَ بِهَا مُتَطَوِّعًا.

Adapun dalam hak-hak yang harus segera dipenuhi, atau dalam transaksi jual beli yang telah diterima dan diselesaikan, maka tidak wajib baginya selain melaksanakan (hak tersebut) ketika terjadi perselisihan, karena penjaminan atasnya tidak berlangsung terus-menerus. Adapun jika seorang saksi memulai untuk memberikan kesaksiannya tanpa diminta, maka itu diperbolehkan dan ia dianggap melakukan kebaikan secara sukarela, karena hal itu merupakan bentuk kehati-hatian dalam penjaminan bagi pemilik hak, seperti halnya seseorang yang menerima berita jika ia memulai meriwayatkannya tanpa diminta, maka itu diperbolehkan dan ia dianggap melakukan kebaikan secara sukarela.

وَلَا يَسْقُطُ عَنِ الشَّاهِدِ فَرْضُ الْأَدَاءِ بِهَذَا الْإِشْهَادِ إِذَا أَحْدَثَ التَّنَازُعَ مَعَ إِمْكَانِ الشَّهَادَةِ، فَإِنِ انْقَطَعَ التَّنَازُعُ، سَقَطَ عَنْهُ فَرَضُ الْأَدَاءِ وَالْإِشْهَادِ مَعًا.

Kewajiban memberikan kesaksian tidak gugur dari seorang saksi hanya karena adanya proses pemberian kesaksian ini jika terjadi perselisihan dan masih memungkinkan untuk memberikan kesaksian. Namun, jika perselisihan tersebut telah berakhir, maka gugurlah darinya kewajiban memberikan kesaksian dan pemberitahuan secara bersamaan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْفَصْلُ الثَّانِي: مَا تَجُوزُ فِيهِ الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Bab kedua: Hal-hal yang diperbolehkan di dalamnya kesaksian atas kesaksian.

وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِالْحَقِّ الْمَشْهُودِ فِيهِ وَهُوَ ضَرْبَانِ:

Ia diukur berdasarkan kebenaran yang nyata padanya, dan hal itu terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Salah satunya adalah hak-hak yang berkaitan dengan manusia.

وَالثَّانِي: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى.

Yang kedua: yaitu hak-hak Allah Ta‘ala.

فَأَمَّا حُقُوقُ الْآدَمِيِّينَ فَتَجُوزُ فِيهَا الْإِشْهَادُ عَلَى الشَّهَادَةِ، سَوَاءٌ كَانَ مِمَّا لَا يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ كَالنِّكَاحِ، وَالطَّلَاقِ، وَالْعِتْقِ، وَالنَّسَبِ، وَالْقِصَاصِ، وَالْقَذْفِ، أَوْ كَانَ يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ كَالْأَمْوَالِ، أَوْ كَانَ يَثْبُتُ بِالنِّسَاءِ مُنْفَرِدَاتٍ كَالْوِلَادَةِ وَعُيُوبِ النِّسَاءِ.

Adapun hak-hak manusia, maka diperbolehkan melakukan penyaksian atas kesaksian di dalamnya, baik dalam perkara yang tidak dapat dibuktikan dengan dua orang saksi seperti nikah, talak, pembebasan budak, nasab, qishāsh, dan qadzaf, maupun dalam perkara yang dapat dibuktikan dengan satu orang saksi laki-laki dan dua orang perempuan seperti harta, atau dalam perkara yang dapat dibuktikan dengan saksi-saksi perempuan saja seperti kelahiran dan cacat pada perempuan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا تَجُوزُ الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ فِيمَا يَسْقُطُ بِالشُّبْهَةِ كَحَدِّ الْقَذْفِ وَالْقِصَاصِ. وَيَجُوزُ فِيمَا عَدَاهُ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الْمَحْضَةِ.

Abu Hanifah berkata: Tidak boleh memberikan kesaksian atas kesaksian dalam perkara yang gugur karena adanya syubhat, seperti hudud qadzaf dan qishash. Namun, hal itu diperbolehkan dalam selainnya dari hak-hak murni manusia.

وَبِهِ قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ مَا سَقَطَ بِالشُّبْهَةِ كَانَ مَحْمُولًا عَلَى التَّخْفِيفِ، وَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ تَغْلِيظٌ فَتَنَافَيَا.

Dan dengan pendapat ini, sebagian sahabat asy-Syafi‘i berpendapat dengan berdalil bahwa sesuatu yang gugur karena syubhat dianggap sebagai bentuk keringanan, sedangkan kesaksian atas kesaksian merupakan bentuk penegasan (penguatan hukuman), sehingga keduanya saling bertentangan.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ مَوْضُوعَةٌ عَلَى التَّغْلِيظِ وَفِيمَا عَدَا الْأَمْوَالِ الَّتِي يَجُوزُ أَنْ يُسْتَبَاحَ بِالْإِبَاحَةِ فَلَمَّا صَحَّتِ الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ فِي الْأَمْوَالِ الَّتِي هِيَ أَخَفُّ، كَانَ جَوَازُهَا فِي الْمُغَلَّظِ أَحَقُّ.

Dan pendapat ini tidak benar, karena hak-hak manusia didasarkan pada prinsip penegasan (pengetatan), kecuali dalam hal harta yang boleh dihalalkan dengan izin. Maka ketika kesaksian atas kesaksian (syahadah ‘ala syahadah) sah dalam perkara harta yang hukumnya lebih ringan, maka kebolehannya dalam perkara yang lebih berat justru lebih utama.

وَأَمَّا حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى الْمَحْضَةِ، كَحَدِّ الزِّنَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَالْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ، فَفِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ فِيهَا عَلَى الشَّهَادَةِ قَوْلَانِ مَنْصُوصَانِ:

Adapun hak-hak Allah Ta‘ala yang murni, seperti hudud zina, minum khamar, dan pemotongan tangan dalam kasus pencurian, maka dalam kebolehan memberikan kesaksian atas kesaksian (syahadah ‘ala asy-syahadah) dalam perkara-perkara tersebut terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit.

أَحَدُهُمَا: تَجُوزُ الشَّهَادَةُ فِيهَا عَلَى الشَّهَادَةِ، وَتَثْبُتُ بِشُهُودِ الْفَرْعِ كَثُبُوتِهَا بِشُهُودِ الْأَصْلِ، اعْتِبَارًا بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، لِأَنَّ حُقُوقَ اللَّهِ تَعَالَى الَّتِي لَا تَسْقُطُ بِالْعَفْوِ أَحَقُّ بِالِاسْتِيفَاءِ مِمَّا يَجُوزُ أَنْ يَسْقُطَ بِالْعَفْوِ.

Pertama: Diperbolehkan memberikan kesaksian atas kesaksian, dan kesaksian dapat ditegakkan dengan para saksi cabang sebagaimana ditegakkan dengan para saksi asal, dengan pertimbangan hak-hak manusia, karena hak-hak Allah Ta‘ala yang tidak gugur dengan pemaafan lebih berhak untuk dipenuhi dibandingkan dengan hak-hak yang mungkin gugur dengan pemaafan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنَّهُ لَا تَجُوزُ فِيهَا الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ، وَلَا تَثْبُتُ إِلَّا بِشُهُودِ الْأَصْلِ دُونَ شُهُودِ الْفَرْعِ، لِأَنَّهَا مَوْضُوعَةٌ عَلَى سِتْرِهَا وَكِتْمَانِهَا وَدَرْئِهَا بِالشُّبَهَاتِ. لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ادرؤوا الْحُدُودَ بِالشُّبُهَاتِ مَا اسْتَطَعْتُمْ “.

Pendapat kedua, yang dipegang oleh Abu Hanifah, menyatakan bahwa tidak boleh memberikan kesaksian atas kesaksian dalam perkara ini, dan tidak dapat ditetapkan kecuali dengan para saksi asal, bukan saksi cabang. Hal ini karena perkara tersebut ditetapkan untuk menutupinya, merahasiakannya, dan menolaknya dengan adanya syubhat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Hindarilah penetapan hudud dengan adanya syubhat semampu kalian.”

وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ” مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “.

Dan sabda beliau ‘alaihis salam: “Barang siapa melakukan sesuatu dari perbuatan keji ini, maka hendaklah ia menutupi dirinya dengan perlindungan Allah.”

فَكَانَتْ لِأَجْلِ ذَلِكَ مُنَافِيَةً لِتَأْكِيدِهَا بِالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Karena itu, hal tersebut bertentangan dengan penegasannya melalui syahadah ‘ala asy-syahadah.

وَكَذَلِكَ الْقَوْلُ فِي كِتَابِ الْقَاضِي إِلَى الْقَاضِي، كَالْقَوْلِ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ. تَجُوزُ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، وَفِي جَوَازِهَا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى قَوْلَانِ.

Demikian pula hukum mengenai surat dari seorang qāḍī kepada qāḍī lain adalah seperti hukum syahādah ‘ala asy-syahādah (kesaksian atas kesaksian). Surat tersebut diperbolehkan dalam perkara hak-hak manusia, sedangkan mengenai kebolehannya dalam perkara hak-hak Allah Ta‘ālā terdapat dua pendapat.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ: فِي صِفَةِ الْإِشْهَادِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Bab ketiga: Tentang tata cara penyaksian atas kesaksian.

وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِمَا تَحَمَّلَهُ شَاهِدُ الْأَصْلِ. وَلَهُ فِي صِحَّةِ تَحَمُّلِهِ حَالَتَانِ:

Hal ini dianggap sesuai dengan apa yang diterima oleh saksi asal. Dalam hal keabsahan penerimaannya, terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يُشَاهِدَ السَّبَبَ الْمُوجِبَ لِلْحَقِّ مِنْ حُضُورِهِ عَقْدَ بَيْعٍ أَوْ إِجَارَةٍ أَوْ نِكَاحٍ يَسْمَعُ فِيهِ الْبَذْلَ وَالْقَبُولَ، أَوْ مُشَاهَدَتِهِ لِقَتْلٍ أَوْ إِتْلَافِ مَالٍ، أَوْ سَمَاعِهِ لِلَفْظِ الْقَذْفِ، فَيَصِحُّ تَحَمُّلُهُ مِنْ غَيْرِ إِقْرَارٍ وَلَا اسْتِرْعَاءٍ. وَيَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ، وَيَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ بِمِثْلِ مَا تَحْمَّلَهُ.

Salah satunya adalah bahwa seseorang menyaksikan sebab yang menimbulkan hak, seperti hadir dalam akad jual beli, sewa-menyewa, atau pernikahan, di mana ia mendengar ijab dan kabul, atau menyaksikan terjadinya pembunuhan atau perusakan harta, atau mendengar ucapan tuduhan zina. Maka, ia boleh memikul kesaksian tanpa adanya pengakuan atau permintaan khusus untuk menjadi saksi. Dan diperbolehkan baginya untuk memberikan kesaksian atas hal tersebut, serta bersaksi atas dirinya sendiri sesuai dengan apa yang ia saksikan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَشْهَدَ عَلَى الْإِقْرَارِ بِالْحَقِّ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan yang kedua: yaitu memberikan kesaksian atas pengakuan terhadap suatu hak, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَسْمَعَ إِقْرَارَ الْمُقِرِّ عِنْدَ الْحَاكِمِ وَهُوَ يَقُولُ: ” لِفُلَانٍ عَلِيَّ كَذَا دِرْهَمٌ ” فَيَصِحُّ تَحَمُّلُ الشَّاهِدِ لِهَذَا الْإِقْرَارِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْتَرْعِيَهُ الْمُقِرُّ لِلشَّهَادَةِ، وَيَقُولُ ” اشْهَدْ عَلِيَّ بِهَذَا “، لِأَنَّ الْعُرْفَ فِي الْإِقْرَارِ عِنْدَ الْحُكَّامِ أَنْ لَا يَكُونَ إِلَّا بِالْحُقُوقِ الْوَاجِبَةِ فَاسْتُغْنِى بِالْعُرْفِ عَنْ الِاسْتِرْعَاءِ.

Salah satunya adalah: ketika seseorang mendengar pengakuan dari orang yang mengaku di hadapan hakim, sementara ia berkata: “Untuk si Fulan, saya berutang sekian dirham.” Maka sah bagi saksi untuk memikul kesaksian atas pengakuan ini tanpa harus diminta oleh orang yang mengaku untuk menjadi saksi, atau tanpa dia berkata, “Saksikanlah atas saya tentang hal ini,” karena kebiasaan dalam pengakuan di hadapan para hakim adalah bahwa pengakuan itu hanya terjadi pada hak-hak yang wajib, sehingga kebiasaan tersebut sudah cukup tanpa perlu permintaan khusus untuk menjadi saksi.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَسْمَعَ إِقْرَارَهُ عِنْدَ غَيْرِ الْحَاكِمِ. إِمَّا عِنْدَ الشَّاهِدِ أَوْ عِنْدَ غَيْرِ الشَّاهِدِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِفَةِ التَّحَمُّلِ لِلشَّهَادَةِ بِهَذَا الْإِقْرَارِ، هَلْ يَفْتَقِرُ إِلَى اسْتِرْعَاءِ الْمُقِرِّ؟ وَالِاسْتِرْعَاءُ أَنْ يَقُولَ: اشْهَدْ عَلَيَّ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَيَّ كَذَا فِيهِ وَجْهَانِ:

Jenis kedua: yaitu ketika pengakuannya tidak didengar di hadapan hakim, baik di hadapan saksi maupun selain saksi. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai tata cara menerima kesaksian atas pengakuan ini, apakah memerlukan permintaan dari orang yang mengaku (istir‘ā’)? Istir‘ā’ adalah ketika ia berkata: “Saksikanlah atas diriku bahwa si fulan memiliki hak atas diriku sekian.” Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَطَائِفَةٍ، أَنَّ التَّحَمُّلَ لِلشَّهَادَةِ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِالِاسْتِرْعَاءِ بِهَا، فَإِنْ سَمِعَ الشَّاهِدُ الْإِقْرَارَ مِنْ غَيْرِ اسْتِرْعَاءٍ لَمْ يَصِحَّ تَحَمُّلُهُ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ بِهِ، لِاحْتِمَالِ أَنْ يُرِدْ بِذَلِكَ: عَلَيَّ أَلْفُ دِرْهَمٍ أُقْرِضُكَ إِيَّاهَا، أَوْ أَهَبُهَا لَكَ، فَلَا يُلْزَمُهُ مَا أَقَرَّ بِهِ. فَلِذَلِكَ لَمْ يَصِحَّ التَّحَمُّلُ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan sekelompok ulama, menyatakan bahwa menanggung kesaksian tidak sah kecuali dengan permintaan khusus untuk menjadi saksi. Jika seorang saksi mendengar pengakuan tanpa adanya permintaan khusus tersebut, maka penanggungannya tidak sah dan ia tidak boleh memberikan kesaksian atasnya. Hal ini karena ada kemungkinan maksud dari pengakuan itu adalah, “Atasku seribu dirham yang akan aku pinjamkan kepadamu,” atau “akan aku hadiahkan kepadamu,” sehingga ia tidak wajib menunaikan apa yang telah ia akui. Oleh karena itu, penanggungan kesaksian tidak sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ تَحَمُّلَ الْإِقْرَارِ صَحِيحٌ وَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ الِاسْتِرْعَاءِ، وَالشَّهَادَةُ بِهِ جَائِزَةٌ لِتَعَلُّقِ الْحُكْمِ بِالظَّاهِرِ دُونَ السَّرَائِرِ.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa menerima pengakuan itu sah meskipun tidak disertai permintaan untuk mengingatnya, dan kesaksian atasnya diperbolehkan karena hukum berkaitan dengan hal yang tampak, bukan dengan hal-hal yang tersembunyi.

وَيَجُوزُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ إِذَا اخْتَبَأَ الشَّاهِدُ حَتَّى سَمِعَ إِقْرَارَ الْمُقِرِّ: أَنَّ لِزَيْدٍ عَلَيَّ أَلْفًا، وَالْمُقِرُّ غَيْرُ عَالِمٍ بِحُضُورِ الشَّاهِدِ وَسَمَاعِهِ، أَنْ يَتَحَمَّلَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ وَيَشْهَدَ بِهَا عَلَى الْمُقِرِّ. إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْمُقِرِّ غَفْلَةٌ تَتِمُّ بِهَا الْحِيلَةُ عَلَيْهِ وَالْخِدَاعُ، فَلَا يصح تحمل الشهادة من المختبىء حَتَّى يَرَاهُ الْمُقِرُّ أَوْ يَعْلَمَ بِهِ.

Dan boleh menurut pendapat ini, jika seorang saksi bersembunyi hingga ia mendengar pengakuan dari orang yang mengaku: “Sesungguhnya Zaid memiliki seribu atas tanggunganku,” sementara orang yang mengaku tidak mengetahui kehadiran saksi dan tidak tahu bahwa saksi mendengarnya, maka saksi tersebut boleh memikul kesaksian ini dan memberikan kesaksian atas orang yang mengaku. Kecuali jika pada diri orang yang mengaku terdapat kelalaian yang memungkinkan terjadinya tipu daya dan penipuan terhadapnya, maka tidak sah bagi saksi yang bersembunyi untuk memikul kesaksian hingga orang yang mengaku melihatnya atau mengetahui keberadaannya.

وَسَوَّى أَبُو حَنِيفَةَ بَيْنَ ذِي الْغَفْلَةِ وَغَيْرِهِ فِي صحة تحمل المختبىء.

Abu Hanifah menyamakan antara orang yang lalai dan selainnya dalam keabsahan penerimaan riwayat orang yang bersembunyi.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَوْلَى لِتَمَامِ الْحِيلَةِ عَلَى الْغَافِلِ وَانْتِفَائِهَا عَنِ الضَّابِطِ فَهَذَانِ الْوَجْهَانِ فِي وُجُوبِ الِاسْتِرْعَاءِ.

Perbedaan antara keduanya lebih utama agar tipu daya terhadap orang yang lengah dapat sempurna dan tidak berlaku bagi orang yang waspada. Inilah dua pendapat mengenai kewajiban menjaga.

وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَنْ يُعْتَبَرَ حَالُ الْإِقْرَارِ، إِنِ اقْتَرَنَ بِهِ قَوْلٌ أَوْ أَمَارَةٌ تَدُلُّ عَلَى الْوُجُوبِ اسْتَغْنَى تَحَمُّلُهُ عَنْ الِاسْتِرْعَاءِ، وَالْقَوْلُ مِثْلُ أَنْ يَقُولَ ” لَهُ عَلِيَّ أَلْفُ دِرْهَمٍ بِحَقٍّ وَاجِبٍ “.

Pendapat yang lebih sahih menurutku dari dua pendapat tersebut adalah bahwa yang dijadikan pertimbangan adalah keadaan saat pengakuan; jika pengakuan itu disertai dengan ucapan atau tanda yang menunjukkan adanya kewajiban, maka penanggungannya tidak memerlukan permintaan penjelasan (al-istar‘ā’). Ucapan yang dimaksud misalnya seseorang berkata, “Aku memiliki kewajiban seribu dirham kepadanya sebagai hak yang wajib.”

وَالْأَمَارَةُ أَنْ يَحْضُرَ الْمُقِرُّ عِنْدَ الشَّاهِدِ لِيَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ فَيَعْلَمَ شَاهِدُ الْحَالِ أَنَّهُ إِقْرَارٌ بِوَاجِبٍ.

Dan indikasinya adalah bahwa orang yang mengakui hadir di hadapan saksi untuk memberikan kesaksian atas dirinya sendiri, sehingga saksi situasi mengetahui bahwa itu adalah pengakuan atas suatu kewajiban.

وَإِنْ تَجَرَّدَ الْإِقْرَارُ عَمَّا يَدُلُّ عَلَى الْوُجُوبِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ أَمَارَةٍ، افْتَقَرَ إِلَى الِاسْتِرْعَاءِ وَلَمْ يَصِحَّ تَحَمُّلُ الشَّهَادَةِ عَلَى إِطْلَاقِهِ.

Dan jika pengakuan itu tidak disertai dengan sesuatu yang menunjukkan kewajiban, baik berupa ucapan maupun tanda, maka pengakuan tersebut memerlukan permintaan khusus (istir‘ā’), dan tidak sah memikul kesaksian secara mutlak atasnya.

فَإِنْ أَرَادَ الشَّاهِدُ أَنْ يَشْهَدَ بِهَذَا الْإِقْرَارِ عِنْدَ الْحَاكِمِ، لَزِمَهُ أَنْ يَذْكُرَ فِي شَهَادَتِهِ صِفَةَ الْإِقْرَارِ. فَإِنْ كَانَ بِالِاسْتِرْعَاءِ قَالَ فِي شَهَادَتِهِ: أَشْهَدُ أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ، فَإِنْ لَمْ يَقِلْ: أَشْهَدُ، وَقَالَ: أَقَرَّ عِنْدِي، وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ كَانَ إِخْبَارًا وَلَمْ تَكُنْ شَهَادَةً.

Jika seorang saksi ingin memberikan kesaksian tentang pengakuan ini di hadapan hakim, maka ia wajib menyebutkan sifat pengakuan tersebut dalam kesaksiannya. Jika pengakuan itu dilakukan dengan permintaan untuk menjadi saksi, maka dalam kesaksiannya ia harus mengatakan: “Saya bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapan saya dan meminta saya menjadi saksi atas dirinya.” Jika ia tidak mengatakan “Saya bersaksi”, dan hanya mengatakan: “Ia mengakui di hadapan saya dan meminta saya menjadi saksi atas dirinya”, maka itu dianggap sebagai pemberitahuan, bukan sebagai kesaksian.

فَلَمْ يَجُزْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا حَتَّى يَقُولَ: أَشْهَدُ أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ، لِأَنَّ الْحُكْمَ يَكُونُ بِالشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ.

Maka tidak boleh bagi hakim untuk memutuskan dengannya sampai ia mengatakan: “Aku bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapanku dan menjadikanku saksi atas dirinya,” karena keputusan (hukum) itu harus berdasarkan syahadah (kesaksian), bukan sekadar pemberitahuan.

وَإِنْ كَانَ الشَّاهِدُ قَدْ حَضَرَ الْمُقِرَّ وَأَقَرَّ عِنْدَهُ مِنْ غَيْرِ اسْتِرْعَاءٍ قَالَ فِي شَهَادَتِهِ: ” أَشْهَدُ أنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي بِكَذَا ” وَلَا يَقُولُ: ” وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ “، لِيَجْتَهِدَ الْحَاكِمُ رَأْيَهُ فِي صِحَّةِ هَذَا التَّحَمُّلِ وَفَسَادِهِ.

Jika seorang saksi hadir ketika orang yang mengakui (muqir) melakukan pengakuan di hadapannya tanpa permintaan khusus untuk menjadi saksi, maka dalam kesaksiannya ia mengatakan: “Saya bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapan saya tentang hal ini,” dan tidak mengatakan: “Ia meminta saya menjadi saksi atas dirinya,” agar hakim dapat berijtihad dengan pendapatnya dalam menilai sah atau tidaknya penerimaan kesaksian tersebut.

وَإِنْ كَانَ الشَّاهِدُ قَدْ سَمِعَ إِقْرَارَ الْمُقِرِّ مِنْ غَيْرِ حُضُورٍ عِنْدَهُ قَالَ فِي شَهَادَتِهِ: ” أَشْهَدُ أنِّي سَمِعْتُهُ يُقِرُّ بِكَذَا ” وَلَا يَقُولُ أَقَرَّ ” عِنْدِي ” لِيَكُونَ الْحَاكِمُ هُوَ الْمُجْتَهِدُ دُونَ الشَّاهِدِ.

Dan jika saksi telah mendengar pengakuan dari orang yang mengaku tanpa kehadirannya secara langsung, maka dalam kesaksiannya ia mengatakan: “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya mengakui demikian dan demikian,” dan tidak mengatakan “ia mengaku di hadapanku,” agar hakimlah yang melakukan ijtihad, bukan saksi.

فَإِنْ أَرَادَ الشَّاهِدُ أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِي صِحَّةِ هَذَا التَّحَمُّلِ وَفَسَادِهِ نُظِرَ:

Jika seorang saksi ingin berijtihad dengan pendapatnya dalam menilai sah atau tidaknya tahammul ini, maka hal itu perlu diteliti:

فَإِنْ أَرَادَ الشَّاهِدُ أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِي صِحَّةِ الْإِقْرَارِ وَفَسَادِهِ لَمْ يَجُزْ، وَكَانَ الْحَاكِمُ أَحَقَّ بِهَذَا الِاجْتِهَادِ.

Jika seorang saksi ingin berijtihad dengan pendapatnya sendiri mengenai sah atau tidaknya suatu pengakuan, maka hal itu tidak diperbolehkan, dan hakimlah yang lebih berhak melakukan ijtihad tersebut.

وَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِي لُزُومِ الْأَدَاءِ وَسُقُوطِهِ عَنْهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Dan jika ia ingin berijtihad dengan pendapatnya dalam hal kewajiban menunaikan (ibadah) dan gugurnya kewajiban itu darinya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِاخْتِصَاصِهِ بِوُجُوبِ الْأَدَاءِ.

Salah satunya: boleh karena khusus baginya adanya kewajiban pelaksanaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ، لِأَنَّ فِي الْإِقْرَارِ حَقًّا لِغَيْرِهِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh, karena dalam pengakuan terdapat hak bagi pihak lain.

( [الْقَوْلُ فِي صِحَّةِ تَحَمُّلِ شَاهِدِ الْفَرْعِ وَأَدَائِهِ] )

(Pembahasan tentang sahnya penerimaan kesaksian syāhid al-far‘ dan penyampaiannya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ شَاهِدِ الْأَصْلِ فِي صِحَّةِ تَحَمُّلِهِ الشَّهَادَةَ، انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى شَاهِدِ الْفَرْعِ فِي صِحَّةِ تَحَمُّلِهِ وَصِحَّةِ أَدَائِهِ.

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan mengenai syāhid al-aṣl dalam keabsahan menerima kesaksian, maka pembahasan berpindah kepada syāhid al-far‘ dalam keabsahan menerima dan menyampaikan kesaksian.

فَأَمَّا تَحَمُّلُهُ فَمُعْتَبَرٌ فِي شَاهِدِ الْأَصْلِ وَلَهُ فِي تحمل شاهد الفرع عنه ثلاثة أحوال:

Adapun penerimaan kesaksian, maka hal itu diperhitungkan pada saksi asal, dan bagi saksi cabang yang menerima kesaksian darinya terdapat tiga keadaan:

أحدهما: أَنْ يَذَكُرَ شَاهِدُ الْأَصْلِ السَّبَبَ الْمُوجِبَ لِلْحَقِّ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ، فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفًا مِنْ ثَمَنٍ أَوْ غَصْبٍ أَوْ صَدَاقٍ، فَإِذَا سَمِعَهُ شَاهِدُ الْفَرْعِ صَحَّ تَحَمُّلُهُ لِلشَّهَادَةِ عَنْهُ وَإِنْ لَمْ يَسْتَرْعِهِ إِيَّاهَا، وَفِيهِ لِبَعْضِ أَصْحَابِنَا الْبَصْرِيِّينَ وَجْهٌ آخَرُ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ تَحَمُّلُهُ إِلَّا بِالِاسْتِرْعَاءِ لِمَا فِيهِ مِنْ الِاحْتِمَالِ بِالْوَعْدِ، وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّ ذِكْرَ السَّبَبِ تَعْيِينٌ مِنْ الِاحْتِمَالِ.

Pertama: Jika saksi asal menyebutkan sebab yang mewajibkan hak dengan lafaz kesaksian, misalnya ia berkata: “Aku bersaksi bahwa si Fulan memiliki seribu (uang) atas si Fulan, baik dari harga, ghasab, atau mahar,” maka apabila saksi cabang mendengarnya, sah baginya untuk memikul kesaksian darinya meskipun tidak diminta secara khusus untuk itu. Namun, sebagian ulama kami dari kalangan Basrah memiliki pendapat lain, yaitu tidak sah baginya memikul kesaksian kecuali dengan permintaan khusus, karena masih ada kemungkinan itu hanya janji. Pendapat ini tidak benar, karena penyebutan sebab merupakan penegasan yang meniadakan kemungkinan (hanya sekadar janji).

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدُ الْأَصْلِ بِالشَّهَادَةِ عِنْدَ الْحَاكِمِ، فَإِنْ سَمِعَهُ شَاهِدُ الْفَرْعِ صَحَّ تَحَمُّلُهُ لَهَا وَإِنْ لَمْ يَسْتَرْعِهِ إِيَّاهَا، لِأَنَّ الْحَاكِمَ مُلْزَمٌ، فَلَمْ تَكُنِ الشَّهَادَةُ عِنْدَهُ إِلَّا بِمَا لَزِمَ.

Keadaan kedua: Apabila saksi asal memberikan kesaksian di hadapan hakim, lalu saksi cabang mendengarnya, maka sah baginya untuk memikul kesaksian tersebut meskipun ia tidak diminta secara khusus untuk memperhatikannya, karena hakim itu terikat (dengan hukum), sehingga kesaksian di hadapannya hanya terjadi pada perkara yang memang wajib (diperhatikan).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ شَاهِدُ الْأَصْلِ: أَشْهَدُ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفًا. فَإِذَا سَمِعَهُ شَاهِدُ الْفَرْعِ لَمْ يَصِحَّ تَحَمُّلُهُ إِلَّا بِالِاسْتِرْعَاءِ وَجْهًا وَاحِدًا، وَإِنْ كَانَ فِي الْمُقِرِّ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Keadaan ketiga: Jika saksi asal berkata, “Aku bersaksi bahwa si Fulan memiliki hak atas si Fulan sejumlah seribu,” maka apabila saksi cabang mendengarnya, tidak sah baginya untuk memikul kesaksian tersebut kecuali dengan izin (istir‘ā’), menurut satu pendapat. Namun, jika yang bersaksi adalah orang yang mengakui (hak tersebut), maka ada dua pendapat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمُقِرِّ وَالشَّاهِدِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara orang yang mengakui (muqir) dan saksi (syāhid) terdapat pada dua aspek:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْحَقَّ فِي الشَّاهِدِ لَازِمٌ لِغَيْرِ الشَّاهِدِ، فَوَجَبَ أَنْ يُغَلَّظَ حُكْمُهُ بِالِاسْتِرْعَاءِ لِيَتَحَقَّقَ صِحَّةُ الْإِلْزَامِ بِنَفْسِ الِاحْتِمَالِ.

Salah satunya: bahwa hak yang ada pada saksi adalah wajib bagi selain saksi, maka wajib untuk memperberat hukumnya dengan pengawasan agar dapat dipastikan kebenaran penetapan kewajiban itu hanya dengan kemungkinan yang ada.

وَالْحَقُّ فِي الْإِقْرَارِ لَازِمٌ لِلْمُقِرِّ لَا يَتَعَدَّاهُ فَيَتَحَقَّقُ حُكْمُهُ فِي صِحَّةِ الْإِلْزَامِ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ فِيهِ احْتِمَالٌ لَمَا اسْتَظْهَرَ بِهِ لِنَفْسِهِ.

Kebenaran dalam pengakuan adalah sesuatu yang wajib bagi orang yang mengaku dan tidak melampaui dirinya, sehingga hukum pengakuan itu berlaku dalam keabsahan kewajiban, karena jika di dalamnya terdapat kemungkinan (keraguan), maka tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hak bagi dirinya sendiri.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْإِقْرَارَ خَبَرٌ وَشُرُوطُ الشَّهَادَةِ أَغْلَظُ مِنْ شُرُوطِ الْخَبَرِ لِصِحَّةِ إِخْبَارِ مَنْ لَا يَصِحُّ شَهَادَتُهُ مِنَ الْعَبِيدِ وَالنِّسَاءِ، وَلِذَلِكَ اعْتُبِرَ الِاسْتِرْعَاءُ فِي الشَّهَادَةِ وَإِنْ لَمْ يُعْتَبَرْ فِي الْإِقْرَارِ، وَلِذَلِكَ قَبِلَ رُجُوعِ الشَّاهِدِ وَلَمْ يُقْبَلْ رُجُوعُ الْمُقِرِّ.

Kedua: Sesungguhnya ikrar adalah sebuah pemberitahuan, dan syarat-syarat kesaksian lebih ketat daripada syarat-syarat pemberitahuan, karena sahnya pemberitahuan dari orang yang tidak sah kesaksiannya seperti budak dan perempuan. Oleh karena itu, dipersyaratkan adanya istir‘ā’ dalam kesaksian meskipun tidak dipersyaratkan dalam ikrar, dan karena itu pula diterima pencabutan kesaksian oleh saksi, sedangkan pencabutan ikrar oleh orang yang mengaku tidak diterima.

وَإِذَا كَانَ الِاسْتِرْعَاءُ مُعْتَبَرًا فِي الشَّهَادَةِ فَالِاسْتِرْعَاءُ أَنْ يَقُولَ شَاهِدُ الْأَصْلِ لِشَاهِدِ الْفَرْعِ:

Dan apabila isti‘rā’ dianggap sah dalam persaksian, maka isti‘rā’ adalah ketika saksi asal berkata kepada saksi cabang:

” أَشْهَدُ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفًا فَاشْهَدْ عَلَى شَهَادَتِي وَعَنْ شَهَادَتِي “.

Aku bersaksi bahwa si Fulan memiliki hak atas si Fulan sebesar seribu, maka saksikanlah atas kesaksianku dan atas penyampaian kesaksianku.

فَأَمَّا قَوْلُهُ: ” فَاشْهَدْ عَلَى شَهَادَتِي ” اسْتِرْعَاءٌ لَا يَصِحُّ التَّحَمُّلُ إِلَّا بِهِ.

Adapun ucapannya: “Maka saksikanlah atas persaksianku,” merupakan permintaan untuk menjadi saksi yang tanpanya tidak sah menerima persaksian.

” فَلَوْ قَالَ فَاشْهَدْ أَنْتَ بِهَا ” لَمْ يَكُنِ اسْتِرْعَاءٌ، حَتَّى يَقُولَ: ” فَاشْهَدْ عَلَى شَهَادَتِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ.

Maka jika ia berkata, “Maka saksikanlah engkau dengannya,” itu belum dianggap sebagai permintaan untuk menjaga kesaksian, hingga ia mengatakan, “Saksikanlah atas kesaksianku.” Hal ini dinyatakan secara tegas oleh asy-Syafi‘i.

وَأَمَّا قَوْلُهُ: ” وَعَنْ شَهَادَتِي ” فَهُوَ إِذْنٌ لَهُ فِي النِّيَابَةِ عَنْهُ فِي الْأَدَاءِ.

Adapun ucapannya: “dan tentang kesaksianku” maka itu merupakan izin baginya untuk mewakilinya dalam pelaksanaan (kesaksian).

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ هُوَ شَرْطٌ فِي صِحَّةِ التَّحَمُّلِ وَمُعْتَبَرٌ فِي جَوَازِ الْأَدَاءِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat, apakah hal itu merupakan syarat sah dalam menerima (riwayat) dan dianggap sebagai syarat bolehnya menyampaikan (riwayat), atau tidak? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ شَرْطٌ مُعْتَبَرٌ فِي صِحَّةِ التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ، لِأَنَّ شَاهِدَ الْفَرْعِ نَائِبٌ عَنْ شَاهِدِ الْأَصْلِ فِي الْأَدَاءِ فَاعْتُبِرَ فِيهِ الْإِذْنُ بِالنِّيَابَةِ كَالْوَكِيلِ وَالْوَصِيِّ، وَهَذَا قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ.

Pertama: Bahwa hal itu merupakan syarat yang dianggap dalam sahnya tahammul dan ada’, karena saksi cabang adalah wakil dari saksi asal dalam penyampaian kesaksian, maka disyaratkan adanya izin untuk mewakili, seperti halnya pada wakil dan washi, dan ini adalah pendapat para ulama Basrah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَصِحُّ التَّحَمُّلُ وَالْأَدَاءُ مَعَ تَرْكِهِ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى شَهَادَتِهِ لَيْسَتْ مِنْ حُقُوقِهِ، فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ إِذْنُهُ، وَهَذَا قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ.

Pendapat kedua: boleh menerima dan menyampaikan (kesaksian) meskipun tanpa izinnya, karena kesaksian atas kesaksian bukan termasuk hak-haknya, sehingga izinnya tidak dianggap dalam hal ini. Ini adalah pendapat para ulama Baghdad.

( [الْقَوْلُ فِي شُرُوطِ أَدَاءِ شَاهِدِ الْفَرْعِ] )

(Pembahasan tentang syarat-syarat pelaksanaan kesaksian syāhid al-far‘)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا صِحَّةُ الْأَدَاءِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِشَاهِدِ الْأَصْلِ وَصِحَّةُ أَدَائِهِ مُعْتَبَرَةٌ بِخَمْسَةِ شُرُوطٍ:

Adapun sahnya pelaksanaan, maka itu dianggap berdasarkan saksi asal, dan sahnya pelaksanaan tersebut dianggap dengan lima syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَصِحَّ تَحَمُّلُهُ عَلَى الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيهِ، فَإِذَا أَخَلَّ بِشَرْطٍ مِنْهَا لَمْ يَصِحَّ أَدَاؤُهُ.

Salah satunya: harus sah penerimaannya dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan padanya. Jika salah satu syarat tersebut tidak dipenuhi, maka penyampaiannya tidak sah.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مُقِيمًا عَلَى شَهَادَتِهِ غَيْرَ رَاجِعٍ عَنْهَا، فَإِنْ رَجَعَ عَنْهَا قَبْلَ الْأَدَاءِ لَمْ يَصِحَّ أَدَاؤُهُ، وَلَوْ رَجَعَ بَعْدَ الْأَدَاءِ وَقَبْلَ الْحُكْمِ بَطَلَ الْأَدَاءُ، وَلَوْ رَجَعَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِالْأَدَاءِ، لَمْ يَبْطُلِ الْحُكْمُ بِرُجُوعِهِ.

Syarat kedua: Seseorang harus tetap teguh pada kesaksiannya dan tidak menarik kembali kesaksiannya tersebut. Jika ia menarik kembali kesaksiannya sebelum memberikan kesaksian di pengadilan, maka penyampaiannya tidak sah. Jika ia menarik kembali setelah memberikan kesaksian namun sebelum adanya putusan, maka penyampaiannya batal. Namun, jika ia menarik kembali setelah adanya putusan berdasarkan kesaksiannya, maka putusan tersebut tidak batal karena penarikannya.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ شَاهِدُ الْأَصْلِ غَيْرَ قَادِرٍ عَلَى أَدَاءِ الشَّهَادَةِ، إِمَّا لِغَيْبَةٍ أَوْ زَمَانَةٍ أَوْ مَوْتٍ، فَإِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى أَدَاءِ الشَّهَادَةِ لَمْ يَكُنْ لِشَاهِدِ الْفَرْعِ أَنْ يُؤَدِّيَهَا عَنْهُ، لِأَنَّ الْأَصْلَ أَقْوَى مِنَ الْفَرْعِ، وَإِذَا وُجِدَتِ الْقُوَّةُ فِي الشَّهَادَةِ لَمْ يَجُزْ إِسْقَاطُهَا، وَخَالَفَتِ الْوَكَالَةُ فِي جَوَازِهَا عَنِ الْحَاضِرِ، لِأَنَّ الْحَاضِرَ قَدْ يَضْعُفُ عَنِ اسْتِيفَاءِ حُجَّتِهِ كَالْغَائِبِ.

Syarat ketiga: Saksi asal tidak mampu memberikan kesaksian, baik karena sedang tidak hadir, sakit, atau telah meninggal dunia. Jika saksi asal mampu memberikan kesaksian, maka saksi pengganti tidak boleh menyampaikannya atas namanya, karena asal lebih kuat daripada pengganti. Apabila kekuatan dalam kesaksian itu ada, maka tidak boleh menggugurkannya. Hal ini berbeda dengan perwakilan (wakālah) yang boleh dilakukan atas nama orang yang hadir, karena orang yang hadir bisa saja lemah dalam menegakkan hujjahnya seperti halnya orang yang tidak hadir.

وَخَالَفَتِ الْخَبَرَ فِي جَوَازِ قَبُولِهَا مِنَ الْمُخْبِرِ مَعَ وُجُودِ الْمُخْبَرِ عَنْهُ، لِأَنَّ الْخَبَرَ يَلْزَمُ الْمُخْبِرَ وَالْمُسْتَخْبِرَ وَالشَّهَادَةُ تَلْزَمُ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ دُونَ الشَّاهِدِ.

Dan ia berbeda dengan khabar dalam hal boleh diterimanya dari orang yang memberitakan meskipun orang yang diberitakan masih ada, karena khabar mengikat orang yang memberitakan dan orang yang meminta berita, sedangkan syahadah (kesaksian) mengikat orang yang disaksikan, bukan saksi.

فَلَوْ شَهِدَ شَاهِدُ الْفَرْعِ لِغَيْبَةِ شَاهِدِ الْأَصْلِ أَوْ مَرَضِهِ، ثُمَّ قَدِمَ شَاهِدُ الْأَصْلِ مِنْ سَفَرِهِ أَوْ صَحَّ مِنْ مَرَضِهِ نُظِرَ:

Maka jika saksi cabang memberikan kesaksian karena saksi asal sedang tidak hadir atau sakit, kemudian saksi asal kembali dari perjalanannya atau telah sembuh dari sakitnya, maka hal ini perlu diteliti:

فَإِنْ كَانَ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَةِ الْفَرْعِ لَمْ تُسْمَعْ شَهَادَةُ الْأَصْلِ.

Jika hal itu terjadi setelah keputusan hukum telah dijalankan berdasarkan kesaksian cabang, maka kesaksian asal tidak dapat diterima.

وَإِنْ كَانَ قَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا سُمِعَتْ شَهَادَةُ الْأَصْلِ وَلَمْ يَنْفُذِ الْحُكْمُ بِشَهَادَةِ الْفَرْعِ.

Dan jika sebelum putusan hukum dijalankan berdasarkan kesaksian cabang, kesaksian asal telah didengarkan, maka putusan hukum tidak dijalankan berdasarkan kesaksian cabang.

فَأَمَّا الْغَيْبَةُ الَّتِي تَجُوزُ مَعَهَا شَهَادَةُ الْفَرْعِ، فَقَدِ اعْتَبَرَهَا أَبُو حَنِيفَةَ بِمُدَّةِ الْقَصْرِ وَهِيَ مَسَافَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ عِنْدَهُ.

Adapun ketidakhadiran yang dengannya diperbolehkan kesaksian cabang, maka Abu Hanifah mensyaratkannya dengan jarak safar qashar, yaitu sejauh tiga hari menurut beliau.

وَاعْتَبَرَهَا أَبُو يُوسُفَ بِأَنْ يَكُونَ إِذَا رَجَعَ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْعَوْدِ مِنْهَا قَبْلَ اللَّيْلِ إِلَى وَطَنِهِ.

Abu Yusuf mensyaratkannya dengan ketentuan bahwa jika seseorang kembali ke tempat itu pada awal siang hari, ia tidak mampu kembali lagi dari sana ke kampung halamannya sebelum malam tiba.

وَعَلَى الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ بِلُحُوقِ الْمَشَقَّةِ فِي عَوْدِهِ، لِأَنَّ دُخُولَ الْمَشَقَّةِ عَلَى الشَّاهِدِ يُسْقِطُ عَنْهُ فَرْضَ الأداء.

Menurut pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i raḥimahullāh, hal itu dianggap berdasarkan adanya kesulitan ketika kembali (untuk bersaksi), karena masuknya kesulitan pada saksi menggugurkan kewajiban memberikan kesaksian darinya.

الشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يُسَمِّيَ شَاهِدَ الْأَصْلِ فِي أَدَائِهِ بِمَا يُعْرَفُ بِهِ، فَإِنْ أَغْفَلَ ذِكْرَهُ لَمْ يَصِحَّ أَدَاؤُهُ، لِأَنَّهُ فَرْعُهُ، وَقَدْ يَكُونُ الْأَصْلُ غَيْرَ مَرْضِيٍّ فَتَكُونُ الشَّهَادَةُ مَرْدُودَةٌ وَإِنْ كَانَ الْفَرْعُ مَرْضِيًّا فَقَبُولُهَا مُعْتَبَرٌ بِعَدَالَةِ الْأَصْلِ وَالْفَرْعِ، وَإِنْ قَالَ شَاهِدُ الْفَرْعِ: ” أَشْهَدَنِي شَاهِدُ عَدْلٍ رِضًى ” لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ حَتَّى يُسَمِّيَهُ. لِأَنَّ تَزْكِيَةَ الشُّهُودِ إِلَى الْحَاكِمِ دُونَ غَيْرِهِ.

Syarat keempat: Hendaknya ia menyebutkan nama saksi asal dalam penyampaiannya dengan sebutan yang dapat dikenali. Jika ia lalai menyebutkannya, maka penyampaiannya tidak sah, karena ia merupakan cabang darinya, dan bisa jadi saksi asal tidak diterima, sehingga kesaksiannya pun tertolak, meskipun cabangnya diterima. Maka penerimaan kesaksian itu bergantung pada keadilan saksi asal dan cabang. Jika saksi cabang berkata, “Seorang saksi adil yang diterima telah memperlihatkan kepadaku,” maka kesaksiannya tidak diterima sampai ia menyebutkan namanya, karena tazkiyah (penilaian keadilan) para saksi adalah wewenang hakim, bukan yang lain.

وَالشَّرْطُ الْخَامِسُ: أَنْ يُؤَدِّيَ الشَّهَادَةَ عَلَى الصِّفَةِ الَّتِي تَحْمَّلَهَا، فَإِنْ كَانَ قَدْ تَحْمَّلَ عَنْ شَاهِدِ الْأَصْلِ لِذِكْرِهِ لِسَبَبِ وُجُوبِ الْحَقِّ مِنْ بَيْعٍ أَوْ قَرْضٍ، ذَكَرَهُ فِي أَدَائِهِ عَنْهُ.

Syarat kelima: Hendaknya ia menyampaikan kesaksian sesuai dengan keadaan saat ia menerima kesaksian tersebut. Jika ia menerima dari saksi asal karena saksi asal menyebutkan sebab terjadinya hak, seperti jual beli atau pinjaman, maka ia pun harus menyebutkannya ketika menyampaikan kesaksian atas nama saksi asal tersebut.

فقال ” أشهد أن فلان ابن فُلَانٍ الشَّاهِدَ أَشْهَدَنِي عَلَى شَهَادَتِهِ وَعَنْ شَهَادَتِهِ، أن فلان ابن فُلَانٍ أَقَرَّ عِنْدَهُ وَأَشْهَدَهُ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّ عليه لفلان ابن فُلَانٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ “. فَتَصِحُّ الشَّهَادَةُ بِهَذَا الْأَدَاءِ.

Lalu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa Fulan bin Fulan, saksi tersebut, telah menjadikanku saksi atas kesaksiannya dan atas pernyataannya, bahwa Fulan bin Fulan telah mengakui di hadapannya dan menjadikannya saksi atas dirinya bahwa ia memiliki utang kepada Fulan bin Fulan sebesar seribu dirham.” Maka kesaksian dengan penyampaian seperti ini adalah sah.

فَإِنْ قَالَ ” أَشْهَدَنِي عَلَى شَهَادَتِهِ ” وَلَمْ يَقُلْ ” وَعَنْ شَهَادَتِهِ ” فَفِي صِحَّةِ أَدَائِهِ وَجْهَانِ تَعْلِيلًا بِمَا قَدَّمْنَاهُ.

Jika ia berkata, “Ia menjadikanku saksi atas kesaksiannya,” dan tidak mengatakan, “dan atas kesaksiannya,” maka dalam keabsahan penyampaiannya terdapat dua pendapat, dengan alasan sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.

وَهَذَا أَصَحُّ مَا قِيلَ فِي أَدَاءِ الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Ini adalah pendapat yang paling sahih mengenai pelaksanaan syahadah ‘ala asy-syahadah.

فَإِنْ قَالَ شَاهِدُ الفرع: أشهد عن فلان ابن فُلَانٍ الشَّاهِدِ جَازَ.

Jika saksi cabang berkata: “Aku bersaksi atas nama Fulan bin Fulan, saksi,” maka itu diperbolehkan.

وَلَوْ قَالَ: ” أَشْهَدُ عَلَيْهِ ” لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّ الْحَقَّ عَلَى الْمُقِرِّ لَا عَلَى الشَّاهِدِ.

Dan jika seseorang berkata, “Aku bersaksi atasnya,” maka itu tidak sah, karena hak itu berada pada orang yang mengakui, bukan pada saksi.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ: مَنْ يَصِحُّ أن يكون مؤديا للشهادة على الشهادة.

Bab keempat: Siapa saja yang sah menjadi penyampai kesaksian atas kesaksian.

مذهب الشَّافِعِيِّ، أَنَّهُمُ الرِّجَالُ دُونَ النِّسَاءِ، سَوَاءٌ كَانَتْ شَهَادَةُ الْأَصْلِ مِمَّا تُقْبَلُ فِيهَا النِّسَاءُ أَوْ لَا تُقْبَلُ.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa mereka adalah laki-laki, bukan perempuan, baik kesaksian pokok tersebut termasuk perkara yang diterima kesaksian perempuan di dalamnya maupun tidak diterima.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: تُقْبَلُ شَهَادَةُ النِّسَاءِ فِي الْفُرُوعِ إِذَا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُنَّ فِي الْأَصْلِ، لِأَنَّ حُكْمَ الْفَرْعِ يُعْتَبَرُ بِالْأَصْلِ.

Abu Hanifah raḥimahullāh berkata: Kesaksian perempuan diterima dalam masalah cabang jika kesaksian mereka diterima dalam masalah pokok, karena hukum cabang mengikuti hukum pokok.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِشَهَادَةِ الْفَرْعِ إِثْبَاتُ شَهَادَةِ الْأَصْلِ وَالْمَقْصُودَ بِشَهَادَةِ الْأَصْلِ إِثْبَاتُ الْحَقِّ، فَصَارَتْ صِفَةُ الْحَقِّ مُعْتَبَرَةٌ فِي شَهَادَةِ الْأَصْلِ، وَصِفَتُهُ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ فِي شَهَادَةِ الْفَرْعِ، وَإِذَا سَقَطَ اعْتِبَارُ الْحَقِّ سَقَطَتْ شَهَادَةُ النِّسَاءِ.

Ini tidak benar, karena yang dimaksud dengan kesaksian cabang adalah untuk menetapkan kesaksian asal, dan yang dimaksud dengan kesaksian asal adalah untuk menetapkan hak. Maka, sifat hak menjadi sesuatu yang diperhitungkan dalam kesaksian asal, sedangkan sifat hak tidak diperhitungkan dalam kesaksian cabang. Jika pertimbangan terhadap hak gugur, maka gugurlah kesaksian perempuan.

فَإِنْ كَانَتْ شَهَادَةُ الْأَصْلِ مِمَّا يُحْكَمُ فِيهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَيَحْمِلُهَا فِي الْفَرْعِ شَاهِدٌ واحد وأراد صاحب الحق أن يحلف مع الشاهد الواحد، كما كان له أن يحلف مع الشاهد الْوَاحِدَ فِي الْأَصْلِ لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّ شَهَادَةَ الْأَصْلِ لَا تَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَثْبُتَ الْحَقُّ بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ.

Jika kesaksian asal termasuk perkara yang dapat diputuskan dengan satu saksi dan sumpah, lalu pada cabangnya hanya ada satu saksi yang membawanya dan pemilik hak ingin bersumpah bersama satu saksi tersebut, sebagaimana dia boleh bersumpah bersama satu saksi pada perkara asal, maka itu tidak diperbolehkan. Sebab, kesaksian asal tidak dapat ditegakkan dengan satu saksi dan sumpah, meskipun hak dapat ditegakkan dengan satu saksi dan sumpah.

فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فِي الْفَرْعِ عَنْ شَاهِدٍ وَاحِدٍ فِي الْأَصْلِ، وَأَرَادَ صَاحِبُ الْحَقِّ أَنْ يَحْلِفَ مَعَهَا جَازَ، لِأَنَّهُ قَدْ يُثْبَتُ بِهِمَا شَهَادَةُ الْوَاحِدِ، فَجَازَ أَنْ يَحْلِفَ مَعَهُ، لِأَنَّ لَهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ الْوَاحِدِ، لِأَنَّ يَمِينَهُ لِإِثْبَاتِ حَقِّهِ وَلَيْسَتْ لِإِثْبَاتِ الشَّهَادَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika dua orang saksi memberikan kesaksian pada cabang berdasarkan satu saksi pada pokok, lalu pemilik hak ingin bersumpah bersama keduanya, maka hal itu diperbolehkan. Sebab, dengan keduanya dapat ditegakkan kesaksian satu orang saksi, sehingga diperbolehkan baginya untuk bersumpah bersama saksi tersebut. Karena ia memang boleh bersumpah bersama satu orang saksi, sebab sumpahnya itu untuk menetapkan haknya, bukan untuk menetapkan kesaksian. Dan Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي تَحَمُّلِ شَاهِدِ الْفَرْعِ وَأَدَائِه] )

(Pembahasan tentang penerimaan kesaksian syāhid al-far‘ dan penyampaiannya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا سَمِعَ الرَّجُلَانِ الرَّجُلَ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ وَلَمْ يَقُلْ لَهُمَا اشْهَدَا عَلَى شَهَادَتِي فَلَيْسَ لَهُمَا أَنْ يَشْهَدَا بِهَا وَلَا لِلْحَاكِمِ أَنْ يَقْبَلَهَا لِأَنَّهُ لَمْ يَسْتَرْعِهِمَا إِيَّاهَا وَقَدْ يُمْكِنُ أَنْ يَقُولَ لَهُ عَلَى فُلَانٍ أَلْفُ دِرْهَمٍ وَعَدَهُ بِهَا وَإِذَا اسْتَرْعَاهُمَا إِيَّاهَا لَمْ يَفْعَلْ إِلَّا وَهِيَ عِنْدَهُ وَاجِبَةٌ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang laki-laki mendengar seseorang berkata, ‘Aku bersaksi bahwa si Fulan memiliki hak atas si Fulan sebanyak seribu dirham,’ namun ia tidak berkata kepada keduanya, ‘Saksikanlah atas persaksianku ini,’ maka keduanya tidak berhak memberikan kesaksian atas hal itu, dan hakim pun tidak boleh menerimanya, karena ia tidak meminta keduanya untuk menjaga persaksian tersebut. Bisa saja ia berkata, ‘Si Fulan memiliki hak seribu dirham atas si Fulan,’ hanya sekadar janji kepadanya. Namun, jika ia memang meminta keduanya untuk menjaga persaksian itu, maka ia tidak melakukannya kecuali memang hak tersebut wajib menurutnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: هَذَا مِمَّا قَدْ مَضَى فِيهِ الْفُصُولُ الْأَرْبَعَةُ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى الشَّهَادَةِ تَكُونُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Al-Mawardi berkata: Ini termasuk perkara yang telah dijelaskan dalam empat bab sebelumnya, karena kesaksian atas kesaksian dapat terjadi dalam salah satu dari tiga bentuk:

أَحَدُهَا: أَنْ يَذْكُرَ شَاهِدُ الْأَصْلِ فِي شَهَادَتِهِ السَّبَبَ الْمُوجِبَ لِلْحَقِّ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ مِنْ ثَمَنِ مَبِيعٍ أَوْ أُجْرَةِ أَرْضٍ أَوْ قَرْضٍ. فَيَصِحُّ أَنْ يَتَحَمَّلَهُ شَاهِدُ الْأَصْلِ مِنْ غَيْرِ اسْتِرْعَاءٍ، وَفِيهِ لِبَعْضِ الْبَصْرِيِّينَ وَجْهٌ آخَرُ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ التَّحَمُّلُ إِلَّا بِالِاسْتِرْعَاءِ.

Salah satunya: bahwa saksi asal dalam kesaksiannya menyebutkan sebab yang mewajibkan hak, misalnya bahwa si Fulan memiliki hak atas si Fulan sejumlah seribu dirham dari harga barang yang dijual, atau dari sewa tanah, atau dari pinjaman. Maka sah bagi saksi asal untuk memikul (kesaksian itu) tanpa adanya permintaan khusus (istir‘ā’), namun menurut sebagian ulama Basrah ada pendapat lain bahwa tidak sah memikul (kesaksian) kecuali dengan adanya permintaan khusus (istir‘ā’).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدُ الْأَصْلِ عِنْدَ الْحَاكِمِ بِالْحَقِّ فَإِذَا سَمِعَهُ شَاهِدُ الْفَرْعِ صَحَّ تَحَمُّلُهُ وَإِنْ لَمْ يَسْتَرْعِهِ.

Pendapat kedua: Seorang saksi asal memberikan kesaksian di hadapan hakim mengenai kebenaran, lalu apabila saksi cabang mendengarnya, maka pengambilan kesaksiannya dianggap sah, meskipun ia tidak diminta secara khusus untuk memperhatikan (kesaksian tersebut).

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدُ الْأَصْلَ عِنْدَ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ، أَوْ سَمَاعِهِمَا مِنْ غَيْرِ قَصْدِ الشَّهَادَةِ يَقُولَانِ ” نَشْهَدُ أَنَّ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ “، وَلَمْ يَذْكُرَا سَبَبَ وُجُوبِهَا، لَمْ يَصِحَّ تَحَمُّلُ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ إِلَّا بِالِاسْتِرْعَاءِ. لِأَنَّهُ يُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ عَلَيْهِ أَلْفُ دِرْهَمٍ وَعَدَهُ بِهَا، فَإِذَا اسْتَرْعَاهُمَا إِيَّاهَا لَمْ يَفْعَلْ إِلَّا وَهِيَ وَاجِبَةٌ.

Adapun bentuk ketiga: yaitu ketika saksi asal memberikan kesaksian di hadapan dua saksi cabang, atau ketika keduanya mendengar (kesaksian itu) tanpa ada maksud untuk memberikan kesaksian, lalu keduanya berkata, “Kami bersaksi bahwa si Fulan memiliki hak atas si Fulan sebesar seribu dirham,” dan keduanya tidak menyebutkan sebab kewajiban (hutang) tersebut, maka tidak sah bagi dua saksi cabang untuk memikul kesaksian itu kecuali dengan permintaan istir‘ā’. Karena mungkin saja seribu dirham itu adalah janji yang akan diberikan kepadanya, sehingga apabila saksi asal meminta keduanya untuk memikul kesaksian itu, maka ia tidak akan melakukannya kecuali jika memang hutang itu benar-benar wajib.

وَهَذَا صَحِيحٌ، لِأَنَّ الِاسْتِرْعَاءَ وَثِيقَةٌ، وَالْوَثَائِقُ تُسْتَعْمَلُ فِي الْوَاجِبَاتِ، فَصَارَ الِاحْتِمَالُ بِالِاسْتِرْعَاءِ مُنْتَفِيًا.

Dan ini benar, karena penyerahan tanggung jawab (istir‘ā’) adalah suatu bentuk penjaminan, dan penjaminan digunakan dalam hal-hal yang wajib, sehingga kemungkinan (terjadinya kelalaian) dengan adanya penyerahan tanggung jawab menjadi tidak ada.

فَأَمَّا تَحْمُلُ الْإِقْرَارَ، فَفِي اعْتِبَارِ الِاسْتِرْعَاءِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ:

Adapun mengenai penanggungjawaban atas pengakuan, maka dalam mempertimbangkan permintaan penjagaan terdapat dua sisi yang telah kami sebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا: يُعْتَبَرُ فِيهِ كَمَا تُعْتَبَرُ فِي تَحَمُّلِ الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ لِمَا فِيهَا مِنَ الِاحْتِمَالِ.

Salah satunya: dipertimbangkan di dalamnya sebagaimana dipertimbangkan dalam menerima kesaksian atas kesaksian, karena di dalamnya terdapat kemungkinan (keraguan).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُعْتَبَرُ الِاسْتِرْعَاءُ فِي الْإِقْرَارِ، وَإِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا فِي الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ الْإِقْرَارَ أَوْكَدُ مِنَ الشَّهَادَةِ، وَلِذَلِكَ لَوْ رَجَعَ الْمُقِرُّ لَمْ يُقْبَلْ رُجُوعُهُ وَلَوْ رَجَعَ الشَّاهِدُ قبل رجوعه.

Pendapat kedua: Istir‘ā’ (permintaan penegasan) tidak dianggap dalam ikrār, meskipun dianggap dalam syahādah, karena ikrār lebih kuat daripada syahādah. Oleh karena itu, jika orang yang berikrar menarik kembali pengakuannya, penarikannya tidak diterima, sedangkan jika saksi menarik kembali kesaksiannya sebelum pengakuan, penarikannya diterima.

(فصل)

(Bab)

: فإذا كان هذا الِاسْتِرْعَاءُ فِي الْإِقْرَارِ مُعْتَبَرًا فَقَالَ الشَّاهِدُ لِلْمُقِرِّ: ” أَشْهَدُ عَلَيْكَ بِذَلِكَ “؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كَانَ هَذَا اسْتِرْعَاءً صَحِيحًا، وَلَوْ قَالَ: أَشْهَدُ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ الِاسْتِرْعَاءِ بِذَلِكَ عَلَى ثَلَاثَةِ أوجه،

Jika permintaan untuk menjadi saksi (istir‘ā’) dalam pengakuan dianggap sah, lalu seorang saksi berkata kepada orang yang mengaku, “Aku bersaksi atasmu mengenai hal itu,” kemudian ia menjawab, “Ya,” maka ini adalah permintaan menjadi saksi yang sah. Namun jika ia hanya berkata, “Aku bersaksi,” maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan permintaan menjadi saksi dengan ungkapan tersebut dalam tiga pendapat.

أحدهما: أَنَّ قَوْلَهُ ” أَشْهَدُ ” اسْتِرْعَاءٌ صَحِيحٌ كَقَوْلِهِ ” نَعَمْ ” بَلْ هُوَ آكَدُ لِمَا فِيهِ مِنْ لَفْظِ الْأَمْرِ.

Pertama: Sesungguhnya ucapannya “asyhadu” adalah permintaan kesaksian yang sah sebagaimana ucapannya “na‘am”, bahkan ia lebih kuat karena mengandung lafaz perintah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَكُونَ قَوْلُهُ ” أَشْهَدُ ” اسْتِرْعَاءٌ لِمَا فِيهِ مِنْ الِاحْتِمَالِ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا عَلَى غَيْرِهِ. أَوْ يَشْهَدَ عَلَى بَعْضِهَا.

Pendapat kedua: bahwa ucapan “asyhadu” tidak dianggap sebagai permintaan kesaksian, karena di dalamnya terdapat kemungkinan bahwa ia bersaksi atas orang lain, atau ia bersaksi atas sebagian darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنْ قَالَ لَهُ ” اشْهَدْ ” لَمْ يَكُنِ اسْتِرْعَاءً وَلَوْ قَالَ: اشْهَدْ عَلَيَّ كَانَ اسْتِرْعَاءً لِنَفْيِ الِاحْتِمَالِ بِقَوْلِهِ ” عَلَيَّ ” وَلَوْ قَالَ لَهُ اشْهَدْ عَلَيَّ بِذَلِكَ كَانَ اسْتِرْعَاءً صَحِيحًا عَلَى الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ لِانْتِفَاءِ وُجُوهِ الِاحْتِمَالِ. وَهَذَا أَبْلَغُ فِي التَّأْكِيدِ مِنْ قَوْلِهِ نَعَمْ.

Adapun pendapat ketiga: jika ia berkata kepadanya “saksikanlah,” maka itu bukanlah permintaan untuk menjaga kesaksian. Namun jika ia berkata: “saksikanlah atas diriku,” maka itu merupakan permintaan untuk menjaga kesaksian, karena hilangnya kemungkinan makna lain dengan ucapannya “atas diriku.” Dan jika ia berkata kepadanya: “saksikanlah atas diriku tentang hal itu,” maka itu merupakan permintaan menjaga kesaksian yang sah menurut tiga pendapat, karena hilangnya segala kemungkinan makna lain. Dan ini lebih kuat dalam penegasan daripada ucapannya “ya.”

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الِاسْتِرْعَاءَ فِي الْإِقْرَارِ لَيْسَ بِمُعْتَبَرٍ، فَقَالَ الشَّاهِدُ لِلْمُقِرِّ أَشْهَدُ عَلَيْكَ بِذَلِكَ؟ فَقَالَ: لَا، فَفِي بُطْلَانِ الشَّهَادَةِ بِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya permintaan penjagaan (istir‘ā’) dalam pengakuan tidaklah dianggap, lalu seorang saksi berkata kepada orang yang mengaku, “Aku bersaksi atasmu tentang hal itu,” kemudian ia menjawab, “Tidak,” maka dalam pembatalan kesaksian atasnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَدْ بَطَلَتْ بِقَوْلِهِ لَا.

Salah satunya: telah batal dengan ucapannya “tidak”.

وَالثَّانِي: لَا تَبْطُلُ، لِأَنَّ الرُّجُوعَ فِي الْإِقْرَارِ غَيْرُ مَقْبُولٍ.

Yang kedua: tidak batal, karena pencabutan dalam pengakuan tidak diterima.

( [الْقَوْلُ فِي سُؤَالِ الْقَاضِي عَنْ جِهَةِ التَّحَمُّلِ] )

(Pembahasan tentang pertanyaan qādī mengenai aspek tahammul)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَأُحِبُّ لِلْقَاضِي أَنْ لَا يَقْبَلَ هَذَا مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى الصِّحَّةِ حَتَّى يَسْأَلَهُ مِنْ أَيْنَ هِيَ؟ فَإِنْ قَالَ بِإِقْرَارٍ مِنْهُ أَوْ بِبَيْعٍ حَضَرْتُهُ أَوْ سَلَفٍ أَجَازَه وَلَوْ لَمْ يَسْأَلْهُ رَأَيْتُهُ جَائِزًا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku menyukai agar seorang qāḍī tidak menerima hal ini darinya meskipun tampak benar, sampai ia menanyakan kepadanya dari mana asalnya. Jika ia mengatakan bahwa itu berdasarkan pengakuan darinya, atau karena jual beli yang aku saksikan, atau utang piutang yang diizinkan, maka boleh. Dan jika qāḍī tidak menanyakannya pun, menurutku itu tetap boleh.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، يَنْبَغِي لِلشَّاهِدِ إِذَا شَهِدَ عِنْدَ الْحَاكِمِ بِحَقٍّ عَلَى رَجُلٍ أَنْ يَسْتَوْفِيَ الشَّهَادَةَ بِذِكْرِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِلْحَقِّ، وَحَتَّى لَا يُحْوِجَ الْحَاكِمَ أَنْ يَسْأَلَ عَنْ سَبَبِ وُجُوبِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, sepatutnya bagi seorang saksi ketika memberikan kesaksian di hadapan hakim atas suatu hak terhadap seseorang, agar menyempurnakan kesaksiannya dengan menyebutkan sebab yang mewajibkan adanya hak tersebut, sehingga tidak membuat hakim perlu bertanya tentang sebab kewajibannya.

فَيَقُولُ: ” أَشْهَدُ أنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي أَوْ حَضَرْتُ عَقْدَ بَيْعٍ وَجَبَ بِهِ، فَإِنْ أَغْفَلَ الشَّاهِدُ ذِكْرَ السَّبَبِ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ لَهُ عَلَيْهِ أَلْفَ دِرْهَمٍ يَنْبَغِي للحاكم أن يقول له: ” من أين شهد عَلَيْهِ؟ وَلَا يَقُولُ: كَيْفَ شَهِدْتَ عَلَيْهِ، لِأَنَّ قَوْلَهُ: كَيْفَ شَهِدْتَ عَلَيْهِ؟ قَدْحٌ، وَقَوْلُهُ: مِنْ أَيْنَ شَهِدْتَ عَلَيْهِ؟ اسْتِخْبَارٌ، وَلِلْحَاكِمِ أَنْ يَسْتَخْبِرَ الشاهد، وليس له أن يبتدىء بِالْقَدْحِ فِيهِ.

Maka ia berkata: “Aku bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapanku, atau aku hadir pada akad jual beli yang menyebabkan hal itu.” Jika saksi lalai menyebutkan sebabnya lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa ia memiliki hak seribu dirham atasnya,” maka sebaiknya hakim berkata kepadanya: “Dari mana engkau menyaksikan atasnya?” dan tidak berkata: “Bagaimana engkau bersaksi atasnya?” Karena ucapannya: “Bagaimana engkau bersaksi atasnya?” adalah celaan, sedangkan ucapannya: “Dari mana engkau menyaksikan atasnya?” adalah permintaan penjelasan. Hakim boleh meminta penjelasan kepada saksi, namun tidak boleh memulai dengan mencelanya.

فَإِذَا سَأَلَهُ الْحَاكِمُ: مِنْ أَيْنَ شَهِدْتَ عَلَيْهِ؟ فَيَنْبَغِي لِلشَّاهِدِ أَنْ يُبَيِّنَ لَهُ، هل شهد عَلَى إِقْرَارِهِ بِالْحَقِّ، أَوْ عَنْ حُضُورِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِلْحَقِّ لِيَزُولَ بِهِ الِاحْتِمَالُ عَنْ شَهَادَتِهِ.

Maka apabila hakim bertanya kepadanya: “Dari mana kamu memberikan kesaksian atasnya?” Maka sepatutnya bagi saksi untuk menjelaskan kepadanya, apakah ia bersaksi atas pengakuan orang tersebut terhadap hak, atau karena ia hadir pada sebab yang mewajibkan adanya hak, agar hilang kemungkinan (keraguan) dari kesaksiannya.

فَإِنْ سَأَلَهُ الْحَاكِمُ وَأَجَابَهُ الشَّاهِدُ، فَقَدْ قَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمَا عَلَيْهِ وَلَزِمَ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ، إِذَا صَحَّتْ.

Jika hakim bertanya kepadanya dan saksi menjawabnya, maka masing-masing dari mereka telah melaksanakan kewajibannya, dan keputusan berdasarkan kesaksian menjadi wajib, jika kesaksian tersebut sah.

وَإِنْ سَأَلَهُ [الْحَاكِمُ] فَلَمْ يُجِبْهُ الشَّاهِدُ، فَقَدْ قَامَ الْحَاكِمُ بِمَا عَلَيْهِ مِنَ السُّؤَالِ، وَقَصَّرَ الشَّاهِدُ فِيمَا إِلَيْهِ مِنَ الْجَوَابِ، فَيَنْظُرُ الْحَاكِمُ فِي حَالِ الشَّاهِدِ، فَإِنْ كَانَتْ فِيهِ غَفْلَةٌ، لَمْ يَحْكُمْ بِشَهَادَتِهِ، لِاحْتِمَالِهَا مَعَ الْغَفْلَةِ، وَإِنْ كَانَ ضَابِطًا مُتَيَقِّظًا، حَكَمَ بِشَهَادَتِهِ لِانْتِفَاءِ الِاحْتِمَالِ بِالضَّبْطِ وَالتَّيَقُّظِ.

Jika hakim telah bertanya kepadanya (saksi), namun saksi tidak menjawabnya, maka hakim telah melaksanakan kewajibannya dalam hal bertanya, dan saksi telah lalai dalam kewajibannya untuk menjawab. Maka hakim hendaknya memperhatikan keadaan saksi; jika pada diri saksi terdapat kelalaian, maka hakim tidak memutuskan berdasarkan kesaksiannya, karena adanya kemungkinan (kesalahan) akibat kelalaian tersebut. Namun jika saksi itu orang yang cermat dan teliti, maka hakim memutuskan berdasarkan kesaksiannya, karena tidak adanya kemungkinan (kesalahan) berkat kecermatan dan ketelitiannya.

وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْهُ الْحَاكِمُ، فَالْحَاكِمُ هُوَ الْمُقَصِّرُ، وَحُكْمُهُ إِنْ حَكَمَ بِالشَّهَادَةِ نَافِذٌ، لِأَنَّ سُؤَالَهُ اسْتِظْهَارٌ، وَتُحْمَلُ الشَّهَادَةُ عَلَى ظَاهِرِ الصِّحَّةِ إِلَى أَنْ يَثْبُتَ مَا يُنَافِيهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan jika hakim tidak menanyakannya, maka hakimlah yang dianggap lalai, dan putusannya jika memutuskan berdasarkan kesaksian tetap sah, karena pertanyaan hakim itu hanya untuk memperkuat keyakinan. Kesaksian dianggap sah secara lahiriah sampai ada bukti yang menentangnya. Dan Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي تَزْكِيَةِ شهود الأصل] )

(Pembahasan tentang tazkiyah para saksi asal)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ شَهِدَا عَلَى شَهَادَةِ رَجُلٍ وَلَمْ يُعَدِّلَاهُ قَبِلَهُمَا وَسَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ عُدِّلَ قَضَى بِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang memberikan kesaksian atas kesaksian seorang laki-laki namun mereka tidak melakukan ta‘dil (menyatakan keadilan) terhadapnya, maka kesaksian mereka diterima dan hakim menanyakan tentang laki-laki tersebut. Jika ia dinyatakan ‘adil, maka hakim memutuskan berdasarkan kesaksian itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ كَمَا قَالَ: إِذَا شَهِدَ شَاهِدَا الْفَرْعِ عِنْدَ الْحَاكِمِ عَلَى شَهَادَةِ شَاهِدِ الْأَصْلِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمَا مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan memang sebagaimana yang ia katakan: Jika dua saksi cabang memberikan kesaksian di hadapan hakim atas kesaksian dua saksi asal, maka keadaan keduanya tidak lepas dari empat bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يُسَمِّيَاهُ وَيُعَدِّلَاهُ، فَيَحْكُمُ بِشَهَادَتِهِمَا عَلَيْهِ بِمَا تَحَمَّلَاهُ عَنْهُ وَبِتَعْدِيلِهِمَا لَهُ.

Salah satunya: mereka menyebutkan namanya dan melakukan ta‘dil terhadapnya, maka diputuskan dengan kesaksian mereka atasnya berdasarkan apa yang mereka terima darinya dan berdasarkan ta‘dil mereka terhadapnya.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا أَحْكُمُ بِشَهَادَتِهِمَا فِي تَعْدِيلِهِ، لِأَنَّهُمَا مَتْهُومَانِ فِيهِ لِمَا يَتَضَمَّنُهَا مِنْ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا حَتَّى يَشْهَدَ غَيْرُهُمَا بِعَدَالَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَشْهَدْ غَيْرُهُمَا كَانَ الْحُكْمُ بِشَهَادَتِهِمَا مَرْدُودًا.

Malik berkata: Aku tidak memutuskan berdasarkan kesaksian keduanya dalam penilaian keadilan, karena keduanya dicurigai dalam hal itu, sebab hal tersebut mengandung konsekuensi penetapan hukum berdasarkan kesaksian mereka sendiri, sampai ada orang lain yang bersaksi atas keadilan mereka. Jika tidak ada orang lain yang bersaksi selain mereka berdua, maka keputusan berdasarkan kesaksian mereka berdua ditolak.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ عَدَالَتَهُمَا تَنْفِي عَنْهُمَا هَذِهِ التُّهْمَةَ.

Salah satunya: bahwa keadilan mereka berdua meniadakan tuduhan ini dari mereka.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَوْ كَانَتْ هَذِهِ التُّهْمَةُ فِي إِمْضَاءِ شَهَادَتِهِمَا عَنْهُ يُوجِبُ رَدَّ شَهَادَتِهِمَا بِعَدَالَتِهِ، وَلَوَجَبَ لِأَجْلِهَا رَدُّ جَمِيعِ شَهَادَتِهِمَا، لِأَنَّ الشَّاهِدَ إِنَّمَا يَشْهَدُ لِإِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ، وَهَذَا مَدْفُوعٌ بِالْإِجْمَاعِ فَكَانَ ذَلِكَ مَدْفُوعًا بِالْحِجَاجِ.

Kedua: Jika tuduhan ini dalam menetapkan kesaksian mereka tentangnya menyebabkan penolakan kesaksian mereka karena keadilan mereka, maka seharusnya karena hal itu pula ditolak seluruh kesaksian mereka. Sebab, seorang saksi pada dasarnya memberikan kesaksian untuk menetapkan hukum dengan kesaksiannya. Namun, hal ini telah tertolak berdasarkan ijmā‘, maka demikian pula hal itu tertolak dengan argumentasi.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ لَا يُسَمِّيَاهُ وَلَا يعدلاه.

Bagian kedua: yaitu mereka tidak menamainya dan tidak menyamakannya.

فَلَا يَصِحُّ هَذَا الْأَدَاءُ، وَلَا يَحْكُمُ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ الْحُكْمَ بِهَا مُعْتَبَرٌ بِعَدَالَةِ شُهُودِ الْفَرْعِ وَشُهُودِ الْأَصْلِ، وَلَا يُعْرَفُ عَدَالَةُ مَنْ لَمْ يُسَمَّ.

Maka penyampaian (kesaksian) ini tidak sah, dan tidak dapat diputuskan berdasarkan kesaksian tersebut, karena penetapan hukum dengannya bergantung pada keadilan para saksi cabang dan saksi asal, sedangkan keadilan orang yang tidak disebutkan namanya tidak dapat diketahui.

وَيَجُوزُ عَلَى قِيَاسِ قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ فِي قَبُولِ الْخَبَرِ الْمُرْسَلِ أَنَّ تُقْبَلَ هَذِهِ الشَّهَادَةُ فَإِنِ الْتَزَمَ جَرَى عَلَى الْقِيَاسِ، وَإِنْ خَالَفَ فِيهِ نَاقَضَ.

Dan boleh menurut qiyās pendapat Abu Hanifah dalam menerima hadis mursal, bahwa kesaksian ini dapat diterima. Jika ia berkomitmen pada hal itu, maka ia telah berjalan sesuai qiyās; namun jika ia menyelisihinya, maka ia telah bertentangan.

وَنَحْنُ نَجْرِي عَلَى الْقِيَاسِ فِي رَدِّهِمَا.

Dan kami menetapkan penolakan keduanya berdasarkan qiyās.

( [الْقَوْلُ فِي حُكْمِ تَسْمِيَةِ شَاهِدِ الْفَرْعِ لِشَاهِدِ الْأَصْلِ مِنْ غَيْرِ تَعْدِيلٍ] )

(Pembahasan tentang hukum penyebutan saksi cabang terhadap saksi asal tanpa adanya ta‘dīl)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يُسَمِّيَاهُ وَلَا يُعَدِّلَاهُ.

Bagian ketiga: yaitu apabila keduanya menamainya tetapi tidak mengubahnya.

فَيَسْمَعُ الْحَاكِمُ شَهَادَتَهُمَا وَيَكْشِفُ عَنْ عَدَالَةِ شَاهِدِ الْأَصْلِ مِنْ غَيْرِهِمَا.

Maka hakim mendengarkan kesaksian keduanya dan memeriksa keadilan saksi asal selain dari keduanya.

وَحُكِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَبِي يُوسُفَ أَنَّ الْحَاكِمَ لَا يَسْمَعُ هَذِهِ الشَّهَادَةَ حَتَّى يعدل شهود الْفَرْعِ شَاهِدَ الْأَصْلِ، فَإِنْ عَدَّلَهُ غَيْرُهُمَا لَمْ يَحْكُمْ بِشَهَادَتِهِمَا.

Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari, Sufyan ats-Tsauri, dan Abu Yusuf bahwa hakim tidak menerima kesaksian ini sampai para saksi cabang (syuhud al-far‘) menilai adil saksi asal (syahid al-ashl). Jika yang menilai adil adalah selain keduanya, maka hakim tidak memutuskan berdasarkan kesaksian mereka berdua.

وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ: لِأَنَّ تَرْكَ تَزْكِيَةِ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ لِشَاهِدِ الْأَصْلِ رِيبَةٌ: وَالشَّهَادَةُ مَعَ الِاسْتِرَابَةِ مَرْدُودَةٌ.

Dan ini adalah mazhab Malik: karena meninggalkan tazkiyah (pembuktian integritas) terhadap dua saksi cabang untuk saksi asal menimbulkan keraguan; sedangkan kesaksian yang disertai keraguan adalah tertolak.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ini keliru dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ التَّزْكِيَةَ لَا يُعَيَّنُ فِيهَا الْمُزَكِّي، وَقَدْ عَيَّنُوهَا.

Salah satunya: bahwa dalam tazkiyah tidak ditentukan siapa yang memberikan tazkiyah, sedangkan mereka telah menentukannya.

وَالثَّانِي: أَنَّ الشَّهَادَةَ كَالْخَبَرِ، وَلَمَّا كَانَ نَاقِلُ الْخَبَرِ عَنْ رَاوِيهِ يَجُوزُ تَزْكِيَتُهُ مِنْ غَيْرِ نَاقِلِهِ، كَذَلِكَ الشَّهَادَةُ يَجُوزُ فِيهَا تَزْكِيَةُ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ مِنْ غَيْرِ شُهُودِ الْفَرْعِ.

Kedua: Bahwa kesaksian itu seperti khabar (berita), dan sebagaimana pembawa khabar dari perawinya boleh ditazkiah (diberi rekomendasi) oleh selain orang yang membawanya, demikian pula dalam kesaksian, boleh dilakukan tazkiah terhadap dua saksi asal oleh selain saksi cabang.

( [الْقَوْلُ فِي تَعْدِيلِ شَاهِدِ الْفَرْعِ لِشَاهِدِ الْأَصْلِ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةٍ] )

(Pembahasan tentang penilaian adil saksi cabang terhadap saksi asal tanpa penyebutan nama)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ يَعْدِّلَاهُ وَلَا يُسَمِّيَاهُ.

Bagian keempat: yaitu keduanya menilai adil (seseorang) namun tidak menyebutkan namanya.

فَلَا يُحْكَمُ بِشَهَادَتِهِمَا حَتَّى يُسَمِّيَاهُ.

Maka tidak diputuskan dengan kesaksian mereka berdua sampai mereka menyebutkan namanya.

وَحُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَرِيرٍ الطَّبَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: يَجُوزُ الْحُكْمُ بِهَا إِذَا زَكَّى شَاهِدَ الْأَصْلِ وَلِمَ يُسَمِّيَهُ، لِأَنَّ الْعَدَالَةَ هِيَ الْمُعْتَبَرَةُ دُونَ الِاسْمِ.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Jarir ath-Thabari bahwa ia berkata: Boleh menetapkan hukum dengan kesaksian tersebut apabila saksi asal telah ditazkiyah (dinyatakan adil), meskipun namanya tidak disebutkan, karena yang menjadi pertimbangan adalah keadilan, bukan nama.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Hal ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَدْلًا عِنْدَهُمَا فَاسِقًا عِنْدَ غَيْرِهِمَا، فَصَارَ مَجْهُولَ الْحَالِ بإغفال تسميته.

Salah satunya: bahwa bisa jadi seseorang dianggap ‘adl (adil) menurut keduanya, namun fasik menurut selain keduanya, sehingga ia menjadi majhūl al-hāl (tidak diketahui statusnya) karena tidak disebutkan namanya.

وَالثَّانِي: أَنَّ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَطْرُدَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ جَرْحَ الشُّهُودِ، وَلَا يُمْكِنُهُ إِطْرَادُ جُرِحِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Kedua: Bahwa hakim berhak menolak pihak yang menjadi objek kesaksian untuk mencela para saksi, dan tidak mungkin baginya menolak celaan terhadap orang yang tidak disebutkan namanya. Dan Allah lebih mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي الْعَدَدِ في شهود الفرع] )

(Pembahasan tentang jumlah dalam saksi cabang)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ رَجُلَانِ عَلَى شَهَادَةِ رَجُلَيْنِ فَقَدْ رَأَيْتُ كَثِيرًا مِنَ الْحُكَامِ وَالْمُفْتِينَ يُجِيزُونَهُ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) وَخَرَّجَهُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَقَطَعَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ بِأَنَّهُ لَا تَجُوزُ شَهَادَتُهُمَا إِلَّا عَلَى وَاحِدٍ مِمَنْ شَهِدَا عَلَيْهِ وَآمُرُهُ بِطَلَبِ شَاهِدَيْنِ عَلَى الشَّاهِدِ الْآخَرِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ بِشَيْءٍ كَانَ أَوْلَى بِهِ مِنْ حِكَايَتِهِ لَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang laki-laki memberikan kesaksian atas kesaksian dua orang laki-laki lain, maka aku telah melihat banyak hakim dan mufti yang membolehkannya.” (Al-Muzani berkata:) “Beliau mengeluarkan pendapat ini dalam dua versi, dan di tempat lain beliau menegaskan bahwa kesaksian keduanya tidak boleh kecuali hanya atas salah satu dari orang yang mereka saksikan, dan aku memerintahkannya untuk mencari dua saksi atas saksi yang lain.” (Al-Muzani berkata:) “Raḥimahullāh, siapa yang menegaskan suatu hal, maka ia lebih utama untuk diikuti daripada sekadar meriwayatkan pendapatnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصِلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ الْعَدَدَ مُعْتَبَرٌ فِي شُهُودِ الْفَرْعِ لِاعْتِبَارِهِ فِي شُهُودِ الْأَصْلِ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ لَا تَخْلُو مِنِ اعْتِبَارِ الْعَدَدِ فِيهَا، أَصْلًا كَانَتْ أَوْ فَرْعًا، فَإِذَا كَانَتْ شَهَادَةُ الْأَصْلِ مُعْتَبَرَةٌ بِشَاهِدَيْنِ، فلشهادة الفرع ثلاثة أحوال:

Al-Mawardi berkata: Pokok permasalahan ini adalah bahwa jumlah (saksi) diperhitungkan dalam kesaksian cabang karena jumlah itu juga diperhitungkan dalam kesaksian pokok, sebab kesaksian tidak lepas dari pertimbangan jumlah di dalamnya, baik pada pokok maupun cabang. Maka, jika kesaksian pokok disyaratkan dengan dua orang saksi, maka untuk kesaksian cabang terdapat tiga keadaan:

أحدها: أَنْ يَشْهَدَ فِي الْفَرْعِ شَاهِدَانِ عَلَى شَهَادَةِ أَحَدِ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ، وَيَشْهَدُ آخَرَانِ عَلَى الشَّاهِدِ الْآخَرِ، فَيَصِيرُ شُهُودُ الْفَرْعِ أَرْبَعَةٌ يَتَحَمَّلُ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ الِاثْنَيْنِ اثْنَانِ، فَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَى جَوَازِهِ وَهُوَ أَوْلَى مَا اسْتُعْمِلَ فِيهِ.

Pertama: Dua orang saksi pada cabang memberikan kesaksian atas kesaksian salah satu dari dua saksi asal, dan dua orang lainnya memberikan kesaksian atas saksi yang lain, sehingga jumlah saksi pada cabang menjadi empat orang, masing-masing dua orang menanggung dari masing-masing dua saksi asal. Hal ini disepakati kebolehannya dan inilah bentuk yang paling utama digunakan dalam hal ini.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَشْهَدَ فِي الْفَرْعِ وَاحِدٌ عَلَى شَهَادَةِ أَحَدِهِمَا أَوْ يَشْهَدَ آخَرُ عَلَى شَهَادَةِ الْآخَرِ، فَهَذَا غَيْرُ مُجْزِي لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ مَذْهَبُنَا، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Keadaan kedua: apabila dalam perkara cabang (furu‘) ada satu orang yang memberikan kesaksian atas kesaksian salah satu dari mereka, atau ada orang lain yang memberikan kesaksian atas kesaksian orang lainnya, maka hal ini tidak mencukupi menurut mazhab kami tanpa ada perbedaan pendapat, dan ini juga merupakan pendapat jumhur fuqaha.

وَحُكِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَابْنِ شُبْرُمَةَ، وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ جَوَازُهُ، اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ أَصْلَ الْحَقِّ لَمَّا ثَبَتَ بِشَاهِدَيْنِ، جَازَ أَنْ يَنُوبَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ وَاحِدٌ، فَتَصِيرُ نِيَابَتُهُمَا بِشَاهِدَيْنِ.

Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubrumah, Ahmad, dan Ishaq bahwa mereka membolehkannya, dengan alasan bahwa karena asal hak itu telah ditetapkan dengan dua orang saksi, maka boleh bagi setiap saksi untuk diwakilkan oleh satu orang, sehingga perwakilan mereka menjadi dengan dua orang saksi.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مُفْضٍ إِلَى أَنْ يَصِيرَ الْعَدَدُ مُعْتَبَرًا فِي الْأَصْلِ دُونَ الْفَرْعِ، وَحُكْمُ الْفَرْعِ أَغْلَظُ مِنْ حُكْمِ الْأَصْلِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu menyebabkan jumlah menjadi pertimbangan pada asal (ashl) tetapi tidak pada cabang (far‘), padahal hukum cabang lebih berat daripada hukum asal.

وَالثَّانِي: أَنَّ شَهَادَةَ الْفَرْعِ مُوجِبَةٌ لِثُبُوتِ شَهَادَةِ الْأَصْلِ، وَلَا تَثْبُتُ بِالْوَاحِدِ شَهَادَةُ الْوَاحِدِ.

Kedua: bahwa kesaksian cabang mengharuskan tetapnya kesaksian asal, dan tidak tetap dengan satu orang kesaksian satu orang.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَشْهَدَ في الفرع شاهدان على أن أَحَدِ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ ثُمَّ يَشْهَدَانِ مَعًا عَلَى الشَّاهِدِ الْآخَرِ، فَيَتَحَمَّلُ شَاهِدُ الْفَرْعِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Keadaan ketiga: Dua saksi pada cabang memberikan kesaksian bahwa salah satu dari dua saksi asal, kemudian keduanya bersama-sama memberikan kesaksian atas saksi yang lain. Maka, saksi cabang menerima kesaksian dari masing-masing saksi asal. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ فُقَهَاءِ الْحِجَازِ وَالْعِرَاقِ.

Salah satu pendapat mengatakan boleh, dan ini adalah pendapat Malik, Abu Hanifah, serta mayoritas fuqaha Hijaz dan Irak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ وَهَذَا اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ.

Pendapat kedua: tidak diperbolehkan, dan ini adalah pilihan al-Muzani.

وَهَذَانِ الْقَوْلَانِ مَحْمُولَانِ عَلَى أَصْلٍ، وَهُوَ أَنَّ ثُبُوتَ الْحَقِّ، هَلْ يَكُونُ بِشُهُودِ الْأَصْلِ أَوْ بِشُهُودِ الْفَرْعِ؟ وَفِيهِ قَوْلَانِ:

Kedua pendapat ini didasarkan pada suatu prinsip, yaitu apakah penetapan hak itu terjadi dengan menyaksikan pokok atau dengan menyaksikan cabang? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَثْبُتُ بِشُهُودِ الْأَصْلِ، وَيَتَحَمَّلُهُ عنهم شهود الفرع، لأنه يعتبر شَرْطُ الشَّهَادَةِ إِذَا كَانَ مِمَّا يُعَايَنُ فِي شُهُودِ الْأَصْلِ دُونَ شُهُودِ الْفَرْعِ وَيَتَحَمَّلُهُ عَنْهُمْ شُهُودُ الْفَرْعِ، فَعَلَى هَذَا يَصِحُّ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَا الْفَرْعِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شُهُودِ الْأَصْلِ.

Salah satunya adalah bahwa kesaksian itu ditetapkan dengan kehadiran para saksi asal, dan para saksi cabang menerima kesaksian itu dari mereka, karena syarat kesaksian dipertimbangkan jika perkara tersebut termasuk yang dapat disaksikan secara langsung oleh para saksi asal, bukan oleh para saksi cabang, dan para saksi cabang menerima kesaksian itu dari mereka. Dengan demikian, sah bagi dua orang saksi cabang untuk memberikan kesaksian atas nama masing-masing saksi asal.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّ الْحَقَّ يَثْبُتُ بِشُهُودِ الْفَرْعِ، وَهُمْ يَتَحَمَّلُونَ الشَّهَادَةَ عَنْ شُهُودِ الْأَصْلِ، لِجَوَازِ شَهَادَتِهِمْ بَعْدَ مَوْتِ شُهُودِ الْأَصْلِ، فَعَلَى هَذَا إِذَا تَحَمَّلَ شَاهِدَا الْفَرْعِ عَنْ أَحَدِ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ، لَمْ يَكُنْ لَهُمَا أَنْ يَتَحَمَّلَا عَنِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ.

Pendapat kedua: bahwa hak dapat ditetapkan melalui kesaksian saksi cabang, di mana mereka memikul kesaksian atas nama saksi asal, karena diperbolehkan bagi mereka untuk memberikan kesaksian setelah wafatnya saksi asal. Berdasarkan hal ini, jika dua saksi cabang memikul kesaksian dari salah satu dari dua saksi asal, maka keduanya tidak boleh memikul kesaksian dari saksi yang lain.

وَوَهِمَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ فَعَكَسَهُ، وَجَعَلَ ثُبُوتَ الْحَقِّ بِشُهُودِ الْأَصْلِ مَانِعًا مِنْ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدُ الْفَرْعِ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ، وَجَعَلَ ثُبُوتَهُ بِشُهُودِ الْأَصْلِ تَجَوَّزَ أَنْ يَشْهَدَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ.

Abu Hamid al-Isfara’ini telah keliru dan membalikkan permasalahan ini; ia menjadikan keberadaan hak yang dibuktikan oleh kesaksian saksi asal sebagai penghalang bagi saksi cabang untuk memberikan kesaksian atas masing-masing dari dua saksi asal, dan ia juga menjadikan keberadaan hak yang dibuktikan oleh kesaksian saksi asal sebagai alasan bolehnya masing-masing dari dua saksi cabang memberikan kesaksian atas masing-masing dari dua saksi asal.

وَهَذَا عَكْسُ الصَّوَابِ، لِأَنَّ الْحَقَّ إِذَا ثبت بشهود الأصل فهو تحمل بحق كل وَاحِدٍ، وَيَجُوزُ ثُبُوتُهُ بِشَاهِدَيْنِ، فَإِذَا بِشُهُودِ الْفَرْعِ فَهُوَ تَحْمُّلٌ لِلشَّهَادَةِ بِشَاهِدَيْنِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَحَمَّلَاهَا عَنْهُمَا، لِأَنَّهُمَا يَصِيرَانِ فِيهَا كَأَحَدِ الشَّاهِدَيْنِ، وَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى الْوَهْمِ، وَفَرَّقَ مَا بَيْنَهُمَا فِي الْحُكْمِ.

Dan ini adalah kebalikan dari pendapat yang benar, karena kebenaran jika telah ditetapkan dengan kesaksian para saksi asal, maka itu merupakan penanggungjawaban bagi setiap orang, dan boleh ditetapkan dengan dua orang saksi. Maka jika (ditetapkan) dengan saksi cabang, itu berarti penanggungjawaban kesaksian dengan dua orang saksi, sehingga tidak boleh keduanya menanggungnya dari keduanya, karena keduanya dalam hal ini menjadi seperti salah satu dari dua saksi, dan ini merupakan bukti adanya kekeliruan, serta membedakan antara keduanya dalam hukum.

ثُمَّ الدَّلِيلُ عَلَى تَوْجِيهِ الْقَوْلَيْنِ فِي غَيْرِ الْمَسْأَلَةِ، أَنَّهُ إِنْ قِيلَ: يَجُوزُ لِشَاهِدَيِ الْفَرْعِ أَنْ يَشْهَدَا عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ فَدَلِيلُهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kemudian dalil yang menunjukkan alasan kedua pendapat dalam selain masalah ini adalah, jika dikatakan: Boleh bagi dua saksi cabang untuk memberikan kesaksian atas masing-masing dari dua saksi asal, maka dalilnya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا شَهَادَةٌ عَلَى شَخْصَيْنِ فَجَازَ أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَيْهَا فِي حَقِّ وَاحِدٍ، كَمَا جَازَ أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَيْهَا فِي حَقَّيْنِ.

Salah satunya: bahwa itu adalah kesaksian atas dua orang, maka boleh bagi keduanya untuk bersatu dalam satu hak, sebagaimana boleh pula bagi keduanya untuk bersatu dalam dua hak.

وَالثَّانِي: أَنَّ اجْتِمَاعَهُمَا عَلَيْهَا فِي الْحَقِّ الْوَاحِدِ أَوْكَدُ مِنِ اجْتِمَاعِهِمَا عَلَيْهَا فِي حَقَّيْنِ؛ لِأَنَّهُ فِي الْحَقِّ الْوَاحِدِ مُوَافِقٌ وَفِي الْحَقَّيْنِ غَيْرُ مُوَافِقٍ.

Kedua: Sesungguhnya berkumpulnya keduanya atas satu hak lebih kuat daripada berkumpulnya keduanya atas dua hak; karena pada satu hak keduanya saling setuju, sedangkan pada dua hak keduanya tidak saling setuju.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ لَا يَجُوزُ لِشَاهِدَيِ الْفَرْعِ إِذَا شَهِدَا عَلَى أَحَدِ الشَّاهِدَيْنِ أَنْ يَشْهَدَا عَلَى الْآخَرِ حَتَّى يَشْهَدَ عَلَيْهِ غَيْرُهُمَا، فَدَلِيلُهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya tidak boleh bagi dua saksi cabang, apabila mereka telah bersaksi atas salah satu dari dua saksi pokok, untuk bersaksi atas yang lainnya hingga ada orang lain selain mereka berdua yang bersaksi atasnya, maka dalilnya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمَا قَدْ قَامَا فِي التَّحَمُّلِ عَنْ أَحَدِهِمَا مَقَامَ شَاهِدٍ وَاحِدٍ وَذَلِكَ الْحَقُّ، فَإِذَا شَهِدَا فِيهِ عَلَى الشَّاهِدِ الْآخَرِ صَارَا كَالشَّاهِدِ إذا شهدا بِذَلِكَ الْحَقِّ مَرَّتَيْنِ، وَلَا تَتِمُّ الشَّهَادَةُ بِهَذَا كذلك بالشاهدين.

Salah satunya: bahwa keduanya dalam menerima (kesaksian) dari salah satu dari mereka telah menempati posisi sebagai satu orang saksi atas hak tersebut. Maka jika keduanya bersaksi di dalamnya atas saksi yang lain, keduanya menjadi seperti saksi yang bersaksi atas hak tersebut dua kali, dan kesaksian tidak menjadi sempurna dengan cara seperti ini hanya dengan dua orang saksi.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يُقْبَلْ مِنْ شَاهِدِ الْأَصْلِ حَتَّى يَشْهَدَ مَعَهُ غَيْرُهُ، لَمْ يُقْبَلْ مِنْ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ حَتَّى يَشْهَدَ مَعَهُمَا غَيْرُهُمَا.

Kedua: Karena kesaksian saksi asal tidak diterima kecuali ada saksi lain yang bersamanya, maka kesaksian dua saksi cabang pun tidak diterima kecuali ada saksi lain yang bersama mereka.

( [الْقَوْلُ فِي اعْتِبَارِ الْعَدَدِ بِحَسْبَ الْأَحْكَامِ] )

(Pembahasan tentang pertimbangan jumlah menurut hukum-hukum)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ، انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى اعْتِبَارِ الْعَدَدِ فِي شُهُودِ الْفَرْعِ، وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِالْعَدَدِ فِي شُهُودِ الْأَصْلِ، وَالْعَدَدُ الْمُعْتَبَرُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Maka apabila penjelasan mengenai dua pendapat telah ditetapkan, pembahasan berpindah kepada pertimbangan jumlah dalam saksi-saksi pada cabang hukum, dan jumlah tersebut dipertimbangkan berdasarkan jumlah saksi pada pokok hukum. Adapun jumlah yang dianggap dalam kesaksian terbagi menjadi empat macam:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِالشَّاهِدَيْنِ. كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ وَالْقِصَاصِ وَالْعِتْقِ وَالنَّسَبِ. فَفِي الْعَدَدِ الْمُعْتَبَرِ فِي شُهُودِ الْفَرْعِ قَوْلَانِ:

Pertama: yaitu perkara yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi, seperti nikah, talak, qishāsh, ‘itq (pembebasan budak), dan nasab. Maka, mengenai jumlah saksi yang dianggap sah dalam syuhūd al-far‘, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: شَاهِدَانِ يَتَحَمَّلَانِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ. إِذَا جُعِلَ ثُبُوتُ الْحَقِّ بِشُهُودِ الْأَصْلِ.

Salah satunya adalah: dua orang saksi yang menerima kesaksian dari masing-masing saksi asal, apabila penetapan hak didasarkan pada para saksi asal.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَرْبَعَةٌ يَشْهَدُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ اثنان إذا جعل ثبوت الحق بشهود كالفرع.

Pendapat kedua: Empat orang bersaksi atas setiap saksi asal, yaitu dua orang untuk masing-masing saksi asal, jika penetapan hak dengan para saksi dianggap sebagai cabang.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِمَّا يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ كَالْأَمْوَالِ. فَفِي الْعَدَدِ الْمُعْتَبَرِ فِي شُهُودِ الْفَرْعِ قَوْلَانِ:

Jenis kedua: yaitu perkara yang dapat dibuktikan dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, seperti harta. Maka, mengenai jumlah saksi yang dianggap sah pada saksi cabang, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: شَاهِدَانِ يَتَحَمَّلَانِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَتَيْنِ، إِذَا جُعِلَ ثُبُوتُ الْحَقِّ بِشُهُودِ الْأَصْلِ.

Salah satunya adalah: dua orang saksi yang memikul kesaksian atas masing-masing, baik laki-laki maupun dua perempuan, apabila penetapan hak didasarkan pada para saksi asal.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: سِتَّةٌ يَتَحَمَّلُونَ كُلُّ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ عَنْ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلَاثَةِ، إذا جعل ثبوت الحق بشهود الفرع.

Pendapat kedua: Enam orang memikul tanggung jawab, setiap dua orang di antara mereka atas satu dari tiga orang, jika penetapan hak didasarkan pada kesaksian cabang.

والضرب الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مِمَّا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِأَرْبَعَةِ رِجَالٍ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الزِّنَا، فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى الشَّهَادَةِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى لَا تَجُوزُ، لَمْ يَجُزْ تَحَمُّلُ الشَّهَادَةِ فِيهَا.

Jenis ketiga: yaitu perkara yang tidak dapat dibuktikan kecuali dengan empat orang laki-laki, seperti kesaksian atas perbuatan zina. Jika dikatakan bahwa kesaksian atas kesaksian dalam hak-hak Allah Ta‘ala tidak diperbolehkan, maka tidak boleh pula memikul kesaksian dalam perkara tersebut.

وَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِهَا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى كَجَوَازِهَا فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، كَانَ عَدَدُ الشُّهُودِ مُعْتَبَرًا بِأَصْلَيْنِ، فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَصْلَيْنِ قَوْلَانِ.

Dan jika dikatakan bahwa kesaksian itu boleh dalam hak-hak Allah Ta‘ala sebagaimana bolehnya dalam hak-hak manusia, maka jumlah saksi dipertimbangkan berdasarkan dua dasar, dan pada masing-masing dari kedua dasar tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُ الْأَصْلَيْنِ: فِي شَاهِدَيِ الْفَرْعِ إِذَا شَهِدَا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شُهُودِ الْأَصْلِ، هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَا عَلَى غَيْرِهِ مِنْهُمْ؟ وَفِيهِ قَوْلَانِ:

Salah satu dari dua pokok: mengenai dua saksi cabang, jika keduanya bersaksi atas masing-masing dari para saksi pokok, apakah boleh keduanya bersaksi atas selain mereka? Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

وَالْأَصْلُ الثَّانِي: أَنَّ الْإِقْرَارَ بِالزِّنَا، هَلْ يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ أَوْ لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِأَرْبَعَةٍ كَالشَّهَادَةِ عَلَى فِعْلِ الزِّنَا؟ وَفِيهِ قَوْلَانِ لِأَنَّ تَحَمُّلَ الشَّهَادَةِ كَالْإِقْرَارِ فَصَارَ بِاجْتِمَاعِ هَذَيْنِ الْأَصْلَيْنِ فِي عَدَدِ شُهُودِ الْفَرْعِ أَرْبَعَةَ أقاويل:

Prinsip kedua: Apakah pengakuan terhadap zina dapat dibuktikan dengan dua orang saksi ataukah tidak dapat dibuktikan kecuali dengan empat orang saksi seperti persaksian atas perbuatan zina? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, karena pemikul persaksian itu seperti pengakuan. Maka dengan bergabungnya kedua prinsip ini dalam jumlah saksi pada cabang permasalahan, terdapat empat pendapat.

أحدهما: اثْنَانِ يَتَحَمَّلَانِ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَرْبَعَةِ. إِذَا جَعَلَ شَاهِدَيِ الْفَرْعِ أَنْ يَتَحَمَّلَا عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شُهُودِ الْأَصْلِ، وَجَعَلَ ثُبُوتَ الْإِقْرَارِ بِالزِّنَا بِشَاهِدَيْنِ.

Pertama: Dua orang menanggung (kesaksian) dari masing-masing empat orang. Jika dua saksi cabang ditugaskan untuk menanggung dari masing-masing saksi asal, dan penetapan pengakuan zina dilakukan dengan dua orang saksi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أن شهود الفرع فيه أربعة أقاويل إِذَا قِيلَ: إِنَّ الْإِقْرَارَ بِالزِّنَا لَا يَثْبُتُ [إِلَّا بِأَرْبَعَةٍ، وَجَعَلَ لِشُهُودِ الْفَرْعِ أَنْ يَتَحَمَّلُوا عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ شُهُودِ الْأَصْلِ.

Pendapat kedua: bahwa kesaksian cabang dalam hal ini terdapat empat pendapat, jika dikatakan: sesungguhnya pengakuan terhadap zina tidak dapat ditetapkan kecuali dengan empat orang, dan memberikan kepada para saksi cabang untuk menerima (kesaksian) dari masing-masing saksi asal.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّ شُهُودَ الْفَرْعِ فِيهِ ثَمَانِيَةٌ، إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَا يَتَحَمَّلُ شُهُودُ الْفَرْعِ إِلَّا عَنْ وَاحِدٍ مِنْ شُهُودِ الْأَصْلِ وَقِيلَ: إِنَّ الْإِقْرَارَ بِالزِّنَا يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ] .

Pendapat ketiga: bahwa jumlah saksi cabang dalam hal ini ada delapan, jika dikatakan bahwa saksi cabang hanya dapat menerima kesaksian dari salah satu saksi asal saja. Dan ada pula yang berpendapat bahwa pengakuan terhadap zina dapat ditetapkan dengan dua orang saksi.

وَالْقَوْلُ الرَّابِعُ: أَنَّ شهود الفرع فيه ستة عشرة، إِذَا مُنِعَ شُهُودُ الْفَرْعِ مِنْ أَنْ يَشْهَدُوا إِلَّا عَنْ وَاحِدٍ، وَقِيلَ: إِنَّ الْإِقْرَارَ بِالزِّنَا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِأَرْبَعَةٍ لِيَشْهَدَ كُلُّ أَرْبَعَةٍ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَرْبَعَةِ.

Pendapat keempat: bahwa saksi cabang dalam hal ini berjumlah enam belas orang, jika saksi cabang tidak diperbolehkan memberikan kesaksian kecuali atas satu orang saja. Ada juga yang berpendapat bahwa pengakuan zina tidak dapat ditetapkan kecuali dengan empat orang, agar setiap kelompok empat orang memberikan kesaksian atas masing-masing dari empat orang tersebut.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: مَا يَكُونُ ثُبُوتُهُ بِأَرْبَعِ نِسْوَةٍ كَالْوِلَادَةِ، وَالِاسْتِهْلَالِ، وَالرَّضَاعِ وَعُيُوبِ النِّسَاءِ الْبَاطِنَةِ فَفِي عَدَدِ الشُّهُودِ فِي الْفَرْعِ قَوْلَانِ:

Golongan keempat adalah perkara yang penetapannya harus dengan empat orang perempuan, seperti kelahiran, tangisan bayi saat lahir, penyusuan, dan cacat-cacat tersembunyi pada perempuan. Dalam hal jumlah saksi pada cabang ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: اثْنَانِ يَتَحَمَّلَانِ عَنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ النِّسْوَةِ الْأَرْبَعَةِ.

Salah satunya: dua orang menanggung (mahar) untuk masing-masing dari keempat wanita itu.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: ثَمَانِيَةٌ يَتَحَمَّلُ كُلُّ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ عَنْ وَاحِدَةٍ مِنَ النِّسَاءِ الْأَرْبَعَةِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Pendapat kedua: delapan orang, setiap dua orang di antara mereka menanggung satu dari empat perempuan. Dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

( [بَابُ الشَّهَادَةِ عَلَى الْحُدُودِ وَجَرْحِ الشُّهُودِ] )

(Bab tentang kesaksian atas hudud dan mencela para saksi)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَإِذَا شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَا سَأَلَهُمُ الْإِمَامُ أَزَنَى بِامْرَأَةٍ؟ لِأَنَّهُمْ قَدْ يَعُدُّونَ الزِّنَا وُقُوعًا عَلَى بَهِيمَةٍ وَلَعَلَّهُمْ يَعْدُّونَ الِاسْتِمْنَاءَ زِنًا فَلَا يُحَدُّ حَتَى يُثْبِتُوا رُؤْيَةَ الزِّنَا وَتَغْيِيبَ الْفَرْجِ فِي الْفَرْجِ (قَالَ المزني) رحمه الله وقد أجاز في كتاب الحدود أن إتيان البهيمة كالزنا يحد فيه قال ولو شهد أربعة اثنان منهم أنه زنى بها في بيت واثنان منهم في بيت غيره فلا حد عليهما ومن حد الشهود إذا لم يتموا أربعة حدهم (قال المزني) رحمه الله قد قطع في غير موضع بحدهم “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Apabila mereka bersaksi atas seorang laki-laki melakukan zina, imam (hakim) harus menanyakan kepada mereka: ‘Apakah ia berzina dengan seorang perempuan?’ Karena bisa jadi mereka menganggap zina itu adalah perbuatan dengan hewan, atau barangkali mereka menganggap istimna’ (onani) sebagai zina. Maka tidak dijatuhi had (hukuman) sampai mereka membuktikan telah melihat perbuatan zina dan terjadinya penetrasi kemaluan ke dalam kemaluan.” (Al-Muzani rahimahullah berkata:) “Beliau membolehkan dalam Kitab al-Hudud bahwa berbuat dengan hewan seperti zina, sehingga dijatuhi had. Ia juga berkata: Jika ada empat orang saksi, dua di antaranya bersaksi bahwa ia berzina di satu rumah dan dua lainnya bersaksi di rumah lain, maka tidak dijatuhi had atas keduanya. Dan di antara hukuman bagi para saksi, jika jumlah mereka tidak genap empat orang, maka mereka dijatuhi had.” (Al-Muzani rahimahullah berkata:) “Beliau telah menetapkan di beberapa tempat tentang dijatuhkannya had atas mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، لِأَنَّ حَدَّ الزِّنَا مُغَلَّظٌ عَلَى سَائِرِ الْحُدُودِ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, karena hadd zina lebih berat dibandingkan dengan hadd-hadd lainnya karena tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ يُفْضِي إِلَى إِتْلَافِ النُّفُوسِ.

Salah satunya: karena hal itu dapat menyebabkan hilangnya nyawa.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يَدْخُلُ بِهِ تَعِدِّي الْمَعَرَّةِ الْفَاضِحَةِ.

Yang kedua: bahwa dengannya termasuk pula penularan aib yang memalukan.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ يَفْسَدُ بِهِ النَّسَبُ اللَّاحِقُ.

Ketiga: bahwa hal itu merusak nasab yang akan mengikuti.

وَلِذَلِكَ وَجَبَ الْحَدُّ عَلَى الْقَاذِفِ بِهِ صِيَانَةً لِلْأَعْرَاضِ وَحِفْظًا لِلْأَنْسَابِ، وَتَغْلِيظُهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Oleh karena itu, hukuman had wajib dijatuhkan kepada orang yang menuduh zina sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan pelestarian nasab, serta penegasannya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: فِي عَدَدِ الشُّهُودِ، وَهُمْ أَرْبَعَةٌ خُصَّ بِهِمُ الزِّنَا مِنْ جَمِيعِ الْحُدُودِ. لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً} [النور: 4] .

Salah satunya: dalam jumlah saksi, yaitu empat orang yang dikhususkan untuk kasus zina di antara seluruh hudud. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali cambukan.” (QS. an-Nur: 4).

وَلَا يُوجَبُ الْحَدُّ بِأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ عُدُولٍ لَا امْرَأَةَ فِيهِمْ.

Dan hudud tidak dapat diberlakukan dengan kurang dari empat orang saksi laki-laki yang adil, tanpa ada perempuan di antara mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تَغْلِيظُهُ بالكشف عن حال الشهادة حتى تنتفي عَنْهَا الِاحْتِمَالُ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ وَيَشْمَلُ هَذَا الكشف على ثَلَاثَةِ فُصُولٍ: أَحَدُهَا: عَنْ حَالِ الزِّنَا. وَالثَّانِي: عن صفته.

Pendekatan kedua: memperberatnya dengan meneliti keadaan kesaksian hingga hilang darinya segala kemungkinan dari segala sisi, dan penelitian ini mencakup tiga bagian: pertama, tentang keadaan perzinaan; kedua, tentang sifatnya.

وَالثَّالِثُ: عَنْ مَكَانِهِ.

Ketiga: dari tempatnya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِي السُّؤَالِ عَنْ حَالِ الزِّنَا.

Adapun bagian pertama: tentang pertanyaan mengenai status zina.

فَيَسْأَلُ الْحَاكِمُ شُهُودَ الزِّنَا: عَنِ الزِّنَا؟

Maka hakim bertanya kepada para saksi zina: tentang perbuatan zina itu?

لِأَنَّ اسْتِدْعَاءَ الشَّهْوَةِ بِالْإِنْزَالِ المحظور، قد يكون من أربعة أحوال:

Karena membangkitkan syahwat dengan melakukan inzal yang terlarang dapat terjadi dalam empat keadaan:

أحدها: الزِّنَا بِامْرَأَةٍ، وَهُوَ صَرِيحُ الزِّنَا اسْمًا وَحُكْمًا، فَإِذَا قَالُوا: ” زَنَى بِامْرَأَةٍ “. لَمْ يَسْمَعِ الْحَاكِمُ هَذَا مِنْهُمْ حَتَّى يَقُولُوا مَنِ الْمَرْأَةُ، لِأَنَّهَا رُبَّمَا كَانَتْ زَوْجَتَهُ أَوْ أَمَتَهُ، كَانَ وَطْؤُهَا حَلَالًا، وَإِنْ كَانَتْ ذَاتَ شُبْهَةٍ كَانَ وَطْؤُهَا مُشْتَبِهًا يَسْقُطُ فِيهِ الْحَدُّ، وَلَزِمَ بَيَانُهَا لِيَعْلَمَ أَنَّ وَطْأَهَا زِنًا، وَبَيَانُهَا يَكُونُ مِنْ أَحَدِ وَجْهَيْنِ:

Pertama: zina dengan seorang perempuan, dan ini adalah zina secara jelas baik dari segi nama maupun hukumnya. Maka apabila mereka berkata: “Ia telah berzina dengan seorang perempuan,” hakim tidak menerima pernyataan ini dari mereka sampai mereka menyebutkan siapa perempuan itu, karena bisa jadi perempuan tersebut adalah istrinya atau budaknya, sehingga hubungan badan dengannya adalah halal. Dan jika perempuan itu adalah perempuan yang syubhat, maka hubungan badan dengannya masih samar sehingga hukuman had tidak diterapkan, dan wajib dijelaskan siapa perempuan itu agar diketahui bahwa hubungan badan tersebut benar-benar zina. Penjelasan tentang perempuan itu dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara:

أَحَدُهُمَا: إِمَّا أَنْ تُعَيَّنَ بِالتَّسْمِيَةِ لَهَا، أَوْ بِالْإِشَارَةِ إِلَيْهَا، فَيَصِيرُوا شَاهِدِينَ عَلَيْهَا بِالزِّنَا.

Salah satunya: yaitu dengan menetapkan secara spesifik melalui penamaan terhadapnya, atau dengan menunjuk kepadanya, sehingga mereka menjadi saksi atasnya dalam perkara zina.

وَإِمَّا أَنْ يُطْلِقُوا وَيَقُولُوا: زَنَا بِأَجْنَبِيَّةٍ مِنْهُ، غَيْرِ مُسَمَّاةٍ وَلَا مُعَيَّنَةٍ، فَتَصِحُّ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ دُونَهَا، وَلَا يَلْزَمُ فِي الشَّهَادَةِ أَنْ يَقُولُوا: وَطِئَهَا بِغَيْرِ شُبْهَةٍ، لِأَنَّهَا مُعْتَقَدَةٌ غَيْرُ مُشَاهَدَةٍ، لاختصاصها بمعتقد الواطىء، فَإِنِ ادَّعَاهَا، قُبِلَتْ إِذَا أَمْكَنَتْ، وَلَا يَكُونُ الشُّهُودُ مَعَهَا قَذْفَةٌ.

Atau mereka dapat mengucapkan secara umum dan berkata: “Ia berzina dengan seorang perempuan asing darinya, yang tidak disebutkan namanya dan tidak ditentukan,” maka kesaksian itu sah atas dirinya tanpa menyebutkan perempuannya, dan dalam kesaksian tidak disyaratkan untuk mengatakan: “Ia menyetubuhinya tanpa syubhat,” karena hal itu merupakan keyakinan yang tidak dapat disaksikan, sebab hanya berkaitan dengan keyakinan pelaku. Jika ia mengakuinya, maka diterima jika memungkinkan, dan para saksi tidak dianggap sebagai penuduh zina (qadzaf) bersamanya.

وَهَكَذَا لَوْ شَهِدُوا عَلَى امْرَأَةٍ بِالزِّنَا، لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتَهُمْ حَتَّى يَذْكُرُوا الزَّانِيَ بِهَا مِنْ أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ. إِمَّا بِالتَّسْمِيَةِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ فَيَصِيرُوا شَاهِدِينَ عَلَيْهِمَا بِالزِّنَا، وَإِمَّا أَنْ يُطْلِقُوا فَيَقُولُوا: زَنَى بِهَا أَجْنَبِيٌّ مِنْهَا، فَيَصِيرُوا شَاهِدِينَ عَلَيْهَا دُونَهُ.

Demikian pula, jika mereka bersaksi atas seorang wanita karena zina, kesaksian mereka tidak diterima sampai mereka menyebutkan siapa laki-laki yang berzina dengannya, dengan salah satu dari dua cara: baik dengan menyebutkan namanya atau dengan menunjuknya, sehingga mereka menjadi saksi atas keduanya dalam perkara zina; atau mereka menggeneralisasi dengan mengatakan: “Seorang laki-laki asing telah berzina dengannya,” sehingga mereka hanya menjadi saksi atas wanita itu saja, tidak atas laki-laki tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: اللِّوَاطُ.

Keadaan kedua: liwāṭ (hubungan seksual sesama jenis laki-laki).

فَيَقُولُوا: تَلَوَّطَ بِغُلَامٍ، فَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ لَا حَدَّ فِيهِ:

Mereka berkata: “Ia telah melakukan liwath dengan seorang anak laki-laki.” Maka menurut Abu Hanifah, tidak ada hudud atasnya.

وَعِنْدَنَا أَنَّ الْحَدَّ فِيهِ وَاجِبٌ وَفِيهِ قَوْلَانِ:

Menurut kami, hudud wajib diterapkan dalam hal ini, dan terdapat dua pendapat mengenai hal ini.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ كَحَدِّ الزِّنَا، وَهُوَ جَلْدُ مِائَةٍ إِنْ كَانَا بِكْرَيْنِ وَالرَّجْمُ إِنْ كَانَا ثَيِّبَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa hukumannya seperti hukuman zina, yaitu cambuk seratus kali jika keduanya masih perawan atau perjaka, dan rajam jika keduanya sudah pernah menikah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُقْتَلُ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ سَوَاءً كَانَا بِكْرَيْنِ أَوْ ثَيِّبَيْنِ. وَالتَّلُوطُ بِالْمَرْأَةِ كَالتَّلَوُّطِ بِالْغُلَامِ، يَكُونُ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ مُوجِبًا لِحَدِّ الزِّنَا، وَفِي الْقَوْلِ الثَّانِي مُوجِبًا لِلْقَتْلِ.

Pendapat kedua: bahwa pelaku dan yang diperlakukan sama-sama dihukum mati, baik keduanya masih lajang maupun sudah menikah. Melakukan liwāṭ dengan perempuan dipersamakan dengan liwāṭ dengan anak laki-laki; menurut salah satu pendapat, hal itu mewajibkan hukuman had zina, dan menurut pendapat kedua mewajibkan hukuman mati.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: إِتْيَانُ البهيمة. وفيه ثلاثة أقوال:

Keadaan ketiga: berhubungan dengan hewan. Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:

أحدهما: أَنَّهُ مُوجِبٌ لِلْقَتْلِ. لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” اقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ وَمَنْ أَتَاهَا “.

Pertama: Bahwa perbuatan tersebut mewajibkan hukuman mati. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ: “Bunuhlah hewan itu dan orang yang menzinainya.”

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ مُوجِبٌ لِحَدِّ الزِّنَا، وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ.

Pendapat kedua: bahwa perbuatan tersebut mewajibkan hukuman hadd zina, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ مُوجِبٌ لِلتَّعْزِيرِ، وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ.

Pendapat ketiga: bahwa perbuatan tersebut mewajibkan ta‘zīr, dan ini adalah pilihan Abul ‘Abbās bin Surayj dan Abū Sa‘īd al-Iṣṭakhrī.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلْقَتْلِ أَوْ لِحَدِّ الزِّنَا، لَمْ يَثْبُتْ بِأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةٍ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya hal itu mewajibkan hukuman mati atau had zina, maka tidak dapat ditetapkan dengan kurang dari empat orang saksi.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلتَّعْزِيرِ، فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya perbuatan itu mewajibkan ta‘zir, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ، لِأَنَّهُ لَمَّا خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الزِّنَا نَقْصٌ عَنْ شُهُودِ الزِّنَا.

Salah satunya adalah bahwa hal itu dapat dibuktikan dengan dua orang saksi, karena ketika telah keluar dari hukum zina, maka persyaratan saksi untuknya lebih ringan daripada persyaratan saksi dalam perkara zina.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَثْبُتُ بِأَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةٍ، لِأَنَّ اخْتِلَافَ الْحَدِّ فِي الْجِنْسِ لَا يُوجِبُ اخْتِلَافَ الْعَدَدِ فِي الشَّهَادَةِ، كَمَا أَنَّ زِنًا الْعَبْدِ مُوجِبٌ لِنِصْفِ الْحَدِّ، وَزِنَا الْبِكْرِ مُوجِبٌ لِلْجَلْدِ، وَزِنَا الثَّيِّبِ مُوجِبٌ لِلرَّجْمِ، وَلَا يَخْتَلِفُ عَدَدُ الشُّهُودِ لِاخْتِلَافِ الْحُدُودِ.

Pendapat kedua: Tidak dapat ditetapkan dengan kurang dari empat orang (saksi), karena perbedaan jenis hudud tidak menyebabkan perbedaan jumlah saksi, sebagaimana zina yang dilakukan oleh budak mewajibkan setengah hukuman, zina oleh perawan mewajibkan hukuman cambuk, dan zina oleh muhshan mewajibkan hukuman rajam, namun jumlah saksi tidak berbeda karena perbedaan jenis hudud.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلْقَتْلِ، قُتِلَتِ الْبَهِيمَةُ الَّتِي أَتَاهَا، لِأَمْرِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِقَتْلِهِ وَقَتْلِهَا. وَقَتْلُهَا لَيْسَ حَدًّا عَلَيْهَا لِسُقُوطِ التَّكْلِيفِ عَنْهَا.

Jika dikatakan: Sesungguhnya perbuatan itu mewajibkan hukuman mati, maka hewan yang disetubuhi juga dibunuh, berdasarkan perintah Nabi ﷺ untuk membunuh pelaku dan hewan tersebut. Pembunuhan terhadap hewan itu bukanlah sebagai hudud baginya, karena hewan tidak dibebani taklif.

وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَى الْأَمْرِ بِقَتْلِهَا.

Terjadi perbedaan pendapat mengenai makna perintah untuk membunuhnya.

وَقِيلَ: لِئَلَّا تَأْتِيَ بِخَلْقٍ مُشَوَّهٍ.

Dan dikatakan: agar tidak melahirkan makhluk yang cacat.

وَقِيلَ: لِئَلَّا تَتَذَكَّرَ بِمُشَاهَدَتِهَا فِعْلَ مَنْ أَتَاهَا.

Dan dikatakan: agar dengan melihatnya, ia tidak teringat perbuatan orang yang telah melakukannya.

فَإِذَا قُتِلَتِ الْبَهِيمَةُ وَكَانَتْ لِغَيْرِ مَنْ أَتَاهَا، فَفِي وُجُوبِ غُرْمِ قِيمَتِهَا لِمَالِكِهَا وَجْهَانِ: –

Jika hewan itu dibunuh dan hewan tersebut milik selain orang yang menzinahinya, maka dalam kewajiban membayar ganti rugi senilai hewan itu kepada pemiliknya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا غُرْمَ لَهُ لِوُجُوبِ قَتْلِهَا بِالشَّرْعِ.

Salah satunya: tidak ada ganti rugi baginya karena wajib dibunuh menurut syariat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَهُ قِيمَتُهَا لِاسْتِهْلَاكِهَا عَلَيْهِ بِعُدْوَانٍ.

Pendapat kedua: Ia wajib membayar nilai barang tersebut karena telah menghabiskannya secara melanggar.

فَعَلَى هَذَا فِي مُلْتَزِمِ قِيمَتِهَا وَجْهَانِ:

Dengan demikian, mengenai orang yang berkomitmen membayar nilai barang tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: عَلَى مَنْ أَتَاهَا.

Salah satunya: atas orang yang melakukannya.

وَالثَّانِي: فِي بَيْتِ الْمَالِ.

Yang kedua: di dalam baitul mal.

فَلَوْ كَانَتْ هَذِهِ الْبَهِيمَةُ مَأْكُولَةً، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي إِبَاحَةِ أَكْلِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika hewan ternak ini termasuk hewan yang halal dimakan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai kebolehan memakannya menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا مُسْتَبَاحَةُ الْأَكْلِ، فَعَلَى هَذَا تُذْبَحُ وَتُؤْكَلُ، وَلَا تُغَرَّمُ، وَيَكُونُ ذَبْحُهَا وَاجِبًا.

Salah satunya: bahwa hewan itu halal untuk dimakan, maka dalam hal ini ia disembelih dan dimakan, serta tidak dikenakan denda, dan penyembelihannya menjadi wajib.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تُؤَكَلُ وَتُقْتَلُ، وَفِي وُجُوبِ غُرْمِهَا وَجْهَانِ.

Pendapat kedua: tidak boleh dimakan dan harus dibunuh, dan dalam hal kewajiban menggantinya terdapat dua pendapat.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ إِتْيَانَ الْبَهِيمَةِ مُوجِبٌ لِحَدِّ الزِّنَا، لَمْ تُقْتَلِ الْبَهِيمَةُ، وَوَجَبَ فِي الْقَذْفِ بِهَا الْحَدُّ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya berhubungan dengan hewan mewajibkan hukuman had zina, maka hewan tersebut tidak dibunuh, dan wajib dijatuhkan hukuman had bagi orang yang menuduh seseorang melakukannya.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلتَّعْزِيرِ لَمْ يَجِبْ فِي الْقَذْفِ بِهَا حَدٌّ، وَعُزِّرَ الْقَاذِفُ كَمَا يُعَزَّرُ الْفَاعِلُ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya hal itu mewajibkan ta‘zīr, maka tidak wajib hudud dalam qadzaf dengan hal tersebut, dan orang yang menuduh dijatuhi ta‘zīr sebagaimana pelaku juga dijatuhi ta‘zīr.

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ: يُحَدُّ الْقَاذِفُ وَإِنْ عُزِّرَ الْفَاعِلُ.

Abu al-‘Abbas bin Surayj berkata: Pelaku qadzaf tetap dikenai had, meskipun pelaku perbuatan tersebut hanya dikenai ta‘zir.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ حَدَّ الْقَذْفِ بِالْفِعْلِ أَخَفُّ مِنْ حَدِّ الْفِعْلِ، فَلَمَّا لَمْ يُجْزِ الْفِعْلُ حَدٌّ، فَأَوْلَى أَنْ لَا يَجِبَ فِي الْقَذْفِ بِهِ.

Dan pendapat ini tidak benar, karena hukuman had untuk qadzaf dengan perbuatan lebih ringan daripada had untuk perbuatan itu sendiri. Maka ketika perbuatan tersebut tidak dikenai had, maka lebih utama lagi bahwa qadzaf dengan perbuatan itu juga tidak wajib dikenai had.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: الِاسْتِمْنَاءُ بِالْكَفِّ. وَهُوَ حَرَامٌ.

Keadaan keempat: istimnā’ dengan telapak tangan. Hal ini hukumnya haram.

وَذَهَبَ بَعْضُ فُقَهَاءِ الْبَصْرَةِ إِلَى إِبَاحَتِهِ فِي السَّفَرِ دُونَ الْحَضَرِ، لِأَنَّهُ يَمْنَعُ مِنَ الْفُجُورِ، وَيَبْعَثُ عَلَى غَضِّ الطَّرْفِ.

Sebagian fuqaha Basrah berpendapat bahwa hal itu dibolehkan dalam safar namun tidak dalam keadaan mukim, karena dapat mencegah perbuatan keji dan mendorong untuk menundukkan pandangan.

وَهَذَا فَاسِدٌ لقوله تعالى: {والذين هم لفروجهم حافظون إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فإنهم غير ملومين فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} .

Dan pendapat ini batil, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal itu tiada tercela. Maka barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

فَصَارَ الْمُسْتَمْنِي مَنْسُوبًا إِلَى الْعُدْوَانِ، وَلِأَنَّ النِّكَاحَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ لِأَجْلِ التَّنَاسُلِ وَالتَّكَاثُرِ. قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” تَنَاكَحُوا تَكَاثَرُوا فَإِنِّي أُبَاهِي بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى بِالسَّقْطِ “.

Maka orang yang melakukan istimna’ (masturbasi) dianggap melakukan tindakan agresi, karena pernikahan dianjurkan demi tujuan reproduksi dan memperbanyak keturunan. Nabi ﷺ bersabda: “Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan, karena aku akan membanggakan kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat, bahkan dengan anak yang keguguran sekalipun.”

وَقَالَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَوْلَا الِاسْتِيلَادُ لَمَا تَزَوَّجْتُ.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya bukan karena keinginan mendapatkan keturunan, niscaya aku tidak akan menikah.”

وَالِاسْتِمْنَاءُ بَعِيدٌ عَنِ النَّاكِحِ، وَيَمْنَعُ مِنَ التَّنَاسُلِ فَكَانَ مَحْظُورًا لَكِنَّهُ مِنْ صَغَائِرِ الْمَعَاصِي، فَيُنْهَى عَنْهُ الْفَاعِلُ، وَإِنْ عَادَ بَعْدَ النَّهْيِ عُزِّرَ، وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ شُهُودُ الزِّنَا، وَيَقْبَلُ فِيهِ شَاهِدَيْنِ، وَإِنِ اسْتَحَقَّ فِيهِ التَّعْزِيرُ بَعْدَ النَّهْيِ، وَلَا يُجِبْ فِي الْقَذْفِ بِهِ حَدٌّ وَلَا تَعْزِيرٌ إِنْ لَمْ يُعَزَّرِ الْفَاعِلُ.

Istimna’ (onani) sangat jauh dari perbuatan menikah, dan mencegah terjadinya keturunan sehingga hukumnya terlarang, namun termasuk dosa kecil. Pelakunya harus dicegah, dan jika ia mengulangi setelah dilarang maka ia dikenai ta‘zir. Dalam hal ini tidak disyaratkan adanya saksi-saksi zina, cukup dengan dua orang saksi. Jika setelah dilarang ia tetap melakukannya, maka ia berhak mendapat hukuman ta‘zir. Tidak wajib dijatuhkan had atau ta‘zir atas orang yang menuduh (qadzaf) dengan perbuatan ini jika pelakunya belum dikenai ta‘zir.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي: فِي صِفَةِ الزِّنَا.

Adapun bagian kedua: tentang sifat (definisi) zina.

فَلَا يُقْتَنَعُ مِنَ الشُّهُودِ أَنْ يَشْهَدُوا بِالزِّنَا حَتَّى يَصِفُوهُ. لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ وَيُكَذِّبُهُ الْفَرْجُ “.

Maka tidak cukup bagi para saksi hanya menyaksikan terjadinya zina tanpa mendeskripsikannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Dua mata berzina dan zinanya adalah pandangan, dua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, dua kaki berzina dan zinanya adalah berjalan, dan yang membenarkan atau mendustakan hal itu adalah kemaluan.”

وَلِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – اسْتَثْبَتَ مَاعِزًا بَعْدَ إِقْرَارِهِ بِالزِّنَا فَقَالَ ” لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ لَعَلَّكَ لَمَسْتَ ” قَالَ: فَعَلْتُ، بِصَرِيحِ اللَّفْظِ دُونَ كِنَايَتِهِ.

Dan karena Nabi ﷺ menegaskan kembali pengakuan Ma‘iz setelah ia mengakui perbuatan zina, lalu beliau bersabda, “Barangkali engkau hanya mencium, barangkali engkau hanya menyentuh?” Ma‘iz menjawab, “Aku telah melakukannya,” dengan ungkapan yang jelas, bukan dengan sindiran.

فَإِذَا لَزِمَ ذَلِكَ فِي الْمُقِرِّ كَانَ فِي الشَّاهِدِ أَحَقُّ.

Maka jika hal itu wajib atas orang yang mengakui, maka pada saksi lebih utama lagi.

فَإِذَا شَهِدَ أَرْبَعَةٌ عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَا سَأَلَهُمُ الْحَاكِمُ: ” كَيْفَ زَنَى؟ وَلَمْ يَحُدَّهُ قَبْلَ صِفَةِ الزِّنَا.

Apabila empat orang bersaksi atas seorang laki-laki melakukan zina, maka hakim akan menanyai mereka: “Bagaimana ia berzina?” dan hakim tidak menjatuhkan had sebelum mereka menjelaskan sifat (cara terjadinya) zina tersebut.

وَلِأَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ مَنْ شَهِدَ عَلَى الْمُغِيرَةِ بِالزِّنَا: كَيْفَ زَنَى؟

Dan karena Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada orang yang bersaksi atas perbuatan zina yang dilakukan oleh al-Mughirah: “Bagaimana ia berzina?”

فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ مَعَ شِبْلِ بْنِ مَعْبَدٍ وَنَافِعٍ: رَأَيْنَا ذَكَرَهُ يَدْخُلُ فِي فَرْجِهَا كَدُخُولِ الْمِرْوَدِ فِي الْمِكْحَلَةِ.

Abu Bakrah bersama Syibl bin Ma‘bad dan Nafi‘ berkata: Kami melihat kemaluannya masuk ke dalam kemaluan perempuan itu seperti masuknya kayu celak ke dalam tempat celak.

وَعُرِضَ زِيَادٌ، وَهُوَ الرَّابِعُ فَقَالَ رَأَيْتُ بَطْنَهُ عَلَى بَطْنِهَا، وَرَأَيْتُ أَرْجُلًا مُخْتَلِفَةً وَنَفَسًا يَعْلُو وَاسْتًا تَنْبُو، فَقَالَ عُمَرُ: رَأَيْتَ ذَكَرَهُ فِي فَرْجِهَا؟ فَقَالَ: لَا. فَقَالَ عمر: الحمد لله قم يا أرخى اجْلِدْ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ. فَجَلَدَهُمْ حَدَّ الْقَذْفِ، فَلَمْ يَجْلِدِ الْمُغِيرَةَ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَيْهِ لَمْ تَكْمُلْ، وَلَمْ يَجْلِدْ زِيَادًا لِلْقَذْفِ، لِأَنَّهُ عَرَّضَ لَمْ يُصَرِّحْ بِهِ.

Lalu dihadirkan Ziyad, yang merupakan saksi keempat, lalu ia berkata: “Aku melihat perutnya di atas perutnya, dan aku melihat kaki-kaki yang berbeda serta napas yang naik turun.” Maka Umar bertanya: “Apakah engkau melihat kemaluannya di dalam kemaluannya?” Ia menjawab: “Tidak.” Maka Umar berkata: “Segala puji bagi Allah. Bangkitlah, wahai Arkhā, dan cambuklah tiga orang ini.” Maka ia mencambuk mereka dengan had qazaf, dan tidak mencambuk al-Mughirah karena kesaksian terhadapnya tidak sempurna, dan tidak pula mencambuk Ziyad karena qazaf, karena ia hanya memberi isyarat dan tidak menyatakannya secara jelas.

فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، اعْتُبِرَ مَا وَصَفَهُ الشُّهُودُ.

Jika demikian, maka yang dijadikan pertimbangan adalah apa yang telah dijelaskan oleh para saksi.

فَإِنْ صَرَّحُوا بِدُخُولِ ذَكَرِهُ فِي فرجها، كملت بهم الشهادة، وحد الشهود عَلَيْهِ حَدَّ الزِّنَا، وَسَلِمَ الشُّهُودُ مِنْ حَدِّ الْقَذْفِ.

Jika para saksi secara tegas menyatakan bahwa kemaluan laki-laki telah masuk ke dalam kemaluan perempuan, maka kesaksian mereka menjadi sempurna, dan terhadap orang yang disaksikan dikenakan hukuman zina, serta para saksi terbebas dari hukuman qazaf (menuduh zina tanpa bukti).

وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحُوا جَمِيعًا بِدُخُولِ ذَكَرِهِ فِي فَرْجِهَا، فَلَا حَدَّ عَلَى الشُّهُودِ عَلَيْهِ، فَأَمَّا الشُّهُودُ، فَإِنْ قَالُوا فِي أَوَّلِ الشَّهَادَةِ، إِنَّهُ زَنَى وَوَصَفُوا مَا لَيْسَ بِزِنًا، حُدُّوا حَدًّا وَاحِدًا.

Jika mereka semua tidak secara tegas menyatakan bahwa ia telah memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan perempuan itu, maka tidak dikenakan had atas orang yang dituduh berdasarkan kesaksian para saksi tersebut. Adapun para saksi, jika pada awal kesaksian mereka mengatakan bahwa ia telah berzina namun mereka menggambarkan sesuatu yang bukan zina, maka mereka dikenakan satu had.

لِأَنَّهُمْ قَدْ صَرَّحُوا بِالْقَذْفِ وَلَمْ يَشْهَدُوا بِالزِّنَا.

Karena mereka telah secara jelas menuduh (melakukan qazf) dan tidak memberikan kesaksian tentang terjadinya zina.

وَإِنْ لَمْ يَقُولُوا فِي أَوَّلِ الشَّهَادَةِ إنَّهُ زَنَى وَشَهِدُوا عَلَيْهِ بِمَا لَيْسَ بِزِنًا، لَمْ يُحَدُّوا قَوْلًا وَاحِدًا.

Dan jika mereka tidak mengatakan pada awal kesaksian bahwa ia telah berzina, lalu mereka bersaksi atasnya dengan sesuatu yang bukan zina, maka mereka tidak dikenai had menurut satu pendapat.

وَإِنْ وَصَفَ ثَلَاثَةٌ مِنْهُمُ الزِّنَا، وَوَصَفَ الرَّابِعُ مَا لَيْسَ بزنا، لم يحد الشهود عَلَيْهِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ بِالزِّنَا لَمْ تَكْمُلْ، وَفِي حَدِّ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ وَصَفُوا الزِّنَا قَوْلَانِ:

Jika tiga dari mereka memberikan kesaksian tentang terjadinya zina, sementara yang keempat memberikan kesaksian tentang sesuatu yang bukan zina, maka para saksi tersebut tidak dikenai had, karena bukti tentang zina belum sempurna. Adapun mengenai had bagi tiga orang yang memberikan kesaksian tentang zina, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُحَدُّونَ لِأَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّهُمْ لِأَنَّهُمْ صَارُوا قَذَفَةً.

Salah satu pendapat: Mereka dikenai had karena Umar radhiyallahu ‘anhu menjatuhkan had kepada mereka, sebab mereka telah menjadi para penuduh zina (qadzaf).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يُحَدُّونَ، لِأَنَّهُمْ قَصَدُوا الشَّهَادَةَ بِالزِّنَا وَلَمْ يَقْصِدُوا الْمَعَرَّةَ بِالْقَذْفِ.

Pendapat kedua: Mereka tidak dikenai had, karena mereka bermaksud memberikan kesaksian tentang zina dan tidak bermaksud menimbulkan aib dengan qazaf.

فَإِنْ قِيلَ بِوُجُوبِ الْحَدِّ عَلَيْهِمْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُمْ حَتَّى يَتُوبُوا، وَقُبِلَ خَبَرُهُمْ قَبْلَ التوبة، لأن أبا بكر حِينَ حُدَّ قَالَ لَهُ عُمَرُ: تُبْ أَقْبَلْ شَهَادَتَكَ، فَامْتَنَعَ وَقَالَ: وَاللَّهِ لَقَدْ زَنَى الْمُغِيرَةُ، فَهَمَّ بِجَلْدِهِ مَرَّةً ثَانِيَةً، فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّكَ إِنْ جَلَدْتَهُ رَجَمْتَ صَاحِبَكَ، يَعْنِي أَنَّكَ إِنْ جَعَلْتَ هَذَا غَيْرَ الْأَوَّلِ، فَقَدْ كَمُلَتْ بِهِ الشَّهَادَةُ فَأَرْجُمُ الْمُغِيرَةَ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْأَوَّلُ فَقَدْ جَلَدْتَهُ.

Jika dikatakan bahwa hukuman had wajib dijatuhkan kepada mereka, maka kesaksian mereka tidak diterima sampai mereka bertobat, namun kabar mereka diterima sebelum tobat. Karena ketika Abu Bakar dijatuhi hukuman had, Umar berkata kepadanya: “Bertobatlah, maka aku akan menerima kesaksianmu.” Namun ia menolak dan berkata: “Demi Allah, sungguh Mughīrah telah berzina.” Maka Umar hampir mencambuknya untuk kedua kalinya. Lalu Ali ‘alaihis salam berkata kepadanya: “Jika engkau mencambuknya lagi, maka engkau akan merajam sahabatmu.” Maksudnya, jika engkau menganggap ini (kesaksian kedua) berbeda dari yang pertama, maka kesaksian itu telah sempurna dan aku akan merajam Mughīrah. Namun jika ini adalah yang pertama, maka engkau telah mencambuknya.

وَكَانَ أَبُو بَكْرَةَ بَعْدَ ذَلِكَ يُقْبَلُ خَبَرُهُ، وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ.

Setelah itu, kabar dari Abu Bakrah diterima, namun kesaksiannya tidak diterima.

وَأَمَّا الرَّابِعُ الَّذِي وَصَفَ مَا لَيْسَ بِزِنًا فَيُنْظَرُ فِي شَهَادَتِهِ: فَإِنْ قَالَ: إِنَّهُ زَنَا، ثُمَّ وَصَفَ مَا لَيْسَ بِزِنًا حُدَّ قَوْلًا وَاحِدًا.

Adapun yang keempat, yaitu orang yang menyifati sesuatu yang bukan zina, maka kesaksiannya diperhatikan: jika ia berkata bahwa seseorang telah berzina, kemudian ia menyifati sesuatu yang bukan zina, maka ia dikenai had menurut satu pendapat.

وَإِنْ لَمْ يَقُلْ زَنَا، وَوَصْفَ مَا لَيْسَ بِزِنًا فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ قَوْلًا وَاحِدًا.

Dan jika ia tidak mengatakan “zina”, melainkan menyebutkan sesuatu yang bukan zina, maka tidak dikenakan had atasnya menurut satu pendapat yang disepakati.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ: فِي ذِكْرِ الشُّهُودِ مَكَانَ الزِّنَا.

Adapun bagian ketiga: tentang penjelasan para saksi dalam kasus zina.

فَهُوَ شَرْطٌ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الزِّنَا عَلَى مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابُنَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ شَرْطًا فِي الْإِقْرَارِ بِالزِّنَا، فَيَجِبُ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَسْأَلَهُمْ عَنْهُ، لِأَنَّهمْ قَدْ يَتَّفِقُونَ عَلَى زِنَاهُ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْحَدُّ، وَقَدْ يَخْتَلِفُونَ فِي الْمَكَانِ فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحَدُّ، فَلِذَلِكَ وَجَبَ سُؤَالُهُمْ عَنْ مَكَانِ الزِّنَا فَإِنِ اتَّفَقُوا عَلَيْهِ حُدَّ الشهود عَلَيْهِ، وَإِنِ اخْتَلَفُوا فَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Maka hal itu merupakan syarat dalam persaksian atas zina sebagaimana disebutkan oleh para ulama kami, meskipun bukan merupakan syarat dalam pengakuan zina. Maka wajib bagi hakim untuk menanyakan hal itu kepada mereka, karena bisa jadi mereka sepakat tentang terjadinya zina di satu tempat sehingga wajib dijatuhkan hukuman had, dan bisa jadi mereka berbeda pendapat tentang tempatnya sehingga tidak wajib dijatuhkan hukuman had. Oleh karena itu, wajib menanyakan kepada mereka tentang tempat terjadinya zina. Jika mereka sepakat tentang tempatnya, maka hukuman had dijatuhkan atas orang yang disaksikan. Namun jika mereka berbeda pendapat, maka perbedaan mereka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ اخْتِلَافُهُمْ فِي بَيْتَيْنِ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: زَنَى فِي هَذَا الْبَيْتِ وَيَقُولُ آخَرُونَ: زَنَى فِي الْبَيْتِ الْآخَرِ، فَلَا حَدَّ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، وَفِي حَدِّ الشُّهُودِ قَوْلَانِ:

Salah satunya adalah: jika perbedaan pendapat mereka terjadi pada dua rumah, sebagian dari mereka berkata: “Ia berzina di rumah ini,” dan yang lain berkata: “Ia berzina di rumah yang lain,” maka tidak dikenakan had atas orang yang dituduh, dan mengenai had bagi para saksi terdapat dua pendapat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَخْتَلِفُوا فِي زَاوِيَةِ الْبَيْتِ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: زَنَى بِهَا فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ مِنْ هَذَا الْبَيْتِ، وَيَقُولُ آخَرُونَ: زَنَى بِهَا فِي الزَّاوِيَةِ الْأُخْرَى مِنْ هَذَا الْبَيْتِ.

Jenis kedua: yaitu mereka berbeda pendapat mengenai sudut rumah, sehingga sebagian dari mereka berkata: “Ia berzina dengannya di sudut ini dari rumah ini,” dan yang lain berkata: “Ia berzina dengannya di sudut yang lain dari rumah ini.”

فَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الْحَدُّ اسْتِحْسَانًا لَا قِيَاسًا، لِأَنَّهمَا قَدْ يَتَعَارَكَانِ فَيَنْتَقِلَانِ بِالزَّحْفِ مِنْ زَاوِيَةٍ إِلَى أُخْرَى.

Menurut Abu Hanifah, keduanya wajib dikenakan hudud berdasarkan istihsan, bukan berdasarkan qiyās, karena keduanya bisa saja saling bergulat sehingga berpindah-pindah dengan merangkak dari satu sudut ke sudut yang lain.

وَلَا حَدَّ عَلَيْهِ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِعَدَمِ الِاتِّفَاقِ عَلَى الْمَكَانِ كَالْبَيْتَيْنِ. وَلَا وَجْهَ لِهَذَا، لِأَنَّ الْحُدُودَ تُدْرَأُ بِالشُّبُهَاتِ وَلَا يُحَدُّ بِهَا.

Dan tidak dikenakan had menurut mazhab Syafi‘i karena tidak adanya kesepakatan mengenai tempat, seperti dua rumah. Tidak ada alasan untuk hal ini, karena hudud digugurkan dengan adanya syubhat dan tidak dijatuhkan hukuman had karenanya.

وَعَلَى قِيَاسِ سُؤَالِهِمْ عَنْ مَكَانِ الزِّنَا، يَجِبُ سُؤَالُهُمْ عَنْ زَمَانِ الزِّنَا، لِأَنَّ اخْتِلَافَ الزَّمَانِ كَاخْتِلَافِ الْمَكَانِ فِي وُجُوبِ الْحَدِّ إِنِ اتَّفَقَ وَسُقُوطِهِ إِنِ اخْتَلَفَ.

Dan berdasarkan qiyās atas pertanyaan mereka tentang tempat terjadinya zina, maka wajib juga menanyakan kepada mereka tentang waktu terjadinya zina, karena perbedaan waktu itu seperti perbedaan tempat dalam hal kewajiban hudud jika keduanya sama, dan gugurnya hudud jika keduanya berbeda.

وَلَيْسَ إِطْلَاقُ هَذَا الْقَوْلِ عِنْدِي صَحِيحًا، وَالْوَاجِبُ أَنْ يُنْظَرَ: فَإِنْ صَرَّحَ بَعْضُ الشُّهُودِ بِذِكْرِ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَجَبَ سُؤَالُ الْبَاقِينَ عَنْهُ، وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بَعْضُهُمْ بِهِ لَمْ يُسْأَلُوا عَنْهُ؛ لِأَنَّه لَوْ وَجَبَ سُؤَالُهُمْ عَنِ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ إِذَا لَمْ يَذْكُرُوهُ، لَوَجَبَ سُؤَالُهُمْ عَنْ ثِيَابِهِ وَثِيَابِهَا، وَعَنْ لَوْنِ الْمَزْنِيِّ بِهَا مِنْ سَوَادٍ أَوْ بَيَاضٍ، وَعَنْ سِنِّهَا مِنْ صَغِيرَةٍ أَوْ كَبِيرَةٍ، وَعَنْ قَدِّهَا مِنْ طُولٍ أَوْ قِصَرٍ، لِأَنَّ اخْتِلَافَهُمْ فِيهِ موجب لاختلاف الشهادة، فيتناها إِلَى مَا لَا يُحْصَى، وَهَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ فِي السُّؤَالِ، وَكَذَلِكَ فِي الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، إِلَّا أن يبتدىء بَعْضُ الشُّهُودِ بِذِكْرِهِ، فَيُسْأَلُ الْبَاقُونَ عَنْهُ لِيُعْلَمَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ مُوَافَقَةٍ وَاخْتِلَافٍ.

Menurut pendapat saya, pernyataan ini tidaklah benar secara mutlak. Yang wajib adalah memperhatikan: jika sebagian saksi secara tegas menyebutkan tempat dan waktu, maka wajib menanyakan hal itu kepada saksi-saksi lainnya. Namun, jika sebagian dari mereka tidak menyebutkannya secara tegas, maka mereka tidak perlu ditanya tentang hal itu. Sebab, jika memang wajib menanyakan kepada mereka tentang tempat dan waktu ketika mereka tidak menyebutkannya, maka seharusnya juga wajib menanyakan tentang pakaian laki-laki dan perempuan tersebut, tentang warna orang yang berzina dengannya, apakah hitam atau putih, tentang usianya, apakah masih muda atau sudah tua, serta tentang posturnya, apakah tinggi atau pendek. Karena perbedaan mereka dalam hal-hal tersebut dapat menyebabkan perbedaan dalam kesaksian, sehingga akan berujung pada hal-hal yang tak terhitung jumlahnya, dan ini tidaklah dianggap dalam pertanyaan. Demikian pula dalam hal waktu dan tempat, kecuali jika sebagian saksi memulai dengan menyebutkannya, maka saksi-saksi lainnya ditanya tentang hal itu agar diketahui apakah mereka sepakat atau berbeda.

( [الْقَوْلُ فِي مَوْتِ الشُّهُودِ قَبْلَ ظُهُورِ عَدَالَتِهِمْ] )

(Pembahasan tentang wafatnya para saksi sebelum tampak keadilan mereka)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ مَاتَ الشُّهُودُ قَبْلَ أَنْ يُعَدَّلُوا ثُمَّ عُدِّلُوا أُقِيمَ الْحَدُّ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika para saksi meninggal sebelum mereka dinyatakan adil, kemudian mereka dinyatakan adil (setelah wafat), maka hudud tetap ditegakkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ كَمَا قَالَ: إِذَا مَاتَ الشُّهُودُ قَبْلَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمْ ثُمَّ عُدِّلُوا بَعْدَ مَوْتِهِمْ حُكِمَ بِشَهَادَتِهِمْ فِي الْحَدِّ وَغَيْرِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan memang sebagaimana yang ia katakan: Jika para saksi meninggal sebelum terbukti keadilan mereka, kemudian mereka dinyatakan adil setelah kematian mereka, maka kesaksian mereka dapat dijadikan dasar hukum dalam perkara hudud maupun selainnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَحْكُمُ بِشَهَادَتِهِمْ فِي غَيْرِ الْحَدِّ وَلَا أَحْكُمُ بِهَا فِي الْحَدِّ. لِأَنَّ مِنْ مَذْهَبِهِ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ يَبْدَأُ بِإِقَامَةِ الْحَدِّ الشُّهُودُ.

Abu Hanifah rahimahullah berkata: Aku memutuskan dengan kesaksian mereka dalam perkara selain hudud, dan aku tidak memutuskan dengannya dalam perkara hudud. Karena menurut mazhab beliau, orang yang pertama kali memulai pelaksanaan hudud adalah para saksi.

وَمَذْهَبُنَا إِنَّ شُهُودَ الْحَدِّ كَغَيْرِهِمْ، فَإِنَّ الْحَدَّ كَغَيْرِهِ مِنَ الْحُقُوقِ، وَلَا يَكُونُ مَوْتُ الشُّهُودِ قَبْلَ التَّعْدِيلِ مَانِعًا مِنَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ بَعْدَ التَّعْدِيلِ لِأَنَّ الْعَدَالَةَ تُوجِبُ الْأَدَاءَ وَلَيْسَ مَوْتُهُمْ مُسْقِطًا لَهَا فِسْقًا طَرَأَ وَلَوْ وَجَبَ سُقُوطُ شَهَادَتِهِمْ لَوَجَبَ سُقُوطُهَا فِي غَيْرِ الْحَدِّ فَأَمَّا حُدُوثُ الْفِسْقِ بَعْدَ الشَّهَادَةِ وَقَبْلَ الْحُكْمِ فَمُوجِبٌ لِسُقُوطِ الشَّهَادَةِ فِي الْحَدِّ وَغَيْرِهِ، لِأَنَّ النَّاسَ يَتَظَاهَرُونَ بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ وَيُسِرُّونَ فِعْلَ الْمَعَاصِي، فَإِذَا ظَهَرَتْ دَلَّ ظُهُورُهَا عَلَى تَقَدُّمِ كُمُونِهَا.

Menurut mazhab kami, para saksi dalam perkara hudud sama seperti saksi pada perkara lainnya, karena hudud itu seperti hak-hak lainnya. Kematian para saksi sebelum dilakukan ta‘dil (penilaian keadilan) tidak menjadi penghalang untuk memutuskan dengan kesaksian mereka setelah ta‘dil, karena keadilan mewajibkan pelaksanaan kesaksian, dan kematian mereka tidak menggugurkan keadilan itu kecuali jika terjadi kefasikan setelahnya. Jika memang kesaksian mereka harus gugur, maka seharusnya juga gugur pada perkara selain hudud. Adapun jika kefasikan muncul setelah kesaksian dan sebelum putusan, maka hal itu menyebabkan gugurnya kesaksian baik dalam perkara hudud maupun selainnya, karena manusia sering menampakkan ketaatan dan menyembunyikan maksiat, sehingga jika kefasikan itu tampak, maka tampaknya menunjukkan bahwa sebelumnya telah tersembunyi.

وَأَمَّا حُدُوثُ الْخَرَسِ وَالْعَمَى بَعْدَ الشَّهَادَةِ وَقَبْلَ الْحُكْمِ بِهَا فَغَيْرُ مَانِعٍ مِنَ الْحُكْمِ بِهَا، لِأَنَّ الْعِلْمَ بِحُدُوثِهِ وَعَدَمِ تَقَدُّمِهِ مَقْطُوعٌ بِهِ.

Adapun terjadinya bisu dan buta setelah memberikan kesaksian dan sebelum diputuskan dengannya, maka hal itu tidak menghalangi untuk memutuskan berdasarkan kesaksian tersebut, karena pengetahuan tentang terjadinya hal itu dan tidak mendahuluinya adalah sesuatu yang pasti.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِشَهَادَةِ مَنْ حَدَثَ بِهِ الْعَمَى، وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ إِمْضَائِهِ بِشَهَادَةِ مَنْ حَدَثَ بِهِ الْخَرَسُ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ مَعَهُ فِيهِ.

Abu Hanifah melarang pengesahan putusan berdasarkan kesaksian orang yang mengalami kebutaan setelah memberikan kesaksian, namun beliau tidak melarang pengesahan putusan berdasarkan kesaksian orang yang mengalami bisu setelah memberikan kesaksian, dan pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَيَطْرُدَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ وَجُرِحَ مَنْ يَشْهَدُ عَلَيْهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan kesaksian terhadap orang yang disaksikan itu ditolak, serta dicacat orang yang memberikan kesaksian atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا شَهِدَ الشُّهُودُ وَقَدْ عَرَفَ الْحَاكِمُ عَدَالَتَهُمْ عَلَى رَجُلٍ بِحَقٍّ مِنْ حَدٍّ أَوْ غَيْرِ حَدٍّ، وَقَدَحَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ فِي عَدَالَتِهِمْ مَكَّنَهُ الْحَاكِمُ مِنْ إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ بِجَرْحِهِمْ، لِأَنَّ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ مِنَ الِاهْتِمَامِ بِقَصْدِ الْكَشْفِ عَنْ جُرْحِهِمْ مَا يَقْصُرُ زَمَانُ الْحَاكِمِ عَنِ التَّشَاغُلِ بِهِ، فَإِنْ أَقَامَ الْبَيِّنَةَ بِجَرْحِهِمْ أَسْقَطَ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمْ، وَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا أَمْضَى الْحَاكِمُ بِهَا عَلَيْهِ، وَلَا يُضَيِّقْ عَلَيْهِ الزَّمَانَ فِي طَلَبِ الْجُرْحِ فَيَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ، وَلَا يُوَسِّعْ لَهُ الزَّمَانَ فَيُؤَخِّرَ الْحُكْمَ، وَتَكُونُ مُدَّةُ إِمْهَالِهِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، لِأَنَّها أَكْثَرُ الْقَلِيلِ وَأَقَلُّ الْكَثِيرِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila para saksi memberikan kesaksian dan hakim telah mengetahui keadilan mereka atas seorang laki-laki dalam suatu hak, baik berupa hudud maupun bukan hudud, lalu orang yang disaksikan tersebut mencela keadilan para saksi itu, maka hakim memberikan kesempatan kepadanya untuk menghadirkan bukti yang menunjukkan cacat para saksi tersebut. Sebab, orang yang disaksikan memiliki perhatian yang lebih besar untuk mengungkap cacat para saksi dibandingkan waktu yang dimiliki hakim untuk menyibukkan diri dengan hal itu. Jika ia dapat menghadirkan bukti atas cacat mereka, maka gugurlah keputusan berdasarkan kesaksian mereka. Namun jika ia tidak mampu, maka hakim menetapkan keputusan atasnya berdasarkan kesaksian tersebut. Hakim tidak boleh mempersempit waktu baginya dalam mencari cacat sehingga ia kesulitan, dan tidak pula memperluas waktu sehingga menyebabkan penundaan keputusan. Masa penangguhan yang diberikan kepadanya adalah tiga hari, karena itu adalah waktu yang paling banyak dari yang sedikit dan paling sedikit dari yang banyak.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَيَطْرُدَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ جَرْحَهُمْ فَفِيهِ تَأْوِيلَانِ: –

Adapun pendapat asy-Syafi‘i raḥimahullāh: “Dan orang yang disaksikan dapat menolak cacat (jarḥ) mereka,” maka dalam hal ini terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: مَعْنَاهُ يُمَكِّنُهُ مِنْ جَرْحِهِمْ، وَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهُ.

Salah satunya: maknanya adalah ia memungkinkannya untuk mencela mereka, dan tidak melarangnya dari hal itu.

وَالثَّانِي: مَعْنَاهُ يُوَسِّعُ لَهُ فِي الزَّمَانِ وَلَا يُضَيِّقُهُ عَلَيْهِ.

Yang kedua: maknanya adalah Allah melapangkan baginya dalam waktu dan tidak menyempitkannya atasnya.

فَأَمَّا إِنْ أَمْسَكَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ مِنْ طَلَبِ تَمْكِينِهِ مَنْ جَرْحِهِمْ، فَإِنْ كَانَ فِيمَا لَا يُدْرَأُ بِالشُّبْهَةِ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ. أَمْسَكَ الْحَاكِمُ عَنْ إطْرَادِ جَرْحِهِمْ، وَإِنْ كَانَ فِي حَدٍّ لِلَّهِ تَعَالَى يَسْقُطُ بِالشُّبْهَةِ نَظَرَ:

Adapun jika pihak yang menjadi objek kesaksian menahan diri dari meminta agar ia diberi kesempatan untuk mencela para saksi, maka jika perkara tersebut berkaitan dengan hak-hak manusia yang tidak gugur karena adanya syubhat, hakim pun menahan diri dari membiarkan proses pencelaan terhadap para saksi itu berlangsung. Namun jika perkara tersebut berkaitan dengan hudud Allah Ta‘ala yang dapat gugur karena adanya syubhat, maka hakim perlu meneliti lebih lanjut.

فَإِنْ تَوَجَّهَ الْحَدُّ عَلَى مَنْ يَعْرِفُ جَوَازَ إِطْرَادِهِ، وَلَمْ يَشْعُرْ بِهِ وَلَمْ يَذْكُرْهُ لَهُ.

Jika suatu batasan (ḥadd) diarahkan kepada seseorang yang mengetahui kebolehan penerapannya secara konsisten, namun ia tidak menyadarinya dan tidak menyebutkannya kepadanya.

وَإِنْ تَوَجَّهَ إِلَى مَنْ لَا يَعْرِفُهُ، أَعْلَمَهُ مَا يَسْتَحِقُّهُ مِنَ إِطْرَادِ الْجَرْحِ، فَإِنْ شَرَعَ فِيهِ مَكَّنَهُ مِنْهُ، وَإِنْ أَمْسَكَ عَنْهُ أَقَامَ عَلَيْهِ الْحَدَّ، لِأَنَّه حَقٌّ لَهُ وَلَيْسَ بِحَقٍّ عَلَيْهِ.

Dan jika ia menghadap kepada orang yang tidak dikenalnya, maka ia memberitahukan kepadanya apa yang menjadi haknya berupa kelanjutan jarḥ (celaan). Jika orang itu mulai melakukannya, maka ia membiarkannya; dan jika ia menahan diri darinya, maka ia menegakkan had atasnya, karena itu adalah hak baginya dan bukan kewajiban atasnya.

( [الْقَوْلُ فِي تَفْسِيرِ مَا يُجْرَحُ بِهِ الشُّهُودُ] )

(Pembahasan tentang penafsiran hal-hal yang dapat mencederai kredibilitas para saksi)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا أَقْبَلُ الْجَرْحَ مِنَ الْجَارِحِ إِلَّا بِتَفْسِيرِ مَا يَجْرَحُ بِهِ لِلِاخْتِلَافِ فِي الْأَهْوَاءِ وَتَكْفِيرِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا وَيَجْرَحُونَ بِالتَّأْوِيلِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku tidak menerima jarḥ dari seseorang kecuali dengan penjelasan tentang apa yang dijadikan alasan untuk men-jarḥ, karena adanya perbedaan hawa nafsu, saling mengkafirkan di antara mereka, dan mereka melakukan jarḥ berdasarkan takwil.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ كَذَلِكَ فِي دَعْوَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ جَرْحُ الشُّهُودِ، لَمْ تَقْبَلْ دَعْوَاهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ حَتَّى يُفَسِّرُهَا بِمَا يَكُونُ جَرْحًا يُفَسَّقُ بِهِ، لِاخْتِلَافِ النَّاسِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ. كَمَا لَوْ قَالَ: هَذَا وَارِثٌ. لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ حَتَّى يَذْكُرَ مَا صَارَ بِهِ وَارِثًا لِاخْتِلَافِ النَّاسِ فِي الْمَوَارِيثِ.

Al-Mawardi berkata: Demikian pula dalam klaim orang yang menjadi objek kesaksian tentang celaan terhadap para saksi, klaimnya tidak diterima secara mutlak sampai ia menjelaskannya dengan sesuatu yang benar-benar merupakan celaan yang menyebabkan kefasikan, karena adanya perbedaan pendapat di antara manusia dalam hal jarh (celaan) dan ta‘dil (pujian). Sebagaimana jika seseorang berkata: “Ini adalah ahli waris,” maka tidak diterima darinya sampai ia menyebutkan alasan yang menjadikannya sebagai ahli waris, karena adanya perbedaan pendapat di antara manusia dalam masalah warisan.

فَإِذَا قَالَ: هَذَا الشَّاهِدُ فَاسِقٌ أَوْ غَيْرُ مَرْضِيٍّ، أَوْ لَيْسَ بِمَقْبُولِ الشَّهَادَةِ.

Maka jika ia berkata: “Saksi ini fāsiq atau tidak terpuji, atau tidak diterima kesaksiannya.”

قِيلَ لَهُ: فَسِّرْ مَا صَارَ بِهِ فَاسِقًا غَيْرَ مَقْبُولِ الشَّهَادَةِ.

Kepadanya dikatakan: Jelaskanlah apa yang menyebabkan seseorang menjadi fāsiq sehingga kesaksiannya tidak diterima.

فَإِنْ فَسَّرَهَا بِمَا لَا يَكُونُ فِسْقًا، رُدَّتْ دَعْوَاهُ وَحُكِمَ بِالشَّهَادَةِ عَلَيْهِ، وَإِنْ فَسَّرَهَا بِمَا يَكُونُ فِسْقًا، كُلِّفَ بِإِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ بِالْفِسْقِ الَّذِي ادَّعَاهُ، لِيَكُونَ الْفِسْقُ مُفَسَّرًا فِي الدَّعْوَى وَالشَّهَادَةِ فَإِنْ فَسَّرَهَا الْمُدَّعِي بِنَوْعٍ مِنَ الْفِسْقِ وَفَسَّرَهَا الْمَشْهُودُ بِنَوْعٍ آخَرَ، حُكِمَ بِالْفِسْقِ مَعَ اخْتِلَافِ سَبَبِهِ فِي الدَّعْوَى وَالشَّهَادَةِ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ ثُبُوتَ الْفِسْقِ، فَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيهِ اخْتِلَافُ أَنْوَاعِهِ إِذَا فُسِّقَ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، وَقَدْ يَعْلَمُ الشُّهُودُ مَا لَا يَعْلَمُهُ الْمُدَّعِي.

Jika ia menafsirkannya dengan sesuatu yang bukan kefasikan, maka gugatan tersebut ditolak dan diputuskan bahwa kesaksian berlaku atasnya. Namun jika ia menafsirkannya dengan sesuatu yang merupakan kefasikan, maka ia diwajibkan menghadirkan bukti atas kefasikan yang ia tuduhkan, agar kefasikan itu menjadi jelas dalam gugatan dan kesaksian. Jika penggugat menafsirkannya dengan satu jenis kefasikan dan yang disaksikan menafsirkannya dengan jenis lain, maka diputuskan adanya kefasikan meskipun sebabnya berbeda dalam gugatan dan kesaksian, karena yang dimaksud adalah terbuktinya kefasikan, sehingga perbedaan jenisnya tidak berpengaruh jika masing-masingnya memang merupakan kefasikan. Terkadang para saksi mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh penggugat.

فَأَمَّا الشَّهَادَةُ بِالتَّعْدِيلِ فَلَا تَحْتَاجُ إِلَى التَّفْسِيرِ، وَإِنْ كَانَ التَّفْسِيقُ مُحْتَاجًا إِلَى تَفْسِيرٍ، لِمَا قَدَّمْنَاهُ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ، لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun kesaksian tentang ta‘dil (penilaian adil) tidak memerlukan penjelasan, sedangkan tafsiq (penilaian fasiq) memang membutuhkan penjelasan, sebagaimana telah kami kemukakan menurut pendapat yang sahih dalam mazhab, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْعَدَالَةَ مُوَافَقَةُ أَصْلٍ فَاسْتَغْنَى عَنْ تَفْسِيرِ، وَالتَّفْسِيقُ مُخَالِفٌ لِلظَّاهِرِ فَاحْتَاجَ إِلَى تَفْسِيرٍ.

Salah satunya: Sesungguhnya keadilan itu sesuai dengan asal (hukum), sehingga tidak membutuhkan penjelasan, sedangkan tafsiq (penghukuman sebagai fasik) bertentangan dengan yang tampak (zahir), sehingga membutuhkan penjelasan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْعَدَالَةَ أَصْلٌ، وَالْفِسْقَ حَادِثٌ، وَالْحَادِثُ يَحْتَاجُ إِلَى تَفْسِيرٍ. وَالْمَعْدُومُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْسِيرٍ. كَمَنْ قَالَ: هَذَا الْمَاءُ طَاهِرٌ، لَمْ يُسْتَفْسَرْ عَنْ طَهَارَتِهِ، وَلَوْ قَالَ: هُوَ نَجِسٌ، استفسر عن نجاسته [والله أعلم] .

Kedua: Sesungguhnya keadilan adalah asal, sedangkan kefasikan adalah sesuatu yang baru muncul, dan sesuatu yang baru muncul memerlukan penjelasan. Adapun sesuatu yang tidak ada tidak memerlukan penjelasan. Seperti seseorang yang berkata: “Air ini suci,” maka tidak diminta penjelasan tentang kesuciannya. Namun jika ia berkata: “Air ini najis,” maka akan diminta penjelasan tentang kenajisannya. [Wallāhu a‘lam].

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوِ ادَّعَى عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَهَالَةِ بِحَدٍّ لَمْ أَرَ بَأْسًا أَنْ يُعَرِّضَ لَهُ بِأَنْ يَقُولَ لَعَلَّهُ لَمْ يَسْرِقْ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang menuduh seorang laki-laki dari kalangan orang awam dengan suatu hudud, aku tidak melihat masalah jika ia memberi isyarat kepadanya dengan mengatakan, ‘Barangkali ia tidak mencuri.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: الْحُقُوقُ ضَرْبَانِ:

Al-Mawardi berkata: Hak-hak itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، فَلَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يُعَرِّضَ لِلْمُقِرِّ بِالْإِنْكَارِ، وَلَا يَعْرِّضَ لِلشُّهُودِ بِالتَّوَقُّفِ، سَوَاءً كَانَ الْحَقُّ فِي مَالٍ أَوْ حَدٍّ، لِأَنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْحِفْظِ وَالِاحْتِيَاطِ، وَلِأَنَّ الْمُقِرَّ بِهَا لَوْ أَنْكَرَهَا لَمْ يُقْبَلْ إِنْكَارُهُ.

Salah satunya: Hak-hak yang berkaitan dengan manusia, maka tidak boleh bagi hakim untuk mendorong orang yang mengaku (terhadap suatu hak) agar mengingkarinya, dan juga tidak boleh mendorong para saksi untuk ragu atau berhenti bersaksi, baik hak tersebut berkaitan dengan harta maupun hudud, karena hak-hak manusia didasarkan pada prinsip penjagaan dan kehati-hatian, dan karena seseorang yang telah mengakuinya, jika kemudian mengingkarinya, maka pengingkarannya tidak diterima.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى الْمَحْضَةِ، كَالْحَدِّ فِي الزِّنَا وَالْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ. وَالْجَلَدِ فِي الْخَمْرِ، فَلَا يَخْلُو حَالُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مِنْ أَمْرَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu hak-hak Allah Ta‘ala yang murni, seperti hukuman had dalam kasus zina, pemotongan tangan dalam kasus pencurian, dan cambukan dalam kasus minum khamar. Maka keadaan orang yang dituduh tidak lepas dari dua kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِوُجُوبِ الْحَدِّ عَلَيْهِ إِنْ أَقَرَّ. فَيُمْسِكُ الْحَاكِمُ عن التعريض له بالإنكار، حتى يبتدىء فَيُقِرُّ أَوْ يُنْكِرُ، لِأَنَّ التَّعْرِيضَ لَا يَزِيدُهُ إِلَّا عِلْمًا بِوُجُوبِ الْحَدِّ إِنْ أَقَرَّ وَسُقُوطِهِ إِنْ أَنْكَرَ.

Salah satunya adalah bahwa ia harus mengetahui kewajiban had atas dirinya jika ia mengaku. Maka hakim menahan diri dari memberi isyarat kepadanya untuk mengingkari, hingga ia sendiri yang memulai dengan mengaku atau mengingkari, karena isyarat tersebut hanya akan menambah pengetahuannya tentang kewajiban had jika ia mengaku dan gugurnya had jika ia mengingkari.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْجَهَالَةِ بِوُجُوبِ الْحَدِّ، إِمَّا لِأَنَّه أَسْلَمُ قَرِيبًا، أَوْ لِأَنَّه مِنْ أَهَلَّ بَادِيَةٍ نَائِيَةٍ مِنْ جُفَاةِ الْأَعْرَابِ فَيَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يُعَرِّضَ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِالْإِنْكَارِ مِنْ غَيْرِ تَصْرِيحٍ، فَإِنْ كَانَ فِي الزِّنَا قَالَ لَهُ: لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ، أَوْ لَمَسْتَ كَمَا عَرَّضَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لْمَاعِزٍ حِينَ أَقَرَّ بِالزِّنَا فَقَالَ: ” لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ لَعَلَّكَ لَمَسْتَ “.

Kedua: Jika orang tersebut termasuk golongan yang tidak mengetahui kewajiban hudud, baik karena ia baru saja masuk Islam, atau karena ia berasal dari pedalaman yang jauh dari kalangan Arab badui yang kasar, maka hakim boleh memberi isyarat kepada terdakwa untuk mengingkari (perbuatannya) tanpa pernyataan yang tegas. Jika kasusnya adalah zina, hakim dapat berkata kepadanya: “Barangkali engkau hanya mencium, atau hanya menyentuh,” sebagaimana Nabi ﷺ memberi isyarat kepada Ma‘iz ketika ia mengakui perbuatan zina, lalu beliau bersabda: “Barangkali engkau hanya mencium, barangkali engkau hanya menyentuh.”

وَإِنْ كَانَ فِي حَدٍّ السَّرِقَةِ قال: لعلك سرقت من غير حرز.

Dan jika dalam perkara hudud pencurian, ia berkata: Barangkali engkau mencuri dari selain tempat penyimpanan yang terjaga.

وإن عَرَّضَ لَهُ بِأَنْ قَالَ: لَعَلَّكَ لَمْ تَسْرِقْ، وَكَانَتِ الدَّعْوَى مِنْ صَاحِبِ الْمَالِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعَرِّضَ لَهُ بِهَذَا، لِأَنَّ فِي تَعْرِيضِهِ بِهِ إِسْقَاطًا لِحَقِّهِ، وَإِنْ كَانَتْ مِنْ غَيْرِ صَاحِبِ الْمَالِ، جَازَ أَنْ يُعَرِّضَ لَهُ بِهِ.

Jika ia memberi sindiran kepadanya dengan berkata: “Barangkali kamu tidak mencuri,” dan gugatan itu berasal dari pemilik harta, maka tidak boleh ia menyindirnya dengan hal itu, karena dalam sindiran tersebut terdapat pengguguran haknya. Namun jika gugatan itu berasal dari selain pemilik harta, maka boleh ia menyindirnya dengan hal itu.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أُتِيَ بِسَارِقٍ فَقَالَ لَهُ: ” أَسَرَقْتَ أَمْ لَا ” وَإِنْ كَانَ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ قَالَ: لَعَلَّكَ لَمْ تَشْرَبْ، أَوْ قَالَ: لَعَلَّكَ لَمْ تَعْلَمْ أَنَّهُ مُسْكِرٌ أَوْ لَعَلَّكَ أُكْرِهْتَ عَلَى شُرْبِ الْمُسْكِرِ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ didatangkan seorang pencuri, lalu beliau bersabda kepadanya: “Apakah kamu mencuri atau tidak?” Dan jika (pelaku) dalam kasus minum khamar, beliau bersabda: “Barangkali kamu tidak meminumnya,” atau beliau bersabda: “Barangkali kamu tidak tahu bahwa itu memabukkan, atau barangkali kamu dipaksa untuk meminum minuman yang memabukkan.”

وَإِنَّمَا جَازَ التَّعْرِيضُ لِلْمُقِرِّ بِمَا يَتَنَبَّهُ بِهِ عَلَى الْإِنْكَارِ، لِأَنَّه مَنْدُوبٌ إِلَى السَّتْرِ عَلَى نَفْسِهِ فِيمَا ارْتَكَبَهُ، وَأَنْ يَسْتَغْفِرَ رَبَّهُ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِ لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ حَدَّ اللَّهِ “.

Diperbolehkannya memberikan sindiran kepada orang yang mengaku (melakukan dosa) dengan maksud agar ia sadar untuk mengingkari perbuatannya, karena ia dianjurkan untuk menutupi aib dirinya atas apa yang telah dilakukannya, dan agar ia memohon ampun kepada Tuhannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa melakukan sesuatu dari perbuatan keji ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup Allah, karena siapa yang menampakkan perbuatannya kepada kami, maka kami akan menegakkan hudud Allah atasnya.”

وَلَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يُصَرِّحَ لَهُ بِالْإِنْكَارِ فَيَقُولُ لَهُ: قُلْ مَا زَنَيْتَ، وَلَا سَرَقْتُ، وَلَا شَرِبْتُ. أَوْ يَقُولُ لَهُ: أَنْكِرْ وَلَا تُقِرَّ، لِحَظْرِ التَّصْرِيحِ فِي إِسْقَاطِ الْحُدُودِ، لِأَنَّه قَدْ يُلَقِّنُهُ الْكَذِبَ. وَيَأْمُرُهُ بِهِ.

Tidak boleh bagi hakim untuk secara terang-terangan menyuruhnya mengingkari, seperti mengatakan kepadanya: “Katakanlah: saya tidak berzina, saya tidak mencuri, saya tidak minum (khamr),” atau mengatakan kepadanya: “Inkarilah dan jangan mengakui,” karena dilarang secara terang-terangan dalam menggugurkan hudud, sebab hal itu bisa saja membuatnya diajari untuk berbohong dan memerintahkannya untuk melakukannya.

فَأَمَّا تَعْرِيضُ الْحَاكِمِ لِلشُّهُودِ بِالتَّوَقُّفِ عَنِ الشَّهَادَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ: –

Adapun isyarat hakim kepada para saksi agar menahan diri dari memberikan kesaksian, para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehannya menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِأَنَّه يَقْدَحُ فِي شَهَادَتِهِمْ.

Salah satunya: tidak boleh karena hal itu merusak kesaksian mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” هَلَّا سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ يَا هَزَّالُ “.

Pendapat kedua: Boleh, karena Nabi ﷺ bersabda, “Mengapa engkau tidak menutupinya dengan pakaianmu, wahai Hazzal?”

وَقَالَ عُمَرُ لِزِيَادٍ حِينَ حَضَرَ لِشَهَادَتِهِ عَلَى الْمُغِيرَةِ بِالزِّنَا: أَيُّهُمَا يَا سَلْحَ الْعُقَابِ أَرْجُو أَنْ لَا يَفْضَحَ اللَّهُ عَلَى يَدِكَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَنَبَّهَ عَلَى تَعْرِيضِهِ فَلَمْ يُصَرِّحْ فِي شَهَادَتِهِ بِدُخُولِ الذَّكَرِ فِي الْفَرْجِ، فَلَمْ تَكْمُلْ بِهِ الشَّهَادَةُ فِي الزِّنَا.

Umar berkata kepada Ziyad ketika ia hadir untuk memberikan kesaksiannya atas al-Mughirah dalam kasus zina: “Yang mana di antara kalian, wahai Salh al-‘Uqab, aku berharap Allah tidak akan membongkar aib salah satu sahabat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melalui tanganmu.” Maka ia memberi isyarat atas sindirannya, sehingga Ziyad tidak secara tegas menyatakan dalam kesaksiannya tentang masuknya zakar ke dalam farji, sehingga kesaksian dalam perkara zina tidak menjadi sempurna karenanya.

وَهَذَا التَّعْرِيضُ بِالْإِنْكَارِ جَائِزٌ مُبَاحٌ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهُوَ حَسَبُ رَأْيِ الْحَاكِمِ وَاجْتِهَادِهِ.

Sindiran dengan bentuk pengingkaran ini diperbolehkan dan mubah, tidak wajib dan tidak pula mustahab, melainkan tergantung pada pendapat dan ijtihad hakim.

وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَمْ أَرَ بَأْسًا بِهِ، لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَرَّضَ لِمَاعِزٍ وَلَمْ يُعَرِّضْ لِلْغَامِدِيَّةِ. وَقَالَ: ” اغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا ” فَعَرَّضَ فِي الْأَقَلِّ وَلَمْ يَعْرِّضْ فِي الْأَكْثَرِ.

Imam Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Aku tidak melihat adanya masalah dalam hal ini, karena Nabi ﷺ telah memberi isyarat kepada Ma‘iz namun tidak memberi isyarat kepada wanita Ghamidiyah. Beliau bersabda: ‘Pergilah, wahai Unais, kepada istri orang ini. Jika ia mengakui, maka rajamlah ia.’ Maka beliau memberi isyarat pada perkara yang lebih ringan dan tidak memberi isyarat pada perkara yang lebih berat.”

فَإِنْ نَبَّهَ بِالتَّعْرِيضِ عَلَى الْإِنْكَارِ فَأَنْكَرَ، فَإِنْ لَمْ يَتَقَدَّمْهُ إِقْرَارٌ، قُبِلَ إِنْكَارِهِ فِي جَمِيعِ الْحُدُودِ وَلَمْ يُسْتَحْلَفْ عَلَى الْإِنْكَارِ، فَإِنْ تَقَدَّمَ مِنْهُ الْإِقْرَارُ قَبْلَ الْإِنْكَارِ سَقَطَ حَدُّ الزِّنَا، وَلَمْ يَسْقُطْ عَنْهُ غُرْمُ الْمَالِ الْمَسْرُوقِ، وَفِي سُقُوطِ قَطْعِ الْيَدِ وَحَدِّ الْخَمْرِ قَوْلَانِ. يَسْقُطُ فِي أَصَحِّهِمَا، وَلَا يَسْقُطُ فِي الْآخَرِ.

Jika seseorang diberi isyarat secara tidak langsung untuk mengingkari, lalu ia mengingkari, maka jika sebelumnya tidak ada pengakuan darinya, pengingkarannya diterima dalam semua kasus hudud dan ia tidak disumpah atas pengingkarannya. Namun, jika sebelumnya ia telah mengakui sebelum mengingkari, maka had zina gugur darinya, tetapi ia tetap wajib mengganti harta yang dicuri. Adapun mengenai gugurnya hukuman potong tangan dan had khamar, terdapat dua pendapat: menurut pendapat yang paling sahih, hukuman tersebut gugur, sedangkan menurut pendapat lainnya, tidak gugur.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الشَّهَادَةِ فِي السَّرِقَةِ] )

(Pembahasan tentang perbedaan kesaksian dalam kasus pencurian)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَا بِأَنَّهُ سَرَقَ مِنْ هَذَا الْبَيْتِ كَبْشًا لِفُلَانٍ فَقَالَ أَحَدُهُمَا غُدْوَةً وَقَالَ الْآخَرُ عَشِيَّةً أَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا الْكَبْشُ أَبْيَضُ وَقَالَ الْآخَرُ أَسْوَدُ لَمْ يُقْطَعْ حَتَّى يَجْتَمِعَا وَيَحْلِفَ مَعَ شَاهِدِهِ أَيُّهُمَا شَاءَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang bersaksi bahwa seseorang telah mencuri seekor domba dari rumah ini milik si Fulan, lalu salah satu dari mereka bersaksi pada pagi hari dan yang lainnya pada sore hari, atau salah satu dari mereka mengatakan dombanya berwarna putih dan yang lainnya mengatakan berwarna hitam, maka tidak dipotong (tangan pencuri) sampai keduanya sepakat, dan salah satu dari mereka boleh bersumpah bersama saksi yang lain, siapa saja yang dia kehendaki.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي صُورَةِ الشَّهَادَةِ، فَرَوَاهَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا أَنَّهُمَا شَهِدَا أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كِيسًا، إِشَارَةً إِلَى كِيسِ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ.

Al-Mawardi berkata: Terdapat perbedaan riwayat mengenai bentuk kesaksian, sebagian ulama kami meriwayatkan bahwa keduanya bersaksi bahwa ia telah mencuri darinya sebuah kantong, yang dimaksud adalah kantong berisi dirham dan dinar.

وَرَوَاهَا أَكْثَرُهُمْ إِنَّهُمَا شَهْدَا أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا، إِشَارَةً إِلَى كبش الغنم، وهذه الرواية أصح لأمرين:

Dan kebanyakan dari mereka meriwayatkan bahwa keduanya bersaksi bahwa ia telah mencuri darinya seekor domba, sebagai isyarat kepada domba kambing, dan riwayat ini lebih sahih karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ كِيسَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ شَهَادَةٌ بِمَجْهُولٍ، وَكَبْشُ الْغَنَمِ شَهَادَةٌ بِمَعْلُومٍ.

Salah satunya: bahwa kantong berisi dirham dan dinar adalah kesaksian atas sesuatu yang tidak diketahui, sedangkan domba dari kambing adalah kesaksian atas sesuatu yang diketahui.

وَالثَّانِي: إِنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي الْأُمِّ: وَلَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ أَقْرَنُ، وَقَالَ الْآخَرُ إِنَّهُ أَجَّمُ، وَقَالَ أَحَدُهُمَا إنه كبش، وقال الآخرة نَعْجَةٌ وَهَذَا مِنْ أَوْصَافِ الْغَنَمِ.

Kedua: Sesungguhnya asy-Syafi‘i berkata dalam kitab al-Umm: Jika salah satu dari keduanya berkata bahwa hewan itu adalah aqran, dan yang lain berkata bahwa itu adalah ajjam, dan salah satu dari keduanya berkata bahwa itu adalah domba jantan, sedangkan yang lain berkata bahwa itu adalah domba betina, maka ini termasuk dalam sifat-sifat kambing.

فَإِذَا شَهِدَ الشَّاهِدَانِ بِسَرِقَةِ الْكَبْشِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: سَرَقَهُ غَدْوَةً، وَقَالَ الْآخَرُ: سَرَقَهُ عَشِيَّةً، أَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا: هُوَ أَبْيَضُ، وَقَالَ الْآخَرُ: هُوَ أَسْوَدُ، لَمْ تَتَّفِقْ شَهَادَتُهُمَا عَلَى سَرِقَةٍ وَاحِدَةٍ، لِأَنَّ السَّرِقَةَ غَدْوَةً غَيْرُ السَّرِقَةِ عَشِيَّةً، وَالْمَسْرُوقُ الْأَبْيَضُ غَيْرُ الْمَسْرُوقِ الْأَسْوَدِ.

Jika dua orang saksi memberikan kesaksian tentang pencurian seekor domba, lalu salah satu dari mereka berkata, “Ia mencurinya pada pagi hari,” dan yang lainnya berkata, “Ia mencurinya pada sore hari,” atau salah satu dari mereka berkata, “Dombanya berwarna putih,” dan yang lainnya berkata, “Dombanya berwarna hitam,” maka kesaksian keduanya tidak dianggap sepakat atas satu peristiwa pencurian. Sebab, pencurian pada pagi hari berbeda dengan pencurian pada sore hari, dan domba yang dicuri yang berwarna putih berbeda dengan domba yang dicuri yang berwarna hitam.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ: إِنَّ الشَّهَادَةَ بِالْبَيَاضِ وَالسَّوَادِ غَيْرُ مُخْتَلِفَةٍ، لِأَنَّه يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُ جَانِبَيِ الْكَبْشِ أَبْيَضُ وَجَانِبُهُ الْآخَرُ أَسْوَدُ، فَيَرَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَا إِلَى جَانِبِهِ فَيَصِفُهُ بِهِ. وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَمْرَيْنِ:

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa kesaksian mengenai warna putih dan hitam tidak dianggap berbeda, karena mungkin saja salah satu sisi domba itu berwarna putih dan sisi lainnya berwarna hitam, sehingga masing-masing saksi melihat sisi yang ada di hadapannya lalu menggambarkannya sesuai dengan yang dilihatnya. Namun, pendapat ini tidak benar karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنْ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَشْهَدُ بِصِفَةِ جَمِيعِهِ، وَهَذَا التَّأْوِيلُ يُنَافِيهَا.

Salah satunya: bahwa masing-masing dari keduanya memberikan kesaksian dengan sifat seluruhnya, dan takwil ini bertentangan dengannya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ تَأْوِيلُ شَهَادَةٍ مُحْتَمِلَةٍ بِمَا بَعْدَ تَأْوِيلِهَا، وَالشَّهَادَةُ لَا يُحْكَمُ بِهَا إِلَّا مَعَ انْتِفَاءِ التَّأْوِيلِ عَنْهَا.

Kedua: Sesungguhnya itu adalah penafsiran atas sebuah kesaksian yang masih mengandung kemungkinan setelah penafsirannya, dan kesaksian tidak dapat dijadikan dasar hukum kecuali jika penafsiran tersebut telah hilang darinya.

فَثَبَتَ أَنَّ شَهَادَتَهُمَا غَيْرُ مُتَّفِقَةٍ عَلَى سَرِقَةٍ وَاحِدَةٍ، فَلَمْ تَكْمُلْ بِهِمَا بَيِّنَةٌ تُوجِبُ غُرْمًا وَلَا قَطْعًا.

Maka telah tetap bahwa kesaksian keduanya tidak sepakat atas satu pencurian, sehingga dengan keduanya tidak terpenuhi bukti yang mewajibkan ganti rugi maupun pemotongan (tangan).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنِ اخْتِلَافِ هَذِهِ الشَّهَادَةِ، فَاخْتِلَافُهُمَا عَلَى أربعة أقسام:

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan mengenai perbedaan kesaksian ini, maka perbedaan keduanya terbagi menjadi empat bagian:

أحدهما: أن تكمل كل واحدة من الشهادتين مع عَدَمِ التَّعَارُضِ فِيهِمَا، وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Pertama: bahwa masing-masing dari dua syahadat itu sempurna tanpa adanya pertentangan di antara keduanya, dan hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَخْتَلِفَ الْمَسْرُوقُ مَعَ الْإِطْلَاقِ.

Salah satunya adalah apabila barang yang dicuri berbeda secara mutlak.

وَالثَّانِي: أَنْ يَخْتَلِفَ الزَّمَانُ مَعَ الِاتِّفَاقِ.

Kedua: yaitu apabila waktu berbeda meskipun terdapat kesamaan.

فَأَمَّا اخْتِلَافُ الْمَسْرُوقِ مَعَ الْإِطْلَاقِ، فَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا أَبْيَضَ، وَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ آخَرَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا أَسْوَدَ، فَيُحْكَمُ لَهُ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْيَضُ بِالشَّهَادَةِ الْأَوْلَى، وَالثَّانِي أَسْوَدُ بِشَهَادَةِ الْآخَرِينَ وَلَيْسَ فِيهِمَا تَعَارُضٌ.

Adapun perbedaan barang yang dicuri dengan penyebutan secara mutlak adalah, misalnya dua orang saksi bersaksi bahwa ia mencuri seekor domba putih darinya, lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia mencuri seekor domba hitam darinya. Maka diputuskan baginya berdasarkan kedua kesaksian tersebut bahwa ia telah mencuri dua ekor domba, salah satunya putih berdasarkan kesaksian pertama, dan yang kedua hitam berdasarkan kesaksian kedua, dan tidak terdapat pertentangan di antara keduanya.

وَأَمَّا اخْتِلَافُ الزَّمَانِ مَعَ الِاتِّفَاقِ، وَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ كَبْشًا أَبْيَضَ، وَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ آخَرَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ فِي آخِرِ النَّهَارِ كبشا أبيض،

Adapun perbedaan waktu dengan adanya kesesuaian, yaitu ketika dua orang saksi bersaksi bahwa seseorang telah mencuri seekor domba jantan putih darinya pada awal hari, lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia telah mencuri seekor domba jantan putih darinya pada akhir hari.

فَيُحْكَمُ لَهُ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشَيْنِ أَبْيَضَيْنِ، لِأَنَّ السَّرِقَةَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ غَيْرُ السرقة في آخر النهار فلم تكن فِيهِمَا تَعَارُضٌ.

Maka diputuskan baginya dengan dua kesaksian bahwa ia telah mencuri dua ekor domba jantan putih darinya, karena pencurian di awal hari berbeda dengan pencurian di akhir hari, sehingga tidak terdapat pertentangan di antara keduanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ تَكْمُلَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ مَعَ وُجُودِ التَّعَارُضِ فِيهِمَا وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian kedua: yaitu masing-masing dari dua kesaksian itu sempurna, meskipun terdapat pertentangan di antara keduanya, dan hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ السَّرِقَةُ وَاحِدَةٌ فِي زَمَانَيْنِ.

Salah satunya adalah pencurian yang sama terjadi pada dua waktu yang berbeda.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الزَّمَانُ وَاحِدًا فِي السَّرِقَتَيْنِ.

Kedua: Waktu terjadinya kedua pencurian tersebut haruslah sama.

وَأَمَّا السَّرِقَةُ الْوَاحِدَةُ فِي زَمَانَيْنِ فَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا أَبْيَضَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، وَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ آخَرَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ ذَلِكَ الْكَبْشَ الْأَبْيَضَ فِي آخِرِ النَّهَارِ. فَهُمَا شَهَادَتَانِ مُتَعَارِضَتَانِ، لِأَنَّ الْمَسْرُوقَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ غَيْرُ الْمَسْرُوقِ فِي آخِرِهِ. وَالْمَسْرُوقَ فِي آخِرِهِ غَيْرُ الْمَسْرُوقِ فِي أَوَّلِهِ، فَأَوْجَبَ هَذَا التَّعَارُضُ إِسْقَاطَ الشَّهَادَتَيْنِ، وَلَمْ تَثْبُتِ السَّرِقَةُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُمَا.

Adapun pencurian yang sama pada dua waktu yang berbeda adalah seperti dua orang saksi bersaksi bahwa ia mencuri seekor domba jantan putih darinya pada awal hari, lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia mencuri domba jantan putih yang sama darinya pada akhir hari. Maka kedua kesaksian tersebut saling bertentangan, karena barang yang dicuri pada awal hari berbeda dengan barang yang dicuri pada akhir hari, dan barang yang dicuri pada akhir hari berbeda dengan barang yang dicuri pada awal hari. Pertentangan ini menyebabkan kedua kesaksian tersebut gugur, sehingga pencurian tidak dapat dibuktikan dengan salah satu dari keduanya.

وَأَمَّا الزَّمَانُ الْوَاحِدُ فِي سَرِقَتَيْنِ، فَهُوَ أَنْ يشهد شاهدان أنه سرقه مِنْهُ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ كَبْشًا أَبْيَضَ، وَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ آخَرَانِ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ كَبْشًا أَسْوَدَ. فَهُمَا شَهَادَتَانِ مُتَعَارِضَتَانِ، لِأَنَّ الْأَبْيَضَ غَيْرُ الْأَسْوَدِ. فَصَارَتِ الشَّهَادَتَانِ مَعَ اتِّفَاقِ الزمان متعارضتين فسقطتا، ولم يحكم واحدة مِنْهُمَا.

Adapun waktu yang sama dalam dua kasus pencurian, yaitu apabila dua orang saksi bersaksi bahwa ia mencuri darinya seekor domba putih saat matahari terbit, dan dua saksi lain bersaksi bahwa ia mencuri darinya seekor domba hitam saat matahari terbit. Maka kedua kesaksian itu saling bertentangan, karena yang putih berbeda dengan yang hitam. Maka kedua kesaksian itu, meskipun waktunya sama, menjadi saling bertentangan sehingga keduanya gugur, dan tidak diputuskan dengan salah satu dari keduanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَنْتَقِضَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ مَعَ عَدَمِ التَّعَارُضِ فِيهِمَا. وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Bagian ketiga: yaitu apabila salah satu dari dua syahadat batal tanpa adanya pertentangan di antara keduanya. Dan hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ السَّرِقَةُ مُطْلَقَةٌ فِي زَمَانَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa pencurian itu bersifat mutlak pada dua waktu.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الزَّمَانُ مُطْلَقًا فِي سَرِقَتَيْنِ.

Kedua: waktu dalam dua pencurian itu bersifat mutlak.

وَأَمَّا السَّرِقَةُ الْمُطْلَقَةُ فِي زَمَانَيْنِ فَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدٌ وَاحِدٌ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، وَيَشْهَدُ شَاهِدٌ آخَرُ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا فِي آخِرِ النَّهَارِ.

Adapun pencurian mutlak pada dua waktu adalah ketika seorang saksi bersaksi bahwa ia telah mencuri seekor domba darinya pada awal hari, dan saksi lain bersaksi bahwa ia telah mencuri seekor domba darinya pada akhir hari.

فَلَمْ تَكْمُلُ بِهِمَا الشَّهَادَةُ لِاخْتِلَافِ الزَّمَانَيْنِ، وَلَا تَعَارَضَتْ لِإِمْكَانِ السَّرِقَتَيْنِ، وَيُقَالُ لِلْمَسْرُوقِ مِنْهُ لَكَ أَنْ تَحْلِفَ مَعَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّاهِدَيْنِ وَيُحْكَمُ لَكَ بِسَرِقَةِ كَبْشَيْنِ، إِنْ كُنْتَ مُدَّعِيًا لَهُمَا، وَلَا قَطْعَ عَلَى السَّارِقِ، لِأَنَّ الْقَطْعَ حَدٌّ لَا يَجِبُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ وَإِنْ وَجَبَ بِهِ الْغُرْمُ.

Maka kesaksian dengan dua orang saksi tersebut tidak sempurna karena perbedaan waktu kejadian, dan tidak saling bertentangan karena memungkinkan terjadinya dua pencurian. Kepada orang yang kehilangan barang dikatakan: “Kamu boleh bersumpah bersama masing-masing dari kedua saksi itu, dan akan diputuskan untukmu hak atas dua ekor domba yang dicuri, jika kamu memang mengaku memiliki keduanya.” Namun, tidak ada hukuman potong tangan bagi pencuri, karena hukuman potong tangan adalah hudud yang tidak dapat ditetapkan hanya dengan saksi dan sumpah, meskipun dengan keduanya dapat ditetapkan kewajiban ganti rugi.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ تُنْقَضَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ مَعَ وُجُودِ التَّعَارُضِ فِيهِمَا. وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Bagian keempat: yaitu apabila masing-masing dari dua kesaksian dibatalkan karena adanya pertentangan di antara keduanya. Dan hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ السَّرِقَةُ مُعَيَّنَةٌ فِي زَمَانَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa pencurian tersebut terjadi secara spesifik pada dua waktu.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الزَّمَانُ مُعَيَّنًا فِي سَرِقَتَيْنِ.

Kedua: waktu terjadinya harus ditentukan pada dua pencurian tersebut.

فَأَمَّا السَّرِقَةُ الْمُعَيَّنَةُ فِي زَمَانَيْنِ، فَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدٌ وَاحِدٌ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا أَبْيَضَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، وَيَشْهَدُ شَاهِدٌ آخَرُ أَنَّهُ سَرَقَ هَذَا الْكَبْشَ الْأَبْيَضَ فِي آخِرِ النَّهَارِ.

Adapun pencurian tertentu yang terjadi pada dua waktu, yaitu ketika seorang saksi bersaksi bahwa ia mencuri seekor domba jantan putih darinya pada awal hari, dan saksi lain bersaksi bahwa ia mencuri domba jantan putih ini pada akhir hari.

وَأَمَّا الزَّمَانُ الْمُعَيَّنُ فِي سَرِقَتَيْنِ، فَهُوَ أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدٌ وَاحِدٌ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ كَبْشًا أَسْوَدَ وَيَشْهَدُ شَاهِدٌ آخَرُ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بِعَيْنِهِ مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ كَبْشَا أَبْيَضَ.

Adapun waktu tertentu dalam dua kasus pencurian adalah ketika seorang saksi bersaksi bahwa ia mencuri darinya seekor domba jantan hitam saat matahari terbit, dan saksi lain bersaksi bahwa ia mencuri darinya pada waktu yang sama persis, saat matahari terbit, seekor domba jantan putih.

فَقَدِ اخْتَلَفَتْ شَهَادَةُ الشَّاهِدَيْنِ فِي كِلَا الضَّرْبَيْنِ، وَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ هَلْ يَكُونُ تَعَارُضًا يُوجِبُ سُقُوطَ الشَّهَادَتَيْنِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Telah terjadi perbedaan kesaksian antara dua orang saksi dalam kedua jenis perkara tersebut, dan para ulama kami pun berbeda pendapat mengenai perbedaan ini: apakah hal itu merupakan pertentangan yang menyebabkan gugurnya kedua kesaksian tersebut atau tidak? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْأَظْهَرُ عِنْدِي، أَنَّهُ يَكُونُ تَعَارُضًا فِيهِمَا يُوجِبُ سُقُوطُهُمَا، كَمَا يَتَعَارَضُ مَعَ كَمَالِ الشَّهَادَتَيْنِ، فَعَلَى هَذَا لَيْسَ لِلْمَسْرُوقِ مِنْهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الشَّاهِدَيْنِ لِسُقُوطِ شَهَادَتِهِمَا بِالتَّعَارُضِ.

Salah satu pendapat, dan inilah yang menurutku lebih kuat, adalah bahwa terdapat pertentangan di antara keduanya yang menyebabkan keduanya gugur, sebagaimana halnya jika bertentangan dengan kesempurnaan dua kesaksian. Maka, berdasarkan pendapat ini, orang yang kehilangan barang curian tidak boleh bersumpah bersama masing-masing dari kedua saksi tersebut, karena kesaksian mereka telah gugur akibat pertentangan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ: إِنَّهُ لَا تَعَارُضَ فِيهِمَا، لِأَنَّ التَّعَارُضَ يَكُونُ فِي الْبَيِّنَةِ الْكَامِلَةِ دُونَ النَّاقِصَةِ، لِأَنَّ الْكَامِلَةَ حَجَّةٌ بِذَاتِهَا وَالنَّاقِصَةَ حِجَّةٌ مَعَ غَيْرِهَا، فَتَرَجَّحَتْ ذَاتُ الْيَمِينِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Hamid al-Isfarayini, menyatakan bahwa tidak ada pertentangan di antara keduanya, karena pertentangan hanya terjadi pada bayyinah yang sempurna, bukan yang kurang. Sebab, bayyinah yang sempurna menjadi hujjah dengan sendirinya, sedangkan yang kurang menjadi hujjah bersama dengan yang lain, sehingga yang disertai sumpah lebih kuat.

فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَ الِاخْتِلَافُ فِي السَّرِقَةِ الْمُعَيَّنَةِ فِي زَمَانَيْنِ، حَلَفَ مَعَ أَيِّهِمَا شَاءَ وَاسْتَحَقَّ كَبْشًا وَاحِدًا، وَإِنْ كَانَ الِاخْتِلَافُ فِي الزَّمَانِ الْمُعَيَّنِ فِي سَرِقَتَيْنِ كَانَ لَهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَيَسْتَحِقَّ كَبْشَيْنِ.

Maka berdasarkan hal ini, jika perselisihan terjadi pada pencurian tertentu dalam dua waktu yang berbeda, ia boleh bersumpah dengan salah satu dari keduanya yang ia kehendaki dan berhak mendapatkan satu ekor domba. Namun jika perselisihan terjadi pada waktu tertentu atas dua pencurian, maka ia boleh bersumpah dengan masing-masing dari keduanya dan berhak mendapatkan dua ekor domba.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الشُّهُودِ فِي قَدْرِ الْمَالِ الْمَسْرُوقِ] )

(Pembahasan tentang perbedaan pendapat para saksi dalam jumlah harta yang dicuri)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا شَهِدَ لَهُ شَاهِدٌ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشًا، وَشَهِدَ لَهُ ثَانٍ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ كَبْشَيْنِ، وَشَهِدَ لَهُ ثَالِثٌ أَنَّهُ سَرَقَ مِنْهُ ثلاث كباشي، كَمُلَتْ لَهُ الْبَيِّنَةُ بِسَرِقَةِ كَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا بِشَهَادَةِ الْأَوَّلِ وَالثَّانِي لِاتِّفَاقِهِمَا عَلَيْهِ، وَالثَّانِي بِشَهَادَةِ الثَّانِي، وَالثَّالِثِ لِاتِّفَاقِهِمَا عَلَيْهِ وَيُفْرَدُ الثَّالِثُ بِسَرِقَةِ كَبْشٍ ثَالِثٍ، فَإِنْ حَلَفَ مَعَهُ اسْتَحَقَّ الْكَبْشَ الثَّالِثَ، وَوَجَبَ قَطْعُ السَّارِقِ لِكَمَالِ الْبَيِّنَةِ بِسَرِقَةِ الْكَبْشَيْنِ.

Apabila ada seorang saksi yang bersaksi bahwa seseorang telah mencuri seekor domba darinya, lalu saksi kedua bersaksi bahwa ia mencuri dua ekor domba darinya, dan saksi ketiga bersaksi bahwa ia mencuri tiga ekor domba darinya, maka telah sempurna baginya bukti atas pencurian dua ekor domba: salah satunya berdasarkan kesaksian saksi pertama dan kedua karena keduanya sepakat atas hal itu, dan yang kedua berdasarkan kesaksian saksi kedua dan ketiga karena keduanya sepakat atas hal itu. Adapun yang ketiga, ia sendiri bersaksi atas pencurian domba ketiga; jika ia bersumpah bersamanya, maka ia berhak atas domba ketiga tersebut. Dan wajib dipotong tangan pencuri karena telah sempurna bukti atas pencurian dua ekor domba.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الشَّهَادَةِ فِي الْقَذْفِ وَالْقَتْلِ] )

(Pembahasan tentang perbedaan kesaksian dalam kasus qadzaf dan pembunuhan)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ شَهِدَ لَهُ شَاهِدَانِ بِالْقَذْفِ وَاخْتَلَفَا فِي صِفَتِهِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: قَذَفَهُ غُدْوَةً، وَقَالَ الْآخَرُ قَذَفَهُ عَشِيَّةً، أَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا: قَذَفَهُ بِالْبَصْرَةِ، وَقَالَ الْآخَرُ قَذْفَهُ بِالْكُوفَةِ لَمْ تُكْمُلْ بِهِمَا شَهَادَةُ الْقَذْفِ، لِأَنَّهمَا قَذْفَانِ لَمْ يَشْهَدْ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا شَاهِدَانِ، وَلَيْسَ لِلْمَقْذُوفِ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، لِأَنَّ الْقَذْفَ حَدٌّ لَا يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Jika ada dua orang saksi yang bersaksi atas tuduhan qadzaf terhadap seseorang, namun mereka berbeda dalam sifat kejadian tersebut, misalnya salah satu dari mereka berkata: “Ia menuduhnya pada pagi hari,” dan yang lain berkata: “Ia menuduhnya pada sore hari,” atau salah satu berkata: “Ia menuduhnya di Basrah,” dan yang lain berkata: “Ia menuduhnya di Kufah,” maka kesaksian qadzaf tidak sempurna dengan keduanya. Sebab, itu berarti ada dua tuduhan qadzaf yang berbeda, dan tidak ada dua saksi yang bersaksi atas salah satunya. Orang yang dituduh (maqdzuf) juga tidak berhak bersumpah bersama salah satu dari mereka, karena qadzaf adalah hudud yang tidak dapat ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah.

وَلَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا: قَذَفَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ، وَقَالَ الْآخَرُ: قَذَفَهُ بِالْفَارِسِيَّةِ، فَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى سَمَاعِ الْقَذْفِ، فَهِيَ شَهَادَةٌ عَلَى قَذْفَيْنِ لَمْ تَكْمُلِ الْبَيِّنَةُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى إِقْرَارِ الْقَاذِفِ، أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدَ أَحَدِهِمَا أَنَّهُ قَذَفَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَقَرَّ عِنْدَ الْآخَرِ أَنَّهُ قَذَفَهُ بِالْفَارِسِيَّةِ، فَقَدْ ذَكَرَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ فِيهِ وَجْهَيْنِ:

Jika salah satu dari keduanya berkata: “Ia menuduhnya dengan bahasa Arab,” dan yang lain berkata: “Ia menuduhnya dengan bahasa Persia,” maka jika kesaksian itu atas dasar mendengar tuduhan, maka itu adalah kesaksian atas dua tuduhan yang berbeda sehingga tidak sempurna pembuktian dengan salah satu dari keduanya. Namun, jika kesaksian itu atas dasar pengakuan penuduh, bahwa ia mengakui di hadapan salah satu dari mereka bahwa ia menuduhnya dengan bahasa Arab, dan mengakui di hadapan yang lain bahwa ia menuduhnya dengan bahasa Persia, maka Abu Sa‘id al-Ishthakhri menyebutkan dalam hal ini dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا قَذْفَانِ لَا تَتِمُّ الشَّهَادَةُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا كَمَا لَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا: أَقَرَّ عِنْدِي أنه قذفهما بالبصرة، وقال الآخر: أنه أَقَرَّ عِنْدِي أَنَّهُ قَذَفَهُمَا بِالْكُوفَةِ.

Salah satunya: bahwa keduanya adalah dua tuduhan (qadzaf) yang tidak sempurna persaksiannya dengan salah satu dari keduanya, seperti jika salah satu dari mereka berkata: “Ia mengakui kepadaku bahwa ia menuduh mereka di Basrah,” dan yang lain berkata: “Ia mengakui kepadaku bahwa ia menuduh mereka di Kufah.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّ الشَّهَادَةَ كَامِلَةٌ مَعَ اخْتِلَافِ اللَّفْظَيْنِ وَإِنْ لَمْ تَكْمُلْ مَعَ اخْتِلَافِ الْبَلَدَيْنِ وَاخْتِلَافِ الزَّمَانَيْنِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya kesaksian itu tetap sempurna meskipun terdapat perbedaan dalam lafaz, meskipun tidak sempurna apabila terdapat perbedaan negara atau perbedaan waktu.

وَلَا أَجِدُ لِهَذَا الْوَجْهِ فِي الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَجْهًا.

Dan aku tidak menemukan alasan yang dapat membedakan antara keduanya.

وَلَوْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي الْقَتْلِ، فَشَهِدَ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ قَتَلَهُ بِالْبَصْرَةِ، وَشَهِدَ الْآخَرُ أَنَّهُ قَتَلَهُ بِالْكُوفَةِ. فَإِنْ كَانَ قَتْلٌ عَمْدًا فَالشَّهَادَةُ مَطْرُوحَةٌ، وَإِنْ كَانَ قَتْلٌ خَطَأٌ فَفِي تَعَارُضِهِمَا وَجْهَانِ:

Dan jika kesaksian itu dalam perkara pembunuhan, lalu salah satu dari keduanya bersaksi bahwa ia membunuhnya di Basrah, dan yang lain bersaksi bahwa ia membunuhnya di Kufah, maka jika pembunuhan itu disengaja, kesaksian tersebut ditolak. Namun jika pembunuhan itu tidak disengaja, maka dalam pertentangan keduanya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَتَعَارَضَانِ وَيَسْقُطَانِ.

Salah satunya: keduanya saling bertentangan dan gugur.

وَالثَّانِي: يَحْلِفُ مَعَ أَيِّهِمَا شَاءَ.

Yang kedua: ia boleh bersumpah bersama siapa saja di antara keduanya yang ia kehendaki.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الْبَيِّنَاتِ فِي قيمة المسروق] )

(Pembahasan tentang perbedaan bukti dalam nilai barang yang dicuri)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ اثْنَانِ أَنَّهُ سَرَقَ ثَوْبَ كَذَا وَقِيمَتُهُ رُبُعُ دِينَارٍ وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ سَرَقَ ذَلِكَ الثَّوْبَ بِعَيْنِهِ وَأَنَّ قِيمَتَهُ أَقَلُّ مِنْ رُبُعِ دِينَارٍ فَلَا قَطْعَ وَهَذَا مِنْ أَقْوَى مَا تُدْرَأُ بِهِ الْحُدُودِ وَيَأْخُذُهُ بِأَقَلِّ الْقِيَمَتَيْنِ فِي الْغُرْمِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang bersaksi bahwa ia mencuri kain tertentu dan nilainya seperempat dinar, lalu dua orang lain bersaksi bahwa ia mencuri kain yang sama persis namun nilainya kurang dari seperempat dinar, maka tidak dikenakan hukuman potong tangan. Ini termasuk alasan terkuat yang dapat menggugurkan penerapan ḥudūd, dan ia diwajibkan mengganti dengan nilai yang lebih rendah dari dua nilai tersebut dalam pembayaran ganti rugi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَاتَانِ بَيِّنَتَانِ اتَّفَقَتَا عَلَى سَرِقَةِ ثَوْبٍ بِعَيْنِهِ وَاخْتَلَفَتَا فِي قِيمَتِهِ، فَشَهِدَ اثْنَانِ أَنَّ قِيمَتَهُ رُبُعُ دِينَارٍ ” تُقْطَعُ فيه اليد “، وشهد اثنان أن قيمته سدس دِينَارٍ لَا تَقْطَعُ فِيهِ الْيَدُ، فَلَا تَعَارُضَ فِي الشَّهَادَتَيْنِ وَإِنِ اخْتَلَفَتَا فِي الْقِيمَتَيْنِ، لِأَنَّ الثَّوْبَ وَاحِدٌ، قَدِ اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَتَانِ، وَالْقَيِّمَةُ عن اجتهاد، اختلفت في الْبَيِّنَتَانِ، وَلِاخْتِلَافِهِمَا وَجْهٌ مُحْتَمَلٌ لَا يُوجِبُ رَدَّهُمَا بِهِ.

Al-Mawardi berkata: Kedua bukti ini sepakat mengenai pencurian satu kain tertentu, namun berbeda pendapat tentang nilainya. Dua orang saksi bersaksi bahwa nilainya seperempat dinar, yang mana tangan dipotong karenanya, dan dua orang saksi lainnya bersaksi bahwa nilainya seperenam dinar, yang mana tangan tidak dipotong karenanya. Maka tidak ada pertentangan dalam kedua kesaksian tersebut meskipun berbeda dalam penilaian, karena kainnya satu dan kedua bukti telah sepakat atasnya, sedangkan penilaian nilai didasarkan pada ijtihad yang berbeda di antara kedua bukti tersebut. Perbedaan ini merupakan hal yang masih mungkin terjadi dan tidak menyebabkan keduanya ditolak karenanya.

فَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي اخْتِلَافِهِمَا، هَلْ يُوجِبُ الْعَمَلَ بِأَكْثَرِهِمَا أَوْ بِأَقَلِّهِمَا فِي الْغُرْمِ وَالْقَطْعِ؟

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai perbedaan keduanya, apakah wajib mengikuti jumlah terbanyak atau jumlah paling sedikit di antara keduanya dalam hal ganti rugi dan pemotongan?

مذهب الشَّافِعِيِّ إِنَّهُ يُؤْخَذُ بِأَقَلِّهِمَا فِي الْغُرْمِ وَسُقُوطِ القطع، استعمالا للبينة الشاهدة أن قيمته سدسي دِينَارٍ، فَيَسْقُطُ عَنْهُ الْقَطْعُ وَلَا يَغْرَمُ الزِّيَادَةَ على السدسي.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa yang diambil adalah nilai yang paling sedikit dalam hal ganti rugi dan gugurnya hukuman potong tangan, dengan menggunakan bukti yang menunjukkan bahwa nilainya adalah seperenam dinar. Maka, hukuman potong tangan gugur darinya dan ia tidak wajib membayar ganti rugi lebih dari seperenam.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: آخُذُ بِالْبَيِّنَةِ الزَّائِدَةِ فِي الْغُرْمِ وَوُجُوبِ الْقَطْعِ.

Abu Hanifah berkata: Aku mengambil (berpegang) pada bukti tambahan dalam hal tanggungan (ganti rugi) dan kewajiban pemotongan (hudud potong tangan).

وَأَحْسَبُ أَنَّ مَالِكًا يَأْخُذُ بِالْبَيِّنَةِ الزَّائِدَةِ فِي الْغُرْمِ وَالنَّاقِصَةِ فِي سُقُوطِ الْحَدِّ.

Dan saya kira Malik berpegang pada bukti tambahan dalam perkara ganti rugi, dan bukti yang kurang dalam gugurnya hudud.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ عَمِلَ بِالْبَيِّنَةِ الزَّائِدَةِ بِأَمْرَيْنِ:

Orang yang berpegang pada al-bayyinah tambahan berdalil dengan dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَمَّا عَمِلَ فِي الْأَخْبَارِ الْمُخْتَلِفَةِ بِالزِّيَادَةِ دُونَ النُّقْصَانِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مِثْلَهُ فِي الْبَيِّنَاتِ. لِأَنَّ الشَّهَادَةَ خَبَرٌ.

Salah satunya: Ketika telah berlaku dalam khabar yang berbeda-beda bahwa tambahan diterima tanpa pengurangan, maka wajib berlaku demikian pula dalam bukti-bukti, karena kesaksian adalah khabar.

وَالثَّانِي: إِنَّ النقصان داخل في الزيادة فلم ينافيها فَوَجَبَ الْعَمَلُ بِهَا كَمَا لَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ عَلَى إِقْرَارِهِ بِأَلْفٍ وَشَهِدَ شَاهِدَانِ عَلَى إِقْرَارِهِ بِأَلْفَيْنِ دُونَ الْأَلْفِ بِأَلْفٍ لِدُخُولِ الْأَلْفِ فِي الْأَلْفَيْنِ. وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ:

Kedua: Sesungguhnya pengurangan termasuk dalam penambahan sehingga tidak bertentangan dengannya, maka wajib beramal dengannya, sebagaimana jika dua orang saksi bersaksi atas pengakuannya terhadap seribu, dan dua orang saksi lainnya bersaksi atas pengakuannya terhadap dua ribu tanpa seribu, maka yang diambil adalah seribu karena seribu termasuk dalam dua ribu. Dan dalil kami ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ النُّقْصَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَالزِّيَادَةُ مُخْتَلَفٌ فِيهَا، لِأَنَّ مِنْ قَوَّمَهُ بِالرُّبُعِ أَثْبَتَهَا وَمَنْ قَوَّمَهُ بِالسُّدُسِ نَفَاهَا، فَكَانَ الْعَمَلُ بِالْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَوْلَى مِنَ الْعَمَلِ بِالْمُخْتَلِفِ فِيهِ. وَخَالَفَ الْعَمَلُ بِالزِّيَادَةِ فِي الْأَخْبَارِ لِأَنَّ مَنْ رَوَى النَّاقِصَ لَمْ يَنْفِ الزِّيَادَةَ.

Salah satunya: bahwa pengurangan telah disepakati, sedangkan penambahan diperselisihkan, karena siapa yang menilai dengan seperempat menetapkannya, dan siapa yang menilai dengan seperenam menolaknya. Maka, mengamalkan yang disepakati lebih utama daripada mengamalkan yang diperselisihkan. Adapun mengamalkan penambahan dalam riwayat berbeda, karena orang yang meriwayatkan yang kurang tidak menafikan adanya penambahan.

لِأَنَّ بِلَالًا لِمَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – دَخَلَ الْبَيْتَ.

Karena Bilal, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah masuk ke dalam Ka’bah.

وَرَوَى أُسَامَةُ أَنَّهُ دَخَلَ الْبَيْتَ وَصَلَّى عَمَلَ بِالزِّيَادَةِ فِي صَلَاتِهِ وَبَعْدَ دُخُولِهِ لِأَنَّ بِلَالًا لَمْ يَقُلْ دَخْلَ الْبَيْتَ وَلَمْ يَصِلْ، فَكَذَلِكَ فِي الشَّهَادَةِ بِالنُّقْصَانِ دُونَ الزِّيَادَةِ، وَعَمَلَ فِي الْأَخْبَارِ بِالزِّيَادَةِ دُونَ النُّقْصَانِ.

Usamah meriwayatkan bahwa ia masuk ke dalam Ka’bah dan melaksanakan shalat, ia mengamalkan tambahan dalam shalatnya setelah masuk, karena Bilal tidak mengatakan bahwa ia masuk ke dalam Ka’bah dan tidak pula shalat. Maka demikian pula dalam kesaksian, diamalkan pada yang kurang tanpa tambahan, dan dalam riwayat diamalkan pada tambahan tanpa pengurangan.

وَالثَّانِي: إِنَّ النُّقْصَانَ يَقِينٌ، وَالزِّيَادَةُ شَكٌّ. وَقَدْ أُثْبِتَتْ فِي إِحْدَى الشَّهَادَتَيْنِ وَبَقِيَتْ فِي الْأُخْرَى فَوَجَبَ الْعَمَلُ بِالْيَقِينِ دُونَ الشَّكِّ، لِأَنَّ الْأَصْلَ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ، فَخَالَفَ الشَّهَادَةَ بِأَلْفٍ وَالشَّهَادَةَ بِأَلْفَيْنِ، لِأَنَّ مَنْ أَثْبَتَ الْأَلْفَ لَمْ يَنْفِ الْأَلْفَيْنِ.

Kedua: Sesungguhnya kekurangan itu adalah sesuatu yang yakin, sedangkan penambahan adalah sesuatu yang meragukan. Dan hal itu telah ditetapkan dalam salah satu dari dua kesaksian, sedangkan yang lain masih tersisa, maka wajib berpegang pada yang yakin dan meninggalkan yang meragukan, karena pada dasarnya tanggungan seseorang itu bebas dari kewajiban. Maka hal ini berbeda dengan kesaksian atas seribu dan kesaksian atas dua ribu, karena orang yang menetapkan seribu tidak menafikan dua ribu.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: إِذَا اخْتَلَفَ شَاهِدَانِ فِي قِيمَةِ الثَّوْبِ الْمَسْرُوقِ، فَشَهِدَ أَحَدُهُمَا أَنَّ قِيمَتَهُ رُبُعُ دِينَارٍ وَشَهِدَ الْآخَرُ أَنَّ قِيمَتَهُ سُدُسُ دِينَارٍ، فَقَدِ اتَّفَقَا عَلَى السُّدُسِ وَتَمَّتِ الشَّهَادَةُ بِهِ. وَاخْتَلَفَا فِي الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ، فَأَثْبَتَهَا أَحَدُهُمَا وَنَفَاهَا الْآخَرُ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apabila dua orang saksi berbeda pendapat mengenai nilai pakaian yang dicuri, salah satu dari mereka bersaksi bahwa nilainya seperempat dinar, sedangkan yang lain bersaksi bahwa nilainya seperenam dinar, maka keduanya telah sepakat pada nilai seperenam dinar dan kesaksian pun sah atas nilai tersebut. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai kelebihan nilainya; salah satu menetapkannya, sedangkan yang lain menafikannya. Para ulama kami pun berbeda pendapat mengenai hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ يَسْقُطُ فِيهَا قَوْلُ مَنْ أَثْبَتَهَا بِقَوْلِ مَنْ نَفَاهَا، وَيَمْنَعُ صَاحِبُ السَّرِقَةِ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ بِهَا وَيَسْتَحِقَّهَا، كَمَا لَوْ أَثْبَتَهَا شَاهِدَانِ وَنَفَاهَا شَاهِدَانِ.

Salah satunya adalah bahwa dalam hal ini, pendapat orang yang menetapkan (hak) tersebut gugur dengan adanya pendapat orang yang menafikannya, dan pelaku pencurian tidak diperbolehkan bersumpah bersama saksi untuk mendapatkannya, sebagaimana jika ada dua saksi yang menetapkan dan dua saksi yang menafikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهُ لَا يَسْقُطُ قَوْلُ مَنْ أُثْبِتُهَا بِقَوْلِ مَنْ نَفَاهَا بِخِلَافِ إِثْبَاتِهَا بِشَاهِدَيْنِ وَنَفْيِهَا بِشَاهِدِينِ، وَيَجُوزُ لِصَاحِبِ السَّرِقَةِ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ بِهَا وَيَسْتَحِقُّهَا، وَلَا يَقْطَعُ السَّارِقُ بِهَا خِلَافَ الشَّاهِدَيْنِ، لِأَنَّ الشَّاهِدَيْنِ حُجَّةٌ كَامِلَةٌ فَتَعَارَضَ فِيهَا قَوْلُ الْمُثْبِتِ وَالنَّافِي، وَالشَّاهِدُ الْوَاحِدُ لَيْسَ حُجَّةً إِلَّا مَعَ الْيَمِينِ، فَإِذَا انْضَمَّتْ إِلَى أَحَدِهِمَا كَمَلَتِ الْحُجَّةُ وَنَقَصَتْ عَنْهَا الْأُخْرَى، فَحَكَمَ بِالْحُجَّةِ عَلَى مَا لَيْسَ بِحُجَّةٍ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya pendapat orang yang menetapkan (perkara) tidak gugur dengan pendapat orang yang menafikannya, berbeda dengan penetapan dengan dua saksi dan penafian dengan dua saksi; dan diperbolehkan bagi pemilik barang yang dicuri untuk bersumpah bersama saksi atasnya dan berhak mendapatkannya, dan pencuri tidak dipotong tangannya dengan (kesaksian) tersebut, berbeda dengan dua saksi, karena dua saksi adalah hujjah yang sempurna sehingga terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan yang menafikan; sedangkan satu saksi bukanlah hujjah kecuali dengan sumpah, maka apabila sumpah bergabung dengan salah satunya, sempurnalah hujjah tersebut dan kurang pada yang lainnya, sehingga diputuskan dengan hujjah atas apa yang bukan hujjah.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الشُّهُودِ فِي ثَمَنِ الْمَبِيعِ] )

(Pembahasan tentang perbedaan pendapat para saksi mengenai harga barang yang dijual)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَ هَذَا الِاخْتِلَافُ فِي ثَمَنِ مَبِيعٍ، فَشَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ بَاعَهُ هَذَا الْعَبْدَ بِأَلْفٍ، وَشَهِدَ شَاهِدَانِ آخَرَانِ أَنَّهُ بَاعَهُ ذَلِكَ الْعَبْدَ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بِأَلْفَيْنِ، تَعَارَضَتِ الشَّهَادَتَانِ وَرُدَّتَا.

Jika terjadi perbedaan pendapat mengenai harga barang yang dijual, lalu dua orang saksi bersaksi bahwa ia telah menjual budak tersebut seharga seribu, dan dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia telah menjual budak yang sama pada waktu yang sama seharga dua ribu, maka kedua kesaksian tersebut saling bertentangan dan keduanya ditolak.

وَلَوْ شَهِدَ أَحَدُ الشَّاهِدَيْنِ أَنَّهُ بَاعَهُ هَذَا الْعَبْدَ بِأَلْفٍ وَشَهِدَ الْآخَرُ أَنَّهُ بَاعَهُ إِيَّاهُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بِأَلْفَيْنِ، فَفِي تَعَارُضِهِمَا وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى:

Jika salah satu dari dua saksi bersaksi bahwa ia telah menjual budak ini kepadanya seharga seribu, dan saksi yang lain bersaksi bahwa ia telah menjualnya kepadanya pada waktu itu seharga dua ribu, maka dalam pertentangan keduanya terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا: قَدْ تَعَارَضَتَا وَسَقَطَتَا.

Salah satunya: Keduanya saling bertentangan dan gugur.

وَالثَّانِي: لَا تَعَارُضَ فِيهِمَا، وَلِلْمُدَّعِي أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ بِالْأَلْفَيْنِ.

Yang kedua: Tidak ada pertentangan di antara keduanya, dan pihak yang mengklaim boleh bersumpah bersama saksi atas dua ribu.

وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ بَاعَهُ عَبْدًا تُرْكِيًّا بِأَلْفٍ، وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ بَاعَهُ عَبْدًا رُومِيًّا بِأَلْفَيْنِ، فَلَا تَعَارُضَ فِي الشَّهَادَتَيْنِ فَيَحْكُمُ لَهُ بِبَيْعِ التُّرْكِيِّ بِأَلْفٍ وَبَيْعِ الرُّومِيِّ بِأَلْفَيْنِ.

Jika dua orang saksi bersaksi bahwa ia telah menjual seorang budak Turki seharga seribu, dan dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia telah menjual seorang budak Romawi seharga dua ribu, maka tidak ada pertentangan dalam kedua kesaksian tersebut. Maka diputuskan untuknya penjualan budak Turki seharga seribu dan penjualan budak Romawi seharga dua ribu.

وَلَوِ اخْتَلَفَ شَاهِدَانِ، فَشَهِدَ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ بَاعَهُ عَبْدًا تُرْكِيًّا بِأَلْفٍ وَشَهِدَ الْآخَرُ أَنَّهُ بَاعَهُ عَبْدًا رُومِيًّا بِأَلْفَيْنِ، فَلَا تَعَارُضَ فِيهِمَا وَلَهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَيَحْكُمُ لَهُ بَعْدَ الْيَمِينِ بِبَيْعِ التُّرْكِيِّ بِأَلْفٍ وَالرُّومِيِّ بِأَلْفَيْنِ.

Jika dua orang saksi berbeda keterangan, salah satunya bersaksi bahwa ia telah menjual seorang budak Turki seharga seribu, dan yang lainnya bersaksi bahwa ia telah menjual seorang budak Romawi seharga dua ribu, maka tidak ada pertentangan di antara keduanya. Ia boleh bersumpah bersama masing-masing dari keduanya, lalu hakim memutuskan untuknya setelah sumpah dengan menetapkan penjualan budak Turki seharga seribu dan budak Romawi seharga dua ribu.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا لَمْ يَحْكُمُ بِشَهَادَةِ مَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ حَتَى يَحْدُثَ مِنْهُ مَا تُرَدُّ بِهِ شَهَادَتُهُ رَدَّهَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan apabila seorang hakim tidak memutuskan berdasarkan kesaksian orang yang bersaksi di hadapannya sampai terjadi sesuatu pada saksi tersebut yang menyebabkan kesaksiannya ditolak, maka hakim wajib menolaknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا شَهِدَ عَدْلَانِ بِحَقٍّ ثُمَّ فُسِّقَا قَبْلَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا رُدَّتِ الشَّهَادَةُ وَلَمْ يُحْكَمْ بِهَا، وَهَذَا هُوَ قول جمهور الفقهاء.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, yaitu apabila dua orang yang adil memberikan kesaksian atas suatu hak, kemudian keduanya menjadi fasiq sebelum diputuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka, maka kesaksian itu ditolak dan tidak diputuskan hukum dengannya. Inilah pendapat mayoritas fuqaha.

وحكي عن أبي ثور وَالْمُزَنِيِّ أَنَّهُمَا قَالَا: يَحْكَمُ بِشَهَادَتِهِمَا وَلَا تُرَدُّ اعتبارا بحال الأداء.

Diriwayatkan dari Abu Tsaur dan al-Muzani bahwa keduanya berkata: Ditetapkan hukum dengan kesaksian mereka dan tidak ditolak, dengan mempertimbangkan keadaan saat penyampaian kesaksian.

وَهَذَا خَطَأٌ لِقَوْلِ [اللَّهِ] تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ} [الحجرات: 6] .

Ini adalah sebuah kekeliruan berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan.” (QS. al-Hujurat: 6).

فَاقْتَضَى الظَّاهِرُ أَنْ تُعْتَبَرَ الْعَدَالَةُ عِنْدَ الْأَدَاءِ وَعِنْدَ الْحَاكِمِ.

Maka yang tampak adalah bahwa keadilan harus diperhatikan baik saat penyampaian (kesaksian) maupun di hadapan hakim.

وَلِأَنَّ عَدَالَةَ الْبَاطِنِ مَظْنُونَةٌ، فَإِذَا ظَهَرَ الْفِسْقُ رَفْعَ مَا ظُنَّ بِبَاطِنِهِ مِنَ الْعَدَالَةِ، وَدَلَّ على تقدمه وقت الشهادة، ولا سيما ويتحفظ الْإِنْسَانُ بَعْدَ شَهَادَتِهِ أَكْثَرَ مِنْ تَحَفُّظِهِ قَبْلَهَا.

Karena keadilan batin itu bersifat dugaan, maka apabila kefasikan tampak, hal itu menghilangkan dugaan adanya keadilan dalam batinnya, dan menunjukkan bahwa kefasikan tersebut telah ada sebelum waktu kesaksian, terutama karena seseorang lebih menjaga dirinya setelah memberikan kesaksian dibandingkan sebelum memberikan kesaksian.

وَلِأَنَّ مِنْ لُطْفِ اللَّهِ تَعَالَى بِعِبَادِهِ أَنْ لَا يَهْتِكَهُمْ بِأَوَّلِ الذَّنْبِ، وَلِذَلِكَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ اللَّهَ أَكْرَمُ أَنْ يَهْتِكَ عَبْدَهُ بِأَوَّلِ خَطِيئَةٍ، فَإِذَا أَظْهَرَهَا دَلَّتْ عَلَى تَقَدُّمِهَا عَلَيْهِ.

Dan karena termasuk kelembutan Allah Ta‘ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak membongkar aib mereka pada dosa pertama, dan karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Allah lebih mulia daripada membongkar aib hamba-Nya pada kesalahan pertama.” Maka jika dosa itu tampak, hal itu menunjukkan bahwa sebelumnya telah ada dosa-dosa lain yang mendahuluinya.

وَلِأَنَّ ظُهُورَهَا يُوجِبُ الِاسْتِرَابَةَ بِمَا تَقَدَّمَهَا وَظُهُورِ الرِّيبَةِ فِي الشَّهَادَةِ يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِهَا.

Karena kemunculannya menimbulkan keraguan terhadap apa yang mendahuluinya, dan munculnya keraguan dalam kesaksian menghalangi diterimanya kesaksian tersebut.

( [الْقَوْلُ فِي صَيْرُورَةِ الشُّهُودِ وَرَثَةً] )

(Pembahasan tentang para saksi menjadi ahli waris)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ شَهِدَ الْعَدْلَانِ ثُمَّ مَاتَ الْمَشْهُودُ لَهُ، فَوَرِثَهُ الشَّاهِدَانِ قَبْلَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا، رُدَّتِ الشَّهَادَةُ لِأَنَّهمَا قَدْ صَارَا شَاهِدَيْنِ لِأَنْفُسِهِمَا عِنْدَ الْحُكْمِ بِهَا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يحكم للإنسان بشهادة لنفسه.

Dan jika dua orang yang adil telah bersaksi, kemudian orang yang menjadi objek kesaksian meninggal dunia, lalu kedua saksi tersebut mewarisinya sebelum diputuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka, maka kesaksian itu ditolak karena keduanya telah menjadi saksi untuk diri mereka sendiri ketika hukum dijatuhkan berdasarkan kesaksian itu, dan tidak boleh seseorang diputuskan hukum untuk dirinya sendiri berdasarkan kesaksiannya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ حَكَمَ بِهَا وَهُوَ عَدْلٌ ثُمَ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ بَعْدَ الْحُكْمِ لَمْ نَرُدُّهُ لِأَنِّي إِنَّمَا أَنْظُرُ يَوْمَ يَقْطَعُ الْحَاكِمُ بِشَهَادَتِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang hakim memutuskan perkara dengan kesaksian tersebut sementara ia adalah orang yang adil, kemudian setelah keputusan itu keadaannya berubah, maka kita tidak membatalkan keputusan itu, karena aku hanya memperhatikan keadaan hakim pada hari ia memutuskan perkara berdasarkan kesaksian tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَحُدُوثُ فِسْقِهِمَا بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Terjadinya kefasikan pada keduanya setelah putusan berdasarkan kesaksian mereka berdua telah dijalankan, terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَحْدُثَ الْفِسْقُ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، فَلَا يَجُوزُ نَقْضُ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا سَوَاءً كَانَ فِي حُقُوقٍ لِلَّهِ تَعَالَى أَوِ الْآدَمِيِّينَ، وَبِخِلَافِ حُدُوثِ الْفِسْقِ قَبْلَ الْحُكْمِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Salah satunya: apabila kefasikan terjadi setelah hak dipenuhi, maka tidak boleh membatalkan putusan berdasarkan kesaksian mereka berdua, baik dalam hak-hak untuk Allah Ta‘ala maupun hak-hak manusia. Berbeda halnya jika kefasikan terjadi sebelum putusan dijatuhkan, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الشَّكَّ وَالِاحْتِمَالَ مَوْجُودٌ فِي الْحَالَيْنِ، فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَثْبُتَ الْحُكْمُ بِالشَّكِّ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْقُضَ حُكْمَهُ بِالشَّكِّ وَالِاحْتِمَالِ، فَيَكُونُ الْمَعْنَى الَّذِي مَنَعَ مِنَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا هُوَ الْمَانِعُ مِنْ نَقْضِ الْحُكْمِ النَّافِذِ بِشَهَادَتِهِمَا.

Salah satunya adalah bahwa keraguan dan kemungkinan ada pada kedua keadaan tersebut. Maka, ketika tidak boleh menetapkan hukum berdasarkan keraguan, tidak boleh pula membatalkan hukum yang telah ditetapkan dengan keraguan dan kemungkinan. Maka, makna yang mencegah penetapan hukum dengan kesaksian mereka adalah juga yang mencegah pembatalan hukum yang telah berlaku dengan kesaksian mereka.

وَالثَّانِي: إِنَّ تَغَيُّرَ الْحَالِ قَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ مُخَالِفٌ لِتَغَيُّرِهَا بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ. لِأَنَّ الْحَاكِمَ إِذَا اجْتَهَدَ رَأْيَهُ فِي الْحُكْمِ فَأَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى حُكْمٍ ثُمَّ بَانَ أَنَّ الْحَقَّ فِي غَيْرِهِ، نَقَضَهُ قَبْلَ نُفُوذِ حُكْمِهِ. وَلَمْ يَنْقُضْهُ بَعْدَ نُفُوذِ حُكْمِهِ، فَأَوْجَبَ هَذَا الْفَرْقُ فِي تَغْيِرِ الِاجْتِهَادِ قَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَبَعْدَهُ. وُقُوعَ الْفَرْقِ فِي الْفِسْقِ بِحُدُوثِهِ قَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَبَعْدَهُ.

Kedua: Sesungguhnya perubahan keadaan sebelum berlakunya hukum berbeda dengan perubahannya setelah hukum itu berlaku. Karena apabila seorang hakim berijtihad dalam menetapkan hukum, lalu ijtihadnya membawanya pada suatu keputusan, kemudian ternyata kebenaran ada pada selain keputusan itu, maka ia membatalkannya sebelum hukum tersebut berlaku. Namun ia tidak membatalkannya setelah hukum itu berlaku. Maka perbedaan ini dalam perubahan ijtihad sebelum dan sesudah berlakunya hukum menyebabkan adanya perbedaan dalam kasus kefasikan, apakah terjadi sebelum atau sesudah berlakunya hukum.

فَهَذَا حُكْمُ أَحَدِ الضَّرْبَيْنِ فِي حُدُوثِ الْفِسْقِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى عُمُومِ إِمْضَائِهِ فِي جَمِيعِ الحقوق.

Maka inilah hukum salah satu dari dua jenis dalam terjadinya kefasikan setelah terpenuhinya hak, yaitu bahwa hal itu berlaku secara umum atas berlakunya (hak tersebut) dalam seluruh hak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَحْدُثَ الْفِسْقُ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَقَبْلَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أضرب:

Jenis kedua: apabila kefasikan terjadi setelah keputusan hukum dijalankan dan sebelum hak terpenuhi, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ مَالًا أَوْ فِي مَعْنَى الْمَالِ، فَيَجِبُ اسْتِيفَاؤُهُ بَعْدَ الْفِسْقِ لِنُفُوذِ الْحُكْمِ قَبْلَ الْفِسْقِ تَعْلِيلًا بِالْمَعْنَيَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ.

Pertama: Jika hak tersebut berupa harta atau yang sepadan dengan harta, maka wajib dipenuhi setelah terjadinya kefasikan, karena putusan telah berlaku sebelum kefasikan itu terjadi, berdasarkan dua alasan yang telah disebutkan sebelumnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ حَدًّا وَجَبَ لِلَّهِ خَاصَّةً، كَحَدِّ الزِّنَا وَجِلْدِ الْخَمْرِ وَقِطَعِ السَّرِقَةِ، مِمَّا يُدْرَأُ بِالشُّبْهَةِ. فَيَسْقُطُ بِحُدُوثِ الْفِسْقِ وَلَا يُسْتَوْفَى لِأَنَّ حُدُوثَهُ شُبْهَةٌ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila hak tersebut adalah hudud yang wajib bagi Allah semata, seperti hudud zina, cambuk karena khamar, dan potong tangan karena pencurian, yang semua itu dapat gugur karena adanya syubhat. Maka hukuman tersebut gugur dengan terjadinya kefasikan dan tidak dilaksanakan, karena terjadinya kefasikan itu sendiri merupakan syubhat.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ حَدًّا قَدْ وَجَبَ لِآدَمِيٍّ كَالْقِصَّاصِ وَحَدِّ الْقَذْفِ فَفِي سُقُوطِهِ بِحُدُوثِ الْفِسْقِ قَبْلَ اسْتِيفَائِهِ وَجْهَانِ:

Golongan ketiga: yaitu hukuman yang telah wajib bagi manusia, seperti qishāsh dan had qazaf. Maka, dalam hal gugurnya hukuman tersebut karena terjadinya kefasikan sebelum pelaksanaannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَسْقُطُ لِكَوْنِهِ حَدًّا يُدْرَأُ بِالشُّبْهَةِ.

Salah satunya: gugur karena merupakan hudud yang dihapuskan dengan adanya syubhat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَسْقُطُ لِأَنَّه مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ كَالْأَمْوَالِ.

Pendapat kedua: Tidak gugur karena termasuk hak-hak manusia seperti harta.

( [الْقَوْلُ فِيمَا لَوْ حَكَمَ لِشُهُودٍ فَاسْقِينَ] )

(Pembahasan tentang hukum apabila seorang hakim memutuskan berdasarkan kesaksian para saksi yang fāsiq)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا بَانَ لِلْحَاكِمِ بَعْدَ حُكْمِهِ أَنَّ فِسْقَ الشَّاهِدَيْنِ حَدَثَ قَبْلَ شَهَادَتِهِمَا، نَقَضُ حُكْمِهِ كَمَا لَوْ بَانَ لَهُ مُخَالَفَةُ النَّصِّ، وَاسْتَرْجَعَ مَا اسْتَوْفَاهُ بِحُكْمِهِ إِنْ أَمْكَنَ، وَإِنْ كَانَ قِصَاصًا لَا يُمْكِنُ اسْتِرْجَاعُهُ ضَمِنَ الْحَاكِمُ بِالدِّيَةِ وَالْكَفَّارَةِ، وَفِي مَحَلَّةِ الدِّيَةِ قَوْلَانِ:

Apabila setelah menjatuhkan putusan, hakim mengetahui bahwa kefasikan kedua saksi terjadi sebelum mereka memberikan kesaksian, maka putusannya dibatalkan sebagaimana jika ia mengetahui adanya pertentangan dengan nash. Hakim juga wajib mengembalikan apa yang telah diambil berdasarkan putusannya jika memungkinkan. Namun, jika yang telah dilaksanakan adalah qishāsh yang tidak mungkin dikembalikan, maka hakim wajib menanggung diyat dan kafārah. Terkait tempat pembayaran diyat, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: عَلَى عَاقِلَتِهِ، فَعَلَى هَذَا تَكُونُ الْكَفَّارَةُ فِي مَالِهِ.

Salah satunya: atas ‘āqilah-nya, maka berdasarkan hal ini, kafārah itu menjadi tanggungan hartanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: فِي بَيْتِ الْمَالِ. فَعَلَى هَذَا فَفِي الْكَفَّارَةِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: (harta tersebut) dimasukkan ke dalam baitul mal. Berdasarkan pendapat ini, dalam masalah kafarat terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: فِي بَيْتِ الْمَالِ.

Salah satunya: di Baitul Mal.

وَالثَّانِي: فِي مَالِهِ. وَقَدْ مَضَى هَذَا فِي تعزير الإمام إذا أقضى إلى التلف.

Yang kedua: dalam hartanya. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang ta‘zīr oleh imam apabila menyebabkan kerusakan atau kebinasaan.

(باب الرجوع عن الشهادة)

(Bab tentang menarik kembali kesaksian)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” الرُّجُوعُ عَنِ الشَّهَادَةِ ضَرْبَانِ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى رَجُلٍ بِشَيْءٍ يَتْلَفُ مِنْ بَدَنِهِ أَوْ يُنَالُ بِقَطْعٍ أَوْ قِصَاصٍ فَأُخِذَ مِنْهُ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعُوا فَقَالُوا عَمَدْنَاهُ بِذَلِكَ فَهِيَ كَالْجِنَايَةِ فِيهَا الْقِصَاصُ وَاحْتُجَّ فِي ذلك بعلي وَمَا لَمْ يَكُنْ مِنْ ذَلِكَ فِيهِ الْقِصَاصُ أُغْرِمُوهُ وَعُزِّرُوا دُونَ الْحَدِّ وَإِنْ قَالُوا لَمْ نَعْلَمْ أَنَّ هَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ عُزِّرُوا وَأُخِذَ مِنْهُمُ الْعَقْلُ وَلَوْ قَالُوا أَخْطَأْنَا كَانَ عَلَيْهِمُ الْأَرْشُ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Penarikan kembali kesaksian itu ada dua macam. Jika kesaksian itu atas seseorang mengenai sesuatu yang menyebabkan hilangnya anggota tubuhnya, atau dikenai pemotongan, atau qishāsh, lalu hal itu telah diambil darinya kemudian para saksi itu menarik kembali kesaksiannya dan berkata, ‘Kami sengaja melakukannya,’ maka hal itu seperti tindak pidana yang di dalamnya berlaku qishāsh, dan dalam hal ini berhujjah dengan pendapat Ali. Adapun jika bukan termasuk hal-hal tersebut yang di dalamnya berlaku qishāsh, maka mereka dikenai ganti rugi dan diberi ta‘zīr tanpa sampai pada hukuman had. Jika mereka berkata, ‘Kami tidak tahu bahwa hal ini wajib atasnya,’ maka mereka diberi ta‘zīr dan diambil dari mereka diyat. Dan jika mereka berkata, ‘Kami keliru,’ maka atas mereka dikenakan arsy (denda).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ لَا يَخْلُو رُجُوعُ الشُّهُودِ فِي الشَّهَادَةِ بَعْدَ أَدَائِهَا مِنْ ثلاثة أحوال:

Al-Mawardi berkata: Secara keseluruhan, kembalinya para saksi dalam kesaksian setelah mereka menyampaikannya tidak lepas dari tiga keadaan:

أحدهما: أن يرجعوا قبل نفوذ الحكم بها.

Pertama: mereka menarik kembali (pendapatnya) sebelum keputusan hukum tersebut berlaku.

والثاني: أن يرجعوا بعد الحكم وقبل الاستيفاء.

Kedua: mereka kembali (menarik kembali) setelah adanya putusan tetapi sebelum pelaksanaan.

والثالث: أن يرجعوا بعد الاستيفاء.

Dan yang ketiga: mereka kembali setelah pelaksanaan.

فأما الحالة الْأُولَى: وَهُوَ أَنْ يَرْجِعُوا قَبْلَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ، فَلَا يَجُوزُ الْحُكْمُ بِهَا بَعْدَ رُجُوعِهِمْ، سَوَاءٌ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي حَدٍّ لِلَّهِ تَعَالَى، أَوْ مَالٍ لِآدَمِيِّ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ إِلَّا أَبَا ثَوْرٍ فَإِنَّهُ تَفَرَّدَ بِإِمْضَاءِ الْحُكْمِ بَعْدَ رُجُوعِهِمْ.

Adapun keadaan pertama: yaitu ketika para saksi menarik kembali kesaksiannya sebelum adanya putusan berdasarkan kesaksian mereka, maka tidak boleh menetapkan hukum berdasarkan kesaksian tersebut setelah mereka menariknya, baik kesaksian itu terkait hudud bagi Allah Ta‘ala maupun harta milik manusia. Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha, kecuali Abu Tsaur yang berpendapat sendiri bahwa putusan tetap dijalankan meskipun para saksi telah menarik kembali kesaksiannya.

وَبَنَاهُ عَلَى مَذْهَبِهِ فِي إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بَعْدَ حُدُوثِ فِسْقِهِمْ، وَهَذَا خَطَأٌ فِي الْمَذْهَبِ وَالْبِنَاءِ.

Ia mendasarkan pendapatnya pada mazhabnya tentang tetap berlakunya hukum setelah terjadinya kefasikan mereka, dan ini adalah kesalahan dalam mazhab maupun dalam dasar pendapatnya.

وَأَمَّا خَطَؤُهُ فِي الْمَذْهَبِ، فَهُوَ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُهُمْ فِي الشَّهَادَةِ وَالرُّجُوعِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَكُونُوا صَادِقِينَ فِي الشَّهَادَةِ كَاذِبِينَ فِي الرُّجُوعِ، أَوْ كَاذِبِينَ فِي الشَّهَادَةِ صَادِقِينَ فِي الرُّجُوعِ فَوَجَبَ رَدُّهَا لِأَمْرَيْنِ:

Adapun kesalahannya dalam mazhab ini adalah bahwa keadaan mereka dalam persaksian dan pencabutan tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi mereka jujur dalam persaksian namun berdusta dalam pencabutan, atau berdusta dalam persaksian namun jujur dalam pencabutan. Maka wajib ditolak karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: الْجَهَالَةُ بِصِدْقِ شَهَادَتِهِمْ، فَصَارَ كَالْجَهَالَةِ بِعَدَالَتِهِمْ.

Salah satunya adalah ketidaktahuan terhadap kebenaran kesaksian mereka, sehingga hal itu menjadi seperti ketidaktahuan terhadap keadilan mereka.

وَالثَّانِي: إِنَّهُمْ لَمْ يَنْكُفُوا مِنَ الْكَذِبِ فِي أَحَدِ قَوْلَيْهِمْ.

Kedua: Sesungguhnya mereka tidak segan-segan berbohong dalam salah satu dari dua pendapat mereka.

وَأَمَّا خَطَؤُهُ فِي الْبِنَاءِ: فَهُوَ أَنَّ الْفَاسِقَ مُقِيمٌ عَلَى شَهَادَتِهِ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فِيهَا صَادِقًا. وَالرَّاجِعُ مُقِرٌّ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الشَّهَادَةِ صَادِقًا، فَافْتَرَقَا.

Adapun kesalahannya dalam analogi (qiyās): yaitu bahwa seorang fāsiq tetap berada pada persaksiannya dan mungkin saja ia benar dalam persaksiannya itu. Sedangkan orang yang menarik kembali persaksiannya mengakui bahwa ia tidak jujur dalam persaksiannya, maka keduanya berbeda.

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ بِشَهَادَتِهِمْ، نُظِرَ فِي الشَّهَادَةِ بَعْدَ رُجُوعِهِمْ عَنْهَا. فَإِنَّهُمْ فِيهَا على ثلاثة أحوال:

Maka apabila telah tetap bahwa tidak dapat diputuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka, maka diperhatikan kesaksian setelah mereka mencabutnya. Dalam hal ini, mereka terbagi dalam tiga keadaan:

أحدهما: أن يعمدوها، فَيَكُونُ قَدَحًا فِي عَدَالَتِهِمْ وَمُوجِبًا لِفِسْقِهِمْ، وَيُعَزَّرُوا، لأنهم عمدوا الشهادة بالزور.

Pertama: mereka melakukannya dengan sengaja, maka hal itu merupakan celaan terhadap keadilan mereka dan menyebabkan kefasikan mereka, serta mereka dikenai ta‘zir, karena mereka dengan sengaja memberikan kesaksian palsu.

والثاني: أَنْ لَا يَتَعَمَّدُوهَا، وَلَكِنْ سَهُوا فِيهَا، فَيَكُونُ ذَلِكَ قَدْحًا فِي ضَبْطِهِمْ لَا فِي عَدَالَتِهِمْ، فَوَجَبَ التَّوَقُّفُ فِي شَهَادَتِهِمْ إِلَّا فِيمَا تَحَقَّقُوهُ 5 وأحاطوا به علما.

Kedua: mereka tidak sengaja melakukannya, tetapi lupa dalam hal itu, maka hal tersebut menjadi celaan terhadap ketelitian mereka, bukan terhadap keadilan mereka. Maka wajib menahan diri dari menerima kesaksian mereka kecuali dalam hal yang benar-benar mereka yakini dan mereka ketahui secara pasti.

والثالث: أن لا يكون ذلك بعمد لا يسهو وَلَكِنْ بِشُبْهَةٍ اعْتَرَضَتْهُمْ يَجُوزُ مِثْلُهَا عَلَى أَهْلِ التَّيَقُّظِ وَالْعَدَالَةِ فَهُمْ عَلَى عَدَالَتِهِمْ وَضَبْطِهِمْ، لَا يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمْ فَتُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ فِي غَيْرِ مَا رَجَعُوا عَنْهُ، فَإِنِ الْتَمَسَ الْمَشْهُودُ لَهُ يَمِينَ الشُّهُودِ عَلَى صِحَّةِ رُجُوعِهِمْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِحْلَافُهُمْ، لِأَنَّ حَقَّهُ عَلَى غَيْرِهِمْ، وَلَوِ ادَّعَى الْمَشْهُودُ لَهُ أَنَّ الشُّهُودَ قَدْ رَجَعُوا وَأَنْكَرُوا الرُّجُوعَ، لَمْ يَكُنْ لَهُ إِحْلَافُهُمْ، لِأَنَّه لَا خُصُومَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ.

Ketiga: bahwa hal itu tidak terjadi karena kesengajaan yang tidak mungkin lupa, melainkan karena adanya syubhat yang menimpa mereka, yang semisal itu bisa saja terjadi pada orang-orang yang waspada dan adil. Maka mereka tetap pada keadilan dan ketelitian mereka, hal itu tidak mencacati salah satu dari mereka, sehingga kesaksian mereka diterima dalam perkara selain yang mereka cabut kembali. Jika pihak yang disaksikan memohon agar para saksi disumpah atas kebenaran pencabutan kesaksian mereka, maka ia tidak berhak meminta mereka bersumpah, karena haknya itu atas orang lain, bukan atas para saksi. Dan jika pihak yang disaksikan mengklaim bahwa para saksi telah mencabut kesaksian dan para saksi mengingkari pencabutan itu, maka ia juga tidak berhak meminta mereka bersumpah, karena tidak ada permusuhan antara dia dan mereka.

وَهَكَذَا لَوِ ادَّعَى عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ عَلِمُوا أَنِّي بَرِئْتُ مِمَّا شَهِدُوا بِهِ، وَقَدْ شَهِدُوا مَعَ عِلْمِهِمْ أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنْهُ وَطَلَبَ يَمِينَهُمْ لَمْ يَحْلِفُوا عَلَيْهِ.

Demikian pula, jika ia menuduh mereka bahwa mereka mengetahui bahwa aku terbebas dari apa yang mereka persaksikan, dan mereka telah bersaksi dengan pengetahuan mereka bahwa ia benar-benar terbebas darinya, lalu ia meminta sumpah mereka, maka mereka tidak bersumpah atasnya.

وَلَوْ أَحْضَرَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ بَيِّنَةً تَشْهَدُ عَلَى الشُّهُودِ بِرُجُوعِهِمْ، قُبِلَتْ، وَحُكِمَ عَلَيْهِمْ بِالرُّجُوعِ، وَبَطَلَتْ شَهَادَتُهُمْ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، وَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِمْ لِلْمَشْهُودِ لَهُ.

Dan jika pihak yang menjadi objek kesaksian menghadirkan bukti yang memberikan kesaksian bahwa para saksi telah menarik kembali kesaksiannya, maka bukti tersebut diterima, dan diputuskan bahwa para saksi telah menarik kembali kesaksiannya, serta kesaksian mereka terhadap pihak yang menjadi objek kesaksian menjadi batal, dan tidak ada tanggungan apa pun atas mereka kepada pihak yang mendapatkan kesaksian.

وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ اللُّؤْلُؤِيُّ: يُضَمَّنُونَ لِلْمَشْهُودِ لَهُ مَا شَهِدُوا بِهِ مِنْ حَقِّهِ. وَهَذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ حَقَّهُ بَاقٍ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ.

Al-Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i berkata: “Mereka (para saksi) wajib menanggung (mengganti) kepada pihak yang disaksikan untuknya apa yang mereka saksikan berupa haknya.” Namun, ini adalah kesalahan, karena haknya tetap ada atas pihak yang disaksikan atasnya.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ الشُّهُودِ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَقَبْلَ الِاسْتِيفَاءِ] )

(Pembahasan tentang kembalinya para saksi setelah putusan telah dijalankan dan sebelum eksekusi dilakukan)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْحَالُ الثَّانِيَةُ: وَهُوَ أَنْ يَرْجِعُوا بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ وَقَبْلَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ. فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ مَا شَهِدُوا بِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَالًا أَوْ غَيْرَ مَالٍ، فَإِنْ كَانَ مَالًا، لَمْ يَنْقُضْ حُكَمَهُ بِهِ وَأَمْضَاهُ، وَهَذَا قول جمهور الفقهاء.

Adapun keadaan kedua, yaitu apabila mereka (para saksi) menarik kembali kesaksiannya setelah putusan dijatuhkan berdasarkan kesaksian mereka, namun sebelum hak tersebut direalisasikan. Maka, hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apa yang mereka saksikan itu berupa harta atau bukan harta. Jika yang disaksikan itu berupa harta, maka putusannya tidak dibatalkan dan tetap dijalankan. Inilah pendapat mayoritas fuqaha.

وَحُكِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: يُنْقَضُ الْحَكَمُ بِرُجُوعِهِمْ لِإِبْطَالِ هَذِهِ الشَّهَادَةِ بِالرُّجُوعِ. وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari bahwa ia berkata: Putusan hakim dapat dibatalkan jika para saksi menarik kembali kesaksiannya untuk membatalkan kesaksian tersebut dengan penarikan kembali. Pendapat ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْحُكْمَ إِذَا نَفَذَ بِالِاجْتِهَادِ، لَمْ يُنْقَضْ بِالِاحْتِمَالِ وَالِاجْتِهَادُ تَغْلِيبُ صِدْقِهِمْ فِي الشَّهَادَةِ، وَالِاحْتِمَالُ جَوَازُ كَذِبِهِمْ فِي الرُّجُوعِ.

Salah satunya: Sesungguhnya suatu putusan apabila telah dijalankan berdasarkan ijtihad, maka tidak dibatalkan hanya karena kemungkinan (kesalahan) dan ijtihad itu adalah menguatkan kebenaran mereka dalam kesaksian, sedangkan kemungkinan itu adalah kemungkinan mereka berdusta dalam pencabutan (kesaksian).

وَالثَّانِي: إِنَّ فِي شَهَادَتِهِمْ إِثْبَاتَ حَقٍّ يَجْرِي مَجْرَى الْإِقْرَارِ، وَفِي رُجُوعِهِمْ نَفِيُ ذَلِكَ الْحَقِّ الْجَارِي مَجْرَى الْإِنْكَارِ فَلَمَّا لَمْ يَبْطُلِ الْحُكْمُ بِالْإِقْرَارِ لِحُدُوثِ الْإِنْكَارِ لَمْ يَبْطُلِ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ لحدوث الرجوع.

Kedua: Sesungguhnya dalam kesaksian mereka terdapat penetapan suatu hak yang posisinya seperti pengakuan, dan dalam pencabutan kesaksian mereka terdapat penafian hak tersebut yang posisinya seperti pengingkaran. Maka, sebagaimana hukum yang ditetapkan dengan pengakuan tidak batal karena terjadinya pengingkaran setelahnya, demikian pula hukum yang ditetapkan dengan kesaksian tidak batal karena terjadinya pencabutan kesaksian.

وَإِنْ كَانَ مَا شَهِدُوا بِهِ لَيْسَ بِمَالٍ، فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dan jika apa yang mereka saksikan itu bukan berupa harta, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّا لَا يَبْطُلُ بِالشُّبْهَةِ كَالنِّكَاحِ وَالطَّلَاقِ، فَهُوَ كَالْمَالِ فِي نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهِ. فَلَا يَبْطِلُ بِرُجُوعِ الشُّهُودِ.

Salah satunya adalah perkara yang tidak batal karena syubhat, seperti nikah dan talak, maka ia seperti harta dalam berlakunya hukum atasnya. Maka tidak batal dengan kembalinya para saksi.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِمَّا يَسْقُطُ بِالشُّبْهَةِ كَالْحُدُودِ، وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu sesuatu yang gugur karena adanya syubhat, seperti hudud, dan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِنَ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى الْمَحْضَةِ كَحَدِّ الزِّنَا وَجَلْدِ الْخَمْرِ وَقَطْعِ السَّرِقَةِ فَيَسْقُطُ بِرُجُوعِ الشُّهُودِ كَمَا يَسْقُطُ بِرُجُوعِ الْمُقِرِّ، لِأَنَّ رُجُوعَ الشُّهُودِ شُبْهَةٌ تُدْرَأُ بِمِثْلِهَا الْحُدُودُ.

Salah satunya: yaitu apabila termasuk hak-hak Allah Ta‘ala semata, seperti hadd zina, cambuk karena khamr, dan potong tangan karena pencurian, maka hukuman tersebut gugur dengan pencabutan kesaksian para saksi sebagaimana gugur dengan pencabutan pengakuan pelaku, karena pencabutan kesaksian para saksi merupakan syubhat yang dengannya hudud dapat digugurkan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الْمَحْضَةِ كَالْقِصَّاصِ.

Jenis yang kedua: yaitu hak-hak murni manusia, seperti qishāsh.

وَحَدِّ الْقَذْفِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Hudud untuk qazaf terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّا إِذَا سَقَطَ بِالشُّبْهَةِ رَجَعَ إِلَى الدِّيَةِ الَّتِي لَا تَسْقُطُ بِالشُّبْهَةِ، فَلْيَسْقُطْ بِرُجُوعِ الشُّهُودِ، الْقِصَاصُ، وَلَا تَسْقُطِ الدِّيَةُ.

Salah satunya adalah: jika termasuk perkara yang apabila gugur karena syubhat maka kembali kepada diyat yang tidak gugur karena syubhat, maka hendaknya qishash gugur dengan pencabutan kesaksian para saksi, dan diyat tidak gugur.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِمَّا إِذَا سَقَطَ بِالشُّبْهَةِ لَمْ يَرْجِعْ إِلَى بَدَلٍ، كَحَدِّ الْقَذْفِ، فَفِي سُقُوطِهِ بِرُجُوعِ شُهُودِهِ وَجْهَانِ:

Jenis yang kedua: yaitu sesuatu yang apabila gugur karena syubhat, tidak kembali kepada pengganti, seperti had qazaf. Maka dalam gugurnya had tersebut karena para saksinya menarik kembali kesaksiannya, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَسْقُطُ بِالرُّجُوعِ، لِأَنَّها شُبْهَةٌ تُدْرَأُ بِمِثْلِهَا الْحُدُودُ.

Salah satunya: gugur dengan rujuk, karena itu adalah syubhat yang dengannya hudud dapat digugurkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تَسْقُطُ بِالرُّجُوعِ لِأَنَّه مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الْمُغَلَّظَةِ.

Pendapat kedua: Tidak gugur dengan penarikan kembali karena termasuk hak-hak manusia yang ditekankan.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ الشُّهُودِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ] )

(Pembahasan tentang kembalinya para saksi setelah hak telah dipenuhi)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْحَالُ الثَّالِثَةُ: وَهُوَ أَنْ يَرْجِعَ الشُّهُودُ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَاسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، فَالْحُكْمُ عَلَى نَفَاذِهِ لَا يُنْقَضُ بِرُجُوعِ شُهُودِهِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Adapun keadaan yang ketiga: yaitu para saksi menarik kembali kesaksiannya setelah putusan hukum telah dijalankan dan hak telah dipenuhi, maka putusan tersebut tetap berlaku dan tidak dapat dibatalkan hanya karena para saksi menarik kembali kesaksiannya setelah hak tersebut dipenuhi. Inilah pendapat mayoritas fuqaha.

وَحُكِيَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، وَالْأَوْزَاعِيِّ إِنَّ الْحُكْمَ يُنْقَضُ بِرُجُوعِهِمْ، لِأَنَّهمْ بِالرُّجُوعِ غَيْرُ شُهُودٍ.

Diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab dan al-Awza‘i bahwa putusan hukum dapat dibatalkan jika para saksi mencabut kesaksiannya, karena dengan pencabutan tersebut mereka tidak lagi dianggap sebagai saksi.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الرُّجُوعَ مُخَالِفٌ لِلشَّهَادَةِ فَلَا يَخْلُو أَحَدُهُمَا مِنَ الْكَذِبِ، فَصَارَ كُلُّ وَاحِدٍ من الشهادة وبالرجوع مُحْتَمِلًا لِلصِّدْقِ وَالْكَذِبِ، وَقَدِ اقْتَرَنَ بِالشَّهَادَةِ حُكْمٌ وَاسْتِيفَاءٌ فَلَمْ يَجُزْ نَقْضُهَا بِرُجُوعٍ مُحْتَمَلٍ.

Salah satunya: Sesungguhnya pencabutan (kesaksian) bertentangan dengan kesaksian itu sendiri, sehingga salah satu dari keduanya pasti mengandung kebohongan. Maka, setiap dari kesaksian dan pencabutannya menjadi mungkin mengandung kebenaran dan kebohongan. Dan telah terkait dengan kesaksian itu suatu hukum dan pelaksanaan, sehingga tidak boleh membatalkannya dengan pencabutan yang masih mengandung kemungkinan (benar atau salah).

وَالثَّانِي: إِنَّ الشَّهَادَةَ إِلْزَامٌ وَالرُّجُوعُ إِقْرَارٌ بِدَلِيلِ أَنَّهُ وَارِدٌ بِغَيْرِ لَفْظِ الشَّهَادَةِ وَالْإِقْرَارُ لَازِمٌ فِي حَقِّ الْمُقِرِّ دُونَ غَيْرِهِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُنْقَضَ بِهِ الْحُكْمَ، لِأَنَّه يَصِيرُ إِقْرَارُهُ إِلْزَامًا لِغَيْرِهِ، وَهُوَ مُوجِبٌ أَنْ يَعُودَ عَلَيْهِ لَا عَلَى غَيْرِهِ.

Kedua: Sesungguhnya kesaksian itu bersifat mengikat, sedangkan pencabutan kesaksian merupakan pengakuan, dengan dalil bahwa pencabutan tersebut dapat dilakukan tanpa menggunakan lafaz kesaksian. Pengakuan itu hanya mengikat bagi orang yang mengaku, bukan bagi selainnya. Maka tidak boleh keputusan hukum dibatalkan karenanya, karena hal itu berarti pengakuannya menjadi beban bagi orang lain, padahal pengakuan itu seharusnya kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain.

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَا يُنْقَضُ بِهِ الْحُكْمُ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى مَا يَلْزَمُ الشُّهُودَ بِرُجُوعِهِمْ، وَهُوَ مُخْتَلِفٌ بِاخْتِلَافِ الْحَقِّ الْمُسْتَوْفَى، وَيَنْقَسِمُ إلى ثلاثة أقسام:

Maka apabila telah tetap bahwa keputusan tidak dapat dibatalkan dengannya setelah hak terpenuhi, pembahasan beralih kepada apa yang menjadi kewajiban para saksi ketika mereka menarik kembali kesaksiannya, dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan hak yang telah terpenuhi, serta terbagi menjadi tiga bagian:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ إِتْلَافًا يَخْتَصُّ بِالْأَبْدَانِ.

Pertama: yaitu perusakan yang khusus berkaitan dengan badan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ إِتْلَافًا يَخْتَصُّ بِالْأَحْكَامِ.

Kedua: yaitu perusakan yang khusus berkaitan dengan hukum-hukum.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ إِتْلَافًا يُخْتَصُّ بِالْأَمْوَالِ.

Ketiga: yaitu perusakan yang khusus berkaitan dengan harta.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: فيما اختص بالأبدان.

Adapun bagian pertama: yaitu yang berkaitan khusus dengan badan.

فهل قَتْلُ نَفْسٍ أَوْ قَطْعُ طَرَفٍ بِشَهَادَتِهِمْ عَلَى رَجُلٍ أَنَّهُ قَتَلَ فَقُتِلَ، أَوْ قَطَعَ فَقُطِعَ ثُمَّ رَجَعُوا عَلَى شَهَادَتِهِمْ بَعْدَ أَنْ قُتِلَ أَوْ قُطِعَ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَا يَلْزَمُهُمْ بِرُجُوعِهِمْ إِذَا عَمَدُوا:

Apakah pembunuhan seseorang atau pemotongan anggota tubuh akibat kesaksian mereka terhadap seorang laki-laki bahwa ia telah membunuh lalu ia dibunuh, atau ia telah memotong lalu ia dipotong, kemudian mereka menarik kembali kesaksian mereka setelah orang itu dibunuh atau dipotong—maka para fuqaha berbeda pendapat mengenai apa yang wajib atas mereka ketika mereka sengaja menarik kembali kesaksian tersebut.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ عَلَيْهِمُ الْقَوَدَ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ شُبْرُمَةَ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ.

Maka mazhab Syafi‘i radhiyallāhu ‘anhu adalah bahwa atas mereka berlaku qawad (hukum qisas), dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Syubrumah, Ahmad, dan Ishaq.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنَّ عَلَيْهِمُ الدِّيَةُ دُونَ الْقَوَدِ وَقَالَ مَالِكٌ: لَا قَوَدَ عَلَيْهِمْ وَلَا دِيَةَ.

Abu Hanifah berkata: “Mereka wajib membayar diyat tanpa dikenai qisas.” Malik berkata: “Tidak ada qisas atas mereka dan tidak pula diyat.”

وَاسْتَدَلَّ أَصْحَابُ أَبِي حنيفة عَلَى سُقُوطِ الْقَوَدِ بِأَنَّ الشَّهَادَةَ سَبَبٌ أَفْضَى إلى القتل موجب أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهِ الْحُكْمُ الْغُرْمُ دُونَ الْقَوَدِ، كَحَفْرِ الْبِئْرِ وَوَضْعِ الْحَجَرِ.

Para pengikut Abu Hanifah berdalil tentang gugurnya qisas dengan alasan bahwa kesaksian merupakan sebab yang mengantarkan kepada terjadinya pembunuhan, sehingga yang seharusnya terkait dengannya adalah kewajiban membayar ganti rugi (ghurm), bukan qisas, sebagaimana halnya orang yang menggali sumur atau meletakkan batu.

وَاسْتَدَلَّ أَصْحَابُ مَالِكٍ عَلَى سُقُوطِ الدِّيَةِ بِأَنَّ الشَّهَادَةَ سَبَبٌ اقْتَرَنَ بِهِ مُبَاشَرَةً الْحَاكِمُ، فَلَمَّا سَقَطَتِ الدِّيَةُ عَنِ الْحَاكِمِ بِالْمُبَاشَرَةِ كَانَ أَوْلَى أَنْ تَسْقُطَ عَنِ الشُّهُودِ بِالسَّبَبِ، لِأَنَّ السَّبَبَ سَقَطَ بِالْمُبَاشَرَةِ.

Para pengikut Imam Malik berdalil atas gugurnya diyat dengan alasan bahwa kesaksian adalah sebab yang disertai dengan tindakan langsung dari hakim. Maka ketika diyat gugur dari hakim karena tindakan langsung, maka lebih utama lagi diyat itu gugur dari para saksi karena sebab, sebab telah gugur dengan adanya tindakan langsung.

وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ الْقَوَدِ: إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ فِي قَضِيَّتَيْنِ مَشْهُورَتَيْنِ عَنْ إِمَامَيْنِ مِنْهُمْ لَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِمَا أَحَدٌ مِنْهُمْ.

Dalil atas wajibnya qawad adalah ijmā‘ para sahabat dalam dua kasus yang masyhur dari dua imam di antara mereka, yang tidak ada seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat tentang keduanya.

إِحْدَاهُمَا: عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ شَاهِدَيْنِ شَهِدَا عِنْدَهُ بِالْقَتْلِ وَقِيلَ بِالْقَطْعِ فَاقْتَصَّ مِنْهُ، ثُمَّ رَجَعَ الشَّاهِدَانِ وَقَالَا: أَخْطَأْنَا الْأَوَّلَ وَهَذَا هُوَ الْقَاتِلُ أَوِ الْقَاطِعُ. فَقَالَ: لَوْ عَلِمَتْ أَنَّكُمَا تَعَمَّدْتُمَا لَأَقَدْتُكُمَا.

Salah satunya: Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, bahwa dua orang saksi memberikan kesaksian di hadapannya tentang pembunuhan—dan ada yang mengatakan tentang pencurian yang menyebabkan pemotongan tangan—lalu ia menegakkan qishāsh terhadap pelaku berdasarkan kesaksian itu. Kemudian kedua saksi tersebut menarik kembali kesaksiannya dan berkata, “Kami telah keliru sebelumnya, dan inilah pelaku pembunuhan atau pencurian yang sebenarnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Seandainya aku tahu bahwa kalian berdua sengaja (berdusta), niscaya aku akan menegakkan qishāsh atas kalian berdua.”

وَالْقِصَّةُ الثَّانِيَةُ: ” وَهِيَ أَثْبَتُ ” رَوَاهَا الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ رَجُلَيْنِ شهدا عند علي عليه السلام عَلَى رَجُلٍ أَنَّهُ سَرَقَ فَقَطَعَهُ، ثُمَّ أَتَيَاهُ بَعْدَ بَرْجَلٍ آخَرَ وَقَالَا: أَخْطَأْنَا فِي الْأَوَّلِ وَهَذَا هُوَ السَّارِقُ، فَأُبْطِلُ شَهَادَتَهُمَا عَلَى الْآخَرِ ثُمَّ ضَمَّنَهُمَا دِيَةَ الْأَوَّلِ، وَقَالَ: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكُمَا تَعَمَّدْتُمَا لَقَطَعْتُكُمَا.

Kisah kedua, “dan ini lebih kuat,” diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan dari Mutarrif dari asy-Sya‘bi bahwa dua orang laki-laki bersaksi di hadapan Ali radhiyallahu ‘anhu terhadap seorang laki-laki bahwa ia telah mencuri, lalu Ali memotong tangannya. Kemudian, setelah beberapa waktu, keduanya datang lagi kepada Ali dan berkata, “Kami telah keliru pada yang pertama, dan inilah pencuri yang sebenarnya.” Maka Ali membatalkan kesaksian mereka terhadap orang yang kedua, lalu mewajibkan keduanya membayar diyat (ganti rugi) orang yang pertama, dan berkata, “Seandainya aku tahu bahwa kalian berdua sengaja, niscaya aku akan memotong kalian berdua.”

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشعبي عن علي عليه السلام غَيْرَ مَرْفُوعٍ أَنَّ رَجُلَيْنِ شَهِدَا عِنْدَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِخَبَرٍ مَرْفُوعٍ.

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Mutarrif, dari asy-Sya‘bi, dari Ali ‘alaihis salam, tanpa marfu‘, bahwa dua orang laki-laki memberikan kesaksian di hadapan Ali radhiyallahu ‘anhu tentang suatu kabar yang marfu‘.

وَقَدْ رَوَاهُ مَعَ سُفْيَانَ أَسْبَاطٌ عَنْ مُطَرِّفٍ هَذَا وَلَيْسَ لِهَذَيْنِ الْإِمَامَيْنِ مُخَالِفٌ فِي الصَّحَابَةِ فَثَبَتَ بِهِمَا الْإِجْمَاعُ.

Hadis ini juga diriwayatkan bersama Sufyan oleh Asbath dari Mutarrif, dan tidak ada sahabat yang menyelisihi dua imam ini, sehingga dengan keduanya ijmā‘ pun menjadi tetap.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ الِاعْتِبَارِ، أَنَّ كُلَّ إِتْلَافٍ ضُمِنَ بِالْمُبَاشَرَةِ ضُمِنَ بِالشَّهَادَةِ كَالْأَمْوَالِ.

Dan yang menunjukkan hal itu dari pertimbangan (‘itibār) adalah bahwa setiap perusakan yang wajib diganti secara langsung, maka wajib pula diganti karena kesaksian, seperti harta benda.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ إِلْجَاءٌ، فَوَجَبَ أَنْ يُضْمَنَ بِهِ النُّفُوسُ بِالْقَوَدِ كَالْإِكْرَاهِ.

Dan karena kesaksian adalah paksaan, maka wajib untuk menjamin jiwa dengan qishāsh sebagaimana pada kasus pemaksaan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِ أَبِي حَنِيفَةَ بِأَنَّ الشَّهَادَةَ سَبَبٌ يَسْقُطُ بِهِ الْقَوَدُ، كَحَفْرِ الْبِئْرِ. فَفَاسِدٌ بِالْإِكْرَاهِ، ثُمَّ حَفْرُ الْبِئْرِ لَمْ يُقْصَدْ بِهِ الْقَتْلُ فَسَقَطَ بِهِ الْقَوَدُ، وَالشَّهَادَةُ مَقْصُودٌ بِهَا الْقَتْلُ.

Adapun jawaban terhadap dalil Abu Hanifah bahwa kesaksian adalah sebab yang menggugurkan qisas, seperti menggali sumur, maka itu batal karena adanya unsur paksaan. Selain itu, menggali sumur tidak dimaksudkan untuk membunuh sehingga qisas gugur karenanya, sedangkan kesaksian memang dimaksudkan untuk membunuh.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِ مَالِكٍ بِالْحَاكِمِ، فَهُوَ أَنَّ الْحَاكِمَ لَزِمَهُ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ فَلَمْ يُضَمَّنْ، وَالشَّاهِدُ مُتَبَرِّعٌ بِالشَّهَادَةِ فَضَمِنَ بِهَا.

Adapun jawaban terhadap istidlal Malik dengan (perumpamaan) hakim, maka sesungguhnya hakim wajib menetapkan hukum berdasarkan kesaksian sehingga ia tidak dibebani tanggungan, sedangkan saksi memberikan kesaksian secara sukarela sehingga ia dibebani tanggungan karenanya.

( [الْقَوْلُ فِي أَحْوَالِ رُجُوعِ شُهُودِ الْقَتْلِ] )

(Pembahasan tentang keadaan para saksi pembunuhan yang menarik kembali kesaksiannya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الشُّهُودَ بِالْقَتْلِ كَالْقَتَلَةِ، لَمْ يَخْلُ حَالُهُمْ فِي الشَّهَادَةِ بِهِ إِذَا تَغَيَّرَتْ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Maka apabila telah tetap bahwa para saksi dalam kasus pembunuhan itu seperti para pelaku pembunuhan, maka keadaan mereka dalam memberikan kesaksian tentangnya ketika berubah tidak lepas dari tiga macam keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَشْكُوَ فِيهَا بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ بِهَا، أَوْ يَقُولُوا لَعَلَّنَا أَخْطَأْنَا فِيهَا، فَهَذَا قَدْحٌ فِي الضَّبْطِ لَا يَتَغَيَّرُ بِهِ حُكْمُ الشَّهَادَةِ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا، وَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِمْ بِهِ، لِأَنَّ الضَّمَانَ لَا يَجِبُ بِالشَّكِّ.

Salah satunya: apabila mereka mengeluhkan setelah hak telah dipenuhi berdasarkan kesaksian itu, atau mereka berkata, “Mungkin kami telah keliru dalam kesaksian itu,” maka ini merupakan cacat dalam ketelitian, namun tidak mengubah hukum kesaksian setelah keputusan dijalankan berdasarkannya, dan tidak ada kewajiban ganti rugi atas mereka karenanya, karena ganti rugi tidak wajib atas dasar keraguan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَرْجِعُوا جَمِيعًا عَنْهَا، فَيَسْأَلُهُمُ الْحَاكِمُ عَنْ شَهَادَتِهِمْ هَلْ تَعَمَّدُوهَا أَوْ أَخْطَأُوا فِيهَا؟ لِاخْتِلَافِ حُكْمِ الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ فِي الْقَتْلِ.

Bagian kedua: yaitu mereka semua mencabut kembali kesaksian mereka, maka hakim akan menanyakan kepada mereka tentang kesaksian tersebut, apakah mereka melakukannya dengan sengaja ataukah mereka keliru di dalamnya? Karena hukum antara kesengajaan dan kekeliruan berbeda dalam kasus pembunuhan.

وَلَهُمْ فِي الجواب عنه ثمانية أَحْوَالٍ:

Dan mereka memiliki delapan keadaan dalam menjawabnya:

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولُوا: عَمَدْنَا كُلُّنَا لِيُقْتَلَ بِشَهَادَتِنَا، فَالْقَوَدُ عَلَى جَمِيعِهِمْ وَاجِبٌ، لِأَنَّهمْ قَتَلَةُ عَمْدٍ.

Salah satunya: jika mereka berkata, “Kami semua sengaja agar ia dibunuh dengan kesaksian kami,” maka qishāsh wajib atas seluruhnya, karena mereka adalah para pembunuh dengan sengaja.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولُوا: عَمَدْنَا كُلُّنَا وَمَا عَلِمْنَا أَنَّ الْحَاكِمَ يَقْتُلُهُ بِشَهَادَتِنَا، فَهُمْ أَهْلُ جَهَالَةٍ بِمِثْلِهِ، فَهَذَا مِنْهُمْ قَتْلُ عَمْدٍ شِبْهُ الْخَطَأِ، وَلَا قَوَدَ عَلَيْهِمْ، وَتُؤْخَذُ الدِّيَةُ مِنْهُمْ مُغْلِظَةً لِمَا فِيهِ مِنَ الْعَمْدِ، وَمُؤَجَّلَةً لِمَا فِيهِ مِنَ الْخَطَأِ.

Keadaan kedua: Jika mereka berkata, “Kami semua sengaja melakukannya dan kami tidak tahu bahwa hakim akan membunuhnya berdasarkan kesaksian kami,” maka mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui akibat dari perbuatan tersebut. Maka ini dari mereka termasuk pembunuhan sengaja yang mirip dengan kesalahan, dan tidak ada qishāsh atas mereka, tetapi diambil dari mereka diyat yang diperberat karena di dalamnya terdapat unsur kesengajaan, dan ditangguhkan pembayarannya karena di dalamnya juga terdapat unsur kesalahan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولُوا: أَخْطَأْنَا كُلُّنَا، فَعَلَيْهِمْ دِيَةُ الْخَطَأِ مُخَفَّفَةً ومؤجلة يُؤْخَذُونَ بِهَا دُونَ عَوَاقِلِهِمْ، لِوُجُوبِهَا بِاعْتِرَافِهِمْ، وَالْعَاقِلَةُ لَا تَتَحَمَّلُ عَنْهُمْ مَا وَجَبَ بِاعْتِرَافِهِمْ إِنْ لَمْ يُصَدِّقُوهُمْ، فَإِنْ صَدَّقُوهُمْ تَحْمَّلُوهَا عَنْهُمْ.

Keadaan ketiga: Jika mereka berkata, “Kami semua telah bersalah (melakukan kesalahan),” maka atas mereka dikenakan diyat khata’ (denda pembunuhan tidak sengaja) yang diringankan dan ditangguhkan pembayarannya, yang diambil dari mereka sendiri tanpa melibatkan ‘āqilah mereka, karena kewajiban itu timbul berdasarkan pengakuan mereka. ‘Āqilah tidak menanggung apa yang wajib atas mereka karena pengakuan mereka, kecuali jika ‘āqilah membenarkan pengakuan tersebut, maka ‘āqilah menanggungnya dari mereka.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى أَنَّهُ عَمَدَ بَعْضُهُمْ وَأَخْطَأَ بَعْضُهُمْ، فَلَا قَوَدَ عَلَى الْعَامِدِ لِمُشَارَكَتِهِ الخاطىء، وَعَلَى الْعَامِدِ قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَةِ مُغْلِظَةً حَالَّةً، وعلى الخاطىء قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَةِ مُخَفَّفَةً مُؤَجَّلَةً.

Keadaan keempat: yaitu apabila mereka sepakat bahwa sebagian dari mereka melakukan pembunuhan dengan sengaja dan sebagian lagi tidak sengaja, maka tidak ada qishāsh atas pelaku yang sengaja karena ia bersekutu dengan pelaku yang tidak sengaja. Atas pelaku yang sengaja dikenakan bagian diyatnya secara berat dan harus segera dibayarkan, sedangkan atas pelaku yang tidak sengaja dikenakan bagian diyatnya secara ringan dan ditangguhkan pembayarannya.

وَالْحَالُ الْخَامِسَةُ، أَنْ يَخْتَلِفُوا فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ عَمَدْنَا كُلُّنَا، وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: أَخْطَأْنَا كُلُّنَا، فَعَلَى مَنْ أَقَرَّ بِعَمْدٍ جَمِيعِهِمُ الْقَوَدُ، وَعَلَى مَنْ أَقَرَّ بِخَطَأٍ جَمِيعِهِمْ قِسْطُهُ مِنْهُ الدِّيَةُ مُخَفَّفَةٌ وَمُؤَجَّلَةٌ.

Keadaan kelima, yaitu apabila mereka berselisih pendapat, sebagian dari mereka berkata, “Kami semua melakukannya dengan sengaja,” dan sebagian yang lain berkata, “Kami semua melakukannya karena keliru.” Maka bagi siapa yang mengakui perbuatan sengaja, seluruhnya dikenakan qawad, dan bagi siapa yang mengakui kesalahan, seluruhnya dikenakan bagian dari diyat yang diringankan dan ditangguhkan.

وَالْحَالُ السَّادِسَةُ: أَنْ يَخْتَلِفُوا. فَيَقُولُ اثْنَانِ مِنْهُمْ: عَمَدْنَا وَأَخْطَأَ هَذَانِ الْآخَرَانِ، وَيَقُولُ الْآخَرَانِ: بَلْ عَمَدْنَا وَأَخَطَّأَ هَذَانِ الْأَوَّلَانِ، فَفِي وُجُوبِ الْقَوَدِ عَلَيْهِمْ قَوْلَانِ:

Kondisi keenam: mereka berselisih. Maka dua orang dari mereka berkata, “Kami sengaja melakukannya dan dua orang yang lain ini yang keliru,” sedangkan dua orang yang lain berkata, “Justru kami yang sengaja melakukannya dan dua orang yang pertama itu yang keliru.” Maka dalam hal wajib atau tidaknya qawad atas mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: عَلَيْهِمُ الْقَوَدُ جَمِيعًا، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قَدِ اعْتَرَفَ بِالْقَتْلِ بِالْعَمْدِ فِي حَقِّهِ، وَأَضَافَ الْخَطَأَ إِلَى مَنْ قَدِ اعْتَرَفَ بِعَمْدِهِ، فَصَارُوا كَالْمُعْتَرِفِينَ جَمِيعًا بِالْعَمْدِ.

Salah satu pendapat: atas mereka semua dikenakan qishāsh, karena masing-masing dari mereka telah mengakui pembunuhan dengan sengaja atas dirinya sendiri, dan menisbatkan kesalahan kepada orang yang telah mengakui perbuatan sengajanya, sehingga mereka menjadi seperti orang-orang yang semuanya mengakui perbuatan sengaja.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ، لَا قَوَدَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، لِأَنَّ كل واحد منهم مقر بمشاركة للخاطىء، فلم يلزمه إقرار الخاطىء بِعَمْدِهِ، وَلِأَنَّ أَحَدًا لَا يُؤَاخَذُ بِإِقْرَارِ غَيْرِهِ، وَيَكُونُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قِسْطُهُ مِنْ دِيَةِ الْعَمْدِ مُغَلَّظَةً حَالَّةً.

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih shahih, adalah tidak ada qishāsh atas salah satu dari mereka, karena masing-masing dari mereka mengakui adanya keterlibatan pelaku kesalahan, sehingga pengakuan pelaku kesalahan dengan kesengajaannya tidak mengharuskan adanya tanggung jawab atas yang lain, dan karena seseorang tidak dibebani dengan pengakuan orang lain. Maka, atas masing-masing dari mereka dikenakan bagian dari diyat ‘amdan yang diperberat dan harus segera dibayarkan.

وَالْحَالُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَقُولَ اثْنَانِ مِنْهُمْ: عَمَدْنَا كُلُّنَا، وَيَقُولُ الْآخَرَانِ: عَمَدْنَا وَأَخْطَأَ الْأَوَّلَانِ، فَعَلَى الْمُقِرِّ بِعَمْدِ جَمِيعِهِمُ الْقَوَدِ، وَفِيمَا عَلَى الْمُقِرِّ بِعَمْدِهِ وَخَطَأِ غَيْرِهِ قَوْلَانِ:

Keadaan ketujuh: Dua orang dari mereka berkata, “Kami semua melakukannya dengan sengaja,” dan dua orang lainnya berkata, “Kami melakukannya dengan sengaja, sedangkan dua yang pertama melakukannya karena keliru.” Maka, bagi yang mengakui bahwa semuanya melakukannya dengan sengaja, berlaku hukum qisas. Adapun bagi yang mengakui bahwa dirinya melakukannya dengan sengaja dan yang lainnya keliru, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: الْقَوَدُ.

Salah satunya adalah qawad.

وَالثَّانِي: قِسْطُهُ مِنْ دِيَةِ الْعَمْدِ مُغْلِظَةً حَالَّةً.

Yang kedua: bagiannya dari diyat ‘amdu yang diperberat, dibayarkan secara tunai.

وَالْحَالُ الثَّامِنَةُ: أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ: عَمَدْتُ وَمَا أَدْرِي مَا فَعَلَ أَصْحَابِي سَأَلْنَا أَصْحَابَهُ، فَإِنْ قَالُوا: عَمَدْنَا. وَجَبَ الْقَوَدُ عَلَى الْكُلِّ، وَإِنْ قَالُوا: أَخْطَأْنَا، سَقَطَ الْقَوَدُ عَنِ الْكُلِّ.

Keadaan kedelapan: Jika salah seorang dari mereka berkata, “Aku sengaja melakukannya, dan aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh teman-temanku, maka kita tanyakan kepada teman-temannya. Jika mereka berkata, ‘Kami juga sengaja melakukannya,’ maka qawad wajib atas semuanya. Namun jika mereka berkata, ‘Kami tidak sengaja (melakukannya),’ maka qawad gugur dari semuanya.

فَهَذَا حُكْمُهُمْ إِذَا رَجَعُوا جَمِيعًا.

Maka inilah hukum mereka apabila mereka semua kembali.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يُقِيمَ بَعْضُهُمْ عَلَى شَهَادَتِهِ، وَيَرْجِعَ بَعْضُهُمْ عَنْ شَهَادَتِهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Bagian ketiga: yaitu sebagian dari mereka tetap pada kesaksiannya, dan sebagian lainnya menarik kembali kesaksiannya. Keadaan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يَزِيدَ الشُّهُودُ عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ. كَاثْنَيْنِ شَهِدَا عَلَى رَجُلٍ بِالْقَتْلِ فقتل، ثم رجع أَحَدُهُمَا، أَوْ أَرْبَعَةٍ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَا فَرُجِمَ ثُمَّ رَجَعَ أَحَدُهُمَا، فَلَا ضَمَانَ عَلَى الْمُقِيمِ عَلَى شَهَادَتِهِ، وَالرَّاجِعِ عَنْهَا ضَامِنٌ يُسْأَلُ عَنْ حَالِهِ، فَإِنْ قَالَ: أَخْطَأَتُ ضَمِنَ قِسْطَهُ مِنَ الدِّيَةِ، فَإِنْ كَانَ وَاحِدًا مِنِ اثْنَيْنِ فِي قَتْلٍ ضُمِّنَ نِصْفَ الدِّيَةِ. وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا مِنْ أَرْبَعَةٍ فِي الزِّنَى ضُمِّنَ رُبُعَ الدِّيَةِ.

Salah satunya: para saksi tidak boleh melebihi jumlah yang ditetapkan dalam bayyinah. Misalnya, dua orang bersaksi terhadap seseorang dalam kasus pembunuhan lalu orang itu dihukum mati, kemudian salah satu dari keduanya menarik kembali kesaksiannya; atau empat orang bersaksi terhadap seseorang dalam kasus zina lalu orang itu dirajam, kemudian salah satu dari mereka menarik kembali kesaksiannya; maka tidak ada tanggungan bagi yang tetap pada kesaksiannya, sedangkan yang menarik kembali kesaksiannya bertanggung jawab dan akan ditanya tentang keadaannya. Jika ia berkata, “Saya keliru,” maka ia wajib menanggung bagian diyat sesuai bagiannya. Jika ia salah satu dari dua saksi dalam kasus pembunuhan, ia wajib menanggung setengah diyat. Jika ia salah satu dari empat saksi dalam kasus zina, ia wajib menanggung seperempat diyat.

وَإِنْ قَالَ: عَمَدْتُ، سُئِلَ عن من لَمْ يَرْجِعْ مِنْ شُرَكَائِهِ فِي الشَّهَادَةِ، فَإِنْ قَالَ: أَخْطَأَ، فَعَلَيْهِ قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَةِ. وَإِنْ قَالَ: عَمَدُوا. فَعَلَيْهِ الْقَوَدُ.

Dan jika ia berkata: “Saya sengaja,” maka ditanyakan tentang orang yang tidak menarik kembali kesaksiannya dari para saksi lainnya. Jika ia berkata: “Saya keliru,” maka ia wajib menanggung bagiannya dari diyat. Dan jika ia berkata: “Kami sengaja,” maka ia wajib menjalani qishāsh.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَزِيدَ الشُّهُودُ عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ، كَثَلَاثَةٍ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالْقَتْلِ فَقُتِلَ، أَوْ خَمْسَةٌ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَى فَرُجِمَ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu para saksi melebihi jumlah yang ditetapkan dalam bayyinah, seperti tiga orang yang bersaksi terhadap seorang laki-laki dalam kasus pembunuhan lalu ia dihukum mati, atau lima orang yang bersaksi terhadap seorang laki-laki dalam kasus zina lalu ia dirajam. Maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَرْجِعَ مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ، لِرُجُوعِ الثَّالِثِ فِي شَهَادَةِ الْقَتْلِ وَالْخَامِسِ فِي شَهَادَةِ الزِّنَا، فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ لِوُجُوبِ الْقَتْلِ وَالرَّجْمِ بِشَهَادَةِ الْبَاقِينَ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَحِقَّ الْقَوَدَ فِي قَتْلٍ قَدْ وَجَبَ، وَأَمَّا الدِّيَةُ فَفِيهَا وَجْهَانِ:

Pertama: Jika orang yang melebihi jumlah saksi yang ditetapkan menarik kembali kesaksiannya, seperti saksi ketiga dalam kesaksian pembunuhan dan saksi kelima dalam kesaksian zina, maka tidak ada qishāsh atasnya karena hukuman mati dan rajam tetap wajib berdasarkan kesaksian saksi-saksi yang tersisa. Tidak boleh seseorang dikenai qishāsh dalam pembunuhan yang hukumannya sudah ditetapkan. Adapun mengenai diyat, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا شَيْءَ عَلَيْهِ مِنْهَا تَعْلِيلًا بِهَذَا الْمَعْنَى.

Salah satunya: tidak ada kewajiban apa pun baginya dari hal tersebut, dengan alasan berdasarkan makna ini.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: عَلَيْهِ قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَةِ، لِأَنَّه مُقِرٌّ بَعْدُ، وَأَنْ يُوجِبَ الضَّمَانَ، فَإِنْ كَانَ وَاحِدًا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي الْقَتْلِ ضَمِنَ ثُلُثَ الدِّيَةِ، وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا مِنْ خَمْسَةٍ فِي الزِّنَى ضَمِنَ خُمُسَ الدِّيَةِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ مُغَلَّظًا حَالًا إِنْ عَمِدَ، وَمُخَفَّفًا مُؤَجَّلًا إِنْ أَخْطَأَ.

Pendapat kedua: Ia wajib menanggung bagiannya dari diyat, karena ia tetap mengakui setelahnya, dan hal itu mewajibkan adanya tanggungan. Jika ia salah satu dari tiga orang dalam kasus pembunuhan, maka ia menanggung sepertiga diyat; dan jika ia salah satu dari lima orang dalam kasus zina, maka ia menanggung seperlima diyat. Hal itu menjadi diyat yang diperberat dan harus segera dibayar jika dilakukan dengan sengaja, dan menjadi diyat yang diringankan serta ditangguhkan jika dilakukan karena kesalahan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَرْجِعَ فِي الشَّهَادَةِ مَنْ يَنْقُصُ بِهِ عَدَدُ الْبَاقِينَ عَنِ الْبَيِّنَةِ. كَثَلَاثَةٍ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالْقَتْلِ فَرَجَعَ مِنْهُمُ اثْنَانِ، أَوْ خَمْسَةٌ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَى فَرَجَعَ مِنْهُمُ اثْنَانِ، فَهَاهُنَا يَجِبُ الْقَوَدُ عَلَى الرَّاجِعِينَ إِنْ عَمَدُوا وَأَقَرُّوا بِعَمْدِ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ وَلَا شَيْءَ عَلَى مَنْ لَمْ يَرْجِعْ لِأَنَّ الْقَتْلَ لَمْ يَجِبْ إِلَّا بِشَهَادَةِ جَمِيعِهِمْ وَإِنْ أَخْطَأَ الرَّاجِعَانِ ضُمِّنَا الدِّيَةَ، وَفِي قَدْرِ مَا يُضَمَّنَانِ مِنْهَا وَجْهَانِ:

Jenis kedua: yaitu ketika dalam persaksian ada yang menarik kembali kesaksiannya sehingga jumlah saksi yang tersisa menjadi kurang dari jumlah yang disyaratkan untuk menjadi bayyinah. Misalnya, tiga orang bersaksi atas seseorang dalam kasus pembunuhan, lalu dua di antara mereka menarik kembali kesaksiannya; atau lima orang bersaksi atas seseorang dalam kasus zina, lalu dua di antara mereka menarik kembali kesaksiannya. Dalam hal ini, wajib dikenakan qishāsh kepada para saksi yang menarik kembali kesaksiannya jika mereka sengaja dan mengakui bahwa yang tidak menarik kembali juga sengaja, dan tidak ada apa-apa atas yang tidak menarik kembali karena hukuman mati tidak wajib kecuali dengan kesaksian seluruhnya. Jika dua orang yang menarik kembali kesaksiannya itu keliru, maka mereka berdua wajib membayar diyat. Mengenai besaran diyat yang harus mereka tanggung, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُضَمَّنُ الِاثْنَانِ مِنَ الثَّلَاثَةِ فِي الْقَتْلِ ثُلُثَا الدِّيَةِ، لِأَنَّهمَا اثْنَانِ مِنْ ثَلَاثَةٍ. وَيُضَمَّنُ الِاثْنَانِ مِنَ الْخَمْسَةِ فِي الزِّنَى خَمْسًا الدِّيَةِ، لِأَنَّهمَا اثْنَانِ مِنْ خَمْسَةٍ اعْتِبَارًا بِأَعْدَادِهِمْ.

Salah satunya: Dua orang dari tiga orang dalam kasus pembunuhan diwajibkan membayar dua pertiga diyat, karena mereka adalah dua dari tiga orang. Dan dua orang dari lima orang dalam kasus zina diwajibkan membayar seperlima diyat, karena mereka adalah dua dari lima orang, sesuai dengan jumlah mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُضَمَّنُ الِاثْنَانِ مِنَ الثَّلَاثَةِ فِي الْقَتْلِ نِصْفَ الدِّيَةِ، لِبَقَاءِ الْوَاحِدِ الَّذِي هُوَ نِصْفُ الْبَيِّنَةِ، وَيُضَمَّنُ الِاثْنَانِ مِنَ الْخَمْسَةِ فِي الزِّنَا رُبُعَ الدِّيَةِ لِبَقَاءِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ هُمْ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِ الْبَيِّنَةِ، اعْتِبَارًا بِعَدَدِ الْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua: Dua orang dari tiga saksi dalam kasus pembunuhan dikenakan tanggungan setengah diyat, karena masih tersisa satu orang yang merupakan setengah dari bayyinah; dan dua orang dari lima saksi dalam kasus zina dikenakan tanggungan seperempat diyat, karena masih tersisa tiga orang yang merupakan tiga perempat dari bayyinah, dengan mempertimbangkan jumlah bayyinah.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا شَهِدَ أَرْبَعَةٌ عَلَى رَجُلٍ بِالزِّنَى وَلَمْ يَثْبُتْ حَصَانَتُهُ، فَشَهِدَ بِهَا اثْنَانِ ثُمَّ رَجَعَ شُهُودُ الْحَصَانَةِ فَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Apabila empat orang memberikan kesaksian atas seorang laki-laki melakukan zina, namun tidak terbukti adanya ḥiṣānah (status menikah yang sah), lalu dua orang di antara mereka memberikan kesaksian tentang ḥiṣānah tersebut, kemudian para saksi ḥiṣānah itu menarik kembali kesaksiannya, maka menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat dalam masalah ini.

أَحَدُهُمَا: لَا ضَمَانَ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّهمْ لَمْ يَشْهَدُوا بِالْفِعْلِ الْمُوجِبِ لِلرَّجْمِ.

Salah satu pendapat: Tidak ada kewajiban ganti rugi atas mereka, karena mereka tidak bersaksi atas perbuatan yang mewajibkan rajam.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: عَلَيْهِمُ الضَّمَانُ لِأَنَّه رُجِمَ بِمَا شَهِدُوا بِهِ مِنَ الْإِحْصَانِ. وَفِي قَدْرِ مَا يُضَمَّنَهُ شَاهِدَا الْحَصَانَةِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Mereka wajib membayar diyat karena orang tersebut dirajam berdasarkan kesaksian mereka tentang status muhsan. Mengenai besarnya diyat yang wajib ditanggung oleh dua saksi yang memberikan kesaksian tentang status muhsan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ نِصْفُ الدية، لأنهم رَجْمٌ بِنَوْعَيْنِ، الْإِحْصَانُ وَالزِّنَا فَتَقَسَّطَتِ الدِّيَةُ عَلَيْهِمَا.

Salah satunya: bahwa itu adalah setengah dari diyat, karena mereka adalah rajam dengan dua jenis, yaitu al-ihsan dan zina, sehingga diyat dibagi rata di antara keduanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: عَلَيْهِمَا ثُلُثُ الدِّيَةِ، لِأَنَّه رُجِمَ بِشَهَادَةِ سِتَّةٍ فَتَقَسَّطَتِ الدِّيَةُ عَلَى عَدَدِهِمْ.

Pendapat kedua: atas mereka berdua dikenakan sepertiga diyat, karena ia dirajam berdasarkan kesaksian enam orang, maka diyat dibagi sesuai jumlah mereka.

وَلَوْ رَجَعَ شُهُودُ الزِّنَا، فَإِنْ أَخْطَأُوا وَجَبَتْ عَلَيْهِمُ الدِّيَةُ دُونَ الْقَوَدِ، وَفِي قَدْرِ مَا يَلْزَمُهُمْ منها وجهان:

Dan jika para saksi zina menarik kembali kesaksiannya, maka jika mereka keliru, wajib atas mereka membayar diyat tanpa dikenai qisas. Mengenai besaran yang wajib mereka bayarkan dari diyat tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهَا: جَمِيعُ الدِّيَةِ إِذَا قِيلَ: إِنَّ شُهُودَ الْحَصَانَةِ لَا يُضَمَّنُونَ.

Salah satunya: seluruh diyat jika dikatakan bahwa para saksi al-hisyanah tidak dibebani tanggung jawab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: ثُلُثُ الدِّيَةِ إِذَا قِيلَ إِنَّ شُهُودَ الْحَصَانَةِ يُضَمَّنُونَ نِصْفَ الدِّيَةِ.

Pendapat kedua: sepertiga diyat, jika dikatakan bahwa para saksi al-hisyanah dikenakan tanggungan setengah diyat.

وَلَوْ عَمِدَ شُهُودُ الزِّنَى كَانَ وُجُوبُ الْقَوَدِ عَلَيْهِمْ مُعْتَبَرًا بِعِلْمِهِمْ بِحَصَانَتِهِ، فَإِنْ عَلِمُوا بِهَا عِنْدَ شَهَادَتِهِمْ وَجَبَ عَلَيْهِمُ الْقَوَدُ، لِأَنَّهمْ شَهِدُوا بِمَا تَعَمَّدُوا بِهِ الْقَتْلَ وَإِنْ جَهِلُوا حَصَانَتَهُ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِمُ الْقَوَدُ لِأَنَّهمْ لَمْ يَتَعَمَّدُوا قَتْلَهُ.

Jika para saksi zina sengaja melakukannya, maka kewajiban qisas atas mereka bergantung pada pengetahuan mereka tentang status muhshan (terjaga) orang yang dituduh. Jika mereka mengetahui status muhshan tersebut saat memberikan kesaksian, maka wajib atas mereka qisas, karena mereka telah bersaksi dengan sengaja yang menyebabkan pembunuhan. Namun jika mereka tidak mengetahui status muhshan-nya, maka tidak wajib atas mereka qisas, karena mereka tidak sengaja menyebabkan pembunuhan.

وَلَوْ رَجَعَ وَاحِدٌ مِنْ شُهُودِ الزِّنَى وَوَاحِدٌ مِنْ شَاهِدَيِ الْحَصَانَةِ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dan jika salah satu dari saksi zina dan salah satu dari dua saksi status muhshan (terjaga kehormatannya) menarik kembali kesaksiannya, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: إِنَّ عَلَى شَاهِدِ الزِّنَى رُبُعَ الدِّيَةِ وَلَا شَيْءَ عَلَى شَاهِدَيِ الْحَصَانَةِ إِذَا قِيلَ: إِنَّ شُهُودَ الْحَصَانَةِ لَا يُضَمَّنُونَ.

Salah satunya: Sesungguhnya atas saksi zina dikenakan seperempat diyat, dan tidak ada apa-apa atas dua saksi al-hishanah jika dikatakan bahwa para saksi al-hishanah tidak dibebani tanggungan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّ عَلَى شَاهِدِ الزِّنَى سُدُسُ الدِّيَةِ، وَعَلَى شَاهِدِ الْحَصَانَةِ سُدُسُ الدِّيَةِ. إِذَا قِيلَ بِضَمَانِ شُهُودِ الْحَصَانَةِ عَلَى الْعَدَدِ.

Pendapat kedua: Bahwa atas saksi zina dikenakan sepertiga diyat, dan atas saksi al-hishānah juga sepertiga diyat, jika dikatakan bahwa para saksi al-hishānah menanggung diyat sesuai jumlah mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: عَلَى شَاهِدِ الزِّنَى ثُمُنُ الدِّيَةِ وَعَلَى شَاهِدِ الْحَصَانَةِ رُبُعُ الدِّيَةِ. إِذَا قِيلَ بِضَمَانِ شُهُودِ الْحَصَانَةِ عَلَى النَّوْعِ.

Pendapat ketiga: atas saksi zina dikenakan seperdelapan diyat, dan atas saksi kehormatan dikenakan seperempat diyat, jika dikatakan bahwa para saksi kehormatan juga menanggung diyat pada jenis ini.

وَأَمَّا الْقَوَدُ فَلَا يَجِبُ عَلَى شَاهِدِ الْحَصَانَةِ، وَوُجُوبُهُ عَلَى شَاهِدِ الزِّنَى مُعْتَبَرٌ بِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ وُجُوبِهِ عَلَيْهِ إِنْ عَلِمَ بِحَصَانَتِهِ، وَسُقُوطِهِ إِنْ جَهِلَهَا.

Adapun qawad (pembalasan setimpal) tidak wajib atas saksi yang memberikan kesaksian tentang al-hisyanah (kesucian/kehormatan), dan kewajiban qawad atas saksi zina tergantung pada apa yang telah kami sebutkan, yaitu wajib atasnya jika ia mengetahui tentang al-hisyanah, dan gugur kewajibannya jika ia tidak mengetahuinya.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ شهود الطلاق] )

(Pembahasan tentang rujuknya para saksi perceraian)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ كَانَ هَذَا فِي طَلَاقِ ثَلَاثٍ أَغْرَمْتُهُمْ للزوج صَدَاقَ مِثْلِهَا دَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا لِأَنَّهمْ حَرَّمُوهَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَكُنْ لَهَا قِيمَةٌ إِلَّا مَهْرُ مِثْلِهَا وَلَا أَلْتَفِتُ إِلَى مَا أَعْطَاهَا (قَالَ الْمُزَنِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا غَلَطًا مِنْ غَيْرِ الشَّافِعِيِّ وَمَعْنَى قَوْلِهِ الْمَعْرُوفُ أَنْ يَطْرَحَ عَنْهُمْ ذَلِكَ بِنِصْفِ مَهْرِ مِثْلِهَا إِذَا لَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seandainya hal ini terjadi pada talak tiga, aku akan mewajibkan mereka mengganti kepada suami mahar yang sepadan dengannya, baik suami sudah berhubungan dengannya atau belum, karena mereka telah mengharamkannya atas suaminya, sehingga tidak ada nilai baginya kecuali mahar yang sepadan dengannya, dan aku tidak memperhatikan apa yang telah diberikan kepadanya.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Seyogianya hal ini merupakan kekeliruan dari selain Syafi‘i, dan makna pendapat beliau yang dikenal adalah bahwa hal itu digugurkan dari mereka dengan setengah mahar yang sepadan jika suami belum berhubungan dengannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي رُجُوعِ الشُّهُودِ عَمَّا اخْتَصَّ بِالْأَبْدَانِ مِنَ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ هِيَ الْقَسَمُ الثَّانِي فِي رُجُوعِهِمْ عَمَّا اخْتَصَّ بِالْأَحْكَامِ وَهُوَ شَيْئَانِ: الطَّلَاقُ وَالْعِتْقُ.

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya pembahasan mengenai pencabutan kesaksian oleh para saksi dalam perkara yang berkaitan dengan badan dari tiga macam bagian, dan masalah ini adalah bagian kedua mengenai pencabutan kesaksian mereka dalam perkara yang berkaitan dengan hukum, yaitu dua hal: talak dan ‘itq (pembebasan budak).

فَأَمَّا الطَّلَاقُ: فَهُوَ أَنْ يَشْهَدُوا عَلَى رَجُلٍ بِطَلَاقِ الثَّلَاثِ، فَيُفَرِّقُ الْحَاكِمُ بَيْنَهُمَا، ثُمَّ يَرْجِعُ الشُّهُودُ، فَهِيَ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الزَّوْجِ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِطَلَاقِهَا وَعَلَى الشُّهُودِ مَهْرُ مِثْلِهَا لِلزَّوْجِ.

Adapun talak: yaitu ketika para saksi memberikan kesaksian atas seorang laki-laki bahwa ia telah menjatuhkan talak tiga, lalu hakim memisahkan keduanya, kemudian para saksi mencabut kembali kesaksiannya, maka perempuan tersebut menjadi terlarang bagi suaminya setelah keputusan talak itu berlaku, dan para saksi wajib membayar mahar yang setara kepada suami.

وَقَالَ مَالِكٌ، وَأَبُو حَنِيفَةَ: لَا ضَمَانَ عَلَى الشُّهُودِ.

Malik dan Abu Hanifah berkata: Tidak ada tanggungan (ganti rugi) atas para saksi.

اسْتِدْلَالًا: بِأَنَّهُ لَيْسَ لِخُرُوجِ الْبِضْعِ عَنْ مِلْكِ الزَّوْجِ قِيمَةٌ، وَلَوْ كَانَ مُقَوَّمًا بِمَهْرِ الْمِثْلِ فِي مِلْكِهِ، لَوَجَبَ إِذَا طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهَا، أَنْ يَكُونَ مَهْرُ مِثْلِهَا مَحْسُوبًا مِنْ ثُلُثِهِ، كَمَا لَوْ أَعْتَقَ عَبْدَهُ فِي مَرَضِهِ، وَلَوَجَبَ إِذَا طَلَّقَهَا وَقَدْ أَحَاطَ دَيْنُهُ بِتَرِكَتِهِ أَنْ لَا يَقَعَ طَلَاقُهُ، كَمَا لَمْ يَنْفُذْ عِتْقُهُ وَهَذَا مَدْفُوعٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا قِيمَةَ لَهُ فِي خُرُوجِهِ مِنْ مِلْكِهِ كَمَا لَا قِيمَةَ لَهُ فِيمَا اسْتَهْلَكَهُ عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ ذِي قِيمَةٍ.

Sebagai dalil: bahwa keluarnya bagian (istri) dari kepemilikan suami tidak memiliki nilai, dan seandainya bagian itu dinilai dengan mahar mitsil dalam kepemilikannya, maka seharusnya ketika suami menceraikan istrinya dalam keadaan sakit yang mengantarkan pada kematian, mahar mitsilnya harus dihitung dari sepertiga hartanya, sebagaimana jika ia memerdekakan budaknya dalam sakitnya. Dan seharusnya pula jika ia menceraikannya sementara seluruh hartanya telah dikepung oleh utang, maka talaknya tidak terjadi, sebagaimana tidak sahnya pembebasan budaknya. Namun hal ini tertolak, sehingga hal itu menunjukkan bahwa tidak ada nilai pada keluarnya (istri) dari kepemilikannya, sebagaimana tidak ada nilai pada apa yang telah ia konsumsi dari sesuatu yang tidak bernilai.

وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ ضَمَانِهِ، إِنَّ عَقْدَ النِّكَاح بَعْدَ الدُّخُولِ أَقْوَى وَقَبْلَهُ أَضْعَفُ، لِارْتِفَاعِ الْعَقْدِ بِالرِّدَّةِ قَبْلَ الدُّخُولِ، وَوُقُوفِهِ عَلَى انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ بَعْدَ الدُّخُولِ، وَوَافَقُونَا عَلَى تَضْمِينِ الشُّهُودِ إِذَا شَهِدُوا بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَضْمَنُوا إِذَا شَهِدُوا بِهِ بَعْدَ الدُّخُولِ.

Dan dalil atas wajibnya penjaminan (tanggung jawab) itu adalah bahwa akad nikah setelah terjadi hubungan (dalam pernikahan) lebih kuat, sedangkan sebelum terjadi hubungan lebih lemah, karena akad dapat gugur dengan riddah sebelum terjadi hubungan, dan tetap bergantung pada berakhirnya masa iddah setelah terjadi hubungan. Mereka pun sepakat dengan kami tentang penjaminan para saksi jika mereka bersaksi atas talak sebelum terjadi hubungan, maka lebih utama lagi mereka wajib menanggung jika mereka bersaksi atas talak setelah terjadi hubungan.

وَتَحْرِيرُ هَذَا الِاسْتِدْلَالِ قِيَاسًا، إِنَّهَا شَهَادَةٌ بِطَلَاقٍ فَرَّقَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ الرُّجُوعُ عَنْهَا مُوجِبًا لِلضَّمَانِ كَالشَّهَادَةِ قَبْلَ الدُّخُولِ.

Penjelasan istidlāl ini secara qiyās adalah bahwa hal itu merupakan kesaksian tentang talak yang memisahkan antara suami istri, sehingga konsekuensinya adalah bahwa pencabutan kesaksian tersebut mewajibkan adanya tanggungan (ganti rugi), sebagaimana halnya kesaksian sebelum terjadinya hubungan suami istri.

فَإِنْ قِيلَ: فَالْمَالُ قَبْلَ الدُّخُولِ مُعَرَّضٌ لِلسُّقُوطِ بِرِدَّتِهَا، وَبِالْفَسْخِ إِذَا كَانَ مِنْ قَبْلِهَا، وَهُوَ بَعْدَ الدُّخُولِ مُسْتَقِرٌّ لَا يَسْقُطُ بِحَالٍ، فَإِذَا شَهِدُوا بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ فَقَدْ أَثْبَتُوا بِهِ صِفَةَ الْمُعَرَّضِ لِلسُّقُوطِ فَضُمِّنُوا، وَإِذَا شَهِدُوا بِهِ بَعْدَ الدُّخُولِ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ مُعَرَّضًا لِلسُّقُوطِ فَلَمْ يُضَمَّنُوا.

Jika dikatakan: Harta (mahar) sebelum terjadi hubungan suami istri masih berpotensi gugur karena murtadnya istri, atau karena pembatalan jika berasal dari pihak istri, sedangkan setelah terjadi hubungan suami istri, harta tersebut telah tetap dan tidak bisa gugur dalam keadaan apa pun. Maka, apabila para saksi memberikan kesaksian tentang talak sebelum terjadi hubungan suami istri, berarti mereka telah menetapkan sesuatu yang masih berpotensi gugur, sehingga mereka diwajibkan menanggung (ganti rugi). Namun, jika mereka memberikan kesaksian tentang talak setelah terjadi hubungan suami istri, maka harta itu tidak lagi berpotensi gugur, sehingga mereka tidak diwajibkan menanggung (ganti rugi).

قِيلَ: عَكْسُ هَذَا أَوْلَى، لِأَنَّ الصَّدَاقَ وَاجِبٌ بِالْعَقْدِ، فَإِذَا شَهِدُوا بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ فَقَدْ أَسْقَطُوا بِهَا نِصْفَ الصَّدَاقِ، وَإِذَا شَهِدُوا بِهِ بَعْدَ الدُّخُولِ لَمْ يُسْقِطُوا بِهِ شَيْئًا مِنَ الصَّدَاقِ، فَكَانَ ضَمَانُهُمْ بَعْدَ الدُّخُولِ أَقْوَى مِنْ ضَمَانِهِمْ قَبْلَهُ.

Dikatakan: Kebalikan dari ini lebih utama, karena mahar menjadi wajib dengan akad, maka jika mereka bersaksi tentang talak sebelum terjadi hubungan suami istri, berarti dengan kesaksian itu mereka telah menggugurkan setengah mahar. Namun jika mereka bersaksi setelah terjadi hubungan suami istri, mereka tidak menggugurkan sedikit pun dari mahar. Maka tanggung jawab mereka setelah terjadi hubungan suami istri lebih kuat daripada tanggung jawab mereka sebelumnya.

فَإِنْ قِيلَ: فَهُوَ بَعْدُ الدُّخُولِ قَدِ اسْتَوْفَى حَقَّهُ مِنْ الِاسْتِمْتَاعِ، فَلَمْ يُضَمَّنُوا وَقَبْلَ الدُّخُولِ لَمْ يَسْتَوْفِهِ فَضُمِّنُوا.

Jika dikatakan: Setelah terjadi hubungan, ia telah memperoleh haknya dalam menikmati, maka mereka tidak diwajibkan membayar ganti rugi; sedangkan sebelum terjadi hubungan, ia belum memperoleh hak tersebut, maka mereka diwajibkan membayar ganti rugi.

قِيلَ: حَقُّهُ فِي الِاسْتِمْتَاعِ بَاقٍ بِبَقَاءِ النِّكَاحِ، وَقَدْ أَبْطَلُوهُ بِشَهَادَتِهِمْ فِي الْحَالَتَيْنِ فَضَمَّنُوهُ فِيهَا.

Dikatakan: Haknya untuk memperoleh kenikmatan masih tetap selama pernikahan masih berlangsung, namun mereka telah membatalkannya dengan kesaksian mereka dalam kedua keadaan tersebut, maka mereka mewajibkan ganti rugi atasnya dalam hal itu.

وَدَلِيلٌ ثَانٍ: أَنَّ الْإِحَالَةَ بَيْنَ الزَّوْجِ وَبِضْعِ امْرَأَتِهِ إِذَا لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى خُلُوِّ الْعَقْدِ مِنْ مَهْرٍ، فَهُوَ مُوجِبٌ لِضَمَانِ الْمَهْرِ، كَمَا لَوْ أَرْضَعَتْ زَوْجَتُهُ الْكَبِيرَةُ زَوْجَتَهُ الصَّغِيرَةَ ضَمِنَتِ الْكَبِيرَةُ مَهْرَ الصَّغِيرَةِ.

Dalil kedua: Bahwa pengalihan antara suami dan kemaluan istrinya, apabila tidak memerlukan kosongnya akad dari mahar, maka hal itu mewajibkan penjaminan mahar, sebagaimana jika istri yang dewasa menyusui istri yang masih kecil milik suaminya, maka istri yang dewasa wajib menjamin mahar istri yang masih kecil.

وَقَدْ وَافَقُوا عَلَى ذَلِكَ إِذَا قَصَدَتِ الْكَبِيرَةُ تَحْرِيمَ الصَّغِيرَةِ.

Dan mereka sepakat atas hal itu apabila dosa besar dimaksudkan untuk mengharamkan dosa kecil.

فَإِنْ قِيلَ: فَبِفِعْلِ الْكَبِيرَةِ قَدْ حَرُمَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهَا، وَلَا يَلْزَمُهَا مَهْرُهَا.

Jika dikatakan: Dengan melakukan dosa besar, ia telah diharamkan atas dirinya sendiri, dan ia tidak berhak mendapatkan maharnya.

قِيلَ: لِأَنَّه لَوْ لَزِمَهَا مَهْرُهَا، لَأَفْضَى إِلَى خُلُوِّ الْعَقْدِ مِنْ مَهْرِهَا، وَلَا يُفْضِي هَذَا إِلَى خُلُوِّ عَقْدِ الصَّغِيرَةِ مِنْ مَهْرِهَا، فَلِذَلِكَ ضَمِنَتِ الْكَبِيرَةُ مَهْرَ الصَّغِيرَةِ، وَلَمْ تَضْمَنْ مَهْرَ نَفْسِهَا.

Dikatakan: Karena jika ia wajib membayar maharnya sendiri, hal itu akan menyebabkan akadnya tanpa mahar, sedangkan hal ini tidak menyebabkan akad anak kecil tanpa mahar. Oleh karena itu, perempuan dewasa menanggung mahar anak kecil, dan ia tidak menanggung mahar untuk dirinya sendiri.

فَإِنْ قِيلَ بَعْدَ هَذَا: لو قتلها لَضَمِنَتْ دِيَتَهَا، وَلَا تَضْمَنُ مَهْرَهَا.

Jika dikatakan setelah ini: Jika ia membunuhnya, maka ia wajib membayar diyatnya, dan tidak wajib membayar maharnya.

قِيلَ: ضَمَانُ الْمَنَافِعِ تَسْقُطُ بِضَمَانِ أَعْيَانِهَا، فَأَوْجَبَ ضَمَانُ دِيَتِهَا سُقُوطَ مَهْرِهَا.

Dikatakan: tanggungan atas manfaat-manfaatnya gugur dengan adanya tanggungan atas bendanya, maka kewajiban membayar diyatnya menyebabkan gugurnya mahar.

وَدَلِيلٌ ثَالِثٌ: إِنَّهُ لَمَّا كَانَ لِدُخُولِ الْبِضْعِ فِي مِلْكِ الزَّوْجِ قِيمَةٌ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ لِخُرُوجِهِ عَنْ مِلْكِهِ قِيمَةٌ اعْتِبَارًا بِسَائِرِ الْأَمْوَالِ، فَإِنْ مَنَعُوا أَنْ يَكُونَ لِخُرُوجِهِ عن ملكه قيمة بما ذكروه ودللنا عَلَيْهِ بِجَوَازِ الْخُلْعِ عَلَى الْبِضْعِ، فَإِنَّهُ يَمْلِكُ بِهِ الْعِوَضَ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَمْلِكَ الْعِوَضَ فِي مُقَابَلَةِ مَا لَيْسَ لَهُ عِوَضٌ.

Dalil ketiga: Karena masuknya al-bid‘ (kemaluan istri) ke dalam kepemilikan suami memiliki nilai, maka keluarnya dari kepemilikan suami juga harus memiliki nilai, sebagaimana berlaku pada seluruh harta benda. Jika mereka melarang adanya nilai pada keluarnya dari kepemilikan suami dengan alasan yang mereka sebutkan, maka kami telah menunjukkan dalil atas bolehnya khulu‘ dengan al-bid‘, karena dengan itu suami berhak mendapatkan kompensasi. Tidak boleh seseorang mendapatkan kompensasi atas sesuatu yang tidak memiliki nilai kompensasi.

ثُمَّ نُجِيبُ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنْ أَنَّهُ لَا قِيمَةَ لِخُرُوجِهِ عَنْ مِلْكِهِ.

Kemudian kami menjawab apa yang mereka jadikan dalil bahwa tidak ada nilai karena telah keluar dari kepemilikannya.

وَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّهُ لَوْ طَلَّقَهَا فِي مَرَضِهِ لَمْ يَكُنْ مِنْ ثَلَاثَةٍ، وَلَوْ كَانَتْ مَالًا لَكَانَتْ مِنْ ثُلُثِهِ لِعِتْقِهِ، فَهُوَ إِنَّنَا نَعْتَبِرُ مَا كَانَ مُنْتَقِلًا إِلَى وَرَثَتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَالزَّوْجَةُ لَا تَنْتَقِلُ إِلَيْهِمْ بَعْدَ الْمَوْتِ.

Adapun pernyataan mereka bahwa jika ia menceraikannya saat sakitnya, maka itu tidak termasuk sepertiga, dan jika istri itu adalah harta, maka ia termasuk sepertiga hartanya karena ia memerdekakannya, maka sesungguhnya kami mempertimbangkan apa yang berpindah kepada ahli warisnya setelah kematiannya, sedangkan istri tidak berpindah kepada mereka setelah kematian.

فَلِذَلِكَ لَمْ تُعْتَبَرْ مِنَ الثُّلُثِ، وَإِنْ كَانَ بِضْعُهَا مِلْكًا لَهُ كَأُمِّ الْوَلَدِ لَوْ أَعْتَقَهَا فِي مَرَضِهِ لَمْ تَكُنْ مِنْ ثُلُثِهِ وَإِنْ كَانَتْ مِلْكًا، لِأَنَّها لَا تَنْتَقِلُ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَى وَرَثَتِهِ، وَهَكَذَا لَوْ طَلَّقَهَا فِي مَرَضِهِ وَقَدْ أَحَاطَ دَيْنُهُ بِتَرِكَتِهِ بَعْدَ طَلَاقِهِ وَإِنْ لَمْ يَنْفُذْ عِتْقُهُ، لِأَنَّها لَا تَنْتَقِلُ إِلَى الْغُرَمَاءِ كَعِتْقِ أَمِ الْوَلَدِ، وَخَالَفَ عِتْقُ الْعَبْدِ الْقِنِّ الَّذِي يُصْرَفُ فِي دُيُونِهِ لَوْ لَمْ يُعْتَقْ.

Oleh karena itu, hal tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari sepertiga harta, meskipun sebagian darinya adalah miliknya, seperti umm al-walad; jika ia memerdekakannya saat sakit, maka itu tidak termasuk dalam sepertiga hartanya, meskipun ia memilikinya, karena ia tidak berpindah kepada para ahli waris setelah kematiannya. Demikian pula jika ia menceraikannya saat sakit dan hartanya telah dikepung oleh utang setelah perceraian itu, meskipun pemerdekaannya tidak berlaku, karena ia tidak berpindah kepada para kreditur seperti pemerdekaan umm al-walad. Berbeda dengan pemerdekaan budak murni (‘abd al-qin), yang hartanya akan digunakan untuk membayar utangnya jika ia tidak dimerdekakan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذْ قَدْ ذَكَرْنَا دَلَائِلَ مَنْ أَثْبَتَ الْغُرْمَ وَنَفَاهُ، فَالَّذِي أَرَاهُ أَوْلَى مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْمَذْهَبَيْنِ إِنَّ الشَّهَادَةَ بِهَذَا الطَّلَاقِ الْكَاذِبِ يُوجِبُ تَحْرِيمَهَا فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ. وَيَجُوزُ لَهُمَا الِاجْتِمَاعُ بَعْدَهَا فِيمَا بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى. عَلَى أَصْلِ مَذْهَبِنَا فِي أَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ فِي الظَّاهِرِ لَا يُحِيلُ الْأُمُورَ عَمَّا هِيَ عَلَيْهِ فِي الْبَاطِنِ، وَإِنْ خَالَفَنَا أَبُو حَنِيفَةَ.

Dan setelah kami menyebutkan dalil-dalil dari pihak yang menetapkan kewajiban ganti rugi (ghurm) dan yang menolaknya, maka menurut pendapat saya, yang lebih utama daripada sekadar membebaskan dua mazhab ini adalah bahwa kesaksian atas talak yang dusta menyebabkan keharaman secara lahiriah, namun tidak secara batiniah. Keduanya masih boleh berkumpul kembali setelahnya dalam hubungan di antara mereka dengan Allah Ta‘ala. Berdasarkan prinsip mazhab kami bahwa keputusan hakim secara lahiriah tidak mengubah perkara dari hakikatnya secara batiniah, meskipun Abu Hanifah berbeda pendapat dengan kami.

فَاقْتَضَى مِنْ مَذْهَبِنَا أَنْ يُنْظَرَ فِي حَالِ الزَّوْجِ، فَإِنْ وَصَلَ إِلَى الِاسْتِمْتَاعِ بِزَوْجَتِهِ بِمُسَاعَدَتِهَا لَهُ عَلَى مَا أَبَاحَهَا اللَّهُ تَعَالَى فِي الْبَاطِنِ، فَلَا رُجُوعَ لِلزَّوْجِ بِمَهْرِهَا عَلَى الشُّهُودِ إِذَا رَجَعُوا، لِئَلَّا يَجْمَعَ بَيْنَ الِاسْتِبَاحَةِ وَالرُّجُوعِ بِالْمَهْرِ.

Maka menurut mazhab kami, perlu dilihat keadaan suami; jika ia telah memperoleh kenikmatan bersama istrinya dengan bantuan istrinya dalam hal yang telah Allah Ta‘ala halalkan baginya secara batin, maka suami tidak berhak menuntut kembali mahar dari para saksi jika mereka menarik kembali kesaksiannya, agar tidak menggabungkan antara memperoleh kehalalan dan menuntut kembali mahar.

وَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى الِاسْتِمْتَاعِ بِهَا، لِامْتِنَاعِهَا عَلَيْهِ تَمَسُّكًا بِظَاهِرِ التَّحْرِيمِ، رَجَعَ عَلَى الشُّهُودِ بِمَهْرِهَا لِتَفْوِيتِهِمْ عَلَيْهِ بِضْعَهَا.

Dan jika ia tidak dapat menikmati istrinya karena istrinya menolak kepadanya dengan berpegang pada zahir larangan, maka ia berhak menuntut para saksi untuk mengganti mahar istrinya karena mereka telah menyebabkan hilangnya haknya atas istrinya.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ عَلَى رَجُلٍ بِقَذْفِ امْرَأَتِهِ بِالزِّنَا فَيُلَاعِنُ الْحَاكِمُ بَيْنَهُمَا، ثُمَّ يَرْجِعُ الشَّاهِدَانِ، وَاللَّعَّانُ فِي الظَّاهِرِ عَلَى نَفَاذِهِ فِي وُقُوعِ الْفُرْقَةِ وَتَحْرِيمِ الْأَبَدِ، فَأَمَّا نُفُوذُهُ فِي الْبَاطِنِ فَمُعْتَبَرٌ بِحَالِ الزَّوْجِ، فَإِنَّ أَمِنَ حَدَّ الْقَذْفِ حِينَ لَاعَنَ بِاخْتِيَارِهِ، فَلَا رُجُوعَ لَهُ عَلَى الشُّهُودِ لِوُقُوعِ الْفُرْقَةِ بِلِعَانِهِ.

Berdasarkan hal ini, jika dua orang saksi memberikan kesaksian terhadap seorang laki-laki bahwa ia menuduh istrinya berzina, maka hakim melakukan li‘ān di antara keduanya. Kemudian kedua saksi itu menarik kembali kesaksiannya, dan hukum li‘ān secara lahir tetap berlaku dalam terjadinya perpisahan dan pengharaman selama-lamanya. Adapun keberlakuannya secara batin tergantung pada keadaan suami; jika ia telah aman dari hukuman qazaf ketika melakukan li‘ān atas pilihannya sendiri, maka ia tidak berhak menuntut kembali kepada para saksi, karena perpisahan telah terjadi melalui li‘ān yang dilakukannya.

وَإِنْ خَافَ مِنْ حَدِّ الْقَذْفِ، لَمْ تَقَعِ الْفُرْقَةُ فِي الْبَاطِنِ، وَلَا رُجُوعَ لَهُ عَلَى الشُّهُودِ إِنْ أَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا، وَيَرْجِعُ عَلَيْهِمْ إِنْ مَنَعَتْهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika ia takut terkena had qadzaf, maka perceraian tidak terjadi secara batin, dan ia tidak dapat menuntut para saksi jika ia mampu menguasai dirinya sendiri, namun ia dapat menuntut mereka jika ia terhalangi, dan Allah lebih mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْغُرْمِ عَلَى الشُّهُودِ إِذَا رَجَعُوا فِي الطَّلَاقِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Maka apabila telah tetap kewajiban ganti rugi atas para saksi apabila mereka menarik kembali kesaksiannya dalam perkara talak, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الطَّلَاقُ ثَلَاثًا.

Salah satunya adalah talak tiga.

وَالثَّانِي: دُونَ الثَّلَاثِ.

Dan yang kedua: kurang dari tiga.

فَإِنْ كَانَ مَا شَهِدُوا بِهِ مِنَ الطَّلَاقِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika apa yang mereka saksikan berupa talak, maka terdapat dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ بَعْدَ الدُّخُولِ: فَعَلَيْهِمْ ضَمَانُ جَمِيعِ الْمَهْرِ يُقَسِطُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَعْدَادِهِمْ، فَإِنْ شَهِدَ بِهِ اثْنَانِ، كَانَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ، وَإِنْ شَهِدَ بِهِ ثَلَاثَةٌ، كَانَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُلُثُهُ.

Salah satunya: jika terjadi setelah terjadi hubungan (dakhul), maka mereka wajib menanggung seluruh mahar yang dibagi rata di antara mereka sesuai jumlahnya. Jika yang bersaksi ada dua orang, maka masing-masing dari mereka menanggung setengahnya; dan jika yang bersaksi ada tiga orang, maka masing-masing dari mereka menanggung sepertiganya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ شَهَادَتُهُمْ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ، فَقَدِ اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي قَدْرِ مَا يَلْزَمُ الشُّهُودِ:

Jenis kedua: yaitu apabila kesaksian mereka tentang talak sebelum terjadi hubungan suami istri, maka terdapat perbedaan riwayat dari Imam Syafi‘i mengenai kadar yang wajib atas para saksi.

فَرَوَى عَنْهُ الْمُزَنِيُّ إِنَّ عَلَيْهِمْ ضَمَانَ جَمِيعِ الْمَهْرِ.

Lalu al-Muzani meriwayatkan darinya bahwa mereka wajib menanggung seluruh mahar.

وَرَوَى عَنْهُ الرَّبِيعُ إِنَّ عَلَيْهِمْ ضَمَانُ نِصْفِهِ، وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيِّ.

Ar-Rabi‘ meriwayatkan darinya bahwa atas mereka wajib membayar ganti rugi setengahnya, dan pendapat ini dipilih oleh al-Muzani.

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ مَا نَقَلَاهُ، فَخَرَّجَهُ أَكْثَرُهُمْ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai perbedaan riwayat yang mereka sampaikan, maka mayoritas dari mereka mengeluarkan dua pendapat terkait hal itu:

أَحَدُهُمَا: عَلَيْهِمْ نِصْفُ الْمَهْرِ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya: mereka wajib membayar setengah mahar, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: لِأَنَّه قَدْرُ مَا الْتَزَمَ.

Salah satunya: karena itu adalah kadar yang telah ia wajibkan atas dirinya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ قَدْ رَجَعَ عَلَى الزَّوْجَةِ بِنِصْفِهِ، فَلَوْ رَجَعَ عَلَى الشُّهُودِ بِجَمِيعِهِ لَصَارَ إِلَيْهِ مَهْرٌ وَنِصْفٌ، وَهُوَ لَا يَسْتَحِقُّ أَكْثَرَ مِنَ الْمَهْرِ فَعَلَى هَذَا عَلَيْهِمْ نِصْفُ مَهْرِ الْمِثْلِ، لِأَنَّه قِيمَةُ الْمُتْلَفِ.

Kedua: Sesungguhnya ia telah menuntut kembali setengahnya dari istri, maka jika ia menuntut kembali seluruhnya dari para saksi, berarti ia memperoleh mahar dan setengahnya, padahal ia tidak berhak mendapatkan lebih dari mahar. Oleh karena itu, atas para saksi wajib membayar setengah mahar mitsil, karena itulah nilai dari yang telah dirusakkan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: نِصْفُ الْمَهْرِ الْمُسَمَّى اعْتِبَارًا بِمَا غَرِمَ.

Abu Hanifah berkata: Setengah dari mahar yang telah disebutkan menjadi kewajiban, dengan mempertimbangkan apa yang telah dikeluarkan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَلْزَمُهُمْ جَمِيعُ مَهْرِ الْمِثْلِ لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua: Wajib atas mereka seluruh mahar mitsil karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمْ قَدْ أَحَالُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا مِلْكَهُ مِنْ جَمِيعِ الْبِضْعِ، فَوَجَبَ أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهِمْ بِجَمِيعِ مَهْرِهَا كَمَا يَرْجِعُ بِهِ لَوْ دَخَلَ بِهَا.

Salah satunya: Sesungguhnya mereka telah menghalangi dia dari seluruh bagian yang menjadi miliknya, maka wajib baginya untuk menuntut kembali seluruh maharnya dari mereka, sebagaimana ia berhak menuntutnya jika ia telah berhubungan dengannya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَمَّا رَجَعَ بِجَمِيعِ الْمَهْرِ إِذَا اسْتَمْتَعَ بِهَا، كَانَ أَوْلَى أَنْ يَرْجِعَ بِجَمِيعِهِ إِذَا لَمْ يَسْتَمْتِعُ بِهَا.

Kedua: Sesungguhnya ketika ia berhak mengambil kembali seluruh mahar jika telah menikmati istrinya, maka lebih utama lagi ia berhak mengambil kembali seluruhnya jika belum menikmati istrinya.

فَعَلَى هَذَا، إِنْ كَانَ الصَّدَاقُ قَدْ سَاقَهُ إِلَيْهَا لَمْ يَرْجِعْ عَلَيْهَا بِنِصْفِهِ، لِأَنَّه لَا يَدَّعِيهِ. وَإِنْ لَمْ يَسُقْهُ إِلَيْهَا لَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا نِصْفُهُ، وَإِنِ اعْتَرَفَ لَهَا بِجَمِيعِهِ لِأَجْلِ مَنْعِهِ مِنْهَا.

Dengan demikian, jika mahar itu telah diserahkan kepadanya, maka ia tidak berhak meminta kembali setengahnya, karena ia tidak menuntutnya. Namun jika mahar itu belum diserahkan kepadanya, maka ia hanya wajib membayar setengahnya saja, meskipun ia mengakui seluruhnya untuknya karena ia telah menghalanginya dari mahar tersebut.

وَامْتَنَعَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا مِنْ تَخْرِيجِ الرُّجُوعِ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَحَمَلُوا مَا رَوَاهُ مَنْ أَوْجَبَ جَمِيعَ الْمَهْرِ عَلَى الزَّوْجِ إِذَا سَاقَ جَمِيعَ الْمَهْرِ إِلَيْهَا، لِأَنَّه خَرَجَ عَنْ يَدِهِ جَمِيعُ الْمَهْرِ، فَرَجَعَ عَلَيْهِمْ بِجَمِيعِ الْمَهْرِ.

Sebagian ulama kami menolak untuk mengeluarkan pendapat tentang adanya dua pendapat dalam masalah rujuk, dan mereka menafsirkan riwayat yang menyatakan bahwa seluruh mahar wajib atas suami jika ia telah menyerahkan seluruh mahar kepada istrinya, karena seluruh mahar telah keluar dari tangannya, maka ia berhak menuntut kembali seluruh mahar tersebut dari mereka.

وَهَذِهِ الطَّرِيقَةُ عِنْدِي أَوْلَى عِنْدِي مِنْ تَخْرِيجِ الْقَوْلَيْنِ، لِأَنَّ مَا أَمْكَنَ حَمْلُهُ عَلَى الِاتِّفَاقِ كَانَ أَوْلَى مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الِاخْتِلَافِ.

Menurut saya, metode ini lebih utama daripada mengeluarkan dua pendapat, karena sesuatu yang masih mungkin untuk dibawa kepada kesepakatan lebih utama daripada membawanya kepada perbedaan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ كَانَ مَا شَهِدُوا بِهِ مِنَ الطَّلَاقِ أَقَلَّ مِنَ الثَّلَاثِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika apa yang mereka saksikan berupa talak kurang dari tiga kali, maka hal itu terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الدُّخُولِ. فَيُوجِبُ الضَّمَانَ عَلَى الشُّهُودِ إِذَا رَجَعُوا كَمَا يُوجِبُهُ طَلَاقُ الثَّلَاثِ، لِأَنَّها تَبِينُ بِالْوَاحِدَةِ كَمَا تَبِينُ بِالثَّلَاثِ.

Salah satunya: yaitu terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri. Maka hal itu mewajibkan tanggungan (ganti rugi) atas para saksi jika mereka menarik kembali kesaksiannya, sebagaimana talak tiga juga mewajibkannya, karena perempuan menjadi terpisah dengan satu talak sebagaimana ia terpisah dengan tiga talak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ بَعْدَ الدُّخُولِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu setelah terjadinya hubungan suami istri, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا تَبِينَ بِالْوَاحِدَةِ لِأَنَّه لَمْ يَتَقَدَّمْ مِنْهُ طَلَاقٌ فلا شيء على الشهود إذا رجعوا، لأنه الزَّوْجَ يَقْدِرُ عَلَى اسْتِبَاحَتِهَا بِالرَّجْعَةِ.

Salah satunya: tidak terjadi talak bain dengan satu kali talak karena sebelumnya belum ada talak dari suami, maka tidak ada kewajiban apa pun atas para saksi jika mereka menarik kembali kesaksiannya, karena suami masih dapat menghalalkan istrinya dengan rujuk.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَبِينَ بِالْوَاحِدَةِ الَّتِي شَهِدُوا بِهَا وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu talak yang menjadi jelas dengan satu kali talak yang mereka saksikan, dan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ فِي خَلْعٍ تَبِينُ فِيهِ بِالْوَاحِدَةِ وَرَجَعَ الشُّهُودُ عَنْهُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Salah satunya: yaitu jika hal itu terjadi dalam khulu‘ yang menyebabkan talak bain dengan satu kali, lalu para saksi menarik kembali kesaksiannya, maka ada dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ عَلَى الزَّوْجَةِ لِإِنْكَارِهَا عَقَّدَ الْخُلْعُ، فَقَدْ أَلْزَمُوهَا الْعِوَضَ، وَلَا يَكُونُ الطَّلَاقُ بَدَلًا مِنْهُ فِي حَقِّهَا، فَلَهَا الرُّجُوعُ عَلَيْهِمْ بِمَا أَغْرَمُوهَا.

Salah satunya: jika kesaksian diberikan terhadap istri karena ia mengingkari terjadinya akad khulu‘, maka mereka mewajibkan istri membayar kompensasi, dan talak tidak dapat menjadi pengganti kompensasi tersebut baginya. Maka, istri berhak menuntut kembali dari mereka apa yang telah mereka bebankan kepadanya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ عَلَى الزَّوْجِ لِإِنْكَارِهَا عَقْدَ الْخُلْعِ، فَقَدْ كَانُوا أَلْزَمُوهُ بِالطَّلَاقِ بِمَا أَوْجَبُوهُ لَهُ مِنَ الْعِوَضِ وَهُوَ مُسْتَحِقٌّ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَدَعْهُ، لِحَقِّهِ فِي بِضْعِهَا، فَإِذَا لَمْ يَصِلُ إِلَيْهِ، كَانَ لَهُ الْوُصُولُ إِلَى بَدَلِهِ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ نُظِرَ.

Jenis kedua: yaitu apabila kesaksian diberikan terhadap suami karena ia mengingkari akad khulu‘, maka para ulama mewajibkan suami untuk menjatuhkan talak karena adanya kompensasi yang telah diwajibkan untuknya dan ia memang berhak atas kompensasi tersebut, meskipun ia tidak menuntutnya, karena ia memiliki hak atas istrinya. Jika ia tidak mendapatkan hak tersebut, maka ia berhak mendapatkan penggantinya. Jika demikian keadaannya, maka hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنْ كَانَ الْعِوَضُ بِقَدْرِ مَهْرِ الْمِثْلِ لَمْ يَرْجِعْ عَلَى الشُّهُودِ بِشَيْءٍ، لِوُصُولِهِ إِلَى الْمَهْرِ مِنْ جِهَةِ الزَّوْجَةِ.

Jika kompensasi itu sebesar mahar mitsil, maka tidak ada tuntutan ganti rugi kepada para saksi atas apa pun, karena kompensasi tersebut telah sampai kepada mahar melalui pihak istri.

وَإِنْ كَانَ الْعِوَضُ أَقَلُّ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ، يَرْجِعُ عَلَى الشُّهُودِ بِالْبَاقِي مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ لِيَسْتَكْمِلَهُ مِنَ الشُّهُودِ وَالزَّوْجَةِ.

Dan jika imbalan (mahar) itu lebih sedikit daripada mahar mitsil, maka sisanya dari mahar mitsil dapat dituntut kepada para saksi agar dilengkapi dari para saksi dan istri.

وَمَثَلُهُ أَنْ يَشْهَدُوا بِشَفْعَتِهِ فِي مَبِيعٍ وَيُنْتَزَعُ مِنْ مُشْتَرِيهِ بِثَمَنِهِ ثُمَّ يَرْجِعُ الشُّهُودُ عَمَّا شَهِدُوا بِهِ مِنْ مِلْكِ الشَّفِيعِ، فَإِنْ كَانَ الثَّمَنُ مِثْلَ قِيمَةِ الْمِلْكِ لَمْ يُضَمَّنُوا، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ ضُمِّنُوا فَاضِلَ الْقِيمَةِ.

Demikian pula jika mereka bersaksi tentang hak syuf‘ah seseorang atas barang yang dijual, lalu barang itu diambil dari pembelinya dengan harga yang telah dibayarkan, kemudian para saksi menarik kembali kesaksian mereka tentang kepemilikan syuf‘ah tersebut. Jika harga barang itu sama dengan nilai barang, maka para saksi tidak menanggung apa-apa. Namun jika harga tersebut lebih rendah dari nilai barang, maka para saksi wajib menanggung selisih nilai tersebut.

وَهَكَذَا لَوْ شَهِدُوا عَلَى رَجُلٍ أَنَّهُ بَاعَ فَانْتُزِعَ مِنْهُ مَا شَهِدُوا بِهِ مِنَ الثَّمَنِ ثُمَّ رَجَعُوا إِنْ كَانَ الثَّمَنُ مِثْلَ قِيمَتِهِ لَمْ يُضَمَّنُوا، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنَ الْقِيمَةِ ضُمِّنُوا فَاضِلَ الْقِيمَةِ.

Demikian pula, jika mereka bersaksi terhadap seorang laki-laki bahwa ia telah menjual sesuatu, lalu diambil darinya harga yang mereka persaksikan, kemudian mereka menarik kembali kesaksian mereka, maka jika harga tersebut sama dengan nilai barangnya, mereka tidak diwajibkan membayar ganti rugi. Namun jika harga tersebut lebih rendah dari nilai barangnya, mereka diwajibkan mengganti selisih nilai tersebut.

وَلَوْ شَهِدُوا بِهِبَةٍ ثُمَّ رَجَعُوا.

Dan jika mereka bersaksi tentang hibah, kemudian mereka menarik kembali kesaksiannya.

فَإِنْ قِيلَ بِوُجُوبِ الْمُكَافَأَةِ لَمْ يُضَمَّنُوا، وَإِنْ قِيلَ بِسُقُوطِهَا ضُمِّنُوا.

Jika dikatakan bahwa kewajiban imbalan itu tetap, maka mereka tidak dikenakan tanggungan; namun jika dikatakan bahwa kewajiban itu gugur, maka mereka dikenakan tanggungan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنَّ تَبِينَ بِالْوَاحِدَةِ، لِأَنَّ الزَّوْجَ قَدْ طَلَّقَهَا قَبْلَ الشَّهَادَةِ طَلْقَتَيْنِ فَصَارَتْ بَائِنَةً بِالثَّالِثَةِ، فَقَدْ أَحَالَ الشُّهُودُ بِهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ بِضْعِهَا، فَلَزِمَهُمُ الْغُرْمُ بِحُكْمِ الْإِحَالَةِ وَفِي قَدْرِ مَا يَلْزَمُهُمْ وَجْهَانِ:

Jenis yang kedua: yaitu bahwa talak menjadi bain dengan satu kali talak, karena suami telah menceraikannya dua kali sebelum kesaksian, lalu ia menjadi bain dengan talak yang ketiga. Maka para saksi dengan kesaksian itu telah menghalangi antara suami dan istrinya, sehingga mereka wajib menanggung ganti rugi berdasarkan hukum penghalangan tersebut. Mengenai besaran yang wajib mereka tanggung, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: جَمِيعُ الْمَهْرِ، لِأَنَّهمْ مَنَعُوهُ مِنْهَا مِنْ جَمِيعِ الْبِضْعِ.

Yang pertama: seluruh mahar, karena mereka telah menghalanginya dari seluruh hubungan badan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَلْزَمُهُمْ ثُلُثُ الْمَهْرِ، لِأَنَّه مَمْنُوعٌ مِنْ بِضْعِهَا بِثَلَاثِ طَلَقَاتٍ اخْتَصَّ الشُّهُودُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا، فَكَانَ ثُلُثُ الْمَنْعِ مِنْهُمْ فَوَجَبَ ثُلُثُ الْمَهْرِ، فَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ الزَّوْجُ قَدْ طَلَّقَهَا وَاحِدَةً، وَشَهِدُوا بِطَلْقَتَيْنِ رَجَعَ عَلَيْهِمْ بِثُلُثَيِ الْمَهْرِ.

Pendapat kedua: Mereka wajib membayar sepertiga mahar, karena ia terhalangi dari istrinya dengan tiga kali talak, sedangkan para saksi hanya khusus pada salah satunya, maka sepertiga dari penghalangan itu berasal dari mereka, sehingga wajib atas mereka sepertiga mahar. Berdasarkan hal ini, jika suami telah mentalaknya satu kali, lalu mereka bersaksi bahwa telah terjadi dua kali talak, maka suami berhak menuntut dua pertiga mahar dari mereka.

فَهَذَا حُكْمُ شَهَادَتِهِمْ بِالطَّلَاقِ إِذَا رَجَعُوا عَنْهُ.

Inilah hukum kesaksian mereka tentang talak apabila mereka menarik kembali kesaksian tersebut.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ شُهُودِ الْعِتْقِ] )

(Pembahasan tentang kembalinya para saksi pembebasan budak)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا شَهَادَتُهُمْ بِالْعِتْقِ إِذَا رَجَعُوا عَنْهَا فِي عَبْدٍ كَانَ قِنَّا، فَعَلَيْهِمْ غُرْمُ قِيمَتِهِ بِوِفَاقِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَإِنْ خَالَفَ فِي الطَّلَاقِ.

Adapun kesaksian mereka tentang pembebasan budak, apabila mereka menarik kembali kesaksiannya pada seorang budak yang statusnya adalah budak murni (qinn), maka mereka wajib membayar ganti rugi senilai budak tersebut, sesuai dengan pendapat Abu Hanifah, meskipun beliau berbeda pendapat dalam masalah talak.

وَتُعْتَبَرُ قِيمَتُهُ عِنْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ، لَا وَقْتَ رُجُوعِهِمْ، لِأَنَّه بِالْحُكْمِ صَارَ مُسْتَهْلَكًا لَا بِالرُّجُوعِ.

Dan nilainya dianggap pada saat keputusan hukum dijalankan berdasarkan kesaksian mereka, bukan pada waktu mereka menarik kembali kesaksiannya, karena dengan adanya keputusan hukum, barang tersebut menjadi musnah, bukan karena penarikan kembali kesaksian.

فَإِنْ شَهِدُوا عَلَيْهِ بِعِتْقِ مُدَبَّرٍ ثُمَّ رَجَعُوا عَنْهُ لَزِمَهُمْ غُرْمُ قِيمَتِهِ أَيْضًا؛ لِأَنَّه قَدْ كَانَ عَلَى الرِّقِّ وَجَوَازِ الْبَيْعِ، فَإِنْ شَهِدُوا عَلَيْهِ بِعِتْقِ أُمِّ الْوَلَدِ رَجَعَ عَلَيْهِمْ بِقِيمَتِهَا، وَإِنْ مَنَعَ مِنْ بَيْعِهَا كَمَا يَرْجِعُ بِالْقَيِّمَةِ عَلَى قَاتِلِهَا.

Jika mereka bersaksi atas kemerdekaan budak mudabbar lalu mereka menarik kembali kesaksiannya, maka mereka wajib menanggung ganti rugi senilai budak tersebut juga; karena sebelumnya budak itu masih berstatus budak dan boleh dijual. Jika mereka bersaksi atas kemerdekaan umm al-walad, maka ganti rugi senilai dirinya juga dituntut dari mereka, meskipun penjualannya dilarang, sebagaimana ganti rugi senilai juga dituntut dari pembunuhnya.

وَإِنْ شَهِدُوا عَلَيْهِ بِكِتَابَةِ عَبْدِهِ، لَمْ يُغَرَّمُوا عِنْدَ الرُّجُوعِ، وَيُنْظَرُ مَا يَكُونُ مِنْ حَالِ الْمُكَاتَبِ: فَإِنْ عَجَزَ وَعَادَ إِلَى الرِّقِّ فَلَا غُرْمَ عَلَى الشُّهُودِ بِعَوْدِهِ إِلَى الرِّقِّ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ الشَّهَادَةِ.

Jika mereka bersaksi atasnya dengan penulisan (kitābah) budaknya, maka para saksi tidak menanggung ganti rugi ketika terjadi penarikan kembali, dan dilihat keadaan mukātab: jika ia tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atas para saksi karena kembalinya ia kepada status perbudakan yang sebelumnya sebelum kesaksian.

وَإِنْ أَدَّى وَعُتِقَ نُظِرَ فِي مَا أَدَّاهُ مِنْ كِتَابَتِهِ، فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ، فَفِي وُجُوبِ غُرْمِهَا عَلَى الشُّهُودِ وَجْهَانِ:

Jika ia telah membayar dan dimerdekakan, maka dilihat pada apa yang telah ia bayarkan dari akad kitabah-nya; jika jumlahnya sebesar nilai dirinya, maka dalam kewajiban menanggung ganti rugi atasnya oleh para saksi terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا غُرْمَ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّ السَّيِّدَ قَدْ وَصَلَ إِلَى الْقِيمَةِ مِنْ مُكَاتَبِهِ فَصَارَ كَوُصُولِهِ إِلَى الْمَهْرِ مِنْ خُلْعِ زَوْجَتِهِ.

Salah satu pendapat: Tidak ada tanggungan ganti rugi atas mereka, karena tuan telah menerima nilai (harga) dari mukatabnya, sehingga hal itu seperti ia menerima mahar dari khulu‘ istrinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَرْجِعُ عَلَيْهِمْ بِغُرْمِ قِيمَتِهِ وَإِنْ وَصَلَ إِلَيْهَا مِنْ مَكَاتَبِهِ، لِأَنَّه أَدَّاهَا مِنِ اكْتِتَابِهِ الَّتِي قَدْ كَانَ يَمْلِكُهَا بِغَيْرِ كِتَابِهِ، وَبِهَذَا خَالَفَ مَا أَدَّتْهُ الْمَرْأَةُ فِي الْخُلْعِ، لِأَنَّ الْمُؤَدَّى لَا يَمْلِكُهُ الزَّوْجُ إِلَّا بِالْخُلْعِ.

Pendapat kedua: ia wajib mengganti kerugian dengan membayar nilai barang tersebut, meskipun barang itu sampai kepadanya dari hasil akad mudārabah-nya, karena ia telah menyerahkannya dari hasil mudārabah yang sebelumnya telah ia miliki tanpa akad mudārabah tersebut. Dengan demikian, hal ini berbeda dengan apa yang diberikan oleh seorang wanita dalam khulu‘, karena harta yang diberikan itu tidak dimiliki oleh suami kecuali melalui khulu‘.

وَإِنْ كَانَ مَا أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ فَيُعْتَقُ بِهِ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ، رَجَعَ السَّيِّدُ عَلَى الشُّهُودِ بِالْبَاقِي مِنْ قِيمَتِهِ، وَفِي رُجُوعِهِ عَلَيْهِمْ بِمَا أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ وَجْهَانِ تَعْلِيلًا بِمَا قَدَّمْنَاهُ فِيهَا.

Jika jumlah yang telah dibayarkan oleh mukatab menyebabkan ia merdeka namun nilainya kurang dari harga dirinya, maka tuan dapat menuntut para saksi atas sisa dari nilainya. Adapun mengenai apakah tuan dapat menuntut mereka atas apa yang telah dibayarkan oleh mukatab, terdapat dua pendapat yang didasarkan pada penjelasan yang telah kami sampaikan sebelumnya dalam masalah ini.

فَإِنْ شَهِدُوا بِإِبْرَاءِ مُكَاتَبِهِ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ فَحُكِمَ عَلَيْهِ بِعِتْقِهِ، ثُمَّ رَجَعَ الشُّهُودُ، غُرِّمُوا لَهُ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ مَالِ كِتَابَتِهِ، لِأَنَّ الْقِيمَةَ إِذَا كَانَتْ أَقَلَّ، فَلَيْسَ بِأَغْلَظَ مِنَ الْعَبْدِ الْقِنِّ. فَلَا يَلْزَمُهُ أَكْثَرُ مِنْهَا، وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ أَقَلُّ، فَلَيْسَ لَهُ عَلَى الْمُكَاتَبِ أَكْثَرُ مِنْهُ فَلَمْ يَرْجِعْ بِالزِّيَادَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika para saksi memberikan kesaksian bahwa tuannya telah membebaskan mukatab dari kewajiban membayar harta kitabahnya, lalu diputuskan bahwa ia merdeka, kemudian para saksi itu menarik kembali kesaksiannya, maka mereka wajib mengganti kepada tuannya nilai yang lebih kecil antara dua hal: nilai budak tersebut atau harta kitabahnya. Sebab, jika nilai budak itu lebih kecil, maka nilainya tidak lebih berat daripada budak biasa (yang bukan mukatab), sehingga tidak wajib membayar lebih dari itu. Dan jika harta kitabah lebih kecil, maka tuan tidak berhak menuntut kepada mukatab lebih dari itu, sehingga ia tidak bisa meminta kelebihan. Dan Allah Maha Mengetahui.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ شهود المال] )

(Pembahasan tentang kembalinya para saksi harta)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَإِنْ كَانَ فِي دَارٍ فَأُخْرِجَتْ مِنْ يَدَيْهِ إِلَى غَيْرِهِ عُزِّرُوا عَلَى شَهَادَةِ الزُّورِ وَلَمْ يُعَاقَبُوا عَلَى الْخَطَأِ وَلَمْ أُغْرِمْهُمْ مِنْ قِبَلِ أَنِّي جَعَلْتُهُمْ عُدُولًا بِالْأَوَّلِ فَأَمْضَيْنَا بِهِمُ الْحُكْمَ وَلَمْ يَكُونُوا عُدُولًا بِالْآخَرِ فَتُرَدُّ الدَّارُ وَلَمْ يُفِيتُوا شَيْئًا لَا يُؤْخَذُ وَلَمْ يَأْخُذُوا شَيْئًا لِأَنْفُسِهِمْ فَأَنْتَزِعَهُ مِنْهُمْ وَهُمْ كَمُبْتَدِئِينَ شَهَادَةٍ لَا تُقْبَلُ مِنْهُمْ فَلَا أُغْرِمُهُمْ مَا أقَرُوهُ فِي أَيْدِي غَيْرِهِمْ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika (sebuah rumah) berada dalam kekuasaan seseorang, lalu dikeluarkan dari tangannya kepada orang lain karena kesaksian palsu, maka mereka (para saksi palsu) diberi ta‘zīr karena kesaksian dusta, namun tidak dihukum karena kesalahan, dan aku tidak membebankan ganti rugi kepada mereka. Sebab, pada awalnya aku menganggap mereka sebagai orang-orang adil, sehingga aku menetapkan hukum berdasarkan kesaksian mereka. Namun pada akhirnya, mereka ternyata bukan orang-orang adil, maka rumah itu dikembalikan (kepada pemilik semula). Mereka tidak menyebabkan sesuatu yang tidak dapat diambil kembali, dan mereka juga tidak mengambil sesuatu untuk diri mereka sendiri, sehingga aku dapat menariknya dari mereka. Mereka seperti orang yang memulai kesaksian yang tidak diterima darinya, maka aku tidak membebankan ganti rugi atas apa yang telah mereka tetapkan di tangan orang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ هِيَ الْقَسَمُ الثَّالِثُ فِي رُجُوعِهِمْ عَمَّا اخْتَصَّ بِالْأَمْوَالِ، وَهُوَ ضَرْبَانِ: عَيْنٌ وَدَيْنٌ.

Al-Mawardi berkata: Masalah ini adalah bagian ketiga dalam pembahasan tentang penarikan kembali sesuatu yang berkaitan dengan harta, dan hal itu terbagi menjadi dua jenis: berupa barang (‘ayn) dan berupa utang (dayn).

فَأَمَّا الْعَيْنُ فَكَالدَّارِ وَالدَّابَّةِ إِذَا كَانَتْ فِي يَدِ رَجُلٍ يَتَصَرَّفُ فِيهَا تَصَرُّفَ الْمَالِكِينَ الْحَائِزِينَ، فَشَهِدَ الشُّهُودُ بِهَا لِغَيْرِهِ فَانْتَزَعَهَا الْحَاكِمُ مِنْ يَدِهِ بِشَهَادَتِهِمْ وَسَلَّمَهَا، إِلَى الْمَشْهُودِ لَهُ، ثُمَّ رَجَعَ الشُّهُودُ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْتَزِعَهَا مِنَ الْمَشْهُودِ لَهُ لِنُفُوذِ الْحُكْمِ بها. والحكم لا ينتقص بِرُجُوعِهِمْ.

Adapun benda (‘ain) seperti rumah dan hewan tunggangan, apabila berada di tangan seseorang yang memperlakukannya seperti para pemilik yang menguasai, lalu para saksi memberikan kesaksian bahwa benda itu milik orang lain, kemudian hakim mencabut benda itu dari tangannya berdasarkan kesaksian mereka dan menyerahkannya kepada orang yang disaksikan sebagai pemilik, kemudian para saksi tersebut menarik kembali kesaksiannya, maka tidak boleh mencabut benda itu dari orang yang telah diserahi karena keputusan hakim telah berlaku atasnya. Dan keputusan tersebut tidak berkurang dengan penarikan kembali kesaksian mereka.

فَأَمَّا وُجُوبُ غُرْمِهَا عَلَى الشُّهُودِ، فَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِيهَا وَذَكَرَهُ هُنَا وَفِي غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ لَا رُجُوعَ عَلَى الشُّهُودِ بِغُرْمِهَا.

Adapun kewajiban membayar ganti rugi atasnya oleh para saksi, maka pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam masalah ini, yang juga disebutkannya di sini dan di kitab-kitab lainnya, adalah tidak ada tuntutan ganti rugi atas para saksi.

وَقَالَ فِيمَنْ أَقَرَّ بِدَارٍ فِي يَدِهِ أَنَّهُ غَصَبَهَا مِنْ زَيْدٍ ثُمَّ قَالَ: لَا بَلْ غَصَبْتُهَا مِنْ عَمْرٍو: إِنَّهَا تَكُونُ لِزَيْدٍ لِتَقَدُّمِ الْإِقْرَارِ بِهَا لَهُ، وَهَلْ يَجِبُ قِيمَتُهَا لِعَمْرٍو أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Dan beliau berkata tentang seseorang yang mengakui bahwa sebuah rumah yang ada di tangannya telah ia rampas dari Zaid, kemudian ia berkata: “Tidak, bahkan aku merampasnya dari ‘Amr,” maka rumah itu menjadi milik Zaid karena pengakuan yang lebih dahulu untuknya. Adapun apakah wajib membayar nilai rumah itu kepada ‘Amr atau tidak, terdapat dua pendapat.

وَكَذَا قَالَ فِي عَبْدٍ أَعْتَقَهُ مَنْ هُوَ فِي يَدِهِ، ثُمَّ أَقَرَّ بِغَصْبِهِ مِنْ عَمْرٍو، هَلْ يَغْرَمُ قِيمَتَهُ لِعَمْرٍو أَمْ لَا؟ عَلَى الْقَوْلَيْنِ.

Demikian pula dikatakan mengenai seorang budak yang dimerdekakan oleh orang yang memegangnya, kemudian ia mengakui bahwa budak itu telah digasak dari ‘Amr, apakah ia wajib membayar nilai budak itu kepada ‘Amr atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وَرُجُوعِ الشُّهُودِ كَرُجُوعِ الْمُقِرِّ بِالْغَصْبِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Kembalinya para saksi itu seperti kembalinya orang yang mengakui telah melakukan ghasab, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam menggabungkan keduanya pada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَطَائِفَةٍ: إِنَّهُمَا سِيَّانِ، وَفِي غُرْمِ الشُّهُودِ إِذَا رَجِعُوا قَوْلَانِ:

Salah satunya, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan sekelompok ulama, menyatakan bahwa keduanya sama saja. Adapun dalam hal tanggungan ganti rugi para saksi jika mereka menarik kembali kesaksiannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: عَلَيْهِمْ غُرْمُ قِيمَةِ الْعَيْنِ، وَهُوَ الْمَخْرَجُ، وَبِهِ قال أبو حنيفة لاستهلالكها عَلَى مَالِكِهَا حُكْمًا، فَصَارَ كَاسْتِهْلَاكِهَا عَلَيْهِ، فَعَلَى هَذَا فِي قِيمَتِهَا وَجْهَانِ:

Salah satunya: mereka wajib menanggung ganti rugi atas nilai barang tersebut, dan inilah pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini juga dipegang oleh Abu Hanifah, karena barang itu telah dianggap musnah menurut hukum atas pemiliknya, sehingga hukumnya seperti barang itu benar-benar telah musnah atas tanggungan mereka. Maka, dalam penentuan nilainya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ عَلَيْهِمْ قِيمَتُهَا يَوْمَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj: atas mereka wajib membayar nilai barang tersebut pada hari diputuskan berdasarkan kesaksian mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: عَلَيْهِمْ أَكْثَرُ قِيمَتِهَا مِنْ يَوْمِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ إِلَى وَقْتِ رُجُوعِهِمْ. فَهَذَا حُكْمُ الْقَوْلِ الْأَوَّلِ.

Adapun pendapat kedua: mereka wajib membayar sebagian besar dari nilai barang tersebut, terhitung sejak hari diputuskan berdasarkan kesaksian mereka hingga waktu mereka menarik kembali kesaksiannya. Inilah hukum menurut pendapat pertama.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ: لَا غُرْمَ عَلَيْهِمْ، لِأَنَّ الْأَعْيَانَ تُضْمَنُ بِوَاحِدٍ مِنْ أَمْرَيْنِ: إِمَّا بِإِتْلَافٍ أَوْ بِيَدٍ، وَلَمْ يَكُنْ مِنَ الشُّهُودِ إِتْلَافُ الْعَيْنِ لِبَقَائِهَا، وَلَا يَدَ لِعَدَمِ تَصَرُّفِهِمْ فِيهَا. فَسَقَطَ غُرْمُهَا عَنْهُمْ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat yang menjadi rujukan: tidak ada kewajiban ganti rugi atas mereka, karena suatu barang hanya dapat menjadi tanggungan dengan salah satu dari dua hal: yaitu dengan merusaknya atau dengan menguasainya. Para saksi tidak melakukan perusakan terhadap barang tersebut karena barang itu masih ada, dan mereka juga tidak menguasainya karena mereka tidak melakukan tindakan apa pun terhadapnya. Maka gugurlah kewajiban ganti rugi dari mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: مِنْ مَذْهَبِ أَصْحَابِنَا: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِهِمْ، أَنَّهُ لَا غُرْمَ عَلَى الشُّهُودِ قَوْلًا وَاحِدًا. وَإِنْ كَانَ فِي غُرْمِ الْمُقِرِّ بِالْغَصْبِ قَوْلَانِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ لِلْغَاصِبِ يَدًا صَارَ بِهَا ضَامِنًا، وَلَيْسَ لِلشُّهُودِ يَدٌ يُضَمِّنُونَ بِهَا فَافْتَرَقَ حُكْمُهَا.

Pendapat kedua dari mazhab para ulama kami, dan ini adalah pendapat mayoritas mereka, bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi atas para saksi menurut satu pendapat. Adapun mengenai kewajiban ganti rugi bagi orang yang mengakui telah melakukan ghasab, terdapat dua pendapat, karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu bahwa pelaku ghasab memiliki kekuasaan (atas barang) sehingga ia menjadi penanggung, sedangkan para saksi tidak memiliki kekuasaan yang menyebabkan mereka wajib menanggung, sehingga hukum keduanya pun berbeda.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ شُهُودِ الدَّيْنِ] )

(Pembahasan tentang kembalinya para saksi utang)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الدَّيْنُ إِذَا شَهِدُوا بِهِ عَلَى رَجُلٍ أَنَّ عَلَيْهِ لِزَيْدٍ أَلْفَ دِرْهَمٍ مِنْ قَرْضٍ أَوْ غَصْبٍ فَأَلْزَمَهُ الْحَاكِمُ دَفَعَهَا إِلَيْهِ بِشَهَادَتِهِمْ فَدَفَعَهَا، ثُمَّ رَجَعُوا عَنْ شَهَادَتِهِمْ، وَلِلدَّيْنِ الْمَقْبُوضِ حَالَتَانِ:

Adapun utang, apabila para saksi memberikan kesaksian terhadap seorang laki-laki bahwa ia mempunyai utang kepada Zaid sebesar seribu dirham, baik dari pinjaman maupun dari hasil ghasab, lalu hakim mewajibkan laki-laki tersebut membayarnya kepada Zaid berdasarkan kesaksian mereka, kemudian ia pun membayarnya, lalu para saksi itu menarik kembali kesaksian mereka, maka terhadap utang yang telah diterima itu terdapat dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ قَدِ اسْتَهْلَكَهُ الْمَشْهُودُ لَهُ، فَعَلَى الشُّهُودِ غُرْمُهُ لِتَلَفِ الْعَيْنِ بِالِاسْتِهْلَاكِ، وَلَا يَجُوزُ لِلشُّهُودِ أَنْ يَرْجِعُوا بِهِ عَلَى الْمَشْهُودِ لَهُ إِذَا غَرِمُوا، وَلَا تُسْمَعُ دَعْوَاهُمْ عَلَيْهِ لِمَا سَبَقَ مِنِ اعْتِرَافِهِمْ لَهُ بِالْحَقِّ.

Salah satunya adalah: apabila barang tersebut telah dikonsumsi atau dihabiskan oleh orang yang disaksikan untuknya, maka para saksi wajib menanggung ganti rugi atas kerusakan barang tersebut karena telah habis dikonsumsi. Para saksi tidak boleh meminta kembali ganti rugi itu dari orang yang disaksikan untuknya jika mereka telah membayar ganti rugi, dan gugatan mereka terhadapnya tidak dapat diterima karena sebelumnya mereka telah mengakui hak tersebut untuknya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الدَّيْنِ الْمَقْبُوضِ بَاقِيًا فِي يَدِ الْمَشْهُودِ لَهُ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ فِي حُكْمِ الدَّيْنِ أَمْ فِي حُكْمِ الْعَيْنِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي حُكْمِ الْعَيْنِ لِبَقَاءِ عَيْنِهِ، وَلَا يَرْجِعُ عَلَى الشُّهُودِ بِغُرْمِهِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ.

Keadaan kedua: Jika utang yang telah diterima masih tetap berada di tangan orang yang disaksikan untuknya, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat, apakah statusnya seperti utang atau seperti barang (‘ayn)? Ada dua pendapat: salah satunya, statusnya seperti barang (‘ayn) karena barangnya masih ada, dan menurut pendapat yang paling sahih dalam mazhab, tidak boleh menuntut para saksi untuk menanggung kerugiannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي حُكْمِ الْمُسْتَهْلَكِ مِنَ الدَّيْنِ لِتَعَلُّقِهِ بِالذِّمَّةِ فَيَرْجِعُ عَلَى الشُّهُودِ بِغُرْمِهِ.

Pendapat kedua: bahwa ia dianggap dalam hukum sebagai sesuatu yang telah habis dari utang karena keterkaitannya dengan tanggungan, sehingga hak kembali atas para saksi dengan menuntut ganti ruginya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا ثَبَتَ الرُّجُوعُ عَلَى الشُّهُودِ بِغُرْمِ الدَّيْنِ، لَمْ يَخْلُ رُجُوعُهُمْ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جَمِيعِهِمْ أَوْ بَعْضِهِمْ.

Apabila telah ditetapkan bahwa para saksi harus mengganti kerugian atas utang, maka penggantian tersebut tidak lepas dari kemungkinan dilakukan oleh seluruh saksi atau sebagian dari mereka.

فَإِنْ رَجَعُوا جَمِيعًا وَكَانُوا شَاهِدِينَ كَانَ عَلَى كُلِّ واحد منهما نصف الدين. ولو وَإِنْ كَانُوا شَاهِدًا وَامْرَأَتَيْنِ، كَانَ عَلَى الرَّجُلِ نِصْفُ الدَّيْنِ، لِأَنَّه نِصْفُ الْبَيِّنَةِ، وَكَانَ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْمَرْأَتَيْنِ رُبُعُ الدَّيْنِ لِأَنَّها رُبُعُ الْبَيِّنَةِ.

Jika mereka semua kembali dan mereka adalah para saksi, maka masing-masing dari mereka menanggung setengah dari utang. Namun, jika yang menjadi saksi adalah seorang laki-laki dan dua orang perempuan, maka laki-laki menanggung setengah dari utang karena ia merupakan setengah dari bayyinah, dan masing-masing perempuan menanggung seperempat dari utang karena masing-masing merupakan seperempat dari bayyinah.

وَلَوْ كَانَ الشُّهُودُ ثَلَاثَةُ رِجَالٍ، كَانَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُلُثُ الدَّيْنِ، لِأَنَّه ثُلُثُ الْبَيِّنَةِ وَلَوْ كَانُوا عَشْرَةً كَانَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عُشْرُ الدَّيْنِ، لِأَنَّه عُشْرُ الْبَيِّنَةِ.

Dan jika para saksi itu tiga orang laki-laki, maka masing-masing dari mereka menanggung sepertiga dari utang, karena itu merupakan sepertiga dari bayyinah. Dan jika mereka sepuluh orang, maka masing-masing dari mereka menanggung sepersepuluh dari utang, karena itu merupakan sepersepuluh dari bayyinah.

وَلَوْ كَانُوا رَجُلًا وَعَشْرُ نِسْوَةٍ كَانَ عَلَى الرَّجُلِ سُدُسُ الدَّيْنِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ النِّسْوَةِ نِصْفُ سُدُسِ الدَّيْنِ، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ.

Dan jika mereka terdiri dari satu laki-laki dan sepuluh perempuan, maka laki-laki mendapat seperenam dari utang, dan masing-masing perempuan mendapat setengah dari seperenam utang, dan pendapat ini dikemukakan oleh Abu Hanifah.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ: عَلَى الرَّجُلِ نِصْفُ الدَّيْنِ، لِأَنَّه نِصْفُ الْبَيِّنَةِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ النِّسَاءِ نِصْفُ عُشْرٍ، لِأَنَّها نِصْفُ عُشْرِ الْبَيِّنَةِ وَبِهِ قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ.

Abu Yusuf dan Muhammad berkata: Laki-laki menanggung setengah dari diyat, karena ia merupakan setengah dari bayyinah, dan setiap perempuan menanggung setengah dari sepersepuluh, karena ia merupakan setengah dari sepersepuluh bayyinah. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu al-Abbas bin Surayj.

وَهَذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ كُلَّ امْرَأَتَيْنِ تَقُومَانِ مَقَامَ الرَّجُلِ، فَصَارَ النِّسَاءُ الْعَشْرُ كَخَمْسَةِ رِجَالٍ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِمْ رَجُلٌ صَارُوا مَعَهُ كَسِتَّةِ رِجَالٍ، يَلْزَمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سُدُسُ الدَّيْنِ، فَاقْتَضَى أَنْ يَلْزَمَ الرَّجُلَ سُدُسَ الدَّيْنِ وَيَلْزَمَ كُلَّ امْرَأَتَيْنِ سُدُسُهُ، فَتَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدَةٍ بِنِصْفِهِ.

Ini adalah sebuah kekeliruan, karena setiap dua perempuan menempati posisi satu laki-laki, sehingga sepuluh perempuan sama dengan lima laki-laki. Jika bersama mereka ada satu laki-laki, maka jumlah mereka menjadi seperti enam laki-laki. Maka, setiap orang dari mereka wajib menanggung seperenam utang. Dengan demikian, laki-laki wajib menanggung seperenam utang, dan setiap dua perempuan menanggung seperenamnya, sehingga masing-masing perempuan mendapat setengah dari bagian itu.

وَإِنْ رَجَعَ بَعْضُ الشُّهُودِ دُونَ جميعهم، فعلى ثلاثة أضرب:

Jika sebagian saksi menarik kembali kesaksiannya tanpa seluruhnya, maka hal itu terbagi menjadi tiga keadaan:

أحدهما: أَنْ لَا يَزِيدُوا عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ، وَيَكُونُوا رَجُلَيْنِ فَيَرْجِعُ أَحَدُهُمَا، فَعَلَيْهِ نِصْفُ الدَّيْنِ، لِأَنَّه نِصْفُ الْبَيِّنَةِ، وَإِنْ كَانُوا رَجُلًا وَامْرَأَتَيْنِ وَلَوْ رَجَعَتْ وَاحِدَةٌ مِنَ الْمَرْأَتَيْنِ، فَعَلَيْهَا رُبُعُ الدَّيْنِ، لِأَنَّها رُبُعُ الْبَيِّنَةِ.

Pertama: Mereka tidak boleh melebihi jumlah bayyinah, dan harus terdiri dari dua orang laki-laki, lalu salah satu dari keduanya menarik kembali kesaksiannya, maka ia bertanggung jawab atas setengah dari utang, karena ia merupakan setengah dari bayyinah. Jika terdiri dari seorang laki-laki dan dua orang perempuan, lalu salah satu dari kedua perempuan itu menarik kembali kesaksiannya, maka ia bertanggung jawab atas seperempat dari utang, karena ia merupakan seperempat dari bayyinah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَزِيدُوا عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ، وَيَرْجِعُ مَنْ زَادَ عَلَيْهَا كَأَرْبَعَةِ رِجَالٍ يَرْجِعُ مِنْهُمُ اثْنَانِ، فَفِي الرُّجُوعِ عَلَى الرَّاجِعِينَ وَجْهَانِ:

Jenis kedua: yaitu mereka tidak menambah jumlah saksi dari yang telah ditetapkan, dan sebagian dari mereka menarik kembali kesaksiannya, seperti empat orang laki-laki, lalu dua di antaranya menarik kembali kesaksiannya. Maka dalam hal penarikan kembali kesaksian terhadap mereka yang menarik kembali, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ: لَا رُجُوعَ عَلَيْهِمَا لِكَمَالِ الْبَيِّنَةِ بِغَيْرِهِمَا.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj: Tidak ada hak untuk menarik kembali (hukuman) atas keduanya karena kesempurnaan bayyinah dengan selain mereka berdua.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ حَكَاهُ عَنْهُ أَصْحَابُهُ: يَرْجِعُ عَلَيْهِمَا، لِأَنَّ الْحَقَّ لَمْ يَتَعَيَّنْ بِشَهَادَةِ غَيْرِهِمَا فَلَزِمَهُمَا نِصْفُ الدَّيْنِ، لِأَنَّهمَا نِصْفُ الْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat al-Muzani yang diriwayatkan oleh para sahabatnya: keduanya tetap bertanggung jawab, karena hak tersebut belum dapat dipastikan dengan kesaksian selain mereka berdua, sehingga keduanya wajib menanggung setengah dari utang itu, karena mereka berdua merupakan setengah dari alat bukti.

فَلَوْ شَهِدَتْ مَعَ الْأَرْبَعَةِ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ ثُمَّ رَجَعَتِ الْمَرْأَةُ مِنَ الرَّجُلَيْنِ فَلَا شَيْءَ عَلَى الْمَرْأَةِ، لِأَنَّها إِذَا انْفَرَدَتْ لَمْ تَدْخُلْ فِي جُمْلَةِ الْبَيِّنَةِ.

Maka jika bersama empat orang laki-laki ada satu orang perempuan yang bersaksi, kemudian perempuan itu menarik kembali kesaksiannya dari dua orang laki-laki, maka tidak ada apa-apa atas perempuan tersebut, karena jika ia bersaksi sendirian, ia tidak termasuk dalam kelompok bayyinah (alat bukti yang sah).

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَزِيدُوا عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَةِ وَيَرْجِعُ الزَّائِدُ عَلَى الْبَيِّنَةِ وَبَعْضُ الْبَيِّنَةِ كَالثَّلَاثَةِ إِذَا رَجَعَ مِنْهُمُ اثْنَانِ وَجَبَ الرُّجُوعُ عَلَيْهِمَا وَفِي قَدْرِهِ وَجْهَانِ:

Jenis ketiga: yaitu mereka menambah jumlah saksi, lalu sebagian saksi tambahan dan sebagian dari saksi utama menarik kembali kesaksiannya, seperti tiga orang saksi, jika dua di antara mereka menarik kembali kesaksiannya, maka keduanya wajib dikenai sanksi, dan dalam hal jumlahnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَرْجِعُ عَلَيْهِمَا بِنِصْفِ الدَّيْنِ، لِأَنَّه قَدْ بَقِيَ نِصْفُ الْبَيِّنَةِ وَهَذَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُسْقِطُ الرجوع عليهم إذا بقي بعدهم عدد البينة، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ.

Salah satunya: ia dapat menuntut kembali kepada mereka berdua setengah dari utang, karena masih tersisa setengah dari bayyinah, dan ini menurut pendapat yang menyatakan gugur hak untuk menuntut kembali kepada mereka jika setelah mereka masih tersisa jumlah bayyinah, dan ini adalah pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهِمَا بِثُلُثَيِ الدَّيْنِ، لِأَنَّهمَا ثُلُثَا الْبَيِّنَةِ، وَهَذَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُوجِبُ الرجوع عليهم إذا بقي بعدهم عدد البينة، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيِّ.

Pendapat kedua: bahwa ia dapat menuntut kembali kepada keduanya sebesar dua pertiga dari utang, karena mereka berdua merupakan dua pertiga dari bayyinah (alat bukti), dan ini berlaku menurut pendapat yang mewajibkan tuntutan kembali kepada mereka apabila masih tersisa jumlah bayyinah setelah mereka, dan ini adalah pendapat Abu Ibrahim al-Muzani.

فَلَوْ كَانُوا رَجُلَيْنِ وَامْرَأَتَيْنِ فَرَجَعَ مِنْهُمْ رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ، فَفِي قَدْرِ الرُّجُوعِ عَلَيْهِمْ وَجْهَانِ:

Jika mereka terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, lalu salah satu laki-laki dan salah satu perempuan menarik kembali persaksiannya, maka dalam hal kadar penarikan kembali tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُرْجَعُ عَلَيْهِمَا بِرُبُعِ الدَّيْنِ، لِأَنَّه قَدْ بَقِيَ بِالرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِ الْبَيِّنَةِ، وَيَتَحَمَّلُ الرَّجُلُ مِنَ الرُّبُعِ ثُلُثَيْهِ وَهُوَ سُدُسُ الدَّيْنِ وَتَتَحَمَّلُ الْمَرْأَةُ ثُلُثَهُ وَهُوَ نِصْفُ السُّدُسِ مِنَ الدَّيْنِ، وَهُوَ قِيَاسُ ابْنِ سُرَيْجٍ.

Salah satunya: keduanya dibebani seperempat utang, karena yang tersisa pada laki-laki dan perempuan adalah tiga perempat bukti, dan laki-laki menanggung dua pertiga dari seperempat itu, yaitu seperenam utang, dan perempuan menanggung sepertiganya, yaitu setengah dari seperenam utang, dan ini adalah qiyās Ibnu Surayj.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهَا بِنِصْفِ الدَّيْنِ، لِأَنَّهمَا نِصْفُ الْبَيِّنَةِ، فَيَتَحَمَّلُ الرَّجُلُ ثُلُثَيِ النِّصْفِ وَهُوَ ثُلُثُ الدَّيْنِ، وَتَتَحَمَّلُ الْمَرْأَةُ ثُلُثَهُ. وَهُوَ سُدُسُ الدَّيْنِ، وَهُوَ قِيَاسُ قَوْلِ الْمُزَنِيِّ.

Pendapat kedua: bahwa ia harus menanggung setengah dari utang, karena mereka berdua adalah setengah dari bayyinah (alat bukti), sehingga laki-laki menanggung dua pertiga dari setengah tersebut, yaitu sepertiga dari utang, dan perempuan menanggung sepertiganya, yaitu seperenam dari utang, dan ini adalah qiyās menurut pendapat al-Muzani.

( [الْقَوْلُ فِي اخْتِلَافِ الشُّهُودِ فِي قَدْرِ الدَّيْنِ وَرُجُوعِهِمْ عَنْهُ] )

(Pembahasan tentang perbedaan para saksi dalam jumlah utang dan pencabutan kesaksian mereka atasnya)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا ادَّعَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ مَالًا فَشَهِدَ لَهُ شَاهِدٌ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَشَهِدَ لَهُ شَاهِدٌ ثَانٍ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ، وَشَهِدَ لَهُ شَاهِدٌ ثَالِثٌ بِثَلَاثِمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَشَهِدَ لَهُ رَابِعٌ بِأَرْبَعِمِائَةِ دِرْهَمٍ فَقَدْ قَامَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ بِثَلَاثِمِائَةِ دِرْهَمٍ، لِأَنَّ الْمِائَةَ الرَّابِعَةَ شَهِدَ بِهَا شَاهِدٌ وَاحِدٌ فَلَمْ تَثْبُتْ. فَإِنْ رَجَعَ الشُّهُودُ الْأَرْبَعَةُ بَعْدَ الْغُرْمِ، رَجَعَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ بِمَا غَرِمَهُ وَهُوَ ثَلَاثُمِائَةٍ. وَيَخْتَلِفُ قَدْرُ مَا يُرْجَعُ بِهِ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ عَنْهُمْ بِاخْتِلَافِ مَا شَهِدُوا بِهِ فَالْمِائَةُ الْأَوْلَى قَدْ شَهِدَ بِهَا الْأَرْبَعَةُ، فَيَكُونُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ رُبُعُهَا وَهُوَ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ دِرْهَمًا، وَالْمِائَةُ الثَّانِيَةُ قَدْ شَهِدَ بِهَا ثَلَاثَةٌ سِوَى الْأَوَّلِ. فَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُلُثُهُ ثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ دِرْهَمًا وَثُلُثُ دِرْهَمٍ، وَالْمِائَةُ الثَّالِثَةُ قَدْ شَهِدَ بِهَا اثْنَانِ سِوَى الْأَوَّلِ وَالثَّانِي، فَيَكُونُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهَا، خَمْسُونَ دِرْهَمًا، فَيَصِيرُ الْجَمِيعُ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ.

Apabila seorang laki-laki menuntut harta kepada laki-laki lain, lalu seorang saksi bersaksi untuknya atas seratus dirham, saksi kedua bersaksi atas dua ratus dirham, saksi ketiga bersaksi atas tiga ratus dirham, dan saksi keempat bersaksi atas empat ratus dirham, maka telah tegaklah al-bayyinah atas orang yang dituntut sebesar tiga ratus dirham, karena seratus dirham yang keempat hanya disaksikan oleh satu orang saksi sehingga tidak dapat dibuktikan. Jika keempat saksi tersebut mencabut kesaksiannya setelah terjadi pembayaran, maka orang yang dituntut dapat menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan, yaitu tiga ratus dirham. Besaran tanggungan yang harus dikembalikan oleh masing-masing saksi berbeda-beda sesuai dengan jumlah yang mereka saksikan; seratus dirham pertama disaksikan oleh keempatnya, maka masing-masing menanggung seperempatnya, yaitu dua puluh lima dirham; seratus dirham kedua disaksikan oleh tiga orang selain yang pertama, maka masing-masing menanggung sepertiganya, yaitu tiga puluh tiga dan sepertiga dirham; seratus dirham ketiga disaksikan oleh dua orang selain yang pertama dan kedua, maka masing-masing menanggung setengahnya, yaitu lima puluh dirham; sehingga seluruhnya menjadi tiga ratus dirham.

عَلَى الْأَوَّلِ مِنْهَا خَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ دِرْهَمًا، وَعَلَى الثَّانِي مِنْهَا ثَمَانِيَةٌ وَخَمْسُونَ دِرْهَمًا وَثُلُثٌ، وَعَلَى الثَّالِثِ مِائَةٌ وَثَمَانِيَةٌ وَثُلُثٌ وَعَلَى الرَّابِعِ مِائَةٌ وَثَمَانِيَةٌ وَثُلُثٌ.

Pada yang pertama darinya adalah dua puluh lima dirham, pada yang kedua darinya adalah delapan puluh delapan dan sepertiga dirham, pada yang ketiga adalah seratus delapan dan sepertiga, dan pada yang keempat adalah seratus delapan dan sepertiga.

( [الْقَوْلُ فِي رُجُوعِ شُهُودِ الدَّيْنِ عَنْ بَعْضِ مَا شَهِدُوا بِهِ] )

(Pembahasan tentang para saksi utang yang menarik kembali sebagian dari apa yang telah mereka saksikan)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا شَهِدَ ثَلَاثَةٌ عَلَى رَجُلٍ بِثَلَاثِينَ دِرْهَمًا ثُمَّ رَجَعَ أَحَدُهُمْ عَنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ، وَرَجَعَ ثَانٍ عَنْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا، وَرَجْعَ الثَّالِثُ عَنْ ثَلَاثِينَ دِرْهَمًا، فَلِلْمَشْهُودِ عَلَيْهِ إِذَا غَرِمَ الثَّلَاثِينَ أَنْ يَرْجِعَ مِنْهَا بِعِشْرِينَ، لِأَنَّ الْعَشْرَةَ الثَّانِيَةَ قَدْ بَقِيَ مِنْهَا بَعْدَ الرَّاجِعِ شَاهِدَانِ، فَتَكُونُ الْعَشْرَةُ الْأَوْلَى عَلَيْهِمْ أَثْلَاثًا، لِأَنَّه قَدْ رَجَعَ عَنْهَا الثَّلَاثَةُ فَيَلْزَمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثُ دِرْهَمٍ. وَالْعَشَرَةُ الثَّانِيَةُ قَدْ رَجَعَ عَنْهَا اثْنَانِ، فَهِيَ عَلَيْهِمَا نِصْفَانِ، عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، يَصِيرُ الْجَمِيعُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا، مِنْهَا عَلَى الرَّاجِعِ عَنِ الْعَشْرَةِ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثٌ، وَعَلَى الرَّاجِعِ عَنِ الْعِشْرِينَ ثَمَانِيَةُ دَرَاهِمَ وثلث، وعلى الرجع عَنِ الثَّلَاثِينَ ثَمَانِيَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثٌ.

Apabila tiga orang memberikan kesaksian terhadap seorang laki-laki atas tiga puluh dirham, kemudian salah satu dari mereka menarik kembali kesaksiannya atas sepuluh dirham, yang kedua menarik kembali atas dua puluh dirham, dan yang ketiga menarik kembali atas tiga puluh dirham, maka orang yang disaksikan, jika ia telah membayar tiga puluh dirham, berhak menuntut kembali dari mereka sebanyak dua puluh dirham. Sebab, pada sepuluh dirham yang kedua, setelah salah satu saksi menarik kembali, masih tersisa dua saksi, sehingga sepuluh dirham yang pertama menjadi tanggungan mereka bertiga, karena ketiganya telah menarik kembali kesaksian atasnya, sehingga masing-masing dari mereka menanggung tiga dirham dan sepertiga dirham. Adapun sepuluh dirham yang kedua, dua orang telah menarik kembali kesaksiannya, sehingga menjadi tanggungan mereka berdua, masing-masing menanggung lima dirham. Jumlah keseluruhannya menjadi dua puluh dirham, yaitu: atas orang yang menarik kembali dari sepuluh dirham, tiga dirham dan sepertiga; atas orang yang menarik kembali dari dua puluh dirham, delapan dirham dan sepertiga; dan atas orang yang menarik kembali dari tiga puluh dirham, delapan dirham dan sepertiga.

فَأَمَّا الْعَشْرَةُ الرَّابِعَةُ فَلَا رُجُوعَ عَنْهَا بِشَيْءٍ عَلَى أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ.

Adapun yang kesepuluh yang keempat, maka tidak ada pembatalan darinya dengan sesuatu pun menurut pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat.

وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي: يَرْجِعُ عَلَى الرَّاجِعِ عَنْهَا بِثُلُثِهَا وَهِيَ ثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ وَثُلُثٌ.

Menurut pendapat kedua: orang yang menarik kembali hibah tersebut wajib mengembalikan sepertiganya, yaitu tiga dirham dan sepertiga.

وَالْعَشَرَةُ الثانية تثبت بثلاثة ورجع مليها اثْنَانِ، فَعَلَى أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ يَلْزَمُهُمَا نِصْفُهَا لِأَنَّه بَقِيَ شَاهِدٌ وَاحِدٌ، وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي: ثُلُثَاهَا، فَأَمَّا جَمِيعُهَا فَلَا.

Sepuluh yang kedua ditetapkan dengan tiga orang saksi, lalu dua di antara mereka menarik kembali kesaksiannya, maka menurut salah satu pendapat, keduanya wajib membayar setengahnya karena masih tersisa satu orang saksi, dan menurut pendapat kedua: dua pertiganya, adapun seluruhnya maka tidak.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ الرُّجُوعُ عَلَى الشُّهُودِ بِغُرْمِ الدَّيْنِ الَّذِي رَجَعُوا عَنْهُ عَلَى مَا وَصَفْنَا مِنَ التَّقْرِيرِ وَالتَّفْرِيعِ، فَلَا فَرْقَ فِي الرُّجُوعِ بَيْنَ عَمْدِهِمْ وَخَطَئِهِمْ بِخِلَافِ الدِّمَاءِ، لِأَنَّ ضَمَانَ الْأَمْوَالِ يَسْتَوِي فِيهِ الْعَمْدُ وَالْخَطَأُ وَالدِّمَاءُ يَفْتَرِقُ فِيهَا حُكْمُ الْعَمْدِ وَالْخَطَأِ، وَيُفَسَّقُونَ فِيهَا بِالْعَمْدِ دُونَ الْخَطَأِ وَيُعَزَّرُونَ فِي عَمْدِ الْأَمْوَالِ وَعَمْدِ الدِّمَاءِ إِذَا لَمْ يَجِبْ فِيهَا الْقَوَدُ فَإِنْ وَجَبَ فِيهَا الْقَوَدُ فَأُقِيدُوا فِي نَفْسٍ أَوْ طَرَفٍ، سَقَطَ التَّعْزِيرُ لِدُخُولِهِ عَلَى الْقَوَدِ فَإِنْ عَدَلَ وَلِيُّ الدَّمِ فِيهِ عَنِ الْقَوَدِ إِلَى الدِّيَةِ فَفِي تَعْزِيرِ الشُّهُودِ وَجْهَانِ:

Maka apabila telah tetap kewajiban para saksi untuk mengganti kerugian atas utang yang mereka cabut kesaksiannya, sebagaimana telah kami jelaskan dalam uraian dan perincian sebelumnya, maka tidak ada perbedaan dalam kewajiban tersebut antara kesengajaan mereka dan kekeliruan mereka, berbeda halnya dengan kasus darah (pidana), karena dalam penjaminan harta, baik sengaja maupun keliru hukumnya sama, sedangkan dalam perkara darah, hukum antara sengaja dan keliru berbeda; mereka dihukumi fasiq dalam kesengajaan tetapi tidak dalam kekeliruan, dan mereka dikenai ta‘zīr dalam kesengajaan pada harta dan kesengajaan pada darah jika tidak wajib qawad (qisas). Namun jika qawad wajib atas mereka lalu mereka dikenai qisas pada jiwa atau anggota tubuh, maka ta‘zīr gugur karena telah masuk dalam qawad. Jika wali darah berpaling dari qawad menuju diyat, maka dalam hal ta‘zīr terhadap para saksi terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تَعْزِيرَ عَلَيْهِمَا، لِأَنَّ الدِّيَةَ بَدْلٌ عَنِ الْقَوَدِ الَّذِي يَسْقُطُ بِهِ التَّعْزِيرُ.

Salah satu pendapat: Tidak ada ta‘zīr atas keduanya, karena diyat merupakan pengganti dari qawad yang dengan adanya hal itu, ta‘zīr menjadi gugur.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُعَزَّرُونَ، لِأَنَّ التَّعْزِيرَ ثَابِتٌ يَخْتَصُّ بالأبدان.

Pendapat kedua: Mereka dikenai ta‘zīr, karena ta‘zīr merupakan hukuman yang ditetapkan dan khusus berkaitan dengan badan.

( [بَابُ عِلْمِ الْحَاكِمِ بِحَالِ مَنْ قَضَى بِشَهَادَتِهِ] )

(Bab tentang pengetahuan hakim terhadap keadaan orang yang diputuskan berdasarkan kesaksiannya)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَإِذَا عَلِمَ الْقَاضِي أَنَّهُ قَضَى بِشَهَادَةِ عَبْدَيْنِ أَوْ مُشْرِكَيْنِ أَوْ غَيْرِ عَدْلَيْنِ مِنْ جَرْحٍ بَيِّنٍ أَوْ أَحَدِهِمَا رَدَّ الْحُكْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَرَدَّهُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Apabila seorang qadhi mengetahui bahwa ia telah memutuskan perkara berdasarkan kesaksian dua budak, atau dua orang musyrik, atau selain dua orang yang ‘adalah (adil) karena adanya celaan yang jelas, atau salah satu dari mereka, maka ia wajib membatalkan putusan itu atas dirinya sendiri, dan orang lain pun wajib membatalkannya atas dirinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ مَضَى الْقَوْلُ فِي أَنَّ شَهَادَةَ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ بِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الدَّلِيلِ. فَإِذَا ثَبَتَ حُكْمُ الْحَاكِمِ بِشَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ فِي حَدٍّ أَوْ قِصَاصٍ، أَوْ عِتْقٍ، أَوْ طَلَاقٍ، أَوْ مِلْكٍ، أَوْ مَالٍ، ثُمَّ بَانَ لَهُ بَعْدَ نُفُوذِ حُكْمِهِ بِهِمَا، أَنَّهُمَا عَبْدَانِ أَوْ أَحَدَهُمَا أَوْ كَافِرَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا عَبْدٌ وَالْآخِرُ كَافِرٌ، فَإِنَّ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمَا مَرْدُودٌ، لِأَنَّه حَكَمَ بِشَهَادَةِ مَنْ لَا يَجُوزُ لَهُ الْحُكْمُ بِهَا فَصَارَ كَحُكْمِهِ بِهَا مَعَ عِلْمِهِ وَجَرَى مَجْرَى مِنْ حَكَمَ بِالِاجْتِهَادِ ثُمَّ بَانَ لَهُ مُخَالَفَةُ النَّصِّ، كَانَ حُكْمُهُ مَرْدُودًا قَبْلَ الْحُكْمِ وَبَعْدَهُ.

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kesaksian budak dan orang kafir tidak diterima, berdasarkan dalil yang telah kami kemukakan. Maka, apabila seorang hakim menetapkan hukum berdasarkan kesaksian dua orang saksi dalam perkara hudud, qishash, pembebasan budak, talak, kepemilikan, atau harta, kemudian setelah putusan itu dijalankan, ternyata diketahui bahwa kedua saksi tersebut adalah budak, atau salah satunya, atau keduanya orang kafir, atau salah satunya budak dan yang lainnya kafir, maka putusan yang didasarkan pada kesaksian mereka berdua adalah tertolak. Sebab, ia telah memutuskan perkara berdasarkan kesaksian orang yang tidak sah baginya untuk dijadikan dasar putusan, sehingga keadaannya sama seperti memutuskan perkara dengan mengetahui hal tersebut. Ini juga serupa dengan orang yang memutuskan perkara berdasarkan ijtihad, lalu kemudian diketahui bertentangan dengan nash, maka putusannya tertolak, baik sebelum maupun sesudah putusan itu dijalankan.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي شَهَادَةِ الْعَبْدِ، فَأَجَازَهَا شُرَيْحٌ، وَالنَّخَعِيُّ، وَدَاوُدُ. وَأَجَازَ أَبُو حَنِيفَةَ شَهَادَةَ الْكَافِرِ فِي مَوْضِعٍ، وَالِاخْتِلَافُ فِيهَا دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ الِاجْتِهَادِ فِيهَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُنْقَضَ بِالِاجْتِهَادِ حُكْمًا نَفَذَ بِالِاجْتِهَادِ.

Jika dikatakan: Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai kesaksian budak; Syuraih, An-Nakha‘i, dan Dawud membolehkannya. Abu Hanifah membolehkan kesaksian orang kafir dalam satu kasus. Perbedaan pendapat dalam masalah ini merupakan dalil bolehnya ijtihad di dalamnya, dan tidak boleh membatalkan suatu putusan yang telah dijalankan berdasarkan ijtihad dengan ijtihad yang lain.

قِيلَ: قَدِ اخْتُلِفَ فِيمَا رُدَّتْ بِهِ شَهَادَةُ الْعَبْدِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Dikatakan: Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai alasan ditolaknya kesaksian seorang budak menjadi tiga mazhab:

أَحَدُهَا: بِظَاهِرِ نَصٍّ لَمْ يَدْفَعْهُ دَلِيلٌ، فَصَارَ كَالدَّلِيلِ، وَهُوَ قَوْله تَعَالَى: {مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 283] وَلَيْسَ الْعَبْدُ مِمَّنْ يُرْضَى.

Salah satunya: dengan zahir nash yang tidak dibantah oleh dalil lain, sehingga ia menjadi seperti dalil, yaitu firman Allah Ta‘ala: {dari saksi-saksi yang kamu ridhai} (QS. Al-Baqarah: 283), dan seorang budak bukanlah termasuk orang yang diridhai.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الْحُكْمُ بِشَهَادَتِهِ مُخَالِفًا لِلنَّصِّ فَكَانَ مَرْدُودًا.

Dengan demikian, menetapkan hukum berdasarkan kesaksiannya berarti bertentangan dengan nash, sehingga kesaksiannya ditolak.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا مَرْدُودَةٌ بِقِيَاسٍ عَلَى الشَّوَاهِدِ غَيْرِ مُحْتَمَلٍ، انْعَقَدَ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الْمُتَأَخِّرِينَ بَعْدَ شُذُوذِ الْخِلَافِ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ، فَصَارَ مَرْدُودًا بِإِجْمَاعٍ انْعَقَدَ عَلَى قِيَاسٍ جَلِيٍّ.

Kedua: Sesungguhnya pendapat itu tertolak dengan qiyās terhadap kasus-kasus serupa yang tidak mungkin diterima, yang atasnya telah terjadi ijmā‘ para ulama belakangan setelah adanya pendapat yang menyimpang dari sebagian ulama terdahulu, sehingga pendapat itu menjadi tertolak dengan ijmā‘ yang telah terbangun atas qiyās yang jelas.

وَالثَّالِثُ: إِنَّهَا رُدَّتْ بِاجْتِهَادٍ ظَاهِرِ الشَّوَاهِدِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُنْقَضَ بِاجْتِهَادٍ خَفِيِّ الشَّوَاهِدِ، لِأَنَّ الْأَقْوَى أَمْضَى مِنَ الْأَضْعَفِ، وَإِنَّمَا يَتَعَارَضَانِ إِذَا تَسَاوَيَا فِي الْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ، عَلَى أَنَّ الِاجْتِهَادَ لَمْ يَكُنْ فِي الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ، وَإِنَّمَا حَكَمَ بِهَا، لِأَنَّه لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَبْدٌ ثُمَّ عَلِمَ بِعُبُودِيَّتِهِ قَطْعًا فَوَجَبَ أَنْ يَقْضِيَ بِعِلْمِهِ عَلَى مَا اشْتَبَهَ وَأَشْكَلَ.

Ketiga: Putusan itu dibatalkan berdasarkan ijtihad yang didukung oleh bukti-bukti yang jelas, maka tidak boleh dibatalkan lagi dengan ijtihad yang didukung oleh bukti-bukti yang samar, karena yang lebih kuat lebih layak untuk dijalankan daripada yang lebih lemah. Keduanya hanya dapat saling bertentangan jika setara dalam kekuatan dan kelemahan. Selain itu, ijtihad tersebut bukanlah dalam menetapkan hukum berdasarkan kesaksiannya, melainkan hakim memutuskan berdasarkan kesaksian itu karena ia tidak mengetahui bahwa orang tersebut adalah seorang budak. Kemudian, setelah ia mengetahui secara pasti tentang status perbudakannya, maka wajib baginya untuk memutuskan berdasarkan ilmunya atas perkara yang sebelumnya masih samar dan meragukan.

فَثَبَتَ أَنَّ الْحُكْمَ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ مَرْدُودٌ، وَقَدْ وَافَقَ عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ، وَمَالُكٌ، وَجُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ.

Dengan demikian, telah tetap bahwa keputusan hukum berdasarkan kesaksian seorang budak dan orang kafir adalah tertolak, dan hal ini telah disepakati oleh Abu Hanifah, Malik, dan mayoritas fuqaha.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْحُكْمَ بِهَا مَرْدُودٌ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا، هَلْ يَقَعُ بَاطِلًا لَا يَفْتَقِرُ إِلَى الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ، أَوْ يَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى وُجُوبِ الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ؟ بِحَسَبَ اخْتِلَافِهِمْ فِي الْمَانِعِ مِنَ الْحُكْمِ بِهِ.

Maka apabila telah tetap bahwa keputusan dengannya tertolak, para ulama kami berbeda pendapat: apakah keputusan itu menjadi batal secara otomatis tanpa memerlukan keputusan pembatalan, ataukah harus menunggu adanya kewajiban untuk memutuskan pembatalannya? Hal ini sesuai dengan perbedaan pendapat mereka mengenai penghalang dari penetapan keputusan tersebut.

فَمَنْ جَعَلَ دَلِيلَ رَدِّهِ نَصًّا أَوْ إِجْمَاعًا، جَعَلَهُ بَاطِلًا لَا يَفْتَقِرُ إِلَى الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ، لَكِنْ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يُظْهِرَ بُطْلَانَهُ لِمَا قَدَّمَهُ مِنْ ظُهُورِ نُفُوذِهِ.

Maka barang siapa yang menjadikan dalil penolakannya berupa nash atau ijmā‘, ia menganggapnya batal sehingga tidak memerlukan keputusan untuk membatalkannya. Namun, hakim tetap wajib menampakkan kebatalannya karena sebelumnya tampak adanya kekuatan berlakunya.

وَمَنْ جَعَلَ رَدَّهُ قُوَّةُ الِاجْتِهَادِ فِي شَوَاهِدِهِ، جَعَلَهُ مَوْقُوفًا عَلَى وُجُوبِ الْحُكْمِ لَا بِنَقْضِهِ لِأَنَّ غَيْرَهُ شَوَاهِدُهُ مَعْلُومَةٌ بِالِاجْتِهَادِ فَصَارَ مَوْقُوفًا عَلَى الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِأَنَّه قَالَ مِنْ بَعْدُ: وَرَدُّ شَهَادَةِ الْعَبْدِ إِنَّمَا هُوَ بِتَأْوِيلٍ.

Dan barang siapa yang menjadikan penolakan (kesaksian) itu karena kekuatan ijtihad dalam indikasi-indikasinya, maka ia menjadikannya tergantung pada wajibnya menetapkan hukum, bukan karena pembatalannya. Sebab, selain itu, indikasi-indikasinya diketahui melalui ijtihad, sehingga menjadi tergantung pada penetapan hukum dengan pembatalannya. Dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i, semoga Allah meridhainya, karena beliau berkata setelah itu: Penolakan kesaksian seorang budak hanyalah karena adanya penafsiran (ta’wil).

وَلَيْسَ بِتَحْرِيفِ السِّجِلِّ نَقْضًا لِلْحُكْمِ حَتَّى يَنْقُضَهُ بِالْحُكْمِ قَوْلًا، وَوَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُسَجِّلَ بِالنَّقْضِ كَمَا أَسْجَلَ بِالْحُكْمِ لِيَكُونَ السِّجِلُّ الثَّانِي مُبْطِلًا لِلسِّجِلِّ الْأَوَّلِ، كَمَا صَارَ الْحُكْمُ الثَّانِي نَاقِضًا لِلْحُكْمِ الْأَوَّلِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ أَسْجَلَ الْحُكْمَ لَمْ يَلْزَمْهُ الْإِسْجَالَ بِالنَّقْضِ، وَإِنْ كَانَ الْإِسْجَالُ بِهِ أَوْلَى.

Mengubah catatan keputusan tidaklah dianggap sebagai pembatalan hukum sampai ia membatalkannya dengan keputusan secara lisan, dan wajib baginya untuk mencatat pembatalan sebagaimana ia telah mencatat keputusan, agar catatan kedua menjadi pembatal bagi catatan pertama, sebagaimana keputusan kedua membatalkan keputusan pertama. Jika sebelumnya ia belum mencatat keputusan, maka ia tidak wajib mencatat pembatalan, meskipun mencatatnya lebih utama.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” بَلِ الْقَاضِي بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ أَبْيَنُ خَطَأً مِنْهُ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَذَلِكَ أَنَ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ قال {وأشهدوا ذوي عدل منكم} وقال {ممن ترضون من الشهداء} وَلَيْسَ الْفَاسِقُ بِوَاحِدٍ مِنْ هَذَيْنِ فَمَنْ قَضَى بِشَهَادَتِهِ فَقَدْ خَالَفَ حُكْمَ اللَّهِ وَرَدُّ شَهَادَةِ العبد إنما هو تأويل وقال في موضع آخر إن طلب الخصم الجرحة أجله بالمصر وما قاربه فإن لم يجيء بِهَا أُنْفِذَ الْحُكْمُ عَلَيْهِ ثُمَ إِنْ جَرَحَهُمْ بَعْدُ لَمْ يُرَدَّ عَنْهُ الْحُكْمُ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) قِيَاسُ قَوْلِهِ الْأَوَّلِ أَنْ يَقْبَلَ الشُّهُودَ الْعُدُولَ أَنْهُمَا فَاسِقَانِ كَمَا يَقْبَلُ أَنَّهُمَا عَبْدَانِ وَمُشْرِكَانِ وَيَرُدُّ الْحُكْمَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang qāḍī yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian seorang fāsiq lebih jelas kesalahannya daripada yang memutuskan dengan kesaksian seorang ‘abd. Hal itu karena Allah Ta‘ālā berfirman, ‘Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian,’ dan berfirman, ‘dari saksi-saksi yang kalian ridhai.’ Seorang fāsiq tidak termasuk dalam kedua kategori ini. Maka siapa yang memutuskan perkara dengan kesaksiannya, sungguh ia telah menyelisihi hukum Allah. Adapun penolakan terhadap kesaksian seorang ‘abd hanyalah berdasarkan ta’wil. Dan beliau berkata di tempat lain: Jika pihak lawan meminta penjelasan tentang cacat (pada saksi), maka diberi tenggang waktu di kota atau sekitarnya. Jika ia tidak mendatangkan bukti, maka putusan dijalankan atasnya. Kemudian jika setelah itu ia dapat membuktikan cacat pada saksi, maka putusan tidak dibatalkan karenanya.” (Al-Muzanī berkata:) “Qiyās dari pendapat beliau yang pertama adalah menerima pernyataan para saksi ‘adūl bahwa keduanya fāsiq, sebagaimana diterima pernyataan bahwa keduanya adalah ‘abd atau musyrik, dan putusan dibatalkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّهُ لَا خِلَافَ فِي رَدِّ شَهَادَةِ الْفَاسِقِ بِالنَّصِّ، فَإِذَا حَكَمَ بِشَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ ثُمَّ بَانَ لَهُ فِسْقُهُمَا، فَإِنْ كَانَ الْفِسْقُ طَارِئًا أَمْضَى الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمَا فَهُوَ عَلَى صِحَّتِهِ وَنَفَاذِهِ.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa tidak ada perbedaan pendapat mengenai ditolaknya kesaksian orang fasik berdasarkan nash. Maka, jika seorang hakim memutuskan berdasarkan kesaksian dua orang saksi, kemudian ternyata diketahui bahwa keduanya fasik, jika kefasikan itu muncul setelah persaksian, maka keputusan yang diambil berdasarkan kesaksian mereka tetap berlaku dan sah.

وَإِنْ كَانَ الْفِسْقُ مُتَقَدِّمًا قَبْلَ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمَا، فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ كُتُبِهِ، إِنَّ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمَا مَرْدُودٌ وَإِنَّ الْفِسْقَ أَسْوَأُ حَالًا مِنَ الرِّقِّ، لِأَنَّ خَبَرَ الْعَبْدِ مَقْبُولٌ وَخَبَرُ الْفَاسِقِ مردود.

Jika kefasikan terjadi sebelum keputusan hukum dijalankan berdasarkan kesaksian mereka berdua, maka mazhab Syafi‘i yang ditegaskan dalam seluruh kitab-kitabnya adalah bahwa keputusan hukum berdasarkan kesaksian mereka berdua ditolak, dan bahwa kefasikan lebih buruk keadaannya daripada perbudakan, karena berita dari seorang budak diterima, sedangkan berita dari seorang fasik ditolak.

وَنَقَلَ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ عَنِ الشَّافِعِيِّ: إِنَّ الْحَاكِمَ إِذَا أَطْرَدَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ جَرْحَ الشُّهُودِ مُدَّةَ إِطْرَادِهِ، فَلَمْ يَأْتِ بِالْجَرْحِ، فَأَمْضَى الْحُكْمَ عَلَيْهِ بِشَهَادَتِهِمَا، ثُمَّ أَتَى بَعْدَ إِمْضَاءِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِبَيِّنَةِ الْجَرْحِ ثُمَّ كَانَ حُكْمُهُ عَلَيْهِ مَاضِيًا، وَظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُ قَوْلٌ بِأَنَّ الْحُكْمَ لَا يُنْقَضُ بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ.

Al-Muzani meriwayatkan dalam masalah ini dari asy-Syafi‘i: Sesungguhnya apabila hakim telah memberi kesempatan kepada pihak yang menjadi objek kesaksian untuk mengajukan jarh (kritik) terhadap para saksi selama masa kesempatan tersebut, namun ia tidak mengajukan jarh, lalu hakim menetapkan putusan atasnya berdasarkan kesaksian kedua saksi itu, kemudian setelah putusan dijalankan ia datang membawa bukti jarh, maka putusan hakim atasnya tetap berlaku. Tampak dari hal ini bahwa ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa putusan tidak dibatalkan dengan kesaksian orang fasik.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ تَخْرِيجِهِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan penarikan hukumnya.

فَمَذْهَبُ الْمُزَنِيِّ وَأَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ تَخْرِيجُهُ قَوْلًا ثَانِيًا، وَجَعَلُوا نَقْضَ الْحُكْمِ بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Maka mazhab al-Muzani dan Abu al-‘Abbas bin Surayj mengeluarkan pendapat ini sebagai pendapat kedua, dan mereka menjadikan pembatalan putusan dengan kesaksian orang fasik pada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَنْقُضُهُ، وَهُوَ النَّصُّ.

Salah satunya adalah membatalkannya, yaitu nash.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يَنْقُضُهُ، وَهُوَ الْمُخَرَّجُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ.

Pendapat kedua: tidak membatalkannya, dan inilah pendapat yang diambil serta dikatakan oleh Abu Hanifah.

وَذَهَبَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ وَجُمْهُورُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى الْمَنْعِ مِنْ تَخْرِيجِهِ قَوْلًا ثَانِيًا، وَأَنَّهُ لَا يَجِيءُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِلَّا مَا نَصَّ عَلَيْهِ وَصَرَّحَ بِهِ مِنْ نَقْضِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ قَوْلًا وَاحِدًا.

Abu Ishaq al-Marwazi dan mayoritas ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak boleh mengeluarkan pendapat kedua dalam masalah ini, dan bahwa dalam mazhab Syafi’i tidak berlaku kecuali apa yang telah dinyatakan dan ditegaskan olehnya, yaitu pembatalan putusan dengan kesaksiannya adalah satu pendapat saja.

وَأَجَابُوا عَمَّا نَقَلَهُ الْمُزَنِيِّ، فِيمَنْ أطْرَدَهُ الْحَاكِمُ بِجَرْحِ شُهُودِهِ فَأَحَضَرَ بَيِّنَةَ الْجَرْحِ بَعْدَ انْقِضَاءِ زَمَانِهِ وَنُفُوذِ حُكْمِهِ بِجَوَابَيْنِ:

Dan mereka menjawab apa yang dinukil oleh al-Muzani, tentang seseorang yang diputuskan oleh hakim dengan menolak para saksinya karena adanya cacat, lalu ia menghadirkan bukti cacat tersebut setelah masa putusan berlalu dan keputusan hakim telah dijalankan, dengan dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَمْ يَنْقُضْهُ، لِأَنَّ الْخَصْمَ أَقَامَ بَيِّنَةً بِفِسْقِ الشُّهُودِ مُطْلَقًا، وَلَمْ يَشْهَدُوا بِفِسْقِ الشُّهُودِ قَبْلَ الْحُكْمِ، فَلَمْ يَنْقُضْهُ لِجَوَازِ حُدُوثِهِ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا حَتَّى يُعَيَّنُوا أَنَّهُ كَانَ فَاسِقًا قَبْلَ الشَّهَادَةِ أَوْ بَعْدَهَا وَقَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بها فينقضها.

Salah satu pendapat: Bahwa keputusan tersebut tidak dibatalkan, karena pihak lawan hanya menghadirkan bukti tentang kefasikan para saksi secara mutlak, dan mereka tidak memberikan kesaksian bahwa para saksi tersebut fasik sebelum adanya putusan. Maka keputusan itu tidak dibatalkan, karena masih dimungkinkan kefasikan itu terjadi setelah keputusan tersebut dijalankan, kecuali mereka menetapkan secara jelas bahwa kefasikan itu terjadi sebelum kesaksian atau setelahnya namun sebelum keputusan itu dijalankan, maka barulah keputusan itu dibatalkan.

وأما الْجَوَابَ الثَّانِيَ: إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ الْخَصْمَ عَجَزَ عَنْ بَيِّنَةِ الْجَرْحِ عِنْدَ إطْرَادِهِ فَحُكِمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ عَادَ يَسْأَلُ الْحَاكِمَ إِطْرَادَهُ ثَانِيَةً، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَطْرُدَهُ الْجَرْحَ بَعْدَ إِبْطَالِ الْإِطْرَادِ، لِأَنَّ الْإِطْرَادَ يُوجِبُ نَقْضَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ، وَالْحُكْمُ قَدْ نَفَذَ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعَادَ إِلَى الْوَقْفِ عَلَى الْإِطْرَادِ.

Adapun jawaban yang kedua: Sesungguhnya hal itu dimaknai bahwa pihak lawan tidak mampu menghadirkan bukti jarḥ (celaan) ketika dilakukan itirād (penyamaan kasus), maka diputuskan hukum atasnya. Kemudian ia kembali meminta hakim untuk melakukan itirād lagi, dan tidak boleh melakukan jarḥ setelah itirād dibatalkan, karena itirād mengharuskan pembatalan hukum atasnya, sedangkan hukum telah dijalankan, maka tidak boleh kembali kepada penundaan dengan alasan itirād.

فَإِنْ بَانَ لِلْحَاكِمِ الْفِسْقُ مِنْ غَيْرِ إِطْرَادِ الْخَصْمِ، بِأَنْ قَامَتْ عِنْدَهُ الْبَيِّنَةُ بِأَنَّهُ شَرِبَ خَمْرًا أَوْ قَذَفَ مُحْصَنًا قَبْلَ شَهَادَتِهِ، نَقَضَ الْحُكْمَ بِهَا، فَبَانَ أَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ نَقَضَ الْحَكَمُ بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَخْتَلِفَ قَوْلُهُ فِيهِ كَمَا يَنْقُضُهُ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ.

Jika hakim mengetahui kefasikan seorang saksi tanpa adanya tuntutan dari pihak lawan, misalnya dengan adanya bukti bahwa ia telah meminum khamar atau menuduh seseorang yang terjaga kehormatannya (muhshan) sebelum memberikan kesaksiannya, maka hakim membatalkan putusan yang didasarkan pada kesaksian tersebut. Dengan demikian, jelaslah bahwa menurut mazhab Syafi‘i rahimahullah, hakim membatalkan putusan yang didasarkan pada kesaksian seorang fasiq tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya, sebagaimana ia juga membatalkan putusan yang didasarkan pada kesaksian seorang budak atau orang kafir.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يُنْقَضُ الْحُكْمُ بِشَهَادَةِ الْفَاسِقِ، وَإِنْ نَقَضَهُ بِشَهَادَةِ الْعَبْدِ وَالْكَافِرِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الرِّقَّ وَالْكُفْرَ مَقْطُوعٌ بِهِمَا وَالْفِسْقَ مُجْتَهَدٌ فِيهِ، فَجَازَ نَقْضُهُ بِالْمَقْطُوعِ بِهِ كَمَا يَنْقُضُ بِمُخَالَفَةِ النَّصِّ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْقُضَ بِمُجْتَهِدٍ فِيهِ، لِأَنَّ الْحُكْمَ إِذَا نَفَذَ بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يُنْقَضْ بالاجتهاد.

Abu Hanifah berkata: Putusan tidak dapat dibatalkan karena kesaksian seorang fasik, meskipun ia membatalkannya karena kesaksian seorang budak dan orang kafir, dengan alasan bahwa status budak dan kekafiran adalah perkara yang sudah pasti, sedangkan kefasikan masih diperselisihkan (masih menjadi ranah ijtihad). Maka, boleh membatalkan putusan dengan sesuatu yang sudah pasti, sebagaimana putusan dibatalkan karena bertentangan dengan nash, dan tidak boleh membatalkannya dengan sesuatu yang masih diperselisihkan, karena apabila suatu putusan telah dijalankan berdasarkan ijtihad, maka tidak dapat dibatalkan dengan ijtihad lain.

وَالدَّلِيلُ عَلَى نَقْضِ الْحُكْمِ بِفِسْقِهِ كَمَا يُنْقَضُ بِرِقِّهِ شَيْئَانِ:

Dan dalil tentang pembatalan putusan karena kefasikannya, sebagaimana putusan dibatalkan karena status budaknya, ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ اشْتِرَاطَ الْعَدَالَةِ نَصٌّ، وَاشْتِرَاطَ الْحَرِيَّةِ اجْتِهَادٌ، فَإِنْ نُقِضَ الْحُكْمُ بِمُخَالَفَةِ الْمَشْرُوطِ بِالنَّصِّ لِاجْتِهَادٍ، كَانَ أَوْلَى أَنْ يُنْقَضَ لِمُخَالَفَةِ الْمَشْرُوطِ بِالنَّصِّ.

Salah satunya: Sesungguhnya pensyaratan ‘adālah adalah berdasarkan nash, sedangkan pensyaratan kebebasan adalah hasil ijtihad. Maka jika suatu putusan dibatalkan karena bertentangan dengan syarat yang ditetapkan berdasarkan nash demi ijtihad, maka lebih utama lagi untuk dibatalkan karena bertentangan dengan syarat yang ditetapkan berdasarkan nash.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْعَبْدَ مَقْبُولُ الْخَبَرِ، وَالْفَاسِقَ مَرْدُودُ الْخَبَرِ، وَالشَّهَادَةُ كَالْخَبَرِ، فَلَمَّا نُقِضَ الْحُكْمُ بِشَهَادَةِ مَنْ يُقْبَلُ خَبَرُهُ، كَانَ أَوْلَى أَنْ يُنْقَضَ بِشَهَادَةِ مَنْ يُرَدُّ خَبَرُهُ.

Kedua: Sesungguhnya seorang hamba (budak) diterima beritanya, sedangkan seorang fāsiq ditolak beritanya, dan kesaksian itu seperti berita. Maka ketika suatu putusan dibatalkan dengan kesaksian orang yang diterima beritanya, maka lebih utama lagi putusan itu dibatalkan dengan kesaksian orang yang ditolak beritanya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: إِنَّ الرِّقَّ مَقْطُوعٌ بِهِ وَالْفِسْقُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ، فَهُوَ إِنَّهُمَا إِذَا صَارَا مَعْلُومَيْنِ، صَارَ الرَّدُّ بِالْفِسْقِ مَقْطُوعًا بِهِ. وَالرَّدُّ بِالرِّقِّ مُجْتَهَدًا فِيهِ. فَكَانَ بِالْعَكْسِ أَحَقُّ.

Adapun jawaban atas ucapannya: Sesungguhnya status budak adalah perkara yang sudah pasti, sedangkan kefasikan adalah perkara ijtihadi, maka jawabannya adalah bahwa apabila keduanya telah menjadi sesuatu yang diketahui, maka penolakan karena kefasikan menjadi perkara yang pasti, sedangkan penolakan karena status budak menjadi perkara ijtihadi. Maka sebaliknya justru lebih berhak.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وإذا أَنَفَذَ الْقَاضِي بِشَهَادَتِهِمَا قَطْعًا ثُمَّ بَانَ لَهُ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِمَا شَيْءٌ لِأَنَّهمَا صَادِقَانِ فِي الظَّاهِرِ وَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَقْبَلَ مِنْهُمَا فَهَذَا خَطَأٌ مِنْهُ تَحْمِلُهُ عَاقِلَتُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang qāḍī memutuskan perkara berdasarkan kesaksian mereka berdua secara pasti, kemudian ternyata baginya (bahwa kesaksian itu tidak benar), maka tidak ada tanggungan apa pun atas keduanya, karena secara lahiriah mereka berdua jujur. Seharusnya qāḍī tidak menerima kesaksian dari mereka berdua, maka ini adalah kesalahan dari pihak qāḍī yang menjadi tanggungan ‘āqilah-nya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا وَجَبَ نَقْضُ الْحُكْمِ بِرَدِّ الشَّهَادَةِ إِمَّا لِفِسْقٍ أَوْ لِرِقٍّ أَوْ كُفْرٍ، فَسَوَاءٌ. وَلَا يَخْلُو الْحُكْمُ مِنْ أَنْ يُفْضِيَ إِلَى اسْتِهْلَاكٍ أَوْ لَا يُفْضِيَ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar apabila wajib membatalkan putusan dengan menolak kesaksian, baik karena kefasikan, perbudakan, atau kekufuran, maka hukumnya sama saja. Dan putusan itu tidak lepas dari kemungkinan mengakibatkan kerugian atau tidak mengakibatkannya.

فَإِنْ لَمْ يُفْضِ إِلَى اسْتِهْلَاكٍ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِنَقْضِهِ ضَمَانٌ، وَكَانَ نَقْضُهُ مُعْتَبَرًا بِالْحُكْمِ.

Jika tidak menyebabkan kerusakan total, maka pembatalannya tidak menimbulkan kewajiban ganti rugi, dan pembatalannya dianggap sah menurut hukum.

فَإِنْ كَانَ فِي عَقْدِ نِكَاحٍ عُقِدَ بِشَاهِدَيْنِ فَبَانَا عَبْدَيْنِ، أَوْ كَافِرَيْنِ، أَوْ فَاسِقَيْنِ. افْتَقَرَ إِلَى حُكْمِ الْحَاكِمِ بِنَقْضِهِ، لِأَنَّ مَالِكًا يُجِيزُ عَقْدَ النِّكَاحِ بِغَيْرِ شُهُودٍ إِذَا أُعْلِنَ.

Jika dalam akad nikah terdapat dua saksi, lalu ternyata keduanya adalah budak, atau keduanya orang kafir, atau keduanya fasik, maka diperlukan keputusan hakim untuk membatalkannya, karena Imam Malik membolehkan akad nikah tanpa saksi jika diumumkan.

وَإِنْ كَانَ فِي إِثْبَاتِ نِكَاحِ اخْتَلَفَ فِيهِ الزَّوْجَانِ، فَإِنْ بَانَ فِسْقُ الشَّاهِدَيْنِ حُكِمَ بِنَقْضِهِ وَلَمْ يُنْقَضْ بِظُهُورِ فِسْقِهِمَا إِلَّا أَنْ يُحْكَمَ بِهِ لِخِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ فِيهِ وَفَرَّقَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فِيهِ بَعْدَ يَمِينِ الزَّوْجَةِ الْمُنْكِرَةِ.

Dan jika dalam penetapan pernikahan terjadi perselisihan antara suami istri, maka jika terbukti kefasikan kedua saksi, diputuskan pembatalan pernikahan tersebut, dan tidak dibatalkan hanya karena tampaknya kefasikan mereka kecuali jika telah diputuskan demikian, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah dalam hal ini. Dalam kasus ini, dipisahkan antara suami istri setelah sumpah istri yang mengingkari.

وَإِنْ بَانَ كُفْرُ الشَّاهِدَيْنِ أَظْهَرَ نَقْضَ الْحُكْمَ وَلَمْ يَفْتَقِرْ نَقْضُهُ إِلَى حُكْمٍ لِوُقُوعِهِ مُنْتَقِضًا لِرَدِّ شَهَادَتْهِمَا بِالنَّصِّ الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ.

Jika ternyata kedua saksi itu kafir, maka pembatalan putusan harus dinyatakan secara jelas, dan pembatalan tersebut tidak memerlukan putusan baru, karena putusan itu telah batal dengan sendirinya akibat ditolaknya kesaksian mereka berdasarkan nash yang telah disepakati (ijmā‘).

وَإِنْ بَانَ رِقُّ الشَّاهِدَيْنِ، فَهَلْ يَفْتَقِرُ نَقْضُهُ إِلَى الْحُكْمِ بِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ مَبْنِيَّيْنِ عَلَى الِاخْتِلَافِ فِي شَهَادَتِهِ هَلْ رُدَّتْ بِظَاهِرِ نَصٍّ، أَوْ إِجْمَاعٍ عَنْ ظَاهِرِ اجْتِهَادٍ ظَاهِرٍ أَوْ عَلَى مَا قَدَّمْنَا.

Jika ternyata kedua saksi berstatus budak, maka apakah pembatalan kesaksian mereka memerlukan adanya putusan hakim atau tidak? Ada dua pendapat yang dibangun di atas perbedaan pendapat mengenai kesaksian mereka: apakah kesaksian itu ditolak berdasarkan nash yang jelas, atau berdasarkan ijmā‘ yang bersumber dari ijtihad yang tampak, atau sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَهَكَذَا فِي كُلِّ حُكْمٍ نَفَذَ بِشَهَادَتِهِمْ يَكُونُ الْحُكْمُ بِنَقْضِهِ مُعْتَبَرًا بِأَحْوَالِ شُهُودِهِ فِي اخْتِلَافِهِمْ فِي الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ فِي الرِّقِّ وَالْكُفْرِ وَالْفِسْقِ فَيُحْتَاجُ إِلَى الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ فِي الْفِسْقِ، وَلَا يُحْتَاجُ إِلَى الْحُكْمِ بِنَقْضِهِ فِي الْكُفْرِ، وَفِي احْتِيَاجِهِ إلى الحكم بنقضه فِي الرِّقِّ وَجْهَانِ.

Demikian pula dalam setiap putusan yang dijatuhkan berdasarkan kesaksian mereka, maka putusan untuk membatalkannya dipertimbangkan menurut keadaan para saksi dalam perbedaan mereka pada tiga hal: perbudakan, kekufuran, dan kefasikan. Maka diperlukan adanya putusan pembatalan dalam kasus kefasikan, dan tidak diperlukan putusan pembatalan dalam kasus kekufuran. Adapun dalam hal perbudakan, terdapat dua pendapat mengenai perlunya putusan pembatalan.

وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ بِنَقْضِهِ فِي طَلَاقٍ فَرَّقَ فِيهِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ، وَقَعَ مَا أَوْقَعَهُ مِنَ الطَّلَاقِ وَجَمَعَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ بَعْدَ يَمِينِ الزَّوْجِ الْمُنْكِرِ.

Dan jika kesaksian itu mengenai pembatalan dalam perkara talak yang menyebabkan perpisahan antara suami istri, maka talak yang telah dijatuhkan tetap berlaku, dan suami istri dapat kembali bersatu setelah suami yang mengingkari bersumpah.

وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي عِتْقٍ أُنَفِذَ بِهَا حُرِّيَّةُ الْعَبْدِ، حُكِمَ بِرِقِّهِ وَبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِ سَيِّدِهِ، وَيَمْلِكُ اكْتِتَابَهُ بَعْدَ يَمِينِ السَّيِّدِ فِي إِنْكَارِ عِتْقِهِ.

Jika kesaksian itu berkaitan dengan pembebasan budak, yang dengan kesaksian tersebut dapat diberlakukan kebebasan bagi budak itu, maka diputuskan bahwa budak tersebut tetap berstatus budak dan tetap menjadi milik tuannya, dan tuannya berhak melakukan mukatabah setelah ia bersumpah menyangkal pembebasan budak tersebut.

وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى نَقْلِ مِلْكٍ مِنْ دَارٍ أَوْ عَقَارٍ، حُكِمَ بِإِعَادَتِهِ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ مَعَ أُجْرَةِ مِثْلِهِ بَعْدَ يَمِينِهِ عَلَى إِنْكَارِهِ، فَإِنْ طَلَبَ إِعَادَةَ الدَّارِ إِلَى يَدِهِ لِيَحْلِفَ بَعْدَ رَدِّهَا عَلَيْهِ، وَجَبَ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَرْفَعَ عَنْهَا يَدَ الْمَشْهُودِ لَهُ، لِبُطْلَانِ بَيِّنَتِهِ وَلَا يَأْمُرُ بِرَدِّهَا عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، لِأَنَّ أَمْرَهُ بِالرَّدِّ حُكِمَ لَهُ بِالِاسْتِحْقَاقِ وَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهُمَا، لِأَنَّ مَنْعَهُ حُكِمَ عَلَيْهِ بِإِبْطَالِ الِاسْتِحْقَاقِ، وَيُخَلَّى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمَا مِنْ غَيْرِ حُكْمٍ بَاتٍّ، وَهَذَا بِخِلَافِ الطَّلَاقِ وَالْعِتْقِ الَّذِي لَا يَجُوزُ التَّمْكِينُ مِنْهُمَا إِلَّا بَعْدَ الْيَمِينِ لِمَا فِيهَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى.

Jika kesaksian itu berkaitan dengan pemindahan kepemilikan rumah atau tanah, maka diputuskan untuk mengembalikannya kepada pihak yang disaksikan atasnya beserta upah sewajarnya setelah ia bersumpah atas pengingkarannya. Jika ia meminta agar rumah itu dikembalikan ke tangannya supaya ia dapat bersumpah setelah rumah itu dikembalikan kepadanya, maka hakim wajib mencabut kekuasaan pihak yang disaksikan untuknya atas rumah itu, karena batalnya bukti yang diajukan, dan tidak memerintahkan untuk mengembalikannya kepada pihak yang disaksikan atasnya. Sebab, perintah untuk mengembalikannya berarti memutuskan hak kepemilikan baginya, dan tidak mencegahnya dari keduanya, karena pencegahan berarti memutuskan pembatalan hak kepemilikan atasnya. Maka, dibiarkan antara dia dan keduanya tanpa ada keputusan hukum yang tetap. Hal ini berbeda dengan kasus talak dan ‘itq (pembebasan budak), yang tidak boleh diberikan kecuali setelah sumpah, karena di dalamnya terdapat hak-hak Allah Ta‘ala.

وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ فِي دَيْنٍ حُكِمَ بِقَضَائِهِ، فَإِنْ كَانَ مَالُهُ بَعْدَ قَضَائِهِ بَاقِيًا فِي يَدِ الْمَشْهُودِ لَهُ حُكِمَ بِرَدِّهِ عَلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ بِعَيْنِهِ وَلَمْ يُعْدَلْ عَنْهُ إِلَى بَدَلِهِ، وَإِنِ اسْتَهْلَكَهُ الْمَشْهُودُ لَهُ، أُخِذَ بِرَدِّ مِثْلِهِ. فَإِنْ أَعْسَرَ بِهِ أَقْرَضَهُ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِيَكُونَ دَيْنًا عَلَيْهِ فِي ذِمَّتِهِ يُؤَدِّيهِ إِذَا أَيْسَرَ بِهِ وَيَدْفَعُهُ إِلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ بَدَلًا مِنَ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ.

Jika kesaksian itu berkaitan dengan utang, maka diputuskan untuk menunaikannya. Jika setelah keputusan itu, harta tersebut masih ada di tangan orang yang disaksikan untuknya, maka diputuskan untuk mengembalikannya kepada orang yang disaksikan atasnya secara langsung dan tidak diganti dengan yang lain. Namun, jika harta itu telah habis digunakan oleh orang yang disaksikan untuknya, maka ia diwajibkan mengembalikan barang sejenisnya. Jika ia tidak mampu mengembalikannya, hakim meminjamkan kepadanya dari baitul mal agar menjadi utang atas tanggungannya yang harus dibayar ketika ia mampu, dan hakim menyerahkan harta tersebut kepada orang yang disaksikan atasnya sebagai pengganti dari apa yang telah diambil darinya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا إِذَا كَانَ الْحُكْمُ مُفْضِيًا إِلَى الِاسْتِهْلَاكِ وَالْإِتْلَافِ، كَالْقِصَاصِ فِي نَفْسٍ أَوْ طَرَفٍ، فَهُوَ مُوجِبٌ لِضَمَانِ الدِّيَةِ دُونَ الْقَوَدِ، لِأَنَّه خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْعَمْدِ إِلَى الْخَطَأِ وَالْحُكْمُ بِهِ تَمَّ بِالشُّهُودِ وَالْحَاكِمِ وَالْمَشْهُودِ لَهُ، فَأَمَّا الشُّهُودُ فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِمْ لِظُهُورِ رِقِّهِمْ، فَلَا يَمْنَعُ وُجُودُ ذَلِكَ فِيهِمْ مِنْ أَنْ يَكُونُوا صَادِقِينَ فِي شَهَادَتِهِمْ، وَخَالَفَ حَالُ الشُّهُودِ إِذَا رَجَعُوا لِاعْتِرَافِهِمْ بِكَذِبِهِمْ، فَلِذَلِكَ ضُمِنُوا بِالرُّجُوعِ وَلَمْ يُضْمَنُوا بِالْفِسْقِ وَالرِّقِّ، وَأَمَّا الْمَشْهُودُ لَهُ فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ، لِأَنَّه لَا يَمْنَعُ فِسْقُ شُهُودِهُ مِنِ اسْتِحْقَاقِهِ لِمَا شَهِدُوا بِهِ.

Adapun jika hukum tersebut berujung pada kebinasaan dan kerusakan, seperti qishāsh pada jiwa atau anggota tubuh, maka hal itu mewajibkan pembayaran diyat dan bukan qawad, karena perkara tersebut telah keluar dari hukum ‘amdan (sengaja) menuju khathā’ (tidak sengaja), dan penetapan hukumnya telah dilakukan oleh para saksi, hakim, dan orang yang disaksikan untuknya. Adapun para saksi, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atas mereka karena jelasnya status budak mereka, sehingga keberadaan hal tersebut pada diri mereka tidak menghalangi mereka untuk tetap dianggap jujur dalam kesaksian mereka. Berbeda halnya dengan keadaan para saksi jika mereka menarik kembali kesaksiannya karena mengakui kebohongan mereka, maka karena itulah mereka diwajibkan menanggung akibatnya ketika menarik kembali, dan tidak diwajibkan karena kefasikan atau status budak. Adapun orang yang disaksikan untuknya, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya, karena kefasikan para saksinya tidak menghalanginya untuk berhak atas apa yang mereka saksikan.

وَإِذَا سَقَطَ الضَّمَانُ عَنْ هَؤُلَاءِ، وَجَبَ الضَّمَانُ عَلَى الْحَاكِمِ.

Dan apabila gugur tanggungan (jaminan) dari mereka, maka wajib tanggungan (jaminan) itu atas hakim.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنَّ الضَّمَانَ عَلَى الْمُزَكِّينَ لِلشُّهُودِ عِنْدَ الْحَاكِمِ دُونَ الْحَاكِمِ، لِأَنَّهمْ أَلِجَأُوهُ إِلَى الْحُكْمِ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ.

Abu Hanifah berkata: Sesungguhnya tanggungan (jaminan) atas orang-orang yang merekomendasikan para saksi di hadapan hakim, bukan atas hakim, karena merekalah yang mendorong hakim untuk memutuskan berdasarkan kesaksian tersebut.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الْمُزَكِّينَ شَهِدُوا بِالْعَدَالَةِ دُونَ الْقَتْلِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُضَمَّنُوا مَا لَمْ يَشْهَدُوا بِهِ مِنَ الْقَتْلِ وَوَجَبَ الضَّمَانُ عَلَى مَنْ حَكَمَ بِالْقَتْلِ، لِأَنَّه قَدْ تَعَيَّنَ مِنْهُ فِي فِعْلِهِ.

Ini adalah pendapat yang rusak, karena para muzakkī memberikan kesaksian atas keadilan, bukan atas pembunuhan. Maka tidak boleh mereka dimintai pertanggungjawaban atas sesuatu yang tidak mereka saksikan, yaitu pembunuhan. Kewajiban pertanggungjawaban justru berlaku atas orang yang memutuskan hukuman mati, karena perbuatannya telah ditetapkan berasal darinya.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَجَبَ ضَمَانُ الدِّيَةِ عَلَى الْحَاكِمِ، سَوَاءٌ تَقَدَّمَ بِالْقِصَاصِ إِلَى وَلِيِّ الدَّمِ أَوْ إِلَى غيره،.

Jika demikian, maka wajib membayar diyat atas hakim, baik ia telah menyerahkan pelaksanaan qishāsh kepada wali darah maupun kepada selainnya.

وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ: إِنْ تَقَدَّمَ بِهِ الْحَاكِمُ إِلَى وَلِيِّ الدَّمِ كَانَ ضَمَانُ الدِّيَةِ عَلَى الْوَلِيِّ، وَإِنْ تَقَدَّمَ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ كَانَ الضَّمَانُ عَلَى الْحَاكِمِ.

Abu Sa‘id al-Ishthakhri berkata: Jika hakim menyerahkan pelaku kepada wali darah, maka tanggungan diyat menjadi kewajiban wali tersebut. Namun jika hakim menyerahkannya kepada selain wali, maka tanggungan menjadi kewajiban hakim.

وَهَذَا خَطَأٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ini adalah kesalahan dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ عَنْ أَمْرِهِ فِي الْحَالَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu terjadi atas perintahnya dalam kedua keadaan.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَمَّا لَمْ يُضَمِّنْهُ مُبَاشَرَةً إِذَا كَانَ وَلِيُّ الدَّمِ مَعَ عَدَمِ اسْتِحْقَاقِهِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا يَضْمَنَهُ وَلِيُّهُ مَعَ جَوَازِ اسْتِحْقَاقِهِ.

Kedua: Sesungguhnya, ketika pelaku tidak dibebani tanggung jawab secara langsung jika wali darah tidak berhak (menerima diyat), maka lebih utama lagi wali pelaku tidak dibebani tanggung jawab ketika ada kemungkinan wali darah berhak (menerima diyat).

فَإِذَا تَقَرَّرَ ضَمَانُ الدِّيَةِ عَلَى الْحَاكِمِ لَمْ يَضْمَنْهَا فِي مَالِهِ، وَفِي مَحَلِّ ضَمَانِهَا وَجْهَانِ:

Apabila telah ditetapkan kewajiban membayar diyat atas hakim, maka ia tidak menanggungnya dari hartanya sendiri. Adapun mengenai dari mana diyat itu ditanggung, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: عَلَى عَاقِلَتِهِ، لِأَنَّها دِيَةُ خَطَأٍ بِهِ وَتَكُونُ كَفَّارَةُ الْقَتْلِ فِي مَالِهِ.

Salah satunya: dibebankan kepada ‘āqilah-nya, karena itu adalah diyat atas kesalahan yang dilakukan olehnya, dan kafarat pembunuhan dibebankan pada hartanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَضْمَنُهَا فِي بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ لِنِيَابَتِهِ عَنْهُمْ، وَفِي الْكَفَّارَةِ عَلَى هَذَا وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Ia wajib menanggungnya dari Baitul Mal kaum Muslimin karena ia bertindak sebagai wakil mereka. Adapun mengenai kafarat dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: فِي بَيْتِ الْمَالِ كَالدِّيَةِ.

Salah satunya: di Baitul Mal seperti diyat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: فِي مَالِهِ، لِأَنَّ الْكَفَّارَةَ مُخْتَصَّةٌ بِالْمُكَفِّرِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Pendapat kedua: berkaitan dengan hartanya, karena kaffārah itu khusus bagi orang yang melakukan kaffārah. Dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

( [باب الشهادة في الوصية] )

(Bab Kesaksian dalam Wasiat)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ لِعَبْدٍ أَنَّ فُلَانًا الْمُتَوَفَّى أَعْتَقَهُ وَهُوَ الثُّلُثُ فِي وَصِيَّتِهِ وَشَهِدَ وَارِثَانِ لِعَبْدٍ غَيْرِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَهُوَ الثُّلُثُ فِي الِاثْنَيْنِ فَسَوَاءٌ وَيُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفَهُ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) قِيَاسُ قَوْلِهِ أَنْ يُقْرَعَ بَيْنَهُمَا وَقَدْ قَالَهُ فِي غَيْرِ هَذَا الْبَابِ “.

Asy-Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika dua orang asing bersaksi untuk seorang budak bahwa si fulan yang telah wafat telah memerdekakannya dan itu adalah sepertiga dari wasiatnya, dan dua orang ahli waris bersaksi untuk budak lain bahwa ia telah memerdekakannya dan itu adalah sepertiga dari keduanya, maka kedudukannya sama, dan masing-masing dari keduanya dimerdekakan setengahnya.” (Al-Muzani berkata) Qiyās dari pendapat beliau adalah dilakukan undian di antara keduanya, dan beliau telah mengatakannya dalam selain bab ini.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صُورَةِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ هَلْ هِيَ فِي الْعِتْقِ النَّاجِزِ فِي الْمَرَضِ، أَوِ الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟

Al-Mawardi berkata: Para ulama kami berbeda pendapat mengenai bentuk permasalahan ini, apakah yang dimaksud adalah pembebasan budak secara langsung pada saat sakit, atau wasiat untuk membebaskan budak setelah kematian?

وَكَلَامُ الشَّافِعِيِّ يَحْتَمِلُ كِلَا الْأَمْرَيْنِ، لِأَنَّه قَالَ: وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَهُوَ الثُّلُثُ فِي وَصِيَّتِهِ، وَيَشْهَدُ وَارِثَانِ لعبد غيره أنه أعتقه وهو الثلث في وَصِيَّتِهِ، فَلَهُمْ فِي مُرَادِ الشَّافِعِيِّ تَأْوِيلَانِ تَخْتَلِفُ أَحْكَامُهُمَا بِاخْتِلَافِ الْمُرَادِ بِهَا:

Pendapat Imam Syafi‘i memungkinkan kedua makna, karena beliau berkata: “Jika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang telah memerdekakan budaknya dan itu sepertiga dari wasiatnya, dan dua ahli waris bersaksi untuk budak orang lain bahwa ia telah memerdekakannya dan itu sepertiga dari wasiatnya, maka dalam maksud Imam Syafi‘i terdapat dua penafsiran yang hukum-hukumnya berbeda sesuai dengan perbedaan maksud dari keduanya.”

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ، وَأَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ، وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ، إِنَّهَا مَقْصُورَةٌ فِي الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ بَعْدَ الْمَوْتِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, Abu Ishaq al-Marwazi, dan Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, bahwa hal itu terbatas pada wasiat pembebasan budak setelah kematian.

فَيَشْهَدُ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّ الْمُتَوَفَّى وَصَّى بِعِتْقِ عَبْدِهِ سَالِمٍ بَعْدَ الْمَوْتِ وَهُوَ الثُّلُثُ. وَيَشْهَدُ وَارِثَانِ أَنَّهُ وَصَّى بِعِتْقِ عَبْدِهِ غَانِمٍ وَهُوَ الثُّلُثُ، فَعَبَّرَ عَنِ الْعِتْقِ بِالْوَصِيَّةِ، لِأَنَّها وَصِيَّةٌ بِالْعِتْقِ. فَتُقْبَلُ شَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ كَمَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، لِأَنَّهُمَا لَا يَجُرَّانِ بِهَا نَفْعًا وَلَا يَدْفَعَانِ بِهَا ضَرَرًا، فَصَارَ بِالشَّهَادَتَيْنِ مُوجَبًا بِعِتْقِ عَبْدَيْنِ قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثُلُثُ التَّرِكَةِ، وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِهِمَا فِي الصِّحَّةِ أَوِ فِي الْمَرَضِ، أَوْ أَحَدِهِمَا فِي الصِّحَّةِ، وَالْآخَرِ فِي الْمَرَضِ، لِاسْتِوَاءِ الْوَصَايَا فِي الصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ وَالْمُتَقَدِّمِ وَالْمُتَأَخِّرِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dua orang asing bersaksi bahwa si mayit telah berwasiat untuk memerdekakan budaknya, Salim, setelah wafatnya, dan itu sepertiga (dari harta warisan). Dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah berwasiat untuk memerdekakan budaknya, Ghanim, dan itu juga sepertiga. Maka, pemerdekaan diungkapkan dengan wasiat, karena itu adalah wasiat untuk memerdekakan. Maka, kesaksian dua ahli waris diterima sebagaimana kesaksian dua orang asing diterima, karena keduanya tidak menarik manfaat dan tidak menolak mudarat dengan kesaksian itu. Dengan dua kesaksian tersebut, wajib memerdekakan dua budak yang nilai masing-masing sepertiga dari harta warisan. Sama saja apakah wasiat untuk memerdekakan keduanya dilakukan saat sehat atau saat sakit, atau salah satunya saat sehat dan yang lainnya saat sakit, karena wasiat-wasiat itu sama kedudukannya baik dalam keadaan sehat maupun sakit, baik yang lebih dahulu maupun yang belakangan. Jika demikian, maka hal itu terbagi menjadi dua bentuk:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ فِي الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِمَا دَلِيلٌ عَلَى تَبْعِيضِ الْعِتْقِ كَأَنَّهُ قَالَ: أَعْتِقُوا سَالِمًا إِنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ، وَإِلَّا فَأَعْتَقُوا مِنْهُ قَدْرَ مَا احْتَمَلَهُ وأعتقوا غانما إن احتملوا الثُّلُثَ، وَإِلَّا فَأَعْتِقُوا مِنْهُ قَدْرَ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ، فَإِذَا كَانَتْ قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا سَوَاءٌ صَارَ كَأَنَّهُ قَدْ وَصَّى بِعِتْقِ النِّصْفِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَهَاهُنَا يُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ وَلَا يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ مَنْ أَوْصَى بِعِتْقِ النِّصْفِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ عَبْدَيْنِ عُتِقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ وَلَمْ يُكْمَلُ الْعِتْقُ فِي أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ كَذَلِكَ هَاهُنَا.

Salah satunya: Jika dalam wasiat untuk memerdekakan keduanya terdapat petunjuk tentang pemerdekaan sebagian, seakan-akan ia berkata: “Merdekakanlah Salim jika sepertiga harta mencukupi, jika tidak maka merdekakanlah darinya sesuai kadar yang tertampung, dan merdekakanlah Ghanim jika sepertiga harta mencukupi, jika tidak maka merdekakanlah darinya sesuai kadar yang dapat dikeluarkan darinya.” Maka apabila nilai masing-masing dari keduanya sama, seakan-akan ia telah berwasiat untuk memerdekakan setengah dari masing-masing mereka, sehingga dalam hal ini yang dimerdekakan dari masing-masing mereka adalah setengahnya, dan tidak diundi di antara keduanya. Karena siapa yang berwasiat untuk memerdekakan setengah dari masing-masing dua budak, maka yang dimerdekakan dari masing-masing mereka adalah setengahnya, dan tidak disempurnakan pemerdekaan pada salah satunya dengan undian, demikian pula dalam hal ini.

فَإِنْ أَرَادَ الْمُزَنِيُّ الْقُرْعَةَ بَيْنَهُمَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ كَانَ خَطَأً مِنْهُ لِمَا بَيَّنَاهُ، وَالْجَوَابُ عَنْهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Jika al-Muzani menginginkan penerapan undian (al-qur‘ah) di antara keduanya dalam masalah ini, maka itu adalah kekeliruan darinya sebagaimana telah kami jelaskan, dan jawaban atas hal tersebut telah menjadi kesepakatan (ijmā‘).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِهِمَا مُطْلَقَةٌ، لَيْسَ فِيهَا مَا يَدُلُّ عَلَى تَبْعِيضِ الْعِتْقِ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَيَكُونُ كَالْمُوصِي بِعِتْقِهِمَا مَعًا، وَالثُّلُثُ لَا يَحْتَمِلُهَا لِأَنَّه لَا فَرْقَ فِي الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِمَا بَيْنَ الْجَمْعِ وَالتَّفْرِيقِ، فَوَجَبَ أَنْ يُقْرِعَ بَيْنَهُمَا لِيُكْمِلَ الْعِتْقَ فِي أَحَدِهِمَا كَمَا أَقْرَعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَ سِتَّةِ أَعْبُدٍ أُعْتِقُوا فِي الْمَرَضِ فَأُعْتِقَ مِنْهُمُ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً، لِأَنَّه لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْتَقَا مَعًا مَعَ زِيَادَتِهِمَا عَلَى الثُّلُثِ الَّذِي مَنَعَ الشَّرْعُ مِنْهُ إِلَّا بِإِجَازَةِ الْوَرَثَةِ. وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْصِدَ عِتْقَ أَحَدِهِمَا مِنْ غَيْرِ قُرْعَةٍ، لِأَنَّه لَا مَزِيَّةَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ وَلَا يَجُوزُ تَبْعِيضُ الْعِتْقِ فِيهِمَا، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْعِتْقِ تَكْمِيلُ الْمَنَافِعِ بِالْحُرِّيَّةِ، وَلِذَلِكَ إِذَا أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ، قُوِّمَ عَلَيْهِ بَاقِيهِ لِتَكْمِيلِ مَنَافِعِهِ بِعِتْقِ جَمِيعِهِ. فَلَمْ تَبْقَ بَعْدَ امْتِنَاعِ هَذِهِ الْوُجُوهِ إِلَّا دُخُولُ الْقُرْعَةِ بَيْنَهُمَا، لِتَكْمِيلِ الْعِتْقِ فِيمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا.

Jenis kedua: wasiat memerdekakan keduanya dilakukan secara mutlak, tanpa ada petunjuk yang menunjukkan pemerdekaan sebagian pada masing-masing dari keduanya, sehingga hukumnya seperti orang yang berwasiat memerdekakan keduanya sekaligus, sedangkan sepertiga harta tidak mencukupi untuk keduanya. Tidak ada perbedaan dalam wasiat memerdekakan keduanya antara dilakukan bersamaan atau terpisah, maka wajib dilakukan undian di antara keduanya agar pemerdekaan sempurna pada salah satu dari mereka, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengundi antara enam budak yang dimerdekakan dalam keadaan sakit, lalu dua di antara mereka dimerdekakan dan empat tetap menjadi budak. Karena tidak boleh memerdekakan keduanya sekaligus jika jumlah mereka melebihi sepertiga harta yang telah dilarang syariat kecuali dengan persetujuan para ahli waris. Tidak boleh pula memilih memerdekakan salah satu dari mereka tanpa undian, karena tidak ada keutamaan salah satu atas yang lain dan tidak boleh memerdekakan sebagian dari keduanya, karena tujuan dari pemerdekaan adalah menyempurnakan manfaat dengan kebebasan. Oleh karena itu, jika seseorang memerdekakan bagian kepemilikannya pada seorang budak, maka sisa kepemilikan budak tersebut dinilai untuknya agar manfaatnya sempurna dengan memerdekakan seluruhnya. Maka, setelah semua kemungkinan ini tertolak, tidak tersisa kecuali masuknya undian di antara keduanya, untuk menyempurnakan pemerdekaan pada siapa yang terpilih di antara mereka.

فَإِنِ اسْتَوَتْ قِيمَةُ الْعَبْدَيْنِ وَكَانَ قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثُلُثُ التَّرِكَةِ فَأَيُّهُمَا قَرَعَ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَرَقَّ الْآخَرُ، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ قِيمَةُ الْعَبْدَيْنِ فَكَانَتْ قِيمَةُ أَحَدِهِمَا ثُلُثُ التَّرِكَةِ وَقِيمَةُ الْآخَرِ سُدُسُهَا، فَإِنْ قَرَعَ مَنْ قِيمَتُهُ الثُّلُثُ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَرُقَّ جَمِيعُ الْآخَرِ، وَإِنْ قَرَعَ مَنْ قِيمَتُهُ السُّدُسُ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَنِصْفُ الْآخَرِ وَرُقَّ بَاقِيهِ.

Jika nilai kedua budak itu sama dan nilai masing-masing dari keduanya adalah sepertiga dari harta warisan, maka siapa pun di antara mereka yang terkena undian, seluruh dirinya merdeka dan yang lainnya tetap sebagai budak. Namun jika nilai kedua budak itu berbeda, misalnya nilai salah satunya sepertiga dari harta warisan dan nilai yang lainnya seperenamnya, maka jika yang terkena undian adalah yang nilainya sepertiga, seluruh dirinya merdeka dan seluruh yang lainnya tetap sebagai budak. Tetapi jika yang terkena undian adalah yang nilainya seperenam, maka seluruh dirinya merdeka dan setengah dari yang lainnya juga merdeka, sedangkan sisanya tetap sebagai budak.

وَإِنْ أَرَادَ الْمُزَنِيُّ الْإِقْرَاعَ بَيْنَهُمَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ فَقَدْ أَصَابَ فِي الْجَوَابِ، وَأَخْطَأَ فِي الْعِبَارَةِ، لِأَنَّه مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَلَيْسَ بِمَقِيسٍ عَلَى مَذْهَبِهِ، فَكَانَ الْأَصَحُّ فِي عِبَارَتِهِ أَنْ يَقُولَ: هَذَا مُقْتَضَى قَوْلِهِ، وَلَا يَقُولُ: هَذَا قِيَاسُ قَوْلِهِ.

Jika al-Muzani bermaksud melakukan undian di antara keduanya dalam permasalahan ini, maka ia benar dalam jawabannya, namun keliru dalam ungkapannya. Sebab, itu adalah mazhab asy-Syafi‘i dan bukan hasil qiyās atas mazhabnya. Maka yang lebih tepat dalam ungkapannya adalah ia mengatakan: “Ini adalah konsekuensi dari pendapatnya,” dan tidak mengatakan: “Ini adalah qiyās dari pendapatnya.”

” وَإِنْ كَانَ الْخَطَأُ فِي الْعِبَارَةِ مَعَ الصَّوَابِ فِي الْمَعْنَى مَغْفُورًا “، فَإِنَّمَا أَرَادَ الشَّافِعِيُّ بِقَوْلِهِ: [عُتِقَ] مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ، يَعْنِي فِي الْحُكْمِ، وَيُكْمَلُ فِي أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ، تَعْوِيلًا عَلَى مَا أَبَانَهُ مِنْ مَذْهَبِهِ فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ.

“Dan jika kesalahan terdapat pada redaksi namun makna yang dimaksud benar, maka hal itu dimaafkan.” Sesungguhnya yang dimaksud oleh asy-Syafi‘i dengan ucapannya: “[dimerdekakan] dari masing-masing mereka setengahnya,” adalah dalam hukum, dan disempurnakan pada salah satu dari mereka dengan undian, berdasarkan apa yang telah dijelaskan dari mazhabnya di tempat lain.

وَهَذَا الْجَوَابُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِذَا ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْوَارِثَيْنِ وَعَدَالَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ فَإِنْ ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْوَارِثَيْنِ وَفِسْقُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ مَنْ شَهِدَ بِهَا الْأَجْنَبِيَّانِ وَرُقَّ جَمِيعُهُ. وَصَحَّتْ بِعِتْقِ مَنْ شَهِدَ بِهَا الْوَارِثَانِ وَعُتِقَ جَمِيعُهُ.

Jawaban ini telah disepakati apabila telah terbukti keadilan kedua ahli waris dan keadilan kedua orang asing tersebut. Jika telah terbukti keadilan kedua ahli waris dan kefasikan kedua orang asing, maka wasiat untuk memerdekakan orang yang disaksikan oleh kedua orang asing batal, dan semuanya tetap berstatus budak. Namun, wasiat untuk memerdekakan orang yang disaksikan oleh kedua ahli waris sah, dan semuanya menjadi merdeka.

وَإِنْ ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَفِسْقُ الْوَارِثَيْنِ، بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْوَارِثَانِ وَرُقَّ جَمِيعُهُ، وَصَحَّتْ بِعِتْقِ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ وَعُتِقَ جَمِيعُهُ وَلَا يَلْزَمْهُمَا بِالْإِقْرَارِ بَعْدَ رَدِّ الشَّهَادَةِ أَنْ يُعْتَقَ مَنْ شَهِدَا لَهُ بِالْوَصِيَّةِ، لِأَنَّه لَا يَنْفُذُ الْعِتْقُ بِالْوَصِيَّةِ حَتَّى يُعْتَقَ بَعْدَ الْوَصِيَّةِ، وَلَيْسَ يَلْزَمُ أَنْ يُعْتَقَ بِالْوَصِيَّةِ إِلَّا مَنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ، وَقَدِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ بِعِتْقِ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ فَبَطَلَتْ فِي غَيْرِهِ وَإِنْ أَقَرَّ بِهَا الْوَارِثَانِ.

Jika telah terbukti keadilan dua orang asing dan kefasikan dua orang ahli waris, maka batal wasiat untuk memerdekakan orang yang disaksikan oleh kedua ahli waris tersebut dan seluruhnya tetap berstatus budak, sedangkan wasiat untuk memerdekakan orang yang disaksikan oleh dua orang asing sah dan seluruhnya dimerdekakan. Keduanya (dua orang asing) tidak diwajibkan untuk memerdekakan orang yang mereka saksikan dalam wasiat hanya dengan pengakuan setelah kesaksian ditolak, karena pemerdekaan melalui wasiat tidak berlaku kecuali setelah kematian pewasiat, dan tidak wajib memerdekakan melalui wasiat kecuali yang tertampung oleh sepertiga harta, sedangkan sepertiga harta telah habis untuk memerdekakan orang yang disaksikan oleh dua orang asing, sehingga batal untuk selainnya meskipun kedua ahli waris mengakuinya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالثَّانِي مِنْ تَأْوِيلِ أَصْحَابِنَا: إِنَّ المسألة مصورة فِي عِتْقٍ نَاجِزٍ فِي حَيَاةِ الْمُعْتِقِ. فَشَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدَهُ سَالِمًا وَهُوَ الثُّلُثُ، وَيَشْهَدُ وَارِثَانِ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدَهُ غَانِمًا، وَهُوَ الثُّلُثُ، وَقَوْلُهُمْ: وَفِيهِ أَيْ فِي الْمَرَضِ الَّذِي يَكُونُ الْعِتْقُ فِيهِ مُعْتَبَرًا بِالثُّلُثِ كَالْوَصِيَّةِ. فَعَبَّرَ عَنِ الْمَرَضِ بِالْوَصِيَّةِ، لِأَنَّ الْعِتْقَ لَوْ كَانَ فِي الصِّحَّةِ لَأَوْجَبَتِ الشَّهَادَتَانِ عِتْقَ الْعَبْدَيْنِ، وَإِنْ زَادَا عَلَى الثُّلُثِ، لَأَنَّ عَطَايَا الصِّحَّةِ لَا تُعْتَبَرُ بِالثُّلُثِ. وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالشَّهَادَتَانِ عَلَى ثلاثة أضرب:

Dan penafsiran kedua dari para ulama kami: Sesungguhnya masalah ini digambarkan pada pembebasan budak yang dilakukan secara langsung saat sang pemilik masih hidup. Maka, dua orang asing bersaksi bahwa ia telah membebaskan budaknya yang bernama Salim, dan itu sepertiga (harta), lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah membebaskan budaknya yang bernama Ghanim, dan itu juga sepertiga (harta). Dan ucapan mereka: “Dan dalam hal ini,” maksudnya pada sakit yang pembebasan budak di dalamnya dihitung sepertiga seperti wasiat. Maka mereka mengekspresikan sakit dengan istilah wasiat, karena jika pembebasan budak itu dilakukan saat sehat, dua kesaksian tersebut mewajibkan pembebasan kedua budak, meskipun melebihi sepertiga, karena pemberian saat sehat tidak dihitung dengan sepertiga. Jika demikian keadaannya, maka dua kesaksian itu terbagi menjadi tiga macam:

أحدهما: أَنْ يَدُلَّ عَلَى تَقَدُّمِ عِتْقِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ فَيَتَحَدَّدُ بِهَا عِتْقُ الْمُتَقَدِّمِ وَرِقُّ الْمُتَأَخِّرِ إِذَا تَسَاوَيَا فِي تَقْوِيمِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالثُّلُثِ وَلَا يُقْرِعُ بَيْنَهُمَا لِتَحَرِّي الْعِتْقِ الْمُتَقَدِّمِ الْمُزِيلِ لِلْإِشْكَالِ. فَامْتَنَعَتْ فِيهِ الْقُرْعَةُ الْمُسْتَعْمَلَةُ مَعَ الْإِشْكَالِ.

Pertama: Jika terdapat petunjuk bahwa pembebasan salah satu dari keduanya lebih dahulu daripada yang lain, maka dengan itu ditetapkanlah kemerdekaan bagi yang lebih dahulu dan status budak bagi yang belakangan, apabila keduanya sama dalam penilaian masing-masing sepertiga. Maka tidak dilakukan undian di antara keduanya, karena telah jelas mana yang lebih dahulu merdeka sehingga menghilangkan kerancuan. Maka dalam kasus ini undian yang biasa digunakan ketika ada kerancuan menjadi tidak berlaku.

فَإِنْ أَرَادَ الْمُزَنِيُّ الْإِقْرَاعَ بَيْنَهُمَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ فَقَدْ أَخْطَأَ لِمَا بَيَّنَاهُ.

Jika al-Muzani bermaksud melakukan undian di antara keduanya dalam masalah ini, maka ia telah keliru sebagaimana telah kami jelaskan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى وُقُوعِ عِتْقِهِمَا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهَذَا يَكُونُ فِي تَعْلِيقِ عِتْقِهِمَا بِصِفَةٍ وَاحِدَةٍ. كَقَوْلِهِ: إِذَا أَهَلَّ رَمَضَانُ فَسَالِمٌ حُرٌّ، وَإِذَا أَهَلَّ رَمَضَانُ فَغَانِمٌ حُرٌّ فإن أهل رمضان عتقا واستوى [في] عتقهما حُكْمُ الْجَمْعِ وَالتَّفْرِيقِ. فَيَجِبُ الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا لِامْتِنَاعِ عِتْقِهِمَا مَعًا، وَأُعْتِقَ مِنْهُمَا مَنْ قَرَعَ وَرُقَّ الْآخَرُ.

Jenis kedua: yaitu kedua kesaksian menunjukkan terjadinya pembebasan budak pada satu keadaan yang sama, dan ini terjadi ketika pembebasan keduanya digantungkan pada satu sifat yang sama. Seperti ucapannya: “Jika Ramadan telah masuk, maka Salim merdeka,” dan “Jika Ramadan telah masuk, maka Ghanim merdeka.” Maka ketika Ramadan masuk, keduanya menjadi merdeka, dan dalam pembebasan keduanya, hukum penggabungan dan pemisahan adalah sama. Maka wajib dilakukan undian di antara keduanya karena tidak mungkin membebaskan keduanya sekaligus, dan yang keluar undiannya dibebaskan, sedangkan yang lain tetap menjadi budak.

وَإِنْ أَرَادَ الْمُزَنِيُّ بِالْقُرْعَةِ بَيْنَهُمَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ فَقَدْ أَصَابَ فِي الْحُكْمِ وَإِنْ أَخْطَأَ فِي الْعِبَارَةِ، وَالْجَوَابُ فِي هَذَيْنِ الضَّرْبَيْنِ متفق عليه.

Jika yang dimaksud oleh al-Muzani dengan undian di antara keduanya dalam masalah ini, maka ia benar dalam menetapkan hukum meskipun keliru dalam ungkapannya, dan jawaban untuk kedua bentuk permasalahan ini telah disepakati.

والضرب الثاني: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى تَقَدُّمِ عِتْقِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ وَلَا يَكُونُ فِيهَا بَيَانُ الْمُتَقَدِّمِ وَالْمُتَأَخِّرِ، فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Jenis kedua: apabila dua kesaksian menunjukkan bahwa salah satu dari keduanya telah dimerdekakan lebih dahulu daripada yang lain, namun dalam kesaksian tersebut tidak terdapat penjelasan siapa yang lebih dahulu dan siapa yang belakangan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا وَيُعْتَقُ مَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا. نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ ” الْأُمِّ “.

Salah satunya: diundi di antara keduanya, lalu dimerdekakan siapa yang keluar undiannya dari mereka. Hal ini dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab “al-Umm”.

وَيَكُونُ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْقَوْلِ مُصِيبًا فِي اعْتِرَاضِهِ، وَإِنَّمَا اسْتُعْمِلَتِ الْقُرْعَةُ بَيْنَهُمَا، لِامْتِنَاعِ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا وَعَدَمِ الْمَزِيَّةِ فِي أَحَدِهِمَا، فَكَانَ تَكْمِيلُ الْحُرِّيَّةِ فِي أَحَدِهِمَا أَوْلَى مِنْ تَبْعِيضِهَا فِيهِمَا.

Dalam hal ini, pendapat al-Muzani adalah benar dalam sanggahannya, dan penggunaan undian (al-qur‘ah) di antara keduanya dilakukan karena tidak dimungkinkan untuk menggabungkan keduanya serta tidak adanya keutamaan pada salah satu dari keduanya. Maka, menyempurnakan status merdeka pada salah satu dari mereka lebih utama daripada membaginya pada keduanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، إنَّ يُعْتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ وَلَا يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا، لِأَنَّه رُبَّمَا عُتِقَ بِالْقُرْعَةِ مُسْتَحِقُّ الرِّقِّ لِتَأَخُّرِهِ وَرُقَّ بِهَا مُسْتَحِقُّ الْعِتْقِ لِتَقَدُّمِهِ، فَإِذَا عُتِقَ نِصْفُهُمَا وَرُقَّ نِصْفُهُمَا، عُتِقَ نِصْفُ الْمُتَقَدِّمِ وَعِتْقُهُ مُسْتَحَقٌّ، وَرِقُّ نِصْفُ الْمُتَأَخِّرِ وَرِقُّهُ مُسْتَحَقٌّ، فَصَارَتْ أَقْرَبَ إِلَى الِاسْتِحْقَاقِ مِنَ الْإِقْرَاعِ.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang dinyatakan secara eksplisit dalam masalah ini, adalah bahwa dari masing-masing keduanya dimerdekakan setengahnya dan tidak dilakukan undian di antara mereka. Sebab, bisa jadi dengan undian justru yang berhak menjadi budak karena keterlambatannya malah dimerdekakan, dan yang berhak dimerdekakan karena lebih dahulu malah dijadikan budak. Maka, jika setengah dari masing-masing keduanya dimerdekakan dan setengahnya tetap menjadi budak, maka setengah dari yang lebih dahulu dimerdekakan—dan kemerdekaannya memang berhak ia dapatkan—dan setengah dari yang belakangan tetap menjadi budak—dan status budaknya memang berhak ia dapatkan. Dengan demikian, cara ini lebih dekat kepada keadilan hak daripada dengan undian.

وَيَكُونُ الْمُزَنِيُّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ مُخْطِئًا فِي اعْتِرَاضِهِ.

Dengan demikian, menurut pendapat ini, al-Muzani telah keliru dalam sanggahannya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ: إِذَا اخْتَلَفَتْ قِيمَةُ الْعَبْدَيْنِ فَكَانَتْ قِيمَةُ أَحَدِهِمَا الثُّلُثُ وَقِيمَةُ الْآخَرِ السدس، فإن قيل بالقول بالأول إِنَّهُ يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا، نُظِرَ فِي الْقَارِعِ مِنْ هَذَيْنِ، فَإِنْ كَانَ صَاحِبَ الثُّلُثِ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَرُقَّ جَمِيعُ الْآخَرِ، وَإِنْ كَانَ الْقَارِعُ مِنْهَا صَاحِبُ السُّدُسِ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَنِصْفُ الْآخَرِ وَرُقَّ بَاقِيهِ.

Berdasarkan dua pendapat tersebut, jika nilai kedua budak berbeda, misalnya nilai salah satunya sepertiga dan nilai yang lain seperenam, maka jika mengikuti pendapat pertama bahwa dilakukan undian di antara keduanya, maka dilihat siapa yang terpilih dalam undian dari keduanya. Jika yang terpilih adalah pemilik sepertiga, maka seluruh dirinya dimerdekakan dan seluruh yang lain tetap menjadi budak. Namun jika yang terpilih adalah pemilik seperenam, maka seluruh dirinya dimerdekakan dan setengah dari yang lain juga dimerdekakan, sedangkan sisanya tetap menjadi budak.

وَإِنْ قِيلَ بِالثَّانِي: إِنَّهُ يُعْتَقُ النِّصْفُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِذَا تَسَاوَيَا عُتِقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذَيْنِ ثُلُثَاهُ، لِأَنَّ ثُلُثَيِ الثُّلُثِ وَثُلُثَيِ السُّدُسِ، ثُلُثُ جَمِيعِ الْمَالِ، وَيَصِحُّ مِنْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا هِيَ مَخْرَجُ ” ثُلُثَيِ السُّدُسِ ” ثُلُثَا ثُلُثِهَا أَرْبَعَةٌ، وَثُلُثَا سُدُسِهَا سَهْمَانِ، وَهِيَ مَعَ الْأَرْبَعَةِ سِتَّةٌ، وَهِيَ ثُلُثُ جَمِيعِ الْمَالِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا.

Dan jika dikatakan dengan pendapat kedua: bahwa setengah dari masing-masing keduanya dimerdekakan, maka jika keduanya sama, yang dimerdekakan dari masing-masing keduanya adalah dua pertiga, karena dua pertiga dari sepertiga dan dua pertiga dari seperenam adalah sepertiga dari seluruh harta. Dan ini dapat dihitung dari delapan belas bagian, yang merupakan asal dari “dua pertiga dari seperenam”; dua pertiga dari sepertiganya adalah empat, dan dua pertiga dari seperenamnya adalah dua bagian, dan keduanya bersama empat menjadi enam, dan itu adalah sepertiga dari seluruh harta yang terdiri dari delapan belas bagian.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ جَوَازِ الشَّهَادَةِ بِالْعِتْقِ النَّاجِزِ عَنِ الْأَضْرُبِ الثَّلَاثَةِ فَهُوَ إِذَا ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَعَدَالَةُ الْوَارِثَيْنِ.

Maka apabila telah ditetapkan apa yang telah kami sebutkan tentang bolehnya persaksian atas pembebasan budak yang langsung berlaku dari tiga golongan tersebut, maka hal itu berlaku jika telah terbukti keadilan dua orang asing dan keadilan dua orang ahli waris.

فَإِنْ ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْوَارِثَيْنِ وَفِسْقُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ بَطَلَ عِتْقُ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ وَرُقَّ جَمِيعُهُ، وَنَفَذَ عِتْقُ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْوَارِثَانِ وَتَحَرَّرَ جَمِيعُهُ.

Jika telah terbukti keadilan kedua ahli waris dan kefasikan dua orang asing, maka batal pembebasan budak yang disaksikan oleh kedua orang asing tersebut dan seluruhnya tetap berstatus budak, sedangkan pembebasan budak yang disaksikan oleh kedua ahli waris sah dan seluruhnya menjadi merdeka.

وَإِنْ ثَبَتَتْ عَدَالَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَفِسْقُ الْوَارِثَيْنِ عُتِقَ جَمِيعُ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ، فَبَطَلَتْ شَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ وَصَارَا بَعْدَ رَدِّ الشَّهَادَةِ مُقِرَّيْنِ وَإِقْرَارُهُمَا بِالْعِتْقِ النَّاجِزِ مُخَالِفٌ لِإِقْرَارِهِمَا بِالْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ؛ لِأَنَّ الْإِقْرَارَ بِالْعِتْقِ النَّاجِزِ مُوجِبٌ لِزَوَالِ الْمِلْكِ، وَالْإِقْرَارِ بِالْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ غَيْرُ مُوجِبٍ لِزَوَالِ الْمِلْكِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَلْزَمْهُمَا فِي الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ غَيْرُ مَا أَوْجَبَتْهُ الشَّهَادَةُ لِدُخُولِهِ فِي مِيرَاثِهِمَا بَعْدَ إِقْرَارِهِمَا وَلَزِمَهُمَا فِي الْعِتْقِ النَّاجِزِ غَيْرُ مَا أَوْجَبَتْهُ الشَّهَادَةُ لِإِقْرَارِهِمَا بِخُرُوجِهِ عَنْ مِيرَاثِهِمَا بَعْدَ إِقْرَارِهِمَا وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمَا بَعْدَ أَنْ صَارَا بِرَدِّ الشَّهَادَةِ مُقِرِّينَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Jika telah terbukti keadilan dua orang asing dan kefasikan dua orang ahli waris, maka semua yang disaksikan oleh dua orang asing itu dimerdekakan, sehingga kesaksian dua ahli waris menjadi batal dan setelah kesaksian mereka ditolak, keduanya menjadi orang yang mengakui. Pengakuan mereka tentang pembebasan (’itq) yang langsung berbeda dengan pengakuan mereka tentang wasiat pembebasan, karena pengakuan tentang pembebasan yang langsung menyebabkan hilangnya kepemilikan, sedangkan pengakuan tentang wasiat pembebasan tidak menyebabkan hilangnya kepemilikan. Oleh karena itu, dalam wasiat pembebasan, keduanya tidak wajib selain apa yang diwajibkan oleh kesaksian, karena masuk ke dalam warisan mereka setelah pengakuan mereka, dan dalam pembebasan yang langsung, keduanya wajib selain apa yang diwajibkan oleh kesaksian, karena pengakuan mereka bahwa orang tersebut keluar dari warisan mereka setelah pengakuan mereka. Jika demikian, maka keadaan mereka setelah menjadi orang yang mengakui karena kesaksian mereka ditolak, tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يُصَدِّقَا الْأَجْنَبِيَّيْنِ عَلَى شَهَادَتِهِمَا، فَيَلْزَمْهُمَا بَعْدَ اسْتِيعَابِ الثُّلُثِ بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ مَا كَانَ يَلْزَمُ فِي التَّرِكَةِ لَوْ أُمْضِيَتْ شَهَادَتُهُمَا مَعَ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاخْتِلَافِ الْأَضْرُبِ الثَّلَاثَةِ:

Salah satunya: bahwa keduanya membenarkan dua orang asing atas kesaksian mereka, maka setelah sepertiga harta habis dengan kesaksian dua orang asing tersebut, keduanya wajib menanggung apa yang seharusnya ditanggung dalam warisan seandainya kesaksian mereka bersama dua orang asing itu dijalankan, dan hal itu berbeda-beda sesuai dengan tiga jenis yang ada.

فَإِنْ كَانَ فِي الضَّرْبِ الْأَوَّلِ: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى تَقَدُّمِ عِتْقِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ وَتَعْيِينِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى الْمُتَأَخِّرِ يُنْظَرُ:

Jika termasuk dalam kategori pertama: yaitu apabila dua kesaksian menunjukkan bahwa salah satu dari keduanya lebih dahulu dimerdekakan daripada yang lain, dan dapat ditentukan siapa yang lebih dahulu dan siapa yang belakangan, maka diperhatikan:

فَإِنْ كَانَ عِتْقُ الْمُتَأَخِّرِ بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، عَتَقَ فِي التَّرِكَةِ بِشَهَادَتْهِمَا وَعَتَقَ الْمُتَقَدِّمُ عَلَى الْوَارِثَيْنِ بِإِقْرَارِهِمَا.

Jika pembebasan budak yang belakangan dilakukan berdasarkan kesaksian dua orang asing, maka ia merdeka dari harta warisan berdasarkan kesaksian mereka berdua, dan pembebasan budak yang lebih dahulu dilakukan atas dua orang ahli waris berdasarkan pengakuan mereka berdua.

وَإِنْ كَانَ عِتْقُ الْمُتَقَدِّمِ بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، عَتَقَ فِي التَّرِكَةِ بِشَهَادَتِهِمَا وَلَمْ يُعْتَقِ الْمُتَأَخِّرُ عَلَى الْوَارِثَيْنِ مَعَ إِقْرَارِهِمَا، لِأَنَّه يُرَقُّ وَلَوْ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا، لِأَنَّ الْمُسْتَحِقَّ فِي الشَّهَادَتَيْنِ عِتْقُ الْمُتَقَدِّمِ دُونَ الْمُتَأَخِّرِ.

Jika pembebasan budak yang terdahulu dilakukan berdasarkan kesaksian dua orang asing, maka budak tersebut menjadi merdeka dari harta warisan berdasarkan kesaksian mereka berdua, dan budak yang belakangan tidak menjadi merdeka atas dua ahli waris meskipun keduanya mengakui, karena ia tetap berstatus budak. Andaikan kesaksian mereka berdua diterima, maka yang berhak atas pembebasan dalam dua kesaksian itu hanyalah budak yang terdahulu, bukan yang belakangan.

وَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي الضَّرْبِ الثَّانِي أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى وُقُوعِ عِتْقِهِمَا مَعًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا عُتِقَ فِي التَّرِكَةِ مَنْ شَهِدَ بِعِتْقِهِ الْأَجْنَبِيَّانِ، وَلَمْ يُعْتَقْ عَلَى الْوَارِثَيْنِ مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ، لِأَنَّ شَهَادَتَهُمَا لَوْ قُبِلَتْ لَأَوْجَبَتِ الْإِقْرَاعَ بَيْنَ الْعَبْدَيْنِ، وَلَوْ أُقْرِعَ بَيْنَهُمَا جَازَ أَنْ تَقَعَ الْقُرْعَةُ عَلَى مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ وَيُرَقُّ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْوَارِثَانِ، فَتَرَدَّدَتْ حَالُهُ مَعَ صِحَّةِ الشَّهَادَتَيْنِ بَيْنَ الرِّقِّ وَالْعِتْقِ، فَلَمْ يَلْزَمْ أَنْ يَتَعَيَّنَ فِيهِ الْعِتْقُ مَعَ الرِّقِّ.

Jika demikian halnya pada jenis kedua, yaitu apabila kedua kesaksian menunjukkan terjadinya pembebasan budak secara bersamaan dalam satu keadaan, maka dilakukan undian di antara keduanya. Yang merdeka dalam harta warisan adalah budak yang kesaksiannya diberikan oleh dua orang asing, dan tidak dimerdekakan atas dua ahli waris budak yang kesaksiannya diberikan oleh keduanya. Sebab, jika kesaksian mereka diterima, maka hal itu mewajibkan diadakannya undian antara kedua budak tersebut. Dan jika dilakukan undian di antara keduanya, mungkin saja undian jatuh pada budak yang kesaksiannya diberikan oleh dua orang asing, dan budak yang kesaksiannya diberikan oleh dua ahli waris tetap berstatus budak. Maka, keadaannya menjadi tidak pasti antara merdeka dan budak, meskipun kedua kesaksian itu sah, sehingga tidak wajib untuk menetapkan kemerdekaan secara pasti bersamaan dengan status perbudakan.

وَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي الضَّرْبِ الثَّالِثِ: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى تَقَدُّمِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ وَيُشْكِلُ الْمُتَقَدِّمُ وَالْمُتَأَخِّرُ، وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا ذَكَرْنَا فِيهِمَا مِنَ الْقَوْلَيْنِ:

Jika demikian, pada jenis yang ketiga: yaitu ketika dua kesaksian menunjukkan adanya salah satu yang lebih dahulu dari yang lain, namun mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan masih samar, dan hal ini didasarkan pada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai keduanya.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا مَعَ صِحَّةِ الشَّهَادَتَيْنِ، لَمْ يُعْتَقْ عَلَى الْوَارِثِينَ مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ وَعُتِقَ فِي التَّرِكَةِ مَنْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِهِ، لِأَنَّ دُخُولَ الْقُرْعَةِ بَيْنَهُمَا مَعَ صِحَّةِ الشَّهَادَتَيْنِ لَا تُوجِبُ تَعْيِينَ الْعِتْقِ فِي شَهَادَةِ الْوَارِثَيْنِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya dilakukan undian di antara keduanya meskipun kedua kesaksian itu sah, maka tidak dimerdekakan bagi para ahli waris siapa yang kedua ahli waris itu bersaksi atas kemerdekaannya, dan yang dimerdekakan dari harta warisan adalah siapa yang dua orang asing bersaksi atas kemerdekaannya, karena masuknya undian di antara keduanya meskipun kedua kesaksian itu sah tidak mewajibkan penetapan kemerdekaan pada kesaksian kedua ahli waris.

وَإِنْ قِيلَ بِالْقَوْلِ الثَّانِي: إِنَّهُ يُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ مَعَ صِحَّةِ الشَّهَادَتَيْنِ عُتِقَ فِي التَّرِكَةِ جَمِيعُ مَنْ شَهِدَ لَهُ الْأَجْنَبِيَّانِ، وَعُتِقَ عَلَى الْوَارِثَيْنِ نِصْفُ مَنْ شَهِدَا لَهُ، لِأَنَّه قَدْ كَانَ يُعْتَقُ نِصْفُهُ مَعَ صِحَّةِ شَهَادَتِهِمَا فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَقَ مَعَ رَدِّهَا بِإِقْرَارِهِمَا.

Dan jika mengikuti pendapat kedua: bahwa dari masing-masing mereka dimerdekakan setengahnya dengan syahnya dua kesaksian, maka dalam harta warisan dimerdekakan seluruh budak yang disaksikan oleh dua orang asing itu, dan dimerdekakan atas kedua ahli waris setengah dari budak yang keduanya bersaksi untuknya, karena sebelumnya telah dimerdekakan setengahnya dengan syahnya kesaksian mereka berdua, maka wajib pula dimerdekakan ketika kesaksian itu ditolak dengan pengakuan mereka.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقْدَحَ الْوَارِثَانِ فِي شَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ بِتَكْذِيبِهِمَا، فَيُعْتَقُ جَمِيعُ الْعَبْدَيْنِ أَحَدُهُمَا بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَالْآخَرُ بِإِقْرَارِ الْوَارِثَيْنِ فِي الْأَضْرُبِ الثَّلَاثَةِ، لِأَنَّ الْوَارِثَيْنِ مُقِرَّانِ أَنَّهُ لَمْ يُعْتَقْ غَيْرُ مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ، فَأَلْزَمْنَاهُمَا عِتْقَهُ بِإِقْرَارِهِمَا، وَقَدْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِ غَيْرِهِ فَأَعْتَقْنَاهُ بِشَهَادَتِهِمَا.

Keadaan kedua: Jika kedua ahli waris membantah kesaksian dua orang asing dengan mendustakan mereka, maka kedua budak itu semuanya dimerdekakan; salah satunya dimerdekakan berdasarkan kesaksian dua orang asing, dan yang lainnya berdasarkan pengakuan kedua ahli waris dalam tiga bentuk. Sebab, kedua ahli waris mengakui bahwa tidak ada yang dimerdekakan selain orang yang disaksikan kemerdekaannya, maka kami mewajibkan keduanya untuk memerdekakannya berdasarkan pengakuan mereka. Sementara dua orang asing telah bersaksi tentang kemerdekaan selainnya, maka kami memerdekakannya berdasarkan kesaksian mereka.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَخْتَلِفَ الْوَارِثَانِ فِي تَصْدِيقِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ فَيُصَدِّقُهُمَا أَحَدُ الْوَارِثَيْنِ وَيُكَذِّبُهُمَا الْآخَرُ، فَيَلْزَمُ الْمُصَدِّقَ مَا كَانَ يَلْزَمُهُ مَعَ أَخِيهِ لَوْ صَدَّقَ، وَيُلْزَمُ الْمُكَذِّبُ مَا كَانَ يَلْزَمُهُ مَعَ أَخِيهِ لَوْ كَذَّبَ.

Keadaan ketiga: Jika dua orang ahli waris berselisih dalam membenarkan dua orang asing, lalu salah satu dari kedua ahli waris membenarkan keduanya dan yang lain mendustakan keduanya, maka yang membenarkan dikenakan kewajiban sebagaimana yang akan dikenakan kepadanya bersama saudaranya jika saudaranya juga membenarkan, dan yang mendustakan dikenakan kewajiban sebagaimana yang akan dikenakan kepadanya bersama saudaranya jika saudaranya juga mendustakan.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ الْوَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ عِتْقِ الْأَوَّلِ وَأَعْتَقَ الْآخَرَ أَجَزْتُ شَهَادَتَهُمَا وَإِنَمَا أَرُدُّ شَهَادَتَهُمَا فِيمَا جَرَّا إِلَى أَنْفُسِهِمَا فَإِذَا لَمْ يَجُرَّا فَلَا فَأَمَّا الْوَلَاءُ فَلَا يُمْلَكُ مِلْكُ الْأَمْوَالِ وَقَدْ لَا يَصِيرُ فِي أَيْدِيِهِمَا بِالْوَلَاءِ شَيْءٌ وَلَوْ أَبْطَلْتُهُمَا بِأَنَّهُمَا يَرِثَانِ الْوَلَاءَ إِنْ مَاتَ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُمَا أَبْطَلْتُهَا لِذَوِي أرحامهما “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali pembebasan budak yang pertama dan membebaskan budak yang lain, aku menerima kesaksian mereka berdua. Aku hanya menolak kesaksian mereka dalam hal yang membawa manfaat kepada diri mereka sendiri. Jika tidak membawa manfaat, maka tidak (ditolak). Adapun walā’, maka ia tidak dimiliki seperti kepemilikan harta, dan bisa jadi tidak ada sesuatu pun dari walā’ yang sampai ke tangan mereka. Jika aku membatalkan kesaksian mereka hanya karena mereka mewarisi walā’ apabila tidak ada ahli waris lain selain mereka, berarti aku juga membatalkannya untuk kerabat-kerabat mereka.”

قال الماوردي: هذه الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ وَفِيهَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَوْلَى الْوَصِيَّةُ بِالْعِتْقِ، وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ أَنْ يُذْكَرَ حُكْمُ الْعِتْقِ النَّاجِزِ وَالْمُوصَى بِهِ جَمِيعًا.

Al-Mawardi berkata: Masalah ini digambarkan dalam wasiat untuk memerdekakan budak, dan di dalamnya terdapat dalil bahwa yang dimaksud dengan “yang utama” adalah wasiat untuk memerdekakan budak, dan hal itu tidak menghalangi untuk disebutkan hukum memerdekakan budak secara langsung maupun yang diwasiatkan, keduanya sekaligus.

وَالزِّيَادَةُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يَشْهَدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ عَبْدِهِ سَالِمًا قِيمَتُهُ الثُّلُثُ، وَيَشْهَدُ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالِمٍ وَأَوْصَى بِعِتْقِ غَانِمٍ وقيمته الثلث. ويشهد وارثان أنه رجع عن الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالِمٍ وَأَوْصَى بِعِتْقِ غَانِمٍ رُدَّتْ شَهَادَتُهُمَا وَإِنْ كَانَا عَدْلَيْنِ، وَلَا تُرَدُّ فِيهِ شَهَادَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ لِلُحُوقِ التُّهْمَةِ بِالْوَارِثَيْنِ لِعَوْدِهِ إِلَى مِيرَاثِهِمَا.

Tambahan dalam masalah ini adalah apabila dua orang asing bersaksi bahwa seseorang berwasiat untuk memerdekakan budaknya, Salim, yang nilainya sepertiga harta, lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat untuk memerdekakan Salim dan berwasiat untuk memerdekakan Ghanim yang nilainya juga sepertiga harta. Jika dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat untuk memerdekakan Salim dan berwasiat untuk memerdekakan Ghanim, maka kesaksian mereka berdua ditolak meskipun keduanya adalah orang yang adil, dan kesaksian dua orang asing tidak ditolak, karena adanya tuduhan yang melekat pada dua ahli waris tersebut, sebab hal itu kembali kepada warisan mereka.

فَأَمَّا إِذَا شَهِدَا أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالِمٍ وَأَوْصَى بِعِتْقِ غَانِمٍ وَهِيَ فِي الْقِيمَةِ سَوَاءٌ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا فِي الرُّجُوعِ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالِمٍ وَفِي الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ غَانِمٍ.

Adapun jika keduanya bersaksi bahwa ia telah mencabut wasiat memerdekakan Salim dan berwasiat untuk memerdekakan Ghanim, sedangkan nilai keduanya sama, maka kesaksian mereka berdua diterima dalam hal pencabutan wasiat memerdekakan Salim dan dalam hal wasiat memerdekakan Ghanim.

وَزَعَمَ بَعْضُ الْعِرَاقِيِّينَ إِنَّهَا تُقْبَلُ فِي الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ غَانِمٍ وَلَا تُقْبَلُ فِي الرُّجُوعِ عَنْ عِتْقِ سَالِمٍ لِأَمْرَيْنِ:

Sebagian ulama Irak berpendapat bahwa syarat tersebut diterima dalam wasiat untuk memerdekakan Ghanim, namun tidak diterima dalam penarikan kembali dari pemerdekaan Salim karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا لَمَّا رُدَّتْ فِي الرُّجُوعِ لَوِ انْفَرَدَتْ رُدَّتْ فِيهِ إِذَا اقْتَرَنَتْ بِغَيْرِهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya ia, ketika ditolak dalam hal rujuk, jika berdiri sendiri maka ia juga ditolak dalam hal tersebut apabila disertai dengan selainnya.

وَالثَّانِي: لِدُخُولِ التُّهْمَةِ عَلَيْهِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kedua: karena adanya tuduhan terhadapnya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ سَالِمٌ أَكْثَرَ كَسْبًا فَيَتَمَلَّكَاهُ.

Salah satunya: bahwa Salim memperoleh lebih banyak harta, lalu mereka berdua memilikinya bersama.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ غَانِمٌ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُمَا فَيَرِثَاهُ، وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kedua: Jika si Ghanim tidak memiliki ahli waris selain keduanya, maka keduanya mewarisinya. Ini batal dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا لَوْ شَهِدَا بِالْوَصِيَّةِ وَلَمْ يَشْهَدَا بِالرُّجُوعِ صَحَّتْ شَهَادَتُهُمَا وَتَعَيَّنَ الْعِتْقُ بِالْقُرْعَةِ فِي أَحَدِهِمَا، فَجَازَ أَنْ يَتَعَيَّنَ فِيهِ بِشَهَادَتِهِمَا.

Salah satunya: Jika keduanya bersaksi tentang wasiat namun tidak bersaksi tentang pencabutan wasiat, maka kesaksian mereka berdua sah dan penetapan pembebasan (budak) ditentukan melalui undian pada salah satu dari keduanya, sehingga boleh saja penetapan itu terjadi pada salah satunya berdasarkan kesaksian mereka berdua.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْوَاجِبَ بِالْوَصِيَّةِ إِخْرَاجُ الثُّلُثِ مِنَ الْعِتْقِ، وَشَهَادَتُهُمَا بِالرُّجُوعِ لَا يَمْنَعُ مِنْهُ، لِأَنَّ تَعْيِينَهُ فِي أَحَدِهِمَا يَنْفِي التُّهْمَةَ عَنْهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kedua: Sesungguhnya yang wajib berdasarkan wasiat adalah mengeluarkan sepertiga bagian untuk pembebasan budak, dan kesaksian keduanya tentang penarikan kembali (wasiat) tidak menghalangi hal itu, karena penunjukan pada salah satu dari keduanya meniadakan tuduhan terhadap mereka berdua dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْمُعْتَبَرَ هُوَ الْقِيمَةُ وَقَدِ الْتَزَمَاهَا.

Salah satunya: yang dianggap adalah nilai (al-qīmah) dan keduanya telah berpegang pada hal itu.

وَالثَّانِي: أَنَّ مَا ظُنَّ بِهِمَا مِنْ طَلَبِ الْكَسْبِ وَالْمِيرَاثُ لَيْسَ بِمَوْجُودٍ فِي الْحَالِ وَقَدْ يَكُونُ مِنْ بَعْدُ وَقَدْ لَا يَكُونُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْتَبِرَ بِهِ التُّهْمَةَ فِي الْحَالِ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: ” لَوْ أُبْطِلَتْ شَهَادَتُهُمَا لِذَلِكَ لَأَبْطَلْتُهَا لِذَوِي أَرْحَامِهِمَا “.

Kedua: Bahwa apa yang diduga terhadap keduanya berupa mencari keuntungan dan warisan tidaklah ada pada saat ini, bisa jadi akan ada setelahnya dan bisa jadi juga tidak ada, maka tidak boleh menjadikan hal itu sebagai alasan tuduhan pada saat ini. Asy-Syafi‘i berkata: “Jika kesaksian keduanya dibatalkan karena alasan itu, niscaya aku juga akan membatalkan kesaksian kerabat dekat mereka.”

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا أَنْ يَشْهَدَ أَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِ سَالِمٍ وَغَانِمٍ وَقِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الثُّلُثُ. وَيَشْهَدُ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ عِتْقِ سَالِمٍ إِلَى عِتْقِ غَانِمٍ، قُبِلَتْ شَهَادَتَهُمَا، لِأَنَّ الْوَاجِبَ بِالشَّهَادَةِ عِتْقُ أَحَدِهِمَا، فَلَمَّا جَازَ تَعْيِينُهُ بِالْقُرْعَةِ، جَازَ تَعْيِينُهُ بِشَهَادَةِ الورثة لِانْتِفَاءِ التُّهْمَةِ وَعِتْقِ غَانِمٍ وَرِقِّ سَالِمٍ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ. كَمَا جَازَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ بِالْقُرْعَةِ.

Berdasarkan hal ini, jika dua orang asing bersaksi tentang pembebasan (’itq) Salim dan Ghanim, dan nilai masing-masing dari mereka sepertiga, lalu dua ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali pembebasan Salim dan beralih kepada pembebasan Ghanim, maka kesaksian mereka diterima. Sebab, yang wajib dengan kesaksian itu adalah pembebasan salah satu dari keduanya. Ketika penentuan itu boleh dilakukan dengan undian (qur‘ah), maka boleh pula penentuannya dengan kesaksian para ahli waris karena tidak adanya tuduhan (kecurigaan), sehingga Ghanim menjadi merdeka dan Salim tetap sebagai budak tanpa undian. Sebagaimana hal itu juga boleh dilakukan dengan undian.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى كُلِّ هَذَا، إِذَا شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ سَالِمٍ وَهُوَ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ عِتْقِ سَالِمٍ وَأَوْصَى بِعِتْقِ غَانِمٍ وَهُوَ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ عِتْقِ أَحَدِهِمَا وَأَوْصَى بِعِتْقِ نَافِعٍ بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ سَالِمٍ بِشَهَادَةِ الْوَارِثَيْنِ، وَلَمْ تَبْطُلْ فِي غَانِمٍ بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، لِأَنَّهمَا أَطْلَقَا الرُّجُوعَ وَلَمْ يُعَيِّنَاهُ فِي غَانِمٍ وَثَبَتَتْ بِهِمَا الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ نَافِعٍ، وَقَدْ ثَبَتَتْ بِشَهَادَةِ الْوَارِثَيْنِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ غَانِمٍ وَإِبْطَالِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالِمٍ، فَيَرِقُّ سَالِمٌ، وَيُقْرَعُ بَيْنَ غَانِمٍ وَنَافِعٍ وَيُعْتَقُ مِنْهُمَا مِنْ قَرَعَ وَيُرَقُّ الْآخَرُ.

Berdasarkan semua ini, jika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang berwasiat untuk memerdekakan Salim dan itu sepertiga (harta), lalu dua ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat memerdekakan Salim dan berwasiat untuk memerdekakan Ghanim dan itu sepertiga (harta), kemudian dua orang asing bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat memerdekakan salah satu dari mereka dan berwasiat untuk memerdekakan Nafi‘, maka wasiat memerdekakan Salim batal dengan kesaksian dua ahli waris, dan tidak batal untuk Ghanim dengan kesaksian dua orang asing, karena keduanya (orang asing) menyatakan penarikan kembali secara umum dan tidak menentukannya pada Ghanim, dan dengan keduanya tetaplah wasiat memerdekakan Nafi‘. Dan telah tetap dengan kesaksian dua ahli waris wasiat memerdekakan Ghanim dan pembatalan wasiat memerdekakan Salim. Maka Salim menjadi budak, lalu diundi antara Ghanim dan Nafi‘, dan siapa yang keluar namanya dari undian, dialah yang dimerdekakan, sedangkan yang lain tetap menjadi budak.

فَإِنْ شَهِدَ الْوَارِثَانِ بِرُجُوعِهِ عَنْ عِتْقِ نَافِعٍ، جَازَ وَتَعَيَّنَتِ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ غَانِمٍ.

Jika dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali pembebasan Nafi‘, maka hal itu dibolehkan dan wasiat untuk membebaskan Ghanim menjadi pasti.

وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ سَالِمٍ، وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ غَانِمٍ، وَشَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ عِتْقِ أَحَدِهِمَا، لَمْ يَكُنْ لِلشَّهَادَةِ بِالرُّجُوعِ تَأْثِيرٌ، لِأَنَّه لَوْ لَمْ يَرْجِعْ أُقْرِعَ بَيْنَهُمَا، وَالرُّجُوعُ إِذَا لَمْ يُعِيِّنْ يَقْتَضِي الْإِقْرَاعَ، فَبَطَلَ تَأْثِيرُ الشهادة بالرجوع.

Jika dua orang asing bersaksi bahwa ia berwasiat untuk memerdekakan Sālim, dan dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia berwasiat untuk memerdekakan Ghānim, lalu dua orang asing bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat memerdekakan salah satu dari keduanya, maka kesaksian tentang penarikan kembali wasiat tersebut tidak berpengaruh. Sebab, jika ia tidak menarik kembali wasiatnya, maka dilakukan undian (qur‘ah) di antara keduanya; dan penarikan kembali wasiat, jika tidak disebutkan secara spesifik, juga mengharuskan dilakukan undian. Maka, pengaruh kesaksian tentang penarikan kembali wasiat menjadi batal.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدًا هُوَ الثُّلُثُ وَصِيَّةً وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ فِيهِ وَأَعْتَقَ عَبْدًا هُوَ السُّدُسُ عَتَقَ الْأَوَّلُ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ لِلْجَرِّ إِلَى أَنْفُسِهِمَا وَأَبْطَلْتُ حَقَّهُمَا مِنَ الْآخَرِ بِالْإِقْرَارِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang telah memerdekakan seorang budak sebagai wasiat sepertiga harta, lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat tersebut dan memerdekakan budak lain sebagai seperenam harta, maka budak yang pertama merdeka tanpa undian karena (kesaksian ahli waris) itu menguntungkan diri mereka sendiri, dan aku membatalkan hak mereka atas budak yang lain karena adanya pengakuan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي قَبُولِ شَهَادَةِ الْوَرَثَةِ بِالرُّجُوعِ فِي الْوَصِيَّةِ إِذَا لَمْ يُتَّهَمَا، وَرَدَّهَا إِذَا اتُّهِمُوا، وَصُورَةُ مَسْأَلَتِنَا هَذِهِ أَنْ يَشْهَدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ سَالِمٍ وَقِيمَتُهُ الثُّلُثُ، وَيَشْهَدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ سَالَمٍ وَأَعْتَقَ غَانِمًا وَقِيمَتُهُ السُّدُسُ، فَقَدْ صَارَا بِشَهَادَتِهِمَا مُتَّهَمَيْنِ، لِأَنَّهمَا جَرًّا بِهَا بِسُدُسِ التَّرِكَةِ إِلَى أَنْفُسِهِمَا، فَتَوَجَّهَتِ التُّهْمَةُ إِلَيْهِمَا فِي نِصْفِ الرُّجُوعِ وَهُوَ السُّدُسُ.

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya tentang diterimanya kesaksian para ahli waris mengenai pencabutan wasiat apabila mereka tidak dicurigai, dan ditolaknya kesaksian tersebut apabila mereka dicurigai. Adapun gambaran masalah kita ini adalah ketika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang berwasiat untuk memerdekakan Salim dan nilainya sepertiga harta, lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah mencabut wasiat memerdekakan Salim dan memerdekakan Ghanim yang nilainya seperenam harta. Maka dengan kesaksian mereka berdua, keduanya menjadi tertuduh, karena dengan itu mereka menarik seperenam harta warisan untuk diri mereka sendiri. Maka tuduhan itu tertuju kepada mereka berdua dalam setengah pencabutan wasiat, yaitu seperenam.

وَلِلشَّافِعِيِّ فِي تَبْعِيضِ الشَّهَادَةِ إِذَا رُدَّتْ بِالتُّهْمَةِ فِي بَعْضِ الْمَشْهُودِ فِيهِ، هَلْ يُوجِبُ رَدُّهَا فِي بَاقِيهِ؟ قَوْلَانِ.

Menurut Imam Syafi‘i, dalam hal sebagian kesaksian ditolak karena adanya tuduhan pada sebagian perkara yang disaksikan, apakah penolakan itu menyebabkan seluruh kesaksian pada bagian lainnya juga ditolak? Ada dua pendapat.

كَشَاهِدَيْنِ شَهِدَا عَلَى رَجُلٍ أَنَّهُ قَذَفَ أُمَّهُمَا وَأَجْنَبِيَّةً، رُدَّتْ شَهَادَتُهُمَا فِي قَذْفِ أُمِّهِمَا لِلتُّهْمَةِ وَهَلْ تُرَدُّ فِي قَذْفِ الْأَجْنَبِيَّةِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Seperti dua orang saksi yang bersaksi terhadap seorang laki-laki bahwa ia telah menuduh ibu mereka dan seorang perempuan asing (ajnabiyyah) melakukan zina, maka kesaksian mereka ditolak dalam kasus tuduhan terhadap ibu mereka karena adanya tuduhan (berpihak), dan apakah kesaksian mereka juga ditolak dalam kasus tuduhan terhadap perempuan asing? Ada dua pendapat dalam hal ini:

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَخْرِيجِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ.

Para ulama kami berbeda pendapat dalam mengeluarkan dua pendapat ini pada permasalahan ini.

فَذَهَبَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَجُمْهُورُ الْبَغْدَادِيِّينَ إِلَى أَنَّ تبعيض الشهادة في هذه المسألة على القولين:

Abu al-Abbas bin Surayj dan mayoritas ulama Baghdad berpendapat bahwa pembagian kesaksian dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

أحدهما: أنها ترد في جميع وَلَا تَبْعِيضَ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، فَعَلَى هَذَا تَبْطُلُ شَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ فِي كُلِّ الرُّجُوعِ، وَيُعْتَقُ فِي التَّرِكَةِ سالم بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَهُوَ الثُّلُثُ، وَيُعْتَقُ غَانِمٌ عَلَى الْوَارِثَيْنِ بِإِقْرَارِهِمَا.

Pertama: Bahwa hal itu berlaku secara keseluruhan dan tidak terbagi-bagi, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Syafi‘i dalam masalah ini. Maka, berdasarkan hal ini, kesaksian dua orang ahli waris batal dalam seluruh bentuk rujuk, dan yang merdeka dari harta warisan adalah Salim berdasarkan kesaksian dua orang asing, yaitu sepertiga bagian, dan Ghanim dimerdekakan oleh pengakuan kedua ahli waris tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: تَبْعِيضُ الشَّهَادَةِ هَاهُنَا كَمَا بَعَّضَهَا الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْقَذْفِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، فَعَلَى هَذَا تُرَدُّ شَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ بِالرُّجُوعِ فِي نِصْفِ سَالِمٍ ” وَتُقْبَلُ فِي الرُّجُوعِ بِنِصْفِهِ. ” وَيُعْتَقُ نِصْفُهُ بِالْوَصِيَّةِ بِشَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، وَيُرَقُّ نِصْفُهُ بِشَهَادَةِ الْوَارِثَيْنِ، وَيُعْتَقُ جَمِيعُ غَانِمٍ بِشَهَادَةِ الْوَارِثَيْنِ وَقَدِ اسْتَوْعَبَ ثُلُثَ التَّرِكَةِ بِالشَّهَادَتَيْنِ.

Pendapat kedua: pembagian kesaksian dalam hal ini sebagaimana yang membaginya Imam Syafi‘i ra. dalam perkara qadzaf menurut salah satu dari dua pendapatnya. Maka, berdasarkan hal ini, kesaksian dua ahli waris ditolak dalam hal rujuk pada setengah bagian milik Salim, dan diterima dalam rujuk pada setengah bagian lainnya. Setengah bagian Salim dimerdekakan melalui wasiat dengan kesaksian dua orang asing, dan setengahnya lagi menjadi budak dengan kesaksian dua ahli waris. Seluruh bagian milik Ghanim dimerdekakan dengan kesaksian dua ahli waris, dan ia telah mencakup sepertiga harta warisan dengan dua kesaksian tersebut.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْبَصْرِيِّينَ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَى الْمَنْعِ مِنْ تَبْعِيضِ الشَّهَادَةِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، وَإِنْ كَانَ تَبْعِيضُهَا فِي الشَّهَادَةِ بِالْقَذْفِ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَجَعَلُوا الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا مُعْتَبَرًا بِأَنَّ التُّهْمَةَ إِذَا تَوَجَّهَتْ إِلَى صِفَةِ الشَّاهِدِ رُدَّتْ، وَلَمْ يَجُزْ تَبْعِيضُهَا كَالْعَدَاوَةِ، وَإِذَا تَوَجَّهَتْ إِلَى صِفَةِ الْمَشْهُودِ فِيهِ جَازَ تَبْعِيضُهَا عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، وَالتُّهْمَةُ هَاهُنَا فِي صِفَةِ الشَّاهِدِ دُونَ الْمَشْهُودِ فِيهِ، فَرُدَّتْ جَمِيعُهَا وَلَمْ تُبَعَّضْ.

Mayoritas ulama Basrah dari kalangan mazhab kami berpendapat tidak bolehnya sebagian kesaksian dalam masalah ini, meskipun dalam kesaksian atas tuduhan zina terdapat dua pendapat. Mereka menjadikan perbedaan antara keduanya sebagai hal yang diperhitungkan, yaitu apabila tuduhan itu tertuju pada sifat saksi, maka kesaksiannya ditolak dan tidak boleh dibagi, seperti permusuhan. Namun, apabila tuduhan itu tertuju pada sifat perkara yang disaksikan, maka boleh membaginya menurut salah satu dari dua pendapat. Dalam hal ini, tuduhan tertuju pada sifat saksi, bukan pada perkara yang disaksikan, sehingga seluruh kesaksiannya ditolak dan tidak dibagi.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا، إِذَا شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ عَبْدٍ قِيمَتُهُ نِصْفُ التَّرِكَةِ، وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِ وَأَعْتَقَ عَبْدًا قِيمَتُهُ ثُلُثُ التَّرِكَةِ، قُبِلَتْ شَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ فِي الرُّجُوعِ عَنِ الْأَوَّلِ وَفِي عِتْقِ الثَّانِي فِي الثُّلُثِ وَتَنْتَفِي عَنْهُمَا التُّهْمَةُ فِي الرُّجُوعِ بِالزِّيَادَةِ لِأَنَّها مَرْدُودَةٌ بِالشَّرْعِ، فَقُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا فِي الرُّجُوعِ بِالْكُلِّ.

Berdasarkan hal ini, jika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang berwasiat untuk memerdekakan seorang budak yang nilainya setengah dari harta warisan, dan dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat untuk memerdekakan budak tersebut dan telah memerdekakan budak lain yang nilainya sepertiga dari harta warisan, maka kesaksian kedua ahli waris diterima dalam hal penarikan kembali wasiat yang pertama dan dalam hal pemerdekaan budak yang kedua pada sepertiga harta warisan. Kecurigaan terhadap keduanya dalam penarikan kembali wasiat dengan tambahan gugur, karena hal itu ditolak oleh syariat, sehingga kesaksian mereka berdua diterima dalam penarikan kembali wasiat secara keseluruhan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ لَمْ يَقُولَا أَنَّهُ رَجَعَ فِي الْأَوَّلِ أَقْرَعْتُ بَيْنَهُمَا حَتَّى يَسْتَوْظِفَ الثُّلُثَ وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْمُفْتِينَ إِنَّ شَهَادَةَ الْأَجْنَبِيَّيْنِ وَالْوَرَثَةِ سَوَاءٌ مَا لَمْ يَجُرَّ إِلَى أَنْفُسِهِمَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seandainya keduanya tidak mengatakan bahwa ia telah menarik kembali pada yang pertama, maka aku akan mengundi di antara keduanya hingga salah satunya mendapatkan sepertiga bagian. Ini adalah pendapat mayoritas para mufti, bahwa kesaksian dua orang asing dan para ahli waris adalah sama, selama tidak membawa keuntungan bagi diri mereka sendiri.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي أَنَّ شَهَادَةَ الْوَرَثَةِ بِالْعِتْقِ وَالْوَصِيَّةِ مَقْبُولَةٌ كَالْأَجَانِبِ إِذَا لَمْ يَجْرُّوا بِهِمَا نَفْعًا، فَإِذَا شَهِدَ الْأَجَانِبُ بِعِتْقِ عَبْدٍ قِيمَتُهُ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ الْوَرَثَةُ بِعِتْقِ عَبْدٍ قِيمَتُهُ السُّدُسُ، وَلَمْ يَقُولُوا: إِنَّهُ رَجِعَ عَنْ عِتْقِ صَاحِبِ الثُّلُثِ، فَالشَّهَادَتَانِ ثَابِتَتَانِ بِعِتْقِ عَبْدَيْنِ يَسْتَوْعِبَانِ نِصْفَ التَّرِكَةِ، فَيُعْتَبَرُ فِي تَحْرِيرِ الْعَبْدِ حَالُ الشَّهَادَتَيْنِ، فَإِنَّهُمَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kesaksian para ahli waris tentang pembebasan budak (‘itq) dan wasiat dapat diterima sebagaimana kesaksian orang luar, selama mereka tidak mendapatkan manfaat dari keduanya. Maka, jika orang luar bersaksi tentang pembebasan seorang budak yang nilainya sepertiga, dan para ahli waris bersaksi tentang pembebasan seorang budak yang nilainya seperenam, dan mereka tidak mengatakan bahwa pemilik sepertiga telah menarik kembali pembebasannya, maka kedua kesaksian tersebut tetap berlaku untuk pembebasan dua budak yang nilainya mencakup setengah dari harta warisan. Maka, dalam membebaskan budak, yang menjadi pertimbangan adalah keadaan pada saat kedua kesaksian itu diberikan, karena keduanya terbagi menjadi empat macam:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ شَهَادَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ لِصَاحِبِ الثُّلُثِ بِعِتْقٍ بَاتٍّ فِي الْحَيَاةِ، وَشَهَادَةُ الْوَرَثَةِ لِصَاحِبِ السُّدُسِ بِالْوَصِيَّةِ السُّدُسِ بِالْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِ بَعْدَ الْوَفَاةِ فَيُسْتَوْعَبُ الثُّلُثُ بِالْعِتْقِ الْبَاتِّ فِي صَاحِبِ الثُّلُثِ، وَتَبْطُلُ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ صَاحِبِ السُّدُسِ لِتَقَدُّمِ النَّاجِزِ فِي الْحَيَاةِ عَلَى الْوَصِيَّةِ بَعْدَ الْوَفَاةِ.

Salah satunya: jika dua orang asing bersaksi untuk pemilik sepertiga bagian bahwa telah terjadi pembebasan budak secara pasti semasa hidup, dan para ahli waris bersaksi untuk pemilik seperenam bagian bahwa ada wasiat pembebasan budak setelah wafat, maka sepertiga bagian habis digunakan untuk pembebasan budak yang pasti pada pemilik sepertiga, dan wasiat pembebasan budak untuk pemilik seperenam menjadi batal karena yang pasti semasa hidup lebih didahulukan daripada wasiat setelah wafat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ شَهَادَةُ الْأَجْنَبِيَّيْنِ لِصَاحِبِ الثُّلُثِ بِالْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِ بَعْدَ الْوَفَاةِ، وَشَهَادَةُ الْوَارِثَيْنِ لِصَاحِبِ السُّدُسِ بِعِتْقِهِ بات في الحياة فيعتق [جميع] صاحب السُّدُسِ، وَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ الثُّلُثِ نِصْفُهُ اسْتِكْمَالًا لِلثُّلُثِ، وَيُرَقُّ بَاقِيهِ وَهُوَ النِّصْفُ.

Jenis kedua: yaitu kesaksian dua orang asing untuk pemilik sepertiga atas wasiat memerdekakan budak setelah wafat, dan kesaksian dua ahli waris untuk pemilik seperenam atas pemerdekaan budak semasa hidup. Maka seluruh bagian pemilik seperenam dimerdekakan, dan dari bagian pemilik sepertiga dimerdekakan setengahnya untuk menyempurnakan sepertiga, sedangkan sisanya, yaitu setengahnya, tetap berstatus budak.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَتَانِ بِالْوَصِيَّةِ بِعِتْقِ الْعَبْدَيْنِ بَعْدَ الْوَفَاةِ، فَيَسْتَوِي فِيهِمَا مَنْ تَقَدَّمَتْ فِيهِ الْوَصِيَّةُ وَمَنْ تَأَخَّرَتْ، وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا لِيَسْتَوْظِفَ الثُّلُثَ مَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا، فَإِنْ قَرَعَ صَاحِبُ الثُّلُثِ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَرُقَّ جَمِيعُ الْآخَرِ، وَإِنْ قَرَعَ صَاحِبُ السُّدُسِ، عُتِقَ جَمِيعُهُ وَبَعْضُ صَاحِبِ الثُّلُثِ اسْتِكْمَالًا لِلثُّلُثِ، وَرُقَّ بَاقِيهِ وَهُوَ نِصْفُهُ.

Golongan ketiga: yaitu apabila kedua kesaksian tersebut berkaitan dengan wasiat untuk memerdekakan dua budak setelah wafat, maka dalam hal ini disamakan antara siapa yang lebih dahulu maupun yang belakangan dalam wasiat tersebut. Kemudian diundi di antara keduanya agar siapa yang terpilih dari keduanya dapat memanfaatkan sepertiga harta. Jika yang terpilih adalah pemilik sepertiga, maka seluruh bagiannya dimerdekakan dan seluruh bagian yang lain tetap menjadi budak. Namun jika yang terpilih adalah pemilik seperenam, maka seluruh bagiannya dimerdekakan dan sebagian dari pemilik sepertiga juga dimerdekakan untuk menyempurnakan sepertiga, sedangkan sisanya—yaitu setengahnya—tetap menjadi budak.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَتَانِ بِالْعِتْقِ الْبَاتِّ فِي الْحَيَاةِ، فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Golongan keempat: apabila kedua kesaksian itu mengenai pembebasan budak yang bersifat pasti pada masa hidup, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى وُقُوعِ عِتْقِهِمَا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ فَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا فَيَتَحَرَّرُ بِالْقُرْعَةِ لِيَسْتَكْمِلَ الثُّلُثَ بِعِتْقِ الْقَارِعِ وَرِقِّ الْمَقْرُوعِ عَلَى مَا بَيَّنَاهُ.

Salah satunya: apabila dua kesaksian menunjukkan terjadinya pembebasan budak atas keduanya dalam satu keadaan yang sama, maka dilakukan undian di antara keduanya. Yang terpilih melalui undian menjadi merdeka, agar sepertiga harta dapat terpenuhi dengan memerdekakan yang terpilih dan tetapnya status budak pada yang tidak terpilih, sebagaimana telah kami jelaskan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى عِتْقِ أَحَدِهِمَا قَبْلَ الْآخَرِ، وَيَعْلَمُ بِهَا الْمُتَقَدِّمُ مِنَ الْمُتَأَخِّرِ فَيْسَتَوْظِفَ الثُّلُثَ بِالْأَوَّلِ، فَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ صَاحِبَ الثُّلُثِ عُتِقَ جَمِيعُهُ وَرُقَّ صَاحِبُ السُّدُسِ، وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ هُوَ صَاحِبُ السُّدُسِ، عُتِقَ جَمِيعُهُ وَنِصْفُ صَاحِبِ الثُّلُثِ، اسْتِكْمَالًا لِلثُّلُثِ وَيَرِقُّ نِصْفُهُ الْبَاقِي.

Jenis kedua: Jika dua kesaksian menunjukkan bahwa salah satu dari keduanya dimerdekakan lebih dahulu daripada yang lain, dan dengan itu diketahui siapa yang lebih dahulu dan siapa yang belakangan, maka bagian sepertiga diberikan kepada yang pertama. Jika yang pertama adalah pemilik sepertiga, maka seluruhnya dimerdekakan dan pemilik seperenam tetap sebagai budak. Namun jika yang pertama adalah pemilik seperenam, maka seluruhnya dimerdekakan dan setengah dari pemilik sepertiga juga dimerdekakan untuk menyempurnakan sepertiga, dan setengah sisanya tetap sebagai budak.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ تَدُلَّ الشَّهَادَتَانِ عَلَى تَقَدُّمِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ، وَلَا تَدُلُّ عَلَى الْمُتَقَدِّمِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِ، فَقَدْ ذَكَرْنَا فِيهَا قَوْلَيْنِ:

Golongan ketiga: yaitu apabila dua kesaksian menunjukkan bahwa salah satunya lebih dahulu dari yang lain, namun tidak menunjukkan mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan. Dalam hal ini, telah kami sebutkan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا لِيُسْتَوْظَفَ الثُّلُثُ بِعِتْقِ الْقَارِعِ وَرِقِّ الْمَقْرُوعِ عَلَى مَا بَيَّنَاهُ.

Salah satunya: diundi antara keduanya agar sepertiga bagian digunakan untuk memerdekakan pihak yang menang undian dan status budak tetap pada pihak yang kalah undian, sebagaimana telah kami jelaskan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهُ يُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِقَدْرِ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ. فَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ الثُّلُثِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ، وَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ السُّدُسِ رُبُعُهُ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya ia dimerdekakan dari masing-masing keduanya sesuai kadar yang dapat ditanggung oleh sepertiga (harta), tanpa undian. Maka dimerdekakan dari pemilik sepertiga sebanyak tiga perempatnya, dan dimerdekakan dari pemilik seperenam sebanyak seperempatnya.

وَبَيَانُهُ: أَنْ نُنَزِّلَهَا تَنْزِيلَيْنِ:

Penjelasannya adalah: kita menurunkannya dengan dua penurunan.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ صَاحِبَ الثُّلُثِ فَيُعْتَقُ جَمِيعُهُ وَيُرَقُّ صَاحِبُ السُّدُسِ كُلِّهِ.

Salah satunya: jika yang pertama adalah pemilik sepertiga, maka seluruhnya dimerdekakan dan pemilik seperenam tetap menjadi budak seluruhnya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ صَاحِبَ السُّدُسِ فَيُعْتَقُ جَمِيعُهُ وَنِصْفُ صَاحِبِ الثُّلُثِ، فَيَتَحَرَّرُ فِي التَّنْزِيلَيْنِ أَنَّهُ عُتِقَ نِصْفُ صَاحِبِ الثُّلُثِ يَقِينًا.

Dan yang kedua: jika yang pertama adalah pemilik bagian seperenam, maka seluruh bagiannya dimerdekakan, dan setengah bagian dari pemilik sepertiga juga dimerdekakan. Maka dapat dipastikan dalam kedua skenario tersebut bahwa setengah bagian dari pemilik sepertiga telah dimerdekakan secara pasti.

وَتَعَارُضَ التَّنْزِيلَانِ فِي صَاحِبِ السُّدُسِ وَنِصْفِ صَاحِبِ الثُّلُثِ وَهُمَا فِي الْقِيمَةِ مُتَسَاوِيَانِ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ السُّدُسُ الْبَاقِي مِنَ الثُّلُثِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، فَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ الثُّلُثِ نِصْفُهُ وَمِنْ صَاحِبِ السُّدُسِ نِصْفُهُ، فَيَصِيرُ النِّصْفُ مِنْ صَاحِبِ الثُّلُثِ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّدُسِ نِصْفَهُ.

Dan ketika terjadi pertentangan antara dua ketentuan (tanzīl) pada pemilik sepertiga dan pemilik seperenam, sementara keduanya memiliki nilai yang sama, maka hal itu mengharuskan bahwa sisa dari sepertiga, yaitu seperenam, dibagi rata di antara keduanya. Maka, dari pemilik sepertiga dimerdekakan setengahnya, dan dari pemilik seperenam juga setengahnya. Dengan demikian, setengah bagian dari pemilik sepertiga menjadi tiga perempatnya, dan dari pemilik seperenam menjadi setengahnya.

وَمِثَالُهُ: أَنْ يَكُونَ صَاحِبُ الثُّلُثِ قِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَنَانِيرَ، وَقِيمَةُ صَاحِبِ السُّدُسِ خَمْسَةُ دنانير، وقد خلف المعتق سواهما خمسة عشرة دِينَارًا، فَتَصِيرُ التَّرِكَةُ مَعَ قِيمَتِهِمَا ثَلَاثِينَ دِينَارًا، ثُلُثُهَا عَشَرَةُ دَنَانِيرَ، فَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ الثُّلُثِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ وَنِصْفٌ، وَيُعْتَقُ مِنْ صَاحِبِ السُّدُسِ نِصْفُهُ بِدِينَارَيْنِ وَنِصْفٍ، فَتَصِيرُ قِيمَةُ الْمُعْتِقِ مِنْهُمَا عَشَرَةُ دَنَانِيرَ هِيَ الثُّلُثُ، وَيَبْقَى لِلْوَرَثَةِ رُبُعُ صَاحِبِ الثُّلُثِ بِدِينَارَيْنِ وَنِصْفٍ وَنِصْفُ صَاحِبِ السُّدُسِ بِدِينَارَيْنِ وَنِصْفٍ يُضَافَانِ إِلَى خَمْسَةَ عشرة دِينَارًا يَصِيرُ عِشْرِينَ دِينَارًا هِيَ مِثْلَا مَا خرج بالعتق.

Contohnya: Jika nilai budak pemilik sepertiga adalah sepuluh dinar, dan nilai budak pemilik seperenam adalah lima dinar, sementara pewaris (yang memerdekakan) meninggalkan selain keduanya sebanyak lima belas dinar, maka harta warisan bersama nilai keduanya menjadi tiga puluh dinar. Sepertiganya adalah sepuluh dinar. Maka dimerdekakan dari budak pemilik sepertiga sebanyak tiga perempatnya, yaitu tujuh setengah dinar, dan dimerdekakan dari budak pemilik seperenam setengahnya, yaitu dua setengah dinar. Maka nilai yang dimerdekakan dari keduanya adalah sepuluh dinar, yaitu sepertiga. Dan yang tersisa untuk para ahli waris adalah seperempat dari budak pemilik sepertiga, yaitu dua setengah dinar, dan setengah dari budak pemilik seperenam, yaitu dua setengah dinar, yang keduanya ditambahkan ke lima belas dinar sehingga menjadi dua puluh dinar, yaitu dua kali lipat dari bagian yang keluar karena pembebasan (budak).

( [الْقَوْلُ فِي الشَّهَادَةِ بِالْوَصِيَّةِ بِالْمَالِ] )

(Pembahasan tentang kesaksian atas wasiat mengenai harta)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ رَجُلَانِ لِرَجُلٍ بِالثُّلُثِ وَآخَرَانِ لَآخَرَ بِالثُّلُثِ وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ أَحَدِهِمَا فَالثُلُثُ بَيْنَهُمَا نِصْفَانِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang bersaksi untuk seseorang atas sepertiga (harta), dan dua orang lain bersaksi untuk orang lain atas sepertiga (harta), lalu dua orang lain bersaksi bahwa salah satu dari keduanya telah menarik kembali kesaksiannya, maka sepertiga (harta) itu dibagi antara keduanya menjadi dua bagian yang sama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِزَيْدٍ، وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِعَمْرٍو، صَحَّتِ الشَّهَادَتَانِ بِثُلُثِ الْمَالِ لِزَيْدٍ وَعَمْرٍو نِصْفَيْنِ فَإِنْ أَجَازَ الْوَرَثَةُ الْوَصِيَّةَ بِمَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ أُمْضِيَتِ الْوَصِيَّتَانِ بِثُلُثَيِ الْمَالِ لِزَيْدٍ وَعَمْرٍو فَإِنِ امْتَنَعُوا عَنْ إِجَازَةِ مَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ جُعِلَ الثُّلُثُ بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو نِصْفَيْنِ، وَلَمْ يَقْرَعْ بَيْنَهُمَا وَإِنْ قُرِعَ بَيْنَ الْعَبْدَيْنِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, jika dua orang saksi bersaksi bahwa ia berwasiat sepertiga hartanya kepada Zaid, dan dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia berwasiat sepertiga hartanya kepada Amr, maka kedua kesaksian tersebut sah untuk sepertiga harta, yang dibagi kepada Zaid dan Amr masing-masing setengah. Jika para ahli waris mengizinkan wasiat atas lebih dari sepertiga, maka kedua wasiat tersebut dijalankan, yaitu dua pertiga harta diberikan kepada Zaid dan Amr. Namun jika mereka menolak mengizinkan kelebihan dari sepertiga, maka sepertiga harta dibagi antara Zaid dan Amr masing-masing setengah, dan tidak dilakukan undian di antara keduanya, meskipun undian dilakukan pada dua budak, karena terdapat perbedaan di antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الشَّرْعَ أَثْبَتَ دُخُولَ الْقُرْعَةِ فِي الْعِتْقِ دُونَ التَّمْلِيكِ.

Salah satunya: bahwa syariat telah menetapkan berlakunya undian (al-qur‘ah) dalam pembebasan budak (‘itq), namun tidak dalam kepemilikan (at-tamlīk).

وَالثَّانِي: إِنَّ الْمَقْصُودَ بِالْعِتْقِ كَمَالُ أَحْكَامِ الْمُعْتَقِ وَلَا يَكْمُلُ تَبْعِيضُ الْعِتْقِ فِيهِ، فَأُقْرِعَ لِكَمَالِ أَحْكَامِهِ، وَالْمَقْصُودُ بِالْوَصِيَّةِ نَفْعُ الْمُوصَى لَهُ، وَهُوَ يَنْتَفِعُ بِتَبْعِيضِ الْوَصِيَّةِ، فَلَمْ يُقْرَعْ مَعَ وُجُودِ الْمَنْفَعَةِ.

Kedua: Sesungguhnya maksud dari pembebasan budak (ʿitq) adalah sempurnanya hukum-hukum bagi budak yang dibebaskan, dan pembebasan sebagian (tab‘īḍ) tidak menyempurnakan hukum-hukum tersebut padanya. Maka dilakukan undian (qur‘ah) demi kesempurnaan hukumnya. Sedangkan maksud dari wasiat (waṣiyyah) adalah memberikan manfaat kepada penerima wasiat, dan ia tetap memperoleh manfaat meskipun wasiat itu hanya sebagian. Maka tidak dilakukan undian selama manfaat itu masih ada.

فَلَوْ شَهِدَ وَارِثَانِ أَوْ أجنبيان أنه رجع عن الوصية بالثلث بالثلث لزيدإلى الْوَصِيَّةِ بِالثُّلُثِ لِعَمْرٍو، قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا وَصَارَ الثُّلُثُ كُلُّهُ لِعَمْرٍو. فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ بَعْدَ ذَلِكَ أنه رجع عن الوصية بالثلث لعمرو وصى بِالثُّلُثِ لِبَكْرٍ، صَارَ الثُّلُثُ كُلُّهُ لِبَكْرٍ، وَبَطَلَتْ فِي حَقِّ زَيْدٍ وَعَمْرٍو، وَسَوَاءٌ كَانَتِ الشَّهَادَةُ مِنْ وَرَثَةٍ أَوْ أَجَانِبَ.

Jika dua orang ahli waris atau dua orang asing bersaksi bahwa seseorang telah menarik kembali wasiat sepertiga untuk Zaid menjadi wasiat sepertiga untuk Amr, maka kesaksian mereka diterima dan seluruh sepertiga itu menjadi milik Amr. Jika setelah itu ada dua saksi lain bersaksi bahwa ia telah menarik kembali wasiat sepertiga untuk Amr dan berwasiat sepertiga untuk Bakr, maka seluruh sepertiga itu menjadi milik Bakr, dan batal hak Zaid dan Amr. Sama saja apakah kesaksian itu berasal dari para ahli waris atau orang-orang asing.

وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ لِزَيْدٍ بِالثُّلُثِ وَشَهِدَ آخَرَانِ لِعَمْرٍو بِالثُّلُثِ، وَشَهِدَ آخَرَانِ بِرُجُوعِهِ عَنْ إِحْدَى الْوَصِيَّتَيْنِ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ، وَهِيَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ، لَمْ تَكُنْ لِلشَّهَادَةِ بالرجوع تأثير، وبطل حكمهما. وَجُعِلَ الثُّلُثُ بَيْنَ زَيْدٍ وَعَمْرٍو.

Jika dua orang saksi bersaksi untuk Zaid atas sepertiga (harta), dan dua orang saksi lain bersaksi untuk Amr atas sepertiga (harta), lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa pewasiat telah menarik kembali salah satu dari dua wasiat tersebut tanpa menentukan yang mana, yaitu masalah yang disebut dalam kitab, maka kesaksian tentang penarikan kembali tidak berpengaruh, dan keputusan keduanya batal. Sepertiga harta itu diberikan kepada Zaid dan Amr secara bersama.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ سَالِمٍ وَهُوَ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِزَيْدٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَقْرَعَ بَيْنَهُمَا عِنْدَ امْتِنَاعِ الْوَرَثَةِ مِنْ إِجَازَتِهَا، لِأَنَّ الْقُرْعَةَ لَا تَدْخُلْ فِي الْمَالِ وَإِنْ دَخَلَتْ فِي الْعِتْقِ، فَوَجَبَ إِذَا اجْتَمَعَا أَنْ يُغَلَّبَ مَا لَا تَدْخُلُهُ الْقُرْعَةُ، لِأَنَّ دُخُولَهَا رُخْصَةٌ، فَإِذَا امْتَنَعَتِ الْقُرْعَةُ فِي اجْتِمَاعِهِمَا، فَفِيهَا قَوْلَانِ:

Dan jika dua orang asing bersaksi bahwa ia berwasiat untuk memerdekakan Salim dan itu sepertiga (harta), dan dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia berwasiat memberikan sepertiga hartanya kepada Zaid, maka tidak boleh dilakukan undian di antara keduanya ketika para ahli waris menolak untuk mengizinkannya, karena undian tidak berlaku dalam masalah harta meskipun berlaku dalam masalah pembebasan budak. Maka, apabila keduanya berkumpul, yang tidak masuk dalam undian harus diutamakan, karena masuknya undian adalah keringanan. Apabila undian tidak dapat dilakukan dalam pertemuan keduanya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُشْرَكَ بَيْنَهُمَا فِي الثُّلُثِ فَيُعْتَقُ نِصْفُ الْعَبْدِ وَيُدْفَعُ إِلَى زَيْدٍ السُّدُسُ.

Salah satunya adalah dengan menyekutukan keduanya dalam sepertiga, sehingga setengah budak dimerdekakan dan kepada Zaid diberikan seperenam.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنْ يُغَلِّبَ الْعِتْقَ عَلَى الْوَصِيَّةِ فَيُعْتِقُ جَمِيعَ الْعَبْدِ وَتُرَدُّ جَمِيعُ الْوَصِيَّةِ، لِأَنَّ لِلْعِتْقِ مَزِيَّةٌ بِالسِّرَايَةِ إِلَى غَيْرِ الْمِلْكِ فَقُدِّمَ عَلَى الْوَصَايَا.

Pendapat kedua: hendaknya mengutamakan pembebasan budak atas wasiat, sehingga seluruh budak dimerdekakan dan seluruh wasiat dibatalkan, karena pembebasan budak memiliki keistimewaan berupa penyebaran (hukum) hingga ke selain milik, maka ia didahulukan atas wasiat-wasiat.

فَلَوْ شَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ، قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا فِي رَدِّ الْعِتْقِ. وَأُمْضِيَتِ الْوَصِيَّةُ بِالثُّلُثِ، وَلَوْ شَهِدَا بِالرُّجُوعِ فِي الثُّلُثِ، قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا وَأُمْضِيَتِ الْوَصِيَّةُ بِالْعِتْقِ لِانْتِفَاءِ التُّهْمَةِ عَنْهُمَا فِي الشَّهَادَةِ بِهَذَا الرُّجُوعِ.

Jika dua orang ahli waris bersaksi bahwa pewaris telah menarik kembali wasiat pembebasan budak, maka kesaksian mereka diterima dalam membatalkan pembebasan tersebut. Wasiat dengan sepertiga harta tetap dijalankan. Jika keduanya bersaksi tentang penarikan kembali wasiat pada sepertiga harta, maka kesaksian mereka diterima dan wasiat pembebasan budak tetap dijalankan, karena tidak ada tuduhan (kepentingan) terhadap mereka dalam kesaksian tentang penarikan kembali ini.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا شَهِدَ شاهدان أنه دبر عبده سالما وهو الثلث، وَشَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ عَبْدِهِ غَانِمًا وَهُوَ الثُّلُثُ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Dan apabila dua orang saksi memberikan kesaksian bahwa seseorang telah melakukan tadbīr terhadap hambanya dalam keadaan sehat dan itu sepertiga harta, dan dua orang saksi lain memberikan kesaksian bahwa ia telah berwasiat untuk memerdekakan hambanya, Ghānim, dan itu sepertiga harta, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا سَوَاءٌ وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا وَيُعْتِقُ مِنْ قَرَعَ مِنْهُمَا.

Salah satunya: keduanya sama, lalu diundi di antara keduanya, dan yang keluar undiannya dari keduanya itulah yang dimerdekakan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّ التَّدْبِيرَ مُقَدَّمٌ عَلَى الْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ، لِوُقُوعِ الْعِتْقِ فِيهِ بِالْمَوْتِ، فَيُعْتَقُ الْمُدَبَّرُ، وَيُرَقُّ الْمُوصَى بِعِتْقِهِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya tadbīr didahulukan atas wasiat pembebasan budak, karena pembebasan budak dalam tadbīr terjadi dengan kematian. Maka budak mudabbir dimerdekakan, sedangkan budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan tetap berstatus budak.

وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ دَبَّرَ عَبْدَهُ سَالِمًا وَهُوَ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِعِتْقِ عَبْدِهِ غَانِمًا وَهُوَ الثُّلُثُ، وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِهِ لِزَيْدٍ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أقوال:

Jika dua orang saksi bersaksi bahwa seseorang telah mentadbir (menetapkan pembebasan) budaknya, Salim, dan itu sepertiga (harta), lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia berwasiat untuk memerdekakan budaknya, Ghanim, dan itu sepertiga (harta), kemudian dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia berwasiat memberikan sepertiga hartanya kepada Zaid, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أحدهما: أَنَّهُ يُقَدَّمُ التَّدْبِيرَ فَيُسْتَوْظَفُ بِهِ الثُّلُثُ، وَيُرَقُّ الْمُوصَى بِعِتْقِهِ، وَتَبْطُلُ الْوَصِيَّةُ بِثُلُثِهِ.

Pertama: bahwa yang didahulukan adalah tadbīr, sehingga sepertiga harta digunakan untuk itu, lalu orang yang diwasiatkan untuk dimerdekakan menjadi budak mudabbar, dan wasiat untuk memerdekakannya batal pada sepertiga bagiannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهُ يُشْرَكُ بَيْنَ الْمُدَبَّرِ وَالْمُوصَى بِعِتْقِهِ وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا وَيُعْتَقُ مَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا، وَتَبْطُلُ الْوَصِيَّةُ بِثُلُثِهِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya dimasukkan bersama antara budak mudabbar dan budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan, lalu diundi di antara keduanya, dan yang keluar undiannya dari keduanya itulah yang dimerdekakan, serta batal wasiat atas sepertiga hartanya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: إِنَّهُ يُشْرَكُ بَيْنَ الْجَمِيعِ فِي الثُّلُثِ فَيُدْفَعُ ثُلُثُ الثُّلُثِ إِلَى الْمُوصَى لَهُ وَيُقْرَعُ بَيْنَ الْمُدَبَّرِ وَالْمُوصَى بِعِتْقِهِ فِي ثُلُثَيِ الثُّلُثِ، فَإِذَا قَرَعَ أَحَدُهُمَا عُتِقَ ثُلُثَاهُ ورق ثلثه وجميع الآخر.

Pendapat ketiga: bahwa semuanya disertakan bersama dalam sepertiga harta, lalu sepertiga dari sepertiga itu diberikan kepada penerima wasiat, dan diadakan undian antara budak mudabbar dan budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan pada dua pertiga dari sepertiga itu. Jika salah satu dari keduanya terpilih dalam undian, maka dua pertiga dirinya merdeka dan sepertiganya tetap sebagai budak, sedangkan yang lain seluruhnya tetap sebagai budak.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَقَالَ فِي الشَّهَادَاتِ فِي الْعِتْقِ وَالْحُدُودِ إِمْلَاءً وَإِذَا شَهِدَا أَنَ سَيِّدَهُ أَعْتَقَهُ فَلَمْ يُعَدَّلَا فَسَأَلَ الْعَبْدُ أَنْ يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ أُجِّرَ وَوُقِفَتْ إِجَارَتُهُ فَإِنْ تَمَّ عِتْقُهُ أَخَذَهَا وَإِنْ رُقَّ أَخَذَهَا السَّيِّدُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan beliau berkata dalam masalah kesaksian pada kasus pembebasan budak dan hudūd secara imlā’: Jika dua orang bersaksi bahwa tuannya telah memerdekakannya, namun keduanya belum ditetapkan keadilannya, lalu budak itu meminta agar dipisahkan antara dirinya dan tuannya, maka ia disewakan dan hasil sewanya ditahan. Jika ternyata pembebasannya sah, maka hasil sewa itu diambil oleh budak tersebut, dan jika ternyata ia tetap berstatus budak, maka hasil sewa itu diambil oleh tuannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ ادَّعَى عَلَى سَيِّدِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَأَنْكَرَ السَّيِّدُ عِتْقَهُ، فَأَقَامَ الْعَبْدُ بَيِّنَةً بِعِتْقِهِ شَاهِدَيْنِ مَجْهُولَيِ الْعَدَالَةِ، فَسَأَلَ الْعَبْدُ أَنْ يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ حَتَّى تَظْهَرَ الْعَدَالَةُ لِيُحْكَمَ بِعِتْقِهِ، أُجِيبَ إِلَى الْإِحَالَةِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ السَّيِّدِ حَتَّى تَظْهَرَ الْعَدَالَةُ لِأَمْرَيْنِ: –

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang budak yang mengklaim kepada tuannya bahwa tuannya telah memerdekakannya, namun sang tuan mengingkari pemerdekaan tersebut. Lalu budak itu menghadirkan bukti berupa dua orang saksi yang tidak diketahui keadilannya. Maka budak itu meminta agar dipisahkan antara dirinya dan tuannya sampai keadilan para saksi itu tampak, sehingga dapat diputuskan pemerdekaannya. Permintaan untuk memisahkan antara budak dan tuannya dikabulkan sampai keadilan para saksi itu tampak, karena dua alasan: –

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ قَدْ قَامَ بِمَا عَلَيْهِ مِنَ الشَّهَادَةِ، وَبَقِيَ مَا عَلَى الْحَاكِمِ مِنْ كَشْفِ الْعَدَالَةِ.

Salah satunya adalah bahwa ia telah melaksanakan kewajibannya dalam memberikan kesaksian, dan yang tersisa adalah kewajiban hakim untuk meneliti keadilan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الظَّاهِرَ مِنَ الشَّهَادَةِ صِحَّتُهَا، وَلَا يُؤْمَنُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يُبَاعَ، وَلَا عَلَى الْأَمَةِ أَنْ تُوطَأَ.

Kedua: Sesungguhnya yang tampak dari kesaksian adalah keabsahannya, dan tidak dapat dipercaya pada seorang budak laki-laki untuk dijual, serta tidak dapat dipercaya pada seorang budak perempuan untuk digauli.

فَإِذَا أُحِيلَ بَيْنَهُمَا، لَزِمَ الْحَاكِمُ أَنْ يَسْتَظْهِرَ لِلسَّيِّدِ بِأَمْرَيْنِ كَمَا اسْتَظْهَرَ لِلْعَبْدِ بِالْمَنْعِ:

Maka apabila telah terjadi pemisahan antara keduanya, wajib bagi hakim untuk memperkuat posisi tuan dengan dua hal, sebagaimana ia telah memperkuat posisi budak dengan larangan.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَضَعَهُ عَلَى يَدِ أَمِينٍ نِيَابَةً عَنْ يَدِ السَّيِّدِ.

Salah satunya adalah meletakkannya pada tangan orang yang terpercaya sebagai perwakilan dari tangan tuan.

وَالثَّانِي: أَنْ يُؤَجِّرَهُ بِأُجْرَةٍ يُنْفِقُ عَلَيْهِ مِنْهَا، وَيُوقِفُ بَاقِيهَا عَلَى عَدَالَةِ الشَّاهِدَيْنِ، فَإِنْ ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُمَا حُكِمَ بِعِتْقِهِ وَرُدَّ عَلَيْهِ بَاقِي أُجْرَتِهِ، وَإِنْ ثَبَتَ فِسْقُهُمَا حُكِمَ بِرِقِّهِ وَإِعَادَتِهِ إِلَى سَيِّدِهِ مَعَ بَقِيَّةِ أُجْرَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهُمَا عَدَالَةٌ وَلَا فِسْقٌ كَانَ بَاقِيًا عَلَى الْوَقْفِ مَا بَقِيَ حَالُ الشَّاهِدَيْنِ عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْجَهَالَةِ.

Kedua: Yaitu dengan menyewakannya dengan upah yang digunakan untuk menafkahinya, dan sisanya ditahan (ditangguhkan) sampai keadilan kedua saksi terbukti. Jika keadilan keduanya terbukti, maka diputuskan ia merdeka dan sisa upahnya dikembalikan kepadanya. Jika kefasikan keduanya terbukti, maka diputuskan ia tetap sebagai budak dan dikembalikan kepada tuannya beserta sisa upahnya. Jika tidak terbukti keadilan maupun kefasikan keduanya, maka sisanya tetap ditahan selama keadaan kedua saksi masih dalam status memberikan kesaksian dan belum diketahui (keadaannya).

وَلَوْ كَانَتْ هَذِهِ الدَّعْوَى فِي غَيْرِ الْعِتْقِ مِنْ دَيْنٍ مُدَّعًى، وَأَقَامَ مُدَّعِيهِ شَاهِدَيْنِ مَجْهُولَيِ الْعَدَالَةِ وَالْجَرْحِ، فَوَقَفَتْ شَهَادَتُهُمَا عَلَى الْكَشْفِ، وَسَأَلَ الْمُدَّعِي حَبْسَ خَصْمِهِ عَلَى الْكَشْفِ عَلَى الْعَدَالَةِ أُجِيبَ إِلَيْهَا اعْتِبَارًا بِعَدَالَةِ الظَّاهِرِ، وَلَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِهَا حَتَّى 7 تَثْبُتَ عَدَالَةُ الْبَاطِنِ، وَلَمْ يَكُنْ لِحَبْسِهِ غَايَةً إِلَّا أَنْ تَثْبُتَ الْعَدَالَةُ لِيَسْتَوْفِيَ مِنْهُ الْحَقَّ، أَوْ يَثْبُتَ الْفِسْقَ وَيُطْلَقَ.

Dan seandainya gugatan ini bukan mengenai pembebasan budak, melainkan tentang utang yang digugat, lalu penggugat menghadirkan dua orang saksi yang tidak diketahui keadilan maupun celaannya, maka kesaksian mereka ditangguhkan sampai dilakukan pemeriksaan. Jika penggugat meminta agar lawannya ditahan sampai keadilan para saksi itu terbukti, permintaan itu dikabulkan dengan mempertimbangkan keadilan lahiriah, namun belum diputuskan atasnya sampai keadilan batiniah benar-benar terbukti. Penahanan tersebut tidak memiliki batas waktu kecuali sampai keadilan para saksi terbukti sehingga hak dapat diambil darinya, atau kefasikan mereka terbukti lalu ia dibebaskan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدَ لَهُ شَاهِدٌ وَادَّعَى شَاهِدًا قَرِيبًا فَالْقَوْلُ فِيهَا وَاحِدٌ مِنْ قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا مَا وَصَفْتُ فِي الْوَقْفِ، وَالثَّانِي لَا يُمْنَعُ مِنْهُ سَيِّدُهُ وَيَحْلِفُ لَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika ada seorang saksi yang bersaksi untuknya, lalu ia mengklaim adanya saksi lain yang masih kerabat, maka dalam hal ini terdapat satu dari dua pendapat: yang pertama adalah sebagaimana yang telah aku jelaskan dalam masalah wakaf, dan yang kedua adalah tuannya tidak dihalangi darinya dan ia boleh bersumpah untuknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا: أَنْ يُقِيمَ الْمُدَّعِي لِلْعِتْقِ شَاهِدًا عَلَى عِتْقِهِ، وَيَسْأَلُ أَنْ يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ عَلَى إِقَامَةِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ، فَفِي إِجَابَتِهِ إِلَى ذَلِكَ قَوْلَانِ مَنْصُوصَانِ:

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah ketika pihak yang mengklaim kemerdekaan (‘itq) menghadirkan satu orang saksi atas kemerdekaannya, lalu ia meminta agar dipisahkan antara dirinya dan tuannya untuk menghadirkan saksi yang lain. Dalam hal dikabulkannya permintaan tersebut, terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit.

أَحَدُهُمَا: يُجَابُ إِلَى ذَلِكَ، لِأَنَّ بَقِيَّةَ الْعَدَدِ كَبَيِّنَةِ الْعَدَالَةِ.

Salah satunya: permintaan itu dikabulkan, karena sisa jumlah tersebut seperti halnya bukti keadilan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يُجَابُ إِلَيْهِ لِأَنَّه قَدْ أَتَى فِي كَمَالِ الْعَدَدِ بِمَا عَلَيْهِ، وَبَقِيَ مَا عَلَى الْحَاكِمِ مِنْ ظُهُورِ الْعَدَالَةِ، وَلَمْ يَأْتِ فِي نُقْصَانِ الْعَدَدِ بِمَا عَلَيْهِ فَلَمْ يُحْكَمْ لَهُ بِمَا سَأَلَ.

Pendapat kedua: Tidak dikabulkan permintaannya karena ia telah memenuhi kewajibannya dalam hal jumlah yang sempurna, dan yang tersisa adalah kewajiban hakim untuk memastikan tampaknya keadilan. Namun, dalam hal kekurangan jumlah, ia belum memenuhi kewajibannya, sehingga tidak diputuskan baginya sesuai dengan apa yang ia minta.

فَإِنْ قِيلَ: بِأَنَّهُ لَا يُجَابُ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ الَّذِي أَقَامَهُ مَعْرُوفَ الْعَدَالَةِ أَوْ مَجْهُولَهَا، وَيَحْلِفُ السَّيِّدُ عَلَى إِنْكَارِ الْعِتْقِ فَيَكُونُ الْعَبْدُ فِي يَدِهِ عَلَى الرِّقِّ.

Jika dikatakan: Bahwa tidak diterima (persaksiannya) dan tidak ada perbedaan antara apakah saksi yang diajukannya dikenal keadilannya atau tidak diketahui keadilannya, dan tuan bersumpah atas penolakan pembebasan (‘itq), maka budak tetap berada di tangannya dalam status sebagai budak (raqiq).

وَإِنْ قِيلَ بِأَنَّهُ يُجَابُ إِلَى الْإِحَالَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الشَّاهِدِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَعْرُوفَ الْعَدَالَةِ أَوْ مَجْهُولَهَا، فَإِنْ كَانَ مَعْرُوفَ الْعَدَالَةِ، حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ إلى مدة ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَإِنْ أَقَامَ الشَّاهِدَ الْآخَرَ حُكِمَ لَهُ بِالْعِتْقِ، وَإِنْ لَمْ يُقِمْهُ أُحْلِفَ السَّيِّدَ عَلَى إِنْكَارِ الْعِتْقِ، وَأُعِيدَ الْعَبْدُ إِلَى يَدِهِ عَلَى الرِّقِّ، وَإِنْ كَانَ الشَّاهِدُ الَّذِي أَقَامَهُ مَجْهُولَ الْعَدَالَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فِي جَوَازِ الْإِحَالَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika dikatakan bahwa permintaan untuk menunda antara dia dan tuannya dikabulkan, maka keadaan saksi tidak lepas dari dua kemungkinan: dikenal keadilannya atau tidak diketahui keadilannya. Jika saksi tersebut dikenal keadilannya, maka ia dipisahkan dari tuannya selama tiga hari. Jika dalam waktu itu ia dapat menghadirkan saksi lain, maka diputuskan baginya kemerdekaan. Namun jika ia tidak dapat menghadirkannya, maka tuannya diminta bersumpah untuk menyangkal kemerdekaan tersebut, dan budak itu dikembalikan ke tangan tuannya sebagai budak. Jika saksi yang dihadirkan tidak diketahui keadilannya, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini tentang boleh tidaknya menunda antara dia dan tuannya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُحَالُ بَيْنَهُمَا كَمَا لَوْ كَانَ الشَّاهِدُ عَدْلًا اعْتِبَارًا بِعَدَالَةِ ظَاهِرِهِ.

Salah satunya: dipisahkan antara keduanya sebagaimana jika saksi itu adalah seorang yang adil, dengan mempertimbangkan keadilan lahiriahnya.

وَالْوَجْهُ القاني: أَنْ لَا يُحَالَ، لِأَنَّ الْبَاقِيَ مِنَ الْعَدَالَةِ وَالْعَدَدِ أَكْثَرُ مِنَ الْمَاضِي فَيَسْقُطُ بِاعْتِبَارِ الْأَقَلِّ.

Pendapat kedua: Tidak boleh dialihkan, karena sisa keadilan dan jumlahnya lebih banyak daripada yang telah berlalu, sehingga gugur dengan mempertimbangkan yang lebih sedikit.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَلَوْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي حَقِّ أَيْتَامٍ فَأَقَامَ مُدَّعِيهِ شَاهِدًا وَاحِدًا وَسَأَلَ حَبْسَ خَصْمِهِ عَلَى إِقَامَةِ شَاهِدٍ آخَرَ، فَإِنْ كَانَ الْحَقُّ مِمَّا لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ كَالْقِصَاصِ وَالنِّكَاحِ، فَفِي جَوَازِ حَبْسِهِ عَلَى إِقَامَةِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ قَوْلَانِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي دَعْوَى الْعِتْقِ.

Dan jika gugatan itu berkaitan dengan hak anak-anak yatim, lalu pihak penggugat menghadirkan satu orang saksi dan meminta agar lawannya ditahan sampai ia dapat menghadirkan saksi yang lain, maka jika hak tersebut termasuk perkara yang tidak dapat dibuktikan kecuali dengan dua orang saksi seperti qishāsh dan nikah, terdapat dua pendapat mengenai boleh tidaknya menahan lawan tersebut sampai saksi yang lain dihadirkan, sebagaimana telah disebutkan dalam perkara gugatan tentang ‘itq (pembebasan budak).

أَحَدُهُمَا: لَا يُحْبَسُ بِهِ.

Salah satunya: tidak boleh dipenjara karenanya.

وَالثَّانِي: يُحْبَسُ إِلَى مُدَّةِ ثلاث أَيَّامٍ ثُمَّ يُطْلَقُ إِنْ لَمْ يُقِمِ الْآخَرَ.

Yang kedua: ia dipenjara selama tiga hari, kemudian dibebaskan jika pihak lain tidak dapat menghadirkannya.

وإن كان الحق ما يَثْبُتُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي حَبْسِ الْخَصْمِ فِيهِ بِالشَّاهِدِ الْوَاحِدِ:

Jika kebenaran itu dapat ditegakkan dengan saksi dan sumpah, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai penahanan pihak lawan dalam perkara tersebut dengan hanya satu orang saksi.

فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى جَوَازِهِ قَوْلًا وَاحِدًا، لِأَنَّ لَهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَهُ وَيَسْتَحِقَّ، وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْهُمْ إِلَى أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ أَيْضًا كَغَيْرِهِ، لِأَنَّه لَوْ أَرَادَ الْيَمِينَ لِعَجَّلَهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu boleh secara mutlak, karena ia berhak bersumpah bersamanya dan berhak mendapatkan (haknya). Sementara sebagian lain dari mereka berpendapat bahwa dalam hal ini terdapat dua pendapat juga seperti dalam kasus lainnya, karena jika ia memang menginginkan sumpah, tentu ia akan segera melakukannya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِزَيْدٍ، وَشَهِدَ شَاهِدٌ وَاحِدٌ أَنَّهُ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِعَمْرٍو، وَلْيَحْلِفْ مَعَهُ عَمْرٌو، فَالشَّاهِدُ وَالْيَمِينُ بَيِّنَةٌ فِي الْوَصِيَّةِ بِالْمَالِ، فَإِذَا قَابَلَتَ شَاهِدَيْنِ فَفِي مُزَاحَمَتِهِمَا لَهُ قَوْلَانِ:

Jika dua orang saksi bersaksi bahwa ia berwasiat sepertiga hartanya kepada Zaid, dan satu orang saksi bersaksi bahwa ia berwasiat sepertiga hartanya kepada Amr, lalu Amr bersumpah bersamanya, maka saksi dan sumpah merupakan bukti dalam wasiat harta. Apabila keduanya berhadapan dengan dua saksi, maka dalam persaingan keduanya terhadapnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُزَاحِمُهُمَا، لِأَنَّها بَيِّنَةٌ فِي إِثْبَاتِ الْوَصِيَّةِ كَالشَّاهِدَيْنِ، وَيَكُونُ الثُّلُثُ بَيْنِ عَمْرٍو وَزَيْدٍ نِصْفَيْنِ.

Salah satunya: ia bersaing dengan mereka berdua, karena ia adalah bayyinah dalam menetapkan wasiat seperti dua orang saksi, dan sepertiga harta itu dibagi antara ‘Amr dan Zaid masing-masing setengah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّ الشَّاهِدَ وَالْيَمِينَ لَا يُزَاحِمُ الشَّاهِدَيْنِ لِكَمَالِ الشَّاهِدَيْنِ وَقُصُورِ الشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Pendapat kedua: sesungguhnya satu saksi dan sumpah tidak dapat menyaingi dua orang saksi, karena kesempurnaan dua saksi dan kekurangan satu saksi beserta sumpah.

وَلَوْ شَهِدَ شَاهِدُ عَمْرٍو أَنَّهُ رَجَعَ عَنِ الْوَصِيَّةِ لِزَيْدٍ، وَأَوْصَى بِثُلُثِهِ لِعَمْرٍو وَحَلَفَ مَعَهُ عَمْرٌو، صَحَّ الرُّجُوعُ وَالْوَصِيَّةُ لِعَمْرٍو بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ قَوْلًا وَاحِدًا، لِأَنَّه لَيْسَ فِي الشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ هَاهُنَا مُزَاحَمَةٌ لِلشَّاهِدَيْنِ، وَإِنَّمَا هِيَ بَيِّنَةٌ بِرُجُوعٍ لَمْ يَتَضَمَّنْهُ شَهَادَةُ الشَّاهِدَيْنِ.

Dan jika seorang saksi Amr bersaksi bahwa ia telah mencabut wasiat kepada Zaid, dan mewasiatkan sepertiga hartanya kepada Amr, lalu Amr bersumpah bersamanya, maka pencabutan wasiat dan wasiat kepada Amr menjadi sah dengan satu saksi dan sumpah, menurut satu pendapat, karena dalam hal ini tidak ada pertentangan antara satu saksi dan dua saksi, melainkan ini adalah bukti atas pencabutan yang tidak tercakup dalam kesaksian dua saksi.

وَهَاتَانِ الْمَسْأَلَتَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Kedua permasalahan ini telah ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm. Allah Maha Mengetahui.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا قَالَ: إِنْ قُتِلْتُ فَعَبْدِي حُرٌّ وَشَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ قُتِلَ وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ مَاتَ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Dan apabila seseorang berkata: “Jika aku terbunuh, maka hambaku merdeka,” lalu dua orang saksi bersaksi bahwa ia terbunuh, dan dua saksi lain bersaksi bahwa ia meninggal (biasa), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ يُحْكَمُ بِشَهَادَةِ الْقَتْلِ وَتُسْقَطُ شَهَادَةُ الْمَوْتِ. لِأَنَّهمَا أَزْيَدُ عِلْمًا فَيَسْتَحِقُّ الْقَوَدَ وَيُعْتَقُ الْعَبْدُ.

Salah satunya: bahwa diputuskan berdasarkan kesaksian tentang pembunuhan dan kesaksian tentang kematian gugur. Karena mereka memiliki pengetahuan yang lebih, maka pelaku berhak dikenai qishāsh dan budak dibebaskan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: قَدْ تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ فِيمَا شَهِدَ لِأَنَّه لَا اسْتِحَالَةَ أَنْ يَمُوتَ مَقْتُولٌ أَوْ يُقْتَلَ مَيِّتٌ، فَلَا يَسْتَحِقُّ الْقَوَدَ وَلَا يُعْتَقُ الْعَبْدُ لِأَجْلِ الِاسْتِحَالَةِ.

Pendapat kedua: Telah terjadi pertentangan antara dua bukti dalam hal yang disaksikan, karena tidak mustahil seseorang yang terbunuh itu mati, atau seseorang yang mati itu dibunuh. Maka, tidak berhak dilakukan qishāsh dan budak tidak dimerdekakan karena adanya kemustahilan.

فَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ: إِنْ مُتُّ فِي رَمَضَانَ فَسَالِمٌ حُرٌّ، وَإِنْ مُتُّ فِي شَوَّالٍ فَغَانِمٌ حُرٌّ ثُمَّ شَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ مَاتَ فِي رَمَضَانَ وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ مَاتَ فِي شَوَّالٍ فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Jika seseorang berkata kepada hambanya: “Jika aku wafat di bulan Ramadan, maka Salim merdeka; dan jika aku wafat di bulan Syawal, maka Ghanim merdeka,” kemudian dua orang saksi bersaksi bahwa ia wafat di bulan Ramadan dan dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia wafat di bulan Syawal, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَدْ تَعَارَضَتِ الشَّهَادَتَانِ بِتَنَافِيهِمَا وَيُعْمَلُ فِي الْعِتْقِ عَلَى تَصْدِيقِ الْوَرَثَةِ.

Salah satunya: Dua kesaksian telah saling bertentangan karena saling menafikan, dan dalam masalah pembebasan budak, yang dijadikan pegangan adalah pembenaran dari para ahli waris.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُحْكَمُ بِقَوْلِ مَنْ شَهِدَ بِمَوْتِهِ فِي رَمَضَانَ، لِأَنَّه أَزْيَدُ عِلْمًا،. وَيُعْتَقُ الْعَبْدُ الْأَوَّلُ، فَإِنْ صَدَّقَ الْوَرَثَةُ الثَّانِي عُتِقَ عَلَيْهِمْ بِمَوْتِهِ.

Pendapat kedua: Ditetapkan berdasarkan keterangan orang yang bersaksi tentang kematiannya pada bulan Ramadan, karena ia memiliki pengetahuan yang lebih banyak. Maka budak yang pertama dimerdekakan. Jika ahli waris membenarkan orang kedua, maka budak itu dimerdekakan atas mereka karena kematiannya.

وَلَوْ قَالَ: إِنْ مُتُّ فِي مَرَضِي هَذَا فَعَبْدِي سَالِمٌ حُرٌّ، وَإِنْ مُتُّ فِي غَيْرِهِ فَعَبْدِي غَانِمٌ حُرٌّ فَشَهِدَ شَاهِدَانِ أَنَّهُ مَاتَ فِي مَرَضِهِ ذَلِكَ وَشَهِدَ آخَرَانِ أَنَّهُ مَاتَ فِي غَيْرِهِ، فَفِيهِ قَوْلَانِ:

Jika seseorang berkata: “Jika aku mati dalam sakitku ini, maka hambaku Salim merdeka; dan jika aku mati bukan karena sakit ini, maka hambaku Ghanim merdeka,” lalu dua orang saksi bersaksi bahwa ia wafat dalam sakit tersebut, dan dua saksi lain bersaksi bahwa ia wafat bukan karena sakit itu, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَدْ تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ وَسَقَطَتَا، وَعِتْقُ أَحَدِهِمَا لَمْ يَتَعَيَّنْ فَيَرْجِعُ إِلَى بَيَانِ الْوَرَثَةِ فِي ذَلِكَ. فَإِنْ أَثْبَتُوا عِتْقَ أَحَدِهِمَا عُمِلَ فِي ذَلِكَ عَلَى بَيَانِهِمْ وَحُكِمَ بِرِقِّ الْآخَرِ، وَلَهُ إِحْلَافُهُمْ، وَإِنْ عَدِمَ بَيَانُ الْوَرَثَةِ أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا وَعُتِقَ الْقَارِعُ وَرُقَّ الْمَقْرُوعُ.

Salah satunya: Kedua bukti telah saling bertentangan dan keduanya gugur, sehingga status merdekanya salah satu dari keduanya tidak dapat dipastikan, maka dikembalikan kepada penjelasan para ahli waris dalam hal ini. Jika para ahli waris menetapkan kemerdekaan salah satu dari keduanya, maka keputusan diambil berdasarkan penjelasan mereka dan yang lain dihukumi sebagai budak, dan ia berhak meminta mereka bersumpah. Namun jika tidak ada penjelasan dari para ahli waris, maka diundi di antara keduanya; yang keluar undiannya dimerdekakan dan yang tidak keluar undiannya tetap sebagai budak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا تَعَارُضَ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَيُحْكَمُ بِأَسْبَقِ الشَّهَادَتَيْنِ، وَيُعْتَقُ أول العبدين والله أعلم بالصواب.

Pendapat kedua: Tidak ada pertentangan antara kedua bayyinah, dan diputuskan berdasarkan kesaksian yang lebih dahulu, serta dimerdekakanlah budak yang pertama kali disaksikan, dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(مختصر من جامع الدعوى والبينات)

(Ringkasan dari Jāmi‘ ad-Da‘wā wa al-Bayyināt)

(إملاء على كتاب ابن القاسم ومن كتاب الدعوى)

(Dikte atas Kitab Ibnu Qasim dan dari Kitab ad-Da‘wā)

(إملاء على كتاب أبي حنيفة ومن اختلاف الأحاديث ومن اختلاف ابن أبي ليلى وأبي حنيفة ومن مسائل شتى سمعتها لفظا)

(Dikte atas kitab Abu Hanifah, tentang perbedaan hadis, tentang perbedaan antara Ibnu Abi Laila dan Abu Hanifah, serta tentang berbagai masalah lain yang aku dengar secara langsung.)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” أَخْبَرْنَا مُسْلِمِ بْنِ خَالِدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي ” (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَحْسَبُهُ قَالَ وَلَا أُثْبِتُهُ قَالَ ” وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عليه “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Muslim bin Khalid telah memberitakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Bukti itu atas pihak yang mendakwa.’ (Imam Syafi‘i berkata:) Aku kira beliau juga mengatakan—namun aku tidak menetapkannya—‘dan sumpah itu atas pihak yang didakwa.’”

ابن حَجَّاجٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّ امْرَأَتَيْنِ كَانَتَا فِي بَيْتٍ تَخْرُزَانِ لَيْسَ مَعَهُمَا فِيهِ غَيْرُهُمَا فَخَرَجَتْ إِحْدَاهُمَا وَقَدْ طُعِنَتْ فِي كَفِّهَا بِأشْفًى حَتَّى خَرَجَ مِنْ ظَهْرِ كَفِّهَا، تَقُولُ طَعَنَتْهَا صَاحِبَتُهَا، وَتُنْكِرُ الْأُخْرَى قَالَ: فَأَرْسَلْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فِيهِمَا، فَأَخْبَرْتُهُ الْخَبَرَ، فَقَالَ: لَا تُعْطِ شَيْئًا إِلَّا بِبَيِّنَةٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعَاوِيهِمْ لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ رِجَالٍ وَدِمَاءَهُمْ لَكِنِ الْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” فَكَمَلَ بِالْجَمْعِ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ قَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” مَعَ مَا قُدِّمَ مِنَ التَّعْلِيلِ.

Ibnu Hajjaj dari Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abi Mulaikah memberitahuku bahwa ada dua perempuan berada di dalam sebuah rumah sedang menjahit, tidak ada seorang pun bersama mereka selain mereka berdua. Lalu salah satu dari mereka keluar dengan tangan yang telah tertusuk jarum hingga menembus punggung tangannya. Ia berkata bahwa temannya yang menusuknya, sementara yang lain mengingkarinya. Ia berkata: Maka aku mengirim seseorang kepada Ibnu Abbas mengenai keduanya, lalu aku memberitahukan kepadanya peristiwa itu. Maka Ibnu Abbas berkata: “Jangan berikan apa pun kecuali dengan bayyinah (bukti yang jelas).” Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya manusia diberi (hak) hanya dengan klaim mereka, niscaya akan ada orang-orang yang mengklaim harta dan darah orang lain, tetapi sumpah itu atas orang yang didakwa.” Maka sempurnalah dengan menggabungkan dua riwayat sabda Nabi ﷺ: “Bayyinah atas orang yang mengklaim, dan sumpah atas orang yang didakwa,” beserta penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya.

رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ مُسْلِمُ بْنُ خَالِدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْبَيِّنَةُ عَلَى مَنِ ادَّعَى وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ إِلَّا فِي الْقَسَامَةِ “.

Syafi‘i meriwayatkan dari Muslim bin Khalid, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukti (bayyinah) wajib atas orang yang mengaku, dan sumpah (yamin) atas orang yang mengingkari, kecuali dalam kasus qasamah.”

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْنَبُ بِنْتُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّهَا أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِنَمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ لَتَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بَعْضٍ فَأَقْضِيَ عَلَى مَا أَسْمَعُ مِنْهُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ، فَلَا يأخذه فإنما أقطع له قطعة من النار “.

Syafi‘i meriwayatkan dari Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari ibunya Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, dan kalian berselisih perkara kepadaku. Mungkin sebagian dari kalian lebih pandai dalam mengemukakan argumennya daripada yang lain, sehingga aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang aku dengar darinya. Maka barang siapa yang aku putuskan untuknya sesuatu dari hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya aku telah memotongkan untuknya sepotong dari api neraka.”

وَقِيلَ: إِنَّ أَوَّلَ دَعْوَى كَانَتْ فِي الْأَرْضِ دَعْوَى قَابِيلَ بْنِ آدَمَ عَلَى أَخِيهِ هَابِيلَ، أَنَّهُ أَحَقُّ بِنِكَاحِ تَوْأَمَتِهِ مِنْهُ، فَتَنَازَعَا إِلَى آدَمَ فَأَمَرَهُمَا بِمَا قَصَّهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْنَا بِقَوْلِهِ: {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ} [المائدة: 27] فَأَفْضَى تَنَازُعُهُمَا إِلَى الْقَتْلِ فَقَتَلَ قَابِيلُ هَابِيلَ فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ فِي الْأَرْضِ.

Dikatakan: Sesungguhnya perselisihan pertama yang terjadi di bumi adalah perselisihan Qabil bin Adam terhadap saudaranya, Habil, bahwa ia lebih berhak menikahi saudari kembarnya daripada saudaranya itu. Maka mereka berdua mengadukan perkara tersebut kepada Adam, lalu Adam memerintahkan keduanya dengan apa yang telah Allah Ta‘ala kisahkan kepada kita melalui firman-Nya: “Bacakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satu dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain.” (QS. Al-Ma’idah: 27). Perselisihan mereka berujung pada pembunuhan, maka Qabil membunuh Habil, sehingga Habil menjadi orang pertama yang terbunuh di bumi.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَحَدُّ الدَّعْوَى أَنَّهُ طَلَبُ مَا يُذْكَرُ اسْتِحْقَاقُهُ، وَسُمِّيَتْ دَعْوَى، لِأَنَّه قَدْ دعاه إِلَى نَفْسِهِ، وَالدَّعْوَى تَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: مُدَّعٍ، مُدَّعًى عَلَيْهِ، وَمُدَّعًى بِهِ، وَمُدَّعًى عِنْدَهُ.

Batasan dari dakwaan adalah permintaan terhadap sesuatu yang disebutkan hak kepemilikannya. Ia dinamakan dakwaan karena seseorang telah menariknya kepada dirinya sendiri. Dakwaan mencakup empat hal: penggugat, tergugat, objek yang didakwakan, dan tempat dakwaan itu berada.

فَأَمَّا الْمُدَّعِي: فَهُوَ الطَّالِبُ مِنْ غَيْرِهِ شَيْئًا فِي يَدِهِ، أَوْ فِي ذِمَّتِهِ.

Adapun al-mudda‘i adalah orang yang menuntut sesuatu dari orang lain, baik berupa sesuatu yang ada di tangannya maupun yang menjadi tanggungannya.

وَأَمَّا الْمُدَّعَى عَلَيْهِ: فَهُوَ الْمَطْلُوبُ مِنْهُ شَيْئًا فِي يَدِهِ، أَوْ فِي ذِمَّتِهِ.

Adapun tergugat: yaitu orang yang diminta darinya sesuatu yang ada di tangannya, atau menjadi tanggungannya.

وَفَرْقُ مَا بَيْنَ الطَّالِبِ، وَالْمَطْلُوبِ مِنْهُ، أَنَّ الطَّالِبَ إِذَا تَارَكَ تُرِكَ وَالْمَطْلُوبَ إِذَا تَارَكَ لَمْ يُتْرَكْ.

Perbedaan antara orang yang meminta (ṭālib) dan orang yang diminta darinya (maṭlūb minhu) adalah bahwa orang yang meminta, jika ia meninggalkan (permintaannya), maka ia akan ditinggalkan; sedangkan orang yang diminta darinya, jika ia meninggalkan (apa yang diminta darinya), maka ia tidak akan dibiarkan begitu saja.

وَأَمَّا الْمُدَّعَى بِهِ فَهُوَ مَا تَنَازَعَ فِيهِ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. وَأَمَّا الْمُدَّعَى عِنْدَهُ فَهُوَ مَنْ نَفَذَ حُكْمُهُ مِنْ قَاضٍ أَوْ أَمِيرٍ.

Adapun yang dimaksud dengan “al-mudda‘ā bihi” adalah perkara yang diperselisihkan antara pihak penuntut dan pihak yang dituntut. Sedangkan “al-mudda‘ā ‘indahu” adalah orang yang putusannya berlaku, baik dari seorang qadhi maupun amir.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالدَّعْوَى عَلَى سِتَّةٍ أَضْرُبٍ: صَحِيحَةٌ، وَفَاسِدَةٌ، وَمُجْمَلَةٌ، وَنَاقِصَةٌ، وَزَائِدَةٌ، وَكَاذِبَةٌ.

Gugatan itu terbagi menjadi enam macam: gugatan yang sah, gugatan yang rusak, gugatan yang mujmal (samar), gugatan yang naqis (kurang), gugatan yang zaid (berlebihan), dan gugatan yang dusta.

فَأَمَّا الدَّعْوَى الصَّحِيحَةُ فَضَرْبَانِ: دَعْوَى اسْتِحْقَاقٍ، وَدَعْوَى اعْتِرَاضٍ.

Adapun gugatan yang sah terbagi menjadi dua jenis: gugatan istihqāq (tuntutan hak milik) dan gugatan i‘tirāḍ (keberatan).

فَأَمَّا دَعْوَى الِاسْتِحْقَاقِ فَضَرْبَانِ:

Adapun klaim hak, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَتَوَجَّهَ إِلَى عَيْنٍ فِي الْيَدِ.

Salah satunya adalah mengarah kepada sesuatu yang tertentu di tangan.

وَالثَّانِي: إِلَى مَالٍ فِي الذِّمَّةِ.

Dan yang kedua: kepada harta yang menjadi tanggungan (di dalam tanggungan).

فَأَمَّا تَوَجُّهُ الدَّعْوَى إِلَى عَيْنٍ فِي الْيَدِ فَضَرْبَانِ: مَنْقُولٌ، وَغَيْرُ مَنْقُولٍ فَأَمَّا الْمَنْقُولُ فَضَرْبَانِ: حَاضِرٌ، وَغَائِبٌ.

Adapun pengajuan gugatan terhadap suatu barang tertentu yang berada dalam genggaman, maka terbagi menjadi dua: barang bergerak dan barang tidak bergerak. Adapun barang bergerak, terbagi menjadi dua: yang hadir dan yang tidak hadir.

فَإِنْ كَانَتِ الْعَيْنُ الْمَنْقُولَةُ حَاضِرَةٌ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ، كَعَبْدٍ أَوْ ثَوْبٍ، أَغْنَتِ الْإِشَارَةُ عَنْ صِفَتِهَا، وَعَنْ ذِكْرِ قِيمَتِهَا

Jika barang yang dipindahkan itu hadir di majelis pengadilan, seperti budak atau pakaian, maka isyarat saja sudah cukup tanpa perlu menyebutkan sifatnya atau menyebutkan nilainya.

فَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي غَصْبٍ صَحَّتِ الدَّعْوَى، إِذَا قَالَ غَصَبَنِي هَذَا الْعَبْدَ، أَوْ هَذَا الثَّوْبَ وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي وَدِيعَةٍ فَقَالَ: أَوْدَعْتُهُ هَذَا، وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى فِي ابْتِيَاعٍ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ بِهَا دَعْوَى الْعَقْدِ، كَانَ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى ذِكْرُ قَدْرِ الثَّمَنِ، وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ بِهَا انْتِزَاعُهُ مِنْ يَدِهِ كَانَ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهُ ابْتَاعَهُ مِنْهُ، وَدَفَعَ إِلَيْهِ ثَمَنَهُ، وَقَدْ مَنَعَهُ مِنْهُ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَذْكُرَ قَدْرَ الثَّمَنِ.

Jika gugatan itu mengenai ghashab, maka gugatan tersebut sah apabila ia berkata, “Orang ini telah merampas budak ini dariku,” atau “Orang ini telah merampas pakaian ini dariku.” Dan jika gugatan itu mengenai wadi‘ah, lalu ia berkata, “Aku titipkan barang ini kepadanya.” Dan jika gugatan itu mengenai pembelian darinya, maka jika yang dimaksud adalah gugatan atas akad, maka dalam sahnya gugatan harus disebutkan jumlah harga. Namun jika yang dimaksud adalah untuk mengambil barang itu dari tangannya, maka dalam sahnya gugatan cukup ia menyebutkan bahwa ia telah membeli barang itu darinya, telah membayar harganya kepadanya, dan ia telah menahan barang itu darinya, serta tidak wajib baginya untuk menyebutkan jumlah harga.

وَإِنْ كَانَتِ الْعَيْنُ الْمَنْقُولَةُ غَائِبَةً، فَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْأَمْثَالِ كَالْحِنْطَةِ، اقْتُصِرَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى ذِكْرِ الصِّفَةِ، ثُمَّ صار الحكم فيها كالعين والحاضرة، وإن كانت من غير ذوات المثال، كَالْجَوَاهِرِ لَزِمَهُ فِي تَعْيِينِهَا ذِكْرُ الْجِنْسِ، وَالنَّوْعِ، وَمَا يُضْبَطُ بِهِ مِنْ صِفَاتِهَا فَإِنْ كَانَتْ وَدِيعَةً لَمْ يَلْزَمْهُ ذِكْرُ قِيمَتِهَا، لِأَنَّ الْوَدِيعَةَ أَمَانَةٌ غَيْرُ مَضْمُونَةٍ، وَإِنْ كَانَتْ عَارِيَةً أَوْ غَصْبًا لَزِمَهُ فِي التَّعْيِينِ ذِكْرُ قِيمَتِهَا، لِضَمَانِ الْعَارِيَةِ وَالْغَصْبِ بِالْقِيمَةِ، وَإِنْ كَانَتْ مَبِيعَةً لَزِمَهُ فِي التَّعْيِينِ ذِكْرُ ثَمَنِهَا لِضَمَانِ مَا لَمْ يُقْبَضْ مِنَ الْمَبِيعِ بِالثَّمَنِ دُونَ الْقِيمَةِ.

Jika barang yang dipindahkan itu tidak ada (ghaib), maka jika termasuk barang yang memiliki keseragaman seperti gandum, cukup dalam penentuannya dengan menyebutkan sifatnya, kemudian hukumnya menjadi seperti barang yang ada dan hadir. Namun jika termasuk barang yang tidak memiliki keseragaman, seperti permata, maka dalam penentuannya wajib menyebutkan jenis, macam, dan sifat-sifat yang dapat membedakannya. Jika barang tersebut adalah titipan (wadī‘ah), maka tidak wajib menyebutkan nilainya, karena wadī‘ah adalah amanah yang tidak dijamin. Namun jika berupa pinjaman pakai (‘āriyah) atau hasil ghasab (perampasan), maka dalam penentuannya wajib menyebutkan nilainya, karena ‘āriyah dan ghasab dijamin dengan nilai. Jika barang tersebut adalah barang jualan (mabī‘), maka dalam penentuannya wajib menyebutkan harganya, karena yang dijamin dari barang yang belum diterima dari jual beli adalah harga, bukan nilainya.

وَأَمَّا غَيْرُ الْمَنْقُولِ كَدَارٍ، أَوْ ضَيْعَةٍ، فَتَعْيِينُهَا فِي الدَّعْوَى يَكُونُ بِذِكْرِ النَّاحِيَةِ، وَالْحُدُودِ الْأَرْبَعَةِ: لِتَتَمَيَّزَ بِذَلِكَ مِنْ غَيْرِهَا، وَلَا يُغْنِيَ ذِكْرُ النَّاحِيَةِ عَنْ ذِكْرِ الْحُدُودِ، وَلَا ذِكْرُ الْحُدُودِ عَنْ ذِكْرِ النَّاحِيَةِ، وَلَا أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى بَعْضِ الْحُدُودِ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ جَمِيعَهَا فَتَصِيرُ بِذِكْرِ النَّاحِيَةِ وَالْحُدُودِ الْأَرْبَعَةِ مُتَمَيِّزَةً عَنْ غَيْرِهَا، إِلَّا أَنْ تَكُونَ الدَّارُ مَشْهُورَةً بِاسْمِهَا مُتَمَيِّزَةً بِهِ عَنْ غَيْرِهَا، ” كَدَارِ النَّدْوَةِ ” بِمَكَّةَ وَ ” دَارِ الْخَيْزُرَانِ ” فَيُغْنِي ذِكْرُ اسْمِهَا عَنْ ذِكْرِ حُدُودِهَا، وَإِذَا ذُكِرَتِ النَّاحِيَةُ وَالْحُدُودُ الْأَرْبَعَةُ، صَحَّ دَعْوَاهَا وَإِنْ جَازَ أَنْ يُشَارِكَهَا غَيْرُهَا فِي حُدُودِهَا، كَمَا إِذَا ذُكِرَ الرَّجُلُ بِاسْمِهِ، وَاسْمِ أَبِيهِ وَجَدِّهُ، وَقَبِيلَتِهِ، وَصِنَاعَتِهِ، صَحَّ، وَتَمَيَّزَ فِي الدَّعْوَى وَالشَّهَادَةِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يُشَارِكَهُ غَيْرُهُ فِي الِاسْمِ، وَالنَّسَبِ، لِأَنَّه غَايَةُ الْمُمْكِنِ وَلِأَنَّ الْمُشَارَكَةَ نَادِرَةٌ، ثُمَّ صِحَّةُ دَعَوَاهَا بعد تحديدها معتبرة بشرطين: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهَا مِلْكُهُ.

Adapun benda tidak bergerak seperti rumah atau lahan, maka penentuannya dalam gugatan dilakukan dengan menyebutkan wilayah dan keempat batasnya, agar dapat dibedakan dari selainnya. Penyebutan wilayah saja tidak cukup tanpa menyebutkan batas-batasnya, begitu pula sebaliknya, dan tidak boleh hanya menyebut sebagian batas sampai seluruh batasnya disebutkan, sehingga dengan menyebut wilayah dan keempat batas tersebut, benda itu menjadi jelas berbeda dari yang lain. Kecuali jika rumah tersebut sudah terkenal dengan namanya yang membedakannya dari yang lain, seperti “Dar an-Nadwah” di Makkah atau “Dar al-Khaizuran”, maka penyebutan namanya saja sudah cukup tanpa perlu menyebut batas-batasnya. Jika wilayah dan keempat batas telah disebutkan, maka gugatan atasnya sah, meskipun mungkin ada orang lain yang berbagi batas dengannya, sebagaimana jika seseorang disebutkan dengan nama, nama ayah dan kakeknya, kabilahnya, serta profesinya, maka itu sah dan cukup membedakannya dalam gugatan dan kesaksian, meskipun mungkin ada orang lain yang memiliki kesamaan nama dan nasab, karena itu adalah batas maksimal yang mungkin dan karena kesamaan tersebut jarang terjadi. Kemudian, sahnya gugatan atas benda tersebut setelah penentuannya dianggap sah dengan dua syarat: yaitu menyebutkan bahwa benda itu adalah miliknya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهَا فِي يَدِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِغَيْرِ حَقٍّ.

Kedua: menyebutkan bahwa barang tersebut berada di tangan tergugat tanpa hak.

وَهُوَ إِذَا ذَكَرَ ذَلِكَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُعَيِّنَ السَّبَبَ الَّذِي صَارَتْ بِهِ فِي يَدِهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَبَيْنَ أَنْ يُطْلِقَهُ.

Dan jika ia menyebutkan hal itu, maka ia memiliki pilihan antara menentukan sebab yang menjadikan barang tersebut berada di tangannya tanpa hak, atau membiarkannya secara umum.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى بِمَالٍ فِي الذِّمَّةِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dan jika gugatan itu berkaitan dengan harta dalam tanggungan, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِنْ ذَوِي الْأَمْثَالِ كَالدَّرَاهِمِ، وَالدَّنَانِيرِ، أَوِ الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ مِمَّا يَصِحُّ أَنْ يُثْبَتَ فِي الذِّمَّةِ ثَمَنًا، أَوْ يُضْمَنَ فِي الْعَمْدِ بِمِثْلِهِ، فَيَلْزَمُهُ فِي الدَّعْوَى أَنْ يَذْكُرَ الْجِنْسَ وَالنَّوْعَ، وَالصِّفَةَ، وَالْقَدَرَ، بِمَا يَصِيرُ بِهِ عِنْدَ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ مَعْلُومًا، وَهُوَ بِالْخِيَارِ فِي أَنْ يَذْكُرَ سَبَبَ الِاسْتِحْقَاقِ، أَوْ لَا يَذْكُرَ فَتَكُونُ صِحَّةُ الدَّعْوَى مُعْتَبَرَةً بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Salah satunya: yaitu barang yang termasuk dalam kategori benda yang memiliki padanan, seperti dirham, dinar, atau gandum dan jelai, yaitu barang-barang yang sah untuk ditetapkan sebagai utang dalam tanggungan, atau dapat dijamin dalam kasus kesengajaan dengan barang sejenisnya. Maka dalam gugatan, wajib baginya untuk menyebutkan jenis, macam, sifat, dan takaran, dengan cara yang dapat diketahui oleh kalangan khusus maupun umum. Ia boleh memilih untuk menyebutkan sebab haknya atau tidak menyebutkannya. Maka keabsahan gugatan itu bergantung pada tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولَ لِي عَلَيْهِ كَذَا وَيَصِفَهُ.

Salah satunya adalah dengan mengatakan, “Aku memiliki hak atasnya sebesar sekian,” lalu ia menyebutkan sifatnya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَقُولَ وَهُوَ حَالٌّ، لِأَنَّ الْمُؤَجَّلَ لَا يَسْتَحِقُّ الْمُطَالَبَةَ بِهِ قَبْلَ حُلُولِهِ، فَلَمْ تَصِحَّ دَعْوَاهُ، فَإِنْ كَانَ بَعْضُهُ حَالًّا، وَبَعْضُهُ مُؤَجَّلًا صَحَّ دَعْوَى جَمِيعِهِ لِاسْتِحْقَاقِ الْمُطَالَبَةِ بِبَعْضِهِ وَيَكُونُ الْمُؤَجَّلُ تَبَعًا فَلَوْ كَانَ الْمُؤَجَّلُ فِي عَقْدٍ قُصِدَ بِدَعْوَاهُ تَصْحِيحُ الْعَقْدِ، كَالسَّلَمِ الْمُؤَجَّلِ، صَحَّتْ دَعْوَاهُ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ مُسْتَحَقٌّ فِي الْحَالِ.

Syarat kedua: hendaknya ia menuntut sesuatu yang sudah jatuh tempo, karena sesuatu yang masih ditangguhkan tidak berhak untuk dituntut sebelum jatuh temponya, sehingga gugatan atasnya tidak sah. Jika sebagian dari tuntutannya sudah jatuh tempo dan sebagian lagi masih ditangguhkan, maka gugatan atas seluruhnya sah karena berhak menuntut sebagian darinya, dan yang masih ditangguhkan mengikuti yang sudah jatuh tempo. Jika yang ditangguhkan itu dalam suatu akad yang dimaksudkan dengan gugatan tersebut untuk mengesahkan akad, seperti salam yang pembayarannya ditangguhkan, maka gugatan itu sah, karena maksud dari akad tersebut memang sudah menjadi hak pada saat itu.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَقُولَ: وَقَدْ مَنَعَنِي، أَوْ أَخَّرَهُ عَنِّي فَإِنْ قَالَ: وَقَدْ أَنْكَرْتُ صَحَّ، لِأَنَّ الْمُنْكِرَ مَانِعٌ.

Syarat ketiga: hendaknya ia mengatakan, “Dan sungguh ia telah mencegahku,” atau “Ia telah menundanya dariku.” Jika ia mengatakan, “Aku telah mengingkarinya,” maka sah, karena orang yang mengingkari adalah sama dengan orang yang mencegah.

ثُمَّ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بَعْدَ ذِكْرِ هَذِهِ الشُّرُوطِ الثَّلَاثَةِ: هَلْ يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى أَنْ يَقُولُ: وَأَنَا أَسْأَلُ الْقَاضِي، أَنْ يُلْزِمَهُ الْخُرُوجَ إِلَيَّ مِنْ حَقِّي عَلَى وَجْهَيْنِ:

Kemudian para ulama kami berbeda pendapat setelah menyebutkan tiga syarat ini: Apakah dalam keabsahan gugatan harus disyaratkan bahwa penggugat berkata, “Dan aku meminta kepada hakim agar mewajibkan tergugat untuk menyerahkan hakku kepadaku,” terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى، لِأَنَّ الْمَقْصُودُ بِالتَّحَاكُمِ إِلَيْهِ، وَإِلَّا كَانَ خَبَرًا.

Salah satunya: dipertimbangkan dalam keabsahan gugatan, karena yang dimaksud adalah untuk dijadikan tempat berhukum, jika tidak maka itu hanya berupa berita.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُعْتَبَرُ، لِأَنَّ شَاهِدَ الْحَالِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، فَاعْتُبِرَ.

Pendapat kedua: Tidak dianggap, karena keadaan yang menyertainya menunjukkan hal itu, maka dianggap.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مَا فِي الذِّمَّةِ غَيْرَ ذِي مِثْلٍ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila yang ada dalam tanggungan bukan sesuatu yang memiliki padanan, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الشَّرْعُ مَانِعًا مِنْ ثُبُوتِهِ فِي الذِّمَّةِ، كَاللُّؤْلُؤِ، وَالْجَوْهَرِ، فَلَا تَصِحُّ دَعْوَى عَيْنِهِ، لِأَنَّها لَا يَصِحُّ ثُبُوتُهَا فِي الذِّمَّةِ إِلَّا أَنْ يَقْصِدَ بِالدَّعْوَى ثُبُوتَ عِوَضِهَا، لِأَنَّها مَغْصُوبَةٌ، فَتَصِحُّ دَعْوَاهَا بِذِكْرِ قِيمَتِهَا، أَوْ تَكُونَ عَنْ سَلَمٍ فَاسِدٍ، فَتَكُونُ الدَّعْوَى بِرَدِّ ثَمَنِهَا، وَيَكُونُ ذِكْرُهَا إِخْبَارًا عَنِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِعِوَضِهَا.

Salah satunya adalah: apabila syariat melarang penetapannya dalam tanggungan, seperti mutiara dan permata, maka tidak sah klaim atas bendanya, karena tidak sah penetapannya dalam tanggungan, kecuali jika yang dimaksud dalam klaim adalah penetapan kompensasinya, karena ia merupakan barang yang digasap, maka sah klaim atasnya dengan menyebutkan nilainya, atau terjadi pada akad salam yang rusak, maka klaimnya berupa pengembalian harganya, dan penyebutannya merupakan pemberitahuan tentang sebab yang mewajibkan kompensasinya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَصِحَّ فِي الشَّرْعِ ثُبُوتُهُ فِي الذِّمَّةِ، وَذَلِكَ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu sesuatu yang secara syariat sah untuk ditetapkan sebagai tanggungan, dan hal itu ditinjau dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: فِي السَّلَمِ أَنْ يَكُونَ مَعْقُودًا عَلَى ثِيَابٍ، فَيَلْزَمُهُ فِي صِحَّةِ دَعْوَاهَا شَرْطَانِ:

Salah satunya: dalam akad salam yang dilakukan atas pakaian, maka untuk sahnya klaim tersebut harus terpenuhi dua syarat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَصِفَهَا بِأَوْصَافِهَا الْمُسْتَحَقَّةِ فِي عَقْدِ السَّلَمِ.

Salah satunya adalah menyifatinya dengan sifat-sifat yang memang seharusnya ada pada akad salam.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهَا عَنْ عَقْدِ سَلَمٍ، يَذْكُرُ فِيهِ الشُّرُوطَ الْمُعْتَبَرَةَ فِي صِحَّةِ السَّلَمِ.

Syarat kedua: harus disebutkan bahwa transaksi tersebut adalah akad salam, dengan menyebutkan di dalamnya syarat-syarat yang dianggap sah dalam akad salam.

ثُمَّ يَذْكُرُ بَعْدَهَا مَا يُوجِبُهُ مَقْصُودُ الدَّعْوَى فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ أَنَّهُ عَنْ سَلَمٍ، لَمْ تَصِحَّ دَعْوَى أَعْيَانِهَا، لِأَنَّها قَدْ تَكُونُ مَغْصُوبَةً تُوجِبُ غُرْمَ قِيمَتِهَا، فَيَلْزَمُهُ مَعَ ذِكْرِ الصِّفَةِ أَنْ يَذْكُرَ الْقِيمَةَ.

Kemudian setelah itu ia menyebutkan apa yang diwajibkan oleh maksud gugatan; jika ia tidak menyebutkan bahwa itu adalah dari akad salam, maka gugatan atas barang-barangnya tidak sah, karena bisa jadi barang-barang itu merupakan barang rampasan yang mewajibkan penggantian nilainya. Maka, bersamaan dengan penyebutan sifatnya, ia juga harus menyebutkan nilainya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: الْإِبِلُ الْمُسْتَحَقَّةُ فِي الدِّيَةِ وَالْغُرَّةُ الْمُسْتَحَقَّةُ فِي الْجَنِينِ، فَلَا يَلْزَمْهُ صِفَتُهَا فِي دَعْوَاهُ، لِأَنَّ أَوْصَافَهَا مُسْتَحَقَّةٌ بِالشَّرْعِ، وَصِحَّةِ الدَّعْوَى فِيهَا مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Penjelasan kedua: unta yang menjadi hak dalam diyat dan ghurrah yang menjadi hak dalam kasus janin, maka tidak wajib baginya menyebutkan sifat-sifatnya dalam gugatan, karena sifat-sifat tersebut telah ditetapkan oleh syariat, dan keabsahan gugatan dalam hal ini dipertimbangkan dengan tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهَا عَنْ جِنَايَةٍ يَصِفُهَا بِعَمْدٍ، أَوْ خَطَأٍ، لِاخْتِلَافِ صِفَاتِهَا بِالْعَمْدِ، وَالْخَطَأِ، وَهِيَ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَى الْجَانِي فِي الْعَمْدِ، وَفِي الْخَطَأِ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَى الْعَاقِلَةِ.

Salah satunya: menyebutkan bahwa diyat itu karena suatu tindak pidana yang dijelaskan apakah disengaja atau tidak disengaja, karena perbedaan sifatnya antara yang disengaja dan yang tidak disengaja. Diyat itu menjadi kewajiban pelaku dalam kasus yang disengaja, sedangkan dalam kasus yang tidak disengaja menjadi kewajiban ‘āqilah.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهَا عَلَى حُرٍّ، لِأَنَّ الْإِبِلَ لَا تُسْتَحَقُّ فِي الْجِنَايَةِ عَلَى الْعَبْدِ، وَأَنَّ الْمُجْهِضَةَ لِجَنِينِهَا حُرَّةٌ، لِأَنَّ الْغُرَّةَ لَا تُسْتَحَقُّ فِي جَنِينِ الْأَمَةِ.

Kedua: harus disebutkan bahwa diyat tersebut atas seorang yang merdeka, karena unta tidak berhak diberikan sebagai diyat dalam kasus jinayah terhadap seorang budak; dan bahwa wanita yang mengalami keguguran janinnya adalah wanita merdeka, karena ghurrah tidak berhak diberikan atas janin seorang budak perempuan.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَذْكُرَ مَا وَصَفْنَا فِيهِ الْجِنَايَةَ مِنْ نَفْسٍ، أَوْ طَرَفٍ، أَوْ جِرَاحٍ تَقَدَّرَتْ دِيَتُهُ بِالشَّرْعِ، كَالْمُوَضِّحَةِ، وَالْجَائِفَةِ، فَتَكُونُ الْمُطَالَبَةُ بِالدَّعْوَى عَفْوًا عَنِ الْقِصَّاصِ، فَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ فِيمَا لَا تَتَقَدَّرُ دِيَتُهُ بِالشَّرْعِ، كَانَتْ دَعْوَاهُ مَقْصُورَةً عَلَى وَصْفِ الْجِنَايَةِ، وَلَمْ تَصِحَّ دَعْوَاهُ، بِقَدْرِ أَرْشِهَا لِأَنَّها مُقَدَّرَةٌ بِحُكْمِ الْحَاكِمِ، وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى عَبْدٍ اسْتَحَقَّ فِيهَا الْقِيمَةَ فَيَذْكُرُ قَدْرَ قِيمَتِهِ لِيَعْلَمَ بِهَا دِيَةَ نَفْسِهِ وَأَطْرَافِهِ.

Ketiga: Yaitu menyebutkan, sebagaimana telah kami jelaskan, tindak pidana yang terjadi pada jiwa, anggota tubuh, atau luka-luka yang diyatnya telah ditetapkan oleh syariat, seperti luka muwaḍḍiḥah dan ja’ifah. Maka tuntutan dalam gugatan adalah berupa permintaan maaf dari qishāsh. Jika tindak pidana tersebut mengenai sesuatu yang diyatnya tidak ditetapkan oleh syariat, maka gugatannya terbatas pada uraian tentang tindak pidana tersebut, dan tidak sah jika ia menuntut sebesar nilai arsy-nya, karena nilainya ditetapkan berdasarkan keputusan hakim. Jika tindak pidana tersebut menimpa seorang budak sehingga yang berhak diperoleh adalah nilai budak tersebut, maka ia harus menyebutkan besaran nilainya agar dapat diketahui diyat jiwa dan anggota tubuhnya.

وَإِنْ كَانَتْ فِي جَنِينِ أَمَةٍ، ذَكَرَ فِي الدَّعْوَى قَدْرَ قِيمَتِهَا، لِأَنَّ فِي جَنِينِ الْأَمَةِ عُشْرُ قِيمَتِهَا، ثُمَّ تُسْتَوْفَى شُرُوطُ الْمَقْصُودِ بِالدَّعْوَى فَهَذَا حُكْمُ دَعْوَى الِاسْتِحْقَاقِ.

Dan jika (hak) itu berkaitan dengan janin dari seorang budak perempuan, maka dalam gugatan disebutkan nilai (harga) budak perempuan tersebut, karena pada janin budak perempuan terdapat sepersepuluh dari nilainya. Kemudian dipenuhi syarat-syarat yang dimaksud dalam gugatan. Inilah hukum gugatan istihqāq (gugatan kepemilikan).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا دَعْوَى الِاعْتِرَاضِ فَضَرْبَانِ:

Adapun klaim keberatan itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَى مَا فِي يَدِهِ.

Salah satunya adalah dengan memperhatikan apa yang ada di tangannya.

وَالثَّانِي: إِلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ.

Dan yang kedua: kepada apa yang berkaitan dengan tanggungannya.

فَأَمَّا تَوَجُّهُ الدَّعْوَى إِلَى مَا فِي يَدِهِ، فَلَا تَكُونُ إِلَّا بَعْدَ مُعَارَضَتِهِ، فَإِنْ كَانَتِ الْمُعَارَضَةُ بِمَا لَا يُسْتَضَرُّ بِهِ الْمُدَّعِي لَمْ تَصْحَّ الدَّعْوَى مِنْهُ.

Adapun diarahkan gugatan kepada apa yang ada di tangannya, maka hal itu tidak terjadi kecuali setelah adanya perlawanan darinya. Jika perlawanan tersebut dengan sesuatu yang tidak merugikan penggugat, maka gugatan darinya tidak sah.

وَإِنْ كَانَتْ بِمَا يُسْتَضَرُّ بِهِ الْمُدَّعِي إِمَّا بِمَدِّ الْيَدِ إِلَى مِلْكِهِ، وَإِمَّا بِمَنْعِهِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ وَإِمَّا بِمُلَازَمَتِهِ عَلَيْهِ، أَوْ بِقَطْعِهِ عَنْ أَشْغَالِهِ صَحَّتْ دَعْوَاهُ بِخَمْسَةِ شُرُوطٍ:

Dan jika hal itu menyebabkan mudarat bagi penggugat, baik dengan menjulurkan tangan ke miliknya, atau dengan mencegahnya dari melakukan tindakan atas miliknya, atau dengan terus-menerus mengganggunya, atau dengan memutusnya dari pekerjaannya, maka gugatan tersebut sah dengan lima syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَصِفَ الْمِلْكَ بِمَا يَصِيرُ بِهِ متعينا منقول وَغَيْرَ مَنْقُولٍ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ.

Salah satunya: menyifati kepemilikan dengan sesuatu yang menjadikannya tertentu, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَهُ وَفِي مِلْكِهِ، لِأَنَّ مَا لَا يَمْلِكُهُ، أَوْ لَمْ يَسْتَتِبُّهُ مَالِكُهُ فِيهِ لَا يُمْنَعُ من المعارضة فيه.

Kedua: Sesungguhnya itu adalah miliknya dan berada dalam kepemilikannya, karena sesuatu yang bukan miliknya, atau yang pemiliknya belum sepenuhnya menguasainya, tidak dilarang untuk diperselisihkan di dalamnya.

والثالث: أن يذكر المعارض لَهُ بِالْإِشَارَةِ إِلَيْهِ، إِنْ كَانَ حَاضِرًا، أَوْ بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ إِنْ كَانَ غَائِبًا.

Ketiga: menyebut pihak yang menentang dengan isyarat kepadanya jika ia hadir, atau dengan nama dan nasabnya jika ia tidak hadir.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يذكر المعارضة هَلْ هِيَ فِي الْمِلْكِ، أَوْ فِي نَفْسِهِ؟ لِأَجْلِ الْمِلْكِ لِافْتِرَاقِهِمَا فِي الْحُكْمِ.

Keempat: Menyebutkan apakah pertentangan itu terjadi pada kepemilikan, atau pada zatnya sendiri? Karena keduanya berbeda dalam hukum.

وَالْخَامِسُ: أَنْ يذكر أنه عارضه بغير حق لأنه ربما استحق المعارضة بِرَهْنٍ، أَوْ إِجَارَةٍ حَتَّى لَا يَتَّقِيَ فِي دَعْوَاهُ مَا يَحْتَاجُ الْحَاكِمُ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُ لِيَعْدِلَ بِسُؤَالِهِ إِلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Kelima: Hendaknya disebutkan bahwa ia menentangnya tanpa hak, karena bisa jadi penentangan itu berhak dilakukan, misalnya karena rahn (gadai) atau ijarah (sewa), agar dalam gugatannya ia tidak menghindari hal-hal yang perlu ditanyakan oleh hakim, sehingga hakim dapat mengalihkan pertanyaannya kepada tergugat.

وَأَمَّا تَوَجُّهُ الدَّعْوَى إِلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ، لِأَنَّه قَدْ طُولِبَ بِمَا لَا يُسْتَحَقُّ عَلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَلْحَقْهُ بِالْمُطَالَبَةِ ضَرَرٌ، لَمْ تَصِحَّ الدَّعْوَى، وَإِنْ لَحِقَهُ بِهَا ضَرَرٌ، إِمَّا فِي نَفْسِهِ بِالْمُلَازِمَةِ، أَوْ فِي جَاهِهِ بِالْإِشَاعَةِ، وَإِمَّا فِي مَالِهِ بِالْمُعَارَضَةِ صَحَّتْ مِنْهُ الدَّعْوَى لِيَسْتَدْفِعَ بِهَا الضَّرَرَ وَصِحَّتُهَا مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Adapun diarahkan gugatan kepada apa yang berkaitan dengan tanggungannya, karena ia telah dituntut atas sesuatu yang tidak menjadi hak atasnya, maka jika tuntutan tersebut tidak menimbulkan mudarat baginya, gugatan itu tidak sah. Namun jika tuntutan itu menimbulkan mudarat baginya, baik pada dirinya karena harus selalu hadir, atau pada kehormatannya karena tersebarnya isu, atau pada hartanya karena adanya sengketa, maka gugatan darinya sah agar ia dapat menolak mudarat tersebut. Kesahihan gugatan ini bergantung pada tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَذْكُرَ مَا طُولِبَ بِهِ، إِمَّا مُفَسَّرًا، أَوْ مُجْمَلًا، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالدَّعْوَى مَا سِوَاهُ.

Salah satunya: menyebutkan apa yang dituntut, baik secara terperinci maupun secara global, karena yang dimaksud dengan gugatan adalah selain itu.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ عَلَيْهِ، لِأَنَّ الْمُطَالَبَةَ بِالْحَقِّ لَا تُرَدُّ.

Kedua: yaitu ia menyebutkan bahwa ia tidak memiliki kewajiban atasnya, karena tuntutan atas hak tidak dapat ditolak.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَذْكُرَ مَا اسْتَضَرَّ بِهِ، لِأَنَّ مَقْصُودَ الدَّعْوَى لِيَكُونَ الْكَفُّ عَنْهُ مُتَوَجِّهًا إِلَيْهِ، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِهَذِهِ الشُّرُوطِ مَا يَكْمُلُ بِهِ جَمِيعُ الدَّعَاوَى، سَأَلَ الْحَاكِمُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَهُ في الجواب، عن دعوى هذه المعارضة، ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Ketiga: Menyebutkan apa yang telah membahayakannya, karena tujuan dari gugatan adalah agar pencegahan terhadapnya dapat diarahkan kepadanya. Jika syarat-syarat ini disertai dengan hal-hal yang menyempurnakan seluruh gugatan, maka hakim akan menanyakan kepada tergugat, dan dalam menjawab gugatan tentang keberatan ini, tergugat memiliki tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَرِفَ بِجَمِيعِ مَا تضمنها فيمنعه الحاكم من معارضته.

Pertama: Jika ia mengakui seluruh isi yang terkandung di dalamnya, maka hakim mencegahnya untuk mengajukan sanggahan.

والحال الثانية: أن ينكر المعارضة فيخلي سبيله، فلا يمين عليه لأن لا يتعلق بالمعارضة اسْتِحْقَاقُ غُرْمٍ.

Keadaan kedua: yaitu ketika ia mengingkari adanya perlawanan, maka ia dibebaskan, dan tidak ada kewajiban sumpah atasnya karena perlawanan tersebut tidak menimbulkan hak untuk menuntut ganti rugi.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهُ يعارضه فِيهِ بِحَقٍّ يَصِفُهُ، فَيَصِيرُ مُدَّعِيًا بَعْدَ أَنْ كَانَ مُدَّعًى عَلَيْهِ، وَيَصِيرُ الْمُدَّعِي مُدَّعًى عَلَيْهِ، بَعْدَ أَنْ كَانَ مُدَّعِيًا. فَهَذَا الْكَلَامُ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى، وَإِنْ تَضَمَّنَتْ ضُرُوبًا أَغْفَلْنَاهَا اقْتِصَارًا وَتَعْوِيلًا بِهَا عَلَى اعْتِبَارِ مَا بَيَّنَاهُ.

Keadaan ketiga: yaitu ketika ia menyebutkan bahwa ia menentangnya dalam perkara tersebut dengan suatu hak yang ia jelaskan, maka ia menjadi pihak yang mengklaim (mudda‘ī) setelah sebelumnya ia adalah pihak yang diklaim (mudda‘ā ‘alayh), dan pihak yang semula mengklaim (mudda‘ī) menjadi pihak yang diklaim (mudda‘ā ‘alayh) setelah sebelumnya ia adalah pihak yang mengklaim. Inilah pembahasan tentang sahnya gugatan, meskipun di dalamnya terdapat beberapa bentuk lain yang kami abaikan demi ringkasan dan bersandar pada apa yang telah kami jelaskan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الدَّعْوَى الْفَاسِدَةُ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun gugatan yang batil terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا عَادَ فَسَادُهُ إِلَى الْمُدَّعِي.

Salah satunya: yaitu perkara yang kerusakannya kembali kepada pihak yang mengklaim.

وَالثَّانِي: مَا عَادَ فَسَادُهُ إِلَى الشَّيْءِ الْمُدَّعَى.

Kedua: yaitu apa yang kerusakannya kembali kepada perkara yang didakwakan.

وَالثَّالِثُ: مَا عَادَ فَسَادُهُ إِلَى سَبَبِ الدَّعْوَى.

Ketiga: yaitu apa yang kerusakannya kembali kepada sebab gugatan.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ فِي عَوْدِ فَسَادِهِ إِلَى الْمُدَّعِي، فَكَمُسْلِمٍ ادَّعَى نِكَاحَ مَجُوسِيَّةٍ أَوْ حُرٍّ وَاجِدٍ الطَّوْلَ ادَّعَى نِكَاحَ أَمَةٍ، فَهَذِهِ دَعْوَى فَاسِدَةٌ، لِأَنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَنْكِحَ مَجُوسِيَّةً، وَالْوَاجِدُ الطَّوْلِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْكِحَ أَمَةً، فَبَطَلَتْ دَعْوَاهُ لِامْتِنَاعِ مَقْصُودِهَا فِي حَقِّهِ، فَلَمْ يَكُنْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَسْمَعَهَا مِنْهُ.

Adapun jenis pertama, yaitu jika kerusakan (fasad) kembali kepada pihak penggugat, contohnya adalah seorang Muslim yang mengaku telah menikahi seorang perempuan Majusi, atau seorang laki-laki merdeka yang mampu (mampu membayar mahar dan nafkah) mengaku telah menikahi seorang budak perempuan. Maka ini adalah gugatan yang fasid (rusak/tidak sah), karena seorang Muslim tidak boleh menikahi perempuan Majusi, dan seorang laki-laki merdeka yang mampu tidak boleh menikahi budak perempuan. Maka gugatan tersebut batal karena tujuan yang dimaksudkan tidak mungkin terjadi baginya, sehingga hakim tidak boleh mendengarkan gugatan itu darinya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي: فِيمَا عَادَ فَسَادُهُ إِلَى الشَّيْءِ الْمُدَّعَى، فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun jenis kedua: yaitu pada perkara yang kerusakannya kembali kepada hal yang didakwakan, maka terbagi menjadi tiga jenis.

أَحَدُهَا: أَنْ يَدَّعِيَ مَا لَا تَقِرُّ عَلَيْهِ يَدٌ كَالْخَمْرِ، وَلَحْمِ الْخِنْزِيرِ، وَالسِّبَاعِ الضَّارِيَةِ، وَالْحَشَرَاتِ الْمُؤْذِيَةِ،. فَدَعَوَاهُ فَاسِدَةٌ، لِوُجُوبِ رَفْعِ الْيَدِ عَنْهَا فِي حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يَكُنْ لِلْحَاكِمِ، أَنْ يَسْمَعَهَا مِنْ كَافَّةِ النَّاسِ.

Salah satunya: yaitu seseorang mengklaim sesuatu yang tidak diakui kepemilikannya, seperti khamr, daging babi, binatang buas yang berbahaya, dan serangga yang membahayakan. Maka klaimnya itu batal, karena wajib untuk menghilangkan kepemilikan atas barang-barang tersebut dalam hak-hak kaum Muslimin, sehingga hakim tidak boleh mendengarkan klaim tersebut dari siapapun.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَدَّعِي مَا تَقَرُّ عَلَيْهِ اليد، ولا تصح العارضة عَنْهُ كَجُلُودِ الْمَيِّتَةِ، وَالسِّرَاجِينِ، وَالسِّمَادِ، وَالنَّجِسِ، وَالْكِلَابِ الْمُعَلَّمَةِ، تَقِرُّ عَلَيْهَا الْيَدُ لِلِانْتِفَاعِ بِجُلُودِ الْمَيِّتَةِ، إِذَا دُبِغَتْ، وَبِالسَّمَادِ، وَالسِّرَاجِينِ فِي الزُّرُوعِ، وَالشَّجَرِ، وَالْكِلَابِ فِي الصَّيْدِ، وَالْمَوَاشِي، وَاخْتُلِفَ فِي الْيَدِ عَلَيْهَا إِذَا كَانَتِ الْجُلُودُ مِنْ أَمْوَاتِ حَيَوَانٍ، وَالسِّرَاجِينُ مِنْ أَرْوَاثِ بَهَائِمِهِ، هَلْ تَكُونُ يَدُ مِلْكٍ أَوْ يَدِ انْتِفَاعٍ؟ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Jenis kedua: yaitu seseorang mengklaim sesuatu yang telah dikuasai oleh tangan (kepemilikan), namun tidak sah untuk dipindahtangankan darinya, seperti kulit bangkai, pupuk kandang, kotoran najis, dan anjing terlatih. Tangan tetap di atasnya untuk mengambil manfaat dari kulit bangkai jika telah disamak, dari pupuk kandang dan kotoran untuk tanaman dan pepohonan, serta dari anjing untuk berburu dan menjaga ternak. Terdapat perbedaan pendapat mengenai status tangan atas barang-barang tersebut jika kulit berasal dari bangkai hewan, dan pupuk kandang berasal dari kotoran hewan ternaknya: apakah tangan tersebut merupakan tangan kepemilikan atau tangan pemanfaatan? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: إِنَّهَا يَدُ انْتِفَاعٍ لَا يَدُ مِلْكٍ لخروجها عن معارضة الْأَمْلَاكِ.

Salah satunya: Sesungguhnya itu adalah tangan pemanfaatan, bukan tangan kepemilikan, karena keluar dari pertentangan kepemilikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهَا يَدُ مِلْكٍ لِأَنَّه أَحَقُّ بِهَا كَسَائِرِ الْأَمْوَالِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya itu adalah tangan kepemilikan karena ia lebih berhak atasnya seperti halnya harta-harta yang lain.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنَّ مَا كَانَ مِنْهَا مِلْكًا يُعْتَاضُ عَنْهُ، وَيَصِيرُ فِي الثَّانِي يُعْتَاضُ عَنْهُ كَجُلُودِ الْمَيْتَةِ كَانَتِ الْيَدُ عَلَيْهَا يَدُ مِلْكٍ اعتبارا بالطرفين وما خرج عن أملاك المعارضة فِي طَرَفَيْهِ، كَالْكِلَابِ، وَالْأَنْجَاسِ، كَانَتِ الْيَدُ عَلَيْهَا يَدُ انْتِفَاعٍ لَا يَدَ مِلْكٍ فَإِذَا تَوَجَّهَتِ الدَّعْوَى إِلَى شَيْءٍ مِنْ هَذَا، لَمْ يَخْلُ مِنْ أَنْ يَكُونَ بَاقِيًا أَوْ تَالِفًا.،

Adapun penjelasan yang ketiga: Sesungguhnya sesuatu yang merupakan milik yang dapat diganti, lalu pada keadaan kedua juga dapat diganti, seperti kulit bangkai, maka kepemilikan atasnya adalah kepemilikan secara hak milik, dengan mempertimbangkan kedua sisinya. Adapun yang keluar dari kategori milik yang dapat dipertukarkan pada kedua sisinya, seperti anjing dan benda-benda najis, maka kepemilikan atasnya adalah kepemilikan untuk mengambil manfaat, bukan kepemilikan secara hak milik. Maka apabila gugatan diarahkan kepada sesuatu dari hal-hal tersebut, tidak lepas dari kemungkinan bahwa benda itu masih ada atau sudah rusak.

فَإِنْ كَانَ تَالِفًا كَانَتِ الدَّعْوَى فِيهِ بَاطِلَةً، لِأَنَّه لَا يُسْتَحَقُّ بِتَلَفِهَا مِثْلٌ، وَلَا قِيمَةٌ، وَإِنْ كانت باقية لم يخل أن يدعيها بمعارضة، أَوْ غَيْرِ مُعَاوِضَةٍ.

Jika barang tersebut telah rusak, maka gugatan atasnya batal, karena dengan kerusakannya tidak dapat dituntut gantinya, baik berupa barang sejenis maupun nilai. Namun jika barang tersebut masih ada, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia menuntutnya dengan imbalan atau tanpa imbalan.

فَإِنِ ادَّعَاهَا بِمُعَاوَضَةٍ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا، كَانَتِ الدَّعْوَى فَاسِدَةٌ، لِأَنَّها لَا تُمْلَكُ بِالِابْتِيَاعِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَدْ دَفَعَ ثَمَنَهَا، فَتَكُونُ دَعْوَاهُ مُتَوَجِّهَةً إِلَى الثَّمَنِ إِنْ طَلَبَهُ، وَيَكُونُ ذِكْرُ ابْتِيَاعِهَا إِخْبَارًا عَنِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِاسْتِرْجَاعِ الثَّمَنِ بِهِ، وَإِنِ ادَّعَاهَا بِغَيْرِ مُعَاوَضَةٍ فَقَدْ تَصِحُّ دَعْوَاهَا فِي أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Jika ia mengklaimnya dengan dasar mu‘āwaḍah, yaitu bahwa ia membelinya, maka klaim tersebut batal, karena barang itu tidak dapat dimiliki dengan pembelian kecuali jika ia telah membayar harganya. Maka klaimnya diarahkan kepada harga jika ia menuntutnya, dan penyebutan pembelian itu merupakan pemberitahuan tentang sebab yang mewajibkan pengembalian harga tersebut. Namun, jika ia mengklaimnya tanpa mu‘āwaḍah, maka klaimnya dapat sah dalam salah satu dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ تُغْصَبَ مِنْهُ، فَتَصِحُّ دَعْوَى غَصْبِهَا.

Salah satunya: jika barang itu dirampas darinya, maka gugatan atas perampasan tersebut adalah sah.

وَالثَّانِي: أَنْ يُوصِيَ بِهَا، فَتَصِحُّ دَعْوَى الْوَصِيَّةِ بِهَا.

Kedua: jika ia mewasiatkan harta tersebut, maka klaim wasiat atasnya adalah sah.

وَالثَّالِثُ: أَنْ تُوهَبَ لَهُ، فَتَصِحُّ دَعْوَى هِبَتِهَا.

Ketiga: jika diberikan kepadanya sebagai hibah, maka klaim hibahnya sah.

فَإِنْ أَطْلَقَ الدَّعْوَى وَلَمْ يُفَسِّرْهَا، بِمَا تَصِحُّ بِهِ أَوْ تَفْسُدَ، فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيمَا يَكُونُ مِنَ الْحَاكِمِ فِيهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika seseorang mengajukan gugatan secara umum tanpa menjelaskannya, apakah gugatan itu sah atau batal, maka para ulama berbeda pendapat mengenai tindakan yang harus diambil oleh hakim dalam hal ini menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَسْتَفْسِرُ لِيَعْمَلَ عَلَى تَفْسِيرِهِ فِي صِحَّتِهَا، وَفَسَادِهَا، لِأَنَّه مَنْدُوبٌ لِفَصْلِ مَا اشْتَبَهَ.

Salah satunya: ia meminta penjelasan agar dapat menetapkan hukum atas penjelasan tersebut, apakah sah atau batal, karena hal itu dianjurkan untuk menjelaskan perkara yang masih samar.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يُمْسِكَهُ مُتَوَقِّفًا عَنْهُمَا، وَلَا يَسْتَفْسِرَهُ إِيَّاهَا، ليكون هو المبتدىء بِتَفْسِيرِهَا، لِأَنَّ اسْتِيفَاءَ دَعْوَاهُ حَقٌّ لَهُ، يَقِفُ عَلَى خِيَارِهِ.

Pendapat kedua: hendaknya ia menahan diri dan tidak menanyakan kepada mereka, agar ia sendiri yang memulai penjelasannya, karena menyampaikan seluruh klaimnya adalah hak baginya, yang bergantung pada pilihannya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا تُقَرُّ عَلَيْهِ الْيَدُ مِلْكًا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَنْتَقِلَ مِنْ مَالِكٍ إِلَى مَالِكٍ كَالْوَقْفِ وَأُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ وَالدَّعْوَى فِيهِ عَلَى الْمَالِكِ فَاسِدَةٌ، لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهَا الْحَاكِمُ عَلَى مَالِكٍ لِاسْتِحَالَةِ انْتِقَالِهِ عَنْ مالكه إِلَى مِلْكِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ يَدَّعِيَ ابْتِيَاعَهُ لِاسْتِرْجَاعِ الثَّمَنِ، فَتَكُونُ الدَّعْوَى مُتَوَجِّهَةً إِلَى الثَّمَنِ وَيَكُونُ ذِكْرُ ابْتِيَاعِهِ إِخْبَارًا عَنِ السَّبَبِ.

Jenis ketiga: sesuatu yang kepemilikannya diakui, namun tidak boleh berpindah dari satu pemilik ke pemilik lain, seperti wakaf, umm al-walad, dan gugatan atasnya terhadap pemiliknya adalah gugatan yang rusak, tidak boleh didengar oleh hakim terhadap pemiliknya karena mustahil berpindahnya dari pemiliknya kepada milik orang lain, kecuali jika ia mengklaim telah membelinya untuk menuntut kembali harga (yang telah dibayarkan), maka gugatan itu diarahkan kepada harga tersebut dan penyebutan pembeliannya merupakan pemberitahuan tentang sebabnya.

وَيَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَ الْوَقْفَ وَأُمَّ الْوَلَدِ عَلَى غَاصِبِهَا، وَإِنْ لَمْ يَدَّعِيَا عَلَى مَالِكِهِمَا.

Dan boleh bagi wakaf dan umm al-walad untuk mengajukan gugatan terhadap orang yang merampasnya, meskipun keduanya tidak mengajukan gugatan terhadap pemiliknya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ: فِي الْأَصْلِ وَهُوَ مَا عَادَ فَسَادُهُ إِلَى سَبَبِ الدَّعْوَى وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ: عَقْدٌ – وَمُقْتَضَى عَقْدٍ:

Adapun jenis yang ketiga: berkaitan dengan asal, yaitu apa yang kerusakannya kembali kepada sebab gugatan, dan ini terbagi menjadi dua jenis: akad dan konsekuensi akad.

فَأَمَّا الْعَقْدُ فَكَالْبَيْعِ، إِذَا ادَّعَى مَا ابْتَاعَهُ وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: صَحِيحٌ وَمُتَّفَقٌ عَلَى فَسَادِهِ، وَمُخْتَلَفٌ فِيهِ:

Adapun akad, seperti jual beli, apabila seseorang mengklaim barang yang dibelinya, maka akad itu terbagi menjadi tiga jenis: akad yang sah, akad yang disepakati ke-batalannya, dan akad yang diperselisihkan keabsahannya.

فَإِنْ كَانَ الْبَيْعُ صَحِيحًا، صَحَّتِ الدَّعْوَى فِيهِ: إِذَا اسْتَوْفَى شُرُوطَهَا عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ.

Jika jual beli itu sah, maka gugatan di dalamnya pun sah, apabila telah memenuhi syarat-syaratnya sebagaimana yang akan kami sebutkan.

وَإِنْ كَانَ الْبَيْعُ مُتَّفَقًا عَلَى فَسَادِهِ كَبَيْعِ الْحَمْلِ فِي الْبَطْنِ، وَبَيْعِ الثَّمَرَةِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ، فَالدَّعْوَى فِيهِ بَاطِلَةٌ لَا يَسْمَعُهَا إِنْ طَلَبَ تَسْلِيمَ الْمَبِيعِ، وَيَسْمَعُهَا إِنْ طَلَبَ مُوجَبَهَا مِنْ رَدِّ الثَّمَنِ.

Jika jual beli tersebut telah disepakati keharamannya, seperti jual beli janin yang masih dalam kandungan, atau jual beli buah sebelum buah itu ada, maka gugatan atasnya adalah batal dan tidak diterima jika yang diminta adalah penyerahan barang yang dijual. Namun, gugatan itu diterima jika yang diminta adalah konsekuensi dari jual beli tersebut, yaitu pengembalian harga.

وَإِنْ كَانَ الْمَبِيعُ مُخْتَلَفًا فِيهِ كَبَيْعِ الْعَيْنِ الْغَائِبَةِ، يَسْمَعُهَا لِيَحْكُمَ فِيهَا بِمَا يؤدي إليه اجتهاده، ومن صِحَّةِ الْبَيْعِ، وَتَسْلِيمِ الْمَبِيعِ، أَوْ يَحْكُمَ بِفَسَادِهِ ورد الثمن.

Dan jika objek yang dijual merupakan perkara yang diperselisihkan hukumnya, seperti penjualan barang yang tidak hadir, maka ia mendengarkan (keterangan) agar dapat memutuskan perkara tersebut sesuai dengan hasil ijtihadnya, baik mengenai keabsahan jual beli, penyerahan barang yang dijual, atau memutuskan batalnya jual beli dan mengembalikan harga.

وكذلك الحكم في عقود الإجازات، وَالْمَنَاكِحِ، وَالرُّهُونِ.

Demikian pula hukum dalam akad-akad ijarah, pernikahan, dan rahn.

وَأَمَّا نَقْصُ الْعَقْدِ فَكَالشُّفْعَةِ، وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مُسْتَحَقَّةٌ، وَبَاطِلَةٌ وَمُخْتَلَفٌ فِيهَا. فَأَمَّا الْمُسْتَحَقَّةُ: فَشُفْعَةُ الْخُلْطَةِ تَصِحُّ دَعْوَاهَا بَعْدَ اسْتِيفَاءِ شُرُوطِهَا وَأَمَّا الْبَاطِلَةُ فَالشُّفْعَةُ فِيمَا يُنْقَلُ مِنْ مَتَاعٍ، أَوْ حَيَوَانٍ فَلَا يَسْمَعُ الْحَاكِمُ مِمَّنْ مِنْهُ الدَّعْوَى.

Adapun kekurangan dalam akad, contohnya adalah syuf‘ah, yang terbagi menjadi tiga jenis: yang berhak, yang batil, dan yang diperselisihkan. Adapun yang berhak: maka syuf‘ah karena adanya percampuran (hak milik bersama) sah untuk diajukan setelah terpenuhinya syarat-syaratnya. Adapun yang batil adalah syuf‘ah pada barang-barang yang dapat dipindahkan, atau pada hewan, maka hakim tidak menerima gugatan syuf‘ah dari orang yang mengajukannya.

فَإِنْ جَهِلَ الْمُدَّعِي حُكْمَهَا أَخْبَرَهُ بِسُقُوطِ حَقِّهِ فِيهَا.

Jika penggugat tidak mengetahui hukumnya, maka diberitahukan kepadanya bahwa haknya dalam perkara tersebut gugur.

وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهَا فَشُفْعَةُ الْجَارِ، فَإِنْ كَانَ الْحَاكِمُ مِمَّنْ يَرَى وُجُوبَهَا سَمِعَ الدَّعْوَى فِيهَا، وَحَكَمَ بِهَا لِمُدَّعِيهَا، وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَرَى وُجُوبَهَا لَمْ يَسْمَعِ الدَّعْوَى فِيهَا بِخِلَافِ الْبَيْعِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ، لِأَنَّ فِي الْبَيْعِ عَقْدًا يَفْتَقِرُ إِلَى الْحَاكِمِ بِإِبْطَالِهِ فَلِذَلِكَ سَمِعَ فِيهِ الدَّعْوَى لِيَحْكُمَ بِإِبْطَالِهِ وَرَدِّ مَا تَقَابَضَاهُ، وَلَيْسَ هَذَا فِي الشُّفْعَةِ، لِأَنَّها مُجَرَّدُ دَعْوَى، يَبْطُلُ بِرَدِّهَا وَالْإِعْرَاضِ عَنْهَا، فَلِذَلِكَ مَا افْتَرَقَا.

Adapun perkara yang diperselisihkan di dalamnya adalah hak syuf‘ah bagi tetangga. Jika hakim termasuk orang yang berpendapat bahwa syuf‘ah itu wajib, maka ia mendengarkan gugatan tentangnya dan memutuskan hak syuf‘ah bagi yang menuntutnya. Namun jika hakim termasuk orang yang tidak berpendapat bahwa syuf‘ah itu wajib, maka ia tidak mendengarkan gugatan tentangnya. Hal ini berbeda dengan jual beli yang diperselisihkan, karena dalam jual beli terdapat akad yang membutuhkan keputusan hakim untuk membatalkannya. Oleh karena itu, gugatan dalam jual beli didengarkan agar hakim dapat memutuskan pembatalan akad dan mengembalikan apa yang telah dipertukarkan. Hal ini tidak berlaku dalam syuf‘ah, karena syuf‘ah hanyalah sekadar gugatan yang gugur dengan penolakan dan pengabaian terhadapnya. Oleh sebab itu, keduanya berbeda.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الدَّعْوَى الْمُجْمَلَةُ فَكَقَوْلِهِ: لِي عَلَيْهِ شَيْءٌ، فَالشَّيْءُ مَجْهُولٌ لِانْطِلَاقِهِ عَلَى كُلِّ مَوْجُودٍ مِنْ حَقٍّ وَبَاطِلٍ، وَصَحِيحٍ وَفَاسِدٍ، فَلَا يُسْمَعُ دَعْوَى الْمُجْمَلِ وَالْمَجْهُولِ، وَإِنْ سُمِعَ الْإِقْرَارُ، بِالْمُجَمَّلِ وَالْمَجْهُولِ.

Adapun gugatan yang bersifat mujmal (global/umum) adalah seperti ucapannya: “Saya memiliki sesuatu atas dirinya.” Maka kata “sesuatu” di sini tidak jelas, karena dapat mencakup segala sesuatu yang ada, baik yang benar maupun yang batil, yang sah maupun yang rusak. Oleh karena itu, gugatan yang mujmal dan tidak jelas tidak dapat diterima, meskipun pengakuan atas sesuatu yang mujmal dan tidak jelas dapat didengar.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الدَّعْوَى، وَالْإِقْرَارِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara da‘wā dan iqrar terletak pada dua aspek:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْمُدَّعِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ.

Salah satunya: bahwa pihak yang mengklaim tidak boleh mengajukan klaim terhadap sesuatu yang masih samar baginya.

وَالثَّانِي: إِنَّ مُدَّعِيَ الْمَجْهُولِ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، فَلَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ، وَالْمُقِرُّ مُقَصِّرٌ فِي حَقِّ غَيْرِهِ، فَأُضِرَّ بِهِ.

Kedua: Sesungguhnya orang yang mengklaim sesuatu yang tidak jelas telah lalai terhadap hak dirinya sendiri, maka klaimnya tidak didengar darinya. Sedangkan orang yang mengakui (sesuatu) telah lalai terhadap hak orang lain, sehingga ia menimbulkan mudarat bagi orang lain.

وَلَا يَلْزَمُ الْحَاكِمَ أَنْ يَسْتَفْسِرَهُ عَمَّا ادَّعَاهُ مِنْ مُجْمَلٍ، أَوْ مَجْهُولٍ، حتى يكون هو المبتدىء بِتَفْسِيرِهِ بِخِلَافِ مَا ذَكَرْنَا فِي الْوَجْهَيْنِ فِي اسْتِقْرَارِ الْمَقْصُودِ بِالدَّعْوَى، لِأَنَّ تِلْكَ مَعْلُومَةٌ سُئِلَ فِيهَا عَنْ مَقْصُودِهِ، وَهَذِهِ مَجْهُولَةٌ أَخْفَاهَا لِقَصْدِهِ، فإن قال له فسر ما أجهلت لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّه تَلْقِينٌ وَإِنْ قَالَ لَهُ إِنْ فَسَّرْتَ مَا أَجْمَلْتَ جَازَ لِأَنَّه اسْتِفْهَامٌ، وَالْحَاكِمُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُلَقِّنَ وَيَجُوزَ أَنْ يَسْتَفْهِمَ.

Tidak wajib bagi hakim untuk meminta penjelasan dari pihak yang mengajukan gugatan mengenai hal yang masih global atau tidak jelas yang dia klaim, sampai pihak tersebut sendiri yang memulai memberikan penjelasan, berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan pada dua keadaan dalam menetapkan maksud dari gugatan, karena pada kasus tersebut maksudnya sudah diketahui dan dia ditanya tentang maksudnya, sedangkan pada kasus ini maksudnya tidak diketahui karena ia sengaja menyembunyikannya. Jika hakim berkata kepadanya, “Jelaskan apa yang tidak kamu jelaskan,” maka itu tidak diperbolehkan karena termasuk membimbing (memberi petunjuk). Namun jika hakim berkata, “Jika kamu mau, jelaskan apa yang kamu sampaikan secara global,” maka itu diperbolehkan karena termasuk meminta penjelasan. Hakim tidak boleh membimbing, tetapi boleh meminta penjelasan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الدَّعْوَى النَّاقِصَةُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ: نُقْصَانُ صِفَةٍ، وَنُقْصَانُ شَرْطٍ. فَأَمَّا نُقْصَانُ الصِّفَةِ فَكَقَوْلِهِ: لِي عَلَيْهِ أَلْفُ دِرْهَمٍ، لَا يَصِفُهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهَا، وَلَا يَحْمِلَهَا عَلَى الْغَالِبِ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ فَإِنْ كَانَ إِطْلَاقُهَا فِي الْبَيْعِ مَحْمُولًا عَلَى الْغَالِبِ، لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ فِي الدَّعْوَى مِنْ غَيْرِهَا فَإِنْ كَانَتْ مِنْ ثَمَنِ مَبِيعٍ سَأَلَهُ عَنْهَا أَيْضًا، لِجَوَازِ أَنْ يُعْقَدَ بِغَيْرِهَا.

Adapun gugatan yang tidak lengkap terbagi menjadi dua jenis: kekurangan sifat dan kekurangan syarat. Adapun kekurangan sifat, contohnya adalah seseorang berkata: “Saya memiliki hak seribu dirham atasnya,” namun ia tidak menyebutkan sifatnya. Maka wajib baginya untuk menanyakan tentang hal itu, dan tidak boleh menganggapnya sesuai dengan mata uang yang umum di negeri tersebut. Jika dalam transaksi jual beli, penyebutan secara umum dapat dianggap sesuai dengan yang lazim, maka dalam gugatan bisa jadi bukan demikian. Jika seribu dirham itu merupakan harga dari barang yang dijual, maka ia juga harus menanyakannya, karena mungkin akadnya dilakukan dengan selain mata uang tersebut.

وَأَمَّا نُقْصَانُ الشَّرْطِ فَكَدَعْوَى عَقْدِ نِكَاحٍ، لَا يُذْكَرُ فِيهَا الْوَلِيُّ، أَوِ الشُّهُودُ فَلَا يَسْأَلُهُ الْحَاكِمُ عَنْ نُقْصَانِ الشرط، ويتوقف عن السماع، حتى يكون المبتدىء بِذِكْرِهِ، أَوْ لَا يَذْكُرُهُ فَيَطْرَحُهَا.

Adapun kekurangan syarat, seperti dalam gugatan akad nikah yang tidak disebutkan wali atau saksi di dalamnya, maka hakim tidak menanyakan tentang kekurangan syarat tersebut, dan ia menahan diri dari mendengarkan perkara itu, sampai pihak yang memulai menyebutkannya, atau jika tidak disebutkan maka gugatan tersebut ditolak.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْ نُقْصَانِ الصِّفَةِ، وَلَا يَسْأَلَهُ عَنْ نُقْصَانِ الشَّرْطِ: أَنَّ نُقْصَانَ الصِّفَةِ لَا يَتَرَدَّدُ ذِكْرُهُ بَيْنَ صِحَّةٍ وَفَسَادٍ، فَجَازَ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُ وَنُقْصَانُ الشَّرْطِ يَتَرَدَّدُ ذِكْرُهُ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالْفَسَادِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُ.

Perbedaan antara seseorang bertanya kepadanya tentang kekurangan sifat dan tidak bertanya kepadanya tentang kekurangan syarat adalah bahwa kekurangan sifat tidak diperselisihkan penyebutannya antara sah dan batal, maka boleh baginya untuk menanyakannya. Adapun kekurangan syarat, penyebutannya diperselisihkan antara sah dan batal, maka tidak boleh baginya untuk menanyakannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الدَّعْوَى الزَّائِدَةِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun gugatan tambahan itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ هَدْرًا غَيْرُ مُؤَثِّرَةٍ كَقَوْلِهِ: ابْتَعْتُ مِنْهُ هَذَا الْعَبْدَ فِي بَلَدِ كَذَا، أَوْ فِي سُوقِ كَذَا، فَلَا يُؤَثِّرُ فِي الدَّعْوَى وَيَطْرَحُ لِلْحَاكِمِ سَمَاعَهَا.

Salah satunya: tambahan itu dianggap tidak berpengaruh, seperti ucapannya: “Aku membeli budak ini darinya di negeri tertentu” atau “di pasar tertentu”, maka hal itu tidak berpengaruh dalam gugatan dan hakim dapat mengabaikan pendengarannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ تَأْكِيدًا كَقَوْلِهِ: ابْتَعْتُ هَذَا الْعَبْدَ عَلَى أَنِّي إِنْ وَجَدْتُ بِهِ عَيْبًا رَدَدْتُهُ، أَوْ عَلَى أَنَّ عَلَيْهِ أَنِّي أَسْتَحِقُّ دَرَكَهُ فَلَا يَمْنَعُ الْحَاكِمُ مِنْ سَمَاعِهَا، وَإِنْ لَمْ تَحْتَجِ الدَّعْوَى إِلَيْهَا بِمَا أَوْجَبَهُ الشَّرْعُ مِنْ رَدِّ الْعَيْبِ، وَدَرْكِ الْمُسْتَحَقِّ، لِأَنَّ التَّأْكِيدَ مُسْتَعْمَلٌ فِي الْعُقُودِ فَجَرَتِ الدَّعْوَى فِيهِ عَلَى المعهود.

Jenis kedua: yaitu apabila tambahan tersebut berupa penegasan, seperti ucapannya: “Aku membeli budak ini dengan syarat bahwa jika aku menemukan cacat padanya, aku akan mengembalikannya,” atau “dengan syarat bahwa atas dirinya aku berhak menuntut jaminan atasnya.” Maka hakim tidak melarang untuk mendengarkannya, meskipun gugatan tidak membutuhkan tambahan itu karena syariat telah mewajibkan pengembalian barang cacat dan jaminan atas hak yang harus dipenuhi. Sebab, penegasan memang digunakan dalam akad-akad, sehingga gugatan pun berjalan sesuai kebiasaan yang berlaku.

والضرب الثلث: أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ مُنَافِيَةٌ لِمُوجَبِ الدَّعْوَى.

Bagian ketiga: yaitu apabila tambahan tersebut bertentangan dengan konsekuensi dari gugatan.

كَقَوْلِهِ: ابْتَعْتُ هَذَا الْعَبْدَ بِأَلْفٍ إِنِ اسْتَقَالَنِي أَقَلْتُهُ، وَإِنْ رَدَّهَا عَلَيَّ فَسَخْتُهُ فَهَذِهِ الزِّيَادَةُ فِي الدَّعْوَى مُعْتَبَرَةٌ بِمَخْرَجِهَا مِنْهُ، فَإِنْ خَرَجَتْ مَخْرَجَ الْوَعْدِ بَعْدَ صِحَّةِ الْعَقْدِ، لَمْ تَمْنَعْ مِنْ صِحَّةِ الدَّعْوَى وَكَانَ ذِكْرُهَا حِكَايَةَ حَالٍ تَقِفُ عَلَى خِيَارِهِ، وَإِنْ خَرَجَتْ مَخْرَجَ الشَّرْطِ فِي الْعَقْدِ، أَبْطَلَ بِهَا الدَّعْوَى فَإِنْ قَصَدَ بِهَا تَمَلُّكَ الْمَبِيعِ لَمْ يَسْمَعْهَا وَإِنْ قَصَدَ بِهَا اسْتِرْجَاعَ الثَّمَنِ سَمِعَهَا.

Seperti ucapannya: “Aku membeli budak ini seharga seribu, jika dia meminta pembatalan kepadaku maka aku akan membatalkannya, dan jika dia mengembalikannya kepadaku maka aku akan membatalkannya.” Maka tambahan dalam gugatan ini dianggap berdasarkan dari mana ia keluar darinya. Jika tambahan itu keluar dalam bentuk janji setelah akad sah, maka hal itu tidak menghalangi sahnya gugatan dan penyebutannya hanyalah sebagai penjelasan keadaan yang bergantung pada pilihannya. Namun jika tambahan itu keluar dalam bentuk syarat dalam akad, maka hal itu membatalkan gugatan. Jika ia bermaksud dengan tambahan itu untuk memiliki barang yang dijual, maka tidak didengarkan; dan jika ia bermaksud untuk meminta kembali harga, maka didengarkan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الدَّعْوَى الْكَاذِبَةُ فَهِيَ الْمُسْتَحِيلَةُ: كَمَنِ ادَّعَى وَهُوَ بِمَكَّةَ أَنَّهُ نكح بالأمس فلانة بالبصرة.

Adapun dakwaan palsu adalah dakwaan yang mustahil, seperti seseorang yang berada di Makkah mengaku bahwa kemarin ia menikahi fulanah di Bashrah.

أو ادعى ألآنه وَرِثَ هَذَا الْعَبْدَ مِنْ أَبِيهِ وَقَدْ وُلِدَ بَعْدَ مَوْتِ أَبِيهِ.

Atau ia mengaku bahwa ia mewarisi budak ini dari ayahnya, padahal ia dilahirkan setelah kematian ayahnya.

أَوِ ادَّعَى أَنَّ فُلَانًا جَرَحَهُ هَذِهِ الْجِرَاحَةَ فِي يَوْمِهِ، وَفُلَانٌ غَائِبٌ إِلَى نَظَائِرِ هَذَا مِنَ الدَّعَاوَى الْمُمْتَنِعَةِ فَتَكُونُ كَاذِبَةً، يُقْطَعُ بِكَذِبِ مُدَّعِيهَا، لَا يَسْمَعُهَا الْحَاكِمُ، وَإِنْ صَدَّقَهُ الْخَصْمُ عَلَيْهَا لِاسْتِحَالَتِهَا، وَتَزُولُ بِهَا عَدَالَةُ الْمُدَّعِي لِلْعِلْمِ بِكَذِبِهِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Atau seseorang mengaku bahwa si Fulan telah melukainya dengan luka ini pada hari itu, padahal si Fulan sedang tidak ada di tempat, atau pengakuan-pengakuan lain yang serupa yang mustahil terjadi, maka pengakuan tersebut adalah dusta, dipastikan kebohongan orang yang mengakuinya, hakim tidak akan mendengarkannya, dan meskipun lawan sengketa membenarkannya, tetap tidak diterima karena kemustahilannya. Dengan demikian, hilanglah keadilan si pengaku karena telah diketahui kebohongannya. Dan hanya kepada Allah-lah taufik diberikan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا صَحَّ مَا ذَكَرْنَا مِنْ مُقَدِّمَاتِ هَذَا الباب، فالدعوى الصحيحة ممنوعة مِنْ كُلِّ جَائِزِ الْأَمْرِ فِيمَا يَدَّعِيهِ، عَلَى كُلِّ جَائِزِ الْأَمْرِ، فِيمَا يُدَّعَى عَلَيْهِ سَوَاءٌ عُرِفَ بَيْنَهُمَا مُعَامَلَةٌ، أَوْ لَمْ يُعْرَفْ، وَيُعْدِيهِ الْحَاكِمُ إِذَا اسْتَعْدَاهُ وَإِنْ جَلَّ قَدْرُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَتَصَوَّنَ.

Maka apabila telah terbukti apa yang telah kami sebutkan dari pendahuluan-pendahuluan bab ini, maka gugatan yang sah dilarang atas segala perkara yang mungkin terjadi dalam hal yang didakwakan, terhadap segala perkara yang mungkin terjadi dalam hal yang didakwakan kepadanya, baik diketahui adanya hubungan muamalah di antara keduanya maupun tidak diketahui, dan hakim wajib menghadirkan orang yang digugat apabila diminta, meskipun orang yang digugat itu memiliki kedudukan tinggi dan menjaga kehormatannya.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يُعْدِ بهِ عَلَى أَهْلِ الصِّيَانَةِ، فَلَا يَسْتَحْضِرْهُ الْحَاكِمُ، إِلَّا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ بَيْنَهُمَا مُعَامَلَةً، لِئَلَّا يَسْتَبْذِلَ أَهْلَ الصِّيَانَاتِ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ ” وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} فَأَمَرَهُ بِالتَّسْوِيَةِ وَتَرَكِ الْمَيْلِ.

Malik berkata: Tidak boleh menjadikan (kesaksian) orang-orang yang terjaga kehormatannya sebagai dasar (hukum), maka hakim tidak boleh memanggil mereka, kecuali jika diketahui bahwa di antara mereka ada hubungan muamalah, agar tidak merendahkan orang-orang yang terjaga kehormatannya. Nabi ﷺ bersabda: “Maafkanlah kesalahan orang-orang yang terhormat.” Namun, pendapat ini tidak benar, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” Maka Allah memerintahkannya untuk berlaku adil dan meninggalkan kecenderungan (berpihak).

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عَهْدِهِ إِلَى أبي موسى: آسي بين الناس في وجهك، وعدلك، ومجلسك، حتى لا يطمع شريف في حيفك، ولا ييأس ضَعِيفٌ فِي عَدْلِكَ.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata dalam suratnya kepada Abu Musa: Bersikaplah adil di hadapan manusia dalam penampilanmu, keadilanmu, dan tempat dudukmu, agar orang terpandang tidak berharap mendapatkan perlakuan zalim darimu, dan orang lemah tidak putus asa dari keadilanmu.

وَقَدِ احْتَكَمَ عَلِيُّ بْنُ أبي طالب عليه السلام وَيَهُودِيٌّ إِلَى شُرَيْحٍ فِي حَالِ خِلَافَتِهِ فَلَمْ يَمْتَنِعْ أَنْ يُسَاوِيَ فِي الْمُحَاكَمَةِ بَيْنَ الْيَهُودِيِّ، وَبَيْنَ نَفْسِهِ، وَلِأَنَّ خُمُولَ الْمُدَّعِي لَا يَمْنَعُ أَنْ يَكُونَ ذَا حَقٍّ، وَصِيَانَةُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لَا يَمْنَعُ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ حَقٌّ.

Ali bin Abi Thalib ra. pernah bersengketa dengan seorang Yahudi dan keduanya mengajukan perkara kepada Syuraih pada masa kekhalifahannya. Ia tidak menolak untuk diperlakukan setara dalam persidangan antara dirinya dan orang Yahudi tersebut. Sebab, rendahnya kedudukan penggugat tidak menghalangi kemungkinan ia memiliki hak, dan terjaganya kehormatan tergugat tidak menafikan kemungkinan adanya hak atas dirinya.

وَلِأَنَّ الْمُعَامَلَةَ لَا تَدُلُّ عَلَى بَقَاءِ الْحَقِّ، وَعَدَمُهَا لَا يَمْنَعُ مِنْ حُدُوثِ الْحَقِّ، فَلَمْ يَكُنْ لِاعْتِبَارِهَا فِي الدَّعَاوَى وَجْهٌ. وَالَّذِي يَجُوزُ أَنْ يَسْتَعْمِلَهُ الْحَاكِمُ فِي تَحَاكُمِ أَهْلِ الصِّيَانَةِ أَنْ يميزهم عن مجالس العامة، ويفرد لمحاكمتهم مجالسا خَاصًا يُصَانُونَ بِهِ، عَنْ بِذْلَةِ الْعَامَّةِ، يُجْمَعُ فِيهِ بَيْنَهُمْ، وَبَيْنَ خُصُومِهِمْ، فَلَا تُرَدُّ فِيهِ الدعوى ولا تبتذل فيه الصيانة.

Karena suatu transaksi tidak menunjukkan tetapnya hak, dan ketiadaannya tidak mencegah terjadinya hak, maka tidak ada alasan untuk mempertimbangkannya dalam perkara-perkara hukum. Yang boleh dilakukan oleh hakim dalam persidangan orang-orang yang terjaga kehormatannya adalah membedakan mereka dari majelis umum, dan menyediakan majelis khusus untuk mengadili mereka, sehingga mereka terjaga dari kerendahan majelis umum. Dalam majelis khusus itu, mereka dikumpulkan bersama lawan-lawan mereka, sehingga gugatan tidak ditolak dan kehormatan mereka tidak direndahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا ادَّعَى الرَّجُلُ الشَّيءَ فِي يَدَيِ الرَّجُلِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لِمَنْ هُوَ فِي يَدَيْهِ مَعَ يَمِينِهِ، لِأَنَّه أَقْوَى سَبَبًا فَإِنِ اسْتَوَى سَبَبُهُمَا فَهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ فَإِنْ أَقَامَ الَّذِي لَيْسَ فِي يَدَيْهِ الْبَيِّنَةَ قِيلَ لِصَاحِبِ الْيَدِ الْبَيِّنَةُ الَّتِي لَا تَجُرُّ إِلَى أَنْفُسِهَا بِشَهَادَتِهَا أَقْوَى مِنْ كَيْنُونَةِ الشَّيءِ فِي يَدَيْكَ وَقَدْ يَكُونُ فِي يَدَيْكَ مَا لَا تَمْلِكُهُ فَهُوَ لِفَضْلِ قُوَةِ سَبَبِهِ عَلَى سَبَبِكَ فَإِنْ أَقَامَ الْآخَرُ بَيِّنَةً قِيلَ قَدِ اسْتَوَيْتُمَا فِي الدَّعْوَى وَالْبَيِّنَةِ والذي الشَّيْءُ فِي يَدَيْهِ أَقْوَى سَبَبَا فَهُوَ لَهُ لِفَضْلِ قُوَةِ سَبَبِهِ وَهَذَا مُعْتَدِلٌ عَلَى أَصْلِ الْقِيَاسِ وَالسُنَّةِ عَلَى مَا قُلْنَا فِي رَجُلَيْنِ تَدَاعَيَا دَابَّةً وَأَقَامَ كلُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا دَابَّتُهُ نَتَجَهَا فَقَضَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلَّذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ قَالَ وَسَوَاءٌ التَّدَاعِيَ وَالْبَيِّنَةِ فِي النِّتَاجِ وَغَيْرِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila seseorang mengklaim suatu barang yang berada di tangan orang lain, maka yang tampak adalah barang itu milik orang yang memegangnya beserta sumpahnya, karena ia memiliki sebab yang lebih kuat. Jika sebab keduanya sama kuat, maka keduanya setara dalam perkara itu. Jika orang yang tidak memegang barang tersebut mendatangkan bayyinah (bukti yang jelas), dikatakan kepada pemilik barang: bayyinah yang tidak menguntungkan dirinya sendiri dengan kesaksiannya lebih kuat daripada sekadar keberadaan barang itu di tanganmu, karena bisa jadi ada barang di tanganmu yang bukan milikmu. Maka, hal itu karena keunggulan kekuatan sebabnya atas sebabmu. Jika pihak lain juga mendatangkan bayyinah, dikatakan: kalian berdua telah setara dalam klaim dan bayyinah, dan orang yang barang itu berada di tangannya memiliki sebab yang lebih kuat, maka barang itu menjadi miliknya karena keunggulan kekuatan sebabnya. Ini sejalan dengan prinsip qiyās dan sunnah, sebagaimana yang kami sebutkan tentang dua orang yang saling mengklaim seekor hewan dan masing-masing mendatangkan bayyinah bahwa hewan itu adalah hasil ternaknya, maka Rasulullah ﷺ memutuskan hewan itu untuk orang yang memegangnya. Ia berkata: sama saja antara klaim dan bayyinah dalam masalah hasil ternak maupun selainnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ مُجَرَّدَ الدَّعَاوَى فِي الْمُطَالَبَاتِ لَا يُحْكَمُ فِي فَصْلِهَا إِلَّا بِحُجَّةٍ تَقْتَرِنُ بِهَا، فحجة المدعي البينة على إثبات ما داعاه، وَحَجَّةُ الْمُدَّعَى 1 عَلَيْهِ الْيَمِينُ عَلَى نَفْيِ مَا أَنْكَرَهُ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ “.

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa sekadar klaim dalam tuntutan tidak dapat diputuskan kecuali dengan adanya hujjah yang menyertainya. Maka hujjah bagi pihak penggugat adalah bukti untuk menetapkan apa yang ia klaim, dan hujjah bagi pihak tergugat adalah sumpah untuk menolak apa yang ia sangkal, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Bukti itu atas pihak penggugat dan sumpah atas pihak tergugat.”

وروى الأعمش عن شفيق بْنِ وَائِلٍ عَنِ الْأَشْعَثِ قَالَ: كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ يَهُودِيٍّ أَرْضٌ فَجَحَدَنِي عَلَيْهَا، فَقَدَّمْتُهُ إِلَى النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: أَلَكَ بَيِّنَةٌ، فَقُلْتُ لَا. فَقَالَ لِلْيَهُودِيِّ: احْلِفْ. قُلْتُ: إِذَنْ يَحْلِفُ فَيَذْهَبُ بِمَالِي، فَنَزَلَ قَوْله تَعَالَى {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا} [آل عمران: 77] الآية، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِهَذَا الْخَبَرِ حُجَّةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

Al-A‘mash meriwayatkan dari Syafīq bin Wā’il dari al-Asy‘ats, ia berkata: Antara aku dan seorang Yahudi terdapat sebidang tanah, lalu ia mengingkariku atas tanah itu. Maka aku membawanya kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau memiliki bukti?” Aku menjawab: “Tidak.” Maka beliau berkata kepada orang Yahudi itu: “Bersumpahlah.” Aku berkata: “Kalau begitu, dia akan bersumpah lalu mengambil hartaku.” Maka turunlah firman Allah Ta‘ala: {Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…} (Ali ‘Imran: 77) hingga akhir ayat. Maka Rasulullah ﷺ dengan berita ini meniadakan hujjah (alasan pembenaran) bagi masing-masing dari keduanya.

وَرَوَى سماك عن علقمة بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ حَضْرَمَوْتَ أَتَى النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَمَعَهُ رَجُلٌ مِنْ كِنْدَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هَذَا غَلَبَنِي عَلَى أَرْضٍ كَانَتْ لِأَبِي فَقَالَ الْكِنْدِيُّ: أَرْضِي، وَفِي يَدِي ازْرَعُهَا، لا حق له فيها. فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ: أَلَكَ بَيِّنَةٌ، قَالَ: لَا. فَقَالَ: لَكَ يَمِينُهُ. فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ: إِنَّهُ فَاجِرٌ لَا يُبَالِي على ما حلف إنه لا يتورع من شَيْءٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَاكَ ” فَدَلَّ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Simaak meriwayatkan dari Alqamah bin Waa’il bin Hujr dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki dari Hadhramaut datang kepada Nabi ﷺ bersama seorang laki-laki dari Kindah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, orang ini telah menguasai tanah yang dulunya milik ayahku.” Orang Kindah itu berkata, “Itu tanahku, ada di tanganku, aku yang menggarapnya, dia tidak punya hak atasnya.” Maka Nabi ﷺ berkata kepada orang Hadhramaut, “Apakah engkau punya bayyinah (bukti)?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, bagimu hanya sumpahnya.” Orang Hadhramaut berkata, “Dia orang fajir, tidak peduli atas apa yang ia bersumpah, dia tidak takut terhadap apa pun.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Engkau tidak berhak darinya kecuali itu.” Hal ini menunjukkan seperti yang telah kami sebutkan.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنْ طَرِيقِ الْمَعْنَى إِنَّ الْبَيِّنَةَ أَقْوَى مِنَ الْيَمِينِ، لِزَوَالِ التُّهْمَةِ عَنِ الْبَيِّنَةِ وَتَوَجُّهِهَا إِلَى الْيَمِينِ.

Dan yang menunjukkan hal itu dari segi makna adalah bahwa bayyinah lebih kuat daripada sumpah, karena hilangnya tuduhan dari bayyinah dan tertuju kepada sumpah.

وَجَنَبَةُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَقْوَى مِنْ جَنَبَةِ الْمُدَّعِي، لِأَنَّ الدَّعْوَةَ إِنْ تَوَجَّهَتْ إِلَى مَا فِي يَدِهِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ عَلَى مِلْكِهِ، وَإِنْ تَوَجَّهَتْ إِلَى دَيْنٍ فِي ذِمَّتِهِ، فَالْأَصْلُ بَرَاءَةُ ذِمَّتِهِ، فَجُعِلَتْ أَقْوَى الْحُجَّتَيْنِ وَهِيَ الْبَيِّنَةُ فِي أَضْعَفِ الْجَنَبَتَيْنِ وَهِيَ الْمُدَّعِي، وَجُعِلَتْ أَضْعَفَ الْحُجَّتَيْنِ وَهِيَ الْيَمِينُ فِي أَقْوَى الْجَنَبَتَيْنِ وَهِيَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، لِتَكُونَ قُوَّةُ الْحُجَّةِ جُبْرَانًا، لِضَعْفِ الْجَنَبَةِ وَفِي الْجَنَبَةِ جُبْرَانًا لِضَعْفِ الْحُجَّةِ فَتَعَادَلَا فِي الضَّعْفِ وَالْقُوَّةِ.

Kedudukan tergugat lebih kuat daripada kedudukan penggugat, karena apabila gugatan ditujukan kepada sesuatu yang ada di tangannya, maka yang tampak adalah bahwa itu adalah miliknya. Dan apabila gugatan ditujukan kepada utang yang ada dalam tanggungannya, maka asalnya adalah tanggungannya bebas dari utang. Maka, dijadikanlah dalil yang paling kuat, yaitu bukti (bayyinah), pada pihak yang paling lemah, yaitu penggugat. Dan dijadikanlah dalil yang paling lemah, yaitu sumpah (yamin), pada pihak yang paling kuat, yaitu tergugat. Hal ini agar kekuatan dalil menjadi penyeimbang bagi kelemahan pihak, dan pada pihak yang kuat menjadi penyeimbang bagi kelemahan dalil, sehingga keduanya seimbang dalam kelemahan dan kekuatan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَعَيَّنَ الْمُدَّعِي، وَتَحَرَّرَتِ الدَّعْوَى، سَأَلَ الْحَاكِمُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، عَنِ الدَّعْوَى، وَلَمْ يَسْأَلِ الْمُدَّعِيَ عَنِ الْبَيِّنَةِ، لِأَنَّه قَدْ يُقِرُّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَلَا يُحْوَجُ إِلَى الْبَيِّنَةِ، فَإِنْ أَقَرَّ لَزِمَهُ إِقْرَارُهُ، وَأَخْذَهُ بِمُوجِبِهِ، وَقَدْ فَصَلَ الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا.

Apabila penggugat telah ditetapkan dan gugatan telah jelas, hakim menanyakan kepada tergugat tentang gugatan tersebut, dan tidak menanyakan kepada penggugat tentang bukti, karena bisa jadi tergugat mengakui, sehingga tidak diperlukan bukti. Jika tergugat mengakui, maka pengakuannya mengikatnya dan ia harus menerima konsekuensinya, serta perkara antara keduanya telah diputuskan.

وَإِنْ أَنْكَرَ سَأَلَ الْحَاكِمُ الْمُدَّعِي: أَلِكَ بَيِّنَةٌ؟ فَإِنْ ذَكَرَهَا أَمَرَهُ بإحضارها، فإن أُحْضِرَتْ سَمِعَ الْحَاكِمُ مِنْهَا وَحَكَمَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، بِهَا، وَقَدَّمَهَا عَلَى يَمِينِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لِأَمْرَيْنِ:

Jika terdakwa mengingkari, hakim akan bertanya kepada penggugat: “Apakah kamu memiliki bayyinah (alat bukti)?” Jika penggugat menyebutkannya, hakim memerintahkannya untuk menghadirkannya. Jika bayyinah itu dihadirkan, hakim mendengarkan keterangan darinya dan memutuskan perkara terhadap tergugat berdasarkan bayyinah tersebut, serta mendahulukannya atas sumpah tergugat karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدَّمَ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْيَمِينِ.

Salah satunya adalah bahwa Nabi ﷺ mendahulukan al-bayyinah atas sumpah.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْبَيِّنَةَ أَقْوَى مِنَ الْيَمِينِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kedua: Sesungguhnya bayyinah lebih kuat daripada sumpah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ التُّهْمَةَ مُنْتَفِيَةٌ عَنِ الْبَيِّنَةِ، لِأَنَّها لَا تَجُرُّ إِلَى نَفْسِهَا نَفْعًا، وَلَا تَدْفَعُ ضَرَرًا، وَالتُّهْمَةُ مُتَوَجِّهَةٌ إِلَى يَمِينِ الْحَالِفِ، لِأَنَّه يَدْفَعُ بِهَا عَنْ نَفْسِهِ ضَرَرًا، وَيَجُرُّ بِهَا إِلَى نَفْسِهِ نَفْعًا.

Salah satunya: Bahwa tuduhan tidak berlaku pada bukti (bayyinah), karena bukti tidak memberikan manfaat kepada dirinya sendiri dan tidak menolak mudarat, sedangkan tuduhan tertuju pada sumpah orang yang bersumpah, karena dengan sumpah itu ia menolak mudarat dari dirinya dan menarik manfaat bagi dirinya.

وَالثَّانِي: إِنَ الْبَيِّنَةَ تَشْهَدُ بِتَصْرِيحِ الْمِلْكِ، وَتُوجِبُهُ، وَالْيَمِينُ تَدُلُّ عَلَيْهِ وَلَا تُوجِبُهُ.

Kedua: bahwa al-bayyinah memberikan kesaksian secara tegas atas kepemilikan dan menetapkannya, sedangkan sumpah hanya menunjukkan kepemilikan namun tidak menetapkannya.

وَإِنْ عَدِمَ الْمُدَّعِي الْبَيِّنَةَ سَأَلَ الْحَاكِمُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ الْحَلِفَ، وَلَمْ يَقُلْ لَهُ احْلِفْ، لِأَنَّ سُؤَالَهُ اسْتِفْهَامٌ. وَأَمْرُهُ تَلْقِينٌ، فَإِنْ حَلَفَ فَصَلَ الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا بِيَمِينِهِ، وَسَقَطَتِ الدَّعْوَى فَإِنْ نَكَلَ عَنِ اليمين لم يجبر عيها، وَتُرَدُّ يَمِينُهُ عَلَى الْمُدَّعِي، بَعْدَ اسْتِقْرَارِ نُكُولِهِ، وَلَا يُقْضَى عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، مِنْ غَيْرِ إِحْلَافِ الْمُدَّعِي، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يُقْضَى عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، مِنْ غَيْرِ إِحْلَافِ الْمُدَّعِي، وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ مَعَهُ، وَإِنِ امْتَنَعَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مِنَ الْيَمِينِ لِيُقِيمَ الْبَيِّنَةَ بَدَلًا مِنْ يَمِينِهِ نُظِرَ فِي الدَّعْوَى.

Jika penggugat tidak memiliki bayyinah, maka hakim meminta tergugat untuk bersumpah, dan tidak mengatakan kepadanya, “Bersumpahlah,” karena permintaan itu berupa pertanyaan klarifikasi, sedangkan perintah adalah bentuk pengajaran. Jika tergugat bersumpah, maka hakim memutuskan perkara di antara keduanya berdasarkan sumpahnya, dan gugatan pun gugur. Jika tergugat enggan bersumpah, ia tidak dipaksa untuk melakukannya, dan sumpahnya dikembalikan kepada penggugat setelah jelas keengganannya, dan tidak diputuskan atas tergugat hanya karena keengganan, tanpa penggugat bersumpah. Abu Hanifah berpendapat bahwa diputuskan atas tergugat karena keengganan, tanpa penggugat bersumpah, dan telah dijelaskan pembahasan bersamanya sebelumnya. Jika tergugat menolak bersumpah agar dapat menghadirkan bayyinah sebagai pengganti sumpahnya, maka perkara tersebut ditinjau kembali.

فَإِنْ كَانَتْ بِدَيْنٍ فِي الذِّمَّةِ لَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ لِأَنَّه نَفَى الدَّيْنَ بِإِنْكَارِهِ وَالْبَيِّنَةُ لَا تُسْمَعُ عَلَى النَّفْيِ وَقِيلَ لَهُ لَا بَرَاءَةَ لَكَ مِنَ الدَّعْوَى إِلَّا بِيَمِينِكَ. فَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى بِعَيْنٍ فِي يَدِهِ فَفِي سَمَاعِ بَيِّنَتِهِ بَدَلًا مِنْ يَمِينِهِ 14 وَجْهَانِ:

Jika tuntutan tersebut berupa utang dalam tanggungan, maka tidak diterima darinya bukti (bukti tidak didengar darinya), karena ia telah menafikan utang itu dengan pengingkarannya, dan bukti tidak diterima atas penafian. Dan dikatakan kepadanya: “Kamu tidak terbebas dari gugatan kecuali dengan sumpahmu.” Jika tuntutan itu berupa suatu barang yang ada di tangannya, maka dalam hal diterimanya bukti darinya sebagai pengganti sumpahnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ، لِأَنَّه لَا حَاجَةَ بِهِ إِلَيْهَا، وَيُسْتَغْنَى بِيَمِينِهِ عَنْهَا.

Salah satunya: kesaksiannya tidak didengar, karena tidak ada kebutuhan terhadapnya, dan cukup dengan sumpahnya tanpa memerlukan kesaksian tersebut.

وَالثَّانِي: تَسْمَعُ بَيِّنَتُهُ عَلَيْهَا وَتَرْتَفِعُ الدَّعْوَى بِهَا، وَتَكُونُ بَيِّنَتُهُ أَوْكَدُ مِنْ يَمِينِهِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ قَدْ جَمَعَتْ إِثْبَاتًا وَنَفْيًا، فَصَحَّ سَمَاعُهَا مِنْهُ فِي الْأَعْيَانِ لِمَا تَضَمَّنَهَا مِنَ الْإِثْبَاتِ، وَلَمْ يَسْمَعْهَا فِيمَا تَعَلَّقَ بِالذِّمَّةِ لِأَنَّها تَتَضَمَّنُ النَّفْيَ دُونَ الْإِثْبَاتِ.

Kedua: Kesaksiannya didengarkan atasnya dan gugatan dapat diajukan dengannya, dan kesaksiannya lebih kuat daripada sumpahnya, karena bukti (bayyinah) mengandung penetapan dan penafian sekaligus. Maka sah mendengarkannya darinya dalam perkara yang berkaitan dengan benda nyata karena di dalamnya terdapat unsur penetapan, namun tidak diterima dalam perkara yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) karena hanya mengandung penafian tanpa penetapan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: الْيَمِينُ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فَلَا تُنْقَلُ إِلَى الْمُدَّعِي، وَالْبَيِّنَةُ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَى الْمُدَّعِي، فَلَا تُنْقَلُ إِلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ. فَلِذَلِكَ قَضَى عَلَيْهِ بِنُكُولِهِ، وَلَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ الْمُدَّعِي وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ مَعَهُ.

Abu Hanifah berkata: Sumpah merupakan hak yang dibebankan kepada tergugat, sehingga tidak dipindahkan kepada penggugat. Sedangkan bukti merupakan hak yang dibebankan kepada penggugat, sehingga tidak dipindahkan kepada tergugat. Oleh karena itu, diputuskan atasnya karena penolakannya (untuk bersumpah), dan bukti tidak diterima darinya, serta penggugat tidak berselisih dengannya, dan pembahasan tentang hal ini akan dijelaskan kemudian.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِنْ أَقَامَ الْمُدَّعِي بَيِّنَتَهُ، وَأَقَامَ صَاحِبُ اليد بينة، سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ وَقَضَى بِبَيِّنَتِهِ عَلَى بَيِّنَةِ الْمُدَّعِي، لِفَضْلِ يَدِهِ فِي جَمِيعِ الْأَعْيَانِ سَوَاءٌ كَانَ الْمِلْكُ مُطْلَقًا، أَوْ مَذْكُورًا لِسَبَبٍ وَسَوَاءٌ فِيمَا ذُكِرَ سَبَبُهُ مِمَّا يَتَكَرَّرُ كَصِنَاعَةِ الْأَوَانِي، وَمَا يُنْتَجُ مِنَ الْخَزِّ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، لَوْ كَانَ مِمَّا لَا يَتَكَرَّرُ سَبَبُهُ كَالنِّتَاجِ، وَثِيَابِ الْقُطْنِ، وَالْكَتَّانِ، وَبِهِ قَالَ مَالكٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَقَالَ بِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ شُرَيْحٌ، وَالنَّخَعِيُّ، وَالْحَكَمُ بْنُ عُيَيْنَةَ.

Jika penggugat mengajukan bukti, dan pemilik barang juga mengajukan bukti, maka bukti pemilik barang yang didengar dan diputuskan berdasarkan buktinya atas bukti penggugat, karena keutamaan kepemilikannya atas seluruh benda, baik kepemilikan itu bersifat mutlak maupun disebutkan karena suatu sebab. Hal ini berlaku baik pada perkara yang sebabnya berulang seperti pembuatan peralatan, atau hasil dari kain sutra yang dihasilkan berulang kali, maupun pada perkara yang sebabnya tidak berulang seperti hasil ternak, pakaian katun, dan linen. Pendapat ini dipegang oleh Malik dari kalangan penduduk Madinah, dan juga oleh Syuraih, An-Nakha‘i, dan Al-Hakam bin ‘Uyainah dari kalangan penduduk Irak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ: إِنْ كَانَ التَّنَازُعُ فِي مِلْكٍ مُطْلَقٍ، أَوْ مِمَّا يَتَكَرَّرُ سَبَبُهُ لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ صَاحِبِ الْيَدِ، وَقُضِيَ بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي، وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَتَكَرَّرُ سُمِعَتْ بَيِّنَةُ صَاحِبِ الْيَدِ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا، وَسَمَّوُا الْمُدَّعِي خَارِجًا، وَصَاحِبَ الْيَدِ دَاخِلًا، فَقَالَ: تُسْمَعُ بَيِّنَةُ الْخَارِجِ، وَلَا تُسْمَعُ بَيِّنَةُ الدَّاخِلِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” فَأَضَافَ الْبَيِّنَةَ إِلَى جَنَبَةِ الْمُدَّعِي وَأَضَافَ الْيَمِينَ إِلَى جَنَبَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِحَذْفِ الْأَلِفِ وَاللَّامِ الْمُوجِبِ لِاسْتِغْرَاقِ الْجِنْسِ، فَاقْتَضَى أَنْ لَا تَنْتَقِلَ الْبَيِّنَةُ إِلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَا تَنْتَقِلُ الْيَمِينُ إِلَى الْمُدَّعِي.

Abu Hanifah dan para sahabatnya berkata: Jika terjadi perselisihan dalam kepemilikan mutlak, atau dalam hal yang sebabnya dapat berulang, maka kesaksian pemilik tangan tidak didengarkan, dan diputuskan berdasarkan kesaksian pihak penggugat. Namun, jika berkaitan dengan sesuatu yang sebabnya tidak berulang, maka kesaksian pemilik tangan didengarkan dalam seluruh keadaan. Mereka menyebut pihak penggugat sebagai “kharij” (pihak luar), dan pemilik tangan sebagai “dakhil” (pihak dalam). Maka dikatakan: kesaksian pihak luar didengarkan, dan kesaksian pihak dalam tidak didengarkan. Mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Bukti itu atas penggugat, dan sumpah atas yang tergugat.” Maka beliau mengaitkan bukti kepada pihak penggugat, dan mengaitkan sumpah kepada pihak tergugat, dengan menghilangkan alif dan lam yang menunjukkan keumuman jenis, sehingga menunjukkan bahwa bukti tidak berpindah kepada pihak tergugat, dan sumpah tidak berpindah kepada pihak penggugat.

وَلِأَنَّ الْيَمِينَ مُوجِبَةٌ لِلْمِلْكِ فَلَمْ يَسْتَفِدْ صَاحِبُ الْيَدِ بِالْبَيِّنَةِ مَا لَا يَسْتَفِيدُ بِيَدِهِ وَبَيِّنَةُ الْمُدَّعِي يُحْكَمُ بِهَا مَعَ يَدِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَوَجَبَ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا مَعَ بَيِّنَتِهِ، لِأَنَّ بَيِّنَتَهُ لَمْ تَعْدُ إِلَّا مَا أَفَادَتْهُ يَدُهُ، ثُمَّ الْيَدُ أَقْوَى مِنَ الْبَيِّنَةِ، لِأَنَّ الْيَدَ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ مُشَاهَدَةً وَالْبَيِّنَةُ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ اسْتِدْلَالًا فَافْتَرَقَا وَلِأَنَّه لَمَّا لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ الدَّاخِلِ فِي الدَّيْنِ لَمْ تُسْمَعْ فِي الْعَيْنِ لِاسْتِوَائِهِمَا فِي حَقِّ الْخَارِجِ فِي الْقَبُولِ، فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي حَقِّ الدَّاخِلِ فِي الرَّدِّ.

Karena sumpah itu menetapkan kepemilikan, maka pemilik barang tidak mendapatkan manfaat dari bukti (bayyinah) apa yang tidak bisa ia dapatkan dengan tangannya sendiri. Bukti (bayyinah) dari penggugat diputuskan bersamanya meskipun barang berada di tangan tergugat, maka seharusnya bukti itu juga diputuskan bersamanya jika disertai dengan bukti miliknya, karena bukti miliknya tidak menambah apa pun selain apa yang telah ditunjukkan oleh tangannya. Kemudian, kepemilikan (yad) lebih kuat daripada bukti (bayyinah), karena kepemilikan menunjukkan hak milik secara nyata, sedangkan bukti hanya menunjukkan hak milik melalui penalaran, sehingga keduanya berbeda. Dan karena ketika bukti orang yang berada dalam utang tidak diterima, maka bukti itu juga tidak diterima dalam perkara barang (ain), karena keduanya sama dalam hak orang luar dalam hal penerimaan, maka wajib keduanya juga sama dalam hak orang dalam dalam hal penolakan.

قَالُوا: وَلِأَنَّه لَمَّا لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ الدَّاخِلِ إِذَا لَمْ يُقِمِ الْخَارِجُ الْبَيِّنَةَ مَعَ قُوَّةِ الدَّاخِلِ، وَضَعْفِ الْخَارِجِ كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا تُسْمَعَ بَيِّنَةُ الدَّاخِلِ إِذَا أَقَامَ الْخَارِجُ الْبَيِّنَةَ مَعَ ضَعْفِ الدَّاخِلِ، وَقُوَّةِ الْخَارِجِ لِأَنَّ مَنْ لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَتُهُ مَعَ قُوَّتِهِ، كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا تُسْمَعَ مَعَ ضَعْفِهِ.

Mereka berkata: Karena ketika keterangan (bukti) pihak yang berada di dalam tidak diterima jika pihak yang berada di luar tidak dapat menghadirkan bukti, padahal pihak yang di dalam lebih kuat dan pihak yang di luar lebih lemah, maka lebih utama lagi keterangan pihak yang di dalam tidak diterima jika pihak yang di luar dapat menghadirkan bukti, sementara pihak yang di dalam lebih lemah dan pihak yang di luar lebih kuat. Sebab, siapa yang keterangannya tidak diterima ketika ia dalam posisi kuat, maka lebih utama lagi keterangannya tidak diterima ketika ia dalam posisi lemah.

وَدَلِيلُنَا رِوَايَةُ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلَيْنِ اخْتَصَمَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي دَابَّةٍ، أَوْ بَعِيرٍ، وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ بِنَتَجِهَا فَقَضَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلَّذِي هِيَ فِي يَدِهِ فَدَلَّ عَلَى قَبُولِ بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ، فَإِنْ قِيلَ فَبَيِّنَةُ الدَّاخِلِ فِي النِّتَاجِ مَقْبُولَةٌ.

Dan dalil kami adalah riwayat dari Jabir bahwa dua orang berselisih kepada Rasulullah ﷺ mengenai seekor hewan tunggangan atau unta, dan masing-masing dari mereka mendatangkan bayyinah bahwa hewan itu miliknya dengan hasil kelahiran hewan tersebut. Maka Rasulullah ﷺ memutuskan hewan itu untuk orang yang memegangnya. Ini menunjukkan diterimanya bayyinah dari pihak yang memegang (hewan tersebut). Jika dikatakan, maka bayyinah dari pihak yang memegang dalam masalah hasil kelahiran hewan itu diterima.

قِيلَ: وَجْهُ الدَّلِيلِ أَنَّهُ قَضَى بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ تَعْلِيلًا بِالْيَدِ، وَلِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي ” وَقَدْ صَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُدَّعِيًا لِلْعَيْنِ، وَإِنْ لَمْ يَصِرْ مُدَّعِيًا لِلدَّيْنِ، فَوَجَبَ بِهَذَا الْخَبَرِ، أَنْ تُسْمَعَ بَيِّنَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

Dikatakan: Dasar argumentasinya adalah bahwa ia memutuskan berdasarkan bukti dari pihak yang menguasai barang dengan alasan kepemilikan (al-yad), dan karena Nabi ﷺ bersabda: “Bukti itu atas pihak yang mengklaim.” Masing-masing dari keduanya telah menjadi pihak yang mengklaim atas barang tersebut, meskipun tidak menjadi pengklaim atas utang. Maka berdasarkan hadis ini, wajib untuk mendengarkan bukti dari masing-masing pihak.

وَلِأَنَّ جَنَبَةَ الْخَارِجِ، أَضْعَفُ مِنْ جَنَبَةِ الدَّاخِلِ، فَلَمَّا سُمِعَتْ لِلْيَدِ مَعَ الضَّعْفِ كَانَ سَمَاعُهَا مَعَ الْقُوَّةِ أَوْلَى.

Dan karena sisi luar lebih lemah daripada sisi dalam, maka ketika pengakuan diterima pada tangan (kepemilikan) meskipun dalam keadaan lemah, maka penerimaannya dalam keadaan kuat tentu lebih utama.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا، إِنَّهَا بَيِّنَةٌ تُسْمَعُ مَعَ ضَعْفِ الْجَنَبَةِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنَّ تُسْمَعْ مَعَ قُوَّةِ الْجَنَبَةِ كَسَمَاعِهَا مِنِ الْمُدَّعِي، إِذَا كَانَتْ لَهُ يَدٌ مُتَقَدِّمَةٌ وَلِأَنَّهمَا إِذَا تَنَازَعَا مِلْكًا، لَا يَدَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، سُمِعَتْ بَيِّنَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَإِذَا انْفَرَدَ أَحَدُهُمَا بِالْيَدِ، لَمْ يُمْنَعْ مِنْ سَمَاعِ بَيِّنَتِهِ، لِأَنَّها إِنْ لَمْ تُفِدْهُ قُوَّةً لَمْ تُفِدْهُ ضَعْفًا،.

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa bayyinah dapat diterima meskipun posisi pihak yang mengajukan lemah, maka lebih utama lagi untuk diterima ketika posisinya kuat, seperti diterimanya bayyinah dari penggugat jika ia memiliki penguasaan sebelumnya. Dan karena jika keduanya berselisih atas kepemilikan suatu barang, sementara tidak ada salah satu dari mereka yang memegangnya, maka bayyinah dari masing-masing pihak didengarkan. Maka jika salah satu dari mereka saja yang memegang barang tersebut, tidaklah dicegah untuk mendengarkan bayyinahnya, karena jika bayyinah itu tidak memberinya kekuatan, maka ia juga tidak memberinya kelemahan.

وَتَحْرِيرُهُ إِنَّ تَسَاوِيهُمَا فِي ادِّعَاءِ الْمِلْكِ، يُوجِبُ تَسَاوِيهِمَا فِي سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ، كَمَا لَوْ لَمْ يَكُنْ لِأَحَدِهِمَا عَلَيْهِ يَدٌ، أَوْ كَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدٌ عَلَيْهِ.

Penjelasannya adalah bahwa kesetaraan keduanya dalam mengklaim kepemilikan mengharuskan keduanya juga setara dalam didengarkannya bukti, sebagaimana jika tidak ada salah satu dari mereka yang memegang barang tersebut, atau masing-masing dari mereka memegang barang itu.

وَلِأَنَّ بَيِّنَةَ الْخَارِجِ قَدْ رَفَعَتْ يَدَ الدَّاخِلِ، فَصَارَ كَالْخَارِجِ فَوَجَبَ أَنْ تُسْمَعَ بَيِّنَتُهُ كَسَمَاعِهَا مِنَ الْخَارِجِ.

Dan karena bukti dari pihak luar telah menggugurkan hak pihak dalam, maka ia menjadi seperti pihak luar, sehingga wajib untuk mendengarkan buktinya sebagaimana mendengarkan bukti dari pihak luar.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا إِنَّ كُلَّ مَنْ حُكِمَ عَلَيْهِ إِذَا عَدِمَ الْبَيِّنَةَ، وَجَبَ أَنْ يُحْكَمَ لَهُ إِذَا وَجَدَ الْبَيِّنَةَ كَالْخَارِجِ، وَلِأَنَّ الْيَدَ فِعْلٌ زَائِدٌ فِي الْقُوَّةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُمْنَعَ مِنْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ.

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa setiap orang yang telah diputuskan hukum atasnya, jika tidak memiliki bukti, maka wajib diputuskan untuknya jika ia memiliki bukti, seperti orang luar. Dan karena kepemilikan (al-yad) adalah tindakan yang menambah kekuatan, maka tidak boleh dicegah dari mendengarkan bukti.

كَمَا لَوْ شَهِدَ لِأَحَدِهِمَا شَاهِدَانِ، وَشَهِدَ لِلْآخَرِ عَشَرَةٌ.

Seperti halnya jika salah satu dari mereka didukung oleh dua orang saksi, sedangkan yang lainnya didukung oleh sepuluh orang saksi.

وَلِأَنَّ كُلَّ حُجَّةٍ صَحَّ دَفْعُهَا بِالْقَدْحِ فِيهَا، صَحَّ دَفْعُهَا بِالْمُعَارَضَةِ لَهَا كَالْخَبْرَيْنِ وَعُمْدَةُ الْقِيَاسِ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهُ لَمَّا سُمِعَتْ بَيِّنَةُ الدَّاخِلِ فِيمَا لَا يَتَكَرَّرُ مِنَ النِّتَاجِ، وَثَوْبِ الْقُطْنِ، سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ فِي مَا يَتَكَرَّرُ مِنْ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَثَوْبِ الْخَزِّ.

Dan karena setiap hujjah yang sah untuk dibantah dengan mencela (mengkritik) hujjah tersebut, maka sah pula untuk dibantah dengan mengajukan dalil yang bertentangan dengannya, seperti dua khabar (hadis). Dasar qiyās menurut Abu Hanifah adalah bahwa ketika diterima kesaksian bagi orang yang masuk (mengklaim) pada sesuatu yang tidak berulang, seperti hasil kelahiran hewan dan kain katun, maka diterima pula kesaksiannya pada sesuatu yang berulang, seperti bejana emas dan perak, serta kain khazz.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Penjelasannya secara qiyās ada dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ كُلَّ مَنْ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ فِيمَا لَا يَتَكَرَّرُ مِنَ الْأَعْيَانِ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ فِيمَا يَتَكَرَّرُ مِنْهَا كَالْخَارِجِ.

Salah satunya: Sesungguhnya setiap orang yang diterima kesaksiannya dalam perkara yang tidak berulang dari objek-objek tertentu, maka kesaksiannya juga diterima dalam perkara yang berulang dari objek-objek tersebut, seperti halnya perkara di luar (masalah tersebut).

وَالثَّانِي: إِنَّ كُلَّ يَمِينٍ صَحَّ سَمَاعُ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهَا مِنَ الْخَارِجِ، صَحَّ سَمَاعُ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهَا مِنَ الدَّاخِلِ، كَالنِّتَاجِ، وَالْأَعْيَانِ الَّتِي لَا تَتَكَرَّرُ فَاعْتَرَضَ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ عَلَى هَذَا بِمَا اخْتَلَفَ فِيهِ مُتَقَدِّمُوهُمْ، وَمُتَأَخِّرُوهُمْ، فَأَمَّا الْمُتَقَدِّمُونَ مِنْهُمْ فَعَارَضُوا فِي الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الْبَيِّنَةَ فِي النِّتَاجِ وَمَا لَا يَتَكَرَّرُ سَبَبُهُ، تُفِيدُ مَا لَا تُفِيدُهُ يَدُهُ، لِأَنَّ الْيَدَ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ دُونَ السَّبَبِ وَالْبَيِّنَةَ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ وَالسَّبَبِ فَلِذَلِكَ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ مَعَ يَدِهِ وَالْبَيِّنَةُ فِي الْمِلْكِ الْمُطْلَقِ، لَا تُفِيدُ إِلَّا مَا أَفَادَتْهُ يَدُهُ، فَلِذَلِكَ لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَتُهُ مَعَ يَدِهِ، وَعَنْهُ جَوَابَانِ أَحَدُهُمَا إِنَّ عَكْسَ هَذَا بِأَنَّ مَا كَانَ التَّعَارُضُ فِيهِ مُمْكِنًا، أَوْلَى بِالْقَبُولِ مِمَّا كَانَ التَّعَارُضُ فِيهِ كَذِبًا.

Kedua: Sesungguhnya setiap sumpah yang sah untuk didengarkan keterangan (bayyinah) atasnya dari pihak luar, maka sah pula didengarkan keterangan atasnya dari pihak dalam, seperti kasus kelahiran (nitaaj) dan benda-benda yang tidak berulang kejadiannya. Namun, para pengikut Abu Hanifah mengkritik hal ini dengan perbedaan pendapat di antara ulama terdahulu dan belakangan mereka. Adapun ulama terdahulu dari mereka, mereka membantah dengan membedakan antara keduanya, yaitu bahwa bayyinah dalam kasus kelahiran dan perkara yang sebabnya tidak berulang memberikan faedah yang tidak diberikan oleh kepemilikan tangan (yad), karena yad menunjukkan kepemilikan tanpa sebab, sedangkan bayyinah menunjukkan kepemilikan beserta sebabnya. Oleh karena itu, bayyinah diterima bersamaan dengan kepemilikan tangan. Sedangkan bayyinah dalam kepemilikan mutlak, tidak memberikan faedah kecuali apa yang diberikan oleh kepemilikan tangan, sehingga bayyinah tidak diterima bersamaan dengan kepemilikan tangan. Terhadap hal ini terdapat dua jawaban; salah satunya adalah bahwa kebalikannya, yaitu perkara yang memungkinkan adanya pertentangan lebih utama untuk diterima daripada perkara yang pertentangannya pasti dusta.

وَالثَّانِي: إِنَّهُمَا مُتَكَاذِبَتَانِ فِي الْمِلْكِ، وَإِنْ أَمْكَنَ صِدْقُهَا فِي السَّبَبِ الْمُتَكَرِّرِ فَلَئِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ التَّكَاذُبُ فِي السَّبَبِ مُوجِبًا لِتَغْلِيظِ الصِّدْقِ بِالْيَدِ جَازَ أَنْ يَكُونَ التَّكَاذُبُ فِي الْمِلْكِ مُوجِبًا لِتَغْلِيبِ الصِّدْقِ بِالْيَدِ، فَلَمْ يَنْقُلُوا فِي كُلِّ الْفَرْقَيْنِ مِنْ فساد موضوعها.

Kedua: Sesungguhnya keduanya saling bertentangan dalam kepemilikan, dan meskipun memungkinkan keduanya benar dalam sebab yang berulang, maka jika dibolehkan bahwa pertentangan dalam sebab dapat menyebabkan dikuatkannya kebenaran dengan (bukti) kepemilikan secara fisik (yad), maka dibolehkan pula bahwa pertentangan dalam kepemilikan dapat menyebabkan dikuatkannya kebenaran dengan (bukti) kepemilikan secara fisik (yad). Maka, mereka tidak menyebutkan dalam kedua perbedaan tersebut adanya kerusakan pada pokok permasalahannya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” البينة على المدعي واليمنين عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi ﷺ: “Bukti ada pada pihak yang mengklaim, dan sumpah atas pihak yang dituduh,” maka ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الِاسْتِدْلَالِ بِهِ عَلَيْهِمْ، بِأَنَّهُ قَدْ صَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُدَّعِيًا.

Salah satunya adalah apa yang telah kami kemukakan dalam beristidlal dengannya atas mereka, yaitu bahwa masing-masing dari keduanya telah menjadi pihak yang mengklaim.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ لَا يَمْتَنِعُ أَنَّهُ يُحْمَلُ قَوْلُهُ: ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي ” إِنَّهَا تُسْمَعُ مِنَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنَّهَا تُسْمَعُ عَلَى الْمُدَّعِي لِأَنَّ قَوْلَهُ عَلَى مُقْتَضَى ظَاهِرِهِ. أَنْ يَكُونَ مُتَوَجِّهًا إِلَى مَنْ سُمِعَتْ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ، وَسَمِعَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ، فَيَكُونُ الْخَبَرُ مَحْمُولًا عَلَى تَأْوِيلَيْنِ مُسْتَعْمَلَيْنِ، ثُمَّ أَكْثَرُ مَا فِيهِ أَنْ يَكُونَ عَامًّا فِي جِنْسِ الْأَيْمَانِ وَالْبَيِّنَاتِ، وَالْعُمُومُ يَجُوزُ تَخْصِيصُ بَعْضِهِ فَيُخَصُّ هَذَا بِأَدِلَّتِنَا.

Kedua: Tidak mustahil bahwa sabda beliau: “Al-bayyinah atas pihak yang mendakwa” dapat dimaknai bahwa bayyinah dapat didengar dari pihak tergugat terhadap penggugat, dan sumpah atas pihak tergugat dapat didengar terhadap penggugat, karena sabda beliau secara lahiriah menunjukkan bahwa hal itu diarahkan kepada siapa saja yang darinya bayyinah didengar dan atasnya sumpah didengar. Maka, hadis tersebut dapat dimaknai dengan dua penafsiran yang sama-sama digunakan. Selanjutnya, paling banyak yang dapat dikatakan adalah bahwa hadis itu bersifat umum dalam jenis sumpah dan bayyinah, dan keumuman itu boleh dikhususkan sebagian darinya, sehingga hal ini dikhususkan dengan dalil-dalil kami.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّ الْيَدَ مُوجِبَةٌ لِلْمِلْكِ، فَلَمْ يَسْتَفِدْ صَاحِبُهَا بِالْبَيِّنَةِ، مَا لَمْ يَسْتَفِدْهُ بِيَدِهِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap pernyataan mereka bahwa kepemilikan tangan menyebabkan kepemilikan (milik), maka pemiliknya tidak memperoleh manfaat dengan bukti (bayyinah) apa yang tidak diperolehnya dengan tangannya, adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْيَدَ تَدُلُّ عَلَى الْمِلْكِ، وَلَا تُوجِبُهُ، لِأَنَّ الْيَدَ قَدْ تَكُونُ لِغَصْبٍ، أَوْ أَمَانَةٍ، أَوْ إِجَارَةٍ فَلَمْ تُوجِبِ الْمِلْكَ دُونَ غَيْرِهِ، وَإِنْ كَانَتْ فِي الظَّاهِرِ مَحْمُولَةٌ عَلَيْهِ مَعَ الْيَمِينِ، وَالْبَيِّنَةٌ مُوجِبَةٌ لِلْمِلْكِ بِغَيْرِ يَمِينٍ. فَصَارَ مُسْتَفِيدًا بِالْبَيِّنَةِ، مَا لَا يَسْتَفِيدُهُ بِيَدِهِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Pertama: Sesungguhnya kepemilikan (al-yad) menunjukkan adanya hak milik, namun tidak mewajibkannya, karena kepemilikan bisa terjadi karena perampasan, titipan, atau sewa, sehingga kepemilikan tidak hanya terbatas pada hak milik saja. Meskipun secara lahiriah kepemilikan dianggap sebagai hak milik jika disertai sumpah, sedangkan bukti (al-bayyinah) menetapkan hak milik tanpa perlu sumpah. Maka, seseorang memperoleh dengan bukti (al-bayyinah) sesuatu yang tidak bisa diperolehnya hanya dengan kepemilikan (al-yad), dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا أَوْجَبَتِ الْمِلْكَ وَالْيَدُ لَا تُوجِبُهُ.

Salah satunya: bahwa akad menyebabkan kepemilikan, sedangkan kepemilikan melalui penguasaan (al-yad) tidak menyebabkannya.

وَالثَّانِي: إِنَّهَا أَسْقَطَتِ الْيَمِينَ، وَالْيَدُ لَا تُسْقِطُهَا.

Kedua: sesungguhnya ia (alat tertentu) menggugurkan kewajiban sumpah, sedangkan tangan tidak dapat menggugurkannya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي مَا قَدَّمْنَاهُ إِنَّ بَيِّنَةَ الْمُدَّعِي، قَدْ رَفَعَتْ يَدَهُ فِي الْحُكْمِ، فَاسْتَفَادَ بِالْبَيِّنَةِ إِقْرَارَ يَدِهِ عَلَى الْمِلْكِ.

Jawaban kedua adalah sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa bukti dari pihak penggugat telah mengangkat tangannya dalam hukum, sehingga dengan adanya bukti tersebut, ia memperoleh pengakuan atas kekuasaannya terhadap kepemilikan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ، إِنَّهُ لَمَّا لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِي الدَّيْنِ لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَتُهُ فِي الْيَمِينِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap pernyataan mereka, bahwa ketika bukti dari pihak tergugat dalam perkara utang tidak didengarkan, maka bukti dari pihaknya juga tidak didengarkan dalam sumpah, adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَنَّ الْبَيِّنَةَ فِي الدَّيْنِ، فِي جِهَةِ الْمُدَّعِي تَكُونُ عَلَى الْإِثْبَاتِ، وَمِنْ جِهَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ تَكُونُ عَلَى النَّفْيِ، وَالْبَيِّنَةُ، تُسْمَعُ عَلَى الْإِثْبَاتِ، وَلَا تُسْمَعُ عَلَى النَّفْيِ، وَهِيَ عَلَى الْأَيْمَانِ مُوجِبَةٌ لِلْإِثْبَاتِ فِي الْجِهَتَيْنِ فَسُمِعَتْ مِنْهُمَا.

Salah satunya adalah apa yang telah kami kemukakan bahwa bayyinah dalam perkara utang, dari pihak penggugat digunakan untuk menetapkan (kebenaran), sedangkan dari pihak tergugat digunakan untuk menafikan (menolak tuntutan). Bayyinah didengarkan untuk penetapan (kebenaran), dan tidak didengarkan untuk penafian (penolakan). Sementara sumpah, pada kedua pihak, mewajibkan penetapan (kebenaran), sehingga diterima dari keduanya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: إِنَّهَا تُسْمَعُ الْبَيِّنَةُ فِي الدَّيْنِ مِنْ جِهَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، إِذَا شَهِدَتْ بِالْقَضَاءِ، فَصَارَتْ مَسْمُوعَةً مِنَ الْجِهَتَيْنِ.

Jawaban kedua: Bahwa bukti (al-bayyinah) dapat didengar dalam perkara utang dari pihak tergugat, jika ia memberikan kesaksian dalam rangka penyelesaian perkara, sehingga bukti tersebut menjadi dapat diterima dari kedua belah pihak.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ إِنَّهُ لَمَّا لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَتُهُ، مَعَ عَدَمِ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا تُسْمَعَ مَعَ وُجُودِ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، فَهُوَ أَنَّ لِأَصْحَابِنَا فِي سَمَاعِهَا وَجْهَيْنِ ذَكَرْنَاهُمَا:

Adapun jawaban terhadap pernyataan mereka bahwa ketika kesaksiannya tidak diterima, padahal tidak ada bukti dari pihak luar, maka lebih utama untuk tidak diterima ketika ada bukti dari pihak luar, adalah bahwa menurut para ulama kami dalam hal diterimanya kesaksian tersebut terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan.

أَحَدُهُمَا: تُسْمَعُ وَيَسْقُطُ الِاسْتِدْلَالُ.

Salah satunya: didengarkan namun dalilnya gugur.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تُسْمَعُ.

Pendapat kedua: tidak dapat diterima.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا إِنَّهُ لَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ، مَعَ عَدَمِ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، لِأَنَّه مُسْتَغْنٍ عَنْهَا بِيَمِينِهِ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa kesaksiannya tidak didengarkan, ketika tidak ada bukti dari pihak luar, karena ia sudah cukup dengan sumpahnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْبَيِّنَةَ مَسْمُوعَةٌ مِنِ الْمُدَّعِي، الَّذِي هُوَ الْخَارِجُ، وَمِنَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، الَّذِي هُوَ الدَّاخِلُ، فَبَيِّنَةُ الْمُدَّعِي مَسْمُوعَةٌ عَلَى التَّقْيِيدِ، وَالْإِطْلَاقِ، فَتَقْيِيدُهَا أَنْ تَشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ الْمُضَافِ إِلَى سَبَبِهِ، وَإِطْلَاقُهَا أَنْ تَشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ عَلَى الْإِطْلَاقِ مِنْ غَيْرِ إِضَافَةٍ إِلَى سَبَبِهِ.

Maka apabila telah tetap bahwa bukti (bayyinah) dapat didengar dari pihak penggugat, yaitu pihak luar, dan dari pihak tergugat, yaitu pihak dalam, maka bukti dari penggugat dapat diterima baik secara terbatas maupun secara mutlak. Pembatasannya adalah bahwa saksi memberikan kesaksian kepadanya atas kepemilikan yang dikaitkan dengan sebabnya, sedangkan secara mutlak adalah bahwa saksi memberikan kesaksian kepadanya atas kepemilikan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan sebabnya.

وَأَمَّا بَيِّنَةُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَإِنْ شَهِدَتْ بِالْمِلْكِ الْمُقَيَّدِ الْمُضَافِ إِلَى سَبَبِهِ سُمِعَتْ، وَإِنْ شَهِدَتْ لَهُ بِالْمِلْكِ الْمُطْلَقِ مِنْ غَيْرِ إِضَافَةٍ إِلَى سَبَبِهِ، فَفِي سَمَاعِهَا مِنْهُ قَوْلَانِ:

Adapun bukti dari pihak tergugat, jika para saksi memberikan kesaksian atas kepemilikan yang terbatas dan dikaitkan dengan sebabnya, maka kesaksian itu diterima. Namun jika mereka bersaksi untuknya atas kepemilikan mutlak tanpa dikaitkan dengan sebabnya, maka terdapat dua pendapat mengenai diterimanya kesaksian tersebut darinya.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْقَدِيمِ لَا تُسْمَعُ مِنْهُ لِجَوَازِ أَنْ تَشْهَدَ لَهُ بِالْمِلْكِ لِأَجْلِ الْيَدِ الَّتِي قَدْ زَالَ حُكْمُهَا، بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: yaitu pendapatnya dalam kitab-kitab terdahulu bahwa tidak diterima kesaksiannya, karena dimungkinkan ia bersaksi untuk dirinya sendiri atas kepemilikan karena tangan (penguasaan) yang hukumnya telah hilang, dengan adanya bukti dari pihak penggugat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ تُسْمَعُ مِنْهُ لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنَ الشُّهُودِ إِذَا أَطْلَقُوا أَنَّهُمْ لَا يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْمِلْكِ عَنْ يَدٍ، قَدْ عَلِمُوا زَوَالَهَا بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي، إِلَّا وَقَدْ عَلِمُوا غَيْرَهَا مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُوجِبَةِ لِلْمِلْكِ، فَحُمِلَتْ شَهَادَتُهُمْ عَلَى ظَاهِرِ الصِّحَّةِ، فَإِذَا سُمِعَتْ بَيِّنَةُ الْمُدَّعِي وَسَمِعَتْ بَيِّنَةُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، عَلَى مَا وَصَفْنَا فَقَدْ تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ فَوَجَبَ أَنْ يُحْكَمَ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ دُونَ الْمُدَّعِي، وَفِي وُجُوبِ اسْتِحْلَافِهِ عَلَى الْحُكْمِ لَهُ بِالْمِلْكِ قَوْلَانِ، مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ فِيمَا يُوجِبُهُ تَعَارُضُ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَأَحَدُ قَوْلَيْهِ إِنَّهُمَا يَسْقُطَانِ بِالتَّعَارُضِ، وَتُقَرُّ يَدُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَيُحْكَمُ لَهُ بِيَدِهِ مَعَ يَمِينِهِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapatnya dalam qaul jadid: kesaksian diterima darinya, karena yang tampak dari para saksi ketika mereka menyatakan bahwa mereka tidak bersaksi atas kepemilikan dari tangan, adalah bahwa mereka telah mengetahui hilangnya kepemilikan itu dengan adanya bukti dari pihak penggugat, kecuali mereka juga telah mengetahui sebab-sebab lain yang menyebabkan kepemilikan. Maka, kesaksian mereka dianggap berdasarkan pada zhahir kebenaran. Jika bukti dari penggugat telah didengar dan bukti dari tergugat juga telah didengar, sebagaimana telah kami jelaskan, maka kedua bukti tersebut saling bertentangan, sehingga wajib diputuskan untuk memenangkan tergugat, bukan penggugat. Adapun kewajiban untuk meminta sumpah kepadanya dalam menetapkan kepemilikan, terdapat dua pendapat yang dibangun di atas perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai akibat dari pertentangan dua bukti. Salah satu dari dua pendapatnya adalah bahwa kedua bukti tersebut gugur karena pertentangan, dan tangan tergugat tetap diakui, sehingga diputuskan kepemilikan untuknya dengan disertai sumpahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّ بَيِّنَةَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَدْ تَرَجَّحَتْ بِيَدِهِ، فَأُسْقِطَتْ بَيِّنَةُ الْمُدَّعِي بِبَيِّنَتِهِ، فَحُكِمَ لَهُ بِالْبَيِّنَةِ مِنْ غَيْرِ يَمِينٍ تَرْجِيحًا بِالْيَدِ ولم يحكم له باليد.

Pendapat kedua: Sesungguhnya bukti (bayyinah) dari pihak tergugat menjadi lebih kuat karena barang berada dalam genggamannya, sehingga bukti dari pihak penggugat gugur oleh bukti dari pihak tergugat. Maka diputuskan untuk memenangkan tergugat berdasarkan bayyinah tanpa sumpah, sebagai bentuk penguatan karena barang berada dalam genggamannya, namun keputusan tersebut bukan semata-mata karena barang berada dalam genggamannya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَسَوَاءٌ أَقَامَ أَحَدُهُمَا شَاهِدًا وَامْرَأَتَيْنِ وَالْآخَرُ عَشَرَةً إِنْ كَانَ بَعْضُهُمْ أَرْجَحُ مِنْ بَعْضٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sama saja, apakah salah satu dari mereka menghadirkan satu orang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, sedangkan yang lain menghadirkan sepuluh orang, jika sebagian dari mereka lebih kuat (kesaksiannya) daripada sebagian yang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُتَدَاعِيَيْنِ بَيِّنَةً عَلَى مَا تَنَازَعَاهُ مِنَ الْعَيْنِ، وَلَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدٌ، وَتَرَجَّحَتْ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا عَلَى بَيِّنَةِ الْآخَرِ، بِكَثْرَةِ الْعَدَدِ، وَكَانَتْ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا شَاهِدَيْنِ، وَبَيِّنَةُ الْآخَرِ عَشَرَةٌ، أَوْ تَرَجَّحَتْ بِزِيَادَةِ الْعَدَالَةِ، فَكَانَتْ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا أَظْهَرُ زُهْدًا، وَأَوْفَرُ تَحَرُّجًا فَهُمَا فِي التَّعَارُضِ سَوَاءٌ، وَلَا يُغَلَّبُ الْحُكْمُ بِالْبَيِّنَةِ الزَّائِدَةِ فِي الْعَدَدِ وَالْعَدَالَةِ، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ.

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila masing-masing dari kedua pihak yang bersengketa mendatangkan bayyinah atas perkara yang mereka perselisihkan berupa barang, dan tidak ada salah satu dari mereka yang memegang (barang tersebut), lalu bayyinah salah satu pihak lebih kuat daripada bayyinah pihak lainnya, baik karena jumlahnya lebih banyak—misalnya bayyinah salah satu pihak terdiri dari dua saksi, sedangkan bayyinah pihak lain sepuluh saksi—atau karena kelebihannya dalam keadilan—misalnya bayyinah salah satu pihak lebih tampak zuhud dan lebih besar kehati-hatiannya. Maka dalam kondisi seperti ini, keduanya dalam posisi yang sama dalam hal pertentangan, dan tidak boleh memenangkan hukum hanya karena bayyinah yang lebih banyak jumlahnya atau lebih tinggi keadilannya. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah dan para pengikutnya.

وَقَالَ مَالِكٌ: الْمُرَجَّحَةُ بِزِيَادَةِ الْعَدَدِ، وَقُوَّةِ الْعَدَالَةِ أَوْلَى، وَالْحُكْمُ بِهَا أَحَقُّ.

Malik berkata: Pendapat yang lebih kuat karena kelebihan jumlah dan kekuatan keadilan lebih utama, dan menetapkan hukum dengannya lebih berhak.

حَكَاهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ، فَخَرَّجَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ قَوْلًا ثَانِيًا، وَنَفَاهُ أَكْثَرُهُمْ عَنْهُ.

Pendapat ini dinukil oleh asy-Syafi‘i dalam pendapat lamanya, lalu sebagian muridnya mengeluarkannya sebagai pendapat kedua, namun mayoritas dari mereka menafikan pendapat tersebut darinya.

وَحُكِيَ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ أَنَّهُ قَالَ: أَقْسِمُ الشَّيْءَ الْمَشْهُودَ فِيهِ عَلَى عَدَدِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَإِذَا كَانَتْ إِحْدَاهُمَا شَاهِدَيْنِ وَالْأُخْرَى أَرْبَعَةٌ قَسَمْتُ الْمَشْهُودَ فِيهِ أَثْلَاثًا، فَجَعَلْتُ لِصَاحِبِ الشَّاهِدَيْنِ سَهْمًا، وَلِصَاحِبِ الْأَرْبَعَةِ سَهْمَيْنِ.

Diriwayatkan dari al-Awza‘i bahwa ia berkata: Aku membagi sesuatu yang menjadi objek persaksian berdasarkan jumlah dua kelompok bukti. Jika salah satunya terdiri dari dua saksi dan yang lainnya terdiri dari empat saksi, maka aku membagi objek persaksian itu menjadi tiga bagian; aku berikan satu bagian kepada pemilik dua saksi, dan dua bagian kepada pemilik empat saksi.

فَأَمَّا مَالِكٌ فَاسْتَدَلَّ بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَ الشَّيطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الْجَمَاعَةِ أَبْعَدُ “، وَلِأَنَّ النَّفْسَ إِلَى زِيَادَةِ الْعَدَدِ أَسْكَنُ، وَبِقُوَّةِ الْعَدَالَةِ أَوْثَقُ، وَلِذَلِكَ رُجِّحَتْ بِهَا أَخْبَارُ الرَّسُولِ، إِذَا تَعَارَضَتْ، فَوَجَبَ أَنْ تُرَجَّحَ بِهَا الشَّهَادَاتُ إِذَا تَعَارَضَتْ.

Adapun Malik, ia berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Hendaklah kalian bersama al-jamā‘ah, karena setan bersama satu orang dan ia lebih jauh dari al-jamā‘ah.” Selain itu, jiwa lebih tenang dengan jumlah yang lebih banyak, dan dengan kekuatan keadilan lebih dapat dipercaya. Oleh karena itu, berita-berita Rasul lebih diunggulkan dengan hal tersebut apabila terjadi pertentangan, maka wajib pula untuk mengunggulkan kesaksian-kesaksian dengan hal tersebut apabila terjadi pertentangan.

وَأَمَّا الْأَوْزَاعِيُّ، فَاسْتَدَلَّ لَهُ بِأَنَّ الْمَشْهُودَ فِيهِ مُسْتَحَقٌّ بِقَوْلِهِمْ، فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ مُقَسَّطًا عَلَى عَدَدِهِمْ.

Adapun al-Awza‘i, ia berdalil bahwa perkara yang disaksikan itu menjadi hak berdasarkan pernyataan mereka, sehingga menuntut agar dibagi rata sesuai jumlah mereka.

وَالدَّلِيلُ عَلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَصَّ عَلَى عَدَدِ الشَّهَادَةِ بِقَوْلِهِ: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] وَبِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] فَمَنَعَ النَّصُّ مِنَ الاجتهاد في الزيادة، والنقصان.

Dan dalil tentang penyamaan di antara mereka adalah bahwa Allah Ta‘ala telah menetapkan jumlah saksi dengan firman-Nya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki kalian” (QS. Al-Baqarah: 282) dan dengan firman-Nya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian” (QS. Ath-Thalaq: 2), maka nash tersebut melarang melakukan ijtihad dalam menambah atau mengurangi jumlah itu.

ولأن لَمَّا جَازَ الِاقْتِصَارُ عَلَى الشَّاهِدَيْنِ مَعَ وُجُودِ مَنْ هُوَ أَكْثَرُ، وَعَلَى قَبُولِ الْعَدْلِ مَعَ مَنْ هُوَ أَعْدَلُ، دَلَّ عَلَى أَنْ لَا تَأْثِيرَ لِزِيَادَةِ الْعَدَدِ، وَزِيَادَةِ الْعَدَالَةِ.

Dan karena diperbolehkan mencukupkan diri dengan dua orang saksi meskipun ada yang jumlahnya lebih banyak, serta diperbolehkan menerima kesaksian orang yang adil meskipun ada yang lebih adil darinya, maka hal itu menunjukkan bahwa penambahan jumlah dan penambahan tingkat keadilan tidak berpengaruh.

وَلِأَنَّ مَا تَقَدَّرَ بِالشَّرْعِ لَمْ يَخْتَلِفْ حُكْمُهُ بِالزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ كَدِيَةِ الْحُرِّ، وَمَا تَقَدَّرَ بِالِاجْتِهَادِ، اخْتَلَفَ حُكْمُهُ بِالزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ، كَقِيمَةِ الْعَبْدِ، وَبِهِمَا فَرَّقْنَا فِي الْأَخْبَارِ الْمُتَعَارِضَةِ بَيْنَ زِيَادَةِ الْعَدَدِ، وَنُقْصَانِهِ، لِعَدَمِ النَّصِّ فِي عَدَدِهِ وَسَوَّيْنَا فِي الشَّهَادَاتِ الْمُتَعَارِضَةِ، بَيْنَ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ، لِوُرُودِ النَّصِّ فِي عَدَدِهِ وَفِيمَا ذَكَرْنَاهُ انْفِصَالٌ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ.

Karena sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat, hukumnya tidak berubah karena penambahan atau pengurangan, seperti diyat untuk orang merdeka. Adapun sesuatu yang ditetapkan melalui ijtihad, hukumnya bisa berbeda karena penambahan atau pengurangan, seperti nilai seorang budak. Dengan kedua hal ini, kami membedakan dalam berita-berita yang saling bertentangan antara penambahan jumlah dan pengurangannya, karena tidak adanya nash mengenai jumlah tersebut. Sedangkan dalam kesaksian yang saling bertentangan, kami menyamakan antara penambahan dan pengurangan, karena adanya nash mengenai jumlahnya. Dalam apa yang telah kami sebutkan terdapat penjelasan yang memisahkan dari apa yang mereka jadikan sebagai dalil.

وَقَوْلُ الْأَوْزَاعِيِّ أَوْهَى، لِأَنَّه لَوْ ثَبَتَ الْحَقُّ بِشَهَادَةِ عَشْرَةٍ، ثُمَّ ثَبَتَ قَضَاؤُهُ بِشَاهِدَيْنِ قَضَى بِهِمَا عَلَى شَهَادَةِ الْعَشْرَةِ، وَلَمْ يُقَسَّطِ الْقَضَاءُ عَلَى الْعَدَدِ كَذَلِكَ فِي إِثْبَاتِ الْحَقِّ، وَهُوَ حُجَّةٌ، عَلَى مَالِكٍ أَيْضًا.

Pendapat al-Awza‘i lebih lemah, karena jika kebenaran telah ditetapkan dengan kesaksian sepuluh orang, kemudian putusan juga ditetapkan dengan dua orang saksi, maka keputusan tersebut diberlakukan berdasarkan dua saksi itu atas kesaksian sepuluh orang, dan keputusan tidak dibagi berdasarkan jumlah sebagaimana dalam penetapan kebenaran. Ini juga merupakan hujjah atas pendapat Malik.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ لَا تُرَجَّحُ الشَّهَادَةُ بِزِيَادَةِ الْعَدَدِ وَزِيَادَةِ الْعَدَالَةِ كَذَلِكَ لَا تُرَجَّحُ بِأَنْ يَكُونَ مَعَ أَحَدِهِمَا شَاهِدَانِ، وَالْأُخْرَى شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّاهِدَتَيْنِ بَيِّنَةٌ كَامِلَةٌ، فَإِذَا تَعَارَضَ شَاهِدَانِ وَشَاهِدٌ وَيَمِينٌ فَفِيهِمَا قَوْلَانِ:

Maka apabila telah tetap bahwa kesaksian tidak diunggulkan dengan penambahan jumlah maupun penambahan keadilan, demikian pula tidak diunggulkan dengan adanya dua saksi pada salah satu pihak, sedangkan pada pihak lain satu saksi dan dua perempuan, karena masing-masing dari dua perempuan tersebut merupakan bayyinah yang sempurna. Maka apabila bertentangan antara dua saksi dengan satu saksi dan sumpah, terdapat dua pendapat dalam masalah ini.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا سَوَاءٌ لِأَنَّ الْحَقَّ يَثْبُتُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا.

Salah satunya: bahwa keduanya sama, karena kebenaran dapat ditetapkan dengan masing-masing dari keduanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ إِنَّ الشَّاهِدَيْنِ يَقُومُ عَلَى الشَّاهِدِ، وَالْيَمِينِ، لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih sahih, adalah bahwa dua orang saksi dapat menggantikan satu saksi dan sumpah, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ التُّهْمَةَ مُتَوَجِّهَةٌ فِي الْيَمِينِ، وَغَيْرُ مُتَوَجِّهَةٍ فِي الشَّهَادَةِ.

Salah satunya: bahwa tuduhan itu tertuju dalam sumpah, sedangkan tidak tertuju dalam kesaksian.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْحُكْمَ بِالشَّاهِدَيْنِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَبِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ مُخْتَلَفٌ فِيهِ، وَسَنَذْكُرُ حُكْمَ التَّعَارُضِ مِنْ بعد.

Kedua: Sesungguhnya penetapan hukum dengan dua orang saksi adalah disepakati, sedangkan dengan satu orang saksi dan sumpah masih diperselisihkan, dan kami akan menyebutkan hukum tentang pertentangan setelah ini.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِنْ أَرَادَ الَّذِي قَامَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ أَنْ يُحْلِفَ صَاحِبَهُ مَعَ بَيِّنَتِهِ لَمَ يَكُنْ ذَلِكَ لَهُ إِلَّا أَنْ يَدَّعِيَ أنَهُ أَخْرَجَهُ إِلَى مِلْكِهِ فَهَذِهِ دَعْوَى أُخْرَى فَعَلَيْهِ الْيَمِينُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika orang yang telah ditegakkan bukti (bayyinah) atasnya ingin meminta lawannya bersumpah bersama bukti yang dimilikinya, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya, kecuali jika ia mengklaim bahwa ia telah mengeluarkan (barang tersebut) ke dalam kepemilikannya; maka ini adalah klaim yang lain, sehingga atasnya wajib bersumpah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ عَلَى رَجُلٍ، بِدَيْنٍ فِي ذِمَّتِهِ، أَوْ بِمِلْكٍ فِي يَدِهِ فَيَسْأَلَ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ إِحْلَافَ الْمَشْهُودِ لَهُ، أَنَّ مَا شَهِدَ بِهِ شَاهِدَاهُ حَقٌّ لَهُ، لَمْ يَجُزْ إِحْلَافُهُ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ.

Al-Mawardi berkata: Jika ada dua orang saksi memberikan kesaksian terhadap seorang laki-laki, baik mengenai utang yang menjadi tanggungannya, atau mengenai kepemilikan yang ada di tangannya, lalu pihak yang disaksikan memohon agar pihak yang menerima kesaksian disumpah bahwa apa yang disaksikan oleh kedua saksinya benar-benar haknya, maka tidak boleh dilakukan sumpah tersebut. Inilah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan mayoritas fuqaha.

وَحُكِيَ عَنْ شُرَيْحٍ، وَالنَّخَعِيِّ، وَالشَّعْبِيِّ، وَابْنِ أَبِي لَيْلَى: إِنَّهُمْ جَوَّزُوا إِحْلَافَ الْمُدَّعِي مَعَ بَيِّنَتِهِ، اسْتِعْمَالًا لِمَا أَمْكَنَ فِي الِاسْتِظْهَارِ فِي الْأَحْكَامِ.

Diriwayatkan dari Syuraih, an-Nakha‘i, asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Laila bahwa mereka membolehkan penggugat untuk disumpah bersama dengan bukti yang ia ajukan, sebagai bentuk upaya maksimal dalam memperkuat keyakinan dalam menetapkan hukum.

وَهَذَا خَطَأٌ لِرِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ ” فَلَمْ يَجْعَلْ فِي جَنَبَةِ الْمُدَّعِي غَيْرَ الْبَيِّنَةِ، فَلَمْ يَجُزْ إِحْلَافُهُ مَعَهَا، وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْمُدَّعِي: ” شَاهِدَاكَ أَوْ يَمِينُهُ “. وَلِأَنَّ فِي إِحْلَافِهِ مَعَ شَهَادَةِ شُهُودِهِ قَدْحًا فِي شَهَادَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي عَدَالَتِهِمْ وَمَا أَفْضَى إِلَى الْقَدْحِ فِي شَهَادَةٍ صَحَّتْ وَعَدَالَةٍ ثَبَتَتْ مَمْنُوعٌ مِنْهُ كَمَا يُمْنَعُ مِنْ إِحْلَافِهِ أَنَّ مَا حَكَمَ بِهِ الْحَاكِمُ حَقٌّ لِإِفْضَائِهِ إِلَى الْقَدْحِ فِي حُكْمِهِ، وَلَا يَجُوزُ الِاسْتِظْهَارُ بِمَا يَمْنَعُ مِنْهُ الشَّرْعُ، وَلَمْ يَرِدْ بِهِ.

Dan ini adalah kesalahan, berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Bukti (bayyinah) atas pihak yang mendakwa, dan sumpah atas pihak yang didakwa.” Maka beliau tidak menetapkan bagi pihak yang mendakwa selain bayyinah, sehingga tidak boleh mengambil sumpah darinya bersamaan dengan adanya bayyinah. Dan Nabi ﷺ bersabda kepada pihak yang mendakwa: “Dua saksi bagimu atau sumpahnya (pihak yang didakwa).” Karena mengambil sumpah dari pihak yang mendakwa bersamaan dengan kesaksian para saksinya berarti mencela kesaksian mereka dan meragukan keadilan mereka. Segala sesuatu yang mengarah pada pencelaan terhadap kesaksian yang telah sah dan keadilan yang telah terbukti adalah terlarang, sebagaimana tidak boleh mengambil sumpah darinya bahwa apa yang diputuskan oleh hakim adalah benar, karena hal itu mengarah pada pencelaan terhadap keputusan hakim. Tidak boleh mencari kepastian dengan sesuatu yang dilarang oleh syariat, dan tidak ada dalil yang membolehkannya.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدَ جَوَّزَ الشَّافِعِيُّ فِي الرَّهْنِ، إِذَا أَقَامَ الْبَيِّنَةَ عَلَى إِقْرَارِ الرَّاهِنِ، بِإِقْبَاضِهِ، ثُمَّ سَأَلَ الرَّاهِنَ إِحْلَافَ الْمُرْتَهِنِ عَلَى قَبْضِهِ، أَنَّهُ يَحْلِفُ عَلَيْهِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya asy-Syafi‘i membolehkan dalam masalah rahn, apabila seseorang mendatangkan bukti atas pengakuan pihak yang menggadaikan bahwa ia telah menyerahkan barang gadai, kemudian pihak yang menggadaikan meminta agar pihak penerima gadai disumpah atas penerimaan barang tersebut, maka ia (penerima gadai) harus bersumpah atasnya.

قِيلَ: إِنْ سَأَلَ إِحْلَافَهُ عَلَى أَنَّهُ أَقَرَّ بِإِقْبَاضِهِ، لَمْ يَجُزْ لِشَهَادَةِ الشُّهُودِ عَلَى إِقْرَارِهِ، وَإِنْ سَأَلَ إِحْلَافَهُ عَلَى أَنَّ مَا أَقَرَّ بِإِقْبَاضِهِ، كَانَ صَحِيحًا نُظِرَ فَإِنْ كَانَ إِقْرَارُهُ بِأَنَّ وَكِيلَهُ أَقْبَضَهُ أُحْلِفَ عَلَيْهِ، لِجَوَازِ أَنْ يُكَذِّبَهُ الْوَكِيلُ فِي الْقَبْضِ، وَلَيْسَ فِيهِ قَدْحٌ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى إِقْرَارِهِ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الَّذِي أَقْبَضَهُ إِيَّاهُ، فَفِي جَوَازِ إِحْلَافِهِ عَلَى قَبْضِهِ مِنْهُ وَجْهَانِ:

Dikatakan: Jika ia meminta sumpah agar ia mengakui telah menyerahkan (barang tersebut), maka hal itu tidak diperbolehkan karena adanya kesaksian para saksi atas pengakuannya. Namun, jika ia meminta sumpah bahwa apa yang diakuinya telah diserahkan itu benar, maka hal itu perlu diteliti; jika pengakuannya bahwa wakilnya yang telah menyerahkan, maka ia boleh disumpah atas hal itu, karena mungkin saja wakil tersebut mendustakannya dalam hal penyerahan, dan hal ini tidak merusak kesaksian atas pengakuannya. Namun, jika ia sendiri yang menyerahkan barang itu, maka dalam kebolehan menyumpahkannya atas penyerahan dari dirinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنْ الرُّجُوعِ عَنْ إِقْرَارِهِ.

Salah satunya: tidak boleh karena di dalamnya terdapat penarikan kembali dari pengakuannya.

وَالثَّانِي: يَجُوزُ لِأَنَّه قَدْ عُرِفَ الْإِقْرَارُ بِالتَّقَابُضِ قَبْلَ الْإِقْبَاضِ فَصَارَ الْإِقْبَاضُ بِالْعُرْفِ مُحْتَمَلًا.

Dan pendapat kedua: Diperbolehkan karena telah dikenal adanya pengakuan dengan penyerahan sebelum serah terima, sehingga serah terima berdasarkan ‘urf menjadi sesuatu yang mungkin.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا إِذَا سَأَلَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ، إِحْلَافَ الْمَشْهُودِ لَهُ، أَنَّهُ مَا قَبَضَ الدَّيْنَ أَوْ لَمْ يَبِعْهُ الْعَيْنَ، أُجِيبَ إِلَى إِحْلَافِهِ لِأَنَّها دَعْوَى مُسْتَأْنَفَةٌ أَنَّهُ ابْتَاعَ الْعَيْنَ، وَقَضَاهُ الدَّيْنَ، وَلَيْسَ فِيهَا تَكْذِيبٌ لِلشُّهُودِ، فَجَازَ إِحْلَافُهُ عَلَيْهَا.

Adapun jika pihak yang menjadi objek kesaksian meminta agar pihak yang mendapat kesaksian disumpah bahwa ia belum menerima pembayaran utang atau belum menjual barang tersebut, maka permintaan sumpah itu dikabulkan. Sebab, hal itu merupakan gugatan baru bahwa ia telah membeli barang tersebut atau telah melunasi utangnya, dan di dalamnya tidak terdapat pendustaan terhadap para saksi, sehingga diperbolehkan untuk mengambil sumpah atas hal itu.

وَهَكَذَا لَوْ شَهِدَ الشُّهُودُ بِدَيْنٍ عَلَى غَائِبٍ، أَوْ مَيِّتٍ، جَازَ إِحْلَافُ الْمَشْهُودِ لَهُ، أَنَّهُ ما برىء إِلَيْهِ مِنَ الدَّيْنِ وَلَا مِنْ شَيْءٍ فِيهِ، لِأَنَّ الْغَائِبَ وَالْمَيِّتَ لَوْ كَانَا حَاضِرَيْنِ لَجَازَ. أَنْ يَدَّعِيَا قَضَاءَ الدَّيْنِ، أَوِ الْإِبْرَاءَ مِنْهُ، فَلَزِمَ لِأَجْلِ الِاحْتِيَاطِ أَنْ يَحْلِفَ الْمَشْهُودُ لَهُ على مثل لَوِ ادَّعَاهُ الْحَاضِرُ أُحْلِفَ لَهُ، فَإِنْ قَضَى الدَّيْنَ مِنْ مَالٍ نَاجِزٍ أُحْلِفَ عِنْدَ الشُّرُوعِ فِي قَضَائِهِ، ثُمَّ قَضَى بَعْدَ يَمِينِهِ.

Demikian pula, jika para saksi memberikan kesaksian tentang adanya utang atas seseorang yang tidak hadir atau telah meninggal, maka diperbolehkan untuk meminta sumpah dari pihak yang diuntungkan oleh kesaksian tersebut, bahwa tidak ada pelunasan utang kepadanya dan tidak ada sesuatu pun terkait utang itu yang telah diselesaikan. Sebab, jika orang yang tidak hadir atau yang telah meninggal itu hadir, mereka berdua boleh saja mengklaim bahwa utang tersebut telah dilunasi atau telah dibebaskan darinya. Oleh karena itu, demi kehati-hatian, wajib bagi pihak yang diuntungkan oleh kesaksian untuk bersumpah sebagaimana jika orang yang hadir mengklaimnya, maka ia pun akan diminta bersumpah. Jika utang tersebut dibayar dari harta yang sudah tersedia, maka sumpah diambil saat mulai pelunasan, kemudian utang dibayarkan setelah ia bersumpah.

وَإِنْ كَانَ نَقْضًا مِنْ بَيْعِ عَقَارٍ، أُحْلِفَ قَبْلَ بَيْعِهِ ثُمَّ بِيعَ وَقُضِيَ مِنْ ثَمَنِهِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُبَاعَ قَبْلَ يَمِينِهِ لِأَنَّه قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَنْكُلَ عَنِ الْيَمِينِ، فَيَفُوتُ اسْتِدْرَاكَ الْمَبِيعِ فَأَمَّا إِحْلَافُ الشُّهُودِ عَلَى صِدْقِهِمْ فِيمَا شَهِدُوا بِهِ، فَلَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ جَمِيعِ أَهْلِ الْعِلْمِ.

Jika pembatalan itu berkaitan dengan penjualan properti, maka orang tersebut harus disumpah sebelum properti itu dijual, kemudian properti itu dijual dan diputuskan dari hasil penjualannya. Tidak boleh properti itu dijual sebelum ia bersumpah, karena mungkin saja ia enggan bersumpah sehingga tidak dapat lagi mengembalikan barang yang telah dijual. Adapun menyuruh para saksi bersumpah atas kebenaran kesaksian mereka, maka hal itu tidak diperbolehkan, dan ini adalah pendapat seluruh ulama.

وَحُكِيَ عَنِ الْهَادِي الْعَلَوِيِّ إِنَّهُ بِالْيَمِينِ كَأَنْ يَحْلِفَ الشُّهُودُ إِذَا ارْتَابَ بِهِمْ، ثُمَّ يَحْكُمُ بِشَهَادَتِهِمْ، وَهَذَا قَوْلٌ خَرَقَ بِهِ الْإِجْمَاعَ وَخَالَفَ بِهِ الْأُمَّةَ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] فَأَمَرَ بِالْحُكْمِ بِهَا، وَلَمْ يُوجِبِ الْيَمِينَ مَعَهَا.

Diriwayatkan dari al-Hadi al-‘Alawi bahwa ia berpendapat sumpah diperlukan, seperti para saksi harus bersumpah jika ada keraguan terhadap mereka, kemudian keputusan diambil berdasarkan kesaksian mereka. Pendapat ini telah menyalahi ijmā‘ dan bertentangan dengan umat, karena firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kalangan laki-laki di antara kalian” (al-Baqarah: 282), maka Allah memerintahkan untuk memutuskan perkara dengan kesaksian itu, dan tidak mewajibkan sumpah bersamaan dengannya.

وَلِأَنَّهمْ إِذَا كَانُوا صَادِقِينَ، وَجَبَ الْحُكْمُ بِشَهَادَتِهِمْ، مِنْ غَيْرِ يَمِينٍ، وَإِنْ كَانُوا كَاذِبِينَ لَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا مَعَ الْيَمِينِ.

Dan karena jika mereka benar, maka wajib memutuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka tanpa sumpah; dan jika mereka berdusta, tidak boleh memutuskan hukum dengannya meskipun disertai sumpah.

وَلِأَنَّه لَوْ جَازَ إِحْلَافُ الشُّهُودِ مَعَ الِارْتِيَابِ لَجَازَ إِحْلَافُ الْحُكَّامِ، ثُمَّ إِحْلَافُ الْأَئِمَّةِ، ثُمَّ إِحْلَافُ الْأَنْبِيَاءِ أَنَّ مَا أَدَّوْهُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى حَقٌّ وَمَا أَفْضَى إلى هذا كان مطرحا.

Karena jika diperbolehkan mengambil sumpah para saksi dalam keadaan ragu, maka akan diperbolehkan juga mengambil sumpah para hakim, kemudian mengambil sumpah para imam, lalu mengambil sumpah para nabi bahwa apa yang mereka sampaikan dari Allah Ta‘ala adalah benar. Dan segala sesuatu yang mengarah kepada hal ini harus ditinggalkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ ادَّعَى أَنَّهُ نَكَحَ امْرَأَةً لَمْ أَقْبَلْ دَعْوَاهُ حَتَّى يَقُولَ نَكَحْتُهَا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ وَرِضَاهَا فَإِنْ حَلَفَتْ بَرِئَتْ وَإِنْ نَكَلَتْ حَلَفَ وَقُضِيَ لَهُ أَنَّهَا زَوْجَةٌ لَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengaku bahwa ia telah menikahi seorang wanita, maka aku tidak menerima pengakuannya sampai ia mengatakan, ‘Aku menikahinya dengan wali, dua orang saksi yang adil, dan dengan kerelaannya.’ Jika wanita itu bersumpah, maka ia terbebas; namun jika ia enggan bersumpah, maka laki-laki itu yang bersumpah dan diputuskan bahwa wanita itu adalah istrinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ الدَّعْوَى الْمَجْهُولَةَ لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَسْمَعَهَا، وَيَسْأَلُ الْخَصْمَ عَنْهَا إِلَّا فِي الْوَصَايَا لِجَوَازِ الْوَصِيَّةِ بِالْمَجْهُولِ، فَأَمَّا غَيْرُ الْوَصَايَا الَّتِي تَمْنَعُ الْجَهَالَةُ مِنْهَا، فَلَا يَصِحُّ ادِّعَاؤُهُ مَجْهُولًا حَتَّى يَسْتَوْفِيَ الْمُدَّعِي مَا يَمْنَعُ مِنْ جَهَالَةِ الدَّعْوَى، لِأَنَّ سَمَاعَ الدَّعْوَى يَكُونُ لِلسُّؤَالِ عَنْهَا، وَالْحُكْمَ بِهَا، وَلَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنَّ يَحْكُمَ بِمَجْهُولٍ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْمَعَ الدَّعْوَى بِمَجْهُولٍ، فَإِذَا كَانَ هَذَا أَصْلًا، وَكَانَتِ الدَّعْوَى مَعْلُومَةٌ تَعَلَّقَ الْكَلَامُ بِالْكَشْفِ عَنْ سَبَبِهَا، وَلِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa gugatan yang tidak jelas (majhūl) tidak boleh didengar oleh hakim, dan hakim tidak boleh menanyakan kepada pihak lawan tentangnya, kecuali dalam wasiat, karena diperbolehkan berwasiat dengan sesuatu yang tidak jelas. Adapun selain wasiat, yang mana ketidakjelasan tidak diperbolehkan padanya, maka tidak sah mengajukan gugatan yang tidak jelas sampai pihak penggugat menyempurnakan apa yang dapat menghilangkan ketidakjelasan dalam gugatan tersebut. Sebab, mendengarkan gugatan bertujuan untuk menanyakan tentangnya dan memutuskan hukum atasnya, dan tidak boleh bagi hakim memutuskan perkara atas sesuatu yang tidak jelas, maka tidak boleh pula mendengarkan gugatan yang tidak jelas. Jika ini adalah dasarnya, dan gugatan tersebut sudah jelas, maka pembicaraan beralih kepada penyingkapan sebabnya, dan pihak tergugat terbagi menjadi tiga golongan:

قِسْمٌ لَا يُجِبِ الْكَشْفُ عَنْ سَبَبِهِ.

Bagian yang tidak wajib mengungkapkan sebabnya.

وَقِسْمٌ يَجِبُ الْكَشْفُ عَنْ سببه.

Dan ada bagian yang wajib dijelaskan sebabnya.

وَقِسْمٌ مُخْتَلَفٌ فِي وُجُوبِ الْكَشْفِ عَنْ سَبَبِهِ.

Dan ada bagian yang diperselisihkan mengenai kewajiban menjelaskan sebabnya.

( [قسم لا يجب الْكَشْفِ عَنْ سَبَبِهِ] )

(Bagian yang tidak wajib mengungkapkan sebabnya)

فَأَمَّا الَّذِي لَا يَجِبُ الْكَشْفُ عَنْ سَبَبِهِ: فَالْأَمْلَاكُ الْمُدَّعَاةُ مِنْ عَيْنٍ، أَوْ دَيْنٍ، فَالْعَيْنُ أَنْ يَدَّعِيَ دَارًا أَوْ ثَوْبًا أَوْ عَبْدًا مَعْلُومًا بِصِفَةٍ أَوْ تَعْيِينٍ، وَالِدَيْنُ أَنْ يَقُولَ عَلَيْهِ أَلْفُ دِرْهَمٍ بِصِفَتِهَا فَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْ سَبَبِ مِلْكِهِ، لِمَا ادَّعَاهُ، وَلَوْ سَأَلَهُ لَمْ يَجِبْ عَلَى الْمُدَّعِي ذِكْرُ سَبَبِهِ.

Adapun perkara yang tidak wajib untuk diungkapkan sebabnya adalah kepemilikan yang didakwakan atas suatu benda atau utang. Adapun benda adalah ketika seseorang mengklaim sebuah rumah, pakaian, atau budak tertentu dengan sifat atau penunjukan tertentu. Sedangkan utang adalah ketika ia mengatakan, “Dia memiliki utang seribu dirham kepadaku dengan sifatnya.” Maka tidak wajib baginya untuk ditanya tentang sebab kepemilikannya atas apa yang ia klaim, dan jika pun ia ditanya, tidak wajib bagi pengklaim untuk menyebutkan sebabnya.

وَإِنَّمَا لَمْ يَجِبِ الْكَشْفُ عَنْ سَبَبِ الْمِلْكِ، لِأَنَّ أَسْبَابَ الْمِلْكِ تَكُونُ مِنْ جِهَاتٍ شَتَّى بِكَثْرَةِ عَدَدِهَا، لِأَنَّه قَدْ يَمْلِكُ بِالْمِيرَاثِ وَالِابْتِيَاعِ وَبِالْهِبَةِ وَالْقِيمَةِ وَبِالْوَصِيَّةِ وَبِغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْوُجُوهِ كَالْإِجْبَاءِ وَحُدُوثِ النِّتَاجِ وَالثِّمَارِ فسقط الكشف عن سببها لكثرتها واختلافها.

Dan tidak diwajibkan untuk menjelaskan sebab kepemilikan, karena sebab-sebab kepemilikan itu berasal dari berbagai sisi yang sangat banyak jumlahnya. Seseorang bisa memiliki sesuatu melalui warisan, jual beli, hibah, penilaian, wasiat, dan selain itu dari berbagai cara seperti ijbā’, munculnya hasil ternak, dan buah-buahan. Maka gugurlah kewajiban untuk menjelaskan sebabnya karena banyaknya dan beragamnya sebab-sebab tersebut.

( [قسم يجب الكشف عن سببه] )

(Bagian yang wajib dijelaskan sebabnya)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الَّذِي يَجِبُ الْكَشْفُ عَنْ سَبَبِهِ، فَدَعْوَى الْقَذْفِ وَالْقَتْلِ، فَإِنِ ادَّعَى قَتْلًا قِيلَ أعمد أم خطأ؟

Adapun bagian yang wajib dijelaskan sebabnya adalah tuduhan qadzaf dan pembunuhan. Jika seseorang mengaku telah melakukan pembunuhan, maka akan ditanyakan: Apakah itu dilakukan dengan sengaja (‘amdan) atau karena kesalahan (khaṭa’)?

فإن قال: عمد سُئِلَ عَنْ صِفَةِ الْعَمْدِ، وَإِنِ ادَّعَى قَذْفًا سُئِلَ عَنْ لَفْظِ الْقَذْفِ، لِأَنَّ الْقَتْلَ يَخْتَلِفُ حُكْمُ عَمْدِهِ، وَخَطَئِهِ، وَقَدْ يَدَّعِي مِنَ الْعَمْدِ مَا لَا يَكُونُ عَمْدًا، وَلِمَا فِي الْعَمْدِ مِنِ اخْتِلَافِ أَسْبَابِهِ، وَأَحْكَامِهِ وَفِي الْحُكْمِ بِهِ قَبْلَ السُّؤَالِ فَوَاتُ مَا لَا يُمْكِنُ اسْتِدْرَاكُهُ، وَالْقَذْفُ قَدْ تَخْتَلِفُ أَلْفَاظُهُ وَأَحْكَامُهُ فَافْتَقَرَ ذَلِكَ إِلَى كَشْفِ السَّبَبِ، وَصِفَتِهِ لِيَزُولَ عَنْ الِاحْتِمَالِ وَصَارَ كَالشَّاهِدِ إِذَا شَهِدَ بِفِسْقِ مَجْرُوحٍ، أَوْ نَجَاسَةِ مَاءٍ لَمْ يُحْكَمْ بِنَجَاسَتِهِ حَتَّى يَذْكُرَ سَبَبَ مَا صَارَ بِهِ الْمَجْرُوحُ، فَاسِقًا، وَالْمَاءُ نجسا للاختلاف في التفسيق والتنجيس.

Jika seseorang mengaku melakukan pembunuhan dengan sengaja, maka ia akan ditanya tentang sifat kesengajaan tersebut. Jika ia mengaku melakukan qazaf (tuduhan zina), maka ia akan ditanya tentang lafaz qazaf yang diucapkannya. Hal ini karena hukum pembunuhan berbeda antara yang disengaja dan yang tidak disengaja, dan bisa saja seseorang mengaku melakukan sesuatu secara sengaja padahal itu bukanlah kesengajaan menurut hukum. Selain itu, sebab-sebab dan hukum-hukum kesengajaan itu sendiri beragam, sehingga jika diputuskan hukum sebelum menanyakan secara rinci, maka bisa saja ada hal penting yang terlewatkan dan tidak bisa diperbaiki. Demikian pula, lafaz dan hukum qazaf pun berbeda-beda, sehingga perlu dijelaskan sebab dan sifatnya agar tidak ada kemungkinan makna lain. Keadaannya seperti seorang saksi yang bersaksi atas kefasikan seseorang yang tercela, atau atas kenajisan air; tidak bisa langsung diputuskan bahwa seseorang itu fasik atau air itu najis sebelum ia menyebutkan sebab yang menjadikan orang tersebut fasik atau air tersebut najis, karena adanya perbedaan pendapat dalam penentuan kefasikan dan kenajisan.

( [القسم المختلف فيه] )

(Bagian yang diperselisihkan)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الْمُخْتَلَفُ فِي وُجُوبِ الْكَشْفِ عَنْ سَبَبِهِ، فَهُوَ أَنْ تَتَوَجَّهَ الدَّعْوَى إِلَى عَقْدٍ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالْفَسَادِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian yang diperselisihkan tentang kewajiban mengungkap sebabnya, yaitu apabila gugatan diarahkan kepada suatu akad yang masih dipertentangkan antara sah dan batal, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُغَلَّظُ حُكْمُهُ في الشرع، كالنكاح المغلظ بالولي والشاهدين، فالحكم مَنْدُوبٌ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنْ يَسْأَلَ مُدَّعِي النِّكَاحِ عَنْ صِفَتِهِ، فَيَقُولُ نَكَحْتُهَا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ، وَرِضَاهَا، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِيمَا خُصَّ بِهِ النِّكَاحُ مِنْ صِفَةِ الْعَقْدِ، هَلْ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ أَوْ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Salah satunya adalah: perkara yang hukumnya diperberat dalam syariat, seperti pernikahan yang dipertegas dengan adanya wali dan dua orang saksi. Maka menurut Imam Syafi‘i, disunnahkan bagi hakim untuk menanyakan kepada orang yang mengaku telah menikah tentang sifat akadnya, lalu ia berkata, “Aku menikahinya dengan wali dan dua orang saksi yang adil, serta dengan kerelaannya.” Para sahabat beliau berbeda pendapat mengenai kekhususan pernikahan dalam sifat akadnya, apakah hal itu wajib atau hanya dianjurkan, dan terdapat tiga pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهَا: أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْوُجُوبِ سَوَاءً ادَّعَى الْعَقْدَ فَقَالَ:

Salah satunya: bahwa hal itu dimaknai sebagai anjuran (istihbāb) dan bukan kewajiban (wujūb), baik ia mengklaim telah terjadi akad lalu berkata:

تَزَوَّجَتْ بِهَذِهِ الْمَرْأَةِ، أَوِ ادَّعَى النِّكَاحَ فَقَالَ هَذِهِ زَوْجَتِي، وَتَصِحُّ الدَّعْوَى، وَإِنْ لَمْ يَصِفِ الْعَقْدَ، وَهَذَا قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لِأَمْرَيْنِ:

Menikahi wanita ini, atau mengaku telah menikah lalu berkata, “Ini istriku,” maka gugatan tersebut sah, meskipun ia tidak menyebutkan rincian akadnya. Ini adalah pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan juga pendapat Abu Hanifah serta Malik, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَمَّا لَمْ يَلْزَمِ فِي دَعْوَى الْبَيْعِ صِفَةُ الْعَقْدِ، وَإِنِ اعْتُبِرَتْ فِيهِ شُرُوطُ، اخْتُلِفَ فِيهَا لَمْ يَلْزَمْ صِفَةُ النِّكَاحِ لِأَجْلِ شُرُوطِهِ، وَاخْتِلَافِ النَّاسِ فِيهَا.

Salah satunya: Bahwa ketika dalam klaim jual beli tidak disyaratkan penyebutan sifat akad, meskipun di dalamnya terdapat syarat-syarat yang diperselisihkan, maka tidak diwajibkan pula penyebutan sifat akad nikah karena syarat-syaratnya dan perbedaan pendapat manusia di dalamnya.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ قَدْ يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ النِّكَاحِ وُجُودُ شَرَائِطٍ كَالْوَلِيِّ، وَالشَّاهِدَيْنِ، وَرِضَا الْمَنْكُوحَةِ، وَعَدَمِ شُرُوطٍ كَعَدَمِ الْعِدَّةِ، وَالرِّدَّةِ، وَالْإِحْرَامِ، فَلَمَّا لَمْ يُعْتَبَرْ فِي دَعْوَى النِّكَاحِ، الشُّرُوطُ الْمَعْدُومَةُ لَمْ تُعْتَبَرِ الشُّرُوطُ الْمَوْجُودَةُ.

Kedua: Sesungguhnya dalam keabsahan nikah terkadang dipersyaratkan adanya syarat-syarat seperti wali, dua orang saksi, kerelaan perempuan yang dinikahi, dan tidak adanya syarat-syarat seperti tidak dalam masa iddah, tidak murtad, dan tidak sedang ihram. Maka ketika dalam pengakuan nikah tidak dipertimbangkan syarat-syarat yang tidak ada, maka syarat-syarat yang ada pun tidak dipertimbangkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ ظَاهِرُ مَذْهَبِهِ، وَعَلَيْهِ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ، وَأَنَّ الشُّرُوطَ الْمُعْتَبَرُ وُجُودُهَا فِي صِحَّةِ النِّكَاحِ، شَرْطٌ فِي صِحَّةِ دَعَوَاهُ، سَوَاءٌ تَوَجَّهَتِ الدَّعْوَى إِلَى الْعَقْدِ أَوْ إِلَى الزَّوْجِيَّةِ، وَاخْتُلِفَ عَلَى هَذَا فِي سَبَبِ اخْتِصَاصِهِ فِي الدَّعْوَى بِصِفَةِ الْعَقْدِ، فَقَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لِأَنَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خَصَّهُ مِنْ سَائِرِ الْعُقُودِ بِأَنْ قَالَ: ” لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ “، وَلَوْلَا هَذَا التَّخْصِيصُ لَكَانَ كَغَيْرِهِ، وَعَلَّلَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ بِأَنَّ الْفُرُوجَ مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْحَظْرِ، وَالتَّغْلِيظِ فَلَمْ يَجُزْ اسْتِبَاحَتُهَا بِدَعْوَى مُحْتَمَلَةٍ، حَتَّى يَنْفِيَ عَنْهَا الِاحْتِمَالَ بِهِ لِصِفَةٍ.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhabnya dan dipegang oleh mayoritas pengikutnya, adalah bahwa hal itu bermakna wajib, dan bahwa syarat-syarat yang dianggap ada dalam keabsahan nikah juga merupakan syarat dalam keabsahan pengakuan nikah, baik gugatan itu diarahkan pada akad maupun pada status pernikahan. Dalam hal ini, terjadi perbedaan pendapat mengenai sebab kekhususan gugatan pada sifat akad. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah berpendapat bahwa Nabi ﷺ mengkhususkannya dari akad-akad lain dengan sabdanya: “Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi.” Kalau bukan karena pengkhususan ini, maka hukumnya sama seperti akad lainnya. Abu Ishaq al-Marwazi beralasan bahwa kemaluan pada dasarnya adalah untuk dijaga dan dipersulit, sehingga tidak boleh dihalalkan hanya dengan pengakuan yang masih mengandung kemungkinan, sampai kemungkinan itu dihilangkan dengan sifat tertentu.

وَعَلَّلَ أَبُو حَامِدٍ الْمَرْوَزِيُّ بِأَنَّ فِي اسْتِبَاحَةِ الزَّوْجِ إِتْلَافًا لَا يُسْتَدْرَكُ وَمَأْثَمًا لَا يَرْتَفِعُ بِالْإِبَاحَةِ، فَأَشْبَهَ دَعْوَى الْقَتْلِ، وَخَالَفَ مَا سِوَاهُ مِنْ عُقُودِ الْأَمْلَاكِ.

Abu Hamid al-Marwazi beralasan bahwa dalam membolehkan suami (melakukan hubungan) terdapat unsur perusakan yang tidak dapat diperbaiki dan dosa yang tidak hilang hanya dengan pembolehan, sehingga hal itu serupa dengan klaim pembunuhan, dan berbeda dengan selainnya dari akad-akad kepemilikan.

وَعَلَّلَ آخَرُونَ بِأَنَّ الْإِطْلَاقَ فِي عُقُودِ النِّكَاحِ أَكْثَرُ، وَمَا يُطْلَقُ عَلَى اسْمِ النِّكَاحِ مِنْ فَاسِدِ الْعُقُودِ أَقَلُّ، وَفَرَّقُوا بَيْنَ شُرُوطِ الْوُجُودِ، وَشُرُوطِ الْعَدَمِ وَأَنَّ الشُّرُوطَ الْمَعْدُومَةَ أَصِلٌ فِي الْعَدَمِ، فَحُمِلَتْ عَلَى ظَاهِرِ الْعَدَمِ وَلَيْسَ لِشُرُوطِ الْوُجُودِ أَصْلٌ فِي الْوُجُودِ فَلَمْ يُحْمَلْ عَلَى ظَاهِرِ الْوُجُودِ.

Sebagian ulama lain beralasan bahwa penggunaan istilah secara mutlak dalam akad nikah lebih banyak, sedangkan yang digunakan untuk menyebut akad nikah dari akad-akad yang fasid (rusak) lebih sedikit. Mereka membedakan antara syarat-syarat keberadaan dan syarat-syarat ketiadaan, serta bahwa syarat-syarat yang tidak ada pada dasarnya memang tidak ada, sehingga dipahami sesuai dengan makna lahiriah ketiadaannya. Adapun syarat-syarat keberadaan tidak memiliki dasar pada keberadaannya, sehingga tidak dipahami sesuai dengan makna lahiriah keberadaannya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى، فِي عَقْدِ النِّكَاحِ، فَقَالَ تَزَوَّجْتُ هَذِهِ الْمَرْأَةَ، كَانَتْ شُرُوطُ الْعَقْدِ مُعْتَبَرَةٌ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى وَإِنْ اقْتَصَرَتِ الدَّعْوَى عَلَى النِّكَاحِ الْأَوَّلِ، دُونَ الْعَقْدِ فَقَالَ هَذِهِ زَوْجَتِي، لَمْ يَعْتَبِرْ شُرُوطًا لِلْعَقْدِ فِي صِحَّةِ الدَّعْوَى، لِأَنَّ الِاسْتِدَامَةَ أَخَفُّ حُكْمًا مِنْ الابتداء، لأن الشَّهَادَةَ عَلَى عَقْدِ الْبَيْعِ، وَالنِّكَاحِ بِالْخَبَرِ الشَّائِعِ لا تَصِحُّ، حَتَّى يُشَاهِدَ الْمُتَعَاقِدَيْنِ، وَيَسْمَعَ لَفْظَهُمَا بِالْعَقْدِ وَالشَّهَادَةِ عَلَى الْأَمْلَاكِ، وَالزَّوْجِيَّةِ بِالْخَبَرِ الشَّائِعِ تَصِحُّ، فَلِذَلِكَ تَغَلَّظَتْ دَعْوَى الْعَقْدِ وَتَخَفَّفَتْ دَعْوَى الزَّوْجِيَّةِ.

Pendapat ketiga: Jika gugatan berkaitan dengan akad nikah, lalu seseorang berkata, “Saya telah menikahi wanita ini,” maka syarat-syarat akad harus diperhatikan dalam keabsahan gugatan tersebut. Namun, jika gugatan hanya terbatas pada pernikahan yang telah berlangsung, tanpa menyebutkan akad, seperti mengatakan, “Ini adalah istriku,” maka syarat-syarat akad tidak diperhitungkan dalam keabsahan gugatan, karena keberlanjutan (status pernikahan) hukumnya lebih ringan daripada permulaan (akad). Sebab, kesaksian atas akad jual beli dan nikah dengan berita yang tersebar tidak sah, kecuali saksi menyaksikan kedua pihak yang berakad dan mendengar lafaz akad dari keduanya. Sedangkan kesaksian atas kepemilikan dan status pernikahan dengan berita yang tersebar adalah sah. Oleh karena itu, gugatan terkait akad lebih berat syaratnya, sedangkan gugatan terkait status pernikahan lebih ringan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا صَحَّتْ دَعْوَى النِّكَاحِ عَلَى مَا وَصَفْنَا فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika gugatan nikah telah terbukti sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka ia terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَتَوَجَّهَ الدَّعْوَى مِنَ الزَّوْجِ عَلَى الزَّوْجَةِ، فَتُؤْخَذُ بِالْجَوَابِ عَنْهَا، وَلَهَا فِي الْجَوَابِ حَالَتَانِ: إِقْرَارٌ وَإِنْكَارٌ فإن أقرت بالزوجة، حُكِمَ بِإِقْرَارِهَا، وَأَنَّهَا زَوْجَةٌ لِمُدَّعِي نِكَاحِهَا وَسَوَاءٌ كَانَا فِي حَضَرٍ أَوْ سَفَرٍ.

Salah satunya adalah ketika gugatan diajukan oleh suami terhadap istri, maka istri diminta memberikan jawaban atas gugatan tersebut. Dalam memberikan jawaban, istri memiliki dua kemungkinan: mengakui atau mengingkari. Jika ia mengakui sebagai istri, maka diputuskan berdasarkan pengakuannya bahwa ia adalah istri dari orang yang mengaku telah menikahinya, baik mereka sedang berada di tempat tinggal maupun dalam perjalanan.

وَحُكِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ يَحْكُمُ بِذَلِكَ فِي السَّفَرِ وَلَا يَحْكُمُ بِهِ فِي الْحَضَرِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ أَوْ يَرَى دُخُولَهُ عَلَيْهَا، وَخُرُوجَهُ مِنْ عِنْدِهَا، لِإِمْكَانِ ذَلِكَ فِي الْحَضَرِ وَتَعَذُّرِهِ فِي السَّفَرِ إِلَّا أَنْ يَكُونَا فِي غُرْبَةٍ فَيُقْبَلُ.

Diriwayatkan dari Malik bahwa ia memutuskan dengan hal itu dalam keadaan safar, dan tidak memutuskan dengannya dalam keadaan mukim kecuali dengan adanya bukti atau ia melihat laki-laki masuk ke rumah perempuan tersebut dan keluar dari sisinya, karena hal itu memungkinkan dilakukan dalam keadaan mukim dan sulit dilakukan dalam keadaan safar, kecuali jika keduanya berada di tempat asing maka hal itu dapat diterima.

وَقَدْ ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ فَمِنْ أَصْحَابِهِ مَنْ خَرَّجَهُ قَوْلًا لَهُ فِي الْقَدِيمِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نَسَبَهُ إِلَى حِكَايَتِهِ لَهُ عَنْ مَالِكٍ وَأَنَّ مَذْهَبَهُ فِي الْقَدِيمِ، وَالْجَدِيدِ، وَقَوْلَ فُقَهَاءِ الْعِرَاقِ إِنَّ تَصَادُقَهُمَا عَلَى النِّكَاحِ يُوجِبُ الْحُكْمَ بِصِحَّتِهِ فِي الْحَضَرِ، وَالسِّفْرِ، وَفِي الْغُرْبَةِ، وَالْوَطَنِ، لِأَنَّه مِنْ لَوَازِمِ الْعُقُودِ لَهُمَا، فَحُكِمَ فِيهِ بِالصِّحَّةِ لِتَصَادُقِهَا كَسَائِرِ الْعُقُودِ.

Imam Syafi‘i telah menyebutkan hal ini dalam pendapat lamanya. Di antara para pengikutnya ada yang mengeluarkan pendapat tersebut sebagai pendapat beliau dalam qaul qadim, dan ada pula yang menisbatkannya kepada riwayat beliau dari Imam Malik, serta bahwa itu adalah mazhab beliau baik dalam qaul qadim maupun qaul jadid. Adapun pendapat para fuqaha Irak, mereka berpendapat bahwa kesepakatan kedua belah pihak atas akad nikah mewajibkan hukum sahnya, baik di negeri maupun dalam perjalanan, di tempat asing maupun di kampung halaman, karena hal itu termasuk konsekuensi dari akad bagi keduanya. Maka diputuskan sahnya akad tersebut karena adanya kesepakatan keduanya, sebagaimana akad-akad lainnya.

وَلِأَنَّ التَّصَادُقَ عَلَى الْعَقْدِ أَثْبَتُ مِنَ الْبَيِّنَةِ.

Karena kesepakatan bersama atas akad lebih kuat daripada bukti (bayyinah).

وَلِأَنَّ الْعَقْدَ يَسْبِقُ التَّصَرُّفَ فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِي الْإِقْرَارِ بِهِ وَإِنْ أَنْكَرَتْهُ الزَّوْجَةُ أُحْلِفَتْ.

Karena akad mendahului tindakan, maka dalam pengakuan terhadapnya tidak disyaratkan adanya tindakan tersebut. Jika istri mengingkarinya, maka ia diminta bersumpah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَمِينَ عَلَيْهِمَا وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي وُجُوبِ الْأَيْمَانِ فِي جَمِيعِ الدَّعَاوَى.

Abu Hanifah berkata: Tidak ada sumpah atas keduanya, dan telah disebutkan sebelumnya pembahasan bersamanya tentang wajibnya sumpah dalam seluruh gugatan.

فَإِنْ حَلَفَتْ فَلَا نِكَاحَ بَيْنِهِمَا، مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ بِالْعَقْدِ عَلَيْهَا وَبَيِّنَتُهُ شَاهِدَانِ عَدْلَانِ لَا غَيْرَ، إِمَّا عَلَى حُضُورِ الْعَقْدِ وَإِمَّا عَلَى إِقْرَارِهَا بِهِ، وَأُخِذَتْ بِالِاجْتِمَاعِ مَعَهُ جَبْرًا.

Jika perempuan itu bersumpah, maka tidak ada pernikahan antara keduanya, kecuali jika laki-laki itu memiliki bukti atas akad nikah dengannya, dan buktinya adalah dua orang saksi yang adil, tidak kurang. Saksi tersebut bisa atas kehadiran akad atau atas pengakuan perempuan itu terhadap akad tersebut, dan perempuan itu dipaksa untuk berkumpul dengannya.

وَإِنْ نَكَلَتْ عَنِ الْيَمِينِ مَعَ عَدَمِهِ لِلْبَيِّنَةِ رُدَّتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ، وَحُكِمَ لَهُ بِنِكَاحِهَا، إِذَا حَلَفَ وَإِنْ نَكَلَ عَنْ يَمِينِ الرَّدِّ انْقَطَعَتِ الدَّعْوَى، وَزَالَ حُكْمُهَا.

Jika ia (perempuan) menolak bersumpah sementara pihak lawan tidak memiliki bukti, maka sumpah dikembalikan kepadanya (pihak laki-laki), dan diputuskan bahwa ia berhak menikahinya jika ia bersumpah. Namun jika ia (laki-laki) juga menolak sumpah yang dikembalikan, maka gugatan terputus dan ketetapannya menjadi batal.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ دَعْوَى النِّكَاحِ، مُتَوَجِّهَةٌ مِنَ الزَّوْجَةِ عَلَى الزَّوْجِ، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِدَعْوَاهَا، طَلَبُ حَقٍّ يَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ مَهْرٍ، أَوْ نَفَقَةٍ سُمِعَتْ دَعْوَاهَا عَلَيْهِ، وَهَلْ يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ دَعْوَاهَا، ذِكْرُ شُرُوطِ الْعَقْدِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْأَوْجُهِ الثَّلَاثَةِ، وَأَخْذِ الزَّوْجِ بِالْجَوَابِ عَنْ دَعْوَاهَا، وَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِدَعْوَاهَا، طَلَبُ حَقٍّ يَتَعَلَّقُ فَفِي وُجُوبِ أَخْذِ الزَّوْجِ بِجَوَابِ دَعْوَاهَا وَجْهَانِ:

Jenis kedua: yaitu apabila gugatan nikah diajukan oleh istri terhadap suami. Jika dalam gugatannya tersebut disertai dengan tuntutan hak yang berkaitan dengannya, seperti mahar atau nafkah, maka gugatannya didengar terhadap suami. Apakah dalam sahnya gugatan tersebut harus disebutkan syarat-syarat akad sebagaimana telah kami sebutkan dalam tiga pendapat, dan apakah suami wajib memberikan jawaban atas gugatannya? Jika dalam gugatannya tidak disertai tuntutan hak yang berkaitan, maka dalam kewajiban suami untuk memberikan jawaban atas gugatannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُسْأَلُ عَنِ الْجَوَابِ، وَلَا يُؤْخَذُ بِهِ، لِأَنَّه إِذَا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِالدَّعْوَى، طَلَبُ حَقٍّ صَارَ إِقْرَارًا لَهُ بِالْعَقْدِ، وَلَا جَوَابَ عَلَى الْمُقِرِّ لَهُ.

Salah satunya: tidak ditanyakan tentang jawaban, dan tidak diambil darinya, karena jika tidak berkaitan dengan gugatan, permintaan hak, maka itu menjadi pengakuan darinya terhadap akad, dan tidak ada jawaban atas orang yang diakui untuknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَظْهَرُ أَنَّهُ يُؤْخَذُ بِالْجَوَابِ عَنْهُ، لِأَنَّه قَدْ يَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الدَّعْوَى مَا يَحْدُثُ بَعْدَهَا، مِنْ ثُبُوتِ نَسَبٍ وَاسْتِحْقَاقِ مِيرَاثٍ، فَإِذَا صَحَّتْ دَعْوَاهَا عَلَى مَا بَيَّنَّا وَأَخَذَ الزَّوْجُ بِجَوَابِهِ عَنْهَا، فَلَهُ حَالَتَانِ: إِقْرَارٌ وَإِنْكَارٌ. فَإِنْ أَقَرَّ حُكِمَ بِثُبُوتِ النِّكَاحِ بَيْنَهُمَا بِتَصَادُقِهِمَا فِي الْحَضَرِ وَالسِّفْرِ، عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَإِنْ خَالَفَ فِيهِ مَالِكٌ فَإِنْ أَنْكَرَهَا وَلَهَا بَيِّنَةٌ، سُمِعَتْ، وَحُكِمَ لَهَا بِالنِّكَاحِ.

Pendapat kedua, yang lebih kuat, adalah bahwa keputusan diambil berdasarkan jawaban terhadapnya, karena mungkin ada hal-hal yang berkaitan dengan gugatan ini yang muncul setelahnya, seperti penetapan nasab dan hak waris. Jika gugatan tersebut terbukti benar sebagaimana telah dijelaskan, dan suami memberikan jawabannya atas gugatan itu, maka ada dua kemungkinan: pengakuan atau penolakan. Jika ia mengakui, maka diputuskan sahnya pernikahan di antara keduanya karena adanya kesepakatan mereka, baik dalam keadaan mukim maupun safar, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, meskipun pendapat Malik berbeda dalam hal ini. Jika ia mengingkarinya dan istri memiliki bukti, maka bukti tersebut didengar dan diputuskan pernikahan untuknya.

وَإِنْ عَدِمَتِ الْبَيِّنَةَ، أُحْلِفَ لَهَا عَلَى إِنْكَارِهِ، فَإِنْ حَلَفَ فَلَا نِكَاحَ بَيْنَهُمَا، وَجَازَ لَهَا أَنْ تَنْكِحَ غَيْرَهُ، وَإِنْ أَقَرَّتْ بِنِكَاحِهِ، لِأَنَّ نِكَاحَهَا قَدْ زَالَ بِيَمِينِهِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ لَا تَكُونَ زَوْجَةً لَهُ، وَتَحْرُمُ عَلَى غَيْرِهِ.

Jika tidak ada bukti, maka ia (perempuan) diminta bersumpah atas penolakannya (laki-laki). Jika ia bersumpah, maka tidak ada pernikahan di antara keduanya, dan perempuan itu boleh menikah dengan laki-laki lain, meskipun ia mengakui pernah menikah dengannya, karena pernikahannya telah batal dengan sumpahnya (laki-laki). Tidak boleh pula ia tidak menjadi istrinya, namun tetap diharamkan bagi laki-laki lain.

وَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ رَدُّتْ عَلَيْهَا، فَإِذَا حَلَفَ بَعْدَ نُكُولِهِ حُكِمَ لَهَا عَلَيْهِ بِالزَّوْجِيَّةِ، وَحَلَّ لَهُ إِصَابَتُهَا، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِهَا، وَإِنْ أَنْكَرَ الْعَقْدَ، لِأَنَّه قَدْ حُكِمَ بَيْنَهُمَا بِالزَّوْجِيَّةِ فَكَانَ الْحُكْمُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا قَطْعُهُ.

Dan jika ia menolak untuk bersumpah, maka sumpah itu diberikan kepadanya (perempuan). Jika kemudian ia bersumpah setelah penolakannya, maka diputuskan untuknya (perempuan) atasnya (laki-laki) tentang status pernikahan, sehingga halal baginya untuk menggaulinya dan menikmati dirinya, meskipun ia mengingkari akad, karena telah diputuskan di antara keduanya tentang status pernikahan, maka keputusan itu berlaku bagi masing-masing dari mereka secara pasti.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ عَلَيْهِ بالنكاح، ويحكم عليه بتحريم الاستمتاع، وليس حجود النِّكَاحِ طَلَاقًا، تَحْرُمُ بِهِ عَلَيْهِ، لِأَنَّه لَوْ كَانَ طَلَاقًا لَارْتَفَعَ بِهِ النِّكَاحُ، وَإِذَا كَانَ النِّكَاحُ بَعْدَهُ ثَابِتًا، امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ طَلَاقًا فَامْتَنَعَ أَنْ يَحْرُمَ عَلَيْهِ الِاسْتِمْتَاعُ.

Tidak boleh diputuskan atasnya dengan status pernikahan, dan diputuskan atasnya dengan keharaman menikmati (istri), dan pengingkaran terhadap pernikahan bukanlah talak yang menyebabkan istrinya menjadi haram baginya. Karena jika itu dianggap sebagai talak, maka pernikahan akan batal karenanya. Dan jika pernikahan setelahnya masih tetap ada, maka tidak mungkin itu dianggap sebagai talak, sehingga tidak mungkin juga keharaman menikmati (istri) berlaku atasnya.

( [دَعْوَى غَيْرِ النِّكَاحِ] )

(Gugatan selain nikah)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا دَعْوَى غَيْرِ النِّكَاحِ مِنْ سَائِرِ الْعُقُودِ كَالْبَيْعِ، وَالْإِجَارَةِ، وَالرَّهْنِ، فَإِنْ لَمْ يُعْتَبَرْ شُرُوطُ الْعَقْدِ فِي دَعْوَى النِّكَاحِ فَأَوْلَى أَنْ لَا تُعْتَبَرَ فِي دَعْوَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُقُودِ، لِأَنَّها إِذَا لَمْ تُعْتَبَرْ فِي الْأَغْلَظِ كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا تُعْتَبَرَ فِي الْأَخَفِّ وَإِنِ اعْتُبِرَتْ فِي النِّكَاحِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اعْتِبَارِهَا فِي دَعْوَى غَيْرِهِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْإِجَارَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun gugatan selain nikah dari berbagai akad seperti jual beli, ijarah, dan rahn, maka jika syarat-syarat akad tidak diperhitungkan dalam gugatan nikah, maka lebih utama lagi untuk tidak diperhitungkan dalam gugatan selainnya dari akad-akad tersebut. Karena jika syarat-syarat itu tidak diperhitungkan dalam perkara yang lebih berat, maka lebih utama lagi untuk tidak diperhitungkan dalam perkara yang lebih ringan. Namun jika syarat-syarat itu diperhitungkan dalam nikah, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai perhitungannya dalam gugatan selain nikah seperti jual beli dan ijarah, menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا: يُعْتَبَرُ فِي دَعْوَاهَا شُرُوطُ الْعَقْدِ، سَوَاءٌ اسْتُبِيحَ بِهَا، ذَاتُ فَرَجٍ أَمْ لَا، لِأَنَّها قَدْ تُوجَدُ فِيهَا الصِّحَّةُ، وَالْفَسَادُ كَالنِّكَاحِ، فَيَقُولُ فِي دَعْوَى الْعَبْدِ ابْتَعْتُ هَذَا الْعَبْدَ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ بَعْدَ رُؤْيَتِهِ وَافْتَرَقْنَا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُ.

Salah satunya: Dalam klaimnya, harus dipenuhi syarat-syarat akad, baik yang dihalalkan dengannya adalah perempuan yang memiliki farj maupun tidak, karena dalam hal itu bisa terdapat keabsahan dan kerusakan seperti dalam nikah. Maka dalam klaim terhadap budak, seseorang berkata: “Aku telah membeli budak ini seharga seribu dirham setelah melihatnya dan kami berpisah dalam keadaan saling ridha.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ إِطْلَاقُ الدَّعْوَى، وَلَا تُعْتَبَرُ فِيهَا شُرُوطَ الْعَقْدِ وَسَوَاءٌ اسْتُبِيحَ بِهَا ذَاتُ فَرْجٍ أَمْ لَا بِخِلَافِ النِّكَاحِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا فِي التَّغْلِيظِ بِاعْتِبَارِ الْوَلِيِّ وَالشَّاهِدَيْنِ فِي النِّكَاحِ، وَسُقُوطِ اعْتِبَارِهِ فِي الْبَيْعِ.

Pendapat kedua: Diperbolehkan mengajukan gugatan secara umum, dan dalam hal ini tidak disyaratkan terpenuhinya syarat-syarat akad. Sama saja apakah dengan gugatan tersebut dihalalkan hubungan badan atau tidak, berbeda dengan nikah, karena terdapat perbedaan antara keduanya dalam hal penegasan syarat, yaitu adanya pertimbangan wali dan dua saksi dalam nikah, sedangkan dalam jual beli pertimbangan tersebut tidak berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنِ اسْتُبِيحَ بِالْبَيْعِ ذَاتُ فَرْجٍ كَابْتِيَاعِ الْأَمَةِ اعْتُبِرَ فِي دَعْوَى ابْتِيَاعِهَا شُرُوطُ الْعَقْدِ، كَالنِّكَاحِ، وَإِنْ لَمْ يُسْتَبَحْ بِهِ ذَاتُ فَرْجٍ كَابْتِيَاعِ الْبَهَائِمِ، وَالْأَمْتِعَةِ، لَمْ يُعْتَبَرْ فِي دَعْوَى ابْتِيَاعِهَا شُرُوطُ الْعَقْدِ لِتَخْفِيفِ حُكْمِهَا بِأَنَّهَا تُمْلَكُ بِالْإِبَاحَةِ، وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ لِهَذَا الْمُوَجِّهِ وَجْهٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Pendapat ketiga: Jika dengan jual beli diperbolehkan kepemilikan atas perempuan yang memiliki farj, seperti membeli budak perempuan, maka dalam klaim pembeliannya harus dipenuhi syarat-syarat akad, sebagaimana dalam nikah. Namun, jika dengan jual beli tidak diperbolehkan kepemilikan atas perempuan yang memiliki farj, seperti membeli hewan ternak dan barang-barang, maka dalam klaim pembeliannya tidak disyaratkan syarat-syarat akad, karena hukumnya lebih ringan, yaitu dapat dimiliki dengan cara ibāhah (pembolehan). Tampaknya pendapat ini memiliki dasar. Allah Maha Mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالْأَيْمَانُ فِي الدِّمَاءِ مُخَالِفَةٌ لِغَيْرِهَا لَا يُبْرَأُ مِنْهُ إِلَّا بِخَمْسِينَ يَمِينًا وَسَوَاءٌ النَّفْسُ وَالْجُرْحُ فِي هَذَا نَقْتُلُهُ وَنَقُصُّهُ مِنْهُ بِنُكُولِهِ وَيَمِينِ صاحبه (قال المزني) رحمه الله: قطع في الإملاء بأن لا قسامة بدعوى ميت ولكن يحلف المدعى عليه ويبرأ فإن أبى حلف الأولياء واستحقوا دمه وإن أبوا بطل حقهم وقال في الكتاب اختلاف الحديث من ادعى دما ولا دلالة للحاكم على دعواه كالدلالة التي قَضَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بالقسامة أحلف المدعى عليه كما يحلف فيما سوى الدم (قال المزني) رحمه الله: وهذا به أشبه ودليل آخر حكم النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في القسامة بتبدئة المدعي لا غيره وحكم فيما سوى ذلك بتبدئة يمين المدعى عليه لا غيره فإذا حكم الشافعي فيما وصفت بتبدئة المدعى عليه ارتفع عدد أيمان القسامة “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sumpah dalam perkara darah berbeda dengan selainnya; tidak bisa bebas darinya kecuali dengan lima puluh sumpah, baik dalam kasus jiwa maupun luka, dalam hal ini kami membunuh atau mengurangi (hak) darinya karena penolakan bersumpah dan sumpah pihak lawan.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Dalam kitab al-Imlā’, beliau menegaskan bahwa tidak ada qasāmah dalam klaim atas orang mati, tetapi yang bersumpah adalah terdakwa dan ia bebas dari tuduhan; jika ia menolak, maka para wali bersumpah dan mereka berhak atas darahnya; jika mereka menolak, gugurlah hak mereka. Dalam kitab al-Umm, beliau menyebutkan perbedaan hadis: barang siapa mengklaim darah dan tidak ada petunjuk bagi hakim atas klaimnya seperti petunjuk yang diputuskan oleh Rasulullah ﷺ dengan qasāmah, maka terdakwa yang bersumpah sebagaimana dalam perkara selain darah.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) “Ini lebih mendekati kebenaran, dan dalil lainnya adalah bahwa Nabi ﷺ dalam qasāmah memulai dari penggugat, bukan selainnya, dan dalam perkara selain itu memulai dari sumpah terdakwa, bukan selainnya. Maka jika Imam Syafi‘i memutuskan dalam kasus yang disebutkan dengan memulai dari sumpah terdakwa, maka jumlah sumpah qasāmah menjadi berkurang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي كتاب القسامة، وذكرنا أن دعوى الدماء، يخالف دَعْوَى الْأَمْوَالِ، مِنْ وَجْهَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini telah dibahas dalam kitab Qasamah, dan kami telah menyebutkan bahwa klaim atas darah berbeda dengan klaim atas harta dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: بِالتَّبْدِئَةِ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي مَعَ اللَّوْثِ، وَبِأَعْدَادِ الْأَيْمَانِ خَمْسِينَ يَمِينًا،. وَإِذَا اخْتَصَّتِ الدِّمَاءُ بِهَذَيْنِ الْحُكْمَيْنِ لَمْ تَخْلُ دَعْوَاهُمَا مِنْ أَنْ تَكُونَ فِي نَفْسٍ أَوْ طَرَفٍ، فَإِنْ كَانَتْ فِي نَفْسٍ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ مَعَهَا لَوْثٌ، أَمْ لَا.

Salah satunya: dengan memulai sumpah dari pihak penggugat disertai adanya al-lawts, dan dengan jumlah sumpah sebanyak lima puluh kali. Dan apabila perkara darah khusus dengan dua hukum ini, maka klaim mereka tidak lepas dari kemungkinan berkaitan dengan jiwa atau anggota tubuh. Jika berkaitan dengan jiwa, maka tidak lepas dari ada atau tidak adanya al-lawts bersamanya.

فَإِنْ كَانَ مَعَهُمَا لَوْثٌ تَعَلَّقَ عَلَيْهِمَا الْحُكْمَانِ فِي التَّبْدِئَةِ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي وَبِإِحْلَافِهِ خَمْسِينَ يَمِينًا، فَإِنْ كَانَ الْوَلِيُّ وَاحِدًا، أُحْلِفَ خَمْسِينَ يَمِينًا وَاسْتَحَقَّ الدَّمَ، وَفِيمَا يَسْتَحِقُّهُ بِهِ قَوْلَانِ:

Jika pada keduanya terdapat indikasi kuat (lawts) yang menyebabkan kedua hukum berlaku atas mereka dalam hal memulai dengan sumpah penggugat dan dengan mewajibkan dia bersumpah lima puluh kali, maka jika walinya hanya satu orang, ia diwajibkan bersumpah lima puluh kali dan berhak atas diyat (tebusan darah). Terkait dengan apa yang menjadi haknya melalui sumpah tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: الْقَوَدُ قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ.

Salah satunya adalah qawad, sebagaimana disebutkan dalam pendapat lama.

وَالثَّانِي: الدِّيَةُ قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ.

Yang kedua: diyat, sebagaimana disebutkan dalam pendapat baru.

وَإِنْ كَانَ وَلِيُّ الدَّمِ جَمَاعَةٌ فَفِي أَيْمَانِهِمْ قَوْلَانِ:

Jika wali darah itu terdiri dari sekelompok orang, maka mengenai sumpah mereka terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ يَحْلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ خَمْسِينَ يَمِينًا، يَسْتَوِي فِيهِ مَنْ قَلَّ سَهْمُهُ وَكَثُرَ.

Salah satunya adalah bahwa setiap orang dari mereka bersumpah sebanyak lima puluh sumpah, baik yang bagian warisannya sedikit maupun yang banyak, semuanya sama.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّ الْخَمْسِينَ يُقَسَّطُ بَيْنَهُمْ، عَلَى قَدْرِ مِيرَاثِهِ، فَيَحْلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِقَدْرِ قِسْطِهِ مِنْ مَوَارِيثِهِ، بِجَبْرِ الْكَسْرِ، فَإِنْ كَانُوا ابْنًا وَبِنْتًا حَلَفَ الِابْنُ أَرْبَعَةً وَثَلَاثِينَ يَمِينًا، وَحَلَفَتِ الْبِنْتُ سَبْعَ عَشْرَةَ يَمِينًا.

Pendapat kedua: bahwa lima puluh sumpah itu dibagi di antara mereka sesuai dengan bagian warisannya, sehingga masing-masing dari mereka bersumpah sebanyak bagian warisannya dari harta warisan, dengan membulatkan pecahan. Jika mereka terdiri dari seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka anak laki-laki bersumpah tiga puluh empat kali, dan anak perempuan bersumpah tujuh belas kali.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَ الدَّعْوَى لَوْثٌ، سَقَطَتِ التَّبْدِئَةُ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي وَأُحْلِفَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ كَمَا يُبْتَدَأُ بِإِحْلَافِهِ فِي دَعْوَى الْأَمْوَالِ، وَلَكِنْ هَلْ تُغَلَّظُ الدَّعْوَى بِعَدَدِ الْأَيْمَانِ أَمْ لَا؟ عَلَى قولين:

Jika dalam gugatan tidak terdapat lawts, maka permulaan dengan sumpah penggugat gugur, dan yang disumpah adalah tergugat, sebagaimana dimulai dengan menyumpahkannya dalam gugatan harta. Namun, apakah gugatan tersebut diperberat dengan jumlah sumpah atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُغَلَّظُ بِالْعَدَدِ، وَيَحْلِفُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ يَمِينًا وَاحِدَةً. لِأَنَّه لَمَّا سَقَطَ فِيهَا حُكْمُ التَّبْدِئَةِ سَقَطَ فِيهَا حُكْمُ الْعَدَدِ كَالْأَمْوَالِ.

Salah satunya: sumpah tidak diperberat dengan jumlah, dan pihak tergugat hanya bersumpah satu kali. Karena ketika hukum memulai gugatan tidak berlaku di dalamnya, maka hukum jumlah pun tidak berlaku di dalamnya, seperti halnya dalam perkara harta.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: تُغَلَّظُ فِيهَا الْأَيْمَانُ بِالْعَدَدِ، وَإِنْ سَقَطَ التَّغْلِيظُ بِالتَّبْدِئَةِ، لِتَغْلِيظِ حُكْمِ الدِّمَاءِ، بِوُجُوبِ الْقَوَدِ، وَالْكَفَّارَةِ فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَاحِدًا، حَلَفَ خَمْسِينَ يَمِينًا، وَإِنْ كَانُوا جَمَاعَةً فَعَلَى قَوْلَيْنِ:

Pendapat kedua: sumpah dalam kasus ini diperberat dengan jumlah, meskipun penegasan dengan mendahulukan sumpah tidak diberlakukan, karena beratnya hukum terkait darah, seperti kewajiban qishāsh dan kafārah. Berdasarkan pendapat ini, jika yang dituduh hanya satu orang, maka ia bersumpah lima puluh kali. Namun jika yang dituduh adalah sekelompok orang, maka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ خَمْسِينَ يَمِينًا.

Salah satunya adalah setiap dari mereka bersumpah lima puluh kali sumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُقَسَّطُ الْخَمْسُونَ بَيْنَهُمْ عَلَى عَدَدِهِمْ إِلَّا أَنْ يَكُونُوا وَرَثَةَ مَيِّتٍ، فتقسط بينهم على مواريثهم، فإن حلف برىء، وَإِنْ نَكَلَ رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى، وَفِي تَغْلِيظِ يَمِينِهِ بِالْعَدَدِ قَوْلَانِ:

Pendapat kedua: Lima puluh sumpah dibagi di antara mereka sesuai jumlah mereka, kecuali jika mereka adalah ahli waris dari orang yang telah meninggal, maka dibagi di antara mereka sesuai bagian warisan mereka. Jika mereka bersumpah, maka mereka terbebas; dan jika mereka enggan bersumpah, sumpah itu dikembalikan kepada pihak yang menuduh. Dalam hal memperberat sumpahnya dengan jumlah tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُغَلَّظُ وَيَحْلِفُ يَمِينًا وَاحِدَةً، يَسْتَحِقُّ بِهَا الْقَوَدَ فِي الْعَمْدِ قَوْلًا وَاحِدًا، وَإِنْ لَمْ يَسْتَحِقُّهُ مَعَ اللَّوْثِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، لِأَنَّ يَمِينَ الرَّدِّ فِي النُّكُولِ تَقُومُ مَقَامَ الْإِقْرَارِ، فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَمَقَامَ الْبَيِّنَةِ فِي الْقَوْلِ الْآخَرِ، وَالْقَوَدُ يُسْتَحَقُّ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ إِقْرَارِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: Sumpah tersebut tidak diperberat dan cukup dengan satu kali sumpah, yang dengannya berhak mendapatkan qisas dalam kasus pembunuhan sengaja menurut satu pendapat, meskipun tidak berhak mendapatkannya dalam kasus adanya syubhat menurut salah satu dari dua pendapat. Karena sumpah pengembalian dalam kasus penolakan (nukūl) menempati posisi pengakuan menurut salah satu pendapat, dan menempati posisi bukti menurut pendapat lainnya. Sedangkan qisas dapat diperoleh baik dengan pengakuan terdakwa maupun dengan bukti dari pihak penggugat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَحْلِفُ الْمُدَّعِي خَمْسِينَ يَمِينًا، ثُمَّ يَحْكُمُ لَهُ بِالْقَوَدِ إِنْ حَلَفَهَا فَإِنْ كَانُوا جَمَاعَةً فَعَلَى قَوْلَيْنِ:

Pendapat kedua: Penggugat bersumpah lima puluh kali sumpah, kemudian diputuskan baginya hukum qawad (qishāsh) jika ia telah mengucapkan sumpah tersebut. Jika penggugat itu sekelompok orang, maka ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ خَمْسِينَ يَمِينًا.

Salah satunya adalah setiap orang dari mereka bersumpah sebanyak lima puluh sumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهَا تسقط بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ بِجَبْرِ الْكَسْرِ.

Pendapat kedua: sesungguhnya diyat itu dibagi di antara mereka sesuai dengan bagian warisan mereka, dengan membulatkan pecahan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا إِنْ كَانَتْ دَعْوَى الدَّمُ فِي الْأَطْرَافِ فَتَسْقُطُ فِيهَا التَّبْدِئَةُ، بِيَمِينِ الْمُدَّعِي، سَوَاءٌ كَانَ مَعَهَا لَوْثٌ، أَوْ لَمْ يَكُنْ لِسُقُوطِ تَغْلِيظِهَا، بِسُقُوطِ الْكَفَّارَةِ فِيهَا، فَأَمَّا تَغْلِيظُهُ بِعَدَدِ الْأَيْمَانِ، فَإِنْ لَمْ تُغْلَّظْ بِالْعَدَدِ فِي النُّفُوسِ عِنْدَ عَدَمِ اللَّوْثِ، فَأَوْلَى أَنْ لَا تُغَلَّظَ بِالْعَدَدِ فِي الْأَطْرَافِ وَإِنْ غُلِّظَتْ بِالْعَدَدِ فِي النُّفُوسِ فَفِي تَغْلِيظِ الْأَيْمَانِ بِالْعَدَدِ فِي الْأَطْرَافِ قَوْلَانِ:

Adapun jika gugatan darah itu berkaitan dengan anggota tubuh, maka tidak disyaratkan untuk memulai dengan sumpah penggugat, baik disertai adanya indikasi kuat (lauwts) maupun tidak, karena tidak adanya penegasan sumpah yang berat di dalamnya, sebagaimana gugurnya kewajiban kafarat di dalamnya. Adapun penegasan sumpah dengan jumlah sumpah, jika dalam kasus jiwa tidak ditekankan dengan jumlah sumpah ketika tidak ada indikasi kuat, maka lebih utama lagi untuk tidak ditekankan dengan jumlah sumpah dalam kasus anggota tubuh. Namun, jika dalam kasus jiwa ditekankan dengan jumlah sumpah, maka dalam penegasan sumpah dengan jumlah dalam kasus anggota tubuh terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تُغَلَّظُ، وَيَحْلِفُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ يَمِينًا وَاحِدَةً، وَيَبْرَأُ مِنَ الدَّعْوَى، فَإِنْ نَكَلَ عَنْهَا رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعِي، وَحَلَفَ يَمِينًا وَاحِدَةً، وَاسْتَحَقَّ بِهَا الْقَوَدَ.

Salah satunya: sumpah tidak diperberat, dan tergugat bersumpah satu kali, lalu terbebas dari gugatan. Jika ia enggan bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada penggugat, dan penggugat bersumpah satu kali, lalu ia berhak mendapatkan qishāsh dengan sumpah tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنْ تُغَلَّظَ الْأَيْمَانُ بِالْعَدَدِ وَفِي كَيْفِيَّةِ تَغْلِيظِهَا قَوْلَانِ:

Pendapat kedua: sumpah-sumpah itu diperberat dengan jumlah, dan dalam cara memperberatnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تُغْلَّظُ فِي دَعْوَى كُلِّ طَرَفٍ خَمْسِينَ يَمِينًا، سَوَاءٌ قَلَّتْ دِيَتُهُ أَوْ كَثُرَتْ.

Salah satunya: pada setiap pihak yang mengajukan klaim, ditekankan untuk bersumpah sebanyak lima puluh sumpah, baik diyatnya sedikit maupun banyak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهَا تَسْقُطُ عَلَى دِيَةِ الطَّرَفَ مِنْ جُمْلَةِ دِيَةِ النَّفْسِ، فَإِنْ كَانَ الطَّرَفُ مُوجِبًا لِجَمِيعِ الدِّيَةِ كَاللِّسَانِ وَالذِّكْرِ حَلَفَ خَمْسِينَ يَمِينًا وَإِنْ كَانَ فِيهِ نِصْفُ الدِّيَةِ كَإِحْدَى الْيَدَيْنِ حَلَفَ خَمْسَةً وَعِشْرِينَ يَمِينًا وَإِذَا كَانَ فِيهِ ثُلُثِ الدِّيَةِ كَالْمَأْمُومَةِ، وَالْجَائِفَةِ، حَلَفَ سَبْعَ عَشْرَةَ يَمِينًا وَإِنْ كَانَ فِيهِ عُشْرُ الدِّيَةِ، كَالْأُصْبُعِ حَلَفَ خَمْسَةَ أَيْمَانٍ، وَإِنْ كَانَ فِيهِ نِصْفُ الْعَشْرِ كَالْمُوَضِّحَةِ حَلَفَ ثَلَاثَةَ أَيْمَانٍ فَإِنْ كَانَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَاحِدًا حَلَفَهَا، وَإِنْ كَانُوا جَمَاعَةً فَعَلَى قَوْلَيْنِ:

Pendapat kedua: Sumpah itu berlaku pada diyat anggota tubuh sebagai bagian dari diyat jiwa. Jika anggota tubuh tersebut mewajibkan seluruh diyat, seperti lidah dan kemaluan, maka bersumpah lima puluh kali. Jika anggota tubuh itu bernilai setengah diyat, seperti salah satu tangan, maka bersumpah dua puluh lima kali. Jika nilainya sepertiga diyat, seperti luka ma’mūmah dan ja’ifah, maka bersumpah tujuh belas kali. Jika nilainya sepersepuluh diyat, seperti jari, maka bersumpah lima kali. Jika nilainya setengah dari sepersepuluh, seperti luka muwaḍḍiḥah, maka bersumpah tiga kali. Jika yang didakwa hanya satu orang, maka dialah yang bersumpah. Jika mereka sekelompok, maka ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَحْلِفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ جَمِيعَ هَذَا الْعَدَدِ الْمَذْكُورِ.

Salah satunya adalah setiap orang dari mereka bersumpah sebanyak jumlah yang telah disebutkan itu.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهُ يُقَسِّطُ هَذَا الْعَدَدَ بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ مَوَارِيثِهِمْ بِجَبْرِ الْكَسْرِ، فَإِنْ نَكَلُوا عَنِ الْيَمِينِ، رُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِي وَكَانَتْ عَدَدُ أَيْمَانِهِ مِثْلَ عَدَدِ أَيْمَانِهِمْ عَلَى الْأَقَاوِيلِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya jumlah ini dibagi di antara mereka sesuai dengan bagian warisan mereka dengan membulatkan pecahan, maka jika mereka enggan bersumpah, sumpah itu dikembalikan kepada penggugat dan jumlah sumpahnya sama dengan jumlah sumpah mereka menurut pendapat-pendapat yang ada.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ اخْتَارَ أَنْ يَكُونَ عَدَدُ الْأَيْمَانِ مُعْتَبَرًا بِالتَّبْدِئَةِ فَإِنْ حُكِمَ بِتَبْدِئَةِ الْمُدَّعِي لِوُجُودِ اللَّوْثِ، غُلِّظَتِ الْأَيْمَانُ بِالْعَدَدِ وَإِنْ سَقَطَتِ التَّبْدِئَةُ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي سَقَطَتْ عَدَدُ الْأَيْمَانِ. ثُمَّ ذَكَرَ الْمُزَنِيُّ فِي كَلَامِهِ مَسْأَلَةً حَكَاهَا عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي الْإِمْلَاءِ فَقَالَ ” وَلَا قَسَامَةَ، بِدَعْوَى مَيِّتٍ ” يُرِيدُ بِهِ إِنَّ الْمَقْتُولَ إِذَا قَالَ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَتَلَنِي فُلَانٌ فَلَا قَسَامَةَ لِوَارِثِهِ، يَعْنِي أَنَّهُ لَا يُبْدَأُ بِيَمِينِهِ وَلَا يُجْعَلُ ذَلِكَ لَوْثًا لَهُ، رَدًا عَلَى مَالِكٍ حَيْثُ جَعَلَهُ لَوْثًا وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِيهِ.

Adapun al-Muzani, ia memilih bahwa jumlah sumpah dipertimbangkan berdasarkan permulaan (tabdi’ah). Jika diputuskan untuk memulai dari pihak penggugat karena adanya indikasi kuat (lawts), maka sumpah diperberat dengan jumlah (sumpah). Namun jika permulaan dengan sumpah penggugat gugur, maka jumlah sumpah pun gugur. Kemudian al-Muzani dalam penjelasannya menyebutkan satu permasalahan yang ia nukil dari asy-Syafi‘i dalam kitab al-Imla’, ia berkata: “Tidak ada qasamah karena klaim orang mati,” maksudnya adalah jika orang yang terbunuh berkata sebelum wafatnya, “Si Fulan telah membunuhku,” maka tidak ada qasamah bagi ahli warisnya, artinya tidak dimulai dengan sumpahnya dan hal itu tidak dijadikan sebagai indikasi kuat (lawts) baginya. Ini sebagai bantahan terhadap Malik yang menjadikannya sebagai indikasi kuat, dan pembahasan tentang hal ini telah berlalu.

فَأَمَّا عَدَدُ الْأَيْمَانِ فِيهِ فَيَكُونُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ فِي عَدَدِهَا، مَعَ عَدَمِ اللَّوْثِ فَلَمْ يَكُنْ لِلْمُزَنِيِّ فِي إِيرَادِهَا دَلِيلٌ عَلَى مَا اخْتَارَهُ، مِنْ سقوط العدد.

Adapun jumlah sumpah di dalamnya, maka hal itu mengikuti dua pendapat mengenai jumlahnya. Dengan tidak adanya al-lawts, maka tidak terdapat dalil bagi al-Muzani dalam penyampaiannya atas apa yang ia pilih, yaitu gugurnya jumlah tersebut.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَالدَّعْوَى فِي الْكَفَالَةِ بِالنَّفْسِ وَالنُّكُولِ وَرَدِّ الْيَمِينِ كَهِيَ فِي الْمَالِ إِلَّا أَنَّ الْكَفَالَةَ بِالنَّفْسِ ضَعِيفَةٌ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Gugatan dalam perkara kafālah jiwa, penolakan, dan pengembalian sumpah itu seperti dalam perkara harta, kecuali bahwa kafālah jiwa itu lemah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي كَفَالَةِ النُّفُوسِ، قَدْ مَضَتْ فِي كِتَابِ الضَّمَانِ مُسْتَوْفَاةٌ، وأعادها المزني هاهنا لأمرين:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini mengenai kafalah jiwa telah dibahas secara tuntas dalam Kitab ad-Dhaman, dan al-Muzani mengulanginya di sini karena dua hal:

أحدهما: بصحة الدَّعْوَى بِصِحَّتِهَا، وَفَسَادُ دَعْوَاهَا بِفَسَادِهَا.

Yang pertama: gugatan dianggap sah jika memang sah, dan gugatan dianggap batal jika memang batal.

وَالثَّانِي: لِوُجُوبِ الْيَمِينِ فِي إِنْكَارِهَا إِذَا صَحَّتْ، وَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الضَّمَانِ، إِنَّ كَفَالَةَ النُّفُوسِ صَحِيحَةٌ وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي قِصَّةِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ {قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ} [يوسف: 66] يَعْنِي كَفِيلًا بِنَفْسِهِ، وَلِأَنَّهُ قَدْ عَمِلَ بِهَا الصَّدْرَ الْأَوَّلَ، وَلِأَنَّ فِيهَا رِفْقًا بَالنَّاسِ، وَتَعَاوُنًا عَلَى الصِّيَانَةِ.

Kedua: karena wajibnya sumpah dalam penolakannya jika telah sah, dan pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam Kitab ad-Dhamān adalah bahwa kafālah jiwa itu sah, dan ini adalah pendapat mayoritas fuqahā’, berdasarkan firman Allah Ta‘ala dalam kisah Yusuf ‘alaihissalām: “Ia berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan mengirimkannya bersama kalian sebelum kalian memberiku janji yang kuat dari Allah bahwa kalian benar-benar akan membawanya kembali kepadaku’” (Yusuf: 66), yaitu penjamin atas dirinya. Dan karena hal itu telah diamalkan oleh generasi pertama, serta di dalamnya terdapat kemudahan bagi manusia dan saling tolong-menolong dalam menjaga (hak dan jiwa).

ثُمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا: ” إِلَّا أَنَّ الْكَفَالَةَ فِي النَّفْسِ ضَعِيفَةٌ “.

Kemudian asy-Syafi‘i berkata di sini: “Kecuali bahwa kafalah dalam hal jiwa itu lemah.”

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مُرَادِهِ بِضَعْفِهَا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ، أَرَادَ بِهِ بُطْلَانَهَا.

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai maksud beliau dengan lemahnya (dalil) tersebut. Sebagian dari mereka mengatakan, yang dimaksud adalah batalnya (dalil) itu.

فَخَرَّجُوا هَذَا قَوْلًا ثَانِيًا، فِي إِبْطَالِهَا لِأَنَّه لَمْ يُكْفَلْ بِمَالٍ فِي الذِّمَّةِ، وَلَا بِعَيْنٍ مَضْمُونَةٍ، يَجِبُ غُرْمُ قِيمَتِهَا.

Mereka mengemukakan hal ini sebagai pendapat kedua, yaitu batalnya akad tersebut karena tidak ada jaminan berupa harta dalam tanggungan, dan tidak pula berupa barang tertentu yang dijamin, yang wajib diganti nilainya.

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْهُمْ، لَمْ يُرِدْ بِالضَّعْفِ إِبْطَالَهَا، وَإِنَّمَا أَرَادَ ضَعْفَهَا فِي قِيَاسِ الْأُصُولِ، وَإِنْ صَحَّتْ بِالْآثَارِ وَالْعَمَلِ الْمُتَّفِقِ عَلَيْهِ.

Dan sebagian lain dari mereka berkata, yang dimaksud dengan “lemah” bukanlah menolaknya, melainkan yang dimaksud adalah kelemahannya dalam qiyās terhadap ushul, meskipun ia sah berdasarkan atsar dan praktik yang telah disepakati.

فَأَمَّا إِذَا كَانَتِ الْكَفَالَةُ بِالنَّفْسِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى: فَإِنْ مُنِعَ مِنْهَا فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ عَلَى التَّخْرِيجِ الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ أَصْحَابِنَا كَانَتْ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى أَمْنَعُ لِإِدْرَائِهَا بِالشُّبُهَاتِ.

Adapun jika kafālah jiwa dilakukan dalam hak-hak Allah Ta‘ala, maka jika kafālah tersebut dilarang dalam hak-hak manusia menurut pendapat sebagian ulama kami, maka dalam hak-hak Allah Ta‘ala larangannya lebih kuat, karena hak-hak tersebut digugurkan dengan adanya syubhat.

وَإِنْ أُجِيزَتْ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ عَلَى الظَّاهِرِ الْمَشْهُودِ، مِنَ الْمَذْهَبِ فَفِي جَوَازِهَا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى قَوْلَانِ:

Dan jika diperbolehkan dalam hak-hak manusia berdasarkan pendapat yang zahir dan masyhur dari mazhab, maka mengenai kebolehannya dalam hak-hak Allah Ta‘ala terdapat dua pendapat.

أَحَدُهَا: لَا تَجُوزُ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَا.

Salah satunya: tidak boleh dijadikan alasan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: تَجُوزُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” قدر اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى “.

Pendapat kedua: Boleh, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Ketetapan Allah lebih berhak untuk dilaksanakan.”

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَوَجَّهَتْ دَعْوَى الْكَفَالَةُ عَلَى رَجُلٍ، خُوصِمَ فِيهَا إِلَى الْحَاكِمِ فَإِنْ كَانَ يَرَى إِبْطَالَ الْكَفَالَةِ بِالنَّفْسِ، لَمْ تُسْمَعِ الدَّعْوَى فِيهَا، وَلَمْ تَجِبِ الْيَمِينُ فِي إِنْكَارِهَا، وَإِنْ كَانَ يَرَى جَوَازَهَا سَمِعَ الدَّعْوَى فِيهَا وَأَوْجَبَ الْيَمِينَ عَلَى مُنْكِرِهَا. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَمِينَ عَلَى مُنْكِرِهَا، وَإِنْ صَحَّتْ، وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي إِسْقَاطِ الْيَمِينِ عَلَى الْمُنْكَرِ، فِي خَمْسَةَ عَشَرَ مَوْضِعًا يَطُولُ شَرْحُهَا، وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي نَظَائِرِهَا.

Apabila gugatan kafālah diajukan terhadap seorang laki-laki, maka perkara tersebut diajukan kepada hakim. Jika hakim berpendapat bahwa kafālah jiwa itu batal, maka gugatan tersebut tidak diterima dan sumpah tidak diwajibkan atas orang yang mengingkarinya. Namun, jika hakim berpendapat bahwa kafālah tersebut sah, maka gugatan itu didengar dan sumpah diwajibkan atas orang yang mengingkarinya. Abu Hanifah berpendapat bahwa sumpah tidak diwajibkan atas orang yang mengingkarinya, meskipun kafālah itu sah, dan pendapat ini didasarkan pada prinsip dasarnya dalam menggugurkan kewajiban sumpah atas orang yang mengingkari dalam lima belas kasus yang penjelasannya cukup panjang, dan telah dibahas sebelumnya pada kasus-kasus yang serupa.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً أَنَّهُ أَكْرَاهُ بَيْتًا مِنْ دَارِهِ شَهْرًا بِعَشَرَةٍ وَأَقَامَ الْمُكْتَرِي الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ اكْتَرَى مِنْهُ الدَّارَ كُلَّهَا ذَلِكَ الشَّهْرَ بِعَشَرَةٍ فَالشَّهَادَةُ بَاطِلَةٌ وَيَتَحَالَفَانِ وَيَتَرَادَّانِ فَإِنْ كَانَ سَكَنَ فَعَلَيْهِ كِرَاءُ مِثْلِهَا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti bahwa ia telah menyewakan satu kamar dari rumahnya selama sebulan dengan harga sepuluh, dan penyewa mendatangkan bukti bahwa ia telah menyewa seluruh rumah darinya selama bulan itu dengan harga sepuluh, maka kesaksian tersebut batal dan keduanya saling bersumpah, lalu saling mengembalikan (apa yang telah diterima). Jika penyewa telah menempati (rumah tersebut), maka ia wajib membayar sewa sesuai harga sewajarnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ اخْتِلَافَ الْمُتَكَارِيَيْنِ فِي عَقْدِ الْإِجَارَةِ كَاخْتِلَافِ الْمُتَبَايِعَيْنِ فِي عَقْدِ الْبَيْعِ، فَيَكُونُ اخْتِلَافُهُمَا تَارَةً فِي الْأُجْرَةِ كَاخْتِلَافِهِمَا فِي الثَّمَنِ، وَيَخْتَلِفَانِ تَارَةً فِي قَدْرِ الْمُدَّةِ، كَاخْتِلَافِهِمَا فِي قَدْرِ الْمَبِيعِ، وَيَخْتَلِفَانِ فِي صِفَةِ الْمَكْرِيِّ كَاخْتِلَافِهِمَا فِي صِفَةِ الْمَبِيعِ، فَيُحْكَمُ بِالْبَيِّنَةِ، وَيَتَحَالَفَانِ عِنْدَ عَدَمِهَا، لِأَنَّ الْإِجَارَةَ صِنْفٌ مِنَ الْبُيُوعِ، فَتَسَاوَيَا فِي التَّحَالُفِ.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa perselisihan antara dua pihak yang melakukan akad ijarah (sewa-menyewa) sama seperti perselisihan antara dua pihak yang melakukan akad jual beli. Maka, terkadang perselisihan mereka terjadi pada besaran upah, sebagaimana perselisihan mereka dalam harga; terkadang mereka berselisih dalam jangka waktu, sebagaimana perselisihan mereka dalam jumlah barang yang dijual; dan mereka juga bisa berselisih dalam sifat barang yang disewakan, sebagaimana perselisihan mereka dalam sifat barang yang dijual. Maka, diputuskan berdasarkan bukti (bayyinah), dan jika tidak ada bukti, keduanya saling bersumpah, karena ijarah merupakan salah satu jenis transaksi jual beli, sehingga keduanya sama dalam hal saling bersumpah.

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَصُورَةُ الْمَسْأَلَةِ: أَنْ يَخْتَلِفَ الْمُتَكَارِيَانِ فَيَقُولُ الْمُكْرِي أَكْرَيْتُكَ بَيْتًا مِنْ هَذِهِ الدَّارِ شَهْرَ رَمَضَانَ بعشرة.

Jika hal ini telah dijelaskan, maka gambaran masalahnya adalah: dua pihak yang melakukan akad sewa-menyewa berselisih, lalu pihak yang menyewakan berkata, “Aku telah menyewakan kepadamu sebuah kamar dari rumah ini selama bulan Ramadan dengan harga sepuluh.”

وَيَقُولُ الْمُكْتَرِي، بَلِ اكْتَرَيْتُ مِنْكَ جَمِيعَ هَذِهِ الدَّارِ شَهْرَ رَمَضَانَ، بِعَشَرَةٍ فَإِنْ عَدِمَا الْبَيِّنَةَ تَحَالَفَا، وَبَدَأَ الْحَاكِمُ بِإِحْلَافِ الْمُكْرِي، كَمَا يَبْدَأُ بِإِحْلَافِ الْبَائِعِ.

Penyewa berkata, “Bahkan aku menyewa darimu seluruh rumah ini selama bulan Ramadan dengan sepuluh.” Jika keduanya tidak memiliki bukti, maka keduanya saling bersumpah, dan hakim memulai dengan menyuruh pemilik sewa bersumpah, sebagaimana hakim memulai dengan menyuruh penjual bersumpah.

فَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا فَنَكَلَ الْآخَرُ قَضَى لِلْحَالِفِ مِنْهُمَا عَلَى النَّاكِلِ.

Jika salah satu dari keduanya bersumpah lalu yang lainnya enggan, maka keputusan diberikan kepada yang bersumpah atas yang enggan.

وَإِنْ حَلَفَا مَعًا فَقَدْ تَسَاوَيَا، وَلَمْ يَتَرَجَّحْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ، فَوَجَبَ أَنْ يَبْطُلَ الْعَقْدُ بَيْنَهُمَا، وَفِيمَا يَبْطُلُ بِهِ الْعَقْدُ وَجْهَانِ:

Jika keduanya sama-sama bersumpah, maka keduanya setara, dan tidak ada salah satu dari mereka yang lebih kuat dari yang lain, sehingga wajib untuk membatalkan akad di antara mereka. Terkait hal-hal yang menyebabkan batalnya akad, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَبْطُلُ بِنَفْسِ التَّحَالُفِ كَمَا يَرْتَفِعُ نِكَاحُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ بِنَفْسِ اللِّعَانِ، حَتَّى يَحْكُمَ الْحَاكِمُ بِإِبْطَالِهِ، لِأَنَّ التَّحَالُفَ لِتَصْحِيحِ الْعَقْدِ دُونَ إِبْطَالِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَبْطُلَ بِالْحُكْمِ لِأَجْلِ التَّعَارُضِ.

Salah satunya: batal dengan sendirinya karena adanya tahālif, sebagaimana batalnya pernikahan pasangan yang melakukan li‘ān dengan sendirinya karena li‘ān, hingga hakim memutuskan pembatalannya. Sebab, tahālif bertujuan untuk menguatkan akad, bukan untuk membatalkannya. Maka, wajib akad itu dibatalkan dengan keputusan hakim karena adanya pertentangan.

فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ بِإِبْطَالِهِ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَعْرِضَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِمْضَاءَ مَا حَلَفَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ.

Oleh karena itu, tidak boleh bagi hakim untuk memutuskan pembatalan kecuali setelah menawarkan kepada masing-masing dari keduanya untuk melaksanakan apa yang telah disumpahkan oleh lawannya.

فَيَقُولُ لِلْمُكْتَرِي: قَدْ حَلَفَ الْمُكْرِي عَلَى مَا ادَّعَى، فَتُمْضِيهِ؟

Maka ia berkata kepada penyewa: “Pemilik barang sewaan telah bersumpah atas apa yang ia klaim, apakah engkau menerima hal itu?”

فَإِذَا قَالَ: لَا.؟ قَالَ لِلْمُكْرِي قَدْ حَلَفَ الْمُكْتَرِي عَلَى مَا ادَّعَى فَتُمْضِيهِ؟

Jika ia berkata: Tidak? Maka dikatakan kepada pemilik sewaan, “Penyewa telah bersumpah atas apa yang ia klaim, apakah engkau akan menerimanya?”

فَإِذَا قَالَ: لَا، حُكِمَ بِالْفَسْخِ بَيْنَهُمَا.

Maka jika ia berkata: tidak, maka diputuskan pembatalan akad di antara keduanya.

وَلَوْ تَرَاضَيَا عَلَى مَا ادَّعَاهُ أَحَدُهُمَا أَمْضَاهُ عَلَى ذَلِكَ، وَإِذَا امْتَنَعَا مِنَ الْإِمْضَاءِ، وَحُكِمَ بَيْنَهُمَا بِالْفَسْخِ فَفِي انْفِسَاخِ الْعَقْدِ بَيْنَهُمَا وَجْهَانِ:

Jika keduanya saling merelakan atas apa yang diklaim oleh salah satu dari mereka, maka keputusan dijalankan sesuai hal itu. Namun, jika keduanya menolak untuk melaksanakan, lalu diputuskan di antara mereka dengan pembatalan, maka dalam hal batalnya akad di antara mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَنْفَسِخُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ كَمَا لَوْ فَسَخَهُ بِتَحَالُفِهِمَا.

Salah satunya: batal secara lahir dan batin, seperti jika dibatalkan dengan saling bersumpah di antara keduanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَنْفَسِخُ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ، لِأَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ لَا يُحِيلُ الشَّيْءَ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ.

Pendapat kedua: akad tersebut batal secara lahiriah namun tidak secara batiniah, karena keputusan hakim tidak dapat mengubah sesuatu dari hakikat aslinya.

وَيُنْظَرُ فِي التَّحَالُفِ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ مُضِيِّ شَيْءٍ مِنَ الْمُدَّةِ اسْتَرْجَعَ الْمُكْتَرِي أُجْرَتَهُ، وَاسْتَرْجَعَ الْمُكْرِي دَارَهُ، وَإِنْ كَانَ بَعْدَ مُضِيِّ الْمُدَّةِ، أَوْ بَعْضِهَا لَزِمَ الْمُكْتَرِي أُجْرَةُ مِثْلِ سُكْنَاهُ، لِاسْتِهْلَاكِهِ لِمَنْفَعَتِهَا عَنْ عَقْدٍ قَدْ حُكِمَ بِفَسَادِهِ.

Dalam kasus sumpah, perlu diperhatikan: jika sumpah itu terjadi sebelum berlalu sedikit pun dari masa sewa, maka penyewa berhak mengambil kembali uang sewanya, dan pemilik berhak mengambil kembali rumahnya. Namun jika sumpah itu terjadi setelah masa sewa berlalu seluruhnya atau sebagian, maka penyewa wajib membayar sewa yang sepadan dengan masa tinggalnya, karena ia telah memanfaatkan manfaat rumah tersebut berdasarkan akad yang telah dinyatakan batal.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِنْ كَانَ لَهُمَا عِنْدَ التَّحَالُفِ بَيِّنَةٌ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dan jika keduanya memiliki bukti (bayyinah) saat bersumpah, maka ada dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَن تُحْضَرَ الْبَيِّنَةُ قَبْلَ التَّحَالُفِ، فَتُسْمَعُ وَيُمْنَعُ حُضُورُهَا مِنَ التَّحَالُفِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ أَوْلَى مِنَ الْيَمِينِ.

Salah satunya adalah bahwa bukti (bayyinah) dihadirkan sebelum sumpah (tahālu f), maka bukti tersebut didengarkan dan kehadirannya mencegah dilakukannya sumpah, karena bukti (bayyinah) lebih utama daripada sumpah (yamin).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَن تُحْضَرَ الْبَيِّنَةُ بَعْدَ التَّحَالُفِ فَيَكُونُ سَمَاعُهَا مَحْمُولًا عَلَى مَا أَوْجَبَهُ التَّحَالُفُ مِنْ فَسْخِ الْعَقْدِ.

Jenis kedua: yaitu apabila bukti (al-bayyinah) dihadirkan setelah sumpah berbalas (tahālu f), maka penerimaan bukti tersebut dianggap berdasarkan apa yang diakibatkan oleh tahālu f, yaitu pembatalan akad.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ قَدِ انْفَسَخَ بِهِ الْعَقْدُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا لَمْ تُسْمَعِ الْبَيِّنَةُ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya akad itu telah batal secara lahir maupun batin karenanya, maka bukti (syahadah) tidak dapat diterima.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ قَدِ انْفَسَخَ بِهِ الْعَقْدُ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ سُمِعَتْ، لِأَنَّ تَصَادُقَهُمَا أَقْوَى مِنْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ مِنْهُمَا، وَتَصَادُقُهُمَا غَيْرُ مَعْمُولٍ بِهِ إِذَا قِيلَ بِفَسْخِ الْعَقْدِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، وَمَعْمُولٌ بِهِ إِذَا قِيلَ بِفَسْخِ الْعَقْدِ فِي الظَّاهِرِ، دُونَ الْبَاطِنِ، كَذَلِكَ الْبَيِّنَةُ: فَإِذَا سُمِعَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَى مَا ذَكَرْنَا لَمْ يخل أن تكون لأحدهما أولهما:

Dan jika dikatakan bahwa akad telah batal secara zhahir namun tidak secara batin, maka pernyataan keduanya didengar, karena kesepakatan keduanya lebih kuat daripada kesaksian yang diberikan oleh mereka berdua. Kesepakatan keduanya tidak berlaku jika dikatakan bahwa akad batal secara zhahir dan batin, namun berlaku jika dikatakan bahwa akad batal secara zhahir saja, tidak secara batin. Demikian pula halnya dengan kesaksian: apabila kesaksian didengar sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka tidak lepas dari kemungkinan bahwa kesaksian itu untuk salah satu dari keduanya atau untuk keduanya.

فَإِنْ كَانَتْ لِأَحَدِهِمَا سُمِعَتْ، وَحُكِمَ بِهَا لِمُقِيمِهَا سَوَاءٌ شَهِدَتْ لِلْمُكْرِي، أَوْ لِلْمُكْتَرِي.

Jika salah satu dari keduanya memiliki kesaksian yang didengar, maka diputuskan berdasarkan kesaksian itu untuk pihak yang tinggal di tempat tersebut, baik kesaksian itu mendukung pihak pemilik sewa (al-mukri) maupun pihak penyewa (al-muktari).

فَإِنْ أَقَامَ كل واحد منهما بينته، شَهِدَتْ لَهُ بِمَا ادَّعَى لَمْ يَخْلُ حَالُهُمَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Jika masing-masing dari keduanya mendatangkan bukti, dan bukti tersebut memberikan kesaksian atas apa yang didakwakan, maka keadaan keduanya tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ إِحْدَى الْبَيِّنَتَيْنِ أَسْبَقُ تَارِيخًا مِنَ الْأُخْرَى فَإِنْ شَهِدَتْ إِحْدَاهُمَا بِأَنَّهُمَا تَعَاقَدَا مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَشَهِدَتِ الْأُخْرَى أَنَّهُمَا تَعَاقَدَا مَعَ زَوَالِهَا مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ فَالْعَقْدُ هُوَ السَّابِقُ مِنْهُمَا، لِأَنَّ الثَّانِي بَعْدَ صِحَّةِ الْأَوَّلِ بَاطِلٌ.

Salah satunya adalah apabila salah satu dari dua bayyinah memiliki tanggal yang lebih awal daripada yang lain. Jika salah satunya bersaksi bahwa akad dilakukan saat matahari terbit, dan yang lainnya bersaksi bahwa akad dilakukan saat matahari tergelincir pada hari yang sama, maka akad yang dianggap sah adalah yang lebih dahulu di antara keduanya, karena akad yang kedua menjadi batal setelah sahnya akad yang pertama.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَشْهَدَ الْبَيِّنَتَانِ بِالْعَقْدِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ فِي الْأَمْوَالِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ:

Jenis kedua: Dua bukti (bayyinah) memberikan kesaksian atas akad pada waktu yang sama. Maka, pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai pertentangan dua bukti (bayyinah) dalam perkara harta, menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya adalah menggugurkan kedua bukti, dan pendapat ini dikemukakan oleh Malik karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: لِتُكَاذُبِهِمَا فِي الشَّهَادَةِ، فَسَقَطَتْ بِالتَّكَاذُبِ.

Salah satunya adalah karena keduanya saling mendustakan dalam kesaksian, maka kesaksian itu gugur karena saling mendustakan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْبَيِّنَةَ مَا بَانَ بِهَا الْحُكْمُ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بِهَا بَيَانٌ رُدَّتْ، لِأَنَّ لَا بَيَانَ فِيهَا لِأَحَدِهِمَا بِعَيْنِهِ.

Kedua: Sesungguhnya al-bayyinah adalah sesuatu yang dengannya hukum menjadi jelas, maka jika tidak ada kejelasan dengannya, maka ia ditolak, karena tidak terdapat kejelasan di dalamnya untuk salah satu dari keduanya secara spesifik.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهُ يُقْرَعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَيُحْكَمُ بِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا. وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua: Sesungguhnya dilakukan undian di antara dua bayyinah, dan diputuskan berdasarkan siapa yang keluar dalam undian di antara keduanya. Pendapat ini dinukil dari Ali dan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhuma karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: مَا رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ رَجُلَيْنِ اخْتَصَمَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي شَيْءٍ وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا شُهُودًا فَأَسْهَمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَهُمَا وَقَالَ ” اللَّهُمَّ أَنْتَ تَقْضِي بَيْنَهُمَا “.

Salah satunya adalah riwayat dari Sa‘id bin al-Musayyab bahwa dua orang laki-laki berselisih di hadapan Rasulullah ﷺ mengenai suatu perkara, lalu masing-masing dari mereka menghadirkan para saksi. Maka Rasulullah ﷺ mengundi di antara keduanya dan bersabda, “Ya Allah, Engkaulah yang memutuskan perkara di antara mereka berdua.”

وَالثَّانِي: إِنَّ اشْتِبَاهَ الْحُقُوقِ الْمُتَسَاوِيَةِ، يُوجِبُ تَمْيِيزَهَا بِالْقُرْعَةِ، كَدُخُولِهَا فِي الْقِسْمَةِ فِي السَّفَرِ بِإِحْدَى نِسَائِهِ، وَفِي عِتْقِ عَبِيدِهِ، إِذَا اسْتَوْعَبُوا التَّرِكَةَ.

Kedua: Sesungguhnya kesamaran hak-hak yang setara mengharuskan untuk membedakannya dengan undian (qur‘ah), seperti dalam pembagian giliran bepergian bersama salah satu istrinya, dan dalam pembebasan budak-budaknya apabila mereka semua mencakup seluruh harta warisan.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنْ يُقَّسَمَ الْمِلْكُ بَيْنَهُمَا بِالْبَيِّنَتَيْنِ، وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَبِهِ قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَأَصْحَابُهُ لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat ketiga: Kepemilikan dibagi di antara keduanya berdasarkan dua bukti yang ada. Pendapat ini dinukil dari Ibnu ‘Abbas, dan juga dipegang oleh Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, serta para pengikutnya, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: مَا رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَجُلَيْنِ تَدَاعَيَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَعِيرًا، أَوْ دَابَّةً، وَشَهِدَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا شَاهِدَانِ فَجَعَلَهُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ.

Salah satunya adalah riwayat yang disampaikan oleh Sa‘id bin Abi Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya Abu Musa al-Asy‘ari, bahwa dua orang laki-laki berselisih di hadapan Rasulullah ﷺ mengenai seekor unta atau hewan tunggangan, dan masing-masing dari mereka memiliki dua orang saksi yang bersaksi untuknya. Maka Rasulullah ﷺ membagi hewan itu di antara keduanya menjadi dua bagian yang sama.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْبَيِّنَةَ أَقْوَى مِنَ الْيَدِ، وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّهُمَا إِذَا تَسَاوَيَا فِي الْيَدِ جُعِلَ بَيْنَهُمَا، فَوَجَبَ إِذَا تَسَاوَيَا فِي الْبَيِّنَةِ، أَنْ يَكُونَ أَوْلَى، بِأَنْ يُجْعَلَ بَيْنَهُمَا، فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى تَخْرِيجِهَا فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ فِي الْأَمْوَالِ، وَاخْتَلَفُوا فِي تَخْرِيجِ قَوْلٍ رَابِعٍ وَهُوَ وَقَفَهُمَا عَلَى الْبَيَانِ فَخَرَّجَهُ الْبَغْدَادِيُّونَ قَوْلًا رَابِعًا لِلشَّافِعِيِّ وَامْتَنَعَ الْبَصْرِيُّونَ مِنْ تَخْرِيجِهِ قَوْلًا رَابِعًا، لِأَنَّ وَقْفَ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْبَيَانِ يُوجِبُ الْحُكْمَ بِالْبَيَانِ دُونَ الْبَيِّنَةِ، وَإِنَّمَا يُوقَفُ الْمَالُ عَلَى الْبَيَانِ دُونَ الْبَيِّنَةِ، وَهَذَا أَشْبَهُ، فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْأَقَاوِيلُ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ لَمْ يُخَرَّجْ فِي تَعَارُضِهِمَا فِي عَقْدِ الْإِجَارَةِ إِلَّا قَوْلَيْنِ:

Kedua: Sesungguhnya bayyinah lebih kuat daripada kepemilikan (yad), dan telah tetap bahwa apabila keduanya sama dalam kepemilikan, maka diputuskan untuk membagi di antara keduanya. Maka wajib pula, apabila keduanya sama dalam bayyinah, lebih utama untuk diputuskan membagi di antara keduanya. Inilah tiga pendapat yang disepakati oleh para ulama kami untuk ditetapkan dalam kasus pertentangan dua bayyinah dalam perkara harta, dan mereka berbeda pendapat dalam menetapkan pendapat keempat, yaitu menangguhkan keduanya sampai ada penjelasan. Pendapat ini ditetapkan oleh ulama Baghdad sebagai pendapat keempat dari Imam Syafi‘i, sedangkan ulama Basrah menolak untuk menetapkannya sebagai pendapat keempat, karena menangguhkan bayyinah sampai ada penjelasan berarti memutuskan hukum berdasarkan penjelasan, bukan berdasarkan bayyinah. Sementara yang ditangguhkan adalah harta sampai ada penjelasan, bukan bayyinah, dan ini lebih mendekati kebenaran. Maka, apabila pendapat-pendapat ini telah dijelaskan dalam pertentangan dua bayyinah, tidak ada yang ditetapkan dalam pertentangan keduanya pada akad ijarah kecuali dua pendapat saja.

أَحَدُهُمَا: إِسْقَاطُهُمَا وَيَتَحَالَفُ الْمُتَدَاعِيَانِ.

Salah satunya adalah menggugurkan keduanya dan kedua pihak yang bersengketa saling bersumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَالْحُكْمُ بِشَهَادَةِ مَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا.

Pendapat kedua: dilakukan undian di antara dua bukti, dan keputusan diambil berdasarkan kesaksian pihak yang keluar undiannya di antara keduanya.

وَفِي إِحْلَافِ مَنْ قَرَعَتْ بَيِّنَتُهُ قَوْلَانِ، مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي الْقُرْعَةِ هَلْ دَخَلَتْ تَرْجِيحًا للدعوى، أو للبينة فأخذ قَوْلَيْهِ، إِنَّهَا دَخَلَتْ تَرْجِيحًا لِلْبَيِّنَةِ.

Dalam hal pengambilan sumpah terhadap orang yang buktinya terpilih melalui undian (qur‘ah), terdapat dua pendapat, yang bersumber dari perbedaan dua pendapat Imam Syafi‘i mengenai undian (qur‘ah): apakah undian itu masuk sebagai penentu keunggulan bagi gugatan, atau bagi bukti (bayyinah). Maka diambil dua pendapat beliau, yaitu bahwa undian itu masuk sebagai penentu keunggulan bagi bukti (bayyinah).

فَعَلَى هَذَا لَا يَمِينَ عَلَى مَنْ قَرَعَتْ بَيِّنَتُهُ، لِأَنَّ الْحُكْمَ بِالْبَيِّنَةِ وَلَا يَمِينَ مَعَ الْبَيِّنَةِ.

Dengan demikian, tidak ada sumpah atas orang yang buktinya telah menang dalam undian, karena putusan didasarkan pada bayyinah dan tidak ada sumpah bersama bayyinah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: إِنَّهَا دَخَلَتْ تَرْجِيحًا لِلدَّعْوَى، فَيَجِبُ إِحْلَافُ الْمُدَّعِي.

Pendapat kedua: sesungguhnya sumpah itu masuk sebagai penguat bagi dakwaan, maka wajib bagi penggugat untuk bersumpah.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ فِيمَا ثَبَتَ بِهِ الْحُكْمُ وَجْهَانِ:

Dengan demikian, dalam hal yang dengannya hukum itu ditetapkan terdapat dua sisi.

أَحَدُهُمَا: بِالْيَمِينِ مَعَ الْبَيِّنَةِ، وَتَكُونُ يَمِينُهُ بِاللَّهِ أَنَّهُ مَا شَهِدَتْهُ بَيِّنَتُهُ حَقٌّ، وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ.

Salah satunya adalah dengan sumpah disertai bukti, yaitu sumpahnya dengan nama Allah bahwa bukti yang diajukannya adalah benar, dan hal ini telah ditegaskan oleh asy-Syafi‘i.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّ الْحُكْمَ يَثْبُتُ بِيَمِينِهِ تَرْجِيحًا بِالْبَيِّنَةِ، وَتَكُونُ يَمِينُهُ بِاللَّهِ، لَقَدِ اكْتَرَيْتُ مِنْهُ الدَّارَ بِكَذَا.

Pendapat kedua: Sesungguhnya hukum dapat ditetapkan dengan sumpahnya sebagai penguat atas bukti, dan sumpahnya itu dengan menyebut nama Allah, misalnya: “Demi Allah, sungguh aku telah membeli rumah itu darinya dengan harga sekian.”

وَلَا يَجِيءُ فِيهِ تَخْرِيجُ الْقَوْلِ الثَّالِثِ، أَنَّهُ يُقَسَّمُ بَيْنَهُمَا بِالْبَيِّنَتَيْنِ، لِأَنَّ قِسْمَةَ الْعَقْدِ لَا تَصِحُّ. وَلَا يَجِيءُ فِيهِ تَخْرِيجُ الْقَوْلِ الرَّابِعِ إِنْ صَحَّ تَخْرِيجُهُ، أَنَّهُ يَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى الْبَيَانِ لتعذره في الدعوى والبينة، فوجب أن يفضل الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا بِالتَّحَالُفِ.

Dan tidak berlaku di dalamnya pengambilan pendapat ketiga, yaitu bahwa akad tersebut dibagi antara keduanya berdasarkan dua bukti, karena pembagian akad tidak sah. Dan tidak berlaku pula di dalamnya pengambilan pendapat keempat—jika memang sah pengambilannya—yaitu bahwa perkara tersebut digantungkan pada penjelasan, karena penjelasan itu mustahil dilakukan dalam perkara gugatan dan bukti. Maka wajiblah memutuskan hukum di antara keduanya dengan saling bersumpah.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الْبَيِّنَتَانِ مُطْلَقَتَيْنِ لَيْسَ فِيهِمَا تَارِيخٌ يَدُلُّ عَلَى اجْتِمَاعِهِمَا أَوْ تَقَدُّمِ إِحْدَاهُمَا فَقَدْ حُكِيَ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ، أَنَّهُ يُحْكَمُ بِأَزْيَدِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَإِنْ كَانَ الِاخْتِلَافُ فِي الْأُجْرَةِ حُكِمَ بِأَكْثَرِهِمَا قَدْرًا.

Golongan ketiga: yaitu apabila kedua bayyinah bersifat mutlak, tidak terdapat di dalamnya keterangan waktu yang menunjukkan bahwa keduanya terjadi bersamaan atau salah satunya lebih dahulu. Maka telah dinukil dari Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, bahwa diputuskan berdasarkan bayyinah yang lebih banyak. Jika perbedaan itu dalam hal upah, maka diputuskan dengan jumlah yang lebih besar di antara keduanya.

وَإِنْ كَانَ فِي الْكِرَاءِ حُكِمَ بأكثرهما قدرا.

Dan jika terdapat dua nilai dalam sewa, maka diputuskan dengan nilai yang lebih besar di antara keduanya.

كما لو شهدت بينة بألف، وبينة بالألفين، حكم بألفين. وَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ: إِنَّ الْبَيِّنَتَيْنِ مُتَعَارِضَتَانِ تَتَسَاوَى فِيهَا الزِّيَادَةُ وَالنُّقْصَانُ، لِأَنَّ عَقْدَ الْكِرَاءِ بِعَشَرَةٍ يَمْنَعُ مِنْ عَقْدِهِ بِعِشْرِينَ، وَكَرَاءُ الْبَيْتِ بِعَشَرَةٍ يَمْنَعُ مِنْ كَرَاءِ الدَّارِ بِعِشْرِينَ، فَيَكُونُ تَعَارُضُهُمَا مَحْمُولًا عَلَى الْقَوْلَيْنِ، يُسْقَطَانِ مِنْ أَحَدِهِمَا وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا فِي الثَّانِي.

Sebagaimana jika ada satu bukti yang bersaksi atas seribu, dan bukti lain atas dua ribu, maka diputuskan dengan dua ribu. Adapun pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i: sesungguhnya kedua bukti tersebut saling bertentangan, di mana penambahan dan pengurangan di dalamnya seimbang, karena akad sewa dengan sepuluh mencegah akadnya dengan dua puluh, dan sewa rumah dengan sepuluh mencegah sewa rumah dengan dua puluh, sehingga pertentangan keduanya dikembalikan kepada dua pendapat; salah satunya digugurkan dan di antara keduanya diundi pada pendapat yang kedua.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَ الْمُكْرِي، وَالْمُكْتَرِي، فِي شَيْءٍ مِنْ آلَةِ الدَّارِ، وَادَّعَاهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِلْكًا، لِنَفْسِهِ انْقَسَمَ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Apabila pemilik sewa dan penyewa berselisih mengenai suatu benda dari perlengkapan rumah, dan masing-masing dari keduanya mengakuinya sebagai milik pribadi, maka perkara tersebut terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: مَا يَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ الْمُكْرِي وَهُوَ كُلُّ مَا كَانَ مُتَّصِلًا بِالدَّارِ من آلاتها، كالأبواب والدهليزات والرفوف المتصلة، والسلاليم الْمُسَمَّرَةِ، فَالْقَوْلُ فِي مِلْكِهَا قَوْلُ الْمُكْرِي، مَعَ يَمِينِهِ لِاتِّصَالِهَا بِالدَّارِ الَّتِي هُوَ مَالِكُهَا.

Salah satunya: adalah perkara yang pernyataannya berasal dari pihak penyewa, yaitu segala sesuatu yang terhubung dengan rumah dari peralatannya, seperti pintu-pintu, lorong-lorong, rak-rak yang menempel, dan tangga-tangga yang dipaku. Maka, dalam hal kepemilikan benda-benda tersebut, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak penyewa, disertai sumpahnya, karena benda-benda itu terhubung dengan rumah yang memang ia miliki.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا يَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْمُكْتَرِي مَعَ يَمِينِهِ، وَهُوَ قُمَاشُ الدَّارِ وَفَرْشُهَا مِنَ الْبُسُطِ، وَالْحُصْرِ، وَالصَّنَادِيقِ، لِأَنَّه مِنْ آلَةِ السُّكْنَى وَالْمُكْتَرِي أَحَقُّ بِالسُّكْنَى.

Bagian kedua: yaitu perkara yang perkataan di dalamnya adalah perkataan penyewa dengan sumpahnya, yaitu kain-kain rumah dan perabotannya seperti permadani, tikar, dan peti-peti, karena itu termasuk perlengkapan tempat tinggal dan penyewa lebih berhak untuk menempati.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا يَتَحَالَفَانِ عَلَيْهِ، وَهُوَ مَا كَانَ مِنْ آلَةِ الدَّارِ منفصلا عن الدار كالرفوف، والسلاليم الْمُنْفَصِلَةِ، وَإِغْلَاقِ الْأَبْوَابِ، وَأَطْبَاقِ التَّنَانِيرِ فَالْعُرْفُ فِيهَا مُتَقَابِلٌ، وَالْيَدُ فِيهِ مُشْتَرَكَةٌ، فَيُجْعَلُ بَيْنَهُمَا بَعْدَ تَحَالُفِهِمَا.

Bagian ketiga: yaitu apa yang keduanya saling bersumpah atasnya, yaitu sesuatu dari perlengkapan rumah yang terpisah dari rumah seperti rak, tangga yang terpisah, penutup pintu, dan tutup tungku. Dalam hal ini, ‘urf (kebiasaan) saling berhadapan, dan kepemilikan atasnya bersifat bersama, maka barang tersebut dijadikan milik bersama di antara keduanya setelah keduanya saling bersumpah.

وَلَوْ كَانَتْ مُنْشَأَةً بَيْنَ نَهْرٍ وَضَيْعَةٍ فَادَّعَاهَا صَاحِبُ الْمَاءِ وَقَالَ: هِيَ الْجَامِعَةُ لِمَاءِ نَهْرِي، وَقَالَ صَاحِبُ الضَّيْعَةِ: هِيَ الْمَانِعَةُ لِلْمَاءِ عَنْ ضَيْعَتِي، فَهُمَا فِيهَا مُتَسَاوِيَانِ فَيَتَحَالَفَانِ عَلَيْهَا، وَتُجْعَلُ بَعْدَ الْأَيْمَانِ بَيْنَهُمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan jika bangunan itu didirikan di antara sungai dan lahan pertanian, lalu pemilik air mengklaimnya dengan berkata: “Ini adalah tempat penampungan air sungai milikku,” dan pemilik lahan berkata: “Ini adalah penghalang air dari lahanku,” maka keduanya memiliki kedudukan yang sama terhadap bangunan itu. Maka keduanya saling bersumpah atasnya, kemudian setelah sumpah, bangunan itu dibagi di antara mereka berdua. Dan Allah lebih mengetahui.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوِ ادَعَى دَارًا فِي يَدَيْ رَجُلٍ فَقَالَ لَيْسَتْ بِمِلْكٍ لِي وَهِيَ لِفُلَانٍ فَإِنْ كَانَ حَاضِرًا صَيَّرْتُهَا لَهُ وَجَعَلْتُهُ خَصْمًا عَنْ نَفْسِهِ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا كُتِبَ إِقْرَارُهُ وَقِيلَ لِلمُدَعِي أَقِمِ الْبَيِّنَةَ فَإِنْ أَقَامَهَا قَضَى بِهَا عَلَى الَذِي هِيَ فِي يَدَيْهِ وَيُجْعَلُ فِي الْقَضِيَّةِ أَنَّ الْمُقِرَ لَهُ بِهَا عَلَى حُجَّتِهِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ: قَدْ قُطِعَ بِالْقَضَاءِ عَلَى غَائِبٍ وَهُوَ أَوْلَى بِقَوْلِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengaku memiliki sebuah rumah yang ada di tangan orang lain, lalu orang itu berkata, ‘Rumah ini bukan milikku, melainkan milik si Fulan,’ maka jika si Fulan hadir, aku akan menyerahkannya kepadanya dan menjadikannya sebagai pihak lawan atas namanya sendiri. Namun jika ia tidak hadir, maka pengakuan tersebut dicatat dan kepada penggugat dikatakan, ‘Tegakkanlah bukti.’ Jika ia dapat mendatangkan bukti, maka diputuskan perkara itu atas orang yang menguasai rumah tersebut, dan dalam putusan disebutkan bahwa orang yang diakui kepemilikannya itu berhak atas rumah tersebut berdasarkan dalilnya.” (Al-Muzani raḥimahullāh berkata): “Telah diputuskan bahwa boleh memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir, dan ini lebih utama menurut pendapatnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي دَارٍ فِي يَدَيْ رَجُلٍ، يَتَصَرَّفُ فِيهَا فَادَّعَاهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ، وَقَالَ: هِيَ لِي فَقَالَ صَاحِبُ الْيَدِ: لَيْسَتْ هَذِهِ الدَّارُ لِي، وَهِيَ لِغَيْرِي فَلَهُ حَالَتَانِ:

Al-Mawardi berkata: Gambaran kasusnya adalah sebuah rumah berada di tangan seseorang, ia mempergunakannya, lalu seseorang mengklaim rumah itu darinya dan berkata, “Rumah ini milikku.” Kemudian orang yang memegang rumah itu berkata, “Rumah ini bukan milikku, melainkan milik orang lain.” Maka dalam hal ini ada dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ من جعلها له.

Salah satunya adalah menyebutkan nama orang yang telah menjadikannya untuknya.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَذْكُرَ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ مَنْ جَعَلَهَا لَهُ، لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ جَوَابًا.

Kedua: Tidak menyebutkan. Jika ia tidak menyebutkan nama orang yang menjadikan masalah itu untuknya, maka hal itu tidak dianggap sebagai jawaban.

وَقِيلَ لَهُ: قَدْ تُوَجَّهُ عَلَيْكَ جَوَابٌ عَدَلْتَ عَنْهُ، فَإِنْ أَقَمْتَ عَلَى هَذَا، جُعِلْتَ نَاكِلًا وَأُحْلِفَ الْمُدَّعِي، وَحُكِمُ لَهُ بِانْتِزَاعِ الدَّارِ مِنْ يَدِكَ، فَإِنْ عَادَ فَادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ بَعْدَ إِنْكَارِهِ، فَفِي قَبُولِ قَوْلِهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا ابْنُ سُرَيْجٍ.

Dan dikatakan kepadanya: Mungkin ada jawaban yang diarahkan kepadamu namun engkau berpaling darinya. Jika engkau tetap pada sikap ini, maka engkau dianggap menolak (nakil) dan penggugat diminta bersumpah, lalu diputuskan untuk mengambil rumah itu dari tanganmu. Jika kemudian ia kembali dan mengakuinya untuk dirinya sendiri setelah sebelumnya mengingkarinya, maka dalam hal diterima atau tidaknya pengakuannya terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Surayj.

أَحَدُهُمَا: لَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ بَعْدَ إِنْكَارِهِ؛ لِأَنَّه قَدِ اعْتَرَفَ بِهَا لِغَيْرِهِ وَيُجْعَلُ كَالنَّاكِلِ، وَيَحْلِفُ مُدَّعِيهَا، وَيُحْكَمُ بِهَا لَهُ.

Salah satunya: Tidak diterima pernyataannya setelah ia mengingkarinya; karena ia telah mengakuinya kepada orang lain dan diperlakukan seperti orang yang enggan bersumpah, lalu penggugatnya disuruh bersumpah, dan diputuskan perkara itu untuknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُقْبَلُ قَوْلُهُ فِيهَا، لِأَنَّه لَمْ يَتَعَيَّنْ فِيهَا مَنْ جَعَلَهَا لَهُ، فَصَارَ إِقْرَارُهُ كَعَدَمِهِ. فَيَحْلِفُ عَلَيْهَا أَنَّهَا لَهُ، وَيُحْكَمُ لَهُ بِالدَّارِ لِأَجْلِ يَدِهِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ لِمُدَّعِيهَا بَيِّنَةٌ فَتُسْمَعُ مِنْهُ، وَيُحْكَمُ بِهَا لَهُ، وَإِنْ سَمَّى صَاحِبَ الْيَدِ مَنْ جَعَلَ الدَّارَ لَهُ، وَقَالَ: هِيَ لِفُلَانٍ، لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ حَاضِرًا، أَوْ غَائِبًا.

Pendapat kedua: Ucapannya diterima dalam hal ini, karena belum ditentukan siapa yang menjadikan rumah itu untuknya, sehingga pengakuannya dianggap seperti tidak ada pengakuan. Maka ia diminta bersumpah bahwa rumah itu miliknya, dan diputuskan rumah itu menjadi miliknya karena ia yang memegangnya, kecuali jika orang yang mengakuinya memiliki bukti, maka bukti itu didengar darinya dan diputuskan rumah itu menjadi miliknya. Jika pemegang rumah menyebutkan siapa yang menjadikan rumah itu untuknya, dan berkata: “Rumah ini milik si Fulan,” maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah orang itu hadir atau tidak hadir.

فَإِنْ كَانَ حَاضِرًا لَمْ يَخْلُ حَالُهُ أَنْ يَقْبَلَ الْإِقْرَارَ أَوْ يُنْكِرَهُ، فَإِنْ قَبِلَ الْإِقْرَارَ، صَارَتِ الْيَدُ لَهُ، وَانْتَقَلَتِ الْخُصُومَةُ إِلَيْهِ وَتَوَجَّهَتْ عَلَيْهِ الدَّعْوَى، فَإِنْ أَنْكَرَ مُدَّعِيهَا، حَلَفَ لَهُ وَكَانَ أَحَقَّ بِالدَّارِ بِيَمِينِهِ وَيَدِهِ، إِلَّا أَنْ يُقِيمَ مُدَّعِيهَا بَيِّنَةً، فَيُحْكَمُ بِهَا لَهُ بِبَيِّنَتِهِ؛ لِأَنَّها أَوْلَى مِنْ يَدٍ، وَيَمِينٍ.

Jika ia (orang yang bersangkutan) hadir, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: menerima pengakuan atau mengingkarinya. Jika ia menerima pengakuan tersebut, maka hak kepemilikan berpindah kepadanya, dan perkara sengketa beralih kepadanya serta gugatan diarahkan kepadanya. Jika ia mengingkari klaim orang yang menggugatnya, maka ia bersumpah atasnya dan ia lebih berhak atas rumah itu dengan sumpah dan penguasaannya, kecuali jika penggugatnya mendatangkan bukti, maka diputuskan untuknya berdasarkan buktinya, karena bukti lebih kuat daripada penguasaan dan sumpah.

فَإِنْ أَقَامَ صَاحِبُ الْيَدِ الْبَيِّنَةَ صَارَ أَحَقَّ بِهَا بِبَيِّنَتِهِ، وَيَدِهِ مِنْ بَيِّنَةٍ بِغَيْرِ يَدٍ.

Jika pemilik barang yang memegangnya mendatangkan bukti (bayyinah), maka ia lebih berhak atas barang itu dengan bukti yang ia ajukan, dan kepemilikannya merupakan bukti tanpa perlu adanya pegangan (fisik) dari pihak lain.

فَإِنْ طَلَبَ مُدَّعِيهَا إِحْلَافَ صَاحِبِ الْيَدِ عَلَيْهَا، بَعْدَ أَنْ حُكِمَ بِهَا لِلْمُقِرِّ لَهُ، فَفِي إِجَابَتِهِ إِلَى إِحْلَافِ صَاحِبِ الْيَدِ قَوْلَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ الْقَوْلَيْنِ، فِيمَنْ أَقَرَّ بِدَارٍ فِي يَدِهِ لِزَيْدٍ، ثُمَّ أَقَرَّ بِهَا لِعَمْرٍو، وَكَانَ زَيْدٌ أَحَقُّ بِهَا مِنْ عَمْرٍو بِالْإِقْرَارِ الْأَوَّلِ، وَهَلْ يُؤْخَذُ الْمُقِرُّ بِغُرْمِ قِيمَتِهَا لِعَمْرٍو بِالْإِقْرَارِ الثَّانِي؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Jika orang yang mengklaim barang tersebut meminta agar pemegang barang itu disumpah setelah barang itu diputuskan menjadi milik orang yang diakui kepadanya, maka ada dua pendapat mengenai apakah permintaan sumpah kepada pemegang barang itu dikabulkan atau tidak. Dua pendapat ini didasarkan pada perbedaan dua pendapat dalam kasus seseorang yang mengakui sebuah rumah yang ada di tangannya sebagai milik Zaid, kemudian ia mengakui rumah itu sebagai milik Amr, padahal Zaid lebih berhak atas rumah itu berdasarkan pengakuan pertama. Apakah orang yang mengakui itu wajib membayar nilai rumah tersebut kepada Amr berdasarkan pengakuan kedua? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُؤْخَذُ بِغُرْمِ قِيمَتِهَا لِعَمْرٍو، لِأَنَّه قَدِ اسْتَهْلَكَهَا عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ. لِزَيْدٍ، فَعَلَى هَذَا إِيجَابُ الْمُدَّعِي إِلَى إِحْلَافِ صَاحِبِ الْيَدِ، لِأَنَّه لَوْ أَقَرَّ لَهُ لَزِمَهُ الْغُرْمُ.

Salah satunya: dikenakan kewajiban membayar ganti rugi senilai barang tersebut kepada ‘Amr, karena ia telah menghabiskannya atas nama ‘Amr berdasarkan pengakuannya. Adapun kepada Zaid, maka dalam hal ini penggugat berhak meminta pemilik barang untuk bersumpah, karena jika ia mengakuinya, maka ia wajib menanggung ganti rugi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا غُرْمَ عَلَيْهِ، لِبَقَاءِ الدَّارِ وَتَوَجُّهِ الْمُطَالَبَةِ بِهَا.

Pendapat kedua: Tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya, karena rumah tersebut masih ada dan tuntutan tetap tertuju padanya.

فَعَلَى هَذَا لَا يَحْلِفُ صَاحِبُ الْيَدِ وَلَا يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ غُرْمٌ.

Dengan demikian, pemilik barang tidak bersumpah dan tidak wajib baginya membayar ganti rugi karena menolak bersumpah.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ مَنْ جُعِلَتْ لَهُ الدَّارُ إِقْرَارَ صَاحِبِ الْيَدِ وَأَنْكَرَهَا، لَمْ يَخْلُ حَالُ صَاحِبِ الْيَدِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُقِيمًا عَلَى إِقْرَارِهِ، أَوْ رَاجِعًا عَنْهُ.

Jika orang yang rumah itu dijadikan untuknya tidak menerima pengakuan pemilik tangan dan ia mengingkarinya, maka keadaan pemilik tangan tidak lepas dari dua kemungkinan: tetap pada pengakuannya, atau menarik kembali pengakuannya.

فَإِنْ أَقَامَ عَلَى إِقْرَارِهِ بِهَا لِمَنْ أَنْكَرَهَا، وَلَمْ يَقْبَلْهَا طُولِبَ مُدَّعِيَهَا بِبَيِّنَتِهِ، فَإِنْ أَقَامَهَا، حُكِمَ لَهُ بِالدَّارِ، وَإِنْ عَدِمَهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jika ia tetap pada pengakuannya terhadap rumah itu kepada orang yang mengingkarinya, dan orang tersebut tidak menerimanya, maka penuntut rumah tersebut diminta untuk menghadirkan bukti. Jika ia dapat menghadirkannya, maka diputuskan rumah itu untuknya. Namun jika ia tidak dapat menghadirkannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إِنَّ الْحَاكِمَ يُنَصِّبُ لَهَا أَمِينًا يَحْفَظُهَا عَلَى مَالِكِهَا، حِفْظَ اللُّقَطَةِ، حَتَّى تَقُومَ الْبَيِّنَةُ بِهَا، إِمَّا لِمُدَّعِيهَا، أَوْ لِغَيْرِهِ فَيُحْكَمُ بِهَا لَهُ، وَلَا تُدْفَعُ، إِلَى الْمُدَّعِي بِيَمِينِهِ، لِأَنَّ يَمِينَهُ هِيَ يَمِينُ رَدٍّ بَعْدَ النُّكُولِ، وَلَمْ يُحْكَمْ بِنُكُولِ مَنْ تَوَجَّهَتْ عَلَيْهِ الْيَمِينُ، فَإِنْ طَلَبَ الْمُدَّعِي إِحْلَافَ صَاحِبِ الْيَدِ فَفِي إِجَابَتِهِ إِلَى إِحْلَافِهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ.

Salah satunya, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, menyatakan bahwa hakim mengangkat seorang amin (pengelola terpercaya) untuk menjaga barang tersebut atas nama pemiliknya, sebagaimana menjaga barang temuan (luqathah), hingga ada bukti (bayyinah) yang menegaskan kepemilikannya, baik kepada orang yang mengakuinya maupun kepada selainnya, lalu diputuskan untuknya. Barang tersebut tidak diserahkan kepada pengaku hanya dengan sumpahnya, karena sumpahnya itu adalah sumpah penolakan setelah penolakan sebelumnya, dan belum diputuskan adanya penolakan dari pihak yang seharusnya bersumpah. Jika pengaku meminta agar pemegang barang disumpah, maka dalam mengabulkan permintaan sumpah itu terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهُ لَا وَجْهَ لِإِيقَافِهِمَا عَلَى مَنْ لَا يَدَّعِيهَا، وَالْوَاجِبُ أَنْ يَحْلِفَ الْمُدَّعِي عَلَيْهَا، وَتُدْفَعُ إِلَيْهِ الدَّارُ بَعْدَ يَمِينِهِ فَإِنْ حَضَرَ مُدَّعٍ لَهَا بَعْدَ تَسْلِيمِهَا إِلَى الْأَوَّلِ بِيَمِينِهِ، وَنَازَعَهُ فِيهَا فَهَلْ يَكُونُ مُنَازِعًا فِيهَا لِذِي يَدٍ، أَوْ لِغَيْرِ ذِي يَدٍ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa tidak ada alasan untuk menahan keduanya (harta tersebut) dari orang yang tidak mengakuinya, dan yang wajib adalah penggugat bersumpah atasnya, lalu rumah itu diserahkan kepadanya setelah ia bersumpah. Jika kemudian datang orang lain yang mengakuinya setelah rumah itu diserahkan kepada penggugat pertama dengan sumpahnya, lalu ia bersengketa dengannya, maka apakah ia dianggap bersengketa dengan orang yang memegang (memiliki) rumah itu, atau dengan orang yang tidak memegangnya? Dalam hal ini ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ مُنَازِعًا لِذِي يَدٍ لِتَقَدُّمِ الْحُكْمِ بِهَا لَهُ، فَصَارَتْ يَدًا فَيَكُونُ الْقَوْلُ فِيهَا إِنْ أَنْكَرَ قَوْلَهُ مَعَ يَمِينِهِ.

Salah satunya: seseorang berselisih dengan orang yang memegang (barang) karena telah ada keputusan sebelumnya bahwa barang itu miliknya, sehingga menjadi hak kepemilikannya. Maka dalam hal ini, jika ia (pemilik) mengingkari pernyataannya (orang yang berselisih) disertai sumpahnya, maka perkataannya yang diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَكُونُ مُنَازِعًا لِغَيْرِ ذِي يَدٍ، لِأَنَّها دُفِعَتْ إِلَيْهِ بِيَمِينٍ مِنْ غَيْرِ يَدٍ فَيَحْلِفَانِ عَلَيْهَا، وَتَكُونُ بَيْنَهُمَا كَالْمُتَدَاعِيَيْنِ لِمَا لَيْسَ فِي أَيْدِيهِمَا وَإِنْ رَجَعَ صَاحِبُ الْيَدِ عَنْ إِقْرَارِهِ حِينَ رَدَّ عَلَيْهِ وَادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ، أَوْ أَقَرَّ بِهَا لِغَيْرِهِ فَفِي قَبُولِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Pendapat kedua: Ia menjadi pihak yang bersengketa dengan orang yang tidak memegang barang, karena barang itu diserahkan kepadanya dengan sumpah dari orang yang tidak memegang barang, maka keduanya bersumpah atasnya, dan keduanya diperlakukan seperti dua orang yang saling mengklaim sesuatu yang tidak ada di tangan mereka. Jika pemilik tangan menarik kembali pengakuannya saat barang dikembalikan kepadanya dan mengklaimnya untuk dirinya sendiri, atau ia mengakuinya untuk orang lain, maka dalam hal diterimanya pengakuan tersebut terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: لَا يُقْبَلُ مِنْهُ، سواء ادعاها لنفسه، أو أقر بها لغيره، لِأَنَّ إِقْرَارَهُ الْأَوَّلَ قَدْ أَكْذَبَ الثَّانِي فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الْحُكْمُ كَمَا لَوْ أَقَامَ عَلَى إِقْرَارِهِ الْأَوَّلِ.

Pertama: Tidak diterima darinya, baik ia mengakuinya untuk dirinya sendiri maupun ia mengakuinya untuk orang lain, karena pengakuan pertamanya telah mendustakan pengakuan yang kedua. Dengan demikian, hukumnya sama seperti jika ia tetap pada pengakuan pertamanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُقْبَلُ مِنْهُ سَوَاءً ادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ، أَوْ أَقَرَّ بِهَا لِغَيْرِهِ، لِأَنَّ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِإِقْرَارِهِ حَقٌّ لِمُعَيَّنٍ، فَعَلَى هَذَا إِنِ ادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ، كَانَ هُوَ الْخَصْمُ فِيهَا وَإِنْ أَقَرَّ بِهَا لِغَيْرِهِ، انْتَقَلَتِ الْخُصُومَةُ إِلَيْهِ، وَكَانَتِ الْمُنَازَعَةُ مَعَ ذِي يَدٍ لِأَنَّه أَقَرَّ بها لَهُ ذُو يَدٍ.

Pendapat kedua: Diterima darinya, baik ia mengakuinya untuk dirinya sendiri maupun ia mengakuinya untuk orang lain, karena pengakuannya itu tidak berkaitan dengan hak tertentu bagi seseorang. Maka, jika ia mengakuinya untuk dirinya sendiri, dialah yang menjadi pihak lawan dalam perkara tersebut. Dan jika ia mengakuinya untuk orang lain, maka perkaranya berpindah kepada orang tersebut, dan perselisihan terjadi dengan orang yang memegang (barang itu), karena ia telah mengakuinya kepada orang yang memegangnya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: يُقْبَلُ إِقْرَارُهُ بِهَا لِغَيْرِهِ، وَلَا يَقْبَلُ مِنْهُ دَعْوَاهَا لِنَفْسِهِ لِأَنَّه مَتْهُومٌ فِي ادِّعَائِهَا لِنَفْسِهِ، وَغَيْرُ مَتْهُومٍ فِي الْإِقْرَارِ بِهَا لِغَيْرِهِ.

Pendapat ketiga: Pengakuannya terhadap hal itu untuk orang lain diterima, namun pengakuannya untuk dirinya sendiri tidak diterima karena ia dicurigai dalam pengakuannya untuk dirinya sendiri, sedangkan ia tidak dicurigai dalam pengakuannya untuk orang lain.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الْيَدِ قَدْ أَقَرَّ بِهَا فِي الِابْتِدَاءِ لِغَائِبٍ، لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُدَّعِي مِنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ بَيِّنَةٌ أَوْ لَا بَيِّنَةَ لَهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ كَانَ الْحُكْمُ مَوْقُوفًا عَلَى قُدُومِ الْغَائِبِ، وَالدَّارُ مُقَرَّةٌ فِي يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ، فَإِنْ طَلَبَ الْمُدَّعِي إِحْلَافَ صَاحِبِ الْيَدِ، فَفِي إِجَابَتِهِ إِلَى إِحْلَافِهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ.

Jika pemilik barang mengakui kepemilikan barang tersebut sejak awal untuk seseorang yang sedang tidak hadir, maka keadaan pihak yang mengklaim tidak lepas dari dua kemungkinan: ia memiliki bukti atau tidak memiliki bukti. Jika ia tidak memiliki bukti, maka keputusan hukum ditangguhkan sampai orang yang tidak hadir itu datang, dan rumah tersebut tetap berada di tangan pemilik barang. Jika pihak yang mengklaim meminta agar pemilik barang disumpah, maka dalam mengabulkan permintaan sumpah tersebut terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

فَإِنْ قِيلَ: لَا يَمِينَ عَلَيْهِ، انْقَطَعَتِ الْخُصُومَةُ بَيْنَهُمَا، وَكَانَتْ مَوْقُوفَةً عَلَى قُدُومِ الْغَائِبِ.

Jika dikatakan: Tidak ada sumpah atasnya, maka perselisihan antara keduanya terputus, dan perkara tersebut bergantung pada kedatangan orang yang tidak hadir.

وَإِنْ قِيلَ: بِوُجُوبِ الْيَمِينِ عَلَيْهِ، فَفِي كَيْفِيَّةِ يَمِينِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan: wajib baginya untuk bersumpah, maka dalam tata cara sumpahnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَحْلِفُ أَنَّ الدَّارَ لِلْغَائِبِ فُلَانٍ، لِتَكُونَ يَمِينُهُ مُوَافَقَةٌ لِإِقْرَارِهِ.

Salah satunya: ia bersumpah bahwa rumah itu milik si Fulan yang sedang tidak hadir, agar sumpahnya sesuai dengan pengakuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَحْلِفُ أَنَّهُ لَا حَقَّ لِهَذَا الْمُدَّعِي فِيهَا لِتَكَوُّنَ يَمِينُهُ مُعَارَضَةً لِلدَّعْوَى.

Pendapat kedua: Ia bersumpah bahwa penggugat tersebut tidak memiliki hak atas perkara itu, agar sumpahnya menjadi penentangan terhadap gugatan.

فإن حلف برىء مِنْ مُطَالَبَةِ الدَّاعِي، وَإِنْ نَكَلَ أُحْلِفَ الْمُدَّعِي، وَحُكِمَ لَهُ بِقِيمَةِ الدَّارِ.

Jika ia bersumpah, maka ia bebas dari tuntutan pihak penuntut. Namun jika ia enggan bersumpah, maka penuntut yang disuruh bersumpah, dan diputuskan baginya untuk mendapatkan nilai rumah tersebut.

فَإِنْ قَدِمَ الْغَائِبُ الْمُقَرُّ لَهُ، كَانَ لَهُ مُنَازَعَتُهُ فِي الدَّارِ، وَإِنْ صَارَ إِلَى قِيمَتِهَا فَإِنْ أَفْضَى النِّزَاعُ إِلَى الْحُكْمِ بِالدَّارِ لِلْغَائِبِ. اسْتَقَرَّ مِلْكُ الْمُدَّعِي عَلَى الْقِيمَةِ وَإِنْ أَفْضَى إِلَى الْحُكْمِ بِالدَّارِ لِلْمُدَّعِي أُخِذَ بِرَدِّ الْقَيِّمَةِ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ، لِئَلَّا يَجْمَعَ بَيْنَ مِلْكِ الدَّارِ وَقِيمَتِهَا.

Jika orang yang tidak hadir, yang diakui haknya, datang, maka ia berhak untuk bersengketa mengenai rumah tersebut. Jika perkara telah sampai pada penetapan nilai rumah, lalu perselisihan itu berujung pada keputusan bahwa rumah tersebut milik orang yang tidak hadir, maka kepemilikan penggugat tetap pada nilai rumah. Namun, jika keputusan menetapkan rumah itu untuk penggugat, maka ia wajib mengembalikan nilai rumah kepada pemilik tangan (yang menguasai rumah), agar tidak menggabungkan antara kepemilikan rumah dan nilainya sekaligus.

وَإِنْ كَانَ لِمُدَّعِي الدَّارِ بَيِّنَةٌ، عِنْدَ الْإِقْرَارِ بِهَا لِلْغَائِبِ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ، وَقُضِيَ لَهُ بِالدَّارِ.

Dan jika orang yang mengklaim rumah itu memiliki bukti, maka ketika ada pengakuan bahwa rumah itu milik orang yang tidak hadir, bukti tersebut didengar, dan diputuskan rumah itu menjadi miliknya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ ذَلِكَ قَضَاءٌ عَلَى الْغَائِبِ الْمُقَرِّ لَهُ، أَوْ قَضَاءٌ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ لَهُ، عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat, apakah hal itu merupakan keputusan hukum terhadap orang yang tidak hadir namun diakui haknya, ataukah merupakan keputusan hukum terhadap orang yang memegang barang tersebut untuk kepentingannya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ قَضَاءٌ عَلَى الْغَائِبِ الْمُقَرِّ لَهُ فَعَلَى هَذَا لَا يُحْكَمُ لِلْمُدَّعِي بِالْبَيِّنَةِ، حَتَّى يَحْلِفَ مَعَهَا لِأَنَّ الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ يُوجِبُ إِحْلَافَ الْمُدَّعِي مَعَ بَيِّنَتِهِ، لِجَوَازِ أَنْ يَدَّعِيَ الْغَائِبُ انْتِقَالَهَا إِلَيْهِ بِبَيْعٍ أَوْ هِبَةٍ، فَيَحْلِفُ بِاللَّهِ إِنَّ مَا شَهِدْتُ بِهِ شُهُودٌ الْحَقُّ، وَأَنَّهَا لَبَاقِيَةٌ عَلَى مِلْكِهِ، وَيَكُونُ حَلِفُهُ لِصِدْقِ شُهُودِهِ تَبَعًا لِحَلِفِهِ بِبَقَائِهَا عَلَى مِلْكِهِ، وَلَوْلَا ذَاكَ لَمَا حَلَفَ بِصِدْقِ الشُّهُودِ، لِأَنَّه لَا يَلْزَمُهُ إِحْلَافُهُ عَلَى صِدْقِهِمْ وَلَمْ يَخْتَلِفْ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي جَوَازِ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ، وَإِنْ وَهِمُ الْمُزَنِيُّ فِي كَلَامِهِ أَنَّ قَوْلَهُ قَدِ اخْتَلَفَ فِيهِ، وَهُوَ وَهْمٌ مِنْهُ.

Salah satunya: bahwa ini adalah putusan terhadap orang yang tidak hadir yang diakui haknya. Oleh karena itu, tidak diputuskan untuk penggugat hanya dengan bukti, sampai ia bersumpah bersamanya, karena putusan terhadap orang yang tidak hadir mewajibkan penggugat untuk bersumpah bersama buktinya, sebab boleh jadi orang yang tidak hadir itu mengklaim bahwa hak tersebut telah berpindah kepadanya melalui jual beli atau hibah. Maka ia bersumpah demi Allah bahwa apa yang disaksikan para saksi adalah benar, dan bahwa hak itu masih tetap dalam kepemilikannya. Sumpahnya itu untuk membenarkan para saksinya mengikuti sumpahnya atas tetapnya hak tersebut dalam kepemilikannya. Kalau bukan karena itu, ia tidak perlu bersumpah atas kebenaran para saksi, karena ia tidak diwajibkan bersumpah atas kebenaran mereka. Tidak ada perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i tentang bolehnya memutuskan perkara terhadap orang yang tidak hadir, meskipun al-Muzani keliru dalam ucapannya bahwa pendapat Imam Syafi‘i berbeda dalam hal ini, dan itu adalah kekeliruan darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهُ قَضَاءٌ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ الْحَاضِرِ، دُونَ الْغَائِبِ، وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ، لِأَنَّه قَالَ: قَضَى لَهُ عَلَى الَّذِي هِيَ فِي يَدَيْهِ، وَإِنَّمَا كَانَ قَضَاءٌ عَلَى الْحَاضِرِ، لِأَنَّ الدَّعْوَى تَوَجَّهَتْ إِلَيْهِ، فَتَوَجَّهُ الْقَضَاءُ عَلَيْهِ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi bahwa keputusan (hukum) dijatuhkan atas orang yang memegang (barang) yang hadir, bukan atas yang tidak hadir, dan inilah yang tampak dari perkataan asy-Syafi‘i, karena beliau berkata: “Diputuskan untuknya atas orang yang barang itu ada di tangannya.” Keputusan itu hanya dijatuhkan atas yang hadir, karena gugatan ditujukan kepadanya, maka keputusan pun diarahkan kepadanya.

فَعَلَى هَذَا يُحْكَمُ بِالدَّارِ لِلْمُدَّعِي بِبَيِّنَتِهِ دُونَ يَمِينِهِ، وَنَسَبَ الْمَرْوَزِيُّ الْمُزَنِيَّ إِلَى الْغَلَطِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dengan demikian, rumah tersebut diputuskan menjadi milik penggugat berdasarkan buktinya tanpa perlu sumpahnya, dan Al-Marwazi menisbatkan kekeliruan kepada Al-Muzani dalam masalah ini dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ جَعَلَ ذَلِكَ قَضَاءً عَلَى الْغَائِبِ، وَهُوَ قَضَاءٌ عَلَى الْحَاضِرِ.

Salah satunya: bahwa ia menjadikan hal itu sebagai keputusan terhadap orang yang tidak hadir, padahal itu adalah keputusan terhadap orang yang hadir.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ وَهِمَ فِي تَخْرِيجِ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَلَعَمْرِي إِنَّهُ وَهِمَ فِيمَا أَوْهَمَ مِنَ الْقَوْلَيْنِ، وَهُوَ فِيمَا رَآهُ مِنَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ مُحْتَمَلٌ، فَإِذَا قَدِمَ الْغَائِبُ، بَعْدَ الْحُكْمِ بِالدَّارِ لِلْمُدَّعِي وَاعْتَرَفَ بِهَا وَنَازَعَ فِيهَا وَجَرَى عَلَيْهِ حُكْمُ مُنَازَعٍ ذِي يَدٍ، لِأَنَّها انْتُزِعَتْ مِنْ يَدٍ مَنْسُوبَةٍ إِلَيْهِ، وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ لِلْحَاكِمِ، إِذَا حَكَمَ بِالدَّارِ لِلْمُدَّعِي بِبَيِّنَتِهِ أَنْ يَكْتُبَ فِي قَضَائِهِ لِلْمُدَّعِي صِفَةَ الْحَالِ، وَأَنَّهُ حَكَمَ بِبَيِّنَتِهِ، وَأَنَّهُ جَعَلَ الْغَائِبَ فِيهَا عَلَى حُجَّتِهِ.

Kedua: Sesungguhnya ia keliru dalam mengeluarkan hukum tentang keputusan atas orang yang tidak hadir (ghaib) menjadi dua pendapat, dan demi Allah, ia telah keliru dalam apa yang ia anggap sebagai dua pendapat tersebut. Adapun dalam hal yang ia lihat mengenai keputusan atas orang yang tidak hadir, hal itu masih mungkin (diperdebatkan). Maka apabila orang yang tidak hadir itu datang setelah diputuskan rumah tersebut untuk penggugat, lalu ia mengakuinya, membantahnya, dan terjadi padanya hukum sengketa seperti orang yang memegang hak, karena rumah itu telah diambil dari tangan yang dinisbatkan kepadanya. Asy-Syafi‘i memilih bagi hakim, apabila ia memutuskan rumah untuk penggugat berdasarkan buktinya, agar menuliskan dalam keputusannya untuk penggugat keadaan perkara, bahwa ia memutuskan berdasarkan buktinya, dan bahwa ia menjadikan orang yang tidak hadir itu tetap memiliki hak untuk mengajukan dalilnya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِنْ أَرَادَ صَاحِبُ الْيَدِ، حِينَ انْتُزِعَتِ الدَّارُ مِنْ يَدِهِ بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي، أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةَ الْغَائِبِ بِمِلْكِهِ لِلدَّارِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي إِقَامَتِهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Jika pemilik tangan, ketika rumah itu dicabut dari tangannya berdasarkan bukti dari pihak penggugat, ingin mengajukan bukti atas nama orang yang tidak hadir bahwa rumah itu adalah miliknya, maka keadaannya dalam mengajukan bukti tersebut tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ ثَابِتَ الْوِكَالَةِ عَنِ الْغَائِبِ، فَيَسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةَ لِلْغَائِبِ بِالْمِلْكِ، لِأَنَّه وَكِيلُهُ فِيهَا، وَيَحْكُمُ لِلْغَائِبِ، لِأَنَّ لَهُ مَعَ الْبَيِّنَةِ يَدًا لَيْسَتْ لِلْمُدَّعِي.

Salah satunya: jika seseorang telah sah menjadi wakil dari pihak yang tidak hadir, maka ia dapat mendengarkan bukti dari saksi untuk pihak yang tidak hadir mengenai kepemilikan, karena ia adalah wakilnya dalam hal tersebut, dan hakim dapat memutuskan perkara untuk pihak yang tidak hadir, karena dengan adanya bukti, ia memiliki kedudukan yang tidak dimiliki oleh penggugat.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَكُونَ وَكِيلًا لِلْغَائِبِ، وَلَا يَتَعَلَّقُ لَهُ بِالدَّارِ حَقٌّ عَلَى الْغَائِبِ مِنْ إِجَارَةٍ، وَلَا رَهْنٍ فَلَا تُسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ لِلْغَائِبِ، لِأَنَّه لَا حَقَّ لَهُ فِي إِقَامَتِهَا، وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْغَائِبُ مُنْكِرًا لَهَا، وَيَكُونُ الْحُكْمُ فِيهَا بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي، حَتَّى يَقْدُمَ الْغَائِبُ، فَيَدَّعِي كَمَنْ شَهِدُوا فِي تَرِكَةٍ بِقَسْمٍ وَمَالِ مُفْلِسٍ يُبَاعُ عَلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ جُمْلَتِهِ مِلْكٌ لِغَائِبٍ لَمْ يَدَّعِهِ، لَمْ تُسْمَعِ الشَّهَادَةُ، وَقُسِمَ بَيْنَ وَرَثَةِ الْمَيِّتِ وَغُرَمَاءِ الْمُفْلِسِ، وَإِنْ أَرَادَ إِقَامَةَ الْبَيِّنَةِ، بِمِلْكِ الْغَائِبِ لِاسْتِيفَاءِ حَقِّهِ مِنْهَا بِالْإِجَارَةِ أَوْ بِالرَّهْنِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ مِنْهُ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Bagian kedua: yaitu apabila seseorang bukan merupakan wakil dari orang yang ghaib, dan ia tidak memiliki hak atas rumah tersebut terhadap orang yang ghaib, baik karena sewa maupun gadai, maka kesaksian darinya untuk orang yang ghaib tidak dapat diterima, karena ia tidak memiliki hak untuk mengajukannya. Bisa jadi orang yang ghaib itu mengingkari kesaksian tersebut, dan keputusan dalam perkara itu didasarkan pada bukti dari pihak penggugat, sampai orang yang ghaib datang, lalu ia mengajukan klaim seperti halnya orang-orang yang bersaksi dalam harta warisan mengenai pembagian dan harta orang yang bangkrut yang dijual atasnya, bahwa seorang budak dari keseluruhan harta itu adalah milik orang yang ghaib yang tidak pernah mengakuinya, maka kesaksian itu tidak diterima, dan harta tersebut dibagi di antara ahli waris si mayit dan para kreditur orang yang bangkrut. Namun jika ia ingin mengajukan bukti atas kepemilikan orang yang ghaib untuk mengambil haknya dari rumah itu melalui sewa atau gadai, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang boleh tidaknya menerima kesaksian darinya dalam dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تُسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ فِيهَا لِتَعَلُّقِ حَقَّهُ بِهَا، وَيُقْضَى بِمِلْكِهَا لِلْغَائِبِ، وَيُقْضَى عَلَيْهِ لِصَاحِبِ الْيَدِ بِالْإِجَارَةِ، وَالرَّهْنِ، وَيَكُونُ الْقَضَاءُ بِهَا لِغَيْرِ مُدَّعٍ، تَبَعًا لِلْقَضَاءِ لِحَقِّ الْحَاضِرِ عَلَيْهِ.

Salah satunya: Diterima darinya bukti dalam perkara tersebut karena haknya berkaitan dengannya, dan diputuskan kepemilikannya untuk orang yang tidak hadir, serta diputuskan atasnya untuk pemegang barang dengan sewa, gadai, dan keputusan tersebut diberikan kepada selain pihak yang mengklaim, sebagai konsekuensi dari keputusan atas hak orang yang hadir terhadapnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا تُسْمَعَ بَيِّنَةُ الْحَاضِرِ وَإِنِ ادَّعَى الْإِجَارَةَ وَالرَّهْنَ، لِأَنَّهمَا تَبَعٌ لِمِلْكِ الْأَصْلِ فَلَمْ تَصِحَّ فِيهِ الْإِجَارَةُ، وَلَا الرَّهْنُ، إِلَّا بَعْدَ ثُبُوتِ مِلْكِ الْغَائِبِ، وَمِلْكِ الْغَائِبِ لَا يَثْبُتُ بِالْبَيِّنَةِ إِلَّا بعد مطالبته. والله أعلم.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa kesaksian orang yang hadir tidak dapat diterima, meskipun ia mengklaim adanya ijārah (sewa-menyewa) dan rahn (gadai), karena keduanya merupakan turunan dari kepemilikan pokok, sehingga ijārah dan rahn tidak sah kecuali setelah terbukti kepemilikan pihak yang tidak hadir. Dan kepemilikan pihak yang tidak hadir tidak dapat dibuktikan dengan kesaksian kecuali setelah adanya tuntutan darinya. Allah Maha Mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ رَجُلٌ بَيِّنَةً أَنَّ هَذِهِ الدَّارَ كَانَتْ فِي يَدَيْهِ أَمْسُ لَمْ أَقْبَلْ قَدْ يَكُونُ فِي يَدَيْهِ مَا لَيْسَ لَهُ إِلَّا أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةً أَنَّهُ أَخَذَهَا مِنْهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang menghadirkan bukti bahwa rumah ini kemarin berada dalam genggamannya, aku tidak akan menerimanya; bisa jadi sesuatu berada dalam genggamannya padahal itu bukan miliknya, kecuali jika ia menghadirkan bukti bahwa ia mengambilnya darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَ فِي يَدِ رَجُلٍ دَارٌ فَادُّعِيَتْ عَلَيْهِ وَأَقَامَ مُدَّعِيهَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا كَانَتْ فِي يَدِهِ أَمْسِ، كَالَّذِي نَقْلَهُ المزني والربيع، وأنه لَا حُجَّةَ لِلْمُدَّعِي فِي هَذِهِ الْبَيِّنَةِ بِأَنَّ الدَّارَ كَانَتْ بِيَدِهِ بِالْأَمْسِ وَيَكُونُ الْقَوْلُ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ مَعَ يَمِينِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar apabila ada sebuah rumah di tangan seseorang, lalu ada yang mengklaimnya terhadap orang tersebut dan pengklaimnya mendatangkan bukti bahwa rumah itu kemarin berada di tangannya, seperti yang diriwayatkan oleh al-Muzani dan ar-Rabi‘, maka tidak ada hujjah bagi pengklaim dalam bukti bahwa rumah itu kemarin berada di tangannya, dan yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang memegang rumah tersebut beserta sumpahnya.

وَنَقَلَ أَبُو يَعْقُوبَ الْبَوِيطِيِّ إِنَّ بَيِّنَةَ الْمُدَّعِي مَسْمُوعَةٌ، وَيُقْضَى لَهُ بِالدَّارِ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَخْرِيجِهِ فَكَانَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ يُخَرِّجُ سَمَاعَهَا عَلَى قَوْلَيْنِ:

Abu Ya‘qub al-Buwaiti meriwayatkan bahwa bukti dari pihak penggugat dapat didengar, dan diputuskan hak baginya atas rumah tersebut. Maka para ulama kami berbeda pendapat dalam menafsirkan hal ini. Abu al-‘Abbas bin Surayj menafsirkan kebolehan mendengarkan bukti tersebut dengan dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: مَا رَوَاهُ الْمُزَنِيُّ وَالرَّبِيعُ إِنَّ هَذِهِ الْبَيِّنَةَ لَا تُسْمَعُ وَلَا يُحْكَمُ بِهَا لِلْمُدَّعِي، وَتَكُونُ الدَّارُ مُقَرَّةً فِي يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ فِي وَقْتِ الدَّعْوَى لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya: apa yang diriwayatkan oleh al-Muzani dan ar-Rabi‘ bahwa bukti ini tidak dapat didengar dan tidak dapat dijadikan dasar keputusan untuk pihak penggugat, dan rumah tersebut tetap dianggap berada dalam kekuasaan pemilik tangan (yang menguasai) pada saat gugatan diajukan karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْيَدَ غَيْرُ مُوجِبَةٍ لِلْمِلْكِ، وَإِنَّمَا يُسْتَدَلُّ بِظَاهِرِهَا عَلَى الْمِلْكِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ تَكُونَ بِغَيْرِ مِلْكٍ، لِدُخُولِهَا بِغَصْبٍ، أَوْ إِجَارَةٍ، فَإِذَا زَالَتْ بِيَدٍ طَارِئَةٍ، صَارَتِ الثَّابِتَةُ أَوْلَى من الزائلة لجواز انتقالها بملك طارىء مِنِ ابْتِيَاعٍ، أَوْ هِبَةٍ فَبَطَلَ بِزَوَالِهَا مَا أَوْجَبَهُ ظَاهِرُهَا.

Salah satunya: Sesungguhnya kepemilikan atas sesuatu tidak ditetapkan hanya karena seseorang memegangnya, melainkan hanya dijadikan sebagai indikasi lahiriah atas kepemilikan. Meskipun demikian, bisa saja sesuatu berada dalam genggaman tanpa hak milik, seperti karena perampasan atau sewa. Maka apabila benda tersebut berpindah ke tangan lain secara tiba-tiba, maka tangan yang tetap memegang lebih berhak daripada tangan yang telah melepaskannya, karena dimungkinkan terjadi perpindahan hak milik secara tiba-tiba melalui jual beli atau hibah. Dengan hilangnya genggaman tersebut, batal pula apa yang sebelumnya ditunjukkan oleh indikasi lahiriahnya.

وَالثَّانِي: إِنَّ الْبَيِّنَةَ تُسْمَعُ فِيمَا تَصِحُّ فِيهِ الدَّعْوَى، وَلَوْ قَالَ الْمُدَّعِي كَانَتْ هَذِهِ الدَّارُ فِي يَدِي بِالْأَمْسِ، لَمْ تُسْمَعْ هَذِهِ الدَّعْوَى فَوَجَبَ إِذَا أَقَامَ الْبَيِّنَةَ بِذَلِكَ أَنْ لَا يُسْمَعَ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ مُطَابَقَةً لِلدَّعْوَى فِي الْقَبُولِ وَالرَّدِّ.

Kedua: Bahwa bukti (al-bayyinah) hanya dapat didengar dalam perkara yang sah untuk diajukan gugatan. Jika penggugat berkata, “Rumah ini kemarin ada dalam penguasaanku,” maka gugatan seperti ini tidak dapat diterima. Maka apabila ia menghadirkan bukti atas hal tersebut, bukti itu pun tidak dapat diterima, karena bukti harus sesuai dengan gugatan dalam hal diterima atau ditolaknya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ مَا نَقَلَهُ ” الْبُوَيْطِيُّ ” إِنَّ بَيِّنَةَ الْمُدَّعِي مَسْمُوعَةٌ وَيُحْكَمُ بِهَا عَلَى الْيَدِ الطَّارِئَةِ، لِتَقَدُّمِهَا إِلَّا أَنْ يُقِيمَ صَاحِبُ الْيَدِ بَيِّنَةً أَنَّهَا انْتَقَلَتْ إِلَيْهِ بِحَقٍّ مِنْ هِبَةٍ أَوْ بيع، لأنه الْيَدَ دَالَّةٌ عَلَى الْمِلْكِ فَجَرَتْ مَجْرَاهُ، وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الْمُدَّعِيَ لَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً عَلَى أَنَّ الدَّارَ كَانَتْ لَهُ بِالْأَمْسِ حُكِمَ لَهُ بِهَا. كَذَلِكَ إِذَا أَقَامَ بَيِّنَةً أَنَّهَا كَانَتْ فِي يَدِهِ بِالْأَمْسِ، وَذَهَبَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ وَجُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى إِبْطَالِ مَا نَقَلَهُ الْبُوَيْطِيُّ، وَنَسَبُوهُ إِلَى مَذْهَبٍ لِنَفْسِهِ، وَلَيْسَ بِقَوْلِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّ كُتُبَ الشَّافِعِيِّ تَدُلُّ نُصُوصُهَا عَلَى خِلَافِهِ، وَكَذَلِكَ مَا نَقَلَهُ عَنْهُ سَائِرُ أَصْحَابِهِ تَعْلِيلًا، بِمَا قَدَّمْنَاهُ، وَفَرَّقُوا بَيْنَ أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ، أَنَّهُ كَانَ مَالِكًا لَهَا بِالْأَمْسِ، فَيُحْكَمُ بِهَا، وَبَيْنَ أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةً بِأَنَّهَا كَانَتْ فِي يَدِهِ بِالْأَمْسِ، وَلَا يُحْكَمُ بِهَا، لِأَنَّ ثُبُوتَ الْمِلْكِ يُوجِبُ دَوَامَهُ إِلَّا بِحُدُوثِ سَبَبٍ يُوجِبُ انْتِقَالَهُ وَثُبُوتُ الْيَدِ

Pendapat kedua, yaitu sebagaimana yang dinukil oleh Al-Buwaiti, bahwa bukti (bayyinah) dari pihak penggugat dapat diterima dan diputuskan dengannya atas kepemilikan tangan yang baru muncul, karena penggugat lebih dahulu memilikinya, kecuali jika pihak yang memegang barang tersebut mendatangkan bukti bahwa barang itu berpindah kepadanya secara sah, seperti melalui hibah atau jual beli. Sebab, tangan (kepemilikan fisik) menunjukkan kepemilikan, sehingga diperlakukan sebagaimana kepemilikan. Telah tetap pula bahwa jika penggugat mendatangkan bukti bahwa rumah itu kemarin adalah miliknya, maka diputuskan untuknya. Demikian pula jika ia mendatangkan bukti bahwa kemarin barang itu ada di tangannya. Namun, Abu Ishaq Al-Marwazi dan mayoritas ulama mazhab kami menolak apa yang dinukil oleh Al-Buwaiti dan menganggapnya sebagai pendapat pribadi, bukan pendapat Asy-Syafi‘i, karena dalam kitab-kitab Asy-Syafi‘i, nash-nashnya menunjukkan sebaliknya, demikian pula penjelasan para sahabatnya yang lain, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Mereka membedakan antara mendatangkan bukti bahwa ia adalah pemiliknya kemarin—maka diputuskan untuknya—dan mendatangkan bukti bahwa barang itu kemarin ada di tangannya—maka tidak diputuskan untuknya. Sebab, tetapnya kepemilikan mengharuskan kelangsungannya kecuali ada sebab yang menyebabkan perpindahan, sedangkan tetapnya tangan (kepemilikan fisik)…

لَا تُوجِبُ دَوَامَهَا، لِأَنَّها قَدْ تَكُونُ بِإِجَارَةٍ تَرْتَفِعُ بِانْقِضَاءِ مُدَّتِهَا، فَافْتَرَقَا فِي الْقَبُولِ لِافْتِرَاقِهِمَا فِي الْمُوجِبِ.

Ia tidak mewajibkan keberlangsungan (kepemilikan), karena bisa jadi (kepemilikan) itu berdasarkan akad ijarah yang akan berakhir dengan habisnya masa sewanya. Maka keduanya berbeda dalam hal penerimaan, karena perbedaan keduanya dalam hal sebab yang mewajibkan.

وَإِذَا وَجَبَ بِمَا ذَكَرْنَا أَنْ تَكُونَ الْبَيِّنَةُ بِالْيَدِ الْمُتَقَدِّمَةِ، غَيْرَ مَسْمُوعَةٍ مَعَ مَا حَدَثَ مِنَ الْيَدِ الطَّارِئَةِ، فَإِنَّمَا لَا تُسْمَعُ إِذَا كَانَتْ مَقْصُورَةً عَلَى تَقَدُّمِ الْيَدِ فَإِنْ شَهِدَتْ مَعَ تَقَدُّمِ الْيَدِ بِالسَّبَبِ الَّذِي انْتَقَلَتْ بِهِ إِلَى الْيَدِ الطَّارِئَةِ مِنْ غَصْبٍ، أَوْ وَدِيعَةٍ، أَوْ عَارِيَةٍ وَجَبَ سَمَاعُهَا وَالْحُكْمُ بِهَا، وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ الشافعي، ” إِلَّا أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةً أَنَّهُ أَخَذَهَا مِنْهُ “.

Dan apabila telah wajib, sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa bukti (bayyinah) adalah dengan kepemilikan tangan yang lebih dahulu, maka bukti tersebut tidak dapat diterima jika hanya bersamaan dengan adanya kepemilikan tangan yang baru muncul. Bukti itu tidak dapat diterima jika hanya terbatas pada kepemilikan tangan yang lebih dahulu. Namun, jika bukti tersebut disertai dengan penjelasan sebab berpindahnya barang ke tangan yang baru, seperti karena dirampas, dititipkan, atau dipinjamkan, maka bukti itu wajib didengar dan diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Inilah makna perkataan Imam Syafi‘i, “Kecuali jika ia mendatangkan bukti bahwa ia mengambilnya darinya.”

يَعْنِي بِمَا لَا يُوجِبُ زَوَالَ الْمِلْكِ، إِمَّا بِمُبَاحٍ مِنْ وَدِيعَةٍ، أَوْ عَارِيَةٍ، أَوْ بِمَحْظُورٍ مِنْ غَصْبٍ وَتَغَلُّبٍ، لِأَنَّه قَدْ بَانَ بِالْبَيِّنَةِ، أَنَّ الْيَدَ الطَّارِئَةَ غَيْرُ مُوجِبَةٍ لِلْمِلْكِ فَثَبَتَ بها حكم اليد المتقدمة.

Yang dimaksud dengan sesuatu yang tidak menyebabkan hilangnya kepemilikan adalah baik melalui cara yang diperbolehkan seperti titipan (wadi‘ah) atau pinjaman pakai (‘āriyah), maupun melalui cara yang terlarang seperti perampasan (ghashb) dan penguasaan secara paksa (taghallub), karena telah jelas dengan bukti bahwa kepemilikan yang datang belakangan tidak menyebabkan kepemilikan, sehingga tetap berlaku hukum kepemilikan yang lebih dahulu.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً أَنَّهُ غَصَبَهُ إِيَّاهَا وَأَقَامَ آخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ أَقَرَّ لَهُ بِهَا فَهِيَ لِلْمَغْصُوبِ وَلَا يَجُوزُ إِقْرَارُهُ فِيمَا غَصَبَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti bahwa barang itu telah dirampas darinya, lalu orang lain mendatangkan bukti bahwa ia telah mengakui barang itu miliknya, maka barang itu menjadi milik orang yang dirampas, dan tidak sah pengakuan atas sesuatu yang telah dirampas.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. إِذَا كَانَتْ دَارٌ فِي يَدِ رَجُلٍ فَتَدَاعَاهَا رَجُلَانِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: هَذِهِ الدَّارُ لِي غَصَبَنِي عَلَيْهَا صَاحِبُ الْيَدِ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Jika ada sebuah rumah berada di tangan seorang laki-laki, lalu dua orang saling mengklaim rumah itu, salah satu dari mereka berkata: “Rumah ini milikku, pemilik yang memegangnya telah merampasnya dariku,” dan ia mendatangkan bukti atas hal tersebut.

وَقَالَ الْآخَرُ: ” هَذِهِ الدَّارُ لِي، أَقَرَّ لِي بِهَا صَاحِبُ الْيَدِ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً: حُكِمَ بِالدَّارِ لِلْمَغْصُوبِ فِيهِ، دُونَ الْمُقِرِّ لَهُ، لِأَنَّه قَدْ صَارَ صَاحِبُ الْيَدِ بِالْبَيِّنَةِ غَاصِبًا، وَإِقْرَارُ الْغَاصِبِ مَرْدُودٌ.

Dan orang yang lain berkata: “Rumah ini milikku, pemilik tangan telah mengakuinya untukku,” lalu ia mendatangkan bukti atas hal itu; maka diputuskan rumah tersebut untuk orang yang dirampas darinya, bukan untuk orang yang diakui oleh pemilik tangan, karena dengan adanya bukti, pemilik tangan menjadi seorang perampas, dan pengakuan perampas itu tertolak.

وَكَذَلِكَ لَوِ ادَّعَاهَا الْآخَرُ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ، كَانَ بَيْعُ الْغَاصِبِ، مَرْدُودًا فَإِنْ قِيلَ: فَيَجِبُ عَلَى الْغَاصِبِ غُرْمُ قِيمَتِهَا لِمَنْ أَقَرَّ لَهُ بِهَا عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ كَمَنْ أَقَرَّ بِدَارٍ لِزَيْدٍ، ثُمَّ أَقَرَّ بِهَا لِعَمْرٍو وَغَرِمَ لِعَمْرٍو قِيمَتَهَا فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ قِيلَ: لَا غُرْمَ عَلَيْهِ هَاهُنَا، قَوْلًا وَاحِدًا.

Demikian pula, jika orang lain mengaku bahwa ia telah membeli barang itu darinya, maka jual beli yang dilakukan oleh pihak yang merampas adalah batal. Jika dikatakan: Maka wajib atas perampas untuk mengganti nilainya kepada orang yang ia akui sebagai pemiliknya menurut salah satu dari dua pendapat, seperti seseorang yang mengakui sebuah rumah milik Zaid, kemudian ia mengakui rumah itu milik ‘Amr dan mengganti nilainya kepada ‘Amr menurut salah satu dari dua pendapat, maka dikatakan: Tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya dalam kasus ini menurut satu pendapat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَوْضِعَيْنِ، إِنَّ اسْتِهْلَاكَ الدَّارِ عَلَى الْمُقَرِّ لَهُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، كَانَ بِالْبَيِّنَةِ فَلَا يَلْزَمُ الْمُقِرَّ غُرْمُ مَا اسْتَهْلَكَهُ غَيْرُهُ.

Perbedaan antara kedua kasus tersebut adalah bahwa dalam hal ini, penggunaan rumah oleh orang yang diakui haknya didasarkan pada bukti, sehingga orang yang mengakui tidak wajib menanggung ganti rugi atas apa yang telah digunakan oleh orang lain.

وَفِي مَسْأَلَةِ الْإِقْرَارِ كَانَ الْمُقِرُّ قَدِ اسْتَهْلَكَهَا عَلَى الثَّانِي بِإِقْرَارِهِ الْأَوَّلِ، فَلَزِمَهُ غُرْمُ مَا اسْتَهْلَكَ.

Dalam masalah pengakuan, orang yang mengakui telah menghabiskan barang itu untuk orang kedua berdasarkan pengakuan pertamanya, maka ia wajib menanggung ganti rugi atas apa yang telah ia habiskan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ، فَتَدَاعَاهَا رَجُلَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا: هَذِهِ الدَّارُ لِي أَوْدَعْتُكَ إِيَّاهَا، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً.

Dan apabila sebuah rumah berada di tangan seorang laki-laki, lalu dua orang laki-laki saling mengklaimnya, salah satu dari mereka berkata: “Rumah ini milikku, aku titipkan kepadamu,” dan ia mendatangkan bukti atas hal itu.

وَقَالَ الْآخَرُ: هَذِهِ الدَّارُ لِي، أَجَّرْتُكَ إِيَّاهَا وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً.

Orang yang lain berkata: Rumah ini milikku, aku telah menyewakannya kepadamu, dan ia mendatangkan bukti atas hal itu.

فَصَارَا مُتَدَاعِيَيْنِ لِمِلْكِهَا، وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي حُكْمِ يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ، فَتَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ بِالْمِلْكِ لِتَنَافِي شَهَادَتِهِمَا فَخَرَجَ فِي تعارضهما ثلاثة أقاويل:

Maka keduanya menjadi saling mengklaim kepemilikan atasnya. Jika keduanya berselisih mengenai status kepemilikan orang yang memegang barang tersebut, maka kedua bukti kepemilikan saling bertentangan karena kesaksian keduanya saling meniadakan. Dari pertentangan keduanya muncul tiga pendapat:

أحدهما: إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَالرُّجُوعُ إِلَى قَوْلِ صَاحِبِ الْيَدِ.

Pertama: menggugurkan kedua bukti, dan kembali kepada pernyataan pemilik barang (yang menguasai benda tersebut).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَالْحُكْمُ بِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا فَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ مُدَّعِي الْوَدِيعَةِ، انتزعت من صاحب اليد ولاشيء عَلَيْهِ.

Pendapat kedua: dilakukan undian (iqrā‘) antara dua bukti (bayyinah), dan keputusan diberikan kepada pihak yang keluar dalam undian tersebut. Jika yang keluar adalah bukti dari pihak yang mengklaim sebagai penerima titipan (mudda‘ī al-wadī‘ah), maka barang diambil dari pihak yang memegangnya dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya.

وَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ مُدَّعِي الْإِجَارَةِ، فَإِنْ كَانَتِ الْمُدَّةُ بَاقِيَةً، أُقِرَّتْ فِي يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّتِهَا، وَأَخَذَ بِأُجْرَتِهَا، فَإِنِ انْقَضَتْ مُدَّتُهَا انْتُزِعَتْ مِنْ يَدِهِ، وَأَخَذَ بِالْأُجْرَةِ.

Dan jika bukti pihak yang mengklaim sewa lebih kuat, maka jika masa sewanya masih tersisa, barang tersebut tetap berada di tangan pemegangnya hingga masa sewanya berakhir, dan ia berhak mengambil upah sewanya. Namun jika masa sewanya telah habis, barang tersebut diambil dari tangannya, dan ia tetap berhak atas upah sewanya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَجَعْلُ الدَّارِ بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ نِصْفَيْنِ، نِصْفُهَا لِمُدَّعِي الْوَدِيعَةِ، يَنْتَزِعُهُ مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ وَنِصْفُهَا لِمُدَّعِي الْإِجَارَةِ يُقِرُّهُ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ إِلَى انْقِضَاءِ الْمُدَّةِ وَيَرْجِعُ عَلَيْهِ بنصف الأجرة.

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (bayyinah), dan membagi rumah yang diperselisihkan antara kedua pihak yang bersengketa menjadi dua bagian; setengahnya diberikan kepada pihak yang mengklaim sebagai penerima titipan, yang diambil dari pihak yang memegang rumah, dan setengahnya lagi diberikan kepada pihak yang mengklaim sebagai penyewa, yang tetap berada pada pihak yang memegang rumah hingga masa sewanya berakhir, dan ia wajib membayar setengah dari uang sewa kepadanya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا ادَعَى عَلَيْهِ شَيْئَا كَانَ فِي يَدَيِ الْمَيِّتِ حَلَفَ عَلَى عِلْمِهِ وَقَالَ فِي كِتَابِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَإِذَا اشْتَرَاهُ حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengklaim sesuatu yang ada di tangan orang yang telah meninggal, maka ia bersumpah atas dasar pengetahuannya. Dan beliau berkata dalam Kitab Ibn Abi Laila: Jika ia membelinya, maka ia bersumpah secara pasti (tanpa keraguan).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي مَوَاضِعَ، وَذَكَرْنَا أَنَّ الْيَمِينَ إِذَا تَوَجَّهَتْ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي فِعْلِ نَفْسِهِ، كَانَتْ عَلَى الْقَطْعِ وَالْبَتِّ، سَوَاءٌ كَانَتْ عَلَى إِثْبَاتٍ أَوْ نَفْيٍ.

Al-Mawardi berkata: Masalah ini telah dibahas di beberapa tempat, dan kami telah menyebutkan bahwa sumpah apabila diarahkan kepada seseorang terkait perbuatannya sendiri, maka sumpah itu harus dilakukan secara tegas dan pasti, baik sumpah tersebut untuk menetapkan maupun meniadakan.

وَالْإِثْبَاتُ أَنْ يَحْلِفَ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الْعَبْدَ لِي إِمَّا بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، وَإِمَّا بِالرَّدِّ بَعْدَ النُّكُولِ.

Dan penetapan itu adalah dengan bersumpah, “Demi Allah, sesungguhnya budak ini milikku,” baik dengan saksi dan sumpah, maupun dengan sumpah pengganti setelah penolakan.

وَأَمَّا النَّفْيُ، فَإِنْ حَلَفَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَا حَقَّ لَكَ فِي هَذَا الْعَبْدِ فَإِنْ أَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ، عَلَى الْعِلْمِ فِي الْإِثْبَاتِ، فَقَالَ: وَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْعَبْدَ لِي وَأَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْعَبْدَ لَيْسَ هُوَ بِمِلْكٍ لَكَ.

Adapun penafian, jika seseorang bersumpah dengan mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya kamu tidak memiliki hak atas budak ini,” lalu hakim menyuruhnya bersumpah atas dasar pengetahuan dalam hal penetapan, maka ia berkata, “Demi Allah, aku mengetahui bahwa budak ini adalah milikku dan aku mengetahui bahwa budak ini bukanlah milikmu.”

فَقَدْ أَكَّدَهَا، لِأَنَّ إِثْبَاتَ الْعِلْمِ زِيَادَةُ تَأْكِيدٍ، وَإِنْ أَحْلَفَهُ عَلَى الْعِلْمِ فِي النَّفْيِ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلِيَّ شَيْئًا وَلَا أَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْعَبْدَ لَكَ، لَمْ تَصِحَّ الْيَمِينُ، لِأَنَّه عَلَى يَقِينٍ وَإِحَاطَةٍ فِيمَا اخْتَصَّ بِنَفْسِهِ مِنْ إِثْبَاتٍ وَنَفْيٍ، فَلَمْ تَصِحَّ يَمِينُهُ فِي النَّفْيِ، إِلَّا بِالْقَطْعِ وَالْبَتِّ، كَمَا لَا تَصِحَّ يَمِينُهُ فِي الْإِثْبَاتِ، إِلَّا بِالْقَطْعِ.

Maka ia telah menegaskannya, karena penetapan ilmu merupakan tambahan penegasan. Jika ia disuruh bersumpah atas dasar ilmu dalam hal penafian, lalu ia berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa engkau memiliki sesuatu atas diriku, dan aku tidak mengetahui bahwa budak ini milikmu,” maka sumpahnya tidak sah. Sebab, dalam hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri, baik dalam penetapan maupun penafian, ia harus berada pada tingkat keyakinan dan pengetahuan yang pasti. Oleh karena itu, sumpahnya dalam penafian tidak sah kecuali dengan kepastian dan ketegasan, sebagaimana sumpahnya dalam penetapan juga tidak sah kecuali dengan kepastian.

فَأَمَّا إِذَا حَلَفَ فِي تَوَجُّهِ الدَّعْوَى عَلَى غَيْرِهِ، كَالْوَارِثِ إِذَا ادَّعَى عَلَى مَيِّتِهِ دَعْوَى، فَأَنْكَرَهَا، فَيَمِينُهُ يَمِينُ نَفْيٍ عَلَى فِعْلِ الْغَيْرِ، فَيَحْلِفُ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْقَطْعِ، لِأَنَّه لَا طَرِيقَ لَهُ إِلَى الْيَقِينِ وَالْإِحَاطَةِ فَيَقُولُ: وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ أَنَّ لَكَ عَلَيَّ شيء مِمَّا ادَّعَيْتَهُ، فَإِنْ أَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ عَلَى الْقَطْعِ وَالْبَتِّ فَقَالَ، وَاللَّهِ مَا لَكَ عَلَيَّ شَيْءٌ مِمَّا ادَّعَيْتَهُ كَانَ تَجَاوُزًا مِنَ الْحَاكِمِ، وَقَدْ وَقَعَتِ الْيَمِينُ مَوْقِعَهَا، لِأَنَّها أَغْلَظُ مِنَ الْيَمِينِ الْمُسْتَحَقَّةِ عَلَيْهِ، وَهِيَ تَؤُولُ بِهِ إِلَى الْعِلْمِ.

Adapun jika ia bersumpah dalam konteks gugatan yang diarahkan kepada selain dirinya, seperti ahli waris ketika seseorang menggugat terhadap mayitnya suatu tuntutan, lalu ia (ahli waris) mengingkarinya, maka sumpahnya adalah sumpah penolakan atas perbuatan orang lain. Maka ia bersumpah berdasarkan pengetahuan, bukan dengan keyakinan pasti, karena ia tidak memiliki jalan untuk mencapai keyakinan dan pengetahuan menyeluruh. Maka ia berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa engkau memiliki hak atas diriku dari apa yang engkau tuntut.” Jika hakim memaksanya bersumpah dengan keyakinan pasti dan tegas, lalu ia berkata, “Demi Allah, tidak ada hakmu atas diriku dari apa yang engkau tuntut,” maka itu merupakan tindakan berlebihan dari hakim, namun sumpah tersebut tetap sah, karena sumpah itu lebih berat daripada sumpah yang seharusnya dibebankan kepadanya, dan pada akhirnya sumpah itu kembali kepada pengetahuan.

وَلَوِ ادَّعَى شَيْئًا لِمَيِّتِهِ، وَتَوَجَّهَتِ الْيَمِينُ عَلَيْهِ، حَلَفَ عَلَى الْقَطْعِ وَالْبَتِّ، كَمَا لَوِ ادَّعَاهَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ، لِأَنَّه لَا يَصِحُّ أَنْ يَدَّعِيَهُ إِلَّا بَعْدَ إِحَاطَةِ عِلْمِهِ بِهِ، فَاسْتَوَى يَمِينُ الْإِثْبَاتِ فِي فِعْلِهِ، وَفِعْلِ غَيْرِهِ، وَاخْتَلَفَتْ يَمِينُ النَّفْيِ فِي فِعْلِهِ، وَفِعْلِ غَيْرِهِ. وَبِاللَّهِ التوفيق.

Dan jika seseorang mengklaim sesuatu untuk orang yang telah meninggal dunia, lalu sumpah diarahkan kepadanya, maka ia bersumpah dengan keyakinan penuh dan tegas, sebagaimana jika ia mengklaimnya untuk dirinya sendiri. Sebab, tidak sah baginya untuk mengklaim hal itu kecuali setelah ia benar-benar mengetahui perkara tersebut. Maka, sumpah untuk penetapan (itsbāt) sama saja baik dalam perbuatannya sendiri maupun perbuatan orang lain, sedangkan sumpah untuk penafian (nafy) berbeda antara perbuatannya sendiri dan perbuatan orang lain. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.

(باب الدعوى في الميراث مِنَ اخْتِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى)

(Bab tentang gugatan dalam warisan menurut perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ هَلَكَ نَصْرَانِيٌ وَلَهُ ابْنَانِ: مُسْلِمٌ وَنَصْرَانِيٌ فَشَهِدَ مُسْلِمَانِ لِلْمُسْلِمِ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ مُسْلِمًا وَلِلنَّصْرَانِيِّ مُسْلِمَانِ أَنَ أَبَاهُ مَاتَ نَصْرَانِيًّا صَلَّى عَلَيْهِ فَمَنْ أَبْطَلَ الْبَيِّنَةَ الَّتِي لَا تَكُونُ إِلَّا بِأَنْ يُكَذِّبَ بَعْضُهُمْ بَعْضَا جَعَلَ الْمِيرَاثَ لِلنَّصْرَانِيِّ وَمَنْ رَأَى الْإِقْرَاعَ أَقْرَعَ فَمَنْ خَرَجَتْ قُرْعَتُهُ كَانَ الْمِيرَاثُ لَهُ وَمَنْ رَأَى أَنْ يُقَسَّمَ إِذَا تَكَافَأَتْ بَيِّنَتَاهُمَا جَعَلَهُ بَيْنَهُمَا وَإِنَّمَا صَلَى عَلَيْهِ بِالْإِشْكَالِ كَمَا يُصَلَّى عَلَيْهِ لَوِ اخْتَلَطَ بِمُسْلِمِينَ مَوْتًى (قَالَ الْمُزَنِيُّ) أَشْبَهُ بِالْحَقِّ عِنْدِي أَنَّهُ إِنْ كَانَ أَصْلُ دِينِهِ النَّصْرَانِيَّةُ فاللذان شهدا بالإسلام أولى لأنهما علما إيمانا حدث خفي على الآخرين وإن لم يدر ما أصل دينه والميراث في أيديهما فبينهما نصفان وقد قال الشافعي لو رمى أحدهما طائرا ثم رماه الثاني فلم يَدْرِ أَبَلَغَ بِهِ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ مُمْتَنِعًا أَوْ غَيْرَ مُمْتَنِعٍ جَعَلْنَاهُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ (قَالَ المزني) وهذا وذاك عندي في القياس سواء “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang Nasrani wafat dan ia memiliki dua anak: satu Muslim dan satu Nasrani, lalu dua orang Muslim bersaksi untuk anak Muslim bahwa ayahnya wafat dalam keadaan Muslim, dan untuk anak Nasrani ada dua orang Muslim yang bersaksi bahwa ayahnya wafat dalam keadaan Nasrani, maka dishalatkan atasnya. Barang siapa yang membatalkan kedua bukti yang tidak mungkin terjadi kecuali dengan saling mendustakan satu sama lain, maka ia menetapkan warisan untuk anak Nasrani. Barang siapa yang berpendapat dilakukan undian (iqra‘), maka diundi; siapa yang keluar undiannya, dialah yang mendapat warisan. Barang siapa yang berpendapat dibagi jika kedua bukti seimbang, maka warisan dibagi di antara keduanya. Ia dishalatkan atasnya karena adanya keraguan, sebagaimana dishalatkan atas jenazah jika bercampur dengan jenazah Muslim lainnya. (Al-Muzani berkata) Menurutku, yang lebih mendekati kebenaran adalah jika asal agamanya Nasrani, maka dua orang yang bersaksi atas keislamannya lebih utama, karena mereka mengetahui adanya iman yang tersembunyi dari orang lain. Namun jika tidak diketahui apa asal agamanya dan warisan ada di tangan keduanya, maka dibagi dua di antara mereka. Imam Syafi‘i juga berkata: Jika salah satu dari keduanya melempar burung, lalu yang kedua juga melemparnya, dan tidak diketahui apakah lemparan pertama sudah cukup untuk membuat burung itu tidak bisa terbang atau belum, maka warisan dibagi dua di antara mereka. (Al-Muzani berkata) Menurutku, ini dan itu dalam qiyās adalah sama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَتَفْصِيلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي اخْتِلَافِ الِاثْنَيْنِ فِي دِينِ الْأَبِ، أَنَّهَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Rincian masalah ini dalam perbedaan dua orang mengenai agama ayah, ada dua bentuk:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُعْرَفَ دِينُ الْأَبِ.

Salah satunya adalah mengetahui agama ayah.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يُعرَفَ. فَإِنْ عُرِفَ دِينُ الْأَبِ أَنَّهُ نَصْرَانِيٌّ فَتَرَكَ ابْنَيْنِ مُسْلِمًا وَنَصْرَانِيًّا، وَادَّعَى الْمُسْلِمُ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ مُسْلِمًا، فَهُوَ أَحَقُّ بِمِيرَاثِهِ، وَشَهِدَ لَهُ بِذَلِكَ شَاهِدَانِ عَدْلَانِ.

Kedua: jika tidak diketahui (agamanya). Jika diketahui bahwa agama sang ayah adalah Nasrani, lalu ia meninggalkan dua anak, satu Muslim dan satu Nasrani, kemudian anak yang Muslim mengklaim bahwa ayahnya wafat dalam keadaan Muslim, maka dialah yang lebih berhak atas warisannya, apabila ada dua saksi adil yang memberikan kesaksian atas hal itu.

وَادَّعَى النَّصْرَانِيُّ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ نَصْرَانِيًّا، وَهُوَ أَحَقُّ بِمِيرَاثِهِ، وَشَهِدَ لَهُ بِذَلِكَ شَاهِدَانِ عَدْلَانِ فَقَدِ اخْتَلَفَتِ الشَّهَادَتَانِ وَاخْتِلَافُهُمَا إِذَا أَمْكَنَ فِيهِ الْقَضَاءُ فَلَمْ يَتَعَارَضَا، فَإِذَا عُلِمَ فِيهِ التَّكَاذُبَ تَعَارَضَتَا، وَلَا يَخْلُو حَالُ هَاتَيْنِ الشَّهَادَتَيْنِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:

Seorang Nasrani mengklaim bahwa ayahnya meninggal dalam keadaan Nasrani, dan ia lebih berhak atas warisannya, serta ada dua orang saksi adil yang bersaksi untuknya atas hal itu. Maka, kedua kesaksian itu menjadi berbeda. Perbedaan kesaksian, jika memungkinkan untuk diputuskan di dalamnya, maka keduanya tidak saling bertentangan. Namun, jika diketahui adanya kebohongan di dalamnya, maka keduanya saling bertentangan. Keadaan dua kesaksian ini tidak lepas dari empat bagian:

أَحُدُهَا: أَنْ تَكُونَ مُطَلَّقَتَيْنِ.

Salah satunya: keduanya harus merupakan perempuan yang telah ditalak.

وَالثَّانِي: أَنْ تَكُونَا مُقَيَّدَتَيْنِ.

Kedua: keduanya harus bersifat muqayyad (terikat/terbatas).

وَالثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ بِالْإِسْلَامِ مُطْلَقَةٌ، وبالنصرانية مقيدة.

Ketiga: syahadat atas keislaman bersifat mutlak, sedangkan atas kekristenan bersifat terikat.

وَالرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ بِالْإِسْلَامِ مُقَيَّدَةٌ، وَبِالنَّصْرَانِيَّةِ مُطْلَقَةٌ.

Keempat: bahwa syahadat dalam Islam bersifat terbatas, sedangkan dalam Kristen bersifat mutlak.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَتَانِ مُطْلَقَتَيْنِ، فَهُوَ أَنْ يَقُولَ شُهُودُ الْمُسْلِمِ: إن أباه مسلم ويقول شهود النصراني إن أَبَاهُ نَصْرَانِيٌّ. فَالتَّصَادُقُ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ مُمْكِنٌ، لِأَنَّه قَدْ يَكُونُ نَصْرَانِيًّا فَيُسْلِمُ، وَيَكُونُ مُسْلِمًا فَيَتَنَصَّرُ، فَتَكُونُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ صَادِقَةٌ، فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا تَعَارُضَ فِيهَا وَحُكِمَ بِشَهَادَةِ الْإِسْلَامِ، لِأَنَّها أَزْيَدُ عِلْمًا، لِأَنَّ نَصْرَانِيَّتَهُ أصل، وإسلامه حادث، فصار كالشهادة بجرح وَالتَّعْدِيلِ يُحْكَمُ بِالْجَرْحِ عَلَى التَّعْدِيلِ، وَيُجْعَلُ الْمُسْلِمُ وَارِثًا دُونَ النَّصْرَانِيِّ.

Adapun bagian pertama, yaitu ketika kedua kesaksian bersifat mutlak, maka maksudnya adalah para saksi dari pihak Muslim mengatakan bahwa ayahnya Muslim, dan para saksi dari pihak Nasrani mengatakan bahwa ayahnya Nasrani. Dalam perbedaan ini, kemungkinan kedua kesaksian itu benar bisa saja terjadi, karena bisa jadi seseorang awalnya Nasrani lalu masuk Islam, atau awalnya Muslim lalu menjadi Nasrani, sehingga masing-masing dari kedua kesaksian itu benar. Jika demikian, maka tidak ada pertentangan di antara keduanya dan diputuskan berdasarkan kesaksian keislaman, karena kesaksian itu memberikan pengetahuan yang lebih, sebab status Nasrani adalah asal, sedangkan keislamannya adalah sesuatu yang baru terjadi. Maka hal ini seperti kesaksian tentang jarh dan ta‘dil, di mana keputusan diambil berdasarkan jarh atas ta‘dil, dan Muslim dijadikan ahli waris, bukan Nasrani.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: فَهُوَ أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَتَانِ مُقَيَّدَتَيْنِ، فَهُوَ أَنْ يَقُولَ شُهُودُ الْمُسْلِمِ، إِنَّ أَبَاهُ مَاتَ عَلَى دِينِ الْإِسْلَامِ قَائِلًا بِالشَّهَادَتَيْنِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِهِ.

Adapun bagian kedua: yaitu apabila dua syahadat itu dibatasi, yaitu para saksi Muslim mengatakan bahwa ayahnya wafat dalam agama Islam dengan mengucapkan dua syahadat ketika ruhnya keluar.

ويقول شهود النصراني إن أباه مات على دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ، قَائِلًا بِالتَّثْلِيثِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِهِ.

Para saksi dari pihak Nasrani mengatakan bahwa ayahnya wafat dalam agama Nasrani, mengucapkan keyakinan trinitas saat ruhnya keluar.

فَهَذَا تَعَارُضٌ فِي شَهَادَتِهِمَا، لِتَكَاذُبِهِمَا بِاسْتِحَالَةِ أَنْ يَمُوتَ مُسْلِمًا نَصْرَانِيًّا وَلِلشَّافِعِيِّ فِي تَعَارُضِ الشَّهَادَتَيْنِ فِي الْأَمْوَالِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ ذَكَرَهَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ:

Ini merupakan pertentangan dalam kesaksian mereka berdua, karena saling mendustakan satu sama lain, sebab mustahil seseorang mati dalam keadaan sebagai Muslim sekaligus Nasrani. Mengenai pertentangan dua kesaksian dalam perkara harta, Imam Syafi‘i memiliki tiga pendapat yang disebutkannya dalam bagian ini.

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ بِالتَّعَارُضِ، لِتَكَاذُبِهِمَا فَيَكُونُ الْمِيرَاثُ لِلنَّصْرَانِيِّ دُونَ الْمُسْلِمِ اسْتِصْحَابًا لِأَصْلِ دِينِهِ فِي النَّصْرَانِيَّةِ بَعْدَ أَنْ يَحْلِفَ الْمُسْلِمُ بِاللَّهِ أَنَّ أَبَاهُ لَمْ يُسْلِمْ.

Salah satunya: menggugurkan kedua bukti karena saling bertentangan, sebab keduanya saling menafikan, sehingga warisan menjadi milik orang Nasrani, bukan Muslim, dengan tetap berpegang pada asal agama Nasrani pada dirinya, setelah Muslim tersebut bersumpah atas nama Allah bahwa ayahnya tidak masuk Islam.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَالْحُكْمُ بِالْقَارِعَةِ مِنْهَا لِأَنَّ فِي الْقُرْعَةِ تَمْيِيزًا لِمَا اشْتَبَهَ، وَهَلْ يَحْتَاجُ مَنْ قَرَعَتْ بَيِّنَتُهُ إِلَى يَمِينٍ فِي اسْتِحْقَاقِ الْمِيرَاثِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الْقُرْعَةِ هَلْ تُرَجَّحُ بِهَا الدَّعْوَى أَوِ الْبَيِّنَةُ، فَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ الْمُسْلِمِ كَانَ هُوَ الْوَارِثُ وَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ النَّصْرَانِيِّ كَانَ هُوَ الْوَارِثُ.

Pendapat kedua: dilakukan undian (iqra‘) antara dua bukti (bayyinah), dan keputusan diambil berdasarkan hasil undian tersebut, karena dalam undian terdapat pembedaan terhadap perkara yang samar. Apakah orang yang bukti (bayyinah)-nya terpilih melalui undian masih membutuhkan sumpah untuk memperoleh hak waris? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat mengenai undian: apakah undian menguatkan klaim atau bukti (bayyinah). Jika yang terpilih melalui undian adalah bukti milik Muslim, maka dialah ahli warisnya; dan jika yang terpilih adalah bukti milik Nasrani, maka dialah ahli warisnya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ وَجَعْلُ التَّرِكَةِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ تَخْرِيجِ هَذَا الْقَوْلِ فِي الْمِيرَاثِ كَتَخْرِيجِهِ فِي الْأَمْوَالِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (bayyinah) dan membagi harta warisan di antara keduanya menjadi dua bagian yang sama. Para ulama kami berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya penerapan pendapat ini dalam masalah warisan sebagaimana penerapannya dalam masalah harta, dan terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ، وَطَائِفَةٍ مَعَهُ إِنَّ تَخْرِيجَهُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ صَحِيحٌ اسْتِشْهَادًا بِذِكْرِ الشَّافِعِيِّ لَهُ، وَاحْتِجَاجًا مِنْ قَوْلِهِ ” بِأَنَّ رَجُلَيْنِ لَوْ رَمَيَا طَائِرًا، فَسَقَطَ مَيِّتًا، وَلَمْ يُعْلَمْ أَيُّهُمَا أَثْبَتَهُ بِرَمْيهِ أَنَّهُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، وَإِنْ كَانَ إِثْبَاتُهُ مِنْ أَحَدِهِمَا. كَذَلِكَ الْمِيرَاثُ “.

Salah satunya adalah pendapat al-Muzani dan sekelompok orang bersamanya, bahwa penerapan (hukum) dalam masalah ini adalah benar sebagai pendukung dengan menyebutkannya oleh asy-Syafi‘i, dan sebagai hujjah dari ucapannya: “Seandainya dua orang melempar burung, lalu burung itu jatuh mati, dan tidak diketahui siapa di antara keduanya yang mengenainya dengan lemparannya, maka burung itu dibagi dua di antara mereka, meskipun yang mengenainya hanya salah satu dari mereka. Demikian pula halnya dengan warisan.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ، وطائفة مَعَهُ إِنَّ تَخْرِيجَهُ لَا يَصِحُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، لِاسْتِحَالَةِ أَنْ يَشْتَرِكَ مُسْلِمٌ وَنَصْرَانِيٌّ فِي مِيرَاثِ مَيِّتٍ، لِأَنَّه إِنْ مَاتَ نَصْرَانِيًّا وَرِثَهُ النَّصْرَانِيُّ دُونَ الْمُسْلِمِ، وَإِنْ مَاتَ مُسْلِمًا وَرِثَهُ الْمُسْلِمُ دُونَ النَّصْرَانِيِّ، فَإِذَا قُسِّمَ بَيْنَهُمَا عَلِمْنَا قَطْعًا أَنَّ أَحَدَهُمَا قَدْ أُعْطِيَ مَا لَا يَسْتَحِقُّهُ، وَمُنِعَ الْآخَرُ مِمَّا يَسْتَحِقُّهُ وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ وَلَيْسَ كَالْمَالِ الَّذِي يَصِحُّ اشْتِرَاكُهُمَا فِي سَبَبِهِ، فَيَشْتَرِكَانِ فِي تَمَلُّكِهِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan sekelompok orang yang bersamanya, adalah bahwa penerapan qiyās tidak sah dalam masalah ini, karena mustahil seorang Muslim dan seorang Nasrani dapat mewarisi dari orang yang telah meninggal secara bersamaan. Sebab, jika yang meninggal adalah seorang Nasrani, maka yang mewarisi hanyalah Nasrani, bukan Muslim; dan jika yang meninggal adalah seorang Muslim, maka yang mewarisi hanyalah Muslim, bukan Nasrani. Maka, jika warisan dibagi di antara keduanya, kita pasti mengetahui bahwa salah satu dari mereka telah diberikan sesuatu yang tidak berhak ia terima, dan yang lain dicegah dari haknya, meskipun tidak ditentukan siapa di antara keduanya. Ini tidak sama dengan harta yang keduanya sah untuk berbagi sebab kepemilikannya, sehingga keduanya dapat memiliki bersama.

وَكَذَلِكَ الطَّائِرُ إِذَا رَمَيَاهُ، جَازَ أَنْ يَكُونَ تَكَامَلَ إِثْبَاتُهُ بِرَمْيِهِمَا فَصَحَّ فِيهِ اشْتِرَاكُهُمَا، وَجُعِلَ مَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا فِي أَحَدِ الْأَقَاوِيلِ مِنْ قِسْمَةٍ بَيْنَهُمَا أَنَّهُ حَكَاهُ عَنْ مَذْهَبِ مَنْ يَرَاهُ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَنْ قَالَ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ بِتَوْرِيثِ الْغَرْقَى بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ، وَلَمْ يَحْكِهِ عَنْ نَفْسِهِ، لِأَنَّه لَا يَرَى ذَلِكَ فِي الْغَرْقَى وَقَدْ تَكَلَّمَ عَلَى ضَعْفِهِ، وَوَهَائِهِ، فَقَالَ: لَوْ قَسَمْتُ كُنْتُ لَمْ أَقَضِ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بِدَعْوَاهُ، وَلَا بِبَيِّنَتِهِ وَكُنْتُ عَلَى يَقِينِ خَطَأٍ، يُنْقَصُ مَنْ هُوَ لَهُ عَنْ كَمَالِ حَقِّهِ، وَإِعْطَاءِ الْآخَرِ مَا لَيْسَ لَهُ.

Demikian pula burung, jika keduanya melemparnya, boleh jadi telah sempurna penetapan (kematian) burung itu dengan lemparan mereka berdua, sehingga sah adanya keterlibatan keduanya. Apa yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i di sini dalam salah satu pendapat tentang pembagian di antara keduanya, itu beliau nukil dari mazhab orang yang berpendapat demikian, yaitu mazhab sebagian ahli Irak yang berpendapat tentang saling mewarisi antara para korban tenggelam, dan beliau tidak menisbatkannya kepada dirinya sendiri, karena beliau tidak berpendapat demikian dalam kasus korban tenggelam, bahkan beliau telah membahas kelemahan dan kerancuannya. Beliau berkata: “Seandainya aku membagi, berarti aku tidak memutuskan untuk salah satu dari mereka berdasarkan klaimnya, atau berdasarkan buktinya, dan aku yakin telah melakukan kesalahan, mengurangi hak yang seharusnya diterima oleh yang berhak, dan memberikan kepada yang lain sesuatu yang bukan haknya.”

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ بِالْإِسْلَامِ مُطْلَقَةٌ، وَبِالنَّصْرَانِيَّةِ مُقَيَّدَةٌ، وَهُوَ أَنْ يَقُولَ شُهُودُ الْمُسْلِمِ أَنَّ أَبَاهُ مُسْلِمٌ، وَيَقُولَ شُهُودُ النَّصْرَانِيِّ، إِنَّ أَبَاهُ مَاتَ عَلَى دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ، قَائِلًا بِالتَّثْلِيثِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِهِ، فَلَا تَعَارُضَ فِي الشَّهَادَتَيْنِ لِأَنَّه قَدْ يُسْلِمُ، ثُمَّ يَرْتَدُّ بَعْدَ إِسْلَامِهِ إِلَى النَّصْرَانِيَّةِ، فَتَصِحُّ الشَّهَادَتَانِ، وَيُحْكَمُ بِارْتِدَادِهِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ، فَلَا يَرِثُهُ وَاحِدٌ مِنِ ابْنَيْهِ وَيَكُونُ مَالُهُ فَيْئًا لِبَيْتِ الْمَالِ، لِأَنَّ الْمُرْتَدَّ لَا يَرِثُهُ مُسْلِمٌ وَلَا نَصْرَانِيٌّ.

Adapun bagian ketiga: yaitu ketika kesaksian tentang keislaman bersifat mutlak, sedangkan tentang kekristenan bersifat terbatas, yaitu para saksi dari pihak Muslim mengatakan bahwa ayahnya seorang Muslim, dan para saksi dari pihak Nasrani mengatakan bahwa ayahnya meninggal dalam keadaan memeluk agama Nasrani, mengucapkan keyakinan trinitas saat keluarnya ruh. Maka tidak ada pertentangan antara kedua kesaksian tersebut, karena bisa saja seseorang masuk Islam, kemudian murtad setelah keislamannya dan kembali ke agama Nasrani. Maka kedua kesaksian itu sah, dan diputuskan bahwa ia telah murtad setelah masuk Islam, sehingga tidak ada satu pun dari kedua anaknya yang mewarisinya, dan hartanya menjadi fai’ untuk Baitul Mal, karena seorang murtad tidak dapat diwarisi oleh Muslim maupun Nasrani.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ بِالْإِسْلَامِ مُقَيَّدَةٌ، وَبِالنَّصْرَانِيَّةِ مُطْلَقَةٌ فَيَقُولُ شُهُودُ الْمُسْلِمِ إِنَّ أَبَاهُ مَاتَ عَلَى دِينِ الْإِسْلَامِ قَائِلًا بِالشَّهَادَتَيْنِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِهِ، وَيَقُولُ شُهُودُ النَّصْرَانِيِّ إِنَّ أَبَاهُ نَصْرَانِيٌّ فَلَا تَعَارُضَ فِي شَهَادَتِهِمَا لِحُدُوثِ إِسْلَامِهِ بَعْدَ نَصْرَانِيَّتِهِ، فَيَكُونُ مِيرَاثُهُ لِلْمُسْلِمِ دُونَ النَّصْرَانِيِّ. فَأَمَّا إِذَا كَانَتْ شَهَادَتُهُمَا عَلَى مَا ذُكِرَ فِي مَسْأَلَةِ الْكِتَابِ إِنْ شَهِدَ شُهُودُ الْمُسْلِمِ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ مُسْلِمًا وَشَهِدَ شُهُودُ النَّصْرَانِيِّ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ نَصْرَانِيًّا، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ تُحْمَلُ هَذِهِ الشَّهَادَةُ عَلَى التَّقْيِيدِ، أَوْ عَلَى الْإِطْلَاقِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun bagian keempat: yaitu ketika kesaksian tentang keislaman itu bersifat muqayyad (terikat), sedangkan tentang kekristenan bersifat mutlak. Maka para saksi dari pihak Muslim mengatakan bahwa ayahnya wafat dalam keadaan memeluk agama Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat saat keluarnya ruh, sedangkan para saksi dari pihak Nasrani mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang Nasrani. Maka tidak ada pertentangan dalam kesaksian mereka, karena keislamannya terjadi setelah sebelumnya beragama Nasrani, sehingga warisannya menjadi milik Muslim dan bukan Nasrani. Adapun jika kesaksian mereka sebagaimana disebutkan dalam masalah kitab, yaitu para saksi Muslim bersaksi bahwa ayahnya wafat sebagai Muslim, dan para saksi Nasrani bersaksi bahwa ayahnya wafat sebagai Nasrani, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah kesaksian ini dibawa pada makna muqayyad (terikat) atau pada makna mutlak? Dalam hal ini ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى التَّقْيِيدِ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا شَهِدَتْ بِدِينِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ.

Salah satunya: bahwa hal itu dibawa kepada pemaknaan terbatas, karena masing-masing dari keduanya telah memberikan kesaksian atas agamanya saat menjelang kematian.

فَعَلَى هَذَا تَكُونُ الشَّهَادَتَانِ مُتَعَارِضَتَيْنِ. فَتَكُونُ مَحْمُولَةً عَلَى الْأَقَاوِيلِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْقِسْمِ الثَّانِي.

Dengan demikian, kedua kesaksian tersebut menjadi saling bertentangan. Maka, hal itu termasuk ke dalam pendapat-pendapat yang telah disebutkan pada bagian kedua.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ، لِأَنَّهمَا اسْتَصْحَبَا مَا تَقَدَّمَ مِنْ حَالِهِ، وَلَمْ يَقْطَعَا بِدِينِهِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِهِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya hal itu dimaknai secara mutlak, karena keduanya tetap mempertahankan keadaan sebelumnya, dan tidak memastikan agamanya ketika ruhnya keluar.

فَعَلَى هَذَا لَا تَعَارُضَ فِي الشَّهَادَتَيْنِ وَيَكُونُ الْمِيرَاثُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، تَعْلِيلًا بِمَا قَدَّمْنَاهُ.

Dengan demikian, tidak ada pertentangan dalam dua kesaksian tersebut, dan warisan diberikan kepada Muslim sebagaimana telah kami sebutkan pada bagian pertama, dengan alasan yang telah kami kemukakan sebelumnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي: فِي التَّفْصِيلِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْأَبُ مَجْهُولَ الدَّيْنِ فَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ بِإِسْلَامِهِ، وَيَشْهَدُ شَاهِدَانِ بنصرانيته، فيسوي مَعَ الْجَهْلِ بِدِينِهِ إِطْلَاقُ الشَّهَادَتَيْنِ، وَتَقْيِيدُهُمَا فِي التَّعَارُضِ، وَإِنْ كَانَتَا فِي التَّقْيِيدِ مُتَكَاذِبَتَيْنِ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَا فِي الْإِطْلَاقِ صَادِقَتَيْنِ لَكِنَّ الْجَهْلَ بِدِينِهِ، يَمْنَعُ مِنَ الْحُكْمِ بِإِحْدَاهُمَا مَعَ التَّصَادُقِ فَجَرَى عَلَيْهِمَا حُكْمُ الْمُعَارَضَةِ فِي التَّكَاذُبِ، فَيُحْمَلُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ،

Adapun jenis kedua: dalam perincian, yaitu apabila ayahnya tidak diketahui agamanya, lalu ada dua orang saksi yang bersaksi bahwa ia seorang Muslim, dan dua orang saksi lain bersaksi bahwa ia seorang Nasrani. Maka, dalam keadaan tidak diketahui agamanya, kedua kesaksian tersebut dianggap sama-sama berlaku secara umum, dan dibatasi ketika terjadi pertentangan. Jika keduanya dalam pembatasan saling bertentangan, dan boleh jadi dalam keumuman keduanya sama-sama benar, namun ketidaktahuan terhadap agamanya menghalangi untuk menetapkan hukum berdasarkan salah satu dari keduanya meskipun keduanya saling membenarkan. Maka, keduanya diperlakukan seperti hukum pertentangan dalam kasus saling mendustakan, sehingga dikembalikan kepada pendapat-pendapat dalam pertentangan antara dua bukti (bayyinah).

أَحَدُهُمَا: إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ وَيُرَدَّانِ إِلَى دَعْوَى بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ.

Salah satunya adalah menggugurkan kedua bukti, lalu mereka dikembalikan kepada gugatan tanpa bukti.

وَالثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا، وَالْحُكْمُ بِالْقَارِعَةِ مِنْهُمَا وَفِي إِحْلَافِ مَنْ قَرَعَتْ بَيِّنَتُهُ قَوْلَانِ:

Kedua: pengundian di antara keduanya, dan keputusan ditetapkan berdasarkan hasil undian dari keduanya. Dalam hal pengambilan sumpah terhadap pihak yang buktinya keluar dalam undian, terdapat dua pendapat.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: الْمُخْتَلَفُ فِي تَخْرِيجِهِ اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَقَسَمَ الْمِيرَاثَ بَيْنَهُمَا بِالْبَيِّنَةِ نِصْفَيْنِ.

Pendapat ketiga: yang diperselisihkan dalam penerapannya adalah penggunaan dua bukti (bayyinah), dan ia membagi warisan di antara keduanya berdasarkan bukti tersebut menjadi dua bagian yang sama.

فَعَلَى قَوْلِ الْمُزَنِيِّ، وَمَنْ تَابَعَهُ، يُقْسَمُ بَيْنَهُمَا بِالْبَيِّنَتَيْنِ إِرْثًا، وَيُفْصَلُ بِهَا الْحُكْمُ بَيْنَهُمَا.

Menurut pendapat al-Muzani dan orang-orang yang mengikutinya, warisan dibagi di antara keduanya berdasarkan dua bukti tersebut, dan keputusan hukum dipisahkan di antara mereka dengan bukti itu.

وَعَلَى قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يصح استعمالهما، لِيَقِينِ الْخَطَأِ فِي الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا، وَيَسْقُطَانِ عِنْدَ اسْتِحَالَةِ الْحُكْمِ بِهِمَا، وَإِذَا سَقَطَتِ الْبَيِّنَتَانِ، وَدِينُ الْمَيِّتِ مَجْهُولٌ، فَفِي التَّرِكَةِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Menurut pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, tidak sah menggunakan keduanya, karena sudah pasti terdapat kesalahan dalam menggabungkan keduanya, dan keduanya gugur ketika mustahil menetapkan hukum dengan keduanya. Jika kedua bukti tersebut gugur, sementara utang si mayit tidak diketahui, maka dalam harta warisan terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ إِنَّهَا تُقْسَمُ بَيْنَهُمَا مِلْكًا بِالتَّحَالُفِ دُونَ الْبَيِّنَةِ لِتَكَافُئِهِمَا فِيهِ.

Salah satunya adalah pendapat al-Muzani, yaitu bahwa barang itu dibagi antara keduanya sebagai milik bersama dengan cara saling bersumpah tanpa adanya bukti, karena keduanya sama kuat dalam perkara tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خيران، إنها تُقَسَّمُ بَيْنَهُمَا بَدْءًا، وَتُقَرُّ مَعَهُمَا أَمَانَةً يُمْنَعَانِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهَا، حَتَّى يُبَيَّنَ مُسْتَحِقُّهَا مِنْهَا أَوْ يَصْطَلِحَا عَلَيْهَا كَالْمَيِّتِ عَنْ زَوْجَتَيْنِ، إِحْدَاهُمَا مُطْلَقَةٌ قَدْ أَشْكَلَتْ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan, menyatakan bahwa harta tersebut dibagi di antara keduanya terlebih dahulu, lalu tetap berada di tangan mereka berdua sebagai amanah, dan keduanya dilarang untuk melakukan tindakan apa pun terhadap harta itu sampai jelas siapa yang berhak atasnya di antara mereka, atau sampai keduanya berdamai atasnya, seperti kasus seseorang yang meninggal dunia dan meninggalkan dua istri, salah satunya dalam status talak yang masih belum jelas.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهَا تُقَرُّ مَنْ كَانَتْ فِي يَدِهِ قَبْلَ التَّنَازُعِ، وَالتَّحَالُفِ، فَإِنْ كَانَتْ فِي أَيْدِيهِمَا أَوْ فِي يَدِ أَحَدِهِمَا، أَوْ فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ، أُقِرَّتْ عَلَى حَالِهَا كَمَا كَانَتْ إِقْرَارُ يَدٍ وَأَمَانَةٍ، مِنْ غَيْرِ قِسْمَةٍ.

Pendapat ketiga: Dan tampaknya pendapat Abu Ishaq al-Marwazi adalah bahwa barang tersebut tetap di tangan siapa pun yang memegangnya sebelum terjadi perselisihan dan sumpah, maka jika barang itu berada di tangan keduanya, atau di tangan salah satu dari mereka, atau di tangan orang lain (pihak ketiga), maka barang itu tetap pada keadaannya semula sebagai pengakuan atas kepemilikan dan amanah, tanpa dilakukan pembagian.

وَوَهِمَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ فَأَقَرَّهَا فِي يَدِهِ مِلْكًا.

Abu Hamid al-Isfara’ini telah keliru, karena ia menetapkan barang tersebut di tangannya sebagai milik.

وَهَذَا خَطَأٌ، لِأَنَّ سَبَبَ اسْتِحْقَاقِهَا مُتَعَيِّنٌ بِالْمِيرَاثِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ لِلْيَدِ فِي تَمَلُّكِهَا تَأْثِيرٌ، وَقَدْ يَكُونُ فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ، لَا يَدَّعِي مِيرَاثَهَا، فَكَيْفَ يَجُوزُ أَنْ تُجْعَلَ مِلْكًا لَهُ.

Ini adalah kesalahan, karena sebab berhaknya (seseorang) telah ditetapkan melalui warisan, maka tidak boleh kepemilikan melalui tangan (penguasaan fisik) memiliki pengaruh dalam memilikinya. Bahkan bisa jadi benda tersebut berada di tangan orang asing yang tidak mengaku sebagai ahli warisnya, maka bagaimana mungkin boleh dijadikan milik baginya?

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا حُكْمُ الْمَيِّتِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا مَا لَمْ يَحْكُمْ بِرِدَّتِهِ، لِأَنَّ أَمْرَهُ مُشْتَبِهٌ، فَجَرَى مَجْرَى جَمَاعَةٍ مَاتُوا، وَفِيهِمْ كَافِرٌ قَدْ أَشْكَلَ. فَلَمْ يَتَعَيَّنْ فَإِنَّهُ يُصَلَّى عَلَى جَمِيعِهِمْ، وَيُدْفَنُوا فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يُصَلَّى عَلَيْهِ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ بِإِسْلَامِهِ، وَلَيْسَ هَذَا بِصَحِيحٍ لِمَا اسْتَشْهَدَ بِأَنَّهُ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمَوْتَى، إِذَا عُلِمَ أَنَّ فِيهِمْ كَافِرًا قَدْ أَشْكَلَ فَإِنَّ الصَّلَاةَ عَلَى جَمِيعِهِمْ وِفَاقٌ، لِأَنَّ الْإِسْلَامَ يُسْتَظْهَرُ لَهُ، وَلَا يُسْتَظْهَرُ عَلَيْهِ.

Adapun hukum jenazah, menurut mazhab Syafi‘i, jenazah tersebut disalatkan dan dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin dalam segala keadaan selama belum diputuskan bahwa ia murtad, karena keadaannya masih samar, sehingga diperlakukan seperti sekelompok orang yang meninggal dunia dan di antara mereka ada seorang kafir yang masih diragukan. Maka tidak ditentukan secara pasti, sehingga disalatkan atas seluruh mereka dan dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin. Abu Hanifah berpendapat: tidak disalatkan atasnya dalam segala keadaan kecuali setelah diketahui keislamannya. Namun, pendapat ini tidak benar karena alasan yang dijadikan dalil adalah bahwa ia termasuk dalam kelompok orang yang meninggal dunia, jika diketahui bahwa di antara mereka ada seorang kafir yang masih diragukan, maka salat atas seluruh mereka adalah kesepakatan (ijmā‘), karena Islam itu diasumsikan ada pada dirinya, dan tidak diasumsikan sebaliknya.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ كَانَتْ دَارٌ فِي يَدَيْ رَجُلٍ وَالْمَسْأَلَةُ عَلَى حَالِهَا فَادَّعَاهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذَيْنِ الْمُدَعِيَيْنِ أَنَّهُ وَرِثَهَا مِنْ أبيه فمن أبطل البينة تكرهها فِي يَدَيْ صَاحِبِهَا وَمَنْ رَأَى الْإِقْرَاعَ أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا أَوْ يَجْعَلَهَا بَيْنَهُمَا مَعًا وَيَدْخُلُ عَلَيْهِ شَنَاعَةٌ وَأَجَابَ بِهَذَا الْجَوَابِ فِيمَا يُمْكِنُ فِيهِ الْبَيِّنَتَانِ أَنْ تَكُونَا صَادِقَتَيْنِ فِي مَوَاضِعَ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي مِثْلِ هَذَا لَوْ قَسَمْتُهُ بَيْنَهُمَا كُنْتُ لَمْ أَقْضِ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بِدَعْوَاهُ وَلَا بِبَيِّنَتِهِ وَكُنْتُ عَلَى يَقِينٍ خَطَإٍ بِنَقْصِ مَنْ هُوَ لَهُ عَنْ كَمَالِ حَقِّهِ أَوْ بِإِعْطَاء الْآخَرِ مَا لَيْسَ له (قال المزني) وقد أبطل الشافعي القرعة في امرأتين مطلقة وزوجة وأوقف الميراث حتى يصطلحا وأبطل في ابني أمته اللذين أقر أن أحدهما ابنه القرعة في النسب والميراث فلا يشبه قوله في مثل هذا القرعة وقد قطع فِي كِتَابِ الدَّعْوَى عَلَى كِتَابِ أَبِي حَنِيفَةَ في امرأة أقامت البينة أنه أصدقها هذه وقبضتها وأقام رجل البينة أنه اشتراها منه ونقده الثمن وقبضها قال: أبطل البينتين لا يجوز إلا هذا أو القرعة (قال المزني) رحمه الله: هذا لفظه وقد بينا أن القرعة لا تشبه قوله في الأموال (قال المزني) رحمه الله: وقد قال الحكم في الثوب لا ينسج إلا مرة والثوب الخز ينسج مرتين سواء “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika ada sebuah rumah di tangan seorang laki-laki dan permasalahannya seperti yang telah disebutkan, lalu masing-masing dari dua orang yang bersengketa itu mengaku bahwa ia mewarisinya dari ayahnya, maka menurut siapa yang membatalkan bukti, rumah itu tetap di tangan pemiliknya. Sedangkan menurut siapa yang membolehkan undian (qur‘ah), maka dilakukan undian di antara keduanya atau rumah itu dibagi di antara mereka berdua, namun hal ini menimbulkan kejanggalan. Ia menjawab dengan jawaban ini dalam kasus di mana kedua bukti memungkinkan keduanya benar dalam beberapa keadaan.” (Al-Muzani rahimahullah berkata: Aku mendengarnya berkata dalam kasus seperti ini, “Jika aku membaginya di antara keduanya, berarti aku tidak memutuskan untuk salah satu dari mereka berdasarkan klaimnya maupun buktinya, dan aku yakin bahwa aku telah melakukan kesalahan dengan mengurangi hak orang yang memang berhak dari haknya yang sempurna atau dengan memberikan kepada yang lain sesuatu yang bukan haknya.”) (Al-Muzani berkata: Imam Syafi‘i telah membatalkan undian (qur‘ah) dalam kasus dua perempuan, yaitu seorang istri yang dicerai dan seorang istri yang masih dalam pernikahan, dan menangguhkan warisan sampai keduanya berdamai. Ia juga membatalkan undian dalam kasus dua anak dari budaknya yang ia akui salah satunya adalah anaknya, baik dalam nasab maupun warisan. Maka, pendapatnya tentang undian dalam kasus seperti ini tidaklah serupa. Ia juga telah menegaskan dalam Kitab ad-Da‘wa terhadap Kitab Abu Hanifah, dalam kasus seorang perempuan yang mendatangkan bukti bahwa ia telah dinikahi dengan mahar ini dan telah menerimanya, dan seorang laki-laki mendatangkan bukti bahwa ia telah membelinya darinya, telah membayar harganya, dan telah menerimanya, beliau berkata: “Kedua bukti itu dibatalkan, tidak boleh kecuali ini atau undian.” (Al-Muzani rahimahullah berkata: Inilah redaksinya, dan kami telah menjelaskan bahwa undian tidak sesuai dengan pendapatnya dalam masalah harta.) (Al-Muzani rahimahullah berkata: Dan telah dikatakan bahwa kain hanya bisa ditenun sekali, sedangkan kain khazz bisa ditenun dua kali, keduanya sama saja.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صُورَةِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهَا الْمَسْأَلَةُ الْأُولَى أَعَادَهَا لِغَرَضٍ زَادَهُ فِيهَا، لِأَنَّه قَالَ: ” وَلَوْ كَانَتْ دَارٌ وَالْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا، فَادَّعَاهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذَيْنِ “، فَإِذَا تَدَاعَى الِابْنَانِ الْمُسْلِمُ وَالنَّصْرَانِيُّ، فِي مِيرَاثِ دَارٍ عَنْ أَبِيهِمَا، وَالدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ غَيْرِ أَبِيهِمَا، وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّ هَذِهِ الدَّارَ وَرِثَهَا عَنْ أَبِيهِ لِمُوَافَقَتِهِ عَلَى دِينِهِ، فَلَا يَخْلُو حَالُ هَاتَيْنِ الْبَيِّنَتَيْنِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai bentuk permasalahan ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ini adalah permasalahan pertama yang diulang kembali untuk tujuan tertentu yang ditambahkan di dalamnya, karena ia berkata: “Dan seandainya itu adalah sebuah rumah, dan permasalahannya tetap seperti semula, lalu masing-masing dari kedua orang ini mengakuinya,” maka apabila dua anak—yang satu Muslim dan yang satu Nasrani—bersengketa dalam warisan sebuah rumah dari ayah mereka, dan rumah itu berada di tangan seorang laki-laki yang bukan ayah mereka, lalu masing-masing dari keduanya mendatangkan bukti bahwa rumah tersebut diwarisinya dari ayahnya karena kesesuaian agama dengan ayahnya, maka keadaan kedua bukti ini tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَحْكُمَ بِإِحْدَاهِمَا لِأَحَدِهِمَا فَتُنْتَزَعُ بِهَا الدَّارُ مِنْ يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ، وَتُدْفَعُ إِلَى مُسْتَحِقِّ مِيرَاثِ الْأَبِ، لِقِيَامِ الْبَيِّنَةِ بِمِلْكِهَا لِلْأَبِ.

Salah satunya: yaitu hakim memutuskan dengan salah satu dari keduanya untuk salah satu pihak, sehingga rumah itu diambil dari tangan pemilik yang memegangnya, lalu diberikan kepada ahli waris ayah, karena adanya bukti yang menunjukkan kepemilikan rumah tersebut oleh ayah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَحْكُمَ بِهَا، وَيَجْعَلَ الْمِيرَاثَ يَلِيهَا عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّفْصِيلِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ، فَتُنْتَزَعُ بِهَا الدَّارُ مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ، وَتُدْفَعُ إِلَى الابنين بالإرث.

Bagian kedua: yaitu memutuskan perkara dengannya, dan menetapkan warisan mengikuti apa yang telah kami sebutkan dari rincian yang diperselisihkan, sehingga rumah itu diambil dari pemilik yang menguasainya, lalu diberikan kepada dua anak laki-laki sebagai warisan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَسْقُطَ الْبَيِّنَتَانِ، وَلَا يُحْكَمُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُمَا فَتَكُونُ الدَّارُ مُقَرَّةٌ فِي يَدِ صَاحِبِ الْيَدِ مِلْكًا.

Bagian ketiga: Jika kedua bukti gugur dan tidak diputuskan berdasarkan salah satunya, maka rumah tersebut tetap berada di tangan pemilik yang menguasainya sebagai milik.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلَّا انْتُزِعَتْ مِنْ يَدِهِ، وَأُزِيلَتْ عَنْ مِلْكِهِ، لِاجْتِمَاعِ الْبَيِّنَتَيْنِ عَلَى أَنَّهَا لِلْمَيِّتِ دُونَهُ قِيلَ: لِأَنَّه لَمَّا لم يكن فيهما بيان لمستحقيها مِنْ أَحَدِ الِابْنَيْنِ، سَقَطَ الْحُكْمُ بِهِمَا فِي الدَّارِ، كَمَا سَقَطَ الْحُكْمُ بِهِمَا لِأَحَدِ الِابْنَيْنِ، وَصَارَا كَشَاهِدَيْنِ شَهِدَا عَلَى دَارٍ فِي يَدَيْ رَجُلٍ، أَنَّهَا لِأَحَدِ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ وَجَبَ إِقْرَارُهَا فِي يَدِهِ، وَإِنْ شَهِدَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَيْهِ بِعَدَمِ مِلْكِهِ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ لَمْ تُعَيِّنْ مُسْتَحِقَّهَا، فَبَطَلَتْ كَذَلِكَ فِي مَسْأَلَتِنَا.

Jika dikatakan: Mengapa tidak dicabut saja dari tangannya dan dihilangkan dari kepemilikannya, karena kedua bukti telah berkumpul bahwa itu milik si mayit, bukan miliknya? Maka dijawab: Karena kedua bukti tersebut tidak menjelaskan siapa yang berhak di antara kedua anak itu, maka gugurlah keputusan dengan keduanya atas rumah itu, sebagaimana gugur pula keputusan dengan keduanya untuk salah satu dari kedua anak itu. Keduanya menjadi seperti dua saksi yang bersaksi atas sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, bahwa rumah itu milik salah satu dari dua orang tersebut, maka wajib membiarkan rumah itu tetap di tangannya, meskipun bukti telah bersaksi bahwa ia bukan pemiliknya, karena kesaksian itu tidak menentukan siapa yang berhak, maka batal pula dalam permasalahan kita ini.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّهَا مُصَوَّرَةٌ فِي مَسْأَلَةٍ مُسْتَأْنِفَةٍ أَنْ تَكُونَ الدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ فَيَدَّعِيهَا اثْنَانِ لَيْسَا بِأَخَوَيْنِ. فَيَقُولُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، هَذِهِ الدَّارُ لِأَبِي وَرِثْتُهَا مِنْهُ، وَيُنْكِرُهُ الْآخَرُ وَيَدَّعِيهَا لِأَبِيهِ، وَرِثَهَا عَنْهُ، وَيُقِيمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً عَلَى مَا ادَّعَاهُ فَقَدْ تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ، وَتَكَاذَبَتَا لِاسْتِحَالَةِ أَنْ تَكُونَ كُلُّ الدَّارِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ أَبَوَيْهِمَا، فَتَكُونُ عَلَى ثَلَاثَةِ أقاويل كتعارض البينتين في الأموال:

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa kasus ini merupakan gambaran dari permasalahan baru, yaitu jika sebuah rumah berada di tangan seorang laki-laki, lalu dua orang yang bukan bersaudara sama-sama mengakuinya. Masing-masing dari keduanya berkata, “Rumah ini milik ayahku, aku mewarisinya darinya,” dan yang lain pun mengingkarinya serta mengakuinya untuk ayahnya sendiri, bahwa ia mewarisinya dari ayahnya. Masing-masing dari mereka mendatangkan bukti atas apa yang mereka klaim, sehingga kedua bukti tersebut saling bertentangan dan saling menafikan, karena mustahil seluruh rumah itu milik masing-masing ayah mereka. Maka, dalam hal ini terdapat tiga pendapat, sebagaimana perselisihan pendapat dalam kasus pertentangan dua bukti dalam masalah harta.

أحدها: وترجع إِلَى صَاحِبِ الْيَدِ فَإِنْ صَدَّقَ أَحَدَهُمَا دَفَعَهَا إِلَيْهِ وَفِي وُجُوبِ الْيَمِينِ عَلَيْهِ، لِلْمُكَذَّبِ قَوْلَانِ:

Pertama: Barang itu dikembalikan kepada pemilik tangan (yang menguasai barang), maka jika ia membenarkan salah satu dari mereka, barang itu diserahkan kepadanya. Mengenai kewajiban sumpah atasnya, terdapat dua pendapat bagi pihak yang didustakan.

أَحَدُهُمَا: لَا يَمِينَ عَلَيْهِ، إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَوْ أَقَرَّ لَمْ يَغْرَمْ.

Salah satunya: tidak ada sumpah atasnya, jika dikatakan: sesungguhnya jika ia mengaku, ia tidak menanggung ganti rugi.

وَالثَّانِي: عَلَيْهِ الْيَمِينُ إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَوْ أَقَرَّ غَرِمَ، وَإِنْ صَدَّقَهَا دَفَعَ الدَّارَ إِلَيْهِمَا، وَهَلْ يَحْلِفُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ. وَإِنْ كَذَّبَهُمَا وَادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ، حَلَفَ لَهُمَا، وَأُقِرَّتِ الدَّارُ عَلَى مِلْكِهِ، وَلَا يَكُونُ قِيَامُ الْبَيِّنَةِ بِمِلْكِهَا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَبَوَيْنِ مُوجِبًا لِزَوَالِ مِلْكِهِ وَرَفْعِ يَدَهُ، لِمَا ذَكَرْنَا مِنِ اشْتِبَاهِ مُسْتَحِقِّهَا.

Kedua: Ia wajib bersumpah jika dikatakan bahwa jika ia mengakui, maka ia akan menanggung beban, dan jika ia membenarkan keduanya, maka ia harus menyerahkan rumah itu kepada mereka berdua. Apakah ia harus bersumpah untuk masing-masing dari keduanya? Ada dua pendapat. Jika ia mendustakan keduanya dan mengklaim rumah itu untuk dirinya sendiri, maka ia bersumpah untuk mereka berdua, dan rumah itu tetap diakui sebagai miliknya. Adanya bukti kepemilikan rumah dari masing-masing orang tua tidak serta-merta menyebabkan hilangnya kepemilikan dan terangkatnya tangannya atas rumah itu, karena sebagaimana telah disebutkan, terdapat kerancuan dalam menentukan siapa yang benar-benar berhak atasnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: فِي الْأَصْلِ الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ وَالْحُكْمُ بِهَا لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا، وَفِي إِحْلَافِهِ مَعَ الْقُرْعَةِ، قَوْلَانِ وَلَا تُنْتَزَعُ الدَّارُ إِلَّا بَعْدَ الْقُرْعَةِ، لِأَنَّ بِالْقُرْعَةِ تَمْتَازُ الْبَيِّنَةُ الْمُسْتَحَقَّةُ فَإِنْ جُعِلَتِ الْيَمِينُ بَعْدَ الْقُرْعَةِ شَرْطًا فِي الِاسْتِحْقَاقِ لَمْ تُنْتَزَعْ إِلَّا بَعْدَ يَمِينِهِ، وَإِنْ لَمْ تُجْعَلْ شَرْطًا انْتُزِعَتْ بِغَيْرِ يَمِينٍ.

Pendapat kedua: Pada dasarnya, dilakukan pengundian (qur‘ah) antara dua bukti (bayyinah), dan keputusan diberikan kepada pihak yang keluar namanya dalam undian tersebut. Adapun mengenai keharusan bersumpah bersama dengan pengundian, terdapat dua pendapat. Rumah tidak boleh diambil kecuali setelah dilakukan pengundian, karena dengan pengundian dapat diketahui bukti mana yang berhak. Jika sumpah (yamin) dijadikan syarat setelah pengundian dalam penetapan hak, maka rumah tidak diambil kecuali setelah pihak tersebut bersumpah. Namun jika sumpah tidak dijadikan syarat, maka rumah dapat diambil tanpa sumpah.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَقَسْمُ الدَّارِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَى تَخْرِيجِهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، وَإِنِ اخْتُلِفَ فِي تَخْرِيجِهِ فِي الْمَسْأَلَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ، لِأَنَّه لَا يَسْتَحِيلُ أَنْ تَكُونَ الدَّارُ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ أَبَوَيْهِمَا، فَجَازَ أَنْ تُقَسَّمَ بَيْنَهُمَا كَسَائِرِ الْأَمْوَالِ الَّتِي يَجُوزُ فِيهَا الِاشْتِرَاكُ، وَلَا يَسْتَحِيلُ بِخِلَافِ الْمِيرَاثِ الْمُسْتَحَقِّ عَنْ شَخْصٍ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَمُوتَ مُسْلِمًا كَافِرًا.

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (bayyinah), dan membagi rumah di antara keduanya menjadi dua bagian yang sama. Pendapat ini disepakati untuk diterapkan dalam masalah ini, meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam penerapannya pada masalah sebelumnya. Sebab, tidak mustahil rumah tersebut merupakan milik bersama kedua orang tua mereka, sehingga boleh dibagi di antara keduanya seperti harta-harta lain yang boleh dimiliki bersama. Hal ini berbeda dengan warisan yang diperoleh dari seseorang yang mustahil meninggal dalam keadaan Muslim sekaligus kafir.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْمُزَنِيِّ فَإِنَّ كَلَامَهُ يَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ فُصُولٍ:

Adapun al-Muzani, maka perkataannya mencakup tiga bagian:

أَحَدُهَا: بَيَانُ مَا هُوَ الْأَصَحُّ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَأَنَّ الَّذِي يَقْتَضِيهِ كَلَامُهُ إِسْقَاطُهُمَا، وَالْعَمَلُ بِمَا يُوجِبُهُ مُجَرَّدُ الدَّعْوَى وَالْيَدِ، لِأَنَّه قَدْ أَبْطَلَ الْقِسْمَةَ بِقَوْلِهِ، إِنَّ اسْتِعْمَالَهُمَا فِي الْقِسْمَةِ مَنْعٌ لِيَقِينِ الْخَطَأِ فِي إِعْطَاءِ أَحَدِهَا أَقَلَّ مِنْ حَقِّهِ، وَإِعْطَاءِ الْآخَرِ مَا لَيْسَ بِحَقِّهِ وَلِأَصْحَابِنَا عَنْ هَذَا جَوَّابَانِ:

Salah satunya: Penjelasan mengenai pendapat yang paling sahih menurut mazhab Syafi‘i dalam kasus pertentangan dua bayyinah, yaitu bahwa yang ditunjukkan oleh perkataannya adalah menggugurkan keduanya, dan beramal dengan apa yang ditetapkan semata-mata oleh klaim (da‘wā) dan kepemilikan (yad), karena ia telah membatalkan pembagian (qismah) dengan ucapannya, bahwa penggunaan keduanya dalam pembagian merupakan pencegahan karena adanya keyakinan akan kesalahan dalam memberikan kepada salah satu pihak kurang dari haknya, dan memberikan kepada pihak lain sesuatu yang bukan haknya. Dan menurut para ulama kami, terdapat dua jawaban mengenai hal ini:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ شَنَّعَ مَعَ الْقَطْعِ بِتَكَاذُبِ الْبَيِّنَتَيْنِ وَلَيْسَ بِشَنْعٍ فِي جَوَازِ تَصَادُقِهِمَا، فَتَبْطُلُ الْقِسْمَةُ فِي التَّكَاذُبِ وَلَا تَبْطُلُ مَعَ جَوَازِ التَّصَادُقِ.

Salah satunya: bahwa ia menganggap buruk secara tegas ketika dua bukti saling bertentangan, dan itu tidak dianggap buruk jika keduanya mungkin saling membenarkan; maka pembagian batal dalam kasus pertentangan, dan tidak batal jika masih mungkin keduanya saling membenarkan.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: إِنَّهُ شَنَّعَ فِي الْبَاطِنِ، لِامْتِنَاعِهِ وَلَيْسَ بِشَنِعٍ فِي الظَّاهِرِ لِأَنَّنَا نُبْطِلُ السَّبَبَ الْمُتَضَادَّ، وَنَحْكُمُ بِالْبَيِّنَةِ فِي الْمَالِ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّمَا أَحْكُمُ بِالظَّاهِرِ وَيَتَوَلَى اللَّهُ السَّرَائِرَ “. فَمِنْ ثَمَّ أَبْطَلَ الْمُزَنِيُّ الْإِقْرَاعَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِيمَنْ مَاتَ عَنْ زَوْجَةٍ مُطْلَّقَةٍ، قَدِ اشْتَبَهَتْ أَنَّهُ لَا قُرْعَةَ بَيْنَهُمَا. فَكَذَلِكَ بِأَنَّ مِثْلَهُ فِي إِبْطَالِ الْقُرْعَةِ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ، وَلِأَصْحَابِنَا عَنْ هَذَا جَوَابَانِ:

Jawaban kedua: Sesungguhnya hal itu tampak buruk secara batin, karena adanya penolakan, namun tidak buruk secara lahiriah karena kita membatalkan sebab yang saling bertentangan dan memutuskan berdasarkan bayyinah dalam perkara harta. Nabi ﷺ bersabda: “Aku hanya memutuskan berdasarkan yang lahir, dan Allah yang mengurus perkara batin.” Oleh karena itu, al-Muzani membatalkan undian (iqra‘) di antara keduanya, karena asy-Syafi‘i berkata tentang seseorang yang wafat dan meninggalkan istri yang dicerai, namun masih samar statusnya, bahwa tidak ada undian di antara keduanya. Demikian pula, hal yang serupa berlaku dalam pembatalan undian pada dua bayyinah. Dan menurut para ulama kami, ada dua jawaban terkait hal ini:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ أَبْطَلَ الْقُرْعَةَ فِي الزَّوْجَتَيْنِ وَالْوَلَدَيْنِ، لِأَنَّه قَدْ رَجَعَ فِي الزَّوْجَتَيْنِ إِلَى بَيَانِ الْوَرَثَةِ، وَفِي الْوَلَدَيْنِ إِلَى بَيَانِ اتِّفَاقِهِ وَلَا يُؤْخَذُ بِمِثْلِ ذَلِكَ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ.

Salah satunya: bahwa ia membatalkan undian (al-qur‘ah) dalam kasus dua istri dan dua anak, karena dalam kasus dua istri kembali kepada penjelasan tentang para ahli waris, dan dalam kasus dua anak kembali kepada penjelasan tentang kesepakatan mereka, dan hal seperti itu tidak diambil dalam dua bukti (al-bayyinah).

وَالثَّانِي: إِنَّ دُخُولَ الْقُرْعَةِ فِي الزَّوْجَتَيْنِ وَالْوَلَدَيْنِ تَكُونُ فِي أَصْلِ الدَّعْوَى الَّتِي لَمْ يَرِدْ بِهَا شَرْعٌ، وَفِي الْبَيِّنَتَيْنِ فِيمَا وَرَدَ بِمِثْلِهِ الشَّرْعُ.

Kedua: Sesungguhnya masuknya undian (qur‘ah) dalam kasus dua istri dan dua anak terjadi pada pokok perkara yang tidak ada ketentuan syariat tentangnya, sedangkan dalam dua bukti (bayyinah) terjadi pada perkara yang ada ketentuan syariat serupa dengannya.

وَالْفَصْلُ الثَّانِي: أَنِ اخْتَارَ الْمُزَنِيُّ لِنَفْسِهِ اسْتِعْمَالَ الْبَيِّنَتَيْنِ وَقَسْمَ الْمِلْكِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، لِتَكَافُئِهِمَا وَأَنْ لَا بَيَانَ يُرْجَعُ إِلَيْهِ بَعْدَهُمَا فِيمَا أَمْكَنَ مِنْ صِدْقِهِمَا، أَوْ قُطِعَ فِيهِ بِتَكَاذُبِهِمَا، وَاسْتَشْهَدَ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي الْمُتَنَازِعَيْنِ لِثَوْبٍ أَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ لَهُ نَسْجُهُ فِي مِلْكِهِ إِنْ سَوَّى بَيْنِ مَا لَا يُنْتَجُ إِلَّا مَرَّةً، كَالْقُطْنِ وَالْكَتَّانِ، الَّذِي يُقْطَعُ فِيهِ بِتَكَاذُبِ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَبَيْنَ مَا يَجُوزُ أَنَّ يُنْسَجَ مَرَّتَيْنِ كَالْخَزِّ، وَالدِّيبَاجِ، الَّذِي يُمْكِنُ فِيهِ التَّصَادُقُ، وَلِأَصْحَابِنَا عَنْ هَذَا جَوَّابَانِ:

Bagian kedua: Bahwa al-Muzani memilih untuk dirinya sendiri penggunaan dua bukti (al-bayyinah) dan pembagian kepemilikan di antara keduanya menjadi dua bagian yang sama, karena keduanya seimbang dan tidak ada penjelasan yang dapat dijadikan rujukan setelah keduanya dalam hal kemungkinan kebenaran keduanya, atau telah dipastikan adanya kebohongan di antara keduanya. Ia berdalil bahwa asy-Syafi‘i berkata dalam kasus dua orang yang bersengketa atas sebuah kain, masing-masing dari mereka menghadirkan bukti bahwa kain itu adalah miliknya dan hasil tenunannya berada dalam kepemilikannya, jika ia menyamakan antara sesuatu yang tidak mungkin diproduksi kecuali sekali, seperti kapas dan linen, yang dalam hal ini dipastikan adanya kebohongan antara dua bukti, dan antara sesuatu yang mungkin ditenun dua kali seperti kain khazz dan dibaj, yang memungkinkan adanya kebenaran bersama. Dan menurut para sahabat kami, dalam hal ini terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ لَا حُجَّةَ أَنْ يَحْتَجَّ لِمَذْهَبِهِ بِمَذْهَبِ غَيْرِهِ، وَإِنَّمَا يَحْتَجُّ لِمَذْهَبِهِ بِأَمَارَاتِ الْأَدِلَّةِ.

Salah satunya: Bahwa tidak dapat dijadikan hujjah untuk mendukung mazhabnya dengan mazhab orang lain, melainkan ia hanya boleh mendukung mazhabnya dengan tanda-tanda dalil.

وَالثَّانِي: إِنَّ قَصْدَ الشَّافِعِيِّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ من سماع الداخل فيما يتكرر نتجه، وَلَا يَتَكَرَّرُ رَدًّا عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ، فِي فَرْقِهِ بَيْنَهُمَا بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ فِيمَا يَتَكَرَّرُ نَسْجُهُ وَرَدِّهَا فِيمَا لَا يَتَكَرَّرُ.

Kedua: Sesungguhnya maksud Imam Syafi‘i dalam masalah ini mengenai kesaksian orang yang masuk (ke pengadilan) pada perkara yang berulang-ulang terjadi, dan tidak berulang-ulang, adalah sebagai bantahan terhadap Abu Hanifah dalam perbedaannya antara keduanya dengan menerima kesaksian pada perkara yang berulang-ulang terjadi dan menolaknya pada perkara yang tidak berulang-ulang.

وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ: إِنْ أَوْرَدَ عَنِ الشَّافِعِيِّ مَسْأَلَةً فِيمَنْ مَاتَ عَنْ دَارٍ ادَّعَتْ زَوْجَتُهُ أَنَّهُ أَصْدَقَهَا، وَادَّعَى أَجْنَبِيٌّ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا. وَأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ: ” لَيْسَ إِلَّا إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ، أَوِ الْقُرْعَةُ ” وَقَدْ أَبْطَلَ الْقُرْعَةَ، فَثَبَتَ إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ وَإِسْقَاطُ الْقُرْعَةِ فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ الْقَسَمِ وَلِأَصْحَابِنَا عَنْ هَذَا جَوَابَانِ:

Bagian ketiga: Jika dinukil dari Imam Syafi‘i suatu permasalahan tentang seseorang yang wafat meninggalkan sebuah rumah, lalu istrinya mengaku bahwa rumah itu adalah mahar yang diberikan kepadanya, dan seorang asing mengaku bahwa ia telah membeli rumah itu. Dan Imam Syafi‘i berkata: “Tidak ada selain menggugurkan kedua bukti, atau dengan undian.” Namun, undian telah dibatalkan, sehingga tetaplah menggugurkan kedua bukti dan membatalkan undian, maka hal itu menunjukkan wajibnya sumpah. Dan menurut ulama mazhab kami, dalam hal ini ada dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الْمُزَنِيَّ يَبْنِي هَذَا عَلَى أَصْلٍ لَمْ يُخَالَفْ فِيهِ، وَهُوَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ إِذَا نَصَّ عَلَى قَوْلَيْنِ ثُمَّ عَمِلَ بِأَحَدِهِمَا، أَنَّهُ يَكُونُ إِبْطَالًا لِلْقَوْلِ الْآخَرِ.

Salah satunya: Sesungguhnya al-Muzani mendasarkan hal ini pada suatu prinsip yang tidak diperselisihkan, yaitu bahwa apabila asy-Syafi‘i menyatakan dua pendapat kemudian beliau mengamalkan salah satunya, maka hal itu berarti pembatalan terhadap pendapat yang lain.

وَعِنْدَ غَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ لَا يَكُونُ اسْتِعْمَالُهُ إِبْطَالًا لِلْآخَرِ، وَإِنَّمَا يَكُونُ تَرْجِيحًا لَهُ عَلَى الْآخَرِ.

Menurut sebagian ulama kami yang lain, penggunaan salah satu dari keduanya tidaklah membatalkan yang lain, melainkan hanya merupakan bentuk penguatan terhadap salah satunya atas yang lain.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: إِنَّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ مَحْمُولَةٌ عَلَى أَهْلِ مَذْهَبِهِ فِي نَظَائِرِهَا، وَهُوَ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ، فَإِنْ تَقَدَّمَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى حُكِمَ بِالْمُتَقَدِّمَةِ عَلَى الْمُتَأَخِّرَةِ، سَوَاءٌ كَانَتْ بَيِّنَةُ الصَّدَاقِ، أَوْ بَيِّنَةُ الِابْتِيَاعِ، لِفَسَادِ الثَّانِي بَعْدَ الْأَوَّلِ، وَإِنْ أَشَكَلَ كَانَتْ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فِي إِسْقَاطِهَا فِي أَحَدِهِمَا. وَالْإِقْرَاعِ بَيْنَهُمَا فِي الثَّانِي، وَاسْتِعْمَالِهَا فِي الثَّالِثِ، وَجَعَلَ نِصْفَ الدَّارِ صَدَاقًا، ونصفهما ابْتِيَاعًا، فَلَمْ يَسْلَمْ لَهُ دَلِيلٌ وَلَا صَحَّ له استشهاد. والله أعلم.

Jawaban kedua: Sesungguhnya masalah ini dikaitkan dengan pandangan para pengikut mazhabnya dalam kasus-kasus serupa, yaitu dengan melihat kepada kedua bukti (bayyinah). Jika salah satu bukti lebih dahulu dari yang lain, maka diputuskan berdasarkan bukti yang lebih dahulu atas yang belakangan, baik itu bukti tentang mahar maupun bukti tentang jual beli, karena yang kedua menjadi batal setelah yang pertama. Jika keduanya sulit dibedakan, maka ada tiga pendapat: yang pertama, kedua bukti itu gugur pada salah satunya; yang kedua, dilakukan undian di antara keduanya; dan yang ketiga, kedua bukti itu digunakan, lalu setengah rumah dijadikan sebagai mahar dan setengahnya lagi sebagai hasil jual beli. Maka tidak ada dalil yang kuat baginya dan tidak sah dijadikan sebagai sandaran. Allah Maha Mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ كَانَتْ دَارٌ فِي يَدَيْ أَخَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فَأَقَرَّا أَنَّ أَبَاهُمَا هَلَكَ وَتَرَكَهَا مِيرَاثًا فَقَالَ أَحَدُهُمَا كُنْتُ مُسْلِمًا وَكَانَ أَبِي مُسْلِمَا وَقَالَ الْآخَرُ أَسْلَمْتُ قَبْلَ مَوْتِ أَبِي فَهِيَ لِلَّذِي اجْتَمَعَا عَلَى إِسْلَامِهِ وَالْآخَرُ مُقِرٌّ بِالْكُفْرِ مُدَّعٍ الْإِسْلَامَ “.

Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika ada sebuah rumah di tangan dua orang bersaudara Muslim, lalu keduanya mengakui bahwa ayah mereka telah wafat dan meninggalkan rumah itu sebagai warisan, kemudian salah satu dari mereka berkata, ‘Aku sudah Muslim dan ayahku juga Muslim,’ sedangkan yang lain berkata, ‘Aku masuk Islam sebelum ayahku wafat,’ maka rumah itu menjadi milik orang yang keduanya sepakat atas keislamannya, sedangkan yang lain dianggap mengakui kekafiran dan hanya mengaku-aku Islam.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ مَاتَ مُسْلِمًا، وَتَرَكَ ابْنَيْنِ أَحَدُهُمَا مُتَّفَقٌ عَلَى إِسْلَامِهِ قَبْلَ مَوْتِ أَبِيهِ، وَاخْتَلَفَا فِي إِسْلَامِ الْآخَرِ فَقَالَ الْآخَرُ: أَسْلَمْتُ أَنَا قَبْلَ مَوْتِ أَبِي. فَالتَّرِكَةُ بَيْنَنَا.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki yang wafat dalam keadaan Muslim, dan meninggalkan dua orang anak laki-laki; salah satunya disepakati keislamannya sebelum ayahnya wafat, sedangkan keislaman anak yang lain diperselisihkan. Anak yang lain itu berkata, “Aku telah masuk Islam sebelum ayahku wafat. Maka harta warisan itu adalah milik kita berdua.”

وَقَالَ الْمُسْلِمُ: بَلْ أَسْلَمْتَ أَنْتَ بَعْدَ مَوْتِ أَبِي فَالتَّرِكَةُ دُونَكَ، وَالْبَيِّنَةُ مَعْدُومَةٌ، فَلَا يُقْبَلُ قَوْلُ مَنِ ادَّعَى تَقَدُّمَ إِسْلَامِهِ إِذَا أَنْكَرَهُ أَخُوهُ لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِ إِسْلَامِهِ، وَفِي شَكٍّ مِنْ تَقَدُّمِهِ فَكَانَ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ أَخِيهِ، الَّذِي أَنْكَرَ تَقَدُّمَ إِسْلَامِهِ، لِأَنَّه يُسْتَصْحَبُ فِيهِ اسْتِدَامَةُ أَصْلٍ مُتَحَقَّقٍ، بَعْدَ أَنْ يَحْلِفَ الْآخَرُ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْأَخُ صَادِقًا فِي دَعْوَاهُ، وَيَمِينِهِ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْقَطْعِ بِاللَّهِ، أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ أَنَّ أَخَاهُ أَسْلَمَ قَبْلَ مَوْتِ أَبِيهِ لِأَنَّها يَمِينُ نَفْيٍ عَلَى فِعْلِ غَيْرِهِ.

Dan si Muslim berkata: “Bahkan, engkaulah yang masuk Islam setelah wafat ayahku, maka warisan itu bukan hakmu, dan tidak ada bukti yang mendukungmu.” Maka tidak diterima perkataan orang yang mengaku telah lebih dahulu masuk Islam jika saudaranya mengingkari, karena kita yakin tentang terjadinya keislamannya, namun masih ragu tentang lebih dahulu masuk Islamnya. Maka dalam hal ini, perkataan yang dipegang adalah perkataan saudaranya yang mengingkari lebih dahulu masuk Islamnya, karena dalam hal ini tetap dianggap berlakunya keadaan asal yang telah terbukti, setelah saudaranya bersumpah, karena mungkin saja saudaranya benar dalam pengakuannya. Sumpahnya adalah atas dasar pengetahuan, bukan kepastian dengan nama Allah, bahwa ia tidak mengetahui saudaranya telah masuk Islam sebelum wafat ayahnya, karena ini adalah sumpah penafian atas perbuatan orang lain.

وَهَكَذَا لَوْ مَاتَ حَرٌّ وَتَرَكَ ابْنَيْنِ، أَحَدُهُمَا مُتَّفَقٌ عَلَى حُرِّيَّتِهِ قَبْلَ مَوْتِ أَبِيهِ وَالْآخَرُ مُخْتَلَفٌ فِيهِ فَادَّعَى تَقَدُّمَ عِتْقِهِ قَبْلَ مَوْتِ أَبِيهِ، لِيَكُونَا شَرِيكَيْنِ فِي مِيرَاثِهِ، وَادَّعَى الْحُرُّ أَنَّ أَخَاهُ أُعْتِقَ بَعْدَ مَوْتِ الْأَبِ، فَهُوَ أَحَقُّ بِجَمِيعِ الْمِيرَاثِ، كَانَ الْقَوْلُ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ. قَوْلُ الْحُرِّ مَعَ يَمِينِهِ، بِاللَّهِ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ أَنَّ أَخَاهُ أُعْتِقَ قَبْلَ مَوْتِ أَبِيهِ، وَهُوَ أَحَقُّ بِجَمِيعِ الْمِيرَاثِ بَعْدَ يمنيه، لِأَنَّه يَسْتَصْحِبُ أَصْلَ رِقٍّ مَعْلُومٍ، لَمْ يُدَّعَ تَقَدُّمُ هَذَا إِذَا كَانَ مَوْتُ الْأَبِ مُتَّفَقًا عَلَى مَوْتِهِ، وَالِاخْتِلَافِ فِي وَقْتِ إِسْلَامِ الِابْنِ، أَوْ عِتْقِهِ، فَأَمَّا إِذَا اتَّفَقَا عَلَى وَقْتِ إِسْلَامِ الِابْنِ، أَوْ عِتْقِهِ، وَالْخِلَافُ فِي وَقْتِ مَوْتِ الْأَبِ.

Demikian pula, jika seorang merdeka meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak laki-laki, salah satunya disepakati status kemerdekaannya sebelum ayahnya meninggal, sedangkan yang lain diperselisihkan statusnya, lalu ia mengklaim bahwa ia telah dimerdekakan sebelum ayahnya meninggal agar keduanya menjadi sekutu dalam warisan, dan anak yang merdeka mengklaim bahwa saudaranya dimerdekakan setelah ayahnya meninggal, sehingga ia lebih berhak atas seluruh warisan, maka dalam keadaan tidak ada bukti, perkataan anak yang merdeka diterima dengan sumpahnya, yaitu bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui saudaranya telah dimerdekakan sebelum ayahnya meninggal, dan ia berhak atas seluruh warisan setelah sumpahnya, karena hukum asal perbudakan yang telah diketahui tetap berlaku, dan tidak diklaim adanya kemerdekaan sebelum itu, jika kematian ayah disepakati waktunya dan perselisihan terjadi pada waktu Islamnya anak atau waktu kemerdekaannya. Adapun jika keduanya sepakat pada waktu Islamnya anak atau waktu kemerdekaannya, dan perselisihan terjadi pada waktu kematian ayah.

فَقَالَ الِابْنُ أَسْلَمْتُ أَنَا، أَوْ أُعْتِقْتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَمَاتَ أَبِي فِي شَوَّالٍ فَنَحْنُ شَرِيكَانِ فِي مِلْكِهِ.

Maka sang anak berkata, “Aku telah masuk Islam, atau aku dimerdekakan pada bulan Ramadan, dan ayahku wafat pada bulan Syawal, maka kami berdua adalah sekutu dalam kepemilikannya.”

وَقَالَ الْآخَرُ: صَدَقْتَ أَنَّكَ أَسْلَمْتَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَلَكِنْ مَاتَ أَبُونَا فِي شَعْبَانَ.

Orang yang lain berkata, “Benar bahwa engkau masuk Islam pada bulan Ramadan, tetapi ayah kita wafat pada bulan Sya‘ban.”

فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْأَخِ الَّذِي ادَّعَى حُدُوثَ مَوْتِ الْأَبِ فِي شَوَّالٍ، دُون مَنِ ادَّعَى تَقَدُّمَ مَوْتِ الْأَبِ فِي شَعْبَانَ.

Maka pendapat yang dipegang adalah pendapat saudara yang mengklaim bahwa kematian ayah terjadi pada bulan Syawwal, bukan pendapat orang yang mengklaim bahwa kematian ayah terjadi lebih dahulu pada bulan Sya‘ban.

وَيَكُونَانِ شَرِيكَيْنِ فِي الْمِيرَاثِ لِأَنَّه اسْتَصْحَبَ اسْتِدَامَةَ أَصْلٍ مَعْلُومٍ، هُوَ بَقَاءُ الْحَيَاةِ حَتَّى يُعْلَمَ تَقَدُّمُ الْمَوْتِ.

Keduanya menjadi sekutu dalam warisan karena tetap dianggap adanya asal yang diketahui, yaitu keberlangsungan hidup sampai diketahui adanya kematian yang mendahului.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ خَالَفْتَ هَذَا الْأَصْلَ فِي الْجِنَايَةِ عَلَى الْمَلْفُوفِ إِذَا ادَّعَى وَلَيُّهُ أَنَّهُ كَانَ حَيًّا وَقْتَ الْجِنَايَةِ وَادَّعَى الْجَانِي أَنَّهُ كَانَ مَيِّتًا، جَعَلْتُمُ الْقَوْلَ قَوْلَ الْجَانِي فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، وَأَسْقَطْتُمْ قَوْلَ وَلِيِّهِ، فِي اسْتِصْحَابِ أَصْلِ الْحَيَاةِ؟ قِيلَ: بَيْنَهُمَا فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ فَرْقٌ وَإِنْ سَوَّيَا بَيْنَهُمَا فِي الْقَوْلِ الثَّانِي: إِنَّهُ قَدْ تَقَابَلَ فِي الْحَيَاةِ عَلَى الْمَلْفُوفِ أَصْلَانِ:

Jika dikatakan: Anda telah menyelisihi prinsip ini dalam kasus tindak pidana terhadap janin yang masih dalam kandungan, ketika walinya mengklaim bahwa ia masih hidup saat terjadinya tindak pidana, sedangkan pelaku mengklaim bahwa ia sudah mati, Anda menjadikan pendapat pelaku sebagai pendapat yang dipegang dalam salah satu dari dua pendapat, dan Anda menggugurkan pendapat walinya dalam mempertahankan asal kehidupan? Maka dijawab: Di antara keduanya dalam salah satu dari dua pendapat terdapat perbedaan, meskipun keduanya disamakan dalam pendapat yang kedua: bahwa dalam masalah kehidupan janin yang masih dalam kandungan, terdapat dua prinsip yang saling berhadapan.

أَحَدُهُمَا: اسْتِصْحَابُ حَيَاةِ الْمَلْفُوفِ.

Salah satunya adalah istishhāb kehidupan orang yang dibungkus kain kafan.

وَالثَّانِي: اسْتِصْحَابُ بَرَاءَةِ ذِمَّةِ الْجَانِي، فَجَازَ أَنْ يُغَلَّبَ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ بَرَاءَةُ ذِمَّةِ الْجَانِي، وَجَازَ أَنْ يُغَلَّبَ فِي الْقَوْلِ الثَّانِي بَقَاءُ حَيَاةِ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ، فَلِذَلِكَ كَانَتْ عَلَى قَوْلَيْنِ.

Yang kedua: istishhab kebersihan tanggungan pelaku, sehingga dalam salah satu dari dua pendapat dapat diunggulkan kebersihan tanggungan pelaku, dan dalam pendapat kedua dapat diunggulkan keberlangsungan hidup korban, oleh karena itu masalah ini memiliki dua pendapat.

وَلَيْسَ فِي دَعْوَى مَوْتِ الْأَبِ، إِلَّا اسْتِصْحَابُ أَصْلٍ وَاحِدٍ هُوَ اسْتِدَامَةُ حَيَاتِهِ وَلَا يُقَابِلُهُ أَصْلٌ يُعَارِضُهُ، فَلِذَلِكَ كَانَ عَلَى قَوْلٍ وَاحِدٍ فِي اسْتِصْحَابِ الْحَيَاةِ.

Dalam klaim tentang kematian ayah, tidak ada kecuali istishab terhadap satu asal, yaitu keberlangsungan hidupnya, dan tidak ada asal lain yang menentangnya. Oleh karena itu, dalam istishab kehidupan, terdapat satu pendapat saja.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ قَالَتِ امْرَأَةُ الْمَيِّتِ وَهِيِ مُسْلِمَةٌ زَوْجِي مُسْلِمٌ وَقَالَ وُلْدُهُ وَهُمْ كُفَّارٌ بَلْ كَافِرٌ وَقَالَ أَخُو الزَّوْجِ وَهُوَ مُسْلِمٌ بَلْ مُسْلِمٌ فَإِنْ لَمْ يُعْرَفْ فَالْمِيرَاثُ مَوْقُوفٌ حَتَّى يُعْرَفَ إِسْلَامُهُ مِنْ كُفْرِهِ بِبَيِّنَةٍ تَقُومُ عَلَيْهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika istri dari orang yang meninggal, yang merupakan seorang Muslimah, berkata: ‘Suamiku seorang Muslim’, sementara anak-anaknya yang kafir berkata: ‘Bahkan dia seorang kafir’, dan saudara laki-laki suami yang juga seorang Muslim berkata: ‘Bahkan dia seorang Muslim’, maka jika tidak diketahui (statusnya), warisan itu ditangguhkan sampai diketahui keislamannya atau kekafirannya dengan adanya bukti yang dapat menegaskannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي مَيِّتٍ مَجْهُولِ الدِّينِ، تَرَكَ زَوْجَةً وَأَخًا مُسْلِمَيْنِ، وَابْنًا كَافِرًا، فَادَّعَتِ الزَّوْجَةُ، وَالْأَخُ أَنَّهُ مَاتَ مُسْلِمًا فَالْمِيرَاثُ لَهُمَا، وَادَّعَى الِابْنُ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا فَالْمِيرَاثُ لَهُ.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seseorang yang meninggal dunia dengan status agamanya tidak diketahui, ia meninggalkan seorang istri dan seorang saudara laki-laki yang keduanya Muslim, serta seorang anak laki-laki yang kafir. Maka istri dan saudara laki-laki tersebut mengklaim bahwa ia meninggal dalam keadaan Muslim sehingga warisan menjadi milik mereka berdua, sedangkan anak laki-laki tersebut mengklaim bahwa ia meninggal dalam keadaan kafir sehingga warisan menjadi miliknya.

فَإِنْ عَدِمَتِ الْبَيِّنَةُ. كَانَ مِيرَاثُهُ مَوْقُوفًا، حَتَّى يَتَبَيَّنَ أَمْرُهُ، فَيُعْمَلَ عَلَى الْبَيَانِ، أَوْ يَتَصَادَقُوا عَلَيْهِ فَيُعْمَلَ عَلَى التَّصَادُقِ، أَوْ يَصْطَلِحُوا عَلَيْهِ، فَيُجَازُ الصُّلْحُ فَإِنْ وُجِدَتِ الْبَيِّنَةُ فَإِنْ تَفَرَّدَ بِهَا أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ مِنْ مُدَّعِي إِسْلَامِهِ، أَوْ كُفْرِهِ، عُمِلَ عَلَيْهَا. فَإِنْ شَهِدَتْ بِإِسْلَامِهِ، كَانَ مِيرَاثُهُ لِزَوْجَتِهِ، وَأَخِيهِ الْمُسْلِمَيْنِ، وَإِنْ شَهِدَتْ بِكُفْرِهِ كَانَ مِيرَاثُهُ لِابْنِهِ الْكَافِرِ، وَإِنْ تَعَارَضَتْ فِيهِ بَيِّنَتَانِ. شَهِدَتْ إِحْدَاهُمَا بِكُفْرِهِ، وَشَهِدَتِ الْأُخْرَى، بِإِسْلَامِهِ، كَانَ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنِ اعْتِبَارِ الشَّهَادَتَيْنِ، وَهِيَ تَنْقَسِمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Jika tidak ada bayyinah, maka warisannya ditangguhkan hingga keadaannya menjadi jelas, lalu diputuskan berdasarkan kejelasan tersebut, atau mereka saling membenarkan sehingga diputuskan berdasarkan kesepakatan itu, atau mereka berdamai, maka perdamaian itu dibenarkan. Jika terdapat bayyinah, lalu salah satu dari dua pihak, baik yang mengklaim keislamannya atau kekafirannya, memiliki bayyinah secara sendiri, maka diputuskan berdasarkan bayyinah tersebut. Jika bayyinah menunjukkan keislamannya, maka warisannya diberikan kepada istri dan saudaranya yang muslim. Jika bayyinah menunjukkan kekafirannya, maka warisannya diberikan kepada anaknya yang kafir. Jika terdapat dua bayyinah yang saling bertentangan, salah satunya menunjukkan kekafirannya dan yang lain menunjukkan keislamannya, maka diputuskan sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya mengenai pertimbangan dua kesaksian, yang terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ تتقيد الشهادتان على مضادة تتكاذبان فِيهَا.

Salah satunya: bahwa dua kesaksian tersebut saling bertentangan sehingga saling meniadakan di dalamnya.

وَالثَّانِي: أَنْ تَتَقَيَّدَ عَلَى تَصَادُقٍ لَا تَكَاذُبَ فِيهِ.

Kedua: harus terikat pada kesepakatan yang tidak mengandung kebohongan di dalamnya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَا مُطْلَقَيْنِ.

Ketiga: keduanya harus bersifat mutlak.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: إِذَا كَانَتَا مُقَيَّدَتَيْنِ عَلَى مُضَادَّةٍ يَكُونَانِ فِيهَا مُتَكَاذِبَيْنِ، بِأَنْ تَشْهَدَ إِحْدَاهُمَا، أَنَّهُ مَاتَ عَلَى كَلِمَةِ الْإِسْلَامِ، وَتَشْهَدُ الْأُخْرَى أَنَّهُ مَاتَ عَلَى كَلِمَةِ الْكُفْرِ، فَهُوَ عَلَى قَوْلَيْنِ وثالث مختلف فيه:

Adapun bagian pertama: jika keduanya (dua kesaksian) dibatasi pada hal yang saling bertentangan sehingga keduanya saling menafikan, seperti salah satunya bersaksi bahwa seseorang meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat Islam, sedangkan yang lain bersaksi bahwa ia meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat kufur, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat dan pendapat ketiga yang diperselisihkan.

أحدهما: إِسْقَاطُهُمَا وَيَكُونُ الْأَمْرُ مَوْقُوفًا عَلَى بَيَانٍ، أَوْ إِصْلَاحٍ.

Pertama: keduanya diabaikan dan perkara tersebut digantungkan pada penjelasan atau perbaikan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا، وَالْحُكْمُ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا.

Pendapat kedua: dilakukan undian di antara keduanya, dan keputusan diberikan kepada siapa yang keluar namanya dalam undian tersebut.

وَالثَّالِثُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ: اسْتِعْمَالُهُمَا. فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ بَنَاهُ عَلَى الِاخْتِلَافِ الْمُتَقَدِّمِ مِنَ الْوَجْهَيْنِ، وَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ، أَنَّهُ لَا يَصِحُّ تَخْرِيجُ هَذَا الْقَوْلِ هَاهُنَا وَجْهًا وَاحِدًا، وَإِنْ جَازَ تَخْرِيجُهُ فِي الْوَجْهَيْنِ، لِأَنَّ الِابْنَيْنِ فِيمَا تَقَدَّمَ شَرِيكَانِ وَالْأَخُ وَالِابْنُ هَاهُنَا مُتَدَافِعَانِ، فِصْحَّ الِاشْتِرَاكُ هُنَاكَ وَبَطَلَ هَاهُنَا.

Ketiga, yang diperselisihkan: penggunaannya. Di antara ulama kami ada yang mendasarkannya pada perbedaan pendapat sebelumnya dari dua sisi, dan pendapat yang dipegang mayoritas ulama adalah bahwa tidak sah mengeluarkan pendapat ini di sini dalam satu sisi saja, meskipun boleh mengeluarkannya dalam dua sisi. Sebab, dua anak laki-laki pada pembahasan sebelumnya adalah dua orang yang berserikat, sedangkan saudara dan anak laki-laki di sini saling meniadakan, sehingga keikutsertaan sah di sana dan batal di sini.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ تَتَقَيَّدَ الشَّهَادَتَانِ، بِغَيْرِ مُضَادَّةٍ يَتَكَاذَبَانِ فِيهَا فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian kedua, yaitu apabila dua kesaksian itu dibatasi dengan sesuatu tanpa adanya pertentangan yang saling mendustakan di antara keduanya, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَشْهَدَ إِحْدَاهُمَا، أَنَّهُ كَانَ كَافِرًا فِي رَجَبٍ، وَتَشْهَدُ الْأُخْرَى أَنَّهُ كَانَ مُسْلِمًا فِي شَعْبَانَ، فَيُحْكَمُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى إِسْلَامِهِ لِحُدُوثِهِ بَعْدَ كُفْرِهِ وَيَكُونُ مِيرَاثُهُ لِزَوْجَتِهِ، وَأَخِيهِ الْمُسْلِمَيْنِ.

Salah satunya adalah: salah satu dari mereka bersaksi bahwa ia adalah seorang kafir pada bulan Rajab, dan yang lainnya bersaksi bahwa ia adalah seorang Muslim pada bulan Sya‘ban. Maka diputuskan berdasarkan kesaksian tentang keislamannya, karena keislaman itu terjadi setelah kekafirannya, dan warisannya menjadi milik istrinya dan saudaranya yang keduanya Muslim.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَشْهَدَ إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ كَانَ مُسْلِمًا فِي رَجَبٍ، وَتَشْهَدُ الْأُخْرَى أَنَّهُ كَانَ كَافِرًا فِي شَعْبَانَ، فَيُحْكَمُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى كُفْرِهِ بَعْدَ إِسْلَامِهِ، فَيَحْكُمُ بِرِدَّتِهِ، وَلَا يَرِثُهُ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ مِنْ وَرَثَتِهِ، وَيَكُونُ مِيرَاثُهُ لِبَيْتِ الْمَالِ.

Jenis yang kedua: salah satu dari mereka bersaksi bahwa ia adalah seorang Muslim pada bulan Rajab, dan yang lainnya bersaksi bahwa ia adalah seorang kafir pada bulan Sya‘ban. Maka diputuskan berdasarkan kesaksian atas kekafirannya setelah keislamannya, sehingga dihukumi murtad. Tidak ada seorang pun dari kedua kelompok ahli warisnya yang mewarisinya, dan hartanya menjadi milik Baitul Mal.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَتَانِ مُطْلَقَتَيْنِ بِأَنْ تَشْهَدَ إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ كَانَ مُسْلِمًا وَتَشْهَدَ الْأُخْرَى أَنَّهُ كَانَ كَافِرًا مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدٍ لِوَقْتِ إِسْلَامِهِ، وَوَقْتِ كُفْرِهِ، فقد تَعَارَضَتَا. وَيَكُونُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْأَقَاوِيلِ فِي الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، لِأَنَّه لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ إذا لَيْسَ لَهُ فِي أَحَدِ الدَّيْنَيْنِ أَصْلٌ يَتَرَجَّحُ بِهِ.

Adapun bagian ketiga: yaitu apabila kedua kesaksian itu bersifat mutlak, yaitu salah satunya bersaksi bahwa ia pernah menjadi Muslim dan yang lainnya bersaksi bahwa ia pernah menjadi kafir, tanpa membatasi waktu keislamannya maupun waktu kekafirannya, maka kedua kesaksian itu saling bertentangan. Dan hukumnya kembali kepada apa yang telah kami sebutkan dari pendapat-pendapat pada bagian pertama, karena tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih kuat dari yang lain, sebab tidak ada dasar yang dapat dijadikan keunggulan dalam salah satu dari dua agama tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا هَلَكَ مَجْهُولُ الدِّينِ، وَتَرَكَ أَبَوَيْنِ كَافِرَيْنِ، وَابْنَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فَادَّعَى أَبَوَاهُ أَنَّهُ مَاتَ كَافِرًا، وَادَّعَى الِابْنَانِ أَنَّهُ مَاتَ مُسْلِمًا وَلَا بَيِّنَةَ لِأَحَدِهِمَا، فَفِيهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا ابْنُ سُرَيْجٍ:

Apabila seseorang yang tidak diketahui agamanya meninggal dunia, lalu ia meninggalkan kedua orang tua yang kafir dan dua anak laki-laki yang muslim, kemudian kedua orang tuanya mengklaim bahwa ia meninggal dalam keadaan kafir, sedangkan kedua anaknya mengklaim bahwa ia meninggal dalam keadaan muslim, dan tidak ada bukti bagi salah satu pihak, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Surayj.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْأَبَوَيْنِ الْكَافِرَيْنِ مَعَ أَيْمَانِهِمَا لِأَنَّ كُفْرَهُ قَبْلَ بُلُوغِهِ مَعْلُومٌ بِكُفْرِهِمَا، فَلَمْ يُقْبَلْ دَعْوَى الِابْنَيْنِ فِي حُدُوثِ إِسْلَامِهِ، لِأَنَّ الْأَصْلَ اسْتِصْحَابُ كُفْرِهِ.

Salah satunya adalah bahwa pendapat yang dipegang dalam hal ini adalah pendapat kedua orang tua yang kafir beserta sumpah mereka, karena kekafiran anak sebelum baligh diketahui dari kekafiran kedua orang tuanya. Maka, klaim kedua anak tentang terjadinya keislaman tidak diterima, karena pada dasarnya kekafiran tetap dianggap ada.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَكُونُ مِيرَاثُهُ مَوْقُوفًا لِتَسَاوِي الْحَالَيْنِ بَعْدَ بُلُوغِهِ فِي إِسْلَامِهِ، وَكُفْرِهِ، لِأَنَّ مَا قَبْلَ بُلُوغِهِ هُوَ فِيهِ تَبَعٌ لَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بعد بلوغه، ولو كَانَ أَبَوَاهُ مُسْلِمَيْنِ، وَابْنَاهُ كَافِرَيْنِ.

Pendapat kedua: warisannya ditangguhkan karena kedua keadaan, yaitu setelah ia baligh, baik dalam keadaan Islam maupun kafir, adalah sama. Sebab, sebelum ia baligh, ia hanya mengikuti (agama orang tuanya) dan statusnya tidak dapat dipastikan kecuali setelah ia baligh, meskipun kedua orang tuanya Muslim dan kedua anaknya kafir.

فَإِنْ لَمْ يُعْلَمْ لِلْأَبَوَيْنِ كُفْرٌ قَبْلَ الْإِسْلَامِ، حُكِمَ بِإِسْلَامِ وَلَدَيْهِمَا، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِمَا، وَكَانَا أَحَقَّ بِمِيرَاثِهِ مِنِ ابْنَيْهِ، وَإِنْ عُلِمَ كَفْرُ الْأَبَوَيْنِ قَبْلَ الْإِسْلَامِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُولَدَ قَبْلَ إِسْلَامِهِمَا فَيَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْكَفْرِ قَبْلَ الْبُلُوغِ، وَيَجُوزُ أَنْ يُولَدَ بَعْدَ إِسْلَامِهِمَا فَيَكُونُ مُسْلِمًا قَبْلَ الْبُلُوغِ فَهُمَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika tidak diketahui bahwa kedua orang tua telah kafir sebelum masuk Islam, maka anak-anak mereka dihukumi sebagai Muslim, dan tidak ada sumpah atas keduanya, serta keduanya lebih berhak atas warisan anak-anak mereka daripada kedua anak tersebut. Namun, jika diketahui bahwa kedua orang tua telah kafir sebelum masuk Islam, maka dimungkinkan anak itu lahir sebelum keduanya masuk Islam sehingga berlaku atasnya hukum kekafiran sebelum baligh, dan dimungkinkan pula anak itu lahir setelah keduanya masuk Islam sehingga ia menjadi Muslim sebelum baligh. Maka, dalam hal ini terdapat dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ النِّزَاعُ زَمَانِ وِلَادَتِهِ، فَيَدَّعِي وَالِدَاهُ أَنَّهُ وُلِدَ بَعْدَ إِسْلَامِهِمَا، وَيَدَّعِي ابْنَاهُ أَنَّهُ وُلِدَ قَبْلَ إِسْلَامِهِمَا، فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْأَبَوَيْنِ مَعَ أَيْمَانِهِمَا فِي إِسْلَامِهِ، لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِ وِلَادَتِهِمْ، وَفِي شَكٍّ مِنْ تَقَدُّمِهَا.

Salah satunya adalah apabila terjadi perselisihan mengenai waktu kelahirannya, di mana kedua orang tuanya mengklaim bahwa ia lahir setelah mereka masuk Islam, sedangkan kedua anaknya mengklaim bahwa ia lahir sebelum mereka masuk Islam. Maka, dalam hal ini, yang dipegang adalah pernyataan kedua orang tuanya beserta sumpah mereka mengenai keislamannya, karena kita yakin akan terjadinya kelahiran mereka, sedangkan kita masih ragu tentang apakah kelahiran itu terjadi sebelumnya.

وَإِنْ كَانَ النِّزَاعُ فِي إِسْلَامِ الْأَبَوَيْنِ، فَيَدَّعِي أَبَوَاهُ أَنَّهُمَا أَسْلَمَا قَبْلَ وِلَادَتِهِ، وَيَدَّعِي ابْنَاهُ أَنَّهُمَا أَسْلَمَا بَعْدَ وِلَادَتِهِ، فَالْقَوْلُ قَوْلُ الِابْنَيْنِ فِي إِسْلَامِ الْأَبَوَيْنِ بَعْدَ الْوِلَادَةِ مَعَ أَيْمَانِهِمَا لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِ إِسْلَامِهِمَا وَفِي شَكٍّ مِنْ تُقَدِّمُهُ.

Jika terjadi perselisihan mengenai keislaman kedua orang tua, di mana kedua orang tua mengklaim bahwa mereka telah masuk Islam sebelum kelahiran anaknya, sedangkan kedua anaknya mengklaim bahwa kedua orang tua mereka masuk Islam setelah kelahiran mereka, maka yang dipegang adalah pernyataan kedua anak mengenai keislaman kedua orang tua setelah kelahiran, disertai sumpah mereka. Hal ini karena kita yakin akan terjadinya keislaman mereka, namun masih ragu tentang apakah keislaman itu terjadi lebih dahulu.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ رَجُلٌ بَيِّنَةً أَنَّ أَبَاهُ هَلَكَ وَتَرَكَ هَذِهِ الدَّارَ مِيرَاثًا لَهُ وَلِأَخِيهِ أَخْرَجْتُهَا مِنْ يَدَيْ مَنْ هِيَ فِي يَدَيْهِ وَأَعْطَيْتُهُ مِنْهَا نَصِيبَهُ وَأَخْرَجْتُ نَصِيبَ الْغَائِبِ وَأُكْرِي لَهُ حَتَى يَحْضُرَ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti bahwa ayahnya telah wafat dan meninggalkan rumah ini sebagai warisan untuknya dan saudaranya, maka aku akan mengeluarkan rumah itu dari tangan orang yang menguasainya, lalu aku berikan kepadanya bagian warisannya, dan aku pisahkan bagian untuk yang tidak hadir (ghaib), kemudian aku sewakan bagian itu untuknya sampai ia datang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ ادَّعَى دَارًا فِي يَدِ رَجُلٍ أَنَّهَا لِأَبِيهِ مَاتَ عَنْهَا وَوَرِثَهَا هُوَ وَأَخُوهُ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً كَامِلَةً، وَكَمَالُهَا أَنْ يُشْهَدَ لَهُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang laki-laki yang mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, bahwa rumah itu milik ayahnya yang telah meninggal dunia dan ia mewarisinya bersama saudaranya. Ia pun mendatangkan bukti yang lengkap atas hal itu, dan kelengkapan bukti tersebut adalah adanya kesaksian untuknya atas tiga hal:

أَحُدُهَا: أَنْ يُشْهَدَ بِالدَّارِ لِأَبِيهِ.

Salah satunya adalah memberikan kesaksian atas rumah tersebut untuk ayahnya.

وَالثَّانِي: أَنْ يُشْهَدَ بِمَوْتِ أَبِيهِ، وَأَنَّهُ وَرِثَهُ هو وأخوه.

Kedua: bahwa disaksikan kematian ayahnya, dan bahwa ia mewarisinya bersama saudaranya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُمَا عَلَى مَا سَنَصِفُ فَتَكْمُلُ الْبَيِّنَةُ إِذَا شَهِدَتْ بِهَذِهِ الثَّلَاثَةِ، وَبِكَمَالِهَا يُوجِبُ انْتِزَاعَ الدَّارِ مِمَّنْ هِيَ فِي يَدِهِ، وَيُدْفَعُ إِلَى الْحَاضِرِ حَقُّهُ مِنْهُمَا وهو النصف حِصَّةُ الْغَائِبِ، وَهِيَ النِّصْفُ عَلَى قُدُومِهِ، وَاعْتِرَافِهِ وَتُؤَخَّرُ حِصَّتُهُ حِفْظًا لِمَنَافِعِهَا عَلَيْهِ، وَلَا تُقَرُّ حِصَّةُ الْغَائِبِ فِي يَدَيْ مَنْ كَانَتْ فِي يَدَيْهِ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ.

Ketiga: Tidak ada ahli waris lain selain keduanya, sebagaimana akan kami jelaskan. Maka kesaksian menjadi sempurna apabila telah bersaksi atas tiga hal ini. Dengan kesempurnaan kesaksian tersebut, maka wajib mengambil rumah itu dari tangan orang yang menguasainya, dan diberikan kepada yang hadir haknya dari keduanya, yaitu setengah bagian, sedangkan bagian yang tidak hadir, yaitu setengahnya, ditangguhkan hingga ia datang dan mengakuinya. Bagian tersebut disimpan demi menjaga kemanfaatannya baginya, dan bagian orang yang tidak hadir tidak dibiarkan tetap di tangan orang yang sebelumnya menguasainya. Inilah pendapat Abu Yusuf dan Muhammad.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: تُقَرُّ حِصَّتُهُ فِي يَدَيْ مَنْ كَانَتْ فِي يَدِهِ، وَلَا تُنْتَزَعُ مِنْهُ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ لَا تُسْمَعُ بِمِلْكٍ إِلَّا بَعْدَ صِحَّةِ الدَّعْوَى. وَالدَّعْوَى لَا تُسْمَعُ إِلَّا مِنْ مَالِكٍ، أَوْ وَكِيلٍ فِيهِ، وَلَمْ يَدَّعِ حِصَّةَ الْغَائِبِ مَالِكٌ وَلَا وَكِيلٌ فَلَمْ تُسْمَعِ الْبَيِّنَةُ لَهُ، وَلَيْسَ كَوْنُ الْحَاضِرِ شَرِيكًا لَهُ فِي الْمِيرَاثِ بِمُوجِبٍ لِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ فِي حَقِّهِمَا، كَالشَّرِيكَيْنِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ، إِذَا أَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ بِدَارٍ فِي شَرِكَتِهَا انْتَزَعَ بِهَا حَقَّ الْحَاضِرِ، وَأَقَرَّ حَقَّ الْغَائِبِ فِي يَدَيْ مَنْ كَانَتْ فِي يَدَيْهِ، كَذَلِكَ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ فِي شَرِكَةِ الْمِيرَاثِ.

Abu Hanifah berkata: Bagian milik orang yang tidak hadir tetap berada di tangan siapa pun yang sedang memegangnya, dan tidak boleh diambil darinya, karena bukti (bayyinah) tidak dapat diterima dalam perkara kepemilikan kecuali setelah gugatan dinyatakan sah. Dan gugatan tidak dapat diterima kecuali dari pemilik atau wakilnya, sementara tidak ada pemilik atau wakil yang menggugat bagian orang yang tidak hadir, maka bukti tidak dapat diterima untuknya. Dan kenyataan bahwa orang yang hadir adalah sekutu dalam warisan tidak menjadi alasan untuk diterimanya bukti atas nama keduanya, sebagaimana dua orang sekutu yang asing, jika salah satu dari mereka mengajukan bukti atas sebuah rumah dalam kepemilikan bersama, maka dengan bukti itu ia dapat mengambil hak orang yang hadir, dan menetapkan hak orang yang tidak hadir tetap di tangan siapa pun yang memegangnya. Demikian pula seharusnya berlaku dalam kepemilikan bersama warisan.

وَدَلِيلُنَا: هُوَ أَنَّ هَذِهِ الدَّعْوَى هِيَ لِلْمَيِّتِ، سُمِعَتْ من وراثه، لِقِيَامِهِ مَقَامَهُ فِيهَا بَعْدَ مَوْتِهِ بِدَلِيلِ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيهِ دِينٌ قَضَى مِنْهَا فوجب انتزاعهما فِي حَقِّ الْمَيِّتِ، وَإِعْطَاءُ الْحَاضِرِ حِصَّتَهُ مِنْهَا، وَوَقْفُ الْبَاقِي عَلَى الْغَائِبِ، وَخَالَفَ الشَّرِيكَيْنِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan dalil kami adalah bahwa tuntutan ini adalah milik mayit, yang didengar dari ahli warisnya, karena ia menempati posisinya setelah kematiannya. Buktinya, jika ayahnya memiliki utang, maka utang itu dibayar dari harta tersebut. Maka wajib mengambil keduanya untuk hak mayit, memberikan bagian yang hadir dari harta itu, dan menahan sisanya untuk yang tidak hadir. Ini berbeda dengan dua orang mitra yang bukan kerabat dalam dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ الشَّرِيكَ مَالِكٌ بِنَفْسِهِ لَا عَنْ غَيْرِهِ، فَكَانَتِ الدَّعْوَى فِي حَقِّهِ مَوْقُوفَةً عَلَيْهِ، وَالِابْنُ مُدَّعٍ لَهَا عَنْ أَبِيهِ الَّذِي لَا تَصِحُّ مِنْهُ الدَّعْوَى، إِلَّا بَعْدَ مَوْتِهِ، فَجَازَ أَنْ يَسْتَوْفِيَ بِهَا جَمِيعَ حَقِّهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya seorang syarik (sekutu) adalah pemilik dengan sendirinya, bukan karena orang lain, sehingga gugatan atas haknya bergantung padanya. Sedangkan anak adalah penggugat atas nama ayahnya yang tidak sah melakukan gugatan kecuali setelah wafatnya, maka diperbolehkan baginya untuk menuntut seluruh haknya dengan gugatan tersebut.

وَالثَّانِي: إِنَّ حَقَّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَخَوَيْنِ، مُرْتَبِطٌ بِحَقِّ الْآخَرِ لَا يَتَمَيَّزُ أَحَدُهُمَا بِشَيْءٍ، دُونَ صَاحِبِهِ، لِذَلِكَ كَانَ مَا تَلَفَ مِنَ الشَّرِكَةِ تَالِفًا مِنْهَا، وَمَا بَقِيَ شَرِكَةً بَيْنَهُمَا، وَحَقُّ الشَّرِيكَيْنِ كَالْمُتَمَيِّزِ مَعَ الْخُلْطَةِ، يَجُوزُ أَنْ يَتْلَفَ لِأَحَدِهِمَا مَا يَسَلَمُ لِلْآخَرِ، فَافْتَرَقَ بِهَذَيْنِ حُكْمُ الْأَخَوَيْنِ، وَحُكْمُ الشَّرِيكَيْنِ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، وَقَدِمَ الْآخَرُ الْغَائِبُ ذَكَرَ لَهُ الْحَاكِمُ، مَا حَكَمَ لَهُ بِمِيرَاثِهِ مِنْ نِصْفِ الدَّارِ، فَإِنِ ادَّعَاهَا سَلَّمَ إِلَيْهِ نِصْفَهَا وَإِنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَقَّ لِي فِيهَا، رَدَّ النِّصْفَ عَلَى مَنْ فِي يَدِهِ، وَلَمْ يُؤَثِّرْ إِنْكَارُهُ فِي حَقِّ أَخِيهِ، لِأَنَّه قَدْ مَلَكَ بَيِّنَةً عَادِلَةً.

Kedua: Sesungguhnya hak masing-masing dari kedua saudara itu saling terkait dengan hak saudaranya, tidak ada salah satu dari keduanya yang memiliki keistimewaan tertentu tanpa yang lain. Oleh karena itu, apa yang rusak dari harta bersama dianggap rusak dari harta bersama itu sendiri, dan apa yang tersisa tetap menjadi milik bersama di antara keduanya. Hak dua orang yang berserikat itu seperti hak orang yang terpisah namun bercampur, sehingga boleh saja salah satu dari mereka kehilangan sesuatu sementara yang lain tetap selamat. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara hukum kedua saudara dan hukum dua orang yang berserikat. Jika demikian keadaannya, lalu salah satu yang sebelumnya tidak hadir datang, hakim memberitahukan kepadanya tentang keputusan yang telah ditetapkan baginya berupa warisan dari setengah rumah. Jika ia mengakuinya, maka diserahkan kepadanya setengah bagian itu. Namun jika ia mengingkarinya dan berkata, “Saya tidak memiliki hak di dalamnya,” maka setengah bagian itu dikembalikan kepada orang yang memegangnya, dan pengingkarannya tidak memengaruhi hak saudaranya, karena saudaranya telah memilikinya dengan bukti yang sah dan adil.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا إِذَا مَا ادَّعَاهُ الِابْنُ، وَأَقَامَ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةَ دَيْنًا فِي الذِّمَّةِ سُلِّمَ إِلَيْهِ حَقُّهُ مِنْهُ، وَهُوَ النِّصْفُ، وَفِي قَبْضِ حِصَّةِ الْغَائِبِ مِنَ الْغَرِيمِ وَجْهَانِ:

Adapun jika anak tersebut mengklaimnya dan mendatangkan bukti atasnya sebagai utang dalam tanggungan, maka haknya atas bagian itu diserahkan kepadanya, yaitu setengahnya. Sedangkan mengenai pengambilan bagian orang yang tidak hadir dari pihak yang berutang, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُقْبَضُ وَيُوضَعُ عَلَى يَدِ أَمِينٍ كَمَا تُقْبَضُ الْأَعْيَانُ مِنَ الدَّارِ، وَمَا لَا يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ مِنْ ثياب وحيوان.

Salah satunya: dipegang dan diletakkan di tangan orang yang terpercaya sebagaimana barang-barang diambil dari rumah, dan barang-barang yang tidak tetap sebagai utang dalam tanggungan, seperti pakaian dan hewan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُقْبَضُ الدَّيْنُ، وَإِنْ وَجَبَ قَبْضُ الْأَعْيَانِ وَيُسْتَبْقَى فِي ذِمَّةِ الْغَرِيمِ بِخِلَافِ الْمُعَيَّنِ، لِأَنَّ قَبْضَهُ لِلْغَائِبِ مُعْتَبَرٌ بِالْأَحْوَطِ، وَاسْتِبْقَاؤُهُ فِي ذِمَّةٍ مَضْمُونَةٍ أَوْلَى مِنْ قَبْضِهِ بِتَرْكِهِ أَمَانَةً إِلَّا أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ عَلَى غَيْرِ ملي، فيقبض وجها واحدا.

Pendapat kedua: Utang tidak diambil (tidak ditarik), meskipun wajib mengambil barang yang berwujud, dan utang tetap berada dalam tanggungan pihak yang berutang, berbeda dengan barang tertentu. Sebab, pengambilan barang untuk orang yang tidak hadir dipertimbangkan dengan kehati-hatian, dan membiarkan utang tetap dalam tanggungan yang terjamin lebih utama daripada mengambilnya lalu meninggalkannya sebagai titipan, kecuali jika utang tersebut berada pada orang yang tidak mampu membayar, maka utang itu diambil tanpa ada perbedaan pendapat.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” فَإِنْ لَمْ يُعْرَفْ عَدَدُهُمْ وَقَفَ مَالَهُ وَتَلوَّمَ به ويسأل عن البلدان التي وطئها هَلْ لَهُ فِيهَا وَلَدٌ؟ فَإِذَا بَلَغَ الْغَايَةَ الَّتِي لَوْ كَانَ لَهُ فِيهَا وَلَدٌ لَعَرَفَهُ وَادَّعَى الِابْنُ أَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ أَعْطَاهُ الْمَالَ بِالضَّمِينِ وَحُكِيَ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ لَهُ إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَجِدْ لَهُ وَارِثَا غَيْرَهُ فَإِذَا جَاءَ وَارِثٌ غَيْرُهُ أَخَذَ الضُّمَنَاءُ بِحَقِّهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika jumlah mereka tidak diketahui, maka hartanya ditahan dan dicari tahu tentangnya, serta ditanyakan tentang negeri-negeri yang pernah ia singgahi, apakah ia memiliki anak di sana? Jika telah sampai pada batas di mana seandainya ia memiliki anak di sana pasti sudah diketahui dan anak itu mengaku bahwa tidak ada ahli waris lain selain dirinya, maka diberikanlah harta itu kepadanya dengan jaminan. Diriwayatkan bahwa tidak diputuskan untuknya kecuali setelah tidak ditemukan ahli waris lain selain dirinya. Jika kemudian datang ahli waris lain, maka para penjamin bertanggung jawab atas haknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي الْبَيِّنَةِ الْكَامِلَةِ إِذَا أَقَامَهَا الِابْنُ الْحَاضِرُ وَوُجُوبُ الْحُكْمِ بِهَا لِلْحَاضِرِ وَالْغَائِبِ. فَأَمَّا الْبَيِّنَةُ النَّاقِصَةُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya tentang bayyinah yang sempurna apabila diajukan oleh anak yang hadir, dan wajibnya memutuskan hukum dengannya baik untuk yang hadir maupun yang tidak hadir. Adapun bayyinah yang tidak sempurna, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَشْهَدَ بِالدَّارِ لِلْمَيِّتِ، وَلَا تَشْهَدَ لِلْحَاضِرِ بِالْبُنُوَّةِ، فَلَا يَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ حَقٌّ لِلْحَاضِرِ، وَلَا لِلْغَائِبِ، وَتَكُونُ الدَّارُ مُقَرَّةً فِي يَدِي مَنْ هِيَ فِي يَدِهِ، لِأَنَّ دَعْوَاهَا لَمْ تُسْمَعْ مِنْ مُسْتَحِقٍّ لَهَا فَلَمْ يَكُنْ لِبَيِّنَتِهِ تَأْثِيرٌ، حَتَّى يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ عَلَى ثُبُوتِ نَسَبِهِ.

Salah satunya: memberikan kesaksian bahwa rumah itu milik si mayit, namun tidak memberikan kesaksian tentang nasab (anak) bagi orang yang hadir. Maka, kesaksian ini tidak menimbulkan hak apa pun bagi orang yang hadir maupun yang tidak hadir, dan rumah itu tetap berada di tangan orang yang saat ini menguasainya, karena klaim atas rumah tersebut tidak diajukan oleh pihak yang berhak, sehingga bukti yang diajukan tidak berpengaruh, sampai ia dapat menghadirkan bukti atas penetapan nasabnya.

فَإِذَا أَقَامَهَا وَثَبَتَ نَسَبُهُ بِهَا، اسْتَغْنَى عَنْ إِعَادَةِ الدَّعْوَى وَالْبَيِّنَةَ، وَإِنْ كَانَا قَبْلَ ثُبُوتِ النَّسَبِ، لِأَنَّ مَا قَدَّمَهُ مِنَ الدَّعْوَى قَدْ تَضَمَّنَتِ الدَّارَ وَالنَّسَبَ عَلَى وَجْهٍ صَحَّ بِهِ سَمَاعُهَا وَلَوْ شَهِدَتْ بَيِّنَتُهُ الْأَوْلَى بِالدَّارِ وَالنَّسَبِ، حُكِمَ لَهُ بِهَا كَذَلِكَ، إِذَا شَهِدَتِ الْأَوْلَى بِالدَّارِ، وَشَهِدَتِ الثَّانِيَةُ بِالنَّسَبِ حُكِمَ بِهِمَا.

Jika ia telah mengajukan gugatan tersebut dan nasabnya telah terbukti karenanya, maka ia tidak perlu mengulangi gugatan dan pembuktian. Namun, jika keduanya dilakukan sebelum nasab terbukti, karena apa yang telah diajukan dalam gugatan sudah mencakup rumah dan nasab dengan cara yang sah untuk didengar. Jika bukti pertamanya bersaksi atas rumah dan nasab, maka diputuskan untuknya atas keduanya. Demikian pula, jika bukti pertama bersaksi atas rumah dan bukti kedua bersaksi atas nasab, maka diputuskan atas keduanya.

وَلَوِ اسْتَأْنَفَ الدَّعْوَى، وَأَعَادَ الْبَيِّنَةَ كَانَ أَوْلَى.

Dan jika ia memulai kembali gugatan dan mengajukan kembali bukti, maka itu lebih utama.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَشْهَدَ الْبَيِّنَةُ بِالدَّارِ لِلْمَيِّتِ، وَتَشْهَدَ لِلْحَاضِرِ بِالْبُنُوَّةِ، وَلَا تَشْهَدَ أَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ، فَقَدْ قَامَتِ الْبَيِّنَةُ بِهِمَا وَكَانَ مَالِكًا لِنَصِيبٍ مَجْهُولٍ مِنَ الدَّارِ، لَا يُعْلَمُ قَدْرُهُ. وَلَهُ حَالَتَانِ:

Jenis kedua: yaitu ketika bayyinah memberikan kesaksian bahwa rumah tersebut milik si mayit, dan memberikan kesaksian bahwa orang yang hadir adalah anaknya, namun tidak memberikan kesaksian bahwa tidak ada ahli waris lain selain dia. Maka bayyinah telah tegak atas kedua hal tersebut, dan orang yang hadir itu menjadi pemilik bagian yang tidak diketahui dari rumah tersebut, yang tidak diketahui kadarnya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَقْدِرَ عَلَى إِقَامَةِ بَيِّنَةٍ بِأَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ.

Yang pertama: yaitu ia mampu menghadirkan bukti bahwa tidak ada ahli waris lain selain dirinya.

الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْجِزَ.

Kedua: yaitu ketika tidak mampu.

فَإِنْ قَدَرَ عَلَى إِقَامَتِهَا، وَشَهِدَتْ بَيِّنَةٌ عَادِلَةٌ، بِأَنْ لَا وَارِثَ غَيْرُهُ نَظَرَ فِي الْبَيِّنَةِ. فَإِنْ كَانَتْ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الْبَاطِنَةِ بِالْمَيِّتِ، عَلَى قَدِيمِ الْوَقْتِ وَحُدُوثِهِ فِي حَضَرِهِ وَسَفَرِهِ سُمِعَتْ، وَحُكِمَ لَهُ بِالْمِيرَاثِ، وَلَمْ يُطَالَبْ بِضَمِينٍ، لِأَنَّه قَدْ أَقَامَ بَيِّنَةً إِنْ لَمْ يَعْمَلْ بِمُوجِبِهَا، أعلمت.

Jika ia mampu menghadirkannya, dan ada kesaksian dari bayyinah yang adil bahwa tidak ada ahli waris selain dirinya, maka hakim meneliti bayyinah tersebut. Jika para saksi itu termasuk orang yang benar-benar mengenal si mayit, baik sejak lama maupun baru-baru ini, baik ketika ia tinggal maupun bepergian, maka kesaksian mereka diterima, dan ia diputuskan berhak menerima warisan, serta tidak diminta penjamin, karena ia telah menghadirkan bayyinah. Jika tidak diamalkan berdasarkan bayyinah tersebut, maka ia diberitahu.

وَإِنْ كَانَتْ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الظَّاهِرَةِ دُونَ الْبَاطِنَةِ لَمْ تَصِحَّ شَهَادَتُهُمْ، بِأَنْ لَا وَارِثَ غَيْرُهُ، لِأَنَّه قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الْبَاطِنِ وَلَدٌ، لَا يَعْلَمُونَ بِهِ فَلَمْ يَصِلُوا بِمَعْرُوفِ الظَّاهِرِ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا قَدْ يَكُونُ فِي الْبَاطِنِ، فَلَمْ يُحْكَمْ بِهِ وَصَارَ كَمَنْ لَمْ يُقِمْ بَيِّنَةً بِأَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ.

Dan jika mereka termasuk orang-orang yang hanya mengetahui keadaan lahiriah saja tanpa mengetahui keadaan batiniah, maka kesaksian mereka tidak sah bahwa tidak ada ahli waris selain dia. Sebab, bisa jadi secara batiniah ia memiliki anak yang mereka tidak ketahui, sehingga pengetahuan mereka yang hanya lahiriah tidak sampai pada pengetahuan tentang apa yang mungkin ada secara batiniah. Maka, tidak diputuskan berdasarkan kesaksian itu, dan keadaannya sama seperti orang yang tidak mendatangkan bukti bahwa tidak ada ahli waris selain dia.

وَإِذَا لَمْ يُقِمْهَا مُنِعَ مِنْ حَقِّهِ فِي الدَّارِ لِلْجَهْلِ بِمِقْدَارِهِ، وَلَزِمَ الْحَاكِمُ أَنْ يَسْتَكْشِفَ عَنْ حَالِ الْمَيِّتِ فِي الْبِلَادِ الَّتِي وَطِئَهَا، وَيُكَاتِبُ حُكَّامَهَا بِالْمَسْأَلَةِ عَنْ حَالِهِ، هَلْ خَلَّفَ فِيهَا وَلَدًا أَوْ وَارِثًا وَيُلْزَمُ به [فإنه] لَا يَخْفَى حَالُ وَارِثٍ لَهُ فِي مِثْلِهِ. فَإِنْ حَضَرَتْهُ بَيِّنَةٌ جَازَ أَنْ يَسْمَعَهَا الْحَاكِمُ مِنْ غَيْرِ دَعْوَى، وَعَلَى غَيْرِ خَصْمٍ، لِأَنَّها بَيِّنَةٌ عَلَى مَا قَدْ لَزِمَ مِنَ الْكَشْفِ فَكَانَتْ فِي حَقِّ نَفْسِهِ لِتَقْيِيدِ مَا قَدْ حَكَمَ بِهِ، وَالْبَيِّنَةُ تَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الْبَاطِنَةِ بِهِ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ لَهُ وَارِثًا غَيْرَهُ، لِأَنَّها بَيِّنَةٌ عَلَى نَفْيٍ فَحُمِلَتْ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْقَطْعِ، فَإِنْ شَهِدُوا أَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ قُبِلُوا وَكَانَتْ شَهَادَتُهُمْ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْعِلْمِ، دُونَ الْقَطْعِ، وَدُفِعَ إِلَيْهِ الْمِيرَاثُ بَعْدَ تَمَامِ الشَّهَادَةِ، مِنْ غَيْرِ ضَمِينٍ.

Dan apabila ia tidak menegakkannya, maka ia dicegah dari haknya atas rumah itu karena ketidaktahuan tentang kadarnya, dan wajib bagi hakim untuk mencari tahu keadaan mayit di negeri-negeri yang pernah didatanginya, serta berkirim surat kepada para hakim di negeri-negeri tersebut untuk menanyakan keadaannya, apakah ia meninggalkan anak atau ahli waris di sana, dan hal ini wajib dilakukan karena tidak tersembunyi keadaan seorang ahli waris baginya di tempat seperti itu. Jika ada bukti yang hadir, maka hakim boleh mendengarkannya tanpa adanya gugatan dan tanpa adanya pihak lawan, karena itu merupakan bukti atas apa yang telah wajib untuk diungkap, sehingga bukti itu berlaku untuk dirinya sendiri guna membatasi apa yang telah diputuskan, dan bukti tersebut berasal dari orang-orang yang benar-benar mengenalnya bahwa mereka tidak mengetahui adanya ahli waris lain selain dirinya, karena itu merupakan bukti atas ketiadaan, sehingga dianggap berdasarkan pengetahuan, bukan kepastian mutlak. Jika mereka bersaksi bahwa tidak ada ahli waris lain selain dirinya, maka kesaksian mereka diterima dan dianggap berdasarkan pengetahuan, bukan kepastian mutlak, dan warisan diserahkan kepadanya setelah kesaksian itu sempurna, tanpa adanya penjamin.

وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ لِلْحَاكِمِ بَيِّنَةٌ، وَبَلَغَ زَمَانَ الْإِيَاسِ مِنَ الظَّفَرِ بِهَا، وَأَنْ يَظْهَرَ مَا لَمْ يَظْهَرَ دَفَعَ إِلَيْهِ الْمَالَ، إِنْ لَمْ يُقِرَّ بِغَيْرِهِ، فَإِنْ أَقَرَّ بِأَخٍ لَهُ غَائِبٍ أَعْطَاهُ نِصْفَ الدَّارِ وَالتَّرِكَةِ، وَكَانَ نِصْفُهَا مَوْقُوفًا عَلَى قُدُومِ الْغَائِبِ.

Jika hakim tidak menemukan bukti yang jelas, dan telah sampai pada masa putus asa untuk mendapatkan bukti tersebut, serta tidak ada harapan lagi akan munculnya bukti yang belum tampak, maka hakim menyerahkan harta itu kepadanya, jika ia tidak mengakui adanya orang lain yang berhak. Namun, jika ia mengakui bahwa ia memiliki saudara yang sedang tidak hadir, maka hakim memberinya separuh dari rumah dan warisan, dan separuhnya lagi ditahan sampai kedatangan orang yang tidak hadir tersebut.

فَأَمَّا مُطَالَبَةُ الْحَاضِرِ بِإِقَامَةِ ضَمِينٍ فيها، ودفع إِلَيْهِ احْتِيَاطًا؛ لِظُهُورِ شَرِيكٍ قَدْ يَكُونُ لَهُ فِي الْمِيرَاثِ حَقٌّ، فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ مَا يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الضَّمِينِ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْإِقْرَارِ: مَا يَدُلُّ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِيهِ عَلَى أَرْبَعَةِ مَذَاهِبَ:

Adapun menuntut pihak yang hadir untuk menghadirkan penjamin dalam masalah ini, dan menyerahkannya sebagai tindakan kehati-hatian karena kemungkinan munculnya seorang rekan yang mungkin memiliki hak dalam warisan, maka asy-Syafi‘i dalam masalah ini telah menyatakan sesuatu yang menunjukkan wajibnya penjamin, dan beliau berkata dalam Kitab al-Iqrār sesuatu yang menunjukkan anjuran (istihbāb) penjamin. Maka para pengikutnya berbeda pendapat dalam hal ini menjadi empat mazhab.

أَحَدُهَا: أَنْ خَرَّجُوا اخْتِلَافَ نَصِّهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ:

Salah satunya: bahwa mereka menafsirkan perbedaan nash beliau dalam dua tempat tersebut sebagai perbedaan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجِبُ لِيَكُونَ نُفُوذُ الْحُكْمِ عَلَى الْأَحْوَطِ.

Salah satunya: wajib agar keputusan dapat berlaku dengan lebih hati-hati.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُسْتَحَبُّ فَلَا تَجِبُ لِأَنَّها وَثِيقَةٌ لِغَيْرِ مُطَالِبٍ.

Pendapat kedua: Disunnahkan, maka tidak wajib, karena ia merupakan bentuk penjaminan untuk pihak yang tidak menuntut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنْ كَانَ هَذَا الْوَارِثُ مِمَّنْ لَا يَسْقُطُ بِغَيْرِهِ كَالِابْنِ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ إِقَامَةُ ضَمِينٍ، وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يُسْقَطُ بِغَيْرِهِ كَالْأَخِ، وَجَبَ عَلَيْهِ إِقَامَةُ ضَمِينٍ.

Pendapat kedua: Jika ahli waris tersebut termasuk orang yang tidak gugur hak warisnya karena adanya ahli waris lain, seperti anak laki-laki, maka ia tidak wajib menghadirkan penjamin. Namun jika ia termasuk orang yang hak warisnya dapat gugur karena adanya ahli waris lain, seperti saudara laki-laki, maka ia wajib menghadirkan penjamin.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: إِنْ كَانَ أَمِينًا لَمْ يُجِبْ عَلَيْهِ إِقَامَةُ ضَمِينٍ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ أَمِينٍ، وَجَبَ عَلَيْهِ.

Pendapat ketiga: Jika ia adalah orang yang terpercaya, maka tidak wajib baginya untuk menghadirkan penjamin. Namun jika ia bukan orang yang terpercaya, maka wajib baginya menghadirkan penjamin.

فَإِنْ قِيلَ: لِمَ قُلْتُمْ تُقَسِّمُونَ مَالَ الْمُفْلِسِ بَيْنَ غُرَمَائِهِ بَعْدَ إِشَاعَةِ أَمْرِهِ مِنْ غَيْرِ ضَمِينٍ مَعَ جَوَازِ ظُهُورِ غَرِيمٍ.

Jika dikatakan: Mengapa kalian membagi harta orang yang pailit di antara para krediturnya setelah tersebarnya perkara kepailitannya tanpa adanya penjamin, padahal masih dimungkinkan munculnya kreditur lain?

قِيلَ: لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، بِأَنَّ حُقُوقَ الْغُرَمَاءِ مُتَحَقِّقَةٌ وَحَقُّ هَذَا الْوَارِثِ غَيْرُ مُتَحَقَّقٍ، فَإِذَا دَفَعَ الْحَاكِمُ الْمَالَ إِلَيْهِ عَلَى مَا وَصَفْنَا كَتَبَ قِصَّتَهُ، وَذَكَرَ فِيهَا أَنَّ دَفْعَ الْمَالِ إِلَيْهِ بَعْدَ الْكَشْفِ الظَّاهِرِ مِنْ غَيْرِ حُكْمٍ قَاطِعٍ بِأَمْرِ الِاسْتِحْقَاقِ لِيَكُونَ إِنْ ظَهَرَ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمِيرَاثِ غَيْرُ مَدْفُوعٍ بِنُفُوذِ الْحُكْمِ عليه بإبطال حقه منه، ليمكن من المطالبة وإقامة البينة.

Dikatakan: Karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu bahwa hak para kreditur telah pasti, sedangkan hak ahli waris ini belum pasti. Maka apabila hakim menyerahkan harta kepadanya sebagaimana yang telah kami jelaskan, ia menuliskan kisahnya dan menyebutkan di dalamnya bahwa penyerahan harta kepadanya dilakukan setelah pemeriksaan lahiriah tanpa adanya putusan hukum yang bersifat pasti mengenai hak kepemilikan, agar jika kemudian ternyata ada orang lain yang berhak sebagai sekutu dalam warisan, haknya tidak gugur karena adanya keputusan hukum yang membatalkan haknya, sehingga ia masih dapat menuntut dan mengajukan bukti.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ كَانَ مَكَانَ الِابْنِ أَوْ مَعَهُ زَوْجَةٌ وَلَا يَعْلَمُونَهُ فَارَقَهَا أَعْطَيْتُهَا رُبُعَ الثُّمُنِ لِأَنَّ مِيرَاثَهَا مَحْدُودٌ لِلْأَكْثَرِ وَالْأَقَلِ الثُّمُنُ وَرُبُعُ الثُّمُنِ وَمِيرَاثُ الِابْنِ غَيْرُ مَحْدُودٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika yang ada di tempat anak laki-laki atau bersamanya adalah seorang istri, dan mereka tidak mengetahuinya lalu ia berpisah darinya, maka aku memberinya seperempat dari seperdelapan, karena warisannya telah ditentukan untuk jumlah terbanyak dan paling sedikit, yaitu seperdelapan dan seperempat dari seperdelapan, sedangkan warisan anak laki-laki tidak terbatas.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو مُدَّعِي الْمِيرَاثِ، إِذَا أَقَامَ الْبَيِّنَةَ بِسَبَبِ مِيرَاثِهِ، وَعَدَمِ الْبَيِّنَةِ، بِأَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa seseorang yang mengaku sebagai ahli waris, apabila ia mengajukan bukti atas sebab ia memperoleh warisan, dan tidak adanya bukti bahwa tidak ada ahli waris lain selain dirinya, maka keadaannya tidak lepas dari tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَا يُسْقَطُ بِحَالٍ كَالِابْنِ، فَيُوقَفُ أَمْرُهُ فِي الْحَالِ عَلَى الْكَشْفِ، وَلَا يُدْفَعُ إِلَيْهِ مِنَ التَّرِكَةِ شَيْءٌ، لِأَنَّه لَيْسَ لَهُ قَدْرٌ مُتَيَقَّنٌ، فَإِنْ لَمْ يَبِنْ بَعْدَ كَشْفِ الْحَاكِمِ وَارِثٌ غَيْرُهُ، دُفِعَ إِلَيْهِ الْمِيرَاثُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ حَالِ الضَّمِينِ.

Salah satunya: yaitu apabila ia termasuk orang yang tidak gugur hak warisnya dalam keadaan apa pun, seperti anak laki-laki, maka urusannya ditangguhkan sementara hingga ada kejelasan, dan tidak diberikan kepadanya sedikit pun dari harta warisan, karena bagi dirinya belum ada bagian yang pasti. Jika setelah penjelasan dari hakim tidak ditemukan ahli waris lain selain dirinya, maka diberikan kepadanya warisan tersebut sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam keadaan ada penjamin.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ يَجُوزُ أَنْ يَرِثَ فِي حَالٍ كَالْأَخِ، فَيُوقَفُ أَمْرُهُ عَلَى الْكَشْفِ، فَإِنْ لَمْ يَبِنْ لِلْحَاكِمِ بَعْدَ طُولِ الْكَشْفِ وَارِثٌ سِوَاهُ، وَلَمْ يُقِمُ الْبَيِّنَةَ بِأَنْ لَا وَارِثَ لَهُ سِوَاهُ. فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَجْرِي مَجْرَى الِابْنِ فِي دَفْعِ الْمِيرَاثِ إِلَيْهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Bagian kedua: yaitu seseorang yang dalam keadaan tertentu boleh mewarisi, seperti saudara laki-laki, maka urusannya ditangguhkan sampai ada kejelasan. Jika setelah pencarian yang panjang hakim tidak menemukan ahli waris lain selain dia, dan dia tidak dapat menghadirkan bukti bahwa tidak ada ahli waris lain selain dirinya, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah ia diperlakukan seperti anak dalam hal penyerahan warisan kepadanya? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِهِمْ: إِنَّهُ يدفع إليه كالابن، لأن لَمْ يُعْلَمْ وَارِثٌ غَيْرُهُ.

Salah satunya, yaitu pendapat mayoritas mereka: bahwa harta itu diberikan kepadanya seperti kepada anak, karena tidak diketahui adanya ahli waris selain dia.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى الْأَبَدِ، حَتَّى تَقُومَ الْبَيِّنَةُ بِأَنْ لَا وَارِثَ لَهُ غَيْرُهُ بِخِلَافِ الِابْنِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الِابْنَ وَارِثٌ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا بِيَقِينٍ، وَالْأَخُ مَشْكُوكٌ فِيهِ، هَلْ هُوَ وَارِثٌ، أَوْ غَيْرُ وَارِثٍ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَرِثَ إِلَّا بِيَقِينٍ، وَهَكَذَا حُكْمُ ابْنِ الِابْنِ لِجَوَازِ سُقُوطِهِ بِالِابْنِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Ibnu Surayj, menyatakan bahwa statusnya tetap tergantung selamanya hingga ada bukti yang menunjukkan bahwa tidak ada ahli waris lain selain dia, berbeda dengan anak laki-laki, karena terdapat perbedaan antara keduanya: anak laki-laki pasti menjadi ahli waris dalam segala keadaan dengan keyakinan, sedangkan saudara laki-laki masih diragukan, apakah ia menjadi ahli waris atau tidak. Maka tidak boleh ia mewarisi kecuali dengan keyakinan. Demikian pula hukum anak laki-laki dari anak laki-laki, karena mungkin gugur hak warisnya oleh keberadaan anak laki-laki.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَا يَسْقُطُ بِحَالٍ، وَلَهُ فَرْضٌ مُقَدَّرٌ كَالْأَبَوَيْنِ، وَالزَّوْجَيْنِ، فَيُدْفَعُ إِلَيْهِ أَقَلُّ فَرْضِهِ، لِأَنَّه يَسْتَحِقُّهُ بِيَقِينٍ وَيُوقَفُ أَكْثَرُهُ عَلَى الْكَشْفِ، فَإِنْ كَانَ أَبًا دُفِعَ إِلَيْهِ السُّدُسَ مَعُولًا.

Bagian ketiga: yaitu mereka yang tidak gugur haknya dalam keadaan apa pun, dan memiliki bagian yang telah ditetapkan, seperti kedua orang tua dan pasangan suami-istri. Maka diberikan kepada mereka bagian terendah dari haknya, karena bagian itu sudah pasti menjadi haknya, sedangkan sisanya ditangguhkan sampai kejelasan diperoleh. Jika yang dimaksud adalah ayah, maka diberikan kepadanya seperenam bagian terlebih dahulu.

وَإِنْ كَانَتْ أُمًّا فَكَذَلِكَ يُدْفَعُ السُّدُسُ مَعُولًا. وَإِنْ كَانَ زَوْجًا، دُفِعَ إِلَيْهِ الرُّبْعُ مَعُولًا، وَإِنْ كَانَتْ زَوْجَةً دُفِعَ إِلَيْهَا رُبْعُ الثُّمُنِ مَعُولًا، لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ وَاحِدَةً مِنْ أَرْبَعٍ فَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ بَعْدَ طُولِ الْكَشْفِ مَنْ يَحْجُبُ هَؤُلَاءِ عَنْ أَعْلَى الْفَرْضَيْنِ صَارَ كَالِابْنِ يُدْفَعُ إِلَيْهِ بَاقِي فَرْضِهِ الْأَعْلَى بِضَمِينٍ عَلَى ما ذكرناه من الوجوه.

Jika yang ada adalah ibu, maka demikian pula, diberikan kepadanya seperenam secara ma‘ūl. Jika yang ada adalah suami, diberikan kepadanya seperempat secara ma‘ūl. Jika yang ada adalah istri, diberikan kepadanya seperempat dari seperdelapan secara ma‘ūl, karena dimungkinkan ia adalah salah satu dari empat istri. Jika setelah pencarian yang panjang tidak ditemukan siapa yang menghalangi mereka dari bagian yang lebih tinggi, maka keadaannya seperti anak laki-laki, diberikan kepadanya sisa dari bagian yang lebih tinggi dengan penjamin, sebagaimana telah kami sebutkan pada beberapa sisi.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا مَاتَتْ زَوْجَتُهُ وَابْنُهُ مِنْهَا فَقَالَ أَخُوهَا مَاتَ ابْنُهَا ثَمَّ مَاتَتْ فَلِي مِيرَاثِي مَعَ زَوْجِهَا وَقَالَ زَوْجُهَا بَلْ مَاتَتْ فَأُحْرِزُ أَنَا وَابْنِي الْمَالَ ثُمَّ مَاتَ ابْنِي فَالْمَالُ لِي فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْأَخِ لأنَهُ وَارِثٌ لِأُخْتِهِ وَعَلَى الَذِي يَدَّعِي أَنَّهُ مَحْجُوبٌ الْبَيِّنَةُ وَعَلَى الْأَخِ فِيمَا يَدَّعِي أَنَّ أُخْتَهُ وَرِثَتِ ابْنَهَا الْبَيِّنَةُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika istrinya meninggal dunia dan anaknya dari istri tersebut juga meninggal, lalu saudara perempuan istrinya berkata, ‘Anaknya meninggal lebih dahulu, kemudian istrinya meninggal, maka aku berhak atas warisanku bersama suaminya.’ Sementara suaminya berkata, ‘Justru istriku yang meninggal lebih dahulu, sehingga aku dan anakku berhak atas harta tersebut, lalu anakku meninggal, maka hartanya menjadi milikku.’ Maka yang dipegang adalah pernyataan saudara perempuan itu, karena dia adalah ahli waris bagi saudarinya. Adapun yang mengaku bahwa dia terhalang (dari warisan), maka wajib baginya menghadirkan bukti. Dan atas saudara perempuan itu juga wajib menghadirkan bukti dalam hal klaim bahwa saudarinya mewarisi anaknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي امْرَأَةٍ ذَاتِ زَوْجٍ، وَابْنٍ، وَأَخٍ، مَاتَتْ وَابْنُهَا، وَاخْتَلَفَ زَوْجُهَا، وَأَخُوهَا فَقَالَ الْأَخُ: مَاتَ ابْنُهَا قَبْلَهَا فَكَانَ مِيرَاثُهُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا، ثُمَّ مَاتَتْ بَعْدَهُ، فَكَانَ مِيرَاثُهَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ، فَلَكَ مِيرَاثُ زَوْجٍ هُوَ النِّصْفُ، وَلِي مَعَكَ مِيرَاثُ أَخٍ، هُوَ النِّصْفُ وَقَالَ الزَّوْجُ: بَلْ مَاتَتِ الزَّوْجَةُ قَبْلَ ابْنِهَا، فَوَرِثْتُهَا مَعَ ابْنِهَا دُونَكَ ثُمَّ مَاتَ الِابْنُ فَوَرِثْتُهُ دُونَكَ.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang wanita yang memiliki suami, anak laki-laki, dan saudara laki-laki. Wanita itu meninggal bersama anaknya, lalu suaminya dan saudaranya berselisih. Saudaranya berkata: “Anaknya meninggal lebih dulu darinya, sehingga warisannya terbagi antara engkau dan dia. Kemudian ia (wanita itu) meninggal setelahnya, maka warisannya terbagi antara aku dan engkau. Maka engkau mendapatkan bagian waris sebagai suami, yaitu setengah, dan aku bersamamu mendapatkan bagian waris sebagai saudara laki-laki, yaitu setengah.” Sementara suaminya berkata: “Justru istriku meninggal lebih dulu daripada anaknya, sehingga aku mewarisinya bersama anaknya tanpa engkau. Kemudian anak itu meninggal, maka aku mewarisinya tanpa engkau.”

فَإِنْ كَانَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةٌ بِمَا ادَّعَاهُ، حُكِمَ بِهَا، وَإِنْ عُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ، كَانَ تنازعهما في تقدم الموت، وتأخره معتبرا بالغرقى، والهدمى، فَيُقْطَعُ التَّوَارُثُ بَيْنَ الْمَيِّتِينَ، وَيَجْعَلُ تَرِكَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِلْحَيِّ مِنْ وَرَثَتِهِ فَيُجْعَلُ تَرِكَةُ الِابْنِ لِأَبِيهِ، كَأَنَّهُ لَا أُمَّ لَهُ، وَيُجْعَلُ تَرِكَةُ الْأُمِّ بَيْنَ زَوْجِهَا، وَأَخِيهَا، كَأَنَّهُ لَا ابْنَ لَهَا، فَيُعْطَى زَوْجُهَا النِّصْفُ وَالنِّصْفُ الْبَاقِي لِلْأَخِ.

Jika salah satu dari keduanya memiliki bukti atas apa yang ia klaim, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Namun jika tidak ada bukti, maka perselisihan mereka tentang siapa yang lebih dahulu wafat dan siapa yang belakangan diperlakukan seperti kasus orang-orang yang mati tenggelam atau tertimpa reruntuhan, sehingga terputuslah saling mewarisi antara kedua mayit tersebut, dan harta warisan masing-masing diberikan kepada ahli waris yang masih hidup dari pihaknya. Maka harta warisan anak diberikan kepada ayahnya, seakan-akan ia tidak memiliki ibu, dan harta warisan ibu dibagikan kepada suaminya dan saudaranya, seakan-akan ia tidak memiliki anak, sehingga suaminya mendapat setengah dan setengah sisanya untuk saudaranya.

فَإِنْ قِيلَ: فَالزَّوْجُ يَدَّعِي مِنْ تَرِكَتِهَا مَعَ الِابْنِ الرُّبُعَ، فَلِمَ أُعْطِيَ النِّصْفَ وَهُوَ لَا يَدَّعِيهِ؟ قِيلَ: هُوَ وَإِنِ ادَّعَى الرُّبُعَ بِمِيرَاثِهِ عَنْهَا، فَقَدِ ادَّعَى بَاقِيهِ بِمِيرَاثِهِ عَنْ أَبِيهِ مَعَ اخْتِلَافِ السَّبَبَيْنِ، فَصَارَ بِإِعْطَاءِ النِّصْفِ مَدْفُوعًا عَنِ اسْتِحْقَاقِ الْكُلِّ، فَصَارَ مُعْطي بَعْضَ مَا ادَّعَى وَلَمْ يُعْطَ أَكْثَرَ مِنْهُ.

Jika dikatakan: Suami menuntut seperempat dari harta warisan istrinya bersama anak, lalu mengapa ia diberikan setengah padahal ia tidak menuntutnya? Maka dijawab: Meskipun ia menuntut seperempat sebagai warisannya dari istrinya, ia juga menuntut sisanya sebagai warisannya dari ayahnya, meskipun sebabnya berbeda. Maka dengan memberinya setengah, ia telah dicegah dari memperoleh seluruhnya, sehingga ia hanya diberikan sebagian dari apa yang ia tuntut dan tidak diberikan lebih dari itu.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ وَرِثَ هَذِهِ الْأَمَةَ مِنْ أَبِيهِ وَأَقَامَتِ امْرَأَةٌ الْبَيِّنَةَ أَنَّ أَبَاهُ أَصْدَقَهَا إِيَّاهَا فَهِيَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا يَبِيعُهَا وَلَمْ يُعْلَمْ شُهُودُ الْمِيرَاثِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti bahwa ia mewarisi budak perempuan ini dari ayahnya, lalu seorang perempuan mendatangkan bukti bahwa ayah orang tersebut telah menjadikannya sebagai mahar untuknya, maka budak perempuan itu menjadi milik perempuan tersebut, sebagaimana jika ayahnya menjual budak itu, dan para saksi waris tidak mengetahui hal tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي أَمَةٍ تَنَازَعَهَا ابْنٌ مَيِّتٌ، وَزَوْجَتُهُ، فَقَالَ الِابْنُ: هَذِهِ الْأَمَةُ لِي وَرِثْتُهَا مَعَكِ عَنْ أَبِي، وَقَالَتِ الزَّوْجَةُ: هَذِهِ الْأَمَةُ لِي مَلَكْتُهَا عَنْ أَبِيكَ بِصَدَاقِي.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang budak perempuan yang diperselisihkan oleh seorang anak laki-laki dari orang yang telah meninggal dan istrinya. Anak laki-laki itu berkata, “Budak perempuan ini milikku, aku mewarisinya bersamamu dari ayahku.” Sedangkan sang istri berkata, “Budak perempuan ini milikku, aku memilikinya dari ayahmu sebagai mahar.”

فَإِنْ عُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُ الِابْنِ مَعَ يَمِينِهِ، لِأَنَّها عَلَى أَصْلِ مِلْكِ الْأَبِ، وَمَوْرُوثِهِ عَنْهُ، وَدَعْوَى الزَّوْجَةِ لَهَا صَدَاقًا غَيْرُ مَقْبُولَةٍ، كَمَا لَوِ ادَّعَتْهَا ابْتِيَاعًا.

Jika tidak ada bukti, maka pernyataan anaklah yang diterima dengan sumpahnya, karena harta tersebut pada asalnya adalah milik ayah dan merupakan warisan darinya. Klaim istri bahwa harta itu adalah mahar baginya tidak dapat diterima, sebagaimana jika ia mengklaim bahwa harta itu adalah hasil pembelian.

وَإِنْ أَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً عَلَى مَا ادَّعَاهُ، فَشَهِدَتْ بَيِّنَةُ الِابْنِ أَنَّ أَبَاهُ خَلَّفَهَا مِيرَاثًا، وَشَهِدَتْ بَيِّنَةُ الزَّوْجَةِ أَنَّهُ جَعَلَهَا لَهَا صَدَاقًا، حُكِمَ لِلزَّوْجَةِ دُونَ الِابْنِ، لِأَنَّ بَيِّنَتَهَا أَعْلَمَتْ زِيَادَةً لَمْ تُعْلِمْهَا بَيِّنَةُ الِابْنِ فَكَانَ الْحُكْمُ بِالزِّيَادَةِ أَوْلَى، كَمَا لَوِ ادَّعَتْ بِالِابْتِيَاعِ كَانَتْ بَيِّنَةُ الِابْتِيَاعِ أَوْلَى مِنْ بَيِّنَةِ الْوَرَثَةِ.

Jika masing-masing dari keduanya mendatangkan bukti atas apa yang mereka klaim, lalu bukti dari pihak anak menyatakan bahwa ayahnya meninggalkan harta itu sebagai warisan, dan bukti dari pihak istri menyatakan bahwa harta itu dijadikan sebagai mahar untuknya, maka keputusan diberikan kepada istri, bukan kepada anak. Sebab, bukti dari pihak istri menunjukkan adanya tambahan informasi yang tidak ditunjukkan oleh bukti dari pihak anak, sehingga keputusan dengan tambahan informasi itu lebih utama. Hal ini seperti jika istri mengklaim bahwa harta itu diperoleh dengan pembelian, maka bukti pembelian lebih diutamakan daripada bukti dari para ahli waris.

وَلِأَنَّ الْمَيِّتَ لَوْ كَانَ حَيًّا فَقَامَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ فِي أَمَةٍ يَمْلِكُهَا أَنَّهُ بَاعَهَا، أَوْ أَصْدَقَهَا قُضِيَ بِهَا عَلَيْهِ، وَإِنْ أَنْكَرَهَا. والله أعلم.

Dan karena jika orang yang telah meninggal itu masih hidup, lalu ada bukti yang tegak atas dirinya mengenai seorang budak perempuan yang dimilikinya bahwa ia telah menjualnya, atau menjadikannya sebagai mahar, maka keputusan akan dijatuhkan atasnya, meskipun ia mengingkarinya. Dan Allah lebih mengetahui.

(باب الدعوى في وقت قبل وقت)

(Bab tentang gugatan pada waktu sebelum waktunya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي يَدِ رَجُلٍ فَأَقَامَ رَجُلٌ بَيِّنَةً أَنَّهُ مُنْذُ سِنِينَ وَأَقَامَ الَّذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ لَهُ مِنْذُ سَنَةٍ فَهُوَ لِلَذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ وَلَمْ أنظر على قَدِيمِ الْمِلْكِ وَحَدِيثِهِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) أَشْبَهُ بِقَوْلِهِ أَنْ يَجْعَلَ الْمِلْكَ لِلْأَقْدَمِ أَوْلَى كَمَا جَعَلَ ملك النتاج أولى وقد يمكن أن يكون صاحب النتاج قد أخرجه من ملكه كما أمكن أن يكون صاحب الملك الأقدم أخرجه من ملكه “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak berada di tangan seseorang, lalu ada orang lain yang mendatangkan bukti bahwa budak itu telah menjadi miliknya sejak beberapa tahun yang lalu, dan orang yang memegang budak itu sekarang juga mendatangkan bukti bahwa budak itu miliknya sejak satu tahun yang lalu, maka budak itu menjadi milik orang yang sedang memegangnya. Aku tidak mempertimbangkan antara kepemilikan lama dan kepemilikan baru.” (Al-Muzani berkata) “Yang lebih mirip dengan pendapat beliau adalah menjadikan kepemilikan bagi yang lebih lama atau lebih utama, sebagaimana beliau menjadikan kepemilikan hasil ternak lebih utama. Namun bisa saja pemilik hasil ternak telah mengeluarkannya dari kepemilikannya, sebagaimana juga bisa saja pemilik lama telah mengeluarkannya dari kepemilikannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي رَجُلَيْنِ تَدَاعَيَا عَيْنًا مَنْقُولَةً، كَعَبْدٍ، أَوْ دَابَّةٍ، أَوْ غَيْرِ مَنْقُولَةٍ كدار أو عقار.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada dua orang laki-laki yang saling mengklaim suatu barang yang dapat dipindahkan, seperti budak atau hewan tunggangan, atau barang yang tidak dapat dipindahkan seperti rumah atau tanah.

وأقام الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ مُنْذُ سَنَةٍ. وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ مُنْذُ شَهْرٍ، أَوْ أَطْلَقَ الشَّهَادَةَ بِالْمِلْكِ فِي الْحَالِ أَوْ فِي مُدَّةٍ هِيَ أَقْصَرُ. فَلَا يَخْلُو حَالُ الْمِلْكِ الْمُتَنَازَعِ فِيهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Dan ia menghadirkan bukti bahwa barang itu miliknya sejak satu tahun yang lalu. Sedangkan yang lain menghadirkan bukti bahwa barang itu miliknya sejak satu bulan yang lalu, atau ia menyatakan kepemilikan saat ini secara umum, atau dalam jangka waktu yang lebih singkat. Maka, keadaan kepemilikan yang diperselisihkan tidak lepas dari tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ فِي يد غَيْرِهِمَا.

Salah satunya: apabila berada di tangan selain mereka berdua.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي يَدَيْ أَحَدِهِمَا.

Dan yang kedua: yaitu apabila berada di tangan salah satu dari keduanya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ فِي أَيْدِيهِمَا.

Ketiga: yaitu berada dalam genggaman keduanya.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: إِذَا كَانَ الْمِلْكُ فِي يَدَيْ غَيْرِهِمَا وَلِأَحَدِهِمَا بَيِّنَةٌ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ مُنْذُ سَنَةٍ، وَالْآخَرُ بَيِّنَةٌ لِحَدِيثِ الْمِلْكِ مُنْذُ شَهْرٍ، فَفِيهِمَا قَوْلَانِ:

Adapun bagian pertama: jika kepemilikan berada di tangan selain keduanya, dan salah satu dari mereka memiliki bukti atas kepemilikan lama sejak setahun yang lalu, sedangkan yang lain memiliki bukti atas kepemilikan baru sejak sebulan yang lalu, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ: أَنَّهُمَا سَوَاءٌ، لَا يَتَرَجَّحُ مَنْ شَهِدَتْ بِقَدِيمٍ عَلَى الْأُخْرَى لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya, yaitu pendapat yang dipilih oleh Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, adalah bahwa keduanya sama saja; tidak ada yang lebih kuat antara yang memberikan kesaksian atas peristiwa lama dibandingkan yang lain, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا تَنَازَعَا مِلْكَهَا فِي الْحَالِ، فَلَمْ تُؤَثِّرْ بَيِّنَةُ مَا شَهِدَتْ بِمَا قَبِلَهَا، لِأَنَّه غَيْرُ مُتَنَازَعٍ فِيهِ.

Salah satunya: bahwa keduanya berselisih tentang kepemilikannya saat ini, maka kesaksian yang membuktikan apa yang diakuinya tidak berpengaruh, karena hal itu bukan perkara yang diperselisihkan.

وَالثَّانِي: إِنَّ الشَّهَادَةَ بِحَدِيثِ الْمِلْكِ، لَمْ تُنْفَ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ وَإِنْ أَثْبَتَتْهُ الْأُخْرَى فَصَارَتَا مُتَكَافِئَتَيْنِ.

Kedua: Sesungguhnya kesaksian dengan hadis kepemilikan tidak gugur dengan adanya kepemilikan lama, meskipun kesaksian yang lain menetapkannya, sehingga keduanya menjadi setara.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ أَظْهَرُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيِّ، إِنَّ الشَّهَادَةَ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ أَرْجَحُ، وَالْحَكَمُ بِهَا أَوْلَى لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua, yang lebih kuat dan dipegang oleh Abu Hanifah serta dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa kesaksian atas kepemilikan lama lebih utama, dan keputusan berdasarkan kesaksian tersebut lebih layak karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا قَدْ تَعَارَضَتَا فِي أَقَلِّ الْمُدَّتَيْنِ، وَأَثْبَتَتِ الْمُتَقَدِّمَةُ مِلْكًا لَمْ يُعَارَضْ فِيهِ فَوَجَبَ وَقَفُ الْمُتَعَارِضِ، وَأَمْضَى مَا لَيْسَ فِيهِ تَعَارُضٌ.

Salah satunya: Sesungguhnya keduanya telah bertentangan dalam masa yang paling singkat, dan yang lebih dahulu telah menetapkan kepemilikan yang tidak ada pertentangan di dalamnya, maka wajib menangguhkan bagian yang bertentangan, dan melaksanakan apa yang tidak ada pertentangan di dalamnya.

وَالثَّانِي: إِنَّ ثُبُوتَ مِلْكِ الْمُتَقَدِّمِ يَمْنَعُ أَنْ يَمْلِكَهُ الْمُتَأَخِّرُ إِلَّا عَنْهُ، وَلَمْ تَتَضَمَّنْهُ الشَّهَادَةُ، فَلَمْ يَحْكُمْ بِهَا، فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ.

Kedua: Sesungguhnya keberadaan kepemilikan pihak yang lebih dahulu menghalangi pihak yang datang belakangan untuk memilikinya kecuali darinya, dan hal itu tidak tercakup dalam kesaksian, maka tidak diputuskan dengannya. Dengan demikian, penjelasan kedua pendapat telah menjadi jelas.

فَإِنْ قِيلَ بِتَسَاوِيهِمَا عَلَى الْقَوْلِ الْأَوَّلِ، صَارَتَا مُتَعَارِضَتَيْنِ فَيَكُونُ فِيهِمَا ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ:

Jika dikatakan bahwa keduanya setara menurut pendapat pertama, maka keduanya menjadi saling bertentangan sehingga terdapat tiga pendapat di dalamnya:

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُهَا وَالرُّجُوعُ إِلَى صَاحِبِ الْيَدِ.

Salah satunya: menggugurkannya dan mengembalikannya kepada pemilik tangan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا، وَالْحُكْمُ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا.

Pendapat kedua: dilakukan undian di antara keduanya, dan keputusan diberikan kepada siapa yang terpilih melalui undian di antara mereka.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُهَا، وَقَسْمُ الشَّيْءِ بَيْنَهُمَا، وَهَذَا الْقَوْلُ يَجِيءُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ لِمَكَانِ الِاشْتِرَاكِ.

Pendapat ketiga: menggunakan (barang tersebut) dan membaginya di antara keduanya, dan pendapat ini muncul dalam konteks ini karena adanya unsur kepemilikan bersama.

فَإِنْ قِيلَ بِتَرْجِيحِ الْبَيِّنَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ عَلَى الْبَيِّنَةِ بِحَدِيثِهِ، وَجُعِلَ الْحُكْمِ فِيهَا أَوْلَى، ثَبَتَ لِصَاحِبِهَا الْمِلْكُ مِنَ الْمُدَّةِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَحُكِمَ لَهُ بِمَا حَدَثَ عَنِ الْمِلْكِ مِنْ نِتَاجٍ، وَنَمَاءٍ وَغَلَّةٍ فِي تِلْكَ الْمُدَّةِ، وَإِلَى وَقْتِهِ، ثُمَّ يُبْنَى عَلَى هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ مَا جَعَلَهُ الْمُزَنِيُّ أَصْلًا. وَهُوَ إِنْ تَنَازَعَا دَابَّةً، فَيُقِيمُ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ نِتْجُهَا فِي مِلْكِهِ وَيُقِيمُ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ وَلَا يَقُولُونَ نَتَجَهَا فِي مِلْكِهِ.

Jika diputuskan untuk menguatkan bukti (bayyinah) kepemilikan lama atas bukti kepemilikan baru, dan hukum lebih didahulukan pada bukti tersebut, maka kepemilikan dari masa yang lampau tetap menjadi milik pemiliknya, dan diputuskan baginya segala hasil yang muncul dari kepemilikan itu, seperti anak, pertumbuhan, dan hasil selama masa tersebut hingga saat ini. Kemudian, berdasarkan dua pendapat ini, apa yang dijadikan al-Muzani sebagai dasar juga dibangun di atasnya. Yaitu, jika dua orang berselisih tentang seekor hewan, lalu salah satunya mendatangkan bukti bahwa hewan itu adalah hasil dari hewan miliknya, dan yang lain mendatangkan bukti bahwa hewan itu miliknya tanpa mengatakan bahwa hewan itu lahir di kepemilikannya.

حَكَى الْمُزَنِيِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَعَلَهَا لِمَنْ أَقَامَ الْبَيِّنَةَ، أَنَّهُ نَتَجُهَا فِي مِلْكِهِ، وَجَعَلَهُ شَاهِدًا عَلَى الْحُكْمِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ دُونَ حَدِيثِهِ، فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي النِّتَاجِ: هَلْ يَتَرَجَّحُ بِالْبَيِّنَةِ قَوْلًا وَاحِدًا، أَوْ يَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالشَّهَادَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ؟ وَذَهَبَ ابْنُ سُرَيْجٍ وَابْنُ خَيْرَانَ إِلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمَا، وَأَنَّهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ:

Al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu bahwa beliau menetapkan kepemilikan bagi siapa yang mendatangkan bukti bahwa hewan itu lahir di dalam kepemilikannya, dan beliau menjadikannya sebagai saksi atas penetapan hukum berdasarkan kepemilikan lama, bukan kepemilikan baru. Maka para ulama kami berbeda pendapat tentang masalah kelahiran hewan: apakah dengan adanya bukti, pendapat menjadi satu, ataukah ada dua pendapat sebagaimana kesaksian atas kepemilikan lama? Ibnu Surayj dan Ibnu Khairan berpendapat untuk menyamakan keduanya, dan bahwa dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّهُمَا سَوَاءٌ فِي التَّعَارُضِ.

Salah satunya: bahwa keduanya sama dalam hal saling bertentangan.

وَالثَّانِي: إِنَّهُ يَتَرَجَّحُ الْبَيِّنَةُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، وَبِالنِّتَاجِ عَلَى الْبَيِّنَةِ الْخَالِيَةِ مِنْهُمَا.

Kedua: Bahwa bukti yang disertai dengan kepemilikan lama dan hasil keturunan lebih kuat dibandingkan bukti yang tidak disertai keduanya.

وَحَكَى أَبُو عَلِيِّ بْنُ خَيْرَانَ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ أَنَّ الشَّهَادَةَ بِالنِّتَاجِ لَيْسَتْ مِنْ مَنْصُوصَاتِ الشَّافِعِيِّ، وَإِنَّمَا أَوْرَدَهَا الْمُزَنِيِّ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ.

Abu Ali bin Khairan meriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Suraij bahwa kesaksian tentang kelahiran bukan termasuk hal-hal yang secara eksplisit dinyatakan oleh asy-Syafi‘i, melainkan al-Muzani sendiri yang mengemukakannya dari dirinya sendiri.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى صِحَّةِ نَقْلِهِ، وَأَنَّ بَيِّنَةَ النِّتَاجِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَقْوَى مِنَ الْبَيِّنَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَلَئِنْ لَمْ يَكُنِ النِّتَاجُ مَسْطُورًا، فَقَدْ نَقَلَهُ عَنْهُ سَمَاعًا، وَفَرَّقُوا بَيْنَ النِّتَاجِ وَقَدِيمِ الْمِلْكِ فِي الْقُوَّةِ، بِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِالنِّتَاجِ عَلَى مِلْكِهِ تَنْفِي أَنْ يَتَقَدَّمَ عَلَيْهِمَا مِلْكٌ لِغَيْرِهِ، فَصَارَ النِّتَاجُ بِهَذَا الْفَرْقِ أَقْوَى مِنْ قَدِيمِ الْمِلْكِ، فَلِذَلِكَ رُجِّحَتِ الْبَيِّنَةُ بِالنِّتَاجِ قَوْلًا وَاحِدًا، وَكَانَ تَرْجِيحُهَا بِقَدِيمِ الْمِلْكِ عَلَى قَوْلَيْنِ. وَهَكَذَا لَوْ تَنَازَعَا ثَوْبًا، وَأَقَامَ أَحَدُهُمَا، الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّهُ لَهُ نَسَجَهُ فِي مِلْكِهِ، وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّهُ لَهُ، وَلَمْ يَقُولُوا نَسَجَهُ فِي مِلْكِهِ. كَانَ كَالْبَيِّنَةِ بِالنِّتَاجِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الشَّرْحِ.

Mayoritas ulama mazhab kami berpendapat bahwa riwayat tersebut sahih, dan bahwa bukti (bayyinah) tentang hasil keturunan (najāh) menurut Imam Syafi‘i lebih kuat daripada bukti dengan kepemilikan lama (qadīm al-milk) menurut dua pendapat. Jika hasil keturunan itu tidak tertulis, maka telah diriwayatkan darinya secara pendengaran. Mereka membedakan antara hasil keturunan dan kepemilikan lama dalam hal kekuatan, yaitu bahwa kesaksian tentang hasil keturunan atas kepemilikannya menafikan adanya kepemilikan sebelumnya oleh orang lain atas keduanya, sehingga dengan perbedaan ini, hasil keturunan menjadi lebih kuat daripada kepemilikan lama. Oleh karena itu, bukti dengan hasil keturunan lebih diunggulkan secara ijma‘, sedangkan penguatan bukti dengan kepemilikan lama masih diperselisihkan. Demikian pula jika dua orang bersengketa atas sebuah pakaian, lalu salah satunya menghadirkan bukti bahwa pakaian itu miliknya karena ia menenunnya dalam kepemilikannya, sementara yang lain hanya menghadirkan bukti bahwa pakaian itu miliknya tanpa menyebutkan bahwa ia menenunnya dalam kepemilikannya, maka hal itu seperti bukti dengan hasil keturunan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فَأَمَّا إِذَا شَهِدَتْ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا بِسَبَبِ الْمِلْكِ مِنْ الِابْتِيَاعِ، أَوْ مِيرَاثٍ وَشَهِدَتِ الْأُخْرَى بِالْمِلْكِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ سَبَبِهِ، فَيَكُونُ التَّرْجِيحُ بِذِكْرِ السَّبَبِ كَالتَّرْجِيحِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Adapun jika salah satu dari kedua pihak menghadirkan bukti dengan menyebutkan sebab kepemilikan, seperti pembelian atau warisan, sedangkan pihak lainnya menghadirkan bukti kepemilikan tanpa menyebutkan sebabnya, maka penguatan (tarjīḥ) dengan penyebutan sebab diperlakukan seperti penguatan dengan kepemilikan yang lebih lama. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: إِنَّ النَّسْجَ مُلْحَقٌ بِالنِّتَاجِ وَذِكْرَ السَّبَبِ مُلْحَقٌ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ.

Salah satunya: bahwa hasil tenunan disamakan dengan hasil ternak, dan penyebutan sebab disamakan dengan kepemilikan lama.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: إِذَا كَانَ الْمِلْكُ فِي يَدَيْ أَحَدِهِمَا وَشَهِدَتْ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا أَنَّهُ لَهُ مُنْذُ سَنَةٍ، وَشَهِدَتْ بَيِّنَةُ الْآخَرِ أَنَّهُ لَهُ مُنْذُ شَهْرٍ، فَإِنْ كَانَتِ الْبَيِّنَةُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ لِصَاحِبِ الْيَدِ، حُكِمَ لَهُ بِالْمِلْكِ. لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَجَمِيعِ أَصْحَابِهِ، لِأَنَّه قَدْ تَرَجَّحَ بِالْيَدِ، وَبِقَدِيمِ الْمِلْكِ، وإن كَانَتِ الْبَيِّنَةُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ الْخَارِجِ، دُونَ صَاحِبِ الْيَدِ تَرَجَّحَ أَحَدُهُمَا بِالْيَدِ وَتَرَجَّحُ الْآخَرُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، فَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا أَنَّهَا تَكُونُ لِصَاحِبِ الْيَدِ تَرْجِيحًا بِيَدِهِ عَلَى قَدِيمِ الْمِلْكِ، وَتَابَعَهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ، وبه قال أبو حنيفة، فإن حَكَمَ بِبَيِّنَةِ صَاحِبِ الْيَدِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَإِنْ كَانَ يَرَى أَنَّ بَيِّنَةَ الْخَارِجِ أَوْلَى مِنْ بَيِّنَةِ صَاحِبِ الْيَدِ، لِأَنَّه يَمْنَعُ مِنْ بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ، إِذَا لَمْ تُفِدْ إِلَّا مَا أَفَادَتِ الْيَدُ.

Adapun bagian kedua: jika kepemilikan berada di tangan salah satu dari mereka, dan bukti (bayyinah) salah satu dari mereka menyatakan bahwa barang itu miliknya sejak satu tahun yang lalu, sementara bukti pihak lainnya menyatakan bahwa barang itu miliknya sejak satu bulan yang lalu, maka jika bayyinah tentang kepemilikan lama dimiliki oleh pihak yang memegang barang, maka diputuskan kepemilikan untuknya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi‘i dan seluruh pengikutnya, karena telah lebih kuat dengan adanya pegangan (yad) dan kepemilikan lama. Namun jika bayyinah tentang kepemilikan lama dimiliki oleh pihak luar, bukan oleh pihak yang memegang barang, maka salah satu dari mereka lebih kuat dengan pegangan (yad), dan yang lain lebih kuat dengan kepemilikan lama. Pendapat yang ditegaskan oleh Imam Syafi‘i di sini adalah bahwa barang itu menjadi milik pihak yang memegangnya, karena keunggulan pegangan (yad) atas kepemilikan lama. Mayoritas pengikutnya mengikuti pendapat ini, dan demikian pula pendapat Abu Hanifah, karena ia memutuskan berdasarkan bayyinah pihak yang memegang barang dalam kasus ini, meskipun ia berpendapat bahwa bayyinah pihak luar lebih utama daripada bayyinah pihak yang memegang barang, karena ia menolak bayyinah pihak dalam jika tidak memberikan manfaat selain apa yang telah diberikan oleh pegangan (yad).

فَأَمَّا إِذَا أَفَادَتْ زِيَادَةً عَلَى مَا أَفَادَتْهُ الْيَدُ، فَإِنَّهُ يُقَدِّمُهَا عَلَى بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، وَقَدْ أَفَادَتْ هَذِهِ الْبَيِّنَةُ زِيَادَةً عَلَى مَا أَفَادَتْهُ يَدُهُ، فَلِذَلِكَ قَدَّمَهَا عَلَى بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، وَعَلَى قَوْلِ أَبِي يُوسُفَ، وَمُحَمَّدٍ، تَكُونُ بَيِّنَةُ الْخَارِجِ أَوْلَى فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا.

Adapun jika memberikan tambahan atas apa yang diberikan oleh kepemilikan tangan, maka ia mendahulukannya atas bukti dari pihak luar. Bukti ini telah memberikan tambahan atas apa yang diberikan oleh kepemilikan tangannya, oleh karena itu didahulukan atas bukti dari pihak luar. Menurut pendapat Abu Yusuf dan Muhammad, bukti dari pihak luar lebih utama dalam seluruh keadaan.

وَذَهَبَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمِرْوَزِيِّ، وَمَنْ تَابَعَهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ: إِلَى أَنَّ التَّرْجِيحَ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ أَوْلَى مِنَ التَّرْجِيحِ بِالْيَدِ، فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ أَحَدُهُمَا يَحْكُمُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ إِذَا رَجَحَتْ بِهِ الْبَيِّنَةُ، وَالثَّانِي يَحْكُمُ لِصَاحِبِ الْيَدِ إِذَا لَمْ تَتَرَجَّحْ بِهِ الْبَيِّنَةُ، وَاحْتَجَّ فِي تَرْجِيحِ قَدِيمِ الْمِلْكِ عَلَى التَّرْجِيحِ بِالْيَدِ، بِأَنَّهُ لَوْ شَهِدَتْ بَيِّنَةُ مُدَّعٍ أَنَّ هَذِهِ الدَّارَ كَانَتْ لَهُ بِالْأَمْسِ حُكِمَ لَهُ بِمِلْكِ الدَّارِ فِي الْيَوْمِ اسْتِدَامَةً لِمِلْكِهِ، وَلَوْ شَهِدَتْ لَهُ أَنَّهَا كَانَتْ فِي يَدِهِ بِالْأَمْسِ لَمْ يُحْكَمْ لَهُ بِالْيَدِ فِي الْيَوْمِ، وَلَمْ يُوجِبِ اسْتِدَامَةَ يَدِهِ.

Abu Ishaq al-Marwazi dan para pengikutnya dari kalangan ulama Syafi‘iyah berpendapat bahwa tarjih (penguatan dalil) dengan qadiim al-milk (kepemilikan lama) lebih utama daripada tarjih dengan al-yad (penguasaan fisik), sehingga dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya, memutuskan berdasarkan qadiim al-milk jika bukti lebih kuat mendukungnya; dan yang kedua, memutuskan untuk pihak yang memegang (al-yad) jika bukti tidak lebih kuat mendukung qadiim al-milk. Mereka berdalil dalam menguatkan qadiim al-milk atas al-yad, bahwa jika ada bukti yang menyatakan bahwa rumah ini kemarin adalah miliknya, maka diputuskan kepemilikan rumah itu untuknya hari ini sebagai kelanjutan dari kepemilikannya. Namun jika bukti hanya menyatakan bahwa rumah itu kemarin ada di tangannya, maka tidak diputuskan kepemilikan tangan (al-yad) untuknya hari ini, dan tidak mewajibkan kelanjutan penguasaannya.

وَهَذَا خَطَأٌ مِنْ قَائِلِهِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ تُزَادُ لِإِثْبَاتِ الْيَدِ، فَإِذَا تَرَجَّحَتْ إِحْدَاهُمَا بِالْيَدِ، وَافَقَتْ مُوجِبَهَا، وَخَالَفَتْ مُوجَبَ الْأَصْلِ، فَكَذَلِكَ تَرَجَّحَتِ الْبَيِّنَةُ بِهَا، وَهَذَا الْمَعْنَى مَوْجُودٌ فِي قَدِيمِ الْمِلْكِ وَحَدِيثِهِ.

Ini adalah kesalahan dari orang yang mengatakannya, karena bayyinah ditambahkan untuk menetapkan kepemilikan (al-yad). Jika salah satu dari keduanya lebih kuat dengan adanya kepemilikan, maka itu sesuai dengan tuntutannya dan bertentangan dengan tuntutan asal. Demikian pula, bayyinah menjadi lebih kuat karenanya. Makna ini terdapat baik pada kepemilikan lama maupun baru.

فَأَمَّا مَا اسْتُشْهِدَ بِهِ مِنْ قَدِيمِ الْيَدِ، وَقَدِيمِ الْمِلْكِ، فَهُمَا سَوَاءٌ لَا يُحْكَمُ فِيهِمَا بِاسْتِدَامَةِ الْيَدِ، وَلَا بِاسْتِدَامَةِ الْمِلْكِ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنَّهُ كَانَ مَالِكًا لَهَا بِالْأَمْسِ، وَإِلَى وَقْتِهِ، لِأَنَّ النِّزَاعَ فِي مِلْكِهَا، فَالْوَقْتُ دُونَ مَا تَقَدَّمَ فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ بِالْمُتَقَدِّمِ مِنْ غَيْرِ التَّنَازُعِ، فَلَمْ يُحْكَمْ بِهَا، لِأَنَّه قَدْ يَمْلِكُ مَا يَزُولُ عَنْهُ مِلْكُهُ فِي الْيَوْمِ. فَإِنْ كَانَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ يَرَى الْحُكْمَ بِهَا فِي اليوم مذهبا لنفسه، خُولِفَ فِيهِ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَا.

Adapun dalil yang digunakan berupa kepemilikan lama (qadīm al-yad) dan kepemilikan lama atas harta (qadīm al-milk), keduanya sama saja, tidak dapat dijadikan dasar hukum hanya dengan keberlangsungan penguasaan atau keberlangsungan kepemilikan, kecuali mereka bersaksi bahwa ia adalah pemiliknya kemarin dan sampai waktu sekarang, karena perselisihan terjadi pada kepemilikannya. Maka waktu sekarang lebih utama daripada masa lalu, sehingga kesaksian atas masa lalu tanpa adanya perselisihan tidak dapat dijadikan dasar hukum, karena bisa saja seseorang memiliki sesuatu yang kepemilikannya hilang darinya pada hari itu juga. Jika Abu Ishaq al-Marwazi berpendapat bahwa hukum dapat ditetapkan dengan dasar itu pada hari ini sebagai pendapat pribadinya, maka pendapat tersebut diselisihi dengan alasan yang telah kami sebutkan.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِذَا رَجَّحْتُمُ الْبَيِّنَةَ بِالْيَدِ، فَهَلَّا رَجَّحْتُمْ بِزِيَادَةِ الْعَدَدِ؟

Jika dikatakan: Jika kalian menguatkan bukti dengan kepemilikan (yad), mengapa kalian tidak menguatkan dengan jumlah yang lebih banyak?

قِيلَ: لِأَنَّ زِيَادَةَ الْعَدَدِ لَمْ تُفِدْ زِيَادَةً عَلَى مَا أَفَادَتْهُ زِيَادَةُ الْبَيِّنَةِ، وَالْيَدُ أَفَادَتْ مِنْ زِيَادَةِ التَّصَرُّفِ مَا لَمْ تُفِدِ الْبَيِّنَةُ، فَلِذَلِكَ تَرَجَّحَتِ الْبَيِّنَةُ بِالْيَدِ، وَلَمْ تَتَرَجَّحْ بِزِيَادَةِ الْعَدَدِ.

Dikatakan: Karena penambahan jumlah tidak memberikan tambahan manfaat dibandingkan apa yang telah diberikan oleh penambahan bayyinah, sedangkan kepemilikan (yad) memberikan tambahan dalam hal penguasaan yang tidak diberikan oleh bayyinah. Oleh karena itu, bayyinah menjadi lebih kuat dengan adanya kepemilikan (yad), dan tidak menjadi lebih kuat hanya dengan penambahan jumlah.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: إِذَا كَانَ الْمِلْكُ فِي أَيْدِيهِمَا، وَكَانَ دَارًا فَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِأَنَّ جَمِيعَ الدَّارِ لَهُ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian ketiga: jika kepemilikan berada di tangan keduanya, dan yang dimaksud adalah sebuah rumah, lalu masing-masing dari keduanya mengklaim bahwa seluruh rumah itu miliknya, maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَتَكَافَأَ الْبَيِّنَتَانِ، وَلَا تَشْهَدَ إِحْدَاهُمَا بِقَدِيمِ الْمِلْكِ فَقَدْ أَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَتَهُ بِمِلْكِ جَمِيعِ الدَّارِ الَّتِي نِصْفُهَا بِيَدِهِ، وَنِصْفُهَا بِيَدِ الْآخَرِ، فَصَارَ لَهُ فِيمَا بِيَدِهِ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ وَفِيمَا فِي يَدِ صَاحِبِهِ بَيِّنَةُ خَارِجٍ، فَتَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ فِي الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ.

Salah satu di antaranya adalah ketika kedua bukti (bayyinah) seimbang, dan tidak ada salah satunya yang memberikan kesaksian atas kepemilikan lama. Maka masing-masing dari keduanya telah menghadirkan bukti atas kepemilikan seluruh rumah yang setengahnya berada di tangannya dan setengahnya lagi di tangan yang lain. Maka, untuk bagian yang ada di tangannya, ia memiliki bayyinah sebagai pihak yang berada di dalam (dākhil), dan untuk bagian yang ada di tangan temannya, ia memiliki bayyinah sebagai pihak yang berada di luar (khārij). Maka kedua bayyinah tersebut saling bertentangan dalam hal kepemilikan sebagai pihak di dalam dan di luar.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ تَعَارُضَهُمَا مُوجِبٌ لِسُقُوطِهِمَا حَلَفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ، وَأُقِرَّتِ الدَّارُ فِي أَيْدِيهِمَا مِلْكًا بِالْيَدِ وَالتَّحَالُفِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya pertentangan keduanya menyebabkan gugurnya keduanya, maka masing-masing dari mereka berdua bersumpah untuk kepentingan pihak lainnya, dan rumah tersebut tetap di tangan mereka berdua sebagai milik berdasarkan kepemilikan melalui penguasaan (al-yad) dan sumpah (tahālu f).

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ تَعَارُضَهُمَا مُوجِبٌ لِاسْتِعْمَالِهِمَا وَقَسْمِ الْمِلْكِ بَيْنَهُمَا، فَلَا يَمِينَ عَلَيْهِمَا، وَتُجْعَلُ الدَّارُ بَيْنَهُمَا مِلْكًا بِالْبَيِّنَةِ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya pertentangan antara keduanya mengharuskan untuk menggunakan keduanya dan membagi kepemilikan di antara mereka, maka tidak ada sumpah atas keduanya, dan rumah itu dijadikan milik bersama di antara mereka berdasarkan bukti.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَشْهَدَ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا بِقَدِيمِ الْمِلْكَ وَتَشْهَدَ بَيِّنَةُ الْآخَرِ بِحَدِيثِ الْمِلْكِ، فَإِنْ لَمْ تُجْعَلِ الشَّهَادَةُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ تَرْجِيحًا لِلْبَيِّنَةِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، فَالْجَوَابُ عَلَى مَا مَضَى مِنْ تَكَافُؤِ الْبَيِّنَتَيْنِ فِي جَعْلِ الدَّارِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، بِالْيَدِ وَالْيَمِينِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، وَبِالْبَيِّنَةِ مِنْ غَيْرِ يَمِينٍ فِي الْقَوْلِ الثَّانِي، وَإِنْ تَرَجَّحَتِ الشَّهَادَةُ بِقَدِيمِ الْمَالِكِ عَلَى الْقَوْلِ الثَّانِي خَلُصَ لِصَاحِبِهَا النِّصْفُ الَّذِي فِي يَدِهِ، وَتَقَابَلَ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ، تَرْجِيحُ بَيِّنَةٌ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، وَتَرْجِيحِ بَيِّنَةِ الْآخَرِ بِالْيَدِ، فَعَلَى قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ يُحْكَمُ بِهِ لِمَنْ تَرَجَّحَتْ بَيِّنَتُهُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، فَتَصِيرُ جَمِيعُ الدَّارِ لَهُ لِأَنَّه يَجْعَلُ التَّرْجِيحَ بِتَقْدِيمِ الْمِلْكِ أَقْوَى مِنَ التَّرْجِيحِ بِالْيَدِ وَعَلَى الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ يُحْكَمُ بِالنِّصْفِ الْآخَرِ لِصَاحِبِ الْيَدِ، لِأَنَّه يَجْعَلُ التَّرْجِيحَ بِالْيَدِ أَقْوَى مِنَ التَّرْجِيحِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ فَتَصِيرُ الدَّارُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ بِغَيْرِ أَيْمَانٍ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّه مَحْكُومٌ بَيْنَهُمَا فِي النِّصْفَيْنِ بِتَرْجِيحِ الْبَيِّنَتَيْنِ مِنْ غير إسقاط لهما ولا قسمة باستعمالها. والله أعلم.

Jenis kedua: Jika salah satu dari mereka menghadirkan bukti (bayyinah) atas kepemilikan lama, dan yang lain menghadirkan bukti atas kepemilikan baru, maka jika kesaksian atas kepemilikan lama tidak dijadikan sebagai penguat bagi bukti menurut salah satu dari dua pendapat, maka jawabannya sama seperti yang telah lalu, yaitu ketika kedua bukti seimbang, rumah tersebut dibagi dua antara keduanya, dengan mempertimbangkan kepemilikan (al-yad) dan sumpah pada salah satu pendapat, dan dengan bukti tanpa sumpah pada pendapat yang lain. Namun, jika kesaksian atas kepemilikan lama lebih kuat menurut pendapat kedua, maka setengah bagian yang ada di tangannya menjadi miliknya, dan pada setengah bagian lainnya, terjadi pertentangan antara penguatan bukti dengan kepemilikan lama dan penguatan bukti dengan kepemilikan (al-yad). Menurut pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, diputuskan untuk yang lebih kuat buktinya dengan kepemilikan lama, sehingga seluruh rumah menjadi miliknya, karena ia menganggap penguatan dengan mendahulukan kepemilikan lebih kuat daripada penguatan dengan kepemilikan (al-yad). Sedangkan menurut pendapat yang tampak dari mazhab asy-Syafi‘i dan mayoritas pengikutnya, diputuskan setengah bagian lainnya untuk pemilik yang memegang (al-yad), karena mereka menganggap penguatan dengan kepemilikan (al-yad) lebih kuat daripada penguatan dengan kepemilikan lama, sehingga rumah itu menjadi milik bersama antara keduanya, masing-masing setengah, tanpa sumpah menurut satu pendapat, karena telah diputuskan antara keduanya pada kedua bagian dengan penguatan kedua bukti tanpa menggugurkan keduanya dan tanpa pembagian dengan menggunakannya. Allah Maha Mengetahui.

(باب الدعوى على كتاب أبي حنيفة)

(Bab Gugatan terhadap Kitab Abu Hanifah)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَإِذَا أَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ اشْتَرَى هَذِهِ الدَّارَ مِنْهُ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَنَقَدَهُ الثَّمَنَ وَأَقَامَ الْآخَرُ بَيِّنَةً أَنَّهُ اشْتَرَاهَا مِنْهُ بِمِائَتِي دِرْهَمٍ وَنَقَدَهُ الثَّمَنَ بِلَا وَقْتٍ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ إِنْ شَاءَ أَخَذَ نِصْفَهَا بِنِصْفِ الثَّمَنِ الَّذِي سَمَّى شُهُودَهُ وَيَرْجِعُ بِالنِّصْفِ وَإِنْ شَاءَ رَدَّهَا وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ: إِنً الْقَوْلَ قَوْلُ الْبَائِعِ فِي الْبَيْعِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) هَذَا أَشْبَهُ بِالْحَقِّ عِنْدِي لأن البينتين قد تكافأتا وللمقر له بالدار سبب ليس لصاحبه كما يدعيانها جميعا ببينة وهي في يد أحدهما فتكون لمن هي في يديه لقوة سببه عنده على سبب صاحبه (قال المزني) رحمه الله وقد قال لو أقام كل واحد منهما البينة على دابة أنه نتجها أبطلتهما وقبلت قول الذي هي في يديه “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika salah satu dari keduanya mendatangkan bukti bahwa ia membeli rumah ini darinya seharga seratus dirham dan telah membayar harganya, lalu yang lain mendatangkan bukti bahwa ia membelinya darinya seharga dua ratus dirham dan telah membayar harganya tanpa menyebutkan waktu, maka masing-masing dari keduanya berhak memilih: jika ia mau, ia mengambil setengah rumah dengan setengah harga yang disebutkan oleh para saksinya dan ia mengambil kembali setengahnya, atau jika ia mau, ia mengembalikannya. Dan beliau berkata di tempat lain: ‘Ucapan yang dipegang adalah ucapan penjual dalam jual beli.’ (Al-Muzani berkata:) Ini menurutku lebih mendekati kebenaran, karena kedua bukti tersebut seimbang dan orang yang diakui kepemilikannya atas rumah itu memiliki sebab yang tidak dimiliki oleh yang lain, sebagaimana keduanya sama-sama mengakuinya dengan bukti, dan rumah itu berada di tangan salah satu dari mereka, maka rumah itu menjadi milik orang yang memegangnya karena sebab yang dimilikinya lebih kuat daripada sebab yang dimiliki oleh yang lain. (Al-Muzani rahimahullah berkata:) Dan beliau juga mengatakan, ‘Jika masing-masing dari keduanya mendatangkan bukti atas seekor hewan bahwa ia yang melahirkannya, maka kedua bukti itu gugur dan diterima ucapan orang yang memegang hewan itu.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: جَمَعَ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْبَابِ بَيْنَ ثَلَاثِ مَسَائِلَ نَقَلَهَا عَنِ الشَّافِعِيِّ:

Al-Mawardi berkata: Al-Muzani dalam bab ini telah mengumpulkan tiga permasalahan yang ia nukil dari asy-Syafi‘i.

فَالْأُولَى: بائع ومشتريان.

Yang pertama: seorang penjual dan dua pembeli.

والثانية: بائع وَمُشْتَرِيَانِ.

Yang kedua: seorang penjual dan dua orang pembeli.

وَالثَّالِثَةُ: مُشْتَرٍ وَبَائِعَانِ.

Yang ketiga: satu pembeli dan dua penjual.

فَأَمَّا الْأُولَى: هِيَ مَسْأَلَتُنَا فَصُورَتُهَا فِي رَجُلَيْنِ تَدَاعَيَا ابْتِيَاعَ دَارٍ مِنْ رَجُلٍ وَاحِدٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: اشْتَرَيْتُهَا مِنْهُ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَنَقَدْتُهُ الثَّمَنَ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً. وَقَالَ الْآخَرُ إِنَّمَا اشْتَرَيْتُهَا مِنْهُ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ، وَنَقَدْتُهُ الثَّمَنَ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun yang pertama: inilah permasalahan kita, yaitu gambaran kasusnya adalah dua orang laki-laki saling mengaku telah membeli sebuah rumah dari satu orang yang sama. Salah satu dari keduanya berkata, “Aku membelinya darinya seharga seratus dirham, dan aku telah membayar harganya,” lalu ia menghadirkan bukti atas hal itu. Sedangkan yang lain berkata, “Aku membelinya darinya seharga dua ratus dirham, dan aku telah membayar harganya,” lalu ia juga menghadirkan bukti atas hal itu. Maka kasus ini terbagi menjadi dua bentuk:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي الْبَيِّنَةِ بَيَانٌ عَلَى تَقَدُّمِ أَحَدِ الْعَقْدَيْنِ، عَلَى الْآخَرِ.

Salah satunya adalah bahwa dalam bukti terdapat penjelasan mengenai adanya salah satu dari dua akad yang lebih dahulu daripada yang lainnya.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَكُونَ فِيهَا بَيَانٌ، فَإِنْ بَانَ بِهِمَا تَقْدِيمُ أَحَدِ الْعَقْدَيْنِ عَلَى الْآخَرِ، بِأَنَّ تَشْهَدَ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا، أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ فِي رَجَبٍ وَتَشْهَدَ بَيِّنَةُ الْآخَرِ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ، وَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ، فِي يَوْمِ السَّبْتِ، وَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ الْآخَرِ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ فِي يَوْمِ الْأَحَدِ، فَهُمَا فِي تَقَارُبِ هَذَيْنِ الزَّمَانَيْنِ وَتَبَاعُدِهِ سَوَاءٌ. فَيَحْكُمُ بِصِحَّةِ الْعَقْدِ الْأَوَّلِ، وَإِبْطَالِ الثَّانِي، لِأَنَّه قَدْ زَالَ بِالْأَوَّلِ مِلْكُ الْبَائِعِ، فَصَارَ في الثاني بَائِعًا لِغَيْرِ مِلْكٍ فَيَرْجِعُ الثَّانِي عَلَى الْبَائِعِ بِالثَّمَنِ. لِقِيَامِ الْبَيِّنَةِ بِقَبْضِهِ لَهُ وَيَكُونُ الْأَوَّلُ أَحَقُّ بِالدَّارِ وَلَا يَدُلُّ ذَلِكَ عَلَى مِلْكِهِ فِي الدَّارِ، لِأَنَّه قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْبَائِعُ غَيْرُ مَالِكٍ حَتَّى يَقُولَ الشُّهُودُ إِنَّهُ بَاعَهَا، وَهُوَ مَالِكُهَا، أَوْ يَقُولُوا إِنَّهَا لِهَذَا الْمُشْتَرِي بِابْتِيَاعِهَا مِنْ هَذَا الْبَائِعِ، فَتَدُلُّ لَهُ الشَّهَادَةُ بِأَحَدِ الْأَمْرَيْنِ عَلَى مِلْكِ الْمُشْتَرِي، وَصِحَّةِ عَقْدِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ بَيَانٌ عَلَى تَقَدُّمِ أَحَدِ الْعَقْدَيْنِ، وَذَلِكَ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ إِمَّا أَنْ لَا يَكُونَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا تَارِيخٌ، أَوْ تُؤَرَّخُ إِحْدَاهُمَا دُونَ الْأُخْرَى، أَوْ تُؤَرَّخُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا إِلَى وَقْتٍ وَاحِدٍ، لَا يَتَقَدَّمُ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، فَيَكُونُ بَيَانُ التَّقَدُّمِ مَعْدُومًا عَلَى الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ تَخْلُ حَالُ الدَّارِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَحْوَالٍ:

Kedua: Tidak terdapat penjelasan di dalamnya. Jika dengan keduanya menjadi jelas adanya pendahuluan salah satu dari dua akad atas yang lain, misalnya salah satu bukti persaksian menyatakan bahwa ia membelinya darinya pada bulan Rajab, dan bukti persaksian yang lain menyatakan bahwa ia membelinya darinya pada bulan Sya‘ban, atau salah satu bukti persaksian menyatakan bahwa ia membelinya darinya pada hari Sabtu, dan bukti persaksian yang lain menyatakan bahwa ia membelinya darinya pada hari Ahad, maka baik waktu kedua akad itu berdekatan maupun berjauhan, hukumnya sama. Maka diputuskan keabsahan akad yang pertama dan pembatalan akad yang kedua, karena dengan akad yang pertama kepemilikan penjual telah hilang, sehingga pada akad yang kedua ia menjual sesuatu yang bukan miliknya. Maka pembeli kedua berhak menuntut kembali harga kepada penjual, karena adanya bukti bahwa ia telah menerima harga tersebut, dan pembeli pertama lebih berhak atas rumah itu. Namun hal ini tidak menunjukkan kepemilikannya atas rumah tersebut, karena bisa jadi penjual bukanlah pemiliknya, kecuali para saksi menyatakan bahwa ia menjualnya dan ia adalah pemiliknya, atau mereka mengatakan bahwa rumah itu menjadi milik pembeli ini karena membelinya dari penjual tersebut. Maka persaksian itu menunjukkan salah satu dari dua hal, yaitu kepemilikan pembeli dan keabsahan akadnya. Jika dalam kedua bukti persaksian tidak ada penjelasan tentang pendahuluan salah satu dari dua akad, dan hal itu bisa terjadi dalam tiga keadaan: bisa jadi tidak ada tanggal pada keduanya, atau salah satunya bertanggal dan yang lain tidak, atau keduanya bertanggal pada waktu yang sama sehingga tidak ada yang mendahului yang lain, maka penjelasan tentang pendahuluan menjadi tidak ada pada ketiga keadaan tersebut. Jika demikian, maka keadaan rumah itu tidak lepas dari empat kemungkinan:

إِحْدَاهَا: أَنْ تَكُونَ فِي يَدِ الْبَائِعِ.

Salah satunya: barang itu berada di tangan penjual.

وَالثَّانِيَةِ: أَنْ تَكُونَ فِي يَدِ أَحَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ.

Dan yang kedua: barang itu berada di tangan salah satu dari kedua pembeli.

وَالثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ فِي أَيْدِيهِمَا.

Ketiga: bahwa (barang tersebut) berada di tangan keduanya.

وَالرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ.

Keempat: berada di tangan orang lain yang bukan mahram.

(فصل)

(Bab)

: فأما الحالة الْأَوْلَى: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ فِي يَدِ الْبَائِعِ: فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَصْدِيقِ الْبَائِعِ، لِإِحْدَى البينتين هل يوجب ترجيها عَلَى الْأُخْرَى؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun keadaan pertama, yaitu barang berada di tangan penjual: para ulama kami berbeda pendapat mengenai kepercayaan kepada penjual, apakah adanya salah satu dari dua bukti menyebabkan lebih diutamakan daripada yang lain? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيِّ وَأَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ، إِنَّ تَصْدِيقَ الْبَائِعِ لِإِحْدَاهُمَا مَقْبُولٌ، تَتَرَجَّحُ بِهِ بَيِّنَتُهُ، لِأَنَّه أَصْلُ ذُو يَدٍ فَعَلَى هَذَا يَرْجِعُ إِلَى بَيَانِهِ فِي أَيِّ الْعَقْدَيْنِ تَقَدَّمَ وَلَا يَرْجِعُ إِلَى بَيَانِهِ أَيُّهُمَا بَاعَ، لِأَنَّه قَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ الْبَيِّعَانِ بِالْبَيِّنَةِ، فَيُرْجَعُ إِلَيْهِ بِالتَّقَدُّمِ مِنْهُمَا، فَإِذَا بَيَّنَ أَحَدَهُمَا التَّقَدُّمَ كَانَ الْبَيْعُ لَهُ، وَلَا يَمِينَ عَلَى الْآخَرِ، لِأَنَّه لَوْ رَجَعَ عَنْ قَوْلِهِ لَمْ يَقْبَلْ، وَلَيْسَ يَغْرَمُ لِلْآخَرِ الْقِيمَةَ، وَإِنَّمَا يَرُدُّ عَلَيْهِ الثَّمَنَ، فَلِذَلِكَ لَمْ تَلْزَمْهُ الْيَمِينُ، وَإِنْ أَنْكَرَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ بَيَانٌ، أُحْلِفَ وَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يُحَلِّفَهُ يَمِينًا تَخُصُّهُ، لِأَنَّه لَوْ بَيَّنَ بَعْدَ إِنْكَارِهِ قُبِلَ مِنْهُ فَلِذَلِكَ لَزِمَتْهُ الْيَمِينُ. فَإِنْ جَمَعَ بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ فِي الْبَيَانِ، لَمْ يَكُنْ فِيهِ بَيَانٌ، لِأَنَّه بَيَانُهُ فِي التَّقَدُّمِ، وَيَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُتَقَدِّمًا عَلَى الْآخَرِ فِي حَالِهِ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Ibrahim al-Muzani dan Abu al-‘Abbas bin Surayj, menyatakan bahwa pengakuan penjual terhadap salah satu dari keduanya dapat diterima, sehingga pengakuan tersebut menguatkan bukti pihak yang didukungnya, karena penjual adalah pihak yang memegang barang. Berdasarkan hal ini, penjelasan penjual mengenai akad mana yang lebih dahulu dilakukan dapat dijadikan rujukan, namun penjelasannya tentang siapa yang menjual tidak dapat dijadikan rujukan, karena kedua akad telah terbukti atas dirinya dengan adanya bukti. Maka, yang dijadikan rujukan adalah penjelasan mengenai mana yang lebih dahulu di antara keduanya. Jika salah satu dari mereka menjelaskan tentang urutan lebih dahulu, maka jual beli menjadi miliknya, dan tidak ada sumpah atas pihak yang lain, karena jika ia menarik kembali ucapannya, tidak akan diterima, dan ia tidak wajib mengganti nilai barang kepada pihak lain, melainkan hanya mengembalikan harga barang. Oleh karena itu, ia tidak diwajibkan bersumpah. Namun, jika ia mengingkari bahwa ia memiliki penjelasan, maka ia harus bersumpah, dan masing-masing dari mereka berhak meminta sumpah khusus kepadanya, karena jika setelah mengingkari kemudian ia menjelaskan, penjelasannya diterima. Oleh sebab itu, ia diwajibkan bersumpah. Jika penjual menggabungkan kedua pembeli dalam penjelasannya, maka penjelasan tersebut tidak dianggap sebagai penjelasan, karena yang dimaksud adalah penjelasan tentang urutan lebih dahulu, dan tidak mungkin masing-masing dari mereka lebih dahulu dari yang lain dalam waktu yang sama.

وَقَالَ أَبُو حَامِدِ الْإِسْفَرَايِينِيُّ، تَكُونُ الدَّارُ بَيْنَهُمَا بِتَصْدِيقِهِ لَهُمَا.

Abu Hamid al-Isfara’ini berkata, “Rumah itu menjadi milik mereka berdua dengan pengakuannya kepada mereka berdua.”

فَإِنْ قَالَ ذَلِكَ وَهُوَ يَرَى أَنَّ بَيَانَ الْبَائِعِ مَقْصُورٌ عَلَى الْمُتَقَدِّمِ بِالْعَقْدِ فَقَدْ وَهِمَ لِاسْتِحَالَةِ اجْتِمَاعِهِمَا فِي التَّقَدُّمِ، وَإِنْ قَالَهُ، لِأَنَّه يَرَى أَنَّهُ يَرْجِعُ إِلَى بَيَانِ الْبَائِعِ لِأَيِّهِمَا بَاعَ فَهُوَ ارْتِكَابُ مَذْهَبٍ لَا يَقْتَضِيهِ الْمَذْهَبُ لِمَا بَيَّنَاهُ.

Jika ia mengatakan demikian dengan berpendapat bahwa penjelasan penjual terbatas pada pihak yang lebih dahulu melakukan akad, maka ia telah keliru karena mustahil keduanya berkumpul dalam hal mendahului. Dan jika ia mengatakannya karena berpendapat bahwa penjelasan penjual kembali kepada siapa di antara mereka yang telah menjual, maka itu adalah mengikuti suatu pendapat yang tidak dituntut oleh mazhab, sebagaimana telah kami jelaskan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ، وَعَامَّةُ أَصْحَابِنَا إِنَّ تَصْدِيقَ الْبَائِعِ لِأَجْلِ يَدِهِ، غَيْرُ مَقْبُولٍ، فِي تَرْجِيحِ بَيِّنَةِ أَحَدِهِمَا، لِاتِّفَاقِ الْبَيِّنَتَيْنِ عَلَى زَوَالِ مِلْكِهِ، فَبَطَلَ بِهِمَا حُكْمُ يَدِهِ، وَإِنَّمَا يَرْجِعُ إِلَى يَدٍ يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ مَالِكَةٌ، وَلَيْسَ لِلْبَائِعِ يَدُ مِلْكٍ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan dan mayoritas ulama mazhab kami, bahwa pembenaran penjual karena kepemilikan tangannya tidak dapat diterima dalam menguatkan salah satu dari dua bukti, karena kedua bukti tersebut sama-sama menunjukkan hilangnya kepemilikan penjual. Dengan demikian, keduanya membatalkan kekuatan hukum kepemilikan tangan penjual. Yang menjadi acuan hanyalah kepemilikan tangan yang mungkin saja merupakan tangan pemilik, sedangkan penjual tidak lagi memiliki tangan kepemilikan.

فَعَلَى هَذَا يَجْرِيَ عَلَى الْبَيِّنَتَيْنِ حُكْمُ الْمُتَعَارِضَتَيْنِ فِي الظَّاهِرِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ لَا يَتَعَارَضَا فِي الْبَاطِنِ بِأَنْ يَتَقَدَّمَ أَحَدُ الْعَقْدَيْنِ عَلَى الْآخَرِ فَيَكُونُ فِي تَعَارُضِهِمَا ثَلَاثَةُ أقاويل:

Dengan demikian, kedua bukti tersebut berlaku hukum sebagai dua bukti yang saling bertentangan secara lahiriah, meskipun mungkin saja keduanya tidak bertentangan secara batiniah, yaitu jika salah satu dari dua akad itu mendahului yang lain. Maka, dalam pertentangan keduanya terdapat tiga pendapat:

أحدهما: إِسْقَاطُهَا فَيَرْجِعُ إِلَى قَوْلِ الْبَائِعِ لَا تَرْجِيحًا لِلْبَيِّنَةِ لِأَنَّهمَا قَدْ أُسْقِطَتَا، وَلَكِنْ لِأَنَّها دَعْوَى عَلَيْهِ فِي ابْتِيَاعٍ مِنْهُ. فَإِنْ كَذَّبَهُمَا حَلَفَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَغَرِمَ لَهُ مَا شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ مِنَ الثَّمَنِ الَّذِي دَفَعَهُ، وَالدَّارُ بَاقِيَةٌ عَلَى حُكْمِ مِلْكِهِ، وَإِنْ صَدَقَ أَحَدُهُمَا، وَكَذَبَ الْآخَرُ، كَانَتِ الدَّارُ مَبِيعَةٌ عَلَى الْمُصَدِّقِ، دُونَ الْمُكَذِّبِ فَإِنْ طَلَبَ الْمُكَذِّبُ إِحْلَافَ الْبَائِعِ، نُظِرَ فَإِنْ كَانَ قَدْ سَبَقَ بِالدَّعْوَى عَلَى الْمُصَدِّقِ كَانَ لَهُ إِحْلَافُ الْبَائِعِ، لِأَنَّه قَدِ اسْتَحَقَّ الْيَمِينَ بِإِنْكَارِهِ قَبْلَ دَعْوَى الْمُصَدِّقِ، فَلَمْ يَسْقُطْ حَقُّهُ مِنْهَا بِتَصْدِيقِهِ لِغَيْرِهِ وَإِنْ كَانَتْ دَعْوَاهُ بَعْدَ تَصْدِيقِ الْآخَرِ، فَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ إِلَّا عَلَى تَخْرِيجٍ يَذْكُرُهُ، لِأَنَّها دَعْوَى فِي حَلَالٍ لَا يَنْفُذُ فِيهَا إِقْرَارُهُ وَيَرْجِعُ عَلَيْهِ بِالثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ، فَلَوْ عَادَ الْبَائِعُ، فَصَدَّقَ الثَّانِي بَعْدَ تَصْدِيقِ الْأَوَّلِ، كَانَ الْبَيْعُ لِلْأَوَّلِ، لِتَقَدُّمِ إِقْرَارِهِ، وَنُظِرَ فِي قِيمَةِ الدَّارِ، فَإِنْ كَانَتْ بِقَدْرِ الثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَةُ الثَّانِي، لَمْ يُغَرَّمْ لِلثَّانِي إِلَّا الثَّمَنَ، وَإِنْ كَانَتْ قِيمَتُهَا أَكْثَرُ مِنَ الثَّمَنِ فَفِي وُجُوبِ غُرْمِ زِيَادَةِ الْقِيمَةِ بَعْدَ رَدِّ الثَّمَنِ قَوْلَانِ:

Pertama: Gugurnya kedua bukti tersebut, sehingga kembali kepada perkataan penjual, bukan karena menguatkan salah satu bayyinah, karena keduanya telah digugurkan, tetapi karena itu merupakan gugatan terhadapnya dalam hal pembelian darinya. Jika penjual mendustakan keduanya, maka ia bersumpah untuk masing-masing dari mereka, dan ia wajib membayar kepada masing-masing sesuai dengan apa yang dibuktikan oleh bayyinahnya dari harga yang telah dibayarkan, dan rumah tersebut tetap dalam status kepemilikannya. Jika ia membenarkan salah satu dari mereka dan mendustakan yang lain, maka rumah itu menjadi terjual kepada yang dibenarkan, bukan kepada yang didustakan. Jika yang didustakan meminta penjual untuk bersumpah, maka dilihat dahulu: jika ia telah lebih dahulu mengajukan gugatan terhadap yang dibenarkan, maka ia berhak meminta penjual bersumpah, karena ia telah berhak atas sumpah tersebut dengan pengingkarannya sebelum adanya gugatan dari yang dibenarkan, sehingga haknya atas sumpah itu tidak gugur hanya karena penjual membenarkan orang lain. Namun jika gugatannya datang setelah penjual membenarkan yang lain, maka tidak ada sumpah atas penjual kecuali menurut salah satu pendapat yang disebutkan, karena itu adalah gugatan dalam perkara halal yang pengakuannya tidak berlaku, dan ia berhak menuntut kembali harga yang dibuktikan oleh bayyinahnya. Jika penjual kemudian kembali dan membenarkan yang kedua setelah sebelumnya membenarkan yang pertama, maka penjualan tetap untuk yang pertama karena pengakuannya lebih dahulu, dan dilihat nilai rumah tersebut: jika nilainya sama dengan harga yang dibuktikan oleh bayyinah yang kedua, maka kepada yang kedua hanya diganti harga tersebut; namun jika nilainya lebih besar dari harga itu, maka dalam kewajiban mengganti kelebihan nilai setelah mengembalikan harga terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَغْرَمُهَا.

Salah satunya: ia tidak menanggung ganti rugi untuknya.

وَالثَّانِي: يَغْرَمُهَا.

Kedua: ia wajib membayar ganti rugi atasnya.

وَمِنْ هَاهُنَا يَجِيءُ تَخْرِيجُ قَوْلِ أَبِي عَلِيٍّ لِلْبَائِعِ أَنْ يَحْلِفَ لِلْمُكَذِّبِ لِأَنَّه إِذَا غَرِمَ مَعَ الْإِقْرَارِ حَلَفَ مَعَ الْإِنْكَارِ، وَلَوْ صَدَّقَ الْبَائِعُ لَهُمَا جَمِيعًا، جُعِلَتِ الدَّارُ بَيْنَهُمَا، وَيَكُونُ نِصْفُهَا مَبِيعًا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِنِصْفِ الثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ، إِنِ اتَّفَقُوا عَلَى قَدْرِهِ. وَإِنْ عَدَلُوا إِلَى غَيْرِهِ، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ يَأْخُذُ نِصْفَ الدَّارِ بِنِصْفِ الثَّمَنِ الَّذِي أَقَرَّ بِهِ الْبَائِعُ. إِنْ صَدَّقَ الْمُشْتَرِيَانِ عَلَى قَدْرِهِ، وَإِنْ كَذَّبَاهُ، حَلَّفَاهُ عَلَيْهِ، وَأُبْطِلَ الْبَيْعُ، وَلَا يُعْتَبَرُ الثَّمَنُ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ الْبَيِّنَةُ إِلَّا فِي دَفْعِهِ دُونَ عَقْدِ الْبَيْعِ، لِأَنَّه قَدْ أَسْقَطَ قَبُولَهُمَا فِي الْبَيْعِ، فَسَقَطَ حُكْمُ الثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَا بِهِ وَإِنْ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا فِي دَفْعِهِ، لِأَنَّ تَعَارُضَهُمَا فِي البيع لا في دفع الثمن فهو احكم الْقَوْلِ الْأَوَّلِ فِي إِسْقَاطِ الْبَيِّنَتَيْنِ بِالتَّعَارُضِ.

Dari sini muncul penjelasan pendapat Abu ‘Ali bahwa penjual boleh bersumpah terhadap orang yang mendustakannya, karena jika ia diwajibkan membayar (ganti rugi) ketika mengakui, maka ia juga bersumpah ketika mengingkari. Jika penjual membenarkan keduanya sekaligus, maka rumah itu dibagi di antara mereka berdua, dan setengah rumah menjadi milik masing-masing dari mereka dengan setengah harga yang dibuktikan oleh bukti masing-masing, jika mereka sepakat atas jumlahnya. Jika mereka beralih kepada jumlah lain, maka masing-masing pembeli mengambil setengah rumah dengan setengah harga yang diakui oleh penjual. Jika kedua pembeli membenarkan jumlah tersebut, dan jika mereka mendustakannya, maka mereka berdua meminta penjual bersumpah atasnya, dan jual beli dibatalkan. Harga yang dibuktikan oleh bukti tidak dianggap kecuali dalam hal pembayarannya saja, bukan dalam akad jual belinya, karena keduanya telah menolak menerima dalam jual beli, maka gugurlah ketetapan harga yang dibuktikan oleh keduanya, meskipun kesaksian mereka diterima dalam hal pembayarannya, karena pertentangan mereka terjadi dalam jual beli, bukan dalam pembayaran harga, maka ini adalah pendapat pertama dalam menggugurkan kedua bukti karena adanya pertentangan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ فَأَيَّتُهُمَا قَرَعَتْ حُكِمَ بِهَا وَكَانَ الْبَيْعُ لِمَنْ شَهِدَتْ لَهُ، وَفِي إِحْلَافِهِ مَعَ الْقُرْعَةِ قَوْلَانِ:

Pendapat kedua: dilakukan undian (iqra‘) antara dua bukti (bayyinah), maka bukti yang keluar dalam undian itulah yang diputuskan, dan jual beli dianggap milik orang yang disaksikan oleh bukti tersebut. Adapun mengenai keharusan bersumpah bersamaan dengan undian, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْلِفُ إِنْ قِيلَ: إِنَّ الْقُرْعَةَ مُرَجِّحَةٌ لِدَعْوَاهُ.

Salah satunya: ia bersumpah jika dikatakan bahwa undian (al-qur‘ah) menjadi penguat bagi klaimnya.

وَالثَّانِي: لَا يَمِينَ إِنْ قِيلَ إِنَّ الْقُرْعَةَ مُرَجِّحَةٌ لِبَيِّنَتِهِ، وَلِلْمَقْرُوعِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْبَائِعِ بِالثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ.

Kedua: Tidak ada sumpah jika dikatakan bahwa undian menjadi penguat bagi bukti saksinya, dan pihak yang namanya keluar dalam undian berhak menuntut kepada penjual harga yang telah disaksikan oleh bukti saksinya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَقَسْمُ الدَّارِ بِهِمَا بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ لِيَكُونَ نِصْفُهَا مَبِيعًا مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَهُوَ لِتَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ عَلَيْهِ بِالْخِيَارِ فِي إِمْضَاءِ الْبَيْعِ فِي نِصْفِ الدَّارِ بِنِصْفِ الثَّمَنِ أَوْ فَسْخِهِ، لِأَنَّه ابْتَاعَ جَمِيعَ الدَّارِ فَجَعَلَ لَهُ نصفها ولهما في الخيار ثلاثة أحوال:

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (bayyinah), dan membagi rumah di antara kedua pembeli dengan keduanya, sehingga setengah rumah menjadi milik masing-masing dari mereka berdua. Hal ini dilakukan untuk memisahkan akad jual beli atas mereka, dengan memberikan pilihan (khiyar) untuk melanjutkan jual beli pada setengah rumah dengan setengah harga, atau membatalkannya. Karena ia telah membeli seluruh rumah, maka diberikan kepadanya setengah rumah, dan bagi keduanya dalam hal pilihan (khiyar) terdapat tiga keadaan:

إحداهما: أَنْ يَخْتَارَ الْإِمْضَاءَ فَيَكُونَا شَرِيكَيْنِ.

Salah satunya adalah memilih untuk melanjutkan, sehingga keduanya menjadi mitra.

وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَخْتَارَ الْفَسْخَ، فَيَصِحُّ فَسْخُ مَنْ تَقَدَّمَ مِنْهُمَا، وَيَتَوَفَّرُ سَهْمُهُ بِالْفَسْخِ عَلَى الْمُتَأَخِّرِ، فَيَسْقُطُ خِيَارُهُ فِي الْفَسْخِ، لِأَنَّ الْبَيْعَ قَدْ تَكَامَلَ لَهُ في جميع الدار.

Dan yang kedua: jika ia memilih untuk membatalkan, maka pembatalan yang dilakukan oleh pihak yang lebih dahulu di antara keduanya adalah sah, dan bagian miliknya yang dibatalkan itu berpindah kepada pihak yang belakangan, sehingga gugurlah hak pilihnya untuk membatalkan, karena akad jual beli telah sempurna baginya atas seluruh rumah.

والحالة الثَّالِثَةُ: أَنْ يُمْضِيَ أَحَدُهُمَا، وَيَفْسَخُ الْآخَرَ، فَقَدْ زَالَ مِلْكُ الْفَاسِخِ، وَنُظِرَ فَإِنْ فُسِخَ قَبْلَ رِضَا الْآخَرِ بِالنِّصْفِ يَغْرَمُ سَهْمَهُ عَلَى التَّرَاضِي وَأَخْذِ جَمِيعِ الدَّارِ بِجَمِيعِ ثَمَنِ بَيِّنَتِهِ، وَإِنْ فُسِخَ بَعْدَ رِضَا الرَّاضِي لَمْ يَعُدْ سَهْمُ الْفَاسِخِ عَلَى الرَّاضِي، لِاسْتِقْرَارِ الْحُكْمِ فِي ابْتِيَاعِهِ النصف.

Keadaan ketiga: salah satu dari keduanya melanjutkan (akad), sedangkan yang lain membatalkannya. Maka kepemilikan pihak yang membatalkan telah hilang. Kemudian dilihat, jika pembatalan dilakukan sebelum pihak lain ridha dengan setengah bagian, maka ia wajib membayar bagiannya berdasarkan kesepakatan dan mengambil seluruh rumah dengan seluruh harga yang telah disepakati. Namun jika pembatalan dilakukan setelah pihak yang ridha telah menyetujui, maka bagian pihak yang membatalkan tidak kembali kepada pihak yang ridha, karena hukum dalam pembelian setengah bagian telah tetap.

(فصل)

(Bab)

: وأما الحالة الثَّانِيَةُ: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الدَّارُ فِي يَدَيْ أَحَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ تَتَرَجَّحُ بَيِّنَتُهُ بِيَدِهِ، أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ مَبْنِيَّيْنِ عَلَى اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي التَّرْجِيحِ بِيَدِ الْبَائِعِ، إِذَا صَدَّقَ أَحَدَهُمَا بِتَرْجِيحِ يَدِ أَحَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ، إِذَا قِيلَ: إِنَّهَا تُرَجِّحُ بَيْنَ الْبَائِعِ إِذَا صَدَّقَهُ فَيَحْكُمُ لَهُ بِبَيِّنَتِهِ، وَيَدِهِ وَيَرْجِعُ الْآخَرُ بِالثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ خَصْمًا لِصَاحِبِ الْيَدِ فِي الدَّارِ وَيُحَلِّفَهُ إِذَا أَنْكَرَهُ، وَإِنْ صَدَّقَهُ سَلَّمَ الدَّارَ إِلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ بِالثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ إِنْ كَانَ مِثْلَ الثَّمَنِ فِي ابْتِيَاعِ حَقِّهِ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ بِالْبَاقِي، لِأَنَّه مُقِرٌّ أَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّهُ عَلَى الثَّانِي، وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الزِّيَادَةَ، لِأَنَّه مُقِرٌّ أَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَكْثَرَ مِنَ الثَّمَنِ الَّذِي دَفَعَ، وَيَكُونُ دَرَكٌ لِلثَّانِي عَلَى الْأَوَّلِ، دُونَ الْبَائِعِ، وَلَا يَكُونُ عَلَى الْبَائِعِ دَرَكُ الْأَوَّلِ، وَلَا الثَّانِي لِأَنَّ الثَّانِي مَلَكَهَا عَنِ الْأَوَّلِ، وَالْأَوَّلُ قَدْ أَقَرَّ أَنَّهُ لَمْ يَمْلِكْهَا عَنِ الْبَائِعِ فَلِذَلِكَ سَلِمَ الْبَائِعُ مَنْ دَرَكَهَا.

Adapun keadaan kedua: yaitu apabila rumah tersebut berada di tangan salah satu dari dua pembeli, maka para ulama kami berbeda pendapat, apakah kesaksiannya menjadi lebih kuat karena berada di tangannya, atau tidak? Ada dua pendapat yang didasarkan pada perbedaan pendapat dalam menguatkan dengan tangan penjual. Jika salah satu dari keduanya dibenarkan dengan menguatkan tangan salah satu pembeli, jika dikatakan: bahwa hal itu menguatkan di antara penjual apabila ia dibenarkan, maka diputuskan untuknya berdasarkan kesaksiannya dan kepemilikannya, dan yang lain berhak menuntut kembali harga yang dibuktikan oleh kesaksiannya. Ia boleh menjadi pihak yang bersengketa dengan pemilik rumah dan boleh meminta sumpah jika ia mengingkarinya. Jika ia membenarkannya, maka rumah itu diserahkan kepadanya dengan pengakuan atas harga yang dibuktikan oleh kesaksiannya, jika harga tersebut sama dengan harga pembelian haknya. Jika lebih rendah, maka ia tidak berhak menuntut sisanya, karena ia telah mengakui bahwa ia tidak berhak atas sisanya dari yang kedua. Jika lebih tinggi, maka ia tidak berhak mengambil kelebihannya, karena ia telah mengakui bahwa ia tidak berhak atas lebih dari harga yang telah dibayarkan. Maka, hak tuntutan (darak) bagi yang kedua terhadap yang pertama, bukan terhadap penjual, dan tidak ada hak tuntutan (darak) atas penjual baik dari yang pertama maupun yang kedua, karena yang kedua memilikinya dari yang pertama, dan yang pertama telah mengakui bahwa ia tidak memilikinya dari penjual, sehingga penjual terbebas dari tuntutan tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا تَتَرَجَّحُ الْبَيِّنَةُ بِيَدِ الْبَائِعِ إِذَا صَدَّقَ أَحَدَهُمَا. فَعَلَى هَذَا يَسْقُطُ حُكْمُ يَدِهِ، وَتَتَعَارَضُ الْبَيِّنَتَانِ فِي حَقِّهِمَا فَتَكُونُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ:

Pendapat kedua: Bahwa bukti (bayyinah) tidak menjadi lebih kuat hanya karena berada di tangan penjual jika salah satu dari mereka membenarkan yang lain. Dengan demikian, kedudukan tangan (hak kepemilikan) penjual gugur, dan kedua bukti (bayyinah) saling bertentangan dalam hak mereka berdua, sehingga kembali kepada tiga pendapat yang ada.

أَحَدُهَا: يَسْقُطَانِ وَيَرْجِعُ إِلَى الْبَائِعِ فِي إِقْرَارِهِ، وَإِنْكَارِهِ عَلَى مَا مَضَى.

Salah satunya: kedua syarat itu gugur dan kembali kepada penjual dalam pengakuannya dan penolakannya terhadap apa yang telah lalu.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يَقْرَعُ بَيْنَهُمَا، وَيَحْكُمُ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا عَلَى مَا مضى.

Pendapat kedua: dilakukan undian di antara keduanya, dan diputuskan untuk siapa yang keluar undiannya di antara mereka berdua atas apa yang telah berlalu.

والقول الثالث: يقسم بينهما باستعمالها عَلَى مَا مَضَى.

Pendapat ketiga: dibagi di antara keduanya berdasarkan pemanfaatannya yang telah lalu.

وَذَكَرَ الرَّبِيعُ قَوْلًا رَابِعًا: إِنَّ تَعَارُضَ الْبَيِّنَتَيْنِ، يُوجِبُ إِبْطَالَ الصَّفْقَتَيْنِ فَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَيِّعَيْنِ بَاطِلًا كَالْمُتَدَاعِيَيْنِ نِكَاحَ امْرَأَةٍ يُقِيمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّهُ تَزَوَّجَهَا، يُبْطِلُ النِّكَاحَانِ بِتَعَارُضِهِمَا، فَأَنْكَرَ أَصْحَابُنَا هَذَا الْقَوْلَ وَنَسَبُوهُ إِلَى الرَّبِيعِ تَخْرِيجًا لِنَفْسِهِ، وَمَنَعُوا مِنِ اعْتِبَارِهِ بِالنِّكَاحِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، بِأَنَّ نِكَاحَ الْمَرْأَةِ، لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ زَوْجَيْنِ، وَشِرَاءُ الدَّارِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ مُشْتَرِيَيْنِ، فَبَطَلَ النِّكَاحَانِ، لِامْتِنَاعِ الشَّرِكَةِ، وَلَمْ يَبْطُلِ الْبَيِّعَانِ مَعَ جَوَازِ الشَّرِكَةِ.

Ar-Rabi‘ menyebutkan pendapat keempat: bahwa terjadinya pertentangan antara dua bukti (bayyinah) mengharuskan pembatalan kedua transaksi, sehingga masing-masing dari dua jual beli itu menjadi batal, seperti dua orang yang saling mengklaim telah menikahi seorang wanita, di mana masing-masing dari mereka mendatangkan bukti bahwa ia telah menikahinya, maka kedua pernikahan itu menjadi batal karena adanya pertentangan di antara keduanya. Namun, para ulama kami mengingkari pendapat ini dan menisbatkannya kepada Ar-Rabi‘ sebagai hasil ijtihad pribadinya, serta melarang untuk menganalogikan (qiyās) kasus ini dengan pernikahan, karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu bahwa pernikahan seorang wanita tidak boleh terjadi dengan dua suami, sedangkan pembelian rumah boleh terjadi antara dua pembeli. Maka kedua pernikahan itu batal karena tidak mungkin adanya kepemilikan bersama, sedangkan dua jual beli tidak batal karena dimungkinkan adanya kepemilikan bersama.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الحالة الثَّالِثَةُ: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الدَّارُ فِي يَدَيِ الْمُشْتَرِيَيْنِ فَقَدْ تَسَاوَيَا فِي الْيَدِ وَالْبَيِّنَةِ، وَلَمْ يَتَرَجَّحْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ فِي يَدٍ وَلَا بَيِّنَةٍ. فَإِنْ لَمْ يَتَرَجَّحْ يَدُ أَحَدِهِمَا لَمْ يَتَرَجَّحْ أَيْدِيَهُمَا وَصَارَتْ بَيَّنَتَاهُمَا مُتَعَارِضَتَيْنِ فَيَكُونُ تَعَارُضُهُمَا محمولا على الأقاويل الثلاثة في إسقاطهما وَالْإِقْرَاعِ بَيْنَهُمَا، أَوِ اسْتِعْمَالِهَا، وَإِنْ رَجَّحَتَا يَدَ أَحَدِهِمَا رَجَّحَتَا أَيْدِيَهُمَا، وَصَارَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةَ، دَاخِلٍ فِي النِّصْفِ الَّذِي فِي يَدِهِ، وَبَيِّنَةَ خَارِجٍ فِي النِّصْفِ الَّذِي بِيَدِ صَاحِبِهِ، فَيُجْعَلُ ابْتِيَاعُ الدَّارِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، وَهَلْ يَحْلِفُ لِصَاحِبِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ وَيَرْجِعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى الْبَائِعِ بِنِصْفِ الثَّمَنِ، وَكَانَ خِيَارُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Adapun keadaan ketiga: yaitu apabila rumah itu berada di tangan kedua pembeli, maka keduanya sama dalam hal kepemilikan dan bukti, dan tidak ada salah satu dari mereka yang lebih kuat dari yang lain dalam hal kepemilikan maupun bukti. Jika tidak ada yang lebih kuat kepemilikannya, maka kepemilikan keduanya tidak lebih kuat, dan bukti keduanya menjadi saling bertentangan. Maka pertentangan antara keduanya dibawa kepada tiga pendapat dalam hal menggugurkan keduanya, melakukan undian di antara mereka, atau menggunakan keduanya. Jika bukti-bukti itu menguatkan kepemilikan salah satu dari mereka, maka itu juga menguatkan kepemilikan mereka, sehingga masing-masing dari mereka memiliki bukti untuk setengah bagian yang ada di tangannya, dan bukti untuk setengah bagian yang ada di tangan temannya. Maka pembelian rumah itu dijadikan antara mereka berdua menjadi dua bagian, dan apakah masing-masing harus bersumpah untuk temannya atau tidak, terdapat dua pendapat. Dan masing-masing dari mereka dapat menuntut kepada penjual setengah dari harga, dan hak khiyar masing-masing dari mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan.

(فصل)

(Bab)

: وأما الحالة الرَّابِعَةُ: وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الدَّارُ فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ، فَلَا تَخْلُو يَدُهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَحْوَالٍ:

Adapun keadaan keempat: yaitu apabila rumah berada di tangan orang asing, maka kepemilikannya tidak lepas dari empat keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ نِيَابَةً عَنِ الْبَائِعِ، فَيَكُونُ على ما قدمناه في يد البائع.

Pertama: yaitu sebagai perwakilan dari penjual, maka hukumnya sama seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya pada tangan penjual.

والثاني: أن تكون نِيَابَةً عَنْ أَحَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ، فَيَكُونُ عَلَى مَا قدمناه في يد أحدهما.

Kedua: bahwa penyerahan itu merupakan perwakilan dari salah satu pihak pembeli, maka hukumnya sesuai dengan yang telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu berada di tangan salah satu dari keduanya.

والثالث: أَنْ يَكُونَ نِيَابَةً عَنْهُمَا، فَيَكُونُ عَلَى مَا قدمناه في أيديهما.

Ketiga: yaitu sebagai perwakilan dari keduanya, maka hukumnya mengikuti apa yang telah kami jelaskan pada keduanya.

والحالة الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ غَيْرُ ثَابِتٍ فِيهَا عَنْ غَيْرِهِ فَلَا تَتَوَجَّهُ الدَّعْوَى عَلَيْهِ فِي الْبَيْعِ، لِأَنَّه مَنْسُوبٌ إِلَى غَيْرِهِ، وَلَا تُوجِبُ بَيِّنَةُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا انْتِزَاعَ الدَّارِ مِنْ يَدِهِ، لِأَنَّ بَيْعَ غَيْرِهِ لِلدَّارِ لَا يَجْعَلُهُ مَالِكًا لَهَا وَصَاحِبُ الْيَدِ أَحَقُّ بِالدَّارِ مِنْ بَائِعِهَا، وَلَا تَتَوَجَهُ عَلَيْهِ مُطَالَبَةُ الْبَائِعِ بِهَا، لِأَنَّ قِيَامَ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ بِالْبَيْعِ يَمْنَعُ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِيهَا حَقٌّ، وَسَقَطَ أَنْ يَكُونَ لِلْبَائِعِ عَلَيْهِ يَمِينٌ وَلَا تَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ مُطَالَبَةُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ بِهَا، لِأَنَّه يَدَّعِي مِلْكَهَا، عَنِ الْبَائِعِ، وَلَيْسَ لِلْبَائِعِ الْمُطَالَبَةُ بِهَا فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يُطَالِبَ بِهَا النَّائِبُ عَنْهُ، فَتَسْقُطُ الْمُطَالَبَةُ عَنْ صَاحِبِ الْيَدِ، لِأَجْلِ الْبَيِّنَةِ، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْهُمْ، وَيَرْجِعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ عَلَى الْبَائِعِ بِالثَّمَنِ الَّذِي شَهِدَتْ بِهِ بَيِّنَتُهُ، فَإِذَا حُكِمَ بِإِبْطَالِ الْبَيْعَيْنِ، وَأَخَذَ الْبَائِعُ بِرَدِّ الثَّمَنَيْنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَسْتَأْنِفَ الدَّعْوَى، وَهَذَا كُلُّهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْبَيِّنَةِ الشَّاهِدَةِ بِالْبَيْعِ شَهَادَةٌ لِلْبَائِعِ، بِمِلْكِ الْمَبِيعِ، فَأَمَّا إِذَا شَهِدَتْ لَهُ بِمِلْكِ مَا بَاعَ، فَإِنْ عَارَضَهُمَا صَاحِبُ الْيَدِ بِبَيِّنَتِهِ، كَانَتْ بَيِّنَةُ صَاحِبِ الْيَدِ أَوْلَى، لِأَنَّها بَيِّنَةُ دَاخِلٍ قَدْ تَلَتْهَا بَيِّنَةُ خَارِجٍ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لِصَاحِبِ الْيَدِ بَيِّنَةٌ رُفِعَتْ يَدُهُ، وَثَبَتَ أَنَّ الْبَائِعَ بَاعَ مِلْكَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ بِمِلْكِهِ فِي إِحْدَى الْبَيِّنَتَيْنِ حُكِمَ بِالْبَيْعِ، دُونَ الْمِلْكِ وَرَجَعَ بِالثَّمَنِ وَبَطَلَ حُكْمُ التَّعَارُضُ فِيهِمَا.

Keadaan keempat: Jika seseorang memegang barang tersebut bukan atas nama dirinya sendiri, melainkan atas nama orang lain, maka gugatan tidak dapat diarahkan kepadanya dalam kasus jual beli, karena kepemilikannya dinisbatkan kepada orang lain. Tidak ada satu pun bukti dari keduanya yang dapat menyebabkan rumah itu diambil dari tangannya, karena penjualan yang dilakukan oleh orang lain atas rumah tersebut tidak menjadikannya sebagai pemilik, dan orang yang memegang rumah lebih berhak atas rumah itu daripada penjualnya. Penjual juga tidak dapat menuntutnya atas rumah itu, karena adanya bukti atas penjualan mencegah penjual memiliki hak atas rumah tersebut, sehingga penjual tidak berhak meminta sumpah darinya. Demikian pula, tidak ada tuntutan dari salah satu pembeli terhadapnya, karena ia mengaku memiliki rumah itu dari penjual, dan penjual tidak berhak menuntutnya, maka lebih utama lagi wakil penjual tidak berhak menuntutnya. Maka gugatan terhadap orang yang memegang rumah gugur karena adanya bukti, dan tidak ada sumpah yang dibebankan kepadanya dari salah satu pihak. Masing-masing pembeli dapat menuntut penjual untuk mengembalikan harga yang telah dibuktikan oleh buktinya masing-masing. Jika diputuskan untuk membatalkan kedua jual beli tersebut, dan penjual telah menerima pengembalian kedua harga, maka penjual boleh mengajukan gugatan baru. Semua ini berlaku jika dalam bukti yang menunjukkan adanya jual beli tidak terdapat kesaksian bahwa penjual adalah pemilik barang yang dijual. Namun, jika bukti tersebut menyatakan bahwa penjual memang pemilik barang yang dijual, lalu orang yang memegang rumah mengajukan bukti tandingan, maka bukti dari orang yang memegang rumah lebih diutamakan, karena itu adalah bukti dari pihak yang berada di dalam (memegang barang), yang kemudian diikuti oleh bukti dari pihak luar. Jika orang yang memegang rumah tidak memiliki bukti, maka hak pegangannya dicabut, dan terbukti bahwa penjual telah menjual miliknya sendiri. Jika kesaksian kepemilikan hanya terdapat pada salah satu dari dua bukti, maka diputuskan sah jual belinya saja tanpa menetapkan kepemilikan, dan pembeli dapat menuntut kembali harga, serta gugatan pertentangan antara keduanya menjadi batal.

وَإِنْ شَهِدَتْ بَيِّنَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْمِلْكِ وَالْبَيْعِ، ثَبَتَ حُكْمُ التَّعَارُضِ فِيهِمَا، وَكَانَ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ، وَقَدْ أَطَلْنَا هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِاسْتِيفَائِهَا، لِأَنَّها مِنَ الْأُصُولِ فِي الدَّعَاوَى.

Jika masing-masing dari keduanya menghadirkan bukti yang menunjukkan kepemilikan dan penjualan, maka berlaku hukum pertentangan di antara keduanya, dan hal itu mengikuti tiga pendapat yang ada. Kami telah membahas masalah ini secara panjang lebar dan tuntas, karena ia termasuk pokok-pokok dalam perkara gugatan.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً أَنَّهُ اشْتَرَى هَذَا الثَوْبَ مِنْ فُلَانٍ وَهُوَ مَلَكَهُ بِثَمَنٍ مُسَمًّى وَنَقَدَهُ وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ اشْتَرَاهُ مِنْ فُلَانٍ وَهُوَ يَمْلِكُهُ بِثَمَنٍ مُسَمَّى وَنَقَدَهُ فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِهِ لِلَّذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ لِفَضْلِ كَيْنُونَتِهِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى مَا قُلْتُ مِنْ قَوْلِهِ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti bahwa ia membeli kain ini dari si Fulan dan ia memilikinya dengan harga tertentu dan telah membayarnya, lalu pihak lain juga mendatangkan bukti bahwa ia membeli kain itu dari si Fulan dan ia memilikinya dengan harga tertentu dan telah membayarnya, maka diputuskan kepemilikan kain itu bagi orang yang kain tersebut berada di tangannya, karena keutamaan keberadaannya (di tangannya).” (Al-Muzani berkata) “Dan ini menunjukkan apa yang aku katakan dari perkataannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي يَجْتَمِعُ فِيهَا بَائِعَانِ، وَمُشْتَرِيَانِ وَصُورَتُهَا أَنْ يَتَنَازَعَ رَجُلَانِ فِي ثَوْبٍ يَدَّعِي أَحَدُهُمَا أَنَّهُ اشْتَرَاهُ مِنْ زَيْدٍ، وَهُوَ مَالِكُهُ بِثَمَنٍ سَمَّاهُ وَنَقَدَهُ إِيَّاهُ، وَيُقِيمُ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً بِالْمِلْكِ، وَالْبَيْعِ، وَيَدَّعِي الْآخَرُ أَنَّهُ اشْتَرَاهُ مِنْ عَمْرٍو، وَهُوَ مَالِكُهُ بِثَمَنٍ سَمَّاهُ وَنَقَدَهُ إِيَّاهُ، وَيُقِيمُ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً بِالْمِلْكِ وَالْبَيْعِ فَلَا يَخْلُو الثَّوْبُ مِنْ خَمْسَةِ أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Inilah masalah kedua yang di dalamnya terdapat dua penjual dan dua pembeli. Bentuk kasusnya adalah dua orang laki-laki berselisih mengenai sebuah pakaian; salah satu dari keduanya mengaku bahwa ia membelinya dari Zaid, dan bahwa ia adalah pemiliknya dengan harga tertentu yang telah ia sebutkan dan telah ia bayarkan, serta ia mendatangkan bukti atas kepemilikan dan jual belinya. Sementara yang lain mengaku bahwa ia membelinya dari Amr, dan bahwa ia adalah pemiliknya dengan harga tertentu yang telah ia sebutkan dan telah ia bayarkan, serta ia mendatangkan bukti atas kepemilikan dan jual belinya. Maka pakaian tersebut tidak lepas dari lima keadaan:

أحدها: أن يكون في يد أحد المتبايعين.

Pertama: Barang tersebut berada di tangan salah satu dari kedua pihak yang melakukan jual beli.

والثاني: أن يكون في أيديهما.

Kedua: bahwa barang itu berada di tangan keduanya.

والثالث: أن يكون في يد أحد المشتريين.

Ketiga: Barang tersebut berada di tangan salah satu dari kedua pembeli.

والرابع: أن يكون في أيديهما.

Keempat: Barang itu berada di tangan keduanya.

والخامس: أن يكون في يد أجنبي.

Kelima: Barang tersebut berada dalam genggaman pihak ketiga (orang lain yang tidak berkepentingan).

فأما الحالة الْأَوْلَى: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الثَّوْبُ فِي يَدِ أحد المتبايعين فَبَيِّنَتُهُ أَرْجَحُ وَجْهًا وَاحِدًا، لِأَنَّها بَيِّنَةُ دَاخِلٍ تَنْدَفِعُ بِهَا بَيِّنَةُ خَارِجٍ فَيَصِحُّ بَيْعُهُ، وَيُؤْخَذُ بِتَسْلِيمِ الثَّوْبِ إِلَى مُشْتَرِيهِ مِنْهُ. وَيَبْطُلُ بَيْعُ الْآخَرِ، وَيُؤْخَذُ بِرَدِّ الثَّمَنِ عَلَى مُشْتَرِيهِ مِنْهُ، وَلَا يَمِينَ لِلْبَائِعِ الْآخَرِ، وَلَا لِلْمُشْتَرِي عَلَى مَنْ تَرَجَّحَتْ بَيِّنَتُهُ مِنَ الْبَائِعِ وَالْمُشْتَرِي، لِأَنَّ الْحُكْمَ ثَبَتَ لَهُمَا بِالْبَيِّنَةِ، تَرْجِيحًا بِالْيَدِ وَلَا يمين مع البينة.

Adapun keadaan pertama, yaitu apabila kain berada di tangan salah satu dari dua pihak yang berjual beli, maka buktinya lebih kuat secara mutlak, karena itu adalah bukti dari pihak yang memegang barang, yang dapat mengalahkan bukti dari pihak luar. Maka jual belinya sah, dan kain diserahkan kepada pembelinya dari pihak tersebut. Jual beli pihak yang lain menjadi batal, dan harga barang dikembalikan kepada pembelinya dari pihak tersebut. Tidak ada sumpah bagi penjual yang lain, dan tidak pula bagi pembeli terhadap pihak yang buktinya lebih kuat dari penjual dan pembeli, karena hukum telah ditetapkan bagi keduanya dengan bukti, yang dikuatkan dengan kepemilikan barang, dan tidak ada sumpah bersama bukti.

(فصل)

(Bab)

: وأما الحالة الثَّانِيَةُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الثَّوْبُ فِي يَدِ الْبَائِعَيْنِ، فَلَا تَخَاصُمَ بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ، فَقِيلَ: إِنَّهُ لَا يَدَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى مَا يَدَّعِيهِ وَخَصْمُهُ فِيهِ هُوَ الْبَائِعُ عَلَيْهِ، لِيُسَلِّمَ إِلَيْهِ مَا بَاعَهُ عَلَيْهِ وَلِلْبَائِعِ حِينَئِذٍ حَالَتَانِ:

Adapun keadaan kedua: yaitu apabila kain itu masih berada di tangan para penjual, maka tidak ada persengketaan antara para pembeli. Ada pendapat yang mengatakan: tidak ada hak kepemilikan bagi salah satu dari mereka atas apa yang mereka klaim, dan pihak yang menjadi lawan sengketa dalam hal ini adalah penjual, agar ia menyerahkan kepada pembeli apa yang telah dijualnya. Pada saat itu, penjual memiliki dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَتَنَازَعَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، أَنَّهُ مَالِكٌ لِجَمِيعِهِ وَبَيِّنَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ فِي الْبَيْعِ، هِيَ بَيِّنَةٌ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ فِي الْمِلْكِ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةُ دَاخِلٍ فِي النِّصْفِ الَّذِي بِيَدِهِ، وَبَيِّنَةُ خَارِجٍ فِي النِّصْفِ الَّذِي فِي يَدِ صَاحِبِهِ، فَيَحْكُمُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِنِصْفِهِ بِبَيِّنَتِهِ وَيَدِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ عَارَضَتْهُ فِيهِ بَيِّنَةُ خَارِجٍ وَهَلْ يَجِبُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِحْلَافُ صَاحِبِهِ، أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ: مِنْ تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ هَلْ يَسْقُطَانِ، أَوْ يُسْتَعْمَلَانِ؟

Pertama: Kedua belah pihak saling berselisih, masing-masing mengklaim bahwa ia adalah pemilik seluruhnya, dan bukti dari masing-masing pembeli dalam jual beli adalah juga bukti bagi masing-masing penjual dalam kepemilikan. Setiap dari mereka memiliki bukti sebagai pihak yang berada di dalam atas separuh yang ada di tangannya, dan bukti sebagai pihak luar atas separuh yang ada di tangan temannya. Maka diputuskan untuk masing-masing dari mereka separuh bagian berdasarkan buktinya dan kepemilikan di tangannya, karena telah ada bukti pihak luar yang menentangnya dalam hal itu. Apakah wajib bagi masing-masing dari mereka untuk meminta sumpah dari temannya atau tidak? Ada dua pendapat: terkait pertentangan dua bukti, apakah keduanya gugur atau keduanya digunakan?

فَإِنْ قِيلَ: بِإِسْقَاطِهِمَا فَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يَحْلِفَ لِصَاحِبِهِ أَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِيمَا بِيَدِهِ، وَلَا يَحْلِفُ أَنَّهُ مَالِكٌ لِمَا بِيَدِهِ، لِأَنَّهُ يَحْلِفُ عَلَى إِنْكَارِهِ وَلَيْسَ يَحْلِفُ عَلَى إِثْبَاتِهِ.

Jika dikatakan: dengan menggugurkan keduanya, maka masing-masing dari keduanya harus bersumpah kepada lawannya bahwa ia tidak memiliki hak atas apa yang ada di tangannya, dan ia tidak bersumpah bahwa ia adalah pemilik atas apa yang ada di tangannya, karena ia bersumpah atas penolakannya dan bukan bersumpah untuk menetapkan kepemilikan.

وَإِنْ قِيلَ: بِاسْتِعْمَالِ الْبَيِّنَتَيْنِ فَلَا يَمِينَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ، لِأَنَّ مِنْ حُكِمَ لَهُ بِالْبَيِّنَةِ لَمْ يَحْلِفْ مَعَهَا، ثُمَّ يَصِيرُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ مَالِكًا لِنِصْفِهِ، وَبَائِعًا لِجَمِيعِهِ فَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِمْضَاءِ الْبَيْعِ فِي نِصْفِهِ وَالرُّجُوعِ بِنِصْفِ ثَمَنِهِ، وَبَيْنَ فَسْخِ الْبَيْعِ فِي جَمِيعٍ، وَالرُّجُوعِ بِجَمِيعِ ثَمَنِهِ عَلَى مَا بَيَّنَاهُ.

Dan jika dikatakan: dengan menggunakan dua bukti (bayyinah), maka tidak ada sumpah atas salah satu dari mereka untuk lawannya, karena siapa yang diputuskan untuknya dengan bayyinah tidak bersumpah bersamanya. Kemudian masing-masing dari dua penjual menjadi pemilik atas setengahnya, dan penjual atas seluruhnya. Maka masing-masing dari dua pembeli memiliki pilihan antara melanjutkan jual beli pada setengahnya dan mengambil kembali setengah dari harganya, atau membatalkan jual beli seluruhnya dan mengambil kembali seluruh harganya, sebagaimana telah kami jelaskan.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَصَادَقَ الْبَائِعَانِ عَلَى أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَالِكٌ لِنِصْفِهِ، فَيَنْقَطِعُ التَّخَاصُمُ بَيْنَهُمَا بِالتَّصَادُقِ، وَفِي انْقِطَاعِ خُصُومَةِ الْمُشْتَرِيَيْنِ بِانْقِطَاعِهَا بَيْنَ الْبَائِعَيْنِ وَجْهَانِ:

Keadaan kedua: apabila kedua penjual sepakat bahwa masing-masing dari mereka adalah pemilik setengah bagian, maka perselisihan di antara mereka terputus dengan adanya kesepakatan tersebut. Adapun mengenai terputusnya perselisihan antara kedua pembeli karena terputusnya perselisihan antara kedua penjual, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَدِ انْقَطَعَتِ الْخُصُومَةُ بِتَصَادُقِهِمَا، وَصَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَالِكًا لِنِصْفِهِ، وَبَائِعًا لِجَمِيعِهِ، فَلَزِمَهُ تَسْلِيمُ مَا مَلَكَ وَدَرَكُ مَا لَمْ يَمْلِكْ.

Salah satunya: Perselisihan telah berakhir karena keduanya telah saling bersepakat, sehingga masing-masing dari mereka menjadi pemilik atas setengahnya dan penjual atas seluruhnya. Maka wajib baginya menyerahkan apa yang ia miliki dan menanggung apa yang tidak ia miliki.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الْخُصُومَةَ بَاقِيَةٌ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ لِأَنَّهُ يَدَّعِي مِلْكَ جَمِيعِ الثَّوْبِ، وَقَدْ صَارَ إِلَى نِصْفِهِ مَعَ بَقَائِهِ فِي حَقِّ غَيْرِهِ، وَيَكُونُ مُخَاصِمًا فِيهِ لِمَنْ بِيَدِهِ النِّصْفُ الْآخَرُ فَإِنْ كَانَ قَدْ تَسَلَّمَ مُشْتَرَيَهُ، كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خَصْمًا لِصَاحِبِهِ فِيهِ فَيَتَحَالَفَانِ عَلَيْهِ، وَلَا تُسْتَعْمَلُ بَيِّنَتَاهُمَا فِيهِ، لِأَنَّهَا لَا تُفِيدُهُمَا أَكْثَرَ مِنْ قَسْمٍ بَيْنَهُمَا.

Pendapat kedua: Bahwa persengketaan tetap ada bagi masing-masing dari kedua pembeli, karena masing-masing mengklaim kepemilikan seluruh kain, sementara ia hanya mendapatkan setengahnya, dan sisanya masih menjadi hak orang lain. Maka ia menjadi pihak yang bersengketa terhadap orang yang memegang setengah bagian lainnya. Jika masing-masing telah menerima bagian yang dibelinya, maka masing-masing dari mereka menjadi pihak yang bersengketa terhadap yang lain dalam hal itu, sehingga keduanya saling bersumpah atasnya, dan kesaksian masing-masing tidak digunakan dalam perkara ini, karena kesaksian tersebut tidak memberikan manfaat lebih dari sekadar pembagian di antara mereka.

فَإِنْ حَلَفَا أَوْ نَكَلَا كَانَ بَيْنَهُمَا، وَانْقَطَعَ تَخَاصُمُهُمَا، وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ، حُكِمَ بِجَمِيعِهِ لِلْحَالِفِ وَلَمْ يَلْزَمْ لِبَائِعِهِ عَلَيْهِ إِلَّا نِصْفُ ثَمَنِهِ، وَإِنْ صَارَ مَالِكًا لِجَمِيعِهِ لِأَنَّ الْبَائِعَ مُقِرٌّ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ إِلَّا نِصْفَهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُشْتَرِيهِ قَدْ سَاقَ الثَّمَنَ إِلَيْهِ، لَمْ يُطَالِبْهُ الْبَائِعُ إِلَّا بِنِصْفِهِ، وَإِنْ كَانَ قَدْ سَاقَ جَمِيعَ الثَّمَنِ لَمْ يَكُنْ لَهُ اسْتِرْجَاعُ شَيْءٍ مِنْهُ، لِأَنَّهُ مُقِرٌّ بِاسْتِحْقَاقِهِ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لِلْمُشْتَرِي النَّاكِلِ رُجُوعُهُ بِدَرْكِهِ عَلَى بَائِعِهِ، لِأَنَّهُ مُسْتَحَقٌّ مِنْ يَدِهِ بِنُكُولِهِ، وَلَوْ حَلَفَ لَكَانَ مُقَرًّا فِي يَدِهِ، وَلَوْ لَمْ يَتَسَلَّمُ الْمُشْتَرِي، وَكَانَ بَاقِيًا مِنْ يَدِ الْبَائِعَيْنِ وُقِفَتِ الْخُصُومَةُ بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ، وَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مُطَالَبَةُ مُبَايِعِهِ، فَيَتَسَلَّمُ مَا ابْتَاعَهُ مِنْهُ، وَهُوَ لَا يَقْدِرُ إِلَّا عَلَى تَسْلِيمِ نِصْفِهِ الَّذِي فِي يَدِهِ، فَإِذَا قَبَضَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفَهُ، تَخَاصَمَ فِيهِ الْمُشْتَرِيَانِ، وَكَانَ حُكْمُهُمَا فِي التَّخَاصُمِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Jika keduanya bersumpah atau keduanya enggan bersumpah, maka perkara di antara mereka selesai dan perselisihan mereka terputus. Namun jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lain enggan bersumpah, maka seluruh perkara diputuskan untuk yang bersumpah, dan penjualnya hanya berhak menuntut setengah dari harga barang tersebut, meskipun ia menjadi pemilik seluruhnya, karena penjual mengakui bahwa ia hanya memiliki setengahnya. Jika pembeli belum membayar harga kepada penjual, maka penjual hanya dapat menuntut setengahnya saja. Namun jika ia telah membayar seluruh harga, maka penjual tidak berhak meminta kembali sedikit pun darinya, karena ia telah mengakui hak pembeli atasnya. Pembeli yang enggan bersumpah juga tidak berhak menuntut penjualnya atas kekurangan barang, karena barang tersebut telah menjadi hak orang lain dari tangannya akibat keengganannya bersumpah. Seandainya ia bersumpah, maka barang itu tetap di tangannya. Jika pembeli belum menerima barang dan barang tersebut masih berada di tangan kedua penjual, maka perselisihan antara kedua pembeli ditangguhkan, dan masing-masing berhak menuntut penjualnya, sehingga ia menerima bagian yang dibelinya dari penjualnya, dan penjual hanya mampu menyerahkan setengah bagian yang ada di tangannya. Jika masing-masing dari mereka telah menerima setengahnya, maka kedua pembeli berselisih atas bagian tersebut, dan hukum perselisihan mereka mengikuti apa yang telah kami sebutkan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الثَّوْبُ فِي يَدِ أَحَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ، تَرَجَّحَتْ بَيِّنَتُهُ بِيَدِهِ وَجْهًا وَاحِدًا، بِخِلَافِ يَدِهِ لَوْ كَانَ الْبَائِعُ عَلَيْهَا وَاحِدًا فِي أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ، لِأَنَّهُمَا فِي الشِّرَاءِ مَعَ اثْنَيْنِ يَجْعَلُ يَدَهُ بِيَدِ بَائِعِهِ الَّذِي لَمْ يُنْقَلْ مِلْكُهُ إِلَّا إِلَيْهِ، فَصَارَتْ يَدُهُ كَيْدَ أَحَدِ الْبَائِعَيْنِ، فَحُكِمَ لَهُ بِالْجَمِيعِ، لِأَنَّ بَيِّنَتَهُ بِالْجَمِيعِ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ وَبَيِّنَةُ الْآخَرِ فِي الْجَمِيعِ بَيِّنَةُ خَارِجٍ، وَلَزِمَهُ جَمِيعُ الثَّمَنِ وَرَجَعَ الْآخَرُ عَلَى صَاحِبِهِ بِجَمِيعِ الثَّمَنِ، وَلَيْسَ لَهُ مُخَاصَمَةُ صَاحِبِهِ فِي الشِّرَاءِ، لِأَنَّهُ قَدِ اسْتَقَرَّ ابْتِيَاعُهُ لِجَمِيعِ الثَّوْبِ، لِحُكْمٍ بَاتٍّ، وَيَنْقَطِعُ التَّنَازُعُ بَيْنَ الْبَائِعَيْنِ، كَانْقِطَاعِهِ بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ لِنُفُوذِ الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ وَالْيَدِ لِلْبَائِعِ، وَالْمُشْتَرِي مِنْهُ عَلَى الْبَائِعِ الْآخَرِ وَالْمُشْتَرِي مِنْهُ.

Adapun keadaan ketiga: yaitu apabila kain itu berada di tangan salah satu dari dua pembeli, maka kesaksian yang mendukungnya menjadi lebih kuat karena kain itu berada di tangannya, secara mutlak. Berbeda halnya jika kain itu berada di tangan penjual, maka hanya berlaku pada salah satu dari dua kemungkinan. Sebab, dalam transaksi jual beli dengan dua orang, tangan pembeli itu dianggap seperti tangan penjualnya yang kepemilikannya belum berpindah kecuali kepadanya, sehingga tangannya dianggap seperti tangan salah satu dari dua penjual. Maka diputuskan seluruh kain menjadi miliknya, karena kesaksiannya atas seluruh kain adalah kesaksian pihak yang berada di dalam, sedangkan kesaksian pihak lain atas seluruh kain adalah kesaksian pihak luar. Maka ia wajib membayar seluruh harga kain, dan pihak lain dapat menuntut temannya atas seluruh harga kain. Namun, ia tidak berhak menggugat temannya dalam hal pembelian, karena pembelian seluruh kain telah tetap menjadi miliknya dengan keputusan yang pasti, dan perselisihan antara kedua penjual pun terputus, sebagaimana terputusnya perselisihan antara kedua pembeli karena keputusan hukum berdasarkan kesaksian dan kepemilikan tangan bagi penjual dan pembeli dari penjual yang lain.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْحَالَةُ الرَّابِعَةُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الثَّوْبُ فِي يَدِ الْمُشْتَرِيَيْنِ، فَقَدْ تَكَافَئَا فِي الْبَيِّنَةِ وَالْيَدِ، لِأَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةُ دَاخِلٍ فِي نِصْفِهِ، وَبَيِّنَةُ خَارِجٍ مِنْ نِصْفِهِ، فَيُحْكَمُ بِهِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ وَتَكُونُ الْخُصُومَةُ فِيهِ بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ، وَلَا خُصُومَةَ فِي الْحَالِ بَيْنَهُمَا، وَبَيْنَ الْبَائِعَيْنِ، لِأَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِحْلَافُ صَاحِبِهِ قَوْلًا وَاحِدًا، لِأَنَّهُ لَوْ صَدَّقَهُ عَلَيْهِ، لَزِمَهُ تَسْلِيمُ مَا بِيَدِهِ وَفِي كَيْفِيَّةِ يَمِينِهِ قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ. فَإِنْ قِيلَ: بِاسْتِعْمَالِهِمَا كَانَتْ يَمِينُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى النَّفْيِ دُونَ الْإِثْبَاتِ، فَيَحْلِفُ بِأَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِيمَا بِيَدِي، وَلَا يَحْلِفُ إِنِّي مَالِكٌ لِمَا بِيَدِي، لِأَنَّهُ قَدْ مَلَكَهُ بِالْبَيِّنَةِ، فَلَا يَمِينَ مَعَ الْبَيِّنَةِ، وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ تَعَارُضَهُمَا مُوجِبٌ لِإِسْقَاطِهِمَا، كَانَتْ يَمِينُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى الْإِثْبَاتِ دُونَ النَّفْيِ، فَيَحْلِفُ بِاللَّهِ لَقَدْ تَمَلَّكَهُ بِالِابْتِيَاعِ مِنْ فُلَانٍ، لِأَنَّهُ لَمْ يَمْلِكْ بِالْبَيِّنَةِ، فَصَارَ مَالِكًا بِالثَّمَنِ، فَإِنْ حَلَفَا كَانَ الثَّوْبُ بَيْنَهُمَا مِلْكًا، وَإِنْ نَكَلَا كَانَ الثَّوْبُ بَيْنَهُمَا يَدًا، فَلَا رُجُوعَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالدَّرَكِ عَلَى مُبَايِعِهِ، سَوَاءٌ حَلَفَا أَوْ نَكَلَا، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي ادِّعَاءِ جَمِيعِهِ مِلْكًا بِالِابْتِيَاعِ مُصَدَّقٌ لِمُبَايِعِهِ عَلَى مِلْكِهِ.

Adapun keadaan keempat: yaitu apabila kain itu berada di tangan kedua pembeli, maka keduanya seimbang dalam hal bukti dan kepemilikan, karena masing-masing dari mereka memiliki bukti yang menunjukkan kepemilikan atas setengah kain, dan bukti yang menunjukkan tidak memiliki setengah lainnya. Maka diputuskan bahwa kain itu dibagi dua di antara mereka, dan perselisihan hanya terjadi di antara kedua pembeli, tidak ada perselisihan antara mereka dengan kedua penjual, karena masing-masing dari mereka berhak meminta sumpah dari lawannya menurut satu pendapat, sebab jika ia membenarkan lawannya, maka ia wajib menyerahkan bagian yang ada di tangannya. Dalam tata cara sumpahnya terdapat dua pendapat, yang berasal dari perbedaan pendapat dalam kasus pertentangan dua bukti. Jika dikatakan: dengan penggunaan kedua bukti itu, maka sumpah masing-masing dari mereka adalah untuk menafikan, bukan untuk menetapkan, sehingga ia bersumpah bahwa lawannya tidak memiliki hak atas apa yang ada di tangannya, dan ia tidak bersumpah bahwa ia adalah pemilik atas apa yang ada di tangannya, karena ia telah memilikinya dengan bukti, maka tidak ada sumpah bersama bukti. Namun jika dikatakan bahwa pertentangan kedua bukti itu menyebabkan keduanya gugur, maka sumpah masing-masing dari mereka adalah untuk menetapkan, bukan untuk menafikan, sehingga ia bersumpah demi Allah bahwa ia benar-benar telah memilikinya dengan pembelian dari si fulan, karena ia tidak memilikinya dengan bukti, maka ia menjadi pemilik dengan harga. Jika keduanya bersumpah, maka kain itu menjadi milik bersama mereka berdua; dan jika keduanya enggan bersumpah, maka kain itu tetap berada di tangan mereka berdua, sehingga tidak ada hak bagi salah satu dari mereka untuk menuntut ganti rugi kepada penjualnya, baik mereka bersumpah maupun tidak, karena masing-masing dari mereka dalam mengklaim seluruh kain sebagai miliknya melalui pembelian telah membenarkan penjualnya atas kepemilikannya.

وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ، حُكِمَ بِالْجَمِيعِ لِلْحَالِفِ دُونَ النَّاكِلِ، وَلَزِمَهُ ثَمَنُ جَمِيعِهِ لِمُبَايِعِهِ، لِاعْتِرَافِهِمَا بِاسْتِحْقَاقِهِ، وَلَا رُجُوعَ لِلنَّاكِلِ بِدَرَكِهِ عَلَى مُبَايِعِهِ بِشَيْءٍ مِنْ ثَمَنِهِ، لِأَنَّهُ مُقِرٌّ أَنَّهُ بَائِعٌ لِمِلْكِهِ.

Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lainnya enggan, maka diputuskan seluruhnya untuk yang bersumpah dan bukan untuk yang enggan, dan ia wajib membayar harga seluruhnya kepada penjualnya, karena keduanya telah mengakui hak penjual tersebut. Orang yang enggan tidak berhak menuntut penjualnya atas kerugian apa pun dari harga tersebut, karena ia telah mengakui bahwa ia menjual miliknya sendiri.

فَإِنْ أَحَالَ الْمُشْتَرِيَانِ بِالتَّحَالُفِ عَلَى الْبَائِعَيْنِ لِيَكُونَا خَصْمَيْنِ فِيهِ، كَانَ جَوَازُهُ عَلَى قَوْلَيْنِ، مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَإِنْ قِيلَ: بِإِسْقَاطِهِمَا، تَحَالَفَ عَلَيْهِ الْبَائِعَانِ وَكَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ خَصْمًا لِمُبَايِعِهِ فِيهِ.

Jika kedua pembeli mengalihkan sumpah kepada kedua penjual agar keduanya menjadi pihak yang bersengketa dalam hal ini, maka kebolehannya terdapat dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat dalam kasus pertentangan dua bukti. Jika dikatakan bahwa kedua bukti tersebut gugur, maka kedua penjuallah yang saling bersumpah, dan masing-masing pembeli menjadi pihak yang bersengketa dengan penjualnya dalam hal tersebut.

وَإِنْ قِيلَ بِاسْتِعْمَالِهَا لَمْ يَتَحَالَفْ عَلَيْهِ الْبَائِعَانِ، لِبَتِّ الْحُكْمِ بَيْنَهُمَا بِالْبَيِّنَةِ، وَلَا رُجُوعَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالدَّرَكِ عَلَى مُبَايِعِهِ إِنْ تَدَاعَيَاهُ، وَلَهُمَا الرُّجُوعُ بِدَرَكِهِ، إِنْ لَمْ يَتَدَاعَيَاهُ لِأَنَّهُمَا فِي تَدَاعِيهِ مُصَدِّقَانِ لِلْبَائِعَيْنِ، وَإِنْ لَمْ يَتَدَاعَيَاهُ غَيْرُ مُصَدِّقِينَ، وَإِنْ لَمْ يُجْعَلْ لَهُمَا الرُّجُوعَ بِالدَّرَكِ، فَلَا خِيَارَ لَهُمَا فِي فَسْخِ الْبَيْعِ، وَإِنْ جَعَلَ لَهُمَا الدَّرَكُ كَانَ لَهُمَا الْخِيَارُ فِي فَسْخِ الْبَيْعِ، وَكَانَا فِيهِ بَيْنَ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Dan jika dikatakan bahwa keduanya telah menggunakan barang tersebut, maka kedua penjual tidak saling bersumpah, karena keputusan hukum antara mereka telah diputuskan dengan bukti. Tidak ada hak bagi salah satu dari mereka untuk menuntut ganti rugi (darak) kepada penjualnya jika mereka saling mengklaim, namun keduanya berhak menuntut ganti rugi jika mereka tidak saling mengklaim, karena dalam saling klaim tersebut keduanya membenarkan para penjual, sedangkan jika tidak saling mengklaim, maka keduanya tidak membenarkan. Jika tidak diberikan hak kepada keduanya untuk menuntut ganti rugi, maka keduanya tidak memiliki hak khiyar untuk membatalkan jual beli. Namun jika diberikan hak ganti rugi kepada keduanya, maka keduanya memiliki hak khiyar untuk membatalkan jual beli, dan dalam hal ini keduanya berada dalam tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَفْسَخَا فَيَرْجِعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَدَرَكِ جَمِيعِهِ.

Salah satunya: keduanya membatalkan akad, maka masing-masing dari mereka mengambil kembali seluruh bagiannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يُقِيمَا فَيَرْجِعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِدَرَكِ نِصْفِهِ.

Kedua: Jika keduanya tetap tinggal, maka masing-masing dari mereka berhak mendapatkan kembali setengah bagiannya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَفْسَخَ أَحَدُهُمَا، وَيُقِيمُ الْآخَرُ، فَيَرْجِعُ الْمُقِيمُ بِدَرْكِ النِّصْفِ فَيَرْجِعُ الْفَاسِخُ بِدَرْكِ الْجَمِيعِ، وَلَا تَتَوَفَّرُ حِصَّةُ الْفَاسِخِ عَلَى التَّرَاضِي لِأَنَّ حِصَّةَ الْفَاسِخِ تَعُودُ إِلَى مُبَايِعِهِ، وَلَا تَعُودُ إِلَى مُبَايِعِ الرَّاضِي فَصَارَ فِيهِ بِخِلَافِ الْبَائِعِ الْوَاحِدِ، الَّذِي لَا يعود إلى مبايعه، ولا تعود إل مُبَايِعِ الرَّاضِي، فَيَتَوَفَّرُ مِنْ حِصَّتِهِ عَلَى الرَّاضِي.

Ketiga: Jika salah satu dari keduanya membatalkan, sementara yang lain tetap melanjutkan, maka yang tetap melanjutkan berhak menuntut setengah bagian, sedangkan yang membatalkan berhak menuntut seluruh bagian. Bagian dari yang membatalkan tidak dapat diberikan kepada pihak yang setuju, karena bagian dari yang membatalkan kembali kepada pihak yang menjual kepadanya, dan tidak kembali kepada pihak yang menjual kepada yang setuju. Maka dalam hal ini berbeda dengan penjual tunggal, di mana bagiannya tidak kembali kepada pihak yang menjual kepadanya, dan tidak pula kepada pihak yang menjual kepada yang setuju, sehingga bagian tersebut dapat diberikan kepada pihak yang setuju.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْحَالُ الْخَامِسَةُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الثَّوْبُ فِي يَدِ أَجْنَبِيٍّ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun keadaan kelima: yaitu apabila pakaian berada di tangan orang asing, maka terdapat dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تُنْسَبَ يَدُهُ إِلَى أَحَدِ الْأَرْبَعَةِ، فَيَكُونُ حُكْمُهُ كَحُكْمِهِ لَوْ كَانَ فِي يَدِ مَنْ نَسَبَهُ إِلَيْهِ، وَهَلْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَاقِينَ أَنْ يُحَلِّفَهُ إِنْ أَكْذَبَهُ عَلَى أَنَّ يَدَهُ نَائِبَةٌ عَمَّنْ نَسَبَهُ إِلَيْهِ، أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ: مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي وُجُوبِ الْغُرْمُ عَلَيْهِ إِنْ صَدَّقَ غَيْرَهُ.

Salah satunya adalah: tangan itu dinisbatkan kepada salah satu dari empat orang tersebut, maka hukumnya seperti hukum jika barang itu berada di tangan orang yang dinisbatkan kepadanya. Apakah masing-masing dari yang lain berhak meminta sumpah darinya jika ia mendustakannya, atas dasar bahwa tangannya mewakili orang yang dinisbatkan kepadanya atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat mengenai kewajiban membayar ganti rugi atasnya jika ia membenarkan orang lain.

فَإِنْ قِيلَ: بِوُجُوبِ الْغُرْمِ عَلَيْهِ مَعَ الْإِقْرَارِ، أُحْلِفَ مَعَ الْإِنْكَارِ. وَإِنْ قِيلَ: لَا غُرْمَ عَلَيْهِ لَمْ يَحْلِفْ.

Jika dikatakan: dengan wajibnya membayar ganti rugi atasnya ketika mengakui, maka ia disumpah ketika mengingkari. Dan jika dikatakan: tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya, maka ia tidak disumpah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَدَّعِيَهُ لِنَفْسِهِ مِلْكًا، فَدَعَوَاهُ مَرْدُودَةٌ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، لِأَنَّ إِحْدَاهُمَا تَشْهَدُ بِهِ لِزَيْدٍ وَالْأُخْرَى تَشْهَدُ بِهِ لِعَمْرٍو، وَكُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَشْهَدُ بِأَنْ لَا حَقَّ فِيهِ لِصَاحِبِ الْيَدِ، وَلَا يُنْتَزَعُ مِنْ يَدِهِ قَبْلَ بَتِّ الْحُكْمِ بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ، لِيَتَعَيَّنَ بِالْحُكْمِ مُسْتَحَقُّ انْتِزَاعِهِ مِنْهُ، فَصَارَتْ يَدُهُ ضَامِنَةٌ لَهُ فِي جَنَبَةِ مُسْتَحَقِّهِ، وَقَدْ تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ فِيهِ مِلْكًا فِي حَقِّ الْبَائِعَيْنِ وَمَبِيعًا فِي حَقِّ المشتريين، وتساوت البينتان في حق الجنبتين لأنها بَيَّنَتَا خَارِجٍ فَتُحْمَلُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ:

Jenis kedua: yaitu seseorang mengklaimnya sebagai miliknya sendiri, maka klaimnya tertolak oleh masing-masing dari kedua bukti tersebut, karena salah satunya bersaksi bahwa barang itu milik Zaid dan yang lainnya bersaksi bahwa barang itu milik Amr, dan masing-masing dari keduanya bersaksi bahwa tidak ada hak bagi pemegang barang tersebut. Barang itu tidak boleh diambil dari tangannya sebelum adanya keputusan hukum di antara kedua pihak yang bersengketa, agar dengan keputusan tersebut dapat ditentukan siapa yang berhak untuk diambil darinya. Maka, tangannya menjadi penjamin bagi barang itu terhadap pihak yang berhak. Kedua bukti tersebut saling bertentangan dalam hal kepemilikan bagi para penjual dan dalam hal barang yang dijual bagi para pembeli, dan kedua bukti itu seimbang dalam kedua sisi karena keduanya merupakan bukti dari luar, sehingga hal ini dikembalikan kepada tiga pendapat:

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ خَصْمًا لِلْآخَرِ فِي مِلْكِهِ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ خَصْمًا لِمُبَايِعِهِ فِي ابْتِيَاعِهِ، فَيَتَحَالَفُ الْبَائِعَانِ عَلَى مِلْكِهِ.

Salah satunya adalah menggugurkan kedua bukti, sehingga masing-masing dari kedua penjual menjadi pihak yang bersengketa terhadap yang lain dalam kepemilikannya, dan masing-masing dari kedua pembeli menjadi pihak yang bersengketa terhadap penjualnya dalam transaksi pembeliannya, lalu kedua penjual saling bersumpah atas kepemilikan mereka.

فَإِنْ حَلَفَا، حُكِمَ بِهِ لَهُمَا مِلْكًا.

Jika keduanya telah bersumpah, maka diputuskan bahwa barang itu menjadi milik mereka berdua.

وَإِنْ نَكَلَا جُعِلَ بَيْنَهُمَا يَدًا.

Jika keduanya enggan bersumpah, maka perkara tersebut diserahkan kepada salah satu dari mereka untuk bersumpah.

وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ فَهَلْ تُرَدُّ يَمِينُ نُكُولِهِ عَلَى مُدَّعِي ابْتِيَاعِهِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي غُرَمَاءِ الْمُفْلِسِ، إِذَا أَجَابُوا إِلَى يَمِينٍ يُسْتَحَقُّ بِهَا مَالٌ نَكَلَ عَنْهَا الْمُفْلِسُ:

Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lainnya enggan bersumpah, maka apakah sumpah karena enggannya itu dikembalikan kepada pihak yang mengaku telah membeli? Ada dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat dalam kasus para kreditur orang yang bangkrut, apabila mereka menerima untuk bersumpah yang dengan sumpah itu harta menjadi hak mereka, lalu orang yang bangkrut enggan bersumpah.

أَحَدُهُمَا: تُرَدُّ الْيَمِينُ عَلَى الْمُشْتَرِي إِذَا قِيلَ إِنَّهَا تُرَدُّ عَلَى الْغُرَمَاءِ لِأَنَّهُ قَدْ أَثْبَتَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَمِينِهِ حَقًا لِنَفْسِهِ.

Salah satunya: sumpah dikembalikan kepada pembeli jika dikatakan bahwa sumpah itu dikembalikan kepada para kreditur, karena masing-masing dari mereka telah menetapkan hak untuk dirinya sendiri dengan sumpahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا تُرَدُّ الْيَمِينُ عَلَى الْمُشْتَرِي إِذَا قِيلَ: إِنَّهَا [لَا] تُرَدُّ عَلَى الْغُرَمَاءِ، لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُمَا فِيمَا يَحْلِفَانِ عَلَيْهِ، إِلَّا بَعْدَ اسْتِحْقَاقِ خَصْمِهِمَا لَهُ، وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَمْلِكَ مَالًا بِيَمِينِ غَيْرِهِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ الثَّوْبُ مِنْ أَنْ يُحْكَمَ بِهِ لِلْبَائِعِينَ، أَوْ لِأَحَدِهِمَا فَإِنْ حُكِمَ بِهِ لَهُمَا، صَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ مُدَّعِيًا عَلَى مُبَايِعِهِ ابْتِيَاعَ جَمِيعِهِ، وَدَفْعَ ثَمَنِهِ، فَإِنْ صَدَّقَهُ مُبَايِعُهُ عَلَى دَعْوَاهُ صَحَّ الْبَيْعُ فِي النِّصْفِ الَّذِي صَارَ إِلَيْهِ، وَبَطَلَ فِي نِصْفِهِ الَّذِي صَارَ فِي مِلْكِ غَيْرِهِ، وَمُشْتَرِيهِ بِالْخِيَارِ فِي إِمْضَائِهِ بِنِصْفِ الثَّمَنِ، وَاسْتِرْجَاعِ نِصْفِهِ الْبَاقِي، أَوْ فَسْخِهِ فِي جَمِيعِهِ، وَاسْتِرْجَاعِ جَمِيعِ ثَمَنِهِ وَإِنْ أَكْذَبَهُ مُبَايِعُهُ فِي ابْتِيَاعِهِ، حَلَفَ لَهُ، وَلَا بَيْعَ بَيْنِهِمَا بَعْدَ يَمِينِهِ، وَهَلْ يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ الرُّجُوعُ بِثَمَنِهِ الَّذِي شَهِدَتْ بَيِّنَتُهُ بِبَيْعِهِ وَدَفْعِ ثَمَنِهِ، أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الشَّهَادَةِ إِذَا رُدَّتْ فِي بَعْضِ مَا شَهِدَتْ بِهِ هَلْ يُوجِبُ رَدُّهَا فِي بَاقِيهِ؟

Pendapat kedua: Sumpah tidak dikembalikan kepada pembeli jika dikatakan bahwa sumpah itu tidak dikembalikan kepada para kreditur, karena keduanya (pembeli dan kreditur) tidak memiliki hak atas apa yang mereka bersumpah kecuali setelah lawan mereka benar-benar berhak atasnya. Tidak sah bagi seseorang untuk memiliki harta dengan sumpah orang lain. Jika demikian, maka pakaian itu tidak lepas dari kemungkinan diputuskan untuk para penjual, atau untuk salah satu dari mereka. Jika diputuskan untuk keduanya, maka masing-masing dari dua pembeli menjadi penggugat atas penjualnya mengenai pembelian seluruhnya dan pembayaran harganya. Jika penjualnya membenarkan klaimnya, maka jual beli sah pada setengah yang menjadi miliknya, dan batal pada setengah yang menjadi milik orang lain, dan pembelinya berhak memilih untuk melanjutkan dengan setengah harga dan mengambil kembali setengah sisanya, atau membatalkan seluruhnya dan mengambil kembali seluruh harganya. Jika penjualnya mendustakan klaim pembeliannya, maka ia bersumpah untuknya, dan tidak ada jual beli di antara keduanya setelah sumpah itu. Apakah ia berhak menuntut kembali harga yang telah dibuktikan oleh kesaksian bahwa ia telah membeli dan membayar harganya atau tidak? Ada dua pendapat berdasarkan perbedaan pendapat dalam masalah kesaksian jika sebagian dari apa yang disaksikan ditolak, apakah penolakan itu berpengaruh pada sisanya?

أَحَدُهُمَا: لَا يُرَدُّ وَيُحْكَمُ لَهُ عَلَى الْبَائِعِ بِرَدِّ الثَّمَنِ.

Salah satunya: tidak ditolak dan diputuskan untuknya atas penjual dengan mengembalikan harga.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُرَدُّ، وَيَكُونُ الْقَوْلُ قَوْلَ الْبَائِعِ فِي إِنْكَارِهِ مَعَ يَمِينِهِ، وَإِنْ حَكَمَ بِالثَّوْبِ لِأَحَدِ الْمُتَبَايِعَيْنِ بَطَلَ بَيْعُ مَنْ لَمْ يُحْكَمْ له، وهل يرد الثمن بالبينة إن أنكر أم لا؟ على قولين وَتَوَجَّهَتِ الدَّعْوَى عَلَى مَنْ حُكِمَ لَهُ بِالثَّوْبِ لِمُشْتَرِيهِ مِنْهُ فَإِنْ صَدَّقَهُ عَلَيْهِ، صَحَّ الْبَيْعُ فِي جَمِيعِهِ وَلَا خِيَارَ لِمُشْتَرِيهِ وَإِنْ أَنْكَرَهُ حَلَفَ، وَلَا بَيْعَ بَيْنِهِمَا. وَهَلْ يُلْزِمُهُ رَدُّ الثَّمَنِ بِالْبَيِّنَةِ أَمْ لَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ؟

Pendapat kedua: barang dikembalikan, dan yang dipegang adalah pernyataan penjual dalam penolakannya disertai sumpahnya. Jika hakim memutuskan kain itu untuk salah satu dari dua pihak yang berjual beli, maka batal jual beli pihak yang tidak diputuskan untuknya. Apakah harga dikembalikan dengan bukti jika ia mengingkarinya atau tidak? Ada dua pendapat. Gugatan diarahkan kepada pihak yang diputuskan kain itu untuknya, kepada pembelinya dari pihak tersebut. Jika ia membenarkannya atas dirinya, maka sah jual beli seluruhnya dan tidak ada hak khiyar bagi pembelinya. Jika ia mengingkarinya, ia bersumpah, dan tidak ada jual beli di antara keduanya. Apakah ia diwajibkan mengembalikan harga dengan bukti atau tidak? Ada dua pendapat.

فَهَذَا مَا يَتَفَرَّعُ عَلَى هَذِهِ الدَّعْوَى عَلَى هَذَا الْقَوْلِ الْمُوجِبِ لِإِسْقَاطِ الْبَيِّنَتَيْنِ.

Inilah hal-hal yang bercabang dari klaim ini menurut pendapat yang mewajibkan gugurnya kedua bukti tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يُوجَبُ سُقُوطُهُمَا بِالتَّعَارُضِ، وَيُمَيَّزُ بَيْنَهُمَا بِالْقُرْعَةِ. فَأَيَّتُهُمَا قَرَعَتْ، حُكِمَ بِهَا لِمَنْ شَهِدْتُ لَهُ بِمِلْكِ الْبَائِعِ وَبَيْعِهِ عَلَى الْمُشْتَرِي، وَفِي إِحْلَافِهِ مَعَ الْقُرْعَةِ قَوْلَانِ وَرُدَّتِ الْبَيِّنَةُ الْمَقْرُوعَةُ فِي مِلْكِ الْآخَرِ، وَبَيْعِهِ، وَلَمْ تَرِدْ فِيمَا شَهِدَتْ بِهِ مِنْ دَفَعَ الثَّمَنِ قَوْلًا وَاحِدًا، لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ رَدُّهَا إِسْقَاطًا وَإِنَّمَا كَانَ تَرْجِيحًا.

Pendapat kedua: Bahwa tidak wajib gugurnya kedua bukti karena adanya pertentangan, dan keduanya dibedakan dengan undian (qur‘ah). Maka, bukti mana pun yang keluar dalam undian, diputuskan dengannya untuk orang yang disaksikan memiliki hak milik penjual dan jual belinya kepada pembeli. Dalam hal mewajibkan sumpah bersamaan dengan undian, terdapat dua pendapat. Bukti yang tidak terpilih dalam undian ditolak dalam hal kepemilikan pihak lain dan jual belinya, namun tidak ditolak dalam hal yang disaksikan berupa pembayaran harga menurut satu pendapat, karena penolakan tersebut bukanlah pengguguran, melainkan hanya sebagai bentuk tarjīḥ (penguatan salah satu bukti).

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ بِقَسْمِ الثَّوْبِ بِهِمَا بَيْنَ الْمُشْتَرِيَيْنِ نِصْفَيْنِ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْخِيَارُ فِي إِمْضَاءِ الْبَيْعِ فِي نِصْفِهِ بِنِصْفِ ثَمَنِهِ، وَاسْتِرْجَاعِ بَاقِيهِ، أَوْ فَسْخِ الْبَيْعِ فِيهِ، وَاسْتِرْجَاعِ جَمِيعِ ثَمَنِهِ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ مُسْتَعْمَلَةٌ فِيمَا شَهِدَتْ بِهِ وَإِنَّمَا أُمْضِيَتْ فِي النِّصِفِ، لِازْدِحَامِ الْحَقَّيْنِ كَالْعَوْلِ فِي الْفَرَائِضِ.

Pendapat ketiga: menggunakan kedua bayyinah dengan membagi kain itu di antara kedua pembeli menjadi dua bagian, dan masing-masing dari mereka memiliki hak memilih untuk melanjutkan jual beli atas setengah bagiannya dengan setengah dari harganya, serta mengambil kembali sisanya, atau membatalkan jual beli atas bagiannya dan mengambil kembali seluruh harganya. Sebab, bayyinah digunakan sesuai dengan apa yang disaksikannya, dan yang dijalankan hanya pada setengah bagian karena bertemunya dua hak, seperti kasus ‘aul dalam pembagian warisan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَا ثَوْبًا فِي يَدِ أَحَدِهِمَا مِنْهُ ذِرَاعٌ، وَفِي يَدِ الْآخَرِ مِنْهُ عَشَرَةُ أَذْرُعٍ كَانَا فِي الْيَدِ سَوَاءٌ، وَلَا يَتَرَجَّحُ مَنْ بِيَدِهِ أَكْثَرُهُ، عَلَى مَنْ بِيَدِهِ أَقَلُّهُ، لِأَنَّهُ لَوْ تَفَرَّدَ أَحَدُهُمَا بِالْيَدِ لَمْ يَقَعِ الْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ بِيَدِهِ أَكْثَرُهُ، أَوْ أَقَلُّهُ.

Dan apabila dua orang bersengketa atas sebuah kain, salah satu dari mereka memegang satu hasta darinya, dan yang lain memegang sepuluh hasta darinya, maka keduanya dianggap sama dalam hal kepemilikan melalui pegangan, dan tidak diunggulkan orang yang memegang bagian lebih banyak atas orang yang memegang bagian lebih sedikit. Sebab, jika salah satu dari mereka memegang sendiri kain itu, tidak ada perbedaan apakah yang dipegangnya bagian yang lebih banyak atau lebih sedikit.

وَلَوْ تَنَازَعَا دَارًا، وَأَحَدَهُمَا فِي صَحْنِهَا وَالْآخَرُ فِي دِهْلِيزِهَا، كَانَا فِي الْيَدِ سَوَاءٌ.

Jika keduanya bersengketa atas sebuah rumah, sementara salah satu dari mereka berada di halamannya dan yang lain berada di serambinya, maka keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam hal kepemilikan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: الْجَالِسُ فِي الصَّحْنِ أَحَقُّ بِالْيَدِ مِنَ الْجَالِسِ فِي الدِّهْلِيزِ.

Abu Hanifah berkata: Orang yang duduk di halaman lebih berhak atas kepemilikan (hak tangan) daripada orang yang duduk di serambi.

وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّهُ لَوْ تَفَرَّدَ بِالْجُلُوسِ فِي الدِّهْلِيزِ كَانَتْ يده عليها، كما لوكان فِي صَحْنِهَا، وَهَكَذَا لَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا عَلَى سَطْحِهَا، وَالْآخَرُ فِي سُفْلِهَا كَانَا عِنْدَنَا فِي الْيَدِ سَوَاءٌ، وَلَا فَرْقَ أَنْ يَكُونَ عَلَى السَّطْحِ سُتْرَةٌ حَاجِزَةٌ أَوْ لَا تَكُونَ، أَوْ عَلَى السَّطْحِ مُمَرَّقٌ حَاجِزٌ مِنَ السُّفْلِ أَوْ لَا يَكُونُ.

Dan itu tidak benar, karena jika seseorang duduk sendirian di lorong, maka tangannya tetap atasnya, sebagaimana jika ia berada di halamannya. Demikian pula, jika salah satu dari mereka berada di atap, dan yang lainnya di bagian bawahnya, menurut kami keduanya sama-sama memiliki hak kepemilikan. Tidak ada perbedaan apakah di atas atap terdapat pembatas yang memisahkan atau tidak, atau di atas atap terdapat lantai yang memisahkan dari bagian bawah atau tidak ada.

وَلَوْ تَنَازَعَا مَتَاعًا فِي ظَرْفٍ، وَيَدُ أَحَدِهِمَا عَلَى الظَّرْفِ، وَيَدُ الْآخَرِ عَلَى الْمَتَاعِ اخْتَصَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْيَدِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ، وَلَا تَكُونُ الْيَدُ عَلَى الظَّرْفِ مُشَارِكَةٌ لِلْيَدِ عَلَى الْمَتَاعِ، وَلَا الْيَدُ الَّتِي عَلَى الْمَتَاعِ مُشَارِكَةٌ لِلْيَدِ عَلَى الظَّرْفِ، لانفصال أحدهما عن الآخر، لجواز أَنْ يَكُونَ الْمَتَاعُ لِوَاحِدٍ وَالظَّرْفُ لِآخَرَ.

Jika dua orang berselisih mengenai suatu barang yang berada di dalam wadah, dan tangan salah satu dari mereka berada di atas wadah, sedangkan tangan yang lain berada di atas barang tersebut, maka masing-masing dari mereka dianggap memiliki kekuasaan (yad) atas apa yang ada di tangannya. Tangan yang berada di atas wadah tidak dianggap sebagai partisipasi atas tangan yang berada di atas barang, begitu pula tangan yang berada di atas barang tidak dianggap sebagai partisipasi atas tangan yang berada di atas wadah, karena keduanya terpisah satu sama lain, dan dimungkinkan bahwa barang itu milik salah satu dari mereka dan wadahnya milik yang lain.

وَلَوْ تَنَازَعَا عَبْدًا، وَيَدُ أَحَدِهِمَا عَلَى ثَوْبِهِ، وَيَدُ الْآخَرِ عَلَى ثَوْبِهِ كَانَتِ الْيَدُ عَلَى الْعَبْدِ يدا على الثوب والعبد، لأنه يَدَ الْعَبْدِ عَلَى الثَّوْبِ أَقْوَى، فَصَارَتِ الْيَدُ عَلَى الْعَبْدِ أَقْوَى، وَلَا يَكُونُ لِصَاحِبِ الْيَدِ عَلَى الثَّوْبِ يَدٌ عَلَى الْعَبْدِ، وَلَا عَلَى الثَّوْبِ، لِأَنَّ لِلْعَبْدِ عَلَى الثَّوْبِ يَدًا وَتَصَرُّفًا، وَلِمُمْسِكِ الثَّوْبِ يَدٌ مِنْ غَيْرِ تَصَرُّفٍ، وَلَوْ تَنَازَعَا دَابَّةً أَحَدُهُمَا رَاكِبُهَا وَالْآخِرُ قَائِدُهَا، فَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Jika dua orang berselisih mengenai seorang budak, dan tangan salah satu dari mereka berada di pakaian budak tersebut, sementara tangan yang lain berada di pakaian budak yang lain, maka tangan yang berada pada budak dianggap sebagai tangan atas pakaian dan budak sekaligus, karena tangan budak atas pakaian lebih kuat, sehingga tangan atas budak menjadi lebih kuat. Pemilik tangan yang berada di pakaian tidak dianggap memiliki tangan atas budak, juga tidak atas pakaian, karena budak memiliki tangan dan hak bertindak atas pakaian, sedangkan orang yang memegang pakaian hanya memiliki tangan tanpa hak bertindak. Jika dua orang berselisih mengenai seekor hewan, salah satunya menungganginya dan yang lain menuntunnya, maka menurut ulama kami terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَكُونُ لِرَاكِبِهَا دُونَ قَائِدِهَا، لِأَنَّهُ مَعَ الْيَدِ الْمُشْتَرِكَةِ مُخْتَصٌّ بِالتَّصَرُّفِ.

Salah satunya: berlaku bagi penunggangnya, bukan bagi penuntunnya, karena bersama tangan yang digunakan bersama, penungganglah yang memiliki kekhususan dalam bertindak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: هُمَا مُشْتَرِكَانِ فِي الْيَدِ عَلَيْهَا، لِأَنَّ قَوْدَهَا تَصَرُّفٌ كَالرُّكُوبِ فَاسْتَوَيَا. وَلَوْ تَنَازَعَا سَفِينَةً أَحَدُهُمَا مُمْسِكٌ بِرِبَاطِهَا، وَالْآخَرُ مُمْسِكٌ بِخَشَبِهَا، كَانَتِ الْيَدُ لِمُمْسِكِ الْخَشَبِ، دُونَ مُمْسِكِ الرِّبَاطِ، لِأَنَّ الْخَشَبَ مِنَ السَّفِينَةِ وَالرِّبَاطَ لَيْسَ مِنْهَا. وَلَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا رَاكِبَهَا، وَالْآخَرُ مُمْسِكُهَا، كَانَتِ الْيَدُ لِلرَّاكِبِ، دُونَ الْمُمْسِكِ لِأَنَّ لِلرَّاكِبِ تَصَرُّفًا لَيْسَ لِلْمُمْسِكِ.

Pendapat kedua: Keduanya sama-sama memiliki hak atas benda tersebut, karena menggiringnya adalah bentuk tasharruf seperti menungganginya, sehingga keduanya setara. Jika dua orang berselisih mengenai sebuah perahu, salah satunya memegang talinya dan yang lain memegang kayunya, maka hak kepemilikan (yad) ada pada yang memegang kayunya, bukan pada yang memegang talinya, karena kayu adalah bagian dari perahu sedangkan tali bukan bagian darinya. Jika salah satu dari mereka menungganginya dan yang lain hanya memegangnya, maka hak kepemilikan (yad) ada pada yang menungganginya, bukan pada yang memegangnya, karena penunggang memiliki tasharruf yang tidak dimiliki oleh yang hanya memegang.

وَلَوْ تَنَازَعَا دَابَّةً فِي إِصْطَبْلِ أَحَدِهِمَا، وَأَكْذَبَهُمَا عَلَيْهَا، فَإِنْ كَانَ فِي الْإِصْطَبْلِ دَوَابٌّ لغير مالكه، واستويا فِي الْيَدِ عَلَيْهَا، لِأَنَّ التَّصَرُّفَ فِي الْإِصْطَبْلِ قَدْ صَارَ مُشْتَرَكًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْإِصْطَبْلِ دَوَابٌّ غَيْرُ دَوَابِّ صَاحِبِهِ، كَانَتِ الْيَدُ لِصَاحِبِ الْإِصْطَبْلِ خَاصَّةً لِتَفَرُّدِهِ بِالتَّصَرُّفِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika dua orang berselisih mengenai seekor hewan di dalam kandang milik salah satu dari mereka, dan salah satu dari keduanya lebih dianggap berdusta atas klaimnya terhadap hewan itu, maka jika di dalam kandang tersebut terdapat hewan-hewan milik selain pemilik kandang, dan keduanya sama-sama memegang hewan itu, maka hak penguasaan atas hewan tersebut menjadi milik bersama, karena pengelolaan kandang telah menjadi hak bersama. Namun, jika di dalam kandang itu tidak ada hewan selain milik pemilik kandang, maka hak penguasaan atas hewan tersebut khusus bagi pemilik kandang, karena ia sendiri yang berhak mengelolanya. Dan Allah Maha Mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَلَوْ كَانَ الثَوْبُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ ثَوْبُهُ بَاعَهُ مِنَ الَّذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ فَإِنَهُ يَقْضِي بِهِ بَيْنَ الْمُدَّعِيَيْنِ نِصْفَيْنِ وَيَقْضِي لِكُلِّ وَاحِدٍ منهما عليه بنصف الثمن (قال المزني) رحمه الله: ينبغي أن يقضي لكل واحد منهما بجميع الثمن لأنه قد يشتريه من أحدهما ويقبضه ثم يملكه الآخر ويشتريه منه ويقبضه فيكون عليه ثمنان وقد قال أيضا لو شهد شهود كل واحد على إقرار المشتري أنه اشتراه أو أقر بالشراء قضى عليه بالثمنين (قال المزني) سواء إذا شهدوا أنه اشترى أو أقر بالشراء “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika sebuah kain berada di tangan seorang laki-laki, lalu masing-masing dari dua orang mendatangkan bukti bahwa kain itu miliknya dan bahwa ia telah menjualnya kepada orang yang memegang kain itu seharga seribu dirham, maka diputuskan bahwa kain itu dibagi dua antara kedua orang yang bersengketa, dan diputuskan pula bahwa masing-masing dari mereka berhak atas setengah harga kain tersebut.” (Al-Muzani rahimahullah berkata: Hendaknya diputuskan bahwa masing-masing dari mereka berhak atas seluruh harga kain, karena bisa jadi seseorang membelinya dari salah satu dari mereka, lalu ia mengambilnya, kemudian menjadi milik yang lain dan ia membelinya dari yang lain itu serta mengambilnya, sehingga ia berkewajiban membayar dua harga. Dan beliau juga berkata: Jika para saksi dari masing-masing pihak bersaksi atas pengakuan pembeli bahwa ia telah membelinya, atau ia mengakui pembelian tersebut, maka diputuskan ia wajib membayar dua harga. (Al-Muzani berkata:) Sama saja, baik para saksi bersaksi bahwa ia membeli, atau ia mengakui pembelian tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ هِيَ الْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ الَّتِي يَجْتَمِعُ فِيهَا مُشْتَرٍ وَبَائِعَانِ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ بِيَدِهِ ثَوْبٌ تَنَازَعَهُ رَجُلَانِ، فَقَالَ لَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، هَذَا ثَوْبِي بِعْتُهُ عَلَيْكَ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ، وَسَلَّمْتُهُ إِلَيْكَ وَلِي عَلَيْكَ ثَمَنُهُ. وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً بِمَا ادَّعَاهُ، فَلَا تخلو بينتاهمها مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Inilah masalah ketiga yang di dalamnya terdapat seorang pembeli dan dua penjual, dan bentuk kasusnya adalah seorang laki-laki yang memegang sebuah kain yang diperebutkan oleh dua orang laki-laki. Masing-masing dari keduanya berkata kepadanya, “Ini kainku, aku telah menjualnya kepadamu seharga seribu dirham, aku telah menyerahkannya kepadamu, dan aku berhak atas harganya darimu.” Masing-masing dari mereka mendatangkan bukti atas apa yang mereka klaim. Maka, bukti-bukti mereka tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ تَارِيخُهُمَا مُخْتَلِفًا، فَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا أَنَّهُ بَاعَهُ عَلَيْهِ فِي رَجَبٍ، وَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ الْآخَرِ أَنَّهُ بَاعَهُ عليه في شعبان، فلا تعرض فِي الْبَيِّنَتَيْنِ، لِإِمْكَانِ حَمْلِهِمَا عَلَى الصِّحَّةِ، وَهُوَ أَنْ يَشْتَرِيَهُ مِنْ أَحَدِهِمَا فِي رَجَبٍ، وَيَبِيعَهُ عَلَى الْآخَرِ، ثُمَّ يَعُودُ فَيَشْتَرِيهِ مِنْهُ، فَيَصِيرُ مُشْتَرِيًا مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ. فِي وَقْتَيْنِ بِثَمَنَيْنِ، وَإِذَا صَحَّ ذَلِكَ لَزِمَهُ الثَّمَنَانِ مِنْ غَيْرِ تَكَاذُبٍ وَلَا تَعَارُضٍ، كَمَا لَوِ ادَّعَتِ امْرَأَةٌ عَلَى زَوْجِهَا أَنَّهُ نَكَحَهَا فِي يَوْمِ الْخَمِيسِ عَلَى صَدَاقِ أَلْفٍ، ثُمَّ نَكَحَهَا فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ عَلَى صَدَاقِ أَلْفَيْنِ، وَأَقَامَتْ عليه البينة بكل واحد من النكاحين، يحكم عَلَيْهِ بِالصَّدَاقَيْنِ وَلَا تَتَعَارَضُ فِيهِ الْبَيِّنَتَانِ، لِأَنَّهُ قد يتزوجها في يوم الخميس، ويخالفها فِيهِ بَعْدَ دُخُولِهِ بِهَا، ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَيَصِحُّ الْعَقْدَانِ وَيَلْزَمُهُ الصَّدَاقَانِ.

Salah satunya: jika tanggal kedua transaksi berbeda, misalnya satu pihak menghadirkan bukti bahwa ia menjual barang itu kepadanya pada bulan Rajab, dan pihak lain menghadirkan bukti bahwa ia menjual barang itu kepadanya pada bulan Sya‘ban, maka tidak ada pertentangan dalam kedua bukti tersebut, karena memungkinkan untuk menganggap keduanya benar, yaitu bahwa ia membeli dari salah satu penjual pada bulan Rajab, lalu menjualnya kepada yang lain, kemudian ia kembali membelinya darinya, sehingga ia menjadi pembeli dari masing-masing penjual pada dua waktu yang berbeda dengan dua harga yang berbeda. Jika hal ini benar, maka ia wajib membayar kedua harga tersebut tanpa ada kebohongan atau pertentangan, sebagaimana jika seorang wanita mengaku kepada suaminya bahwa ia menikah dengannya pada hari Kamis dengan mahar seribu, kemudian menikah lagi dengannya pada hari Jumat dengan mahar dua ribu, dan ia menghadirkan bukti untuk masing-masing akad nikah tersebut, maka diputuskan atasnya untuk membayar kedua mahar tersebut dan tidak ada pertentangan dalam kedua bukti itu, karena bisa saja ia menikahinya pada hari Kamis, lalu menceraikannya setelah berhubungan, kemudian menikahinya lagi pada hari Jumat, sehingga kedua akad itu sah dan ia wajib membayar kedua mahar tersebut.

كَذَلِكَ فِي مَسْأَلَتِنَا: يَصِحُّ فِيهِ الْبَيِّعَانِ، وَيَلْزَمُهُ الثَّمَنَانِ، لإِمْكَانِ الصِّحَّةِ وَامْتِنَاعِ التَّنَافِي، وَإِذَا أَمْكَنَ حَمْلُ الْبَيِّنَتَيْنِ عَلَى الصِّحَّةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْمِلَا عَلَى التَّنَافِي وَالتَّضَادِّ،

Demikian pula dalam permasalahan kita: kedua akad jual beli itu sah, dan kedua harga menjadi wajib, karena memungkinkan terjadinya keabsahan dan mustahil terjadi pertentangan. Jika memungkinkan untuk menafsirkan kedua bukti tersebut pada makna yang sah, maka tidak boleh menafsirkannya pada makna pertentangan dan saling bertolak belakang.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ تَارِيخُ الْبَيِّنَتَيْنِ وَاحِدًا، فَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ أَحَدِهِمَا أَنَّهُ بَاعَ عَلَيْهِ ثَوْبَهُ هَذَا بِأَلْفٍ، مَعَ زَوَالِ الشَّمْسِ مِنْ يَوْمِ السَّبْتِ، وَتَشْهَدُ بَيِّنَةُ الْآخَرِ أَنَّهُ بَاعَ عَلَيْهِ ثَوْبَهُ هَذَا بِأَلْفٍ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بِعَيْنِهِ، مَعَ زَوَالِ الشَّمْسِ من يوم السبت، فقد تكاذبت البينتان فتعارضت لِاسْتِحَالَةِ أَنْ يَكُونَ كُلُّ الثَّوْبِ مِلْكًا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، وَبَيْعُهُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَيْهِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، فَكَانَ تَعَارُضُهُمَا مَعَ التَّكَاذُبِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثلاثة في تعارض البينتين:

Keadaan kedua: Jika tanggal kedua bayyinah sama, maka salah satu bayyinah bersaksi bahwa ia telah menjual kain ini kepadanya seharga seribu, pada saat matahari tergelincir di hari Sabtu, dan bayyinah yang lain bersaksi bahwa ia telah menjual kain ini kepadanya seharga seribu pada waktu yang sama, yaitu saat matahari tergelincir di hari Sabtu. Maka kedua bayyinah tersebut saling bertentangan dan berlawanan, karena mustahil seluruh kain itu menjadi milik masing-masing penjual pada waktu yang sama, dan masing-masing dari mereka menjualnya pada waktu yang sama. Maka pertentangan keduanya yang disertai saling mendustakan itu dikembalikan kepada tiga pendapat dalam masalah pertentangan dua bayyinah.

أحدهما: إِسْقَاطُهُمَا بِالتَّعَارُضِ وَلَا يَتَعَيَّنُ بِهِ حَرَجُ أَحَدِهِمَا بِالتَّكَاذُبِ ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ إِسْقَاطِهِمَا إِلَى قَوْلِ صاحب اليد، فإن كذبهما حلف لهما، وبرىء من مطالبتهما، وإن صدقها، حُكِمَ عَلَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ بِثَمَنِهِ فَيَلْزَمُهُ لَهُمَا ثَمَنَانِ، لِإِمْكَانِ ابْتِيَاعِهِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَإِنْ صَدَّقَ أَحَدَهُمَا، وَكَذَّبَ الْآخَرَ، لَزِمَهُ ثَمَنُهُ للمصدق، وحلف المكذب، وبرىء بِيَمِينِهِ وَإِنْ نَكَلَ عَنْهَا رُدَّتْ عَلَى الْمُكَذِّبِ، وَحُكِمَ لَهُ عَلَيْهِ بِالثَّمَنِ إِذَا حَلَفَ فَيَصِيرُ مُلْتَزِمًا لِثَمَنِهِ فِي حَقِّ الْأَوَّلِ بِإِقْرَارِهِ، وَمُلْتَزِمًا بِثَمَنِهِ فِي حَقِّ الثَّانِي بِيَمِينِهِ.

Pertama: Keduanya gugur karena saling bertentangan, dan tidak dapat dipastikan adanya kesulitan pada salah satu dari keduanya karena saling mendustakan. Kemudian setelah keduanya gugur, kembali kepada pendapat pemilik barang. Jika ia mendustakan keduanya, maka ia bersumpah untuk keduanya, dan ia bebas dari tuntutan mereka. Jika ia membenarkan keduanya, maka diputuskan atas dirinya untuk membayar harga kepada masing-masing, sehingga ia wajib membayar dua harga kepada mereka, karena memungkinkan ia membeli dari masing-masing mereka. Jika ia membenarkan salah satu dan mendustakan yang lain, maka ia wajib membayar harga kepada yang dibenarkan, dan yang didustakan bersumpah, lalu ia bebas dengan sumpahnya. Jika ia enggan bersumpah, maka sumpah itu dikembalikan kepada yang mendustakan, dan diputuskan untuknya atas pemilik barang dengan harga jika ia bersumpah, sehingga pemilik barang menjadi wajib membayar harga kepada yang pertama karena pengakuannya, dan wajib membayar harga kepada yang kedua karena sumpahnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَالْحُكْمُ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا، وَيَبْطُلُ حُكْمُ الْمَقْرُوعَةِ بِالْقَارِعَةِ، وَفِي إِحْلَافِ مَنْ قَرَعَتْ بَيِّنَتُهُ. قَوْلَانِ: يَحْلِفُ فِي أَحَدِهِمَا إِنْ جُعِلَتِ الْقُرْعَةُ مُرَجِّحَةً لِلدَّعْوَى، وَلَا يَحْلِفُ فِي الْقَوْلِ الْآخَرِ إِنْ جُعِلَتْ مُرَجِّحَةً لِلْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua: dilakukan undian (iqra‘) di antara dua bukti (bayyinah), dan keputusan diberikan kepada pihak yang keluar dalam undian tersebut, sedangkan keputusan untuk pihak yang tidak terpilih batal karena yang terpilih. Dalam hal sumpah (hilaf) bagi pihak yang bayyinah-nya terpilih, terdapat dua pendapat: pada salah satunya, ia bersumpah jika undian dijadikan sebagai penguat bagi gugatan; dan pada pendapat lain, ia tidak bersumpah jika undian dijadikan sebagai penguat bagi bayyinah.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَقَسْمُ الثَّوْبِ الْمَبِيعِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، فَيَصِيرُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَائِعًا لِنِصْفِهُ بِنِصْفِ الثَّمَنِ فَيَكُونُ الثَّمَنُ بَيْنَهُمَا، كَمَا جُعِلَ الثَّوْبُ بَيْنَهُمَا، وَلَا خِيَارَ لِمُشْتَرِيهِ لِأَنَّ الصَّفْقَةَ لَمْ تَتَبَعَّضْ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا تَبَعَّضَتْ فِي حَقِّ بَائِعِهِ فَإِنْ طَلَبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْبَائِعَيْنِ، إِحْلَافَ الْمُشْتَرِي بَعْدَ اسْتِعْمَالِ الْبَيِّنَتَيْنِ كَانَ لَهُ إِحْلَافُهُ، لِأَنَّهُ لَوْ صَدَّقَهُ لَزِمَهُ دَفْعُ الْبَاقِي مِنْ ثَمَنِهِ.

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (bayyinah), lalu membagi kain yang dijual di antara keduanya menjadi dua bagian sama, sehingga masing-masing dari mereka menjadi penjual atas setengah kain dengan setengah harga, maka harga pun dibagi di antara mereka berdua sebagaimana kain itu dibagi di antara mereka. Tidak ada hak khiyar bagi pembelinya karena transaksi tidak terpecah baginya, melainkan hanya terpecah bagi penjualnya. Jika masing-masing dari kedua penjual meminta agar pembeli disumpah setelah penggunaan dua bukti, maka ia berhak menyumpahkannya, karena jika ia membenarkannya, maka ia wajib membayar sisa dari harganya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ تَكُونَ الْبَيِّنَتَانِ مُطْلَقَتَيْنِ، أَوْ إِحْدَاهُمَا فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُحْمَلَ إِطْلَاقُهُمَا عَلَى التَّعَارُضِ، وَيُحْتَمَلَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى الْإِمْكَانِ. فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ. هَذَا الْإِطْلَاقُ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Keadaan ketiga: kedua bayyinah bersifat mutlak, atau salah satunya demikian, sehingga ada kemungkinan kemutlakan keduanya dimaknai sebagai pertentangan, dan ada kemungkinan pula dimaknai sebagai kemungkinan (tidak bertentangan). Maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai makna yang harus diambil dari kemutlakan ini, yang terbagi menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ: أَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى الْإِمْكَانِ، وَيُقْضَى عَلَى الْمُشْتَرِي بِالثَّمَنَيْنِ، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ إِطْلَاقُهُمَا فِي وَقْتَيْنِ.

Salah satunya, yaitu pendapat mayoritas ulama, bahwa hal itu dibawa kepada kemungkinan, dan diputuskan atas pembeli untuk membayar kedua harga tersebut, karena dimungkinkan keduanya diucapkan pada dua waktu yang berbeda.

وَإِذَا أَمْكَنَ اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ عَلَى الصِّحَّةِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْمِلَا عَلَى التَّعَارُضِ.

Jika memungkinkan menggunakan kedua bayyinah tersebut secara sah, maka tidak boleh dianggap keduanya saling bertentangan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُحْمَلَ إِطْلَاقُهُمَا عَلَى التَّعَارُضِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، لِأَنَّ الْأَصْلَ بَرَاءَةُ ذِمَّةِ الْمُشْتَرِي فَلَا يُضْمَنُ بِأَمْرٍ مُحْتَمَلٍ، وَإِذَا حُكِمَ بِتَعَارُضِهِمَا عَلَى هَذَا الْوَجْهِ كَانَ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ:

Pendapat kedua: Bahwa pernyataan mereka berdua dimaknai sebagai adanya pertentangan pada waktu yang bersamaan, karena pada dasarnya tanggungan pembeli itu bebas dari kewajiban sehingga tidak dapat dibebankan dengan sesuatu yang masih bersifat kemungkinan. Dan apabila diputuskan adanya pertentangan antara keduanya dengan cara seperti ini, maka berlaku menurut tiga pendapat:

أَحَدُهَا: إسقاطها.

Salah satunya: menggugurkannya.

وَالثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا.

Yang kedua: pengundian di antara keduanya.

وَالثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُهُمَا.

Ketiga: penggunaannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ تَكَلَّمَ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Adapun al-Muzani, sesungguhnya ia berbicara mengenai dua bagian:

أَحَدُهُمَا: إِيجَابُ الثَّمَنَيْنِ فَإِنْ أَرَادَ بِهِ مَعَ اخْتِلَافِ الْوَقْتَيْنِ فهو صحيح مسلم، وإن أراد مَعَ اجْتِمَاعِ الْعَقْدَيْنِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ فَهُوَ بَاطِلٌ مَرْدُودٌ لِامْتِنَاعِهِ.

Salah satunya: mewajibkan dua harga. Jika yang dimaksud adalah dengan perbedaan waktu, maka itu adalah sah menurut Muslim. Namun jika yang dimaksud adalah dengan menggabungkan dua akad dalam satu waktu, maka itu batal dan tertolak karena tidak mungkin dilakukan.

وَإِنْ أَرَادَ بِهِ مَعَ الْإِطْلَاقِ، فَهُوَ أَصَحُّ الْوَجْهَيْنِ، وَإِنْ تَوَرَّعَ فِيهِ.

Dan jika ia menginginkannya secara mutlak, maka itulah pendapat yang lebih sahih di antara dua pendapat, meskipun ia bersikap wara‘ dalam hal itu.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي: فَهُوَ أَنَّهُ جَعَلَ الشَّهَادَةَ عَلَيْهِ بِمُشَاهَدَةِ الْعَقْدَيْنِ، كَالشَّهَادَةِ عَلَى إِقْرَارِهِ بِالْعَقْدَيْنِ، وَلَوْ قَامَتِ الْبَيِّنَتَانِ عَلَى إِقْرَارِهِ بِالْعَقْدَيْنِ، لَزِمَهُ الثَّمَنَانِ، سَوَاءٌ أَقَرَّ بِهِمَا فِي وَقْتٍ، أَوْ وَقْتَيْنِ، كَذَلِكَ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ بِمُشَاهَدَةِ الْعَقْدَيْنِ تَقْتَضِي أَنْ تَكُونَ مُوجِبَةً لِالْتِزَامِ الثَّمَنَيْنِ، سَوَاءٌ كَانَتَا فِي وَقْتٍ، أَوْ وَقْتَيْنِ وَهَذَا الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي الْوَقْتِ الْوَاحِدِ فَاسِدٌ، لِأَنَّهُ يَصِحُّ أَنْ يُقِرَّ فِي الْوَقْتِ الْوَاحِدِ بِعَقْدَيْنِ، وَلَا يَصِحُّ أَنْ يُبَاشِرَ فِي الْوَقْتِ الْوَاحِدِ فِعْلُ عَقْدَيْنِ، فَصَحَّ الْإِقْرَارُ بِهِمَا فِي الْوَقْتِ الْوَاحِدِ، لِإِمْكَانِهِ، وَبَطَلَ الْعَقْدُ عَلَيْهِ فِي الْوَقْتِ الْوَاحِدِ، لِامْتِنَاعِهِ. وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فِي الْإِقْرَارِ تُعَارِضٌ فِي مَوْضِعٍ، وَهُوَ أَنْ تَتَّفِقَ الشَّهَادَتَانِ عَلَى أَنَّهُ أَقَرَّ مَرَّةً وَاحِدَةً لِوَاحِدٍ، ثُمَّ اخْتَلَفَا فِيمَنْ أَقَرَّ لَهُ، فَشَهِدَتْ إِحْدَاهُمَا أَنَّ إِقْرَارَهُ كَانَ لِزَيْدٍ، وَشَهِدَتِ الْأُخْرَى أَنَّ إِقْرَارَهُ كَانَ لِعَمْرٍو، فَتَتَعَارَضُ الشَّهَادَتَانِ فِي الْإِقْرَارِ، كَمَا تَعَارَضَتْ فِي الْعَقْدِ، فَيُحْمَلُ تَعَارُضُهُمَا عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ في الموضعين.

Adapun bagian kedua: yaitu bahwa ia menjadikan kesaksian atasnya dengan menyaksikan dua akad, seperti kesaksian atas pengakuannya terhadap dua akad. Jika ada dua bukti yang menunjukkan pengakuannya terhadap dua akad, maka ia wajib membayar dua harga, baik ia mengakuinya dalam satu waktu atau dalam dua waktu. Demikian pula, kesaksian atasnya dengan menyaksikan dua akad menuntut agar ia wajib membayar dua harga, baik keduanya terjadi dalam satu waktu atau dalam dua waktu. Penggabungan keduanya dalam satu waktu adalah tidak sah, karena boleh saja seseorang mengakui dua akad dalam satu waktu, namun tidak sah melakukan dua akad dalam satu waktu. Maka, pengakuan terhadap keduanya dalam satu waktu adalah sah karena memungkinkan, sedangkan akad atas keduanya dalam satu waktu batal karena tidak mungkin. Terkadang dalam pengakuan bisa terjadi pertentangan pada suatu tempat, yaitu ketika dua kesaksian sepakat bahwa ia mengaku sekali untuk satu orang, kemudian berbeda pendapat tentang kepada siapa ia mengaku, sehingga salah satu kesaksian menyatakan bahwa pengakuannya untuk Zaid, dan kesaksian lainnya menyatakan bahwa pengakuannya untuk Amr. Maka, kedua kesaksian itu saling bertentangan dalam pengakuan, sebagaimana keduanya bertentangan dalam akad, sehingga pertentangan keduanya dikembalikan kepada tiga pendapat dalam kedua permasalahan tersebut.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رحمه الله: ” ولو أقام رجل بَيِّنَةً أَنَّهُ اشْتَرَى مِنْهُ هَذَا الْعَبْدَ الَذِي فِي يَدَيْهِ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ وَأَقَامَ الْعَبْدُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ سَيِّدُهُ الَذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ أَعَتَقَهُ وَلَمْ يُوَقِّتِ الشُّهُودُ فَإِنِّي أُبْطِلُ الْبَيِّنَتَيْنِ لِأَنَّهُمَا تَضَادَّتَا وَأَحْلَفَهُ مَا بَاعَهُ وَأَحْلَفَهُ مَا أَعْتَقَهُ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) قَدْ أَبْطَلَ الْبَيِّنَتَيْنِ فِيمَا يُمْكِنُ أن تكون فِيهِ صَادِقَتَيْنِ فَالْقِيَاسُ عِنْدِي أَنَّ الْعَبْدَ فِي يَدَيْ نَفْسِهِ بِالْحُرِّيَّةِ كَمُشْتَرٍ قَبَضَ مِنَ الْبَائِعِ فَهُوَ أَحَقُّ لِقُوَةِ السَّبَبِ كَمَا إِذَا أَقَامَا بَيِّنَةً وَالشَّيْءُ فِي يَدَيْ أَحَدِهِمَا كَانَ أَوْلَى بِهِ لِقُوَّةِ السَّبَبِ وَهَذَا أَشْبَهُ بِقَوْلِهِ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Seandainya seseorang mendatangkan bukti bahwa ia telah membeli budak yang ada di tangannya itu seharga seribu dirham, lalu budak tersebut mendatangkan bukti bahwa tuannya yang kini memegangnya telah memerdekakannya, dan para saksi tidak menentukan waktu, maka aku membatalkan kedua bukti tersebut karena keduanya saling bertentangan. Aku akan meminta keduanya bersumpah: yang satu bersumpah bahwa ia tidak menjualnya, dan yang lain bersumpah bahwa ia tidak memerdekakannya.” (Al-Muzani berkata) Ia telah membatalkan kedua bukti dalam perkara yang mungkin keduanya benar. Maka menurut qiyās, budak yang berada di tangan dirinya sendiri dengan status merdeka adalah seperti pembeli yang telah menerima barang dari penjual, sehingga ia lebih berhak karena kekuatan sebabnya. Sebagaimana jika keduanya mendatangkan bukti dan barang itu berada di tangan salah satu dari mereka, maka yang memegangnya lebih berhak karena kekuatan sebabnya. Dan ini lebih mendekati pendapat beliau.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ فِي مِلْكِ سَيِّدِهِ، ادَّعَاهُ رَجُلٌ أَنَّهُ ابْتَاعَهُ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ دَفَعَهَا إِلَيْهِ، وَأَقَامَ بِهِ بَيِّنَةً، وَادَّعَى الْعَبْدُ أَنَّ سَيِّدَهُ أَعْتَقَهُ فِي مِلْكِهِ، وَأَقَامَ بِهِ بَيِّنَةً فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang budak yang berada dalam kepemilikan tuannya, kemudian seorang laki-laki mengaku bahwa ia telah membelinya seharga seribu dirham yang telah ia bayarkan kepadanya, dan ia mendatangkan bukti atas hal itu. Sementara sang budak mengaku bahwa tuannya telah memerdekakannya saat masih dalam kepemilikannya, dan ia pun mendatangkan bukti atas hal itu. Maka kasus ini terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ تَارِيخٌ يَدُلُّ عَلَى تَقَدُّمِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، فَيُحْكَمُ بِشَهَادَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ دُونَ الْمُتَأَخِّرَةِ، فَإِنْ تَقَدَّمَ الْبَيْعُ عَلَى الْعِتْقِ، حُكِمَ بِهِ مَبِيعًا، وَأُبْطِلَ أَنْ يَكُونَ مُعْتَقًا، لِأَنَّهُ أَعْتَقَهُ بَعْدَ زَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهُ بِالْبَيْعِ، وَإِنْ تَقَدَّمَ الْعِتْقُ عَلَى الْبَيْعِ، حُكِمَ بِعِتْقِهِ وَبَطَلَ بَيْعُهُ، لِأَنَّهُ بَاعَهُ بَعْدَ زَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهُ، بِالْعِتْقِ، وَأَخَذَ بِرَدِّ الثَّمَنِ عَلَى مُشْتَرِيهِ، لِقِيَامِ الْبَيِّنَةِ بِعِتْقِهِ.

Salah satunya adalah: apabila pada kedua bukti terdapat tanggal yang menunjukkan salah satunya lebih dahulu dari yang lain, maka diputuskan berdasarkan kesaksian yang lebih dahulu dan bukan yang belakangan. Jika penjualan lebih dahulu dari pembebasan budak (‘itq), maka diputuskan bahwa ia telah dijual dan batal statusnya sebagai budak yang telah dimerdekakan, karena ia membebaskannya setelah kepemilikannya hilang akibat penjualan. Namun jika pembebasan budak (‘itq) lebih dahulu dari penjualan, maka diputuskan bahwa ia telah dimerdekakan dan batal penjualannya, karena ia menjualnya setelah kepemilikannya hilang akibat pembebasan budak (‘itq), dan ia berhak meminta kembali harga dari pembelinya, karena adanya bukti yang menunjukkan bahwa ia telah dimerdekakan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَكُونَ فِي الْبَيِّنَتَيْنِ بَيَانٌ يَدُلُّ عَلَى تَقَدُّمِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، إِمَّا لِإِطْلَاقِهِمَا، وَإِمَّا لِتَارِيخِ إِحْدَاهِمَا، وَإِطْلَاقِ الْأُخْرَى، وَإِمَّا لِاجْتِمَاعِهِمَا فِي التَّارِيخِ عَلَى وَقْتٍ وَاحِدٍ فَتَضَادَّ اجْتِمَاعُهُمَا فِيهِ، فَتَصِيرُ الْبَيِّنَتَانِ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ مُتَعَارِضَتَيْنِ وَهِيَ فِي اجْتِمَاعِ التَّارِيخِ مُتَكَاذِبَتَيْنِ، وَفِي إِطْلَاقِهِ غَيْرُ مُتَكَاذِبَتَيْنِ، وَالْحُكْمُ فِي تَعَارُضِهِمَا، سَوَاءٌ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِمَا بَيَانٌ، وَإِذَا كَانَتْ عَلَى هَذَا التَّعَارُضِ. فَلِلْعَبْدِ حَالَتَانِ:

Jenis kedua: yaitu apabila pada kedua bayyinah tidak terdapat keterangan yang menunjukkan bahwa salah satunya lebih dahulu dari yang lain, baik karena keduanya bersifat umum, atau karena salah satunya memiliki tanggal sementara yang lain bersifat umum, atau karena keduanya memiliki tanggal yang sama sehingga terjadi pertentangan di waktu yang sama. Maka, dalam tiga keadaan ini, kedua bayyinah menjadi saling bertentangan; dan dalam hal tanggal yang sama, keduanya saling mendustakan, sedangkan dalam hal keduanya bersifat umum, tidak saling mendustakan. Hukum dalam pertentangan keduanya adalah sama apabila tidak terdapat keterangan di antara keduanya, dan apabila memang terjadi pertentangan seperti ini. Maka, bagi budak ada dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي يَدِ سَيِّدِهِ.

Yang pertama: yaitu berada di tangan tuannya.

وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ فِي يَدِ مُدَّعِي الشِّرَاءِ، فَإِنْ كَانَ فِي يَدِ سَيِّدِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ تَقْدِيمُهُ لِإِحْدَى الْبَيِّنَتَيْنِ مُرَجِّحًا. أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan yang kedua: barang tersebut berada di tangan orang yang mengaku telah membelinya. Jika barang itu berada di tangan pemilik sebelumnya, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat apakah mendahulukan salah satu dari dua bukti dapat menjadi faktor yang menguatkan atau tidak; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ، تَتَرَجَّحُ الْبَيِّنَةُ. بِتَصْدِيقِهِ، لِأَنَّهُ ذُو يَدٍ مَالِكَةٍ. فَعَلَى هَذَا إن صدق بَيِّنَةَ الْمُشْتَرِي عَلَى ابْتِيَاعِهِ، حُكِمَ بِهِ مَبِيعًا، وَسَقَطَتْ بَيِّنَةُ عِتْقِهِ، وَلَا يَمِينَ لِلْعَبْدِ عَلَى سَيِّدِهِ، لِأَنَّهُ لَوِ اعْتَرَفَ لَهُ بِالْعِتْقِ بَعْدَ بَيْعِهِ، لَمْ يُغَرَّمْ، فَلَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَحْلِفَ وَإِنْ صَدَّقَ بَيِّنَةَ الْعَبْدِ عَلَى عِتْقِهِ، حُكِمَ بِعِتْقِهِ، وَسَقَطَتْ بَيِّنَةُ بَيْعِهِ، وَهَلْ لِمُشْتَرِيهِ أَنْ يَرْجِعَ بِثَمَنِهِ بِبَيِّنَتِهِ بَعْدَ رَدِّهَا فِي بَيْعِهِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Salah satunya, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, menyatakan bahwa bukti (bayyinah) menjadi lebih kuat dengan pengakuannya, karena ia adalah pemilik yang memegang barang tersebut. Berdasarkan hal ini, jika ia membenarkan bukti pembeli atas pembeliannya, maka diputuskan barang itu sebagai barang yang dijual, dan bukti pemerdekaannya gugur, serta tidak ada sumpah bagi budak terhadap tuannya. Sebab, jika ia mengakui pemerdekaan setelah penjualan, ia tidak menanggung ganti rugi, sehingga ia tidak wajib bersumpah. Namun jika ia membenarkan bukti budak atas pemerdekaannya, maka diputuskan budak itu merdeka, dan bukti penjualannya gugur. Apakah pembelinya boleh menuntut kembali harga barang dengan bukti setelah barang dikembalikan dalam penjualan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَرْجِعُ بِثَمَنِهِ إِذَا قِيلَ: إِنَّ رَدَّهَا فِي الْبَعْضِ لَا يُوجِبُ رَدَّهَا فِي الْكُلِّ، فَعَلَى هَذَا لَا يَمِينَ لِلْمُشْتَرِي عَلَى الْبَائِعِ فِي إِنْكَارِهِ لِبَيْعِهِ، لِأَنَّهُ لَوِ اعْتَرَفَ بَعْدَ الْعِتْقِ لَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا رَدُّ الثَّمَنِ، وَقَدْ رُدَّ.

Salah satunya: ia mengembalikan dengan harganya jika dikatakan bahwa pengembalian sebagian tidak mewajibkan pengembalian seluruhnya. Dengan demikian, tidak ada sumpah bagi pembeli atas penjual dalam penyangkalannya terhadap penjualannya, karena jika ia mengaku setelah pemerdekaan, maka yang wajib baginya hanyalah mengembalikan harga, dan harga itu telah dikembalikan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يرجح بِثَمَنِهِ بِالْبَيِّنَةِ إِذَا قِيلَ: إِنْ رَدَّ الْبَيِّنَةِ فِي الْبَعْضِ، مُوجِبٌ لِرَدِّهَا فِي الْكُلِّ، فَعَلَى هَذَا يَسْتَحِقُّ الْمُشْتَرِي إِحْلَافُ الْبَائِعِ عَلَى إِنْكَارِهِ، لِأَنَّهُ لَوِ اعْتَرَفَ لَهُ بَعْدَ الْعِتْقِ، لَزِمَهُ رَدُّ الثَّمَنِ لَأَنَّ الْيَمِينَ تَسْتَحِقُّ فِي الْإِنْكَارِ إِذَا وَجَبَ الْعِوَضُ بِالْإِقْرَارِ وَيَسْقُطُ فِي الْإِنْكَارِ إِنْ سَقَطَ الْغُرْمُ بِالْإِقْرَارِ.

Pendapat kedua: Bahwa tidak boleh menguatkan dengan harga melalui bayyinah jika dikatakan: Jika menolak bayyinah pada sebagian, maka itu mengharuskan penolakannya pada seluruhnya. Berdasarkan hal ini, pembeli berhak meminta penjual bersumpah atas pengingkarannya, karena jika penjual mengaku setelah pemerdekaan, maka ia wajib mengembalikan harga, sebab sumpah itu berhak diminta dalam pengingkaran apabila kewajiban ganti rugi ditetapkan dengan pengakuan, dan gugur dalam pengingkaran jika kewajiban ganti rugi gugur dengan pengakuan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ، وَجُمْهُورُ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ لَا تَتَرَجَّحُ وَاحِدَةٌ مِنَ الْبَيِّنَتَيْنِ بِتَصْدِيقِ الْبَائِعِ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَشْهَدُ بِزَوَالِ مِلْكِهِ، وَرَفْعِ يَدِهِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan dan mayoritas ulama mazhab kami, menyatakan bahwa salah satu dari dua bukti (bayyinah) tidak lebih kuat hanya karena penjual membenarkannya, karena masing-masing dari kedua bukti tersebut sama-sama bersaksi atas hilangnya kepemilikan dan terangkatnya tangan (kekuasaan) penjual.

فَعَلَى هَذَا يَتَحَقَّقُ تَعَارُضُ الْبَيِّنَتَيْنِ. وَقَالَ الْمُزَنِيُّ: لَا تَعَارُضَ فِيهَا، وَيُحْكَمُ بِبَيِّنَةِ الْعِتْقِ، لِأَنَّ الْعَبْدَ فِي يَدِ نَفْسِهِ، فَصَارَتْ يَمِينُهُ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ، وَبَيِّنَةُ الْمُشْتَرِي بَيِّنَةُ خَارِجٍ؛ فَقَضَى بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ عَلَى بَيِّنَةِ الْخَارِجِ.

Dengan demikian, terjadilah pertentangan antara dua bukti tersebut. Al-Muzani berkata: Tidak ada pertentangan di dalamnya, dan diputuskan dengan bukti pembebasan, karena budak itu berada dalam kekuasaan dirinya sendiri, sehingga sumpahnya menjadi bukti pihak dalam, sedangkan bukti pembeli adalah bukti pihak luar; maka diputuskan dengan bukti pihak dalam atas bukti pihak luar.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَصِحُّ أَنْ تَكُونَ لَهُ يَدٌ عَلَى نَفْسِهِ، لِأَنَّ الْيَدَ عَلَيْهِ فَامْتَنَعَ أَنْ تَكُونَ الْيَدُ لَهُ أَلَا تَرَاهُ لَوِ ادَّعَاهُ عَلَى سَيِّدِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ، وَأَنْكَرَهُ السَّيِّدُ لَمْ يُقْبَلْ قَوْلُهُ عَلَى السَّيِّدِ، وَلَوْ كَانَ فِي يَدِ نَفْسِهِ، قُبِلَ قوله عليه، أو لا تَرَى لَوْ تَنَازَعَ ابْتِيَاعَهُ رَجُلَانِ، فَصَدَّقَ أَحَدَهُمَا لَمْ يُؤَثِّرْ تَصْدِيقُهُ وَلَوْ كَانَتْ لَهُ يَدٌ عَلَى نَفْسِهِ لَكَانَ تَصْدِيقُهُ مُؤَثِّرًا. وَأَمَّا الْحُرُّ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا. هَلْ تَكُونُ لَهُ عَلَى نَفْسِهِ يَدٌ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan ini tidaklah benar, karena seorang hamba tidak sah memiliki kekuasaan (yad) atas dirinya sendiri, sebab kekuasaan itu ada atas dirinya, sehingga mustahil kekuasaan itu menjadi miliknya. Tidakkah engkau melihat, jika ia mengklaim kepada tuannya bahwa tuannya telah memerdekakannya, lalu tuannya mengingkarinya, maka perkataannya tidak diterima atas tuannya? Seandainya ia memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, tentu perkataannya diterima atas tuannya. Atau tidakkah engkau melihat, jika dua orang laki-laki berselisih dalam hal pembeliannya, lalu ia membenarkan salah satunya, maka pembenarannya itu tidak berpengaruh. Seandainya ia memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, tentu pembenarannya itu berpengaruh. Adapun orang merdeka, para sahabat kami berbeda pendapat, apakah ia memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تَكُونُ لَهُ يَدٌ عَلَى نَفْسِهِ، إِذْ لَيْسَ عَلَيْهِ يَدٌ لِغَيْرِهِ.

Salah satunya: ia memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, karena tidak ada kekuasaan orang lain atas dirinya.

أَوَ لَا تَرَى أَنَّ مَنِ ادَّعَى لَقِيطًا عَبْدًا، فَاعْتَرَفَ لَهُ بِالرِّقِّ، كَانَ عَبْدًا لَهُ. وَلَوْ أَنْكَرَهُ كَانَ حُرًّا، وَلَمْ يَكُنْ عَبْدًا، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي يَدِ نَفْسِهِ لَمَا أَثَّرَ إِقْرَارُهُ، وَإِنْكَارُهُ، وَهَذَا قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ.

Tidakkah engkau melihat bahwa seseorang yang mengaku seorang anak temuan sebagai budaknya, lalu ia mengakui status budak atasnya, maka anak temuan itu menjadi budaknya. Namun jika ia mengingkarinya, maka anak temuan itu menjadi orang merdeka dan tidak menjadi budaknya. Seandainya anak temuan itu tidak berada dalam kekuasaannya sendiri, maka pengakuan dan pengingkarannya tidak akan berpengaruh. Inilah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ مِنْ أَصْحَابِنَا. إِنَّهُ لَا يَدَ لِلْحُرِّ عَلَى نَفْسِهِ، لِأَنَّ الْيَدَ تَسْتَقِرُّ عَلَى الْأَمْوَالِ وَلَا حُكْمَ لَهَا فِيمَا لَيْسَ بِمَالٍ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَى نَفْسِهِ يَدٌ، كَمَا لَمْ تَكُنْ لِغَيْرِهِ عَلَيْهِ يَدٌ، وَلَيْسَ يُقْبَلُ قَوْلُ اللَّقِيطِ، لِأَنَّ لَهُ يَدًا عَلَى نَفْسِهِ، وَلَكِنْ لِنُفُوذِ إِقْرَارِهِ عَلَى نَفْسِهِ، فَلَمْ يَصِحَّ مَا قَالُوهُ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat mayoritas ulama dari kalangan kami, menyatakan bahwa seorang merdeka tidak memiliki kekuasaan (yad) atas dirinya sendiri, karena kekuasaan (yad) itu berlaku atas harta benda dan tidak berlaku atas sesuatu yang bukan harta, sehingga ia tidak memiliki kekuasaan (yad) atas dirinya sendiri, sebagaimana orang lain pun tidak memiliki kekuasaan (yad) atas dirinya. Adapun pernyataan anak temuan (laqīṭ) tidak diterima karena ia memiliki kekuasaan (yad) atas dirinya sendiri, namun yang berlaku adalah pengakuannya atas dirinya sendiri, sehingga apa yang mereka katakan tidaklah sah.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا صَحَّ أَنْ لَا يَدَ لِلْعَبْدِ عَلَى نَفْسِهِ، صَحَّ فِيهِ تَعَارُضُ الْبَيِّنَتَيْنِ وَفِي تَعَارُضِهِمَا ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ:

Maka apabila telah sah bahwa seorang budak tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, maka dalam hal ini sah terjadi pertentangan antara dua bukti, dan dalam pertentangan keduanya terdapat tiga pendapat.

أحدهما: إِسْقَاطُهُمَا، وَيَرْجِعُ إِلَى السَّيِّدِ فِي تَكْذِيبِهِمَا، أَوْ تَصْدِيقِ أَحَدِهِمَا فَإِنْ كَذَّبَهُمَا، حَلَفَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَكَانَ الْعَبْدُ مَوْقُوفًا عَلَى مِلْكِهِ، وَلَا يَلْزَمُهُ رَدُّ الثَّمَنِ بِالْبَيِّنَةِ، لِأَنَّهَا قَدْ أُسْقِطَتْ فِي كُلِّ مَا شَهِدَتْ بِهِ، وَإِنْ صَدَّقَ الْعَبْدَ دُونَ الْمُشْتَرِي، عُتِقَ الْعَبْدُ، وَحَلَفَ الْمُشْتَرِي، لِأَنَّهُ لَوْ صَدَّقَهُ بَعْدَ تَصْدِيقِ الْعَبْدِ، غَرِمَ لَهُ الثَّمَنَ، وَإِنْ صَدَّقَ الْمُشْتَرِيَ مَلَكَ الْعَبْدَ بِالشِّرَاءِ، وَلَمْ يَحْلِفْ لِلْعَبْدِ لِأَنَّهُ لَوْ صَدَّقَهُ بَعْدَ تَصْدِيقِ الْمُشْتَرِي، لَمْ يَلْزَمْهُ غُرْمٌ.

Pertama: Keduanya dibatalkan, dan kembali kepada keputusan tuan dalam mendustakan keduanya atau membenarkan salah satu dari keduanya. Jika ia mendustakan keduanya, maka ia bersumpah untuk masing-masing dari keduanya, dan budak tersebut tetap berada dalam status tertahan pada kepemilikannya, serta ia tidak wajib mengembalikan harga dengan bukti, karena bukti tersebut telah gugur dalam semua hal yang disaksikan olehnya. Jika ia membenarkan budak tersebut namun tidak membenarkan pembeli, maka budak itu merdeka, dan pembeli bersumpah, karena jika ia membenarkannya setelah membenarkan budak, maka ia wajib mengganti harga kepadanya. Jika ia membenarkan pembeli, maka pembeli memiliki budak tersebut melalui pembelian, dan ia tidak bersumpah untuk budak, karena jika ia membenarkannya setelah membenarkan pembeli, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: الْإِقْرَاعُ بَيْنَ الْبَيِّنَتَيْنِ وَالْقُرْعَةُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ قَوِيَّةٌ، لِأَنَّهَا يَتَمَيَّزُ بِهَا حُرِّيَّةٌ، وَرِقٌّ.

Pendapat kedua: dilakukan pengundian (iqra‘) antara dua bukti, dan undian (qur‘ah) dalam kasus ini adalah kuat, karena dengannya dapat dibedakan antara yang merdeka dan yang budak.

فَعَلَى هَذَا إِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ الْمُشْتَرِي حُكِمَ لَهُ بِابْتِيَاعِهِ، وَفِي إِحْلَافِهِ مَعَ قُرْعَتِهِ قَوْلَانِ. إِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ الْعَبْدِ، حُكِمَ بِعِتْقِهِ، وَلَزِمَهُ رَدُّ الثَّمَنِ عَلَى الْمُشْتَرِي، لِأَنَّ بَيِّنَتَهُ لَمْ تَسْقُطْ وَإِنَّمَا تَرَجَّحَ غَيْرُهَا فَوُقِفَتْ.

Maka berdasarkan hal ini, jika bukti dari pihak pembeli yang terpilih melalui undian, maka diputuskan bahwa ia berhak atas pembeliannya, dan mengenai kewajiban bersumpah bersamaan dengan terpilihnya bukti tersebut terdapat dua pendapat. Jika bukti dari pihak budak yang terpilih melalui undian, maka diputuskan bahwa ia merdeka, dan ia wajib mengembalikan harga kepada pembeli, karena buktinya tidak gugur, hanya saja yang lain lebih kuat sehingga ditangguhkan.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ. فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ تَخْرِيجِهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ عَلَى وَجْهَيْنِ.

Pendapat ketiga: menggunakan dua bukti (al-bayyinah). Para ulama kami berbeda pendapat tentang validitas penerapannya dalam masalah ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ تَخْرِيجُهُ، لِأَنَّ سِرَايَةِ الْعِتْقِ تُسْقِطُ حُكْمَ الْقِسْمَةِ.

Salah satunya: Tidak sah ditakhrij, karena pengaruh ‘itq menghapus hukum pembagian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَصِحُّ تَخْرِيجُهُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ؛ لِأَنَّ اسْتِعْمَالَهُمَا لَا يَسْقُطُ بِمَا يَحْدُثُ عَنِ الْقِسْمَةِ بِهِمَا، فَعَلَى هَذَا يُجْعَلُ نِصْفُهُ مَبِيعًا عَلَى الْمُشْتَرِي بِنِصْفِ الثَّمَنِ، وَيَكُونُ فِيهِ لِأَجْلِ تَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِمْضَاءِ الْبَيْعِ فِيهِ بِنِصْفِ ثَمَنِهِ، وَاسْتِرْجَاعِ نِصْفِهِ الْبَاقِي، وَبَيْنَ فَسْخِهِ، وَاسْتِرْجَاعِ جَمِيعِ ثَمَنِهِ، فَإِنْ فَسَخَ، حُكِمَ بِعِتْقِهِ عَلَى سَيِّدِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ عَادَ إِلَى مِلْكِهِ، وَقَدْ شَهِدَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ بِعِتْقِهِ، وَإِنَّمَا جُعِلَ نِصْفُهُ مَبِيعًا لِمُزَاحَمَةِ الْمُشْتَرِي بِبَيِّنَتِهِ، فَإِذَا زَالَتْ مُزَاحَمَتُهُ بِفَسْخِهِ زَالَ سَبَبُ التَّبْعِيضِ فَعُتِقَ الْجَمِيعُ، وَإِنْ أَقَامَ عَلَى الْبَيْعِ فِي نِصْفِهِ وَلَمْ يَفْسَخِ، اعْتُبِرَ حَالُ الْبَائِعِ، فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا بِقِيمَةِ نِصْفِهِ لَمْ يَسْرِ الْعِتْقُ إِلَى نِصْفِهِ الْمَبِيعِ، وَكَانَ عَلَى رِقِّهِ لِمُشْتَرِيهِ. وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا بِقِيمَتِهِ، فَفِي سِرَايَةِ عِتْقِهِ وَوُجُوبِ تَقْوِيمِهِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua: Dapat dibenarkan penerapannya dalam masalah ini; karena penggunaan keduanya tidak gugur dengan adanya pembagian yang terjadi atas keduanya. Maka, berdasarkan hal ini, separuhnya dianggap telah dijual kepada pembeli dengan setengah harga, dan dalam hal ini, demi memisahkan akad, pembeli diberi pilihan antara melanjutkan penjualan atas separuh tersebut dengan setengah harganya dan mengambil kembali separuh sisanya, atau membatalkan akad dan mengambil kembali seluruh harganya. Jika ia membatalkan, maka diputuskan bahwa ia merdeka atas tuannya, karena ia telah kembali menjadi miliknya, dan telah ada bukti yang menunjukkan kemerdekaannya. Separuhnya dijadikan sebagai barang yang dijual karena adanya persaingan dari pembeli dengan bukti yang ia miliki. Maka, jika persaingan itu hilang karena pembeli membatalkan, maka sebab pembagian pun hilang sehingga seluruhnya menjadi merdeka. Namun, jika pembeli tetap pada penjualan atas separuhnya dan tidak membatalkan, maka keadaan penjual diperhatikan; jika penjual tidak mampu membayar nilai separuhnya, maka kemerdekaan tidak berlaku pada separuh yang dijual, dan ia tetap menjadi budak bagi pembelinya. Namun, jika penjual mampu membayar nilainya, maka dalam hal kemerdekaan yang merambat dan kewajiban menaksir nilainya atas penjual terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُقَوَّمُ عَلَيْهِ وَيَسْرِي الْعِتْقُ إِلَى جَمِيعِهِ، لِأَنَّهُ لَوْ عَادَ إِلَيْهِ بِالْفَسْخِ عُتِقَ عَلَيْهِ.

Salah satunya: dinilai harganya atas dirinya dan merdeka berlaku pada seluruh dirinya, karena jika kembali kepadanya melalui pembatalan, maka ia menjadi merdeka atas dirinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَقُومَ عَلَيْهِ، وَلَا يَسْرِي الْعِتْقُ إِلَيْهِ، لِأَنَّهُ مُنْكِرٌ لِعِتْقِهِ، وَإِنَّمَا أُخِذَ جَبْرًا بِعِتْقِ مِلْكِهِ فَلَمْ يَسِرْ إِلَى غَيْرِ مِلْكِهِ وَصَارَ فِي عَوْدِ النِّصْفِ الْمَبِيعِ بِالْفَسْخِ كَمَنْ وَرِثَ أَبَاهُ، لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ مَلَكَهُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فِي عَوْدِهِ إِلَيْهِ بِالْفَسْخِ لَمْ يَسْتَقِرَّ عَلَيْهِ لِغَيْرِهِ مِلْكٌ فَعُتِقَ عَلَيْهِ الْجَمِيعُ مِنْ غَيْرِ تَبْعِيضٍ.

Pendapat kedua: bahwa tidak berlaku atasnya, dan tidak mengalir hukum pembebasan budak (’itq) kepadanya, karena ia mengingkari pembebasan budaknya. Ia hanya dikenai secara paksa dengan pembebasan terhadap kepemilikannya, sehingga tidak mengalir kepada selain miliknya. Dalam hal kembalinya separuh yang dijual karena pembatalan, keadaannya seperti seseorang yang mewarisi ayahnya; budak itu tidak menjadi merdeka atasnya, karena ia memilikinya tanpa pilihannya sendiri. Dalam hal kembalinya budak itu kepadanya karena pembatalan, tidak tetap kepemilikan atasnya untuk orang lain, sehingga seluruhnya menjadi merdeka atasnya tanpa ada pembagian.

(فَصْلٌ) :

(Pasal:)

فَأَمَّا إِذَا تَعَارَضَتِ الْبَيِّنَتَانِ، وَكَانَ الْعَبْدُ فِي يَدِ الْمُشْتَرِي فَفِي تَرْجِيحِ بَيِّنَتِهِ بِيَدِهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: يُرَجَّحُ بِيَدِهِ، لِأَنَّ بَيِّنَتَهُ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ، وَبَيِّنَةُ الْعَبْدِ بَيِّنَةُ خَارِجٍ، فَوَجَبَ أَنْ يَقْضِيَ بِبَيِّنَةِ الْمُشْتَرِي فِي ابْتِيَاعِ جَمِيعِهِ، وَتَبْطُلُ بَيِّنَةُ الْعِتْقِ، وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ إِحْلَافُ سَيِّدِهِ، لِأَنَّهُ لَا غُرْمَ عَلَيْهِ لَوْ أَقَرَّ لَهُ.

Adapun jika dua bukti (bayyinah) saling bertentangan, dan budak berada di tangan pembeli, maka dalam menguatkan bukti pembeli karena budak berada di tangannya terdapat dua pendapat: Pertama, diutamakan karena budak berada di tangannya, sebab bukti pembeli adalah bukti pihak yang berada di dalam (bāyinah dākhil), sedangkan bukti budak adalah bukti pihak luar (bāyinah khārij), sehingga wajib memutuskan dengan bukti pembeli dalam pembelian seluruhnya, dan bukti pembebasan (bayyinah ‘itq) menjadi gugur, dan budak tidak berhak meminta tuannya bersumpah, karena tidak ada tanggungan (ghurm) atasnya jika ia mengaku kepada tuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تُرَجَّحُ بَيِّنَتُهُ بِيَدِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ أَضَافَ مِلْكَهُ إِلَى سَبَبِهِ، فَزَالَ بِذِكْرِ السَّبَبِ حُكْمُ الْيَدِ، وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ إِذَا تَنَازَعَ رَجُلَانِ فِي ابْتِيَاعِ عَبْدٍ مِنْ رَجُلٍ، وَأَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ ابْتَاعَهُ مِنْهُ، وَقَبَضَهُ، وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ ابْتَاعَهُ مِنْهُ وَلَمْ يَقُولُوا: إِنَّهُ قَبَضَهُ، فَإِنْ رُجِّحَتِ الْبَيِّنَةُ بِالْيَدِ رُجِّحَتْ بِالْقَبْضِ، وَإِنْ لَمْ تُرَجَّحْ بِالْيَدِ، لَمْ تُرَجَّحْ بِالْقَبْضِ وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى أَنَّهَا تُرَجَّحُ بِالْقَبْضِ، لِأَنَّ الْبَيْعَ بِالْقَبْضِ مُنْبَرِمٌ وَقَبْلَ الْقَبْضِ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ سَلَامَةِ الْمَبِيعِ، فيبرم أَوْ تَلَفٍ فَيَبْطُلُ فَكَانَ تَرْجِيحُهُ بِالْقَبْضِ دَلِيلًا على ترجيحه باليد.

Pendapat kedua: Kesaksian yang disertai dengan bukti kepemilikan lebih diunggulkan, karena ia telah mengaitkan kepemilikannya dengan sebabnya, sehingga dengan penyebutan sebab tersebut, hukum kepemilikan (al-yad) menjadi gugur. Dari dua pendapat ini bercabang permasalahan: jika dua orang berselisih tentang pembelian seorang budak dari seseorang, lalu salah satu dari keduanya mendatangkan bukti bahwa ia telah membelinya dan telah menerimanya, sedangkan yang lain mendatangkan bukti bahwa ia telah membelinya namun para saksi tidak mengatakan bahwa ia telah menerimanya, maka jika bukti diunggulkan dengan kepemilikan (al-yad), maka bukti itu diunggulkan dengan penerimaan (al-qabd). Namun jika tidak diunggulkan dengan kepemilikan, maka tidak diunggulkan pula dengan penerimaan. Imam asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa bukti diunggulkan dengan penerimaan, karena jual beli dengan penerimaan telah sempurna, sedangkan sebelum penerimaan masih berada antara kemungkinan barang tetap selamat sehingga jual beli menjadi sempurna, atau barang rusak sehingga jual beli batal. Maka pengunggulan dengan penerimaan menjadi dalil atas pengunggulan dengan kepemilikan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا أَقْبَلُ الْبَيِّنَةَ أَنَّ هَذِهِ الْجَارِيَةَ بِنْتُ أَمَتِهِ حَتَّى يَقُولُوا وَلَدْتُهَا فِي مِلْكِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku tidak menerima kesaksian bahwa perempuan muda ini adalah anak dari budak perempuannya, sampai mereka mengatakan, ‘Ia melahirkannya dalam kepemilikannya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ ادَّعَى جَارِيَةً فِي يَدِ غَيْرِهِ أَنَّهَا بِنْتُ أَمَتِهِ وَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّهَا بِنْتُ أَمَتِهِ لَمْ يُقْضَ لَهُ بِمِلْكِهَا، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ تَلِدَهَا الْأُمُّ قَبْلَ أَنْ تُمَلَّكَ الْأُمُّ، وَهَكَذَا لَوِ ادَّعَى ثَمَرَةً، وَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا ثَمَرَةُ نَخْلَتِهِ، لَمْ يُقْضَ لَهُ بِمِلْكِ التَّمْرَةِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ مِلْكُ النَّخْلَةِ بَعْدَ حُدُوثِ الثَّمَرَةِ.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki mengklaim seorang budak perempuan yang berada di tangan orang lain dengan alasan bahwa dia adalah anak dari budak perempuannya, lalu ia mendatangkan bukti bahwa dia adalah anak dari budak perempuannya, maka tidak diputuskan kepemilikan budak perempuan itu untuknya. Sebab, bisa jadi ibunya melahirkannya sebelum ia memiliki ibunya. Demikian pula jika seseorang mengklaim buah, lalu ia mendatangkan bukti bahwa buah itu berasal dari pohon kurmanya, maka tidak diputuskan kepemilikan buah kurma itu untuknya, karena mungkin saja kepemilikan pohon kurma itu terjadi setelah buah itu muncul.

وَهَكَذَا لَوِ ادَّعَى صُوفًا، وَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ أَنَّهُ مِنْ صُوفِ غنمه، لم يقض له بالصوف تجواز أَنْ يَمْلِكَ الْغَنَمَ بَعْدَ جِزَازِ الصُّوفِ، فَصَارَتِ الْبَيِّنَةُ غَيْرَ مُثْبَتَةٍ، فَلِذَلِكَ لَمْ يُقْضَ بِهَا فَإِنْ شَهِدُوا أَنَّهَا بِنْتُ أَمَتِهِ وَلَدَتْهَا فِي ملكه، وفي الثمرة أنها ثمرة أَنَّهَا ثَمَرَةُ نَخْلَتِهِ أَثْمَرَتْهَا فِي مِلْكِهِ، وَفِي الصُّوفِ أَنَّهُ مِنْ غَنِمَهُ جُزَّ فِي مِلْكِهِ، قُضِيَ لَهُ بِمِلْكِ الْجَارِيَةِ وَالثَّمَرَةِ، وَالصُّوفِ لِأَنَّ مَنْ مَلَكَ أَصْلًا، مَلَكَ مَا حَدَثَ عَنْهُ مِنَ النَّمَاءِ.

Demikian pula, jika seseorang mengklaim wol, lalu menghadirkan bukti bahwa wol itu berasal dari domba miliknya, maka tidak diputuskan baginya kepemilikan wol tersebut, karena mungkin saja ia memiliki domba itu setelah wolnya dicukur, sehingga bukti tersebut menjadi tidak menetapkan (hak). Oleh karena itu, tidak diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Namun, jika para saksi bersaksi bahwa budak perempuan itu adalah anak dari budak perempuannya yang dilahirkan dalam kepemilikannya, dan pada buah-buahan bahwa buah itu adalah hasil dari pohon kurmanya yang berbuah dalam kepemilikannya, dan pada wol bahwa wol itu berasal dari dombanya yang dicukur dalam kepemilikannya, maka diputuskan baginya kepemilikan budak perempuan, buah, dan wol, karena siapa yang memiliki asal, maka ia juga memiliki apa yang tumbuh darinya.

أَلَا تَرَى أَنَّ المغضوب منه يستحق نماء ملكه مع استرجاء أَصْلِهِ، فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ بِهَذَا شَهَادَةٌ بِالْمِلْكِ، وَسَبَبُهُ، فَكَانَتْ أَوْكَدَ مِنَ الشَّهَادَةِ، بِمُجَرَّدِ الْمِلْكِ.

Tidakkah engkau melihat bahwa pihak yang terkena gugatan berhak atas hasil pengembangan miliknya dengan tetap memiliki harapan untuk mendapatkan kembali pokok miliknya, sehingga kesaksian dalam hal ini merupakan kesaksian atas kepemilikan dan sebabnya, maka hal itu lebih kuat daripada kesaksian atas sekadar kepemilikan saja.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَذِهِ شَهَادَةٌ بِمِلْكٍ مُتَقَدِّمٍ، وَلَيْسَتْ شَهَادَةً بملك في الحال، فصار كشهادتهم أم هَذِهِ الْجَارِيَةَ كَانَ مَالِكًا لَهَا فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ، فَلَا يُوجِبُ ذَلِكَ أَنْ يُحْكَمَ لَهُ بِمِلْكِهَا، فَكَذَلِكَ فِي الْوِلَادَةِ.

Jika dikatakan: Ini adalah kesaksian atas kepemilikan yang telah lalu, dan bukan kesaksian atas kepemilikan saat ini, maka hal itu seperti kesaksian mereka bahwa orang ini dahulu adalah pemilik budak perempuan ini pada tahun lalu, sehingga hal itu tidak mewajibkan untuk menetapkan kepemilikan atasnya sekarang. Maka demikian pula dalam masalah kelahiran.

قِيلَ: قَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ أَنَّ الشَّهَادَةَ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ لَا تُوجِبُ الْمِلْكَ فِي الْحَالِ وَالشَّهَادَةَ بِقَدِيمِ الْوِلَادَةِ وَالنِّتَاجِ يُوجِبُ الْمِلْكَ فِي الْحَالِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِي اخْتِلَافِ النَّصَّيْنِ مَعَ تَشَابُهِ الْأَمْرَيْنِ فَكَانَ الْبُوَيْطِيُّ، وَابْنُ سُرَيْجٍ، يَحْمِلَانِهِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ:

Dikatakan: Asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa kesaksian atas kepemilikan lama tidak menetapkan kepemilikan saat ini, sedangkan kesaksian atas kelahiran atau hasil keturunan lama menetapkan kepemilikan saat ini. Maka para pengikutnya pun berbeda pendapat mengenai perbedaan dua nash tersebut, padahal kedua perkara itu serupa. Al-Buwaiti dan Ibnu Surayj memahami hal itu sebagai perbedaan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُحْكَمُ بِالْمِلْكِ فِي الشَّهَادَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، وَالشَّهَادَةِ بِالْوَلَدِ، وَالنِّتَاجِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي النِّتَاجِ، اسْتِصْحَابًا لِثُبُوتِهِ.

Salah satunya: diputuskan dengan kepemilikan dalam kesaksian atas kepemilikan lama, kesaksian atas anak, dan hasil keturunan sebagaimana telah dinaskan dalam masalah hasil keturunan, dengan cara istishhab atas tetapnya kepemilikan tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ لَهُ بِالْمِلْكِ فِي الشَّهَادَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، والشهادة بالولد، والنتاج، على ما نص عليه فِي الشَّهَادَةِ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، لِأَنَّ الْمِلْكَ الْمُتَقَدِّمَ قَدْ يَزُولُ بِأَسْبَابٍ فَلَمْ تُوجِبْ ثُبُوتَ الْمِلْكِ فِي الْحَالِ.

Pendapat kedua: Bahwa tidak dapat ditetapkan kepemilikan baginya dalam kesaksian atas kepemilikan lama, kesaksian atas anak, dan hasil keturunan, sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian atas kepemilikan lama, karena kepemilikan yang terdahulu bisa saja hilang karena sebab-sebab tertentu, sehingga tidak mewajibkan penetapan kepemilikan pada keadaan saat ini.

وَكَانَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ، وَأَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَأَكْثَرُ الْمُتَأَخِّرِينَ، يَمْنَعُونَ مِنْ تَخْرِيجِ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَيَحْمِلُونَ جَوَابَ الشَّافِعِيِّ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ، فَيَحْكُمُونَ لَهُ بِمِلْكِ الْوَلَدِ وَالنِّتَاجِ، إِذَا شَهِدُوا لَهُ بِحُدُوثِ الْوِلَادَةِ، وَالنِّتَاجِ فِي مِلْكِهِ، وَلَا يَحْكُمُونَ لَهُ بِمِلْكِهِمَا، إِذَا شَهِدُوا لَهُ بِقَدِيمٍ مِلْكَهُ، وَفَرَّقُوا بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Abu Ishaq al-Marwazi, Abu Ali bin Abi Hurairah, dan mayoritas ulama muta’akhkhirin melarang untuk mengeluarkan masalah ini ke dalam dua pendapat, dan mereka memahami jawaban asy-Syafi’i sesuai dengan zahirnya pada kedua tempat tersebut. Maka mereka memutuskan kepemilikan anak dan hasil ternak bagi seseorang jika para saksi bersaksi bahwa kelahiran dan hasil ternak itu terjadi dalam kepemilikannya, dan mereka tidak memutuskan kepemilikan keduanya jika para saksi bersaksi bahwa kepemilikannya sudah lama, serta mereka membedakan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ شَهِدُوا فِي الْوِلَادَةِ وَالنِّتَاجِ بِأَنَّهُ نَمَاءُ مِلْكِهِ، وَنَمَاءُ مِلْكِهِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ، كَمَا لَوْ شَهِدُوا لَهُ بِغَصْبِ مَاشِيَةٍ نَتَجَتْ، وَنَخْلٍ أَثْمَرَتْ، مَلَكَ بِهِ النِّتَاجَ، وَالثَّمَرَةَ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ شَهَادَتُهُمْ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، لِتُنْقَلَ أَحْوَالُهُ مِنْ مَالِكٍ إِلَى مَالِكٍ.

Salah satunya adalah bahwa mereka memberikan kesaksian dalam kasus kelahiran dan hasil ternak bahwa itu merupakan pertumbuhan dari kepemilikannya, dan pertumbuhan dari kepemilikan seseorang tidak boleh menjadi milik orang lain, sebagaimana jika mereka bersaksi bahwa seseorang telah merampas hewan ternak yang kemudian beranak, atau pohon kurma yang kemudian berbuah, maka dengan itu ia memiliki anak ternak dan buahnya. Tidak demikian halnya dengan kesaksian mereka atas kepemilikan lama, karena status kepemilikan tersebut dapat berpindah dari satu pemilik ke pemilik lain.

وَالثَّانِي: أَنَّ النِّتَاجَ لَمَّا لَمْ يَتَقَدَّمُهُ فِيهِ مَالِكٌ، صَارَ فِي تَمَلُّكِهِ أَصْلًا، وَقَدِيمُ الْمِلْكِ، لَمَّا تَقَدَّمَهُ فِيهِ مَالِكٌ، صَارَ فِي تَمَلُّكِهِ فَرْعًا وَحُكْمُ الْأَصْلِ أَقْوَى مِنْ حُكْمِ الْفَرْعِ.

Kedua: Bahwa hasil (yang diperoleh) ketika sebelumnya tidak ada pemilik atasnya, maka dalam kepemilikannya menjadi sebagai asal. Sedangkan kepemilikan lama, ketika sebelumnya telah ada pemilik atasnya, maka dalam kepemilikannya menjadi sebagai cabang. Dan hukum asal lebih kuat daripada hukum cabang.

فَإِنْ قِيلَ: فَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ يَحْدُثَ الْوَلَدُ لِغَيْرِ مَالِكِ الْأُمِّ كَالْمُوصِي إِذَا وَصَّى بِأَمَتِهِ لِزَيْدٍ وَتِحَمْلِهَا لِعَمْرٍو، فَإِنَّهَا تَلِدُهُ فِي مِلْكِهِ، وَلَيْسَ يَمْلِكُهُ.

Jika dikatakan: Tidak mustahil anak itu lahir bukan untuk pemilik ibu, seperti seseorang yang berwasiatkan budaknya kepada Zaid dan kandungannya kepada Amr, maka budak itu melahirkan anak tersebut dalam kepemilikan Amr, namun Amr tidak memilikinya.

قِيلَ: هَذَا نَادِرٌ أَخْرَجَتْهُ الْوَصِيَّةُ عَنْ حُكْمِ أَصْلِهِ، فَصَارَ كَالِاسْتِثْنَاءِ الَّذِي لَا يَمْنَعُ جَوَازُهُ مِنِ اسْتِعْمَالِ أَصْلِهِ عَلَى الْعُمُومِ قَبْلَ وُرُودِهِ.

Dikatakan: Ini adalah kasus yang jarang terjadi, di mana wasiat mengeluarkannya dari hukum asalnya, sehingga menjadi seperti pengecualian yang keberadaannya tidak menghalangi kebolehan menggunakan hukum asal secara umum sebelum adanya pengecualian tersebut.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا شَهِدُوا أَنَّ هَذِهِ الْجَارِيَةَ بِنْتُ أَمَتِهِ، وَلَدَتْهَا بَعْدَ مِلْكِهِ، وَلَمْ يَقُولُوا وَلَدَتْهَا فِي مِلْكِهِ، لَمْ يُحْكَمْ لَهُ بِمِلْكِ الْجَارِيَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ بَاعَهَا فَوَلَدَتْ بَعْدُ ثُمَّ عَادَ فَابْتَاعَهَا، أَوْ يَكُونُ قَدْ بَاعَهَا فَوَلَدَتْ عِنْدَ مُشْتَرِيهَا، ثُمَّ أَفْلَسَ بِهَا، فَارْتَجَعَهَا الْبَائِعُ دُونَ وَلَدِهَا، فَلِذَلِكَ لَمْ تَقُمُ الْبَيِّنَةُ بِمِلْكِهَا، وَلَوْ شَهِدُوا أَنَّهَا بِنْتُ أَمَتِهِ، أَخَذَهَا هَذَا مِنْ يَدِهِ كَانَتْ شَهَادَةٌ لَهُ بِالْيَدِ، دُونَ الْمِلْكِ فَيُحْكَمُ لَهُ بِرَدِّ الْجَارِيَةِ عَلَيْهِ يَدًا لَا مِلْكًا.

Dan apabila mereka bersaksi bahwa budak perempuan ini adalah putri dari budak perempuannya, yang dilahirkan setelah ia memilikinya, namun mereka tidak mengatakan bahwa ia melahirkannya saat masih dalam kepemilikannya, maka tidak diputuskan kepemilikan budak perempuan itu untuknya. Sebab, mungkin saja ia telah menjualnya lalu budak itu melahirkan setelah itu, kemudian ia membelinya kembali; atau mungkin ia telah menjualnya lalu budak itu melahirkan di tempat pembelinya, kemudian pembelinya bangkrut sehingga penjual mengambil kembali budak itu tanpa anaknya. Oleh karena itu, kesaksian tersebut tidak cukup untuk menetapkan kepemilikannya. Namun, jika mereka bersaksi bahwa ia adalah putri dari budak perempuannya yang diambil orang ini dari tangannya, maka itu merupakan kesaksian atas penguasaan (yad), bukan atas kepemilikan (mulk), sehingga diputuskan untuk mengembalikan budak perempuan itu kepadanya secara penguasaan, bukan secara kepemilikan.

وَلَوْ شَهِدُوا أَنَّهَا بِنْتُ أَمَتِهِ، وَكَانَتْ أَمْسُ فِي يَدِهِ، فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ الْمَشْهُورِ مِنْ قَوْلِهِ: أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ لَهُ بِالْيَدِ إِذَا شَهِدُوا لَهُ بِيَدٍ مُتَقَدِّمَةٍ، وَإِنْ حُكِمَ لَهُ بِالْمِلْكِ إِذَا شَهِدُوا لَهُ بِمِلْكٍ مُتَقَدِّمٍ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، وَكَانَ الْبُوَيْطِيُّ، وَابْنُ سُرَيْجٍ، يَجْمَعَانِ بَيْنَ الشَّهَادَةِ بِقَدِيمِ الْيَدِ، وَقَدِيمِ الْمِلْكِ، فِي الْحُكْمِ بِهِمَا عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، وَقَدْ ذَكَرْنَا مَنْ فَرَّقَ أَصْحَابِنَا بَيْنَ قَدِيمِ الْيَدِ، وَقَدِيمِ الْمِلْكِ، مَا يَمْنَعُ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا.

Dan jika mereka bersaksi bahwa ia adalah putri dari budak perempuannya, dan kemarin ia berada dalam genggamannya, maka mazhab Syafi‘i yang masyhur dari pendapatnya adalah bahwa tidak diputuskan hak kepemilikan baginya hanya berdasarkan penguasaan (al-yad) jika mereka bersaksi atas penguasaan yang telah lampau, meskipun diputuskan hak kepemilikan baginya jika mereka bersaksi atas kepemilikan (al-milk) yang telah lampau menurut salah satu dari dua pendapat. Al-Buwaiti dan Ibnu Surayj menggabungkan antara kesaksian atas penguasaan yang lama dan kepemilikan yang lama dalam menetapkan hukum berdasarkan keduanya menurut salah satu dari dua pendapat. Dan telah kami sebutkan bahwa sebagian ulama kami membedakan antara penguasaan yang lama dan kepemilikan yang lama, yang mencegah untuk menggabungkan keduanya.

وَفَرَّعَ ابْنُ سُرَيْجٍ عَلَى الْجَمْعِ بَيْنَ قَدِيمِ الْيَدِ، وَقَدِيمِ الْمِلْكِ فِي الْحُكْمِ بِهِمَا عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، أَنْ يَتَنَازَعَا الْجَارِيَةَ فَيُقِرُّ صَاحِبُ الْيَدِ أَنَّهَا كَانَتْ فِي يَدِ مُدَّعِيهَا أَمْسِ.

Ibnu Surayj membuat cabang hukum berdasarkan penggabungan antara kepemilikan lama atas barang dan penguasaan lama atas barang dalam menetapkan hukum dengan keduanya menurut salah satu dari dua pendapat, yaitu apabila dua orang berselisih mengenai seorang budak perempuan, lalu pemilik penguasaan mengakui bahwa budak tersebut kemarin berada dalam penguasaan orang yang mengklaimnya.

قَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ إِنْ قِيلَ بِأَنَّ قِيَامَ الْبَيِّنَةِ بِأَنَّهَا كَانَتْ بِيَدِهِ أَمْسُ يُوجِبُ الْحُكْمَ لَهَا بِالْيَدِ، فَإِقْرَارُ صَاحِبِ الْيَدِ أَوْلَى بِالْحُكْمِ.

Ibnu Surayj berkata, “Jika dikatakan bahwa adanya bukti (bayyinah) bahwa barang itu kemarin berada di tangannya mewajibkan keputusan hukum untuknya berdasarkan kepemilikan (yad), maka pengakuan dari pemilik tangan itu sendiri lebih utama untuk dijadikan dasar keputusan hukum.”

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ قِيَامَ الْبَيِّنَةِ لَا يُوجِبُ الْحُكْمَ لَهُ بِالْيَدِ، فَفِي إِقْرَارِ صَاحِبِ الْيَدِ بِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya tegaknya al-bayyinah tidak mewajibkan keputusan hukum untuknya atas kepemilikan (al-yad), maka dalam pengakuan pemilik kepemilikan (shāhib al-yad) terhadapnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ إِقْرَارَهُ لَا يُوجِبُ الْحُكْمَ بِهِ كَمَا لَا يَجِبُ بِالْبَيِّنَةِ، لِاسْتِوَائِهِمَا فِي ثُبُوتِ الْحُكْمِ بِهِمَا.

Salah satunya: bahwa pengakuannya tidak mewajibkan penetapan hukum atasnya, sebagaimana tidak wajib dengan adanya bayyinah, karena keduanya setara dalam penetapan hukum dengan keduanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّنَا نَحْكُمُ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ بِإِقْرَارِهِ، وَإِنْ لَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya kita menetapkan hukum atas orang yang memegang (suatu barang) berdasarkan pengakuannya, meskipun tidak ditetapkan hukum atasnya dengan bukti (bayyinah).

وَتُنْقَلُ الْيَدُ إِلَى الْمُدَّعِي بِالْإِقْرَارِ، وَإِنْ لَمْ تُنْقَلْ إِلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ، لِتَقَدُّمِ الْإِقْرَارِ عَلَى الْبَيِّنَةِ الْمُكَذِّبَةِ لَهُ فَأَمَّا إِنْ أَقَرَّ صَاحِبُ الْيَدِ أَنَّ الْمُدَّعِيَ كَانَ مَالِكًا لَهَا بِالْأَمْسِ، حُكِمَ لَهُ بِالْمِلْكِ قَوْلًا وَاحِدًا وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ بِالْبَيِّنَةِ عَلَى قَوْلَيْنِ، لِقُوَّةِ الْإِقْرَارِ عَلَى الْبَيِّنَةِ وَيَكُونُ الْإِقْرَارُ بِالْمِلْكِ أَقْوَى مِنَ الْإِقْرَارِ بِالْيَدِ.

Kepemilikan (al-yad) berpindah kepada penggugat melalui pengakuan (iqrār), meskipun tidak berpindah kepadanya melalui bukti (bayyinah), karena pengakuan lebih didahulukan daripada bukti yang mendustakannya. Adapun jika pemilik (al-yad) mengakui bahwa penggugat adalah pemiliknya pada hari sebelumnya, maka diputuskan kepemilikan untuknya secara pasti, meskipun keputusan dengan bukti masih diperselisihkan menurut dua pendapat, karena kekuatan pengakuan dibandingkan bukti. Pengakuan atas kepemilikan lebih kuat daripada pengakuan atas penguasaan (al-yad).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَ رَجُلَانِ فِي يَدِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا جَارِيَةٌ، فَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْجَارِيَةَ، الَّتِي فِي يَدِ صَاحِبِهِ، أَنَّهَا بِنْتُ الْجَارِيَةِ الَّتِي فِي يَدِهِ، وُلِدَتْ عَلَى مِلْكِهِ، وَيُقِيمُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا الْبَيِّنَةَ عَلَى مَا يَدَّعِيهِ وَهَذَا يَكُونُ مَعَ اشْتِبَاهِ الْأَسْنَانِ، وَأَنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا يُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ أُمًّا، وَيُحْتَمَلُ أَنْ تكون كل واحدة بِنْتًا فَتَصِيرُ الشَّهَادَتَانِ مُتَعَارِضَتَيْنِ فِي الْوِلَادَةِ دُونَ الْمِلْكِ، لِأَنَّهُ يَسْتَحِيلُ أَنْ تَكُونَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِنْتَ الْأُخْرَى، فَصَارَتَا فِي الْوِلَادَةِ مُتَعَارِضَتَيْنِ، وَلَمْ يَتَعَارَضَا فِي الْمِلْكِ، لِأَنَّ بَيِّنَةَ زَيْدٍ شَهِدَتْ لَهُ بِمِلْكِ الْجَارِيَةِ الَّتِي فِي يَدِ عَمْرٍو وَبَيِّنَةَ عَمْرٍو شَهِدَتْ لَهُ بِمِلْكِ الْجَارِيَةِ الَّتِي فِي يَدِ زَيْدٍ فَلَمْ يَكُنْ فِيهَا تَعَارُضٌ فِي الْمِلْكِ، وَإِنْ تَعَارَضَتَا فِي الْوِلَادَةِ فَيُحْكَمُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِبَيِّنَتِهِ وَتُسَلَّمُ الْجَارِيَةُ الَّتِي فِي يَدِ زَيْدٍ إِلَى عَمْرٍو، وَالْجَارِيَةُ الَّتِي فِي يَدِ عَمْرٍو إِلَى زَيْدٍ، وَلَا يَكُونُ تَعَارُضُهُمَا فِي الْوِلَادَةِ مُوجِبًا لِتَعَارُضِهِمَا فِي الْمِلْكِ، وَكَانَ التَّعَارُضُ فِي الْوِلَادَةِ أَقْوَى، وَلَا يَحْمِلُ عَلَى رَدِّ الْبَيِّنَةِ فِي الْكُلِّ، إِذَا رُدَّتْ فِي الْبَعْضِ، لِأَنَّ الْوِلَادَةَ هَاهُنَا لَمْ تُؤَثِّرْ فِي الْحُكْمِ فَكَانَ وُجُودُهَا كَعَدَمِهَا، وَلَوْ كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا، فَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ، فَقَالَ: أَنَا مَالِكٌ لِلْجَارِيَةِ الَّتِي فِي يَدِي، وَالْجَارِيَةِ الَّتِي فِي يَدِكَ، وَهِيَ بِنْتُ الْجَارِيَةِ الَّتِي هِيَ فِي يَدِي، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً صَارَتِ الشَّهَادَتَانِ مُتَعَارِضَتَيْنِ فِي الْوِلَادَةِ وَالْمِلْكِ جَمِيعًا، لِأَنَّهُ يستحيل أن تكون كل واحدة منهما بنت الْأُخْرَى، فَتَعَارَضَتْ فِي الْوِلَادَةِ، وَيَسْتَحِيلُ أَنْ تَكُونَ الْجَارِيَتَانِ مَعًا مِلْكًا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَتَعَارَضَتْ فِي الْمِلْكِ، فَتَكُونُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَإِنْ زَالَ الِاشْتِبَاهُ فِي سِنِّ الْجَارِيَتَيْنِ بَانَ مَنْ يَحِقُّ أَنْ تَكُونَ بِنْتَ الْأُخْرَى لِصِغَرِ سِنِّهَا، وَكِبَرِ الْأُخْرَى، تَعَيَّنَ بِهَا كَذِبُ إِحْدَى الْبَيِّنَتَيْنِ فِي الْوِلَادَةِ، فَرُدَّتْ شَهَادَتُهُمَا فِي الْمِلْكِ، وَحُكِمَ بِشَهَادَةِ الْأُخْرَى فِي الْوِلَادَةِ وَالْمِلْكِ، وَزَالَ بِهِ حُكْمُ التَّعَارُضِ.

Apabila dua orang laki-laki berselisih, masing-masing memegang seorang jariyah (budak perempuan), lalu masing-masing mengklaim bahwa jariyah yang ada di tangan temannya adalah anak dari jariyah yang ada di tangannya, dan bahwa ia lahir dalam kepemilikannya, serta masing-masing dari mereka mendatangkan bukti atas klaimnya, dan hal ini terjadi ketika usia kedua jariyah itu sulit dibedakan, sehingga masing-masing dari keduanya mungkin saja adalah ibu, dan masing-masing juga mungkin saja adalah anak, maka kedua kesaksian itu saling bertentangan dalam hal kelahiran, bukan dalam hal kepemilikan. Sebab, mustahil masing-masing dari keduanya adalah anak dari yang lain, sehingga pertentangan terjadi dalam hal kelahiran, namun tidak bertentangan dalam hal kepemilikan. Karena bukti dari Zaid menyatakan bahwa ia memiliki jariyah yang ada di tangan Amr, dan bukti dari Amr menyatakan bahwa ia memiliki jariyah yang ada di tangan Zaid, maka tidak ada pertentangan dalam hal kepemilikan, meskipun terjadi pertentangan dalam hal kelahiran. Maka diputuskan bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan haknya berdasarkan buktinya, dan jariyah yang ada di tangan Zaid diserahkan kepada Amr, dan jariyah yang ada di tangan Amr diserahkan kepada Zaid. Pertentangan dalam hal kelahiran tidak menyebabkan pertentangan dalam hal kepemilikan, dan pertentangan dalam hal kelahiran lebih kuat, namun hal itu tidak menyebabkan seluruh bukti ditolak jika hanya sebagian yang ditolak, karena kelahiran di sini tidak berpengaruh pada hukum, sehingga keberadaannya dianggap seperti tidak ada. Jika kasusnya tetap seperti itu, lalu masing-masing dari mereka mengklaim terhadap temannya dengan berkata: “Aku adalah pemilik jariyah yang ada di tanganku dan jariyah yang ada di tanganmu, dan dia adalah anak dari jariyah yang ada di tanganku,” lalu ia mendatangkan bukti atas hal itu, maka kedua kesaksian itu saling bertentangan baik dalam hal kelahiran maupun kepemilikan. Karena mustahil masing-masing dari keduanya adalah anak dari yang lain, maka terjadi pertentangan dalam hal kelahiran, dan mustahil kedua jariyah itu sekaligus menjadi milik masing-masing dari mereka, maka terjadi pertentangan dalam hal kepemilikan. Maka dalam hal ini berlaku tiga pendapat mengenai pertentangan dua bukti. Jika kerancuan usia kedua jariyah itu hilang, sehingga jelas siapa yang berhak menjadi anak dari yang lain karena lebih muda usianya dan yang lain lebih tua, maka dengan itu terbukti kebohongan salah satu bukti dalam hal kelahiran, sehingga kesaksiannya dalam hal kepemilikan pun ditolak, dan diputuskan berdasarkan kesaksian yang lain dalam hal kelahiran dan kepemilikan, dan dengan itu hukum pertentangan menjadi hilang.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَا شَاةً مَذْبُوحَةً وَكَانَ فِي يَدِ أَحَدِهِمَا رَأْسُهَا وَجِلْدُهَا وَسَقَطُهَا، وَفِي يَدِ الْآخَرِ مَسْلُوخُهَا، وَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنَّ جَمِيعَهَا لَهُ، وَأَقَامَ عَلَى ذَلِكَ بَيِّنَةً حُكِمَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمِلْكِ مَا فِي يَدِهِ، لِأَنَّ لَهُ بِمَا فِي يَدِهِ بَيِّنَةَ دَاخِلٍ، وَفِيمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ بَيِّنَةَ خَارِجٍ، فَقَضَى بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ عَلَى بَيِّنَةِ الْخَارِجِ.

Apabila dua orang berselisih mengenai seekor kambing yang telah disembelih, dan salah satu dari mereka memegang kepala, kulit, dan isi perutnya, sementara yang lain memegang daging yang telah dikuliti, lalu masing-masing mengklaim bahwa seluruh kambing itu miliknya dan masing-masing mendatangkan bukti, maka diputuskan bahwa masing-masing memiliki apa yang ada di tangannya. Sebab, orang yang memegang sesuatu memiliki bukti sebagai pemilik dalam (bayyinah dākhil), sedangkan terhadap apa yang ada di tangan pihak lain, ia hanya memiliki bukti luar (bayyinah khārij). Maka diputuskan dengan bukti pemilik dalam atas bukti pemilik luar.

وَحَكَمَ أَبُو حَنِيفَةَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، بِمَا فِي يَدِ صَاحِبِهِ، لِأَنَّهُ يَقْضِي بِبَيِّنَةِ الْخَارِجِ عَلَى بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ، وَلَوْ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدَّعِي تِلْكَ الشَّاةَ، وَأَنَّهَا نَتَجَتْ فِي مِلْكِهِ، وَأَقَامَ بِهَا بَيِّنَةً وَأَمْضَى أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى أَنَّهُ يُحْكَمُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمِلْكِ مَا فِي يَدِهِ، لِأَنَّهُ مُوَافِقٌ عَلَى الْقَضَاءِ بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ فِي النِّتَاجِ، وَيُخَالِفُ فِي غَيْرِهِ، فَيَقْضِي بِبَيِّنَةِ الْخَارِجِ فِي غَيْرِ النتاج.

Abu Hanifah memutuskan untuk masing-masing dari keduanya dengan apa yang ada di tangan temannya, karena ia memutuskan dengan bukti (bayyinah) pihak luar atas bukti pihak dalam. Seandainya masing-masing dari keduanya mengklaim domba itu dan bahwa domba itu lahir di dalam kepemilikannya, lalu masing-masing mendatangkan bukti atas klaimnya, maka Abu Hanifah tetap memutuskan bahwa setiap orang dari mereka dihukumi memiliki apa yang ada di tangannya. Sebab, ia sepakat untuk memutuskan dengan bukti pihak dalam dalam kasus kelahiran (hewan), namun berbeda pendapat dalam selainnya; sehingga ia memutuskan dengan bukti pihak luar dalam selain kasus kelahiran.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوْ شَهِدُوا أَنَّ هَذَا الْغَزْلَ مِنْ قُطْنِ فُلَانٍ جَعَلْتُهُ لِفُلَانٍ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika mereka bersaksi bahwa benang pintal ini berasal dari kapas milik Fulan, maka aku menetapkannya untuk Fulan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا شَهِدُوا أَنَّ هَذَا الْغَزَلَ مِنْ قُطْنِ زَيْدٍ، كَانَتْ شَهَادَةٌ بِمِلْكِ زَيْدٍ لِلْغَزْلِ، لِأَنَّهُ عَيْنُ الْقُطْنِ وَإِنْ غَيَّرَتْهُ الصَّنْعَةُ، بِخِلَافِ شَهَادَتِهِمْ أَنَّ هَذِهِ الْجَارِيَةَ بِنْتُ أَمَتِهِ لِأَنَّهَا غَيْرُ أَمَتِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, jika mereka bersaksi bahwa benang ini berasal dari kapas milik Zaid, maka kesaksian itu merupakan kesaksian atas kepemilikan Zaid terhadap benang tersebut, karena benang itu adalah zat yang sama dengan kapas meskipun telah diubah oleh proses pembuatan. Berbeda dengan kesaksian mereka bahwa budak perempuan ini adalah anak dari budak perempuannya, karena dia bukanlah budak perempuannya.

وَهَكَذَا لَوْ شَهِدُوا أَنَّ هَذَا الثَّوْبَ من غزل زيد كانت الشهادة لَهُ بِمِلْكِ الثَّوْبِ، لِأَنَّهُ الْقُطْنُ بِعَيْنِهِ، وَإِنْ تَغَيَّرَ بِالْغَزَلِ وَالنِّسَاجَةِ.

Demikian pula, jika mereka bersaksi bahwa kain ini berasal dari benang yang dipintal oleh Zaid, maka kesaksian itu berarti menetapkan kepemilikan kain tersebut untuknya, karena kapasnya adalah kapas yang sama, meskipun telah berubah melalui pemintalan dan penenunan.

وَجَعْلهَا أَبُو حَنِيفَةَ شَهَادَةً بِالْقُطْنِ، دُونَ الثَّوْبِ، وَالْغَزَلِ، وَبَنَى ذَلِكَ عَلَى أَصْلِهِ أَنَّ الْغَاصِبَ إِذَا عَمِلَ فِي الْمَغْصُوبِ بِمَا يُغَيِّرُ عَنْ حَالِهِ، كَانَ أَحَقُّ بِهِ مِنْ مَالِكِهِ وَغَرِمَ لَهُ بَدَلَ أَصْلِهِ، وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي الْغَصْبِ، وَأَنَّ مَالِكَهُ أَحَقُّ بِهِ مِنْ غَاصِبِهِ.

Abu Hanifah menganggapnya sebagai persaksian atas kapas, bukan atas kain atau benang pintalannya, dan ia membangun pendapat tersebut berdasarkan prinsipnya bahwa apabila seorang perampas melakukan sesuatu terhadap barang rampasan yang mengubah keadaannya, maka ia lebih berhak atas barang itu daripada pemilik aslinya dan ia wajib mengganti nilai barang aslinya kepada pemilik. Telah dijelaskan sebelumnya pembahasan dengannya dalam masalah ghasb, bahwa pemilik aslinya lebih berhak atas barang itu daripada perampasnya.

فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَتْ قِيمَةُ الثَّوْبِ مَنْسُوجًا أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ غَزْلًا، وَقُطْنًا، وَهُوَ الْأَغْلَبُ لَمْ يَرْجِعْ صَاحِبُ الْيَدِ بِزِيَادَتِهِ عَلَى الْمَالِكِ.

Maka berdasarkan hal ini, jika nilai kain setelah ditenun lebih tinggi daripada nilainya saat masih berupa benang pintal atau kapas, dan ini yang lebih umum terjadi, maka pemegang barang tersebut tidak berhak menuntut kelebihan nilai itu dari pemiliknya.

وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ وَهُوَ نَادِرٌ، رَجَعَ الْمَالِكُ بِنُقْصَانِهِ عَلَى صَاحِبِ الْيَدِ مِنْ أَكْثَرِ قِيمَتِهِ قُطْنًا، أَوْ غَزْلًا، وَهَكَذَا الْقَوْلُ فِي نَظَائِرِ هَذَا إِذَا شَهِدُوا أَنَّ هَذَا الدَّقِيقَ مِنْ حِنْطَةِ زَيْدٍ، وَهَذِهِ الدَّنَانِيرَ مِنْ ذَهَبِهِ، وَهَذِهِ الدَّرَاهِمَ مِنْ فِضَّتِهِ، وَهَذِهِ النَّخْلَةَ مِنْ نَوَاتِهِ، وَهَذَا الزَّرْعَ مِنْ بَذْرِهِ، كَانَتْ لَهُ شَهَادَةٌ بِمِلْكِ ذَلِكَ، سَوَاءً كَانَ بِعَمَلِ صَاحِبِ الْيَدِ، أَوْ بِغَيْرِ عَمَلِهِ، وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ: إِنْ تَغَيَّرَ بِعَمَلِ صَاحِبِ الْيَدِ مِلْكَهُ.

Jika jumlahnya lebih sedikit, meskipun itu jarang terjadi, maka pemilik dapat menuntut kekurangan tersebut kepada orang yang memegang barang itu berdasarkan nilai tertingginya, baik sebagai kapas maupun sebagai benang. Demikian pula ketentuan ini berlaku pada kasus-kasus serupa, seperti jika para saksi bersaksi bahwa tepung ini berasal dari gandum milik Zaid, dinar ini dari emasnya, dirham ini dari peraknya, pohon kurma ini dari bijinya, atau tanaman ini dari benihnya, maka kesaksian tersebut menetapkan kepemilikan atas barang-barang itu baginya, baik perubahan itu terjadi karena perbuatan orang yang memegang barang maupun bukan karena perbuatannya. Namun menurut Abu Hanifah, jika perubahan terjadi karena perbuatan orang yang memegang barang, maka barang itu menjadi miliknya.

فَعَلَى هَذَا يَقُولُ إِنْ نَبَتَتِ النَّوَاةُ نَخْلَةً بِنَفْسِهَا، وَنَبَتَ الْبَذْرُ فِي الْأَرْضِ بِنَفْسِهِ، كَانَ لِمَالِكِهِ، وَإِنْ كَانَ بِعَمَلِ صَاحِبِ الْيَدِ، كَانَ لَهُ، يقول فِي رَجُلٍ غَصَبَ دَجَاجَةً فَبَاضَتْ بَيْضَتَيْنِ حَضَنَتِ الدَّجَاجَةُ إِحْدَاهُمَا حَتَّى صَارَتْ فَرْخًا وَحَضَنَ الْغَاصِبُ الْأُخْرَى، إِمَّا تَحْتَ الدَّجَاجَةِ، أَوْ تَحْتَ غَيْرِهَا حَتَّى صَارَتْ فَرُّوجًا كَانَ الْفَرْخُ الْأَوَّلُ لِمَالِكِ الدَّجَاجَةِ، وَالْفُرُوجِ الثَّانِي لِلْغَاصِبِ.

Berdasarkan hal ini, dikatakan bahwa jika biji kurma tumbuh menjadi pohon kurma dengan sendirinya, dan benih tumbuh di tanah dengan sendirinya, maka itu menjadi milik pemiliknya. Namun, jika tumbuh karena usaha orang yang memegangnya, maka itu menjadi miliknya. Dikatakan pula tentang seorang laki-laki yang merampas seekor ayam, lalu ayam itu bertelur dua butir; ayam tersebut mengerami salah satu telur hingga menetas menjadi anak ayam, sedangkan perampas mengerami telur yang lain, baik di bawah ayam itu maupun di bawah yang lain, hingga menetas menjadi anak ayam, maka anak ayam yang pertama menjadi milik pemilik ayam, sedangkan anak ayam yang kedua menjadi milik perampas.

وَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلُّهُ عِنْدَنَا لِمَالِكِ أَصْلِهِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ.

Dan semua itu menurut kami kembali kepada pendapat Mālik sebagai asalnya, sebagaimana telah kami jelaskan.

وَلَكِنْ لَوْ شَهِدُوا أَنَّ هَذَا الزَّرْعَ مِنْ ضَيْعَتِهِ، لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ شَهَادَةً لَهُ بِمِلْكِ الزَّرْعِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ زَرَعَ أَرْضَهُ لِغَيْرِهِ، وَهَذَا مِمَّا اتَّفَقْنَا نَحْنُ وَأَبُو حَنِيفَةَ عَلَيْهِ.

Namun, jika mereka bersaksi bahwa tanaman ini berasal dari lahannya, hal itu tidak dapat dianggap sebagai kesaksian bahwa ia memiliki kepemilikan atas tanaman tersebut, karena mungkin saja ia menanam lahannya untuk orang lain. Dalam hal ini, kami dan Abu Hanifah sepakat.

فَإِنْ قِيلَ: أَفَتَكُونُ هَذِهِ شَهَادَةٌ لَهُ بِالْيَدِ عَلَى الزَّرْعِ نُظِرَ، فَإِنْ لَمْ يَقُولُوا زُرِعَ فِيهَا، وَهِيَ عَلَى مِلْكِهِ لَمْ تَكُنْ شَهَادَةً لَهُ بِالْيَدِ، لِجَوَازِ زَرْعِهِ فِيهَا، وَحَصَادِهِ قَبْلَ مِلْكِهِ وَيَدِهِ وَإِنْ قَالُوا: زُرِعَ وَحُصِدَ فِي مِلْكِهِ، كَانَتْ شَهَادَةً لَهُ بِيَدٍ مُتَقَدِّمَةٍ فَيَكُونُ عِنْدَ الْبُوَيْطِيِّ، وَابْنِ سُرَيْجٍ، عَلَى قَوْلَيْنِ كَالشَّهَادَةِ بِالْمِلْكِ الْقَدِيمِ يُوجِبُ ثُبُوتَ يَدِهِ فِي الْحَالِ، وَإِحْلَافِهِ عَلَى الزَّرْعِ أَنَّهُ مِلْكُهُ.

Jika dikatakan: Apakah ini merupakan kesaksian baginya atas kepemilikan (yad) terhadap tanaman tersebut? Maka perlu diteliti, jika mereka tidak mengatakan “ditanami di dalamnya” sementara lahan itu masih dalam kepemilikannya, maka itu bukanlah kesaksian atas kepemilikan (yad) baginya, karena mungkin saja ia menanam di sana dan memanennya sebelum ia memiliki dan menguasainya. Namun jika mereka mengatakan, “ditanami dan dipanen di atas kepemilikannya,” maka itu merupakan kesaksian atas kepemilikan (yad) yang terdahulu. Maka menurut al-Buwaiti dan Ibn Surayj, ada dua pendapat: seperti halnya kesaksian atas kepemilikan lama yang mewajibkan penetapan kepemilikan (yad) saat ini, dan mewajibkan ia bersumpah atas tanaman tersebut bahwa itu adalah miliknya.

وَالثَّانِي: لَا يُوجِبُ ثُبُوتَ يَدِهِ، وَلَا يَحْلِفُ عَلَى مِلْكِهِ.

Yang kedua: tidak menetapkan kepemilikan tangannya, dan ia tidak disumpah atas kepemilikannya.

وَالَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابُنَا أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ لَهُ بِالْيَدِ قَوْلًا وَاحِدًا لِمَا بَيَّنَاهُ، وَلَا يَحْلِفُ عَلَيْهِ، وَيَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ فِي الْحَالِ مَعَ يَمِينِهِ، فَإِنْ أَقَامَ صَاحِبُ الْأَرْضِ بِأَدَاءِ خَرَاجِهِ أَوْ بِدَفْعِ عُشْرِهِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّ لِقَبْضِ خَرَاجِهِ وَعُشْرِهِ لَمْ يَمْلِكْهُ، لِأَنَّهُ قَدْ يَنُوبُ فِي أَدَائِهِ عَنْ مَالِكِهِ.

Pendapat yang dipegang oleh para ulama kami adalah bahwa tidak diputuskan kepemilikan dengan tangan secara mutlak, sebagaimana telah kami jelaskan, dan tidak pula diminta sumpah atasnya. Dalam hal ini, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang menguasai (memegang) tanah tersebut pada saat itu, disertai sumpahnya. Jika pemilik tanah menunjukkan bukti dengan membayar kharāj atau menyerahkan ‘usyur kepada pihak yang berhak menerima kharāj dan ‘usyur tersebut, maka ia tidak otomatis memilikinya, karena bisa jadi ia hanya mewakili pemiliknya dalam pembayaran itu.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَ فِي يَدَيْهِ صَبِيٌ صَغِيرٌ يَقُولُ: هُوَ عَبْدِي فَهُوَ كَالثَوْبِ إِذَا كَانَ لَا يَتَكَلَّمُ “. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ هَذَا الْمَوْجُودِ، إِذَا ادَّعَاهُ الْوَاجِدُ عَبْدًا من ثلاثة أحوال:

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika ada seorang anak kecil di tangannya, lalu ia berkata: ‘Ini adalah hambaku,’ maka hukumnya seperti pakaian jika anak itu belum bisa berbicara.” Al-Māwardī berkata: Kesimpulannya, keadaan anak yang ditemukan ini, jika orang yang menemukannya mengaku bahwa ia adalah hambanya, tidak lepas dari tiga keadaan:

أحدها: أَنْ يَكُونَ بَالِغًا عَاقِلًا، فَتُعْتَبَرُ حَالُهُ فَإِنْ أَنْكَرَ الرِّقَّ، وَقَالَ أَنَا حُرٌّ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ مَعَ يَمِينِهِ، وَلَا تُقْبَلُ دَعْوَى وَاجِدِهِ فِي ادعائه، لأن الأصل الحرية، والرق طارىء، فَكَانَ الظَّاهِرُ مَعَهُ فَلَوْ عَادَ بَعْدَ إِنْكَارِهِ لِلرِّقِّ، فَأَقَرَّ لِوَاجِدِهِ بِالرِّقِّ لَمْ يُقْبَلْ إِقْرَارُهُ وَكَانَ عَلَى الْحُرِّيَّةِ حَتَّى يُقِيمَ مُدَّعِيهِ بَيِّنَةً بِرِقِّهِ، لِأَنَّ مَنْ أَقَرَّ بِالْحَرِيَّةِ لَمْ يُقْبَلْ إِقْرَارُهُ بِالرِّقِّ وَإِنْ كَانَ هَذَا أَقَرَّ بِالرِّقِّ حِينَ أَخَذَهُ الْوَاجِدُ، وَأَنْكَرَ أَنْ يَكُونَ مَمْلُوكًا لِهَذَا الْوَاجِدِ الْمُدَّعِي لِرِقِّهِ، فَلَا اعْتِبَارَ بِإِنْكَارِهِ، لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَدَ لَهُ عَلَى نَفْسِهِ، وَيُقَرُّ فِي يَدِ مُدَّعِيهِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ مُنَازِعٌ فِيهِ وَيُجْبَرُ الْعَبْدُ عَلَى الْمَقَامِ مَعَهُ، فَإِنْ حَضَرَ مَنِ ادَّعَاهُ، وَنَازَعَهُ فِيهِ كَانَ لِلْأَوَّلِ يَدٌ، وَلَيْسَ لِلثَّانِي يَدٌ، فَيَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْأَوَّلِ مَعَ يَمِينِهِ لِثُبُوتِ يَدِهِ قَبْلَ مُنَازَعَتِهِ إِلَّا أَنْ يُقِيمَ الثَّانِي بَيِّنَةً، فَيُحْكَمُ أَنَّهُ عَبْدٌ لِلثَّانِي، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ أَوْلَى مِنَ الْيَدِ، فَإِنْ أَقَامَ الْأَوَّلُ بَيِّنَةً كَانَ أَحَقَّ بِهِ مِنَ الثَّانِي، لِأَنَّ لِلْأَوَّلِ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ، وَلِلثَّانِي بَيِّنَةُ خَارِجٍ.

Pertama: Seseorang harus baligh dan berakal, maka keadaannya diperhatikan. Jika ia mengingkari status budak dan berkata, “Saya orang merdeka,” maka perkataannya diterima dengan sumpahnya, dan klaim orang yang menemukannya tidak diterima dalam pengakuannya, karena asalnya adalah kemerdekaan, sedangkan perbudakan adalah sesuatu yang datang kemudian, sehingga yang tampak adalah bersamanya. Jika setelah mengingkari status budak ia kembali dan mengakui kepada orang yang menemukannya bahwa ia adalah budak, maka pengakuannya tidak diterima dan ia tetap dalam status merdeka sampai orang yang mengklaimnya mendatangkan bukti tentang status budaknya, karena siapa yang telah mengakui kemerdekaan tidak diterima pengakuannya tentang perbudakan. Jika orang tersebut mengakui status budak ketika diambil oleh orang yang menemukannya, namun mengingkari bahwa ia adalah milik orang yang mengklaimnya, maka pengingkarannya tidak dianggap, karena seorang budak tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, dan ia tetap berada di tangan orang yang mengklaimnya, karena tidak ada yang menyainginya dalam hal itu, dan budak dipaksa untuk tinggal bersamanya. Jika kemudian hadir orang lain yang mengklaimnya dan berselisih dengannya, maka yang pertama memiliki kekuasaan, sedangkan yang kedua tidak, sehingga perkataan yang diterima adalah perkataan yang pertama dengan sumpahnya, karena kekuasaannya telah tetap sebelum ada perselisihan, kecuali jika yang kedua mendatangkan bukti, maka diputuskan bahwa ia adalah budak milik yang kedua, karena bukti lebih kuat daripada kekuasaan. Jika yang pertama mendatangkan bukti, maka ia lebih berhak atasnya daripada yang kedua, karena yang pertama memiliki bukti dari dalam, sedangkan yang kedua bukti dari luar.

وَلَوْ تَنَازَعَهُ فِي الْحَالِ رَجُلَانِ، وَلَمْ يَكُنْ لِأَحَدِهِمَا عَلَيْهِ يَدٌ، وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً بِأَنَّهُ عَبْدَهُ، فَصَدَّقَ الْعَبْدُ أَحَدَهُمَا لَمْ تَتَرَجَّحْ بَيِّنَتُهُ بِتَصْدِيقِهِ، وَتَعَارَضَتْ فِيهِ الْبَيِّنَتَانِ، فَيَكُونُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ.

Jika pada saat itu dua orang memperbutkannya, dan tidak ada salah satu dari mereka yang memegangnya, lalu masing-masing dari keduanya mendatangkan bukti bahwa ia adalah hambanya, kemudian hamba tersebut membenarkan salah satu dari mereka, maka bukti orang yang dibenarkan itu tidak menjadi lebih kuat hanya karena pembenaran tersebut, dan kedua bukti itu saling bertentangan, sehingga kasus ini kembali kepada tiga pendapat yang ada.

وَلَوْ تَنَازَعَهُ رَجُلَانِ، وَلَا بَيِّنَةَ لِأَحَدِهِمَا فَصَدَّقَ أَحَدَهَمَا فِي رِقِّهِ، وَكَذَّبَ الْآخَرَ، وَأَنَّهُ مَمْلُوكٌ لَهُ دُونَ الْآخَرِ، كَانَ عَبْدًا لِلْمُصَدَّقِ مِنْهُمَا دُونَ الْمُكَذَّبِ.

Jika dua orang memperbutkannya, dan tidak ada bukti bagi salah satu dari mereka, lalu salah satu dari keduanya membenarkan bahwa ia adalah budaknya, sementara yang lain mengingkarinya dan menyatakan bahwa ia adalah miliknya, maka ia menjadi budak bagi orang yang membenarkan, bukan bagi yang mengingkari.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَكُونُ عَبْدًا لَهُمَا يَشْتَرِكُ فِيهِ الْمُصَدَّقُ، وَالْمُكَذَّبُ، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِاعْتِرَافِهِ بِالرِّقِّ لِأَحَدِهِمَا مَمْلُوكًا وَلَا اعْتِبَارَ بِاعْتِرَافِ الْمَمْلُوكِ، وَإِنْكَارِهِ.

Abu Hanifah berkata: Ia menjadi budak milik keduanya, baik yang membenarkan maupun yang mengingkari, karena dengan pengakuannya terhadap status budak kepada salah satu dari mereka, ia telah menjadi milik, dan pengakuan atau pengingkaran seorang budak tidak dianggap.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّهُ حُرٌّ فِي الظَّاهِرِ، وَإِنَّمَا صَارَ مَمْلُوكَا بِاعْتِرَافِهِ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ مَمْلُوكًا لِمَنِ اعْتَرَفَ بِهِ.

Hal ini tidaklah benar, karena secara lahiriah ia adalah orang merdeka, dan ia hanya menjadi budak berdasarkan pengakuannya sendiri, sehingga hal itu menuntut agar ia menjadi budak bagi orang yang diakuinya.

وَلَوْ كَانَ مُعْتَرِفًا بِالرِّقِّ قَبْلَ اعْتِرَافِهِ لِأَحَدِهِمَا، ثُمَّ صَدَّقَ أَحَدَهُمَا وَكَذَّبَ الْآخَرَ كَانَ بَيْنَهُمَا.

Dan jika sebelumnya ia telah mengakui status budak, lalu setelah itu ia membenarkan salah satu dari keduanya dan mendustakan yang lain, maka budak tersebut menjadi milik bersama antara keduanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُدَّعَي رَقَّهُ صَغِيرًا غَيْرَ مُمَيِّزٍ، فَيُحْكَمُ بِرِقِّهِ لِمُدَّعِيهِ يَدًا، لِأَنَّهُ لَا مُنَازِعَ لَهُ فِيهِ، وَلَيْسَ بِبَالِغٍ فَيُعْرِبُ عَنْ نَفْسِهِ، فَإِنْ بَلَغَ هَذَا الْعَبْدُ، وَأَنْكَرَ الرِّقَّ، وَادَّعَى الْحَرِيَّةَ لَمْ تُقْبَلْ دَعْوَاهُ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ لَهُ بِالْحُرِّيَّةِ، فَإِنْ طَلَبَ إحلاف سَيِّدِهِ، أُحْلِفَ لَهُ وَلَوْ كَانَ هَذَا صَغِيرًا فَاسْتَخْدَمَهُ الْوَاجِدُ، وَلَمْ يَدَّعِ فِي الْحَالِ رِقَّهُ حَتَّى بَلَغَ، ثُمَّ ادَّعَى رِقَّهُ بَعْدَ بُلُوغِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Keadaan kedua: Jika yang didakwakan sebagai budak itu masih kecil dan belum mumayyiz, maka diputuskan status budaknya bagi orang yang mengakuinya sebagai budak karena ia memegangnya, sebab tidak ada yang menentang klaim tersebut, dan anak itu belum baligh sehingga bisa mengungkapkan dirinya sendiri. Namun, jika budak tersebut telah baligh lalu mengingkari status budaknya dan mengaku sebagai orang merdeka, maka pengakuannya tidak diterima kecuali dengan bukti (bayyinah) yang menyatakan bahwa ia benar-benar merdeka. Jika ia meminta tuannya untuk bersumpah, maka tuannya wajib bersumpah untuknya. Jika anak kecil itu ditemukan lalu digunakan jasanya oleh orang yang menemukannya, dan pada saat itu tidak mengakuinya sebagai budak hingga anak itu baligh, kemudian setelah baligh ia mengakuinya sebagai budak, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ، يُحْكَمُ لَهُ بِرِقِّهِ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ لِأَنَّ يَدَهُ عَلَيْهِ، فَقُبِلَ قَوْلُهُ فِيمَا بِيَدِهِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Hamid al-Isfara’ini, yaitu diputuskan status budaknya tanpa perlu bukti (bayyinah), karena ia memegangnya, maka diterima ucapannya atas apa yang ada dalam genggamannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ دَعْوَاهُ إِذَا تَأَخَّرَتْ عَنِ الصِّغَرِ، صَارَتْ مُسْتَأْنَفَةً عَلَيْهِ بَعْدَ الْكِبَرِ، وَدَعَوَاهُ بَعْدَ الْكِبَرِ لَا تُقْبَلُ، إِلَّا بِبَيِّنَةٍ وَهَذَا أَظْهَرُ الْوَجْهَيْنِ عِنْدِي.

Pendapat kedua: Jika pengakuannya dilakukan setelah masa kanak-kanak, maka pengakuan itu dianggap sebagai pengakuan baru setelah dewasa, dan pengakuan setelah dewasa tidak diterima kecuali disertai bukti. Ini adalah pendapat yang paling kuat menurut saya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ هَذَا الْمُدَّعِي رَقَّهِ مُرَاهِقًا مُمَيِّزًا، وَلَيْسَ بِبَالِغٍ فَفِي ثُبُوتِ رِقِّهِ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَى وَجْهَانِ:

Keadaan ketiga: yaitu apabila orang yang mengaku sebagai budak itu adalah seorang yang mendekati usia baligh dan sudah dapat membedakan (mumayyiz), namun belum baligh. Maka dalam penetapan status perbudakannya hanya berdasarkan pengakuan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُحْكَمُ لَهُ بِرِقِّهِ عَبْدًا لَهُ، وَلَا يُؤَثِّرُ فِيهِ إِنْكَارُهُ قَبْلَ بُلُوغِهِ، وَلَا بَعْدَ بُلُوغِهِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ بِحُرِّيَّتِهِ، لِأَنَّ حُكْمَ مَا قَبْلَ الْبُلُوغِ فِي ارْتِفَاعِ الْعِلْمِ سَوَاءٌ.

Salah satunya: diputuskan bahwa ia adalah budak miliknya, dan pengingkarannya sebelum baligh maupun setelah baligh tidak berpengaruh kecuali dengan adanya bukti yang menyatakan kebebasannya, karena hukum sebelum baligh dalam hal hilangnya pengetahuan adalah sama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الْحُكْمَ بِرِقِّهِ مَوْقُوفٌ عَلَى إِقْرَارِهِ، وَإِنْكَارِهِ فَإِذَا اعْتَرَفَ لَهُ بِالرِّقِّ، حُكِمَ لَهُ بِعُبُودِيَّتِهِ، وَإِنْ أَنْكَرَ الرِّقَّ حُكِمَ لَهُ بِالْحُرِّيَّةِ، وَلَا يُحْلَفُ عَلَى إِنْكَارِهِ، إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهِ، وَلَا يَمْتَنَعُ أَنْ يَكُونَ لِقَوْلِهِ قَبْلَ الْبُلُوغِ حُكْمٌ، وَإِنْ لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ قَلَمٌ، كَمَا يُخَيَّرُ قَبْلَ الْبُلُوغِ بَيْنَ أَبَوَيْهِ، وَيَصِحُّ مِنْهُ فِعْلُ الصَّلَاةِ، وَإِنْ لَمْ تَلْزَمْهُ، وَيُسْمَعْ خَبَرُهُ فِي الْمُرَاسَلَاتِ، وَالْمُعَامَلَاتِ، وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ هَذَانِ الْوَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِهِمْ فِي صِحَّةِ إِسْلَامِهِ بَعْدَ مُرَاهَقَتِهِ، وَقَبْلَ بُلُوغِهِ وَكَلَامُ الشَّافِعِيِّ هَاهُنَا فِي قَوْلِهِ: ” إِذَا كَانَ لَا يَتَكَلَّمُ ” دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ يَتَكَلَّمُ بِالْمُرَاهَقَةِ وَالتَّمْيِيزِ أَنْ يُعْتَبَرَ إِقْرَارُهُ وَإِنْكَارُهُ، وَقَدْ تَأَوَّلَهُ مَنْ قَالَ بِالْوَجْهِ الْأَوَّلِ أَنَّ مَعْنَاهُ إِذَا كَانَ مِمَّنْ لا حكم لكلامه.

Pendapat kedua: bahwa penetapan hukum budaknya bergantung pada pengakuannya; jika ia mengaku sebagai budak, maka ditetapkan baginya status sebagai hamba, dan jika ia mengingkari status budak, maka ditetapkan baginya kebebasan. Ia tidak diminta bersumpah atas pengingkarannya kecuali setelah ia baligh. Tidak mustahil bahwa perkataannya sebelum baligh memiliki konsekuensi hukum, meskipun belum terkena kewajiban hukum, sebagaimana ia diberi pilihan sebelum baligh antara kedua orang tuanya, dan sah darinya pelaksanaan shalat meskipun belum wajib baginya, serta keterangannya diterima dalam surat-menyurat dan transaksi. Tampaknya dua pendapat ini berkaitan dengan perbedaan mereka tentang keabsahan Islamnya setelah ia mendekati baligh dan sebelum baligh. Ucapan asy-Syafi‘i di sini pada pernyataannya: “Jika ia belum bisa berbicara,” menunjukkan bahwa jika ia sudah bisa berbicara karena telah mendekati baligh dan sudah bisa membedakan, maka pengakuan dan pengingkarannya dianggap. Adapun yang berpendapat dengan pendapat pertama menafsirkan bahwa maksudnya adalah jika ia termasuk orang yang perkataannya belum memiliki konsekuensi hukum.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” فَإِنْ أَقَامَ رَجُلٌ بَيِّنَةً أَنَّهُ ابْنَهُ جَعَلْتُهُ ابْنَهُ وَهُوَ فِي يَدَيِ الَّذِي هُوَ فِي يَدَيْهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendatangkan bukti yang jelas bahwa anak itu adalah anaknya, maka aku menetapkan anak itu sebagai anaknya, namun anak tersebut tetap berada dalam pemeliharaan orang yang selama ini memeliharanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يَعْنِي الصَّغِيرَ إِذَا ادَّعَاهُ رَجُلٌ عَبْدًا، وَحُكِمَ لَهُ بِرِقِّهِ بِمُجَرَّدِ دَعْوَاهُ، ثُمَّ ادَّعَاهُ رَجُلٌ آخَرُ وَلَدًا، وَأَقَامَ بَيِّنَةً بِأَنَّهُ وَلَدُهُ صَارَ ابْنًا لَهُ، وَلَمْ يَزُلْ عَنْهُ رِقٌّ الْأَوَّلِ، لِأَنَّهُ لَا يَمْتَنِعُ أَنْ يَكُونَ ابْنَ زَيْدٍ عَبْدًا لِعَمْرٍو، لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَدْ وُلِدَ لَهُ مِنْ أَمَةٍ تَزَوَّجَهَا، فَيَكُونُ لَهُ ابْنًا، وَهُوَ مَمْلُوكٌ لِسَيِّدِ الْأُمِّ فَلَمْ يَتَنَافَى لُحُوقُ نَسَبِهِ، وَثُبُوتُ رِقِّهِ، إِلَّا أَنْ تَشْهَدَ بَيِّنَةُ الْمُدَّعِي لِنَسَبِهِ، أَنَّهُ وُلِدَ لَهُ مِنْ حُرَّةٍ تَزَوَّجَهَا، أَوْ مِنْ أَمَةٍ مَلِكَهَا فَيَكُونُ الْوَلَدُ حُرًّا، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُولَدَ الْحُرُّ مِنَ الْحُرَّةِ إِلَّا حُرًّا، وَمِنْ أَمَتِهِ إِلَّا حُرًّا، وَلَوْ كَانَ مُدَّعِي أُبُوَّتِهِ لَمْ يُقِمُ الْبَيِّنَةَ بِهَا فَصَدَّقَهُ الْوَلَدُ عَلَيْهَا فَالصَّحِيحُ مِنَ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَثْبُتُ نَسَبُهُ بِتَصْدِيقِهِ، وَإِنْ كَانَ عَلَى رِقِّهِ لِمُدَّعِي عُبُودِيَّتِهِ، لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لِلسَّيِّدِ فِي نَسَبِ الْعَبْدِ فَنَفَذَ فِيهِ إِقْرَارُ الْعَبْدِ.

Al-Mawardi berkata: Maksudnya adalah seorang anak kecil, apabila seorang laki-laki mengakuinya sebagai budaknya, lalu diputuskan baginya status budak anak itu hanya berdasarkan pengakuannya, kemudian ada laki-laki lain yang mengakuinya sebagai anaknya dan mendatangkan bukti bahwa ia adalah anaknya, maka anak itu menjadi anaknya, namun status budak kepada orang pertama tidak hilang darinya. Sebab, tidak mustahil seseorang menjadi anak Zaid namun tetap menjadi budak Amr, karena mungkin saja ia dilahirkan dari seorang budak perempuan yang dinikahi oleh ayahnya, sehingga ia menjadi anaknya, namun tetap menjadi milik tuan ibunya. Maka, tidak bertentangan antara penetapan nasabnya dan tetapnya status budak, kecuali jika bukti yang diajukan oleh orang yang mengaku sebagai ayahnya menunjukkan bahwa anak itu dilahirkan dari perempuan merdeka yang dinikahinya, atau dari budak perempuan yang dimilikinya, maka anak itu menjadi merdeka. Sebab, tidak mungkin anak yang lahir dari perempuan merdeka kecuali ia juga merdeka, dan dari budak perempuan miliknya kecuali ia juga merdeka. Jika orang yang mengaku sebagai ayah tidak mendatangkan bukti, namun anak itu membenarkan pengakuannya, maka pendapat yang sahih dalam mazhab adalah nasabnya tetap dengan pembenaran anak itu, meskipun ia tetap berstatus budak bagi orang yang mengaku sebagai tuannya. Sebab, tuan tidak memiliki hak atas nasab budaknya, sehingga pengakuan budak itu berlaku padanya.

وَفِيهِ وَجْهٌ آخَرُ؛ أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ النَّسَبُ بِتَصْدِيقِهِ لِمَا فِيهِ مِنَ الضَّرَرِ الْعَائِدِ عَلَى سَيِّدِهِ، بِأَنْ يَصِيرَ بَعْدَ عِتْقِهِ مَوْرُوثًا بِالنَّسَبِ، دُونَ الْوَلَاءِ وَفِيهِ ضَرَرٌ عَلَى السَّيِّدِ فِي إبطال ميراثه بالولاء.

Ada pendapat lain: bahwa nasab tidak dapat ditetapkan hanya dengan pengakuannya, karena hal itu mengandung mudarat yang kembali kepada tuannya, yaitu jika setelah dimerdekakan ia menjadi ahli waris karena nasab, bukan karena wala’, dan dalam hal ini terdapat mudarat bagi tuan dengan hilangnya hak warisnya melalui wala’.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ لَا يَدَّعِيهَا فَأَقَامَ رَجُلٌ الْبَيِّنَةَ أَنَّ نِصْفَهَا لَهُ وَآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّ جَمِيعَهَا لَهُ فَلِصَاحِبِ الْجَمِيعِ النِّصْفُ وَأُبْطِلَ دَعْوَاهُمَا فِي النِّصْفِ وَأُقْرِعَ بَيْنَهُمَا (قَالَ الْمُزَنِيُّ) : فَإِذَا أَبْطَلَ دَعْوَاهُمَا فَلَا حَقَّ لَهُمَا وَلَا قُرْعَةَ وَقَدْ مَضَى مَا هُوَ أَوْلَى بِهِ فِي هَذَا الْمَعْنَى “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika sebuah rumah berada di tangan seorang laki-laki yang tidak mengaku memilikinya, lalu seseorang mendatangkan bukti bahwa setengahnya adalah miliknya, dan orang lain mendatangkan bukti bahwa seluruhnya adalah miliknya, maka bagi pemilik bukti atas seluruhnya diberikan setengah, dan gugurlah klaim keduanya atas setengah sisanya, lalu diundi di antara mereka berdua.” (Al-Muzani berkata): “Jika klaim keduanya telah digugurkan, maka keduanya tidak memiliki hak dan tidak ada undian, dan telah dijelaskan sebelumnya hal yang lebih utama dalam makna ini.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَجُمْلَتُهُ أَنَّ مُقِيمَ الْبَيِّنَةِ بِجَمِيعِهَا إِذَا تَوَرَّعَ فِيهَا بِإِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ فِي نِصْفِهَا، فَقَدْ سَلِمَ لَهُ نِصْفُهَا، لِأَنَّهُ لَا تَنَازُعَ فِيهِ، وَلَا تَعَارُضَ، وَإِنَّمَا تَتَعَارَضُ بَيِّنَتَاهُمَا فِي النِّصْفِ الْآخَرِ، فَيَكُونُ تَعَارُضُهُمَا فِيهِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ:

Al-Mawardi berkata: Kesimpulannya adalah bahwa orang yang mendatangkan bayyinah secara keseluruhan, apabila ia berhati-hati dengan mendatangkan bayyinah hanya pada setengahnya, maka setengah bagian itu telah menjadi haknya, karena tidak ada perselisihan di dalamnya dan tidak ada pertentangan. Adapun bayyinah keduanya hanya saling bertentangan pada setengah bagian yang lain, sehingga pertentangan keduanya pada bagian itu kembali kepada tiga pendapat.

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُهُمَا فِيهِ، وَيَخْلُصُ لِصَاحِبِ الْكُلِّ النِّصْفُ، وَلَا يَحْمِلُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ إِذَا رُدَّتِ الشَّهَادَةُ فِي الْبَعْضِ، أَنْ تُرَدَّ فِي الْكُلِّ، لِأَنَّ مُقِيمَ الْبَيِّنَةِ بِالنِّصْفِ قَدْ سَلِمَ لِصَاحِبِ الْكُلِّ النِّصْفُ، فَخَرَجَ مِنَ النِّزَاعِ وَلَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى الْبَيِّنَةِ فَعَلَى هَذَا لَا يَخْلُو صَاحِبُ الْيَدِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَدَّعِيهَا مِلْكًا، أَوْ لَا يَدَّعِيهَا.

Salah satunya: keduanya gugur di dalamnya, dan pemilik keseluruhan memperoleh setengahnya, dan tidak dapat disamakan dengan dua pendapat apabila kesaksian ditolak pada sebagian, bahwa ia juga ditolak pada keseluruhan, karena orang yang mendatangkan bukti atas setengahnya telah memastikan setengahnya untuk pemilik keseluruhan, sehingga keluar dari perselisihan dan tidak membutuhkan bukti lagi. Dengan demikian, pemilik barang tidak lepas dari dua keadaan: apakah ia mengakuinya sebagai miliknya, atau tidak mengakuinya.

فَإِنِ ادَّعَاهَا مِلْكًا، زَالَ مِلْكُهُ عَنْ نِصْفِهَا الْمَحْكُومِ بِهِ لِمُدَّعِي الْكُلِّ وَفِي رفع يده عن النصف الآخر الذي تعارضت فِيهِ الْبَيِّنَةُ، حَتَّى سَقَطَتْ وَجْهَانِ:

Jika ia mengakuinya sebagai miliknya, maka kepemilikannya atas setengah bagian yang telah diputuskan untuk orang yang mengklaim seluruhnya menjadi hilang. Adapun mengenai penarikan tangannya dari setengah bagian lainnya yang bukti-buktinya saling bertentangan, hingga gugur, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تُقَرُّ فِي يَدِهِ، وَلَا تُنْتَزَعُ لِسُقُوطِ الْبَيِّنَتَيْنِ بِالتَّعَارُضِ، وَيَصِيرُ فِيهِ خَصْمًا لِلْمُتَنَازِعَيْنِ.

Salah satunya: barang tersebut tetap berada di tangannya dan tidak diambil darinya karena kedua bukti telah gugur akibat saling bertentangan, dan ia menjadi pihak yang bersengketa dengan kedua orang yang berselisih.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ تُنْتَزَعَ مِنْ يَدِهِ، لِاتِّفَاقِ الْبَيِّنَتَيْنِ عَلَى عَدَمِ مِلْكِهِ، وَلَيْسَ تَعَارُضُهُمَا مِنْ حَقِّهِ، وَإِنَّمَا تُعَارُضُهُمَا فِي حَقِّ الْمُتَنَازِعَيْنِ وَهِيَ غَيْرُ مُتَعَارِضَةٍ فِي حَقِّ صَاحِبِ الْيَدِ، وَإِنْ لَمْ يَدَّعِهَا مِلْكًا رُفِعَتْ يَدُهُ، لِتَنَازُعِ غَيْرِهِ فِي مِلْكِهَا، لِتُوقَفَ عَلَى الْمُتَنَازِعَيْنِ فِيهِ، فَيَتَحَالَفَانِ عَلَى النِّصْفِ، الَّذِي وَقَعَ فِيهِ التَّعَارُضُ عِنْدَ إِسْقَاطِ الْبَيِّنَتَيْنِ فِيهِ، فَإِنْ حَلَفَا جُعِلَ بَيْنَهُمَا وَصَارَ لِمُدَّعِي الْكُلِّ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهَا وَلِمُدَّعِي النِّصْفِ رُبُعُهَا، وَإِنْ نَكَلَا حُكِمَ لِصَاحِبِ الْكُلِّ بِالنِّصْفِ وَكَانَ النِّصْفُ الْبَاقِي مَوْقُوفًا، وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا، وَنَكَلَ الْآخَرُ، قَضَى بِهِ لِلْحَالِفِ مِنْهُمَا دُونَ النَّاكِلِ، فَإِنْ كَانَ الْحَالِفُ صَاحِبَ الْكُلِّ، قَضَى لَهُ بِجَمِيعِ الدَّارِ وَإِنْ كَانَ صَاحِبَ النِّصْفِ كَانَتِ الدَّارُ بَيْنَهُمَا.

Pendapat kedua: Barang itu diambil dari tangannya, karena kedua bayyinah sepakat bahwa ia bukan pemiliknya, dan pertentangan antara keduanya bukanlah haknya, melainkan pertentangan itu terjadi pada hak kedua orang yang bersengketa, dan tidak ada pertentangan dalam hak orang yang memegang barang. Jika ia tidak mengakuinya sebagai miliknya, maka tangannya diangkat dari barang itu karena ada orang lain yang bersengketa atas kepemilikannya, sehingga barang itu ditahan untuk kedua orang yang bersengketa atasnya. Kemudian keduanya saling bersumpah atas setengah bagian yang menjadi objek pertentangan setelah kedua bayyinah gugur padanya. Jika keduanya bersumpah, maka barang itu dibagi di antara mereka, sehingga bagi yang mengklaim seluruhnya mendapat tiga perempat, dan bagi yang mengklaim setengahnya mendapat seperempat. Jika keduanya enggan bersumpah, maka diputuskan setengahnya untuk pemilik klaim seluruhnya, dan setengah sisanya tetap ditahan. Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lain enggan, maka diputuskan untuk yang bersumpah tanpa yang enggan. Jika yang bersumpah adalah pemilik klaim seluruhnya, maka diputuskan seluruh rumah untuknya. Jika yang bersumpah adalah pemilik klaim setengahnya, maka rumah itu dibagi di antara mereka berdua.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا مَعَ التَّعَارُضِ، فَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ صَاحِبِ الْكُلِّ سُلِّمَ إِلَيْهِ جَمِيعُ الدَّارِ، وَفِي إِحْلَافِهِ قَوْلَانِ، وَإِنْ قَرَعَتْ بَيِّنَةُ صَاحِبِ النِّصْفِ، جُعِلَتِ الدَّارُ بَيْنَهُمَا، نِصْفَيْنِ، وَفِي إِحْلَافِهِ قَوْلَانِ وَيُدْفَعُ عَنْهَا صَاحِبُ الْيَدِ، سَوَاءٌ ادَّعَاهَا مِلْكًا أَوْ لَمْ يَدَّعِهَا.

Pendapat kedua: dilakukan undian di antara keduanya ketika terjadi pertentangan. Jika undian jatuh pada bukti milik pemilik seluruh rumah, maka seluruh rumah diserahkan kepadanya, dan dalam hal pengambilan sumpah darinya terdapat dua pendapat. Jika undian jatuh pada bukti milik pemilik setengah, maka rumah itu dibagi di antara keduanya, masing-masing setengah, dan dalam hal pengambilan sumpah darinya juga terdapat dua pendapat. Pemilik tangan (yang menguasai) disingkirkan darinya, baik ia mengklaimnya sebagai milik maupun tidak.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: اسْتِعْمَالُ الْبَيِّنَتَيْنِ، وَقَسْمُ النِّصْفِ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ، فَيَصِيرُ لِصَاحِبِ الْكُلِّ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهَا، وَلِصَاحِبِ النِّصْفِ رُبُعُهَا، وَصَاحِبُ الْيَدِ مَدْفُوعٌ بِهَا.

Pendapat ketiga: menggunakan kedua bukti (bayyinah), lalu membagi setengahnya di antara keduanya menjadi dua bagian; sehingga pemilik seluruhnya mendapatkan tiga perempatnya, pemilik setengah mendapatkan seperempatnya, dan orang yang memegang barang tersebut tidak mendapatkan apa-apa.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ، فَإِنَّهُ لَمَّا قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” أُبْطِلُ دَعْوَاهُمَا فِي النِّصْفِ، وَأَقْرَعُ بَيْنَهُمَا ” اعْتَرَضَ عَلَيْهِ فَقَالَ: كَيْفَ يَقْرَعُ بَيْنَهُمَا فِيمَا قَدْ أَبْطَلَ فِيهِ دَعْوَاهُمَا، وَهَذَا الِاعْتِرَاضُ فَاسِدٌ، وَلِأَصْحَابِنَا عَنْهُ جَوَابَانِ:

Adapun al-Muzani, ketika asy-Syafi‘i berkata: “Aku batalkan klaim keduanya pada setengah bagian, dan aku melakukan undian di antara keduanya,” ia mengajukan keberatan kepadanya dengan berkata: “Bagaimana mungkin dilakukan undian di antara keduanya pada sesuatu yang telah dibatalkan klaim mereka berdua?” Keberatan ini tidak benar, dan para ulama mazhab kami memiliki dua jawaban terhadapnya.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ أَبْطَلَ دَعْوَاهُمَا فِي النِّصْفِ الْحَاصِلِ لِمُدَّعِي الْكُلِّ لِأَنَّهُ قَدْ خَلُصَ لَهُ مِنْ غَيْرِ تَنَازُعٍ فِيهِ، وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمَا فِي النِّصْفِ الْآخَرِ، وَلَمْ تُبْطَلْ دَعْوَاهُمَا فِيهِ.

Pertama: Ia membatalkan klaim keduanya atas setengah bagian yang menjadi milik pihak yang mengklaim seluruhnya, karena bagian itu telah menjadi haknya tanpa ada perselisihan di dalamnya, dan ia mengundi di antara keduanya untuk setengah bagian yang lain, dan klaim keduanya tidak dibatalkan atas bagian tersebut.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: أَنَّهُ أَبْطَلَ دَعْوَاهُمَا إِذَا أَسْقَطَ بَيْنَتهُمَا، وَيَقْرَعُ بَيْنَهُمَا إِنْ لَمْ يُسْقِطْهُمَا، وَيَكُونُ مَعْنَى الْكَلَامِ، أُبْطِلُ دَعْوَاهُمَا، أَوْ أَقْرَعُ بَيْنَهُمَا، لِاخْتِلَافِ قَوْلِهِ فِي تَعَارُضِهِمَا.

Jawaban kedua: Bahwa ia membatalkan klaim keduanya jika keduanya tidak dapat menghadirkan bukti, dan melakukan undian di antara mereka jika keduanya tidak menggugurkan klaim, dan makna dari pernyataan tersebut adalah: aku batalkan klaim keduanya, atau aku lakukan undian di antara mereka, karena perbedaan pendapatnya dalam hal pertentangan klaim mereka.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلٍ، فَادَّعَاهَا طَالِبٌ، وَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّهَا مِلْكٌ أَجَّرَهَا مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ، أَوْ أَوْدَعَهَا، وَأَقَامَ صَاحِبُ الْيَدِ بَيِّنَةً أَنَّهَا مِلْكَهُ حَكَمْنَا بِبَيِّنَةِ الْخَارِجِ الْمُدَّعِي عَلَى بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ صَاحِبِ الْيَدِ، لِأَنَّ بَيِّنَةَ الْخَارِجِ لَمَّا شَهِدَتْ لَهُ، بِأَنَّهُ آجَرَهُ إِيَّاهَا أَوْ أَوْدَعَهَا صَارَتِ الْيَدُ لَهُ، فَصَارَ الدَّاخِلُ خَارِجًا، وَالْخَارِجُ دَاخِلًا. وَلَوْ تَدَاعَاهَا رَجُلَانِ، وَهِيَ فِي يَدِ ثَالِثٍ، فَأَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا لَهُ أَجَّرَهُ إِيَّاهَا، وَأَقَامَ الْآخَرُ أَنَّهَا لَهُ أَوْدَعَهُ إِيَّاهَا صَارَتِ الْيَدُ لَهُمَا بِمَا شَهِدَ لِأَحَدِهِمَا أَنَّهُ مؤجر، وَلِلْآخَرِ أَنَّهُ مُودِعٌ، فَصَارَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةُ دَاخِلٍ فِي النِّصْفِ الْمُضَافِ إِلَى يَدِهِ، وَبَيِّنَةُ خَارِجٍ فِي النِّصْفِ الْمُضَافِ إِلَى يَدِ صَاحِبِهِ، وَقَدْ تَعَارَضَتْ فِيهِ الْبَيِّنَتَانِ، فَإِنْ أُسْقِطَتَا، صَارَتِ الدَّارُ بَيْنَهُمَا يَدًا إِنْ حَلَفَا أَوْ نَكَلَا وَإِنْ أُقْرِعَ بَيْنَهُمَا، جَعَلْتُ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمَا، وَإِنِ اسْتُعْمِلَتَا فِي الْقِسْمَةِ قُسِمَتْ بَيْنَهُمَا مِلْكًا.

Apabila sebuah rumah berada di tangan seseorang, lalu ada orang lain yang mengklaimnya dan menghadirkan bukti bahwa rumah itu adalah miliknya yang disewakan kepada pemegang rumah tersebut, atau dititipkan kepadanya, dan pemegang rumah juga menghadirkan bukti bahwa rumah itu miliknya, maka kami memutuskan berdasarkan bukti pihak luar (pengklaim) atas bukti pihak dalam (pemegang rumah). Sebab, ketika bukti pihak luar menyatakan bahwa ia telah menyewakan atau menitipkan rumah itu kepadanya, maka kepemilikan atas rumah itu berpindah kepadanya, sehingga pihak dalam menjadi pihak luar dan pihak luar menjadi pihak dalam. Jika dua orang saling mengklaim rumah tersebut, sementara rumah itu berada di tangan orang ketiga, lalu salah satu dari mereka menghadirkan bukti bahwa rumah itu miliknya dan ia menyewakannya kepada orang ketiga, dan yang lain menghadirkan bukti bahwa rumah itu miliknya dan ia menitipkannya kepada orang ketiga, maka kepemilikan rumah itu menjadi milik keduanya, karena salah satu dari mereka memiliki bukti sebagai pihak yang menyewakan dan yang lain sebagai pihak yang menitipkan. Maka, masing-masing dari mereka memiliki bukti sebagai pihak dalam pada setengah bagian yang berada di bawah kekuasaannya, dan bukti sebagai pihak luar pada setengah bagian yang berada di bawah kekuasaan lawannya. Jika kedua bukti tersebut saling bertentangan, dan keduanya dianggap gugur, maka rumah itu menjadi milik bersama di antara mereka berdua jika keduanya bersumpah atau keduanya menolak bersumpah. Jika dilakukan undian di antara mereka, maka rumah diberikan kepada siapa yang menang undian. Jika kedua bukti digunakan dalam pembagian, maka rumah itu dibagi di antara mereka berdua sebagai milik bersama.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدِ مَنْ يَدَّعِيهَا مِلْكًا، فَنَازَعَهُ فِيهَا رَجُلَانِ وَأَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا مِلْكُهُ مُنْذُ سَنَةٍ وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ عَلَى هَذَا الْأَوَّلِ أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنْهُ مُنْذُ خَمْسِ سِنِينَ فَلَا تُمْنَعُ بَيِّنَةُ الْأَوَّلِ أَنَّهَا لَهُ مُنْذُ سَنَةٍ أَنْ تَكُونَ لَهُ مِلْكًا قَبْلَ ذَلِكَ. بِخَمْسِ سِنِينَ، فَلِذَلِكَ سُمِعَتْ بَيِّنَةُ الثَّانِي عَلَى الْأَوَّلِ، وَوَجَبَ بِهَا انْتِزَاعُهَا مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ، ثُمَّ يُنْظَرُ فِي بَيِّنَةِ الْمُدَّعِي الثَّانِي أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنَ الْمُدَّعِي الْأَوَّلِ، فَإِنْ شَهِدَتْ بِأَنَّهُ بَاعَهَا وَكَانَ مَالِكًا لَهَا، حُكِمَ بِهَا لِلثَّانِي مِلْكًا، فَإِنْ شَهِدَتْ أَنَّهُ بَاعَهَا وَكَانَتْ فِي يَدِهِ، حُكِمَ بِهَا لِلثَّانِي ابْتِيَاعُهَا فَجَرَى عَلَيْهِ حُكْمُ الْمِلْكِ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنَ الْيَدِ أَنَّهَا لِمَالِكٍ، فَتُسَلَّمُ الدَّارُ فِي هَاتَيْنِ الْحَالَتَيْنِ إِلَى الْمُدَّعِي الثَّانِي وَتُرْفَعُ عَنْهَا يَدُ الْمُدَّعِي الْأَوَّلِ.

Jika sebuah rumah berada dalam penguasaan seseorang yang mengaku memilikinya, lalu dua orang laki-laki berselisih dengannya mengenai rumah itu, kemudian salah satu dari keduanya menghadirkan bukti bahwa rumah itu adalah miliknya sejak satu tahun yang lalu, dan yang lain menghadirkan bukti bahwa ia telah membeli rumah itu dari orang pertama sejak lima tahun yang lalu, maka bukti orang pertama bahwa rumah itu miliknya sejak satu tahun tidak menghalangi kemungkinan bahwa ia memilikinya sebelum itu selama lima tahun. Oleh karena itu, bukti orang kedua terhadap orang pertama diterima, dan dengan bukti itu rumah tersebut harus diambil dari tangan orang yang menguasainya. Kemudian dilihat pada bukti penggugat kedua bahwa ia telah membeli rumah itu dari penggugat pertama; jika bukti tersebut menyatakan bahwa ia membelinya dan orang pertama adalah pemiliknya, maka diputuskan rumah itu menjadi milik orang kedua. Jika bukti tersebut menyatakan bahwa ia membelinya saat rumah itu berada dalam penguasaan orang pertama, maka diputuskan rumah itu menjadi milik orang kedua karena pembelian tersebut, sehingga berlaku atasnya hukum kepemilikan; karena yang tampak dari penguasaan adalah bahwa rumah itu milik pemiliknya. Maka dalam kedua keadaan ini, rumah tersebut diserahkan kepada penggugat kedua dan penguasaan penggugat pertama atasnya diangkat.

وَوَافَقَ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَيْهِمَا. وَإِنْ شَهِدَتْ بَيِّنَةُ الثَّانِي، أَنَّهُ ابْتَاعَهَا مِنَ الْأَوَّلِ، وَلَمْ يَشْهَدُوا أَنَّهَا كَانَتْ مِلْكًا لِلْأَوَّلِ وَلَا فِي يَدِهِ. قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا تُنْتَزَعُ مِنَ الْأَوَّلِ، وَلَا تُسَلَّمُ إِلَى الثَّانِي لِأَنَّ الْبَيْعَ مُتَرَدِّدٌ، بَيْنَ أَنْ يَكُونَ قَدْ بَاعَ مَا فِي مِلْكِهِ، أَوْ مَا فِي يَدِهِ فَيَصِحُّ وَبَيْنَ أَنْ يَبِيعَ مَا لَيْسَ فِي مِلْكِهِ، وَلَا يَدِهِ فَيَبْطُلُ.

Abu Hanifah sependapat dengan keduanya. Jika saksi-saksi pihak kedua memberikan kesaksian bahwa ia membeli barang itu dari pihak pertama, namun mereka tidak bersaksi bahwa barang itu adalah milik pihak pertama atau berada dalam penguasaannya, Abu Hanifah berkata: Barang itu tidak boleh diambil dari pihak pertama, dan tidak pula diserahkan kepada pihak kedua, karena jual belinya masih diragukan; antara kemungkinan bahwa ia telah menjual sesuatu yang memang dimilikinya atau yang ada dalam penguasaannya sehingga sah, dan kemungkinan bahwa ia menjual sesuatu yang bukan miliknya dan bukan pula dalam penguasaannya sehingga batal.

فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِصِحَّةِ البيع، ورفع يد الأول، بمجور مُتَرَدِّدٍ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالْفَسَادِ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ يَدَ الْأَوَّلِ تُرْفَعُ وَتُسَلَّمُ الدَّارُ إِلَى الثَّانِي ابْتِيَاعًا مِنَ الْأَوَّلِ، لِأَنَّ الْبَيْعَ فِي حَقِّهِ صَحِيحٌ إِنْ مَلَكَ، وَلَا يَقْضِي بِهَا مِلْكُهُ لِلثَّانِي، وَإِنْ قَضَى لَهُ بِابْتِيَاعِهَا مِنَ الْأَوَّلِ، فَكَانَ لَهُ فِيهَا يَدٌ إِنْ نُوزِعَ فِيهَا، تَرَجَّحَ بِيَدٍ لَا بِدَفْعِ بَيِّنَةِ الْمُنَازِعِ.

Maka tidak boleh memutuskan keabsahan jual beli dan mencabut tangan (kepemilikan) pihak pertama berdasarkan alasan yang masih diragukan antara sah dan batal. Menurut Imam Syafi‘i, tangan (kepemilikan) pihak pertama dicabut dan rumah diserahkan kepada pihak kedua sebagai hasil pembelian dari pihak pertama, karena jual beli itu sah baginya jika ia memang memilikinya. Namun, keputusan tersebut tidak menetapkan kepemilikan rumah itu bagi pihak kedua. Jika diputuskan bahwa ia membelinya dari pihak pertama, maka ia memiliki hak atas rumah itu jika terjadi sengketa, dan haknya lebih kuat karena kepemilikan, bukan hanya karena menolak bukti dari pihak yang bersengketa.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا تَنَازَعَا دَارًا فِي يَدِ غَيْرِهِمَا، وَأَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ أَنَّ الدَّارَ كَانَتْ لَهُ مُنْذُ سَنَةٍ، وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ أَنَّ الدَّارَ كَانَتْ فِي يَدِهِ مُنْذُ سَنَةٍ، فَإِنْ لَمْ تُجْعَلِ الشَّهَادَةُ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ مُوجِبَةٌ لِلْمِلْكِ، وَبِقَدِيمِ الْيَدِ مُوجِبَةٌ لِلْيَدِ لَمْ يُحْكَمْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَرَجَعَ إِلَى صَاحِبِ الْيَدِ فِي تَصْدِيقِهِمَا أَوْ تَكْذِيبِهِمَا وَإِنْ جُعِلَتِ الشَّهَادَةُ بِهِمَا مُوجِبَةً لِلْمِلْكِ وَالْيَدِ فِي الْحَالِ، حُكِمَ بِالدَّارِ لِمَنْ أَقَامَ الشَّهَادَةَ بِقَدِيمِ الْمِلْكِ، دُونَ مَنْ أَقَامَهَا بِقَدِيمِ الْيَدِ، وَكَذَا لَوْ أَقَامَهَا بِيَدٍ فِي الْحَالِ، لَأَنَّ الْمِلْكَ أَقْوَى مِنَ الْيَدِ، فَلِذَلِكَ حُكِمَ بِهِ على صاحب اليد.

Apabila dua orang berselisih mengenai sebuah rumah yang berada di tangan orang lain, lalu salah satu dari mereka menghadirkan bukti bahwa rumah tersebut adalah miliknya sejak satu tahun yang lalu, dan yang lainnya menghadirkan bukti bahwa rumah tersebut berada dalam penguasaannya sejak satu tahun yang lalu, maka jika kesaksian tentang kepemilikan lama tidak dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan kepemilikan, dan kesaksian tentang penguasaan lama tidak dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan penguasaan, maka tidak diputuskan untuk salah satu dari keduanya, dan perkara dikembalikan kepada pemegang rumah dalam membenarkan atau mendustakan keduanya. Namun, jika kesaksian tentang keduanya dijadikan alasan untuk menetapkan kepemilikan dan penguasaan saat ini, maka diputuskan rumah tersebut untuk orang yang menghadirkan kesaksian tentang kepemilikan lama, bukan untuk yang menghadirkan kesaksian tentang penguasaan lama. Demikian pula jika ia menghadirkannya dengan bukti penguasaan saat ini, karena kepemilikan lebih kuat daripada penguasaan, maka karena itu diputuskan untuk pemilik terhadap orang yang menguasai.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدَيْ ثَلَاثَةٍ فَادَّعَى أحدهم النصف والآخر الثلث وآخر السادس وَجَحَدَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَهِيَ لَهُمْ عَلَى مَا في أيديهم ثلثا ثلثا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika sebuah rumah berada di tangan tiga orang, lalu salah satu dari mereka mengklaim setengah, yang lain sepertiga, dan yang lain lagi seperenam, serta sebagian mereka saling menyangkal, maka rumah itu menjadi milik mereka sesuai dengan apa yang ada di tangan mereka, masing-masing sepertiga.”

قال الماوردي: وَصُورَتُهَا فِي دَارٍ فِي أَيْدِي ثَلَاثَةٍ تَدَاعَوْهَا، فَادَّعَى أَحَدُهُمْ نِصْفَهَا مِلْكًا، وَبَاقِيهَا يَدًا بِإِجَارَةٍ مِنْ مَالِكٍ غَائِبٍ، أَوْ عَارِيَةٍ، أَوْ وَدِيعَةٍ، وَأَنَّهُ لَا مِلْكَ فِيهَا لِهَذَيْنِ وَلَا يَدَ حَقٍّ، وَادَّعَى الثَّانِي ثُلُثُهَا مِلْكًا وَبَاقِيهَا يَدًا بِإِجَارَةٍ، أَوْ عَارِيَةٍ، أَوْ وَدِيعَةٍ لِغَائِبٍ، وَأَنَّهُ لَا مِلْكَ فِيهَا لِهَذَيْنِ وَلَا يَدَ لِحَقٍّ.

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah sebuah rumah yang berada di tangan tiga orang, lalu mereka saling mengklaim kepemilikannya. Salah seorang dari mereka mengaku memiliki setengahnya sebagai milik, dan sisanya ia kuasai karena sewa dari pemilik yang sedang tidak ada, atau karena pinjaman, atau titipan, serta ia menyatakan bahwa dua orang lainnya tidak memiliki bagian kepemilikan maupun hak penguasaan apa pun. Orang kedua mengaku memiliki sepertiga rumah itu sebagai milik, dan sisanya ia kuasai karena sewa, atau pinjaman, atau titipan dari orang yang sedang tidak ada, serta ia menyatakan bahwa dua orang lainnya tidak memiliki bagian kepemilikan maupun hak penguasaan apa pun.

وَادَّعَى الثَّالِثُ سُدُسُهَا مِلْكًا وَبَاقِيهَا يَدًا بِإِجَارَةٍ، أَوْ عَارِيَةٍ، أَوْ وَدِيعَةٍ لِغَائِبٍ، وَأَنَّهُ لَا حَقَّ فِيهَا لِهَذَيْنِ، وَلَا يَدَ بِحَقٍّ، وَأَنَّهَا كَانَتْ مُتَأَوِّلَةً عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ بِمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ مِنْ قَوْلِهِ ” وَجَحَدَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا “، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَوْ لَمْ يَدَّعِ الْبَاقِي يَدًا لَمَا كَانَ بَيْنَهُمْ تَجَاحُدٌ، وَلَكَانُوا مُتَّفِقِينَ عَلَى مَا ادَّعَوْهُ مِلْكًا، وَلَكَانَ لِصَاحِبِ النصف النصف، وإن كان أكثرهم مِمَّا بِيَدِهِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي هَذَيْنِ الْحَاضِرَيْنِ مَنْ يَدَّعِيهِ مِلْكًا، وَلِصَاحِبِ السُّدُسِ السُّدُسُ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِمَّا فِي يَدِهِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ يَدَّعِي مَا زَادَ عَلَيْهِ مِلْكًا وَلَكَانَ لِصَاحِبِ الثُّلُثِ الثُّلُثُ وَهُوَ قَدْرُ مَا فِي يَدِهِ، وَلَيْسَ يَدَّعِي مَا زَادَ عَلَيْهِ مِلْكًا.

Dan yang ketiga mengklaim bahwa seperenamnya adalah miliknya, sedangkan sisanya berada dalam penguasaannya karena sewa, atau pinjaman, atau titipan untuk orang yang tidak hadir, dan bahwa kedua orang ini tidak memiliki hak atasnya, serta tidak ada penguasaan yang sah atasnya. Keadaan ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan oleh asy-Syafi‘i dalam ucapannya “dan sebagian mereka saling mengingkari sebagian yang lain”, karena masing-masing dari mereka, jika tidak mengklaim sisanya sebagai penguasaan, maka tidak akan terjadi saling mengingkari di antara mereka, dan mereka akan sepakat atas apa yang mereka klaim sebagai milik. Maka, pemilik setengah akan mendapatkan setengah, meskipun yang ada di tangannya lebih banyak, karena tidak ada di antara dua orang yang hadir ini yang mengklaimnya sebagai milik. Pemilik seperenam akan mendapatkan seperenam, meskipun itu lebih sedikit dari apa yang ada di tangannya, karena ia tidak mengklaim kelebihan atasnya sebagai milik. Dan pemilik sepertiga akan mendapatkan sepertiga, yaitu sebesar apa yang ada di tangannya, dan ia tidak mengklaim kelebihan atasnya sebagai milik.

وَإِذَا كَانَ فِي الْمَسْأَلَةِ بَعْدَ مَا ذَكَرُوهُ مِنْ أَمْلَاكِهِمْ فِيهَا تَجَاحُدٌ، لَمْ يُتَصَوَّرْ إِلَّا عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ، وَأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمُ ادَّعَى مَا ادَّعَاهُ مِلْكًا، وَادَّعَى بَاقِيهَا يَدًا وَهُمْ فِي أَمْلَاكِهِمْ مُتَّفِقُونَ، وفي أيديهم متجاحدون، وقد تساوت أيديهم عليهما، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ أَمْلَاكُهُمْ فِيهَا فَتَفَرَّقَتْ أَيْدِيهِمْ أَثْلَاثًا عَلَى مَا أَوْجَبَهُ تَسَاوِيهِمْ، فَيُنْقَصُ صَاحِبُ النِّصْفِ عَمَّا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ، لِأَنَّهُ يَدَّعِيهِ مِلْكًا، وَهُوَ فِي يَدِ غَيْرِهِ فَلَمْ تُقْبَلْ دَعْوَاهُ، وَيُزَادُ صَاحِبُ السُّدُسِ، بِاسْتِكْمَالِ الثُّلُثِ، لِأَنَّ لَهُ فيه يدا يدعيه ملكا لغائب. فأقرت يدي عَلَيْهِ لِلْغَائِبِ، لِأَنَّهُ مُنَازِعٌ فِيهِ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ، وَلَا يَدٍ، وَصَاحِبُ الثُّلُثِ لَمْ يَزِدْ عَلَى مَا ادَّعَاهُ مِلْكًا وَلَمْ يَنْقُصْ، لِأَنَّ لَهُ فِي الثُّلُثِ يَدًا، فَلَمْ يَنْقُصْ وَلَيْسَ لَهُ فِيمَا زَادَ عَلَيْهِ يَدٌ فَلَمْ يَزِدْ، فَإِنْ أَرَادَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلَاثَةِ إِحْلَافَ صَاحِبَيْهِ فِيمَا ادَّعَاهُ مِنِ اسْتِحْقَاقِ الْيَدِ فِي الْجَمِيعِ، نَظَرْتُ دَعْوَى يَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ لَهُ بِهَا حَقٌّ بِحِصَّةٍ لِأَنَّهُ ادَّعَاهَا إِجَارَةً، كَانَ له إحلافهما عليهما، وَإِنِ ادَّعَاهَا بَعْضُهُمْ وَدِيعَةً وَادَّعَاهَا بَعْضُهُمْ إِجَارَةً، كَانَ لِمُدَّعِي الْإِجَارَةِ إِحْلَافُهُمَا عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ، لِأَنَّهَا يَمِينٌ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ الْغَيْرِ، وَلَمْ يَكُنْ لِمُدَّعِي الْوَدِيعَةِ إِحْلَافُهُمَا.

Apabila dalam permasalahan tersebut, setelah apa yang telah mereka sebutkan mengenai kepemilikan mereka di dalamnya, terjadi saling menyangkal, maka hal itu tidak dapat dibayangkan kecuali seperti yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa masing-masing dari mereka mengklaim apa yang diklaimnya sebagai milik, dan mengklaim sisanya sebagai berada dalam genggamannya, sementara mereka sepakat dalam kepemilikan mereka, namun saling menyangkal dalam hal siapa yang memegangnya, dan genggaman mereka atasnya adalah sama. Jika kepemilikan mereka berbeda di dalamnya, maka genggaman mereka terbagi menjadi tiga bagian sesuai dengan apa yang diharuskan oleh kesamaan mereka. Maka, pemilik setengah dikurangi dari apa yang melebihi sepertiga, karena ia mengklaimnya sebagai milik, padahal itu berada dalam genggaman orang lain, sehingga klaimnya tidak diterima. Pemilik seperenam ditambah dengan penyempurnaan menjadi sepertiga, karena ia memiliki genggaman atasnya dan mengklaimnya sebagai milik orang yang tidak hadir. Maka genggamannya atasnya diakui untuk yang tidak hadir, karena ia bersengketa atasnya tanpa bukti dan tanpa genggaman. Sedangkan pemilik sepertiga tidak bertambah atas apa yang diklaimnya sebagai milik dan tidak berkurang, karena ia memiliki genggaman atas sepertiga tersebut, sehingga tidak berkurang, dan ia tidak memiliki genggaman atas apa yang melebihi itu, sehingga tidak bertambah. Jika masing-masing dari ketiga orang tersebut ingin meminta sumpah kepada dua rekannya atas apa yang diklaimnya berupa hak genggaman atas seluruhnya, maka aku akan melihat klaim genggamannya; jika tidak ada hak yang berkaitan dengannya pada bagian tertentu karena ia mengklaimnya sebagai sewaan, maka ia berhak meminta sumpah mereka atasnya. Jika sebagian dari mereka mengklaimnya sebagai titipan dan sebagian lagi mengklaimnya sebagai sewaan, maka bagi yang mengklaim sewaan berhak meminta sumpah mereka atas pengetahuan, bukan atas kepastian, karena itu adalah sumpah untuk menafikan perbuatan orang lain, dan bagi yang mengklaim titipan tidak berhak meminta sumpah mereka.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا تَنَازَعَا دَارًا فِي أَيْدِيهِمَا، وَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِلْكَ جَمِيعِهَا، وَعَدِمَا الْبَيِّنَةَ، وَتَحَالَفَا عَلَيْهَا، وَحَلَفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنَّهُ مَالِكٌ لِنِصْفِهَا، وَلَا يَحْلِفُ أَنَّهُ مَالِكٌ لِجَمِيعِهَا، وَإِنْ كَانَ مُدَّعِيًا لِجَمِيعِهَا، لِأَنَّنَا نَحْكُمُ عَلَيْهِ بِيَمِينِهِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ، وَلَا نَحْكُمُ عَلَيْهِ بِيَمِينِهِ عَلَى مَا فِي يَدِ مُنَازِعِهِ، فَكَانَتْ يَمِينُهُ مَقْصُورَةً عَلَى النِّصْفِ، وَإِنْ كَانَ مُدَّعِيًا لِلْكُلِّ، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ تَتَضَمَّنَ يَمِينُهُ مَا لَا يُحْكَمُ لَهُ بِهِ، وَذَكَرَ فِي كِتَابِ الصُّلْحِ وَجْهًا آخَرَ أَنَّهُ يَحْلِفُ عَلَى الْجَمِيعِ اعتبارا بالدعوى.

Apabila dua orang berselisih mengenai sebuah rumah yang berada di tangan mereka berdua, dan masing-masing mengaku memiliki seluruh rumah itu, namun keduanya tidak memiliki bukti, lalu keduanya saling bersumpah atas rumah tersebut, maka masing-masing dari mereka bersumpah bahwa ia adalah pemilik setengahnya, dan tidak bersumpah bahwa ia adalah pemilik seluruhnya, meskipun ia mengaku memiliki seluruhnya. Hal ini karena kita menetapkan sumpahnya hanya atas apa yang ada di tangannya, dan tidak menetapkan sumpahnya atas apa yang ada di tangan lawannya, sehingga sumpahnya terbatas pada setengahnya, meskipun ia mengaku memiliki seluruhnya. Sebab, tidak boleh sumpahnya mencakup sesuatu yang tidak diputuskan untuknya. Namun, dalam Kitab ash-Shulh disebutkan pendapat lain, yaitu bahwa ia bersumpah atas seluruhnya berdasarkan tuntutannya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” فَإِذَا كَانَتْ فِي يَدَيِ اثْنَيْنِ فَأَقَامَ أَحَدُهُمَا بَيِّنَةً عَلَى الثُّلُثِ وَالْآخَرُ عَلَى الْكُلِّ جَعَلْتُ لِلْأَوَّلِ الثُّلُثَ لِأَنَّهُ أَقَلُّ مِمَّا فِي يَدَيْهِ وَمَا بَقِيَ لِلْآخَرِ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika suatu barang berada di tangan dua orang, lalu salah satu dari mereka menghadirkan bukti atas sepertiga bagian, dan yang lainnya atas seluruh bagian, maka aku memberikan sepertiga bagian kepada yang pertama karena itu lebih sedikit dari apa yang ada di tangannya, dan sisanya untuk yang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، لِأَنَّ الْيَدَ تَتَرَجَّحُ بِهَا بَيِّنَةُ صَاحِبِهَا، وَتُرْفَعُ بَيِّنَةُ مُنَازِعِهَا، فَإِذَا كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدَيْ رَجُلَيْنِ تَنَازَعَاهَا، فَأَقَامَ أَحَدُهُمَا الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّ لَهُ ثُلُثَهَا، وَأَقَامَ الْآخَرُ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّ لَهُ جَمِيعَهَا، قُضِيَ لِصَاحِبِ الثُّلُثِ بِثُلُثِهَا، لِأَنَّ لَهُ فِي الْيَدِ بينة ويدا، وله في السدس الزائدة عَلَى الثُّلُثِ يَدٌ، قَابَلَتْهَا بَيِّنَةٌ فَرُفِعَتْ بِهَا، وَقُضِيَ لِصَاحِبِ الْكُلِّ بِالْبَاقِي، وَهُوَ الثُّلُثُ، لِأَنَّ لَهُ بِنِصْفِهَا بَيِّنَةً وَيَدًا، وَلَهُ بِالسُّدُسِ الزَّائِدِ عَلَى النِّصْفِ بَيِّنَةٌ بِلَا يَدٍ، قَابَلَتْهَا يَدٌ بِلَا بَيِّنَةٍ، فَقُضِيَ لَهُ بِبَيِّنَةٍ عَلَى يَدِ مُنَازِعِهِ، فَصَارَ لَهُ ثُلُثَاهَا، وَلِلْأَوَّلِ ثُلُثُهَا، وَسَقَطَ تَعَارُضُ الْبَيِّنَتَيْنِ فِي الثُّلُثِ بِالْيَدِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, karena kepemilikan (yad) menguatkan bukti (bayyinah) pemiliknya dan menggugurkan bukti lawannya. Jika sebuah rumah berada di tangan dua orang yang bersengketa, lalu salah satu dari mereka mendatangkan bukti bahwa ia memiliki sepertiganya, dan yang lain mendatangkan bukti bahwa ia memiliki seluruhnya, maka diputuskan untuk pemilik sepertiga dengan sepertiganya, karena ia memiliki bukti dan kepemilikan atas sepertiga itu, dan ia juga memiliki kepemilikan atas seperenam yang melebihi sepertiga, namun di situ ada bukti lawan sehingga gugur haknya. Kemudian diputuskan untuk pemilik seluruhnya atas sisanya, yaitu sepertiga, karena ia memiliki bukti dan kepemilikan atas setengahnya, dan ia memiliki bukti tanpa kepemilikan atas seperenam yang melebihi setengah, yang di situ ada kepemilikan tanpa bukti dari lawannya, maka diputuskan untuknya dengan bukti atas kepemilikan lawannya. Maka jadilah ia memiliki dua pertiga, dan yang pertama memiliki sepertiga, dan pertentangan dua bukti atas sepertiga gugur karena adanya kepemilikan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَتْ دَارٌ فِي يَدِ أَرْبَعَةٍ تَقَارَعُوهَا، فَادَّعَى أَحَدُهُمْ جَمِيعَهَا، وَادَّعَى الثَّانِي ثُلُثَيْهَا، وَادَّعَى الثَّالِثُ نِصْفَهَا، وَادَّعَى الرَّابِعُ ثُلُثَهَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لهم بينة، جعلت الدار بينهم أرباعها بِالْيَدِ وَالتَّحَالُفِ، وَإِنْ كَانَتْ لَهُمْ بَيِّنَةٌ بِمَا ادَّعَوْهُ جُعِلَتْ بَيْنَهُمْ أَرْبَاعًا بِالْبَيِّنَةِ وَالْيَدِ مِنْ غَيْرِ تَحَالُفٍ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قَدْ أَقَامَ بَيِّنَةَ دَاخِلٍ فِيمَا بِيَدِهِ وَبَيِّنَةَ خَارِجٍ فِيمَا بِيَدِ غَيْرِهِ، فَحُكِمَ لَهُ بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ دُونَ الْخَارِجِ، فَصَارَ الْحُكْمُ فِيهَا مَعَ وُجُودِ الْبَيِّنَةِ وَعَدَمِهَا سَوَاءٌ فِي الْقَدْرِ وَإِنَّمَا يَخْتَلِفَانِ فِي التَّحَالُفِ، وَلَوْ كَانَتْ بِحَالِهَا فِي الدَّعْوَى، وَالدَّارُ فِي يَدِ خَامِسٍ، لَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَيْهَا يَدٌ، وَأَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمُ الْبَيِّنَةَ عَلَى مَا ادَّعَاهُ، خَلَصَ لِمُدَّعِي الْكُلِّ الثُّلُثُ الزَّائِدُ عَلَى الثُّلُثَيْنِ، لِأَنَّهُ قَدْ أَقَامَ عَلَيْهِ بينة لم تعارضها بينة غيره وتعارضت البينات فِي الثُّلُثَيْنِ الْبَاقِيَيْنِ، فَكَانَ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ:

Apabila ada sebuah rumah berada di tangan empat orang yang memperebutkannya, lalu salah satu dari mereka mengklaim seluruh rumah, yang kedua mengklaim dua pertiganya, yang ketiga mengklaim setengahnya, dan yang keempat mengklaim sepertiganya, maka jika mereka tidak memiliki bukti, rumah itu dibagi di antara mereka menjadi empat bagian berdasarkan kepemilikan dan sumpah. Jika mereka memiliki bukti atas apa yang mereka klaim, maka rumah itu dibagi di antara mereka menjadi empat bagian berdasarkan bukti dan kepemilikan tanpa sumpah, karena masing-masing dari mereka telah menghadirkan bukti sebagai pihak yang memiliki bagian di tangannya dan bukti sebagai pihak luar atas bagian yang ada di tangan orang lain. Maka diputuskan untuknya berdasarkan bukti sebagai pihak yang memiliki bagian di tangannya, bukan sebagai pihak luar. Dengan demikian, hukum dalam kasus ini, baik ada bukti maupun tidak, sama saja dalam hal pembagian, hanya berbeda dalam hal sumpah. Jika keadaannya tetap seperti itu dalam klaim, dan rumah itu berada di tangan orang kelima, tidak ada satu pun dari mereka yang memegangnya, lalu masing-masing dari mereka menghadirkan bukti atas apa yang mereka klaim, maka bagi pengklaim seluruh rumah, ia mendapatkan sepertiga yang melebihi dua pertiga, karena ia telah menghadirkan bukti atasnya yang tidak ditentang oleh bukti orang lain, sedangkan bukti-bukti saling bertentangan pada dua pertiga sisanya, sehingga berlaku tiga pendapat dalam masalah pertentangan dua bukti.

أَحَدُهَا: إِسْقَاطُهُمَا بِالتَّعَارُضِ، وَالرُّجُوعُ إِلَى صَاحِبِ الْيَدِ فَإِنِ ادَّعَاهَا لِنَفْسِهِ حُكِمَ بِهَا لَهُ بَعْدَ يَمِينِهِ، وَفِي قَدْرِ مَا يُحْكَمُ لَهُ فِيهَا قَوْلَانِ:

Salah satunya: menggugurkan keduanya karena adanya pertentangan, lalu kembali kepada pemilik barang (ṣāḥib al-yad). Jika ia mengakuinya untuk dirinya sendiri, maka diputuskan menjadi miliknya setelah ia bersumpah. Mengenai kadar bagian yang diputuskan menjadi miliknya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْكَمُ لَهُ أَوْ بِثُلُثَيْهَا، إِذْ قِيلَ: إِنَّ الْبَيِّنَةَ إِذَا رُدَّتْ فِي بَعْضِ الشَّهَادَةِ لَمْ تُرَدَّ فِي بَاقِيهَا، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ بِالْكُلِّ قَدْ رُدَّتْ فِي الثُّلُثَيْنِ فَلَمْ تُرَدُّ فِي الثُّلُثِ الْبَاقِي.

Salah satunya: diputuskan untuknya atau dengan dua pertiganya, karena dikatakan: jika suatu bayyinah ditolak pada sebagian kesaksian, maka tidak ditolak pada sisanya, sebab bayyinah secara keseluruhan telah ditolak pada dua pertiganya, sehingga tidak ditolak pada sepertiga sisanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُحْكَمُ لَهُ بِجَمِيعِ الدَّارِ، إِذَا قِيلَ: إِنَّ الْبَيِّنَةَ إِذَا رُدَّتْ فِي بَعْضِ الشَّهَادَةِ، رُدَّتْ فِي جَمِيعِهَا، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ بِالْكُلِّ لَمَّا رُدَّتْ فِي الثُّلُثَيْنِ رُدَّتْ فِي الْكُلِّ، وَإِنْ لَمْ يَدَّعِهَا صَاحِبُ الْيَدِ وَأَقَرَّ بِهَا لِبَعْضِهِمْ، أَوْ لِجَمِيعِهِمْ حُمِلُوا فِيهِ عَلَى إِقْرَارِهِ وَفِي إِحْلَافِهِ لَهُمْ قَوْلَانِ:

Pendapat kedua: Diputuskan bahwa ia berhak atas seluruh rumah, jika dikatakan bahwa apabila bayyinah ditolak pada sebagian kesaksian, maka ditolak pula pada seluruhnya. Karena bayyinah yang bersifat menyeluruh, ketika ditolak pada dua pertiga bagian, maka ditolak pula pada keseluruhannya. Dan jika pemilik tangan tidak mengakuinya serta mengakui kepemilikan itu untuk sebagian dari mereka, atau untuk seluruhnya, maka mereka diperlakukan sesuai dengan pengakuannya. Dalam hal sumpah kepada mereka, terdapat dua pendapat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّ تَعَارُضَ الْبَيِّنَاتِ يُوجِبُ الْقُرْعَةَ دُونَ الْإِسْقَاطِ، قِيلَ هَذَا لَا يُعَارَضُ فِي الثُّلُثِ الْخَالِصِ لِصَاحِبِ الْكُلِّ، وَتَرْتِيبُ الْقُرْعَةِ فِي الثُّلُثَيْنِ ثَلَاثُ مَرَاتِبَ:

Pendapat kedua: bahwa pertentangan antara bayyinah mewajibkan dilakukan undian (qur‘ah) dan tidak menggugurkan hak, dikatakan bahwa hal ini tidak berlaku pada sepertiga murni milik pemilik seluruh bagian, dan urutan pelaksanaan undian (qur‘ah) pada dua pertiga ada tiga tingkatan:

فَالرُّتْبَةُ الْأَوْلَى: أَنْ تَقْرَعَ فِي السُّدُسِ الَّذِي بَيْنَ النِّصْفِ وَالثُّلُثَيْنِ بَيْنَ مُدَّعِي الْكُلِّ، وَمُدَّعِي الثُّلُثَيْنِ، لِأَنَّهُ قَدْ تَعَارَضَتْ فِيهِ بَيِّنَتَاهُمَا، وَلَمْ يَتَعَارَضْ فِيهِ بَيِّنَةُ غَيْرِهِمَا، فَمَنْ قَرَعَتْ فِيهِ بَيِّنَتُهُ، حُكِمَ لَهُ بِهِ.

Tingkatan pertama: hendaknya diadakan undian pada bagian seperenam yang berada di antara setengah dan dua pertiga, antara pihak yang mengklaim seluruhnya dan pihak yang mengklaim dua pertiga, karena pada bagian ini kedua bukti mereka saling bertentangan, sedangkan bukti pihak lain tidak bertentangan di dalamnya. Maka siapa yang undiannya keluar, maka diputuskan bagian itu untuknya.

وَالرُّتْبَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ تَقْرَعَ فِي السُّدُسِ الَّذِي بَيْنَ الثُّلُثِ، وَالنِّصْفِ بَيْنِ ثُلُثِهِ مُدَّعِي الْكُلِّ، وَمُدَّعِي الثُّلُثَيْنِ، وَمُدَّعِي النِّصْفِ، لِأَنَّ بَيِّنَةَ صَاحِبِ الثُّلُثِ لَمْ تُعَارِضْهُمْ فِيهِ، وَتَعَارَضَتْ فِيهِ بَيِّنَةُ الثَّلَاثَةِ فَمَنْ قَرَعَ مِنْهُمْ حُكِمَ بِهِ لَهُ.

Dan tingkatan kedua: yaitu melakukan undian pada sepertiga yang berada di antara sepertiga dan setengah, di antara tiga pihak: yang mengklaim seluruhnya, yang mengklaim dua pertiga, dan yang mengklaim setengah. Karena bukti dari pihak yang mengklaim sepertiga tidak bertentangan dengan mereka dalam hal ini, sedangkan bukti dari ketiga pihak tersebut saling bertentangan di dalamnya. Maka siapa pun di antara mereka yang terpilih melalui undian, maka diputuskan hak baginya.

وَالرُّتْبَةُ الثَّالِثَةُ: الْإِقْرَاعُ فِي الثلث الباقي بين الربعة، لِأَنَّ بَيِّنَاتِ جَمِيعِهِمْ قَدْ تَعَارَضَتْ وَيُحْكَمُ بِهِ لِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمْ.

Dan tingkatan ketiga: pengundian pada sepertiga yang tersisa di antara keempat orang tersebut, karena bukti dari semuanya saling bertentangan, maka diputuskan berdasarkan hasil undian di antara mereka.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّ تَعَارُضَ الْبَيِّنَاتِ، يُوجِبُ اسْتِعْمَالَهَا بِالْقِسْمَةِ دُونَ الْقُرْعَةِ، فَعَلَى هَذَا يُقَسَّمُ الثُّلُثَيْنِ بَعْدَ الثُّلُثِ الْخَالِصِ لِصَاحِبِ الْكُلِّ بَيْنَ الْأَرْبَعَةِ الَّذِينَ تَعَارَضَتْ فِيهِمُ الْبَيِّنَةُ عَلَى سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ سَهْمًا، هِيَ مَضْرُوبُ ثَلَاثَةٍ فِي سِتَّةٍ فِي اثْنَيْنِ، وَتَرَتَّبَتِ الْقِسْمَةُ فِيهِ ثَلَاثَ مَرَاتِبَ، كَمَا تَرَتَّبَتِ الْقُرْعَةُ فِيهِ ثَلَاثَ مَرَاتِبَ:

Pendapat ketiga: bahwa terjadinya pertentangan antara bayyinah (alat bukti yang jelas) mengharuskan penggunaan pembagian (qismah) tanpa menggunakan undian (qur‘ah). Maka menurut pendapat ini, dua pertiga bagian setelah sepertiga yang murni menjadi milik pemilik seluruhnya, dibagi di antara empat orang yang bayyinah mereka saling bertentangan, atas tiga puluh enam bagian, yaitu hasil perkalian tiga, enam, dan dua. Pembagian tersebut dilakukan dalam tiga tingkatan, sebagaimana undian (qur‘ah) juga dilakukan dalam tiga tingkatan.

فَالرُّتْبَةُ الْأَوْلَى: قِسْمَةُ السُّدُسِ الَّذِي بَيْنَ النِّصْفِ وَالثُّلُثَيْنِ، وَهُوَ سِتَّةٌ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ، تُقَسَّمُ بَيْنَ صَاحِبِ الْكُلِّ، وَصَاحِبِ الثُّلُثَيْنِ، لِأَنَّهُ قَدْ تَعَارَضَتْ فِيهِ بَيِّنَتَاهُمَا، وَلَمْ تَتَعَارَضْ فِيهِ بَيِّنَةُ غَيْرِهِمَا، فَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ، وَقَدْ صَارَ إِلَى صَاحِبِ الْكُلِّ بِالثُّلُثِ اثْنَا عَشَرَ سَهْمًا، فَإِذَا انْضَمَّ إِلَيْهَا هَذِهِ الثَّلَاثَةُ، صَارَ لَهُ فِي الْحَالَتَيْنِ خَمْسَةَ عَشَرَ سَهْمًا، وَلِصَاحِبِ الثُّلُثَيْنِ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ، ثُمَّ يُقَسَّمُ السُّدُسُ الَّذِي بَيْنَ الثُّلُثِ وَالنِّصْفِ أَثْلَاثًا بَيْنَ صَاحِبِ الْكُلِّ، وَصَاحِبِ الثُّلُثَيْنِ، وَصَاحِبِ النِّصْفِ، لِأَنَّهُ قَدْ تَعَارَضَتْ فِيهِ بَيِّنَاتُهُمْ، وَلَمْ تَتَعَارَضْ فِيهِ بَيِّنَةُ صَاحِبِ الثُّلُثِ، فَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلَاثَةِ سَهْمَانِ مِنَ السِّتَّةِ فَإِذَا ضَمَّهَا صَاحِبُ الْكُلِّ إِلَى مَا حَصَلَ لَهُ فِي الْحَالَتَيْنِ، وَهُوَ خَمْسَةَ عَشَرَ سَهْمًا، صَارَ لَهُ سَبْعَةَ عَشَرَ سَهْمًا، وَإِذَا ضَمَّهَا صَاحِبُ الثُّلُثَيْنِ إِلَى مَا حَصَلَ لَهُ فِي الْحَالَةِ الْوَاحِدَةِ، وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ صَارَ لَهُ خَمْسَةُ أَسْهُمٍ، وَلَمْ يَحْصُلْ لِصَاحِبِ النِّصْفِ إِلَّا هَذَيْنِ السَّهْمَيْنِ.

Tingkatan pertama: pembagian sepertiga yang berada di antara setengah dan dua pertiga, yaitu enam dari tiga puluh enam, dibagi antara pemilik seluruh bagian dan pemilik dua pertiga, karena bukti keduanya saling bertentangan, dan tidak ada bukti pihak lain yang bertentangan di dalamnya. Maka masing-masing dari keduanya mendapat setengahnya, yaitu tiga bagian. Pemilik seluruh bagian telah memperoleh dua belas bagian dari sepertiga, maka jika ditambahkan tiga bagian ini, ia memperoleh lima belas bagian dalam dua keadaan. Sedangkan pemilik dua pertiga memperoleh tiga bagian. Kemudian, sepertiga yang berada di antara sepertiga dan setengah dibagi menjadi tiga bagian antara pemilik seluruh bagian, pemilik dua pertiga, dan pemilik setengah, karena bukti mereka saling bertentangan, dan tidak ada bukti pemilik sepertiga yang bertentangan di dalamnya. Maka masing-masing dari ketiga orang tersebut mendapat dua bagian dari enam. Jika pemilik seluruh bagian menambahkan dua bagian ini kepada yang telah ia peroleh dalam dua keadaan, yaitu lima belas bagian, maka ia memperoleh tujuh belas bagian. Jika pemilik dua pertiga menambahkan dua bagian ini kepada yang telah ia peroleh dalam satu keadaan, yaitu tiga bagian, maka ia memperoleh lima bagian. Sedangkan pemilik setengah tidak memperoleh kecuali dua bagian tersebut.

وَالرُّتْبَةُ الثَّالِثَةُ: قَسْمُ الثُّلُثِ الْبَاقِي، وَهُوَ اثْنَا عَشَرَ سَهْمًا بَيْنَ الْأَرْبَعَةِ كُلِّهِمْ، لِأَنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ فِيهِ تَعَارُضُ بَيِّنَاتِهِمْ كُلِّهِمْ، فَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ، فَإِذَا ضَمَّهَا صَاحِبُ الْكُلِّ إِلَى مَا صَارَ لَهُ، وَهُوَ سَبْعَةَ عَشَرَ سَهْمًا، صَارَ لَهُ عِشْرُونَ سَهْمًا، وَإِذَا ضَمَّهَا صَاحِبُ الثُّلُثَيْنِ إِلَى مَا صَارَ لَهُ، وَهُوَ خَمْسَةُ أَسْهُمٍ صَارَ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَسْهُمٍ. وَإِذَا ضَمَّهَا صَاحِبُ النِّصْفِ إِلَى مَا صَارَ لَهُ، وَهُوَ سَهْمَانِ صَارَ لَهُ خَمْسَةُ أَسْهُمٍ، وَيَنْفَرِدُ صَاحِبُ الثُّلُثِ بِثَلَاثَةِ أَسْهُمٍ لَيْسَ لَهُ غَيْرُهَا، فَإِذَا جُمِعَتْ سِهَامُهُمْ، وَهِيَ عِشْرُونَ سَهْمًا لِصَاحِبِ الْكُلِّ، وَثَمَانِيَةُ أَسْهُمٍ لِصَاحِبِ الثُّلُثَيْنِ، وَخَمْسَةُ أَسْهُمٍ لِصَاحِبِ النِّصْفِ وَثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ لِصَاحِبِ الثُّلُثِ اسْتَوْعَبَتْ سِتَّةً وَثَلَاثِينَ، وَقُسِّمَتْ عَلَيْهَا الدَّارَ بَيْنَهُمْ.

Tingkatan ketiga: bagian sepertiga yang tersisa, yaitu dua belas saham dibagi di antara keempat orang tersebut seluruhnya, karena pada bagian ini terdapat pertentangan bukti dari mereka semua. Maka masing-masing dari mereka mendapatkan tiga saham. Jika pemilik bagian keseluruhan menambahkan tiga saham itu kepada bagian yang telah ia peroleh, yaitu tujuh belas saham, maka ia memperoleh dua puluh saham. Jika pemilik dua pertiga menambahkan tiga saham itu kepada bagian yang telah ia peroleh, yaitu lima saham, maka ia memperoleh delapan saham. Jika pemilik setengah menambahkan tiga saham itu kepada bagian yang telah ia peroleh, yaitu dua saham, maka ia memperoleh lima saham. Sedangkan pemilik sepertiga hanya memperoleh tiga saham, tidak lebih. Jika seluruh saham mereka dijumlahkan, yaitu dua puluh saham untuk pemilik keseluruhan, delapan saham untuk pemilik dua pertiga, lima saham untuk pemilik setengah, dan tiga saham untuk pemilik sepertiga, maka jumlahnya menjadi tiga puluh enam, dan rumah itu dibagi di antara mereka berdasarkan jumlah tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو دَارًا فِي يَدِ زَيْدٍ فَأَقَامَ عَمْرٌو الْبَيِّنَةَ، أَنَّ الدَّارَ لَهُ انْتُزِعَتْ مِنْهُ الدَّارُ، وَسُلِّمَتْ إِلَى عَمْرٍو، فَإِنْ عَادَ زَيْدٌ بَعْدَ انْتِزَاعِ الدَّارِ مِنْ يَدِهِ، فَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ أَنَّ الدَّارَ مِلْكَهُ، حُكْمَ لَهُ بِالدَّارِ، وَأُعِيدَتْ إِلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْحَالِ يَدٌ، لِأَنَّ زَوَالَ يَدِهِ بَيِّنَةُ خَارِجٍ عُرِفَ سَبَبُ زَوَالِهَِا، وَصَارَتْ لَهُ بَيِّنَةٌ مَعَ يَدِهِ، وَهِيَ بَيِّنَةُ دَاخِلٍ فَقَضَى بِهَا عَلَى بَيِّنَةِ الْخَارِجِ.

Apabila Zaid dan Amr berselisih mengenai sebuah rumah yang berada di tangan Zaid, lalu Amr mendatangkan bukti bahwa rumah itu miliknya, maka rumah tersebut diambil darinya dan diserahkan kepada Amr. Jika setelah rumah itu diambil dari tangannya, Zaid kembali dan mendatangkan bukti bahwa rumah itu adalah miliknya, maka diputuskan rumah itu untuk Zaid dan dikembalikan kepadanya, meskipun pada saat itu ia tidak lagi memegang rumah tersebut. Hal ini karena hilangnya penguasaan Zaid atas rumah itu disebabkan oleh adanya bukti dari pihak luar yang diketahui sebab hilangnya, sehingga kini ia memiliki bukti yang disertai dengan penguasaannya, yaitu bukti dari pihak dalam, dan dengan bukti itu diputuskan mengalahkan bukti dari pihak luar.

– وَلَوْ كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا، فَأَقَامَ زَيْدٌ الْبَيِّنَةَ وَالدَّارَ فِي يَدِهِ، بِأَنَّهُ مَالِكُهَا، وَأَقَامَ عَمْرٌو البينة أنه ابتاعها من زيد، حم بِهَا لِعَمْرٍو، لِأَنَّ بَيِّنَتَهُ قَدْ أَثْبَتَتْ لِزَيْدٍ مِلْكًا، زَالَ عَنْهُ إِلَى عَمْرٍو، بِابْتِيَاعِهَا، فَكَانَتْ أَزِيدُ بَيَانًا، وَأَثْبَتُ حُكْمًا، فَلَوْ أَقَامَ زَيْدٌ الْبَيِّنَةَ وَالدَّارُ فِي يَدِهِ، أَنَّهُ مَالِكُهَا، وَأَقَامَ عَمْرٌو الْبَيِّنَةَ أَنَّ حَاكِمًا حَكَمَ لَهُ عَلَى زَيْدٍ بِمِلْكِهَا كُشِفَ عَنْ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِمِلْكِهَا لِعَمْرٍو، فَإِنْ بَانَ أَنَّهُ حُكِمَ بِهَا لَهُ، لِأَنَّ زَيْدًا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي تِلْكَ الْحَالِ بَيِّنَةٌ نَزَعَهَا مِنْ يَدِهِ بِالْبَيِّنَةِ، وَجَبَ أَنْ يُنْقَضَ حُكْمُ الْحَاكِمِ بِهَا لِعَمْرٍو، لِأَنَّ زَيْدًا قَدْ أَقَامَ بِهَا بَيِّنَةً مَعَ يَدِهِ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ حَكَمَ بِهَا لِعَمْرٍو عَلَى زَيْدٍ لِعَدَالَةِ بَيِّنَةِ عَمْرٍو وَجَرْحِ بَيِّنَةِ زَيْدٍ نظر، فإنفإن أعاد زيد تالك الْبَيِّنَةَ بَعْدَ أَنْ ظَهَرَ عَدَالَتُهَا حُكِمَ بِهَا لِعَمْرٍو دُونَ زَيْدٍ، لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ إِذَا رُدَّتْ بِالْجَرْحِ فِي شَهَادَةٍ لَمْ تُسْمَعْ مِنْهَا تِلْكَ الشَّهَادَةُ بَعْدَ التَّعْدِيلِ، وَكَانَ حُكْمُ الْحَاكِمِ بِهَا لِعَمْرٍو مَاضِيًا، وَإِنْ أَقَامَ زَيْدٌ بَيِّنَةً غَيْرَ تِلْكَ الْمَرْدُودَةِ، حُكِمَ بِالدَّارِ لِزَيْدٍ، وَنُقِضَ حُكْمُ الْحَاكِمِ بِهَا لِعَمْرٍو. وَإِنْ بَانَ أَنَّ الْحَاكِمَ حَكَمَ بِهَا لِعَمْرٍو عَلَى زَيْدٍ مَعَ بَيِّنَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِأَنَّهُ كَانَ مِمَّنْ يَرَى أَنْ يُحْكَمَ بِبَيِّنَةِ الْخَارِجِ عَلَى بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ، كَرَأْيِ أَهْلِ الْعِرَاقِ.

Jika permasalahan tetap seperti semula, lalu Zaid mengajukan bukti (bayyinah) dan rumah itu berada di tangannya, bahwa ia adalah pemiliknya, dan Amr mengajukan bukti bahwa ia telah membeli rumah itu dari Zaid, maka rumah itu diputuskan untuk Amr. Sebab, bukti yang diajukannya telah menetapkan kepemilikan Zaid, lalu berpindah darinya kepada Amr melalui pembelian, sehingga bukti Amr lebih jelas dan lebih kuat dalam menetapkan hukum. Jika Zaid mengajukan bukti dan rumah itu berada di tangannya bahwa ia pemiliknya, dan Amr mengajukan bukti bahwa seorang hakim telah memutuskan kepemilikan rumah itu untuknya atas Zaid, maka keputusan hakim tentang kepemilikan rumah itu untuk Amr harus diteliti. Jika ternyata memang diputuskan untuk Amr karena Zaid tidak memiliki bukti pada saat itu sehingga rumah itu diambil dari tangannya dengan bukti, maka keputusan hakim untuk Amr harus dibatalkan, karena Zaid kini telah mengajukan bukti disertai penguasaan atas rumah tersebut. Namun, jika ternyata hakim memutuskan rumah itu untuk Amr atas Zaid karena keadilan bukti Amr dan cacatnya bukti Zaid, maka perlu diteliti kembali. Jika Zaid mengulangi bukti tersebut setelah terbukti keadilannya, maka rumah itu diputuskan untuk Amr, bukan untuk Zaid, karena bukti yang telah ditolak karena cacat dalam kesaksian tidak dapat diterima lagi setelah diperbaiki, dan keputusan hakim untuk Amr tetap berlaku. Namun, jika Zaid mengajukan bukti lain selain yang telah ditolak, maka rumah itu diputuskan untuk Zaid dan keputusan hakim untuk Amr dibatalkan. Jika ternyata hakim memutuskan rumah itu untuk Amr atas Zaid dengan adanya bukti dari masing-masing pihak, karena hakim tersebut berpendapat bahwa bukti pihak luar lebih kuat daripada bukti pihak dalam, sebagaimana pendapat ahli Irak.

فَفِي نَقْضِ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِهَا لِعَمْرٍو وَجْهَانِ:

Dalam pembatalan putusan hakim terhadap ‘Amr terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يُنْقَضُ، لِنُفُوذِهِ بِاجْتِهَادِهِ فَلَمْ يُنَقَضْ، وَتُقَرُّ الدَّارُ فِي يَدِ عَمْرٍو.

Salah satunya: tidak dibatalkan, karena telah berlaku dengan ijtihad sehingga tidak dibatalkan, dan rumah itu tetap berada di tangan ‘Amr.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُنْقَضُّ حُكْمُ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ عَلَى بَيِّنَةِ الدَّاخِلِ، وَيُحْكَمُ بِهَا لِزَيْدٍ، لِأَنَّ هَذَا الِاخْتِلَافَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ نَصٌّ فَالْقِيَاسُ فِيهِ جَلِيٌّ، وَالِاجْتِهَادُ فِيهِ قَوِيٌّ، فَنُقِضَ بِأَقْوَى الِاجْتَهَادَيْنِ أَضْعَفُهُمَا، وَإِنَّمَا لَا يُنْقَضُ الِاجْتِهَادُ مَعَ التَّكَافُؤِ، وَاحْتِمَالُ التَّرْجِيحِ. وَإِنْ بَانَ أَنَّ الْحَاكِمَ حَكَمَ بِهَا لِعَمْرٍو عَلَى زَيْدٍ بِبَيِّنَتِهِ، وَلَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ زَيْدٍ، نُظِرَ فِي الْحَاكِمِ، فَإِنْ كَانَ يَرَى أَنْ لَا يُحْكَمَ بِبَيِّنَةِ الدَّاخِلِ مَعَ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، فَفِي نَقْضِ حُكْمِهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ كَمَا لَوْ سَمِعَهَا وَلَمْ يَحْكُمْ بِهَا.

Pendapat kedua: Putusan berdasarkan kesaksian pihak luar dibatalkan oleh kesaksian pihak dalam, dan diputuskan untuk Zaid, karena perbedaan ini meskipun tidak ada nash yang jelas, namun qiyās dalam hal ini sangat jelas, dan ijtihad di dalamnya sangat kuat. Maka, ijtihad yang lebih lemah dibatalkan oleh ijtihad yang lebih kuat. Ijtihad tidak dibatalkan jika keduanya seimbang dan masih memungkinkan adanya tarjīḥ (penguatan). Jika ternyata hakim memutuskan untuk ‘Amr atas Zaid berdasarkan kesaksian ‘Amr, dan kesaksian Zaid tidak didengar, maka dilihat pada hakim tersebut: jika ia berpendapat bahwa tidak boleh memutuskan dengan kesaksian pihak dalam bersama kesaksian pihak luar, maka dalam membatalkan putusannya berlaku dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, sebagaimana jika ia telah mendengarnya namun tidak memutuskan dengannya.

وَإِنْ كَانَ يَرَى أَنَّ بَيِّنَةَ الدَّاخِلِ أَوْلَى بِالْحُكْمِ، فَلَمْ يَسْمَعْهَا، بَعْدَ سَمَاعِ بَيِّنَةِ الْخَارِجِ، نُقِضَ حُكْمُهُ لِعَمْرٍو وَحُكِمَ بِهَا لِزَيْدٍ، وَإِنْ لَمْ يَبِنْ بَعْدَ الْكَشْفِ السَّبَبُ الَّذِي أَوْجَبَ الْحُكْمَ بِهَا لِعَمْرٍو، دُونَ زَيْدٍ مَعَ ثُبُوتِ يَدِ زَيْدٍ وَبَيِّنَتِهِ، فَفِي نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا لِعَمْرٍو وَجْهَانِ:

Dan jika ia berpendapat bahwa bukti dari pihak yang berada di dalam (pemilik saat ini) lebih utama untuk dijadikan dasar putusan, namun ia belum mendengarkannya setelah mendengar bukti dari pihak luar, maka putusannya untuk ‘Amr dibatalkan dan diputuskan untuk Zaid. Jika setelah dilakukan pemeriksaan tidak jelas sebab yang menyebabkan putusan dijatuhkan untuk ‘Amr, bukan untuk Zaid, padahal kepemilikan Zaid dan buktinya telah terbukti, maka dalam hal berlakunya putusan untuk ‘Amr terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الحكم بها نافذ ممضى ولا ينقص إِلَّا أَنْ يُعْلَمَ مَا يُوجِبُ نَقْضَهُ عَلَى مَا شَرَحْنَاهُ فِي أَحَدِ الْأَسْبَابِ الْمُوجِبَةِ لِنَقْضِهِ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ حُكْمِ الْحَاكِمِ نُفُوذُهُ عَلَى الصحة، حتى بعلم فَسَادُهُ.

Salah satunya adalah bahwa putusan hakim itu berlaku dan sah, dan tidak dapat dibatalkan kecuali jika diketahui adanya hal yang mewajibkan pembatalannya, sebagaimana telah kami jelaskan pada salah satu sebab yang mewajibkan pembatalan. Sebab, yang tampak dari putusan hakim adalah berlakunya putusan tersebut atas dasar keabsahan, hingga diketahui adanya kerusakan padanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُنْقَضُ حُكْمُ الْحَاكِمِ بِهَا لِعَمْرٍو تَغْلِيبًا لِيَدِ زَيْدٍ، وَبَيِّنَتِهِ، حَتَّى يُعْلَمَ أَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ نَفَذَ عَلَى وَجْهِ الصِّحَّةِ دُونَ الْفَسَادِ لِاحْتِمَالِ تَرَدُّدِهِ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَهَذَا قول محمد بن الحسن وأن كَانَ لَهُ وَجْهٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Pendapat kedua: Putusan hakim yang memutuskan perkara tersebut untuk ‘Amr dibatalkan, dengan mengedepankan kepemilikan Zaid dan buktinya, sampai diketahui bahwa putusan hakim tersebut telah dijalankan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang rusak, karena ada kemungkinan putusan itu berada di antara dua keadaan. Ini adalah pendapat Muhammad bin al-Hasan, dan meskipun pendapat ini memiliki dasar, namun ia lemah. Allah Maha Mengetahui.

(باب في القافة ودعوى الولد من كتاب الدعوى والبينات ومن كتاب نكاح قديم)

(Bab tentang al-qāfah dan pengakuan anak, dari Kitab ad-da‘wā wa al-bayyināt dan dari Kitab Nikah versi lama)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أعرف السرور في وَجْهِهِ فَقَالَ ” أَلَمْ تَرَي أَنْ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ نَظَرَ إِلَى أُسَامَةَ وَزَيْدٍ عَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ قَدْ غَطَّيَا رُؤُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامِ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ” (قَالَ الشَّافِعِيُّ) فَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الْقَافَةِ إِلَّا هَذَا انْبَغَى أَنْ يَكُونَ فِيهِ دَلَالَةٌ أَنَّهُ عِلْمٌ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِلْمًا لَقَالَ لَهُ لَا تَقُلْ هَذَا لِأَنَّكَ إِنْ أَصَبْتَ فِي شَيْءٍ لَمْ آمن عليك أن تخطىء في غيره وفي خطئك قذف محصنة أو نفي نسب وما أقره إلا أنه رضيه ورآه علما ولا يسر إلا بالحق – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ودعا عمر رحمه الله قائفا في رجلين ادعيا ولدا فقال لقد اشتركا فيه فقال عمر للغلام وال أيهما شئت وشك أنس في ابن له فدعا له القافة (قال الشافعي) رحمه الله وأخبرني عدد من أهل العلم من المدينة ومكة أنهم أدركوا الحكام يفتون بقول القافة (قال الشافعي) رحمه الله ولم يجز الله جل ثنائه نسب أحد قط إلا إلى أب واحد ولا رسوله عليه السلام “.

Imam Syafi‘i ra. berkata: “Sufyan telah memberitakan kepada kami dari az-Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, aku mengenali kegembiraan di wajah beliau, lalu beliau bersabda: ‘Tidakkah engkau melihat bahwa Mujazziz al-Mudlijiy memandang Usamah dan Zaid, keduanya mengenakan kain tebal yang menutupi kepala mereka dan tampaklah kaki mereka, lalu ia berkata: Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagian berasal dari sebagian yang lain.’ (Imam Syafi‘i berkata:) Maka seandainya tidak ada pada ilmu qāfah (ilmu mengenali nasab melalui tanda fisik) kecuali ini, sudah seharusnya hal itu menunjukkan bahwa ia adalah ilmu. Dan seandainya itu bukan ilmu, tentu beliau akan berkata kepadanya: Jangan katakan demikian, karena jika engkau benar dalam suatu hal, aku tidak merasa aman engkau akan salah dalam hal lain, dan dalam kesalahanmu itu bisa terjadi tuduhan zina terhadap wanita yang terjaga kehormatannya atau penafian nasab. Dan tidaklah beliau membenarkannya kecuali karena beliau meridhainya dan memandangnya sebagai ilmu, dan beliau ﷺ tidak akan bergembira kecuali dengan kebenaran. Umar ra. pernah memanggil seorang qāfī (ahli qāfah) dalam perkara dua orang laki-laki yang mengaku sebagai ayah dari seorang anak, lalu qāfī itu berkata: Keduanya telah berbagi dalam anak itu. Maka Umar berkata kepada anak itu: Pilihlah siapa yang engkau kehendaki sebagai ayahmu. Anas pun pernah ragu terhadap anaknya, lalu ia memanggil ahli qāfah untuknya. (Imam Syafi‘i berkata:) Aku telah diberitahu oleh sejumlah ahli ilmu dari Madinah dan Makkah bahwa mereka mendapati para hakim memberi fatwa dengan pendapat ahli qāfah. (Imam Syafi‘i berkata:) Allah Ta‘ala tidak pernah membolehkan nasab seseorang kecuali kepada satu ayah saja, begitu pula Rasul-Nya ﷺ.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ الْقِيَافَةُ يُحْكَمُ بِهَا فِي إِلْحَاقِ الْأَنْسَابِ، إِذَا اشْتَبَهَتْ بِالِاشْتِرَاكِ فِي الْوَطْءِ الْمُوجِبِ لِلُحُوقِ النَّسَبِ، فَإِذَا اشْتَرَكَ الرَّجُلَانِ فِي وَطْءِ امْرَأَةٍ يَظُنُّهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا زَوْجَتَهُ، أَوْ أَمَتَهُ، أَوْ يَتَزَوَّجُهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا تَزْوِيجًا فَاسِدًا يَطَؤُهَا فِيهِ، أَوْ كَانَ نِكَاحُ أَحَدِهِمَا صَحِيحًا يَطَؤُهَا فِيهِ وَوَطِئَهَا الْآخَرُ بِشُبْهَةٍ، أَوْ يَكُونَانِ شَرِيكَيْنِ فِي أَمَةٍ فَيَشْتَرِكَانِ فِي وَطْئِهَا، ثُمَّ تَأْتِي بِوَلَدٍ بَعْدَ وَطْئِهَا لِمُدَّةٍ لَا تَنْقُصُ عَنْ أَقَلِّ الْحَمْلِ، وَهِيَ سِتَّةُ أَشْهُرٍ، وَلَا تَزِيدُ عَلَى أَكْثَرِهِ، وَهِيَ أَرْبَعُ سِنِينَ فَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُلْحَقَ بِهِمَا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُخْلَقَ مِنْ مَائِهِمَا، فَيُحْكَمُ بِالْقَافَةِ فِي إِلْحَاقِهِ بِأَحَدِهِمَا:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, qiyāfah dapat dijadikan dasar hukum dalam penetapan nasab apabila terjadi kerancuan karena adanya keterlibatan bersama dalam hubungan suami istri yang menyebabkan nasab dapat dinisbatkan. Maka apabila dua orang laki-laki sama-sama berhubungan dengan seorang wanita yang masing-masing dari mereka mengira wanita itu adalah istrinya, atau budaknya, atau masing-masing menikahinya dengan akad yang rusak lalu menggaulinya dalam pernikahan tersebut, atau salah satu dari mereka menikahinya dengan akad yang sah lalu menggaulinya, sedangkan yang lain menggaulinya karena syubhat, atau keduanya adalah pemilik bersama atas seorang budak wanita lalu keduanya menggaulinya, kemudian wanita itu melahirkan anak setelah masa yang tidak kurang dari masa kehamilan terpendek, yaitu enam bulan, dan tidak lebih dari masa kehamilan terpanjang, yaitu empat tahun, sehingga memungkinkan anak itu berasal dari salah satu dari mereka, maka tidak boleh dinisbatkan kepada keduanya dan tidak boleh dikatakan anak itu berasal dari air mani keduanya. Maka diputuskan dengan qiyāfah dalam penetapan nasab kepada salah satu dari mereka.

وَكَذَلِكَ لَوِ اشْتَرَكَ عَدَدٌ كَثِيرٌ فِي وَطْئِهَا، حُكِمَ بِالْقَافَةِ فِي إِلْحَاقِهِ بِأَحَدِهِمْ، وَسَوَاءٌ اجْتَمَعُوا عَلَى ادِّعَائِهِ، وَالتَّنَازُعِ فِيهِ أَوْ تَفَرَّدَ بِهِ بَعْضُهُمْ فِي اسْتِوَائِهِ فِي إِلْحَاقِهِ بِأَحَدِهِمْ، وَهُوَ فِي الصَّحَابَةِ قَوْلُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طالب عليه السلام فِي الْقَافَةِ، إِذَا وُجِدُوا، وَيَقْرَعُ بَيْنَهُمْ إِذَا فُقِدُوا وَحَكَمَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِالْقَافَةِ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ، وَبِهِ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، وَبِهِ قَالَ مِنَ التَّابِعِينَ عَطَاءٌ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ، وَالْأَوْزَاعِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ.

Demikian pula, jika sejumlah besar orang bersama-sama melakukan hubungan dengannya, maka penetapan nasab dilakukan dengan qāfah untuk menisbatkan anak tersebut kepada salah satu dari mereka. Baik mereka semua sepakat mengakuinya, berselisih dalam pengakuan, atau hanya sebagian dari mereka yang mengakuinya, semuanya sama dalam hal penetapan nasab kepada salah satu dari mereka. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di kalangan sahabat mengenai qāfah, yaitu jika qāfah ada, maka digunakan, dan jika tidak ada, maka dilakukan undian di antara mereka. Umar radhiyallahu ‘anhu juga memutuskan dengan qāfah menurut salah satu riwayat darinya. Pendapat ini juga dipegang oleh Anas bin Malik, dari kalangan tabi‘in oleh ‘Aṭā’, dan dari kalangan fuqahā’ oleh Malik, al-Awzā‘ī, dan Ahmad bin Hanbal.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَأَصْحَابُهُ لَا يُحْكَمُ بِالْقَافَةِ، وَيَجُوزُ أَنْ يُخْلَقَ الْوَلَدُ مِنْ مَاءِ رَجُلَيْنِ وَأَكْثَرُ، وَأَلْحَقَهُ بِجَمِيعِهِمْ، وَلَوْ كَانُوا مِائَةً.

Abu Hanifah dan para sahabatnya berpendapat bahwa tidak boleh menetapkan hukum berdasarkan qāfah, dan dimungkinkan seorang anak tercipta dari air mani dua orang laki-laki atau lebih, serta anak tersebut dinisbatkan kepada semuanya, meskipun mereka berjumlah seratus orang.

وَإِذَا تَنَازَعَ امْرَأَتَانِ وَلَدًا أَلْحَقْتُهُ بِهِمَا كَالرَّجُلَيْنِ.

Dan apabila dua perempuan berselisih mengenai seorang anak, maka aku menetapkannya kepada keduanya sebagaimana pada dua laki-laki.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: أُلْحِقُهُ بِالْوَاحِدِ إِجْمَاعًا، وَبِالِاثْنَيْنِ أَثَرًا وَبِالثَّلَاثَةِ قِيَاسًا وَلَا أُلْحِقُهُ بِالرَّابِعِ، فَتَحَرَّرَ الْخِلَافُ مَعَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:

Abu Yusuf berkata: Aku menyamakannya dengan satu orang berdasarkan ijmā‘, dengan dua orang berdasarkan atsar, dan dengan tiga orang berdasarkan qiyās, dan aku tidak menyamakannya dengan yang keempat. Maka jelaslah bahwa perbedaan pendapat dengan Abu Hanifah terdapat pada tiga hal:

أحدها: في إِلْحَاقِهِ بِالْقَافَةِ مَنَعَ مِنْهَا أَبُو حَنِيفَةَ وَجَوَّزْنَاهُ.

Pertama: Dalam hal penyamaannya dengan al-qāfah, Abu Hanifah melarangnya, sedangkan kami membolehkannya.

والثاني: في إلحاقه بأبوين جَوَّزَهُ أَبُو حَنِيفَةَ، وَأَبْطَلْنَاهُ.

Yang kedua: dalam hal penyamaannya dengan kedua orang tua, Abu Hanifah membolehkannya, sedangkan kami membatalkannya.

وَالثَّالِثُ: فِي خَلْقِهِ مِنْ مَاءَيْنِ فَأَكْثَرَ، صَحَّحَهُ أَبُو حَنِيفَةَ، وَأَفْسَدْنَاهُ.

Ketiga: dalam hal penciptaannya dari dua air atau lebih, Abu Hanifah menganggapnya sah, sedangkan kami menganggapnya tidak sah.

واستدل أصحاب أبي حنيفة على إبطال قوة الْقَافَةِ، وَأَنْ لَا يَكُونَ لِلشَّبَهِ تَأْثِيرٌ فِي لُحُوقِ الْأَنْسَابِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ علم} وَهَذِهِ صِفَةُ الْقَائِفِ، وَبُقُولِهِ تَعَالَى: {فِي أَيِّ صورة ما شاء ركبك} وَلَوْ تَرَكَّبَتْ عَنِ الْأَشْبَاهِ زَالَتْ عَنْ مُشْتَبَهٍ. وبقوله تعالى: {أفحكم الجاهلية يبغون} .

Para pengikut Abu Hanifah berdalil untuk menolak kekuatan al-qāfah, dan bahwa kemiripan tidak berpengaruh dalam penetapan nasab, dengan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,” dan ini adalah sifat al-qāfih. Juga dengan firman-Nya Ta’ala: “Dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu,” dan seandainya bentuk itu berasal dari kemiripan, maka tidak akan ada lagi keraguan. Serta dengan firman-Nya Ta’ala: “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?”

وَالْقِيَافَةُ مِنْ أَحْكَامِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَقَدْ أُنْكِرَتْ بَعْدَ الْإِسْلَامِ، وَعُدَّتْ مِنَ الْبَاطِلِ، حَتَّى قَالَ جَرِيرٌ فِي شِعْرِهِ:

Qiyāfah adalah salah satu hukum pada masa jahiliah, dan telah diingkari setelah datangnya Islam, serta dianggap sebagai kebatilan, hingga Jarir berkata dalam puisinya:

(وَطَالَ خِيَارِي غُرْبَةُ الْبَيْنِ وَالنَّوَى … وَأُحْدُوثَةٌ مِنْ كَاشِحٍ يَتَقَوَّفُ)

Dan telah lama, wahai pilihanku, keterasingan perpisahan dan jauhnya jarak… serta menjadi bahan pembicaraan dari orang yang membenci yang terus-menerus mencela.

أَيْ يَقُولُ: الْبَاطِلَ.

Yaitu dia mengatakan: kebatilan.

وَمِمَّا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلَامًا أَسْوَدَ وَأَنَا أُنْكِرُهُ.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: “Istriku melahirkan seorang anak laki-laki berkulit hitam, padahal aku mengingkarinya.”

فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا أَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمِنْ أَيْنَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّ عِرْقًا نَزَعَهُ. قَالَ: وَهَذَا لَعَلَّ عِرْقًا نَزَعَهُ “. فَأَبْطَلَ الِاعْتِبَارَ بِالشَّبَهِ الَّذِي يَعْتَبِرُهُ الْقَائِفُ. وَبِمَا رُوِيَ أَنَّ الْعَجْلَانِي لَمَّا قُذِفَ مِنْ شَرِيكِ بْنِ السَّحْمَاءِ بِزَوْجَتِهِ وَهِيَ حَامِلٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنْ جَاءَتْ بِهِ عَلَى نَعْتِ كَذَا فَلَا أَرَاهُ إِلَّا وَقَدْ صَدَقَ عَلَيْهَا، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ عَلَى نَعْتِ كَذَا، فَلَا أَرَاهُ إِلَّا وَقَدْ كَذَبَ عَلَيْهَا “، فَجَاءَتْ بِهِ عَلَى النَّعْتِ الْمَكْرُوهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ أَمْرَهُ لَبَيِّنٌ لَوْلَا مَا حَكَمَ اللَّهُ لَوْلَا الْأَيْمَانُ، لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ “. فَدَلَّ عَلَى أَنَّ حُكْمَ اللَّهِ يَمْنَعُ مِنِ اعْتِبَارِ الشَّبَهِ.

Lalu beliau bertanya: “Apakah kamu memiliki unta?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bertanya: “Apa warnanya?” Ia menjawab: “Merah.” Beliau bertanya: “Apakah di antara unta-unta itu ada yang berwarna abu-abu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bertanya: “Dari mana asalnya yang seperti itu?” Ia menjawab: “Mungkin karena ada garis keturunan yang menurunkannya.” Beliau bersabda: “Begitu pula hal ini, mungkin karena ada garis keturunan yang menurunkannya.” Maka beliau membatalkan pertimbangan berdasarkan kemiripan yang biasa dijadikan acuan oleh para ahli nasab. Dan sebagaimana diriwayatkan bahwa al-‘Ajlānī ketika menuduh istrinya yang sedang hamil berzina dengan Syarīk bin Sahmā’, Nabi ﷺ bersabda: “Jika ia melahirkan anak dengan ciri seperti ini, maka aku tidak melihat kecuali ia benar dalam tuduhannya; dan jika ia melahirkan anak dengan ciri seperti itu, maka aku tidak melihat kecuali ia berdusta atas istrinya.” Ternyata istrinya melahirkan anak dengan ciri yang tidak diinginkan, maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya perkara ini sudah jelas, kalau bukan karena hukum Allah, kalau bukan karena sumpah, tentu aku akan mengambil tindakan terhadapnya.” Maka hal ini menunjukkan bahwa hukum Allah mencegah untuk mempertimbangkan kemiripan.

قَالُوا: وَلَوْ كَانَتِ الْقِيَافَةُ عِلْمًا لَعَمَّ فِي النَّاسِ، وَلَمْ يُخْتَصَّ بِقَوْمٍ وَلَأَمْكَنَ أَنْ يَتَعَاطَاهُ كُلُّ مَنْ أَرَادَ كَسَائِرِ الْعُلُومِ فَلَمَّا لَمْ يَعُمَّ وَلَمْ يُمْكِنْ أَنْ يُتَعَلَّمَ بَطَلَ أَنْ يَكُونَ عِلْمًا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَعْمَلُ بِالْقِيَافَةِ فِي إِلْحَاقِ الْبَهَائِمِ كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَعْمَلَ بِهَا فِي إِلْحَاقِ الْأَنْسَابِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى جَوَازِ إِلْحَاقِ الْوَلَدِ بِآبَائِهِ لِعُمُومِ قَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ “. فَلَمَّا لَمْ يَمْتَنِعِ الِاشْتِرَاكُ فِي الْفِرَاشِ لَمْ يَمْتَنِعِ الِاشْتِرَاكُ فِي الْإِلْحَاقِ، وَبِمَا رُوِيَ مِنْ قَضِيَّةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” اخْتَصَمَا فِي رَجُلَيْنِ إِلَيْهِ وَقَدْ وَطِئَا امْرَأَةً فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ فَأَتَتْ بِوَلَدٍ فَدَعَا بِالْقَائِفِ وَسَأَلَهُ فَقَالَ: قَدْ أَخَذَ الشَّبَهَ مِنْهُمَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَضَرْبَهُ عُمَرُ بِالدِّرَةِ، حَتَّى أَضْجَعَهُ ثُمَّ حَكَمَ بِأَنَّهُ ابْنُهُمَا يَرِثُهُمَا، وَيَرِثَانِهِ، وَهُوَ لِلْبَاقِي مِنْهُمَا. فَلَمْ يظهر له في الحكم بهما فخالف مَعَ اشْتِهَارِ الْقَضِيَّةِ، فَصَارَ كَالْإِجْمَاعِ.

Mereka berkata: Seandainya qiyāfah itu adalah suatu ilmu, tentu ia akan tersebar di tengah manusia dan tidak dikhususkan pada suatu kaum saja, serta memungkinkan setiap orang yang menginginkannya untuk mempelajarinya seperti ilmu-ilmu lainnya. Maka, ketika qiyāfah tidak tersebar luas dan tidak mungkin untuk dipelajari, batal lah ia sebagai suatu ilmu yang dapat dijadikan dasar hukum. Selain itu, karena qiyāfah tidak digunakan dalam penetapan nasab hewan, maka lebih utama lagi untuk tidak digunakan dalam penetapan nasab manusia. Mereka juga berdalil atas bolehnya penetapan anak kepada ayahnya dengan keumuman sabda Nabi ﷺ: “Anak itu milik pemilik ranjang, dan bagi pezina adalah batu.” Maka, ketika tidak terlarang adanya persekutuan dalam ranjang, tidak terlarang pula adanya persekutuan dalam penetapan nasab. Juga berdasarkan riwayat tentang kasus ‘Umar bin al-Khattab ra.: “Dua orang bersengketa di hadapannya, keduanya telah menggauli seorang wanita dalam satu masa suci, lalu wanita itu melahirkan seorang anak. ‘Umar memanggil seorang qā’if dan menanyakannya, lalu qā’if itu berkata: ‘Anak ini mengambil kemiripan dari keduanya, wahai Amirul Mukminin.’ Maka ‘Umar memukulnya dengan cambuk hingga ia terjatuh, kemudian memutuskan bahwa anak itu adalah anak keduanya, mewarisi keduanya dan keduanya mewarisi dia, dan anak itu menjadi milik yang masih hidup di antara keduanya.” Maka, tidak tampak bagi ‘Umar dalam kasus ini untuk menetapkan hukum dengan qiyāfah, sehingga ia menyelisihinya meskipun kasus ini masyhur, sehingga hal itu menjadi seperti ijmā‘.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُمَا قَدِ اشْتَرَكَا فِي السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِثُبُوتِ النَّسَبِ، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ لَاحِقًا بِهِمَا كَأَبَوَيْنِ.

Mereka berkata: Karena keduanya telah sama-sama memiliki sebab yang mewajibkan penetapan nasab, maka wajiblah nasab itu dinisbatkan kepada keduanya seperti halnya kepada kedua orang tua.

قَالُوا: ولأن أسباب التوارث لا يمنع الِاشْتِرَاكُ فِيهَا كَالْوَلَاءِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى جَوَازِ خَلْقِهِ مِنْ مَاءِ رِجَالٍ بِأَنَّهُ لَمَّا خُلِقَ الْوَلَدُ مِنْ مَاءِ الرَّجُلِ الْوَاحِدِ، إِذَا امْتَزَجَ بِمَاءِ الْمَرْأَةِ فِي الرَّحِمِ كَانَ أَوْلَى أَنْ يُخْلَقَ مِنْ مَاءِ الْجَمَاعَةِ، إِذَا امْتَزَجَ مَاؤُهُمْ بِمَائِهَا، لِأَنَّهُ بِالِاجْتِمَاعِ أَقْوَى وَبِالِانْفِرَادِ أَضْعَفُ، وَالْقُوَّةُ أَشْبَهُ بِعُلُوقِ الْوَلَدِ مِنَ الضَّعْفِ.

Mereka berkata: Karena sebab-sebab pewarisan tidak menghalangi adanya keterlibatan bersama di dalamnya, seperti halnya al-walā’. Mereka juga berdalil tentang bolehnya penciptaan (anak) dari air mani beberapa laki-laki dengan alasan bahwa ketika seorang anak diciptakan dari air mani satu laki-laki yang bercampur dengan air wanita di dalam rahim, maka lebih utama lagi jika diciptakan dari air mani sekelompok laki-laki apabila air mani mereka bercampur dengan air wanita tersebut. Sebab, dengan berkumpulnya (air mani) itu menjadi lebih kuat, sedangkan jika sendiri menjadi lebih lemah, dan kekuatan itu lebih mirip dengan terjadinya kehamilan daripada kelemahan.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ إِذَا جَازَ أَنْ يُخْلَقَ مِنِ اجْتِمَاعِ مَاءِ الرَّجُلِ الْوَاحِدِ مِنْ إِنْزَالٍ بَعْدَ إِنْزَالٍ، جَازَ أَنْ يخلق من اجتماع ماء الجماعة من وطىء بعد وطىء، لِأَنَّ اجْتِمَاعَ الْمِيَاهِ مِنَ الْجَمَاعَةِ كَاجْتِمَاعِهَا مِنَ الْوَاحِدِ.

Mereka berkata: Karena jika dibolehkan tercipta (anak) dari berkumpulnya air mani seorang laki-laki saja dari beberapa kali ejakulasi, maka dibolehkan pula tercipta (anak) dari berkumpulnya air mani beberapa orang dari beberapa kali hubungan, karena berkumpulnya air mani dari beberapa orang itu sama seperti berkumpulnya dari satu orang.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالدَّلِيلُ عَلَى اعْتِبَارِ الشَّبَهِ فِي الْأَنْسَابِ، إِذَا اشْتَبَهَتْ، وَالْعَمَلِ فِيهَا بِالْقِيَافَةِ، مَا رَوَى الشَّافِعِيُّ فِي صَدْرِ الْبَابِ عَنْ سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا، قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَعْرِفُ السُّرُورَ فِي وَجْهِهِ “.

Dan dalil tentang pentingnya mempertimbangkan kemiripan dalam nasab ketika terjadi kesamaran, serta penerapan ilmu qiyāfah dalam hal tersebut, adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i di awal bab dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, ia berkata: Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, aku mengetahui kegembiraan di wajah beliau.

وَرَوَى ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ: تَبْرُقُ سَرَائِرُ وَجْهِهِ، فَقَالَ: أَلَمْ تَرَي أَنْ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ نَظَرَ إِلَى أُسَامَةَ وَزَيْدٍ، عَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ، قَدْ غَطَّيَا رُؤُوسَهُمَا وَبَدَتْ أقدامهما فقال: إن هذه الأقدام بعضها من بَعْضٍ. فَفِيهِ دَلِيلَانِ:

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Az-Zuhri: Wajahnya berseri-seri, lalu ia berkata: Tidakkah engkau melihat bahwa Mujazziz Al-Mudlijiy memandang kepada Usamah dan Zaid, keduanya mengenakan kain wol, telah menutupi kepala mereka dan tampaklah kaki mereka, lalu ia berkata: Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagian berasal dari sebagian yang lain. Maka di dalamnya terdapat dua dalil:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَطْعَنُونَ فِي نَسَبِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ، لِأَنَّ زَيْدًا كَانَ قَصِيرًا عَرِيضَ الْأَكْتَافِ أَخْنَسَ أَبْيَضَ اللَّوْنِ، وَكَانَ أُسَامَةُ مَدِيدَ الْقَامَةِ أقنى أسود اللَّوْنِ، وَكَانَ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَكْرَهُ الْقَدْحَ فِيهِ وَفِي أُسَامَةَ، فَلَمَّا جَمَعَ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيُّ بَيْنَهُمَا فِي النَّسَبِ، بِقَوْلِهِ: ” هَذِهِ أَقْدَامٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ” سُرَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بُقُولِهِ لِزَوَالِ الْقَدْحِ فِيهِمَا، مِمَّنْ كَانَ يَطْعَنُ فِي نَسَبِهِمَا فَلَوْ لَمْ تَكُنِ الْقِيَافَةُ حَقًا، لَمَا سُرَّ بِهَا، لِأَنَّهُ لَا يُسَرُّ بِبَاطِلٍ ولرد ذلك عليه، وإن أصاب، لأن لا يَأْمَنَ مِنَ الْخَطَأِ فِي غَيْرِهِ.

Salah satunya adalah bahwa kaum musyrik mencela nasab Usamah bin Zaid bin Haritsah, karena Zaid bertubuh pendek, bahunya lebar, hidungnya mancung, dan berkulit putih, sedangkan Usamah bertubuh tinggi, hidungnya mancung, dan berkulit hitam. Zaid adalah orang yang dicintai Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak suka jika Zaid atau Usamah dicela. Ketika Mujazziz al-Mudlijiy menyatukan keduanya dalam nasab dengan ucapannya, “Ini adalah kaki-kaki yang sebagian berasal dari sebagian yang lain,” Rasulullah ﷺ pun bergembira dengan ucapannya itu karena celaan terhadap keduanya hilang dari orang-orang yang mencela nasab mereka. Seandainya qiyāfah (ilmu menilai nasab dari tanda fisik) bukanlah sesuatu yang benar, niscaya beliau tidak akan bergembira karenanya, karena beliau tidak akan bergembira dengan kebatilan dan pasti akan menolaknya, meskipun itu benar, agar tidak merasa aman dari kemungkinan kesalahan pada selainnya.

وَالثَّانِي: أَنَّ الشَّرْعَ مَأْخُوذٌ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ قَوْلِهِ وَفِعْلِهِ، وَإِقْرَارِهِ، فَكَانَ إِقْرَارُهُ لِمُجَزِّزٍ عَلَى حُكْمِهِ شَرْعًا مِنَ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي جَوَازِ الْعَمَلِ بِهِ.

Kedua: bahwa syariat diambil dari Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam – baik dari perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya. Maka persetujuan beliau terhadap Mujazziz atas penilaiannya merupakan syariat dari Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dalam kebolehan beramal dengannya.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رُوِيَ. أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى الْأَبْطَحِ فَرَأَى بَعْضَ قَافَةِ الْأَعْرَابِ. فَقَالَ: مَا أَشْبَهَ هَذَا الْقَدَمَ بِقَدَمِ إِبْرَاهِيمَ الَّتِي فِي الْحِجْرِ، فَأَلْحَقَهُ بِالْجَدِّ الْأَبْعَدِ، وَأَقَرَّهُ عَلَى اقْتِفَاءِ الْأَثَرِ، وَلَمْ يُنْكِرْهُ فَثَبَتَ اعْتِبَارُ الشَّبَهِ بِالْقَافَةِ شَرْعًا. وَيَدُلُّ عَلَى اشْتِهَارِهِ فِي الْإِسْلَامِ، أَنَّهُ لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَعَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى غَارِ ثَوْرٍ مُخْتَفِيًا فِيهِ مِنْ قُرَيْشٍ، أَخَذَتْ قُرَيْشٌ قَائِفًا يَتْبَعُ بِهِ أَقْدَامَ بَنِي إِبْرَاهِيمَ، فَيَتَتَبَّعُهَا حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْغَارِ ثُمَّ انْقَطَعَ الْأَثَرُ فَقَالَ: إِلَى هَاهُنَا انْقَطَعَ أَثَرُ بَنِي إِبْرَاهِيمَ، فَلَمْ يَكُنْ مِنَ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِيهِ إِنْكَارٌ فَثَبَتَ أَنَّهُ شَرْعٌ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قد اعتبر لشبه فِي وَلَدِ الْعَجْلَانِيِّ، فَقَالِ: ” إِنْ جَاءَتْ بِهِ عَلَى نَعْتِ كَذَا فَلَا أَرَاهُ إِلَّا وَقَدْ صَدَقَ عَلَيْهَا، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ عَلَى نَعْتِ كَذَا فَلَا أَرَاهُ إِلَّا وَقَدْ كَذَبَ عَلَيْهَا “، فَجَاءَتْ بِهِ عَلَى النَّعْتِ الْمَكْرُوهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْلَا الْأَيْمَانُ ” وَرُوِيَ ” الْقُرْآنُ لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ “. يَعْنِي فِي إِلْحَاقِ الْوَلَدِ بِالْفِرَاشِ، وَنَفْيِهِ عَنِ الْعَاهِرِ، وَلَوْلَا أَنَّ الشَّبَهَ مَعَ جَوَازِ الِاشْتِرَاكِ حُكْمٌ، لَأَمْسَكَ عَنْهُ كَيْلَا يَقُولَ بَاطِلًا فَيُتَّبَعُ فِيهِ وَقَدْ نَزَّهَ اللَّهُ تَعَالَى رَسُولَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنْ قَوْلِ الْبَاطِلِ كَمَا نَزَّهَهُ عَنْ فِعْلِهِ.

Hal ini didukung oleh riwayat bahwa Nabi ﷺ pada suatu hari keluar menuju Abtah, lalu beliau melihat sebagian qāfah dari kalangan Arab Badui. Beliau bersabda: “Betapa miripnya telapak kaki ini dengan telapak kaki Ibrahim yang ada di Hijr.” Maka beliau menetapkannya sebagai keturunan dari kakek yang lebih jauh, dan membenarkan praktik penelusuran jejak tersebut, serta tidak mengingkarinya. Dengan demikian, penetapan kemiripan melalui qāfah menjadi sah secara syar‘i. Bukti lain yang menunjukkan bahwa hal ini telah dikenal luas dalam Islam adalah ketika Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar ra. pergi ke Gua Tsur untuk bersembunyi dari Quraisy, maka Quraisy mengambil seorang qāif untuk menelusuri jejak kaki Bani Ibrahim, sehingga ia mengikuti jejak itu hingga sampai ke gua, lalu jejak itu terputus. Ia berkata: “Sampai di sini jejak Bani Ibrahim terputus.” Dan Rasulullah ﷺ tidak mengingkari hal itu, sehingga hal ini menjadi syar‘i. Juga didukung oleh riwayat bahwa Nabi ﷺ pernah mempertimbangkan kemiripan pada anak al-‘Ajlānī, beliau bersabda: “Jika anak itu lahir dengan ciri demikian, maka aku tidak melihat kecuali ia benar terhadap istrinya; dan jika anak itu lahir dengan ciri demikian, maka aku tidak melihat kecuali ia telah berdusta atas istrinya.” Ternyata anak itu lahir dengan ciri yang tidak diinginkan. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Kalau bukan karena sumpah” dan dalam riwayat lain: “Kalau bukan karena al-Qur’an, tentu aku dan dia akan punya urusan.” Maksudnya dalam hal penetapan anak pada ranjang (nasab yang sah) dan penafian dari pezina. Seandainya kemiripan, meskipun dimungkinkan adanya kesamaan, bukanlah suatu hukum, tentu beliau akan diam agar tidak mengatakan sesuatu yang batil lalu diikuti dalam hal itu, dan sungguh Allah Ta‘ala telah mensucikan Rasul-Nya ﷺ dari ucapan batil sebagaimana Dia mensucikannya dari perbuatan batil.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِذَا غَلَبَ مَاءُ الرَّجُلِ كَانَ الشَّبَهُ لِلْأَعْمَامِ وَإِذَا غَلَبَ مَاءُ الْمَرْأَةِ كَانَ الشَّبَهُ لِلْأَخْوَالِ “. فَدَلَّ عَلَى أَنَّ لِلشَّبَهِ تَأْثِيرًا فِيمَا أَشْبَهَ فَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ بِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ “. فَجَعَلَ لِلْفِرَاسَةِ حُكْمًا، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنْ طَرِيقِ الْإِجْمَاعِ اشْتِهَارُهُ فِي الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ فَعَلُوهُ، وَأُقِرُّوا عَلَيْهِ، وَلَمْ يُنْكِرُوهُ، حَتَّى رُوِيَ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ شَكَّ فِي ابْنٍ لَهُ، فَأَرَاهُ الْقَافَةَ، وَلَوْ كَانَ هَذَا مُنْكَرًا لَمَا جَازَ مِنْهُمْ إِقْرَارُهُمْ عَلَى مُنْكَرٍ، فَصَارَ كَالْإِجْمَاعِ، وَقَدْ جَرَى فِي أَشْعَارِهِمْ مَا يَدُلُّ عَلَى اعْتِبَارِ الْقِيَافَةِ عِنْدَهُمْ،. وَاشْتِهَارِ صِحَّتِهَا بَيْنَهُمْ، حَتَّى قَالَ شَاعِرُهُمْ:

Hal ini didukung oleh riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Jika air mani laki-laki yang dominan, maka kemiripan anak akan kepada paman-paman dari pihak ayah, dan jika air mani perempuan yang dominan, maka kemiripan anak akan kepada paman-paman dari pihak ibu.” Maka ini menunjukkan bahwa kemiripan memiliki pengaruh terhadap apa yang serupa dengannya. Sebagian ulama kami berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Waspadalah terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah.” Maka beliau menetapkan adanya hukum bagi firasat. Dari sisi ijmā‘, hal ini juga didukung dengan ketenaran praktik ini di kalangan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum, bahwa mereka melakukannya, disetujui atasnya, dan tidak ada yang mengingkarinya. Bahkan diriwayatkan bahwa Anas bin Malik pernah ragu terhadap seorang anaknya, lalu ia memperlihatkannya kepada para ahli qiyāfah. Seandainya hal ini mungkar, niscaya tidak boleh mereka menyetujui sesuatu yang mungkar, sehingga hal ini menjadi seperti ijmā‘. Bahkan dalam syair-syair mereka pun terdapat petunjuk bahwa qiyāfah dianggap sebagai sesuatu yang sah menurut mereka, dan ketenaran kebenarannya di antara mereka, hingga salah seorang penyair mereka berkata:

(قَدْ زَعَمُوا أَنْ لَا أُحِبُّ مُطْرِفَا … كَلَّا وَرَبِّ الْبَيْتِ حُبًا مُسْرِفَا)

Mereka telah mengira bahwa aku tidak mencintai Mutrif… Tidak, demi Tuhan Ka‘bah, aku mencintainya dengan cinta yang sangat besar.

(يَعْرِفُهُ مَنْ قَافَ أَوْ تَقَوَّفَا … بِالْقَدَمَيْنِ، وَالْيَدَيْنِ، وَالْقَفَا)

Orang yang mengenalinya adalah siapa saja yang telah mengukur atau meneliti dengan kedua kaki, kedua tangan, dan bagian belakang tubuh.

(وَطَرْفِ عَيْنَيْهِ إِذَا تَشَوَّفَا … … … … … … … )

Dan kedipan kedua matanya ketika sedang menoleh…

ويدل عليه من طريق المعنى، وهو أَنَّ الْحَادِثَةَ فِي الشَّرْعِ، إِذَا تَجَاذَبَهَا أَصْلَانِ حَاظِرٌ وَمُبِيحٌ، لَمْ تُرَدَّ إِلَيْهَا، وَرُدَّتْ إِلَى أَقْوَاهُمَا شَبَهًا بِهَا، كَذَلِكَ فِي اشْتِبَاهِ الْأَنْسَابِ.

Hal ini juga didukung dari segi makna, yaitu bahwa suatu peristiwa dalam syariat, apabila ditarik oleh dua dasar hukum—yang satu melarang dan yang lain membolehkan—maka peristiwa tersebut tidak dikembalikan kepada keduanya, melainkan dikembalikan kepada dasar yang paling kuat kemiripannya dengan peristiwa itu; demikian pula dalam kasus kesamaran nasab.

وَالدَّلِيلُ عَلَى إِبْطَالِ إِلْحَاقِ الْوَلَدِ يَأْتِي فِي وقول الله تعالى: {يأيها النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى} [الحجرات: 13] ، وَهَذَا خِطَابٌ لِجَمِيعِهِمْ فَدَلَّ عَلَى انْتِفَاءِ خَلْقِ أَحَدِهِمْ مِنْ ذَكَرَيْنِ وَأُنْثَى، وَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ} [الإنسان: 2] فَمَنَعَ أَنْ يَكُونَ مَخْلُوقًا مِنْ نُطْفَتَيْنِ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَنْ لَيْسَ فِي سَالِفِ الْأُمَمِ، وَحَدِيثِهَا، وَلَا جَاهِلِيَّةٍ، وَلَا إِسْلَامٍ، أَنْ نَسَبُوا أَحَدًا فِي أَعْصَارِهِمْ، إِلَى أَبَوَيْنِ، وَفِي إِلْحَاقِهِ بِاثْنَيْنِ خَرْقُ الْعَادَاتِ، وَفِي خَرْقِهَا إِبْطَالُ الْمُعْجِزَاتِ، وَمَا أَفْضَى إِلَى إِبْطَالِهَا، بَطَلَ فِي نَفْسِهِ، وَلَمْ يُبْطِلْهَا. وَالْقِيَاسُ، هُوَ أَنَّهُمَا شَخْصَانِ، لَا يَصِحُّ اجْتِمَاعُهُمَا عَلَى وَطْءِ وَاحِدٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُلْحَقَ الْوَلَدُ بِهِمَا كَالْحُرِّ مَعَ الْعَبْدِ، وَالْمُسْلِمِ مَعَ الْكَافِرِ فَإِنَّ أَبَا حَنِيفَةَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِلْحَاقِهِ بِهِمَا، وَإِنِ اشْتَرَكَا فِي الْوَطْءِ فَيُلْحِقُهُ بِالْحُرِّ دُونَ الْعَبْدِ، وَالْمُسْلِمِ دُونَ الْكَافِرِ، وَالدَّلِيلِ عَلَى إِبْطَالِ خَلْقِهِ مِنْ مَاءَيْنِ مَعَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ نَصِّ الْكِتَابِ شَيْئَانِ:

Dalil yang menunjukkan batalnya penyandaran anak kepada dua ayah akan dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ala: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” (QS. al-Hujurat: 13). Ini adalah seruan kepada seluruh manusia, sehingga menunjukkan tidak adanya penciptaan seseorang dari dua laki-laki dan seorang perempuan. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya” (QS. al-Insan: 2), maka Allah menafikan bahwa manusia diciptakan dari dua mani. Hal ini juga didukung oleh kenyataan bahwa tidak pernah ada dalam umat-umat terdahulu, baik dalam kisah-kisah mereka, masa jahiliah, maupun masa Islam, bahwa mereka menisbatkan seseorang kepada dua orang tua. Menyandarkan anak kepada dua ayah merupakan pelanggaran terhadap kebiasaan, dan pelanggaran terhadap kebiasaan berarti membatalkan mu‘jizat, dan apa yang mengantarkan pada pembatalan mu‘jizat, maka hal itu sendiri batal, namun tidak membatalkan mu‘jizat tersebut. Qiyās-nya adalah bahwa keduanya adalah dua pribadi yang tidak sah berkumpul dalam satu hubungan suami istri, maka tidak boleh anak disandarkan kepada keduanya, sebagaimana (tidak boleh) antara orang merdeka dengan budak, atau antara Muslim dengan kafir. Abu Hanifah pun menolak penyandaran anak kepada keduanya, meskipun keduanya sama-sama melakukan hubungan, maka ia menisbatkan anak kepada yang merdeka, bukan kepada budak, dan kepada Muslim, bukan kepada kafir. Dalil yang menunjukkan batalnya penciptaan manusia dari dua air mani, selain nash dari al-Kitab yang telah disebutkan, ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ أُمَمُ الطِّبِّ فِي خَلْقِ الْإِنْسَانِ، أَنَّ عُلُوقَ الْوَلَدِ يَكُونُ حِينَ يَمْتَزِجُ مَاءُ الرَّجُلِ بِمَاءِ الْمَرْأَةِ، ثُمَّ تَنْطَبِقُ الرَّحِمُ عَلَيْهِمَا بعد ذلك [الامتزاج] فَيَنْعَقِدُ عُلُوقُهُ لِوَقْتِهِ، وَلَا يَصِلُ إِلَيْهِ مَاءٌ آخر، من ذلك الواطىء وَلَا مِنْ غَيْرِهِ، وَقَدْ نَبَّهَ اللَّهُ تَعَالَى على قوله تعالى: {فلينظر الإنسان مما خلق خلق من ماء دافق يخرج من بين الصلب والترائب} يَعْنِي أَصْلَابَ الرِّجَالِ، وَتَرَائِبِ النِّسَاءِ، وَالتَّرَائِبُ الصُّدُورُ فَاسْتَحَالَ، بِهَذَا خَلْقُ الْوَلَدِ مِنْ مَاءَيْنِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ مِنْ ذَكَرَيْنِ.

Pertama: Hal yang telah disepakati oleh seluruh ahli kedokteran tentang penciptaan manusia, yaitu bahwa terjadinya kehamilan anak terjadi ketika air mani laki-laki bercampur dengan air mani perempuan, kemudian rahim menutup keduanya setelah percampuran itu, sehingga kehamilan pun terjadi pada saat itu juga, dan tidak ada air mani lain yang dapat mencapai ke sana, baik dari laki-laki yang sama maupun dari selainnya. Allah Ta‘ala telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” Maksudnya adalah tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, dan yang dimaksud dengan tarā’ib adalah dada. Dengan demikian, mustahil penciptaan anak berasal dari dua air mani laki-laki atau dari dua laki-laki.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا اسْتَحَالَ فِي شَاهِدِ الْعُرْفِ أَنْ تَنْبُتَ السُّنْبُلَةُ مِنْ حَبَّتَيْنِ، وَتَنْبُتَ النَّخْلَةُ مِنْ نَوَاتَيْنِ، دَلَّ عَلَى اسْتِحَالَةِ خَلْقِ الْوَلَدِ مِنْ مَاءَيْنِ.

Kedua: Karena menurut kebiasaan yang dikenal, mustahil bulir gandum tumbuh dari dua biji, dan pohon kurma tumbuh dari dua inti, maka hal itu menunjukkan mustahilnya penciptaan anak dari dua air mani.

فَإِنْ قِيلَ لَمَّا لَمْ يَسْتَحِلْ خَلْقُ الْوَلَدِ مِنْ مَاءِ ذَكَرٍ، وَأُنْثَى، لَمْ يَسْتَحِلْ أَنْ يُخْلَقَ مِنْ مَاءِ ذَكَرَيْنِ وَأُنْثَى.

Jika dikatakan: “Karena tidak dibolehkan penciptaan anak dari air mani laki-laki dan perempuan, maka tidak dibolehkan pula penciptaan anak dari air mani dua laki-laki dan seorang perempuan.”

قِيلَ: قَدْ جَوَّزْتُمْ مَا يَسْتَحِيلُ إِمْكَانُهُ فِي الْعُقُولِ، وَالْعِيَانِ مِنْ إلحاق الولد، بأمين فكيف اعتبرتهم إِنْكَارَ إِلْحَاقِهِ بِأَبَوَيْنِ؟ وَتَعْلِيلُكُمْ بِالْإِمْكَانِ فِي الْأَبَوَيْنِ يُبْطِلُ إِلْحَاقَكُمْ لَهُ بِأُمَّيْنِ، وَكِلَا الْأَمْرَيْنِ عِنْدَنَا مُسْتَحِيلٌ فِي الْأَبَوَيْنِ، وَالْأُمَّيْنِ، ثُمَّ نَقُولُ مَا اسْتَحَالَ عَقْلًا وَشَرْعًا فِي لُحُوقِ الْأَنْسَابِ. لَمْ يَثْبُتْ بِهِ نَسَبٌ كَابْنِ عِشْرِينَ إِذَا ادَّعَى أَبُوهُ ابْنُ عِشْرِينَ سَنَةً لَمْ يُلْحَقْ لِاسْتِحَالَتِهِ، كذلك ادعاء امرأتين ولد لَمْ يُلْحَقْ بِهِمَا لِاسْتِحَالَتِهِ.

Dikatakan: Kalian telah membolehkan sesuatu yang mustahil terjadi menurut akal dan kenyataan, yaitu penetapan nasab anak kepada seorang laki-laki yang hanya sebagai penjaga (bukan ayah), maka bagaimana kalian mempertimbangkan penolakan penetapan nasabnya kepada dua orang tua? Dan alasan kalian dengan kemungkinan pada dua orang tua justru membatalkan penetapan nasab kepada dua ibu, padahal kedua hal itu menurut kami sama-sama mustahil, baik pada dua orang tua maupun dua ibu. Kemudian kami katakan, apa yang mustahil secara akal dan syariat dalam penetapan nasab, tidak dapat dijadikan dasar penetapan nasab, seperti seseorang yang berumur dua puluh tahun mengaku sebagai anak dari seorang ayah yang juga berumur dua puluh tahun, maka tidak dapat ditetapkan nasabnya karena kemustahilannya. Demikian pula jika dua perempuan mengaku sebagai ibu dari seorang anak, maka tidak dapat ditetapkan nasabnya kepada keduanya karena kemustahilannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ به عِلْمٌ} [الإسراء: 36] فَهُوَ عَائِدٌ عَلَيْهِمْ فِي إِلْحَاقِهِ بِالْجَمَاعَةِ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ دَلِيلٌ.

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya” (QS. Al-Isra’: 36), maka ayat ini kembali kepada mereka dalam hal penyamaannya dengan jamaah, sehingga mereka tidak memiliki dalil.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عن قوله تعالى: {من أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ} [الانفطار: 8] فَهُوَ: أَنَّهُ يُرَادُ بِهِ فِيمَا شَاءَ مِنْ شَبَهِ أَعْمَامِهِ، وَأَخْوَالِهِ، وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ} [المائدة: 50] . فَهُوَ: أَنَّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ، لَا يُنْسَبُ إِلَى حُكْمِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَإِنْ وَافَقَهُ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَعَلَّ عِرْقًا نَزَعَهُ ” فَهُوَ أَنَّهُ دَالٌّ عَلَى اعْتِبَارِ الشَّبَهِ، لِأَنَّهُ عَلَّلَ بِنُزُوعِ الْعِرْقِ الْأَوَّلِ.

Adapun jawaban atas firman Allah Ta‘ala: “Dari bentuk mana saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunnamu” (al-Infithar: 8), maka maksudnya adalah: dalam bentuk mana pun yang Dia kehendaki dari kemiripan dengan paman-paman atau bibi-bibinya. Adapun jawaban atas firman-Nya Ta‘ala: “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?” (al-Ma’idah: 50), maka maksudnya adalah: apa yang datang dari syariat, tidak dinisbatkan kepada hukum jahiliah, meskipun ada kesesuaian dengannya. Adapun jawaban atas sabda Nabi ﷺ: “Barangkali ada darah keturunan yang muncul padanya,” maka maksudnya adalah menunjukkan adanya pertimbangan kemiripan, karena beliau mengaitkannya dengan munculnya darah keturunan yang pertama.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ الْعَجْلَانِيِّ: فَهُوَ مَا جَعَلْنَاهُ دَلِيلًا مِنْهُ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اخْتِصَاصِ قَوْمٍ بِهِ، وَتَعَذُّرِ مُعَاطَاتُهُ، وَتَعَلُّمِهِ: فَهُوَ أَنَّهُ لَيْسَ يَمْتَنِعُ، أَنْ يَكُونَ فِي الْعُلُومِ، مَا يُسْتَفَادُ بِالطَّبْعِ دُونَ التَّعَلُّمِ كَقَوْلِ الشَّاعِرِ:

Adapun jawaban atas hadis al-‘Ajlānī: maka itulah yang kami jadikan sebagai dalil darinya. Adapun jawaban atas kekhususan suatu kaum dengannya, kesulitan dalam mempraktikkannya, dan mempelajarinya: maka sesungguhnya tidak mustahil bahwa dalam ilmu-ilmu terdapat sesuatu yang dapat diperoleh secara naluri tanpa harus dipelajari, sebagaimana perkataan penyair:

(إِنْ لَمْ يَسْتَفِدْهُ الْإِنْسَانُ طَبْعًا … تَعَذَّرَ أَنْ يَقُولَهُ بِتَعَلُّمِ وَاكْتِسَابِ)

Jika seseorang tidak memperoleh hal itu secara alami, maka mustahil baginya untuk dapat mengucapkannya melalui belajar dan usaha.

وَلَا يَمْتَنِعُ أَنْ تَكُونَ صِنَاعَةُ الشِّعْرِ عِلْمًا، كَذَلِكَ الْقِيَافَةُ.

Dan tidak mustahil bahwa seni membuat syair merupakan suatu ilmu, demikian pula qiyāfah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: ” الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ “: فَهُوَ أَنَّ الْفِرَاشَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ الزَّوْجَةُ، وَعِنْدَنَا مَنْ يَجُوزُ أَنْ يَلْحَقَ وَلَدَهَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْمَرْأَةُ ذَاتَ زَوْجَيْنِ، فَلَمْ يَجُزْ عِنْدَهُمْ أَنْ تَكُونَ لِاثْنَيْنِ، وَعِنْدَنَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُلْحَقَ وَلَدُهَا إِلَّا بِوَاحِدٍ فَلَمُ يَكُنْ فِرَاشًا إِلَّا لِوَاحِدٍ.

Adapun jawaban atas ucapannya: “Anak itu milik firāsy,” maka maksud firāsy menurut Abu Hanifah adalah istri, sedangkan menurut kami adalah siapa saja yang mungkin anaknya dinasabkan kepadanya. Tidak boleh seorang wanita memiliki dua suami, maka menurut mereka tidak mungkin firāsy itu untuk dua orang. Dan menurut kami, tidak boleh anaknya dinasabkan kecuali kepada satu orang saja, sehingga firāsy itu hanya untuk satu orang.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِامْتِنَاعِ الْقِيَافَةِ فِي الْبَهَائِمِ. فَهُوَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِإِلْحَاقِ الْبَهَائِمِ الْمِلْكَ، وَالْيَدَ أَقْوَى فَاسْتَغْنى بِهِ عَنِ الْقِيَافَةِ، وَالْمَقْصُودُ فِي الْآدَمِيِّينَ النَّسَبُ، وَالْيَدُ لَا تَأْثِيرَ لَهَا فَاحْتِيجَ فِيهِ إِلَى الْقِيَافَةِ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan ketidakmungkinan penggunaan qiyāfah pada hewan ternak adalah bahwa yang dimaksud dengan penyamaan pada hewan ternak adalah kepemilikan, dan kepemilikan melalui penguasaan (al-yad) lebih kuat sehingga cukup dengannya tanpa memerlukan qiyāfah. Sedangkan yang dimaksud pada manusia adalah nasab, dan penguasaan (al-yad) tidak berpengaruh di dalamnya, sehingga diperlukan qiyāfah dalam hal ini.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِصَّةِ عُمُرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي إِلْحَاقِ الْوَلَدِ بِاثْنَيْنِ. فَهُوَ: أَنَّ الرِّوَايَةَ اخْتَلَفَتْ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ فَرَوَى الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ ” الْأُمِّ ” عَنِ ابْنِ عِيَاضٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ أَنَّ رَجُلَيْنِ تَدَاعَيَا وَلَدًا فَدَعَا عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْقَافَةَ فَقَالُوا: قَدِ اشْتَرَكَا فِيهِ. فقال عمر: وإلى أيهما يثبت؟ ويرى أَنَّهُ دَعَا عَجَائِزَ مِنْ قُرَيْشٍ، فَقُلْنَ: إِنَّ الْأَوَّلَ وَطِئَهَا، فَعَلَقَتْ مِنْهُ، ثُمَّ حَاضَتْ فَاسْتَحْشَفَ الْوَلَدُ ثُمَّ وَطِئَهَا الثَّانِي فَانْتَعَشَ بِمَائِهِ، فَأَخَذَ شَبَهًا مِنْهُمَا فَقَالَ عُمَرُ: ” اللَّهُ أَكْبَرُ ” وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْأَقْرَبِ. وَإِذَا تَعَارَضَتْ فِيهَا الرِّوَايَاتُ الْمُخْتَلِفَةُ، سَقَطَ تَعَلُّقُهُمْ بِهَا وَكَانَتْ دَلِيلًا لَنَا لِاجْتِمَاعِهِمْ، فِيهَا عَلَى اسْتِعْمَالِ الْقَافَةِ، وَاسْتِخْبَارِهِمْ عَنْ إِلْحَاقِ الولد.

Adapun jawaban mengenai kisah Umar radhiyallahu ‘anhu dalam menetapkan nasab anak kepada dua orang, maka sesungguhnya riwayat tentang kisah ini berbeda-beda. Asy-Syafi‘i meriwayatkan dalam kitab “Al-Umm” dari Ibnu ‘Iyadh, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Yahya bin ‘Abdurrahman bin Hatib, bahwa ada dua orang laki-laki yang saling mengklaim seorang anak. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu memanggil para qāfah, lalu mereka berkata: “Keduanya telah bersekutu dalam anak ini.” Umar pun bertanya: “Kepada siapa di antara keduanya anak ini lebih kuat keterkaitannya?” Diriwayatkan bahwa ia memanggil para wanita tua dari Quraisy, lalu mereka berkata: “Yang pertama telah menggaulinya, lalu ia hamil darinya, kemudian ia haid sehingga janin itu melemah, lalu yang kedua menggaulinya sehingga janin itu menjadi kuat dengan air mani yang kedua, sehingga anak itu mengambil kemiripan dari keduanya.” Maka Umar berkata: “Allahu Akbar,” dan menetapkan nasab anak kepada yang lebih dekat. Jika terdapat perbedaan riwayat dalam kisah ini, maka tidak bisa dijadikan sandaran, bahkan kisah ini menjadi dalil bagi kami karena mereka sepakat di dalamnya untuk menggunakan qāfah dan meminta keterangan mereka dalam menetapkan nasab anak.

وأما الجواب عن قياسهم على إلحافه بِأَبَوَيْهِ مَعَ انْتِقَاضِهِ بِدَعْوَى الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ فَهُوَ أَنَّ الْأَبَ وَالْأُمَّ هُمَا مُشْتَرِكَانِ فِي وَطْءٍ وَاحِدٍ، فَلَحِقَ الْوَلَدُ بِهِمَا وَالرَّجُلَانِ لَا يَشْتَرِكَانِ فِي وَطْءٍ وَاحِدٍ، فَلَمْ يُلْحَقَ الْوَلَدُ بِهِمَا.

Adapun jawaban atas qiyās mereka dengan menyamakan (nasab anak) kepada kedua orang tuanya, meskipun qiyās tersebut dapat dibatalkan dengan kasus pengakuan antara Muslim dan kafir, maka jawabannya adalah bahwa ayah dan ibu sama-sama berperan dalam satu hubungan (persetubuhan), sehingga anak dinisbatkan kepada keduanya. Sedangkan dua orang laki-laki tidak mungkin bersekutu dalam satu hubungan (persetubuhan), maka anak tidak dinisbatkan kepada keduanya.

وأما الجواب عن استدلالهم بالولاء تَعْلِيلًا بِالتَّوَارُثِ بِهَا، فَلَيْسَتِ الْأَنْسَابُ مُعْتَبَرَةٌ بِالتَّوَارُثِ لِثُبُوتِ الْأَنْسَابِ مَعَ عَدَمِ التَّوَارُثِ بِالرِّقِّ، وَاخْتِلَافِ الدِّينِ، ثُمَّ الْمَعْنَى فِي الْوَلَاءِ حُدُوثُهُ عَنْ مِلْكٍ، لَا يَمْتَنِعُ فِيهِ الِاشْتِرَاكُ، وَحُدُوثُ النَّسَبِ عَنْ وَطْءٍ وَاحِدٍ، يَمْتَنِعُ فِيهِ الِاشْتِرَاكُ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan menggunakan al-walā’ sebagai alasan pewarisan dengannya, maka nasab tidak dijadikan pertimbangan dalam pewarisan, karena nasab tetap ada meskipun tidak terjadi pewarisan akibat perbudakan atau perbedaan agama. Selanjutnya, makna dalam al-walā’ adalah terjadinya karena kepemilikan, yang tidak menghalangi adanya persekutuan di dalamnya, sedangkan terjadinya nasab berasal dari satu hubungan biologis, yang tidak mungkin terjadi persekutuan di dalamnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ، بِأَنَّهُ لَمَّا لَحِقَ بِذَكَرٍ وَأُنْثَى، لَحِقَ بِذَكَرَيْنِ وَأُنْثَى، فَقَدْ تَقَدَّمَ بِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنِ امْتِنَاعِهِ أَنْ يُخْلَقَ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ مَاءٍ، مِنْ وَاحِدٍ، أَوِ اثْنَيْنِ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka, bahwa karena ia dapat mengikuti (hukum) laki-laki dan perempuan, maka ia juga dapat mengikuti (hukum) dua laki-laki dan seorang perempuan, telah dijelaskan sebelumnya dengan apa yang telah kami sebutkan tentang kemustahilan ia diciptakan dari air mani setelah air mani, baik dari satu orang maupun dua orang.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَ أَحَدُ الْوَاطِئَيْنِ زَوْجًا وَطْئِهَا فِي نِكَاحٍ صَحِيحٍ، وَالْآخَرُ أَجْنَبِيًّا، وَطْئِهَا بِشُبْهَةٍ كَانَا فِي اسْتِلْحَاقِ الْوَلَدِ سَوَاءً، وَيُلْحِقُهُ الْقَافَةُ بِأَشْبَهِهِمَا بِهِ، وَقَالَ مَالِكٌ يُلْحَقُ بِالزَّوْجِ مِنْ غَيْرِ قَافَةٍ لِقُوَّتِهِ بِالنِّكَاحِ، وَتَمَيُّزِهِ بِالِاسْتِبَاحَةِ.

Jika salah satu dari dua orang yang menggauli adalah suami yang menggaulinya dalam pernikahan yang sah, dan yang lainnya adalah orang asing yang menggaulinya karena syubhat, maka keduanya dalam hal penetapan nasab anak adalah sama. Para ahli qāfah akan menetapkan nasab anak kepada siapa di antara keduanya yang paling mirip dengannya. Malik berpendapat bahwa anak tersebut dinasabkan kepada suami tanpa perlu qāfah, karena kuatnya hubungan melalui pernikahan dan keistimewaannya dalam hal kebolehan (menggauli).

وَدَلِيلُنَا: هُوَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَوِ انْفَرَدَ، لَكَانَ الْوَلَدُ لَاحِقًا بِهِ فَوَجَبَ إِذَا اجْتَمَعَا أَنْ يَسْتَوِيَا فِي اسْتِلْحَاقِهِ لِاسْتِوَائِهِمَا فِي السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِلُحُوقِهِ.

Dan dalil kami adalah bahwa masing-masing dari keduanya, jika berdiri sendiri, maka anak itu akan dinisbatkan kepadanya. Maka wajib, apabila keduanya berkumpul, keduanya disamakan dalam penetapan nasab anak itu, karena keduanya sama dalam sebab yang mewajibkan penetapan nasab tersebut.

وَلَيْسَ اخْتِصَاصُ أَحَدِهِمَا بِالِاسْتِبَاحَةِ مُوجِبًا، لِاخْتِصَاصِهِ بِلُحُوقِ الْوَلَدِ كَمَنْ بَاعَ أَمَةً بَعْدَ وَطْئِهَا، وَوَطِئَهَا الْمُشْتَرِي قَبْلَ اسْتِبْرَائِهَا وَجَاءَتْ بِوَلَدٍ يُمْكِنُ لُحُوقُهُ، بِهِمَا اسْتَوَيَا فِي اسْتِلْحَاقِهِ وَأَلْحَقَهُ الْقَافَةُ بِمُشْبِهِهِ.

Kekhususan salah satu dari mereka dalam hal kebolehan (istibāhah) tidaklah menjadi alasan untuk mengkhususkan salah satu dari mereka dalam hal nasab anak, seperti seseorang yang menjual seorang budak perempuan setelah menggaulinya, lalu pembeli juga menggaulinya sebelum masa istibrā’ (penyucian rahim) selesai, kemudian budak perempuan itu melahirkan anak yang secara kemungkinan bisa dinisbatkan kepada keduanya; maka keduanya sama dalam hal penetapan nasab, dan ahli qāfah (pakar ilmu kemiripan fisik) akan menisbatkan anak itu kepada siapa yang paling mirip dengannya.

وَإِنْ كَانَ وَطْءُ الْبَائِعِ مُبَاحًا وَوَطْءُ الْمُشْتَرِي مَحْظُورًا.

Dan jika hubungan suami istri yang dilakukan oleh penjual itu diperbolehkan, sedangkan hubungan suami istri yang dilakukan oleh pembeli itu dilarang.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ وُجُوبُ الْحُكْمِ بِالْقِيَافَةِ فِي الْأَنْسَابِ، إِذَا اشْتَبَهَتْ بَعْدَ الِاشْتِرَاكِ فِي أَسْبَابِ لُحُوقِهَا، فَالْكَلَامُ فِيهَا يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ:

Maka apabila telah ditetapkan kewajiban menetapkan hukum dengan qiyāfah dalam nasab, ketika terjadi kesamaran setelah adanya kesamaan dalam sebab-sebab yang menyebabkan keterkaitan nasab tersebut, maka pembahasan tentangnya mencakup empat bagian:

أَحَدُهَا: صِفَةُ الْقَائِفِ.

Salah satunya: sifat orang yang melakukan qiyāfah.

وَالثَّانِي: صِفَةُ القيافة.

Kedua: sifat qiyāfah.

الثالث: الْمُوجِبُ لَهَا.

Ketiga: Hal yang mewajibkannya.

وَالرَّابِعُ: نُفُوذُ الْحُكْمِ بِهَا.

Keempat: berlakunya keputusan dengannya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِي صِفَةِ الْقَائِفِ، فَيَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ شُرُوطٍ، يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ بِهَا قَائِفًا – وَهُوَ: أَنْ يَكُونَ رَجُلًا حُرًّا، عَدْلًا، عَالِمًا، لِأَنَّهُ مُتَرَدِّدُ الْحَالِ بَيْنَ حُكْمٍ، وَشَهَادَةٍ، فَاعْتُبِرَتْ فِيهِ هَذِهِ الشُّرُوطُ الْأَرْبَعَةُ، فَإِنْ كَانَ امْرَأَةً أَوْ عَبْدًا، أَوْ فَاسِقًا أَوْ غَيْرَ عَالِمٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ قَائِفًا. وَعِلْمُهُ ضَرْبَانِ:

Adapun bagian pertama: tentang sifat-sifat seorang qā’if, maka terdapat empat syarat yang harus dipenuhi agar seseorang sah menjadi qā’if, yaitu: harus laki-laki, merdeka, adil, dan berilmu. Hal ini karena kedudukan qā’if berada di antara hukum dan kesaksian, sehingga keempat syarat ini dipertimbangkan padanya. Jika ia seorang perempuan, budak, fasik, atau tidak berilmu, maka tidak sah menjadi qā’if. Ilmunya terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: عِلْمُهُ بِالْقِيَافَةِ.

Salah satunya adalah pengetahuannya tentang ilmu qiyāfah.

وَالثَّانِي: عِلْمُهُ بِالْفِقْهِ.

Yang kedua: pengetahuannya tentang fiqh.

فَأَمَّا عِلْمُهُ بِالْقِيَافَةِ، فَهُوَ الْمَقْصُودُ مِنْهُ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا فِيهِ وَمُخْتَبَرًا عَلَيْهِ، وَاخْتِبَارُهُ فِيهِ أَنْ يُجَرَّبَ فِي غَيْرِ الْمُتَنَازِعِينَ، بِأَنْ يُضَمَّ وَلَدٌ مَعْرُوفُ النَّسَبِ، إِلَى جَمَاعَةٍ لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ أَبٌ، وَيُقَالُ لَهُ: مَنْ أَبُوهُ مِنْهُمْ؟ وَلَا يُقَالُ أَلْحِقْهُ بِأَبِيهِ مِنْهُمْ، لِأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ أَبٌ، فَإِذَا قَالَ: لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ أَبٌ، ضَمَّهُ ذَلِكَ الْوَلَدُ إِلَى جَمَاعَةٍ لَهُ فِيهَا أَبٌ، وَقِيلَ لَهُ: أَلْحِقْهُ بِأَبِيهِ مِنْهُمْ، لِأَنَّ لَهُ فِيهِمْ أَبًا، فَإِنْ أَلْحَقَهُ بِأَبِيهِ مِنْهُمْ، عُرِفَ أَنَّهُ عَالِمٌ بِالْقِيَافَةِ.

Adapun pengetahuannya tentang qiyāfah, maka itulah yang dimaksudkan darinya, sehingga harus dipertimbangkan dan diuji padanya. Cara mengujinya adalah dengan mencobanya pada orang-orang yang tidak sedang bersengketa, yaitu dengan mengumpulkan seorang anak yang diketahui nasabnya bersama sekelompok orang yang tidak ada ayahnya di antara mereka, lalu dikatakan kepadanya: “Siapa ayahnya di antara mereka?” dan tidak dikatakan: “Sandarkanlah dia kepada ayahnya di antara mereka,” karena memang tidak ada ayahnya di antara mereka. Jika ia mengatakan: “Tidak ada ayahnya di antara mereka,” maka anak itu dikumpulkan bersama sekelompok orang yang di antara mereka ada ayahnya, lalu dikatakan kepadanya: “Sandarkanlah dia kepada ayahnya di antara mereka,” karena memang ada ayahnya di antara mereka. Jika ia menyandarkannya kepada ayahnya di antara mereka, maka diketahui bahwa ia adalah orang yang berilmu tentang qiyāfah.

وَإِنْ أَخْطَأَ فِي الْأَوَّلِ فَأَلْحَقَهُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمْ، أَوْ أَخْطَأَ فِي الثَّانِي فَأَلْحَقَهُ بِغَيْرِ أبيه منهم، علم بأنه غير عالم بالقيامة، وَلَا يُقْنَعُ، إِذَا أَصَابَ مَرَّةً أَنْ يُجَرَّبَ فِي ثَانِيَةٍ، وَثَالِثَةٍ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُصِيبَ فِي الْأَوَّلَةِ، اتِّفَاقًا وَفِي الثَّانِيَةِ، ظَنًّا وَفِي الثَّالِثَةِ يَقِينًا، فَإِذَا وُثِقَ بِعِلْمِهِ عُمِلَ عَلَى قَوْلِهِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَخْتَبِرَ ثَانِيَةً بَعْدَ الْمَعْرِفَةِ بِعِلْمِهِ.

Jika ia salah dalam yang pertama lalu menyamakannya dengan salah satu dari mereka, atau ia salah dalam yang kedua lalu menyamakannya dengan selain ayahnya dari mereka, maka diketahui bahwa ia tidak mengetahui tentang qiyāmah, dan tidak cukup jika ia benar sekali lalu diuji lagi pada kali kedua dan ketiga, karena bisa jadi ia benar pada yang pertama secara kebetulan, pada yang kedua karena dugaan, dan pada yang ketiga dengan keyakinan. Maka jika telah dipercaya ilmunya, pendapatnya dapat diikuti dan tidak wajib mengujinya lagi setelah diketahui ilmunya.

وَأَمَّا عِلْمُ الْفِقْهِ فَإِنْ نَزَلَ بِهِ مَنْزِلَةَ الْمُخَيَّرِ لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى عِلْمِ الْفِقْهِ وَإِنْ نَزَلَ مَنْزِلَةَ الْحَاكِمِ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ، مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَ حَالَتَيْهِ اعْتُبِرَ فِيهِ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ، مَا اخْتَصَّ بِلُحُوقِ الْأَنْسَابِ وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ الْعِلْمُ بِجَمِيعِ الْفِقْهِ، لِأَنَّ اعْتِبَارَهُ فِي الْقَافَةِ مُتَعَذِّرًا. وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ فِي بَنِي مُدْلِجٍ، وَلَا مِنَ الْعَرَبِ، إِذَا تَكَامَلَتْ فِيهِ شُرُوطُ الْقِيَافَةِ، وَوَهِمَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا، فَقَالَ: لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ إِلَّا مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ، لِاخْتِصَاصِهِمْ بِعِلْمِ الْقِيَافَةِ طَبْعًا فِي خَلْقِهِمْ، وَهَذَا لَا وَجْهَ لَهُ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْقِيَافَةِ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُعْدَمَ فِي بَنِي مُدْلِجٍ، وَيُوجَدَ فِي غَيْرِ بَنِي مُدْلِجٍ، وَإِنْ كَانَ الْأَغْلَبُ وُجُودُهُ فِي بَنِي مُدْلِجٍ.

Adapun ilmu fiqh, jika seseorang menempatkannya pada posisi orang yang diberi pilihan, maka ia tidak membutuhkan ilmu fiqh. Namun jika ia menempatkannya pada posisi hakim, sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti tentang perbedaan antara kedua keadaannya, maka yang dipertimbangkan dari ilmu fiqh adalah yang berkaitan khusus dengan penetapan nasab, dan tidak disyaratkan mengetahui seluruh ilmu fiqh, karena mempertimbangkan seluruhnya dalam masalah qiyāfah adalah sesuatu yang sulit. Tidak disyaratkan pula harus berasal dari Bani Mudlij, atau dari kalangan Arab, selama telah terpenuhi padanya syarat-syarat qiyāfah. Sebagian ulama kami keliru dengan mengatakan bahwa tidak sah kecuali dari Bani Mudlij, karena mereka secara tabiat diciptakan memiliki ilmu qiyāfah. Pendapat ini tidak berdasar, karena tujuan dari qiyāfah bisa saja tidak terdapat pada Bani Mudlij, dan justru ditemukan pada selain mereka, meskipun kebanyakan memang terdapat pada Bani Mudlij.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي صِفَةِ الْقِيَافَةِ، فَالْمُعْتَبِرُ فِيهَا التَّشَابُهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun bagian kedua membahas tentang sifat qiyāfah, maka yang menjadi pertimbangan di dalamnya adalah kemiripan dari empat aspek:

أَحَدُهَا: تَخْطِيطُ الْأَعْضَاءِ وَأَشْكَالُ الصُّورَةِ.

Salah satunya adalah menggambar anggota-anggota tubuh dan bentuk-bentuk gambar.

وَالثَّانِي: فِي الْأَلْوَانِ وَالشُّعُورِ.

Yang kedua: dalam hal warna dan rambut.

وَالثَّالِثُ: فِي الْحَرَكَاتِ وَالْأَفْعَالِ.

Ketiga: dalam gerakan-gerakan dan perbuatan-perbuatan.

وَالرَّابِعُ: فِي الْكَلَامِ، وَالصَّوْتِ، وَالْحِدَّةِ، وَالْأَنَاةِ، وَلَئِنْ جَازَ أَنْ تَخْتَلِفَ هَذِهِ الْأَرْبَعَةُ فِي الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي الظَّاهِرِ الْجَلِيِّ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا، فِي الْبَاطِنِ تَشَابُهٌ خَفِيٌّ، وَلَئِنْ لَمْ يَكُنْ فِي جَمِيعِهَا لِغَلَبَةِ التَّشَابُهِ بِالْأُمَّهَاتِ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِي بَعْضِهَا لِأَنَّ الْمَوْلُودَ مِنْ أَبْيَضَ، وَأَسُودَ، لَا يَكُونُ أَبْيَضَ مَحْضًا، وَلَا أَسْوَدَ مَحْضًا فَيَكُونُ فِيهِ مِنَ الْبَيَاضِ، مَا يُقَارِبُ الْأَبْيَضِ، وَمِنَ السَّوَادِ مَا يُقَارِبُ بالسواد.

Keempat: dalam hal ucapan, suara, temperamen, dan kesabaran. Jika keempat hal ini boleh jadi berbeda antara ayah dan anak secara lahiriah yang tampak jelas, maka pasti di antara keduanya, secara batin, terdapat kemiripan yang tersembunyi. Dan jika tidak terdapat pada semuanya karena dominannya kemiripan dengan ibu, maka pasti ada pada sebagian di antaranya. Sebab, anak yang lahir dari orang tua berkulit putih dan hitam, tidak akan menjadi putih murni atau hitam murni, melainkan pada dirinya terdapat unsur putih yang mendekati putih, dan unsur hitam yang mendekati hitam.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْوَلَدِ مَعَ الْمُتَنَازِعَيْنِ فِيهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Jika demikian, maka keadaan anak yang diperselisihkan oleh dua pihak tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ أَحَدِهِمَا، وَلَيْسَ فِيهِ شَبَهٌ مِنَ الْآخَرِ، فَيَلْحَقُ بِمَنْ فِيهِ شَبَهُهُ، وَيُنْفَى عَمَّنْ لَيْسَ فِيهِ شَبَهُهُ، وَسَوَاءٌ كَانَ الشَّبَهُ بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيعِ الْوُجُوهِ، أَوْ من بعضها ظَاهِرًا كَانَ أَوْ خَفْيًا.

Salah satunya: jika pada anak terdapat kemiripan dengan salah satu dari keduanya, dan tidak ada kemiripan dengan yang lainnya, maka anak itu dinisbatkan kepada yang ada kemiripannya, dan dinafikan dari yang tidak ada kemiripannya, baik kemiripan itu dari seluruh aspek atau sebagian saja, baik tampak jelas maupun tersembunyi.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ، مِنْهُمَا فَلَا يَكُونُ فِي الْقِيَافَةِ بَيَانٌ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُنْفَى عَنْهَا، لِأَنَّ نَسَبَهُ مَوْقُوفٌ عَلَيْهِمَا، فَيُعْدَلُ إِلَى الْوَقْفِ عَلَى الِانْتِسَابِ، عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ.

Bagian kedua: yaitu apabila tidak terdapat kemiripan dari masing-masing keduanya, maka dalam qiyāfah tidak ada penjelasan, dan tidak boleh pula menafikan darinya, karena nasabnya tergantung pada keduanya. Maka, keputusan dikembalikan kepada penangguhan penetapan nasab, sebagaimana akan kami jelaskan.

والْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَهَذَا عَلَى خَمْسَةِ أَضْرُبٍ:

Bagian ketiga: yaitu apabila terdapat kemiripan dari masing-masing keduanya, maka ini terbagi menjadi lima macam.

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَمَاثَلَ الشَّبَهَانِ، وَلَا يَتَرَجَّحَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ بِشَيْءٍ، فَلَا يَكُونُ فِي الْقِيَافَةِ بَيَانٌ، وَيَعْدِلُ إِلَى غَيْرِهَا.

Salah satunya: apabila kedua kemiripan itu sama dan tidak ada salah satunya yang lebih kuat dari yang lain dalam hal apa pun, maka tidak ada penjelasan dalam qiyāfah, dan beralihlah kepada selainnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي، أَنْ يَتَمَاثَلَ الشَّبَهُ بَيْنَهُمَا فِي الْعَدَدِ، وَيَخْتَلِفَا فِي الظُّهُورِ، وَالْخَفَاءِ، يَكُونُ فِيهِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا شَبَهَانِ، وَهُوَ فِي أَحَدِهِمَا ظَاهِرٌ، وَفِي الْآخَرِ خَفِيٌّ، فَيُلْحَقُ بِمَنْ ظَهَرَ مِنْهُ الشَّبَهُ دُونَ مَنْ خَفِي فِيهِ.

Jenis kedua adalah apabila kemiripan antara keduanya sama dalam jumlah, namun berbeda dalam hal yang tampak dan yang tersembunyi. Pada masing-masing dari keduanya terdapat dua kemiripan; pada salah satunya kemiripan itu tampak jelas, sedangkan pada yang lain tersembunyi. Maka, yang diikutkan adalah yang kemiripannya tampak jelas, bukan yang tersembunyi.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَتَمَاثَلَا فِي الظُّهُورِ، وَالْخَفَاءِ، وَيَخْتَلِفَانِ فِي الْعَدَدِ، فَيَكُونُ الشَّبَهُ فِي أَحَدِهِمَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ، وَفِي الْآخَرِ مِنْ وَجْهَيْنِ، فَيَلْحَقُ بِمَنْ زَادَ عَدَدُ الشَّبَهِ فِيهِ دُونَ مَنْ قَلَّ.

Jenis ketiga: keduanya serupa dalam hal tampak dan tersembunyi, namun berbeda dalam jumlah. Maka kemiripan pada salah satunya terdapat pada tiga aspek, sedangkan pada yang lain hanya pada dua aspek. Maka yang diikuti adalah yang jumlah kemiripannya lebih banyak, bukan yang lebih sedikit.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ الشَّبَهُ فِي أَحَدِهِمَا أَكْثَرَ عَدَدًا، وَأَظْهَرَ شَبَهًا، وَهُوَ فِي الْآخِرِ أَقَلُّ، وَأَخْفَى، فَيُلْحَقُ بِمَنْ كَثُرَ فِيهِ عَدَدُ الشَّبَهِ، وَظَهَرَ دُونَ مَنْ قَلَّ، فِيهِ وَخَفِيَ، وَهُوَ أَقْوَى مِنَ الضَّرْبَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ.

Golongan keempat adalah apabila kemiripan pada salah satunya lebih banyak jumlahnya dan lebih jelas kemiripannya, sedangkan pada yang lain lebih sedikit dan lebih samar. Maka, yang lebih banyak dan lebih jelas kemiripannya dijadikan acuan, bukan yang lebih sedikit dan lebih samar, dan ini lebih kuat daripada dua golongan sebelumnya.

وَالضَّرْبُ الْخَامِسُ: أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا فِي الشَّبَهِ أَكْثَرَ عَدَدًا، وَأَخْفَى شَبَهًا، وَالْآخَرُ أَقَلَّ عَدَدًا، وَأَظْهَرَ شَبَهًا، فَيَكُونُ الشَّبَهُ فِي أَحَدِهِمَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ خَفِيَّةٍ، وَفِي الْآخَرِ من وجهين ظاهرين، ففه وَجْهَانِ:

Jenis kelima: yaitu apabila salah satu dari keduanya memiliki jumlah kemiripan yang lebih banyak namun kemiripannya lebih samar, sedangkan yang lain jumlah kemiripannya lebih sedikit namun kemiripannya lebih jelas. Maka kemiripan pada salah satunya terdapat pada tiga aspek yang samar, dan pada yang lain terdapat pada dua aspek yang jelas. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُرَجِّحُ كَثْرَةَ الْعَدَدِ عَلَى ظُهُورِ الشَّبَهِ، فَيُلْحَقُ بِمَنْ فِيهِ الشَّبَهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ خَفِيَّةٍ، تَغْلِيبًا لِزِيَادَةِ التَّشَابُهِ.

Salah satu di antaranya: mengutamakan jumlah yang lebih banyak atas kemunculan kemiripan, sehingga disamakan dengan pihak yang memiliki kemiripan dari tiga sisi yang tersembunyi, dengan mengedepankan banyaknya kesamaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُرَجَّحُ ظُهُورُ الشَّبَهِ عَلَى كَثْرَةِ الْعَدَدِ، فَيُلْحَقُ بِمَنْ فِيهِ الشَّبَهُ مِنْ وَجْهَيْنِ ظَاهِرَيْنِ، تَغْلِيبًا لِقُوَّةِ التَّشَابُهِ. فَهَذَا أَصْلٌ فِي اعْتِبَارِ التَّشَابُهِ فِي الْقِيَافَةِ، وَقَدْ يَخْتَلِفُ فَطِنَ الْقَافَةُ فَمِنْهُمْ مَنْ تَكُونُ فِطْنَتُهُ مِنْ أَعْدَادِ التَّشَابُهِ أَقْوَى، وَمِنْهُمْ مَنْ تَكُونُ فِطْنَتُهُ فِي قُوَّةِ التَّشَابُهِ أَقْوَى، فَيَعْتَمِدُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى مَا فِي قُوَّةِ فِطْنَتِهِ، تَغْلِيبًا لِقُوَّةِ حِسِّهِ، فَإِنْ كَانَ الْقَائِفُ عَارِفًا بِأَحْكَامِ هَذِهِ الْأَقْسَامِ، جَازَ أَنْ يَكُونَ فِيهَا مُخْبِرًا، وَحَاكِمًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَارِفًا بِأَحْكَامِهَا كَانَ فِيهَا مُخْبِرًا، وَلَمْ يَكُنْ فِيهَا حَاكِمًا، لِيَحْكُمَ بِهَا مِنَ الْحُكَّامِ مَنْ يَعْلَمُهَا، وَيَجْتَهِدُ رَأْيَهُ فِيهَا.

Pendapat kedua: yang diutamakan adalah kemiripan yang tampak daripada banyaknya jumlah, sehingga seseorang disandarkan kepada pihak yang memiliki kemiripan dari dua sisi yang jelas, dengan mengedepankan kekuatan kemiripan. Ini adalah prinsip dalam mempertimbangkan kemiripan dalam ilmu qiyāfah, dan bisa jadi kecerdasan para ahli qiyāfah berbeda-beda; di antara mereka ada yang kecerdasannya lebih kuat dalam menghitung jumlah kemiripan, dan ada pula yang kecerdasannya lebih kuat dalam menilai kekuatan kemiripan. Maka, masing-masing dari mereka akan bergantung pada apa yang menjadi kekuatan kecerdasannya, dengan mengedepankan kekuatan indranya. Jika ahli qiyāfah itu mengetahui hukum-hukum dari kategori ini, maka boleh baginya untuk menjadi pemberi informasi dan juga hakim dalam perkara tersebut. Namun jika ia tidak mengetahui hukumnya, maka ia hanya boleh menjadi pemberi informasi, dan tidak boleh menjadi hakim, agar yang memutuskan perkara tersebut adalah hakim yang mengetahui hukumnya dan berijtihad dalam menentukannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ: فِي الْمُوجِبِ لِاسْتِعْمَالِ الْقَافَةِ، فَالتَّنَازُعُ فِي الْوَلَدِ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian ketiga: tentang sebab digunakannya al-qāfah, maka perselisihan mengenai anak itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِنْ لَقِيطٍ لَا يُعْرَفُ لِلْمُتَنَازِعَيْنِ فِيهِ فَرَاشٌ، فَلَا يَخْلُو حَالُ الْوَلَدِ مِنْ أَنْ يَكُونَ صَغِيرًا، أَوْ كَبِيرًا، فَإِنْ كَانَ كَبِيرًا بَالِغًا عَاقِلًا تَوَجَّهَتِ الدَّعْوَى عَلَيْهِ، وَكَانَ الْجَوَابُ مَأْخُوذًا مِنْهُ. فَإِنْ صَدَّقَ أَحَدَهُمَا، وَكَذَّبَ الْآخَرَ، لَحِقَ بِالْمُصَدِّقِ، وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ لِلْمُكَذَّبِ، لِأَنَّهُ لَوْ رَجَعَ عَنْ إِقْرَارِهِ لَمْ يُقْبَلْ، وَلَمْ يُغْرَمْ وَإِنْ كَذَّبَهُمَا حَلَفَ لَهُمَا، وَلَمْ يحلق بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، لِأَنَّهُ لَوْ أَقَرَّ قَبْلَ التَّكْذِيبِ قُبِلَ إِقْرَارُهُ، وَإِنْ قَالَ: أَنَا ابْنُ وَاحِدٍ مِنْكُمَا وَلَسْتُ أَعْرِفُهُ بِعَيْنِهِ، رُجِعَ إِلَى الْقَافَةِ فِي إِلْحَاقِهِ، بِأَحَدِهِمَا فَإِنْ عُدِمُوا أُخِذَ الْوَلَدُ جَبْرًا بِالِانْتِسَابِ إِلَى أَحَدِهِمَا غَيْبًا، فَإِنْ سَلَّمَهُ أَحَدُ الْمُتَنَازِعَيْنِ إِلَى الْآخَرِ، فَإِنْ كَانَ قَبْلَ الْقَافَةِ وَالِانْتِسَابِ، جَازَ وَصَارَ وَلَدًا لِمَنْ سُلِّمَ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِنَسَبِهِ، إِمَّا بَعْدَ الْقَافَةِ، أَوْ بَعْدَ الِانْتِسَابِ لَمْ يَجُزْ.

Pertama: Jika anak tersebut adalah dari seorang laqīṭ (anak temuan) yang tidak diketahui bagi kedua orang yang bersengketa atasnya adanya farāsy (tempat tidur pernikahan/suami-istri), maka keadaan anak itu tidak lepas dari dua kemungkinan: masih kecil atau sudah dewasa. Jika ia sudah dewasa, baligh, dan berakal, maka gugatan diarahkan kepadanya, dan jawaban diambil darinya. Jika ia membenarkan salah satu dari keduanya dan mendustakan yang lain, maka ia dinisbatkan kepada yang dibenarkannya, dan tidak ada sumpah atasnya untuk yang didustakan, karena jika ia menarik kembali pengakuannya, tidak diterima, dan ia tidak menanggung apa pun. Jika ia mendustakan keduanya, maka ia bersumpah kepada keduanya, dan ia tidak dinisbatkan kepada salah satu dari mereka, karena jika ia mengakui sebelum mendustakan, pengakuannya diterima. Jika ia berkata, “Aku adalah anak salah satu dari kalian berdua, tetapi aku tidak mengetahui secara pasti siapa di antara kalian,” maka dikembalikan kepada qāfah (ahli ilmu tanda-tanda fisik) dalam penetapan nasabnya kepada salah satu dari mereka. Jika qāfah tidak ada, maka anak tersebut diambil secara paksa untuk dinisbatkan kepada salah satu dari mereka secara acak. Jika salah satu dari kedua orang yang bersengketa menyerahkan anak itu kepada yang lain, maka jika penyerahan itu sebelum adanya qāfah dan penetapan nasab, maka itu boleh dan anak itu menjadi anak bagi orang yang diserahi. Namun jika penyerahan itu setelah adanya putusan nasab, baik setelah qāfah maupun setelah penetapan nasab, maka tidak boleh.

وَإِنْ كَانَ الْوَلَدُ صَغِيرًا غَيْرَ مُمَيِّزٍ، أَوْ كَانَ بَالِغًا مَجْنُونًا، اسْتُعْمِلَ فِيهِ القَافَةُ، وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ إِقْرَارٌ وَلَا فِرَاشٌ، فَإِنْ أَلْحَقَهُ الْقَافَةُ بِأَحَدِهِمَا لَحِقَ بِهِ وَإِنْ عُدِمُوا أَوْ أَشْكَلَ عَلَيْهِمْ، وُقِفَ إِلَى زَمَانِ الِانْتِسَابِ فَإِنْ سَلَّمَهُ أَحَدُهُمَا إِلَى الْآخَرِ، كَانَ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ جَوَازِهِ قَبْلَ إِلْحَاقِهِ، وَبُطْلَانِهِ بَعْدَ إِلْحَاقِهِ.

Jika anak tersebut masih kecil dan belum mumayyiz, atau sudah dewasa namun gila, maka dalam hal ini digunakan metode al-qāfah, dan tidak dianggap adanya pengakuan maupun status firāsy. Jika al-qāfah menetapkan nasab anak itu kepada salah satu dari keduanya, maka anak itu dinisbatkan kepadanya. Namun jika al-qāfah tidak ada atau mereka bingung, maka penetapan nasab ditangguhkan sampai masa pengakuan. Jika salah satu dari keduanya menyerahkan anak itu kepada yang lain, maka berlaku sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu boleh sebelum penetapan nasab, dan batal setelah penetapan nasab.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ عَنْ فِرَاشٍ وَقَعَ فِيهِ التَّنَازُعُ، فَاسْتِعْمَالُ الْقِيَافَةِ فِيهِ مُعْتَبَرٌ، بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Jenis kedua: yaitu apabila anak berasal dari pernikahan yang sah namun terjadi perselisihan mengenai nasabnya, maka penggunaan ilmu qiyāfah dalam hal ini dianggap sah dengan tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْفِرَاشُ مُشْتَرِكًا بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ فِيهِ، فَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ أَحَدُهُمَا، كَانَ وَلَدًا لِصَاحِبِ الْفِرَاشِ مِنْ غَيْرِ قِيَافَةٍ، وَإِنْ كَانَ شَبَهُهُ بِغَيْرِ صَاحِبِ الْفِرَاشِ أَقْوَى.

Salah satunya: Tempat tidur harus dimiliki bersama oleh kedua orang yang bersengketa atas anak tersebut. Jika hanya salah satu dari mereka yang menguasai tempat tidur itu, maka anak tersebut menjadi anak dari pemilik tempat tidur tanpa perlu dilakukan qiyāfah, meskipun kemiripan anak itu dengan selain pemilik tempat tidur lebih kuat.

فَلَوْ أَنَّ زَوْجًا شَكَّ فِي وَلَدِهِ مِنْ زَوْجَتِهِ، فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَعْمِلَ فِيهِ الْقَافَةُ لَمْ يَجُزْ، لِأَنَّ الْقَافَةَ لَا تَنْفِي مَا لَحِقَ بِالْفِرَاشِ.

Maka jika seorang suami ragu terhadap anaknya dari istrinya, lalu ia ingin menggunakan metode al-qāfah terhadap anak tersebut, maka hal itu tidak diperbolehkan, karena al-qāfah tidak dapat menafikan anak yang telah dinisbatkan kepada ranjang (nasab pernikahan).

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ اشْتِرَاكُهُمَا فِي الْفِرَاشِ مُوجِبًا لِلُحُوقِ الْوَلَدِ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، لَوِ انْفَرَدَ، فَإِنْ كَانَ لَا يَلْحَقُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَوِ انْفَرَدَ، لِأَنَّهُمَا زَانِيَانِ بَطَلَتْ دَعْوَاهُمَا فِيهِ، وَلَمْ يَلْحَقْ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا وَإِنْ كَانَ يَلْحَقُ بِأَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ، لِأَنَّ أَحَدَهُمَا زَانٍ، وَالْآخِرَ لَيْسَ بِزَانٍ، بَطَلَ تَنَازُعُهُمَا، وَلَمْ تُسْتَعْمَلِ الْقَافَةُ فِيهِ، وَكَانَ لَاحِقًا بِصَاحِبِ الْفِرَاشِ، دُونَ الزَّانِي لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ “.

Syarat kedua: Hendaknya kebersamaan keduanya dalam satu ranjang menyebabkan anak tersebut dapat dinasabkan kepada masing-masing dari mereka, seandainya salah satu dari mereka saja yang ada. Jika anak tersebut tidak dapat dinasabkan kepada masing-masing dari mereka seandainya berdiri sendiri, karena keduanya adalah pezina, maka gugurlah klaim mereka berdua terhadap anak itu, dan anak tersebut tidak dinasabkan kepada salah satu dari mereka. Namun, jika anak tersebut dapat dinasabkan kepada salah satu dari mereka saja, karena salah satunya adalah pezina dan yang lainnya bukan pezina, maka gugurlah perselisihan di antara mereka, dan tidak digunakan qāfah (ilmu pencocokan fisik) dalam hal ini, dan anak tersebut dinasabkan kepada pemilik ranjang, bukan kepada pezina, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Anak itu milik pemilik ranjang, dan bagi pezina adalah batu (hukuman).”

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَثْبُتَ فِرَاشُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَثُبُوتُهُ، مُعْتَبَرٌ بِحَالِ الْمُتَنَازِعَيْنِ. فَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا زَوْجًا، وَالْآخَرُ ذَا شُبْهَةٍ، ثَبَتَ فِرَاشُ ذِي الشُّبْهَةِ، بِتَصْدِيقِ الزَّوْجِ، وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ تَصْدِيقُ الْمَوْطُوءَةِ، لِأَنَّ الْفِرَاشَ لِلزَّوْجِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِمَا زَوْجٌ اعْتُبِرَ فِيهِ تَصْدِيقُ الْمَوْطُوءَةِ، لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِنْ كَانَتْ خَالِيَةً مِنْ زَوْجٍ، وَإِنْ كَانَتْ ذَاتَ زَوْجٍ، اعْتُبِرَ فِيهِ تَصْدِيقُ زَوْجِهَا، دُونَهَا، لِأَنَّهُ أَمْلَكُ بِالْفِرَاشِ فِيهَا، وَصَارَ الزوج داخلا معها فِي التَّنَازُعِ، لِأَنَّ لَهُ فِرَاشًا ثَالِثًا، وَلَا يُعْتَبَرُ تَصْدِيقُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ، لِأَنَّ ثُبُوتَ النَّسَبِ حَقٌّ لَهُ وَعَلَيْهِ.

Syarat ketiga: Harus tetap adanya firāsy bagi masing-masing dari keduanya, dan ketetapannya diperhitungkan sesuai keadaan kedua pihak yang bersengketa. Jika salah satu dari keduanya adalah suami, dan yang lainnya adalah orang yang syubhat, maka firāsy orang yang syubhat ditetapkan dengan pengakuan suami, dan tidak diperhitungkan pengakuan perempuan yang digauli, karena firāsy itu milik suami. Jika di antara keduanya tidak ada suami, maka diperhitungkan pengakuan perempuan yang digauli untuk masing-masing dari keduanya, jika ia tidak bersuami. Namun jika ia bersuami, maka yang diperhitungkan adalah pengakuan suaminya, bukan pengakuannya sendiri, karena suami lebih berhak atas firāsy tersebut, dan suami pun turut masuk dalam sengketa, karena ia memiliki firāsy ketiga. Tidak diperhitungkan pengakuan masing-masing dari keduanya terhadap pihak lainnya, karena penetapan nasab adalah hak baginya dan juga menjadi tanggung jawabnya.

فَلَوْ أَنْكَرَتْهَا الْمَوْطُوءَةُ، أَوْ زَوْجُهَا لَمْ يَثْبُتْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا الْفِرَاشُ، وَعَلَى مُنْكِرِهَا الْيَمِينُ. وَلَوِ ادَّعَتِ الْمَوْطُوءَةُ، أَوْ زَوْجُهَا عَلَيْهَا الْفِرَاشَ، وَأَنْكَرَاهُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُمَا مَعَ أَيْمَانِهِمَا، وَلَا فِرَاشَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

Maka jika perempuan yang digauli itu mengingkarinya, atau suaminya mengingkarinya, maka tidak tetap hak firāsh bagi salah satu dari mereka, dan atas orang yang mengingkarinya wajib bersumpah. Dan jika perempuan yang digauli itu, atau suaminya, mengakuinya atas dirinya hak firāsh, lalu keduanya mengingkarinya, maka perkataan diterima dari keduanya beserta sumpah mereka, dan tidak ada hak firāsh atas salah satu dari mereka.

فَإِذَا ثَبَتَ فِرَاشُهُمَا بِمَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّصَادُقِ فِيهِ أَوْ قَامَتْ بِهِ بَيِّنَةٌ مَعَ التَّجَاحُدِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي تَقُومُ بِهِ الْبَيِّنَةُ فِي مِثْلِهِ، تَكَامَلَتْ شُرُوطُ الِاشْتِرَاكِ فِي لُحُوقِ النَّسَبِ وَصَارَ الْفِرَاشُ حَقًّا لَهُمَا، وَحَقًّا عَلَيْهِمَا، فَلَا يَقِفُ عَلَى مُطَالَبَتِهِمَا وَلَا يَجُوزُ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يُسَلِّمَ لِصَاحِبِهِ، لِمَا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ عَلَيْهِ، وَيَسْتَوِي فِيهِ حُكْمُ الْوَلَدِ صَغِيرًا وَكَبِيرًا، وَيُسْتَعْمَلُ الْقَافَةُ فِي إِلْحَاقِهِ بِأَحَدِهِمَا، إِذَا طُولِبَ بِهَا.

Apabila status firāsy keduanya telah tetap dengan pengakuan bersama sebagaimana telah disebutkan, atau telah ada bukti (bayyinah) yang menegaskan hal itu meskipun terjadi saling menyangkal, dengan cara yang sesuai sebagaimana bayyinah ditegakkan dalam kasus serupa, maka seluruh syarat keterkaitan nasab telah sempurna dan firāsy menjadi hak bagi keduanya serta menjadi kewajiban atas keduanya. Maka, hal ini tidak bergantung pada tuntutan dari keduanya, dan tidak boleh salah satu dari mereka menyerahkan hak tersebut kepada yang lain, karena di dalamnya terdapat hak atas dirinya. Hukum anak, baik masih kecil maupun sudah besar, adalah sama dalam hal ini. Qāfah dapat digunakan untuk menetapkan nasab kepada salah satu dari mereka apabila diminta.

وَالَّذِي يَسْتَحِقُّ الْمُطَالَبَةَ بِهَا مَنْ كَانَ قَوْلُهُ فِي الْفِرَاشِ مُعْتَبَرًا، وَالْوَلَدُ إِذَا كَانَ بَالِغًا فَإِنْ لَمْ يَطْلُبِ الْحَاكِمُ بِهَا جَازَ لَهُ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ الْقِيَافَةَ إِذَا عُلِمَ بِالْحَالِ مِنْ غَيْرِ طَلَبِ نِيَابَةٍ عَنِ الصَّغِيرِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَسْتَعْمِلَهَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ، لِأَنَّهُ أَخَصُّ بِطَلَبِ حُقُوقِهِ.

Orang yang berhak untuk menuntut (penetapan nasab) adalah siapa saja yang ucapannya di tempat tidur (yakni, dalam penetapan nasab) dianggap sah. Jika anak tersebut sudah baligh dan hakim tidak menuntutnya, maka hakim boleh menggunakan ilmu qiyāfah untuk kepentingan anak kecil apabila diketahui keadaannya tanpa permintaan sebagai wakil dari anak kecil tersebut. Namun, hakim tidak boleh menggunakannya untuk kepentingan orang dewasa, karena orang dewasa lebih berhak untuk menuntut hak-haknya sendiri.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ: فِي ثُبُوتِ الْحُكْمِ بِلُحُوقِ النَّسَبِ بِقَوْلِ الْقَافَةِ فَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِاسْتِلْحَاقِ النَّسَبِ، وَاسْتِلْحَاقِهِ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian keempat: tentang penetapan hukum dengan penetapan nasab berdasarkan ucapan al-qāfah, maka hal itu dianggap sah dalam hal penetapan nasab, dan penetapan nasab itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي فِرَاشٍ.

Salah satunya adalah karena keduanya berbagi satu tempat tidur.

وَالثَّانِي: إِذَا تَدَاعَيَا لَقِيطًا.

Kedua: apabila keduanya saling mengklaim seorang anak temuan (laqīṭ).

فَإِنْ كَانَ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي فِرَاشٍ، لَمْ يَصِحَّ إِلْحَاقُهُ بِالْقَافَةِ إِلَّا بِحُكْمِ الْحَاكِمِ، لِأَنَّ الْفِرَاشَ قَدْ أَوْجَبَ لَهُمَا حَقًّا، وَأَوْجَبَ عَلَيْهِمَا حَقًّا فِي إِلْحَاقِهِ بِأَحَدِهِمَا، وَنَفْيِهِ عَنِ الْآخَرِ، وَأَلْحَقَ لَهُمَا عَلَى الْوَلَدِ، وَأَلْحَقَ عَلَيْهِمَا لِلْوَلَدِ وَلِذَلِكَ وَجَبَ إِلْحَاقُهُ بِأَحَدِهِمَا، وَإِنْ لَمْ يَتَنَازَعَا فِيهِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسَلِّمَهُ أَحَدُهُمَا إِلَى الْآخَرِ فَكَانَ أَغْلَظُ مِنَ اللِّعَانِ الَّذِي لَا يَصِحُّ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ فَكَانَ هَذَا أَوْلَى أَنْ لَا يَصِحَّ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ، لِأَنَّ اللَّعَّانَ يَخْتَصُّ بِالنَّفْيِ دُونَ الْإِثْبَاتِ، وَالْقِيَافَةُ تَجْمَعُ بَيْنَ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ.

Jika keduanya berbagi satu ranjang, maka penetapan nasab melalui qāfah tidak sah kecuali dengan keputusan hakim, karena ranjang telah memberikan hak kepada keduanya, dan mewajibkan kepada keduanya hak dalam penetapan nasab kepada salah satu dari mereka dan penafian dari yang lain, serta menetapkan hak bagi keduanya atas anak, dan menetapkan hak atas keduanya bagi anak. Oleh karena itu, wajib menetapkan nasab kepada salah satu dari mereka, meskipun keduanya tidak berselisih tentangnya, dan tidak boleh salah satu dari mereka menyerahkan anak itu kepada yang lain. Maka hal ini lebih berat daripada li‘ān yang tidak sah kecuali dengan keputusan hakim, sehingga hal ini lebih utama untuk tidak sah kecuali dengan keputusan hakim, karena li‘ān hanya khusus untuk penafian tanpa penetapan, sedangkan qiyāfah mencakup penafian dan penetapan sekaligus.

وَإِنْ كَانَ اسْتِحْقَاقُ الْوَلَدِ فِي ادِّعَاءِ لَقِيطٍ لَمْ يُعْرَفْ لَهُمَا فِيهِ فِرَاشٌ مُشْتَرَكٌ، فَهُوَ حَقٌّ لَهُمَا وَلَيْسَ بِحَقٍّ عَلَيْهِمَا فِي الظَّاهِرِ، لِأَنَّهُمَا لَوْ لَمْ يَتَنَازَعَا فِيهِ، لَمْ يَعْتَرِضْ لَهُمَا، وَلَوْ سَلَّمَهُ أَحَدُهُمَا إِلَى الْآخَرِ صَحَّ وَانْتَفَى عمن سلمه، ولحق عن سُلِّمَ إِلَيْهِ فَلَمْ يَفْتَقِرِ اسْتِلْحَاقُهُ إِلَى حُكْمٍ، وَجَازَ أَنْ يَنْفَرِدَ بِاسْتِعْمَالِ الْقَافَةِ فِيهِ إِنِ اخْتَارَا، وَجَازَ أَنْ يَتَحَاكَمَا فِيهِ إِلَى حَاكِمٍ، إن اختلفا فَإِنْ تَنَازَعَا فِيهِ إِلَى حَاكِمٍ وَقَفَ اخْتِيَارُ الْقَائِفِ عَلَى الْحَاكِمِ، دُونَهُمَا وَإِنْ لَمْ يَتَنَازَعَا فِيهِ إِلَى حَاكِمٍ، وَقَفَ اخْتِيَارُ الْقَائِفِ عَلَيْهِمَا فَإِذَا اتَّفَقَا عَلَى اخْتِيَارٍ قَائِفٍ كَانَا فِيهِ بِالْخِيَارِ فِي تَحْكِيمِهِ، أَوِ اسْتِخْبَارِهِ، عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ شَرْحِ التَّحْكِيمِ، وَالِاسْتِخْبَارِ.

Jika hak atas anak dalam pengakuan terhadap seorang laqīṭ (anak terlantar) yang tidak diketahui adanya firāsy (hubungan pernikahan) bersama antara keduanya, maka itu adalah hak bagi keduanya dan bukan kewajiban atas keduanya secara lahiriah. Sebab, jika keduanya tidak saling berselisih mengenai anak itu, maka tidak ada yang menghalangi mereka, dan jika salah satu dari mereka menyerahkan anak itu kepada yang lain, maka itu sah dan hak atas anak itu berpindah dari yang menyerahkan kepada yang menerima, sehingga pengakuan terhadap anak itu tidak memerlukan keputusan hukum. Diperbolehkan bagi salah satu dari mereka untuk menggunakan jasa qāfah (ahli nasab) jika mereka berdua memilihnya, dan diperbolehkan pula bagi mereka untuk membawa perkara ini kepada hakim jika mereka berselisih. Jika mereka berselisih dan membawa perkara ini kepada hakim, maka pemilihan qāfah menjadi hak hakim, bukan hak mereka. Namun, jika mereka tidak berselisih dan tidak membawa perkara ini kepada hakim, maka pemilihan qāfah menjadi hak mereka. Jika keduanya sepakat memilih seorang qāfah, maka mereka bebas untuk menjadikannya sebagai hakim atau hanya sekadar meminta pendapatnya, sebagaimana akan dijelaskan dalam penjelasan tentang tahkīm (arbitrase) dan istikhbār (meminta pendapat).

فَإِنِ اسْتَخْبَرَهُ فَأُخْبِرَ كَانَ مَوْقُوفًا عَلَى إِمْضَائِهِمَا وَالْتِزَامِهِمَا.

Jika ia meminta informasi lalu diberi tahu, maka hal itu bergantung pada persetujuan dan komitmen kedua belah pihak.

وَإِنْ حَكَّمَاهُ فَحَكَمَ كَانَ فِي لُزُومِ حُكْمِهِ لَهُمَا قولان: وإن اختلفا في اختيار القائف، إذا حلفا بعد الاتفاق عليه في تحكيمه، أو استخباره لَمْ يَعْمَلْ عَلَى اخْتِيَارِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَتَنَازَعَا فِيهِ إِلَى الْحَاكِمِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمَا، وَإِذَا كَانَ الْحَاكِمُ هُوَ النَّاظِرُ بَيْنَهُمَا فِي لُحُوقِ النَّسَبِ، إما في الفراش المشترك حتما واجبا، وإما في اللقيط المدعى، إما بالتراخي والاختيار، وإما أن يطلبه أَحَدُهُمَا دُونَ الْآخَرِ، فَيُؤْخَذُ الْمُمْتَنِعُ جَبْرًا بِالْحُكْمِ، وَإِنَّمَا يَجُوزُ لِلْمُتَنَازِعَيْنِ فِي اللَّقِيطِ أَنْ يَنْفَرِدَا بالقيافة إذا اتفقا على التراخي فِي تَفَرُّدِهِمَا بِهِ، دُونَ الْحَاكِمِ.

Jika keduanya menjadikan seseorang sebagai hakim lalu hakim tersebut memutuskan perkara, maka ada dua pendapat mengenai apakah keputusan hakim itu mengikat bagi mereka berdua. Jika keduanya berselisih dalam memilih ahli qiyāfah, setelah mereka bersumpah dan sepakat untuk menjadikannya sebagai hakim atau meminta pendapatnya, maka tidak boleh hanya mengikuti pilihan salah satu dari mereka. Jika terjadi perselisihan, maka perkara tersebut diajukan kepada hakim agar hakim memutuskan di antara mereka. Apabila hakim adalah pihak yang memutuskan perkara di antara mereka dalam penetapan nasab, baik dalam kasus anak yang lahir di atas ranjang yang sama secara pasti dan wajib, maupun dalam kasus anak temuan yang diakui, baik dengan penundaan dan pilihan, atau salah satu dari mereka yang memintanya tanpa yang lain, maka pihak yang menolak dapat dipaksa untuk tunduk pada keputusan hakim. Hanya saja, bagi dua pihak yang berselisih dalam kasus anak temuan, mereka boleh secara mandiri menggunakan qiyāfah jika keduanya sepakat untuk menunda dan melakukannya sendiri tanpa melibatkan hakim.

فَإِذَا أَرَادَ الْحَاكِمُ الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا، اخْتَارَ مِنَ الْقَافَةِ أَوْثَقَهُمْ وَأَغْلَبَهُمْ، وَاجْتَهَدَ رَأْيَهُ فِي تَحْكِيمِ الْقَائِفِ، أَوِ اسْتِخْبَارِهِ فَإِنْ أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى تَحْكِيمِهِ، كَانَ ذَلِكَ اسْتِخْلَافًا لَهُ فِي الْحُكْمِ بَيْنَهُمَا، فَيُرَاعِي فِي اسْتِنَابَتِهِ شُرُوطَ التَّقْلِيدِ، وَاخْتُبِرَ فِي الْعِلْمِ بِشُرُوطِ الْإِلْحَاقِ، فَإِنْ قَضَى بِهَا، أَعْلَمَهُ بِهَا.

Maka apabila hakim ingin memutuskan perkara di antara keduanya, ia memilih dari kalangan para qāfah (ahli ilmu jejak) yang paling terpercaya dan paling unggul, lalu ia bersungguh-sungguh dalam mempertimbangkan pendapatnya untuk menetapkan qāfah tersebut, atau meminta penjelasan darinya. Jika ijtihadnya membawanya untuk menetapkan qāfah itu, maka hal itu merupakan pengangkatan sebagai wakil dalam memutuskan perkara di antara keduanya. Maka dalam penunjukannya, harus memperhatikan syarat-syarat taklīd, dan diuji pengetahuannya tentang syarat-syarat ilḥāq. Jika ia memutuskan perkara dengannya, hakim memberitahukan keputusannya tersebut.

فَأَمَّا الْمُخْتَصُّ مِنْهَا بِفِطْنَتِهِ فَقُوَّةُ حِسِّهِ، فَهُوَ مَرْكُوزٌ فِي طَبْعِهِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى قَائِفٍ وَاحِدٍ، لِأَنَّهُ حُكْمٌ، فَجَازَ مِنَ الْقَائِفِ الْوَاحِدِ، فَإِنْ جَمَعَ فِيهِ بَيْنَ قَائِفَيْنِ احْتِيَاطًا كَانَ أَوْكَدَ، كَمَا جُمِعَ فِي شِقَاقِ الزَّوْجَيْنِ بَيْنَ الْحُكْمَيْنِ.

Adapun yang khusus darinya karena kecerdikannya adalah kekuatan inderanya, maka hal itu sudah tertanam dalam tabiatnya. Diperbolehkan untuk mencukupkan dengan satu orang qā’if saja, karena ini adalah hukum, maka boleh dari satu orang qā’if. Namun jika dalam hal ini dikumpulkan dua orang qā’if sebagai bentuk kehati-hatian, maka itu lebih kuat, sebagaimana dalam perselisihan suami istri dikumpulkan dua orang hakim.

وَلَا يَنْفُذُ الْحُكْمُ فِي لُحُوقِهِ بواحد منهما، حتى يجتمعان عَلَيْهِ، فَإِذَا أَلْحَقَهُ الْقَائِفُ الْوَاحِدُ إِذَا أُفْرِدَ أَوِ الْقَائِفَانِ إِذَا جُمِعَ بَيْنَهُمَا بِأَحَدِ الْمُتَنَازِعَيْنِ فيه، ونفاه عن الآخر لحقه، وَانْتَفَى عَنِ الْآخَرِ، وَلَوْ أَلْحَقَهُ بِأَحَدِهِمَا، وَلَمْ يَنْفِهِ عَنِ الْآخَرِ، لَمْ يَلْحَقْ بِهِ، لِجَوَازِ أَنْ يَرَى اشْتِرَاكَهُمَا فِيهِ، وَلَوْ نَفَاهُ عَنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُلْحِقْهُ بِالْآخَرِ، انْتَفَى عَمَّنْ نَفَاهُ عَنْهُ، وَصَارَ الْآخَرُ مُنْفَرَدًا بِالدَّعْوَى فَلَحِقَ بِهِ، لِانْفِرَادِهِ بِالْفِرَاشِ، لَا بِالْقَائِفِ.

Putusan tidak berlaku dalam penetapan nasab kepada salah satu dari keduanya sampai keduanya sepakat atasnya. Jika seorang qā’if tunggal ketika sendiri, atau dua qā’if ketika digabungkan di antara keduanya, menetapkan nasab anak kepada salah satu dari dua orang yang bersengketa dan menafikan dari yang lain, maka anak itu dinasabkan kepadanya dan tidak kepada yang lain. Namun, jika ia menetapkan nasab kepada salah satu dari keduanya tanpa menafikan dari yang lain, maka anak itu tidak dinasabkan kepadanya, karena mungkin saja ia melihat keduanya memiliki kesamaan pada anak tersebut. Jika ia menafikan dari salah satu tanpa menetapkan kepada yang lain, maka anak itu tidak dinasabkan kepada yang ia nafikan, dan yang lain menjadi satu-satunya yang mengakuinya, sehingga anak itu dinasabkan kepadanya karena ia satu-satunya yang memiliki hak atas tempat tidur, bukan karena penetapan qā’if.

وَلَوْ تَنَازَعَ فِي دَعْوَاهُ ثَلَاثَةٌ فَأَلْحَقَهُ بِأَحَدِهِمْ، وَنَفَاهُ عَنِ الْآخَرَيْنِ، أَمْضَى حَكَمَهُ فِي إِلْحَاقِهِ وَنَفْيِهِ، وَلَوْ نَفَاهُ عَنْ أَحَدِهِمْ، خَرَجَ مِنَ الدَّعْوَى، وَصَارَتْ بَيْنَ الْآخَرَيْنِ، وَلَوْ نَفَاهُ عَنِ اثْنَيْنِ، خَرَجَا مِنَ الدَّعْوَى، وَصَارَ لَاحِقًا بِالْبَاقِي، لِانْفِرَادِهِ بِالدَّعْوَى، لَا بُقُولَ الْقَائِفِ، فَإِنْ لَحِقَ بِأَحَدِهِمْ لِإِلْحَاقِ الْقَائِفِ بِهِ، وَنَفْيِهِ عَنْ غَيْرِهِ اسْتَقَرَّ حُكْمُهُ فِي ثبوت نَسَبِهِ، وَلَزِمَ الْحَاكِمَ تَنْفِيذُ حُكْمِهِ، وَإِنْ نَفَاهُ الْقَائِفُ عَنْ أَحَدِهِمَا اسْتَقَرَّ حُكْمُهُ بِالنَّفْيِ، وَلَمْ يَسْتَقِرَّ حُكْمُهُ بِاللُّحُوقِ، حَتَّى يَحْكُمَ لَهُ الْحَاكِمُ بِاللُّحُوقِ، بِحُكْمِ الِانْفِرَادِ بِالدَّعْوَى، فَإِنْ رَجَعَ الْقَائِفُ بَعْدَ حُكْمِهِ بِذِكْرِ الْغَلَطِ فِيهِ، لَمْ يُقْبَلْ رُجُوعُهُ، لِأَنَّ نُفُوذَ الْحُكْمِ بِالِاجْتِهَادِ يَمْنَعُ مِنْ نَقْضِهِ بِاجْتِهَادٍ.

Jika dalam suatu klaim terdapat tiga orang yang berselisih, lalu anak itu dinisbatkan kepada salah satu dari mereka dan dinafikan dari dua lainnya, maka keputusan hakim dalam penetapan nasab dan penafian itu berlaku. Jika anak itu dinafikan dari salah satu dari mereka, maka orang tersebut keluar dari perkara, dan perkara menjadi antara dua orang yang tersisa. Jika anak itu dinafikan dari dua orang, maka keduanya keluar dari perkara, dan anak itu dinisbatkan kepada yang tersisa, karena ia sendiri yang tinggal dalam perkara, bukan karena ucapan al-qā’if. Jika anak itu dinisbatkan kepada salah satu dari mereka karena penetapan al-qā’if dan penafian dari selainnya, maka keputusan itu tetap dalam penetapan nasabnya, dan hakim wajib melaksanakan keputusannya. Jika al-qā’if menafikan anak itu dari salah satu dari dua orang, maka keputusan penafian itu tetap, namun keputusan penetapan nasab belum tetap sampai hakim memutuskan penetapan nasab berdasarkan status tunggal dalam perkara. Jika al-qā’if menarik kembali pendapatnya setelah hakim memutuskan dengan menyebutkan adanya kekeliruan, maka penarikan kembali itu tidak diterima, karena berlakunya keputusan berdasarkan ijtihad mencegah pembatalan keputusan dengan ijtihad lain.

وَإِنْ رَأَى الْحَاكِمُ اجْتِهَادَهُ إِلَى اسْتِخْبَارِ الْقَائِفِ دُونَ تَحْكِيمِهِ، أَنْكَرَ الْقَائِفُ مُخْبِرًا، وَالْحَاكِمُ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِالْحُكْمِ، جَازَ وَلَزِمَهُ أَنْ يَجَمْعَ بَيْنَ قَائِفَيْنِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَإِنْ كَانَ خَبَرُ الْوَاحِدِ مَقْبُولًا، لِأَنَّ الْحَاكِمَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ، وَإِنَّمَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَةِ اثْنَيْنِ. كَمَا لَا يَحْكُمُ فِي التَّقْوِيمِ إِلَّا بِقَبُولِ مُقَوِّمَيْنِ، فَإِذَا أَرَادَ الْقَائِفَانِ بَعْدَ اجْتِهَادِهِمَا، أَنْ يَذْكُرَا لِلْحَاكِمِ، مَا صَحَّ عِنْدَهُمَا مِنْ لُحُوقِ الْوَلَدِ بِأَحَدِهِمَا فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jika hakim memandang ijtihadnya mengarah pada meminta pendapat qā’if tanpa menjadikannya sebagai hakim, lalu qā’if tersebut mengingkari dengan memberi keterangan, dan hakimlah yang memutuskan perkara secara mandiri, maka hal itu boleh dan wajib baginya untuk mengumpulkan dua orang qā’if, serta tidak boleh hanya cukup dengan salah satu dari keduanya, meskipun keterangan satu orang diterima, karena hakim tidak boleh memutuskan perkara hanya berdasarkan keterangan satu orang, melainkan harus berdasarkan kesaksian dua orang. Sebagaimana dalam penilaian (takwim), hakim juga tidak memutuskan kecuali dengan menerima penilaian dari dua orang penilai. Maka jika dua qā’if setelah melakukan ijtihad ingin menyampaikan kepada hakim apa yang menurut mereka sah tentang keterkaitan anak dengan salah satu dari mereka, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ خَبَرًا يُؤَدَّى بِلَفْظِ الْإِخْبَارِ، وَلَا تَكُونُ شَهَادَةً تُؤَدَّى بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ تَخْتَصُّ بِفِعْلٍ مَشَاهَدٍ وَقَوْلٍ مَسْمُوعٍ وَلَيْسَ فِي الْقِيَافَةِ، وَاحِدٌ مِنْهُمَا فَكَانَ خَبَرًا، وَلَمْ يَكُنْ شَهَادَةً فَعَلَى هَذَا يَجِبُ عَلَى الْحَاكِمِ، أَنْ يَسْأَلَهُمَا عَنْ سَبَبِ عِلْمِهِمَا، لِيَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِيهِمَا إِنْ ذَكَرَا اشْتِرَاكَهُمَا فِي الشَّبَهِ، وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ سُؤَالُهُمَا إِنْ كَانَ مُخْتَصًّا بِأَحَدِهِمَا، دُونَ الْآخَرِ، لِأَنَّ عَلَيْهِ فِي الِاشْتِرَاكِ أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِي التَّرْجِيحِ، فَلَزِمَهُ السُّؤَالُ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ فِي اخْتِصَاصِ أَحَدِهِمَا بِالتَّرْجِيحِ بِالشَّبَهِ، اجْتِهَادُهُ فِي التَّرْجِيحِ فَلَمْ يَلْزَمْهُ السُّؤَالُ، وَلَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَسْأَلَهُمَا أَفِي الشَّبَهِ اشْتِرَاكٌ؟ حَتَّى يَسْأَلَهُمَا عَنْ سَبَبِهِ، وَيَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِيهِ، أَوْ لَيْسَ فِيهِ اشْتِرَاكٌ؟ حَتَّى لَا يَسْأَلَهُمَا عَنْهُ، وَلَا يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِيهِ، ويقتنع منهما أن يقولا هذا ولد وهذا دُونَ هَذَا.

Salah satunya: berupa sebuah kabar yang disampaikan dengan lafaz pemberitahuan (ikhbār), dan bukan berupa kesaksian (syahādah) yang disampaikan dengan lafaz kesaksian, karena syahādah dikhususkan untuk perbuatan yang disaksikan dan ucapan yang didengar, sedangkan dalam qiyāfah tidak terdapat salah satu dari keduanya, maka ia menjadi sebuah kabar, bukan syahādah. Berdasarkan hal ini, hakim wajib menanyakan kepada keduanya tentang sebab pengetahuan mereka, agar ia dapat berijtihad dalam menilai keduanya. Jika mereka menyebutkan adanya kesamaan dalam kemiripan, maka hakim wajib menanyakannya; dan tidak wajib menanyakan jika kemiripan itu khusus pada salah satu dari mereka saja, bukan yang lain, karena dalam hal kesamaan, hakim harus berijtihad dalam menentukan keunggulan, sehingga ia wajib bertanya. Namun, jika kemiripan itu khusus pada salah satu, maka tidak wajib baginya berijtihad dalam menentukan keunggulan, sehingga tidak wajib bertanya. Akan tetapi, hakim tetap harus menanyakan kepada keduanya: “Apakah dalam kemiripan itu terdapat kesamaan?” agar ia dapat menanyakan sebabnya dan berijtihad dalam menilainya, atau “Apakah tidak ada kesamaan di dalamnya?” sehingga ia tidak perlu menanyakan tentang hal itu dan tidak perlu berijtihad dalam menilainya, dan cukup bagi keduanya untuk mengatakan, “Ini adalah anak dari yang ini, bukan dari yang itu.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ شَهَادَةً تُؤَدَّى بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ عَنْ مشاهدة، لأن الحال يَشْهَدُ، وَالْحُكْمُ مُخْتَصٌّ بِالشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ.

Pendapat kedua: bahwa hal itu merupakan kesaksian yang disampaikan dengan lafaz kesaksian, meskipun tidak berdasarkan penglihatan langsung, karena situasi yang ada menjadi saksi, dan hukum tersebut khusus berlaku untuk kesaksian, tidak untuk berita.

فَعَلَى هَذَا لَا يَجِبُ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَسْأَلَهُمَا عَنْ سَبَبِ عِلْمِهِمَا، لِأَنَّ الشَّاهِدَ لَا يُسْأَلُ عَنْ سَبَبِ عِلْمِهِ بِمَا شَهِدَ لَكِنْ إِنْ كَانَ الشَّبَهُ مُخْتَصًّا بِأَحَدِهِمَا، جَازَ لِلْقَائِفَيْنِ أَنْ يَشْهَدَا بِأَنَّهُ وَلَدُ هَذَا دُونَ هَذَا، وَإِنْ كان الشبه مشتركا يحتاجا إِلَى اجْتِهَادٍ فِي تَرْجِيحٍ فَفِيمَا يَشْهَدَانِ بِهِ وَجْهَانِ:

Dengan demikian, hakim tidak wajib menanyakan kepada keduanya tentang sebab pengetahuan mereka, karena seorang saksi tidak ditanya tentang sebab pengetahuannya terhadap apa yang ia saksikan. Namun, jika kemiripan itu khusus pada salah satu dari keduanya, maka kedua qā’if boleh bersaksi bahwa anak itu adalah anak dari yang satu dan bukan yang lain. Dan jika kemiripan itu bersifat umum sehingga membutuhkan ijtihad dalam menentukan mana yang lebih kuat, maka dalam kesaksian mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَشْهَدَانِ بِمَا أَدَّى إِلَيْهِ اجْتِهَادُهُمَا مِنْ لُحُوقِ نَسَبِهِ بِأَحَدِهِمَا.

Salah satunya: keduanya bersaksi berdasarkan hasil ijtihad mereka bahwa nasabnya tersambung kepada salah satu dari mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَشْهَدَانِ بِالشَّبَهِ الْمُوجِبِ لِلُحُوقِ النَّسَبِ بِأَحَدِهِمَا لِيَجْتَهِدَ الْحَاكِمُ رأيه دونها، وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا، هَلْ يَسُوغُ لِلشُّهُودِ أَنْ يَجْتَهِدُوا فِيمَا يُؤَدُّوهُ إِذَا كَانَ الِاجْتِهَادُ فِيهِ سَمَاعٌ.

Adapun pendapat kedua: kedua saksi memberikan kesaksian berdasarkan kemiripan yang menyebabkan nasab disandarkan kepada salah satu dari keduanya, agar hakim dapat berijtihad dengan pendapatnya sendiri tanpa terikat oleh mereka. Kedua pendapat ini merupakan perbedaan di antara para ulama mazhab kami, apakah para saksi diperbolehkan berijtihad dalam hal yang mereka sampaikan, apabila ijtihad dalam hal tersebut merupakan perkara yang dapat didengar (diperoleh melalui pendengaran).

فَإِذَا أَدَّى الْقَائِفَانِ إِلَى الْحَاكِمِ مَا عِنْدَهُمَا مِنْ لُحُوقِ النَّسَبِ بِأَحَدِهِمَا خبرا على أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ، أَوْ شَهَادَةً عَلَى الْوَجْهِ الْآخَرِ لَزِمَ الْحُكْمُ بِقَوْلِهِمَا فِي إِلْحَاقِ النَّسَبِ بِمَنْ أُلْحِقَ، وَنَفْيِهِ عَمَّنْ نَفَوْهُ، وَهُوَ قَبْلَ حُكْمِ الْحَاكِمِ، غَيْرُ لَاحِقٍ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَإِنْ رَجَعَ الْقَائِفَانِ فِي قَوْلِهِمَا، وَأَلْحَقُوهُ بِمَنْ نَفَوْهُ عَنْهُ لخطأ اعترافا بِهِ رُوعِيَ رُجُوعُهُمَا، فَإِنْ كَانَ بَعْدَ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِقَوْلِهِمَا، لَمْ يَنْقُصْ حُكْمَهُ وَأَمْضَاهُ عَلَى مَا حَكَمَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ قَبْلَ حُكْمِهِ بِقَوْلِهِمَا لَمْ يَكُنْ نَسَبُهُ لِلْأَوَّلِ، وَلَا لِلثَّانِي.

Apabila dua orang qā’if telah menyampaikan kepada hakim apa yang mereka ketahui tentang keterkaitan nasab dengan salah satu dari mereka, baik sebagai sebuah berita menurut salah satu pendapat, atau sebagai kesaksian menurut pendapat lain, maka wajib bagi hakim untuk memutuskan berdasarkan perkataan mereka dalam menetapkan nasab kepada orang yang dinisbatkan, dan menafikannya dari orang yang mereka nafikan. Sebelum hakim memutuskan, anak tersebut belum dinisbatkan kepada salah satu dari mereka. Jika kedua qā’if tersebut menarik kembali perkataan mereka dan menisbatkannya kepada orang yang sebelumnya mereka nafikan karena mengakui adanya kesalahan, maka penarikan kembali mereka diperhatikan. Jika penarikan itu terjadi setelah hakim memutuskan berdasarkan perkataan mereka, maka keputusan hakim tidak berkurang dan tetap berlaku sesuai dengan apa yang telah diputuskan. Namun jika penarikan itu terjadi sebelum hakim memutuskan berdasarkan perkataan mereka, maka nasab anak tersebut tidak dinisbatkan kepada yang pertama maupun yang kedua.

أَمَّا الْأَوَّلُ: فَلِبُطْلَانِ الشَّهَادَةِ، بِالرُّجُوعِ عَنْهَا.

Adapun yang pertama: karena batalnya kesaksian, disebabkan pencabutan kembali dari kesaksian tersebut.

وَأَمَّا الثَّانِي: فَلِتُعَارِضِ الْقَوْلَيْنِ فِيهِ.

Adapun yang kedua: karena terdapat pertentangan antara dua pendapat di dalamnya.

فَإِنْ أَشْكَلَ عَلَى القائفين ولحوق نَسَبِهِ، وَبَانَ ذَلِكَ لِغَيْرِهِمَا عُمِلَ عَلَيْهِ، وَإِنْ أَشْكَلَ عَلَى غَيْرِهِمَا عَدَمُ النَّسَبِ مِنْ جِهَةِ القافة، ووجب أَنْ يُوقَفَ النَّسَبُ لِلشَّكِّ، حَتَّى يَنْتَسِبَ الْوَلَدُ بِطَبْعِهِ إِلَى أَحَدُهُمَا لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” من شأن الرَّحِمِ إِذَا تَمَاسَّتْ تَعَاطَفَتْ “.

Jika para ahli qiyāfah mengalami kesulitan dalam memastikan nasabnya, namun hal itu menjadi jelas bagi selain mereka berdua, maka keputusan diambil berdasarkan keterangan tersebut. Namun jika selain mereka berdua pun ragu mengenai tidak adanya nasab dari sisi qiyāfah, maka wajib menangguhkan penetapan nasab karena adanya keraguan, hingga anak tersebut secara naluri cenderung menisbatkan dirinya kepada salah satu dari mereka, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sifat rahim itu, apabila saling bersentuhan, akan saling berkasih sayang.”

وَلَهُ فِي زَمَانِ انْتِسَابِهِ قَوْلَانِ:

Dan ia memiliki dua pendapat pada masa ia berafiliasi.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْقَدِيمُ إِلَى اسْتِكْمَالِ سَبْعٍ، وَهِيَ الْحَالُ الَّتِي يُخَيَّرُ فِيهَا بَيْنَ أَبَوَيْهِ.

Salah satunya, yaitu yang lama hingga mencapai tujuh tahun, yaitu keadaan di mana anak diberi pilihan antara kedua orang tuanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ الْجَدِيدُ الصَّحِيحُ إِلَى بلوغه، لأنه لا يكمن بِقَوْلِهِ فِي لَوَازِمِ الْحُقُوقِ قَبْلَ الْبُلُوغِ، وَإِنْ قَبِلَ فِي الِاخْتِيَارِ لِأَحَدِ أَبَوَيْهِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ من الحقوق، فَإِذَا انْتَسَبَ إِلَى أَحَدِهِمَا لَحِقَ بِهِ، وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ تَصْدِيقُ الْأَبِ، فَلَوْ رَجَعَ وَانْتَسَبَ إِلَى الْآخَرِ لَمْ يُقْبَلْ رُجُوعُهُ بَعْدَ لُحُوقِهِ بِالْأَوَّلِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat baru yang sahih, adalah sampai ia baligh, karena tidak dianggap ucapan anak dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak sebelum baligh, meskipun diterima dalam memilih salah satu dari kedua orang tuanya, karena itu bukan termasuk hak-hak. Maka jika ia menisbatkan diri kepada salah satu dari keduanya, ia dianggap mengikuti yang dinisbatkan itu, dan tidak disyaratkan adanya persetujuan dari ayah. Jika kemudian ia menarik kembali dan menisbatkan diri kepada yang lain, maka penarikan kembali itu tidak diterima setelah ia telah dinisbatkan kepada yang pertama.

وَلَوْ وُجِدَتِ الْقَافَةُ بَعْدَ انْتِسَابِهِ إِلَى أَحَدِهِمَا، لَمْ يُلْحَقْ بِهِ لِاسْتِقْرَارِ لِحَوْقِهِ بِالِانْتِسَابِ إِلَى الْأَوَّلِ.

Dan jika al-qāfah ditemukan setelah ia dinisbatkan kepada salah satu dari keduanya, maka ia tidak dinisbatkan lagi kepadanya karena telah tetapnya penisbatan kepada yang pertama.

وَلَوْ مَاتَ الْوَلَدُ قَبْلَ انْتِسَابِهِ إِلَى أَحَدِهِمَا، قَامَتْ وَرَثَتُهُ، مَقَامَهُ فِي الِانْتِسَابِ، إِلَى أَحَدِهِمَا، وَلَوْ مَاتَ الْمُتَنَازِعَانِ وَالْوَلَدُ بَاقٍ جُمِعَ بَيْنِهِ وَبَيْنَ عَصَبَتِهِمَا، وَكَانَ لَهُ بَعْدَ الِاجْتِمَاعِ مَعَهُمْ أَنْ يَنْتَسِبَ إِلَى أَحَدِهِمَا، فَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا وَبَقِيَ الْآخَرُ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ التَّنَازُعُ فِي فِرَاشٍ مُشْتَرَكٍ انْتَسَبَ إِلَى مَنِ اخْتَارَ مِنَ الْحَيِّ، أَوِ الْمَيِّتِ، وَإِنْ كَانَ التَّنَازُعُ فِي لَقِيطٍ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jika anak tersebut meninggal sebelum dinisbatkan kepada salah satu dari keduanya, maka para ahli warisnya menempati posisinya dalam penetapan nasab kepada salah satu dari keduanya. Jika kedua orang yang bersengketa meninggal dunia sementara anak tersebut masih hidup, maka anak itu dikumpulkan bersama para ‘ashabah dari keduanya, dan setelah berkumpul dengan mereka, ia berhak untuk dinisbatkan kepada salah satu dari keduanya. Jika salah satu dari keduanya meninggal dan yang lainnya masih hidup, maka dilihat kembali: jika persengketaan terjadi pada ranjang (pernikahan) yang sama, maka anak itu dinisbatkan kepada siapa saja yang ia pilih, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Namun jika persengketaan terjadi pada anak temuan (laqīṭ), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ كَالْفِرَاشِ فِي انْتِسَابِهِ إِلَى أَحَدِهِمَا.

Salah satunya: seperti anak yang tidak diketahui ayahnya dalam hal nasabnya kepada salah satu dari keduanya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يُلْحَقُ بِالْبَاقِي، لِانْقِطَاعِ دَعْوَى الْمَيِّتِ.

Yang kedua: bahwa ia disamakan dengan yang masih ada, karena telah terputusnya klaim dari orang yang telah meninggal.

وَقَدْ رَوَى زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ قَلَّدَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَاءَ الْيَمَنِ اخْتَصَمَ إِلَيْهِ ثَلَاثَةٌ فِي وَلَدِ امْرَأَةٍ، وَقَعُوا عَلَيْهَا، فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ؛ تَنَازَعُوا فِيهِ. فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ، وَأَلْحَقَهُ بِمَنْ قَرَعَ مِنْهُمْ، وأخبر به رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” فَضَحِكَ حَتَى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ فَقِيلَ: إِنَّهُ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ لِإِشْكَالِهِ عَلَى الْقَافَةِ.

Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai hakim di Yaman, pernah didatangi oleh tiga orang yang berselisih mengenai anak seorang perempuan yang telah digauli oleh mereka bertiga dalam satu masa suci; mereka memperdebatkan siapa ayah dari anak tersebut. Maka Ali melakukan undian di antara mereka, lalu menetapkan anak itu kepada siapa yang keluar namanya dalam undian tersebut, dan ia memberitahukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, lalu dikatakan: “Sesungguhnya ia melakukan undian di antara mereka karena sulitnya bagi para qāfah (ahli nasab) untuk memastikan nasab anak tersebut.”

وَقِيلَ: إِنَّمَا ضَحِكَ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنَ الْقُرْعَةِ: لِأَنَّهُ لَا مَدْخَلَ لَهَا فِي لُحُوقِ النَّسَبِ: لِوُجُودِ مَا هُوَ أَقْوَى، وَهُوَ انْتِسَابُ الْوَلَدِ.

Dan dikatakan: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tertawa karena undian itu, karena undian tidak ada kaitannya dalam penetapan nasab, sebab telah ada sesuatu yang lebih kuat, yaitu penetapan nasab anak.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا طَلَبَ الْقَائِفُ عَلَى قِيَافَتِهِ أَجْرًا، وَلَمْ يَجِدْ بِهَا مُتَطَوِّعًا جَازَ أَنْ يُعْطَى عَلَيْهَا رِزْقًا مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، لِأَنَّ لَهُ عَمَلًا يَنْقَطِعُ بِهِ عَنْ مَكْسَبِهِ، كَمَا يُعْطَى الْقَاسِمُ وَالْحَاسِبُ وَيَسْتَحِقُّهُ سَوَاءٌ أَلْحَقَهُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا، أَوْ أَشَكَلَ عَلَيْهِ، فَلَمْ يُلْحِقْهُ، فَإِنْ تَعَذَّرَ رِزْقُهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، كَانَتْ أُجْرَتُهُ عَلَى الْمُتَنَازِعَيْنِ فِيهِ، فَإِنْ أَلْحَقَهُ بِأَحَدِهِمَا استحقها ن وَفِيمَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ وَجْهَانِ:

Jika seorang qā’if meminta upah atas keahliannya, dan tidak ditemukan orang yang bersedia melakukannya secara sukarela, maka boleh memberinya nafkah dari Baitul Mal, karena ia melakukan pekerjaan yang membuatnya terputus dari penghasilannya, sebagaimana diberikan kepada qāsim (pembagi warisan) dan ḥāsib (ahli hisab). Ia berhak mendapatkannya, baik ia menetapkan hubungan nasab kepada salah satu dari keduanya, atau ia ragu sehingga tidak menetapkannya. Jika tidak memungkinkan memberinya nafkah dari Baitul Mal, maka upahnya menjadi tanggungan kedua pihak yang bersengketa. Jika ia menetapkan hubungan nasab kepada salah satu dari keduanya, maka ia berhak mendapatkannya, dan mengenai siapa yang wajib membayarnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا تَجِبُ عَلَى مَنْ أُلْحِقَ بِهِ الْوَلَدُ دُونَ مَنْ نُفِيَ عَنْهُ، لِأَنَّهُ مُسْتَأْجِرٌ لِلُحُوقٍ دُونَ النَّفْيِ.

Salah satunya: bahwa kewajiban itu berlaku atas orang yang anaknya dinisbatkan kepadanya, bukan atas orang yang anaknya dinafikan darinya, karena ia adalah pihak yang berhak atas penetapan nasab, bukan atas penafian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجِبُ عَلَيْهِمَا، لِأَنَّ الْعَمَلَ مُشْتَرَكٌ فِي حَقِّهِمَا، وَهُوَ فِي حَقِّ مَنْ نُفِيَ عَنْهُ كُهُوَ فِي حَقِّ مَنْ أُلْحِقَ بِهِ.

Pendapat kedua: Keduanya wajib melakukannya, karena amal tersebut merupakan tanggung jawab bersama bagi keduanya, dan hukum bagi orang yang dinafikan darinya sama dengan hukum bagi orang yang dinisbatkan kepadanya.

وَإِنْ لَمْ يُلْحَقْ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا. فَإِنْ كَانَ إشكاله عَلَيْهِ، لَمْ يَسْتَحِقَّ الْأُجْرَةَ، لِأَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ مِنْهُ الْعَمَلُ، وَإِنْ كَانَ لِتَكَافُؤِ الِاشْتِبَاهِ فَفِي اسْتِحْقَاقِ الْأُجْرَةِ وَجْهَانِ:

Dan jika tidak dapat disamakan dengan salah satu dari keduanya, maka jika kesamaran itu berasal darinya, ia tidak berhak mendapatkan upah, karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan olehnya. Namun jika kesamaran itu karena kedua hal tersebut sama kuatnya, maka dalam hal berhak atau tidaknya atas upah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَسْتَحِقُّهَا إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَوْ أَخَذَ مِنْهُمَا، كَانَ تَغْلِيبًا بِوُجُودِ الْعَمَلِ مِنْهُ.

Salah satunya: ia berhak mendapatkannya jika dikatakan bahwa apabila ia mengambil dari keduanya, maka itu merupakan pengutamaan karena adanya perbuatan darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَسْتَحِقُّهَا إِذَا قِيلَ: إِنَّهُ لَوْ أَلْحَقَهُ بِأَحَدِهِمَا: اخْتَصَّ بِالْتِزَامِ الْآخَرِ، تَعْلِيلًا بِالْإِلْحَاقِ.

Pendapat kedua: Ia tidak berhak mendapatkannya jika dikatakan bahwa apabila ia disandarkan kepada salah satu dari keduanya, maka ia menjadi khusus dengan kewajiban terhadap yang lain, sebagai alasan dengan penyandaran tersebut.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا وُجِدَ وَادَّعَاهُ مَنْ يَجُوزُ أَنْ يُولَدَ مِثْلُهُ لِمِثْلِهِ لَحِقَهُ بِهِ، فَإِنِ ادَّعَاهُ بَعْدَهُ آخَرٌ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Dan apabila ditemukan seorang anak, lalu ada seseorang yang boleh secara kemungkinan melahirkan anak seperti itu dari orang seperti dirinya mengakuinya, maka anak itu dinisbatkan kepadanya. Jika setelah itu ada orang lain yang juga mengakuinya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ دَعَوَاهُ مَرْدُودَةٌ لِلُحُوقِ نَسَبِهِ بِالسَّابِقِ، إِلَّا أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةَ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ.

Salah satunya: bahwa pengakuannya ditolak karena nasabnya telah terhubung dengan suami sebelumnya, kecuali jika ia dapat menghadirkan bukti bahwa anak itu dilahirkan di atas ranjangnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ الظَّاهِرُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ دَعْوَى النَّاسِ مَسْمُوعَةٌ وَيَرَى الْقَافَةُ، فَإِنْ نَفَوْهُ عَنِ الثَّانِي، كَانَ عَلَى لُحُوقِهِ بِالْأَوَّلِ وَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِالثَّانِي أُرِيَ مَعَ الْأَوَّلِ، فَإِنْ نَفَوْهُ عَنْهُ لَحِقَ بِالثَّالِثِ، وَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِهِ لَمْ يَأْتِ بِالْقَافَةِ بَيَانٌ، لِأَنَّهُمْ قَدْ أَلْحَقُوهُ بِهِمَا، وَوَقَفَ الْوَلَدُ إِلَى حَدِّ الِانْتِسَابِ لِيَنْتَسِبَ إِلَى أَحَدِهِمَا. فَإِنِ اجْتَمَعَ جَمَاعَةٌ فِي ادِّعَاءِ اللَّقِيطِ، وَهُوَ فِي يَدِ أَحَدِهِمْ، فَصَاحِبُ الْيَدِ كَالسَّابِقِ بِالدَّعْوَى، فَيَكُونُ عَلَى الْوَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: يُلْحَقُ بِهِ إِلَّا أَنْ تُلْحِقَهُ الْقَافَةُ بِغَيْرِهِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ فِي الدَّعْوَى بِغَيْرِهِ لَا يُلْحَقُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ تُلْحِقَهُ الْقَافَةُ، أَوْ يَعْتَرِفَ لَهُ الْبَاقِي بِنَسَبِهِ، أَوْ يَبْلُغَ حَدَّ الِانْتِسَابِ فَيَنْتَسِبَ إِلَيْهِ، فَإِنْ مَاتَ الْوَلَدُ مَعَ بَقَاءِ الِانْتِسَابِ، فَقَبْلَ الِانْتِسَابِ وَقَفَ مِنْ مَالِهِ مِيرَاثًا حَتَّى يَصْطَلِحَ الْمُدَّعُونَ عَلَيْهِ، وَإِنْ مَاتَ الْمُدَّعُونَ أَوْ بَعْضُهُمْ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dalam mazhab Syafi‘i, adalah bahwa klaim orang-orang didengar dan pendapat para qāfah (ahli nasab) dilihat. Jika para qāfah menafikan hubungan anak itu dengan orang kedua, maka anak itu dinisbatkan kepada orang pertama. Jika mereka menisbatkannya kepada orang kedua, maka anak itu diperlihatkan juga kepada orang pertama. Jika para qāfah menafikan hubungan anak itu dengan orang pertama, maka anak itu dinisbatkan kepada orang ketiga. Jika mereka menisbatkannya kepada orang ketiga, maka para qāfah tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, karena mereka telah menisbatkannya kepada keduanya, dan status anak itu tetap sampai batas kemampuan untuk menisbatkan diri kepada salah satu dari mereka. Jika sekelompok orang berkumpul dalam mengklaim anak yang ditemukan (laqīṭ), dan anak itu berada di tangan salah satu dari mereka, maka orang yang memegang anak itu seperti orang yang lebih dahulu mengajukan klaim, sehingga berlaku dua pendapat: salah satunya, anak itu dinisbatkan kepadanya kecuali jika para qāfah menisbatkannya kepada orang lain. Pendapat kedua, dalam klaim selainnya, anak itu tidak dinisbatkan kepada salah satu dari mereka kecuali jika para qāfah menisbatkannya, atau sisanya mengakui nasabnya, atau anak itu telah mencapai batas kemampuan untuk menisbatkan diri lalu menisbatkan dirinya kepadanya. Jika anak itu meninggal dunia dalam keadaan masih ada kemungkinan menisbatkan diri, maka sebelum penetapan nasab, harta warisannya ditahan hingga para pengklaim berdamai atasnya. Jika para pengklaim atau sebagian dari mereka meninggal dunia, maka dalam hal ini ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، أَنَّهُ يوقف من قال كل واحد منهم ميراث أب، كما يوقف من ماله إذا مات ميراث أب. حتى ينتسب بعد بلوغه حَدَّ الِانْتِسَابِ، فَيَسْتَحِقَّ مِيرَاثَ مَنِ انْتَسَبَ إِلَيْهِ وَيَرُدُّ مَا وُقِفَ مِنَ الْبَاقِينَ عَلَى وَرَثَتِهِمْ.

Salah satunya, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa orang yang mengatakan “masing-masing dari mereka adalah ahli waris ayah” ditangguhkan (hak warisnya), sebagaimana juga ditangguhkan dari hartanya jika ia meninggal sebagai ahli waris ayah. Hingga ia mencapai usia yang memungkinkan untuk penetapan nasab, maka ia berhak mendapatkan warisan dari orang yang ia dinisbatkan kepadanya, dan apa yang telah ditangguhkan dari sisanya dikembalikan kepada para ahli waris mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُوقَفُ لَهُ مِنْ أَمْوَالِهِمْ شَيْءٌ، وَيُدْفَعُ مَالُ كُلِّ وَاحِدٍ إِلَى وَرَثَتِهِ والله أعلم.

Pendapat kedua: Tidak disisihkan sedikit pun dari harta mereka, dan harta masing-masing diberikan kepada ahli warisnya. Allah Maha Mengetahui.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَوِ ادَّعَى حُرٌّ وَعَبْدٌ مُسْلِمَانِ وَذِمِّيٌّ مَوْلُودًا وُجِدَ لَقِيطًا فَلَا فَرْقَ بَيْنَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ كَالتَّدَاعِي فِيمَا سِوَاهُ فَيَرَاهُ الْقَافَةُ فَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِوَاحِدٍ فَهُوَ ابْنُهُ وَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِأَكْثَرَ لَمْ يَكُنِ ابْنَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَبْلُغُ فَيَنْتَسِبُ إِلَى أَيِّهِمْ شَاءَ فَيَكُونُ ابْنُهُ وَتَنْقَطِعَ عَنْهُ دَعْوَى غَيْرِهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang merdeka, seorang budak, dua-duanya Muslim, dan seorang dzimmi mengaku terhadap seorang anak yang ditemukan sebagai laqīṭ, maka tidak ada perbedaan di antara mereka, sebagaimana dalam kasus saling mengaku selainnya. Maka anak itu dilihat oleh para qāfah; jika mereka menetapkannya kepada salah satu dari mereka, maka ia menjadi anaknya. Jika mereka menetapkannya kepada lebih dari satu orang, maka ia tidak menjadi anak salah satu dari mereka hingga ia dewasa, lalu ia memilih untuk menisbatkan diri kepada siapa saja yang ia kehendaki, maka ia menjadi anaknya dan gugurlah klaim dari selainnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ يَسْتَوِي إِذَا ادعى الولد، الحر وَالْعَبْدُ وَالْمُسْلِمُ، وَالْكَافِرُ لَقِيطًا أَوْ مِنْ فِرَاشٍ مُشْتَرَكٍ، وَلَيْسَ بِمُشْتَرَكٍ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, berlaku sama jika yang mengaku sebagai anak adalah orang merdeka maupun budak, Muslim maupun kafir, baik terhadap anak temuan (laqīṭ) atau dari ranjang yang dipakai bersama, maupun yang bukan ranjang bersama.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْإِمَامُ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا تَنَازَعَ حُرٌّ وَعَبْدٌ أَلْحَقْتُهُ بِالْحُرِّ دُونَ الْعَبْدِ. وَإِنْ تَنَازَعَ مُسْلِمٌ وَكَافِرٌ، أَلْحَقْتُهُ بِالْمُسْلِمِ دُونَ الْكَافِرِ، وَلَوْ تَنَازَعَ حُرٌّ كَافِرٌ وَعَبْدٌ مُسْلِمٌ، أَلْحَقْتُهُ بِالْحُرِّ الْكَافِرِ، دُونَ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ، لِيَكُونَ الْوَلَدُ مُلْحَقًا بِأَكْمَلِهِمَا حُكْمًا.

Abu Hanifah, sang imam, rahimahullah, berkata: Jika seorang merdeka dan seorang budak berselisih, aku menetapkan (nasab anak) kepada yang merdeka, bukan kepada budak. Jika seorang Muslim dan seorang kafir berselisih, aku menetapkan kepada Muslim, bukan kepada kafir. Dan jika seorang merdeka kafir dan seorang budak Muslim berselisih, aku menetapkan kepada merdeka kafir, bukan kepada budak Muslim, agar anak tersebut disandarkan kepada yang paling sempurna status hukumnya di antara keduanya.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ الْغَالِبَ مِنْ دَارِ الْإِسْلَامِ الْحُرِّيَّةُ، وَالْإِسْلَامُ، فَصَارَتْ كَالْيَدِ لِمَنْ وَاقَعَهَا، فَتَرْجَحُ بِهَا.

Dengan berdalil bahwa yang dominan di wilayah Islam adalah kemerdekaan dan keislaman, maka keduanya menjadi seperti kepemilikan bagi siapa yang mengalaminya, sehingga keduanya lebih diutamakan karenanya.

وَلِأَنَّهُمَا لَوْ تَنَازَعَا حَضَانَتَهُ كَانَ الْحُرُّ الْمُسْلِمُ أَحَقُّ بِهَا مِنَ الْعَبْدِ الْكَافِرِ، كَذَلِكَ حُكْمُ النَّسَبِ وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّهُمَا قَدِ اشْتَرَكَا فِي سَبَبِ الدَّعْوَى، فَوَجَبَ أَنْ يَشْتَرِكَا فِي حُكْمِهِمَا، كالمسلمين الحرين.

Karena jika keduanya berselisih mengenai hak asuh anak, maka orang merdeka yang muslim lebih berhak atasnya daripada hamba yang kafir; demikian pula hukum nasab. Dalil kami adalah bahwa keduanya telah sama-sama memiliki sebab dalam perkara yang disengketakan, maka wajib bagi keduanya untuk sama-sama mendapatkan hukum yang sama, seperti dua orang muslim yang merdeka.

ولأنه لو انفرد بالدعوى عبدا أَوْ كَافِر كَانَ فِيهَا كَالْمُسْلِمِ، وَلَا يُدْفَعُ عَنْهَا بِحُكْمِ الدَّارِ، كَذَلِكَ إِذَا اجْتَمَعَ مَعَ الْحُرِّ، أَوِ الْمُسْلِمِ، كَالْمَالِ، وَفِيهِ انْفِصَالٌ.

Karena jika seorang budak atau kafir sendiri yang mengajukan gugatan, maka dalam hal ini posisinya sama seperti Muslim, dan tidak ditolak darinya berdasarkan hukum wilayah (ḥukm ad-dār). Demikian pula jika ia bergabung dengan orang merdeka atau Muslim, seperti halnya dalam perkara harta, dan dalam hal ini terdapat perincian.

فَأَمَّا الْحَضَانَةُ فَفِيهَا وِلَايَةٌ، لَوْ تَفَرَّدَ بِهَا كَافِرٌ وَعَبْدٌ لَمْ يَسْتَحِقَّهَا وَلَيْسَ كَالنَّسَبِ الَّذِى يَلْحَقُ بالعبد، والكافر.

Adapun hadhanah (hak asuh anak), di dalamnya terdapat unsur wilayah (kewenangan). Jika seorang kafir atau budak melakukannya sendiri, maka ia tidak berhak atasnya. Ini tidak seperti nasab (hubungan keturunan) yang tetap melekat pada budak dan orang kafir.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ اسْتِوَاؤُهُمَا فِي الدَّعْوَى، فَإِنْ أُلْحِقَ بِالْمُسْلِمِ، لَحِقَ بِهِ نَسَبًا، وَدِينًا، وَإِنْ أُلْحِقَ بِالْكَافِرِ، لَحِقَ بِهِ نَسَبًا، وَفِي إِلْحَاقِهِ بِهِ دِينًا وَجْهَانِ:

Maka apabila telah tetap kesetaraan keduanya dalam pengakuan, jika ia disandarkan kepada Muslim, maka ia mengikuti Muslim tersebut dalam nasab dan agama. Dan jika ia disandarkan kepada kafir, maka ia mengikuti kafir tersebut dalam nasab, dan dalam penyandaran agama kepadanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُلْحَقُ بِهِ فِي دِينِهِ اعْتِبَارًا بِالْوِلَادَةِ.

Salah satunya: disandarkan kepadanya dalam agamanya dengan mempertimbangkan kelahiran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُلْحَقُ بِدِينِهِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الدَّارِ، فَأُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْإِسْلَامِ، حَتَّى يَبْلُغَ فَيُعْرِبُ عَنْ نَفْسِهِ، فَإِنْ أَقَرَّ بِالْإِسْلَامِ اسْتَقَرَّ حُكْمُ الْإِسْلَامِ، وَإِنِ ادَّعَى الْكُفْرَ أُرْهِبَ ثُمَّ أُقِرَّ عَلَى الْكُفْرِ فَإِنْ قِيلَ بِالْوَجْهِ الْأَوَّلِ إنَّهُ يَجْرِي عَلَى الْكُفْرِ أُقِرَّ فِي يَدِهِ وَإِنْ قِيلَ بِالثَّانِي، إنَّهُ يَجْرِي عَلَى حُكْمِ الْإِسْلَامِ لَمْ يُقَرَّ فِي يَدِهِ، لِئَلَّا يُلَقِّنَهُ الْكُفْرَ، فَيَدَّعِيهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ.

Pendapat kedua: Tidak disandarkan pada agama orang tuanya dengan mengedepankan hukum wilayah (dār), sehingga diberlakukan atasnya hukum Islam sampai ia dewasa dan dapat mengungkapkan pilihannya sendiri. Jika ia mengakui Islam, maka tetaplah hukum Islam atasnya. Namun jika ia mengaku kafir, maka ia ditakut-takuti terlebih dahulu, kemudian jika tetap memilih kekafiran, maka ia dibiarkan dalam kekafiran. Jika menurut pendapat pertama, yaitu ia mengikuti hukum kekafiran, maka ia dibiarkan dalam kekuasaan orang tuanya. Namun jika menurut pendapat kedua, yaitu ia mengikuti hukum Islam, maka ia tidak dibiarkan dalam kekuasaan orang tuanya, agar orang tuanya tidak mengajarkan kekafiran kepadanya sehingga ia mengakuinya setelah dewasa.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَ وَالِدٌ، وَوَلَدُهُ فِي وَلَدٍ ادعياه كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، عَنِ الْتِقَاطٍ أَوِ اشْتِرَاكٍ فِي فِرَاشٍ فَهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ، وَلَا يَغْلِبُ دَعْوَى الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ.

Apabila seorang ayah dan anaknya berselisih mengenai seorang anak yang masing-masing dari mereka mengakuinya, baik karena ditemukan atau karena keduanya bersama di satu tempat tidur, maka keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam perkara tersebut, dan klaim ayah tidak lebih diutamakan daripada klaim anak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِ كَانَ الْوَلَدُ مِنْ أَمَةٍ، اشْتَرَكَا فِي إِصَابَتِهَا، فَإِنْ كَانَتِ الْأَمَةُ لِلْأَبِ، أَوْ مُشْتَرِكَةٍ بَيْنَ الِابْنِ وَالْأَبِ، فَالْوَلَدُ يَلْحَقُ بِالْأَبِ، وَإِنْ كَانَتْ لِلِابْنِ فَالْوَلَدُ يَلْحَقُ بِالْأَبِ وَالِابْنِ، وَهَذَا حُكْمٌ لَا يُوجِبُهُ دَلِيلٌ، ولا تقتضيه تَعْلِيلٌ، لِأَنَّ الْأُبُوَّةَ وَالْبُنُوَّةَ لَا تَخْتَلِفُ فِيهَا أَحْكَامُ الدَّعَاوَى، كَالْأَمْوَالِ.

Abu Hanifah ra. berkata: Jika anak itu berasal dari seorang budak perempuan, dan keduanya (ayah dan anak) telah menggaulinya, maka jika budak perempuan itu milik ayah, atau dimiliki bersama antara anak dan ayah, maka anak tersebut dinasabkan kepada ayah. Jika budak perempuan itu milik anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ayah dan anak. Ini adalah hukum yang tidak didasarkan pada dalil, dan tidak pula dituntut oleh alasan (‘illat), karena dalam hubungan ayah-anak tidak berlaku perbedaan hukum dalam perkara-perkara klaim, sebagaimana dalam urusan harta.

وَلِأَنَّهُ لَمْ يَخْتَلِفْ فِي ادِّعَاءِ الْوَلَدِ حُكْمُ الْأُمِّ، وَالْجَدِّ، فَلَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِ حُكْمُ الْأَبِ وَالِابْنِ.

Dan karena hukum ibu dan kakek tidak berbeda dalam pengakuan terhadap anak, maka hukum ayah dan anak pun tidak berbeda dalam hal ini.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَنَازَعَ في الولد امرأتان، قيل: إِنَّ دَعْوَاهُمَا مَسْمُوعَةٌ عَلَى اخْتِلَافِ الْمَذْهَبِ فِيهِ، اسْتَعْمَلَ الْقَافَةَ فِيهَا، إِذَا عُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَى وِلَادَتِهِ، وَكَانَتَا فِي مُنَازَعَتِهِ، كَالرَّجُلَيْنِ، وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا مُسْلِمَةٌ، وَالْأُخْرَى كَافِرَةٌ، كَانَتَا سَوَاءً، فِي ادِّعَائِهِ.

Apabila dua perempuan berselisih mengenai seorang anak, dikatakan bahwa klaim keduanya dapat didengar, meskipun terdapat perbedaan pendapat mazhab dalam hal ini. Maka digunakanlah metode al-qāfah jika tidak ada bukti (bayyinah) tentang kelahiran anak tersebut, dan dalam perselisihan itu keduanya diperlakukan seperti dua laki-laki. Demikian pula, jika salah satu dari keduanya adalah Muslimah dan yang lainnya kafir, keduanya tetap setara dalam pengakuan terhadap anak tersebut.

أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا حُرَّةً، وَالْأُخْرَى أَمَةً، تَسَاوَيَا فِيهِ، وَجَازَ لِلْأَمَةِ أَنْ تَخْتَصَّ بِالدَّعْوَى دُونَ السَّيِّدِ لِاخْتِصَاصِهَا بِحَقِّ النَّسَبِ، وَتَفَرَّدَ السَّيِّدُ بِحَقِّ الْمِلْكِ فَإِنْ أَلْحَقَتِ الْقَافَةُ الْوَلَدَ بِالْأُمِّ، لَمْ يَثْبُتْ عَلَيْهِ لِسَيِّدِهَا رِقٌّ تَعْلِيلًا بِأَمْرَيْنِ:

Atau jika salah satu dari keduanya adalah perempuan merdeka dan yang lainnya adalah budak perempuan, maka keduanya sama dalam hal ini, dan diperbolehkan bagi budak perempuan untuk mengajukan gugatan sendiri tanpa melibatkan tuannya karena ia memiliki hak khusus atas nasab, sedangkan tuan hanya memiliki hak kepemilikan. Jika ahli qāfah menetapkan anak itu kepada ibu, maka anak tersebut tidak menjadi budak bagi tuannya, dengan dua alasan:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَدْ أَوْلَدَهَا حُرٌّ بِشُبْهَةٍ.

Salah satunya: boleh jadi ia telah melahirkannya dari seorang laki-laki merdeka karena syubhat.

وَالثَّانِي: لِأَنَّ إِلْحَاقَ الْقَافَةِ طَرِيقَةُ الِاجْتِهَادِ، دُونَ الْعِلْمِ وَلَوْ قَامَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَى وِلَادَتِهَا لَهُ فَفِي دُخُولِهِ فِي مِلْكِ السَّيِّدِ وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ التَّعْلِيلَيْنِ:

Kedua: Karena penetapan nasab dengan metode al-qāfah adalah jalan ijtihad, bukan ilmu pasti. Jika ada bukti yang jelas (bayyinah) tentang kelahiran anak itu darinya, maka dalam hal masuknya anak tersebut ke dalam kepemilikan tuannya terdapat dua pendapat, yang berasal dari perbedaan alasan (ta‘līl) yang digunakan.

أَحَدُهُمَا: لَا يَدْخُلُ فِي مِلْكِهِ، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ مِنْ حُرٍّ بشبهه.

Salah satunya: tidak masuk ke dalam kepemilikannya, karena dimungkinkan bahwa ia adalah seorang yang merdeka dengan adanya syubhat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَدْخُلُ فِي مِلْكِهِ، لِأَنَّهُ لَحِقَ بِهَا عَنْ عِلْمٍ، لَا عَنِ اجْتِهَادٍ، وَحُكْمُ الْوَلَدِ حُكْمُ أُمِّهِ، وَيَجِيءُ عَلَى مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ لِلْحُرَّةِ دُونَ الْأَمَةِ، وَالْمُسْلِمَةِ دُونَ الْكَافِرَةِ.

Pendapat kedua: Anak itu masuk dalam kepemilikannya, karena ia dinisbatkan kepadanya berdasarkan pengetahuan, bukan berdasarkan ijtihad. Hukum anak mengikuti hukum ibunya. Menurut mazhab Abu Hanifah, anak itu menjadi milik perempuan merdeka, bukan budak perempuan, dan milik perempuan muslimah, bukan perempuan kafir.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا أَشْكَلَ عَلَى الْقَافَةِ حُكْمُ الْوَلَدِ فِي تَنَازُعِ، وُقِفَ عَلَى إِثْبَاتِ الْوَلَدِ إِلَى أَحَدِهِمَا، كَمَا يُوقَفُ عَلَى إِثْبَاتِهِ إِلَى الْآخَرِ، أَوْ إِلَى أَحَدِ الرَّجُلَيْنِ، لِأَنَّ الطَّبْعَ يُحَرِّكُ الْإِنْسَانَ، وَيَجْذِبُهُ فَلَوْ أَنَّ وَلَدًا تَنَازَعَ رَجُلَانِ فِيهِ، وَادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ، مِنْهُمَا أِنَّهُ أَخُوهُ مِنْ أَبِيهِ، فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ بَاقِيَيْنِ لَمْ تُسْمِعْ دَعْوَاهُمَا، وَكَانَ أَبَوَاهُمَا أَحَقُّ بِالدَّعْوَى مِنْهَا، وَإِنْ كَانَا مَيِّتَيْنِ فَإِنْ وَرِثَهَا مَعَهُمَا غَيْرُهُمَا لَمْ تُسْمِعْ دَعْوَاهُمَا، إِلَّا بِاجْتِمَاعِ جَمِيعِ الْوَرَثَةِ، فَإِنْ أَنْكَرَهَا أَحَدُهُمْ بَطَلَتِ الدَّعْوَى وَإِنْ تَفَرَّدَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمِيرَاثِ أُمِّهِ، سُمِعَتْ دَعْوَاهُمَا، وَجَازَ أَنْ تُسْتَعْمَلَ الْقَافَةُ مَعَهُمَا عِنْدَ عَدَمِ الشَّبَهِ، فَإِنَّ الشَّبَهَ يَنْتَقِلُ مِنَ الآباءِ إِلَى الْأَبْنَاءِ، حَتَّى يَشْتَرِكَ بِهِ الْإخْوَةُ، فَإِذَا أَلْحَقَتْهُ الْقَافَةُ بِإِخْوَةِ أَحَدِهِمَا، حُكِمَ بينهما بالأخوة كما يحكم بالنبوة، لِأَنَّ عَبْدَ بْنَ زَمْعَةَ ادَّعَى أَخًا مِنْ أُمِّهِ، وَأَبِيهِ، فَسَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – دَعْوَاهُ، وَأَلْحَقَهُ بِهِ، أَخًا بِفِرَاشِ أَبِيهِ، فَقَالَ: هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ أَخًا، الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ، حِينَ نَازَعَهُ فِيهِ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَاصٍ عَنْ أَخِيهِ، لِأَنَهُ عاهر بأمه في الجاهلية.

Apabila para ahli qāfah mengalami kesulitan dalam menentukan hukum anak dalam suatu perselisihan, maka penetapan anak tersebut ditangguhkan hingga dapat dibuktikan kepada salah satu dari mereka, sebagaimana juga ditangguhkan penetapannya kepada yang lain, atau kepada salah satu dari dua laki-laki tersebut. Sebab, naluri dapat menggerakkan dan menarik manusia. Jika ada seorang anak yang diperselisihkan oleh dua orang laki-laki, dan masing-masing dari mereka mengaku bahwa anak itu adalah saudaranya dari ayahnya, maka jika kedua orang tua anak itu masih hidup, klaim keduanya tidak didengar, dan kedua orang tuanya lebih berhak untuk mengajukan klaim tersebut. Namun jika kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dan ada ahli waris lain yang mewarisi bersama mereka, maka klaim keduanya tidak didengar kecuali dengan kehadiran seluruh ahli waris. Jika salah satu dari mereka mengingkari, maka gugurlah klaim tersebut. Namun jika masing-masing dari mereka mewarisi dari ibunya sendiri-sendiri, maka klaim keduanya didengar, dan boleh menggunakan ahli qāfah bersama mereka ketika tidak ada kemiripan, karena kemiripan dapat berpindah dari ayah kepada anak-anak, sehingga saudara-saudara pun bisa memiliki kemiripan tersebut. Jika ahli qāfah menetapkan anak itu sebagai saudara dari salah satu dari mereka, maka diputuskan antara keduanya sebagai saudara, sebagaimana diputuskan dalam masalah kenabian. Sebab, ‘Abd bin Zam‘ah mengaku memiliki saudara dari ibu dan ayahnya, lalu Rasulullah ﷺ mendengar klaimnya dan menetapkan anak itu sebagai saudaranya dari ayahnya, seraya bersabda: “Dia adalah milikmu, wahai ‘Abd bin Zam‘ah, sebagai saudara; anak itu milik pemilik ranjang, dan bagi pezina adalah batu,” ketika Sa‘d bin Abī Waqqāṣ memperselisihkan anak itu sebagai saudaranya, karena ia adalah hasil zina dengan ibunya pada masa jahiliah.

هكذا لَوْ مَاتَ الْمُتَنَازِعَانِ فِي الْوَلَدِ، أَوْ أَحَدُهُمَا قَبْلَ حُكْمِ الْقَافَةِ جَمَعَ بَيْنَ الْوَلَدِ وَبَيْنَ مَنْ نَاسَبَ الْمُتَنَازِعَيْنِ، مِنَ الذُّكُورِ وَالْإِنَاثِ، كَالْبَنِينَ، وَالْبَنَاتِ، وَالْأُخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ، وَالْأَعْمَامِ وَالْعَمَّاتِ، وَلَا يُخْتَصُّ بِالذُّكُورِ دُونَ الْإِنَاثِ، لِوُجُودِ الشَّبَهِ فِي الذُّكُورِ وَالْإِنَاثِ وَأَلْحَقَهُ الْقَافَةُ بِمَنْ كَانَ شِبْهَ أَقَارِبِهِ فيه، ونفوه عمن لم يكن شبه أَقَارِبُهُ فِيهِ سَوَاءٌ كَانَ الشَّبَهُ فِي أَقْرَبِ مُنَاسِبِيهِ، أَوْ أَبْعَدِهِمْ لِأَنَّ عِرْقَ النَّسَبِ يَنْزِعُ إِلَى الْأَقَارِبِ وَالْأَبَاعِدِ عَلَى إِيجَادِ الشَّبَهِ، وَمِنَ الْآخَرِ فِي الْأَبْعَدِينَ، أُلْحِقَ بِمَنْ كَانَ شَبِهَ فِي الْأَقْرَبِينَ، دُونَ مَنْ كَانَ شَبَهُهُ فِي الْأَبْعَدِينَ، لِأَنَّ الشَّبَهَ فِي الْأَقْرَبِ أَقْوَى مِنَ الشَّبَهِ فِي الْأَبْعَدِ.

Demikian pula, jika kedua orang yang bersengketa mengenai anak itu meninggal dunia, atau salah satu dari keduanya meninggal sebelum adanya putusan dari para ahli qāfah, maka anak tersebut dikumpulkan bersama orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kedua orang yang bersengketa itu, baik laki-laki maupun perempuan, seperti anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan, saudara laki-laki, saudara perempuan, paman, dan bibi. Tidak dikhususkan hanya pada laki-laki saja tanpa perempuan, karena kemiripan bisa terdapat pada laki-laki maupun perempuan. Para ahli qāfah akan menetapkan anak itu kepada siapa saja dari kerabatnya yang terdapat kemiripan padanya, dan menafikan dari siapa saja yang tidak terdapat kemiripan kerabatnya pada anak itu, baik kemiripan itu terdapat pada kerabat terdekat maupun yang lebih jauh, karena hubungan nasab dapat menarik kemiripan kepada kerabat dekat maupun jauh. Menurut pendapat lain, jika kemiripan itu terdapat pada kerabat yang lebih jauh, maka anak itu disandarkan kepada kerabat terdekat yang terdapat kemiripan, dan tidak kepada kerabat yang lebih jauh, karena kemiripan pada kerabat terdekat lebih kuat daripada kemiripan pada kerabat yang lebih jauh.

(بَابُ جَوَابِ الشَّافِعِيِّ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ فِي الولد يدعيه عدة رجال)

(Bab tentang jawaban asy-Syafi‘i terhadap Muhammad bin al-Hasan dalam masalah anak yang diakui oleh beberapa orang laki-laki)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” قلت لمحمد بن الحسن زعمت أن أبا يوسف قال إن ادعاه اثنان فهو ابنهما بالأثر فَإِنِ ادَعَاهُ ثَلَاثَةٌ فَهُوَ ابْنَهُمُ بِالْقِيَاسِ وَإِنِ ادَعَاهُ أَرْبَعَةٌ لَمْ يَكُنِ ابْنَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قال هذا خطأ من قوله قلت فإذ زعمت إَنَّهُمْ يَشْتَرِكُونَ فِي نَسَبِهِ وَلَوْ كَانُوا مِائَةً كما يشتركون في المال لو مات أحد الشركاء في المال أيملك الحي إلا ما كان يملكه قبل موت صاحبه؟ قال لا قلت فقد زَعَمْتَ إِنْ مَاتَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ وَرِثَهُ مِيرَاثَ ابن تَامٍّ وَانْقَطَعَتْ أُبُوَّتُهُ فَإِنْ مَاتَ وَرِثَهُ كُلُّ واحد منهم سهما من مائة سهم من مِيرَاثِ أَبٍ فَهَلْ رَأَيْتَ أَبًا قَطُّ إِلَى مدة؟ قلت أو رأيت إذا قطعت أبوته من الميت أيتزوج بناته وهن اليوم أجنبيات وهن بالأمس له أخوات؟ قال إنه لا يدخل هذا قلت وأكثر قال كيف كان يلزمنا أن نورثه؟ قلت نورثه في قولك من أحدهم سَهْمًا مِنْ مِائْةِ سَهْمٍ مِنْ مِيرَاثِ ابْنٍ كَمَا نُوَرِّثُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَهْمًا مِنْ مائة سهم من ميراث أب (قال المزني) رحمه الله ليس هذا بلازم لهم في قولهم لِأَنَّ جَمِيعَ كُلِّ أَبٍ أَبُو بَعْضِ الِابْنِ وَلَيْسَ بَعْضُ الِابْنِ ابْنًا لِبَعْضِ الْأَبِ دُونَ جميعه كَمَا لَوْ مَلَكُوا عَبْدًا كَانَ جَمِيعُ كُلِّ سَيِّدٍ مِنْهُمْ مَالِكًا لِبَعْضِ الْعَبْدِ وَلَيْسَ بَعْضُ العبد ملكا لبعض السيد دون جميعه فتفهم ذلك تجده إن شاء الله “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku berkata kepada Muhammad bin al-Hasan, ‘Engkau mengklaim bahwa Abu Yusuf berkata: Jika dua orang mengakuinya, maka ia adalah anak mereka berdua berdasarkan atsar. Jika tiga orang mengakuinya, maka ia adalah anak mereka berdasarkan qiyās. Dan jika empat orang mengakuinya, maka ia bukan anak salah satu dari mereka.’ Ia berkata, ‘Ini adalah kesalahan dari ucapannya.’ Aku berkata, ‘Jika engkau mengklaim bahwa mereka berbagi dalam nasabnya, meskipun mereka seratus orang, sebagaimana mereka berbagi dalam harta; jika salah satu dari para pemilik harta itu meninggal, apakah yang masih hidup memiliki kecuali apa yang ia miliki sebelum kematian temannya?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Aku berkata, ‘Maka engkau mengklaim bahwa jika salah satu dari mereka meninggal, ia mewarisinya dengan warisan anak secara penuh dan terputuslah status kebapakan darinya. Jika ia meninggal, maka masing-masing dari mereka mewarisi satu bagian dari seratus bagian dari warisan seorang ayah. Pernahkah engkau melihat seorang ayah hanya untuk waktu tertentu? Aku bertanya lagi, ‘Pernahkah engkau melihat jika status kebapakan terputus dari orang yang meninggal, apakah ia boleh menikahi putri-putrinya yang hari ini menjadi orang asing baginya, padahal kemarin mereka adalah saudara perempuannya?’ Ia menjawab, ‘Ini tidak masuk akal.’ Aku berkata, ‘Lebih dari itu.’ Ia bertanya, ‘Bagaimana mungkin kami diwajibkan untuk mewariskannya?’ Aku berkata, ‘Kami mewariskannya menurut pendapatmu dari salah satu mereka satu bagian dari seratus bagian dari warisan anak, sebagaimana kami mewariskan kepada masing-masing dari mereka satu bagian dari seratus bagian dari warisan ayah.’ (Al-Muzani raḥimahullāh berkata:) ‘Ini tidak wajib bagi mereka menurut pendapat mereka, karena seluruh ayah adalah ayah dari sebagian anak, dan sebagian anak bukanlah anak dari sebagian ayah saja tanpa seluruhnya. Sebagaimana jika mereka memiliki seorang budak, maka seluruh tuan dari mereka adalah pemilik sebagian budak, dan sebagian budak bukanlah milik sebagian tuan saja tanpa seluruhnya. Maka pahamilah hal ini, niscaya engkau akan menemukannya, insya Allah.’”

قال الماوردي: هذا مناظرة جرت بين الشافعي ومحمد بن الحسن رحمهما الله لَمْ يُثْبِتْهَا الرَّبِيعُ فِي كِتَابِهِ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ وَحَكَي عَنِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ لِبَعْضِ النَّاسِ وَصَرَّحَ بِهَا الشَّافِعِيُّ فِي الْإِمْلَاءِ فَقَالَ: قُلْتُ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ فَنَقَلَهَا الْمُزَنِيُّ عَنْهُ فِي الْإِمْلَاءِ وَلَمْ يختلف عليه أبو حنيفة رضي الله عنه وَأَصْحَابُهُ فِي الْمَنْعِ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْقَافَةِ، وَاخْتَلَفُوا بَعْدَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى الْمَنْعِ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْقَافَةِ فِيمَنْ يَلْحَقُ بِهِ الْوَلَدُ مِنَ الْآبَاءِ الْمُتَنَازِعَيْنِ، فِيهِ فَأَلْحَقَهُ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ رَحِمَة اللَّهُ بِاثْنَيْنِ، وَلَمْ يُلْحِقْهُ بِأَكْثَرَ اتِّبَاعًا لِمَا حُكِيَ مِنَ الْأَثَرِ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي إِلْحَاقِهِ بِاثْنَيْنِ.

Al-Mawardi berkata: Ini adalah perdebatan yang terjadi antara asy-Syafi‘i dan Muhammad bin al-Hasan rahimahumallah yang tidak dicantumkan oleh ar-Rabi‘ dalam kitabnya kepada Muhammad bin al-Hasan, dan dinukil dari asy-Syafi‘i rahimahullah bahwa beliau berkata, “Aku berkata kepada sebagian orang,” dan asy-Syafi‘i secara tegas menyebutkannya dalam al-Imla’, lalu beliau berkata, “Aku berkata kepada Muhammad bin al-Hasan,” kemudian al-Muzani menukilkannya darinya dalam al-Imla’. Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu dan para sahabatnya tidak berbeda pendapat dalam melarang penggunaan al-qāfah, dan mereka berselisih setelah sepakat melarang penggunaan al-qāfah dalam menetapkan nasab anak kepada para ayah yang diperselisihkan, maka Muhammad bin al-Hasan rahmatullah ‘alaih menetapkan nasabnya kepada dua orang, dan tidak menetapkannya kepada lebih dari dua orang, mengikuti apa yang dinukil dari atsar Umar radhiyallahu ‘anhu dalam menetapkan nasab kepada dua orang.

وَأَلْحَقَهُ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ بِثَلَاثَةٍ، وَلَمْ يُلْحِقْهُ بِأَكْثَرَ مِنْهُمْ، فَاللَّاحِقُ بالثاني أَثَرًا، وَاللَّاحِقُ بِالثَّالِثِ قِيَاسًا، وَمُنِعَ مِنْ إِلْحَاقِهِ بِالرَّابِعِ قِيَاسًا وَأَلْحَقَهُ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَنِ ادَّعَاهُ وَإِنْ كَانُوا مِائَةً قِيَاسًا عَلَى الْأَثَرِ فِي الثَّانِي، فَنَاظَرَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ رَحِمَهُ اللَّهُ على قول أبي يوسف رحمه الله وَعَلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَائِلًا فِي الْعَدَدِ بِقَوْلِهِمَا فَلِأَنَّهُ مُوَافِقٌ لَهُمَا فِي تَرْكِ الْقِيَافَةِ، وَإِلْحَاقِهِ بِالِاثْنَيْنِ، وَإِذَا بَطَلَ قَوْلُهُمَا فِي إِلْحَاقِهِ بِأَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْنِ بَطَلَ قَوْلُهُ فِي إِلْحَاقِهِ بِالِاثْنَيْنِ.

Abu Yusuf rahimahullah menyamakannya dengan tiga orang, dan tidak menyamakannya dengan lebih dari itu. Maka, yang disamakan dengan yang kedua adalah berdasarkan atsar, dan yang disamakan dengan yang ketiga adalah berdasarkan qiyās, dan tidak dibolehkan menyamakannya dengan yang keempat berdasarkan qiyās. Sedangkan Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu menyamakannya dengan setiap orang yang mengakuinya, meskipun mereka seratus orang, berdasarkan qiyās atas atsar pada yang kedua. Maka, asy-Syafi‘i rahimahullah berdebat dengan Muhammad bin al-Hasan rahimahullah mengenai pendapat Abu Yusuf rahimahullah dan pendapat Abu Hanifah, dan meskipun beliau tidak berpendapat tentang jumlah seperti keduanya, karena beliau sependapat dengan mereka dalam meninggalkan qiyāfah dan menyamakannya dengan dua orang. Jika pendapat keduanya batal dalam menyamakannya dengan lebih dari dua orang, maka batal pula pendapatnya dalam menyamakannya dengan dua orang.

وَلِأَنَّ اسْتِعْمَالَ الْقَافَةِ بِالشَّبَهِ، وَالْأَثَرِ، وَالْعُرْفِ.

Dan karena penggunaan al-qāfah dengan kemiripan, jejak, dan ‘urf.

فَابْتَدَأَ الشَّافِعِيُّ بِمُنَاظَرَتِهِ عَلَى الْقِيَاسِ فِي الرَّابِعِ، كَالثَّالِثِ فَلِمَ جَعَلَ الثَّالِثَ قِيَاسًا، وَلَمْ يَجْعَلِ الرَّابِعَ قِيَاسًا. وَإِنِ امْتَنَعَ فِي الرَّابِعِ، امْتَنَعَ فِي الثَّالِثِ فَبَطَلَ فِيهِ اسْتِعْمَالُ الْقِيَاسِ، وَلَمْ يَبْقَ فِيهِ إِلَّا الْأَثَرُ الْمَرْوِيُّ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الثَّانِي، وَقَدِ اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِيهِ عَنْ عُمَرَ فَرَوَى عَنْهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ، أَنَّهُ قَالَ لِلْوَلَدِ: انْتَسِبْ إِلَى أَيِّهِمَا شِئْتَ.

Maka asy-Syafi‘i memulai perdebatan dengannya tentang qiyās pada kasus keempat, sebagaimana pada kasus ketiga. Mengapa ia menjadikan kasus ketiga sebagai qiyās, namun tidak menjadikan kasus keempat sebagai qiyās? Jika ia menolak qiyās pada kasus keempat, maka ia juga harus menolaknya pada kasus ketiga. Dengan demikian, penggunaan qiyās pada kasus tersebut menjadi batal, dan yang tersisa hanyalah atsar yang diriwayatkan dari ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu pada kasus kedua. Namun, riwayat tentang hal itu dari ‘Umar berbeda-beda; ‘Urwah bin az-Zubair dan Sulaiman bin Yasar meriwayatkan bahwa ‘Umar berkata kepada anak tersebut: “Nasabkanlah dirimu kepada siapa saja dari keduanya yang kamu kehendaki.”

وَرَوَي عَنْهُ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، أَنَّهُ قَضَى بِهِ لَهُمَا يَرِثَانِهِ وَيَرِثُهُمَا، وَهُوَ لِلْبَاقِي مِنْهُمَا فلم تكن لإحدى الرِّوَايَتَيْنِ بِأَوْلَى مِنَ الْأُخْرَى، فَتَعَارَضَا، وَأَوْجَبَ التَّعَارُضُ سُقُوطُهُمَا.

Dan telah meriwayatkan dari beliau, al-Hasan al-Bashri, bahwa beliau memutuskan perkara tersebut untuk keduanya: keduanya saling mewarisi, dan ia mewarisi mereka berdua, dan itu untuk yang masih hidup di antara mereka. Maka tidak ada salah satu dari dua riwayat yang lebih utama dari yang lain, sehingga keduanya saling bertentangan, dan pertentangan itu menyebabkan keduanya gugur.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: ثُمَّ عَدَلَ الشَّافِعِيُّ فِي مُنَاظَرَتِهِ عَلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ إَنَّهُمْ يَشْتَرِكُونَ فِي نَسَبِهِ، وَلَوْ كَانُوا مِائَةً كَمَا يَشْتَرِكُونَ فِي الْمَالِ، فَأَبْطَلَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ هذا القول من أربعة أوجه:

Kemudian asy-Syafi‘i dalam perdebatan beliau beralih kepada pendapat Abu Hanifah rahimahullah bahwa mereka (anak-anak) berbagi dalam nasabnya, meskipun mereka seratus orang, sebagaimana mereka berbagi dalam harta. Maka asy-Syafi‘i rahimahullah membatalkan pendapat ini dari empat sisi:

أحدهما: أَنَّهُ قَالَ لَوْ مَاتَ أَحَدُ الشُّرَكَاءِ فِي الْمَالِ، لَمْ يَمْلُكِ الْحَيُّ إِلَّا مَا كَانَ يَمْلِكُ قَبْلَ مَوْتِ صَاحِبِهِ.

Pertama: Ia berkata, jika salah satu dari para sekutu dalam harta itu meninggal dunia, maka yang masih hidup tidak memiliki kecuali apa yang telah ia miliki sebelum kematian rekannya.

قَالَ: لَا.

Dia berkata: Tidak.

فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: ” زَعَمْتَ إِنْ مَاتَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ وَرِثَهُ مِيرَاثَ ابْنٍ تَامٍّ، وَانْقَطَعَتْ أُبُوَّتُهُ ” فَأَبْطَلَ الشَّافِعِيُّ بِهَذَا قِيَاسَهُمْ عَلَى الْمَالِ، لِأَنَّ مَوْتَ أَحَدِ الشُّرَكَاءِ فِيهِ لَا يُوجِبُ انْتِقَالَ حَقِّهِ إِلَيْهِمْ، وَعِنْدَهُمْ أَنَّ مَوْتَ أَحَدِ الْآبَاءِ يُوجِبُ انْتِقَالَ أُبُوَّتِهِ إِلَيْهِمْ، فَبَطَلَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا قِيَاسًا.

Maka asy-Syafi‘i berkata: “Engkau mengklaim bahwa jika salah satu dari mereka meninggal, ia mewarisinya dengan warisan anak yang sempurna, dan terputuslah status kebapakannya.” Dengan demikian, asy-Syafi‘i membatalkan qiyās mereka terhadap harta, karena kematian salah satu rekan dalam harta tidak menyebabkan haknya berpindah kepada mereka, sedangkan menurut mereka, kematian salah satu ayah menyebabkan status kebapakannya berpindah kepada mereka. Maka batal pula penyamaan antara keduanya secara qiyās.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنْ قَالَ زَعَمْتَ أَنْ لَوْ مَاتَ رَجُلٌ وَاحِدٌ وَرِثَهُ مِيرَاثَ أَبٍ تَامٍّ وَانْقَطَعَتْ أُبُوَّتُهُ، فَإِنْ مَاتَ وَرِثَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَهْمًا مِنْ مِائَةِ سَهْمٍ مِنْ مِيرَاثِ أَبٍ، فَهَلْ رَأَيْتَ أَبًا قَطُّ إِلَى مُدَّةٍ؟ فَأَبْطَلَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِهَذَا إِلْحَاقَ نَسَبِهِ بِالْجَمَاعَةِ، لِأَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُهُمُ انْقَطَعَ نَسَبُهُ مِنْهُ فَصَارَ أَبًا فِي حَيَاتِهِ وَغَيْرَ أَبٍ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَجَعَلُوا نَسَبَهُ مُقَدَّرًا بِمُدَّةِ حَيَّاتِهِ، وَلَمْ نَرَ أَبًا قَطُّ إِلَى مُدَّةٍ.

Pendapat kedua: Jika dikatakan, “Engkau mengira bahwa jika seorang laki-laki meninggal dunia, ia diwarisi dengan warisan seorang ayah secara penuh, lalu hubungan keayahannya terputus. Maka jika ia meninggal, masing-masing dari mereka mewarisi satu bagian dari seratus bagian dari warisan seorang ayah. Pernahkah engkau melihat seorang ayah yang hanya menjadi ayah untuk suatu masa tertentu?” Maka dengan ini, Imam Syafi‘i rahimahullah membatalkan penyamaan nasabnya dengan kelompok (jamaah), karena mereka berpendapat bahwa jika salah satu dari mereka meninggal, maka nasabnya terputus darinya, sehingga ia menjadi ayah selama hidupnya dan bukan ayah setelah kematiannya. Mereka menjadikan nasabnya ditentukan oleh masa hidupnya, padahal kita tidak pernah melihat seorang ayah hanya menjadi ayah untuk suatu masa tertentu.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ قَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا انْقَطَعَتْ أُبُوَّتُهُ عَنِ الْمَيِّتِ. أَيَتَزَوَّجُ بَنَاتَهُ، وَهُنَّ الْيَوْمَ أَجْنَبِيَّاتٌ، وَكُنَّ لَهُ بِالْأَمْسِ أَخَوَاتٍ، فَأَبْطَلَ الشَّافِعِيُّ عَلَيْهِمْ بِهَذَا مَا قَالُوهُ مِنِ انْقِطَاعِ أُبُوَّتِهِ بِالْمَوْتِ، فَقَالَ بَنَاتُ الْمَيِّتِ مِنْهُمْ مَا حُكْمُهُمْ مَعَ الْوَلَدِ أَيَحْلِلْنَ لَهُ أَمْ لَا؟ فَقَدْ كُنَّ لَهُ بِالْأَمْسِ أَخَوَاتٌ فَإِنْ قَالَ: يَحْلِلْنَ بَطَلَ أَنْ يَكُنَّ بِالْأَمْسِ أَخَوَاتٌ مُحَرَّمَاتٌ وَيَصِرْنَ فِي الْيَوْمِ أَجْنَبِيَّاتٌ مُحَلَّلَاتٌ، وَإِنْ قَالَ يَحْرُمْنَ، بَطَلَ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ، وَلَهُنَّ أَبٌ جَامِعٌ بَيْنَ نَسَبِهِ، وَنَسَبِهِنَّ، وَيَصِرْنَ أَجْنَبِيَّاتٍ مُحَرَّمَاتٍ.

Pendapat ketiga: Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika hubungan kebapakan seseorang terhadap si mayit terputus? Apakah ia boleh menikahi putri-putrinya, padahal hari ini mereka adalah perempuan asing baginya, sedangkan kemarin mereka adalah saudara perempuannya?” Dengan ini, asy-Syafi‘i membatalkan pendapat mereka tentang terputusnya hubungan kebapakan karena kematian. Ia berkata, “Bagaimana hukum putri-putri si mayit terhadap anak tersebut? Apakah mereka halal baginya atau tidak? Padahal kemarin mereka adalah saudara perempuannya.” Jika ia berkata, “Mereka halal baginya,” maka batal-lah bahwa kemarin mereka adalah saudara perempuan yang haram dinikahi, lalu hari ini menjadi perempuan asing yang halal dinikahi. Dan jika ia berkata, “Mereka haram baginya,” maka batal-lah bahwa ia tidak memiliki ayah yang menyatukan nasabnya dan nasab mereka, lalu mereka menjadi perempuan asing yang haram dinikahi.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ: مِمَّا قَالُوهُ فِي التَّوَارُثِ بَيْنَهُمْ، أَنَّهُ إِنْ مَاتَ جَعَلُوا مِيرَاثَهُ بَيْنَ جَمِيعِهِمْ، وَأَعْطَوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِيرَاثَ بَعْضِ أَبٍ، وَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمْ أَعْطَوْهُ جَمِيعَ مِيرَاثِ أَبٍ تَامٍّ، فَجَعَلُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بَعْضَ أَبٍ، وَلَمْ يَجْعَلُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بَعْضَ ابْنٍ.

Dan sisi keempat dari apa yang mereka katakan dalam hal saling mewarisi di antara mereka adalah bahwa jika seseorang meninggal, mereka membagikan warisannya kepada seluruh anggota mereka, dan memberikan kepada masing-masing dari mereka bagian warisan dari sebagian seorang ayah. Namun jika salah satu dari mereka meninggal, mereka memberinya seluruh warisan seorang ayah secara penuh. Maka mereka menjadikan masing-masing dari mereka sebagai bagian dari seorang ayah, dan tidak menjadikan masing-masing dari mereka sebagai bagian dari seorang anak.

فَقَالَ مُحَمَّدٌ رَحِمَهُ اللَّهُ لِلشَّافِعِيِّ: كَيْفَ يَلْزَمُنَا أَنْ نُوَرِّثَهُ، فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: يَلْزَمُكَ أَنْ تُوَرِّثَهُمْ فِي قَوْلِكَ: أَنْ نُورِّثَهُ مِنْ كُلِّ واحد منهم سهما من مائة سهم من مِيرَاثِ ابْنٍ، كَمَا نُوَرِّثُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَهْمًا مِنْ مِائَةِ سَهْمٍ مِنْ مِيرَاثِ أَبٍ، فَاعْتَرَضَ الْمُزَنِيُّ عَلَى الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي هَذَا الْجَوَابِ فَقَالَ: ” لَيْسَ هَذَا بِلَازِمٍ لَهُمْ فِي قَوْلِهِ؛ لِأَنَّ جَمِيعَ كُلِّ أَبٍ أَبُو بَعْضِ الِابْنِ وَلَيْسَ بَعْضُ الِابْنِ ابْنًا لِبَعْضِ الْأَبِ دُونَ جَمِيعِهِ.

Maka Muhammad rahimahullah berkata kepada asy-Syafi‘i: “Bagaimana bisa kami diwajibkan untuk mewariskan kepadanya?” Maka asy-Syafi‘i berkata: “Kamu diwajibkan untuk mewariskan kepada mereka menurut pendapatmu, yaitu bahwa kita mewariskan kepadanya dari setiap orang di antara mereka satu bagian dari seratus bagian dari warisan seorang anak, sebagaimana kita mewariskan kepada setiap orang di antara mereka satu bagian dari seratus bagian dari warisan seorang ayah.” Maka al-Muzani membantah asy-Syafi‘i rahimahullah dalam jawaban ini, lalu berkata: “Hal ini tidak wajib bagi mereka menurut pendapatnya; karena seluruh ayah adalah ayah dari sebagian anak, sedangkan sebagian anak bukanlah anak bagi sebagian ayah tanpa keseluruhannya.”

ثُمَّ اسْتَشْهَدَ عَلَيْهِ فَقَالَ: ” كَمَا لَوْ مَلَكُوا عَبْدًا، كَانَ جَمِيعُ كُلِّ سَيِّدٍ مِنْهُمْ مَالِكًا لِبَعْضِ الْعَبْدِ، وَلَيْسَ بَعْضُ الْعَبْدِ مِلْكًا لِبَعْضِ السَّيِّدِ، دُونَ جَمِيعِهِ فَشَذَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فَسَاعَدَ الْمُزَنِيَّ عَلَى اعْتِرَاضِهِ، وَمُنِعَ فِيمَا أَلْزَمَهُمُ الشَّافِعِيُّ عَلَى قَوْلِهِمْ أَنْ يَكُونَ لَازِمًا لَهُمْ، تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ، وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى صِحَّةِ إِلْزَامِ الشَّافِعِيِّ لَهُمْ، وَأَبْطَلَ اعْتِرَاضَ الْمُزَنِيِّ عَلَى الشَّافِعِيِّ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kemudian ia mengajukan dalil atasnya, lalu berkata: “Sebagaimana jika mereka memiliki seorang budak, maka setiap tuan dari mereka seluruhnya adalah pemilik sebagian dari budak itu, dan tidaklah sebagian budak itu menjadi milik sebagian tuan saja tanpa keseluruhan mereka.” Maka sebagian sahabat kami berbeda pendapat, lalu mendukung Muzani dalam sanggahannya, dan menolak apa yang diwajibkan oleh asy-Syafi‘i atas mereka menurut pendapat mereka, dengan alasan sebagaimana yang disebutkan oleh Muzani. Namun mayoritas sahabat kami berpendapat bahwa kewajiban yang ditetapkan oleh asy-Syafi‘i kepada mereka adalah sah, dan mereka membatalkan sanggahan Muzani terhadap asy-Syafi‘i dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ مَا يَبْطُلُ اعْتِرَاضُ الْمُزَنِيِّ، لِأَنَّ عِنْدَهُ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الْآبَاءِ أَبٌ لِكُلِّ الْوَلَدِ، وَكُلُّ الْوَلَدِ ابْنٌ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْآبَاءِ، فَبَطَلَ مَا اسْتَشْهَدَ بِهِ الْمُزَنِيُّ مِنِ اشْتِرَاكِ السَّادَةِ فِي الْعَبْدِ الْوَاحِدِ.

Salah satunya: Bahwa Abu Hanifah rahimahullah berpendapat dengan sesuatu yang membatalkan sanggahan al-Muzani, karena menurut beliau setiap ayah adalah ayah bagi seluruh anak, dan setiap anak adalah anak bagi setiap ayah, sehingga batal apa yang dijadikan dalil oleh al-Muzani tentang adanya kepemilikan bersama para tuan terhadap satu budak.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ إِذَا كَانَ بَعْضُ الْوَلَدِ ابْنًا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْآبَاءِ، وَجَبَ إِذَا مَاتَ أَحَدُ الْآبَاءِ، أَنْ لَا يَرِثَهُ مِنْ بَعْضِ الْبَنِينَ مَا يَكُونُ مُسْتَحِقًّا بِجَمِيعِ الْبُنُوَّةِ، فَصَحَّ مَا قَالَ الشَّافِعِيُّ وَفَسَدَ مَا اعْتَرَضَ بِهِ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَإِذَا بَطَلَ إِلْحَاقُ الْوَلَدِ بِآبَاءٍ ثَبَتَ اسْتِعْمَالُ الْقَافَةِ، لِأَنَّ النَّاسَ فِيهِ عَلَى قَوْلَيْنِ: فَوَجَبَ فَسَادُ أَحَدِهِمَا صِحَّةُ الْآخَرِ، وَقَدِ اسْتُشْهِدَ مِنْ عِلْمِ الْقَافَةِ فِي إِلْحَاقِ الْأَنْسَابِ، مَا يُزِيلُ لارتياب بِهِ، فَقَدْ حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا شَكَّ فِي ابْنٍ لَهُ، فَسَارَ بِهِ إِلَى دِيَارِ بَنِي مُدْلِجٍ وَمَعَ الْأَبِ أَخٌ لَهُ، وَهُمَا عَلَى رَاحِلَتَيْنِ، وَالْوَلَدُ مَاشٍ، فَأَعْيَا، وَأَقْبَلَ صَبِيٌّ مِنْهُمْ فَقَالَ لَهُ الْأَبُ: ارْدُفْ هَذَا الْغُلَامَ بِنَا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ وَإِلَيْهِمَا ثُمَّ قَالَ: أُرْدِفُهُ بِأَبِيهِ، أَوْ بِعَمِّهِ؟ فَقَالَ: بِأَبِيهِ. فَأَرْدَفَهُ بِهِ، فَعَادَ مِنْ فَوْرِهِ وَزَالَ مَا كَانَ فِي نَفْسِهِ. وَكَالَّذِي رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ أَبِي لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَنِيفَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ” لَمَّا وَلَدَتْ مَارِيَةُ الْقِبْطِيَّةُ إِبْرَاهِيمَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كَانَ فِي نَفْسِهِ مِنْهُ شَيْءٌ بَعَثَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا إِبْرَاهِيمَ، فَسَلَّمَ، وَذَهَبَ مَا كَانَ فِي نَفْسِهِ. وَكَانَ لِلشَّافِعِيِّ فِرَاسَةٌ، فَحَكَى أَبُو ثَوْرٍ قَالَ: كُنْتُ بِحَضْرَةِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ، إِذَا جَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ مَلِيًّا وَقَالَ لَهُ: أَلَكَ أَخٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. وَلَكِنَّهُ غَائِبٌ فِي الْبَحْرِ مُنْذُ سِنِينَ. فَقَالَ لَهُ: لَعَلَّهُ هذا الجائي مقام إِلَيْهِ، فَإِذَا هُوَ أَخُوهُ قَدْ قَدِمَ مِنْ سَاعَتِهِ. وَحَكَى أَبُو ثَوْرٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: مَا صِنَاعَةُ هَذَا؟ فَقَالَ: لَا أَعْرِفُ. وَلَكِنْ إِمَّا أَنْ يَكُونَ خَيَّاطًا، أَوْ نَجَّارًا، فَسَأَلَنَا الرَّجُلَ عَنْ صِنَاعَتِهِ، فَقَالَ: كُنْتُ خَيَّاطًا فَصِرْتُ نَجَّارًا.

Kedua: Jika sebagian anak adalah anak dari masing-masing ayah, maka apabila salah satu ayah meninggal, tidak boleh ia diwarisi oleh sebagian anak dengan hak waris penuh sebagai anak, sehingga benarlah pendapat asy-Syafi‘i dan batalah sanggahan al-Muzani rahimahullah. Jika penetapan anak kepada beberapa ayah tidak sah, maka penggunaan ilmu al-qāfah menjadi tetap, karena dalam hal ini terdapat dua pendapat di kalangan manusia: maka jika salah satunya batal, yang lain menjadi benar. Telah dijadikan dalil dari ilmu al-qāfah dalam penetapan nasab, yang menghilangkan keraguan terhadapnya. Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang ragu terhadap seorang anaknya, lalu ia membawanya ke negeri Bani Mudlij bersama saudaranya, keduanya menaiki kendaraan, sedangkan anak itu berjalan kaki, hingga ia kelelahan. Lalu datang seorang anak dari mereka, maka ayahnya berkata kepadanya: “Boncengkanlah anak ini bersama kami.” Ia memandang kepada anak itu dan kepada keduanya, lalu berkata: “Apakah aku memboncengkannya dengan ayahnya atau dengan pamannya?” Ayahnya menjawab: “Dengan ayahnya.” Maka ia memboncengkannya dengan ayahnya, lalu hilanglah keraguan yang ada dalam dirinya. Seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahb dari Abu Lahi‘ah dari Yazid bin Abi Hanifah dari Muhammad bin Syihab dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika Maria al-Qibthiyyah melahirkan Ibrahim untuk Rasulullah ﷺ, beliau merasa ada sesuatu dalam hatinya terhadap anak itu, lalu Jibril datang kepadanya dan berkata: ‘Salam sejahtera atasmu, wahai Abu Ibrahim.’ Maka beliau pun merasa tenang dan hilanglah apa yang ada dalam hatinya.” Asy-Syafi‘i memiliki firasat yang tajam, sebagaimana diceritakan oleh Abu Tsaur: “Aku pernah berada di hadapan asy-Syafi‘i rahimahullah, lalu datang seorang laki-laki dan duduk di hadapannya. Asy-Syafi‘i memandangnya lama, lalu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau punya saudara?’ Ia menjawab: ‘Ya, tetapi ia telah lama pergi ke laut.’ Asy-Syafi‘i berkata: ‘Barangkali orang yang baru datang ini adalah saudaramu.’ Ternyata benar, ia adalah saudaranya yang baru saja datang. Abu Tsaur juga menceritakan: ‘Aku pernah bersama asy-Syafi‘i, lalu datang seorang laki-laki, asy-Syafi‘i bertanya: ‘Apa pekerjaan orang ini?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak tahu.’ Asy-Syafi‘i berkata: ‘Mungkin ia seorang penjahit atau tukang kayu.’ Lalu kami bertanya kepada laki-laki itu tentang pekerjaannya, ia menjawab: ‘Dulu aku seorang penjahit, lalu menjadi tukang kayu.'”

وَقَالَ الْمُصَنَّفُ: كُنْتُ ذَاتَ يَوْمٍ، وَأَنَا جَالِسٌ بِجَامِعِ الْبَصْرَةِ، وَرَجُلٌ يَتَكَلَّمُ فَجَمَعَنِي وَأَصْحَابِي حُضُورُهُ، فَلَمَّا سُمِعَتُ كَلَامَهُ، قُلْتُ لَهُ وُلِدْتَ بِأَذْرَبِيجَانَ، وَنَشَأَتْ بِالْكُوفَةِ قَالَ: نَعَمْ. فَعَجِبَ مِنِّي مَنْ حَضَرَ. وَالْقِيَافَةُ، وَالْفِرَاسَةُ، غَرِيزَةٌ فِي الطِّبَاعِ يُعَانُ فِيهَا الْمَجْبُولُ عَلَيْهَا، وَيَعْجِزُ فِيهَا الْمَصْرُوفُ عَنْهَا، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Penulis berkata: Suatu hari, ketika aku sedang duduk di Masjid Basrah, ada seorang laki-laki yang sedang berbicara sehingga aku dan para sahabatku berkumpul untuk mendengarkannya. Ketika aku mendengar ucapannya, aku berkata kepadanya, “Engkau lahir di Azerbaijan dan tumbuh besar di Kufah.” Ia menjawab, “Benar.” Maka orang-orang yang hadir pun heran kepadaku. Qiyāfah dan firāsah adalah naluri dalam tabiat manusia; orang yang memang memiliki bakat itu akan dimudahkan, sedangkan yang tidak memilikinya akan kesulitan. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.

(بَابُ دَعْوَى الْأَعَاجِمِ وِلَادَةَ الشِّرْكِ وَالطِّفْلِ يُسْلِمُ أحد أبويه)

(Bab tentang klaim orang-orang non-Arab mengenai kelahiran anak hasil perzinaan, dan tentang anak kecil yang salah satu dari kedua orang tuanya masuk Islam)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا ادَعَى الْأَعَاجِمُ وِلَادَةً بِالشِّرْكِ فَإِنْ جَاؤُونَا مُسْلِمِينَ لَا وَلَاءَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِعِتْقٍ قَبِلْنَا دَعْوَاهُمْ كَمَا قَبِلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika orang-orang ‘ajam mengaku telah lahir dalam keadaan musyrik, lalu mereka datang kepada kita sebagai Muslim dan tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki wala’ karena pembebasan budak, maka kita menerima pengakuan mereka sebagaimana kita menerima dari orang-orang Jahiliyah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصِلُ هَذَا الْبَابِ أَنَّ حِفْظَ الْأَنْسَابِ يَنْقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: قِسْمٌ يَجِبُ حِفْظُهُ وَتَعْيِينُهُ، وَقِسْمٌ يَجِبْ حِفْظُهُ وَلَا يُجِبْ تَعْيِينُهُ، وَقِسْمٌ لَا يَجِبُ حِفْظُهُ وَلَا تَعْيِينُهُ.

Al-Mawardi berkata: Pokok dari pembahasan ini adalah bahwa menjaga nasab terbagi menjadi tiga bagian: bagian yang wajib dijaga dan ditentukan, bagian yang wajib dijaga namun tidak wajib ditentukan, dan bagian yang tidak wajib dijaga maupun ditentukan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: الَّذِي يَجِبُ حِفْظُهُ وَتَعْيِينُهُ فَهِيَ الْأَنْسَابُ الَّتِي يُسْتَحَقُّ بِهَا التَّوَارُثُ، لِقُرْبِهِمَا وضبط عددها، فحفظها بَيْنَ الْمُتَنَاسِبِينَ فِيهَا وَاجِبٌ لَهُمْ، وَعَلَيْهِمْ عَلَى تَفْضِيلِ النَّسَبِ وَتَعْيِينِ الدَّرَجِ، لِأَنَّهَا تُوجِبُ مِنْ حُقُوقِ التَّوَارُثِ لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ وَوِلَايَةُ النِّكَاحِ بِمَا لَا يُوصِلُ إِلَى مَعْرِفَةِ مُسْتَحِقِّهِ، إِلَّا مِنْهُمْ فَلَزِمَهُمْ حِفْظُهُ وَتَعَدُّدُهُ.

Adapun bagian pertama: yaitu yang wajib dijaga dan ditentukan adalah nasab-nasab yang dengannya seseorang berhak mendapatkan warisan, karena kedekatannya dan jumlahnya yang terbatas. Maka menjaga nasab tersebut di antara orang-orang yang memiliki hubungan nasab di dalamnya adalah wajib bagi mereka, dan atas mereka pula untuk membedakan nasab serta menentukan tingkatannya. Sebab, nasab tersebut menetapkan hak-hak waris bagi mereka dan atas mereka, serta kewenangan perwalian dalam pernikahan yang tidak dapat diketahui siapa yang berhak kecuali dari mereka. Oleh karena itu, mereka wajib menjaga dan mencatatnya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ الَّذِي يَجِبُ حِفْظُهُ، وَلَا يُجِبُ تَعْيِينُهُ فَهِيَ الْأَنْسَابُ الْمُتَبَاعِدَةُ عَنِ التَّوَارُثِ، وَتَخْتَصُّ بِأَحْكَامٍ تَأْبَى من عددها، وَهُمْ ذَوُو رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، لِاخْتِصَاصِهِمْ بِسَهْمِ ذِي الْقُرْبَى، وَتَحْرِيمِ الصَّدَقَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ. عَلَيْهِمْ، فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَعْرِفُوا أَنَّهُمْ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، وَمِنْ بَنِي الْمُطَّلِبِ عَلَى اخْتِلَافِهِمْ فِي الْبُطُونِ الْمُتَمَيِّزَةِ، لِيَكُونُوا مَشْهُورِينَ فِي عَشَائِرِهِمْ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ لَهُمُ اتِّصَالُ أَنْسَابِهِمْ، لِيُعَرِّفَهُمْ وُلَاةَ الْغِنَى فِي حَقِّهِمْ. مِنْ سَهْمِ ذِي الْقُرْبَى، وَيُعَرِّفَهُمْ وُلَاةَ الصَّدَقَاتِ فِي مَنْعِهِمْ مِنْهَا.

Adapun bagian kedua, yaitu yang wajib dijaga namun tidak wajib ditentukan secara spesifik, adalah nasab-nasab yang jauh dari hubungan waris, dan nasab ini memiliki hukum-hukum khusus yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Mereka adalah keluarga Rasulullah ﷺ dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, karena kekhususan mereka mendapatkan bagian dzawil qurba dan diharamkannya zakat wajib atas mereka. Maka mereka wajib mengetahui bahwa mereka berasal dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib, meskipun berbeda-beda dalam cabang-cabang keluarga yang terpisah, agar mereka dikenal di kalangan kabilah mereka, meskipun tidak dapat dipastikan kesinambungan nasab mereka, supaya para pengelola harta dapat mengenali hak mereka atas bagian dzawil qurba, dan para pengelola zakat dapat mengetahui mereka untuk mencegah pemberian zakat kepada mereka.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: الَّذِي لَا يَجِبُ حِفْظُهُ، وَلَا تَعْيِينُهُ فَهِيَ الْأَنْسَابُ الْمُتَبَاعِدَةُ عَنِ التَّوَارُثِ، وَلَا تَخْتَصُّ بِحُكْمٍ يَأْبَى بِهِ مَنْ عَدَاهَا كَسَائِرِ الْأُمَمِ، وَهَلْ يَلْزَمُهُ إِنْ كَانَ عَرَبِيًّا أَنْ يَعْرِفَ أَنَّهُ مِنَ الْعَرَبِ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنِ اخْتِلَافِ الْقَوْلَيْنِ فِي تَمْيِيزِ الْعَرَبِ مِنَ الْعَجَمِ فِي حُكْمِ الِاسْتِرْقَاقِ، فَإِنْ مُيِّزُوا فِيهِ عَنْ غَيْرِهِمْ لَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَعْرِفَ أَنَّهُ مِنْهُمْ كَمَا لَا يَلْزَمُ إِذَا كَانَ مِنْ غَيْرِ الْعَرَبِ أَنْ يَعْرِفَ أَنَّهُ مِنْ أَيِّ الْأُمَمِ، وَأَيِّ أَجْنَاسِ الْعَالَمِ.

Adapun bagian ketiga: yaitu yang tidak wajib dijaga dan tidak wajib ditentukan, yaitu nasab-nasab yang jauh dari hubungan waris, dan tidak memiliki kekhususan hukum yang membedakannya dari selainnya seperti bangsa-bangsa lain. Apakah seseorang yang berketurunan Arab wajib mengetahui bahwa dirinya berasal dari Arab? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang bersumber dari perbedaan pendapat mengenai pembedaan antara Arab dan non-Arab dalam hukum perbudakan. Jika dalam hal itu Arab dibedakan dari selainnya, maka tidak wajib baginya mengetahui bahwa ia termasuk dari mereka, sebagaimana juga tidak wajib bagi selain Arab untuk mengetahui dari bangsa mana atau jenis apa dari umat manusia ia berasal.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَمَسْأَلَةُ الْكِتَابِ مَقْصُورَةٌ عَلَى الْأَنْسَابِ الَّتِي يَجِبُ حِفْظُهَا، وَتَعْيِينُهَا؛ لِاسْتِحْقَاقِ التَّوَارُثِ، فَإِذَا كَانُوا أَحْرَارًا لا ولاء عليهم، انقسموا ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Maka apabila uraian ini telah dipahami, permasalahan dalam kitab ini terbatas pada nasab-nasab yang wajib dijaga dan ditetapkan, karena berkaitan dengan hak waris. Apabila mereka adalah orang-orang merdeka yang tidak memiliki wala’, maka mereka terbagi menjadi tiga golongan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونُوا مُسْلِمِينَ مِنْ وِلَادَةِ الْإِسْلَامِ.

Salah satunya: bahwa mereka adalah Muslim sejak lahirnya Islam.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونُوا مُسْلِمِينَ مِنْ وِلَادَةِ الشِّرْكِ.

Yang kedua: mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam sejak lahir dari lingkungan kemusyrikan.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونُوا مُشْرِكِينَ.

Ketiga: bahwa mereka adalah orang-orang musyrik.

فَإِنْ كَانُوا مُسْلِمِينَ مِنْ وِلَادَةِ الْإِسْلَامِ، وَهُوَ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فَعَلَيْنَا فِي أَنْسَابِهِمْ حَقَّانِ:

Jika mereka adalah Muslim sejak lahirnya Islam, yaitu kelompok pertama, maka kita memiliki dua hak atas nasab mereka:

أَحَدُهُمَا: حَفِظُ أَنْسَابِهِمْ.

Salah satunya adalah menjaga nasab mereka.

وَالثَّانِي: أَنْ تُعْرَفَ فُرُشُ وِلَادَتِهِمْ؛ لِوُجُوبِ حُرْمَتِهِمْ نُطَفًا، وَمَوْلُودِينَ، فَإِنِ ادَّعَوْا اتِّصَالَ قَوَاعِدِ أَنْسَابِهِمْ، وَلَمْ يَخْتَلِفُوا فِيهَا، لَزِمَ اعْتِبَارُهَا بِفُرُشِ وِلَادَتِهِمْ، فَإِنْ خَالَفْتَ مَا تَعَارَفُوا عَلَيْهِ حُمِلُوا فِي أَنْسَابِهِمْ عَلَى مَا أَوْجَبَهُ عَلَى فُرُشِ وِلَادَتِهِمْ، وَأُبْطِلَ تَصَادُقُهُمْ عَلَى مَا خَالَفَهَا، وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ فِي فُرُشِ وِلَادَتِهِمْ مَا يخَالَفَهَا، حُمِلُوا فِيهَا عَلَى تَصَادُقِهِمْ، وَحُفِظَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْسَابُ الَّتِي تَصَادَقُوا عَلَيْهَا، وَيَسْتَوِي فِيهَا الْمُتَلَاصِقَةُ كَالْآبَاءِ مَعَ الْأَبْنَاءِ، وَالْأَنْسَابِ الْمُنْفَصِلَةِ، كَالْأُخْوَةِ، وَالْأَعْمَامِ، إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمْ مِنَ الْفُرُشِ مَا يُخَالِفُهُمْ، فَإِنْ رَجَعُوا بَعْدَ التَّصَادُقِ فَتَكَاذَبُوا، كَانَ التَّكَاذُبُ مردودا بالتصادق، لأن الإنكار يعلو الْإِقْرَارَ مَرْدُودٌ، إِلَّا أَنْ يُقَدِّمَ بَيِّنَةً بِخِلَافِ مَا تَصَادَقُوا عَلَيْهِ، فَيُحْكَمُ بِهَا.

Kedua: Hendaknya diketahui tempat kelahiran mereka, karena wajib menjaga kehormatan mereka baik ketika masih berupa nutfah maupun setelah lahir. Jika mereka mengklaim adanya kesinambungan nasab mereka dan tidak ada perbedaan di antara mereka dalam hal itu, maka nasab tersebut harus dianggap berdasarkan tempat kelahiran mereka. Jika ada yang bertentangan dengan apa yang telah mereka sepakati, maka nasab mereka dikembalikan kepada apa yang ditetapkan berdasarkan tempat kelahiran mereka, dan kesepakatan mereka atas sesuatu yang bertentangan dengan itu dianggap batal. Namun, jika dalam tempat kelahiran mereka tidak ditemukan sesuatu yang bertentangan, maka mereka tetap dianggap berdasarkan kesepakatan mereka, dan nasab yang telah mereka sepakati tetap dijaga untuk mereka. Dalam hal ini, baik nasab yang berdekatan seperti hubungan ayah dengan anak, maupun nasab yang terpisah seperti saudara dan paman, diperlakukan sama, selama tidak ada di antara mereka dari tempat kelahiran yang bertentangan dengan itu. Jika setelah adanya kesepakatan mereka kemudian saling mendustakan, maka pendustaan itu tertolak oleh kesepakatan sebelumnya, karena pengingkaran yang datang setelah pengakuan adalah tertolak, kecuali jika ada bukti yang menunjukkan kebalikan dari apa yang telah mereka sepakati, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُمُ الْمُسْلِمُونَ مِنْ وِلَادَةِ الشِّرْكِ، فَعَلَيْنَا حِفْظُ أَنْسَابِهِمْ، بَعْدَ الْوِلَادَةِ لِحُرْمَتِهِمْ بِالْإِسْلَامِ، وَلَيْسَ عَلَيْنَا أَنْ نَعْتَبِرَهَا بِفُرِشِ وِلَادَتِهِمْ، بِسُقُوطِ حُرْمَةِ نُطَفِهِمْ بِالشِّرْكِ، فَحُمِلُوا فِي الْأَنْسَابِ عَلَى تَصَادُقِهِمْ، وَتُحْفَظُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ التَّصَادُقِ بِوُجُوبِ حُرْمَتِهِمْ مَوْجُودِينَ وَسُقُوطِهَا نُطَفًا.

Adapun kelompok kedua: yaitu kaum Muslimin yang lahir dari lingkungan syirik, maka kita wajib menjaga nasab mereka setelah kelahiran karena kehormatan mereka dalam Islam. Kita tidak wajib mempertimbangkan nasab mereka berdasarkan tempat kelahiran mereka, karena kehormatan benih mereka telah gugur akibat syirik. Oleh karena itu, dalam hal nasab, mereka dianggap berdasarkan pengakuan mereka, dan nasab mereka dijaga setelah adanya pengakuan karena wajibnya menjaga kehormatan mereka ketika mereka telah ada, sedangkan kehormatan itu gugur ketika mereka masih berupa benih.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: وَهُمُ الْمُشْرِكُونَ، فَلَا يَلْزَمُنَا حِفْظُ أَنْسَابِهِمْ نُطَفًا، وَلَا مَوْلُودِينَ؛ لِسُقُوطِ حُرْمَتِهِمْ فِي الْحَالَيْنِ، فَإِذَا تَصَادَقُوا فِي أَنْسَابِهِمْ لَمْ يُعْتَرَضْ فِيهَا عَلَيْهِمْ، وَكَانُوا فِيهَا مَحْمُولِينَ عَلَى تَصَادُقِهِمْ وَإِنْ تَكَاذَبُوا فِيهَا، بَطَلَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ تَصَادُقِهِمْ، وَلَمْ يَكُنْ أَحَدُ الْأَمْرَيْنِ فِيهِمْ أَلْزَمُ مِنَ الْآخَرِ، فَإِنْ تَحَاكَمُوا فِيهَا إِلَيْنَا، حَكَمْنَا بَيْنَهُمْ بِمَا يَكُونُونَ عَلَيْهِ بَعْدَ التَّحَاكُمِ مِنَ التَّصَادُقِ، أَوِ التَّكَاذُبِ.

Adapun golongan ketiga: yaitu orang-orang musyrik, maka kita tidak wajib menjaga nasab mereka, baik ketika masih berupa nutfah maupun setelah lahir; karena kehormatan mereka telah gugur dalam kedua keadaan tersebut. Jika mereka saling membenarkan dalam nasab mereka, maka tidak ada keberatan terhadap mereka dalam hal itu, dan mereka dianggap berdasarkan saling membenarkan tersebut. Namun jika mereka saling mendustakan dalam hal itu, maka batal apa yang telah mereka sepakati sebelumnya, dan tidak ada salah satu dari kedua keadaan tersebut yang lebih wajib diterapkan atas mereka daripada yang lain. Jika mereka meminta keputusan kepada kita dalam masalah itu, maka kita memutuskan di antara mereka berdasarkan keadaan mereka setelah meminta keputusan, apakah saling membenarkan atau saling mendustakan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وإذا ثبت ما قررناه من أُصُولِ الْأَقْسَامِ فِي هَذَيْنِ الْقِسْمَيْنِ عُمُومًا وَخُصُوصًا، وَحَضَرَ مِنْهُمْ مَنْ لَا رِقَّ عَلَيْهِ، وَلَا وَلَاءَ، فَادَّعَى نَسَبَ لَقِيطٍ لَا رِقَّ عَلَيْهِ، وَلَا وَلَاءَ نُظِرَ فِي دَعْوَاهُ.

Jika telah tetap apa yang telah kami tetapkan mengenai pokok-pokok pembagian dalam dua bagian ini, baik secara umum maupun khusus, lalu hadir di antara mereka seseorang yang tidak memiliki status budak dan tidak ada hubungan wala’, kemudian ia mengaku sebagai kerabat seorang laqīṭ yang juga tidak memiliki status budak dan tidak ada hubungan wala’, maka pengakuannya itu perlu diteliti.

فَإِنِ ادَّعَاهُ وَلَدًا، سُمِعَتْ دَعْوَاهُ إِذَا مُكِّنَتْ، وَلَحِقَ بِهِ وَلَدًا وَنَاسَبَ جَمِيعَ مَنْ نَاسَبَهُ مدعيه، من آبائه وأبنائه، وإخوانه، وَأَعْمَامِهِ، سَوَاءٌ صَدَّقُوهُ عَلَيْهِ أَوْ خَالَفُوهُ. فَإِنْ كَانَ مُسْلِمًا أُجْرِيَ عَلَى اللَّقِيطِ حُكْمُ الْإِسْلَامَ وَوَجَبَ حِفْظُ نَسَبِهِ فِي حَقِّهِ، وَإِنْ لَمْ يَجِبْ فِي حَقِّ الْمُدَّعِي، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَوَجْهَانِ:

Jika seseorang mengakuinya sebagai anak, maka pengakuannya didengar jika memungkinkan, dan anak tersebut dinisbatkan kepadanya sebagai anak, serta memiliki hubungan nasab dengan seluruh kerabat orang yang mengakuinya, baik dari ayah, anak, saudara, maupun paman-pamannya, tanpa memandang apakah mereka membenarkan pengakuan itu atau menolaknya. Jika yang mengakuinya seorang Muslim, maka terhadap anak terlantar tersebut diberlakukan hukum Islam dan wajib menjaga nasabnya dalam hak anak itu, meskipun tidak wajib dalam hak orang yang mengakuinya. Jika yang mengakuinya seorang kafir, maka ada dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُجْرَى عَلَيْهِ حُكْمُ الْإِسْلَامِ، وَيُمْنَعُ مِنْهُ قَبْلَ الْبُلُوغِ، لِئَلَّا يُلَقِّنَهُ الْكُفْرَ.

Salah satunya: diterapkan padanya hukum Islam, dan ia dicegah darinya sebelum baligh, agar tidak diajarkan kepadanya kekufuran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجْرِي عَلَى حُكْمِ الْكَفْرِ، وَلَمْ يَجِبْ حِفْظُ نَسَبِهِ، لَا فِي حَقِّهِ وَلَا فِي حَقِّ الْمُدَّعِي، وَلَمْ يُمْنَعْ مِنْهُ مَا كَانَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ بِهِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ، مُنِعَ مِنْهُ قَبْلَ بُلُوغِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَصِفَ الْإِسْلَامَ، إِذَا بَلَغَ وَلَمْ يُمْنَعْ مِنْ إِخْرَاجِهِ بَعْدَ بُلُوغِهِ إِذَا أُجْبِرَ عَلَى الْكُفْرِ.

Pendapat kedua: Anak tersebut mengikuti hukum kekufuran, dan tidak wajib menjaga nasabnya, baik untuk kepentingannya maupun untuk kepentingan pihak yang mengakuinya. Tidak ada larangan terhadapnya selama berada di wilayah Islam. Namun, jika ingin membawanya keluar ke wilayah perang, maka dicegah sebelum ia baligh karena ada kemungkinan ia akan memeluk Islam. Jika sudah baligh, maka tidak dicegah untuk membawanya keluar apabila ia dipaksa untuk kafir.

وَإِنِ ادَّعَاهُ أَخًا، وَلِمَ يدعيه وَلَدًا، رُدَّتْ دَعْوَاهُ إِنْ كَانَ أَبُوهُ بَاقِيًا، وكان الأب أحق بالدعوى منه، سمعت إِنْ كَانَ مَيِّتًا، وَلَمْ يَكُنْ لِأَبِيهِ وَارِثٌ سِوَاهُ، وَلَا يُسْمَعُ إِنْ وَرِثَهُ غَيْرُهُ، حَتَّى يَتَّفِقُوا عَلَيْهِ، ثُمَّ إِذَا سُمِعَتْ عَلَى هَذَا التَّفْصِيلِ، وَأُلْحِقَ بِهِ أَخًا، صَارَ مُنَاسِبًا لِجَمِيعِ مَنْ نَاسَبَهُ مِمَّنْ عَلَا وَسَفَلَ مِنْ عَصَبَاتٍ، وَذَوِي أَرْحَامٍ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ فِي الْإِسْلَامِ، وَالْكُفْرِ مَا ذَكَرْنَاهُ.

Dan jika ia mengakuinya sebagai saudara, dan tidak mengakuinya sebagai anak, maka pengakuannya ditolak jika ayahnya masih hidup, karena ayah lebih berhak dalam pengakuan tersebut darinya. Pengakuan itu didengar jika ayahnya telah meninggal dan tidak ada ahli waris ayah selain dia, dan tidak didengar jika ada ahli waris lain, kecuali mereka semua sepakat atasnya. Kemudian, jika pengakuan itu didengar dengan rincian seperti ini, dan ia diakui sebagai saudara, maka ia menjadi kerabat bagi seluruh orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah, dari kalangan ‘ashabah dan dzawil arham, dan berlaku atasnya dalam Islam maupun kekufuran sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وَلَوِ ادَّعَى نَسَبَ بَالِغٍ مَجْهُولِ النَّسَبِ، لَمْ يَثْبُتْ عَلَيْهِ رِقٌّ، وَلَا وَلَاءٌ كَانَتْ دَعْوَاهُ عَلَى تَصْدِيقِهِ، فَإِنْ أَنْكَرَ وَعَدِمَ الْبَيِّنَةَ لَمْ يَلْحَقْهُ نَسَبُهُ، وَإِنْ صَدَّقَهُ لَحِقَ بِهِ نَسَبُهُ بِالدَّعْوَى، وَالتَّصْدِيقِ وَلَهُمَا أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Dan jika seseorang mengaku sebagai kerabat dari seorang baligh yang tidak diketahui nasabnya, sedangkan tidak ada bukti bahwa ia adalah budak atau memiliki hubungan wala’, maka pengakuannya itu tergantung pada pembenaran dari orang yang diakui. Jika orang yang diakui tersebut mengingkari dan tidak ada bukti, maka nasabnya tidak dapat disandarkan kepadanya. Namun jika ia membenarkan, maka nasabnya dapat disandarkan kepadanya melalui pengakuan dan pembenaran tersebut. Dalam hal ini, terdapat empat keadaan bagi keduanya.

أحدها: أن يكونوا مُسْلِمَيْنِ فَحِفْظُ نَسَبِهِمَا وَاجِبٌ فِي الْجِهَتَيْنِ.

Pertama: Keduanya harus beragama Islam, maka menjaga nasab keduanya wajib dari kedua sisi.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَا كَافِرَيْنِ، فَحِفْظُ نَسَبِهِمَا غَيْرُ وَاجِبٍ فِي الْجِهَتَيْنِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَا فِي الدَّعْوَى قَدْ تَنَازَعَا إِلَى حَاكِمٍ حَكَمَ بَيْنَهُمَا بِلُحُوقِ النَّسَبِ، فَيَجِبُ حِفْظُهُ لِتَنْفِيذِ الْحُكْمِ، وَإِنْ لَمْ يَجِبْ فِي حَقِّ النَّسَبِ.

Keadaan kedua: Jika keduanya adalah orang kafir, maka menjaga nasab mereka berdua tidaklah wajib dari kedua sisi, kecuali jika dalam suatu perkara keduanya bersengketa di hadapan seorang hakim yang memutuskan di antara mereka dengan menetapkan nasab, maka wajib menjaga nasab tersebut untuk melaksanakan putusan hakim, meskipun tidak wajib dalam hak nasab itu sendiri.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ مُدَّعِيهِ مُسْلِمًا. وَهُوَ يُقِرُّ بِالْكُفْرِ، فَإِنْ كَانَ مَوْلُودًا عَلَى الْإِسْلَامِ امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ وَلَدُهُ كَافِرًا، وَقِيلَ: الْآنَ أَنْتَ بِتَصْدِيقِكَ لَهُ عَلَى الْأُبُوَّةِ مُسْلِمٌ، وَادِّعَاؤُكَ الْكُفْرَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الرِّدَّةِ. فَإِنْ أَسْلَمْتَ وَإِلَّا قُتِلْتَ، وَإِنْ كَانَ الْأَبُ مِنْ وِلَادَةِ الشِّرْكِ، وَأَسْلَمَ بَعْدَ الْبُلُوغِ، فَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ مَوْلُودًا لَهُ قَبْلَ إِسْلَامِهِ، أُقِرَّ الْوَلَدُ عَلَى كُفْرِهِ، وَوَجَبَ حِفْظُ نَسَبِهِ فِي حَقِّ أَبِيهِ، دُونَ حَقِّهِ.

Keadaan ketiga: apabila yang mengakuinya adalah seorang Muslim, dan ia mengakui kekafiran, maka jika ia dilahirkan dalam keadaan Islam, tidak mungkin anaknya adalah seorang kafir. Ada pula yang berpendapat: sekarang, dengan pengakuanmu atas status ayah baginya, engkau adalah seorang Muslim, dan pengakuanmu terhadap kekafiran itu berlaku atasmu hukum riddah. Maka jika engkau masuk Islam, (hukuman) gugur, jika tidak, engkau akan dibunuh. Namun jika sang ayah berasal dari kelahiran dalam keadaan syirik, lalu masuk Islam setelah baligh, maka dimungkinkan bahwa anak itu lahir sebelum ia masuk Islam, maka anak tersebut tetap diakui dalam kekafirannya, dan wajib menjaga nasabnya dalam hak ayahnya, bukan dalam hak dirinya.

وَالْحَالَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ مُدَّعِيهِ كَافِرًا، وَهُوَ مُسْلِمٌ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ يَكُونَ لِلْمُسْلِمِ أَبٌ كَافِرٌ، وَلِذَلِكَ جَازَ أَنْ يَلْحَقَ نَسَبُهُ بِكَافِرٍ وَيَجْرِيَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُكْمُ دِينِهِ، وَوَجَبَ حِفْظُ نَسَبِهِ فِي حَقِّهِ، وَإِنْ لَمْ يجب في حق الأب.

Keadaan keempat: yaitu apabila orang yang mengakuinya adalah seorang kafir, sedangkan anak tersebut adalah seorang muslim. Tidak mustahil seorang muslim memiliki ayah yang kafir. Oleh karena itu, boleh saja nasabnya disandarkan kepada orang kafir, dan masing-masing dari keduanya tetap berlaku hukum agamanya masing-masing. Maka wajib menjaga nasab anak tersebut untuk kepentingannya, meskipun tidak wajib untuk kepentingan sang ayah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وإن كانوا مسبين عَلَيْهِمْ رِقٌّ أَوْ أُعْتِقُوا فَثَبَتَ عَلَيْهِمْ وَلَاءٌ لَمْ يُقْبَلْ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ عَلَى وِلَادَةٍ مَعْرُوفَةٍ قَبْلَ السَّبْيِ وَهَكَذَا أَهْلُ حِصْنٍ وَمَنْ يُحْمَلُ إِلَيْنَا مِنْهُمْ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika mereka adalah tawanan perang yang berada dalam status perbudakan atau telah dimerdekakan, lalu tetap ada hubungan wala’ atas mereka, maka tidak diterima (pengakuan nasab) kecuali dengan bukti yang menunjukkan kelahiran yang diketahui sebelum penawanan. Demikian pula halnya dengan penduduk benteng dan siapa saja dari mereka yang dibawa kepada kita.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَةُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي مَسْبِيٌّ مِنْ بِلَادِ الشِّرْكِ اسْتَرَقَّهُ مُسْلِمٌ وَأَعْتَقَهُ فَصَارَ لَهُ عَلَيْهِ الْوَلَاءُ، ثُمَّ قَدِمَ مِنْ بِلَادِ الشِّرْكِ مَنِ ادَّعَى نَسَبَهُ، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِدَعْوَاهُ بَيِّنَةٌ عَادِلَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ تَشْهَدُ لَهُ بِمَا ادَّعَاهُ مِنَ النَّسَبِ عَلَى الْوَجْهِ الْجَائِزِ فِي الْإِسْلَامِ، حُكِمَ بِهَا وَثَبَتَ النَّسَبُ بَيْنَهُمَا سَوَاءٌ كَانَ مُدَّعِيهِ يَدَّعِي نَسَبًا، أَعْلَى كَالْأُبُوَّةِ، وَالْأُخُوَّةِ، أَوْ نَسَبًا أَسْفَلَ كَالْبُنُوَّةِ.

Al-Mawardi berkata: Bentuk permasalahan ini adalah tentang seorang tawanan dari negeri syirik yang diperbudak oleh seorang Muslim, lalu dimerdekakan sehingga ia memiliki hak wala’ atasnya. Kemudian datang seseorang dari negeri syirik yang mengaku sebagai kerabatnya. Jika pengakuan tersebut disertai dengan bukti yang adil dari kalangan Muslimin yang bersaksi atas kebenaran nasab yang diakuinya dengan cara yang dibenarkan dalam Islam, maka keputusan diambil berdasarkan bukti itu dan nasab antara keduanya ditetapkan, baik yang mengaku tersebut mengaku sebagai kerabat dari garis atas seperti ayah atau saudara, maupun dari garis bawah seperti anak.

وَإِنْ عَدِمَ مُدَّعِيهِ الْبَيِّنَةَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُدَّعِي وَمَنْ عَلَيْهِ رِقٌّ، أَوْ وَلَاءٌ مِنْ أَرْبَعَةِ أحوال:

Jika pihak yang mengklaim tidak memiliki bukti, maka keadaan pengklaim dan orang yang atasnya terdapat status budak atau wala’ tidak lepas dari empat keadaan:

أحدها: مِنْ أَنْ يُصَدِّقَاهُ عَلَى النَّسَبِ فَيَثْبُتُ النَّسَبُ بَيْنَهُمَا فِي الْأَعْلَى مِنَ الْأُبُوَّةِ، وَالْأَسْفَلِ مِنَ البنوة.

Pertama: yaitu keduanya saling membenarkan tentang nasab, sehingga nasab antara mereka berdua menjadi tetap, baik pada tingkatan atas sebagai ayah, maupun pada tingkatan bawah sebagai anak.

والحالة الثَّانِيَةُ: أَنْ يُنْكِرَاهُ، أَوْ يُكَذِّبَاهُ، فَلَا نَسَبَ وَلَيْسَ لَهُ إِحْلَافُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، أَمَّا الْعِتْقُ، فَلِأَنَّ إِقْرَارَهُ لَا يَنْفَذُ مَعَ إِنْكَارِ مُعْتِقِهِ، وأما معتقه فيلتزم الدعوى على غيره.

Keadaan yang kedua: apabila keduanya mengingkari atau mendustakannya, maka tidak ada nasab dan tidak ada hak sumpah bagi salah satu dari mereka. Adapun pembebasan budak (al-‘itq), maka pengakuannya tidak berlaku jika dikuatkan dengan pengingkaran dari orang yang membebaskannya. Adapun orang yang membebaskannya, maka ia harus mengajukan gugatan terhadap orang lain.

والحالة الثَّالِثَةُ: أَنْ يُنْكِرَهُ الْمُعْتِقُ، وَيُصَدِّقَهُ مُعْتِقُهُ. فَلَا نَسَبَ لَهُ، وَلَهُ إِحْلَافُ الْمُعْتِقِ بَعْدَ تَصْدِيقِ مُعْتِقِهِ، لِأَنَّهُ لَوْ أَقَرَّ لَهُ بِالنَّسَبِ ثَبَتَ.

Keadaan ketiga: apabila orang yang memerdekakan mengingkarinya, sedangkan orang yang memerdekakan sebelumnya membenarkannya. Maka ia tidak memiliki nasab, namun ia berhak meminta sumpah dari orang yang memerdekakan setelah adanya pembenaran dari orang yang memerdekakan sebelumnya, karena jika ia mengakui nasab kepadanya, maka nasab itu menjadi tetap.

والحالة الرَّابِعَةُ: أَنْ يُصَدِّقَهُ الْمُعْتِقُ، وَيُكَذِّبَهُ مُعَتِقُهُ. فَلَا يَخْلُو مُدَّعِي النَّسَبِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَدَّعِيَ نَسَبًا أَعْلَى، أَوْ نَسَبًا أَسْفَلَ. فَإِنِ ادَّعَى نَسَبًا أَعْلَى كَالْأُبُوَّةِ وَالْأُخُوَّةِ، لَمْ يثبت النسب بينهما مع التصديق، الأثر وتعليل:

Keadaan keempat: apabila orang yang memerdekakan membenarkannya, sedangkan orang yang memerdekakan sebelumnya mendustakannya. Maka, orang yang mengaku nasab tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mengaku nasab yang lebih tinggi, atau nasab yang lebih rendah. Jika ia mengaku nasab yang lebih tinggi seperti ayah atau saudara, maka nasab antara keduanya tidak dapat ditetapkan meskipun ada pembenaran, berikut penjelasan dan alasannya:

أَمَّا الْأَثَرُ: فَأَثَرَانِ أَحَدُهُمَا مَا رَوَى الشَّعْبِيُّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ إِلَى شُرَيْحٍ أَنْ لَا تُوَرِّثَ حَمِيلًا إِلَّا بِبَيِّنَةٍ.

Adapun atsar: terdapat dua atsar. Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Sya‘bi bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Syuraih agar tidak mewariskan janin kecuali dengan bukti yang jelas.

وَالثَّانِي: مَا رَوَاهُ حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَمَعَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَاسْتَشَارَهُمْ فِي مِيرَاثِ الْحَمِيلِ، فَأجْمَعُوا أَنْ لَا يُوَرَّثَ حَمِيلٌ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ.

Yang kedua: Diriwayatkan oleh Habib bin Abi Tsabit bahwa Utsman bin Affan ra. mengumpulkan para sahabat Rasulullah saw. dan meminta pendapat mereka tentang warisan janin, lalu mereka sepakat bahwa janin tidak diwariskan kecuali dengan adanya bukti.

فَصَارَ هَذَا الْأَثَرُ الثَّانِي إِجْمَاعًا.

Maka jadilah pendapat kedua ini sebagai ijmā‘.

وَأَمَّا التَّعْلِيلُ: فَلِأَنَّ مُعْتِقَهُ لَمَّا اسْتَحَقَّ بِوَلَائِهِ عَلَيْهِ أَنْ يَرِثَهُ، وَكَانَ لُحُوقُ النَّسَبِ يَدْفَعُهُ عَنِ الْمِيرَاثِ، لِتَقْدِيمِ الْمِيرَاثِ بِالنَّسَبِ على الميراث بالولاء، لم يَكُنْ لَهُمَا إِبْطَالُ حَقٍّ بِصِفَةٍ مِنْ مِيرَاثِ الْمَيِّتِينَ بِإِقْرَارٍ مَظْنُونٍ مُحْتَمَلٍ.

Adapun alasannya: karena orang yang memerdekakan budak, ketika ia berhak mendapatkan warisan dari budaknya melalui wala’, dan adanya hubungan nasab menghalanginya dari warisan tersebut, karena warisan melalui nasab didahulukan atas warisan melalui wala’, maka keduanya (yakni, orang yang memerdekakan dan ahli waris melalui nasab) tidak berhak membatalkan hak waris dari orang yang telah meninggal dengan suatu pengakuan yang masih diragukan dan mengandung kemungkinan.

فَإِنْ قِيلَ: أَفَلَيِسَ لَوْ كَانَ لَهُ أَخٌ يَرِثُهُ؟ فَأَقَرَّ بِابْنٍ يَحْجُبُ أَخَاهُ عَنِ الْمِيرَاثِ، ثَبَتَ نَسَبُهُ بِإِقْرَارِهِ. فَمَا الْفَرْقُ؟ قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jika dikatakan: Bukankah seandainya dia memiliki seorang saudara, maka saudaranya itu akan mewarisinya? Namun, ketika dia mengakui adanya seorang anak laki-laki yang menghalangi saudaranya dari warisan, maka nasab anak itu ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Lalu, apa perbedaannya? Dijawab: Perbedaannya antara keduanya ada pada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْمِيرَاثَ بِالْوَلَاءِ نَتِيجَةُ مِلْكٍ قَدْ تَفَرَّدَ بِهِ بِصِفَةٍ لَا يُشَارِكُهُ فِيهِ فَلَمْ يُقْبَلْ فِي دَفْعِهِ إِقْرَارٌ عَنْ مُشَارِكٍ فِيهِ. وَالْمِيرَاثُ بِالنَّسَبِ مُشْتَرَكٌ فَجَازَ أن يثبت بإقرار الشركين فِيهِ فَهَذَا حُكْمُ النَّسَبِ الْأَعْلَى.

Pertama: bahwa warisan karena wala’ merupakan akibat dari kepemilikan yang bersifat khusus, yang tidak ada orang lain yang turut serta di dalamnya, sehingga tidak diterima pengakuan dari orang lain yang mengaku sebagai pihak yang turut serta dalam kepemilikan tersebut untuk menolaknya. Adapun warisan karena nasab adalah kepemilikan bersama, sehingga boleh ditetapkan dengan pengakuan dari dua orang yang sama-sama memiliki hak di dalamnya. Inilah hukum nasab yang lebih tinggi.

فَأَمَّا دَعْوَى النَّسَبِ الْأَسْفَلِ: وَهُوَ أَنْ يَدَّعِيَ الْحَمِيلُ أَنَّ هَذَا الْمُعْتَقَ ابْنُهُ، فَيُصَدِّقَهُ عَلَى الْبُنُوَّةِ وَيُكَذِّبَهُ مُعْتِقُهُ، فَفِي ثُبُوتِ نَسَبِهِ وَجْهَانِ:

Adapun klaim nasab yang lebih rendah, yaitu ketika seorang hamil (orang yang mengaku sebagai ayah) mengklaim bahwa orang yang dimerdekakan ini adalah anaknya, lalu orang yang dimerdekakan itu membenarkannya sebagai anak, sedangkan orang yang memerdekakannya mendustakannya, maka dalam penetapan nasabnya terdapat dua pendapat.

وَقَالَ ابْنُ أبي هريرة قَوْلَيْنِ:

Ibnu Abi Hurairah mengemukakan dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَثْبُتُ نَسَبُهُ مَعَ تَكْذِيبِ مُعْتِقِهِ، كَالنَّسَبِ الْأَعْلَى.

Salah satunya: nasabnya tidak dapat ditetapkan apabila orang yang memerdekakannya mengingkari, seperti nasab ke atas.

وَالثَّانِي: يَثْبُتُ نَسَبُهُ، وَإِنْ كَذَّبَهُ مُعْتِقُهُ، لِانْتِفَاءِ الضَّرَرِ عَنْهُ لِإِدْخَالِ وَلَدِهِ في الولاء مُعْتِقِهِ، الَّذِي لَا يَدْخُلُ فِيهِ أَهْلُ النَّسَبِ الْأَعْلَى، فَلِذَلِكَ لَا يَثْبُتُ الْإِقْرَارُ بِالنَّسَبِ الْأَسْفَلِ، وَإِنْ لَمْ يَثْبُتْ بِالنَّسَبِ الْأَعْلَى.

Kedua: Nasabnya tetap diakui, meskipun mu‘tiq (orang yang memerdekakannya) mengingkarinya, karena tidak ada mudarat baginya dengan memasukkan anaknya ke dalam wilayah mu‘tiq-nya, yang mana wilayah tersebut tidak dimasuki oleh keluarga nasab yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pengakuan nasab pada tingkatan yang lebih rendah tidaklah tetap, meskipun tidak tetap pada nasab yang lebih tinggi.

وَسُمِّيَ حَمِيلًا، لِأَنَّهُ يُحْمَلُ بِنَسَبٍ مَجْهُولٍ.

Dan ia disebut ḥamīl karena ia dinisbatkan kepada nasab yang tidak diketahui.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: ” فَكَذَا أَهْلُ حِصْنٍ وَمَنْ يُحْمَلُ إِلَيْنَا مِنْهُمْ “. فَإِنَّمَا أَرَادَ بِهِ الرَّدَّ عَلَى طَائِفَةٍ، قَالُوا إِنَّ الْحَمِيلَ إِذَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ كَبِيرٍ لَمْ تُقْبَلْ دَعْوَاهُ، لِتَمَكُّنِهِ مِنْ إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ حِصْنٍ أَوْ دَيْرٍ فَتَثْبُتُ وَهُمَا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ سَوَاءٌ، لِإِطْلَاقِ الْأَثَرِ وعموم التعليل.

Adapun perkataan asy-Syafi‘i: “Demikian pula penduduk benteng dan orang yang dibawa kepada kita dari mereka.” Maksud beliau adalah untuk membantah sekelompok orang yang berpendapat bahwa jika orang yang dibawa itu berasal dari kota besar, maka pengakuannya tidak diterima karena ia mampu menghadirkan bukti, sedangkan jika berasal dari penduduk benteng atau biara maka pengakuannya diterima. Namun menurut asy-Syafi‘i, keduanya sama saja, karena keumuman atsar dan keumuman alasan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا أَسْلَمَ أَحَدُ أَبَوَيِ الطِّفْلِ أَوِ الْمَعْتُوهِ كان مسلما لأن الله عز وجل أعلى الإسلام على الأديان والأعلى أولى أن يكون الحكم له مع أنه رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ معنى قولنا ويروى عن الحسن وغيره “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika salah satu dari kedua orang tua anak kecil atau orang yang tidak berakal memeluk Islam, maka anak tersebut menjadi Muslim, karena Allah ‘azza wa jalla telah meninggikan Islam di atas agama-agama lain, dan yang lebih tinggi lebih berhak untuk dijadikan dasar hukum. Selain itu, telah diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu makna seperti pendapat kami, dan juga diriwayatkan dari al-Ḥasan dan selainnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، فَإِنِ اجْتَمَعَ إِسْلَامُ الْأَبَوَيْنِ كَانَ إِسْلَامًا لِصِغَارِ أَوْلَادِهِمَا مَعَهُمَا يَكُونُ لِلْبَالِغِينَ الْعُقَلَاءِ وَهَذَا إِجْمَاعٌ فَأَمَّا إِذَا أَسْلَمَ أَحَدُ الْأَبَوَيْنِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ إِسْلَامَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَكُونُ إِسْلَامًا لَهُمْ سَوَاءٌ كَانَ الْمُسْلِمُ مِنْهُمَا أَبًا، أَوْ أُمًّا.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, jika kedua orang tua memeluk Islam, maka keislaman mereka berdua juga menjadi keislaman bagi anak-anak mereka yang masih kecil bersama mereka, baik bagi yang sudah baligh dan berakal, dan hal ini merupakan ijmā‘. Adapun jika salah satu dari kedua orang tua memeluk Islam, maka asy-Syafi‘i, Abu Hanifah rahimahumullah, dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa keislaman salah satu dari keduanya sudah dianggap sebagai keislaman bagi anak-anak mereka, baik yang memeluk Islam itu ayah maupun ibu.

وَقَالَ عَطَاءٌ: يَكُونُونَ مُسْلِمِينَ بِإِسْلَامِ الْأُمِّ دُونَ الْأَبِ، لِأَنَّهُ مِنَ الْأُمِّ قَطْعًا وَمِنَ الْأَبِ ظَنًّا.

Atha’ berkata: Mereka menjadi Muslim karena keislaman ibu, tanpa memperhatikan ayah, karena anak itu secara pasti berasal dari ibu, sedangkan dari ayah hanya berdasarkan dugaan.

وَقَالَ مَالِكٌ: يَكُونُ مُسْلِمًا بِإِسْلَامِ الْأَبِ دُونَ الْأُمِّ، لِرُجُوعِهِ فِي النَّسَبِ إِلَى أَبِيهِ احْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ} [الزخرف: 43] . وَالْمُرَادُ بِالْآيَةِ الْمِلَّةُ، فَدَلَّ عَلَى إِلْحَاقِهِ بِمِلَّةِ الْأَبِ دُونَ الْأُمِّ.

Malik berkata: Seorang anak menjadi Muslim karena keislaman ayahnya, bukan ibunya, karena nasabnya kembali kepada ayahnya, dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka.” (az-Zukhruf: 43). Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah agama, sehingga hal ini menunjukkan bahwa anak disandarkan kepada agama ayahnya, bukan ibunya.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ} [يس: 6] فَدَلَّ عَلَى إِضَافَةِ الْأَوْلَادِ إِلَى الْآبَاءِ، دُونَ الْأُمَّهَاتِ.

Dan firman-Nya Ta‘ala: “Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan” (Yasin: 6), maka ini menunjukkan adanya penyandaran anak-anak kepada para ayah, bukan kepada para ibu.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ} [الطور: 21] وَهُمْ ذُرِّيَّةٌ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَبَوَيْنِ، فَوَجَبَ أَنْ يُتْبَعُوا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَبَوَيْنِ. وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” أَوْلَادُ الْمُسْلِمِينَ مَعَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَهُمْ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ “. فَدَلَّ عَلَى إِسْلَامِهِمْ وَلِأَنَّ الْإِسْلَامَ حَقٌّ، وَالْكُفْرَ بَاطِلٌ، وَاتِّبَاعُ الْحَقِّ أَوْلَى مِنِ اتِّبَاعِ الْبَاطِلِ، وَلِأَنَّ تَعَارُضَ الْبَيِّنَتَيْنِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ أَقْوَاهُمَا وَأَعْلَاهُمَا، وَالْإِسْلَامُ أَقْوَى، وَأَعْلَى مِنَ الْكُفْرِ، فَوَجَبَ أَنْ يَغْلِبَ الْإِسْلَامُ عَلَى حُكْمِ الْكُفْرِ لِقَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا} [التوبة: 40] وَلِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْإِسْلَامُ يَعْلُو، وَلَا يُعْلَى “.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, Kami akan hubungkan keturunan mereka dengan mereka.” (QS. ath-Thur: 21). Mereka adalah keturunan dari masing-masing kedua orang tua, maka wajib bagi mereka untuk mengikuti masing-masing dari kedua orang tua tersebut. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Anak-anak kaum muslimin bersama mereka di surga, dan mereka bersama masing-masing dari mereka.” Maka hal ini menunjukkan keislaman mereka. Karena Islam adalah kebenaran, sedangkan kekufuran adalah kebatilan, dan mengikuti kebenaran lebih utama daripada mengikuti kebatilan. Selain itu, jika ada dua bukti yang saling bertentangan, maka yang harus diutamakan adalah yang lebih kuat dan lebih tinggi, dan Islam lebih kuat serta lebih tinggi daripada kekufuran. Maka wajib Islam mengalahkan hukum kekufuran, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi.” (QS. at-Taubah: 40), dan sabda Nabi ﷺ: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.”

وَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَيُّ ابْنِ أَمَةٍ أَسْلَمَ فِدْيَتُهُ دِيَةُ الْمُسْلِمِينَ وَلَيْسَ يُعْرَفُ لَهُ مُخَالِفٌ.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Siapa saja anak budak perempuan yang masuk Islam, maka diyatnya adalah diyat kaum Muslimin, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi pendapat ini.”

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَنَّ مُسْلِمًا لَوْ تَزَوَّجَ كَافِرَةً كَانَ الْوَلَدُ مُسْلِمًا، كَذَلِكَ إِذَا أَسْلَمَ بَعْدَ أَنْ تَزَوَّجَهَا وَفِيهِ انْفِصَالٌ عَنْ دَلِيلِهِ.

Hal ini ditunjukkan oleh kenyataan bahwa jika seorang Muslim menikahi seorang perempuan kafir, maka anak yang lahir adalah Muslim. Demikian pula jika ia masuk Islam setelah menikahinya, dan dalam hal ini terdapat perincian yang terpisah dari dalilnya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ} [الزخرف: 43] فَإِنَّهُ قَالَهُ عَلَى وَجْهِ الذَّمِّ لَهُمْ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْحَقَّ لَهُمْ فِي عُدُولِهِمْ عَنْهُ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْله تَعَالَى: {لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ} [يس: 6] فَهُوَ أَنَّ الْإِنْذَارَ مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ، وَإِنْ عَبَّرَ عَنْهُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ التَّذْكِيرِ.

Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama” (az-Zukhruf: 43), maka itu diucapkan dalam rangka mencela mereka, sehingga menunjukkan bahwa kebenaran ada pada mereka dalam penyimpangan dari ajaran tersebut. Adapun jawaban terhadap firman Allah Ta‘ala: “Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan” (Yasin: 6), maka sesungguhnya peringatan itu juga ditujukan kepada para nenek moyang dan nenek, meskipun disebutkan dengan bentuk maskulin sebagai bentuk dominasi hukum laki-laki dalam penyebutan.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا إِذَا أَسْلَمَ الْجَدُّ، أَوِ الْجَدَّةُ فَعَنْهُ ثَلَاثَةُ أَجْوِبَةٌ:

Adapun jika kakek atau nenek masuk Islam, maka terdapat tiga jawaban dari beliau tentang hal ini.

أَحَدُهَا: إنَّهُ يَكُونُ إِسْلَامًا لَهُمْ مَعَ بَقَاءِ الْأَبَوَيْنِ، وَعَدَمِهِمَا، لِأَنَّهُمَا مَحْجُوبَانِ، بِمَنْ دُونَهُمَا لِلْبَعْضِيَّةِ، الَّتِي بَيْنَهُمَا كَالْأَبَوَيْنِ.

Salah satunya: bahwa itu menjadi hak waris bagi mereka baik ketika kedua orang tua masih ada maupun sudah tiada, karena kedua orang tua terhalangi oleh keberadaan pihak yang lebih dekat kepada mayit, disebabkan adanya hubungan sebagian (nasab) di antara mereka sebagaimana halnya kedua orang tua.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَكُونُ إِسْلَامًا لَهُمْ مَعَ بَقَاءِ الْأَبَوَيْنِ وَعَدَمِهِمَا لِأَنَّهُمَا مَحْجُوبَانِ بِمَنْ دُونَهُمَا.

Pendapat kedua: Tidak dianggap sebagai ahli waris bagi mereka, baik kedua orang tua masih ada maupun tidak ada, karena keduanya terhalangi oleh ahli waris yang tingkatannya di bawah mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ إِسْلَامًا لَهُمْ مَعَ عَدَمِ الْأَبَوَيْنِ، وَلَا يَكُونُ إِسْلَامًا لَهُمْ مَعَ وُجُودِ الْأَبَوَيْنِ، لِأَنَّهُمْ بِحُكْمِ الْأَقْرَبِ أَخَصُّ مِنْهُمْ بِحُكْمِ الْأَبْعَدِ، إِذَا كَانَ بَاقِيًا، وَالْمَوْجُودِ دُونَ الْمَفْقُودِ إِذَا كَانَ مَيِّتًا.

Pendapat ketiga: bahwa keislaman itu berlaku bagi mereka ketika kedua orang tua tidak ada, dan tidak berlaku bagi mereka ketika kedua orang tua masih ada, karena hukum yang lebih dekat lebih diutamakan daripada hukum yang lebih jauh jika masih ada, dan yang ada lebih diutamakan daripada yang tidak ada jika yang tidak ada itu telah meninggal.

(باب متاع البيت يختلف فيه الزوجان من كِتَابِ اخْتِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى)

(Bab tentang perabotan rumah tangga yang diperselisihkan oleh suami istri, dari Kitab Ikhtilaf Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَإِذَا اخْتَلَفَ الزَّوْجَانِ فِي مَتَاعِ الْبَيْتِ يَسْكُنَانِهِ قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا أَوْ بَعْدَ مَا تَفَرَّقَا كَانَ الْبَيْتُ لَهُمَا أَوْ لِأَحَدِهِمَا أَوْ يَمُوتَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا فَيَخْتَلِفُ فِي ذَلِكَ وَرَثَتُهُمَا فَمَنْ أَقَامَ بَيِّنَةً عَلَى شَيْءٍ فَهُوَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُقِمْ بَيِّنَةً فَالْقِيَاسُ الَّذِي لَا يُعْذَرُ أَحَدٌ عِنْدِي بِالْغَفْلَةِ عَنْهُ عَلَى الْإِجْمَاعِ أن هَذَا الْمَتَاعُ بِأَيْدِيِهِمَا جَمِيعًا فَهُوَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ وقد يملك الرجل متاع المرأة وتملك المرأة متاع الرجل ولو استعملت الظنون عليهما لحكمت في عطار ودباغ يتنازعان عطراً ودباغاً في أيديهما بأن أجعل للعطار العطر وللدباغ الدباغ ولحكمت فيما يتنازع فيه معسر وموسر من لؤلؤ بأن أجعله للموسر ولا يجوز الحكم بالظنون “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila suami istri berselisih mengenai harta benda rumah yang mereka tempati, baik sebelum mereka berpisah maupun setelah berpisah, baik rumah itu milik mereka berdua atau milik salah satu dari mereka, atau keduanya meninggal dunia atau salah satu dari mereka meninggal lalu para ahli waris mereka berselisih mengenai hal itu, maka siapa yang dapat menghadirkan bukti atas suatu barang, maka barang itu menjadi miliknya. Jika tidak ada yang dapat menghadirkan bukti, maka qiyās yang tidak boleh diabaikan menurutku berdasarkan ijmā‘ adalah bahwa harta benda itu berada di tangan mereka berdua, maka harta itu dibagi dua di antara mereka. Bisa saja seorang laki-laki memiliki harta perempuan dan perempuan memiliki harta laki-laki. Jika hanya berdasarkan dugaan, maka aku akan memutuskan dalam perkara antara seorang penjual parfum dan seorang penyamak kulit yang berselisih mengenai parfum dan kulit yang ada di tangan mereka, dengan memberikan parfum kepada penjual parfum dan kulit kepada penyamak kulit. Aku juga akan memutuskan dalam perkara antara orang miskin dan orang kaya yang berselisih mengenai mutiara dengan memberikannya kepada orang kaya. Namun, tidak boleh memutuskan perkara hanya berdasarkan dugaan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا كَانَ الزَّوْجَانِ فِي دَارٍ يَسْكُنَاهَا، إِمَّا مِلْكًا لَهُمَا، أَوْ لِأَحَدِهِمَا، أَوْ لِغَيْرِهِمَا. فَاخْتَلَفَ فِي مَتَاعِهَا الَّذِي فِيهَا مِنْ آلَةٍ، وَبُسُطٍ وَفُرُشٍ، وَدَرَاهِمَ، وَدَنَانِيرَ، وَادَّعَاهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِنَفْسِهِ، أَوْ مَاتَا فَاخْتَلَفَ فِيهِ وَرَثَتُهُمَا أَوْ مَاتَ أَحَدُهُمَا. فَاخْتَلَفَ فِيهِ الْبَاقِي وَوَرَثَةُ الْمَيِّتِ، أَوْ كَانَ ذَلِكَ فِي أَخٍ، أَوْ أُخْتٍ، وَكَانَا يَسْكُنَانِ دَارًا، اخْتَلَفَا فِي مَتَاعِهَا. فَكُلُّ ذَلِكَ سَوَاءٌ.

Al-Mawardi berkata: Jika sepasang suami istri tinggal di sebuah rumah, baik rumah itu milik mereka berdua, milik salah satu dari mereka, atau milik orang lain, lalu mereka berselisih mengenai barang-barang yang ada di dalamnya, seperti peralatan, permadani, kasur, dirham, dan dinar, dan masing-masing dari mereka mengklaim barang-barang itu sebagai miliknya sendiri, atau keduanya telah meninggal dunia lalu para ahli waris mereka berselisih mengenai barang-barang tersebut, atau salah satu dari mereka meninggal dunia lalu yang masih hidup dan ahli waris yang meninggal berselisih mengenai barang-barang itu, atau hal serupa terjadi pada dua saudara laki-laki atau dua saudara perempuan yang tinggal bersama di sebuah rumah lalu berselisih mengenai barang-barang di dalamnya, maka semua kasus tersebut hukumnya sama.

فَإِنْ كَانَ لِأَحَدِهِمَا بَيِّنَةٌ بِمِلْكِ مَا ادَّعَاهُ، حُكِمَ بِهَا، وَإِنْ عَدِمَا الْبَيِّنَةَ مَعَ اخْتِلَافِهِمَا فِيهِ، فَهُمَا مُشْتَرَكَانِ فِي الْيَدِ حُكْمًا، وَيَدُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى نِصْفِهِ، فَيَتَحَالَفَانِ عَلَيْهِ وَيُجْعَلُ بَيْنَهُمَا بَعْدَ أَيْمَانِهِمَا نِصْفَيْنِ، وَيَشْتَرِكَانِ فِيمَا يَخْتَصُّ بِالرِّجَالِ. كَالْعَمَائِمِ، وَالطَّيَالِسَةِ، وَالْأَقْبِيَةِ وَالسِّلَاحِ.

Jika salah satu dari keduanya memiliki bukti atas kepemilikan apa yang ia klaim, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Namun jika keduanya tidak memiliki bukti sementara mereka berselisih tentangnya, maka keduanya dianggap bersama-sama memegang barang itu secara hukum, dan tangan masing-masing dari mereka atas setengahnya. Maka keduanya saling bersumpah atasnya, lalu setelah keduanya bersumpah, barang itu dibagi dua di antara mereka. Mereka juga berbagi dalam hal-hal yang khusus untuk laki-laki, seperti sorban, mantel, jubah, dan senjata.

وَفِيمَا يُخْتَصُّ بِالنِّسَاءِ كَالْحُلِيِّ، وَالْمَقَانِعِ، وَمُصَبَّغَاتِ الثِّيَابِ، وَقُمُصِ النِّسَاءِ.

Dan dalam hal-hal yang khusus bagi perempuan seperti perhiasan, kerudung, pakaian yang diwarnai, dan baju perempuan.

وَفِيمَا يَصْلُحُ لِلرِّجَالِ، وَالنِّسَاءِ، مِنَ الْبُسُطِ، وَالْفُرُشِ، وَالْآلَةِ، وَلَا يَخْتَصُّ الرِّجَالُ بِآلَةِ الرِّجَالِ، وَلَا النِّسَاءُ بِآلَةِ النِّسَاءِ، وَيَسْتَوِي فِيهَا يَدُ الْمُشَاهَدَةِ، وَيَدُ الْحُكْمِ.

Dalam hal yang dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan, seperti permadani, alas, dan peralatan, tidak dikhususkan bagi laki-laki dengan peralatan laki-laki, dan tidak pula perempuan dengan peralatan perempuan. Dalam hal ini, kedudukan tangan yang melihat langsung (yad al-musyāhadah) dan tangan yang berdasarkan hukum (yad al-ḥukm) adalah sama.

وَيَدُ الْمُشَاهَدَةِ أَنْ يَكُونَ مَقْبُوضًا فِي أَيْدِيهِمَا، وَيَدُ الْحُكْمِ أَنْ يَكُونَ فِي مِلْكِهِمَا.

Tangan musyāhadah adalah ketika barang itu berada dalam genggaman tangan mereka, sedangkan tangan hukum adalah ketika barang itu berada dalam kepemilikan mereka.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: يُجْعَلُ مَا يَخْتَصُّ بِالرِّجَالِ لِلرِّجَالِ، وَمَا يَخْتَصُّ بِالنِّسَاءِ لِلنِّسَاءِ، فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ وَيَدِ الْحُكْمِ.

Sufyan ats-Tsauri berkata: Sesuatu yang khusus bagi laki-laki diberikan kepada laki-laki, dan sesuatu yang khusus bagi perempuan diberikan kepada perempuan, baik dalam perkara yang disaksikan langsung maupun dalam perkara hukum.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنْ كَانَتْ أَيْدِيهِمَا يَدَ مُشَاهَدَةٍ كَانَتْ بَيْنَهُمَا، وَإِنْ كان يَدَ حُكْمٍ، كَانَ مَا يَخْتَصُّ بِالرِّجَالِ لِلزَّوْجِ، وَمَا يَخْتَصُّ بِالنِّسَاءِ لِلزَّوْجَةِ. وَمَا يَصِحُّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَكُونُ لِلزَّوْجِ دُونَ الزَّوْجَةِ، فَإِنْ مَاتَا قَامَ وَرَثَتُهُمَا مَقَامَهُمَا. وَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا، وَبَقِيَ الْآخَرُ كَانَ الْقَوْلُ فِي جَمِيعِهِ قَوْلَ الْبَاقِي مِنْهُمَا، فَصَارَ مُخَالِفًا لَنَا فِي خَمْسَةِ أَشْيَاءَ:

Abu Hanifah berkata: Jika keduanya memiliki tangan yang nyata (kekuasaan langsung), maka harta itu menjadi milik bersama di antara keduanya. Namun jika yang dimaksud adalah tangan hukum (hak kepemilikan secara hukum), maka apa yang khusus bagi laki-laki menjadi milik suami, dan apa yang khusus bagi perempuan menjadi milik istri. Adapun apa yang sah dimiliki oleh masing-masing dari keduanya, maka itu menjadi milik suami, bukan istri. Jika keduanya meninggal dunia, maka para ahli waris mereka menggantikan posisi mereka. Jika salah satu dari keduanya meninggal dan yang lain masih hidup, maka pendapat yang diambil dalam seluruh harta itu adalah pendapat yang masih hidup di antara keduanya. Dengan demikian, ia berbeda pendapat dengan kami dalam lima hal.

أَحَدُهَا: فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ، وَيَدِ الْحُكْمِ، وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَهُمَا عِنْدَنَا سَوَاءٌ.

Salah satunya: dalam hal kepemilikan secara nyata (musyāhadah) dan kepemilikan secara hukum (ḥukm), dan ia membedakan antara keduanya, padahal menurut kami keduanya sama saja.

وَالثَّانِي: فِيمَا يَخْتَصُّ بِالرِّجَالِ جَعَلَهُ لِلزَّوْجِ، وَهُوَ عِنْدَنَا بَيْنَهُمَا.

Dan yang kedua: dalam hal-hal yang khusus bagi laki-laki, syariat memberikannya kepada suami, sedangkan menurut kami, hal itu adalah hak bersama di antara keduanya.

وَالثَّالِثُ: مَا يَخْتَصُّ بِالنِّسَاءِ جَعَلَهُ لِلزَّوْجَةِ، وَهُوَ عِنْدَنَا بَيْنَهُمَا.

Ketiga: perkara yang khusus bagi perempuan, Allah menjadikannya untuk istri, dan menurut kami hal itu adalah di antara keduanya.

وَالرَّابِعُ: فِيمَا يَصْلُحُ لَهُمَا جَعَلَهُ لِلزَّوْجِ، وَهُوَ عِنْدَنَا بَيْنَهُمَا.

Keempat: dalam hal yang layak bagi keduanya, menurut dia diberikan kepada suami, sedangkan menurut kami adalah milik bersama antara keduanya.

وَالْخَامِسُ: فِي مَوْتِ أَحَدِهِمَا جَعَلَهُ لِلْبَاقِي مِنْهُمَا، وَهُوَ عِنْدَنَا بَيْنَهُمَا.

Kelima: Jika salah satu dari keduanya meninggal, maka bagian tersebut diberikan kepada yang masih hidup di antara mereka, sedangkan menurut kami, bagian itu dibagi di antara mereka berdua.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: الْقَوْلُ قَوْلُ الْمَرْأَةِ، فِيمَا جَرَتِ الْعَادَةُ، أَنْ يَكُونَ جِهَازًا لِمِثْلِهَا، وَقَوْلُ الزَّوْجِ فِيمَا جَرَتِ الْعَادَةُ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِيهِ. وَقَالَ زُفَرُ بِمَا ذَهَبْنَا إِلَيْهِ، وَهُوَ فِي الصَّحَابَةِ قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَاسْتَدَلَّ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَنْ وَافَقَهُ فِي تَفْصِيلِ الْمَتَاعِ وَتَمْيِيزِهِ عَلَى الْفَرْقِ فِي الْمُشَاهَدَةِ بَيْنَ يَدِ الْمُشَاهَدَةِ وَيَدِ الْحُكْمِ، أَنَّ يَدَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي الْمُشَاهَدَةِ عَلَى نِصْفِهِ، وَفِي الْحُكْمِ عَلَى جَمِيعِهِ. بِدَلِيلِ أَنَّ مُدَّعِيًا لَوِ ادَّعَاهُ فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَّعِيَ جَمِيعَهُ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَخْتَصَّ أَحَدُهُمَا بِالدَّعْوَى دُونَ الْآخَرِ، وَلَوِ ادَّعَاهُ فِي يَدِ الْحُكْمِ جَازَ لَهُ أَنْ يَدَّعِيَ جَمِيعَهُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ يَدَ الْمُشَاهَدَةِ، يَدٌ عَلَى نِصْفِهِ، وَيَدَ الْحُكْمِ يَدٌ عَلَى جَمِيعِهِ، فَافْتَرَقَا فَلِذَلِكَ مَا افْتَرَقَا فِيهِ، إِذَا تَنَازَعَا، وَاسْتَدَامَا عَلَى التَّفْصِيلِ فِي يَدِ الْحُكْمِ، فَإِنْ مُنِعَ مِنْهُ فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ، فَإِنَّ يَدَ الْحُكْمِ أَقْوَى مِنْ يَدِ الْمُشَاهَدَةِ، فِي اسْتِيلَائِهِمَا فِي الْحُكْمِ، عَلَى جَمِيعِهِ وَاخْتِصَاصِهَا فِي الْمُشَاهَدَةِ عَلَى نِصْفِهِ، فَلَمَّا وَقَعَ التَّرْجِيحُ فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ بَيْنَ رَاكِبِ الدَّابَّةِ، وَقَائِدِهَا، فِي جَعْلِ الدَّابَّةِ لِرَاكِبِهَا دُونَ قَائِدِهَا، اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ، كَانَ التَّرْجِيحُ فِي يَدِ الْحُكْمِ، بِاعْتِبَارِ الْعُرْفِ أَوْلَى.

Abu Yusuf berkata: Pendapat yang dipegang adalah pendapat perempuan, dalam hal-hal yang menurut kebiasaan merupakan perlengkapan bagi perempuan seperti dirinya, dan pendapat suami dalam hal-hal yang menurut kebiasaan adalah miliknya. Zufar berpendapat sebagaimana yang kami pilih, dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu di kalangan sahabat. Abu Hanifah dan para pendukungnya berdalil dalam merinci dan membedakan harta benda dengan perbedaan antara “tangan musyahadah” (kepemilikan nyata) dan “tangan hukum” (kepemilikan secara hukum), yaitu bahwa tangan masing-masing dari keduanya dalam musyahadah hanya atas setengahnya, sedangkan dalam hukum atas seluruhnya. Buktinya, jika seseorang mengklaim kepemilikan atas barang yang berada dalam tangan musyahadah, ia tidak boleh mengklaim seluruhnya kecuali terhadap keduanya, dan tidak sah jika hanya salah satu dari mereka yang mengajukan klaim tanpa yang lain. Namun jika ia mengklaimnya dalam tangan hukum, maka ia boleh mengklaim seluruhnya terhadap masing-masing dari mereka. Ini menunjukkan bahwa tangan musyahadah hanya atas setengahnya, sedangkan tangan hukum atas seluruhnya. Maka keduanya berbeda, dan karena itu terjadi perbedaan pendapat ketika terjadi perselisihan, dan tetap ada perincian dalam tangan hukum. Jika tidak diperbolehkan dalam tangan musyahadah, maka tangan hukum lebih kuat daripada tangan musyahadah dalam penguasaan secara hukum atas seluruhnya, dan kekhususan tangan musyahadah hanya atas setengahnya. Ketika terjadi tarjih (penguatan) dalam tangan musyahadah antara penunggang hewan dan penuntunnya, dengan menjadikan hewan itu milik penunggangnya dan bukan penuntunnya, berdasarkan urf (kebiasaan), maka tarjih dalam tangan hukum dengan pertimbangan urf lebih utama.

وَرُبَّمَا حَرَّرُوا قِيَاسًا، وَقَالُوا: كُلُّ يَدٍ ثَبَتَ بِهَا الِاسْتِحْقَاقُ، جَازَ أَنْ يَقَعَ فِيهَا التَّرْجِيح قِيَاسًا عَلَى يَدِ الْمُشَاهَدَةِ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى أَنَّ الْأَثَاثَ، وَآلَتَهُ، مُخْتَصٌّ بِالزَّوْجِ دُونَهَا فَإِنَّهُ السَّابِقُ إِلَى اقْتِنَائِهِ، وَالْمُنْفَرِدُ بِابْتِيَاعِهِ، فَصَارَ فِيهِ أَرْجَحَ، فَاخْتَصَّ به دونهما وَاسْتَدَلُّوا عَلَى أَنَّ الْحَيَّ مِنْهُمَا، أَحَقُّ بِهِ مِنْ وَرَثَةِ الْمَيِّتِ، فَإِنَّهُ أَسْبَقُ يَدًا، وَأَقْوَى تَصَرُّفًا، وَأَظْهَرُ عِلْمًا، وَاسْتَدَلُّوا بِأَنَّ الْحَادِثَةَ، إِذَا حَاذَاهَا أَصْلَانِ أُلْحِقَتْ بِأَقْوَاهُمَا شَبَهًا بِهَا، كَالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ.

Terkadang mereka merumuskan suatu qiyās, dan berkata: Setiap hak kepemilikan yang dengannya terbukti adanya hak, maka boleh terjadi tarjīḥ di dalamnya dengan qiyās atas hak kepemilikan yang nyata. Mereka berdalil bahwa perabotan dan perlengkapannya adalah khusus bagi suami, bukan bagi selainnya, karena dialah yang lebih dahulu memilikinya dan yang sendiri membelinya, sehingga ia lebih kuat dalam hal itu, maka ia menjadi khusus baginya, bukan bagi keduanya. Mereka juga berdalil bahwa yang masih hidup di antara keduanya lebih berhak atasnya daripada ahli waris yang telah meninggal, karena ia lebih dahulu dalam kepemilikan, lebih kuat dalam pengelolaan, dan lebih jelas pengetahuannya. Mereka juga berdalil bahwa jika suatu kasus dihadapkan pada dua asal hukum, maka ia disamakan dengan yang paling mirip dengannya, sebagaimana dalam hukum-hukum syar‘i.

وَدَلِيلُنَا عَلَيْهِمْ فِي الْجَمِيعِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ ” وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَعَ اشْتِرَاكِهِمَا فِي الْيَدِ مُدَّعٍ، وَمُدَّعًى عَلَيْهِ.

Dalil kami terhadap mereka semua adalah hadis Abdullah bin Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Bukti ada pada pihak yang mengklaim, dan sumpah ada pada pihak yang mengingkari.” Masing-masing dari keduanya, meskipun sama-sama memegang (barang), adalah pihak yang mengklaim (mudda‘i) dan pihak yang diklaim (mudda‘ā ‘alaih).

وَلِأَنَّهُ أَثَرٌ مَرْوِيٌّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ فِي الصَّحَابَةِ مُخَالِفٌ، فَصَارَ كَالْإِجْمَاعِ.

Dan karena hal itu adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud dan tidak tampak adanya sahabat yang menyelisihinya, maka hal itu menjadi seperti ijmā‘.

وَلِأَنَّ الِاشْتِرَاكَ فِي الْيَدِ يَمْنَعُ مِنَ التَّرْجِيحِ بِالْعُرْفِ. قِيَاسًا عَلَى يَدِ الْمُشَاهَدَةِ.

Dan karena kepemilikan bersama dalam hak kepemilikan (al-yad) mencegah adanya penguatan (tarjīḥ) berdasarkan ‘urf, dengan qiyās terhadap hak kepemilikan yang nyata (yad al-musyāhadah).

وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَتَرَجَّحْ بِهِ يَدُ الْمُشَاهَدَةِ، لَمْ يَتَرَجَّحْ بِهِ يَدُ الْحُكْمِ، كَتَنَازُعِ الدَّبَّاغِ، وَالْعَطَّارِ فِي عِطْرِهِ، وَدِبَاغَتِهِ.

Dan karena sesuatu yang tidak dapat diunggulkan dengan bukti nyata (musyāhadah), maka tidak dapat pula diunggulkan dengan keputusan hukum, seperti perselisihan antara tukang penyamak dan penjual minyak wangi mengenai minyak wangi dan proses penyamakannya.

وَلِأَنَّ مَا يَسْقُطُ فِيهِ اعْتِبَارًا الْعُرْفُ فِي الْيَدِ الْمُفْرَدَةِ، سَقَطَ فِيهِ اعْتِبَارُهُ فِي الْيَدِ الْمُشْتَرَكَةِ، كَالْغَنِيِّ، وَالْفَقِيرِ، فِي اللُّؤْلُؤِ، وَالْجَوْهَرِ. وَلَوْ كَانَ الْعُرْفُ مَعَ اشْتِرَاكِ الْيَدِ مُعْتَبَرًا، لَأَوْجَبَ تَنَازُعَ الْعَطَّارِ، وَالدَّبَّاغِ فِي الْعِطْرِ وَالدِّبَاغَةِ أَنْ يَجْعَلَ العطر للعطار والدباغة للدباغ، وفي تنازغ الْغَنِيِّ، وَالْفَقِيرِ، فِي اللُّؤْلُؤِ وَالْجَوْهَرِ أَنْ تُجْعَلَ لِلْغَنِيِّ دُونَ الْفَقِيرِ، وَفِي أَمْثَالِ ذَلِكَ مِنْ آلَاتِ الصُّنَّاعِ، وَهُمْ لَا يَقُولُونَهُ فَكَذَلِكَ فِي أَثَاثِ الْبَيْتِ، وَهَذَا إِلْزَامٌ لَا يَتَحَقَّقُ عَنْهُ انْفِصَالٌ وَيَدُ الْمُشَاهَدَةِ، تَدْفَعُ جَمِيعَ مَا اسْتَدَلُّوا بِهِ.

Karena apa yang gugur pertimbangannya menurut ‘urf (kebiasaan) pada kepemilikan tunggal, maka gugur pula pertimbangannya pada kepemilikan bersama, seperti orang kaya dan orang miskin dalam hal mutiara dan permata. Seandainya ‘urf dengan adanya kepemilikan bersama dianggap, niscaya akan mewajibkan dalam perselisihan antara penjual parfum dan penyamak kulit mengenai parfum dan bahan penyamakan, bahwa parfum diberikan kepada penjual parfum dan bahan penyamakan kepada penyamak kulit; dan dalam perselisihan antara orang kaya dan orang miskin mengenai mutiara dan permata, bahwa diberikan kepada orang kaya saja, bukan kepada orang miskin, serta dalam hal-hal serupa pada alat-alat para pengrajin, padahal mereka tidak mengatakan demikian. Maka demikian pula dalam perabotan rumah, dan ini adalah konsekuensi yang tidak mungkin terlepas darinya. Sementara kepemilikan yang nyata (yad al-musyāhadah) menolak semua dalil yang mereka ajukan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا قَالُوهُ إَنَّ يَدَ الحاكم تُوجِبُ اسْتِيلَاءَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى جَمِيعِهِ، اسْتِشْهَادًا بِمَا ذَكَرُوهُ، فَهِيَ أَنَّهَا دَعْوَى نُخَالِفُهُمْ فِيهَا، وَلَيْسَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي يَدِ الحكم، أن يدعيه إلا عليها، وَلَا يَدَّعِيَهُ عَلَى أَحَدِهِمَا، وَإِنَّمَا يَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِدَعْوَى نِصْفِهِ، كَالْيَدِ الْمُشَاهَدَةِ فَبَطَلَ احْتِجَاجُهُمْ بِهِ، ثُمَّ لَمَّا صَارَتْ يَدُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى جَمِيعِهِ، أَنْ يَكُونَ مُوجِبًا لِتَفَرُّدِ أَحَدِهِمَا بِبَعْضِهِ، وَعَكْسُهُ فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ أَشْبَهُ، لِتَفَرُّدِهِ بِالْيَدِ عَلَى الْبَعْضِ.

Adapun jawaban atas apa yang mereka katakan bahwa kepemilikan (yad) hakim menyebabkan masing-masing dari keduanya menguasai seluruhnya, dengan berdalil pada apa yang mereka sebutkan, maka itu adalah klaim yang kami tidak sependapat dengan mereka di dalamnya. Tidaklah masing-masing dari keduanya, dalam kepemilikan hakim, berhak mengklaim kecuali atas dirinya sendiri, dan tidak boleh mengklaimnya atas salah satu dari mereka. Setiap orang dari mereka hanya berhak mengklaim setengahnya, sebagaimana kepemilikan yang nyata (yad musyahadah), sehingga gugurlah argumentasi mereka dengan hal itu. Kemudian, ketika kepemilikan masing-masing dari keduanya atas seluruhnya, tidaklah menyebabkan salah satu dari mereka berhak secara eksklusif atas sebagian darinya, dan sebaliknya dalam kepemilikan yang nyata (yad musyahadah) lebih mirip, karena ia secara eksklusif memiliki kepemilikan atas sebagian darinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَلَى مَا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنْ رَاكِبِ الدَّابَّةِ، وَقَائِدِهَا، فَهُوَ أَنَّ أَصْحَابَنَا قَدِ اخْتَلَفُوا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil yang mereka gunakan tentang orang yang menunggangi hewan tunggangan dan yang menuntunnya, maka para ulama mazhab kami telah berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ، فَسَقَطَ الِاسْتِدْلَالُ.

Salah satunya: bahwa keduanya sama dalam hal ini, maka gugurlah pendalilan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الرَّاكِبَ أَحَقُّ بِهَا مِنَ الْقَائِدِ، لِأَنَّ لِلرَّاكِبِ مَعَ الْيَدِ تَصَرُّفًا، لَيْسَ لِلْقَائِدِ كَلَابِسِ الثَّوْبِ، وَمُمْسِكِهِ يَكُونُ اللَّابِسُ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الْمُمْسِكِ.

Pendapat kedua: bahwa orang yang menunggangi (hewan) lebih berhak atasnya daripada orang yang menuntunnya, karena penunggang memiliki kekuasaan atas (hewan) itu dengan tangannya, yang tidak dimiliki oleh penuntun, seperti halnya orang yang mengenakan pakaian lebih berhak atasnya daripada orang yang hanya memegangnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنَ الْأَثَاثِ، مِنْ سُبُوقِ يَدِ الرَّجُلِ عَلَيْهِ فَهُوَ أَنَّهَا دَعْوَى مَدْفُوعَةٌ، لِجَوَازِ أَنْ تَسْبِقَ يَدُ الْمَرْأَةِ عَلَيْهِ بِصَنْعَةٍ أَوِ ابْتِيَاعٍ مِنْ صَانِعٍ، وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ قَدْ تَرِثُ مَتَاعَ الرَّجُلِ، وَالرَّجُلَ قَدْ يَرِثُ مَتَاعَ النِّسَاءِ، وَإِنْ كَانَ فِي مِيرَاثِ مَتَاعِ الرِّجَالِ، وَمَتَاعِ النِّسَاءِ، فَلَا يَكُونُ لِأَحَدِهِمَا عَلَيْهِ يَدٌ سَابِقَةٌ، وَلَا يَنْفَرِدُ أَحَدُهُمَا بِمَتَاعِ جِهَةٍ دُونَ صَاحِبِهِ.

Adapun jawaban terhadap apa yang mereka jadikan dalil dari kepemilikan barang-barang rumah tangga, berupa klaim bahwa tangan laki-laki lebih dahulu atasnya, maka itu adalah klaim yang tertolak, karena memungkinkan tangan perempuan lebih dahulu atasnya melalui pembuatan atau pembelian dari pembuat, dan karena perempuan bisa saja mewarisi barang-barang laki-laki, dan laki-laki pun bisa mewarisi barang-barang perempuan. Jika barang-barang laki-laki dan barang-barang perempuan diwariskan, maka tidak ada salah satu dari mereka yang lebih dahulu memilikinya, dan tidak ada salah satu dari mereka yang berhak secara khusus atas barang-barang dari satu pihak tanpa yang lainnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِتَرْجِيحِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ، فَهُوَ أَنَّ تَعَارُضَ الْأُصُولِ فِي الْأَحْكَامِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ الْأَشْبَهِ، لِاعْتِبَارِ الشَّبَهِ فِيهِ إِذَا انْفَرَدَ، وَلَمَّا كَانَتِ الْأَمْلَاكُ لَا يُعْتَبَرُ فِيهَا شَبَهُ الْعُرْفِ فِي الْيَدِ الْمُنْفَرِدَةِ، لَمْ يُعْتَبَرْ فِي الْيَدِ الْمُشْتَرِكَةِ، كَمَا لَا يُعْتَبَرُ فِي يَدِ الْمُشَاهَدَةِ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan menguatkan hukum-hukum syar‘i, maka sesungguhnya pertentangan ushul dalam hukum-hukum mengharuskan untuk mengunggulkan yang lebih mirip, karena mempertimbangkan kemiripan di dalamnya jika berdiri sendiri. Dan ketika dalam masalah kepemilikan tidak dipertimbangkan kemiripan adat pada tangan yang berdiri sendiri, maka tidak dipertimbangkan pula pada tangan yang berserikat, sebagaimana tidak dipertimbangkan pada tangan yang disaksikan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: إِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي تَسَاوِي الزَّوْجَيْنِ، فِي مَتَاعِ الْبَيْتِ، تَحَالَفَا عَلَيْهِ عِنْدَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ، وَحَلَفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى نِصْفِهِ، لِأَنَّهُ يَحْلِفُ عَلَى مَا فِي يَدِهِ، وَلَا يَحْلِفُ عَلَى مَا فِي يَدِ صَاحِبِهِ.

Apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan mengenai kesetaraan antara suami istri dalam harta benda rumah tangga, maka keduanya saling bersumpah atasnya ketika tidak ada bukti, dan masing-masing dari mereka bersumpah atas setengahnya, karena seseorang bersumpah atas apa yang ada di tangannya, dan tidak bersumpah atas apa yang ada di tangan pasangannya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَحْلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى جَمِيعِهِ، لِأَنَّ عِنْدَهُ أَنَّ يَدَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى جَمِيعِهِ، وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الْيَدَ مَا اخْتَصَّتْ بِالشَّيْءِ، وَمِنَ الْمُمْتَنِعِ أَنْ يَخْتَصَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِكُلِّ الْمَتَاعِ.

Abu Hanifah berkata: Setiap orang dari mereka bersumpah atas seluruh barang, karena menurutnya tangan masing-masing dari mereka berada atas seluruh barang tersebut. Namun, pendapat ini tidak benar, karena tangan itu tidak khusus pada suatu barang, dan tidak mungkin setiap orang dari mereka memiliki seluruh barang tersebut secara khusus.

فَإِنْ قِيلَ: لَيْسَ يَمْتَنِعُ هَذَا كَمَا لَمْ يَمْتَنِعْ فِي الرَّهْنِ، إِذَا أَوْجَبَ أَنْ يَكُونَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُرْتَهِنِ، وَالْمُسْتَأْجِرِ يَدٌ عَلَى جَمِيعِهِ.

Jika dikatakan: Hal ini tidak mustahil, sebagaimana tidak mustahil dalam masalah rahn, ketika disyaratkan bahwa masing-masing dari murtahin dan musta’jir memiliki hak atas seluruhnya.

قِيلَ: يَدُهُمَا فِي الرَّهْنِ مُخْتَلِفَةٌ، لِأَنَّ الْمُرْتَهِنَ مُسْتَوْثِقٌ بِالرَّقَبَةِ، وَالْمُسْتَأْجِرَ مُسْتَوْثِقٌ بِالْمَنْفَعَةِ، وَيَدَهُمَا فِي مَتَاعِ الْبَيْتِ مُتَّفِقَةٌ، فَامْتَنَعَ فِي مَتَاعِ الْبَيْتِ وَإِنْ لَمْ يَمْتَنِعْ فِي الرَّهْنِ.

Dikatakan: Kepemilikan mereka berdua atas barang gadai itu berbeda, karena murtahin (penerima gadai) menjaga haknya dengan kepemilikan atas benda (yang digadaikan), sedangkan musta’jir (penyewa) menjaga haknya dengan kepemilikan atas manfaat. Adapun kepemilikan mereka berdua atas barang-barang rumah tangga adalah sama, sehingga larangan berlaku pada barang-barang rumah tangga meskipun tidak berlaku pada barang gadai.

وَإِذَا وَجَبَ بِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنْ يَحْلِفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى نِصْفِهِ، لَا عَلَى جميعه فلها ثلاثة أحوال:

Dan apabila, sebagaimana yang telah kami sebutkan, wajib bagi masing-masing dari keduanya untuk bersumpah atas setengah bagiannya, bukan atas seluruhnya, maka ada tiga keadaan baginya:

أحدها: أَنْ يَحْلِفَا، فَيُجْعَلُ بَيْنَهُمَا مِلْكًا.

Pertama: Keduanya saling bersumpah, lalu dijadikan sebagai milik bersama di antara mereka berdua.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَنْكُلَا فَيُجْعَلُ بَيْنَهُمَا يَدًا.

Keadaan yang kedua: jika keduanya enggan (bersumpah), maka diadakan undian di antara mereka berdua.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَحْلِفَ أَحَدُهُمَا وَيَنْكُلَ الْآخَرُ، فَيُحْكَمُ لِلْحَالِفِ بِالنِّصْفِ، وَيَكُونُ النِّصْفُ الَّذِي فِي يَدِ النَّاكِلِ تُرَدُّ الْيَمِينُ فِيهِ عَلَى الْحَالِفِ فَإِنْ حَلَفَ الْيَمِينَ الثَّانِيَةَ فِي الرَّدِّ، حُكِمَ لَهُ بِالْجَمِيعِ، نِصْفُهُ بِيَمِينِهِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ، وَنِصْفُهُ بِيَمِينِ الرَّدِّ بَعْدَ نُكُولِ صَاحِبِهِ، وَإِنِ امْتَنَعَ فِي يَمِينِ الرَّدِّ لَمْ يُحْكَمْ لَهُ، إِلَّا فِي النِّصْفِ الَّذِي حَلَفَ بِيَمِينِ الْيَدِ وَكَانَ النِّصْفُ الَّذِي فِي يَدِ النَّاكِلِ مُقَرًّا عَلَيْهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Keadaan ketiga: salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lain enggan bersumpah, maka diputuskan untuk yang bersumpah setengahnya, dan setengah yang ada di tangan yang enggan bersumpah, sumpah dikembalikan kepadanya (yang bersumpah). Jika ia bersumpah untuk kedua kalinya dalam sumpah yang dikembalikan, maka diputuskan seluruhnya untuknya: setengahnya dengan sumpah atas apa yang ada di tangannya, dan setengahnya lagi dengan sumpah yang dikembalikan setelah temannya enggan bersumpah. Namun jika ia menolak bersumpah dalam sumpah yang dikembalikan, maka tidak diputuskan untuknya kecuali pada setengah yang ia telah bersumpah atasnya, dan setengah yang ada di tangan yang enggan bersumpah tetap menjadi miliknya. Allah lebih mengetahui kebenaran.

(بَابُ أَخْذِ الرَّجُلِ حَقَّهُ مِمَّنْ يَمْنَعُهُ إِيَّاهُ)

(Bab tentang seseorang yang mengambil haknya dari orang yang menahannya darinya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وكانت هند زوجة لأبي سفيان وكانت القيم عَلَى وَلَدِهَا لِصِغَرِهِمْ بِأَمْرِ زَوْجِهَا فَأَذِنَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَمَّا شَكَتْ إِلَيْهِ أَنْ تَأْخُذَ مِنْ مَالِهِ مَا يَكْفِيهَا وَوَلَدَهَا بِالْمَعْرُوفِ فَمِثْلُهَا الرَّجُلُ يَكُونُ لَهُ الْحَقُّ عَلَى الرَّجُلِ فَيَمْنَعُهُ إِيَّاهُ فَلَهُ أن يأخذ من ماله حيث وجده بوزنه أو كيله فإن لم يكن له مثل كانت قيمته دنانير أو دراهم فإن لم يجد له مالا باع عرضه واستوفى من ثمنه حقه فإن قيل فَقَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أد إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ” قيل إنه ليس بثابت ولو كان ثابتا لم تكن الخيانة ما أذن بأخذه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وإنما الخيانة أن آخذ له درهما بعد استيفائه درهمي فأخونه بدرهم كما خانني في درهمي فليس لي أن أخونه بأخذ ما ليس لي وإن خانني “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Hindun adalah istri Abu Sufyan dan ia menjadi wali atas anak-anaknya yang masih kecil atas perintah suaminya. Maka Rasulullah ﷺ mengizinkannya, ketika ia mengadu kepada beliau, untuk mengambil dari harta suaminya secukupnya bagi dirinya dan anak-anaknya secara patut. Maka, orang seperti Hindun—yakni seorang laki-laki—yang memiliki hak atas orang lain namun haknya dihalangi, maka ia boleh mengambil dari harta orang itu di mana pun ia menemukannya, sesuai dengan takaran atau timbangannya. Jika tidak ada barang sejenis, maka nilainya berupa dinar atau dirham. Jika ia tidak menemukan harta, maka ia boleh menjual barang milik orang itu dan mengambil haknya dari hasil penjualan tersebut. Jika ada yang berkata: ‘Telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ: Tunaikanlah amanat kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu,’ maka dijawab bahwa hadis itu tidak sahih. Dan seandainya sahih, maka pengambilan yang diizinkan oleh Rasulullah ﷺ bukanlah termasuk khianat. Khianat itu adalah jika aku mengambil satu dirham miliknya setelah aku mengambil hakku satu dirham, sehingga aku mengkhianatinya dengan satu dirham sebagaimana ia mengkhianatiku dengan satu dirhamku. Maka aku tidak boleh mengkhianatinya dengan mengambil sesuatu yang bukan hakku, meskipun ia telah mengkhianatiku.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِرَجُلٍ عَلَى رَجُلٍ دَيْنٌ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ini benar, yaitu apabila seseorang memiliki utang pada orang lain, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ عَلَى مُقِرٍّ وَمَلِيءٍ يَقْدِرُ عَلَى أَخْذِهِ مِنْهُ مَتَى طَالَبَهُ بِهِ، فَلَا يَجُوزُ لِصَاحِبِ الدَّيْنِ أَنْ يَأْخُذَهُ مِنْ مَالِ الْغَرِيمِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَإِنْ أَخَذَهُ كَانَ آثِمًا، وَعَلَيْهِ رَدُّهُ، وَإِنْ كَانَ جِنْسَ دَيْنِهِ، لِأَنَّ لِمَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ أَنْ يَقْضِيَهُ مِنْ أَيِّ أَمْوَالِهِ شَاءَ، وَلَا يَتَعَيَّنُ فِي بَعْضِهِ، وَيَجْرِي عَلَى مَا أَخَذَهُ حُكْمُ الْغَاصِبِ، عَلَى أَنْ يَرُدَّ مَا أَخَذَهُ، وَلَهُ أَنْ يُطَالِبَ بِمَا وَجَبَ لَهُ، وَلَا يَكُونُ قِصَاصًا، لِأَنَّ الْقِصَاصَ يَخْتَصُّ بِمَا فِي الذِّمَمِ، دُونَ الْأَعْيَانِ.

Salah satunya adalah: jika (utang itu) atas orang yang mengakui dan mampu, yang dapat diambil darinya kapan saja penagih menuntutnya, maka tidak boleh bagi pemilik utang untuk mengambilnya dari harta si berutang tanpa izinnya. Jika ia mengambilnya, maka ia berdosa dan wajib mengembalikannya, meskipun yang diambil itu sejenis dengan utangnya. Sebab, orang yang berutang berhak melunasi utangnya dari harta mana pun yang ia kehendaki, dan tidak ditentukan pada sebagian hartanya saja. Apa yang diambil itu berlaku hukum seperti barang hasil ghasab, yaitu wajib dikembalikan, dan ia tetap berhak menuntut apa yang menjadi haknya. Hal itu tidak dianggap sebagai qishāsh, karena qishāsh hanya berlaku pada tanggungan (dzimmah), bukan pada benda tertentu.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَقْدِرَ صَاحِبُ الدَّيْنِ عَلَى قَبْضِ دَيْنِهِ، فَهُوَ ضَرْبَانِ:

Jenis kedua: yaitu ketika pemilik utang tidak mampu mengambil utangnya, dan ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَقْدِرَ عَلَى أَخْذِهِ مِنْهُ بِالْمُحَاكَمَةِ.

Salah satunya adalah mampu mengambilnya darinya melalui proses peradilan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْجِزَ عَنْهُ.

Kedua: yaitu apabila ia tidak mampu melakukannya.

فَإِنْ عَجَزَ عَنْ أَخْذِهِ مِنْهُ بِالْمُحَاكَمَةِ، وَذَلِكَ مِنْ أَحَدِ وَجْهَيْنِ: إِمَّا لِامْتِنَاعِ الْغَرِيمِ بِالْقُوَّةِ، وَإِمَّا لِجُحُودِهِ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ، فَيَجُوزُ لِصَاحِبِ الدَّيْنِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ مَالِ غَرِيمِهِ قَدْرَ دَيْنِهِ سِرًّا، بِغَيْرِ عِلْمِهِ. فَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ مِنْ جِنْسِ حَقِّهِ، لَمْ يَتَجَاوَزْ إِلَى غَيْرِهِ. وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ مِنْ جِنْسِهِ، جَازَ أَنْ يَعْدِلَ إِلَى غَيْرِ جِنْسِهِ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ وَمِنْ غَيْرِ جِنْسِهَا، وَإِنْ قَدَرَ صَاحِبُ الدَّيْنِ عَلَى أَخْذِهِ بِالْمُحَاكَمَةِ، وَعَجَزَ عَنْهُ بِغَيْرِ الْمُحَاكَمَةِ، وَذَلِكَ لِأَحَدِ وَجْهَيْنِ إِمَّا لِمَطْلِهِ مَعَ الْإِقْرَارِ، أَوِ الْإِنْكَارِ مَعَ وُجُودِ الْبَيِّنَةِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika ia tidak mampu mengambil haknya melalui jalur pengadilan, dan hal itu terjadi karena dua sebab: pertama, karena pihak yang berutang menolak dengan kekuatan, atau kedua, karena ia mengingkari utang tersebut dan tidak ada bukti, maka diperbolehkan bagi pemilik utang untuk mengambil dari harta orang yang berutang sebesar jumlah utangnya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Jika ia mampu mengambil dari jenis harta yang sama dengan haknya, maka tidak boleh melebihi jenis itu. Namun jika ia tidak mampu mengambil dari jenis yang sama, maka boleh baginya mengambil dari jenis lain, baik dari jenis barang berharga maupun selainnya. Jika pemilik utang mampu mengambil haknya melalui pengadilan, namun tidak mampu selain melalui pengadilan, dan hal itu karena dua sebab: pertama, karena penundaan pembayaran meski telah mengakui utang, atau kedua, karena pengingkaran utang namun ada bukti, maka perkaranya terbagi menjadi dua:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَقْدِرَ عَلَى أَخْذِ دَيْنِهِ سِرًّا مِنْ جِنْسِهِ، فَيَجُوزُ أَخْذُهُ مِنْهُ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، لِأَنَّ إِحْوَاجَهُ إِلَى الْمُحَاكَمَةِ عُدْوَانٌ مِنَ الْغَرِيمِ.

Salah satunya: jika ia mampu mengambil piutangnya secara diam-diam dari jenis yang sama, maka boleh baginya mengambilnya tanpa sepengetahuan orang tersebut, karena memaksanya untuk membawa perkara ke pengadilan merupakan tindakan zalim dari pihak yang berutang.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَى أَخْذِهِ، إِلَّا مِنْ غير جنسه ففي جواز أخذه سراً بعير علمه وجهان: أحدهما: يجوز تعليلاً بما ذكرنا مِنْ عُدْوَانِ الْغَرِيمِ، وَهُوَ قَوْلُ مَنْ زَعَمَ أَنَّ لِصَاحِبِ الدَّيْنِ، أَنْ يَنْفَرِدَ بِبَيْعِهِ مِنْ غَيْرِ حَاكِمٍ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَيْسَ لَهُ أَخْذُهُ إِلَّا بِالْمُحَاكَمَةِ لِقُدْرَتِهِ عَلَيْهِ بِمَا يَزُولُ عَنْهُ الْهَمُّ، وَهُوَ قَوْلُ مَنْ زَعَمَ أَنَّ صَاحِبَ الدَّيْنِ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ، إِلَّا بِالْحَاكِمِ فَهَذَا شَرْحُ مَذْهَبِنَا.

Golongan kedua: yaitu ketika seseorang tidak mampu mengambilnya kecuali dari selain jenisnya. Dalam hal kebolehan mengambilnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya terdapat dua pendapat. Pendapat pertama: boleh, dengan alasan sebagaimana telah disebutkan tentang tindakan zalim dari pihak yang berutang, dan ini adalah pendapat orang yang berpendapat bahwa pemilik piutang boleh secara mandiri menjual barang tersebut tanpa melalui hakim. Pendapat kedua: tidak boleh mengambilnya kecuali melalui proses peradilan, karena ia mampu mendapatkannya dengan cara yang dapat menghilangkan kekhawatiran, dan ini adalah pendapat orang yang berpendapat bahwa pemilik piutang tidak boleh menjualnya kecuali melalui hakim. Inilah penjelasan mazhab kami.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنْ قَدَرَ عَلَى أَخْذِ دَيْنِهِ إِذَا لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ مِنْ غَرِيمِهِ، أَنْ يَأْخُذَ مِنْ جِنْسِهِ، جَازَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ شَيْئًا مِنْ مَالِهِ، وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ دَيْنُهُ دَرَاهِمَ فَوَجَدَ دَنَانِيرَ، أَوْ دَنَانِيرَ فَوَجَدَ دَرَاهِمَ، لِأَنَّهَا مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ، وَإِنْ تَنَوَّعَتْ، وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ إِلَّا مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ فِي الْأَمْتِعَةِ وَالْعُرُوضِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَخْذُهُ، احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” أَدِّ الْأَمَانَةَ لِمَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “. وَبِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لا يحل مال امرىء مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ ” وَلِأَنَّهُ مَالٌ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَتَمَلَّكَهُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْخُذَهُ قِيَاسًا عَلَى مَا فِي يَدِ الْغَرِيمِ مِنْ رُهُونٍ، وَوَدَائِعَ.

Abu Hanifah berkata: Jika seseorang mampu mengambil piutangnya, namun tidak dapat memperolehnya dari orang yang berutang kepadanya, lalu ia dapat mengambil dari jenis yang sama, maka boleh baginya mengambil sesuatu dari hartanya. Demikian pula jika piutangnya berupa dirham lalu ia menemukan dinar, atau piutangnya berupa dinar lalu ia menemukan dirham, karena keduanya termasuk jenis atsman (alat tukar), meskipun berbeda jenis. Namun jika ia hanya mampu mengambil dari selain jenisnya, seperti barang-barang atau komoditas, maka tidak boleh baginya mengambilnya. Hal ini berdalil pada riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakan kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” Dan sabda beliau ﷺ: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.” Karena itu adalah harta yang tidak boleh dimiliki oleh siapa pun, maka tidak boleh diambil dengan qiyās terhadap barang gadai atau titipan yang ada di tangan orang yang berutang.

وَلِأَنَّهُ إِذَا أَخَذَهُ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ حَقِّهِ لَمْ يَحِلَّ أَنْ يأخذه لأنه [إما أن] يَمْلِكَهُ أَوْ يَبِيعَهُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَمَلَّكَهُ لِأَنَّهُ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ حَقِّهِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَبِيعَهُ، لِأَنَّهُ لَا وَلَايَةَ لَهُ عَلَى بَيْعِهِ. فَبَطَلَ أَنْ يَكُونَ لَهُ حَقٌّ فِي أَخْذِهِ.

Karena jika ia mengambilnya dari selain jenis haknya, maka tidak halal baginya untuk mengambilnya, karena ia [bisa jadi] memilikinya atau menjualnya. Maka tidak boleh ia memilikinya karena itu bukan dari jenis haknya, dan tidak boleh ia menjualnya karena ia tidak memiliki wewenang untuk menjualnya. Maka batal baginya untuk memiliki hak dalam mengambilnya.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لِصَاحِبِ الْحَقِّ يَدٌ وَمَقَالٌ “. فَكَانَتِ الْيَدُ عَلَى الْعُمُومِ.

Dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Bagi pemilik hak ada tangan dan ucapan.” Maka tangan itu berlaku secara umum.

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ عِيَاضٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ هِنْدَ امْرَأَةَ أَبِي سُفْيَانَ قَالَتْ: إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، وَإِنَّهُ لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي، وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ سِرًّا. فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ “.

Syafi‘i meriwayatkan dari ‘Iyadh, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Hindun, istri Abu Sufyan, berkata: “Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang kikir, dan dia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil darinya secara diam-diam.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Ambillah secukupnya untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”

وَلِأَنَّ مِنَ الْحُقُوقِ الْمُخْتَلِفَةِ مَا يَتَعَذَّرُ وُجُودُ جِنْسِهَا فِي مَالِهِ، فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ أَخْذِهِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ وَمِنْ جِنْسِهِ، وَلِأَنَّ مَنْ جَازَ لَهُ أَخْذُ دَيْنِهِ مِنْ جِنْسِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ مَعَ تَعَذُّرِ الْجِنْسِ أَنْ يُأْخَذَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ قِيَاسًا عَلَى أَخْذِ الدَّرَاهِمِ بِالدَّنَانِيرِ، وَالدَّنَانِيرِ، بِالدَّرَاهِمِ.

Karena di antara hak-hak yang beragam ada yang mustahil ditemukan jenisnya dalam harta seseorang, maka hal itu menunjukkan bolehnya mengambil dari selain jenisnya maupun dari jenisnya. Dan karena siapa saja yang dibolehkan mengambil piutangnya dari jenisnya, maka ketika jenis itu sulit didapatkan, ia juga dibolehkan mengambil dari selain jenisnya, dengan qiyās terhadap pengambilan dirham dengan dinar, dan dinar dengan dirham.

وَلِأَنَّ مَنْ جَازَ أَنْ يُقْضَي مِنْهُ دَيْنُهُ، جَازَ أَنْ يَتَوَصَّلَ مُسْتَحِقُّهُ إِلَى أَخْذِهِ، إِذَا امْتَنَعَ بِحَسَبِ الْمُمْكِنِ قِيَاسًا عَلَى الْمُحَاكَمَةِ.

Dan karena siapa saja yang boleh dilunasi utangnya darinya, maka boleh bagi pihak yang berhak untuk berupaya mengambilnya jika ia menolak, sesuai kemampuan, berdasarkan qiyās terhadap proses peradilan.

فَإِنْ قِيلَ: فَالْحَاكِمُ يُجْبِرُ عَلَى الْبَيْعِ وَلَا يَبِيعُ عَلَيْهِ.

Jika dikatakan: Maka hakim memaksa untuk melakukan jual beli, namun tidak menjual atas nama orang tersebut.

قِيلَ: عِنْدَنَا يَبِيعُ عَلَيْهِ فِي دَيْنِهِ، إِذَا امْتَنَعَ مِنْ بَيْعِهِ سَوَاءٌ، كَانَ مَالُهُ عُرُوضًا، أَوْ عَقَارًا. وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ: أَنَّهُ مَنَعَ مِنَ بَيْعِ الْعَقَارِ فِي الدُّيُونِ، وَهُوَ عِنْدَنَا مَبِيعٌ عَلَيْهِ، فِي الْحَالَيْنِ جَبْرًا، لِأَنَّ جَمِيعَ الدُّيُونِ تُقْضَى مِنْ جَمِيعِ الْأَمْوَالِ كَدَيْنِ الْمَيِّتِ.

Dikatakan: Menurut kami, dijual atas hartanya untuk melunasi utangnya jika ia menolak menjualnya, baik hartanya berupa barang dagangan maupun properti. Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia melarang penjualan properti untuk melunasi utang, namun menurut kami, properti itu tetap dijual atas dirinya dalam kedua keadaan tersebut secara paksa, karena seluruh utang dapat dilunasi dari seluruh harta, sebagaimana utang orang yang telah meninggal dunia.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عن قولهم: ” لا يحل مال امرىء مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ ” فَهُوَ إِنْ حَمَلَهُ عَلَى أَنْ لَا يَدْفَعَ صَاحِبُ الدَّيْنِ مِنْ دَيْنِهِ، وَهُوَ مَظْلُومٌ، أَوْلَى مِنْ حَمْلِهِ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ، وَهُوَ ظَالِمٌ. وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: ” أَدِّ الْأَمَانَةَ لِمَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “. وَهُوَ أَنَّ الْأَمَانَةَ هِيَ الْوَدِيعَةُ، تُؤَدَّى إِلَى مَالِكِهَا، وَلَيْسَ مَالُ الْغَرِيمِ وَدِيعَةً، يَكُونُ أَمَانَةً وَقَوْلِهِ: ” وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ” فَلَيْسَ مُسْتَوْفِي حَقِّهِ خَائِنًا، فَلَمْ يَتَوَجَّهْ إِلَيْهِ الْخِطَابُ.

Adapun jawaban terhadap pernyataan mereka: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya,” maka jika pernyataan itu dimaknai bahwa pemilik utang tidak boleh membayar utangnya padahal ia dizalimi, itu lebih utama daripada memaknainya untuk orang yang berutang padahal ia berbuat zalim. Adapun jawaban terhadap sabda: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakan kepadamu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu,” maka amanah di sini adalah titipan yang harus dikembalikan kepada pemiliknya, sedangkan harta orang yang berutang bukanlah titipan yang menjadi amanah. Adapun sabda: “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu,” maka orang yang menuntut haknya bukanlah seorang pengkhianat, sehingga larangan tersebut tidak berlaku baginya.

فَإِنْ قِيلَ: فَمَا مَعْنَى الْخَبَرِ. قِيلَ: يُحْمَلُ مَعْنَاهُ مَعَ ضَعْفِهِ، عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ، عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ: إِمَّا عَلَى الْأَعْرَاضِ، إِذَا هُتِكَتْ وَالْحُقُوقِ إِذَا بَطَلَتْ وَإِمَّا عَلَى الْوَدَائِعِ، إِذَا جُحِدَتْ ثُمَّ أُدِّيَتْ.

Jika dikatakan: Apa makna hadis tersebut? Maka dijawab: Maknanya, meskipun hadis itu lemah menurut para ahli hadis, dapat dipahami dalam dua kemungkinan: Pertama, berkaitan dengan kehormatan jika telah dilanggar dan hak-hak jika telah hilang; atau kedua, berkaitan dengan titipan jika telah diingkari kemudian dikembalikan.

وَأَمَّا قِيَاسُهُ عَلَى مَا فِي يَدِهِ مِنْ رُهُونٍ وَوَدَائِعَ، فَتِلْكَ لَا يَمْلِكُهَا فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تؤخذ في دينه، وهذا ما له فَجَازَ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْ دَيْنِهِ.

Adapun qiyās terhadap barang-barang yang ada di tangannya berupa barang gadai dan titipan, maka barang-barang tersebut bukan miliknya sehingga tidak boleh diambil untuk membayar utangnya, sedangkan ini adalah miliknya sehingga boleh diambil untuk membayar utangnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالتَّقْسِيمِ فِي أَخْذِهِ مِلْكًا، أَوْ مبيعا فإنه يَنْقَسِمُ يُؤْخَذُ فِي أَخْذِ الدَّرَاهِمِ عَنِ الدَّنَانِيرِ والدنانير عن الدراهم، ولا يمنع جَوَازُهُ، فَكَذَلِكَ فِي غَيْرِهِ عَلَى أَنَّ لَنَا فِي الْبَيْعِ مَا سَنَذْكُرُهُ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan pembagian dalam mengambilnya sebagai milik atau sebagai barang yang dijual, maka sesungguhnya hal itu terbagi; diambil dalam mengambil dirham dari dinar dan dinar dari dirham, dan hal itu tidak mencegah kebolehannya. Maka demikian pula dalam selainnya. Adapun dalam jual beli, kami memiliki penjelasan yang akan kami sebutkan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ لَهُ أَخْذَهُ مِنْ جِنْسِهِ، وَمِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ.

Maka apabila telah tetap bahwa ia boleh diambil dari jenisnya, dan dari selain jenisnya.

قِيلَ لَهُ: إِنْ قَدَرْتَ عَلَيْهِ مِنْ جِنْسِ حَقِّكَ، لَمْ يَكُنْ لَكَ أَنْ تَعْدِلَ إِلَى غَيْرِ جِنْسِكَ. وَكُنْتَ فِي أَخْذِهِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ مُتَعَدِّيًا فَإِنْ كَانَ حَقُّكَ دَرَاهِمَ لَمْ يَكُنْ لَكَ أَنْ تَأْخُذَهُ إِلَّا دَرَاهِمَ، وَإِنْ كَانَ حَقُّكَ دَنَانِيرَ، لَمْ يَكُنْ لَكَ أَنْ تَأْخُذَهُ إِلَّا دَنَانِيرَ، وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ حَقُّكَ بُرًّا، أَوْ شَعِيرًا أَخَذْتَ جِنْسَ حَقِّكَ مِنَ الْبُرِّ، وَالشَّعِيرِ.

Dikatakan kepadanya: Jika engkau mampu mengambil dari jenis yang sama dengan hakmu, maka tidak boleh bagimu beralih kepada selain jenis hakmu. Dan jika engkau mengambil dari selain jenis hakmu, maka engkau telah melampaui batas. Jika hakmu adalah dirham, maka engkau hanya boleh mengambil dirham, dan jika hakmu adalah dinar, maka engkau hanya boleh mengambil dinar. Demikian pula, jika hakmu adalah gandum atau jelai, maka engkau harus mengambil dari jenis hakmu, yaitu gandum atau jelai.

وَلَهُ أَنْ يَبِيعَ بِوَزْنِهِ، وَكَيْلِهِ وَيَصِيرَ بِأَخْذِهِ فِي ضَمَانِهِ، وَعَلَى مِلْكِهِ.

Dan ia boleh menjualnya berdasarkan timbangannya, takarannya, dan dengan mengambilnya, barang itu menjadi dalam tanggungannya dan berada dalam kepemilikannya.

وَإِنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ جِنْسُ حَقِّهِ وَعَدَلَ إِلَى غَيْرِ جِنْسِهِ جَازَ فَإِذَا أَخَذَهُ فَفِي حُكْمِ يَدِهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهَا يَدُ أَمَانَةٍ، لَا تُوجِبُ الضَّمَانَ، حَتَّى تُبَاعَ فَيَسْتَوْفِي حَقَّهُ مِنْهُ كَالرَّهْنِ.

Jika ia tidak mampu memperoleh jenis haknya lalu beralih kepada selain jenis tersebut, maka hal itu diperbolehkan. Ketika ia telah mengambilnya, maka dalam status kepemilikannya terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa itu merupakan tangan amanah, yang tidak mewajibkan ganti rugi, hingga barang tersebut dijual dan ia mengambil haknya darinya, seperti pada kasus rahn (gadai).

فَعَلَى هَذَا لَوْ تَلَفَ فِي يَدِهِ قَبْلَ بَيْعِهِ، كَانَ حَقُّهُ بَاقِيًا، وَجَازَ أَنْ يَعُودَ إِلَى مَالِ الْغَرِيمِ ثَانِيَةً، فَيَأْخُذَ مِنْهُ بِقَدْرِ دَيْنِهِ.

Dengan demikian, jika barang itu rusak di tangannya sebelum dijual, maka haknya tetap ada, dan boleh baginya untuk kembali mengambil dari harta orang yang berutang kepadanya, lalu ia mengambil darinya sebesar jumlah utangnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ يَدَهُ ضَامِنَةٌ لِمَا أَخَذَهُ قَبْلَ بَيْعِهِ، وَبَعْدَهُ بِخِلَافِ الرَّهْنِ، لِأَنَّ الرَّهْنَ عَنْ مُرَاضَاةٍ، وَهَذَا عَنْ إِجْبَارٍ.

Pendapat kedua: Sesungguhnya tangannya bertanggung jawab atas apa yang diambilnya sebelum penjualan dan sesudahnya, berbeda dengan rahn (gadai), karena rahn dilakukan atas dasar kerelaan, sedangkan yang ini atas dasar paksaan.

فَعَلَى هَذَا إِنْ تَلَفَ فِي يَدِهِ كَانَتْ قِيمَتُهُ قِصَاصًا عَنْ دَيْنِهِ إِذَا تَجَانَسَا عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ.

Maka berdasarkan hal ini, jika barang tersebut rusak di tangannya, nilainya menjadi pengganti atas utangnya, apabila keduanya sejenis menurut pendapat yang sahih dalam mazhab.

وَإِذَا كَانَ مَا أَخَذَهُ بَاقِيًا، لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَسْتَبْقِيَهُ فِي يَدِهِ رَهْنًا، لِأَنَّ الرَّهْنَ عَقْدٌ لَا يَتِمُّ إِلَّا عَنْ مُرَاضَاةٍ تُبْذَلُ، وَقَبُولٍ فَإِنِ اسْتَبْقَاهُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى بَيْعِهِ، وَأَخَذَ حَقَّهُ مِنْ ثَمَنِهِ، ضِمْنَهُ وَجْهًا وَاحِدًا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَمَلَّكَهُ مِنْ غَيْرِ بَيْعِهِ، فَإِذَا أَرَادَ بَيْعَهُ فِي حَقِّهِ، فَلِأَصْحَابِنَا فِيهِ وَجْهَانِ:

Jika barang yang diambilnya masih ada, maka ia tidak berhak mempertahankannya di tangannya sebagai rahn (barang gadai), karena rahn adalah akad yang tidak sah kecuali dengan kerelaan yang diberikan dan penerimaan. Jika ia mempertahankannya padahal mampu menjualnya dan mengambil haknya dari hasil penjualannya, maka ia wajib menanggungnya secara mutlak. Tidak boleh baginya memilikinya tanpa melalui penjualan. Jika ia ingin menjualnya untuk mengambil haknya, maka menurut para ulama kami terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِهِمْ، يَجُوزُ أَنْ يَتَوَلَّى بَيْعَهُ بِنَفْسِهِ، لِتَعَذُّرِ بَيْعِ الْحَاكِمِ لَهُ، إِذَا تَعَذَّرَتِ الْبَيِّنَةُ.

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat mayoritas ulama, membolehkan seseorang untuk melakukan penjualan hartanya sendiri, karena sulitnya hakim melakukan penjualan untuknya apabila bukti (bayyinah) tidak dapat dihadirkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَوَلَّى بَيْعَهُ بِنَفْسِهِ، لِامْتِنَاعِ أَنْ يَتَفَرَّدَ بِبَيْعِ مِلْكِ غَيْرِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ كَالرَّهْنِ وَيَتَوَصَّلُ إِلَى بَيْعِ الْحَاكِمِ لَهُ، بِأَنْ يَأْتَمِنَ عَلَيْهِ رَجُلًا، وَيُحْضِرَهُ إِلَى الْحَاكِمِ، وَيَدَّعِيَ عَلَيْهِ أَنَّ لَهُ دَيْنًا عَلَى غَرِيمٍ وَقَدْ اؤْتُمِنَ هَذَا عَلَى مَا فِي يَدِهِ أَنْ يَبِيعَهُ فِي دَيْنِي، وَأَسْأَلُ إِلْزَامَهُ بَيْعَ ذَلِكَ، وَإِلْزَامَهُ قَضَاءَ دَيْنِي مِنْ ثَمَنِهِ وَيَعْتَرِفُ الْحَاضِرُ بِمَا ادَّعَاهُ مِنَ الدَّيْنِ وَائْتِمَانِهِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ. لِيُبَاعَ فِي دَيْنِهِ، فَيَأْمُرُ الْحَاكِمُ بِبَيْعِهِ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْأَلَهُ الْحَاكِمُ مَعَ يَدِهِ وَاعْتِرَافِهِ عَنْ جُمْلَةِ الدَّيْنِ، وَلَهُ مِلْكُ الْعَيْنِ، فَيَصِحُّ الْبَيْعُ بِإِذْنِهِ، وَيَصِلُ صَاحِبُ الدَّيْنِ إِلَى حَقِّهِ مِنْ ثَمَنِهِ، وَقَدْ حُكِيَ عَنْ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ غَيْرُ هَذَا، وَأَنَّهُ يَتَوَصَّلُ إِلَيْهِ بِأَنْ يَدَّعِيَ الدَّيْنَ عَلَى الْمَدْفُوعِ ذَلِكَ إِلَيْهِ، وَيُوَافِقَهُ عَلَى إِقْرَارِهِ، وَأَنَّ مَا بِيَدِهِ مِلْكُهُ، حَتَّى يَأْمُرَهُ الْحَاكِمُ بِبَيْعِهِ، وهذا كذب صراح والأول محال محتمل، وذكر صريح الكذب حرام وَكَذَا التَّحَيُّلُ الْمَوْضُوعُ يَتَنَزَّهُ عَنْهُ أَهْلُ الْوَرَعِ وَالتَّحَرُّجِ فَدَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَى اسْتِعْمَالِ الْوَجْهِ الْأَوَّلِ. والله أعلم بالصواب.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, bahwa tidak boleh seseorang melakukan penjualan barang itu sendiri, karena tidak mungkin seseorang secara sendiri menjual milik orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri, seperti dalam kasus gadai. Cara yang dapat ditempuh agar hakim menjualkannya untuknya adalah dengan mempercayakan barang itu kepada seseorang, lalu membawanya ke hadapan hakim, kemudian mengklaim kepada hakim bahwa ia memiliki piutang atas seorang debitur dan orang yang membawa barang itu telah dipercaya untuk menjual barang yang ada di tangannya guna melunasi utangnya, serta meminta hakim untuk mewajibkan orang tersebut menjual barang itu dan mewajibkan pelunasan utangnya dari hasil penjualan tersebut. Orang yang hadir itu pun mengakui adanya utang dan kepercayaan atas barang yang ada di tangannya, sehingga barang itu dijual untuk membayar utangnya. Maka hakim memerintahkan penjualan barang tersebut, dan hakim tidak wajib menanyakan lebih lanjut kepada orang itu karena ia telah memegang barang dan mengakui seluruh utang, serta ia memiliki hak milik atas barang tersebut. Dengan demikian, penjualan menjadi sah dengan izinnya, dan pemilik piutang dapat memperoleh haknya dari hasil penjualan itu. Diriwayatkan pula dari Abu ‘Ali bin Abi Hurairah pendapat lain, yaitu bahwa cara yang ditempuh adalah dengan mengklaim utang atas orang yang menerima barang itu, lalu orang tersebut menyetujui pengakuan itu dan mengakui bahwa barang yang ada di tangannya adalah miliknya, hingga hakim memerintahkannya untuk menjual barang itu. Namun, ini adalah kebohongan yang nyata, sedangkan pendapat pertama masih mungkin terjadi. Menyebutkan kebohongan secara terang-terangan adalah haram, demikian pula rekayasa yang dibuat-buat harus dijauhi oleh orang-orang yang wara‘ dan berhati-hati. Maka, kebutuhan mendesaklah yang mendorong untuk menggunakan cara pertama. Allah lebih mengetahui mana yang benar.