Kitab tentang Pembebasan Budak

بَابُ عِتْقِ الشِّرْكِ فِي الصِّحَّةِ والمرض والوصايا في العتق

Bab Pembebasan Budak atas Kepemilikan Bersama dalam Keadaan Sehat, Sakit, dan Wasiat tentang Pembebasan Budak

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه من أعتق شركا له في عبد وكان لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ قِيمَةَ الْعَبْدِ قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ وَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمُ وَعَتَقَ الْعَبْدُ وَإِلَّا فَقَدْ عَتَقَ مَا عَتَقَ وَهَكَذَا رَوَى ابن عمر عن رسول الله

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Barang siapa memerdekakan bagian kepemilikannya pada seorang budak, sementara ia memiliki harta yang cukup untuk menutupi nilai budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan taksiran yang adil, lalu ia memberikan kepada para sekutunya bagian mereka, dan budak itu pun menjadi merdeka seluruhnya. Namun jika tidak, maka hanya bagian yang dimerdekakan saja yang merdeka. Demikian pula riwayat dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِنَّمَا عِتْقُ الْعَبِيدِ وَالْإِمَاءِ مِنَ الْقُرَبِ الَّتِي تَتَرَدَّدُ بَيْنَ وُجُوبٍ وَنَدْبٍ وَالْأَصْلُ فِيهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فَلا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ وما أدراك ما العقبة فَكُّ رَقَبَةٍ البلد 11 12 13 يَعْنِي عِتْقَ رَقَبَةٍ مِنَ الرق

Al-Mawardi berkata bahwa memerdekakan budak laki-laki dan perempuan termasuk amal ibadah yang berada di antara kewajiban dan anjuran. Dasar hukumnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar itu. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 11-13), yang dimaksud adalah memerdekakan seorang budak dari perbudakan.

وروي عن النبي

Diriwayatkan dari Nabi.

أَنَّهُ قَالَ   فِي جَهَنَّمَ عَقَبَةٌ لَا يَقْتَحِمُهَا إلا من فك رقبة

Sesungguhnya ia berkata: “Di dalam Jahannam terdapat sebuah tanjakan yang tidak dapat dilewati kecuali oleh orang yang telah membebaskan budak.”

وقال تعالى وإذا تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ الأحزاب 37 يَعْنِي زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ وَأَنْعَمَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِالْعِتْقِ وَلِذَلِكَ سُمِّيَ الْمَوْلَى الْمُعْتَقُ مُنْعَمًا وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيمَا أَوْجَبَهُ مِنْ كَفَّارَةِ الْقَتْلِ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ النساء 92 وَفِيمَا أَوْجَبَهُ مِنْ كَفَّارَةِ الظِّهَارِ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ وَفِي الْكِتَابَةِ الْمُفْضِيَةِ إِلَى الْعِتْقِ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً كَانَتْ فِدَاءَهُ مِنَ النَّارِ

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu’” (al-Ahzab: 37), yaitu Zaid bin Haritsah, yang Allah anugerahi nikmat berupa Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam anugerahi nikmat berupa pembebasan. Karena itu, orang yang dimerdekakan disebut sebagai “mun‘am”. Allah Ta‘ala juga berfirman tentang kewajiban kafarat pembunuhan: “Maka hendaklah memerdekakan seorang budak yang beriman” (an-Nisa’: 92), dan tentang kewajiban kafarat zihar: “Maka hendaklah memerdekakan seorang budak” (al-Mujadilah: 3), serta dalam masalah kitabah yang berujung pada pembebasan: “Maka buatlah perjanjian dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka” (an-Nur: 33). Diriwayatkan dari Ibnu ‘Uyaynah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa memerdekakan seorang budak yang beriman, maka itu menjadi tebusannya dari neraka.”

وَرَوَى وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْهُ مِنَ النَّارِ

Watsilah bin al-Asqa‘ dan Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa membebaskan seorang budak mukmin, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka sebagai balasan atas setiap anggota tubuh budak tersebut.”

وَرُوِيَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا نَذَرَتْ أَنْ تَعْتِقَ عَشَرَةً مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَسُبِيَ قَوْمٌ مَنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   إِنْ سَرَّكِ أَنْ تَعْتِقِي الصَّمِيمَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ فَأَعْتِقِي هَؤُلَاءِ

Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā bernazar untuk memerdekakan sepuluh orang dari keturunan Ismail. Lalu suatu kaum dari Bani Tamim tertawan, maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Jika engkau ingin memerdekakan keturunan asli dari anak-anak Ismail, maka merdekakanlah mereka ini.”

وَأَعْتَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ سَلْمَانَ وَشُقْرَانَ وَثَوْبَانَ وَزَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَاشْتَرَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِلَالًا وَكَانَ يُعَذَّبُ عَلَى الْإِسْلَامِ فَأَعْتَقَهُ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ فِيهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِلَالٌ سَيِّدُنَا وَعَتِيقُ سَيِّدِنَا

Rasulullah saw. telah memerdekakan Salman, Syukran, Tsauban, dan Zaid bin Haritsah. Abu Bakar ra. membeli Bilal, yang saat itu disiksa karena Islam, lalu memerdekakannya karena Allah Ta‘ala. Mengenai Bilal, Umar bin Khattab ra. berkata, “Bilal adalah tuan kami dan orang yang dimerdekakan oleh tuan kami.”

وَفِي قَوْلِهِ بلال سيدنا ثلاثة تأويلات

Dalam ucapannya “Bilal adalah tuan kami” terdapat tiga penafsiran.

أحدها قوله سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

Salah satunya adalah ucapannya. Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.

وَالثَّانِي لِسَابِقَتِهِ فِي الْإِسْلَامِ وَأَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ فِيهِ

Dan yang kedua (yakni Abu Bakr) karena ia lebih dahulu masuk Islam dan ia termasuk di antara orang-orang yang disiksa karena (mempertahankan) Islam.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ قَصَدَ بِهِ التَّوَاضُعَ وَكَسْرَ النَّفْسِ

Dan yang ketiga adalah bahwa ia bermaksud dengan hal itu untuk bersikap tawaduk dan menundukkan diri.

وَقَدْ أَعْتَقَ عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ عَبِيدًا وإماءا وَكَذَلِكَ أَهْلُ الثَّرْوَةِ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي عَصْرِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَبَعْدَهُ فَدَلَّ عَلَى فَضْلِ الْعِتْقِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ قَالَ أَكْثَرُهَا ثَمَنًا وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا وَلِأَنَّ فِي الْعِتْقِ فَكًّا مِنْ ذُلِّ الرِّقِّ بِعِزِّ الْحُرِّيَّةِ وَكَمَالِ الْأَحْكَامِ بَعْدَ نُقْصَانِهَا وَالتَّصَرُّفِ فِي نَفْسِهِ بَعْدَ الْمَنْعِ مِنْهُ وَتَمَلُّكِ الْمَالِ بَعْدَ حَظْرِهِ عَلَيْهِ فَكَانَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرَبِ مِنَ الْمُعْتِقِ وَأَجْزَلِ النِّعَمِ عَلَى الْمُعْتَقِ وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى كَفَّرَ بِهِ الذُّنُوبَ وَجَبَرَ بِهِ الْمَآثِمَ وَمَحَا بِهِ الْخَطَايَا وَمَا هُوَ بِهَذِهِ الْحَالِ فَهُوَ عِنْدَ الله عظيم

Umar, Utsman, dan Ali—semoga Allah meridhai mereka—telah memerdekakan budak laki-laki dan perempuan, demikian pula para sahabat yang kaya—semoga Allah meridhai mereka—pada masa Rasulullah ﷺ dan sesudahnya. Hal ini menunjukkan keutamaan memerdekakan budak. Pernah ditanyakan, “Wahai Rasulullah, budak mana yang paling utama untuk dimerdekakan?” Beliau menjawab, “Yang paling mahal harganya dan paling berharga di mata pemiliknya.” Sebab, dalam memerdekakan budak terdapat pembebasan dari kehinaan perbudakan menuju kemuliaan kebebasan, penyempurnaan hukum-hukum setelah sebelumnya kurang, kemampuan mengatur diri sendiri setelah sebelumnya dilarang, dan kepemilikan harta setelah sebelumnya terhalang. Maka, memerdekakan budak termasuk amalan yang paling utama dari pihak yang memerdekakan dan merupakan nikmat terbesar bagi yang dimerdekakan. Karena Allah Ta‘ala menjadikan perbuatan ini sebagai penebus dosa, penutup kesalahan, dan penghapus dosa-dosa. Maka, amalan ini di sisi Allah sangat agung.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَالْعِتْقُ ضَرْبَانِ وَاجِبٌ وَتَطَوُّعٌ

Jika hal ini telah jelas, maka pembebasan budak itu ada dua macam: wajib dan sunnah (tathawwu‘).

فَالْوَاجِبُ خَاصٌّ فِي بَعْضِ الرِّقَابِ وَهِيَ أَنْ تَكُونَ مُؤْمِنَةً سَلِيمَةً مِنَ الْعُيُوبِ وَالتَّطَوُّعُ أَنْ يَكُونَ عَامًّا فِي جَمِيعِ الرِّقَابِ مِنْ مُؤْمِنَةٍ وَكَافِرَةٍ وَسَلِيمَةٍ وَمَعِيبَةٍ وَالْعِتْقُ يَقَعُ بِالْقَوْلِ الصريح وكناية وَالصَّرِيحُ لَفْظَتَانِ أَعْتَقْتُكَ وَحَرَّرْتُكَ يَقَعُ الْعِتْقُ بِهِمَا مَعَ وُجُودِ النِّيَّةِ وَعَدَمِهَا

Maka kewajiban itu khusus pada sebagian budak, yaitu harus budak yang beriman dan bebas dari cacat, sedangkan pembebasan budak secara tathawwu‘ (sukarela) bersifat umum untuk semua budak, baik yang beriman maupun kafir, yang sehat maupun yang cacat. Pembebasan budak dapat dilakukan dengan ucapan yang sharih (jelas) maupun kinayah (sindiran). Lafaz sharih ada dua, yaitu “Aku membebaskanmu” (a‘taqtuka) dan “Aku memerdekakanmu” (harrartuka); pembebasan budak terjadi dengan kedua lafaz ini, baik disertai niat maupun tidak.

وَالْكِنَايَةُ قَوْلُهُ حَرَّمْتُكَ وَسَبَيْتُكَ وَأَطْلَقْتُكَ وَخَلَّيْتُكَ وَمَا فِي مَعْنَاهُ فَإِنْ نَوَى بِهِ الْعِتْقَ عَتَقَ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَمْ يُعْتِقْ وَلَا يُعْتِقُ بِالنِّيَّةِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ كَالطَّلَاقِ وَيَصِحُّ مُعَجَّلًا وَمُؤَجَّلًا وَنَاجِزًا وَعَلَى صِفَةٍ وَبِعِوَضٍ وَبِغَيْرِ عِوَضٍ اعْتِبَارًا بِالطَّلَاقِ وَبِعِلْمِ العبد وبغير علمه ومع إرادته وكراهته

Kinayah adalah ucapan seperti “Aku haramkan engkau”, “Aku bebaskan engkau”, “Aku lepaskan engkau”, “Aku tinggalkan engkau”, dan ungkapan lain yang serupa maknanya. Jika ia meniatkan ‘itq (pembebasan budak) dengan ucapan tersebut, maka budak itu menjadi merdeka; namun jika tidak meniatkannya, maka tidak terjadi pembebasan. Tidak sah membebaskan hanya dengan niat tanpa lafaz, sebagaimana dalam talak. Pembebasan ini sah dilakukan secara langsung maupun ditangguhkan, secara pasti maupun bersyarat, dengan imbalan maupun tanpa imbalan, sebagaimana dalam talak. Pembebasan juga sah baik diketahui oleh budak maupun tidak, dengan kerelaan budak ataupun dengan keterpaksaannya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا كَانَ الْعِتْقُ عَلَى مَا وَصَفْنَا فَهُوَ يَسْرِي كَسِرَايَةِ الطَّلَاقِ وَسِرَايَتُهُ أَعَمُّ مِنْ سِرَايَةِ الطَّلَاقِ لِأَنَّهُ يَسْرِي إِلَى مِلْكِ الْمُعْتَقِ وَإِلَى غَيْرِ مِلْكِهِ وَسِرَايَةُ الطَّلَاقِ لَا تَسْرِي إلا إِلَى مِلْكِ الْمُطَلَّقِ فَإِذَا أَعْتَقَ الرَّجُلُ بَعْضًا مِنْ عَبْدِهِ كَقَوْلِهِ نِصْفُهُ حُرٌّ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَلَمْ يَقِفِ الْعِتْقُ الَّذِي بَاشَرَهُ

Apabila pembebasan budak (al-‘itq) dilakukan sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka pembebasan itu berlaku (menyebar) sebagaimana berlakunya talak, bahkan penyebarannya lebih luas daripada penyebaran talak. Sebab, pembebasan budak berlaku pada kepemilikan orang yang membebaskan maupun pada selain kepemilikannya, sedangkan penyebaran talak hanya berlaku pada kepemilikan orang yang menjatuhkan talak saja. Maka, jika seseorang membebaskan sebagian dari budaknya, seperti ucapannya “setengahnya merdeka”, maka seluruh budak itu menjadi merdeka dan pembebasan yang dilakukan tidak terhenti pada bagian yang disebutkan saja.

وَرَوَى قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْمُلَيْحِ أُسَامَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ شِقْصًا مِنْ غُلَامٍ فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فقال   وهو حُرٌّ كُلُّهُ لَيْسَ لَكَ شَرِيكٌ

Qatadah meriwayatkan dari Abu al-Mulayh Usamah bin ‘Umayr dari ayahnya bahwa ada seorang laki-laki yang memerdekakan sebagian (syiqsh) dari seorang budak laki-laki, lalu hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda, “Dia (budak itu) telah merdeka seluruhnya, tidak ada sekutu bagimu.”

وَإِذَا أَعْتَقَ له ىشركاء فِي عَبْدٍ شِرْكٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ عَتَقَ عَلَيْهِ مَا يَمْلِكُهُ مِنْهُ وَرُوعِيَتْ حَالُهُ فِي يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا سَرَى عِتْقُهُ إِلَى شَرِيكِهِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ وَوَجَبَ عَلَيْهِ لِشَرِيكِهِ قِيمَةُ حِصَّتِهِ وَلَمْ يَكُنْ لِلشَّرِيكِ أَنْ يَسْتَبْقِيَهَا عَلَى مِلْكِهِ وَلَا أَنْ يَعْتِقَهَا فِي حق نفسه وإن كان المعتق موسراً لَمْ يَسْرِ عِتْقُهُ إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ وَكَانَتْ حِصَّتُهُ بَاقِيَةً عَلَى مِلْكِهِ إِنْ شَاءَ أَعْتَقَهَا وَإِنْ شَاءَ اسْتَبْقَاهَا وَلَا يُجْبَرُ الْعَبْدُ عَلَى الِاسْتِسْعَاءِ فِيمَا رَقَّ مِنْهُ فِي حَقِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَتَتَبَعَّضُ فِي الْعَبْدِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَجُوزُ أَنْ تَتَبَعَّضَ فِيهِ فَيَكُونُ بَعْضُهُ حُرًّا وَبَعْضُهُ مَرْقُوقًا وَالْوَاجِبُ تَكْمِيلُ الْحُرِّيَّةِ فِيهِ فَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ مُوسِرًا كَانَ شريكه بالخيار بين ثلاثة أَحْوَالٍ

Apabila seseorang memerdekakan bagian budak yang dimilikinya bersama para sekutunya dalam kepemilikan budak secara bersama-sama, maka merdekalah bagian yang ia miliki dari budak tersebut. Keadaan orang yang memerdekakan itu diperhatikan, apakah ia mampu atau tidak. Jika ia mampu, maka kemerdekaan itu berlaku juga pada bagian sekutunya, sehingga seluruh budak itu menjadi merdeka, dan ia wajib membayar kepada sekutunya nilai bagian yang menjadi hak sekutunya. Sekutunya tidak berhak mempertahankan bagian miliknya atas budak itu, dan tidak pula berhak memerdekakannya hanya untuk dirinya sendiri. Namun jika orang yang memerdekakan itu tidak mampu, maka kemerdekaan tidak berlaku pada bagian sekutunya, sehingga bagian sekutunya tetap menjadi miliknya; jika ia mau, ia dapat memerdekakannya, dan jika ia mau, ia dapat mempertahankannya. Budak tidak dipaksa untuk bekerja guna menebus bagian yang masih menjadi budak demi kepentingan salah satu dari mereka. Maka, pada diri budak itu terdapat status merdeka sekaligus budak secara bersamaan. Abu Hanifah berpendapat tidak boleh terjadi status ganda pada budak, yaitu sebagian dirinya merdeka dan sebagian lainnya masih budak; yang wajib adalah menyempurnakan kemerdekaan pada dirinya. Jika orang yang memerdekakan itu mampu, maka sekutunya memiliki pilihan di antara tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْتِقَ حِصَّتَهُ مُبَاشَرَةً فَيَكُونُ الولاء بينهما

Salah satunya adalah jika ia membebaskan bagiannya secara langsung, maka hak wala’ menjadi milik keduanya.

والحالة الثالثة أَنْ يَسْتَسْعِيَ الْعَبْدَ فِي حِصَّتِهِ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بالسوية ويكون الولاء بينهما

Keadaan ketiga adalah apabila seseorang meminta budaknya untuk menebus bagian miliknya, maka budak itu merdeka atasnya secara proporsional, dan hak wala’ menjadi milik keduanya.

والحالة الثانية أَنْ يَأْخُذَ الْمُعْتِقُ بِقِيمَةِ حِصَّتِهِ وَيَكُونُ الْمُعْتَقُ فِيهِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ إِنْ شَاءَ أَعْتَقَهُ وَإِنْ شَاءَ اسْتَسْعَاهُ فِي حِصَّتِهِ فِيهِ بِقِيمَتِهَا وَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ مُعْسِرًا كَانَ الشَّرِيكُ فِي حِصَّتِهِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ إِمَّا أَنْ يَعْتِقَهَا وَإِمَّا أَنْ يَسْتَسْعِيَ الْعَبْدَ فِيهَا

Keadaan kedua adalah apabila orang yang memerdekakan mengambil nilai bagiannya, maka orang yang dimerdekakan berada di antara dua pilihan: jika ia mau, ia memerdekakannya, dan jika ia mau, ia meminta orang tersebut menebus bagian miliknya sesuai nilainya. Jika orang yang memerdekakan itu dalam keadaan tidak mampu, maka sekutunya dalam bagian tersebut juga berada di antara dua pilihan: apakah ia memerdekakannya, atau ia meminta budak tersebut menebus bagian itu.

وَقَالَ رَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَا يَصِحُّ أَنْ يَنْفَرِدَ أَحَدُهُمَا بِعِتْقِ حِصَّتِهِ فِي يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ إِلَّا أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَى عِتْقِهِ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِمَا فَإِنْ تَفَرَّدَ أَحَدُهُمَا بِالْعِتْقِ لَمْ يَقَعْ

Rabī‘ah bin Abī ‘Abd ar-Raḥmān berkata, “Tidak sah jika salah satu dari mereka berdua secara sendiri-sendiri memerdekakan bagiannya, baik dalam keadaan mampu maupun tidak mampu, kecuali jika keduanya sepakat untuk memerdekakannya, maka budak itu menjadi merdeka atas mereka berdua. Namun, jika salah satu dari mereka memerdekakan secara sendiri-sendiri, maka tidak terjadi (kemerdekaan itu).”

وَقَالَ الْأَصَمُّ وَابْنُ عُلَيَّةَ يُعْتَقُ حِصَّةُ الْمُعْتِقِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ مُوسِرًا كَانَ أَوْ مُعْسِرًا

Al-Asham dan Ibnu ‘Ulayyah berpendapat bahwa bagian budak yang dimerdekakan oleh orang yang memerdekakan itu menjadi merdeka, sedangkan bagian milik sekutunya tidak menjadi merdeka, baik sekutunya itu mampu maupun tidak mampu.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ يُعْتَقُ حِصَّةُ الشَّرِيكِ عَلَى الْمُعْتِقِ مُوسِرًا كَانَ أَوْ مُعْسِرًا وَاسْتَدَلَّ أَبُو حَنِيفَةَ بِمَا رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ بَشِيرِ بْنِ نَهِيكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ مِنْ عَبْدٍ فَعَلَيْهِ خَلَاصُهُ فِي مَالِهِ فَإِنْ لَمْ يكن له مال! استسعى العبد غير مشقوق عليه

Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa bagian milik rekan (syarikat) menjadi merdeka atas orang yang memerdekakan, baik ia mampu maupun tidak mampu. Abu Hanifah berdalil dengan riwayat yang disampaikan oleh Sa‘id bin Abi ‘Arubah dari Qatadah, dari Nadhar bin Anas, dari Basyir bin Nahik, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Barang siapa memerdekakan bagian kepemilikannya dari seorang budak, maka wajib baginya membebaskan seluruhnya dengan hartanya. Jika ia tidak memiliki harta, maka budak tersebut disuruh bekerja untuk menebus dirinya tanpa memberatkannya.”

قَالُوا وَهَذَا نَصٌّ

Mereka berkata, “Dan ini adalah nash.”

قَالُوا وَلِأَنَّ تَنَافِيَ أَحْكَامِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ تَمْنَعُ مِنْ تَبْعِيضِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ كَمَا امْتُنِعَ مِنْ تَبْعِيضِ الزَّوْجِيَّةِ إِبَاحَةً وَحَظْرًا

Mereka berkata: Karena pertentangan antara hukum-hukum kebebasan (hurriyah) dan perbudakan (riqq) mencegah adanya pemisahan antara kebebasan dan perbudakan, sebagaimana tidak dimungkinkan adanya pemisahan dalam status pernikahan antara yang dibolehkan dan yang dilarang.

قَالُوا وَلِأَنَّهُ مَا لَمْ تُبَعَّضِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ فِي مِلْكِ الْوَاحِدِ لَمْ تُبَعَّضْ فِي مِلْكِ الِاثْنَيْنِ

Mereka berkata: Karena apabila kemerdekaan dan perbudakan tidak terbagi-bagi dalam kepemilikan satu orang, maka tidak pula terbagi-bagi dalam kepemilikan dua orang.

قَالُوا وَلِأَنَّ عِتْقَ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ يَجْعَلُ الْعَبْدَ فِيمَا يَمْلِكُهُ مِنْ حُرِّيَّةِ نَفْسِهِ كَالْغَاصِبِ فِي حَقِّ الْآخَرِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَسْعِيَ فِي قِيمَةِ نَفْسِهِ كَمَا يُؤْخَذُ الْغَاصِبُ بِقِيمَةِ غَصْبِهِ وَدَلِيلُنَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ وَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ قِيمَةَ الْعَبْدِ قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ فَأُعْطِيَ شُرَكَاؤُهُ حِصَصَهُمْ وَعَتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِلَّا فَقَدَ عَتَقَ مِنْهُ فَأُعْتِقَ وَرُقَّ مِنْهُ مَا رُقَّ

Mereka berkata: Karena memerdekakan salah satu dari dua orang yang berserikat (dalam kepemilikan budak) menjadikan budak tersebut, pada bagian yang dimiliki oleh orang yang memerdekakan, seperti seorang perampas (ghāṣib) terhadap hak orang lain. Maka wajib bagi budak itu untuk menebus dirinya sendiri sesuai dengan nilai dirinya, sebagaimana seorang perampas diwajibkan membayar nilai barang yang dirampasnya. Dalil kami adalah riwayat yang dibawakan oleh Imam Syafi‘i dari Malik, dari Nafi‘, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang memerdekakan bagian kepemilikannya dalam seorang budak, dan ia memiliki harta yang cukup untuk menutupi nilai budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan nilai yang adil, lalu para sekutunya diberikan bagian mereka, dan budak itu menjadi merdeka seluruhnya. Jika tidak, maka yang merdeka hanyalah bagian yang dimilikinya, sehingga budak itu menjadi merdeka pada bagian tersebut dan tetap menjadi budak pada bagian yang lain.”

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى عِتْقِهِ فِي حَقِّ الْمُوسِرِ دُونَ حَقِّ الْمُعْسِرِ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ عَطَاءٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ وَرَوَى سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ وَرَوَى أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ أَعْتَقَ سِتَّةَ أَعْبُدٍ عِنْدَ مَوْتِهِ وَلَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فدعاهم وجزأهم ثلاثة أجزاء فأعتق اثنين وأرق أَرْبَعَةً

Hal ini menunjukkan bahwa pembebasan budak berlaku bagi orang yang mampu, bukan bagi orang yang tidak mampu. Hal ini juga didukung oleh riwayat yang disampaikan oleh ‘Aṭā’ dari Sa‘īd bin al-Musayyab dari ‘Imrān bin Ḥuṣayn, dan juga riwayat Simāk bin Ḥarb dari al-Ḥasan dari ‘Imrān bin Ḥuṣayn, serta riwayat Ayyūb dari Muḥammad bin Sīrīn dari ‘Imrān bin Ḥuṣayn, bahwa seorang laki-laki dari kaum Anṣār membebaskan enam orang budaknya ketika menjelang wafat, sedangkan ia tidak memiliki harta selain mereka. Maka hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memanggil mereka dan membagi mereka menjadi tiga bagian, kemudian beliau membebaskan dua orang dan memperbudak empat orang.

فَمَنَعَ هَذَا الْخَبَرُ مِنْ قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ لِأَنَّ فِيهِ أَنَّهُ جَزَّأَهُمْ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُجَزِّئُهُمْ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُقْرِعُ بَيْنَهُمْ وَأَعْتَقَ مِنْهُمُ اثْنَيْنِ وَأَبُو حَنِيفَةَ يُعْتِقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ ثُلُثَهُ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يَسْتَرِقُّهُمْ وَأَوْجَبَ اسْتِسْعَاءَهُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَمْ يُوجِبْهُ فَصَارَ مَذْهَبُهُ مُخَالِفًا لِلْخَبَرِ فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَدْفُوعًا بِهِ لِأَنَّ الِاسْتِسْعَاءَ عِتْقٌ بَعِوَضٍ فَلَمْ يُجْبَرْ عَلَيْهِ الْعَبْدُ كَالْكِتَابَةِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يُقَوَّمْ عَلَى الْمُعْتِقِ الْمُعْسِرِ فَأَوْلَى أَن لَا يُقَوَّمَ عَلَى الْعَبْدِ بِالسِّعَايَةِ لِأَنَّهُ أَسْوَأُ حَالًا مِنَ الْمُعْسِرِ لِلْعِلْمِ بِإِعْسَارِ الْعَبْدِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَإِعْسَارِ الْمُعْتِقِ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ

Maka hadis ini menolak pendapat Abu Hanifah, karena di dalamnya disebutkan bahwa Nabi membagi-bagi mereka, sedangkan Abu Hanifah tidak membagi-bagi mereka; Nabi mengundi di antara mereka, sedangkan Abu Hanifah tidak mengundi di antara mereka; Nabi memerdekakan dua orang dari mereka, sedangkan Abu Hanifah memerdekakan sepertiga dari masing-masing; Nabi menjadikan empat orang tetap sebagai budak, sedangkan Abu Hanifah tidak memperbudak mereka; Nabi mewajibkan mereka untuk berusaha (istis‘ā’), sedangkan Nabi ﷺ tidak mewajibkannya. Maka, mazhab Abu Hanifah bertentangan dengan hadis ini dalam seluruh hukumnya, sehingga wajib untuk ditolak berdasarkan hadis tersebut. Karena istis‘ā’ adalah pembebasan budak dengan imbalan, maka tidak boleh memaksa budak untuk melakukannya, sebagaimana dalam kasus kitābah. Dan karena ketika tidak diberlakukan penilaian harga atas orang yang memerdekakan namun dalam keadaan sulit (miskin), maka lebih utama lagi untuk tidak diberlakukan penilaian harga atas budak dengan usaha (s‘āyah), karena kondisi budak lebih buruk daripada orang yang miskin, sebab diketahui bahwa budak itu dalam keadaan sulit baik secara lahir maupun batin, sedangkan orang yang memerdekakan hanya tampak sulit secara lahir saja, tidak secara batin.

وَلِأَنَّ مَا يَقْتَضِيهِ التَّقْوِيمُ هُوَ الْعِتْقُ لِدُخُولِ الضَّرَرِ بِهِ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ فَلَمَّا سَقَطَ التَّقْوِيمُ فِي حَقِّ الْمُعْتِقِ بِإِعْسَارِهِ وَهُوَ مُبَاشِرٌ كَانَ أَوْلَى أَنْ يَسْقُطَ عَنِ الْعَبْدِ بِمَا قَدْ يَجُوزُ أَن لَا يَصِلَ إِلَيْهِ مِنْ سِعَايَتِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   مَنْ ضَرَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ

Karena yang dituntut oleh taqwīm adalah memerdekakan (budak) karena adanya mudarat yang masuk pada bagian milik rekan (syarikat), maka ketika taqwīm gugur atas orang yang memerdekakan karena ia tidak mampu membayar, padahal ia adalah pelaku langsung, maka lebih utama lagi taqwīm itu gugur dari budak, karena bisa jadi hasil usahanya tidak sampai kepadanya. Dan Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menimbulkan mudarat, maka Allah akan menimpakan mudarat kepadanya.”

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ احْتِجَاجِهِمْ بِالْخَبْرَيْنِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap argumentasi mereka dengan dua hadis tersebut adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا اخْتِلَافُ الرواية فيه

Salah satunya adalah perbedaan riwayat di dalamnya.

وَالثَّانِي اسْتِعْمَالُهُ

Dan yang kedua adalah menggunakannya.

فَأَمَّا اخْتِلَافُ الرِّوَايَةِ فَمِنْ أَوْجُهٍ

Adapun perbedaan riwayat itu berasal dari beberapa segi.

أَحَدُهَا أَنَّ الِاسْتِسْعَاءَ تَفَرَّدَ بِهِ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ فِيمَا رَوَاهُ الْعِرَاقِيُّونَ عَنْهُ وَقَدْ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنِ ابْنِ أَبِي عِيسَى عَنْ سَعِيدٍ وَلَمْ يَذْكُرِ السِّعَايَةَ

Salah satunya adalah bahwa istis‘ā’ hanya diriwayatkan secara khusus oleh Sa‘īd bin Abī ‘Arūbah dari Qatādah sebagaimana yang diriwayatkan oleh para perawi Irak darinya, dan Abū Dāwūd telah meriwayatkannya dari Ibnu Abī ‘Īsā dari Sa‘īd tanpa menyebutkan as-si‘āyah.

وَالثَّانِي أَنَّ سَعِيدَ بْنَ أَبِي عَرُوبَةَ تَفَرَّدَ بِرِوَايَةِ السِّعَايَةِ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِ قَتَادَةَ وَقَدْ رَوَاهُ مِنْ أَصْحَابِ قَتَادَةَ مَنْ هُوَ أَضْبَطُ مِنْ سَعِيدٍ وَهُوَ مِسْعَرٌ الْحَافِظُ وَهِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ وَلَمْ يَذْكُرَا فِيهِ السِّعَايَةَ

Kedua, bahwa Sa‘id bin Abi ‘Arubah adalah satu-satunya yang meriwayatkan tentang “as-siyaayah” di antara para sahabat Qatadah, padahal ada di antara sahabat Qatadah yang lebih teliti daripada Sa‘id, yaitu Mis‘ar al-Hafizh dan Hisyam ad-Dastuwa’i, namun keduanya tidak menyebutkan tentang “as-siyaayah” dalam riwayat mereka.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ قَدْ رواه هشام بن قَتَادَةُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ مِنْ عَبْدٍ فَعَلَيْهِ خَلَاصُهُ فِي مَالِهِ   وَأَنَّ قَتَادَةَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ اسْتَسْعَى الْعَبْدَ غَيْرَ مَشْقُوقٍ عَلَيْهِ فَذَكَرَ قَتَادَةُ ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ فَوَهِمَ فِيهِ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ فَضَمَّهُ إِلَى رِوَايَتِهِ

Ketiga, bahwa hadis ini telah diriwayatkan oleh Hisyam bin Qatadah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barang siapa memerdekakan bagian kepemilikannya dari seorang budak, maka wajib baginya menebus (membebaskan) seluruhnya dari hartanya.” Qatadah berkata: “Jika ia tidak memiliki harta, maka budak tersebut diminta bekerja untuk menebus dirinya tanpa memberatkannya.” Qatadah menyebutkan hal itu dari dirinya sendiri, namun Sa‘id bin Abi ‘Arubah keliru dalam hal ini lalu menggabungkannya ke dalam riwayatnya.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ رِوَايَةُ هَمَّامٍ أَصَحُّ لِأَنَّهُ فَصَّلَ مَذْهَبَ قتادة عن روايته وسعيد أزواجها فِي الرِّوَايَةِ

Abu Bakar an-Naisaburi berkata, “Riwayat Hammam lebih sahih karena ia merinci mazhab Qatadah dari riwayatnya, dan Sa‘id (meriwayatkan) istri-istrinya dalam riwayat tersebut.”

وَأَمَّا اسْتِعْمَالُ الْخَبَرِ فِي السِّعَايَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun penggunaan khabar dalam usaha (saya’ah) terdapat dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى الْمُرَاضَاةِ دُونَ الْإِجْبَارِ إِذَا طَلَبَهَا الْعَبْدُ وَأَجَابَ إِلَيْهِ السَّيِّدُ لِأَنَّهُ قَالَ غَيْرَ مَشْقُوقٍ عَلَيْهِ وَالْإِجْبَارُ شَاقٌّ وَلِأَنَّ الِاسْتِسْعَاءَ اسْتِفْعَالٌ وَهُوَ فِي اللُّغَةِ مَوْضُوعٌ لِلطَّلَبِ كَقَوْلِهِمُ اسْتَسْلَفَ وَاسْتَصْعَبَ وَاسْتَقْرَضَ

Salah satunya adalah bahwa hal itu dimaknai sebagai kerelaan, bukan paksaan, apabila permintaan itu datang dari hamba dan tuannya menyetujuinya. Karena ia mengatakan “tanpa memberatkan”, sedangkan paksaan itu memberatkan. Selain itu, istilah istis‘ā’ adalah bentuk istif‘āl yang dalam bahasa digunakan untuk makna permintaan, seperti dalam ucapan mereka istaslaf, istas‘aba, dan istaqraḍa.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى اسْتِسْعَائِهِ فِي خِدْمَةِ الشَّرِيكِ وَاكْتِسَابِهِ لَهُ بِحَقِّ مِلْكِهِ لَا لِإِطْلَاقِ الِاسْتِسْعَاءِ فِي احْتِمَالِ الْأَمْرَيْنِ

Kedua, bahwa hal itu dimaknai sebagai upaya seseorang dalam memberikan pelayanan kepada mitranya dan memperoleh keuntungan untuknya berdasarkan hak kepemilikannya, bukan karena kebebasan bertindak yang memungkinkan dua kemungkinan tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ تَنَافِيَ أَحْكَامِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ يَمْنَعُ مِنَ الجمع بينهما فهو أن نُغَلِّبُ أَحَدَهُمَا وَلَا نَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فَزَالَ التَّنَافِي

Adapun jawaban atas dalil mereka bahwa pertentangan antara hukum-hukum kebebasan (ḥurriyyah) dan perbudakan (riqq) mencegah untuk menggabungkan keduanya adalah bahwa kita menguatkan salah satunya dan tidak menggabungkan keduanya, sehingga hilanglah pertentangan tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ امْتِنَاعِ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا فِي مِلْكِ الْوَاحِدِ فَهُوَ أَنَّ اخْتِيَارَهُ لِلْمُعْتِقِ أَوْجَبَ سرايته على مِلْكِهِ وَلَمْ يُوجِبْ سِرَايَتَهُ إِلَى مِلْكِ شَرِيكِهِ إِذَا اسْتَقَرَّ

Adapun jawaban atas tidak bolehnya menggabungkan keduanya dalam kepemilikan satu orang adalah bahwa pilihan yang dilakukan oleh orang yang memerdekakan (budak) menyebabkan hukum sarāyah (penyebaran kemerdekaan) berlaku pada kepemilikannya sendiri, dan tidak menyebabkan sarāyah berlaku pada kepemilikan rekannya apabila telah tetap.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ جَعْلِهِمُ الْعَبْدَ كَالْغَاصِبِ فَهُوَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْعَبْدِ فِعْلٌ وَلَا لَهُ عَلَى رِقِّهِ يَدٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُجْعَلَ كَالْغَاصِبِ الْمُتَعَدِّي بِيَدِهِ وَاسْتِهْلَاكِهِ

Adapun jawaban atas anggapan mereka yang menyamakan budak dengan ghashib (perampas), maka sesungguhnya budak itu tidak melakukan suatu perbuatan apa pun, dan ia pun tidak memiliki kekuasaan atas status perbudakannya. Maka tidak boleh disamakan dengan ghashib yang melampaui batas dengan tangannya dan telah menghabiskan (menggunakan) barang tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه ويحتمل قوله فِي عِتْقِ الْمُوسِرِ وَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمُ وَعَتَقَ الْعَبْدُ مَعْنَيَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يُعْتَقُ بِالْقَوْلِ وَبِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَالْآخَرُ أَنْ يَعْتِقَ الْمُوسِرُ وَلَوْ أَعْسَرَ كان العبد حرا واتبع بما ضمن وهذا قول يصح فيه القياس قال المزني وبالقول الأول قال فِي كِتَابِ الْوَصَايَا فِي الْعِتْقِ وَقَالَ فِي كِتَابِ اخْتِلَافِ الْأَحَادِيثِ يَعْتِقُ يَوْمَ تَكَلَّمَ بِالْعِتْقِ وهكذا قال في كِتَابِ اخْتِلَافِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَأَبِي حَنِيفَةَ وقال أيضا فإن مات المعتق أخذ بما لزمه من أرش المال لا يمنعه الْمَوْتُ حَقًّا لَزِمَهُ كَمَا لَوْ جَنَى جِنَايَةً والعبد حر في شهادته وميراثه وجناياته قبل القيمة ودفعها قال المزني وقد قَطَعَ بِأَنَّ هَذَا الْمَعْنَى أَصَحُّ قَالَ الْمُزَنِيُّ وقطعه به في أربعة مواضع أولى به من أحد قولين لم يقطع به وهو القياس على أصله في القرعة أن المعتق يَوْمَ تَكَلَّمَ بِالْعِتْقِ حَتَّى أَقْرَعَ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ والموتى فهذا أولى بقوله قال المزني رحمه الله قد قال الشافعي لو أَعْتَقَ الثَّانِي كَانَ عِتْقُهُ بَاطِلًا وَفِي ذَلِكَ دليل لو كان ملكه بحاله لو عتق بإعتاقه إياه وَقَوْلُهُ فِي الْأَمَةِ بَيْنَهُمَا إنَّهُ إِنْ أَحْبَلَهَا صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ إِنْ كَانَ مُوسِرًا كَالْعِتْقِ وَإِنَّ شَرِيكَهُ إِنْ وَطِئَهَا قَبْلَ أَخْذِ الْقِيمَةِ كَانَ مَهْرُهَا عَلَيْهِ تَامًّا وَفِي ذَلِكَ قضاء لما قلنا وَدَلِيلٌ آخَرُ لَمَّا كَانَ الثَّمَنُ فِي إِجْمَاعِهِمْ ثمنين أحدهما في بيع عن تراض يجوز فيه التغابن والآخر قيمة متلف لَا يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ وَإِنَّمَا هِيَ عَلَى التَّعْدِيلِ وَالتَّقْسِيطِ فَلَمَّا حَكَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ على المعتق الموسر بِالْقِيمَةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهَا قِيمَةُ مُتْلَفٍ عَلَى شَرِيكِهِ يَوْمَ أَتْلَفَهُ فَهَذَا كُلُّهُ قَضَاءٌ لِأَحَدِ قوليه على الآخر وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Ucapan beliau tentang pembebasan budak oleh orang yang mampu, lalu ia memberikan bagian para sekutunya dan budak itu menjadi merdeka, mengandung dua makna. Pertama, budak itu merdeka dengan ucapan dan dengan membayar nilai (kepada sekutunya). Kedua, orang yang mampu membebaskan budak itu, dan seandainya ia kemudian jatuh miskin, budak itu tetap merdeka dan ia dibebani membayar apa yang telah dijaminnya. Ini adalah pendapat yang sah untuk dilakukan qiyās. Al-Muzani berkata: Pada pendapat pertama, beliau (Imam Syafi‘i) berkata dalam Kitāb al-Waṣāyā tentang pembebasan budak, dan beliau juga berkata dalam Kitāb Ikhtilāf al-Aḥādīṡ bahwa budak itu merdeka pada hari diucapkannya pembebasan. Demikian pula beliau katakan dalam Kitāb Ikhtilāf Ibn Abī Laylā wa Abī Ḥanīfah. Beliau juga berkata: Jika orang yang membebaskan budak itu meninggal, maka diambil dari hartanya apa yang menjadi tanggungannya dari nilai harta, kematian tidak menghalangi hak yang telah menjadi tanggungannya, sebagaimana jika ia melakukan suatu pelanggaran. Budak itu merdeka dalam kesaksiannya, warisannya, dan pelanggarannya sebelum nilai itu dibayar dan sebelum diserahkan. Al-Muzani berkata: Beliau telah menegaskan bahwa makna ini lebih sahih. Al-Muzani berkata: Beliau menegaskannya dalam empat tempat, yang lebih utama daripada salah satu dari dua pendapat yang tidak beliau tegaskan, dan ini adalah qiyās atas asalnya dalam masalah undian, bahwa budak itu merdeka pada hari diucapkannya pembebasan hingga dilakukan undian antara yang masih hidup dan yang sudah mati, maka ini lebih utama menurut pendapat beliau. Al-Muzani raḥimahullāh berkata: Imam Syafi‘i berkata, jika sekutu yang kedua juga membebaskan, maka pembebasannya batal. Dalam hal ini terdapat dalil, seandainya kepemilikannya tetap, niscaya budak itu menjadi merdeka dengan pembebasannya. Dan ucapannya tentang budak perempuan milik bersama, jika ia menghamilinya, maka ia menjadi ummu walad baginya jika ia mampu, sebagaimana pembebasan budak. Dan jika sekutunya menyetubuhinya sebelum menerima nilai, maka maharnya wajib atasnya secara penuh. Dalam hal ini terdapat keputusan sebagaimana yang kami katakan, dan dalil lain, yaitu ketika harga menurut ijmā‘ mereka ada dua macam: pertama, dalam jual beli atas dasar kerelaan yang boleh ada penipuan harga, dan kedua, nilai barang yang rusak yang tidak boleh ada penipuan harga, melainkan harus adil dan proporsional. Maka ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memutuskan atas orang yang membebaskan budak yang mampu untuk membayar nilai, itu menunjukkan bahwa nilai tersebut adalah nilai barang yang rusak atas sekutunya pada hari ia merusaknya. Maka semua ini adalah keputusan atas salah satu dari dua pendapat beliau atas pendapat yang lain. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا الْقَوْلُ يَصِحُّ فِيهِ الْقِيَاسُ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ عِتْقَ الْمُوسِرِ يَسْرِي إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ وَاخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي عِتْقِهَا عَلَيْهِ بِمَاذَا يَقَعُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Al-Mawardi berkata: “Pendapat ini dapat dibenarkan dengan qiyās. Kami telah menyebutkan bahwa pembebasan budak oleh orang yang mampu akan berlaku juga pada bagian milik rekannya. Pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai pembebasan bagian tersebut atas rekannya, yaitu ada tiga pendapat.”

أَحَدُهَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي اخْتِلَافِ الْحَدِيثِ وَاخْتِلَافِ الْعِرَاقِيِّينَ وَكِتَابِ الْوَصَايَا أَنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ بِنُطْقِهِ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَيَدْفَعُهَا بَعْدَ نُفُوذِ الْعِتْقِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ

Salah satunya, ia menegaskan dalam kitab Ikhtilāf al-Hadīth, Ikhtilāf al-‘Irāqiyyīn, dan Kitāb al-Waṣāyā bahwa bagian milik rekan (syarikat) menjadi merdeka dengan ucapan (pengakuan) sebelum pembayaran nilai (tebusan), lalu ia membayarnya setelah kemerdekaan itu berlaku. Ini adalah pendapat Ibnu Abī Lailā, Sufyān ats-Tsaurī, Ahmad, dan Isḥāq.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْقَدِيمِ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ دَفْعِ الْقِيمَةِ إِلَى شَرِيكِهِ وَهُوَ قَبْلَ دَفْعِهَا عَلَى بَقَاءِ حِصَّتِهِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ

Pendapat kedua, yang dinyatakan secara tegas dalam pendapat lama, adalah bahwa budak tidak merdeka kecuali setelah nilai bagian budak tersebut dibayarkan kepada rekannya, dan sebelum pembayaran itu dilakukan, bagian kepemilikannya tetap ada. Ini adalah pendapat Malik.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ الْأَشْبَهُ ذَكَرَهُ عَنْهُ الْبُوَيْطِيُّ وَحَرْمَلَةُ أَنَّ الْعِتْقَ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَإِذَا دَفَعَ الْقِيمَةَ بَانَ أَنَّ الْعِتْقَ وَقَعَ بِاللَّفْظِ وَإِنْ لَمْ يَدْفَعْهَا بَانَ أَنَّهُ لَمْ يَزُلْ عَنِ الرِّقِّ

Pendapat ketiga yang lebih mendekati kebenaran disebutkan dari al-Buwaiti dan Harmalah, yaitu bahwa pembebasan budak pada bagian milik sekutu itu bersifat tergantung dan diperhatikan. Jika nilai (bagian sekutu) dibayarkan, maka jelas bahwa pembebasan budak itu terjadi dengan ucapan. Namun jika tidak dibayarkan, maka jelas bahwa status perbudakan tidak hilang darinya.

وَنَظِيرُ هَذِهِ الْأَقَاوِيلِ فِي مِلْكِ الْمَبِيعِ مَتَى يَنْتَقِلُ عَنِ الْبَائِعِ إِلَى الْمُشْتَرِي عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Dan pendapat-pendapat yang serupa dengan ini dalam hal kepemilikan barang yang dijual, mengenai kapan kepemilikan itu berpindah dari penjual kepada pembeli, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا بِالْعَقْدِ قَبْلَ مُضِيِّ زمان الخيار

Salah satunya adalah dengan akad sebelum berlalunya masa khiyār.

وَالثَّانِي بِالْعَقْدِ وَانْقِضَاءِ الْخِيَارِ

Dan yang kedua adalah dengan akad dan berakhirnya khiyār.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى

Ketiga, bahwa hal itu merupakan perkara yang ditangguhkan dan diperhatikan.

فَإِنْ تَمَّ الْبَيْعُ بَانَ أَنَّهُ كَانَ مَالِكًا بِنَفْسِ الْعَقْدِ وَإِنْ لَمْ يَتِمَّ الْبَيْعُ بَانَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مَالِكًا

Jika jual beli itu terlaksana, maka jelaslah bahwa ia telah menjadi pemilik dengan sendirinya melalui akad tersebut. Namun jika jual beli itu tidak terlaksana, maka jelaslah bahwa ia bukanlah pemilik.

فَإِذَا قِيلَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ إنَّهُ يَعْتِقُ عَلَيْهِ بِاللَّفْظِ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ وَهُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِهِ فَدَلِيلُهُ رِوَايَةُ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   إِذَا كَانَ الْعَبْدُ بَيْنَ رَجُلَيْنِ فَأَعْتَقَ أَحَدُهُمَا نَصِيبَهُ وَكَانَ لَهُ مَالٌ فَقَدْ عَتَقَ كُلُّهُ   وَلِأَنَّ فِيهِ الْحِصَّةَ مُعْتَبَرَةٌ وَقْتَ عِتْقِهِ فَدَلَّ عَلَى نُفُوذِ الْعِتْقِ فِيهَا بِلَفْظَةٍ وَإِذَا قِيلَ بِالْقَوْلِ الثَّانِي إنَّهُ لَا يُعْتَقُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَدَلِيلُهُ رِوَايَةُ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   أَيُّمَا عَبْدٍ كَانَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَعْتَقَ أَحَدُهُمَا نَصِيبَهُ فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا قُوِّمَ عَلَيْهِ قِسْمَةَ عَدْلٍ لَيْسَتْ بِوَكْسٍ وَلَا شَطَطٍ ثم يعتق   ولأن العتق عن عرض فَتَحْرِيمُهُ يَدْفَعُ الْعِوَضَ كَالْكِتَابَةِ

Apabila pendapat pertama dikatakan bahwa seorang budak menjadi merdeka baginya dengan ucapan sebelum pembayaran nilai (budak tersebut), dan inilah pendapat yang masyhur dari mazhabnya, maka dalilnya adalah riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari Nafi‘ dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang budak dimiliki oleh dua orang, lalu salah satu dari keduanya memerdekakan bagiannya dan ia memiliki harta, maka seluruh budak itu telah merdeka.” Karena pada kasus ini bagian (kepemilikan) dianggap pada saat pembebasan, maka hal itu menunjukkan sahnya pembebasan dengan ucapan. Dan apabila pendapat kedua dikatakan bahwa budak tidak menjadi merdeka kecuali dengan pembayaran nilai, maka dalilnya adalah riwayat ‘Amr bin Dinar dari Salim dari ayahnya dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Budak mana saja yang dimiliki oleh dua orang, lalu salah satu dari keduanya memerdekakan bagiannya, maka jika ia mampu (membayar), maka budak itu dinilai dengan pembagian yang adil, tidak kurang dan tidak berlebihan, kemudian ia menjadi merdeka.” Dan karena pembebasan budak adalah pengalihan hak, maka pengharamannya (pembebasan) mensyaratkan pembayaran kompensasi sebagaimana dalam kasus kitabah.

وَإِذَا قِيلَ بِالْقَوْلِ الثَّالِثِ إنَّ الْعِتْقَ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَدَلِيلُهُ أَنَّ تَعَارُضَ الرِّوَايَتَيْنِ يَقْتَضِي الْوَقْفَ وَالْمُرَاعَاةَ لِاسْتِعْمَالِ الْخَبْرَيْنِ وَلِأَنَّ فِي الْوَقْفِ إِزَالَةُ الضَّرَرِ عَنِ الشَّرِيكِ وَالْعَبْدِ فَكَانَ أَوْلَى مِنْ إِدْخَالِهِ عَلَى الشَّرِيكِ بِتَعْجِيلِ الْعِتْقِ أَوْ عَلَى الْعَبْدِ بِتَأْخِيرِهِ وَيَكُونُ وَقْفُ عِتْقِهِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ كَمَنْ أَعْتَقَ عَبْدَهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ وَلَهُ مَالٌ غَائِبٌ لَا يُعْلَمُ أَيَسْلَمُ فَيَخْرُجُ الْعِتْقُ مِنْ ثُلُثِهِ أَوْ يَتْلَفُ فَلَا يَخْرُجُ مِنْ ثُلُثِهِ كَانَ تَحْرِيرُ عِتْقِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ مَوْقُوفًا عَلَى سَلَامَةِ مَالِهِ فَإِنْ سَلِمَ عَتَقَ جَمِيعُ الْعَبْدِ مِنْ حِينِ تَلَفَّظَ بِعِتْقِهِ وَإِنْ تَلِفَ مَالُهُ بَانَ أَنَّهُ لَمْ يُعْتَقْ مِنْهُ إِلَّا ثُلُثُهُ وَأَنَّ بَاقِيَهُ لَمْ يَزَلْ مَوْقُوفًا

Apabila pendapat ketiga dikemukakan, yaitu bahwa pembebasan budak (ʿitq) itu ditangguhkan dan diperhatikan, maka dalilnya adalah bahwa pertentangan dua riwayat menuntut penangguhan dan perhatian agar kedua berita dapat digunakan, dan karena dalam penangguhan itu terdapat penghilangan mudarat dari sekutu dan budak, sehingga itu lebih utama daripada memasukkan mudarat kepada sekutu dengan mempercepat pembebasan atau kepada budak dengan menundanya. Penangguhan pembebasan budak menurut pendapat ini seperti orang yang membebaskan budaknya ketika sakit menjelang wafat, sementara ia memiliki harta yang tidak diketahui apakah akan selamat sehingga pembebasan itu keluar dari sepertiganya, ataukah harta itu rusak sehingga tidak keluar dari sepertiganya. Maka penetapan pembebasan budaknya setelah kematiannya tergantung pada keselamatan hartanya. Jika hartanya selamat, maka seluruh budak itu merdeka sejak ia mengucapkan pembebasannya. Namun jika hartanya rusak, maka jelas bahwa yang merdeka hanya sepertiganya, dan sisanya tetap dalam keadaan tertangguhkan.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ اخْتَارَ أَشْهَرَ هَذِهِ الْأَقَاوِيلِ وَهُوَ الْأَوَّلُ أَنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ تُعْتَقُ بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ وَتَكُونُ الْقِيمَةُ فِي ذِمَّتِهِ حَتَّى يُؤَدِّيَهَا وَتَكَلَّمَ عَلَى قِيمَتِهِ فُصُولًا بَعْضُهَا تَحْقِيقٌ لِمَذْهَبِهِ وَبَعْضُهَا نُصْرَةٌ لِصِحَّتِهِ

Adapun al-Muzani, ia memilih pendapat yang paling masyhur di antara pendapat-pendapat tersebut, yaitu pendapat pertama: bahwa bagian (harta) milik sekutu menjadi merdeka dengan ucapan orang yang memerdekakan, dan nilai (bagian tersebut) menjadi tanggungan orang yang memerdekakan hingga ia membayarnya. Ia juga membahas tentang nilai (bagian tersebut) dalam beberapa bagian; sebagian merupakan penegasan terhadap mazhabnya, dan sebagian lagi merupakan pembelaan terhadap kebenarannya.

فَالْفَصْلُ الْأَوَّلُ قَالَ الْمُزَنِيُّ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ فِي كِتَابِ الْوَصَايَا فِي الْعِتْقِ وَقَالَ فِي كِتَابِ اخْتِلَافِ الْأَحَادِيثِ يَعْتِقُ يَوْمَ تَكَلَّمَ بِالْعِتْقِ وَهَكَذَا قَالَ فِي كِتَابِ اخْتِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ وَابْنِ أَبِي لَيْلَى فَجَعَلَ الْمُزَنِيُّ تَكْرَارَ هَذَا الْقَوْلِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ الَّتِي لَمْ يَذْكُرْ غَيْرُهُ فِيهَا إِثْبَاتًا لَهُ وَنَفْيًا لِغَيْرِهِ وَلَيْسَ الْأَمْرُ عَلَى مَا تَوَهَّمَ لِأَنَّ أَقَاوِيلَهُ إِذَا فُرِّقَتْ لَمْ يُحْتَجْ إِلَى تَكْرَارِهَا فِي كُلِّ مَوْضِعٍ وَلَوْ كَانَ مَا تَوَهَّمَ صَحِيحًا لَاقْتَضَى إِذَا كَرَّرَ أَحَدَهُمَا فِي مَوَاضِعَ وَكَرَّرَ الْأُخْرَى فِي مَوَاضِعَ أَنْ يَكُونَ نَافِيًا لَهُمَا وَالَّذِي يَقْتَضِي تَحْقِيقَ مَذْهَبِهِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ أَنْ يَقُولَ وَبِهَذَا أَقُولُ وَهُوَ أَوْلَى أَنْ يَحْتَجْ لَهُ

Bab pertama, al-Muzani berpendapat dengan pendapat pertama dalam Kitab al-Washaya tentang pembebasan budak, dan ia berkata dalam Kitab Ikhtilaf al-Ahadits bahwa budak itu merdeka pada hari ketika diucapkan pembebasan tersebut. Demikian pula ia katakan dalam Kitab Ikhtilaf Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila. Maka, al-Muzani mengulangi pendapat ini di tempat-tempat yang tidak disebutkan oleh selainnya sebagai penegasan atas pendapat tersebut dan penolakan terhadap pendapat lain. Namun, kenyataannya tidak seperti yang ia sangka, karena jika pendapat-pendapat itu telah dirinci, maka tidak perlu mengulanginya di setiap tempat. Seandainya apa yang ia sangka itu benar, maka jika salah satu dari dua pendapat diulang di beberapa tempat dan yang lain juga diulang di beberapa tempat, itu berarti menafikan keduanya. Yang lebih tepat dalam menegaskan mazhabnya pada salah satu dari dua pendapat adalah dengan mengatakan, “Dan dengan ini aku berpendapat,” dan itu lebih utama untuk dijadikan hujjah baginya.

فَأَمَّا تَكْرَارُهُ وَالتَّفْرِيعُ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا تَأْثِيرَ لَهُمَا كَمَا لَا تَأْثِيرَ لِزِيَادَةِ الشُّهُودِ فِي تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ

Adapun pengulangan dan penjabaran terhadapnya, sebagian ulama berpendapat bahwa keduanya tidak berpengaruh, sebagaimana penambahan jumlah saksi juga tidak berpengaruh dalam pertentangan antara dua bayyinah.

وَقَالَ آخَرُونَ لَهَا تَأْثِيرٌ فِي أَنَّ غَيْرَهَا لَا يَتَرَجَّحُ عَلَيْهِ وَاخْتَلَفُوا هَلْ يَصِيرُ بِهَا أرجح من غيره فجرح بِهَا بَعْضُهُمْ وَلَمْ يُرَجِّحْ بِهَا آخَرُونَ

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa hal itu (cacat/kelemahan) berpengaruh dalam arti bahwa selainnya tidak bisa lebih unggul darinya. Mereka pun berbeda pendapat, apakah dengan adanya hal itu sesuatu bisa menjadi lebih unggul dari selainnya; maka sebagian dari mereka menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melemahkan, sementara yang lain tidak menganggapnya sebagai alasan untuk mengunggulkan.

وَالْفَصْلُ الثَّانِي قَالَ الْمُزَنِيُّ فَقَالَ يَعْنِي الشَّافِعِيَّ فَإِنْ مَاتَ الْمُعْتِقُ أَخَذَ مَا لَزِمَهُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ لَا يَمْنَعُ الْمَوْتُ حَقًّا لَزِمَهُ كَمَا لَوْ جَنَى جِنَايَةً وَهَذَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ احْتِجَاجًا أَنَّ أَخْذَ قِيمَةِ الْحِصَّةِ مِنْ شَرِيكِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَلِيلٌ عَلَى نُفُوذِ الْعِتْقِ فِي حَيَاتِهِ وَلَا حُجَّةَ فِي هَذَا لِأَنَّ الْقِيمَةَ مَأْخُوذَةٌ مِنْ شَرِيكِهِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ كُلِّهَا لِأَنَّهُ وَإِنْ لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ فِي أَحَدِهَا فَقَدْ كَانَ مِنْهُ السَّبَبُ الْمُوجِبُ لِعِتْقِهِ فَكَانَ مَأْخُوذًا بِعِتْقِهِ فِي تَرِكَتِهِ كَمَا لَوْ جَرَحَ عَبْدًا فَسَرَى الْجُرْحُ إِلَى نَفْسِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أُخِذَتْ قِيمَةُ الْعَبْدِ مِنْ تَرِكَتِهِ وَإِنْ وَجَبَتْ بَعْدَ مَوْتِهِ وَكَذَلِكَ إِنْ حَفَرَ بِئْرًا فِي غَيْرِ مِلْكِهِ وَمَاتَ كَانَ غُرْمُ مَا تَلِفَ فِيهَا بَعْدَ مَوْتِهِ مِنْ تَرِكَتِهِ وَإِنْ وَجَبَتْ بَعْدَ مَوْتِهِ لِتَقَدُّمِ السَّبَبِ فِي حَيَاتِهِ فَلَمْ يَكُنْ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ مِنْ أَخْذِ الْقِيمَةِ مِنْ تَرِكَتِهِ دَلِيلٌ عَلَى نُفُوذِ الْعِتْقِ فِي حَيَاتِهِ لِأَنَّنَا إِنْ قُلْنَا بِالْأَوَّلِ إنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِلَفْظِهِ كَانَ الْمَأْخُوذُ مِنْ تَرِكَتِهِ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ غُرْمُهُ فِي حَيَاتِهِ

Bab Kedua

Al-Muzani berkata, maksudnya Imam Syafi‘i, “Jika orang yang memerdekakan (budak) itu meninggal dunia, maka diambil apa yang menjadi kewajibannya dari harta pokoknya; kematian tidak menghalangi hak yang telah menjadi kewajibannya, sebagaimana jika ia melakukan jinayah (tindak pidana).” Al-Muzani menyebutkan hal ini sebagai argumentasi bahwa pengambilan nilai bagian (budak) dari rekannya setelah kematiannya merupakan dalil atas berlakunya pemerdekaan pada masa hidupnya. Namun, tidak ada hujjah dalam hal ini, karena nilai tersebut diambil dari rekannya menurut semua pendapat, sebab meskipun tidak dimerdekakan atasnya menurut salah satu pendapat, tetap saja sebab yang mewajibkan pemerdekaan berasal darinya, sehingga diambil dari hartanya karena pemerdekaan itu, sebagaimana jika seseorang melukai seorang budak lalu luka itu menjalar hingga menyebabkan kematian budak tersebut setelah kematiannya, maka diambil nilai budak itu dari harta peninggalannya, meskipun kewajibannya terjadi setelah kematiannya. Demikian pula jika seseorang menggali sumur di tanah milik orang lain lalu ia meninggal dunia, maka ganti rugi atas kerusakan yang terjadi di sumur itu setelah kematiannya diambil dari harta peninggalannya, meskipun kewajiban itu timbul setelah kematiannya, karena sebabnya telah ada pada masa hidupnya. Maka, apa yang disebutkan oleh al-Muzani tentang pengambilan nilai dari harta peninggalannya tidak bisa dijadikan dalil atas berlakunya pemerdekaan pada masa hidupnya. Karena jika kita berpendapat seperti pendapat pertama, bahwa budak itu dimerdekakan atasnya dengan ucapannya, maka yang diambil dari harta peninggalannya adalah apa yang wajib ia tanggung kerugiannya pada masa hidupnya.

وَإِنْ قُلْنَا بِالثَّانِي إنَّهُ يُعْتَقُ بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ فَقَدْ وُجِدَ مِنْهُ السَّبَبُ الْمُوجِبُ لِعِتْقِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ غُرْمُ الْقِيمَةِ فِي تَرِكَتِهِ لِتَقَدُّمِ السَّبَبِ الْمُوجِبِ لِعِتْقِهِ كَحَفْرِ الْبِئْرِ

Dan jika kita berpendapat dengan pendapat kedua, yaitu bahwa ia merdeka dengan membayar nilai (harga), maka telah terdapat pada dirinya sebab yang mewajibkan kemerdekaannya. Maka wajiblah agar tanggungan pembayaran nilai itu diambil dari harta peninggalannya, karena sebab yang mewajibkan kemerdekaannya telah lebih dahulu ada, seperti halnya menggali sumur.

وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ قَالَ الْمُزَنِيُّ قَالَ الشَّافِعِيُّ إِنَّ الْعَبْدَ حُرٌّ فِي شَهَادَتِهِ وَحُدُودِهِ وَمِيرَاثِهِ وَجِنَايَاتِهِ قَبْلَ الْقِيمَةِ وَبَعْدَهَا وَهَذَا الَّذِي حَكَاهُ الْمُزَنِيُّ مَبْنِيٌّ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فَإِنْ قِيلَ بِنُفُوذِ عِتْقِهِ بِاللَّفْظِ جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْأَحْرَارِ فِي شَهَادَاتِهِ وَوَاجِبَاتِهِ وَجِنَايَاتِهِ وَحُدُودِهِ وَمِيرَاثِهِ

Bab ketiga: Al-Muzani berkata, Asy-Syafi‘i berkata, “Sesungguhnya seorang budak itu (diperlakukan sebagai) orang merdeka dalam kesaksiannya, hukum-hukum hudud, warisannya, dan tindak pidananya, baik sebelum penetapan nilai (harga) maupun sesudahnya.” Apa yang dinukil oleh Al-Muzani ini dibangun di atas tiga pendapat. Jika dikatakan bahwa pembebasannya sah hanya dengan ucapan, maka berlaku atasnya hukum-hukum orang merdeka dalam kesaksiannya, kewajibannya, tindak pidananya, hukum-hukum hudud, dan warisannya.

وَإِنْ قِيلَ إنَّهُ لَا يُعْتَقُ إِلَّا بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْعَبِيدِ فِي هَذَا كُلِّهِ

Dan jika dikatakan bahwa ia tidak dimerdekakan kecuali dengan membayar nilai (tebusan), maka berlaku atasnya seluruh hukum-hukum budak dalam hal ini.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ عِتْقَهُ مَوْقُوفٌ عَلَى أَدَاءِ الْقِيمَةِ كَانَتْ أَحْكَامُهُ فِي هَذَا كُلِّهِ مَوْقُوفَةً فَإِنْ عَتَقَ بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْأَحْرَارِ فِي جَمِيعِهَا وَإِنْ لَمْ يُعْتَقْ بِهَا جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْعَبِيدِ فِي جَمِيعِهَا فَكَانَ مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَى أَحَدِ أَقَاوِيلِهِ فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ

Dan jika dikatakan bahwa pembebasannya (budak) tergantung pada pembayaran nilai (tebusan), maka seluruh hukum-hukumnya juga menjadi tergantung. Jika ia merdeka dengan pembayaran nilai tersebut, maka berlaku atasnya seluruh hukum orang merdeka. Namun jika ia tidak merdeka dengan pembayaran itu, maka berlaku atasnya seluruh hukum budak. Maka apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i rahimahullah adalah berdasarkan salah satu pendapat beliau, sehingga tidak terdapat dalil di dalamnya.

وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ قَالَ الْمُزَنِيُّ فَقَدْ قَطَعَ بِأَنَّ هَذَا الْمَعْنَى أَصَحُّ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَمَا قَطَعَ بِهِ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ أَوْلَى مِنْ أَحَدِ قَوْلَيْنِ لَمْ يَقْطَعْ بِهِ وَهَذَا الَّذِي حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ وَقَطَعَ بِهِ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ إِنْ كَانَ مِنْهُ قَطْعًا بِصِحَّتِهِ كَانَ تَحْقِيقًا لِمَذْهَبِهِ وَعُدُولًا عَنْ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ قطع به لأن ذَكَرَهُ فِيهَا وَلَمْ يَذْكُرْ غَيْرَهُ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْجَوَابُ عَنْهُ وَالْمُزَنِيُّ عَدْلٌ فِيمَا رَوَاهُ مَعْمُولٌ بِمَا حَكَاهُ وَالظَّاهِرُ مِنْ رِوَايَتِهِ الْقَطْعُ بِصِحَّتِهِ فَلَا امْتِنَاعَ مِنْ تَصْحِيحِهِ عَلَى مَذْهَبِهِ وَالْفَصْلُ الْخَامِسُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَهُوَ الْقِيَاسُ عَلَى أَصْلِهِ فِي الْقَدِيمِ إنَّ الْعِتْقَ يَوْمَ تَكَلَّمَ بِالْعِتْقِ حَتَّى أَقْرَعَ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ فَهَذَا بِقَوْلِهِ أَوْلَى فَيُقَالُ لَهُ

Bab keempat, al-Muzani berkata: Maka sungguh ia telah menetapkan bahwa makna ini lebih sahih. Al-Muzani berkata: Dan apa yang ia tetapkan dalam empat tempat lebih utama daripada salah satu dari dua pendapat yang tidak ia tetapkan. Dan apa yang ia riwayatkan dari asy-Syafi‘i dan ia tetapkan dalam empat tempat, jika itu merupakan penetapan atas kesahihannya, maka itu adalah penegasan terhadap mazhabnya dan berpaling dari selainnya. Dan jika ia menetapkannya karena ia menyebutkannya di situ dan tidak menyebutkan selainnya, maka telah dijelaskan jawabannya sebelumnya. Al-Muzani adalah orang yang adil dalam apa yang ia riwayatkan, dan diamalkan apa yang ia riwayatkan. Dan yang tampak dari riwayatnya adalah penetapan atas kesahihannya, maka tidak ada halangan untuk mensahihkannya menurut mazhabnya. Bab kelima, al-Muzani berkata: Dan ini adalah qiyās atas asalnya dalam pendapat lama, bahwa pembebasan budak (al-‘itq) berlaku pada hari ketika ia mengucapkan pembebasan, hingga diundi antara yang masih hidup dan yang telah mati. Maka ini menurut ucapannya lebih utama. Maka dikatakan kepadanya…

أَمَّا الْقُرْعَةُ بَيْنَ مَنْ أَعْتَقَهُمْ فِي مَرَضِهِ إِذَا عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْ قيمتهم بعد موته واجبة وَخُرُوجُهَا لِأَحَدِهِمْ مُوجِبٌ لِتَقَدُّمِ عِتْقِهِ فِي حَيَاتِهِ وَلَوْ مَاتَ أَحَدُهُمْ وَخَرَجَتْ عَلَيْهِ الْقُرْعَةُ بَعْدَ مَوْتِهِ بَانَ أَنَّهُ كَانَ حُرًّا قَبْلَ مَوْتِهِ وَهَذَا مِمَّا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ مَذْهَبُهُ وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى عِتْقِ حِصَّةِ الشَّرِيكِ قَبْلَ أخذ قيمته وقوع الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا فَإِنَّ عِتْقَهُ فِي الْمَرَضِ صَادَفَ مِلْكَهُ فَوَقَعَ وَإِنَّمَا دَخَلَتِ الْقُرْعَةُ لِاسْتِرْقَاقِ مَا عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ فَصَارَ الْعِتْقُ مُتَقَدِّمًا وَاسْتِدْرَاكُهُ بِالْعَجْزِ مُتَأَخِّرًا وَلَيْسَ كَذَلِكَ عِتْقُهُ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ لِأَنَّهُ عِتْقٌ سَرَى إِلَى غَيْرِ مِلْكِهِ فَلَمْ تَسْتَقِرَّ السِّرَايَةُ إِلَّا بِدَفْعِ بَدَلِهِ لِئَلَّا يُزَالَ مِلْكُهُ الْمُسْتَقِرُّ بِغَيْرِ بَدَلٍ مُسْتَقِرٍّ ثُمَّ يُسْتَخْرَجُ مِنْ مَعْنَى الْعِتْقِ فِي الْمَرَضِ دَلِيلٌ عَلَيْهِ أَنَّ الْعِتْقَ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ لَا يَقَعُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ بِأَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ لَمَّا لَمْ يَتَحَرَّرْ إِلَّا بِأَنْ يُجْعَلَ لِلْوَرَثَةِ مِثْلَا قِيمَتِهِ وَجَبَ أَن لَا تُعْتَقَ حِصَّةُ الشَّرِيكِ إِلَّا بِأَنْ يَصِلَ إِلَى قِيمَتِهِ فيصير ما ذكره دليل عَلَيْهِ

Adapun undian (al-qur‘ah) di antara orang-orang yang dimerdekakan oleh seseorang dalam keadaan sakitnya, apabila sepertiga harta tidak mencukupi untuk menutupi nilai mereka setelah kematiannya, maka undian itu wajib dilakukan. Keluarnya undian untuk salah satu dari mereka menyebabkan kemerdekaannya lebih dahulu terjadi dalam hidupnya. Jika salah satu dari mereka meninggal dan undian keluar atas namanya setelah kematiannya, maka jelaslah bahwa ia telah merdeka sebelum wafatnya. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak diperselisihkan dalam mazhabnya, dan tidak ada dalil di dalamnya tentang kemerdekaan bagian milik rekan sebelum menerima nilainya, karena terdapat perbedaan antara keduanya. Sesungguhnya kemerdekaan dalam keadaan sakit terjadi pada miliknya, sehingga kemerdekaan itu sah, dan undian hanya masuk untuk memperbudak apa yang tidak mampu ditanggung oleh sepertiga harta, sehingga kemerdekaan itu lebih dahulu dan penyesuaian karena ketidakmampuan datang belakangan. Tidak demikian halnya dengan kemerdekaan pada bagian milik rekan, karena itu adalah kemerdekaan yang menjalar ke selain miliknya, sehingga penjalaran itu tidak tetap kecuali dengan pembayaran pengganti, agar kepemilikan yang tetap tidak hilang tanpa pengganti yang tetap pula. Kemudian, dapat diambil dari makna kemerdekaan dalam keadaan sakit sebagai dalil bahwa kemerdekaan pada bagian milik rekan tidak terjadi kecuali dengan pembayaran nilai, yaitu karena kemerdekaan dalam keadaan sakit tidak menjadi sah kecuali dengan memberikan kepada ahli waris semisal nilai budak tersebut, maka wajib bahwa bagian milik rekan tidak dimerdekakan kecuali setelah sampai nilai kepadanya. Maka apa yang disebutkan menjadi dalil atas hal tersebut.

الْفَصْلُ السَّادِسُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فَإِنْ أَعْتَقَ الثَّانِي كَانَ عِتْقُهُ بَاطِلًا وفي ذلك دليلا عَلَى أَنَّهُ لَوْ كَانَ مِلْكُهُ بِحَالَةِ الْعِتْقِ بِإِعْتَاقِهِ إِيَّاهُ قِيلَ قَدْ ذَهَبَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَى أَنَّ عِتْقَ الشَّرِيكِ لَا يَقَعُ إِذَا قِيلَ إِنَّ حِصَّتَهُ قَدْ عَتَقَتْ عَلَى الْمُعْتِقِ بِلَفْظِهِ وَيُعْتَقُ عَلَى الشَّرِيكِ إِذَا قِيلَ إِنَّ حِصَّتَهُ لَا تُعْتَقُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَخَلَصَ مِنْ هَذَا الِاعْتِرَاضِ وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَنْصُوصِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ عِتْقَ الشَّرِيكِ لَا يَقَعُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ كُلِّهَا لِأَنَّهُ إِنْ قِيلَ إنَّ الْعِتْقَ قَدْ سَرَى إِلَى حِصَّتِهِ فَقَدْ أَعْتَقَ بَعْدَ زَوَالِ مِلْكِهِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ لَا يَسْرِي إِلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَقَدْ تَعَلَّقَ بِهَا لِلْمُعْتِقِ حَقُّ السِّرَايَةِ وَاسْتِحْقَاقُ الْوَلَاءِ فَأَوْقَعَ عَلَى الشَّرِيكِ فِي مِلْكِهِ حَجْرًا مَنَعَ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ بِعِتْقٍ وَغَيْرِهِ وَالْحَجْرُ يَمْنَعُ مِنْ وُقُوعِ الْعِتْقِ مَعَ ثُبُوتِ الْمِلْكِ كَالْأَمَةِ إِذَا أُعْتِقَتْ تَحْتَ عَبْدٍ فَطَلَّقَهَا قَبْلَ الْفَسْخِ لَمْ يَقَعْ طَلَاقُهُ فِي الْحَالِ وَإِنْ كَانَ مَالِكًا لِلْبُضْعِ لِمَا فِي وُقُوعِ طَلَاقِهِ مِنْ إِبْطَالِ حَقِّ الزَّوْجَةِ مِنَ الْفَسْخِ وَصَارَ حَقُّهَا فِيهِ مَوْقِعًا لِلْحَجْرِ عَلَيْهِ فِي طَلَاقِهِ فَإِنْ فَسَخَتْ لَمْ يَقَعْ طَلَاقُهُ وَإِنْ أَقَامَتْ وَقَعَ الطَّلَاقُ لِرَفْعِ الْحَجْرِ بِالْإِقَامَةِ

Bab Keenam

Al-Muzani berkata: Dan telah berkata Asy-Syafi‘i, “Jika yang kedua memerdekakan (budak), maka pemerdekaannya batal.” Dalam hal ini terdapat dalil bahwa seandainya kepemilikannya tetap dalam keadaan budak itu dimerdekakan dengan pemerdekaannya, dikatakan: Abu ‘Ali bin Abi Hurairah berpendapat bahwa pemerdekaan oleh sekutu tidak sah jika dikatakan bahwa bagiannya telah merdeka atas orang yang memerdekakan dengan ucapannya, dan (budak) itu menjadi merdeka atas sekutunya jika dikatakan bahwa bagiannya tidak menjadi merdeka kecuali dengan pembayaran nilai (budak). Maka, dengan demikian, terbebaslah dari keberatan ini. Dan pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama kami, dan inilah yang tampak dari nash Asy-Syafi‘i, bahwa pemerdekaan oleh sekutu tidak sah menurut semua pendapat. Karena jika dikatakan bahwa kemerdekaan telah menjalar ke bagiannya, maka ia telah memerdekakan setelah hilangnya kepemilikannya. Dan jika dikatakan bahwa kemerdekaan tidak menjalar kepadanya kecuali setelah pembayaran nilai, maka telah terkait padanya bagi orang yang memerdekakan hak penularan (sarayah) dan hak memperoleh wala’, sehingga dijatuhkan atas sekutu dalam kepemilikannya larangan (hajr) yang mencegahnya untuk bertindak terhadapnya, baik dengan memerdekakan maupun selainnya. Dan larangan (hajr) itu mencegah terjadinya pemerdekaan meskipun kepemilikan tetap ada, seperti budak perempuan jika dimerdekakan di bawah (status) seorang budak laki-laki, lalu ia menceraikannya sebelum terjadinya pembatalan (fasakh), maka talaknya tidak terjadi saat itu juga, meskipun ia adalah pemilik hubungan badan, karena jika talaknya terjadi akan membatalkan hak istri untuk melakukan pembatalan (fasakh), dan haknya menjadi tempat bagi larangan (hajr) atasnya dalam menjatuhkan talak. Maka jika ia membatalkan (fasakh), talaknya tidak terjadi, dan jika ia tetap (tidak membatalkan), maka talaknya terjadi karena larangan (hajr) telah diangkat dengan tetapnya (pernikahan).

وَالْفَصْلُ السَّابِعُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَقَوْلُهُ فِي الْأَمَةِ بَيْنَهُمَا إنَّهُ إِنْ أَحْبَلَهَا أَحَدُهُمَا صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ إِنْ كَانَ مُوسِرًا كَالْعِتْقِ وَإِنَّ شَرِيكَهُ إِنْ وَطِئَهَا قَبْلَ أَخْذِ الْقِيمَةِ كَانَ مَهْرُهَا عَلَيْهِ تاما وفي ذلك قضاء لما قبل لِأَنَّ إِحْبَالَ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ لَهَا جَارٍ مَجْرَى عِتْقِهِ لَهُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ أَحَدُهَا أَنَّهَا قَدْ صَارَتْ كُلُّهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ بِالْإِحْبَالِ فَإِذَا وَطِئَهَا الشَّرِيكُ الْآخَرُ كَانَ عَلَيْهِ جَمِيعُ مَهْرِهَا

Bab ketujuh: Al-Muzani berkata, “Dan pendapatnya mengenai budak perempuan yang dimiliki bersama di antara dua orang, yaitu jika salah satu dari mereka menghamilinya, maka ia menjadi umm walad baginya jika ia mampu membebaskannya, sebagaimana hukum ‘itq (pembebasan budak). Dan jika rekannya menyetubuhinya sebelum membayar nilai (bagiannya), maka mahar budak perempuan itu wajib atasnya secara penuh. Dalam hal ini terdapat keputusan atas apa yang telah lalu, karena kehamilan yang terjadi dari salah satu dari dua orang yang memiliki budak perempuan itu berlaku seperti pembebasan baginya menurut tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa budak perempuan itu seluruhnya telah menjadi umm walad baginya karena kehamilan tersebut. Maka jika rekannya menyetubuhinya setelah itu, wajib atasnya membayar seluruh mahar budak perempuan itu.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ لَا تَصِيرُ لِلْمُحْبِلِ أُمَّ وَلَدٍ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَإِنْ وَطِئَهَا الشَّرِيكُ كَانَ عَلَيْهِ نِصْفُ مَهْرِهَا وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ فَإِنْ دَفَعَ الْمُحْبِلُ الْقِيمَةَ بَانَ أَنَّهَا أُمُّ وَلَدِهِ بِالْإِحْبَالِ وَكَانَ عَلَى الشَّرِيكِ إِذَا وَطِئَ جَمِيعُ الْمَهْرِ وَإِنْ لَمْ يَدْفَعِ الْقِيمَةَ بَانَ أَنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ بَاقِيَةٌ عَلَى مِلْكِهِ فَلَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ بِوَطْئِهَا إِلَّا نِصْفُ الْمَهْرِ فَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْإِحْبَالِ وَالْعِتْقِ فَرْقٌ وَلَمْ يَكُنْ فِي اسْتِشْهَادِهِ بِهِ دَلِيلٌ

Pendapat kedua menyatakan bahwa bagian milik rekan tidak menjadi milik al-mubhil sebagai umm walad kecuali dengan membayar nilai (harganya). Jika rekan tersebut menggaulinya, maka ia wajib membayar setengah mahar. Pendapat ketiga menyatakan bahwa perkara ini tergantung; jika al-mubhil membayar nilai (harganya), maka jelaslah bahwa ia menjadi umm walad-nya karena kehamilan, dan rekan jika menggaulinya wajib membayar seluruh mahar. Namun jika ia tidak membayar nilai (harganya), maka jelaslah bahwa bagian rekan tetap menjadi miliknya, sehingga jika menggaulinya hanya wajib membayar setengah mahar. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara kehamilan dan pembebasan, dan tidak ada dalil dalam penyaksiannya tersebut.

وَالْفَصْلُ الثَّامِنُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَدَلِيلٌ آخَرُ لَمَّا كَانَ الثَّمَنُ فِي إِجْمَاعِهِمْ بِتَمْيِيزِ أَحَدِهِمَا بيع عَنْ تَرَاضٍ يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ وَالْآخَرُ فِيهِ متلف لَا يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ وَإِنَّمَا هِيَ عَلَى التَّعْدِيلِ وَالتَّقْسِيطِ فَلَمَّا حَكَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَى الْمُوسِرِ الْمُعْتِقِ بِالْقِيمَةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهَا قِيمَةُ مُتْلَفٍ عَلَى شَرِيكِهِ يَوْمَ أَتْلَفَهُ فَهَذَا كُلُّهُ قَضَاءٌ لِأَحَدِ قَوْلَيْهِ عَلَى الْآخَرِ وَبِاللَّهِ التوفيق

Bab kedelapan, Al-Muzani berkata: “Dan dalil lain, ketika harga menurut ijmā‘ mereka dengan membedakan salah satunya adalah jual beli yang dilakukan atas dasar kerelaan, di mana diperbolehkan adanya penipuan (dalam harga), sedangkan yang lain adalah barang yang rusak sehingga tidak diperbolehkan adanya penipuan, dan hal itu hanya berdasarkan penyesuaian dan pembagian. Maka ketika Nabi ﷺ memutuskan atas orang kaya yang memerdekakan (budak) dengan membayar nilai (budak tersebut), hal itu menunjukkan bahwa nilai tersebut adalah nilai barang yang rusak atas sekutunya pada hari ia merusaknya. Maka semua ini adalah keputusan yang mendukung salah satu dari dua pendapat atas pendapat yang lain. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.”

فيقال للمزني جعلت الأثمان ضربين الأول ضَرْبٌ لِأَعْيَانٍ ثَابِتَةٍ بِعَقْدٍ عَنْ تَرَاضٍ يَجُوزُ فيه التغابن كالبيع الثاني وضرب يَكُونُ فِيهِ مُتْلَفًا وَلَا يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ كَالشَّرِيكِ فَجَعَلْتَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى أَنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ لِمَا اسْتَحَقَّ فِيهَا مِقْدَارًا لَا يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ أَنَّهُ قِيمَةُ مُتْلَفٍ بِالْعِتْقِ

Maka dikatakan kepada al-Muzani: Engkau telah membagi harta menjadi dua jenis. Pertama, jenis yang berupa benda-benda tetap yang diperoleh melalui akad atas dasar kerelaan, di mana boleh terjadi penipuan (takhabun) di dalamnya, seperti jual beli. Kedua, jenis yang di dalamnya berupa barang yang rusak (musnah) dan tidak boleh terjadi penipuan di dalamnya, seperti pada sekutu (syarik). Maka engkau menjadikan hal ini sebagai dalil bahwa bagian sekutu, karena ia berhak atas kadar tertentu yang tidak boleh terjadi penipuan di dalamnya, adalah senilai dengan barang yang rusak akibat pembebasan (al-‘itq).

وَهَاهُنَا ضَرْبٌ ثَالِثٌ يُسْتَحَقُّ فِيهِ مُقَدَّرٌ لَا يَجُوزُ فِيهِ التَّغَابُنُ وَلَيْسَ بِمُتْلَفٍ وَلَا مُسْتَهْلَكٍ وَهُوَ الشَّفِيعُ يَنْتَزِعُ الشِّقْصَ مِنَ الْمُشْتَرِي بِالثَّمَنِ الْمُقَدَّرِ الَّذِي لَا يُسْتَحْدَثُ فِيهِ التَّغَابُنُ وَلَيْسَ بِتَالِفٍ وَإِذَا أَوْصَى الرَّجُلُ بِبَيْعِ عَبْدِهِ عَلَى زَيْدٍ اسْتَحَقَّ بَيْعَهُ عَلَيْهِ بِقِيمَتِهِ الْمُقَدَّرَةِ وَلَيْسَ بِتَالِفٍ فَلَمَّا كَانَ هَذَا ضَرْبًا ثَالِثًا تَقَدَّرَ فِيهِ الثَّمَنُ وَزَالَ عَنْهُ التَّغَابُنُ وَهَذَا بَاقٍ غَيْرُ تَالِفٍ دَخَلَتْ فِيهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ الْمُقَدَّرَةُ عَنْ غير متلف

Di sini terdapat jenis ketiga, yaitu suatu hak atas sesuatu yang telah ditetapkan nilainya dan tidak boleh ada penipuan harga (taghabun) di dalamnya, serta bukan termasuk barang yang rusak atau habis. Contohnya adalah hak syuf‘ah, di mana seseorang dapat mengambil bagian (syiqsh) dari pembeli dengan harga yang telah ditetapkan, yang tidak boleh terjadi penipuan harga di dalamnya, dan bukan termasuk barang yang rusak. Demikian pula, jika seseorang berwasiat agar budaknya dijual kepada Zaid, maka Zaid berhak membeli budak tersebut dengan nilai yang telah ditetapkan, dan itu bukan termasuk barang yang rusak. Maka, ketika hal ini merupakan jenis ketiga, di mana harga telah ditetapkan dan tidak ada penipuan harga, serta barangnya tetap ada dan tidak rusak, maka di dalamnya termasuk juga bagian milik rekan (syarik) yang telah ditetapkan nilainya dan bukan termasuk barang yang rusak.

وَهَذَا مِنَ الضَّرْبِ الثَّالِثِ وَإِنْ خَرَجَ عَنِ الضَّرْبَيْنِ الْأَوَّلَيْنِ

Ini termasuk dalam jenis ketiga, meskipun keluar dari dua jenis yang pertama.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ نُفُوذَ الْعِتْقِ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ يَكُونُ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى التَّفْرِيعِ عَلَى كُلِّ قَوْلٍ مِنْهَا

Dan apabila telah dipastikan bahwa berlakunya pembebasan budak pada bagian milik sekutu itu didasarkan pada tiga pendapat, maka pembahasan pun beralih kepada perincian pada masing-masing pendapat tersebut.

فَإِذَا قِيلَ بِالْأَوَّلِ إنَّهُ يُعْتَقُ بِنَفْسِ اللَّفْظِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ عَلَيْهَا هَلْ يَقْتَرِنُ بِعِتْقِ مِلْكِهِ أَوْ يَتَعَقَّبُهُ بِالسِّرَايَةِ بَعْدَ نُفُوذِ الْعِتْقِ فِي مِلْكِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Maka, apabila dikatakan menurut pendapat pertama bahwa ia merdeka dengan lafaz itu sendiri, para ulama kami berbeda pendapat mengenai terjadinya pembebasan budak atas dirinya: apakah pembebasan itu bersamaan dengan pembebasan atas miliknya, ataukah pembebasan atas dirinya mengikuti (menyusul) dengan cara sirāyah setelah pembebasan berlaku atas miliknya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ بِالسِّرَايَةِ بَعْدَ نُفُوذِ الْعِتْقِ فِي مِلْكِهِ وَلَا يُعْتَقُ الْجَمِيعُ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ بِلَفْظِهِ لِأَنَّهُ لَوْ تَلَفَّظَ بِعِتْقِ حِصَّةِ الشَّرِيكِ لَمْ يُعْتَقْ بِلَفْظِهِ فَدَلَّ عَلَى عِتْقِهِ بِالسِّرَايَةِ دُونَ لَفْظِهِ

Salah satunya merdeka karena sirāyah setelah pembebasan itu berlaku dalam kepemilikannya, dan tidak semuanya merdeka sekaligus dengan ucapannya, karena jika ia mengucapkan pembebasan bagian milik rekannya, maka bagian itu tidak menjadi merdeka dengan ucapannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembebasan itu terjadi karena sirāyah, bukan karena ucapannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي قَالَهُ شَاذٌّ مِنْ أَصْحَابِنَا إِنَّ جَمِيعَهُ يُعْتَقُ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ عِتْقَ مُبَاشَرَةٍ لَا يَتَقَدَّمُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ لِأَنَّ عِتْقَهُمَا عَنْ لَفْظٍ فَوَجَبَ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهَا بِاللَّفْظِ وَيَكُونُ الْمُعْتَقُ مَأْخُوذًا بِالْقِيمَةِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ عَقِيبَ عِتْقِهِ وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي بِقِيمَتِهِ مَعَ عِتْقِهِ وَلَوْ مَاتَ العبد عقيب العتق مات حراً وما له لِوَرَثَتِهِ وَلَمْ تَسْقُطِ الْقِيمَةُ عَنْ مُعْتِقِهِ وَيَمْلِكُ إِكْسَابَ نَفْسِهِ وَتَسْقُطُ نَفَقَتُهُ وَزَكَاةُ فِطْرِهِ عَنْ مُعْتِقِهِ وَلَوْ مَاتَ الْمُعْتِقُ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ أُخِذَتْ مِنْ تَرِكَتِهِ لَوْ أَعْسَرَ بِهَا بَعْدَ يَسَارِهِ كَانَتْ دَيْنًا يُحَاصُّ بِهَا الشَّرِيكُ جَمِيعَ غُرَمَائِهِ وَلَوِ اخْتَلَفَ الْمُعْتِقُ وَالشَّرِيكُ فِي قِيمَةِ الْحِصَّةِ وَتَعَذَّرَتِ الْبَيِّنَةُ بِهَا كَانَ الْقَوْلُ فِيهَا قَوْلَ الْمُعْتِقِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّهُ غَارِمٌ وَلَوْ كَانَ مَكَانَ الْعَبْدِ أَمَةٌ حَامِلٌ فَوَلَدَتْ بَعْدَ عِتْقِهَا وَقَبْلَ دَفْعِ قِيمَتِهَا عَتَقَ مَعَهَا وَلَمْ يَلْزَمْهُ قِيمَةُ وَلَدِهَا

Pendapat kedua yang dikemukakan oleh sebagian kecil ulama dari kalangan kami adalah bahwa seluruh budak itu dimerdekakan sekaligus dalam satu waktu dengan pembebasan langsung, tanpa ada yang didahulukan satu sama lain, karena pembebasan mereka berdasarkan satu lafaz, maka wajib terjadi atas mereka dengan lafaz tersebut. Budak yang dimerdekakan itu diambil nilainya menurut pendapat pertama setelah pembebasannya, dan menurut pendapat kedua dengan nilainya bersamaan dengan pembebasannya. Jika budak itu meninggal setelah dimerdekakan, maka ia meninggal dalam keadaan merdeka dan hartanya menjadi milik ahli warisnya, dan nilai (tebusan) tidak gugur dari orang yang memerdekakannya. Budak itu berhak memperoleh penghasilan sendiri, dan nafkah serta zakat fitrahnya tidak lagi menjadi tanggungan orang yang memerdekakannya. Jika orang yang memerdekakan meninggal sebelum membayar nilai (tebusan), maka diambil dari harta warisannya. Jika ia kemudian tidak mampu membayarnya setelah sebelumnya mampu, maka nilai itu menjadi utang yang harus dibagi bersama seluruh krediturnya. Jika terjadi perselisihan antara orang yang memerdekakan dan rekannya dalam menentukan nilai bagian, dan tidak ada bukti yang dapat diajukan, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang memerdekakan dengan sumpahnya, karena ia adalah pihak yang menanggung beban. Jika yang dimerdekakan adalah budak perempuan yang sedang hamil, lalu ia melahirkan setelah dimerdekakan dan sebelum nilai (tebusan) dibayarkan, maka anaknya juga ikut merdeka bersamanya dan orang yang memerdekakan tidak wajib membayar nilai anaknya.

وَلَوْ مَاتَ الْوَلَدُ كَانَ مَوْرُوثًا وَوَارِثًا

Dan jika anak itu meninggal dunia, maka ia menjadi pihak yang diwarisi sekaligus sebagai ahli waris.

وَلَوْ ضَرَبَ بَطْنَهَا فَأَلْقَتْ جَنِينًا مَيِّتًا كَانَ فِيهِ غُرَّةُ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ كَجَنِينِ الْحُرَّةِ

Dan jika seseorang memukul perutnya (seorang perempuan) lalu ia mengalami keguguran janin yang sudah mati, maka wajib membayar diyat berupa seorang budak laki-laki atau perempuan, sebagaimana diyat janin perempuan merdeka.

وَإِذَا قِيلَ بِالثَّانِي إنَّهُ لَا يُعْتَقُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَهَلْ يَكُونُ الْعِتْقُ مُعْتَبَرًا بِالدَّفْعِ مِنْ جِهَةِ الْمُعْتِقِ أَمْ بِالْقَبْضِ مِنْ جِهَةِ الشَّرِيكِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Dan jika dikatakan menurut pendapat kedua bahwa budak tidak merdeka kecuali dengan membayar nilai (budak tersebut), maka apakah kemerdekaan budak itu dianggap sah dengan pembayaran dari pihak yang memerdekakan, ataukah dengan penerimaan (uang) dari pihak sekutu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ الْعِتْقُ مُعْتَبَرًا بِدَفْعِ الْمُعْتَقِ وَتَمْكِينِ الشَّرِيكَيْنِ قَبْضَهُ سَوَاءٌ قَبَضَهُ مِنْهُ أَوْ لَمْ يَقْبِضْهُ لِأَنَّ الْعِتْقَ وَاقِعٌ بِهَا فَاعْتُبِرَ بِفِعْلِ مَنْ كَانَ الْعِتْقُ وَاقِعًا فِي حَقِّهِ فَعَلَى هَذَا تَصِيرُ الْقِيمَةُ دَاخِلَةً فِي مِلْكِ الشَّرِيكِ بِدَفْعِ الْمُعْتِقِ لَهَا وَتَمَكُّنِ الشَّرِيكِ مِنْ قَبْضِهَا وَلَوْ تَلِفَتْ قَبْلَ قَبْضِهَا كَانَتْ تَالِفَةً مِنْ مَالِ الشَّرِيكِ دُونَ الْمُعْتِقِ وَلَمْ يَلْزَمْهُ غُرْمُهَا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa pemerdekaan (budak) dianggap sah dengan pembayaran dari orang yang memerdekakan dan dengan memungkinkan kedua orang yang berserikat (dalam kepemilikan budak) untuk menerima pembayaran tersebut, baik mereka telah menerima pembayaran itu darinya maupun belum, karena pemerdekaan telah terjadi dengan tindakan tersebut. Maka, yang dijadikan tolok ukur adalah perbuatan orang yang padanya pemerdekaan itu berlaku. Berdasarkan pendapat ini, nilai (budak) itu masuk ke dalam kepemilikan sekutu (yang lain) dengan pembayaran dari orang yang memerdekakan dan dengan sekutu dapat mengambilnya. Jika nilai itu rusak sebelum diterima, maka kerusakan itu menjadi tanggungan harta sekutu, bukan orang yang memerdekakan, dan ia tidak wajib menanggung kerugiannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُعْتَقُ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ حَتَّى يَقْبِضَهَا الشَّرِيكُ لِأَنَّ تَأَخُّرَ الْعِتْقِ عَلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ إِنَّمَا وَجَبَ لِيَصِلَ إِلَى حَقِّهِ مِنْهَا وَهُوَ قَبْلَ الْقَبْضِ غَيْرُ وَاصِلٍ إِلَيْهِ فَعَلَى هَذَا لَا يَدْخُلُ فِي مِلْكِهِ إِلَّا بَعْدَ قَبْضِهِ فَإِنْ تَمَانَعَ مِنَ الْقَبْضِ أَجْبَرَهُ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ وَلَوْ تَلِفَتْ قَبْلَ قَبْضِهِ كَانَتْ تَالِفَةً مِنْ مَالِ الْمُعْتِقِ دُونَ الشَّرِيكِ وَعَلَى الْمُعْتِقِ غُرْمُهَا وَعَلَى الْوَجْهَيْنِ مَعًا لَوْ أَبْرَأَ الشَّرِيكَ مِنَ الْقِيمَةِ لَمْ يَبْرَأْ مِنْهَا الْمُعْتِقُ لِوُقُوعِ الْعِتْقِ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَلَيْسَ الْإِبْرَاءُ دَفْعًا وَهَذَا بِخِلَافِ إِبْرَاءِ الْمُكَاتَبِ حَيْثُ عَتَقَ بِهِ وَقَامَ مَقَامَ أَدَائِهِ بِهِ لِأَنَّ عِتْقَ الْكِتَابَةِ عَنْ مُرَاضَاةٍ فَغَلَبَ فِيهَا حُكْمُ الدُّيُونِ فِي الذِّمَمِ وَهَذَا الْمُعْتِقُ عَنْ إِجْبَارٍ فَغَلَبَ فِيهَا حَكْمُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ وَلَوْ مَاتَ الْعَبْدُ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَفِي اسْتِحْقَاقِهَا عَلَى الْمُعْتِقِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa kemerdekaan (budak) tidak terjadi hanya dengan membayar nilai (budak) sampai nilai tersebut benar-benar diterima oleh rekan (pemilik saham lainnya), karena penundaan kemerdekaan hingga pembayaran nilai itu diwajibkan agar hak rekan tersebut benar-benar sampai kepadanya, dan sebelum nilai itu diterima, hak tersebut belum sampai kepadanya. Oleh karena itu, (nilai) itu tidak masuk ke dalam kepemilikannya kecuali setelah ia menerimanya. Jika terjadi penolakan untuk menerima (nilai), maka hakim dapat memaksanya untuk menerima. Jika nilai itu rusak sebelum diterima, maka kerusakan itu menjadi tanggungan harta orang yang memerdekakan, bukan tanggungan rekan, dan orang yang memerdekakan wajib menanggung kerugiannya. Menurut kedua pendapat, jika rekan membebaskan orang yang memerdekakan dari kewajiban membayar nilai, maka orang yang memerdekakan tidak otomatis bebas dari kewajiban tersebut, karena kemerdekaan terjadi dengan pembayaran nilai, sedangkan pembebasan (ibra’) bukanlah pembayaran. Hal ini berbeda dengan pembebasan terhadap mukatab, di mana kemerdekaan terjadi karenanya dan pembebasan itu menempati posisi pembayaran, karena kemerdekaan dalam akad kitabah terjadi atas dasar kerelaan, sehingga hukum utang dalam tanggungan lebih dominan di dalamnya. Adapun dalam kasus ini, kemerdekaan terjadi karena paksaan, sehingga hukum kemerdekaan dengan sifatnya lebih dominan. Jika budak tersebut meninggal sebelum pembayaran nilai, maka dalam hal hak atas nilai tersebut yang menjadi tanggungan orang yang memerdekakan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ لَمْ يَحْصُلْ لَهُ وَيَكُونُ لِمُعْتِقِهِ نِصْفُ وَلَائِهِ يَسْتَحِقُّ بِهِ نِصْفَ مِيرَاثِهِ وَنِصْفُهُ الْآخَرُ رِقًّا لِشَرِيكِهِ يَمْلِكُ بِهِ نِصْفَ مَا تَرَكَهُ الْعَبْدُ مِنْ مَالٍ

Salah satunya tidak berhak atasnya karena pembebasan budak (ʿitq) belum terjadi padanya, sehingga bagi orang yang memerdekakannya berhak atas setengah wala’ yang dengannya ia berhak atas setengah warisannya, dan setengah lainnya tetap dalam status budak bagi rekannya, yang dengannya ia memiliki setengah dari harta peninggalan budak tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ الشَّرِيكُ قِيمَةَ حِصَّتِهِ لِمَنْعِهِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ وَحَبْسِهِ عَلَى الْمُعْتِقِ فِي حَقِّهِ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَكُونُ دَفْعُ الْقِيمَةِ مُوجِبًا لِنُفُوذِ الْعِتْقِ فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sekutu berhak mendapatkan nilai bagian miliknya karena ia telah dicegah untuk bertindak atas bagian tersebut dan ditahan untuk kepentingan orang yang memerdekakan (mu‘tiq) dalam haknya. Berdasarkan hal ini, apakah pembayaran nilai tersebut menyebabkan sahnya pemerdekaan atas bagian itu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ لأنه لا يجوز انه يُغْرَّمَ بِحُكْمِ الْعِتْقِ مَا لَا يُنَفَّذُ فِيهِ الْعِتْقُ

Salah satunya dimerdekakan karena tidak boleh seseorang dibebani dengan hukum pembebasan budak pada sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan padanya pembebasan budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُعْتَقُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَقَعَ الْعِتْقُ بَعْدَ الْمَوْتِ وَإِذَا كَانَ مَكَانَ الْعَبْدِ أَمَةٌ حَامِلٌ فَوَلَدَتْ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ كَانَتْ حِصَّةُ الْمُعْتِقِ مِنْهُ مَوْلُودَةً عَلَى الْحُرِّيَّةِ وَحِصَّةُ الشَّرِيكِ مِنْهُ مَوْلُودَةً عَلَى الرِّقِّ وَالْمُعْتِقُ مَأْخُوذٌ بِقِيمَتِهَا كَالْأُمِّ وَيُعْتَقَانِ مَعًا عَلَيْهِ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak sah memerdekakan (budak) karena tidak boleh terjadi pemerdekaan setelah kematian. Jika yang berada di tempat budak adalah seorang budak perempuan yang sedang hamil, lalu ia melahirkan sebelum pembayaran nilai (budak), maka bagian anak yang menjadi milik orang yang memerdekakan lahir dalam keadaan merdeka, sedangkan bagian anak yang menjadi milik sekutunya lahir dalam keadaan budak. Orang yang memerdekakan wajib membayar nilai (anak) tersebut sebagaimana nilai ibunya, dan keduanya (ibu dan anak) menjadi merdeka bersamaan setelah pembayaran nilai.

وَلَوْ ضَرَبَ بَطْنَهَا فَأَلْقَتْ جَنِينًا مَيِّتًا فَفِيهِ نِصْفُ دِيَةِ جَنِينٍ حُرٍّ وَنِصْفُ دِيَةِ جَنِينٍ مَمْلُوكٍ فَيَكُونُ فِيهِ نِصْفُ الْغُرَّةِ وَنِصْفُ عُشْرِ قِيمَةِ أُمِّهِ يَرِثُ الْمُعْتِقُ مَا وَجَبَ بِحُرِّيَّتِهِ وَيَمْلِكُ الشَّرِيكُ مَا وَجَبَ بِرِقِّهِ وَلَا يَضْمَنُ الْمُعْتِقُ حِصَّةَ الشَّرِيكِ مِنَ الْجَنِينِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ الْجَنِينَ لَا يُضْمَنُ إِلَّا بِالْجِنَايَةِ ثُمَّ نَفَقَةُ الْعَبْدِ وَزَكَاةُ فِطْرِهِ سَاقِطَةٌ عَنْ مُعْتِقِهِ وَمُشْتَرَكَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّرِيكِ الْمَالِكِ لِرِقِّ حِصَّتِهِ لَا يَسْقُطُ عَنْهُ إِلَّا بَعْدَ عِتْقِهَا بِأَخْذِ قِيمَتِهَا وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الْقِيمَةِ فَالْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ الشَّرِيكِ دُونَ الْمُعْتِقِ لِبَقَائِهَا عَلَى مِلْكِهِ فَلَمْ يَزُلْ إِلَّا بِقَوْلِهِ

Jika seseorang memukul perut seorang wanita sehingga ia mengalami keguguran dan janinnya lahir dalam keadaan mati, maka atas janin tersebut dikenakan setengah diyat janin merdeka dan setengah diyat janin budak. Maka, yang wajib dibayarkan adalah setengah al-ghurrah dan setengah sepersepuluh dari nilai ibunya. Bagian yang wajib karena kemerdekaan janin diwarisi oleh mu‘tiq, sedangkan bagian yang wajib karena status budak dimiliki oleh syarikat yang masih memiliki bagian perbudakan. Mu‘tiq tidak menanggung bagian syarikat dari janin dalam keadaan apa pun, karena janin tidak dijamin kecuali karena tindak pidana (jinayah). Kemudian, nafkah budak dan zakat fitrahnya gugur dari mu‘tiq, dan menjadi tanggungan bersama antara mu‘tiq dan syarikat yang memiliki bagian perbudakan. Kewajiban tersebut tidak gugur kecuali setelah pembebasan budak dengan menerima nilai (tebusan) budak tersebut. Jika terjadi perselisihan mengenai nilai budak, maka yang dipegang adalah pendapat syarikat, bukan mu‘tiq, karena kepemilikan atas budak masih tetap pada syarikat dan tidak hilang kecuali dengan pengakuannya.

وَإِنْ قِيلَ بِالثَّالِثِ إنَّ الْعِتْقَ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَإِنْ أَخَذَ الْقِيمَةَ بَانَ بِهَا تَقَدَّمَ الْعِتْقُ بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ وَجَرَى عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْقَوْلِ الْأَوَّلِ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى الْقِيمَةِ لَمْ يَعْتِقْ وَجَرَى عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْقَوْلِ الثَّانِي وَدَفْعُ الْقِيمَةِ وَاجِبٌ فِي حَقِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَإِنْ بَذَلَهَا الْمُعْتِقُ أُجْبِرَ الشَّرِيكَ عَلَى قَبْضِهَا وَإِنْ طَلَبَهَا الشَّرِيكُ أُجْبِرَ الْمُعْتِقُ عَلَى دَفْعِهَا وَإِنْ أَمْسَكَ الشَّرِيكُ عَنِ الطَّلَبِ وَأَمْسَكَ الْمُعْتِقُ عَنِ الدَّفْعِ كَانَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ الْمُعْتِقَ بِالدَّفْعِ وَالشَّرِيكَ بِالْقَبْضِ وَإِنَّمَا أَخَذَهُمَا بِذَلِكَ لِمَا اسْتَحَقَّهُ عَلَيْهِمَا مِنْ تَكْمِيلِ عِتْقِهِ فَإِنْ أَمْسَكَ الْعَبْدُ مَعَ إِمْسَاكِهِمَا كَانَ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَأْخُذَهُمَا بِتَكْمِيلِ الْعِتْقِ لِمَا فِيهِ مِنْ حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى

Dan jika dikatakan dengan pendapat ketiga bahwa pemerdekaan pada bagian milik sekutu itu bersifat tertunda dan diperhatikan, maka jika sekutu tersebut mengambil nilai (tebusan), dengan itu menjadi jelas bahwa pemerdekaan telah didahulukan dengan ucapan orang yang memerdekakan, dan berlaku atasnya hukum-hukum pendapat pertama. Namun jika ia tidak mendapatkan nilai tersebut, maka tidak merdeka dan berlaku atasnya hukum-hukum pendapat kedua. Membayar nilai (tebusan) adalah wajib bagi masing-masing dari keduanya. Jika orang yang memerdekakan memberikan nilai tersebut, maka sekutu dipaksa untuk menerimanya. Jika sekutu meminta nilai tersebut, maka orang yang memerdekakan dipaksa untuk memberikannya. Jika sekutu menahan diri dari meminta dan orang yang memerdekakan juga menahan diri dari memberi, maka budak berhak menuntut orang yang memerdekakan untuk membayar dan sekutu untuk menerima. Budak menuntut keduanya karena hak yang wajib atas mereka untuk menyempurnakan kemerdekaannya. Jika budak juga menahan diri bersama keduanya, maka hakim berhak memaksa mereka untuk menyempurnakan kemerdekaan budak tersebut karena di dalamnya terdapat hak Allah Ta‘ala.

وَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ اسْتَحَقَّهَا الشَّرِيكُ عَلَى الْمُعْتِقِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ دَفْعَهَا يُوجِبُ تَقَدُّمَ عِتْقِهِ بِاللَّفْظِ وَيَكُونُ وَلَاءُ نِصْفِهِ مُسْتَحَقًّا لِلْمُعْتِقِ وَوَلَاءُ نِصْفِهِ الْبَاقِي مَوْقُوفًا عَلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ وَيَكُونُ إِكْسَابُ الْعَبْدِ فِي حَيَاتِهِ يَمْلِكُ مِنْهَا نِصْفَهَا بِحُرِّيَّتِهِ وَنِصْفُهَا مَوْقُوفٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّرِيكِ الْمَالِكِ لِرِقِّهِ وَيُنْفِقُ مِنْهُ عَلَى نَفْسِهِ بِقَدْرِ رِقِّهِ

Apabila seorang budak meninggal sebelum pembayaran nilai (tebusan), maka hak atas nilai tersebut menjadi milik sekutunya terhadap orang yang memerdekakan, menurut satu pendapat, karena pembayaran nilai itu menyebabkan kemerdekaannya didahulukan secara lafaz. Maka, hak wala’ atas setengahnya menjadi milik orang yang memerdekakan, sedangkan hak wala’ atas setengah sisanya tergantung pada pembayaran nilai. Penghasilan yang diperoleh budak selama hidupnya, setengahnya menjadi milik budak karena kemerdekaannya, dan setengahnya lagi tergantung antara dia dan sekutunya yang masih memiliki bagian perbudakan. Dari penghasilan itu, budak menafkahi dirinya sesuai dengan kadar perbudakannya.

وَإِذَا أَعْسَرَ الْمُعْتِقُ بِالْقِيمَةِ بَعْدَ يَسَارِهِ انظر بها إلى مسيرته وَكَانَ قَدْرُ الرِّقِّ وَالْكَسْبِ عَلَى وَقْفِهِ فَإِنْ مَاتَ الْمُعْتِقُ عَلَى إِعْسَارِهِ ارْتَفَعَ الْوَقْفُ وَتَصَرَّفَ الشَّرِيكُ فِي الْقَدْرِ الْمُسْتَرَقِّ وَمَلَكَ مَا قَابَلَهُ من الكسب وبالله التوفيق

Apabila orang yang memerdekakan (mukattab) mengalami kesulitan membayar nilai (tebusan) setelah sebelumnya mampu, maka dilihat berdasarkan kemampuannya saat itu, dan kadar perbudakan serta penghasilan disesuaikan dengan kondisinya. Jika orang yang memerdekakan itu meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu, maka status penahanan (waqf) menjadi gugur, dan sekutu dapat bertindak atas bagian yang masih menjadi budaknya, serta memiliki bagian penghasilan yang sepadan dengannya. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ وَصَاحِبُهُ مُوسِرٌ أَعْتَقْتَ نَصِيبَكَ وَأَنْكَرَ الْآخَرُ عَتَقَ نَصِيبُ الْمُدَّعِي وَوُقِفَ وَلَاؤُهُ لِأَنَّهُ زَعَمَ أَنَّهُ حُرٌّ كُلُّهُ وَادَّعَى قِيمَةَ نَصِيبِهِ عَلَى شَرِيكِهِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika salah satu dari mereka berkata kepada rekannya, sementara rekannya itu mampu, “Aku telah memerdekakan bagianmu,” lalu yang lain mengingkarinya, maka bagian yang didakwakan telah merdeka dan wala’nya ditangguhkan, karena ia mengklaim bahwa seluruhnya telah merdeka, dan ia menuntut nilai bagian miliknya kepada rekannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ ادَّعَى أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَ حِصَّتَهُ وَهُوَ مُوسِرٌ وَأَنَّ عِتْقَهُ سَرَى إِلَى حِصَّتِهِ وَطَالَبَهُ بِقِيمَةِ حِصَّتِهِ فَلَا يَخْلُو الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يُقِرَّ بِالْعِتْقِ أَوْ يُنْكِرَ فَإِنْ أَقَرَّ بِالْعِتْقِ عَتَقَتْ عَلَيْهِ حِصَّتُهُ بِإِقْرَارِهِ وفي عتق حصة شريكه ثلاثة أقاويل

Al-Mawardi berkata: Kasusnya adalah tentang seorang budak yang dimiliki oleh dua orang sekutu, lalu salah satu dari keduanya mengklaim kepada rekannya bahwa ia telah memerdekakan bagiannya dan ia adalah orang yang mampu (muktabir), serta bahwa kemerdekaannya itu berlaku juga pada bagian rekannya, dan ia menuntut rekannya untuk membayar nilai bagiannya. Maka, pihak yang dituduh tidak lepas dari dua kemungkinan: mengakui kemerdekaan atau mengingkarinya. Jika ia mengakui kemerdekaan, maka bagian miliknya menjadi merdeka karena pengakuannya. Adapun mengenai kemerdekaan bagian rekannya, terdapat tiga pendapat.

أحدهما يُعْتَقُ بِإِقْرَارِهِ عَلَى نَفْسِهِ وَيُؤْخَذُ بِقِيمَتِهَا وَيَكُونُ لَهُ وَلَاءُ جَمِيعِهِ

Salah satunya dimerdekakan berdasarkan pengakuannya atas dirinya sendiri, lalu diambilkan dari nilai dirinya, dan baginya hak wala’ seluruhnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تُعْتَقُ حِصَّةُ الشَّرِيكِ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ إِلَيْهِ وَيُؤْخَذُ بِدَفْعِهَا حَتَّى يَتَكَامَلَ الْعِتْقُ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa bagian milik rekan tidak menjadi merdeka kecuali dengan membayar nilai (bagian tersebut) kepadanya, dan ia diwajibkan untuk membayar nilai itu hingga kemerdekaan menjadi sempurna dengan pembayaran nilai tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أنَّ عِتْقَهَا مَوْقُوفٌ عَلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ فَإِذَا دُفِعَتْ بَانَ تَقَدُّمُ الْعِتْقِ بِاللَّفْظِ وَإِنْ أَنْكَرَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ الْعِتْقَ فَإِنْ كَانَ لِلْمُدَّعِي بَيِّنَةٌ سُمِعَتْ وَهِيَ شَاهِدَانِ وَحُكِمَ عَلَيْهِ بِعِتْقِهِ لِمِلْكِهِ وَكَانَ عِتْقُ حِصَّةِ الْمُدَّعِي عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ وَلَا يُقْبَلُ فِيهَا شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ فِي عِتْقٍ وَإِنْ عُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَعَ يَمِينِهِ أَنَّهُ لَمْ يَعْتِقْ وَحِصَّتُهُ بَاقِيَةٌ عَلَى مِلْكِهِ وَفِي عِتْقِ حِصَّةِ الْمُدَّعِي قَوْلَانِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa pembebasan budak tersebut bergantung pada pembayaran nilai (budak), sehingga apabila nilai itu telah dibayarkan, maka terbuktilah bahwa pembebasan telah terjadi sejak diucapkan. Jika pihak yang dituduh membebaskan budak itu mengingkari pembebasan tersebut, maka jika pihak penggugat memiliki bukti (bayyinah), yakni dua orang saksi, maka kesaksian mereka diterima dan diputuskan bahwa budak itu telah merdeka karena kepemilikannya. Pembebasan bagian milik penggugat berlaku menurut tiga pendapat tersebut, dan tidak diterima kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan dalam perkara ini, karena ini adalah bayyinah dalam masalah pembebasan budak. Jika tidak ada bayyinah, maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang dituduh dengan sumpahnya bahwa ia tidak membebaskan budak itu, dan bagian miliknya tetap menjadi miliknya. Dalam pembebasan bagian milik penggugat terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّ حِصَّتَهُ تُعْتَقُ عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي بِنَفْسِ اللَّفْظِ لِأَنَّهُ مُقِرٌّ عَلَى نَفْسِهِ بِمَا يضره وينفع غيره فقيل إِقْرَارُهُ عَلَى نَصِيبِهِ وَلَمْ يُقْبَلْ دَعْوَاهُ عَلَى غَيْرِهِ

Salah satu pendapat, yaitu yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i dalam masalah ini, adalah bahwa bagiannya menjadi merdeka atas dirinya jika dikatakan bahwa pembebasan budak berlaku dengan lafaz itu sendiri. Sebab, ia mengakui atas dirinya sesuatu yang membahayakan dirinya dan menguntungkan orang lain. Maka dikatakan: pengakuannya berlaku atas bagiannya, dan tidak diterima pengakuannya atas bagian orang lain.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ بِالْقَوْلَيْنِ الْآخَرَيْنِ إنَّ الْعِتْقَ يَقَعُ بِدَفْعِ القيمة أَوْ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ وَإِنْ عَتَقَتْ حِصَّةُ الْمُدَّعِي عَلَى الْقَوْلِ الْأَوَّلِ لَمْ يَسْرِ عِتْقُهُ إِلَى حِصَّةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لِأَنَّهُ عِتْقٌ لَزِمَهُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فَصَارَ كَمَنْ وَرِثَ مِنْ رِقِّ ابْنِهِ سَهْمًا عَتَقَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَسْرِ إِلَى بَاقِيهِ وَكَانَ وَلَاءُ مَا عَتَقَ مِنْهُ مَوْقُوفًا لِأَنَّهُ لَا يَدَّعِيهِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا وَإِذَا لَمْ تُعْتَقْ حِصَّةُ الْمُدَّعِي عَلَى الْقَوْلِ الثَّانِي كَانَتْ مُقَرَّةً عَلَى مِلْكِهِ وَفِي جَوَازِ تَصَرُّفِهِ فِيهَا بِالْبَيْعِ وَالْعِتْقِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak terjadi pembebasan budak atasnya, jika mengikuti dua pendapat lainnya yang mengatakan bahwa pembebasan budak terjadi dengan pembayaran nilai atau bahwa pembebasan itu tergantung pada pembayaran nilai. Dan jika bagian milik penggugat telah merdeka menurut pendapat pertama, maka kemerdekaannya tidak berlaku pada bagian milik tergugat, karena itu adalah pembebasan yang terjadi tanpa pilihannya, sehingga keadaannya seperti seseorang yang mewarisi bagian dari perbudakan anaknya, lalu bagian itu menjadi merdeka atasnya dan tidak berlaku pada sisanya. Adapun hak wala’ dari bagian yang telah merdeka itu menjadi tertangguhkan, karena tidak ada satu pun dari keduanya yang mengakuinya. Jika bagian milik penggugat tidak dimerdekakan menurut pendapat kedua, maka bagian itu tetap menjadi miliknya, dan dalam hal kebolehan ia melakukan transaksi atasnya, seperti menjual atau memerdekakannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لِاسْتِقْرَار مِلْكِهِ عَلَيْهَا بِإِبْطَالِ السِّرَايَةِ إِلَيْهَا

Salah satunya diperbolehkan karena kepemilikannya telah tetap atasnya dengan meniadakan penyebaran (hukum) kepadanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ لِإِقْرَارِهِ بِالْمَنْعِ مِنْ ذَلِكَ فِي حَقِّ شَرِيكِهِ فَلَوْ عَادَ الْمُنْكِرُ فَاعْتَرَفَ بِالْعِتْقِ بَعْدَ جُحُودِهِ عَتَقَ مِلْكَهُ عَلَيْهِ وَكَانَتْ سِرَايَةُ عِتْقِهِ إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثلاثة

Pendapat kedua tidak boleh diterima karena ia telah mengakui adanya larangan tersebut atas hak rekannya. Maka, jika orang yang mengingkari itu kemudian kembali dan mengakui pembebasan budak setelah sebelumnya mengingkarinya, maka budak itu merdeka atas bagian miliknya saja, dan mengenai merambatnya kemerdekaan budak itu ke bagian rekannya, terdapat tiga pendapat (aqwāl) ulama.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنِ ادَّعَى شَرِيكُهُ مِثْلَ ذَلِكَ عَتَقَ الْعَبْدُ وَكَانَ لَهُ وَلَاؤُهُ قَالَ وَفِيهَا قَوْلٌ آخَرُ إذا لم يعتق نصيب الأول ثم يُعْتَقْ نَصِيبُ الْآخَرِ لِأَنَّهُ إِنَّمَا يُعْتَقُ بِالْأَوَّلِ قال المزني قد قطع بِجَوَابِهِ الْأَوَّلِ أَنَّ صَاحِبَهُ زَعَمَ أَنَّهُ حُرٌّ كله وقد عتق نَصِيبَ الْمُقِرِّ بِإِقْرَارِهِ قَبْلَ أَخْذِهِ قِيمَتَهُ فَتَفَهَّمْ وَلَا خِلَافَ أَنَّ مَنْ أَقَرَّ بِشَيْءٍ يَضُرُّهُ لَزِمَهُ وَمَنِ ادَّعَى حَقًّا لَمْ يَجِبْ لَهُ وهذا مقر للعبد بعتق نصيبه فيلزمه ومدع على شريكه بقيمة لا تجب له ومن قَوْلِهِ وَجَمِيعُ مَنْ عَرَفْتُ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنْ لو قال لشريكه بعتك نصيبي بثمن وسلمته إِلَيْكَ وَأَنْتَ مُوسِرٌ وَأَنَّكَ قَبَضْتَهُ وَأَعْتَقْتَهُ وَأَنْكَرَ شَرِيكُهُ أَنَّهُ مُقِرٌّ بِالْعِتْقِ لِنَصِيبِهِ نَافِذٌ عَلَيْهِ مدع لثمن لا يجب له فهذا وذاك عندي في القياس سواء وهذا يقضي لأحد قوليه على الآخر قَالَ الْمُزَنِيُّ وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ إِذَا أَعْتَقْتَهُ فَهُوَ حُرٌّ فَأَعْتَقَهُ كان حراً في مال المعتق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika rekannya mengklaim hal yang serupa, maka budak itu merdeka dan hak wala’ (loyalitas) menjadi miliknya. Ia berkata: Dalam masalah ini ada pendapat lain, yaitu jika bagian yang pertama belum dimerdekakan lalu bagian yang lain dimerdekakan, karena sesungguhnya kemerdekaan itu terjadi dengan bagian yang pertama. Al-Muzani berkata: Ia telah memutuskan dengan jawaban pertamanya bahwa rekannya mengaku bahwa seluruhnya adalah merdeka, dan ia telah memerdekakan bagian orang yang mengakui dengan pengakuannya sebelum mengambil nilainya, maka pahamilah. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa siapa yang mengakui sesuatu yang merugikannya, maka itu wajib baginya, dan siapa yang mengklaim suatu hak, maka itu tidak wajib baginya. Ini adalah pengakuan kepada budak atas kemerdekaan bagi bagiannya, maka itu wajib baginya, dan ia menuntut kepada rekannya nilai yang tidak wajib baginya. Dan dari perkataannya serta seluruh ulama yang aku ketahui, bahwa jika ia berkata kepada rekannya: “Aku telah menjual bagian milikku kepadamu dengan harga tertentu dan aku telah menyerahkannya kepadamu, sedangkan engkau mampu membayarnya, dan engkau telah menerimanya dan memerdekakannya,” lalu rekannya mengingkari, maka ia adalah orang yang mengakui kemerdekaan untuk bagiannya yang berlaku atasnya, dan ia menuntut harga yang tidak wajib baginya. Maka hal ini dan itu menurutku dalam qiyās (analogi) adalah sama. Dan ini menetapkan salah satu dari dua pendapatnya atas yang lain. Al-Muzani berkata: Dan Imam Syafi‘i telah berkata: Jika salah satu dari keduanya berkata kepada rekannya, “Jika engkau memerdekakannya maka ia merdeka,” lalu ia memerdekakannya, maka budak itu merdeka pada bagian harta orang yang memerdekakannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا أَرَادَهُ الشَّافِعِيُّ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أَرَادَ بِهَا أَنْ يَعُودَ الشَّرِيكُ الْمُنْكِرُ لِمَا ادُّعِيَ عَلَيْهِ مِنَ الْعِتْقِ فَيَعْتَرِفُ بِأَنَّهُ قَدْ كَانَ أَعْتَقَ فَتُعْتَقُ عَلَيْهِ حِصَّتُهُ وَتَلْزَمُهُ قِيمَةُ حِصَّةِ شَرِيكِهِ وَيَكُونُ عِتْقُهَا عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ

Al-Mawardi berkata: Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud oleh al-Syafi‘i dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah apabila seorang sekutu yang mengingkari tuduhan pemerdekaan (budak) terhadapnya kemudian mengakui bahwa ia memang telah memerdekakan, maka bagian miliknya menjadi merdeka dan ia wajib membayar nilai bagian sekutunya. Pemerdekaan tersebut berlaku menurut tiga pendapat yang ada.

أَحَدُهَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِاعْتِرَافِهِ وَتَكُونُ الْقِيمَةُ دَيْنًا فِي ذِمَّتِهِ وَلَهُ وَلَاءُ جَمِيعِهِ وَيَكُونُ عِتْقُهُ فِي الْقَوْلَيْنِ الْآخَرَيْنِ مَوْقُوفًا عَلَى دَفْعِ قِيمَتِهِ

Salah satunya adalah budak itu merdeka karena pengakuannya, dan nilai budak tersebut menjadi utang yang harus dibayarnya, serta ia berhak atas wala’ seluruhnya. Sedangkan menurut dua pendapat lainnya, kemerdekaannya tergantung pada pembayaran nilainya.

وَقَالَ الْأَكْثَرُونَ مِنْهُمْ إِنَّ مُرَادَ الشَّافِعِيِّ بِهَا أَنْ يَدَّعِيَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الشَّرِيكَيْنِ عَلَى صَاحِبِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَ حِصَّتَهُ وَهُوَ مُوسِرٌ فَسَرَى الْعِتْقُ إِلَى نَصِيبِهِ وَاسْتَحَقَّ بِهِ قِيمَةَ حِصَّتِهِ وَيُنْكِرُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَعْوَى صَاحِبِهِ فَإِنَّهُمَا يَتَحَالَفَانِ مَعَ عَدَمِ البينة فإن حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ قُضِيَ لِلْحَالِفِ عَلَى النَّاكِلِ وَإِنْ حَلَفَا مَعًا أَوْ نَكَلَا فَفِي عِتْقِ حِصَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَيْهِ قَوْلَانِ

Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa maksud Imam Syafi‘i dengan hal ini adalah bahwa masing-masing dari dua orang yang berserikat mengklaim kepada rekannya bahwa ia telah memerdekakan bagiannya dan ia dalam keadaan mampu, sehingga kemerdekaan itu berlaku juga pada bagian rekannya dan ia berhak atas nilai bagiannya, dan masing-masing dari keduanya mengingkari klaim rekannya. Maka keduanya saling bersumpah jika tidak ada bukti. Jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lain enggan, maka diputuskan untuk yang bersumpah atas yang enggan. Jika keduanya sama-sama bersumpah atau sama-sama enggan, maka dalam hal kemerdekaan bagian masing-masing dari mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا قَدْ عَتَقَتْ حِصَّةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي بِاللَّفْظِ فَيَصِيرُ جَمِيعُ الْعَبْدِ حُرًّا وَوَلَاؤُهُ مَوْقُوفًا لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَنْفِي أَنْ يَكُونَ مَالِكًا لِوَلَائِهِ

Salah satu dari keduanya, bagian kepemilikan masing-masing dari mereka telah merdeka darinya jika dikatakan bahwa pembebasan budak berlaku dengan ucapan, sehingga seluruh budak menjadi merdeka dan hak wala’ (loyalitas) menjadi tertangguhkan, karena masing-masing dari mereka menolak untuk menjadi pemilik hak wala’-nya.

فَإِنْ تَصَادَقَا بَعْدَ التَّحَالُفِ وَالْإِنْكَارِ حُمِلَا عَلَى مُقْتَضَى تَصَادُقِهِمَا

Jika keduanya saling membenarkan setelah bersumpah dan mengingkari, maka keduanya diberlakukan sesuai dengan konsekuensi dari saling membenarkan tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهَا لَا تُعْتَقُ حِصَّةُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِهَذِهِ الدَّعْوَى إِذَا قِيلَ بِالْقَوْلَيْنِ الْآخَرَيْنِ إنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ لَا يعتق إلى بِدَفْعِ الْقِيمَةِ أَوْ أَنَّهَا مَوْقُوفَةٌ عَلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ وَيَكُونُ الْعَبْدُ بَيْنَهُمَا عَلَى رِقِّهِ وَفِي جَوَازِ تَصَرُّفِهِمَا فِيهِ بِالْبَيْعِ وَالْعِتْقِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa bagian salah satu dari keduanya tidak menjadi merdeka dengan pengakuan ini, jika mengikuti dua pendapat lain yang mengatakan bahwa bagian milik sekutu tidak menjadi merdeka kecuali dengan pembayaran nilai, atau bahwa kemerdekaannya tergantung pada pembayaran nilai. Maka, budak tersebut tetap berada di antara keduanya dalam status perbudakannya. Adapun tentang kebolehan keduanya melakukan tindakan terhadap budak itu, baik berupa penjualan maupun pembebasan, maka telah dijelaskan sebelumnya dua sisi pendapat mengenai hal itu.

ثُمَّ عَاوَدَ الْمُزَنِيُّ تَصْحِيحَ الْقَوْلِ الَّذِي اخْتَارَهُ مِنْ سِرَايَةِ الْعِتْقِ إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ بِخَمْسَةِ فُصُولٍ

Kemudian al-Muzani kembali menegaskan pendapat yang ia pilih mengenai berlakunya pembebasan budak (itq) terhadap bagian milik sekutu dengan redaksi orang yang membebaskan, melalui lima bab.

أَحَدُهَا إِنْ قَالَ قَدْ قَطَعَ يَعْنِي الشَّافِعِيَّ بِجَوَابِهِ الْأَوَّلِ أَنَّ صَاحِبَهُ زَعَمَ أَنَّهُ حُرٌّ كُلُّهُ وَقَدْ أَعْتَقَ نَصِيبَ الْمُقِرِّ بِإِقْرَارِهِ قَبْلَ أَخْذِهِ قِيمَتَهُ فَتَفَهَّمْ فَيُقَالُ لِلْمُزَنِيِّ هَذَا إِنَّمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ عَلَى أَحَدِ أَقَاوِيلِهِ الثَّلَاثَةِ أَنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي بِاللَّفْظِ وَلَمْ يَقُلْهُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ الْآخَرَيْنِ اقْتِصَارًا بِالتَّفْرِيعِ عَلَى أَحَدِهِمَا اخْتِصَارًا وَقَدْ ذَكَرْنَا مَا يَقْتَضِيهِ تَفْرِيعُهُ عَلَى أَحَدِ أَقَاوِيلِهِ فَأَغْنَى عَنْ إِعَادَتِهِ

Salah satunya, jika dikatakan bahwa asy-Syafi‘i telah memutuskan dengan jawaban pertamanya bahwa sahabatnya mengklaim bahwa ia seluruhnya adalah orang merdeka, dan ia telah memerdekakan bagian orang yang mengakui (kepemilikan) dengan pengakuannya sebelum mengambil nilainya, maka pahamilah hal ini. Maka dikatakan kepada al-Muzani bahwa ini hanyalah pendapat asy-Syafi‘i berdasarkan salah satu dari tiga pendapatnya, yaitu bahwa kemerdekaan berlaku dengan lafaz, dan ia tidak mengatakannya berdasarkan dua pendapat lainnya, hanya merujuk pada salah satunya secara ringkas. Dan kami telah menyebutkan apa yang menjadi konsekuensi dari penjelasannya berdasarkan salah satu pendapatnya, sehingga tidak perlu mengulanginya.

وَالْفَصْلُ الثَّانِي قَالَ الْمُزَنِيُّ وَلَا خِلَافَ أَنَّ مَنْ أَقَرَّ بِشَيْءٍ يَضُرُّهُ لَزِمَهُ وَمَنِ ادَّعَى حَقًّا لَمْ يَجِبْ لَهُ وَهَذَا مُقِرٌّ لِلْعَبْدِ بِعِتْقِ نَصِيبِهِ فَلَزِمَهُ وَمُدَّعٍ عَلَى شَرِيكِهِ قِيمَةً لَا تَجِبُ لَهُ

Bab kedua: Al-Muzani berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa siapa pun yang mengakui sesuatu yang merugikannya, maka hal itu wajib baginya, dan siapa yang mengaku memiliki suatu hak, maka hak itu tidak wajib diberikan kepadanya. Dalam hal ini, seseorang mengakui kepada budak bahwa ia telah memerdekakan bagiannya, maka hal itu wajib baginya, dan ia mengklaim atas rekannya nilai (budak) yang tidak wajib diberikan kepadanya.”

وَهَذَا قَالَهُ الْمُزَنِيُّ تَحْقِيقًا لِاخْتِيَارِهِ وَتَعْلِيلًا لِصِحَّتِهِ فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ صَحَّحَ هَذَا التَّعْلِيلَ وَأَجْرَاهُ فِي كُلِّ مَعْلُولٍ بِهِ لَكِنَّهُ تَعْلِيلٌ لِحُكْمِ الْقَوْلِ إِذَا جَعَلَ الْعِتْقَ سَارِيًا بِاللَّفْظِ وَلَيْسَ بِتَعْلِيلٍ لِصِحَّتِهِ أَنَّهُ يَسْرِي بِاللَّفْظِ

Hal ini dikatakan oleh al-Muzani sebagai penegasan atas pilihannya dan sebagai alasan atas kebenarannya. Di antara ulama mazhab kami ada yang membenarkan alasan ini dan menerapkannya pada setiap kasus yang memiliki sebab yang sama. Namun, alasan ini adalah alasan untuk hukum suatu pendapat jika pembebasan budak (ʿitq) dianggap berlaku dengan lafaz, dan bukan alasan untuk kebenaran bahwa pembebasan itu berlaku dengan lafaz.

وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ نَقَضَ تَعْلِيلَهُ وَمَنَعَ أَنْ يَكُونَ جَارِيًا فِي كُلِّ مَعْلُولٍ بِهِ فَإِنَّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ بَاعَ عَبْدًا عَلَى زَيْدٍ بِثَمَنٍ لَمْ يَقْبَضْهُ وَأَنْكَرَ زَيْدٌ فَهُوَ مُقِرٌّ لَهُ بِالْعَبْدِ وَمُدَّعٍ عَلَيْهِ الثَّمَنَ وَلَيْسَ يَلْزَمُهُ تَسْلِيمُ الْعَبْدِ وَإِنْ كَانَ مُقِرًّا بِهِ كَمَا لَمْ يَسْتَحِقَّ الثَّمَنَ وَإِنْ كَانَ مُدَّعِيًا لَهُ

Di antara ulama kami ada yang membantah alasan tersebut dan melarang penerapannya pada setiap kasus yang memiliki ‘illat yang sama. Misalnya, jika seseorang mengaku telah menjual seorang budak kepada Zaid dengan harga tertentu namun belum menerima pembayaran, lalu Zaid mengingkarinya, maka orang tersebut berarti mengakui budak itu milik Zaid dan menuntut pembayaran darinya. Namun, ia tidak wajib menyerahkan budak itu meskipun telah mengakuinya, sebagaimana ia juga belum berhak menerima pembayaran meskipun ia menuntutnya.

وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ قَالَ الْمُزَنِيُّ فِي قَوْلِهِ وَجَمِيعُ مَنْ عَرَفْتُ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنْ لَوْ قَالَ لِشَرِيكِهِ بِعْتُكَ نَصِيبِي بِثَمَنٍ وَأَسْلَمْتُهُ إِلَيْكَ وَأَنْتَ مُوسِرٌ وَأَنَّكَ قَبَضْتَهُ وَأَعْتَقْتَهُ وَأَنْكَرَ شَرِيكُهُ أَنَّهُ مُقِرٌّ بِالْعِتْقِ لِنَصِيبِهِ نَافِذٌ عَلَيْهِ وَمُدَّعٍ لِثَمَنٍ لَا يَجِبُ لَهُ وَهَذَا وَذَاكَ عِنْدِي فِي الْقِيَاسِ سَوَاءٌ وَهَذَا قَضَاءٌ لِأَحَدِ قَوْلَيْهِ عَلَى الْآخَرِ وَهَذَا قَالَهُ الْمُزَنِيُّ احْتِجَاجًا عَلَى وُقُوعِ الْعِتْقِ فِي حِصَّةِ الشَّرِيكِ بِاللَّفْظِ وَالسِّرَايَةِ بِأَنَّ الشَّرِيكَ لَوِ ادَّعَى عَلَى شَرِيكِهِ أَنَّهُ بَاعَهُ حِصَّتَهُ بِثَمَنٍ لَهُ فَقَبَضَهُ وَأَنَّهُ سَلَّمَ الْحِصَّةَ إِلَيْهِ وَعَتَقَهَا وَأَنْكَرَ الشَّرِيكُ التَّسْلِيمَ وَالْعِتْقَ فَحِصَّةُ الْمُدَّعِي قَدْ عَتَقَتْ عَلَيْهِ قَوْلًا وَاحِدًا عِنْدَ جَمِيعِ أَصْحَابِنَا إِذَا كَانَ بَعْدَ التَّسْلِيمِ

Bab ketiga: Al-Muzani berkata dalam ucapannya, “Dan semua ulama yang aku kenal berpendapat bahwa jika seseorang berkata kepada rekannya, ‘Aku telah menjual bagianku kepadamu dengan harga tertentu, dan aku telah menyerahkannya kepadamu, sedangkan engkau mampu membayarnya, dan engkau telah menerimanya serta membebaskannya, lalu rekannya mengingkari hal itu,’ maka ia dianggap mengakui pembebasan (’itq) atas bagiannya yang berlaku baginya, dan ia menuntut harga yang tidak wajib baginya. Menurutku, keduanya dalam qiyās (analogi hukum) adalah sama, dan ini merupakan keputusan untuk salah satu dari dua pendapat atas yang lain. Ini dikatakan oleh Al-Muzani sebagai argumentasi atas terjadinya pembebasan pada bagian rekan dengan lafaz dan penyebaran (sirāyah), yaitu bahwa jika seorang rekan mengklaim kepada rekannya bahwa ia telah menjual bagiannya kepadanya dengan harga tertentu, lalu ia telah menerima harga tersebut, dan ia telah menyerahkan bagian itu kepadanya serta membebaskannya, lalu rekannya mengingkari penyerahan dan pembebasan itu, maka bagian yang diklaim telah dibebaskan darinya menurut satu pendapat di kalangan seluruh sahabat kami, jika itu terjadi setelah penyerahan.

وَلَوْ قَالَ عَتَقْتُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ كَانَ فِي نُفُوذِ عِتْقِهِ عَلَيْهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ

Dan jika ia berkata, “Aku telah memerdekakannya sebelum penyerahan,” maka dalam hal berlakunya pemerdekaan tersebut atas dirinya menurut para ulama kami terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يُعْتَقُ لِأَنَّهُ قَدْ جَعَلَهُ مُعْتِقًا لِمِلْكٍ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa budak tersebut merdeka karena ia telah menjadikannya sebagai orang yang memerdekakan miliknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يُعْتَقُ لِأَنَّهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ فِي حُكْمِ الْحَجْرِ لِارْتِهَانِهِ عَلَى ثَمَنِهِ ثُمَّ إِذَا لَزِمَهُ الْعِتْقُ عَلَى هَذَا التَّفْصِيلِ لَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى سِرَايَةِ الْعِتْقِ بِاللَّفْظِ دُونَ الْقِيمَةِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّهُ فِي مَسْأَلَةِ الْبَيْعِ جَعَلَهُ مُعْتِقًا لِمِلْكٍ يُنَفَّذُ فِيهِ الْعِتْقُ فَلِذَلِكَ عَتَقَ عليه بهذه الدعوة وَفِي مَسْأَلَةِ السِّرَايَةِ جَعَلَهُ مُعْتِقًا لِغَيْرِ مِلْكِهِ فَجَازَ أَن لَا تَقَعَ فِيهِ السِّرَايَةُ حِينَ لَمْ يَقَعْ عِتْقُ الْمُبَاشَرَةِ لِأَنَّ الْعِتْقَ بِالسِّرَايَةِ يَتَفَرَّعُ عَنْ عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ فَلَمْ يَثْبُتْ حُكْمُ الْفَرْعِ مَعَ عَدَمِ أَصْلِهِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa tidak terjadi pembebasan budak karena sebelum salam (penyelesaian akad), budak tersebut masih dalam status tertahan karena menjadi jaminan atas harganya. Kemudian, jika pembebasan budak menjadi wajib menurut rincian ini, maka tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya penyebaran hukum pembebasan (sarayah al-‘itq) hanya dengan lafaz tanpa nilai (harga), karena terdapat perbedaan antara keduanya. Pada kasus jual beli, seseorang dianggap membebaskan budak atas kepemilikan yang sah sehingga pembebasan berlaku atasnya dengan pernyataan tersebut. Sedangkan pada kasus sarayah, seseorang dianggap membebaskan budak atas sesuatu yang bukan miliknya, sehingga boleh jadi tidak terjadi penyebaran hukum pembebasan ketika pembebasan langsung tidak terjadi, karena pembebasan dengan sarayah merupakan cabang dari pembebasan langsung. Maka, hukum cabang tidak dapat ditetapkan jika asalnya tidak ada.

وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَوْ قَالَ أَحَدُهُمَا لصاحبه إذا أعتقته فهو حر فأعتقته كَانَ حُرًّا فِي مَالِ الْمُعْتِقِ وَهَذَا قَالَهُ الْمُزَنِيُّ إِلْزَامًا لِنُفُوذِ الْعِتْقِ بِسِرَايَةِ اللَّفْظِ دُونَ دَفْعِ الْقِيمَةِ بِأَنَّ أَحَدَ الشَّرِيكَيْنِ لَوْ قَالَ لِصَاحِبِهِ إِذَا أَعْتَقْتَ نَصِيبَكَ فَنَصِيبِي حُرٌّ فَأَعْتَقَ الشَّرِيكُ نَصِيبَهُ فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَقَدْ عَتَقَهُ فِي حِصَّتِهِ وَلَمْ يَسْرِ إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ وَعَتَقَتْ حِصَّةُ الشَّرِيكِ عَلَيْهِ بِالصِّفَةِ الَّتِي عَلَّقَهَا بِعِتْقِ صَاحِبِهِ وَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ مُوسِرًا لَمْ يُعْتِقْ عَلَى الشَّرِيكِ حِصَّتَهُ بِالصِّفَةِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ كُلِّهَا سَوَاءٌ قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي بِاللَّفْظِ أَوْ يَقَعُ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ أَوْ يَكُونُ مَوْقُوفًا

Bab keempat, al-Muzani berkata: Imam Syafi‘i pernah berkata, “Jika salah satu dari dua orang berkata kepada temannya, ‘Jika aku memerdekakanmu, maka engkau merdeka,’ lalu ia memerdekakannya, maka orang itu menjadi merdeka dari harta orang yang memerdekakannya.” Hal ini dikatakan al-Muzani sebagai konsekuensi dari berlakunya pemerdekaan karena penularan lafaz, tanpa membayar nilai (budak), dengan alasan bahwa jika salah satu dari dua orang yang berserikat berkata kepada temannya, “Jika engkau memerdekakan bagianmu, maka bagianku juga merdeka,” lalu temannya memerdekakan bagiannya, maka jika ia dalam keadaan tidak mampu (miskin), maka ia telah memerdekakan bagiannya saja dan tidak menular ke bagian temannya, dan bagian temannya menjadi merdeka baginya sesuai dengan syarat yang dikaitkan dengan pemerdekaan temannya. Namun jika orang yang memerdekakan itu mampu (kaya), maka ia tidak memerdekakan bagian temannya dengan syarat tersebut menurut semua pendapat, baik dikatakan bahwa pemerdekaan menular dengan lafaz, atau terjadi dengan pembayaran nilai, atau statusnya menjadi tergantung.

وَعِنْدَ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يُعْتَقُ بِالصِّفَةِ إِذَا قِيلَ إِنَّ عِتْقَهَا فِي حَقِّ الْمُعْتِقِ لَا يَقَعُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَنَصُّ الشَّافِعِيِّ وَمَا عَلَيْهِ قَوْلُ سَائِرِ أَصْحَابِهِ إنَّهُ لَا يُعْتَقُ بِالصِّفَةِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ كُلِّهَا لِأَنَّهُ لَمَّا عَتَقَ عَلَى الْمُعْتِقِ بِالسِّرَايَةِ فَقَدْ تَقَدَّمَ عِتْقُهُ عَلَى عِتْقِ الصِّفَةِ وَإِنْ قِيلَ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَقَدْ أَوْقَعَ عِتْقَهُ حَجْرًا فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ عَلَى عِتْقِ بَاقِيهِ فَلَمْ يُنَفَّذْ عِتْقُ مَحْجُورٍ عَلَيْهِ

Menurut Ibn Abi Hurairah, seorang budak dapat merdeka dengan sifat (syarat) jika dikatakan bahwa kemerdekaannya bagi pihak yang memerdekakan tidak terjadi kecuali dengan membayar nilai (budak tersebut). Adapun nash asy-Syafi‘i dan pendapat seluruh sahabatnya menyatakan bahwa budak tidak dapat merdeka dengan sifat menurut semua pendapat, karena ketika budak itu telah merdeka bagi pihak yang memerdekakan melalui sirāyah, maka kemerdekaannya telah lebih dahulu terjadi daripada kemerdekaan dengan sifat. Dan jika dikatakan bahwa ia tidak merdeka kecuali dengan membayar nilai, maka kemerdekaannya menjadi terhalang dalam memperoleh hak wala’ atas kemerdekaan sisanya, sehingga kemerdekaan orang yang terhalang tidak dapat dilaksanakan.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ عَقَدَ الشَّرِيكُ صِفَةَ عِتْقِهِ فِي حَالٍ هُوَ فِيهَا غَيْرُ مَحْجُورٍ عَلَيْهِ

Jika dikatakan, “Sungguh, sekutu telah menetapkan sifat pembebasan budaknya dalam keadaan di mana ia tidak sedang dalam keadaan mahjūr ‘alaih (tidak dicegah haknya untuk bertindak).”

قِيلَ هُوَ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَحْجُورٍ عَلَيْهِ فِي هَذِهِ الْحَالِ فَقَدْ عُلِّقَ عِتْقُهُ بِصِفَةٍ يَصِيرُ فِيهَا مَحْجُورًا عَلَيْهِ فِي ثَانِي حَالٍ

Dikatakan bahwa meskipun pada keadaan ini ia tidak sedang berada dalam status mahjūr (terhalang haknya), namun pembebasannya (’itq) digantungkan pada suatu sifat yang pada keadaan berikutnya akan menjadikannya dalam status mahjūr.

وَالْفَصْلُ الْخَامِسُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَدَلِيلٌ آخَرُ مِنْ قَوْلِهِ إنَّهُ جَعَلَ قِيمَتَهُ يَوْمَ تَكَلَّمَ بِعِتْقِهِ فَدَلَّ أَنَّهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ حُرٌّ قَبْلَ دَفْعِ قِيمَتِهِ قِيلَ لِلْمُزَنِيِّ لَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ قِيمَةَ حِصَّةِ الشَّرِيكِ مُعْتَبَرَةً بِوَقْتِ الْعِتْقِ عَلَى الْأَقَاوِيلِ كُلِّهَا لَكِنْ لَا يَدُلُّ اعْتِبَارُهَا بِالْعِتْقِ عَلَى وُجُوبِهَا وَقْتَ الْعِتْقِ كَالْجِنَايَةِ عَلَى الْعَبْدِ إِذَا سَرَتْ إِلَى نَفْسِهِ اعْتُبِرَتْ قِيمَتُهُ بِوَقْتِ الْجِنَايَةِ وَإِنْ وَجَبَتْ بِمَوْتِهِ وَكَالضَّارِبِ بَطْنَ الْأَمَةِ إِذَا أَلْقَتْ جَنِينًا مَيِّتًا اعْتُبِرَتْ دِيَةُ جَنِينِهَا بِقِيمَتِهَا وَقْتَ ضَرْبِهَا وَإِنْ وَجَبَتْ بِإِلْقَائِهِ مَيِّتًا وَقَدْ أَطَالَ الْمُزَنِيُّ فَأَطَلْنَا وَلَوِ اخْتَصَرَ كَانَ أَوْلَى بِهِ وَبِنَا وَإِنْ مَضَى في خلال الكلام أحكام مستفادة

Bab kelima: Al-Muzani berkata, “Dan dalil lain dari ucapannya adalah bahwa ia menetapkan nilainya pada hari ketika ia mengucapkan pembebasannya, maka hal itu menunjukkan bahwa pada waktu tersebut ia telah merdeka sebelum nilai itu dibayarkan.” Kepada Al-Muzani dikatakan, “Mazhab Asy-Syafi‘i tidak berbeda pendapat bahwa nilai bagian milik rekan (syarikat) diperhitungkan berdasarkan waktu pembebasan menurut semua pendapat, namun memperhitungkannya pada waktu pembebasan tidak menunjukkan kewajibannya pada saat itu, sebagaimana dalam kasus jinayah terhadap budak apabila berlanjut hingga menyebabkan kematiannya, maka nilainya diperhitungkan pada waktu terjadinya jinayah, meskipun kewajibannya terjadi saat kematiannya. Demikian pula seseorang yang memukul perut budak perempuan hingga ia melahirkan janin dalam keadaan mati, maka diyat janinnya diperhitungkan berdasarkan nilainya pada waktu pemukulan, meskipun kewajibannya terjadi saat janin itu dilahirkan mati.” Al-Muzani telah memaparkan penjelasan panjang, maka kami pun memaparkan penjelasan panjang pula. Seandainya ia meringkas, itu lebih utama baginya dan bagi kami. Meski demikian, dalam pembahasan ini terdapat beberapa hukum yang dapat diambil manfaatnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَسَوَاءٌ كَانَ بَيْنَ مُسْلِمَيْنِ أَوْ كَافِرَيْنِ أَوْ مسلم وكافر قال المزني وقد قطع بعتقه قبل دفع قيمته وَدَلِيلٌ آخَرُ مِنْ قَوْلِهِ إنَّهُ جَعَلَ قِيمَتَهُ يَوْمَ تَكَلَّمَ بِعِتْقِهِ فَدَلَّ أَنَّهُ فِي ذَلِكَ الوقت حر قبل دفع قيمته

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sama saja, apakah antara dua orang Muslim, dua orang kafir, atau antara seorang Muslim dan seorang kafir.” Al-Muzani berkata: “Ia telah memutuskan kemerdekaannya sebelum membayar nilainya.” Dalil lain dari perkataannya adalah bahwa ia menjadikan nilainya pada hari ketika ia mengucapkan pembebasan (ʿitq)-nya, maka hal itu menunjukkan bahwa pada waktu tersebut ia telah merdeka sebelum pembayaran nilainya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ لَا يَخْلُو حَالُ الْعَبْدِ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ إِذَا أَعْتَقَهُ أَحَدُهُمَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ أن يكون بين مسلمين يعتق أحدهما حصته فَاعْتِبَارُهُ بِيَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ وَسَوَاءٌ كَانَ الْعَبْدُ مُسْلِمًا أَوْ كَافِرًا

Al-Mawardi berkata: Keadaan seorang budak yang dimiliki bersama oleh dua orang tidak lepas dari tiga kemungkinan apabila salah satu dari keduanya memerdekakan bagiannya. Pertama, jika keduanya adalah Muslim dan salah satunya memerdekakan bagiannya, maka hal itu dinilai berdasarkan kemampuan atau ketidakmampuannya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Sama saja apakah budak tersebut Muslim atau kafir.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ بَيْنَ كَافِرَيْنِ فَلِلْعَبْدِ حَالَتَانِ

Bagian kedua adalah jika (perjanjian) itu terjadi antara dua orang kafir, maka bagi seorang budak terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ كَافِرًا فَلَا اعْتِرَاضَ عَلَيْهِمَا فِي عِتْقِهِ مَا لَمْ يَتَحَاكَمُوا فِيهِ إِلَيْنَا فَإِنْ تَحَاكَمُوا فِيهِ إِلَى حَاكِمِنَا فَفِي وُجُوبِ حُكْمِهِ بَيْنَهُمَا قَوْلَانِ

Salah satunya adalah jika keduanya orang kafir, maka tidak ada keberatan terhadap mereka dalam hal memerdekakan budak selama mereka tidak mengajukan perkara tersebut kepada kita. Namun, jika mereka mengajukan perkara itu kepada hakim kita, maka terdapat dua pendapat mengenai kewajiban hakim kita untuk memutuskan perkara di antara mereka.

أَحَدُهُمَا لَا يَجِبُ وَيَكُونُ فِيهِ مُخَيَّرًا وَهُمْ فِيهِ مُخَيَّرُونَ

Salah satunya tidak wajib dan di dalamnya seseorang diberi pilihan, dan mereka pun diberi pilihan dalam hal itu.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَجِبُ عَلَيْهِ الْحُكْمُ وَيَجِبُ عَلَيْهِمُ الِالْتِزَامُ وَيَحْكُمُ بِمَا يُوجِبُهُ حُكْمُ الْإِسْلَامِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa wajib baginya untuk menetapkan hukum, dan wajib bagi mereka untuk berkomitmen terhadapnya, serta ia memutuskan perkara sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh hukum Islam.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ مُسْلِمًا فَعَلَى حَاكِمِنَا أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهُمَا فِيهِ وَعَلَيْهِمَا الْتِزَامُ حُكْمِهِ لِتَعَلُّقِهِ بِحَقِّ الْمُسْلِمِ فَيُنَفَّذُ عِتْقُ الْمُعْتِقِ وَيُنْظَرُ حَالُهُ

Keadaan kedua adalah apabila seorang hamba itu Muslim, maka wajib bagi hakim kita untuk memutuskan perkara di antara keduanya dalam hal ini, dan keduanya wajib mematuhi putusannya karena perkara tersebut berkaitan dengan hak seorang Muslim. Maka pembebasan (‘itq) yang dilakukan oleh orang yang memerdekakan itu dilaksanakan, dan keadaan orang tersebut diperhatikan.

فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا وَقِيلَ يَسْرِي عِتْقُهُ بِلَفْظِهِ لَمْ يُعْتَرَضْ عَلَيْهِ فِي دَفْعِ الْقِيمَةِ مَا لَمْ يُطَالِبْ بِهَا الشَّرِيكُ وَكَانَ لَهُ جَمِيعُ وَلَائِهِ وَلَا يَمْتَنِعُ ثُبُوتُ الْوَلَاءِ لِكَافِرٍ عَلَى مُسْلِمٍ لِأَنَّهُ كَالنَّسَبِ الَّذِي يَسْتَوِي فِيهِ الْمُسْلِمُ وَالْكَافِرُ

Jika orang tersebut mampu (membayar) dan dikatakan bahwa pembebasan budaknya berlaku dengan ucapannya, maka tidak ada keberatan terhadapnya dalam membayar nilai (budak) selama sekutunya tidak menuntutnya, dan ia berhak atas seluruh hak wala’ (loyalitas) budak tersebut. Tidak terlarang tetapnya hak wala’ bagi orang kafir atas seorang Muslim, karena hal itu seperti nasab yang berlaku sama bagi Muslim maupun kafir.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ لَا يُعْتِقُ حِصَّةَ الشَّرِيكِ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ أَوْ إِنَّهُ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَعَلَى الحاكم أن يأخذ المعتق ليتعجل القيمة لتعجيل بِهَا عِتْقَ الْمُسْلِمِ وَلَا يَبْقَى عَلَيْهِ رِقٌّ لِكَافِرٍ فَإِنْ عَجَّلَهَا وَإِلَّا أَخَذَهَا الْحَاكِمُ مِنْ مَالِهِ جَبْرًا فَإِنْ قَبِلَهَا الشَّرِيكُ وَإِلَّا أَعْتَقَهَا عليه حكما

Jika dikatakan bahwa ia tidak memerdekakan bagian milik sekutunya kecuali dengan membayar nilai (harganya), atau bahwa hal itu bersifat ditangguhkan dan diperhatikan, maka hakim harus mengambil orang yang memerdekakan tersebut agar segera membayar nilai itu, supaya segera memerdekakan seorang Muslim dan agar tidak tersisa perbudakan atasnya oleh seorang kafir. Jika ia segera membayarnya, maka selesai; jika tidak, hakim mengambil nilai itu dari hartanya secara paksa. Jika sekutunya menerima pembayaran itu, maka selesai; jika tidak, hakim memerdekakan bagian tersebut atasnya secara hukum.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا مُسْلِمًا وَالْآخَرُ كَافِرًا فَلِلْعَبْدِ حَالَتَانِ

Bagian ketiga adalah apabila salah satu dari keduanya adalah seorang Muslim dan yang lainnya adalah kafir, maka bagi budak terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ كَافِرًا فَيَسْتَوِي فِيهِ حُكْمُ الشَّرِيكَيْنِ سَوَاءٌ كَانَ الْمُعْتِقُ مُسْلِمًا أَوْ كَافِرًا وَسَوَاءٌ كَانَ مُعْسِرًا أَوْ مُوسِرًا

Salah satunya adalah apabila salah satu dari keduanya adalah kafir, maka hukum kedua orang yang berserikat itu sama saja, baik yang memerdekakan adalah seorang Muslim maupun kafir, dan baik ia dalam keadaan tidak mampu maupun mampu.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ مُسْلِمًا فَلَا يَخْلُو حَالُ مُعْتِقِهِ مِنْهُمَا أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمُسْلِمَ أَوِ الْكَافِرَ

Keadaan kedua adalah apabila seorang budak beragama Islam, maka tidak lepas keadaan orang yang memerdekakannya dari dua kemungkinan: apakah dia seorang Muslim atau seorang kafir.

فَإِنْ كَانَ هُوَ الْمُسْلِمَ عَتَقَتْ حِصَّتُهُ وَكَانَ لَهُ وَلَاؤُهَا فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا قُوِّمَ عَلَيْهِ بَاقِيهِ

Jika dia adalah seorang Muslim, maka bagian miliknya menjadi merdeka dan dia berhak atas wala’-nya. Jika dia mampu, maka sisa budak tersebut dinilai (harganya) atasnya.

فَإِنْ قِيلَ بِنُفُوذِ عِتْقِهِ بِسِرَايَةِ لَفْظِهِ وُقِفَتِ الْقِيمَةُ عَلَى مُطَالَبَةِ الشَّرِيكِ بِهَا

Jika dikatakan bahwa pembebasan budaknya sah karena pengaruh lafaznya, maka penetapan nilai (budak tersebut) tergantung pada tuntutan dari pihak sekutu.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ عِتْقَهُ لَا يَسْرِي إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ أُخِذَ بِتَعْجِيلِهَا لِأَنْ يَتَعَجَّلَ عِتْقَهَا وَلَا يَسْتَدِيمُ الْكَافِرُ مِلْكَ رِقِّهَا وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لَمْ يَسْرِ عِتْقُهُ وَقِيلَ لِلشَّرِيكِ الْكَافِرِ لَا يَقَرُّ مِلْكُكَ عَلَى اسْتِرْقَاقِ مُسْلِمٍ وَأَنْتَ بَيْنَ خِيَارَيْنِ إِمَّا أَنْ تَعْتِقَهُ أَوْ تَبِيعَهُ عَلَى مُسْلِمٍ فَإِنْ دَبَّرَهُ لم يقر تدبيره لما فيه اسْتِيفَاءِ رِقِّهِ مُدَّةَ حَيَاتِهِ وَإِنْ كَاتَبَهُ فَفِي إِقْرَارِهِ عَلَى كِتَابَتِهِ قَوْلَانِ وَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ هُوَ الْكَافِرَ نَفَذَ عِتْقُهُ فِي حِصَّتِهِ وَنُظِرَ فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لَمْ يَسْرِ عِتْقُهُ وَأُقِرَّ رِقُّ بَاقِيهِ عَلَى مِلْكِ الشَّرِيكِ الْمُسْلِمِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا

Jika dikatakan bahwa pembebasan budak itu tidak berlaku kecuali dengan membayar nilai (budak tersebut), maka ia diwajibkan untuk segera membayarnya agar pembebasan budak itu segera terlaksana dan agar orang kafir tidak terus-menerus memiliki hak kepemilikan atas perbudakan budak tersebut. Jika ia dalam keadaan tidak mampu, maka pembebasan budaknya tidak berlaku. Dan dikatakan kepada sekutu yang kafir: “Kepemilikanmu atas perbudakan seorang Muslim tidak dapat dipertahankan, dan engkau dihadapkan pada dua pilihan: membebaskannya atau menjualnya kepada seorang Muslim.” Jika ia menetapkan budak itu sebagai mudabbar (yaitu membebaskannya setelah kematiannya), maka penetapan tersebut tidak diakui karena hal itu berarti tetap mempertahankan perbudakan selama masa hidupnya. Jika ia melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran bertahap), maka terdapat dua pendapat mengenai pengakuan atas perjanjian tersebut. Jika yang membebaskan adalah orang kafir, maka pembebasan itu berlaku pada bagian kepemilikannya, lalu dilihat lagi: jika ia tidak mampu, maka pembebasan itu tidak berlaku dan sisa budak tetap menjadi milik sekutu Muslim; namun jika ia mampu…

فَإِنْ قِيلَ بِسِرَايَةِ عِتْقِهِ بِلَفْظِهِ عَتَقَتْ عَلَيْهِ وَكَانَ فِيهَا كَالْمُسْلِمِ لِأَنَّهُ يُغَرَّمُ قِيمَةَ مُتْلَفٍ يَسْتَوِي فِيهِ الْمُسْلِمُ وَالْكَافِرُ

Jika dikatakan bahwa kemerdekaannya menular dengan ucapannya, maka ia menjadi merdeka baginya dan dalam hal ini ia seperti seorang muslim, karena ia diwajibkan membayar ganti rugi atas sesuatu yang dirusak, di mana baik muslim maupun kafir sama dalam hal ini.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ عِتْقَهُ لَا يَقَعُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا التَّقْوِيمِ هَلْ يَجْرِي مَجْرَى الْبَيْعِ أَوْ مَجْرَى قِيمَةِ مُسْتَهْلَكٍ عَلَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ وَبَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ أَنَّهُ تَقْوِيمُ مُسْتَهْلَكٍ فَعَلَى هَذَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ كَتَقْوِيمِهِ عَلَى الْمُسْلِمِ وَيُؤْخَذُ بِتَعْجِيلِ الْقِيمَةِ لِيَتَعَجَّلَ بِهَا الْعِتْقَ

Dan jika dikatakan bahwa pembebasan budak itu tidak terjadi kecuali dengan membayar nilai (budak tersebut), maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai penilaian ini: apakah hukumnya seperti jual beli atau seperti penilaian barang yang telah dikonsumsi, terdapat dua pendapat. Salah satunya, yaitu pendapat al-Muzani dan sebagian ulama muta’akhkhirīn, bahwa itu adalah penilaian barang yang telah dikonsumsi. Maka berdasarkan pendapat ini, budak tersebut dinilai sebagaimana penilaian terhadap seorang Muslim, dan diambil dengan pembayaran nilai secara langsung agar pembebasan budak dapat segera terlaksana.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلٌ شَاذٌّ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ أَنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْبَيْعِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ جَوَازُ تَقْوِيمِهِ فِي حَقِّ الْكَافِرِ عَلَى قَوْلَيْنِ مِنَ ابْتِيَاعِ الْكَافِرِ لِعَبْدٍ مُسْلِمٍ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat syādz dari kalangan ulama muta’akhkhirīn, menyatakan bahwa hal itu diperlakukan seperti jual beli. Berdasarkan pendapat ini, kebolehan menaksir (menetapkan nilai) terhadap orang kafir terdapat dua pendapat, sebagaimana dalam masalah orang kafir membeli budak Muslim.

أَحَدُهُمَا يَبْطُلُ الْبَيْعُ وَيَبْطُلُ التَّقْوِيمُ وَيَكُونُ مِلْكُ رِقِّهِ بَاقِيًا عَلَى الشَّرِيكِ الْمُسْلِمِ

Salah satunya adalah batalnya jual beli dan batalnya penilaian, serta kepemilikan budak tetap berada pada sekutu Muslim.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَبْطُلُ الْبَيْعُ وَلَا يَبْطُلُ التَّقْوِيمُ وَيُعْتَقُ فِي حَقِّ الْكَافِرِ كَمَا يُعْتَقُ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ وَهَذَا أَظْهَرُهُمَا فِي التَّقْوِيمِ وَالْأَوَّلُ أَظْهَرُهُمَا فِي الْبَيْعِ لِإِفْضَاءِ التَّقْوِيمِ إِلَى العتق وإفضاء البيع إلى الملك

Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tidak batal dan penilaian (taqwīm) juga tidak batal, serta budak dimerdekakan baik dalam hak orang kafir maupun dalam hak orang muslim. Ini adalah pendapat yang paling kuat dalam masalah penilaian, sedangkan pendapat pertama adalah yang paling kuat dalam masalah jual beli, karena penilaian mengarah pada pembebasan (budak), sedangkan jual beli mengarah pada kepemilikan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا أَدَّى الْمُوسِرُ قِيمَتَهُ كَانَ لَهُ وَلَاؤُهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika orang yang mampu membayar telah menyerahkan nilainya, maka hak wala’ menjadi miliknya.”

قال الماوردي إنما يريد بيسار المعتق أَنْ يَكُونَ مَالِكًا لِقَدْرِ قِيمَةِ الْبَاقِي مِنْ رِقِّهِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ فِيهِ حَقٌّ لِغَيْرِهِ فَاضِلَةٍ عَنْ قُوتِهِ وَقُوتِ عِيَالِهِ فِي يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ وَسَوَاءٌ صَارَ بَعْدَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَقِيرًا أَوْ كَانَ غَنِيًّا

Al-Mawardi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan finansial (yisār) dari seorang mu‘tiq adalah ia memiliki harta sebesar nilai sisa budak yang masih dalam status perbudakan, dan tidak ada hak orang lain atas harta tersebut, serta harta itu melebihi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya untuk sehari semalam. Sama saja apakah setelah membayar nilai tersebut ia menjadi miskin atau tetap kaya.

فَإِذَا تَحَرَّرَ عَتَقَ بَاقِيَهُ بِدَفْعِ القيمة على الأوقاويل كُلِّهَا وَكَانَ لَهُ وَلَاءُ جَمِيعِهِ بِعِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ وَعِتْقِ السِّرَايَةِ وَاسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ بِهِمَا عَلَى سَوَاءٍ لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   وَالْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ   وَهُوَ مُعْتَقٌ بِالْمُبَاشَرَةِ وَالسِّرَايَةِ وَسَوَاءٌ تَمَاثَلَ الْعِتْقَانِ أَوْ تَفَاضَلَا وَأَنَّهُ يَسْرِي عِتْقُ الْيَسِيرِ إِلَى الْكَثِيرِ كَمَا يَسْرِي عِتْقُ الْكَثِيرِ إِلَى الْيَسِيرِ وَاعْتِبَارُ يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ وَقْتَ الْعِتْقِ

Maka apabila ia telah merdeka, sisanya dimerdekakan dengan membayar nilai (tebusan) menurut seluruh pendapat, dan ia berhak mendapatkan wala’ seluruhnya baik melalui pembebasan langsung maupun pembebasan karena sirāyah, serta berhak atas wala’ dari keduanya secara setara, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wala’ itu bagi orang yang memerdekakan.” Ia adalah orang yang memerdekakan baik secara langsung maupun karena sirāyah, baik kedua pembebasan itu sama maupun berbeda, dan sesungguhnya pembebasan bagian yang sedikit dapat menjalar kepada bagian yang banyak sebagaimana pembebasan bagian yang banyak dapat menjalar kepada bagian yang sedikit, dan yang menjadi pertimbangan adalah keadaan mampu atau tidaknya pada saat pembebasan.

فَلَوْ كَانَ مُوسِرًا وَقْتَ الْعِتْقِ مُعْسِرًا وَقْتَ التَّقْوِيمِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي بِاللَّفْظِ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيهِ حُدُوثُ اعْتِبَارِهِ وَكَانَتِ الْقِيمَةُ دَيْنًا عَلَيْهِ يُؤْخَذُ بِهَا إِذَا أَيْسَرَ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ لَا يَعْتِقُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ فَمَا لَمْ يُحَاكِمْهُ الشَّرِيكُ فِيهَا كَانَتْ حِصَّتُهُ عَلَى وَقْفِهَا وَإِنْ حَاكَمَهُ فِيهَا وَطَلَبَ الْقِيمَةَ أَوْ فَسَخَ الْوَقْفَ لِيَتَصَرَّفَ فِي حِصَّتِهِ كَشَفَ عَنْ حَالِ الْمُعْتِقِ فَإِذَا ثَبَتَ عِنْدَهُ إِعْسَارُهُ حُكِمَ بِفَسْخِ الْوَقْفِ كَمَا يُحْكَمُ لِلزَّوْجَةِ بِفَسْخِ النِّكَاحِ إِذَا أَعْسَرَ الزَّوْجُ وَجَازَ لِلشَّرِيكِ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي حِصَّتِهِ بِمَا شَاءَ مِنْ بَيْعٍ أَوْ غَيْرِهِ وَلَوْ كَانَ مُوسِرًا بِبَعْضِ الْحِصَّةِ مُعْسِرًا بِبَعْضِهَا عَتَقَ عَلَيْهِ مِنَ الْحِصَّةِ قَدْرُ مَا أَيْسَرَ بِقِيمَتِهِ وَكَانَ فِيمَا أَعْسَرَ به منها في حكم المعسر

Jika seseorang mampu secara finansial pada saat pembebasan budak, namun menjadi tidak mampu pada saat penilaian harga, maka jika dikatakan bahwa pembebasan budak berlaku dengan ucapan (lafaz), perubahan keadaan finansialnya tidak berpengaruh, dan nilai (budak) menjadi utang atas dirinya yang akan diambil darinya ketika ia mampu. Namun jika dikatakan bahwa pembebasan budak tidak terjadi kecuali setelah membayar nilai (budak), maka selama rekannya (pemilik saham lain) tidak menuntutnya di pengadilan, bagian miliknya tetap tertahan. Jika rekannya menuntutnya di pengadilan dan meminta nilai (budak) atau membatalkan penahanan agar dapat mengelola bagiannya, maka akan diperiksa keadaan orang yang membebaskan budak tersebut. Jika terbukti bahwa ia tidak mampu, maka diputuskan pembatalan penahanan sebagaimana diputuskan pembatalan nikah bagi istri jika suami tidak mampu, dan rekannya boleh mengelola bagiannya sesuai keinginannya, baik dengan menjual atau lainnya. Jika ia mampu atas sebagian bagian dan tidak mampu atas sebagian lainnya, maka yang merdeka dari bagian tersebut adalah sebesar yang ia mampu dengan nilainya, dan bagian yang ia tidak mampu tetap dalam hukum orang yang tidak mampu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا عَتَقَ نَصِيبُهُ وَكَانَ شَرِيكُهُ عَلَى مِلْكِهِ يَخْدِمُهُ يَوْمًا وَيَتْرُكُ لِنَفْسِهِ يَوْمًا فَمَا اكْتَسَبَ لِنَفْسِهِ فَهُوَ لُهْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika ia (pemilik budak) dalam keadaan tidak mampu (membayar), maka bagian miliknya menjadi merdeka, dan rekannya tetap memiliki bagian miliknya. Budak itu melayani rekannya selama satu hari, dan pada hari berikutnya ia bebas untuk dirinya sendiri. Maka apa yang ia peroleh untuk dirinya sendiri adalah menjadi miliknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَالْمُعْتَبَرُ بِإِعْسَارِهِ أَن لَا يَمْلِكَ قِيمَةَ الْحِصَّةِ الْبَاقِيَةِ لِشَرِيكِهِ وَلَا قِيمَةَ شَيْءٍ مِنْهَا وَقْتَ عِتْقِهِ فَإِنْ مَلَكَهَا وَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَدِ اسْتُحِقَّ فِيهَا يَصِيرُ بِاسْتِحْقَاقِهَا فِي الدَّيْنِ مُعْسِرًا بِهَا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, dan yang menjadi tolok ukur dalam keadaan tidak mampu adalah jika ia tidak memiliki nilai bagian yang tersisa milik rekannya, maupun nilai sebagian darinya, pada saat ia memerdekakan (budak tersebut). Jika ia memilikinya, namun ia memiliki utang yang telah jatuh tempo atas bagian tersebut, maka dengan jatuh temponya utang itu, ia menjadi tidak mampu terhadap bagian itu. Dalam hal ini terdapat dua keadaan.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ مُؤَجَّلًا لَا يَسْتَحِقُّ تَعْجِيلَهُ فَيَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْيَسَارِ فِي عِتْقِ الْحِصَّةِ عَلَيْهِ لِأَنَّ فِي يَدِهِ مَا هُوَ مُقَرٌّ عَلَى مِلْكِهِ

Salah satunya adalah apabila utang itu bersifat tangguh (mu’ajjāl) dan belum berhak untuk disegerakan pelunasannya, maka berlaku atasnya hukum orang yang mampu (yasar) dalam hal memerdekakan bagian (hishshah) atasnya, karena di tangannya terdapat sesuatu yang diakui sebagai miliknya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ حَالًّا فَفِيهِ قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الدَّيْنِ هَلْ يَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ الزَّكَاةِ فِي الْعَيْنِ

Jenis yang kedua adalah apabila utang itu jatuh tempo, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang berasal dari perbedaan dua pendapat beliau mengenai utang: apakah utang itu menghalangi kewajiban zakat atas harta atau tidak.

أَحَدُهُمَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْيَسَارِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الدَّيْنَ لَا يَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ الزَّكَاةِ فِي الْعَيْنِ

Salah satunya berlaku padanya hukum orang kaya jika dikatakan bahwa utang tidak menghalangi kewajiban zakat atas harta.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْإِعْسَارِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الدَّيْنَ يَمْنَعُ مِنْ وجوب الزَّكَاةِ فِي الْعَيْنِ فَإِذَا كَانَ مُعْسِرًا بِهَا نَفَذَ عِتْقُهُ فِي مِلْكِهِ وَلَمْ يَسْرِ إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ

Pendapat kedua menetapkan bahwa berlaku hukum al-i‘sār (ketidakmampuan membayar) jika dikatakan bahwa utang menghalangi kewajiban zakat atas harta tersebut. Maka, apabila seseorang tidak mampu membayar utang dengan harta itu, sah pembebasan budak (‘itq) yang dilakukannya atas bagian miliknya, dan tidak berlaku atas bagian milik rekannya.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ يَسْرِي عِتْقُهُ مَعَ إِعْسَارِهِ كَمَا يَسْرِي مَعَ يَسَارِهِ وَتَكُونُ الْقِيمَةُ دَيْنًا عَلَيْهِ يُؤْخَذُ بِهَا إِذَا أَيْسَرَ كَمَا يَسْرِي الطَّلَاقُ فِي الزَّوْجَةِ إِذَا طَلَّقَ بَعْضَهَا فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا لِاسْتِحَالَةِ أَنْ يَجْتَمِعَ طَلَاقٌ وَإِبَاحَةٌ كَذَلِكَ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَجْتَمِعَ حُرِّيَّةٌ وَرِقٌّ

Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa pembebasan budak itu berlaku baik ketika ia mampu maupun ketika ia tidak mampu, dan nilai budak tersebut menjadi utang atas dirinya yang akan diambil darinya ketika ia telah mampu, sebagaimana talak berlaku pada istri jika seseorang menalak sebagian dari dirinya dalam segala keadaan, karena mustahil berkumpul antara talak dan kebolehan (tetap sebagai istri), demikian pula mustahil berkumpul antara kemerdekaan dan perbudakan.

وَدَلِيلُنَا حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَقَدْ عَتَقَ فَأَعْتَقَ   وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِتَكْمِيلِ الْعِتْقِ رَفْعُ الضَّرَرِ عَنِ الشَّرِيكِ بِأَن لَا يَخْتَلِفَ حُكْمُ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فِي عَبْدِهِ الْمُشْتَرَكِ وَأَنْ يَصِيرَ الْعَبْدُ كَامِلَ التَّصَرُّفِ وَسِرَايَةُ الْعِتْقِ مَعَ إِعْسَارِ الْمُعْتِقِ أَعْظَمُ ضَرَرًا عَلَى الشَّرِيكِ مِنِ اسْتِبْقَاءِ رِقِّهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُرْفَعَ أَقَلُّ الضَّرَرَيْنِ بِأَعْظَمِهِمَا وَوَجَبَ أَنْ يُرْفَعَ أَعْظَمُهُمَا بِأَقَلِّهِمَا وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْعِتْقِ وَالطَّلَاقِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dalil kami adalah hadis Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika ia dalam keadaan tidak mampu (miskin), maka ia telah memerdekakan, maka hendaklah ia memerdekakan.” Karena tujuan dari penyempurnaan pemerdekaan (ʿitq) adalah untuk menghilangkan mudarat dari sekutu, yaitu agar tidak terjadi perbedaan hukum antara kebebasan dan perbudakan pada budak yang dimiliki bersama, serta agar budak tersebut menjadi sepenuhnya berhak bertindak. Penyebaran hukum pemerdekaan (sarayat al-ʿitq) ketika orang yang memerdekakan dalam keadaan tidak mampu justru menimbulkan mudarat yang lebih besar bagi sekutunya dibandingkan tetapnya status perbudakan. Maka tidak boleh menghilangkan mudarat yang lebih ringan dengan mudarat yang lebih besar, dan wajib menghilangkan mudarat yang lebih besar dengan mudarat yang lebih ringan. Perbedaan antara pemerdekaan (ʿitq) dan talak ada pada dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْصُلَ فِي الزَّوْجَةِ شِرْكٌ بَيْنَ زَوْجَيْنِ وَجَازَ أَنْ يَقَعَ فِي الرِّقِّ شِرْكٌ بَيْنَ مَالِكَيْنِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَبَعَّضَ الطَّلَاقُ وَجَازَ أَنْ يَتَبَعَّضَ الرِّقُّ

Salah satunya adalah bahwa ketika tidak diperbolehkan adanya kepemilikan bersama (syirk) antara dua suami atas seorang istri, sedangkan diperbolehkan adanya kepemilikan bersama (syirk) antara dua pemilik atas seorang budak, maka tidak diperbolehkan talak itu terbagi-bagi, sedangkan perbudakan boleh terbagi-bagi.

وَالثَّانِي أَنَّ طَلَاقَ بَعْضِ الزَّوْجَةِ يَمْنَعُ مِنَ الِاسْتِمْتَاعِ بِبَاقِيهَا وَعِتْقَ بَعْضِ الْعَبْدِ لَا يَمْنَعُ مِنَ اسْتِخْدَامِ بَاقِيهِ فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ حِصَّةَ الشَّرِيكِ بَاقِيَةٌ عَلَى رِقِّهَا بِإِعْسَارِ الْمُعْتِقِ فَقَالَ الْمُعْتِقُ أَنَا أَسْتَدِينُ وَأَقْتَرِضُ قِيمَةَ حِصَّةِ الشَّرِيكِ إِنْ حَدَثَ لَهُ يَسَارٌ بَعْدَ الْعِتْقِ كَانَ الشَّرِيكُ أَمْلَكَ بِحِصَّتِهِ ولم يؤخذ بإجابته

Kedua, bahwa talak terhadap sebagian istri mencegah untuk menikmati bagian sisanya, sedangkan memerdekakan sebagian budak tidak mencegah untuk menggunakan bagian sisanya. Maka jika telah tetap bahwa bagian milik rekan masih tetap dalam status budak karena ketidakmampuan orang yang memerdekakan, lalu orang yang memerdekakan berkata, “Saya akan berutang dan meminjam nilai bagian rekan,” jika setelah pemerdekaan orang itu menjadi mampu, maka rekan tersebut tetap lebih berhak atas bagiannya dan pendapat orang yang memerdekakan itu tidak diambil.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَبَعَّضَتْ فِي الْعَبْدِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ بِإِعْسَارِ مُعْتِقِهِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ يَخْدِمُ سَيِّدَهُ يَوْمًا وَيَتْرُكُ لِنَفْسِهِ يَوْمًا فَمَا اكْتَسَبَ فِيهِ فَهُوَ لَهُ فَأَجْرَى عَلَيْهِ حُكْمَ الْمُهَايَأَةِ

Apabila dalam diri seorang budak terdapat sebagian kebebasan dan sebagian perbudakan karena ketidakmampuan orang yang memerdekakannya, maka menurut pendapat asy-Syafi‘i, ia melayani tuannya satu hari dan menggunakan satu hari untuk dirinya sendiri. Apa yang ia peroleh pada hari itu menjadi miliknya. Dengan demikian, diterapkan padanya hukum muhayā’ah (pembagian waktu secara bergiliran).

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّ الْمُهَايَأَةَ كَانَتْ مُتَقَدِّمَةً بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ فَلَمَّا أَعْتَقَ أَحَدُهُمَا حِصَّتَهُ أُجْرِيَ الْعَبْدُ بَعْدَ الْعِتْقِ لِبَعْضِهِ عَلَيْهَا وَلَوْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ فِيهَا مُهَايَأَةٌ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَأْنِفَهَا بَعْدَ الْعِتْقِ مَعَ الشَّرِيكِ الْبَاقِي لِنُقْصَانِ تَصَرُّفِهِ

Salah satunya adalah bahwa muhayā’ah telah dilakukan sebelumnya antara dua orang sekutu, maka ketika salah satu dari mereka memerdekakan bagiannya, budak tersebut setelah merdeka tetap dijalankan muhayā’ah atas sebagian dirinya. Namun, jika antara kedua sekutu itu sebelumnya tidak ada muhayā’ah, maka tidak boleh memulainya setelah merdeka bersama sekutu yang tersisa, karena kurangnya kewenangan dalam bertindak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يُقِيمَ عَلَى الْمُهَايَأَةِ الْمُتَقَدِّمَةَ وَيَجُوزَ أَنْ يَسْتَأْنِفَهَا مَعَ الشَّرِيكِ الثَّانِي لِأَنَّ تَصَرُّفَهُ بِالْحُرِّيَّةِ كَامِلٌ فِي حَقِّهِ مِنَ الْكَسْبِ

Adapun pendapat kedua, boleh baginya untuk tetap melanjutkan muhayā’ah yang telah dilakukan sebelumnya, dan boleh juga memulainya kembali bersama mitra yang kedua, karena haknya dalam bertindak secara bebas atas bagian keuntungannya adalah sempurna.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إِنْ كَانَ لَهُ كَسْبٌ مَأْلُوفٌ بِصِنَاعَةٍ مَعْرُوفَةٍ يَتَمَاثَلُ فِيهَا كَسْبُ أَيَّامِهِ كُلِّهَا جَازَ أَنْ يَسْتَأْنِفَهَا مَعَ الشَّرِيكِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ كَسْبٌ مَأْلُوفٌ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَأْنِفَهَا مَعَهُ وَإِنْ جَازَ ذَلِكَ لِلشَّرِيكَيْنِ فِي الْحَالَيْنِ لِأَنَّهُمَا قَدْ يَعْدِلَانِ عِنْدَ عَدَمِ الْكَسْبِ إِلَى الِاسْتِخْدَامِ وَلَيْسَ الْعَبْدُ كَذَلِكَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ عِنْدَ تَعَذُّرِ كَسْبِهِ

Pendapat ketiga: Jika seseorang memiliki penghasilan tetap dari suatu pekerjaan yang dikenal, di mana penghasilannya setiap hari serupa, maka boleh baginya untuk memulai pekerjaan itu bersama mitranya. Namun, jika ia tidak memiliki penghasilan tetap, maka tidak boleh baginya untuk memulai pekerjaan itu bersama mitranya. Adapun bagi dua orang mitra, keduanya boleh melakukannya dalam kedua keadaan tersebut, karena ketika tidak ada penghasilan, keduanya dapat beralih kepada pekerjaan lain. Sedangkan seorang budak tidak demikian halnya terhadap dirinya sendiri ketika ia tidak mampu memperoleh penghasilan.

فَإِذَا صَحَّتِ الْمُهَايَأَةُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ فَهِيَ مِنَ الْعُقُودِ الْجَائِزَةِ دُونَ اللَّازِمَةِ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَسْخُهَا مَتَى شَاءَ وَإِذَا كَانَا مُقِيمَيْنِ عَلَيْهَا يَوْمًا لِلْعَبْدِ وَيَوْمًا لِلسَّيِّدِ دَخَلَ فِيهَا مَأْلُوفُ الْكَسْبِ وَمَأْلُوفُ النَّفَقَةِ فَاخْتُصَّ الْعَبْدُ بِمَا كَسَبَهُ فِي يَوْمِهِ وَيُحْمَلُ فِيهِ مَا لَزِمَهُ مِنْ نَفَقَتِهِ وَاخْتُصَّ السَّيِّدُ فِي يَوْمِهِ بِمَا كَسَبَ الْعَبْدُ وَيُحْمَلُ فِيهِ مَا لَزِمَهُ مِنْ نَفَقَتِهِ

Apabila muhayā’ah telah sah menurut tiga bentuk yang telah kami sebutkan, maka ia termasuk akad yang boleh (jā’iz) dan bukan akad yang mengikat (lāzim). Masing-masing pihak berhak membatalkannya kapan saja ia kehendaki. Jika keduanya menjalankan muhayā’ah dengan pembagian satu hari untuk budak dan satu hari untuk tuan, maka yang termasuk di dalamnya adalah hasil usaha yang biasa dan nafkah yang biasa. Maka budak berhak atas apa yang ia peroleh pada harinya, dan ia menanggung nafkah yang menjadi kewajibannya pada hari itu. Sedangkan tuan berhak atas apa yang diperoleh budak pada hari tuannya, dan ia menanggung nafkah yang menjadi kewajibannya pada hari itu.

فَأَمَّا غَيْرُ الْمَأْلُوفِ مِنَ الْكَسْبِ كَالْكَنْزِ وَاللُّقَطَةِ وَغَيْرُ الْمَأْلُوفِ مِنَ النَّفَقَةِ كَزَكَاةِ الْفِطْرِ فَفِي دُخُولِهَا فِي الْمُهَايَأَةِ وَجْهَانِ

Adapun penghasilan yang tidak lazim seperti harta simpanan (kanz), barang temuan (luqathah), dan pengeluaran yang tidak lazim seperti zakat fitrah, maka terdapat dua pendapat mengenai masuknya hal-hal tersebut dalam muhayā’ah.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ أَنَّهُمَا دَاخِلَانِ فِي الْمُهَايَأَةِ كَالْمَأْلُوفِ مِنْهَا فَإِنْ كَانَا فِي يَوْمِ الْعَبْدِ اخْتُصَّ بِالْكَنْزِ وَاللُّقَطَةِ وَتَحَمُّلِ زَكَاةِ الْفِطْرِ وَإِنْ كَانَا فِي يَوْمِ السَّيِّدِ اخْتُصَّ بِذَلِكَ دُونَ الْعَبْدِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i dan pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri, menyatakan bahwa keduanya (harta simpanan dan barang temuan) termasuk dalam pembagian giliran (al-muhāya’ah) sebagaimana yang lazim berlaku di dalamnya. Maka jika keduanya berada pada hari giliran budak, maka budaklah yang berhak atas harta simpanan, barang temuan, dan menanggung zakat fitrah. Namun jika keduanya berada pada hari giliran tuan, maka tuanlah yang berhak atas hal tersebut tanpa melibatkan budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُمَا لَا يَدْخُلَانِ فِي الْمُهَايَأَةِ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ هَذَا فِي زَمَانِ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ فَلَا يَتَسَاوَيَانِ فِيهِ وَيَكُونُ حُدُوثُ ذَلِكَ فِي زَمَانِ أَحَدِهِمَا مُوجِبًا لِأَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا وَإِنْ كَانَ مَا عَدَاهُمَا مِنَ المألوف جاريا على المهايأة

Pendapat kedua, yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa keduanya tidak termasuk dalam muhayā’ah, karena bisa jadi hal itu terjadi pada masa salah satu dari mereka saja, bukan pada yang lain, sehingga keduanya tidak setara dalam hal tersebut. Terjadinya hal itu pada masa salah satu dari mereka menyebabkan adanya perbedaan di antara keduanya, meskipun selain itu dari hal-hal yang biasa telah berjalan sesuai dengan muhayā’ah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ مَاتَ وَلَهُ وَارِثٌ وَرِثَهُ بِقَدْرِ وَلَائِهِ فَإِنْ مَاتَ لَهُ مُوَرِّثٌ لَمْ يَرِثْ مِنْهُ شَيْئًا قَالَ الْمُزَنِيُّ الْقِيَاسُ أَنْ يَرِثَ مِنْ حيث يورث وقد قال الشافعي إِنَّ النَّاسَ يَرِثُونَ مِنْ حَيْثُ يُوَرَّثُونَ وَهَذَا وَذَاكَ فِي الْقِيَاسِ سَوَاءٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang meninggal dunia dan ia memiliki ahli waris, maka ahli waris tersebut mewarisinya sesuai kadar wala’-nya. Namun, jika orang yang memiliki wala’ tersebut meninggal dunia dan ia memiliki pewaris, maka ia tidak mewarisi sedikit pun darinya.” Al-Muzani berkata: “Menurut qiyās, seharusnya ia mewarisi dari orang yang darinya ia diwarisi.” Dan Imam Syafi‘i berkata: “Sesungguhnya manusia mewarisi dari orang yang darinya mereka diwarisi, dan dalam hal ini, menurut qiyās, keduanya sama saja.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ المسألة فيمن عتق بَعْضهُ وَرقَّ بَعْضهُ هَلْ يَرِثُ وَيُورَثُ وَهُمَا فَصْلَانِ

Al-Mawardi berkata: “Masalah ini berkaitan dengan seseorang yang sebagian dirinya merdeka dan sebagian lainnya masih berstatus budak, apakah ia dapat mewarisi dan diwarisi; dan kedua hal ini merupakan dua pembahasan tersendiri.”

أَحَدُهُمَا هَلْ يَرِثُ إِذَا مَاتَ لَهُ موروث أم لا وفي بَيْنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ خِلَافٌ مَحْكِيٌّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يَرِثُ كَالْحُرِّ مِيرَاثًا كَامِلًا وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَحُكِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ إنَّهُ يَرِثُ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنَ الْحُرِّيَّةِ وَيُحْجَبُ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنَ الرِّقِّ وَبِهِ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَعُثْمَانُ الْبَتِّيُّ وَذَهَبَ بَقِيَّةُ الصَّحَابَةِ وَجُمْهُورُ التَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَرِثُ إِذَا كَانَ فِيهِ جُزْءٌ مِنَ الرِّقِّ وَإِنْ قَلَّ لِأَنَّهُ لَمَّا جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الرِّقِّ فِيمَا سِوَى الْمِيرَاثِ مِنْ نِكَاحِهِ وَطَلَاقِهِ وَوِلَايَتِهِ وَشَهَادَتِهِ جَرَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الرِّقِّ فِي مِيرَاثِهِ وَلِأَنَّ الرِّقَّ مَانِعٌ مِنَ الْمِيرَاثِ فَإِذَا لَمْ يَزُلِ الرِّقُّ لَمْ يَزُلْ مَانِعُ الْمِيرَاثِ قَالَ الْمُزَنِيُّ الْقِيَاسُ أَنْ يَرِثَ مِنْ حَيْثُ يُوَرَّثُ

Salah satu permasalahan adalah apakah ia mewarisi jika ada pewaris yang meninggal dunia atau tidak. Di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum terdapat perbedaan pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia mewarisi seperti orang merdeka dengan warisan yang sempurna, dan pendapat ini dipegang oleh Abu Yusuf dan Muhammad. Diriwayatkan dari ‘Ali ‘alaihis salam bahwa ia mewarisi sesuai kadar kemerdekaan yang ada padanya dan terhalang sesuai kadar perbudakan yang ada padanya, dan pendapat ini dipegang oleh al-Muzani dan ‘Utsman al-Batti. Adapun mayoritas sahabat, jumhur tabi‘in, dan para fuqaha berpendapat bahwa ia tidak mewarisi jika masih terdapat bagian perbudakan pada dirinya, meskipun sedikit, karena ketika hukum-hukum perbudakan berlaku atasnya dalam hal selain warisan, seperti pernikahan, talak, perwalian, dan kesaksiannya, maka hukum-hukum perbudakan juga berlaku atasnya dalam warisan. Selain itu, perbudakan merupakan penghalang dari warisan, maka jika perbudakan belum hilang, penghalang warisan pun belum hilang. Al-Muzani berkata, qiyās-nya adalah ia mewarisi sebagaimana ia dapat diwarisi.

قِيلَ قَدْ يُوَرَّثُ مَنْ لَا يَرِثُ كَالْجَنِينِ يُوَرَّثُ وَلَا يَرِثُ وَالْعَمَّةُ تُوَرَّثُ وَلَا تَرِثُ وَالْجَدَّةُ أُمُّ الْأُمِّ تَرِثُ وَلَا تُوَرَّثُ فَلَمْ يَكُنْ هَذَا قِيَاسًا مُسْتَمِرًّا فِي غَيْرِ الْمُعْتَقِ بَعْضُهُ فَلَمْ يَلْزَمْ فِي الْمُعْتَقِ بَعْضُهُ

Dikatakan bahwa terkadang seseorang dapat diwarisi meskipun ia sendiri tidak mewarisi, seperti janin yang dapat diwarisi tetapi tidak mewarisi, atau bibi yang dapat diwarisi tetapi tidak mewarisi, dan nenek dari pihak ibu yang mewarisi tetapi tidak diwarisi. Maka, hal ini bukanlah qiyās yang berlaku secara konsisten pada selain mu‘taq ba‘ḍuh (orang yang dimerdekakan sebagian), sehingga tidak wajib diterapkan pada mu‘taq ba‘ḍuh.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ النَّاسُ يَرِثُونَ مِنْ حَيْثُ يُوَرَّثُونَ قِيلَ لَهُ لَمْ يَقُلْهُ الشَّافِعِيُّ تَعْلِيلًا عَامًّا فَيَجْعَلُهُ قِيَاسًا مُسْتَمِرًّا وَإِنَّمَا قَالَهُ رَدًّا عَلَى مَنْ أَلْحَقَ الْوَلَدَ بِمَاءِ أَبِيهِ وَلَمْ يُوَرِّثْ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِيرَاثَ أَبٍ وَوَرَّثَ الْوَلَدَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِيرَاثَ ابْنٍ فَقَالَ النَّاسُ يَرِثُونَ مِنْ حَيْثُ يُوَرَّثُونَ؛ لِأَنَّهُ كَمل النَّسَبِ وَلَمْ يكْملِ الْمِيرَاثُ فَتَوَجَّهَ الرَّدُّ بِهِ لِلشَّافِعِيِّ وَلَمْ يَتَوَجَّهِ الرَّدُّ بِهِ للمزني

Jika dikatakan, “Sesungguhnya asy-Syafi‘i berkata: ‘Manusia mewarisi dari tempat mereka diwarisi,’” maka dijawab kepadanya: Asy-Syafi‘i tidak mengatakannya sebagai alasan umum sehingga menjadikannya sebagai qiyās yang terus-menerus, melainkan ia mengatakannya sebagai bantahan terhadap orang yang menyamakan anak dengan air mani ayahnya dan tidak mewariskan kepada masing-masing dari mereka warisan sebagai ayah, serta mewariskan kepada anak dari masing-masing mereka warisan sebagai anak. Maka asy-Syafi‘i berkata, “Manusia mewarisi dari tempat mereka diwarisi,” karena nasab telah sempurna namun warisan belum sempurna, sehingga bantahan itu tepat diarahkan kepada asy-Syafi‘i dan tidak tepat diarahkan kepada al-Muzani.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا مَاتَ هَذَا الَّذِي تَبَعَّضَتْ فِيهِ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ هَلْ يُوَرَّثُ أَمْ لَا

Dan apabila orang yang di dalam dirinya terdapat sebagian kebebasan dan sebagian perbudakan itu meninggal dunia, apakah ia dapat diwarisi atau tidak?

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ لَا يُوَرَّثُ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَيَكُونُ مَالُهُ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَرِثْ بِحُرَّيَّتِهِ لَمْ يُوَرَّثْ بِهَا وَقَالَ فِي الْجَدِيدِ يَكُونُ مَوْرُوثًا عَنْهُ لِوَرَثَتِهِ دُونَ سَيِّدِ رِقِّهِ لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا يَمْلِكُ ذَلِكَ عَنْهُ فِي حَيَاتِهِ فَلَمْ يَمْلِكْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Syafi‘i dalam pendapat lama berpendapat bahwa ia tidak diwarisi, dan ini juga merupakan pendapat Malik, sehingga hartanya menjadi milik tuannya. Sebab, jika ia tidak mewarisi karena kemerdekaannya, maka ia juga tidak diwarisi karenanya. Namun dalam pendapat baru, Syafi‘i berpendapat bahwa ia dapat diwarisi oleh ahli warisnya, bukan oleh tuan yang memilikinya sebagai budak, karena tuan tidak memiliki hak atas harta tersebut selama ia masih hidup, maka ia juga tidak memilikinya setelah kematiannya.

وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ ثَالِثٍ يَكُونُ مَالُهُ بَيْنَ وَرَثَتِهِ وَسَيِّدِ رِقِّهِ بِقَدْرِ حُرِّيَّتِهِ وَرِقِّهِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذِهِ النُّصُوصِ الثَّلَاثَةِ فَكَانَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ فِي طَائِفَةٍ يُخَرِّجُونَ هَذِهِ النُّصُوصِ الثَّلَاثَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Dan ia berkata pada tempat yang ketiga: Hartanya dibagi antara para ahli warisnya dan tuan yang memilikinya sesuai dengan kadar kemerdekaan dan perbudakannya. Maka para sahabat kami berbeda pendapat mengenai tiga nash ini. Abu Ishaq al-Marwazi bersama sekelompok ulama menafsirkan tiga nash ini dengan tiga pendapat.

أَحَدُهَا تَكُونُ لِسَيِّدِهِ دُونَ وَرَثَتِهِ

Salah satunya adalah bahwa hak tersebut menjadi milik tuannya saja, bukan milik para ahli warisnya.

وَالثَّانِي تَكُونُ لِوَرَثَتِهِ دُونَ سَيِّدِهِ

Yang kedua, menjadi milik ahli warisnya tanpa termasuk tuannya.

وَالثَّالِثُ تَكُونُ بَيْنَهُمَا تُوَرَّثُ عَنْهُ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنَ الْحُرِّيَّةِ وَيَكُونُ لِلسَّيِّدِ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنَ الرِّقِّ تَعْلِيلًا بِمَا ذَكَرْنَاهُ

Ketiga, jika terdapat bagian antara keduanya, maka ia diwarisi darinya sesuai dengan kadar kebebasan yang ada padanya, dan menjadi milik tuannya sesuai dengan kadar perbudakan yang ada padanya, berdasarkan alasan yang telah kami sebutkan.

وَكَانَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَطَائِفَةٌ مِنْ بَعْضِ الْبَصْرِيِّينَ يَمْتَنِعُونَ مِنْ تَخْرِيجِ هَذِهِ النُّصُوصِ عَلَى اخْتِلَافِ الْأَقَاوِيلِ وَيَحْمِلُونَهَا عَلَى اخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ أَنَّهُ يَكُونُ لِسَيِّدِهِ فَإِذَا كَانَ قَدْ مَاتَ فِي زَمَانِ سَيِّدِهِ وَقَدِ اسْتُهْلِكَ مَا كَانَ قَدْ مَلَكَهُ بِحُرِيَّتِهِ يَكُونُ مَالُهُ لِسَيِّدِهِ دُونَ وَرَثَتِهِ وَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ أَنَّهُ يَكُونُ لِوَرَثَتِهِ إِذَا كَانَ قَدْ مَاتَ فِي زَمَانِ نَفْسِهِ وَقَدْ أَخَذَ السَّيِّدُ مَا مَلَكَهُ عند برقه فَيَكُونُ مَالُهُ لِوَرَثَتِهِ دُونَ سَيِّدِهِ وَيَكُونُ بَيْنَهُمَا إِذَا كَانَ غَيْرَ مُهَايَأَةٍ وَفِي يَدِهِ مَالٌ بِالْحَقَّيْنِ كَانَ بَيْنَ الْوَرَثَةِ وَالسَّيِّدِ مِيرَاثًا بِالْحُرِّيَّةِ وَمِلْكًا بِالرِّقِّ

Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dan sekelompok ulama Basrah menolak untuk mengaitkan nash-nash ini dengan perbedaan pendapat, dan mereka memaknainya berdasarkan perbedaan keadaan. Pendapat yang dinyatakan adalah bahwa harta itu menjadi milik tuannya; maka jika ia (budak) meninggal pada masa tuannya dan harta yang ia miliki telah habis karena kemerdekaannya, maka hartanya menjadi milik tuannya, bukan ahli warisnya. Adapun pendapat yang dinyatakan bahwa hartanya menjadi milik ahli warisnya adalah jika ia meninggal pada masa dirinya sendiri dan tuannya telah mengambil apa yang ia miliki menurut pendapat Barqah, maka hartanya menjadi milik ahli warisnya, bukan milik tuannya. Jika tidak ada pembagian (muhayā’ah) dan di tangannya terdapat harta karena dua hak, maka harta itu menjadi warisan di antara ahli waris dan tuannya: sebagai warisan karena kemerdekaan dan sebagai milik karena status budak.

وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ يَكُونُ جَمِيعُ مَا يُخَلِّفُهُ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا بِالْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ مُنْتَقِلًا إِلَى بَيْتِ الْمَالِ لَا يَمْلِكُهُ السَّيِّدُ لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُ فِي حُرِّيَّتِهِ وَلَا يَسْتَحِقُّهُ الْوَرَثَةُ لِبَقَاءِ أَحْكَامِ رِقِّهِ فَكَانَ بَيْتُ الْمَالِ أَوْلَى الْجِهَاتِ بِاسْتِحْقَاقِهِ

Abu Sa‘id al-Ishthakhri berkata, “Segala sesuatu yang ditinggalkan (sebagai warisan) oleh seseorang dalam seluruh keadaannya, baik dalam keadaan merdeka maupun budak, semuanya berpindah kepada Baitul Mal. Hal itu tidak dimiliki oleh tuannya karena ia tidak memiliki hak atas kemerdekaannya, dan para ahli waris pun tidak berhak atasnya karena hukum-hukum perbudakannya masih tetap berlaku. Maka, Baitul Mal adalah pihak yang paling berhak untuk memilikinya.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ لَا تَكُونُ نَفْسٌ وَاحِدَةٌ بَعْضُهَا عَبْدًا وَبَعْضُهَا حُرًّا كَمَا لَا تَكُونُ امْرَأَةٌ بَعْضُهَا طَالِقًا وَبَعْضُهَا غَيْرَ طَالِقٍ قِيلَ لَهُ أَتَتَزَوَّجُ بَعْضَ امْرَأَةٍ كَمَا تَشْتَرِي بَعْضَ عَبْدٍ أَوْ تُكَاتِبُ الْمَرْأَةَ كَمَا تُكَاتِبَ الْعَبْدَ أَوْ يَهَبُ امْرَأَتَهُ كَمَا يَهَبُ عَبْدَهُ فَيَكُونُ الْمَوْهُوبُ لَهُ مَكَانَهُ قَالَ لَا قِيلَ فَمَا أَعْلَمُ شَيْئًا أَبْعَدَ مِنَ الْعَبْدِ مِمَّا قِسْتَهُ عَلَيْهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ada yang berkata, “Tidak mungkin satu jiwa (seseorang) sebagian darinya adalah budak dan sebagian lainnya merdeka, sebagaimana tidak mungkin seorang perempuan sebagian dirinya tertalak dan sebagian lainnya tidak tertalak,” maka dijawab kepadanya: “Apakah engkau dapat menikahi sebagian dari seorang perempuan sebagaimana engkau dapat membeli sebagian dari seorang budak? Ataukah engkau dapat melakukan mukātabah terhadap perempuan sebagaimana engkau melakukan mukātabah terhadap budak? Ataukah seseorang dapat menghadiahkan istrinya sebagaimana ia menghadiahkan budaknya, sehingga yang diberi hadiah dapat menggantikan posisinya?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka dikatakan kepadanya, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih jauh perbedaannya dari budak dibandingkan dengan apa yang engkau jadikan sebagai qiyās atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَصَدَ الشَّافِعِيُّ بِهَذَا أَبَا حَنِيفَةَ وَابْنَ أَبِي لَيْلَى فِي وُجُوبِ السِّعَايَةِ حِينَ مَنَعَا أَنْ تَكُونَ نَفْسٌ وَاحِدَةٌ بَعْضُهَا حُرٌّ وَبَعْضُهَا مَمْلُوكٌ لِأَنَّ مَنْ مَنَعَ مِنَ اجْتِمَاعِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ أَوْجَبَ السِّعَايَةَ وَمِنْ جَوَّزَ اجْتِمَاعَهُمَا لَمْ يُوجِبْهَا؛ وَالشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ لَا يَمْنَعَانِ مِنِ اجْتِمَاعِهِمَا فَلِذَلِكَ لَمْ يُوجِبَا السِّعَايَةَ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى مَنَعَا مِنِ اجْتِمَاعِهِمَا؛ فَلِذَلِكَ أَوْجَبَا السِّعَايَةَ وَكَانَ مِنْ دَلِيلِهِمْ عَلَى الْمَنْعِ مِنَ اجْتِمَاعِهِمَا شَيْئَانِ أَوْرَدَ الشَّافِعِيُّ أَحَدَهُمَا وَانْفَصَلَ عَنْهُ وَأَعْرَضَ عَنِ الْآخَرِ لِأَنَّهُ أَضْعَفُ منه

Al-Mawardi berkata, “Yang dimaksud oleh al-Syafi‘i dengan hal ini adalah Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila dalam kewajiban sa‘yah, ketika keduanya melarang adanya satu jiwa yang sebagian merdeka dan sebagian lagi budak. Sebab, siapa yang melarang berkumpulnya status merdeka dan budak pada satu orang, maka ia mewajibkan sa‘yah; dan siapa yang membolehkan berkumpulnya keduanya, maka ia tidak mewajibkannya. Al-Syafi‘i dan Malik tidak melarang berkumpulnya keduanya, sehingga mereka tidak mewajibkan sa‘yah. Sedangkan Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila melarang berkumpulnya keduanya, sehingga mereka mewajibkan sa‘yah. Di antara dalil mereka untuk melarang berkumpulnya keduanya ada dua hal; al-Syafi‘i menyebutkan salah satunya, lalu membantahnya dan berpaling dari yang lain karena dalil yang kedua itu lebih lemah.”

فأما الذي أورده الشافعي أنْ قَالُوا لَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ نَفْسٌ وَاحِدَةٌ بَعْضُهَا حُرٌّ وَبَعْضُهَا رِقٌّ لِتَنَافِي أَحْكَامِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ بَعْضُهَا طَالِقٌ وَبَعْضُهَا غَيْرُ طَالِقٍ لِتَنَافِي أَحْكَامِ الزَّوْجِيَّةِ وَالطَّلَاقِ فَانْفَصَلَ الشَّافِعِيُّ عَنْهُ بِالْفَرْقِ الْمَانِعِ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ الزَّوْجَةِ وَالْعَبْدِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun apa yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i, yaitu bahwa mereka berkata: “Tidak boleh ada satu jiwa yang sebagian darinya merdeka dan sebagian lagi budak, karena bertentangan antara hukum-hukum kemerdekaan dan perbudakan, sebagaimana tidak boleh ada seorang wanita yang sebagian dirinya talak dan sebagian lagi tidak talak, karena bertentangan antara hukum-hukum pernikahan dan talak.” Maka asy-Syafi‘i menjawabnya dengan perbedaan yang mencegah penggabungan antara istri dan budak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الِاشْتِرَاكَ فِي الْعَبْدِ بِأَنْ يَمْلِكَهُ جَمَاعَةٌ يَجُوزُ لِأَنَّ الرِّقَّ يَجُوزُ أَنْ يَتَبَعَّضَ وَالِاشْتِرَاكَ فِي الزَّوْجَةِ بِأَنْ يَتَزَوَّجَهَا جَمَاعَةٌ لَا يَجُوزُ لِأَنَّ النِّكَاحَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَبَعَّضَ فَلِذَلِكَ جَازَ أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ بَعْضُهُ حُرٌّ وَبَعْضُهُ مَمْلُوكٌ لِأَنَّ رِقَّهُ يَتَبَعَّضُ في مالكيته فَيَتَبَعَّضُ فِي أَحْكَامِهِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ الزَّوْجَةُ الْوَاحِدَةُ بَعْضُهَا طَالِقٌ وَبَعْضُهَا غَيْرُ طَالِقٍ لِأَنَّ نِكَاحَهَا لَا يَتَبَعَّضُ فِي الْأَزْوَاجِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَبَعَّضَ فِي أَحْكَامِهِ

Salah satunya adalah bahwa kepemilikan bersama atas seorang budak, yaitu dimiliki oleh sekelompok orang, diperbolehkan karena status perbudakan dapat terbagi-bagi. Sedangkan kepemilikan bersama atas seorang istri, yaitu dinikahi oleh sekelompok orang, tidak diperbolehkan karena pernikahan tidak dapat terbagi-bagi. Oleh karena itu, boleh saja seorang budak sebagian dirinya merdeka dan sebagian lagi masih berstatus milik, karena status perbudakannya dapat terbagi dalam kepemilikannya, sehingga terbagi pula dalam hukum-hukumnya. Sementara tidak boleh seorang istri, sebagian dirinya berstatus talak dan sebagian lagi tidak, karena pernikahannya tidak dapat terbagi dalam suami-suaminya, sehingga tidak boleh pula terbagi dalam hukum-hukumnya.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي أَنَّ الْعَبْدَ مَمْلُوكٌ يَجُوزُ أَنْ يُبَاعَ وَيُورَثَ وَيُوهَبَ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ الْمِلْكُ وَالْمِلْكُ يَجُوزُ أَنْ يَتَبَعَّضَ وَالزَّوْجَةُ غَيْرُ مَمْلُوكَةٍ لَا يَجُوزُ أَنْ تُبَاعَ وَلَا تُوهَبَ وَلَا تُورَثَ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهَا الِاسْتِمْتَاعُ وَالِاسْتِمْتَاعُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَبَعَّضَ

Perbedaan kedua adalah bahwa budak merupakan milik yang boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan, karena tujuan dari kepemilikan budak adalah untuk dimiliki, dan kepemilikan itu boleh terbagi-bagi. Sedangkan istri bukanlah milik, sehingga tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan, karena tujuan dari istri adalah untuk mendapatkan kenikmatan (istimtā‘), dan kenikmatan tersebut tidak boleh terbagi-bagi.

وَأَمَّا الثَّانِي مِنِ اسْتِدْلَالِهِمُ الَّذِي أَعْرَضَ عَنْهُ الشَّافِعِيُّ أَنْ قَالُوا الْإِيمَانُ أَصْلٌ لِلْحُرِّيَّةِ وَالْكُفْرُ أَصْلٌ لِلرِّقِّ فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْتَمِعَ الْإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِي النَّفْسِ الْوَاحِدَةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ تَجْتَمِعَ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ فِي النَّفْسِ الْوَاحِدَةِ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun dalil kedua dari mereka yang diabaikan oleh asy-Syafi‘i, yaitu pernyataan mereka bahwa iman adalah asal dari kebebasan dan kufur adalah asal dari perbudakan. Maka, ketika tidak mungkin iman dan kufur berkumpul dalam satu jiwa, tidak mungkin pula kebebasan dan perbudakan berkumpul dalam satu jiwa. Ini adalah pendapat yang rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَيْسَ الْكُفْرُ مُوجِبًا لِلرِّقِّ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ الْكَافِرُ حُرًّا وَلَا الْإِيمَانُ مُوجِبًا لِلْحُرِّيَّةِ لِأَنَّهُ قد يكون المؤمن مسترقا وإنما كان سَبَبًا لَهُمَا يَزُولَانِ مَعَ بَقَائِهِمَا

Salah satunya adalah bahwa kekufuran bukanlah penyebab yang mewajibkan perbudakan, karena bisa saja seorang kafir itu merdeka, dan keimanan juga bukanlah penyebab yang mewajibkan kemerdekaan, karena bisa saja seorang mukmin itu menjadi budak. Hanya saja, keduanya (kekufuran dan keimanan) merupakan sebab yang dapat hilang sementara keduanya (perbudakan dan kemerdekaan) tetap ada.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَطْرَأَ الْإِيمَانُ عَلَى رِقٍّ ثَابِتٍ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَطْرَأَ الْإِيمَانُ عَلَى كُفْرٍ ثَابِتٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْتَمِعَ الإيمان الكفر وَجَازَ أَنْ يَجْتَمِعَ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Kedua, karena dimungkinkan iman muncul pada status budak yang tetap, namun tidak dimungkinkan iman muncul pada kekufuran yang tetap, maka tidak mungkin iman dan kufur berkumpul, sedangkan kebebasan dan perbudakan dimungkinkan untuk berkumpul. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَعْتَقَ شَرِيكَانِ لِأَحَدِهِمَا النِّصْفُ وَلِلْآخَرِ السُدُسُ مَعًا أَوْ وَكَّلَا رَجُلًا فَأَعْتَقَ عَنْهُمَا مَعًا كَانَ عَلَيْهِمَا قِيمَةُ الْبَاقِي لِشَرِيكَيْهِمَا سَوَاءً لَا أَنْظُرُ إِلَى كَثِيرِ الْمِلْكِ وَلَا قَلِيلِهِ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا يقْضِي لِأَحَدِ قَوْلَيْهِ فِي الشُفْعَةِ أَنَّ مَنْ لَهُ كَثِيرُ مِلْكٍ وَقَلِيلُهُ فِي الشُّفْعَةِ سَوَاءٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika dua orang yang berserikat, salah satunya memiliki setengah dan yang lain memiliki sepertiga, lalu keduanya memerdekakan (budak) secara bersamaan, atau keduanya mewakilkan kepada seseorang lalu orang itu memerdekakan (budak) atas nama keduanya secara bersamaan, maka wajib atas mereka berdua membayar nilai bagian yang tersisa kepada kedua rekan mereka secara sama rata. Aku tidak membedakan antara kepemilikan yang banyak maupun yang sedikit.” Al-Muzani berkata: “Ini sesuai dengan salah satu pendapat beliau dalam masalah syuf‘ah, bahwa siapa pun yang memiliki bagian banyak atau sedikit dalam syuf‘ah, hukumnya sama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ مُشْتَرَكٍ بَيْنَ ثَلَاثَةٍ لِأَحَدِهِمْ نَصِفُهُ وَلِلْآخَرِ ثُلُثُهُ وَلِلْآخَرِ سُدُسُهُ وَأَعْتَقَ صَاحِبًا النِّصْفِ وَالسُّدُسِ حَقَّهُمَا مَعًا وَاجْتِمَاعُهُمَا عَلَيْهِ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أوجه

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang budak yang dimiliki bersama oleh tiga orang; salah satu dari mereka memiliki setengahnya, yang lain memiliki sepertiganya, dan yang lainnya memiliki seperenamnya. Kemudian pemilik setengah dan pemilik seperenam membebaskan bagian mereka secara bersamaan. Berkumpulnya keduanya dalam membebaskan budak tersebut dapat terjadi dalam salah satu dari tiga bentuk.

أحدهما أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَى اجْتِمَاعِ اللَّفْظَيْنِ حَتَّى لَا يَتَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ بِحَرْفٍ وَلَا مَدٍّ وَلَا تَشْدِيدٍ

Pertama, keduanya harus berkumpul dalam bentuk dua lafaz yang benar-benar bersatu, sehingga tidak ada salah satu dari keduanya yang mendahului yang lain, baik dengan satu huruf, panjang pendeknya bacaan (mad), maupun penekanan (tasydid).

وَالثَّانِي أَنْ يُعَلِّقَا عِتْقَهُ بِصِفَةٍ وَاحِدَةٍ كَقَوْلِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِنْ دَخَلَ هَذَا الْعَبْدُ الدَّارَ أَوْ طَارَ هَذَا الْغُرَابُ فَنَصِيبِي مِنْهُ حُرٌّ فَإِذَا دَخَلَ الدَّارَ أَوْ طَارَ الْغُرَابُ عَتَقَ نَصِيبُهُمَا مَعًا

Kedua, yaitu apabila keduanya menggantungkan pembebasan budaknya pada satu syarat, seperti ucapan masing-masing dari mereka: “Jika budak ini masuk ke rumah” atau “Jika burung gagak ini terbang, maka bagianku darinya merdeka.” Maka apabila budak itu masuk ke rumah atau burung gagak itu terbang, maka kedua bagian mereka menjadi merdeka secara bersamaan.

وَالثَّالِثُ أَنْ يُوَكِّلَا فِي عِتْقِهِ وَكِيلًا فَيَعْتِقَهُ عَنْهُمَا بِلَفْظٍ وَاحِدٍ فَإِذَا اجْتَمَعَ عِتْقُهُمَا مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ وَكَانَا مُوسِرَيْنِ قُوِّمَتْ حِصَّةُ الثَّالِثِ وهي الثلث وعليهما بِالسَّوِيَّةِ نِصْفَيْنِ وَكَانَ وَلَاؤُهُ بَيْنَ الْمُعْتِقِينَ فَيَصِيرُ لِصَاحِبِ النِّصْفِ ثُلُثَا وَلَائِهِ وَلِصَاحِبِ السُّدُسِ ثُلُثُ وَلَائِهِ وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِمَا قَدْرُ الْمِلْكَيْنِ وَيُسَوِّي بَيْنَ مَنْ قَلَّ سَهْمُهُ وَكَثُرَ

Ketiga, keduanya mewakilkan kepada seorang wakil untuk memerdekakan (budak tersebut), lalu sang wakil memerdekakannya atas nama keduanya dengan satu ucapan. Apabila pemerdekaan dari keduanya terjadi melalui salah satu dari tiga cara ini, dan keduanya adalah orang yang mampu, maka bagian pihak ketiga, yaitu sepertiga, dinilai dan dibebankan kepada keduanya secara merata, masing-masing setengah. Hak wala’ (hubungan kekerabatan karena memerdekakan) pun terbagi di antara para pemerdeka, sehingga pemilik setengah bagian mendapatkan dua pertiga hak wala’, dan pemilik seperenam bagian mendapatkan sepertiga hak wala’. Dalam hal ini, tidak diperhitungkan besarnya kepemilikan masing-masing, dan disamakan antara yang sedikit maupun yang banyak bagiannya.

وَقَالَ مَالِكٌ يُقَوَّمُ عَلَيْهِمَا بِقَدْرِ الْمِلْكَيْنِ وَيُفَضَّلُ بَيْنَهُمَا لِتَفَاضُلِهِمَا فِي الْمَالَيْنَ لِأَنَّ التَّقْوِيمَ مُسْتَحَقٌّ بِسِرَايَةِ عِتْقِهِمَا وَسِرَايَةِ كَثِيرِ الْعِتْقِ أَكْثَرُ مِنْ سِرَايَةِ قَلِيلِهِ ودليلنا رواية ابن عمر أن النبي

Malik berkata, “Ditetapkan penilaian atas keduanya sesuai dengan kadar kepemilikan, dan diutamakan antara keduanya karena perbedaan keduanya dalam harta, sebab penilaian itu menjadi hak karena adanya sirāyah ‘itq pada keduanya, dan sirāyah ‘itq yang banyak lebih besar daripada sirāyah ‘itq yang sedikit.” Adapun dalil kami adalah riwayat Ibnu Umar bahwa Nabi…

قَالَ   مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ وَكَانَ لَهُ مَالٌ قُوِّمَ عَلَيْهِ   فَاسْتَوَى فِيهِ الْوَاحِدُ وَالْجَمَاعَةُ لِإِطْلَاقِ أَمْرِهِ وَلِأَنَّهُمَا قَدِ اشْتَرَكَا فِي إِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَى شَرِيكِهِمَا بِقَلِيلِ الْمَلِكِ وَكَثِيرِهِ لِأَنَّ قَلِيلَهُ مُدْخِلٌ لِلضَّرَرِ عَلَيْهِ مِثْلُ كَثِيرِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي التَّقْوِيمِ الْمُوجِبِ لِرَفْعِ ضَرَرِهِمَا وَلِأَنَّ عِتْقَهُمَا يَجْرِي مَجْرَى الْجِنَايَةِ مِنْهُمَا وَهُمَا لَوِ اشْتَرَكَا فِي جِنَايَةٍ تَفَاضَلَا فِي عَدَدِ جِرَاحِهَا فَجَرَحَهُ أَحَدُهُمَا جِرَاحَةً وَجَرَحَهُ الْآخَرُ مِائَةَ جِرَاحَةٍ كَانَتِ الدِّيَةُ بَيْنَهُمَا عَلَى أَعْدَادِهِمَا وَلَا تَتَقَسَّطُ عَلَى أَعْدَادِ جِرَاحِهِمَا كَذَلِكَ الْعِتْقُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا بِأَعْدَادِ الْمُعْتِقِينَ وَلَا يَتَقَسَّطُ عَلَى أَمْلَاكِ الْمُعْتِقِينَ وَسِرَايَةُ الْعِتْقِ كسرية الْجِنَايَةِ فَلَمْ يُسَلَّمْ لِمَالِكٍ اسْتِدْلَالُهُ

Barang siapa memerdekakan bagian kepemilikan (syirk) yang dimilikinya pada seorang budak, dan ia memiliki harta, maka budak itu dinilai (dihitung nilainya) atasnya. Dalam hal ini, baik satu orang maupun kelompok (yang memerdekakan) diperlakukan sama, karena perintahnya bersifat umum dan karena keduanya sama-sama menyebabkan kerugian bagi sekutunya, baik kepemilikannya sedikit maupun banyak. Sebab, sedikit kepemilikan pun dapat menimbulkan kerugian sebagaimana banyaknya, sehingga keduanya harus disamakan dalam penilaian yang bertujuan menghilangkan kerugian mereka. Selain itu, tindakan memerdekakan mereka berdua dipersamakan dengan tindak jinayah (pelanggaran) dari keduanya. Jika keduanya bersama-sama melakukan suatu jinayah, meskipun jumlah luka yang ditimbulkan berbeda—misalnya salah satunya melukai satu kali dan yang lain melukai seratus kali—maka diyat (denda) dibagi di antara mereka berdasarkan jumlah pelaku, bukan berdasarkan jumlah luka yang ditimbulkan. Demikian pula dalam masalah memerdekakan budak, yang harus diperhitungkan berdasarkan jumlah orang yang memerdekakan, bukan dibagi menurut porsi kepemilikan mereka. Penyebaran (sirayah) hukum memerdekakan budak sama seperti penyebaran hukum jinayah. Oleh karena itu, istidlal (argumentasi) Malik tidak diterima.

فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ قَالَ إِذَا اسْتَوَيَا فِي التَّقْوِيمِ مَعَ تَفَاضُلِهِمَا فِي الْمِلْكِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَا فِي الشُّفْعَةِ كَذَلِكَ إِذَا تَفَاضَلَا فِي الْمِلْكِ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي الْأَخْذِ

Adapun al-Muzani, ia berkata: Jika keduanya setara dalam penilaian (harga) meskipun berbeda dalam kepemilikan, maka wajib keduanya juga setara dalam hak syuf‘ah; demikian pula jika keduanya berbeda dalam kepemilikan, maka keduanya harus setara dalam pengambilan (hak syuf‘ah).

قِيلَ فِي الشُّفْعَةِ قَوْلَانِ

Dalam masalah syuf‘ah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْأَمْرَ فِيهَا عَلَى هَذَا وَأَنْ يَشْتَرِكَ صَاحِبُ النِّصْفِ وَالسُّدُسِ فِيهَا بِالسَّوِيَّةِ كَالْعِتْقِ

Salah satunya adalah bahwa perkara dalam hal ini seperti itu, yaitu pemilik bagian setengah dan pemilik bagian seperenam berbagi secara merata di dalamnya, seperti dalam kasus pembebasan budak (al-‘itq).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُمَا يَتَفَاضَلَانِ فِيهَا بِقَدْرِ الْمَالَيْنِ وَإِنْ تَسَاوَيَا فِي الْعِتْقِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya memiliki keutamaan dalam hal ini sesuai dengan kadar harta masing-masing, meskipun keduanya sama dalam hal pembebasan budak.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Perbedaan antara keduanya terdapat pada dua aspek.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الشُّفْعَةَ مُسْتَحَقَّةٌ بِالْمِلْكِ فَتُقُسِّطت عَلَيْهِ وَالتَّقْوِيمُ مُسْتَحَقٌّ بِالْعِتْقِ فَاسْتَوَيَا فِيهِ

Salah satunya adalah bahwa syuf‘ah menjadi hak karena kepemilikan, sehingga dibagi rata atasnya, sedangkan penilaian (taqwīm) menjadi hak karena pembebasan budak (‘itq), maka keduanya setara dalam hal ini.

وَالثَّانِي أَنَّ اسْتِحْقَاقَ الشُّفْعَةِ لِإِزَالَةِ الضَّرَرِ بالتزام مؤونة القسم وغيره والمؤونة مُعْتَبِرَةٌ بِالْمِلْكِ فَتَقَسَّطَتِ الشُّفْعَةُ عَلَى الْمِلْكِ وَالتَّقْوِيمُ مُسْتَحَقٌّ بِدُخُولِ الضَّرَرِ بِالْعِتْقِ الْجَارِي مَجْرَى الْجِنَايَةِ فَتَقَسَّطَتْ عَلَى الْمُعْتِقِينَ دُونَ الْمِلْكِ؛ وَلَوْ كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا وَكَانَ صَاحِبُ النِّصْفِ مُوسِرًا وَمُعْتِقُ السُّدُسِ مُعْسِرًا قُوِّمَتِ الْحِصَّةُ كُلُّهَا عَلَى مُعْتِقِ النِّصْفِ وَلَوْ كَانَ مُعْتِقُ السُّدُسِ مُوسِرًا وَمُعْتِقُ النِّصْفِ مُعْسِرًا قُوِّمَتِ الْحِصَّةُ كُلُّهَا عَلَى مُعْتِقِ السُّدُسِ وَلَوْ كَانَا مُعْسِرَيْنِ لَمْ تُقَوَّمْ عَلَى واحد منهما وكانت الحصة على ورقها لِمَالِكِهَا فَلَوِ ادَّعَى عَلَيْهَا الْيَسَارَ فَأَنْكَرَاهُ حَلِفَا لَهُ وَلَا تَقْوِيمَ عَلَيْهِمَا وَفِي عِتْقِ الْحِصَّةِ عَلَى مَالِكِهَا بِهَذِهِ الدَّعْوَى قَوْلَانِ يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي أَحَدِهِمَا إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ فِي حِصَّتِهِ يَقَعُ بِالسِّرَايَةِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي الثَّانِي إِذَا قِيلَ إِنَّهَا لَا تُعْتَقُ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ

Kedua, bahwa hak memperoleh syuf‘ah bertujuan untuk menghilangkan mudarat akibat kewajiban menanggung biaya pembagian dan lainnya, dan biaya tersebut diperhitungkan berdasarkan kepemilikan, sehingga syuf‘ah dibagi menurut kepemilikan. Sedangkan penilaian (taqwīm) menjadi hak karena timbulnya mudarat akibat pembebasan budak (‘itq) yang dipersamakan dengan tindak pidana (jināyah), sehingga penilaian tersebut dibebankan kepada para pembebas (mu‘tiq) saja, bukan kepada para pemilik. Jika dalam kasus ini pemilik setengah bagian mampu (mampu membayar) dan pembebas seperenam bagian tidak mampu, maka seluruh bagian dinilai atas pembebas setengah bagian. Jika pembebas seperenam bagian mampu dan pembebas setengah bagian tidak mampu, maka seluruh bagian dinilai atas pembebas seperenam bagian. Jika keduanya tidak mampu, maka tidak dibebankan penilaian kepada salah satu dari mereka dan bagian tersebut tetap menjadi milik pemiliknya. Jika ada yang mengklaim kemampuan membayar atas mereka berdua dan mereka berdua mengingkarinya, maka keduanya harus bersumpah kepadanya dan tidak ada penilaian yang dibebankan kepada mereka. Dalam hal pembebasan bagian atas pemiliknya karena klaim ini, terdapat dua pendapat: menurut salah satunya, bagian tersebut menjadi merdeka jika dikatakan bahwa pembebasan pada bagiannya terjadi dengan sirāyah, dan menurut pendapat kedua, tidak menjadi merdeka kecuali dengan pembayaran nilai (qīmah).

وَلَوِ ادَّعَى أَحَدُ الْمُعْتِقِينَ عَلَى الْآخَرِ الْيَسَارَ فَإِنْ كَانَ الْمُدَّعِي مُعْسِرًا لَمْ تُسْمَعْ دَعْوَاهُ لِأَنَّهَا غَيْرُ مُؤَثِّرَةٍ فِي حَقِّهِ وَتُسْمَعُ مِنْ مَالِكِ الْحِصَّةِ لِتَأْثِيرِهَا فِي حَقِّهِ وَلَوْ كَانَ مُوسِرًا سُمِعَتْ دَعْوَاهُ لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِيَسَارِهِ مُشَارِكًا لَهُ فِي تَحَمُّلِ الْقِيمَةِ وَلَا يُسْمَعُ مِنْ مَالِكِ الْحِصَّةِ هَذِهِ الدَّعْوَى لِأَنَّهَا غَيْرُ مُؤَثِّرَةٍ فِي حَقِّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan jika salah satu dari para mu‘tiq (orang yang memerdekakan budak) mengklaim bahwa yang lain adalah orang yang mampu (kaya), maka jika pengklaim itu adalah orang yang tidak mampu (miskin), klaimnya tidak didengar karena tidak berpengaruh terhadap haknya, dan klaim itu didengar dari pemilik bagian karena berpengaruh terhadap haknya. Namun, jika pengklaim itu adalah orang yang mampu (kaya), maka klaimnya didengar karena dengan kemampuannya ia menjadi turut serta dalam menanggung nilai (budak tersebut). Dan klaim ini tidak didengar dari pemilik bagian karena tidak berpengaruh terhadap haknya. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا اخْتَلَفَا فِي قِيمَةِ الْعَبْدِ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْقَوْلَ قَوْلُ الْمُعْتِقِ وَالثَّانِي أَنَّ الْقَوْلَ قَوْلُ رَبِّ النَّصِيبِ لَا يَخْرُجُ مِلْكُهُ مِنْهُ إِلَّا بِمَا يَرْضَى قَالَ الْمُزَنِيُّ قَدْ قَطَعَ الشَّافِعِيُّ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ بِأَنَّ الْقَوْلَ قول الغارم وهذا أولى بقوله وأقيس على أصله على ما شرحت من أحد قوليه لأنه يقول في قيمة ما أتلف أن القول قول الغارم ولأن السيد مدع للزيادة البينة والغارم منكر فعليه اليمين

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai nilai seorang budak, maka ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang memerdekakan. Kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat pemilik bagian, karena kepemilikannya tidak keluar darinya kecuali dengan kerelaannya.” Al-Muzani berkata: “Imam Syafi‘i telah memutuskan di tempat lain bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menanggung ganti rugi (ghārim), dan ini lebih utama menurut pendapatnya serta lebih sesuai dengan qiyās berdasarkan penjelasan dari salah satu pendapatnya, karena beliau berpendapat dalam penentuan nilai barang yang dirusak bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menanggung ganti rugi (ghārim). Selain itu, tuan (pemilik budak) adalah pihak yang mengklaim adanya tambahan nilai dan pihak yang menanggung ganti rugi (ghārim) adalah pihak yang mengingkarinya, maka ia harus bersumpah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ قِيمَةَ حِصَّةِ الشريك معتبرة بوقت العتق على الأقاويل كلها وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا حَدَثَ بَعْدَهُ مِنْ نُقْصَانٍ لِأَنَّ عِتْقَهُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ إِتْلَافًا أَوْ سَبَبًا لِلْإِتْلَافٍ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُوجِبٌ لِاعْتِبَارِ الْقِيمَةِ عِنْدَ حُدُوثِهِ كَالْجِنَايَةِ عَلَى الْعَبْدِ إذا كانت قتلا أو سببنا أفضى إلى القتل وتعتبر قيمته قتل عِتْقِ بَعْضِهِ لِأَنَّ عِتْقَ الْبَعْضِ مُوكِسٌ لِقِيمَتِهِ وَهَذَا الْوَكْسُ بِعِتْقِهِ الْجَارِي مَجْرَى جِنَايَتِهِ فَأَمَّا مَا حَدَثَ بَعْدَ الْعِتْقِ مِنْ زِيَادَةٍ فِي قِيمَةِ الْحِصَّةِ فَمَحْمُولٌ عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فِي نُفُوذِ عِتْقِهَا فَإِنْ قِيلَ إِنَّهَا عَتَقَتْ بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ لَمْ يَضْمَنْهَا الْمُعْتِقُ وَكَذَلِكَ إِنْ قِيلَ بِالثَّانِي إِنَّ عِتْقَهَا مَوْقُوفٌ مُرَاعًى لَمْ يَضْمَنْهَا لِأَنَّ دَفْعَ الْقِيمَةِ يَدُلُّ عَلَى تَقَدُّمِ عِتْقِهَا وَإِنْ قِيلَ إِنَّهَا تُعْتَقُ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَمَعَهَا فَفِي ضَمَانِ الْمُعْتِقِ لِمَا حَدَثَ مِنْ زِيَادَةِ الْقِيمَةِ بَعْدَ عِتْقِهِ وَقَبْلَ دَفْعِهَا وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa nilai bagian milik sekutu diperhitungkan berdasarkan waktu pembebasan (ʿitq) menurut semua pendapat, dan tidak diperhitungkan apa yang terjadi setelahnya berupa penurunan nilai, karena pembebasan tersebut masih dipertimbangkan antara sebagai tindakan perusakan atau sebab yang mengarah pada perusakan. Keduanya mewajibkan untuk memperhitungkan nilai pada saat terjadinya, seperti kasus jinayah terhadap budak jika berupa pembunuhan atau sebab yang berujung pada pembunuhan, maka nilainya diperhitungkan saat pembunuhan. Demikian pula pembebasan sebagian budak, karena pembebasan sebagian menurunkan nilainya, dan penurunan ini akibat pembebasan yang berlaku seperti jinayah terhadapnya. Adapun jika setelah pembebasan terjadi peningkatan nilai bagian, maka hal itu dikembalikan pada tiga pendapat tentang keabsahan pembebasannya. Jika dikatakan bahwa ia merdeka dengan ucapan orang yang membebaskan, maka orang yang membebaskan tidak menanggungnya. Begitu pula jika dikatakan menurut pendapat kedua bahwa pembebasannya tergantung dan diperhatikan, maka ia juga tidak menanggungnya, karena pembayaran nilai menunjukkan bahwa pembebasannya telah lebih dahulu terjadi. Namun jika dikatakan bahwa ia merdeka dengan pembayaran nilai dan bersamaan dengannya, maka dalam hal penjaminan orang yang membebaskan terhadap peningkatan nilai yang terjadi setelah pembebasan dan sebelum pembayaran, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَضْمَنُهَا لِأَنَّ سَبَبَ الْإِتْلَافِ فِي اعْتِبَارِ الْقِيمَةِ كَالْإِتْلَافِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa ia tidak menanggungnya, karena sebab kerusakan dalam pertimbangan nilai dianggap seperti kerusakan itu sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَضْمَنُ الزِّيَادَةَ دُونَ النُّقْصَانِ كَالْغَاصِبِ فِي ضَمَانِهِ لِأَكْثَرِ الْقِيمَةِ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ حَادِثَةٌ عَلَى مِلْكِ الشَّرِيكِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَهْلِكَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ عِوَضٍ

Pendapat kedua mewajibkan ganti rugi atas tambahan (nilai) tanpa mengurangi (nilai pokok), seperti halnya seorang ghashib (perampas) yang wajib mengganti nilai tertinggi, karena tambahan tersebut terjadi atas kepemilikan mitra, sehingga tidak boleh ia menghabiskannya tanpa imbalan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَاهُ فِي اعْتِبَارِ الْقِيمَةِ فَاخْتَلَفَا فِيهَا فَقَالَ الْمُعْتِقُ مِائَةٌ وَقَالَ الشَّرِيكُ مِائَتَانِ فَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ بَاقِيًا لَمْ تَتَغَيَّرْ قِيمَتُهُ بتطاول الزمان فلا اعتبار باختلافهما ويقومها ثِقَتَانِ مِنْ أَهْلِ الْخِبْرَةِ فَإِذَا قَوَّمَاهَا لَمْ يَخْلُ حَالُ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقِيمَةِ مِنْ خَمْسَةِ أَقْسَامٍ

Apabila telah ditetapkan sebagaimana yang telah kami jelaskan mengenai pertimbangan nilai (harga), lalu keduanya berselisih tentangnya—misalnya pihak yang memerdekakan mengatakan seratus, sedangkan pihak sekutu mengatakan dua ratus—maka jika budak tersebut masih ada dan nilainya tidak berubah seiring berjalannya waktu, maka perbedaan pendapat mereka tidak dianggap. Nilainya akan dinilai oleh dua orang tepercaya dari kalangan ahli yang berpengalaman. Setelah keduanya menilai, maka keadaan nilai yang telah kami sebutkan itu tidak lepas dari lima bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُوَافِقَ مَا أَقَرَّ بِهِ الْمُعْتِقُ وَهُوَ الْمِائَةُ فَلَا يَلْزَمُهُ غَيْرُهَا وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ فِيهَا

Salah satunya adalah bahwa sesuai dengan apa yang diakui oleh orang yang memerdekakan, yaitu seratus, maka tidak wajib baginya selain itu dan tidak ada sumpah atasnya dalam hal ini.

وَالثَّانِي أَنْ يُوَافِقَ مَا ادَّعَاهُ الشَّرِيكُ وَهُوَ الْمِائَتَانِ فَيَسْتَحِقُّهَا وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ فِيهَا

Kedua, jika yang diklaim oleh sekutu itu sesuai dengan yang diakuinya, yaitu dua ratus, maka ia berhak atasnya dan tidak ada sumpah atasnya dalam hal ini.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ وَسَطًا بَيْنَهُمَا غَيْرَ مُوَافِقَةٍ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا وَذَلِكَ بِأَنْ تُقَوَّمَ مِائَةٌ وَخَمْسِينَ فَيُحْكَمَ بِهَا عَلَيْهِمَا وَلَا يَسْتَحِقُّ الشَّرِيكُ أَكْثَرَ مِنْهُمَا وَلَا نَقْتَنِعُ مِنَ الْمُعْتِقِ بِأَقَلَّ مِنْهُمَا

Ketiga, yaitu berada di tengah-tengah antara keduanya, tanpa sesuai dengan salah satu dari keduanya. Hal itu dilakukan dengan menilai seratus lima puluh, lalu diputuskan dengan nilai itu atas keduanya. Maka, sekutu tidak berhak atas lebih dari nilai tersebut, dan kita tidak menerima dari orang yang memerdekakan budak kurang dari nilai tersebut.

وَالرَّابِعُ أَنْ تَكُونَ زَائِدَةً عَلَى أَكْثَرِهِمَا وَذَلِكَ بِأَنْ تُقَوَّمَ بِمِائَتَيْنِ وَخَمْسِينَ فَلَا يُحْكَمُ لِلشَّرِيكِ إِلَّا بِمِائَتَيْنِ لِأَنَّهُ بِالِاقْتِصَارِ عَلَيْهَا مُبَرَّأٌ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهَا

Keempat, jika nilainya melebihi jumlah terbesar dari keduanya, yaitu apabila dinilai sebesar dua ratus lima puluh, maka tidak diputuskan bagi sekutu kecuali dua ratus saja, karena dengan membatasi pada jumlah tersebut, ia terbebas dari kelebihan atasnya.

وَالْخَامِسُ أَنْ تَكُونَ نَاقِصَةً عَنْ أَقَلِّهِمَا وَذَلِكَ بِأَنْ تُقَوَّمَ بِخَمْسِينَ فَلَا نَقْتَنِعُ مِنَ الْمُعْتَقِ بِأَقَلَّ مِنْ مائة لأنه قد أ 5 قر بِهَا وَإِنْ تَعَذَّرَ تَقْوِيمُهُ فِي زَمَانِ الْعِتْقِ إِمَّا لِمَوْتِهِ أَوْ غَيْبَتِهِ وَإِمَّا لِتَغَيُّرِ أَحْوَالِهِ بِالْكِبَرِ بَعْدَ الصِّغَرِ أَوْ بِالْمَرَضِ بَعْدَ الصِّحَّةِ أَوْ بِالزَّمَانَةِ بَعْدَ السَّلَامَةِ فَفِي اخْتِلَافِهَا فِي القيمة قولان أَحَدُهُمَا أَنَّ الْقَوْلَ فِيهَا قَوْلُ الْمُعْتِقِ مَعَ يَمِينِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ عِتْقَهُ قَدْ يَسْرِي إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ بِلَفْظِهِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ غَارِمًا وَالْقَوْلُ فِي الْغُرْمِ قَوْلُ الْغَارِمِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْقَوْلَ فِيهَا قَوْلُ الشَّرِيكِ مَعَ يَمِينِهِ إِذَا قِيلَ بِبَقَاءِ مِلْكِهِ إِلَى أَنْ يَأْخُذَ قِيمَةَ حِصَّتِهِ لِأَنَّ لَهُ عَلَيْهَا يَدًا لَا تُنْتَزَعُ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ إِلَّا بِقَوْلِهِ كَالثَّمَنِ فِي الشُّفْعَةِ إِذَا اخْتَلَفَ فِيهِ الشَّفِيعُ وَالْمُشْتَرِي كَانَ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْمُشْتَرِي

Kelima, nilainya tidak boleh kurang dari nilai terendah di antara keduanya, yaitu jika dinilai lima puluh, maka kita tidak menerima dari orang yang memerdekakan budak itu kurang dari seratus, karena ia telah mengambil manfaat darinya. Jika penilaian tidak memungkinkan pada waktu pemerdekaan, baik karena kematiannya, atau karena ia tidak hadir, atau karena perubahan keadaannya—misalnya menjadi tua setelah muda, atau sakit setelah sehat, atau cacat setelah selamat—maka dalam perbedaan nilai ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang dipegang adalah pernyataan orang yang memerdekakan dengan sumpahnya, jika dikatakan bahwa kemerdekaannya dapat berimbas pada bagian milik sekutunya dengan ucapannya, karena ia menjadi penanggung, dan dalam hal tanggungan, yang dipegang adalah pernyataan penanggung. Pendapat kedua, yang dipegang adalah pernyataan sekutu dengan sumpahnya, jika dikatakan bahwa kepemilikannya tetap sampai ia menerima nilai bagiannya, karena ia masih memiliki hak atasnya yang tidak dapat dicabut tanpa bukti, kecuali dengan pernyataannya, seperti harga dalam hak syuf‘ah jika terjadi perselisihan antara pemilik hak syuf‘ah dan pembeli, maka yang dipegang adalah pernyataan pembeli.

وَقَالَ الرَّبِيعُ فِي كِتَابِ الْأُمِّ وَفِيهِ قَوْلٌ آخَرُ إنَّهُمَا يَتَحَالَفَانِ كَمَا يَتَحَالَفُ الْمُتَبَايِعَانِ إِذَا اخْتَلَفَا وَهُوَ مِنْ تَخْرِيجِهِ وَلَيْسَ بِقَوْلٍ لِلشَّافِعِيِّ لِأَنَّ تَحَالُفَ الْمُتَبَايِعَيْنِ مُوجِبٌ لِارْتِفَاعِ الْعَقْدِ فَأَفَادَ وَتَحَالُفَ هَذَيْنِ غَيْرُ مُوجِبٍ لِرَفْعِ الْعِتْقِ فَلَمْ يُفِدْ وَهُمَا بَعْدَ التَّحَالُفِ عَلَيْهَا بَاقِيَانِ عَلَى الِاخْتِلَافِ فِيهَا

Ar-Rabi‘ berkata dalam kitab al-Umm, dan di dalamnya terdapat pendapat lain bahwa keduanya saling bersumpah sebagaimana dua orang yang melakukan jual beli jika terjadi perselisihan di antara mereka, dan ini merupakan hasil istinbath darinya, bukan merupakan pendapat asy-Syafi‘i. Sebab, sumpah antara dua orang yang berjual beli menyebabkan batalnya akad sehingga memberikan pengaruh, sedangkan sumpah antara dua orang ini tidak menyebabkan batalnya pembebasan budak sehingga tidak memberikan pengaruh. Maka, setelah keduanya saling bersumpah, mereka tetap berada dalam keadaan berselisih mengenai masalah tersebut.

وَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ أَعَادَ نُصْرَةَ اخْتِيَارِهِ وَفِي بَعْضِ مَا مَضَى مِنْ كَلَامِهِ وَجَوَابِهِ مَقْنَعٌ والله اعلم

Adapun al-Muzani, ia telah mengulangi penegasan atas pilihannya, dan dalam sebagian perkataan serta jawabannya yang telah lalu terdapat penjelasan yang memadai. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ هُوَ خَبَّازٌ وَقَالَ الْغَارِمُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْغَارِمِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengatakan, ‘Dia adalah seorang tukang roti,’ sedangkan orang yang berutang (al-ghārim) mengatakan, ‘Bukan demikian,’ maka yang dipegang adalah pernyataan orang yang berutang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَجِبَ عَلَى الْمُعْتِقِ قِيمَةُ حِصَّةِ شَرِيكِهِ فَيَدَّعِي الشَّرِيكُ أَنَّ الْعَبْدَ كَانَ صَانِعًا خَبَّازًا أَوْ نَجَّارًا أَوْ كَاتِبًا فَلَهُ الْقِيمَةُ الزَّائِدَةُ بِصَنْعَتِهِ وَيَقُولُ الْمُعتِقُ هُوَ غَيْرُ صَانِعٍ فَلَكَ الْقِيمَةُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ بِصَنْعَتِهِ فَلِلْعَبْدِ حَالَتَانِ حَيٌّ وَمَيِّتٌ

Al-Mawardi berkata, “Gambaran kasusnya adalah apabila wajib atas orang yang memerdekakan (budak) untuk membayar nilai bagian milik rekannya (sesama pemilik budak), lalu rekannya tersebut mengklaim bahwa budak itu adalah seorang pekerja, seperti tukang roti, tukang kayu, atau penulis, sehingga ia berhak atas nilai tambahan karena keahliannya. Sementara orang yang memerdekakan mengatakan bahwa budak itu bukan seorang pekerja, sehingga engkau hanya berhak atas nilai (budak) tanpa tambahan karena keahliannya. Maka, budak tersebut memiliki dua keadaan: hidup dan mati.”

فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ الْقَوْلُ قَوْلُ الْمُعْتِقِ الْغَارِمِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى طَرِيقَيْنِ

Jika orang tersebut telah meninggal dunia, maka menurut pendapat asy-Syafi‘i, perkataan yang dipegang adalah perkataan orang yang memerdekakan yang menanggung beban (gharim). Para ulama kami berbeda pendapat mengenai hal ini dalam dua pendapat (tharīq).

إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ لِأَنَّهُ اخْتِلَافٌ فِي قَدْرِ الْقِيمَةِ فَكَانَ عَلَى الْقَوْلَيْنِ الْمَاضِيَيْنِ وَإِنَّمَا نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى أَحَدِهِمَا وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْمُعْتِقِ الْغَارِمِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ الشَّرِيكَ يَدَّعِي حُدُوثَ صَنْعَةٍ لَيْسَتْ فِي الْخِلْقَةِ وَالْأَصْلُ أَنْ لَيْسَتْ فِيهِ هَذِهِ الصَّنْعَةُ فَكَانَ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ مُنْكِرِهَا دُونَ مُدَّعِيهَا وَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ حَيًّا يُمْكِنُ اخْتِبَارُ حَالِهِ اخْتُبِرَتْ فِيهِ تِلْكَ الصَّنْعَةُ فَإِنْ كَانَ لَا يُحْسِنُهَا رُدَّتْ دَعْوَى الشَّرِيكِ فِيهَا وَلَا يَمِينَ لَهُ عَلَى الْمُعْتِقِ وَلَا تلزمه إلى قِيمَتُهُ غَيْرَ صَانِعٍ فَإِنْ قَالَ الشَّرِيكُ قَدْ كَانَ يُحْسِنُ الصَّنْعَةَ وَقْتَ الْعِتْقِ لَكِنَّهُ نَسِيَهَا بِعِلَّةٍ فَإِنْ كَانَ زَمَانُ الْعِتْقِ قَرِيبًا لَا تُنْسَى الصَّنْعَةُ فِي مِثْلِهِ لَمْ نَسْمَعْ مِنْهُ هَذِهِ الدَّعْوَى وَإِنْ تَطَاوَلَ وَجَازَ أَنْ تُنْسَى تِلْكَ الصَّنْعَةُ فِي مِثْلِهِ سُمِعَتْ مِنْهُ وَأُحْلِفَ عَلَيْهَا الْمُعْتِقُ وَلَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا قِيمَتُهُ غَيْرَ صانع

Salah satu pendapat menyatakan bahwa masalah ini memiliki dua pendapat, karena perbedaan ini berkaitan dengan kadar nilai (harga), sehingga mengikuti dua pendapat yang telah lalu. Imam Syafi‘i sendiri hanya menegaskan salah satunya. Adapun metode kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat mu‘tiq (orang yang memerdekakan) yang menanggung (ganti rugi), hanya satu pendapat, karena sekutu (syarik) mengklaim adanya keahlian (keterampilan) yang tidak ada dalam penciptaan (asalnya), sedangkan asalnya adalah tidak terdapat keahlian tersebut pada budak itu, sehingga yang dipegang adalah pendapat orang yang mengingkari adanya keahlian itu, bukan yang mengklaimnya. Jika budak itu masih hidup dan memungkinkan untuk diuji keadaannya, maka keahlian itu diuji padanya. Jika ternyata ia tidak menguasai keahlian tersebut, maka klaim sekutu dalam hal itu ditolak dan ia tidak berhak meminta sumpah dari mu‘tiq, serta mu‘tiq tidak wajib membayar kecuali sebesar nilai budak tanpa keahlian. Jika sekutu berkata, “Dulu ia menguasai keahlian itu saat dimerdekakan, tetapi kemudian ia lupa karena suatu sebab,” maka jika waktu antara kemerdekaan dan saat ini masih dekat sehingga secara umum keahlian itu tidak mungkin dilupakan dalam rentang waktu tersebut, maka klaim itu tidak diterima darinya. Namun jika waktunya sudah lama dan memungkinkan keahlian itu terlupakan dalam rentang waktu tersebut, maka klaim itu diterima darinya dan mu‘tiq diminta bersumpah atasnya, dan mu‘tiq tidak wajib membayar kecuali sebesar nilai budak tanpa keahlian.

وَلَوْ قَالَ الشَّرِيكُ هُوَ يُحْسِنُ هَذِهِ الصَّنْعَةَ وَلَكِنَّهُ قَدْ كَتَمَهَا وَامْتَنَعَ مِنْ إِظْهَارِهَا فَقَوْلُهُ مُحْتَمَلٌ وَهُوَ مَنْسُوبٌ إِلَى الْعَبْدِ دُونَ الْمُعْتِقِ لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَهُ عَلَى الْعَبْدِ لِأَنَّهُ لَا يَجِبُ بِهِ عَلَيْهِ حَقٌّ وَلَا يَدَّعِيَهُ عَلَى الْمُعْتِقِ لِأَنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ يَدَّعِيَ عَلَيْهِ عِلْمَهُ بِكِتْمَانِهِ فَتَتَوَجَّهَ الدَّعْوَى إِلَيْهِ وَيَحْلِفُ عَلَى النَّفْيِ أَنَّهُ كَتَمَ مَا يُحْسِنُ وَلَوِ اخْتُبِرَ الْعَبْدُ فَكَانَ يُحْسِنُ الصَّنْعَةَ نُظِرَ فَإِنْ قَصُرَ زَمَانُ مَا بَيْنَ الْعِتْقِ وَالتَّقْوِيمِ عَنْ تَعَلُّمِ تِلْكَ الصَّنْعَةِ ثَبَتَ تَقَدُّمُهَا وَلَمْ يَحْلِفِ الشَّرِيكُ عَلَيْهَا وَاسْتَحَقَّ قِيمَتَهُ صَانِعًا وَإِنْ تَطَاوَلَ وَاتَّسَعَ لِتَعَلُّمِ تِلْكَ الصَّنْعَةِ صَارَ تَقَدُّمُهَا دَاخِلًا فِي الْجَوَازِ فَصَارَ كَادِّعَائِهَا فِي مَيِّتٍ فَيَكُونُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الْمَيِّتِ مِنِ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا عَلَى الطَّرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَالطَّرِيقُ الثَّانِي أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْمُعْتِقِ مَعَ يَمِينِهِ بِاللَّهِ أَنَّهُ كَانَ وَقْتَ الْعِتْقِ غَيْرُ صَانِعٍ وَلَمْ يَحْلِفْ أَنَّهُ غَيْرُ صَانِعٍ كَمَا يُحْلَفُ فِي الْمَيِّتِ والله أعلم

Dan jika seorang rekan (syarikat) berkata, “Dia (budak) menguasai keahlian ini, tetapi ia telah menyembunyikannya dan enggan menampakkannya,” maka ucapannya itu masih mungkin (benar), dan hal itu dinisbatkan kepada budak, bukan kepada orang yang memerdekakannya. Namun, tidak boleh mengklaim hal itu atas budak, karena tidak ada hak yang wajib atasnya karena hal itu, dan tidak boleh pula mengklaimnya atas orang yang memerdekakan, karena hal itu dinisbatkan kepada selainnya, kecuali jika ia mengklaim bahwa orang yang memerdekakan mengetahui penyembunyian keahlian itu, maka gugatan diarahkan kepadanya, dan ia bersumpah untuk menafikan bahwa ia telah menyembunyikan keahlian yang ia kuasai. Jika budak diuji dan ternyata ia memang menguasai keahlian tersebut, maka dilihat: jika waktu antara pembebasan dan penilaian terlalu singkat untuk mempelajari keahlian itu, maka terbukti keahlian itu sudah ada sebelumnya, dan rekan tidak perlu bersumpah atasnya, serta ia berhak atas nilai budak sebagai seorang ahli. Namun jika waktu tersebut cukup panjang dan memungkinkan untuk mempelajari keahlian itu, maka keahlian sebelumnya masuk dalam kemungkinan, sehingga menjadi seperti mengklaim keahlian pada orang yang telah meninggal, maka berlaku sebagaimana yang telah kami jelaskan pada kasus orang yang telah meninggal, yaitu terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama kami menurut dua metode: salah satunya, ada dua pendapat; dan metode kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang memerdekakan dengan sumpahnya atas nama Allah bahwa pada saat pembebasan, budak tersebut bukanlah seorang ahli, dan ia tidak bersumpah bahwa budak itu bukan ahli sebagaimana sumpah dalam kasus orang yang telah meninggal. Dan Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ هُوَ سَارِقٌ أَوْ آبِقٌ وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْغُرْمُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ مَعَ يَمِينِهِ وَهُوَ عَلَى الْبَرَاءَةِ مِنَ الْعَيْبِ حَتَّى يَعْلَمَ قَالَ الْمُزَنِيُّ قَدْ قَالَ فِي الْغَاصِبِ إِنَّ الْقَوْلَ قَوْلُهُ أَنَّ بِهِ دَاءً أَوْ غَائِلَةً وَالْقِيَاسُ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْحُرِّ يَجْنِي عَلَى يَدِهِ فَيَقُولُ الْجَانِي هِيَ شَلَّاءُ أَنَّ الْقَوْلَ قَوْلُ الْغَارِمِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Ia adalah pencuri atau budak yang melarikan diri,’ lalu orang yang menanggung kerugian berkata, ‘Bukan demikian,’ maka perkataan orang yang menanggung kerugianlah yang diterima dengan sumpahnya, dan ia dianggap bebas dari cacat sampai terbukti sebaliknya.” Al-Muzani berkata: “Ia juga berkata dalam kasus perampas, bahwa perkataan orang yang menanggung kerugian diterima jika ia mengatakan terdapat penyakit atau bahaya pada barang tersebut. Qiyās atas pendapatnya dalam kasus orang merdeka yang tangannya dilukai, lalu pelaku berkata, ‘Tangannya memang sudah lumpuh,’ maka perkataan yang diterima adalah perkataan orang yang menanggung kerugian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَى اخْتِلَافُهُمَا فِي الصَّنْعَةِ الزَّائِدَةِ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي اخْتِلَافِهَا فِي عَيْبٍ يُنْقِصُ مِنَ الْقِيمَةِ فَيَدَّعِي الْمُعْتِقُ أَنَّهُ كَانَ سَارِقًا أَوْ آبِقًا فَعَلَيْهِ قِيمَةُ عَبْدٍ سَارِقٍ أَوْ آبِقٍ وَيَقُولُ الشَّرِيكُ كَانَ سَالِمًا لَيْسَ بِسَارِقٍ وَلَا آبِقٍ

Al-Mawardi berkata: Telah disebutkan perbedaan pendapat mereka dalam hal keahlian tambahan, dan masalah ini berkaitan dengan perbedaan pendapat mereka mengenai cacat yang mengurangi nilai. Maka, orang yang memerdekakan mengklaim bahwa budak tersebut adalah seorang pencuri atau budak yang melarikan diri, sehingga ia wajib membayar nilai budak pencuri atau budak yang melarikan diri. Sedangkan rekannya mengatakan bahwa budak tersebut dalam keadaan selamat, bukan pencuri dan bukan pula budak yang melarikan diri.

قَالَ الشَّافِعِيُّ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الشَّرِيكِ الْمَالِكِ مَعَ يَمِينِهِ أَنَّهُ غَيْرُ سَارِقٍ وَلَا آبِقٍ وَلَهُ قِيمَةُ عَبْدٍ سَلِيمٍ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ على طريقتين

Imam Syafi‘i berkata, “Pendapat dalam masalah ini adalah pendapat mitra pemilik harta, disertai sumpahnya bahwa ia bukan pencuri dan bukan pula budak yang melarikan diri, dan ia berhak atas nilai seorang budak yang sehat.” Maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu memiliki dua pendapat.

وَالطَّرِيقُ الثَّانِي أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْمَالِكِ وَإِنْ كَانَ فِي الزِّيَادَةِ الْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ الْغَارِمِ فَيَخْتَلِفُ حُكْمُ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ فَيَكُونُ فِي الزِّيَادَةِ بِالصَّنْعَةِ الْقَوْلُ قَوْلَ مُنْكِرِهَا وَهُوَ الْغَارِمُ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ الزِّيَادَةِ وَيَكُونُ فِي النُّقْصَانِ بِالْعَيْبِ الْقَوْلُ قَوْلَ مُنْكِرِهَا وَهُوَ الْمَالِكُ لِأَنَّ الْأَصْلَ السَّلَامَةُ مِنَ الْعَيْبِ فَأَمَّا الْغَاصِبُ إِذَا اخْتَلَفَ مَعَ الْمَالِكِ فِي قِيمَةِ الْعَبْدِ الْمَغْصُوبِ فَادَّعَى الْغَاصِبُ أَنَّهُ بِهِ دَاءٌ أَوْ غَائِلَةٌ فَقَدْ حَكَى الْمُزَنِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْغَاصِبِ دُونَ الْمَالِكِ وَجُعِلَ فِي ضَمَانِ الْعِتْقِ الْقَوْلُ فيه قَوْلُ الْمَالِكِ دُونَ الْمُعْتِقِ وَضَمَانُ الْغَاصِبِ وَالْمُعْتِقِ سِيَّانِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ هَذَيْنِ الْجَوَابَيْنِ مَعَ تَسَاوِي الضَّمَانَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jalan kedua adalah bahwa pendapat yang dipegang dalam hal ini adalah pendapat pemilik, sedangkan dalam hal tambahan, pendapat yang dipegang adalah pendapat penanggung (ghārim). Maka, hukum mengenai tambahan dan kekurangan menjadi berbeda. Dalam hal tambahan karena pekerjaan (ṣan‘ah), pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengingkarinya, yaitu penanggung, karena pada dasarnya tidak ada tambahan. Sedangkan dalam hal kekurangan karena cacat (‘aib), pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengingkarinya, yaitu pemilik, karena pada dasarnya barang itu selamat dari cacat. Adapun jika terjadi perselisihan antara perampas (ghāṣib) dan pemilik mengenai nilai budak yang dirampas, lalu perampas mengklaim bahwa budak tersebut memiliki penyakit atau cacat tersembunyi, al-Muzanī meriwayatkan dari asy-Syāfi‘ī bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat perampas, bukan pemilik. Dalam penjaminan pembebasan (‘itq), pendapat yang dipegang adalah pendapat pemilik, bukan orang yang membebaskan, padahal penjaminan antara perampas dan orang yang membebaskan adalah sama. Maka, para ulama kami berbeda pendapat mengenai perbedaan dua jawaban ini, padahal penjaminan keduanya sama, menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ دَعْوَى الْغَاصِبِ كَانَتْ فِي نَقْصٍ يَعُودُ إِلَى أَصْلِ الْخِلْقَةِ مِنْ شَلَلٍ أَوْ خَرَسٍ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ خِلْقَةً فِيهِ وَطَارِئًا عَلَيْهِ فَكَانَ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْغَاصِبِ الْغَارِمِ دُونَ الْمَالِكِ لِأَنَّ الْمَالِكَ قَدْ يَقْدِرُ عَلَى إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ شَلَلٌ وَلَا خَرَسٌ وَلَوْ كَانَ مِثْلُ ذَلِكَ فِي دَعْوَى الْمُعْتِقِ لَكَانَ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلَهُ دُونَ الْمَالِكِ كَالْغَاصِبِ

Salah satunya adalah bahwa klaim dari pihak ghashib (perampas) berkaitan dengan kekurangan yang kembali pada asal penciptaan, seperti lumpuh atau bisu, yang mungkin memang merupakan bawaan sejak lahir atau sesuatu yang terjadi kemudian. Maka dalam hal ini, pendapat yang dipegang adalah pendapat ghashib yang bertanggung jawab, bukan pemilik, karena pemilik mungkin mampu menghadirkan bukti bahwa tidak ada lumpuh atau bisu sebelumnya. Jika hal serupa terjadi dalam klaim dari pihak mu‘tiq (orang yang memerdekakan budak), maka pendapat yang dipegang adalah pendapatnya, bukan pendapat pemilik, sebagaimana pada kasus ghashib.

وَالَّذِي قَالَهُ فِي دَعْوَى الْمُعْتِقِ إنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ الْمَالِكِ كَانَ فِي ادِّعَاءِ نَقْصٍ طَارِئٍ لَيْسَ مِنْ أَصْلِ الْخِلْقَةَ كَالْإِبَاقِ وَالسَّرِقَةِ لِأَنَّهُ لَمْ يُخْلَقْ سَارِقًا وَلَا آبِقًا فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْمَالِكِ دُونَ الْمُعْتِقِ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ أَنَّهُ لَيْسَ بِسَارِقٍ وَلَا آبِقٍ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلُ هَذِهِ الدَّعْوَى مِنْ جِهَةِ الْغَاصِبِ كَانَ الْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ الْمَالِكِ كَالْمُعْتِقِ

Apa yang dikatakan dalam perkara klaim oleh mu‘tiq bahwa pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pemilik, itu berlaku dalam klaim adanya kekurangan yang muncul kemudian, yang bukan berasal dari asal penciptaan, seperti lari (ibāq) dan pencurian, karena ia tidak diciptakan sebagai pencuri atau pelarian. Maka dalam hal ini, pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pemilik, bukan mu‘tiq, karena mu‘tiq tidak mampu mendatangkan bukti bahwa budak tersebut bukan pencuri atau pelarian. Jika klaim seperti ini datang dari pihak ghashib, maka pernyataan yang dipegang juga adalah pernyataan pemilik, sebagaimana halnya pada mu‘tiq.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الْقَوْلَ فِي الغصب قول الغاصب في النقض وَالْقَوْلَ فِي الْعِتْقِ قَوْلُ الْمَالِكِ فِي النَّقْصَيْنِ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْغَصْبِ وَالْعِتْقِ أَنَّ الْغَصْبَ اسْتِهْلَاكُ مُحْصَنٍ لَا يَمْلِكُ بِغُرْمِهِ شَيْئًا فَجَعَلَ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلَ الْمُسْتَهْلِكِ وَالْعِتْقَ مُعَاوَضَةً يَمْلِكُ الْمُعْتِقُ بِهِ الْوَلَاءَ فَجَعَلَ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلَ الْمُتَعَوِّضِ فَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ فِي الْجِنَايَةِ عَلَى الْأَعْضَاءِ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى أَعْضَاءٍ ظَاهِرَةٍ يُمْكِنُ الْمَجْنِيُّ أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ عَلَى سَلَامَتِهَا فَالْقَوْلُ فِي نَقْصِهَا قَوْلُ الْجَانِي

Pendapat kedua adalah bahwa dalam perkara ghashab, pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pelaku ghashab dalam hal kekurangan, sedangkan dalam perkara ‘itq (pembebasan budak), pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pemilik dalam dua kekurangan. Perbedaan antara ghashab dan ‘itq adalah bahwa ghashab merupakan bentuk konsumsi atas sesuatu yang terjaga, di mana pelaku tidak memiliki apapun dengan menanggung kerugian tersebut, sehingga pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pelaku konsumsi. Adapun ‘itq merupakan bentuk mu‘awadhah (pertukaran) di mana orang yang membebaskan budak memperoleh hak wala’, sehingga pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menerima pertukaran. Adapun yang disebutkan oleh al-Muzani mengenai jinayah (penganiayaan) terhadap anggota tubuh, jika terjadi pada anggota tubuh yang tampak dan memungkinkan bagi korban untuk menghadirkan bukti atas keselamatannya, maka pernyataan yang dipegang dalam hal kekurangannya adalah pernyataan pelaku jinayah.

وَإِنْ كَانَتْ عَلَى أَعْضَاءٍ بَاطِنَةٍ يَتَعَذَّرُ إِقَامَةُ الْبَيِّنَةِ عَلَى سَلَامَتِهَا فَفِي نَقْصِهَا إِذَا ادَّعَاهُ الْجَانِي قَوْلَانِ ذَكَرْنَاهُمَا في الجنايات والله أعلم

Dan jika berada pada anggota-anggota tubuh bagian dalam yang sulit untuk didatangkan bukti atas keselamatannya, maka dalam hal kekurangannya apabila pelaku mengakuinya, terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan dalam pembahasan jināyāt. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ عِتْقًا بَتَاتًا ثُمَّ مَاتَ كَانَ فِي ثُلُثِهِ كَالصَّحِيحِ فِي كُلِّ مَالِهِ قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ الْمَخُوفِ الَّذِي يَتَعَقَّبُهُ الْمَوْتُ مُعْتَبَرٌ فِي ثُلُثِ الْمُعْتِقِ فَإِنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ تَحَرَّرَ الْعِتْقُ وَنَفَذَ وَإِنْ عَجَزَ عَنِ الثُّلُثِ رُدَّ وَعَادَ الْمُعْتَقُ رَقِيقًا وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْأَئِمَّةِ وَحُكِيَ عَنْ مَسْرُوقٍ أَنَّهُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ وَأَصْلِ التَّرِكَةِ لِصَدَقَاتِ الزَّوْجَاتِ وَمَا يَصْرِفُهُ فِي النَّفَقَاتِ وَالشَّهَوَاتِ وَهَذَا خَطَأٌ خَالَفَ بِهِ مَنْ سِوَاهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apabila seseorang memerdekakan bagian kepemilikan budaknya (syirk) pada saat ia sakit yang menyebabkan kematiannya, dengan pemerdekaan yang mutlak, kemudian ia meninggal dunia, maka pemerdekaan itu berlaku pada sepertiga hartanya, sebagaimana halnya orang sehat terhadap seluruh hartanya.” Al-Mawardi berkata: “Dasar dari masalah ini adalah bahwa pemerdekaan budak pada saat sakit yang dikhawatirkan (membawa kematian) dihitung dari sepertiga harta orang yang memerdekakan. Jika sepertiga harta itu mencukupi, maka pemerdekaan itu sah dan berlaku. Namun jika tidak mencukupi sepertiga, maka pemerdekaan itu batal dan budak tersebut kembali menjadi budak, dan ini adalah pendapat mayoritas imam. Diriwayatkan dari Masruq bahwa pemerdekaan itu diambil dari seluruh harta dan asal warisan, sebagaimana untuk sedekah istri-istri dan apa yang dibelanjakan untuk nafkah dan keinginan, namun pendapat ini keliru dan menyelisihi pendapat selainnya.”

وَالنَّصُّ الْوَارِدُ فِيهِ بِرِوَايَةِ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ أَعْبُدٍ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ وَلَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فدعاهم وجزأهم ثلاثة أجزاء فأعتق اثنين وأرق أربعة وهذا نص يدفع كل خلاف

Teks yang diriwayatkan dalam hal ini melalui riwayat ‘Imrān bin al-Hushain adalah bahwa seorang laki-laki memerdekakan enam budaknya ketika menjelang wafatnya, dan ia tidak memiliki harta lain selain mereka. Maka hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memanggil mereka dan membagi mereka menjadi tiga bagian, kemudian beliau memerdekakan dua orang dan menjadikan empat orang tetap sebagai budak. Ini adalah nash yang menolak segala bentuk perbedaan pendapat.

فإن أَعْتَقَ الْمَرِيضُ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ كَانَ عِتْقُهُ مُعْتَبَرًا مِنْ ثُلُثِ مَالِهِ كَمَا يَكُونُ عِتْقُ الصَّحِيحِ مِنْ كُلِّ مَالِهِ وَيَسْرِي عِتْقُهُ إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ إِذَا احْتَمَلَهَا الثُّلُثُ كَمَا يَسْرِي عِتْقُ الصَّحِيحِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُلُّ مَالِهِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الثُّلُثِ مِنْ خَمْسَةِ أَقْسَامٍ

Jika seorang yang sakit membebaskan bagian miliknya (syirk) pada seorang budak, maka pembebasan itu dianggap berasal dari sepertiga hartanya, sebagaimana pembebasan orang sehat berasal dari seluruh hartanya. Pembebasan itu juga berlaku pada bagian milik rekannya jika sepertiga harta dapat menanggungnya, sebagaimana pembebasan orang sehat berlaku pada seluruh hartanya jika hartanya mencukupi. Dalam hal ini, keadaan sepertiga harta tidak lepas dari lima bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَتَّسِعَ الثُّلُثُ لِعِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ وَعِتْقِ السِّرَايَةِ فَيَنْفُذُ الْعِتْقُ فِي جَمِيعِهِ بِالْمُبَاشَرَةِ ثُمَّ بِالسِّرَايَةِ وَيُؤْخَذُ مِنْ ثُلُثِهِ قِيمَةُ حِصَّةِ الشَّرِيكِ وَيَكُونُ لَهُ جَمِيعُ وَلَائِهِ

Salah satunya adalah jika sepertiga harta cukup untuk menutupi pembebasan budak secara langsung dan pembebasan karena sirāyah, maka pembebasan budak berlaku untuk seluruhnya, pertama melalui pembebasan langsung kemudian melalui sirāyah. Dari sepertiga harta tersebut diambil nilai bagian milik rekan (syarikat), dan seluruh hak wala’ menjadi miliknya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَعْجِزَ الثُّلُثُ عَنْ عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ وَعِتْقِ السِّرَايَةِ لِاسْتِحْقَاقِ تَرِكَتِهِ فِي دينِهِ وَيُرَدُّ عِتْقُهُ فِي جَمِيعِهِ بِالْمُبَاشَرَةِ وَبِالسِّرَايَةِ وَيَعُودُ إِلَى الرِّقِّ وَيُبَاعُ فِي الدَّيْنِ

Bagian kedua adalah ketika sepertiga harta tidak cukup untuk membebaskan secara langsung maupun secara sirāyah, karena harta peninggalannya digunakan untuk membayar utangnya. Maka pembebasan budak yang dilakukan, baik secara langsung maupun sirāyah, menjadi batal seluruhnya, budak tersebut kembali menjadi budak, dan ia dijual untuk melunasi utang.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَتَّسِعَ الثُّلُثُ لِأَحَدِ الْمُعْتَقِينَ وَيَعْجِزَ عَنِ الْآخَرِ فَيَجْعَلُ الثُّلُثَ مَصْرُوفًا فِي عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ دُونَ عِتْقِ السِّرَايَةِ لِأَنَّ عِتْقَ الْمُبَاشَرَةِ أَصْلٌ وَعَتَقَ السِّرَايَةِ فَرْعٌ كَعِتْقِ الْمُعْسِرِ

Bagian ketiga adalah ketika sepertiga harta cukup untuk memerdekakan salah satu dari orang yang dimerdekakan, tetapi tidak cukup untuk yang lainnya. Maka sepertiga harta itu digunakan untuk memerdekakan secara langsung (ʿitq al-mubāsharah) saja, bukan untuk memerdekakan secara tidak langsung (ʿitq al-sirāyah), karena memerdekakan secara langsung adalah pokok, sedangkan memerdekakan secara tidak langsung adalah cabang, seperti memerdekakan orang yang tidak mampu.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يَتَّسِعَ الثُّلُثُ لِأَحَدِهِمَا وَبَعْضِ الْآخَرِ فَيُكْمَلُ عِتْقُ الْمُبَاشَرَةِ وَيُجْعَلُ النَّقْصُ فِي عِتْقِ السِّرَايَةِ كَعِتْقِ مَنْ أَيْسَرَ بِبَعْضِ حِصَّةِ شَرِيكِهِ

Bagian keempat adalah apabila sepertiga harta cukup untuk membebaskan salah satu dari keduanya dan sebagian dari yang lain, maka pembebasan langsung (al-mubāsyarah) disempurnakan, dan kekurangan diletakkan pada pembebasan karena sirāyah, seperti pembebasan orang yang mampu membebaskan sebagian bagian milik rekannya.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ يَتَّسِعَ الثُّلُثُ لِبَعْضِ أَحَدِهِمَا وَيَعْجِزَ عَنِ الْبَاقِي فَيُجْعَلُ الْبَعْضُ نَافِذًا فِي عِتْقِ المباشرة ويرد الباقي في عتق المباشر وَيُبْطَلُ عِتْقُ السِّرَايَةِ فَلَوْ قَالَ الْوَرَثَةُ نَحْنُ نُمْضِي عِتْقَ الْمُبَاشَرَةِ وَنَغْرَمُ عِتْقَ السِّرَايَةِ كَانَ لَهُمْ تَكْمِيلُ الْعِتْقِ فِي الْمُبَاشَرَةِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ تَجَاوُزُهُ إِلَى عِتْقِ السِّرَايَةِ لِأَنَّ الْمُعْتِقَ مُعْسِرٌ بِهِ وَهُوَ لَوْ أَرَادَ ذَلِكَ فِي جِنَايَةٍ مُنِعَ فَكَانَ وَرَثَتُهُ بِالْمَنْعِ أَحَقُّ

Bagian kelima adalah apabila sepertiga harta cukup untuk membebaskan sebagian dari salah satu dari keduanya, namun tidak mencukupi untuk sisanya, maka sebagian itu dijadikan sah untuk pembebasan secara langsung dan sisanya dikembalikan pada pembebasan langsung, sedangkan pembebasan karena sirāyah dibatalkan. Jika para ahli waris berkata, “Kami melaksanakan pembebasan secara langsung dan menanggung pembebasan karena sirāyah,” maka mereka boleh menyempurnakan pembebasan pada pembebasan langsung, tetapi mereka tidak boleh melampaui itu hingga ke pembebasan karena sirāyah, karena orang yang memerdekakan dalam hal ini tidak mampu, dan jika ia menghendaki hal itu dalam kasus jināyah, maka ia akan dicegah. Maka, para ahli warisnya lebih berhak untuk dicegah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَوْصَى بِعِتْقِ نَصِيبٍ مِنْ عَبْدٍ بِعَيْنِهِ لَمْ يُعْتَقْ بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْهُ إِلَّا مَا أَوْصَى بِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan sebagian dari seorang budak tertentu, maka setelah kematiannya, yang dimerdekakan dari budak itu hanyalah bagian yang diwasiatkan saja.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا وَصَّى بِعِتْقِ شِرْكٍ لَهُ فِي عَبْدٍ أَنْ يُعْتَقَ عَنْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ كَانَ عِتْقُ حِصَّتِهِ مُعْتَبَرًا فِي ثُلُثِهِ وَمُسْتَحَقٌّ تَحْرِيرُهَا عَلَى وَرَثَتِهِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالْمَوْتِ حَتَّى يَعْتِقَهَا الْوَرَثَةُ عنه لو قَالَ إِذَا مُتُّ فَنَصِيبِي مِنْهُ حُرٌّ عَتَقَ عَلَيْهِ بِالْمَوْتِ وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ عِتْقُ الْوَرَثَةِ لَهُ لِأَنَّهُ جَعَلَ الْمَوْتَ فِي هَذَا صِفَةً للعتق وجعل الْمَوْتَ فِي ذَلِكَ وَصِيَّةً بِالْمُعْتَقِ ثُمَّ يَسْتَوِيَانِ فِي اعْتِبَارِهِمَا مِنَ الثُّلُثِ فَإِذَا احْتَمَلَ الثُّلُثُ قِيمَةَ نَصِيبِهِ عَتَقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْرِي الْعِتْقُ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ وَإِنْ كَانَ الثُّلُثُ مُتَّسِعًا لِقِيمَتِهَا لِأَنَّ مِلْكَهُ قَدْ زَالَ عَنْهُ بِالْمَوْتِ إِلَّا قَدْرَ مَا اسْتَثْنَاهُ فِي وَصِيَّتِهِ فَلَوْ وَصَّى بِعِتْقِ نَصِيبِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَبِعِتْقِ نَصِيبِ شَرِيكِهِ قَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِيُّ تَصِحُّ وَصِيَّتُهُ بِعِتْقِهَا إِذَا احْتَمَلَهَا الثُّلُثُ؛ لِأَنَّهُ بِالْوَصِيَّةِ مُسْتَثْنًى لَهُمَا مِنْ مَالِهِ فَصَارَ مُوسِرًا بِهِمَا كَالْحُرِّ فَصَارَ عِتْقُ نَصِيبِهِ مُبَاشَرَةً وَعِتْقُ نَصِيبِ الشَّرِيكِ سِرَايَةً وَهَذَا عِنْدِي لَيْسَ بِصَحِيحٍ بَلْ تَصِحُّ الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ نَصِيبِهِ وَلَا تَسْرِي إلى نصيب شريكيه لأمرين

Al-Mawardi berkata: “Pendapat ini benar, yaitu apabila seseorang berwasiat untuk memerdekakan bagian kepemilikannya (syirk) pada seorang budak agar dimerdekakan setelah kematiannya, maka kemerdekaan bagi bagiannya itu dianggap dari sepertiga harta peninggalannya, dan wajib bagi para ahli warisnya untuk membebaskannya. Namun, bagian tersebut tidak otomatis merdeka dengan kematian, kecuali jika para ahli waris membebaskannya atas nama pewaris. Jika ia berkata, ‘Apabila aku meninggal, maka bagianku darinya menjadi merdeka,’ maka bagian itu langsung merdeka dengan kematiannya dan tidak disyaratkan pembebasan oleh para ahli waris, karena ia menjadikan kematian sebagai syarat kemerdekaan, sedangkan pada kasus sebelumnya kematian dijadikan sebagai wasiat untuk memerdekakan. Keduanya sama dalam hal perhitungan dari sepertiga harta. Jika sepertiga harta cukup untuk menutupi nilai bagiannya, maka bagian itu menjadi merdeka. Kemerdekaan tidak berlaku pada bagian milik rekannya setelah kematian, meskipun sepertiga harta cukup untuk menutupi nilainya, karena kepemilikannya telah hilang dengan kematian, kecuali bagian yang dikecualikan dalam wasiatnya. Jika ia berwasiat untuk memerdekakan bagiannya setelah kematiannya dan juga memerdekakan bagian rekannya, Abu Hamid al-Isfirayini berkata: ‘Wasiatnya untuk memerdekakan kedua bagian itu sah jika sepertiga harta mencukupi, karena dengan wasiat tersebut keduanya dikecualikan dari hartanya, sehingga ia menjadi mampu membebaskan keduanya seperti orang merdeka, maka pembebasan bagiannya dilakukan secara langsung, sedangkan pembebasan bagian rekannya terjadi secara sirāyah (menular).’ Namun menurut saya, hal ini tidaklah benar. Yang benar, wasiat untuk memerdekakan bagiannya sah, tetapi tidak menular kepada bagian rekannya karena dua alasan.”

أحدهما أنه موصي بِعِتْقِ مِلْكِ غَيْرِهِ فَلَمْ يَلْزَمْ غَيْرَهُ

Pertama, ia berwasiat untuk memerdekakan budak milik orang lain, maka hal itu tidak menjadi kewajiban bagi orang lain.

وَالثَّانِي أَنَّ عِتْقَ السِّرَايَةِ مَا سَرَى بِغَيْرِ اخْتِيَارٍ وَلَا وَصِيَّةَ وَهَذَا مَوْجُودٌ فِي عِتْقِ الْحَيِّ وَمَعْدُومٌ فِي عِتْقِ الْمَيِّتِ وَلَكِنْ لَوْ كَانَ الْمُوصِي يَمْلِكُ جَمِيعَ الْعَبْدِ فَوَصَّى بِعِتْقِ بَعْضِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ مِنَ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي الْحَيِّ إِذَا أَعْتَقَ بَعْضَ عَبْدِهِ هَلْ يُنَفَّذُ الْعِتْقُ فِي جَمِيعِهِ مُبَاشَرَةً أَوْ سِرَايَةً

Kedua, bahwa ‘itq al-sirayah (pembebasan budak secara merambat) adalah pembebasan yang terjadi tanpa pilihan dan tanpa wasiat, dan hal ini terdapat pada pembebasan budak oleh orang yang masih hidup dan tidak terdapat pada pembebasan budak oleh orang yang telah meninggal. Namun, jika orang yang berwasiat memiliki seluruh budak lalu ia berwasiat untuk membebaskan sebagian budak itu setelah kematiannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami mengenai orang yang masih hidup apabila membebaskan sebagian budaknya: apakah pembebasan itu berlaku untuk seluruh budak secara langsung ataukah secara merambat.

فأحد الوجهين ان يُعْتَقُ عَلَيْهِ جَمِيعُ الْعَبْدِ مُبَاشَرَةً فَإِذَا أَوْصَى بِعِتْقِ بَعْضِهِ عَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ

Salah satu pendapat adalah bahwa seluruh budak menjadi merdeka secara langsung atas dirinya; maka jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan sebagian dari budak tersebut, seluruhnya menjadi merdeka atas dirinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُعْتَقُ بَاقِيهِ عَلَى الْحَيِّ بِالسِّرَايَةِ فَإِذَا أَوْصَى بِعِتْقِ بَعْضِهِ عَتَقَ ذَلِكَ الْبَعْضُ وَلَمْ يَسْرِ إِلَى جَمِيعِهِ وَإِذَا عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْ عِتْقِ مَا أَوْصَى بِهِ رُدَّ الْعِتْقُ إِلَى مَا اتَّسَعَ لَهُ الثُّلُثُ إِلَّا أَنْ يُمْضِيَهُ الْوَرَثَةُ فِيمَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ فَيَمْضِي عِتْقُهُ وَبِاللَّهِ التوفيق

Pendapat kedua, sisa budak dimerdekakan atas orang yang masih hidup melalui sirāyah. Maka jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan sebagian budaknya, maka bagian itu saja yang merdeka dan tidak berlaku pada seluruhnya. Jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk memerdekakan apa yang diwasiatkan, maka pembebasan budak dikembalikan pada kadar yang dapat ditanggung oleh sepertiga harta, kecuali jika para ahli waris menyetujui kelebihan dari sepertiga itu, maka pembebasan budak tersebut tetap berlaku. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.

بَابٌ فِي عِتْقِ الْعَبِيْدِ لَا يَخْرُجُونَ مِنَ الثلث

Bab tentang pembebasan budak yang tidak keluar dari sepertiga harta.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه ولو أعتق رجل ستة مملوكين لَهُ عِنْدَ الْمَوْتِ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُمْ جُزِّئُوا ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ وَأُقْرِعَ بَيْنَهُمْ كَمَا أَقْرَعَ النبي

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang memerdekakan enam budak miliknya ketika menjelang wafat, dan ia tidak memiliki harta lain selain mereka, maka para budak itu dibagi menjadi tiga bagian, lalu diundi di antara mereka sebagaimana Nabi pernah mengundi.”

في مثله وَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ ثُلُثَ الْمَيِّتِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً لِلْوَارِثِ وهكذا كل ما لم يحتمل الثلث أقرع بينهم ولا سعاية لأن في إقراع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بينهم وفي قوله إن كان معسراً فقد عتق منه ما عتق إبطالا للسعاية من حديثين ثابتين وحديث سعيد بن أبي عروبة في السعاية ضعيف وخالفه شعبة وهشام جميعا ولم يذكروا فيه استسعاء وهما أحفظ منه

Dalam kasus seperti ini, jika seseorang memerdekakan dua budak dengan sepertiga harta peninggalan mayit, dan menjadikan empat budak sebagai milik ahli waris, maka demikian pula pada setiap kasus di mana sepertiga harta tidak mencukupi, dilakukan undian di antara mereka dan tidak ada kewajiban membayar sisa (saya‘ah). Sebab, dalam tindakan Rasulullah SAW yang mengundi di antara mereka, dan dalam sabdanya, “Jika ia dalam keadaan tidak mampu, maka yang merdeka hanyalah bagian yang telah dimerdekakan,” terdapat pembatalan kewajiban membayar sisa berdasarkan dua hadis yang sahih. Adapun hadis Sa‘id bin Abi ‘Arubah tentang kewajiban membayar sisa adalah hadis yang lemah, dan telah diselisihi oleh Syu‘bah dan Hisyam secara bersamaan, di mana keduanya tidak menyebutkan adanya kewajiban membayar sisa dalam riwayat tersebut, dan keduanya lebih kuat hafalannya daripada Sa‘id.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا أَعْتَقَ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ عَبِيدًا لَا يَمْلِكُ غَيْرَهُمْ وَلَمْ يُمْضِ الْوَرَثَةُ عِتْقَهُمْ جُزِّئُوا ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ بِالْعَدَدِ إِنْ تَمَاثَلُوا أَوْ بِالْقِيمَةِ إِنْ تَفَاضَلُوا عَلَى مَا سَنَصِفُهُ مِنْ بَعْدُ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ لِتَتَمَيَّزَ الْحُرِّيَّةُ بِهَا وَيَتَمَيَّزُ الرِّقُّ بِهَا فِي ثُلُثِهِمْ وَسَوَاءٌ كَانُوا سِتَّةً أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَإِنَّمَا ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ السِّتَّةَ إِتْبَاعًا لِلْخَبَرِ فَإِذَا جَزَّأَهُمْ وَهُمْ ستة

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang memerdekakan budak-budaknya dalam keadaan sakit yang mengantarkannya pada kematian, sementara ia tidak memiliki harta lain selain mereka, dan para ahli waris tidak menyetujui pemerdekaan tersebut, maka budak-budak itu dibagi menjadi tiga bagian, berdasarkan jumlah jika mereka sepadan, atau berdasarkan nilai jika mereka berbeda-beda, sebagaimana akan kami jelaskan nanti. Kemudian diundi di antara mereka agar jelas siapa yang merdeka dan siapa yang tetap menjadi budak pada sepertiga dari mereka. Hal ini berlaku baik jumlah mereka enam orang, lebih banyak, maupun lebih sedikit. Adapun Imam Syafi‘i menyebutkan angka enam hanya mengikuti riwayat yang ada. Maka jika mereka dibagi dan jumlah mereka enam orang…

جعل كل اثنين جزءاً وأإقرع بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ جَمَعَهُمَا جُزْءٌ خَرَجَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْحُرِّيَّةِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً جَمَعَهُمْ جُزْءَانِ خَرَجَتْ عليهم قرعة الرق

Ia menjadikan setiap dua orang sebagai satu bagian, lalu mengundi di antara mereka. Maka ia memerdekakan dua orang yang tergabung dalam satu bagian yang keluar undian kemerdekaan atas mereka, dan ia memperbudak empat orang yang tergabung dalam dua bagian yang keluar undian perbudakan atas mereka.

وقال أبو حنيفة لَا تَجْزِئَةَ وَلَا قُرْعَةَ وَيُعْتَقُ مِنْ كُلِّ واحد منهم ثلاثة ويستسعيا فِي قِيمَةِ بَاقِيهِ لِتَتَكَامَلَ حُرِّيَّتُهُ بِالْعِتْقِ وَالسِّعَايَةِ فَخَالَفَنَا فِي ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ

Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada pembagian dan tidak ada undian; dari masing-masing mereka (pemilik) dimerdekakan tiga bagian, dan keduanya (budak) diwajibkan membayar sisa nilainya agar kemerdekaannya menjadi sempurna melalui pembebasan dan pembayaran (saiyah). Maka beliau berbeda pendapat dengan kami dalam tiga hukum.

أَحَدُهَا التَّجْزِئَةُ لِتَتَكَامَلَ بِهَا حُرِّيَّةُ بَعْضِهِمْ وَرِقُّ بَعْضِهِمْ فَنَحْنُ نُجَزِّئُهُمْ وَهُوَ لَا يُجَزِّئُهُمْ

Salah satunya adalah pemisahan agar dengan itu dapat terpenuhi kebebasan sebagian dari mereka dan perbudakan sebagian yang lain; maka kita memisahkan mereka, sedangkan dia tidak memisahkan mereka.

وَالثَّانِي تَمْيِيزُ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الرِّقِّ بِالْقُرْعَةِ نَحْنُ نَقْرَعُ لِتَمْيِيزِهِمَا وَهُوَ لَا يُقْرِعُ

Kedua, membedakan antara kebebasan dan perbudakan dengan undian; kita melakukan undian untuk membedakan keduanya, sedangkan dia tidak melakukan undian.

وَالثَّالِثُ وُجُوبُ السِّعَايَةِ لِيَمْنَعَ بِهَا مِنْ حُرِّيَّةِ بَعْضِ الْعَبْدِ وَاسْتِرْقَاقِ بَعْضِهِ وَنَحْنُ لَا نُوجِبُهَا وَيُجَوِّزُ حُرِّيَّةَ بَعْضِهِ وَاسْتِرْقَاقَ بَعْضِهِ

Ketiga, kewajiban membayar sisa tebusan (as-si‘āyah) agar dapat mencegah sebagian budak menjadi merdeka dan sebagian lainnya tetap menjadi budak. Namun, kami tidak mewajibkan pembayaran sisa tebusan tersebut, sehingga dimungkinkan sebagian budak menjadi merdeka dan sebagian lainnya tetap menjadi budak.

وَأَمَّا السِّعَايَةُ وَتَبْعِيضُ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ فِيهَا

Adapun mengenai si‘āyah, kebebasan sebagian, dan perbudakan, maka pembahasan tentang hal itu telah dijelaskan sebelumnya.

وَأَمَّا التَّجْزِئَةُ وَالْقُرْعَةُ فَالْكَلَامُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ مُخْتَصٌّ بِهِمَا فَأَمَّا التَّجْزِئَةُ لِتَتَكَامَلَ بِهَا الْحُرِّيَّةُ فِي جُزْءٍ وَيَتَكَامَلَ بِهَا الرِّقُّ فِي جُزْأَيْنِ فَمَنَعَ مِنْهُ أَبُو حَنِيفَةَ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Adapun tentang pembagian dan undian, pembahasan dalam bagian ini dikhususkan untuk keduanya. Adapun pembagian, yaitu agar kemerdekaan menjadi sempurna pada satu bagian dan perbudakan menjadi sempurna pada dua bagian, maka Abu Hanifah melarang hal itu dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ كَالْوَصِيَّةِ لِاعْتِبَارِهِمَا فِي الثُّلُثِ وَقَدْ ثَبَتَ الْإِجْمَاعُ أَنَّهُ لَوْ أَوْصَى بِسِتَّةِ أَعْبُدٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُمْ أُمْضِيَتِ الْوَصِيَّةُ فِي ثُلُثِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَلَا يَكْمُلُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ عِتْقُهُمْ بِمَثَابَتِهِ فِي حُرِّيَّةِ الثُّلُثِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَلَا يَكْمُلُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ

Salah satu alasannya adalah bahwa pembebasan budak (al-‘itq) pada saat sakit (menjelang wafat) diperlakukan seperti wasiat, karena keduanya diperhitungkan dalam sepertiga harta. Telah tetap ijmā‘ bahwa jika seseorang berwasiat membebaskan enam budak dan ia tidak memiliki harta lain selain mereka, maka wasiat itu dijalankan pada sepertiga bagian dari masing-masing budak, dan tidak sempurna pada dua dari mereka. Maka wajib pula bahwa pembebasan mereka diperlakukan seperti itu, yaitu masing-masing dari mereka merdeka pada sepertiga bagian, dan tidak sempurna pada dua dari mereka.

وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jawaban terhadapnya ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَقْصُودَ بِالْوَصِيَّةِ التَّمْلِيكُ وَهُوَ مَوْجُودٌ فِي الِاشْتِرَاكِ فَلَمْ يَلْزَمْ تَكْمِيلُهُ بِالْقُرْعَةِ وَالْمَقْصُودَ بِالرِّقِّ إِزَالَةُ أَحْكَامِ الرِّقِّ وَهُوَ غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي الِاشْتِرَاكِ فَلَمْ يَلْزَمْهُ تَكْمِيلُهُ بِالْقُرْعَةِ

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud dengan wasiat adalah pemberian hak milik, dan hal ini telah terwujud dalam kepemilikan bersama, sehingga tidak wajib menyempurnakannya dengan undian (qur‘ah). Sedangkan yang dimaksud dengan pembebasan budak (riq) adalah menghilangkan hukum-hukum perbudakan, dan hal ini tidak terwujud dalam kepemilikan bersama, sehingga tidak wajib pula menyempurnakannya dengan undian (qur‘ah).

وَالثَّانِي أَنَّ الْمُوصِي لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِجَازَةِ حَقِّهِ بِالْقِسْمَةِ فَاسْتَغْنَى عَنْ تَكْمِيلِهِ بِالْوَصِيَّةِ وَالْمُعْتِقَ لَا يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ فَافْتَقَرَ إِلَى تَكْمِيلِهِ بِالْقُرْعَةِ

Kedua, bahwa orang yang berwasiat tidak mampu untuk melaksanakan haknya melalui pembagian, sehingga ia tidak membutuhkan penyempurnaan dengan wasiat. Sedangkan orang yang memerdekakan budak tidak mampu melakukan hal itu, sehingga ia membutuhkan penyempurnaan dengan undian.

وَالِاسْتِدْلَالُ الثَّانِي أَنْ قَالُوا إِنَّ حُكْمَ الْمَرِيضِ فِي ثُلُثِ مَالِهِ كَحُكْمِ الصَّحِيحِ فِي كُلِّ مَالِهِ ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحِيحَ لَوْ مَلَكَ الثُّلُثَ مِنْ سِتَّةِ أَعْبُدٍ فَأَعْتَقَهُمْ لَمْ يَكْمُلْ عِتْقُهُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ وَعَتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُلُثَهَ وَهُوَ قَدْرُ مَا يَمْلِكُهُ فَوَجَبَ مِثْلُهُ فِي الْمَرِيضِ إِذَا مَلَكَهُمْ وَأَعْتَقَهُمْ وَحَقُّهُ فِي الثُّلُثِ مِنْهُمْ أَنْ يَعْتِقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُلُثَهُ وَلَا يَكْمُلُ عِتْقُهُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dalil kedua adalah bahwa mereka berkata: Sesungguhnya hukum orang sakit dalam sepertiga hartanya adalah seperti hukum orang sehat dalam seluruh hartanya. Kemudian telah tetap bahwa jika orang sehat memiliki sepertiga dari enam budak lalu ia memerdekakan mereka, maka kemerdekaan tidak sempurna pada dua dari mereka, dan yang merdeka dari masing-masing mereka adalah sepertiganya, yaitu sebesar yang ia miliki. Maka demikian pula seharusnya pada orang sakit, jika ia memiliki mereka dan memerdekakan mereka, dan haknya atas sepertiga dari mereka adalah bahwa yang merdeka dari masing-masing mereka adalah sepertiganya, dan kemerdekaan tidak sempurna pada dua dari mereka. Jawaban atas hal ini ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَالِكَ الثُّلُثِ يَكُونُ مُكَمِّلًا لَهُمْ مِنْ مِلْكِ غَيْرِهِ فَمُنِعَ وَالْمَرِيضَ يُكَمِّلُ لِلثُّلُثِ فِي مِلْكِ نَفْسِهِ فَلَمْ يُمْنَعْ

Salah satunya adalah bahwa pemilik sepertiga menjadi pelengkap bagi mereka dari harta milik orang lain, maka hal itu dilarang; sedangkan orang sakit melengkapi sepertiga dari harta miliknya sendiri, maka hal itu tidak dilarang.

وَالثَّانِي أَنَّ مَالِكَ الثُّلُثِ لَوْ عَيَّنَ عِتْقَهُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ لَمْ يَجُزْ وَالْمَرِيضَ لَوْ عَيَّنَ عِتْقَهُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ جَازَ فَافْتَرَقَا

Kedua, bahwa pemilik sepertiga (harta) jika menentukan pembebasan budak pada dua orang di antara mereka, maka itu tidak sah. Sedangkan orang sakit jika menentukan pembebasan budak pada dua orang di antara mereka, maka itu sah. Maka keduanya berbeda.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقُرْعَةُ الَّتِي تَتَمَيَّزُ بِهَا الْحُرِّيَّةُ مِنَ الرِّقِّ فَمَنَعَ مِنْهَا أَبُو حَنِيفَةَ اسْتِدْلَالًا بِأَمْرَيْنِ

Adapun undian (al-qur‘ah) yang digunakan untuk membedakan antara kebebasan (al-hurriyyah) dan perbudakan (ar-riqq), maka Abu Hanifah melarangnya dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْقُرْعَةَ رَجْمٌ بِالْغَيْبِ تَنْقُلُ الْحُرِّيَّةَ إِلَى الرِّقِّ وَالرِّقَّ إِلَى الْحُرِّيَّةِ فَجَرَتْ مَجْرَى الْأَزْلَامِ الَّتِي مَنَعَ مِنْهَا الشَّرْعُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ المائدة 90 وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ

Salah satu alasannya adalah bahwa undian (al-qur‘ah) merupakan tindakan menebak-nebak yang bersifat ghaib, yang dapat memindahkan status kebebasan menjadi perbudakan dan perbudakan menjadi kebebasan. Maka, undian itu diperlakukan seperti azlām (anak panah untuk undian) yang telah dilarang oleh syariat melalui firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan azlām adalah najis, termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung.” (al-Mā’idah: 90). Jawaban atas alasan ini ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْقُرْعَةَ إِنَّمَا دَخَلَتْ لتمييز عتق مطلق غير معين فلم ينقل الحرية إلى رِقٍّ وَلَا رِقًّا إِلَى حُرِّيَّةٍ أَلَا تَرَى لَوْ عُيِّنَ الْعِتْقُ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ لَمْ يُنْقَلْ بِالْقُرْعَةِ إِلَى غَيْرِهِمْ

Salah satu alasannya adalah bahwa undian (al-qur‘ah) hanya digunakan untuk membedakan pembebasan budak yang bersifat mutlak dan tidak tertentu, sehingga tidak memindahkan status kebebasan menjadi perbudakan, maupun perbudakan menjadi kebebasan. Tidakkah kamu melihat, jika pembebasan itu telah ditentukan pada dua orang di antara mereka, maka dengan undian tidak akan dipindahkan kepada selain mereka.

وَإِنَّمَا يُقْرَعُ إِذَا أَطْلَقَ الْعِتْقَ فِي السِّتَّةِ وَاسْتَحَقَّ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ دَخَلَتْ لِتَمْيِيزِ مَا يُعْتَقُ وَيُرَقُّ

Pengundian (qur‘ah) hanya dilakukan apabila seseorang membebaskan budak secara mutlak pada enam orang, lalu hak kepemilikan atas dua di antara mereka terbukti bagi orang lain; maka pengundian dilakukan untuk membedakan siapa yang dimerdekakan dan siapa yang tetap menjadi budak.

وَالثَّانِي أَنَّ الْقُرْعَةَ خَارِجَةٌ عَنْ حُكْمِ الْأَزْلَامِ الَّتِي هِيَ رَجْمٌ بِالْغَيْبِ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَزْلَامِ أَنَّهَا هِيَ الْآمِرَةُ وَهِيَ النَّاهِيَةُ وَكَانُوا يَكْتُبُونَ عَلَى أَحَدِهِمَا أَمَرَنِي رَبِّي وَعَلَى الْآخَرِ نَهَانِي رَبِّي وَآخَرُ يَجْعَلُونَهُ عَقْلًا وَيُجْرُونَهَا مَجَارِيَ النُّجُومِ الَّتِي يَعْتَقِدُ الْمُنَجِّمُ أَنَّهَا هِيَ الْفَاعِلَةُ فَنَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا وَلَمْ يَرِدِ الشَّرْعُ بِإِبَاحَةِ شَيْءٍ مِنْهَا

Kedua, bahwa undian (al-qur‘ah) berbeda dari azlām, yaitu praktik menebak perkara gaib, karena mereka (kaum jahiliyah) meyakini bahwa azlām itulah yang memerintah dan melarang. Mereka menuliskan pada salah satu azlām, “Tuhanku memerintahkanku,” dan pada yang lain, “Tuhanku melarangku,” serta yang lain lagi mereka jadikan sebagai penengah, dan mereka memperlakukannya seperti peredaran bintang-bintang yang diyakini oleh para ahli nujum sebagai pelaku (penentu nasib). Maka Allah Ta‘ala melarang hal itu, dan syariat tidak pernah membolehkan sedikit pun dari praktik tersebut.

وَالْقُرْعَةُ مُمَيِّزَةٌ لِحُكْمٍ وَجَبَ بِالشَّرْعِ لِأَنَّهَا قَدْ عَمِلَ بِهَا الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي الشَّرْعِ وَوَافَقَ عَلَيْهَا فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْكَامِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُجْعَلَ الْقُرْعَةُ الَّتِي وَرَدَ الشَّرْعُ بِهَا مَجْرَى الْأَزْلَامِ الَّتِي نَهَى الشَّرْعُ عَنْهَا

Undian (al-qur‘ah) merupakan penentu bagi suatu hukum yang telah ditetapkan oleh syariat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya dalam syariat dan membenarkannya dalam banyak hukum. Maka, tidak boleh menjadikan undian yang telah disyariatkan itu seperti azlām (panah undian) yang dilarang oleh syariat.

وَالِاسْتِدْلَالُ الثَّانِي أَنْ قَالُوا لَوْ كَانَتِ الْقُرْعَةُ دَلِيلًا لَمْ تَتَنَاقَضْ لَأَنَّ أَدِلَّةَ اللَّهِ لَا تَتَنَاقَضُ وَاسْتِعْمَالُ الْقُرْعَةِ مُوجِبٌ لِلتَّنَاقُضِ لِأَنَّهَا لَوْ أُعِيدَتْ ثَانِيَةً لَخَرَجَتْ بِغَيْرِ مَا خَرَجَ بِهِ الْأَوَّلُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُسْتَعْمَلَ وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ

Dalil kedua adalah bahwa mereka berkata: “Seandainya undian (al-qur‘ah) merupakan dalil, niscaya tidak akan terjadi pertentangan, karena dalil-dalil Allah tidak saling bertentangan. Penggunaan undian menyebabkan terjadinya pertentangan, karena jika undian diulang untuk kedua kalinya, hasilnya bisa berbeda dari hasil yang pertama. Maka, tidak boleh menggunakan undian.” Jawaban terhadap argumen ini ada dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَمْنَعْ هَذَا الْمَعْنَى مِنْ دُخُولِ الْقُرْعَةِ فِي قِسْمَةِ الْأَمْلَاكِ لَمْ يُمْنَعْ مِنْهَا فِي الْعِتْقِ

Salah satunya adalah bahwa ketika alasan ini tidak menghalangi penggunaan undian (al-qur‘ah) dalam pembagian kepemilikan, maka alasan tersebut juga tidak menghalangi penggunaannya dalam masalah pembebasan budak (‘itq).

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا تَنَاقُضَ فِيهَا لِأَنَّهَا لَا تُسْتَعْمَلُ إِلَّا مَرَّةً فَكَانَتْ دَلِيلًا فِي الْأَوَّلِ وَلَمْ تَكُنْ دَلِيلًا فِي الثَّانِي فَلَمْ يَدْخُلْهَا إِذَا كَانَتْ دَلِيلًا تَنَاقُضٌ وَإِنْ دَخَلَهَا إِذَا لَمْ تَكُنْ دَلِيلًا تَنَاقُضٌ

Kedua, bahwa tidak terdapat pertentangan di dalamnya karena ia tidak digunakan kecuali satu kali saja, sehingga ia menjadi dalil pada yang pertama dan tidak menjadi dalil pada yang kedua. Maka, ketika ia menjadi dalil, tidak ada pertentangan di dalamnya, dan jika ia tidak menjadi dalil, maka jika terdapat pertentangan, itu terjadi ketika ia tidak menjadi dalil.

فَصْلٌ

Bagian

وَالدَّلِيلُ عَلَى صِحَّةِ مَا ذَهَبْنَا إِلَيْهِ فِي الْأَمْرَيْنِ مِنَ التَّجْزِئَةِ وَالْقُرْعَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ نَصٌّ وَاسْتِدْلَالٌ

Dan dalil atas kebenaran pendapat yang kami pilih dalam dua hal, yaitu at-tajzi’ah (pembagian) dan al-qur‘ah (pengundian), didasarkan pada dua sisi: nash (teks) dan istidlāl (penalaran/argumentasi).

فَأَمَّا النَّصُّ فَوَارِدٌ مِنْ طَرِيقَيْنِ اثْنَيْنِ

Adapun nash, maka ia datang dari dua jalur.

أَحَدُهُمَا عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ أَعْتَقَ عِنْدَ مَوْتِهِ سِتَّةَ مَمْلُوكِينَ لَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   فَقَالَ قَوْلًا شَدِيدًا ثُمَّ دَعَاهُمْ فَجَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً   والطريق الثانية عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَوَاهُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوكِينَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَرَدَّ أَرْبَعَةً إِلَى الرق

Salah satunya adalah dari ‘Imrān bin al-Huṣain, yang diriwayatkan oleh asy-Syāfi‘ī dari ‘Abd al-Wahhāb bin ‘Abd al-Ḥamīd, dari Abū Qilābah, dari Abū al-Muhallab, dari ‘Imrān bin al-Huṣain, bahwa seorang laki-laki dari kaum Anṣār memerdekakan enam orang budak miliknya ketika menjelang wafat, sedangkan ia tidak memiliki harta selain mereka. Maka hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau mengucapkan perkataan yang keras, kemudian memanggil mereka dan membagi mereka menjadi tiga bagian, lalu mengundi di antara mereka, maka beliau memerdekakan dua orang dan menjadikan empat orang tetap sebagai budak. Jalur kedua adalah dari Abū Sa‘īd al-Khudrī, yang diriwayatkan oleh Ḥammād bin Salamah dari ‘Alī bin Zaid, dari Sa‘īd bin al-Musayyab, dari Abū Sa‘īd al-Khudrī, bahwa seorang laki-laki memerdekakan enam orang budak miliknya ketika menjelang wafat, lalu hal itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau mengundi di antara mereka, lalu memerdekakan dua orang dan mengembalikan empat orang kepada status perbudakan.

فَدَلَّ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ خَالَفَ فِيهَا أَبُو حَنِيفَةَ

Hadis ini menunjukkan tiga hukum yang dalam hal ini Abu Hanifah berbeda pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّهُ جَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ لِتَتَكَامَلَ الْحُرِّيَّةُ وَالرِّقُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُجَزِّئُهُمْ

Salah satunya adalah bahwa ia membagi mereka menjadi tiga bagian agar kebebasan dan perbudakan menjadi sempurna, sedangkan Abū Ḥanīfah tidak membaginya demikian.

وَالثَّانِي أَنَّهُ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ لِتَمْيِيزِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الرِّقِّ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُقْرِعُ بَيْنَهُمْ

Kedua, bahwa ia melakukan undian di antara mereka untuk membedakan antara yang merdeka dan yang budak, sedangkan Abu Hanifah tidak melakukan undian di antara mereka.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ كَمَّلَ الْحُرِّيَّةَ فِي اثْنَيْنِ وَالرِّقَّ فِي أَرْبَعَةٍ وَأَبُو حَنِيفَةَ يُعْتِقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ ثُلُثَهُ وَيُرِقُّ ثُلُثَيْهِ وَمَا خَالَفَ النَّصَّ كَانَ مَدْفُوعًا

Ketiga, ia menyempurnakan status merdeka pada dua bagian dan status budak pada empat bagian, sedangkan Abu Hanifah membebaskan sepertiga dari masing-masing dan memperbudak dua pertiganya. Apa yang bertentangan dengan nash maka tertolak.

فَإِنْ قَالُوا مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ مُسْتَعْمَلٌ فِي غَيْرِ مَا قُلْتُمُوهُ وَهُوَ أَنَّ قوله   جزأهم ثلاثة أجزاء   أي جُزْءًا حُرِّيَّةً وَجُزْأَيْنِ رِقًّا

Jika mereka berkata, “Maksud dari hadis ini digunakan dalam konteks yang berbeda dari apa yang kalian katakan, yaitu bahwa sabda beliau ‘mereka terbagi menjadi tiga bagian’ maksudnya adalah satu bagian berupa kebebasan dan dua bagian berupa perbudakan.”

وَقَوْلُهُ   أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ   أَيِ اسْتِقْصَاءً فِي اعْتِبَارِ الْقِيمَةِ اشْتِقَاقًا مِنَ الْمُقَارَعَةِ لَا مِنَ الْقُرْعَةِ مَأْخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِمْ قَرَعَ فُلَانٌ فُلَانًا إِذَا اسْتَقْصَى عَلَيْهِ

Dan ucapannya “aqra‘a baynahum” maksudnya adalah penelusuran secara mendalam dalam mempertimbangkan nilai (harga), yang diambil dari kata “al-muqāra‘ah” (persaingan), bukan dari “al-qur‘ah” (undian), yang berasal dari ucapan mereka “qara‘a fulānun fulānan” jika seseorang menelusuri secara mendalam terhadap orang lain.

وَقَوْلُهُ أَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً أَيْ أَعْتَقَ سَهْمَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةَ أَسْهُمٍ

Dan ucapannya “ia memerdekakan dua orang dan memperbudak empat orang” maksudnya adalah ia memerdekakan dua bagian dan memperbudak empat bagian.

قِيلَ هَذَا تَأْوِيلٌ مَعْدُولٌ بِهِ عَنِ الظَّاهِرِ بِغَيْرِ دَلِيلٍ وَيَبْطُلُ بِالدَّلِيلِ أَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّ مَعْنَى جَزَّأَهُمْ أَيْ جَعَلَ جُزْءًا حُرِّيَّةً وَجُزْأَيْنِ رِقًّا فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّ هَذِهِ تَجْزِئَةُ الْأَحْكَامِ دُونَ الْأَعْيَانِ وَحَمْلُ التَّجْزِئَةِ عَلَى الْأَعْيَانِ أَوْلَى مِنْ حَمْلِهَا عَلَى الْأَحْكَامِ؛ لِأَمْرَيْنِ

Dikatakan bahwa ini adalah takwil yang menyimpang dari makna lahiriah tanpa dalil, dan menjadi batal dengan adanya dalil. Adapun pernyataan mereka bahwa makna “jazza’ahum” adalah menjadikan satu bagian sebagai kemerdekaan dan dua bagian sebagai perbudakan, maka itu tidak benar, karena ini adalah pembagian hukum, bukan pembagian pada zat (orangnya). Membawa makna pembagian pada zat lebih utama daripada membawanya pada hukum, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ تَجْزِئَةَ الْأَحْكَامِ مَعْلُومَةٌ بِالْعِتْقِ فَاسْتَغْنَتْ عَنْ تَجْزِئَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ

Salah satunya adalah bahwa pembagian hukum telah diketahui melalui ‘itq, sehingga tidak lagi membutuhkan pembagian dari Rasulullah saw.

وَالثَّانِي أَنَّهَا فِعْلٌ وَالْفِعْلُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى الْأَعْيَانِ دُونَ الْأَحْكَامِ

Kedua, bahwa ia adalah suatu perbuatan, dan perbuatan itu tertuju kepada objek-objek (benda-benda nyata), bukan kepada hukum-hukum.

وَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّ مَعْنَى أَقْرَعَ أَيِ اسْتَقْصَى فِي الْقِيمَةِ فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun pernyataan mereka bahwa makna “aqra‘a” adalah meneliti secara mendalam dalam penilaian (harga), maka hal itu tidaklah benar dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَوْ أَعْتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ ثُلُثَهُ لَمْ يَحْتَجْ إِلَى اعْتِبَارِ الْقِيمَةِ

Salah satunya adalah bahwa jika ia memerdekakan sepertiga dari masing-masing (budak), maka ia tidak perlu mempertimbangkan nilai (budak tersebut).

وَالثَّانِي أَنَّ الْقُرْعَةَ بَيْنَهُمْ لَا تَكُونُ قُرْعَةً فِي قِيمَتِهِمْ

Kedua, bahwa undian di antara mereka bukanlah undian dalam hal nilai mereka.

وَأَمَّا قَوْلُهُمْ   أَعْتَقَ اثْنَيْنِ   أَيْ سَهْمَيْنِ   وَأَرَقَّ أَرْبَعَةَ   أَسْهُمٍ فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun pernyataan mereka bahwa ia memerdekakan dua orang, yaitu dua saham, dan memperbudak empat saham, maka hal itu tidaklah benar dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَا قَالُوهُ لَكَانَ الْعِتْقُ بَيْنَهُمَا وَالرِّقُّ سَهْمَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa jika apa yang mereka katakan itu benar, maka kemerdekaan di antara keduanya dan perbudakan adalah dua bagian.

وَالثَّانِي أَنَّ التَّجْزِئَةَ مُغْنِيَةٌ عَنْ هَذَا فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى مَا لَا يُفِيدُ وَهَذَا مُغْنٍ عَنِ التَّجْزِئَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُفْعَلَ مَا لَا يُفِيدُ

Kedua, bahwa pemisahan (tajzi’ah) sudah mencukupi dari hal ini, maka tidak boleh diarahkan kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat, dan hal ini pun sudah mencukupi dari pemisahan, maka tidak boleh dilakukan sesuatu yang tidak memberikan manfaat.

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ عَلَيْهِمْ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun argumentasi terhadap mereka adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا عَلَى جَوَازِ التَّجْزِئَةِ لِتَكْمِيلِ الْحُرِّيَّةِ وَتَكْمِيلِ الرق

Salah satunya adalah tentang bolehnya melakukan pemisahan untuk menyempurnakan status kemerdekaan dan menyempurnakan status perbudakan.

وَالثَّانِي عَلَى جَوَازِ الْقُرْعَةِ لِتَمْيِيزِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الرِّقِّ

Dan pendapat kedua membolehkan penggunaan undian (al-qur‘ah) untuk membedakan antara status merdeka (al-hurriyyah) dan status budak (ar-riqq).

وَأَمَّا الدَّلِيلُ عَلَى جَوَازِ التَّجْزِئَةِ لِتَكْمِيلِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun dalil tentang bolehnya pembagian untuk menyempurnakan status merdeka dan budak adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ التَّجْزِئَةَ مُوَافِقَةٌ لِأُصُولِ الْوَصَايَا أَن لَا يَمْضِي فِي الْوَصَايَا إِلَّا مَا يَحْصُلُ لِلْوَرَثَةِ إِلَّا مِثْلَاهُ فَإِذَا جُزِّئُوا أَثْلَاثًا وَعَتَقَ مِنْهُمُ اثْنَانِ رَقَّ أَرْبَعَةٌ لِلْوَرَثَةِ فَصَارَ لَهُمْ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ وَإِذَا أُعْتِقَ ثُلُثُهُمْ عَلَى مَا قَالُوا وَاسْتَسْعُوا فِي بَاقِيهِمْ خَرَجَ بِالْعِتْقِ مَا لَمْ يَحْصُلْ لِلْوَرَثَةِ مِثْلَاهُ وَتَرَدَّدَ مَالُ السِّعَايَةِ بَيْنَ أَنْ يَحْصُلَ فَيَتَأَخَّرَ بِهِ حُقُوقُ الْوَرَثَةِ وَبَيْنَ أَن لَا يَحْصُلَ فَتَبْطُلُ بِهِ حُقُوقُ الْوَرَثَةِ وَمَا أَدَّى إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَانَتِ الْأُصُولُ مَانِعَةً مِنْهُ

Salah satu alasannya adalah bahwa pembagian (tajzi’ah) sesuai dengan prinsip-prinsip wasiat, yaitu tidak boleh dilaksanakan dalam wasiat kecuali apa yang didapatkan oleh ahli waris adalah sejumlah yang sama dengan apa yang keluar karena pembebasan (budak). Maka, jika mereka dibagi menjadi tiga bagian dan dua dari mereka dimerdekakan, maka empat bagian tetap menjadi milik ahli waris, sehingga mereka mendapatkan sejumlah yang sama dengan apa yang keluar karena pembebasan. Namun, jika sepertiga dari mereka dimerdekakan sebagaimana pendapat mereka, dan sisanya diwajibkan membayar uang tebusan (istisy‘ā’), maka dari pembebasan itu keluar sesuatu yang tidak didapatkan oleh ahli waris sejumlah yang sama dengannya. Harta hasil usaha (mal as-si‘āyah) pun menjadi tidak pasti, antara bisa didapatkan sehingga hak-hak ahli waris menjadi tertunda karenanya, atau tidak didapatkan sehingga hak-hak ahli waris menjadi batal. Segala sesuatu yang mengarah pada salah satu dari dua kemungkinan ini, maka prinsip-prinsip (al-uṣūl) menjadi penghalang darinya.

وَالِاسْتِدْلَالُ الثَّانِي أَنَّ فِي التَّجْزِئَةِ إِيصَالُ الْوَرَثَةِ إِلَى حُقُوقِهِمْ مِنْ غَيْرِ التَّرِكَةِ فَيَصِيرُ الْمُعْتِقُ مُسْتَوْعِبًا لِتَرِكَتِهِ وَحَقِّهِ فِي ثُلُثِهَا وَالْوَارِثُ مَمْنُوعٌ مِنْهَا وَقَدِ اسْتَحَقَّ ثُلُثَيْهَا

Dalil kedua adalah bahwa dalam pembagian secara terpisah (at-tajzi’ah) terdapat upaya memberikan hak para ahli waris dari selain harta warisan, sehingga orang yang memerdekakan (al-mu‘tiq) menjadi menguasai seluruh harta warisannya dan haknya pada sepertiganya, sedangkan ahli waris terhalangi darinya, padahal mereka berhak atas dua pertiganya.

وَمَا أَدَّى إِلَى هَذَا كَانَ الشَّرْعُ مَانِعًا مِنْهُ

Dan segala sesuatu yang mengantarkan kepada hal ini, maka syariat melarangnya.

وَأَمَّا الدَّلِيلُ عَلَى جَوَازِ الْقُرْعَةِ لِتَمْيِيزِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الرِّقِّ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun dalil tentang bolehnya undian (qur‘ah) untuk membedakan antara kebebasan (hurriyyah) dan perbudakan (riqq), maka terdapat dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا مَا رُوِيَ أَنَّ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَشَارَ خَارِجَةَ بْنَ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَأَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فِي الْقُرْعَةِ بَيْنَ الْعَبِيدِ فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَأَشَارَا عَلَيْهِ بِاسْتِعْمَالِهَا فِيهِ فَعَمِلَ بِهَا وَلَمْ يَظْهَرْ فِي عَصْرِهِ مُخَالِفٌ فِيهَا فَصَارَ قَوْلُ ثَلَاثَةٍ مِنَ التَّابِعِينَ انْعَقَدَ بِهِمُ الْإِجْمَاعُ

Salah satunya adalah riwayat bahwa Umar bin Abdul Aziz ra. meminta pendapat Kharijah bin Zaid bin Tsabit dan Aban bin Utsman bin Affan mengenai undian (al-qur‘ah) di antara para budak dalam masalah kebebasan dan perbudakan. Keduanya memberi saran kepadanya untuk menggunakan undian dalam hal tersebut, lalu ia pun melaksanakannya. Pada masanya tidak tampak ada yang menentang hal itu, sehingga pendapat tiga orang tabi‘in tersebut menjadi ijmā‘ (kesepakatan).

وَالِاسْتِدْلَالُ الثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا اسْتُعْمِلَتِ الْقُرْعَةُ فِي قِسْمَةِ الْأَمْلَاكِ الْمُشْتَرَكَةِ لِيَتَمَيَّزَ بِهَا نَقْلُ أَمْلَاكٍ عَنْ مُلَّاكٍ كَانَ اسْتِعْمَالُهَا فِي مِلْكِ الْوَاحِدِ لِيَتَمَيَّزَ بِهَا حُرِّيَّةُ مِلْكِهِ مِنْ رِقِّهِ أَوْلَى مِنْ وَجْهَيْنِ

Dalil kedua adalah bahwa ketika undian (al-qur‘ah) digunakan dalam pembagian harta bersama untuk membedakan pemindahan kepemilikan dari satu pemilik ke pemilik lain, maka penggunaan undian tersebut dalam kepemilikan satu orang untuk membedakan antara bagian yang merdeka dan bagian yang masih budak dalam kepemilikannya adalah lebih utama dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فِي مِلْكٍ وَاحِدٍ وَذَلِكَ فِي مِلْكِ جَمَاعَةٍ

Salah satunya adalah bahwa hal itu berada dalam satu kepemilikan, yaitu dalam kepemilikan bersama sekelompok orang.

وَالثَّانِي أَنَّ فِي الْعِتْقِ حَقًّا لِلَّهِ تَعَالَى فَكَانَ بِنَفْيِ التُّهْمَةِ أَحَقَّ

Kedua, bahwa dalam pembebasan budak terdapat hak Allah Ta‘ala, sehingga meniadakan tuduhan (atau kecurigaan) lebih utama.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ تَجْزِئَتِهِمْ وَالْإِقْرَاعِ بَيْنَهُمْ فَحُكْمُهُمْ مَوْقُوفٌ فِي بَقَاءِ الْمُعْتِقِ فِي مَرَضِهِ لَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْعِتْقِ لِجَوَازِ أَنْ يَحْدُثَ عَلَيْهِ دَيْنٌ يَسْتَغْرِقُ قِيمَتَهُمْ فَيَرِقُّوا وَلَا يَجْرِيَ عَلَيْهِمْ حُكْمُ الرِّقِّ لِجَوَازِ أَنْ يُفِيدَهَا مَا لَا يَخْرُجُونَ مِنْ ثُلُثِهِ فَيُعْتَقُوا وَلَا يجزأون وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمْ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَوْرُوثٍ فِي حَيَاتِهِ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَصِحَّ فَلَا يُورَثُ وَتَكُونُ أَكْسَابُ الْعَبِيدِ الْمُعْتَقِينَ مَوْقُوفَةً عَلَى مَا يَسْتَبِينُ فَإِذَا مَاتَ الْمُعْتِقُ وَجَبَتِ التَّجْزِئَةُ وَاسْتُعْمِلَتِ الْقُرْعَةُ وَاعْتُبِرَ قَدْرُ التَّرِكَةِ لِيَكُونَ الْعِتْقُ مُعْتَبِرًا بِثُلُثِهَا إذا أقنع الْوَرَثَةَ مِنْ إِجَازَتِهِ وَلَوْ كَانَ لِلْمُعْتِقِ فِي مَرَضِهِ مَالٌ يَخْرُجُونَ مِنْ ثُلُثِهِ لَمْ يُحْكَمْ بِعِتْقِهِمْ قَبْلَ مَوْتِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَتْلَفَ مَالُهُ فَلَا يَصِلُ إِلَى وَرَثَتِهِ أَوْ يَرْكَبَهُ دَيْنٌ يُسْتَرَقُّونَ فِي قَضَائِهِ

Apabila telah tetap apa yang kami sebutkan mengenai pembagian mereka dan pengundian di antara mereka, maka status mereka ditangguhkan selama sang mu‘tiq (orang yang memerdekakan) masih hidup dalam sakitnya; hukum kemerdekaan belum berlaku atas mereka karena dimungkinkan muncul utang yang menghabiskan nilai mereka sehingga mereka kembali menjadi budak, dan hukum perbudakan pun belum berlaku atas mereka karena dimungkinkan muncul harta yang membuat mereka tidak keluar dari sepertiga (harta peninggalan) sehingga mereka merdeka tanpa perlu dibagi dan diundi di antara mereka, sebab mereka bukanlah harta warisan selama mu‘tiq masih hidup, dan bisa jadi kemerdekaan itu sah sehingga mereka tidak diwariskan. Penghasilan para budak yang dimerdekakan pun statusnya ditangguhkan sampai keadaannya menjadi jelas. Apabila mu‘tiq meninggal dunia, maka wajib dilakukan pembagian dan pengundian, serta diperhitungkan besarnya harta warisan agar kemerdekaan itu sesuai dengan sepertiganya jika para ahli waris ridha dengan pemberian izin. Jika mu‘tiq dalam sakitnya memiliki harta yang memungkinkan mereka keluar dari sepertiganya, maka tidak diputuskan kemerdekaan mereka sebelum kematiannya, karena bisa jadi hartanya rusak sehingga tidak sampai kepada ahli warisnya, atau timbul utang yang menyebabkan mereka dijadikan budak untuk melunasinya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا مَاتَ الْمُعْتِقُ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ كَانَ مَنْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الْعِتْقِ حُرًّا بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ وَمَلَكَ جَمِيعَ أَكْسَابِهِ فِي حَيَاةِ مُعْتِقِهِ

Maka apabila sang mu‘tiq (orang yang memerdekakan) meninggal dunia dan dilakukan undian di antara mereka, maka siapa yang keluar namanya dalam undian sebagai yang mendapat bagian kemerdekaan, ia menjadi merdeka berdasarkan ucapan mu‘tiq, dan ia berhak atas seluruh hasil usahanya selama mu‘tiq masih hidup.

وَمَنْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الرِّقِّ مَمْلُوكًا لَمْ يَزُلْ وَجَمِيعُ أَكْسَابِهِ تَرِكَةٌ مَوْرُوثَةٌ وَلَا تَقَعُ بِالْقُرْعَةِ حُرِّيَّةٌ وَلَا رِقٌّ وَإِنَّمَا لِتَتَمَيَّزَ بِهَا الْحُرِّيَّةُ مِنَ الرِّقِّ

Barang siapa yang keluar baginya undian perbudakan dalam keadaan sebagai budak, maka statusnya tidak berubah, dan seluruh hasil usahanya menjadi harta warisan yang dapat diwariskan. Dengan undian tersebut tidaklah ditetapkan status merdeka atau budak, melainkan hanya untuk membedakan antara kemerdekaan dan perbudakan.

وَحُكِيَ عن مالك أن بِالْقُرْعَةِ يَقَعُ الْعِتْقُ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   حِينَ أَقْرَعَ بَيْنَ الْعَبِيدِ السِّتَّةِ أَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً   وَهَذَا الْمَحْكِيُّ عَنْهُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ مِنْ وَجْهَيْنِ

Diriwayatkan dari Malik bahwa dengan undian (qur‘ah) terjadilah pembebasan budak, karena Rasulullah saw. ketika mengundi di antara enam orang budak, beliau membebaskan dua orang dan menjadikan empat orang tetap sebagai budak. Namun, riwayat yang dinisbatkan kepadanya ini tidaklah benar dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا كَانَ خُرُوجُهُمْ مِنَ الثُّلُثِ مُوجِبًا لِعِتْقِهِمْ بِلَفْظِ الْمَالِكِ وَجَبَ إِذَا عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْهُمْ أَنْ تَكُونَ حُرِّيَّةُ مَنْ عَتَقَ مِنْهُمْ بِلَفْظِ الْمَالِكِ

Salah satunya adalah bahwa ketika keluarnya mereka dari sepertiga (harta) menyebabkan mereka merdeka dengan ucapan pemilik, maka wajib apabila sepertiga (harta) tidak mencukupi untuk mereka, kemerdekaan orang yang telah dimerdekakan di antara mereka dengan ucapan pemilik tetap berlaku.

وَالثَّانِي أَنَّ عِتْقَهُمْ بِالْقُرْعَةِ مُبْطِلٌ لِعِتْقِ الْمَالِكِ وَإِبْطَالَ عِتْقِ الْمَالِكِ مُوجِبٌ لِإِبْطَالِ الْقُرْعَةِ وَكُلَّ حُكْمٍ عُلِّقَ بِسَبَبٍ أَدَّى ثُبُوتُهُ إِلَى إِبْطَالِ سَبَبِهِ بَطَلَ الْحُكْمُ بِإِثْبَاتِ سَبَبِهِ

Kedua, bahwa memerdekakan mereka dengan cara undian (al-qur‘ah) membatalkan kemerdekaan yang dilakukan oleh pemilik, dan pembatalan kemerdekaan oleh pemilik mengharuskan pembatalan undian. Setiap hukum yang dikaitkan dengan suatu sebab, apabila penetapannya menyebabkan batalnya sebab tersebut, maka hukum itu batal dengan penetapan sebabnya.

فَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّ النَّبِيَّ أَقْرَعَ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً فَلَمْ يَكُنِ الْعِتْقُ إِلَّا مِنَ الْمَالِكِ فَصَارَتِ الْقُرْعَةُ تَمْيِيزًا لِلْعِتْقِ مِنَ الرِّقِّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun pernyataan mereka bahwa Nabi melakukan undian lalu membebaskan dua orang dan membiarkan empat orang tetap sebagai budak, maka pembebasan (’itq) itu tidaklah terjadi kecuali dari pemilik (budak), sehingga undian (qur‘ah) menjadi pembeda antara pembebasan dan perbudakan. Dan Allah lebih mengetahui.

باب كيفية القرعة بين المماليك وغيرهم

Bab Cara Melakukan Undian antara Para Budak dan Selain Mereka

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَحَبُّ الْقُرْعَةِ إِلَيَّ وَأَبْعَدُهَا مِنَ الْحَيْفِ عِنْدِي أَنْ تُقْطَعَ رِقَاعٌ صِغَارٌ مُسْتَوِيَةٌ فَيُكْتَبَ فِي كُلِّ رُقْعَةٍ اسْمُ ذِي السَّهْمِ حَتَّى يَسْتَوْظِفَ أَسْمَاءَهُمْ ثُمَّ تُجْعَلُ فِي بَنَادِقَ طِينٍ مُسْتَوِيَةٍ وَتُوزَنُ ثُمَّ تُسْتَجَفُّ ثُمَّ تُلْقَى فِي حِجْرِ رَجُلٍ لَمْ يَحْضُرِ الْكِتَابَةَ وَلَا إِدْخَالَهَا فِي الْبُنْدُقِ وَيُغَطَّى عَلَيْهَا ثَوْبٌ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ أَدْخِلْ يَدَكَ فَأَخْرِجْ بُنْدُقَةً فَإِذَا أَخْرَجَهَا فُضَّتْ وَقُرِئَ اسْمُ صَاحِبِهَا وَدُفِعَ إِلَيْهِ الْجُزْءُ الَّذِي أَقْرَعَ عَلَيْهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ أَقْرِعْ عَلَى الْجُزْءِ الثَّانِي الَذِي يَلِيْهِ وَهَكَذَا مَا بَقِيَ مِنَ السّهْمَانِ شَيْءٌ حَتَّى تَنْفَدَ وَهَذَا فِي الرَّقِيقِ وَغَيْرِهِمْ سَوَاءٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Cara undian (qur‘ah) yang paling aku sukai dan paling jauh dari ketidakadilan menurutku adalah dengan memotong kertas-kertas kecil yang sama ukurannya, lalu pada setiap kertas dituliskan nama pemilik bagian hingga semua nama mereka tercantum. Kemudian kertas-kertas itu dimasukkan ke dalam bola-bola tanah liat yang ukurannya sama dan ditimbang, lalu dikocok, kemudian dilemparkan ke pangkuan seorang laki-laki yang tidak hadir saat penulisan nama dan tidak memasukkan kertas ke dalam bola. Setelah itu, bola-bola tersebut ditutup dengan kain, lalu dikatakan kepadanya: “Masukkan tanganmu dan keluarkan satu bola.” Ketika ia mengeluarkannya, bola itu dibuka dan dibacakan nama pemiliknya, lalu diberikan kepadanya bagian yang diundi atas namanya. Kemudian dikatakan lagi kepadanya: “Undilah untuk bagian kedua yang berikutnya,” dan begitu seterusnya hingga seluruh bagian habis. Cara ini berlaku baik untuk budak maupun selain mereka, sama saja.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْقُرْعَةَ تَدْخُلُ فِي الْأَحْكَامِ لِتَمْيِيزِ مَا اشْتَبَهَ إِذَا تَعَذَّرَ تَمْيِيزُهُ بِغَيْرِهَا لِتَزُولَ فِيهِ التُّهْمَةُ وَيَخْرُجَ عَنْ تَوَهُّمِ الْمُمَايَلَةِ فَوَجَبَ أَنْ تُسْتَعْمَلَ عَلَى أَحْوَطِ الْمُمْكِنَاتِ فِيهَا وَهِيَ عَلَى مَا وَصَفَهَا الشَّافِعِيُّ أَحْوَطُ ممكن فيها فاعتبر فما وَصَفَهُ مِنْهَا خَمْسَةُ أَشْيَاءَ مُبَالَغَةً فِي الِاحْتِيَاطِ وَاحْتِرَازًا مِنَ الْحِيلَةِ وَبُعْدًا مِنَ التُّهْمَةِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa undian (al-qur‘ah) digunakan dalam penetapan hukum untuk membedakan perkara-perkara yang serupa apabila tidak memungkinkan membedakannya dengan cara lain, agar tuduhan dapat dihilangkan dan terhindar dari prasangka keberpihakan. Maka wajib menggunakan undian dengan cara yang paling hati-hati yang mungkin dilakukan. Dan cara yang dijelaskan oleh asy-Syafi‘i adalah yang paling hati-hati di antara kemungkinan yang ada, maka perhatikanlah apa yang beliau jelaskan, yaitu lima hal sebagai bentuk kehati-hatian yang maksimal, menghindari tipu daya, dan menjauhkan dari tuduhan.

وَقَالَ مَالِكٌ كَيْفَمَا أَقْرَعَ الْحَاكِمُ بَيْنَهُمْ وَلَوْ بِأَقْلَامِ دَوَاتِهِ أَجْزَأَ وَهَذَا عُدُولٌ عَنِ الِاحْتِيَاطِ وَتَعَرُّضٌ لِلِارْتِيَابِ الَّذِي يُمْنَعُ مِنْهُ الْحُكَّامُ وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ أَنْ تَكُونَ الرِّقَاعُ فِي بَنَادِقَ طِينٍ وَهُوَ أَوْلَى مِنَ الشَّمْعِ وَالْحَدِيدِ لِأَنَّ الشَّمْعَ لَيِّنٌ تَتِمُّ فِيهِ الْحِيلَةُ وَالْحَدِيدُ شَدِيدٌ لَا يَنْفَتِحُ وَإِنْ لِينَ بِالنَّارِ رُبَّمَا أُحْرِقَتْ رِقَاعُهُ

Malik berkata, bagaimana pun cara hakim melakukan undian di antara mereka, meskipun dengan pena-pena dari tempat tintanya, maka itu sudah mencukupi. Namun, ini merupakan penyimpangan dari sikap kehati-hatian dan membuka peluang bagi keraguan yang seharusnya dihindari oleh para hakim. Syafi‘i memilih agar kertas undian itu dimasukkan ke dalam bola-bola tanah liat, dan ini lebih utama daripada menggunakan lilin atau besi, karena lilin itu lunak sehingga mudah untuk diakali, sedangkan besi itu keras dan tidak bisa dibuka, dan jika dipanaskan dengan api, bisa jadi kertas undiannya terbakar.

وَاخْتَارَ ثَانِيًا بِأَنْ تَكُونَ الْبَنَادِقُ مُتَسَاوِيَةَ الْوَزْنِ وَالصِّفَةِ مُدَوَّرَةً قَدْ مُلِّسَتْ لِئَلَّا تَخْتَلِفَ فَتَتَمَيَّزَ

Dan ia memilih kedua kalinya agar peluru-peluru itu memiliki berat dan sifat yang sama, berbentuk bulat, serta telah dipoles agar tidak berbeda sehingga dapat dibedakan.

وَاخْتَارَ ثَالِثًا أَنْ تُجَفَّفَ حَتَّى تَيْبَسَ فَلَا تَتِمُّ فِيهَا حِيلَةٌ

Dan pendapat ketiga memilih agar najis itu dikeringkan hingga benar-benar kering, sehingga tidak ada lagi cara (untuk menyucikannya).

وَاخْتَارَ رَابِعًا أَنْ تُوضَعَ مُغَطَّاةً وَيُؤْمَرَ مَنْ لَمْ يُشَاهِدُهَا بِالْإِخْرَاجِ حَتَّى لَا يَرَى مَا تَتَوَجَّهُ بِهِ إِلَيْهِ تُهْمَةٌ وَاخْتَارَ خَامِسًا أَنْ يَكُونَ الْمُخْرِجُ قَلِيلَ الْفِطْنَةِ ظَاهِرَ السَّلَامَةِ لِيَبْعُدَ مِنَ الْإدْغَالِ وَالْحِيلَةِ فَهَذَا أَحْوَطُ مَا يُمْكِنُ فِيهَا وَلَيْسَ بَعْدَ مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي صِفَتِهَا مِنْ هَذِهِ الْفُصُولِ الْخَمْسَةِ احْتِيَاطٌ يُؤْمَرُ بِهِ الْحُكَّامُ فَإِنْ قَصَّرَ فِي بَعْضِهَا أَسَاءَ وَلَمْ يُبْطَلْ حُكْمُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan ia memilih yang keempat, yaitu agar barang itu diletakkan dalam keadaan tertutup dan diperintahkan kepada orang yang belum melihatnya untuk mengeluarkannya, supaya tidak timbul tuduhan terhadapnya. Ia juga memilih yang kelima, yaitu agar orang yang mengeluarkan barang tersebut adalah orang yang kurang cerdas namun tampak jujur, agar terhindar dari kecurangan dan tipu daya. Inilah langkah paling hati-hati yang dapat dilakukan dalam hal ini. Tidak ada lagi sikap kehati-hatian yang dapat diperintahkan kepada para hakim setelah apa yang telah disebutkan oleh Imam Syafi‘i mengenai tata caranya dalam lima poin ini. Jika ada kekurangan dalam salah satunya, maka itu adalah kesalahan, namun tidak membatalkan putusannya. Allah Maha Mengetahui.

بَابُ الْإِقْرَاعِ بَيْنَ الْعَبِيدِ فِي الْعِتْقِ وَالدَّيْنِ والتبدئة بالعتق

Bab Pengundian di antara para budak dalam hal pembebasan dan utang, serta mendahulukan pembebasan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَيُجَزَّأُ الرَّقِيقُ إِذَا أُعْتِقَ ثُلُثُهُمْ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ إِذَا كَانَتْ قِيَمُهُمْ سَوَاءً وَيُكْتَبُ سَهْم الْعِتْقِ فِي وَاحِدٍ وَسَهْمَا الرِّقِّ فِي اثْنَيْنِ ثَمَّ يقال أخرج على هذا الجزء بعينه ويعرف فإن خرج عليه سهم العتق عتق ورق الجزءان الآخران وإن خرج على الجزء الأول سهم الرق رق ثم قيل أخرج فإن خرج سهم العتق على الجزء الثاني عتق ورق الثالث وإن خرج سهم الرق عليه عتق الثالث وإن اختلفت قيمهم ضم قليل الثمن إلى كثير الثمن حتى يعتدلوا فإن تفاوتت قيمهم فكان قيمة واحد مائة وقيمة اثنين مائة وقيمة ثلاثة مائة جزأهم ثلاثة أجزاء ثم أقرع بينهم على القيم فإن كانت قيمة واحد مائتين واثنين خمسين وثلاثة خمسين فإن خرج سهم العتق على الواحد عتق منه نصفه وهو الثلث من جميع المال والآخرون رقيق وإن خرج سهم اثنين عتقا ثم أعيدت القرعة بين الثلاثة والواحد وأيهم خرج سهمه بالعتق عتق منه ما بقي من الثلث ورق ما بقي منه ومن غيره وإن خرج السهم على الاثنين أو الثلاثة فكانوا لا يخرجون معا جزئوا ثلاثة أجزاء وأقرع بينهم كذلك حتى يستكمل الثلث ويجزأون ثلاثة أجزاء أصح عندي من أكثر من ثلاثة

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Budak dapat dibagi-bagi jika sepertiga dari mereka dimerdekakan menjadi tiga bagian, apabila nilai mereka sama. Maka bagian kemerdekaan dicatat pada satu bagian, dan dua bagian lainnya dicatat sebagai bagian perbudakan. Kemudian dikatakan: keluarkan undian pada bagian tertentu ini dan kenali. Jika undian jatuh pada bagian kemerdekaan, maka bagian itu merdeka dan dua bagian lainnya tetap budak. Jika undian jatuh pada bagian pertama sebagai bagian perbudakan, maka bagian itu tetap budak, lalu dikatakan: keluarkan undian lagi. Jika undian kemerdekaan jatuh pada bagian kedua, maka bagian itu merdeka dan bagian ketiga tetap budak. Jika undian perbudakan jatuh pada bagian kedua, maka bagian ketiga yang merdeka. Jika nilai mereka berbeda, maka bagian yang nilainya sedikit digabungkan dengan yang nilainya banyak hingga menjadi seimbang. Jika nilai mereka sangat berbeda, misalnya nilai satu orang seratus, dua orang dua ratus, dan tiga orang tiga ratus, maka mereka dibagi menjadi tiga bagian, lalu diundi di antara mereka berdasarkan nilai. Jika nilai satu orang dua ratus, dua orang lima puluh, dan tiga orang lima puluh, lalu undian kemerdekaan jatuh pada satu orang, maka setengah dari dirinya merdeka, yaitu sepertiga dari seluruh harta, dan yang lain tetap budak. Jika undian jatuh pada dua orang, maka keduanya merdeka, lalu undian diulang antara tiga orang dan satu orang, dan siapa pun yang undiannya jatuh pada kemerdekaan, maka bagian yang tersisa dari sepertiga itu merdeka, dan sisanya tetap budak, baik dari dirinya sendiri maupun dari yang lain. Jika undian jatuh pada dua atau tiga orang, dan mereka tidak keluar bersama-sama, maka mereka dibagi menjadi tiga bagian dan diundi di antara mereka seperti itu hingga sepertiga terpenuhi. Membagi mereka menjadi tiga bagian menurut saya lebih sahih daripada membagi lebih dari tiga bagian.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا الْبَابُ يَشْتَمِلُ عَلَى بَيَانِ اسْتِعْمَالِ الْقُرْعَةِ وَيَتَضَمَّنُ ثَلَاثَةَ فُصُولٍ

Al-Mawardi berkata, “Bab ini mencakup penjelasan tentang penggunaan undian (al-qur‘ah) dan terdiri atas tiga bagian.”

أَحَدُهَا فِي التَّجْزِئَةِ

Salah satunya berkaitan dengan pembagian.

وَالثَّانِي فِي التَّعْدِيلِ

Dan yang kedua dalam hal penilaian keadilan.

وَالثَّالِثُ فِي الْإِخْرَاجِ

Dan yang ketiga dalam hal pengeluaran.

فأما التجزئة فهو أن يجزئوا ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ إِذَا كَانَ الْمَقْصُودُ عِتْقَ الثُّلُثِ لِأَنَّ مَخْرَجُهُ مِنْ ثَلَاثَةٍ وَلَوْ كَانَ الْمَقْصُودُ عِتْقَ الرُّبُعِ جَزَّأُوا أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ لِأَنَّ مَخْرَجَهُ من أربعة

Adapun pembagian (at-tajzi’ah) adalah membagi menjadi tiga bagian jika yang dimaksud adalah memerdekakan sepertiga, karena asalnya dari tiga bagian. Dan jika yang dimaksud adalah memerdekakan seperempat, maka mereka membaginya menjadi empat bagian, karena asalnya dari empat bagian.

وَلَوْ كَانَ الْمَقْصُودُ عِتْقَ النِّصْفِ جَزَّأُوا جُزْأَيْنِ لِأَنَّ مَخْرَجَهُ مِنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ عَلَى هَذَا

Dan jika yang dimaksud adalah memerdekakan setengah, maka mereka membaginya menjadi dua bagian, karena asalnya adalah dari dua, kemudian berdasarkan hal ini…

وَأَمَّا التَّعْدِيلُ فَمُعْتَبَرٌ بِأَعْدَادِ الْعَبِيدِ وَقِيَمِهِمْ وَهُمْ فِي الْعَدَدِ وَالْقِيمَةِ عَلَى سِتَّةِ أَقْسَامٍ

Adapun penyesuaian (ta‘dīl) maka diperhitungkan berdasarkan jumlah para budak dan nilai mereka, dan mereka dalam hal jumlah dan nilai terbagi menjadi enam golongan.

أَحَدِهَا أَنْ يُوَافِقَ عَدَدُهُمْ مَخْرَجَ الثُّلُثِ وَتَتَسَاوَى قِيَمُهُمْ فَيَكُونُوا فِي مُوَافَقَةِ الْعَدَدِ ثَلَاثَةً أَوْ سِتَّةً أَوْ تِسْعَةً وَتَكُونُ قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِائَةَ دِرْهَمٍ فَإِنْ كَانُوا سِتَّةً جُعِلَ كُلُّ اثْنَيْنِ جُزْءًا وَكَانَ الْجَمْعُ بَيْنَ كُلِّ اثْنَيْنِ مُعْتَبَرًا بِرَأْيِ الْحَاكِمِ فَإِنْ كَانَ فِيهِمْ مُتَنَاسِبَانِ أَخَوَانِ أَوْ أَبٌ وَابْنٌ كَانَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَوْلَى مِنَ التَّفْرِقَةِ وَإِنْ كَانَ مِنْهُمْ أَمَتَانِ فَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَوْلَى مِنَ التَّفْرِقَةِ وَإِنْ كَانَ فِيهِمْ زَوْجَانِ فَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَوْلَى مِنَ التَّفْرِقَةِ؛ فَإِنْ فُرِّقَ بَيْنَ الْمُتَنَاسِبَيْنِ جَازَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ أَمَةٌ مَعَهَا وَلَدٌ صَغِيرٌ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا فِي التَّجْزِئَةِ لِئَلَّا تَخْتَلِفَ أَحْكَامُهُمَا فَيُفَرَّقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ وَلَدِهَا فَتَوَلَّهَ عَلَيْهِ وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْهُ وَإِنَّ فُرِّقَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ

Salah satu caranya adalah jumlah mereka sesuai dengan bagian sepertiga dan nilai mereka sama, sehingga dalam kesesuaian jumlah mereka bisa tiga, enam, atau sembilan, dan nilai masing-masing dari mereka adalah seratus dirham. Jika mereka berjumlah enam, maka setiap dua dijadikan satu bagian, dan penggabungan antara setiap dua orang dipertimbangkan menurut pendapat hakim. Jika di antara mereka terdapat dua orang yang memiliki hubungan dekat, seperti dua saudara atau ayah dan anak, maka menggabungkan keduanya lebih utama daripada memisahkan. Jika di antara mereka ada dua budak perempuan, maka menggabungkan keduanya lebih utama daripada memisahkan. Jika di antara mereka ada sepasang suami istri, maka menggabungkan keduanya lebih utama daripada memisahkan. Jika dipisahkan antara dua orang yang memiliki hubungan dekat, maka hal itu boleh, kecuali jika ada budak perempuan yang bersama anak kecilnya, maka tidak boleh dipisahkan antara keduanya dalam pembagian, agar tidak terjadi perbedaan hukum di antara mereka sehingga dipisahkan antara ibu dan anaknya, dan telah ada larangan tentang hal itu. Jika dipisahkan antara suami istri, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ كَجَوَازِ التَّفْرِقَةِ بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ وَالْأَمَتَيْنِ

Salah satunya diperbolehkan, seperti diperbolehkannya memisahkan antara dua saudara laki-laki dan dua hamba perempuan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُفَرَّقَ فِي التَّجْزِئَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يُفَرَّقَ فِيهَا بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ لِيَجْتَمِعَا عَلَى الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَلَا يَخْتَلِفَانِ فِيهَا فَيُفْضِي إِلَى فَسْخِ النِّكَاحِ الْمَعْقُودِ فِي التَّفْرِقَةِ بين الأخوين والأمتين

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak boleh dilakukan pemisahan dalam hal pembagian antara suami istri, meskipun diperbolehkan adanya pemisahan antara dua saudara agar keduanya dapat berkumpul dalam status merdeka dan budak, serta tidak berbeda dalam hal tersebut sehingga tidak menyebabkan pembatalan akad nikah yang telah terjalin, sebagaimana terjadi pada pemisahan antara dua saudara laki-laki atau dua perempuan budak.

فإذا جزأوا أَثْلَاثًا وَجُمِعَ بَيْنَ كُلِّ جُزْأَيْنِ اثْنَيْنِ كَانَ الْحَاكِمُ فِي الْإِخْرَاجِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ

Jika mereka membaginya menjadi tiga bagian dan setiap dua bagian digabungkan, maka hakim dalam hal pengeluaran berada di antara dua pilihan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكْتُبَ فِي الرِّقَاعِ الْأَسْمَاءَ وَيُخْرِجَ عَلَى الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَيَكْتُبُ سَالِمًا وَغَانِمًا فِي رُقْعَةٍ وَنَافِعًا وَبِلَالًا فِي أُخْرَى وَنَجَاحًا وَإِقْبَالًا فِي الثَّالِثَةِ

Salah satunya adalah dengan menuliskan nama-nama pada kertas-kertas, lalu mengundi untuk menentukan siapa yang merdeka dan siapa yang menjadi budak. Maka ia menuliskan “Sālim” dan “Ghānim” pada satu kertas, “Nāfi‘” dan “Bilāl” pada kertas lain, dan “Najāḥ” serta “Iqbāl” pada kertas ketiga.

وَهُوَ فِيمَا يَقُولُهُ عِنْدَ الْإِخْرَاجِ مِنَ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ بَيْنَ أَمْرَيْنِ

Dan apa yang ia ucapkan ketika mengeluarkan dari status merdeka dan status budak berada di antara dua hal.

أَوْلَاهُمَا وَأُعَجَلُهُمَا إِلَى فَصْلِ الْحَكَمِ أَنْ يَقُولَ أَخْرِجْ عَلَى الْحُرِّيَّةِ فَإِذَا خَرَجَ أَحَدُ الْأَجْزَاءِ أُعْتِقَ مَنْ فِيهَا وَرَقَّ مَنْ فِي الْجُزْأَيْنِ الْآخَرَيْنِ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لِلْعِتْقِ مَا يَخْرُجُ لِأَجْلِهِ

Yang lebih utama dan lebih cepat dalam memutuskan perkara adalah dengan mengatakan: “Keluarkanlah (undilah) untuk menentukan bagian kebebasan.” Maka jika salah satu bagian keluar, maka orang yang berada di dalam bagian itu dimerdekakan, dan orang yang berada di dua bagian lainnya tetap dalam status budak, karena tidak ada lagi bagian yang tersisa untuk dimerdekakan.

وَالثَّانِي أَنْ يَقُولَ أَخْرِجْ عَلَى الرِّقِّ فَإِذَا خَرَجَ أَحَدُ الْأَجْزَاءِ رَقَّ مَنْ فِيهِ وَبَقِيَ جُزْءَانِ أَحَدُهُمَا رَقِيقٌ وَالْآخَرُ حُرٌّ وَهُوَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَقُولَ أَخْرِجْ عَلَى الرِّقِّ فَيَرِقُّ مَنْ فِيهِ وَيُعْتَقُ مَنْ فِي الْجُزْءِ الثَّانِي وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ أَخْرِجْ عَلَى الْحُرِّيَّةِ فَيُعْتَقُ مَنْ فِيهِ وَيَرِقُّ مَنْ فِي الْجُزْءِ الْبَاقِي

Kedua, jika ia berkata, “Keluarkanlah berdasarkan status budak,” maka apabila salah satu bagian keluar, maka siapa pun yang ada di dalamnya menjadi budak, dan tersisa dua bagian, salah satunya budak dan yang lainnya merdeka. Dalam hal ini, ada dua kemungkinan: bisa saja ia berkata, “Keluarkanlah berdasarkan status budak,” maka siapa pun yang ada di dalamnya menjadi budak dan siapa pun yang ada di bagian kedua menjadi merdeka; atau ia berkata, “Keluarkanlah berdasarkan status merdeka,” maka siapa pun yang ada di dalamnya menjadi merdeka dan siapa pun yang ada di bagian yang tersisa menjadi budak.

وَالْخِيَارُ الثَّانِي أَنْ يَكْتُبَ فِي الرِّقَاعِ الْحُرِّيَّةَ وَالرِّقَّ وَيُخْرِجُ عَلَى الْأَسْمَاءِ فَيَكْتُبُ فِي رُقْعَةٍ عتقا وفي رقعتين رقا

Pilihan kedua adalah menuliskan pada kertas-kertas kata “merdeka” dan “budak”, lalu mengundi nama-nama tersebut; ia menuliskan pada satu kertas “merdeka” dan pada dua kertas “budak”.

ويقول خرج لِسَالِمٍ وَغَانِمٍ فَإِنْ خَرَجَ لَهُمَا سَهْمُ الْحُرِّيَّةِ عَتَقَا وَرَقَّ الْأَرْبَعَةُ الْبَاقُونَ وَإِنْ خَرَجَ لَهُمَا سَهْمُ الرِّقِّ رَقَّا وَقَالَ أَخْرِجْ لِنَافِعٍ وَبِلَالٍ فَإِنْ خَرَجَ لَهُمَا سَهْمُ الْعِتْقِ عَتَقَا وَرَقَّ الْآخَرَانِ وَإِنْ خَرَجَ لَهُمَا سَهْمُ الرِّقِّ رَقَّا وَعَتَقَ الْآخَرَانِ فَهَذَا حُكْمُ الْقِسْمِ الْأَوَّلِ فِي تَجْزِئَتِهِ وَإِخْرَاجِهِ

Ia berkata: “Keluarkan undian untuk Sālim dan Ghānim. Jika keduanya mendapatkan bagian kebebasan, maka keduanya merdeka dan empat orang sisanya tetap berstatus budak. Namun jika keduanya mendapatkan bagian perbudakan, maka keduanya tetap berstatus budak.” Ia juga berkata: “Keluarkan undian untuk Nāfi‘ dan Bilāl. Jika keduanya mendapatkan bagian kemerdekaan, maka keduanya merdeka dan dua orang lainnya tetap berstatus budak. Namun jika keduanya mendapatkan bagian perbudakan, maka keduanya tetap berstatus budak dan dua orang lainnya merdeka.” Inilah hukum bagian pertama dalam pembagiannya dan pelaksanaannya.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُوَافِقَ الْعَدَدُ وَتَخْتَلِفَ الْقِيَمُ وَيُمْكِنَ التَّعْدِيلُ

Bagian kedua adalah apabila jumlahnya sama, namun nilainya berbeda, dan penyesuaian masih memungkinkan.

مِثَالُهُ أَنْ يَكُونُوا سِتَّةً قِيمَةُ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ مِائَتَانِ وَقِيمَةُ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ وَقِيمَةُ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ أَرْبَعُمِائَةٍ فَإِذَا جُمِعَتْ قِيَمُهُمْ كَانَتْ تِسْعَمِائَةٍ ثُلُثُهَا ثَلَاثُمِائَةٍ فَيُجْعَلُ الْعَبْدَانِ اللَّذَانِ قِيمَتُهُمَا ثَلَاثُمِائَةِ سَهْمًا وَنَضُمُّ وَاحِدًا مِنَ الْعَبْدَيْنِ اللَّذَيْنِ قِيمَتُهُمَا مِائَتَانِ إِلَى أَحَدِ الْعَبْدَيْنِ اللَّذَيْنِ قِيمَتُهُمَا أَرْبَعُمِائَةٍ وَيُجْعَلُ كُلُّ اثْنَيْنِ مِنْهُمَا سَهْمًا قِيمَتُهُ ثَلَاثُمِائَةٍ فَتَتَعَدَّلُ السِّهَامُ الثَّلَاثَةُ فِي الْعَدَدِ وَالْقِيمَةِ ثُمَّ الْحَاكِمُ فِي الْإِخْرَاجِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ كَتْبِ الْأَسْمَاءِ وَالْإِخْرَاجِ عَلَى الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَبَيْنَ كَتْبِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَالْإِخْرَاجِ عَلَى الْأَسْمَاءِ

Contohnya adalah enam orang, dua di antaranya bernilai dua ratus, dua lainnya bernilai tiga ratus, dan dua sisanya bernilai empat ratus. Jika seluruh nilai mereka dijumlahkan, totalnya menjadi sembilan ratus, sepertiganya adalah tiga ratus. Maka, dua budak yang nilainya tiga ratus dijadikan satu bagian. Kemudian, satu dari dua budak yang nilainya dua ratus digabungkan dengan salah satu dari dua budak yang nilainya empat ratus, sehingga setiap dua dari mereka dijadikan satu bagian dengan nilai tiga ratus. Dengan demikian, tiga bagian tersebut menjadi seimbang dalam jumlah dan nilai. Setelah itu, hakim dalam proses pengeluaran (pembagian) diberikan dua pilihan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya: menulis nama-nama dan mengundi berdasarkan status merdeka dan budak, atau menulis status merdeka dan budak lalu mengundi berdasarkan nama-nama.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يُوَافِقَ الْعَدَدُ وَتَخْتَلِفُ الْقِيَمُ وَلَا يُمْكِنُ التَّعْدِيلُ

Bagian ketiga adalah apabila jumlahnya sama, tetapi nilainya berbeda dan tidak mungkin dilakukan penyesuaian.

مِثَالُهُ أَنْ يَكُونُوا سِتَّةً قِيمَةُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِائَةٌ وَقِيمَةُ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ مِائَةٌ وَقِيمَةُ ثَلَاثَةٍ مِائَةٌ فَمَجْمُوعُ قِيَمِهِمْ ثَلَاثُمِائَةٍ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ أَنَّهُ يُجَزَّأُ سِهَامُهُمْ عَلَى الْقِيمَةِ دُونَ الْعَدَدِ فَنَجْعَلُ الْعَبْدَ الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَةٌ سَهْمًا وَنَجْعَلُ الْعَبْدَيْنِ اللَّذَيْنِ قِيمَتُهُمَا مِائَةٌ سَهْمًا وَنَجْعَلُ الثَّلَاثَةَ الَّذِينَ قِيْمَتُهُمْ مِائَةٌ سَهْمًا وَكَانَ الْإِخْرَاجُ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْخِيَارَيْنِ فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ عَلَى الْوَاحِدِ الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَةٌ عَتَقَ وَرَقَّ الْخَمْسَةُ وَإِنْ خَرَجَ عَلَى الْعَبْدَيْنِ اللَّذَيْنِ قِيمَتُهُمَا مِائَةٌ عَتَقَا وَرَقَّ الْأَرْبَعَةُ وَإِنْ خَرَجَ عَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ قِيمَتُهُمْ مِائَةٌ عَتَقُوا وَرَقَّ الثَّلَاثَةُ

Contohnya adalah jika mereka berjumlah enam orang: nilai salah satu dari mereka seratus, nilai dua orang dari mereka seratus, dan nilai tiga orang adalah seratus, sehingga total nilai mereka adalah tiga ratus. Maka, menurut mazhab Syafi‘i yang dinyatakan secara eksplisit, bagian-bagian mereka dibagi berdasarkan nilai, bukan jumlah. Maka, kita jadikan budak yang nilainya seratus sebagai satu bagian, dua budak yang nilainya seratus sebagai satu bagian, dan tiga budak yang nilainya seratus sebagai satu bagian. Pengeluaran dilakukan sesuai dengan dua pilihan yang telah disebutkan sebelumnya. Jika bagian pembebasan jatuh pada satu orang yang nilainya seratus, maka ia merdeka dan lima lainnya tetap sebagai budak. Jika jatuh pada dua budak yang nilainya seratus, maka keduanya merdeka dan empat lainnya tetap sebagai budak. Jika jatuh pada tiga budak yang nilainya seratus, maka ketiganya merdeka dan tiga lainnya tetap sebagai budak.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ إِلَى خِلَافِ قَوْلِهِ فَجَزَّأَهُمْ عَلَى الْعَدَدِ دُونَ الْقِيمَةِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَقْرَع عَلَى الْعَدَدِ دُونَ الْقِيمَةِ فَكَانَ الْعَدَدُ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا مِنَ الْقِيمَةِ فَنَجْعَلُ الْعَبْدَيْنِ اللَّذَيْنِ قِيمَتُهُمَا مِائَةٌ سَهْمًا وَيُضَمُّ أَحَدُ الْعَبِيدِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ قِيمَتُهُمْ مِائَةٌ إِلَى الْعَبْدِ الَّذِي قِيمَتْهُ مِائَةٌ فَيَصِيرُ سَهْمُهُ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةٍ وَسَهْمُ الْبَاقِينَ أَقَلَّ مِنْ مِائَةٍ ثُمَّ يُقْرَعُ بَيْنَهُمْ فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ عَلَى الْعَبْدَيْنِ الْمُقَوَّمِ أَحَدُهُمَا بِمِائَةٍ وَالْآخَرُ بِثُلُثِ الْمِائَةِ رَقَّ الْأَرْبَعَةُ الْبَاقُونَ فَصَارَ سَهْمُ الْعِتْقِ خَارِجًا على أكثر من الثلث فلم ينقذ الْعِتْقُ فِي جَمِيعِهَا لِزِيَادَتِهِمَا عَلَى الثُّلُثِ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمَا قُرْعَةً ثَانِيَةً فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ على الْعَبْدَيْنِ الْمُقَوَّمِ أَحَدُهُمَا بِمِائَةٍ وَالْآخَرُ بِثُلُثِ الْمِائَةِ رَقَّ الْأَرْبَعَةُ الْبَاقُونَ فَصَارَ سَهْمُ الْعِتْقِ خَارِجًا على أكثر من الثلث فلم ينقذ الْعِتْقُ فِي جَمِيعِهِمَا لِزِيَادَتِهِمَا عَلَى الثُّلُثِ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمَا قُرْعَةً ثَانِيَةً فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ على المقوم بمائة عتق ورق الآخر وإن خَرَجَ عَلَى الْمُقَوَّمِ بِثُلُثِ الْمِائَةِ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَثُلُثَا الْآخَرِ لِاسْتِكْمَالِ الثُّلُثِ وَرَقَّ ثُلُثُهُ الزَّائِدُ عَلَى الثُّلُثِ وَهَذِهِ طَرِيقَةٌ غَيْرُ مَرْضِيَّةٍ لِمَا تَقْضِي إِلَيْهِ مِنْ إِعَادَةِ الْقُرْعَةِ مِرَارًا أَوْ تَبَعُّضِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فِي شَخْصٍ وَاحِدٍ

Sebagian sahabatnya berpendapat berbeda dengannya, lalu membagi mereka berdasarkan jumlah, bukan berdasarkan nilai, karena Nabi ﷺ melakukan undian berdasarkan jumlah, bukan nilai. Maka jumlah lebih utama untuk dijadikan pertimbangan daripada nilai. Maka dua budak yang nilainya seratus dijadikan satu bagian, dan salah satu dari tiga budak yang nilainya seratus digabungkan dengan budak yang nilainya seratus, sehingga bagian miliknya menjadi lebih dari seratus, dan bagian sisanya kurang dari seratus, kemudian diundi di antara mereka. Jika undian pembebasan jatuh pada dua budak yang salah satunya dinilai seratus dan yang lain sepertiga dari seratus, maka empat budak yang tersisa tetap menjadi budak, sehingga bagian pembebasan melebihi sepertiga, maka pembebasan tidak berlaku pada semuanya karena kelebihan mereka dari sepertiga. Kemudian diundi lagi di antara keduanya untuk kedua kalinya. Jika undian pembebasan jatuh pada dua budak yang salah satunya dinilai seratus dan yang lain sepertiga dari seratus, maka empat budak yang tersisa tetap menjadi budak, sehingga bagian pembebasan melebihi sepertiga, maka pembebasan tidak berlaku pada keduanya karena kelebihan mereka dari sepertiga. Kemudian diundi lagi di antara keduanya untuk kedua kalinya. Jika undian pembebasan jatuh pada budak yang dinilai seratus, maka ia merdeka dan yang lain tetap menjadi budak. Jika undian jatuh pada budak yang dinilai sepertiga dari seratus, maka seluruh dirinya merdeka dan dua pertiga dari yang lain juga merdeka untuk menyempurnakan sepertiga, dan sepertiga sisanya tetap menjadi budak. Cara ini tidak memuaskan karena mengharuskan pengulangan undian berkali-kali atau terjadinya sebagian kebebasan dan sebagian perbudakan pada satu orang.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ تَخْتَلِفَ قِيَمُهُمْ وَلَا يُوَافِقَ عَدَدُهُمْ وَيُمْكِنَ التَّعْدِيلُ بَيْنَهُمْ

Bagian keempat adalah apabila nilai mereka berbeda dan jumlah mereka tidak sama, namun masih memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian di antara mereka.

مِثَالُهُ أَنْ يَكُونُوا ثَمَانِيَةً قِيمَةُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِائَةٌ وَقِيمَةُ ثَلَاثَةٍ مِائَةٌ وَقِيمَةُ أَرْبَعَةٍ مِائَةٌ فَمَجْمُوعُ قِيمَتِهِمْ ثَلَاثُمِائَةٍ فيجزأون عَلَى الْقِيَمِ دُونَ الْعَدَدِ وَجْهًا وَاحِدًا وَافَقَ عَلَيْهِ مَنْ خَالَفَ فِيمَا تَقَدَّمَ لِأَنَّ الْعَدَدَ لما لم لو يُوَافِقْ سَقَطَ اعْتِبَارُهُ فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَبَرَ مَا يَعْدِلُ مِنَ الْقِيمَةِ فَنَجْعَلُ الْعَبْدَ الْمُقَوَّمَ بِمِائَةٍ سَهْمًا وَالثَّلَاثَةَ الْمُقَوَّمِينَ بِمِائَةٍ سَهْمًا وَالْأَرْبَعَةَ الْمُقَوَّمِينَ بِمِائَةٍ سَهْمًا فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ عَلَى الْوَاحِدِ الْمُقَوَّمِ بِمِائَةٍ عَتَقَ وَرَقَّ السَّبْعَةُ وَإِنْ خَرَجَ عَلَى الثَّلَاثَةِ الْمُقَوَّمِينَ بِمِائَةٍ عَتَقُوا وَرَقَّ الْخَمْسَةُ وَإِنْ خَرَجَ عَلَى الْأَرْبَعَةِ الْمُقَوَّمِينَ بِمِائَةٍ عَتَقُوا وَرَقَّ الْأَرْبَعَةُ

Contohnya adalah jika mereka berjumlah delapan orang: nilai satu orang di antara mereka seratus, nilai tiga orang tiga ratus, dan nilai empat orang empat ratus. Maka, total nilai mereka adalah delapan ratus. Mereka dibagi berdasarkan nilai (qīmah), bukan berdasarkan jumlah, dengan satu cara saja, dan hal ini disetujui oleh pihak yang berbeda pendapat dalam masalah sebelumnya. Sebab, ketika jumlah tidak sesuai, maka pertimbangan jumlah gugur, sehingga yang harus dipertimbangkan adalah nilai yang setara. Maka, kita jadikan budak yang dinilai seratus sebagai satu saham, tiga orang yang dinilai seratus sebagai satu saham, dan empat orang yang dinilai seratus sebagai satu saham. Jika bagian kemerdekaan (sahm al-‘itq) jatuh pada satu orang yang dinilai seratus, maka dia merdeka dan tujuh orang lainnya tetap sebagai budak. Jika jatuh pada tiga orang yang dinilai seratus, maka mereka merdeka dan lima orang lainnya tetap sebagai budak. Jika jatuh pada empat orang yang dinilai seratus, maka mereka merdeka dan empat orang lainnya tetap sebagai budak.

وَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَا عَبْدَيْنِ قِيمَةُ أَحَدِهِمَا مِائَةٌ وَقِيمَةُ الْآخَرِ مِائَتَيْنِ جُعِلَا سَهْمَيْنِ وَأَقْرَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْمُعْتَقِ عَلَى الْمُقَوَّمِ بِمِائَةِ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَرَقَّ جَمِيعُ الْآخَرِ وَإِنْ خَرَجَ عَلَى الْمُقَوَّمِ بِمِائَتَيْنِ عَتَقَ نِصْفُهُ وَرَقَّ نِصْفُهُ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Berdasarkan hal ini, jika keduanya adalah dua budak, nilai salah satunya seratus dan nilai yang lainnya dua ratus, maka keduanya dijadikan dua bagian dan diundi di antara keduanya. Jika undian jatuh pada budak yang dinilai seratus, maka seluruh dirinya merdeka dan seluruh yang lain tetap sebagai budak. Namun jika undian jatuh pada budak yang dinilai dua ratus, maka setengah dirinya merdeka dan setengahnya lagi tetap sebagai budak, serta seluruh yang lain tetap sebagai budak.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ تَخْتَلِفَ قِيَمُهُمْ وَلَا يُوَافِقَ عَدَدَهُمْ فَلَا يُمْكِنُ التَّعْدِيلُ فِي الْقِيمَةِ وَلَا فِي الْعَدَدِ

Bagian kelima adalah apabila nilai mereka berbeda-beda dan tidak sesuai dengan jumlah mereka, maka tidak dimungkinkan melakukan penyesuaian baik dalam nilai maupun dalam jumlah.

مِثَالُهُ أَنْ يَكُونُوا خَمْسَةً قِيمَةُ أَحَدِهِمْ مِائَةٌ وَقِيمَةُ الثَّانِي مِائَتَانِ وَقِيمَةُ الثَّالِثِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَقِيمَةُ الرَّابِعِ أَرْبَعُمِائَةٍ وَقِيمَةُ الْخَامِسِ خَمْسُمِائَةٍ فَمَجْمُوعُ قِيَمِهِمْ أَلْفٌ وَخَمْسُمِائَةٍ ثُلُثُهَا خَمْسُمِائَةٍ فَفِي الْإِقْرَاعِ بَيْنَهُمْ قَوْلَانِ

Contohnya adalah jika mereka berlima: nilai salah satu dari mereka seratus, nilai yang kedua dua ratus, nilai yang ketiga tiga ratus, nilai yang keempat empat ratus, dan nilai yang kelima lima ratus. Maka, jumlah keseluruhan nilai mereka adalah seribu lima ratus, sepertiganya adalah lima ratus. Dalam hal pengundian di antara mereka, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَا يُعْتَبَرُ فِيهِمُ التَّعْدِيلُ لِتَعَذُّرِهِ فِي الْقِيمَةِ وَالْعَدَدِ وَتُكْتَبُ أَسْمَاؤُهُمْ فِي رِقَاعٍ بِعَدَدِهِمْ وَتُخْرَجُ عَلَى الْعِتْقِ فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِخَمْسِمِائَةٍ عَتَقَ وَرَقَّ الْأَرْبَعَةُ الْبَاقُونَ وَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِأَرْبَعِمِائَةٍ عَتَقَ وَبَقِيَ بَعْدَهُ مِنَ الثُّلُثِ مِائَةٌ فَيُخْرَجُ اسْمٌ آخَرُ فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِثَلَاثِمِائَةٍ عَتَقَ مِنْهُ ثُلُثُهُ وَرَقَّ ثُلُثَاهُ وَالثَّلَاثَةُ الْبَاقُونَ إِنْ خَرَجَ فِي الِابْتِدَاءِ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِثَلَاثِمِائَةٍ عَتَقَ وَبَقِيَ بَعْدَهُ مِنَ الثُّلُثِ مِائَتَانِ فَيُخْرَجُ اسْمٌ آخَرُ فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِمِائَتَيْنِ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَرَقَّ الثَّلَاثَةُ الْبَاقُونَ وَلَوْ خَرَجَ فِي الِابْتِدَاءِ سَهْمُ الْمُقَوَّمِ بِمِائَتَيْنِ عَتَقَ وَبَقِيَ بَعْدَهُ مِنَ الثُّلُثِ ثَلَاثُمِائَةٍ فَيُخْرَجُ اسْمٌ آخَرُ فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِمِائَةٍ عَتَقَ وَبَقِيَ بَعْدَهُ مِنَ الثُّلُثِ مِائَتَانِ فَيُخْرَجُ اسْمٌ آخَرُ فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ الْمُقَوَّمِ بِخَمْسِمِائَةٍ عَتَقَ مِنْهُ خُمْسَاهُ وَرَقَّ ثَلَاثَةُ أَخْمَاسِهِ الِاثْنَانِ الْبَاقِيَانِ ثم على هذا القياس

Salah satunya adalah bahwa dalam hal ini tidak disyaratkan adanya ta‘dīl (penetapan keadilan) karena sulit diterapkan pada nilai dan jumlah. Nama-nama mereka ditulis pada kertas-kertas sesuai jumlah mereka, lalu diundi untuk menentukan siapa yang dimerdekakan. Jika nama budak yang dinilai seharga lima ratus keluar, maka ia dimerdekakan dan empat sisanya tetap menjadi budak. Jika nama budak yang dinilai seharga empat ratus keluar, maka ia dimerdekakan dan sisa dari sepertiga (harta) adalah seratus, lalu diundi lagi satu nama. Jika nama budak yang dinilai seharga tiga ratus keluar, maka sepertiganya dimerdekakan dan dua pertiganya tetap menjadi budak, begitu juga tiga sisanya. Jika pada awalnya nama budak yang dinilai seharga tiga ratus keluar, maka ia dimerdekakan dan sisa dari sepertiga adalah dua ratus, lalu diundi lagi satu nama. Jika nama budak yang dinilai seharga dua ratus keluar, maka seluruhnya dimerdekakan dan tiga sisanya tetap menjadi budak. Jika pada awalnya bagian budak yang dinilai seharga dua ratus keluar, maka ia dimerdekakan dan sisa dari sepertiga adalah tiga ratus, lalu diundi lagi satu nama. Jika nama budak yang dinilai seharga seratus keluar, maka ia dimerdekakan dan sisa dari sepertiga adalah dua ratus, lalu diundi lagi satu nama. Jika nama budak yang dinilai seharga lima ratus keluar, maka dua perlima dari dirinya dimerdekakan dan tiga perlima serta dua sisanya tetap menjadi budak. Demikian seterusnya menurut qiyās (analogi).

والقول الثاني يجزأون ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ عَلَى الْقِيمَةِ دُونَ الْعَدَدِ فَيُجْعَلُ الْمُقَوَّمُ بِخَمْسِمِائَةٍ سَهْمًا وَيُجْمَعُ بَيْنَ الْمُقَوَّمِ بِأَرْبَعِمِائَةٍ وَالْمُقَوَّمِ بِمِائَةٍ فَيُجْعَلُ سَهْمًا ثَانِيًا وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمُقَوَّمِ بِثَلَاثِمِائَةٍ وَالْمُقَوَّمِ بِمِائَتَيْنِ فَيُجْعَلُ سَهْمًا ثَالِثًا ثُمَّ يُخْرَجُ عَلَى الْعِتْقِ فَأَيُّ السِّهَامِ خَرَجَ عَتَقَ مَنْ فِيهِ وَقَدِ اسْتَكْمَلَ بِهِ الثُّلُثَ وَرَقَّ الْبَاقُونَ

Pendapat kedua, mereka dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan nilai, bukan berdasarkan jumlah. Maka, yang dinilai lima ratus dijadikan satu saham, lalu yang dinilai empat ratus dan yang dinilai seratus digabungkan menjadi saham kedua, dan yang dinilai tiga ratus dan yang dinilai dua ratus digabungkan menjadi saham ketiga. Kemudian diundi untuk pembebasan (’itq), maka saham mana pun yang keluar, orang-orang yang termasuk di dalamnya dimerdekakan dan dengan itu telah terpenuhi sepertiga, sedangkan sisanya tetap berstatus budak.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ أَنْ تَتَسَاوَى قِيَمُهُمْ وَلَا يُوَافِقَ عَدَدُهُمْ

Bagian keenam adalah apabila nilai mereka sama, namun jumlah mereka tidak sesuai.

مِثَالُهُ أَنْ يَكُونُوا أَرْبَعَةً قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مِائَةٌ فَمَجْمُوعُ قِيَمِهِمْ أَرْبَعُمِائَةٍ ثُلُثُهَا مِائَةٌ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ وَثُلُثٌ فَتُكْتَبُ أَسْمَاؤُهُمْ فِي الرِّقَاعِ بِعَدَدِهِمْ قَوْلًا وَاحِدًا فَإِذَا خَرَجَ اسْمُ أَحَدِهِمْ عَتَقَ وَأُخْرِجَ اسْمٌ ثَانٍ فَأُعْتِقَ ثُلُثُهُ وَرَقَّ ثُلُثَاهُ وَجَمِيعُ الْآخَرِينَ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Contohnya adalah jika mereka berjumlah empat orang, nilai masing-masing dari mereka seratus, maka total nilai mereka adalah empat ratus. Sepertiganya adalah seratus tiga puluh tiga dan sepertiga. Maka nama-nama mereka ditulis pada kertas sesuai jumlah mereka, tanpa perbedaan pendapat. Jika nama salah satu dari mereka keluar, maka ia merdeka. Jika nama kedua keluar, maka sepertiga dari dirinya dimerdekakan dan dua pertiganya tetap sebagai budak, demikian pula seluruh yang lainnya. Kemudian dilakukan dengan qiyās seperti ini, dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ يُحِيطُ بِبَعْضِ رَقِيْقِهِ جُزِّئَ الرَقِيْقُ عَلَى قَدْرِ الدَّيْنِ ثُمَّ جُزِّئُوا فَأَيُّهُمْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الدَّيْنِ بِيعُوا ثُمَّ أَقْرَعَ لِيَعْتِقَ ثُلُثَهُمْ بَعْدَ الدَّيْنِ وَإِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِ دَيْنٌ بَعْدَ ذَلِكَ بِعْتُ مَنْ عَتَقَ حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَيْهِ دَيْنٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang memiliki utang yang nilainya mencakup sebagian budaknya, maka budak-budak itu dibagi sesuai kadar utang tersebut. Kemudian mereka diundi, dan siapa pun di antara mereka yang keluar undiannya untuk bagian utang, maka mereka dijual. Setelah itu, dilakukan undian lagi agar sepertiga dari mereka dapat dimerdekakan setelah pelunasan utang. Jika setelah itu ternyata masih ada utang yang muncul, maka budak yang telah dimerdekakan dijual hingga tidak tersisa lagi utang atasnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي عِتْقٍ وَدَيْنٍ يَسْتَوْعِبَانِ التَّرِكَةَ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ لَهُ عَبِيدٌ لَا يَمْلِكُ غَيْرَهُمْ وَقَدْ أَعْتَقَهُمْ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ أَوْ أَوْصَى بِعِتْقِهِمْ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ يَسْتَوْعِبُ قِيَمَهُمْ أَوْ قِيمَةَ بَعْضِهِمْ فَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ مُسْتَوْعِبًا لِقِيَمِهِمُ ارْتَفَعَ حُكْمُ الْعِتْقِ بِالدَّيْنِ سَوَاءٌ أَعْتَقَهُمْ فِي مَرَضِهِ أَوْ وَصَّى بِعِتْقِهِمْ بَعْدَ مَوْتِهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ وَبَعْدَهُ وَصِيَّةٌ تُعْتَبَرُ مِنَ الثُّلُثِ وَالدَّيْنُ مُقَدَّمٌ عَلَى الْوَصَايَا فَلِذَلِكَ بَطَلَ بِهِ حُكْمُ الْعِتْقِ كَمَا بَطَلَ بِهِ حُكْمُ جَمِيعِ الْوَصَايَا وَالْمَوَارِيثِ وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ غَيْرَ مُسْتَوْعِبٍ لِقِيَمِهِمُ ارْتَفَعَ حُكْمُ الْعِتْقِ فِيمَا قَابَلَ قَدْرَ الدَّيْنِ وَكَانَ بَاقِيًا فِيمَا عَدَاهُ وَالدَّيْنُ خَارِجٌ مِنْ أَصْلِ التَّرِكَةِ وَالْعِتْقُ مُعْتَبَرٌ مِنْ ثُلُثِهَا فَتَصَوُّرُ الْمَسْأَلَةِ فِي أَسْهَلِ أَمْثِلَتِهَا لِيَكُونَ مِثَالًا لِغَيْرِهِ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَرْبَعَةُ عَبِيدٍ يَعْتِقُهُمْ فِي مَرَضِهِ وَلَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُمْ وَقِيمَةُ كُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَيَمُوتُ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِ مِائَةُ دِرْهَمٍ دَيْنًا فَلِظُهُورِ الدَّيْنِ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata: Permasalahan ini digambarkan dalam kasus pembebasan budak (‘itq) dan utang yang menghabiskan seluruh harta warisan, yaitu seseorang memiliki budak-budak dan tidak memiliki harta selain mereka, lalu ia membebaskan mereka pada saat sakit menjelang wafatnya atau ia berwasiat agar mereka dimerdekakan, sementara ia memiliki utang yang nilainya setara dengan nilai para budak itu atau nilai sebagian dari mereka. Jika utang tersebut menghabiskan seluruh nilai para budak, maka hukum pembebasan budak gugur karena adanya utang, baik ia membebaskan mereka saat sakitnya atau berwasiat agar mereka dimerdekakan setelah wafatnya. Sebab, pembebasan budak pada saat sakit maupun setelahnya dianggap sebagai wasiat yang dihitung dari sepertiga harta, sedangkan utang didahulukan atas wasiat-wasiat. Oleh karena itu, hukum pembebasan budak batal karena utang, sebagaimana batal pula hukum semua wasiat dan warisan. Namun, jika utang tersebut tidak menghabiskan seluruh nilai para budak, maka hukum pembebasan budak gugur pada bagian yang setara dengan jumlah utang, dan tetap berlaku pada sisanya. Utang diambil dari harta pokok warisan, sedangkan pembebasan budak dihitung dari sepertiganya. Permasalahan ini dapat digambarkan dengan contoh paling sederhana agar menjadi contoh bagi kasus lain, yaitu seseorang memiliki empat budak yang ia bebaskan saat sakitnya, dan ia tidak memiliki harta selain mereka, nilai masing-masing budak seratus dirham, lalu ia wafat dan ternyata ia memiliki utang seratus dirham. Maka, dalam hal munculnya utang, terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَظْهَرَ قَبْلَ تَحْرِيرِ الْعِتْقِ بِالْقُرْعَةِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu tampak sebelum pembebasan budak melalui undian (al-qur‘ah).

وَالثَّانِيَةُ بَعْدَ تَحْرِيرِهِ بِهَا

Dan yang kedua setelah membebaskannya dengannya.

فَإِنْ ظَهَرَ قَبْلَ الْقُرْعَةِ وَجَبَ أَنْ يُقْرِعَ بَيْنَهُمْ لِقَضَاءِ الدَّيْنِ ثُمَّ يُقْرِعَ بَيْنَهُمْ لِلْعِتْقِ فَإِنْ قِيلَ فَقَضَاءُ الدَّيْنِ لَا يَحْتَاجُ إِلَى قُرْعَةٍ كَمَا لَوِ اجْتَمَعَ الدَّيْنُ مَعَ الْوَصَايَا لَمْ يُقْرَعْ فِي التَّرِكَةِ بَيْنَ أَرْبَابِ الدُّيُونِ وَالْوَصَايَا قِيلَ إِنَّمَا أُقْرِعَ فِي الدَّيْنِ مَعَ الْعِتْقِ وَإِنْ لَمْ يُقْرَعْ فِيهِ مَعَ الْوَصَايَا لِأَمْرَيْنِ فَرْقٌ وَتَعْلِيلٌ

Jika hal itu tampak sebelum dilakukan undian, maka wajib mengundi di antara mereka untuk pelunasan utang, kemudian mengundi lagi di antara mereka untuk pembebasan budak. Jika ada yang berkata, “Pelunasan utang tidak membutuhkan undian, sebagaimana jika utang berkumpul dengan wasiat, tidak dilakukan undian dalam harta warisan antara para pemilik utang dan wasiat,” maka dijawab: “Undian dilakukan dalam kasus utang bersama pembebasan budak, meskipun tidak dilakukan dalam kasus utang bersama wasiat, karena dua hal: adanya perbedaan dan alasan tertentu.”

فَأَمَّا الْفَرْقُ فَهُوَ أَنَّ الْقُرْعَةَ لَمَّا اسْتُعْمِلَتْ فِي الْعِتْقِ إِذَا انْفَرَدَ وَلَمْ تُسْتَعْمَلْ فِي الْوَصَايَا إِذَا انْفَرَدَتِ اسْتُعْمِلَتْ فِي الْعِتْقِ إِذَا اجْتَمَعَ مَعَ الدَّيْنِ وَإِنْ لَمْ يُسْتَعْمَلْ فِي الْوَصَايَا إِذَا اجْتَمَعَتْ مَعَ الدَّيْنِ وَأَمَّا التَّعْلِيلُ فَهُوَ أَنَّ الْعِتْقَ لَا يُتْرَكُ بِالْعَجْزِ عَلَى إِشَاعَتِهِ حَتَّى يُمَيَّزَ بِالْقُرْعَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُشَاعَ مَا دَخَلَهُ الْعَجْزُ إِلَّا بِالْقُرْعَةِ وَالْوَصَايَا تُتْرَكُ بِالْعَجْزِ عَلَى إِشَاعَتِهَا وَلَا تُمَيَّزُ بِالْقُرْعَةِ فَجَازَ أَنْ يُشَاعَ مَا دَخَلَهُ الْعَجْزُ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ

Adapun perbedaannya adalah bahwa undian (al-qur‘ah) digunakan dalam masalah pembebasan budak (al-‘itq) ketika berdiri sendiri, dan tidak digunakan dalam wasiat (al-waṣāyā) ketika berdiri sendiri. Undian digunakan dalam pembebasan budak jika bersamaan dengan utang, meskipun tidak digunakan dalam wasiat jika bersamaan dengan utang. Adapun alasannya adalah bahwa pembebasan budak tidak ditinggalkan karena ketidakmampuan untuk menyebarkannya, sehingga harus dibedakan melalui undian. Maka, tidak boleh disebarkan sesuatu yang terdapat unsur ketidakmampuan di dalamnya kecuali dengan undian. Sedangkan wasiat dapat ditinggalkan karena ketidakmampuan untuk menyebarkannya, dan tidak dibedakan dengan undian, sehingga boleh disebarkan sesuatu yang terdapat unsur ketidakmampuan di dalamnya tanpa undian.

وَإِذَا وَجَبَ الْإِقْرَاعُ لِلدَّيْنِ كَمَا وَجَبَ الْإِقْرَاعُ لِلْعِتْقِ وَجَبَ تَقْدِيمُ الْإِقْرَاعِ لِلدَّيْنِ كَمَا وَجَبَ الْإِقْرَاعُ لِلْعِتْقِ لِإِمْضَاءِ الْعِتْقِ بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُجْمَعَ فِي الْإِقْرَاعِ الْوَاحِدِ بَيْنَ قَضَاءِ الدَّيْنِ وَالْعِتْقِ كَمَا وَهِمَ فِيهِ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ لِأَمْرَيْنِ

Dan apabila pengundian (iqrā‘) diwajibkan untuk utang sebagaimana diwajibkan untuk pembebasan budak (‘itq), maka wajib mendahulukan pengundian untuk utang sebagaimana diwajibkan pengundian untuk pembebasan budak, agar pembebasan budak dapat dilaksanakan setelah pelunasan utang. Tidak boleh menggabungkan antara pelunasan utang dan pembebasan budak dalam satu pengundian, sebagaimana disangka oleh sebagian fuqahā’, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا لِتَقْدِيمِ الدَّيْنِ عَلَى الْوَصَايَا

Salah satunya adalah untuk mendahulukan utang atas wasiat.

وَالثَّانِي يَجُوزُ أَنْ تَزِيدَ قِيمَةُ مَنْ قَرَعَ فِي الدَّيْنِ فَتُضَمُّ الزِّيَادَةُ إِلَى مَنْ أَفْرَدَ لِلْعِتْقِ أَوْ تُنْقَصَ الْقِيمَةُ فَتُتَمَّمُ مِمَّنْ أُفْرِدَ لِلْعِتْقِ

Yang kedua, boleh jadi nilai orang yang terkena undian dalam utang bertambah, maka kelebihan nilai tersebut digabungkan kepada orang yang dikhususkan untuk dimerdekakan, atau nilai tersebut berkurang, maka kekurangannya disempurnakan dari orang yang dikhususkan untuk dimerdekakan.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَمَعْلُومٌ مِنْ صُورَةِ مَا قُلْنَاهُ أَنَّ الدَّيْنَ مُقَابِلٌ لِرُبْعِ التَّرِكَةِ لِأَنَّهُ مِائَةٌ وَالتَّرِكَةُ أَرْبَعُ مِائَةٍ فَوَجَبَ أَنْ يُجَزَّأُوا أَرْبَاعًا وَيُكْتَبُوا فِي أَرْبَعِ رِقَاعٍ وَالْمُقْرَعُ فِيهِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ

Maka apabila uraian ini telah dipahami, maka diketahui dari gambaran yang telah kami sebutkan bahwa utang itu sebanding dengan seperempat harta warisan, karena utangnya seratus dan harta warisannya empat ratus. Maka wajib untuk membaginya menjadi empat bagian dan menuliskannya pada empat lembar, lalu dilakukan undian di antara dua pilihan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكْتُبَ أَسْمَاءَهُمْ وَيُخْرَجُ عَلَى الدَّيْنِ فَمَنْ خَرَجَ اسْمُهُ بِيعَ فِيهِ

Salah satunya adalah dengan menuliskan nama-nama mereka, lalu diundi atas utang tersebut. Maka siapa yang namanya keluar, dialah yang dijual bagian miliknya di dalamnya.

وَالثَّانِي أَنْ يُكْتَبَ فِي رُقْعَةٍ دَيْنًا وَفِي ثَلَاثَةِ رِقَاعٍ تَرِكَةً وَيُخْرَجَ عَلَى الْأَسْمَاءِ فَمَنْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الدَّيْنِ بِيعَ فِيهِ فَإِذَا تَعَيَّنَ الْمَبِيعُ فِي الدَّيْنِ بِالْقُرْعَةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُقْرِعَ بَيْنَ الْبَاقِينَ فِي الْعِتْقِ إِلَّا بَعْدَ بَيْعِهِ فِي الدَّيْنِ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ تَزِيدَ قِيمَتُهُ فَيُزَادُ عَلَى سِهَامِ الْعِتْقِ وَيَجُوزُ أَنْ تَنْقُصَ فَتُتَمَّمُ مِنْ سِهَامِ الْعِتْقَ وَيَجُوزُ أَنْ يَهْلِكَ فَيُقْرَعُ لِلدَّيْنِ ثَانِيَةً مِنْ سِهَامِ الْعِتْقِ فَلِذَلِكَ وَجَبَ التَّوَقُّفُ عَلَى الْإِقْرَاعِ لِلْعِتْقِ حَتَّى يُبَاعَ الْقَارِعُ فِي الدَّيْنِ وَيُقْضَى بِثَمَنِهِ جَمِيعُ الدَّيْنِ ثُمَّ تُسْتَأْنَفُ قُرْعَةُ الْعِتْقِ بَيْنَ الثَّلَاثَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَجْزَاءٍ فَيُعْتَقُ مِنْهُمْ مَنْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الْعِتْقِ وَيُرَقُّ مَنْ خَرَجَ عَلَيْهِ سَهْمُ الرِّقِّ فَلَوْ كَانُوا ثَلَاثَةَ عَبِيدٍ قِيمَتُهُمْ أَرْبَعُمِائَةِ دِرْهَمٍ وَالدَّيْنُ مِائَةُ دِرْهَمٍ جُزِّئُوا فِي الدَّيْنِ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ عَلَى عَدَدِهِمْ فَإِذَا خَرَجَتْ فِيهِ قُرْعَةُ أَحَدِهِمْ بِيعَ مِنْهُ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ لِأَنَّ قِيمَتَهُ مِائَةٌ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ وَثُلُثٌ وَالْمِائَةُ الدَّيْنُ هِيَ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهَا ويبقى عبدان وربع قيمتهم ثلاثمائة فيجزأون ثلاثا وَيُقْرَعُ بَيْنَهُمْ لِلْعِتْقِ فَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ عَلَى أَحَدِ الْكَامِلِينَ عَتَقَ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ وَرَقَّ رُبْعُهُ مَعَ جَمِيعِ الْآخَرِ وَالرُّبْعُ الْبَاقِي مِنَ الْمَبِيعِ فِي الدَّيْنِ وَإِنْ خَرَجَ سَهْمُ الْعِتْقِ عَلَى الرُّبْعِ الْبَاقِي مِنَ الْمَبِيعِ فِي الدَّيْنِ عَتَقَ وَقُرِعَ بَيْنَ الْكَامِلِينَ وَأُعْتِقَ مِنَ الْقَارِعِ نِصْفُهُ وَرَقَّ نِصْفُهُ وَجَمِيعُ الْآخَرِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Kedua, hendaknya ditulis pada satu kertas sebagai utang dan pada tiga kertas sebagai warisan, lalu diundi atas nama-nama mereka. Siapa yang keluar namanya pada bagian utang, maka dijual bagiannya untuk membayar utang. Jika barang yang dijual untuk utang telah ditentukan melalui undian, maka tidak boleh mengundi antara yang tersisa untuk pembebasan budak (’itq) kecuali setelah barang tersebut dijual untuk membayar utang. Hal ini karena bisa jadi nilainya bertambah sehingga kelebihannya ditambahkan pada bagian pembebasan budak, atau bisa jadi nilainya berkurang sehingga kekurangannya disempurnakan dari bagian pembebasan budak, atau bisa jadi barang itu rusak sehingga dilakukan undian lagi untuk utang dari bagian pembebasan budak. Oleh karena itu, wajib menunda undian untuk pembebasan budak sampai barang yang keluar undiannya untuk utang dijual dan seluruh utang dilunasi dengan hasil penjualannya. Setelah itu, undian pembebasan budak dimulai lagi di antara tiga orang atas tiga bagian, maka siapa yang keluar namanya pada bagian pembebasan budak, ia dimerdekakan, dan siapa yang keluar namanya pada bagian perbudakan, ia tetap menjadi budak. Jika ada tiga budak dengan nilai total empat ratus dirham dan utangnya seratus dirham, maka mereka dibagi dalam utang menjadi tiga bagian sesuai jumlah mereka. Jika undian mengenai salah satu dari mereka, maka tiga perempat dari dirinya dijual, karena nilainya seratus tiga puluh tiga sepertiga, dan seratus utang itu adalah tiga perempat dari nilai tersebut. Maka tersisa dua budak dan seperempat, nilainya tiga ratus, lalu mereka dibagi tiga dan diundi untuk pembebasan budak. Jika undian pembebasan budak jatuh pada salah satu yang utuh, maka tiga perempat dari dirinya dimerdekakan dan seperempatnya tetap menjadi budak bersama seluruh budak lainnya, dan seperempat sisanya dari yang dijual untuk utang. Jika undian pembebasan budak jatuh pada seperempat yang tersisa dari yang dijual untuk utang, maka ia dimerdekakan, lalu diundi antara dua yang utuh, dan dari yang keluar undiannya dimerdekakan setengahnya dan setengahnya tetap menjadi budak bersama seluruh budak lainnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا كَانَ ظُهُورُ الدَّيْنِ بَعْدَ تَحْرِيرِ الْعِتْقِ بِالْقُرْعَةِ

Dan apabila utang itu tampak setelah pembebasan budak melalui undian (al-qur‘ah),

مِثَالُهُ أَنْ يُقْرَعَ بَيْنَ الْعَبِيدِ الْأَرْبَعَةِ فَيُعْتَقُ مِنْهُمْ عَبْدٌ وَثُلُثٌ ثُمَّ تَظْهَرُ عَلَيْهِ مِائَةُ دِرْهَمٍ دَيْنًا لَمْ يُعْلَمْ بِهِ قَبْلَ الْقُرْعَةِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Contohnya adalah jika diundi di antara empat budak, lalu dimerdekakan dari mereka satu budak dan sepertiga, kemudian ternyata terdapat utang seratus dirham atasnya yang sebelumnya tidak diketahui sebelum undian, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي الْمَبْسُوطِ مِنْ كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّ قُرْعَةَ الْعِتْقِ مَاضِيَةٌ وَيُبَاعُ فِي الدَّيْنِ بِمَا اسْتَرَقَّهُ الْوَرَثَةُ وَهُوَ عَبْدَانِ وَثُلُثَا عَبْدٍ بِمِائَةٍ لِقَضَائِهِ لِلدَّيْنِ إِنْ لَمْ يَقْضُوهُ مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَهُمْ بِالْخِيَارِ فِي بَيْعِ مَنْ شاؤوا مِنْهُمْ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ لِأَنَّهُ لَا حَقَّ فِيهِمْ لِلْمُعْتِقِ فَلَمْ يُحْتَجْ فِي بَيْعِهِ إِلَى قُرْعَةٍ وَيَبْقَى مَعَهُمْ عَبْدَانِ وَثُلُثَانِ وَقَدْ صَارَتِ التَّرِكَةُ بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ ثَلَاثَةَ عَبِيدٍ قِيمَتُهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ فَيَبْقَى لِلْوَرَثَةِ تَمَامُ حَقِّهِمْ فِي الثُّلُثَيْنِ ثُلُثُ عَبْدٍ وَقَدْ خَرَجَ بِالْعِتْقِ عَبْدٌ وَثُلُثٌ فَيُقْرَعُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالثُّلُثِ لِيُسْتَرَقُّ مِنْهُمَا ثُلُثُ عَبْدٍ يَسْتَكْمِلُ بِهِ الْوَرَثَةُ ثُلُثَيِ التَّرِكَةِ فَإِنْ خَرَجَتْ قُرْعَةُ الرِّقِّ عَلَى ثُلُثِ الْعَبْدِ رَقَّ لِلْوَرَثَةِ وَتَحَرَّرَ عِتْقُ الْآخَرِ كُلِّهِ وَإِنْ خَرَجَتْ عَلَى هَذَا الْآخَرِ الْكَامِلِ الْعِتْقِ قُرْعَةُ الرِّقِّ رَقَّ ثُلُثُهُ وَعَتَقَ ثُلُثَاهُ وَالثُّلُثُ الْآخَرُ وَصَارَ عِتْقُ الْعَبْدِ مُبَعَّضًا فِي عَبْدَيْنِ فَهَذَا حُكْمُ الْوَجْهِ الأول في استيفاء حكم القرعة الأولة

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i yang dinyatakan secara tegas dalam kitab al-Umm bagian al-Mabsūṭ, adalah bahwa undian (qur‘ah) untuk pembebasan budak berlaku, dan budak dijual untuk membayar utang sesuai bagian yang diwarisi oleh para ahli waris, yaitu dua budak dan dua pertiga budak dengan nilai seratus, untuk melunasi utang jika mereka tidak melunasinya dari harta mereka sendiri. Para ahli waris bebas memilih siapa yang akan mereka jual di antara mereka tanpa undian, karena tidak ada hak bagi mu‘tiq (orang yang memerdekakan) dalam hal ini, sehingga tidak diperlukan undian dalam penjualannya. Maka, yang tersisa bersama mereka adalah dua budak dan dua pertiga, dan setelah utang dilunasi, harta warisan menjadi tiga budak dengan nilai tiga ratus, sehingga para ahli waris tetap memperoleh hak penuh mereka pada dua pertiga, yaitu sepertiga budak. Setelah pembebasan, yang keluar adalah satu budak dan sepertiga, maka dilakukan undian antara budak dan sepertiga tersebut untuk menentukan sepertiga budak yang akan diwarisi oleh para ahli waris agar mereka dapat melengkapi dua pertiga harta warisan. Jika undian perbudakan jatuh pada sepertiga budak, maka sepertiga itu menjadi milik para ahli waris dan sisanya merdeka seluruhnya. Jika undian perbudakan jatuh pada budak yang seluruhnya merdeka, maka sepertiganya menjadi budak dan dua pertiganya merdeka, serta sepertiga lainnya, sehingga pembebasan budak menjadi terbagi pada dua budak. Inilah hukum pendapat pertama dalam menunaikan hukum undian yang pertama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ قُرْعَةَ الْعِتْقِ تَبْطُلُ بِظُهُورِ الدَّيْنِ بَعْدَهَا كَمَا كَانَتْ تَبْطُلُ بِظُهُورِ الدَّيْنِ قَبْلَهَا لِأَنَّهَا وَقَعَتْ فِي غَيْرِ حَقِّهَا كَأَخَوَيْنِ اقْتَسَمَا تَرِكَةً ثُمَّ ظَهَرَ لَهُمَا أَخٌ ثَالِثٌ بَطَلَتْ قِسْمَتُهُمَا وَوَجَبَ أَنْ يَسْتَأْنِفَاهَا مَعَ الثَّالِثِ فَعَلَى هَذَا تُنْقَضُ الْقُرْعَةُ وَيَعُودُ مَنْ أُعْتِقَ بِهَا إِلَى الْحُكْمِ الْأَوَّلِ وَيَبْتَدِئُ فَيُقْرِعُ بَيْنَ الْأَرْبَعَةِ للدين فَيُبَاعُ فِيهِ أَحَدُهُمْ وَيَبْقَى بَعْدَ الْمَبِيعِ فِي الدَّيْنِ ثَلَاثَةٌ يُسْتَحَقُّ عِتْقُ أَحَدِهِمْ فَيُقْرِعُ بَيْنَهُمْ لِلْعِتْقِ وَيُعتقُ مِنْهُمْ مَنْ قُرِعَ وَيُرَقُّ الْآخَرَانِ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat sekelompok ulama dari kalangan pengikut Syafi‘i, menyatakan bahwa undian pembebasan budak menjadi batal apabila setelahnya muncul utang, sebagaimana undian itu juga batal jika utang muncul sebelumnya. Sebab, undian itu dilakukan bukan pada tempatnya, seperti dua orang bersaudara yang membagi warisan, lalu ternyata mereka memiliki saudara ketiga, maka pembagian mereka batal dan wajib diulang bersama saudara ketiga tersebut. Berdasarkan hal ini, undian tersebut dibatalkan dan orang yang telah dimerdekakan melalui undian itu kembali kepada hukum semula, lalu diadakan undian baru di antara empat orang karena adanya utang. Salah satu dari mereka dijual untuk membayar utang, dan setelah yang dijual itu tinggal tiga orang, maka hak pembebasan budak jatuh pada salah satu dari mereka. Lalu diadakan undian di antara mereka untuk pembebasan budak, dan yang terpilih melalui undian dimerdekakan, sedangkan dua lainnya tetap berstatus budak.

وَالْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَصَحُّ؛ لِأَنَّهُ تُحْفَظُ بِهِ حُرِّيَّةُ مَنْ عَتَقَ وَعُبُودِيَّةُ مَنْ رَقَّ وَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ الثَّانِي قَدْ يُعْتَقُ بِهِ مَنْ رَقَّ وَيَرِقُّ بِهِ مَنْ عَتَقَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat pertama lebih sahih; karena dengannya terjaga kebebasan orang yang telah merdeka dan perbudakan orang yang masih menjadi budak. Adapun menurut pendapat kedua, bisa jadi orang yang masih menjadi budak dimerdekakan, dan orang yang telah merdeka menjadi budak. Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ كَانَ الْعَبِيدُ الْأَرْبَعَةُ عَلَى حَالِهِمْ وَعَلَيْهِ مِائَةُ دِرْهَمٍ دَيْنًا فَأَقْرَعَ بَيْنَهُمْ لِلدَّيْنِ وَبِيعَ فِيهِ أَحَدُهُمْ ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَ الثَّلَاثَةِ الْبَاقِينَ لِلْعِتْقِ وَأُعْتِقَ أَحَدُهُمْ وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ اثْنَانِ مِنْهُمْ ثم ظهر عليه مئة دِرْهَمٍ ثَانِيَةٌ دَيْنًا كَانَ عَلَى الْوَجْهَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ

Jika keempat budak itu masih dalam keadaan semula dan ia memiliki utang seratus dirham, lalu ia mengundi di antara mereka untuk pelunasan utang dan salah satu dari mereka dijual untuk membayar utang tersebut, kemudian ia mengundi lagi di antara tiga budak yang tersisa untuk dimerdekakan dan salah satu dari mereka dimerdekakan, sedangkan dua lainnya tetap menjadi milik ahli waris, lalu ternyata ia memiliki utang seratus dirham lagi yang kedua, maka hukumnya kembali kepada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ يُبَاعُ فِي الدَّيْنِ أَحَدُ الْعَبْدَيْنِ الْمُسْتَرَقَّيْنِ وَيُسْتَرَقُّ مِنَ الْعَبْدِ الْمُعْتَقِ ثُلُثُهُ فَيَصِيرُ لِلْوَرَثَةِ عَبْدٌ وَثُلُثٌ وَيُنْفَذُ بِالْعِتْقِ ثُلُثَا عَبْدٍ

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa dalam utang dapat dijual salah satu dari dua budak yang telah dimerdekakan sebagian, dan dari budak yang telah dimerdekakan diambil sepertiganya untuk dijadikan budak, sehingga bagi ahli waris menjadi satu budak dan sepertiga budak, dan dengan pembebasan itu tetap berlaku dua pertiga budak sebagai merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي تَبْطُلُ قُرْعَةُ الْعِتْقِ وَيُسْتَأْنَفُ الْقُرْعَةُ بَيْنَ الثَّلَاثَةِ لِلدَّيْنِ فَإِذَا قَرَعَ فِيهِ أَحَدُهُمْ بِيعَ لِلدَّيْنِ سَوَاءٌ كَانَ مَحْكُومًا بِعِتْقِهِ أَوْ بِرِقِّهِ ثُمَّ اسْتُؤْنِفَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ فَأُعْتِقَ بِهَا ثُلُثَا أَحَدِهِمَا وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثُهُ وَجَمِيعُ الْآخَرِ وَعَلَى هَذَا لَوْ ظَهَرَتْ عَلَيْهِ مِائَةٌ ثَالِثَةٌ دَيْنًا بَعْدَ مَا بِيعَ فِي الْمِائَةِ الثَّانِيَةِ فَعَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ الَّذِي هُوَ الْمَذْهَبُ لَا تُنْقَضُ قُرْعَةُ الْعِتْقِ وَيُبَاعُ مِمَّا اسْتَرَقَّهُ لِلْوَرَثَةِ عَبْدٌ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَيَبْقَى مَعَهُمْ ثُلُثُ عَبْدٍ فَيُسْتَرَقُّونَ مِنْ ثُلُثَيْ مَنْ عَتَقَ ثُلُثُهُ لِيَصِيرَ لَهُمْ ثُلُثَا عَبْدٍ وَلِلْعِتْقِ ثُلُثُ عَبْدٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa undian ‘itq (pembebasan budak) dibatalkan dan undian diulang kembali di antara tiga orang karena adanya utang. Jika salah satu dari mereka terkena undian, maka ia dijual untuk melunasi utang, baik ia telah diputuskan merdeka maupun masih berstatus budak. Setelah itu, undian ‘itq diulang kembali, sehingga dua pertiga dari salah satu dari keduanya dimerdekakan dan sepertiganya tetap menjadi milik ahli waris, begitu pula seluruh bagian yang lain. Berdasarkan hal ini, jika setelah penjualan pada utang kedua muncul utang ketiga sebesar seratus dirham, maka menurut pendapat pertama yang merupakan mazhab, undian ‘itq tidak dibatalkan dan dijual dari bagian yang menjadi milik ahli waris seorang budak seharga seratus dirham, sehingga tersisa sepertiga budak bersama mereka. Maka, mereka mengambil dua pertiga dari budak yang sepertiganya telah merdeka, sehingga mereka memiliki dua pertiga budak dan untuk pembebasan (itq) sepertiga budak.

وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي تُنْقَضُ قُرْعَةُ الْعِتْقِ وَيَعُودُ الْعَبْدَانِ الْآخَرَانِ إِلَى حُكْمِ الرِّقِّ فَيُبَاعُ فِي الدَّيْنِ أَحَدُهُمَا بِالْقُرْعَةِ وَيَبْقَى الْآخَرُ فَيُعْتَقُ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ

Menurut pendapat kedua, undian pembebasan budak dibatalkan dan kedua budak lainnya kembali pada status sebagai budak, lalu salah satu dari keduanya dijual untuk membayar utang melalui undian, dan yang satunya tetap, sehingga sepertiganya dimerdekakan dan dua pertiganya tetap dalam status budak.

وَلَوْ ظَهَرَتْ بَعْدَهَا مِائَةٌ رَابِعَةٌ دَيْنًا بِيعَ فِيهِ مَنْ أَعْتَقَ وَمَنْ رَقَّ عَلَى الْوَجْهَيْنِ مَعًا لِاسْتِيعَابِ الدَّيْنِ جَمِيعَ التَّرِكَةِ فَلَوْ كَانَتِ التَّرِكَةُ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ أَعْتَقَهُ فِي مَرَضِهِ وَمَاتَ فَحُكِمَ بِعِتْقِ ثُلُثِهِ وَرَقِّ ثُلُثَيْهِ لِوَرَثَتِهِ ثُمَّ ظَهَرَ عَلَيْهِ دَيْنٌ قَدْرُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ يَسْتَوْعِبُ جَمِيعَ تَرِكَتِهِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يُنْقَضُ مَا حُكِمَ بِهِ مِنْ عِتْقِ ثُلُثِهِ وَيُبَاعُ جَمِيعُهُ فِي دَيْنِهِ وَوَهِمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ فَأَعْتَقَ تُسْعَهُ وَأَرَقَّ فِي الدَّيْنِ ثَمَانِيَةَ أَتْسَاعِهِ وَجَعَلَ وَجْهَ ذلك أن مال للعتق سَهْمٌ وَلِلدَّيْنِ سَهْمَانِ ثُمَّ سَهْمُ الْعِتْقِ مَقْسُومٌ بَيْنَ الْعِتْقِ وَالْوَرَثَةِ عَلَى ثَلَاثَةٍ فَيَصِحُّ مِنْ تِسْعَةٍ سِتَّةٌ مِنْهَا وَهِيَ الثُّلُثَانِ لِلدَّيْنِ وَثُلُثُهُ بَيْنَ الْعِتْقِ وَالْوَرَثَةِ أَثْلَاثًا لِلْعِتْقِ سَهْمٌ وَهُوَ التُّسْعُ فَيُعْتَقُ تُسْعُهُ وَيَبْقَى لِلْوَرَثَةِ سَهْمَانِ تُرَدُّ عَلَى أَصْحَابِ الدَّيْنِ وَلَا وَجْهَ لِهَذَا الْقَوْلِ لِأَنَّ عِتْقَ الْمَرَضِ وَصِيَّةٌ فِي الثُّلُثِ وَلَا وصية إلى بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ كَمَا لَا مِيرَاثَ إِلَّا بَعْدَ قَضَائِهِ

Dan jika setelah itu muncul utang keempat yang meliputi seluruh harta peninggalan, maka dijual di dalamnya siapa yang memerdekakan dan siapa yang tetap menjadi budak, menurut kedua pendapat sekaligus, karena utang tersebut mencakup seluruh harta peninggalan. Maka jika harta peninggalan itu berupa seorang budak yang nilainya seratus dirham, lalu ia memerdekakannya saat sakitnya dan kemudian meninggal, maka diputuskan bahwa sepertiga budak itu merdeka dan dua pertiganya tetap menjadi budak untuk ahli warisnya. Kemudian setelah itu muncul utang atasnya sebesar seratus dirham yang mencakup seluruh harta peninggalannya, maka menurut mazhab Syafi‘i dan mayoritas pengikutnya, keputusan tentang kemerdekaan sepertiga budak itu dibatalkan dan seluruhnya dijual untuk membayar utangnya. Sebagian pengikutnya keliru dengan memerdekakan sepersembilan dan menjadikan delapan per sembilan bagian tetap menjadi budak untuk membayar utang, dengan alasan bahwa harta untuk kemerdekaan mendapat satu bagian dan untuk utang mendapat dua bagian. Kemudian bagian kemerdekaan dibagi antara kemerdekaan dan ahli waris menjadi tiga, sehingga dari sembilan bagian, enam di antaranya (dua pertiga) untuk utang dan sepertiganya dibagi antara kemerdekaan dan ahli waris, masing-masing sepertiga untuk kemerdekaan, yaitu sepersembilan, sehingga dimerdekakan sepersembilan dan sisanya dua per sembilan untuk ahli waris yang dikembalikan kepada pemilik utang. Tidak ada dasar untuk pendapat ini, karena kemerdekaan saat sakit adalah wasiat pada sepertiga harta, dan tidak ada wasiat kecuali setelah utang dilunasi, sebagaimana tidak ada warisan kecuali setelah utang dilunasi.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ كَانُوا أَرْبَعَةً فَبِيعَ مِنَ الْأَرْبَعَةِ أَحَدُهُمْ فِي الدَّيْنِ وَأُعْتِقَ مِنَ الثَّلَاثَةِ أَحَدُهُمْ فِي الثُّلُثِ وَرَقَّ الْآخَرَانِ لِلْوَرَثَةِ ثُمَّ اسْتَحَقَّ أَحَدُ الْعَبْدَيْنِ الْمُسْتَرَقَّيْنِ كَانَ اسْتِحْقَاقُهُ كَالدَّيْنِ الْحَادِثِ بَعْدَ الْعِتْقِ فَيَكُونُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ

Dan jika mereka berjumlah empat orang, lalu salah satu dari mereka dijual untuk membayar utang, dan salah satu dari tiga sisanya dimerdekakan dalam sepertiga (harta), sedangkan dua lainnya tetap menjadi milik para ahli waris, kemudian salah satu dari dua budak yang tersisa itu ternyata menjadi milik orang lain (karena ada pihak yang menuntut hak kepemilikan), maka tuntutan kepemilikan tersebut diperlakukan seperti utang yang muncul setelah pembebasan (budak), sehingga hukumnya mengikuti apa yang telah kami sebutkan dari dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُسْتَرَقُّ مِنَ الْمُعْتَقِ ثُلُثُهُ وَلَا تُنْقَضُ الْقُرْعَةُ

Salah satunya adalah seseorang yang sepertiganya telah dimerdekakan, maka ia dapat diperbudak, dan undian (al-qur‘ah) tidak dibatalkan.

وَالثَّانِي تُنْقَضُ الْقُرْعَةُ وَتُسْتَأْنَفُ فِي الْعَبْدَيْنِ وَيُعْتَقُ ثُلُثَا أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ الثَّانِيَةِ عَلَى مَنْ خَرَجَتْ مِنْهُمَا وَلَوِ اسْتَحَقَّ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ بَطَلَ فِيهِ الْعِتْقُ وَاسْتُؤْنِفَتِ الْقُرْعَةُ بَيْنَ الْبَاقِينَ عَلَى الرِّقِّ وَجْهًا وَاحِدًا وَأُعْتِقَ ثُلُثَا أَحَدِهِمَا وَرَقَّ بَاقِيهِ وَجَمِيعُ الْآخَرِ وَلَوِ اسْتَحَقَّ الْمُعْتَقُ وَأَحَدُ الْمُسْتَرَقَّيْنِ صَارَتِ التَّرِكَةُ عَبْدًا وَاحِدًا فَيُعْتَقُ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ بِغَيْرِ قُرْعَةٍ

Kedua, undian dibatalkan dan diulang untuk dua budak, lalu dua pertiga dari salah satu dari keduanya dimerdekakan berdasarkan undian kedua atas siapa yang namanya keluar di antara mereka. Jika budak yang telah dimerdekakan ternyata bukan milik pewaris, maka kemerdekaannya batal dan undian diulang di antara yang masih berstatus budak dengan satu cara, lalu dua pertiga dari salah satu dari keduanya dimerdekakan dan sisanya serta seluruh yang lain tetap menjadi budak. Jika yang bukan milik pewaris adalah budak yang telah dimerdekakan dan salah satu dari yang masih menjadi budak, maka harta warisan hanya tersisa satu budak, sehingga sepertiganya dimerdekakan dan dua pertiganya tetap menjadi budak tanpa undian.

فَصْلٌ

Fasal

وَحُكْمُ هَؤُلَاءِ الْعَبِيدِ لَوْ لَمْ يَعْتِقْهُمْ فِي مَرَضِهِ وَوَصَّى بِعِتْقِهِمْ بَعْدَ مَوْتِهِ وهم جميع تركته كحكمهم أو أَعْتَقَهُمْ فِي مَرَضِهِ إِلَّا فِي أَرْبَعَةِ أَحْكَامٍ

Hukum para budak ini, jika ia tidak memerdekakan mereka saat sakitnya dan berwasiat untuk memerdekakan mereka setelah kematiannya, sementara mereka adalah seluruh hartanya, maka hukumnya sama seperti jika ia memerdekakan mereka saat sakitnya, kecuali dalam empat hukum.

أَحَدُهَا أَنَّ عِتْقَهُمْ فِي الْمَرَضِ مُتَقَدِّمٌ عَلَى الْمَوْتِ وَفِي الْوَصِيَّةِ مُتَأَخِّرٌ عَنْهُ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak oleh mereka dalam keadaan sakit terjadi sebelum kematian, sedangkan dalam wasiat terjadi setelah kematian.

وَالثَّانِي أَنَّ عِتْقَ الْمَرَضِ مُبَاشَرَةٌ يُنَفَّذُ بِلَفْظِهِ وَعِتْقَ الْوَصِيَّةِ يُنَفَّذُ بِلَفْظِ الْوَرَثَةِ فَإِنِ امْتَنَعُوا اسْتَوْفَاهُ الْحَاكِمُ مِنْهُمْ

Kedua, bahwa pembebasan budak karena sakit (ʿitq al-maraḍ) dilakukan secara langsung dan berlaku dengan ucapan orang yang membebaskan, sedangkan pembebasan budak melalui wasiat (ʿitq al-waṣiyyah) berlaku dengan ucapan para ahli waris. Jika para ahli waris menolak, maka hakim akan memenuhinya dari mereka.

وَالثَّالِثُ أَنَّ قِيمَةَ الْمُعْتَقِينَ فِي الْمَرَضِ مُعْتَبَرَةٌ بِوَقْتِ عِتْقِهِمْ قَبْلَ الْمَوْتِ وَقِيمَةُ الْمُعْتَقِينَ فِي الْوَصِيَّةِ مُعْتَبَرَةٌ بِقِيمَتِهِمْ وَقْتَ الْمَوْتِ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ

Ketiga, bahwa nilai para budak yang dimerdekakan saat sakit dipertimbangkan berdasarkan waktu mereka dimerdekakan sebelum wafat, sedangkan nilai para budak yang dimerdekakan melalui wasiat dipertimbangkan berdasarkan nilai mereka pada saat wafat, sebagaimana akan kami jelaskan.

وَالرَّابِعُ أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ يَمْلِكُونَ بِهِ مَا اكْتَسَبُوهُ فِي حَيَاةِ الْمُعْتِقِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ وَكَسْبِ مَنْ رَقَّ مِنْهُمْ يَمْلِكُ الْمُعْتِقُ مِنْهُ مَا كَسَبُوهُ فِي حَيَاتِهِ وَيُضَافُ إِلَى تَرِكَتِهِ وَيَمْلِكُ الْوَرَثَةُ مَا اكْتَسَبُوهُ بَعْدَ مَوْتِهِ وَالْعِتْقُ بِالْوَصِيَّةِ يُوجِبُ أَنْ تَكُونَ أَكْسَابُهُمْ قَبْلَ الْمَوْتِ مِنْ تَرِكَةِ الْمُوصِي وَأَكْسَابُهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ لِلْوَرَثَةِ يَسْتَوِي فِيهِ كَسْبُ مَنْ عَتَقَ مِنْهُمْ وَمَنْ رَقَّ قَبْلَ الْقُرْعَةِ لِلْعِتْقِ وَلَا يُقْضَى مِنْ هَذِهِ الْأَكْسَابِ دُيُونُ الْمَيِّتِ لِأَنَّهَا حَادِثَةٌ عَلَى مِلْكِ الْوَرَثَةِ وَحُكِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ أَنَّ دُيُونَ الْمَيِّتِ تُقْضَى مِنْ هَذِهِ الْأَكْسَابِ الْحَادِثَةِ عَلَى مِلْكِ الْوَرَثَةِ لِأَنَّهُمُ اسْتَفَادُوهَا مِنْ تَرِكَةٍ لَا يَسْتَقِرُّ مِلْكُهُمْ عَلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ قَضَاءِ دُيُونِهَا

Keempat, bahwa pembebasan budak (ʿitq) yang dilakukan saat sakit, para budak tersebut memiliki apa yang mereka peroleh selama hidup tuannya dan setelah kematiannya. Adapun hasil usaha budak yang masih berada dalam perbudakan, maka tuannya berhak atas apa yang mereka peroleh selama hidupnya, dan itu menjadi bagian dari harta warisan. Sedangkan ahli waris berhak atas apa yang diperoleh budak setelah kematian tuannya. Pembebasan budak melalui wasiat menyebabkan hasil usaha mereka sebelum kematian termasuk dalam harta peninggalan orang yang berwasiat, dan hasil usaha mereka setelah kematian menjadi milik ahli waris. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara hasil usaha budak yang dimerdekakan maupun yang masih menjadi budak sebelum dilakukan undian untuk pembebasan. Tidak boleh digunakan hasil usaha ini untuk membayar utang si mayit, karena hasil tersebut muncul setelah menjadi milik ahli waris. Namun, diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Iṣṭakhrī bahwa utang si mayit boleh dibayar dari hasil usaha yang muncul setelah menjadi milik ahli waris, karena mereka memperoleh hasil tersebut dari harta warisan yang kepemilikannya belum tetap sebelum utangnya dilunasi.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا الْفَصْلِ إِذَا أَعْتَقَ عَبْدًا فِي مَرَضِهِ قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُ فَكَسَبَ في حياة سيده مائة درهم وبعد موته مِائَةَ دِرْهَمٍ فَالْمِائَةُ الَّتِي كَسَبَهَا فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ دَاخِلَةٌ فِي تَرِكَتِهِ تُضَمُّ إِلَى قِيمَتِهِ وَيَدْخُلُ بِهَا دَوْرٌ يَزِيدُ فِي عِتْقِهِ وَالْمِائَةُ الَّتِي كَسَبَهَا بَعْدَ مَوْتِهِ خَارِجَةٌ مِنَ التَّرِكَةِ وَلَا يَدْخُلُ بِهَا دَوْرٌ وَلَا يَزِيدُ بِهَا عِتْقٌ وَقَدْرُ مَا يُعْتَقُ مِنْهُ نِصْفُهُ وَيَمْلِكُ بِهِ نِصْفَ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ وَنِصْفَ كَسْبِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَيَرِقُّ نِصْفُهُ لِلْوَرَثَةِ وَيَسْتَحِقُّونَ بِهِ نِصْفَ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ مِيرَاثًا وَنِصْفَ كَسْبِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ مِلْكًا وَبَابُهُ فِي عَمَلِ الدَّوْرِ أَنْ يُجْعَلَ الْعِتْقُ سَهْمًا وَالْكَسْبُ سَهْمًا لِأَنَّ الْكَسْبَ مِثْلُ قِيمَةِ الْعَبْدِ وَيُجْعَلُ لِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ لِيَكُونَا مِثْلَيْ سَهْمِ الْعِتْقِ وَتُجْمَعَ السِّهَامُ وَهِيَ أَرْبَعَةٌ وَتُقَسَّمُ التَّرِكَةُ عَلَيْهَا وَهُمَا مِائَتَا دِرْهَمٍ لِأَنَّ قِيمَةَ الْعَبْدِ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَقَدْ ضُمَّ إِلَيْهَا الْكَسْبُ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ مائة فيكون قسط كل سهم منهم خَمْسِينَ دِرْهَمًا وَلِلْعِتْقِ سَهْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ نِصْفُ قِيمَتِهِ فَعَتَقَ بِهِ نِصْفُهُ وَمَلَكَ بِهِ نِصْفُ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ وَرَقَّ نِصْفُهُ لِلْوَرَثَةِ وَمَلَكُوا نِصْفَ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ مِيرَاثًا فَصَارَ لَهُمْ بِالرِّقِّ وَالْكَسْبِ مِائَةُ دِرْهَمٍ هِيَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْ نِصْفِهِ وَيَكُونُ الْكَسْبُ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْوَرَثَةِ نِصْفَيْنِ بِحَسْبَ مَا فِيهِ مِنْ حُرِّيَّةٍ وَرِقٍّ

Berdasarkan pembahasan pada bagian ini, jika seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakit, dengan nilai budak tersebut seratus dirham dan ia tidak memiliki harta lain, kemudian budak itu memperoleh penghasilan seratus dirham selama tuannya masih hidup, dan setelah tuannya wafat memperoleh lagi seratus dirham, maka seratus dirham yang diperoleh selama hidup tuannya termasuk dalam harta warisan, digabungkan dengan nilai budak tersebut, sehingga terjadi perhitungan (dawr) yang menambah bagian kemerdekaannya. Adapun seratus dirham yang diperoleh setelah tuannya wafat tidak termasuk dalam warisan, tidak masuk dalam perhitungan (dawr), dan tidak menambah kemerdekaan. Bagian budak yang merdeka adalah setengahnya, sehingga ia berhak atas setengah penghasilannya selama hidup tuannya dan setengah penghasilannya setelah tuannya wafat. Sementara setengahnya lagi menjadi milik para ahli waris, dan mereka berhak atas setengah penghasilannya selama hidup tuannya sebagai warisan, serta setengah penghasilannya setelah tuannya wafat sebagai milik. Cara perhitungan dalam praktik dawr adalah dengan menjadikan kemerdekaan satu bagian dan penghasilan satu bagian, karena penghasilan setara dengan nilai budak. Untuk ahli waris diberikan dua bagian agar menjadi dua kali bagian kemerdekaan. Jumlah seluruh bagian ada empat, dan harta warisan dibagi atas bagian-bagian tersebut, yaitu dua ratus dirham, karena nilai budak seratus dirham dan telah digabungkan dengan penghasilan selama hidup tuannya seratus dirham, sehingga bagian masing-masing adalah lima puluh dirham. Untuk kemerdekaan satu bagian, yaitu setengah dari nilainya, sehingga yang merdeka adalah setengahnya dan ia memiliki setengah penghasilannya selama hidup tuannya. Setengahnya lagi menjadi milik ahli waris, dan mereka memiliki setengah penghasilannya selama hidup tuannya sebagai warisan. Dengan demikian, ahli waris mendapatkan dari perbudakan dan penghasilan seratus dirham, yang setara dengan bagian yang merdeka dari setengahnya. Adapun penghasilan setelah tuannya wafat dibagi antara budak dan ahli waris masing-masing setengah, sesuai kadar kemerdekaan dan perbudakan yang ada padanya.

فَلَوْ كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا فِي عِتْقِ هَذَا الْعَبْدِ الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَكَسْبُ الْعَبْدِ فِي حياة سيده مائة درهم وبعد موته مائة دِرْهَمٍ وَكَانَ عَلَى السَّيِّدِ مِائَةُ دِرْهَمٍ ضُمَّ كَسْبُ الْحَيَاةِ إِلَى التَّرِكَةِ وَخَرَجَ الْكَسْبُ بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْهَا فَصَارَتِ التَّرِكَةُ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ يُقْضَى نِصْفُهَا فِي الدَّيْنِ وَيَبْقَى نِصْفُهَا فِي الْعِتْقِ وَالْمِيرَاثِ فَيُعْتَقُ مِنْهُ رُبْعُهُ وَيَرِقُّ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ وَبَابُهُ أَنْ يَجْعَلَ لِلْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْكَسْبِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَيُقْسَمُ بَاقِي التَّرِكَةِ بَعْدَ الدَّيْنِ وَهُوَ مِائَةٌ عَلَى هَذِهِ السِّهَامِ الْأَرْبَعَةِ يَكُونُ قِسْطُ السَّهْمِ مِنْهَا خَمْسَةً وَعِشْرِينَ دِرْهَمًا فَيُعْتَقُ مِنْهُ بِسَهْمِ الْعِتْقِ رُبْعُهُ وَيَمْلِكُ بِهِ رُبْعَ كَسْبِهِ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ وَهُوَ بِخَمْسَةٍ وَسَبْعِينَ دِرْهَمًا وَيَمْلِكُونَ بِهِ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِ كَسْبِهِ وَهُوَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ دِرْهَمًا يَصِيرَانِ مِائَةً وَخَمْسِينَ دِرْهَمًا يُقْضَى مِنْهُمُ الدَّيْنُ مِائَةُ دِرْهَمٍ يبقى مع الورثة خمسة دِرْهَمًا هِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ الْمُقَدَّرِ بِخَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ دِرْهَمًا وَتَكُونُ الْمِائَةُ الْمُكْتَسَبَةُ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْوَرَثَةِ بِقَدْرِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ يَمْلِكُ الْعَبْدُ رُبْعَهَا بِقَدْرِ حُرِّيَّتِهِ وَيَمْلِكُ الْوَرَثَةُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهَا كَسْبًا مُسْتَفَادًا بِمَا مَلَكُوهُ مِنْ رِقِّهِ لَا تَدخُل التَّرِكَة وَلَا يُقْضَى مِنْهَا الدَّيْنُ

Jika permasalahan tetap seperti ini, yaitu dalam hal memerdekakan budak ini yang nilai (harganya) seratus dirham, dan penghasilan budak selama hidup tuannya seratus dirham, serta setelah kematian tuannya juga seratus dirham, sedangkan tuan tersebut memiliki utang seratus dirham, maka penghasilan selama hidup tuan digabungkan ke dalam harta warisan, dan penghasilan setelah kematian tuan keluar dari warisan. Maka, total harta warisan menjadi dua ratus dirham; separuhnya digunakan untuk membayar utang, dan separuhnya lagi untuk memerdekakan budak dan warisan. Maka, yang dimerdekakan dari budak itu adalah seperempatnya, dan tiga perempatnya tetap menjadi budak. Cara pembagiannya adalah: diberikan satu bagian untuk kemerdekaan, satu bagian untuk penghasilan, dan dua bagian untuk ahli waris. Sisa harta warisan setelah dikurangi utang, yaitu seratus dirham, dibagi ke dalam empat bagian ini, sehingga setiap bagian mendapat dua puluh lima dirham. Maka, seperempat budak dimerdekakan dengan bagian kemerdekaan, dan ia memiliki seperempat dari penghasilannya, sedangkan tiga perempatnya tetap menjadi milik ahli waris, yaitu sebesar tujuh puluh lima dirham, dan mereka juga memiliki tiga perempat dari penghasilannya, yaitu tujuh puluh lima dirham, sehingga jumlahnya menjadi seratus lima puluh dirham. Dari jumlah itu, utang seratus dirham dibayarkan, dan sisanya yang tinggal pada ahli waris adalah lima puluh dirham, yang nilainya sama dengan bagian yang keluar untuk kemerdekaan yang ditetapkan sebesar dua puluh lima dirham. Adapun seratus dirham yang dihasilkan setelah kematian tuan, maka dibagi antara budak dan ahli waris sesuai kadar kemerdekaan dan perbudakan; budak memiliki seperempatnya sesuai kadar kemerdekaannya, dan ahli waris memiliki tiga perempatnya sebagai penghasilan yang didapat dari kepemilikan mereka atas perbudakannya, yang tidak masuk ke dalam harta warisan dan tidak digunakan untuk membayar utang.

فَأَمَّا عَلَى قَوْلِ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ يُقْضَى الدَّيْنُ مِنْهَا فَيَدْخُلُ بِهَا دَوْرٌ يَزِيدُ فِي الْعِتْقِ لِزِيَادَةِ مَا يُقْضَى بِهِ الدُّيُونُ وَزِيَادَةُ دَوْرِهَا بِثُلُثِهَا لِأَنَّ الْمَحْكِيَّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ الْكَسْبَ بَعْدَ الْوَفَاةِ يُقْضَى بِهِ الدُّيُونُ وَلَا يُنَفَّذُ بِهِ الْوَصَايَا فَتُجْعَلُ الْمِائَةُ الْمُكْتَسَبَةُ بَعْدَ الْمَوْتِ أَثْلَاثًا ثُلُثًا لِلْعَبْدِ بِكَسْبِ عِتْقِهِ وَثُلُثًا لِلْوَرَثَةِ بِكَسْبِ رِقِّهِ وَثُلُثًا يُضَافُ إِلَى التَّرِكَةِ لِقَضَاءِ دَيْنِهِ فَتَصِيرُ التَّرِكَةُ مَعَ َذَا الثُّلُثِ مِائَتَيْنِ وَثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ وَثُلُثًا يُقْضَى مِنْهَا الدَّيْنُ مِائَةٌ يَبْقَى مِنَ التَّرِكَةِ بَعْدَ قَضَائِهَا مِائَةٌ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ وَثُلُثٌ تُقَسَّمُ عَلَى أَرْبَعَةٍ هِيَ سَهْمٌ لِلْعِتْقِ وَسَهْمٌ لِلْكَسْبِ وسهمان للورثة ويخرج قسط السهم ثلاثة وثلاثين وَثُلُثٌ فَأُعْتِقَ مِنْهُ بِقَدْرِهَا وَهُوَ الثُّلُثُ وَيَمْلِكُ بِهِ ثُلُثَ كَسْبِهِ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثَاهُ وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهُ وَقَدْ مَلَكَ مِنَ الْمُكْتَسَبِ بَعْدَ الْمَوْتِ ثُلُثَهُ وَمَلَكَ الْوَرَثَةُ ثُلُثَيْهِ وَهُمَا مُسْتَفَادَانِ مِنْ غَيْرِ التَّرِكَةِ

Adapun menurut pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, utang dibayarkan dari hasil tersebut, sehingga timbul perputaran yang menambah porsi kemerdekaan karena bertambahnya jumlah yang digunakan untuk membayar utang, dan bertambah pula perputarannya sepertiga dari hasil tersebut. Sebab, sebagaimana yang dinukil dari Abu Sa‘id, hasil usaha setelah kematian digunakan untuk membayar utang dan tidak digunakan untuk melaksanakan wasiat. Maka, seratus hasil usaha setelah kematian dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk budak karena usaha kemerdekaannya, sepertiga untuk ahli waris karena usaha perbudakannya, dan sepertiga ditambahkan ke dalam harta warisan untuk membayar utangnya. Maka, harta warisan bersama sepertiga tersebut menjadi dua ratus tiga puluh tiga sepertiga, lalu dari jumlah itu dibayarkan utang seratus, sehingga sisa harta warisan setelah pembayaran utang adalah seratus tiga puluh tiga sepertiga, yang kemudian dibagi menjadi empat bagian: satu bagian untuk kemerdekaan, satu bagian untuk hasil usaha, dan dua bagian untuk ahli waris. Maka, bagian setiap saham adalah tiga puluh tiga sepertiga, sehingga dimerdekakan darinya sesuai kadarnya, yaitu sepertiga, dan ia memiliki sepertiga hasil usahanya, sedangkan dua pertiganya menjadi milik ahli waris, yaitu dua kali lipat dari bagian yang dimerdekakan. Ia telah memiliki sepertiga dari hasil usaha setelah kematian, dan ahli waris memiliki dua pertiganya, keduanya merupakan hasil yang diperoleh dari selain harta warisan.

قُلْتُ كَأَنَّهُ جعل جزء مِنَ الْعَبْدِ يُقْضَى بِهِ الدَّيْنُ فَهُوَ لِمَا يَسْتَحِقُّ بِذَلِكَ الْجُزْءِ مِنْ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ وَبَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ لِلدَّيْنِ ثُمَّ جَعَلَ سَهْمًا مِنْ رَقَبَتْهُ بِبَيْعِهِ سَهْمًا مِنَ الْكَسْبِ بِقَدْرِ ثَلَاثَةِ أَسْهُمٍ مَا بَقِيَ وَلَوْ كَسَبَ بَعْدَ الْمَوْتِ مِائَةً لَصَارَ فِي مِلْكِهِ الَّذِي مَعَ رُبْعِ كَسْبِهِ وَبَقِيَّةُ كَسْبِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ فَسَقَطَ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ التَّرِكَةِ فَيَبْقَى مَا يَبْقَى لِأَنَّهُ عَبْدٌ أَعْتَقَهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ وَبَقِيَّةُ كَسْبِهِ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ

Aku berkata: Seolah-olah ia menjadikan sebagian dari budak itu sebagai bagian yang digunakan untuk melunasi utang, maka bagian itu adalah untuk apa yang berhak diperoleh dari hasil usahanya, baik ketika tuannya masih hidup maupun setelah tuannya wafat, untuk membayar utang. Kemudian ia menjadikan satu bagian dari lehernya (yaitu budak itu) dengan menjualnya, sebagai satu bagian dari hasil usaha sebesar tiga bagian dari apa yang tersisa. Dan seandainya setelah kematian tuannya ia memperoleh seratus (hasil usaha), maka itu menjadi miliknya, yaitu bersama seperempat dari hasil usahanya, dan sisa hasil usahanya setelah kematian tuannya gugur (tidak diwariskan), karena itu bukan bagian dari harta warisan. Maka yang tersisa tetap ada, karena ia adalah budak yang dimerdekakan tuannya dalam keadaan sakit menjelang wafatnya, dan sisa hasil usahanya adalah pada masa hidup tuannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَعْتَقْتَ ثُلُثًا وَأَرْقَقْتَ ثُلُثَيْنِ بِالْقُرْعَةِ ثُمَّ ظَهَرَ لَهُ مَالٌ يُخْرَجُونَ مَعًا مِنَ الثُّلُثِ أَعْتَقْتُ مَنْ أَرَقَقْتُ وَدَفَعْتُ إِلَيْهِمْ مَا اكْتَسَبُوا بَعْدَ عِتْقِ الْمَالِكِ إِيَّاهُمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika engkau memerdekakan sepertiga dan memperbudak dua pertiga dengan undian, kemudian ternyata ada harta yang memungkinkan mereka semua dimerdekakan dari sepertiga tersebut, maka aku akan memerdekakan orang-orang yang sebelumnya aku perbudak, dan aku akan memberikan kepada mereka apa yang telah mereka peroleh setelah tuannya memerdekakan mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَعْتَقَ عَبِيدًا فِي مَرَضِهِ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ مَالٌ فَبِيعَ بَعْضُهُمْ فِي دَيْنِهِ وَأُعْتِقَ مِنْهُمْ قَدْرُ ثُلُثِهِ وَرَقَّ بَاقِيهِمْ ثُمَّ ظَهَرَ لَهُ مَالٌ فَإِنْ خَرَجُوا مِنْ ثُلُثِهِ عَتَقُوا جَمِيعُهُمْ وَإِنْ نَقَصَ ثُلُثُهُ عَنْهُمْ أُعْتِقَ مِنْهُمْ قَدْرُ ثُلُثِهِ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, yaitu apabila seseorang memerdekakan budak-budaknya saat ia sakit dan ia memiliki utang, serta tidak tampak baginya harta, lalu sebagian dari budak-budak itu dijual untuk membayar utangnya dan dari mereka dimerdekakan seukuran sepertiga, sementara sisanya tetap menjadi budak. Kemudian setelah itu ternyata ia memiliki harta, maka jika seluruh budak itu masuk dalam sepertiga hartanya, maka semuanya merdeka. Namun jika sepertiganya kurang dari jumlah mereka, maka yang dimerdekakan hanyalah seukuran sepertiganya.”

مِثَالُهُ أَنْ يُعْتِقَ أَرْبَعَةَ عَبِيدٍ قِيمَةُ كُلِّ عَبْدٍ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَيَتْرُكُ دَيْنًا قَدْرُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ مَالٌ فيبيع أَحَدَهُمْ فِي دَيْنِهِ وَأَعْتَقَ أَحَدَهُمْ فِي ثُلُثِهِ وَاسْتَرَقَّ اثْنَانِ لِوَرَثَتِهِ ثُمَّ ظَهَرَ لَهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ فَيُسْتَرْجَعُ بِظُهُورِ الْمِائَةِ الْعَبْدُ الْمَبِيعُ فِي الدَّيْنِ وَيُفْسَخُ فِيهِ الْبَيْعُ وَيَصِيرُ بِظُهُورِ هَذِهِ الْمِائَةِ بِمَثَابَةِ مَنْ لَيْسَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَى هَذَا لَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ خَالَفَهُ من أصحابه في نقص القرعة بظهور الدين أنها لا تنقص بِظُهُورِ الْمَالِ لِأَنَّ ظُهُورَ الدَّيْنِ يُوجِبُ نَقْصًا فِي الْعِتْقِ وَزِيَادَةَ الرِّقِّ تُنْقَضُ بِهِ قُرْعَةُ الرق وظهور المال يوجب زيادة العتق ونقصان الرِّقِّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُنْقَضَ بِهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ فَيَكُونُ عِتْقُ مَنْ قُرِعَ بَاتًّا لَا رَجْعَةَ فِيهِ وَقَدْ بَقِيَ فِي الثُّلُثِ بَعْدَ عِتْقِهِ أَنْ يُعْتَقَ مِنَ الثُّلُثِ ثُلُثُ وَاحِدٍ يُسْتَوْعَبُ بِهِ الثُّلُثُ فَيُقْرَعُ بَيْنَهُمْ وَيُعْتَقُ ثُلُثُ أَحَدِهِمْ وَيُسْتَرَقُّ ثُلُثَاهُ مَعَ الْآخَرِينَ وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ كَانَ الْبَاقِي مِنْهَا بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ مِائَةً فَيُعْتَقُ مِنَ الثَّلَاثَةِ ثُلُثَا عَبْدٍ لِأَنَّ التَّرِكَةَ خَمْسُمِائَةٍ

Contohnya adalah seseorang memerdekakan empat budak, masing-masing bernilai seratus dirham, dan ia meninggalkan utang sebesar seratus dirham, serta tidak tampak memiliki harta lain. Maka salah satu budak dijual untuk membayar utangnya, satu budak dimerdekakan dari sepertiga hartanya, dan dua budak menjadi milik ahli warisnya. Kemudian ternyata ditemukan harta seratus dirham miliknya. Dengan munculnya seratus dirham ini, budak yang telah dijual untuk membayar utang dapat diambil kembali, dan jual belinya dibatalkan. Dengan munculnya seratus dirham ini, keadaannya menjadi seperti orang yang tidak memiliki utang. Berdasarkan hal ini, tidak ada perbedaan pendapat antara mazhab Syafi‘i dan para pengikutnya yang berbeda pendapat dengannya mengenai berkurangnya undian karena munculnya utang, bahwa undian tidak berkurang dengan munculnya harta. Sebab, munculnya utang menyebabkan berkurangnya kemerdekaan dan bertambahnya perbudakan, sehingga undian perbudakan dapat dibatalkan karenanya. Sedangkan munculnya harta menyebabkan bertambahnya kemerdekaan dan berkurangnya perbudakan, sehingga undian kemerdekaan tidak dapat dibatalkan karenanya. Maka kemerdekaan budak yang terpilih melalui undian menjadi tetap dan tidak dapat dibatalkan. Setelah kemerdekaannya, masih tersisa dari sepertiga harta yang dapat digunakan untuk memerdekakan sepertiga budak, sehingga sepertiga harta tersebut habis. Maka diadakan undian di antara mereka, dan sepertiga dari salah satu budak dimerdekakan, sedangkan dua pertiganya tetap menjadi budak bersama budak-budak lainnya. Jika ternyata ditemukan dua ratus dirham miliknya, maka sisa dari jumlah tersebut setelah membayar utang adalah seratus dirham, sehingga dari tiga budak dapat dimerdekakan dua pertiga budak, karena warisan seluruhnya berjumlah lima ratus.

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ ثَلَاثُمِائَةِ دِرْهَمٍ عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدٌ كَامِلٌ لِأَنَّ التَّرِكَةَ بَعْدَ الدَّيْنِ سِتُّمِائَةٍ

Dan jika tampak baginya tiga ratus dirham, maka dengan jumlah itu merdeka satu budak secara penuh dari tiga budak, karena harta warisan setelah dikurangi utang adalah enam ratus.

وَلَوْ ظهر له أربع مائة عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدٌ وَثُلُثٌ لِأَنَّ التَّرِكَةَ بَعْدَ الدَّيْنِ سَبْعُمِائَةٍ

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ خَمْسُمِائَةٍ عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدٌ وَثُلُثَانِ لِأَنَّ التَّرِكَةَ بَعْدَ الدَّيْنِ ثَمَانُمِائَةٍ

Dan jika ternyata ia memiliki lima ratus, maka dengan jumlah itu merdeka dari tiga budak dan dua pertiga budak, karena harta warisan setelah dikurangi utang adalah delapan ratus.

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ سِتُّمِائَةٍ عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدَانِ لِأَنَّ التَّرِكَةَ بَعْدَ الدَّيْنِ تِسْعُمِائَةٍ

Dan jika ternyata ia memiliki enam ratus, maka dengan jumlah itu merdeka tiga budak, karena harta warisan setelah dikurangi utang adalah sembilan ratus.

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ سَبْعُمِائَةٍ عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدَانِ وَثُلُثٌ

Dan jika ternyata baginya terdapat tujuh ratus, maka dengan jumlah itu ia dapat memerdekakan dari tiga budak dan sepertiganya.

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ ثَمَانُمِائَةٍ عَتَقَ بِهَا مِنَ الثَّلَاثَةِ عَبْدَانِ وَثُلُثَانِ

Dan jika ternyata ia memiliki delapan ratus (dinar), maka dengan jumlah itu ia dapat memerdekakan dari tiga budak dan dua pertiga budak.

وَلَوْ ظَهَرَ لَهُ تِسْعُمِائَةٍ عَتَقَ بِهَا الثَّلَاثَةُ كُلُّهُمْ لِأَنَّ التَّرِكَةَ تَصِيرُ بِهَا بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ أَلْفًا وَمِائَتَيْنِ وَالْعَبِيدُ أَرْبَعَةٌ قِيمَتُهُمْ أَرْبَعُمِائَةٍ هِيَ قَدْرُ الثُّلُثِ فَيُعْتَقُوا جَمِيعًا

Dan jika ternyata ia memiliki sembilan ratus, maka dengan jumlah itu ketiganya semuanya merdeka, karena harta warisan setelah pelunasan utang menjadi seribu dua ratus, dan para budak ada empat orang dengan nilai mereka empat ratus, yang merupakan sepertiga dari harta tersebut, maka semuanya dimerdekakan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَحَرَّرَ عِتْقُ جَمِيعِهِمْ عَلَى مَا وَصَفْنَا بَانَ بَعْدَ أَنْ أُجْرِيَ حُكْمُ الرِّقِّ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا أَحْرَارًا بِعِتْقِ السَّيِّدِ فِي حَيَاتِهِ يَوْمَ أَعْتَقَهُمْ فَيَبْطُلُ مَا جَرَى عَلَيْهِمْ مِنْ أَحْكَامِ الرِّقِّ فَيَصِيرُونَ مَالِكِينَ لِجَمِيعِ أَكْسَابِهِمِ الَّتِي كَسَبُوهَا فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ وَلَوْ كَانَ قَدْ مَاتَ لِأَحَدِهِمْ مَوْرُوثٌ وَمُنِعَ مِنْ مِيرَاثِهِ بِالرِّقِّ كَانَ أَحَقَّ بِمِيرَاثِهِ مِنَ الْأَبْعَدِ وَانْتَزَعَ مِيرَاثَهُ مِنْهُ

Maka apabila telah tetap kemerdekaan seluruh mereka sebagaimana telah kami jelaskan, maka setelah diberlakukan hukum perbudakan atas mereka, tampaklah bahwa mereka sebenarnya telah menjadi orang merdeka karena dimerdekakan oleh tuan mereka semasa hidupnya, pada hari ketika ia memerdekakan mereka. Maka batalah segala hukum perbudakan yang telah berlaku atas mereka, sehingga mereka menjadi pemilik seluruh hasil usaha yang mereka peroleh selama hidup tuan mereka maupun setelah wafatnya. Dan seandainya salah satu dari mereka telah meninggal dunia dan memiliki harta warisan, namun terhalang dari mewarisinya karena status budak, maka ia lebih berhak atas warisannya daripada kerabat yang lebih jauh, dan warisannya diambil kembali dari orang tersebut.

ولو كان هو الميت وأخذ الوراث مَالَهُ انْتُزِعَ مِنْهُ وَكَانَ وَارْثُهُ أَحَقَّ بِهِ وَلَوْ تَزَوَّجَ بِأَمَةٍ لَا يَسْتَحِقُّهَا فِي الْحُرِّيَّةِ بَطَلَ نِكَاحُهَا وَلَوْ كَانَتْ أَمَةٌ زَوْجُهَا الْوَارِثُ بِالْمِلْكِ بَطَلَ نِكَاحُهَا حَتَّى يَسْتَأْنِفَهُ وَلِيُّهَا وَلَوْ وَطِئَهَا الْوَارِثُ بِحُكْمِ الْمِلْكِ كَانَ عَلَيْهِ مَهْرُهَا وَلَوْ كَانَ قَدْ زَنَى أَحَدُهُمْ وَجُلِدَ خَمْسِينَ كَمُلَ حَدُّهُ لِيَتِمَّ جَلْدُ مِائَةٍ إِنْ كَانَ بِكْرًا وَيُرْجَمُ إِنْ كَانَ ثَيِّبًا وَلَوْ كَانَ الْوَارِثُ قَدْ بَاعَ أَحَدَهُمْ بَطَلَ بَيْعُهُ وَرَجَعَ مُشْتَرِيهِ عَلَى الْوَارِثِ بِثَمَنِهِ فَلَوْ كَانَ قَدْ رهنه بطل رهنه وإن كان قد أخره بَطَلَتْ إِجَارَتُهُ وَرَجَعَ عَلَى مُسْتَأْجِرِهِ بِأُجْرَةِ مِثْلِهِ مِنَ الْأَحْرَارِ دُونَ الْعَبِيدِ وَرَجَعَ الْمُسْتَأْجِرُ عَلَى الْوَارِثِ بِمَا دَفَعَهُ إِلَيْهِ مِنَ الْأُجْرَةِ وَلَوْ كَانَ الْوَارِثُ قَدْ أَعْتَقَهُ بَطَلَ عِتْقُهُ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِلْأَوَّلِ وَلَوْ كَاتَبَهُ بَطَلَتْ كِتَابَتُهُ وَرَجَعَ بِمَا أَدَّى وَلَوْ جُنِيَتْ عَلَيْهِ جِنَايَةُ عَمْدٍ وَأَخَذَ الْوَارِثُ أَرْشَهَا كَانَ لَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنَ الْجَانِي وَلَا يَسْقُطُ بِأَخْذِ الْوَارِثِ لِلْأَرْشِ وَيُرَدُّ الْأَرْشُ عَلَى الْجَانِي وَلَوْ كَانَ قَدْ بِيعَ فِي جِنَايَةٍ جَنَاهَا بَطَلَ بَيْعُهُ وَكَانَتْ جِنَايَتُهُ خَطَأً عَلَى عَاقِلَتِهِ وَعَمْدًا فِي مَالِهِ وَاسْتُرْجِعَ مِنَ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ ثَمَنُهُ وَرُدَّ عَلَى مُشْتَرِيهِ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْقِيَاسِ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika dia (pemilik) yang meninggal dunia dan ahli waris mengambil hartanya, maka harta itu diambil kembali darinya dan ahli warisnya lebih berhak atasnya. Jika ia menikahi seorang budak perempuan yang tidak berhak ia nikahi dalam keadaan merdeka, maka pernikahannya batal. Jika seorang budak perempuan yang suaminya adalah ahli waris dengan kepemilikan, maka pernikahannya batal hingga walinya menikahkan kembali. Jika ahli waris menyetubuhinya berdasarkan hukum kepemilikan, maka ia wajib membayar mahar kepadanya. Jika salah satu dari mereka berzina dan didera lima puluh kali, maka hukumannya disempurnakan menjadi seratus cambukan jika ia masih lajang, dan dirajam jika sudah menikah. Jika ahli waris telah menjual salah satu dari mereka, maka jual belinya batal dan pembelinya berhak menuntut kembali harga dari ahli waris. Jika telah digadaikan, maka gadaiannya batal. Jika telah disewakan, maka sewanya batal dan ia menuntut kepada penyewa upah sepadan dari orang merdeka, bukan dari budak, dan penyewa menuntut kembali kepada ahli waris apa yang telah ia bayarkan sebagai upah. Jika ahli waris telah memerdekakannya, maka pemerdekaannya batal dan wala’-nya tetap untuk yang pertama. Jika ia telah melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran), maka mukatabahnya batal dan ia menuntut kembali apa yang telah dibayarkan. Jika terhadapnya dilakukan jinayah (kejahatan) dengan sengaja dan ahli waris mengambil diyatnya, maka ia berhak menuntut qishash kepada pelaku dan hak qishash tidak gugur dengan pengambilan diyat oleh ahli waris, dan diyat dikembalikan kepada pelaku. Jika ia telah dijual karena jinayah yang dilakukannya, maka jual belinya batal, dan jinayahnya yang tidak disengaja menjadi tanggungan ‘aqilah-nya, sedangkan yang disengaja menjadi tanggungan hartanya, dan harga dirinya diambil kembali dari korban dan dikembalikan kepada pembelinya. Demikian pula dengan qiyās pada seluruh hukum, dan Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا أَعْتَقَ فِي مَرَضِهِ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُ وَمَاتَ الْعَبْدُ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ فَفِي عِتْقِهِ وَنُفُوذِهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Apabila seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakitnya, yang nilai budak itu seratus dirham dan ia tidak memiliki harta lain selain itu, lalu budak tersebut meninggal dunia saat tuannya masih hidup, maka dalam hal keabsahan dan berlakunya pemerdekaan itu terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ قَدْ نَفَذَ عِتْقُهُ فِي جَمِيعِهِ وَيَمُوتُ حُرًّا قَدْ جد وَلَاءُ وَلَدِهِ وَمَوْرُوثًا يَنْتَقِلُ كَسْبُهُ إِلَى وَرَثَتِهِ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ ثُلُثِ سَيِّدِهِ لِأَنَّهُ مَاتَ قَبْلَ حُقُوقِ الْوَرَثَةِ فَلَمْ تَجُزْ فِيهِ الْمَوَارِيثُ وَصَارَ كَعِتْقِ الصَّحِيحِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, menyatakan bahwa pembebasan budak tersebut berlaku sepenuhnya dan ia meninggal dalam keadaan merdeka. Maka, berlaku juga hak wala’ bagi anaknya dan ia dapat diwarisi, serta hasil usahanya berpindah kepada para ahli warisnya, meskipun pembebasan itu tidak berasal dari sepertiga harta tuannya. Sebab, ia meninggal sebelum munculnya hak-hak para ahli waris, sehingga hukum warisan tidak berlaku atasnya, dan keadaannya seperti pembebasan budak yang dilakukan oleh orang sehat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ عِتْقَهُ قَدْ بَطَلَ وَيَمُوتُ عَبْدًا وَيَنْتَقِلُ كَسْبُهُ إِلَى سَيِّدِهِ بِالْمِلْكِ وَلَا يَجُرُّ وَلَاءَ وَلَدِهِ لِأَنَّ عِتْقَهُ فِي الْمَرَضِ وَصِيَّةٌ تَبْطُلُ بِمَوْتِ الْمُوصَى لَهُ قَبْلَ مَوْتِ الْمُوصِي

Pendapat kedua adalah bahwa pembebasannya telah batal, sehingga ia meninggal dalam keadaan sebagai budak, dan hasil usahanya berpindah kepada tuannya melalui kepemilikan. Ia juga tidak mewariskan wala’ kepada anaknya, karena pembebasannya dilakukan saat sakit dan dianggap sebagai wasiat yang batal apabila penerima wasiat meninggal sebelum pewasiat.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالْمَعْمُولُ عَلَيْهِ مِنْ قَوْلِهِ أَنَّ مَوْتَهُ لَا يَرْفَعُ حُكْمَ الْعِتْقِ فِي حَقِّهِ وَيَرْفَعُ عَنْهُ حُكْمَ الرِّقِّ فِي حَقِّ وَرَثَتِهِ وَعِتْقُهُ لَيْسَ بِوَصِيَّةٍ لَهُ إِنْ جَرَى فِي اعْتِبَارِهِ مِنَ الثُّلُثِ مَجْرَى الْوَصِيَّةِ لِأَنَّهُ لَا يُرَاعَى فِيهِ قَبُولُهُ وَلَا يُؤَثِّرُ فِيهِ رَدُّهُ وَعَلَى هَذَا تَخْتَلِفُ أَحْكَامُهُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِهِ فَإِنْ مَاتَ عَنْ غَيْرِ كَسْبٍ كَانَ ثُلُثُهُ حُرًّا وَثُلُثَاهُ مَمْلُوكًا يَجُرُّ بِثُلُثِهِ ثُلُثَ وَلَاءِ وَلَدِهِ وَإِنْ مَاتَ عَنْ كَسْبٍ فَلَهُ حَالَتَانِ

Pendapat ketiga, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i dan yang diamalkan dari ucapannya, adalah bahwa kematian seseorang tidak menghapuskan hukum ‘itq (pembebasan budak) baginya, namun menghapuskan darinya hukum riqq (perbudakan) bagi ahli warisnya. Pembebasan budaknya bukanlah wasiat baginya, meskipun dalam pertimbangannya dari sepertiga harta diperlakukan seperti wasiat, karena dalam hal ini tidak dipertimbangkan adanya penerimaan (dari budak) dan penolakan (dari budak) tidak berpengaruh. Berdasarkan hal ini, hukum-hukumnya berbeda sesuai dengan keadaannya. Jika ia meninggal tanpa adanya kasb (harta hasil usaha budak), maka sepertiganya menjadi merdeka dan dua pertiganya tetap menjadi milik, sehingga ia mendapatkan sepertiga wala’ anaknya. Namun jika ia meninggal dengan adanya kasb, maka ada dua keadaan baginya.

إِحْدَاهُمَا أَن لَا يَكُونَ لَهُ وَارِثٌ غَيْرُ سَيِّدِهِ فَيَنْظُرُ فِي قَدْرِ كَسْبِهِ فَإِنْ كَانَ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ ورثَهَا السَّيِّدُ وَعَتَقَ جَمِيعُهُ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ إِلَى التَّرِكَةِ مِثْلَا قِيمَتِهِ وَإِنْ كَانَ كَسْبُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ مَاتَ نِصْفُهُ حُرًّا وَنِصْفُهُ مَمْلُوكًا وَكَانَتِ الْمِائَةُ لِلسَّيِّدِ نِصْفُهَا بِحَقِّ الْوَلَاءِ وَنِصْفُهَا بِحَقِّ الْمِلْكِ وَهِيَ مِثْلَا قِيمَةِ نَصِفِهِ وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَارِثٌ غَيْرُ سَيِّدِهِ فَإِنْ قِيلَ بِمَذْهَبِ الشافعي في الْقَدِيمِ أَنَّ الْمُعْتَقَ بَعْضُهُ إِذَا مَاتَ لَمْ يُورَثْ وَكَانَ مَالُهُ لِسَيِّدِهِ كَانَ حُكْمُهُ عَلَى مَا مَضَى إِذَا لَمْ يُخَلِّفْ وَارِثًا غَيْرَ سَيِّدِهِ

Pertama, jika ia tidak memiliki ahli waris selain tuannya, maka dilihat jumlah penghasilannya. Jika penghasilannya dua ratus dirham, maka tuannya mewarisinya dan seluruh dirinya menjadi merdeka, karena ia telah sampai pada harta warisan yang senilai dengan harga dirinya. Jika penghasilannya seratus dirham, maka separuh dirinya meninggal dalam keadaan merdeka dan separuhnya masih berstatus budak, dan seratus dirham itu menjadi milik tuannya, separuhnya karena hak walā’ dan separuhnya karena hak milik, dan itu senilai dengan harga separuh dirinya. Keadaan kedua, jika ia memiliki ahli waris selain tuannya, maka jika mengikuti mazhab Syafi‘i lama yang menyatakan bahwa seorang yang baru sebagian dimerdekakan jika meninggal tidak diwarisi dan hartanya menjadi milik tuannya, maka hukumnya seperti yang telah lalu jika ia tidak meninggalkan ahli waris selain tuannya.

وَإِنْ قِيلَ بِمَذْهَبِهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ يَكُونُ مَوْرُوثًا دَخَلَ الدَّوْرُ فِي عِتْقِهِ بِقَدْرِ كَسْبِهِ فَإِنْ كَانَ كَسْبُهُ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ عَتَقَ نِصْفُهُ وَرَقَّ نِصْفُهُ

Dan jika dikatakan menurut mazhab beliau dalam pendapat baru bahwa ia menjadi harta warisan, maka berlaku giliran dalam pembebasannya sesuai dengan kadar penghasilannya. Jika penghasilannya dua ratus dirham, maka setengahnya merdeka dan setengahnya tetap sebagai budak.

وَبَابُهُ فِي حِسَابِهِ أَنْ يَجْعَلَ لَهُ بِرَقَبَتِهِ سَهْمًا لِعِتْقِهِ وَبِكَسْبِهِ سَهْمَيْنِ لِوَرَثَتِهِ لِأَنَّ الْكَسْبَ ضِعْفُ قِيمَتِهِ وَيَجْعَلَ لِوَرَثَةِ سَيِّدِهِ سَهْمَيْنِ ضِعْفَ قِيمَتِهِ وَجَمَعَ سَهْمَ وَرَثَتِهِ وَسَهْمَيْ وَرَثَةِ سَيِّدِهِ وَهِيَ أَرْبَعَةٌ وَلَا تَجْمَعْ إِلَيْهَا سَهْمَ الرَّقَبَةِ لِتَلَفِهَا ثُمَّ أَقْسِمِ الْكَسْبَ عَلَيْهَا وَهُوَ مِائَتَانِ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ خَمْسِينَ دِرْهَمًا فَيُعْتَقُ مِنْهُ بِقَدْرِهَا وَهُوَ نِصْفُهُ يَمْلِكُ وَارِثُهُ بِهِ نِصْفَ كَسْبِهِ وَيَمْلِكُ وَرَثَةُ سَيِّدِهِ نِصْفَ كَسْبِهِ وَيَرِقُّ نِصْفُهُ وَهُوَ مِثْلَا مَا أُعْتِقَ مِنْ نِصْفِهِ

Adapun cara perhitungannya adalah dengan menetapkan satu bagian dari harga dirinya untuk pembebasannya, dan dua bagian dari hasil usahanya untuk ahli warisnya, karena hasil usaha itu dua kali lipat dari nilainya. Kemudian, untuk ahli waris tuannya diberikan dua bagian, yaitu dua kali lipat dari nilainya. Lalu, jumlahkan bagian ahli warisnya dan dua bagian ahli waris tuannya, sehingga menjadi empat bagian. Jangan tambahkan bagian harga dirinya karena telah hilang. Setelah itu, bagilah hasil usaha tersebut atas bagian-bagian itu, yaitu dua ratus, sehingga setiap bagian mendapat lima puluh dirham. Maka, ia dimerdekakan sesuai dengan bagian tersebut, yaitu setengahnya. Ahli warisnya memiliki setengah dari hasil usahanya, ahli waris tuannya juga memiliki setengah dari hasil usahanya, dan setengahnya tetap menjadi budak, yaitu sama dengan bagian yang telah dimerdekakan dari setengah dirinya.

وَلَوْ كَانَ كَسَبَ مِائَةَ دِرْهَمٍ عَتَقَ ثُلُثُهُ وَبَابُهُ أَنْ جَعَلَ لَهُ بِرَقَبَتِهِ سَهْمًا لِعِتْقِهِ وَبِكَسْبِهِ سَهْمًا لِوَرَثَتِهِ وَلِوَرَثَةِ سَيِّدِهِ سَهْمَيْنِ وَتَجْمَعُ بَيْنَ سَهْمِ وَرَثَتِهِ وَسَهْمَيْ وَرَثَةِ سَيِّدِهِ وَهِيَ ثَلَاثَةٌ وَتَقْسِمَ ذَلِكَ عَلَيْهَا وَهُوَ مِائَةٌ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ دِرْهَمًا وَثُلُثًا فَيُعْتَقُ مِنْهُ بِقَدْرِهَا وَهُوَ ثُلُثُهُ يَمْلِكُ وَرَثَتُهُ بِهِ ثُلُثَ كَسْبِهِ وَيَمْلِكُ وَرَثَةُ سَيِّدِهِ ثُلُثَيْ كَسْبِهِ بِرِقِّ ثُلُثَيْهِ وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْ ثُلُثِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika ia memperoleh seratus dirham, maka sepertiganya merdeka. Cara perhitungannya adalah: diberikan kepada dirinya sendiri satu bagian dari hartanya untuk kemerdekaannya, dari hasil usahanya satu bagian untuk ahli warisnya, dan untuk ahli waris tuannya dua bagian. Kemudian, bagian ahli warisnya dan dua bagian ahli waris tuannya digabungkan, sehingga menjadi tiga bagian. Lalu, seratus dirham itu dibagi kepada tiga bagian tersebut, sehingga setiap bagian mendapat tiga puluh tiga satu pertiga dirham. Maka, ia dimerdekakan sesuai bagian tersebut, yaitu sepertiganya. Ahli warisnya memiliki sepertiga dari hasil usahanya, dan ahli waris tuannya memiliki dua pertiga dari hasil usahanya karena dua pertiga dirinya masih berstatus budak, yaitu sama dengan bagian yang telah merdeka dari sepertiganya. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَأَيُّ الرَقِيقِ أَرَدْتَ قِيْمَتَهُ لِعِتْقِهِ فَزَادَتْ قِيمَتُهُ أَوْ نَقَصَتْ أَوْ مَاتَ فَإِنَّمَا قِيمَتُهُ يَوْمَ وَقَعَ الْعِتْقُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Budak mana pun yang engkau maksudkan nilai (harganya) untuk dimerdekakan, lalu nilainya bertambah atau berkurang, atau ia meninggal dunia, maka sesungguhnya nilai (harganya) adalah pada hari terjadinya pembebasan (‘itq).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَالْكَلَامُ فِيهَا مُشْتَمِلٌ عَلَى ثَلَاثَةِ فُصُولٍ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, serta pembahasan mengenai hal ini mencakup tiga bagian.”

أَحَدُهَا اعْتِبَارُ قِيمَةِ مَنْ أَعْتَقَهُ فِي مَرَضِهِ

Salah satunya adalah mempertimbangkan nilai orang yang dimerdekakan olehnya pada saat ia sakit.

وَالثَّانِي اعْتِبَارُ قِيمَةِ مَنْ وَصَّى بِعِتْقِهِ

Kedua, mempertimbangkan nilai orang yang diwasiatkan untuk dimerdekakan.

وَالثَّالِثُ اعْتِبَارُ قِيمَتِهَا فِي حَقِّ وَرَثَتِهِ

Ketiga, mempertimbangkan nilai (harga) barang tersebut bagi para ahli warisnya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي اعْتِبَارِ قِيمَةِ مَنْ أَعْتَقَهُ فِي مَرَضِهِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِوَقْتِ عِتْقِهِ لِاسْتِهْلَاكِهِ لَهُ بِعِتْقِهِ

Adapun bagian pertama adalah tentang penetapan nilai budak yang dimerdekakan oleh seseorang ketika ia sedang sakit, maka nilainya ditetapkan berdasarkan waktu pembebasannya, karena budak tersebut telah habis dimiliki olehnya akibat dimerdekakan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي اعْتِبَارِ قِيمَةِ مَنْ وَصَّى بِعِتْقِهِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِوَقْتِ مَوْتِهِ وَلَا تُعْتَبَرُ بِوَقْتِ وَصِيَّتِهِ وَلَا بِوَقْتِ عِتْقِ الْوَرَثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ؛ لِاسْتِحْقَاقِ عِتْقِهِ بِالْمَوْتِ فَاعْتُبِرَتْ بِوَقْتِ الِاسْتِحْقَاقِ

Adapun bagian kedua membahas tentang penetapan nilai budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan, maka nilainya ditetapkan berdasarkan waktu kematian pewasiat, bukan berdasarkan waktu wasiat itu dibuat, dan bukan pula berdasarkan waktu para ahli waris memerdekakannya setelah kematian pewasiat; karena hak untuk memerdekakan budak tersebut terjadi pada saat kematian, maka penetapan nilainya didasarkan pada waktu hak itu muncul.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي اعْتِبَارِ قِيمَتِهِ فِي حَقِّ وَرَثَتِهِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِأَقَلِّ قِيمَتِهِ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَإِلَى وَقْتِ قُبِضَ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ بَعْدَ الْمَوْتِ تَحْدُثُ عَلَى مِلْكِهِمْ فَلَمْ تُحْتَسَبْ عَلَيْهِمْ كَالثَّمَرَةِ وَالنِّتَاجِ وَالنُّقْصَانُ قَبْلَ الْقَبْضِ تَالِفٌ مِنَ التَّرِكَةِ فَلَمْ يُحْتَسَبْ عَلَيْهِمْ كَالْمَيِّتِ وَالْمَغْصُوبِ فَلِذَلِكَ كَانَ مُحْتَسَبًا فِي حَقِّهِمْ بِأَقَلِّ قِيمَتِهِ

Adapun bagian ketiga mengenai penetapan nilai (harta) bagi para ahli warisnya, maka yang dijadikan acuan adalah nilai terendahnya sejak setelah kematiannya hingga waktu penyerahan (harta tersebut). Sebab, penambahan nilai setelah kematian terjadi di bawah kepemilikan para ahli waris, sehingga tidak diperhitungkan atas mereka, seperti buah dan hasil ternak. Sedangkan pengurangan nilai sebelum penyerahan merupakan kerugian dari harta warisan, sehingga tidak diperhitungkan atas mereka, seperti halnya barang milik orang yang telah wafat atau barang yang digasap. Oleh karena itu, yang dijadikan acuan bagi mereka adalah nilai terendahnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا صَحَّتْ أَحْكَامُهُ فِي ثَلَاثَةِ فُصُولٍ

Jika hal ini telah ditetapkan, maka ketentuan-ketentuannya berlaku dalam tiga bagian.

أَحَدُهَا فِي الْقِيمَةِ إِذَا زَادَتْ

Salah satunya adalah dalam hal nilai jika nilainya bertambah.

وَالثَّانِي فِي الْقِيمَةِ إِذَا نَقَصَتْ

Dan yang kedua berkaitan dengan nilai (harga) apabila terjadi penurunan.

وَالثَّالِثُ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْعِتْقِ فِي الْمَرَضِ وَالْعِتْقِ بِالْوَصِيَّةِ

Ketiga, mengenai penggabungan antara pembebasan budak (ʿitq) pada saat sakit dan pembebasan budak melalui wasiat.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الْقِيمَةِ إِذَا زَادَتْ فَحُكْمُ الزِّيَادَةِ مِثْلُ حُكْمِ الْكَسْبِ فَإِذَا أَعْتَقَ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُ فَزَادَتْ قِيمَتُهُ حَتَّى بَلَغَ مِائَتَيْنِ فَالزِّيَادَةُ مُعْتَبَرَةٌ بِوَقْتِهَا فَإِنْ حَدَثَتْ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ فَلَا اعْتِبَارَ بِهَا فِي التَّرِكَةِ وَلَا يَدْخُلُ بِهَا دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ الْعِتْقِ وَيُعْتَقُ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ

Adapun bagian pertama mengenai nilai (harta) jika mengalami kenaikan, maka hukum atas kenaikan tersebut sama dengan hukum hasil usaha. Jika seseorang memerdekakan seorang budak yang nilainya seratus dirham dan ia tidak memiliki harta lain selain itu, lalu nilai budak tersebut meningkat hingga mencapai dua ratus dirham, maka kenaikan nilai tersebut diperhitungkan berdasarkan waktunya. Jika kenaikan itu terjadi setelah wafatnya tuan (pemilik budak), maka kenaikan tersebut tidak diperhitungkan dalam harta warisan dan tidak menyebabkan terjadinya siklus dalam penambahan kemerdekaan. Maka yang merdeka adalah sepertiga dari budak itu, dan dua pertiganya tetap menjadi budak.

وَإِنْ حَدَثَتْ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ كَانَتْ مُعْتَبَرَةً فِي التَّرِكَةِ وَدَخَلَ بِهَا دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ الْعِتْقِ وَبَابُ دَوْرِهِ فِي وُصُولِكَ إِلَى مِقْدَارِ عِتْقِهِ أَنْ تَجْعَلَ لَهُ بِعِتْقِهِ سَهْمًا وَلَهُ بِفَضْلِ قِيمَتِهِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَاجْمَعْهَا وَهِيَ أَرْبَعَةٌ وَاقْسِمْ قِيمَةَ الْعَبْدِ عَلَيْهَا وَهِيَ مِائَتَانِ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ خَمْسِينَ فَأَعْتَقَ مِنْهُ بِهَا عَلَى قِيمَتِهِ وَقْتَ الْعِتْقِ يُعْتَقُ نِصْفُهُ وَيَرِقُّ نِصْفُهُ وَقِيمَتُهُ وَقْتَ الْمَوْتِ مِائَةٌ وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهُ

Jika peristiwa itu terjadi pada masa hidup tuan, maka hal itu dianggap sebagai bagian dari warisan dan berperan dalam menambah porsi pembebasan budak. Cara menghitung peranannya dalam menentukan kadar pembebasan budak adalah dengan memberikan satu bagian untuknya karena pembebasan tersebut, satu bagian lagi untuknya karena kelebihan nilainya, dan dua bagian untuk para ahli waris. Jumlahkan semuanya, sehingga menjadi empat bagian. Lalu, bagilah nilai budak atas bagian-bagian tersebut, yaitu dua ratus. Maka, bagian setiap bagian adalah lima puluh. Bebaskanlah budak itu sesuai bagian tersebut berdasarkan nilainya pada saat pembebasan, sehingga setengahnya menjadi merdeka dan setengahnya tetap sebagai budak. Nilainya pada saat kematian adalah seratus, yaitu sama dengan bagian yang telah dimerdekakan darinya.

وَلَوْ تَرَكَ السَّيِّدُ مَعَ الْعَبْدِ مِائَةً جَعَلْتَ لِلْعِتْقِ سَهْمًا وَلِزِيَادَةِ الْقِيمَةِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَقَسَّمْتَ التَّرِكَةَ وَهِيَ ثَلَاثُمِائَةٍ عَلَى هَذِهِ السِّهَامِ الْأَرْبَعَةِ فَيَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ خَمْسَةً وَسَبْعِينَ فَأَعْتِقْ مِنْهُ بِهَا ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ وَيَرِقُّ رُبْعُهُ وَقِيمَتُهُ خَمْسُونَ يَضُمُّهَا الْوَرَثَةُ إِلَى الْمِائَةِ فَيَصِيرُ مَعَهُمْ مِائَةٌ وَخَمْسُونَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ وَلَوْ كَانَتْ قِيمَتُهُ مِائَةَ دِرْهَمٍ فَزَادَتْ قِيمَتُهُ قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهِ حَتَّى بَلَغَتْ ثَلَاثَمِائَةٍ جَعَلْتَ لَهُ بِعِتْقِهِ سَهْمًا وَبِفَضْلِ قِيمَتِهِ خَمْسَةَ أَسْهُمٍ وَجَعَلْتَ لِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَاقْسِمِ التَّرِكَةَ وَهِيَ سِتُّمِائَةٍ عَلَى هَذِهِ السِّهَامِ وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ خَمْسَةً وَسَبْعِينَ فأعتق منه بها على قيمته وقت العتق ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ وَتُرِقُّ رُبْعَهُ وَقِيمَتُهُ وَقْتَ الْمَوْتِ مِائَةٌ وَخَمْسُونَ وَهُوَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ وَلَوْ زَادَتْ قِيمَتُهُ مِائَةً وَكَسَبَ مِائَةً جَعَلْتَ له بالعتق سهمان وَبِفَضْلِ الْقِيمَةِ سَهْمًا وَبِالْكَسْبِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ تَصِيرُ خَمْسَةَ أَسْهُمٍ فَاقْسِمِ التَّرِكَةَ عَلَيْهَا وَهِيَ أَرْبَعُمِائَةٍ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ ثَمَانِينَ فَأَعْتِقْ مِنْهُ بِهَا أَرْبَعَةَ أَخْمَاسِهِ وَيَمْلِكُ بِهَا أَرْبَعَةَ أَخْمَاسِ كَسْبِهِ ثَمَانِينَ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ خُمُسُهُ وَقِيمَتُهُ أَرْبَعُونَ وَيَمْلِكُونَ خُمْسَ كَسْبِهِ وَهُوَ عِشْرُونَ فَإِذَا ضُمَّ الْمِائَةُ الْمَتْرُوكَةُ صَارَ مَعَهُمْ مِائَةٌ وَسِتُّونَ وَهِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ

Jika seorang tuan meninggalkan seratus (dirham) bersama seorang budak, maka kamu jadikan satu saham untuk ‘itq (pembebasan), satu saham untuk kelebihan nilai, dan dua saham untuk para ahli waris. Kemudian kamu bagi harta warisan yang berjumlah tiga ratus atas empat saham ini, sehingga bagian setiap saham adalah tujuh puluh lima. Maka bebaskanlah dari budak itu tiga perempatnya dengan bagian tersebut, dan seperempatnya tetap menjadi budak, dengan nilainya lima puluh, yang kemudian digabungkan oleh para ahli waris dengan seratus, sehingga menjadi seratus lima puluh bersama mereka, sama dengan dua kali lipat bagian yang keluar untuk ‘itq. Jika nilai budak itu seratus dirham, lalu nilainya bertambah sebelum tuannya wafat hingga mencapai tiga ratus, maka kamu jadikan satu saham untuk ‘itq, lima saham untuk kelebihan nilainya, dan dua saham untuk para ahli waris. Kemudian bagilah harta warisan yang berjumlah enam ratus atas delapan saham ini, sehingga bagian setiap saham adalah tujuh puluh lima. Maka bebaskanlah dari budak itu tiga perempatnya sesuai dengan nilainya saat pembebasan, dan seperempatnya tetap menjadi budak, dengan nilainya saat wafat seratus lima puluh, yang juga sama dengan dua kali lipat bagian yang keluar untuk ‘itq. Jika nilainya bertambah seratus dan ia memperoleh penghasilan seratus, maka kamu jadikan dua saham untuk ‘itq, satu saham untuk kelebihan nilai, satu saham untuk penghasilan, dan dua saham untuk para ahli waris, sehingga menjadi lima saham. Bagilah harta warisan yang berjumlah empat ratus atas saham-saham ini, sehingga bagian setiap saham adalah delapan puluh. Maka bebaskanlah dari budak itu empat perlimanya dengan bagian tersebut, dan ia memiliki empat perlimanya dari penghasilannya, yaitu delapan puluh, dan seperlimanya tetap menjadi budak bagi para ahli waris dengan nilainya empat puluh, serta mereka memiliki seperlima dari penghasilannya, yaitu dua puluh. Jika seratus yang ditinggalkan digabungkan, maka bersama mereka menjadi seratus enam puluh, yang juga sama dengan dua kali lipat bagian yang keluar untuk ‘itq.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي الْقِيمَةِ إِذَا نَقَصَتْ فَيَدْخُلُ بِنُقْصَانِهَا دَوْرٌ عَلَى الْعِتْقِ يَزِيدُ بِهِ الرِّقُّ كَمَا دَخَلَ بِزِيَادَتِهَا دَوْرٌ عَلَى الرِّقِّ زَادَ بِهِ الْعِتْقُ

Adapun bagian kedua membahas tentang nilai (barang) apabila nilainya berkurang, maka dengan berkurangnya nilai tersebut terjadi siklus pada status merdeka yang menyebabkan bertambahnya status budak, sebagaimana dengan bertambahnya nilai terjadi siklus pada status budak yang menyebabkan bertambahnya status merdeka.

فَإِذَا أَعْتَقَ فِي مَرَضِهِ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةٌ فَنَقَصَتْ قِيمَتُهُ قَبْلَ قَبْضِ الْوَرَثَةِ حَتَّى صَارَتْ خَمْسِينَ جَعَلْتُ لِلْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَقَدْ عَادَتِ الْقِيمَةُ إِلَى نِصْفِهَا فَأَنْقُصُ مِنْ سَهْمِ الْعِتْقِ نِصْفَهُ يَبْقَى سَهْمَانِ وَنِصْفٌ فَأَقْسِمُ التَّرِكَةَ عَلَيْهَا وَهِيَ خَمْسُونَ يَخْرُجُ قِسْطُ نِصْفِ السَّهْمِ خُمُسَهَا فَأَعْتِقُ خُمُسَهُ وَقِيمَتُهُ وَقْتَ الْعِتْقِ عِشْرُونَ وَأَسْتَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ أَرْبَعَةَ أَخْمَاسِهِ وَقِيمَتُهُ وَقْتَ الْمَوْتِ أَرْبَعُونَ وَهُوَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ

Jika seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakitnya, yang nilai budak itu seratus, lalu nilainya berkurang sebelum ahli waris menerima warisan hingga menjadi lima puluh, maka saya menetapkan satu bagian untuk kemerdekaan dan dua bagian untuk ahli waris. Karena nilainya telah kembali menjadi setengahnya, maka saya kurangi bagian kemerdekaan menjadi setengahnya, sehingga tersisa dua setengah bagian. Lalu saya bagi harta warisan atas bagian-bagian tersebut, yaitu lima puluh. Bagian setengahnya adalah seperlimanya, maka saya merdekakan seperlima budak itu, dan nilainya pada saat dimerdekakan adalah dua puluh. Sedangkan untuk ahli waris, saya perbudak empat perlima sisanya, dan nilainya pada saat kematian adalah empat puluh, yang merupakan dua kali lipat dari bagian yang keluar untuk kemerdekaan.

وَفِيهِ وَجْهٌ آخَرُ لِبَعْضِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ لَا يُحْتَسَبُ عَلَى الْعَبْدِ نُقْصَانُ قِيمَتِهِ كَمَا لَمْ يُحْتَسَبْ عَلَى الْوَرَثَةِ وَيُعْتَقُ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا احْتُسِبَ لَهُ زِيَادَةُ قِيمَتِهِ حَتَّى زَادَ فِي دَوْرِ عِتْقِهِ وَجَبَ أَنْ يُحْتَسَبَ عَلَيْهِ نُقْصَانُهَا لِيَزِيدَ فِي دَوْرِ رِقِّهِ وَلَوْ كَانَتْ قِيمَتُهُ خَمْسَمِائَةٍ فَنَقَصَتْ حَتَّى صَارَتْ مِائَتَيْنِ جَعَلْتُ لَهُ بِالْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَقَدْ عَادَ عليه من نقصان القيمة ثلاثة أخماسها فأنقضها مِنْ سَهْمِ عِتْقِهِ يَبْقَى لَهُ خُمْسَا سَهْمٍ فَأَقْسِمُ الْقِيمَةَ عَلَى سَهْمَيْنِ وَخُمْسَيْنِ يَكُنِ الْخُمْسَانِ مِنْهَا السُّدْسُ لِأَنَّ مَبْسُوطَهَا اثْنَا عَشَرَ خُمْسًا وَيُقَرُّ سَهْمُ الْعِتْقِ فَأَعْتِقُ سُدْسَهُ وَقِيمَةُ السُّدْسِ مِنَ الْخُمْسَيْنِ مِائَةٌ وَثُلُثُهُ مِائَةٌ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُونَ وَثُلُثٌ وَيَرِقُّ الْوَرَثَةُ خَمْسَةُ أَسْدَاسِهِ وَقِيمَتُهَا مِنَ الْمِائَتَيْنِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَسِتُّونَ وَثُلُثَانِ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ

Ada pendapat lain dari sebagian ulama kami bahwa tidak diperhitungkan kepada budak kekurangan nilainya, sebagaimana tidak diperhitungkan kepada para ahli waris, sehingga sepertiga dari budak itu dimerdekakan dan dua pertiganya tetap sebagai budak. Namun, pendapat ini tidak benar; karena ketika telah diperhitungkan tambahan nilai budak tersebut sehingga menambah pada bagian kemerdekaannya, maka wajib pula diperhitungkan kekurangannya agar menambah pada bagian perbudakannya. Misalnya, jika nilai budak itu lima ratus lalu berkurang hingga menjadi dua ratus, maka bagian untuk kemerdekaan adalah satu bagian dan untuk ahli waris dua bagian. Dari kekurangan nilai itu, tiga per lima kembali kepada budak, maka dikurangi dari bagian kemerdekaannya, sehingga yang tersisa baginya adalah dua per lima bagian. Maka, nilai tersebut dibagi menjadi dua bagian dan dua per lima, sehingga dua per lima dari nilai itu adalah seperenam, karena kelipatannya adalah dua belas per lima. Bagian kemerdekaan ditetapkan, maka aku merdekakan seperenamnya, dan nilai seperenam dari dua per lima adalah seratus tiga puluh tiga dan sepertiga. Sedangkan ahli waris tetap memperbudak lima per enamnya, dan nilainya dari dua ratus adalah seratus enam puluh enam dan dua pertiga, sama dengan bagian yang keluar untuk kemerdekaan.

وَلَوْ كَانَتْ قِيمَتُهُ وَقْتَ عِتْقِهِ سِتَّمِائَةٍ فَنَقَصَتْ حَتَّى صَارَتْ ثَلَاثَمِائَةٍ وَكَسْبُ الْعَبْدِ ثَلَاثُمِائَةٍ فَأَجْبُرُ نُقْصَانَ الْقِيمَةِ بِزِيَادَةِ الْكَسْبِ وَأَعْتِقُ ثُلُثَهُ وَقِيمَتُهُ مِنَ السِّتِّمِائَةِ مِائَتَانِ يَمْلِكُ بِهِ ثُلُثَ كَسْبِهِ مِائَةً فَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ لِلْوَرَثَةِ وَقِيمَتُهُ مِنَ الثَلَاثِمِائَةِ مِائَتَانِ وَلَهُمْ بِهِ ثُلُثَا كَسْبِهِ مِائَتَانِ يَصِيرُ مَعَهُمْ أَرْبَعُمِائَةٍ وَهِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ

Jika nilai budak itu pada saat dimerdekakan adalah enam ratus, lalu nilainya berkurang hingga menjadi tiga ratus, dan hasil usaha budak itu adalah tiga ratus, maka kekurangan nilai tersebut saya tutup dengan tambahan hasil usaha, lalu saya merdekakan sepertiganya, dan nilainya dari enam ratus adalah dua ratus, sehingga ia memiliki sepertiga hasil usahanya, yaitu seratus. Maka dua pertiganya menjadi milik para ahli waris, dan nilainya dari tiga ratus adalah dua ratus, sehingga mereka mendapatkan dua pertiga hasil usahanya, yaitu dua ratus, sehingga jumlah yang mereka miliki menjadi empat ratus, dan itu sama dengan dua kali lipat dari apa yang keluar karena kemerdekaan.

وَلَوْ كَانَتْ قِيمَتُهُ سِتُّمِائَةٍ فَنَقَصَتْ حَتَّى صَارَتْ أَرْبَعَمِائَةٍ وَكَانَ عَلَى السَّيِّدِ دَيْنٌ مِائَةٌ فَأضْمُمِ الدَّيْنَ إِلَى نُقْصَانِ الْقِيمَةِ يَصِيرُ الْبَاقِي مِنْهَا ثَلَاثَمِائَةٍ فَأَجْعَلُ لِلْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ وَأَنْقُصُ مِنْ سَهْمِ الْعِتْقِ نَصِفَهُ يَعُودُ النُّقْصَانُ إِلَى نِصْفِهِ يَبْقَى سَهْمَانِ وَنِصْفٌ يَكُونُ نصف سهم العتق منها خمسها فأعتق من خُمْسَهُ وَقِيمَتُهُ مِنَ السِّتِّمِائَةِ مِائَةٌ وَعِشْرُونَ وَأَقْضِي الْمِائَةَ الدَّيْنَ مِنْ قِيمَتِهِ وَهِيَ أَرْبَعُمِائَةٍ يَبْقَى ثَلَاثُمِائَةٍ لِلْوَرَثَةِ بِأَرْبَعَةِ أَخْمَاسِهِ مِائَتَانِ وَأَرْبَعُونَ وَهِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ

Jika nilainya enam ratus lalu berkurang hingga menjadi empat ratus, dan tuannya memiliki utang seratus, maka tambahkan utang itu pada kekurangan nilai sehingga sisanya menjadi tiga ratus. Maka, berikan satu bagian untuk ‘itq (pembebasan budak) dan dua bagian untuk ahli waris. Kemudian kurangi setengah dari bagian ‘itq, sehingga kekurangannya menjadi setengahnya, tersisa dua setengah bagian. Setengah bagian ‘itq dari jumlah itu adalah seperlimanya, maka bebaskan seperlimanya. Nilainya dari enam ratus adalah seratus dua puluh. Kemudian bayarkan utang seratus dari nilainya yang empat ratus, sehingga tersisa tiga ratus untuk ahli waris, yaitu empat per lima dari nilainya, yaitu dua ratus empat puluh, dan itu sama dengan bagian yang keluar untuk ‘itq.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْعِتْقِ فِي الْمَرَضِ وَالْوَصِيَّةِ بِالْعِتْقِ وَهُمَا جَمِيعًا مِنَ الثُّلُثِ لَكِنَّ عِتْقَ الْمَرَضِ مُقَدَّمٌ عَلَى عِتْقِ الْوَصِيَّةِ فَإِذَا أَعْتَقَ عَبْدًا فِي مَرَضِهِ وَوَصَّى بِعِتْقِ آخَرَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَهُوَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ

Adapun bagian ketiga membahas tentang penggabungan antara pembebasan budak (ʿitq) pada saat sakit dan wasiat untuk membebaskan budak, di mana keduanya diambil dari sepertiga harta, namun pembebasan budak pada saat sakit lebih didahulukan daripada pembebasan budak melalui wasiat. Maka, apabila seseorang membebaskan seorang budak ketika ia sakit dan berwasiat untuk membebaskan budak lain setelah kematiannya, maka hal itu terbagi menjadi empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُعَيَّنَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ فِي الْمَرَضِ وَالْعَبْدُ الْمُعْتَقُ بِالْوَصِيَّةِ فَيَقُولُ هَذَا الْعَبْدُ حُرٌّ وَأَعْتِقُوا هَذَا الْعَبْدَ الْآخَرَ بَعْدَ مَوْتِي فَلِلثُّلُثِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ

Salah satunya adalah apabila seorang hamba yang dimerdekakan dalam keadaan sakit dan hamba yang dimerdekakan melalui wasiat itu ditentukan secara spesifik, lalu ia berkata, “Hamba ini merdeka, dan merdekakanlah hamba yang lain ini setelah kematianku.” Maka, untuk sepertiga harta terdapat empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَحْتَمِلَ قِيمَتُهُ الْعَبْدَيْنِ فَيَتَحَرَّرُ بِهِ عِتْقُ الْمَرَضِ وَعِتْقُ الْوَصِيَّةِ

Salah satunya adalah jika nilainya setara dengan dua budak, maka dengan itu dapat terlaksana pembebasan budak karena sakit (‘itq al-maradh) dan pembebasan budak karena wasiat (‘itq al-washiyyah).

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَحْتَمِلَ الثُّلُثُ قِيمَةَ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ فَيَتَحَرَّرُ بِهِ عِتْقُ الْمَرَضِ ورد عِتْقُ الْوَصِيَّةِ

Keadaan kedua adalah apabila sepertiga harta hanya cukup untuk menutupi nilai salah satu dari keduanya, bukan keduanya sekaligus. Maka yang dibebaskan (dimerdekakan) adalah budak yang dimerdekakan karena sakit (sebelum wafat), sedangkan pembebasan budak melalui wasiat tidak berlaku.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَحْتَمِلَ الثُّلُثُ قِيمَةَ أَحَدِهِمَا وَبَعْضَ الْآخَرِ فَيَتَحَرَّرُ بِهِ عِتْقُ الْمَرَضِ كَامِلًا وَيُعْتَقُ مِنْ عَبْدِ الْوَصِيَّةِ بِقَدْرِ الباقي من الثلث ويرق باقية

Keadaan ketiga adalah apabila sepertiga harta mampu menutupi nilai salah satu dari keduanya dan sebagian dari yang lain. Maka dengan itu, budak yang dimerdekakan karena sakit (al-maradh) merdeka sepenuhnya, dan dari budak wasiat (ʿabd al-waṣiyyah) dimerdekakan sesuai sisa dari sepertiga harta, sedangkan sisanya tetap menjadi budak.

والحالة الرَّابِعَةُ أَنْ يَحْتَمِلَ الثُّلُثُ بَعْضَ أَحَدِهِمَا وَيَعْجِزَ عَنِ الْبَاقِي فَيَتَحَرَّرَ بِهِ مِنْ عِتْقِ الْمَرَضِ قَدْرُ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَيَرِقُّ بَاقِيهِ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Keadaan keempat adalah ketika sepertiga harta hanya mampu menanggung sebagian dari salah satu keduanya dan tidak mampu menanggung sisanya, maka dengan bagian yang ditanggung oleh sepertiga harta itu, ia menjadi merdeka dari ‘itq al-maradh (pembebasan budak karena sakit) sesuai kadar yang mampu ditanggung, sedangkan sisanya dan seluruh bagian yang lain tetap berstatus budak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُبْهِمَ عِتْقَ الْمَرَضِ وَعِتْقَ الْوَصِيَّةِ فِي عَبِيدِهِ وَلَا يُعَيِّنَهُمَا فَيَقُولُ فِي مَرَضِهِ أَحَدُ عَبِيدِي حُرٌّ وَأَعْتِقُوا أَحَدَهُمْ بَعْدَ مَوْتِي فَإِنَّهُمَا مُبْهَمَانِ فَوَجَبَ التَّعْيِينُ وَفِيمَا يَتَعَيَّنَانِ بِهِ قَوْلَانِ

Jenis kedua adalah apabila seseorang mengaburkan pembebasan budak karena sakit dan pembebasan budak melalui wasiat pada budak-budaknya, tanpa menentukan siapa di antara mereka. Misalnya, ia berkata saat sakitnya, “Salah satu budakku merdeka,” atau, “Bebaskan salah satu dari mereka setelah kematianku.” Maka keduanya menjadi tidak jelas, sehingga wajib untuk menentukan. Terkait dengan cara penentuan itu, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَتَعَيَّنَانِ بِبَيَانِ الْوَرَثَةِ فَيُرْجَعُ إِلَى بَيَانِهِمْ مِنْ غَيْرِ قُرْعَةٍ لِأَنَّهُمْ يَقُومُونَ مَقَامَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَإِذَا عَيَّنُوهُمَا مِنْ بَيْنِ الْعَبِيدِ صَارَ كَتَعْيِينِ السَّيِّدِ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْأَحْوَالِ الْأَرْبَعَةِ

Salah satunya dapat ditentukan melalui penjelasan para ahli waris, sehingga kembali kepada penjelasan mereka tanpa undian, karena mereka menggantikan kedudukannya setelah wafatnya. Maka apabila mereka telah menentukan keduanya dari antara para budak, hal itu sama seperti penentuan yang dilakukan oleh tuan, sehingga berlaku sebagaimana yang telah dijelaskan dalam empat keadaan sebelumnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يُرْجَعُ فِي تَعْيِينِهَا إِلَى الْقُرْعَةِ دُونَ الْوَرَثَةِ وَهُوَ أَصَحُّ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa penentuan (bagian) tersebut dikembalikan kepada undian (al-qur‘ah), bukan kepada para ahli waris, dan inilah yang lebih sahih karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا أَبْعَدُ مِنَ التُّهْمَةِ

Salah satunya adalah karena hal itu lebih jauh dari tuduhan.

وَالثَّانِي لِتَعَذُّرِ عِلْمِ الْوَرَثَةِ بِإِرَادَةِ السَّيِّدِ

Dan yang kedua adalah karena mustahil para ahli waris mengetahui maksud dari tuan.

فَيَبْدَأُ بِالْقُرْعَةِ بِعِتْقِ الْمَرَضِ فَإِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ بَطَلَ عِتْقُ الْوَصِيَّةِ وَإِنْ بَقِيَ مِنَ الثُّلُثِ بَقِيَّةٌ أَقْرَعَ لِعِتْقِ الْوَصِيَّةِ فَإِنِ احْتَمَلَ بَقِيَّةَ الثُّلُثِ جَمِيعَ قِيمَتِهِ عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ عَتَقَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا احْتَمَلَهُ الْبَاقِي وَرَقَّ بَاقِيهِ

Maka dimulai dengan undian untuk pembebasan budak karena sakit. Jika seluruh sepertiga harta telah habis, maka pembebasan budak berdasarkan wasiat menjadi batal. Namun jika masih tersisa bagian dari sepertiga harta, maka dilakukan undian untuk pembebasan budak berdasarkan wasiat. Jika sisa sepertiga harta tersebut cukup untuk menutupi seluruh nilainya, maka budak itu merdeka seluruhnya. Namun jika tidak cukup, maka budak itu merdeka sesuai dengan bagian yang tertutupi oleh sisa harta, dan sisanya tetap berstatus budak.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يُعَيِّنَ عِتْقَ الْمَرَضِ وَيُبْهِمَ عِتْقَ الْوَصِيَّةِ فَيَقُولُ هَذَا الْعَبْدُ حُرٌّ وَأَعْتِقُوا آخَرَ بَعْدَ مَوْتِي فَيُنْظَرُ فِي عِتْقِ الْمَرَضِ فَإِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ بَطَلَ عِتْقُ الْوَصِيَّةِ وَلَمْ يُحْتَجْ إِلَى بَيَانِهِ وَإِنْ بَقِيَ مِنَ الثلث بقية صرفت في عتق الوصية فاحتج إِلَى بَيَانِهِ فَيُرْجَعُ إِلَى بَيَانِ الْوَرَثَةِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَإِلَى الْقُرْعَةِ فِي الْقَوْلِ الثَّانِي

Jenis ketiga adalah apabila seseorang menentukan pembebasan budak karena sakit (sebagai wasiat sakit menjelang wafat) dan mengaburkan (tidak menjelaskan) pembebasan budak melalui wasiat, lalu ia berkata: “Budak ini merdeka, dan merdekakanlah budak lain setelah kematianku.” Maka dilihat terlebih dahulu pembebasan budak karena sakitnya; jika telah memenuhi sepertiga harta, maka pembebasan budak melalui wasiat menjadi batal dan tidak perlu dijelaskan siapa budaknya. Namun jika masih tersisa bagian dari sepertiga harta, maka sisa tersebut digunakan untuk pembebasan budak melalui wasiat, sehingga perlu dijelaskan siapa budaknya. Dalam hal ini, penjelasan kembali kepada keterangan para ahli waris menurut salah satu pendapat, dan kepada undian (qur‘ah) menurut pendapat yang lain.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعِ أَنْ يُعَيِّنَ عِتْقَ الْوَصِيَّةِ وَيُبْهِمَ عِتْقَ الْمَرَضِ فَيَقُولُ أَحَدُ عَبِيدِي حُرٌّ وَأَعْتِقُوا هَذَا بَعْدَ مَوْتِي فَلَا تُمْضَى الْوَصِيَّةُ بِعِتْقِ الْمُعينِ حَتَّى يَتَعَيَّنَ فِي أَحَدِهِمْ عِتْقُ الْمَرَضِ فَيَرْجِعُ فِي تَعْيِينِهِ إِلَى بَيَانِ الْوَرَثَةِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَإِلَى الْقُرْعَةِ فِي الْقَوْلِ الثَّانِي ثُمَّ يُعْتَبَرَانِ فِي الثُّلُثِ وَيَكُونَانِ فيه على الأحوال الأربعة

Golongan keempat adalah apabila seseorang menentukan pembebasan budak melalui wasiat dan mengaburkan pembebasan budak karena sakit, misalnya ia berkata: “Salah satu budakku merdeka, dan merdekakanlah yang ini setelah aku wafat.” Maka wasiat untuk memerdekakan yang ditentukan tidak berlaku sampai pembebasan budak karena sakit itu ditetapkan pada salah satu dari mereka. Dalam hal ini, penetapannya kembali kepada penjelasan para ahli waris menurut salah satu pendapat, dan kepada undian menurut pendapat kedua. Kemudian keduanya diperhitungkan dalam sepertiga harta, dan keduanya berlaku dalam empat keadaan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ وَقَعَتِ الْقُرْعَةُ لِمَيِّتٍ عَلِمْنَا أَنَّهُ كَانَ حُرًّا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْمَرَضِ يَقَعُ قَبْلَ الْمَوْتِ وَالْعِتْقَ فِي الْوَصِيَّةِ يَقَعُ بَعْدَ الْمَوْتِ وَمِلْكُ الْوَرَثَةِ يَسْتَقِرُّ بِالْيَدِ وَالْقَبْضِ بَعْدَ الْمَوْتِ فَإِذَا أَعْتَقَ ثَلَاثَةَ عَبِيدٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُمْ أَوْ وَصَّى بِعِتْقِهِمْ ثُمَّ مَاتَ أَحَدُهُمْ قَبْلَ أَنْ يَتَعَيَّنَ فِيهِ عِتْقٌ أَوْ رِقٌّ لَمْ يَخْلُ مَوْتُهُ مِنَ أَحْوَالٍ

Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika undian jatuh pada seorang yang telah meninggal, maka kita mengetahui bahwa ia adalah seorang yang merdeka. Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa pembebasan budak (‘itq) pada saat sakit terjadi sebelum kematian, sedangkan pembebasan budak melalui wasiat terjadi setelah kematian, dan kepemilikan ahli waris menjadi tetap dengan penguasaan dan penerimaan setelah kematian. Maka jika seseorang membebaskan tiga orang budak yang ia tidak memiliki harta selain mereka, atau ia berwasiat untuk membebaskan mereka, kemudian salah satu dari mereka meninggal sebelum ditentukan siapa yang dimerdekakan atau tetap sebagai budak, maka kematiannya itu tidak lepas dari beberapa keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَمُوتَ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ فَلَا يَخْلُو الْعِتْقُ مِنْ أَنْ يَكُونَ عِتْقَ وَصِيَّةٍ أَوْ عِتْقَ مَرَضٍ فَإِنْ كَانَ عِتْقَ وَصِيَّةٍ لَمْ يَقَعْ عَلَيْهِ قُرْعَةٌ فِي عِتْقٍ وَلَا رِقٍّ؛ لِأَنَّ عِتْقَ الْوَصِيَّةِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَقَدْ مَاتَ قَبْلَهُ عَلَى مِلْكِ سَيِّدِهِ وَيَصِيرُ الْعَبْدَانِ الْبَاقِيَانِ هُمَا التَّرِكَةُ فَيَجْتَمِعُ فِيهِمَا عِتْقُ الْوَصِيَّةِ وَحَقُّ الْوَرَثَةِ فَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا لِعِتْقِ الْوَصِيَّةِ وَيُعْتَقُ بِهَا ثُلُثَا مَنْ قُرِعَ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ بَاقِيهِ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Salah satunya adalah jika ia (budak) meninggal dalam kehidupan tuannya, maka pembebasan budak tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: pembebasan karena wasiat atau pembebasan karena sakit (menjelang kematian). Jika pembebasan itu karena wasiat, maka tidak dilakukan undian (qur‘ah) atasnya dalam hal pembebasan maupun perbudakan; karena pembebasan melalui wasiat berlaku setelah kematian, sedangkan ia telah meninggal sebelumnya dalam kepemilikan tuannya. Maka dua budak yang tersisa menjadi harta warisan, sehingga pada keduanya berkumpul antara hak pembebasan melalui wasiat dan hak ahli waris. Maka dilakukan undian (qur‘ah) di antara keduanya untuk pembebasan melalui wasiat, dan yang terpilih melalui undian dibebaskan sepertiga bagiannya, sedangkan sisanya dan seluruh budak yang lain menjadi milik ahli waris.

وَإِنْ كَانَ عِتْقَ مَرَضٍ أُدْخِلَ الْمَيِّتُ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ وَعِنْدَ مَالِكٍ لَا يَدْخُلُ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ لِأَنَّهُ يَرَى أَنَّ عِتْقَهُ وَاقِعٌ بِالْقُرْعَةِ دُونَ اللَّفْظِ وَنَحْنُ نَرَى وُقُوعَ عِتْقِهِ بِاللَّفْظِ وَدُخُولَ الْقُرْعَةِ لِلتَّمْيِيزِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ

Jika pembebasan budak itu terjadi saat sakit (menjelang wafat), maka orang yang telah meninggal dimasukkan dalam undian pembebasan budak. Menurut Imam Malik, orang yang telah meninggal tidak dimasukkan dalam undian pembebasan budak, karena beliau berpendapat bahwa pembebasan budak itu terjadi melalui undian, bukan melalui ucapan. Sedangkan kami berpendapat bahwa pembebasan budak itu terjadi melalui ucapan, dan undian dilakukan untuk membedakan (siapa yang dibebaskan). Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وَإِذَا أَوْجَبَ دُخُولَهُ فِي الْقُرْعَةِ لَمْ يَخْلُ أَنْ تَقَعَ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ أَوْ قُرْعَةُ الرِّقِّ

Dan apabila mewajibkan masuknya dalam undian, maka tidak lepas dari kemungkinan bahwa undian itu jatuh padanya sebagai undian pembebasan (’itq) atau undian perbudakan (riqq).

فَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ بَانَ بِهَا أَنَّهُ مَاتَ حُرًّا اسْتَوْفَى السَّيِّدُ بِعِتْقِهِ مَا اسْتَحَقَّهُ مِنْ ثُلُثِهِ وَرَقَّ الْآخَرَانِ لِلْوَرَثَةِ وَلَمْ يُؤَثِّرْ مَوْتُهُ فِي نُقْصَانِ التَّرِكَةِ وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الرِّقِّ لَمْ يُحْتَسَبْ بِهِ عَلَى الْوَرَثَةِ لِمَوْتِهِ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهِمْ وَصَارَتِ التَّرِكَةُ هِيَ الْعَبْدَانِ الباقيان والعتق واقع فيهما ويستأنف الإقراع منهما ويعتق ثلثا من قرع بينهما وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ بَاقِيهِ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Jika undian pembebasan budak jatuh padanya, maka hal itu menunjukkan bahwa ia meninggal dalam keadaan merdeka. Dengan pembebasan tersebut, tuan telah mengambil haknya dari sepertiga harta, sedangkan dua budak lainnya menjadi milik para ahli waris. Kematian budak tersebut tidak mempengaruhi pengurangan harta warisan. Namun, jika undian perbudakan jatuh padanya, maka ia tidak diperhitungkan sebagai bagian ahli waris karena ia meninggal sebelum mereka berhak atasnya. Maka harta warisan adalah dua budak yang tersisa, dan pembebasan berlaku pada keduanya. Undian diulang di antara keduanya, dan sepertiga dari yang terpilih di antara mereka dimerdekakan, sedangkan sisanya dan seluruh budak yang lain menjadi milik para ahli waris.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَمُوتَ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ وَبَعْدَ قبض الورثة دَخَلَ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ وَقُرْعَةِ الرِّقِّ وَيَسْتَوِي فِيهِ عِتْقُ الْمَرَضِ وَعِتْقُ الْوَصِيَّةِ لِأَنَّ عِتْقَ الْوَصِيَّةِ مُسْتَحَقٌّ بِالْمَوْتِ وَإِنَّ تَأَخَّرَ عَنْهُ وَالْقُرْعَةُ مُمَيِّزَةٌ لِمَنْ كَانَ عِتْقُهُ مُسْتَحَقًّا إِذَا صَارَ الْوَرَثَةُ إِلَى مِثْلَيْهِ وَيَسْتَوِي فِيهِ عِتْقُ الْمَرَضِ وَعِتْقُ الْوَصِيَّةِ فَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ بَانَ أَنَّهُ مَاتَ حُرًّا وَرَقَّ الْآخَرَانِ لِلْوَرَثَةِ وَإِنْ وَقَعَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى أَحَدِ الْبَاقِيَيْنِ عَتَقَ وَرَقَّ الْآخَرُ مَعَ الْمَيِّتِ وَبَانَ أَنَّهُ مَاتَ عَلَى مِلْكِ الْوَرَثَةِ فَإِنْ كَانَ عِتْقَ مَرَضٍ لَمْ يَحْتَجْ مَنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ إِلَى تَلَفُّظِ الْوَرَثَةِ بِعِتْقِهِ لِتَقَدُّمِهِ مِنَ الْمُعْتِقِ وَإِنْ كَانَ عِتْقَ وَصِيَّةٍ فَفِي احْتِيَاجِ عتقه على تَلَفُّظِ الْوَرَثَةِ بِعِتْقِهِ وَجْهَانِ

Keadaan kedua adalah jika ia meninggal setelah tuannya meninggal dan setelah para ahli waris menerima harta warisan, maka ia masuk dalam undian antara ‘itq (pembebasan budak) dan undian perbudakan. Dalam hal ini, ‘itq karena sakit dan ‘itq karena wasiat hukumnya sama, karena ‘itq karena wasiat menjadi hak setelah kematian, meskipun pelaksanaannya datang setelahnya. Undian tersebut menjadi pembeda bagi siapa yang memang berhak mendapatkan ‘itq jika para ahli waris memperoleh dua kali lipatnya. Dalam hal ini, ‘itq karena sakit dan ‘itq karena wasiat hukumnya sama. Jika undian ‘itq jatuh kepadanya, maka jelaslah bahwa ia meninggal dalam keadaan merdeka, sedangkan dua lainnya menjadi milik para ahli waris. Jika undian ‘itq jatuh pada salah satu dari dua yang tersisa, maka ia merdeka dan yang lainnya tetap menjadi budak bersama yang telah meninggal, dan jelaslah bahwa ia meninggal dalam kepemilikan para ahli waris. Jika ‘itq tersebut karena sakit, maka orang yang terkena undian ‘itq tidak membutuhkan pengucapan pembebasan dari para ahli waris, karena pembebasan itu telah didahulukan oleh orang yang memerdekakan. Namun jika ‘itq tersebut karena wasiat, maka dalam hal kebutuhan pembebasan itu terhadap pengucapan para ahli waris terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَحْتَاجُ إِلَى تَلَفُّظِ الْوَرَثَةِ لِأَنَّ الْعِتْقَ لَا يَتَحَرَّرُ إِلَّا بِلَفْظٍ وَلَمْ يُوجَدْ مِنَ الْمُوصِي فَاعْتُبِرَ مِنَ الْوَرَثَةِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu memerlukan ucapan (pernyataan) dari para ahli waris, karena pembebasan budak (al-‘itq) tidak dapat terlaksana kecuali dengan suatu ucapan, dan ucapan tersebut tidak terdapat dari orang yang berwasiat, maka ucapan itu dianggap berasal dari para ahli waris.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَحْتَاجُ عِتْقُهُ إِلَى لَفْظِ الْوَرَثَةِ لِأَنَّ الْقُرْعَةَ مُمَيِّزَةٌ لِعِتْقٍ قَدْ وَقَعَ وَلَفْظُ السَّيِّدِ بِعِتْقِهِ فِي الْوَصِيَّةِ هُوَ الْمُوجِبُ لِعِتْقِهِ فَأَقْنَعَ

Pendapat kedua, pembebasan budak tersebut tidak memerlukan ucapan dari para ahli waris, karena undian berfungsi sebagai penentu bagi pembebasan yang telah terjadi, dan ucapan tuan mengenai pembebasan dalam wasiatnya adalah yang menyebabkan terjadinya pembebasan itu, sehingga hal itu sudah cukup.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَمُوتَ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ وَقَبْلَ قَبْضِ الْوَرَثَةِ نُظِرَ حَالُ عِتْقِهِ فَإِنْ كَانَ عِتْقَ مَرَضٍ دَخَلَ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ وَلَمْ يَدْخُلْ فِي قُرْعَةِ الرِّقِّ فَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ بَانَ أَنَّهُ مَاتَ حُرًّا وَرَقَّ الْآخَرَانِ لِلْوَرَثَةِ وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الرِّقِّ بَانَ أَنَّهُ مَاتَ عَبْدًا لَا يُحْتَسَبُ بِهِ عَلَى الْوَرَثَةِ وَاسْتُؤْنِفَتِ الْقُرْعَةُ بَيْنَ الْبَاقِيَيْنِ وَعَتَقَ بِهَا ثُلُثَا مَنْ قُرِعَ وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ بَاقِيهِ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Keadaan ketiga adalah apabila ia meninggal setelah wafatnya tuan dan sebelum para ahli waris menerima (harta warisan), maka dilihat keadaan pembebasannya. Jika pembebasannya terjadi karena sakit, maka ia masuk dalam undian pembebasan (al-‘itq) dan tidak masuk dalam undian perbudakan (ar-riqq). Jika undian pembebasan jatuh kepadanya, maka jelaslah bahwa ia meninggal dalam keadaan merdeka dan dua orang lainnya menjadi budak bagi para ahli waris. Namun jika undian perbudakan jatuh kepadanya, maka jelaslah bahwa ia meninggal sebagai budak dan tidak diperhitungkan atas para ahli waris, lalu undian diulang antara dua orang yang tersisa, dan dengan undian itu dua pertiga dari yang terpilih menjadi merdeka dan sisanya serta seluruh yang lain menjadi budak bagi para ahli waris.

وَإِنْ كَانَ عِتْقُهُ عِتْقَ وَصِيَّةٍ فَلَا يَدْخُلُ فِي قُرْعَةِ الرِّقِّ وَفِي دُخُولِهِ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ وَجْهَانِ

Dan jika pembebasannya adalah pembebasan wasiat, maka ia tidak termasuk dalam undian perbudakan. Adapun mengenai keterlibatannya dalam undian pembebasan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَدْخُلُ فِيهَا لِأَنَّ تَنْفِيذَ الْوَصِيَّةِ يَلْزَمُ بَعْدَ قَبْضِ الْوَرَثَةِ لِمِثْلَيْهَا فَعَلَى هَذَا يَكُونُ خَارِجًا مِنْ جُمْلَةِ التَّرِكَةِ فِي الْعِتْقِ وَالْمِيرَاثِ وَيُقْرَعُ لِعِتْقِ الْوَصِيَّةِ بَيْنَ الْبَاقِيَيْنِ وَيُعْتَقُ مِنَ الْقَارِعِ ثُلُثَاهُ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثُهُ وَجَمِيعُ الْآخَرِ

Salah satu dari keduanya tidak termasuk di dalamnya karena pelaksanaan wasiat itu wajib dilakukan setelah para ahli waris menerima dua kali lipatnya. Dengan demikian, ia berada di luar keseluruhan harta peninggalan dalam hal pembebasan budak (‘itq) dan warisan (mīrāṡ). Maka dilakukan undian (qur‘ah) untuk menentukan budak yang dibebaskan berdasarkan wasiat di antara dua yang tersisa, lalu dua pertiga dari budak yang terpilih dimerdekakan dan sepertiganya menjadi milik ahli waris, sedangkan seluruh budak yang lain tetap menjadi milik ahli waris.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَدْخُلُ فِي قُرْعَةِ الْعِتْقِ وَإِنْ لَمْ يَدْخُلْ فِي قُرْعَةِ الرِّقِّ لِاسْتِحْقَاقِ عِتْقِهِ بِالْمَوْتِ فَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ بَانَ أَنَّهُ مَاتَ حُرًّا وَرَقَّ الْآخَرَانِ لِلْوَرَثَةِ وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ قُرْعَةُ الرِّقِّ خَرَجَ مِنَ التَّرِكَةِ وَبَانَ أَنَّهُ مَاتَ عَبْدًا غَيْرَ مَحْسُوبٍ عَلَى الْوَرَثَةِ وَأَعْتَقَ مِنَ الْآخَرِينَ ثُلُثَا أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ

Pendapat kedua adalah bahwa ia termasuk dalam undian pembebasan (al-‘itq), meskipun tidak termasuk dalam undian perbudakan (ar-riqq), karena ia berhak mendapatkan pembebasan dengan sebab kematian. Jika undian pembebasan jatuh kepadanya, maka jelaslah bahwa ia wafat dalam keadaan merdeka dan dua orang lainnya menjadi budak bagi para ahli waris. Namun jika undian perbudakan jatuh kepadanya, maka ia keluar dari harta warisan dan jelaslah bahwa ia wafat dalam keadaan budak yang tidak dihitung sebagai bagian ahli waris, dan dari dua orang lainnya dibebaskan dua pertiga salah satunya melalui undian.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ أَعْتَقَ عَبْدًا فِي مَرَضِهِ قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ لَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُ فَكَسَبَ الْعَبْدُ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَمَاتَ قَبْلَ سَيِّدِهِ فَإِنْ لَمْ يُخَلِّفْ وَارِثًا غَيْرَ سَيِّدِهِ مَاتَ حُرًّا لِأَنَّ سَيِّدَهُ قَدْ وَرِثَ كَسْبَهُ بِالْوَلَاءِ فَخَرَجَ عِتْقُهُ مِنْ ثُلُثِهِ وَإِنْ خَلَّفَ ابْنًا وَحُكِمَ لَهُ بِالْمِيرَاثِ دَخَلَ فِي عِتْقِهِ دَوْرٌ فَرَقَّ لَهُ بَعْضُهُ وَذَلِكَ بِأَنْ نَجْعَلَ لِلْعَبْدِ بِالْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْكَسْبِ ثَلَاثَةَ أَسْهُمٍ وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ يَكُونُ جَمِيعُهَا سِتَّةَ أَسْهُمٍ فَأُسْقِطُ سَهْمَ الْعِتْقِ بِمَوْتِهِ بِخُرُوجِهِ مِنَ التَّرِكَةِ يَبْقَى خَمْسَةُ أَسْهُمٍ فَأَقْسِمُ عَلَيْهَا الْكَسْبَ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ هُوَ التَّرِكَةَ يُخْرَجُ قِسْطُ السَّهْمِ مِنْهَا سِتِّينَ وَأَعْتِقُ مِنْهُ بِقَدْرِهَا فَيُعْتَقُ بِهَا ثَلَاثَةُ أَخْمَاسِهِ وَيَرِقُّ خُمْسَاهُ وَوُرِّثَ ابْنُهُ ثَلَاثَةَ أَخْمَاسِ كَسْبِهِ وَلَمْ يُحْتَسَبْ عَلَى وَرَثَةِ السَّيِّدِ بِخُمْسَيْ رِقِّهِ لِمَوْتِهِ وَوَرِثُوا خُمْسَيْ كَسْبِهِ وَذَلِكَ مِائَةٌ وَعِشْرُونَ دِرْهَمًا وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهُ

Jika seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakitnya, yang nilai budak itu seratus dirham dan ia tidak memiliki harta selain itu, lalu budak tersebut memperoleh penghasilan tiga ratus dirham dan meninggal sebelum tuannya, maka jika ia tidak meninggalkan ahli waris selain tuannya, ia meninggal dalam keadaan merdeka, karena tuannya telah mewarisi penghasilannya melalui hubungan wala’, sehingga kemerdekaannya keluar dari sepertiga harta. Namun jika ia meninggalkan seorang anak dan diputuskan bahwa anak itu berhak mewarisi, maka dalam kemerdekaannya terdapat siklus (dawr), sehingga sebagian dirinya menjadi merdeka. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan kepada budak satu bagian karena kemerdekaan, kepada penghasilan tiga bagian, dan kepada ahli waris dua bagian, sehingga seluruhnya menjadi enam bagian. Kemudian bagian kemerdekaan dihapuskan karena kematiannya, sebab ia keluar dari harta warisan, sehingga tersisa lima bagian. Lalu penghasilan dibagi atas bagian-bagian tersebut, karena penghasilan itu telah menjadi harta warisan. Maka bagian satu dari enamnya, yaitu enam puluh, dikeluarkan dari penghasilan itu, dan dibebaskan dari penghasilan itu sesuai bagiannya, sehingga yang merdeka adalah tiga per lima dari dirinya, dan dua per limanya tetap sebagai budak. Anaknya mewarisi tiga per lima dari penghasilannya, dan ahli waris tuan tidak diperhitungkan atas dua per lima bagian budaknya karena kematiannya, dan mereka mewarisi dua per lima dari penghasilannya, yaitu seratus dua puluh dirham, yang jumlahnya sama dengan bagian yang dimerdekakan darinya.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ أعتق عبدا في مرضه قيمته مائة درهم وَكَسَبَ الْعَبْدُ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَاقْتَرَضَ السَّيِّدُ مِنْهُ مِائَةَ دِرْهَمٍ اسْتَهْلَكَهَا ثُمَّ مَاتَ السَّيِّدُ وَتَرَكَ مِائَةَ دِرْهَمٍ قِيلَ لِلْعَبْدِ إِنْ أَبْرَأْتَ سَيِّدَكَ مِنْ قَرْضِكَ عَتَقَ جَمِيعُكَ لِأَنَّهُ قَدْ تَرَكَ مِثْلَيْ قِيمَتِكَ وَإِنْ لَمْ تُبْرِئْهُ دَخَلَ فِي عِتْقِكَ دَوْرٌ رَقَّ بِهِ بَعْضُكَ فَتَجْعَلُ بِالْعِتْقِ سَهْمًا وَبِالْكَسْبِ ثَلَاثَةَ أَسْهُمٍ وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ تَصِيرُ سِتَّةَ أَسْهُمٍ وَالتَّرِكَةُ بَعْدَ مِائَةِ الْقَرْضِ خَمْسُمِائَةٍ فَأَقْسِمُهَا عَلَى السِّهَامِ السِّتَّةِ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ ثَلَاثَةً وَثَمَانِينَ دِرْهَمًا وَثُلُثًا فَأَعْتِقُ مِنْهُ بِقَدْرِهَا فَعَتَقَ بِهَا خَمْسَةُ أَسْدَاسِهِ وَيَمْلِكُ خَمْسَةَ أَسْدَاسِ كَسْبِهِ وَيَأْخُذُ مِائَةً قَرْضَهُ مِنَ التَّرِكَةِ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ سُدْسُهُ وَقِيمَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ دِرْهَمًا وَثُلُثَانِ وَيَمْلِكُونَ بِهِ سُدْسَ كَسْبِهِ وَهُوَ خَمْسُونَ دِرْهَمًا يَضُمُّونَهَا إِلَى الْمِائَةِ الْبَاقِيَةِ مِنْ تَرِكَتِهِ تُجْمَعُ مَعَهُمْ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَسِتُّونَ دِرْهَمًا وَثُلُثَانِ وَهُوَ مِثْلَا مَا عتق منه

Jika seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakit, dengan nilai budak itu seratus dirham, lalu budak tersebut memperoleh penghasilan tiga ratus dirham selama tuannya masih hidup, kemudian tuannya meminjam seratus dirham dari budak itu dan menghabiskannya, lalu tuannya meninggal dunia dan meninggalkan seratus dirham, maka dikatakan kepada budak tersebut: Jika kamu membebaskan tuanmu dari utangmu, maka seluruh dirimu merdeka, karena tuanmu telah meninggalkan dua kali lipat dari nilai dirimu. Namun jika kamu tidak membebaskannya, maka dalam kemerdekaanmu terjadi perputaran yang menyebabkan sebagian dirimu tetap menjadi budak. Maka, untuk kemerdekaan diberikan satu bagian, untuk penghasilan tiga bagian, dan untuk ahli waris dua bagian, sehingga menjadi enam bagian. Harta peninggalan setelah dikurangi seratus dirham utang menjadi lima ratus dirham. Bagilah jumlah itu ke enam bagian, maka bagian setiap saham adalah delapan puluh tiga dirham sepertiga. Maka, dimerdekakan dari budak itu sesuai bagian tersebut, yaitu lima per enam dirinya merdeka, dan ia memiliki lima per enam dari penghasilannya, serta mengambil seratus dirham utangnya dari harta warisan. Sementara sepertiga dirinya tetap menjadi budak milik ahli waris, dengan nilai enam belas dirham dua pertiga, dan mereka memiliki sepertiga dari penghasilannya, yaitu lima puluh dirham, yang mereka gabungkan dengan seratus dirham sisa warisan, sehingga terkumpul pada mereka seratus enam puluh enam dirham dua pertiga, yaitu dua kali lipat dari bagian yang dimerdekakan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه أَوْ لِأَمَةٍ فَوَلَدَتْ عَلِمْنَا أَنَّهَا حُرَّةٌ وَوَلَدُهَا وَلَدُ حُرَّةٍ لَا أَنَّ الْقُرْعَةَ أَحْدَثَتْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عِتْقًا يَوْمَ وَقَعَتْ إِنَّمَا وَجَبَ الْعِتْقُ حِينَ الْمَوْتِ بِالْقُرْعَةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Atau untuk seorang budak perempuan, lalu ia melahirkan anak, maka kita mengetahui bahwa ia adalah seorang perempuan merdeka dan anaknya adalah anak dari perempuan merdeka, bukan karena undian (al-qur‘ah) menyebabkan salah satu dari mereka menjadi merdeka pada hari undian itu dilakukan. Sesungguhnya kewajiban memerdekakan itu terjadi saat kematian dengan undian (al-qur‘ah).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَعْتِقَ فِي مَرَضِهِ أَمَةً فَتَلِدُ وَلَدًا فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah seseorang memerdekakan seorang budak perempuan dalam keadaan sakitnya, lalu budak itu melahirkan seorang anak. Maka, kasus ini terbagi menjadi tiga macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْتِقَهَا فِي جُمْلَةِ عَبِيدٍ وَيَخْرُجَ عَلَيْهَا سَهْمُ الْعِتْقِ فَوَلَدُهَا يَجْرِي مَجْرَى كَسْبِهَا وَهُوَ حُرٌّ بِحُرِّيَّتِهَا

Salah satunya adalah jika ia memerdekakannya bersama sekelompok budak, lalu undian kemerdekaan jatuh padanya, maka anaknya mengikuti status hasil usahanya, dan ia merdeka karena kemerdekaan ibunya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَعْتِقَهَا فِي جُمْلَةِ عَبِيدٍ وَيَخْرُجَ عَلَيْهَا سَهْمُ الرِّقِّ فَوَلَدُهَا يَجْرِي مَجْرَى كَسْبِهَا وَهُوَ مَرْقُوقٌ بِرِقِّهَا

Jenis kedua adalah jika ia memerdekakannya bersama sekelompok budak, lalu undian perbudakan jatuh padanya, maka anaknya mengikuti status hasil usahanya, yaitu tetap berstatus budak karena perbudakan ibunya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَعْتِقَهَا وَحْدَهَا وَلَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهَا فَهَذَا عَلَى أَرْبَعَةٍ أَضْرُبٍ

Jenis ketiga adalah seseorang memerdekakan budak perempuannya saja, dan ia tidak memiliki harta selain budak tersebut. Maka, hal ini terbagi menjadi empat macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْحَمْلُ حَادِثًا بَعْدَ عِتْقِهَا وَمَوْلُودًا قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهَا فَيَكُونُ فِي حُكْمِ الْكَسْبِ الْمَحْضِ يُعْتَقُ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهَا وَيَرِقُّ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا رَقَّ مِنْهَا وَيَدْخُلُ بِهِ دَوْرٌ يَزِيدُ فِي عِتْقِهَا

Salah satunya adalah apabila kehamilan itu terjadi setelah ia dimerdekakan dan anaknya lahir sebelum tuannya meninggal, maka anak tersebut dihukumi sebagai hasil usaha murni; ia merdeka sesuai dengan bagian yang telah merdeka dari ibunya, dan tetap sebagai budak sesuai dengan bagian yang masih menjadi budak dari ibunya, serta dengan demikian terjadi siklus yang menambah bagian kemerdekaannya.

فَإِذَا كَانَتْ قِيمَةُ الْأُمِّ مِائَةَ دِرْهَمٍ قَبْلَ الْوِلَادَةِ وَبَعْدَهَا وَقِيمَةُ الْوَلَدِ مِائَةَ دِرْهَمٍ بَعْدَ وِلَادَتِهِ عَتَقَ نِصْفُهَا وَعَتَقَ مِنْ وَلَدِهَا نِصْفُهُ تَبَعًا لِعِتْقِهَا وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ نِصْفُهَا وَنِصْفُ وَلَدِهَا وَقِيمَةُ النِّصْفَيْنِ مِائَةُ دِرْهَمٍ هِيَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْ نِصْفِهَا وَلَا يَتكملُ الْعِتْقُ بِالْقُرْعَةِ فِي أَحَدِهِمَا لِأَنَّهُ عَتَقَ تِلْكَ الْأُمَّ بِمُبَاشَرَةِ السَّيِّدِ فَتَرَكَ الْعِتْقَ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى انْفِرَادِهِ

Jika nilai ibu adalah seratus dirham sebelum dan sesudah melahirkan, dan nilai anak adalah seratus dirham setelah dilahirkan, maka setengah dari ibu itu merdeka dan setengah dari anaknya juga merdeka mengikuti kemerdekaan ibunya, dan setengah dari ibu serta setengah dari anaknya tetap menjadi milik para ahli waris. Nilai kedua setengah itu adalah seratus dirham, sama dengan bagian yang merdeka dari setengahnya. Kemerdekaan tidak dapat disempurnakan dengan undian pada salah satu dari keduanya, karena ibu itu telah merdeka secara langsung oleh tuannya, sehingga kemerdekaan tidak berlaku secara penuh pada masing-masing dari keduanya secara terpisah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْحَمْلُ مَوْجُودًا وَقْتَ عِتْقِهَا وَمَوْلُودًا قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهَا فَفِيهِ قَوْلَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الْحَمْلِ هَلْ لَهُ مِنَ الثَّمَنِ قِسْطٌ أَمْ لَا

Jenis kedua adalah apabila janin sudah ada saat budak perempuan itu dimerdekakan dan telah lahir sebelum tuannya meninggal dunia. Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang merupakan perbedaan dua pendapat beliau mengenai janin: apakah janin memiliki bagian dari harga (budak) atau tidak.

فَإِنْ قِيلَ لَا قِسْطَ لَهُ مِنَ الثَّمَنِ وَهُوَ تَبَعٌ كَانَ كَالْحَادِثِ بَعْدَ عِتْقِهِ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى مِنْ كَوْنِهِ جَارِيًا مَجْرَى كَسْبِهَا وَيُعْتَقُ مِنْهُ بِقَدْرِ عِتْقِهَا وَيَرِقُّ مِنْهُ بِقَدْرِ رِقِّهَا وَيَدْخُلُ بِهِ دَوْرٌ يَزِيدُ فِي عِتْقِهَا

Jika dikatakan bahwa ia tidak memiliki bagian dari harga dan ia hanyalah pengikut, maka keadaannya seperti sesuatu yang terjadi setelah ia dimerdekakan. Maka, ia mengikuti ketentuan sebelumnya, yaitu diperlakukan seperti hasil usahanya. Ia akan merdeka sesuai kadar kemerdekaannya, dan tetap sebagai budak sesuai kadar perbudakannya. Dengan demikian, terjadi siklus yang menambah kadar kemerdekaannya.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ لِلْحَمْلِ قِسْطًا مِنَ الثَّمَنِ كَانَ الْحَمْلُ مُبَاشَرًا بِالْعِتْقِ مِثْلَ أُمِّهِ وَيُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثُلُثُهُ وَلَا يَدْخُلُ دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ عِتْقِهَا وَهَلْ يُقَرُّ عِتْقُ الثُّلُثِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَوْ يُكْمَلُ بِالْقُرْعَةِ مِنْ أَحَدِهِمَا عَلَى وَجْهَيْنِ مُحْتَمَلَيْنِ

Jika dikatakan bahwa janin memiliki bagian dari harga, maka janin tersebut secara langsung terkena pembebasan (’itq) seperti ibunya, dan masing-masing dari keduanya dimerdekakan sepertiganya. Tidak terjadi perputaran (dawr) dalam penambahan pembebasan keduanya. Apakah pembebasan sepertiga dari masing-masing mereka itu tetap berlaku, ataukah disempurnakan dengan undian (qur‘ah) dari salah satu di antara mereka, terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا يُكْمَلُ عِتْقُ الثُّلُثَيْنِ فِي أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ كَمَا لَوْ كان في ذَلِكَ فِي عَبْدَيْنِ

Salah satunya adalah menyempurnakan pembebasan dua pertiga pada salah satu dari keduanya dengan cara undian (qur‘ah), sebagaimana jika hal itu terjadi pada dua budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُقَرُّ عِتْقُ الثُّلُثِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَلَا يُكْمَلُ فِي أَحَدِهِمَا لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْبَائِعِ لَهَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan sepertiga bagian dari masing-masing keduanya diakui, dan tidak disempurnakan pada salah satu dari keduanya, karena kedudukannya seperti penjual terhadap budak tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الْحَمْلُ حَادِثًا بَعْدَ عِتْقِهَا وَمَوْلُودًا بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهَا فَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ لِحُدُوثِهِ بَعْدَ الْعِتْقِ

Jenis yang ketiga adalah apabila kehamilan itu terjadi setelah ia dimerdekakan dan anak tersebut lahir setelah tuannya meninggal, maka tidak berlaku padanya hukum ‘itq al-mubāsharah (kemerdekaan langsung), karena kehamilan itu terjadi setelah dimerdekakan.

وَهَلْ يَكُونُ لَهُمَا كَسْبًا أَوْ تَبَعًا عَلَى قَوْلَيْنِ إِنْ قِيلَ لِلْحَمْلِ قِسْطٌ مِنَ الثَّمَنِ كان كسبا لها اعتبار بِعُلُوقِهِ فَيَدْخُلُ بِهِ دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ عِتْقِهَا وَيَكُونُ رِقُّهُ لِلْوَرَثَةِ مِيرَاثًا فَيُعْتَقُ مِنْهَا إِذَا كَانَتْ قِيمَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ دِرْهَمٍ نِصْفُهَا وَيَتْبَعُهَا نِصْفُ وَلَدِهَا تَبَعًا لَهَا وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ نِصْفُهَا وَنِصْفُ وَلَدِهَا وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهَا

Apakah keduanya (ibu dan anak) memperoleh kemerdekaan sebagai hasil usaha (kasb) atau hanya sebagai pengikut (taba‘), terdapat dua pendapat. Jika dikatakan bahwa janin memiliki bagian dari harga, maka kemerdekaan itu dianggap sebagai hasil usaha baginya karena keterkaitannya (dengan ibunya), sehingga terjadi siklus dalam penambahan kemerdekaannya. Maka, status budak anak menjadi milik para ahli waris sebagai warisan, sehingga anak itu dimerdekakan dari ibunya apabila nilai masing-masing dari keduanya seratus dirham, setengahnya. Maka, setengah anaknya mengikuti ibunya sebagai pengikut, dan setengahnya lagi menjadi budak milik para ahli waris, demikian pula setengah ibunya dan setengah anaknya, yang nilainya sama dengan bagian yang telah dimerdekakan dari ibunya.

وَإِنْ قِيلَ لَيْسَ لِلْحَمْلِ قِسْطٌ من البيع وهو تبع اعتبار بِوِلَادَتِهِ خَرَجَ مِنَ التَّرِكَةِ وَلَمْ يَدْخُلْ بِهِ دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ الْعِتْقِ وَعَتَقَ ثُلُثُهَا وَعَتَقَ ثُلُثُ وَلَدِهَا تَبَعًا لِأَنَّهُ مِنْ كَسْبِهَا وَيَكُونُ لَهَا وَلَاءُ مَا عَتَقَ مِنْ وَلَدِهَا وَلِسَيِّدِهَا وَلَاءُ مَا عَتَقَ مِنْهَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا وَرَقَّ ثُلُثَاهَا لِلْوَرَثَةِ مِيرَاثًا وَرَقَّ ثُلُثَا وَلَدِهَا لِلْوَرَثَةِ مِلْكًا وَلَا يَكْمُلُ الْعِتْقُ بِالْقُرْعَةِ فِي أَحَدِهِمَا وَيُتْرَكُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى انْفِرَادِهِ لِأَنَّهُ عَتَقَ مِنْ كَسْبِهَا وَلَمْ يُعْتَقْ عَلَى سَيِّدِهَا

Dan jika dikatakan bahwa janin tidak memiliki bagian dari penjualan dan ia hanya mengikuti ibunya, maka dengan kelahirannya ia keluar dari harta warisan dan tidak terjadi siklus dalam penambahan kemerdekaan. Sepertiga dari ibu tersebut merdeka, dan sepertiga dari anaknya juga merdeka sebagai pengikut, karena ia merupakan hasil usaha ibunya. Maka, ibu tersebut berhak atas wala’ (hak perwalian) dari bagian anaknya yang merdeka, dan tuannya berhak atas wala’ dari bagian ibunya yang merdeka, menurut kedua pendapat. Dua pertiga dari ibu tersebut tetap menjadi budak bagi para ahli waris sebagai warisan, dan dua pertiga dari anaknya tetap menjadi budak milik para ahli waris. Kemerdekaan tidak menjadi sempurna melalui undian pada salah satu dari keduanya, dan masing-masing dari keduanya dibiarkan dalam keadaan sendiri-sendiri, karena kemerdekaan itu berasal dari usaha ibunya dan tidak dimerdekakan oleh tuannya.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ أَنْ يَكُونَ الْحَمْلُ مَوْجُودًا وَقْتَ عِتْقِهَا وَمَوْلُودًا بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهَا فَلَا يَكُونُ الْوَلَدُ كَسْبًا لَهَا وَفِيمَنْ تَكُونُ كسبا لها قَوْلَانِ

Golongan keempat adalah apabila janin sudah ada pada saat ia dimerdekakan dan lahir setelah tuannya meninggal, maka anak tersebut tidak menjadi hasil usahanya. Dalam hal anak yang menjadi hasil usahanya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَكُونُ كَسْبًا لِلسَّيِّدِ إِذَا قِيلَ لِلْحَمْلِ قِسْطٌ مِنَ الثَّمَنِ يُضَافُ إِلَى تَرِكَتِهِ وَيَدْخُلُ بِهِ دَوْرٌ يَزِيدُ فِي الْعِتْقِ وَيُجْرِيهِ فِي عَمَلِ الدَّوْرِ مَجْرَى الْكَسْبِ لِتَمَاثُلِ الْعِتْقِ فِيهِمَا وَلَا يَتَفَاضَلُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ تَلِدَ بِحُرِّيَّتِهَا مَمْلُوكًا وَلَا بِرِقِّهَا حُرَّا فَيُعْتَقُ نِصْفُهَا وَنِصْفُ وَلَدِهَا وَيُعْتَبَرُ مَا عَتَقَ مِنْهَا فِي ثُلُثِ السَّيِّدِ وَلَا يُعْتَقُ فِيهِ مَا عَتَقَ مِنْ وَلَدِهَا لِأَنَّهُ عَتَقَ عَلَيْهِ بِالسِّرَايَةِ مِنْ غَيْرِ اخْتِيَارِهِ فَصَارَ كَالتَّالِفِ مِنْ تَرَكَتِهِ وَيَكُونُ وَلَاءُ مَا عَتَقَ مِنَ الْوَلَدِ لِسَيِّدِهِ دُونَ أُمِّهِ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ نِصْفُهَا وَنِصْفُ وَلَدِهَا مِيرَاثًا وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهَا

Salah satunya adalah dianggap sebagai hasil usaha (kasb) bagi tuan, jika dikatakan bahwa janin memiliki bagian dari harga yang ditambahkan ke harta warisannya, dan dengan itu masuk ke dalam siklus yang menambah pembebasan (’itq), serta diperlakukan dalam praktik siklus tersebut seperti hasil usaha karena kesamaan dalam pembebasan pada keduanya, dan tidak ada keutamaan di antara keduanya. Sebab, tidak mungkin seorang perempuan melahirkan anak yang berstatus budak dalam keadaan ia sendiri merdeka, atau melahirkan anak yang merdeka dalam keadaan ia sendiri budak. Maka, setengah dari dirinya dan setengah dari anaknya menjadi merdeka, dan yang diperhitungkan dari yang telah merdeka darinya adalah pada sepertiga harta tuan, sedangkan yang merdeka dari anaknya tidak diperhitungkan di dalamnya, karena kemerdekaan anak terjadi karena penyebaran (sirāyah) tanpa pilihannya, sehingga dianggap seperti harta yang hilang dari warisannya. Dan hak wala’ dari anak yang merdeka menjadi milik tuannya, bukan ibunya, dan setengah dari dirinya serta setengah dari anaknya menjadi milik ahli waris sebagai warisan, sebagaimana bagian yang telah merdeka darinya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ كَسْبًا لِلْأُمِّ وَالْوَرَثَةِ بِقَدْرِ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَلَا تَزِيدُ بِهِ التَّرِكَةُ وَلَا يَدْخُلُ بِهِ دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ الْعِتْقِ فَيُعْتَقُ ثُلُثُهَا وَتَبِعَهَا فِي الْحُرِّيَّةِ ثُلُثُ وَلَدِهَا لِأَنَّهُ مِنْ كَسْبِهَا وَيَكُونُ وَلَاءُ مَا عَتَقَ مِنْهُ لَهَا دُونَ سَيِّدِهَا وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثَاهَا مِيرَاثًا وَثُلُثَا وَلَدِهَا كَسْبًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa harta tersebut menjadi hasil usaha bagi ibu dan ahli waris sesuai kadar kebebasan dan perbudakan, dan harta peninggalan tidak bertambah karenanya, serta tidak terjadi siklus dalam penambahan kemerdekaan. Maka sepertiganya dimerdekakan, dan sepertiga anaknya mengikuti kemerdekaannya karena ia merupakan hasil usahanya. Wala’ (hak perwalian) dari bagian yang dimerdekakan menjadi milik ibu, bukan milik tuannya, dan dua pertiganya menjadi milik ahli waris sebagai warisan, serta dua pertiga anaknya menjadi hasil usaha.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَعْتَقَ السَّيِّدُ فِي مَرَضِهِ أَمَةً وَتَزَوَّجَهَا وَوَطِئَهَا ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا فَفِي نِكَاحِهِ وَجْهَانِ

Apabila seorang tuan memerdekakan seorang budak perempuan dalam keadaan sakitnya, lalu menikahinya dan menggaulinya, kemudian ia meninggal dunia, maka dalam status pernikahannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بَاطِلٌ لِأَنَّ حَالَهَا مُتَرَدِّدَةٌ بَيْنَ أَنْ يُعْتَقَ مِنْ ثُلُثِهِ فَيَصِحُّ نِكَاحُهَا وَبَيْنَ أَنْ تَرِقَّ بِالدَّيْنِ فَيَبْطُلُ نِكَاحُهَا وَمَنْ هَذِهِ حَالُهَا لَا يَصِحُّ نِكَاحُهَا لِأَنَّ النِّكَاحَ الْمَوْقُوفَ بَاطِلٌ

Salah satunya batal karena statusnya masih tergantung antara kemungkinan ia dimerdekakan dari sepertiga harta sehingga pernikahannya sah, dan kemungkinan ia tetap menjadi budak karena adanya utang sehingga pernikahannya batal. Seseorang yang keadaannya seperti ini, pernikahannya tidak sah karena pernikahan yang digantungkan (mu‘allaq) itu batal.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إنَّ النِّكَاحَ يَنْعَقِدُ وَعَقْدُهُ مَوْقُوفٌ عَلَى خُرُوجِهَا مِنْ ثُلُثِهِ أَوْ إِجَازَةِ وَرَثَتِهِ لِعِتْقِهِ لَا لِنِكَاحِهِمَا فَإِنْ خَرَجَتْ مِنَ الثُّلُثِ أَوْ أجاز الورثة العتق صح النكاح ولو تَرِثْ بِهِ لِأَنَّ عِتْقَهَا وَصِيَّةٌ تَبْطُلُ بِالْمِيرَاثِ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ مِنَ الثُّلُثِ وَلَمْ يُجِزِ الْوَرَثَةُ الْعِتْقَ بَطَلَ النِّكَاحُ وَاتَّفَقَ حُكْمُ الْوَجْهَيْنِ مَعَ بُطْلَانِهِ وَفِي وَطْئِهِ لَهَا وَجْهَانِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, menyatakan bahwa akad nikah dapat dilangsungkan, namun keabsahan akad tersebut bergantung pada apakah ia keluar dari sepertiga harta atau mendapat persetujuan para ahli waris terhadap pembebasan budak tersebut, bukan terhadap pernikahan mereka. Jika pembebasan budak itu masuk dalam sepertiga harta, atau para ahli waris mengizinkan pembebasan tersebut, maka nikahnya sah, meskipun ia tidak mewarisi darinya. Sebab, pembebasan budak itu merupakan wasiat yang batal karena adanya warisan. Namun, jika pembebasan itu tidak masuk dalam sepertiga harta dan para ahli waris tidak mengizinkan, maka nikahnya batal. Hukum kedua pendapat tersebut sama dalam hal batalnya akad, dan dalam masalah hubungan suami istri dengannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ هَدْرًا لَا تَسْتَحِقُّ بِهِ مَهْرًا لِتَرَدُّدِ حَالِهَا بَيْنَ أَنْ تَسْتَحِقَّهُ بِعِتْقِهَا أَوْ يَسْقُطَ بِرِقِّهَا

Salah satunya menjadi tidak dianggap dan tidak berhak mendapatkan mahar karena statusnya yang masih dipertentangkan antara berhak mendapatkannya jika ia merdeka, atau gugur haknya jika ia tetap dalam status budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ الْمَهْرُ مِنْهُ مُسْتَحَقًّا اعْتِبَارًا بِظَاهِرِ الْعِتْقِ وَفِيهِ إِذَا كَانَ مُسْتَحَقًّا وَجْهَانِ حَكَاهُمَا ابْنُ سُرَيْجٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa mahar menjadi hak darinya dengan mempertimbangkan zhahir (tampak luar) dari pembebasan (budak). Dalam hal ini, apabila mahar tersebut memang menjadi haknya, terdapat dua pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Surayj.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ اعْتِبَارًا بِمُهُورِ الْأَحْرَارِ

Salah satunya berasal dari pokok modal, dengan pertimbangan seperti mahar para perempuan merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ مِنَ الثُّلُثِ اعْتِبَارًا بِعِتْقِهَا أَنَّهُ مِنَ الثُّلُثِ

Adapun pendapat kedua adalah bahwa hal itu termasuk sepertiga harta, dengan pertimbangan bahwa pembebasannya (budak) juga termasuk sepertiga harta.

فَإِذَا اسْتَقَرَّ هَذَا لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Jika hal ini telah dipahami, maka keadaannya tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ تَتَّسِعَ التَّرِكَةُ لِقِيمَتِهَا وَمَهْرِهَا فَيُنَفَّذُ عِتْقُهَا وَتَسْتَحِقُّ بِهِ جَمِيعَ مَهْرِهَا

Salah satunya adalah apabila harta warisan mencukupi untuk menutupi nilainya dan maharnya, maka pembebasan dirinya (budak perempuan) dilaksanakan dan ia berhak mendapatkan seluruh maharnya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَتَّسِعَ لِقِيمَتِهَا وَيَضِيقَ عَنْ مَهْرِهَا فَيَكُونُ نُفُوذُ عِتْقُهَا فِي جَمِيعِهَا مَوْقُوفًا عَلَى إِبْرَائِهَا مِنْ مَهْرِهَا فَإِنْ أَبْرَأَتْ مِنْهُ بَعْدَ الْعِتْقِ فِي جَمِيعِهَا وَإِنْ طَالَبَتْ بِهِ دَخَلَ بِهِ دَوْرٌ يَبْطُلُ بِهِ مِنْ عِتْقِهَا بِقَدْرِ مَا تَسْتَحِقُّهُ بِحُرِّيَّتِهَا عَلَى ما سنذكره

Bagian kedua adalah apabila nilainya mencukupi untuk membayar nilainya, namun tidak mencukupi untuk membayar maharnya. Maka, keabsahan pembebasan dirinya (budak perempuan) secara keseluruhan bergantung pada pembebasannya dari mahar. Jika ia membebaskan dari mahar tersebut setelah pembebasan, maka pembebasan berlaku atas seluruh dirinya. Namun jika ia menuntut mahar tersebut, maka akan terjadi siklus (dawr) yang menyebabkan batalnya pembebasan dirinya sesuai dengan kadar yang ia berhak dapatkan dari kemerdekaannya, sebagaimana akan dijelaskan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَضِيقَ التَّرِكَةُ عَنْ قِيمَتِهَا وَمَهْرِهَا بِأَن لَا يَكُونَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهَا

Bagian ketiga adalah apabila harta warisan tidak mencukupi untuk menutupi nilai barang tersebut dan mahar-nya, yaitu ketika si pewaris tidak memiliki harta lain selain itu.

مِثَالُهُ أَنْ تَكُونَ قِيمَتُهَا ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَمَهْرُ مِثْلِهَا مِائَةُ دِرْهَمٍ فَإِنْ جَعَلْنَا الْمَهْرَ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ جَعَلْتُ لَهُمَا بِالْعِتْقِ سَهْمًا وَبِالْمَهْرِ ثُلُثَ سَهْمٍ وَجَعَلْتُ لِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ تَكُونُ ثَلَاثَةَ أسهم وثلثا فأبسطها من جنس الكسر تصر عَشَرَةَ أَسْهُمٍ فَأَعْتِقُ مِنْهَا بِسَهْمِ الْعِتْقِ وَهُوَ ثُلُثُهُ فَيُعْتَقُ بِهَا ثَلَاثَةُ أَعْشَارِهَا وَبِيعَ مِنْهَا بِسَهْمِ الْمَهْرِ عُشْرُهَا يَكُونُ هُوَ بِقَدْرِ ثَلَاثَةِ أَعْشَارِ مَهْرِهَا وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ سِتَّةُ أَعْشَارِهَا وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهَا

Contohnya adalah apabila nilainya tiga ratus dirham dan mahar mitsilnya seratus dirham. Jika kita menjadikan mahar dari pokok harta, maka saya berikan kepada keduanya satu bagian karena pembebasan (al-‘itq) dan sepertiga bagian karena mahar, serta saya berikan kepada para ahli waris dua bagian, sehingga menjadi tiga dan sepertiga bagian. Lalu saya sederhanakan menjadi pecahan yang sejenis, sehingga menjadi sepuluh bagian. Maka saya bebaskan darinya dengan bagian ‘itq, yaitu sepertiganya, sehingga yang dimerdekakan adalah tiga persepuluhnya. Dan dijual darinya dengan bagian mahar sepersepuluhnya, yang nilainya sama dengan tiga persepuluh maharnya. Dan sisanya, enam persepuluhnya, menjadi milik para ahli waris, yang jumlahnya sama dengan dua kali lipat dari bagian yang dimerdekakan.

وَإِنْ جُعِلَ الْمَهْرُ مِنَ الثُّلُثِ جَعَلْتُ ثُلُثَهَا وَقِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ مَقْسُومًا بَيْنَ الْعِتْقِ وَالْمَهْرِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَسْهُمٍ يَكُونُ قِسْطُ السَّهْمِ خَمْسَةً وَعِشْرِينَ دِرْهَمًا فَأَعْتِقُ مِنْهَا بِسِهَامِ الْعِتْقِ وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ قَدْرُهَا خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ دِرْهَمًا فَعَتَقَ بِهَا رُبْعُهَا وَبِيعَ مِنْهَا بِسَهْمِ الْمَهْرِ وَهُوَ خَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ دِرْهَمًا بَقِيَّةُ ثُلُثِهَا وَقَدْرُهُ نِصْفُ السُّدْسِ وَهُوَ رُبْعُ مَهْرِهَا فَقَدِ اسْتَكْمَلَ بِهَا ثُلُثَهَا وَقِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثَاهَا وَقِيمَتُهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَهُوَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ وَالْمَهْرِ

Dan jika mahar ditetapkan dari sepertiga (harta), maka aku jadikan sepertiganya dan nilainya seratus dirham, yang dibagi antara pembebasan (budak) dan mahar menjadi empat bagian; sehingga bagian per saham adalah dua puluh lima dirham. Maka aku membebaskan darinya dengan saham pembebasan, yaitu tiga saham, yang nilainya tujuh puluh lima dirham, sehingga yang merdeka darinya adalah seperempatnya. Dan dijual darinya dengan saham mahar, yaitu dua puluh lima dirham, sisa dari sepertiganya, dan nilainya setengah dari seperenam, yaitu seperempat maharnya. Maka dengan itu telah sempurna sepertiganya dan nilainya seratus dirham. Dan tersisa bagi para ahli waris dua pertiganya dengan nilai dua ratus dirham, yaitu dua kali lipat dari yang keluar untuk pembebasan dan mahar.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ أَعْتَقَتِ امْرَأَةٌ عَبْدًا لَهَا فِي مَرَضِهَا وَقِيمَتُهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ فَتَزَوَّجَتْ بِهِ عَلَى صَدَاقِ مِثْلِهَا وَهُوَ مِائَةُ دِرْهَمٍ فَفِي نِكَاحِهَا لَهُ وَجْهَانِ كَالرَّجُلِ إِذَا أَعْتَقَ فِي مَرَضِهِ أَمَةً وَتَزَوَّجَهَا

Jika seorang wanita memerdekakan budaknya saat ia sedang sakit, dan nilai budak itu dua ratus dirham, lalu ia menikah dengan budak tersebut dengan mahar sepadan dengannya, yaitu seratus dirham, maka dalam pernikahan wanita itu dengan budak tersebut terdapat dua pendapat, sebagaimana halnya seorang laki-laki yang memerdekakan budak perempuan dalam sakitnya lalu menikahinya.

أَحَدُهُمَا أَنَّ نِكَاحَهَا بَاطِلٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَيَنْفَرِدُ بِحُكْمِ الْعِتْقِ وَلَا يَكُونُ لِلنِّكَاحِ تَأْثِيرٌ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa pernikahannya batal dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya jika belum terjadi hubungan suami istri, serta hukum pembebasan budak berlaku secara tersendiri dan pernikahan tidak memberikan pengaruh apa pun.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ النِّكَاحُ مَوْقُوفٌ عَلَى خُرُوجِ قِيمَتِهَا مِنْ ثلثها أو إجازة ورثتها لعتقه فَيَصِحُّ النِّكَاحُ أَوْ لَا فَيَبْطُلُ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, adalah bahwa pernikahan tergantung pada keluarnya nilai budak perempuan itu dari sepertiga harta peninggalan tuannya atau adanya izin dari para ahli warisnya untuk memerdekakannya. Maka jika terpenuhi, pernikahan itu sah; jika tidak, maka pernikahan itu batal.

فَإِنْ صَحَّ النِّكَاحُ بِكَمَالِ عِتْقِهِ لَمْ يَرِثْهَا لِأَنَّ عِتْقَهَا وَصِيَّةٌ يَمْنَعُ الْمِيرَاثُ مِنْهَا وَإِنْ بَطَلَ النِّكَاحُ عَلَى الْوَجْهَيْنِ وَقَدْ دَخَلَ بِهَا وَلَمْ يَتْرُكْ مَالًا سِوَاه دَخَلَ الدَّوْرُ فِي زِيَادَةِ تَرِكَتِهَا بِالصَّدَاقِ الْمُسْتَحَقِّ عَلَيْهِ فِي التَّرِكَةِ وَقِيمَتُهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَمَا وَجَبَ عَلَيْهِ بِعِتْقِهِ مِنَ الْمِائَةِ الصَّدَاقِ وَبَابُ دَوْرِهِ إِذَا كَانَ وَاجِدًا لِمَا يُؤَدِّيهِ فِي الصَّدَاقِ مِنْ كَسْبِ مِلْكِهِ عَقِيبَ الْمَوْتِ أَنْ تَجْعَلَ لَهُ بِالْعِتْقِ سَهْمًا وَعَلَيْهِ بِالصَّدَاقِ نِصْفُ سَهْمٍ وَتَجْعَلَ لِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ تَكُونُ سَهْمَيْنِ وَنِصْفًا وَأَقْسِمُ التَّرِكَةَ عَلَيْهَا وَهِيَ مِائَتَا دِرْهَمٍ يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ مِنْهَا ثَمَانِينَ دِرْهَمًا وَأَعْتِقُ مِنْهُ بِالسَّهْمِ خُمْسَيْهِ لِأَنَّ النِّصْفَ الَّذِي مِنَ الصَّدَاقِ يُسْتَوْفَى مِنْهُ وَيَرِقُّ لِلْوَرَثَةِ ثَلَاثَةُ أَخْمَاسِهِ وَقِيمَتُهُ مِائَةٌ وَعِشْرُونَ دِرْهَمًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ خُمْسَا الصَّدَاقِ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا يَصِيرُ مَعَ الْوَرَثَةِ مِائَةٌ وَسِتُّونَ دِرْهَمًا وَهُوَ مِثْلَا مَا عَتَقَ منه

Jika akad nikah sah karena sempurnanya pembebasan budak, maka ia tidak mewarisinya, karena pembebasan budak tersebut merupakan wasiat yang menghalangi adanya warisan darinya. Namun jika akad nikah batal menurut kedua pendapat, dan ia telah berhubungan dengannya serta tidak meninggalkan harta selain itu, maka terjadi perputaran (dawr) dalam penambahan harta warisannya dengan mahar yang menjadi haknya dalam harta warisan, dan nilainya adalah dua ratus dirham. Adapun kewajiban yang harus ia tunaikan karena pembebasan budaknya dari seratus dirham mahar, dan permasalahan dawr ini jika ia memiliki sesuatu yang dapat ia bayarkan sebagai mahar dari hasil usahanya setelah kematian, maka hendaknya diberikan kepadanya satu bagian karena pembebasan budak, dan atasnya setengah bagian karena mahar, serta diberikan kepada para ahli waris dua bagian, sehingga menjadi dua setengah bagian. Bagilah harta warisan atas bagian-bagian tersebut, yaitu dua ratus dirham, maka bagian satu bagian darinya adalah delapan puluh dirham. Dari bagian tersebut, dibebaskan dua perlima budak, karena setengah yang berasal dari mahar diambil darinya, dan sisanya menjadi milik para ahli waris sebanyak tiga perlima, dengan nilai seratus dua puluh dirham. Dari bagian tersebut diambil dua perlima mahar, yaitu empat puluh dirham, sehingga bersama para ahli waris menjadi seratus enam puluh dirham, yang nilainya sama dengan dua kali lipat dari bagian yang dimerdekakan.

وَإِنَّمَا سَلَكْتُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ وَعَدَلْتُ عَنْ حِسَابِ الْجَبْرِ لِأَنَّهُ رُبَّمَا خَفِيَ عَلَى مَنْ لَمْ يَأْنَسْ بِهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

Aku menempuh metode ini dan meninggalkan perhitungan al-jabr karena mungkin saja hal itu tersembunyi atau sulit dipahami oleh para fuqaha yang belum terbiasa dengannya. Hanya kepada Allah-lah pertolongan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ فِي مَرَضِهِ سَالِمٌ حُرٌّ وَغَانِمٌ حر وزياد حر ثُمَّ مَاتَ فَإِنَّهُ يُبْدَأُ بِالْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ مَا احْتَمَلَ الثُّلُثُ لِأَنَّهُ عِتْقُ بَتَاتٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang dalam keadaan sakit berkata, ‘Salim merdeka, Ghanim merdeka, dan Ziyad merdeka,’ lalu ia meninggal dunia, maka dimulai dari yang pertama, kemudian yang berikutnya, sesuai urutan, selama sepertiga harta mencukupi, karena ini merupakan pembebasan budak secara mutlak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ عَتْقُ الْمَرِيضِ وَعَطَايَاهُ مُعْتَبَرَةٌ مِنْ ثُلُثِهِ فِي حُقُوقِ الْوَرَثَةِ وَمِنْ جَمِيعِ مَالِهِ فِي حُقُوقِ نَفْسِهِ فَإِنْ صَحَّ مِنْ مَرَضِهِ غُلِّبَ فِيهَا حَقُّ نَفْسِهِ فَلَزِمَ جَمِيعُهَا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِي شَيْءٍ مِنْهَا وَإِنِ اسْتَوْعَبَتْ جَمِيعَ مَالِهِ

Al-Mawardi berkata: Ini benar, pembebasan budak (‘itq) yang dilakukan oleh orang sakit dan pemberian-pemberiannya (‘athaya) dihitung dari sepertiga hartanya dalam kaitannya dengan hak para ahli waris, dan dari seluruh hartanya dalam kaitannya dengan hak dirinya sendiri. Jika ia sembuh dari sakitnya, maka yang diutamakan adalah hak dirinya sendiri, sehingga seluruh pemberian itu menjadi tetap dan ia tidak boleh menarik kembali sedikit pun darinya, meskipun pemberian itu mencakup seluruh hartanya.

وَإِنْ مَاتَ مِنْ مَرَضِهِ غُلِّبَ فِيهَا حُقُوقُ الْوَرَثَةِ فَرُدَّتْ إِلَى الثُّلُثِ وَكَانَ لَهُمْ رَدُّ مَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ إِنْ لَمْ يُجِيزُوهُ فَإِذَا جَمَعَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بَيْنَ عِتْقٍ وَعَطَايَا وَعَجَزَ الثُّلُثُ عَنْ جَمِيعِهَا قَدَّمَ مِنْ ثُلُثِهِ مَا قَدَّمَهُ فِي حَيَاتِهِ مِنْ عِتْقٍ أَوْ عَطِيَّةٍ فَإِنْ قَدَّمَ الْعِتْقَ وَاسْتَوْعَبَ بِهِ جَمِيعَ الثُّلُثِ أُبْطِلَتْ عَطَايَاهُ فِي حُقُوقِ الْوَرَثَةِ

Jika seseorang meninggal karena sakitnya, maka dalam hal ini hak-hak para ahli waris lebih diutamakan, sehingga harta yang diberikan dikembalikan kepada sepertiga bagian, dan para ahli waris berhak menolak kelebihan dari sepertiga bagian itu jika mereka tidak mengizinkannya. Apabila dalam sakit yang menyebabkan kematiannya itu ia menggabungkan antara pembebasan budak dan pemberian hadiah, lalu sepertiga hartanya tidak mencukupi untuk semuanya, maka dari sepertiga hartanya didahulukan apa yang telah ia dahulukan semasa hidupnya, baik berupa pembebasan budak maupun pemberian hadiah. Jika ia mendahulukan pembebasan budak dan seluruh sepertiga hartanya habis untuk itu, maka hadiah-hadiahnya menjadi batal dalam kaitannya dengan hak para ahli waris.

وَإِنْ قَدَّمَ الْعَطَايَا وَاسْتَوْعَبَ بِهَا الثُّلُثَ أَبْطَلَ بِهَا الْعِتْقَ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ أَسْبَقِهَا عِتْقًا كَانَ أَوْ عَطِيَّةً وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ فِي الْعَطَايَا مُحَابَاةٌ فِي عَقْدِ مُعَاوَضَةٍ قُدِّمَتْ عَلَى جَمِيعِ الْعِتْقِ وَالْعَطَايَا وَإِنْ تَأَخَّرَتْ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا مُحَابَاةٌ قُدِّمَ الْأَسْبَقُ فَالْأَسْبَقُ مِنَ الْعَطَايَا أَوِ الْعِتْقِ فَخَالَفَ فِي الْمُحَابَاةِ وَوَافَقَ فِيمَا سِوَاهَا احْتِجَاجًا بِأَنَّ الْمُحَابَاةَ مُعَاوَضَةٌ فَكَانَ حُكْمُهَا أَقْوَى , وَأَلْزَمُ مِنْ غَيْرِهَا

Jika seseorang mendahulukan pemberian (hibah) dan seluruh sepertiga harta telah habis karenanya, maka pembebasan budak (’itq) yang dilakukan setelahnya menjadi batal, dengan mengutamakan hukum dari yang lebih dahulu, baik itu pembebasan budak atau pemberian. Abu Hanifah berpendapat, jika dalam pemberian itu terdapat unsur muhabāh (diskon atau keistimewaan) dalam akad pertukaran, maka pemberian tersebut didahulukan atas seluruh pembebasan budak dan pemberian lainnya, meskipun dilakukan belakangan. Namun, jika tidak ada unsur muhabāh di dalamnya, maka yang didahulukan adalah yang lebih dahulu dilakukan, baik dari pemberian maupun pembebasan budak. Dengan demikian, Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal muhabāh, namun sependapat dalam selainnya, dengan alasan bahwa muhabāh merupakan akad pertukaran sehingga hukumnya lebih kuat dan lebih mengikat daripada yang lainnya.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ مَا تَقَدَّمَ اتِّخَاذُهُ وَوَجَبَ أَنْ يُقَدَّمَ تَنْفِيذُهُ كَمَا لَوْ كَانَ كُلُّ الْعَطَايَا مُحَابَاةً أَوْ كُلُّهَا غَيْرَ مُحَابَاةٍ وَلَيْسَ لِاحْتِجَاجِهِ بِأَنَّ الْمُحَابَاةَ مُعَاوَضَةٌ وَجْهٌ لِأَنَّ الْمُعَاوَضَةَ تَخْتَصُّ بِمَا لَيْسَ فِيهِ مُحَابَاةٌ وَلِذَلِكَ لَزِمَ وَلَمْ تَسْقُطْ وَالْمُحَابَاةُ عَطِيَّةٌ مَحْضَةٌ وَلِذَلِكَ سَقَطَتْ وَلَمْ تَلْزَمْ

Dalil kami adalah bahwa apa yang telah didahulukan penetapannya, maka wajib didahulukan pelaksanaannya, sebagaimana jika seluruh pemberian itu berupa muhabāh (pemberian dengan maksud memihak) atau seluruhnya bukan muhabāh. Tidak benar alasan bahwa muhabāh itu merupakan mu‘āwadah (pertukaran), karena mu‘āwadah itu khusus pada sesuatu yang tidak mengandung muhabāh, oleh karena itu ia menjadi wajib dan tidak gugur, sedangkan muhabāh adalah pemberian murni, sehingga ia gugur dan tidak menjadi wajib.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا اسْتَقَرَّ هَذَا الْأَصْلُ فِي تَقْدِيمِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ فَبَدَأَ بِالْعِتْقِ فَقَالَ سَالِمٌ حُرٌّ وَغَانِمٌ حُرٌّ وَزِيَادٌ حُرٌّ ثُمَّ وَهَبَ وَحَابَى قَدَّمْنَا مَا بَدَأَ بِهِ مِنْ عِتْقِ سَالِمٍ فَإِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ أَبْطَلْنَا عِتْقَ غَانِمٍ وَزِيَادٍ مِنْ غَيْرِ قُرْعَةٍ سَوَاءٌ أَعْتَقَهُمْ بِلَفْظٍ مُتَّصِلٍ أَوْ بِأَلْفَاظٍ مُنْفَصِلَةٍ وَسَوَاءٌ قَرُبَ مَا بَيْنَهُمْ أَوْ بَعُدَ تَعْلِيلًا بِالتَّقَدُّمِ فَاسْتَوَى فِيهِ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ وَلَوِ اتَّسَعَ الثُّلُثُ بَعْدَ عِتْقِ سَالِمٍ لِعِتْقِ غَيْرِهِ أَعْتَقْنَا بَعْدَهُ غَانِمًا لِأَنَّهُ الثَّانِي بَعْدَ الْأَوَّلِ فَإِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ أَبْطَلْنَا عِتْقَ زِيَادٍ

Apabila prinsip ini telah mantap, yaitu mendahulukan yang pertama lalu yang berikutnya, maka jika seseorang memulai dengan memerdekakan budak, misalnya ia berkata: “Salim merdeka, Ghanim merdeka, dan Ziyad merdeka,” kemudian ia memberi hibah dan melakukan muhabāh, maka kami dahulukan apa yang ia mulai, yaitu memerdekakan Salim. Jika pembebasan Salim telah menghabiskan sepertiga harta, maka kami batalkan pembebasan Ghanim dan Ziyad tanpa undian, baik ia memerdekakan mereka dengan satu lafaz yang bersambung maupun dengan beberapa lafaz yang terpisah, dan baik jarak antara mereka dekat maupun jauh, karena alasannya adalah urutan waktu, sehingga yang dekat dan yang jauh sama saja. Jika setelah memerdekakan Salim, sepertiga harta masih cukup untuk memerdekakan yang lain, maka setelah itu kami merdekakan Ghanim karena ia yang kedua setelah yang pertama. Jika sepertiga harta telah habis, maka kami batalkan pembebasan Ziyad.

وَإِنِ اتَّسَعَ الثُّلُثُ بَعْدَ سَالِمٍ وَغَانِمٍ لِعِتْقِ ثَالِثٍ أَعْتَقْنَا زِيَادًا فَإِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ أَبْطَلْنَا مَا بَعْدَهُمْ مِنَ الْهِبَاتِ وَالْمُحَابَاةِ

Dan jika sepertiga harta masih mencukupi setelah (diberikan kepada) Salim dan Ghanim untuk memerdekakan orang ketiga, maka kami memerdekakan Ziyad. Namun jika sepertiga harta telah habis, maka kami batalkan hibah dan pemberian yang dilakukan setelah mereka.

وَإِنِ اتَّسَعَ الثُّلُثُ بَعْدَ عِتْقِهِمْ لِهِبَاتِهِ أَوْ مُحَابَاتِهِ قَدَّمْنَا فِي بَقِيَّةِ ثُلُثِهِ مَا قَدَّمَهُ مِنْ هبة أَوْ مُحَابَاةٍ حَتَّى يَسْتَوْعِبَ جَمِيعَ الثُّلُثِ وَيُبْطَلُ مَا عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ فَلَوِ اتَّسَعَ الثُّلُثُ لِعَبْدٍ وَبَعْضِ آخَرَ وَضَاقَ عَمَّا سِوَاهُ عَتَقَ جَمِيعُ الْعَبْدِ الْأَوَّلِ وَبَعْضُ الثَّانِي وَأُبْطِلَ مَا عَدَاهُ مِنْ عِتْقٍ وَعَطِيَّةٍ

Jika sepertiga harta mencukupi setelah memerdekakan mereka untuk hibah atau muhabāh (pemberian dengan imbalan di bawah harga pasar), maka pada sisa sepertiga harta, kami dahulukan apa yang telah didahulukan berupa hibah atau muhabāh, hingga seluruh sepertiga harta habis, dan dibatalkan apa yang tidak dapat dicakup oleh sepertiga harta tersebut. Maka jika sepertiga harta mencukupi untuk memerdekakan seorang budak dan sebagian budak lainnya, namun tidak cukup untuk selain itu, maka seluruh budak pertama dimerdekakan dan sebagian budak kedua, dan dibatalkan sisanya baik berupa pemerdekaan maupun pemberian.

وَلَوْ قَالَ فِي مَرَضِهِ سَالِمٌ وَغَانِمٌ وَزِيَادٌ أَحْرَارٌ كَانُوا فِي الْعِتْقِ سَوَاءً لَا يُقَدَّمُ فِيهِ مَنْ قَدَّمَ اسْمَهُ لِأَنَّهُ أَعْتَقَهُمْ بِلَفْظَةٍ وَاحِدَةٍ بَعْدَ تَقَدُّمِ أَسْمَائِهِمْ فَلَمْ يَتَقَدَّمْ عِتْقُ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ وَفِي قَوْلِهِ سَالِمٌ حُرٌّ وَغَانِمٌ حُرٌّ وَزِيَادٌ حُرٌّ تَقَدُّمُ عِتْقِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ فَافْتَرَقَ الْأَمْرَانِ

Jika seseorang dalam keadaan sakit berkata, “Salim, Ghanim, dan Ziyad adalah orang-orang merdeka,” maka mereka dalam hal pembebasan budak adalah sama, tidak didahulukan siapa yang disebutkan namanya terlebih dahulu, karena ia memerdekakan mereka dengan satu lafaz setelah menyebutkan nama-nama mereka, sehingga tidak ada pembebasan sebagian mereka yang didahulukan atas yang lain. Sedangkan dalam ucapannya, “Salim merdeka, Ghanim merdeka, dan Ziyad merdeka,” terdapat pendahuluan pembebasan sebagian mereka atas yang lain, maka kedua keadaan itu berbeda.

وَوَجَبَ إِذَا عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْ عِتْقِهِمْ أَنْ يُقْرَعَ بَيْنَهُمْ وَعَتَقَ بِالْقُرْعَةِ مَنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثُ وَرَقَّ مَنْ عَدَاهُ

Dan wajib apabila sepertiga harta tidak cukup untuk memerdekakan mereka, maka diadakan undian di antara mereka, lalu yang terpilih oleh undian itulah yang dimerdekakan dengan sepertiga harta, sedangkan yang lainnya tetap berstatus budak.

فَصْلٌ

Bagian

فَلَوْ أَعْتَقَ فِي مَرَضِهِ عَبْدَيْنِ بِلَفْظَةٍ وَاحِدَةٍ وَلَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُمَا وَقِيمَةُ أَحَدِهِمَا مِائَةُ دِرْهَمٍ وَقِيمَةُ الْآخَرِ مِائَتَانِ وَكَسْبُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِثْلُ قِيمَتِهِ أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا بَعْدَ مَوْتِهِ وَيَدْخُلُ بِالْكَسْبِ دَوْرٌ فِي زِيَادَةِ الْعِتْقِ فَنَجْعَلُ لِلْعِتْقِ سَهْمًا وَلِلْكَسْبِ سَهْمًا وَلِلْوَرَثَةِ سَهْمَيْنِ تَكُونُ أَرْبَعَةَ أَسْهُمٍ وَتُقَسَّمُ التَّرِكَةُ عَلَيْهَا وَهِيَ سِتُّمِائَةٍ مِنْهَا ثَلَاثُمِائَةٍ قيمتها وثلاث مائة كَسْبُهَا يَخْرُجُ قِسْطُ السَّهْمِ مِائَةً وَخَمْسِينَ دِرْهَمًا وَهُوَ سَهْمُ الْعِتْقِ فَيُعْتَقُ مِنْهَا بِقَدْرِهِ

Jika seseorang memerdekakan dua budak sekaligus dengan satu ucapan dalam keadaan sakitnya, dan ia tidak memiliki harta selain keduanya, sedangkan nilai salah satu dari keduanya seratus dirham dan nilai yang lain dua ratus dirham, serta penghasilan masing-masing dari keduanya sama dengan nilainya, maka setelah kematiannya dilakukan undian di antara keduanya. Dengan adanya penghasilan, terjadi perputaran dalam penambahan kemerdekaan, maka kita tetapkan satu bagian untuk kemerdekaan, satu bagian untuk penghasilan, dan dua bagian untuk ahli waris, sehingga menjadi empat bagian. Harta warisan dibagi atas bagian-bagian tersebut, yaitu enam ratus: tiga ratus dari nilainya dan tiga ratus dari penghasilannya. Maka bagian satu saham adalah seratus lima puluh dirham, dan itulah bagian kemerdekaan, sehingga dimerdekakan dari keduanya sesuai dengan bagian tersebut.

فَإِنْ وَقَعَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى مَنْ قِيمَتُهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ عَتَقَ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ وَمَلَكَ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِ كَسْبِهِ وَرَقَّ رُبْعُهُ بِخَمْسِينَ دِرْهَمًا وَمَلَكَ الْوَرَثَةُ رُبْعَ كَسْبِهِ خَمْسِينَ دِرْهَمًا وَرَقَّ لَهُمْ جَمِيعُ الْآخَرِ وَقِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَمَلَكُوا بِهِ جَمِيعَ كَسْبِهِ وَهُوَ مِائَةُ دِرْهَمٍ صَارَ ثَلَاثَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَهِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ فِي الْعِتْقِ وَإِنْ وَقَعَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَربع الْآخَر لِاسْتِكْمَالِ الثُّلُثِ وَمَلَكَ الْأَوَّلُ جَمِيعَ كَسْبِهِ وَمَلَكَ الثَّانِي رُبْعَ كَسْبِهِ وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِ الثَّانِي وَقِيمَةُ ذَلِكَ مِائَةٌ وَخَمْسُونَ دِرْهَمًا وَمَلَكُوا بِهِ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِ كَسْبِهِ مِائَةً وَخَمْسِينَ دِرْهَمًا صَارَ لَهُمْ بِالرِّقِّ وَالْكَسْبِ ثَلَاثُمِائَةٍ دِرْهَمٍ هِيَ مِثْلَا مَا خرج بالعتق

Jika undian pembebasan jatuh pada budak yang nilai harganya dua ratus dirham, maka tiga perempat dari dirinya merdeka, dan ia memiliki tiga perempat dari penghasilannya, sedangkan seperempatnya tetap sebagai budak dengan nilai lima puluh dirham, dan ahli waris memiliki seperempat penghasilannya, yaitu lima puluh dirham, serta seluruh bagian budak yang lain tetap menjadi milik mereka dengan nilai seratus dirham, dan mereka memiliki seluruh penghasilannya, yaitu seratus dirham. Maka jumlah keseluruhan menjadi tiga ratus dirham, yang sama dengan dua kali lipat dari apa yang keluar dalam pembebasan. Jika undian pembebasan jatuh pada budak yang nilai harganya seratus dirham, maka seluruh dirinya merdeka dan seperempat dari budak yang lain untuk menyempurnakan sepertiga, dan pemilik pertama memiliki seluruh penghasilannya, sedangkan pemilik kedua memiliki seperempat penghasilannya, dan tiga perempat dari budak kedua tetap menjadi milik ahli waris dengan nilai seratus lima puluh dirham, dan mereka memiliki tiga perempat penghasilannya, yaitu seratus lima puluh dirham. Maka mereka mendapatkan dari perbudakan dan penghasilan sebanyak tiga ratus dirham, yang sama dengan dua kali lipat dari apa yang keluar dalam pembebasan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فأما كُلُّ مَا كَانَ لِلْمُوصِي أَنْ يَرْجِعَ فِيهِ مِنْ تَدْبِيرٍ وَغَيْرِهِ فَكُلُّهُ سَوَاءٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Adapun segala sesuatu yang masih boleh bagi orang yang berwasiat untuk menarik kembali darinya, baik berupa tadbīr maupun selainnya, maka semuanya sama saja.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي الْوَصَايَا بِالْعِتْقِ وَالْعَطَايَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَتَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini digambarkan dalam wasiat-wasiat tentang pembebasan budak dan pemberian-pemberian setelah kematian, dan terbagi menjadi tiga bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ تَشْتَمِلَ عَلَى الْعِتْقِ وَحْدَهُ

Salah satunya adalah bahwa akad tersebut hanya memuat pembebasan budak saja.

وَالثَّانِي أَنْ تَشْتَمِلَ عَلَى الْعَطَايَا وَحْدَهَا

Yang kedua adalah bahwa (wasiat) itu hanya mencakup pemberian-pemberian saja.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهَا الْعِتْقُ وَالْعَطَايَا

Ketiga, yaitu berkumpulnya di dalamnya antara pembebasan budak (‘itq) dan pemberian-pemberian (athaya).

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِي اشْتِمَالِهَا عَلَى الْعِتْقِ وَحْدَهُ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Adapun bagian pertama yang di dalamnya hanya terdapat pembebasan budak (al-‘itq) saja, maka terbagi menjadi tiga macam.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ كُلُّهُ عِتْقًا فَيَقُولُ اعْتِقُوا عَنِّي سَالِمًا ثُمَّ يَقُولُ اعْتِقُوا عَنِّي غَانِمًا ثُمَّ يَقُولُ اعْتِقُوا عَنِّي زِيَادًا فَكُلُّهُمْ فِي الْوَصِيَّةِ بِعِتْقِهِمْ سَوَاءٌ لَا يُقَدَّمُ فِيهِمْ مَنْ قَدَّمَ الْوَصِيَّةَ بِهِ بِخِلَافِ عِتْقِهِ النَّاجِزِ فِي مَرَضِهِ الَّذِي تَقَدَّمَ فِيهِ مَنْ قَدَّمَهُ

Salah satunya adalah jika seluruhnya berupa pembebasan budak, misalnya ia berkata, “Bebaskanlah atas namaku Salim,” kemudian ia berkata, “Bebaskanlah atas namaku Ghanim,” lalu ia berkata, “Bebaskanlah atas namaku Ziyad.” Maka mereka semua dalam wasiat pembebasan budak tersebut kedudukannya sama, tidak didahulukan siapa yang lebih dahulu diwasiatkan pembebasannya, berbeda dengan pembebasan budak yang langsung dilakukan pada saat sakitnya, di mana yang lebih dahulu dibebaskan didahulukan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ بِالْوَصَايَا مُسْتَحَقٌّ بِالْمَوْتِ الَّذِي يَتَسَاوَوْنَ فِيهِ وَفِي الْمَرَضِ مُسْتَحَقٌّ بِاللَّفْظِ الَّذِي يُقَدَّمُونَ بِهِ فَلِذَلِكَ قُدِّمَ فِي الْمَرَضِ عِتْقُ الْأَوَّلِ وَلَمْ يُقَدَّمْ فِي الْوَصِيَّةِ عِتْقُ الْأَوَّلِ وَأُقْرِعَ بَيْنَهُمْ إِنْ عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْهُمْ وَأَكْسَابُ جَمِيعِهِمْ قَبْلَ الْمَوْتِ تَرِكَةٌ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa pembebasan budak melalui wasiat menjadi hak dengan kematian, yang mana mereka semua sama kedudukannya, sedangkan dalam keadaan sakit, pembebasan budak menjadi hak dengan ucapan yang diucapkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam keadaan sakit, pembebasan budak yang pertama diutamakan, sedangkan dalam wasiat, pembebasan budak yang pertama tidak diutamakan, dan dilakukan undian di antara mereka jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk membebaskan semuanya. Adapun hasil usaha mereka semua sebelum kematian termasuk dalam harta warisan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ كُلُّ عِتْقِهِ تَدْبِيرًا فَيَقُولُ إِذَا مُتُّ فَسَالِمٌ حُرٌّ ثُمَّ يَقُولُ إِذَا مُتُّ فَغَانِمٌ حُرٌّ ثُمَّ يَقُولُ إِذَا مُتُّ فَزِيَادٌ حُرٌّ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah apabila seluruh pembebasan budaknya dilakukan dengan cara tadbīr, yaitu ia berkata: “Jika aku wafat, maka Sālim merdeka,” kemudian ia berkata lagi: “Jika aku wafat, maka Ghānim merdeka,” lalu ia berkata lagi: “Jika aku wafat, maka Ziyād merdeka.” Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمْ يَتَقَدَّمُونَ فِي الثُّلُثِ عَلَى تَرْتِيبِ مَنْ قُدِّمَ فَيُعْتَقُ الْأَوَّلُ إِنِ اسْتَوْعَبَ الثُّلُثَ وَرَقَّ الثَّانِي وَالثَّالِثُ

Salah satu pendapat adalah bahwa mereka didahulukan dalam sepertiga harta sesuai urutan siapa yang lebih dahulu disebutkan, maka yang pertama dimerdekakan jika sepertiga harta mencukupi, sedangkan yang kedua dan ketiga menjadi budak.

وَلَوِ اتَّسَعَ الثُّلُثُ لِاثْنَيْنِ عَتَقَ الْأَوَّلُ وَالثَّانِي وَرَقَّ الثَّالِثُ اعْتِبَارًا بِالْعِتْقِ فِي الْمَرَضِ وَلَا تُسْتَعْمَلُ فِيهِمُ الْقُرْعَةُ لِأَنَّهُ عِتْقٌ نَاجِزٌ بِالْمَوْتِ لَا يَقِفُ عَلَى الْوَرَثَةِ

Jika sepertiga harta cukup untuk membebaskan dua orang, maka yang pertama dan kedua merdeka, sedangkan yang ketiga tetap berstatus budak, sesuai dengan ketentuan pembebasan budak dalam keadaan sakit. Dalam hal ini, undian (al-qur‘ah) tidak digunakan, karena pembebasan ini berlaku langsung dengan kematian dan tidak bergantung pada persetujuan ahli waris.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الْمَذْهَبُ أَنَّهُمْ سَوَاءٌ لَا يَتَقَدَّمُونَ عَلَى التَّرْتِيبِ لِوُقُوعِ ذَلِكَ بِالْمَوْتِ الَّذِي يَتَمَاثَلُونَ فِيهِ

Pendapat kedua, yaitu madzhab yang menyatakan bahwa mereka semua sama, tidak ada yang didahulukan dalam urutan, karena hal itu terjadi akibat kematian yang mereka alami secara serupa.

فَإِنْ عَجَزَ الثُّلُثُ عَنْهُمْ وَلَمْ يَتَّسِعْ لِجَمِيعِهِمْ ففيه وجهان

Jika sepertiga (harta) tidak mencukupi untuk mereka dan tidak cukup untuk seluruhnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أحدهما وهو المذهب أن يُقْرَعُ بَيْنَهُمْ وَيُعْتَقُ مِنْهُمْ مَنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَيُسْتَرَقُّ مَنْ عَجَزَ عَنْهُ

Pendapat pertama, yaitu mazhab, adalah dilakukan undian di antara mereka, lalu dimerdekakan dari mereka siapa saja yang dapat ditanggung oleh sepertiga, dan diperbudak siapa saja yang tidak mampu ditanggung olehnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يُعْتَقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قَدْرُ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَيُسْتَرَقُّ بَاقِيهِ وَلَا يُقْرَعُ بَيْنَهُمْ فِي تَكْمِيلِ الْحُرِّيَّةِ

Pendapat kedua adalah bahwa dari masing-masing mereka dimerdekakan sesuai bagian yang ditanggung oleh sepertiga, dan sisanya tetap menjadi budak, serta tidak diundi di antara mereka untuk penyempurnaan kemerdekaan.

فَإِنِ احْتَمَلَ الثُّلُثُ نِصْفَ قِيمَتِهِمْ عَتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ نِصْفُهُ وَرَقَّ نِصْفُهُ وَإِنِ احْتَمَلَ الثُّلُثُ رُبْعَ قِيمَتِهِمْ عَتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ رُبْعُهُ وَرَقَّ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ اعْتِبَارًا بِالْوَصَايَا وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ لِفَرْقِ مَا بَيْنَ الْعِتْقِ وَالْوَصَايَا

Jika sepertiga harta mampu menutupi setengah dari nilai mereka, maka dari masing-masing budak merdeka setengahnya dan setengahnya lagi tetap sebagai budak. Jika sepertiga harta hanya mampu menutupi seperempat dari nilai mereka, maka dari masing-masing budak merdeka seperempatnya dan tiga perempatnya tetap sebagai budak, dengan pertimbangan seperti pada wasiat. Namun pendapat pertama lebih sahih karena adanya perbedaan antara pembebasan budak (‘itq) dan wasiat (waṣāyā).

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ عِتْقُهُ مُشْتَمِلًا عَلَى وَصِيَّةٍ بِالْعِتْقِ وَعَلَى تَدْبِيرٍ يَتَحَرَّرُ بِالْمَوْتِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Jenis yang ketiga adalah apabila pembebasan budak itu mencakup wasiat untuk memerdekakan dan juga tadbir (pembebasan yang berlaku setelah kematian), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُقَدَّمُ التَّدْبِيرُ عَلَى الْعِتْقِ لِتَقَدُّمِ نُفُوذِهِ بِالْمَوْتِ فَإِنِ اسْتَغْرَقَ الثُّلُثُ بَطَلَ بِهِ عِتْقُ الْوَصِيَّةِ

Salah satunya adalah mendahulukan tadbīr atas ‘itq karena tadbīr berlaku lebih dahulu dengan terjadinya kematian. Maka jika sepertiga harta telah habis, maka pembebasan budak melalui wasiat menjadi batal karenanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنَ الْمَذْهَبِ أَنَّهُمَا سَوَاءٌ لِأَنَّ عِتْقَ جَمِيعِهِمْ مُسْتَحَقٌّ بِالْمَوْتِ فَإِنْ ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْ جَمِيعِهِمْ أُقْرِعَ بَيْنَهُمْ وَفِي الْقُرْعَةِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab, adalah bahwa keduanya (yakni para budak yang dimerdekakan) sama saja, karena memerdekakan seluruh mereka menjadi hak yang wajib dipenuhi dengan adanya kematian. Jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk memerdekakan seluruh mereka, maka dilakukan undian di antara mereka. Dalam hal undian ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُفْرَدُ كُلُّ فَرِيقٍ وَيُقْرَعُ بَيْنَ عِتْقِ التَّدْبِيرِ وَعِتْقِ الْوَصِيَّةِ فَإِذَا وَقَعَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى أَحَدِهِمَا وَقَدِ اسْتَوْعَبَ الثلث عتق ورق الفريق والآخر وَصِيَّةً كَانَ أَوْ تَدْبِيرًا

Salah satu dari keduanya, setiap kelompok dipisahkan, lalu diundi antara pembebasan budak secara tadbīr dan pembebasan budak secara wasiat. Jika undian pembebasan jatuh pada salah satu dari keduanya, dan sepertiga harta telah mencukupi, maka yang terpilih menjadi merdeka, sedangkan kelompok lainnya tetap menjadi budak, baik itu melalui wasiat maupun tadbīr.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُجْمَعُ فِي الْقُرْعَةِ بَيْنَ الْفَرِيقَيْنِ وَاسْتُوعِبَ بِالثُّلُثِ مَنْ وَقَعَتِ الْقُرْعَةُ عَلَيْهِ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْفَرِيقَيْنِ وَرَقَّ مَنْ عَدَاهُ مِنَ الْفَرِيقَيْنِ

Pendapat kedua adalah dilakukan pengundian (qur‘ah) antara dua kelompok, lalu sepertiga bagian diambil dari siapa saja yang terkena undian dari masing-masing kelompok, dan sisanya dari kedua kelompok menjadi lebih ringan (tidak terkena beban).

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي فِي اشْتِمَالِ الْوَصِيَّةِ عَلَى الْعَطَايَا دُونَ الْعِتْقِ فَجَمِيعُ أَهْلِهَا يَتَحَاصُّونَ فِي الثُّلُثِ إِذَا ضَاقَ عَنْهَا يَسْتَوِي فِيهِ مَنْ تَقَدَّمَتِ الْوَصِيَّةُ لَهُ وَمَنْ تَأَخَّرَتْ وَسَوَاءٌ كَانَ هِبَةً أَوْ مُحَابَاةً وَأَحْسَبُ أَبَا حَنِيفَةَ يُوَافِقُ عَلَى هَذَا وَيَسْتَهِمُونَ فِي الثُّلُثِ عَلَى قَدْرِ وَصَايَاهُمْ إِذَا اخْتَلَفَتْ مَقَادِيرُهَا فَإِنْ رَدَّ بَعْضُهُمُ الْوَصِيَّةَ تَوَفَّرَتْ عَلَى الْبَاقِينَ فِي زِيَادَةِ حُقُوقِهِمْ وَلَمْ يُقَدَّمْ بَعْضُهُمْ بِالْقُرْعَةِ عَلَى بَعْضٍ بِخِلَافِ الْعِتْقِ الْمُوجِبِ لِتَكْمِيلِهِ بِالْقُرْعَةِ فِي بَعْضِهِمْ لِمَا قَدَّمْنَا مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا

Adapun bagian kedua, yaitu wasiat yang berisi pemberian (harta) tanpa pembebasan budak, maka seluruh penerima wasiat tersebut saling berbagi dalam sepertiga harta jika sepertiga itu tidak mencukupi. Dalam hal ini, baik penerima wasiat yang disebutkan lebih dahulu maupun yang disebutkan belakangan, kedudukannya sama saja, baik berupa hibah maupun pemberian karena kasih sayang. Saya kira Abu Hanifah sependapat dalam hal ini. Mereka membagi sepertiga harta sesuai kadar wasiat masing-masing jika besaran wasiat berbeda-beda. Jika sebagian dari mereka menolak wasiat, maka bagian tersebut dialihkan kepada yang lain untuk menambah hak mereka. Tidak ada yang didahulukan melalui undian atas yang lain, berbeda dengan pembebasan budak yang mengharuskan penyempurnaan dengan undian pada sebagian mereka, sebagaimana telah dijelaskan perbedaan antara keduanya.

وَلِهَذَا الْفَصْلِ أَحْكَامٌ قَدْ تَقَدَّمَ ذِكْرُهَا فِي الْوَصَايَا وَمَا حَدَثَ مِنْ نِتَاجِ مَاشِيَةٍ أَوْ ثِمَارِ نَخِيلٍ أَوْ كَسْبِ عَبِيدٍ قَبْلَ مَوْتِ الْمُوصِي تَرِكَةٌ يَتَّسِعُ لَهَا الثُّلُثُ فِي تَنْفِيذِ الْوَصَايَا وَمَا حَدَثَ بَعْدَ مَوْتِهِ لِلْوَرَثَةِ لَا يَتَّسِعُ لَهَا الثُّلُثُ فِي حُقُوقِ أَهْلِ الْوَصَايَا وَأَمَّا فِي قَضَاءِ الدُّيُونِ مِنْهَا إِذَا ضَاقَتِ التَّرِكَةُ عَنْهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Dan untuk bab ini terdapat hukum-hukum yang telah disebutkan sebelumnya dalam bab wasiat. Apa pun yang dihasilkan dari ternak, buah kurma, atau hasil kerja budak sebelum wafatnya orang yang berwasiat, maka itu termasuk harta warisan yang sepertiganya dapat digunakan untuk melaksanakan wasiat. Adapun apa yang terjadi setelah kematiannya, maka itu menjadi milik para ahli waris dan tidak dapat digunakan sepertiganya untuk hak-hak penerima wasiat. Sedangkan dalam pelunasan utang dari harta tersebut jika harta warisan tidak mencukupi, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لَا تُقْضَى مِنْهَا الدُّيُونُ كَمَا لَمْ تُنَفَّذْ مِنْهَا الْوَصَايَا

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa dari harta tersebut tidak dibayarkan utang-utang, sebagaimana wasiat-wasiat pun tidak dilaksanakan darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ تُقْضَى مِنْهَا الدُّيُونُ وَإِنْ لَمْ تُنَفَّذْ مِنْهَا الْوَصَايَا لِحُدُوثِهَا عَنِ التَّرِكَةِ الْمُسْتَحَقَّةِ فِي الدُّيُونِ بِخِلَافِ الْوَصَايَا لِأَنَّ لِلْوَرَثَةِ شَرِكَةً فِي الْوَصَايَا بِالثُّلُثَيْنِ وَلَيْسَ لَهُمْ شَرِكَةٌ فِي الدَّيْنِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, menyatakan bahwa utang-utang dapat dibayarkan dari harta tersebut meskipun wasiat-wasiat tidak dapat dilaksanakan darinya, karena utang muncul dari harta peninggalan yang memang menjadi hak untuk pelunasan utang, berbeda dengan wasiat. Sebab, ahli waris memiliki hak bersama dalam dua pertiga bagian wasiat, sedangkan mereka tidak memiliki hak bersama dalam utang.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنَ اشْتِمَالِ الْوَصِيَّةِ عَلَى الْعِتْقِ وَالْعَطَايَا إِذَا ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْهُمَا فَفِيهِ قَوْلَانِ

Adapun bagian ketiga dari wasiat yang mencakup pembebasan budak dan pemberian harta apabila sepertiga harta tidak mencukupi untuk keduanya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُقَدَّمُ الْعِتْقُ عَلَى الْوَصَايَا لِدُخُولِهِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ بِالسِّرَايَةِ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak didahulukan atas wasiat-wasiat karena termasuk dalam hak-hak Allah Ta‘ala dan memiliki kekuatan dengan penyebarannya (sirāyah).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُمَا سَوَاءٌ لِاعْتِبَارِهِمَا مِنَ الثُّلُثِ وَاسْتِحْقَاقِهِمَا بِالْمَوْتِ فَيُقَسَّطُ الثُّلُثُ عَلَيْهِمَا بِالْحِصَصِ فَمَا حَصَلَ لِلْعِتْقِ أُقْرِعَ بَيْنَهُمْ فِيهِ وَمَا حَصَلَ لِلْعَطَايَا اشتركوا فِيهِ وَلَمْ يُقْرَعُوا فَلَوِ اجْتَمَعَ مَعَ الْعَطَايَا عِتْقٌ وَتَدْبِيرٌ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya (pemberian dan pembebasan budak) sama saja, karena keduanya dipertimbangkan dari sepertiga harta dan keduanya berhak mendapatkannya karena kematian (pewaris). Maka sepertiga harta itu dibagi di antara keduanya secara proporsional. Apa yang menjadi bagian pembebasan budak, dilakukan undian di antara mereka; dan apa yang menjadi bagian pemberian, mereka berbagi tanpa diundi. Jika dalam pemberian itu berkumpul juga pembebasan budak dan tadbir (pembebasan budak yang berlaku setelah kematian tuan), maka terdapat tiga pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهَا يُقَدَّمُ التَّدْبِيرُ عِنْدَ ضِيقِ الثُّلُثِ عَنِ الْعِتْقِ وَالْعَطَايَا لِانَتِجَازِهِ بِالْمَوْتِ فَإِنْ فَضَلَ عَنِ التَّدْبِيرِ صُرِفَ فِي الْعِتْقِ دُونَ الْوَصَايَا

Salah satunya adalah bahwa tadbir didahulukan ketika sepertiga harta tidak mencukupi untuk membebaskan budak (itq) dan pemberian (‘athaya), karena tadbir terlaksana dengan kematian. Jika masih ada kelebihan setelah tadbir, maka digunakan untuk membebaskan budak, bukan untuk wasiat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَشْتَرِكُ بَيْنَ التَّدْبِيرِ وَالْعِتْقِ وَيُقَدَّمَانِ عَلَى الْعَطَايَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa tadbīr dan ‘itq memiliki persamaan, dan keduanya didahulukan atas pemberian-pemberian (al-‘aṭāyā).

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ سَوَاءٌ وَيُقَسَّطُ الثُّلُثُ عَلَى الْجَمِيعِ بِالْحِصَصِ ثُمَّ يَكُونُ الْإِقْرَاعُ فِي سَهْمِ الْعِتْقِ وَالتَّدْبِيرِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا

Pendapat ketiga menyatakan bahwa semua itu sama saja, dan sepertiga harta dibagi rata kepada semuanya sesuai bagian masing-masing, kemudian dilakukan undian (iqra‘) pada bagian ‘itq (pembebasan budak) dan tadbīr sebagaimana telah kami sebutkan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدَهُ وَصِيَّةً وَهُوَ الثُلُثُ وَشَهِدَ وَارِثَانِ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدًا غَيْرَ وَصِيَّةٍ وَهُوَ الثُّلُثُ أَعْتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفَهُ قَالَ الْمُزَنِيُّ إِذَا أَجَازَ الشَّهَادَتَيْنِ فَقَدْ ثَبَتَ عِتْقُ عَبْدَيْنِ وَهُمَا ثُلُثَا الْمَيِّتِ فَمَعْنَاهُ أَنْ يُقْرَعَ بَيْنَهُمَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika dua orang asing bersaksi bahwa seseorang telah memerdekakan budaknya sebagai wasiat dan itu sepertiga harta, lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa ia telah memerdekakan budak lain bukan sebagai wasiat dan itu juga sepertiga harta, maka dari masing-masing budak tersebut dimerdekakan setengahnya. Al-Muzani berkata: Jika kedua kesaksian itu diterima, maka telah tetap kemerdekaan dua budak dan keduanya adalah dua pertiga dari harta si mayit. Maka maksudnya adalah diundi di antara keduanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ وَسَنَذْكُرُ مَا نَتَجَ فِيهَا مِنْ زِيَادَةٍ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini telah dibahas sebelumnya dan kami akan menyebutkan tambahan-tambahan yang dihasilkan di dalamnya.”

فَإِذَا شَهِدَ أَجْنَبِيَّانِ أَنَّهُ وَصَّى بِعِتْقِ عَبْدِهِ سَالِمٍ وَقِيمَتُهُ الثُّلُثُ وَشَهِدَ وَارِثَانِ بِأَنَّهُ وَصَّى بِعِتْقِ عَبْدِهِ غَانِمٍ وَقِيمَتُهُ الثُّلُثُ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْوَارِثينَ مِنْ أَنْ يَكُونَا عَدْلَيْنِ أَوْ مَجْرُوحَيْنِ فَإِنْ كَانَا عَدْلَيْنِ قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمَا لِسَلَامَتِهَا مِنْ مَعَانِي الرَّدِّ وَقَدْ ثَبَتَ بِالشَّهَادَتَيْنِ عِتْقُ عَبْدَيْنِ وَهُمَا ثُلُثَا الْمَيِّتِ فَيُقْرَعُ بَيْنَهُمَا لِيُكْمَلَ بِالْقُرْعَةِ عِتْقُ أَحَدِهِمَا عَلَى مَا ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ

Apabila dua orang asing bersaksi bahwa si mayit telah berwasiat untuk memerdekakan budaknya yang bernama Salim, dan nilainya sepertiga harta, lalu dua orang ahli waris bersaksi bahwa si mayit telah berwasiat untuk memerdekakan budaknya yang bernama Ghanim, dan nilainya sepertiga harta, maka keadaan kedua ahli waris tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: keduanya adalah orang yang adil atau keduanya cacat (tidak diterima kesaksiannya). Jika keduanya adalah orang yang adil, maka kesaksian mereka diterima karena terbebas dari sebab-sebab penolakan. Dengan demikian, berdasarkan dua kesaksian tersebut, terbukti bahwa dua budak telah dimerdekakan, dan keduanya bernilai dua pertiga dari harta mayit. Maka dilakukan undian di antara keduanya agar salah satu dari keduanya dapat dimerdekakan secara sempurna melalui undian, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Muzani.

وَإِنَّمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ أَعْتِقُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفَهُ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ أَوْجَبَتْ أَنْ يُعْتَقَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُهُ وَالشَّرْعُ قَدْ أَوْجَبَ أَنْ يُكْمَلَ الْعِتْقُ فِي أَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ فَإِذَا أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا وَوَقَعَتْ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى مَنْ شَهِدَ الْوَارِثَانِ بِعِتْقِهِ أُمْضِيَ عَلَى هَذَا وَرَقَّ مَنْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِهِ وَإِنْ وَقَعَتِ قُرْعَةُ الْعِتْقِ عَلَى مَنْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِهِ عَتَقَ وَنُظِرَ مَا يَقُولُهُ الْوَارِثَانِ فِي شَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ فَإِنْ صَدَّقَاهُمَا رَقَّ لَهُمَا مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ وَإِنْ كَذَّبَاهُمَا لَمْ يُسْتَرَقَّ مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ إِذَا اتَّسَعَ لَهُ ثُلُثُ الْبَاقِي

Sesungguhnya pendapat asy-Syafi‘i, “Aku memerdekakan setengah dari masing-masing mereka berdua,” adalah isyarat bahwa kesaksian mewajibkan untuk memerdekakan setengah dari masing-masing mereka, dan syariat telah mewajibkan agar pemerdekaan itu disempurnakan pada salah satu dari mereka melalui undian. Maka apabila dilakukan undian di antara mereka berdua dan undian pemerdekaan jatuh pada orang yang dua ahli waris bersaksi atas kemerdekaannya, maka hal itu dijalankan dan orang yang dua orang asing bersaksi atas kemerdekaannya menjadi budak. Namun jika undian pemerdekaan jatuh pada orang yang dua orang asing bersaksi atas kemerdekaannya, maka ia merdeka dan dilihat apa yang dikatakan oleh dua ahli waris mengenai kesaksian dua orang asing tersebut. Jika keduanya membenarkan, maka orang yang mereka saksikan kemerdekaannya menjadi budak bagi mereka. Namun jika keduanya mendustakan, maka orang yang mereka saksikan kemerdekaannya tidak dijadikan budak selama sepertiga sisa harta mencukupi untuk itu.

وَإِنْ كَانَ الْوَارِثَانِ مَجْرُوحَيْنِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُمَا وَأُعْتِقَ مَنْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِهِ وَنُظِرَ قَوْلُ الْوَارِثِينَ فِي شَهَادَةِ الْأَجْنَبِيَّيْنِ فَإِنْ صَدَّقَاهُمَا رَقَّ لَهُمَا مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ وَيَكُونُ التَّأْثِيرُ فِي رَدِّ شَهَادَتِهِمَا إِبْطَالُ الْقُرْعَةِ

Jika kedua ahli waris itu cacat (tidak memenuhi syarat sebagai saksi), maka kesaksian mereka berdua tidak diterima, dan orang yang disaksikan oleh dua orang asing atas kemerdekaannya dimerdekakan. Pendapat kedua ahli waris dipertimbangkan dalam kesaksian dua orang asing tersebut; jika kedua ahli waris membenarkan keduanya, maka orang yang disaksikan kemerdekaannya itu menjadi budak bagi mereka berdua yang menjadi saksi atas kemerdekaannya. Pengaruh dari penolakan kesaksian mereka adalah pembatalan undian (al-qur‘ah).

وَإِنْ كَذَّبَاهُمَا لَزِمَهُمَا أَنْ يَعْتِقَا مِمَّنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ قَدْرَ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ بَعْدَ خُرُوجِ الْأَوَّلِ مِنَ التَّرِكَةِ وَيَسْتَرِقَّا مِنْهُ مَا عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ

Dan jika keduanya mendustakan mereka berdua, maka wajib bagi keduanya untuk memerdekakan dari orang yang mereka berdua bersaksi atas kemerdekaannya sejumlah yang dapat ditanggung oleh sepertiga (harta warisan) setelah bagian pertama keluar dari harta warisan, dan mereka memperbudak dari sisanya apa yang tidak mampu ditanggung oleh sepertiga tersebut.

وَلَوْ شَهِدَ الْأَجْنَبِيَّانِ بِعِتْقِ سَالِمٍ فِي الْمَرَضِ وَشَهِدَ الْوَارِثَانِ بِعِتْقِ غَانِمٍ وَصِيَّةً بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا تَكَاذُبٌ عَتَقَ سَالِمٌ وَرَقَّ غَانِمٌ لِأَنَّ عِتْقَ الْمَرَضِ مُقَدَّمٌ على عتق الْوَصِيَّةِ وَكَانَ لِلْوَارِثِينَ أَنْ يَسْتَرِقَّا مَنْ شَهِدَا بِعِتْقِهِ فِي الْوَصِيَّةِ لِعَجْزِ الثُّلُثِ عَنْهُ

Jika dua orang asing bersaksi tentang pembebasan (ʿitq) Salim pada saat sakit, dan dua orang ahli waris bersaksi tentang pembebasan Ghanim sebagai wasiat setelah kematian, dan tidak ada pertentangan di antara keduanya, maka Salim menjadi merdeka dan Ghanim tetap sebagai budak. Sebab, pembebasan karena sakit lebih didahulukan daripada pembebasan melalui wasiat. Dan para ahli waris berhak memperbudak orang yang mereka saksikan pembebasannya melalui wasiat, karena sepertiga harta tidak mencukupi untuk membebaskannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ لِعَشَرَةِ أَعْبُدٍ لَهُ أَحَدُكُمْ حُرٌّ سَأَلْنَا الْوَرَثَةَ فَإِنْ قَالُوا لَا نَعْلَمُ أُقْرِعَ بَيْنَهُمْ وَأُعْتِقَ أَحَدُهُمْ كَانَ أَقَلَّهُمْ قِيمَةً أَوْ أَكْثَرَهُمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata kepada sepuluh budaknya, “Salah satu dari kalian merdeka,” maka kita menanyakan hal itu kepada para ahli waris. Jika mereka mengatakan, “Kami tidak tahu,” maka diadakan undian di antara mereka, lalu salah satu dari mereka dimerdekakan, baik yang nilainya paling rendah maupun yang paling tinggi.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِطْلَاقُ قَوْلِهِ لِعَشْرَةِ أَعْبُدٍ لَهُ أَحَدُكُمْ حُرٌّ وَلَمْ يُسَمِّهِ يَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Pernyataan seseorang, “Untuk sepuluh budakku, salah satu dari kalian merdeka,” tanpa menyebutkan namanya, terbagi menjadi dua bagian.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَقْصِدَ بِإِطْلَاقِهِ تَعْيِينَ الْعِتْقَ فِي أَحَدِهِمْ فَهُوَ الْحُرُّ مِنْ بَيْنِهِمْ وَيَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي بَيَانِهِ مِنْهُمْ فَإِنْ بَيَّنَهُ فَقَالَ هُوَ سَالِمٌ عَتَقَ وَكَانَ بَيَانُهُ خَبَرًا وَرَقَّ مَنْ سِوَاهُ

Salah satunya adalah ketika seseorang bermaksud dengan ucapannya untuk menentukan pembebasan budak pada salah satu dari mereka, maka dialah yang merdeka di antara mereka, dan penjelasan mengenai siapa di antara mereka itu kembali kepadanya. Jika ia telah menjelaskannya, misalnya ia berkata, “Dia adalah Salim,” maka Salimlah yang merdeka, dan penjelasannya itu dianggap sebagai pemberitahuan, sedangkan yang lainnya tetap berstatus budak.

فَلَوْ قَالَ هُوَ سَالِمٌ أَوْ غَانِمٌ رَقَّ مَنْ سِوَاهُمَا وَأُخِذَ بِبَيَانِ مَنْ أَرَادَهُ مِنْهُمَا وَلَوْ قَالَ هُوَ سَالِمٌ لَا بَلْ غَانِمٌ عَتَقَا مَعًا لِأَنَّهُ صَارَ رَاجِعًا عَنْ سَالِمٍ وَمُقِرًّا بِغَانِمٍ فَلَزِمَهُ إِقْرَارُهُ وَلَمْ يُقْبَلْ رُجُوعُهُ وَرَقَّ مَنْ عَدَا سَالِمًا وَغَانِمًا مِنْ عَبِيدِهِ فَإِنْ أَكْذَبَهُ أَحَدُهُمْ وَادَّعَى أَنَّهُ هُوَ الْمُعَيَّنُ بِالْعِتْقِ أُحْلِفَ لَهُ السَّيِّدُ وَكَانَ عَلَى رِقِّهِ وَإِنْ نَكَلَ السَّيِّدُ رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى الْعَبْدِ فَإِذَا حَلَفَ عَتَقَ فَإِنْ فَاتَ بَيَانُ السَّيِّدِ حَتَّى مَاتَ رُجِعَ بَعْدَهُ إِلَى بَيَانِ وَرَثَتِهِ إِنْ كَانَ عِنْدَهُمْ بَيَانٌ وَقَامَ بَيَانُهُمْ مَقَامَ بَيَانِهِ لِأَنَّهُمْ فِي مَالِهِ بِمَثَابَتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَ الْوَرَثَةِ بَيَانٌ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُقْرَعُ بَيْنَهُمْ وَيُعْتَقُ مَنْ قُرِعَ مِنْهُمْ وَيُسْتَرَقُّ بَاقِيهِمْ لِأَنَّ الْقُرْعَةَ مَوْضُوعَةٌ لِتَمْيِيزِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الرِّقِّ

Jika ia berkata, “Dia adalah Sālim atau Ghānim,” maka selain keduanya menjadi budak, dan diputuskan berdasarkan penjelasan siapa yang dimaksudkan di antara keduanya. Jika ia berkata, “Dia adalah Sālim, tidak, bahkan Ghānim,” maka keduanya merdeka bersama, karena ia telah menarik kembali pengakuannya dari Sālim dan menetapkan kepada Ghānim, sehingga pengakuannya menjadi wajib dan penarikannya tidak diterima, dan selain Sālim dan Ghānim dari para budaknya tetap menjadi budak. Jika salah satu dari mereka mendustakannya dan mengaku bahwa dialah yang dimaksud dengan pembebasan, maka tuan harus bersumpah untuknya, dan ia tetap menjadi budak. Jika tuan enggan bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada budak; jika budak bersumpah, maka ia merdeka. Jika penjelasan dari tuan terlambat hingga ia meninggal, maka setelah itu kembali kepada penjelasan ahli warisnya jika mereka memiliki penjelasan, dan penjelasan mereka menggantikan penjelasannya, karena mereka dalam hartanya menempati posisinya. Jika ahli waris tidak memiliki penjelasan, maka menurut mazhab Syāfi‘ī, dilakukan undian di antara mereka, yang terpilih dalam undian dimerdekakan dan sisanya tetap menjadi budak, karena undian ditetapkan untuk membedakan antara kemerdekaan dan perbudakan.

وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ إِلَى الْمَنْعِ مِنَ الْقُرْعَةِ وَتَوَقُّفِهِمْ عَلَى بَيَانٍ قَاطِعٍ لِأَنَّ دُخُولَ الْقُرْعَةِ يُفْضِي إِلَى رِقِّ مَنْ أَعْتَقَهُ وَعِتْقِ مَنْ أَرَقَّهُ وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ الْبَيَانَ فَائِتٌ وَوُقُوفَ أَمْرِهِمْ مُضِرٌّ بِالْحُرِّ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَمُضِرٌّ بِالْأَرِقَّاءِ فِي حُقُوقِ الْوَرَثَةِ فَلَمْ يَنْتَفِ الضَّرَرُ فِي الْجِهَتَيْنِ إِلَّا بِالْقُرْعَةِ

Para sahabatnya berpendapat untuk melarang penggunaan undian (al-qur‘ah) dan menunda keputusan hingga ada penjelasan yang pasti, karena masuknya undian dapat menyebabkan seseorang yang telah dimerdekakan kembali menjadi budak, dan seseorang yang masih budak menjadi merdeka. Ini adalah sesuatu yang rusak, karena penjelasan telah hilang dan menunda urusan mereka akan merugikan orang merdeka dalam hak dirinya sendiri serta merugikan para budak dalam hak-hak para ahli waris. Maka, tidak ada cara untuk menghilangkan mudarat di kedua sisi kecuali dengan undian (al-qur‘ah).

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُبْهَمَ الْعِتْقُ فِيهِمْ وَلَا يُقْصَدَ تَعْيِينُهُ فِي أَحَدِهِمْ فَيُؤْخَذُ بِتَعْيِينِهِ وَيَكُونُ فِي التَّعْيِينِ عَلَى خِيَارِهِ فَإِذَا عَيَّنَهُ فِي أَحَدِهِمْ عَتَقَ وَرَقَّ مَنْ سِوَاهُ وَسَوَاءٌ كَانَ أَكْثَرَهُمْ قيمة أو أقلهم فلو ادعى غيره التعيين لَمْ تُسْمَعْ دَعْوَاهُ لِأَنَّهُ فِي هَذَا التَّعْيِينِ مُخْبِرٌ وَلَيْسَ بِمُخَيَّرٍ فَلَوْ قَالَ عِنْدَ التَّعْيِينِ هُوَ سَالِمٌ لَا بَلْ غَانِمٌ عَتَقَ سَالِمٌ دُونَ غَانِمٍ بِخِلَافِهِ فِي الْقِسْمِ الْأَوَّلِ لِأَنَّ هَذَا تَخْيِيرٌ فِي تَعْيِينِ عِتْقٍ قَدْ لَزَمَ فَإِذَا عَيَّنَهُ فِي الْأَوَّلِ سَقَطَ خِيَارُهُ فِي الثَّانِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ حُكْمُهُ فِي الْقِسْمِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ إِخْبَارٌ لَا خِيَارَ لَهُ فِيهِ فَلَمْ يَسْقُطْ حُكْمُ خَبَرِهِ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَإِنْ فَاتَ تَعْيِينُهُ لِلْعِتْقِ بِمَوْتِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَقُومُ وَرَثَتُهُ مَقَامَهُ فِي التَّعْيِينِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Bagian kedua adalah apabila pembebasan budak itu dibuat secara samar di antara mereka dan tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa di antara mereka yang dibebaskan. Maka, penentuan itu diambil darinya dan ia memiliki hak memilih dalam penentuan tersebut. Jika ia telah menentukan salah satu dari mereka, maka orang itu merdeka dan yang lainnya tetap sebagai budak, baik yang ditentukan itu adalah yang paling tinggi nilainya atau yang paling rendah. Jika ada orang lain yang mengaku telah ditentukan, maka pengakuannya tidak diterima, karena dalam penentuan ini ia hanya sebagai pemberi kabar, bukan sebagai pihak yang berhak memilih. Jika pada saat penentuan ia berkata, “Yang dimaksud adalah Salim, bukan, melainkan Ghanim,” maka yang merdeka adalah Salim, bukan Ghanim, berbeda dengan pada bagian pertama, karena ini adalah pilihan dalam penentuan pembebasan yang telah menjadi wajib. Jika ia telah menentukan pada yang pertama, maka gugurlah hak pilihnya pada yang kedua. Tidak demikian halnya dengan hukumnya pada bagian pertama, karena di sana ia hanya sebagai pemberi kabar dan tidak memiliki hak memilih, sehingga ketetapan beritanya tidak gugur pada salah satu dari mereka. Jika ia tidak sempat menentukan siapa yang dibebaskan karena ia meninggal dunia, maka para ulama kami berbeda pendapat, apakah ahli warisnya dapat menggantikan posisinya dalam penentuan tersebut, ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَقُومُونَ مَقَامَهُ فِيهِ وَلَهُمْ أَنْ يُعَيِّنُوا مَا أَبْهَمَهُ مِنَ الْعِتْقِ فِيمَنْ أَرَادُوا لِأَنَّهُمْ يَقُومُونَ مَقَامَهُ فِي حُقُوقِ الْأَمْوَالِ

Salah satunya adalah mereka menempati posisinya dalam hal tersebut, dan mereka berhak menentukan apa yang masih samar terkait pembebasan budak pada siapa yang mereka kehendaki, karena mereka menempati posisinya dalam hak-hak harta.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا حَقَّ لَهُمْ فِي تَعْيِينِ مَا أَبْهَمَهُ لِأَنَّ تَعْيِينَ الْمُبْهَمِ مَوْقُوفٌ عَلَى خِيَارِ الْمُعْتِقِ بِحَسْبِ غَرَضِهِ وَهَذَا مَعْدُومٌ فِي وَرَثَتِهِ فَعَلَى هَذَا يُعْدَلُ إِلَى تَعْيِينِهِ بِالْقُرْعَةِ وَيُعْتَقُ مِنْهُمْ مَنْ قُرِعَ

Pendapat kedua: Mereka (ahli waris) tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang dimaksudkan secara samar, karena penentuan terhadap sesuatu yang masih samar itu tergantung pada pilihan orang yang memerdekakan (muktiq) sesuai dengan tujuannya, dan hal ini tidak ada pada para ahli warisnya. Oleh karena itu, penentuannya dialihkan melalui undian (qur‘ah), dan yang keluar namanya dalam undian itulah yang dimerdekakan.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَعْتَقَ فِي مَرَضِهِ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ دَيْنًا أَوْ غَائِبَةً لَمْ يُعَجَّلْ عتق جميعه وإن كان خارجاً من ثلث التركة لو نضت لجواز أن يقوى الدين أو تتلف الغائبة وعجل عتق ثلثه ووقف ثلثا مُتَرَدِّدًا بَيْنَ الْعِتْقِ إِنْ نَضَّتْ وَالرِّقِّ إِنْ تَلِفَتْ وَمَلَكَ ثُلُثَ كَسْبِهِ الْمُسْتَحَقِّ بِعِتْقِهِ

Apabila seseorang memerdekakan seorang budak dalam keadaan sakit, yang nilai budak tersebut seratus dirham, sementara ia meninggalkan utang dua ratus dirham atau harta yang masih belum jelas keberadaannya, maka tidak langsung berlaku kemerdekaan seluruhnya, meskipun kemerdekaan itu berada di luar sepertiga harta warisan jika harta tersebut diuangkan. Hal ini karena ada kemungkinan utang itu bertambah kuat atau harta yang belum jelas itu rusak. Maka yang segera merdeka adalah sepertiganya, sedangkan dua pertiganya tergantung antara merdeka jika harta itu nyata dan tetap, atau tetap menjadi budak jika harta itu rusak. Dan ia berhak atas sepertiga hasil usaha budak yang menjadi haknya karena kemerdekaan tersebut.

فَأَمَّا ثُلُثَا كَسْبِهِ الْمُسْتَحَقِّ بِالْمَوْقُوفِ عَنْهُ فَلَهُ أَنْ يُنْفِقَ مِنْهُ عَلَى نَفْسِهِ ثُلُثَيْ نَفَقَتِهِ وَفِي الْبَاقِي مِنْهُ وَجْهَانِ

Adapun dua pertiga dari hasil usahanya yang berhak didapatkan dari harta yang diwakafkan darinya, maka ia boleh membelanjakan dua pertiga dari nafkahnya untuk dirinya sendiri, dan mengenai sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مَوْقُوفًا مَعَهُ فَإِنْ عَتَقَ بَاقِيهِ كَانَ لَهُ وَإِنَّ رَقَّ كَانَ لِلْوَرَثَةِ لِأَنَّ كَسْبَهُ نَفْعٌ لَهُ

Salah satunya tetap bersamanya; jika sisanya merdeka, maka menjadi miliknya, dan jika tetap sebagai budak, maka menjadi milik para ahli waris, karena hasil usahanya merupakan manfaat baginya.

وَالْوَجْهُ الثاني أن يَكُونُ لِلْوَرَثَةِ لِئَلَّا يَمْتَنِعُوا مِنَ الِانْتِفَاعِ بِالْوَقْفِ فَعَلَى هَذَا إِنْ رَقَّ بَاقِيهِ اسْتَقَرَّ مِلْكُهُمْ عَلَى مَا أَخَذُوهُ مِنْ كَسْبِهِ لِاسْتِقْرَارِ مِلْكِهِمْ عَلَى رِقِّهِ وَإِنَّ عَتَقَ بَاقِيهِ فَفِي وُجُوبِ رَدِّهِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua adalah bahwa (hak) itu diberikan kepada para ahli waris agar mereka tidak enggan memanfaatkan wakaf tersebut. Berdasarkan pendapat ini, jika sisa budak itu tetap berstatus budak, maka kepemilikan mereka atas apa yang mereka peroleh dari hasil usahanya menjadi tetap, karena kepemilikan mereka atas status budaknya juga telah tetap. Namun, jika sisa budak itu dimerdekakan, maka mengenai kewajiban mengembalikannya (kepada pemilik semula), terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَرُدُّهُ الْوَرَثَةُ عَلَيْهِ لِأَنَّ كَسْبَ الْحُرِّ لَا يُمْلَكُ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah para ahli waris mengembalikannya kepadanya, karena hasil usaha seorang yang merdeka tidak dapat dimiliki atas dirinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَلْزَمُهُمْ رَدُّهُ عَلَيْهِ لِأَنَّ حُكْمَ الرِّقِّ فِي حَالِ الْوَقْفِ أَغْلَبُ مِنْ حُكْمِ الْحُرِّيَّةِ فَإِنْ نَضَّ مِنَ الدَّيْنِ أَوِ الْغَائِبِ مِائَةٌ وَبَقِيَتْ مِائَةٌ عَتَقَ مِنْهُ ثُلُثٌ آخَرُ وكان حكمه كحكم الثالث الْأَوَّلِ وَكَانَ ثُلُثُهُ مَوْقُوفًا عَلَى نَضِّ مَا بَقِيَ وَيُمْنَعُ الْوَرَثَةُ مِنْ بَيْعِ مَا وُقِفَ مِنْهُ وَمِنْ رَهْنِهِ لِأَنَّ الرَّهْنَ مَوْضُوعٌ لِلْبَيْعِ فَأَمَّا إِجَارَتُهُ فَإِذَا رَاضَاهُمُ الْعَبْدُ عَلَيْهَا جَازَ وَإِنْ مَنَعَهُمْ مِنْهَا فَفِيهَا وَجْهَانِ بِنَاءً عَلَى اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي كَسْبِهِ هَلْ يَكُونُ مَوْقُوفًا أَوْ لِوَرَثَتِهِ

Pendapat kedua tidak wajib mereka bantah, karena hukum perbudakan pada saat status tertahan (al-waqf) lebih dominan daripada hukum kemerdekaan. Jika dari utang atau harta yang tidak ada (ghaib) telah dilunasi seratus dan masih tersisa seratus, maka sepertiga lagi dari hamba tersebut merdeka, dan hukumnya sama seperti sepertiga yang pertama, serta sepertiganya masih tertahan hingga sisa utang dilunasi. Ahli waris dilarang menjual bagian yang masih tertahan atau menggadaikannya, karena gadai itu ditetapkan untuk penjualan. Adapun menyewakannya, jika hamba tersebut rela, maka boleh; namun jika ia menolak, maka ada dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat dalam masalah hasil usahanya, apakah hasil itu tertahan atau menjadi milik ahli warisnya.

أَحَدُهُمَا يُمْنَعُونَ مِنْهَا إِذَا جُعِلَ كَسْبُهُ مَوْقُوفًا

Salah satu dari keduanya adalah mereka dilarang darinya apabila penghasilannya dijadikan sebagai harta waqaf.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُمَكَّنُونَ مِنْهَا إِذَا جعل كسبه لهم فإن أعتقه الْوَرَثَةُ مَا وُقِفَ مِنْهُ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ مَلَكُوهُ لِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى عِتْقِ موروثِهِمْ فَلَمْ يُنَفَّذْ فِيهِ عِتْقُ غَيْرِهِ إِلَّا بَعْدَ إِبْطَالِ عِتْقِهِ وَلَوْ دَبَّرُوهُ كَانَ فِي تَدْبِيرِهِمْ وَجْهَانِ

Pendapat kedua, mereka dibolehkan mengambilnya jika hasil usahanya dijadikan milik mereka. Jika para ahli waris memerdekakannya, maka bagian yang telah ditahan darinya tidak menjadi merdeka. Namun, jika mereka memilikinya, karena bagian tersebut tergantung pada kemerdekaan orang yang diwarisi, maka kemerdekaan orang lain tidak berlaku atasnya kecuali setelah kemerdekaan orang tersebut dibatalkan. Jika mereka melakukan tadbir (menetapkan kemerdekaan setelah wafat), maka dalam tadbir mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بَاطِلٌ كَالْعِتْقِ

Salah satunya batal, seperti pembebasan budak.

وَالثَّانِي جَائِزٌ لِتَأْخِيرِ الْعِتْقِ بِهِ وَتَغْلِيبِ حُكْمِ الرِّقِّ عَلَيْهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Yang kedua diperbolehkan karena penundaan pembebasan budak dengannya dan lebih dominannya hukum perbudakan atasnya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

باب من يعتق بالملك وفيه ذكر عتق السائبة ولا ولاء إلا لمعتق

Bab tentang siapa yang merdeka karena kepemilikan, dan di dalamnya disebutkan pembebasan budak yang dimerdekakan tanpa ikatan (sā’ibah), serta tidak ada hak perwalian (walā’) kecuali bagi orang yang memerdekakan.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ مَنْ مَلَكَ أَحَدًا مِنْ آَبَائِهِ أَوْ أُمَّهَاتِهِ أَوْ أَجْدَادِهِ أَوْ جداته أو ولده بَنِيْهِ أَوْ بَنَاتِهِ عَتَقَ بَعْدَ مِلْكِهِ بَعُدَ مِنْهُ الْوَلَدُ أَوْ قَرُبَ الْمَوْلُودُ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ سِوَى مَنْ سَمَّيْتُ بِحَالٍ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa memiliki salah satu dari ayahnya, atau ibunya, atau kakeknya, atau neneknya, atau anaknya, baik putra maupun putri, maka mereka merdeka setelah kepemilikannya, baik anak itu jauh darinya maupun dekat, dan tidak ada yang merdeka atasnya selain yang telah aku sebutkan dalam keadaan apa pun.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ؛ وَقَالَ دَاوُدٌ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنْهُمْ بِالْمِلْكِ وَيُقَرُّ مِلْكُهُ عَلَى جَمِيعِهِمْ إِلَّا الْوَالِدُ يُؤْخَذُ بِعِتْقِهِ بَعْدَ ثُبُوتِ مِلْكِهِ احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   لَا يُجْزِئُ وَلَد وَالِدَهُ إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهِ فَيُعْتِقَهُ   فَخُصَّ الْوَالِدُ مِنْ بَيْنِهِمْ بِوُجُوبِ ابْتِيَاعِهِ وَاسْتِئْنَافِ عِتْقِهِ بَعْدَ مِلْكِهِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَعْتِقُ عَلَيْهِ بِالْمِلْكِ أَحَدٌ

Al-Mawardi berkata, “Pendapatnya benar sebagaimana yang dikatakan.” Sedangkan Dawud berpendapat bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang merdeka atasnya hanya karena kepemilikan, dan kepemilikannya tetap sah atas semuanya, kecuali orang tua; maka orang tua wajib dimerdekakan setelah kepemilikannya terbukti, dengan alasan hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Seorang anak tidak dapat membebaskan orang tuanya kecuali jika ia mendapatkannya dalam keadaan sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya.” Maka orang tua dikhususkan di antara mereka dengan kewajiban membelinya dan memulai proses memerdekakannya setelah kepemilikan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang otomatis merdeka atasnya hanya karena kepemilikan.

وِدَلِيلُنَا عَلَيْهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ الأنبياء 26

Dan dalil kami tentang hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih mengambil (mempunyai) anak.’ Mahasuci Dia! Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan.” (QS. al-Anbiyā’: 26)

فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَمَّا كَانُوا عِبَادًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونُوا أَوْلَادًا فَانْتَفَى بِذَلِكَ اسْتِقْرَارُ مِلْكٍ عَلَى وَلَدٍ

Maka hal ini menunjukkan bahwa ketika mereka adalah hamba, tidaklah boleh mereka menjadi anak-anak (Allah), sehingga dengan demikian tertolaklah adanya penetapan kepemilikan atas seorang anak.

وَرَوَى قَتَادَةُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ وَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ مَلَكَ ذَا رَحِمٍ عَتَقَ عَلَيْهِ وَهَذَا نَصٌّ يُوجِبُ الْعِتْقَ وَيَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ الْمِلْكِ وَلِأَنَّ بَيْنَ الْوَالِدِ وَالْوَلَدِ بَعْضِيَّةٌ فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَمْلِكَ نَفْسَهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَمْلِكَ بَعْضَهُ لِأَنَّ الْبَعْضَ تَابِعٌ لِلْكُلِّ

Qatadah meriwayatkan dari al-Hasan dari Samurah, dan Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa memiliki kerabat (mahram), maka ia otomatis memerdekakannya.” Ini adalah nash (teks) yang mewajibkan pembebasan (’itq) dan mencegah terjadinya kepemilikan. Karena antara orang tua dan anak terdapat hubungan sebagian (ba‘ḍiyyah), maka sebagaimana seseorang tidak boleh memiliki dirinya sendiri, demikian pula tidak boleh memiliki sebagian dirinya, karena sebagian itu mengikuti keseluruhan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَهُوَ بِأَنْ يَكُونُ دَلِيلًا لَنَا أَشْبَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا عَلَيْنَا لِأَنَّ قَوْلَهُ فَيَشْتَرِيَهِ فَيُعْتِقَهُ أَيْ فَيَعْتِقَ عَلَيْهِ فَعَبَّرَ عَنِ الْعِتْقِ بِالْإِعْتَاقِ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يا كَعْبُ النَّاسُ غَادِيَانِ بَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُوبِقُهَا وَمُشْتَرٍ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَيْ فَيُعْتَقُ

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut adalah bahwa hadis itu justru menjadi dalil bagi kami, lebih kuat daripada menjadi dalil bagi kalian. Karena sabdanya “lalu ia membelinya, lalu ia memerdekakannya” maksudnya adalah “lalu ia menjadi merdeka atas dirinya.” Maka, beliau mengekspresikan makna kemerdekaan (al-‘itq) dengan kata memerdekakan (al-i‘tiq), sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Wahai Ka‘b, manusia itu ada dua golongan: ada yang menjual dirinya lalu membinasakannya, dan ada yang membeli dirinya lalu memerdekakannya,” maksudnya adalah lalu ia menjadi merdeka.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ فِي الْإِنْسَانِ مَا يُوجِبُ الْعِتْقَ وَيَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ الْمِلْكِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيمَنْ يُعْتَقُ بِهِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ أَنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مِنْ مِلْكِهِ مِنْ وَالِدِيهِ وَمَوْلُودِيهِ فَوَالِدُوهُ آبَاؤُهُ وَأُمَّهَاتُهُ وَأَجْدَادُهُ وَجَدَّاتُهُ

Apabila telah tetap bahwa pada diri manusia terdapat sesuatu yang mewajibkan ‘itq (pembebasan budak) dan mencegah terjadinya kepemilikan, maka para fuqaha berbeda pendapat mengenai siapa saja yang menjadi sebab terjadinya ‘itq. Imam Syafi‘i berpendapat bahwa seseorang menjadi merdeka atas kepemilikan dirinya oleh orang tua dan keturunannya; maka yang dimaksud orang tuanya adalah ayah, ibu, kakek, dan neneknya.

وَمَوْلُودُوهُ أَبْنَاؤُهُ وَبَنَاتُهُ وَأَوْلَادُ بَنِيهِ وَأَوْلَادُ بَنَاتِهِ وَيَسْتَوِي فِيهِ مَنْ قَرُبَ مِنْهُمْ وَمَنْ بَعُدَ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بَعْدَ الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ أَحَدٌ مِنَ الْمُنَاسِبِينَ وَلَا مِنْ ذَوِي الْأَرْحَامِ وَإِنْ كَانُوا ذَوِي مَحَارِمَ كَالْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ وَالْأَعْمَامِ وَالْعَمَّاتِ وَالْأَخْوَالِ وَالْخَالَاتِ

Anak-anaknya adalah putra-putrinya, cucu laki-laki dari anak laki-lakinya, dan cucu laki-laki dari anak perempuannya; baik yang dekat maupun yang jauh dari mereka, kedudukannya sama. Tidak ada seorang pun dari kerabat atau dari dzawil arham yang menjadi mahram yang dimerdekakan baginya setelah orang tua dan anak-anak, meskipun mereka adalah mahram seperti saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah, paman dari pihak ibu, dan bibi dari pihak ibu.

وَزَادَ مَالِكٌ عَلَى قَوْلِنَا فَأَعْتَقَ مَعَ الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ الْإِخْوَةَ وَالْأَخَوَاتِ دُونَ الْأَعْمَامِ وَالْعَمَّاتِ لِأَنَّهُمْ قَدْ شَارَكُوا فِي الصُلْبِ وَرَاكَضُوا فِي الرَّحِمِ

Malik menambahkan atas pendapat kami, yaitu memerdekakan bersama orang tua dan anak-anak juga saudara laki-laki dan saudara perempuan, tidak termasuk paman dan bibi, karena mereka (saudara-saudara) telah turut serta dalam satu garis keturunan dan bersama-sama berada dalam rahim.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يُعْتَقُ بِالنَّسَبِ كُلُّ ذِي رَحِمٍ مَحْرَمٍ فَأَدْخَلَ فِيهِمُ الْأَعْمَامَ وَالْعَمَّاتِ وَالْأَخْوَالَ وَالْخَالَاتِ دُونَ أَوْلَادِهِمُ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ مَلَكَ ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ عَتَقَ عَلَيْهِ وَقِيَاسًا عَلَى الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ بِعِلَّةِ أَنَّهُمْ ذَوُو رَحِمٍ مَحْرَمٍ وَدَلِيلُنَا قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ فَاقْتَضَى عُمُومُ هَذَا الظَّاهِرِ إِقْرَارُ مِلْكِهِ عَلَى كُلِّ مَمْلُوكٍ مِنْ أَخٍ أَوْ عَمٍّ إِلَّا مَنْ خَصَّهُ الدَّلِيلُ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ وَلِأَنَّ كُلَّ شَخْصَيْنِ لَا وِلَادَةَ بَيْنَهُمَا لَمْ يُعْتَقْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ بِالْمِلْكِ قِيَاسًا عَلَى ابْنِ الْعَمِّ وَلِأَنَّ كُلَّ قَرَابَةٍ لَا تَتَضَمَّنُ رَدَّ الشَّهَادَةِ لَمْ يُعْتَقْ بِالْمِلْكِ قِيَاسًا عَلَى بَنِي الْأَعْمَامِ طَرْدًا وَعَلَى الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ عَكْسًا فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa dengan sebab nasab, merdeka (dari perbudakan) adalah setiap kerabat mahram, sehingga ia memasukkan di dalamnya para paman, bibi dari pihak ayah dan ibu, serta paman dan bibi dari pihak ibu, namun tidak termasuk anak-anak mereka. Ia berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Siapa yang memiliki (sebagai budak) kerabat mahram, maka ia menjadi merdeka atasnya,” dan dengan qiyās kepada kedua orang tua dan anak-anak, karena mereka adalah kerabat mahram. Dalil kami adalah sabda Nabi ﷺ: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya,” sehingga keumuman makna lahiriah hadis ini menuntut tetapnya kepemilikan atas setiap budak dari kalangan saudara atau paman, kecuali yang dikecualikan oleh dalil, yaitu orang tua atau anak. Dan karena setiap dua orang yang tidak ada hubungan kelahiran di antara keduanya, maka tidak menjadi merdeka salah satunya atas yang lain karena kepemilikan, dengan qiyās kepada anak paman. Dan karena setiap kekerabatan yang tidak menyebabkan penolakan kesaksian, tidak menyebabkan kemerdekaan karena kepemilikan, dengan qiyās kepada anak-anak paman secara konsisten, dan kepada kedua orang tua dan anak-anak secara sebaliknya. Adapun jawaban atas hadis tersebut ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ أَصْحَابَ الْحَدِيثِ قَدْ أَعْلُّوهُ لِأَنَّهُ وَرَدَ مِنْ طَرِيقَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa para ahli hadis telah melemahkannya karena hadis tersebut diriwayatkan melalui dua jalur.

أَحَدُهُمَا الْحَسَنُ عَنْ سَمُرَةَ وَلَمْ يُثْبِتْ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ وَهُوَ مُرْسَلٌ

Salah satunya adalah riwayat al-Hasan dari Samurah, namun para ahli hadis tidak menetapkan (keshahihan) riwayat al-Hasan dari Samurah, dan riwayat tersebut berstatus mursal.

وَالطَّرِيقُ الثَّانِي سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَلَمْ يَرْوِهِ مِنْ أَصْحَابِ سُفْيَانَ إِلَّا ضَمْرَةُ بْنُ رَبِيعَةَ وَهُوَ مَضْعُوفٌ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِ الثِّقَاتِ

Jalur kedua adalah Sufyān ats-Tsaurī dari ‘Abdullāh bin Dīnār dari Ibnu ‘Umar, dan tidak ada yang meriwayatkannya dari para murid Sufyān kecuali Dhamrah bin Rabī‘ah, dan ia dianggap lemah di antara para perawi yang tepercaya.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي أَنَّهُ مَقْصُورٌ عَلَى الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ لِأَنَّ حَقِيقَةَ الرَّحِمِ فِي اللُّغَةِ مُخْتَصَّةٌ بِالْوِلَادَةِ وَتُطْلَقُ عَلَى غَيْرِهَا مَجَازًا وَالْأَحْكَامُ الشَّرْعِيَّةُ تَتَعَلَّقُ بِحَقَائِقِ الْأَسْمَاءِ دُونَ مَجَازِهَا

Jawaban kedua adalah bahwa (hukum ini) terbatas pada orang tua dan anak-anak, karena hakikat rahim dalam bahasa (Arab) secara khusus berkaitan dengan kelahiran, dan penggunaannya pada selain itu adalah secara majazi (kiasan). Adapun hukum-hukum syariat berkaitan dengan hakikat nama-nama, bukan dengan makna majazinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْوَالِدِينَ وَالْمَوْلُودِينَ بِعِلَّةِ أَنَّهُمْ ذَوُو رَحِمٍ مَحْرَمٍ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas qiyās yang disamakan dengan orang tua dan anak-anak dengan alasan bahwa mereka adalah kerabat mahram, maka jawabannya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ تَعْلِيلٌ لَا يَصِحُّ فِي ذَكَرَيْنِ وَلَا فِي أُنْثَيَيْنِ لِأَنَّهُ لَا مَحْرَمَ بَيْنَ ذَكَرَيْنِ وَلَا بَيْنَ أُنْثَيَيْنِ وَإِنَّمَا الْمَحْرَمُ بَيْنَ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى فَبَطَلَ التَّعْلِيلُ بِالْمَحْرَمِ لِأَنَّ حُكْمَ الذَّكَرَيْنِ وَالْأُنْثَيَيْنِ كَحُكْمِ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى

Salah satunya adalah bahwa alasan tersebut tidak sah diterapkan pada dua laki-laki maupun dua perempuan, karena tidak ada hubungan mahram antara dua laki-laki atau dua perempuan. Hubungan mahram itu hanya ada antara laki-laki dan perempuan. Maka batal-lah alasan dengan mahram, karena hukum dua laki-laki dan dua perempuan sama dengan hukum laki-laki dan perempuan.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي أَنَّهُ تَعْلِيلٌ يُوجِبُ اعْتِبَارَ الْعِتْقِ بِالنِّكَاحِ وَهُمَا مُفْتَرِقَانِ لِأَنَّ النِّكَاحَ أَعَمُّ تَحْرِيمًا مِنَ الْعِتْقِ لِأَنَّهُ يَتَجَاوَزُ تَحْرِيمَ النَّسَبِ إِلَى تَحْرِيمِ السَّبَبِ مِنْ رَضَاعٍ وَمُصَاهَرَةٍ وَالْعِتْقُ يَقْصُرُ عَنْهُ فِي السَّبَبِ فَقَصُرَ عَنْهُ فِي النَّسَبِ وَلَئِنْ كَانَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ قَدْ أَعْتَقَ كُلَّ مُحَرَّمَةٍ بِنَسَبٍ وَسَبَبٍ فَإِنَّ أَبَا حَنِيفَةَ لَا يَعْتِقُ الْمُحَرَّمَةَ بِالسَّبَبِ مِنْ رِضَاعٍ أَوْ مُصَاهَرَةٍ وَإِنَّمَا يَعْتِقُهَا بِالنَّسَبِ مِنْ أُبُوَّةٍ أَوْ بُنُوَّةٍ فَكَانَ التَّعْلِيلُ بِهَا أَوْلَى مِنَ التَّعْلِيلِ بِالتَّحْرِيمِ

Jawaban kedua adalah bahwa itu merupakan alasan (‘illat) yang mewajibkan mempertimbangkan ‘itq (pembebasan budak) dengan nikah, padahal keduanya berbeda. Sebab, nikah lebih umum dalam hal pengharaman dibandingkan ‘itq, karena nikah melampaui pengharaman karena nasab hingga kepada pengharaman karena sebab, seperti karena radha‘ (persusuan) dan mushaharah (hubungan pernikahan), sedangkan ‘itq terbatas pada sebab tersebut, sehingga juga terbatas pada nasab. Meskipun Ibrahim an-Nakha‘i telah membebaskan setiap perempuan yang haram dinikahi karena nasab dan sebab, namun Abu Hanifah tidak membebaskan perempuan yang haram dinikahi karena sebab, seperti radha‘ atau mushaharah, melainkan hanya membebaskannya karena nasab, yaitu karena hubungan ayah atau anak. Maka, menjadikan nasab sebagai alasan (‘illat) lebih utama daripada menjadikan pengharaman sebagai alasan.

فَصْلٌ

Bagian

إِذَا زَنَى وَأَوْلَدَ بِنْتًا لَمْ تَعْتِقْ عَلَيْهِ إِذَا مَلَكَهَا

Jika seseorang berzina lalu memiliki anak perempuan dari perzinaan itu, maka anak perempuan tersebut tidak menjadi merdeka baginya apabila ia memilikinya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَعْتِقُ عَلَيْهِ احْتِجَاجًا بِأَنَّهَا مَخْلُوقَةٌ مِنْ مَائِهِ كَالْمَوْلُودَةِ مِنْ نِكَاحٍ

Abu Hanifah berpendapat bahwa budak perempuan itu menjadi merdeka baginya, dengan alasan bahwa ia diciptakan dari air mani laki-laki tersebut, sebagaimana anak yang lahir dari pernikahan.

وَدَلِيلُنَا أَنَّهَا وِلَادَةٌ لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا ثُبُوتُ النَّسَبِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا وُقُوعُ الْعِتْقِ قِيَاسًا عَلَى الْمَزْنِيِّ بِهَا إِذَا كَانَتْ ذَاتَ زَوْجٍ وَلِأَنَّ مَا لَمْ يَسْتَحِقَّ بِهِ النَّفَقَةَ لَمْ يَقَعْ بِهِ الْعِتْقُ قِيَاسًا عَلَى غَيْرِ ذِي الْمَحْرَمِ

Dalil kami adalah bahwa itu merupakan kelahiran yang tidak berkaitan dengan penetapan nasab, maka tidak pula berkaitan dengannya terjadinya pembebasan budak, berdasarkan qiyās dengan perempuan yang berzina jika ia memiliki suami. Dan karena sesuatu yang tidak berhak mendapatkan nafkah, maka tidak terjadi pembebasan budak dengannya, berdasarkan qiyās dengan selain mahram.

وَالْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jawaban terhadap qiyās-nya ada dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا الِامْتِنَاعُ مِنْ تَسْلِيمِ خَلْقِهَا مِنْ مَائِهِ

Salah satunya adalah menahan diri untuk tidak menyerahkan makhluk yang berasal dari airnya.

وَالثَّانِي أَنَّ لِمَائِهِ فِي الزَّوْجَةِ حُرْمَةٌ تُوجِبُ ثُبُوتَ النَّسَبِ فَأَوْجَبَتْ وُقُوعَ الْعِتْقِ وَلَيْسَ لِمَائِهِ فِي الزَّانِيَةِ حُرْمَةٌ يَثْبُتُ بِهَا النَّسَبُ فَلَمْ يَكُنْ لَهُ حُرْمَةٌ يَقَعُ بِهَا الْعِتْقُ

Kedua, bahwa air mani seorang suami pada istrinya memiliki kehormatan yang menyebabkan nasab dapat ditetapkan, sehingga hal itu mewajibkan terjadinya pembebasan (’itq). Sedangkan air mani pada perempuan pezina tidak memiliki kehormatan yang dapat menetapkan nasab, maka tidak ada kehormatan yang menyebabkan terjadinya pembebasan (’itq) padanya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الَّذِي يُعْتَقُ بِالْمِلْكِ هُمُ الْوَالِدُونَ وَالْمَوْلُودُونَ خَاصَّةً دُونَ غَيْرِهِمْ مِنْ جَمِيعِ الْأَقَارِبِ وَالْمُنَاسِبِينَ فَبِأَيِّ سَبَبٍ مَلَكَهُمْ مِنِ ابْتِيَاعٍ أَوْ هِبَةٍ أَوْ مِيرَاثٍ عَتَقُوا بِهِ

Apabila telah dipastikan bahwa yang merdeka karena kepemilikan hanyalah orang tua dan anak-anak saja, tidak termasuk selain mereka dari seluruh kerabat dan keluarga, maka dengan sebab apa pun mereka dimiliki, baik melalui pembelian, hibah, atau warisan, mereka menjadi merdeka karenanya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا عَتَقُوا بِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hal yang menyebabkan mereka merdeka, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمْ عَتَقُوا عَلَيْهِ بِالسَّبَبِ الَّذِي مَلَكَهُمْ بِهِ فَإِنْ مَلَكَهُمْ بِابْتِيَاعٍ كَانَ الْعَقْدُ مُوجِبًا لِلْمِلْكِ وَالْعِتْقِ فَعَلَى هَذَا يَسْقُطُ فِيهِ خِيَارُ الْبَائِعِ وَالْمُشْتَرِي وَيَكُونُ حُكْمُ هَذَا الِابْتِيَاعِ جَارِيًا مَجْرَى قَوْلِهِ لِلْبَائِعِ أَعْتِقْ عَبْدَكَ عَنِّي بِأَلْفٍ فَلَا يَكُونُ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا فِيهِ خِيَارٌ بَعْدَ عِتْقِهِ

Salah satu di antaranya adalah bahwa mereka telah merdeka atasnya karena sebab yang dengannya ia memiliki mereka. Jika ia memiliki mereka melalui pembelian, maka akad tersebut menyebabkan kepemilikan dan kemerdekaan. Dengan demikian, hak khiyār bagi penjual dan pembeli gugur dalam hal ini, dan hukum pembelian ini berlaku seperti ucapannya kepada penjual, “Merdekakanlah hambamu dariku dengan seribu (dirham),” sehingga tidak ada hak khiyār bagi salah satu dari mereka setelah hamba itu dimerdekakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُمْ عَتَقُوا بَعْدَ اسْتِقْرَارِ الْعَقْدِ الَّذِي مَلَكَهُمْ بِهِ لِيَكُونَ بِالْعَقْدِ مَالِكًا وَبِالْمِلْكِ مُعْتِقًا لِأَنَّ الْعَقْدَ الْوَاحِدَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مُوجِبًا لِإِثْبَاتِ الْمِلْكِ وَلِإِزَالَتِهِ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ لِتَنَافِيهِمَا فَعَلَى هَذَا يَثْبُتُ فِيهِ خِيَارُ الْمَجْلِسِ فِي حَقِّ الْبَائِعِ وَفِي ثُبُوتِهِ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِي وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ هَلْ يَمْلِكُ بِالْعَقْدِ أَوْ بِنَفْسِ الْخِيَارِ

Adapun alasan kedua adalah bahwa mereka (budak-budak itu) dimerdekakan setelah akad yang menetapkan kepemilikan atas mereka menjadi tetap, sehingga dengan akad tersebut seseorang menjadi pemilik, dan dengan kepemilikan itu pula ia dapat memerdekakan. Karena satu akad tidak boleh sekaligus menjadi sebab penetapan kepemilikan dan penghapusannya dalam satu waktu, sebab keduanya saling bertentangan. Berdasarkan hal ini, dalam kasus ini berlaku khiyār majlis bagi penjual, sedangkan mengenai keberlakuannya bagi pembeli terdapat dua pendapat yang berbeda, yaitu apakah kepemilikan diperoleh dengan akad atau dengan adanya khiyār itu sendiri.

أَحَدُهُمَا لَا خِيَارَ لَهُ إِذَا جُعِلَ مَالِكًا بِالْعَقْدِ فَإِنِ اخْتَارَ الْبَائِعُ الْفَسْخَ انْتَقَضَ بِهِ الْعِتْقُ وَإِنِ اخْتَارَ الْإِمْضَاءَ اسْتَقَرَّ الْعِتْقُ

Salah satunya adalah tidak ada hak khiyar baginya apabila ia dijadikan sebagai pemilik melalui akad. Jika penjual memilih untuk membatalkan, maka pembebasan budak (’itq) menjadi batal karenanya. Namun jika penjual memilih untuk melanjutkan (akad), maka pembebasan budak tersebut tetap berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَهُ الْخِيَارُ إِذَا جُعِلَ مَالِكًا بِانْقِضَاءِ الْخِيَارِ وَيَكُونُ خِيَارُهُ مُسْتَحَقًّا وَلَهُ الْفَسْخُ بِهِ مَا لَمْ يَخْتَرِ الْبَائِعُ الْإِمْضَاءَ فَإِذَا اخْتَارَ الْإِمْضَاءَ سَقَطَ خِيَارُ الْمُشْتَرِي وَكَانَ إِمْضَاءُ الْبَائِعِ قَطْعًا لِخِيَارِهِ وَخِيَارِ الْمُشْتَرِي

Pendapat kedua, pembeli memiliki hak khiyār jika ia dijadikan sebagai pemilik setelah berakhirnya masa khiyār, dan hak khiyār tersebut menjadi hak yang melekat padanya. Ia berhak membatalkan akad selama penjual belum memilih untuk melangsungkan akad. Jika penjual memilih untuk melangsungkan akad, maka hak khiyār pembeli gugur, dan keputusan penjual untuk melangsungkan akad menjadi pemutus hak khiyār bagi dirinya sendiri maupun bagi pembeli.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا وُهِبَ لَهُ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ بِالْعَقْدِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ بِالْقَبْضِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِالْقَبْضِ مَالِكًا

Dan apabila seseorang diberi hibah seorang yang jika dimilikinya akan menyebabkan ‘itq (pembebasan budak) atasnya, baik dari orang tua maupun anak, maka tidak terjadi ‘itq atasnya dengan akad hibah, tetapi terjadi ‘itq atasnya dengan qabdh (penguasaan fisik), karena dengan qabdh itu ia menjadi pemilik.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْهِبَةَ تُوجِبُ الْمُكَافَأَةُ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا وَكَانَ فِي الْقَبُولِ مُخَيَّرًا

Jika dikatakan bahwa hibah mewajibkan adanya imbalan, maka penerima hibah tidak wajib menerimanya dan ia diberi pilihan dalam menerima hibah tersebut.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْمُكَافَأَةَ لَا تَجِبُ فَفِي وُجُوبِ قَبُولِهَا وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa imbalan tidak wajib, maka dalam kewajiban menerimanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْقَبُولُ لِيَعْتِقَ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ مَأْخُوذٌ بِحَقِّهِ فَعَلَى هَذَا لَوْ قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ إِنْ شِئْتَ فَعَلَيْهِ أَنْ يَشَاءَ لِيُعْتَقَ بِالْمَشِيئَةِ

Salah satunya wajib menerima agar orang yang tertahan karena haknya dapat merdeka. Berdasarkan hal ini, jika seorang tuan berkata kepada hambanya, “Engkau merdeka jika engkau menghendaki,” maka hamba tersebut wajib menghendaki agar ia dapat merdeka dengan kehendaknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْقَبُولُ لِمَا يَتَعَلَّقُ عَلَيْهِ بِالْقَبُولِ مِنْ حُقُوقٍ لَا تَجِبُ عَلَيْهِ قَبْلَ الْقَبُولِ فَعَلَى هَذَا إِنْ قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ إِنْ شِئْتَ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ أَنْ يَشَاءَ وَكَانَ فِي الْمَشِيئَةِ مُخَيَّرًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak wajib baginya untuk menerima, karena hak-hak yang berkaitan dengan penerimaan itu tidak wajib atasnya sebelum ia menerima. Berdasarkan hal ini, jika seorang tuan berkata kepada hambanya, “Engkau merdeka jika engkau menghendaki,” maka tidak wajib bagi sang hamba untuk menghendaki, dan dalam hal kehendak tersebut ia diberi pilihan.

وَإِذَا وَصَّى لَهُ بِمَنْ يَعْتِقُ عَلَيْهِ فَلَيْسَ فِي قَبُولِ الْوَصِيَّةِ مُكَافَأَةٌ وَفِي وُجُوبِ قَبُولِهَا وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى

Dan apabila seseorang berwasiat kepada orang yang akan memerdekakan budak atasnya, maka dalam menerima wasiat tersebut tidak terdapat unsur imbalan. Adapun mengenai kewajiban menerima wasiat itu, terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ابْتَاعَ فِي مَرَضِهِ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ كَانَ ثَمَنُهُ مُعْتَبَرًا مِنْ ثُلُثِهِ كَعِتْقِهِ فِي مَرَضِهِ فَإِنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ مَعَ الِابْتِيَاعِ عَتَقَ عَلَيْهِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَوْرِيثِهِ فَذَهَبَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَجُمْهُورُهُمْ إِلَى أَنَّهُ لَا يُورَثُ لِأَنَّ عِتْقَهُ لَمَّا اعْتُبِرَ مِنَ الثُّلُثِ كَانَ وَصِيَّةً لَهُ وَلَا تَجْتَمِعُ الْوَصِيَّةُ وَالْمِيرَاثُ

Jika seseorang dalam keadaan sakit membeli budak yang jika dimerdekakan akan menjadi mahramnya, seperti orang tua atau anak, maka harga budak tersebut dihitung dari sepertiga hartanya, sebagaimana jika ia memerdekakannya saat sakit. Jika sepertiga harta cukup untuk menutupi harga budak tersebut beserta pembeliannya, maka budak itu menjadi merdeka baginya. Para ulama kami berbeda pendapat tentang apakah budak tersebut berhak mewarisi. Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan mayoritas ulama berpendapat bahwa budak tersebut tidak berhak mewarisi, karena kemerdekaannya yang dihitung dari sepertiga harta dianggap sebagai wasiat baginya, dan wasiat tidak dapat digabungkan dengan warisan.

وَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ منهم أبو الحسين بْنُ اللَّبَّانِ الْفَرَضِيُّ إِلَى أَنَّهُ يُورَثُ لِأَنَّ المعتبر من الثلث من هُوَ الثَّمَنُ وَهُوَ حَقٌّ لِلْبَائِعِ فَخَرَجَ أَنْ يَكُونَ وَصِيَّةً لِهَذَا الْمُعْتِقِ فَإِنْ ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْ ثَمَنِهِ وَلَمْ يَمْلِكْ غَيْرَهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Dan sekelompok ulama, di antaranya Abu al-Husain bin al-Labbān al-Faradhi, berpendapat bahwa ia (orang yang memerdekakan budak) mendapatkan warisan, karena yang menjadi ukuran dari sepertiga harta adalah harga (budak) tersebut, dan itu merupakan hak bagi penjual. Maka hal itu menjadi wasiat bagi orang yang memerdekakan tersebut. Jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk harga budak itu dan ia tidak memiliki harta lain, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَمْضِي الْبَيْعُ فِي جَمِيعِهِ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ لِوَرَثَتِهِ لِيَصِيرَ لَهُمْ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِمْ عَتَقَ مِنْ مِلْكِهِمْ وَكَانَ لَهُمْ وَلَاءُ ثُلُثَيْهِ وَلِلْمُورِثِ وَلَاءُ ثُلُثِهِ وَإِنْ كَانُوا مِمَّنْ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِمْ كَانَ ثُلُثَاهُ بَاقِيًا عَلَى رِقِّهِمْ

Salah satu dari keduanya adalah akad jual beli tetap berlaku secara keseluruhan, sepertiga dari budak tersebut merdeka atas nama pembeli, dan dua pertiganya menjadi milik ahli warisnya, agar mereka memperoleh bagian yang setara dengan bagian yang telah dimerdekakan darinya. Jika ahli waris termasuk orang yang menyebabkan kemerdekaan (yaitu, termasuk yang berhak memerdekakan), maka bagian yang mereka miliki menjadi merdeka dari kepemilikan mereka, dan mereka memperoleh hak wala’ atas dua pertiganya, sedangkan hak wala’ sepertiganya menjadi milik pewaris. Namun, jika mereka termasuk orang yang tidak menyebabkan kemerdekaan, maka dua pertiganya tetap berada dalam status budak di bawah kepemilikan mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَمْضِي الْبَيْعُ فِي ثُلُثِهِ وَيُفْسَخُ فِي ثُلُثَيْهِ إِذَا رَضِيَ الْبَائِعُ بِتَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ عَلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَرْضَ بِتَفْرِيقِهَا فَفِي فَسْخِهِ وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي عِتْقِهِ هَلْ وَقَعَ بِالْعَقْدِ أَوْ بَعْدَ اسْتِقْرَارِهِ

Pendapat kedua adalah bahwa jual beli sah pada sepertiganya dan dibatalkan pada dua pertiganya jika penjual ridha dengan pemisahan transaksi tersebut atas dirinya. Namun, jika ia tidak ridha dengan pemisahan itu, maka dalam pembatalannya terdapat dua pendapat, yang bersumber dari perbedaan dua pendapat dalam masalah pembebasan budak: apakah pembebasan itu terjadi dengan akad atau setelah akad tersebut menjadi tetap.

أَحَدُهُمَا لَيْسَ لَهُ الْفَسْخُ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ وَقَعَ بِالْعَقْدِ

Salah satunya tidak memiliki hak untuk membatalkan jika dikatakan bahwa pembebasan budak terjadi melalui akad.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَهُ الْفَسْخُ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعِتْقَ وَقَعَ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ الْعَقْدِ

Adapun pendapat kedua baginya adalah fasakh jika dikatakan bahwa pembebasan budak terjadi setelah akad menjadi tetap.

فَإِنْ جُوِّزَ لَهُ الْفَسْخُ فَفَسَخَ عَادَ رَقِيقًا إِلَى مِلْكِ الْبَائِعِ وَعَادَ إِلَى الْوَرَثَةِ جَمِيعُ الثَّمَنِ

Jika ia diizinkan untuk membatalkan (akad) lalu ia membatalkannya, maka budak tersebut kembali menjadi milik penjual dan seluruh harga (jual beli) kembali kepada para ahli waris.

وَإِنْ مُنِعَ مِنَ الْفَسْخِ أَمْضَى الْبَيْعَ فِي ثُلُثِهِ وَعَتَقَ عَلَى مُشْتَرِيهِ وَفَسَخَ الْبَيْعَ فِي ثُلُثَيْهِ وَرُدَّ عَلَى بَائِعِهِ وَاسْتُرْجِعَ مِنْهُ ثُلُثَا الثَّمَنِ وَلَمْ يُجْعَلْ لَهُمْ ثُلُثَا الرَّقَبَةِ لِأَنَّهُمْ لَا يَمْلِكُونَ بِالْمِيرَاثِ إِلَّا مَا مَلَكَهُ الْمَوْرُوثُ وَالْمَوْرُوثُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَقِرَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَسْتَقِرَّ مِلْكُ وَرَثَتِهِ عَلَيْهِ فَلِذَلِكَ عَدَلَ عَنْ تَوْرِيثِ رَقَبَتِهِ إِلَى تَوْرِيثِ ثَمَنِهِ وَإِنْ كَانَ ثُلُثَاهُ مُسْتَرَقًّا فِي الْحَالَيْنِ

Jika ia tidak diperbolehkan melakukan fasakh, maka jual beli tetap berlaku pada sepertiganya dan budak tersebut merdeka atas pembelinya, sedangkan jual beli dibatalkan pada dua pertiganya dan dikembalikan kepada penjualnya, serta dua pertiga harga dikembalikan darinya. Tidak dijadikan bagi mereka dua pertiga kepemilikan budak, karena mereka tidak mewarisi kecuali apa yang dimiliki oleh pewaris, dan tidak sah kepemilikan tetap atas budak tersebut bagi pewaris, sehingga kepemilikan para ahli waris pun tidak tetap atasnya. Oleh karena itu, dialihkan dari mewarisi kepemilikan budak kepada mewarisi harganya, meskipun dua pertiganya tetap berstatus budak dalam kedua keadaan tersebut.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا اشْتَرَى أَبَاهُ فِي مَرَضِهِ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَقِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ مِائَةَ دِرْهَمٍ فَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Dan apabila seseorang membeli ayahnya saat ayahnya sedang sakit dengan harga dua ratus dirham, sementara nilai sebenarnya seratus dirham, dan ia meninggalkan seratus dirham, maka menurut para ulama kami terdapat tiga pendapat dalam masalah ini.

أَحَدُهَا يُجْعَلُ الْعِتْقُ مَقْسُومًا عَلَى الْعِتْقِ وَالْمُحَابَاةِ وَالْعِتْقُ مِائَةٌ وَالْمُحَابَاةُ مِائَةٌ وَالتَّرِكَةُ ثَلَاثُمِائَةٍ فَيُعْتَقُ مِنَ الْأَبِ نِصْفُهُ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ نِصْفُهَا عِتْقٌ وَنِصْفُهَا مُحَابَاةٌ وَيُفْسَخُ الْبَيْعُ فِي نِصْفِهِ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ يُدْفَعُ إِلَى وَرَثَتِهِ مَعَ الْمِائَةِ الَّتِي تَرَكَهَا يَصِيرُ مَعَهُمْ مِائَتَا دِرْهَمٍ هِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْعِتْقِ وَالْمُحَابَاةِ

Salah satu caranya adalah menjadikan pembebasan budak (al-‘itq) terbagi antara pembebasan dan pemberian secara cuma-cuma (al-muhābāh). Pembebasan budak seratus, pemberian cuma-cuma seratus, dan harta warisan tiga ratus. Maka dari ayah dibebaskan setengahnya dengan seratus dirham, setengahnya pembebasan dan setengahnya pemberian cuma-cuma. Penjualan pada setengahnya dibatalkan dengan seratus dirham yang diberikan kepada ahli warisnya, bersama dengan seratus yang ditinggalkannya, sehingga mereka memiliki dua ratus dirham, yang merupakan dua kali lipat dari apa yang keluar untuk pembebasan dan pemberian cuma-cuma.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي تُقَدَّمُ الْمُحَابَاةُ فِي الثُّلُثِ عَلَى الْعِتْقِ لِأَنَّهَا أَصْلٌ لِلْعِتْقِ وَهِيَ مُسْتَوْعِبَةٌ لِلثُّلُثِ وَيَرِقُّ الْأَبُ لِلْوَرَثَةِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِمْ وَقِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ تُضَمُّ إِلَى الْمِائَةِ يَصِيرُ مَعَهُمْ مِائَتَا دِرْهَمٍ هِيَ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْمُحَابَاةِ

Pendapat kedua, pemihakan (al-muhābāh) dalam sepertiga harta didahulukan atas pembebasan budak (al-‘itq), karena pemihakan merupakan asal dari pembebasan budak dan mencakup seluruh sepertiga harta. Ayah menjadi budak bagi para ahli waris jika ia termasuk orang yang tidak dimerdekakan untuk mereka, dan nilainya seratus dirham digabungkan dengan seratus dirham lainnya, sehingga bersama mereka menjadi dua ratus dirham, yaitu sama dengan jumlah yang keluar melalui pemihakan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ يُفْسَخُ فِيهِ الْبَيْعُ وَيُعَادُ إِلَى رِقِّ الْبَائِعِ حَتَّى لا يورث عن غَيْرِ مِلْكٍ وَيَسْتَرْجِعُ الْوَرَثَةُ جَمِيعَ ثَمَنِهِ وَيَبْطُلُ بذلك حكم العتق والمحاباة

Pendapat ketiga menyatakan bahwa akad jual beli dibatalkan dan budak dikembalikan kepada status kepemilikan penjual, agar tidak diwariskan dari sesuatu yang bukan miliknya. Para ahli waris mengambil kembali seluruh harga jualnya, dan dengan demikian batal pula hukum pembebasan budak (’itq) dan pemberian keutamaan (muhābāh) tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ مَلَكَ شِقْصًا مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ بِغَيْرِ مِيرَاثٍ قُوِّمَ عَلَيْهِ مَا بَقِيَ إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَرَقَّ بَاقِيهِ إِنْ كَانَ مُعْسِرًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang memiliki bagian (syiqṣ) dari salah satu mereka bukan karena warisan, maka bagian yang tersisa dinilai (dihitung nilainya) atasnya jika ia mampu (mampu membayar), dan sisanya menjadi budak (raqiq) jika ia tidak mampu (miskin).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا مَلَكَ بِاخْتِيَارِهِ شِقْصًا مِمَّنْ يُعْتِقُ عَلَيْهِ بِالْمِلْكِ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ عَتَقَ مَا مَلَكَهُ مِنْهُ كَمَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ إِذَا مَلَكَهُ كُلَّهُ وَكَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ شِقْصًا لَهُ مِنْ عَبْدٍ وَيُعْتَبَرُ حَالُهُ بَعْدَ عِتْقِ الشِّقْصِ عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ مُوسِرًا لِقِيمَةِ بَاقِيهِ قُوِّمَ عَلَيْهِ وَعَتَقَ جَمِيعُهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا بِهِ رَقَّ بَاقِيهِ لِمَالِكِهِ وَكَانَ الْعِتْقُ بِالْمِلْكِ وَإِنْ لَمْ يَتَلَفَّظْ بِهِ جَارِيًا مَجْرَى عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ إِذَا تَلَفَّظَ بِهِ وَسَوَاءٌ مَلَكَ الشِّقْصَ بِعَقْدِ مُعَاوَضَةٍ مِنْ بَيْعٍ أَوْ صُلْحٍ أَوْ مَلَكَهُ بِغَيْرِ مُعَاوَضَةٍ مِنْ هِبَةٍ أَوْ وَصِيَّةٍ لِثُبُوتِ مِلْكِهِ فِي الْحَالَيْنِ فَاسْتَوَيَا فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ وَوُجُوبِ التَّقْوِيمِ وَلَوْ كَانَ مَحْجُورًا عَلَيْهِ بِالسَّفَهِ لَمْ يَصِحَّ أَنْ يَمْلِكَهُ بِعَقْدِ مُعَاوَضَةٍ وَصَحَّ أَنْ يَمْلِكَهُ بِهِبَةٍ أَوْ وَصِيَّةٍ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ مَا مَلَكَ مِنْهُ وَفِي تَقْوِيمِ بَاقِيهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مُوسِرًا بِهِ وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: “Hal ini benar, yaitu apabila seseorang dengan pilihannya sendiri memiliki bagian (syiqsh) dari orang yang jika ia memilikinya maka orang itu menjadi merdeka karena sebab kepemilikan, seperti ayah atau anak, maka bagian yang ia miliki dari orang tersebut menjadi merdeka, sebagaimana jika ia memiliki seluruhnya. Keadaannya seperti orang yang memerdekakan bagian miliknya dari seorang budak. Keadaan setelah memerdekakan bagian tersebut diperhatikan: jika ia mampu membayar nilai sisa bagian lainnya, maka sisa bagian itu dinilai dan seluruhnya menjadi merdeka; namun jika ia tidak mampu, maka sisa bagian itu tetap menjadi milik pemiliknya dan statusnya tetap sebagai budak. Pembebasan budak karena sebab kepemilikan ini terjadi meskipun tanpa diucapkan secara lisan, dan hukumnya sama seperti pembebasan langsung jika diucapkan secara lisan. Baik ia memperoleh bagian tersebut melalui akad mu‘awadhah seperti jual beli atau sulh, maupun tanpa mu‘awadhah seperti hibah atau wasiat, karena kepemilikannya sah dalam kedua keadaan tersebut, sehingga keduanya sama dalam terjadinya pembebasan dan kewajiban penilaian (taqwīm). Jika orang tersebut sedang berada dalam status mahjur ‘alaih karena safih (tidak cakap mengelola harta), maka tidak sah baginya memiliki bagian tersebut melalui akad mu‘awadhah, namun sah jika melalui hibah atau wasiat, dan bagian yang ia miliki menjadi merdeka. Adapun mengenai penilaian sisa bagian jika ia mampu membayarnya, terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا لَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ بِالْحَجْرِ كَالْمُعْسِرِ

Salah satunya tidak dapat dinilai atasnya karena dengan adanya hajr, ia seperti orang yang mengalami kesulitan (mu‘sir).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُقَوَّمُ عَلَيْهِ لِاسْتِحْقَاقِهِ بِالشَّرْعِ كالنفقات وأروش الجنايات

Pendapat kedua didasarkan atas hak yang diperoleh melalui syariat, seperti nafkah dan diyat atas tindak pidana.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ وَرِثَ مِنْهُ شِقْصًا عَتَقَ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ وَإِنْ وُهِبَ لِصَبِيٍّ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mewarisi sebagian (saham) dari budak yang jika ia memilikinya seluruhnya maka budak itu akan merdeka, maka budak itu menjadi merdeka dan tidak dikenakan taksiran harga atasnya. Dan jika diberikan sebagai hibah kepada seorang anak kecil (yang jika ia memilikinya seluruhnya maka budak itu akan merdeka), maka berlaku hukum yang sama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ لِأَنَّهُ يَمْلِكُ بِالْمِيرَاثِ مِنْ غَيْرِ اخْتِيَارٍ فَعَتَقَ عَلَيْهِ مَا وَرِثَهُ مِنْهُ لِدُخُولِهِ فِي مِلْكِهِ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ مَا بَقِيَ مِنْهُ لِعَدَمِ اخْتِيَارِهِ كَمَنْ وَصَّى بِعِتْقِ عَبْدِهِ وَخَرَجَ بَعْضُهُ مِنْ ثُلُثِهِ رَقَّ بَاقِيهِ لِوَرَثَتِهِ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِمْ فِي عِتْقِهِ لِدُخُولِهِ فِي مِلْكِهِمْ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِمْ فَلَوِ ابْتَاعَ شِقْصًا مِنْ أَبِيهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ أَنَّهُ أَبُوهُ ثُمَّ عَلِمَ عَتَقَ عَلَيْهِ مَا مَلَكَهُ مِنْهُ وَقُوِّمَ عَلَيْهِ بَاقِيهِ لِأَنَّهُ مَلَكَهُ بِاخْتِيَارِهِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ بِاخْتِيَارِهِ وَالتَّقْوِيمُ مُعْتَبَرٌ بِاخْتِيَارِ الْمِلْكِ وَلَا يُعْتَبَرُ بِاخْتِيَارِ الْعِتْقِ

Al-Mawardi berkata, “Pendapatnya benar, karena seseorang memiliki (budak) melalui warisan tanpa pilihan, maka budak yang diwarisinya itu merdeka baginya karena telah masuk dalam kepemilikannya, dan tidak dikenakan penilaian harga atas sisa budak tersebut karena ia memperolehnya tanpa pilihan, sebagaimana seseorang yang berwasiat untuk memerdekakan budaknya, lalu sebagian budak itu keluar dari sepertiga hartanya, maka sisa budak itu tetap menjadi milik ahli warisnya dan tidak dikenakan penilaian harga atas mereka dalam proses pembebasan, karena mereka masuk dalam kepemilikan ahli waris tanpa pilihan mereka. Namun, jika seseorang membeli bagian (budak) dari ayahnya tanpa mengetahui bahwa itu ayahnya, lalu kemudian ia mengetahuinya, maka bagian yang ia miliki dari budak itu menjadi merdeka baginya, dan ia wajib membayar harga atas sisa bagian budak tersebut, karena ia memilikinya dengan pilihannya sendiri dan pembebasan itu terjadi atas pilihannya. Penilaian harga (taqwīm) itu diperhitungkan berdasarkan pilihan dalam kepemilikan, bukan berdasarkan pilihan dalam pembebasan.”

وَلَوْ غُنِمَ أَبُوهُ وَهُوَ أَحَدُ شُرَكَاءِ غَانِمِيهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْغَنِيمَةِ غَيْرُ أَبِيهِ أَحَدٌ تَعَيَّنَ حَقُّهُ فِيهِ فَيُنْظَرُ فَإِنْ بَاشَرَ غَنِيمَتَهُ عَتَقَ عَلَيْهِ سَهْمُهُ مِنْهُ وَقُوِّمَ عَلَيْهِ بَاقِيهِ لِأَنَّهُ قَدْ مَلَكَهُ بِاخْتِيَارِهِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ وَإِنْ غَنِمَهُ شُرَكَاؤُهُ وَلَمْ يُبَاشِرْ غَنِيمَتَهُ عَتَقَ عَلَيْهِ سَهْمُهُ مِنْهُ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ بَاقِيهِ لِأَنَّهُ مَلَكَهُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ

Jika ayahnya menjadi tawanan perang dan ia adalah salah satu dari para penawan, maka jika dalam harta rampasan perang itu tidak ada selain ayahnya, haknya atas bagian tersebut menjadi pasti. Maka, diperhatikan: jika ia secara langsung mengambil bagian rampasannya, maka bagian miliknya dari ayahnya menjadi merdeka baginya, dan ia wajib membayar nilai sisanya, karena ia memilikinya dengan pilihannya sendiri, dan ayahnya menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya, meskipun ia tidak mengetahuinya. Namun jika yang menawan ayahnya adalah para sekutunya dan ia tidak secara langsung mengambil bagian rampasannya, maka bagian miliknya dari ayahnya menjadi merdeka baginya dan ia tidak wajib membayar nilai sisanya, karena ia memilikinya tanpa pilihannya, dan ayahnya menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya.

وَإِنْ كَانَ فِي الْغَنِيمَةِ غَيْرُ أَبِيهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا يَمْلِكُهُ الْغَانِمُونَ بِحُضُورِ الْوَقْعَةِ وَإِجَازَةُ الْغَنَائِمِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika dalam ghanīmah terdapat selain ayahnya, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai apa yang dimiliki oleh para pemenang (al-ghānimūn) karena hadir dalam pertempuran dan disyariatkannya pembagian ghanā’im, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمْ مَلَكُوا بِالْحُضُورِ أَنَّ يَتَمَلَّكُوا الْغَنِيمَةَ وَلَا يَمْلِكُونَهَا إِلَّا بِالْقِسْمَةِ فَعَلَى هذا ينظر

Salah satunya adalah bahwa mereka memiliki (hak) dengan hadir (di medan perang) untuk memiliki harta rampasan perang, namun mereka tidak benar-benar memilikinya kecuali setelah pembagian. Maka berdasarkan hal ini, diperhatikan…

فَإِنْ حَصَلَ أَبُوهُ فِي سَهْمِ غَيْرِهِ لَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْهُ وَإِنْ حَصَلَ فِي سَهْمِهِ عَتَقَ عَلَيْهِ وَإِنْ حَصَلَ بَعْضُهُ فِي سَهْمِهِ قُوِّمَ عَلَيْهِ بَاقِيهِ سَوَاءٌ بَاشَرَ غَنِيمَتَهُ أَوْ لَمْ يُبَاشِرْهَا لِأَنَّهُ بِأَخْذِهِ فِي سَهْمِهِ قَدْ صَارَ مَالِكًا لَهُ بِاخْتِيَارِهِ

Jika ayahnya didapatkan pada bagian (harta rampasan) milik orang lain, maka tidak ada bagian darinya yang menjadi merdeka baginya. Namun jika ayahnya didapatkan pada bagiannya, maka ia menjadi merdeka baginya. Jika sebagian dari ayahnya didapatkan pada bagiannya, maka ia harus menaksir (membayar) sisa bagian tersebut, baik ia secara langsung mengambil bagian rampasan itu maupun tidak, karena dengan mengambilnya pada bagiannya, ia telah menjadi pemiliknya secara pilihan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُمْ قَدْ مَلَكُوا الْغَنِيمَةَ بِالْحُضُورِ قَبْلَ الْقِسْمَةِ سَائِغَةً بَيْنَهُمْ فِي جَمِيعِ الْأَصْنَافِ ثُمَّ تَنْتَقِلُ بِالْقِسْمَةِ إِلَى مَا تَعَيَّنَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ كَمَا لَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الْقِسْمَةِ غَيْرُ أَبِيهِ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ سَهْمُهُ قَبْلَ الْقِسْمَةِ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَاقِيهِ إِذَا لَمْ يُبَاشِرْ غَنِيمَتَهُ إِلَّا أَنْ يَحْصُلَ بِالْقِسْمَةِ في سهمه فيعتق بها

Pendapat kedua adalah bahwa mereka telah memiliki harta rampasan perang dengan kehadiran sebelum pembagian, yang sah di antara mereka dalam semua jenisnya. Kemudian, dengan pembagian, harta itu berpindah kepada apa yang telah ditetapkan untuk masing-masing dari mereka. Berdasarkan hal ini, keadaannya seperti seolah-olah dalam pembagian itu tidak ada selain ayahnya, maka bagian ayahnya menjadi merdeka atasnya sebelum pembagian dan tidak diwajibkan menebus sisanya jika ia tidak secara langsung mengambil harta rampasannya, kecuali jika dengan pembagian bagian itu jatuh pada bagiannya, maka ia menjadi merdeka karenanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه أَوْ أَوْصَى لَهُ بِهِ وَلَا مِلْكَ لَهُ وَلَهُ وَصِيٌّ كَانَ عَلَيْهِ قَبُولُ هَذَا كُلِّهِ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَقْبَلَ لِأَنَّ عَلَى الْمُوسِرِ عِتْقَ مَا بَقِيَ وَإِنْ قَبِلَهُ فَمَرْدُودٌ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْوَصَايَا يُعْتَقُ مَا مَلَكَ الصَّبِيُّ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Atau jika seseorang mewasiatkan budak itu kepadanya, sedangkan ia tidak memiliki kepemilikan atas budak tersebut, namun ia memiliki seorang wali, maka wajib bagi wali tersebut untuk menerima semua ini, dan budak itu menjadi merdeka atas tanggungannya. Jika ia adalah orang yang mampu (mampu secara finansial), maka ia tidak boleh menerimanya, karena bagi orang yang mampu wajib memerdekakan sisa budak yang ada. Jika ia tetap menerimanya, maka itu ditolak. Dan beliau berkata dalam Kitab al-Waṣāyā: Budak yang dimiliki oleh anak kecil itu dimerdekakan, dan tidak diberlakukan penilaian harga atasnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مَوْلَى عَلَيْهِ لِصِغَرٍ أَوْ جُنُونٍ وُهِبَ لَهُ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ أَوْ وُصِّيَ لَهُ بِهِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah pada seorang maula yang berada di bawah perwaliannya karena masih kecil atau karena gila, lalu diberikan kepadanya (dengan hibah) seseorang yang jika dimilikinya akan menyebabkan orang itu merdeka, baik dari ayah, anak, atau seseorang yang diwasiatkan kepadanya. Maka kasus ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُوهَبَ لَهُ جَمِيعُهُ فَإِنْ وُهِبَ لَهُ جَمِيعُ أَبِيهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْأَبِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُكْتَسَبًا أَوْ غَيْرَ مُكْتَسَبٍ

Salah satunya adalah seluruhnya diberikan kepadanya sebagai hibah. Jika seluruh milik ayahnya dihibahkan kepadanya, maka keadaan ayah tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah harta itu hasil usaha (muktasab) atau bukan hasil usaha (ghair muktasab).

فَإِنْ كَانَ مُكْتَسَبًا وَجَبَ عَلَى وَلِيِّ الْمَوْلَى عَلَيْهِ أَنْ يَقْبَلَهُ عَنْهُ سَوَاءٌ كَانَ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا لِأَنَّهُ يَزُولُ بِهِ رِقُّ أَبِيهِ وَيُمْلَكُ بِهِ الْوَلَاءُ عَلَيْهِ وَإِنْ مَاتَ وَرِثَهُ وَإِنْ عَاشَ وَاحْتَاجَ الْوَلَدُ الْتَزَمَ نَفَقَتَهُ فَاسْتَفَادَ بِالْقَبُولِ حُقُوقًا لَمْ يَجُزْ لِلْوَلِيِّ أَنْ يُضَيِّعَهَا عَلَيْهِ فَإِنِ امْتَنَعَ الْوَلِيُّ مِنَ الْقَبُولِ قَبِلَهُ الْحَاكِمُ فِي حَقِّهِ لِظُهُورِ الْمُصْلِحَةِ فِي قَبُولِهِ

Jika harta itu diperoleh (secara usaha), maka wajib bagi wali dari orang yang mendapat wala’ untuk menerimanya atas namanya, baik wali tersebut mampu maupun tidak mampu, karena dengan penerimaan itu status budak ayahnya hilang dan hak wala’ atasnya menjadi milik wali tersebut. Jika ia meninggal, wali tersebut mewarisinya, dan jika ia hidup dan anak itu membutuhkan nafkah, maka wali tersebut wajib menafkahinya. Dengan menerima (wala’) itu, wali memperoleh hak-hak yang tidak boleh ia sia-siakan. Jika wali menolak untuk menerima, maka hakim akan menerimanya atas nama orang tersebut, karena jelas terdapat kemaslahatan dalam penerimaan itu.

وَإِنْ كَانَ الْأَبُ زَمِنًا غَيْرَ مُكْتَسِبٍ لَمْ يَخْلُ حَالُ وَلَدِهِ الْمَوْلَى عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا وَجَبَ عَلَى وَلِيِّهِ أَنْ يَقْبَلَ لَهُ الْوَصِيَّةَ بِهِ لِأَنَّهُ يَسْتَفِيدُ بِالْقَبُولِ عِتْقَ أَبِيهِ وَاسْتِحْقَاقَ الْوَلَاءِ عَلَيْهِ

Jika sang ayah adalah seorang yang lemah dan tidak mampu bekerja, maka keadaan anaknya yang menjadi tuan baginya tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia adalah orang yang mampu atau orang yang tidak mampu. Jika ia tidak mampu, maka wajib bagi walinya untuk menerima wasiat baginya, karena dengan penerimaan itu ia mendapatkan manfaat berupa memerdekakan ayahnya dan memperoleh hak wala’ atasnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُمْنَعَ الْوَلِيُّ مِنْ قَبُولِهِ لِمَا فِي الْقَبُولِ مِنَ الْتِزَامِ نَفَقَتِهِ فَصَارَ عَائِدًا بِالضَّرَرِ عَلَى الْوَلَدِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa wali dilarang menerima (hibah tersebut) karena dalam penerimaan itu terdapat kewajiban menanggung nafkahnya, sehingga hal itu kembali membawa mudarat bagi anak.

فَصْلٌ

Bagian

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ الْهِبَةُ أَوِ الْوَصِيَّةُ بِشِقْصٍ مِنْ أَبِيهِ لَا بِجَمِيعِهِ فَلِلْوَلَدِ حَالَتَانِ مُوسِرٌ وَمُعْسِرٌ

Jenis kedua adalah apabila hibah atau wasiat diberikan berupa sebagian dari harta ayahnya, bukan seluruhnya. Maka, bagi anak terdapat dua keadaan: mampu dan tidak mampu.

فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا وَجَبَ عَلَى وَلِيِّهِ قَبُولُ الْوَصِيَّةِ بِالشِّقْصِ مِنَ الْأَبِ لِأَنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مَا يَمْلِكُهُ بِالْوَصِيَّةِ وَيَمْلِكُ بِهِ الْوَلَاءَ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ الْبَاقِي بِالْإِعْسَارِ فَعَادَ بِنَفْعٍ لَا ضَرَرَ مَعَهُ وَسَوَاءٌ كَانَ الْأَبُ مُكْتَسِبًا أَوْ غَيْرَ مُكْتَسِبٍ لِأَنَّ نَفَقَتَهُ لَا تَلْزَمُهُ مَعَ إِعْسَارِهِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا فَفِي قَبُولِ الْوَلِيِّ لِلشِّقْصِ مِنَ الْأَبِ قَوْلَانِ

Jika ia (anak) dalam keadaan tidak mampu, maka wajib bagi walinya menerima wasiat berupa bagian (syiqsh) dari ayahnya, karena dengan wasiat itu ia dapat memerdekakan apa yang dimilikinya dan mendapatkan hak wala’ (perwalian) darinya, serta tidak dikenakan penilaian (pembebanan harga) atas sisa bagian karena ketidakmampuannya. Maka, hal itu kembali menjadi manfaat tanpa ada mudarat. Sama saja apakah ayahnya bekerja atau tidak, karena nafkahnya tidak wajib atasnya dalam keadaan tidak mampu. Namun, jika ia mampu, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan wali menerima bagian (syiqsh) dari ayahnya.

أَحَدُهُمَا لَا يَقْبَلُهُ لِأَنَّ قَبُولَهُ مُوجِبٌ لِتَقْوِيمِ بَاقِيهِ عَلَى الْوَلَدِ وَذَلِكَ ضَرَرٌ يُثْلَمُ بِهِ مَالُهُ

Salah satunya tidak diterima karena penerimaannya mengharuskan penilaian bagian lainnya atas anak, dan hal itu merupakan mudarat yang dapat mengurangi hartanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَقْبَلُهُ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ الْبَاقِي لِأَنَّهُ بِالْحَجْرِ عَلَيْهِ كَالْمُعْسِرِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia menerima (bagian warisan) dan tidak dikenakan penilaian atas sisanya, karena dengan diberlakukannya hajr atas dirinya, ia seperti orang yang mengalami kesulitan (mu‘sir).

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا لَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ الْبَاقِي لِهَذَا الْمَعْنَى فَلِمَ مَنْعَ الْوَلِيُّ مِنَ الْقَبُولِ فِي الْقَوْلِ الْأَوَّلِ

Jika dikatakan: “Jika sisanya tidak dinilai karena alasan ini, lalu mengapa wali dilarang menerima menurut pendapat pertama?”

قِيلَ لِأَنَّ الْمَنْعَ مِنَ التَّقْوِيمِ اجْتِهَادٌ رُبَّمَا رَأَى بَعْضُ الْحُكَّامِ خِلَافَهُ فَقُوِّمَ فَصَارَ الْقَبُولُ مَعْرَضًا لِدُخُولِ الضَّرَرِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dikatakan bahwa larangan terhadap penilaian (taqwīm) merupakan hasil ijtihad, yang mungkin saja sebagian hakim memiliki pandangan berbeda sehingga dilakukan penilaian. Maka, penerimaan (terhadap penilaian tersebut) menjadi rentan terhadap masuknya mudarat. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

باب في الولاء

Bab tentang al-walā’

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ عَنْ يَعْقُوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan, dari Ya‘qub, dari ‘Abdullāh bin Dīnār, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْوَلَاءُ فَهُوَ مُسْتَحَقٌّ بِالْعِتْقِ يَمْلِكُهُ الْمُعْتِقُ عَلَى مَنْ عَتَقَ عَلَيْهِ بَعْدَ رِقِّهِ مِنْ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمُبَاشَرَةٍ أَوْ سَبَبٍ فِي وَاجِبٍ أَوْ تَطَوُّعٍ يَجْرِي مَجْرَى النَّسَبِ فِي التَّوَارُثِ بِهِ بَعْدَ النَّسَبِ

Al-Mawardi berkata: Adapun walā’, maka ia adalah hak yang diperoleh karena pembebasan budak, yang dimiliki oleh orang yang membebaskan atas orang yang dimerdekakannya setelah sebelumnya menjadi budak, baik laki-laki maupun perempuan, baik secara langsung maupun karena suatu sebab, baik dalam kewajiban maupun sukarela. Walā’ ini berlaku seperti nasab dalam hal pewarisan setelah (hak) nasab.

وَالْأَصْلُ فِي ثُبُوتِهِ بِالسُّنَّةِ مَا رَوَى الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنِ الْعِرَاقِيِّينَ الْحَدِيثُ الْمُقَدَّمُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يؤهب وَلَمْ يَرْوِ الشَّافِعِيُّ عَنِ الْعِرَاقِيِّينَ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَقَدْ طَعَنَ فِيهِ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ وَقَالُوا لَمْ يَرْوِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ هَذَا الْحَدِيثَ وَإِنَّمَا رَوَى عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الْوَلَاءِ وِهِبَتِهِ وَهُوَ الصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ فَغَلَطَ فِيهِ الْعِرَاقِيُّونَ ورَوَوْا عَنْهُ مَا رَوَاهُ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ هِشَامٍ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ فَهُوَ مُرْسَلٌ عَنِ الْحَسَنِ وَهَكَذَا رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ مُرْسَلًا وَقَدْ رَوَاهُ الْحَسَنُ تارة مسنداً عن سمرة ابن جُنْدُبٍ وَأَحَادِيثُ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ مَضْعُوفَةٌ فَغَلِطُوا فِي نَقْلِهِ مِنْ إِسْنَادٍ إِلَى إِسْنَادٍ

Dasar penetapannya dalam sunnah adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i rahimahullah dari kalangan Irak, yaitu hadits yang telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.” Asy-Syafi‘i tidak meriwayatkan dari kalangan Irak selain hadits ini. Namun, para ahli hadits telah mengkritiknya dan mengatakan bahwa ‘Abdullah bin Dinar tidak meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Umar, melainkan yang diriwayatkan darinya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-walā’ dan pemberiannya, dan inilah yang shahih dari Ibnu ‘Umar. Maka, orang-orang Irak keliru dalam hal ini dan mereka meriwayatkan darinya apa yang diriwayatkan oleh Yazid bin Harun dari Hisyam dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.” Maka ini adalah hadits mursal dari al-Hasan, dan demikian pula Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya secara mursal. Al-Hasan juga pernah meriwayatkannya secara musnad dari Samurah bin Jundub, namun hadits-hadits al-Hasan dari Samurah adalah lemah. Maka mereka keliru dalam memindahkan riwayat dari satu sanad ke sanad yang lain.

وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ طَرِيقَيْنِ آخَرَيْنِ

Hadis ini juga telah diriwayatkan melalui dua jalur lain.

أَحَدُهُمَا مَا رَوَاهُ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَلَا يُتَصَدَّقُ بِهِ

Salah satunya adalah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Juraij dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab; tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh disedekahkan.”

وَالثَّانِي مَا رَوَاهُ عُبَيْدُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَإِرْسَالُ هَذَا الْحَدِيثِ أَثْبَتُ مِنْ إِسْنَادِهِ

Yang kedua adalah riwayat dari ‘Ubaid bin al-Qasim, dari Isma‘il bin Abi Khalid, dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.” Pengiriman (riwayat mursal) hadis ini lebih kuat daripada sanadnya.

وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَى ثُبُوتِ الْوَلَاءِ لِلْمُعْتِقِ مَا اشْتُهِرَ نَقْلُهُ فِي الْأَمَةِ أَنَّ عَائِشَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا أَرَادَتْ شِرَاءَ بَرِيرَةَ لِتُعْتِقَهَا فَاشْتَرَطَ مُوَالِيهَا الْوَلَاءَ لَهُمْ فَأَخْبَرْتُ بِذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ اشْتَرِي وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ فَفَعَلَتْ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَ وَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ كِتَابُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُهُ أَوْثَقُ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

Salah satu dalil yang menunjukkan tetapnya hak walā’ bagi orang yang memerdekakan adalah apa yang masyhur diriwayatkan di tengah umat, bahwa ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā ingin membeli Barīrah untuk memerdekakannya. Namun para wali Barīrah mensyaratkan agar hak walā’ tetap bagi mereka. Maka aku (Aisyah) memberitahukan hal itu kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Belilah dan syaratkanlah bagi mereka hak walā’.” Maka aku pun melakukannya. Kemudian beliau naik mimbar, berkhutbah, dan bersabda, “Mengapa ada sekelompok orang yang membuat syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitābullāh? Setiap syarat yang tidak ada dalam Kitābullāh maka itu batil. Kitābullāh lebih berhak dan syarat-Nya lebih kuat. Walā’ itu bagi siapa yang memerdekakan.”

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ لِلْمُعْتِقِ لِإِنْعَامِهِ بِالْعِتْقِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ الأحزاب 37 يَعْنِي زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ أَنْعَمَ الله عليه بالإسلام وأنعم الرسول

Dan kaum Muslimin telah berijmā‘ bahwa hak wala’ menjadi milik orang yang memerdekakan karena kebaikannya dalam memerdekakan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala kepada Rasul-Nya ﷺ: “Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya…” (al-Ahzab: 37), yaitu Zaid bin Haritsah; Allah memberinya nikmat dengan Islam dan Rasul pun memberinya nikmat.

عَلَيْهِ بِالْعِتْقِ وَلِذَلِكَ سُمِّيَ السَّيِّدُ الْمُعْتِقُ الْمَوْلَى الْمُنْعِمُ وَسُمِّيَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ الْمَوْلَى الْمُنْعَمُ عَلَيْهِ لِأَنَّ اسْمَ الْمَوْلَى يَنْطَلِقُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُعْتِقِ وَالْمُعْتَقِ فَاحْتَاجَا لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي اسْمِ الْمَوْلَى إِلَى مَا يَتَمَيَّزَانِ بِهِ فَقِيلَ فِي تمييزهم امولى أَعْلَى وَمَوْلًى أَسْفَلَ وَقِيلَ مَوْلَى نِعْمَةٍ وَمَوْلَى منعم عليه

Karena itu, tuan yang memerdekakan disebut sebagai “mawlā mun‘im” (tuan yang berbuat kebaikan), dan budak yang dimerdekakan disebut sebagai “mawlā mun‘am ‘alayh” (orang yang menerima kebaikan), karena istilah “mawlā” berlaku bagi masing-masing, baik yang memerdekakan maupun yang dimerdekakan. Maka, karena keduanya berbagi dalam penggunaan istilah “mawlā”, diperlukan sesuatu yang membedakan antara keduanya. Oleh karena itu, untuk membedakan mereka, dikatakan “mawlā a‘lā” (mawlā yang lebih tinggi) dan “mawlā asfal” (mawlā yang lebih rendah), atau dikatakan “mawlā ni‘mah” (mawlā pemberi nikmat) dan “mawlā mun‘am ‘alayh” (mawlā yang menerima nikmat).

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ اسْتِحْقَاقُ الْوَلَاءِ لِكُلِّ مُعْتِقٍ فَالَّذِي يُسْتَحَقُّ بِالْوَلَاءِ يَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ

Maka apabila telah tetap hak memperoleh walā’ bagi setiap mu‘tiq, maka yang diperoleh melalui walā’ mencakup tiga hukum.

أَحَدُهَا الْمِيرَاثُ يَرِثُ بِهِ مَا يَرِثُهُ الْعَصَبَاتُ عِنْدَ عَدَمِهِمْ فَيَرِثُ الْأَعْلَى مِنَ الْأَسْفَلِ وَلَا يَرِثُ الْأَسْفَلُ مِنَ الْأَعْلَى فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ وَشَذَّ عَنْهُمْ طَاوُسٌ فَوَرَّثَ الْأَسْفَلَ مِنَ الْأَعْلَى كَمَا وَرَّثَهُ الْأَعْلَى

Salah satunya adalah warisan, di mana seseorang mewarisi sebagaimana para ‘ashabah mewarisi ketika mereka tidak ada. Maka yang lebih tinggi mewarisi dari yang lebih rendah, dan yang lebih rendah tidak mewarisi dari yang lebih tinggi menurut pendapat jumhur. Namun, Thawus menyelisihi mereka dan membolehkan yang lebih rendah mewarisi dari yang lebih tinggi sebagaimana yang lebih tinggi mewarisi.

وَالثَّانِي الْعَقْلُ فِي تَحَمُّلِ دِيَةِ الْخَطَأِ يَعْقِلُ الْأَعْلَى عَنِ الْأَسْفَلِ وَفِي عَقْلِ الْأَسْفَلِ عَنِ الْأَعْلَى قَوْلَانِ لِلشَّافِعِيِّ

Yang kedua adalah ‘aql (tanggungan diyat karena pembunuhan tidak sengaja). Pihak yang lebih tinggi menanggung diyat atas pihak yang lebih rendah, sedangkan mengenai pihak yang lebih rendah menanggung diyat atas pihak yang lebih tinggi, terdapat dua pendapat dari Imam Syafi‘i.

وَالثَّالِثُ الْوِلَايَةُ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ وَالصَّلَاةُ عَلَى الْمَيِّتِ إِذَا عُدِمَ عَصَبَاتُ النَّسَبِ قَامَ الْمَوْلَى الْأَعْلَى فِيهِ مَقَامَهُمْ وَلَا حَقَّ لِلْمَوْلَى الْأَسْفَلِ فِيهِ وَلَا يَجِبُ بِالْوَلَاءِ نَفَقَةٌ وَلَا يَثْبُتُ بِهِ من مَحْرَمٌ وَفِي الْمِيرَاثِ يَسْتَحِقُّهُ الْآبَاءُ ثُمَّ الْأَبْنَاءُ يَتَقَدَّمُونَ بِهِ عَلَى مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ الْعَصَبَاتِ وَالْعَقْلُ لَا يَتَحَمَّلُهُ الْآبَاءُ وَلَا الْأَبْنَاءُ وَيَتَحَمَّلُهُ مَنْ عَدَاهُمْ مِنَ الْعَصَبَاتِ لِرِوَايَةِ خُصَيْفٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ أَنَّ امْرَأَةً أَعْتَقَتْ عَبْدًا لَهَا ثُمَّ تُوُفِّيَتْ وَتَرَكَتِ ابْنَهَا وَأَخَاهَا ثُمَّ تُوُفِّيَ بَعْدَهَا مَوْلَاهَا فَأَتَى ابْنُ الْمَرْأَةِ وَأَخُوهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي مِيرَاثِهَا فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مِيرَاثُهُ لِابْنِ الْمَرْأَةِ فَقَالَ أَخُوهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ جَرَّ جَرِيرَةً عَلَى مَنْ كَانَتْ قَالَ عَلَيْكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ جَرَّ جَرِيرَةً كَانَتْ عَلَيَّ وَيَكُونُ مِيرَاثُهُ لِهَذَا قال نعم

Ketiga, yaitu kewenangan dalam akad nikah dan shalat jenazah: apabila tidak ada ‘ashabah nasab, maka mawla a‘la menempati posisi mereka, dan mawla asfal tidak memiliki hak dalam hal ini. Dengan wala’, tidak wajib memberikan nafkah dan tidak menetapkan status mahram. Dalam warisan, yang berhak adalah ayah-ayah kemudian anak-anak, mereka didahulukan atas selain mereka dari kalangan ‘ashabah. Sedangkan dalam diyat, ayah dan anak tidak menanggungnya, melainkan yang menanggungnya adalah selain mereka dari kalangan ‘ashabah, berdasarkan riwayat Khusaif dari Ziyad bin Abi Maryam bahwa seorang wanita memerdekakan budaknya, lalu ia wafat dan meninggalkan anak laki-laki dan saudaranya. Kemudian setelah itu, mawla-nya juga wafat. Maka anak laki-laki wanita itu dan saudaranya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai warisannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Warisan itu untuk anak laki-laki wanita itu.” Saudaranya berkata, “Wahai Rasulullah, jika ia menanggung diyat, siapa yang menanggungnya?” Beliau bersabda, “Kamu yang menanggungnya.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, jika ia menanggung diyat, aku yang menanggungnya, tetapi warisannya untuk orang ini?” Beliau bersabda, “Ya.”

فَصْلٌ

Bagian

وَلَا يَجُوزُ بَيْعُ الْوَلَاءِ وَلَا هِبَتُهُ وَلَا الْوَصِيَّةُ بِهِ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَحُكِيَ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَالْأَسْوَدِ وَعَلْقَمَةَ وَالشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ أَنَّ بَيْعَ الْوَلَاءِ وهبته الوصية بِهِ جَائِزَةٌ وَأَضَافُوهُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ لِمَا رَوَاهُ عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ وَهَبَتْ مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ورضي عَنْهَا وَلَاءَ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ لِابْنِ عَبَّاسٍ وَكَانَ مُكَاتَبًا لَهَا وَابْنُ عَبَّاسٍ ابْنُ أُخْتِهَا

Tidak diperbolehkan menjual wala’, tidak pula menghadiahkannya, dan tidak pula mewasiatkan tentangnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Diriwayatkan dari ‘Urwah bin Zubair, Sa‘id bin al-Musayyab, al-Aswad, ‘Alqamah, asy-Sya‘bi, dan an-Nakha‘i bahwa jual beli wala’, pemberian wala’, dan wasiat tentangnya diperbolehkan, dan mereka menisbatkannya kepada Ibnu ‘Abbas berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Dinar, ia berkata: Maimunah binti al-Harits, istri Nabi ﷺ, semoga Allah meridhainya, telah menghadiahkan wala’ Sulaiman bin Yasar kepada Ibnu ‘Abbas, padahal Sulaiman adalah mukatab miliknya dan Ibnu ‘Abbas adalah anak dari saudara perempuannya.

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ اشْتَرَى وَلَاءَ طَهْمَانَ وَبَنِيهِ لِبَنِي أَخِيهِ مُصْعَبِ بْنِ الزُّبَيْرِ

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia membeli wala’ Tahman dan anak-anaknya untuk anak-anak saudara laki-lakinya, Mush‘ab bin az-Zubair.

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبْدًا لَهُ وَوَهَبَ وَلَاءَهُ لِابْنِهِ مُحَمَّدٍ وَأَشْهَدَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Amru bin Hazm bahwa ia memerdekakan seorang budaknya dan menghadiahkan hak wala’nya kepada putranya, Muhammad, serta menghadirkan Zaid bin Tsabit sebagai saksi.

وَرُوِّي أَبُو بَكْرِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ حِصْنِ مُحَارِبٍ وَهَبَتْ وَلَاءَ عَبْدٍ لَهَا لِنَفْسِهِ وَأَنَّ الْمَوْلَى وَهَبَ وَلَاءَ نَفْسِهِ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فَلَمَّا تُوُفِّيَتِ الْمَرْأَةُ خَاصَمَ وَرَثَتُهَا الْمَوْلَى إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَدَعَا الْمَوْلَى بِالْبَيِّنَةِ عَلَى مَا قَالَ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانَ وَالِ مَنْ شِئْتَ فَوَالَى عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَمْرٍو

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar bin Amru bin Hazm, bahwa seorang wanita dari benteng Muharib telah mewakafkan hak wala’ seorang budaknya untuk dirinya sendiri, dan bahwa budak tersebut mewakafkan hak wala’ dirinya kepada Abdurrahman bin Amru bin Hazm. Ketika wanita itu wafat, ahli warisnya bersengketa dengan budak tersebut di hadapan Utsman bin Affan ra. Maka Utsman meminta budak tersebut untuk menghadirkan bukti atas apa yang ia katakan. Lalu Utsman berkata kepadanya, “Berwala’-lah kepada siapa yang kamu kehendaki.” Maka budak itu berwala’ kepada Abdurrahman bin Amru.

وَهَذَا قَوْلٌ يَبْطُلُ بِالنَّصِّ الَّذِي رُوِّينَاهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَهِبَتِهِ وَبِقَوْلِهِ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يوهب

Pendapat ini batal dengan adanya nash yang kami riwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang jual beli dan hibah al-walā’, serta dengan sabda beliau: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.”

وبما روي عنه

Dan berdasarkan riwayat darinya.

أَنَّهُ قَالَ مَنْ تَوَلَّى غَيْر مَوَالِيهِ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ

Dia berkata, “Barang siapa mengambil pelindung selain pelindungnya sendiri, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”

وَرُوِيَ أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ سَأَلَ أَبَاهُ عَبْدَ اللَّهِ عَنْ شِرَاءِ الْوَلَاءِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا تَبِيعُوا الْوَلَاءَ وَلَا تَأْكُلُوا ثَمَنَهُ

Diriwayatkan bahwa Hamzah bin Abdullah bin Umar bertanya kepada ayahnya, Abdullah, tentang membeli hak wala’. Maka Abdullah berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah kalian menjual wala’ dan jangan pula memakan harganya.”

وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ قِرُّوهُ حَيْثُ جَعَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Diriwayatkan dari Ali ‘alaihis salam bahwa beliau berkata: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan. Tetapkanlah ia pada tempat yang telah Allah ‘azza wa jalla tetapkan.”

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ الْوَلَاءُ نَسَبٌ أَيَبِيعُ الرَّجُلُ نَسَبَهِ

Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu bahwa ia berkata: “Al-walā’ adalah nasab. Apakah seseorang akan menjual nasabnya?”

فَأَمَّا مَا رَوَوْهُ مِنَ الْآثَارِ فَلَا يُعَارِضُ مَا رُوِّينَاهُ مِنْ نُصُوصِ الْأَخْبَارِ وَلَعَلَّهَا كَانَتْ عَلَى وُجُوهٍ لَا تُعْرَفُ عِلَلُهَا وَقَدْ أَنْكَرَهَا الزُّهْرِيُّ وَأَنْشَدَ

Adapun atsar-atsar yang mereka riwayatkan, tidaklah bertentangan dengan nash-nash khabar yang kami riwayatkan. Mungkin atsar-atsar itu terjadi dalam bentuk-bentuk yang sebab-sebabnya tidak diketahui, dan az-Zuhri telah mengingkarinya serta membacakan syair.

فَبَاعُوهُ مَمْلُوكًا وَبَاعُوهُ مُعْتَقًا فَلَيْسَ لَهُ حتى الممات خلاص

Mereka menjualnya sebagai budak dan mereka menjualnya sebagai orang yang telah dimerdekakan, maka ia tidak memiliki kebebasan hingga wafat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وفي قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   فإنما الولاء من أَعْتَقَ   دَلِيلٌ أَنَّهُ لَا وَلَاءَ إِلَّا لِمُعْتِقٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Dalam sabda Nabi ﷺ “Sesungguhnya wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan,” terdapat dalil bahwa tidak ada wala’ kecuali bagi orang yang memerdekakan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَمُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِهَذَا ثَلَاثَةُ أُمُورٍ

Al-Mawardi berkata, maksud Imam Syafi‘i dengan hal ini adalah tiga perkara.

أَحَدُهَا إِثْبَاتُ الْوَلَاءِ لِكُلِّ مُعْتِقٍ فِي وَاجِبٍ وَتَطَوُّعٍ بِقَوْلٍ وَفِعْلٍ كَعِتْقِ أُمِّ الْوَلَدِ لِأَنَّهُ عِتْقٌ زَالَ بِهِ الرِّقُّ وَثَبَتَ بِهِ الْوَلَاءُ فَكَانَ مَعَ اخْتِلَافِ الْأَسْبَابِ عَلَى سَوَاءٍ

Salah satunya adalah penetapan hak wala’ bagi setiap orang yang memerdekakan, baik dalam kewajiban maupun sunnah, baik dengan ucapan maupun perbuatan, seperti memerdekakan umm al-walad. Sebab, itu adalah pembebasan yang menghilangkan status budak dan menetapkan hak wala’, sehingga meskipun sebab-sebabnya berbeda, hukumnya tetap sama.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يَنْتَقِلُ الْوَلَاءُ عَنِ الْمُعْتِقِ بِبَيْعٍ وَلَا هِبَةٍ وَلَا وَصِيَّةٍ وَقَدْ شَذَّ فِيهِ خِلَافٌ وَرُدَّ بِنَصٍّ لَا يُدْفَعُ

Kedua, bahwa wala’ tidak berpindah dari mu‘tiq (orang yang memerdekakan) melalui jual beli, hibah, maupun wasiat, dan memang terdapat pendapat yang menyelisihi hal ini, namun telah dibantah dengan nash yang tidak dapat ditolak.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ لَا وَلَاءَ عَلَى مَنْ لَمْ يُعْتَقْ مِنْ رِقٍّ رَدًّا عَلَى مَنْ خَالَفَ فِي ثَلَاثَةٍ أَثْبَتَ عَلَيْهِمُ الْوَلَاءَ وَإِنْ لَمْ يُعْتَقُوا

Ketiga, bahwa tidak ada wala’ atas orang yang belum dimerdekakan dari status budak, sebagai bantahan terhadap pihak yang berpendapat berbeda dalam tiga kasus, yaitu mereka menetapkan adanya wala’ atas orang-orang tersebut meskipun mereka belum dimerdekakan.

أَحَدُهَا إِثْبَاتُ الْوَلَاءِ بِالتَّحَالُفِ عَلَى التَّنَاصُرِ وَالتَّوَارُثِ وَالْعَقْلِ فَلَا حُكْمَ لِثُبُوتِ الْوِلَايَةِ فِي تَوَارُثٍ وَلَا عَقْلٍ وَإِنْ كَانَ التَّحَالُفُ عَلَى التَّنَاصُرِ وَالتَّعَاضُدِ حَسَنًا كَحِلْفِ الْمُطَيَّبِينَ

Salah satunya adalah penetapan wala’ melalui perjanjian untuk saling menolong, saling mewarisi, dan diyat. Maka, tidak ada ketetapan kewalian dalam hal saling mewarisi maupun diyat, meskipun perjanjian untuk saling menolong dan saling mendukung itu baik, seperti perjanjian al-muthayyabīn.

قَالَ الشَّافِعِيُّ لَوْ كَانَ مِثْلُهُ فِي الْإِسْلَامِ لَمْ أَمْنَعْ مِنْهُ

Syafi‘i berkata, “Seandainya ada yang seperti itu dalam Islam, niscaya aku tidak akan melarangnya.”

وقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ يَنْعَقِدُ بِهِ الْوَلَاءُ فِي التَّوَارُثِ وَالْعَقْلِ وَلَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنَ الْمُتَحَالِفِينَ فَسْخُهُ بَعْدَ العقد

Ibrahim an-Nakha‘i berkata, “Dengan sumpah setia itu terjalinlah hubungan wala’ dalam hal warisan dan diyat, dan tidak satu pun dari para pihak yang bersumpah setia dapat membatalkannya setelah akad dilakukan.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ عُرِفَتْ أَنْسَابُ الْمُتَحَالِفِينَ لَمْ يَثْبُتْ بِالتَّحَالُفِ وَلَا يُسْتَحَقُّ بِهِ التَّوَارُثُ وَالْعَقْلُ وَإِنْ جُهِلَتْ أَنْسَابُهُمْ ثَبَتَ بِهِ الْوَلَاءُ فِي اسْتِحْقَاقِ التَّوَارُثِ وَالْعَقْلِ وَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَسْخُهُ مَا لَمْ يَعْقِلْ عَنْهُ فَإِنْ عَقَلَ لَزِمَ وَلَمْ يَصِحَّ الْفَسْخُ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ النساء 33 وَلِأَنَّ مَا لَا يَتَعَيَّنُ وَارِثُهُ مِنَ الْمَالِ جَازَ لِلْمَوْرُوثِ أَنْ يَمْنَعَهُ حَيْثُ شَاءَ كَالْوَصَايَا

Abu Hanifah berkata: Jika nasab para pihak yang saling bersekutu diketahui, maka persekutuan itu tidak menetapkan hak dan tidak berakibat timbulnya hak waris dan ‘aql (diyat). Namun, jika nasab mereka tidak diketahui, maka persekutuan itu menetapkan hak wala’ dalam hal berhak mewarisi dan ‘aql. Masing-masing dari keduanya berhak membatalkannya selama belum menanggung diyat untuknya. Jika sudah menanggung diyat, maka persekutuan itu menjadi tetap dan pembatalan tidak sah, dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang telah kamu buat perjanjian dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya.” (an-Nisa’ 33). Karena harta yang ahli warisnya tidak ditentukan, maka bagi yang mewariskan boleh mencegahnya kapan saja ia mau, sebagaimana dalam wasiat.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَقَوْلُهُ إِنَّمَا مَوْضُوعٌ فِي اللُّغَةِ لِإِثْبَاتِ مَا اتَّصَلَ بِهِ وَنَفْيِ مَا انْفَصَلَ عَنْهُ كَقَوْلِهِ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ النساء 171 فَكَانَ فِيهِ إِثْبَاتُ الْإِلَهِيَّةِ لِلَّهِ وَنَفْيُ إِلَهِيَّةِ غَيْرِهِ فَدَلَّ إِثْبَاتُ الْوَلَاءِ لِلْمُعْتِقِ عَلَى نَفْيِهِ عَنْ غَيْرِ الْمُعْتِقِ وَلِأَنَّ التَّوَارُثَ مُسْتَحَقٌّ بِالنَّسَبِ وَالْوَلَاءِ فَلَمَّا لَمْ يَثْبُتْ بِعَقْدِ التَّحَالُفِ نَسَبٌ لَمْ يَثْبُتْ بِهِ وَلَاءٌ وَلِأَنَّ كل سبب لا يورث به مع وجدو النَّسَبِ بِحَالٍ لَمْ يُورَثْ بِهِ مَعَ عَدَمِ النَّسَبِ فِي حَالٍ كَالرَّضَاعِ وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ لِمَالِهِ جِهَةٌ يَنْتَقِلُ إِلَيْهَا بِوَفَاتِهِ لَمْ يَمْلِكْ نَقْلَهُ بِعَقْدِ وِلَايَةٍ كَالتَّحَالُفِ مَعَ وُجُودِ الْمَوْلَى

Dalil kami adalah sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya al-walā’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan.” Dan sabdanya: “Innamā” dalam bahasa digunakan untuk menetapkan sesuatu yang berkaitan dengannya dan meniadakan sesuatu yang terpisah darinya, seperti firman Allah: “Sesungguhnya Allah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa” (an-Nisā’ 171), maka di situ terdapat penetapan keesaan Tuhan bagi Allah dan penafian ketuhanan selain-Nya. Maka penetapan al-walā’ bagi orang yang memerdekakan menunjukkan penafian al-walā’ dari selain orang yang memerdekakan. Dan karena pewarisan itu berhak didapatkan melalui nasab dan al-walā’, maka ketika tidak ada nasab yang ditetapkan melalui akad tahālluf, tidaklah ditetapkan pula al-walā’ dengannya. Dan karena setiap sebab yang tidak menyebabkan waris ketika nasab ada, maka tidak pula menyebabkan waris ketika nasab tidak ada, seperti halnya radā‘ (persusuan). Dan karena setiap orang yang hartanya memiliki pihak yang berhak menerimanya setelah wafatnya, maka ia tidak berhak memindahkannya melalui akad wilayah seperti tahālluf, selama masih ada maulā (tuan yang memerdekakan).

فَأَمَّا الْآيَةُ فَعَنْهَا جَوَابَانِ

Adapun mengenai ayat tersebut, terdapat dua jawaban tentangnya.

أَحَدُهُمَا مَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ إنَّهَا كَانَتْ ثَابِتَةً فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ ثُمَّ نُسِخَتْ بِقَوْلِهِ تعالى وأولوا الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ الأنفال 75

Salah satu pendapat adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, bahwa hukum tersebut pernah berlaku pada masa awal Islam, kemudian di-nasakh (dihapus) dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) sebagian atas sebagian yang lain.” (al-Anfal: 75).

وَالثَّانِي مَا رَوَاهُ دَاوُدُ بْنُ الْحُصَيْنِ قَالَ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ عَلَى أُمِّ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ فَلَمَّا انْتَهَيْتُ إِلَى قَوْلِهِ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ النساء 33 قَالَتِ اقْرَأْ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ النساء 33 فَإِنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِي أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ حَيْثُ حَلَفَ لَا يُوَرِّثُ وَلَدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ فَنَزَلَ قَوْلُهُ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ النساء 33 أَيْ لَا تَمْنَعُوهُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ قَدْ حَلَفْتُمْ أَن لَا تُوَرِّثُوهُمْ فَكَانَ مَحْمُولًا عَلَى هَذَا السَّبَبِ

Yang kedua adalah riwayat dari Dawud bin al-Hushain, ia berkata: Aku membaca Al-Qur’an kepada Ummu Sa‘d bin ar-Rabi‘. Ketika aku sampai pada firman Allah “wa alladzīna ‘aqadat aimānukum” (an-Nisa’ ayat 33), ia berkata: Bacalah “wa alladzīna ‘aqadat aimānukum” (an-Nisa’ ayat 33), karena ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar as-Siddiq, ketika ia bersumpah tidak akan mewariskan kepada anaknya, Abdurrahman. Maka turunlah firman Allah “wa alladzīna ‘aqadat aimānukum fa ātūhum nashībahum” (an-Nisa’ ayat 33), yaitu janganlah kalian menghalangi mereka, meskipun kalian telah bersumpah untuk tidak mewariskan kepada mereka. Maka ayat ini dipahami berdasarkan sebab tersebut.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْوَصَايَا فَهُوَ أَنَّ الْوَصَايَا تَقِفُ عَلَى خِيَارِ الْمُوصِي مَعَ وُجُودِ النَّسَبِ مِنْ غَيْرِ حَلِفٍ فَخَالَفَ مَا لَا يَصِحُّ مَعَ النَّسَبِ وَلَا يَنْعَقِدُ إِلَّا بِحَلِفٍ

Adapun jawaban atas qiyās yang disamakan dengan wasiat adalah bahwa wasiat itu bergantung pada pilihan pemberi wasiat meskipun terdapat hubungan nasab tanpa adanya sumpah, sehingga berbeda dengan perkara yang tidak sah dengan adanya nasab dan tidak dapat terlaksana kecuali dengan sumpah.

فَصْلٌ

Bagian

وَالثَّانِي اللَّقِيطُ اخْتَلَفُوا فِي ثُبُوتِ الْوَلَاءِ عَلَيْهِ لِمُلْتَقِطِهِ فَالَّذِي عَلَيْهِ قَوْلُ جُمْهُورِ الصَّحَابَةِ وَالْفُقَهَاءِ أَنَّهُ لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ

Kedua, mengenai anak temuan (laqīṭ), para ulama berbeda pendapat tentang penetapan wala’ atasnya bagi orang yang menemukannya. Pendapat yang dipegang oleh mayoritas sahabat dan para fuqaha adalah bahwa tidak ada wala’ atasnya.

وَحُكِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ وَلَاءَ اللَّقِيطِ

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa ia memiliki hak wala’ atas anak temuan (lakiṭ).

وَرَوَى الزُّهْرِيُّ أَنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ شَيْبَانُ الْتَقَطَ لَقِيطًا فَقِيلَ لَهُ مَا الَّذِي حَمَلَكَ عَلَى الْتِقَاطِهِ قَالَ رَأَيْتُ نَفْسًا ضَائِعَةً فَرَحَمْتُهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ لَكَ وَلَاؤُهُ وَعَلَيْكَ نَفَقَتُهُ فَشَذَّ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ فَأَخَذَ بِهَذَا وَجَعَلَ لِلْمُلْتَقِطِ وَلَاءَ لَقِيطِهِ اتِّبَاعًا لَهُ وَاسْتِدْلَالًا بِرِوَايَةِ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ تُحْرِزُ الْمَرْأَةُ ثَلَاثَ مَوَارِيثَ مِيرَاثَ لَقِيطِهَا وميراث عتيقها وميراث ولدها الذي لا عنت عَلَيْهِ وَلِأَنَّ إِنْعَامَهُ عَلَيْهِ بِالِالْتِقَاطِ فِي حِرَاسَةِ نَفْسِهِ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي عِتْقِهِ مِنْ رِقِّهِ فَكَانَ أَحَقَّ بِوَلَائِهِ

Az-Zuhri meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bernama Syaiban yang menemukan seorang anak terlantar (laqīṭ), lalu dikatakan kepadanya, “Apa yang mendorongmu untuk memungutnya?” Ia menjawab, “Aku melihat ada jiwa yang terlantar, maka aku merasa iba kepadanya.” Maka Umar berkata kepadanya, “Engkau berhak atas wala’-nya dan engkau pula yang bertanggung jawab atas nafkahnya.” Sebagian fuqaha’ berbeda pendapat dan mengambil pendapat ini, yaitu memberikan hak wala’ laqīṭ kepada orang yang memungutnya, mengikuti pendapat tersebut dan berdalil dengan riwayat Watsilah bin Al-Asqa‘ bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Seorang wanita berhak atas tiga warisan: warisan dari laqīṭ yang dipungutnya, warisan dari budaknya yang dimerdekakan, dan warisan dari anaknya yang tidak diakui ayahnya.” Karena kebaikan yang diberikan kepada laqīṭ dengan memungut dan melindungi jiwanya lebih besar daripada kebaikan dengan memerdekakannya dari perbudakan, maka ia lebih berhak atas wala’-nya.

وَدَلِيلُنَا مَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ مِنْ سُقُوطِ الْوَلَاءِ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَلِأَنَّ الْوَلَاءَ مُسْتَحَقٌّ بِإِخْرَاجِ الْعَبْدِ مِنْ نَقْصِ الرِّقِّ إِلَى كَمَالِ الْحُرِّيَّةِ وَأَحْكَامُ اللَّقِيطِ قَبْلَ الِالْتِقَاطِ وَبَعْدَهُ سَوَاءٌ فَلَمْ يُسْتَحَقَّ عَلَيْهِ وَلَاءٌ وَلَا يُسْتَحَقُّ عَلَيْهِ بِحِرَاسَةِ نَفْسِهِ الْوَلَاءُ كَمَا لَا يَسْتَحِقُّهُ مَنِ اسْتَنْقَذَ غَرِيقًا أَوْ فَكَّ أَسِيرًا وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ لِشَيْبَانَ الْوِلَايَةَ عَلَى اللَّقِيطِ فِي الْقِيَامِ بِهِ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ الْوَلَاءَ فِي مِيرَاثِهِ وَحَدِيثُ وَاثِلَةَ إِنْ صَحَّ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهَا ادَّعَتِ اللَّقيطَ ولداً والثالث يؤكده

Dalil kami adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama) tentang gugurnya hak wala’, yaitu sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan.” Karena wala’ itu berhak didapatkan dengan mengeluarkan seorang budak dari kekurangan perbudakan menuju kesempurnaan kemerdekaan. Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan laqīṭ (anak temuan), sebelum dan sesudah ditemukan, adalah sama, sehingga tidak berhak atasnya wala’. Tidak pula berhak mendapatkan wala’ hanya karena menjaga dirinya sendiri, sebagaimana orang yang menyelamatkan orang tenggelam atau membebaskan tawanan juga tidak berhak mendapatkan wala’. Boleh jadi Umar ra. memberikan wewenang kepada Syaiban untuk mengurus laqīṭ dalam hal pemeliharaan, namun tidak memberinya hak wala’ dalam warisan. Adapun hadis Watsilah, jika sahih, dapat dimaknai bahwa perempuan itu mengaku laqīṭ sebagai anaknya, dan pendapat ketiga menguatkannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَالَّذِي أَسْلَمَ النَّصْرَانِيُّ عَلَى يَدَيْهِ لَيْسَ بِمُعْتِقٍ فَلَا وَلَاءَ لَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Orang yang menyebabkan seorang Nasrani masuk Islam melalui perantaranya, bukanlah seorang mu‘tiq, maka ia tidak memiliki hak wala’ atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا هُوَ الثَّالِثُ الْمُخْتَلَفُ فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ عَلَيْهِ وَهُوَ الْكَافِرُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَى يَدِ رَجُلٍ لَمْ يَثْبُتْ عَلَيْهِ فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ وَلَاءٌ لِمَنْ أَسْلَمَ عَلَى يَدَيْهِ سَوَاءٌ عَقَلَ عَنْهُ أَوْ لَمْ يَعْقِلْ

Al-Mawardi berkata: Inilah yang ketiga, yaitu perkara yang diperselisihkan mengenai hak memperoleh wala’ atasnya, yaitu seorang kafir yang masuk Islam melalui perantaraan seseorang. Menurut pendapat jumhur, tidak tetap baginya wala’ bagi orang yang membimbingnya masuk Islam, baik ia membayar diyat untuknya maupun tidak.

وَحُكِيَ عَنْ حَمَّادُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ وَالْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ أَنَّ لَهُ وَلَاءَهُ وَلَهُ الرُّجُوعُ فِيهِ مَا لَمْ يَعْقِلْ عَنْهُ فَإِنْ عَقَلَ عَنْهُ أَوْ عَنْ صِغَارِ وَلَدِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِيهِ

Diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman dan Al-Hakam bin ‘Utaybah bahwa seseorang memiliki hak wala’ atasnya dan berhak menarik kembali (pemberian) tersebut selama penerima belum memberikan kompensasi (pembayaran) kepadanya. Namun, jika penerima telah memberikan kompensasi, baik secara langsung maupun melalui anak-anaknya yang masih kecil, maka ia tidak lagi berhak menarik kembali pemberian itu.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي يُوسُفَ إِنِ اقْتَرَنَ بِالْإِسْلَامِ عَلَى يَدِهِ مُوَالَاةٌ تَوَارَثَا وَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ مُوَالَاةٌ لَمْ يَتَوَارَثَا

Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa jika masuk Islam melalui perantara seseorang disertai dengan adanya muwālah, maka keduanya saling mewarisi; namun jika tidak disertai dengan muwālah, maka keduanya tidak saling mewarisi.

وَحُكِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالزُّهْرِيِّ أَنَّهُ يَرِثُهُ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا احْتِجَاجًا بِمَا رَوَاهُ الْأَحْوَصُ بْنُ حَكِيمٍ عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ أَسْلَمَ عَلَى يَدَيْهِ رَجُلٌ فَهُوَ مَوْلَاهُ يَرِثُهُ وَيَدِي عَنْهُ

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz dan az-Zuhri bahwa ia mewarisinya dalam segala keadaan, dengan berdalil pada apa yang diriwayatkan oleh al-Ahwash bin Hakim dari Rasyid bin Sa‘d, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang seseorang masuk Islam melalui perantaranya, maka ia adalah maulā-nya, ia mewarisinya dan menanggung diyat darinya.”

وَبِرِوَايَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهِبٍ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا السُّنَّةُ فِي الرَجُلِ يُسْلِمُ عَلَى يَدَيِ الرَّجُلِ فَقَالَ هُوَ أَوْلَى النَّاسِ بِمَحْيَاهُ وَمَمَاتِهِ قَالُوا وَحَقُّ الْمَمَاتِ اسْتِحْقَاقُ الْمِيرَاثِ

Dalam riwayat Abdullah bin Mawhib dari Qabishah bin Dzu’aib dari Tamim ad-Dari, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana sunnah mengenai seorang laki-laki yang masuk Islam melalui perantaraan tangan seorang laki-laki lain?” Beliau bersabda: “Ia (yang menjadi perantara) adalah orang yang paling berhak terhadapnya, baik ketika hidup maupun setelah wafatnya.” Mereka (para sahabat) berkata: “Dan hak setelah wafat adalah berhak mendapatkan warisan.”

وَرَوَى الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَنْ أَسْلَمَ عَلَى يَدَيْهِ رَجُلٌ فَلَهُ ولاوه

Al-Qasim bin Abdurrahman meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa seseorang masuk Islam melalui perantara tangannya, maka ia berhak atas wala’-nya.”

قَالُوا وَلِأَنَّ إِنْعَامَهُ عَلَيْهِ بِاسْتِنْقَاذِهِ مِنَ الْكُفْرِ أَعْظَمُ مِنْ إِنْعَامِهِ بِاسْتِنْقَاذِهِ مِنَ الرِّقِّ فَكَانَ بِوَلَائِهِ أَحَقَّ

Mereka berkata, “Karena nikmat Allah kepadanya dengan menyelamatkannya dari kekufuran lebih agung daripada nikmat-Nya dengan menyelamatkannya dari perbudakan, maka ia lebih berhak mendapatkan wala’ darinya.”

وَدَلِيلُ الْجُمْهُورِ عَلَى أَن لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ الأحزاب 37 يَعْنِي زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ وَأَنْعَمَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَلَيْهِ بِالْعِتْقِ فَكَانَتِ النِّعْمَةُ بِالْإِسْلَامِ لِلَّهِ تَعَالَى دُونَ غَيْرِهِ وَفَرْقٌ بَيْنَ النِّعْمَةِ بِالْإِسْلَامِ وَبَيْنَ النِّعْمَةِ بِالْعِتْقِ فَلَمْ تَجُزِ التَّسْوِيَةُ بَيْنَهُمَا

Dalil jumhur ulama bahwa tidak ada wala’ atasnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya…” (al-Ahzab: 37), yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah; Allah telah memberinya nikmat dengan Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberinya nikmat dengan memerdekakannya. Maka, nikmat berupa Islam adalah milik Allah Ta‘ala semata, bukan selain-Nya. Terdapat perbedaan antara nikmat berupa Islam dan nikmat berupa pembebasan (dari perbudakan), sehingga tidak boleh disamakan antara keduanya.

وَقَالَ تَعَالَى يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ الحجرات 17 فَكَانَتِ الْهِدَايَةُ مِنْهُ تَعَالَى دُونَ غَيْرِهِ وَلِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَلَيْسَ هَذَا بِمُعْتِقٍ وَلِأَنَّ إِسْلَامَهُ مِنْ نَفْسِهِ بِمَا عُلِمَ مِنْ صِحَّتِهِ فَلَمْ يَكُنْ لِمَنْ أَسْلَمَ عَلَى يده تأثيره فِي مُعْتَقَدِهِ وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ أَخْذُ الْإِسْلَامِ عَلَى الْكَافِرِ مُوجِبًا لِثُبُوتِ وَلَائِهِ عَلَيْهِ لَكَانَ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ مِنْ مَوَالِي أَبِي بَكْرٍ لإسلامهما على يده ولكان المهاجرون والأنصار مواليا لرسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَلِأَوْلَادِهِ مِنْ بَعْدِهِ وَهَذَا يَخْرُجُ عَنْ قَوْلِ الْأُمَّةِ فَكَانَ مَدْفُوعًا بِهِمْ وَقَدْ رَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْطَى الثَّمَنَ وَوَلِيَ النِّعْمَةَ وَهَذَا تَعْلِيلٌ لِاسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ فَلَمْ يُسْتَحَقَّ بِغَيْرِهِ وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ الْوَلَاءُ بِأَخْذِ الْإِسْلَامِ مُسْتَحَقًّا لَوَجَبَ إِذَا أَعْتَقَ الرَّجُلُ عَبْدًا نَصْرَانِيًّا فَأَسْلَمَ عَلَى يَدِ غَيْرِ مُعْتِقِهِ أَنْ يُبْطِلَ وَلَاءَ مُعْتِقِهِ وإذا أسلم العب النَّصْرَانِيُّ عَلَى يَدِ غَيْرِ سَيِّدِهِ ثُمَّ أَعْتَقَهُ السَّيِّدُ أَن لَا يَكُونَ عَلَيْهِ وَلَاءٌ لِمُعْتِقِهِ وَهَذَا مَدْفُوعٌ بِالْإِجْمَاعِ فَبَطَلَ مَا اقْتَضَاهُ بِالْإِجْمَاعِ

Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka menganggap telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kalian menganggap keislaman kalian sebagai nikmat kepadaku, justru Allah-lah yang telah memberi nikmat kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada iman.’” (al-Hujurat: 17). Maka, petunjuk itu berasal dari-Nya Ta‘ala, bukan dari selain-Nya. Dan karena Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya al-walā’ itu bagi orang yang memerdekakan, dan orang ini (yang membimbing masuk Islam) bukanlah orang yang memerdekakan.” Dan karena keislamannya berasal dari dirinya sendiri berdasarkan apa yang diketahui tentang kebenarannya, maka orang yang masuk Islam melalui perantaraannya tidak memiliki pengaruh dalam keyakinannya. Dan seandainya pengambilan Islam dari seorang kafir mewajibkan tetapnya al-walā’ atasnya, niscaya Thalhah dan az-Zubair termasuk mawālī (orang yang memiliki hubungan walā’) Abu Bakar karena keduanya masuk Islam melalui perantaranya, dan niscaya kaum Muhajirin dan Anshar menjadi mawālī Rasulullah ﷺ dan anak-anaknya setelah beliau, dan ini bertentangan dengan pendapat umat, maka tertolak dengan mereka. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Manshur, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-walā’ itu bagi orang yang membayar harga dan memiliki nikmat (memerdekakan),” dan ini adalah alasan bagi hak al-walā’, sehingga tidak berhak didapatkan selain dengan itu. Dan seandainya al-walā’ itu berhak didapatkan hanya karena membimbing masuk Islam, niscaya ketika seseorang memerdekakan budak Nasrani lalu budak itu masuk Islam melalui perantaraan selain orang yang memerdekakannya, maka akan gugurlah al-walā’ orang yang memerdekakannya. Dan jika budak Nasrani masuk Islam melalui perantaraan selain tuannya, kemudian tuannya memerdekakannya, maka tidak ada al-walā’ bagi orang yang memerdekakannya. Dan ini tertolak berdasarkan ijmā‘, maka batal apa yang ditetapkan olehnya berdasarkan ijmā‘.

وَقَدْ روى الْأَشْعَثُ بْنُ سَوَّارٍ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ رَأَى رَجُلًا يُبَاعُ فَسَاوَمَ بِهِ ثُمَّ تَرَكَهُ فَاشْتَرَاهُ رَجُلٌ فَأَعْتَقَهُ ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ إِنِّي اشْتَرَيْتُ هَذَا فَأَعْتَقْتُهُ فَمَا تَرَى فِيهِ قَالَ أَخُوكَ وَمَوْلَاكَ قَالَ فَمَا تَرَى فِي صُحْبَتِهِ قَالَ إِنْ شَكَرَكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَشَرٌّ عَلَيْكَ وَإِنْ كَفَرَكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ وَشَرٌّ لَهُ قَالَ فَمَا تَرَى فِي مَالِهِ قَالَ إِنْ مَاتَ وَلَمْ يَدَعْ وَارِثًا فَلَكَ مَالُهُ فَاعْتُبِرَ وَلَاؤُهُ بِعِتْقِهِ دُونَ إِسْلَامِهِ

Ash‘ats bin Sawwar meriwayatkan dari al-Hasan bahwa Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki yang sedang dijual, lalu beliau menawar harga kepadanya, kemudian meninggalkannya. Setelah itu, seorang laki-laki lain membelinya lalu memerdekakannya. Kemudian orang itu datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Aku telah membeli orang ini lalu memerdekakannya, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Beliau bersabda, “Dia adalah saudaramu dan maulamu.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana menurutmu tentang persahabatannya?” Beliau bersabda, “Jika dia bersyukur kepadamu, itu baik baginya dan buruk bagimu. Jika dia mengingkari kebaikanmu, itu baik bagimu dan buruk baginya.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana menurutmu tentang hartanya?” Beliau bersabda, “Jika dia meninggal dunia dan tidak meninggalkan ahli waris, maka hartanya menjadi milikmu.” Maka, status wala’-nya dipertimbangkan karena pembebasannya, bukan karena keislamannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنَ الْأَخْبَارِ فَفِيهَا ثَلَاثَةُ أَجْوِبَةٍ

Adapun jawaban terhadap dalil yang mereka gunakan dari berbagai riwayat, maka terdapat tiga jawaban atasnya.

أَحَدُهَا أَنَّهَا ضَعِيفَةٌ لَا يَثْبُتُ بِهَا شَرْعٌ لِأَنَّ بَعْضَهَا رَوَاهُ مَجْهُولٌ وَبَعْضَهَا رَوَاهُ مَتْرُوكٌ وَبَعْضَهَا مُرْسَلٌ

Salah satunya adalah bahwa dalil-dalil tersebut lemah sehingga tidak dapat dijadikan dasar penetapan syariat, karena sebagian riwayatnya berasal dari perawi yang tidak dikenal, sebagian lagi diriwayatkan oleh perawi yang ditinggalkan (matrūk), dan sebagian lainnya adalah mursal.

وَالثَّانِي أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى وِلَايَةِ الْإِسْلَامِ الْمُوجِبَةِ لِلتَّنَاصُرِ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ التوبة 71

Kedua, bahwa hal itu dimaknai sebagai wilayah Islam yang mewajibkan saling menolong, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (at-Taubah: 71)

وَالثَّالِثُ أَنَّنَا نَسْتَعْمِلُ قَوْلَهُ فَهُوَ مَوْلَاهُ يُرِيدُ أَيْ هُوَ نَاصِرُهُ وَقَدْ صَارَ بِاتِّفَاقِهِمَا فِي الْإِسْلَامِ وَارِثًا بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُونَا باختلاف الذين مُتَوَارِثَيْنِ

Ketiga, bahwa kita menggunakan ungkapan “maka ia adalah mawlā-nya” yang dimaksud adalah “ia adalah penolongnya”, dan keduanya, dengan kesepakatan mereka dalam Islam, telah menjadi ahli waris setelah sebelumnya mereka bukanlah dua orang yang saling mewarisi karena perbedaan agama.

وَقَوْلُهُ أَحَقُّ بِمَحْيَاهُ وَمَمَاتِهِ أَنَّهُ أَحَقُّ بِمُرَاعَاتِهِ فِي مَحْيَاهُ وَالْمَمَاتِ

Dan ucapannya “lebih berhak terhadap kehidupannya dan kematiannya” maksudnya adalah bahwa ia lebih berhak untuk diperhatikan dalam kehidupannya maupun kematiannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِإِنْعَامِهِ عَلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ فَهُوَ مَا ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ أَنَّ النِّعْمَةَ فِيهِ لَهُ لَا لِغَيْرِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan nikmat Allah kepadanya berupa Islam, maka yang dimaksud adalah sebagaimana yang Allah Ta‘ala sebutkan bahwa nikmat Islam itu adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk selainnya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَعْتَقَ مُسْلِمٌ نَصْرَانِيًّا أَوْ نَصْرَانِيٌّ مُسْلِمًا فَالْوَلَاءُ ثَابِتٌ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ وَلَا يَتَوَارَثَانِ لِاخْتِلَافِ الدِّينِ وَلَا يَقْطَعُ اخْتِلَافُ الدين والولاء كَمَا لَا يَقْطَعُ النَّسَبَ قَالَ اللَّهُ جَلَّ ثناؤه ونادى نوح ابنه وإذ قال إبراهيم لأبيه فَلَمْ يُقْطَعِ النَّسَبُ بِاخْتِلَافِ الدِّينِ فَكَذَلِكَ الْوَلَاءُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang Muslim memerdekakan seorang Nasrani, atau seorang Nasrani memerdekakan seorang Muslim, maka hak walā’ tetap berlaku bagi masing-masing dari mereka terhadap yang lainnya. Namun, keduanya tidak saling mewarisi karena perbedaan agama. Perbedaan agama tidak memutuskan hubungan agama dan walā’, sebagaimana juga tidak memutuskan hubungan nasab. Allah Ta‘ālā berfirman: “Dan Nuh memanggil anaknya,” dan ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, maka hubungan nasab tidak terputus karena perbedaan agama, demikian pula halnya dengan walā’.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini mencakup dua bagian.”

أَحَدُهُمَا فِي مُسْلِمٍ أَعْتَقَ نَصْرَانِيًّا

Salah satunya adalah tentang seorang Muslim yang memerdekakan seorang Nasrani.

وَالثَّانِي فِي نَصْرَانِيٍّ أَعْتَقَ مُسْلِمًا

Yang kedua adalah tentang seorang Nasrani yang memerdekakan seorang Muslim.

وَأَمَّا إِذَا أَعْتَقَ الْمُسْلِمُ عَبْدًا نَصْرَانِيًّا فَلَهُ وَلَاؤُهُ بِالْإِجْمَاعِ وَلَا يَرِثُهُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ لِاخْتِلَافِ الدِّينِ

Adapun jika seorang Muslim memerdekakan seorang budak Nasrani, maka ia berhak mendapatkan wala’nya menurut ijmā‘, namun ia tidak mewarisinya menurut jumhur ulama karena perbedaan agama.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يرثه مع اختلاف الدين لأنه واغصل إِلَيْهِ عَنْ رَقٍّ اعْتِبَارًا بِمَا كَانَ يَمْلِكُهُ مِنْ أَكْسَابِهِ فِي حَالِ الرِّقِّ

Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa ia mewarisinya meskipun berbeda agama, karena harta tersebut telah sampai kepadanya dari perbudakan, dengan pertimbangan bahwa harta itu adalah hasil usahanya ketika masih dalam keadaan sebagai budak.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ وَلِأَنَّ الْمِيرَاثَ بِالنَّسَبِ وَالْوَلَاءِ فَلَمَّا سَقَطَ التَّوَارُثُ بِالنَّسَبِ مَعَ اخْتِلَافِ الدِّينِ كَانَ سُقُوطُهُ بِالْوَلَاءِ أَوْلَى لِأَنَّهُ تَابِعٌ وَالنَّسَبُ مَتْبُوعٌ وَلَيْسَ لِمَا عَلَّلَ بِهِ مِنْ حَالِ الرِّقِّ وَجْهٌ لِأَنَّهُ يَأْخُذُهُ فِي حَالِ الرِّقِّ مِلْكًا لَا يَمْنَعُ مِنْهُ اخْتِلَافُ الدِّينِ وَهُوَ يَأْخُذُهُ بَعْدَ الْعِتْقِ إِرْثًا يَمْنَعُ مِنْهُ اخْتِلَافُ الدِّينِ

Dalil tentang hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang Muslim.” Selain itu, karena warisan itu berdasarkan nasab dan wala’, maka ketika pewarisan berdasarkan nasab gugur karena perbedaan agama, maka gugurnya pewarisan berdasarkan wala’ lebih utama lagi, karena wala’ itu mengikuti (nasab), sedangkan nasab adalah yang diikuti. Adapun alasan yang dikemukakan terkait keadaan budak, tidaklah tepat, karena dalam keadaan sebagai budak, ia mengambilnya sebagai milik, dan perbedaan agama tidak menghalanginya. Namun setelah merdeka, ia mengambilnya sebagai warisan, dan perbedaan agama menghalanginya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا إِذَا أَعْتَقَ النَّصْرَانِيُّ مُسْلِمًا فَلَهُ وَلَاؤُهُ وَإِنْ لَمْ يَرِثْهُ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ

Adapun jika seorang Nasrani memerdekakan seorang Muslim, maka ia berhak mendapatkan wala’-nya, meskipun ia tidak mewarisinya, dan inilah pendapat jumhur.

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَمْلِكُ الْكَافِرُ وَلَاءً عَلَى مُسْلِمٍ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ دُونَ مُعْتِقِهِ فَإِنْ أَسْلَمَ الْمُعْتِقُ لَمْ يَمْلِكِ الْوَلَاءَ

Malik berkata: Orang kafir tidak memiliki hak wala’ atas seorang Muslim, dan wala’-nya menjadi milik seluruh kaum Muslimin, bukan milik orang yang memerdekakannya. Jika orang yang memerdekakan itu masuk Islam, maka ia tetap tidak memiliki hak wala’.

وَقَالَ لَوْ أَعْتَقَ نَصْرَانِيٌّ نَصْرَانِيًّا كَانَ لَهُ وَلَاؤُهُ فَإِنْ أَسْلَمَ الْمُعْتِقُ بَطَلَ وَلَاءُ مَوْلَاهُ فَإِنْ أَسْلَمَ مَوْلَاهُ لَمْ يَعُدْ إِلَيْهِ الْوَلَاءُ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ التوبة 71

Ia berkata: Jika seorang Nasrani memerdekakan seorang Nasrani, maka ia berhak atas wala’nya. Jika orang yang memerdekakan masuk Islam, maka hak wala’ terhadap mantan budaknya batal. Jika mantan budaknya masuk Islam, hak wala’ itu tidak kembali kepadanya, dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain.” (at-Taubah: 71)

وَقَالَ تَعَالَى وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ الأنفال 73 وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يُقَرَّ لِلْكَافِرِ عَلَى الْمُسْلِمِ رِقٌّ لَمْ يُقَرَّ عَلَيْهِ الْوَلَاءُ الْمُسْتَحَقُّ بِالرِّقِّ

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.” (al-Anfal: 73). Dan karena tidak diakui adanya status budak bagi orang kafir atas seorang muslim, maka tidak diakui pula hak wala’ yang timbul karena perbudakan atas dirinya.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ لِكُلِّ مُعْتِقٍ وَلِأَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ ؛ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا ثُمَّ لَمْ يَكُنِ اخْتِلَافُ الدِّينِ مَانِعًا مِنْ ثُبُوتِ النَّسَبِ وَجَبَ أَن لَا يَمْنَعَ اخْتِلَافُهُ مِنْ ثُبُوتِ الْوَلَاءِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ عِتْقُهُ نَافِذًا كَالْمُسْلِمِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَحِقَّ بِهِ الْوَلَاءَ كَالْمُسْلِمِ

Dalil kami adalah sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya al-walā’ itu bagi orang yang memerdekakan.” Maka, hukum ini berlaku umum untuk setiap orang yang memerdekakan. Dan karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab,” maka beliau menyamakan keduanya. Selanjutnya, perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi penetapan nasab, maka seharusnya perbedaan agama juga tidak menjadi penghalang bagi penetapan al-walā’. Dan karena ketika pembebasannya sah seperti halnya seorang Muslim, maka wajib baginya untuk berhak mendapatkan al-walā’ sebagaimana seorang Muslim.

فَأَمَّا مَا اسْتَدَلَّ بِهِ مِنَ الْقُرْآنِ فَمَحْمُولٌ عَلَى الْمُوَالَاةِ دُونَ الْوَلَاءِ وَأَمَّا مَنْعُهُ مِنِ اسْتِرْقَاقِ الْمُسْلِمِ فَلِأَجْلِ يَدِهِ الَّتِي يَسْتَذِلُّهُ بِهَا وَلَيْسَ فِي الْوَلَاءِ يَدٌ يُسْتَذَلُّ بِهَا فَلِذَلِكَ مُنِعَ مِنْ رِقِّهِ وَلَمْ يُمْنَعْ مِنْ وَلَائِهِ

Adapun dalil yang digunakan dari Al-Qur’an, maka itu dimaknai tentang al-muwālah (loyalitas persaudaraan) dan bukan al-walā’ (hubungan perwalian). Adapun larangan memperbudak seorang Muslim adalah karena adanya kekuasaan (yad) yang dengannya ia dapat direndahkan, sedangkan dalam al-walā’ tidak terdapat kekuasaan yang dapat digunakan untuk merendahkan. Oleh karena itu, diperbolehkan adanya al-walā’ atasnya, tetapi tidak diperbolehkan memperbudaknya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ اخْتِلَافَ الدِّينِ لَا يَمْنَعُ مِنَ اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ بِالْعِتْقِ وَإِنْ مَنَعَ مِنَ التَّوَارُثِ نُظِرَ

Maka apabila telah tetap bahwa perbedaan agama tidak menghalangi hak memperoleh al-walā’ karena pembebasan budak, meskipun menghalangi dari saling mewarisi, maka perlu diperhatikan…

فَإِنْ كَانَ فِي عَصَبَةِ مَوْلَاهُ مَنْ هُوَ عَلَى مِلَّتِهِ وَرِثَهُ بِالْوَلَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَوْلَى غَيْرَ وَارِثٍ بِهِ كَالْأَخَوَيْنِ إِذَا كَانَا عَلَى مِلَّةٍ وَأَبُوهُمَا عَلَى أُخْرَى تَوَارَثَا دُونَ الْأَبِ وَإِنْ تَنَاسَبَا بِالْأَبِ

Jika di antara kerabat laki-laki tuannya terdapat seseorang yang seagama dengannya, maka ia mewarisinya karena hubungan wala’. Namun, jika tuan tersebut bukan ahli warisnya, seperti dua saudara yang seagama sementara ayah mereka berbeda agama, maka keduanya saling mewarisi tanpa melibatkan ayah, meskipun hubungan nasab mereka melalui ayah.

وَإِذَا أَعْتَقَ الْمُسْلِمُ عَبْدًا نَصْرَانِيًّا فَلَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ ثُمَّ سُبِيَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْتَرَقَّ لِأَنَّ عَلَيْهِ وَلَاءً لِمُسْلِمٍ وَهَكَذَا لَوْ كَانَ مُعْتِقُهُ نَصْرَانِيًّا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْتَرَقَّ مَوْلَاهُ إِذَا لَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ لِمَا يَلْزَمُنَا أَنْ نَحْفَظَ أَمْوَالَ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَفِيهِ وَجْهٌ آخَرُ يَجُوزُ أَنْ يُسْتَرَقَّ لِأَنَّ مُعْتِقَهُ لَوْ لَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ فَسُبِيَ جَازَ أَنْ يُسْتَرَقَّ فَكَذَلِكَ عَتِيقُهُ

Apabila seorang Muslim memerdekakan seorang budak Nasrani, lalu budak tersebut pergi ke negeri musuh kemudian tertawan, maka tidak boleh diperbudak kembali karena ia memiliki hubungan wala’ dengan seorang Muslim. Demikian pula, jika yang memerdekakannya adalah seorang Nasrani dari kalangan ahludz-dzimmah, maka tidak boleh majikannya diperbudak jika ia pergi ke negeri musuh, karena kita wajib menjaga harta ahludz-dzimmah. Namun, ada pendapat lain yang membolehkan untuk diperbudak, karena jika orang yang memerdekakan itu sendiri pergi ke negeri musuh lalu tertawan, maka boleh diperbudak, maka demikian pula orang yang telah dimerdekakannya.

وَلَوْ أَعْتَقَ الْحَرْبِيُّ عَبْدًا حَرْبِيًّا كَانَ لَهُ وَلَاؤُهُ فَإِنْ سُبِيَ الْعَبْدُ فَاسْتُرِقَّ بَطَلَ وَلَاؤُهُ عَلَيْهِ وَلَوْ مُنَّ عَلَيْهِ ثَبَتَ لَهُ الْوَلَاءُ وَلَوِ اسْتُرِقَّ وَمَاتَ رَقِيقًا بَطَلَ وَلَاؤُهُ فَلَوْ أُعْتِقَ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِهِ عَادَ الْوَلَاءُ لَهُ

Jika seorang harbi memerdekakan seorang budak harbi, maka hak wala’ budak itu menjadi miliknya. Jika budak tersebut kemudian ditawan dan dijadikan budak, maka hak wala’ atasnya menjadi batal. Namun, jika budak itu dimerdekakan (diberi anugerah kebebasan) tanpa dijadikan budak, maka hak wala’ tetap berlaku baginya. Jika budak itu dijadikan budak dan meninggal dalam keadaan sebagai budak, maka hak wala’ menjadi batal. Namun, jika setelah dijadikan budak ia dimerdekakan, maka hak wala’ kembali kepadanya.

وَإِذَا أَعْتَقَ النَّصْرَانِيُّ عَبْدًا ثُمَّ لَحِقَ السَّيِّدُ بِدَارِ الْحَرْبِ فَسُبِيَ وَاسْتُرِقَّ فَاشْتَرَاهُ عَبْدُهُ فَأَعْتَقَهُ كَانَ كُلٌّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَوْلًى لِصَاحِبِهِ لِأَنَّ كُلَّ واحد منهما قد اعتق الآخر

Apabila seorang Nasrani memerdekakan seorang budak, kemudian tuannya pergi ke negeri musuh lalu ditawan dan dijadikan budak, lalu budaknya membelinya dan memerdekakannya, maka masing-masing dari keduanya menjadi maula (tuan yang memerdekakan) bagi yang lainnya, karena masing-masing dari mereka telah memerdekakan yang lain.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَمَنْ أَعْتَقَ سَائِبَةً فَهُوَ مُعْتِقٌ وَلَهُ الْوَلَاءُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Barang siapa memerdekakan seorang budak secara sā’ibah, maka ia tetap dianggap sebagai orang yang memerdekakan, dan baginya hak walā’.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْمُعْتِقُ سَائِبَةً أَنْ يَقُولَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ أَنْتَ حُرٌّ وَلَا وَلَاءَ لِي عَلَيْكَ أَوْ يَقُولَ لَهُ أَنْتَ عَتِيقٌ سَائِبَةً فَيَكُونُ حُكْمُهُ أَن لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ فَلَا اخْتِلَافَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الْعِتْقَ وَاقِعٌ فَأَمَّا سُقُوطُ الْوَلَاءِ فِيهِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَجُمْهُورِ الفقهاء أَنَّ الْوَلَاءَ ثَابِتٌ لَا يَسْقُطُ بِتَسْبِيَةِ وَاشْتِرَاطِ سُقُوطِهِ

Al-Mawardi berkata: Orang yang memerdekakan budak secara sā’ibah adalah dengan mengatakan tuannya kepada budaknya, “Engkau merdeka dan aku tidak memiliki wala’ atasmu,” atau mengatakan kepadanya, “Engkau merdeka secara sā’ibah.” Maka hukumnya adalah tidak ada wala’ atasnya. Tidak ada perbedaan di antara para fuqaha bahwa pemerdekaan itu sah. Adapun mengenai gugurnya wala’ dalam hal ini, maka mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa wala’ tetap ada dan tidak gugur hanya karena penetapan sā’ibah atau persyaratan gugurnya.

وَقَالَ مَالِكٌ يَسْقُطُ فِيهِ الْوَلَاءُ اعْتِبَارًا بِشُرُوطِهِ؛ وَاسْتِدْلَالًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ وَبِمَا رَوَى عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ السَّائِبَةُ لِيَوْمِهَا وفيه تأويلان

Malik berkata, “Hak wala’ gugur dalam hal ini dengan mempertimbangkan syarat-syaratnya; dan sebagai dalil adalah hadis yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka,’ serta riwayat dari Umar ra. yang berkata: ‘As-saibah untuk hari itu.’ Dalam hal ini terdapat dua penafsiran.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ حُكْمَهَا عَلَى مَا شَرَطَهُ فِي يَوْمِ عِتْقِهَا

Salah satunya adalah bahwa hukumnya sesuai dengan syarat yang ditetapkan pada hari pembebasannya.

وَالثَّانِي أَنَّهَا لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ لِأَنَّهُ قَصَدَ بِهَا الْأَجْرَ دُونَ الْوَلَاءِ

Dan yang kedua, bahwa (pahala) itu untuk hari Kiamat, karena ia meniatkannya untuk mendapatkan pahala, bukan untuk mendapatkan wala’.

وَبِمَا رَوَى الشَّعْبِيُّ أَنَّ سَالِمًا مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ أَعْتَقَتْهُ لَيْلَى بِنْتُ يَعَارَ زَوْجَةُ أَبِي حُذَيْفَةَ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ سَائِبَةً فَقُتِلَ يَوْمَ الْيَمَامَةِ وَخَلَّفَ بِنْتًا وَمَوْلَاتَهُ لَيْلَى زَوْجَةَ أَبِي حُذَيْفَةَ فَدَفَعَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ إِلَى بِنْتِهِ النِّصْفَ وَعَرَضَ الْبَاقِيَ عَلَى مَوْلَاتِهِ فَقَالَتْ لَا أَرْجِعُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ سَالِمٍ فَإِنِّي جَعَلْتُهُ سَائِبَةً لِلَّهِ فَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ النِّصْفَ الْبَاقِيَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dan berdasarkan riwayat dari asy-Sya‘bi bahwa Sālim, maula (bekas budak) Abū Ḥudzaifah, telah dimerdekakan oleh Lailā binti Ya‘ār, istri Abū Ḥudzaifah bin ‘Utbah bin Rabī‘ah, sebagai budak yang dimerdekakan karena Allah. Kemudian Sālim gugur pada hari (perang) Yamāmah dan meninggalkan seorang putri serta mantan tuannya, Lailā, istri Abū Ḥudzaifah. Maka Abū Bakar dan ‘Umar memberikan setengah harta warisan kepada putrinya, dan menawarkan sisanya kepada mantan tuannya. Namun ia berkata, “Aku tidak akan mengambil kembali sedikit pun dari urusan Sālim, karena aku telah menjadikannya sebagai budak yang dimerdekakan karena Allah.” Maka Abū Bakar pun menjadikan setengah sisanya di jalan Allah.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سَائِبَةٍ المائدة 103 فَلَمَّا امْتَنَعَ مِنْ حُكْمِ السَّائِبَةِ فِي الْبَهَائِمِ الَّتِي لَا يَجْرِي عَلَيْهَا حُكْمُ الْعِتْقِ كَانَ الْمَنْعُ فِي الْآدَمِيِّينَ مِمَّنْ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْعِتْقِ أَوْلَى

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahīrah dan tidak pula sā’ibah” (Al-Mā’idah: 103). Maka, ketika hukum sā’ibah tidak berlaku pada hewan-hewan yang tidak dikenai hukum ‘itq (pembebasan budak), maka larangan tersebut pada manusia, yang padanya berlaku hukum ‘itq, tentu lebih utama (untuk diberlakukan).

وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَفِيهِ دَلِيلَانِ

Dan sabda Nabi ﷺ: “al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.” Dalam hadis ini terdapat dua dalil.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ اعْتَبَرَهُ بِالنَّسَبِ وَالنَّسَبُ لَا يُعْتَبَرُ حُكْمُهُ بِالشَّرْطِ؛ كَذَلِكَ الْوَلَاءُ

Salah satunya adalah bahwa ia mengqiyaskan hal itu dengan nasab, padahal hukum nasab tidak bergantung pada syarat; demikian pula halnya dengan walā’.

وَالثَّانِي قَوْلُهُ وَلَا يُوهَبُ وَالسَّائِبَةُ هِبَةُ الْوَلَاءِ وَلِأَنَّ مَوَالِيَ بَرِيرَةَ بَاعُوهَا عَلَى عَائِشَةَ رِضْوَانُ الله عنها وَاشْتَرَطُوا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ وَلَاؤُهَا إِذَا أُعْتِقَتْ فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ كِتَابُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشُرُوطُهُ أَوْثَقُ وَالْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ فَأَثْبَتَ الْوَلَاءَ لِلْمُعْتِقِ وَأَبْطَلَ أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ

Kedua, ucapannya “dan tidak boleh dihibahkan, dan as-saibah adalah hibah al-walā’.” Karena para mawālī Barirah menjualnya kepada ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dan mereka mensyaratkan agar walā’nya menjadi milik mereka jika Barirah dimerdekakan. Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa ada sekelompok orang yang menetapkan syarat-syarat yang tidak terdapat dalam Kitābullāh? Setiap syarat yang tidak ada dalam Kitābullāh maka syarat itu batil. Kitābullāh lebih berhak dan syarat-syaratnya lebih kuat. Walā’ itu bagi orang yang memerdekakan.” Maka beliau menetapkan walā’ bagi orang yang memerdekakan dan membatalkan agar walā’ itu menjadi milik selainnya.

وَرُوِيَ أَنَّ طَارِقًا أَعْتَقَ عَبِيدًا لَهُ سَوَائِبَ وَكَانُوا سِتَّةً وَقِيلَ عَشْرَةً فَمَاتُوا كُلُّهُمْ بَعْدَ مَوْتِ طَارِقٍ وَخَلَّفُوا مَالًا فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى عُمَرَ فَقَضَى بِهِ لِوَرَثَةِ طَارِقٍ فَامْتَنَعُوا مِنْ أَخْذِهِ فَقَالَ عُمَرُ أَرْجِعُوهُ إِلَى قَوْمٍ مِثْلِهِمْ فَأَبَانَ بِهَذَا الْقَضَاءِ أَنَّ الْوَلَاءَ ثَابِتٌ فِي عِتْقِ السَّائِبَةِ وَرَوَى قَبِيصَةُ بْنُ ذُؤَيْبٍ أَنَّ أَصْحَابَ السَّوَائِبِ شَكَوْا إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالُوا إِمَّا أَنْ تَجْعَلَ الْعَقْلَ عَلَيْنَا وَالْمِيرَاثَ لَنَا وَإِمَّا أَن لَا يَكُون لَنَا مِيرَاثٌ وَلَا عَلَيْنَا عَقْلٌ فَقَضَى عُمَرُ لَهُمْ بِالْمِيرَاثِ وَرُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَلِأَنَّ الْوَلَاءَ فِي الْعِتْقِ كَالرَّجْعَةِ فِي الطَّلَاقِ فَلَمَّا كَانَ لَوْ طَلَّقَهَا عَلَى أَن لَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا وَقَعَ الطَّلَاقُ وَاسْتَحَقَّ الرَّجْعَةَ وَجَبَ مِثْلُهُ فِي عِتْقِ السَّائِبَةِ أَنْ يَقَعَ الْعِتْقُ وَيُسْتَحَقَّ الْوَلَاءُ

Diriwayatkan bahwa Thariq memerdekakan beberapa budaknya sebagai budak sa’ibah, dan mereka berjumlah enam orang, ada juga yang mengatakan sepuluh orang. Lalu mereka semua meninggal setelah kematian Thariq dan meninggalkan harta. Maka perkara itu diajukan kepada Umar, lalu Umar memutuskan agar harta tersebut diberikan kepada ahli waris Thariq. Namun mereka menolak untuk mengambilnya. Maka Umar berkata, “Kembalikanlah harta itu kepada kaum yang seperti mereka.” Dengan keputusan ini, Umar menjelaskan bahwa wala’ tetap berlaku dalam pembebasan budak sa’ibah. Qabishah bin Dzu’aib meriwayatkan bahwa para pemilik budak sa’ibah mengadu kepada Umar radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Berikanlah kepada kami diyat dan warisan, atau janganlah ada warisan dan diyat atas kami.” Maka Umar memutuskan agar mereka mendapatkan warisan. Riwayat serupa juga dinukil dari Ali, Ibnu Mas’ud, dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhum. Karena wala’ dalam pembebasan budak seperti halnya rujuk dalam talak; jika seseorang mentalak istrinya dengan syarat tidak boleh rujuk, maka talaknya tetap jatuh dan ia tetap berhak untuk rujuk. Maka demikian pula dalam pembebasan budak sa’ibah, pembebasannya sah dan hak wala’ tetap berlaku.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ فَهُوَ مَا وَصَلَهُ بِهِ إِلَّا شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا وهذا منه

Adapun jawaban terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka,” maka hal itu dibatasi dengan sabda beliau setelahnya: “kecuali syarat yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.” Dan hal ini termasuk di dalamnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِ عُمَرَ السَّائِبَةُ لِيَوْمِهَا فَهُوَ مُجْمَلٌ لَا يَثْبُتُ بِهِ شَرْعٌ وَحَمْلُهُ عَلَى مُقْتَضَى السُّنَّةِ أَوْلَى

Adapun jawaban terhadap perkataan Umar “as-sa’ibah untuk harinya” adalah bahwa perkataan tersebut bersifat mujmal (global/umum) sehingga tidak dapat dijadikan dasar penetapan syariat, dan menafsirkannya sesuai dengan tuntunan sunnah adalah lebih utama.

وَأَمَّا حَدِيثُ سَالِمٍ فَقَدْ حَكَمَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِدَفْعِ مِيرَاثِهِ إِلَى مَوْلَاتِهِ فَلَمَّا امْتَنَعَتْ مِنْ مِيرَاثِهِ لَمْ تُجْبَرْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ حَقٌّ لَهَا وَلَيْسَ بِحَقٍّ عَلَيْهَا فَوَضَعَهُ حَيْثُ رَأَى من الوجوه والمصالح

Adapun hadis tentang Salim, maka Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma telah memutuskan untuk memberikan warisannya kepada maulatnya. Namun ketika maulat tersebut menolak menerima warisan itu, ia tidak dipaksa untuk menerimanya, karena warisan itu adalah hak baginya, bukan kewajiban atasnya. Maka warisan itu diletakkan pada tempat yang dipandang sesuai menurut berbagai pertimbangan dan kemaslahatan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَمَنْ وَرِثَ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ أَوْ مَاتَ عَنْ أُمِّ وَلَدٍ لَهُ فَلَهُ وَلَاؤُهُمْ وَإِنْ لَمْ يَعْتِقْهُمْ لِأَنَّهُمْ فِي مَعْنَى مَنْ أَعْتَقَ والمعتق السائبة معتق وهو أكثر من هذا في معنى المعتقين فكيف لا يكون له ولاؤه قال فالمعتق سائبة قد أنفذ الله له العتق لأنه طاعة وأبطل الشرط بأن لا ولاء له لانه معصية وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الولاء لمن أَعْتَقَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Barang siapa mewarisi seseorang yang jika ia memerdekakannya akan menjadi maula baginya, atau seseorang yang wafat meninggalkan ummu walad miliknya, maka baginya hak wala’ mereka, meskipun ia tidak memerdekakan mereka. Sebab, mereka dalam makna sama dengan orang yang memerdekakan, dan orang yang memerdekakan budak sa’ibah tetap disebut sebagai mu‘tiq (orang yang memerdekakan), bahkan lebih kuat lagi dalam makna sebagai orang yang memerdekakan. Maka bagaimana mungkin ia tidak berhak atas wala’ mereka? Beliau berkata: Orang yang memerdekakan budak sa’ibah, Allah telah menetapkan baginya kemerdekaan karena itu adalah ketaatan, dan membatalkan syarat yang melarang adanya wala’ karena itu adalah maksiat. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wala’ itu bagi orang yang memerdekakan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ؛ كُلُّ عِتْقٍ نَفَذَ عَلَى مِلْكٍ لِلرِّقِّ ثَبَتَ وَلَاؤُهُ لِمَنْ عَتَقَ عَلَى مِلْكِهِ سَوَاءٌ كَانَ بِاخْتِيَارِهِ أَوْ غَيْرِ اخْتِيَارِهِ بِقَوْلِهِ أَوْ بِفِعْلِهِ أَوْ بِغَيْرِ قَوْلِهِ وَغَيْرِ فِعْلِهِ فِي حَيَاتِهِ أَوْ بَعْدَ مَوْتِهِ بِعِوَضٍ أَوْ بِغَيْرِ عِوَضٍ فَالْمُعْتِقُ بِاخْتِيَارِهِ أَنْ يُبَاشِرَ عِتْقَ عَبْدٍ قَدِ اسْتَقَرَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ لَهُ أَنْتَ حُرٌّ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar; setiap pembebasan budak yang sah atas kepemilikan budak, maka tetaplah hak wala’ bagi orang yang membebaskan atas kepemilikannya, baik dilakukan secara sukarela atau tidak, baik dengan ucapan atau perbuatan, atau tanpa ucapan dan tanpa perbuatan, baik semasa hidupnya atau setelah wafatnya, baik dengan imbalan atau tanpa imbalan. Maka orang yang membebaskan budak secara sukarela dapat langsung membebaskan budak yang kepemilikannya telah tetap atas dirinya, lalu ia berkata kepada budaknya, ‘Engkau merdeka.’”

وَالْعِتْقُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ أَنْ يَعْتِقَ شِقْصًا لَهُ مِنْ عَبْدٍ فَيَسْرِي إِلَى جَمِيعِهِ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَلَهُ جَمِيعُ وَلَائِهِ أَوْ يَرِثُ أَحَدَ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ مِنْ وَالِدَيْهِ أَوْ مَوْلُودَيْهِ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ وَعِتْقُ الْحَمْلِ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ وَعِتْقُ أَوْلَادِ أُمِّ وَلَدِهِ مِنْ غَيْرِهِ يُعْتَقُونَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ وَلَهُ وَلَاؤُهُمْ

Pembebasan budak tanpa pilihannya adalah apabila seseorang memerdekakan sebagian kepemilikannya atas seorang budak, maka kemerdekaan itu berlaku pada seluruh budak tersebut dan budak itu menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya, dan ia mendapatkan seluruh hak wala’nya. Atau jika ia mewarisi salah satu orang yang kemerdekaannya berlaku atasnya, baik dari orang tua atau anaknya, maka budak itu menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya, dan ia mendapatkan hak wala’nya. Demikian pula pembebasan janin, maka janin itu menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya, dan ia mendapatkan hak wala’nya. Dan anak-anak dari ummu walad-nya yang berasal dari selain dirinya, mereka juga menjadi merdeka atasnya tanpa pilihannya, dan ia mendapatkan hak wala’ mereka.

وَأَمَّا الْعِتْقُ بِالْفِعْلِ فَهُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بِفِعْلِ الشِّرَاءِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ وَأُمُّ الْوَلَدِ تَعْتِقُ عَلَيْهِ بِالْإِيلَادِ إِذَا مَاتَ وَلَهُ وَلَاؤُهَا

Adapun pembebasan budak melalui perbuatan adalah ketika seseorang membeli budak yang akan menjadi merdeka baginya, maka budak itu menjadi merdeka baginya melalui perbuatan membeli, dan ia berhak atas wala’-nya. Sedangkan ummu al-walad (budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya) menjadi merdeka baginya karena melahirkan apabila tuannya meninggal, dan ia juga berhak atas wala’-nya.

وَأَمَّا الْعِتْقُ بِالْمُعَاوَضَةِ فَعِتْقُ الْمُكَاتَبِ بِالْأَدَاءِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ لِأَنَّهُ عِتْقٌ عَلَى مِلْكٍ وَإِنْ وَصَلَ فِيهِ إِلَى الْعِوَضِ عَنْ رِقِّهِ لِأَنَّهُ أَدَّاهُ مِنْ كَسْبِهِ

Adapun pembebasan budak dengan imbalan adalah pembebasan budak mukatab dengan pembayaran, dan hak wala’ tetap menjadi miliknya, karena itu merupakan pembebasan atas kepemilikan, meskipun di dalamnya terdapat imbalan atas status perbudakannya, sebab ia membayarnya dari hasil usahanya sendiri.

رَوَى مَعْمَرٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَرَّ بِرَجُلٍ يُكَاتِبُ عَبْدًا لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ اشْتَرِطْ وَلَاءَهُ يَعْنِي أَعْلِمْهُ فَدَلَّ عَلَى اسْتِحْقَاقِ وَلَائِهِ فَلَوْ كَاتَبَ الْمُكَاتِبُ عَبْدًا وَعَتَقَ الثَّانِي ثُمَّ عَتَقَ الْأَوَّلُ فَوَلَاءُ الْأَوَّلِ لِسَيِّدِهِ وَفِي وَلَاءِ الثَّانِي قَوْلَانِ

Ma‘mar meriwayatkan dari Qatadah, dari Ibn al-Musayyab, bahwa Nabi ﷺ melewati seorang laki-laki yang sedang melakukan mukātabah dengan budaknya. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Syaratkanlah hak wala’nya,” yakni beritahukanlah kepadanya. Ini menunjukkan bahwa hak wala’ memang menjadi haknya. Jika seorang mukātab melakukan mukātabah terhadap seorang budak, lalu budak yang kedua dimerdekakan, kemudian budak yang pertama juga dimerdekakan, maka hak wala’ budak pertama tetap untuk tuannya. Adapun hak wala’ budak kedua, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِلسَّيِّدِ

Salah satunya untuk tuan.

وَالثَّانِي لِلْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ

Dan yang kedua untuk mukatab yang pertama.

فَأَمَّا الْعِتْقُ بِالْمَوْتِ فَعِتْقُ أُمِّ الْوَلَدِ الْمُدَبَّرِ وَلَهُ وَلَاؤُهُمَا لِعِتْقِهِمَا عَلَى مِلْكِهِ

Adapun pembebasan budak karena kematian adalah pembebasan umm al-walad dan mudabbar, dan hak wala’ keduanya tetap menjadi miliknya karena keduanya dimerdekakan saat masih dalam kepemilikannya.

وَأَمَّا الْعِتْقُ بَعْدَ الْمَوْتِ فَعِتْقُ مَنْ أَوْصَى بِعِتْقِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ لَهُ وَلَاؤُهُمْ لِأَنَّهُمْ عَتَقُوا مِنْ مَالِهِ فَلَمْ يُمْنَعْ عِتْقُهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِ مِنْ مِلْكِ وَلَائِهِمْ يَنَالُهُ الَّذِي كَانَ مَالِكُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

Adapun pembebasan budak setelah kematian, yaitu pembebasan budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan setelah kematiannya, maka hak wala’ mereka tetap menjadi miliknya. Sebab, mereka dimerdekakan dari hartanya, sehingga pembebasan mereka setelah kematiannya tidak menghalangi hak wala’ untuk tetap dimiliki oleh orang yang sebelumnya adalah tuan mereka sebelum wafat.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ بَاعَ السَّيِّدُ عَبْدَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِمَالٍ فِي ذِمَّتِهِ عِتْقٌ وَفِي وَلَائِهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ عَلَيْهِ رِقٌّ لِغَيْرِهِ

Dan jika seorang tuan menjual budaknya kepada dirinya sendiri dengan harta yang menjadi tanggungannya, maka budak itu merdeka. Adapun mengenai hak wala’, terdapat dua pendapat; salah satunya adalah hak wala’ tetap menjadi milik tuannya, karena tidak terbukti adanya status perbudakan bagi selain tuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا وَلَاءَ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يُعْتَقْ فِي مِلْكِهِ وَلَا يَمْلِكُ الْعَبْدُ الْوَلَاءَ عَلَى نَفْسِهِ وَيَسْقُطُ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ وَلَاءٌ لِغَيْرِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak ada wala’ bagi tuannya, karena ia tidak dimerdekakan dalam kepemilikannya, dan seorang budak tidak memiliki wala’ atas dirinya sendiri, serta gugur kemungkinan adanya wala’ bagi selainnya atas dirinya.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا أَعْتَقَ السَّيِّدُ عَبْدَهُ عَنْ غَيْرِهِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Dan apabila seorang tuan memerdekakan budaknya atas nama orang lain, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَعْتِقَهُ عَنْ حَيٍّ

Salah satunya adalah memerdekakannya atas nama seseorang yang masih hidup.

وَالثَّانِي عَنْ مَيِّتٍ

Dan yang kedua adalah dari mayit.

فَإِنْ أَعْتَقَهُ عَنْ حَيٍّ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Jika ia memerdekakannya atas nama seseorang yang masih hidup, maka terdapat dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَعْتِقَهُ عَنْهُ بِغَيْرِ أَمْرِهِ فَيَكُونُ وَلَاؤُهُ لِمُعْتِقِهِ وَيَكُونُ لِلْمُعْتِقِ عَنْهُ اعْتِبَارًا لِقَصْدِ الْمُعْتِقِ وَحَمْلِهِ عَلَى مَذْهَبِهِ فِي السَّائِبَةِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ

Salah satunya adalah seseorang memerdekakan budak atas nama orang lain tanpa perintah darinya, maka hak wala’ menjadi milik orang yang memerdekakan, dan hak tersebut tetap bagi orang yang memerdekakan atas nama orang lain, dengan mempertimbangkan maksud orang yang memerdekakan dan mengarahkannya sesuai mazhabnya dalam masalah budak yang dimerdekakan secara mutlak, dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَعْتِقَهُ عِتْقَ الْحَيِّ بِأَمْرِهِ فَيَكُونُ وَلَاؤُهُ لِلْآمِرِ دُونَ الْمُعْتِقِ فَإِنْ أَمَرَهُ أَنْ يَعْتِقَهُ بِعِوَضٍ كَانَ بَيْعًا وَإِنْ أَمَرَهُ أَنْ يَعْتِقَهُ بِغَيْرِ عِوَضٍ كَانَ هِبَةً

Jenis yang kedua adalah seseorang memerdekakan budak atas perintah orang lain, sehingga hak wala’ menjadi milik orang yang memerintah, bukan milik orang yang memerdekakan. Jika ia memerintahkannya untuk memerdekakan dengan imbalan, maka itu dianggap sebagai jual beli. Namun jika ia memerintahkannya untuk memerdekakan tanpa imbalan, maka itu dianggap sebagai hibah.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ بِعِوَضٍ كَانَ وَلَاؤُهُ لِلْآمِرِ وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ عِوَضٍ كَانَ وَلَاؤُهُ لِلْمُعْتِقِ

Abu Hanifah berkata, “Jika (pembebasan budak) dilakukan dengan imbalan, maka hak wala’ menjadi milik pihak yang memerintahkan; dan jika dilakukan tanpa imbalan, maka hak wala’ menjadi milik orang yang membebaskan.”

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ عِتْقَ الْمَوْهُوبِ كَعِتْقِ الْمَبِيعِ لِأَنَّهُ يُمْلَكُ بِالْهِبَةِ كَمَا يُمْلَكُ بِالْبَيْعِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ

Dalil kami adalah bahwa pembebasan budak yang dihibahkan itu sama dengan pembebasan budak yang dijual, karena kepemilikan atas budak dapat diperoleh melalui hibah sebagaimana dapat diperoleh melalui jual beli, maka wajib keduanya disamakan dalam hal berhak atas wala’.

وَأَمَّا الْعِتْقُ عَنْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَضَرْبَانِ

Adapun memerdekakan budak atas namanya setelah ia wafat, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ عَنْ إِذْنِ الْمَيِّتِ فِي حَيَاتِهِ فَيَكُونُ وَلَاؤُهُ لِلْآمِرِ دُونَ الْمُعْتِقِ كَالْحَيِّ

Salah satunya adalah apabila dilakukan atas izin dari orang yang wafat ketika masih hidupnya, maka hak wala’ menjadi milik pihak yang memerintahkan, bukan milik orang yang memerdekakan, sebagaimana halnya pada orang yang masih hidup.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي بِغَيْرِ إِذْنِ الْمَيِّتِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Jenis kedua adalah tanpa izin dari mayit, dan ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ عِتْقًا فِي كَفَّارَةٍ لَا خِيَارَ فِيهَا كَالْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ وَالظِّهَارِ فَيَكُونُ الْعِتْقُ وَاقِعًا عَنِ الْمُعْتَقِ عَنْهُ وَلَهُ وَلَاؤُهُ دُونَ الْمُعْتِقِ لِوُجُوبِهِ عَلَى مَنْ يَقْدِرُ عَلَى أَدَائِهِ

Salah satunya adalah pembebasan budak dalam kafārah yang tidak ada pilihan di dalamnya, seperti pembebasan budak dalam kafārah pembunuhan dan ẓihār. Maka pembebasan budak itu berlaku atas orang yang dibebaskan untuknya, dan hak wala’ menjadi miliknya, bukan milik orang yang membebaskan, karena kewajiban itu ditetapkan atas orang yang mampu melaksanakannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْعِتْقُ عَنْ كَفَّارَةٍ فِيهَا تَخْيِيرٌ مِثْلِ كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ فَيُنْظَرُ فِي الْمُعْتِقِ

Jenis kedua adalah apabila pembebasan budak dilakukan sebagai kafārah yang di dalamnya terdapat pilihan, seperti kafārah sumpah. Maka, diperhatikan keadaan orang yang membebaskan budak tersebut.

فَإِنْ كَانَ وَارِثًا وَقَعَ الْعِتْقُ عَنِ الْمُعْتَقِ عَنْهُ وَلَهُ وَلَاؤُهُ دُونَ الْمُعْتِقِ لِأَنَّ الْوَارِثَ يَقُومُ مَقَامَ الْمَوْرُوثِ وَإِنْ كَانَ الْمُعْتِقُ أَجْنَبِيًّا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika ia adalah seorang ahli waris, maka pembebasan budak itu berlaku atas nama orang yang diwakilinya, dan hak wala’ menjadi miliknya, bukan milik orang yang membebaskan, karena ahli waris menempati posisi orang yang diwarisi. Namun jika orang yang membebaskan adalah orang luar, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُجْزِئُ عَنِ الْمُعْتِقِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ لِوُجُوبِهِ عَلَيْهِ كَالْوَارِثِ

Salah satunya sah sebagai ganti dari orang yang memerdekakan, dan baginya hak wala’, karena kewajibannya atasnya seperti halnya ahli waris.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُجْزِئُ عَنِ الْمُعْتَقِ عَنْهُ وَيَكُونُ وَاقِعًا عَنِ الْمُعْتِقِ وَلَهُ وَلَاؤُهُ لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ الْعُدُولُ عَنِ الْعِتْقِ إِلَى الْإِطْعَامِ وَالْكُسْوَةِ صَارَ الْعِتْقُ فِيهَا كَالتَّطَوُّعِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak sah (tidak mencukupi) bagi orang yang dimerdekakan, melainkan berlaku atas orang yang memerdekakan, dan baginya hak wala’, karena ketika diperbolehkan mengganti pembebasan budak dengan memberi makan atau pakaian, maka pembebasan budak dalam hal ini menjadi seperti amalan tathawwu‘ (sunnah/tambahan).

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَعْتَقَ الرَّجُلُ عَبْدًا عَلَى شَرْطِ الْخِدْمَةِ بَعْدَ الْعِتْقِ مُدَّةً مَعْلُومَةً اتَّفَقَا عَلَيْهَا وَرَضِيَا بِهَا جَازَ ذَلِكَ عِنْدَنَا وَإِنْ شَذَّ مَنْ خَالَفَنَا فِيهِ وَتَعَجَّلَ عِتْقَهُ نَاجِزًا وَعَلَيْهِ أَنْ يَخْدِمَهُ بَعْدَ الْحُرِّيَّةِ تِلْكَ الْخِدْمَةَ الْمَشْرُوطَةَ إِلَى انْقِضَاءِ تِلْكَ الْمُدَّةِ الْمَعْلُومَةِ رُوِيَ عَنْ سَفِينَةَ قَالَ كُنْتُ مَمْلُوكًا لِأُمِّ سَلَمَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا فَأَعْتَقَتْنِي وَشَرَطَتْ عَلَيَّ أَنْ أَخْدُمَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَا عِشْتُ

Apabila seseorang memerdekakan seorang budak dengan syarat budak tersebut harus melayaninya setelah merdeka selama jangka waktu tertentu yang telah disepakati dan keduanya rela dengan syarat itu, maka hal tersebut dibolehkan menurut kami, meskipun ada sebagian yang menyelisihi pendapat ini. Kemerdekaan budak itu berlaku seketika, dan ia wajib melayani tuannya setelah menjadi orang merdeka sesuai dengan pelayanan yang disyaratkan hingga berakhirnya masa yang telah ditentukan itu. Diriwayatkan dari Safinah, ia berkata: “Aku dahulu adalah budak milik Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anhā, lalu ia memerdekakanku dengan syarat aku harus melayani Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam selama aku hidup.”

وَرُوِيَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَعْتَقَ عَبِيدًا مِنْ بَيْتِ الْمَالِ وَشَرَطَ عَلَيْهِمْ أَنْ يَحْفِرُوا الْقُبُورَ فَكَانُوا عَلَى ذَلِكَ

Diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu membebaskan para budak dari Baitul Mal dan mensyaratkan kepada mereka agar menggali kubur, maka mereka pun melaksanakan hal itu.

وَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ أَعْتَقَ عَبِيدًا وَشَرَطَ عَلَيْهِمْ أَنْ يَخْدُمُوا الْخَلِيفَةَ بَعْدَهُ ثَلَاثَ سِنِينَ

Diriwayatkan darinya bahwa ia memerdekakan beberapa budak dan mensyaratkan kepada mereka agar melayani khalifah setelahnya selama tiga tahun.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا أَخَذَ أَهْلُ الْفَرَائِضِ فَرَائِضَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ عَصَبَةُ قَرَابَةٍ مِنْ قِبَلِ الصُلْبِ كَانَ مَا بَقِيَ لِلْمَوْلَى الْمُعْتِقِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apabila para ahli waris fardhu telah mengambil bagian warisan mereka, dan mereka tidak memiliki ‘ashabah kerabat dari jalur nasab, maka sisa harta warisan diberikan kepada maulā mu‘tiq (bekas tuan yang memerdekakan).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْوَلَاءُ فَيُسْتَحَقُّ بِهِ الْمِيرَاثُ كَالنَّسَبِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ فَيَرِثُ الْمَوْلَى الْأَعْلَى مِنَ الْمَوْلَى الْأَسْفَلِ وَلَا يَرِثُ الْأَسْفَلُ مِنَ الْأَعْلَى فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ إِلَّا مَنْ شَذَّ عَنْهُمْ مِنْ عَطَاءٍ وَطَاوُسٍ فَإِنَّهُمَا وَرَّثَا الْأَسْفَلَ مِنَ الْأَعْلَى كَمَا يَرِثُ الْأَعْلَى مِنَ الْأَسْفَلِ اعْتِبَارًا بِالنَّسَبِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الْفَرَائِضِ

Al-Mawardi berkata: Adapun al-walā’, maka dengannya seseorang berhak mendapatkan warisan sebagaimana nasab, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Al-walā’ adalah ikatan seperti ikatan nasab.” Maka, maulā yang lebih tinggi mewarisi dari maulā yang lebih rendah, dan yang lebih rendah tidak mewarisi dari yang lebih tinggi menurut pendapat jumhur, kecuali pendapat yang menyelisihi mereka dari ‘Aṭā’ dan Ṭāwūs, karena keduanya membolehkan yang lebih rendah mewarisi dari yang lebih tinggi sebagaimana yang lebih tinggi mewarisi dari yang lebih rendah, dengan pertimbangan nasab. Dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan dalam Kitab al-Farā’iḍ.

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَالْمِيرَاثُ بِالنَّسَبِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْمِيرَاثِ بِالْوَلَاءِ لِأَنَّ النَّسَبَ أَصْلٌ وَالْوَلَاءَ فَرْعٌ فَسَقَطَ الْفَرْعُ بِالْأَصْلِ وَلَمْ يَسْقُطِ الْأَصْلُ بِالْفَرْعِ فَإِذَا اسْتَوْعَبَ الْعَصَبَاتُ أَوْ ذَوُو الْفُرُوضِ التَّرِكَةَ سَقَطَ الْمِيرَاثُ بِالْوَلَاءِ وَإِنْ عُدِمَ عَصَبَاتُ النَّسَبِ وَلَمْ يَسْتَوْعِبْ ذَوُو الْفُرُوضِ التَّرِكَةَ اسْتَحَقَّ الْمِيرَاثَ وَقُدِّمَ الْمَوْلَى عَلَى ذَوِي الْأَرْحَامِ فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ وَحُكِيَ عَنْ عَطَاءٍ وَطَاوُسٍ وَالشَّعْبِيِّ وَجَابِرِ بْنِ زَيْدٍ وَالْأَسْوَدِ وَمَسْرُوقٍ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ أَنَّ ذَوِي الْأَرْحَامِ أَوْلَى مِنَ الْمَوْلَى وَالدَّلِيلُ عَلَى تَقْدِيمِ الْمِيرَاثِ بِالْوَلَاءِ عَلَى مَنْ لَا سَهْمَ لَهُ مِنْ ذَوِي الْأَرْحَامِ مَا رَوَاهُ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ قَالَ كَانَ لِبِنْتِ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَوْلًى أَعْتَقَتْهُ فَمَاتَ وَتَرَكَ بِنْتًا وَمَوْلَاتُهُ بِنْتُ حَمْزَةَ فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَأَعْطَى الْبِنْتَ النِّصْفَ وَأَعْطَى مَوْلَاتَهُ النِّصْفَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَدَّادٍ وَأَنَا أَعْلَمُ بِهَا لِأَنَّهَا أُخْتِي لِأُمِّي أُمُّنَا سَلْمَى بِنْتُ عُمَيْسٍ الْخَثْعَمِيَّةُ فَمَوْضِعُ الدَّلِيلِ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يُقَدِّمِ الْمَوْلَى عَلَى ذَوِي الْأَرْحَامِ لَكَانَ الْبَاقِي بَعْدَ فَرْضِ الْبِنْتِ مَرْدُودًا عَلَى الْبِنْتِ

Jika hal ini telah dipahami, maka warisan karena nasab didahulukan atas warisan karena wala’, karena nasab adalah asal, sedangkan wala’ adalah cabang. Maka cabang gugur karena adanya asal, dan asal tidak gugur karena cabang. Jika para ‘ashabah atau para ahli waris dengan bagian tertentu (dzawu al-furudh) telah menghabiskan seluruh harta warisan, maka warisan karena wala’ gugur. Namun jika ‘ashabah nasab tidak ada dan dzawu al-furudh tidak menghabiskan seluruh harta warisan, maka warisan menjadi hak dan maula didahulukan atas dzawu al-arham menurut pendapat jumhur. Diriwayatkan dari ‘Atha’, Thawus, asy-Sya’bi, Jabir bin Zaid, al-Aswad, Masruq, dan Ibrahim an-Nakha’i bahwa dzawu al-arham lebih berhak daripada maula. Dalil yang menunjukkan didahulukannya warisan karena wala’ atas orang yang tidak mendapat bagian dari dzawu al-arham adalah riwayat dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Syaddad, ia berkata: “Putri Hamzah bin Abdul Muththalib memiliki seorang maula yang telah dimerdekakannya, lalu maula itu meninggal dan meninggalkan seorang anak perempuan, dan maulatnya adalah putri Hamzah. Maka perkara itu dibawa kepada Nabi ﷺ, lalu beliau memberikan setengah kepada anak perempuan dan setengah kepada maulatnya.” Abdullah bin Syaddad berkata: “Aku mengetahui kisah ini karena ia adalah saudara perempuanku seibu, ibu kami adalah Salma binti Umais al-Khats’amiyyah.” Letak dalilnya adalah, seandainya maula tidak didahulukan atas dzawu al-arham, maka sisa setelah bagian anak perempuan akan dikembalikan kepada anak perempuan.

وَرَوَى يُونُسُ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمِيرَاثُ لِلْعَصَبَةِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ عَصَبَةٌ فَالْمَوْلَى وَلِأَنَّ الْمَوْلَى عَصَبَةٌ وَالْعَصَبَاتُ أَوْلَى مِنْ ذَوِي الْأَرْحَامِ كَالنَّسَبِ

Yunus meriwayatkan dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Warisan itu untuk ‘ashabah. Jika tidak ada ‘ashabah, maka untuk maula. Karena maula adalah ‘ashabah, dan para ‘ashabah lebih berhak daripada dzawil arham, sebagaimana dalam nasab.”

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْمَوْلَى وَارِثٌ بِوَلَائِهِ بَعْدَ الْعَصَبَاتِ وَذَوِي الْفُرُوضِ فَإِنْ كَانَ الْمَوْلَى مَيِّتًا فَالْوَلَاءُ بَعْدَهُ لِأَقْرَبِ عَصَبَاتِهِ يَوْمَ يَمُوتُ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ فَإِنْ مَاتَ وَتَرَكَ ابْنَ مَوْلَاهُ وَبِنْتَ مَوْلَاهُ وَأَبَا مَوْلَاهُ فَمِيرَاثُهُ لِابْنِ الْمَوْلَى دُونَ الْبِنْتِ وَحُكِيَ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمِيرَاثَ بِالْوَلَاءِ كَالْمِيرَاثِ بِالنَّسَبِ فَيَحْصُلُ لِأَبِي الْمَوْلَى السُّدْسُ وَالْبَاقِي بَيْنَ ابْنِ الْمَوْلَى وَبِنْتِ الْمَوْلَى لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Apabila telah tetap bahwa mawla (tuan yang memerdekakan) menjadi ahli waris karena wala’ (hubungan perwalian) setelah para ‘ashabah dan dzawil furudh, maka jika mawla telah meninggal dunia, hak wala’ setelahnya berpindah kepada ‘ashabah terdekatnya pada hari wafatnya hamba yang dimerdekakan. Jika hamba tersebut meninggal dan meninggalkan anak laki-laki mawla, anak perempuan mawla, dan ayah mawla, maka warisannya diberikan kepada anak laki-laki mawla saja, tidak kepada anak perempuannya. Diriwayatkan dari Thawus bahwa warisan karena wala’ itu seperti warisan karena nasab, sehingga ayah mawla mendapat seperenam, dan sisanya dibagi antara anak laki-laki mawla dan anak perempuan mawla, dengan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.

وَحُكِيَ عَنْ شُرَيْحٍ وَالْأَوْزَاعِيِّ وَالنَّخَعِيِّ وَأَبِي يُوسُفَ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ أَنَّ لِأَبِ الْمَوْلَى السُّدْسَ وَالْبَاقِي لِابْنِ الْمَوْلَى دُونَ بِنْتِ الْمَوْلَى وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَدَاوُدَ وَهُوَ قَوْلُ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَأَكْثَرِ التَّابِعِينَ أَنَّ ابْنَ الْمَوْلَى أَوْلَى مِنَ الْأَبِ وَالْبِنْتِ أَمَّا الْبِنْتُ فَلِأَنَّ النِّسَاءَ لَا يَرِثْنَ بِالْوَلَاءِ لِعَدَمِ التَّعْصِيبِ فِيهِنَّ وَأَمَّا الْأَبُ فَلِأَنَّ الِابْنَ مُقَدَّمٌ عَلَيْهِ فِي الْوَلَاءِ فَلَا يُشَارِكُهُ فِيهِ وَكَذَلِكَ لَا يُشَارِكُ بَنِي الِابْنِ وَإِنْ سَفُلُوا لِأَنَّهُ لَا يَرْثُ مَعَهُمْ إِلَّا بِالْغَرَضِ وَلَا حَقَّ لِذَوِي الْفُرُوضِ فِي مِيرَاثِ الْوَلَاءِ ثُمَّ مِيرَاثُهُ بَعْدَ بَنِي مَوْلَاهُ لِأَبِ الْمَوْلَى لِأَنَّهُ أَحَقُّ الْعَصَبَاتِ بَعْدَ الْبَنِينَ ثُمَّ فِيمَنْ يَرِثُهُ بَعْدَ أَبِ الْمَوْلَى قَوْلَانِ

Diriwayatkan dari Syuraih, al-Auza‘i, an-Nakha‘i, Abu Yusuf, Ahmad, dan Ishaq bahwa ayah dari maula mendapat seperenam, dan sisanya untuk anak laki-laki maula, bukan untuk anak perempuan maula. Adapun mazhab asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, Dawud, dan ini juga merupakan pendapat Zaid bin Tsabit serta mayoritas tabi‘in, bahwa anak laki-laki maula lebih berhak daripada ayah dan anak perempuan. Adapun anak perempuan, karena perempuan tidak mewarisi dengan sebab wala’ karena tidak adanya ‘ashabah pada mereka. Sedangkan ayah, karena anak laki-laki didahulukan atasnya dalam wala’, sehingga ia tidak mendapat bagian bersamanya, demikian pula ia tidak mendapat bagian bersama anak-anak laki-laki dari anak laki-laki, meskipun mereka lebih jauh, karena ia tidak mewarisi bersama mereka kecuali karena suatu kebutuhan, dan tidak ada hak bagi dzawil furudh dalam warisan wala’. Kemudian warisan setelah anak-anak maulanya berpindah kepada ayah maula, karena ia adalah ‘ashabah yang paling berhak setelah anak-anak laki-laki. Selanjutnya, dalam hal siapa yang mewarisi setelah ayah maula, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَخُو مَوْلَاهُ وَيَكُونُ أَحَقَّ مِنْ جَدِّ الْمَوْلَى

Salah satunya adalah saudara laki-laki dari maula, dan ia lebih berhak daripada kakek dari maula.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَشْتَرِكُ فِيهِ أَخُو الْمَوْلَى وَجَدُّ الْمَوْلَى فَإِنْ تَرَكَ جَدَّ مَوْلًى وَابْنَ أَخِي مَوْلًى فَفِيهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa saudara laki-laki mawlā dan kakek mawlā sama-sama berhak. Jika seseorang meninggalkan kakek mawlā dan anak saudara laki-laki mawlā, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ جَدَّ الْمَوْلَى أَحَقُّ

Salah satunya adalah bahwa kakek dari pihak tuan lebih berhak.

وَالثَّانِي أَنَّ ابْنَ أَخِي الْمَوْلَى أَحَقُّ وَلَا يَشْتَرِكَانِ فِيهِ فَإِنْ تَرَكَ جَدَّ مَوْلَاهُ وَعَمَّ مَوَّلَاهُ فَجَدُّ الْمَوْلَى أَحَقُّ وَإِنْ تَرَكَ أَبَا جَدِّ مَوْلَاهُ وَعَمَّ مَوْلَاهُ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Kedua, bahwa anak laki-laki dari saudara laki-laki maula (tuan yang memerdekakan) lebih berhak dan keduanya tidak berbagi dalam hal ini. Jika ia meninggalkan kakek dari maulanya dan paman dari maulanya, maka kakek maula lebih berhak. Dan jika ia meninggalkan ayah dari kakek maulanya dan paman maulanya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ عَمَّ الْمَوْلَى أَحَقُّ

Salah satunya adalah bahwa paman dari pihak maula lebih berhak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَشْتَرِكُ فِيهِ الْعَمُّ وَأَبُو الْجَدِّ

Pendapat kedua menyatakan bahwa paman dan kakek dari pihak ayah memiliki kedudukan yang sama dalam hal ini.

وَلَوْ تَرَكَ أَبَا جَدِّ مَوْلَاهُ وَابْنَ عَمِّ مَوْلَاهُ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Jika seseorang meninggalkan (sebagai ahli waris) kakek dari pihak ayah majikannya dan anak paman dari pihak ayah majikannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ أَبَا جَدِّ الْمَوْلَى أَحَقُّ

Salah satunya adalah bahwa kakek dari pihak ayah seorang mawlā lebih berhak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ ابْنَ عَمِّ الْمَوْلَى أَحَقُّ وَلَا يَشْتَرِكَانِ فِيهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak paman dari pihak ayah (ibn ‘amm) dari seorang mawla lebih berhak, dan keduanya tidak berbagi dalam hal tersebut.

وَعَلَى هَذَا الْقِيَاسُ فِيمَنْ كَانَ أَبْعَدَ مِنْهُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِمَوْلَاهُ عَصَبَةٌ فَلِمَوْلَى الْمَوْلَى ثُمَّ لِعَصَبَتِهِ يَتَقَدَّمُونَ بِمِيرَاثِهِ عَلَى ذَوِي الْأَرْحَامِ فَإِنْ عُدِمُوا فَلِبَيْتِ الْمَالِ عَلَى قَوْلِ مَنْ لَمْ يُوَرِّثْ ذَوِي الْأَرْحَامِ وَهُوَ عَلَى قَوْلِ مَنْ وَرَّثَهُمْ لِذَوِي الْأَرْحَامِ دون بيت المال

Demikian pula dengan qiyās bagi mereka yang lebih jauh dari mereka. Jika seorang mawla tidak memiliki ‘ashabah, maka hak waris berpindah kepada mawla dari mawla, kemudian kepada ‘ashabah mereka, yang lebih berhak atas warisannya daripada dzawī al-arhām. Jika mereka juga tidak ada, maka hak waris berpindah kepada Baitul Māl menurut pendapat yang tidak mewariskan kepada dzawī al-arhām. Sedangkan menurut pendapat yang mewariskan kepada mereka, maka hak waris diberikan kepada dzawī al-arhām dan bukan kepada Baitul Māl.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ تَرَكَ ثَلَاثَةَ بَنِينَ اثْنَانِ لِأُمٍّ فَهَلَكَ أَحَدُ الِاثْنَيْنِ لِأُمٍّ وَتَرَكَ مَالًا وَمَوَالِيَ فَوَرِثَ أَخُوهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ مَالَهُ وَوَلَاءَ مَوَالِيهِ ثُمَّ هَلَكَ الَّذِي وَرِثَ الْمَالَ وَوَلَاءَ الْمَوْلَى وَتَرَكَ ابْنَهُ وَأَخَاهُ لِأَبِيهِ فَقَالَ ابْنُهُ قَدْ أَحَرَزْتَ مَا كَانَ أَبِي أَحْرَزَهُ وَقَالَ أَخُوهُ إِنَّمَا أَحْرَزْتُ الْمَالَ وَأَمَّا وَلَاءُ الْمَوَالِي فَلَا قَالَ الشَّافِعِيُّ الْأَخُ أَوْلَى بِوَلَاءِ الْمَوَالِي وَقَضَى بِذَلِكَ عثمان بن عفان رحمة الله عليه ثم الأقرب فالأقرب من العصبة أولى بميراث الموالي والإخوة للأب والأم أولى من الإخوة للأب وإن كان جد وأخ لأب وأم أو لأب فقد اختلف أصحابنا في ذلك فمنهم من قال الأخ أولى وكذلك بنو الأخ وإن سفلوا ومنهم من قال هما سواء

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang meninggalkan tiga orang anak laki-laki, dua di antaranya adalah saudara seibu, lalu salah satu dari dua saudara seibu itu meninggal dunia dan meninggalkan harta serta budak-budak, maka saudara laki-lakinya seayah dan seibu mewarisi hartanya dan hak wala’ atas budak-budaknya. Kemudian, jika yang mewarisi harta dan hak wala’ atas budak itu meninggal dunia, dan ia meninggalkan seorang anak laki-laki serta seorang saudara laki-laki seayah, maka anaknya berkata, ‘Aku berhak atas apa yang telah diperoleh ayahku,’ sementara saudaranya berkata, ‘Aku hanya berhak atas harta, adapun hak wala’ atas budak-budak tidak.’ Imam Syafi‘i berkata, ‘Saudara laki-laki lebih berhak atas hak wala’ budak-budak.’ Demikian pula keputusan yang diambil oleh ‘Utsmān bin ‘Affān raḥimahullāh. Kemudian, yang paling dekat dari kalangan ‘aṣabah lebih berhak atas warisan budak, dan saudara laki-laki seayah dan seibu lebih berhak daripada saudara laki-laki seayah saja. Jika terdapat kakek dan saudara laki-laki seayah dan seibu, atau saudara laki-laki seayah, maka para sahabat kami berbeda pendapat dalam hal ini; di antara mereka ada yang mengatakan saudara lebih berhak, demikian pula anak-anak saudara meskipun mereka lebih jauh, dan di antara mereka ada yang mengatakan keduanya sama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي ثُبُوتِ الْوَلَاءِ فِي الْكِبَرِ وَقَدْ صَوَّرَهَا الشَّافِعِيُّ فِيمَا قَضَى بِهِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ وَإِنْ كَانَتْ فِي غَيْرِهِ أَقْرَبَ

Al-Mawardi berkata: “Masalah ini berkaitan dengan penetapan hak wala’ pada masa dewasa, dan Imam Syafi’i telah menggambarkannya dalam perkara yang diputuskan oleh Utsman bin Affan, meskipun pada selain beliau kasusnya lebih jelas.”

وَصُورَةُ ذَلِكَ فِي رَجُلٍ أَعْتَقَ عَبِيدًا اسْتَحَقَّ وَلَاءَهُمْ ثُمَّ مَاتَ الْمُعْتِقُ عَنْ مَالِهِ وَوَلَاءِ مَوَالِيهِ وَخَلَّفَ ثَلَاثَةَ بَنِينَ اثْنَانِ مِنْهُمْ لِأُمٍّ وَالْآخَرُ مِنْ أُمٍّ أُخْرَى فَوَرِثُوا مَالَهُ وَوَلَاءَ مَوَالِيهِ أَثْلَاثًا بِالسَّوِيَّةِ ثُمَّ مَاتَ أَحَدُ اللَّذَيْنِ مِنْ أُمٍّ وَخَلَّفَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ وَأَخَاهُ لِأَبِيهِ ثُمَّ مَاتَ الْأَخُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ وَخَلَّفَ ابْنَيْنِ وَأَخَاهُ لِأَبِيهِ فَوَرِثَ مَالَهُ ابْنَاهُ دُونَ أَخِيهِ وَتَنَازَعُوا فِي وَلَاءِ الْمَوَالِي فَقَالَ الْأَخُ أَنَا أَحَقُّ بِوَلَائِهِ مِنْكُمَا لِأَنِّي ابْنُ مَوْلًى وَأَنْتُمَا ابْنَا ابْنِ ابن مَوْلًى

Gambaran kasus ini adalah tentang seorang laki-laki yang memerdekakan beberapa budak yang ia berhak mendapatkan wala’ mereka, kemudian orang yang memerdekakan itu meninggal dunia, meninggalkan harta dan wala’ para mawali-nya, serta meninggalkan tiga orang anak laki-laki: dua dari satu ibu dan satu dari ibu yang lain. Maka mereka mewarisi harta dan wala’ para mawali itu secara sama rata, sepertiga-sepertiga. Lalu salah satu dari dua anak yang seibu itu meninggal dunia, meninggalkan saudara kandung seayah-seibu dan saudara seayah. Kemudian saudara kandung seayah-seibu itu meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak laki-laki dan saudara seayah. Maka harta warisan itu diwarisi oleh kedua anak laki-lakinya, tidak termasuk saudara seayah. Mereka pun berselisih tentang wala’ para mawali. Saudara seayah berkata, “Aku lebih berhak atas wala’-nya daripada kalian berdua, karena aku adalah anak dari seorang mawla, sedangkan kalian berdua adalah cucu dari anak seorang mawla.”

وَقَالَ ابْنَا الِابْنِ لَكَ ثُلُثُ وَلَائِهِ وَلَنَا ثُلُثَاهُ حَقُّ أَبِينَا بِمِيرَاثِهِ عَنْ أُمِّهِ وَأَخِيهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ فِي اسْتِحْقَاقِ الْوَلَاءِ هَلْ يَكُونُ مُعْتَبَرًا بِمَوْتِ الْعَبْدِ الْمُعْتَقِ فَيَسْتَحِقُّهُ الْكِبَرُ من عَصَبَاتِ الْمَوْلَى الْمُعْتِقِ أَوْ يَكُونُ مُعْتَبَرًا بِمَوْتِ الْمَوْلَى الْمُعْتِقِ فَيَكُونُ مُشْتَرَكًا بَيْنَ الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ فَمَذْهَبُ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَابْنِ عُمَرَ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَأَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Kedua anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu) berkata, “Bagimu sepertiga hak wala’, dan bagi kami dua pertiganya, yaitu hak ayah kami karena warisannya dari ibunya dan saudaranya.” Maka telah terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak atas wala’, apakah yang menjadi pertimbangan adalah wafatnya budak yang dimerdekakan sehingga yang berhak adalah kerabat terdekat dari ‘ashabah (keluarga laki-laki) dari tuan yang memerdekakan, ataukah yang menjadi pertimbangan adalah wafatnya tuan yang memerdekakan sehingga hak itu menjadi milik bersama antara kerabat dekat dan jauh. Maka pendapat Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka‘b, Ibnu Umar, Usamah bin Zaid, dan Abu Mas‘ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhum adalah demikian.

وَمِنَ التَّابِعِينَ الْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ وَعَطَاءٌ وَالزُّهْرِيٌّ وَالشَّعْبِيٌّ

Dan di antara para tabi’in adalah al-Hasan, Ibnu Sirin, ‘Atha’, az-Zuhri, dan asy-Sya‘bi.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ الشَّافِعِيّ وَأَبي حَنِيفَةَ وَمَالِك وَدَاوُد أَنَّ الْوَلَاءَ يَسْتَحِقُّهُ الْكِبَرُ اعْتِبَارًا بِمَوْتِ الْعَبْدِ الْمُعْتَقِ فَيَكُونُ وَلَاءُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ لِابْنِ الْمَوْلَى دُونَ ابْنَيِ ابْنِهِ

Di antara para fuqaha Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, dan Dawud berpendapat bahwa hak wala’ menjadi milik anak laki-laki yang lebih tua, dengan pertimbangan wafatnya budak yang dimerdekakan. Maka, hak wala’ dari orang yang telah wafat di antara mereka menjadi milik anak laki-laki tuan (yang memerdekakan), bukan milik cucu laki-lakinya.

وَحُكِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فِي إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ وَعَنْ شُرَيْحٍ مِنَ التَّابِعِينَ أَنَّ وَلَاءَ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ مَوْرُوثٌ يَسْتَحِقُّهُ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ اعْتِبَارًا بِمَوْتِ الْمَوْلَى الْمُعْتِقِ فَيَكُونُ لِابْنِ الْمَوْلَى فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ثُلُثُ وَلَائِهِ وَلِابْنَيِ ابْنِهِ ثُلُثَاهُ وَمَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ مِنْ تَوْرِيثِ الْكِبَرِ أَصَحُّ لِمَا قَدَّمْنَاهُ فِي أَوَّلِ الْبَابِ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَلَا يُتَصَدَّقُ بِهِ يَعْنِي لَا يُورَثُ مِيرَاثَ الْمَالِ وَلِرِوَايَةِ يُونُسَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قال المولى أَخٍ فِي الدِّينِ وَنِعْمَةٍ يَرِثُهُ أَوْلَى النَّاسِ بِالْمُعْتِقِ وَلِأَنَّ الْكِبَرَ أَقْرَبُ فَكَانَ بِالْمِيرَاثِ أَحَقَّ كَالنَّسَبِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْمِيرَاثُ بَالنَّسَبِ مُعْتَبَرًا بِمَوْتِ الْمَوْرُوثِ كَانَ كَذَلِكَ فِي الْمِيرَاثِ بِالْوَلَاءِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud dalam salah satu riwayat darinya, dan dari Syuraih dari kalangan tabi‘in, bahwa wala’ (hak perwalian) orang yang meninggal di antara mereka adalah sesuatu yang diwariskan dan berhak didapatkan oleh kerabat dekat maupun jauh, dengan pertimbangan wafatnya maula (tuan) yang memerdekakan, sehingga dalam masalah ini, anak dari maula mendapat sepertiga hak wala’, dan dua cucunya mendapat dua pertiga. Namun, pendapat mayoritas (jumhur) ulama yang menyatakan bahwa hak waris diberikan kepada kerabat terdekat adalah lebih kuat, sebagaimana telah kami sebutkan di awal bab berdasarkan riwayat Ibnu Juraij dari Abu az-Zubair dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Wala’ adalah ikatan seperti ikatan nasab, tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh disedekahkan,” maksudnya tidak diwariskan seperti warisan harta. Juga berdasarkan riwayat Yunus dari az-Zuhri dari Sa‘id bin al-Musayyab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Maula adalah saudara dalam agama dan nikmat, yang mewarisinya adalah orang yang paling berhak terhadap mu‘tiq (orang yang memerdekakan).” Karena kerabat terdekat lebih utama, maka mereka lebih berhak mendapatkan warisan sebagaimana dalam nasab. Dan karena warisan berdasarkan nasab dipertimbangkan dengan wafatnya pewaris, maka demikian pula dalam warisan berdasarkan wala’.

فَصْلٌ

Bagian

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا أَنْ يَعْتِقَ الرَّجُلُ عَبْدًا وَيَمُوتُ فَيُخَلِّفُ ثَلَاثَةَ بَنِينَ وَيَمُوتُ أَحَدُ الْبَنِينَ وَيَخَلِّفُ ابْنًا وَيَمُوتُ آخَرُ وَيُخَلِّفُ ابْنَيْنِ وَيَمُوتُ الْآخَرُ وَيُخَلِّفُ ثَلَاثَةَ بَنِينَ ثُمَّ يَمُوتُ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ فَعَلَى مَذْهَبِنَا فِي تَوْرِيثِ الْكِبَرِ يَكُونُ مِيرَاثُهُ بِالْوَلَاءِ بَيْنَ بَنِي الْمَوْلَى عَلَى أعداد رؤوسهم مَقْسُومًا عَلَى سِتَّةِ أَسْهُمٍ وَعَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَ الْوَلَاءَ مَوْرُوثًا يُعْطِيهِمْ سِهَامَ آبَائِهِمْ فَيَجْعَلُ الثُّلُثَ لِابْنِ الِابْنِ وَالثُّلُثَ لِابْنَيِ الِابْنِ الْآخَرِ وَالثُّلُثَ لِثَلَاثَةِ بَنِي الِابْنِ الْآخَرِ وَتَصِحُّ مِنْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا وَلَوِ اشْتَرَكَ أَبٌ وَابْنٌ فِي عِتْقِ عَبْدٍ ثُمَّ مَاتَ الْأَبُ وَخَلَّفَ ابْنًا آخَرَ وَمَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ كَانَ لِلِابْنِ الْمُعْتِقِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِ وَلَائِهِ النِّصْفُ مِنْهُ بِمُبَاشَرَةِ عِتْقِهِ وَالرُّبْعُ بِمِيرَاثِهِ عَنْ أَبِيهِ وَلِلِابْنِ الَّذِي لَيْسَ بِمُعْتِقٍ رُبْعُ وَلَائِهِ بِمِيرَاثِهِ عَنْ أَبِيهِ

Berdasarkan hal ini, jika seorang laki-laki memerdekakan seorang budak lalu ia meninggal dunia dan meninggalkan tiga orang anak laki-laki, kemudian salah satu anak laki-laki itu meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki, lalu anak yang lain meninggal dan meninggalkan dua orang anak laki-laki, kemudian anak yang terakhir meninggal dan meninggalkan tiga orang anak laki-laki, lalu budak yang telah dimerdekakan itu meninggal, maka menurut mazhab kami dalam pewarisan al-kibar, warisan karena wala’ dibagikan di antara anak-anak tuan sesuai jumlah kepala mereka, yaitu dibagi menjadi enam bagian. Sedangkan menurut pendapat yang menjadikan wala’ sebagai sesuatu yang diwariskan, maka bagian mereka diberikan sesuai bagian ayah-ayah mereka: sepertiga untuk anak laki-laki dari anak pertama, sepertiga untuk dua anak laki-laki dari anak kedua, dan sepertiga untuk tiga anak laki-laki dari anak ketiga; pembagian ini sah dari delapan belas bagian. Jika seorang ayah dan anak bersama-sama memerdekakan seorang budak, lalu ayah itu meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki lain, kemudian budak yang telah dimerdekakan itu meninggal, maka bagi anak yang ikut memerdekakan, ia memperoleh tiga perempat bagian wala’: setengahnya karena langsung memerdekakan, dan seperempatnya karena mewarisi dari ayahnya; sedangkan bagi anak yang tidak ikut memerdekakan, ia memperoleh seperempat bagian wala’ karena mewarisi dari ayahnya.

فَلَوْ مَاتَ الِابْنُ الْمُعْتِقُ قَبْلَ مَوْتِ الْعَبْدِ الْمُعْتَقِ وَتَرَكَ ابْنًا وَأَخَاهُ ثُمَّ مَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ كَانَ لِأَخِيهِ نِصْفُ وَلَائِهِ وَلِابْنِهِ نِصْفُ وَلَائِهِ اعْتِبَارًا بِالْكِبَرِ وَعَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَ الْوَلَاءِ مَوْرُوثًا جَعَلَ لِلْأَخِ رُبْعَ وَلَائِهِ وَلِلِابْنِ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ

Jika anak laki-laki yang memerdekakan (al-mu‘tiq) meninggal sebelum budak yang dimerdekakan (al-mu‘taq), lalu ia meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang saudara laki-laki, kemudian budak yang dimerdekakan itu meninggal, maka bagi saudaranya setengah hak wala’ dan bagi anaknya setengah hak wala’, dengan pertimbangan kedekatan hubungan. Namun menurut pendapat yang menganggap wala’ sebagai sesuatu yang diwariskan, maka bagi saudara seperempat hak wala’ dan bagi anak tiga perempat hak wala’.

وَلَوْ أَعْتَقَ عَبْدًا وَمَاتَ وَخَلَّفَ أَخًا لِأَبٍ وَأُمٍّ وَأَخًا لِأَبٍ ثُمَّ مَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ فَفِي مُسْتَحِقِّ وَلَائِهِ قَوْلَانِ

Jika seseorang memerdekakan seorang budak, lalu ia (orang tersebut) meninggal dunia dan meninggalkan saudara laki-laki seayah seibu dan saudara laki-laki seayah, kemudian budak yang telah dimerdekakan itu meninggal, maka mengenai siapa yang berhak atas wala’nya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ أَحَقَّ بِالْوَلَاءِ كَمَا كَانَ أَحَقَّ بِالْمَالِ لِقُوَّةِ تَعْصِيبِهِ

Salah satunya adalah bahwa saudara laki-laki seayah seibu lebih berhak atas wala’ sebagaimana ia lebih berhak atas harta, karena kuatnya hubungan ‘ashabah-nya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَشْتَرِكُ فِي وَلَائِهِ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ وَالْأَخُ لِلْأَبِ لِأَنَّ الْأُمَّ لَا تَرِثُ بِالْوَلَاءِ فَلَمْ يَتَرَجَّحْ مَنْ أَوْلَى بِهَا وَلَوْ مَاتَ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ وَخَلَّفَ ابْنًا ثُمَّ مَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ كَانَ الْأَخُ لِلْأَبِ أَحَقَّ بِوَلَائِهِ وَابْنُ الْأَخِ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ فِي الْقَوْلَيْنِ مَعًا عَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَ الْوَلَاءَ لِلْكِبَرِ وَهُوَ فِي قَوْلِ مَنْ جَعَلَ الْوَلَاءَ مَوْرُوثًا على حكمه قبل الأخ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak wala’ dimiliki bersama oleh saudara seayah dan seibu serta saudara seayah saja, karena ibu tidak mewarisi melalui wala’, sehingga tidak ada yang lebih diutamakan dalam hal ini. Jika saudara seayah dan seibu meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki, kemudian budak yang telah dimerdekakan itu meninggal, maka saudara seayah lebih berhak atas wala’-nya. Adapun anak saudara seayah dan seibu, menurut kedua pendapat, mengikuti pendapat yang menjadikan wala’ berdasarkan usia tertua, dan menurut pendapat yang menyatakan bahwa wala’ itu diwariskan, maka ia mengikuti ketentuan sebelum saudara.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَرِثُ النِّسَاءُ الْوَلَاءَ وَلَا يَرِثْنَ إِلَّا مَنْ أَعْتَقْنَ أَوْ أَعْتَقَ مَنْ أَعْتَقْنَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Perempuan tidak mewarisi al-walā’, dan mereka tidak mewarisi kecuali terhadap orang yang mereka merdekakan atau orang yang dimerdekakan oleh orang yang telah mereka merdekakan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini mencakup dua bagian.”

أَحَدُهُمَا فِي النِّسَاءِ لَا يَرِثْنَ الْوَلَاءَ

Salah satunya adalah dalam hal perempuan, mereka tidak mewarisi al-walā’.

وَالثَّانِي فِي جَرِّ الْوَلَاءِ

Dan yang kedua adalah dalam hal penarikan hak wala’.

فَأَمَّا مِيرَاثُهُنَّ الْوَلَاءَ فَلَا يَرِثْنَهُ عَنْ مُعْتَقٍ بِحَالٍ وَإِنْ خَالَفَ فِيهِ طَاوُسٌ فَوَرَّثَهُنَّ كَالرِّجَالِ وَهُوَ خَطَأٌ لِأَنَّ الْوَلَاءَ تَعْصِيبٌ يُنْقَلُ إِلَى الْعَصَبَاتِ وَلَيْسَ النِّسَاءُ عَصَبَةً

Adapun warisan al-walā’ bagi perempuan, maka mereka tidak mewarisinya dari seorang mu‘tiq dalam keadaan apa pun. Meskipun Ṭāwūs berpendapat berbeda dalam hal ini dan mewariskan kepada mereka seperti halnya laki-laki, namun itu adalah kesalahan, karena al-walā’ adalah ‘aṣabah yang berpindah kepada para ‘aṣabah, sedangkan perempuan bukanlah ‘aṣabah.

وَلَوْ كَانَ مُعْتَبَرًا بِالْمَالِ لَانْتَقَلَ إِلَى الزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ كَالْمَالِ وَلَمْ يَقُلْ ذَلِكَ أَحَدٌ فَصَارَ حَقُّ تَوْرِيثِهِنَّ مَدْفُوعًا بِالْإِجْمَاعِ وَلَكِنْ يَسْتَحِقُّ النِّسَاءُ الْوَلَاءَ بِعِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ كَمَا تَسْتَحِقُّهُ الرِّجَالُ لِزَوَالِ مِلْكِهِنَّ بالعتق وقد أعتقت عائشة رضي الله عنا بَرِيرَةَ فَجَعَلَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَلَاءَهَا وَأَبْطَلَ وَلَاءَ مَنِ اشْتَرَطَ وَلَاءَهَا مِنْ مَوَالِيهَا فَلِذَلِكَ قَالَ الشَّافِعِيُّ ولَا يَرِثْهنَّ بِالْوَلَاءِ إِلَّا مَنْ أَعْتَقْنَ أَوْ أَعْتَقَ مَنْ أَعْتَقْنَ يَعْنِي إِذَا أَعْتَقَتِ الْمَرْأَةُ عَبْدًا وَأَعْتَقَ عَبْدُهَا عَبْدًا كَانَ لَهَا وَلَاءُ عَبْدِهَا وَلَهَا وَلَاءُ مَنْ أَعْتَقَهُ عَبْدُهَا تَرِثُهُ بَعْدَ عَبْدِهَا فَلَوْ أَعْتَقَتِ امْرَأَةٌ عَبْدًا وَمَاتَتْ وَخَلَّفَتِ ابْنًا وَأَخًا ثُمَّ مَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتِقُ كَانَ وَلَاؤُهُ لِلِابْنِ دُونَ الْأَخِ وَلَوْ مَاتَ الِابْنُ قَبْلَ مَوْتِ الْعَبْدِ وَخَلَّفَ عَمًّا وَخَالًا ثُمَّ مَاتَ الْعَبْدُ الْمُعْتَقُ كَانَ وَلَاؤُهُ لِخَالِهِ دُونَ عَمِّهِ لِأَنَّ الْخَالَ أَخُو الْمُعْتِقَةِ وَالْعَمَّ أَجْنَبِيٌّ مِنْهَا وَهَذَا قَوْلُ مَنْ جَعَلَ الْوَلَاءَ لِلْكِبَرِ

Seandainya wala’ itu dianggap seperti harta, tentu ia akan berpindah kepada suami dan istri sebagaimana harta, namun tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Maka, hak mewarisi wala’ bagi mereka (suami dan istri) tertolak berdasarkan ijmā‘. Namun, para perempuan berhak mendapatkan wala’ melalui pembebasan langsung sebagaimana laki-laki, karena kepemilikan mereka telah hilang dengan pembebasan. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah membebaskan Barirah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan wala’ Barirah untuk Aisyah dan membatalkan wala’ bagi siapa pun dari para mantan tuannya yang mensyaratkan wala’ itu untuk dirinya. Oleh karena itu, Imam Syafi‘i berkata: “Tidak mewarisi wala’ dari perempuan kecuali orang yang membebaskan atau orang yang dibebaskan oleh orang yang membebaskan.” Maksudnya, jika seorang perempuan membebaskan seorang budak, lalu budaknya itu membebaskan budak lain, maka perempuan itu berhak atas wala’ budaknya, dan juga berhak atas wala’ orang yang dibebaskan oleh budaknya, sehingga ia mewarisinya setelah budaknya. Jika seorang perempuan membebaskan seorang budak, lalu ia meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang saudara laki-laki, kemudian budak yang dibebaskan itu meninggal, maka wala’nya menjadi milik anak laki-laki, bukan saudara laki-laki. Jika anak laki-laki itu meninggal sebelum budak yang dibebaskan, dan ia meninggalkan seorang paman dan seorang paman dari pihak ibu, lalu budak yang dibebaskan itu meninggal, maka wala’nya menjadi milik paman dari pihak ibu, bukan paman dari pihak ayah, karena paman dari pihak ibu adalah saudara perempuan yang membebaskan, sedangkan paman dari pihak ayah adalah orang asing baginya. Inilah pendapat orang yang menetapkan wala’ untuk kerabat terdekat.

فَأَمَّا عَلَى قَوْلِ مِنْ جَعَلَهُ مَوْرُوثًا يُجْعَلُ الْوَلَاءُ لِعَمِّ الِابْنِ وَإِنْ كَانَ أَجْنَبِيًّا مِنَ الْمُعْتِقَةِ دُونَ الْخَالِ وَإِنْ كَانَ أَخَاهَا لِانْتِقَالِ مَالِهِ إِلَى عمه دون خاله

Adapun menurut pendapat yang menjadikannya sebagai harta warisan, maka hak walā’ diberikan kepada paman dari pihak ayah si anak, meskipun ia adalah orang asing bagi perempuan yang memerdekakan, dan tidak diberikan kepada paman dari pihak ibu, meskipun ia adalah saudara laki-lakinya, karena hartanya berpindah kepada pamannya, bukan kepada pamannya dari pihak ibu.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا جَرُّ الْوَلَاءِ فَهُوَ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الْوَلَدِ وَلَاءٌ لِمُعْتِقِ أُمِّهِ فَيَجُرُّ مُعْتِقُ أَبِيهِ وَلَاءَهُ عَنْهُ إِلَى نَفْسِهِ

Adapun jar al-walā’, yaitu apabila pada seorang anak tetap terdapat walā’ bagi orang yang memerdekakan ibunya, lalu orang yang memerdekakan ayahnya menarik walā’ tersebut dari anak itu untuk dirinya sendiri.

وَصُورَتُهُ أَنْ يَعْتِقَ أَمَةً وَتَتَزَوَّجَ بَعْدَ عِتْقِهَا بِعَبْدٍ فَتَلِدُ مِنْهُ أَوْلَادًا فَهُمْ أَحْرَارٌ بِحُرِّيَّةِ أُمِّهِمْ وَعَلَيْهِمُ الْوَلَاءُ لِمُعْتِقِ أُمِّهِمْ فَإِذَا أُعْتِقَ أَبُوهُمُ انْجَرَّ وَلَاؤُهُمْ عَنِ الْأُمِّ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ فَإِنِ انْقَرَضَ مَوْلَى الْأَبِ وَعَصَبَتُهُ لَمْ يَعُدْ وَلَاؤُهُمْ إِلَى مُعْتِقِ الْأُمِّ وَكَانَ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينِ وَالْفُقَهَاءِ

Gambaran kasusnya adalah seseorang memerdekakan seorang budak perempuan, lalu setelah dimerdekakan, budak perempuan itu menikah dengan seorang budak laki-laki, kemudian ia melahirkan anak-anak dari suaminya itu. Maka anak-anak tersebut menjadi orang merdeka karena kemerdekaan ibu mereka, dan mereka memiliki hak wala’ kepada orang yang memerdekakan ibu mereka. Jika ayah mereka kemudian dimerdekakan, maka hak wala’ mereka berpindah dari pihak ibu kepada orang yang memerdekakan ayah mereka. Jika pewaris wala’ dari pihak ayah dan kerabat-kerabatnya telah punah, maka hak wala’ mereka tidak kembali kepada orang yang memerdekakan ibu mereka, melainkan menjadi milik seluruh kaum Muslimin. Inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para fuqaha.

قَالَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ وَابْنُ مَسْعُودٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Hal ini dikatakan oleh para sahabat: Umar, Utsman, Ali, Zubair, Ibnu Mas‘ud, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhum.

وَمِنَ التَّابِعِينَ الْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَشُرَيْحٌ وَالشَّعْبِيُّ وَالْأَسْوَدُ بْنُ زَيْدٍ

Dan di antara para tabi’in adalah al-Hasan, Ibnu Sirin, Sa‘id bin al-Musayyib, Umar bin Abdul Aziz, Syuraih, asy-Sya‘bi, dan al-Aswad bin Zaid.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ الْحَكَمُ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَخَالَفَهُمْ مَنْ أَقَرَّ الْوَلَاءَ لِمُعْتِقِ الْأُمِّ وَلَمْ يَجُرُّهُ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ فَإِنِ انْقَرَضَ مُعْتِقُ الْأُمِّ لَمْ يَنْتَقِلْ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ وَكَانَ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Di antara para fuqaha adalah al-Hakam, al-Awza‘i, al-Laits bin Sa‘d, ats-Tsauri, Abu Hanifah, asy-Syafi‘i, Malik, Ahmad, dan Ishaq. Mereka berbeda pendapat dengan pihak yang menetapkan hak wala’ bagi orang yang memerdekakan dari pihak ibu dan tidak memindahkannya kepada orang yang memerdekakan dari pihak ayah. Maka jika orang yang memerdekakan dari pihak ibu telah tiada, hak wala’ tidak berpindah kepada orang yang memerdekakan dari pihak ayah, melainkan menjadi milik seluruh kaum Muslimin.

قَالَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ وَرِوَايَةٌ شَذَّتْ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ

Hal ini dikatakan oleh sahabat Rafi‘ bin Khadij dan merupakan riwayat yang menyimpang dari Zaid bin Tsabit.

وَمِنَ التَّابِعِينَ مَالِكُ بْنُ أَوْسِ بْنِ الْحَدَثَانِ وَمُجَاهِدٌ وَالزُّهْرِيُّ وَعِكْرِمَةُ وَمَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ

Dan di antara para tabi’in adalah Malik bin Aus bin Al-Hadatsan, Mujahid, Az-Zuhri, Ikrimah, Maimun bin Mihran, dan Abdul Malik bin Marwan.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ دَاوُدُ وَأَهْلُ الظَّاهِرِ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الولاء لحمة كلحمة النسب ثم ثبت أن النَّسَبَ مُعْتَبَرٌ إِذَا ثَبَتَ فِي جَنَبَةٍ لَمْ يَنْتَقِلْ إِلَى غَيْرِهَا كَذَلِكَ الْوَلَاءُ

Di antara para fuqaha adalah Dawud dan para pengikut madzhab Zhahiri yang berargumentasi dengan sabda Nabi ﷺ: “Wala’ itu seperti hubungan darah nasab.” Kemudian telah tetap bahwa nasab itu dianggap sah apabila telah tetap pada satu pihak, maka tidak berpindah kepada pihak lain; demikian pula halnya dengan wala’.

وَدَلِيلُنَا مَا قَالَهُ الْجُمْهُورُ مِنْ جَرِّ الْوَلَاءِ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الولاء لحمة كلحمة النسب ثم ثبت أن النَّسَبَ مُعْتَبَرٌ بِالْآبَاءِ دُونَ الْأُمَّهَاتِ كَذَلِكَ الْوَلَاءُ مُعْتَبَرٌ بِالْآبَاءِ دُونَ الْأُمَّهَاتِ وَإِنَّمَا اعْتُبِرَ بِالْأُمَّهَاتِ لِإِعْوَازِهِ مِنْ جِهَةِ الْآبَاءِ ضَرُورَةً فَإِذَا وُجِدَ مِنْ جِهَتِهِمُ انْتَقَلَ إِلَيْهِمْ وَجَرَى مَجْرَى وَلَدِ الْمُلَاعَنَةِ إِذَا اعْتَرَفَ بِهِ أَبُوهُ بَعْدَ لِعَانِهِ عَادَ إِلَى نَسَبِهِ وَلَحِقَ بِهِ

Dalil kami adalah apa yang dikatakan oleh jumhur mengenai penarikan hukum wala’, yaitu sabda Nabi ﷺ: “Wala’ adalah hubungan seperti hubungan nasab.” Kemudian telah tetap bahwa nasab itu diakui melalui jalur ayah, bukan ibu. Maka demikian pula wala’, diakui melalui jalur ayah, bukan ibu. Adapun pengakuan melalui jalur ibu hanya dilakukan karena tidak adanya (nasab) dari jalur ayah secara darurat. Maka jika ditemukan dari jalur ayah, berpindahlah (wala’) kepadanya, dan hal ini seperti anak hasil li‘an, apabila ayahnya mengakuinya setelah li‘an, maka anak itu kembali kepada nasabnya dan terhubung dengannya.

وَالْقِصَّةُ الْمَشْهُورَةُ فِي خَبَرِ الْوَلَاءِ مَا رُوِيَ أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ خَيْبَرَ فَرَأَى فِتْيَةً لُعْسًا ظِرَافًا فَأَعْجَبَهُ ظُرْفُهُمْ فَسَأَلَ عَنْهُمْ فَقِيلَ لَهُ هُمْ مَوَالٍ لِرَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أُمُّهُمْ حُرَّةٌ وَأَبُوهُمْ مَمْلُوكٌ لِآلِ الْحُرْقَةِ فَاشْتَرَى أَبَاهُمْ وَأَعْتَقَهُ وَقَالَ لَهُمْ انْتَسِبُوا إِلَيَّ فَأَنْتُمْ مَوَالِيَّ وَنَازَعَهُ رَافِعٌ فِيهِمْ فَاخْتَصَمَا إِلَى عُثْمَانَ فَقَضَى بِوَلَائِهِمْ لِلزُّبَيْرِ وَعَلَيٌّ حَاضِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَمِيعًا

Kisah yang masyhur dalam berita tentang walā’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan bahwa az-Zubair bin al-‘Awwām radhiyallāhu ‘anhu datang ke Khaybar, lalu ia melihat sekelompok pemuda yang tampan dan menarik, sehingga ia kagum dengan ketampanan mereka. Ia pun bertanya tentang mereka, lalu dikatakan kepadanya: “Mereka adalah mawālī (para klien) dari Rāfi‘ bin Khadīj; ibu mereka adalah seorang wanita merdeka, sedangkan ayah mereka adalah seorang budak milik keluarga al-Hurqah.” Maka az-Zubair membeli ayah mereka dan memerdekakannya, lalu berkata kepada mereka: “Nisbatkanlah diri kalian kepadaku, maka kalian adalah mawālī-ku.” Namun Rāfi‘ berselisih dengannya mengenai mereka, lalu keduanya mengadukan perkara itu kepada ‘Utsmān, maka ‘Utsmān memutuskan bahwa walā’ mereka adalah milik az-Zubair, dan ‘Ali juga hadir saat itu, semoga Allah meridhai mereka semua.

فَإِذَا ثَبَتَ جَرُّ الْوَلَاءِ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ فَأَعْتَقَ الْجِدَّ دُونَ الْأَبِ فَفِي جَرِّهِ وَلَاءَهُمْ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ حَكَاهَا أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ أَقَاوِيلَ

Maka apabila telah tetap bahwa wala’ dapat ditarik kepada orang yang memerdekakan ayah, lalu kakek memerdekakan (budak) tanpa ayah, maka dalam hal penarikan wala’ mereka dari orang yang memerdekakan ibu terdapat tiga pendapat yang dinukil oleh Abu al-‘Abbas Ibn Surayj sebagai pendapat-pendapat.

أَحَدُهَا يَجُرُّ مُعْتِقُ الْجِدِّ وَلَاءَهُمْ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ وَبِهِ قَالَ شُرَيْحٌ وَالشَّعْبِيُّ وَمَالِكٌ لِأَنَّ الْجِدَّ وَالِدٌ

Salah satunya adalah bahwa orang yang memerdekakan dari pihak kakek menarik hak wala’ mereka dari orang yang memerdekakan dari pihak ibu. Pendapat ini dikemukakan oleh Syuraih, asy-Sya‘bi, dan Malik, karena kakek adalah ayah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يَجُرُّ وَلَاءَهُمْ لِمُبَاشَرَةِ الْأَبِ لِلْوِلَادَةِ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

Pendapat kedua adalah bahwa wala’ mereka tidak berpindah karena keterlibatan langsung ayah dalam kelahiran, dan inilah pendapat Abu Hanifah.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ إِنْ كَانَ الْأَبُ حَيًّا لَمْ يَجُرَّ مُعْتِقُ الْجِدِّ وَلَاءَهُمْ وَإِنْ كَانَ مَيِّتًا جَرَّهُ لِأَنَّ الْجَرَّ بِمَوْتِ الْأَبِ مُسْتَقِرٌّ وَمَعَ بَقَائِهِ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ فَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ لَوْ جَرَّ مُعْتِقُ الْجِدِّ وَلَاءَهُمْ ثُمَّ أُعْتِقَ الْأَبُ بَعْدُ فَفِي جَرِّ الْوَلَاءِ عَنْ مُعْتِقِ الْجِدِّ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ وَجْهَانِ

Pendapat ketiga: Jika ayah masih hidup, maka orang yang memerdekakan kakek tidak menarik wala’ mereka. Namun jika ayah telah wafat, maka ia menarik wala’ tersebut, karena penarikan (wala’) akibat wafatnya ayah itu bersifat tetap, sedangkan jika ayah masih ada maka tidak tetap. Berdasarkan pendapat ini, jika orang yang memerdekakan kakek telah menarik wala’ mereka, kemudian ayah mereka dimerdekakan setelah itu, maka dalam hal pemindahan wala’ dari orang yang memerdekakan kakek kepada orang yang memerdekakan ayah terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُرُّ وَهُوَ الْأَصَحُّ لِأَنَّ الْوِلَادَةَ فِيهِ مُبَاشِرَةٌ وَفِي الْجِدِّ بَعِيدَةٌ

Salah satunya menyebabkan (nasab) mengikuti, dan inilah pendapat yang lebih sahih, karena kelahiran pada kasus ini terjadi secara langsung, sedangkan pada kasus kakek (jidd) hubungannya lebih jauh.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَجُرُّهُ لِاسْتِقْرَارِهِ فِي نَسَبِ الْأُبُوَّةِ

Adapun alasan yang kedua, ia tidak menariknya (tidak menyebabkan penarikan), karena telah tetapnya dalam nasab keayahannya.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ أُعْتِقَتْ أَمَةٌ حَامِلٌ مِنْ زَوْجِ مَمْلُوكٍ فَوَلَدَتِ ابْنًا ثُمَّ أُعْتِقَ الْأَبُ كَانَ وَلَاءُ الِابْنِ لِمُعْتِقِ الْأُمِّ وَلَمْ يَجُرُّهُ مُعْتِقُ الْأَبِ لِأَنَّ عِتْقَ الِابْنِ مُبَاشَرَةٌ وَالْوَلَاءَ فِي عِتْقِ الْمُبَاشَرَةِ لَا يَزُولُ بِالْجَرِّ وَلَوْ لَمْ تَلِدْهُ قَبْلَ عِتْقِ الْأَبِ وَوَلَدَتْهُ بَعْدَ عِتْقِهِ اعْتُبِرَتْ مُدَّةُ وِلَادَتِهِ بَعْدَ عِتْقِهَا

Jika seorang budak perempuan yang sedang hamil dari suami yang juga seorang budak dimerdekakan, lalu ia melahirkan seorang anak, kemudian sang ayah dimerdekakan, maka hak wala’ anak tersebut menjadi milik orang yang memerdekakan ibunya, dan orang yang memerdekakan ayahnya tidak dapat menarik hak wala’ tersebut, karena kemerdekaan anak terjadi secara langsung, dan hak wala’ pada kemerdekaan langsung tidak dapat berpindah dengan penarikan. Namun, jika anak tersebut belum dilahirkan sebelum ayahnya dimerdekakan dan baru dilahirkan setelah ayahnya dimerdekakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah waktu kelahiran anak tersebut setelah ibunya dimerdekakan.

فَإِنْ وَلَدَتْهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ كَانَ عِتْقُهُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ وَكَانَ وَلَاؤُهُمَا لِمُعْتِقِهَا وَلَا يَجُرُّهُ مُعْتِقُ الْأَبِ لِعِلْمِنَا بِكَوْنِهِ حَمْلًا وَقْتَ عِتْقِهَا

Jika ia melahirkannya dalam waktu kurang dari enam bulan, maka kemerdekaannya terjadi karena hubungan langsung, dan hak wala’ keduanya menjadi milik orang yang memerdekakan ibunya. Orang yang memerdekakan ayahnya tidak dapat menarik hak wala’ tersebut, karena kita mengetahui bahwa ia masih berupa janin pada saat ibunya dimerdekakan.

وَإِنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ جَرَّ مُعْتِقُ الْأَبِ وَلَاءَهُ عَنْ مُعْتِقِهَا لِعِلْمِنَا بِعَدَمِهِ وَقْتَ عِتْقِهَا

Dan jika ia melahirkannya setelah lebih dari empat tahun, maka wali dari pihak yang memerdekakan ayahnya akan menarik hak wala’nya dari pihak yang memerdekakan ibunya, karena kita mengetahui bahwa (anak itu) tidak ada pada saat ibunya dimerdekakan.

وَإِنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ وَأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ فَهَذَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ وَقْتَ الْعِتْقِ مَوْجُودًا وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَعْدُومًا فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jika ia melahirkan anak itu setelah lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun, maka dimungkinkan anak itu sudah ada pada waktu pembebasan, dan dimungkinkan pula belum ada; maka dalam hal ini terdapat dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا أَن لَا يَلْحَقَ بِالزَّوْجِ فَوَلَاؤُهُ غَيْرُ مَجْرُورٍ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak mengikuti suami, sehingga wala’-nya tidak terseret.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَلْحَقَ بِالزَّوْجِ فَفِي جَرِّ وَلَائِهِ وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah apabila ia mengikuti suami, maka dalam hal penarikan wala’ terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا مَجْرُورٌ لِأَنَّنَا عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِ الْوِلَادَةِ وَفِي شَكٍّ مِنْ تَقَدُّمِهَا

Salah satunya bersifat majrūr karena kita yakin akan terjadinya kelahiran, sedangkan kita ragu apakah kelahiran itu terjadi lebih dahulu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي غير مجرور لأنا عَلَى يَقِينٍ مِنْ ثُبُوتِ وَلَائِهِ لِمُعْتِقِ أُمِّهِ وَفِي شَكٍّ مِنْ جَرِّهِ إِلَى مُعْتِقِ أَبِيهِ

Adapun pendapat kedua tidak dapat diterima, karena kita yakin akan tetapnya wala’ bagi orang yang memerdekakan ibunya, sedangkan kita masih ragu mengenai pengalihannya kepada orang yang memerdekakan ayahnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا تَزَوَّجَ حُرٌّ لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ بِمُعْتَقَةٍ عَلَيْهَا وَلَاءٌ وَأَوْلَدَهَا وَلَدًا لَمْ يَخْلُ حَالُ الزَّوْجِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَعْرُوفَ النَّسَبِ أَوْ مَجْهُولَ النَّسَبِ فَإِنْ كَانَ مَعْرُوفَ النَّسَبِ عَرِيقًا فِي الْحُرِّيَّةِ كَالْعَرَبِ فَلَا وَلَاءَ عَلَى وَلَدِهِ لِأَنَّهُ لَوْ أَوْلَدَهَا فِي الرِّقِّ لَمْ يَكُنِ الْوَلَدُ رَقِيقًا فَكَانَ أَوْلَى إِذَا أَوْلَدَهَا بَعْدَ ثُبُوتِ الْوَلَاءِ أَن لَا يَكُونُ عَلَيْهِ وَلَاءٌ

Apabila seorang laki-laki merdeka yang tidak memiliki hak wala’ menikahi seorang perempuan yang telah dimerdekakan dan memiliki hak wala’, lalu perempuan itu melahirkan anak darinya, maka keadaan suami tidak lepas dari dua kemungkinan: dikenal nasabnya atau tidak dikenal nasabnya. Jika nasabnya dikenal dan ia berasal dari keturunan yang murni merdeka seperti bangsa Arab, maka tidak ada hak wala’ atas anaknya. Sebab, seandainya ia menghamili perempuan itu ketika masih berstatus budak, anak tersebut pun tidak akan menjadi budak. Maka, lebih utama lagi jika ia menghamilinya setelah hak wala’ itu tetap, anak tersebut tidak memiliki hak wala’ atasnya.

وَإِنْ كَانَ الْأَبُ مَجْهُولَ النَّسَبِ فَفِي ثُبُوتِ الْوَلَاءِ عَلَى وَلَدِهِ لِمُعْتِقِ أُمِّهِ وَجْهَانِ

Jika ayahnya tidak diketahui nasabnya, maka dalam penetapan wala’ atas anaknya bagi mu‘tiq (orang yang memerdekakan) ibunya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ تَغْلِيبًا لِظَاهِرِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الْأَبِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ

Salah satu dari keduanya adalah tidak ada wala’ atasnya, dengan mengedepankan tampilan kebebasan dari ayah, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي عَلَيْهِ الْوَلَاءُ لِاحْتِمَالِ حَالِ الْأَبِ وَثُبُوتِ الْوَلَاءِ عَلَى الْأُمِّ وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak wala’ berada pada anak, karena kemungkinan keadaan ayah dan tetapnya hak wala’ atas ibu. Pendapat ini dinukil dari Abu Hanifah dan Muhammad.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ مُعْتَقَةً عَلَيْهَا وَلَاءٌ وَأَوْلَدَهَا ابْنًا دَخَلَ فِي وَلَاءِ أُمِّهِ ثُمَّ اشْتَرَى الِابْنُ أَبَاهُ عَتَقَ عَلَيْهِ وَكَانَ لَهُ وَلَاؤُهُ وَفِي جَرِّهِ لِوَلَاءِ نَفْسِهِ مِنْ مُعْتِقِ أُمِّهِ وَجْهَانِ

Apabila seorang budak menikahi seorang perempuan merdeka yang memiliki hak wala’, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka anak tersebut masuk ke dalam hak wala’ ibunya. Kemudian jika anak itu membeli ayahnya, maka ayahnya menjadi merdeka karena perbuatannya, dan hak wala’ ayahnya menjadi milik anak tersebut. Terkait penarikan hak wala’ untuk dirinya sendiri dari orang yang memerdekakan ibunya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَجُرُّهُ بِعِتْقِ أُمِّهِ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ وَلَاءَ نَفْسِهِ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ بَاقِيًا لِمُعْتِقِ أُمِّهِ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ لَا يَعْقِلُ عَنْ نَفْسِهِ وَلَا يَرِثُهَا وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak terbebas karena pembebasan ibunya, karena ia tidak memiliki hak wala’ atas dirinya sendiri, dan wala’-nya tetap menjadi milik orang yang membebaskan ibunya. Ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, karena ia tidak menanggung diyat atas dirinya sendiri dan tidak mewarisi ibunya. Pendapat ini juga dinukil dari Abu Hanifah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُرُّ وَلَاءَ نَفْسِهِ بِعِتْقِ أَبِيهِ وَلَا يَمْلِكُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَلَكِنْ يُزِيلُ بِهِ الْوَلَاءَ عَنْ نَفْسِهِ وَيَصِيرُ بِهِ حُرًّا لَا وَلَاءَ عَلَيْهِ لِأَنَّ عِتْقَ الْأَبِ يُزِيلُ الْوَلَاءَ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ فَعَلَى هَذَا لَوْ أَوْلَدَهَا ابْنَتَيْنِ فَاشْتَرَتْ إِحْدَاهُمَا أَبَاهَا عَتَقَ عَلَيْهَا وَكَانَ لَهَا وَلَاؤُهُ وَجَرَّتْ إِلَى نَفْسِهَا وَلَاءَ أُخْتِهَا وَفِي جَرِّهَا لِوَلَاءِ نَفْسِهَا مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua adalah seseorang menarik wala’ (hak perwalian) atas dirinya sendiri dengan memerdekakan ayahnya, namun ia tidak memilikinya atas dirinya sendiri, melainkan hanya menghilangkan wala’ dari dirinya dan menjadi orang merdeka yang tidak ada wala’ atasnya. Sebab, memerdekakan ayah menghilangkan wala’ dari orang yang memerdekakan ibunya. Ini adalah pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj. Berdasarkan pendapat ini, jika seorang perempuan melahirkan dua anak perempuan, lalu salah satu dari mereka membeli ayahnya, maka ayah itu merdeka karena perbuatannya dan wala’-nya menjadi milik anak perempuan tersebut, serta ia menarik wala’ saudara perempuannya kepada dirinya. Adapun dalam menarik wala’ atas dirinya sendiri, terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا لَا تَجُرُّهُ وَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَيْهَا لِمُعْتِقِ أُمِّهَا

Salah satunya tidak mengikutinya dan tetap menjadi milik orang yang memerdekakan ibunya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي تَجُرُّهُ وَيَسْقُطُ بِهِ الْوَلَاءُ عَنْهَا

Pendapat kedua, ia menariknya dan dengan itu hak wala’ gugur darinya.

فَإِنْ مَاتَ الْأَبُ كَانَ ثُلُثَا مِيرَاثِهِ بَيْنَ بِنْتَيْهِ نِصْفَيْنِ بِالنَّسَبِ وَالثُّلُثُ الْبَاقِي لِبِنْتِهِ الْمُعْتَقَةِ بِالْوَلَاءِ فَإِنْ مَاتَتْ بَعْدَ الْأَبِ الْبِنْتُ الَّتِي لَيْسَتْ بِمُعْتَقَةٍ كَانَ لِأُخْتِهَا الْمُعْتَقَةِ نِصْفُ مِيرَاثِهَا بِالنَّسَبِ وَنِصْفُهُ الْبَاقِي بِالْوَلَاءِ الَّذِي جَرَّتْهُ مِنْ مُعْتِقِ أُمِّهَا وَلَوْ كَانَتِ الْمَيِّتَةُ بَعْدَ أَبِيهَا هِيَ الْبِنْتُ الْمُعْتَقَةُ وَخَلَّفَتْ أُخْتَهَا كَانَ لِأُخْتِهَا نِصْفُ مِيرَاثِهَا

Jika sang ayah wafat, maka dua pertiga warisannya dibagi antara kedua putrinya secara setengah-setengah berdasarkan nasab, dan sepertiga sisanya diberikan kepada putrinya yang dimerdekakan karena wala’. Jika setelah ayahnya wafat, putri yang bukan mantan budak itu meninggal, maka bagi saudara perempuannya yang dimerdekakan, setengah dari warisan saudarinya didapatkan berdasarkan nasab, dan setengah sisanya berdasarkan wala’ yang diperolehnya dari orang yang memerdekakan ibunya. Dan jika yang meninggal setelah ayahnya adalah putri yang dimerdekakan, lalu ia meninggalkan saudara perempuannya, maka bagi saudarinya itu setengah dari warisannya.

وَفِي نِصْفِهِ الْبَاقِي وَجْهَانِ

Pada separuh sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِمَوْلَى أُمِّهَا إِذَا قِيلَ إِنَّهَا لَا تَجُرُّ وَلَاءَ نَفْسِهَا

Salah satunya adalah untuk maula (tuan pembebas) dari ibu si perempuan, jika dikatakan bahwa ia (perempuan tersebut) tidak mewariskan wala’ untuk dirinya sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لِبَيْتِ الْمَالِ إِذَا قِيلَ إِنَّهَا قَدْ جَرَّتْ وَلَاءَ نَفْسِهَا وَلَوِ اشْتَرَتِ الْبِنْتَانِ أَبَاهُمَا عَتَقَ عَلَيْهِمَا وَكَانَ وَلَاؤُهُ بَيْنَهُمَا وَجَرَّتْ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا نِصْفَ وَلَاءِ أُخْتِهَا عن معتق أمها إليها فصار لكل واحد مِنْهُمَا نِصْفُ وَلَاءِ الْأُخْرَى لِأَنَّ لَهَا نِصْفَ وَلَاءِ الْأَبِ وَفِي النِّصْفِ الْبَاقِي وَجْهَانِ

Adapun pendapat kedua mengenai Baitul Mal, jika dikatakan bahwa ia telah menarik wala’ dirinya sendiri, maka jika dua anak perempuan membeli ayah mereka, ayah itu merdeka karena mereka berdua, dan wala’-nya menjadi milik mereka berdua. Masing-masing dari mereka menarik setengah wala’ saudara perempuannya dari orang yang memerdekakan ibu mereka kepada dirinya, sehingga masing-masing dari mereka memiliki setengah wala’ saudara perempuannya, karena ia memiliki setengah wala’ ayah. Adapun pada setengah sisanya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِمُعْتِقِ الْأُمِّ إِذَا قِيلَ إِنَّهَا لَا تَجُرُّ وَلَاءَ نَفْسِهَا

Salah satunya adalah untuk orang yang memerdekakan ibu, jika dikatakan bahwa ia tidak mewarisi wala’ dirinya sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي سَاقِطٌ عَنْهَا إِذَا قِيلَ إِنَّهَا قَدْ جَرَّتْ وَلَاءَ نَفْسِهَا فَعَلَى هَذَا لَوْ مَاتَ الْأَبُ كَانَ مِيرَاثُهُ بَيْنَهُمَا ثُلُثَاهُ بِالنَّسَبِ وَثُلُثُهُ بِالْوَلَاءِ وَلَوْ مَاتَتْ بَعْدَهُ إِحْدَى الْبِنْتَيْنِ كَانَ لِأُخْتِهَا ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِ مِيرَاثِهَا نِصْفُهُ بِالنَّسَبِ وَرُبْعُهُ بِالْوَلَاءِ لِأَنَّ لَهَا نِصْفَ وَلَائِهَا وَفِي الرُّبْعِ الْبَاقِي وَجْهَانِ

Pendapat kedua gugur darinya jika dikatakan bahwa ia telah menarik wala’ untuk dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini, jika sang ayah meninggal dunia, maka warisannya dibagi di antara keduanya: dua pertiganya berdasarkan nasab dan sepertiganya berdasarkan wala’. Jika setelah itu salah satu dari kedua putri tersebut meninggal, maka bagi saudarinya tiga perempat dari warisannya: setengahnya berdasarkan nasab dan seperempatnya berdasarkan wala’, karena ia memiliki setengah dari wala’-nya. Adapun pada seperempat sisanya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِمَوْلَى أُمِّهَا إِذَا قِيلَ إِنَّهَا لَا تَجُرُّ وَلَاءَ نَفْسِهَا

Salah satunya adalah untuk maula (tuan pembebas) dari ibu si perempuan, jika dikatakan bahwa ia tidak mewariskan wala’ untuk dirinya sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لِبَيْتِ الْمَالِ إِذَا قِيلَ إِنَّهَا قَدْ جَرَّتْ وَلَاءَ نَفْسِهَا

Adapun pendapat kedua mengenai Baitul Mal adalah jika dikatakan bahwa budak perempuan itu telah menarik wala’ atas dirinya sendiri.

وَحَكَى الرَّبِيعُ فِي مُخْتَصَرِهِ وَالْبُوَيْطِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ لِلْأُخْتِ الْبَاقِيَةِ سَبْعَةُ أَثْمَانِ مِيرَاثِ الْمَيِّتَةِ وَثُمْنُهُ الْبَاقِي لِمُعْتِقِ الْأُمِّ وَهُوَ خَطَأٌ مِنْهُمَا عَلَى الشَّافِعِيِّ وَإِنَّمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ هَذَا الْجَوَابُ فِي غَيْرِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهُوَ أَنْ تَمُوتَ إِحْدَى الْبِنْتَيْنِ قَبْلَ الْأَبِ فَيَرِثُهَا الْأَبُ ثُمَّ يَمُوتُ الْأَبُ فَيَكُونُ لِبِنْتِهِ الْبَاقِيَةِ نِصْفُ مِيرَاثِهِ بِالنَّسَبِ وَنِصْفُهُ الْبَاقِي لِمَوَالِيهِ وَهُمَا بِنْتَاهُ الْحَيَّةُ وَالْمَيِّتَةُ فَتَأْخُذُ الْحَيَّةُ نِصْفَهُ وَهُوَ الرُّبْعُ لِأَنَّ لَهَا نِصْفَ وَلَائِهِ وَنِصْفُهُ الْبَاقِي وَهُوَ الرُّبْعُ لِمَوَالِي بِنْتِهِ الْمَيِّتَةِ وَهُمْ أُخْتُهَا الْحَيَّةُ وَمَوَالِي أُمِّهَا لِأَنَّ الْحَيَّةَ قَدْ جَرَّتْ نِصْفَ وَلَاءِ الْمَيِّتَةِ فَتَأْخُذُ بِهِ نِصْفَ هَذَا الرُّبْعِ وَهُوَ الثُّمُنُ فَيَصِيرُ لَهَا مِنْ مَالِ أَبِيهَا سَبْعَةُ أَثْمَانِ نِصْفُهُ بِالنَّسَبِ وَرُبْعُهُ بِالْوَلَاءِ عَلَى الْأَبِ وَثُمْنُهُ بِجَرِّ الْوَلَاءِ مِنَ الْأَبِ وَيَكُونُ ثُمْنُهُ الْبَاقِي لِمَوْلَى الأم في أحد الوجهين والبيت الْمَالِ فِي الْوَجْهِ الثَّانِي فَغَلِطَ الرَّبِيعُ وَالْبُوَيْطِيُّ فَنَقَلَا هَذَا الْجَوَابَ إِلَى الَّتِي تَقَدَّمَهَا وَاللَّهُ أعلم

Ar-Rabi‘ dalam Mukhtasharnya dan al-Buwaiti meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa bagi saudari yang tersisa mendapat tujuh per delapan warisan mayit perempuan, dan seperdelapannya yang tersisa untuk mu‘tiq (orang yang memerdekakan) ibu, dan ini adalah kekeliruan dari keduanya menurut asy-Syafi‘i. Sebenarnya, asy-Syafi‘i mengatakan jawaban ini bukan pada masalah ini, melainkan pada kasus lain, yaitu jika salah satu dari dua anak perempuan meninggal sebelum ayahnya, lalu ayahnya mewarisinya, kemudian ayahnya meninggal, maka bagi anak perempuannya yang masih hidup mendapat setengah warisannya karena nasab, dan setengah sisanya untuk para mawali (kerabat karena wala’), yaitu kedua anak perempuannya, yang hidup dan yang telah meninggal. Maka yang hidup mengambil setengahnya, yaitu seperempat, karena ia mendapat setengah wala’-nya, dan setengah sisanya, yaitu seperempat, untuk para mawali anak perempuannya yang telah meninggal, yaitu saudari kandungnya yang masih hidup dan mawali dari pihak ibunya. Karena yang hidup telah menarik setengah wala’ dari yang meninggal, maka ia mendapat setengah dari seperempat itu, yaitu seperdelapan. Maka ia memperoleh dari harta ayahnya tujuh per delapan: setengahnya karena nasab, seperempatnya karena wala’ dari ayah, dan seperdelapannya karena menarik wala’ dari ayah. Adapun seperdelapan sisanya untuk mawla al-umm (mu‘tiq dari pihak ibu) menurut salah satu pendapat, dan untuk baitul mal menurut pendapat lain. Maka ar-Rabi‘ dan al-Buwaiti keliru, karena mereka memindahkan jawaban ini ke kasus yang sebelumnya. Allah Maha Mengetahui.

مختصر كتابي المدبر من جديد وقديم

Ringkasan kitabku tentang al-mudabbir, baik dari pendapat baru maupun lama.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه أَخْبَرَنَا سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ وَعَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ سَمِعَا جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ دَبَّرَ رَجُلٌ مِنَّا غُلَامًا لَيْسَ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنْ يَشْتَرِيهِ مِنِّي فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ النَّحَّامِ فَقَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ عَبْدٌ قِبْطِيٌّ مَاتَ عَامَ أَوَّلَ فِي إِمَارَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ زاد أبو الزبير يقال له يعقوب قال الشافعي وباعت عائشة مدبرة لها سحرتها وقال ابن عمر المدبر من الثلث وقال مجاهد المدبر وصية يرجع فيه صاحبه متى شاء وباع عمر بن عبد العزيز مدبر في دين صاحبه وقال طاوس يعود الرجل في مدبره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Sufyan bin ‘Uyainah telah memberitakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar dan dari Abu az-Zubair, keduanya mendengar Jabir bin ‘Abdillah berkata: Seorang laki-laki di antara kami telah mendebarkan (menetapkan sebagai budak yang akan dimerdekakan setelah wafatnya) seorang budak laki-laki, dan ia tidak memiliki harta selain budak itu. Maka Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?” Lalu Nu‘aim bin an-Nahham membelinya. ‘Amr berkata, “Aku mendengar Jabir berkata, ‘Budak itu adalah seorang Qibthi yang wafat pada tahun pertama pemerintahan Ibnu az-Zubair.’” Abu az-Zubair menambahkan, “Budak itu bernama Ya‘qub.” Imam Syafi‘i berkata, “Aisyah pernah menjual budak perempuan yang telah didebarkan miliknya yang telah menyihirnya.” Ibnu ‘Umar berkata, “Budak yang didebarkan itu termasuk sepertiga harta.” Mujahid berkata, “Budak yang didebarkan itu adalah wasiat yang boleh ditarik kembali oleh pemiliknya kapan saja ia mau.” ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz pernah menjual budak yang didebarkan karena utang pemiliknya. Thawus berkata, “Seseorang boleh menarik kembali keputusan debarnya atas budaknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا التَّدْبِيرُ فَهُوَ عِتْقٌ يُعَلِّقُهُ السَّيِّدُ بِمَوْتِهِ فَيَقُولُ لِعَبْدِهِ إِذَا مُتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ وَيَقُولُ أَنْتَ حُرٌّ بِمَوْتِي أَوْ يَقُولُ لَهُ أَنْتَ مُدَبَّرٌ فَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بِمَوْتِهِ

Al-Mawardi berkata: Adapun tadbir, maka ia adalah pembebasan budak yang dikaitkan oleh tuannya dengan kematiannya. Jadi, tuan berkata kepada budaknya, “Jika aku mati, maka engkau merdeka,” atau ia berkata, “Engkau merdeka dengan kematianku,” atau ia berkata kepadanya, “Engkau adalah mudabbar,” maka budak itu menjadi merdeka dengan kematian tuannya.

وَاخْتَلَفَ فِي تَسْمِيَتِهِ تَدْبِيرًا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Terdapat perbedaan pendapat dalam penamaan tadbīr ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا لِأَنَّهُ يُعْتَقُ عَلَيْهِ فِي دُبُرِ الْحَيَاةِ وَهُوَ آخِرُهَا

Salah satunya adalah karena ia dimerdekakan atas dirinya pada akhir kehidupan, yaitu pada bagian akhirnya.

وَالثَّانِي لِأَنَّهُ لَمْ يُجْعَلْ تَدْبِيرَ عِتْقِهِ إِلَى غَيْرِهِ

Dan alasan kedua adalah karena tidak dijadikan pengelolaan pembebasan dirinya kepada selain dirinya.

وَالثَّالِثُ لِأَنَّهُ دَبَّرَ أَمْرَ حَيَاتِهِ بِاسْتِخْدَامِهِ وَأَمْرَ آخِرَتِهِ بِعِتْقِهِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي ابْتِدَائِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Ketiga, karena ia telah mengatur urusan kehidupannya dengan memanfaatkannya dan urusan akhiratnya dengan memerdekakannya, dan para ulama kami berbeda pendapat mengenai permulaannya dalam dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مُتَقَدِّمٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَقَرَّهُ الشَّرْعُ فِي الْإِسْلَامِ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَصَارَ بِالْإِقْرَارِ شَرْعًا

Salah satunya adalah bahwa (hukum tersebut) telah ada sejak masa Jahiliyah, kemudian syariat mengakuinya dalam Islam sebagaimana keadaannya pada masa Jahiliyah, sehingga dengan pengakuan tersebut ia menjadi bagian dari syariat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ مُبْتَدَأٌ فِي الْإِسْلَامِ بِنَصٍّ وَرَدَ فِيهِ عَمِلَ بِهِ الْمُسْلِمُونَ فَاسْتَغْنَوْا بِالْعَمَلِ عَنْ نَقْلِ النَّصِّ فَصَارَ بِالنَّصِّ شَرْعًا وَصَارَ الْعَمَلُ عَلَى النَّصِّ دَلِيلًا فَدَبَّرَ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ عَبِيدًا وَدَبَّرَتْ عَائِشَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهَا أَمَةً لَهَا

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu merupakan sesuatu yang baru dalam Islam berdasarkan nash yang telah disebutkan tentangnya, dan kaum Muslimin telah mengamalkannya sehingga mereka merasa cukup dengan amal tersebut tanpa perlu meriwayatkan nash-nya. Maka, dengan adanya nash tersebut, hal itu menjadi syariat, dan amal yang didasarkan pada nash itu menjadi dalil. Maka, para Muhajirin dan Anshar telah melakukan tadbīr terhadap budak-budak mereka, dan ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā juga telah melakukan tadbīr terhadap seorang budak perempuan miliknya.

فَإِنْ كَانَ فِي حَيَاةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَهُوَ عَنْ أَمْرِهِ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ وَفَاتِهِ فَلِعِلْمِهَا بِهِ مِنْ جِهَتِهِ

Jika hal itu terjadi pada masa hidup Rasulullah ﷺ, maka hal tersebut berdasarkan perintah beliau. Dan jika terjadi setelah wafat beliau, maka karena mereka mengetahuinya dari beliau.

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَازِهِ فَأَغْنَى إِجْمَاعُهُمْ عَنْ دَلِيلٍ فِيهِ

Dan kaum Muslimin telah berijma‘ atas kebolehannya, sehingga ijma‘ mereka sudah cukup sebagai dalil dalam hal ini.

وَمَدَارُ التَّدْبِيرِ عَلَى حَدِيثَيْنِ أَحَدُهُمَا حَدِيثُ جَابِرٍ وَالْآخَرُ حَدِيثُ عَائِشَةَ

Inti dari pengelolaan (tadbīr) didasarkan pada dua hadis, salah satunya adalah hadis Jabir dan yang lainnya adalah hadis Aisyah.

فَأَمَّا حَدِيثُ جَابِرٍ فَوَارِدٌ مِنْ طَرِيقَيْنِ

Adapun hadis Jabir, maka hadis tersebut datang dari dua jalur.

أَحَدُهُمَا مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الْمَتْنِ الْمُتَقَدِّمِ

Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Sufyan berdasarkan matan yang telah disebutkan sebelumnya.

وَالثَّانِي مَا رَوَاهُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنِ الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ مِنْ بَنِي عُذْرَةَ يُقَالُ لَهُ أَبُو مَذْكُورٍ أَعْتَقَ غُلَامًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ يُقَالُ لَهُ يَعْقُوبُ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَدَعَا بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِيهِ فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ الله النحام بثمان مائة دِرْهَمٍ ثُمَّ دَفَعَهَا إِلَيْهِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فَقِيرًا فَلْيَبْدَأْ بِنَفْسِهِ فَإِنْ كَانَ فَضْلًا فَعَلَى عِيَالِهِ فَإِنْ كَانَ فَضْلًا فَعَلَى ذَوِي رَحِمِهِ فَإِنْ كَانَ فَضْلًا فَهَاهُنَا وَهَاهُنَا وَأَمَّا حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَرَوَاهُ سُفْيَانُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي الرِّجَالِ عَنْ أُمِّ عَمْرَةِ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ مُدَبَّرَةً لِعَائِشَةَ سَحَرَتْهَا فَأَمَرَتْ بِهَا فَبِيعَتْ فِي الْأَعْرَابِ وَجَعَلَتْ ثُلُثَهَا فِي الرِّقَابِ

Yang kedua adalah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu ‘Ulayyah dari Ayyub, dari az-Zubair, dari Jabir, bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar dari Bani ‘Udzrah yang bernama Abu Madzkur memerdekakan seorang budaknya secara mudabbar yang bernama Ya‘qub, padahal ia tidak memiliki harta selain itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda, “Siapa yang mau membelinya?” Lalu Nu‘aim bin ‘Abdullah an-Nahham membelinya seharga delapan ratus dirham, kemudian beliau menyerahkan uang itu kepadanya. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian miskin, hendaklah ia memulai dari dirinya sendiri. Jika masih ada kelebihan, maka untuk keluarganya. Jika masih ada kelebihan, maka untuk kerabatnya. Jika masih ada kelebihan, maka di sini dan di sana (untuk orang lain).” Adapun hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan oleh Sufyan dari Yahya bin Sa‘id, dari Abu ar-Rijal, dari Ummu ‘Amrah binti ‘Abdurrahman, bahwa seorang budak perempuan mudabbar milik ‘Aisyah telah menyihirnya, maka ‘Aisyah memerintahkan agar budak itu dijual kepada orang Arab Badui, dan ia menjadikan sepertiga hasil penjualannya untuk memerdekakan budak.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ جَوَازُ التَّدْبِيرِ فَالْمَقْصُودُ بِهِ عِتْقُ الْمُدَبَّرِ بِمَوْتِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَا كَانَ السَّيِّدُ حَيًّا بَاقٍ عَلَى رِقِّ سَيِّدِهِ وَأَحْكَامُ الرِّقِّ جَارِيَةٌ عَلَيْهِ فِي اسْتِخْدَامِهِ وَمِلْكِ أَكْسَابِهِ وَإِجَارَتِهِ وَنِكَاحِهِ وَطَلَاقِهِ وَشَهَادَتِهِ كَسَائِرِ الْعَبِيدِ وَإِنْ كَانَتْ أَمَةً فَلِلسَّيِّدِ وَطْؤُهَا كَسَائِرِ الْإِمَاءِ

Apabila telah dipastikan kebolehan at-tadbīr, maka yang dimaksud dengannya adalah memerdekakan budak mudabbir setelah wafat tuannya. Selama tuannya masih hidup, budak tersebut tetap berada dalam status perbudakan milik tuannya, dan hukum-hukum perbudakan tetap berlaku atasnya, baik dalam hal penggunaannya, kepemilikan hasil kerjanya, penyewaan dirinya, pernikahannya, perceraian, maupun kesaksiannya, sebagaimana berlaku pada budak-budak lainnya. Jika budak tersebut adalah seorang perempuan (amah), maka tuannya berhak menggaulinya sebagaimana hak atas budak perempuan lainnya.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالتَّدْبِيرُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُقَيَّدٌ وَمُطْلَقٌ فَأَمَّا الْمُقَيَّدُ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ إِنْ مُتُّ مِنْ مَرَضِي هَذَا أَوْ عَامِي هَذَا فَأَنْتَ حُرٌّ فَيَكُونُ تَدْبِيرُهُ مَعْقُودًا بِشَرْطِهِ فَإِنْ مَاتَ مِنْ هَذَا الْمَرَضِ أَوْ فِي هَذَا الْعَامِ عَتَقَ بِمَوْتِهِ وَإِنْ لَمْ يَمُتْ مِنْهَا بَطَلَ تَدْبِيرُهُ وَلَمْ يُعْتَقْ بِمَوْتِهِ فِي غَيْرِ ذَلِكَ الْمَرَضِ وَلَا فِي غَيْرِ ذَلِكَ الْعَامِ

Jika demikian, maka tadbīr terbagi menjadi dua jenis: muqayyad (terikat syarat) dan muthlaq (mutlak). Adapun tadbīr muqayyad adalah ketika seseorang berkata, “Jika aku mati karena penyakit ini atau pada tahun ini, maka engkau merdeka.” Maka tadbīr-nya terikat dengan syarat tersebut. Jika ia meninggal karena penyakit itu atau pada tahun itu, maka budak tersebut merdeka dengan kematiannya. Namun jika ia tidak meninggal karena penyakit itu atau bukan pada tahun itu, maka tadbīr-nya batal dan budak tersebut tidak merdeka dengan kematiannya di luar penyakit atau tahun tersebut.

وَأَمَّا الْمُطْلَقُ فَهُوَ أَنْ يَقُولَ مَتَى مُتُّ أَوْ إِذَا مُتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ أَوْ يَقُولَ لَهُ أَنْتَ مُدَبَّرٌ فَفِي أَيِّ زَمَانٍ مَاتَ وَعَلَى أَيِّ صِفَةٍ مَاتَ مِنْ مَرَضٍ أَوْ قُتِلَ عَتَقَ بِمَوْتِهِ فإنه قَتَلَهُ الْمُدَبَّرُ فَفِي عِتْقِهِ بِمَوْتِهِ قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي جَوَازِ الْوَصِيَّةِ لِلْقَاتِلِ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ كَالْوَصِيَّةِ فِي اعْتِبَارِهِ مِنَ الثُّلُثِ وَإِذَا خَرَجَ الْمُدَبَّرُ مِنْ ثُلُثِ سَيِّدِهِ عَتَقَ جَمِيعُهُ بِمَوْتِهِ وَإِنِ اسْتَوْعَبَهُ الدَّيْنُ رَقَّ وَلَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِسَيِّدِهِ مَالٌ غَيْرُهُ عَتَقَ ثُلُثُهُ بِمَوْتِهِ وَرَقَّ ثُلُثَاهُ لِوَرَثَتِهِ وَعَلَى قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ يَسْتَسْعِيهِ الْوَرَثَةُ فِي ثُلُثَيْهِ وَيُعْتَقُ

Adapun yang mutlak adalah jika seseorang berkata, “Kapan pun aku mati” atau “Jika aku mati, maka kamu merdeka,” atau ia berkata kepadanya, “Kamu adalah mudabbir,” maka pada waktu kapan pun ia mati dan dalam keadaan seperti apa pun ia mati, baik karena sakit atau terbunuh, maka ia merdeka dengan kematiannya. Jika mudabbir itu membunuh tuannya, maka dalam hal kemerdekaannya karena kematian tuannya terdapat dua pendapat, yang merupakan perbedaan pendapat dalam kebolehan wasiat kepada pembunuh, karena tadbīr itu seperti wasiat dalam hal dihitung dari sepertiga harta. Jika mudabbir itu nilainya tidak melebihi sepertiga harta tuannya, maka seluruhnya merdeka dengan kematian tuannya. Namun, jika seluruh harta tuannya habis oleh utang, maka ia tetap menjadi budak dan tidak merdeka. Jika tuannya tidak memiliki harta selain dirinya (budak itu), maka sepertiganya merdeka dengan kematian tuannya dan dua pertiganya tetap menjadi budak bagi ahli warisnya. Menurut pendapat Abū Ḥanīfah, ahli waris dapat meminta mudabbir itu bekerja untuk menebus dua pertiganya, lalu ia pun merdeka.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا بَيْعُ الْمُدَبَّرِ وَهِبْتُهُ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي جَوَازِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Adapun jual beli dan hibah terhadap budak mudabbar pada masa hidup tuannya, para fuqaha berbeda pendapat mengenai kebolehannya menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ بَيْعَهُ جَائِزٌ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا فِي دَيْنٍ وَغَيْرِ دَيْنٍ سَوَاءً كَانَ تَدْبِيرُهُ مُطْلَقًا أَوْ مُقَيَّدًا وَهُوَ فِي الصَّحَابَةِ قَوْلُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ وَفِي التَّابِعِينَ قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَعَطَاءٍ وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِدٍ وَفِي الْفُقَهَاءِ قَوْلُ أَبِي ثَوْرٍ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i, menyatakan bahwa menjual budak yang telah ditetapkan tadbir hukumnya boleh dalam segala keadaan, baik dalam keadaan berutang maupun tidak, baik tadbirnya bersifat mutlak maupun terbatas. Di kalangan sahabat, ini adalah pendapat ‘Aisyah ra., Ibnu ‘Umar, dan Jabir. Di kalangan tabi‘in, ini adalah pendapat ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, ‘Atha’, Thawus, dan Mujahid. Di kalangan para fuqaha, ini adalah pendapat Abu Tsaur, Ahmad, dan Ishaq.

وَالثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ أَنَّهُ كَالْعِتْقِ النَّاجِزِ فِي الْمَرَضِ لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ إِلَّا فِي الدَّيْنِ مُقَيَّدًا كَانَ أَوْ مُطْلَقًا

Pendapat kedua, yaitu mazhab Mālik, menyatakan bahwa hal itu seperti pembebasan budak yang dilakukan secara langsung pada saat sakit, sehingga tidak boleh dijual kecuali untuk membayar utang, baik dengan syarat tertentu maupun tanpa syarat.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ تَدْبِيرُهُ مُقَيَّدًا جَازَ بَيْعُهُ فِي دَيْنٍ وَغَيْرِ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ مُطْلَقًا لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ فِي دَيْنٍ وَغَيْرِ دَيْنٍ فَجَعَلَهُ لَازِمًا إِذَا أُطْلِقَ وغير لازم إذا قيد وهو عندنا لَازِمٍ فِي الْحَالَيْنِ احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمُدَبَّرِ

Ketiga, yaitu pendapat Abu Hanifah: jika tadbir (pembebasan budak secara bertahap) itu dibatasi (dengan syarat tertentu), maka boleh menjualnya baik untuk membayar utang maupun bukan untuk membayar utang. Namun jika tadbir itu mutlak (tanpa syarat), maka tidak boleh menjualnya baik untuk membayar utang maupun bukan untuk membayar utang. Jadi, beliau menganggapnya menjadi wajib jika dilakukan secara mutlak, dan tidak wajib jika dibatasi. Adapun menurut kami, tadbir itu wajib dalam kedua keadaan, dengan berdalil pada riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang menjual budak mudabbar.

قَالُوا وَلِأَنَّ كُلَّ عِتْقٍ نُجِزَ إِطْلَاقُهُ بِمَوْتِ الْمُعْتِقِ مَنَعَ من جواز البيع كأم الولد

Mereka berkata: Karena setiap pembebasan budak yang pelaksanaannya menjadi efektif dengan wafatnya orang yang membebaskan, maka hal itu mencegah bolehnya penjualan, seperti umm al-walad.

قالوا وَلِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَفَادَ بِالتَّدْبِيرِ اسْمًا غَيْرَ اسْمِ الْعَبِيدِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَفِيدَ بِهِ حُكْمًا غَيْرَ أَحْكَامِ الْعَبِيدِ لِأَنَّ انْتِقَالَ الِاسْمِ يُوجِبُ انْتِقَالَ الْحُكْمِ وَلَوْ جَازَ بَيْعُهُ لَبَقِيَ عَلَى حُكْمِهِ مَعَ انْتِقَالِ اسْمِهِ وَهَذَا غَيْرُ جَائِزٍ كَالْمُكَاتَبِ

Mereka berkata: Karena ketika seorang budak memperoleh dengan at-tadbīr suatu nama selain nama “budak”, maka wajib baginya untuk memperoleh hukum yang berbeda dari hukum-hukum budak. Sebab, perpindahan nama menuntut perpindahan hukum. Jika penjualannya diperbolehkan, maka ia akan tetap pada hukumnya sementara namanya telah berpindah, dan ini tidak diperbolehkan, seperti halnya pada al-mukātab.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِّينَاهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ بَاعَ مُدَبَّرًا عَلَى مَالِكِهِ

Dan dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah menjual seorang budak mudabbar atas pemiliknya.

فَإِنْ قِيلَ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى بَيْعِ مَنَافِعِهِ بِالْإِجَارَةِ قِيلَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْدَلَ عَنْ حَقِيقَةِ الْمَذْكُورِ إِلَى مَجَازٍ غَيْرِ مَذْكُورٍ مَا لَمْ يَصْرِفْ عَنْهُ دَلِيلٌ

Jika dikatakan bahwa maksudnya adalah jual beli manfaatnya melalui ijarah, maka dijawab: Tidak boleh berpaling dari makna hakiki yang disebutkan kepada makna majazi yang tidak disebutkan, selama tidak ada dalil yang memalingkannya.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّمَا بَاعَهُ فِي دَيْنٍ وَقَدْ يُبَاعُ فِي الدَّيْنِ مَا يُمْنَعُ مِنْ بَيْعِهِ فِي غَيْرِ الدَّيْنِ كَالْمُعْتِقِ فِي الْمَرَضِ قِيلَ لَوْ كَانَ بَيْعُهُ لَا يَجُوزُ إِلَّا فِي الدَّيْنِ لَكَانَ بَيْعُهُ مَوْقُوفًا عَلَى طَلَبِ الْغُرَمَاءِ وَلَمَا جَازَ أَنْ يَبِيعَ مِنْهُ إِلَّا قَدْرَ الدَّيْنِ وَقَدْ بَاعَهُ كُلَّهُ بِثَمَنٍ دَفَعَهُ إِلَيْهِ وَقَالَ لَهُ أَنْفِقْ عَلَى نَفْسِكَ ثُمَّ عَلَى عِيَالِكَ ثُمَّ عَلَى ذَوِي رَحِمَكَ ثُمَّ اصْنَعْ بِالْفَضْلِ مَا شِئْتَ فَدَلَّ عَلَى بَيْعِهِ فِي الدَّيْنِ وَغَيْرِ الدَّيْنِ وَقَدْ بَاعَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مُدَبَّرَتَهَا فِي غَيْرِ دَيْنٍ فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ بَيْعِهِ فِي الدَّيْنِ وَغَيْرِ الدَّيْنِ وَلِأَنَّ التَّدْبِيرَ قَوْلٌ عُلِّقَ بِهِ عِتْقٌ عَلَى صِفَةٍ تَفَرَّدَ بِهَا فَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ جَوَازِ بَيْعِهِ كَتَعْلِيقِهِ بِجَمِيعِ الصِّفَاتِ وَلِأَنَّ مَنْ جَرَى عَلَيْهِ حُكْمُ التَّدْبِيرِ جَازَ بَيْعُهُ قَبْلَ الْمَوْتِ كَالتَّدْبِيرِ الْمُقَيَّدِ وَلِأَنَّ مَنْ كَانَ عِتْقُهُ مُعْتَبَرًا مِنْ ثُلُثِهِ مَعَ صِحَّتِهِ جَازَ لَهُ بَيْعُهُ قَبْلَ عِتْقِهِ كَالْمُوصَى بِعِتْقِهِ

Jika dikatakan, “Sesungguhnya ia menjualnya karena utang, dan terkadang sesuatu boleh dijual karena utang padahal dilarang dijual dalam keadaan selain utang, seperti orang yang memerdekakan budak dalam keadaan sakit,” maka dijawab: “Seandainya penjualannya hanya boleh dilakukan karena utang, tentu penjualannya harus menunggu permintaan para kreditur dan tidak boleh menjual kecuali sebatas jumlah utang. Namun, ia telah menjual seluruhnya dengan harga yang diserahkan kepadanya, lalu ia berkata kepadanya, ‘Belanjakanlah untuk dirimu sendiri, kemudian untuk keluargamu, lalu untuk kerabatmu, kemudian lakukanlah apa yang engkau kehendaki dengan kelebihan itu.’ Hal ini menunjukkan bolehnya menjual dalam keadaan utang maupun tidak. Aisyah ra. juga pernah menjual budak mudabbarnya bukan karena utang, sehingga hal ini menunjukkan bolehnya menjual dalam keadaan utang maupun tidak. Karena tadbir adalah suatu ucapan yang di dalamnya digantungkan kemerdekaan pada suatu sifat tertentu yang bersifat khusus, maka hal itu tidak menghalangi bolehnya penjualan, sebagaimana jika digantungkan pada seluruh sifat. Dan karena siapa pun yang berlaku atasnya hukum tadbir, boleh dijual sebelum kematian, seperti tadbir yang bersifat muqayyad (terbatas). Dan karena siapa pun yang kemerdekaannya dianggap dari sepertiga hartanya saat sehat, maka boleh baginya menjual sebelum dimerdekakan, seperti orang yang diwasiatkan untuk dimerdekakan.”

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَمَّا رَوَوهُ عَنْ نَهْيِهِ عَنْ بَيْعِ الْمُدَبَّرِ فَهُوَ أَنَّهُ مِنَ الْمَنَاكِيرِ الَّتِي لَا تُعْرَفُ وَلَوْ صَحَّ لَكَانَ مَحْمُولًا عَلَى التَّنْزِيهِ بِدَلِيلِ مَا فَعَلَهُ مِنْ بَيْعِهِ

Adapun jawaban mengenai riwayat mereka tentang larangan menjual budak mudabbar, maka itu termasuk riwayat yang mungkar yang tidak dikenal. Dan seandainya riwayat itu sahih, maka harus dipahami sebagai anjuran untuk meninggalkan (menjualnya) saja, berdasarkan dalil dari perbuatan beliau yang pernah menjualnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ إِلْحَاقِهِ بِأُمِّ الْوَلَدِ فَهُوَ أَنَّهَا كَالْمُسْتَهْلَكَةِ بِالْإِحْبَالِ لِسِرَايَتِهِ إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ وَلِأَنَّ عِتْقَ أُمِّ الْوَلَدِ لَازِمٌ لِاعْتِبَارِهِ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ كَالدُّيُونِ وَعِتْقَ التَّدْبِيرِ غَيْرُ لَازِمٍ لِاعْتِبَارِهِ مِنَ الثُّلُثِ كَالْوَصَايَا فَلِهَذَيْنِ مَا افْتَرَقَا فِي جَوَازِ الْبَيْعِ

Adapun jawaban terhadap penyamaannya dengan umm al-walad adalah bahwa ia (umm al-walad) dianggap seperti barang yang telah habis karena kehamilan, sebab kehamilan itu berpengaruh pada bagian milik sekutu. Selain itu, pembebasan umm al-walad bersifat wajib karena dipandang sebagai bagian dari pokok harta, seperti halnya utang-utang. Sedangkan pembebasan budak secara ta‘dib (tadbir) tidak wajib karena dipandang sebagai bagian dari sepertiga harta, seperti wasiat-wasiat. Karena dua alasan inilah keduanya berbeda dalam hal kebolehan penjualan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ أَنَّ انْتِقَالَ الِاسْمِ يُوجِبُ انْتِقَالَ الْحُكْمِ فَهُوَ أَنَّهُ مُوجِبٌ لِزِيَادَةِ حُكْمٍ لَمْ يَكُنْ قَبْلَ انْتِقَالِ الِاسْمِ وَقَدْ وُجِدَتِ الزِّيَادَةُ بِعِتْقِهِ بِالْمَوْتِ وَلَمْ يَلْزَمْ زَوَالُ أَحْكَامِهِ كَمَا لَمْ يَلْزَمْ زَوَالُ اسْتِخْدَامِهِ فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ بَيْعِهِ جَازَتْ هِبَتُهُ وَجَازَ كِتَابَتُهُ وَجَازَ تَعْجِيلُ عِتْقِهِ

Adapun jawaban terhadap anggapan bahwa perpindahan nama (status) mengharuskan perpindahan hukum adalah bahwa hal itu menyebabkan adanya tambahan hukum yang sebelumnya tidak ada sebelum perpindahan nama tersebut, dan tambahan itu telah terjadi dengan pembebasan budak karena kematian, namun tidak mengharuskan hilangnya hukum-hukum lain sebagaimana tidak mengharuskan hilangnya pemanfaatan terhadapnya. Maka apabila telah tetap kebolehan menjualnya, maka boleh juga memberikannya sebagai hibah, boleh juga melakukan mukatabah, dan boleh juga mempercepat pembebasannya.

فَأَمَّا الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ حَتَّى لَا يُعْتَقَ بِمَوْتِهِ فَسَنَذْكُرُهُ مِنْ بَعْدُ فِي موضعه

Adapun mengenai penarikan kembali dalam tadbīr, sementara budak tersebut tetap berada dalam kepemilikannya sehingga tidak merdeka dengan kematiannya, maka hal ini akan kami jelaskan nanti pada tempatnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِعَبْدِهِ أَنْتَ مُدَبَّرٌ أَوْ أَنْتَ عَتِيقٌ أَوْ مُحَرَّرٌ أَوْ حُرٌّ بَعْدَ مَوْتِي أَوْ مَتَى مُتُّ أَوْ مَتَى دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ بَعْدَ مَوْتِي فَدَخَلَ فَهَذَا كُلُّهُ تَدْبِيرٌ يَخْرُجُ مِنَ الثُّلُثِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apabila seseorang berkata kepada budaknya, “Engkau mudabbar,” atau “Engkau ‘atiq,” atau “muharrar,” atau “merdeka setelah aku wafat,” atau “apabila aku mati,” atau “apabila engkau masuk ke rumah, maka engkau merdeka setelah aku wafat,” lalu budak itu masuk (ke rumah), maka semua ucapan ini termasuk tadbīr yang pelaksanaannya diambil dari sepertiga harta peninggalan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَكَلَامُهُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Pembicaraannya dalam masalah ini mencakup dua bagian.”

أَحَدُهُمَا فِيمَا يَصِيرُ بِهِ مُدَبَّرًا

Salah satunya adalah mengenai hal yang menjadikannya sebagai mudabbir.

وَالثَّانِي فِيمَا يَكُونُ فِي التَّرِكَةِ مُعْتَبَرًا

Dan yang kedua adalah hal-hal yang dianggap penting dalam harta warisan.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ في الألفاظ التي تكون بِهَا مُدَبَّرًا

Adapun bagian pertama membahas tentang lafaz-lafaz yang dengannya seseorang menjadi mudabbir.

فَأَلْفَاظُ التَّدْبِيرِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ صَرِيحٌ وَكِنَايَةٌ وَمُخْتَلَفٌ فِيهِ هَلْ هُوَ صَرِيحٌ أَوْ كِنَايَةٌ

Ungkapan-ungkapan tentang tadbīr terbagi menjadi tiga jenis: sharih (jelas), kināyah (sindiran), dan yang diperselisihkan apakah termasuk sharih atau kināyah.

فَأَمَّا الصَّرِيحُ فَهُوَ قَوْلُهُ إِذَا مِتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ أَوْ أَنْتَ حُرٌّ بِمَوْتِي أَوْ أَنْتَ حُرٌّ بَعْدَ مَوْتِي لِأَنَّهَا أَلْفَاظٌ لَا احْتِمَالَ فِيهَا وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يُعَلِّقَهُ بِالْمَوْتِ أَوْ بَعْدَ الْمَوْتِ إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ فَاصِلٌ لِأَنَّهُ فِي الْحَالَيْنِ وَاقِعٌ بَعْدَ الْمَوْتِ

Adapun lafaz sharih adalah ucapannya: “Jika aku mati, maka kamu merdeka,” atau “Kamu merdeka karena kematianku,” atau “Kamu merdeka setelah kematianku,” karena itu adalah ungkapan-ungkapan yang tidak mengandung kemungkinan makna lain. Tidak ada perbedaan antara ia menggantungkan (kemerdekaan) itu pada kematian atau setelah kematian, selama tidak ada jeda antara dirinya dan kematian, karena dalam kedua keadaan itu kemerdekaan terjadi setelah kematian.

وَأَمَّا الْكِنَايَةُ فَهُوَ أن يقول إذا مت فأنت حرام أَوْ مُسَيَّبٌ أَوْ مُخْلًى أَوْ مَالِكٌ لِنَفْسِكَ أَوْ لَا سَبِيلَ لِأَحَدٍ عَلَيْكَ إِلَى نَظَائِرِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ الْمُحْتَمَلَةِ

Adapun kināyah adalah apabila seseorang berkata, “Jika aku mati, maka engkau haram,” atau “engkau telah dimerdekakan,” atau “engkau telah dibebaskan,” atau “engkau pemilik dirimu sendiri,” atau “tidak ada jalan bagi siapa pun atas dirimu,” dan ungkapan-ungkapan lain yang serupa yang mengandung kemungkinan makna.

فَإِنْ أَرَادَ بِهَا الْعِتْقَ صَارَ مُدَبَّرًا وَإِنْ لَمْ يُرِدْ بِهَا الْعِتْقَ لَمْ يَكُنْ مُدَبَّرًا وَاعْتِبَارُ الْإِرَادَةِ أَنْ يَكُونَ مَعَ لَفْظِهِ فَإِنْ تَجَرَّدَ اللَّفْظُ عَنِ الْإِرَادَةِ ثُمَّ أَرَادَهُ بَعْدَ انْقِضَاءِ اللَّفْظِ لَمْ يَصِرْ مُدَبَّرًا لِأَنَّ انْفِصَالَ النِّيَّةِ عَنِ الْكِنَايَةِ مُبْطِلٌ لحكم الكناية ويكون السيد هو المسؤول عَنْ إِرَادَتِهِ هَلْ أَرَدْتَ بِهِ الْعِتْقَ أَوْ لَمْ تُرِدْ وَلَا يُسْأَلُ هَلْ أَرَدْتَ بِهِ التَّدْبِيرَ أَوْ لَمْ تُرِدْ لِأَنَّهُ لَمَّا عَلَّقَهُ بِالْمَوْتِ تَوَجَّهَ إِلَى التَّدْبِيرِ وَلَمْ يَتَوَجَّهْ إِلَى الْعِتْقِ النَّاجِزِ وَلَكِنْ لَوْ أَطْلَقَ هَذِهِ الْأَلْفَاظَ وَلَمْ يُعَلِّقْهَا بِالْمَوْتِ جَازَ أَنْ يُرِيدَ بِهَا الْعِتْقَ النَّاجِزَ وَجَازَ أَنْ يُرِيدَ بِهَا التَّدْبِيرَ بَعْدَ الْمَوْتِ وَجَازَ أَن لَا يُرِيدَ بِهَا وَاحِدًا مِنْهُمَا فَيُرْجَعُ إِلَى إِرَادَتِهِ فَمَا ذَكَرَهُ فِيهَا مِنْ شَيْءٍ كَانَ قَوْلُهُ فِيهِ مَقْبُولًا فَإِنْ قَالَ السَّيِّدُ أَرَدْتُ بِهِ التَّدْبِيرَ وَقَالَ الْعَبْدُ بَلْ أَرَدْتَ بِهِ الْعِتْقَ النَّاجِزَ كَانَ لَهُ إِحْلَافُ سَيِّدِهِ وَلَوْ قَالَ السَّيِّدُ لَمْ أُرِدْ بِهِ التَّدْبِيرَ وَقَالَ الْعَبْدُ بَلْ أَرَدْتَ بِهِ التَّدْبِيرَ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِحْلَافُ سَيِّدِهِ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ لَيْسَ بِلَازِمٍ وَالْعِتْقَ النَّاجِزَ لَازِمٌ

Jika ia bermaksud dengannya (lafaz tersebut) untuk memerdekakan, maka budak itu menjadi mudabbar. Namun jika ia tidak bermaksud memerdekakan, maka budak itu tidak menjadi mudabbar. Pertimbangan kehendak (niat) adalah harus bersamaan dengan ucapannya. Jika ucapan itu terlepas dari niat, kemudian ia berniat setelah ucapan selesai, maka budak itu tidak menjadi mudabbar, karena terpisahnya niat dari kinayah membatalkan hukum kinayah tersebut. Dan tuanlah yang bertanggung jawab atas niatnya, apakah ia bermaksud memerdekakan atau tidak. Tidak ditanyakan kepadanya apakah ia bermaksud tadbir atau tidak, karena ketika ia menggantungkan (pembebasan) dengan kematian, maka itu mengarah pada tadbir dan tidak mengarah pada ‘itq (pembebasan) yang langsung. Namun, jika ia mengucapkan lafaz-lafaz tersebut secara mutlak dan tidak menggantungkannya pada kematian, maka boleh saja ia bermaksud ‘itq yang langsung, boleh juga ia bermaksud tadbir setelah kematian, dan boleh juga ia tidak bermaksud keduanya. Maka dikembalikan kepada niatnya; apa pun yang ia sebutkan tentang niatnya, maka ucapannya diterima. Jika tuan berkata, “Aku bermaksud tadbir,” dan budak berkata, “Bahkan engkau bermaksud ‘itq yang langsung,” maka budak itu berhak meminta tuannya bersumpah. Namun jika tuan berkata, “Aku tidak bermaksud tadbir,” dan budak berkata, “Bahkan engkau bermaksud tadbir,” maka budak tidak berhak meminta tuannya bersumpah, karena tadbir tidak bersifat wajib, sedangkan ‘itq yang langsung bersifat wajib.

وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ هَلْ هُوَ صَرِيحٌ أَوْ كِنَايَةٌ فَهُوَ لَفْظُ التَّدْبِير أَنْ يَقُولَ لِعَبْدِهِ أَنْتَ مُدَبَّرٌ فَالَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ أَنَّهُ يَكُونُ صَرِيحًا لَا يُرْجَعُ فِيهِ إِلَى إِرَادَتِهِ وَيُعْتَقُ عَلَيْهِ بِمَوْتِهِ

Adapun yang diperselisihkan apakah ia merupakan lafaz sharih (jelas) atau kinayah (sindiran), maka yang dimaksud adalah lafaz “tadbir”, yaitu apabila seseorang berkata kepada budaknya: “Engkau adalah mudabbir.” Pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i adalah bahwa lafaz tersebut termasuk sharih, sehingga tidak kembali pada maksud (niat) pengucapnya, dan budak tersebut akan merdeka dengan kematian tuannya.

وَقَالَ فِي الْكِنَايَةِ إِذَا قَالَ لِعَبْدِهِ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى كَذَا لَمْ يَكُنْ صَرِيحًا فِي عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ حَتَّى يَقُولَ فَإِذَا أَدَّيْتَ إِلَيَّ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي لَفْظِ التَّدْبِيرِ وَالْكِتَابَةِ فَمِنْهُمْ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا وَخَرَّجَهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Dan disebutkan dalam al-Kināyah, jika seseorang berkata kepada budaknya, “Aku telah membuat perjanjian mukātabah denganmu atas sesuatu,” maka itu tidak secara tegas berarti memerdekakan budak tersebut setelah pembayaran, sampai dia mengatakan, “Jika kamu telah membayar seluruhnya kepadaku, maka kamu merdeka.” Maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai lafaz tadbīr dan mukātabah; di antara mereka ada yang menggabungkan keduanya dan mengembalikannya pada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمَا صَرِيحَانِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي التَّدْبِيرِ

Salah satunya adalah bahwa keduanya secara tegas menunjukkan apa yang telah dinyatakan dalam tadbīr.

وَالثَّانِي أَنَّهُمَا كِنَايَتَانِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْكِتَابَةِ

Kedua istilah tersebut merupakan kinayah (ungkapan sindiran) sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab.

وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ التَّدْبِيرُ صَرِيحٌ وَالْكِنَايَةُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ التَّدْبِيرُ صَرِيحٌ وَالْكِتَابَةُ كِنَايَةٌ لِوُقُوعِ الْفَصْلِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tadbīr adalah lafaz sharih (jelas), sedangkan kināyah terdapat dua pendapat. Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tadbīr adalah lafaz sharih, sedangkan kitābah adalah kināyah, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ لَفْظَ التَّدْبِيرِ مَشْهُورٌ فِي الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ وَالْكِنَايَةَ يَعْرِفُهَا الْخَاصَّةُ دُونَ الْعَامَّةِ

Salah satunya adalah bahwa lafaz “tadbīr” sudah dikenal luas baik di kalangan khusus maupun umum, sedangkan kināyah hanya diketahui oleh kalangan khusus dan tidak oleh kalangan umum.

وَالثَّانِي أَنَّ الْكِنَايَةَ مُتَرَدِّدَةٌ بَيْنَ صَرِيحِينَ مِنْ عِتْقٍ وَمُكَاتَبَةٍ وَالتَّدْبِيرَ لَيْسَ لَهُ صَرِيحٌ سِوَاهُ وَإِذَا كَانَ التَّدْبِيرُ صَرِيحًا ثَبَتَ حُكْمُهُ فِي كُلِّ مَنْ تَلَفَّظَ بِهِ فِي عَبْدِهِ سَوَاءٌ عَرَفَ حُكْمَهُ أَوْ لَمْ يَعْرِفْ كَصَرِيحِ الْعِتْقَ وَالطَّلَاقِ

Kedua, sesungguhnya kināyah itu masih samar antara dua makna yang jelas, yaitu antara pembebasan budak (‘itq) dan mukātabah, sedangkan tadbīr tidak memiliki lafaz yang jelas selain itu. Apabila tadbīr diucapkan secara jelas, maka hukumnya tetap berlaku pada setiap orang yang mengucapkannya terhadap budaknya, baik ia mengetahui hukumnya maupun tidak, sebagaimana halnya dengan lafaz yang jelas pada ‘itq dan talak.

فَإِنْ عَلَّقَ تَدْبِيرَهُ بِصِفَةٍ فَقَالَ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ مُدَبَّرٌ فَلَيْسَ بِمُدَبَّرٍ مَا لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ فَإِذَا دَخَلَهَا فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ صَارَ مُدَبَّرًا يُعْتَقُ بِالْمَوْتِ وَلَوْ دَخَلَهَا بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ لَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ التَّدْبِيرُ بَعْدَ الْمَوْتِ لِفَوَاتِ الصِّفَةِ بِالْمَوْتِ

Jika seseorang menggantungkan tadbīr-nya pada suatu sifat, lalu ia berkata, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu menjadi mudabbir,” maka ia belum menjadi mudabbir selama belum masuk ke rumah. Jika ia masuk ke rumah itu ketika tuannya masih hidup, maka ia menjadi mudabbir yang akan merdeka dengan kematian tuannya. Namun, jika ia masuk ke rumah itu setelah tuannya meninggal, maka ia tidak merdeka, karena tadbīr tidak sah setelah kematian, sebab sifat yang disyaratkan telah hilang dengan kematian.

فَإِنْ قَالَ لَهُ إِذَا دَفَعْتَ إِلَيَّ عَشَرَةَ دَنَانِيرَ فَأَنْتَ مُدَبَّرٌ صَارَ مُدَبَّرًا بِدَفْعِ جَمِيعِهَا وَلَوْ دَفَعَهَا إِلَّا يَسِيرًا لَمْ يَصِرْ مُدَبَّرًا وَلَوْ قَالَ إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَأَنْتَ مُدَبَّرٌ كَانَ تَدْبِيرُهُ مُعْتَبَرًا بِقِرَاءَةِ جَمِيعِ الْقُرْآنِ فَلَوْ قَرَأَهُ إِلَّا آيَةً مِنْهُ لَمْ يَصِرْ مُدَبَّرًا

Jika ia berkata kepadanya, “Jika engkau memberiku sepuluh dinar, maka engkau menjadi mudabbar,” maka ia menjadi mudabbar dengan memberikan seluruh jumlah tersebut. Namun, jika ia hanya memberikannya sebagian kecil saja, maka ia tidak menjadi mudabbar. Dan jika ia berkata, “Jika engkau membaca Al-Qur’an, maka engkau menjadi mudabbar,” maka tadbirnya dianggap sah apabila ia membaca seluruh Al-Qur’an. Jika ia hanya membaca kecuali satu ayat darinya, maka ia tidak menjadi mudabbar.

وَلَوْ قَالَ إِذَا قَرَأَتْ قُرْآنًا صَارَ مُدَبَّرًا بِقِرَاءَةِ آيَةٍ مِنْهُ لِأَنَّ دُخُولَ الْأَلِفِ وَاللَّامِ تُوجِبُ اسْتِيعَابَ الْجِنْسِ وَحَذْفَهُمَا لَا يُوجِبُهُ وَلَوْ عَلَّقَ تَدْبِيرَهُ بِصِفَتَيْنِ ثَبَتَ التَّدْبِيرُ بِوُجُودِهِمَا وَلَمْ يَثْبُتْ بِوُجُودِ أَحَدِهِمَا وَلَوْ عَلَّقَهُ بِعَشْرِ صِفَاتٍ لَمْ يَثْبُتْ بِوُجُودِ تِسْعٍ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ الْعَشْرَ كُلَّهَا فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ وَلَا يَصِحُّ تَعْلِيقُ الْكِتَابَةِ بِالصِّفَةِ وَإِنْ صَحَّ تَعْلِيقُ التَّدْبِيرِ بِالصِّفَةِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ الَّتِي لَا يَجُوزُ تَعْلِيقُهَا بِالصِّفَاتِ

Dan jika seseorang berkata, “Jika ia membaca Al-Qur’an, maka ia menjadi mudabbir dengan membaca satu ayat darinya,” karena masuknya alif dan lam mengharuskan mencakup seluruh jenis, sedangkan penghapusannya tidak mengharuskan demikian. Dan jika ia menggantungkan tadbir pada dua sifat, maka tadbir itu berlaku dengan adanya kedua sifat tersebut dan tidak berlaku dengan adanya salah satunya saja. Dan jika ia menggantungkan pada sepuluh sifat, maka tidak berlaku dengan adanya sembilan sifat hingga sempurna sepuluh sifat itu seluruhnya selama tuannya masih hidup. Dan tidak sah menggantungkan penulisan (kitabah) pada sifat, meskipun sah menggantungkan tadbir pada sifat, karena kitabah termasuk akad mu‘awadhat yang tidak boleh digantungkan pada sifat.

وَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَدَخَلَهَا بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ يُعْتَقْ لِزَوَالِ مِلْكِهِ وَلَوْ قَالَ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ بَعْدَ مَوْتِي فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ مَا لَمْ يَقْتَسِمْ بِهِ الْوَرَثَةُ وَصَارَ كَالْمُوصَى بِعِتْقِهِ

Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu merdeka,” lalu budak itu masuk ke rumah setelah tuannya wafat, maka budak tersebut tidak menjadi merdeka karena kepemilikan tuannya telah hilang. Namun, jika ia berkata, “Jika kamu masuk ke rumah setelah aku wafat, maka kamu merdeka,” maka budak itu menjadi merdeka selama para ahli waris belum membagi warisan, dan hukumnya seperti orang yang diwasiatkan untuk dimerdekakan.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِيمَا يَكُونُ مُعْتَبَرًا فِي التَّرِكَةِ وَهُوَ قِيمَةُ الْمُدَبَّرِ وَقِيمَتُهُ مُعْتَبَرَةٌ فِي وَقْتِ مَوْتِ السَّيِّدِ لَا فِي وَقْتِ تَدْبِيرِهِ لِاعْتِبَارِهَا بِالْعِتْقِ الَّذِي صَارَ بِهِ مُسْتَهْلَكًا وَهِيَ مُعْتَبَرَةٌ مِنَ الثُّلُثِ لَا مِنْ رَأْسِ الْمَالِ فَإِنِ احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَإِلَّا عَتَقَ مِنْهُ قَدْرَ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَرَقَّ بَاقِيهِ لِلْوَرَثَةِ وَهَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَسَوَاءٌ دَبَّرَهُ فِي صِحَّتِهِ أَوْ فِي مَرَضِهِ وَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى أَنَّهُ يُعْتَقُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ وَلَا يَرِقُّ بَعْدَ الْعِتْقِ قَالَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ حَكَاهُ زَكَرِيَّا السَّاجِي عَنْهُ وَمِنَ التَّابِعِينَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَمَسْرُوقٌ

Adapun bagian kedua membahas hal-hal yang dianggap sebagai bagian dari harta warisan, yaitu nilai budak mudabbar. Nilai budak mudabbar diperhitungkan pada saat wafatnya tuan, bukan pada saat penetapan tadbir, karena penilaiannya dikaitkan dengan pembebasan yang menyebabkan budak tersebut menjadi habis (tidak lagi menjadi milik). Nilai tersebut dihitung dari sepertiga harta, bukan dari seluruh harta. Jika sepertiga harta mencukupi untuk membebaskan seluruhnya, maka budak tersebut merdeka seluruhnya; jika tidak, maka hanya sebesar yang tertutupi oleh sepertiga harta yang dimerdekakan, sedangkan sisanya tetap menjadi milik ahli waris. Inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para fuqaha, baik tadbir itu dilakukan saat sehat maupun saat sakit. Namun, ada sekelompok ulama yang berpendapat bahwa pembebasan budak mudabbar diambil dari seluruh harta, dan setelah dimerdekakan, ia tidak lagi menjadi budak. Pendapat ini dikemukakan oleh Abdullah bin Mas‘ud dari kalangan sahabat, sebagaimana dinukil oleh Zakariya as-Saji darinya, dan dari kalangan tabi’in, di antaranya Sa‘id bin Jubair dan Masruq.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ حَمَّادُ ابن أَبِي سُلَيْمَانَ وَالْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَدَاوُدُ اعْتِبَارًا بِعِتْقِ أُمِّ الْوَلَدِ لِأَنَّ عِتْقَهَا وَاقِعٌ بِالْمَوْتِ

Di antara para fuqaha adalah Hammad bin Abi Sulaiman, Al-Hakam bin ‘Utaybah, Ibrahim An-Nakha‘i, dan Dawud, yang berpendapat dengan mempertimbangkan pembebasan (’itq) umm al-walad, karena pembebasannya terjadi dengan kematian.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ مِنَ الثُّلُثِ مَا رَوَاهُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ الْمُدَبَّرُ مِنَ الثُّلُثِ وَرَوَاهُ الشَّافِعِيُّ مَوْقُوفًا عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَلِأَنَّ عِتْقَهُ فِي الْمَرَضِ أَمْضَى وَهُوَ مُعْتَبَرٌ مِنَ الثُّلُثِ فَكَانَ التَّدْبِيرُ أَوْلَى أَنْ يُعْتَبَرَ مِنَ الثُّلُثِ وَلِأَنَّ مَا لَا يَلْزَمُ قَبْلَ الْمَوْتِ كَانَ لُزُومُهُ بِالْمَوْتِ مُوجِبًا لِاعْتِبَارِهِ مِنَ الثُّلُثِ كَالْوَصَايَا وَهَذَا خَالَفَ أُمَّ الْوَلَدِ لِلُزُومِ عِتْقِهَا قَبْلَ الْمَوْتِ

Dalil bahwa mudabbar termasuk dari sepertiga (harta) adalah riwayat dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Mudabbar itu dari sepertiga (harta).” Imam Syafi‘i meriwayatkannya secara mauquf dari Ibnu ‘Umar. Karena pembebasan budak dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematian itu berlaku dan dihitung dari sepertiga (harta), maka tadbir (pembebasan budak secara bertahap) lebih utama untuk dihitung dari sepertiga (harta). Dan karena sesuatu yang tidak wajib sebelum kematian, maka kewajibannya setelah kematian menyebabkan ia dihitung dari sepertiga (harta), seperti wasiat-wasiat. Hal ini berbeda dengan umm al-walad, karena pembebasannya wajib sebelum kematian.

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّهُ فِي الثُّلُثِ وَاحْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ لِلْوَرَثَةِ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَأَكْثَرَ عَتَقَ بِالْمَوْتِ لِحُصُولِ مِثْلَيْ قِيمَتِهِ لِلْوَرَثَةِ وَلَوْ لَمْ يَتْرُكِ السَّيِّدُ شَيْئًا وَكَسَبَ الْمُدَبَّرُ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ كَانَتْ مِنْ تَرِكَةِ السَّيِّدِ وَعَتَقَ بِهَا لِمَصِيرِ الْوَرَثَةِ إِلَى مِثْلَيْ قِيمَتِهِ مِيرَاثًا وَلَوْ كَسَبَهَا بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْوَرَثَةِ مِلْكًا لَا تُضَافُ إِلَى التَّرِكَةِ وَلَا يَدْخُلُ بِهَا فِي عِتْقِهِ وَيَكُونُ فِيهَا مُدَبَّرًا لَمْ يَتْرُكْ سَيِّدُهُ سِوَاهُ فَيُعْتَقُ ثُلُثُهُ بِالْمَوْتِ وَثُلُثَاهُ مَوْقُوفٌ لِلْوَرَثَةِ إِلَّا أَنْ يُجِيزَ الْوَرَثَةُ عِتْقَ بَاقِيهِ فَيُعْتَقُ جَمِيعُهُ وَيَكُونُ فِي وَلَائِهِ قَوْلَانِ

Jika telah dipastikan bahwa harta tersebut berada dalam sepertiga (harta peninggalan) dan sepertiga itu dapat menanggungnya, yaitu jika nilainya seratus dirham dan ia meninggalkan untuk para ahli waris dua ratus dirham atau lebih, maka ia merdeka dengan kematian (tuannya), karena para ahli waris memperoleh dua kali lipat dari nilainya. Jika tuan tidak meninggalkan apa pun, lalu budak mudabbar memperoleh dua ratus dirham selama hidup tuannya, maka harta itu menjadi bagian dari warisan tuan dan ia merdeka karenanya, karena para ahli waris mendapatkan dua kali lipat dari nilainya sebagai warisan. Namun, jika ia memperoleh harta itu setelah kematian tuannya, maka harta itu menjadi milik bersama antara dia dan para ahli waris, tidak ditambahkan ke dalam warisan dan tidak menyebabkan kemerdekaannya. Dalam hal ini, ia tetap menjadi mudabbar, di mana tuannya tidak meninggalkan selain dirinya, sehingga sepertiganya merdeka dengan kematian (tuannya) dan dua pertiganya menjadi hak para ahli waris, kecuali jika para ahli waris mengizinkan pembebasan sisanya, maka seluruhnya menjadi merdeka. Dalam hal hak wala’, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لِلسَّيِّدِ إِذَا قِيلَ إِنَّ إِجَازَتَهُمْ أَمْضَى لِوَصِيَّتِهِ

Salah satunya adalah bagi tuan, jika dikatakan bahwa persetujuan mereka lebih menguatkan wasiatnya.

وَالثَّانِي يَكُونُ لِلسَّيِّدِ ثُلُثُ وَلَائِهِ وَلَهُمْ ثُلُثَاهُ إِذَا قِيلَ إِنَّ إِجَازَتَهُمْ عَطِيَّةٌ مِنْهُمْ

Yang kedua, bagi tuan mendapat sepertiga hak wala’, dan bagi mereka dua pertiganya, jika dikatakan bahwa persetujuan mereka adalah pemberian dari mereka.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يُعْتَقُ فِي مَالِ غَائِبٍ حَتَّى يَحْضُرَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak sah memerdekakan (budak) dari harta yang tidak hadir (ghaib) hingga harta itu ada (hadir).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا مَاتَ وَقَدْ دَبَّرَ عَبْدًا قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ مَالًا غَائِبًا يَخْرُجُ الْمُدَبَّرُ مِنْ ثُلُثِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْوَرَثَةِ فِي الْمَالِ الْغَائِبِ مِنْ أَنْ يَقْدِرُوا عَلَى التَّصَرُّفِ فِيهِ أَوْ يَعْجِزُوا عَنْهُ فَإِنْ عَجَزُوا عَنْهُ كَانَ عِتْقُ الْمُدَبَّرِ مَوْقُوفًا عَلَى قُدُومِ الْغَائِبِ لِأَنَّ عِتْقَهُ وَصِيَّةٌ فِي الثُّلُثِ وَالْوَصَايَا لَا تُمْضَى إِلَّا أَنْ يَحْصُلَ الْوَرَثَةُ مِثْلَاهَا وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَتْلَفَ الْغَائِبُ وَلَا يَصِلَ إِلَى الْوَرَثَةِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْتَلِفْ أَصْحَابُنَا أَنَّ ثُلُثَيِ الْمُدَبَّرِ مَوْقُوفٌ عَلَى قُدُومِ الْغَائِبِ وَاخْتَلَفُوا فِي إِمْضَاءِ الْعِتْقِ فِي ثُلُثِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang meninggal dunia dan ia telah mentadbirkan seorang budak yang nilainya seratus dirham, lalu ia meninggalkan harta yang masih gaib, dan budak yang ditadbir itu dapat dikeluarkan dari sepertiga hartanya, maka keadaan ahli waris terhadap harta yang gaib itu tidak lepas dari dua kemungkinan: mereka mampu mengelolanya atau tidak mampu. Jika mereka tidak mampu mengelolanya, maka pembebasan budak yang ditadbir itu ditangguhkan sampai datangnya harta yang gaib, karena pembebasannya merupakan wasiat pada sepertiga harta, dan wasiat tidak dapat dijalankan kecuali jika ahli waris memperoleh yang semisal dengannya. Bisa jadi harta yang gaib itu rusak dan tidak sampai kepada ahli waris. Jika demikian, para ulama kami tidak berbeda pendapat bahwa dua pertiga dari nilai budak yang ditadbir itu statusnya ditangguhkan sampai datangnya harta yang gaib, namun mereka berbeda pendapat tentang pelaksanaan pembebasan pada sepertiganya, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يُتْرَكْ سِوَاهُ لَعَتَقَ ثُلُثُهُ فَإِذَا تَرَكَ مَعَهُ مَالًا غَائِبًا فَأَوْلَى أَنْ يُعْتَقَ ثُلُثُهُ

Salah satunya dimerdekakan, karena jika tidak ada yang tersisa selain dia, maka sepertiganya pasti dimerdekakan. Maka apabila ditinggalkan bersamanya harta yang tidak hadir (tidak ada di tempat), maka lebih utama lagi sepertiganya dimerdekakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُعْتَقُ شَيْءٌ مِنْهُ فَيُوقَفُ جَمِيعُهُ لِئَلَّا يَنْفُذَ فِي الْعِتْقِ مَا لَمْ يَصِلْ إِلَى الْوَرَثَةِ مِثْلَاهُ لِأَنَّ بَاقِيَهُ مَوْقُوفٌ لَمْ يَصِلِ الْوَرَثَةُ إِلَيْهِ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ سِوَاهُ لِتَصَرُّفِ الْوَرَثَةِ فِي بَاقِيهِ فَلِذَلِكَ كَانَ الْعِتْقُ مَوْقُوفًا كَمَا كَانَ حَقُّ الْوَرَثَةِ مَوْقُوفًا وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَرَّقْنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ لَمْ يَمْلِكْ سِوَاهُ وَكَلَامُ الشَّافِعِيِّ يَحْتَمِلُ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak ada bagian darinya yang dimerdekakan, sehingga seluruhnya ditangguhkan agar pembebasan (’itq) tidak berlaku sebelum bagian yang sama sampai kepada para ahli waris, karena sisanya masih tertahan dan belum sampai kepada ahli waris. Meskipun ia tidak memiliki harta selain itu, hal ini demi menjaga hak ahli waris atas sisanya. Oleh karena itu, pembebasan (’itq) menjadi tertangguhkan sebagaimana hak ahli waris juga tertangguhkan. Dengan makna inilah kami membedakan antara kasus ini dengan orang yang tidak memiliki harta selain itu. Pendapat asy-Syafi‘i dapat mencakup kedua kemungkinan ini.

الْأَوَّلُ مِنْهُمَا قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ

Pendapat pertama dari keduanya adalah pendapat mayoritas ulama.

وَالثَّانِي اخْتِيَارُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِيِّ وَنَحْنُ نُفَرِّعُ عَلَى الْوَجْهَيْنِ مَعًا

Dan pendapat kedua adalah pilihan Abu Hamid al-Isfirayini, dan kami membahas cabang-cabang hukum berdasarkan kedua pendapat tersebut sekaligus.

فَإِذَا قِيلَ بِالْوَجْهِ الْأَوَّلِ أَنَّهُ يَتَعَجَّلُ عِتْقَ ثُلُثِهِ مَلَكَ الْمُدَبَّرُ بِهِ ثُلُثَ كَسْبِهِ وَكَانَ ثُلُثَاهُ وَثُلُثَا كَسْبِهِ مَوْقُوفًا فَإِنْ قَدِمَ مِنَ الْغَائِبِ خَمْسُونَ عَتَقَ نِصْفُهُ لِأَنَّ الْخَمْسِينَ مَعَ قِيمَتِهِ مِائَةٌ وَخَمْسُونَ وَقِيمَةُ نِصْفِهِ ثُلُثُهَا وَلَوْ قَدِمَ مِنَ الْغَائِبِ مِائَةٌ عَتَقَ ثُلُثَاهُ لِأَنَّ الْمِائَةَ مَعَ قِيمَتِهِ مِائَتَانِ وَثُلُثَاهُ ثُلُثُهَا فَإِنْ قَدِمَتْ مِائَةٌ ثَانِيَةٌ عَتَقَ جَمِيعُهُ لِوُصُولِ الْوَرَثَةِ إِلَى مِثْلَيْ قِيمَتِهِ وَإِنْ تَلِفَتْ وَلَمْ تَصِلِ اسْتَقَرَّ الْعِتْقُ فِي ثُلُثَيْهِ وَرَقَّ لِلْوَرَثَةِ ثُلُثُهُ فَصَارَ لَهُمْ مَعَ الْمِائَةِ الْوَاصِلَةِ مِثْلَا مَا عَتَقَ مِنْ ثُلُثَيْهِ وَإِنْ قِيلَ بِالْوَجْهِ الثَّانِي إِنَّ عِتْقَ جَمِيعِهِ مَوْقُوفٌ كَانَ جَمِيعُ كَسْبِهِ مَوْقُوفًا فَإِنْ قَدِمَ مِنَ الْغَائِبِ خَمْسُونَ وَكَانَ بَاقِيًا مَرْجُوًّا عَتَقَ رُبْعُهُ لِأَنَّ الْخَمْسِينَ مِثْلَا رُبْعِهِ وَإِنْ كَانَ بَاقِيهِ تَالِفًا عَتَقَ نِصْفُهُ لِأَنَّ الْخَمْسِينَ مَعَ رِقِّ نِصْفِهِ مِثْلَا نِصْفِهِ وَلَوْ كَانَ الْقَادِمُ مِنَ الْغَائِبِ مِائَةٌ وَكَانَ بَاقِيهِ مَرْجُوًّا عَتَقَ نِصْفُهُ لِأَنَّ الْمِائَةَ مِثْلَا نِصْفِهِ وَلَوْ كَانَ بَاقِيهِ تَالِفًا عَتَقَ ثُلُثَاهُ لِأَنَّ الْمِائَةَ مَعَ رِقِّ ثُلُثِهِ مِثْلَا ثُلُثَيْهِ فَإِنْ قَدِمَتْ مِائَةٌ ثَانِيَةٌ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَإِلَّا فَقَدِ اسْتَقَرَّ الْعِتْقُ فِي ثُلُثَيْهِ وَالرِّقُّ فِي ثُلُثِهِ وَمَلَكَ ثُلُثَيْ كَسْبِهِ وَلِلْوَرَثَةِ ثُلُثُ كَسْبِهِ

Jika dikatakan menurut pendapat pertama bahwa sepertiga dari budak itu segera merdeka, maka pemilik mudabbar memiliki sepertiga hasil usahanya, dan dua pertiganya beserta dua pertiga hasil usahanya menjadi tertahan (belum jelas statusnya). Jika dari harta yang tidak hadir datang lima puluh (dinar/dirham), maka setengahnya merdeka, karena lima puluh ditambah nilai budak itu menjadi seratus lima puluh, dan nilai setengahnya adalah sepertiganya. Jika dari harta yang tidak hadir datang seratus, maka dua pertiganya merdeka, karena seratus ditambah nilai budak itu menjadi dua ratus, dan dua pertiganya adalah sepertiganya. Jika datang seratus kedua, maka seluruhnya merdeka, karena para ahli waris telah memperoleh dua kali nilai budak itu. Jika harta itu rusak dan tidak sampai, maka kemerdekaan tetap pada dua pertiganya dan sepertiganya tetap menjadi milik ahli waris, sehingga mereka memiliki bersama seratus yang sampai, sama dengan apa yang telah merdeka dari dua pertiganya. Jika dikatakan menurut pendapat kedua bahwa kemerdekaan seluruhnya tertahan, maka seluruh hasil usahanya juga tertahan. Jika dari harta yang tidak hadir datang lima puluh dan sisanya masih diharapkan, maka seperempatnya merdeka, karena lima puluh sama dengan seperempatnya. Jika sisanya telah rusak, maka setengahnya merdeka, karena lima puluh ditambah status perbudakan setengahnya sama dengan setengahnya. Jika yang datang dari harta yang tidak hadir adalah seratus dan sisanya masih diharapkan, maka setengahnya merdeka, karena seratus sama dengan setengahnya. Jika sisanya telah rusak, maka dua pertiganya merdeka, karena seratus ditambah status perbudakan sepertiganya sama dengan dua pertiganya. Jika datang seratus kedua, maka seluruhnya merdeka, jika tidak, maka kemerdekaan tetap pada dua pertiganya dan perbudakan pada sepertiganya, dan pemilik memiliki dua pertiga hasil usahanya, sedangkan ahli waris memiliki sepertiga hasil usahanya.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنْ قَدَرَ الْوَرَثَةُ عَلَى التَّصَرُّفِ فِي الْمَالِ قَبْلَ قُدُومِهِ لَمْ يُعْتَبَرْ فِي عِتْقِهِ قُدُومُ الْمَالِ وَاعْتُبِرَ فِيهِ قُدْرَتُهُمْ عَلَى التَّصَرُّفِ فَإِذَا مَضَى زَمَانُ قُدْرَتِهِمْ عَلَى التَّصَرُّفِ فِيهِ عَتَقَ عَلَيْهِمْ وَإِنْ لَمْ يَتَصَرَّفُوا لِأَنَّهُمْ بِالْقُدْرَةِ عَلَيْهِ فِي حُكْمِ الْمُتَصَرِّفِينَ فِيهِ إِلَّا أَنْ يَحْدُثَ عُذْرٌ يَمْنَعُ مِنَ التَّصَرُّفِ فَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِمْ إِلَّا بَعْدَ زَوَالِهِ سَوَاءٌ كَانَ الْعُذْرُ مِنْهُمْ كَالْمَرَضِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ كَالْحَبْسِ فَإِنْ قَدَرَ عَلَى التَّصَرُّفِ فِيهِ بَعْضُهُمْ وَعَجَزَ عَنْهُ بَعْضُهُمْ عَتَقَتْ حِصَّةُ الْقَادِرِ وَوُقِفَتْ حِصَّةُ الْعَاجِزِ وَهَكَذَا الدَّيْنُ يَكُونُ كَالْمَالِ الْغَائِبِ لَا يُعْتَقُ فِيهِ إِلَّا بَعْدَ قَبْضِ الْوَرَثَةِ مِثْلَيْ قيمته

Jika para ahli waris mampu melakukan tasharruf (pengelolaan) terhadap harta sebelum harta itu datang, maka dalam hal pembebasan budak tidak disyaratkan kedatangan harta tersebut, melainkan yang diperhitungkan adalah kemampuan mereka untuk melakukan tasharruf. Maka, apabila telah berlalu masa di mana mereka mampu melakukan tasharruf terhadap harta itu, maka budak tersebut menjadi merdeka atas tanggungan mereka, meskipun mereka belum melakukan tasharruf, karena dengan kemampuan atas harta itu, mereka dipandang seperti orang yang telah melakukan tasharruf, kecuali jika terjadi uzur yang menghalangi tasharruf, maka budak tidak menjadi merdeka atas tanggungan mereka kecuali setelah uzur itu hilang, baik uzur itu berasal dari mereka sendiri seperti sakit, atau dari selain mereka seperti penahanan. Jika sebagian dari mereka mampu melakukan tasharruf terhadap harta itu dan sebagian lainnya tidak mampu, maka bagian yang mampu menjadi merdeka, sedangkan bagian yang tidak mampu ditangguhkan. Demikian pula utang, hukumnya seperti harta yang ghaib, tidak dibebaskan (budak) di dalamnya kecuali setelah para ahli waris menerima dua kali lipat nilainya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ مَتَى مُتُّ فَشَاءَ فَهُوَ مُدَبَّرٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Jika engkau menghendaki, maka engkau merdeka setelah aku wafat,’ lalu orang tersebut menghendaki (kemerdekaan itu), maka ia menjadi mudabbar.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا عَقْدُ تَدْبِيرٍ بِصِفَةٍ وَهِيَ مَشِيئَةُ الْعَبْدِ وَمَشِيئَتُهُ مُعْتَبَرَةٌ عَلَى الْفَوْرِ دُونَ التَّرَاخِي

Al-Mawardi berkata: “Ini adalah akad tadbir dengan suatu sifat, yaitu kehendak hamba, dan kehendaknya dianggap berlaku seketika, bukan ditunda.”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ تُعْتَبَرُ فِي فَوْرِهَا مَشِيئَةُ الْقَبُولِ فِي الشِّرَاءِ أَوْ مَشِيئَةُ الْجَوَازِ فِي التَّخْيِيرِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah yang dianggap dalam segera menerima (akad) adalah keinginan untuk menerima dalam jual beli, ataukah keinginan untuk membolehkan dalam opsi memilih, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يُعْتَبَرُ فِيهَا مَشِيئَةُ الْقَبُولِ فِي الشِّرَاءِ لِأَنَّهُ تَمْلِيكٌ فَعَلَى هَذَا إِنْ شَاءَ الْعَبْدُ عَقِيبَ قَوْلِ سَيِّدِهِ انْعَقَدَ تَدْبِيرُهُ وَإِنْ أَخَّرَهُ عَنْهُ لَمْ يَنْعَقِدْ

Salah satunya adalah bahwa dalam hal ini dipertimbangkan adanya kehendak menerima dalam jual beli, karena jual beli merupakan pemindahan kepemilikan. Berdasarkan hal ini, jika seorang budak menghendaki (menerima) segera setelah ucapan tuannya, maka akad tadbirnya menjadi sah. Namun jika ia menundanya, maka akad tersebut tidak sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي تُعْتَبَرُ مَشِيئَةُ الْجَوَازِ فِي التَّخْيِيرِ لِأَنَّهُ يَحْتَاجُ إِلَى فِكْرٍ فَعَلَى هَذَا إِنْ شَاءَ الْعَبْدُ فِي الْمَجْلِسِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَشْرَعَ فِي غَيْرِهِ انْعَقَدَ تَدْبِيرُهُ وَإِنْ شَرَعَ فِي غَيْرِهِ أَوْ قَامَ عَنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَنْعَقِدْ فَلَوْ قَالَ الْعَبْدُ فِي الْمَجْلِسِ قَدْ شِئْتُ ثُمَّ قَالَ لست أشاء انعقد تدبيره بالمشيئة الأولة وَلَمْ يَبْطُلْ بِتَرْكِهِ لَهَا وَلَوْ قَالَ ابْتِدَاءً لَسْتُ أَشَاءُ ثُمَّ قَالَ شِئْتُ بَطَلَ التَّدْبِيرُ وَلَمْ يَثْبُتْ بِالْمَشِيئَةِ الثَّانِيَةِ اعْتِبَارًا بِأَسْبَقِهِمَا مِنْهُ

Pendapat kedua menyatakan bahwa kehendak kebolehan (masyi’ah al-jawāz) menjadi pertimbangan dalam memilih, karena hal itu membutuhkan pemikiran. Berdasarkan hal ini, jika seorang hamba menghendaki dalam majelis tanpa memulai pada selainnya, maka tindakannya menjadi sah. Namun, jika ia memulai pada selainnya atau bangkit dari majelisnya, maka tindakannya tidak sah. Jika hamba tersebut berkata dalam majelis, “Aku telah menghendaki,” lalu berkata, “Aku tidak menghendaki,” maka tindakannya sah dengan kehendak yang pertama dan tidak batal karena ia meninggalkannya. Namun, jika ia sejak awal berkata, “Aku tidak menghendaki,” lalu berkata, “Aku menghendaki,” maka tindakannya batal dan tidak sah dengan kehendak yang kedua, dengan mempertimbangkan mana yang lebih dahulu di antara keduanya.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ لَهُ مَتَى شِئْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ إِذَا مُتُّ أَوْ مَتَى مُتُّ كَانَ مَشِيئَةُ الْعَبْدِ عَلَى التَّرَاخِي فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ بِخِلَافِ إِنْ و إِذَا لِأَنَّ مَتَى مَوْضُوعَةٌ لِلزَّمَانِ فَاسْتَوَى فِيهَا جَمِيعُ الْأَزْمَانِ و إِنْ و إِذَا مَوْضُوعَةٌ لِلْفِعْلِ فَاعْتُبِرَ فِيهَا زَمَانُ الْفِعْلِ فَإِنْ أَخَّرَ الْعَبْدُ الْمَشِيئَةَ حَتَّى مَاتَ السَّيِّدُ ثُمَّ شَاءَ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ كَانَتْ مَشِيئَتُهُ عَلَى التَّرَاخِي لِأَنَّهَا مَشِيئَةٌ فِي عَقْدِ التَّدْبِيرِ وَالتَّدْبِيرُ لَا يَنْعَقِدُ بَعْدَ الْمَوْتِ

Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Kapan pun engkau kehendaki, maka engkau merdeka jika aku mati atau kapan aku mati,” maka kehendak budak itu berlaku secara tertunda selama tuannya masih hidup, berbeda dengan lafaz “in” dan “idza”. Sebab, kata “mata” digunakan untuk waktu, sehingga mencakup seluruh waktu, sedangkan “in” dan “idza” digunakan untuk perbuatan, sehingga yang diperhitungkan adalah waktu terjadinya perbuatan. Jika budak itu menunda kehendaknya sampai tuannya meninggal, lalu ia menghendakinya (setelah tuannya meninggal), maka ia tidak merdeka, meskipun kehendaknya berlaku secara tertunda, karena kehendak tersebut adalah kehendak dalam akad tadbir, dan akad tadbir tidak sah setelah kematian.

وَلَوْ قَالَ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ قَدْ شِئْتُ ثُمَّ قَالَ لَسْتُ أَشَاءُ ثَبَتَ التَّدْبِيرُ بِالْمَشِيئَةِ وَلَمْ يَبْطُلْ بِالرُّجُوعِ الْمُتَأَخِّرِ وَلَوْ قَالَ لَسْتُ أَشَاءُ ثُمَّ قَالَ شِئْتُ ثَبَتَ التَّدْبِيرُ بِالْمَشِيئَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ وَلَمْ يَبْطُلْ بِتَرْكِهَا الْمُتَقَدِّمِ بِخِلَافِ مَا تَقَدَمَ لِأَنَّ الْمَشِيئَةَ هَاهُنَا عَلَى التَّرَاخِي فَرَاعَيْنَا وُجُودَهَا مُتَقَدِّمَةً وَمُتَأَخِّرَةً وَهُنَاكَ عَلَى الْفَوْرِ فَرَاعَيْنَا مَا تَقَدَّمَ

Jika seorang budak berkata di masa hidup tuannya, “Aku telah menghendaki,” kemudian ia berkata, “Aku tidak menghendaki,” maka tadbir tetap berlaku karena adanya kehendak, dan tidak batal dengan penarikan kembali yang datang belakangan. Dan jika ia berkata, “Aku tidak menghendaki,” kemudian ia berkata, “Aku menghendaki,” maka tadbir tetap berlaku karena adanya kehendak yang datang belakangan, dan tidak batal karena sebelumnya ia tidak menghendaki, berbeda dengan kasus yang telah disebutkan sebelumnya. Sebab, kehendak (mashī’ah) di sini bersifat tunda (tidak harus segera), sehingga kami memperhatikan keberadaannya baik yang lebih dahulu maupun yang belakangan. Sedangkan pada kasus sebelumnya, kehendak harus segera, sehingga kami memperhatikan yang lebih dahulu.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ السَّيِّدُ إِنْ شَاءَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ إِذَا مُتٌّ أَوْ مَتَى شَاءَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ مَتَى مُتٌّ فَمَشِيئَةُ زَيْدٍ عَلَى التَّرَاخِي قَبْلَ مَوْتِ السَّيِّدِ وَيَسْتَوِي فِي مَشِيئَتِهِ حُكْمُ إِنْ و مَتَى و إِذَا بِخِلَافِ تَعْلِيقِهِ بِمَشِيئَةِ الْعَبْدِ الَّتِي يَخْتَلِفُ فِيهَا حُكْمُ إِنْ و مَتَى وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ تَعْلِيقَهُ بِمَشِيئَةِ زِيدٍ صِفَةٌ يُعْتَبَرُ بِوُجُودِهَا فَاسْتَوَى فِيهَا قَرِيبُ الزَّمَانِ وَبَعِيدُهُ وَتَعْلِيقُهُ بِمَشِيئَةِ الْعَبْدِ تَمْلِيكٌ وَتَخْيِيرٌ فَافْتَرَقَ فِيهِ حُكْمُ قَرِيبِ الزَّمَانِ وَبَعِيدِهِ فَإِنْ أَخَّرَ زَيْدٌ الْمَشِيئَةَ حَتَّى مَاتَ السَّيِّدُ ثُمَّ شَاءَ لَمْ يَنْعَقِدِ التَّدْبِيرُ وَكَانَ الْعَبْدُ عَلَى رِقِّهِ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ لِأَنَّ تَعْلِيقَ الْحُكْمِ بِالصِّفَةِ هُوَ شَرْطٌ يَتَقَدَّمُ عَلَى الْمَشْرُوطِ

Jika seorang tuan berkata, “Jika Zaid menghendaki, maka kamu merdeka ketika aku mati,” atau “Kapan pun Zaid menghendaki, maka kamu merdeka kapan pun aku mati,” maka kehendak Zaid berlaku secara tertunda sebelum kematian tuan. Dalam kehendaknya, hukum antara “jika”, “kapan”, dan “apabila” adalah sama, berbeda dengan penangguhan kepada kehendak hamba, di mana hukum antara “jika” dan “kapan” berbeda. Perbedaannya adalah bahwa penangguhan kepada kehendak Zaid merupakan sifat yang keberadaannya menjadi pertimbangan, sehingga waktu yang dekat dan jauh sama saja. Sedangkan penangguhan kepada kehendak hamba adalah pemberian hak milik dan pilihan, sehingga hukum waktu yang dekat dan jauh menjadi berbeda. Jika Zaid menunda kehendaknya hingga tuan meninggal, lalu setelah itu ia menghendaki, maka tadbir (pembebasan budak secara tertunda) tidak sah, dan budak tetap dalam status perbudakannya setelah kematian tuannya, karena penangguhan hukum kepada sifat adalah syarat yang harus ada sebelum terwujudnya sesuatu yang disyaratkan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ إِذَا مُتُّ فَشِئْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ أَوْ قَالَ أَنْتَ حُرٌّ إِذَا مُتُّ إِنْ شِئْتَ فَسَوَاءٌ قَدَّمَ الْمَشِيئَةَ أَوْ أَخَّرَهَا لَا يَكُونُ حُرًّا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Jika aku mati lalu engkau menghendaki, maka engkau merdeka,” atau ia berkata, “Engkau merdeka jika aku mati, jika engkau menghendaki,” maka baik ia mendahulukan kata kehendak (mashī’ah) maupun mengakhirkan, tidaklah budak itu menjadi merdeka kecuali jika ia (tuannya) menghendaki.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا عِتْقٌ بِصِفَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ فَإِذَا قَالَ إِذَا مُتُّ فَشِئْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ اعْتُبِرَتْ مَشِيئَتُهُ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهَا تَأْثِيرٌ قَبْلَ مَوْتِهِ وَمَشِيئَتُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ مُعْتَبَرَةٌ بِالْفَوْرِ فِي الْمَجْلِسِ الَّذِي عُلِمَ فِيهِ بِمَوْتِهِ وَهَلْ تَكُونُ مَشِيئَةَ قَبُولٍ أَوْ مَشِيئَةَ تَخْيِيرٍ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ وَلَا يَكُونُ هَذَا تَدْبِيرًا وَإِنْ كَانَ الْمَوْتُ شَرْطًا فِي عِتْقِهِ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ هُوَ الْعِتْقُ الْوَاقِعُ بِالْمَوْتِ وَهَذَا عِتْقٌ يَقَعُ بِصِفَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ وَهَكَذَا لَوْ قَالَ أَنْتَ حُرٌّ إِذَا مُتُّ إِنْ شِئْتَ كَانَ عِتْقًا بِصِفَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ تُعْتَبَرُ مَشِيئَةُ الْعَبْدِ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ عَلَى الْفَوْرِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ فَلَوْ شَاءَ قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Ini adalah pembebasan budak dengan suatu syarat setelah kematian. Maka jika seseorang berkata, “Jika aku mati lalu engkau menghendaki, maka engkau merdeka,” maka kehendak budak tersebut dianggap setelah kematian tuannya, dan tidak memiliki pengaruh sebelum kematiannya. Kehendaknya setelah kematian dianggap berlaku segera di majelis di mana diketahui tentang kematian tuannya. Apakah kehendak itu merupakan kehendak menerima atau kehendak memilih, hal itu sesuai dengan dua pendapat yang telah kami sebutkan. Ini tidak termasuk tadbīr, meskipun kematian menjadi syarat dalam pembebasannya, karena tadbīr adalah pembebasan yang terjadi dengan kematian, sedangkan ini adalah pembebasan yang terjadi dengan suatu syarat setelah kematian. Demikian pula jika seseorang berkata, “Engkau merdeka jika aku mati, jika engkau menghendaki,” maka itu adalah pembebasan dengan suatu syarat setelah kematian, di mana kehendak budak dianggap setelah kematian tuannya secara langsung, sesuai dengan dua pendapat yang telah kami sebutkan. Jika budak menghendaki sebelum kematian tuannya, maka terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا مِنِ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَسَوَاءٌ قَدَّمَ الْمَشِيئَةَ أَوْ أَخَّرَهَا فَذَهَبَ الْبَغْدَادِيُّونَ إِلَى أَنَّهُ أَرَادَ سَوَاءٌ قَدَّمَ الْمَشِيئَةَ قَبْلَ الْمَوْتِ أَوْ أَخَّرَهَا بِخِلَافِ قَوْلِهِ إِذَا مُتُّ فَشِئْتَ لِأَنَّ الْفَاءَ فِي الْمَشِيئَةِ تُوجِبُ التَّعْقِيبَ فَعَلَى هَذَا يُعْتَقُ إِذَا شَاءَ قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهِ وَيَكُونُ هَذَا تَدْبِيرًا وَلَوْ لَمْ يَشَأْ إِلَّا بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ عَتَقَ وَكَانَ عِتْقًا بِصِفَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ؛ وَذَهَبَ الْبَصْرِيُّونَ إِلَى أَنَّهُ أَرَادَ سَوَاءٌ قَدَّمَ الْمَشِيئَةَ فِي لَفْظِهِ أَوْ أَخَّرَهَا وَتَكُونُ مَشِيئَةً مُعْتَبَرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَا تَأْثِيرَ لَهَا قَبْلَ الْمَوْتِ فَإِنْ شَاءَ بَعْدَ الْمَوْتِ عَتَقَ وَإِلَّا رَقَّ لِلْوَرَثَةِ

Salah satu di antara keduanya adalah perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami mengenai makna perkataan asy-Syafi‘i: “Sama saja apakah ia mendahulukan kehendak (masyi’ah) atau mengakhirkannya.” Ulama Baghdad berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sama saja apakah ia mendahulukan kehendak sebelum kematian atau mengakhirkannya, berbeda dengan ucapannya: “Jika aku mati lalu engkau berkehendak,” karena huruf fa’ pada kata “lalu berkehendak” menunjukkan urutan setelah kematian. Maka, menurut pendapat ini, budak itu merdeka jika tuannya berkehendak sebelum tuannya wafat, dan ini disebut tadbir. Namun, jika ia baru berkehendak setelah tuannya wafat, maka budak itu merdeka dan kemerdekaannya terjadi dengan syarat setelah kematian. Sementara itu, ulama Basrah berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sama saja apakah ia mendahulukan kehendak dalam lafaznya atau mengakhirkannya, dan kehendak itu dianggap setelah kematian serta tidak berpengaruh sebelum kematian. Jika ia berkehendak setelah kematian, maka budak itu merdeka, dan jika tidak, maka budak itu menjadi milik ahli waris.

وَلَوْ قَالَ السَّيِّدُ إِذَا مُتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ مَتَى شِئْتَ كَانَتْ مَشِيئَتُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ عَلَى التَّرَاخِي مُمْتَدَّةً إِلَى أَنْ يَشْرَعَ الْوَرَثَةُ فِي تَنْفِيذِ الْوَصَايَا وَقِسْمَةِ الْمَوَارِيثِ فَتَصِيرُ مَشِيئَتُهُ عَلَى الْفَوْرِ مُعْتَبَرَةً بِجَوَابِ التَّخْيِيرِ وَجْهًا وَاحِدًا وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ فَوْرَ الْقَبُولِ فَمَتَى شَاءَ فِي مَجْلِسٍ تَخَيُّرِهِ عَتَقَ وَإِلَّا رَقَّ إِنْ أَخَّرَ لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ بين متى و وإن

Jika seorang tuan berkata, “Jika aku mati, maka engkau merdeka kapan pun engkau menghendaki,” maka kehendaknya (budak) setelah kematian (tuan) berlaku secara bertahap dan berlangsung hingga para ahli waris mulai melaksanakan wasiat-wasiat dan membagi warisan. Maka, kehendaknya (budak) setelah itu harus segera dilaksanakan, dan hal ini dianggap sah hanya dengan jawaban atas pilihan tersebut. Tidak disyaratkan segera menerima (kemerdekaan) pada saat itu juga. Maka, kapan pun ia menghendaki dalam majelis pemilihannya, ia menjadi merdeka. Jika ia menunda, maka ia kembali menjadi budak, sebagaimana telah kami jelaskan perbedaan antara “matā” (kapan) dan “in” (jika).

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ شَرِيكَانِ فِي عَبْدٍ مَتَّى مُتْنَا فَأَنْتَ حُرٌّ لَمْ يُعْتَقْ إِلَّا بِمَوْتِ الْآخَرِ مِنْهُمَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika dua orang yang berserikat dalam kepemilikan seorang budak berkata, “Kapan pun kami berdua meninggal, maka engkau (wahai budak) merdeka,” maka budak tersebut tidak menjadi merdeka kecuali setelah keduanya meninggal.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ التَّدْبِيرَ يَصِحُّ فِي الْعَبْدِ كُلِّهِ وَفِي بَعْضِهِ مِنْ مَالِكِ الْكُلِّ وَمَالِكِ الْبَعْضِ فَإِذَا قَالَ الرَّجُلُ لَعَبْدٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ شَرِيكِهِ إِذَا مُتُّ فَأَنْتَ حر عتق مِلْكُهُ مِنْهُ بِمَوْتِهِ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ حِصَّةُ شَرِيكِهِ مُوسِرًا مَاتَ أَوْ مُعْسِرًا وَلَا تَقْوِيمَ بَعْدَ الْمَوْتِ لِأَنَّهُ بَعْدَ الْمَوْتِ غَيْرُ مَالِكٍ فَصَارَ كَالْمُعْسِرِ

Al-Mawardi berkata: Dasar dari masalah ini adalah bahwa tadbir (pembebasan budak yang digantungkan pada kematian tuannya) sah dilakukan atas seluruh budak maupun sebagian budak, baik oleh pemilik seluruhnya maupun pemilik sebagian. Maka, jika seseorang berkata kepada seorang budak yang dimilikinya bersama dengan rekannya, “Jika aku mati, maka engkau merdeka,” maka bagian kepemilikannya atas budak itu menjadi merdeka dengan kematiannya, dan bagian milik rekannya tidak wajib ditebus darinya, baik ia meninggal dalam keadaan mampu maupun tidak mampu. Tidak ada penetapan harga (tebusan) setelah kematian, karena setelah kematian ia bukan lagi pemilik, sehingga keadaannya seperti orang yang tidak mampu.

وَلَوْ قَالَ لِعَبْدٍ يَمْلِكُ جَمِيعَهُ إِذَا مُتُّ فَنَصِفُكَ حُرٌّ انْعَقَدَ التَّدْبِيرُ فِي نِصْفِهِ وَفِي سِرَايَةِ التَّدْبِيرِ إِلَى نِصْفِهِ الْبَاقِي قَوْلَانِ

Dan jika seseorang berkata kepada seorang budak yang seluruhnya ia miliki, “Jika aku mati, maka setengah dirimu merdeka,” maka berlaku hukum tadbīr pada setengah dirinya. Adapun mengenai apakah hukum tadbīr itu menular (berlaku) pada setengah sisanya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَسْرِي إِلَيْهِ وَيَصِيرُ جَمِيعُهُ مُدَبَّرًا لِأَنَّهُ لَمَّا سَرَى الْعِتْقُ سَرَى السَّبَبُ الْمُفْضِي إِلَى الْعِتْقِ

Salah satunya berlaku padanya sehingga seluruhnya menjadi mudabbir, karena ketika ‘itq berlaku, maka sebab yang mengantarkan kepada ‘itq pun berlaku.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ أَنَّ التَّدْبِيرَ لَا يَسْرِي وَإِنْ كَانَ الْعِتْقُ يَسْرِي لِأَنَّ التَّدْبِيرَ أَضْعَفُ مِنَ الْعِتْقِ فَضَعُفَ عَنِ السِّرَايَةِ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang ditegaskan, adalah bahwa tadbīr tidak berlaku secara menyeluruh, meskipun ‘itq berlaku secara menyeluruh, karena tadbīr lebih lemah daripada ‘itq, sehingga ia tidak cukup kuat untuk berlaku secara menyeluruh.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ نِصْفُهُ مُدَبَّرًا ونصفه رقا قنا فَإِذَا مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقَ نِصْفُهُ بِمَوْتِهِ عَنْ تَدْبِيرِهِ وَفِي عِتْقِ نِصْفِهِ الْبَاقِي وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ وِجْهَيْ أَصْحَابِنَا فِي سِرَايَةِ عِتْقِ الْحَيِّ إِلَى بَقِيَّةِ مِلْكِهِ هَلْ تَسْرِي بِلَفْظِهِ أَوْ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ عِتْقِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Dengan demikian, setengah dari dirinya menjadi mudabbar dan setengahnya lagi tetap sebagai budak murni. Maka apabila tuannya meninggal, setengah dirinya merdeka karena kematian tuannya berdasarkan tadbir. Adapun mengenai pembebasan setengah dirinya yang tersisa, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami terkait penularan (‘sirayah’) kemerdekaan seorang yang masih hidup kepada sisa kepemilikannya: apakah penularan itu terjadi dengan semata-mata ucapan ataukah setelah kemerdekaannya benar-benar tetap, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَسْرِي بِلَفْظِهِ فَعَلَى هَذَا يَصِيرُ جَمِيعُ الْعَبْدِ حُرًّا يَعْتِقُ مِنْهُ نِصْفُهُ تَدْبِيرًا وَنِصْفُهُ سِرَايَةً وَيَكُونُ الْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ يُجْعَلَ التَّدْبِيرُ فِي الْحَيَاةِ سَارِيًا وَبَيْنَ أَنْ يُجْعَلَ الْعِتْقُ بِالْمَوْتِ سَارِيًا يُتَصَوَّرُ تَأْثِيرُهُ إِذَا رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ نِصْفِهِ فَإِنْ جَعَلْنَا الْعِتْقَ سَارِيًا كَانَ نِصْفُهُ الْبَاقِي مُدَبَّرًا لِأَنَّ الرُّجُوعَ لَا يَسْرِي وَإِنْ كَانَ التَّدْبِيرُ يَسْرِي وَإِنْ لَمْ يُجْعَلِ التَّدْبِيرُ سَارِيًا إِلَى جَمِيعِهِ صَارَ بِالرُّجُوعِ فِي تَدْبِيرِ نِصْفِهِ عَبْدًا قِنًّا لَا يُعْتَقُ بِمَوْتِهِ

Salah satunya adalah yang berlaku dengan lafaznya. Dalam hal ini, seluruh budak menjadi merdeka: setengahnya dimerdekakan melalui tadbir, dan setengahnya lagi melalui sirāyah. Perbedaannya terletak pada apakah tadbir itu dibuat berlaku selama masa hidup, ataukah kemerdekaan itu dibuat berlaku setelah kematian. Pengaruhnya dapat dibayangkan jika seseorang menarik kembali tadbir atas setengah budak tersebut. Jika kita menjadikan kemerdekaan itu berlaku (sirāyah), maka setengah sisanya tetap berada dalam status tadbir, karena penarikan kembali tidak berlaku (tidak menular), meskipun tadbir itu sendiri berlaku (menular). Namun, jika tadbir tidak dibuat berlaku atas seluruhnya, maka dengan penarikan kembali tadbir atas setengahnya, budak itu menjadi budak murni (qinn), yang tidak akan dimerdekakan dengan kematian tuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ عِتْقَهُ فِي الْحَيَاةِ لِبَعْضِهِ يَسْرِي إِلَى جَمِيعِهِ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ عِتْقِهِ فِي بَعْضِهِ فَعَلَى هَذَا لَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالتَّدْبِيرِ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَّا نِصْفُهُ وَيَكُونُ نِصْفُهُ الْبَاقِي مَرْقُوقًا لِوَرَثَتِهِ

Pendapat kedua adalah bahwa pembebasan budak pada sebagian dirinya ketika masih hidup akan berlaku pada seluruh dirinya setelah pembebasan itu tetap pada sebagian dirinya. Maka, berdasarkan hal ini, ia tidak akan merdeka seluruhnya melalui tadbir setelah wafat, melainkan hanya setengahnya saja, dan setengah sisanya tetap menjadi budak milik ahli warisnya.

وَلَوْ كَانَ عَبْدًا بَيْنَ شَرِيكَيْنِ فَدَبَّرَ أَحَدُهُمَا حِصَّتَهُ ثُمَّ عَجَّلَ الْآخَرُ عِتْقَ حِصَّتِهِ نُظِرَ فِي حِصَّةِ الْمُدَبَّرِ فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِهِ قُوِّمَتْ عَلَى الْمُعْتِقِ حِصَّةُ الْمُدَبَّرِ إِذَا كَانَ مُوسِرًا بِهَا وَعَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ لِزَوَالِ التَّدْبِيرِ بِالرُّجُوعِ عَنْهُ

Dan jika seorang budak dimiliki oleh dua orang yang berserikat, lalu salah satu dari keduanya menetapkan tadbir (pembebasan setelah wafat) atas bagiannya, kemudian yang lain segera memerdekakan bagiannya, maka dilihat pada bagian yang ditadbirkan itu. Jika ia (pemilik pertama) menarik kembali tadbirnya, maka bagian yang ditadbirkan itu dinilai (dihitung harganya) atas orang yang memerdekakan (pemilik kedua), jika ia mampu membayarnya, dan seluruh budak itu menjadi merdeka baginya, karena tadbir telah hilang dengan penarikan kembali dari tadbir tersebut.

وَإِنْ كَانَ التَّدْبِيرُ عَلَى حَالِهِ بَاقِيًا فِي حِصَّةِ الْمُدَبَّرِ فَفِي تَقْوِيمِهِمَا عَلَى الْمُعْتِقِ قَوْلَانِ

Jika status tadbir masih tetap ada pada bagian milik mudabbir, maka dalam penaksiran nilai keduanya atas orang yang memerdekakan terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ وَيُقَوَّمُ فِي حَقِّهِ لِبَقَائِهَا عَلَى الرِّقِّ حُكْمًا

Salah satunya menjadi merdeka baginya, dan dinilai (dihitung nilainya) atas haknya karena status budaknya tetap secara hukum.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي تَكُونُ بَاقِيَةً عَلَى التَّدْبِيرِ وَلَا تُقَوَّمُ عَلَى الْمُعْتِقِ لِمَا اسْتَقَرَّ فِيهَا قَبْلَ عِتْقِهِ مِنْ عِتْقِهَا فِي حَقِّ الْمَالِكِ بِتَدْبِيرِهِ وَلَوْ كَانَ الْعَبْدُ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ فَدَبَّرَ أَحَدُهُمَا حِصَّتَهُ دُونَ شَرِيكِهِ صَحَّ التَّدْبِيرُ فِي حِصَّتِهِ وَفِي تَقْوِيمِ حِصَّةِ شَرِيكِهِ عَلَيْهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tetap berada dalam status tadbīr dan tidak dinilai (ditebus) atas orang yang memerdekakannya, karena telah tetap padanya sebelum dimerdekakan hak kemerdekaan bagi pemiliknya melalui tadbīr. Jika seorang budak dimiliki oleh dua orang yang berserikat, lalu salah satu dari keduanya menetapkan tadbīr atas bagiannya tanpa bagian rekannya, maka tadbīr itu sah atas bagiannya. Adapun mengenai penilaian (penebusan) bagian rekannya atas dirinya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ يُقَوَّمُ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ مُوسِرًا بِهَا لِأَنَّهُ سَبَبٌ يُفْضِي إِلَى لُزُومِ عِتْقِهِ كَامِلًا بِحِصَّتِهِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Malik dan Abu Hanifah, menyatakan bahwa orang tersebut dikenakan penilaian harga atas dirinya jika ia mampu membayarnya, karena ia merupakan sebab yang mengakibatkan kewajiban memerdekakan dirinya secara penuh sesuai bagiannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ لَا تَقُومُ عَلَيْهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ لِأَنَّهُ كَالْعَازِمِ عَلَى عِتْقِهِ وَهُوَ بَعْدَ التَّدْبِيرِ بَاقٍ عَلَى أَحْكَامِ رِقِّهِ فَإِذَا قِيلَ بِالْأَوَّلِ إنَّهُ تُقَوَّمُ عَلَيْهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ فَفِيهَا بَعْدَ التَّقْوِيمِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua, yaitu pendapat yang dinyatakan secara eksplisit, adalah bahwa bagian milik rekan tidak dibebankan kepadanya, karena ia seperti orang yang bertekad untuk memerdekakannya, sementara setelah adanya tadbir, budak tersebut masih tetap berada dalam hukum perbudakannya. Maka, jika mengikuti pendapat pertama yang menyatakan bahwa bagian milik rekan dibebankan kepadanya, maka setelah penilaian (taqwīm), terdapat dua pendapat mengenai hal tersebut.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَكُونُ رِقًّا قِنًّا وَلَا يَصِيرُ مُدَبَّرًا بِالسِّرَايَةِ حَتَّى يُدَبِّرَهَا لِأَنَّ الْمَقْصُودَ فِي التَّقْوِيمِ إِزَالَةُ الضَّرَرِ عَنِ الشَّرِيكِ فَعَلَى هَذَا إِذَا مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقَتْ بِمَوْتِهِ الْحِصَّةُ الَّتِي دَبَّرَهَا وَفِي سِرَايَةِ عِتْقِهِ إِلَى بَاقِيهِ وَجْهَانِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa budak tersebut tetap berstatus budak murni (riqqan qinnan) dan tidak menjadi mudabbar karena sirāyah, kecuali jika tuannya benar-benar memudabbarkannya. Sebab, tujuan dari penilaian (taqwīm) adalah untuk menghilangkan mudarat dari pihak sekutu. Berdasarkan pendapat ini, jika tuan tersebut meninggal dunia, maka bagian yang telah dimudabbarkan akan merdeka karena kematiannya, dan dalam hal sirāyah kemerdekaan kepada bagian sisanya terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ إنَّهَا تَصِيرُ مُدَبَّرَةً بِسِرَايَةِ التَّدْبِيرِ إِلَيْهَا وَإِنْ لَمْ يَتَلَفَّظْ بِتَدْبِيرِهَا فَيَكُونُ جَمِيعُهُ مُدَبَّرًا

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Hamid al-Isfara’ini, menyatakan bahwa budak perempuan itu menjadi mudabbirah karena pengaruh tadbir (pembebasan bersyarat) yang merambat kepadanya, meskipun tidak diucapkan tadbir secara khusus untuknya, sehingga seluruhnya menjadi mudabbir.

وَإِذَا قِيلَ بِالثَّانِي إنَّهُ لَا يُقَوَّمُ عَلَى مَنْ دَبَّرَ حِصَّتَهُ مَنْ لَمْ يُدَبِّرْ كَانَ نِصْفُهُ مُدَبَّرًا وَنِصْفُهُ رِقًّا قِنًّا

Dan jika dikatakan menurut pendapat kedua bahwa tidak dikenakan penilaian (harga) atas orang yang telah memerdekakan bagian kepemilikannya (dengan tadbir) kepada orang yang tidak memerdekakan, maka budak tersebut menjadi setengahnya mudabbar dan setengahnya lagi tetap sebagai budak murni (riqqan qinnan).

فَإِنْ عَجَّلَ الْمُدَبَّرُ عِتْقَ حِصَّتِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ قُوِّمَتْ عَلَيْهِ حِصَّةُ شَرِيكِهِ وَعَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ وَلَوْ أَعْتَقَ غَيْرُ الْمُدَبَّرِ حِصَّتَهُ عَتَقَتْ وَفِي تَقْوِيمِ الْحِصَّةِ الْمُدَبَّرَةِ عَلَيْهِ قَوْلَانِ عَلَى مَا مَضَى

Jika orang yang memerdekakan budak secara mudabbar mempercepat pembebasan bagian miliknya sebelum wafatnya, maka bagian milik rekannya dinilai (dihitung nilainya) atasnya, dan seluruh budak itu merdeka atas tanggungannya. Jika selain orang yang memerdekakan secara mudabbar memerdekakan bagiannya, maka bagian itu menjadi merdeka. Adapun mengenai penilaian bagian yang dimudabarkan atasnya, terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَاهُ فَصُورَةُ الْمَسْأَلَةِ فِي عَبْدٍ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ قَالَا إِذَا مُتْنَا فأنت حر لم يعتق حصة واحدة مِنْهُمَا إِلَّا بِمَوْتِهِمَا سَوَاءٌ اتَّفَقَا عَلَى الْقَوْلِ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ تَقَدَّمَ فِيهِ أَحَدُهَا عَلَى الْآخَرِ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَّقَ عِتْقَ حِصَّتِهِ بِصِفَتَيْنِ هُمَا مَوْتُهُ وَمَوْتُ شَرِيكِهِ فَلَمْ يُعْتَقْ بِمَوْتِ أَحَدِهِمَا لِأَنَّ مَوْتَهُ إِحْدَى الصِّفَتَيْنِ فِي عِتْقِهِ وَكَانَتْ حِصَّةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُتَرَدِّدَةً بَيْنَ أَنْ يُعْتَقَ عَلَيْهِ عَنْ وَصِيَّتِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ إِنْ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ وَبَيْنَ أَنْ يُعْتَقَ عَلَيْهِ بِتَدْبِيرٍ يَقَعُ بِالْمَوْتِ إِنْ تَأَخَّرَ مَوْتُهُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ مَوْتُهُمَا مِنْ أَنْ يَخْتَلِفَ أَوْ يَتَّفِقَ فَإِنِ اتَّفَقَ مَوْتُهُمَا مَعًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ عَتَقَ عَلَيْهِمَا وَفِي حُكْمِ عِتْقِهِ عَلَيْهِمَا وَجْهَانِ

Jika telah jelas apa yang telah kami sebutkan, maka gambaran masalahnya adalah tentang seorang budak yang dimiliki oleh dua orang yang berserikat. Keduanya berkata, “Jika kami berdua meninggal, maka kamu merdeka.” Maka tidak merdekalah satu bagian pun dari budak itu kecuali dengan wafatnya kedua orang tersebut, baik keduanya sepakat mengucapkan kalimat itu dalam satu waktu, maupun salah satunya mendahului yang lain. Sebab, masing-masing dari mereka menggantungkan kemerdekaan bagian miliknya pada dua syarat, yaitu wafatnya dirinya dan wafatnya rekannya. Maka budak itu tidak merdeka dengan wafat salah satu dari mereka, karena wafatnya itu baru memenuhi satu dari dua syarat kemerdekaan. Dan bagian masing-masing dari mereka masih berada dalam keadaan tidak pasti, antara akan dimerdekakan melalui wasiat setelah kematiannya jika ia wafat lebih dahulu, atau dimerdekakan melalui tadbīr yang berlaku dengan kematian jika ia wafat belakangan. Jika demikian keadaannya, maka wafatnya kedua orang itu tidak lepas dari kemungkinan terjadi secara terpisah atau bersamaan. Jika wafat keduanya terjadi bersamaan dalam satu waktu, maka budak itu merdeka karena keduanya, dan dalam hukum kemerdekaan budak itu atas keduanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا عَتَقَ عَلَيْهِمَا تَدْبِيرًا لِاتِّصَالِ عِتْقِهِ بِمَوْتِهِ

Salah satunya adalah merdeka bagi mereka secara tadbīr, karena kemerdekaannya terhubung dengan kematiannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي عَتَقَ عَلَيْهِمَا وَصِيَّةً لَا تَدْبِيرًا لِأَنَّ التَّدْبِيرَ مَا تَفَرَّدَ عِتْقُهُ بِمَوْتِهِ وَلَمْ يَقْتَرِنْ بِغَيْرِهِ وَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا قَبْلَ الْآخَرِ تَعَيَّنَ فِيهِ عِتْقُ حِصَّتِهِ بِالْوَصِيَّةِ وَلَمْ تُعْتَقْ عَلَيْهِ بِمَوْتِهِ وَكَانَ عِتْقُهَا مَوْقُوفًا عَلَى مَوْتِ شَرِيكِهِ وَتَعَيَّنَ الْعِتْقُ فِي الْبَاقِي مِنْهُمَا بِالتَّدْبِيرِ لِوُقُوعِهِ بِمَوْتِهِ وَمُنِعَ وَرَثَةُ الْمُتَقَدِّمِ بِالْمَوْتِ مِنْ بَيْعِهِ وَإِنْ كَانَ فِي الْحُكْمِ بَاقِيًا عَلَى رِقِّهِ وَمَلَكُوا عَلَيْهِ أَكْسَابَ حِصَّتِهِمْ مِنْهُ فَإِذَا مَاتَ الشَّرِيكُ الْبَاقِي عَتَقَ حِينَئِذٍ جَمِيعُهُ بِوَصِيَّةِ الْأَوَّلِ وَتَدْبِيرِ الثَّانِي

Pendapat kedua adalah bahwa pembebasan budak tersebut berlaku bagi keduanya sebagai wasiat, bukan sebagai tadbir, karena tadbir adalah pembebasan yang hanya terjadi dengan kematian pemiliknya dan tidak disertai dengan hal lain. Jika salah satu dari mereka meninggal sebelum yang lain, maka yang berlaku adalah pembebasan bagian miliknya melalui wasiat, dan budak itu tidak menjadi merdeka karena kematiannya, sehingga kemerdekaannya bergantung pada kematian rekannya. Kemudian, pembebasan bagian yang tersisa dari budak itu menjadi pasti dengan tadbir, karena terjadi dengan kematian pemiliknya. Ahli waris dari yang lebih dahulu meninggal tidak boleh menjual bagian tersebut, meskipun secara hukum budak itu masih berstatus budak, dan mereka tetap memiliki hasil usaha dari bagian mereka. Jika kemudian rekan yang masih hidup meninggal, maka seluruh budak itu menjadi merdeka karena wasiat dari yang pertama dan tadbir dari yang kedua.

وَلَوْ أَرَادَ الثَّانِي بَيْعَ حِصَّتِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ جَازَ وَلَمْ يَجُزْ بَيْعُ وَرَثَةِ الْأَوَّلِ وَيَكُونُ عِتْقُ حِصَّةِ الْأَوَّلِ مَوْقُوفَةً عَلَى مَوْتِ الْبَاقِي بَعْدَ بَيْعِهِ فَيُعْتَقُ بِمَوْتِ الثَّانِي حِصَّةُ الْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي وَلَوْ كَانَ هَذَا الْقَوْلُ مِنْ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ دُونَ الْآخَرِ فَقَالَ وَاحِدٌ مِنْهُمَا إِذَا مُتْنَا فَأَنْتَ حُرٌّ لَمْ تُعْتَقْ حِصَّتُهُ إِلَّا بِمَوْتِهِمَا سَوَاءٌ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ أَوْ تَأَخَّرَ وَكَانَ عِتْقُ حِصَّتِهِ مُتَرَدِّدَةً بَيْنَ أَنْ يَعْتِقَ عَلَيْهِ بِالْوَصِيَّةِ إِنْ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ وَبِالتَّدْبِيرِ إِنْ تَأَخَّرَ مَوْتُهُ وَحِصَّةُ الشَّرِيكِ الْآخَرِ بَاقِيَةٌ عَلَى الرِّقِّ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَوْتِهِ سَوَاءٌ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ أَوْ تَأَخَّرَ

Dan jika pihak kedua ingin menjual bagiannya sebelum wafatnya, maka itu diperbolehkan, namun tidak diperbolehkan bagi ahli waris pihak pertama untuk menjualnya. Pemerdekaan bagian pihak pertama menjadi tergantung pada wafatnya pihak yang masih hidup setelah ia menjual bagiannya; maka dengan wafatnya pihak kedua, bagian pihak pertama menjadi merdeka, sedangkan bagian pihak kedua tidak. Jika pernyataan ini berasal dari salah satu dari dua orang yang berserikat saja, lalu salah satu dari mereka berkata, “Jika kami berdua telah wafat, maka kamu merdeka,” maka bagiannya tidak menjadi merdeka kecuali setelah keduanya wafat, baik kematian salah satunya lebih dahulu atau belakangan. Pemerdekaan bagiannya menjadi antara dimerdekakan melalui wasiat jika ia wafat lebih dahulu, dan melalui tadbir jika ia wafat belakangan. Adapun bagian dari rekan yang lain tetap dalam status budak selama hidupnya dan setelah wafatnya, baik ia wafat lebih dahulu maupun belakangan.

وَفَرَّعَ الشَّافِعِيُّ عَلَى هَذَا فِي الْمَبْسُوطِ مِنْ كِتَابِ الْأُمِّ إِذَا قَالَ الشَّرِيكَانِ فِي الْعَبْدِ أَنْتَ حَبِيسٌ عَلَى مَوْتِ الْآخَرِ مِنَّا ثُمَّ تَكُونُ حُرًّا كَانَ الْجَوَابُ فِيهِ عَلَى مَا مَضَى مِنْ عِتْقِ حِصَّةِ الْأَوَّلِ بِالْوَصِيَّةِ وَعِتْقِ حِصَّةِ الثَّانِي بِالتَّدْبِيرِ وَيَخْتَصُّ هَذَا التَّفْرِيعُ بِحُكْمٍ زَائِدٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ كَسْبُ الْعَبْدِ بَعْدَ مَوْتِ الْأَوَّلِ وَقَبْلَ مَوْتِ الثَّانِي مِلْكًا لِلثَّانِي وَلَا يَكُونُ لِوَرَثَةِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ لَمَّا جَعَلَهُ حَبِيسًا عَلَى مَوْتِ الثَّانِي جَعَلَهُ كَالْعَارِيَةِ فِي ذِمَّتِهِ مُدَّةَ حَيَّاتِهِ وَلَمْ يَكُنْ وَقْفًا لِأَنَّ الْوَقْفَ مَا كَانَ مُؤَبَّدًا وَلَمْ يَتَقَدَّرْ بِمُدَّةٍ فَإِذَا قُدِّرَ بِهَا خَرَجَ عَنْ حُكْمِ الْوَقْفِ إِلَى الْعَوَارِي وَلَمْ يَكُنْ لِلْوَرَثَةِ أَنْ يَرْجِعُوا فِي حُكْمِ هَذِهِ الْعَارِيَةِ وَإِنْ جَازَ الرُّجُوعُ فِي الْعَوَارِي لِأَنَّهَا عَنْ وَصِيَّةِ مَيِّتِهِمْ فَلَزِمَتْ بِمَوْتِهِ كَسَائِرِ الْوَصَايَا وَلَيْسَ لَهُمْ أَنْ يَعْتَبِرُوا كَسْبَ الْعَبْدِ فِي ثُلُثِ الْمَيِّتِ وَإِنْ كَانَ مُوصَى بِهِ لِدُخُولِ كَسْبِهِ فِي قِيمَةِ رَقَبَتَهُ الْمُعْتَبَرَةِ مِنْ ثُلُثِهِ فَلَوْ كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ بِحَالِهَا فَقُتِلَ الْعَبْدُ بَعْدَ مَوْتِ الْأَوَّلِ وَقَبْلَ مَوْتِ الثَّانِي مَاتَ بِالْقَتْلِ عَبْدًا لِأَنَّ صِفَةَ عِتْقِهِ لَمْ تَكْمُلْ وَكَانَتْ قِيمَتُهُ بَيْنَ الثَّانِي وَوَرَثَةِ الْأَوَّلِ وَكَانَ لَهُمْ أَنْ يَحْتَسِبُوا بِمَا أَخَذَهُ الثَّانِي مِنْ كَسْبِ الْعَبْدِ فِي ثُلُثِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ مَأْخُوذٌ بِوَصِيَّتِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ فِي قِيمَةِ رقبته

Imam Syafi‘i menguraikan cabang hukum dari masalah ini dalam kitab al-Mabsūṭ dari al-Umm: jika dua orang yang berserikat dalam kepemilikan seorang budak berkata, “Engkau tertahan (tidak merdeka) sampai salah satu dari kami wafat, kemudian setelah itu engkau menjadi merdeka,” maka jawabannya sesuai dengan yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu bagian pertama dari budak itu merdeka karena wasiat, dan bagian kedua merdeka karena tadbīr. Cabang hukum ini memiliki ketentuan tambahan, yaitu hasil usaha budak setelah wafatnya pemilik pertama dan sebelum wafatnya pemilik kedua menjadi milik pemilik kedua, dan tidak menjadi milik ahli waris pemilik pertama. Sebab, ketika budak itu dijadikan tertahan sampai wafatnya pemilik kedua, maka ia seperti barang pinjaman dalam tanggungan pemilik kedua selama hidupnya, dan tidak menjadi wakaf, karena wakaf itu bersifat abadi dan tidak dibatasi waktu. Jika dibatasi waktu, maka keluar dari hukum wakaf menjadi hukum pinjaman (al-‘āriyah), dan ahli waris tidak berhak menarik kembali dalam hukum pinjaman ini, meskipun dalam pinjaman biasa boleh ditarik kembali, karena ini berasal dari wasiat mayit mereka, sehingga tetap berlaku dengan wafatnya sebagaimana wasiat-wasiat lainnya. Mereka juga tidak berhak memperhitungkan hasil usaha budak itu dalam sepertiga harta mayit, meskipun telah diwasiatkan, karena hasil usahanya telah masuk dalam nilai budak yang diperhitungkan dari sepertiga harta tersebut. Jika kasusnya tetap seperti itu, lalu budak tersebut dibunuh setelah wafatnya pemilik pertama dan sebelum wafatnya pemilik kedua, maka ia mati dalam keadaan masih sebagai budak, karena syarat kemerdekaannya belum sempurna, dan nilai budaknya dibagi antara pemilik kedua dan ahli waris pemilik pertama. Mereka berhak memperhitungkan apa yang telah diambil oleh pemilik kedua dari hasil usaha budak itu dalam sepertiga harta pemilik pertama, karena itu diambil berdasarkan wasiatnya dan tidak termasuk dalam nilai budaknya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ سَيِّدُ الْمُدَبَّرِ قَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِكَ أَوِ نَقَضْتُهُ أَوْ أَبْطَلْتُهُ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ نَقْضًا لِلتَّدْبِيرِ حَتَّى يُخْرِجَهُ مِنْ مِلْكِهِ وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ إِنْ قَالَ إِنْ أَدَّى بَعْدَ مَوْتِي كَذَا فَهُوَ حُرٌّ أَوْ وَهَبَهُ هِبَةَ بَتَاتٍ قُبِضَ أَوْ لَمْ يُقْبَضْ وَرَجَعَ فَهَذَا رُجُوعٌ فِي التَّدْبِيرِ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا رُجُوعٌ فِي التَّدْبِيرِ بِغَيْرِ إِخْرَاجٍ لَهُ مِنْ مِلْكِهِ وَذَلِكَ كُلُّهُ فِي الْكِتَابِ الْجَدِيدِ وَقَالَ فِي الْكِتَابِ الْقَدِيمِ لَوْ قَالَ قَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِكَ أَوْ فِي رُبْعِكَ أَوْ فِي نِصْفِكَ كَانَ مَا رَجَعَ عَنْهُ رُجُوعًا فِي التَّدْبِيرِ وَمَا لَمْ يَرْجِعْ عَنْهُ مُدَبَّرًا بِحَالِهِ وقَالَ الْمُزَنِيُّ وَهَذَا أَشْبَهُ بِقَوْلِهِ بِأَصْلِهِ وأصح لقوله إذا كان المدبر وصية فلم لا يرجع في الوصية ولو جاز له أن يخالف بين ذلك فيبطل الرجوع في المدبر ولا يبطله في الوصية لمعنى اختلفا فيه جاز بذلك المعنى أن يبطل بيع المدبر ولا يبطل في الوصية فيصير إلى قول من لا يبيع المدبر ولو جاز أن يجمع بين المدبر والأيمان في هذا الموضع جاز إبطال عتق المدبر لمعنى الحنث لأن الأيمان لا يجب الحنث بها على ميت وقوله في الجديد والقديم بالرجوع فيه كالوصايا معتدل مستقيم لا يدخل عليه منه كبير تعديل

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika tuan dari budak mudabbar berkata, “Aku telah menarik kembali keputusan tadbir atasmu,” atau “Aku telah membatalkannya,” atau “Aku telah menghapusnya,” maka hal itu tidak dianggap sebagai pembatalan tadbir sampai ia benar-benar mengeluarkannya dari kepemilikannya. Dan beliau berkata di tempat lain: Jika ia berkata, “Jika ia melunasi (sesuatu) setelah kematianku, maka ia merdeka,” atau ia memberikannya sebagai hibah mutlak, baik telah diterima maupun belum, lalu ia menarik kembali, maka ini adalah penarikan kembali dalam tadbir. Al-Muzani berkata, “Ini adalah penarikan kembali dalam tadbir tanpa mengeluarkannya dari kepemilikannya, dan semua itu terdapat dalam kitab al-Jadid.” Dan beliau berkata dalam kitab al-Qadim: Jika ia berkata, “Aku telah menarik kembali tadbir atasmu,” atau “atas seperempatmu,” atau “atas setengahmu,” maka bagian yang ia tarik kembali adalah penarikan dalam tadbir, dan bagian yang tidak ia tarik kembali tetap dalam status mudabbar seperti semula. Al-Muzani berkata, “Ini lebih mirip dengan pendapat aslinya dan lebih kuat menurutnya, karena jika mudabbar itu wasiat, maka mengapa tidak boleh menarik kembali wasiat? Jika boleh baginya membedakan antara keduanya, lalu membatalkan penarikan kembali pada mudabbar namun tidak pada wasiat karena alasan yang berbeda, maka dengan alasan itu pula boleh membatalkan penjualan mudabbar namun tidak pada wasiat, sehingga berujung pada pendapat orang yang tidak memperbolehkan penjualan mudabbar. Jika boleh menggabungkan antara mudabbar dan sumpah dalam masalah ini, maka boleh membatalkan pembebasan mudabbar karena alasan pelanggaran sumpah, sebab sumpah tidak wajib dilanggar oleh orang yang telah meninggal. Dan pendapat beliau dalam al-Jadid dan al-Qadim tentang penarikan kembali dalam hal ini seperti wasiat adalah pendapat yang moderat dan lurus, tidak perlu banyak penyesuaian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا اخْتِلَافُ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ فِي التَّدْبِيرِ هَلْ يَجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا أَوْ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَقَالَ فِي الْقَدِيمِ وَأَحَدُ قَوْلَيْهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا وَبِهِ قَالَ عَطَاءٌ وَطَاوُسٌ وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ وَالرَّبِيعِ لِيَكُونَ لَهُ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ فِعْلًا بِإِخْرَاجِهِ عَنْ مِلْكِهِ وَقَوْلًا مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ

Al-Mawardi berkata: Pokok permasalahan ini adalah perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai tadbir, apakah ia diperlakukan seperti wasiat atau seperti pembebasan budak dengan sifat tertentu. Dalam pendapat lama beliau dan salah satu dari dua pendapat beliau dalam pendapat baru, beliau berpendapat bahwa tadbir diperlakukan seperti wasiat. Pendapat ini juga dikemukakan oleh ‘Atha’ dan Thawus, serta merupakan pilihan al-Muzani dan ar-Rabi‘, agar seseorang dapat menarik kembali tadbirnya, baik secara perbuatan dengan mengeluarkan budak dari kepemilikannya, maupun secara ucapan dengan tetap membiarkan budak tersebut dalam kepemilikannya.

وَقَالَ فِي قَوْلِهِ الثَّانِي فِي الْجَدِيدِ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْأَيْمَانِ وَالْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وَهُوَ اخْتِيَارُ أَكْثَرِ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ لِيَكُونَ لَهُ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ فِعْلًا بِإِخْرَاجِهِ عَنْ مِلْكِهِ وَلَا يَكُونُ لَهُ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ قَوْلًا مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ فَإِذَا قِيلَ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا فَوَجْهُهُ شَيْئَانِ

Dan dalam pendapat keduanya pada pendapat baru (al-jadīd), beliau (Imam Syafi‘i) mengatakan bahwa hal itu diperlakukan seperti sumpah (aymān) dan pembebasan budak (‘itq) yang terkait dengan sifat-sifat tertentu. Inilah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama muta’akhkhirīn dari kalangan pengikut Syafi‘i, agar seseorang dapat menarik kembali tindakannya dalam tadbīr secara perbuatan dengan mengeluarkannya dari kepemilikannya, dan tidak dapat menarik kembali tadbīr secara ucapan selama masih dalam kepemilikannya. Maka apabila dikatakan bahwa hal itu diperlakukan seperti wasiat (waṣāyā), maka alasannya ada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مِنَ الْعَطَايَا النَّاجِزَةِ بِالْمَوْتِ فَأَشْبَهَ الْوَصَايَا

Salah satunya adalah bahwa hal itu termasuk pemberian yang berlaku dengan sebab kematian, sehingga menyerupai wasiat.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مُعْتَبَرٌ فِي الثُّلُثِ كَالْوَصَايَا

Dan yang kedua, bahwa hal itu dianggap pada sepertiga harta sebagaimana wasiat.

وَإِذَا قِيلَ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْأَيْمَانِ وَالْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَوَجْهُهُ شَيْئَانِ

Dan apabila dikatakan bahwa hal itu berlaku seperti sumpah dan pembebasan budak yang dikaitkan dengan sifat-sifat, maka alasannya ada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ عِتْقٌ مُعَلَّقٌ بِوُجُودِ صِفَةٍ فَأَشْبَهَ قَوْلَهُ إِذَا مَاتَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ

Salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan pembebasan budak yang digantungkan pada adanya suatu sifat, sehingga serupa dengan ucapannya: “Jika Zaid meninggal, maka engkau merdeka.”

وَالثَّانِي أَنَّ مَا لَمْ يَجْرِ عَلَيْهِ بَعْدَ الْمَوْتِ مِلْكٌ وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ قَبُولٌ خَرَجَ عَنِ الْوَصَايَا إِلَى الْعِتْقِ فِي الْمَرَضِ

Kedua, bahwa sesuatu yang setelah kematian belum terjadi kepemilikan atasnya dan tidak disyaratkan adanya penerimaan di dalamnya, maka hal itu keluar dari kategori wasiat menuju pembebasan budak (al-‘itq) pada saat sakit (menjelang wafat).

فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ احْتَجَّ لِاخْتِيَارِهِ أَنَّهُ كَالْوَصَايَا بِثَلَاثِ مَسَائِلَ أَبَانَ بِهَا مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ التَّدْبِيرَ كَالْوَصَايَا وَاسْتِدْلَالَانِ احْتَجَّ بِهِمَا لِنُصْرَةِ اخْتِيَارِهِ

Adapun al-Muzani, ia beralasan dalam pilihannya bahwa hal itu seperti wasiat dengan tiga permasalahan yang dengannya ia menjelaskan mazhab al-Syafi‘i bahwa at-tadbīr itu seperti wasiat, serta dua dalil yang ia gunakan untuk menguatkan pilihannya.

فأما المسائل الثلاث فأحدها مَا حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَوْ قَالَ لِمُدَبَّرهِ إِذَا أَدَّيْتَ كَذَا بَعْدَ مَوْتِي فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَمْ يُعْتَقْ بِالْمَوْتِ قَالَ وَهَذَا رُجُوعٌ فِي التَّدْبِيرِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى الْمِلْكِ فَيُقَالُ لِلْمُزَنِيِّ هَذَا إِنَّمَا فَرَّعَهُ الشَّافِعِيُّ عَلَى قَوْلِهِ فِي التَّدْبِيرِ أَنَّهُ كالوصايا فيبطل به التدبير ويثبت بعد الْعِتْقُ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Adapun tiga permasalahan tersebut, salah satunya adalah apa yang diriwayatkan dari Imam Syafi‘i, bahwa jika seseorang berkata kepada budak mudabbarnya: “Jika kamu melaksanakan (sesuatu) ini setelah kematianku, maka kamu merdeka,” maka budak tersebut menjadi merdeka dengan pelaksanaan (syarat) setelah kematian, dan tidak merdeka hanya karena kematian saja. Ia berkata: “Ini merupakan penarikan kembali dalam tadbir (pembebasan budak secara bertahap) selama budak tersebut masih menjadi miliknya.” Maka dikatakan kepada al-Muzani: “Ini hanyalah cabang yang dibangun oleh Imam Syafi‘i berdasarkan pendapatnya dalam masalah tadbir, yaitu bahwa tadbir itu seperti wasiat, sehingga tadbir tersebut batal karenanya, dan kemerdekaan budak tetap berlaku dengan pelaksanaan (syarat) setelah kematian.”

وَأَمَّا عَلَى قَوْلِهِ إِنَّ التَّدْبِيرَ كَالْأَيْمَانِ وَالْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَيُعْتَقُ بِالْمَوْتِ ويسقط حُكْمُ الْأَدَاءِ بَعْدَ الْمَوْتِ لِأَنَّهُ قَدْ عَلَّقَ عِتْقَهُ بِصِفَةٍ مُتَقَدِّمَةٍ ثُمَّ عَلَّقَهُ بِصِفَةٍ مُتَأَخِّرَةٍ فَعَتَقَ بِأَسْبَقِهِمَا وَالْمَوْتُ أَسْبَقُ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ قَدِمَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ وَإِنْ قَدِمَ عَمْرٌو فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ بِأَسْبَقِهِمَا قُدُومًا

Adapun menurut pendapat yang menyatakan bahwa tadbīr itu seperti sumpah dan pembebasan budak dengan sifat tertentu, maka budak itu merdeka dengan kematian, dan gugurlah hukum pelaksanaan setelah kematian. Sebab, ia telah menggantungkan pembebasan budaknya pada suatu sifat yang lebih awal, kemudian menggantungkannya lagi pada sifat yang lebih akhir, sehingga budak itu merdeka dengan sifat yang lebih dahulu terjadi, dan kematian adalah yang lebih dahulu. Sebagaimana jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika Zaid datang, maka engkau merdeka, dan jika Amr datang, maka engkau merdeka,” maka budak itu merdeka dengan kedatangan yang lebih dahulu di antara keduanya.

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ

Masalah kedua

مَا حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَوْ وَهَبَ الْمُدَبَّر هِبَةَ بَتَاتٍ قَبَضَ أَوْ لَمْ يَقْبَضْ كَانَ رُجُوعًا

Apa yang dinukil dari asy-Syafi‘i bahwa beliau berkata: Jika seseorang mewakafkan budak mudabbar dengan hibah mutlak, baik telah diterima maupun belum, maka itu dianggap sebagai rujuk.

وَالْجَوَابُ فِي حُكْمِ الْهِبَةِ أَنَّهُ إِنْ أَقْبَضَهَا صَحَّ رُجُوعُهُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا لِخُرُوجِهِ عَنْ مِلْكِهِ كَالْبَيْعِ وَإِنْ لَمْ يُقْبِضْهَا كَانَ رُجُوعًا فِي التَّدْبِيرِ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْوَصَايَا وَفِي صِحَّةِ رُجُوعِهِ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وَجْهَانِ

Jawaban mengenai hukum hibah adalah: jika hibah tersebut telah diserahkan, maka sah bagi pemberi hibah untuk menarik kembali hibah itu menurut kedua pendapat, karena hibah tersebut telah keluar dari kepemilikannya seperti halnya jual beli. Namun, jika hibah itu belum diserahkan, maka penarikan kembali hibah dianggap sebagai penarikan dalam pengelolaan, jika hibah tersebut diperlakukan seperti wasiat. Adapun mengenai keabsahan penarikan kembali hibah jika diperlakukan seperti pembebasan budak dengan sifat-sifat tertentu, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَكُونُ رُجُوعًا لِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ

Salah satunya tidak dianggap sebagai penarikan kembali karena tetap berada dalam kepemilikannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ رُجُوعًا لِشُرُوعِهِ فِي إِخْرَاجِهِ عَنْ مِلْكِهِ

Adapun sisi yang kedua adalah bahwa hal itu merupakan kembali kepada permulaan ia mengeluarkan (harta tersebut) dari kepemilikannya.

وَالْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ

Masalah ketiga

مَا حَكَاهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ مِنْ رُجُوعِهِ فِي تَدْبِيرِ رُبْعِهِ أَوْ نِصْفِهِ وَالْحُكْمُ فِيهِ كَالْحُكْمِ فِي رُجُوعِهِ فِي تَدْبِيرِ جَمِيعِهِ إِنْ قِيلَ بِأَنَّهُ كَالْوَصَايَا جَازَ وَإِنْ قِيلَ بِأَنَّهُ كَالْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُدَبِّرَ بَعْضَ عَبْدِهِ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يُدَبِّرَ جَمِيعَهُ وَإِنَّمَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَدْبِيرِ بَعْضِهِ هَلْ يُعْتَقُ بِهِ جَمِيعُهُ إِذَا مَاتَ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ بِنَاءً عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الوَجْهَيْنِ فِي حُكْمِ السِّرَايَةِ

Apa yang dinukil dari Imam Syafi‘i tentang penarikan kembali pada tadbir (pembebasan budak secara bertahap) atas seperempat atau setengahnya, maka hukumnya sama dengan hukum penarikan kembali pada tadbir seluruhnya. Jika dikatakan bahwa tadbir itu seperti wasiat, maka boleh; dan jika dikatakan bahwa tadbir itu seperti pembebasan dengan sifat-sifat tertentu, maka tidak boleh. Sebab, boleh saja seseorang mentadbir sebagian budaknya sebagaimana boleh mentadbir seluruhnya. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai tadbir atas sebagian budak: apakah seluruh budak menjadi merdeka ketika tuannya meninggal atau tidak, terdapat dua pendapat yang dibangun atas dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam hukum sirayah (penyebaran hukum pembebasan).

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا إِذَا قَالَ قَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِ رَأْسِكَ عَلَى وَجْهَيْنِ

Para ulama kami berbeda pendapat apabila seseorang berkata, “Aku telah menarik kembali tadbīr atas dirimu,” menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَكُونُ كَالتَّصْرِيحِ بِالرُّجُوعِ فِي جَمِيعِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يُعَبَّرُ عَنْهُ بِالرَّأْسِ فَيُقَالُ هَذَا رَأْسٌ مِنَ الرَّقِيقِ فَيَكُونُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu dianggap seperti pernyataan tegas untuk kembali pada keseluruhannya, karena kadang-kadang diungkapkan dengan istilah “ra’s” sehingga dikatakan “ini adalah ra’s dari budak”, maka hukumnya mengikuti dua pendapat yang ada.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَكُونُ رُجُوعًا فِي شَيْءٍ مِنْهُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ صَرِيحٌ فِي جَمِيعِهِ وَالرُّجُوعَ كِنَايَةٌ مُحْتَمَلَةٌ فِي بَعْضِهِ فَلَمْ يَبْطُلْ حُكْمُ الصَّرِيحِ بِالِاحْتِمَالِ وَيُخَالِفْ حُكْمُ رُجُوعِهِ فِي رُبْعِهِ أَوْ نِصْفِهِ لِأَنَّهُ صَرِيحٌ فِي مُقَدَّرٍ قَابِلٍ صَرِيحًا عَامًّا فلم يكن في هذه المساءل الثَّلَاثَةِ دَلِيلٌ عَلَى اخْتِيَارِهِ وَإِنَّمَا هِيَ تَفْرِيعٌ عليه

Pendapat kedua tidak dianggap sebagai penarikan kembali dalam hal apa pun menurut dua pendapat, karena tadbīr adalah pernyataan yang jelas secara keseluruhan, sedangkan penarikan kembali adalah ungkapan kiasan yang masih mungkin terjadi pada sebagian bagiannya. Maka, hukum dari pernyataan yang jelas tidak gugur hanya karena adanya kemungkinan. Hal ini berbeda dengan hukum penarikan kembali pada seperempat atau setengahnya, karena itu adalah pernyataan yang jelas pada bagian tertentu yang secara jelas dapat diterima secara umum. Maka, dalam tiga permasalahan ini tidak terdapat dalil atas pilihannya, melainkan hanya merupakan cabang dari pendapat tersebut.

وأما استدلالاه عَلَى نُصْرَةِ اخْتِيَارِهِ فِي جَوَازِ رُجُوعِهِ

Adapun dalil yang digunakan untuk mendukung pilihannya dalam membolehkan kembalinya (seseorang)…

فَأَحَدُهُمَا إِنْ قَالَ مَنْعُهُ مِنَ الرُّجُوعِ فِي تَدْبِيرِهِ مُفْضٍ إِلَى الْمَنْعِ مِنْ بَيْعِهِ وَلَمْ يَخْتَلِفْ مذهبه في جواز بيعه فلزم أن لا يَخْتَلِفَ قَوْلُهُ فِي جَوَازِ رُجُوعِهِ وَهَذَا مَنْقُوضٌ بِالْعِتْقِ بِالصِّفَةِ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَلَا يَجُوزُ الرُّجُوعُ فِي تَعْلِيقِ عِتْقِهِ بِالصِّفَةِ فَلَمْ يَلْزَمِ الْجَمْعُ بَيْنَ جَوَازِ الْبَيْعِ وَجَوَازِ الرُّجُوعِ

Salah satunya adalah jika dikatakan bahwa pelarangan untuk menarik kembali dalam tadbir akan menyebabkan pelarangan untuk menjualnya, padahal tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhabnya tentang bolehnya menjualnya, maka seharusnya tidak ada perbedaan pendapat pula tentang bolehnya menarik kembali. Namun, hal ini dibantah dengan kasus pembebasan budak yang digantungkan pada suatu sifat; boleh menjualnya, tetapi tidak boleh menarik kembali penggantungan pembebasan budaknya pada sifat tersebut. Maka, tidak mesti harus digabungkan antara bolehnya menjual dan bolehnya menarik kembali.

وَالِاسْتِدْلَالُ الثَّانِي إِنْ قَالَ الْأَيْمَانُ وَالْعِتْقُ بِالصِّفَاتِ يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ وعتق المدبر يَقَعُ بِالْمَوْتِ فَصَارَ التَّدْبِيرُ مُضَادًّا لِلْأَيْمَانِ وَالْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْرِيَ عَلَى حُكْمِهِمَا وَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّ الْأَيْمَانَ وَالْعِتْقَ بِالصِّفَاتِ لَمَّا لَمْ يَتَعَلَّقْ حُكْمُهُمَا بِالْمَوْتِ جَازَ أَنْ يَبْطُلَ حُكْمُهُمَا بِالْمَوْتِ وَالتَّدْبِيرُ حُكْمُهُ يَتَعَلَّقُ بِالْمَوْتِ فَلَمْ يَبْطُلْ بِالْمَوْتِ

Dalil kedua: Jika dikatakan bahwa sumpah dan pembebasan budak dengan sifat batal karena kematian, sedangkan pembebasan budak mudabbir terjadi karena kematian, maka tadbir menjadi bertentangan dengan sumpah dan pembebasan budak dengan sifat, sehingga tidak boleh diberlakukan menurut hukum keduanya. Jawabannya adalah bahwa sumpah dan pembebasan budak dengan sifat, karena hukumnya tidak terkait dengan kematian, maka boleh hukumnya batal karena kematian. Adapun tadbir, hukumnya justru terkait dengan kematian, sehingga tidak batal karena kematian.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فَإِذَا قِيلَ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا صَحَّ رُجُوعُهُ فِي التَّدْبِيرِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ كَمَا يَصِحُّ الرُّجُوعُ فِيهِ بِإِخْرَاجِهِ لِكُلِّ قَوْلٍ صَرِيحٍ فِي الرُّجُوعِ مِثْلَ قَوْلِهِ قَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِكَ أَوْ نَقَضْتُهُ أَوْ أَبْطَلْتُهُ أَوْ رَفَعْتُهُ أَوْ فَسَخْتُهُ أَوْ أَزَلْتُهُ فَإِنْ لَمْ يُصَرَّحْ بِهِ وَأَشَارَ إِلَيْهِ فَالْإِشَارَةُ كِنَايَةٌ لَا تَقُومُ مَقَامَ الصَّرِيحِ فِي الرُّجُوعِ وَلَوْ عُرِضَ لِلْبَيْعِ فَهَلْ يَكُونُ كَالتَّصْرِيحِ فِي الرُّجُوعِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Apabila telah dijelaskan argumentasi dari kedua pendapat, maka jika dikatakan bahwa hal itu berlaku seperti wasiat, maka sah baginya untuk menarik kembali keputusan tadbīr selama kepemilikan masih tetap padanya, sebagaimana sah pula menarik kembali dengan mengucapkan setiap lafaz yang jelas menunjukkan penarikan kembali, seperti ucapannya: “Aku telah menarik kembali tadbīr-mu,” atau “Aku telah membatalkannya,” atau “Aku telah meniadakannya,” atau “Aku telah menghapusnya,” atau “Aku telah mencabutnya.” Namun jika tidak diungkapkan secara jelas dan hanya dengan isyarat, maka isyarat itu merupakan kināyah yang tidak dapat menggantikan kejelasan lafaz dalam penarikan kembali. Dan jika tadbīr itu ditawarkan untuk dijual, apakah hal itu dianggap seperti kejelasan dalam penarikan kembali? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ رُجُوعًا صَرِيحًا فِي تَدْبِيرِهِ لِأَنَّهُ شُرُوعٌ فِي إِخْرَاجِهِ مِنْ مِلْكِهِ فَكَانَ أَقْوَى مِنَ التَّصْرِيحِ بِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ

Salah satunya adalah berupa penarikan kembali yang jelas dalam pengelolaannya, karena hal itu merupakan permulaan untuk mengeluarkannya dari kepemilikannya, sehingga hal itu lebih kuat daripada pernyataan tegas untuk tetap mempertahankannya dalam kepemilikannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يَكُونُ رُجُوعًا صَرِيحًا وَتَدْبِيرُهُ بَعْدَ الْغَرَضِ بَاقٍ مَا لَمْ يَبِعْهُ لِأَنَّ عَقْدَهُ يُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ مَعْرِفَةَ قِيمَتِهِ فَلَمْ يَصِرْ بِهَذَا الِاحْتِمَالِ رُجُوعًا صَرِيحًا فِي تَدْبِيرِهِ

Pendapat kedua tidak dianggap sebagai rujukan secara tegas, dan tadbirnya tetap berlaku setelah tujuan tercapai selama ia belum menjualnya, karena akadnya dimungkinkan ia bermaksud untuk mengetahui nilainya. Maka, dengan kemungkinan ini, hal itu tidak menjadi rujukan secara tegas dalam tadbirnya.

وَإِذَا قِيلَ إِنَّ التَّدْبِيرَ يَجْرِي مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ صَحَّ الرُّجُوعُ فِيهِ بِإِخْرَاجِهِ عَنْ مِلْكِهِ

Dan apabila dikatakan bahwa at-tadbīr berlaku seperti pembebasan budak (al-‘itq) yang dikaitkan dengan sifat-sifat tertentu, maka sah untuk menarik kembali (membatalkan) at-tadbīr tersebut dengan mengeluarkannya dari kepemilikannya.

فَأَمَّا رُجُوعُهُ فِيهِ بِالْقَوْلِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Adapun penarikannya kembali dengan ucapan, maka terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْقَوْلُ غَيْرَ مُقْتَضٍ لِإِخْرَاجِهِ عَنْ مِلْكِهِ كَالْأَلْفَاظِ الْمُقَدَّمَةِ مِنْ صَرِيحٍ أَوْ كِنَايَةٍ فَلَا يَصِحُّ بِهِ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ

Salah satunya adalah apabila ucapan tersebut tidak mengharuskan keluarnya (barang) dari kepemilikannya, seperti lafaz-lafaz yang telah disebutkan sebelumnya, baik yang jelas (ṣarīḥ) maupun sindiran (kināyah), maka tidak sah baginya untuk menarik kembali (ucapan) dalam tadbīr-nya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْقَوْلُ غَيْرَ مُخْرِجٍ لَهُ عَنْ مِلْكِهِ فِي الْحَالِ وَيُفْضِي إِلَى إِخْرَاجِهِ عن ملكه في ثاني حال وَهُوَ أَنْ يَجْعَلَهُ عِوَضًا فِي جُعَالَةٍ أَوْ يَتَلَفَّظَ بِهِبَتِهِ مِنْ غَيْرِ قَبْضٍ فَفِي كَوْنِهِ رُجُوعًا فِي تَدْبِيرِهِ وَجْهَانِ مَضَيَا

Jenis kedua adalah apabila ucapan tersebut tidak langsung mengeluarkannya dari kepemilikannya pada saat itu, namun akan berujung pada keluarnya dari kepemilikannya di waktu berikutnya, yaitu apabila ia menjadikannya sebagai imbalan dalam suatu ju‘ālah atau mengucapkan hibah tanpa adanya qabd (penguasaan fisik). Dalam hal ini, terdapat dua pendapat mengenai apakah hal tersebut dianggap sebagai rujuk dalam tadbīr, dan kedua pendapat itu telah berlalu.

وَلَوْ وَقَفَهُ بَعْدَ التَّدْبِيرِ كَانَ رُجُوعًا فِي تَدْبِيرِهِ لِأَنَّهُ قَدْ أَخْرَجَهُ بِالْوَقْفِ عَنْ مِلْكِهِ وَلَوْ رَهَنَهُ بَعْدَ تَدْبِيرِهِ كَانَ فِي صِحَّةِ رَهْنِهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Dan jika ia mewakafkannya setelah melakukan tadbīr, maka hal itu dianggap sebagai pencabutan atas tadbīr-nya, karena dengan wakaf tersebut ia telah mengeluarkannya dari kepemilikannya. Dan jika ia menggadaikannya setelah melakukan tadbīr, maka terdapat tiga pendapat mengenai keabsahan gadai tersebut.

أَحَدُهَا رَهْنُهُ بَاطِلٌ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا

Salah satunya adalah bahwa rahn-nya batal menurut kedua pendapat.

وَالثَّانِي جَائِزٌ عَلَى الْقَوْلَيْنِ مَعًا

Dan yang kedua diperbolehkan menurut kedua pendapat.

وَالثَّالِثُ جَائِزٌ إِنْ قِيلَ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا وَبَاطِلٌ إِنْ قِيلَ إِنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَإِنْ قِيلَ يَجُوزُ رَهْنُهُ بَطَلَ تَدْبِيرُهُ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْوَصَايَا وَفِي بُطْلَانِهِ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وَجْهَانِ لِأَنَّ الرَّهْنَ مُفْضٍ إِلَى بَيْعِهِ وَإِنْ قِيلَ بِفَسَادِ رَهْنِهِ لَمْ يَبْطُلْ تَدْبِيرُهُ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وَفِي بُطْلَانِهِ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْوَصَايَا وَجْهَانِ لِأَنَّهُ تَعْرِيضٌ لِبَيْعِهِ وَيَجُوزُ إِذَا دَبَّرَ جَمِيعَ عَبْدِهِ أَنْ يَرْجِعَ فِي تَدْبِيرِ بَعْضِهِ فَيَكُونُ مَا رَجَعَ مِنْهُ مَرْقُوقًا وَمَا لَمْ يَرْجِعْ فِيهِ مُدَبَّرا وَقِيلَ لَا يَجُوزُ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِ بَعْضِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ تَدْبِيرَ بَعْضِهِ يَكُونُ سَارِيًا إِلَى جَمِيعِهِ والله أعلم

Yang ketiga, hukumnya boleh jika dikatakan bahwa hal itu berlaku seperti wasiat, dan batal jika dikatakan bahwa hal itu berlaku seperti pembebasan budak (ʿitq) dengan sifat-sifat tertentu. Jika dikatakan bahwa boleh menggadaikannya, maka tadbīr-nya batal jika diperlakukan seperti wasiat, dan dalam hal batalnya jika diperlakukan seperti pembebasan budak dengan sifat-sifat tertentu terdapat dua pendapat, karena gadai (rahn) dapat berujung pada penjualannya. Jika dikatakan bahwa gadainya tidak sah, maka tadbīr-nya tidak batal jika diperlakukan seperti pembebasan budak dengan sifat-sifat tertentu, dan dalam hal batalnya jika diperlakukan seperti wasiat terdapat dua pendapat, karena hal itu merupakan potensi untuk dijual. Diperbolehkan jika seseorang mentadbīr seluruh budaknya, lalu ia menarik kembali tadbīr sebagian dari mereka, maka yang ia tarik kembali menjadi budak murni (marqūq), dan yang tidak ia tarik tetap dalam status mudabbir. Ada juga pendapat yang mengatakan tidak boleh menarik kembali tadbīr sebagian budak jika dikatakan bahwa tadbīr sebagian budak berlaku untuk seluruhnya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَجِنَايَةُ الْمُدَبَّر كَجِنَايَةِ الْعَبْدِ يُبَاعُ مِنْهُ بِقَدْرِ جِنَايَتِهِ وَالْبَاقِي مُدَبَّر بِحَالِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tindak pidana yang dilakukan oleh budak mudabbar sama seperti tindak pidana yang dilakukan oleh budak biasa; ia dijual sesuai dengan kadar tindak pidananya, dan sisanya tetap dalam status mudabbar seperti semula.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ جِنَايَةُ الْمُدَبَّر ضَرْبَانِ عَمْدٌ وَخَطَأٌ

Al-Mawardi berkata: Jinayah (tindak pidana) yang dilakukan oleh budak mudabbar terbagi menjadi dua jenis, yaitu sengaja (‘amdan) dan tidak sengaja (khatā’an).

فَإِنْ كَانَتْ عَمْدًا وَجَبَ عَلَيْهِ الْقِصَاصُ فَإِنْ كَانَ اقْتَصَّ مِنْ نَفْسِهِ مَاتَ بِالْقِصَاصِ عَبْدًا وَإِنْ كَانَ فِي طَرَفِهِ كَانَ بَعْدَ الْقِصَاصِ مُدَبَّرا وَإِنْ كَانَتْ جِنَايَتُهُ خَطَأً أَوْ عَمْدًا عُفِيَ فِيهَا عَنِ الْقِصَاصِ تَعَلَّقَتْ بِرَقَبَتِهِ كَالْعَبْدِ الْقِنِّ وَكَانَ السَّيِّدُ فِيهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ فِدَائِهِ أَوْ بَيْعِهِ

Jika perbuatannya dilakukan dengan sengaja, maka wajib atasnya qishāsh. Jika qishāsh dilaksanakan atas dirinya, ia mati karena qishāsh sebagai budak. Jika qishāsh itu pada salah satu anggota tubuhnya, maka setelah qishāsh ia menjadi mudabbar. Jika tindakannya merupakan kesalahan atau disengaja namun dimaafkan dari qishāsh, maka tanggung jawabnya tetap pada dirinya seperti budak murni, dan tuannya memiliki pilihan antara menebusnya atau menjualnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا تَتَعَلَّقُ جِنَايَتُهُ بِرَقَبَتِهِ وَيُؤْخَذُ السَّيِّدُ بِفِدَائِهِ كَأُمِّ الْوَلَدِ وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي أَنَّ بَيْعَ الْمُدَبَّر لَا يَجُوزُ فَصَارَ فِي وُجُوبِ فِدَائِهِ كَأُمِّ الْوَلَدِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa tindak pidananya tidak berkaitan dengan dirinya sendiri, dan tuannya wajib menebusnya sebagaimana umm al-walad. Ia mendasarkan pendapat ini pada prinsipnya bahwa penjualan al-mudabbir tidak diperbolehkan, sehingga dalam kewajiban penebusannya ia disamakan dengan umm al-walad.

وَالشَّافِعِيُّ بَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي جَوَازِ بَيْعِهِ وَأَسْقَطَ بِهِ وُجُوبَ فِدَائِهِ وَيَكُونُ السَّيِّدُ فِيهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ الْبَيْعِ أَوِ الْفِدَاءِ فَإِنِ اخْتَارَ فِدَاءَهُ نَظَرَ أَرْشَ جِنَايَتِهِ فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ فَمَا دون فداه بقدر أرشها وإن كانكثر مِنْ قِيمَتِهِ فَفِيمَا يَفْدِيهِ بِهِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا يَفْدِيهِ بِقَدْرِ الْقِيمَةِ لِأَنَّهُ لَوْ بِيعَ لَمْ يَسْتَحِقَّ فِيهَا غَيْرَ الثَّمَنِ

Syafi‘i mendasarkan pendapatnya pada prinsip dasarnya tentang bolehnya menjualnya, dan dengan itu menggugurkan kewajiban menebusnya. Maka, tuan (pemilik) memiliki pilihan antara menjual atau menebusnya. Jika ia memilih untuk menebusnya, maka dilihat nilai diyat (ganti rugi) atas pelanggarannya. Jika nilainya sama dengan atau kurang dari harga budak tersebut, maka ia menebusnya sesuai dengan nilai diyatnya. Namun jika nilai diyatnya lebih besar dari harga budak tersebut, maka ada dua pendapat mengenai berapa yang harus digunakan untuk menebusnya. Salah satunya adalah menebusnya sesuai dengan harga budaknya, karena jika dijual, ia tidak berhak mendapatkan selain harga tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَفْدِيهِ بِجَمِيعِ جِنَايَتِهِ وَإِلَّا مَكَّنَ مِنْ بِيعِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَقْطَعُ بِالْفِدَاءِ رَغْبَةَ مَنْ يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَمَنَعَ مِنْ قَطْعِ هَذِهِ الزِّيَادَةِ الْمَظْنُونَةَ وَأَخَذَ بِجَمِيعِ الْأَرْشِ مَا أَقَامَ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ بَيْعِهِ ثُمَّ يَكُونُ الْمُدَبَّر بَعْدَ الْفِدَاءِ بَاقِيًا عَلَى تَدْبِيرِهِ وَإِنْ لَمْ يَفْدِهِ وَأَرَادَ بَيْعَهُ فِي جِنَايَتِهِ لَمْ يَكُنْ لِمُسْتَحِقِّ الْجِنَايَةِ أَنْ يَنْفَرِدَ بِبَيْعِهِ لِأَنَّهُ مَلَكَ بِالْجِنَايَةِ أَرْشَهَا دُونَ الرَّقَبَةِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَكِيلًا فِي بَيْعِهِ لِأَنَّهُ يَبِيعُهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ كَالْمُرْتَهِنِ وَكَانَ السَّيِّدُ أَحَقَّ بِبَيْعِهِ لِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ فَإِنْ بَاعَهُ عَنْ إِذْنِ مُسْتَحِقِّ الْجِنَايَةِ أَوْ عَنْ إِذَنِ الْحَاكِمِ صَحَّ بَيْعُهُ وَمُنِعَ مُشْتَرِيهِ مِنْ دَفْعِ ثَمَنِهِ إِلَى السَّيِّدِ الْبَائِعِ حَتَّى يَجْتَمِعَ مَعَ مُسْتَحِقِّ الْجِنَايَةِ عَلَى قَبْضِهِ لِأَنَّهُ مَبِيعٌ فِي حَقِّهِمَا وَإِنْ تَفَرَّدَ السَّيِّدُ بِبَيْعِهِ مِنْ غَيْرِ إِذْنٍ كَانَ بَاطِلًا لِأَنَّهُ كَالْمَرْهُونِ بِجِنَايَتِهِ وَلَوْ كَانَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ كَانَ السَّيِّدُ فِي بَيْعِهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَبِيعَ مِنْهُ بِقَدْرِ الْجِنَايَةِ وَيَكُونَ بَاقِيهِ مُدَبَّرا أَوْ يَبِيعَ جَمِيعَهُ فَيَبْطُلُ التَّدْبِيرُ فِي جَمِيعِهِ لِأَنَّهُ لَمَّا أُجِيزَ لَهُ بَيْعُهُ مِنْ غَيْرِ جِنَايَةٍ كَانَ فِي الْجِنَايَةِ أَجْوَزَ فَإِنْ مَلَكَهُ السَّيِّدُ بَعْدَ بَيْعِهِ بِابْتِيَاعٍ أَوْ هِبَةٍ أَوْ مِيرَاثٍ فَإِنْ أَجْرَي التَّدْبِيرَ مَجْرَى الْوَصَايَا لَمْ يَعُدْ تَدْبِيرُهُ بِعَوْدِهِ إِلَى مِلْكِهِ إِلَّا أَنْ يُسْتَأْنَفَ تَدْبِيرُهُ كَالْوَصَايَا وَإِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ فَفِي عَوْدِهِ إِلَى التَّدْبِيرِ إِذَا عَادَ إِلَى مِلْكِهِ قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الْمُطَلَّقَةِ بِصِفَةٍ تُوجَدُ فِي نِكَاحٍ ثَانٍ هَلْ تُطَلَّقُ بِهَا عَلَى قَوْلَيْنِ كَذَلِكَ عَوْدُ الْعِتْقِ بِصِفَةٍ تُوجَدُ فِي مِلْكٍ ثَانٍ عَلَى قَوْلَيْنِ وَلَوْ مَاتَ سَيِّدُ الْمُدَبَّر قَبْلَ فِكَاكِهِ مِنْ جِنَايَتِهِ فَفِي عِتْقِهِ بِمَوْتِهِ قَوْلَانِ كَعِتْقِ الْمَرْهُونِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia harus menebusnya dengan seluruh diyat atas kejahatannya, jika tidak maka diperbolehkan menjualnya. Sebab, bisa jadi dengan penebusan itu akan menghilangkan keinginan orang yang mungkin mau membelinya dengan harga lebih tinggi dari nilainya, sehingga dilarang memutus kemungkinan tambahan harga tersebut dan diambil seluruh arsy (ganti rugi) selama tetap melarang penjualannya. Setelah ditebus, budak mudabbar tetap dalam status tadbirnya. Jika ia tidak menebusnya dan ingin menjualnya karena kejahatannya, maka pihak yang berhak atas kejahatan itu tidak boleh sendirian menjualnya, karena ia hanya memiliki hak atas arsy kejahatan, bukan atas budaknya, dan tidak boleh menjadi wakil dalam penjualannya karena ia menjual untuk kepentingan dirinya sendiri seperti orang yang menggadaikan. Maka tuan budak lebih berhak menjualnya karena budak itu masih menjadi miliknya. Jika ia menjualnya dengan izin pihak yang berhak atas kejahatan atau dengan izin hakim, maka penjualannya sah dan pembelinya dilarang membayar harga kepada tuan penjual sampai ia bersama pihak yang berhak atas kejahatan sepakat untuk menerimanya, karena budak itu dijual untuk kepentingan keduanya. Jika tuan budak menjualnya sendiri tanpa izin, maka penjualannya batal karena statusnya seperti barang yang digadaikan karena kejahatan. Jika arsy kejahatan lebih kecil dari nilainya, maka tuan budak dalam menjualnya boleh memilih antara menjual sebagian sesuai dengan nilai kejahatan dan sisanya tetap menjadi mudabbar, atau menjual seluruhnya sehingga status tadbirnya batal seluruhnya, karena ketika diperbolehkan menjualnya tanpa sebab kejahatan, maka dalam kasus kejahatan lebih diperbolehkan. Jika tuan budak memilikinya kembali setelah penjualan, baik dengan membeli, hibah, atau warisan, maka jika tadbir diperlakukan seperti wasiat, maka tadbirnya tidak kembali dengan kembalinya kepemilikan kecuali jika dilakukan tadbir baru seperti wasiat. Namun jika diperlakukan seperti ‘itq (pembebasan) bersyarat, maka dalam kembalinya status tadbir ketika kembali ke kepemilikan ada dua pendapat, sebagaimana perbedaan pendapat dalam kasus talak bersyarat yang terjadi dalam pernikahan kedua, apakah jatuh talak atau tidak, demikian pula kembalinya status ‘itq bersyarat yang terjadi dalam kepemilikan kedua ada dua pendapat. Jika tuan mudabbar meninggal sebelum ditebus dari kejahatannya, maka dalam hal kemerdekaannya karena kematian tuannya juga terdapat dua pendapat, sebagaimana kemerdekaan barang yang digadaikan.

أَحَدُهُمَا يُعْتَقُ وَيُؤْخَذُ مِنْ تَرِكَةِ السَّيِّدِ أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشُ جِنَايَتِهِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ نَفْعَهُ قَدْ فَاتَ بِعِتْقِهِ

Salah satunya dimerdekakan, dan diambil dari harta peninggalan tuannya nilai yang lebih kecil antara harga dirinya atau diyat atas tindak pidananya, menurut satu pendapat, karena manfaatnya telah hilang akibat dimerdekakan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يُعْتَقُ قَبْلَ فِدَائِهِ وَيَقُومُ وَرَثَةُ السَّيِّدِ مَقَامَهُ بَيْنَ بَيْعِهِ وَبَيْنَ فِدَائِهِ فَإِنْ بِيعَ بَطَلَ تَدْبِيرُهُ وَلَا يَعُودُ إِنْ عَادَ إِلَى مِلْكِ الْوَرَثَةِ قَوْلًا وَاحِدًا وَإِنْ فَدَوْهُ كَانَ فِي قَدْرِ فَدَائِهِ كَالسَّيِّدِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa budak tidak dimerdekakan sebelum ditebus, dan para ahli waris tuan menempati posisinya dalam hal menjual atau menebusnya. Jika budak itu dijual, maka status tadbir-nya batal dan tidak kembali meskipun budak itu kembali menjadi milik para ahli waris, menurut satu pendapat. Namun, jika mereka menebusnya, maka dalam hal jumlah tebusannya, terdapat dua pendapat sebagaimana halnya tuan.

أَحَدُهُمَا بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشِ جِنَايَتِهِ

Salah satunya adalah dengan nilai yang lebih rendah antara harga barang tersebut atau arsy (ganti rugi) atas tindak pidananya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي بِأَرْشِ جِنَايَتِهِ وَإِنْ زَادَتْ عَلَى قِيمَتِهِ وَيَجْرِي عِتْقُهُ بَعْدَ فِدَائِهِ بِمَوْتِ سَيِّدِهِ

Pendapat kedua adalah dengan membayar diyat atas luka yang ditimbulkannya, meskipun jumlahnya melebihi nilainya, dan pembebasannya tetap berlaku setelah ia ditebus ketika tuannya meninggal dunia.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا دَبَّرَ أَمَةً حَامِلًا فَجَنَتْ تُعَلَّقُ أَرْشُ جِنَايَتَهَا بِرَقَبَتِهَا دُونَ حَمْلِهَا فَإِنْ فَدَاهَا السَّيِّدُ كَانَ بَاقِيًا فِيهَا وَفِي حَمْلِهَا وَإِنْ لَمْ يَفْدِهَا وَأَرَادَ بَيْعَهَا فِي أَرْشِ الْجِنَايَةِ فَإِنْ كَانَ بَعْدَ وِلَادَتِهَا كَانَ الْوَلَدُ خَارِجًا مِنْ بَيْعِهِ فِي الْأَرْشِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا فِي الْمِلْكِ فَتُبَاعُ مَعَ وَلَدِهَا لِئَلَّا تُوَلَّهَ وَالِدَةٌ عَلَى وَلَدِهَا وَيَكُونُ ثَمَنُ الْأُمِّ مُسْتَحَقًّا فِي الْأَرْشِ وَثَمَنُ الْوَلَدِ خَالِصًا لِلسَّيِّدِ وَإِنْ كَانَتْ وَقْتَ الْبَيْعِ عَلَى حَمْلِهَا لَمْ يَلْزَمْ مُسْتَحِقَّ الْأَرْشِ أَنْ يُؤَخِّرَ بَيْعَهَا إِلَى وَقْتِ الْوِلَادَةِ لِأَنَّ حَقَّهُ مُعَجَّلٌ وَلَمْ يَجُزِ اسْتِثْنَاءُ حَمْلِهَا فِي الْبَيْعِ لِأَنَّ بَيْعَ الْحَامِلِ دُونَ حَمْلِهَا بَاطِلٌ وَبِيعَتْ حَامِلًا وَكَانَ جَمِيعُ ثَمَنِهَا مُسْتَحَقًّا فِي الْأَرْشِ إِنْ جُعِلَ الْحَمْلُ فِي بَيْعٍ تَبَعًا

Apabila seseorang mentadbirkan seorang budak perempuan yang sedang hamil, lalu ia melakukan suatu tindak pidana, maka diyat (ganti rugi) atas tindak pidananya itu dibebankan pada dirinya saja, tidak pada kandungannya. Jika tuannya menebusnya, maka hak kepemilikan tetap ada pada dirinya dan kandungannya. Namun jika tuannya tidak menebusnya dan ingin menjualnya untuk membayar diyat tindak pidana, maka jika penjualan itu dilakukan setelah ia melahirkan, anaknya tidak termasuk dalam penjualan untuk diyat, dan tidak boleh dipisahkan antara ibu dan anak dalam kepemilikan. Maka ia dijual bersama anaknya agar tidak membuat seorang ibu merindukan anaknya. Harga ibu menjadi hak bagi yang berhak atas diyat, sedangkan harga anak sepenuhnya menjadi milik tuan. Jika penjualan dilakukan saat ia masih mengandung, maka pihak yang berhak atas diyat tidak wajib menunda penjualannya sampai waktu kelahiran, karena haknya bersifat segera. Tidak boleh mengecualikan kandungannya dalam penjualan, karena menjual perempuan hamil tanpa kandungannya adalah batal. Maka ia dijual dalam keadaan hamil dan seluruh harga penjualannya menjadi hak bagi yang berhak atas diyat, jika kandungan itu dijadikan bagian dari penjualan secara ikutannya.

فَأَمَّا إِنْ جَعَلَ لَهُ مِنَ الثَّمَنِ قِسْطًا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Adapun jika ia menetapkan bagi dirinya bagian tertentu dari harga, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُدْفَعُ مِنْهُ إِلَى مُسْتَحِقِّ الْأَرْشِ مَا قَابَلَ ثَمَنَ الْأُمِّ وَيُدْفَعُ مِنْهُ إِلَى السَّيِّدِ مَا قَابَلَ ثَمَنَ الْحَمْلِ لِتَعَلُّقِ الْجِنَايَةِ بِرَقَبَةِ الْأُمِّ دُونَ الْحَمْلِ

Salah satunya diberikan kepada pihak yang berhak menerima arsy (ganti rugi) sejumlah yang sebanding dengan harga ibu, dan diberikan kepada tuan (pemilik budak) sejumlah yang sebanding dengan harga janin, karena jinayah (tindak pidana) itu berkaitan dengan leher (jiwa) ibu, bukan janin.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَظْهَرُ أَنَّهُ يُدْفَعُ جَمِيعُ الثَّمَنِ إِلَى مُسْتَحِقِّ الْأَرْشِ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَمَيَّزَا فِي الْبَيْعِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَمَيَّزَا فِي الثَّمَنِ وَصَارَ الْحَمْلُ فِي حَقِّ السَّيِّدِ كَالْمُسْتَهْلَكِ وَلَكِنْ لَوْ ضُرِبَ بَطْنُهَا قَبْلَ الْبَيْعِ فَأَلْقَتْهُ جَنِينًا مَيِّتًا كَانَتْ دِيَتُهُ لِلسَّيِّدِ دُونَ مُسْتَحِقِّ الْأَرْشِ وَيَجُوزُ لِلسَّيِّدِ تَدْبِيرُ الْحَمْلِ دُونَ أُمِّهِ كَمَا يَجُوزُ لَهُ عِتْقُهُ دُونَ أُمِّهِ

Pendapat kedua, yang lebih kuat, adalah bahwa seluruh harga diserahkan kepada pihak yang berhak menerima arsy, karena ketika tidak mungkin membedakan keduanya dalam jual beli, maka tidak boleh pula dibedakan dalam harga. Dengan demikian, status janin bagi tuan adalah seperti barang yang telah habis. Namun, jika perutnya dipukul sebelum penjualan sehingga ia melahirkan janin dalam keadaan mati, maka diyatnya menjadi hak tuan, bukan hak pihak yang berhak menerima arsy. Tuan juga boleh mentadbir janin tanpa ibunya, sebagaimana ia boleh memerdekakannya tanpa ibunya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى الْمُدَبَّر فَأَرْشُهَا لِسَيِّدِهِ دُونَهُ فَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى طَرَفِهِ كَانَ بَعْدَ الْجِنَايَةِ عَلَى تَدْبِيرِهِ وَلَا يَكُونُ أَخْذُ أَرْشِهَا مُؤَثِّرًا فِي فَسْخِ تَدْبِيرِهِ سَوَاءٌ أُجْرِي مَجْرَى الْوَصَايَا أَوْ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى نَفْسِهِ مَاتَ بِالْجِنَايَةِ عَبْدًا وَمَلَكَ السَّيِّدُ قِيمَتَهُ وَلَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَصْرِفَهَا فِي تَدْبِيرِ مِثْلِهِ وَلَا أَنْ يعجل قِيمَتَهُ فِي التَّدْبِيرِ بِمَثَابَتِهِ

Adapun jika tindak pidana dilakukan terhadap budak mudabbir, maka diyatnya menjadi hak tuannya, bukan hak budak tersebut. Jika tindak pidana itu mengenai anggota tubuhnya, maka hal itu terjadi setelah penetapan tadbir (pembebasan bersyarat) atas dirinya, dan pengambilan diyatnya tidak berpengaruh pada pembatalan tadbirnya, baik tadbir itu diperlakukan seperti wasiat maupun seperti pembebasan dengan sifat-sifat tertentu. Namun, jika tindak pidana itu mengenai jiwanya sehingga ia mati karena tindak pidana tersebut, maka ia mati dalam keadaan sebagai budak, dan tuannya berhak atas nilai (harga) dirinya, serta tidak wajib bagi tuannya untuk mengalokasikan nilai tersebut untuk tadbir budak lain yang sejenis, dan juga tidak wajib baginya untuk segera mengalokasikan nilainya dalam tadbir yang serupa.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا كَانَ قَتْلُهُ فِي التَّدْبِيرِ كَقَتْلِهِ فِي الرَّهْنِ يُجْعَلُ قِيمَتُهُ فِي التَّدْبِيرِ مُدَبَّرةً كَمَا جُعِلَتْ قِيمَتُهُ فِي الرَّهْنِ مَرْهُونَةً

Jika dikatakan: Mengapa pembunuhan terhadap budak dalam status tadbir tidak diperlakukan seperti pembunuhan terhadap budak dalam status rahn, yaitu nilai budak dalam status tadbir dijadikan mudabbir sebagaimana nilai budak dalam status rahn dijadikan marhun?

قِيلَ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي التَّدْبِيرِ عَيْنُهُ وَفِي الرَّهْنِ قِيمَتُهُ

Dikatakan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi: Pertama, yang dimaksud dalam at-tadbīr adalah zatnya (orangnya) itu sendiri, sedangkan dalam ar-rahn yang dimaksud adalah nilainya.

وَالثَّانِي أَنَّ الْقِيمَةَ تَجُوزُ أَنْ تُرْهَنَ فِي الِابْتِدَاءِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ تُدَبَّرَ فِي الِابْتِدَاءِ فَكَذَلِكَ فِي الانتهاء

Yang kedua, nilai (al-qīmah) boleh dijadikan barang gadai (rahn) sejak awal, sedangkan tidak boleh dijadikan sebagai budak mudabbar (mudabbar) sejak awal; maka demikian pula hukumnya pada akhirnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ ارْتَدَّ الْمُدَبَّر أَوْ لَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ ثُمَّ أَوْجَفَ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ فَأَخَذَهُ سَيِّدُهُ فَهُوَ عَلَى تَدْبِيرِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang mudabbar murtad atau pergi ke negeri harbi, kemudian kaum Muslimin menyerangnya dan tuannya mengambilnya kembali, maka ia tetap berada dalam status tadbirnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا ارْتَدَّ الْمُدَبَّر لَمْ يَزُلْ مِلْكُ سَيِّدِهِ عَنْهُ لِبَقَائِهِ عَلَى رِقِّهِ بَعْدَ الرِّدَّةِ وَكَانَ عَلَى تَدْبِيرِهِ بَعْدَهَا يُعْتَقُ بِمَوْتِ سَيِّدِهِ كَمَا يُعْتَقُ بِمَوْتِهِ فِي إِسْلَامِهِ فَإِنْ لَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ أَوْ سَبَاهُ أَهْلُ الْحَرْبِ لَمْ يَمْلِكُوهُ بِالسَّبْيِ وَوَافَقَنَا أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى أَنَّهُمْ لَا يَمْلِكُونَ الْمُدَبَّر وَلَا أُمَّ الْوَلَدِ وَإِنْ جَعَلَهُمْ مَالِكِينَ لِغَيْرِهِمَا مِنْ أَمْوَالِ الْمُسْلِمِينَ وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا غَنِمُوهُ مِنْ أَمْوَالِ الْمُسْلِمِينَ بِحَالٍ فَإِنْ أَوَجَفَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى دَارِ الْحَرْبِ وَسَبَوْا هَذَا الْمُدَبَّر مِنْهَا وَهُوَ عَلَى رِدَّتِهِ لَمْ يَمْلِكُوهُ بِالسَّبْيِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقْسَمَ فِي الْمَغْنَمِ لِبَقَائِهِ عَلَى مِلْكِ مُسْلِمٍ وَلِسَيِّدِهِ أَخْذُهُ قَبْلَ الْقِسْمَةِ وَبَعْدَهَا فَإِنْ قُسِمَ بَيْنَ الْغَانِمِينَ قَبْلَ أَخْذِهِ عُوِّضَ عَنْهُ مَنْ حَصَلَ فِي سَهْمِهِ بِقِيمَتِهِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لَا مِنْ مَالِ سَيِّدِهِ فَإِنْ تَعَذَّرَ أَخْذُ قِيمَتِهِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ نُقِضَتِ الْقِسْمَةُ وَأُخْرِجَ مِنْهَا وَاسْتُؤْنِفَ قَسْمُ مَا سِوَاهُ بَيْنَهُمْ لِخُرُوجِهِ مِنَ الْغَنِيمَةِ وَكَانَ عَلَى تَدْبِيرِهِ يُعْتَقُ مَتَى مَاتَ سَيِّدُهُ وَلَوْ كَانَ سَيِّدُهُ قَدْ مَاتَ وَهُوَ فِي دَارِ الْحَرْبِ قَبْلَ سَبْيِهِ عَتَقَ وَلَمْ يَمْلِكْهُ الْغَانِمُونَ إِذَا سَبَوْهُ وَإِنْ كَانَ حُرًّا لِأَنَّ عَلَيْهِ وَلَاءً لِمُسْلِمٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَبْطُلَ ولاؤه بالاسترقاق

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, jika seorang mudabbar murtad, maka kepemilikan tuannya atas dirinya tidak hilang karena ia tetap dalam status budak setelah murtad, dan ia tetap berada dalam status tadbir setelahnya, sehingga ia akan merdeka dengan kematian tuannya sebagaimana ia akan merdeka dengan kematian tuannya saat ia masih Muslim. Jika ia melarikan diri ke negeri musuh atau ditawan oleh orang-orang kafir, mereka tidak menjadi pemiliknya melalui penawanan. Abu Hanifah sependapat dengan kami bahwa mereka tidak dapat memiliki mudabbar maupun umm al-walad, meskipun ia membolehkan mereka memiliki selain keduanya dari harta kaum Muslimin. Menurut Imam Syafi‘i, mereka sama sekali tidak dapat memiliki apa pun yang mereka rampas dari harta kaum Muslimin dalam keadaan apa pun. Jika kaum Muslimin menyerang negeri musuh dan menawan mudabbar ini dari sana sementara ia masih dalam keadaan murtad, mereka tidak memilikinya melalui penawanan dan tidak boleh membaginya dalam harta rampasan perang karena ia masih dalam kepemilikan seorang Muslim. Tuannya berhak mengambilnya sebelum atau sesudah pembagian. Jika ia telah dibagi di antara para perampas sebelum diambil oleh tuannya, maka orang yang mendapatkannya dalam bagiannya diganti dengan nilainya dari Baitul Mal, bukan dari harta tuannya. Jika pengambilan nilainya dari Baitul Mal tidak memungkinkan, maka pembagian tersebut dibatalkan dan ia dikeluarkan dari pembagian, lalu sisa harta rampasan dibagi ulang di antara mereka karena ia telah keluar dari harta rampasan. Ia tetap dalam status tadbir dan akan merdeka kapan pun tuannya meninggal. Jika tuannya telah meninggal dunia sementara ia masih di negeri musuh sebelum ditawan, maka ia merdeka dan para perampas tidak memilikinya jika mereka menawannya, meskipun ia adalah orang merdeka, karena ia memiliki wala’ kepada seorang Muslim, sehingga tidak boleh wala’-nya batal karena perbudakan.”

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَوْ أَنَّ سَيِّدَهُ ارْتَدَّ فَمَاتَ كَانَ مَالُهُ فَيْئًا وَالْمُدَبَّر حُرًّا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuannya murtad lalu meninggal dunia, maka hartanya menjadi fai’ dan budak mudabbar menjadi merdeka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَلِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَصْلٌ وَهُوَ أَنَّ الرِّدَّةَ هَلْ يَزُولُ بِهَا مِلْكُ الْمُرْتَدِّ أَمْ لَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini memiliki dasar, yaitu apakah dengan riddah kepemilikan orang murtad menjadi hilang atau tidak, terdapat tiga pendapat dalam hal ini.”

أَحَدُهَا إِنَّ مِلْكَهُ لَا يَزُولُ بِرِدَّتِهِ مَا بَقِيَ حَيًّا حَتَّى يَمُوتَ أَوْ يُقْتَلَ فَيَصِيرُ فَيْئًا

Salah satunya adalah bahwa kepemilikannya tidak hilang karena riddah selama ia masih hidup, hingga ia meninggal atau dibunuh, maka harta tersebut menjadi fai’.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّ مِلْكَهُ قَدْ زَالَ بِالرِّدَّةِ فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ مَلَكَهُ مِلْكًا مُسْتَجَدًّا

Pendapat kedua menyatakan bahwa kepemilikannya telah hilang karena riddah (kemurtadan), maka jika ia kembali masuk Islam, ia memiliki kembali (harta tersebut) dengan kepemilikan yang baru.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ إنَّ مِلْكَهُ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ عُلِمَ بَقَاؤُهُ عَلَى مِلْكِهِ وَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ عَلَى الرِّدَّةِ عُلِمَ زَوَالُهُ عَنْ مِلْكِهِ بِالرِّدَّةِ فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْأَقَاوِيلُ وَدَبَّرَ الْمُسْلِمُ عَبْدًا ثُمَّ ارْتَدَّ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ مِلْكَهُ لَمْ يَزُلْ بِالرِّدَّةِ كَانَ تَدْبِيرُهُ بَاقِيًا بَعْدَ الرِّدَّةِ فَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ مُرْتَدًّا عَتَقَ بِمَوْتِهِ فَصَارَ بَاقِي مَالِهِ فِي بَيْتِ الْمَالِ فَيْئًا وَكَانَ وَلَاءُ مُدَبَّرهِ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa kepemilikannya bersifat tergantung dan diperhatikan; jika ia kembali kepada Islam, maka diketahui bahwa kepemilikannya tetap ada, dan jika ia mati atau dibunuh dalam keadaan murtad, maka diketahui bahwa kepemilikannya hilang karena kemurtadannya. Jika pendapat-pendapat ini telah dijelaskan, lalu seorang Muslim melakukan tadbir terhadap seorang budak kemudian ia murtad, maka jika dikatakan bahwa kepemilikannya tidak hilang karena kemurtadan, maka tadbirnya tetap berlaku setelah kemurtadan. Jika ia mati atau dibunuh dalam keadaan murtad, maka budak itu merdeka karena kematiannya, sehingga sisa hartanya masuk ke Baitul Mal sebagai fai’, dan wala’ dari budak yang ditadbir tersebut menjadi milik seluruh kaum Muslimin.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ مِلْكَهُ قَدْ زَالَ عَنْهُ بِالرِّدَّةِ فَفِي إِبْطَالِ تَدْبِيرِهِ وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa kepemilikannya telah hilang darinya karena riddah, maka dalam pembatalan tadbīr-nya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا قَدْ بَطَلَ لِأَنَّهُ لَا يَبْقَى بَعْدَ زَوَالِ الْمِلْكِ تَدْبِيرٌ فَإِنْ قِيلَ بِالرِّدَّةِ لَمْ يُعْتَقِ الْمُدَبَّر وَكَانَ عَلَى رِقِّهِ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ عَادَ لِلْإِسْلَامِ عَادَ الْمُدَبَّر إِلَى مِلْكِهِ وَفِي عَوْدِهِ إِلَى التَّدْبِيرِ مَا ذَكَرْنَاهُ إِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْوَصِيَّةِ لَمْ يَعُدْ إِلَى التَّدْبِيرِ وَإِنْ أُجْرِيَ مجرى العتق بالصفة كان في عوده في التَّدْبِيرِ قَوْلَانِ

Salah satunya telah batal karena setelah hilangnya kepemilikan tidak ada lagi tadbir (pengelolaan budak). Jika dikatakan karena murtad, maka mudabbar (budak yang dijanjikan merdeka setelah tuannya wafat) tidak menjadi merdeka dan tetap dalam status budak bagi seluruh kaum Muslimin. Jika ia kembali masuk Islam, maka mudabbar kembali menjadi miliknya. Adapun mengenai kembalinya pada tadbir, sebagaimana yang telah kami sebutkan: jika diperlakukan seperti wasiat, maka tidak kembali pada tadbir; namun jika diperlakukan seperti pembebasan budak dengan syarat, maka dalam kembalinya pada tadbir terdapat dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ تَدْبِيرَهُ لَا يَبْطُلُ وَإِنْ زَالَ مِلْكُهُ بِالرِّدَّةِ لِأَمْرَيْنِ

Adapun alasan kedua adalah bahwa pengelolaannya tidak batal meskipun kepemilikannya hilang karena riddah, karena dua hal.

أَحَدُهُمَا إِنْ عَقَدَ تَدْبِيرَهُ فِي مِلْكٍ يَجُوزُ فِيهِ تَصَرُّفُهُ فَثَبَتَ حُكْمُهُ كَسَائِرِ عُقُودِهِ الْمُتَقَدِّمَةِ عَلَى رِدَّتِهِ

Salah satunya adalah apabila ia menetapkan tadbirnya pada harta yang masih menjadi miliknya dan ia berhak melakukan tindakan atasnya, maka hukum tadbir tersebut tetap berlaku seperti halnya akad-akad lain yang dilakukannya sebelum ia murtad.

وَالثَّانِي أَنَّهُ قَدْ صَارَ فِيهِ لِلْعَبْدِ حَقٌّ يُعْتَقُ بِهِ فَلَمْ يَبْطُلْ عَلَيْهِ بِرِدَّةِ غَيْرِهِ وَإِنْ مَاتَ السَّيِّدُ عَلَى رِدَّتِهِ أَوْ قُتِلَ بِهَا عَتَقَ مُدَبَّرهُ إِنْ خَرَجَ مِنْ ثُلُثِهِ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ وَلَمْ يَمْلِكْ سِوَاهُ فَفِي عِتْقِهِ وَجْهَانِ

Kedua, bahwa pada budak tersebut telah timbul hak bagi budak itu sendiri yang menyebabkan ia dapat dimerdekakan karenanya, sehingga hak itu tidak batal akibat riddah (kemurtadan) orang lain. Jika tuannya meninggal dalam keadaan murtad atau terbunuh karena kemurtadannya, maka budak mudabbar itu merdeka jika nilainya tidak melebihi sepertiga harta peninggalan tuannya. Namun, jika sepertiga harta tidak mencukupi dan tuannya tidak memiliki harta lain selain budak tersebut, maka dalam hal kemerdekaannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ يُعْتَقُ ثُلُثُهُ وَيَرِقُّ ثُلُثَاهُ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ لِأَنَّهُمْ يَقُومُونَ فِي مَالِهِ مَقَامَ وَرَثَتِهِ فَلَمْ يُعْتَقْ فِي حَقِّهِمْ إِلَّا أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِمْ مِثْلَاهُ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat para ulama Basrah, menyatakan bahwa sepertiga dari budak itu merdeka dan dua pertiganya tetap menjadi budak untuk seluruh kaum Muslimin, karena mereka menempati posisi ahli warisnya dalam hartanya. Maka, tidak sah memerdekakan bagian mereka kecuali jika bagian yang sama sampai kepada mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ وَالْأَظْهَرُ عِنْدِي أَنَّهُ يُعْتَقُ جَمِيعُهُ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى الْمُسْلِمِينَ مِثْلَاهُ لِأَنَّ مَالَ الْمُرْتَدِّ يَنْتَقِلُ إِلَيْهِمْ فَيْئًا لَا إِرْثًا وَالثُّلُثُ مُعْتَبَرٌ فِي الميراث دون الفيء

Pendapat kedua, yaitu pendapat para ulama Baghdad, dan menurutku inilah yang lebih kuat, bahwa seluruhnya dimerdekakan, meskipun yang semisalnya belum sampai kepada kaum muslimin. Sebab, harta orang murtad berpindah kepada mereka sebagai fai’, bukan sebagai warisan, dan sepertiga itu hanya dianggap dalam warisan, bukan dalam fai’.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ دَبَّرَهُ مُرْتَدًّا فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ أَحَدُهَا أَنَّهُ يُوقَفُ فَإِنْ رَجَعَ فَهُوَ عَلَى تَدْبِيرِهِ وَإِنْ قُتِلَ فَالتَّدْبِيرُ بَاطِلٌ وَمَالُهُ فَيْءٌ لِأَنَّا عَلِمْنَا أَنَّ رِدَّتَهُ صَيَّرَتْ مَالَهُ فَيْئًا وَالثَّانِي أَنَّ التَّدْبِيرَ بَاطِلٌ لِأَنَّ مَالَهُ خَارِجٌ مِنْهُ إِلَّا بِأَنْ يَرْجِعَ وَهَذَا أَشْبَهُ الْأَقَاوِيلِ بِأَنْ يَكُونَ صَحِيحًا فَبِهِ أَقُولُ وَالثَّالِثُ أَنَّ التَّدْبِيرَ مَاضٍ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ عَلَيْهِ مَالَهُ إِلَّا بِمَوْتِهِ وَقَالَ فِي كِتَابِ الزَّكَاةِ إِنَّهُ مَوْقُوفٌ فَإِنْ رَجَعَ وَجَبَتِ الزَّكَاةُ وَإِنْ لَمْ يَرْجِعْ وَقُتِلَ فَلَا زَكَاةَ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْمُكَاتَبِ إِنَّهُ إِنْ كَاتَبَ الْمُرْتَدُّ عَبْدَهُ قَبْلَ أَنْ يُوقَفَ مَالُهُ فَالْكِتَابَةُ جَائِزَةٌ قَالَ الْمُزَنِيُّ أَصَحُّهَا عِنْدِي وَأَوْلَاهَا بِهِ أَنَّهُ مَالِكٌ لماله لا يملك عليه إلا بموته لأنه أجاز كتابة عبده وأجاز أن ينفق من ماله على من يلزم المسلم نفقته فلو كان ماله خارجاً منه لخرج المدبر مع سائر ماله ولما كان لولده ولمن يلزمه نفقته حق في مال غيره مع أن مِلْكُهُ لَهُ بِإِجْمَاعٍ قَبْلَ الرِّدَّةِ فَلَا يَزُولُ ملكه إلا بإجماع وهو أن يموت

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mendekatkan (menjadikan budaknya sebagai mudabbar) dalam keadaan murtad, maka ada tiga pendapat. Pertama, statusnya ditangguhkan; jika ia kembali (masuk Islam), maka mudabbar tetap berlaku, dan jika ia dibunuh, maka mudabbar batal dan hartanya menjadi fai’ (harta rampasan negara), karena kita mengetahui bahwa kemurtadannya menjadikan hartanya sebagai fai’. Kedua, mudabbar batal karena hartanya telah keluar dari kepemilikannya kecuali jika ia kembali (masuk Islam), dan pendapat ini yang paling mendekati kebenaran menurut saya, maka saya berpendapat demikian. Ketiga, mudabbar tetap berlaku karena hartanya tidak keluar dari kepemilikannya kecuali setelah ia mati. Dalam Kitab Zakat, beliau berkata: statusnya ditangguhkan; jika ia kembali (masuk Islam), maka wajib zakat, dan jika tidak kembali lalu dibunuh, maka tidak ada zakat. Dalam Kitab Mukatab, beliau berkata: jika orang murtad memukatabkan budaknya sebelum hartanya ditangguhkan, maka akad mukatab sah. Al-Muzani berkata: menurutku, pendapat yang paling sahih dan paling layak adalah bahwa ia masih memiliki hartanya dan tidak ada yang berhak atas hartanya kecuali setelah ia mati, karena beliau membolehkan akad mukatab atas budaknya dan membolehkan ia menafkahi orang yang wajib dinafkahinya sebagaimana seorang muslim. Seandainya hartanya telah keluar dari kepemilikannya, tentu budak mudabbar juga keluar bersama seluruh hartanya, dan anak-anaknya serta orang yang wajib dinafkahinya tidak akan memiliki hak atas harta orang lain, padahal kepemilikannya atas harta itu telah disepakati (ijmā‘) sebelum murtad, maka kepemilikannya tidak hilang kecuali dengan ijmā‘, yaitu dengan kematiannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ الْمُرْتَدَّ إِذَا دَبَّرَ عَبْدَهُ فِي حَالِ رَدَّتِهِ كَانَ تَدْبِيرُهُ مُعْتَبَرًا بِمَا تُوجِبُهُ الرِّدَّةُ فِي مَالِهِ وَتَصَرُّفِهِ فَأَمَّا مَالُهُ فِي بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ أَوْ زَوَالِهِ عَنْهُ فَقَدْ حَكَى الْمُزَنِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ هَاهُنَا ثَلَاثَةَ أَقَاوِيلَ

Al-Mawardi berkata: Secara ringkas, apabila seorang murtad melakukan tadbir (pembebasan bersyarat) terhadap budaknya saat ia dalam keadaan murtad, maka tindakannya itu dipertimbangkan sesuai dengan apa yang diakibatkan oleh kemurtadan terhadap harta dan tindakannya. Adapun mengenai hartanya, apakah tetap menjadi miliknya atau hilang darinya, al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafi‘i di sini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّ مِلْكَهُ بَعْدَ الرِّدَّةِ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى لَا يُقْطَعُ بِزَوَالِهِ عَنْهُ فِي الْمَالِ وَلَا بِبَقَائِهِ عَلَيْهِ فِي الْحَالِ وَيَكُونُ مُعْتَبَرًا بِآخِرِ أَمْرَيْهِ فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ عُلِمَ أَنَّ مِلْكَهُ لَمْ يَزُلْ بِالرِّدَّةِ وَكَانَ بَاقِيًا عَلَى مَا كَانَ قَبْلَهُ فِي حَالِ إِسْلَامِهِ وَإِنْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ أَوْ مَاتَ عَلَيْهَا عُلِمَ أَنَّ مِلْكَهُ زَالَ عَنْهُ بِالرِّدَّةِ وَهُوَ الَّذِي اخْتَارَهُ الشَّافِعِيُّ وَاعْتَمَدَ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah bahwa kepemilikannya setelah murtad bersifat ditangguhkan dan diperhatikan, tidak dipastikan hilang darinya atas harta, dan tidak pula dipastikan tetap padanya pada saat itu, melainkan dianggap berdasarkan keadaan terakhirnya. Jika ia kembali kepada Islam, maka diketahui bahwa kepemilikannya tidak hilang karena kemurtadan dan tetap seperti sebelumnya saat ia masih Muslim. Namun jika ia dibunuh karena murtad atau mati dalam keadaan murtad, maka diketahui bahwa kepemilikannya hilang darinya karena kemurtadan. Inilah pendapat yang dipilih oleh asy-Syafi‘i dan dijadikan sandaran olehnya.

وَدَلِيلُنَا مَعْنَيَانِ

Dalil kami ada dua makna.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَالَهُ مُعْتَبَرٌ بِدَمِهِ لِأَنَّ اسْتِبَاحَةَ دَمِهِ الْمُوجِبَةُ لِمِلْكِ مَالِهِ فَلَمَّا كَانَ دَمُهُ مَوْقُوفًا عَلَى تَوْبَتِهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَالُهُ مَوْقُوفًا عَلَى تَوْبَتِهِ

Salah satu alasannya adalah bahwa hartanya dianggap mengikuti status darahnya, karena kebolehan menumpahkan darahnya yang menyebabkan kepemilikan atas hartanya. Maka, ketika penumpahan darahnya ditangguhkan sampai ia bertaubat, wajib pula harta miliknya ditangguhkan sampai ia bertaubat.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا كَانَ مَالُهُ بَعْدَ الرِّدَّةِ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ أَنْ يُسْلِمَ فَيَبْقَى عَلَيْهِ وَبَيْنَ أَنْ يَمُوتَ عَلَى الرِّدَّةِ فَيَزُولُ عَنْهُ شَابَهَ الْمَرِيضَ فِي تَصَرُّفِهِ فِي جَمِيعِ مَالِهِ لَمَّا تَرَدَّدَتْ حَالُهُ بَيْنَ الصِّحَّةِ فَتَمْضِي عَطَايَاهُ وَبَيْنَ مَوْتِهِ فَتُرَدُّ إِلَى الثُّلُثِ وَصَارَتْ بِذَلِكَ مَوْقُوفَةً وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْمُرْتَدُّ بِمَثَابَتِهِ فِي الْوَقْفِ

Makna yang kedua adalah bahwa ketika harta seseorang setelah murtad berada dalam keadaan tidak pasti antara kemungkinan ia kembali masuk Islam sehingga hartanya tetap menjadi miliknya, dan kemungkinan ia mati dalam keadaan murtad sehingga hartanya hilang darinya, maka keadaannya serupa dengan orang sakit dalam pengelolaan seluruh hartanya, karena keadaannya juga tidak pasti antara sehat sehingga hibah-hibahnya tetap berlaku, dan antara kematiannya sehingga hibah-hibah itu dikembalikan kepada sepertiga harta, dan dengan demikian harta itu menjadi tertahan (mauqūfah), maka wajiblah bahwa orang murtad diperlakukan seperti orang sakit dalam hal penahanan harta.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ مِلْكَهُ بَاقٍ عَلَيْهِ مَا بَقِيَ حَيًّا فَإِنْ مَاتَ مُرْتَدًّا انْتَقَلَ بِمَوْتِهِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ فَيْئًا وَإِنْ مَاتَ بَعْدَ إِسْلَامِهِ انْتَقَلَ إِلَى وَرَثَتِهِ مِيرَاثًا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَدَلِيلُهُ مَعْنَيَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa kepemilikannya tetap ada padanya selama ia masih hidup. Jika ia meninggal dalam keadaan murtad, maka dengan kematiannya harta itu berpindah ke Baitul Mal sebagai fai’. Namun jika ia meninggal setelah kembali masuk Islam, maka harta itu berpindah kepada ahli warisnya sebagai warisan. Inilah pilihan al-Muzani, dan pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Yusuf dan Muhammad. Dalilnya ada dua makna.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الرِّدَّةَ مُوجِبَةٌ لِاسْتِبَاحَةِ الدَّمِ وَالِاسْتِبَاحَةُ لَا تُوجِبُ زَوَالَ الْمِلْكِ مَعَ بَقَاءِ الْحَيَاةِ كَالْقَاتِلِ وَالزَّانِي

Salah satunya adalah bahwa riddah menyebabkan halal darah, namun kehalalan tersebut tidak menyebabkan hilangnya kepemilikan selama masih hidup, seperti halnya pembunuh dan pezina.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي أَنَّهُ لَوْ زَالَ مِلْكُهُ عَنْهُ بِالرِّدَّةِ كَمَا يَزُولُ مِلْكُ الْحَرْبِيِّ بِالْغَنِيمَةِ لَمَا عَادَ مِلْكُهُ إِلَيْهِ إِذَا أَسْلَمَ كَمَا لَا يَعُودُ مِلْكُ الْحَرْبِيِّ إِلَيْهِ إِذَا أَسْلَمَ وَفِي بَقَائِهِ عَلَى الْمُرْتَدِّ بَعْدَ إِسْلَامِهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَزُلْ عَنْهُ قَبْلَ إِسْلَامِهِ وَاسْتَدَلَّ لَهُ الْمُزَنِيُّ بِمَعْنَيَيْنِ

Makna yang kedua adalah bahwa jika kepemilikannya hilang darinya karena riddah sebagaimana kepemilikan orang harbi hilang karena ghanimah, maka kepemilikannya tidak akan kembali kepadanya ketika ia masuk Islam, sebagaimana kepemilikan orang harbi tidak kembali kepadanya ketika ia masuk Islam. Dan tetapnya kepemilikan atas orang murtad setelah ia masuk Islam merupakan dalil bahwa kepemilikan itu tidak hilang darinya sebelum ia masuk Islam. Al-Muzani memberikan dua alasan untuk hal ini.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا لَزِمَهُ فِي الرِّدَّةِ نَفَقَةُ أَوْلَادِهِ وَأُرُوشُ جِنَايَاتِهِ وَهَى لَا تَجِبُ عَلَى مَنْ لَا يَمْلِكُ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَالِكٌ

Salah satunya adalah bahwa ketika dalam keadaan riddah tetap diwajibkan baginya menafkahi anak-anaknya dan membayar diyat atas tindak kejahatannya, padahal kewajiban tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak memiliki harta, maka hal ini menunjukkan bahwa ia masih dianggap sebagai pemilik harta.

وَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّهَا تَجِبُ عَلَيْهِ إِنْ قِيلَ إِنَّهُ مَالِكٌ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ فِي وُجُوبِهَا عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ لَيْسَ بِمَالِكٍ فَذَهَبَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ وَطَائِفَةٌ إِلَى أَنَّهَا لَا تَجِبُ عَلَيْهِ فَبَطَلَ الِاسْتِدْلَالُ بِهِ وَذَهَبَ جُمْهُورُهُمْ إِلَى وُجُوبِهَا وَإِنْ قِيلَ لَيْسَ بِمَالِكٍ لِأَنَّهُ زَالَ عَنْهُ فِيمَا لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَزُلْ فِيمَا وَجَبَ عَلَيْهِ كَالْمَيِّتِ إِذَا تَعَدَّى بِحَفْرِ بِئْرٍ فَمَاتَ فِيهَا حَيَوَانٌ وَجَبَتْ قِيمَتُهُ فِي تَرِكَتِهِ وَإِنْ زَالَ مِلْكُهُ بِمَوْتِهِ

Jawabannya adalah bahwa zakat itu wajib atasnya jika dikatakan bahwa ia adalah pemilik. Para sahabat Imam Syafi‘i berbeda pendapat mengenai kewajibannya jika dikatakan bahwa ia bukan pemilik. Abu Sa‘id al-Istakhri dan sekelompok ulama berpendapat bahwa zakat tidak wajib atasnya, sehingga batal pula pendalilan dengan pendapat tersebut. Mayoritas ulama Syafi‘iyah berpendapat bahwa zakat tetap wajib atasnya meskipun dikatakan ia bukan pemilik, karena kepemilikan telah hilang darinya pada harta yang belum wajib atasnya, dan tidak hilang pada harta yang sudah wajib atasnya. Hal ini seperti orang yang meninggal dunia yang sebelumnya telah melakukan pelanggaran dengan menggali sumur, lalu ada hewan yang mati di dalamnya; maka wajib membayar ganti rugi dari harta peninggalannya, meskipun kepemilikannya telah hilang karena kematiannya.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي إِنْ قَالَ مِلْكُهُ لَهُ بِإِجْمَاعٍ قَبْلَ الرِّدَّةِ فَلَا يَزُولُ مِلْكُهُ إِلَّا بِالْإِجْمَاعِ وَهُوَ أَنْ يَمُوتَ وَهَذَا اسْتِصْحَابُ حَالٍ مَعَ تَنَقُّلِ الْأَحْوَالِ وَانْتِقَالُ الْأَحْوَالِ مُفْضٍ إِلَى انْتِقَالِ الْأَحْكَامِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُجْعَلَ دَلِيلًا عَلَى بَقَائِهَا

Makna yang kedua, jika dikatakan bahwa kepemilikannya diakui baginya berdasarkan ijmā‘ sebelum murtad, maka kepemilikannya tidak hilang kecuali dengan ijmā‘, yaitu ketika ia meninggal dunia. Ini adalah istishḥāb keadaan dengan perubahan situasi, sedangkan perubahan situasi akan menyebabkan perubahan hukum, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai dalil atas tetapnya hukum tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّ مِلْكَهُ بِالرِّدَّةِ خَارِجٌ مِنْهُ كَمَا نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مُرَادِ الشَّافِعِيِّ بِخُرُوجِهِ مِنْهُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أَرَادَ خُرُوجَهُ عَنْ تَصَرُّفِهِ وَلَمْ يُرِدْ بِهِ خُرُوجَهُ عَنْ مِلْكِهِ فَلَمْ يُخْرِّجُوا فِي مِلْكِهِ إِلَّا قَوْلَيْنِ

Pendapat ketiga adalah bahwa kepemilikannya batal karena riddah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani dalam bagian ini. Maka para sahabat kami berbeda pendapat tentang maksud asy-Syafi‘i dengan batalnya kepemilikan tersebut. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hilangnya hak pengelolaan (tasarruf) atas harta tersebut, bukan hilangnya kepemilikan (milik) itu sendiri. Oleh karena itu, mereka hanya mengemukakan dua pendapat dalam masalah kepemilikan tersebut.

أَحَدُهُمَا مَوْقُوفٌ

Salah satunya adalah mawqūf.

وَالثَّانِي ثَابِتٌ

Dan yang kedua adalah tetap.

وَقَالَ آخَرُونَ أَرَادَ بِهِ خُرُوجَهُ عَنْ مِلْكِهِ وَجَعَلُوهُ فِي الْمِلْكِ قَوْلًا ثَالِثًا إِنَّ مِلْكَهُ قَدْ زَالَ عَنْهُ بِالرِّدَّةِ وَإِنْ عَادَ إِلَيْهِ بِالْإِسْلَامِ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَدَلِيلُهُ مَعْنَيَانِ

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah keluarnya (harta) dari kepemilikannya, dan mereka menjadikannya dalam masalah kepemilikan sebagai pendapat ketiga, yaitu bahwa kepemilikannya telah hilang darinya karena riddah, meskipun kepemilikan itu kembali kepadanya dengan masuk Islam kembali. Inilah pendapat Abu Hanifah, dan dalilnya ada dua makna.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا مَلَكَ الْمُسْلِمُونَ دَمَهُ بِالرِّدَّةِ كَانَ أَوْلَى أَنْ يَمْلِكُوا بِهَا مَالَهُ لِأَنَّ حُكْمَ الْمَالِ أَخَفُّ مِنْ حُكْمِ الدَّمِ

Salah satunya adalah bahwa ketika kaum Muslimin telah berhak atas darahnya karena riddah, maka mereka lebih berhak lagi atas hartanya karena hukum terhadap harta lebih ringan daripada hukum terhadap darah.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا أَثَّرَتِ الرِّدَّةُ فِي زَوَالِ مَنَاكِحِهِ اجْتِهَادًا وَجَبَ تَأْثِيرُهَا فِي زَوَالِ مِلْكِهِ حِجَاجًا

Kedua, ketika riddah berpengaruh terhadap batalnya pernikahan-pernikahannya berdasarkan ijtihad, maka wajib pula pengaruhnya terhadap hilangnya kepemilikannya berdasarkan hujjah.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا تَصَرُّفُهُ فِي مَالِهِ بَعْدَ الردة فالردة موجبة للحجز عَلَيْهِ فِي مَالِهِ لِمَعْنَيَيْنِ

Adapun tindakan seseorang terhadap hartanya setelah murtad, maka kemurtadan mewajibkan penahanan atas dirinya terhadap hartanya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ تَظَاهُرَهُ بِالرِّدَّةِ مَعَ إِفْضَائِهَا إِلَى تَلَفِهِ دَلِيلٌ عَلَى سَفَهِهِ وَضَعْفِ عَقْلِهِ وَيَكُونُ الْحَجْرُ عَلَيْهِ جَارِيًا مَجْرَى حَجْرِ السَّفَهِ

Salah satu alasannya adalah bahwa menampakkan riddah (kemurtadan) disertai dengan akibatnya yang dapat membinasakan dirinya merupakan bukti atas kebodohan dan kelemahan akalnya, sehingga pemberlakuan hajr (pembatasan hak) atasnya berjalan sebagaimana hajr terhadap orang yang safih (tidak cakap).

وَالْمَعْنَى الثَّانِي أَنَّ مَالَهُ يوجب الحجر مُفْضٍ إِلَى انْتِقَالِهِ إِلَى الْمُسْلِمِينَ كَإِفْضَاءِ مَالِ الْمَرِيضِ إِلَى وَرَثَتِهِ فَاقْتَضَى أَنْ يُوجِبَ الْحَجْرَ عَلَيْهِ جَارِيًا مَجْرَى حَجْرِ الْمَرِيضِ فَإِذَا صَحَّ بِهَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ وُجُوبُ الْحَجْرِ عَلَيْهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا يَثْبُتُ بِهِ الْحَجْرُ عَلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Makna kedua adalah bahwa hartanya menyebabkan diberlakukannya hajr (pembatasan hak), yang pada akhirnya akan berpindah kepada kaum Muslimin, sebagaimana harta orang sakit yang berpindah kepada para ahli warisnya. Maka hal itu menuntut diberlakukannya hajr atas dirinya, sebagaimana hajr atas orang sakit. Apabila dengan dua makna ini telah sah kewajiban hajr atas dirinya, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai hal apa yang dapat menetapkan hajr atas dirinya, menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْحَجْرَ قَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ بِنَفْسِ الرِّدَّةِ وَلَا يُعْتَبَرُ بِحُكْمِ الْحَاكِمِ وَهَذَا مَذْهَبُ مَنْ تَأَوَّلَ قَوْلَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ مِلْكَهُ خَارِجٌ عَنْهُ أَيْ عَنْ تَصَرُّفِهِ فَأَوْقَعَ بِالرِّدَّةِ عَلَيْهِ حَجْرًا تَعْلِيلًا بِحَجْرِ الْمَرَضِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa status hajr telah tetap atasnya karena murtad itu sendiri, dan tidak bergantung pada keputusan hakim. Ini adalah mazhab orang yang menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i bahwa kepemilikannya terlepas darinya, yaitu dari hak pengelolaannya, sehingga dengan kemurtadan itu dijatuhkan hajr atasnya, dengan alasan yang sama seperti hajr karena sakit.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِهِمْ أَنَّ الْحَجْرَ لَا يَقَعُ عَلَيْهِ إِلَّا بِحُكْمِ الْحَاكِمِ تَعْلِيلًا بِحَجْرِ السَّفَهِ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat mayoritas ulama mereka, menyatakan bahwa larangan (hajr) tidak berlaku atas seseorang kecuali dengan keputusan hakim, dengan alasan menyerupai larangan terhadap orang yang boros (safih).

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَحْكَامِ مِلْكِهِ وَأَحْكَامِ تَصَرُّفِهِ كَانَ حُكْمُ تَدْبِيرِهِ وَعُقُودُهُ مَحْمُولَةٌ عَلَيْهَا فَإِنْ فَعَلَهَا بَعْدَ ثُبُوتِ الْحَجْرِ عَلَيْهِ كَانَتْ بَاطِلَةً مَرْدُودَةً فَلَا يَصِحُّ مِنْهُ عِتْقٌ وَلَا تَدْبِيرٌ وَلَا كِتَابَةٌ وَلَا هِبَةٌ وَلَا بَيْعٌ لِأَنَّ تَصَرُّفَ الْمَحْجُورِ عَلَيْهِ مَرْدُودٌ وَإِنْ فَعَلَهَا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحَجْرِ عَلَيْهِ كَانَ تَصَرُّفُهُ مَحْمُولًا عَلَى الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فَإِنْ قِيلَ بِبَقَاءِ مِلْكِهِ عَلَيْهِ بَعْدَ تَصَرُّفِهِ وَصَحَّ عِتْقُهُ وَتَدْبِيرُهُ وَكِتَابَتُهُ وَهِبَتُهُ وَبَيْعُهُ وَكَانَ فِي جَمِيعِهَا كَحَالِهِ قَبْلَ رِدَّتِهِ وَيُعْتَقُ الْمُدَبَّر بِقَتْلِهِ عَلَى الرِّدَّةِ كَمَا يُعْتَقُ بِمَوْتِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَإِنْ قِيلَ بِزَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهُ رُدَّ جَمِيعُ تَصَرُّفِهِ وَأُبْطِلَ جَمِيعُهُ فِيمَا الْتَزَمَهُ بِاخْتِيَارِهِ مِنْ عِتْقٍ وَتَدْبِيرٍ وَكِتَابَةٍ وَهِبَةٍ وَبِيعٍ وَفِي إِبْطَالِ مَا لَزِمَهُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ مِنْ نَفَقَةِ أَوْلَادِهِ وَأُرُوشِ جِنَايَاتِهِ وَجْهَانِ مَضَيَا

Apabila telah ditetapkan apa yang telah kami sebutkan mengenai hukum kepemilikannya dan hukum tindakan-tindakannya, maka hukum tadbir dan akad-akadnya mengikuti hukum-hukum tersebut. Jika ia melakukan tindakan tersebut setelah penetapan hajr (pembatasan hak bertindak) atas dirinya, maka tindakan-tindakan itu batal dan ditolak; sehingga tidak sah darinya pembebasan budak, tadbir, mukatabah, hibah, maupun jual beli, karena tindakan orang yang dikenai hajr adalah tertolak. Namun, jika ia melakukannya sebelum penetapan hajr atas dirinya, maka tindakannya mengikuti tiga pendapat: jika dikatakan bahwa kepemilikannya tetap ada setelah tindakannya, maka sah pembebasan budak, tadbir, mukatabah, hibah, dan jual belinya, dan dalam semua itu ia seperti keadaannya sebelum murtad. Budak yang ditadbir akan merdeka karena ia dibunuh atas kemurtadannya, sebagaimana budak itu merdeka karena kematiannya dalam keadaan Islam. Namun, jika dikatakan bahwa kepemilikannya hilang darinya, maka seluruh tindakannya ditolak dan dibatalkan, baik yang ia lakukan secara sukarela seperti pembebasan budak, tadbir, mukatabah, hibah, dan jual beli, maupun yang menjadi kewajibannya tanpa pilihannya seperti nafkah anak-anaknya dan diyat atas kejahatannya, terdapat dua pendapat yang berjalan.

فَإِنْ قِيلَ بِأَنَّ مِلْكَهُ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى كَانَ تَدْبِيرُهُ وَعِتْقُهُ مَوْقُوفًا فَإِنْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ بَطَلَ وَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ صَحَّ فَأَمَّا بَيْعُهُ وَكِتَابَتُهُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وَقْفِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan bahwa kepemilikannya bersifat mu‘allaq (tergantung/tertunda) dan diperhatikan, maka tindakan tadbir (pembebasan bersyarat) dan ‘itq (pembebasan budak) juga menjadi mu‘allaq. Jika ia dibunuh karena riddah (murtad), maka batal; namun jika ia kembali kepada Islam, maka menjadi sah. Adapun mengenai penjualannya dan kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap), para sahabat kami berbeda pendapat tentang penangguhannya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بَاطِلَةٌ لِأَنَّهَا عُقُودُ مُعَاوَضَاتٍ لَا يَصِحُّ عَقْدُهَا عَلَى الْوَقْفِ

Salah satunya batal karena merupakan akad mu‘āwaḍāt yang tidak sah dilakukan atas waqf.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي صَحِيحَةٌ لِأَنَّهَا مَوْقُوفَةٌ عَلَى الْفَسْخِ دُونَ الْإِمْضَاءِ كَوَقْفِهَا فِي مُدَّةِ الْخِيَارِ

Pendapat kedua adalah benar karena akad tersebut bergantung pada pembatalan, bukan pada pengesahan, sebagaimana penangguhan akad selama masa khiyār.

وَأَمَّا نَفَقَةُ الْأَوْلَادِ وَأُرُوشُ الْجِنَايَاتِ فَتَنُصُّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ وَلَا تُوقَفُ وَجْهًا وَاحِدًا فِي النَّفَقَةِ وَعَلَى احْتِمَالٍ فِي أَرْشِ الْجِنَايَةِ لِوُجُودِ الْأَرْشِ بِفِعْلِهِ وَوُجُوبِ النَّفَقَةِ بِغَيْرِ فِعْلِهِ

Adapun nafkah anak-anak dan diyat jinayah, maka pendapat ini secara tegas berlaku atas keduanya, dan tidak ditangguhkan dalam hal nafkah menurut satu pendapat, serta menurut kemungkinan dalam diyat jinayah, karena diyat itu ada akibat perbuatannya, sedangkan kewajiban nafkah bukan karena perbuatannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ مَتَى قَدِمَ فُلَانٌ فَأَنْتَ حُرٌّ فَقَدِمَ وَالسَّيِّدُ صَحِيحٌ أَوْ مَرِيضٌ عَتَقَ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Apabila si Fulan datang, maka engkau merdeka,” lalu si Fulan datang sementara tuannya dalam keadaan sehat atau sakit, maka budak tersebut merdeka dan pembebasannya diambil dari harta pokok (ra’s al-māl) tuannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ أَوْ مُدَبَّرهِ إِذَا قَدِمَ زِيدٌ فَأَنْتَ حُرٌ أَوْ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ كُلُّ ذَلِكَ عِتْقٌ بِصِفَةٍ فَيَسْتَوِي فِيهِ الْمُدَبَّر وَالْعَبْدُ الْقِنُّ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, apabila seorang tuan berkata kepada budaknya atau budak mudabbar-nya: ‘Jika Zaid datang, maka kamu merdeka,’ atau ‘Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu merdeka.’ Semua itu merupakan pembebasan budak dengan syarat tertentu, sehingga dalam hal ini sama saja antara budak mudabbar dan budak biasa (al-‘abd al-qinn).”

وَلَا يَخْلُو السَّيِّدُ فِي عَقْدِ الْعِتْقِ بِهَذِهِ الصِّفَةِ مِنْ حَالَتَيْنِ

Tidak lepas bagi seorang tuan dalam akad pembebasan budak dengan sifat seperti ini dari dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَعْقِدَهَا فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَإِذَا قَدِمَ زَيْدٌ أَوْ دَخَلَ الدَّارَ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ عَتَقَ الْعَبْدُ مِنَ الثُّلُثِ لِأَنَّهُ لَوْ عَجَّلَ عِتْقَهُ وَقْتَ عَقْدِهِ كَانَ مِنَ الثُّلُثِ فَكَانَ تَعْلِيقُهُ بِالصِّفَةِ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الثُّلُثِ وَإِنْ قَدِمَ زَيْدٌ أَوْ دَخَلَ الْعَبْدُ الدَّارَ بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ يُعْتَقَ الْعَبْدُ بِالصِّفَةِ لِأَنَّهَا مَعْقُودَةٌ عَلَى حَيَاةِ السَّيِّدِ فَلَمْ يُعْتَقْ بَعْدَ مَوْتِهِ كَمَا لَوْ قَالَ لِزَوْجَتِهِ إِنْ قَدِمَ فُلَانٌ فَأَنْتِ طَالِقٌ ثَلَاثًا فَقَدِمَ بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ تُطَلَّقْ فَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ مُدَبَّرا عَتَقَ بِمَوْتِ السَّيِّدِ عَنْ تَدْبِيرِهِ وَإِنْ كَانَ قِنًّا رَقَّ لِوَرَثَتِهِ

Salah satunya adalah jika ia mengadakan akad (pembebasan) pada saat sakit yang mengantarkannya kepada kematian. Maka, jika Zaid datang atau budak itu masuk ke rumah pada saat tuannya masih hidup, budak tersebut merdeka dari sepertiga harta, karena jika pembebasan itu disegerakan pada saat akad, maka ia juga berasal dari sepertiga harta. Maka, menggantungkan pembebasan itu pada suatu sifat (syarat) lebih utama untuk dianggap dari sepertiga harta. Namun, jika Zaid datang atau budak itu masuk ke rumah setelah tuannya wafat, maka budak tersebut tidak merdeka karena syarat tersebut, karena syarat itu bergantung pada kehidupan tuan, sehingga ia tidak merdeka setelah kematiannya, sebagaimana jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak tiga,” lalu si Fulan datang setelah ia wafat, maka istrinya tidak tertalak. Jika budak itu adalah mudabbar, maka ia merdeka karena kematian tuannya berdasarkan tadbir-nya. Namun, jika ia adalah budak murni (qinn), maka ia menjadi milik ahli waris tuannya.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْقِدَ الْعِتْقَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فِي حَالِ صِحَّتِهِ فَمَتَى قَدِمَ زَيْدٌ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ عَتَقَ مِنْ صُلْبِ مَالِهِ لَا مِنْ ثُلُثِهِ لِأَمْرَيْنِ

Keadaan kedua adalah apabila seseorang mengadakan akad pembebasan budak dengan sifat seperti ini pada saat ia sehat. Maka kapan saja Zaid datang ketika tuannya masih hidup, ia merdeka dari seluruh hartanya, bukan dari sepertiganya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَوْ عَجَّلَ عِتْقَهُ فِي حَالِ عِتْقِهِ كَانَ مِنْ صُلْبِ مَالِهِ فَكَذَلِكَ تَعْلِيقُهُ بِالصِّفَةِ

Salah satunya adalah bahwa jika ia mempercepat pembebasan budaknya pada saat ia membebaskannya, maka itu berasal dari harta pokoknya; demikian pula halnya jika ia menggantungkan pembebasan itu pada suatu sifat.

وَالثَّانِي أَنَّ حُكْمَ الْعِتْقِ بِالْعَقْدِ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ الْعَقْدِ وَلَا يُعْتَبَرُ بِحَالِ الصِّفَةِ أَلَا تَرَاهُ لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ فِي صِحَّةِ عَقْلِهِ إِذَا قَدِمَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ فَقَدِمَ زَيْدٌ وَقَدْ جُنَّ السَّيِّدُ عَتَقَ وَلَوْ قَالَهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ ثُمَّ قَدِمَ زَيْدٌ بَعْدَ إِفَاقَتِهِ لَمْ يُعْتَقْ وَمِثْلُهُ فِي عَقْدِ الطَّلَاقِ بِالصِّفَةِ

Kedua, bahwa hukum pembebasan budak melalui akad ditentukan berdasarkan keadaan saat akad dilakukan, dan tidak ditentukan berdasarkan keadaan sifat (yang disyaratkan). Tidakkah engkau melihat, jika seseorang berkata kepada budaknya saat ia sehat akalnya, “Jika Zaid datang, maka engkau merdeka,” lalu Zaid datang sementara tuannya telah gila, maka budak itu menjadi merdeka. Namun jika ia mengucapkannya saat dalam keadaan gila, kemudian Zaid datang setelah ia sadar, maka budak itu tidak menjadi merdeka. Demikian pula halnya dalam akad talak yang dikaitkan dengan suatu sifat.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ وَهَبَ فِي صِحَّتِهِ وَأَقْبَضَ فِي مَرَضِهِ أَوْ حَابَى فِي صِحَّتِهِ فِي عَقْدِ بَيْعٍ بِشَرْطِ خِيَارٍ مَاتَ فِي تَضَاعِيفِهِ كَانَتِ الْهِبَةُ وَالْمُحَابَاةُ مُعْتَبَرَتَيْنِ مِنْ ثُلُثِهِ وَإِنْ كَانَ الْعَقْدُ فِي الصِّحَّةِ لِوُجُودِ الِالْتِزَامِ فِي الْمَرَضِ فَهَلَّا كَانَ كَذَلِكَ فِي عِتْقِهِ بِالصِّفَةِ

Jika dikatakan: Bukankah jika seseorang memberikan hibah saat sehat lalu menyerahkan barangnya saat sakit, atau melakukan muhabāh (penjualan dengan harga di bawah nilai pasar) saat sehat dalam akad jual beli dengan syarat khiyār, lalu ia meninggal di tengah masa khiyār, maka hibah dan muhabāh itu dihitung dari sepertiga hartanya, meskipun akadnya dilakukan saat sehat, karena adanya komitmen pada masa sakit? Lalu, mengapa tidak berlaku demikian pula pada pembebasan budak dengan syarat (pembebasan bersyarat)?

قِيلَ يَفْتَرِقَانِ وَلَا تَلْزَمُ التَّسْوِيَةُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ عَقْدَ الْهِبَةِ وَبَيْعَ الْمُحَابَاةِ قَدْ كَانَ فِيهِمَا قَادِرًا عَلَى إِبْطَالِهِمَا فِي مَرَضِهِ فَأُجْرِيَ عَلَيْهِمَا حُكْمُ الْمَرَضِ حِينَ الْتَزَمَهُمَا فِيهِ فَاعْتُبِرَا مِنْ ثُلُثِهِ وَعَقْدُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ لَازِمٌ فِي الصِّحَّةِ لَا يَقْدِرُ عَلَى فَسْخِهِ فِي حَالِ الْمَرَضِ فَأُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الصِّفَةِ فِي اعْتِبَارِهِ مِنْ صُلْبِ مَالِهِ وَلَوْ عَلَّقَهُ فِي الصِّحَّةِ بِمَا يَقْدِرُ عَلَى إِبْطَالِ حُكْمِهِ فِي الْمَرَضِ كَقَوْلِهِ فِي صِحَّتِهِ لِعَبْدِهِ إِنْ دَخَلْتُ أَنَا الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَدَخَلَهَا فِي مَرَضِهِ عَتَقَ مِنْ ثُلُثِهِ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى الِامْتِنَاعِ مِنْ دُخُولِهَا فِي مَرَضِهِ فَصَارَ بِدُخُولِهَا مُتَّهَمًا فِي حُقُوقِ وَرَثَتِهِ فَصَارَ الْعِتْقُ مِنْ ثُلُثِهِ وَهَكَذَا لَوْ قَالَ فِي صِحَّتِهِ إِنْ قَدِمَ زَيْدٌ فِي مَرَضِي فَعَبْدِي حُرٌّ فَإِذَا قَدِمَ فِي مَرَضِهِ عَتَقَ مِنْ ثُلُثِهِ لِأَنَّهُ قَدْ عَقَدَهُ بِمَا صَارَ بِهِ متهما في حقوق الورثة

Dikatakan bahwa keduanya berbeda dan tidak wajib disamakan antara keduanya, karena akad hibah dan jual beli muhabāh (jual beli dengan harga murah demi kebaikan) pada keduanya, seseorang masih mampu membatalkannya saat sakit, sehingga diberlakukan hukum sakit atas keduanya ketika ia berkomitmen terhadapnya dalam keadaan sakit, maka keduanya dihitung dari sepertiga hartanya. Adapun akad pembebasan budak dengan sifat (syarat) adalah bersifat mengikat dalam keadaan sehat, sehingga ia tidak mampu membatalkannya saat sakit, maka diberlakukan hukum sifat dalam hal ini, yaitu dihitung dari harta pokoknya. Namun, jika ia menggantungkan (akad pembebasan budak) dalam keadaan sehat dengan sesuatu yang ia mampu membatalkan hukumnya saat sakit, seperti ucapannya dalam keadaan sehat kepada budaknya, “Jika aku masuk ke rumah, maka engkau merdeka,” lalu ia masuk ke rumah itu saat sakit, maka budak itu merdeka dari sepertiga hartanya, karena ia mampu menahan diri untuk tidak masuk ke rumah itu saat sakit, sehingga dengan masuknya ia ke rumah itu, ia dianggap dicurigai dalam hak-hak para ahli warisnya, maka pembebasan budak itu berasal dari sepertiga hartanya. Demikian pula jika ia berkata dalam keadaan sehat, “Jika Zaid datang saat aku sakit, maka budakku merdeka,” lalu Zaid datang saat ia sakit, maka budak itu merdeka dari sepertiga hartanya, karena ia telah mengaitkannya dengan sesuatu yang menjadikannya dicurigai dalam hak-hak para ahli waris.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَجِنَايَةُ الْمُدَبَّر جِنَايَةُ عَبْدٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tindak pidana (jināyah) yang dilakukan oleh budak mudabbar adalah seperti tindak pidana yang dilakukan oleh seorang budak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا قَدْ مَضَى وَذَكَرْنَا أَنَّهَا فِي رَقَبَتِهِ وَأَنَّ السَّيِّدَ غَيْرُ مَأْخُوذٍ بِفِدَائِهِ منهما بِخِلَافِ أُمِّ الْوَلَدِ وَخَالَفَ أَبُو حَنِيفَةَ فِيهِ وَأَخَذَ السَّيِّدُ بِفِدَائِهِ مِنْهَا كَأُمِّ الْوَلَدِ وَالْخِلَافُ فِيهِ فَرْعٌ عَلَى جَوَازِ بَيْعِهِ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ فِيهِ وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى نَفْسٍ أَوْ طَرَفٍ أَوْ مَالٍ فَإِنْ جَمَعَ السَّيِّدُ فِي عَبْدٍ بَيْنَ التَّدْبِيرِ وَالْكِتَابَةِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini telah berlalu dan kami telah menyebutkan bahwa tanggung jawab itu ada pada lehernya (budak), dan bahwa tuan tidak dibebani membayar diyat (tebusan) darinya, berbeda dengan umm al-walad. Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini, dan ia mewajibkan tuan membayar diyat darinya sebagaimana pada umm al-walad. Perselisihan dalam hal ini merupakan cabang dari kebolehan menjualnya, dan pembahasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya. Baik kejahatan itu mengenai jiwa, anggota tubuh, maupun harta, hukumnya sama saja. Jika tuan menggabungkan pada seorang budak antara tadbir dan kitābah, maka ada dua keadaan.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يُدَبِّرَ مُكَاتَبَهَ

Salah satunya adalah seseorang mengatur (menetapkan perjanjian) mukātab-nya.

وَالثَّانِي أَنْ يُكَاتِبَ مُدَبَّرهُ

Kedua, yaitu apabila seseorang melakukan mukātabah terhadap budaknya yang berstatus mudabbir.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يُدَبِّرَ مُكَاتَبَهُ فَالتَّدْبِيرُ بَعْدَ الْكِتَابَةِ جَائِزٌ وَحُكْمُهَا فِيهِ ثَابِتٌ فَيَسْتَفِيدُ بِهِمَا تَعْجِيلُ عِتْقِهِ بِأَسْبَقِهِمَا وَإِنْ كَانَ الْمُكَاتَبُ كَالْخَارِجِ عَنْ مِلْكِهِ فِي بَعْضِ الْأَحْكَامِ فَلَيْسَ بِخَارِجٍ عَنْ مِلْكِهِ فِي جَمِيعِهَا وَلَا تَمْنَعُ الْكِتَابَةُ مِنْ عِتْقِهِ بِالْمُبَاشَرَةِ فَلَمْ تَمْنَعْ مِنْ تَدْبِيرٍه وَمِنْ تَعْلِيقِ عِتْقِهِ بِصِفَةٍ وَتَكُونُ جِنَايَتُهُ جِنَايَةَ الْمُكَاتَبِ دُونَ الْمُدَبَّر لِأَنَّهَا أَغْلَظُ حَالَيْهِ فَإِنْ تَعَجَّلَ أَدَاؤُهُ فِي الْكِتَابَةِ عَتَقَ بِهَا وَبَطَلَ حُكْمُ التَّدْبِيرِ وَإِنْ تَعَجَّلَ مَوْتُ السَّيِّدِ عَتَقَ بِالتَّدْبِيرِ وَبَطَلَ حُكْمُ الْكِتَابَةِ فَإِنْ لَمْ يَخْرُجِ الْمُدَبَّر مِنْ ثُلُثِهِ عَتَقَ مِنْهُ بِالتَّدْبِيرِ قَدْرُ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَبَرِئَ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهُ وَكَانَ بَاقِيهِ عَلَى الْكِتَابَةِ إِذَا أَدَّاهُ إِلَى الْوَرَثَةِ عَتَقَ بِهِ وَكَمُلَ عِتْقُهُ بِالتَّدْبِيرِ وَالْكِتَابَةِ

Adapun jenis pertama, yaitu seseorang mentadbir (menetapkan kemerdekaan setelah wafat) terhadap mukatabnya, maka tadbir setelah penulisan akad mukatab diperbolehkan dan hukumnya tetap berlaku padanya. Dengan demikian, ia memperoleh manfaat dari keduanya berupa percepatan kemerdekaan mukatab dengan mana yang lebih dahulu terjadi di antara keduanya. Meskipun mukatab dalam beberapa hukum dianggap seperti telah keluar dari kepemilikannya, namun tidak seluruhnya keluar dari kepemilikannya, dan akad mukatab tidak menghalangi kemerdekaannya secara langsung, maka tidak pula menghalangi penetapan tadbir atasnya dan pengaitan kemerdekaannya dengan suatu sifat. Kejahatan yang dilakukannya dihukumi sebagai kejahatan mukatab, bukan mudabbar, karena itu adalah keadaan yang lebih berat baginya. Jika pelunasan akad mukatab disegerakan, maka ia merdeka karenanya dan hukum tadbir menjadi batal. Jika kematian tuan disegerakan, maka ia merdeka karena tadbir dan hukum akad mukatab menjadi batal. Jika mudabbar tidak mencukupi sepertiga harta, maka ia merdeka dari tadbir sebesar yang tertampung oleh sepertiga harta, dan ia terbebas dari kewajiban pembayaran akad mukatab sebesar bagian yang telah merdeka darinya, sedangkan sisanya tetap atas akad mukatab; jika ia melunasinya kepada para ahli waris, maka ia merdeka karenanya dan sempurnalah kemerdekaannya dengan tadbir dan akad mukatab.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يُكَاتِبَ مُدَبَّرهُ فَيُقَدِّمَ تَدْبِيرَهُ ثُمَّ يُكَاتِبُهُ فَالتَّدْبِيرُ لَا يَمْنَعُ مِنَ الْكِتَابَةِ كَمَا لَا تَمْنَعُ الْكِتَابَةُ مِنَ التدبير لما في اجتماعها مِنْ تَعْجِيلِ الْعِتْقِ بِأَسْبَقِهِمَا فَكَانَ أَحْظَى لِلْعَبْدِ مِنَ انْفِرَادِ أَحَدِهِمَا

Adapun jenis kedua, yaitu seseorang memerdekakan budaknya secara tadbir, lalu setelah itu ia melakukan mukatabah terhadapnya, maka tadbir tidak menghalangi mukatabah, sebagaimana mukatabah juga tidak menghalangi tadbir. Karena jika keduanya berkumpul, hal itu mempercepat terjadinya pembebasan (ʿitq) dengan mana saja yang lebih dahulu di antara keduanya, sehingga hal ini lebih menguntungkan bagi budak dibandingkan jika hanya salah satu dari keduanya saja.

وَإِذَا أَصَحَّ بِهَذَا التَّعْلِيلِ كِتَابَةَ الْمُدَبَّر فَإِنْ جَعَلَ التَّدْبِيرَ فِي حُكْمِ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ لَمْ يَبْطُلْ بِالْكِتَابَةِ وَثَبَتَ حُكْمُهُمَا فِيهِ فَإِنْ أَدَّى مَالَ الْكِتَابَةِ قَبْلَ مَوْتِ سَيِّدِهِ عَتَقَ بِالْكِتَابَةِ وَبَطَلَ التَّدْبِيرُ وَإِنْ مَاتَ السَّيِّدُ قَبْلَ أَدَاءِ مَالِ الْكِتَابَةِ عَتَقَ بِالتَّدْبِيرِ وَبَرِئَ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَإِنْ جَعَلَ التَّدْبِيرَ فِي حُكْمِ الْوَصَايَا

Apabila penetapan hukum ini didasarkan pada alasan tersebut, maka penulisan (akad) mukatab bagi budak mudabbar, jika status tadbir (pembebasan bersyarat setelah tuan wafat) diposisikan sebagai hukum ‘itq biṣ-ṣifah (pembebasan bersyarat), maka akad mukatab tidak batal karenanya dan kedua hukumnya tetap berlaku pada budak tersebut. Jika budak tersebut membayar uang mukatab sebelum tuannya wafat, maka ia merdeka karena akad mukatab dan status tadbir menjadi batal. Namun jika tuannya wafat sebelum budak tersebut membayar uang mukatab, maka ia merdeka karena tadbir dan terbebas dari kewajiban membayar uang mukatab. Jika status tadbir diposisikan sebagai hukum wasiat…

قَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي يَبْطُلُ التَّدْبِيرُ بِالْكِتَابَةِ وَيَصِيرُ مُكَاتَبًا غَيْرَ مُدَبَّر وَهَذَا لَيْسَ عِنْدِي بِصَحِيحٍ بَلْ يَكُونُ تَدْبِيرُهُ بَعْدَ الْكِتَابَةِ بَاقِيًا وَإِنْ أُجْرِيَ مَجْرَى الْوَصَايَا وَلَا تَكُونُ الْكِتَابَةُ رُجُوعًا فِيهِ لِأَنَّ الرُّجُوعَ إِبْطَالٌ لِلْعِتْقِ وَالْكِتَابَةَ مُفْضِيَةٌ إِلَى الْعِتْقِ فَنَاسَبَتِ التَّدْبِيرَ وَلَمْ تُضَادَّهُ وَتَكُونُ جِنَايَتُهُ بَعْدَ الْكِتَابَةِ جناية مكاتب

Abu Hamid al-Isfara’ini berkata, “Tadbir batal dengan adanya kitabah, dan ia menjadi mukatab yang bukan mudabbar.” Namun menurutku, hal ini tidaklah benar. Bahkan, status tadbirnya setelah kitabah tetap berlaku, meskipun diperlakukan seperti wasiat. Kitabah tidak dianggap sebagai penarikan kembali (ruju‘) terhadap tadbir, karena ruju‘ berarti membatalkan pembebasan (’itq), sedangkan kitabah justru mengantarkan kepada pembebasan. Maka, kitabah sesuai dengan tadbir dan tidak bertentangan dengannya. Adapun jika ia melakukan jinayah setelah kitabah, maka jinayahnya dihukumi sebagai jinayah seorang mukatab.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَجُوزُ عَلَى التَّدْبِيرِ إِذَا جَحَدَ السَّيِّدُ إلا عدلان

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Tidak sah (persaksian) atas masalah tadbīr apabila tuan (pemilik budak) mengingkarinya, kecuali dengan (kesaksian) dua orang laki-laki yang adil.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهُوَ كَمَا قَالَ وَلَيْسَ يَخْلُو جُحُودُ التَّدْبِيرِ إِذَا ادَّعَاهُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّيِّدِ أَوْ مَعَ وَارِثِهِ

Al-Mawardi berkata, “Memang sebagaimana yang ia katakan, dan pengingkaran terhadap akad tadbir apabila diakuinya oleh seorang budak tidak lepas dari kemungkinan bahwa pengingkaran itu terjadi pada tuannya atau pada ahli waris tuannya.”

فَإِنْ كَانَ الْجَاحِدُ لِلتَّدْبِيرِ هُوَ السَّيِّدَ فَالْمَجْحُودُ مُخْتَصٌّ بِعَقْدِ التَّدْبِيرِ مَعَ اتِّفَاقِهِمَا عَلَى بَقَاءِ الْوَقْتِ فَإِنْ أَرَادَ السَّيِّدُ بِجُحُودِهِ تَعْجِيلَ بَيْعِهِ لَمْ يَكُنْ لِجُحُودِهِ تَأْثِيرٌ تُسْمَعُ بِهِ بَيِّنَتُهُ أَوْ يُؤْخَذُ فِيهِ بِيَمِينٍ لِأَنَّ لَهُ إِبْطَالَ تَدْبِيرِهِ بِبَيْعِهِ وَإِنِ اعْتَرَفَ بِهِ فَلَمْ يَسْتَفِدِ الْعَبْدُ بِدَعْوَى التَّدْبِيرِ مَا يَمْنَعُ مِنَ الْبَيْعِ وَإِبْطَالِ التَّدْبِيرِ بِهِ وَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَبْقِيَهُ عَلَى مِلْكٍ سُمِعَتْ دَعْوَاهُ عَلَى السَّيِّدِ بِتَدْبِيرِهِ لِمَا يَسْتَفِيدُهُ مِنَ الْعِتْقِ بِمَوْتِهِ فَإِذَا جَحَدَ السَّيِّدُ تَدْبِيرَهُ كَانَ قَوْلُهُ فِي الْجُحُودِ مَقْبُولًا لِأَنَّهُ مُنْكِرٌ لِعَقْدٍ مُدَّعًى فَإِنْ جَعَلَ التَّدْبِيرَ جَارِيًا مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ لَمْ يَكُنْ جُحُودُ السَّيِّدِ رُجُوعًا فِيهِ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ الرُّجُوعُ فِيهِ بِالْقَوْلِ فَلَمْ يَصِحَّ الرُّجُوعُ فِيهِ بِالْجُحُودِ وَكُلِّفَ الْعَبْدُ الْبَيِّنَةَ وَبَيِّنَتُهُ شَاهِدَانِ عَدْلَانِ وَلَا يُسْمَعُ مِنْهُ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ وَإِنْ سِمِعَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَلَا شَاهِدٌ وَيَمِينٌ وَإِنْ سَمِعَهُ مَالِكٌ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ عَلَى عَقْدٍ تُفْضِي إِلَى الْعِتْقِ وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْعِتْقَ وَمَا أَفْضَى إِلَيْهِ لَا يُسْمَعُ فِيهِ إِلَّا عَدْلَانِ

Jika yang mengingkari tadbīr adalah tuan, maka objek yang diingkari itu khusus berkaitan dengan akad tadbīr, dengan kesepakatan keduanya bahwa waktu (tadbīr) masih berlaku. Jika tuan bermaksud dengan pengingkarannya untuk mempercepat penjualan (budak), maka pengingkarannya tidak berpengaruh; tidak dapat diterima kesaksiannya atau diambil sumpah dalam hal ini, karena ia memang berhak membatalkan tadbīr dengan menjualnya. Jika ia mengakuinya, maka budak tidak memperoleh manfaat dari pengakuan tadbīr yang dapat mencegah penjualan dan pembatalan tadbīr tersebut. Namun, jika ia ingin mempertahankan budak itu dalam kepemilikannya, maka klaim budak atas tadbīr terhadap tuannya didengar, karena ia dapat memperoleh kemerdekaan dengan kematian tuannya. Jika tuan mengingkari tadbīrnya, maka pengakuan tuan dalam pengingkaran itu diterima, karena ia mengingkari akad yang diklaim. Jika tadbīr diposisikan seperti ‘itq (pembebasan budak) dengan sifat tertentu, maka pengingkaran tuan tidak dianggap sebagai penarikan kembali, karena tidak sah menarik kembali dengan ucapan, maka tidak sah pula menarik kembali dengan pengingkaran. Budak dibebani untuk menghadirkan bukti, dan buktinya adalah dua orang saksi yang adil; tidak diterima satu saksi laki-laki dan dua perempuan, meskipun pendapat ini diterima oleh Abū Ḥanīfah, dan tidak diterima satu saksi dan sumpah, meskipun pendapat ini diterima oleh Mālik, karena ini adalah bukti atas akad yang berujung pada pembebasan budak. Menurut mazhab Syāfi‘ī, pembebasan budak dan segala sesuatu yang berujung padanya tidak dapat diterima kecuali dengan dua orang saksi yang adil.

فَإِذَا أَقَامَ الْبَيِّنَةَ حُكِمَ لَهُ بِالتَّدْبِيرِ وَإِنْ عَدِمَ الْبَيِّنَةَ كَانَ لَهُ إِحْلَافُ سَيِّدِهِ بِاللَّهِ مَا دَبَّرَهُ وَسَقَطَ حُكْمُ التدبير بيمنيه وَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْعَبْدِ فَإِنْ حَلَفَ ثَبَتَ تَدْبِيرُهُ وَإِنْ نَكَلَ بَطَلَ وَإِنْ جَعَلَ التَّدْبِيرَ جَارِيًا مَجْرَى الْوَصَايَا فِي جَوَازِ الرُّجُوعِ فِيهِ بِالْقَوْلِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَكُونُ جُحُودُهُ رُجُوعًا فِيهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Apabila ia dapat menghadirkan bukti, maka diputuskan baginya hak at-tadbīr. Namun jika tidak ada bukti, maka ia berhak meminta tuannya bersumpah dengan nama Allah bahwa ia tidak menetapkan at-tadbīr, dan gugurlah keputusan at-tadbīr dengan sumpahnya itu. Jika tuan menolak bersumpah, maka sumpah itu dialihkan kepada budak; jika budak bersumpah, maka tetaplah at-tadbīr baginya, dan jika ia menolak, maka batal. Jika at-tadbīr diposisikan seperti wasiat dalam hal boleh ditarik kembali dengan ucapan, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah pengingkaran terhadap at-tadbīr itu dianggap sebagai penarikan kembali atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ رُجُوعًا فِيهِ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الْمَقْصُودِ فَعَلَى هَذَا لَا تُسْمَعُ لِلْعَبْدِ بَيِّنَةٌ وَلَا تَجِبُ عَلَى السَّيِّدِ يَمِينٌ

Salah satunya adalah kembali (kepada asal) karena keduanya memiliki tujuan yang sama. Dengan demikian, tidak diterima kesaksian dari seorang budak, dan tidak wajib bagi tuan untuk bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَنْصُوصُ الشَّافِعِيِّ لَا يَكُونُ الْجَحُودُ رُجُوعًا وَالْبَيِّنَةُ عَلَيْهِ مَسْمُوعَةٌ وَالْيَمِينُ عَلَيْهِ وَاجِبَةٌ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i, adalah bahwa pengingkaran tidak dianggap sebagai pencabutan pengakuan, sehingga bukti (bayyinah) terhadapnya tetap dapat diterima dan sumpah tetap wajib atasnya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ ارْجِعْ فِي تَدْبِيرِهِ وَقَدْ سَقَطَ عَنْكَ الْيَمِينُ فَصَرَّحَ بِأَنَّ الْجُحُودَ لَيْسَ بِرُجُوعٍ لِأَنَّ جُحُودَ الشَّيْءِ لَا يَكُونُ رُجُوعًا عَنْهُ أَلَا تَرَى أَنَّ جُحُودَ الرِّدَّةِ لَا يَكُونُ رُجُوعًا إِلَى الْإِسْلَامِ وَجُحُودَ النِّكَاحِ لَا يَكُونُ إِيقَاعًا لِلطَّلَاقِ

Syafi‘i berkata: “Rujuklah dalam pengelolaannya, dan sungguh sumpah telah gugur darimu.” Maka beliau menegaskan bahwa pengingkaran bukanlah rujuk, karena mengingkari sesuatu tidaklah berarti kembali darinya. Tidakkah engkau melihat bahwa mengingkari riddah (kemurtadan) tidaklah berarti kembali kepada Islam, dan mengingkari pernikahan tidaklah berarti menjatuhkan talak?

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ كَانَ الْجَاحِدُ لِلتَّدْبِيرِ وَرَثَةَ السَّيِّدِ فَهَذَا اخْتِلَافٌ فِي حُرِّيَّتِهِ وَرِقِّهِ فَتُسْمَعُ دَعْوَاهُ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا سَوَاءٌ جُعِلَ الْجُحُودُ رُجُوعًا فِي حَقِّ السَّيِّدِ أَوْ لَمْ يُجْعَلْ لِأَنَّ الرُّجُوعَ فِي التَّدْبِيرِ بَعْدَ الْمَوْتِ بَاطِلٌ فَإِنْ كَانَ لِلْعَبْدِ بَيِّنَةٌ سُمِعَتْ عَلَى التَّدْبِيرِ لَا عَلَى الْعِتْقِ لِأَنَّ عِتْقَ التَّدْبِيرِ حُكْمٌ وَالْبَيِّنَةَ تُسْمَعُ عَلَى مَا أَوْجَبَ الْحُكْمَ لَا عَلَى الْحُكْمِ وَإِنْ عَدِمَ الْعَبْدُ الْبَيِّنَةَ أَحْلَفَ الْوَرَثَةَ وَكَانَ وَاجِبًا عَلَيْهِ أَنْ يُحْلِفَهُمْ لِئَلَّا يُسْتَرَقَّ بَعْدَ عِتْقٍ فَإِنْ حَلَفَ الْوَرَثَةُ كانت يمينهم على العلم دون البت لأنه يَمِينُ نَفْيٍ لِفِعْلِ غَيْرِهِمْ وَكَانُوا فِي أَيْمَانِهِمْ مُخَيَّرِينَ بَيْنَ أَنْ يَحْلِفُوا عَلَى نَفْيِ التَّدْبِيرِ وَبَيْنَ أَنْ يَحْلِفُوا عَلَى نَفْيِ الْعِتْقِ بِخِلَافِ الْبَيِّنَةِ الَّتِي لَا تُسْمَعُ إِلَّا عَلَى التَّدْبِيرِ دُونَ الْعِتْقِ لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ تُؤَدِّي مَا تَضَمَّنَتْ وَهُوَ الْعَقْدُ وَالْيَمِينُ فِيمَا تَضَمَّنَتْهُ الدَّعْوَى وَهُوَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْعَقْدِ وَالْعِتْقِ فَصَارَ جُحُودُ الْعِتْقِ جُحُودًا لِلْعَقْدِ وَجُحُودُ الْعَقْدِ جُحُودًا لِلْعِتْقِ فَلِذَلِكَ كَانَ الْوَرَثَةُ فِي الْيَمِينِ مُخَيَّرِينَ فِي نَفْيِ أَحَدِهِمَا أَيِّهِمَا أَرَادُوا فَإِنْ حَلَفُوا عَلَى نَفْيِ التَّدْبِيرِ حَلَفُوا وَاللَّهِ لَا نَعْلَمُ أَنَّهُ دَبَّرَكَ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقُولُوا فِي الْيَمِينِ وَإِنَّكَ لِبَاقٍ عَلَى الرِّقِّ لِأَنَّ نَفْيَ التَّدْبِيرِ يُوجِبُ بَقَاءَهُ عَلَى الرِّقِّ بِأَصْلِ الْمِلْكِ

Jika yang mengingkari tadbīr adalah para ahli waris tuan, maka ini merupakan perbedaan pendapat mengenai status kebebasan atau perbudakannya. Maka, gugatan (budak) didengar dalam seluruh keadaan, baik pengingkaran itu dianggap sebagai penarikan kembali hak tuan atau tidak, karena penarikan kembali tadbīr setelah kematian adalah batal. Jika budak memiliki bukti, maka bukti itu didengar untuk tadbīr, bukan untuk ‘itq (pembebasan), karena pembebasan melalui tadbīr adalah sebuah hukum, dan bukti hanya didengar atas sesuatu yang mewajibkan hukum, bukan atas hukum itu sendiri. Jika budak tidak memiliki bukti, maka para ahli waris diminta bersumpah, dan wajib baginya untuk meminta mereka bersumpah agar budak tidak diperbudak kembali setelah dimerdekakan. Jika para ahli waris bersumpah, maka sumpah mereka atas dasar pengetahuan, bukan secara pasti, karena sumpah itu adalah sumpah penafian terhadap perbuatan orang lain. Dalam sumpah mereka, para ahli waris diberi pilihan antara bersumpah menafikan tadbīr atau menafikan ‘itq, berbeda dengan bukti yang hanya didengar atas tadbīr, bukan atas ‘itq, karena bukti hanya menyampaikan apa yang dikandungnya, yaitu akad, sedangkan sumpah sesuai dengan apa yang dikandung gugatan, yaitu baik akad maupun ‘itq. Maka, pengingkaran terhadap ‘itq berarti juga pengingkaran terhadap akad, dan pengingkaran terhadap akad berarti juga pengingkaran terhadap ‘itq. Oleh karena itu, para ahli waris dalam sumpah diberi pilihan untuk menafikan salah satu dari keduanya, mana saja yang mereka kehendaki. Jika mereka bersumpah menafikan tadbīr, mereka bersumpah: “Demi Allah, kami tidak mengetahui bahwa tuanmu telah mentadbīrkanmu,” dan mereka tidak wajib mengucapkan dalam sumpahnya, “Dan sesungguhnya engkau tetap dalam status budak,” karena penafian tadbīr mengharuskan tetapnya status budak berdasarkan asal kepemilikan.

وَإِنْ حَلَفُوا عَلَى نَفْيِ الْعِتْقِ حَلَفُوا وَاللَّهِ لَا نَعْلَمُ أَنَّكَ عَتَقْتَ وَهَلْ يَلْزَمُهُمْ أَنْ يَقُولُوا فِي هَذِهِ الْيَمِينِ وَإِنَّكَ لِبَاقٍ عَلَى الرِّقِّ فِيهِ وَجْهَانِ

Jika mereka bersumpah untuk menafikan adanya pembebasan budak, maka mereka bersumpah dengan ucapan: “Demi Allah, kami tidak mengetahui bahwa engkau telah membebaskan (budak).” Apakah mereka wajib mengucapkan dalam sumpah ini: “Dan sesungguhnya engkau masih tetap dalam status budak”? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَلْزَمُ كَمَا لَا يَلْزَمُ إِذَا حَلَفُوا عَلَى نَفْيِ التَّدْبِيرِ

Salah satunya tidak wajib, sebagaimana tidak wajib jika mereka bersumpah untuk menafikan tadbīr.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَلْزَمُ أَنْ يَقُولُوا هَذَا فِي نَفْيِ الْعِتْقِ وَإِنْ لَمْ يَلْزَمْ أَنْ يَقُولُوهُ فِي نَفْيِ التَّدْبِيرِ

Pendapat kedua mengharuskan mereka untuk mengatakan hal ini dalam menafikan ‘itq, meskipun tidak wajib bagi mereka untuk mengatakannya dalam menafikan tadbīr.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ التَّدْبِيرَ صَرِيحُ الدَّعْوَى فَجَازَ الِاقْتِصَارُ عَلَى نَفْيِهِ وَالْعِتْقَ حُكْمُ الدَّعْوَى فِي حَقِّ الْعَبْدِ وَالرِّقَّ حُكْمُ الْإِنْكَارِ فِي حَقِّ الْوَرَثَةِ فَلَزِمَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ نَفْيًا وَإِثْبَاتًا فَإِنْ حَلَفُوا عَلَى مَا وَصَفْنَاهُ كَانَ الْعَبْدُ عَلَى رِقِّهِ مَوْرُوثًا وَإِنْ نَكَلُوا رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى الْعَبْدِ فَإِنْ حَلَفَ عَتَقَ بِالتَّدْبِيرِ وَإِنْ نَكَلَ كَانَ عَلَى رِقِّهِ مَوْرُوثًا وَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَحْلِفَ إِذَا علم أن فِيمَا ادَّعَاهُ صَادِقٌ وَإِنْ لَمْ يُؤْخَذْ بِهَا جَبْرًا لِيَفُكَّ رَقَبَتَهُ مِنْ رِقٍّ بَعْدَ عِتْقٍ والله أعلم

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa tadbīr merupakan pernyataan klaim yang jelas, sehingga cukup dengan menafikannya saja. Sedangkan ‘itq (pembebasan budak) adalah hukum klaim bagi budak, dan riqq (status perbudakan) adalah hukum penolakan bagi para ahli waris, sehingga harus menggabungkan kedua hal tersebut, yaitu penafian dan penetapan. Jika para ahli waris bersumpah sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka budak tersebut tetap dalam status perbudakannya dan menjadi harta warisan. Namun jika mereka enggan bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada budak. Jika budak bersumpah, maka ia merdeka karena tadbīr, dan jika ia enggan bersumpah, maka ia tetap dalam status perbudakannya dan menjadi harta warisan. Wajib baginya untuk bersumpah jika ia mengetahui bahwa apa yang ia klaim itu benar, meskipun tidak dipaksa untuk melakukannya, agar ia dapat membebaskan dirinya dari perbudakan setelah kemerdekaan. Dan Allah Maha Mengetahui.

بَابُ وَطْءِ الْمُدَبَّرةِ وَحُكْمُ وَلَدِهَا

Bab Jima’ dengan Budak Perempuan Mudabbirah dan Hukum Anak yang Dilahirkannya

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَيَطَأُ السَّيِّدُ مُدَبَّرتَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang tuan boleh menggauli budak perempuan mudabbar-nya.”

وَهَذَا صَحِيحٌ يَجُوزُ لِسَيِّدِ الْمُدَبَّرةِ أَنْ يَطَأَهَا لِمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ دَبَّرَ جَارِيَتَيْنِ لَهُ فَكَانَ يَطَؤُهُمَا وَهُمَا مُدَبَّرتَانِ وَلِأَنَّ أَحْكَامَ الرِّقِّ عَلَى الْمُدَبَّرةِ جَارِيَةٌ فَجَرَى عَلَيْهَا فِي حُكْمِ الِاسْتِمْتَاعِ مَجْرَى الرِّقِّ

Ini benar, diperbolehkan bagi tuan dari budak mudabbirah untuk menggaulinya, berdasarkan riwayat yang disampaikan oleh asy-Syafi‘i dari Malik dari Nafi‘ dari Ibnu Umar bahwa ia pernah memerdekakan dua budak perempuannya secara mudabbir, namun ia tetap menggauli keduanya sementara keduanya masih berstatus mudabbirah. Hal ini karena hukum-hukum perbudakan tetap berlaku atas budak mudabbirah, sehingga dalam hal pemanfaatan (hubungan suami istri) pun berlaku hukum perbudakan atasnya.

وَلِأَنَّهُ مَالِكٌ لِمَنَافِعِهَا وَالِاسْتِمْتَاعُ مِنْ مَنَافِعِهَا كَالِاسْتِخْدَامِ وَلِأَنَّ سَبَبَ الْعِتْقِ فِي أُمِّ الْوَلَدِ أَقْوَى مِنْهُ فِي الْمُدَبَّرةِ وَلَمْ يَمْنَعِ الْإِيلَادُ مِنَ الِاسْتِمْتَاعِ فكان التدبير أولى

Karena ia adalah pemilik manfaatnya, dan menikmati (istri budak) termasuk bagian dari manfaatnya seperti halnya menggunakan (tenaga budak). Selain itu, sebab ‘itq (pembebasan) pada umm al-walad lebih kuat dibandingkan pada budak mudabbirah, namun kelahiran tidak menghalangi untuk menikmati (istri budak), maka mudabbir lebih utama (untuk dinikmati).

فإن قيل فهلا كان كَالْمُكَاتَبَةِ فِي مَنْعِهِ مِنَ الِاسْتِمْتَاعِ بِهَا قِيلَ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan, “Mengapa tidak disamakan dengan al-mukātabah dalam hal larangan menikmati dirinya?” Maka dijawab, “Karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمُكَاتَبَةَ قَدْ مَلَكَتْ مَنَافِعَهَا فَلَمْ يُمْلَكْ عَلَيْهَا الِاسْتِمْتَاعُ بِهَا وَالْمُدَبَّرةُ بِخِلَافِهَا فِي الْمَنَافِعِ فَكَانَتْ بِخِلَافِهَا فِي الِاسْتِمْتَاعِ

Salah satu alasannya adalah bahwa seorang mukātabah telah memiliki manfaat dirinya sendiri sehingga tidak boleh dimiliki atasnya kenikmatan (istimtā‘), sedangkan mudabbirah berbeda dalam hal manfaat, maka demikian pula berbeda dalam hal kenikmatan (istimtā‘).

وَالثَّانِي أَنَّ الْمُكَاتَبَةَ فِي حُكْمِ الْخَارِجَةِ عَنْ مِلْكِهِ لِأَنَّهَا تَمْلِكُ أَرْشَ من جَنَى عَلَيْهَا وَالْمُدَبَّرةُ بَاقِيَةٌ عَلَى مِلْكِهِ لِأَنَّهُ الْمَالِكَ لِأَرْشِ الْجِنَايَةِ عَلَيْهَا فَلِهَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ مَا افْتَرَقَا فَجَازَ اسْتِمْتَاعُهُ بِالْمُدَبَّرةِ وَلَمْ يَجُزِ اسْتِمْتَاعُهُ بِالْمُكَاتَبَةِ

Yang kedua, bahwa mukātabah (budak yang sedang dalam proses menebus dirinya) dalam hukum dianggap keluar dari kepemilikannya, karena ia memiliki hak atas diyat (ganti rugi) jika ada yang melakukan kejahatan terhadapnya. Sedangkan mudabbirah (budak yang dijanjikan merdeka setelah tuannya wafat) tetap berada dalam kepemilikannya, karena tuannya berhak atas diyat jika terjadi kejahatan terhadapnya. Karena dua makna inilah keduanya berbeda: maka boleh bagi tuan menikmati mudabbirah, tetapi tidak boleh menikmati mukātabah.

فَإِذَا صَحَّ جَوَازُ اسْتِمْتَاعِهِ بِالْمُدَبَّرةِ لَمْ يكن وطؤه رجوعاً في التدبير لأنه مقو بِسَبَبِ الْعِتْقِ إِنْ أَوْلَدَ فَلَمْ يُنَافِهِ فَإِنْ أَوْلَدَهَا صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ يَلْزَمُ عِتْقُهَا بِمَوْتِهِ مِنْ صُلْبِ مَالِهِ بَعْدَ أَنْ كَانَ مِنْ ثُلُثِهِ وَبُطْلَانُ بَيْعِهَا بَعْدَ أَنْ كَانَ لَهُ بَيْعُهَا قَالَ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِي وَقَدْ بَطَلَ التَّدْبِيرُ بِالْإِيلَادِ وَلَيْسَ هَذَا بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ قَدْ طَرَأَ عَلَى التَّدْبِيرِ مَا هُوَ أَغْلَظُ فَصَارَ دَاخِلًا فِيهِ وَغَيْرَ مُبْطِلٍ لَهُ كَطُرُوءِ الْجِنَايَةِ عَلَى الْحَدَثِ يَدْخُلُ فِيهَا وَلَا يَرْتَفِعُ بِهَا

Apabila telah sah kebolehan menikmati budak perempuan yang berstatus mudabbirah, maka persetubuhannya tidak dianggap sebagai penarikan kembali dari status tadbir, karena persetubuhan itu terkait dengan sebab kemerdekaan jika ia melahirkan anak, sehingga tidak bertentangan dengannya. Jika ia melahirkan anak, maka ia menjadi umm walad yang wajib dimerdekakan karena kematian tuannya dari harta peninggalannya secara penuh, setelah sebelumnya hanya dari sepertiganya, dan batalnya penjualan dirinya setelah sebelumnya boleh dijual. Abu Hamid al-Isfirayini berkata: “Status tadbir batal karena kelahiran anak.” Namun, pendapat ini tidak benar, karena telah terjadi pada status tadbir sesuatu yang lebih kuat, sehingga masuk ke dalamnya dan tidak membatalkannya, seperti terjadinya jinayah pada budak yang terkena had; jinayah itu masuk ke dalamnya namun tidak menghilangkannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَمَا وَلَدَتْ مِنْ غَيْرِهِ فَفِيهِمْ وَاحِدٌ مِنْ قَوْلَيْنِ كِلَاهُمَا مَذْهَبُ أَحَدِهِمَا أَنَّ وَلَدَ كُلِّ ذَاتِ رَحِمٍ بِمَنْزِلَتِهَا فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ الأم حَامِلًا كَانَ لَهُ وَلَمْ يَكُنْ رُجُوعًا فِي تَدْبِيرِ الْوَلَدِ فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ الْوَلَدِ لَمْ يَكُنْ رُجُوعًا فِي الْأُمِّ فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِهَا ثُمَّ وَلَدَتْ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ يَوْمِ رَجَعَ فَالْوَلَدُ فِي مَعْنَى هَذَا الْقَوْلِ مُدَبَّر وَإِنْ وَضَعَتْ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَهُوَ مَمْلُوكٌ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَهَذَا أَيْضًا رُجُوعٌ فِي التَّدْبِيرِ بِغَيْرِ إِخْرَاجٍ مِنْ مَلِكٍ فَتَفَهَّمْهُ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ أَوْلَادَهَا مَمْلُوكُونَ وَذَلِكَ أَنَّهَا أَمَةٌ أَوْصَى بِعِتْقِهَا لِصَاحِبِهَا فِيهَا الرُّجُوعُ فِي عِتْقِهَا وَبَيْعِهَا وَلَيْسَتِ الْوَصِيَّةُ بِحُرِّيَّةٍ ثَابِتَةٍ فَأَوْلَادُهَا مَمْلُوكُونَ قَالَ الشَّافِعِيُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ قَالَ أَوْلَادُهَا مَمْلُوكُونَ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا أَصَحُّ القولين عندي وأشبهما بقول الشافعي لأن التدبير عنده وصية بعتقها كما أو أوصى برقبتها لم يدخل في الوصية ولدها قال ولو قال إذا دخلت الدار بعد سنة فأنت حرة فدخلت أن ولدها لا يلحقها قال المزني فكذلك تعتق بالموت وولدها لا يلحقها إلا أن تعتق حاملا فيعتق ولدها بعتقها

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Adapun anak yang dilahirkan dari selainnya, maka dalam hal ini terdapat satu dari dua pendapat, keduanya merupakan mazhab. Salah satunya adalah bahwa anak dari setiap perempuan yang memiliki rahim itu mengikuti status ibunya. Jika seseorang menarik kembali tadbīr (janji memerdekakan budak setelah wafat) pada ibu yang sedang hamil, maka anak itu menjadi miliknya dan penarikan itu tidak dianggap sebagai penarikan tadbīr atas anaknya. Jika ia menarik tadbīr atas anaknya, maka itu tidak dianggap sebagai penarikan tadbīr atas ibunya. Jika ia menarik tadbīr atas ibunya, lalu si ibu melahirkan anak kurang dari enam bulan sejak hari penarikan, maka menurut pendapat ini, anak tersebut berstatus mudabbir (ikut janji tadbīr). Namun jika ia melahirkan setelah lebih dari enam bulan, maka anak itu menjadi milik (tetap sebagai budak). Al-Muzani berkata: ‘Ini juga merupakan penarikan tadbīr tanpa mengeluarkan dari kepemilikan, maka pahamilah.’ Imam Syafi‘i berkata: ‘Pendapat kedua adalah bahwa anak-anaknya tetap menjadi milik (budak), karena ia adalah seorang budak perempuan yang diwasiatkan untuk dimerdekakan oleh tuannya, dan dalam hal ini tuannya boleh menarik kembali wasiat memerdekakan atau menjualnya, dan wasiat tersebut bukanlah kemerdekaan yang tetap, sehingga anak-anaknya tetap menjadi milik (budak).’ Imam Syafi‘i berkata: ‘Sufyan telah mengabarkan kepada kami dari ‘Amr dari Abu Sya‘tsa’, ia berkata: ‘Anak-anaknya tetap menjadi milik (budak).’ Al-Muzani berkata: ‘Ini adalah pendapat yang paling sahih menurutku dan paling sesuai dengan pendapat Imam Syafi‘i, karena tadbīr menurut beliau adalah wasiat untuk memerdekakan, sebagaimana jika ia berwasiat untuk memerdekakan lehernya, maka anaknya tidak termasuk dalam wasiat tersebut.’ Ia juga berkata: ‘Jika seseorang berkata, “Jika engkau masuk rumah setelah setahun, maka engkau merdeka,” lalu ia masuk, maka anaknya tidak mengikuti status ibunya.’ Al-Muzani berkata: ‘Demikian pula, jika ia merdeka karena kematian, maka anaknya tidak mengikutinya, kecuali jika ia dimerdekakan dalam keadaan hamil, maka anaknya ikut merdeka bersama ibunya.’

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا أَوْلَادُ الْمُدَبَّرةِ مِنْ سَيِّدِهَا فَأَحْرَارٌ بِحُرِّيَّةِ السَّيِّدِ وَقَدْ صَارَتْ بِهِمْ أُمَّ وَلَدٍ وَأَمَّا أَوْلَادُهَا مَنْ غَيْرِهِ مِنْ زَوْجٍ أَوْ زِنًى فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Al-Mawardi berkata: Adapun anak-anak al-mudabbirah dari tuannya, maka mereka adalah orang-orang merdeka karena kemerdekaan tuannya, dan dengan adanya mereka, ia (al-mudabbirah) menjadi umm walad. Adapun anak-anaknya dari selain tuannya, baik dari suami atau hasil zina, maka mereka terbagi menjadi tiga golongan.

أَحَدُهَا أَنْ تَلِدَهُمْ قَبْلَ التَّدْبِيرِ

Salah satunya adalah jika ia melahirkan mereka sebelum adanya tadbīr.

وَالثَّانِي أَنْ تَحْبَلَ بِهِمْ وَتَلِدَهُمْ بَعْدَ التَّدْبِيرِ

Kedua, ia mengandung mereka dan melahirkan mereka setelah adanya tadbīr.

وَالثَّالِثُ أَنْ تَكُونَ حَامِلًا بِهِمْ وَقْتَ التَّدْبِيرِ

Ketiga, ia sedang mengandung mereka pada saat penetapan wasiat tersebut.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ وَهُمْ مَنْ وَلَدَتْهُمْ قَبْلَ التَّدْبِيرِ فَهُمْ مَمْلُوكُونَ لِلسَّيِّدِ لَا يَتْبَعُونَهَا فِي التَّدْبِيرِ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَسَوَاءٌ كَانَ الزَّوْجُ حُرًّا أَوْ مَمْلُوكًا لِأَنَّهُمْ تَبَعٌ لَهَا فِي الرِّقِّ كَمَا أَنَّ وَلَدَ الْحُرَّةِ تَبَعٌ لَهَا فِي الْحُرِّيَّةِ لَا يَتْبَعُونَ أَبَاهُمْ فِي الرِّقِّ

Adapun golongan pertama, yaitu anak-anak yang dilahirkan sebelum adanya tadbīr, maka mereka tetap menjadi milik tuan dan tidak mengikuti ibunya dalam tadbīr. Hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Sama saja apakah suaminya seorang yang merdeka atau budak, karena mereka mengikuti status ibunya dalam hal perbudakan, sebagaimana anak perempuan merdeka mengikuti ibunya dalam kemerdekaan dan tidak mengikuti ayahnya dalam perbudakan.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يُدَبِّرَهَا حَائِلًا فَتَحْبَلُ بِهِمْ وَتَلِدُهُمْ بَعْدَ التَّدْبِيرِ فَفِيهِمْ قَوْلَانِ مَنْصُوصَانِ لِلشَّافِعِيِّ

Adapun jenis kedua, yaitu seseorang menetapkan tadbir kepada budak perempuan yang sedang tidak hamil, lalu ia hamil dari tuannya dan melahirkan anak-anaknya setelah penetapan tadbir, maka mengenai anak-anak tersebut terdapat dua pendapat yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i.

أَحَدُهُمَا يَكُونُونَ عَلَى حُكْمِهَا دَاخِلِينَ فِي التَّدْبِيرِ مَعَهَا قَالَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ عُثْمَانُ وَابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عُمَرَ

Salah satunya adalah mereka berada dalam ketetapannya dan termasuk dalam pengelolaan bersamanya; hal ini dikatakan oleh para sahabat seperti ‘Utsmān, Ibnu Mas‘ūd, dan Ibnu ‘Umar.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

Di antara para fuqaha adalah Malik, Abu Hanifah beserta para pengikutnya, dan Ahmad bin Hanbal.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُونَ مَمْلُوكِينَ لِلسَّيِّدِ غَيْرَ دَاخِلِينَ مَعَهَا فِي التَّدْبِيرِ قَالَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Pendapat kedua menyatakan bahwa mereka tetap menjadi milik tuannya, namun tidak termasuk bersama tuan perempuan itu dalam at-tadbīr. Pendapat ini dikemukakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit radhiyallāhu ‘anhu.

ومن التابعين أو الشَّعْثَاءِ جَابِرُ بْنُ زَيْدٍ وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ وَاخْتَلَفَ أصحاب الشَّافِعِيِّ فِي هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ هَلْ قَالَهُمَا ابْتِدَاءً أَوْ قَالَهُمَا بِنَاءً فَذَهَبَ جُمْهُورُهُمْ إِلَى أَنَّهُ ابْتَدَأَهُمَا بِاجْتِهَادِهِ وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّهُ بَنَاهُمَا عَلَى مَذْهَبِهِ فِي غَيْرِهِ وَاخْتَلَفُوا فِيمَا بَنَاهُ عَلَيْهِ مِنْ مَذْهَبِهِ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهُ بَنَاهُ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي التَّدْبِيرِ هَلْ هو أَوْ عِتْقٌ بِصِفَةٍ وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْهُمْ إِلَى أَنَّهُ بَنَاهُ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الْحَمْلِ هَلْ يَكُونُ تَبَعًا أَوْ يُأْخَذُ مِنَ الثَّمَنِ قِسْطًا

Di antara para tabi’in adalah al-Sya‘tsā’ Jābir bin Zaid, dan pendapat ini dipilih oleh al-Muzani. Para pengikut al-Syafi‘i berbeda pendapat mengenai dua pendapat ini: apakah keduanya diucapkan secara langsung atau dibangun atas dasar tertentu. Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa keduanya diucapkan secara langsung berdasarkan ijtihad beliau, sementara sebagian lain berpendapat bahwa keduanya dibangun atas mazhab beliau dalam perkara lain. Mereka juga berbeda pendapat mengenai dasar yang digunakan dalam membangun pendapat tersebut dari mazhab beliau; sebagian dari mereka berpendapat bahwa pendapat itu dibangun atas perbedaan dua pendapat beliau dalam masalah tadbīr, apakah itu merupakan pembebasan budak dengan sifat tertentu, dan sebagian lain berpendapat bahwa pendapat itu dibangun atas perbedaan dua pendapat beliau dalam masalah hamil, apakah ia mengikuti (status) atau diambilkan bagian dari harga.

فَإِذَا قِيلَ بِالْأَوَّلِ إِنَّ أَوْلَادَهَا يَتْبَعُونَهَا فِي التَّدْبِيرِ فَدَلِيلُهُ مَعْنَيَانِ

Maka jika dikatakan menurut pendapat pertama bahwa anak-anaknya mengikuti ibunya dalam hal pengelolaan (tadbīr), maka dalilnya ada dua makna.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُمْ لَمَّا تَبِعُوهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَجَبَ أَنْ يَتْبَعُوهَا فِي سَبَبِ الْحُرِّيَّةِ الْمُفْضِيَةِ إِلَى زَوَالِ الرِّقِّ كَوَلَدِ أُمِّ الْوَلَدِ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ إِنَّ وَلَدَ كُلِّ ذَاتِ رَحِمٍ بِمَنْزِلَتِهَا

Salah satu alasannya adalah bahwa ketika mereka mengikuti (hukum) dalam hal kebebasan dan perbudakan, maka wajib pula mengikuti (hukum) dalam sebab-sebab kebebasan yang menyebabkan hilangnya status perbudakan, seperti anak dari umm al-walad. Inilah makna perkataan Imam Syafi‘i bahwa anak dari setiap perempuan yang memiliki rahim, kedudukannya sama dengan ibunya.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي أَنَّ لِأَسْبَابِ الْحُرِّيَّةِ حُرْمَةً ثَابِتَةً فِي الْأُمِّ فَوَجَبَ أَنْ تَسْرِيَ إِلَى وَلَدِهَا كَالْإِسْلَامِ

Makna yang kedua adalah bahwa sebab-sebab kemerdekaan memiliki kehormatan yang tetap pada seorang ibu, sehingga wajib untuk berlaku juga pada anaknya, sebagaimana (hukum) Islam.

وَإِذَا قِيلَ بِالثَّانِي إنَّ أَوْلَادَهَا مَمْلُوكُونَ لِلسَّيِّدِ لَا يَتْبَعُونَهَا فِي التَّدْبِيرِ فَدَلِيلُهُ مَعْنَيَانِ

Dan apabila dikatakan menurut pendapat kedua bahwa anak-anaknya adalah milik tuan dan tidak mengikuti status ibunya dalam hal tadbīr, maka dalilnya ada dua makna.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعَقْدَ إِذَا جَازَ أَنْ يَلْحَقَهُ الْفَسْخُ لَمْ يَكُنِ الْوَلَدُ فِيهِ تَابِعًا لِأُمِّهِ كَوَلَدِ الْمَرْهُونَةِ وَالْمُوصَى بِهَا طَرْدًا وَوَلَدِ الْوَلَدِ عَكْسًا

Salah satunya adalah bahwa apabila suatu akad masih dimungkinkan untuk dibatalkan, maka anak yang lahir dari akad tersebut tidak mengikuti status ibunya, seperti anak dari perempuan yang digadaikan dan perempuan yang diwasiatkan kepadanya, secara konsekuen; dan sebaliknya, anak dari anak (cucu) tidak demikian.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا تَقَابَلَ فِي الْوَلَدِ حَقَّانِ حَقُّ السَّيِّدِ فِي رِقِّهِ وَحَقُّ الْأُمِّ فِي عِتْقِهِ وَكَانَ حَقُّ السَّيِّدِ فِيهِ عَنْ مِلْكٍ مُسْتَقِر وَحَقُّهَا فِيهِ عَنْ تَدْبِيرٍ غَيْرَ مُسْتَقِرٍّ فَتَغْلِيبُ مَا اسْتَقَرَّ فِي رِقِّهِ أَوْلَى مِنْ تَغْلِيبِ مَا لَمْ يَسْتَقِرَّ فِي عِتْقِهِ فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ فِي اخْتِيَارِهِ بِمَا أَقْنَعَ

Makna kedua adalah bahwa ketika pada anak terdapat dua hak yang saling berhadapan, yaitu hak tuan atas status budaknya dan hak ibu atas pembebasannya, sedangkan hak tuan berasal dari kepemilikan yang tetap dan hak ibu berasal dari tadbīr yang belum tetap, maka mengutamakan apa yang sudah tetap dalam status budaknya lebih utama daripada mengutamakan apa yang belum tetap dalam pembebasannya. Adapun pendapat al-Muzanī, telah dijelaskan sebelumnya dalam pilihannya dengan penjelasan yang memadai.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ وَلَدَهَا مَرْقُوقٌ لَمْ يَتْبَعْهَا فِي التَّدْبِيرِ كَانَ لَهُ بَيْعُ الْوَلَدِ فِي حَيَاتِهِ ثُمَّ لِوَرَثَتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ سَوَاءٌ عَتَقَتِ الْأُمُّ بِالتَّدْبِيرِ أَوْ مَاتَتْ عَلَى الرِّقِّ وَإِنْ قِيلَ إِنَّ وَلَدَهَا تَبَعٌ لَهَا فِي التَّدْبِيرِ صَارَا مُدَبَّريْنِ يُعْتَقَانِ عَلَيْهِ بِالْمَوْتِ كَالْعَبْدَيْنِ الْمُدَبَّريْنِ

Jika telah dijelaskan argumentasi kedua pendapat, maka jika dikatakan bahwa anaknya adalah budak murni yang tidak mengikuti ibunya dalam tadbīr, maka pemiliknya berhak menjual anak tersebut selama hidupnya, kemudian hak itu berpindah kepada ahli warisnya setelah kematiannya, baik sang ibu merdeka karena tadbīr maupun meninggal dalam keadaan masih budak. Namun, jika dikatakan bahwa anaknya mengikuti ibunya dalam tadbīr, maka keduanya menjadi mudabbir, yang akan merdeka karena kematian pemiliknya, sebagaimana dua budak yang sama-sama mudabbir.

فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِهَا بَطَلَ حُكْمُ التَّدْبِيرِ فِيهِمَا وَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ الْوَلَدِ عَادَ إِلَى الرِّقِّ وَبَقِيَتِ الْأُمُّ عَلَى التَّدْبِيرِ وَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ الْأُمِّ عَادَتْ إِلَى الرِّقِّ وَبَقِيَ الْوَلَدُ عَلَى التَّدْبِيرِ فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا كَانَ الْوَلَدُ تَابِعًا لَهَا فِي التَّدْبِيرِ فَهَلَّا صَارَ تَابِعًا لَهَا فِي الرُّجُوعِ كَوَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ لَمَّا كَانَ تَابِعًا لَهَا فِي الْكِتَابَةِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ يُعْتَقُ بِعِتْقِهَا إِذَا أَدَّتْ صَارَ تَابِعًا لَهَا فِي الرُّجُوعِ إِلَى الرِّقِّ إذا عجزت

Jika seseorang menarik kembali tindakannya dalam mentadbir keduanya, maka batal hukum tadbir atas keduanya. Jika ia menarik kembali tadbir atas anak, maka anak kembali menjadi budak, sementara ibu tetap dalam status tadbir. Jika ia menarik kembali tadbir atas ibu, maka ibu kembali menjadi budak, sementara anak tetap dalam status tadbir. Jika ada yang bertanya: “Jika anak mengikuti ibunya dalam tadbir, mengapa anak tidak ikut kembali bersama ibunya dalam hal penarikan tadbir, sebagaimana anak dari seorang mukatabah, ketika ia mengikuti ibunya dalam akad kitabah menurut salah satu pendapat, ia pun merdeka dengan merdekanya ibu jika ibu telah melunasi (pembayaran), maka seharusnya anak juga mengikuti ibunya dalam kembali menjadi budak jika ibunya tidak mampu (melunasi)?”

قيل للفرق بَيْنَهُمَا أَنَّ وَلَدَ الْمُدَبَّرةِ يَصِيرُ بِالتَّبَعِ لَهَا مُدَبَّرا وَلِذَلِكَ إِذَا مَاتَتِ الْأُمُّ عَلَى الرِّقِّ قَبْلَ مَوْتِ السَّيِّدِ لَمْ يَبْطُلِ التَّدْبِيرُ فِي الْوَلَدِ فَلِذَلِكَ لَا يَتْبَعُهَا فِي الرُّجُوعِ وَإِنْ تَبِعَهَا فِي التَّدْبِيرِ وَوَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ لَا يَتْبَعُهَا فِي الْكِتَابَةِ وَإِنَّمَا يَتْبَعُهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَلِذَلِكَ إِذَا مَاتَتِ الْأُمُّ عَلَى كِتَابَتِهَا لَمْ يَصِرِ الْوَلَدُ مُكَاتَبًا بَعْدَ مَوْتِهَا فَلِذَلِكَ عَادَ إِلَى الرِّقِّ بِعَوْدِهَا إِلَيْهِ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa anak dari budak perempuan yang didabarkan (al-mudabbirah) menjadi mudabbar pula karena mengikuti ibunya. Oleh karena itu, jika sang ibu meninggal dalam keadaan masih berstatus budak sebelum tuannya meninggal, status tadbir pada anak tidak batal. Maka dari itu, anak tidak mengikuti ibunya dalam hal kembali kepada status semula, meskipun ia mengikutinya dalam hal tadbir. Adapun anak dari budak perempuan yang mukatabah, ia tidak mengikuti ibunya dalam hal kitabah, melainkan hanya mengikuti ibunya dalam hal kemerdekaan dan perbudakan. Oleh karena itu, jika sang ibu meninggal dalam keadaan masih dalam proses kitabah, anaknya tidak menjadi mukatab setelah kematian ibunya. Maka dari itu, anak kembali kepada status budak dengan kembalinya ibunya pada status tersebut.

فَصْلٌ

Fasal

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يُدَبِّرَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَيَكُونُ حَمْلُهَا تَابِعًا لَهَا فِي التَّدْبِيرِ قَوْلًا وَاحِدًا كَمَا يَتْبَعُهَا فِي الْعِتْقِ فَإِنِ اسْتَثْنَاهُ فِي التَّدْبِيرِ فَقَالَ أَنْتِ مُدَبَّرةٌ دُونَ حَمْلِكِ صَحَّ الِاسْتِثْنَاءُ إِنْ وَلَدَتْهُ قَبْلَ مَوْتِهِ وَبَطَلَ إِنْ وَلَدَتْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ لِأَنَّ الْحُرَّةَ لَا تَلِدُ إِلَّا حُرًّا وَلَوْ دَبَّرَ الْحَمْلَ دُونَ أمه صح تدبيره ولم تَصِرِ الْأُمُّ تَابِعَةً لَهُ فِي التَّدْبِيرِ لِأَنَّ الْحَمْلَ تَابِعٌ وَلَيْسَ بِمَتْبُوعٍ وَلَوْ دَبَّرَ الْأُمَّ حَامِلًا وَرَجَعَ فِي تَدْبِيرِهَا وَهِيَ حَامِلٌ تَبِعَهَا حَمْلُهَا فِي التَّدْبِيرِ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فِي الرُّجُوعِ

Adapun jenis yang ketiga, yaitu apabila seseorang mentadbirkan (membebaskan secara bertahap) seorang budak perempuan yang sedang hamil, maka janin yang dikandungnya mengikuti ibunya dalam hal tadbir menurut satu pendapat, sebagaimana janin itu mengikutinya dalam hal ‘itq (pembebasan). Jika ia mengecualikan janin dalam tadbir, lalu berkata: “Engkau mudabbirah tanpa janinmu,” maka pengecualian itu sah jika ia melahirkan sebelum tuannya meninggal, dan batal jika ia melahirkan setelah tuannya meninggal, karena seorang wanita merdeka tidak melahirkan kecuali anak yang merdeka pula. Jika ia mentadbirkan janin tanpa ibunya, maka tadbir itu sah dan sang ibu tidak menjadi pengikut janin dalam tadbir, karena janin adalah pengikut dan bukan yang diikuti. Jika ia mentadbirkan ibu yang sedang hamil, lalu menarik kembali tadbirnya saat ibu itu masih hamil, maka janin tetap mengikuti ibunya dalam tadbir, tetapi tidak mengikutinya dalam penarikan kembali tadbir.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ يَسْرِي وَالرِّقَّ لَا يَسْرِي وَالْعِلْمُ بِكَوْنِهِ حَمْلًا وَقْتَ التَّدْبِيرِ أَنْ تَلِدَهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ وَقْتِ تَدْبِيرِهِ فَيُعْلَمُ وَجُودُهُ حَمْلًا وَقْتَ التَّدْبِيرِ وَإِنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ عُلِمَ عَدَمُهُ وَقْتَ التَّدْبِيرِ فَلَمْ يَكُنْ مُدَبَّرا وَإِنْ وَلَدَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ وَدُونَ أَرْبَعِ سِنِينَ فإن كانت مطلقة من زَوْجٍ يُلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا حُكِمَ بِوُجُودِهِ وَتَدْبِيرِهِ اعْتِبَارًا بِالظَّاهِرِ فِي لُحُوقِهِ وَإِنْ كَانَتْ ذَاتَ زَوْجٍ يَطَأُ حُمِلَ عَلَى الظَّاهِرِ مِنْ حُدُوثِهِ فَلَمْ يَصِرْ مُدَبَّرا

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa ‘itq (pembebasan budak) berlaku secara menyeluruh, sedangkan riqq (perbudakan) tidak berlaku secara menyeluruh. Pengetahuan tentang keberadaan janin pada saat tadbīr (penetapan pembebasan budak setelah wafat tuannya) dapat diketahui jika budak perempuan itu melahirkan anaknya kurang dari enam bulan sejak waktu tadbīr, maka diketahui bahwa janin itu sudah ada pada saat tadbīr. Namun, jika ia melahirkan anaknya lebih dari empat tahun setelah tadbīr, maka diketahui bahwa janin itu tidak ada pada saat tadbīr, sehingga anak itu tidak menjadi mudabbir (budak yang dijanjikan merdeka setelah tuannya wafat). Jika ia melahirkan anaknya lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun, maka jika ia adalah wanita yang dicerai dari suami yang anaknya dapat dihubungkan secara nasab kepadanya, maka diputuskan bahwa janin itu sudah ada dan berlaku hukum tadbīr berdasarkan penampakan lahiriah dalam hal nasab. Namun, jika ia adalah wanita bersuami yang digauli, maka didasarkan pada penampakan lahiriah bahwa janin itu baru terjadi setelah tadbīr, sehingga anak itu tidak menjadi mudabbir.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا جُعِلَ وَلَدُ الْمُدَبَّرةِ وَحَمْلُهَا تَبَعًا لَهَا فِي التَّدْبِيرِ جَازَ أَنْ يَرْجِعَ فِي تَدْبِيرِ الْوَلَدِ وَالْحَمْلِ كَمَا جَازَ أَنْ يَرْجِعَ فِي تَدْبِيرِهَا فَإِنْ قَالَ السَّيِّدُ لَهَا وَهِيَ حَامِلٌ كُلَّمَا وَلَدْتِ وَلَدًا فَقَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِهِ لَمْ يَصِحَّ رُجُوعُهُ لِعِلَّتَيْنِ

Apabila anak dari budak mudabbirah dan janinnya dijadikan mengikuti status ibunya dalam hal tadbīr, maka boleh bagi tuannya untuk menarik kembali tadbīr atas anak dan janin tersebut sebagaimana ia boleh menarik kembali tadbīr atas ibunya. Namun, jika tuan berkata kepada budak perempuan yang sedang hamil itu, “Setiap kali engkau melahirkan anak, aku menarik kembali tadbīr atas anak itu,” maka penarikan kembali tersebut tidak sah karena dua alasan.

إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ قَبْلَ خَلْقِهِ لَيْسَ بِمُدَبَّر

Salah satunya adalah bahwa sebelum diciptakan, ia belum menjadi makhluk yang diatur.

وَالثَّانِيَةُ أَنَّهُ رُجُوعٌ مُعَلَّقٌ بِصِفَةٍ وَلَوْ قَالَ لَهَا وَهِيَ حَامِلٌ قَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِ حَمَلِكِ صَحَّ لِأَنَّهُ لَمَّا صَحَّ تَدْبِيرُهُ حَمْلًا صَحَّ الرُّجُوعُ فِيهِ حَمْلًا وَلَوْ قَالَ إِذَا وَلَدَتْهُ فَقَدْ رَجَعْتُ فِي تَدْبِيرِهِ لَمْ يَصِحَّ الرُّجُوعُ وَكَانَ عَلَى التَّدْبِيرِ إِذَا وُلِدَ لِأَنَّهُ رُجُوعٌ مُعَلَّقٌ بِصِفَةٍ وَتَعْلِيقُهُ بِالصِّفَاتِ لَا يَصِحُّ

Kedua, bahwa itu adalah rujuk yang digantungkan pada suatu sifat. Jika seseorang berkata kepada istrinya yang sedang hamil, “Aku telah rujuk dalam tadbir (pengaturan) terhadap kandunganmu,” maka itu sah, karena ketika tadbir terhadap kandungan itu sah, maka rujuk terhadapnya juga sah saat masih berupa kandungan. Namun jika ia berkata, “Apabila engkau melahirkannya, maka aku telah rujuk dalam tadbir terhadapnya,” maka rujuk tersebut tidak sah dan tetap berada dalam tadbir ketika anak itu lahir, karena itu adalah rujuk yang digantungkan pada suatu sifat, dan menggantungkan rujuk pada sifat-sifat tidaklah sah.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا دَبَّرَ حَمْلَ جَارِيَتِهِ دُونَهَا ثُمَّ بَاعَهَا حَامِلًا فَإِنْ قَصَدَ بِبَيْعِهَا الرُّجُوعَ فِي تَدْبِيرِ حَمْلِهَا صَحَّ الْبَيْعُ وَبَطَلَ بِهِ تَدْبِيرُ الْحَمْلِ وَإِنْ بَاعَهُ مُطْلَقًا لَمْ يَسْتَثْنِهِ فِي الْبَيْعِ وَلَا قَصَدَ بِهِ إِبْطَالَ التَّدْبِيرِ فِي الْحَمْلِ فَفِي صِحَّةِ الْبَيْعِ قَوْلَانِ

Apabila seseorang mentadbirkan (membebaskan secara bertahap setelah wafat) janin yang dikandung oleh budak perempuannya tanpa mentadbirkan ibunya, kemudian ia menjual budak perempuan itu dalam keadaan hamil, maka jika ia bermaksud dengan penjualan tersebut untuk menarik kembali tadbir atas janin itu, maka penjualannya sah dan tadbir atas janin tersebut batal karenanya. Namun jika ia menjualnya secara mutlak tanpa mengecualikan janin dalam penjualan itu dan tidak bermaksud membatalkan tadbir atas janin, maka dalam hal keabsahan penjualannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا صَحَّ الْبَيْعُ لِأَنَّ بَيْعَ الْمُدَبَّر رُجُوعٌ وَإِنْ لَمْ يُقْصَدْ بِهِ الرُّجُوعُ

Salah satunya adalah jual beli tersebut sah, karena menjual budak mudabbar merupakan bentuk rujuk, meskipun tidak dimaksudkan sebagai rujuk.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْمَنْصُوصُ أَنَّ الْبَيْعَ بَاطِلٌ لِأَنَّ حُكْمَ الْحَمْلِ مُخَالِفٌ لحكم أمه

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang ditegaskan, adalah bahwa jual beli tersebut batal karena hukum janin berbeda dengan hukum induknya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا وَلَدُ الْمُعْتَقَةِ بِالصِّفَةِ كَقَوْلِهِ لِأَمَتِهِ إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ حُرَّةٌ فَعَلَى الْأَضْرُبِ الثَّلَاثَةِ

Adapun anak dari perempuan yang dimerdekakan secara bersyarat, seperti ucapannya kepada budaknya perempuan, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu merdeka,” maka hukumnya mengikuti tiga bentuk (yang telah disebutkan sebelumnya).

أَحَدُهَا مَنْ وَلَدَتْهُ قَبْلَ عَقْدِ الصِّفَةِ فَهُوَ مَمْلُوكٌ

Salah satunya adalah anak yang dilahirkan sebelum akad shifah, maka ia adalah seorang budak.

وَالثَّانِي مَنْ وَلَدَتْهُ بَعْدَ وُجُودِ الصِّفَةِ وَدُخُولِ الدَّارِ فَهُوَ حُرٌّ

Yang kedua adalah siapa saja yang dilahirkan setelah adanya sifat (sebagai tanda perbudakan) dan setelah masuk ke dalam rumah, maka ia adalah merdeka.

وَالثَّالِثُ مَنْ وَلَدَتْهُ بَعْدَ عَقْدِ الصِّفَةِ وَقَبْلَ وُجُودِهَا فَفِيهِ قَوْلَانِ كَوَلَدِ الْمُدَبَّرةِ سَوَاءٌ

Dan yang ketiga adalah perempuan yang melahirkan setelah akad sifat dan sebelum keberadaannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat, seperti anak dari budak mudabbirah, hukumnya sama.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ تَبَعًا لَهَا فِي الْعِتْقِ بِوُجُودِ الصِّفَةِ

Salah satunya adalah menjadi pengikut baginya dalam hal pembebasan budak karena adanya sifat tersebut.

وَالثَّانِي لَا يَتْبَعُهَا وَيَكُونُ مَرْقُوقًا لِسَيِّدِهَا

Dan yang kedua, tidak mengikutinya dan tetap menjadi budak milik tuannya.

فَلَوْ قَالَ لَهَا إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ بَعْدَ سَنَةٍ فَأَنْتِ حُرَّةٌ كان من ولدتهم قبل مضي السنة مماليكا وَمَنْ وَلَدَتْهُمْ بَعْدَ دُخُولِ الدَّارِ أَحْرَارًا وَمَنْ وَلَدَتْهُمْ بَعْدَ السَّنَةِ وَقَبْلَ دُخُولِ الدَّارِ عَلَى قَوْلَيْنِ وَيَكُونُ مَنْ وَلَدَتْهُمْ قَبْلَ مُضِيِّ السَّنَةِ كَمَنْ وَلَدَتْهُمْ قَبْلَ عَقْدِ الصِّفَةِ لِأَنَّ صِفَةَ الْعِتْقِ دُخُولُ الدَّارِ بَعْدَ السَّنَةِ وَهَذَا كُلُّهُ فِيمَنْ حُرِّرَ حَمْلُهُ وَوِلَادَتُهُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثلاث وَلَوْ قَالَ لَهَا أَنْتِ حُرَّةٌ بَعْدَ مَوْتِي بِسَنَةٍ كَانَ مَنْ وَلَدَتْهُمْ فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ مماليكاً وَمَنْ وَلَدَتْهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِ بِسَنَةٍ أَحْرَارًا وَمَنْ وَلَدَتْهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِ وَقَبْلَ مُضِيِّ السَّنَةِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ فَمِنْهُمْ مَنْ خَرَّجَهُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَسَوَّى بَيْنَ عَقْدِ الصِّفَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَعَقْدِهَا قَبْلَ الْمَوْتِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَعْتَقَهُمْ قَوْلًا وَاحِدًا وَفَرَّقَ بَيْنَ عَقْدِ الصِّفَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَعَقْدِهَا قَبْلَ الْمَوْتِ أَنَّهُ قَبْلَ الْمَوْتِ يَجُوزُ أَنْ يَسْتَفِيدَ مِلْكًا وَبَعْدَهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَفِيدَ مِلْكًا فَإِنْ عَتَقَ الْوَلَدُ مَعَهَا كَانَا مُعْتَبَرَيْنِ مِنْ ثُلُثِهِ وَلَا يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا وَيُعْتَقُ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهَا وَإِنْ لَمْ يُعْتَقِ الْوَلَدُ مَعَهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang berkata kepada budaknya perempuan, “Jika engkau masuk ke dalam rumah setelah satu tahun, maka engkau merdeka,” maka anak-anak yang dilahirkan sebelum berlalu satu tahun adalah budak, dan anak-anak yang dilahirkan setelah masuk ke dalam rumah adalah merdeka, sedangkan anak-anak yang dilahirkan setelah satu tahun berlalu namun sebelum masuk ke dalam rumah terdapat dua pendapat. Anak-anak yang dilahirkan sebelum berlalu satu tahun diperlakukan seperti anak-anak yang dilahirkan sebelum akad sifat, karena sifat kemerdekaan di sini adalah masuk ke dalam rumah setelah satu tahun. Semua ini berlaku bagi mereka yang kehamilan dan kelahirannya terjadi dalam tiga keadaan tersebut. Jika seseorang berkata kepada budaknya perempuan, “Engkau merdeka setelah satu tahun dari kematianku,” maka anak-anak yang dilahirkan selama tuannya masih hidup adalah budak, dan anak-anak yang dilahirkan setelah satu tahun dari kematiannya adalah merdeka, sedangkan anak-anak yang dilahirkan setelah kematiannya namun sebelum berlalu satu tahun, para ulama kami berbeda pendapat tentangnya. Sebagian dari mereka mengembalikannya kepada dua pendapat dan menyamakan antara akad sifat setelah kematian dan akadnya sebelum kematian, dan sebagian dari mereka memerdekakan anak-anak itu dengan satu pendapat dan membedakan antara akad sifat setelah kematian dan akadnya sebelum kematian, yaitu bahwa sebelum kematian masih boleh memperoleh kepemilikan, sedangkan setelah kematian tidak boleh lagi memperoleh kepemilikan. Jika anak itu merdeka bersama ibunya, maka keduanya dihitung dari sepertiga harta, dan tidak diundi di antara keduanya, dan dimerdekakan dari harta sesuai kadar yang dimerdekakan dari ibunya. Jika anak tidak dimerdekakan bersama ibunya, maka terdapat dua pendapat dalam masalah ini.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مِنْ تَرِكَةِ السَّيِّدِ

Salah satunya berasal dari harta peninggalan tuan.

وَالثَّانِي يَكُونُ مِلْكًا لِلْوَرَثَةِ

Dan yang kedua menjadi milik para ahli waris.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَتْ وَلَدْتُهُ بَعْدَ التَّدْبِيرِ وَقَالَ الْوَارِثُ قَبْلَ التَّدْبِيرِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْوَارِثِ لِأَنَّهُ الْمَالِكُ وَهِيَ الْمُدَّعِيَةُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang perempuan berkata bahwa ia melahirkan anaknya setelah adanya tadbīr, sedangkan ahli waris berkata bahwa kelahiran itu terjadi sebelum tadbīr, maka yang dipegang adalah perkataan ahli waris, karena ia adalah pemilik (harta) dan perempuan tersebut adalah pihak yang mengaku (mudda‘iyah).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا التَّنَازُعُ فِي الْوَلَدِ يَشْتمَلُ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Perselisihan mengenai anak ini mencakup dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ تَقُولَ الْمُدَبَّرةُ وَلَدْتُهُ بَعْدَ التَّدْبِيرِ فَيُعْتَقُ بِعِتْقِي وَيَقُولُ الْوَرَثَةُ وَلَدَتْهُ قَبْلَ التَّدْبِيرِ فَهُوَ مَمْلُوكٌ فَإِنْ قِيلَ بِأَنَّ وَلَدَ الْمُدَبَّرةِ لَا يَتْبَعُهَا فَلَا تَأْثِيرَ لِهَذَا التَّنَازُعِ لِأَنَّهُ مَرْقُوقٌ فِي الْحَالَيْنِ

Salah satu permasalahan adalah ketika budak perempuan yang dimudabbar mengatakan, “Anakku lahir setelah aku dimudabbar, maka ia merdeka bersamaku,” sementara para ahli waris berkata, “Anak itu lahir sebelum dimudabbar, maka ia tetap menjadi budak.” Jika dikatakan bahwa anak dari budak perempuan yang dimudabbar tidak mengikuti status ibunya, maka perselisihan ini tidak berpengaruh, karena dalam kedua keadaan anak tersebut tetap berstatus budak.

وَإِنْ قِيلَ يَتْبَعُهَا كَانَ لِتُنَازُعِهِمَا فِيهِ تَأْثِيرٌ لِأَنَّهَا تَدَّعِي عِتْقَهُ وَالْوَارِثُ يَدَّعِي رقه

Dan jika dikatakan bahwa ia mengikutinya, maka perselisihan antara keduanya berpengaruh, karena perempuan itu mengklaim bahwa ia telah memerdekakannya, sedangkan ahli waris mengklaim bahwa ia masih berstatus budak.

فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْوَارِثِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِيهِ الرِّقُّ فَلَمْ يُقْبَلْ فِيهِ قَوْلُ مَنِ ادَّعَى حُدُوثَ الْعِتْقِ فَإِنِ حَلَفَ الْوَارِثُ رَقَّ الْوَلَدُ وَإِنْ نَكَلَ رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَى الْأُمِّ فَإِنْ حَلَفَتْ عَتَقَ الْوَلَدُ وَإِنْ نَكَلَتْ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Maka pendapat yang dipegang dalam hal ini adalah pendapat ahli waris dengan sumpahnya, karena asalnya dalam perkara ini adalah status budak, sehingga tidak diterima pendapat orang yang mengklaim terjadinya pembebasan budak. Jika ahli waris bersumpah, maka anak tersebut tetap berstatus budak. Namun jika ia enggan bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada ibu. Jika ibu bersumpah, maka anak tersebut merdeka. Tetapi jika ibu juga enggan bersumpah, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُحْكَمُ بِرِقِّهِ

Salah satunya diputuskan sebagai budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُوقَفُ أَمْرُهُ لِيَحْلِفَ الْوَلَدُ بَعْدَ بُلُوغِهِ عَلَى مَا مَضَى مِنْ نَظَائِرِهِ

Pendapat kedua, perkaranya ditangguhkan hingga anak tersebut bersumpah setelah ia baligh, sebagaimana pada kasus-kasus serupa.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَقُولَ الْمُدَبَّرةُ وَلَدْتُهُ بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ فَهُوَ حُرٌّ وَيَقُولُ الْوَارِثُ وَلَدَتْهُ قَبْلَ مَوْتِ السَّيِّدِ فَهُوَ مَمْلُوكٌ فَهَذَا بِعَكْسِ الْأَوَّلِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّ وَلَدَ الْمُدَبَّرةَ تَبَعٌ لَهَا فَلَا تَأْثِيرَ لِهَذَا التَّنَازُعِ لِأَنَّهُ يُعْتَقُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ فِي الْحَالَيْنِ

Jenis kedua adalah ketika al-mudabbirah berkata, “Aku melahirkannya setelah tuanku wafat, maka ia merdeka,” sedangkan ahli waris berkata, “Ia melahirkannya sebelum tuanku wafat, maka ia adalah budak.” Maka ini kebalikan dari kasus pertama. Jika dikatakan bahwa anak al-mudabbirah mengikuti status ibunya, maka perselisihan ini tidak berpengaruh, karena ia akan dimerdekakan dengan wafatnya tuan dalam kedua keadaan tersebut.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ وَلَدَهَا فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ لَا يَتْبَعُهَا كَانَ لِتَنَازُعِهِمَا فِيهِ تَأْثِيرٌ لِأَنَّهَا تَدَّعِي عِتْقَهُ وَالْوَارِثَ يَدَّعِي رِقَّهُ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Dan jika dikatakan bahwa anaknya pada masa hidup tuannya tidak mengikuti status ibunya, maka hal itu disebabkan adanya perselisihan antara keduanya mengenai status anak tersebut. Sebab, sang ibu mengklaim bahwa anaknya merdeka, sedangkan ahli waris mengklaim bahwa anak tersebut adalah budak. Maka, persoalan ini terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يُقِرَّ بِأَنَّهُ جَرَى عَلَيْهِ فِي الْعُلُوقِ حُكْمُ الرِّقِّ لِأَنَّهَا وَلَدَتْهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ مَوْتِ السَّيِّدِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْوَارِثِ مَعَ يَمِينِهِ اسْتِصْحَابًا لِحُكْمِ رِقِّهِ

Salah satunya adalah bahwa ia mengakui bahwa atas dirinya berlaku hukum riq (perbudakan), karena ibunya melahirkannya kurang dari enam bulan setelah wafatnya tuan. Maka, pendapat yang dipegang adalah pendapat ahli waris dengan sumpahnya, berdasarkan keberlanjutan hukum riq atasnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يُنْكِرَ أَنَّهُ جَرَى عَلَيْهِ فِي الْعُلُوقِ حُكْمُ الرِّقِّ وَأَنَّهَا عَلِقَتْ بِهِ فِي الْحُرِّيَّةِ وَوَلَدَتْهُ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهَا لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا فَالْقَوْلُ هَاهُنَا قَوْلُهَا مَعَ يَمِينِهَا لِأَنَّ الْحُرِّيَّةَ فِي النَّاسِ أَصْلٌ وَالرِّقَّ طَارِئٌ فَإِنْ حَلَفَتْ كَانَ وَلَدُهَا حُرًّا وَإِنْ نَكَلَتْ فَعَلَى وَجْهَيْنِ

Jenis yang kedua adalah jika ia mengingkari bahwa pernah berlaku atasnya hukum perbudakan dalam masa kehamilan, dan bahwa ia mengandung anak tersebut dalam keadaan merdeka, serta melahirkan anak itu setelah wafat tuannya dalam rentang enam bulan atau lebih. Maka dalam hal ini, yang dijadikan pegangan adalah pernyataannya dengan sumpahnya, karena asal hukum pada manusia adalah kemerdekaan, sedangkan perbudakan adalah sesuatu yang datang kemudian. Jika ia bersumpah, maka anaknya menjadi merdeka; namun jika ia enggan bersumpah, maka ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تُرَدُّ الْيَمِينُ عَلَى الْوَارِثِ إِذَا قِيلَ فِيمَا تَقَدَّمَ أَنَّ نُكُولَ الْوَارِثِ لَا يُوجِبُ وَقَفَ الْيَمِينِ

Salah satunya adalah sumpah dikembalikan kepada ahli waris apabila dikatakan dalam pembahasan sebelumnya bahwa penolakan sumpah oleh ahli waris tidak menyebabkan penahanan sumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا تُرَدُّ عَلَى الْوَارِثِ وَتُوقَفُ الْيَمِينُ عَلَى بُلُوغِ الصَّبِيِّ فَإِنْ حَلَفَ بَعْدَ بُلُوغِهِ كَانَ حُرًّا وَإِنْ نَكَلَ رُدَّتْ عَلَى الْوَارِثِ وَهَذَا إِذَا قِيلَ فِيمَا تَقَدَّمَ أَنَّ نُكُولَ الْوَارِثِ لَا يُوجِبُ وَقْفَ الْيَمِينِ فَإِنْ كَانَتْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةٌ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا سُمِعَتْ مِنْ مُدَّعِي الْحُرِّيَّةِ وَمُدَّعِي الرِّقِّ

Pendapat kedua: sumpah tidak diberikan kepada ahli waris, dan sumpah tersebut ditangguhkan sampai anak kecil itu baligh. Jika setelah baligh ia bersumpah, maka ia dinyatakan merdeka. Namun jika ia enggan bersumpah, maka sumpah itu dikembalikan kepada ahli waris. Ini berlaku jika dikatakan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa keengganan ahli waris tidak menyebabkan penangguhan sumpah. Jika salah satu dari keduanya (yang mengaku merdeka atau yang mengaku budak) memiliki bukti dalam semua keadaan ini, maka bukti tersebut diterima baik dari pihak yang mengaku merdeka maupun dari pihak yang mengaku budak.

وَالْبَيِّنَةُ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ فِي حَقَّيْهِمَا لِأَنَّهُ بَيِّنَةٌ عَلَى الْوِلَادَةِ وَإِنْ أَفْضَتْ إِلَى حُرِّيَّةٍ أَوْ رِقٍّ

Dan alat bukti (bayyinah) adalah kesaksian empat orang perempuan dalam perkara yang berkaitan dengan keduanya, karena hal itu merupakan bukti atas kelahiran, meskipun berujung pada status merdeka atau budak.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ الْمُدَبَّر أَفَدْتُ هَذَا الْمَالَ بَعْدَ الْعِتْقِ وَقَالَ الْوَارِثُ قَبْلَ الْعِتْقِ أَنَّ الْقَوْلَ قَوْلُ الْمُدَبَّر وَالْوَارِثُ مُدَّعٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang mudabbar berkata, “Aku memperoleh harta ini setelah merdeka,” sedangkan ahli waris berkata, “(Harta itu diperoleh) sebelum merdeka,” maka yang dijadikan pegangan adalah perkataan mudabbar, dan ahli waris dianggap sebagai pihak yang mengklaim (mudda‘ī).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَا كَسَبَهُ الْمُدَبَّر فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ تَرِكَةٌ وَمَا كَسَبَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ مِلْكٌ لِلْمُدَبَّر فَإِذَا اخْتَلَفَ الْمُدَبَّر وَالْوَارِثُ فِي مَالٍ بِيَدِهِ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ فَادَّعَاهُ الْمُدَبَّر مِنْ كَسْبِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَادَّعَاهُ الْوَارِثُ مِنْ كَسْبِهِ قَبْلَ الْمَوْتِ فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ الْمُدَبَّر مَعَ يَمِينِهِ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa apa yang diperoleh oleh al-mudabbar selama hidup tuannya adalah harta warisan, dan apa yang diperolehnya setelah kematian tuannya menjadi milik al-mudabbar. Maka apabila terjadi perselisihan antara al-mudabbar dan ahli waris mengenai harta yang ada di tangannya setelah kematian tuannya, lalu al-mudabbar mengklaim bahwa harta itu adalah hasil usahanya setelah kematian tuannya, sedangkan ahli waris mengklaim bahwa harta itu adalah hasil usahanya sebelum kematian tuannya, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat al-mudabbar dengan sumpahnya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا لِأَجْلِ يَدِهِ الدَّالَّةِ عَلَى مِلْكِهِ

Salah satunya adalah karena tangannya yang menunjukkan kepemilikannya.

وَالثَّانِي أَنَّ حُدُوثَ كَسْبِهِ أَظْهَرُ مِنْ تَقَدُّمِهِ

Yang kedua, terjadinya kasb (usaha manusia) itu lebih jelas daripada keberadaannya yang mendahului.

فَإِنْ كَانَتْ لِلْوَارِثِ بَيِّنَةٌ تَشْهَدُ بِتَقَدُّمِ كَسْبِهِ حُكِمَ بِهَا وَبَيِّنَتُهُ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ لِاسْتِحْقَاقِ مَالٍ وَهَذَا إِذَا شَهِدَتِ الْبَيِّنَةُ أَنَّهُ اكْتَسَبَهُ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ وَأَمَّا إِنْ شَهِدَتْ أَنَّ هَذَا الْمَالَ كَانَ فِي يَدِهِ فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ فَفِي قَبُولِهَا وَالْحُكْمِ بِهَا قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي حُكْمِ الْبَيِّنَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ

Jika ahli waris memiliki bukti yang menunjukkan bahwa harta tersebut diperolehnya lebih dahulu, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Bukti itu berupa dua orang saksi, atau satu orang saksi laki-laki dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah, karena itu merupakan bukti untuk memperoleh harta. Hal ini berlaku jika bukti tersebut menyatakan bahwa harta itu diperoleh pada masa hidup tuannya. Adapun jika bukti tersebut hanya menyatakan bahwa harta itu berada di tangannya pada masa hidup tuannya, maka dalam hal diterimanya bukti tersebut dan diputuskan berdasarkannya terdapat dua pendapat, sesuai dengan perbedaan pendapat mengenai hukum bukti yang mendahului.

أَحَدُهُمَا يُقْبَلُ وَيُحْكَمُ بِهِ لِلْوَارِثِ

Salah satunya diterima dan diputuskan dengannya untuk ahli waris.

وَالثَّانِي لَا يُقْبَلُ وَيَكُونُ لِلْمُدَبَّر مَعَ يَمِينِهِ

Dan yang kedua tidak diterima, dan hak itu menjadi milik mudabbir bersama sumpahnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا وَهَبَ السَّيِّدُ لِمُدَبَّرهِ أَمَةً فَوَطِئَهَا الْمُدَبَّر وَأَوْلَدَهَا فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ وَالْوَلَدُ لَاحِقٌ بِهِ لِأَنَّهَا مَوْطُوءَةٌ فِي مِلْكٍ إِنْ جُعِلَ مَالِكًا أَوْ فِي شُبْهَةِ مِلْكٍ إِنْ لَمْ يُجْعَلْ مَالِكًا وَفِي الْوَلَدِ قَوْلَانِ

Apabila seorang tuan menghadiahkan seorang budak perempuan kepada budak mudabbar-nya, lalu budak mudabbar tersebut menggaulinya dan budak perempuan itu melahirkan anak darinya, maka tidak ada hukuman had atasnya dan anak tersebut dinasabkan kepadanya. Hal ini karena budak perempuan itu digauli dalam kepemilikan yang sah jika ia dianggap sebagai pemilik, atau dalam syubhat kepemilikan jika ia tidak dianggap sebagai pemilik. Terkait status anak tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ ملك للسيد وإن لحق بالمدبر وَهُوَ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ إِنَّ الْعَبْدَ لَا يُمَلَّكُ إِذَا مَلَكَ

Salah satunya adalah bahwa ia menjadi milik tuannya, meskipun ia telah mengikuti status mudabbir. Ini sesuai dengan pendapatnya dalam pendapat baru (al-qawl al-jadīd) bahwa seorang budak tidak dapat memiliki apabila ia sendiri dimiliki.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ مِلْكًا لِلْمُدَبَّر وَهُوَ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ إِنَّ الْعَبْدَ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَعَلَى هَذَا إِذَا جَعَلْنَاهُ مِلْكًا لِلْمُدَبَّر كَانَ تَبَعًا لَهُ فِي التَّدْبِيرِ قَوْلًا وَاحِدًا يُعْتَقُ بِعِتْقِهِ وَيَرِقُّ بِرِقِّهِ وَإِذَا جَعَلْنَاهُ لِلسَّيِّدِ لَمْ يَتْبَعْهُ فِي عِتْقٍ وَلَا رِقٍّ قَوْلًا وَاحِدًا بِخِلَافِ وَلَدِ الْمُدَبَّرةِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَيَكُونُ كَوَلَدِهِ مِنْ نِكَاحِ أَمَةٍ لِسَيِّدِهِ أَوْ غَيْرِ سَيِّدِهِ لَا يَتْبَعُهُ إِلَّا فِي النَّسَبِ وَلَا يَتْبَعُهُ فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ لِأَنَّ الْوَلَدَ فِيهِمَا تَابِعٌ لِلْأُمِّ دُونَ الْأَبِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia menjadi milik bagi mudabbir, dan ini sesuai dengan pendapat lama bahwa seorang hamba dapat memiliki jika ia dijadikan pemilik. Berdasarkan hal ini, jika kita menjadikannya milik bagi mudabbir, maka ia mengikuti mudabbir dalam hal tadbir secara mutlak: ia merdeka ketika mudabbir merdeka dan menjadi budak ketika mudabbir menjadi budak. Namun, jika kita menjadikannya milik bagi tuan, maka ia tidak mengikutinya dalam hal kemerdekaan maupun perbudakan secara mutlak, berbeda dengan anak perempuan mudabbirah menurut salah satu dari dua pendapat. Ia seperti anaknya dari pernikahan dengan budak perempuan milik tuannya atau milik orang lain; ia hanya mengikutinya dalam nasab, tidak dalam kemerdekaan atau perbudakan, karena dalam dua hal tersebut anak mengikuti ibu, bukan ayah.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا دَبَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ أَوْ عَمَّهُ صَحَّ تَدْبِيرُهُ وَعَتَقَ بِمَوْتِهِ وَلَمْ يَرِثْهُ لِأَنَّهُ عِتْقٌ بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَا تَوَارُثَ بِالْأَسْبَابِ الْحَادِثَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Apabila seseorang melakukan tadbīr terhadap saudaranya atau pamannya, maka tadbīr tersebut sah dan orang yang ditadbīr akan merdeka dengan kematian orang yang men-tadbīr, serta ia tidak mewarisinya, karena itu merupakan pembebasan (ʿitq) setelah kematian, dan tidak ada saling mewarisi karena sebab-sebab yang terjadi setelah kematian.

وَلَوْ قَالَ لِأَخِيهِ أَنْتَ حُرٌّ فِي آخِرِ أَجْزَاءِ صِحَّتِي الْمُتَّصِلِ بِأَوَّلِ أَسْبَابِ مَوْتِي ثُمَّ مَاتَ عَتَقَ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ وَوَرِثَهُ لِتَقَدُّمِ عِتْقِهِ فِي الصِّحَّةِ قَبْلَ مَوْتِهِ

Dan jika seseorang berkata kepada saudaranya, “Engkau merdeka pada akhir bagian dari kesehatanku yang bersambung dengan awal sebab kematianku,” kemudian ia meninggal dunia, maka saudaranya menjadi merdeka dari harta peninggalannya, dan ia mewarisinya, karena kemerdekaannya terjadi saat ia masih sehat sebelum kematiannya.

وَلَوْ قَالَ لَهُ أَنْتَ حُرٌّ فِي آخِرِ أَجْزَاءِ حَيَاتِي الْمُتَّصِلِ بِمَوْتِي ثُمَّ مَاتَ عَتَقَ مِنْ ثُلُثِهِ وَفِي مِيرَاثِهِ وَجْهَانِ ذكرناهما في العتق

Dan jika seseorang berkata kepadanya, “Engkau merdeka pada bagian akhir dari hidupku yang bersambung dengan kematianku,” kemudian ia meninggal, maka budak itu merdeka dari sepertiga hartanya. Dalam hal warisan, terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan dalam pembahasan tentang ‘itq (pembebasan budak).

أحدهما لا يرث لأنه عِتْقَهُ فِي الْمَرَضِ وَصِيَّةٌ وَالْوَصِيَّةُ وَالْمِيرَاثُ لَا يَجْتَمِعَانِ

Salah satunya tidak mewarisi karena pembebasannya (dari perbudakan) dilakukan saat sakit, yang hukumnya seperti wasiat, sedangkan wasiat dan warisan tidak dapat digabungkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَرِثُ وَلَا يَكُونُ عِتْقُهُ وَصِيَّةً لَهُ وَإِنْ كَانَ مُعْتَبَرًا مِنَ الثُّلُثِ لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ مَا مُلِكَتْ عَنِ الْمُوصِي وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ نَفْسَهُ عَنْهُ وَلَوْ قَالَ لِأَخِيهِ فِي صِحَّتِهِ إِنْ مُتُّ بَعْدَ شَهْرٍ فَأَنْتَ الْيَوْمَ حُرٌّ فَمَاتَ قَبْلَ شَهْرٍ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ مَاتَ بَعْدَ شَهْرٍ عَتَقَ يَوْمَ لَفْظِهِ وَوَرِثَهُ وَلَوْ قَالَ ذَلِكَ فِي مَرَضِهِ كَانَ فِي مِيرَاثِهِ الْوَجْهَانِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua: ia mewarisi dan pembebasannya tidak dianggap sebagai wasiat baginya, meskipun tetap diperhitungkan dari sepertiga harta, karena wasiat adalah sesuatu yang dimiliki dari pihak yang berwasiat, sedangkan ia (budak) tidak memiliki dirinya sendiri dari pihak tersebut. Jika seseorang berkata kepada saudaranya saat masih sehat, “Jika aku mati setelah sebulan, maka hari ini engkau merdeka,” lalu ia meninggal sebelum sebulan, maka saudaranya tidak merdeka. Namun jika ia meninggal setelah sebulan, maka saudaranya merdeka pada hari ia mengucapkan kalimat tersebut dan ia mewarisinya. Jika ia mengucapkan hal itu saat sakit, maka dalam masalah waris terdapat dua pendapat. Allah Maha Mengetahui.

بَابٌ فِي تَدْبِيرِ النَّصْرَانِيِّ

Bab tentang pengelolaan (tadbīr) budak Nasrani

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الْمُزَنِيُّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عنه وَيَجُوزُ تَدْبِيرُ النَّصْرَانِيِّ وَالْحَرْبِيِّ فَإِنْ دَخَلَ إِلَيْنَا بِأَمَانٍ فَأَرَادَ الرُّجُوعَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ لَمْ نَمْنَعْهُ

Al-Muzani berkata, Asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berkata: Boleh melakukan tadbīr bagi orang Nasrani dan orang harbi. Jika mereka masuk ke wilayah kita dengan jaminan keamanan, lalu ingin kembali ke wilayah harb, maka kita tidak melarangnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ يَجُوزُ تَدْبِيرُ الْكَافِرِ كَمَا يَصِحُّ تَدْبِيرُ الْمُسْلِمِ سَوَاءٌ كَانَ ذِمِّيًّا أَوْ مُعَاهَدًا أَوْ حَرْبِيًا لِأَنَّ الْكَافِرَ صَحِيحُ الْمِلْكِ كَالْمُسْلِمِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ الأحزاب 27 فَأَضَافَهَا إِلَيْهِمْ إِضَافَةَ مِلْكٍ وَإِذَا ثَبَتَ لَهُمُ الْمِلْكُ صَحَّ مِنْهُمُ التَّدْبِيرُ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ عَقْدٌ مُفْضٍ إِلَى الْعِتْقِ وَعُقُودُهُمْ جَائِزَةٌ وَعِتْقُهُمْ نَافِذٌ فَإِنْ دَبَّرَ الْحَرْبِيُّ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ وَقَدِمَ بِهِ دَارَ الْإِسْلَامِ مُدَبَّرا أَوْ دَبَّرَه فِي دَارِ الْإِسْلَامِ فَتَدْبِيرُهُ فِي الْحَالَيْنِ صَحِيحٌ فَإِنْ أَرَادَ الرُّجُوعَ بِمُدَبَّرهِ مِنْ دَارِ الإٍسلام إِلَى دَارِ الْحَرْبِ مُكِّنَ مِنْهُ وَلَمْ يُمْنَعْ فَإِنِ امْتَنَعَ الْمُدَبَّر أَنْ يَرْجِعَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ لِئَلَّا يُسْتَرَقَّ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ أُجْبِرَ عَلَى الْعَوْدِ مَعَهُ لِأَنَّهُ فِي الْحَالِ عَبْدُهُ وَإِنْ دَبَّرَهُ تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْعَبِيدِ

Al-Mawardi berkata, “Boleh bagi orang kafir melakukan tadbir (pembebasan budak secara bertahap), sebagaimana sahnya tadbir yang dilakukan oleh seorang muslim, baik ia seorang dzimmi, mu‘ahad, maupun harbi. Sebab, orang kafir memiliki kepemilikan yang sah sebagaimana muslim, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: ‘Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka’ (Al-Ahzab: 27). Maka Allah menisbatkan semua itu kepada mereka sebagai kepemilikan. Jika telah tetap bagi mereka hak milik, maka sah pula bagi mereka melakukan tadbir, karena tadbir adalah akad yang berujung pada pembebasan, dan akad-akad mereka dibolehkan serta pembebasan mereka pun sah. Jika seorang harbi melakukan tadbir terhadap budaknya di Darul Harb (wilayah perang), lalu ia membawanya ke Darul Islam dalam keadaan sebagai mudabbar (budak yang ditadbir), atau ia melakukan tadbir di Darul Islam, maka tadbirnya dalam kedua keadaan itu adalah sah. Jika ia ingin membawa mudabbarnya kembali dari Darul Islam ke Darul Harb, maka ia dibolehkan dan tidak dilarang. Jika mudabbar menolak kembali ke Darul Harb karena khawatir akan diperbudak setelah tuannya meninggal, maka ia dipaksa untuk kembali bersamanya, karena pada saat itu ia masih merupakan budaknya. Jika ia telah ditadbir, maka tetap berlaku atasnya hukum-hukum budak.”

وَلَوْ كَاتَبَ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ وَأَرَادَ أَنْ يَحْمِلَهُ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ فَامْتَنَعَ الْمُكَاتَبُ لَمْ يُجْبَرْ

Jika seseorang melakukan mukātabah terhadap hambanya di wilayah Islam, lalu ia ingin membawa hamba tersebut ke wilayah harb, namun si mukātab menolak, maka ia tidak boleh dipaksa.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمُدَبَّر وَالْمُكَاتَبِ أَنَّ الْمُدَبَّر بَاقٍ عَلَى مِلْكِ سَيِّدِهِ وَلَهُ الرُّجُوعُ فِي تَدْبِيرِهِ وَيَمْلِكُ جَمِيعَ أَكْسَابِهِ وَالْمُكَاتَبُ فِي حُكْمِ الْخَارِجِ عَنْ مِلْكِهِ غَيْرُ مَالِكِ لأكسابه وَلَا يَجُوزُ لَهُ الرُّجُوعُ فِي كِتَابَتِهِ فَكَانَ هَذَا الْفَرْقُ مَانِعًا مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا فِي الرَّدِّ

Perbedaan antara mudabbir dan mukatab adalah bahwa mudabbir tetap berada dalam kepemilikan tuannya, dan tuannya berhak untuk menarik kembali keputusan tadbirnya, serta mudabbir memiliki seluruh hasil usahanya. Sedangkan mukatab, dalam hukum, dianggap telah keluar dari kepemilikan tuannya, tidak memiliki hasil usahanya, dan tidak boleh bagi tuannya untuk menarik kembali akad kitabahnya. Maka perbedaan ini menjadi penghalang untuk menggabungkan keduanya dalam hal pengembalian.

فَإِنْ أَرَادَ الْحَرْبِيُّ أَنْ يَرْجِعَ فِي تَدْبِيرِ عَبْدِهِ كَانَ كَالْمُسْلِمِ لَهُ رُجُوعُهُ إِنْ رَجَعَ فِيهِ بِالْفِعْلِ الْمُزِيلِ لِمِلْكِهِ صَحَّ وَإِنْ رَجَعَ فِيهِ بِالْقَوْلِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِ فَعَلَى قَوْلَيْنِ وَإِذَا عَتَقَ الْمُدَبَّر عَلَى الْحَرْبِيِّ بِمَوْتِهِ كَانَ وَلَاؤُهُ مُسْتَحَقًّا لِوَرَثَتِهِ كَالْمُسْلِمِ

Jika seorang harbi ingin menarik kembali pengelolaan terhadap budaknya, maka ia seperti seorang muslim; ia berhak menarik kembali jika ia melakukannya dengan tindakan yang menghilangkan kepemilikannya, maka itu sah. Namun jika ia menarik kembali hanya dengan ucapan sementara budak itu masih dalam kepemilikannya, maka ada dua pendapat. Dan apabila budak mudabbar milik harbi merdeka karena kematiannya, maka hak wala’nya menjadi milik ahli warisnya sebagaimana pada seorang muslim.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَسْلَمَ الْمُدَبَّر قُلْنَا لِلْحَرْبِيِّ إِنْ رَجَعْتَ فِي تَدْبِيرِكَ بِعْنَاهُ عَلَيْكَ وَإِنْ لَمْ تَرْجِعْ خَارَجْنَاهُ لَكَ وَمَنَعْنَاكَ خِدْمَتَهُ فَإِنْ خَرَجْتَ دَفَعْنَاهُ إِلَى مَنْ وَكَّلْتَهُ فَإِذَا مُتَّ فَهُوَ حُرٌّ وَفِيهِ قَوْلٌ آخَرُ أَنَّهُ يُبَاعُ قَالَ الْمُزَنِيُّ يباع أشبه بأصله لأن التدبير وصية فهو في معنى عبد اوصي به لرجل لا يجب له إلا بموت السيد وهو عبد بحاله ولا يجوز تركة إذا أسلم في ملك مشرك يذله وقد صار بالإسلام عدوا له

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika orang yang dimudabarkan masuk Islam, maka kami katakan kepada orang harbi: Jika kamu menarik kembali tadbir-mu, juallah budak itu kepadamu; dan jika kamu tidak menariknya, kami akan mengeluarkannya untukmu dan mencegahmu dari mempekerjakannya. Jika kamu keluar (dari wilayah Islam), kami serahkan budak itu kepada orang yang kamu wakilkan. Maka apabila kamu meninggal, budak itu menjadi merdeka. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa budak itu dijual. Al-Muzani berkata: Dijual itu lebih sesuai dengan asalnya, karena tadbir adalah wasiat, sehingga statusnya seperti budak yang diwasiatkan kepada seseorang, yang tidak berhak memilikinya kecuali setelah tuannya meninggal, dan selama itu ia tetap sebagai budak. Tidak boleh dibiarkan jika ia masuk Islam dalam kepemilikan orang musyrik yang akan menghinakannya, karena dengan masuk Islam ia telah menjadi musuh bagi orang musyrik tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا عَبْدُ الْحَرْبِيِّ إِذَا أَسْلَمَ أَوْ عَبْدُ الذِّمِّيِّ فَإِنَّهُ لَا يُقَرُّ عَلَى مِلْكِهِ وَيُقَالُ لَهُ إِنْ بِعْتَهُ أَوْ أَعْتَقْتَهُ وَإِلَّا بِعْنَاهُ عَلَيْكَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا النساء 141

Al-Mawardi berkata: Adapun budak milik harbi jika masuk Islam, atau budak milik dzimmi, maka ia tidak dibiarkan tetap dalam kepemilikannya. Kepadanya dikatakan: “Jika kamu menjualnya atau memerdekakannya, maka lakukanlah. Jika tidak, maka kami akan menjualnya atas namamu.” Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (an-Nisa’ 141).

وَأَمَّا أُمُّ وَلَدِ الْحَرْبِيِّ وَالذِّمِّيِّ إِذَا أَسْلَمَتْ مُنِعَ مِنْهَا وَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهَا عَلَيْهِ لِأَنَّ بَيْعَ أُمِّ الْوَلَدِ مَمْنُوعٌ مِنْهُ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ فَكَانَ مَمْنُوعًا مِنْهُ فِي حَقِّ الْكَافِرِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ اسْتِخْدَامُهَا لِئَلَّا يَسْتَذِلَّهَا وَمُكِّنَتْ مِنَ الِاكْتِسَابِ وَالْإِنْفَاقِ مِنْهُ عَلَى نَفْسِهَا فَإِنْ فَضَلَ مِنْ كَسْبِهَا بَعْدَ النَّفَقَةِ فَضْلٌ كَانَ لِسَيِّدِهَا وَإِنْ قَصُرَ الْكَسْبُ عَنْ نَفَقَتِهَا كَانَ السَّيِّدُ مَأْخُوذًا بِتَمَامِهَا وَلَوْ لَمْ تَكُنْ ذَاتَ كَسْبٍ أُخِذَ بِجَمِيعِ نَفَقَتِهَا فَإِنْ أَرَادَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ لَمْ يَكُنْ لَهَا ذَاكَ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَإِنْ كَانَتْ مُحَرَّمَةً عَلَيْهِ لِأَنَّهَا قَدْ تَجُوزُ أَنْ تُسْلِمَ فَتَعُودُ إِلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقَتْ عَلَيْهِ بِمَوْتِهِ

Adapun umm walad milik orang harbi dan dzimmi, apabila ia masuk Islam, maka ia dicegah darinya dan tidak boleh dijual kepadanya, karena penjualan umm walad dilarang bagi seorang Muslim, maka demikian pula dilarang bagi orang kafir. Ia juga tidak boleh mempekerjakannya agar tidak merendahkannya, dan ia diberi kesempatan untuk bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. Jika dari hasil kerjanya ada kelebihan setelah kebutuhan nafkahnya terpenuhi, maka kelebihan itu menjadi milik tuannya. Namun jika penghasilannya kurang dari kebutuhan nafkahnya, maka tuan wajib menanggung kekurangannya. Jika ia tidak memiliki penghasilan sama sekali, maka tuan wajib menanggung seluruh nafkahnya. Jika ia ingin menikah, maka ia tidak boleh menikah kecuali dengan izin tuannya, meskipun ia telah menjadi haram baginya, karena bisa jadi ia masuk Islam lalu kembali ke pelukannya. Jika tuannya meninggal, maka ia merdeka karena kematian tuannya.

وَأَمَّا مُدَبَّر الذِّمِّيِّ وَالْحَرْبِيِّ إِذَا أَسْلَمَ يُقَالُ لِسَيِّدِهِ أَتَرْجِعُ فِي تَدْبِيرِهِ أَوْ تُقِيمُ عَلَيْهِ فَإِنْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِهِ صَارَ عَبْدًا قِنًّا وَبِيعَ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَبِعْهُ وَلَمْ يَعْتِقْهُ وَإِنْ أَقَامَ عَلَى تَدْبِيرِهِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Adapun mudabbir milik dzimmi dan harbi, apabila ia masuk Islam, maka dikatakan kepada tuannya: “Apakah engkau akan menarik kembali tadbirnya atau tetap membiarkannya?” Jika ia menarik kembali tadbirnya, maka ia menjadi budak murni (qinn) dan dijual atasnya jika ia tidak menjualnya dan tidak memerdekakannya. Namun jika ia tetap pada tadbirnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَاخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ يُبَاعُ عَلَيْهِ لِجَرَيَانِ أَحْكَامِ الرِّقِّ عَلَيْهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَدِيمَ الْكَافِرُ رِقَّ مُسْلِمٍ

Salah satunya, yaitu pendapat Malik dan pilihan al-Muzani, bahwa budak tersebut dijual karena hukum-hukum perbudakan tetap berlaku atasnya, dan tidak boleh seorang kafir terus-menerus memiliki perbudakan atas seorang Muslim.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يُبَاعُ عَلَيْهِ وَيُمْنَعُ اسْتِخْدَامُهُ لِأَنَّ اسْتِبْقَاءَهُ عَلَى التَّدْبِيرِ الْمُفْضِي إِلَى عِتْقِهِ أَحَظُّ لَهُ مِنْ نَقْلِهِ بِالْبَيْعِ مِنْ رِقٍّ إِلَى رِقٍّ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak boleh dijual dan dilarang untuk digunakan, karena mempertahankannya dalam status tadbīr yang akan mengantarkannya kepada kemerdekaan lebih memberikan maslahat baginya daripada memindahkannya melalui penjualan dari satu status budak ke status budak yang lain.

فَعَلَى هَذَا يُقَالُ لِسَيِّدِهِ إِنْ عَجَّلْتَ عِتْقَهُ فَلَكَ وَلَاؤُهُ وَإِنْ لَمْ تُعَجِّلْهُ وَلَمْ تَرْجِعْ فِي تَدْبِيرِهِ خَلِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ فِي الِاكْتِسَابِ وَالنَّفَقَةِ وَلَكَ بَقِيَّةُ كَسْبِهِ إِنْ فَضَلَ وَعَلَيْكَ تَمَامُهُ إِنْ نَقَصَ فَإِنْ خَرَجْتَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ قَامَ فِيهِ وَكِيلُكَ مَقَامَكَ فَإِذَا مُتَّ عَتَقَ مِنْ ثُلُثِكَ فَإِنْ خَرَجَ مِنَ الثُّلُثِ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ الثُّلُثُ عَتَقَ مِنْهُ قَدْرُ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَرَقَّ بَاقِيهِ وَبِيعَ عَلَى وَرَثَتِهِ لِئَلَّا يَسْتَدِيمُوا رِقَّ مُسْلِمٍ وَهَكَذَا حُكْمُ الْمُعْتَقِ بِالصِّفَةِ إِذَا أَسْلَمَ وَسَيِّدُهُ كَافِرٌ كَانَ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْمُدَبَّر يُبَاعُ فِي أَحَدِهِمَا لِئَلَّا يَسْتَدِيمَ كَافِرٌ اسْتِرْقَاقَ مُسْلِمٍ وَيُقَرُّ فِي الْقَوْلِ الثاني على ملكه ولوجود الْحَظِّ لَهُ فِي حُدُوثِ الصِّفَةِ الْمُفْضِيَةِ إِلَى عِتْقِهِ فَأَمَّا إِذَا أَسْلَمَ عَبْدُ الْكَافِرِ وَقَدْ أَوْصَى بِهِ لِمُسْلِمٍ فَإِنَّهُ يُبَاعُ عَلَيْهِ قَوْلًا وَاحِدًا وَإِنْ بَطَلَ بَيْعُهُ الْوَصِيَّةَ لِمُسْلِمٍ لِأَنَّهُ لَيْسَ تُفْضِي الْوَصِيَّةُ لَهُ إِلَى عِتْقٍ بَلْ يَكُونُ بِهَا مُنْتَقِلًا مِنْ رِقٍّ إِلَى رِقٍّ وَهُوَ فِي الْحَالِ مُسْتَبْقًى عَلَى اسْتِرْقَاقِ كَافِرٍ فلذلك بيع عَلَيْهِ فَإِنْ أَوْصَى الْكَافِرُ بِعِتْقِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ احْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْمُدَبَّر لِإِفْضَائِهَا إِلَى عِتْقِهِ وَاحْتَمَلَ أَنْ يُبَاعَ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ بِعِتْقِهِ أَضْعَفُ مِنْ تَدْبِيرِهِ وَاللَّهُ أعلم بالصواب

Berdasarkan hal ini, dikatakan kepada tuannya: Jika engkau mempercepat pembebasannya, maka engkau berhak atas wala’-nya. Namun jika engkau tidak mempercepatnya dan tidak menarik kembali tadbir-nya, maka biarkanlah ia mengurus dirinya sendiri dalam mencari penghasilan dan nafkah; dan engkau berhak atas sisa penghasilannya jika ada kelebihan, dan engkau wajib menutupi kekurangannya jika kurang. Jika engkau pergi ke negeri perang, maka wakilmu menggantikan posisimu atasnya. Jika engkau wafat, maka ia merdeka dari sepertiga hartamu; jika sepertiga itu mencukupi, maka seluruhnya merdeka; jika sepertiga itu tidak mencukupi, maka yang merdeka hanya sebesar yang mampu ditanggung oleh sepertiga itu, dan sisanya tetap menjadi budak dan dijual kepada ahli warisnya agar mereka tidak terus-menerus memperbudak seorang Muslim. Demikian pula hukum orang yang dimerdekakan dengan syarat tertentu apabila ia masuk Islam sementara tuannya kafir, maka ada dua pendapat sebagaimana pada mudabbar: pada salah satunya, ia dijual agar seorang kafir tidak terus-menerus memperbudak seorang Muslim; dan pada pendapat kedua, ia tetap berada dalam kepemilikannya karena ada maslahat baginya dalam terjadinya sifat yang menyebabkan kemerdekaannya. Adapun jika budak milik orang kafir masuk Islam dan ia telah diwasiatkan kepada seorang Muslim, maka ia dijual menurut satu pendapat, dan jika penjualannya membatalkan wasiat kepada Muslim, karena wasiat itu tidak menyebabkan kemerdekaan baginya, melainkan hanya memindahkannya dari satu perbudakan ke perbudakan lain, dan dalam keadaan ini ia tetap berada dalam perbudakan orang kafir, maka karena itu ia dijual. Jika orang kafir mewasiatkan pembebasannya setelah wafatnya, maka ada kemungkinan hukumnya seperti mudabbar, yakni ada dua pendapat karena wasiat itu menyebabkan kemerdekaan, dan ada kemungkinan ia dijual menurut satu pendapat karena wasiat pembebasan lebih lemah daripada tadbir. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

بَابُ فِي تَدْبِيرِ الصَّبِيِّ الَّذِي يَعْقِلُ وَلَمْ يبلغ

Bab tentang pengelolaan anak yang sudah berakal namun belum baligh

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه مَنْ أَجَازَ وَصِيَّتَهُ أَجَازَ تَدْبِيرَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Barang siapa membolehkan wasiatnya, maka ia juga membolehkan tadbīr-nya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ الْمَحْجُورُ عَلَيْهِمْ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ ثَلَاثَةٌ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ وَالسَّفِيهُ

Al-Mawardi berkata: Orang-orang yang dikenai pembatasan (mahjūr) dalam hak-hak atas diri mereka ada tiga, yaitu anak kecil (ṣabī), orang gila (majnūn), dan orang safih (safīh).

فَأَمَّا الْمَجْنُونُ فَلَا يَصِحُّ مِنْهُ تَصَرُّفٌ فِي قَوْلٍ وَلَا فِعْلٍ لِعَدَمِ تَمْيِيزِهِ فَلَا يُنَفَّذُ عِتْقُهُ وَلَا يَصِحُّ تَدْبِيرُهُ وَلَا وَصِيَّتُهُ وَأَمَّا السَّفِيهُ فَتَصَرُّفُهُ قَبْلَ الْحَجْرِ عَلَيْهِ مَاضٍ كَالرَّشِيدِ فِي أَفْعَالِهِ وأَقْوَالِهِ وَسَائِرِ عُقُودِهِ فَيَصِحُّ عِتْقُهُ وَتَدْبِيرُهُ وَوَصِيَّتُهُ فَأَمَّا بَعْدَ وُقُوعِ الْحَجْرِ عَلَيْهِ فَلَا يَصِحُّ عِتْقُهُ وَلَا كِتَابَتُهُ وَيَصِحُّ تَدْبِيرُهُ وَوَصِيَّتُهُ لِأَنَّ الْحَجْرَ عَلَيْهِ لِمَصْلَحَةِ مَالِهِ فَلَمْ يَصِحَّ مِنْهُ مَا اسْتَهْلَكَهُ فِي حَيَاتِهِ وَيَصِحُّ مِنْهُ مَا عَادَ بِمَصْلَحَةِ آخِرَتِهِ مِنْ تَدْبِيرِهِ وَوَصِيَّتِهِ وَهُوَ أَشْبَهُ بِرَشَادِهِ

Adapun orang gila, maka tidak sah darinya suatu tindakan, baik ucapan maupun perbuatan, karena ia tidak memiliki kemampuan membedakan. Maka tidak berlaku pembebasan budak olehnya, tidak sah tadbirnya, dan tidak sah wasiatnya. Adapun orang safih (bodoh/ceroboh), maka tindakannya sebelum dikenakan hajr (pembatasan hak) atasnya tetap berlaku seperti orang yang cerdas dalam perbuatan, ucapan, dan seluruh akadnya. Maka sah pembebasan budaknya, tadbirnya, dan wasiatnya. Adapun setelah dikenakan hajr atasnya, maka tidak sah pembebasan budaknya dan tidak sah mukatabahnya, namun sah tadbir dan wasiatnya, karena hajr atasnya demi kemaslahatan hartanya. Maka tidak sah darinya apa yang menghabiskan hartanya selama hidupnya, dan sah darinya apa yang membawa kemaslahatan akhiratnya dari tadbir dan wasiatnya, dan hal itu lebih menyerupai kecerdasannya.

وَأَمَّا الصَّبِيُّ فَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُمَيِّزٍ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ عِتْقٌ وَلَا كِتَابَةٌ وَلَا تَدْبِيرٌ وَلَا وَصِيَّةٌ وَإِنْ كَانَ مُمَيِّزًا مُرَاهِقًا لَمْ يَصِحَّ عِتْقُهُ وَلَا كِتَابَتُهُ لِأَمْرَيْنِ

Adapun anak kecil, jika ia belum mumayyiz (belum dapat membedakan), maka tidak sah darinya tindakan memerdekakan budak, mukatabah, tadbir, maupun wasiat. Dan jika ia sudah mumayyiz dan mendekati usia baligh, maka tidak sah tindakan memerdekakan budak dan mukatabah darinya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا لِحِفْظِ مَالِهِ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah untuk menjaga hartanya tetap miliknya.

وَالثَّانِي لِأَنَّ الْقَلَمَ غَيْرُ جَارٍ عَلَيْهِ

Dan alasan kedua adalah karena pena (catatan takdir) tidak berlaku atasnya.

فَأَمَّا تَدْبِيرُهُ وَوَصِيَّتُهُ فَفِي صِحَّتِهِمَا مِنْهُ قَوْلَانِ

Adapun mengenai tindakannya mengatur (harta) dan wasiatnya, maka terdapat dua pendapat tentang keabsahan keduanya darinya.

أَحَدُهُمَا لَا يَصِحُّ مِنْهُ

Salah satunya tidak sah darinya.

وَبِهِ قَالَ أَبُو حنيفة ومالك هو اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ تَعْلِيلًا بِارْتِفَاعِ الْقَلَمِ عَنْهُ وَلِأَنَّهَا عَقْدٌ فَأَشْبَهَ سَائِرَ عُقُودِهِ وَلِأَنَّهُ مُفْضٍ إِلَى الْعِتْقِ فَأَشْبَهَ مُبَاشَرَةَ عِتْقِهِ

Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah dan Malik, dan merupakan pilihan al-Muzani, dengan alasan bahwa tanggung jawab (taklif) telah terangkat darinya, dan karena ini adalah suatu akad sehingga serupa dengan akad-akad lainnya yang ia lakukan, serta karena hal ini mengantarkan kepada pembebasan budak (‘itq), sehingga serupa dengan pembebasan budak yang dilakukan secara langsung olehnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَصِحُّ تَدْبِيرُهُ وَوَصِيَّتُهُ تَعْلِيلًا بِإِفْضَائِهِمَا إِلَى مَصْلَحَتِهِ وَلِرِوَايَةِ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ أُمِّهِ أَنَّهَا أَتَتْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَسَأَلَتْهُ عَنْ غُلَامٍ يَافِعٍ وَالْيَافِعُ الْمُرَاهِقُ الَّذِي لَمْ يَبْلُغْ وَرُوِيَ أَنَّهُ كَانَ لَهُ عَشْرُ سِنِينَ وَصَّى لِابْنِ عَمِّهِ فَأَجَازَ عُمَرُ وَصِيَّتَهُ وَلَيْسَ يُعْرَفُ لَهُ فِي الصَّحَابَةِ مُخَالِفٌ فَكَانَ إِجْمَاعًا وَلِأَنَّ مَنْ صَحَّ تَمْيِيزُهُ لَمْ يُمْنَعِ الْحَجْرُ عَلَيْهِ مِنْ تَدْبِيرِهِ وَوَصِيَّتِهِ كَالسَّفِيهِ وَلِأَنَّ تَدْبِيرَهُ أَحْفَظُ لِمَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَأَبْلَغُ فِي صَلَاحِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ فَأَمَّا ارْتِفَاعُ الْقَلَمِ عَنْهُ فَهُوَ مَرْفُوعٌ حَتْمًا عَلَيْهِ لِسُقُوطِ التَّكْلِيفِ عَنْهُ وَهُوَ غَيْرُ مَرْفُوعٍ فِيمَا لَهُ لِأَنَّهُ تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَصِيَامُهُ فَهُوَ مُثَابٌ فِيمَا لَهُ وَغَيْرُ مُعَاقَبٍ فِيمَا عَلَيْهِ وَإِمْضَاءُ تَدْبِيرِهِ وَوَصِيَّتِهِ مِنْ حُقُوقِهِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا فَصَحَّ وَإِنْ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ تَعْجِيلُ الْعِتْقِ لِمَا ذَكَرْنَا مِنَ الْفَرْقِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sah bagi anak yang belum baligh untuk melakukan tadbīr dan wasiat, dengan alasan bahwa keduanya mengarah pada kemaslahatan dirinya. Hal ini juga didasarkan pada riwayat dari ‘Amr bin Sulaim dari ibunya, bahwa ia mendatangi ‘Umar bin al-Khattab ra. dan bertanya kepadanya tentang seorang anak laki-laki yang sudah mendekati usia baligh, yaitu anak yang hampir baligh namun belum mencapainya. Diriwayatkan bahwa anak tersebut berumur sepuluh tahun dan ia berwasiat untuk anak paman (sepupunya), lalu ‘Umar membolehkan wasiatnya. Tidak diketahui ada sahabat lain yang menentang hal ini, sehingga menjadi ijmā‘. Selain itu, siapa saja yang sudah mampu membedakan, tidak dicegah untuk melakukan tadbīr dan wasiat, seperti halnya orang safīh (bodoh dalam mengelola harta). Sebab, tadbīr yang dilakukan lebih menjaga hartanya selama hidup dan lebih bermanfaat baginya setelah meninggal. Adapun terangkatnya pena (tidak dicatat dosa dan pahala) darinya, maka itu hanya berlaku dalam hal kewajiban syariat karena gugurnya taklīf atasnya, namun tidak berlaku dalam hak-haknya, karena salat dan puasanya tetap sah, sehingga ia mendapat pahala atas apa yang menjadi haknya dan tidak dihukum atas apa yang menjadi kewajibannya. Pelaksanaan tadbīr dan wasiat termasuk hak-haknya yang ia dapatkan pahala atasnya, sehingga keduanya sah, meskipun tidak sah baginya untuk mempercepat pembebasan budak (ta‘jīl al-‘itq) karena adanya perbedaan yang telah disebutkan.

فَأَمَّا السَّكْرَانُ فَإِنْ كَانَ سُكْرُهُ مِنْ غَيْرِ معصية لإكراهه على الشر ب أَوْ لِشُرْبِهِ مَا ظَنَّ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْكِرٍ فَكَانَ مُسْكِرًا فَلَا يَصِحُّ تَدْبِيرُهُ وَلَا وَصِيَّتُهُ لِأَنَّهُ بِالسُّكْرِ غَيْرُ مُمَيِّزٍ كَالْمُغْمَى عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ سُكْرُهُ عَنْ مَعْصِيَةٍ لِإِقْدَامِهِ مُخْتَارًا عَلَى شُرْبِ الْمُسْكِرِ مَعَ عِلْمِهِ أَنَّهُ مُسْكِرٌ فَأَحْكَامُهُ كَأَحْكَامِ الصَّاحِي فِي نُفُوذِ عِتْقِهِ وَصِحَّةِ تَدْبِيرِهِ وَوُقُوعِ طَلَاقِهِ وَإِنْ صَحَّ تَخْرِيجُ الْمُزَنِيِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي الْقَدِيمِ أَنَّ طَلَاقَهُ لَا يَقَعُ وَلَمْ يَصِحَّ تَدْبِيرُهُ وَلَمْ تَنْعَقِدْ وَصِيَّتُهُ وَإِنْ صَحَّ قَوْلُ مَنْ فَرَّقَ مِنْ أَصْحَابِنَا بَيْنَ ماله وَعَلَيْهِ وَقَعَ طَلَاقُهُ وَلَمْ يَصِحَّ عِتْقُهُ وَلَا تدبيره

Adapun orang yang mabuk, jika mabuknya bukan karena maksiat—misalnya karena dipaksa melakukan kejahatan, atau karena meminum sesuatu yang ia kira bukan minuman memabukkan, ternyata memabukkan—maka tidak sah tindakan tadbir dan wasiatnya, karena dengan mabuk ia menjadi tidak mampu membedakan, seperti orang yang pingsan. Namun, jika mabuknya karena maksiat, yaitu ia secara sengaja dan sadar meminum minuman memabukkan padahal tahu itu memabukkan, maka hukum-hukumnya seperti hukum orang sadar dalam hal berlakunya pembebasan budak, sahnya tadbir, dan jatuhnya talak. Meskipun ada pendapat yang dinisbatkan kepada al-Muzani dari mazhab Syafi‘i lama bahwa talaknya tidak jatuh, tadbirnya tidak sah, dan wasiatnya tidak berlaku. Ada pula pendapat dari sebagian ulama kami yang membedakan antara hak milik dan hak orang lain: talaknya jatuh, tetapi pembebasan budak dan tadbirnya tidak sah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلِوَلِيِّهِ بَيْعُ عَبْدِهِ عَلَى النَّظَرِ وَكَذَلِكَ الْمَحْجُورُ عليه قال المزني القياس عندي في الصبي أن القلم لما رفع عنه ولم تجز هبته ولا عتقه في حياته أن وصيته لا تجوز بعد وفاته وليس كذلك البالغ المحجور عليه لأنه مكلف ويؤجر على الطاعة ويأثم على المعصية

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Wali berhak menjual budaknya dengan mempertimbangkan kemaslahatan, demikian pula orang yang sedang berada dalam status mahjūr ‘alaih (yang dibatasi hak perdata). Al-Muzani berkata: Menurut qiyās yang saya pahami, terhadap anak kecil, karena pena (tanggung jawab hukum) telah diangkat darinya dan hibah maupun pembebasan budaknya tidak sah selama hidupnya, maka wasiatnya pun tidak sah setelah wafatnya. Tidak demikian halnya dengan orang dewasa yang mahjūr ‘alaih, karena ia mukallaf, mendapat pahala atas ketaatan, dan berdosa atas kemaksiatan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا صَحَّ مِنَ الصَّبِيِّ وَالسَّفِيهِ التَّدْبِيرُ صَحَّ مِنْهُمَا الرُّجُوعُ فِي التَّدْبِيرِ وَيَكُونَانِ فِيهِ كَالْبَالِغِ الرَّشِيدِ وَسَوَاءٌ كَانَ رُجُوعُهُمَا فِيهِ لِحَاجَةٍ أَوْ غَيْرِ حَاجَّةٍ فَإِذَا صَحَّ الرُّجُوعُ مِنْهُمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يُبَاشِرَ الرُّجُوعَ فِيهِ كَالْبَيْعِ لِأَنَّ عَقْدَ الْبَيْعِ مِنْهُمَا لَا يَصِحُّ وَلَكِنْ يَأْذَنَانِ لِوَلِيِّهِمَا أَنْ يَبِيعَ الْمُدَبَّر فِي حَقِّهِمَا فَيَكُونُ بَيْعُ الْوَلِيِّ عَنْ إِذْنِهِمَا رُجُوعًا مِنْهُمَا

Al-Mawardi berkata: Jika tindakan tadbir yang dilakukan oleh anak kecil dan orang safih (tidak cakap) dianggap sah, maka penarikan kembali tadbir dari keduanya juga sah, dan keduanya dalam hal ini diperlakukan seperti orang dewasa yang berakal. Baik penarikan kembali itu dilakukan karena kebutuhan atau tanpa kebutuhan, maka jika penarikan kembali dari keduanya telah sah, tidak boleh bagi mereka secara langsung melakukan penarikan kembali seperti dalam jual beli, karena akad jual beli dari keduanya tidak sah. Namun, mereka dapat memberi izin kepada wali mereka untuk menjual budak mudabbar atas nama mereka, sehingga penjualan yang dilakukan oleh wali atas izin mereka dianggap sebagai penarikan kembali dari mereka.

فَأَمَّا إِنْ رَجَعَا فِيهِ بِالْقَوْلِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِمَا فَفِيهِ قَوْلَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي صِحَّةِ الرُّجُوعِ بِالْقَوْلِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى الْمِلْكِ

Adapun jika keduanya menarik kembali (akad) dengan ucapan, sementara barang tersebut masih tetap dalam kepemilikan mereka, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang merupakan perbedaan dua pendapat (imam) mengenai sah atau tidaknya penarikan kembali dengan ucapan sementara barang masih dalam kepemilikan.

فَأَمَّا إِذَا أَرَادَ الْوَلِيُّ أَنْ يَرْجِعَ فِي تَدْبِيرِهِمَا فَإِنْ أَرَادَ الرُّجُوعَ فِيهِ بِالْقَوْلِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى مِلْكِهِمَا لَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ لَا حَجْرَ عَلَيْهِمَا فِي التَّدْبِيرِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُبْطِلَهُ الْوَلِيُّ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَادَ بَيْعَهُ عَلَيْهِمَا فَإِنْ قَصَدَ بِهِ الرُّجُوعَ فِي التَّدْبِيرِ وَلَمْ يَقْصِدِ الْمُصْلِحَةَ لَهُمَا لَمْ يَجُزْ لِمَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّهُ لَا حَجْرَ عَلَيْهِمَا فِيهِ وَإِنْ بَاعَهُ عَلَيْهِمَا فِي مَصْلَحَتِهِمَا صَحَّ وَإِنْ أَفْضَى إِلَى إِبْطَالِ تَدْبِيرِهِمَا لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ إِلَى الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِمَا

Adapun jika wali ingin menarik kembali tindakannya dalam mentadbir (mengatur) harta keduanya, maka jika ia ingin menarik kembali hanya dengan ucapan, sementara kepemilikan harta itu masih tetap pada keduanya, maka hal itu tidak diperbolehkan menurut satu pendapat, karena tidak ada larangan (ḥajr) atas keduanya dalam hal tadbir, sehingga tidak sah bagi wali untuk membatalkannya atas keduanya. Dan jika ia ingin menjual harta itu atas keduanya, maka jika maksudnya adalah untuk menarik kembali tadbir dan bukan demi kemaslahatan keduanya, maka hal itu tidak diperbolehkan, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada larangan atas keduanya dalam hal itu. Namun jika ia menjualnya demi kemaslahatan keduanya, maka hal itu sah, meskipun berakibat pada pembatalan tadbir keduanya, karena ia memang dianjurkan untuk mengurus kemaslahatan keduanya.

فَصْلٌ

Bagian

قَدْ ذَكَرْنَا أَنْ وَلَدَ الْمُدَبَّرةِ وَوَلَدَ الْمُعْتَقَةِ بِصِفَةٍ هَلْ يَكُونُ تَابِعًا لَهُمَا أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Telah kami sebutkan bahwa anak dari al-mudabbirah dan anak dari al-mu‘taqah bi shifah, apakah ia mengikuti status keduanya atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَتْبَعُهَا فِي تَدْبِيرٍ وَلَا عِتْقٍ وَيَكُونُ عَبْدًا قِنًّا لِلسَّيِّدِ وَلَا تَفْرِيعَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ

Salah satunya adalah ia tidak mengikuti perempuan itu dalam urusan pengelolaan maupun pembebasan, dan ia tetap menjadi budak murni milik tuan, serta tidak ada cabang hukum yang dibangun di atas pendapat ini.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ تَابِعًا لَهُمَا فَيَكُونُ وَلَدُ الْمُدَبَّرةِ تَابِعًا لِأُمِّهِ فِي التَّدْبِيرِ وَوَلَدُ الْمُعْتَقَةِ نِصْفُهُ تَابِعًا لِأُمِّهِ فِي الْعِتْقِ وَلَا يَتْبَعُهَا فِي الصِّفَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut mengikuti keduanya, sehingga anak dari perempuan mudabbirah mengikuti ibunya dalam hal tadbir, dan anak dari perempuan yang dimerdekakan setengahnya mengikuti ibunya dalam hal kemerdekaan, namun tidak mengikutinya dalam sifat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ عِتْقَ التَّدْبِيرِ مُسْتَحَقٌّ بِالْوَفَاةِ وَعِتْقَ الصِّفَةِ مُسْتَحَقٌّ فِي الْحَيَاةِ وَحُكْمُ مَا اسْتُحِقَّ بِالْوَفَاةِ عَامٌّ كَالْمِيرَاثِ وَحُكْمُ مَا اسْتُحِقَّ فِي الْحَيَاةِ خاص كَالْعُقُودِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَوَلَدُ الْمُدَبَّرةِ تَابِعٌ لَهَا فِي التَّدْبِيرِ وَالْعِتْقِ فَإِنْ مَاتَتِ الْأُمُّ أَوْ بَاعَهَا أَوْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِهَا كَانَ الْوَلَدُ بَاقِيًا عَلَى تَدْبِيرِهِ وَيُعْتَقُ بِمَوْتِ سَيِّدِهِ وَلَوْ رَجَعَ فِي تَدْبِيرِ الْوَلَدِ كَانَتِ الْأُمُّ عَلَى تَدْبِيرِهَا وَلَا يُعْتَقُ وَلَدُهَا بِعِتْقِهَا وَوَلَدُ الْمُعْتَقَةِ بِالصِّفَةِ تَابِعٌ لَهَا فِي الْعِتْقِ دُونَ الصِّفَةِ فَإِنْ مَاتَتِ الْأُمُّ قَبْلَ الصِّفَةِ لَمْ يُعْتَقِ الْوَلَدُ بِوُجُودِ الصِّفَةِ وَكَذَلِكَ لَوْ بَاعَهَا دُونَ الْوَلَدِ ثُمَّ وُجِدَتِ الصِّفَةُ لَمْ تُعْتَقِ الْأُمُّ لِزَوَالِ مِلْكِهِ عَنْهَا وَلَمْ يُعْتَقْ وَلَدُهَا وَإِنْ كَانَ بَاقِيًا عَلَى مِلْكِهِ لِعَدَمِ الْعِتْقِ فِيهَا وَكَذَلِكَ وَلَدُ الْمُكَاتَبَةَ إِذَا جُعِلَ تَابِعًا لِأُمِّهِ كَانَ تَابِعًا لَهَا فِي الْعِتْقِ وَلَمْ كان تَابِعًا لَهَا فِي الْكِتَابَةِ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa ‘itq al-tadbīr (pembebasan budak dengan syarat wafat tuannya) menjadi hak ketika wafat, sedangkan ‘itq al-shifah (pembebasan budak dengan syarat tertentu) menjadi hak saat masih hidup. Hukum sesuatu yang menjadi hak karena wafat bersifat umum seperti warisan, sedangkan hukum sesuatu yang menjadi hak saat hidup bersifat khusus seperti akad-akad. Jika demikian, maka anak dari budak perempuan yang ditadbīrkan mengikuti ibunya dalam hal tadbīr dan pembebasan. Jika ibunya meninggal, atau dijual, atau tuannya menarik kembali tadbīrnya, maka anak tersebut tetap berada dalam tadbīr dan akan dibebaskan dengan wafat tuannya. Jika tuannya menarik kembali tadbīr anaknya, maka ibunya tetap dalam tadbīrnya dan anaknya tidak dibebaskan karena pembebasan ibunya. Adapun anak dari budak perempuan yang dibebaskan dengan syarat, ia mengikuti ibunya dalam hal pembebasan, bukan dalam syaratnya. Jika ibunya meninggal sebelum terpenuhinya syarat, maka anaknya tidak dibebaskan meskipun syarat itu terpenuhi. Demikian pula jika ibunya dijual tanpa anaknya, kemudian syarat itu terpenuhi, maka ibunya tidak dibebaskan karena kepemilikan tuannya telah hilang atas dirinya, dan anaknya pun tidak dibebaskan meskipun masih dimiliki oleh tuannya, karena pembebasan tidak terjadi pada ibunya. Begitu pula anak dari budak perempuan yang mukātabah, jika dijadikan mengikuti ibunya, maka ia mengikuti ibunya dalam hal pembebasan, tetapi tidak mengikuti ibunya dalam hal mukātabah.

فَأَمَّا وَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ فَهُوَ تَابِعٌ لَهَا فِي الْحُكْمِ وَالْعِتْقِ فَإِنْ مَاتَتْ أُمُّهُ قَبْلَ مَوْتِ السَّيِّدِ يُعْتَقُ ولدها بموت السيد وبالله التوفيق

Adapun anak dari umm al-walad, maka ia mengikuti status ibunya dalam hukum dan kemerdekaan. Jika ibunya meninggal sebelum tuannya meninggal, maka anaknya akan merdeka dengan wafatnya tuan tersebut. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan.

مختصر الْمُكَاتَبِ

Ringkasan tentang al-mukātib

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْكِتَابَةُ فَهُوَ أَنْ يعقد السيد مع عبده عقد معاوضة في عِتْقِهِ بِمَالٍ يَتَرَاضَيَانِ بِهِ إِلَى نُجُومٍ يَتَّفِقَانِ عَلَيْهَا لِيُعْتَقَ بِأَدَائِهَا فَيَمْلِكُ الْعَبْدُ كَسْبَ نَفْسِهِ وَيَمْلِكُ السَّيِّدُ بِهِ مَالَ نُجُومِهِ وَفِي تَسْمِيَةِ هَذَا الْعَقْدِ كِتَابَةً وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun al-kitābah adalah ketika seorang tuan mengadakan akad mu‘āwaḍah (pertukaran) dengan hambanya untuk memerdekakannya dengan sejumlah harta yang keduanya sepakati, yang pembayarannya dilakukan secara bertahap sesuai waktu yang mereka setujui, sehingga hamba tersebut akan merdeka setelah melunasi pembayaran tersebut. Dengan demikian, hamba itu berhak atas hasil usahanya sendiri, dan tuan berhak atas harta yang menjadi cicilan pembayaran. Dalam penamaan akad ini sebagai ‘kitābah’ terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا الْعُرْفُ الْجَارِي بِكِتَابَتِهِ فِي كِتَابِ وَثِيقَةٍ تُوَقَّعُ فِيهَا الشَّهَادَةُ

Salah satunya adalah ‘urf yang berlaku dengan penulisan dalam sebuah dokumen resmi yang di dalamnya ditandatangani persaksian.

وَالثَّانِي لِأَنَّ الْكِتَابَةَ فِي اللُّغَةِ الضَّمُّ وَالْجَمْعُ فَسُمِّيَ بِهَا هَذَا الْعَقْدُ لِضَمِّ النُّجُومِ بَعْضِهَا إِلَى بَعْضٍ

Kedua, karena secara bahasa, kata “kitābah” berarti mengumpulkan dan menghimpun, maka akad ini dinamakan demikian karena mengumpulkan sebagian bintang dengan sebagian yang lain.

وَالْأَصْلُ فِي جَوَازِ الْكِتَابَةِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33

Dasar kebolehan al-kitābah adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang ingin melakukan al-kitābah dari budak-budak yang kamu miliki, maka lakukanlah al-kitābah dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.” (an-Nūr: 33)

وَفِي قوله إن علمتم فيهم خيراً ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ

Dalam ucapannya “Jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka” terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِالْخَيْرِ الْقُدْرَةُ عَلَى الْكَسْبِ وَالِاحْتِرَافِ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud dengan “al-khair” adalah kemampuan untuk bekerja dan berprofesi, dan ini adalah pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

وَالثَّانِي أَنَّهُ الرُّشْدُ وَالصَّلَاحُ فِي الدِّينِ وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ وَطَاوُسٍ وَقَتَادَةَ

Kedua, bahwa yang dimaksud adalah kedewasaan dan kebaikan dalam agama, dan ini adalah pendapat al-Hasan, Thawus, dan Qatadah.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ الْكَسْبُ وَالْأَمَانَةُ لِيَكُونَ بِالْكَسْبِ قَادِرًا عَلَى الْأَدَاءِ وَبِالْأَمَانَةِ مَوْثُوقًا بِوَفَائِهِ وَهَذَا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ

Ketiga, yaitu bahwa (syaratnya) adalah kemampuan mencari nafkah dan sifat amanah, agar dengan kemampuan mencari nafkah ia mampu memenuhi (kewajiban), dan dengan sifat amanah ia dapat dipercaya dalam menunaikannya. Inilah pendapat asy-Syafi‘i dan Malik.

وَفِي قَوْلِهِ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 وَجْهَانِ

Dalam firman-Nya “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (an-Nur: 33) terdapat dua sisi makna.

أَحَدُهُمَا يَعْنِي مِنْ مَالِ الزَّكَاةِ فِي سَهْمِ الرِّقَابِ يُعْطَاهُ الْمُكَاتَبُ لِيَسْتَعِينَ بِهِ فِي أَدَاءِ مَا عَلَيْهِ لِلسَّيِّدِ وَيَجُوزُ لِلسَّيِّدِ أَخْذُهُ وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا وَيَكُونُ هَذَا خِطَابًا لِأَرْبَابِ الْأَمْوَالِ وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ

Salah satunya, yaitu dari harta zakat pada pos riqāb, diberikan kepada mukātab agar ia dapat membantunya dalam melunasi kewajibannya kepada tuannya. Dan diperbolehkan bagi tuan untuk mengambilnya meskipun ia kaya. Ini merupakan seruan kepada para pemilik harta, dan inilah pendapat Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha‘i, dan Abdurrahman bin Zaid.

وَالثَّانِي مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ يَضَعُهُ السَّيِّدُ عَنْهُ أَوْ يَرُدُّهُ عَلَيْهِ مَعُونَةً لَهُ كَمَا أَعَانَهُ غَيْرُهُ مِنْ سَهْمِ الرِّقَابِ وَيَكُونُ هَذَا خِطَابًا لِلسَّيِّدِ وَهَذَا قَوْلُ الْجُمْهُورِ

Bagian kedua dari harta kitabah dapat dibebaskan oleh tuannya atau dikembalikan kepadanya sebagai bantuan, sebagaimana orang lain membantunya dari bagian sumbangan untuk pembebasan budak. Ini merupakan seruan yang ditujukan kepada tuan, dan inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama).

وَحَكَى الْكَلْبِيُّ أَنَّ سَبَبَ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ عَبْدًا لِحُوَيْطِبِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى سَأَلَهُ أَنْ يُكَاتِبَهُ فَامْتَنَعَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ذَلِكَ فِيهِ

Al-Kalbi meriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah seorang budak milik Huwaithib bin ‘Abdil ‘Uzza meminta kepadanya agar dibuatkan perjanjian mukatabah, namun ia menolak. Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa itu.

وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِهَا مِنَ السُّنَّةِ حَدِيثُ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   الْمُكَاتَبُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابَتِهِ دِرْهَمٌ

Dan yang menunjukkan kebolehannya dari sunnah adalah hadis Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukatab tetap berstatus budak selama masih tersisa satu dirham dari akad kitabahnya.”

وَرَوَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   مَنْ أَعَانَ غَارِمًا أَوْ غَازِيًا أَوْ مُكَاتَبًا فِي كِتَابَتِهِ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ وَلَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Diriwayatkan dari Sahl bin Hunayf bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa membantu orang yang berutang, atau seorang mujahid, atau seorang mukatab dalam penebusan dirinya, niscaya Allah akan menaunginya di bawah naungan-Nya, dan tidak ada naungan selain naungan-Nya.”

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ نَبْهَانَ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا كَاتَبَتْهُ وَقَالَتْ لَهُ كَمْ بَقِيَ عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ أَلْفُ دِرْهَمٍ قَالَتْ فَعِنْدَكَ مَا تُؤَدِّي

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan, dari az-Zuhri, dari Nabhan, mantan budak Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia (Ummu Salamah) telah membuat perjanjian pembebasan budak dengannya dan berkata kepadanya, “Berapa sisa (utang) yang masih harus kamu bayar?” Ia (Nabhan) menjawab, “Seribu dirham.” Ummu Salamah berkata, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk membayarnya?”

قُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ ادْفَعْهَا إِلَى فُلَانٍ ابْنِ أُخْتِهَا ثُمَّ أَلْقَتِ الْحِجَابَ وَقَالَتْ السَّلَامُ عَلَيْكَ هَذَا آخِرُ مَا تَرَانِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَقُولُ   إِذَا كَانَ لِإِحْدَاكُنَّ مُكَاتَبٌ وَكَانَ عِنْدَهُ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ

Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Serahkanlah (barang itu) kepada si Fulan, anak dari saudara perempuannya.” Kemudian ia menurunkan hijab dan berkata, “Assalamu’alaik, ini adalah terakhir kali engkau melihatku. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Jika salah seorang dari kalian (perempuan) memiliki seorang mukatab dan ia telah memiliki sesuatu yang dapat ia bayarkan (untuk menebus dirinya), maka hendaklah ia berhijab darinya.’”

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مِنْ فِعْلِ الصَّحَابَةِ مَا رُوِيَ أَنَّ بَرِيرَةَ كُوتِبَتْ عَلَى تِسْعِ أُوَاقٍ تُؤَدِّي فِي كُلِّ عَامٍ أُوقِيَّةً

Hal ini juga didukung oleh perbuatan para sahabat, sebagaimana diriwayatkan bahwa Barirah melakukan mukatabah dengan sembilan uqiyah, dan ia membayar setiap tahun satu uqiyah.

وَكَاتَبَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَبْدًا لَهُ عَلَى خَمْسَةٍ وَثَلَاثِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ

Abdullah bin Umar telah membuat perjanjian mukatab dengan seorang budaknya dengan nilai tiga puluh lima ribu dirham.

وَكَاتَبَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلَاهُ سِيرِينَ أَبَا مُحَمَّدٍ عَلَى مَالٍ تَرَكَ عَلَيْهِ مِنْهُ خَمْسَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ قِيلَ فِي أَوَّلِ نُجُومِهِ

Anas bin Malik telah melakukan mukātabah dengan maulanya, Sirin Abu Muhammad, atas sejumlah harta, dan ia masih meninggalkan kewajiban sebesar lima ribu dirham darinya. Dikatakan bahwa itu terjadi pada pembayaran pertama dari cicilannya.

وَقِيلَ فِي آخِرِهَا وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى جَوَازِهَا وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي وُجُوبِهَا إِذَا طَلَبَهَا الْعَبْدُ مِنْ سَيِّدِهِ فَذَهَبَ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ وَدَاوُدُ بْنُ عَلِيٍّ إِلَى وُجُوبِهَا وَأَنْ يُؤْخَذَ بِهَا السَّيِّدُ إِذَا طَلَبَهَا الْعَبْدُ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ فَمَا زَادَ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 وَهَذَا أَمْرٌ يَقْتَضِي الْوُجُوبَ ثُمَّ قَالَ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 وَالْإِيتَاءُ وَاجِبٌ فَكَذَلِكَ الْكِتَابَةُ لِأَنَّ صِيغَةَ الْأَمْرِ فِيهِمَا وَاحِدَةٌ

Dan dikatakan pada akhir pembahasan ini bahwa ijmā‘ telah terwujud atas kebolehannya, dan para ulama hanya berbeda pendapat mengenai kewajibannya apabila seorang budak memintanya dari tuannya. ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ, ‘Amr bin Dīnār, dan Dāwud bin ‘Alī berpendapat bahwa hal itu wajib, dan tuan harus melakukannya jika budak memintanya sesuai dengan nilai dirinya, dan jika ada kelebihan maka itu juga harus diberikan. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Maka buatlah perjanjian (kitābah) dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka” (an-Nūr: 33), dan ini adalah perintah yang menunjukkan kewajiban. Kemudian Allah berfirman: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (an-Nūr: 33), dan pemberian itu wajib, maka demikian pula perjanjian (kitābah), karena bentuk perintah pada keduanya sama.

وَلِأَنَّ سِيرِينَ سَأَلَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَنْ يُكَاتِبَهُ فَأَبَى عَلَيْهِ فَعَلَاهُ عُمَرُ بِالدُّرَّةِ وَقَالَ أَمَا سَمِعْتَ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 فَكَاتَبَهُ وَلِأَنَّ الْعُقُودَ الَّتِي تُفْضِي إِلَى صَلَاحِ النُّفُوسِ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَقَعَ الْإِجْبَارُ فِيهَا كَالْمُضْطَرِّ إِلَى طَعَامٍ يُجْبَرُ مَالِكُهُ عَلَى بَيْعِهِ لِمَا فِيهِ مِنْ صَلَاحِ النَّفْسِ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ الْمُفْضِيَةُ إِلَى الْعِتْقِ يَجُوزُ أَنْ يَقَعَ الْإِجْبَارُ عَلَيْهَا لِمَا فِيهَا مِنْ صَلَاحِ النَّفْسِ وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ ومالك وَمَنْ تَقَدَّمَهُمْ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالتَّابِعِينَ إِلَى أَنَّهَا نَدْبٌ لَا تَجِبُ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ أَصْلَيْ حَظْرٍ يَجْذِبُهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى حُكْمِهِ

Karena Sirin meminta Anas bin Malik untuk melakukan mukatabah dengannya, namun Anas menolak permintaannya, lalu Umar memukul Anas dengan tongkat dan berkata, “Tidakkah engkau mendengar Allah Ta‘ala berfirman: ‘Maka lakukanlah mukatabah dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka’ (an-Nur: 33)?” Maka Anas pun melakukan mukatabah dengannya. Karena akad-akad yang membawa pada kemaslahatan jiwa terkadang boleh dipaksakan, seperti orang yang terpaksa membutuhkan makanan, maka pemilik makanan boleh dipaksa untuk menjualnya demi kemaslahatan jiwa; demikian pula mukatabah yang berujung pada kemerdekaan, boleh dipaksakan karena mengandung kemaslahatan jiwa. Namun asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, dan para fuqaha serta tabi‘in terdahulu berpendapat bahwa mukatabah itu sunnah, tidak wajib, dengan alasan bahwa akad mukatabah berada di antara dua dasar hukum yang masing-masing menariknya pada ketentuan hukumnya sendiri.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ غَرَرٌ لِأَنَّهُ عَقْدٌ عَلَى مَوْجُودٍ بِمَعْدُومٍ

Salah satunya adalah karena hal itu termasuk gharar, sebab merupakan akad atas sesuatu yang ada dengan sesuatu yang tidak ada.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مُعَاوِضٌ عَلَى مِلْكِهِ بِمِلْكِهِ فَصَارَ الْأَمْرُ بِالْكِتَابَةِ وَارِدًا بَعْدَ حَظْرِهَا فَاقْتَضَى أَنْ يُحْمَلَ عَلَى الْإِبَاحَةِ دُونَ الْوُجُوبِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ البقرة 222 وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا المائدة 2 وَفِي هَذَا دَلِيلٌ وَانْفِصَالٌ

Kedua, bahwa ia melakukan pertukaran atas kepemilikannya dengan kepemilikan orang lain, sehingga perintah tentang penulisan (kitābah) datang setelah larangannya. Maka hal itu menunjukkan bahwa perintah tersebut harus dipahami sebagai kebolehan (ibāhah), bukan kewajiban (wujūb), sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka apabila mereka telah suci, campurilah mereka” (al-Baqarah: 222), dan “Apabila kamu telah halal, maka berburu lah” (al-Mā’idah: 2). Dalam hal ini terdapat dalil dan penjelasan yang memadai.

وَلِأَنَّ مُطْلَقَ الْأَمْرِ يَقْتَضِي عُمُومَ حُكْمِهِ فِي الْوُجُوبِ وَالنَّدْبِ وَلَا يَتَجَزَّأُ حُكْمُهُ فَيَكُونُ بَعْضُهُ وَاجِبًا وَبَعْضُهُ نَدْبًا فَلَمَّا حُمِلَ عَلَى النَّدْبِ فِيمَا قَلَّ عَنِ الْقِيمَةِ وَجَبَ أن يكون مَحْمُولًا عَلَيْهِ فِيمَا زَادَ عَلَيْهَا وَلِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نفس منه   فاقتضى هذا الظاهر أن لا يُجْبَرَ السَّيِّدُ عَلَى إِزَالَةِ مِلْكِهِ عَنْ رَقَبَةِ الْعَبْدِ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسِهِ وَكَالتَّدْبِيرِ الَّذِي لَا إِجْبَارَ فِيهِ لِأَنَّهُمَا عِتْقُ صِفَةٍ

Karena perintah yang bersifat mutlak menuntut keumuman hukumnya dalam hal kewajiban dan anjuran, dan hukumnya tidak dapat dipisah-pisahkan sehingga sebagian menjadi wajib dan sebagian lagi menjadi anjuran. Maka ketika perintah itu dibawa pada makna anjuran untuk sesuatu yang nilainya kurang dari kadar tertentu, wajib pula untuk membawanya pada makna anjuran bagi yang nilainya melebihi kadar tersebut. Dan karena Nabi ﷺ bersabda: “Tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan hatinya,” maka makna zahir hadis ini menuntut bahwa seorang tuan tidak boleh dipaksa untuk melepaskan kepemilikannya atas budaknya kecuali dengan kerelaan hatinya. Hal ini seperti dalam kasus tadbir, yang tidak ada unsur paksaan di dalamnya, karena keduanya merupakan pembebasan budak dalam bentuk sifat.

فَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بوجوب الإيتاء فعنه جوابان

Adapun dalil mereka tentang wajibnya pemberian (nafkah) itu, maka terdapat dua jawaban atasnya.

أحدها أَنَّهُ لَا يَمْتَنِعُ أَنْ يَكُونَ الْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ شُرُوطًا وَاجِبَةً كَالطَّهَارَةِ لِصَلَاةِ النَّافِلَةِ كَذَلِكَ الْإِيتَاءُ فِي الْكِتَابَةِ وَاجِبٌ وَإِنْ كَانَتِ الْكِتَابَةُ غَيْرَ وَاجِبَةٍ

Pertama, tidak mustahil bahwa sesuatu yang dianjurkan (mandūb) dapat memiliki syarat-syarat yang wajib, seperti thahārah (bersuci) untuk salat sunnah; demikian pula pembayaran (al-ītā’) dalam akad kitābah adalah wajib, meskipun akad kitābah itu sendiri tidak wajib.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَخْتَلِفَ الْأَمْرُ بِهَا عِنْدَهُمْ فِي الْعُمُومِ وَالْخُصُوصِ فَحَمَلُوهُ فِي الْكِتَابَةِ عَلَى الْخُصُوصِ وَفِي الْإِيتَاءِ عَلَى الْعُمُومِ جَازَ أَنْ يَخْتَلِفَا عِنْدَنَا فِي الْوُجُوبِ وَالنَّدْبِ فَحُمِلَ الْكِتَابَةُ عَلَى النَّدْبِ وَالْإِيتَاءُ عَلَى الْوُجُوبِ

Kedua, karena dimungkinkan adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai makna umum dan khusus, sehingga mereka menafsirkan perintah menulis (kitābah) sebagai khusus dan perintah memberi (i‘tā’) sebagai umum, maka demikian pula boleh bagi kami untuk berbeda pendapat dalam hal kewajiban (wujūb) dan anjuran (nadb), sehingga perintah menulis (kitābah) dipahami sebagai anjuran (nadb) dan perintah memberi (i‘tā’) dipahami sebagai kewajiban (wujūb).

وَجَوَابٌ ثَالِثٌ وَهُوَ أَنَّ الْكِتَابَةَ مُعَاوَضَةٌ وَأُصُولُ الشَّرْعِ تَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ كَالْبَيْعِ وَالْإِيتَاءُ مُوَاسَاةٌ وَأُصُولُ الشَّرْعِ لَا تَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ الْمُوَاسَاةِ كَالزَّكَاةِ

Jawaban ketiga adalah bahwa kitābah merupakan bentuk mu‘āwaḍah (transaksi pertukaran), dan prinsip-prinsip syariat melarang kewajiban akad-akad mu‘āwaḍah seperti jual beli. Sedangkan pemberian (i‘tā’) adalah bentuk muwāsāh (saling membantu), dan prinsip-prinsip syariat tidak melarang kewajiban muwāsāh seperti zakat.

وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِإِجْبَارِ أَنَسٍ عَلَى كِتَابَةِ سِيرِينَ فَلَا إِجْمَاعَ فِيهِ فَيُسْتَدَلُّ بِهِ وَقَوْلُ عُمَرَ لَا يَحُجُّ أَنَسًا فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ صَلَاحِ النُّفُوسِ كَالْمُضْطَرِّ فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْتَبَرَ مَا تَعَلَّقَ بِاخْتِيَارِ الطَّالِبِ فِي مَصَالِحِ نَفْسِهِ بِحَالِ الْمُضْطَرِّ فِي حِفْظِ مَتَاعِهِ أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ يَجِبُ عَلَيْهِ حِرَاسَةُ نَفْسِهِ وَلَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَدْعُوَ إِلَى كِتَابَتِهِ فَلَمَّا افْتَرَقَا فِي حُكْمِ الطَّالِبِ وَجَبَ أَنْ يَفْتَرِقَا فِي حكم المطلوب

Adapun dalil mereka dengan memaksa Anas untuk menulis Sirin, maka tidak ada ijmā‘ di dalamnya sehingga dapat dijadikan dalil. Ucapan Umar bahwa Anas tidak dapat dijadikan hujjah atas Anas, maka di dalamnya tidak terdapat dalil. Adapun dalil mereka dengan alasan adanya kemaslahatan jiwa seperti keadaan orang yang terpaksa, maka itu tidak benar. Sebab, tidak boleh menyamakan perkara yang berkaitan dengan pilihan pemohon dalam kemaslahatan dirinya dengan keadaan orang yang terpaksa dalam menjaga hartanya. Tidakkah engkau melihat bahwa orang yang terpaksa wajib menjaga dirinya, sedangkan seorang budak tidak wajib meminta untuk dituliskan (kitābah) baginya? Maka, ketika keduanya berbeda dalam hukum bagi pemohon, wajib pula keduanya berbeda dalam hukum bagi yang diminta.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه قال الله جل ثناؤه والذي يبتغون الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فيهم خيراً قَالَ وَلَا يَكُونُ الِابْتِغَاءُ مِنَ الْأَطْفَالِ وَلَا الْمَجَانِينَ وَلَا تَجُوزُ الْكِتَابَةُ إِلَّا عَلَى بَالِغٍ عَاقِلٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Allah Ta‘ālā berfirman, “Dan orang-orang yang menginginkan kitabah dari budak yang kalian miliki, maka lakukanlah kitabah dengan mereka jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.” Ia berkata: Permintaan kitabah tidak berlaku bagi anak-anak maupun orang gila, dan tidak sah melakukan kitabah kecuali kepada orang yang telah baligh dan berakal.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ لَا تَصِحُّ كِتَابَةُ الْعَبْدِ حَتَّى يَكُونَ بَالِغًا عَاقِلًا فَإِنْ كَانَ صَبِيًّا أَوْ مَجْنُونًا لَمْ تَصِحَّ كِتَابَتُهُ وَوَافَقَ أَبُو حَنِيفَةَ فِي الْمَجْنُونِ وَخَالَفَ فِي الصَّبِيِّ فَجَوَّزَ كِتَابَتَهُ إِذَا كَانَ مُمَيِّزًا بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي جَوَازِ تَصَرُّفِ الصَّبِيِّ بِإِذْنِ وَلَيِّهِ

Al-Mawardi berkata, “Penulisan (kitabah) seorang budak tidak sah hingga ia baligh dan berakal. Jika ia masih anak-anak atau gila, maka penulisannya tidak sah.” Abu Hanifah sependapat dalam hal orang gila, namun berbeda pendapat dalam hal anak-anak; ia membolehkan penulisan (kitabah) bagi anak-anak jika sudah mumayyiz, berdasarkan prinsip dasarnya tentang bolehnya tindakan anak-anak dengan izin walinya.

وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ   وَلِأَنَّهُ غَيْرُ مُكَلَّفٍ فَلَمْ تَصِحَّ كِتَابَتُهُ كَالْمَجْنُونِ وَكَالصَّبِيِّ الَّذِي لَا يُمَيِّزُ الْخَبَرَ وَالْأَصْلُ الَّذِي بَنَاهُ عَلَيْهِ مَدْفُوعٌ

Dan dalil atas hal itu adalah sabda Nabi ﷺ: “Pena diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia bermimpi (baligh), dari orang gila sampai ia sadar kembali.” Karena ia bukanlah mukallaf, maka tulisannya tidak sah, sebagaimana orang gila dan anak kecil yang belum dapat membedakan (perkara). Dan dasar yang dijadikan sandaran dalam hal ini tertolak.

فَإِنْ قِيلَ فَلِمَ لَا تَجُوزُ كِتَابَتُهُ كَمَا يَجُوزُ تَدْبِيرُهُ

Jika dikatakan, “Mengapa tidak boleh menuliskannya sebagaimana boleh melakukan tadbīr?”

قِيلَ لِلْفَصْلِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ التَّدْبِيرَ يَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِهِ السَّيِّدُ وَلَا يُرَاعَى فِيهِ قَوْلُ الْمُدَبَّر فَلَمْ يُرَاعَ فِيهِ الْبُلُوغُ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah karena tadbīr boleh dilakukan secara sepihak oleh tuan, dan pendapat budak yang ditadbīr tidak diperhatikan, sehingga syarat baligh pun tidak diperhatikan dalam hal ini.

وَالْعَقْدُ وَالْكِتَابَةُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِهِمَا السَّيِّدُ وَيُرَاعَى فِيهِمَا قَوْلُ الْمُكَاتَبِ فَرُوعِي فِيهَا الْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ فَإِنْ كَاتَبَ عَنِ الصَّبِيِّ أَبُوهُ لَمْ يَجُزْ لِعِلَّتَيْنِ

Akad dan penulisan (kitābah) tidak boleh dilakukan secara sepihak oleh tuan, dan dalam hal ini harus memperhatikan pendapat mukātab. Oleh karena itu, syarat yang diperhatikan adalah baligh dan berakal. Jika seorang ayah melakukan kitābah atas nama anak kecil, maka itu tidak sah karena dua alasan.

إِحْدَاهُمَا أَنَّهُ مَمْلُوكٌ وِلَايَتُهُ لِسَيِّدِهِ دُونَ أَبِيهِ

Salah satunya adalah bahwa ia adalah seorang budak yang hak perwaliannya berada pada tuannya, bukan pada ayahnya.

وَالثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ يُمْلَكُ بِهَا التَّصَرُّفُ فِي الْعُقُودِ وَالْحُقُوقِ وَالصَّبِيُّ مِمَّنْ لَا يَصِحُّ تَصَرُّفُهُ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Yang kedua, bahwa dengan tulisan dapat dimiliki hak untuk melakukan tindakan dalam akad-akad dan hak-hak, sedangkan anak kecil termasuk orang yang tidak sah tindakannya dalam salah satu dari keduanya. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ كِتَابَةَ الصَّبِيِّ لَا تَصِحُّ كَالْمَجْنُونِ فَكِتَابَةُ السَّيِّدِ كَانَتْ كِتَابَةً بَاطِلَةً وَعَتَقَ فِيهَا بِالْأَدَاءِ لِوُجُودِ الصِّفَةِ لِأَنَّ كِتَابَتَهُ اشْتَمَلَتْ عَلَى عَقْدٍ وَهُوَ قَوْلُهُ كَاتَبْتُكَ وَعَلَى صِفَةٍ وَهُوَ قَوْلُهُ فَإِذَا أَدَّيْتَ إِلَيَّ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ فَإِذَا بَطَلَ حُكْمُ الْعَقْدِ بَقِيَ حُكْمُ الصِّفَةِ فَلِذَلِكَ عَتَقَ بِهَا قَالَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَبُطْلَانُ هَذِهِ الْكِتَابَةِ مَعَ الصَّبِيِّ يَسْلُبُهَا حُكْمُ الصِّفَةِ وَحُكْمُ الْفَسَادِ وَتَأْثِيرُ هَذَا الْقَوْلِ يَكُونُ فِي حُكْمَيْنِ

Maka apabila telah tetap bahwa penulisan (akad) oleh anak kecil tidak sah sebagaimana (penulisan oleh) orang gila, maka penulisan oleh tuan (pemilik budak) adalah penulisan yang batal, dan kemerdekaan (budak) terjadi di dalamnya karena adanya sifat (syarat), karena penulisannya mencakup akad, yaitu ucapannya “Aku memerdekakanmu dengan akad mukatabah,” dan mencakup sifat (syarat), yaitu ucapannya “Jika kamu telah melunasi seluruhnya kepadaku, maka kamu merdeka.” Maka apabila hukum akadnya batal, yang tersisa adalah hukum sifat (syarat), oleh karena itu budak menjadi merdeka karenanya. Ibn Abi Hurairah berkata, “Batalnya penulisan ini bersama anak kecil menghilangkan hukum sifat (syarat) dan hukum kerusakan (fasad), dan pengaruh pendapat ini berlaku pada dua hukum.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ الصَّبِيَّ فِيهَا إِذَا عَتَقَ بِالْأَدَاءِ لَمْ يَرْجِعِ السَّيِّدُ عَلَيْهِ بِقِيمَتِهِ إِنْ كَانَ الْمُؤَدَّى أَقَلَّ مِنْهَا وَلَا يَرْجِعُ الصَّبِيُّ إِذَا عَتَقَ بِالزِّيَادَةِ عَلَى الْقِيمَةِ إِنْ كَانَ الْمُؤَدَّى أَكْثَرَ مِنْهَا وَلَوْ فَسَدَتِ الْكِتَابَةُ مَعَ الْعَبْدِ الْبَالِغِ الْعَاقِلِ اسْتَحَقَّ السَّيِّدُ عَلَيْهِ قَدْرَ قِيمَتِهِ فَإِنْ كَانَ الْمُؤَدَّى أَكْثَرَ مِنْهَا رَدَّ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْهَا رَجَعَ بِالْبَقِيَّةِ

Salah satunya adalah bahwa seorang anak kecil dalam kasus ini, jika ia merdeka melalui pembayaran, maka tuannya tidak dapat menuntutnya dengan nilai dirinya jika pembayaran yang diberikan lebih sedikit dari nilai tersebut, dan anak kecil itu juga tidak dapat menuntut kelebihan atas nilai dirinya jika pembayaran yang diberikan lebih banyak dari nilai tersebut. Namun, jika akad kitābah menjadi batal pada budak yang sudah baligh dan berakal, maka tuan berhak menuntut sebesar nilai budak tersebut. Jika pembayaran yang diberikan lebih banyak dari nilai tersebut, maka kelebihannya dikembalikan, dan jika lebih sedikit, maka tuan dapat menuntut sisanya.

وَالْحُكْمُ الثَّانِي أَنَّ الصَّبِيَّ إِذَا عَتَقَ فِيهَا بِأَدَاءِ مَالِ الْكِتَابَةِ وَبَقِيَ فِي يَدِهِ فَضْلٌ كَانَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنْهُ وَلَوْ كَانَ بَالِغًا عَاقِلًا لَمْ يَكُنْ لَهُ انْتِزَاعُهُ منه

Hukum kedua adalah bahwa apabila seorang anak kecil merdeka melalui pembayaran uang mukatab, lalu masih tersisa kelebihan harta di tangannya, maka tuannya berhak mengambil kelebihan itu darinya. Namun, jika ia sudah baligh dan berakal, maka tuan tidak berhak mengambilnya darinya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الصَّبِيِّ وَالْبَالِغِ فِي هَذَيْنِ الْحُكْمَيْنِ أَنَّ الْبَالِغَ مِنْ أَهْلِ الْعُقُودِ فَجَازَ أَنْ يَلْتَزِمَ أَحْكَامَهَا وَلَيْسَ الصَّبِيُّ مِنْ أَهْلِ الْعُقُودِ فَلَمْ يَلْتَزِمْ أَحْكَامَهَا

Perbedaan antara anak kecil dan orang dewasa dalam dua hukum ini adalah bahwa orang dewasa termasuk pihak yang sah melakukan akad, sehingga boleh baginya untuk terikat dengan hukum-hukumnya. Sedangkan anak kecil bukan termasuk pihak yang sah melakukan akad, sehingga ia tidak terikat dengan hukum-hukumnya.

أَلَا تَرَى أَنَّ الْبَالِغَ لَوْ هَلَكَ فِي يَدِهِ مَا قَبَضَهُ عَنْ بَيْعٍ فَاسِدٍ ضَمِنَهُ بِالْقِيمَةِ

Tidakkah engkau melihat bahwa seseorang yang sudah baligh, jika barang yang ia terima dari akad jual beli fasid (tidak sah) rusak di tangannya, maka ia wajib menanggungnya dengan membayar nilai barang tersebut?

وَلَوْ هَلَكَ فِي يَدِ الصَّبِيِّ لَمْ يَضْمَنْهُ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يفترقا في الكتابة

Dan jika barang itu rusak di tangan anak kecil, maka ia juga tidak wajib menanggungnya. Demikian pula, keduanya wajib berpisah dalam akad kitabah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَأَظْهَرُ مَعَانِي الْخَيْرِ فِي الْعَبْدِ بِدَلَالَةِ الْكِتَابِ الاكتساب مع الأمانة فأحب أن لا يَمْتَنِعَ مِنْ كِتَابَتِهِ إِذَا كَانَ هَكَذَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Makna kebaikan yang paling jelas pada seorang hamba menurut petunjuk al-Kitab adalah mencari penghasilan disertai dengan amanah. Maka aku menyukai agar tidak dilarang menuliskannya jika keadaannya seperti itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا اخْتِلَافَ أَهْلِ التَّأْوِيلِ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَأَنَّ الشَّافِعِيَّ تَأَوَّلَ الْخَيْرَ الْمُرَادَ فِي الْعَبْدِ الِاكْتِسَابَ مَعَ الْأَمَانَةِ لِيَكُونَ بِالِاكْتِسَابِ قَادِرًا عَلَى الْأَدَاءِ وَبِالْأَمَانَةِ قَادِرًا عَلَى الْوَفَاءِ

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ahli tafsir mengenai firman Allah Ta‘ala: “Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka,” dan bahwa asy-Syafi‘i menafsirkan kebaikan yang dimaksud pada budak adalah kemampuan untuk bekerja (iktisab) disertai sifat amanah, agar dengan kemampuan bekerja ia mampu membayar (utang) dan dengan sifat amanah ia mampu menunaikan (kewajiban).

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا يَخْلُوَ حَالُ الْعَبْدِ فِي الْكَسْبِ والأمانة إذا طلب الكتابة من أربعة أَحْوَالٍ

Jika demikian, maka keadaan seorang hamba dalam hal usaha (kasb) dan amanah ketika ia meminta untuk melakukan mukatabah tidak lepas dari empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَجْتَمِعَا فِيهِ فَيَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْكَسْبِ وَالْأَمَانَةِ فَكِتَابَتُهُ نَدْبٌ فَيُسْتَحَبُّ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجِيبَ إِلَيْهَا وَهِيَ الَّتِي أَوْجَبَهَا مِنْ مَالٍ بِوُجُوبِ الْكِتَابَةِ

Salah satunya adalah apabila kedua sifat itu berkumpul pada diri seorang budak, yaitu termasuk golongan yang memiliki kemampuan bekerja (ahl al-kasb) dan terpercaya (al-amānah), maka permintaan untuk melakukan mukātabah hukumnya sunnah. Dianjurkan bagi tuan untuk mengabulkan permintaan tersebut, dan inilah yang mewajibkan adanya harta yang harus diberikan karena kewajiban mukātabah.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُعْدَمَا فِيهِ فَلَا يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْكَسْبِ وَلَا مِنْ أَهْلِ الْأَمَانَةِ فَكِتَابَتُهُ مُبَاحَةٌ لَا تَجِبُ وَلَا تُسْتَحَبُّ وَهِيَ إِلَى الْمَنْعِ مِنَ الْجَوَازِ أَقْرَبُ لِأَنَّهُ لِعَدَمِ الْكَسْبِ عَاجِزٌ وَلِعَدَمِ الْأَمَانَةِ خَائِنٌ وَكَرِهَهَا أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ كَمَا تُكْرَهُ مُخَارَجَةُ الْأَمَةِ

Keadaan kedua adalah apabila kedua sifat itu tidak ada padanya, sehingga ia bukan termasuk ahli kasb (orang yang memiliki keterampilan) maupun ahli amanah (orang yang dapat dipercaya). Maka menuliskan (akad) untuknya hukumnya mubah, tidak wajib dan tidak dianjurkan, bahkan lebih dekat kepada larangan daripada kebolehan. Sebab, karena tidak memiliki keterampilan ia lemah, dan karena tidak memiliki amanah ia adalah seorang pengkhianat. Ahmad dan Ishaq memakruhkannya, sebagaimana dimakruhkan pula melakukan mukhārajah terhadap budak perempuan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ مُكْتَسِبًا غَيْرَ أَمِينٍ فَلَا يُسْتَحَبُّ لِعَدَمِ أَمَانَتِهِ وَلَا تُكْرَهُ لِوُجُودِ قُدْرَتِهِ

Keadaan ketiga adalah apabila seseorang itu bekerja namun tidak amanah, maka tidak disunnahkan (memberikan pekerjaan kepadanya) karena tidak adanya sifat amanah pada dirinya, namun juga tidak dimakruhkan karena ia memiliki kemampuan.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَكُونَ أَمِينًا غَيْرَ مُكْتَسِبٍ فَلَا تُسْتَحَبُّ لِعَدَمِ كَسْبِهِ وَظُهُورِ عَجْزِهِ وَلَا تُكْرَهُ لِأَمَانَتِهِ وَأَنَّهُ قَدْ يُرَاعَى لِأَجْلِهَا مِنْ سَهْمِ الرِّقَابِ فِي الزَّكَاةِ وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يُقَدِّمُ فِي الِاخْتِيَارِ مُكَاتَبَةَ الْأَمِينِ غَيْرِ الْمُكْتَسِبِ عَلَى مُكَاتَبَةِ الْمُكْتَسِبِ غَيْرِ الْأَمِينِ لِأَنَّ ذَا الْأَمَانَةِ مُعَانٌ وَلَا فَرْقَ فِي الْكِتَابَةِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْأَمَةِ اسْتِشْهَادًا بِبَرِيرَةَ وَلِصِحَّةِ العتق فيهما وجواز الاكتساب منهما

Keadaan keempat adalah apabila seseorang itu terpercaya namun tidak memiliki penghasilan, maka tidak disunnahkan (mukatabah) baginya karena ia tidak memiliki penghasilan dan tampak ketidakmampuannya, namun juga tidak dimakruhkan karena sifat amanahnya. Bahkan, kadang-kadang ia dapat dipertimbangkan untuk menerima bagian dari zakat pada pos “riqab” (pembebasan budak) karena sifat amanahnya tersebut. Sebagian ulama kami lebih mengutamakan mukatabah terhadap budak yang terpercaya namun tidak berpenghasilan daripada budak yang berpenghasilan namun tidak terpercaya, karena orang yang memiliki sifat amanah itu akan mendapatkan pertolongan. Tidak ada perbedaan dalam hukum mukatabah antara budak laki-laki dan perempuan, berdasarkan kisah Barirah, serta karena sahnya pembebasan keduanya dan bolehnya mereka berusaha.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَمَا جَازَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْبَيْعِ وَالْإِجَارَةِ جَازَ فِي الْكِتَابَةِ وَمَا رُدَّ فِيهِمَا رُدَّ فِي الْكِتَابَةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Apa yang dibolehkan di antara kaum Muslimin dalam jual beli dan ijarah, maka dibolehkan pula dalam kitābah. Dan apa yang ditolak dalam keduanya, maka ditolak pula dalam kitābah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ عَقْدُ مُعَاوَضَةٍ فَلَمْ تَصِحَّ إِلَّا بِعِوَضٍ مَعْلُومٍ وَأَجَلٍ مَعْلُومٍ كَالْبَيْعِ وَالْإِجَارَةِ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى عِوَضٍ مَجْهُولٍ أَوْ إِلَى أَجَلٍ مَجْهُولٍ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بَاطِلَةً

Al-Mawardi berkata: Karena kitābah adalah akad mu‘āwaḍah (pertukaran), maka tidak sah kecuali dengan ‘iwadh (imbalan) yang jelas dan jangka waktu yang jelas, seperti dalam jual beli dan ijarah (sewa-menyewa). Jika dilakukan dengan ‘iwadh yang tidak jelas atau dengan jangka waktu yang tidak jelas, maka kitābah tersebut batal.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَصِحُّ فِيهَا مِنْ جَهَالَةِ الْعِوَضِ مَا لَا يَصِحُّ فِي الْبَيْعِ وَالْإِجَارَةِ وَهُوَ أَنْ يُكَاتِبَهُ عَلَى ثَوْبٍ لَا يَصِفُهُ فَيَصِحُّ وَيَكُونُ لَهُ ثَوْبٌ وَسَطٌ وَعَلَى عَبْدٍ غَيْرِ مَوْصُوفٍ فَيَصِحُّ وَيَكُونُ لَهُ عَبْدٌ وَسَطٌ احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa dalam akad ini dibolehkan adanya ketidakjelasan (‘jahalah’) pada imbalan yang tidak dibolehkan dalam jual beli dan ijarah, yaitu misalnya seseorang melakukan akad mukatabah dengan syarat imbalan berupa sehelai kain tanpa menyebutkan sifat-sifatnya, maka akad tersebut sah dan yang dimaksud adalah kain dengan kualitas sedang; atau dengan syarat imbalan berupa seorang budak tanpa menyebutkan sifat-sifatnya, maka akad tersebut sah dan yang dimaksud adalah budak dengan kualitas sedang, dengan berdalil pada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَقْصُودَ الْكِتَابَةِ هُوَ الْعِتْقُ وَالْعِتْقُ يَقَعُ بِالصِّفَاتِ الْمَجْهُولَةِ كَوُقُوعِهِ بِالصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةِ

Salah satu di antaranya adalah bahwa tujuan dari kitābah adalah pembebasan (ʿitq), dan pembebasan itu dapat terjadi dengan sifat-sifat yang tidak diketahui sebagaimana ia juga dapat terjadi dengan sifat-sifat yang diketahui.

وَالثَّانِي أَنَّهُ عَقْدٌ تُبْتَغَى بِهِ الْقُرْبَةُ كَالْوَصَايَا ثُمَّ جَازَتِ الْوَصِيَّةُ بِالْمَجْهُولِ وَالْمَعْلُومِ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ

Kedua, bahwa ia adalah akad yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) seperti wasiat, kemudian wasiat diperbolehkan baik untuk sesuatu yang tidak diketahui maupun yang diketahui, demikian pula halnya dengan kitābah.

وَدَلِيلُنَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ نَهَى عَنِ الْغَرَرِ

Dan dalil kami adalah bahwa Nabi ﷺ melarang adanya gharar.

وَقَوْلُهُ   رُدُّوا الْجَهَالَاتِ إِلَى السُّنَنِ   وَلِأَنَّ كُلَّ جَهَالَةٍ مَنَعَتْ مِنْ صِحَّةِ الْبَيْعِ مَنَعَتْ مِنْ صِحَّةِ الْكِتَابَةِ كَقَوْلِكَ كَاتَبْتُكَ عَلَى شَيْءٍ وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَارَقَتِ الْوَصِيَّةُ حَيْثُ جَازَتْ بِشَيْءٍ مَجْهُولٍ لَمْ تَجُزِ الْكِتَابَةُ بِهِ وَلِأَنَّ كُلَّ عَقْدٍ بَطَلَ بِجَهَالَةِ الْجِنْسِ بَطَلَ بِجَهَالَةِ الصِّفَةِ كَالْبَيْعِ وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَرَّقْنَا بَيْنَ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ وَبَيْنَ الْكِتَابَةِ عَلَى أَنَّ الْعِتْقَ قَدْ يَقَعْ فِيهَا مَعَ الْجَهَالَةِ بِالصِّفَةِ وَإِنَّمَا اخْتَصَّ بِفَسَادِ الْعَقْدِ فِي الْعِوَضِ

Dan ucapannya: “Kembalikanlah segala kejahilan kepada sunah,” serta karena setiap bentuk ketidaktahuan yang menghalangi sahnya jual beli juga menghalangi sahnya kitabah, seperti ucapanmu: “Aku melakukan kitabah denganmu atas sesuatu.” Dengan makna ini, wasiat berbeda, di mana wasiat boleh dilakukan dengan sesuatu yang tidak diketahui, sedangkan kitabah tidak sah dengan sesuatu yang tidak diketahui itu. Dan karena setiap akad yang batal karena ketidaktahuan terhadap jenis, maka batal pula karena ketidaktahuan terhadap sifat, seperti dalam jual beli. Dengan makna ini pula, kami membedakan antara pembebasan budak (itq) dengan sifat dan kitabah, karena pembebasan budak bisa terjadi meskipun ada ketidaktahuan terhadap sifat, sedangkan yang khusus menyebabkan rusaknya akad adalah pada kompensasi (iwadh).

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَالْكِتَابَةُ تُوَافِقُ الْبَيْعَ مِنْ وَجْهَيْنِ وَتُخَالِفُهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Jika hal ini telah dipahami, maka kitabah memiliki kesamaan dengan jual beli dari dua sisi dan berbeda darinya dari empat sisi.

فَأَمَّا وَجْهَا الْمُوَافَقَةِ

Adapun sisi kesesuaiannya

فَأَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ فِيهِمَا مَعْلُومًا فِي الذِّمَّةِ لِأَنَّ الْعِوَضَ فِي الْكِتَابَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا فِي الذِّمَّةِ وَالْعِلْمُ بِهِ يَكُونُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ يَكُونُ بِذِكْرِ جِنْسِهِ مِنْ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ أَوْ ثِيَابٍ أَوْ عَبِيدٍ ثُمَّ يَذْكُرُ صِفَتَهُ فَيَصِفُ الْجِنْسَ بِأَوْصَافِ السَّلَمِ إِلَّا فِي الدَّرَاهِمِ فَيَكُونُ إِطْلَاقُهَا مَحْمُولًا عَلَى الْأَغْلَبِ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ ثُمَّ يَذْكُرُ الْقَدْرَ فَإِنْ كان موزونا ذكر وزنه إن كَانَ مَكِيلًا ذَكَرَ كَيْلَهُ وَإِنْ كَانَ مَعْدُودًا ذَكَرَ عَدَدَهُ

Salah satunya adalah bahwa imbalan dalam akad tersebut harus diketahui dan menjadi tanggungan (dzimmah), karena imbalan dalam akad kitabah tidak boleh kecuali dalam bentuk tanggungan. Pengetahuan tentang imbalan itu dapat diperoleh melalui tiga cara: dengan menyebut jenisnya, seperti dirham, dinar, pakaian, atau budak, kemudian menyebut sifatnya, yaitu dengan mendeskripsikan jenis tersebut dengan sifat-sifat seperti dalam akad salam, kecuali pada dirham, maka penyebutannya dianggap mengacu pada yang paling umum dari mata uang yang berlaku di negeri itu. Setelah itu, disebutkan kadarnya; jika berupa barang yang ditimbang, maka disebutkan timbangannya; jika berupa barang yang ditakar, maka disebutkan takarannya; dan jika berupa barang yang dihitung, maka disebutkan jumlahnya.

فَإِذَا اجْتَمَعَتْ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الثَّلَاثَةُ فِي الْعِوَضِ صَارَ حِينَئِذٍ مَعْلُومًا فَصَحَّتْ بِهِ الْكِتَابَةُ

Maka apabila tiga sifat ini terkumpul pada ‘iwadh, maka pada saat itu ‘iwadh menjadi jelas (diketahui), sehingga sah akad al-kitābah dengannya.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْأَجَلُ مَعْلُومًا بِالشُّهُودِ وَالْأَهِلَّةِ الَّتِي لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ أَنْ يُؤَجِّلُوا إِلَّا بِهَا فَإِنَّ قَدْرَهُ بِمَا يَبْطُلُ بِهِ الْأَجَلُ فِي الْبَيْعِ كَالْعَطَاءِ وَالْحَصَادِ بَطَلَتْ بِهِ الْكِتَابَةُ

Kedua, bahwa jangka waktu harus diketahui dengan jelas melalui kesaksian dan penanggalan bulan (hilal) yang dengannya Allah tidak membolehkan bagi kaum Muslimin untuk menentukan tenggat waktu kecuali dengannya. Jika jangka waktu itu ditentukan dengan sesuatu yang membatalkan tenggat waktu dalam jual beli, seperti pemberian atau panen, maka batal pula akad kitabah tersebut.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْوُجُوهُ الْأَرْبَعَةُ فِي الْفَرْقِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْعِ

Adapun empat aspek perbedaan antara akad ini dan jual beli.

فَأَحَدُهَا أَنَّ الْبَيْعَ يَصِحُّ بِعِوَضٍ مُعَيَّنٍ وَمَوْصُوفٍ وَالْكِتَابَةُ لَا تَصِحُّ إِلَّا بِعِوَضٍ مَوْصُوفٍ فِي الذِّمَّةِ وَلَا تَصِحُّ بِمُعَيَّنٍ حَاضِرٍ لِأَنَّ الْمُعَيَّنَ إِنْ كَانَ فِي يَدِ الْمُكَاتَبِ حِينَ الْعَقْدِ فَهُوَ مِلْكٌ لِلسَّيِّدِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُكَاتِبَهُ بِمِلْكِهِ عَلَى مِلْكِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي يَدِهِ كَانَ مِنْ جَوَازِ الْكِتَابَةِ أَبْعَدَ لِفَسَادِهِ فِيهَا وَفِي الْبَيْعِ

Salah satunya adalah bahwa jual beli sah dilakukan dengan imbalan yang tertentu maupun yang bersifat deskriptif, sedangkan kitābah tidak sah kecuali dengan imbalan yang bersifat deskriptif dalam tanggungan, dan tidak sah dengan imbalan yang tertentu dan hadir. Sebab, jika barang tertentu itu berada di tangan mukatab pada saat akad, maka barang itu adalah milik tuan, sehingga tidak boleh ia melakukan kitābah dengan miliknya atas miliknya sendiri. Dan jika barang itu tidak berada di tangannya, maka hal itu lebih jauh dari keabsahan kitābah karena rusaknya dalam hal ini maupun dalam jual beli.

وَالثَّانِي أَنَّ الْعِوَضَ فِي الْبَيْعِ يَصِحُّ مُعَجَّلًا وَمُؤَجَّلًا وَلَا يَصِحُّ فِي الْكِتَابَةِ إِلَّا مُؤَجَّلًا لِمَا نَذْكُرُهُ مِنَ الدَّلِيلِ فِي الْخِلَافِ مَعَ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Kedua, bahwa imbalan dalam jual beli boleh diberikan secara tunai maupun tangguh, sedangkan dalam kitābah hanya sah jika diberikan secara tangguh, sebagaimana akan kami sebutkan dalilnya dalam perbedaan pendapat dengan Abū Ḥanīfah ra.

وَالثَّالِثُ أَنَّ خِيَارَ الثَّلَاثِ يَدْخُلُ فِي الْبَيْعِ بِالشَّرْطِ وَخِيَارَ الْمَجْلِسِ يَدْخُلُ فِيهِ بِالْعَقْدِ وَلَا يَدْخُلُ فِي الْكِتَابَةِ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ خِيَارُ الثَّلَاثِ وَلَا خِيَارُ الْمَجْلِسِ لِأَنَّ مَوْضُوعَهُمَا فِي الْبَيْعِ لِاسْتِدْرَاكِ الْغَبْنِ لِيَحْصُلَ الْمَقْصُودُ بِهِ مِنَ النَّمَاءِ وَالِاسْتِزَادَةِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ لِظُهُورِ الْغَبْنِ فِي مَوْضِعِهِمَا لِأَنَّهُ يُعَاوِضُ فِيهَا عَلَى رَقَبَةِ عَبْدِهِ بِكَسْبِهِ وَكِلَاهُمَا مِنْ مِلْكِهِ فَلَمْ يَكُنْ لِدُخُولِ الْخِيَارِ الَّذِي يَسْتَدْرِكُ بِهِ الْمُغَابَنَةَ وَجْهٌ

Ketiga, bahwa khiyār tiga hari masuk dalam jual beli dengan syarat, dan khiyār majlis masuk di dalamnya dengan akad. Namun, dalam kitabah, dari sisi tuan, tidak masuk di dalamnya khiyār tiga hari maupun khiyār majlis, karena keduanya berlaku dalam jual beli untuk mengantisipasi kerugian agar tujuan dari jual beli, yaitu pertumbuhan dan penambahan, dapat tercapai. Sedangkan kitabah tidak demikian, karena kerugian tampak jelas dalam kasus keduanya, sebab dalam kitabah, ia menukar kepemilikan budaknya dengan hasil usahanya, dan keduanya merupakan miliknya. Maka, tidak ada alasan untuk masuknya khiyār yang dimaksudkan untuk mengantisipasi kerugian.

وَالرَّابِعُ أَنَّ خِيَارَ الْمُكَاتَبِ مُؤَبَّدٌ مَا بَقِيَ عَلَى كِتَابَتِهِ وَلَا يَجُوزُ دُخُولُ مِثْلِهِ فِي الْبَيْعِ لِأَنَّ الْمُتَرَجِّحَ فِي الْكِتَابَةِ مَصْلَحَةُ الْمُكَاتَبِ دُونَ السَّيِّدِ فَثَبَتَ لَهُ مِنَ الْخِيَارِ مَا لَمْ يَثْبُتْ لِلسَّيِّدِ بِخِلَافِ الْبَيْعِ الَّذِي يَشْتَرِكُ فِي خِيَارِهِ الْمُتَبَايِعَانِ وَصَارَ الْخِيَارُ فِي الْكِتَابَةِ مُؤَبَّدًا وَإِنْ كَانَ فِي الْبَيْعِ مُقَدَّرًا لِأَنَّ مَعْنَاهُ فِي الْبَيْعِ اسْتِدْرَاكُ الْغَبْنِ الْمَوْجُودِ فِي قَلِيلِ الزَّمَانِ فَصَارَ مُقَدَّرًا وَفِي الْكِتَابَةِ الْعَجْزُ عَنِ الْمَالِ الَّذِي يَكُونُ في كل الزمان فصار مؤبداً

Keempat, bahwa hak khiyār bagi mukātab bersifat permanen selama ia masih berada dalam status mukātab, dan tidak boleh memasukkan hak seperti ini dalam jual beli. Sebab, yang lebih kuat dalam akad mukātab adalah kemaslahatan bagi mukātab, bukan bagi tuan (sayyid), sehingga hak khiyār ini tetap dimiliki oleh mukātab dan tidak dimiliki oleh sayyid, berbeda dengan jual beli di mana kedua pihak yang berakad sama-sama memiliki hak khiyār. Maka, hak khiyār dalam akad mukātab menjadi permanen, sedangkan dalam jual beli bersifat terbatas, karena makna khiyār dalam jual beli adalah untuk mengantisipasi kerugian yang biasanya terjadi dalam waktu singkat, sehingga hak tersebut dibatasi waktunya. Adapun dalam akad mukātab, maknanya adalah ketidakmampuan membayar harta yang dapat terjadi kapan saja, sehingga hak khiyār itu menjadi permanen.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَجُوزُ عَلَى أَقَلَّ مِنْ نَجْمَيْنِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak boleh (zakat) diberikan atas kurang dari dua pembayaran (najm).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الْأَجَلُ فَهُوَ شَرْطٌ فِي صِحَّةِ الْكِتَابَةِ لَا يَجُوزُ أَنْ تُعْقَدَ حَالَّةً

Al-Mawardi berkata: Adapun tenggat waktu (ajal), maka ia merupakan syarat dalam keabsahan al-kitābah dan tidak boleh akad tersebut dilakukan secara tunai (langsung).

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لَيْسَ الْأَجَلُ بِشَرْطٍ فِي صِحَّتِهَا وَتَجُوزُ حَالَّةً وَمُؤَجَّلَةً اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ اللَّهِ تعالى فكاتبوهم إن علمتم فيهم خيراً وَمِنْ ذَلِكَ دَلِيلَانِ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa penetapan waktu (ajal) bukanlah syarat dalam keabsahan akad tersebut, dan akad itu boleh dilakukan secara tunai maupun bertempo, dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Maka akadkanlah mukatab dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka,” dan dari ayat tersebut terdapat dua dalil.

أَحَدُهُمَا عُمُومُ قَوْلِهِ فَكَاتِبُوهُمْ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ حَالٍّ وَمُؤَجَّلٍ

Salah satunya adalah keumuman firman-Nya: “Maka hendaklah kamu mengadakan perjanjian tulis-menulis dengan mereka,” dan tidak membedakan antara yang tunai maupun yang berjangka.

والثانِى قَوْلُهُ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 وَالْخَيْرُ الْمَالُ فَجُعِلَ الْعَقْدُ مَشْرُوطًا بِهِ

Yang kedua adalah firman-Nya: “Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka” (an-Nur: 33), dan yang dimaksud dengan kebaikan di sini adalah harta. Maka, akad dijadikan bersyarat dengan adanya harta tersebut.

قَالُوا وَلِأَنَّهُ عِتْقٌ بِعِوَضٍ فَاقْتَضَى أَنْ يَجُوزَ حَالًّا وَمُؤَجَّلًا

Mereka berkata: Karena ini adalah pembebasan budak dengan imbalan, maka hal itu menuntut agar boleh dilakukan secara tunai maupun tangguh.

كَمَا لَوْ بَاعَ عَبْدَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِثَمَنٍ حَالٍّ أَوْ مُؤَجَّلٍ صَحَّ وَعَتَقَ وَكَذَلِكَ الْكِتَابَةُ

Sebagaimana jika seseorang menjual budaknya kepada dirinya sendiri dengan harga tunai atau tangguh, maka jual beli itu sah dan budak tersebut menjadi merdeka, demikian pula halnya dengan kitābah.

قَالُوا وَلِأَنَّهُ عَقْدٌ عَلَى عَيْنٍ فَصَحَّ حَالًّا وَمُؤَجَّلًا كَالْبَيْعِ

Mereka berkata: Karena akad ini dilakukan atas suatu barang (‘ayn), maka sah dilakukan secara tunai maupun tangguh, sebagaimana jual beli.

قَالُوا وَلِأَنَّهُ إِسْقَاطُ حَقٍّ لِأَنَّ السَّيِّدَ قَدْ أَسْقَطَ بِهَا حَقَّهُ مِنْ كَسْبِ عَبْدِهِ فَلَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى أَجَلٍ كَالْإِبْرَاءِ

Mereka berkata: Karena hal itu merupakan pengguguran hak, sebab tuan telah menggugurkan haknya atas hasil usaha budaknya, sehingga tidak memerlukan tenggang waktu, seperti halnya ibra’ (pembebasan hak).

قَالُوا وَلِأَنَّ دُخُولَ الْأَجَلِ غَرَرٌ فَإِذَا صَحَّ الْعَقْدُ مَعَهُ لَزِمَكُمْ عَلَى قَوْلِكُمْ فِي السَّلَمِ أَنْ تَجْعَلُوهُ لِخُلُوِّهِ مِنَ الْأَجَلِ أَصَحَّ لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ فِيهِ إِذَا جَازَ مُؤَجَّلًا كَانَ حَالًا أَجْوَزُ لِأَنَّهُ مِنَ الْغَرَرِ أَبْعَدُ

Mereka berkata: Masuknya tenggat waktu (ajal) adalah suatu gharar (ketidakpastian), maka jika akad sah bersamanya, menurut pendapat kalian dalam akad salam, seharusnya kalian menjadikannya (akad) tanpa tenggat waktu lebih sah, karena Imam Syafi‘i berpendapat bahwa jika akad yang bertenggat waktu boleh, maka akad yang tunai (langsung) lebih boleh lagi, karena ia lebih jauh dari unsur gharar.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أيمانكم إِلَى قَوْلِهِ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 فَسَمَّاهَا كِتَابَةً وَأَفْرَدَهَا بِهَذَا الِاسْمِ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْعُقُودِ وَالْعَقْدُ إِذَا أُفْرِدَ بِاسْمٍ وَجَبَ أَنْ يَخْتَصَّ بِمَعْنَى ذَلِكَ الِاسْمِ كَالسَّلَمِ سُمِّيَ سَلَمًا لِوُجُوبِ تَسْلِيمِ جَمِيعِ الثَّمَنِ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ سُمِّيَتْ كِتَابَةً لِوُجُوبِ الْكِتَابَةِ

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menginginkan kitab dari apa yang dimiliki oleh tangan kananmu…” hingga firman-Nya: “…di dalam mereka ada kebaikan.” (an-Nur: 33). Maka Allah menamainya sebagai “kitabah” dan mengkhususkannya dengan nama ini dari akad-akad lainnya. Suatu akad, apabila dikhususkan dengan suatu nama, maka wajib memiliki makna khusus yang sesuai dengan nama tersebut. Seperti akad salam dinamakan salam karena wajib menyerahkan seluruh harga di muka, demikian pula kitabah dinamakan kitabah karena wajib adanya penulisan.

وَالْكِتَابَةُ إِنَّمَا نَدَبْنَا إِلَيْهَا فِي الْحُقُوقِ الْمُؤَجَّلَةِ دُونَ الْمُعَجَّلَةِ أَلَا تَرَاهُ قَالَ تَعَالَى إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ البقرة 282 وَقَالَ فِي الْمُعَجَّلَةِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا البقرة 282 فَدَلَّ اخْتِصَاصُ هَذَا الْعَقْدِ بِاسْمِ الْكِتَابَةِ عَلَى اخْتِصَاصِهِ بِحُكْمِ التَّأْجِيلِ

Penulisan (akad) itu dianjurkan hanya pada hak-hak yang ditangguhkan (mu’ajjalah), bukan pada hak-hak yang langsung (mu‘ajjal). Tidakkah engkau melihat firman Allah Ta‘ala: “Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (al-Baqarah: 282). Dan Dia berfirman tentang (muamalah) yang langsung: “Kecuali jika (jual beli itu) perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagimu jika kamu tidak menuliskannya.” (al-Baqarah: 282). Maka, pengkhususan akad ini dengan istilah penulisan menunjukkan bahwa hukumnya khusus pada transaksi yang ditangguhkan.

وَفِي هَذَا انْفِصَالٌ عَنِ الِاسْتِدْلَالِ بِعُمُومِ الْآيَةِ وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْغَرَرِ

Dalam hal ini terdapat pemisahan dari penggunaan dalil dengan keumuman ayat, dan Rasulullah saw. telah melarang adanya gharar.

وَالْغَرَرُ مَا تَرَدَّدَ بَيْنَ جَوَازَيْنِ أَخْوَفُهُمَا أَغْلَبُهُمَا وَالْكِتَابَةُ الْحَالَّةُ غَرَرٌ لِأَنَّ الْأَغْلَبَ مِنْ أَحْوَالِ الْمُكَاتَبِ عَجْزُهُ عَنْهَا فَكَانَ عَقْدُهَا بَاطِلًا وَيَتَحَرَّرُ مِنِ اعْتِلَالِ هَذَا الْخَبَرِ قِيَاسٌ

Gharar adalah sesuatu yang berada di antara dua kemungkinan, di mana kemungkinan yang paling dikhawatirkan adalah yang paling dominan. Kitābah dalam keadaan ini termasuk gharar, karena kebanyakan keadaan seorang mukātab adalah ketidakmampuannya untuk memenuhinya, sehingga akadnya menjadi batal. Dari kelemahan hadis ini dapat diambil suatu qiyās.

فَنَقُولُ عَقْدُ مُعَاوَضَةٍ يَتَعَذَّرُ فِيهِ تَسْلِيمُ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ وَقْتَ اسْتِحْقَاقِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ بَاطِلًا كَبَيْعِ الْعَبْدِ الْآبِقِ وَكَالسَّلَمِ إِلَى أَجَلٍ يَتَحَقَّقُ عَدَمُهُ فِيهِ وَلَا يَفْسُدُ بِنِكَاحِ الصَّغِيرَةِ لِأَنَّ تَسْلِيمَهَا يُسْتَحَقُّ عِنْدَ إِمْكَانِ الِاسْتِمْتَاعِ بِهَا فَإِنْ قِيلَ هَذَا فَاسِدٌ بِالْبَيْعِ عَلَى مُعْسِرٍ يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ تَسْلِيمُ الثَّمَنِ وَلَا يُوجِبُ فَسَادَ الْبَيْعِ

Maka kami katakan: akad mu‘āwaḍah (pertukaran) yang tidak mungkin diserahkan objek akadnya pada waktu penyerahan yang seharusnya, maka wajib hukumnya akad tersebut batal, seperti menjual budak yang melarikan diri, atau akad salam dengan tempo yang pada waktu itu dipastikan barangnya tidak ada. Namun, hal ini tidak merusak akad nikah dengan anak perempuan yang masih kecil, karena penyerahannya baru menjadi hak ketika sudah memungkinkan untuk menikmati (berhubungan) dengannya. Jika dikatakan: “Ini batal seperti jual beli kepada orang yang tidak mampu membayar, yang tidak mungkin baginya menyerahkan harga, namun tidak menyebabkan batalnya jual beli,” (maka jawabannya berbeda).

قِيلَ إِعْسَارُهُ فِي الظَّاهِرِ لَا يُوجِبُ إِعْسَارَهُ فِي الْبَاطِنِ لِجَوَازِ أَنْ يَمْلِكَ مَا لَا يُعْلَمُ وَإِعْسَارُ الْمُكَاتَبِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَمْلِكَ قَبْلَ كِتَابَتِهِ فَافْتَرَقَا فِي تَعْيِينِ الْإِعْسَارِ فَلِذَلِكَ افْتَرَقَا فِي الْجَوَازِ

Dikatakan bahwa ketidakmampuan (‘isār) seseorang secara lahiriah tidak serta-merta menunjukkan ketidakmampuannya secara batiniah, karena mungkin saja ia memiliki sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Adapun ketidakmampuan seorang mukātab, baik secara lahiriah maupun batiniah, karena tidak mungkin ia memiliki sesuatu sebelum akad mukātabah dilakukan. Maka, keduanya berbeda dalam penetapan ketidakmampuan, sehingga keduanya pun berbeda dalam hal kebolehan.

فَإِنْ قِيلَ يَفْسُدُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ وَهُوَ إِذَا كَاتَبَهُ عَلَى مَالٍ كَثِيرٍ يُؤَدِّيهِ فِي نَجْمَيْنِ مُقَدَّرَيْنِ بِسَاعَتَيْنِ مِنْ يَوْمٍ تَتَعَذَّرُ مِنْهُ الْقُدْرَةُ عَلَيْهِ وَتَصِحُّ كِتَابَتُهُ

Jika dikatakan: “Akan rusak dari sisi lain, yaitu apabila ia membuat perjanjian mukātabah dengan budaknya atas harta yang banyak yang harus dibayarkan dalam dua kali cicilan yang telah ditentukan pada dua waktu tertentu dalam satu hari, di mana budak tersebut tidak mampu melaksanakannya, namun akad mukātabah tersebut tetap sah.”

وَكَذَلِكَ فِي الْمُعَجَّلِ قِيلَ يُمْكِنُهُ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِ النَّجْمِ أَنْ يُؤَجِّرَ نَفْسَهُ ثَلَاثِينَ سَنَةً بِقَدْرِ كِتَابَتِهِ وَلَا يُمْكِنُهُ ذَلِكَ فِي الْحَالِّ الْمُعَجَّلِ فَافْتَرَقَا

Demikian pula dalam hal pembayaran di muka, ada pendapat bahwa seseorang dapat menyewakan dirinya selama tiga puluh tahun sesuai dengan apa yang tertulis sebelum jatuh tempo pembayaran angsuran, dan hal itu tidak mungkin dilakukan dalam pembayaran tunai yang langsung, maka keduanya berbeda.

فَإِنْ قِيلَ يَفْسُدُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ وَهُوَ إِذَا بَاعَ عَبْدَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِأَلْفٍ حَالَّةٍ صَحَّ وَعَتَقَ وَإِنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ دَفْعُ الثَّمَنِ قِيلَ قَدْ خَرَّجَ فِيهِ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَجْهًا مُحْتَمَلًا أَنَّ الْبَيْعَ يَبْطُلُ لِهَذَا الْمَعْنَى فَيَكُونُ الِاعْتِرَاضُ بِهِ فَاسِدًا

Jika dikatakan bahwa akad tersebut batal dari sisi lain, yaitu jika seseorang menjual budaknya kepada dirinya sendiri dengan harga seribu secara tunai, maka akad itu sah dan budak tersebut menjadi merdeka. Namun, jika ia tidak mampu membayar harga tersebut, dikatakan bahwa Ibn Abi Hurairah telah mengemukakan satu pendapat yang memungkinkan bahwa jual beli tersebut batal karena alasan ini, sehingga keberatan dengan alasan tersebut menjadi tidak sah.

وَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ جَوَازُهُ وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الْإِقْرَارِ فَقَالَ وَلَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ بِعْتُكَ نَفْسَكَ بِأَلْفٍ فَجَحَدَهُ الْعَبْدُ عَتَقَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ مُقِرٌّ بِالْعِتْقِ مُدَّعٍ لِلثَّمَنِ

Pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i adalah membolehkannya, dan hal ini telah dinyatakan secara tegas olehnya dalam Kitab al-Iqrar. Ia berkata: “Jika seseorang berkata kepada budaknya, ‘Aku telah menjual dirimu kepadamu seharga seribu,’ lalu budak itu mengingkarinya, maka budak tersebut menjadi merdeka atasnya, karena ia (tuannya) telah mengakui kemerdekaan dan mengklaim adanya harga.”

قِيلَ مَقْصُودُ هَذَا الْبَيْعِ الْعِتْقُ وَقَدْ حَصَلَ

Dikatakan bahwa maksud dari jual beli ini adalah pembebasan budak, dan hal itu telah tercapai.

فَإِنْ قِيلَ وَكَذَلِكَ الْكِتَابَةُ مَقْصُودُهَا الْعِتْقُ فَوَجَبَ أَنْ يَصِحَّ

Jika dikatakan, demikian pula mukātabah, tujuannya adalah memerdekakan, maka seharusnya sah.

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ فِي الْكِتَابَةِ يَحْصُلُ بَعْدَ الْأَدَاءِ وَالْعِتْقَ فِي الْبَيْعِ يَحْصُلُ قَبْلَ الْأَدَاءِ فَجَازَ أَنْ تَبْطُلَ الْكِتَابَةُ بِتَعَذُّرِ الْأَدَاءِ وَإِنْ لَمْ يَبْطُلْ بِهِ الْبَيْعُ وَفِي هَذَا انْفِصَالٌ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِهِ وَلِأَنَّ الْأَجَلَ فِي الْكِتَابَةِ إِجْمَاعٌ دَلَّ عَلَيْهِ فِعْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لِأَنَّهُمْ كَاتَبُوا عَبِيدَهُمْ مُجْمِعِينَ فِيهَا عَلَى التَّأْجِيلِ وَلَمْ يَعْقِدْهَا أَحَدٌ مِنْهُمْ حَالَّةً وَلَوْ جَازَ حُلُولُهَا لَتَفَرَّدَ بِهَا بَعْضُهُمْ مَعَ اخْتِلَافِ الْأَغْرَاضِ وَغَضِبَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى عَبْدٍ لَهُ وَأَرَادَ التَّضْيِيقَ عَلَيْهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُكَاتِبَنَّكَ عَلَى نَجْمَيْنِ فَلَوْ جَازَتْ حَالَّةً أَوْ عَلَى أَقَلَّ مِنْ نَجْمَيْنِ لَكَانَ أَحَقَّ بِالتَّضْيِيقِ عَلَيْهِ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa kemerdekaan (ʿitq) dalam kitabah terjadi setelah pelunasan, sedangkan kemerdekaan dalam jual beli terjadi sebelum pelunasan. Oleh karena itu, dimungkinkan batalnya akad kitabah karena tidak mampu membayar, meskipun jual beli tidak batal karenanya. Dalam hal ini terdapat pemisahan dari dalil yang mereka gunakan. Selain itu, penetapan tempo dalam kitabah merupakan ijmā‘ yang didasarkan pada praktik para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum, karena mereka semua melakukan kitabah terhadap budak-budak mereka dengan kesepakatan adanya penundaan pembayaran, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukannya secara tunai. Seandainya boleh dilakukan secara tunai, tentu sebagian dari mereka akan melakukannya karena perbedaan tujuan. ‘Utsmān bin ‘Affān raḍiyallāhu ‘anhu pernah marah kepada seorang budaknya dan ingin menyulitkannya, lalu berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan melakukan kitabah kepadamu dengan dua kali pembayaran.” Seandainya boleh dilakukan secara tunai atau dengan kurang dari dua kali pembayaran, tentu itu lebih layak untuk menyulitkannya.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا النور 33 فَإِنَّ الْخَيْرَ هُوَ الْمَالُ فَهُوَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ قَدْ أَبْطَلَ هَذَا التَّأْوِيلَ مِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban atas firman Allah Ta‘ala: “Jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka” (an-Nur: 33), maka yang dimaksud dengan kebaikan di sini adalah harta. Namun, asy-Syafi‘i telah membatalkan penafsiran ini dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعَبْدَ لَا مِلْكَ لَهُ عَلَى قَوْلِ مَنْ لَمْ يَجْعَلْهُ مَالِكًا وَلَا عَلَى قَوْلِ مَنْ جَعَلَهُ مَالِكًا لِأَنَّ سَيِّدَهُ أَخَذَهُ مِنْهُ

Salah satunya adalah bahwa seorang budak tidak memiliki kepemilikan menurut pendapat yang tidak menjadikannya sebagai pemilik, dan juga menurut pendapat yang menjadikannya sebagai pemilik, karena tuannya telah mengambilnya darinya.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَوْ أَرَادَ الْمَالَ لَقَالَ إِنْ عَلِمْتُمْ لَهُمْ خَيْرًا لِأَنَّ الْمَالَ يَكُونُ لَهُ وَلَا يَكُونُ فِيهِ وَإِنَّمَا الَّذِي فِيهِ مَا تَأَوَّلَهُ الشَّافِعِيُّ مِنَ الِاكْتِسَابِ وَالْأَمَانَةِ ثُمَّ لَوْ صَحَّ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمَالُ لَمَا دَلَّ عَلَى جَوَازِ التَّعْجِيلِ وَلَكَانَ بِالتَّأْجِيلِ أَحَقَّ حَتَّى يَجِدَ الْمَالَ

Kedua, jika yang dimaksud adalah harta, tentu akan dikatakan: “Jika kalian mengetahui ada kebaikan bagi mereka,” karena harta itu bisa menjadi milik seseorang dan bisa juga tidak, dan sesungguhnya yang dimaksud di dalamnya adalah seperti yang ditakwilkan oleh asy-Syafi‘i, yaitu berupa usaha dan amanah. Kemudian, seandainya benar bahwa yang dimaksud adalah harta, maka itu tidak menunjukkan bolehnya percepatan, bahkan penundaan lebih utama hingga ditemukan harta tersebut.

وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ عَلَى الْبَيْعِ فَالْمَعْنَى فِيهِ وُجُودُ الْمَقْصُودِ بِهِ فِي الْحُلُولِ وَالتَّأْجِيلِ وَكَذَلِكَ اسْتِدْلَالُهُمْ بِالْإِبْرَاءِ لِأَنَّ مَقْصُودَهُ لَا يَتَعَذَّرُ وَلِأَنَّ الْإِبْرَاءَ لَا يَجُوزُ تَعْلِيقُهُ عِنْدَنَا بِأَجَلٍ وَإِنْ دَخَلَ فِي الْكِتَابَةِ فَافْتَرَقَا

Adapun qiyās mereka terhadap jual beli, maka maksudnya adalah adanya tujuan yang dimaksudkan baik dalam pembayaran tunai maupun penangguhan, demikian pula dalil mereka dengan ibra’ karena tujuannya tidak terhalangi, dan karena ibra’ menurut kami tidak boleh digantungkan pada suatu tenggat waktu, meskipun ibra’ masuk dalam akad kitābah, maka keduanya pun berbeda.

وَأَمَّا السَّلَمُ فَقَدْ أَجْمَعْنَا وَهُمْ عَلَى الْفَرْقِ بَيْنَ الْكِتَابَةِ وَالسَّلَمِ لِأَنَّهُمْ مَنَعُوا مِنْ حُلُولِ السَّلَمِ وَجَوَّزُوا حُلُولَ الْكِتَابَةِ وَنَحْنُ مَنَعْنَا مِنْ حُلُولِ الْكِتَابَةِ وَجَوَّزْنَا حُلُولَ السَّلَمِ فَصَارَا مُفْتَرِقَيْنِ عَلَى قَوْلَيْنَا مَعًا فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْتَشْهَدَ بِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ ثُمَّ مَعْنَى الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا عِنْدَنَا أَنَّ الْغَرَرَ يَنْتَفِي عَنْ تَعْجِيلِ السَّلَمِ فَجَوَّزْنَاهُ وَيَدْخُلُ فِي حُلُولِ الْكِتَابَةِ فَأَبْطَلْنَاهُ

Adapun mengenai salam, kami telah berijma‘ bersama mereka tentang adanya perbedaan antara kitabah dan salam, karena mereka melarang pelunasan salam secara langsung dan membolehkan pelunasan kitabah secara langsung, sedangkan kami melarang pelunasan kitabah secara langsung dan membolehkan pelunasan salam secara langsung. Maka keduanya menjadi berbeda menurut pendapat kami masing-masing, sehingga tidak boleh dijadikan salah satunya sebagai dalil bagi yang lain. Kemudian, makna perbedaan antara keduanya menurut kami adalah bahwa unsur gharar hilang pada pelunasan salam secara langsung sehingga kami membolehkannya, sedangkan gharar masuk pada pelunasan kitabah secara langsung sehingga kami membatalkannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الْأَجَلَ فِي الْكِتَابَةِ شَرْطٌ فَأَقَلُّ مَا تَصِحُّ الْكِتَابَةُ إِلَيْهِ نَجْمَانِ وَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى نَجْمٍ وَاحِدٍ لَمْ تَصِحَّ وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ لِأُمُورٍ مِنْهَا مَا رَوَاهُ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي تَعْلِيقِهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ الْكِتَابَةُ عَلَى نَجْمَيْنِ

Apabila telah ditetapkan bahwa penetapan tempo dalam kitābah merupakan syarat, maka tempo paling sedikit yang sah untuk kitābah adalah dua kali pembayaran (najm). Jika ia melakukan kitābah dengan satu kali pembayaran saja, maka tidak sah. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah riwayat Ibnu Abī Hurairah dalam ta‘liq-nya dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Kitābah itu dengan dua kali pembayaran (najmain).”

وَهَذَا الْخَبَرُ إِنْ صَحَّ نَصٌّ يَدُلُّ عَلَى إِيجَابِ الْأَجَلِ عَلَى تَقْدِيرِهِ بِنَجْمَيْنِ وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ أَجَّلَ الْكِتَابَةَ قَالَ لَا تَصِحُّ إِلَى أَقَلَّ مِنْ نَجْمَيْنِ فَصَارَ مِنْ إِجْمَاعِ مَنْ قَالَ بِتَأْجِيلِهَا وَقَدْ غَضِبَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى عَبْدِهِ وَقَالَ وَاللَّهِ لَأُعَاقِبَنَّكَ وَلَأُكَاتِبَنَّكَ عَلَى نَجْمَيْنِ

Dan jika kabar ini sahih, maka ia merupakan nash yang menunjukkan kewajiban penetapan tempo dengan dua kali pembayaran (najmain). Dan karena setiap orang yang menetapkan tempo dalam penulisan (kitābah) mengatakan bahwa tidak sah jika kurang dari dua kali pembayaran, maka hal itu menjadi ijmā‘ bagi mereka yang membolehkan penetapan tempo tersebut. Dan telah diriwayatkan bahwa ‘Utsmān raḍiyallāhu ‘anhu pernah marah kepada budaknya dan berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan menghukummu dan aku akan menetapkan kitābah atasmu dengan dua kali pembayaran (najmain).”

ولو جَازَتْ إِلَى أَقَلَّ مِنْهُمَا لَاقْتَصَرَ عَلَيْهِ تَضْيِيقًا عَلَيْهِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ النَّجْمَيْنِ أَقْصَى التَّضْيِيقِ

Dan seandainya boleh kurang dari keduanya, niscaya akan dibatasi hanya pada yang kurang itu sebagai bentuk penyempitan baginya. Maka hal ini menunjukkan bahwa dua bintang adalah batas paling maksimal dari penyempitan tersebut.

وَلِأَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَمْ يُكَاتِبُوا مَعَ اخْتِلَافِهِمْ فِي مُكَاتَبَةِ عَبِيدِهِمْ عَلَى أَقَلَّ مِنْ نَجْمَيْنِ قَدْ كُوتِبَتْ بَرِيرَةُ عَلَى تِسْعَةِ أَنْجُمٍ وَكَاتَبَ ابْنُ عُمَرَ عَبْدَهُ عَلَى خَمْسَةِ أَنْجُمٍ وَكَاتَبَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَوْلَاهَا نَبْهَانَ عَلَى نَجْمَيْنِ وَذَلِكَ أَقَلُّ مَا كَاتَبَتِ الصَّحَابَةُ عَلَيْهِ فَصَارَ ذَلِكَ مِنْهُمْ إِجْمَاعًا وَلِأَنَّ الْإِيتَاءَ مِمَّا أَدَّى وَاجِبٌ لِيَسْتَعِينَ بِهِ الْمُكَاتَبُ فِيمَا بَقِيَ وَذَلِكَ لَا يَنْتَظِمُ إِلَّا فِي نَجْمَيْنِ يَكُونُ أَحَدُهُمَا لِلْأَدَاءِ وَالْآخَرُ لِلْإِيتَاءِ مَعُونَةً فِي بَاقِي الْأَدَاءِ وَلِأَنَّ اشْتِقَاقَ الْكِتَابَةِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ مِنَ الضَّمِّ وَالْجَمْعِ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مِنْ كِتَابَةِ الْخَطِّ

Karena para sahabat radhiyallāhu ‘anhum tidak melakukan mukātabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) dengan jumlah kurang dari dua cicilan (najm), meskipun mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah cicilan untuk budak-budak mereka. Barirah dimukātabahkan dengan sembilan cicilan, Ibnu ‘Umar memukātabahkan budaknya dengan lima cicilan, dan Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anhā memukātabahkan maulānya, Nabhan, dengan dua cicilan, dan itu adalah jumlah paling sedikit yang digunakan para sahabat dalam mukātabah. Maka hal itu menjadi ijmā‘ (konsensus) di antara mereka. Selain itu, pembayaran (al-ītā’) dari apa yang telah dibayarkan adalah wajib agar mukātab dapat memanfaatkannya untuk sisa pembayaran, dan hal itu tidak dapat terwujud kecuali dalam dua cicilan: salah satunya untuk pembayaran, dan yang lainnya untuk bantuan dalam sisa pembayaran. Adapun asal kata “kitābah” (mukātabah), bisa berasal dari makna menggabungkan dan menghimpun, atau dari penulisan tulisan.

فَإِنْ كَانَتْ مُشْتَقَّةً مِنَ الضَّمِّ وَالْجَمْعِ فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ بِهِ الضَّمُّ وَالِاجْتِمَاعُ اثْنَانِ فَافْتَقَرَتِ الْكِتَابَةُ إِلَى نَجْمَيْنِ يَنْضَمُّ أَحَدُهُمَا إِلَى الْآخَرِ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ كِتَابَةِ الْخَطِّ فَأَقَلُّ مَا تَتَقَيَّدُ بِهِ خَطُّ الْكِتَابَةِ حَرْفَانِ فَافْتَقَرَتِ الْكِتَابَةُ الْمُؤَجَّلَةُ إِلَى نَجْمَيْنِ

Jika kata tersebut diambil dari makna ‘menghimpun’ dan ‘mengumpulkan’, maka jumlah paling sedikit yang dapat disebut sebagai himpunan dan kumpulan adalah dua. Maka penulisan (kitābah) membutuhkan dua bintang yang salah satunya bergabung dengan yang lain. Dan jika diambil dari penulisan garis (khath), maka jumlah paling sedikit yang dapat disebut sebagai garis tulisan adalah dua huruf. Maka penulisan yang ditunda (kitābah mu’ajjalah) membutuhkan dua bintang.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ يَنْعَقِدُ الْخَطُّ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ وَهُوَ لَا

Jika dikatakan, “Terkadang akad dapat terwujud dengan satu huruf saja, padahal itu bukan…”

قِيلَ لَا حَرْفَانِ لَامٌ وَأَلِفٌ

Dikatakan: “Lā” terdiri dari dua huruf, yaitu lām dan alif.

قَالَ الشَّاعِرُ

Penyair berkata

تَخُطُّ رِجْلَايَ بِخَطٍّ مُخْتَلِفْ تكتبان في الطريق لام ألف

Kedua kakiku melangkah dengan jejak yang berbeda, menuliskan di jalanan huruf lām dan alif.

فإن قيل فإن كَانَ أَقَلُّ مَا يَتَقَيَّدُ بِهِ الْخَطُّ حَرْفَيْنِ فَمِنْ شَرْطِهِمَا أَنْ يَكُونَا مُخْتَلِفَيْنِ مِنْ جِنْسَيْنِ فَهَلَّا جَعَلْتُمُ اخْتِلَافَ النَّجْمَيْنِ فِي الْقَدْرِ وَالتَّجَانُسِ شَرْطًا اعْتِبَارًا بِتَقْيِيدِ الْخَطِّ كَمَا جَعَلْتُمْ أَقَلَّ الْكِتَابَةِ نَجْمَيْنِ اعْتِبَارًا بِتَقْيِيدِ الْخَطِّ

Jika dikatakan: Jika jumlah minimal yang menjadi batasan bagi tulisan adalah dua huruf, dan syarat keduanya adalah harus berbeda jenis, maka mengapa kalian tidak menjadikan perbedaan dua bintang dalam ukuran dan keseragaman sebagai syarat, dengan pertimbangan pembatasan tulisan, sebagaimana kalian menjadikan minimal penulisan adalah dua bintang dengan pertimbangan pembatasan tulisan?

قِيلَ عَنْ هَذَا جَوَابَانِ

Dikatakan mengenai hal ini ada dua jawaban.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَيْسَ يَلْزَمُ تَغَايُرُ أَجْنَاسِ الْحَرْفَيْنِ فِي الْخَطِّ أَلَا تَرَى إِلَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   لَسْتُ مِنْ دَدٍ وَلَا دَدٌ مِنِّي   أَيْ لَسْتُ مِنَ اللَّعِبِ وَلَا اللَّعِبُ مِنِّي وَهُمَا حَرْفَانِ مُتجَانِسَانِ يَتَقَيَّدُ بِهِمَا الْخَطُّ كَذَلِكَ نَجْمَا الْكِتَابَةِ

Salah satunya adalah bahwa tidak disyaratkan perbedaan jenis dua huruf dalam penulisan. Tidakkah engkau melihat sabda Nabi ﷺ: “Aku bukan dari dad dan dad bukan dariku,” maksudnya, aku bukan dari permainan dan permainan bukan dariku, padahal keduanya adalah dua huruf yang sejenis yang penulisannya tetap mengikuti keduanya. Demikian pula halnya dengan aturan penulisan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَوْ لَزِمَ هَذَا فِي أَقَلِّ مَا يَتَقَيَّدُ بِهِ الْخَطُّ أَنْ يَكُونَ مُتَغَايِرَ الْأَجْنَاسِ فَنَجْمَا الْكِتَابَةِ بِمَثَابَتِهِ لِأَنَّهُ لَا يتصور النَّجْمَانِ إِلَّا مُتَغَايِرَيْنِ وَإِنْ تَسَاوَى زَمَانُهُمَا لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ كُلٌّ وَاحِدٍ مِنَ النَّجْمَيْنِ شَهْرًا فَقَدِ اخْتَلَفَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Kedua, jika hal ini harus berlaku pada batas minimum yang menjadi syarat bagi tulisan, yaitu harus berbeda jenisnya, maka dua bintang dalam penulisan pun demikian, karena tidak mungkin membayangkan dua bintang kecuali keduanya berbeda, meskipun waktu kemunculannya sama. Sebab, jika masing-masing dari kedua bintang itu muncul dalam satu bulan, maka keduanya telah berbeda dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْأَجَلَ مستحق من وقت العقد فيكون أو النجمين منهما بَعْدَ شَهْرٍ وَالْآخَرُ بَعْدَ شَهْرَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa tenggat waktu menjadi hak sejak akad, sehingga salah satu atau dua termin pembayaran tersebut jatuh setelah satu bulan, dan yang lainnya setelah dua bulan.

وَالثَّانِي أَنَّ محلها مختلف لأن حلول أحدهما شَهْرٍ وَحُلُولَ الْآخَرِ فِي غَيْرِهِ فَاخْتَلَفَا مَعَ تَسَاوِيهِمَا مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ فَثَبَتَ مَا قُلْنَا من اعتبار النجمين وأن لا فَرْقَ بَيْنَ تَسَاوِيهِمَا وَاخْتِلَافِهِمَا وَبَيْنَ طُولِهِمَا وَقِصَرِهِمَا

Kedua, tempat terjadinya berbeda karena waktu jatuhnya yang satu adalah pada bulan tertentu, sedangkan yang lain pada bulan yang berbeda, sehingga keduanya berbeda meskipun sama dari dua sisi tersebut. Maka tetaplah apa yang kami katakan tentang pentingnya memperhatikan kedua bintang itu, dan bahwa tidak ada perbedaan antara kesamaan dan perbedaan keduanya, maupun antara panjang dan pendeknya.

أَمَّا أَكْثَرُ نُجُومِ الْكِتَابَةِ فَلَا يَنْحَصِرُ بِعَدَدٍ وَيَجُوزُ أَنْ يُكَاتِبَهُ إِلَى مِائَةِ نَجْمٍ وَأَكْثَرَ

Adapun jumlah bintang dalam penulisan (akad mukatabah) tidak terbatas pada angka tertentu, dan boleh saja seseorang melakukan mukatabah dengan seratus bintang atau lebih.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا كَانَ مَا لَمْ يَتَجَاوَزْهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ أَقَلِّ النُّجُومِ شَرْطًا فِي تَقْيِيدِ الْأَقَلِّ فَهَلَّا جَعَلْتُمْ مَا لَمْ يَتَجَاوَزْهُ الصَّحَابَةُ مِنْ أَقَلِّ النَّجْمِ فِي تَقْيِيدِ الْأَكْثَرِ شَرْطًا فِي تَقْيِيدِ الْأَكْثَرِ وَأَكْثَرُ ما كاتبت الصحابة عليه تسعة أنجم يفي بَرِيرَةَ كَمَا أَنَّ أَقَلَّ مَا كَاتَبُوا عَلَيْهِ نَجْمَانِ فِي نَبْهَانَ فَلَزِمَكُمْ أَنْ تُقَدِّرُوا أَكْثَرَهُ بِتِسْعَةِ أَنْجُمٍ كَمَا قَدَّرْتُمْ أَقَلَّهُ بِنَجْمَيْنِ أَوْ تُسْقِطُوا تَقْدِيرَ أَقَلِّهِ بِنَجْمَيْنِ كَمَا أَسْقَطْتُمْ تَقْدِيرَ أَكْثَرِهِ بِتِسْعَةِ أَنْجُمٍ

Jika dikatakan: Apabila sesuatu yang tidak dilampaui oleh para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dari jumlah bintang (angsuran) paling sedikit dijadikan syarat dalam pembatasan jumlah paling sedikit, maka mengapa kalian tidak menjadikan pula apa yang tidak dilampaui oleh para sahabat dari jumlah bintang terbanyak dalam pembatasan jumlah paling banyak sebagai syarat dalam pembatasan jumlah paling banyak? Dan kebanyakan yang para sahabat lakukan dalam mukatabah adalah sembilan bintang, seperti pada kasus Barirah, sebagaimana jumlah paling sedikit yang mereka lakukan adalah dua bintang pada kasus Nabhan. Maka, seharusnya kalian menetapkan jumlah terbanyaknya dengan sembilan bintang sebagaimana kalian menetapkan jumlah paling sedikitnya dengan dua bintang, atau kalian menggugurkan penetapan jumlah paling sedikit dengan dua bintang sebagaimana kalian menggugurkan penetapan jumlah terbanyak dengan sembilan bintang.

قِيلَ لَا يَلْزَمُ اعْتِبَارُ الْأَقَلِّ بِالْأَكْثَرِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Dikatakan bahwa tidak wajib mempertimbangkan yang lebih sedikit dengan yang lebih banyak, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ النُّجُومَ زَمَانٌ فَتُقَدَّرُ أَقَلُّ النُّجُومِ لِأَنَّ أَقَلَّ الزَّمَانِ مَحْدُودٌ وَلَمْ يَتَقَدَّرْ أَكْثَرُ النُّجُومِ لِأَنَّ أَكْثَرَ الزَّمَانِ غَيْرُ مَحْدُودٍ

Salah satunya adalah bahwa bintang-bintang itu merupakan ukuran waktu, sehingga ditetapkan jumlah bintang paling sedikit, karena waktu paling sedikit itu terbatas, sedangkan jumlah bintang paling banyak tidak ditetapkan, karena waktu paling banyak itu tidak terbatas.

وَالثَّانِي أَنَّ قِلَّةَ النُّجُومِ مَفْقُودٌ مِنْ جِهَةِ السَّادَةِ فَجَازَ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ فِعْلُ السَّادَةِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَكَثْرَةُ النُّجُومِ مَفْقُودٌ مِنْ جِهَةِ الْعَبِيدِ فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ فِعْلُ عَبِيدِ الصَّحَابَةِ وَاللَّهُ أعلم

Kedua, bahwa sedikitnya bintang tidak ditemukan pada sisi para tuan, maka boleh dipertimbangkan di dalamnya perbuatan para tuan dari kalangan sahabat. Sedangkan banyaknya bintang tidak ditemukan pada sisi para budak, maka tidak dipertimbangkan di dalamnya perbuatan para budak sahabat. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ مَوْصُوفَةِ الْوَزْنِ وَالْعَيْنِ إِلَى عَشْرِ سِنِينَ أَوُّلَهَا كَذَا وَآخِرُهَا كَذَا يُؤَدِّي فِي انْقِضَاءِ كُلِّ سَنَةٍ مِنْهَا كَذَا فَجَائِزٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang membuat perjanjian mukatab dengan budaknya atas seratus dinar yang ditentukan berat dan jenisnya, untuk jangka waktu sepuluh tahun, di mana pada awalnya demikian dan pada akhirnya demikian, serta ia harus membayar sejumlah tertentu pada akhir setiap tahun dari jangka waktu tersebut, maka hal itu diperbolehkan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالَّذِي يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ الْكِتَابَةِ شَرْطَانِ

Al-Mawardi berkata, “Syarat yang harus dipenuhi dalam keabsahan penulisan ada dua.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ مَعْلُومًا

Salah satunya adalah bahwa imbalan harus diketahui.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ الْأَجَلُ مَعْلُومًا

Dan yang kedua adalah bahwa jangka waktu harus diketahui.

فَأَمَّا الْعِلْمُ بِالْعِوَضِ فَمِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ قَدَّمْنَاهَا

Adapun pengetahuan tentang imbalan, maka berasal dari tiga aspek yang telah kami kemukakan sebelumnya.

أَحَدُهَا مَعْرِفَةُ الْجِنْسِ

Salah satunya adalah pengetahuan tentang jenis.

وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ الصِّفَةِ

Dan yang kedua adalah mengetahui sifatnya.

وَالثَّالِثُ مَعْرِفَةُ الْقَدْرِ

Dan yang ketiga adalah mengetahui kadar (batasan).

فَإِنْ جَهِلَا أَوْ أَحَدُهُمَا أَحَدَ الثَّلَاثَةِ مِنْ جِنْسٍ أَوْ صِفَةٍ أَوْ قَدْرٍ بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ

Jika kedua belah pihak, atau salah satunya, tidak mengetahui salah satu dari tiga hal—yaitu jenis, sifat, atau kadar—maka akad al-kitābah menjadi batal.

وَأَمَّا الْعِلْمُ بِالْأَجَلِ فَيَكُونُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Adapun pengetahuan tentang ajal, maka hal itu dapat ditinjau dari tiga aspek.

أَحَدُهَا تَقْدِيرُ زَمَانِهِ بِالسِّنِينَ أَوْ بِالشُّهُورِ الْهِلَالِيَّةِ فَيَقُولُ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ فِي عَشْرِ سِنِينَ فَإِنْ ذَكَرَ أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا كَانَ أَوْكَدَ وَإِنْ ذَكَرَ أَوَّلَهَا وَلَمْ يَذْكُرْ آخِرَهَا جَازَ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مَعْلُومًا بِذِكْرِ الْأَوَّلِ فَإِنْ ذَكَرَ آخِرَهَا وَلَمْ يَذْكُرْ أَوَّلَهَا جَازَ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مَعْلُومًا بِذِكْرِ الْآخِرِ بَعْدَ أَنْ لا يريد ذِكْرَ آخِرِ الْمُدَّةِ عَلَى الْعَشْرِ وَلَا يَنْقُصَ مِنْهَا وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ أَوَّلَهَا وَلَا آخِرَهَا فَالصَّحِيحُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَإِنْ كَانَ دَلِيلُ كَلَامِهِ هَاهُنَا لَا يَقْتَضِيهِ أَنْ تَكُونَ الْكِتَابَةُ جَائِزَةً لِأَنَّ أَوَّلَ الْآجَالِ الْمُسْتَحَقَّةِ فِي الْعُقُودِ مِنْ وَقْتِ عَقْدِهَا فَصَارَ وَقْتُ الْعَقْدِ أَوَّلَهَا وَهُوَ مَعْلُومٌ وَيَصِيرُ آخِرُهَا بِمَعْرِفَةِ الْأَوَّلِ مَعْلُومًا

Salah satunya adalah menetapkan waktunya dengan tahun atau bulan hijriah, misalnya seseorang berkata: “Aku telah menulis perjanjian denganmu atas seratus dinar dalam sepuluh tahun.” Jika ia menyebutkan awal dan akhirnya, maka itu lebih kuat. Jika ia menyebutkan awalnya saja tanpa akhirnya, maka itu diperbolehkan karena menjadi jelas dengan penyebutan awal. Jika ia menyebutkan akhirnya saja tanpa awalnya, maka itu juga diperbolehkan karena menjadi jelas dengan penyebutan akhir setelah tidak bermaksud menjadikan akhir masa itu kurang dari sepuluh tahun. Namun, jika ia tidak menyebutkan awal maupun akhirnya, maka pendapat yang sahih dalam mazhab Syafi‘i—meskipun dalil ucapannya di sini tidak mengharuskannya—adalah bahwa penulisan perjanjian itu tetap sah, karena awal jatuh tempo yang menjadi hak dalam akad-akad adalah sejak waktu akad itu dilakukan, sehingga waktu akad menjadi awalnya dan itu sudah diketahui, dan akhirnya pun menjadi diketahui dengan mengetahui awalnya.

وَإِنَّمَا نَصَّ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى ذِكْرِ أَوَّلِهَا وَآخِرِهَا تَأْكِيدًا

Dan sesungguhnya Imam Syafi‘i rahimahullah hanya menegaskan penyebutan permulaan dan akhirannya sebagai bentuk penegasan.

وَالثَّانِي مِنَ الْأَوْجُهِ الثَّلَاثَةِ الْعِلْمُ بِوَقْفِ اسْتِحْقَاقِهَا فِي كُلِّ نَجْمٍ لِبُعْدِ مَا بَيْنَ طَرَفَيْهِ فَإِذَا كَانَتِ النُّجُومُ عَشْرَ سِنِينَ وَجَعَلَ مَحَلَّ كُلِّ نَجْمٍ فِي آخِرِ كُلِّ سَنَةٍ صَحَّ وَإِنْ جَعَلَهُ فِي أَوَّلِهَا لَمْ يَصِحَّ لَا لِلْجَهْلِ بِوَقْتِ الْمَحَلِّ وَلَكِنْ لِأَنَّهُ يَصِيرُ الْأَوَّلُ مِنْهُمَا حَالًّا وَالْكِتَابَةُ عَلَى حَالٍّ لَا تَصِحُّ وَإِنْ كَانَ مَعَهَا مُؤَجَّلٌ وَإِنْ جَعَلَهُ فِي وَسَطِهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ

Wajah kedua dari tiga pendapat adalah pengetahuan tentang penetapan waktu jatuh tempo haknya pada setiap termin, karena jauhnya jarak antara kedua ujungnya. Jika termin-termin itu adalah sepuluh tahun dan ia menetapkan waktu setiap termin di akhir setiap tahun, maka itu sah. Namun jika ia menetapkannya di awal tahun, maka tidak sah, bukan karena ketidaktahuan tentang waktu penetapan, tetapi karena yang pertama dari keduanya menjadi jatuh tempo, dan akad penulisan atas sesuatu yang sudah jatuh tempo tidak sah, meskipun bersamaan dengan yang masih ditangguhkan. Jika ia menetapkannya di pertengahan tahun, maka terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّ وَسَطَ السَّنَةِ مَا بَيْنَ طَرَفَيْهَا فَصَارَ مَجْهُولًا

Salah satunya tidak sah karena pertengahan tahun adalah sesuatu yang berada di antara kedua ujungnya, sehingga menjadi tidak jelas.

وَالثَّانِي يَصِحُّ وَيَكُونُ الْمَحَلُّ فِي نِصْفِ كُلِّ سَنَةٍ لِأَنَّ الْوَسَطَ عَلَى التَّحْقِيقِ مَوْضُوعٌ لِاسْتِوَاءِ الطَّرَفَيْنِ فَلَوْ كَاتَبَهُ عَلَى نَجْمَيْنِ فِي سَنَتَيْنِ لِيَكُونَ مَحَلُّ الْأَوَّلِ مِنْهُمَا فِي أَوَّلِ السَّنَةِ الْأَوْلَى وَمَحَلُّ الثَّانِي آخِرَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ لَمْ يَجُزْ لِمَا ذَكَرْنَا مِنْ حُلُولِ الْأَوَّلِ

Yang kedua sah, dan tempat (jatuh tempo) pembayaran adalah di pertengahan setiap tahun, karena pertengahan (waktu) secara pasti ditetapkan untuk menyeimbangkan kedua ujung (awal dan akhir). Maka jika ia membuat perjanjian kitabah dengan dua kali pembayaran dalam dua tahun, sehingga pembayaran pertama jatuh pada awal tahun pertama dan pembayaran kedua pada akhir tahun kedua, maka itu tidak diperbolehkan karena alasan yang telah kami sebutkan mengenai jatuh temponya pembayaran pertama.

وَلَوْ جَعَلَ النَجَّمَ الْأَوَّلَ فِي آخِرِ السَّنَةِ الْأَوْلَى وَالثَّانِي فِي أَوَّلِ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Dan jika seseorang meletakkan nashab pertama di akhir tahun pertama dan nashab kedua di awal tahun kedua, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّهُ بِالِاتِّصَالِ قَدْ صَارَ نَجْمًا وَاحِدًا

Salah satunya tidak sah karena dengan adanya keterhubungan, ia telah menjadi satu bintang.

وَالثَّانِي يَصِحُّ لِاسْتِحْقَاقِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي غَيْرِ زَمَانِ الْآخَرِ لِأَنَّ الْأَوَّلَ يُسْتَحَقُّ فِي آخِرِ أَجْزَاءِ السَّنَةِ الْأَوْلَى وَالثَّانِي مُسْتَحَقٌّ فِي أَوَّلِ أَجْزَاءِ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فَصَارَا مُخْتَلِفَيْنِ وَإِنِ اتَّصَلَا

Yang kedua sah, karena masing-masing dari keduanya berhak (atas zakat) pada waktu yang berbeda dengan yang lain, sebab yang pertama berhak pada akhir bagian tahun pertama, sedangkan yang kedua berhak pada awal bagian tahun kedua, sehingga keduanya menjadi berbeda meskipun saling berhubungan.

وَالثَّالِثُ مِنَ الْأَوْجُهِ الثَّلَاثَةِ أَنْ يَكُونَ مَا يُسْتَحَقُّ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ فِي كُلِّ نَجْمٍ مَعْلُومًا سَوَاءٌ تَسَاوَى مَالُ النُّجُومِ أَوِ اخْتَلَفَ وَتَسَاوِيهِ أَنْ يَقُولَ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ وَتُؤَدِّيهَا فِي عَشْرِ سِنِينَ فِي آخِرِ كُلِّ سَنَةٍ مِنْهَا عَشَرَةُ دَنَانِيرَ

Dan pendapat ketiga dari tiga pendapat tersebut adalah bahwa harta yang menjadi hak dari akad kitabah pada setiap cicilan haruslah diketahui jumlahnya, baik jumlah harta pada setiap cicilan itu sama ataupun berbeda. Adapun bentuk kesamaan jumlahnya adalah dengan mengatakan: “Aku telah melakukan akad kitabah denganmu atas seratus dinar, dan engkau membayarnya dalam sepuluh tahun, pada akhir setiap tahun dari tahun-tahun tersebut sepuluh dinar.”

وَاخْتِلَافُهُ أَنْ يَقُولَ عَلَى أَنْ تُؤَدِّيَ فِي آخِرِ السَّنَةِ الْأَوْلَى خَمْسَةَ دَنَانِيرَ وَفِي آخر الثانية عشر دَنَانِيرَ وَفِي آخِرِ الثَّالِثَةِ خَمْسَةَ عَشَرَ ثُمَّ يَذْكُرُ مِثْلَ ذَلِكَ فِي السِّنِينَ الْعَشْرِ فَيَصِحُّ فِي الْحَالَيْنِ مَعَ التَّسَاوِي وَالتَّفَاضُلِ فَإِنْ أَطْلَقَ وَلَمْ يَذْكُرْ قَدْرَ مَا يَسْتَحِقُّهُ فِي كُلِّ نَجْمٍ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Perbedaannya adalah jika ia mengatakan bahwa pada akhir tahun pertama harus dibayarkan lima dinar, pada akhir tahun kedua dua belas dinar, pada akhir tahun ketiga lima belas dinar, kemudian ia menyebutkan hal yang serupa untuk sepuluh tahun, maka hal itu sah baik dalam keadaan jumlahnya sama maupun berbeda. Namun, jika ia mengucapkan secara mutlak dan tidak menyebutkan berapa jumlah yang menjadi haknya pada setiap termin, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْكِتَابَةَ بَاطِلَةٌ لِلْجَهْلِ بِقَدْرِ الِاسْتِحْقَاقِ

Salah satunya adalah bahwa al-kitābah batal karena tidak diketahui kadar hak yang seharusnya diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ جَائِزَةٌ وَيَكُونُ الْمَالُ مَقْسُومًا عَلَى أَعْدَادِ النُّجُومِ لِأَنَّ الْإِطْلَاقَ يُوجِبُ التَّسْوِيَةَ فَإِنْ كَانَتِ النُّجُومُ خَمْسَةً اسْتَحَقَّ كُلُّ نَجْمٍ خُمُسَ الْمَالِ وَإِنْ كَانَتْ عَشْرًا اسْتَحَقَّ كُلُّ نَجْمٍ عُشْرَ الْمَالِ

Pendapat kedua adalah bahwa akad kitabah itu diperbolehkan dan harta dibagi menurut jumlah cicilan (an-nujūm), karena keumuman (lafaz) mengharuskan adanya kesetaraan. Jika cicilan itu ada lima, maka setiap cicilan berhak atas seperlima dari harta; dan jika cicilan itu ada sepuluh, maka setiap cicilan berhak atas sepersepuluh dari harta.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَعْتِقُ حَتَّى يَقُولَ فِي الْكِتَابَةِ فَإِذَا أَدَّيْتَ كَذَا فَأَنْتَ حُرٌّ أَوْ يَقُولَ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ قَوْلِي كَاتَبْتُكَ كَانَ مَعْقُودًا عَلَى أَنَّكَ إِذَا أَدَّيْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ كَمَا لَا يَكُونُ الطَّلَاقُ إِلَّا بِصَرِيحٍ أَوْ مَا يُشْبِهُهُ مَعَ النِّيَّةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang budak tidak menjadi merdeka hingga tuannya mengatakan dalam akad kitābah, ‘Jika kamu telah membayar sekian, maka kamu merdeka,’ atau ia mengatakan setelah itu, ‘Ucapanku “aku memerdekakanmu dengan kitābah” terikat dengan syarat bahwa jika kamu telah membayar, maka kamu merdeka.’ Sebagaimana talak tidak terjadi kecuali dengan lafaz yang jelas atau yang semakna dengannya disertai niat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ لَفْظُ الْكِتَابَةِ كِنَايَةٌ لَا يَتَحَرَّرُ بِهِ الْعِتْقُ عِنْدَ الْأَدَاءِ إِلَّا أَنْ يَقْتَرِنَ بِهَا لَفْظٌ صَرِيحٌ فِي الْعِتْقِ أَوْ نِيَّةٌ يُرِيدُ بِهَا الْعِتْقَ فَالصَّرِيحُ أَنْ يَقُولَ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ فَإِذَا أَدَّيْتَ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ وَالنِّيَّةُ أَنْ يَقُولَ بَعْدَ الْكِتَابَةِ قَدْ كَانَ قَوْلِي كَاتَبْتُكَ مَعْقُودًا عَلَى أَنَّكَ إِنْ أَدَّيْتَ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ فَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِعَقْدِ الْكِتَابَةِ أَحَدُ هَذَيْنِ لَمْ يَتَحَرَّرْ بِهَا الْعِتْقُ

Al-Mawardi berkata: Ini sebagaimana yang telah dikatakan, bahwa lafaz kitabah adalah kinayah (ungkapan tidak langsung) yang tidak menyebabkan merdekanya (budak) ketika pembayaran (telah selesai), kecuali jika disertai dengan lafaz yang sharih (jelas) tentang pembebasan atau niat yang memang menginginkan pembebasan. Lafaz sharih adalah jika ia berkata dalam akad kitabah: “Jika kamu telah melunasi seluruhnya, maka kamu merdeka.” Sedangkan niat adalah jika ia berkata setelah akad kitabah: “Sesungguhnya ucapanku ‘Aku melakukan kitabah denganmu’ itu dimaksudkan bahwa jika kamu telah melunasi seluruhnya, maka kamu merdeka.” Jika dalam akad kitabah tidak disertai salah satu dari keduanya, maka kitabah itu tidak menyebabkan pembebasan (budak).

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَفْظُ الْكِتَابَةِ صَرِيحٌ يَتَحَرَّرُ بِهِ الْعِتْقُ عِنْدَ الْأَدَاءِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقْتَرِنَ بِهِ تَصْرِيحٌ بِالْعِتْقِ وَلَا نِيَّةٌ كَالتَّدْبِيرِ هُوَ صَرِيحٌ فِي تَحْرِيرِ الْعِتْقِ بِالْمَوْتِ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى تَصْرِيحٍ وَلَا نِيَّةٍ وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ لَفْظَ الْكِتَابَةِ كِنَايَةٌ يَتَسَاوَى فِيهِ الِاحْتِمَالُ

Abu Hanifah berkata, “Lafaz al-kitābah adalah lafaz yang jelas, sehingga dengan lafaz itu seorang budak dapat merdeka ketika telah melunasi pembayaran, tanpa harus disertai pernyataan tegas tentang pemerdekaan atau niat, sebagaimana tadbīr yang merupakan lafaz jelas dalam memerdekakan budak setelah kematian, yang tidak memerlukan pernyataan tegas maupun niat.” Namun, pendapat ini dianggap tidak benar karena lafaz al-kitābah adalah kināyah yang mengandung kemungkinan makna yang sama kuat.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ كِتَابَةَ الْمُرَاسَلَةِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهِ كِتَابَةَ الْمُخَارَجَةِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ كِتَابَةَ الْعِتْقِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَصِيرَ مَعَ احْتِمَالِهِ صَرِيحًا وَجَرَى مَجْرَى قَوْلِهِ فِي الطَّلَاقِ أَنْتِ خَلِيَّةٌ أَوْ بَرِيئَةٌ

Maka bisa jadi yang dimaksud adalah penulisan surat korespondensi, bisa juga yang dimaksud adalah penulisan surat pemutusan hubungan, dan bisa juga yang dimaksud adalah penulisan surat pembebasan budak. Maka tidak boleh dianggap sebagai lafaz yang jelas (sharīh) selama masih mengandung kemungkinan-kemungkinan tersebut, dan hal ini serupa dengan ucapan seseorang dalam talak: “Engkau bebas” atau “Engkau lepas.”

فَأَمَّا لَفْظُ التدبير فالذي نص عليه الشافعي أن يكونا صَرِيحًا فِي الْعِتْقِ كَمَا نَصَّ فِي لَفْظِ الْكِتَابَةِ أَنَّهُ كِنَايَةٌ فِي الْعِتْقِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ نَصِّهِ فِيهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Adapun lafaz “at-tadbīr”, menurut penegasan Imam Syafi‘i, haruslah berupa ungkapan yang jelas (ṣarīḥ) dalam pembebasan budak (‘itq), sebagaimana beliau juga menegaskan bahwa lafaz “al-kitābah” adalah kināyah (sindiran) dalam pembebasan budak. Maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai perbedaan penegasan beliau dalam hal ini menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا أَنْ نَقَلُوا جَوَابَهُ فِي التَّدْبِيرِ إِلَى الْكِتَابَةِ وَجَوَابَهُ فِي الْكِتَابَةِ إِلَى التَّدْبِيرِ وَخَرَّجُوهُ عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa mereka memindahkan jawabannya dalam masalah tadbīr ke dalam masalah kitābah, dan jawabannya dalam masalah kitābah ke dalam masalah tadbīr, serta mereka mengaitkannya dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ اللَّفْظَ فِيهِمَا صَرِيحٌ فِي الْعِتْقِ عَلَى مَا قَالَهُ فِي التَّدْبِيرِ وَلَا تَفْتَقِرُ الْكِتَابَةُ إِلَى نِيَّةٍ كَمَا لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَيْهَا التَّدْبِيرُ

Salah satu di antaranya adalah bahwa lafaz pada keduanya (kitābah dan tadbīr) secara jelas menunjukkan makna pembebasan budak, sebagaimana yang telah disebutkan dalam tadbīr, dan kitābah tidak memerlukan niat, sebagaimana tadbīr juga tidak memerlukannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ اللَّفْظَ فِيهَا كِنَايَةٌ فِي الْعِتْقِ لَا يَقَعُ فِيهِمَا إلى بِنِيَّةٍ أَوْ تَصْرِيحٍ عَلَى مَا قَالَهُ فِي الْكِتَابَةِ وَلَا يَقَعُ الْعِتْقُ فِي التَّدْبِيرِ إِلَّا بِتَصْرِيحٍ أَوْ نِيَّةٍ كَمَا لَمْ يَصْحَّ فِي الْكِتَابَةِ فَهَذَا قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa lafaz dalam hal ini merupakan kinayah dalam pembebasan budak, sehingga tidak terjadi pembebasan kecuali dengan niat atau pernyataan tegas, sebagaimana yang disebutkan dalam masalah kitabah. Pembebasan budak dalam tadbir juga tidak terjadi kecuali dengan pernyataan tegas atau niat, sebagaimana tidak sah dalam kitabah. Inilah pendapat sekelompok ulama terdahulu.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّ الشَّافِعِيَّ إِنَّمَا جَعَلَ التَّدْبِيرَ صَرِيحًا فِي الْعِتْقِ مِنَ الْعَالِمِ وَلَوْ كَانَ مِنْ جَاهِلٍ لَكَانَ كِنَايَةً وَجَعَلَ الْكِتَابَةَ كِنَايَةً مِنَ الْجَاهِلِ وَلَوْ كَانَ مِنَ الْعَالِمِ لَكَانَ صَرِيحًا فَسَوَّى بَيْنِ لَفْظِ الْكِتَابَةِ وَالتَّدْبِيرِ فَجَعَلَهُمَا صَرِيحِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ كِنَايَتَيْنِ مِنَ الْجُهَّالِ

Mazhab kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa Imam Syafi‘i hanya menganggap lafaz “tadbir” sebagai pernyataan eksplisit (‘sharih’) dalam pembebasan budak (‘itq’) jika diucapkan oleh orang yang mengetahui hukumnya (‘alim’). Jika diucapkan oleh orang yang tidak mengetahui (‘jahil’), maka dianggap sebagai kiasan (‘kinayah’). Sedangkan lafaz “kitabah” dianggap sebagai kiasan (‘kinayah’) jika diucapkan oleh orang yang tidak mengetahui, dan jika diucapkan oleh orang yang mengetahui, maka dianggap sebagai pernyataan eksplisit (‘sharih’). Dengan demikian, ia menyamakan antara lafaz “kitabah” dan “tadbir”, sehingga keduanya dianggap sebagai pernyataan eksplisit (‘sharih’) dari kalangan ulama (‘ulama’), dan sebagai kiasan (‘kinayah’) dari kalangan orang awam (‘juhala’).

وَهَذَا قَوْلٌ فَاسِدٌ لِأَنَّ صَرِيحَ الطَّلَاقِ وَكِنَايَتَهُ تَسْتَوِي فِي حَقِّ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ وَالتَّدْبِيرُ

Ini adalah pendapat yang rusak, karena talak sharih (eksplisit) dan kinayah (implisit) sama hukumnya bagi orang yang mengetahui maupun yang tidak mengetahui, demikian pula dalam hal penulisan dan tadbir.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَكْثَرِ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْجَوَابَ مِنْهُمَا مَحْمُولٌ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ فَتَكُونُ لَفْظُ الْكِتَابَةِ كِنَايَةً مِنَ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ وَالتَّدْبِيرُ صَرِيحًا مِنَ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ

Mazhab ketiga, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dan mayoritas ulama kami, menyatakan bahwa jawaban dari keduanya (ulama dan orang awam) diambil menurut zahirnya pada kedua permasalahan tersebut. Maka, lafaz al-kitābah dianggap sebagai kinayah baik dari ulama maupun orang awam, sedangkan at-tadbīr dianggap sebagai lafaz sharih baik dari ulama maupun orang awam.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا كَثْرَةُ التَّدْبِيرِ وَقِلَّةُ الْكِتَابَةِ فَصَارَ التَّدْبِيرُ لِكَثْرَةِ اسْتِعْمَالِهِ فِي الْعِتْقِ صَرِيحًا وَالْكِتَابَةُ لقلة استعمالها فيه كناية

Perbedaan antara keduanya terletak pada banyaknya penggunaan tadbīr dan sedikitnya penggunaan kitābah. Maka, tadbīr karena sering digunakan dalam pembebasan budak menjadi lafaz yang jelas (ṣarīḥ), sedangkan kitābah karena jarang digunakan dalam hal itu menjadi lafaz kiasan (kināyah).

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه ولا تجوز على العرض حَتَّى يَكُونَ مَوْصُوفًا كَالسَّلَمِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Tidak boleh (akad salam) atas barang selain benda (‘arāḍ) hingga barang tersebut memiliki sifat yang jelas sebagaimana dalam akad salam.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا الكناية عَلَى الْأَعْيَانِ الْحَاضِرَةِ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهَا لَا تَصِحُّ لِأَنَّهَا إِنْ كَانَتْ فِي يَدِهِ فَهِيَ لِسَيِّدِهِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِي يَدِهِ فَأَوْلَى أَنْ لَا تَصِحَّ فِي كِتَابَتِهِ وَإِنَّمَا تَصِحُّ الْكِتَابَةُ بِمَا يَسْتَقِرُّ فِي ذِمَّتِهِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا يَخْلُو مَا يُكَاتِبُهُ عَلَيْهِ فِي ذِمَّتِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ أَوْ مِنْ غَيْرِهَا

Al-Mawardi berkata: Adapun kinayah (ungkapan tidak langsung) terhadap budak yang hadir, telah kami sebutkan bahwa hal itu tidak sah, karena jika budak itu berada di tangannya, maka ia adalah milik tuannya. Jika tidak berada di tangannya, maka lebih utama lagi untuk tidak sah dalam penulisan (akad mukatabah)-nya. Penulisan (akad mukatabah) hanya sah dengan sesuatu yang menjadi tanggungannya. Jika demikian, maka apa yang dijadikan objek mukatabah dalam tanggungannya tidak lepas dari dua kemungkinan: berupa jenis harta (uang/emas/perak) atau selainnya.

فَإِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ جَازَ إِذَا كَانَ لَهَا نَقْدٌ غَالِبٌ أَنْ يُكَاتِبَهُ عَلَيْهَا بِالْإِطْلَاقِ مِنْ غَيْرِ صِفَةٍ لِيَحْمِلَا فِيهَا عَلَى الْعُرْفِ فِي اعْتِبَارِ الْأَغْلَبِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ غَالَبَ فَلَا تَصِحُّ إِلَّا بِوَصْفِهَا فَإِنْ أُطْلِقَتْ بَطَلَتْ كَالْأَثْمَانِ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ الْأَثْمَانِ فَإِنْ كَانَ مَا يَصِحُّ ثُبُوتُهُ فِي الذِّمَّةِ سَلَمًا صَحَّتِ الْمُكَاتَبَةُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَصِحُّ ثُبُوتُهُ فِي الذِّمَّةِ سَلَمًا كَالَّذِي لَا تُضْبَطُ صِفَتُهُ مِنَ الْجَوَاهِرِ لَمْ تَصِحِّ الْمُكَاتَبَةُ عَلَيْهِ ثُمَّ عَلَيْهِ أَنْ يَصِفَ ذَلِكَ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ كَمَا يَصِفُهُ فِي عَقْدِ السَّلَمِ فَإِنْ أَخَلَّ بِصِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ لِدُخُولِ الْجَهَالَةِ عَلَيْهِ وَأَسْقَطَ أَبُو حَنِيفَةَ اعْتِبَارَ الصِّفَةِ وَخَالَفَ بَيْنَ الْكِتَابَةِ فِيهَا وَالسَّلَمِ وَجَوَّزَ الْمُكَاتَبَةَ عَلَى الْحَيَوَانِ وَلَمْ يُجَوِّزْ فِيهِ السَّلَمَ وَهِيَ عِنْدَنَا سَوَاءٌ فِي اسْتِحْقَاقِ الصِّفَةِ وَنَفْيِ الْجَهَالَةِ لِأَنَّ الْغَرَرَ وَإِنْ دَخَلَ فِي الْكِتَابَةِ مِنْ وَجْهٍ فَالْعِوَضُ فِيهِ مُعْتَبَرٌ بِالسَّلَمِ وَالْأَثْمَانِ فِي نَفْيِ الْجَهَالَةِ عَنْهُ

Jika barang yang dijadikan sebagai pembayaran berasal dari jenis atsman, seperti dirham dan dinar, maka diperbolehkan apabila terdapat mata uang yang umum digunakan, sehingga ia boleh melakukan mukatabah atasnya secara mutlak tanpa menyebutkan sifatnya, agar keduanya mengikuti kebiasaan dalam mempertimbangkan yang paling umum. Namun, jika tidak ada yang umum, maka tidak sah kecuali dengan menyebutkan sifatnya. Jika dilakukan secara mutlak, maka batal seperti halnya atsman. Jika barang tersebut bukan dari jenis atsman, maka apabila barang itu sah untuk ditetapkan dalam tanggungan melalui akad salam, maka sah pula mukatabah atasnya. Namun, jika barang itu tidak sah untuk ditetapkan dalam tanggungan melalui akad salam, seperti barang yang sifatnya tidak dapat ditentukan dari jenis permata, maka tidak sah mukatabah atasnya. Kemudian, wajib baginya untuk menyebutkan sifat barang tersebut dalam akad mukatabah sebagaimana ia menyebutkannya dalam akad salam. Jika ia mengurangi salah satu sifatnya, maka batal akad mukatabah karena adanya unsur ketidakjelasan (jahalah). Abu Hanifah menggugurkan syarat penyebutan sifat dan membedakan antara akad mukatabah dan salam dalam hal ini. Ia membolehkan mukatabah atas hewan, namun tidak membolehkan salam atasnya. Sedangkan menurut kami, keduanya sama dalam hal keharusan menyebutkan sifat dan meniadakan ketidakjelasan, karena gharar meskipun masuk dalam akad mukatabah dari satu sisi, namun kompensasi di dalamnya dipertimbangkan sebagaimana dalam akad salam dan atsman dalam meniadakan ketidakjelasan darinya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا بَأْسَ أَنْ يُكَاتِبَهُ عَلَى خِدْمَةِ شَهْرٍ وَدِينَارٍ بَعْدَ الشَّهْرِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Tidak mengapa seseorang melakukan mukātabah dengan syarat memberikan pelayanan selama satu bulan dan membayar satu dinar setelah bulan tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْكِتَابَةُ تَجُوزُ عَلَى الْمَنَافِعِ كَمَا تَجُوزُ عَلَى الْأَعْيَانِ لِجَوَازِ الْمُعَاوَضَةِ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ جَازَ الصَّدَاقُ بِهَا فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الْكِتَابَةِ فَقَالَ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى خِدْمَةِ شَهْرٍ وَدِينَارٍ بَعْدَ الشَّهْرِ وَوَصَفَ الْخِدْمَةَ بِمَا تُوصَفُ بِهِ الْإِجَارَةُ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran) boleh dilakukan atas manfaat sebagaimana boleh dilakukan atas benda, karena boleh adanya pertukaran atas keduanya. Oleh karena itu, mahar pun boleh berupa manfaat. Jika dalam kitābah digabungkan antara keduanya, lalu seseorang berkata, ‘Aku melakukan kitābah denganmu atas jasa selama sebulan dan satu dinar setelah sebulan,’ serta jasa tersebut dijelaskan sebagaimana penjelasan dalam ijarah (sewa-menyewa), maka hal ini terbagi menjadi dua bentuk.”

أَحَدُهُمَا أَنْ يَفْصِلَ بَيْنَ انْقِضَاءِ شَهْرِ الْخِدْمَةِ وَبَيْنَ مَحَلِّ الدَّيْنَارِ الَّذِي بَعْدَهُ وَلَوْ بِيَوْمٍ فَيَجْعَلَهُ مُسْتَحِقًّا بَعْدَ انْقِضَاءِ يَوْمٍ مِنْ دخول الشهر الثاني فتصبح هَذِهِ الْكِتَابَةُ لِأَنَّهَا عَلَى نَجْمَيْنِ وَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ مُتَغَايِرَيْنِ وَتَغَايُرُ أَجْنَاسِ الْعِوَضِ فِي الْعَقْدِ لَا تَمْنَعُ مِنْ صِحَّتِهِ كَمَا لَا يَمْنَعُ مِنْهَا تَغَايُرُ أَجْنَاسِ الْمُعَوَّضِ

Salah satu caranya adalah dengan memisahkan antara berakhirnya bulan pelayanan dan waktu jatuh tempo dinar berikutnya, meskipun hanya dengan satu hari, sehingga menjadikannya jatuh tempo setelah berlalu satu hari dari masuknya bulan kedua. Maka akad ini menjadi sah karena dilakukan dalam dua termin, meskipun keduanya berasal dari jenis yang berbeda. Perbedaan jenis kompensasi dalam akad tidak menghalangi keabsahannya, sebagaimana perbedaan jenis barang yang dipertukarkan juga tidak menghalangi keabsahan akad tersebut.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا كَانَتْ هَذِهِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً لِأَنَّهَا مَعْقُودَةٌ عَلَى نَجْمَيْنِ أَحَدُهُمَا حَالٌّ وَهُوَ الْخِدْمَةُ وَالثَّانِي مُؤَجَّلٌ وَهُوَ الدَّيْنَارُ

Jika dikatakan, “Mengapa akad ini tidak dianggap batal, padahal ia dilakukan atas dua hal, salah satunya bersifat tunai yaitu jasa, dan yang kedua bersifat tangguh yaitu dinar?”

قِيلَ لَا يَلْزَمُ هَذَا وَعَنْهُ جَوَابَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْخِدْمَةَ لَيْسَتْ حالة وإن كان ابتداؤهما مِنْ حِينِ الْعَقْدِ لِأَنَّهَا مُنْتَظَرَةٌ تُقْبَضُ حَالًّا بَعْدَ حَالٍّ وَالثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ عَلَى الْحَالِّ لَمْ تَصِحَّ لِتَعَذُّرِ الْأَدَاءِ عَلَى الْمَكَاتَبِ وَالْخِدْمَةُ لَيْسَ يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ أَدَاؤُهَا وَإِنْ حَلَّتْ فَافْتَرَقَا

Dikatakan bahwa hal ini tidak wajib, dan mengenai hal ini terdapat dua jawaban. Pertama, bahwa khidmah (pelayanan) bukanlah sesuatu yang bersifat kontan, meskipun permulaannya sejak akad, karena khidmah itu bersifat menunggu dan diterima secara bertahap dari waktu ke waktu. Kedua, bahwa kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) secara kontan tidak sah karena mustahil bagi mukatab (budak yang melakukan perjanjian kitabah) untuk melunasinya sekaligus, sedangkan khidmah tidak mustahil untuk dilaksanakan olehnya, dan jika telah jatuh tempo maka keduanya berpisah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَصِلَ بَيْنَهُمَا وَلَا يَفْصِلَ فَيَجْعَلَ مَحَلَّ الدَّيْنَارِ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ الثَّانِي فَيَصِيرَ مُتَّصِلًا بِانْقِضَاءِ الْخِدْمَةِ فِي آخِرِ الشَّهْرِ الْأَوَّلِ فَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ

Jenis kedua adalah menghubungkan antara keduanya tanpa memisahkan, yaitu menjadikan tempat pembayaran dinar pada awal bulan kedua sehingga menjadi bersambung dengan berakhirnya pelayanan pada akhir bulan pertama. Dalam hal ini, menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا حَكَاهُ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ عَنْ بَعْضِ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْ أَصْحَابِنَا أَنَّ الْكِتَابَةَ بَاطِلَةٌ لِأَنَّ اتِّصَالَ أَحَدِ النَّجْمَيْنِ بِالْآخَرِ يَجْعَلُهُمَا نَجْمًا وَاحِدًا حَتَّى يَكُونَ بَيْنَهُمَا زَمَانٌ لَا يَسْتَحِقُّ فِيهِ مُطَالَبَةً

Salah satu pendapat, yang diriwayatkan oleh Abu Ishaq al-Marwazi dari sebagian ulama terdahulu dari kalangan mazhab kami, menyatakan bahwa penulisan (akad) itu batal, karena keterhubungan salah satu dari dua bintang dengan yang lain menjadikannya sebagai satu bintang, sehingga di antara keduanya terdapat waktu yang tidak memungkinkan untuk menuntut (hak).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وهو قول أبي إسحق الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْكِتَابَةَ جَائِزَةٌ لِأَنَّ النَّجْمَيْنِ مَا تَغَايَرَ وَقْتُ اسْتِحْقَاقِهِمَا وَاسْتِحْقَاقَ الدَّيْنَارِ فِي غَيْرِ الْوَقْتِ الَّذِي يَسْتَحِقُّ فِيهِ الْخِدْمَةَ فَصَارَا نَجْمَيْنِ فَلِذَلِكَ صَحَّتْ بِهِمَا الْكِتَابَةُ وَعَلَى تَعْلِيلِ الْوَجْهَيْنِ لَوْ جَعَلَ مَحَلَّ الدَّيْنَارِ فِي شَهْرِ الْخِدْمَةِ لَمْ تَصِحَّ الْكِتَابَةُ وَقَدْ قَالَهُ الشَّافِعِيُّ نَصًّا

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa al-kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) diperbolehkan karena dua termin pembayaran (an-najmān) memiliki waktu jatuh tempo yang berbeda, dan jatuh tempo pembayaran dinar tidak bersamaan dengan waktu jatuh tempo pelayanan. Dengan demikian, keduanya menjadi dua termin yang terpisah, sehingga al-kitābah sah dengan keduanya. Berdasarkan alasan kedua pendapat tersebut, jika pembayaran dinar ditempatkan pada bulan pelayanan, maka al-kitābah tidak sah. Hal ini telah dinyatakan secara tegas oleh asy-Syāfi‘ī.

وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ رَكَّبَ الْبَابَ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ وَجَوَّزَ فِيهِ الْكِتَابَةَ وَعَلَّلَ فِي جَوَازِهَا بِأَنَّ مَا مَضَى مِنْ شَهْرِ الْخِدْمَةِ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِ الدَّيْنَارِ نَجْمٌ وَمَا بَقِيَ مِنْهَا بَعْدَ اسْتِحْقَاقِهِ نَجْمٌ آخَرُ وَهَذَا التَّعْلِيلُ فَاسِدٌ لِأَنَّهُ لَوْ كَاتَبَهُ عَلَى خِدْمَةِ شَهْرَيْنِ لَمْ تَصِحَّ لِأَنَّهَا كِتَابَةٌ عَلَى نَجْمٍ وَاحِدٍ وَلَيْسَ لِقَائِلٍ أَنْ يَقُولَ أُجِيزُهَا وَأَجْعَلُ كُلَّ شَهْرٍ مِنْهَا نَجْمًا

Di antara para ulama mazhab kami ada yang membangun pembahasan ini berdasarkan pendapat pertama dan membolehkan adanya kitabah dalam hal ini, serta beralasan bahwa masa yang telah berlalu dari bulan pelayanan sebelum jatuh tempo dinar adalah satu angsuran (najm), dan sisa masa setelah jatuh tempo dinar adalah angsuran (najm) yang lain. Namun alasan ini tidak benar, karena jika seseorang melakukan kitabah atas pelayanan selama dua bulan, maka tidak sah, karena itu merupakan kitabah atas satu angsuran saja. Tidak boleh bagi seseorang untuk mengatakan, “Saya membolehkannya dan menjadikan setiap bulan dari masa itu sebagai satu angsuran.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى أَنْ يَخْدِمَهُ بَعْدَ الشَّهْرِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ قَدْ يَحْدُثُ مَا يَمْنَعُهُ مِنَ الْعَمَلِ بَعْدَ الشَّهْرِ وَلَيْسَ بِمَضْمُونٍ يُكَلَّفُ أَنْ يَأْتِيَ بِمِثْلِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membuat perjanjian mukātabah dengan budaknya dengan syarat budak tersebut harus melayaninya setelah satu bulan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Sebab, bisa saja terjadi sesuatu yang menghalanginya untuk bekerja setelah satu bulan, dan pelayanan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dijamin sehingga ia dibebani untuk menghadirkannya atau menggantinya dengan yang serupa.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَاتَبَ عَلَى دِينَارٍ بَعْدَ شَهْرٍ وَعَلَى خِدْمَةِ شَهْرٍ بَعْدَ الشَّهْرِ فَهَذِهِ كِتَابَةٌ بَاطِلَةٌ وَلَيْسَ بُطْلَانُهَا مِنْ جِهَةِ اتِّصَالِ النَّجْمَيْنِ وَلَكِنْ لِأَنَّ خِدْمَةَ الشَّهْرِ هِيَ مُعَيَّنَةٌ مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ نَفْسِهِ وَالْعُقُودُ عَلَى الْأَعْيَانِ بِتَأْخِيرِ الْقَبْضِ لَا تَصِحُّ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, jika seseorang melakukan mukatabah atas satu dinar setelah satu bulan dan atas jasa satu bulan setelah bulan tersebut, maka mukatabah ini batal. Kebatalannya bukan karena adanya keterkaitan antara dua masa pembayaran, tetapi karena jasa satu bulan itu merupakan sesuatu yang tertentu dari sisi budak itu sendiri, dan akad atas sesuatu yang tertentu dengan penundaan penyerahan tidak sah.”

أَلَا تَرَى لَوِ اشْتَرَى مِنْهُ دَارًا عَلَى أَنْ يَتَسَلَّمَهَا بَعْدَ شَهْرٍ أَوِ اكْتَرَاهَا بَعْدَ شَهْرٍ مِنْ وَقْتِ الْعَقْدِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ عَقَدَ عَلَى عَيْنٍ بَعْدَ أَجْلٍ فَلِذَلِكَ بَطَلَ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ وَلَكِنْ لَوْ كَاتَبَ عَلَى دِينَارٍ بَعْدَ شَهْرٍ وَعَلَى خِدْمَةِ شَهْرٍ مَضْمُونَةٍ فِي ذِمَّتِهِ بَعْدَ انْقِضَاءِ ذَلِكَ الشَّهْرِ صَارَ ذَلِكَ فِي حُكْمِ تَأْجِيلِ الْخِدْمَةِ وَتَأْجِيلِ الدَّيْنَارِ فَإِنْ فَصَلَ بَيْنَهُمَا صَحَّ وَإِنْ وَصَلَ فَعَلَى الْوَجْهَيْنِ لِأَنَّ الْخِدْمَةَ صَارَتْ هَاهُنَا مَضْمُونَةً فِي الذِّمَّةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Tidakkah kamu melihat, jika seseorang membeli dari orang lain sebuah rumah dengan syarat akan menerimanya setelah satu bulan, atau menyewanya setelah satu bulan dari waktu akad, maka hal itu tidak sah, karena ia melakukan akad atas suatu barang tertentu dengan penyerahan yang ditangguhkan, sehingga batal. Demikian pula halnya dengan akad kitābah. Namun, jika seseorang melakukan kitābah atas satu dinar yang dibayarkan setelah satu bulan, dan atas jasa selama satu bulan yang dijamin dalam tanggungannya setelah berakhirnya bulan tersebut, maka hal itu dianggap sebagai penangguhan jasa dan penangguhan pembayaran dinar. Jika keduanya dipisahkan, maka sah; namun jika digabungkan, maka ada dua pendapat, karena jasa di sini telah menjadi sesuatu yang dijamin dalam tanggungan. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى إنْ بَاعَهُ شَيْئًا لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ الْبَيْعَ يَلْزَمُ بِكُلِّ حَالٍ وَالْكِتَابَةَ لَا تَلْزَمُ مَتَى شَاءَ تَرَكَهَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang membuat perjanjian mukatab dengan syarat apabila ia menjual sesuatu kepadanya, maka itu tidak sah, karena jual beli itu mengikat dalam segala keadaan, sedangkan perjanjian mukatab tidak mengikat; kapan saja ia mau, ia boleh meninggalkannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا أَنَّ عَقْدَ الْمُعَاوَضَةِ إِذَا جَمَعَ شَيْئَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa akad mu‘āwaḍah (pertukaran) apabila mengumpulkan dua hal yang berbeda, maka terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ فِي حُكْمِ الْعَقْدِ فِي أَحَدِ النَّوْعَيْنِ مُسَاوِيًا لِحُكْمِهِ فِي النَّوْعِ الْآخَرِ

Salah satunya adalah bahwa hukum akad pada salah satu jenis sama dengan hukumnya pada jenis yang lain.

مِثَالُهُ أَنْ يَشْتَرِيَ دَارًا وَعَبْدًا بِأَلْفٍ فَيَكُونَ هَذَا جَائِزًا لِأَنَّ أَحْكَامَ الْبَيْعِ فِي الْعَبْدِ كَأَحْكَامِهِ فِي الدَّارِ فِي اللُّزُومِ وَثُبُوتِ خِيَارِ الْمَجْلِسِ بِالْعَقْدِ وَخِيَارِ الثَّلَاثَةِ بِالشَّرْطِ وَيَكُونَ الثَّمَنُ مُقَسَّطًا عَلَى الْمُثَمَّنَيْنِ فَإِنْ سَمَّى فِي الْعَقْدِ ثَمَنَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ جُمْلَةِ الْأَلْفِ صَحَّ وَكَانَا لِتَفْصِيلِ الثَّمَنِ عَقْدَيْنِ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الْبَذْلِ وَالْقَبُولِ

Contohnya adalah seseorang membeli sebuah rumah dan seorang budak dengan harga seribu. Ini diperbolehkan karena hukum-hukum jual beli pada budak sama dengan hukum-hukum jual beli pada rumah, baik dalam hal keharusan, penetapan hak khiyār majlis dengan akad, maupun hak khiyār tiga hari dengan syarat. Harga pun dibagi secara proporsional pada kedua barang yang diperjualbelikan tersebut. Jika dalam akad disebutkan harga masing-masing dari keduanya dari total seribu itu, maka sah, dan keduanya, karena perincian harga, dianggap sebagai dua akad yang digabungkan dalam penyerahan dan penerimaan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ حُكْمُ الْعَقْدِ فِي أَحَدِ النَّوْعَيْنِ مُخَالِفًا لِحُكْمِهِ فِي النَّوْعِ الْآخَرِ

Jenis kedua adalah apabila hukum akad pada salah satu dari dua jenis berbeda dengan hukumnya pada jenis yang lain.

مثاله أَنْ يَشْتَرِيَ مِنْهُ عَبْدًا وَيَسْتَأْجِرَ مِنْهُ دَارًا بِأَلْفٍ فَإِنْ فَصَلَ ثَمَنَ الْعَبْدِ مِنْ أُجْرَةِ الدَّارِ صَحَّ وَكَانَا عَقْدَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَفْصِلْ وَأَطْلَقَ الْأَلْفَ فِي الْأُجْرَةِ وَالثَّمَنِ فَحُكْمُ الْعَقْدِ فِي الْإِجَارَةِ مُخَالِفٌ لِحُكْمِهِ فِي الْبَيْعِ لِعَدَمِ الْخِيَارِ فِي الْإِجَارَةِ وَثُبُوتِهِ فِي الْبَيْعِ فَيَكُونُ فِي الْعَقْدِ عَلَيْهِمَا قَوْلَانِ

Contohnya adalah seseorang membeli dari orang lain seorang budak dan menyewa darinya sebuah rumah dengan harga seribu. Jika ia memisahkan harga budak dari upah sewa rumah, maka transaksi itu sah dan menjadi dua akad. Namun jika ia tidak memisahkan dan hanya menyebutkan seribu itu untuk sewa dan harga secara umum, maka hukum akad dalam ijarah berbeda dengan hukumnya dalam bai‘, karena tidak adanya hak khiyar dalam ijarah dan adanya hak khiyar dalam bai‘. Maka dalam satu akad atas keduanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا صَحِيحٌ مِنْهُمَا وَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُكْمُهُ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَمْنَعِ اخْتِلَافُ الْأَجْنَاسِ مِنْ صِحَّةِ الْعَقْدِ لَمْ يَمْنَعْ مِنْهُ اخْتِلَافُ الْأَحْكَامِ

Salah satunya sah, dan masing-masing dari keduanya memiliki hukumnya sendiri, karena perbedaan jenis tidak menghalangi keabsahan akad, maka perbedaan hukum pun tidak menghalanginya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْعَقْدَ بَاطِلٌ فِيهِمَا جَمِيعًا لِأَنَّ الْعَقْدَ الْوَاحِدَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لَهُ إِلَّا حُكْمٌ وَاحِدٌ مَتَى خَالَفَ بَعْضُهُ حُكْمَ بَعْضٍ تَنَاقَضَ فَبَطَلَ كَمَا لَوِ اشْتَرَى عَبْدَيْنِ بِأَلْفٍ وَاشْتَرَطَ خِيَارَ الثَّلَاثِ فِي أَحَدِهِمَا بَطَلَ الْعَقْدُ فِيهِمَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tersebut batal pada keduanya secara keseluruhan, karena satu akad tidak boleh memiliki lebih dari satu hukum; apabila sebagian akad bertentangan dengan hukum sebagian yang lain, maka terjadi kontradiksi sehingga batal, sebagaimana jika seseorang membeli dua budak dengan harga seribu dan mensyaratkan khiyār selama tiga hari pada salah satunya, maka batal akad pada keduanya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْمُقَدِّمَةُ فَصُورَةُ الْمَسْأَلَةِ فِي رَجُلٍ كَاتَبَ عَبْدَهُ وَبَاعَهُ دَارًا بِأَلْفٍ فَإِنْ فَصَلَ مَالَ الْكِتَابَةِ مِنْ ثَمَنِ الْعَبْدِ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ لِتَمَيُّزِهَا فَأَمَّا بَيْعُ الدَّارِ فَيَنْظُرُ فِيهِ فَإِنْ قَدَّمَهُ فِي الْعَقْدِ عَلَى لَفْظِ الْكِتَابَةِ بَطَلَ الْبَيْعُ وَإِنْ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ لِتَقَدُّمِ الْعَقْدِ عَلَيْهَا وَهُوَ عَبْدٌ وَمَا يَبِيعُهُ السَّيِّدُ عَلَى عَبْدِهِ بَاطِلٌ

Setelah penjelasan pendahuluan ini dipahami, maka gambaran masalahnya adalah tentang seorang laki-laki yang melakukan mukātabah terhadap hambanya dan menjual sebuah rumah kepadanya seharga seribu. Jika ia memisahkan harta mukātabah dari harga hamba, maka mukātabah itu sah karena telah terpisah dengan jelas. Adapun penjualan rumah, maka perlu diperhatikan: jika ia mendahulukan akad penjualan atas lafaz mukātabah, maka penjualan itu batal meskipun mukātabahnya sah, karena akad penjualan didahulukan atas mukātabah, sedangkan ia masih berstatus hamba, dan apa yang dijual oleh tuan kepada hambanya adalah batal.

وَإِنْ قَدَّمَ فِي الْعَقْدِ لَفْظَ الْكِتَابَةِ عَلَى لَفْظِ الْبَيْعِ نَظَرَ فَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ قَدْ بَدَأَ فَطَلَبَ الْكِتَابَةَ قَبْلَ إِجَابَةِ السَّيِّدِ صَحَّ الْبَيْعُ إِذَا قَبِلَهُ الْعَبْدُ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ قَدْ تَجِبُ بِطَلَبِ الْعَبْدِ وَإِجَابَةِ السَّيِّدِ وَصَارَ السَّيِّدُ مُسْتَأْنِفًا بَعْدَهَا لِمُبَايَعَةِ مُكَاتَبِهِ بِالْبَذْلِ وَبَيْعُ السَّيِّدِ عَلَى مُكَاتَبِهِ جَائِزٌ كَجَوَازِهِ مَعَ غَيْرِهِ وَوَقَفَ تَمَامُ الْبَيْعِ بَعْدَ بَذْلِ السَّيِّدِ عَلَى قَبُولِ الْمُكَاتَبِ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْعَبْدُ قَدِ ابْتَدَأَ بِطَلَبِ الْكِتَابَةِ وَابْتَدَأَ السَّيِّدُ بِبَذْلِهَا فَعَقْدُ الْكِتَابَةِ لَمْ يَتِمَّ لِوُقُوفِهِ عَلَى قَبُولِ الْمُكَاتَبِ

Jika dalam akad didahulukan lafaz kitabah daripada lafaz jual beli, maka perlu diperhatikan: jika budak telah lebih dahulu meminta kitabah sebelum jawaban dari tuannya, maka jual beli sah apabila budak menerimanya, karena kitabah dapat menjadi wajib dengan permintaan budak dan persetujuan tuan, sehingga tuan dianggap memulai kembali setelah itu untuk melakukan jual beli dengan mukatab-nya dengan memberikan (harta), dan jual beli tuan terhadap mukatab-nya itu boleh sebagaimana bolehnya terhadap selainnya, dan sempurnanya jual beli setelah pemberian dari tuan bergantung pada penerimaan dari mukatab. Namun, jika budak tidak lebih dahulu meminta kitabah dan justru tuan yang memulai dengan menawarkannya, maka akad kitabah belum sempurna karena masih menunggu penerimaan dari mukatab.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ صَارَ مُبَايِعًا لِعَبْدِهِ لَا لِمُكَاتَبِهِ فَبَطَلَ الْبَيْعُ وَصَحَّتِ الْكِتَابَةُ

Jika demikian, maka ia telah menjual kepada hambanya, bukan kepada mukatabnya, sehingga jual belinya batal dan akad kitabahnya sah.

فَهَذَا حُكْمُ الْعَقْدِ فِي الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ إِنْ فَصَلَ الْكِتَابَةَ مِنْ ثَمَنِ الدَّارِ

Inilah hukum akad dalam kitabah dan jual beli jika kitabah dipisahkan dari harga rumah.

فَأَمَّا إِنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الْعَقْدِ عَلَى الْإِطْلَاقِ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ فَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى الْأَصْلِ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ

Adapun jika kedua hal tersebut digabungkan dalam akad secara mutlak tanpa perincian, maka hal itu didasarkan pada kaidah yang telah kami kemukakan sebelumnya.

فَإِنْ قُلْنَا إِنَّ مَا جَمَعَهُ الْعَقْدُ مِنَ الْمُخْتَلِفَيْنِ فِي الْحُكْمِ بَاطِلٌ بَطَلَ الْعَقْدُ هَاهُنَا فِي الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ

Jika kita mengatakan bahwa sesuatu yang dihimpun oleh akad dari dua hal yang berbeda hukum itu batal, maka batal pula akad di sini dalam kasus kitabah dan jual beli.

وَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ جَائِزٌ فِيهِمَا جَمِيعًا أَثْبَتْنَا حُكْمَ الْعَقْدِ فِيهِمَا هَاهُنَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ تَفْصِيلِ الْمُعَوَّضِ فِيهِمَا وَهُوَ أَنْ يَنْظُرَ فِي عَقْدِهِ فَإِنْ قَدَّمَ فِيهِ ذِكْرَ الْكِتَابَةِ عَلَى ذِكْرِ الْبَيْعِ صَحَّ الْعَقْدُ فِيهِمَا بِصِحَّةِ الْكِتَابَةِ بِتَقَدُّمِهَا فَصَحَّ الْبَيْعُ بَعْدَهَا وَتُقَسَّطُ الْأَلْفُ عَلَى عَلَى قِيمَةِ الدَّارِ وَكِتَابَةِ الْمِثْلِ فَمَا قَابَلَ قِيمَةَ الدَّارِ مِنْهَا كَانَ ثَمَنًا وَمَا قَابَلَ كِتَابَةَ الْمِثْلِ كَانَ مَالًا فِي الْكِتَابَةِ فَيَجْرِي عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حُكْمُهُ لَوِ انْفَرَدَ وَإِنْ قَدَّمَ فِي الْعَقْدِ ذِكْرَ الْبَيْعِ عَلَى ذِكْرِ الْكِتَابَةِ بَطَلَ الْبَيْعُ لِأَنَّهُ صَارَ فِيهِ مُبَايِعًا لِعَبْدِهِ وَفِي بُطْلَانِ الْكِتَابَةِ قَوْلَانِ مِنْ تَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ

Dan jika kita mengatakan bahwa hal itu dibolehkan pada keduanya, maka kita menetapkan hukum akad pada keduanya di sini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya mengenai rincian kompensasi pada keduanya, yaitu dengan melihat pada akadnya: jika dalam akad tersebut disebutkan penulisan (kitābah) lebih dahulu daripada penjualan (bai‘), maka akad pada keduanya sah karena sahnya penulisan yang didahulukan, sehingga penjualan setelahnya juga sah. Kemudian seribu (uang) itu dibagi rata antara nilai rumah dan penulisan yang sepadan; maka bagian yang sebanding dengan nilai rumah menjadi harga (tsaman), dan bagian yang sebanding dengan penulisan yang sepadan menjadi harta dalam kitābah, sehingga pada masing-masing dari keduanya berlaku hukumnya seandainya berdiri sendiri. Namun jika dalam akad tersebut disebutkan penjualan lebih dahulu daripada penulisan, maka penjualannya batal karena berarti ia menjual budaknya sendiri, dan dalam pembatalan kitābah terdapat dua pendapat berdasarkan perbedaan akad gabungan.

أَحَدُهُمَا تَبْطُلُ الْكِتَابَةُ لِبُطْلَانِ الْبَيْعِ إِذَا مُنِعَ مِنْ تَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ

Salah satunya adalah batalnya akad kitabah karena batalnya akad jual beli apabila tidak diperbolehkan memisahkan transaksi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي تَصِحُّ الْكِتَابَةُ وَإِنْ بَطَلَ الْبَيْعُ إِذَا أُجِيزَ تَفْرِيقُ الصَّفْقَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa kitabah tetap sah meskipun jual belinya batal, apabila diperbolehkan pemisahan transaksi (tafriq ash-shafqah).

فَعَلَى هَذَا فِيمَا يُقِيمُ بِهِ الْعَبْدُ عَلَى الْكِتَابَةِ قَوْلَانِ

Berdasarkan hal ini, terdapat dua pendapat mengenai apa yang dapat dijadikan pegangan oleh seorang budak dalam perjanjian kitābah.

أَحَدُهُمَا يُقِيمُ عَلَيْهَا بِجَمِيعِ الْأَلْفِ وَإِلَّا فَسَخَ

Salah satunya harus tetap berpegang pada akad tersebut dengan membayar seluruh seribu (uang), jika tidak maka akad dibatalkan.

وَالثَّانِي يُقِيمُ عَلَيْهَا بِقِسْطِهَا مِنْ كِتَابَةِ الْمِثْلِ وَقِيمَةِ الدَّارِ إِذَا قُوبِلَتَا بِالْأَلْفِ

Dan yang kedua, ia menetapkan atasnya (utang) sesuai bagiannya dari penulisan mitsil dan nilai rumah apabila keduanya dibandingkan dengan seribu.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ قَدْ كَاتَبْتُكَ بِأَلْفٍ عَلَى أَنْ أَبِيعَكَ دَارِي بِأَلْفٍ فَهَذَا بَاطِلٌ فِي الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ لِأَنَّهُمَا عَقْدَانِ فِي عَقْدٍ وَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَلِأَنَّهُ مَا أَطْلَقَ كِتَابَتَهُ حَتَّى شَرَطَ عَلَيْهِ ابْتِيَاعَ مَا لَا يَلْزَمُهُ فَصَارَ مُنَافِيًا لَهُ فَأَبْطَلَهُ وَلَكِنْ لَوْ قَالَ قَدْ كَاتَبْتُكَ بِأَلْفٍ وَأَبِيعُكَ دَارِي بِأَلْفٍ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ وَكَانَ مَا بَذَلَهُ مِنَ الْبَيْعِ وَعْدًا يَقِفُ عَلَى خِيَارِ الْمُكَاتَبِ إِنِ اسْتُؤْنِفَ عَقْدُهُ ولَمْ يُجْعَلْ شَرْطًا في الكتابة

Adapun jika tuan berkata kepada hambanya, “Aku telah memukatabahkanmu dengan seribu, dengan syarat aku menjual rumahku kepadamu seharga seribu,” maka hal ini batal baik dalam akad mukatabah maupun akad jual beli, karena keduanya merupakan dua akad dalam satu akad, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dua jual beli dalam satu jual beli. Selain itu, ia tidak membebaskan mukatabahnya hingga ia mensyaratkan kepada hamba tersebut untuk membeli sesuatu yang tidak wajib baginya, sehingga hal itu menjadi bertentangan dan membatalkannya. Namun, jika ia berkata, “Aku telah memukatabahkanmu dengan seribu dan aku akan menjual rumahku kepadamu seharga seribu,” maka akad mukatabahnya sah, dan apa yang ia tawarkan dalam jual beli itu hanyalah janji yang bergantung pada pilihan si mukatab jika akadnya dimulai kembali dan tidak dijadikan syarat dalam mukatabah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَهُ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ يُؤَدِّيهَا إِلَيْهِ فِي عَشَرٍ سِنِينَ كَانَ النَّجْمُ مَجْهُولًا لَا يُدْرَى أَفِي أَوَّلِهَا أَوْ آخِرِهَا قَالَ الْمُزَنِيُّ وَكَذَا يُؤَدِّي إِلَيْهِ فِي كُلِّ سَنَةٍ عَشْرَةً مَجْهُولٌ لِأَنَّهُ لَا يَدْرِي أَفِي أَوَّلِ كُلِّ سَنَةٍ أَوْ آخِرِهَا حَتَّى يَقُولَ فِي انْقِضَاءِ كُلِّ سَنَةٍ عَشْرَةً فَتَكُونَ النُّجُومُ مَعْلُومَةً

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang melakukan mukātabah dengan budaknya atas seratus dinar yang harus dibayarkan kepadanya dalam sepuluh tahun, maka waktu pembayaran (an-najm) menjadi tidak jelas; tidak diketahui apakah harus dibayar di awal atau di akhir tahun.” Al-Muzani berkata: “Demikian pula jika ia harus membayar sepuluh dinar setiap tahun, maka waktu pembayarannya juga tidak jelas, karena tidak diketahui apakah harus dibayar di awal setiap tahun atau di akhirnya, sampai dikatakan secara tegas: ‘Sepuluh dinar dibayar pada akhir setiap tahun,’ sehingga waktu-waktu pembayaran (an-nujūm) menjadi jelas.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَمَا قَالَاهُ صَحِيحٌ لِمَا قَدَّمْنَاهُ أَنَّ صِحَّةَ الْكِتَابَةِ مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ

Al-Mawardi berkata, “Apa yang mereka katakan adalah benar, karena sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya bahwa keabsahan penulisan itu ditentukan oleh tiga syarat.”

أَحَدُهَا أَنْ تَكُونَ مَعْقُودَةً عَلَى نَجْمَيْنِ فَصَاعِدًا فَإِنْ عُقِدَتْ عَلَى نَجْمٍ فَسَدَتْ

Salah satunya adalah bahwa akad itu harus dilakukan atas dua najam atau lebih; jika akad dilakukan hanya atas satu najam, maka akad tersebut menjadi fasad (rusak/tidak sah).

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ مَالُ كُلِّ نَجْمٍ مَعْلُومًا فَإِنْ جُهِلَ فَسَدَتْ

Kedua, harta pada setiap termin pembayaran haruslah diketahui secara jelas; jika tidak diketahui, maka akad tersebut menjadi batal.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ وَقْتُ الْمَحَلِّ فِي كُلِّ نَجْمٍ مَعْرُوفًا فَإِنْ جُهِلَ فَسَدَتْ

Ketiga, waktu pelaksanaan pada setiap fase (najm) haruslah diketahui. Jika tidak diketahui, maka batal.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا فَقَالَ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ يؤديها فِي عَشْرِ سِنِينَ كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً لِثَلَاثَةِ مَعَانٍ لِأَنَّهَا تَصِيرُ كَالْكِتَابَةِ عَلَى نَجْمٍ وَاحِدٍ وَلِأَنَّ مَالَ كُلِّ نَجْمٍ مَجْهُولٌ لِأَنَّ كُلَّ وَقْتٍ مَحَلُّهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَجْهُولٌ

Setelah apa yang telah kami jelaskan menjadi jelas, maka jika seseorang berkata, “Aku telah menuliskan perjanjian pembebasanmu dengan seratus dinar yang harus dibayarkan dalam sepuluh tahun,” maka perjanjian pembebasan tersebut batal karena tiga alasan: karena hal itu menjadi seperti perjanjian pembebasan dengan satu kali pembayaran, karena jumlah harta pada setiap pembayaran tidak diketahui, dan karena waktu pembayaran pada setiap tahun juga tidak diketahui.

وَلَوْ قَالَ عَلَى أَنْ تُؤَدِّيَهَا فِي عَشْرَةِ أَنْجُمٍ مِنْ عَشْرِ سِنِينَ فَسَدَتْ لِمَعْنَيَيْنِ لِأَنَّ مَالَ كُلِّ نَجْمٍ مَجْهُولٌ وَلِأَنَّ مَحَلَّهُ مِنَ السَّنَةِ مَجْهُولٌ

Dan jika ia berkata, “Dengan syarat engkau membayarnya dalam sepuluh termin dari sepuluh tahun,” maka akad tersebut batal karena dua alasan: karena jumlah harta pada setiap termin tidak diketahui, dan karena waktu pelaksanaannya dalam tahun tersebut juga tidak diketahui.

وَلَوْ قَالَ عَلَى أَنْ تُؤَدِّيَ فِي كُلِّ سَنَةٍ مِنْهَا عُشْرَهَا فَسَدَتْ لِمَعْنًى وَاحِدٍ وَهُوَ الْجَهْلُ بِوَقْتِ الْمَحَلِّ مِنَ السَّنَةِ

Dan jika ia berkata, “Dengan syarat engkau membayarkan setiap tahun dari hasilnya sebesar sepersepuluhnya,” maka akad tersebut menjadi batal karena satu alasan, yaitu ketidaktahuan tentang waktu jatuh tempo dalam satu tahun.

وَلَوْ قَالَ عَلَى أَنْ تُؤَدِّيَ عُشْرَهَا أَوْ قَدْرًا مِنْ عَدَدِ الدَّنَانِيرِ تَتَسَاوَى فِي كُلِّ سَنَةٍ أو تتفاضل تؤديه عِنْدَ انْقِضَاءِ كُلِّ سَنَةٍ أَوْ فِي آخِرِ كُلِّ سَنَةٍ أَوْ فِي مُسْتَهَلِّ شَهْرِ كَذَا فِي كُلِّ سَنَةٍ صَحَّتْ حِينَئِذٍ الْكِتَابَةُ بِاسْتِيفَاءِ هَذِهِ الشُّرُوطِ الْمَانِعَةِ مِنْ دُخُولِ الْجَهَالَةِ فِي القدر والمحل

Dan jika ia berkata: “Dengan syarat kamu membayar sepersepuluhnya atau sejumlah dinar tertentu yang nilainya sama setiap tahun atau berbeda-beda, yang kamu bayarkan pada akhir setiap tahun, atau pada akhir setiap tahun, atau pada awal bulan tertentu setiap tahun,” maka pada saat itu akad kitābah sah dengan terpenuhinya syarat-syarat ini yang mencegah terjadinya jahālah (ketidakjelasan) dalam hal jumlah dan waktu pembayaran.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَ ثَلَاثَةً كِتَابَةً وَاحِدَةً عَلَى مِائَةٍ مُنَجِّمَةٍ عَلَى أَنَّهُمْ إِذَا أَدَّوْا عَتَقُوا كَانَتْ جَائِزَةً وَالْمِائَةُ مَقْسُومَةً عَلَى قِيمَتِهِمْ يَوْمَ كُوتِبُوا فَأَيُّهُمْ أَدَّى حِصَّتَهُ عَتَقَ وَأَيُّهُمْ عَجَزَ رَقَّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang melakukan mukātabah terhadap tiga orang budak dengan satu akad mukātabah atas seratus (dirham) yang dibayarkan secara bertahap, dengan syarat bahwa apabila mereka melunasi (pembayaran), maka mereka merdeka, maka akad tersebut sah. Seratus (dirham) itu dibagi sesuai dengan nilai masing-masing pada hari mereka melakukan akad mukātabah. Maka siapa di antara mereka yang telah membayar bagiannya, ia menjadi merdeka, dan siapa yang tidak mampu, maka ia tetap menjadi budak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ كَاتَبَ ثَلَاثَةَ أَعْبُدٍ لَهُ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ مُنَجَّمَةٍ فَلَا يَخْلُو حَالُ كِتَابَتِهِمْ بِهَا مِنْ أَنْ يُبَيِّنَ كِتَابَةَ كُلِّ عَبْدٍ مِنَ الْمِائَةِ أَوْ لَا يبين

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki yang melakukan mukātabah terhadap tiga budaknya dengan kewajiban membayar seratus dinar secara bertahap. Maka, keadaan mukātabah mereka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia menjelaskan bagian mukātabah masing-masing budak dari seratus dinar tersebut, atau tidak menjelaskannya.

فَإِنْ بَيَّنَهَا وَجَعَلَ كِتَابَةَ أَحَدِهِمْ خَمْسِينَ دِينَارًا وَكِتَابَةَ الثَّانِي ثَلَاثِينَ دِينَارًا وَكِتَابَةَ الثَّالِثِ عِشْرِينَ دِينَارًا فَكِتَابَةُ جَمِيعِهِمْ جَائِزَةٌ بِاتِّفَاقٍ وَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَأْخُوذًا بِقَدْرِ كِتَابَتِهِ يَعْتِقُ بِأَدَائِهَا وَيَرِقُّ بِعَجْزِهِ عَنْهَا وَلَا يُعْتَبَرُ حُكْمُ أَحَدِهِمْ بِغَيْرِهِ وَإِنْ أَطْلَقَ حُكْمَ الْمِائَةِ بَيْنَهُمْ وَلَمْ يُبَيِّنْ كِتَابَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فَقَدْ نَصَّ الشافعي رحمه الله في كتاب الأم والإملاء وَنَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ مِنْهُمَا إِلَى هَذَا الْمَوْضِعِ وَهُوَ الْمَذْهَبُ الْمَعْمُولُ عَلَيْهِ أَنَّ كِتَابَتَهُمْ صَحِيحَةٌ وَتُقَسَّطُ الْمِائَةُ بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ قِيمَتِهِمْ وَقَالَ مِنَ الْفُقَهَاءِ مَعَهُ فِي رَجُلٍ بَاعَ ثَلَاثَةَ عَبِيدٍ لَهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَنْفُسٍ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَبْدٌ يُعِينُهُ بِمِائَةِ دِينَارٍ وَلَمْ يُمَيِّزْ ثَمَنَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْعَبِيدِ أَنَّ الْبَيْعَ بَاطِلٌ فِي الْجَمِيعِ لِأَنَّ ثَمَنَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْعَبِيدِ عَلَى مُشْتَرِيهِ مَجْهُولٌ وَجَهَالَةُ الثَّمَنِ مُبْطِلَةٌ لِلْعَقْدِ وَلَهُ فِيمَنْ تَزَوَّجَ أَرْبَعَ نِسْوَةٍ عَلَى صَدَاقِ أَلْفٍ قَوْلَانِ

Jika ia menjelaskannya dan menetapkan bahwa penebusan salah satu dari mereka adalah lima puluh dinar, penebusan yang kedua tiga puluh dinar, dan penebusan yang ketiga dua puluh dinar, maka penebusan seluruhnya sah menurut kesepakatan, dan masing-masing dari mereka diambil sesuai kadar penebusannya; ia merdeka dengan membayarnya dan tetap menjadi budak jika tidak mampu membayarnya, dan hukum salah satu dari mereka tidak berlaku bagi yang lain. Namun, jika ia menetapkan jumlah seratus di antara mereka tanpa merinci penebusan masing-masing, maka Imam Syafi‘i rahimahullah telah menegaskan dalam kitab al-Umm dan al-Imla’, dan hal ini juga dinukil oleh al-Muzani dari kedua kitab tersebut ke dalam pembahasan ini, serta menjadi mazhab yang diamalkan, bahwa penebusan mereka sah dan seratus itu dibagi di antara mereka sesuai kadar nilai masing-masing. Sebagian fuqaha’ bersamanya berpendapat, dalam kasus seseorang menjual tiga budak miliknya kepada tiga orang, masing-masing mendapatkan satu budak dengan harga seratus dinar, namun tidak membedakan harga masing-masing budak, maka jual beli tersebut batal seluruhnya karena harga masing-masing budak bagi pembelinya tidak diketahui, dan ketidaktahuan harga membatalkan akad. Dalam kasus seseorang menikahi empat wanita dengan mahar seribu, ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بُطْلَانُ الصَّدَاقِ وَصِحَّةُ النِّكَاحُ لِأَنَّ فَسَادَ الصَّدَاقِ لَا يُوجِبُ فَسَادَ النِّكَاحِ

Salah satunya adalah batalnya mahar dan sahnya pernikahan, karena rusaknya mahar tidak menyebabkan rusaknya pernikahan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الصَّدَاقَ جَائِزٌ وَتُقَسَّطُ الْأَلْفُ بَيْنَهُنَّ عَلَى قَدْرِ مُهُورِ أَمْثَالِهِنَّ فَلَمْ يَخْتَلِفْ أَصْحَابُنَا فِي الصَّدَاقِ أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ عَلَى طَرِيقَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa mahar itu sah dan seribu tersebut dibagi di antara mereka sesuai dengan kadar mahar wanita-wanita yang sepadan dengan mereka. Para ulama mazhab kami tidak berselisih pendapat mengenai mahar, bahwa ada dua pendapat di dalamnya. Adapun perbedaan pendapat mereka terjadi pada masalah penulisan dan jual beli, yang terbagi menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهِيَ طَرِيقَةُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ سَوَّى بَيْنَ الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ وَنَقَلَ جَوَابَ كُلِّ عِقْدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ وَخَرَّجَهَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah metode Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, yaitu beliau menyamakan antara kitabah dan jual beli, serta memindahkan jawaban dari setiap akad di antara keduanya kepada yang lain, dan membangun keduanya di atas dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بُطْلَانُ الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْعِ

Salah satunya adalah batalnya penulisan dan jual beli sebagaimana yang telah ditegaskan dalam nash mengenai jual beli.

وَالثَّانِي جَوَازُ الْكِتَابَةِ وَالْبَيْعِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْكِتَابَةِ لِأَنَّهُ يُفْضِي إِلَى جَمْعٍ بَيْنَ بَيْعِ ثَلَاثَةِ أَعْبُدٍ عَلَى ثَلَاثَةِ أَنْفُسٍ فِي عَقْدٍ وَبَيْنَ بَيْعِهِمْ فِي الْكِتَابَةِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ فِي عَقْدٍ

Kedua, bolehnya kitabah dan jual beli sebagaimana yang telah dinyatakan dalam kitabah, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya penggabungan antara penjualan tiga budak kepada tiga orang dalam satu akad, dan antara penjualan mereka dalam kitabah kepada diri mereka sendiri dalam satu akad.

وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ طَرِيقَةُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْبَيْعَ بَاطِلٌ قَوْلًا وَاحِدًا وَلَا يَتَخَرَّجُ فِيهِ قَوْلُ الْكِتَابَةِ لِأَنَّ حُكْمَهُ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَفِي الْكِتَابَةِ قَوْلَانِ لِتَخْرِيجِ قَوْلِ الْبَيْعِ فِيهِ

Metode kedua, yaitu metode Abu Ishaq al-Marwazi, Abu Sa‘id al-Istakhri, dan Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa jual beli tersebut batal menurut satu pendapat saja dan tidak dapat dikeluarkan pendapat tentang kitabah di dalamnya, karena hukumnya telah menjadi ijmā‘. Adapun dalam masalah kitabah terdapat dua pendapat, karena diqiyaskan dengan pendapat jual beli di dalamnya.

وَأَحَدُ الْقَوْلَيْنِ أَنَّ الْكِتَابَةَ بَاطِلَةٌ فِي الثَّلَاثَةِ كَبُطْلَانِ الْبَيْعِ فِي الثَّلَاثَةِ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُكَاتَبِينَ الثَّلَاثَةِ قَدْ جَهِلَ فِي الْعَقْدِ مَالَ الْكِتَابَةِ وَالْجَهْلُ بِمَالِ الْكِتَابَةِ مُوجِبٌ لِفَسَادِهَا كَمَا لَوِ ابْتَدَأَ كِتَابَتَهُ عَلَى مَالٍ مَجْهُولٍ

Salah satu dari dua pendapat menyatakan bahwa akad kitābah batal pada ketiganya, sebagaimana batalnya akad jual beli pada ketiganya, karena masing-masing dari tiga orang mukātab telah tidak mengetahui jumlah harta kitābah dalam akad tersebut, dan ketidaktahuan terhadap harta kitābah menyebabkan rusaknya akad tersebut, sebagaimana jika seseorang memulai akad kitābah dengan harta yang tidak diketahui.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ جَائِزَةٌ فِي الْعَبِيدِ الثَّلَاثَةِ وَإِنْ بَطَلَ الْبَيْعُ فِي العبيد الثلاثة

Pendapat kedua menyatakan bahwa kitābah diperbolehkan pada tiga jenis budak, meskipun jual beli pada tiga jenis budak tersebut tidak sah.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْبَيْعِ وَالْكِتَابَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَقْصُودُ بِالْكِتَابَةِ الْقُرْبَةَ وَالْبَرَّ فَخَفَّ حُكْمُهَا

Perbedaan antara jual beli dan kitābah terdapat pada dua sisi. Pertama, tujuan dari kitābah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat kebajikan, sehingga hukumnya menjadi lebih ringan.

وَالْمَقْصُودُ بِالْبَيْعِ الرِّبْحُ وَالْمُغَابَنَةُ فَتَغَلَّظَ حُكْمُهُ وَالثَّانِي أَنَّهُ قَدْ يَنْفُذُ الْعِتْقُ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ كَنُفُوذِهِ فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ وَلَا يَنْتَقِلُ الْمِلْكُ بالبيع الفاسد فانتقاله بِالْبَيْعِ الصَّحِيحِ فَافْتَرَقَا لِخِفَّةِ حُكْمِ الْكِتَابَةِ وَتَغْلِيظِ حُكْمِ الْبَيْعِ

Yang dimaksud dari jual beli adalah memperoleh keuntungan dan adanya unsur saling menipu, sehingga hukumnya menjadi lebih berat. Kedua, bahwa terkadang pembebasan budak dapat berlaku dalam akad kitābah yang rusak sebagaimana berlakunya dalam akad kitābah yang sah, sedangkan kepemilikan tidak berpindah dalam jual beli yang rusak sebagaimana berpindahnya dalam jual beli yang sah. Maka, keduanya berbeda karena ringannya hukum kitābah dan beratnya hukum jual beli.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ كِتَابَتَهُمْ عَلَى قَوْلَيْنِ فَإِنْ قُلْنَا بِصِحَّةِ الْكِتَابَةِ فِيهِمْ كَانَتِ الْمِائَةُ دَنَانِيرَ مُقَسَّطَةً بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ قِيمَتِهِمْ يَوْمَ كُوتِبُوا لِأَنَّهُمْ بِالْكِتَابَةِ خَرَجُوا عَنْ تَصَرُّفِ السَّيِّدِ وَتَصَرَّفُوا لِأَنْفُسِهِمْ فَلِذَلِكَ اعْتُبِرَتْ قِيمَتُهُمْ وَقْتَ الْكِتَابَةِ

Jika telah dipastikan bahwa penulisan mereka (kitābah) terdapat dua pendapat, maka jika kita berpendapat sahnya penulisan tersebut pada mereka, maka seratus dinar itu dibagi rata di antara mereka sesuai dengan nilai mereka pada hari mereka ditulis (melakukan kitābah), karena dengan adanya kitābah mereka keluar dari pengelolaan tuan dan mulai mengelola diri mereka sendiri. Oleh karena itu, yang dijadikan acuan adalah nilai mereka pada waktu penulisan (kitābah).

فَإِذَا قِيلَ إِنَّ قِيمَةَ أَحَدِهِمْ مِائَةُ دِرْهَمٍ وَقِيمَةَ الْآخَرِ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَقِيمَةَ الثَّالِثِ ثَلَاثُمِائَةِ دِرْهَمٍ كَانَتِ الْمِائَةُ دِينَارٍ مُقَسَّطَةً عَلَى سِتِّمِائَةِ دِرْهَمٍ فَيَكُونُ عَلَى الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ سُدُسُهَا وَعَلَى الَّذِي قِيمَتُهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ ثُلُثُهَا وَعَلَى الَّذِي قِيمَتُهُ ثَلَاثُمِائَةِ دِرْهَمٍ نِصْفُهَا وَكَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَأْخُوذًا بِالْقَدْرِ الَّذِي تُقَسَّطُ عَلَيْهِ مِنْهَا وَلَا يَلْزَمُهُ ضَمَانُ مَا عَلَى صَاحِبِهِ

Maka jika dikatakan bahwa nilai salah satu dari mereka seratus dirham, nilai yang lain dua ratus dirham, dan nilai yang ketiga tiga ratus dirham, maka seratus dinar itu dibagi rata atas enam ratus dirham. Maka yang nilainya seratus dirham menanggung seperenamnya, yang nilainya dua ratus dirham menanggung sepertiganya, dan yang nilainya tiga ratus dirham menanggung setengahnya. Masing-masing dari mereka hanya dibebani sesuai bagian yang dibagi kepadanya dari jumlah tersebut, dan tidak wajib baginya menanggung apa yang menjadi tanggungan temannya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ يَلْزَمُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلَاثَةِ ضَمَانُ مَا عَلَى الْآخَرِينَ لِأَنَّ كِتَابَتَهُمْ وَاحِدَةٌ فَاشْتَرَكُوا فِي الْتِزَامِهَا وَضَمَانِ مَالِهَا وَصَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَأْخُوذًا بِجَمِيعِهَا وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَنَّ الِاجْتِمَاعَ على البتياع لم يلزم الضمان في الاجتماع على الكناية كَالِاجْتِمَاعِ عَلَى الِابْتِيَاعِ فَلَمَّا لَمْ يَلْزَمِ الضَّمَانُ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الِابْتِيَاعِ لَمْ يَلْزَمِ الضَّمَانُ فِي الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْكِتَابَةِ وَإِذَا اخْتُصَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِالْتِزَامِ مَالِ كِتَابَتِهِ دُونَ صَاحِبِهِ لَمْ يخل حال الثلاثة في الأداء من ثلاثة أَحْوَالٍ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa masing-masing dari ketiga orang tersebut wajib menanggung jaminan atas kewajiban yang ada pada yang lainnya, karena penulisan mereka satu, sehingga mereka bersama-sama dalam komitmen terhadapnya dan jaminan atas hartanya, dan masing-masing dari mereka menjadi bertanggung jawab atas seluruhnya. Namun, pendapat ini tidak benar, karena berkumpul dalam jual beli tidak mewajibkan jaminan sebagaimana berkumpul dalam kinayah, seperti halnya berkumpul dalam jual beli. Maka, ketika jaminan tidak diwajibkan dalam berkumpul pada jual beli, maka tidak pula diwajibkan jaminan dalam berkumpul pada penulisan. Dan apabila masing-masing dari mereka khusus dalam komitmen terhadap harta penulisannya sendiri tanpa yang lain, maka keadaan tiga orang tersebut dalam pelaksanaan (pembayaran) tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يُؤَدُّوا جَمِيعًا مَالَ كِتَابَتِهِمْ فَقَدْ عَتَقُوا بِالْأَدَاءِ اتِّفَاقًا

Salah satunya adalah apabila mereka semua membayar seluruh harta kitabah mereka, maka mereka telah merdeka dengan pembayaran tersebut menurut kesepakatan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْجِزُوا جَمِيعًا عَنِ الْأَدَاءِ فَيَرِقُّوا جَمِيعًا إِذَا أَعْجَزَهُمُ السَّيِّدُ وَهَذَا اتِّفَاقٌ أَيْضًا

Keadaan kedua adalah apabila mereka semua tidak mampu melaksanakan (pembayaran), maka mereka semua menjadi budak apabila tuan mereka membuat mereka tidak mampu, dan ini juga merupakan kesepakatan (ulama).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُؤَدِّيَ بَعْضُهُمْ وَيَعْجِزَ بَعْضُهُمْ فَيَعْتِقُ مَنْ أَدَّى وَيَرِقُّ مَنْ عَجَزَ

Keadaan ketiga adalah apabila sebagian dari mereka mampu membayar dan sebagian lainnya tidak mampu, maka yang membayar menjadi merdeka dan yang tidak mampu tetap menjadi budak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لَا يَعْتِقُ مَنْ أَدَّى إِذَا عَجَزَ بَعْضُهُمْ حَتَّى يُؤَدُّوا جَمِيعَ مَالِ الْكِتَابَةِ وَلِمَنْ أَدَّى أَنْ يُجْبِرَ مَنْ عَجَزَ عَلَى الْكَسْبِ وَالْأَدَاءِ فَإِنْ أَدَّى الْمُؤَدِّي عَنِ الْعَاجِزِ عَتَقُوا جَمِيعًا حِينَئِذٍ وَرَجَعَ الْمُؤَدِّي عَلَى الْعَاجِزِ بِمَا أَدَّى عَنْهُ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa tidak merdeka orang yang telah membayar (bagian) jika sebagian dari mereka tidak mampu, sampai mereka semua membayar seluruh harta kitabah. Orang yang telah membayar berhak memaksa yang tidak mampu untuk bekerja dan membayar. Jika orang yang mampu membayar melunasi bagian orang yang tidak mampu, maka mereka semua merdeka pada saat itu, dan orang yang membayar berhak menagih kepada yang tidak mampu atas apa yang telah dibayarkannya.

قَالُوا وَإِنَّمَا لَمْ يَعْتِقْ أَحَدُهُمْ بالأداء حتى يؤدوا جميعا جَمِيعَ الْكِتَابَةِ اعْتِبَارًا بِحُكْمِ الصِّفَةِ فِي قَوْلِهِ فَإِذَا أَدَّيْتُمْ إِلَيَّ آخِرَهَا فَأَنْتُمْ أَحْرَارٌ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَعْتِقَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ إِلَّا بِأَدَاءِ جَمِيعِ الْمَالِ كَمَا لَوْ قَالَ لَهُمْ إِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيَّ أَلْفَ دِرْهَمٍ فَأَنْتُمْ أَحْرَارٌ لَمْ يَعْتِقُوا حَتَّى يَدْفَعُوا جَمِيعَ الْأَلْفِ وَلَوْ دَفَعُوهَا إِلَّا دِرْهَمًا لَمْ يَعْتِقُوا وَكَمَا لَوْ قَالَ لَهُمْ إِذَا دَخَلْتُمُ الدَّارَ فَأَنْتُمْ أَحْرَارٌ لَمْ يَعْتِقْ أَحَدٌ مِنْهُمْ بِدُخُولِهِ حَتَّى يَدْخُلُوهَا جَمِيعًا فَيَعْتِقُوا حِينَئِذٍ

Mereka berkata: Seseorang di antara mereka tidak merdeka dengan pembayaran (sebagian) sampai mereka semua membayar seluruh jumlah kitabah, berdasarkan hukum sifat dalam firman-Nya: “Maka apabila kalian telah membayar seluruhnya kepadaku, maka kalian merdeka.” Maka wajiblah bahwa tidak seorang pun dari mereka menjadi merdeka kecuali dengan membayar seluruh harta, sebagaimana jika ia berkata kepada mereka: “Jika kalian membayarkan kepadaku seribu dirham, maka kalian merdeka,” maka mereka tidak merdeka sampai mereka membayar seluruh seribu dirham itu; dan jika mereka membayar kecuali satu dirham saja, maka mereka tidak merdeka. Demikian pula jika ia berkata kepada mereka: “Jika kalian masuk ke dalam rumah, maka kalian merdeka,” maka tidak seorang pun dari mereka menjadi merdeka hanya dengan masuknya salah satu dari mereka, sampai mereka semua masuk ke dalam rumah itu, barulah saat itu mereka merdeka.

كَذَلِكَ فِي الْكِتَابَةِ

Demikian pula dalam penulisan.

وَهَذَا الَّذِي قَالَاهُ غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَنَّ فِي الْكِتَابَةِ مُعَاوَضَةٌ وَصِفَةٌ فَإِذَا صَحَّتِ الْكِتَابَةُ غَلَبَ فِيهَا حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ وَإِذَا فَسَدَتْ غَلَبَ فِيهَا حُكْمُ الصِّفَةِ أَلَا تَرَى أَنَّ السَّيِّدَ لَوْ أَبْرَأَ مُكَاتَبَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ عَتَقَ وَإِنْ لَمْ تُوجَدْ صِفَةُ الْأَدَاءِ وَلَوْ مَاتَ السَّيِّدُ فَأَدَّاهَا الْمُكَاتَبُ إِلَى وَلَدِهِ عَتَقَ وَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الصِّفَةُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْمُعَاوَضَةِ فَبَطَلَ مَا قَالَاهُ وَخَالَفَ مُجَرَّدَ الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ لِمَا ذَكَرْنَاهُ

Apa yang mereka katakan itu tidak benar, karena dalam kitabah terdapat unsur mu‘āwaḍah (pertukaran) dan sifat (syarat). Jika akad kitabah sah, maka yang dominan adalah hukum mu‘āwaḍah; namun jika akad kitabah rusak, maka yang dominan adalah hukum sifat. Tidakkah engkau melihat bahwa jika seorang tuan membebaskan mukatabnya dari kewajiban membayar harta kitabah, maka budak itu merdeka meskipun syarat pelunasan belum terpenuhi? Dan jika tuan itu meninggal lalu mukatab membayar harta kitabah kepada anak tuannya, maka ia merdeka meskipun syarat tersebut belum terpenuhi, karena yang diutamakan adalah hukum mu‘āwaḍah. Dengan demikian, pendapat mereka batal dan bertentangan dengan hukum kemerdekaan murni yang bergantung pada sifat, sebagaimana telah kami sebutkan.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ قُلْنَا بِالْقَوْلِ الثَّانِي أَنَّ كِتَابَةَ الثَّلَاثَةِ بَاطِلَةٌ فَسَدَ حُكْمُ الْعِوَضِ فِيهَا وَبَقِيَ حُكْمُ الصِّفَةِ وَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَرْفَعَهَا وَيُسْقِطَ حُكْمَهَا فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ وَأَشْهَدَ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ ارْتَفَعَ حُكْمُ الْكِتَابَةِ وَلَمْ يَعْتِقُوا بِالْأَدَاءِ فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ عَلَّقَ عِتْقَهُ بِصِفَةٍ فَقَالَ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبْطَالُ هَذَا الْحُكْمِ وَإِسْقَاطُهُ وَمَتَى دَخَلَ الْعَبْدُ الدَّارَ عَتَقَ وَلَا يُؤَثِّرُ فِيهِ رُجُوعُ السَّيِّدِ وَإِبْطَالُهُ لِلصِّفَةِ فَهَلَّا كَانَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ الَّتِي قَدْ يَغْلِبُ فِيهَا حُكْمُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ مَمْنُوعًا مِنْ إِبْطَالِهَا وَالرُّجُوعِ فِيهَا

Jika kita mengikuti pendapat kedua bahwa penulisan tiga (yaitu akad pembebasan budak dengan tiga kali penulisan) adalah batal, maka hukum kompensasi di dalamnya menjadi rusak, namun hukum sifat (syarat) tetap berlaku. Tuan berhak untuk membatalkan dan menghapus hukumnya. Jika ia melakukan hal itu dan bersaksi atas dirinya sendiri, maka hukum penulisan tersebut terangkat dan para budak tidak merdeka dengan pembayaran. Jika ada yang bertanya: Bukankah jika seseorang menggantungkan kemerdekaan budaknya pada suatu sifat, misalnya ia berkata, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu merdeka,” maka ia tidak bisa membatalkan atau menghapus hukum itu, dan kapan pun budak itu masuk ke rumah, ia menjadi merdeka, dan penarikan kembali serta pembatalan sifat oleh tuan tidak berpengaruh? Maka mengapa dalam penulisan (kitābah) yang rusak, di mana hukum kemerdekaan dengan sifat bisa lebih dominan, tidak dilarang untuk membatalkan dan menarik kembali akad tersebut?

قِيلَ الْفَصْلُ بَيْنَهُمَا أَنَّهُ أَلْزَمَ نَفْسَهُ فِي الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ وُقُوعَ الْعِتْقِ بِمُجَرَّدِ الصِّفَةِ فَلَمْ يَكُنْ لَهُ إِبْطَالُ مَا الْتَزَمَ وَهُوَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ إِنَّمَا أَلْزَمَ نَفْسَهُ الْعِتْقَ بِالصِّفَةِ عَلَى شَرْطِ الْعِوَضِ الَّذِي كَاتَبَ عَلَيْهِ فَإِذَا بَطَلَ مَا شَرَطَ مِنَ الْعِوَضِ أَسْقَطَ مَا تَعَلَّقُ بِالصِّفَةِ مِنَ الِالْتِزَامِ فَافْتَرَقَا

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa dalam masalah pembebasan budak dengan sifat tertentu, seseorang telah mewajibkan dirinya sendiri bahwa pembebasan itu terjadi semata-mata karena sifat tersebut, sehingga ia tidak berhak membatalkan apa yang telah ia wajibkan atas dirinya. Adapun dalam kasus kitabah yang rusak, ia hanya mewajibkan dirinya untuk membebaskan budak dengan sifat tertentu dengan syarat adanya kompensasi (iwadh) yang telah disepakati dalam akad kitabah. Maka, jika syarat kompensasi yang ditetapkan itu batal, gugurlah pula kewajiban yang terkait dengan sifat tersebut, sehingga keduanya berbeda.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي هَذِهِ الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَرْجِعَ فِيهَا فَيُبْطِلَهَا أَوْ يُقِرَّهَا عَلَى حَالِهَا

Jika demikian, maka keadaannya dalam akad yang rusak ini tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia menarik kembali akad tersebut lalu membatalkannya, atau ia membiarkannya sebagaimana adanya.

فَإِنْ رَجَعَ فِيهَا وَأَبْطَلَهَا سَقَطَ حُكْمُ الصِّفَةِ فَإِنْ أَدَّى هَؤُلَاءِ الْعَبِيدُ مَالَ كِتَابَتِهِمْ لَمْ يَعْتِقُوا وَكَانُوا عَلَى رِقِّهِمْ وَمَا اسْتَأْدَاهُ السَّيِّدُ مِنْهُمْ لَا يَلْزَمُهُ رَدُّهُ عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَبِيدُهُ وَهُوَ مَالِكٌ لِأَكْسَابِهِمْ

Jika ia menarik kembali dan membatalkan (akad) tersebut, maka gugurlah hukum sifat (yang terkait). Jika para budak tersebut membayar uang kitabah mereka, maka mereka tidak merdeka dan tetap dalam status perbudakan. Apa yang telah diambil tuan dari mereka tidak wajib dikembalikan kepada mereka, karena mereka adalah budaknya dan ia adalah pemilik hasil usaha mereka.

وَإِنْ لَمْ يَرْجِعِ السَّيِّدُ فِي كِتَابَتِهِمْ وَلَا أَبْطَلَ مَا عَلَيْهِمْ فَإِنْ أَدَّوْا جَمِيعًا مَا عَلَيْهِمْ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ عَتَقُوا بِوُجُودِ الصِّفَةِ وَكَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ قِيمَتُهُمْ يَوْمَ أَدَّوْا فَعَتَقُوا لَا يَوْمَ كُوتِبُوا بِخِلَافِ تَقْوِيمِهِمْ لَوْ صَحَّتْ كِتَابَتُهُمْ لِأَنَّ يَدَ السَّيِّدِ ارْتَفَعَتْ عَنْهُمْ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَقْتَ الْأَدَاءِ وَفِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ وَقْتَ الْعَقْدِ فَلِذَلِكَ كَانَ التَّقْوِيمُ فِيهَا إِذَا فَسَدَتْ وَقْتَ الْأَدَاءِ وَإِذَا صَحَّتْ وَقْتَ الْعَقْدِ وَإِذَا وَجَبَ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قَدْرَ قِيمَتِهِ نَظَرَ فَإِنْ كَانَتِ الْقِيمَةُ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ مَالِ الْكِتَابَةِ الَّذِي أَدَّاهُ دَفَعَ الْقِيمَةَ إِلَى سَيِّدِهِ وَاسْتَرْجَعَ مِنْهُ مَا أَدَّاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ جِنْسِهِ تَقَاصَّا

Jika tuan tidak menarik kembali akad kitābah mereka dan tidak membatalkan kewajiban yang ada atas mereka, lalu mereka semua melunasi seluruh harta kitābah yang menjadi tanggungan mereka, maka mereka merdeka karena terpenuhinya syarat tersebut, dan tuan berhak atas nilai mereka pada hari mereka melunasi, sehingga mereka merdeka pada hari pelunasan, bukan pada hari akad kitābah, berbeda dengan penilaian (taqwīm) jika akad kitābah mereka sah, karena kekuasaan tuan atas mereka dalam akad kitābah yang rusak terangkat pada waktu pelunasan, sedangkan dalam akad kitābah yang sah terangkat pada waktu akad. Oleh karena itu, penilaian (taqwīm) dalam akad yang rusak dilakukan pada waktu pelunasan, sedangkan dalam akad yang sah pada waktu akad. Jika masing-masing dari mereka wajib membayar sebesar nilai dirinya, maka diperhatikan: jika nilai tersebut bukan dari jenis harta kitābah yang telah dibayarkan, maka ia menyerahkan nilai itu kepada tuannya dan mengambil kembali apa yang telah ia bayarkan; namun jika nilainya sejenis dengan harta yang telah dibayarkan, maka dilakukan kompensasi (taqāṣṣ).

فَإِنْ كَانَتِ الْقِيمَةُ أَكْثَرَ رَجَعَ السَّيِّدُ بِالْبَاقِي مِنْهَا وَإِنْ كَانَ الْأَدَاءُ أَكْثَرَ رَجَعَ الْمُكَاتَبُ بِالْفَاضِلِ عَنْهَا

Jika nilai barang tersebut lebih besar, maka tuan (pemilik budak mukatab) berhak mengambil sisa kelebihannya. Namun jika pembayaran yang telah dilakukan lebih besar, maka budak mukatab berhak mengambil kelebihan dari nilai tersebut.

فَأَمَّا إِذَا أَدَّى بَعْضُهُمْ مَالَ كِتَابَتِهِ الْفَاسِدَةِ فَفِي نُفُوذِ عِتْقِهِ بِأَدَائِهِ وَجْهَانِ

Adapun jika sebagian dari mereka membayar harta kitabah yang rusak, maka dalam hal berlakunya kemerdekaannya karena pembayaran tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ أَنَّهُ لَا يَعْتِقُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ كَمَا لَوْ قَالَ إِذَا أَدَّيْتُمْ إِلَيَّ أَلْفًا فَأَنْتُمْ أَحْرَارٌ فَأَدَّى بَعْضُهُمْ حِصَّتَهُ مِنْهَا لَمْ يَعْتِقْ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh Abu Hamid al-Isfara’ini, adalah bahwa budak tersebut tidak merdeka, dengan menguatkan hukum kemerdekaan yang bergantung pada sifat tertentu. Sebagaimana jika seseorang berkata, “Jika kalian membayarkan seribu (dinar) kepadaku, maka kalian merdeka,” lalu sebagian dari mereka membayar bagiannya dari jumlah tersebut, maka mereka tidak menjadi merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَعْتِقُ بِأَدَاءِ حِصَّتِهِ وَحْدَهُ لِأَنَّهُ وَإِنْ تَغَلَّبَ فِي فَسَادِ الْكِتَابَةِ حُكْمُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ فَقَدْ بَقِيَ مِنْ أَحْكَامِ الْمُعَاوَضَةِ مَا يُخْرِجُهُ عَنْ حُكْمِ الصِّفَةِ الْمُجَرَّدَةِ فَإِذَا عَتَقَ وَحْدَهُ كَانَ التَّرَاجُعُ بِالْقَيِّمَةِ عَلَى ما وصفنا والله أعلم

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa ia merdeka dengan membayar bagiannya saja. Sebab, meskipun dalam kerusakan akad kitabah hukum ‘itq (pembebasan budak) dengan sifat tertentu lebih dominan, namun masih tersisa dari hukum mu‘awadhah (pertukaran) yang mengeluarkannya dari hukum sifat semata. Maka apabila ia merdeka sendirian, pengembalian (hak) dilakukan dengan qīmah (nilai) sebagaimana telah kami jelaskan. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَأَيُّهُمْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُؤَدِّيَ مَاتَ رَقِيقًا كَانَ لَهُ وَلَدٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Siapa pun di antara mereka yang meninggal sebelum membayar (tebusan), maka ia meninggal dalam keadaan sebagai budak, baik ia memiliki anak maupun tidak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا أَرَادَ بِهِ الرَّدَّ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ فَإِنَّهُ يَقُولُ إِذَا مَاتَ الْمُكَاتَبُ قَبْلَ الْأَدَاءِ وَتَرَكَ وَلَدًا وَوَفَاءً قَامَ وَلَدُهُ مَقَامَهُ فِي الْأَدَاءِ وَبَانَ أَنَّ الْمُكَاتَبَ مَاتَ حُرًّا بِأَدَاءِ وَلَدِهِ مِنْ بَعْدِهِ وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ مَعَهُ مِنْ بَعْدُ وَإِنْ كَانَ فَسَادُ قَوْلِهِ ظَاهِرًا مِنْ وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Ini dimaksudkan sebagai bantahan terhadap Abu Hanifah, karena ia berpendapat bahwa jika seorang mukatab meninggal sebelum melunasi pembayaran dan meninggalkan anak serta harta yang cukup untuk melunasi, maka anaknya menggantikan posisinya dalam pelunasan, sehingga jelas bahwa mukatab tersebut meninggal dalam keadaan merdeka karena pelunasan yang dilakukan oleh anaknya setelah kematiannya. Pembahasan tentang hal ini akan dijelaskan kemudian, meskipun kerusakan pendapatnya tampak jelas dari dua sisi.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى حُكْمِهِ مِنْ حُرِّيَّةٍ أَوْ رِقٍّ أَوْ إِسْلَامٍ أَوْ كُفْرٍ لَمْ يَنْتَقِلْ عَنْ حَالِهِ الَّتِي مَاتَ عَلَيْهَا وَمَوْتُ هَذَا الْمُكَاتَبِ لَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ عَنْ حُرِّيَّةٍ أَوْ رِقٍّ فَلَمَّا كَانَ قَبْلَ أَدَاءِ وَلَدِهِ مَرْقُوقًا فَكَذَلِكَ بَعْدَهُ

Salah satunya adalah bahwa siapa pun yang meninggal dalam suatu status, baik sebagai orang merdeka atau budak, muslim atau kafir, maka ia tidak berpindah dari keadaan yang ia wafat di atasnya. Kematian seorang mukatab ini tidak lepas dari dua kemungkinan: sebagai orang merdeka atau sebagai budak. Maka, ketika sebelum pelunasan (pembayaran) oleh anaknya ia masih berstatus budak, demikian pula keadaannya setelah itu.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَوْ تَرَكَ مَكَانَ وَلَدِهِ أَخًا لَمْ يَعْتِقْ بِأَدَائِهِ عَنْهُ فَكَذَلِكَ إِذَا تَرَكَ ولدا كان بمثابته

Kedua, jika ia meninggalkan saudara laki-laki sebagai pengganti anaknya, maka tidaklah merdeka dengan pembayaran yang dilakukan atas namanya; demikian pula jika ia meninggalkan anak yang kedudukannya sama dengan itu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَدَّوْا فَقَالَ مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ أَدَّيْنَا عَلَى الْعَدَدِ وَقَالَ الْآخَرُونَ عَلَى الْقِيَمِ فَهُوَ عَلَى الْعَدَدِ أَثْلَاثًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika mereka telah membayar, lalu salah satu dari mereka berkata, ‘Kami membayar berdasarkan jumlah,’ sementara yang lain berkata, ‘Berdasarkan nilai,’ maka pembayaran itu didasarkan pada jumlah, dibagi menjadi tiga bagian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا أَدَّوْا جَمِيعًا مَالَ كِتَابَتِهِمْ ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي تَسَاوِيهِمْ فِيهِ أَوْ تَفَاضُلِهِمْ لَمْ يَخْلُ حَالُ اخْتِلَافِهِمْ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ عِتْقِهِمْ أَوْ بَعْدَ عِتْقِهِمْ فَإِنْ كَانَ الِاخْتِلَافُ قَبْلَ الْعِتْقِ فَصُورَتُهُ أَنْ يُكَاتَبُوا جَمِيعًا عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ وَهُمْ ثَلَاثَةٌ عَلَى أَنَّ كِتَابَةَ أَحَدِهِمْ عَلَى عِشْرِينَ دِينَارًا وَكِتَابَةَ الْآخَرِ عَلَى ثَلَاثِينَ دِينَارًا وَكِتَابَةَ الثَّالِثِ عَلَى خَمْسِينَ دِينَارًا فَيُؤَدُّوا مَعًا خَمْسِينَ دِينَارًا ثُمَّ يَخْتَلِفُونَ فَيَقُولُ مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ أَدَّيْنَاهَا بِالسَّوِيَّةِ أَثْلَاثًا فَيَكُونُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا ثُلُثُهَا مَحْسُوبًا مَالَ كِتَابَتِهِ وَيَقُولُ مَنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ أَدَّيْنَاهَا عَلَى الْقِيَمِ فَلِي نِصْفُهَا خَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ دِينَارًا وَلَكَ يَا مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَنَانِيرَ وَلَكَ يَا مَنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ دِينَارًا فَيَكُونُ التَّنَازُعُ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ مُخْتَصًّا وَلَا يَكُونُ السَّيِّدُ فِيهِ خَصْمًا لَهُمْ لِأَنَّ تَنَازُعَهُمْ لَا يَقْتَضِي اسْتِرْجَاعَ شَيْءٍ مِنَ السَّيِّدِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَضْمَنْ لَهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنْ تَصَادَقُوا بَعْدَ الِاخْتِلَافِ عَمِلَ عَلَى تُصَادِقِهِمْ وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ تَصْدِيقُ السَّيِّدِ لَهُمْ وَإِنْ أَقَامُوا عَلَى التَّنَازُعِ وَالِاخْتِلَافِ فَالَّذِي نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ هَاهُنَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ فِي ادِّعَاءِ التَّسَاوِي وَيَكُونُ بَيْنَهُمْ أَثْلَاثًا لِتَسَاوِي أَيْدِيهِمْ كَثَلَاثَةٍ فِي أَيْدِيهِمْ دَارٌ ادَّعَى بَعْضُهُمْ أَنَّهَا بَيْنَهُمْ بِالسَّوِيَّةِ أَثْلَاثًا وَادَّعَى الْآخَرُونَ أَنَّهَا بَيْنَهُمْ عَلَى تُفَاضُلٍ فَالْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ مَنِ ادَّعَى التَّسَاوِيَ دُونَ التَّفَاضُلِ لِتَسَاوِي أَيْدِيهِمْ عَلَيْهَا فَاسْتَوَتْ حُقُوقُهُمْ فِيهَا

Al-Mawardi berkata: Jika mereka semua telah membayar seluruh harta kitabah mereka, kemudian mereka berselisih tentang apakah bagian mereka sama atau berbeda, maka keadaan perselisihan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: terjadi sebelum mereka merdeka atau setelah mereka merdeka. Jika perselisihan itu terjadi sebelum merdeka, maka bentuknya adalah mereka semua melakukan akad kitabah atas seratus dinar, dan mereka bertiga; salah satu dari mereka akad kitabah atas dua puluh dinar, yang lain atas tiga puluh dinar, dan yang ketiga atas lima puluh dinar. Kemudian mereka bersama-sama membayar lima puluh dinar, lalu mereka berselisih. Orang yang nilai kitabahnya lebih sedikit berkata, “Kita telah membayarnya secara rata, masing-masing sepertiga, sehingga setiap orang dari kita mendapatkan sepertiganya yang dihitung sebagai harta kitabahnya.” Sedangkan orang yang nilai kitabahnya lebih banyak berkata, “Kita telah membayarnya sesuai nilai masing-masing, maka bagiku setengahnya, yaitu dua puluh lima dinar, dan bagimu yang nilainya lebih sedikit sepuluh dinar, dan bagimu yang nilainya lebih banyak lima belas dinar.” Maka perselisihan dalam hal ini hanya khusus di antara mereka, dan tuan (pemilik budak) tidak menjadi pihak yang bersengketa dengan mereka, karena perselisihan mereka tidak menuntut pengembalian sesuatu dari tuan, sehingga tuan tidak menjamin hak mereka. Jika setelah perselisihan itu mereka saling membenarkan, maka yang dijadikan dasar adalah kesepakatan mereka, dan tidak dipertimbangkan persetujuan tuan terhadap mereka. Namun jika mereka tetap berselisih dan bertentangan, maka sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani di sini dan ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam Kitab al-Umm, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang nilai kitabahnya lebih sedikit dalam klaim kesetaraan, dan bagian di antara mereka dibagi rata karena tangan mereka sama atasnya, seperti tiga orang yang di tangan mereka ada sebuah rumah, sebagian mereka mengklaim bahwa rumah itu milik mereka bersama secara rata, dan yang lain mengklaim bahwa rumah itu milik mereka dengan perbedaan nilai. Maka pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengklaim kesetaraan, bukan perbedaan, karena tangan mereka sama atasnya, sehingga hak mereka pun sama di dalamnya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِنْ كَانَ اخْتِلَافُهُمْ بَعْدَ الْعِتْقِ وَصُورَتُهُ أَنْ يُؤَدُّوا جَمِيعَ الْمِائَةِ فَيَعْتِقُوا بِهَا فِي الظَّاهِرِ ثُمَّ يَدَّعِي مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ التَّسَاوِي لِيَرْجِعَ بِالْبَاقِي وَيَدَّعِي مَنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ التَّفَاضُلَ عَلَى قَدْرِ الْقِيَمِ لِيَتَحَرَّرَ عِتْقُهُ بِأَدَائِهِ فَيُنْظَرُ فِي دَعْوَى مَنْ قَلَّتْ قِيمَتُهُ فِيمَا ادَّعَاهُ مِنَ الْفَاضِلِ عَنْهَا فَإِنِ ادَّعَى أَنَّهُ أَدَّاهُ عَمَّنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ قَرْضًا عَلَيْهِ يَأْخُذُهُ بِرَدِّهِ فَالسَّيِّدُ خَارِجٌ مِنْ تَنَازُعِهِمْ وَلَا يَكُونُ فِي هَذِهِ الدَّعْوَى خَصْمًا لَهُمْ وَقَدْ عَتَقُوا جَمِيعًا بِذَلِكَ الْأَدَاءِ

Jika perbedaan pendapat mereka terjadi setelah pembebasan (budak), adapun bentuk kasusnya adalah mereka semua membayar seratus (dinar) lalu mereka semua merdeka karenanya secara lahiriah. Kemudian, orang yang nilai (budaknya) lebih rendah mengklaim adanya kesetaraan agar dapat meminta kembali kelebihan (uang) tersebut, sedangkan orang yang nilai (budaknya) lebih tinggi mengklaim adanya perbedaan sesuai kadar nilai masing-masing agar pembebasannya sah dengan pembayaran yang dilakukannya. Maka, dilihatlah klaim orang yang nilai (budaknya) lebih rendah terkait kelebihan yang dia klaim atasnya. Jika dia mengklaim bahwa dia telah membayarkan (bagian) orang yang nilai (budaknya) lebih tinggi sebagai pinjaman kepadanya, maka dia berhak menuntut pengembaliannya. Dalam hal ini, tuan (pemilik budak) tidak termasuk dalam perselisihan mereka dan tidak menjadi pihak yang bersengketa dalam klaim tersebut, dan mereka semua telah merdeka dengan pembayaran itu.

وَإِنِ ادَّعَى أَنَّهُ دَفَعَ الْفَضْلَ إِلَى السَّيِّدِ قَرْضًا عَلَيْهِ أَوْ وَدِيعَةً عِنْدَهُ صَارَ السَّيِّدُ فِي هَذَا التَّنَازُعِ خَصْمًا لَهُمْ فَإِنْ صَدَّقَ الدَّعْوَى لَزِمَهُ الرَّدُّ وَإِنْ أَكْذَبَهَا وَصَدَّقَ مَنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ فِي عِتْقِهِ بِهَا صَارَ دَاخِلًا فِي التَّنَازُعِ وَالِاخْتِلَافِ وَفِيهِ وَجْهَانِ

Jika seseorang mengklaim bahwa ia telah memberikan kelebihan (harta) kepada tuannya sebagai pinjaman atau sebagai titipan, maka dalam perselisihan ini, tuan menjadi pihak yang bersengketa dengan mereka. Jika tuan membenarkan klaim tersebut, maka ia wajib mengembalikannya. Namun jika ia mendustakan klaim itu dan membenarkan pihak yang nilai (harganya) lebih besar dalam pembebasan budak dengan harta tersebut, maka ia pun termasuk dalam perselisihan dan perbedaan pendapat, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابِ الْأُمِّ إِنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ مَنْ كَثُرَتْ قِيمَتُهُ مَعَ يَمِينِهِ وَيَكُونُ الْمَالُ الْمُؤَدَّى عَلَى قَدْرِ قِيمَتِهِمْ وَلَا تَرَاجُعَ فِيهِ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ فِي الدَّيْنِ أَنَّ الْمُؤَدَّى فِيهِ بِقَدْرِ الدَّيْنِ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ الْعُرْفُ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ مُعْتَبَرًا

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yang juga telah disinggung oleh asy-Syafi‘i di salah satu tempat dalam Kitab al-Umm, adalah bahwa pendapat yang dipegang dalam masalah ini adalah pendapat orang yang nilai barangnya lebih banyak, disertai sumpahnya. Harta yang harus dibayarkan disesuaikan dengan kadar nilai mereka, dan tidak ada saling menuntut kembali di dalamnya, dengan mempertimbangkan kebiasaan (‘urf) dalam utang, yaitu bahwa yang dibayarkan di dalamnya sesuai dengan kadar utang. Maka boleh jadi kebiasaan (‘urf) dalam perbedaan ini juga dapat dijadikan pertimbangan.

وَلِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنَ الْأَدَاءِ وُقُوعُ الْعِتْقِ بِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقْبَلَ مَا خَالَفَهُ فِي نَقْضِهِ

Dan karena yang tampak dari pelaksanaan (suatu perbuatan) adalah terjadinya pembebasan budak dengannya, maka tidak boleh diterima sesuatu yang bertentangan dengannya dalam membatalkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ أن القول فيه قول من قلت قيمته فِي التَّسَاوِي وَرَدَّ قَوْلَ مَنْ خَالَفَهُ فِي ادِّعَاءِ التَّفَاضُلِ لِأَنَّ الدَّعْوَى إِذَا تَرَدَّدَتْ بَيْنَ يَدٍ وَعُرْفٍ غَلَبَ فِيهَا حُكْمُ الْيَدِ عَلَى العرف

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Hamid al-Isfara’ini, menyatakan bahwa yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah pendapat orang yang mengatakan nilainya sama, dan ditolak pendapat orang yang menyelisihinya dalam mengklaim adanya perbedaan nilai. Sebab, apabila suatu klaim berada di antara kekuasaan (kepemilikan) dan kebiasaan (‘urf), maka hukum kekuasaan (kepemilikan) lebih diutamakan daripada kebiasaan.

أَلَا تَرَى أَنَّ دَبَّاغًا وَعَطَّارًا لَوْ تَنَازَعَا دِبَاغَةً وَعِطْرًا لَحَكَمَ بَيْنَهُمَا بِالْيَدِ وَإِنْ كَانَ الْعِطْرُ فِي الْعُرْفِ لِلْعَطَّارِ وَالدِّبَاغَةُ لِلدَّبَّاغِ وَلِأَنَّ رَجُلَيْنِ لَوِ اشْتَرَيَا دَارًا بِأَلْفٍ لِأَحَدِهِمَا رُبُعَهَا وَلِلْآخَرِ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهَا وَدَفَعَا إِلَى بَائِعِهَا أَلْفًا ثُمَّ اخْتَلَفَا فَقَالَ صَاحِبُ الرُّبُعِ الْأَلْفُ الَّتِي دَفَعْنَاهَا بَيْنَنَا نِصْفَيْنِ فَلِيَ الرُّجُوعُ بِالْبَاقِي

Tidakkah engkau melihat bahwa seorang penyamak kulit dan seorang penjual parfum, jika mereka berselisih tentang kulit yang telah disamak dan parfum, maka keputusan di antara mereka didasarkan pada siapa yang memegang barang tersebut, meskipun menurut ‘urf (kebiasaan), parfum itu milik penjual parfum dan kulit yang telah disamak milik penyamak kulit. Demikian pula, jika dua orang membeli sebuah rumah seharga seribu dinar, salah satunya memiliki seperempat bagian dan yang lain memiliki tiga perempat bagian, lalu mereka berdua membayar seribu dinar kepada penjual rumah itu, kemudian mereka berselisih, lalu pemilik seperempat bagian berkata, “Seribu dinar yang telah kita bayarkan itu adalah milik kita berdua, masing-masing setengah, maka aku berhak menuntut kembali sisanya.”

وَقَالَ صَاحِبُ الثَّلَاثَةِ الْأَرْبَاعِ إِنَّنَا دَفَعْنَاهَا عَلَى قَدْرِ مَا عَلَيْنَا فَلَا تَرَاجُعَ فَالْقَوْلُ فِيهِ قَوْلُ مَنِ ادَّعَى التَّسَاوِي اعْتِبَارًا بِالْيَدِ دُونَ الْعُرْفِ وِفَاقًا كَذَلِكَ فِي الْكِتَابَةِ حِجَاجًا ثُمَّ يَكُونُ الْعِتْقُ عَلَى الْوَجْهَيْنِ مَعًا نَافِذًا فِي الثَّلَاثَةِ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ إِنِ ادُّعِيَتْ أَدَاءً عَنِ الْأَكْثَرِ قِيمَةً قَرْضًا فَقَدْ عَتَقَ بِهَا وَإِنْ كَانَتْ دَيْنًا عَلَيْهِ وَإِنِ ادُّعِيَتْ وَدِيعَةً عِنْدَ السَّيِّدِ أَوْ قَرْضًا فَقَدْ صَدَّقَ السَّيِّدُ لِلْأَكْثَرِ قِيمَةً عَلَى أَدَائِهِ لَهَا وَاعْتَرَفَ بِعِتْقِهِ بِهَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ السَّيِّدُ قَدْ أَكْذَبَهُ وَصَدَّقَ مُدَّعِي التَّسَاوِي فَإِذَا جَعَلَ الْقَوْلَ قَوْلَهُ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي لَمْ يَعْتِقِ الْأَكْثَرَ قِيمَةً بِمَا ادَّعَاهُ مِنَ التَّفَاضُلِ وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ حَتَّى يُؤَدِّيَ بَقِيَّتَهَا بَعْدَ تَسَاوِيهِمْ فِيهَا لِيَعْتِقَ حِينَئِذٍ لِأَنَّ قَوْلَهُ لَمْ يُقْبَلْ وَسَيِّدَهُ لَمْ يُصَدِّقْهُ

Pemilik tiga perempat berkata, “Kami telah membayarnya sesuai dengan bagian yang menjadi tanggungan kami, maka tidak ada tuntutan kembali.” Dalam hal ini, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengklaim adanya kesetaraan, dengan mempertimbangkan kepemilikan (al-yad) dan bukan kebiasaan (‘urf), demikian pula dalam masalah kitabah sebagai argumentasi. Kemudian, pemerdekaan (al-‘itq) pada kedua keadaan tersebut sama-sama sah pada tiga orang, karena jika kelebihan (pembayaran) itu diklaim sebagai pelunasan atas bagian yang lebih besar nilainya sebagai pinjaman, maka ia telah merdeka karenanya, meskipun itu adalah utang baginya. Dan jika kelebihan itu diklaim sebagai titipan (wadi‘ah) di sisi tuan atau sebagai pinjaman, maka tuan telah membenarkan bagi yang nilainya lebih besar atas pelunasan tersebut dan mengakui kemerdekaannya karenanya, kecuali jika tuan mendustakannya dan membenarkan orang yang mengklaim kesetaraan. Maka jika pendapatnya dijadikan pegangan pada keadaan kedua, maka yang nilainya lebih besar tidak merdeka dengan klaim adanya perbedaan, dan ia tetap dalam kitabah-nya sampai ia melunasi sisanya setelah mereka setara di dalamnya, agar ia merdeka pada saat itu, karena perkataannya tidak diterima dan tuannya tidak membenarkannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَدَّى أَحَدُهُمْ عَنْ غَيْرِهِ كَانَ لَهُ الرُّجُوعُ فَإِنْ تَطَوَّعَ فَعَتَقُوا لَمْ يَكُنْ لَهُ الرُّجُوعُ فَإِنْ أَدَّى بِإِذْنِهِمْ رَجَعَ عَلَيْهِمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membayarkan (suatu kewajiban) atas nama orang lain, maka ia berhak meminta kembali (dari orang yang dibayarkan). Namun, jika ia melakukannya secara sukarela lalu mereka (yang dibebaskan) dimerdekakan, maka ia tidak berhak meminta kembali. Tetapi jika ia membayarkan dengan izin mereka, maka ia boleh meminta kembali dari mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ لَيْسَ لِأَحَدِ الْمُكَاتَبِينَ فِي الْعَقْدِ الْوَاحِدِ أَوْ فِي عُقُودٍ أَنْ يُؤَدِّيَ كَسْبَهُ إِلَّا مَالَ كِتَابَتِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ عَنْ غَيْرِهِ مِنَ الْمُكَاتَبِينَ مَعَهُ سَوَاءٌ أَدَّى عَنْهُ بِأَمْرِهِ أَوْ بِغَيْرِ أَمْرِهِ لِأَنَّهُ إِنْ أَدَّاهُ عَنْهُ بِغَيْرِ أَمْرِهِ كَانَتْ هِبَةً لَهُ وَإِنْ أَدَّاهُ عَنْهُ بِأَمْرِهِ كَانَ قَرْضًا عَلَيْهِ وَلَيْسَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَصْرِفَ مَالَهُ فِي هِبَةٍ وَلَا قَرْضٍ فَإِنْ فَعَلَ وَأَدَّى عَنْ غَيْرِهِ مَالًا إِلَى سَيِّدِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ السَّيِّدِ فِي قَبْضِهِ ذَلِكَ مِنْهُ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِأَنَّهُ أَدَّاهُ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرَ عَالِمٍ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, bahwa tidak boleh bagi salah satu dari para mukatab, baik dalam satu akad maupun dalam beberapa akad, untuk membayarkan hasil usahanya kecuali untuk membayar harta kitabahnya sendiri. Tidak boleh pula ia membayarkan (harta) tersebut untuk membayar kitabah orang lain dari para mukatab yang bersamanya, baik ia membayarkannya atas perintah orang itu maupun tanpa perintahnya. Sebab, jika ia membayarkannya tanpa perintah, maka itu dianggap sebagai hibah (pemberian) kepadanya; dan jika ia membayarkannya atas perintah, maka itu dianggap sebagai qardh (pinjaman) atasnya. Padahal, seorang mukatab tidak boleh menggunakan hartanya untuk hibah maupun qardh. Jika ia tetap melakukannya dan membayarkan harta orang lain kepada tuannya, maka keadaan tuan dalam menerima harta tersebut darinya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia mengetahui bahwa harta itu dibayarkan dari harta mukatab itu sendiri, atau ia tidak mengetahuinya.

فَإِنْ كَانَ غَيْرَ عَالِمٍ بِذَلِكَ فَالْأَدَاءُ بَاطِلٌ وَغَيْرُ مُحْتَسَبٍ بِهِ لِلْمُؤَدَّى عَنْهُ وَيَكُونُ مُحْتَسِبًا بِهِ لِلْمُؤَدِّي إِنْ كَانَ مَا عَلَيْهِ قَدْ حَلَّ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَلَّ كَانَ الْمُؤَدِّي بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَسْتَرْجِعَهُ مِنْ سَيِّدِهِ أَوْ يَجْعَلَهُ تَعْجِيلًا عَنْ نَفْسِهِ وَإِنْ كَانَ السَّيِّدُ عَالِمًا بِأَنَّهُ أَدَّى ذَلِكَ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ فَعِلْمُهُ بِهِ كَالْإِذْنِ فِيهِ فَيَكُونُ كَالْمُكَاتَبِ إِذَا وَهَبَ أَوْ أَقْرَضَ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فَيَكُونُ فِيهِ قَوْلَانِ

Jika orang tersebut tidak mengetahui hal itu, maka pembayaran tersebut batal dan tidak dianggap sebagai pembayaran untuk orang yang diwakilkan, namun dianggap sebagai pembayaran untuk orang yang membayar jika kewajiban yang harus ditunaikannya telah jatuh tempo. Jika belum jatuh tempo, maka orang yang membayar memiliki pilihan antara mengambil kembali dari tuannya atau menjadikannya sebagai pembayaran lebih awal untuk dirinya sendiri. Jika tuan mengetahui bahwa pembayaran itu dilakukan dari hartanya sendiri, maka pengetahuannya itu dianggap sebagai izin, sehingga keadaannya seperti seorang mukatab yang memberikan hibah atau pinjaman dengan izin tuannya; dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّ مَا بِيَدِهِ مُسْتَحَقٌّ فِي كِتَابَتِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْدِلَ بِهِ إِلَى غَيْرِهَا وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَصِحُّ ذَلِكَ وَيَجُوزُ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيمَا بِيَدِهِ لِحَقِّ سَيِّدِهِ فَصَحَّ تَصَرُّفُهُ فِيهِ بِإِذْنِهِ كَالْعَبْدِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu tidak sah, karena apa yang ada di tangannya adalah hak yang telah ditetapkan dalam penulisannya, sehingga tidak boleh dialihkan kepada selainnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu sah dan diperbolehkan, karena ia dilarang untuk bertindak atas apa yang ada di tangannya demi hak tuannya, sehingga sah baginya untuk bertindak atasnya dengan izin tuannya, sebagaimana budak.

فَإِذَا قُلْنَا إِنَّ ذَلِكَ لَا يَجُوزُ صَارَ كَمَا لَوْ أَدَّاهُ بِغَيْرِ عِلْمِ سَيِّدِهِ فَلَا يُحْتَسَبُ بِهِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ وَيُحْتَسَبُ بِهِ لِلْمُؤَدِّي مِنْ كِتَابَتِهِ إِنْ حَلَفَ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ إِلَى أَجْلِهَا كَانَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَسْتَرْجِعَهَا من سيده أو يعجلها عَنْ كِتَابَةِ نَفْسِهِ فَلَوْ لَمْ يَسْتَرْجِعْهَا الْمُكَاتَبُ وَلَا عَجَّلَهَا عَنْ نَفْسِهِ حَتَّى أَدَّى مَا عَلَيْهِ فَعَتَقَ فَفِي اسْتِحْقَاقِ اسْتِرْجَاعِهَا بَعْدَ عِتْقِهِ وَجْهَانِ

Maka jika kita katakan bahwa hal itu tidak diperbolehkan, maka keadaannya seperti jika ia membayarkan (sesuatu) tanpa sepengetahuan tuannya, sehingga pembayaran tersebut tidak diperhitungkan sebagai pembayaran dari pihak yang dibayarkan, namun diperhitungkan sebagai pembayaran dari pihak yang membayar dari kitabah-nya sendiri jika ia bersumpah atasnya. Dan jika pembayaran itu untuk tempo tertentu, maka ia memiliki pilihan antara mengambil kembali dari tuannya atau menyegerakannya dari kitabah dirinya sendiri. Jika mukatab tidak mengambil kembali dan tidak pula menyegerakannya dari dirinya sendiri hingga ia melunasi apa yang menjadi tanggungannya lalu ia merdeka, maka dalam hal berhak atau tidaknya ia mengambil kembali setelah merdeka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَنْصُوصِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَسْتَحِقُّ اسْتِرْجَاعَهَا وَالسَّيِّدُ أَوْلَى بِهَا لِأَنَّهَا كَانَتْ مَوْقُوفَةً عَلَى أَدَائِهَا فِي كِتَابَتِهِ فَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَسْتَرْجِعَهَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ

Salah satu pendapat, dan inilah yang tampak dari nash Imam Syafi‘i, adalah bahwa ia tidak berhak untuk mengambilnya kembali, dan tuannya lebih berhak atasnya, karena harta tersebut sebelumnya digantungkan pada pelunasan dalam akad mukatabah, sehingga ia tidak berhak mengambilnya kembali untuk dirinya sendiri.

وَالوجهُّ الثَّانِي وَهُوَ الْأَصَحُّ عِنْدِي أَنَّ لَهُ اسْتِرْجَاعَهَا لِأَنَّهُ بَعْدَ الْعِتْقِ أَقْوَى مِلْكًا وَتَصَرُّفًا فَلَمَّا اسْتَحَقَّ اسْتِرْجَاعَهَا فِي أَضْعَفِ حَالَيْهِ كَانَ اسْتِرْجَاعُهَا فِي أَقْوَاهُمَا أَوْلَى وَإِذَا قُلْنَا إِنَّ ذَلِكَ صَحِيحٌ جَائِزٌ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي أَدَاءِ ذَلِكَ عَنْ صَاحِبِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ أَدَاؤُهُ عَنْهُ بِإِذْنِهِ أَوْ بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّاهُ بِغَيْرِ إِذْنِهِ لَمْ يَرْجِعْ فِيهِ وَكَانَ مُتَطَوِّعًا بِبَذْلِهِ كَالْهِبَاتِ وَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّاهُ عَنْهُ بِإِذْنِهِ يَرْجِعُ بِهِ كَالْقَرْضِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُؤَدِّي وَالْمُؤَدَّى عَنْهُ من أربعة أَحْوَالٍ

Pendapat kedua, yang menurut saya lebih kuat, adalah bahwa ia berhak mengambilnya kembali, karena setelah merdeka ia memiliki kepemilikan dan wewenang yang lebih kuat. Maka, ketika ia berhak mengambilnya kembali dalam keadaan yang lebih lemah, maka mengambilnya kembali dalam keadaan yang lebih kuat tentu lebih utama. Jika kita mengatakan bahwa hal itu sah dan boleh, maka keadaannya dalam melakukan hal tersebut atas nama pemiliknya tidak lepas dari dua kemungkinan: dilakukan dengan izinnya atau tanpa izinnya. Jika ia melakukannya tanpa izin, maka ia tidak boleh mengambil kembali dan dianggap sebagai pemberian sukarela seperti hibah. Namun jika ia melakukannya dengan izin, maka ia boleh mengambil kembali seperti dalam kasus pinjaman (qardh). Keadaan orang yang membayar dan orang yang dibayarkan atas namanya tidak lepas dari empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْجِزَا فَيَرِقَّا فَلَا رُجُوعَ لِلْمُؤَدِّي بِمَا أَدَّى لَا عَلَى سَيِّدِهِ وَلَا عَلَى الْمُؤَدَّى عَنْهُ لِأَنَّهُ بِعَوْدِهِ إِلَى الرِّقِّ قَدْ صَارَتْ أَمْوَالُهُ لِسَيِّدِهِ وَالسَّيِّدُ لَا يَثْبُتُ لَهُ عَلَى عَبْدِهِ غُرْمٌ فَلَا يَثْبُتُ لِعَبْدِهِ عَلَيْهِ مَالٌ

Salah satunya adalah apabila keduanya menjadi tidak mampu lalu kembali menjadi budak, maka tidak ada hak bagi pihak yang telah membayar untuk meminta kembali apa yang telah dibayarkan, baik kepada tuan budaknya maupun kepada orang yang dibayarkan atas namanya. Sebab, dengan kembalinya ia menjadi budak, seluruh hartanya menjadi milik tuannya, dan tuan tidak memiliki kewajiban membayar ganti rugi kepada budaknya, maka budak pun tidak memiliki hak harta atas tuannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُؤَدِّيَا فَيَعْتِقَا فَلِلْمُؤَدِّي بَعْدَ عِتْقِهِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُؤَدَّى عَنْهُ بَعْدَ عِتْقِهِ بِمَا أَدَّاهُ عَنْهُ إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا أُنْظِرَ بِهِ إِلَى مَيْسَرَتِهِ

Keadaan kedua adalah apabila keduanya membayar (tebusan) lalu keduanya merdeka. Maka, bagi orang yang membayar setelah ia merdeka, ia boleh menuntut kembali kepada orang yang dibayarkan tebusannya setelah ia merdeka, sebesar yang telah ia bayarkan untuknya, jika orang tersebut mampu. Namun, jika orang tersebut dalam keadaan sulit (tidak mampu), maka ia diberi tenggang waktu hingga ia mampu.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَعْتِقَ الْمُؤَدَّى عَنْهُ وَيَبْقَى الْمُؤَدِّي عَلَى رِقِّهِ فَيُنْظُرُ فِي عِتْقِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ فَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَا أَقْرَضَهُ الْمُؤَدِّي نَفَذَ عِتْقُهُ وَكَانَ الْمَالُ الْمُؤَدَّى عَنْهُ دَيْنًا حَالًّا لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ عِتْقُهُ بِمَا أَقْرَضَهُ الْمُؤَدِّي فَفِيهِ وَجْهَانِ أَخْرَجَهُمَا أَبُو عَلِيٍّ الطَّبَرِيُّ فِي إِفْصَاحِهِ احْتِمَالًا

Keadaan ketiga adalah apabila orang yang dibebaskan (mukātib) telah merdeka, sedangkan orang yang membayar (muwaddi‘) tetap dalam status budak. Maka, dalam hal kemerdekaan orang yang dibebaskan itu, dilihat: jika kemerdekaannya bukan berasal dari apa yang dipinjamkan oleh muwaddi‘, maka kemerdekaannya sah dan harta yang telah dibayarkan menjadi utang yang harus segera dibayar oleh orang yang dibebaskan kepada tuannya. Namun, jika kemerdekaannya berasal dari apa yang dipinjamkan oleh muwaddi‘, maka terdapat dua pendapat yang dikemukakan oleh Abu ‘Ali ath-Thabari dalam karyanya al-Ifshāh sebagai kemungkinan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ عِتْقَ الْمُؤَدَّى عَنْهُ قَدْ نَفَذَ وَرِقَّ الْمُؤَدِّي قَدِ اسْتَقَرَّ وَيَكُونُ الْأَدَاءُ دَيْنًا لِلسَّيِّدِ يَرْجِعُ بِهِ عَلَى الْمُعْتَقِ اعْتِبَارًا بِحُكْمِ الْأَدَاءِ وَالْعَجْزِ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak yang dibayarkan untuknya telah sah, dan status perbudakan orang yang membayar telah tetap, serta pembayaran tersebut menjadi utang bagi tuan yang dapat ditagih kepada orang yang dimerdekakan, berdasarkan hukum pembayaran dan ketidakmampuan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يَعْتِقُ الْمُؤَدَّى عَنْهُ بِذَلِكَ الْأَدَاءِ وَيُحْتَسَبُ بِهِ لِلْمُؤَدِّي فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ الْبَاقِي عَلَيْهِ فِي كِتَابَتِهِ عَتَقَ وَأُعِيدَ الْمُؤَدَّى عَنْهُ إِلَى رِقِّهِ وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ أُعِيدَا مَعًا إِلَى الرِّقِّ اعْتِبَارًا بِحَالِ الكسب

Pendapat kedua adalah bahwa orang yang diwakilkan pembayaran untuknya tidak menjadi merdeka dengan pembayaran tersebut, dan pahala pembayaran itu diperhitungkan untuk orang yang membayar. Jika jumlah yang dibayarkan sama dengan sisa tanggungan dalam akad kitabah-nya, maka orang yang membayar menjadi merdeka dan orang yang diwakilkan pembayaran untuknya dikembalikan kepada status budaknya. Namun jika jumlahnya kurang dari sisa tanggungan, maka keduanya dikembalikan bersama-sama kepada status budak, dengan mempertimbangkan keadaan usaha (kegiatan mencari nafkah).

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَعْتِقَ الْمُؤَدِّي وَلَا يَعْتِقَ الْمُؤَدَّى عَنْهُ وَهُوَ عَلَى رِقِّهِ فَلِلْمُؤَدَّى عَنْهُ ثلاثة أحوال

Keadaan keempat adalah apabila orang yang membayar (zakat) dimerdekakan, sedangkan orang yang dibayarkan zakatnya tidak dimerdekakan dan masih dalam status budak. Maka bagi orang yang dibayarkan zakatnya terdapat tiga keadaan.

أحدهما أَنْ يَكُونَ فِي يَدِهِ مَا بَقِيَ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَبَدَلُ مَا اقْتَرَضَ فَيُؤَدِّيهَا وَيَتَحَرَّرُ عتقها بِهَا

Pertama, apabila di tangannya masih ada sisa harta dari akad kitābah dan pengganti dari apa yang ia pinjam, maka ia membayarkannya dan ia pun merdeka karenanya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْجِزَ عَنْ بَاقِي الْكِتَابَةِ وَعَنِ الْقَرْضِ جَمِيعًا فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يُعِيدَهُ إِلَى الرِّقِّ وَيَكُونَ قَرْضُ الْمُؤَدِّي دَيْنًا فِي ذِمَّةِ الْعَبْدِ إِذَا أُعْتِقَ وَأَيْسَرَ رَجَعَ بِهِ عَلَيْهِ

Keadaan kedua adalah apabila ia tidak mampu melunasi sisa pembayaran kitabah maupun meminjam seluruhnya, maka tuannya berhak mengembalikannya kepada status budak, dan pinjaman yang telah dibayarkan oleh pihak yang membantu menjadi utang dalam tanggungan budak tersebut. Jika ia dimerdekakan dan mampu, maka pihak yang membantu dapat menagih utang tersebut kepadanya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ فِي يَدِهِ مَا يَتَصَرَّفُ فِي أَحَدِهَا إِمَّا فِي عِتْقِهِ أَوْ فِي قَرْضِهِ فَيُقَالُ لِلْمُؤَدِّي انْتَظِرْهُ بِقَرْضِكَ حَتَّى يُؤَدِّيَ مَا بِيَدِهِ فِي عِتْقِهِ فَإِنْ أَجَابَ فَعَلَى ذَاكَ وَإِنِ امْتَنَعَ قِيلَ لِلسَّيِّدِ انْتَظِرْهُ بِنَفْسِكَ حَتَّى يُؤَدِّيَ مَا بِيَدِهِ فِي قَرْضِهِ فَإِنْ أَجَابَ فَعَلَى ذَاكَ وَإِنِ امْتَنَعَ أَيْضًا وَتَنَازَعَا الْمَوْجُودَ فَالْمُؤَدِّي الْمُقْرِضُ أَحَقُّ بِهِ مِنَ السَّيِّدِ لِأَمْرَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila seseorang memiliki sesuatu di tangannya yang dapat ia pergunakan untuk salah satunya, baik untuk memerdekakan budak atau untuk membayar utang. Maka dikatakan kepada pihak yang memberikan (utang): “Tunggulah dengan utangmu sampai ia menggunakan apa yang ada di tangannya untuk memerdekakan budak.” Jika ia setuju, maka dilakukan sesuai itu. Namun jika ia menolak, maka dikatakan kepada tuan (budak): “Tunggulah ia dengan dirimu sampai ia menggunakan apa yang ada di tangannya untuk membayar utang.” Jika ia setuju, maka dilakukan sesuai itu. Namun jika ia juga menolak dan keduanya berselisih atas barang yang ada, maka pihak pemberi utang lebih berhak atasnya daripada tuan, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْقَرْضَ دَيْنٌ مُسْتَقِرٌّ فِي الذِّمَّةِ وَمَالَ الْكِتَابَةِ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ فِي الذِّمَّةِ

Salah satunya adalah bahwa qardh merupakan utang yang tetap dalam tanggungan, sedangkan harta kitābah tidak tetap dalam tanggungan.

وَالثَّانِي أَنَّ فِي عَوْدِ الْمُقْرِضِ بِهِ حِفْظًا لِحَقِّهِ وَحَقِّ السَّيِّدِ بِعَوْدِهِ إِلَى رِقِّهِ وَحِفْظُ الْحَقَّيْنِ أَوْلَى مِنْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا بالآخر والله أعلم

Kedua, bahwa dalam kembalinya barang yang dipinjamkan oleh pemberi pinjaman terdapat penjagaan atas haknya dan hak tuan (pemilik budak) dengan kembalinya budak tersebut kepada status perbudakannya, dan menjaga kedua hak tersebut lebih utama daripada mengorbankan salah satunya demi yang lain. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَحَمَّلَ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ الْكِتَابَةَ فَإِنِ اشْتَرَطَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَالْكِتَابَةُ فَاسِدَةٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Tidak boleh sebagian dari mereka menanggung penulisan (akad) atas nama yang lain. Jika hal itu disyaratkan kepada mereka, maka penulisan (akad) tersebut menjadi tidak sah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا كَانَتْ جَمَاعَةً فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ لَمْ يَلْزَمْ ضَمَانُ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ لَا بِالْعَقْدِ وَلَا بِالشَّرْطِ

Al-Mawardi berkata, “Jika terdapat suatu kelompok dalam satu akad, maka tidak wajib bagi sebagian mereka untuk menanggung (tanggungan) sebagian yang lain, baik karena akad maupun karena syarat.”

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ يَلْزَمُ ضَمَانُ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ بِأَصْلِ الْعَقْدِ فَإِنْ شَرَطَ فِي الْعَقْدِ كَانَ أَوْكَدَ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ

Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa wajib adanya penjaminan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain berdasarkan pokok akad. Jika disyaratkan dalam akad, maka hal itu menjadi lebih kuat. Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ ضَمَانَ مَالِ الْكِتَابَةِ لَا يَصِحُّ

Salah satunya adalah bahwa penjaminan harta kitabah tidak sah.

وَالثَّانِي أَنَّ ضَمَانَ الْمُكَاتَبِ لَا يَصِحُّ

Kedua, bahwa penjaminan terhadap mukatab tidak sah.

فَأَمَّا ضَمَانُ مَالِ الْكِتَابَةِ فَلَا يَصِحُّ لِأَمْرَيْنِ

Adapun penjaminan terhadap harta al-kitābah, maka tidak sah karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مِنْ حُكْمِ الضَّمَانِ أَنْ يَلْزَمَ وَمَالَ الْكِتَابَةِ لَيْسَ بِلَازِمٍ

Salah satunya adalah bahwa di antara ketentuan dhamān adalah adanya kewajiban, sedangkan harta yang terkait dengan kitabah tidaklah wajib.

وَالثَّانِي أَنَّ الضَّمَانَ وَثِيقَةٌ فِي لُزُومِ الْعَقْدِ وَالْكِتَابَةَ غَيْرُ لَازِمَةٍ مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ

Kedua, bahwa ḍamān adalah jaminan dalam mengikat akad, sedangkan penulisan (akad) tidaklah wajib dari sisi pihak yang berakad.

وَأَمَّا ضَمَانُ الْمُكَاتَبِ فَلَا يَصِحُّ لِأَمْرَيْنِ

Adapun penjaminan terhadap mukatab, maka tidak sah karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْكِتَابَةَ قَدْ أَوْقَعَتْ حَجْرًا عَلَيْهِ لِسَيِّدِهِ وَضَمَانُ الْمَحْجُورِ عَلَيْهِ لَا يَصِحُّ

Salah satunya adalah bahwa akad kitābah telah menyebabkan adanya pembatasan (ḥajr) terhadap budak tersebut untuk kepentingan tuannya, dan jaminan dari orang yang sedang dikenai pembatasan (maḥjūr ‘alaih) tidaklah sah.

وَالثَّانِي أَنَّ مَا بِيَدِهِ مُسْتَحَقٌّ فِي كِتَابَتِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَصْرِفَهُ فِي غَيْرِهَا وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ نُظِرَ فِي الْكِتَابَةِ فَإِنْ لَمْ يَشْرُطْ فِيهَا ضَمَانَ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَأْخُوذًا بِمَالِ كِتَابَتِهِ لَا غَيْرَ وَإِنْ شَرَطَ فِيهَا السَّيِّدُ ضَمَانَ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ بَطَلَ الشَّرْطُ وَالْكِتَابَةُ لِأَنَّ الشَّرْطَ فِي الْعَقْدِ إِذَا نَافَاهُ أَبْطَلَهُ كَالشُّرُوطِ الْفَاسِدَةِ فِي الْبُيُوعِ

Kedua, bahwa apa yang ada di tangannya adalah hak yang wajib dipenuhi dalam akad kitābah, sehingga tidak boleh dialihkan kepada selainnya. Jika demikian, maka perlu diperhatikan dalam akad kitābah: jika tidak disyaratkan adanya penjaminan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, maka masing-masing dari mereka hanya bertanggung jawab atas harta kitābahnya sendiri, tidak yang lain. Namun, jika tuan mensyaratkan dalam akad kitābah adanya penjaminan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, maka syarat tersebut dan akad kitābahnya menjadi batal, karena syarat dalam akad apabila bertentangan dengannya maka membatalkannya, sebagaimana syarat-syarat fasid dalam jual beli.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الْحَوَالَةُ بِمَا عَلَى الْمُكَاتَبِ فَضَرْبَانِ

Adapun hawālah (pengalihan utang) atas apa yang menjadi tanggungan seorang mukātab, maka terdapat dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ تَكُونَ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ فَيُحِيلَ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِمَا عَلَيْهِ مِنْ نُجُومِ كِتَابَتِهِ فَالْحَوَالَةُ بَاطِلَةٌ لأن الحوالة تكون في الحقوق اللازمة ما عَلَى الْمُكَاتَبِ لَيْسَ بِلَازِمٍ

Salah satunya adalah jika berasal dari pihak tuan, lalu ia mengalihkan (hak) kepada mukatabnya atas kewajiban pembayaran cicilan kitabah yang harus dibayarkan oleh mukatab tersebut. Maka, pengalihan (hawalah) ini batal, karena hawalah hanya berlaku pada hak-hak yang bersifat wajib, sedangkan kewajiban yang ada pada mukatab tidak bersifat wajib.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ مِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ فَيُحِيلَ سَيِّدَهُ بِمَا حَلَّ مِنْ نُجُومِ كِتَابَتِهِ فَتَصِحَّ الْحَوَالَةُ لِأَنَّ دَيْنَ الْمُكَاتَبِ عَلَى غَرِيمِهِ لَازِمٌ فَصَارَتِ الْحَوَالَةُ بدين لازم والله أعلم

Jenis yang kedua adalah apabila berasal dari pihak mukatab, yaitu ketika mukatab mengalihkan (hak) tuannya dengan bagian cicilan yang telah jatuh tempo dari akad kitabahnya. Maka, pengalihan (hawālah) tersebut sah, karena utang mukatab atas pihak yang berutang kepadanya adalah utang yang wajib (lazim), sehingga pengalihan itu terjadi atas utang yang wajib. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَ عَبْدًا كِتَابَةً فَاسِدَةً فَأَدَّى عَتَقَ وَرَجَعَ السَّيِّدُ عَلَيْهِ بِقِيمَتِهِ يَوْمَ عَتَقَ وَرَجَعَ عَلَى السَّيِّدِ بِمَا دَفَعَ فَأَيُّهُمَا كَانَ لَهُ الْفَضْلُ رَجَعَ بِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang melakukan mukātabah dengan seorang budak dengan akad yang rusak, lalu budak itu membayar (tebusan), maka ia menjadi merdeka, dan tuan (pemilik) berhak menuntut nilai budak tersebut pada hari kemerdekaannya, dan budak itu dapat menuntut kembali kepada tuannya atas apa yang telah ia bayarkan. Maka, siapa pun di antara keduanya yang memiliki kelebihan (dalam pembayaran atau nilai), ia berhak mengambil kelebihan tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْعِتْقُ ضَرْبَانِ نَاجِزٌ وَعَلَى صِفَةٍ

Al-Mawardi berkata: “’Itq (pembebasan budak) itu ada dua macam: yang dilakukan secara langsung (najiz) dan yang dilakukan dengan syarat tertentu (’ala shifah).”

فَأَمَّا النَّاجِزُ فَهُوَ مَا كَانَ وُقُوعُهُ مُقْتَرِنًا بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ فَيَقَعُ بَاتًّا لَا رُجُوعَ فِيهِ بَعْدَ نُفُوذِهِ

Adapun pembebasan budak yang langsung (nāgiz) adalah pembebasan yang pelaksanaannya bersamaan dengan ucapan orang yang memerdekakan, sehingga pembebasan itu terjadi secara pasti dan tidak dapat ditarik kembali setelah sah pelaksanaannya.

وَأَمَّا الْمُعَلَّقُ بِصِفَةٍ فَضَرْبَانِ صِفَةٌ مَحْضَةٌ وَصِفَةٌ مُعَاوَضَةٌ

Adapun yang digantungkan pada suatu sifat, maka terbagi menjadi dua: sifat murni dan sifat mu‘āwaḍah (saling memberi imbalan).

فَأَمَّا الصِّفَةُ الْمَحْضَةُ فَكَقَوْلِهِ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ وَإِذَا قَدِمَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ فَإِذَا وُجِدَتِ الصِّفَةُ بِدُخُولِ الدَّارِ وَبِقُدُومِ زَيْدٍ وَقَعَ الْعِتْقُ

Adapun sifat murni adalah seperti ucapannya: “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu merdeka,” dan “Jika Zaid datang, maka kamu merdeka.” Maka apabila sifat itu terwujud dengan masuknya ke rumah dan dengan kedatangan Zaid, terjadilah pembebasan (’itq).

وَهَكَذَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِذَا دَفَعْتَ إِلَيَّ أَلْفَ دِرْهَمٍ فَأَنْتَ حُرٌّ كَانَ عِتْقًا بِصِفَةٍ وَلَمْ يَكُنْ عِتْقَ مُعَاوَضَةٍ وَإِنْ وَقَعَ الْعِتْقُ بِدَفْعِ مَالٍ لِأَنَّ الْمَالَ لِلسَّيِّدِ لَا يَمْلِكُهُ الْعَبْدُ بِهَذَا الْقَوْلِ وَلَا يَمْلِكُ التَّصَرُّفَ لِنَفْسِهِ بِخِلَافِ الْمُكَاتَبِ فَمَتَى دَفَعَ الْأَلْفَ كَامِلَةً عَتَقَ بِهَا لَكِنْ إِنْ قَالَ إِذَا دَفَعْتَ إِلَيَّ أَلْفًا فَأَنْتَ حُرٌّ كَانَ الدَّفْعُ عَلَى الْفَوْرِ فَإِذَا دَفَعَ فِي مَجْلِسِهِ عَتَقَ وَإِنْ تَرَاخَ لَمْ يَعْتِقْ

Demikian pula, jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu menyerahkan seribu dirham kepadaku, maka kamu merdeka,” maka itu merupakan pembebasan dengan syarat, dan bukan pembebasan dengan imbalan, meskipun pembebasan itu terjadi dengan penyerahan harta, karena harta tersebut milik tuan, dan budak tidak memilikinya dengan ucapan ini, serta tidak berhak bertindak untuk dirinya sendiri, berbeda dengan mukatab. Maka, kapan saja budak menyerahkan seribu dirham secara lengkap, ia menjadi merdeka karenanya. Namun, jika tuan berkata, “Jika kamu menyerahkan seribu kepadaku, maka kamu merdeka,” maka penyerahan itu harus segera dilakukan; jika budak menyerahkannya dalam satu majelis, ia menjadi merdeka, tetapi jika ada jeda, maka ia tidak merdeka.

وَإِنْ قَالَ مَتَى دَفَعْتَ إِلَيَّ أَلْفًا فَأَنْتَ حُرٌّ كَانَ دَفْعُهَا عَلَى التَّرَاخِي فَمَتَى دَفَعَهَا عَاجِلًا أَوْ آجِلًا عَتَقَ بِهَا وَإِذَا كَانَ عِتْقُهُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ وَاقِعًا بِدَفْعِ جَمِيعِ الْأَلْفِ فَلَيْسَ هَذَا بِعَقْدِ مُعَاوَضَةٍ يُعْتَبَرُ فِيهِ شُرُوطُ الصِّحَّةِ وَإِنَّمَا يُرَاعَى فِيهِ مَخْرَجُ الْقَوْلِ مِنْ مَالِكٍ جَازَ الْأَمْرُ فَإِذَا عَلَّقَ عِتْقَهُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ تَعَلَّقَ بِهِ سِتَّةُ أَحْكَامٍ

Jika seseorang berkata, “Apabila engkau memberiku seribu (dirham), maka engkau merdeka,” maka penyerahan (uang) tersebut boleh dilakukan secara bertahap, sehingga kapan saja ia menyerahkannya, baik segera maupun nanti, maka ia merdeka karenanya. Dan apabila kemerdekaannya dengan sifat seperti ini terjadi dengan penyerahan seluruh seribu (dirham), maka ini bukanlah akad mu‘āwaḍah (pertukaran) yang disyaratkan padanya syarat-syarat keabsahan, melainkan yang diperhatikan di sini adalah bentuk ucapan dari pemilik (budak). Jika hal itu diperbolehkan, maka sah. Apabila kemerdekaannya digantungkan dengan sifat seperti ini, maka terdapat enam hukum yang berkaitan dengannya.

أَحَدُهَا لُزُومُ حُكْمِهِ لِلسَّيِّدِ وَالْعَبْدِ فَلَا يَجُوزُ لِلسَّيِّدِ فَسْخُهُ وَلَا لِلْعَبْدِ رَفْعُهُ وَلَا أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَى فَسْخِهِ لِأَنَّ الصِّفَاتِ لَا يَلْحَقُهَا فَسْخٌ

Salah satunya adalah wajibnya hukum tersebut berlaku bagi tuan dan hamba, sehingga tidak boleh bagi tuan untuk membatalkannya, tidak pula bagi hamba untuk menghapusnya, dan juga tidak boleh keduanya sepakat untuk membatalkannya, karena sifat-sifat tersebut tidak dapat dibatalkan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يَصِحُّ الْإِبْرَاءُ مِنْ هَذَا الْمَالِ لِأَنَّ الْإِبْرَاءَ مُتَوَجِّهٌ إِلَى مَا فِي الذِّمَّةِ وَهَذَا الْمَالُ غَيْرُ ثَابِتٍ فِي الذِّمَّةِ

Kedua, bahwa tidak sah melakukan pembebasan (ibrā’) dari harta ini, karena pembebasan (ibrā’) ditujukan kepada sesuatu yang ada dalam tanggungan (dzimmah), sedangkan harta ini tidak tetap dalam tanggungan (dzimmah).

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ متى مات السيد بطلت الصفة ولم يعتق الْعَبْدُ بِدَفْعِ الْأَلْفِ إِلَى غَيْرِهِ لِأَنَّهُ لَمْ تُوجَدْ صِفَةُ قَوْلِهِ إِنْ دَفَعْتَ إِلَيَّ

Ketiga, apabila tuan (pemilik budak) meninggal dunia, maka syarat tersebut batal dan budak tidak menjadi merdeka dengan membayar seribu (dirham) kepada selain tuan, karena syarat dari ucapan tuan “jika kamu membayar kepadaku” tidak terpenuhi.

وَالرَّابِعُ أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ بِهَا كَسْبَ نَفْسِهِ وَأَكْسَابُهُ تَكُونُ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَجْرِ بَيْنَهُمَا عَقْدٌ يُوجِبُ تَمَلُّكَ الْكَسْبِ

Keempat, bahwa seorang budak tidak memiliki hasil usahanya sendiri, dan segala hasil usahanya menjadi milik tuannya, karena tidak ada akad antara keduanya yang menyebabkan kepemilikan hasil usaha tersebut.

وَالْخَامِسُ أَنَّ مَا فَضَلَ فِي يَدِ الْعَبْدِ بَعْدَ عِتْقِهِ بِدَفْعِ الْأَلْفِ فَهُوَ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ كَانَ مَالِكًا لَهُ قَبْلَ الْعِتْقِ فَلَمْ يَزُلْ مِلْكُهُ عَنْهُ بِالْعِتْقِ

Kelima, bahwa apa yang tersisa di tangan budak setelah ia dimerdekakan dengan pembayaran seribu (dirham/dinar), maka itu menjadi milik tuannya, karena sebelumnya tuan tersebut adalah pemiliknya sebelum pembebasan, sehingga kepemilikannya tidak hilang darinya hanya karena pembebasan.

وَالسَّادِسُ أَنَّهُ لَا تَرَاجُعَ بَيْنَ السَّيِّدِ وَعَبْدِهِ بَعْدَ الْعِتْقِ لِأَنَّهُ مُعْتَقٌ بِصِفَةٍ لَمْ يَتَضَمَّنْهَا عَقْدُ مُعَاوَضَةٍ

Keenam, tidak ada rujuk antara tuan dan budaknya setelah pembebasan, karena ia telah dimerdekakan dengan suatu sifat yang tidak tercakup dalam akad mu‘āwaḍah (akad pertukaran).

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا صِفَةُ الْمُعَاوَضَةِ فَضَرْبَانِ

Adapun sifat mu‘āwaḍah itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا مَا صَحَّ فِيهِ الْعَقْدُ فَغَلَبَ فِيهِ حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ

Salah satunya adalah apa yang sah di dalamnya akad, sehingga yang dominan di dalamnya adalah hukum mu‘āwaḍah (pertukaran).

وَالثَّانِي مَا فَسَدَ فِيهِ الْعَقْدُ فَغَلَبَ فِيهِ حُكْمُ الصِّفَةِ

Yang kedua adalah akad yang rusak, sehingga hukum sifat lebih dominan padanya.

فَأَمَّا الَّتِي يَصِحُّ فِيهَا الْعَقْدُ فَهِيَ الْكِتَابَةُ الصَّحِيحَةُ قَدْ صَحَّتْ صِفَةً وَمُعَاوَضَةً فَيَغْلِبُ فِيهَا حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ لِأَنَّهَا فِي مَعْنَى الْبَيْعِ وَلِأَنَّهُ لَوْ نَوَى فِي الصِّفَةِ أَنَّهُ مَتَى دَفَعَ الْمَالَ عَتَقَ صَحَّ وَلَوْ تَغَلَّبَتِ الصِّفَةُ لَمْ تُؤَثِّرْ فِيهِ النِّيَّةُ كَمَا لَوْ نَوَى أَنَّهُ مَتَى دَفَعَ إِلَيْهِ عَبْدُهُ أَلْفًا عَتَقَ لَمْ يَعْتِقْ وَيَتَعَلَّقُ بِهَا سِتَّةُ أَحْكَامٍ تُخَالِفُ مَا قَدَّمْنَاهُ

Adapun yang sah di dalamnya akad adalah kitabah shahihah, yang telah sah baik dari segi sifat maupun mu‘awadhah (pertukaran). Maka dalam hal ini, hukum mu‘awadhah lebih dominan karena ia pada hakikatnya seperti jual beli. Sebab, jika dalam sifatnya diniatkan bahwa apabila hamba membayar harta maka ia merdeka, hal itu sah. Namun, jika sifat lebih dominan, niat tidak berpengaruh padanya, seperti jika seseorang berniat bahwa apabila hambanya membayar seribu kepadanya maka ia merdeka, maka hamba itu tidak merdeka. Dan terkait dengan hal ini terdapat enam hukum yang berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya.

أَحَدُهَا لُزُومُ عَقْدِ الْكِتَابَةِ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ لَا يَجُوزُ لَهُ فَسْخُهَا مَا كَانَ الْعَبْدُ مُقِيمًا عَلَى الْأَدَاءِ وَلَيْسَتْ لَازِمَةً مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ لِأَنَّ لَهُ الِامْتِنَاعَ مِنَ الْأَدَاءِ الَّذِي يَعْتِقُ بِهِ وَإِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَيْهِ وَلَا يَمْلِكُ الْفَسْخَ وَإِنْ مَلَكَ الِامْتِنَاعَ لِأَنَّ السَّيِّدَ لَوْ أَنْظَرَهُ بِالْمَالِ عِنْدَ عَجْزِهِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِحَالِهَا فَلَوِ اجتمعا على فسخها صح النسخ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْمُعَاوَضَةِ الْمَوْقُوفَةِ عَلَيْهَا

Salah satunya adalah akad kitābah bersifat mengikat dari pihak tuan, sehingga tidak boleh baginya membatalkannya selama budak tetap melaksanakan pembayaran. Namun, akad ini tidak bersifat mengikat dari pihak budak, karena ia boleh menolak untuk melakukan pembayaran yang menyebabkan kemerdekaannya, meskipun ia mampu melakukannya. Budak tidak memiliki hak membatalkan akad, meskipun ia berhak menolak pembayaran, karena jika tuan memberikan tenggang waktu pembayaran ketika budak tidak mampu, maka akad kitābah tetap berlaku sebagaimana adanya. Namun, jika keduanya sepakat untuk membatalkannya, maka pembatalan itu sah, dengan pertimbangan mengedepankan hukum mu‘āwaḍah yang bergantung padanya.

وَالثَّانِي صِحَّةُ الْإِبْرَاءِ مِنْهَا لِأَنَّ الْمَالَ فِيهَا كَالثَّمَنِ الَّذِي يَصِحُّ الْإِبْرَاءُ مِنْهُ وَيَعْتِقُ بِالْإِبْرَاءِ كَمَا يَعْتِقُ بِالْأَدَاءِ لِسُقُوطِ الْعِوَضِ فِي الْحَالَيْنِ

Kedua, sahnya pembebasan (ibrā’) dari utang tersebut, karena harta di dalamnya seperti harga (tsaman) yang sah untuk dibebaskan darinya, dan budak menjadi merdeka dengan pembebasan sebagaimana ia menjadi merdeka dengan pelunasan, karena gugurnya kompensasi (‘iwadh) pada kedua keadaan tersebut.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ مَتَى مَاتَ السَّيِّدُ لَمْ تَبْطُلِ الْكِتَابَةُ وَقَامَ الْوَارِثُ فِيهَا مَقَامَهُ فَإِذَا أَدَّاهَا الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِ عَتَقَ لِأَنَّهَا مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ لَازِمَةٌ وَالْعُقُودُ اللَّازِمَةُ لَا تَبْطُلُ بِالْمَوْتِ

Ketiga, apabila tuan (pemilik budak) meninggal dunia, maka akad kitābah tidak batal, dan ahli waris menggantikan posisinya. Jika budak mukātab membayarkan (tebusan) kepada ahli waris tersebut, maka ia merdeka, karena akad kitābah dari pihak tuan bersifat mengikat, dan akad-akad yang mengikat tidak batal karena kematian.

وَالرَّابِعُ أن المكاتب قد ملك به كَسْبَهُ قَبْلَ الْأَدَاءِ لِأَنَّ سُلْطَانَ السَّيِّدِ قَدْ زَالَ عَنْهُ وَنَفَقَتَهُ قَدْ سَقَطَتْ عَنْهُ فَصَارَ الْكَسْبُ لِلْمُكَاتَبِ كَمَا صَارَتْ نَفَقَتُهُ عَلَيْهِ

Keempat, bahwa seorang mukatab telah memiliki hasil usahanya sebelum pelunasan, karena kekuasaan tuannya telah hilang darinya dan kewajiban nafkah atasnya telah gugur, sehingga hasil usaha itu menjadi milik mukatab sebagaimana nafkahnya juga menjadi tanggungannya sendiri.

وَالْخَامِسُ أَنَّ مَا فَضَلَ فِي يَدِ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ كَانَ مِلْكًا لَهُ لَا حَقَّ فِيهِ لِلسَّيِّدِ لِأَنَّهُ لَمَّا مَلَكَهُ قَبْلَ الْعِتْقِ فَأَوْلَى أَنْ يَمْلِكَهُ بَعْدَهُ

Kelima, bahwa kelebihan harta yang ada di tangan mukatab setelah ia merdeka karena telah melunasi pembayaran, menjadi miliknya dan tidak ada hak bagi tuannya atas harta tersebut. Sebab, ketika ia telah memilikinya sebelum dimerdekakan, maka lebih utama lagi baginya untuk memilikinya setelah dimerdekakan.

وَالسَّادِسُ أَنْ لَا تَرَاجُعَ بَيْنَهُمَا بَعْدَ الْعِتْقِ لِوُقُوعِهِ عَنْ عِوَضٍ صَحِيحٍ كَالثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ الصَّحِيحِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Keenam, tidak ada rujuk antara keduanya setelah pembebasan, karena talak tersebut terjadi dengan adanya kompensasi yang sah, seperti harga dalam jual beli yang sah. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الَّتِي لَا يَصِحُّ فِيهَا الْعَقْدُ فَهِيَ الْكِتَابَةُ الْفَاسِدَةُ قَدْ جَمَعَتْ صِفَةً وَمُعَاوَضَةً فَالْمُغَلَّبُ فِيهَا حُكْمُ الصِّفَةِ لِأَنَّ قَوْلَهُ قَدْ كَاتَبْتُكَ عَلَى أَلْفٍ مُعَاوَضَةً وَقَوْلَهُ فَإِذَا أَدَّيْتَ إِلَيَّ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ عِتْقٌ بِصِفَةٍ فَإِذَا بَطَلَ الْعِوَضُ الْمُسَمَّى بِأَحَدِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَبْطُلُ بِهَا الْكِتَابَةُ بَقِيَ حُكْمُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ وَتَعَلَّقَ بِهَا سِتَّةُ أَحْكَامٍ قَدْ تُخَالِفُ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَحْكَامِ الْفَصْلَيْنِ وَسَطَّرَ الْمُزَنِيُّ بَعْضَهَا مِنْ بَعْدُ وَنَحْنُ نَسْتَوْفِي شَرْحَهُ عِنْدَ ذِكْرِهِ بَعْدَ الْإِشَارَةِ إِلَى مَا اقْتَضَاهُ جَمِيعُ الْأَحْكَامِ

Adapun akad yang tidak sah di dalamnya adalah kitābah yang fasid, yaitu yang mengandung sifat dan mu‘āwadah sekaligus. Dalam hal ini, hukum yang lebih dominan adalah hukum sifat, karena ucapan “Aku telah melakukan kitābah denganmu atas seribu” merupakan mu‘āwadah, sedangkan ucapan “Jika engkau telah melunasi seluruhnya kepadaku, maka engkau merdeka” adalah ‘itq dengan sifat. Maka, apabila ‘iwadh (imbalan) yang telah disebutkan batal karena salah satu sebab yang membatalkan kitābah, maka yang tersisa adalah hukum ‘itq dengan sifat. Pada hal ini terdapat enam hukum yang mungkin berbeda dengan hukum-hukum yang telah kami sebutkan pada dua bagian sebelumnya, dan sebagian dari hukum tersebut telah dicatat oleh al-Muzani setelahnya. Kami akan menjelaskan secara lengkap ketika menyebutkannya, setelah memberikan isyarat kepada apa yang ditunjukkan oleh seluruh hukum tersebut.

فَأَحَدُ الْأَحْكَامِ السِّتَّةِ أَنَّ الصِّفَةَ الَّتِي يَتَعَلَّقُ بِهَا الْعِتْقُ غَيْرُ لَازِمَةٍ وَلِلسَّيِّدِ إِبْطَالُهَا بِنَفْسِهِ أَوْ بِأَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى الْحَاكِمِ فَيُبْطِلَهَا فَإِنْ وُجِدَتِ الصِّفَةُ بَعْدَ إِبْطَالِهَا بِنَفْسِهِ أَوْ بِحُكْمِ الْحَاكِمِ وَدَفَعَ الْمَالَ الْمُتَعَلِّقَ بِهَا لَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ بِخِلَافِ الصِّفَاتِ الْمَحْضَةِ الَّتِي لَا يَجُوزُ لَهُ إِبْطَالُهَا وَيَقَعُ الْعِتْقُ بِوُجُودِهَا لِأَنَّهُ تَبَرَّعَ بِالْتِزَامِ الْعِتْقِ بِالصِّفَاتِ الْمَحْضَةِ فَلَمْ يَقَعْ إِلَّا بِهَا وَهُوَ فِي هَذِهِ الصِّفَةِ الْمُقْتَرِنَةِ بِالْمُعَاوَضَةِ مُلْتَزِمٌ لَهَا عَلَى شَرْطِ الْعِوَضِ فَإِذَا لَمْ يُسَلِّمْ لَهُ بِالْفَسَادِ بَطَلَ اللُّزُومُ وَصَارَ مَوْقُوفًا عَلَى خِيَارِهِ كَالْعُيُوبِ فِي الْبُيُوعِ وَفَارَقَا حُكْمَ الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ أَيْضًا الَّتِي لَا يَجُوزُ لَهُ فَسْخُهَا لِسَلَامَةِ مَا شَرَطَهُ مِنَ الْعِوَضِ فِيهَا

Salah satu dari enam hukum adalah bahwa sifat yang menjadi dasar terjadinya pembebasan budak (ʿitq) itu tidak bersifat tetap, dan tuan (pemilik budak) boleh membatalkannya sendiri atau dengan mengajukannya kepada hakim sehingga hakim membatalkannya. Jika sifat tersebut muncul kembali setelah dibatalkan oleh tuan sendiri atau dengan keputusan hakim, dan ia telah membayarkan harta yang terkait dengannya, maka pembebasan budak tidak terjadi. Berbeda halnya dengan sifat-sifat murni yang tidak boleh dibatalkan olehnya, sehingga pembebasan budak terjadi dengan adanya sifat-sifat tersebut, karena ia telah secara sukarela berkomitmen untuk membebaskan budak dengan sifat-sifat murni itu, sehingga pembebasan tidak terjadi kecuali dengan sifat-sifat tersebut. Adapun dalam sifat yang disertai dengan muʿāwaḍah (pertukaran/kompensasi), ia berkomitmen terhadapnya dengan syarat adanya kompensasi. Maka jika kompensasi itu tidak diberikan kepadanya karena rusak atau batal, maka kewajiban itu menjadi gugur dan statusnya menjadi tergantung pada pilihannya, seperti cacat dalam jual beli. Hal ini juga berbeda dengan hukum kitābah yang sah, di mana tidak boleh membatalkannya karena syarat kompensasi yang ditetapkan di dalamnya telah terpenuhi.

وَالثَّانِي أَنَّ الْبَرَاءَةَ لَا تَصِحُّ مِنْ هَذَا الْعِوَضِ لِفَسَادِهِ وَأنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي ذِمَّتِهِ فَلَمْ يَصِحَّ الْإِبْرَاءُ مِنْهُ بِخِلَافِ الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ وَجَرَى مَجْرَى قَوْلِهِ إِنْ دَفَعْتَ إِلَيَّ أَلْفًا فَأَنْتَ حُرٌّ ثُمَّ أَبْرَأَهُ لَمْ يَبْرَأْ

Kedua, bahwa pembebasan (bara’ah) tidak sah dari kompensasi ini karena rusaknya (akad tersebut) dan karena kompensasi itu belum tetap menjadi tanggungannya, sehingga pembebasan darinya pun tidak sah, berbeda dengan kitabah yang sah. Hal ini serupa dengan pernyataan: “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu merdeka,” kemudian ia membebaskannya, maka ia tidak menjadi bebas.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ متى مات السيد بطلت الصفة ولم يعتق بِالْأَدَاءِ إِلَى الْوَرَثَةِ

Ketiga, apabila tuan (pemilik budak) meninggal dunia, maka sifat (yang terkait) menjadi batal dan budak tersebut tidak merdeka dengan penyerahan (budak) kepada para ahli waris.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا تَبْطُلُ وَيَعْتِقُ بِالْأَدَاءِ إِلَى الْوَرَثَةِ وَهَذَا فَاسِدٌ من وجهين

Abu Hanifah berkata: “Tidak batal dan menjadi merdeka dengan pelaksanaan (pembayaran) kepada para ahli waris.” Namun, pendapat ini rusak dari dua sisi.

أحدهما أَنَّهَا غَيْرُ لَازِمَةٍ مَا لَمْ يَلْزَمْ مِنَ الْعُقُودِ بِالْمَوْتِ كَمَا تَبْطُلُ الْكِتَابَةُ بِمَوْتِ الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهَا غَيْرُ لَازِمَةٍ مِنْ جِهَتِهِ

Pertama, sesungguhnya akad tersebut tidaklah bersifat mengikat selama belum ada kewajiban dari akad-akad yang menjadi wajib karena kematian, sebagaimana akad kitābah batal dengan wafatnya mukātib, karena akad tersebut tidak mengikat dari pihaknya.

وَالثَّانِي أَنَّ فَسَادَ الْعِوَضِ يُوجِبُ تَغْلِيبَ حُكْمِ الصِّفَةِ

Kedua, bahwa rusaknya ‘iwadh (imbalan) menyebabkan diberlakukannya hukum sifat secara dominan.

وَالسَّيِّدُ إِذَا عَلَّقَ عِتْقَ عَبْدِهِ بِصِفَةٍ بَطَلَ حُكْمُهَا بِمَوْتِهِ كَذَلِكَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ

Dan apabila seorang tuan menggantungkan pembebasan budaknya pada suatu sifat (syarat), maka hukum (pembebasan) itu batal dengan kematiannya; demikian pula halnya dalam kasus kitābah yang rusak.

وَالرَّابِعُ أَنَّ الْمُكَاتَبَ يَمْلِكُ بِهَا كَسْبَ نَفْسِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَلْزَمُ فِيهَا الْعِوَضُ بِوُقُوعِ الْعِتْقِ فَمَلَكَ بِهَا الْكَسْبَ كَالْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ

Keempat, bahwa seorang mukatab memiliki hak atas hasil usahanya sendiri melalui akad tersebut, karena dalam akad itu bisa saja menjadi wajib adanya imbalan dengan terjadinya pembebasan (dari perbudakan), sehingga ia berhak atas hasil usahanya sebagaimana pada akad kitabah yang sah.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ فِي الْبَيْعِ الْفَاسِدِ لَا يَمْلِكُ النَّمَاءَ وَإِنْ مَلَكَهُ فِي الْبَيْعِ الصَّحِيحِ فَهَلَّا كَانَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ كَذَلِكَ قِيلَ الْفَرْقُ الْفَاصِلُ بَيْنَهُمَا وَهُوَ أَنَّ الْمُشْتَرِي لَا يَمْلِكُ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ مَا كَانَ يَمْلِكُهُ فِي الْبَيْعِ الصَّحِيحِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَمْلِكِ النَّمَاءَ فِي الْبَيْعِ الْفَاسِدِ وَمَلَكَهُ فِي الْبَيْعِ الصَّحِيحِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ يَمْلِكُ بِهَا فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ مِنْ عِتْقِ نَفْسِهِ بِالْأَدَاءِ مِثْلَ مَا كَانَ يَمْلِكُهُ فِي الكتابة الصحيحة فذلك مَلَكَ كَسْبَ نَفْسِهِ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ كَمَا يَمْلِكُهُ فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ

Jika dikatakan, “Bukankah dalam jual beli fasid (jual beli yang rusak/tidak sah) seseorang tidak memiliki hak atas hasil (keuntungan/pertumbuhan), sedangkan dalam jual beli sah ia memilikinya? Mengapa dalam kasus kitābah fasid (akad pembebasan budak yang rusak/tidak sah) tidak berlaku demikian?” Maka dijawab, “Perbedaan mendasar antara keduanya adalah bahwa pembeli dalam jual beli fasid tidak memperoleh apa yang ia dapatkan dalam jual beli sah, sehingga ia tidak memiliki hak atas hasil dalam jual beli fasid, sedangkan ia memilikinya dalam jual beli sah. Namun, tidak demikian halnya dengan kitābah, karena seorang mukātab (budak yang melakukan akad kitābah) tetap memperoleh, melalui kitābah fasid, hak untuk memerdekakan dirinya dengan pelunasan, sebagaimana yang ia peroleh dalam kitābah sah. Oleh karena itu, ia tetap memiliki hasil usahanya sendiri dalam kitābah fasid sebagaimana ia memilikinya dalam kitābah sah.”

وَالْخَامِسُ أَنَّ مَا فَضَلَ فِي يَدِ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ عِتْقِهِ مِلْكٌ لَهُ دُونَ سَيِّدِهِ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ عَلَى مِلْكِهِ قَبْلَ عِتْقِهِ

Kelima, bahwa kelebihan harta yang ada di tangan mukatab setelah ia merdeka adalah miliknya sendiri, bukan milik tuannya, karena harta tersebut sudah berada dalam kepemilikannya sebelum ia dimerdekakan.

وَالسَّادِسُ أَنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَعْدَ الْعِتْقِ فَيَرْجِعُ السَّيِّدُ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِقِيمَتِهِ يَوْمَ عَتَقَ وَيَرْجِعُ الْمُكَاتَبُ عَلَى سَيِّدِهِ بِمَا أَدَّاهُ إِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُ قَدِ اسْتَهْلَكَ عِتْقَ نَفْسِهِ عَلَى بَدَلٍ فَاسِدٍ فَصَارَ كَاسْتِهْلَاكِ الْمُشْتَرِي مَا ابْتَاعَهُ بِعَقْدٍ فَاسِدٍ يَلْزَمُهُ قِيمَةُ مَا اسْتَهْلَكَهُ كَذَلِكَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ نُظِرَ فِي الْقِيمَةِ وَمَالِ الْأَدَاءِ فَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ لَمْ يَقَعَا قِصَاصًا وَإِنْ جَازَ أَنْ يَتَنَاوَبَا

Keenam, bahwa keduanya saling menuntut kembali setelah terjadinya ‘itq (pembebasan budak), sehingga tuan dapat menuntut kepada mukatab (budak yang sedang dalam proses pembebasan melalui pembayaran bertahap) sejumlah nilai dirinya pada hari ia merdeka, dan mukatab dapat menuntut kepada tuannya atas apa yang telah ia bayarkan. Hal ini demikian karena ia telah menggunakan kemerdekaan dirinya dengan pengganti yang rusak (tidak sah), sehingga keadaannya seperti pembeli yang telah menggunakan barang yang dibelinya melalui akad yang fasid (rusak/tidak sah), maka ia wajib mengganti nilai barang yang telah digunakannya. Demikian pula dalam kasus kitabah (perjanjian pembebasan budak) yang fasid. Jika demikian, maka dilihat nilai dan harta pembayaran; jika keduanya berasal dari dua jenis yang berbeda, maka tidak berlaku qishash (saling menuntut secara langsung), meskipun boleh saja keduanya saling mengambil secara bergantian.

وَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ فَفِي وُقُوعِ الْقِصَاصِ بَيْنَهُمَا أَرْبَعَةُ أَقَاوِيلَ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى جَمِيعِهَا فِي هَذَا الْكِتَابِ

Jika keduanya berasal dari satu jenis yang sama, maka dalam penerapan qishāsh di antara keduanya terdapat empat pendapat, yang semuanya telah dinyatakan oleh asy-Syāfi‘ī dalam kitab ini.

أَحَدُهَا أَنَّهُ يَقَعُ الْقِصَاصُ بَيْنَهُمَا فِيهِ وَإِنْ لَمْ يَتَرَاضَيَا بِهِ لِعَدَمِ الْفَائِدَةِ فِي تَقَابُضِهِ فَصَارَ كَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ لِوَارِثِهِ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ الْمَيِّتِ بِانْتِقَالِ التَّرِكَةِ إِلَى الْوَارِثِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ بَيْعُهَا فِي دَيْنِهِ لِعَدَمِ الْفَائِدَةِ فِيهِ لِانْتِقَالِ الْعَيْنِ إِلَيْهِ

Salah satunya adalah bahwa qishāsh tetap berlaku di antara keduanya dalam hal ini, meskipun keduanya tidak saling merelakan, karena tidak ada manfaat dalam saling menerima (hak). Maka keadaannya seperti seseorang yang meninggal dunia dan memiliki utang kepada ahli warisnya; tanggungan si mayit menjadi bebas darinya karena harta warisan telah berpindah kepada ahli waris, dan ahli waris tidak berhak menjual harta tersebut untuk melunasi utangnya sendiri, karena tidak ada manfaat di dalamnya sebab barang itu telah berpindah kepadanya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَصِيرُ قِصَاصًا بِرِضَى أَحَدِهِمَا وَإِنْ لَمْ يَرْضَ الْآخَرُ لِأَنَّ مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَهُ قَضَاؤُهُ مِنْ أَيِّ مَالِهِ شَاءَ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَيْنٌ لِصَاحِبِهِ فَكَانَ لَهُ قَضَاؤُهُ مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ دَيْنِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa qishāsh dapat dilakukan dengan kerelaan salah satu dari keduanya, meskipun yang lain tidak rela. Sebab, seseorang yang memiliki utang berhak melunasinya dari harta mana pun yang ia kehendaki, dan masing-masing dari keduanya memiliki utang kepada yang lain, sehingga ia berhak melunasinya dari hartanya atau dari utangnya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّهُ يَصِيرُ قِصَاصًا بِتَرَاضِيهِمَا فَإِنْ أَبَى أَحَدُهُمَا لَمْ يَصِرْ قِصَاصًا كَالْحَوَالَةِ الَّتِي لَا تَتِمُّ إِلَّا بِرِضَى الْمُحِيلِ وَالْمُحْتَالِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa hal itu menjadi qishāsh dengan kerelaan kedua belah pihak; maka jika salah satu dari keduanya menolak, tidak menjadi qishāsh, sebagaimana halnya dengan hawālah yang tidak sempurna kecuali dengan kerelaan pihak yang mengalihkan dan pihak yang menerima pengalihan.

وَالْقَوْلُ الرَّابِعُ أَنَّهُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا وَإِنْ تَرَاضَيَا لِأَنَّهُ يَصِيرُ فِي مَعْنَى بَيْعِ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ وَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ بَيْعِ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ

Pendapat keempat menyatakan bahwa hal itu tidak dianggap sebagai qishāsh, meskipun kedua belah pihak saling merelakan, karena hal tersebut menjadi makna jual beli utang dengan utang, sedangkan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli utang dengan utang.

وَكَمَا لَوْ تَجَانَسَ الْحَقَّانِ وَكَانَا مِنْ غَيْرِ جِنْسِ الْأَثْمَانِ لَمْ يَقَعِ الْقِصَاصُ كَذَلِكَ إِذَا كَانَا مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ

Sebagaimana jika kedua hak tersebut sejenis namun bukan dari jenis atsman (barang yang bernilai tukar seperti emas dan perak), maka qishash tidak berlaku, demikian pula halnya jika keduanya berasal dari jenis atsman.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْأَقَاوِيلُ فَإِنْ قُلْنَا يَكُونُ قِصَاصًا نُظِرَ فِي الْحَقَّيْنِ فَإِنْ تَسَاوَيَا بَرِئَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ حَقِّ صَاحِبِهِ وَإِنْ تَفَاضَلَا سَقَطَ الْأَقَلُّ مِنَ الْأَكْثَرِ وَرُدَّ الْفَاضِلُ فَإِنْ كَانَتِ الْقِيمَةُ أَكْثَرَ رَجَعَ السَّيِّدُ بِالْفَاضِلِ مِنْهَا عَلَى مُكَاتَبِهِ وَإِنْ كَانَ الْأَدَاءُ أَكْثَرَ رَجَعَ الْعَبْدُ بِالْفَاضِلِ مِنْهُ عَلَى سَيِّدِهِ

Setelah pendapat-pendapat ini ditetapkan, maka jika kita katakan bahwa hal itu merupakan qishāsh, maka kedua hak tersebut diperhatikan; jika keduanya seimbang, masing-masing dari mereka terbebas dari hak pihak lainnya. Namun jika terdapat perbedaan, maka yang lebih kecil gugur dari yang lebih besar, dan kelebihan dikembalikan. Jika nilai (barang atau hak) lebih besar, maka tuan mengambil kelebihan tersebut dari mukatabnya. Dan jika pembayaran (yang telah dilakukan) lebih besar, maka budak mengambil kelebihan tersebut dari tuannya.

وَإِنْ قُلْنَا لَا يَكُونُ قِصَاصًا كَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُطَالَبَةُ الْآخَرِ بِمَا عَلَيْهِ فَإِذَا قَبَضَهُ كَانَ مُخَيَّرًا فِي قَضَاءِ مَا عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْمَالِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ

Dan jika kita mengatakan bahwa hal itu bukanlah qishāsh, maka masing-masing dari keduanya berhak menuntut yang lain atas kewajiban yang ada padanya. Apabila ia telah menerima (haknya), maka ia diberi pilihan untuk melunasi kewajibannya dari harta tersebut atau dari harta yang lain.

فَإِنْ قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَا أَدْفَعُ مَا عَلَيَّ حَتَّى أَقْبِضَ مَالِي كَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حَبْسُ مَا لِصَاحِبِهِ عَلَى حَقِّهِ وَلَمْ يَتَرَجَّحْ أَحَدُهَا فِي تَقْدِيمِ الْقَبْضِ لِاسْتِوَائِهِمَا فِي ثُبُوتِ الْحَقَّيْنِ فِي الذِّمَّتَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika masing-masing dari keduanya berkata, “Aku tidak akan membayar kewajibanku sampai aku menerima hakku,” maka masing-masing dari mereka berhak menahan hak milik pihak lain sampai haknya dipenuhi. Tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih berhak untuk didahulukan dalam menerima pembayaran, karena keduanya sama dalam penetapan dua hak dalam tanggungan masing-masing. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَبْطَلَ السَّيِّدُ الْكِتَابَةَ وَأَشْهَدَ عَلَى إِبْطَالِهَا أَوْ أَبْطَلَهَا الْحَاكِمُ ثُمَّ أَدَّاهَا الْعَبْدُ لَمْ يعتق والفرق بين هذا وقوله إن دخلت الدار فأنت حر أن اليمين لا بيع فيها بحال بينه وبينه والكتابة كالبيع الفاسد إذا فات رد قيمته

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika tuan membatalkan akad kitābah dan menghadirkan saksi atas pembatalannya, atau hakim yang membatalkannya, kemudian budak tersebut tetap membayar (tebusan), maka ia tidak merdeka. Perbedaan antara hal ini dan ucapannya, “Jika engkau masuk ke rumah, maka engkau merdeka,” adalah bahwa sumpah tersebut sama sekali tidak mengandung unsur jual beli antara keduanya, sedangkan akad kitābah seperti jual beli fasid (rusak) yang, jika tidak dapat dikembalikan, maka diganti dengan nilainya.

قال الماوردي وهذا فيما قدمناه فِي الْأَحْكَامِ السِّتَّةِ وَقُلْنَا إِنَّ لِلسَّيِّدِ إِبْطَالَ الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ حَتَّى لَا يَعْتِقَ الْعَبْدُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبْطَالُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَإِذَا أَرَادَ السَّيِّدُ إِبْطَالَ الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ كَانَ مُخَيَّرًا بَيْنَ إِبْطَالِهَا بِنَفْسِهِ وَبَيْنَ أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى الْحَاكِمِ حَتَّى يَحْكُمَ بِإِبْطَالِهَا فَإِنْ أَرَادَ إِبْطَالَهَا بِنَفْسِهِ جَازَ أَنْ يُبْطِلَهَا بِمَشْهَدِ الْعَبْدِ وَغَيْبَتِهِ فَيَقُولَ قَدْ أَبْطَلْتُ كِتَابَةَ عَبْدِي أَوْ نَقَضْتُهَا وَفَسَخْتُهَا بِلَفْظٍ مَسْمُوعٍ يَشْهَدُ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ وَلَيْسَتِ الشَّهَادَةُ شَرْطًا فِي إِبْطَالِهَا لِأَنَّهَا وَثِيقَةٌ تُرَادُ لِقَطْعِ التَّجَاحُدِ فَإِنْ نَوَى إِبْطَالَهَا لَمْ تَبْطُلْ لِأَنَّهُ لَا تَأْثِيرَ لِلنِّيَّةِ فِي إِثْبَاتِ عَقْدٍ وَلَا فِي إِبْطَالِهِ وَإِنْ رَفَعَهَا إِلَى الْحَاكِمِ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبْطَالُهَا إِلَّا بَعْدَ ثَبَاتِ فَسَادِهَا عِنْدَهُ وَمَسْأَلَةُ السَّيِّدِ لَهُ أَنْ يُبْطِلَهَا عَلَيْهِ فَيَجُوزُ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَحْكُمَ بِإِبْطَالِهَا وَيَقُومَ ذَلِكَ مَقَامَ إِبْطَالِ السَّيِّدِ لَهَا فَإِنْ حَكَمَ الْحَاكِمُ بِفَسَادِهَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ إِبْطَالًا لَهَا لِفَسَادِهَا قَبْلَ حُكْمِهِ وَإِبْطَالِهَا هُوَ الَّذِي يَرْفَعُ الْعِتْقَ فِيهَا بِالْأَدَاءِ فَإِنْ كَانَ الْمُكَاتَبُ هُوَ الَّذِي سَأَلَ الْحَاكِمَ أَنْ يَحْكُمَ بِبُطْلَانِهَا لَمْ يَكُنْ لِلْحَاكِمِ إِجَابَتُهُ إِلَى ذَلِكَ لِأَنَّهُ حَقٌّ يَخْتَصُّ بِالسَّيِّدِ لَا يَمْلِكُهُ الْمُكَاتَبُ وَإِنَّمَا يَمْلِكُ الِامْتِنَاعَ مِنَ الأداء

Al-Mawardi berkata: “Adapun dalam apa yang telah kami kemukakan pada enam hukum, kami katakan bahwa tuan (sayyid) berhak membatalkan akad kitābah yang rusak, sehingga budak tidak merdeka karenanya dengan pembayaran, meskipun tuan tidak berhak membatalkan kemerdekaan dengan sifat (syarat) sebagaimana telah kami jelaskan perbedaan antara keduanya. Jika tuan ingin membatalkan akad kitābah yang rusak, ia diberi pilihan antara membatalkannya sendiri atau mengajukannya kepada hakim agar hakim memutuskan pembatalannya. Jika ia ingin membatalkannya sendiri, maka boleh baginya membatalkannya di hadapan budak maupun saat budak tidak hadir, dengan mengucapkan, ‘Aku telah membatalkan akad kitābah budakku’ atau ‘Aku telah membatalkannya dan memutusnya’ dengan lafaz yang terdengar dan dapat dijadikan saksi atas dirinya. Persaksian tidak menjadi syarat dalam pembatalannya, karena akad itu hanyalah dokumen yang dimaksudkan untuk mencegah pengingkaran. Jika ia hanya berniat membatalkannya, maka tidak batal, karena niat tidak berpengaruh dalam penetapan atau pembatalan akad. Jika ia mengajukannya kepada hakim, maka hakim tidak boleh membatalkannya kecuali setelah terbukti kerusakannya di hadapan hakim. Permintaan tuan agar hakim membatalkannya, maka saat itu hakim boleh memutuskan pembatalannya, dan hal itu menggantikan pembatalan yang dilakukan tuan. Jika hakim memutuskan kerusakannya, maka itu bukanlah pembatalan, karena kerusakannya sudah ada sebelum keputusan hakim, dan pembatalan itulah yang menghilangkan kemerdekaan budak melalui pembayaran. Jika yang meminta hakim untuk memutuskan pembatalannya adalah mukatab (budak yang melakukan akad kitābah), maka hakim tidak boleh mengabulkan permintaannya, karena itu adalah hak khusus bagi tuan, bukan hak mukatab, dan yang dimiliki mukatab hanyalah hak untuk menolak pembayaran.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ أَدَّى الْفَاسِدَةَ إِلَى الْوَارِثِ لَمْ يَعْتِقْ لِأَنَّهُ لَيْسَ الْقَائِلُ إِنْ أَدَّيْتَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika hamba yang akadnya fasid (tidak sah) diserahkan kepada ahli waris, maka ia tidak menjadi merdeka, karena yang mengatakan ‘Jika engkau aku serahkan, maka engkau merdeka’ itu bukanlah ahli waris.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا مِمَّا دَخَلَ فِي الْأَحْكَامِ السِّتَّةِ وَقُلْنَا إِنْ مَوْتَ السَّيِّدِ يُبْطِلُ الْكِتَابَةَ الْفَاسِدَةَ وَإِنْ لَمْ تَبْطُلْ بِمَوْتِهِ الْكِتَابَةُ الصَّحِيحَةُ فَإِنْ أَدَّى الْعَبْدُ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ إِلَى الْوَارِثِ لَمْ يَعْتِقْ وَإِنْ أَدَّى فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ إِلَى الْوَارِثِ عَتَقَ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: “Ini termasuk dalam enam hukum, dan kami telah mengatakan bahwa kematian tuan membatalkan kitabah yang rusak, sedangkan kitabah yang sah tidak batal dengan kematiannya. Jika budak membayar kepada ahli waris dalam kitabah yang rusak, maka ia tidak merdeka. Namun jika ia membayar dalam kitabah yang sah kepada ahli waris, maka ia merdeka karena dua alasan.”

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا إِذَا صَحَّتْ غَلَبَ فِيهَا حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ وَعَقْدُ الْمُعَاوَضَةِ لَا يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ كَالْبَيْعِ وَالْإِجَارَةِ وَإِذَا فَسَدَتْ غَلَبَ فِيهَا الْعِتْقُ بِالصِّفَةِ وَالْعِتْقُ بِالصِّفَاتِ يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ

Salah satunya adalah bahwa jika akad tersebut sah, maka yang dominan padanya adalah hukum mu‘āwaḍah, dan akad mu‘āwaḍah tidak batal karena kematian, seperti jual beli dan ijarah. Namun jika akad tersebut rusak, maka yang dominan padanya adalah pembebasan budak (itq) dengan sifat, dan pembebasan budak dengan sifat-sifat batal karena kematian.

كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ لَمْ يَعْتِقْ بِدُخُولِهَا بَعْدَ مَوْتِهِ

Sebagaimana jika seseorang berkata kepada hambanya, “Jika engkau masuk ke rumah, maka engkau merdeka,” maka sang hamba tidak menjadi merdeka dengan masuknya ke rumah tersebut setelah tuannya meninggal.

وَالثَّانِي أَنَّهَا لَازِمَةٌ إِذَا صَحَّتْ وَمَا لَزِمَ مِنَ الْعُقُودِ لَا يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ فَإِذَا فَسَدَتْ لَمْ يَلْزَمْ وَمَا لَا يَلْزَمُ مِنَ الْعُقُودِ يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ كَالْوَكَالَةِ وَالْمُضَارَبَةِ

Kedua, bahwa akad tersebut menjadi mengikat apabila telah sah, dan setiap akad yang mengikat tidak batal karena kematian. Maka apabila akad tersebut rusak, tidak menjadi mengikat, dan setiap akad yang tidak mengikat batal karena kematian, seperti wakālah dan muḍārabah.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَخَذَ الْمُكَاتَبُ سَهْمَ الرِّقَابِ فِي الزَّكَاةِ فَأَدَّاهُ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ نَظَرَ فَإِنْ أَدَّاهُ بَعْدَ إِبْطَالِهَا بِمَوْتِهِ أَوْ بِإِبْطَالِهِ لَهَا فِي حَيَاتِهِ اسْتَرْجَعَ سَهْمَ الرِّقَابِ مِنَ السَّيِّدِ لِخُرُوجِ هَذَا الْعَبْدِ مِنْهُمْ فَلَمْ يَسْتَحِقَّ سَهْمَهُمْ وَإِنْ لَمْ تَبْطُلْ كِتَابَتُهُ حَتَّى أَدَّى فِيهَا سَهْمَ الرِّقَابِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ وَفَاءٌ يَعْتِقُ بِهِ اسْتَرْجَعَ مِنَ السَّيِّدِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ وَفَاءٌ يَعْتِقُ بِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ اسْتَرْجَعَ مِنَ السَّيِّدِ وَلَمْ يَعْتِقِ الْعَبْدُ بِهِ لِأَنَّ فَسَادَهَا يُخْرِجُهُ مِنْ جُمْلَةِ الرِّقَابِ وَأَرَى أَنْ لَا يَسْتَرْجِعَ مِنْهُ لِأَنَّهُ يَجْرِي عَلَى فَاسِدِهَا فِي مِلْكِ الِاكْتِسَابِ وَوُقُوعِ الْعِتْقِ بِهِ حُكْمُ الصِّحَّةِ كَذَلِكَ فِي سَهْمِ الرِّقَابِ والله أعلم

Apabila seorang mukatab menerima bagian riqab dari zakat lalu ia membayarkannya untuk akad kitabah yang fasid (rusak), maka perlu dilihat: jika ia membayarkannya setelah akad kitabah itu batal karena kematiannya atau karena ia sendiri membatalkannya saat masih hidup, maka bagian riqab tersebut diambil kembali dari tuannya, karena budak ini telah keluar dari golongan mereka sehingga tidak berhak atas bagian mereka. Namun, jika akad kitabahnya belum batal hingga ia membayarkan bagian riqab untuknya, lalu ternyata jumlah yang dibayarkan tidak cukup untuk memerdekakannya, maka bagian tersebut diambil kembali dari tuannya. Jika jumlahnya cukup untuk memerdekakannya, menurut pendapat Imam Syafi‘i dalam Kitab al-Umm, bagian tersebut tetap diambil kembali dari tuannya dan budak itu tidak menjadi merdeka karenanya, sebab kerusakan akad kitabah mengeluarkannya dari golongan riqab. Namun, menurut pendapat saya, tidak perlu diambil kembali darinya, karena hukum yang berlaku pada akad kitabah yang fasid dalam hal kepemilikan hasil usaha dan terjadinya kemerdekaan adalah sama dengan hukum sahnya, demikian pula dalam hal bagian riqab. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ لَمْ يَمُتِ السَّيِّدُ وَلَكِنَّهُ حُجِرَ عَلَيْهِ أَوْ غُلِبَ عَلَى عَقْلِهِ فَتَأَدَّاهَا مِنْهُ لَمْ يعتق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuan (pemilik budak) tidak meninggal dunia, tetapi ia dikenai ḥajr (pembatasan hak bertindak) atau akalnya hilang, lalu kafarat itu dibayarkan dari hartanya, maka budak tersebut tidak merdeka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً فَجُنَّ السَّيِّدُ أَوْ حُجِرَ عَلَيْهِ بِالسَّفَهِ بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ وَلَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ لَمْ تَبْطُلِ الْكِتَابَةُ الصَّحِيحَةُ لِأَنَّ وُقُوعَ الْحَجْرِ بِالْجُنُونِ وَالسَّفَهِ يُبْطِلُ مَا لَا يَلْزَمُ مِنَ الْعُقُودِ كَالْوِكَالَاتِ وَلَا يُبْطِلُ بِهَا مَا لَزِمَ فَيَصِيرُ بُطْلَانُ الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَاقِعًا مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Al-Mawardi berkata: “Pendapat ini benar, yaitu apabila akad kitābah itu rusak, lalu tuan menjadi gila atau dikenai pembatasan karena kebodohan, maka akad kitābah itu batal dan tidak terjadi pembebasan budak di dalamnya dengan pembayaran. Namun, jika akad kitābah itu sah, maka tidak batal. Sebab, terjadinya pembatasan karena kegilaan dan kebodohan membatalkan akad-akad yang tidak mengikat seperti wakālah, dan tidak membatalkan akad-akad yang mengikat. Maka, batalnya akad kitābah yang rusak itu terjadi dari tiga sisi.”

أَحَدُهَا إِبْطَالُ السَّيِّدِ لَهَا وَالْحَاكِمِ إِنْ سَأَلَهُ

Salah satunya adalah pembatalan oleh tuan terhadapnya, dan juga oleh hakim jika diminta kepadanya.

وَالثَّانِي مَوْتُ السَّيِّدِ

Yang kedua adalah wafatnya tuan (pemilik budak).

وَالثَّالِثُ وُقُوعُ الْحَجْرِ عَلَيْهِ بِجُنُونٍ أَوْ سَفَهٍ

Ketiga, diberlakukannya pembatasan (ḥajr) terhadapnya karena gila atau bodoh (safah).

فَإِذَا بَطَلَتْ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ لَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَكَانَ الْعَبْدُ عَلَى رِقِّهِ وَالْمَالُ الْمُؤَدَّى مِلْكًا لِسَيِّدِهِ

Maka apabila batal dari salah satu dari tiga cara ini, maka pembebasan budak tidak terjadi dengan pelaksanaan tersebut, dan budak tetap dalam status perbudakannya, serta harta yang telah diberikan tetap menjadi milik tuannya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا إِذَا قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ إِنْ أَعْطَيْتَنِي دِينَارًا فَأَنْتَ حُرٌّ ثُمَّ جُنَّ السَّيِّدُ لَمْ يَبْطُلْ مَا عَقَدَهُ مِنْ عِتْقِ عَبْدِهِ بِالدَّيْنَارِ لِأَنَّ هَذَا لَازِمٌ لَيْسَ لِلسَّيِّدِ رَفْعُهُ فَلِذَلِكَ لَمْ يَبْطُلْ بِالْجُنُونِ وَجَرَى مَجْرَى الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ فِي لُزُومِهِ وَبَقَائِهِ بَعْدَ الْجُنُونِ عَلَى حُكْمِهِ وَخَالَفَ حُكْمَ الكتابة الفاسدة من هذا الوجه

Adapun jika seorang tuan berkata kepada budaknya, “Jika kamu memberiku satu dinar, maka kamu merdeka,” kemudian sang tuan menjadi gila, maka perjanjian memerdekakan budaknya dengan satu dinar itu tidak batal. Sebab, hal ini merupakan akad yang mengikat dan sang tuan tidak berhak membatalkannya. Oleh karena itu, akad tersebut tidak batal karena kegilaan, dan hukumnya sama seperti kitabah yang sah dalam hal keharusan dan tetap berlakunya hukum setelah kegilaan. Ini berbeda dengan hukum kitabah yang rusak dari sisi ini.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَ الْعَبْدُ مَخْبُولًا عَتَقَ بِأَدَاءِ الْكِتَابَةِ وَلَا يَرْجِعُ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ بِشَيْءٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak itu kurang waras (tidak sehat akalnya), maka ia tetap merdeka dengan pelunasan akad kitābah, dan tidak ada salah satu dari keduanya yang dapat menuntut sesuatu dari yang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ الْكِتَابَةُ الْفَاسِدَةُ لَا تَبْطُلُ بِجُنُونِ الْعَبْدِ وإن بطلت بجنون السيد فإن جن أو حجر عليه لسنه كَانَ حُكْمُ الْكِتَابَةِ بَاقِيًا يَعْتِقُ بِهَا بِالْأَدَاءِ كَالْعِتْقِ بِالصِّفَةِ

Al-Mawardi berkata: Kitābah yang fasid (tidak sah) tidak batal karena gila yang menimpa budak, meskipun batal jika yang gila adalah tuannya. Jika tuan itu menjadi gila atau dikenai perwalian karena usianya, maka hukum kitābah tetap berlaku; budak tetap merdeka dengan pelunasan (pembayaran), sebagaimana merdeka dengan sifat (syarat tertentu).

وَالْفَرْقُ فِيهَا بَيْنَ جُنُونِهِ وَجُنُونِ السَّيِّدِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Perbedaan dalam hal ini antara kegilaan budak dan kegilaan tuannya terdapat pada dua aspek.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ رَفْعَ الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَإِنْ مَلَكَهُ السَّيِّدُ فَلِذَلِكَ لَا تَبْطُلُ بِجُنُونِ الْعَبْدِ وَإِنْ بَطَلَتْ بِجُنُونِ السَّيِّدِ

Salah satunya adalah bahwa seorang budak tidak memiliki hak untuk membatalkan akad kitabah yang rusak, meskipun tuannya memiliki hak tersebut. Oleh karena itu, akad kitabah tidak batal karena kegilaan budak, meskipun batal jika tuannya yang mengalami kegilaan.

وَالثَّانِي أنَّ وُقُوعَ الْحَجْرِ عَلَى السَّيِّدِ يَمْنَعُ مِنْ جَوَازِ كِتَابَتِهِ فَلِذَلِكَ بَطَلَتْ بِوُقُوعِ الْحَجْرِ عَلَيْهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ حَالَ الْعَبْدِ لِأَنَّ حَجْرَ الرِّقِّ لَا يُؤَثِّرُ فِي كِتَابَتِهِ كَذَلِكَ حُدُوثُ الْحَجْرِ بِجُنُونٍ أَوْ سَفَهٍ لَا يُوجِبُ بُطَلَانَ كِتَابَتِهِ وَإِذَا لَمْ تَبْطُلْ بِجُنُونِ الْعَبْدِ وَسَفَهِهِ فَأَدَّاهَا السَّيِّدُ مِنْهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ عَتَقَ فَأَمَّا التَّرَاجُعُ بِالْقِيمَةِ بَعْدَ وُقُوعِ الْعِتْقِ فَيَنْقَسِمُ حَالُ الْعَبْدِ الْمَجْنُونِ فِي عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Kedua, bahwa terjadinya hajr (pembatasan hak) atas tuan (pemilik budak) mencegah bolehnya melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap), sehingga batalnya mukatabah itu disebabkan oleh terjadinya hajr atas tuan. Tidak demikian halnya pada keadaan budak, karena hajr akibat status perbudakan tidak berpengaruh terhadap mukatabahnya. Demikian pula, terjadinya hajr karena gila atau safah (ketidakdewasaan/ketidakmampuan mengelola harta) tidak menyebabkan batalnya mukatabah. Jika mukatabah tidak batal karena kegilaan atau safah budak, lalu tuan membayarkan (tebusan) dari budak itu dalam keadaan budak tersebut gila, maka budak itu merdeka. Adapun mengenai hak untuk meminta kembali nilai (tebusan) setelah terjadinya kemerdekaan, maka keadaan budak yang gila dalam kemerdekaannya melalui pembayaran terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُكَاتِبَهُ السَّيِّدُ كِتَابَةً صَحِيحَةً ثُمَّ يُجَنَّ الْعَبْدُ فَيُؤَدِّيَ مَالَ كِتَابَتِهِ فِي حَالِ جُنُونِهِ فَهَذَا يُعْتَقُ بِالْأَدَاءِ عَنْ كِتَابَةٍ صَحِيحَةٍ فَلَا تَرَاجُعَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْمُؤَدِّي هُوَ الْمُسْتَحِقُّ بِالْعَقْدِ

Salah satunya adalah apabila tuan membuat perjanjian kitābah yang sah dengan budaknya, kemudian budak tersebut menjadi gila, lalu ia membayar uang kitābahnya dalam keadaan gila, maka budak itu merdeka dengan pembayaran tersebut berdasarkan perjanjian kitābah yang sah, sehingga tidak ada hak untuk saling menarik kembali antara keduanya, karena yang membayar adalah pihak yang berhak berdasarkan akad.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُكَاتِبَ السَّيِّدُ عَبْدَهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ وَيَتَأَدَّاهَا مِنْهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ فَهَذَا لَا يُعْتَقُ بِوُجُودِ الصِّفَةِ وَلَا تَرَاجُعَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْمَجْنُونَ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الْمُعَاوَضَاتِ وَلَا مِمَّنْ يَصِحُّ مِنْهُ ضَمَانُ مَالٍ فَكَانَتِ الْكِتَابَةُ مَعَهُ بَاطِلَةً فَتَجَرَّدَ فِيهَا الْعِتْقُ بِالصِّفَةِ الْمَحْضَةِ وَسَقَطَ فِيهَا حُكْمُ الْبَدَلِ

Bagian kedua adalah apabila seorang tuan melakukan mukātabah dengan hambanya dalam keadaan gila, dan ia (hamba) membayarkan (uang) kepadanya dalam keadaan gila, maka dalam hal ini tidak terjadi pembebasan (hamba) karena adanya sifat tersebut, dan tidak ada saling rujuk di antara keduanya. Sebab, orang gila bukan termasuk pihak yang sah melakukan transaksi, dan bukan pula orang yang sah untuk menjamin harta, sehingga akad mukātabah dengannya menjadi batal. Maka, dalam hal ini, pembebasan (hamba) hanya murni karena sifat semata, dan gugurlah hukum pengganti (uang) di dalamnya.

وَهَذَانِ الْقِسْمَانِ لَا اخْتِلَافَ فِيهِمَا أَنْ لَا تَرَاجُعَ بَيْنَ السَّيِّدِ وَعَبْدِهِ بَعْدَ عِتْقِهِ بِأَدَائِهِ

Dua bagian ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya bahwa tidak ada rujuk antara tuan dan budaknya setelah budak itu dimerdekakan dengan pelunasannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ مَسْطُورُ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يُكَاتِبَهُ فِي حَالِ الصِّحَّةِ كِتَابَةً فَاسِدَةً ثُمَّ يُجَنَّ الْعَبْدُ فَيَتَأَدَّاهَا السَّيِّدُ مِنْهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ وَيَعْتِقَ بِهَا عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ

Bagian ketiga, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam permasalahan ini, adalah apabila tuannya menulis surat pembebasan kepada budaknya dalam keadaan sehat dengan penulisan yang tidak sah, kemudian budak tersebut menjadi gila, lalu tuannya menerima pembayaran dari budak itu dalam keadaan budak tersebut sedang gila, maka budak itu merdeka karenanya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

فَقَدْ نَقَلَ الْمُزَنِيُّ هَاهُنَا أَنَّهُ لَا يَرْجِعُ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحَبِهِ بِشَيْءٍ وَنَقَلَ الرَّبِيعُ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّ السَّيِّدَ يَرْجِعُ عَلَى عَبْدِهِ بَعْدَ إِفَاقَتِهِ بِقِيمَتِهِ وَيَرْجِعُ الْعَبْدُ عَلَى سَيِّدِهِ بِمَا تَأَدَّاهُ فِي حَالِ جُنُونِهِ وَيَكُونُ الْقِصَاصُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ هَذَيْنِ النَّقْلَيْنِ عَلَى ثَلَاثَةِ طُرُقٍ

Al-Muzani telah meriwayatkan di sini bahwa tidak ada salah satu dari keduanya yang dapat menuntut sesuatu dari yang lain. Sedangkan Ar-Rabi‘ meriwayatkan dalam Kitab al-Umm bahwa tuan dapat menuntut budaknya setelah siuman dengan nilai budak tersebut, dan budak dapat menuntut tuannya atas apa yang telah ia bayarkan dalam keadaan gila, dan qishāsh berlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Maka, para sahabat kami berbeda pendapat mengenai perbedaan dua riwayat ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa hal itu dimaknai sebagai perbedaan antara dua pendapat.

أحدهما لا يتراجعان على نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ لِأَنَّ مَا اسْتَهْلَكَهُ الْمَجْنُونُ عَنْ مُعَاوَضَةٍ فَاسِدَةٍ لَمْ يَضْمَنْهُ كَالْمَجْنُونِ إِذَا اشْتَرَى وَتَسَلَّمَ مَا اشْتَرَى فَاسْتَهْلَكَهُ لَمْ يَضْمَنْهُ وَلَوْ كَانَ عَاقِلًا ضَمِنَهُ فَكَذَلِكَ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ

Salah satunya adalah bahwa keduanya tidak saling menuntut kembali, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani, karena apa yang dikonsumsi oleh orang gila dari suatu transaksi yang rusak, maka ia tidak menanggungnya, seperti halnya orang gila jika membeli dan menerima barang yang dibelinya lalu menghabiskannya, maka ia tidak menanggungnya. Jika ia berakal, maka ia wajib menanggungnya. Demikian pula halnya dalam kasus kitabah yang rusak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَتَرَاجَعَانِ الْقِيمَةَ عَلَى مَا نَقَلَهُ الرَّبِيعُ لِوُقُوعِ الْعِتْقِ عَنْ كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ وَجُنُونُهُ فِي الْأَدَاءِ كَالصِّحَّةِ فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ بِمَثَابَتِهِ فِي الْغُرْمِ فَهَذِهِ طَرِيقَةُ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنْ أَصْحَابِنَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya saling menuntut nilai (harga) menurut riwayat dari ar-Rabi‘, karena terjadinya pembebasan budak (ʿitq) berasal dari akad kitābah yang rusak, dan kegilaan (majikan) saat pembayaran dianggap seperti keadaan sehat dalam terjadinya pembebasan budak, sehingga wajib hukumnya untuk diperlakukan sama dalam hal tanggungan (ganti rugi). Inilah metode para ulama terdahulu dari kalangan mazhab kami.

وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ طَرِيقَةُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ اخْتِلَافَ النَّقْلِينَ مَحْمُولٌ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ فَنَقَلَ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُمَا لَا يَتَرَاجَعَانِ مَحْمُولٌ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ الْعَبْدُ مَجْنُونًا فِي حَالِ الْكِتَابَةِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْقِسْمِ الثَّانِي وَنَقْلُ الرَّبِيعِ فِي وُجُوبِ التَّرَاجُعِ بَيْنَهُمَا مَحْمُولٌ عَلَى الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ إِذَا طَرَأَ الْجُنُونُ بَعْدَهَا فِي حَالِ الْأَدَاءِ

Cara kedua, yaitu metode Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah, adalah bahwa perbedaan riwayat dibawa pada perbedaan dua keadaan. Riwayat al-Muzani bahwa keduanya tidak saling mengembalikan (hak) dibawa pada keadaan apabila budak tersebut gila pada saat penulisan, sebagaimana telah kami sebutkan pada bagian kedua. Adapun riwayat ar-Rabi‘ tentang wajibnya saling mengembalikan antara keduanya dibawa pada penulisan yang rusak apabila kegilaan itu muncul setelahnya pada saat pelaksanaan.

وَالطَّرِيقَةُ الثَّالِثَةُ وَهِيَ طَرِيقَةُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ أَنَّ نَقْلَ الرَّبِيعِ وَهُوَ الصَّحِيحُ فِي وُجُوبِ التَّرَاجُعِ وَنَقْلَ الْمُزَنِيِّ خَطَأٌ لِأَنَّهُ زَادَ فِيهِ لَا سَهْوًا مِنْهُ

Cara ketiga, yaitu cara Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, bahwa riwayat al-Rabi‘—dan inilah yang benar—menyatakan wajibnya saling mengembalikan (pendapat), sedangkan riwayat al-Muzani adalah keliru karena ia menambahkan di dalamnya, bukan karena lupa darinya.

وَهَذَا التَّوَهُّمُ مِنْ أَبِي الْعَبَّاسِ هُوَ السَّهْوُ لِأَنَّ وَضْعَ الْكَلَامِ مَبْنِيٌّ عَلَى تَصْحِيحِهِ بِإِثْبَاتٍ لِأَنَّهُ قَالَ وَلَا يَرْجِعُ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ بِشَيْءٍ نَفْيًا لِعُمُومِ الرُّجُوعِ وَلَوْ أَرَادَ إِثْبَاتَ الرُّجُوعِ لَقَالَ وَيَرْجِعُ السَّيِّدُ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِالْقِيمَةِ فَعُلِمَ فَسَادُ مَا تَوَهَّمَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ وَصِحَّةُ مَا نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ لِصِحَّةِ نَظْمِ الْكَلَامِ عَلَيْهِ والله أعلم

Anggapan keliru dari Abu al-‘Abbas ini merupakan kekeliruan, karena susunan pembicaraan didasarkan pada penegasannya dengan penetapan, sebab ia berkata: “Dan tidak ada salah satu dari keduanya yang dapat menuntut kepada yang lain sesuatu pun,” sebagai penafian terhadap keumuman penuntutan kembali. Seandainya ia bermaksud menetapkan adanya penuntutan kembali, tentu ia akan berkata: “Dan tuan dapat menuntut kepada mukatabnya dengan nilai (barang tersebut).” Maka, jelaslah rusaknya apa yang disangka oleh Abu al-‘Abbas dan benarnya apa yang dinukil oleh al-Muzani, karena benar susunan pembicaraan tersebut atas dasar itu. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَتْ كِتَابَةً صَحِيحَةً فَمَاتَ السَّيِّدُ وَلَهُ وَارِثَانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا إِنَّ أَبَاهُ كَاتَبَهُ وَأَنْكَرَ الْآخَرُ وَحَلَفَ مَا عَلِمَ أَنَّ أَبَاهُ كَاتَبَهُ كَانَ نِصْفُهُ مُكَاتَبًا وَنَصِفُهُ مَمْلُوكًا يَخْدِمُ يَوْمًا وَيُخَلَّى يَوْمًا وَيَتَأَدَّى مِنْهُ الْمُقِرُّ نِصْفَ كُلِّ نَجْمٍ لَا يَرْجِعُ بِهِ أَخُوهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَتَقَ لَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ إِنَّمَا أَقَرَّ أَنَّهُ عَتَقَ بِشَيْءٍ فَعَلَهُ أَبُوهُ وَإِنْ عَجَزَ رَجَعَ رَقِيقًا بَيْنَهُمَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika akad mukātabah itu sah, lalu tuannya meninggal dunia dan ia memiliki dua ahli waris, kemudian salah satu dari keduanya berkata bahwa ayahnya telah melakukan mukātabah dengannya, sedangkan yang lain mengingkarinya dan bersumpah bahwa ia tidak mengetahui ayahnya telah melakukan mukātabah dengannya, maka separuh dirinya menjadi mukātab dan separuhnya lagi tetap sebagai budak; ia melayani sehari dan dibiarkan bebas sehari, dan pihak yang mengakui membayar setengah dari setiap cicilan (najm), dan saudaranya tidak dapat menuntut bagian itu darinya. Jika ia merdeka, maka tidak dikenakan penilaian harga atasnya, karena ia hanya mengakui bahwa ia merdeka karena sesuatu yang dilakukan oleh ayahnya. Namun, jika ia tidak mampu (membayar), maka ia kembali menjadi budak milik keduanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي عَبْدٍ مَاتَ سَيِّدُهُ وَخَلَّفَ ابْنَيْنِ فَادَّعَى الْعَبْدُ أَنَّ أَبَاهُمَا كَاتَبَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ عَلَى مَا ذَكَرَهُ فِي نُجُومٍ وَصَفَهَا فَلَا يَخْلُو حَالُ الاثنين من ثلاثة أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah pada seorang budak yang tuannya meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak laki-laki. Lalu budak tersebut mengaku bahwa ayah mereka telah melakukan mukātabah dengannya sebelum wafatnya, sesuai dengan yang disebutkan dalam beberapa pembayaran (nujūm) yang ia jelaskan. Maka, keadaan kedua anak itu tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يُصَدِّقَاهُ فَيَصِيرَ مُكَاتَبًا مِنْ أَبِيهِمَا فَإِنْ أَدَّى إِلَيْهِمَا عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِلْأَبِ يَنْتَقِلُ إِلَيْهِمَا بِالْإِرْثِ وَإِنْ عَجَزَ رَقَّ وَصَارَ عَبْدًا لَهُمَا

Salah satunya adalah apabila keduanya membenarkannya, sehingga ia menjadi mukatab dari ayah mereka. Jika ia melunasi (pembayaran) kepada keduanya, maka ia merdeka dan wala’-nya menjadi milik ayah, yang kemudian berpindah kepada keduanya melalui warisan. Namun jika ia tidak mampu (melunasi), maka ia kembali menjadi budak dan menjadi milik keduanya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُكَذِّبَاهُ فَيَكُونَ الْقَوْلُ قَوْلَهُمَا بِاللَّهِ إِنَّهُمَا لَا يَعْلَمَانِ أن أباهما كاتبه لأنه يَمِينٌ عَلَى نَفْيِ فِعْلِ الْغَيْرِ فَكَانَتْ عَلَى الْعِلْمِ دُونَ الْبَتِّ

Keadaan kedua adalah apabila keduanya (saksi) mendustakannya (orang yang mengaku), maka yang dipegang adalah perkataan keduanya dengan sumpah bahwa keduanya tidak mengetahui bahwa ayah mereka telah menulisnya, karena ini adalah sumpah untuk menafikan perbuatan orang lain, sehingga sumpah tersebut didasarkan pada pengetahuan, bukan pada kepastian mutlak.

فَإِنْ نَكَلَا عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْمُكَاتَبِ وَحَلَفَ عَلَى الْبَتِّ بِاللَّهِ لَقَدْ كَاتَبَهُ أَبُوهُمَا عَلَى مَا ادَّعَاهُ مِنَ الْمَالِ وَالنُّجُومِ وَثَبَتَتْ كِتَابَتُهُ وَإِنْ نَكَلَ الْمُكَاتَبُ كَانَ عَلَى رِقِّهِ

Jika keduanya (ahli waris) enggan bersumpah, maka hak dikembalikan kepada mukatab, dan ia bersumpah dengan sumpah tegas demi Allah bahwa benar ayah mereka telah melakukan mukatabah kepadanya atas harta dan cicilan yang ia klaim, dan dengan demikian penetapan mukatabahnya menjadi sah. Namun jika mukatab yang enggan bersumpah, maka ia tetap berstatus budak.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُصَدِّقَهُ أَحَدُهُمَا وَيُكَذِّبَهُ الْآخَرُ فَتَصِيرَ حِصَّةُ الْمُصَدِّقِ مِنْهُ وَهِيَ النِّصْفُ مُكَاتَبًا وَيَحْلِفَ الْمُكَذِّبُ عَلَى الْعِلْمِ وَتَكُونَ حِصَّتُهُ وَهِيَ النِّصْفُ رِقًّا وَإِنَّمَا لَزِمَتِ الْكِتَابَةُ فِي حِصَّةِ الْمُصَدِّقِ بِإِقْرَارِهِ لِأَنَّهُ أَقَرَّ بِحَقٍّ عَلَيْهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ خِيَارٌ فِيهِ يَسْتَضْرُّ بِهِ وَلَا يَنْتَفِعُ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَأْخُوذًا بِهِ

Keadaan ketiga adalah apabila salah satu dari mereka membenarkannya dan yang lain mendustakannya, maka bagian orang yang membenarkan darinya, yaitu setengah, menjadi mukatab, dan orang yang mendustakan bersumpah atas pengetahuannya, sehingga bagiannya, yaitu setengah, tetap sebagai budak. Kewajiban kitabah pada bagian orang yang membenarkan itu terjadi karena pengakuannya, sebab ia telah mengakui suatu hak atas dirinya yang tidak ada pilihan baginya di dalamnya, yang ia tidak dirugikan dan tidak pula diuntungkan, maka wajib untuk diambil berdasarkan pengakuannya itu.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ تَصِحُّ كِتَابَةُ بَعْضِهِ وَهُوَ لَوْ كَانَ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ لَمْ يَكُنْ لِأَحَدِهِمَا مُكَاتَبَةُ حِصَّتِهِ بِغَيْرِ إِذْنِ شَرِيكِهِ وَفِي جَوَازِهَا بِإِذْنِهِ قَوْلَانِ فَهَلَّا كَانَ كَذَلِكَ فِي الْإِقْرَارِ

Jika dikatakan: Bagaimana mungkin sah melakukan mukātabah atas sebagian budak, padahal jika budak itu dimiliki oleh dua orang yang berserikat, maka salah satu dari mereka tidak boleh melakukan mukātabah atas bagiannya tanpa izin dari rekannya, dan dalam kebolehannya dengan izin rekannya terdapat dua pendapat. Mengapa hal itu tidak berlaku pula dalam pengakuan?

قِيلَ لِأَنَّ كِتَابَةَ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ عَنْ غَيْرِ اخْتِيَارِ صَاحِبِهِ قُصِدَ بِهَا تَبْعِيضُ أَحْكَامِ الْعَبْدِ مَعَ الضَّرَرِ الدَّاخِلِ عَلَى شَرِيكِهِ فَمُنِعَ وَلَيْسَ كَذَلِكَ فِي مَسْأَلَتِنَا إِذَا صَدَّقَ أَحَدُ الِاثْنَيْنِ لِأَنَّهُ إِقْرَارٌ مِنْهُ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ لَمْ يَبْتَدِئْ فِيهِ تَبْعِيضُ الْأَحْكَامِ وَإِدْخَالُ الضَّرَرِ فَكَانَ إِقْرَارُهُ مَاضِيًا فَإِذَا نَفَذَ إِقْرَارُ الْمُصَدِّقِ في حقهنظر فَإِنْ كَانَ عَدْلًا جَازَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى أَخِيهِ بِالْكِتَابَةِ مَعَ عَدْلٍ آخَرَ لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ لَا يَجُرُّ بِهَا نَفْعًا وَلَا يَدْفَعُ به عَنْ نَفْسِهِ ضَرَرًا فَقُبِلَتْ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ فِيهِ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ وَلَا بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ يُقْصَدُ بِهَا الْعِتْقُ فَلَمْ تَثْبُتْ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ فَإِذَا شَهِدَ الْآخَرُ مَعَ غَيْرِهِ صَارَتْ حِصَّةُ الْمُكَذِّبِ مُكَاتَبَةً وَكَمَلَتْ كِتَابَةُ جَمِيعِ الْعَبْدِ فَيُؤْخَذُ بِالْأَدَاءِ إِلَيْهِمَا وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُصَدِّقُ عَدْلًا أَوْ كَانَ عَدْلًا فَلَمْ يُوجَدْ غَيْرُهُ شَاهِدًا حَلَفَ الْمُكَذِّبُ عَلَى حِصَّتِهِ وَرَقَّتْ

Dikatakan bahwa penulisan oleh salah satu dari dua sekutu tanpa persetujuan rekannya dimaksudkan untuk memisahkan sebagian hukum-hukum budak dengan menimbulkan kerugian bagi sekutunya, maka hal itu dilarang. Namun, hal ini tidak berlaku dalam permasalahan kita jika salah satu dari keduanya membenarkan, karena itu merupakan pengakuan atas kewajiban yang harus ia tunaikan, dan tidak dimulai dari situ pemisahan hukum maupun penimbulan kerugian. Maka pengakuannya tetap berlaku. Jika pengakuan orang yang membenarkan itu sah terhadap hak mereka, maka diperiksa: jika ia adalah seorang yang adil, boleh baginya untuk bersaksi atas saudaranya dengan penulisan bersama seorang adil lainnya, karena itu adalah kesaksian yang tidak mendatangkan manfaat baginya dan tidak pula menolak bahaya dari dirinya, sehingga diterima. Tidak boleh memutuskan perkara ini dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, atau dengan satu saksi dan sumpah, karena ini adalah bukti yang dimaksudkan untuk memerdekakan, sehingga tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi laki-laki. Jika yang lain bersaksi bersama orang lain, maka bagian orang yang mengingkari menjadi mukatabah dan penulisan seluruh budak pun sempurna, sehingga pembayaran diambil dari keduanya. Jika yang membenarkan bukan orang yang adil, atau ia adil namun tidak ditemukan saksi lain, maka yang mengingkari bersumpah atas bagiannya dan budak itu tetap berstatus budak.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا صَارَ نِصْفُ الْعَبْدِ مُكَاتَبًا بِإِقْرَارِ الْمُصَدِّقِ وَنَصِفُهُ مَرْقُوقًا بِيَمِينِ الْمُكَذِّبِ مَلَكَ الْعَبْدُ نِصْفَ كَسْبِهِ بِمَا فِيهِ مِنَ الْكِتَابَةِ وَعَلَيْهِ نِصْفُ نَفَقَتِهِ وَمَلَكَ الْمُكَذِّبُ نِصْفَ كَسْبِهِ بِمَا لَهُ فِيهِ مِنْ رِقٍّ وَعَلَيْهِ نِصْفُ نَفَقَتِهِ ثم للمكذب والعبد ثلاثة أَحْوَالٍ

Jika separuh budak menjadi mukatab berdasarkan pengakuan pihak yang membenarkan, dan separuhnya lagi tetap sebagai budak murni (marquq) berdasarkan sumpah pihak yang mengingkari, maka budak tersebut memiliki separuh hasil usahanya sesuai dengan bagian yang menjadi mukatab, dan ia wajib menanggung separuh nafkahnya. Sedangkan pihak yang mengingkari memiliki separuh hasil usaha budak itu sesuai dengan bagian yang masih menjadi budak, dan ia juga wajib menanggung separuh nafkahnya. Setelah itu, bagi pihak yang mengingkari dan bagi budak terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى الْمُهَايَأَةِ لِيَكْتَسِبَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ يَوْمًا وَعَلَيْهِ نَفَقَتُهُ فِيهِ وَيَكْتَسِبَ لِلْمُكَذِّبِ يَوْمًا وَعَلَيْهِ نَفَقَتُهُ فِيهِ فَهَذَا جَائِزٌ وَيَنْفَرِدَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِكَسْبِ يَوْمِهِ وَالْتِزَامِ النَّفَقَةِ فِيهِ

Salah satunya adalah kedua pihak sepakat untuk melakukan muhayā’ah, yaitu agar budak memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri pada satu hari dan ia menanggung nafkahnya pada hari itu, lalu pada hari berikutnya budak tersebut memperoleh penghasilan untuk pihak yang lain dan ia juga menanggung nafkahnya pada hari itu. Hal ini diperbolehkan, dan masing-masing dari keduanya berhak secara eksklusif atas penghasilan pada harinya serta berkewajiban menanggung nafkah pada hari tersebut.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى الِاشْتِرَاكِ فِي الْكَسْبِ وَالْتِزَامِ النَّفَقَةِ فَيَجُوزَ وَيَكُونَ النِّصْفُ مِنْ كَسْبِ الْعَبْدِ لِنَفْسِهِ مَعَ الْتِزَامِ النِّصْفِ مِنْ نَفَقَتِهِ وَالنِّصْفُ الْآخَرُ لِلْمُكَذِّبِ مَعَ الْتِزَامِ النِّصْفِ مِنَ النَّفَقَةِ

Keadaan kedua adalah apabila keduanya sepakat untuk berbagi dalam hasil usaha dan menanggung nafkah, maka hal itu diperbolehkan. Separuh dari hasil usaha budak menjadi milik budak itu sendiri dengan kewajiban menanggung separuh nafkahnya, dan separuh lainnya menjadi milik orang yang menanggung (nafkah) dengan kewajiban menanggung separuh nafkahnya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَدْعُوَ أَحَدُهُمَا إِلَى الْمُهَايَأَةِ وَيَمْتَنِعَ الْآخَرُ مِنْهَا فَالْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ الْمُمْتَنِعِ لِأَنَّ حَقَّهُ مُعَجَّلٌ فِي الْكَسْبِ فَلَمْ يَلْزَمْهُ تَأْخِيرُهُ بِالْمُهَايَأَةِ

Keadaan ketiga adalah apabila salah satu dari keduanya mengajak untuk melakukan muhayā’ah, namun yang lain menolaknya, maka pendapat yang diikuti adalah pendapat orang yang menolak, karena haknya untuk memperoleh hasil adalah segera, sehingga ia tidak wajib menundanya dengan muhayā’ah.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَمْرُهُ فِي الْكَسْبِ عَلَى مَا وَصَفْنَا مِنْ مُهَايَأَةٍ أَوِ اشْتِرَاكٍ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Maka apabila telah tetap urusannya dalam mencari penghasilan sebagaimana yang telah kami jelaskan, baik melalui muhayā’ah (pembagian waktu atau manfaat) maupun isytirāk (kerja sama/kemitraan), maka keadaannya tidak lepas dari salah satu dari dua hal.

إِمَّا أَنْ يُؤَدِّيَ فَيَعْتِقَ أَوْ يَعْجِزَ فَيَرِقَّ

Yaitu, apakah ia mampu membayar lalu menjadi merdeka, atau ia tidak mampu sehingga tetap menjadi budak.

فَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ صَارَ جَمِيعُهُ مَرْقُوقًا وَمَا أَخَذَهُ الْمُصَدِّقُ مِنْ أَدَائِهِ الَّذِي لَمْ يُعْتَقْ بِهِ يَكُونُ مُخْتَصًّا بِهِ لَا حَقَّ فِيهِ لِأَخِيهِ الْمُكَذِّبِ لِأَنَّهُ قَدْ أَخَذَ مِنْ ذَلِكَ الْكَسْبِ مَا قَابَلَ حَقَّهُ وَإِنْ أَدَّى وَعَتَقَ صَارَ نِصْفُهُ حُرًّا وَنِصْفُهُ مَمْلُوكًا وَلَا يُقَوَّمُ عَلَى الْمُصَدِّقِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا لِأَنَّهُ لَمْ يَسْتَأْنِفِ الْعِتْقَ وَإِنَّمَا الْتَزَمَ فِعْلَ غَيْرِهِ فِيهِ فَصَارَ كَعَبْدٍ ادَّعَى بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ فَصَدَّقَهُ أَحَدُ ابْنَيْهِ وَكَذَّبَهُ الْآخَرُ عُتِقَتْ حِصَّةُ الْمُصَدِّقِ وَلَمْ تُقَوَّمْ عَلَيْهِ حِصَّةُ الْمُكَذِّبِ ثُمَّ الْكَلَامُ بَعْدَ نُفُوذِ الْعِتْقِ فِي نِصْفِهِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Jika ia tidak mampu dan menjadi budak, maka seluruh dirinya menjadi budak. Apa yang diambil oleh petugas zakat dari bagian pembayaran yang tidak menyebabkan kemerdekaan, itu menjadi hak khusus baginya, dan tidak ada hak bagi saudaranya yang mendustakan, karena ia telah mengambil dari penghasilan itu sesuai dengan haknya. Jika ia membayar dan menjadi merdeka, maka setengah dirinya menjadi merdeka dan setengahnya lagi tetap menjadi budak, dan tidak wajib menebus bagian petugas zakat, meskipun ia mampu, karena ia tidak memulai pembebasan, melainkan hanya melakukan tindakan orang lain atas dirinya. Maka keadaannya seperti seorang budak yang setelah tuannya meninggal mengaku bahwa tuannya telah memerdekakannya, lalu salah satu dari dua anaknya membenarkan dan yang lain mendustakan; maka bagian anak yang membenarkan menjadi merdeka, dan bagian anak yang mendustakan tidak wajib ditebus darinya. Kemudian pembahasan setelah kemerdekaan berlaku pada setengah dirinya mencakup dua bagian.

أَحَدُهُمَا فِي الْوَلَاءِ

Salah satunya dalam masalah walā’.

وَالثَّانِي فِي الْمِيرَاثِ

Dan yang kedua dalam (masalah) waris.

فَأَمَّا الْوَلَاءُ فِي النِّصْفِ الَّذِي انْعَتَقَ فَيَكُونُ لِلْأَبِ لِأَنَّهُ عَتَقَ عَنْ كِتَابَتِهِ وَهَلْ يَنْفَرِدُ بِهِ الْمُصَدِّقُ أَوْ يَكُونُ بَيْنَهُمَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun hak wala’ pada separuh yang telah merdeka, maka itu menjadi milik ayah karena kemerdekaan tersebut terjadi melalui kitabah-nya. Apakah hak itu hanya dimiliki oleh pihak yang membebaskan, ataukah menjadi milik bersama antara keduanya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ يَكُونُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّهُ وَلَاءٌ مِلْكُهُ لِلْأَبِ فَانْتَقَلَ عَنْهُ فَوَجَبَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ ابْنَاهُ وَلَا يَخْتَصَّ بِهِ أَحَدُهُمَا كَمَا لَوْ تَحَرَّرَ عِتْقُ جَمِيعِهِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang tampak dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa hak itu menjadi milik bersama antara keduanya, karena itu adalah wala’ yang kepemilikannya ada pada ayah, kemudian berpindah darinya, sehingga wajib bagi kedua anaknya untuk berbagi dalam hak tersebut dan tidak dikhususkan hanya untuk salah satu dari mereka, sebagaimana jika seluruh budak itu dimerdekakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ أَنَّهُ يَخْتَصُّ الْمُصَدِّقُ بِوَلَاءِ النِّصْفِ كُلِّهِ لِأَنَّ أَخَاهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يَمْلِكَ وَلَاءَ النِّصْفِ الْبَاقِي لَوْ صَدَّقَ وَقَدْ صَارَ إِلَيْهِ بِالتَّكْذِيبِ رِقُّ بَاقِيهِ فَلَمْ يَمْلِكِ الْوَلَاءَ فِي حَقِّ أَخِيهِ وَجَرَى مَجْرَى أَخَوَيْنِ حَلَفَ أَحَدُهُمَا عَلَى دَيْنٍ لِأَبِيهِ مَعَ شَاهِدٍ أَقَامَهُ وَنَكَلَ الْآخَرُ اخْتَصَّ الْحَالِفُ مِنْهُمَا بِالنِّصْفِ الَّذِي حَلَفَ عَلَيْهِ مِنَ الدَّيْنِ وَلَمْ يُشَارِكْهُ الْأَخُ فِيهِ وَإِنْ كَانَ شَرِيكًا فِي تَرِكَةِ أَبِيهِ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى مِثْلِ مَا صَارَ إِلَى أَخِيهِ لَوْ حَلَفَ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Hamid al-Isfara’ini, adalah bahwa orang yang membenarkan (mushaddiq) berhak secara khusus atas seluruh wala’ setengah bagian, karena saudaranya sebenarnya mampu untuk memiliki wala’ atas setengah bagian yang tersisa jika ia membenarkan. Namun, karena ia mendustakan, maka sisa bagian tersebut menjadi budak baginya, sehingga ia tidak memiliki hak atas wala’ untuk saudaranya. Hal ini serupa dengan dua bersaudara, salah satunya bersumpah atas utang ayahnya dengan disertai seorang saksi yang didatangkannya, sedangkan yang lain enggan bersumpah. Maka, yang bersumpah di antara mereka berhak atas setengah utang yang ia bersumpah atasnya, dan saudaranya tidak mendapat bagian di dalamnya, meskipun ia adalah sekutu dalam warisan ayahnya, karena ia sebenarnya mampu memperoleh seperti apa yang didapatkan saudaranya jika ia bersumpah.

وَأَمَّا الْمِيرَاثُ فِي مَوْتِ هَذَا الَّذِي قَدْ عَتَقَ نِصْفُهُ وَرَقَّ نَصِفُهُ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Adapun warisan pada kematian orang yang setengahnya telah merdeka dan setengahnya masih budak ini, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَا يُورَثُ مَا لَمْ تَكْمُلْ حُرِّيَّتُهُ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ مِلْكًا لِلْمُكَذِّبِ الْمَالِكِ لِرِقٍّ نِصْفِهِ

Salah satunya adalah bahwa seseorang tidak dapat diwarisi selama kemerdekaannya belum sempurna. Dengan demikian, kepemilikan itu tetap menjadi milik orang yang menguasai, yaitu pemilik yang memiliki separuh hak perbudakan atasnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ مَوْرُوثًا بِقَدْرِ حُرِّيَّتِهِ فَيَكُونُ نِصْفُهُ لِلْمُكَذِّبِ مِلْكًا بِحَقِّ الرِّقِّ وَالنِّصْفُ الْمُقَابِلُ لِحُرِّيَّتِهِ لِوَلَدِهِ إِنْ كَانَ لَهُ لِأَنَّ النَّسَبَ فِي الْمِيرَاثِ مُقَدَّمٌ عَلَى الْوَلَاءِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَارِثٌ مُنَاسِبٌ انْتَقَلَ بِالْوَلَاءِ إِلَى مَالِكِ الْوَلَاءِ فَإِنْ جَعَلْنَاهُ بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ الْمُصَدِّقِ مِنْهُمَا وَالْمُكَذِّبِ كَانَ مِيرَاثُ النِّصْفِ بَيْنَهُمَا لِكَوْنِ الْوَلَاءِ لَهُمَا وَاخْتُصَّ الْمُكَذِّبُ بِالنِّصْفِ الْآخَرِ مِلْكًا وَإِنْ جَعَلْنَاهُ لِلْمُصَدِّقِ كَانَ مِيرَاثُ النِّصْفِ لَهُ خَاصَّةً وَصَارَ مَا خَلَّفَهُ الْعَبْدُ بَيْنَهُمَا شَرِكَةً نِصْفُهُ بِالْمِلْكِ لِلْمُكَذِّبِ وَنِصْفُهُ بالإرث للمصدق

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia diwariskan sesuai kadar kemerdekaannya; maka setengahnya menjadi milik orang yang mengingkari (kemerdekaannya) berdasarkan hak perbudakan, dan setengah lainnya yang sesuai dengan kemerdekaannya menjadi milik anaknya jika ia memilikinya, karena nasab dalam warisan didahulukan atas wala’. Jika ia tidak memiliki ahli waris yang memiliki hubungan nasab, maka hak waris berpindah melalui wala’ kepada pemilik wala’. Jika kita menetapkannya antara dua saudara, yaitu yang membenarkan dan yang mengingkari, maka warisan setengahnya dibagi di antara keduanya karena wala’ menjadi milik mereka berdua, dan setengah lainnya menjadi khusus milik orang yang mengingkari sebagai hak milik. Jika kita menetapkannya untuk yang membenarkan, maka warisan setengahnya menjadi khusus miliknya, dan harta peninggalan budak tersebut menjadi milik bersama di antara keduanya: setengahnya sebagai hak milik bagi yang mengingkari, dan setengahnya sebagai warisan bagi yang membenarkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ وَرِثَا مُكَاتَبًا فَأَعْتَقَ أَحَدُهُمَا نَصِيبَهُ فَهُوَ برئ مِنْ نَصِيبِهِ مِنَ الْكِتَابَةِ فَإِنْ أَدَّى إِلَى أَخِيهِ نَصِيبَهُ عَتَقَ وَكَانَ الْوَلَاءُ لِلْأَبِ وَإِنْ عَجَزَ قُوِّمَ عَلَيْهِ وَعَتَقَ إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَوَلَاؤُهُ لَهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فِنِصْفُهُ حُرٌّ وَنِصْفُهُ رَقِيقٌ لِأَخِيهِ وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ يَعْتِقُ نِصْفُهُ عَجَزَ أَوْ لَمْ يَعْجِزْ وَوَلَاؤُهُ لِلْأَبِ لِأَنَّهُ الَّذِي عَقَدَ كِتَابَتَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika dua orang mewarisi seorang mukātib, lalu salah satu dari mereka memerdekakan bagiannya, maka ia bebas dari bagian kitabahnya. Jika ia membayar bagian saudaranya, maka ia merdeka seluruhnya dan hak walā’ menjadi milik ayah. Jika ia tidak mampu, maka ia dinilai (dihitung nilainya) atasnya dan ia merdeka jika ia mampu membayar, dan hak walā’ menjadi miliknya. Jika ia tidak mampu, maka setengahnya merdeka dan setengahnya lagi tetap sebagai budak milik saudaranya. Dan beliau berkata di tempat lain: setengahnya merdeka, baik ia mampu membayar atau tidak, dan hak walā’ menjadi milik ayah karena dialah yang mengadakan akad kitabah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ كَاتَبَ عَبْدَهُ ثُمَّ مَاتَ السَّيِّدُ قَبْلَ الْأَدَاءِ وَتَرَكَ ابْنَيْنِ لَمْ تَبْطُلِ الْكِتَابَةُ بِمَوْتِهِ لِلُزُومِهَا فِي حَقِّهِ وَمَا لَزِمَ مِنَ الْعُقُودِ وَلَمْ يَبْطُلْ بِالْمَوْتِ كَالْبُيُوعِ

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki yang melakukan mukātabah terhadap budaknya, kemudian tuan tersebut meninggal sebelum budak itu melunasi pembayaran, dan ia meninggalkan dua orang anak laki-laki. Maka, akad mukātabah tidak batal karena kematian tuannya, karena akad tersebut sudah menjadi kewajiban baginya. Segala akad yang sudah menjadi kewajiban dan tidak batal karena kematian, seperti akad jual beli.

وَعَلَى الْمُكَاتَبِ أَنْ يُؤَدِّيَ مَالَ الْكِتَابَةِ إِلَى الِابْنَيْنِ لِقِيَامِهِمَا فِيهَا مَقَامَ الْأَبِ وَلَيْسَ لَهُمَا فَسْخُهَا لِأَنَّ مَا لَزِمَ الْأَبَ كَانَ لَهُمَا أَلْزَمَ فَإِنْ أَدَّى الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِمَا مَا عَلَيْهِ عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِلْأَبِ يَنْتَقِلُ إِلَيْهِمَا بِالْإِرْثِ وَإِنْ عَجَزَ وَاسْتَرَقَاهُ كَانَ مَمْلُوكًا لَهُمَا

Wajib bagi seorang mukatab untuk membayarkan uang kitabah kepada kedua anak laki-laki, karena keduanya menempati posisi ayah dalam hal ini. Keduanya tidak berhak membatalkan akad kitabah, sebab apa yang menjadi kewajiban ayah juga menjadi kewajiban bagi mereka berdua. Jika mukatab telah membayar kepada keduanya apa yang menjadi tanggungannya, maka ia pun merdeka, dan wala’-nya yang semula milik ayah berpindah kepada keduanya melalui warisan. Namun jika mukatab tidak mampu dan mereka memperbudaknya kembali, maka ia menjadi milik mereka berdua.

فَأَمَّا إِنْ أَعْتَقَ أَحَدَهُمَا حِصَّتَهُ أَوْ أَبْرَأَهُ مِنْ نَصِيبِهِ عَتَقَ وَبَرِئَ وَكَانَ عِتْقُهُ إِبْرَاءً وَإِبْرَاؤُهُ عِتْقًا لِاقْتِرَانِ الْمَالِ بِالرِّقِّ فَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْإِبْرَاءِ وَالْعِتْقِ مَقَامَ صَاحِبِهِ وَسَاوَاهُ فِي حُكْمِهِ

Adapun jika salah satu dari mereka memerdekakan bagiannya atau membebaskannya dari bagiannya, maka ia menjadi merdeka dan terbebas, dan pemerdekaannya dianggap sebagai pembebasan, serta pembebasannya dianggap sebagai pemerdekaan, karena harta berkaitan erat dengan status perbudakan. Maka, masing-masing dari pembebasan dan pemerdekaan menempati posisi yang lain dan setara dalam hukumnya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَعْتِقُ بِالْإِبْرَاءِ نَصِيبُ الْمُبَرِّئِ وَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَى كِتَابَتِهِ لِأَنَّهُمَا مَعًا يَقُومَانِ مَقَامَ الْأَبِ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الْأَبَ لَوْ أَبْرَأَهُ مِنْ نِصْفِ كِتَابَتِهِ لَمْ يُعْتَقْ فَكَذَلِكَ إِذَا أَبْرَأَهُ أَحَدُهُمَا فِي نَصِيبِهِ وَهُوَ النِّصْفُ لَمْ يُعْتَقْ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِأَنَّ الِابْنَ قَدْ أَبْرَأَهُ مِنْ جَمِيعِ حَقِّهِ فَشَابَهَ الْأَبَ إِذَا أَبْرَأَهُ مِنْ جَمِيعِ كِتَابَتِهِ وَشَابَهَ إِبْرَاءَ الْأَبِ مِنْ بَعْضِ الْكِتَابَةِ أَنْ يُبْرِئَهُ الِابْنُ مِنْ بَعْضِ نَصِيبِهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak merdeka bagian orang yang membebaskan melalui pembebasan (ibrā’), dan sisanya tetap berada pada perjanjian kitabah-nya, karena keduanya bersama-sama menempati posisi ayah. Telah tetap bahwa jika ayah membebaskan dari setengah kitabah-nya, maka tidak menjadi merdeka. Maka demikian pula jika salah satu dari keduanya membebaskan pada bagiannya, yaitu setengah, maka tidak menjadi merdeka. Namun, pendapat ini tidak benar, karena anak telah membebaskan dari seluruh haknya, sehingga menyerupai ayah jika membebaskan dari seluruh kitabah-nya, dan menyerupai pembebasan ayah dari sebagian kitabah bahwa anak juga membebaskan dari sebagian bagiannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا أَعْتَقَ فَبَرِئَ أَوْ أُبْرِئَ فَعَتَقَ فَفِي تَقْوِيمِ بَاقِيهِ عَلَى مُعْتِقِهِ وَمُبْرِئِهِ إِذَا كَانَ مُوسِرًا قَوْلَانِ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَيْهِمَا وَنَقَلَهُمَا الْمُزَنِيُّ إِلَى جَامِعِهِ الْكَبِيرِ

Jika seseorang memerdekakan (budak) lalu ia terbebas, atau ia dimerdekakan lalu menjadi merdeka, maka dalam penilaian sisa (budak) atas orang yang memerdekakan dan yang membebaskannya, apabila ia mampu (secara finansial), terdapat dua pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i, dan keduanya dinukil oleh al-Muzani dalam kitab al-Jāmi‘ al-Kabīr.

أَحَدُهُمَا لَا تُقَوَّمُ عَلَيْهِ وَيَكُونُ الْبَاقِي عَلَى كِتَابَتِهِ لِأَنَّ عَقْدَ الْعِتْقِ كَانَ مِنَ الْأَبِ وَلِذَلِكَ كَانَ وَلَاؤُهُ لَهُ وَالْوَارِثُ إِنَّمَا وَرِثَ الْمَالَ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَصِيرَ مَالِكًا لِلرَّقَبَةِ بِالْعَجْزِ فَإِذَا أَبْرَأَ أَوْ أَعْتَقَ كَانَ ذَلِكَ مِنْهُ تَنْفِيذًا لِعِتْقِ الْأَبِ وَتَعْجِيلًا لِمَا أَخَّرَهُ فَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ مَنْسُوبٌ إِلَى أَبِيهِ وَلَمْ يُقَوَّمْ عَلَى الْأَبِ لِزَوَالِ مِلْكِهِ بِالْمَوْتِ فَعَلَى هَذَا تَعْتِقُ حِصَّةُ الْمُبَرِّئِ فِي حَالِ الْإِبْرَاءِ وَالْعِتْقِ وَيَكُونُ نِصْفُهُ الْبَاقِي عَلَى كِتَابَتِهِ يُؤَدِّيهَا إِلَى الْأَخِ فَإِنْ أَدَّاهَا عَتَقَ نِصْفُهُ الْبَاقِي وَصَارَ جَمِيعُهُ حُرًّا وَوَلَاؤُهُ لِلْأَبِ يَنْتَقِلُ إِلَيْهِمَا بِالْإِرْثِ وَإِنْ عَجَزَ عَنْ بَاقِي كِتَابَتِهِ رَقَّ نِصْفُهُ وَكَانَ مَلِكًا لِلْأَخِ وَكَانَ وَلَاءُ نِصْفِهِ الْمُعْتَقِ لِلْأَبِ وهل ينفرد به المعتق أو يكون شركة بَيْنَهُمَا فَفِيهِ وَجْهَانِ مَضَيَا

Salah satu dari keduanya tidak dikenakan penilaian (harga) atasnya dan sisanya tetap pada akad kitabah-nya, karena akad pembebasan (itq) berasal dari ayah, sehingga wala’-nya pun menjadi milik ayah. Ahli waris hanya mewarisi harta, meskipun boleh jadi ia menjadi pemilik atas diri (budak) jika terjadi ketidakmampuan (membayar). Maka jika ahli waris membebaskan atau memerdekakan, hal itu dianggap sebagai pelaksanaan pembebasan dari ayah dan percepatan terhadap apa yang ditunda, sehingga tidak dikenakan penilaian (harga) atasnya, karena pembebasan itu dinisbatkan kepada ayah, dan tidak dikenakan penilaian atas ayah karena kepemilikannya telah hilang akibat kematian. Berdasarkan hal ini, bagian ahli waris yang membebaskan menjadi merdeka pada saat pembebasan dan pemerdekaan, dan setengah sisanya tetap pada akad kitabah yang harus dibayarkan kepada saudara. Jika ia melunasinya, maka setengah sisanya pun menjadi merdeka dan seluruhnya menjadi orang merdeka, dan wala’-nya yang semula milik ayah berpindah kepada keduanya melalui warisan. Namun jika ia tidak mampu melunasi sisa kitabah-nya, maka setengahnya kembali menjadi budak dan menjadi milik saudara, sedangkan wala’ setengah yang telah dimerdekakan tetap milik ayah. Apakah wala’ itu khusus bagi yang memerdekakan atau menjadi milik bersama di antara keduanya, terdapat dua pendapat yang telah lalu.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّهُ مُنْتَقِلٌ عَنِ الْأَبِ إِرْثًا فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْفَرِدَ بِهِ أَحَدُهُمَا

Salah satunya berada di antara mereka karena ia berpindah dari ayah sebagai warisan, sehingga tidak boleh salah satu dari mereka memilikinya secara sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ لِلْمُعْتِقِ خَاصَّةً لِأَنَّ أَخَاهُ قَدْ كَانَ قَادِرًا عَلَى مِلْكِ مِثْلِهِ لَوْ عَجَّلَ الْعِتْقَ أَوِ الْإِبْرَاءِ فَلَمَّا اخْتَارَ رِقَّهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْفَرِدَ بِالرِّقِّ وَيُشَارِكَ فِي الْوَلَاءِ

Pendapat kedua adalah bahwa hak tersebut khusus bagi orang yang memerdekakan, karena saudaranya sebenarnya mampu memiliki hak yang sama seandainya ia segera memerdekakan atau membebaskannya. Namun, ketika ia memilih untuk tetap mempertahankan status budaknya, maka tidak boleh ia hanya mengambil bagian dari perbudakan dan ikut serta dalam hak walā’.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَالْإِمْلَاءِ وَأَكْثَرِ كُتُبِهِ أَنَّهُ يُقَوَّمُ عَلَى الْمُعْتِقِ بَاقِيهِ لأنه يتعجيل الْعِتْقِ عَادِلٌ عَنْ عِتْقِ الْأَبِ فَصَارَ مَنْسُوبًا إِلَيْهِ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ مَأْخُوذًا بِحُكْمِ سَرَايَتِهِ لِعِتْقِهِ وَيَسَارِهِ فَعَلَى هَذَا هَلْ يَتَعَجَّلُ بِسَرَايَةِ عِتْقِهِ فِي الْحَالِ أَوْ تَكُونُ مَوْقُوفَةً عَلَى الْعَجْزِ فِيهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua, yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm, al-Imla’, dan sebagian besar kitab-kitabnya, adalah bahwa sisa budak tersebut dinilai atas orang yang memerdekakan, karena percepatan pemerdekaan itu dianggap berpaling dari pemerdekaan ayah, sehingga hal itu dinisbatkan kepadanya. Maka, hal ini menuntut agar diambil hukum penyebaran (sarāyah) pemerdekaan dan kemampuan finansialnya. Berdasarkan hal ini, apakah penyebaran pemerdekaan itu langsung terjadi saat itu juga, ataukah ditangguhkan sampai terjadi ketidakmampuan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَتَعَجَّلُ السِّرَايَةُ لِطُرُوئِهَا عَلَى مَحَلٍّ يَسْرِي فِيهِ الْعِتْقُ فَصَارَتْ كَالسِّرَايَةِ فِي عِتْقِ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ

Salah satunya adalah terjadinya sirāyah (penyebaran hukum) secara langsung karena munculnya pada objek yang memang dapat berlaku hukum ‘itq (pembebasan budak) padanya, sehingga keadaannya seperti sirāyah dalam pembebasan budak oleh salah satu dari dua orang yang berserikat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهَا تَكُونُ مَوْقُوفَةً عَلَى عَجْزِ الْمُكَاتَبِ لِأَنَّ حَقَّ الْأَبِ فِي عِتْقِهِ وَمِلْكِ وَلَائِهِ أَسْبَقُ فَلَمْ يَجُزْ إِبْطَالُهُ إِلَّا بَعْدَ الْعَجْزِ عَنْهُ فَعَلَى هَذَا إِذَا قُلْنَا بِتَعْجِيلِ السِّرَايَةِ أَخَذَ الْمُعْتِقُ بِقِيمَةِ حِصَّةِ أَخِيهِ فِي وَقْتِ عِتْقِهِ وَبِمَاذَا يَقَعُ الْعِتْقُ فِي هَذَا النِّصْفِ الْمُقَوَّمِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu bergantung pada ketidakmampuan mukatab, karena hak ayah dalam memerdekakan dan kepemilikan wala’ lebih didahulukan, sehingga tidak boleh dibatalkan kecuali setelah terbukti ketidakmampuannya. Berdasarkan hal ini, jika kita berpendapat bahwa penyebaran (sarayah) dipercepat, maka orang yang memerdekakan mengambil nilai bagian saudaranya pada saat ia memerdekakannya. Adapun bagaimana terjadinya pembebasan pada separuh yang dinilai ini, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا بِلَفْظِ الْمُعْتِقِ وَيَكُونُ مَأْخُوذًا بِالْقِيمَةِ بَعْدَ نُفُوذِ الْعِتْقِ

Salah satunya adalah dengan lafaz dari orang yang memerdekakan, dan ia diambil berdasarkan nilai setelah merdekanya berlaku.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَقَعُ بِاللَّفْظِ وَأَدَاءِ الْقِيمَةِ وَيَكُونُ ذَلِكَ النِّصْفُ قَبْلَ دَفْعِ قِيمَتِهِ عَلَى رِقِّهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan (budak) terjadi dengan ucapan dan pembayaran nilai, dan setengah bagian tersebut (dari budak) sebelum nilai dibayarkan tetap berstatus budak.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّ عِتْقَهُ يَكُونُ مَوْقُوفًا مُرَاعًى فَإِنْ دُفِعَتِ الْقِيمَةُ بَانَ أَنَّهُ وَقَعَ بِنَفْسِ اللَّفْظِ وَإِنْ لَمْ يَدْفَعْهَا بَانَ أَنَّهُ لَمْ يَعْتِقْ وَعَلَى أَيِّ الْأَقَاوِيلِ عَتَقَ فَوَلَاءُ هَذَا النِّصْفِ الْمُقَوَّمِ يَكُونُ لِلْمُعْتِقِ خَاصَّةً لِأَنَّهُ عَتَقَ بِالتَّقْوِيمِ عَلَيْهِ لَا بِالْكِتَابَةِ فَأَمَّا وَلَاءُ نِصْفِهِ الَّذِي أَعْتَقَهُ فَلِلْأَبِ وَهَلْ يَنْفَرِدُ بِهِ الْمُعْتِقُ أَوْ يَكُونُ شَرِكَةً بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْوَجْهَيْنِ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ السِّرَايَةَ مَوْقُوفَةٌ عَلَى الْعَجْزِ انْتَظَرَ بِهَا أَدَاءَ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ أَدَّى كِتَابَةَ بَاقِيهِ عَتَقَ وَلَا تَقْوِيمَ فِيهِ وَكَانَ جَمِيعُ وَلَائِهِ لِلْأَبِ يَنْتَقِلُ إِلَى الْأَخَوَيْنِ نِصْفَيْنِ وَإِنْ عَجَزَ عَنْ كِتَابَةِ بَاقِيهِ قُوِّمَ حِينَئِذٍ لِوَقْتِهِ وَوَقَعَ الْعِتْقُ هَاهُنَا بِاللَّفْظِ مَعَ أَدَاءِ الْقِيمَةِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ لَمَّا وَقَفَ بَعْدَ اللَّفْظِ امْتَنَعَ أَنْ يَقَعَ بِهِ وَلَمَّا وَقَفَ عَلَى أَدَاءِ الْكِتَابَةِ دُونَ الْقِيمَةِ امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ مُرَاعًى بِدَفْعِ الْقِيمَةِ وَثَبَتَ أَنَّهُ وَاقِعٌ بِأَدَائِهَا مَعَ اللَّفْظِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَيْهَا وَإِذَا كَانَ بِذَلِكَ كَانَ وَلَاءُ نِصْفِهِ الْمُقَوَّمِ مُخْتَصًّا بِهِ لَا حَقَّ فِيهِ لِأَخِيهِ وَفِي وَلَاءِ مَا بَاشَرَهُ مِنَ الْعِتْقِ وَالْإِبْرَاءِ وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى فَيَصِيرُ فِي أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ مَالِكًا لِجَمِيعِ وَلَائِهِ وَفِي الْوَجْهِ الثَّانِي مَالِكًا لِثَلَاثَةِ أَرْبَاعِهِ إِنْ بَاعَهُ وَأَخُوهُ مَالِكًا لِرُبُعِهِ وَاللَّهُ أعلم بالصواب

Pendapat ketiga menyatakan bahwa pembebasan budak tersebut bersifat mu‘allaq (tergantung) dan diperhatikan; jika nilai (budak) tersebut dibayarkan, maka jelas bahwa pembebasan itu terjadi dengan lafaz itu sendiri, dan jika tidak dibayarkan, maka jelas bahwa ia tidak merdeka. Menurut pendapat mana pun, hak wala’ (loyalitas) dari separuh budak yang dinilai itu khusus menjadi milik orang yang memerdekakan, karena ia merdeka melalui penilaian terhadapnya, bukan melalui kitabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran bertahap). Adapun hak wala’ atas separuhnya yang telah dimerdekakan, maka itu menjadi milik ayah. Apakah hak wala’ itu hanya dimiliki oleh orang yang memerdekakan saja atau menjadi hak bersama antara kedua saudara, hal ini mengikuti dua pendapat yang telah lalu. Jika dikatakan bahwa sirayah (pembebasan sebagian yang menular ke seluruhnya) tergantung pada ketidakmampuan, maka ditunggu hingga mukatab (budak yang sedang dalam proses kitabah) melunasi pembayaran kitabah-nya; jika ia melunasi sisa kitabah-nya, maka ia merdeka tanpa penilaian, dan seluruh hak wala’-nya menjadi milik ayah, lalu berpindah kepada kedua saudara secara masing-masing setengah. Namun jika ia tidak mampu melunasi sisa kitabah-nya, maka pada saat itu ia dinilai, dan pembebasan terjadi di sini dengan lafaz bersamaan dengan pembayaran nilai, menurut satu pendapat, karena ketika pembebasan itu tertunda setelah lafaz, maka tidak mungkin terjadi hanya dengan lafaz saja. Dan ketika pembebasan itu tergantung pada pelunasan kitabah tanpa nilai, maka tidak mungkin dianggap sah dengan pembayaran nilai. Maka tetaplah bahwa pembebasan itu terjadi dengan pembayaran nilai bersamaan dengan lafaz yang mendahuluinya. Jika demikian, maka hak wala’ atas separuh yang dinilai itu khusus menjadi miliknya, tidak ada hak bagi saudaranya. Adapun dalam hak wala’ atas pembebasan dan pembebasan utang yang dilakukan secara langsung, terdapat dua pendapat sebagaimana telah lalu; dalam salah satu pendapat, ia menjadi pemilik seluruh hak wala’-nya, dan dalam pendapat kedua, ia menjadi pemilik tiga perempatnya jika ia menjualnya, dan saudaranya menjadi pemilik seperempatnya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَالْمُكَاتَبُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ دِرْهَمٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang mukatab tetap berstatus sebagai budak selama masih tersisa satu dirham pun dari (utang) akad mukatabnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لَا يَعْتِقُ الْمُكَاتَبُ إِلَّا بِأَدَاءِ جَمِيعِ الْكِتَابَةِ وَبِهِ قَالَ مِنَ الصَّحَابَةِ عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَعَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, seorang mukatab tidak merdeka kecuali setelah melunasi seluruh pembayaran kitabah. Pendapat ini juga dipegang oleh para sahabat, yaitu Umar, Utsman, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Aisyah, dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum.”

وَمِنَ التَّابِعِينَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَسُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ وَمُجَاهِدٌ وَالزَّهْرِيُّ

Dan di antara para tabi‘in adalah Sa‘id bin al-Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, al-Hasan al-Bashri, Sulaiman bin Yasar, Mujahid, dan az-Zuhri.

وَمِنَ الْفُقَهَاءِ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو ثَوْرٍ وَأَحْمَدُ

Di antara para fuqaha adalah Malik, Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Abu Tsaur, dan Ahmad.

وَحُكِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِذَا كُتِبَتْ صَحِيفَةُ الْمُكَاتَبِ عَتَقَ بِهَا وَكَانَ غَرِيمًا بِمَا عَلَيْهِ

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkata: “Apabila surat mukatab telah ditulis, maka ia merdeka karenanya dan menjadi orang yang berutang atas kewajiban yang harus ia bayar.”

وَحُكِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أَدَّى قَدْرَ قِيمَتِهِ عَتَقَ وَكَانَ غَرِيمًا بِمَا فَضَلَ عَنْهَا

Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: Jika seseorang telah membayar sejumlah nilai budak tersebut, maka budak itu menjadi merdeka dan ia tetap menjadi penanggung utang atas kelebihan dari nilai tersebut.

وَحُكِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ يَعْتِقُ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا أَدَّى وَيَرِقُّ مِنْهُ بِقَدْرِ مَا بَقِيَ

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam bahwa beliau berkata: “Seseorang menjadi merdeka sesuai dengan kadar yang telah dibayarnya, dan tetap menjadi budak sesuai dengan kadar yang masih tersisa.”

وَحُكِيَ عَنْ شُرَيْحٍ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أَدَّى ثُلُثَ كِتَابَتِهِ عَتَقَ وَكَانَ غَرِيمًا بِالْبَاقِي

Diriwayatkan dari Syuraih bahwa ia berkata: Jika seorang budak mukatab telah membayar sepertiga dari nilai kitabahnya, maka ia merdeka dan tetap menjadi penanggung utang atas sisa pembayaran.

وَحُكِيَ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أَدَّى الشَّطْرَ عَتَقَ وَكَانَ غَرِيمًا بِالْبَاقِي

Diriwayatkan dari ‘Urwah bin Zubair ra. bahwa ia berkata: “Jika telah membayar setengahnya, maka ia merdeka dan menjadi penanggung utang atas sisanya.”

وَقَدْ يُسْتَدَلُّ لَهُمْ عَلَى اخْتِلَافِ أَقَاوِيلِهِمْ بِحَدِيثِ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   يُؤَدِّي الْمُكَاتَبُ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهُ دِيَةَ حُرٍّ وَبِقَدْرِ مَا رَقَّ مِنْهُ دِيَةَ عَبْدٍ   فَدَلَّ عَلَى أَنَّ عِتْقَهُ لَا يَقِفُ عَلَى أَدَاءِ جَمِيعِ الْمَالِ

Dan bisa dijadikan dalil bagi mereka atas perbedaan pendapat mereka dengan hadis ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukatab membayar diyat orang merdeka sesuai kadar yang telah merdeka darinya, dan membayar diyat budak sesuai kadar yang masih menjadi budak darinya.” Maka hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaannya tidak bergantung pada pembayaran seluruh harta.

وَدَلِيلُنَا حَدِيثُ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   الْمُكَاتَبُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابَتِهِ شَيْءٌ

Dan dalil kami adalah hadis dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukatab tetap berstatus budak selama masih ada sisa dari akad kitabahnya.”

وَهَذَا نَصٌّ وَرَوَى عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ   أَيُّمَا عَبْدٍ كُوتِبَ عَلَى مِائَةِ أُوقِيَّةٍ فَأَدَّاهَا إِلَّا عَشَرَةَ أَوَاقٍ فَهُوَ عَبْدٌ أَوْ قَالَ كُوتِبَ عَلَى مِائَةِ دِينَارٍ فَأَدَّاهَا إِلَّا عَشَرَةَ دَنَانِيرَ فَهُوَ عَبْدٌ   وَلِأَنَّ الْكِتَابَةَ لَا تَخْلُو إِمَّا أَنْ يَغْلِبَ فِيهَا حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ فَتَجْرِيَ مَجْرَى الْبَيْعِ أَوْ يَغْلِبَ فِيهَا حُكْمُ الصِّفَةِ فَتَجْرِيَ مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ فَإِنْ جَرَتْ مَجْرَى الْبَيْعِ فَالْبَيْعُ لَا يَلْزَمُ إِلَّا بِتَسْلِيمِ جَمِيعِ ثَمَنِهِ وَإِنْ جَرَى مَجْرَى الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ لَمْ تَقَعْ إِلَّا بِوُجُودِ جَمِيعِ الصِّفَةِ فَبَطَلَ بِهَذَا مَا قَالُوهُ

Ini adalah sebuah nash. Amru bin Syu‘aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Siapa saja hamba yang melakukan mukātabah atas seratus uqiyah lalu ia membayarnya kecuali sepuluh uqiyah, maka ia tetap seorang hamba; atau beliau bersabda: melakukan mukātabah atas seratus dinar lalu ia membayarnya kecuali sepuluh dinar, maka ia tetap seorang hamba.” Karena dalam mukātabah tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi yang dominan adalah hukum mu‘āwadhah sehingga diperlakukan seperti jual beli, atau yang dominan adalah hukum sifat sehingga diperlakukan seperti ‘itq biṣ-ṣifah. Jika diperlakukan seperti jual beli, maka jual beli tidak sah kecuali dengan penyerahan seluruh harga. Jika diperlakukan seperti ‘itq biṣ-ṣifah, maka tidak terjadi kecuali dengan terpenuhinya seluruh sifat. Dengan demikian, batal apa yang mereka katakan.

فَأَمَّا حَدِيثُ عِكْرِمَةَ مَعَ ضَعْفِهِ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ لِأَنَّهُ جَعَلَ دِيَتَهُ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهُ فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى قَدْرِ مَا يَعْتِقُ مِنْهُ وَيَكُونُ إِنْ صَحَّ مَحْمُولًا عَلَى عِتْقِ أَحَدِ الِابْنَيْنِ عَلَى مَا مَضَى

Adapun hadis ‘Ikrimah, meskipun lemah, tidak dapat dijadikan hujah karena ia menetapkan diyatnya sesuai dengan bagian yang telah merdeka darinya. Maka, tidak terdapat di dalamnya dalil tentang kadar bagian yang telah merdeka darinya, dan jika hadis itu sahih pun, dapat ditakwilkan pada pembebasan salah satu dari dua anak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا أَنَّهُ لَا يَعْتِقُ إِلَّا بِجَمِيعِ الْأَدَاءِ فَعَقَدَ السَّيِّدُ الْكِتَابَةَ عَلَى أَنَّهُ كُلَّمَا أَدَّى مِنْهُمَا نَجْمًا عَتَقَ مِنْهُ بِقِسْطِهِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً لِاقْتِرَانِهَا بِشَرْطٍ يُنَافِيهَا فَإِنْ أَدَّى الْمُكَاتَبُ نَجْمًا مِنْهَا عَتَقَ مِنْهُ بِقِسْطِهِ لِوُجُودِ الصِّفَةِ فِيهِ وَسَرَى الْعِتْقُ إِلَى بَاقِيهِ وَرَجَعَ السَّيِّدُ إِلَى مُكَاتَبِهِ وَفِيمَا يَرْجِعُ بِهِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ

Apabila telah tetap sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa seorang budak tidak merdeka kecuali dengan pelunasan seluruh pembayaran, lalu tuan mengadakan akad kitābah dengan syarat bahwa setiap kali budak tersebut membayar satu termin, maka ia merdeka sesuai bagian yang dibayarkan, maka akad kitābah tersebut menjadi fasid (rusak) karena disertai syarat yang bertentangan dengannya. Jika budak mukatab membayar satu termin dari pembayaran tersebut, maka ia merdeka sesuai bagian yang dibayarkan karena sifat tersebut ada padanya, dan kemerdekaan itu berlaku juga pada sisanya, lalu tuan kembali kepada budak mukatabnya, dan dalam hal apa saja tuan boleh kembali kepadanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَرْجِعُ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ الْقِيمَةِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ أَفْضَتْ إِلَى عِتْقِ جَمِيعِهِ وَرَجَعَ عَلَيْهِ بِمَا أداه إليه

Salah satunya dapat menuntut kepadanya seluruh nilai karena penulisan (kitābah) itu berujung pada memerdekakan seluruhnya, dan ia menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan kepadanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَرْجِعُ عَلَيْهِ بِقِيمَةِ الْبَعْضِ الَّذِي عَتَقَ مِنْهُ بِالصِّفَةِ وَلَا يَرْجِعُ عَلَيْهِ بِقِيمَةِ مَا عَتَقَ بِالسِّرَايَةِ لِاخْتِصَاصِ الْعِتْقِ فِي الْكِتَابَةِ بالصفة دون السراية

Pendapat kedua adalah bahwa ia hanya dapat meminta ganti rugi atas nilai bagian yang merdeka darinya secara sifat (langsung), dan tidak dapat meminta ganti rugi atas nilai bagian yang merdeka karena sirāyah, karena kemerdekaan dalam kasus kitābah itu khusus pada sifat, bukan pada sirāyah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ مَاتَ وَلَهُ مَالٌ حَاضِرٌ وَوَلَدٌ مَاتَ عَبْدًا وَلَا يُعْتَقُ بَعْدَ الْمَوْتِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang meninggal dunia dan ia memiliki harta yang ada serta seorang anak yang meninggal dalam keadaan sebagai budak, maka anak tersebut tidak dimerdekakan setelah kematian.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ لَازِمٌ مِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ أَرَادَ السَّيِّدُ الْفَسْخَ لَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْعَجْزِ كَالْبَيْعِ الَّذِي لَا يُفْسَخُ بَعْدَ لُزُومِهِ إِلَّا بِعَيْبٍ

Al-Mawardi berkata: Pokok permasalahan ini adalah bahwa akad kitābah bersifat mengikat dari pihak mukātab. Jika tuan (pemilik budak) ingin membatalkannya, maka ia tidak berhak melakukan hal itu kecuali karena adanya ketidakmampuan (dari mukātab), sebagaimana akad jual beli yang tidak dapat dibatalkan setelah menjadi mengikat kecuali karena adanya cacat.

وإِذَا أَرَادَ الْمُكَاتَبُ الْفَسْخَ لَمْ يَمْلِكْهُ وَلَكِنَّهُ يَمْلِكُ الِامْتِنَاعَ مِنَ الْأَدَاءِ حَتَّى يَسْتَحِقَّ بِهِ السَّيِّدُ الْفَسْخَ

Apabila seorang mukatab ingin membatalkan (akad mukatab), ia tidak berhak melakukannya, namun ia berhak menahan diri dari pembayaran hingga dengan demikian tuannya berhak membatalkan (akad mukatab) tersebut.

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ عَقْدُ الْكِتَابَةِ لَازِمَةٌ مِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ كَلُزُومِهَا مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ وَيُجْبَرُ الْمُكَاتَبُ عَلَى الْأَدَاءِ إِذَا وَجَدَ وَفَاءً وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَقَدِ اخْتَلَفَا فِي إِجْبَارِهِ عَلَى الْكَسْبِ فَقَالَ مَالِكٌ يُجْبَرُ عَلَيْهِ

Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa akad kitābah bersifat mengikat dari pihak mukātab sebagaimana mengikatnya dari pihak tuan, dan mukātab diwajibkan untuk membayar apabila ia mampu melunasi. Namun, jika ia tidak mampu, maka keduanya berbeda pendapat mengenai kewajiban memaksanya untuk bekerja; Malik berpendapat bahwa ia wajib dipaksa untuk bekerja.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يُجْبَرُ عَلَيْهِ

Abu Hanifah berkata, “Tidak dipaksa atasnya.”

وَاسْتَدَلَّا عَلَى لُزُومِهِ مِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ بِأَمْرَيْنِ

Mereka berdua berdalil atas wajibnya (membayar) dari pihak mukatab dengan dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ عَقْدَ الْمُعَاوَضَةِ إِذَا لَزِمَ مِنْ أَحَدِ طَرَفَيْهِ لَزِمَ مِنَ الطَّرَفِ الْآخَرِ كَالْبَيْعِ

Salah satunya adalah bahwa akad mu‘āwaḍah, jika telah mengikat dari salah satu pihak, maka ia juga mengikat pihak yang lain, seperti dalam jual beli.

وَالثَّانِي أَنَّ الْعِوَضَ إِذَا كَانَ فِي مُقَابَلَةِ الْعِتْقِ لَزِمَ كَمَا لَوْ بَاعَ الْعَبْدُ عَلَى نَفْسِهِ بِأَلْفٍ لَزِمَتْهُ الْأَلْفُ

Kedua, bahwa kompensasi jika diberikan sebagai imbalan atas pembebasan budak, maka menjadi wajib, sebagaimana jika seorang budak membeli dirinya sendiri seharga seribu, maka ia wajib membayar seribu tersebut.

وَدَلِيلُنَا شَيْئَانِ

Dan dalil kami ada dua.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَالَ إِذَا لَزِمَ صَحَّ ضَمَانُهُ وَضَمَانُ مَالِ الْكِتَابَةِ عَنِ الْمُكَاتَبِ لَا يَصِحُّ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِلَازِمٍ

Salah satunya adalah bahwa harta apabila sudah menjadi kewajiban, maka sah penjaminannya. Namun penjaminan harta kitābah dari seorang mukātab tidak sah, sehingga hal ini menunjukkan bahwa harta tersebut bukanlah kewajiban yang tetap.

وَالثَّانِي أَنَّ الْمَالَ إِذَا كَانَ فِي مُقَابَلَةِ الْعِتْقِ لَمْ يَلْزَمْهُ بَدَلُهُ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ دَفَعْتَ إِلَيَّ أَلْفًا فَأَنْتَ حُرٌّ لَمْ يَلْزَمْهُ دَفْعُ الْأَلْفِ وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِلُزُومِ الثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ فَلِأَنَّ جَوَازَ ضَمَانِهِ دَلِيلٌ عَلَى لُزُومِهِ وَضَمَانَ مَالِ الْكِتَابَةِ لَا يَصِحُّ فَدَلَّ عَلَى عَدَمِ لُزُومِهِ

Kedua, bahwa harta jika menjadi imbalan atas pembebasan (’itq), maka tidak wajib baginya untuk membayarkan gantinya, sebagaimana jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu memberiku seribu (dirham), maka kamu merdeka,” maka tidak wajib baginya membayar seribu itu. Adapun dalil mereka yang menggunakan kewajiban membayar harga dalam jual beli, maka itu karena bolehnya penjaminan atas harga tersebut merupakan dalil atas kewajibannya. Sedangkan penjaminan atas harta kitabah tidak sah, sehingga hal itu menunjukkan tidak wajibnya pembayaran tersebut.

وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِبَيْعِ الْعَبْدِ عَلَى نَفْسِهِ

Adapun dalil mereka dengan jual-beli seorang budak atas dirinya sendiri.

فَالْجَوَابُ عَنْهُ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ جَوَازِ ضَمَانِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Maka jawabannya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang bolehnya penjaminan itu, dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا وَمَاتَ الْمُكَاتَبُ قَبْلَ الْأَدَاءِ مَاتَ عَبْدًا سَوَاءٌ كَانَ الْبَاقِي قَلِيلًا أَوْ كَثِيرًا تَرَكَ وَفَاءً أَوْ لَمْ يَتْرُكْ خَلَّفَ وَلَدًا أَوْ لَمْ يُخَلِّفْ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ لَمْ يُخَلِّفْ وَفَاءً مَاتَ عَبْدًا وَإِنْ خَلَّفَ وَفَاءً عَتَقَ بِآخِرِ أَجْزَاءِ حَيَاتِهِ وَمَاتَ حُرًّا وَقَالَ مَالِكٌ إِنْ لَمْ يُخَلِّفْ وَلَدًا مَاتَ عَبْدًا

Apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, lalu seorang mukatab meninggal dunia sebelum melunasi (pembayaran), maka ia meninggal dalam keadaan sebagai budak, baik sisa (utang) yang belum dibayar itu sedikit maupun banyak, baik ia meninggalkan harta untuk melunasi atau tidak, baik ia meninggalkan anak atau tidak. Abu Hanifah berpendapat: jika ia tidak meninggalkan harta pelunasan, maka ia meninggal sebagai budak; namun jika ia meninggalkan harta pelunasan, maka ia merdeka pada bagian akhir hidupnya dan meninggal sebagai orang merdeka. Malik berpendapat: jika ia tidak meninggalkan anak, maka ia meninggal sebagai budak.

وَإِنَّ خَلَّفَ وَلَدًا مَمْلُوكًا وُلِدَ فِي كِتَابَتِهِ مِنْ أَمَتِهِ أُجْبِرَ عَلَى الْأَدَاءِ إِنْ خَلَّفَ وَفَاءً لِيَعْتِقَ بِأَدَائِهِ فَيَتْبَعَهُ فِي عِتْقِهِ وَإِنْ لَمْ يُخَلِّفْ وَفَاءً أُجْبِرَ عَلَى الْكَسْبِ لِيُؤَدِّيَهُ فَيَعْتِقَ بِهِ تَبَعًا لِأَبِيهِ

Jika seseorang meninggalkan seorang anak yang berstatus budak, yang lahir dalam masa penulisan kitabah dari seorang budak perempuan miliknya, maka ia (anak tersebut) diwajibkan untuk membayar (tebusan) jika pewaris meninggalkan harta yang cukup agar ia dapat merdeka dengan pembayaran itu, sehingga ia mengikuti (status) ayahnya dalam kemerdekaan. Namun jika pewaris tidak meninggalkan harta yang cukup, maka anak tersebut diwajibkan untuk bekerja agar dapat membayar (tebusan) itu, sehingga ia merdeka mengikuti ayahnya.

وَلَوْ تَرَكَ الْمُكَاتَبُ وَلَدَيْنِ أَحَدُهُمَا حُرٌّ وَالْآخَرُ مَمْلُوكٌ كَانَ مِيرَاثُهُ لِوَلَدِهِ الْمَمْلُوكِ دُونَ الْحَرِّ لِيُؤَدِّيَهُ فِي كِتَابَةِ أَبِيهِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ مَا لَمْ يَنْفَسِخْ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ بِمَوْتِ أَحَدِ الْمُتَعَاقِدَيْنَ لَمْ يَنْفَسِخْ بِمَوْتِ الْآخَرِ كَالْبَيْعِ لِأَنَّ مَنْ تَمَّتْ بِهِ الْكِتَابَةُ لَمْ يَنْفَسِخْ بِمَوْتِهِ كَالسَّيِّدِ

Jika seorang mukatab meninggalkan dua anak, salah satunya merdeka dan yang lainnya masih berstatus budak, maka warisannya diberikan kepada anaknya yang masih budak, bukan kepada yang merdeka, agar budak tersebut dapat membayarkan (sisa) kitabah ayahnya. Hal ini didasarkan pada analogi bahwa akad-akad mu‘āwadah yang belum batal karena wafatnya salah satu pihak yang berakad, maka tidak batal pula dengan wafatnya pihak yang lain, seperti akad jual beli. Sebab, orang yang telah sempurna akad kitabahnya tidak batal akadnya karena kematiannya, sebagaimana halnya tuan (pemilik budak).

وَلِأَنَّ مَالَ الْكِتَابَةِ مُتَعَلِّقٌ بِذِمَّتِهِ فِي حَيَاتِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَتَعَلَّقَ بِتَرِكَتِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ كَالدَّيْنِ

Karena harta kitābah itu terkait dengan tanggungan (dzimmah) seseorang selama hidupnya, maka wajib pula harta tersebut terkait dengan harta warisannya setelah ia wafat, sebagaimana utang.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّ الْعِتْقَ وَالْإِبْرَاءَ يَقُومَانِ فِي عِتْقِ الْمُكَاتَبِ مَقَامَ الْأَدَاءِ فَإِذَا لَمْ يُعْتَقْ بِإِبْرَائِهِ وَعِتْقِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَعْتِقَ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Dalil kami adalah bahwa ‘itq (pembebasan budak) dan ibrā’ (pembebasan dari kewajiban membayar) menempati posisi yang sama dengan pelunasan (adā’) dalam pembebasan budak mukātab. Maka, jika seorang mukātab tidak menjadi merdeka dengan ibrā’ dan ‘itq setelah wafatnya tuan, maka lebih utama lagi ia tidak menjadi merdeka dengan pelunasan (adā’) setelah wafatnya tuan.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا أَنَّ مَا عَتَقَ بِهِ الْمُكَاتَبُ فِي حَالِ الْحَيَاةِ لَمْ يَعْتِقْ بِهِ بَعْدَ الْوَفَاةِ كَالْإِبْرَاءِ وَالْعِتْقِ

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa sesuatu yang menyebabkan kemerdekaan bagi seorang mukātib pada saat masih hidup, tidak menyebabkan kemerdekaan baginya setelah wafat, seperti halnya pembebasan utang (ibrā’) dan pembebasan budak (‘itq).

وَلِأَنَّ مَوْتَ الْمُكَاتَبِ قَبْلَ الْأَدَاءِ يَقْتَضِي أَنْ يَمُوتَ عَبْدًا كَالَّذِي لَمْ يُخَلِّفْ وَفَاءً وَلَا وَلَدًا وَلِأَنَّ عِتْقَهُ بَعْدَ الْمَوْتِ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِآخِرِ أَجْزَاءِ حَيَاتِهِ أَوْ يَتَعَلَّقَ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ مَوْتِهِ فَإِنْ تَعَلَّقَ بِآخِرِ أَجْزَاءِ حَيَاتِهِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ تَحْرِيرُ عِتْقٍ قَبْلَ وُجُودِ الْأَدَاءِ وَهَذَا لَا يَجُوزُ فِي حَالِ الْحَيَاةِ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَجُوزَ بَعْدَ مَوْتِهِ وَإِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ الْمَوْتِ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ مَنْ مَاتَ عَبْدًا لَمْ يُعْتَقْ بَعْدَ مَوْتِهِ كَالْعَبْدِ الْقِنِّ وَكَمَا لَوْ لَمْ يَلْفِظْ سَيِّدُهُ بِالْعِتْقِ

Karena kematian seorang mukatab sebelum pelunasan menuntut agar ia mati dalam keadaan sebagai budak, seperti halnya orang yang tidak meninggalkan pelunasan maupun keturunan. Selain itu, kemerdekaannya setelah kematian tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi berkaitan dengan bagian akhir dari kehidupannya, atau berkaitan dengan pelunasan setelah kematiannya. Jika berkaitan dengan bagian akhir dari kehidupannya, maka tidak diperbolehkan, karena itu berarti membebaskan budak sebelum adanya pelunasan, dan hal ini tidak diperbolehkan saat masih hidup, maka lebih utama lagi untuk tidak diperbolehkan setelah kematiannya. Jika kemerdekaannya terjadi karena pelunasan setelah kematian, maka juga tidak diperbolehkan, karena siapa yang mati dalam keadaan sebagai budak, maka ia tidak bisa dimerdekakan setelah kematiannya, sebagaimana budak qin, dan sebagaimana jika tuannya tidak mengucapkan pembebasan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِمْ عَلَى الْبَيْعِ فَهُوَ أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَنْفَسِخْ بَعْدَ الْمَوْتِ بِالْإِعْسَارِ لَمْ يَنْفَسِخْ بِالْيَسَارِ وَلَمَّا انْفَسَخَتِ الْكِتَابَةُ بِمَوْتِ الْمُعْسِرِ انْفَسَخَتْ بِمَوْتِ الْمُوسِرِ

Adapun jawaban terhadap qiyās mereka dengan jual beli adalah bahwa ketika akad jual beli tidak batal setelah kematian karena kefakiran, maka tidak pula batal karena kecukupan. Dan ketika akad kitābah batal karena kematian orang yang fakir, maka batal pula karena kematian orang yang kaya.

وَأَمَّا قِيَاسُهُمْ عَلَى مَوْتِ السَّيِّدِ مَعَ افْتِرَاقِهِمَا بِمَا ذَكَرْنَا فِي اللُّزُومِ فَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّ السَّيِّدَ مَوْرُوثٌ فَجَازَ أَنْ يَقُومَ وَارْثُهُ مَقَامَهُ فِي بَقَاءِ الْعَقْدِ فِي حَقِّهِ وَالْمُكَاتَبَ غَيْرُ مَوْرُوثٍ فَانْقَطَعَ بِمَوْتِهِ حُكْمُ مَا لَمْ يُبْرِمْ مِنْ عُقُودِهِ

Adapun qiyās mereka terhadap kematian tuan dengan perbedaan antara keduanya sebagaimana telah kami sebutkan dalam hal keterikatan, maka jawabannya adalah bahwa tuan adalah pihak yang dapat diwarisi, sehingga boleh bagi ahli warisnya menggantikan posisinya dalam keberlangsungan akad tersebut baginya. Sedangkan mukatab bukanlah pihak yang dapat diwarisi, sehingga dengan kematiannya terputuslah hukum atas akad-akad yang belum diselesaikannya.

وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِتَعَلُّقِهِ فِي ذِمَّتِهِ كَالدَّيْنِ فَالْجَوَابُ عَنْهُ أَنَّ الْمُكَاتَبَ لَمَّا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِتَرِكَتِهِ حَقُّ وَرَثَتِهِ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ دَيْنُ كِتَابَتِهِ أَلَا تَرَى لَوْ تَرَكَ أَقَلَّ مِنَ الْوَفَاءِ لَمْ يُورَثْ عَنْهُ وَصَارَ إِلَى سَيِّدِهِ ملكا والله أعلم

Adapun dalil mereka dengan alasan bahwa (utang) itu melekat dalam tanggungannya seperti utang pada umumnya, maka jawabannya adalah bahwa seorang mukatab, karena hak ahli warisnya tidak melekat pada harta peninggalannya, maka utang kitabahnya pun tidak melekat padanya. Tidakkah engkau melihat, jika ia meninggalkan harta kurang dari jumlah pelunasan (kitabah), maka harta itu tidak diwariskan darinya, melainkan menjadi milik tuannya. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ جَاءَهُ بِالنَّجْمِ فَقَالَ السَّيِّدُ هُوَ حَرَامٌ أَجْبَرْتُ السَّيِّدَ عَلَى أَخْذِهِ أَوْ يُبْرِئُهُ مِنْهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika ia datang kepadanya dengan an-najm, lalu tuannya berkata, ‘Itu haram,’ maka aku memaksa tuan tersebut untuk mengambilnya atau membebaskannya darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا دَفَعَ الْمُكَاتَبُ مَالَ نَجْمٍ مِنْ كِتَابَتِهِ إِلَى سَيِّدِهِ فَقَالَ السَّيِّدُ هُوَ حَرَامٌ لِأَنَّهُ مِنْ غَصْبٍ أَوْ رِبًا وَقَالَ الْمُكَاتَبُ بَلْ هُوَ مَالِي وَحَلَالٌ لِي فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُكَاتَبِ مَعَ يَمِينِهِ دُونَ السَّيِّدِ لِأَنَّ ظَاهِرَهُ يَدُلُّ عَلَى ثُبُوتِ مِلْكِهِ وَيَحْلِفُ عَلَيْهِ لِإِمْكَانِ مَا قَالَهُ السَّيِّدُ وَهُوَ فِي يَمِينِهِ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَحْلِفَ بِاللَّهِ أَنَّ هَذَا الْمَالَ لَيْسَ بِحَرَامٍ وَلَا مَغْصُوبٍ وبين أن يحلف انه ملكه فإذن حَلَفَ قِيلَ لِلسَّيِّدِ إِمَّا أَنْ تَقْبِضَهُ أَوْ تُبَرِّئَهُ مِنْهُ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, apabila seorang mukatab menyerahkan sejumlah pembayaran dari akad kitabahnya kepada tuannya, lalu tuannya berkata, ‘Ini haram karena berasal dari hasil ghasab atau riba,’ sedangkan mukatab berkata, ‘Bahkan ini adalah hartaku dan halal bagiku,’ maka yang dipegang adalah pernyataan mukatab disertai sumpahnya, bukan pernyataan tuan, karena secara lahiriah hal itu menunjukkan kepemilikannya yang sah, dan ia bersumpah atasnya karena memungkinkan apa yang dikatakan tuan. Dalam sumpahnya, ia diberi pilihan antara bersumpah demi Allah bahwa harta ini bukan haram dan bukan hasil ghasab, atau bersumpah bahwa itu adalah miliknya. Jika ia telah bersumpah, maka dikatakan kepada tuan, ‘Silakan engkau mengambilnya atau membebaskannya darinya.’”

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ الْمُفْلِسُ إِذَا حَلَفَ عَلَى مَالٍ ادَّعَاهُ فَأَكْذَبَهُ فِيهِ بَعْضُ غُرَمَائِهِ وَحُكِمَ لَهُ بِالْمَالِ فَإِنَّهُ يُقَسِّمُهُ بَيْنَ مَنْ صَدَّقَهُ مِنْ غُرَمَائِهِ وَلَمْ يَكُنْ لِمَنْ أَكْذَبَهُ فِيهِ حَقٌّ لِاعْتِرَافِهِ بِتَحْرِيمِهِ فَهَلَّا كَانَ سَيِّدُ الْمُكَاتَبِ كَذَلِكَ

Jika dikatakan: Bukankah seorang yang bangkrut, apabila ia bersumpah atas suatu harta yang ia klaim, lalu sebagian krediturnya mendustakannya dalam hal itu, kemudian diputuskan harta tersebut untuknya, maka ia membaginya di antara para kreditur yang membenarkannya, dan tidak ada hak bagi yang mendustakannya karena pengakuannya atas pengharamannya? Maka mengapa tuan dari seorang mukatab tidak diperlakukan seperti itu juga?

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْمُفْلِسَ لَا يَسْتَضِرُّ بِامْتِنَاعِ بَعْضِ غُرَمَائِهِ مِنْ أَخْذِهِ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِهِ إِلَى غَيْرِهِ وَالْمُكَاتَبَ يَسْتَضِرُّ بِامْتِنَاعِ سَيِّدِهِ مِنْ أَخْذِهِ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِهِ إِلَى غَيْرِهِ فَلِذَلِكَ أُجْبِرَ السَّيِّدُ عَلَى أَخْذِهِ وَإِنْ لَمْ يُجْبَرْ غَرِيمُ الْمُفْلِسِ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa seorang muflis tidak akan dirugikan jika sebagian krediturnya menolak menerima pembayaran, karena ia masih dapat menyerahkannya kepada kreditur lain. Sedangkan seorang mukatab akan dirugikan jika tuannya menolak menerima pembayaran, karena ia tidak dapat menyerahkannya kepada orang lain. Oleh karena itu, tuan diwajibkan untuk menerima pembayaran tersebut, sedangkan kreditur muflis tidak diwajibkan demikian.

وَمِثَالُ الْمُكَاتَبِ مِنَ الْمُفْلِسِ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ إِلَّا غَرِيمٌ وَاحِدٌ قَدِ اعْتَرَفَ بِتَحْرِيمِهِ فَيُجْبَرَ عَلَى أَخْذِهِ أَوْ إِبْرَائِهِ لِأَنَّهُ يَسْتَضِرُّ فِي الْغَرِيمِ الْوَاحِدِ بِتَرْكِ أَخْذِهِ كَالْمُكَاتَبِ فَصَارَا سَوَاءً

Contoh kasus seorang mukatab dari orang yang muflis adalah ketika ia hanya memiliki satu orang kreditur yang telah mengakui haknya secara sah, maka ia dipaksa untuk mengambil haknya atau membebaskannya. Sebab, dalam kasus hanya ada satu kreditur, jika ia tidak mengambil haknya akan menimbulkan mudarat, sebagaimana halnya pada kasus mukatab, sehingga keduanya menjadi sama.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجْبَرَ عَلَى أَخْذِهِ فَلَا يَخْلُو حاله فيه من ثلاثة أَحْوَالٍ إِمَّا أَنْ يَأْخُذَهُ وَإِمَّا أَنْ يُبْرِئَهُ وَإِمَّا أَنْ يَمْتَنِعَ مِنَ الْأَخْذِ وَالْإِبْرَاءِ

Maka apabila telah tetap bahwa tuan (pemilik budak) dapat dipaksa untuk mengambilnya (budak tersebut), maka keadaannya tidak lepas dari tiga kemungkinan: yaitu, bisa jadi ia mengambilnya, atau ia membebaskannya, atau ia menolak untuk mengambil maupun membebaskannya.

فَإِنْ أَخَذَ مِنْهُ الْمَالَ بَرِئَ الْمُكَاتَبُ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ مِنْ آخِرِ نُجُومِهِ عَتَقَ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ تَضَاعِيفِهَا كَانَ عِتْقُهُ مُعَلَّقًا بِأَدَاءِ مَا بَقِيَ فَإِذَا صَارَ الْمَالُ فِي يَدِ السَّيِّدِ نَظَرَ فِيمَا ادَّعَاهُ مِنْ تَحْرِيمِهِ فَإِنْ لَمْ يُسَمِّ مُسْتَحِقَّهُ كَانَ مُقَرًّا فِي يَدِهِ عَلَى مُسْتَحَقِّهِ وَلَا يُجْعَلُ مِلْكًا لَهُ وَإِنْ لَمْ يُنْزَعْ مِنْ يَدِهِ

Jika ia (tuan) telah mengambil harta tersebut darinya (mukatab), maka mukatab terbebas darinya. Jika pembayaran itu merupakan cicilan terakhirnya, maka ia pun merdeka karenanya. Namun jika pembayaran itu merupakan bagian dari cicilan-cicilan sebelumnya, maka kemerdekaannya tergantung pada pelunasan sisa yang masih ada. Apabila harta tersebut telah berada di tangan tuan, maka dilihat apa yang ia klaim terkait pengharamannya. Jika ia tidak menyebutkan siapa yang berhak menerimanya, maka harta itu tetap berada di tangannya untuk diberikan kepada yang berhak, dan tidak dijadikan sebagai miliknya, meskipun tidak diambil dari tangannya.

وَإِنْ سَمَّى مُسْتَحِقَّهُ فَقَالَ هُوَ مَغْصُوبٌ مِنْ زَيْدٍ لَزِمَهُ بَعْدَ أَخْذِهِ أَنْ يَرُدَّهُ عَلَى زَيْدٍ لِاعْتِرَافِهِ لَهُ بِمَا صَارَ فِي يَدِهِ وَلِأَنَّهُ سَمَّى فَصَارَ كَرَجُلٍ أَقَرَّ بِدَارٍ فِي يَدِ أَبِيهِ أَنَّهَا غَصْبٌ ثُمَّ مَاتَ أَبُوهُ فَصَارَتِ الدَّارُ إِلَيْهِ لَزِمَهُ رَدُّهَا عَلَى مَنِ اعْتَرَفَ بِغَصْبِهَا مِنْهُ

Dan jika ia menyebutkan siapa yang berhak atasnya, lalu berkata, “Ini adalah barang yang digasak dari Zaid,” maka setelah mengambilnya, ia wajib mengembalikannya kepada Zaid, karena ia telah mengakui bahwa barang itu berada di tangannya milik Zaid. Selain itu, karena ia telah menyebutkan nama, maka keadaannya seperti seseorang yang mengakui bahwa sebuah rumah yang ada di tangan ayahnya adalah hasil ghasab, kemudian ayahnya meninggal dunia sehingga rumah itu berpindah kepadanya, maka ia wajib mengembalikannya kepada orang yang diakui telah digasak darinya.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ رَهَنَ رَجُلٌ عَبْدًا فَادُّعِيَتْ عَلَى الْعَبْدِ جِنَايَةٌ صُدِّقَ عَلَيْهَا الْمُرْتَهِنُ وَكُذِّبَ الرَّاهِنُ فَأَحْلَفَ الرَّاهِنَ عَلَيْهَا وَبِيعَ الْعَبْدُ ثُمَّ دُفِعَ ثَمَنُهُ إِلَى الْمُرْتَهِنِ لَمْ يَلْزَمْهُ دَفْعُهُ إِلَى مَنْ صَدَّقَهُ عَلَى دَعْوَى الْجِنَايَةِ فَهَلَّا كَانَ فِي سَيِّدِ الْمُكَاتَبِ كَذَلِكَ قِيلَ لِأَنَّ حَقَّ الْمَغْصُوبِ مِنْهُ يَتَعَيَّنُ فِي مَالِ الْكِتَابَةِ فَلَزِمَ السَّيِّدَ رَدُّهُ عَلَيْهِ وَلَا يَتَعَيَّنُ فِي ثَمَنِ الْعَبْدِ الْجَانِي فَلَمْ يَلْزَمِ الْمُرْتَهِنَ رَدُّهُ عَلَيْهِ

Jika dikatakan: Bukankah jika seseorang menggadaikan seorang budak, lalu ada yang menuduh budak tersebut melakukan suatu tindak pidana, maka pihak yang memegang gadai dibenarkan atas tuduhan itu dan pihak yang menggadaikan didustakan, kemudian pihak yang menggadaikan disuruh bersumpah atas tuduhan itu, lalu budak tersebut dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada pihak yang memegang gadai, maka ia tidak wajib menyerahkan hasil tersebut kepada orang yang membenarkannya atas tuduhan pidana itu? Mengapa tidak berlaku hal yang sama pada tuan dari seorang mukatab? Dijawab: Karena hak orang yang dirampas hanya dapat ditetapkan pada harta pembayaran kitabah, sehingga wajib bagi tuan untuk mengembalikannya kepadanya, sedangkan pada harga budak yang melakukan tindak pidana tidak dapat ditetapkan demikian, sehingga pihak yang memegang gadai tidak wajib mengembalikannya kepadanya.

وَإِنْ لَمْ يَقْبِضِ السَّيِّدُ ذَلِكَ وَلَكِنْ أَبْرَأَ مِنْهُ جَازَ أَنْ يَكُونَ السَّيِّدُ شَاهِدًا عَلَى مُكَاتَبَةِ بَعْضِهِ وَلَوْ لَمْ يُبَرِّئْهُ لَمْ تَجُزْ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِهَا قَبْلَ الْإِبْرَاءِ ضَرَرًا وَلَا يَدْفَعُ بِهَا بَعْدَهُ ضَرَرًا وَتَجُوزُ هَذِهِ الشَّهَادَةُ إِذَا سُمِّيَ الْمَغْصُوبُ مِنْهُ وَلَا تَجُوزُ إِنْ لَمْ يُسَمِّهِ وَلَا يُمْنَعُ الْمُكَاتَبُ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ إِذَا لم تجز الشهادة وإذا لَمْ يَقْبِضِ السَّيِّدُ ذَلِكَ مِنْهُ وَلَا أَبْرَأَهُ فَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَسْتَعْدِيَ الْحَاكِمَ عَلَى سَيِّدِهِ حَتَّى يَأْمُرَهُ بِأَحَدِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قَبْضٍ أَوْ إِبْرَاءٍ فَإِنْ أَقَامَ عَلَى امْتِنَاعِهِ نَابَ الْحَاكِمُ عَنْهُ في القبض دون الإ راء لِأَنَّ الْإِبْرَاءَ إِسْقَاطٌ وَالْقَبْضَ اسْتِيفَاءٌ فَإِذَا قَبَضَهُ الْحَاكِمُ نَظَرَ فَإِنْ كَانَ السَّيِّدُ قَدْ سَمَّى الْمَغْصُوبَ مِنْهُ سَلَّمَهُ الْحَاكِمُ إِلَيْهِ إِذَا طَالَبَهُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يُسَمِّهِ اسْتَبْقَاهُ الْحَاكِمُ فِي يَدِهِ أَوْ فِي يَدِ أَمِينٍ مِنْ أُمَنَائِهِ فَإِنْ جَاءَ مُدَّعِيهِ بِبَيِّنَتِهِ أَقَامَهَا عَلَى غَصْبِهِ مِنْهُ أَوْ عَلَى أَنَّهُ مِلْكٌ لَهُ سَلَّمَهُ إِلَيْهِ

Jika tuan tidak menerima (harta) tersebut, tetapi membebaskannya, maka boleh bagi tuan menjadi saksi atas akad mukatabah sebagian (harta) tersebut. Namun, jika ia tidak membebaskannya, maka kesaksiannya tidak sah, karena sebelum pembebasan, dengan kesaksian itu ia dapat menolak suatu bahaya, sedangkan setelah pembebasan ia tidak lagi menolak bahaya. Kesaksian ini sah jika disebutkan secara jelas harta yang digelapkan, dan tidak sah jika tidak disebutkan. Mukatab tidak dilarang untuk melakukan transaksi atas harta tersebut jika kesaksian tidak sah dan jika tuan belum menerima harta itu darinya serta belum membebaskannya. Maka, mukatab berhak mengadukan tuannya kepada hakim agar hakim memerintahkan salah satu dari dua hal, yaitu menerima (harta) atau membebaskan. Jika tuan tetap menolak, maka hakim bertindak menggantikan tuan dalam hal penerimaan, bukan dalam hal pembebasan, karena pembebasan adalah pengguguran (hak), sedangkan penerimaan adalah penunaian (hak). Jika hakim telah menerima harta tersebut, maka ia akan melihat: jika tuan telah menyebutkan secara jelas harta yang digelapkan, hakim menyerahkannya kepada tuan jika ia menuntutnya. Namun, jika tidak disebutkan, hakim menahan harta itu di tangannya atau di tangan orang kepercayaan dari para kepercayaannya. Jika ada orang yang mengakuinya dengan bukti yang sah, baik atas dasar bahwa harta itu digelapkan darinya atau bahwa harta itu adalah miliknya, maka hakim menyerahkannya kepadanya.

وَإِنْ جَاءَ السَّيِّدُ مُطَالِبًا بِإِقْرَارِهِ فِي يَدِهِ لَمْ يَدْفَعْهُ الْحَاكِمُ إِلَيْهِ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ فِي قَبْضَتِهِ لَمْ يَنْتَزِعْهُ مِنْهُ إِلَّا مَالِكٌ وَإِذَا صَارَ فِي يَدِ الْحَاكِمِ لَمْ يَدْفَعْهُ إِلَّا إِلَى مَالِكٍ وَقَدْ أَقَرَّ أَنَّهُ لَا مِلْكَ لَهُ فِيهِ فَأُخِذَ بِإِقْرَارِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَإِنْ لَمْ يُؤْخَذْ بِهِ فِي حق غيره

Dan jika tuan datang menuntut agar pengakuannya (bahwa budak itu miliknya) ditegakkan di tangannya, maka hakim tidak menyerahkannya kepadanya. Sebab, jika budak itu berada dalam genggamannya, tidak ada yang dapat mengambilnya darinya kecuali pemilik. Dan apabila budak itu telah berada di tangan hakim, maka hakim tidak akan menyerahkannya kecuali kepada pemilik. Sementara ia telah mengakui bahwa ia tidak memiliki hak kepemilikan atasnya, maka ia terikat dengan pengakuannya dalam hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri, meskipun pengakuan itu tidak diambil untuk hak orang lain.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه   وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang budak laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan izin tuannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَلَيْسَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَتَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى إِنْ شَرَطَ السَّيِّدُ عَلَى مُكَاتَبِهِ أَنْ لَا يَتَزَوَّجَ إِلَّا بِأَمْرِهِ وَجَبَ أَنْ يَسْتَأْمِرَهُ وَإِنْ لَمْ يَشْتَرِطْهُ جَازَ لَهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ بِغَيْرِ أَمْرِهِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ أَيُّمَا عَبْدٍ تَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهِ فَهُوَ عَاهِرٌ وَالْمُكَاتَبُ عَبْدٌ وَلِأَنَّ التَّزْوِيجَ اسْتِهْلَاكُ ما بِالْتِزَامِ الْمَهْرِ وَالنَّفَقَةِ وَالْمُكَاتَبُ مَمْنُوعٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ فِي التَّزْوِيجِ جَازَ قَوْلًا وَاحِدًا وَلَوْ أَرَادَتِ الْمُكَاتَبَةُ أَنْ تُخَالِعَ زَوْجَهَا بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ لَمْ يَجُزْ لِمَا فِيهِ مِنِ اسْتِهْلَاكِ الْمَالِ فَإِنْ أَذِنَ لَهَا السَّيِّدُ فِي الْخُلْعِ فَفِي جَوَازِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan seorang mukatab tidak boleh menikah tanpa izin tuannya.” Ibn Abi Laila berkata, “Jika tuan mensyaratkan kepada mukatabnya agar tidak menikah kecuali dengan izinnya, maka wajib baginya untuk meminta izin. Namun jika tidak disyaratkan, maka boleh baginya menikah tanpa izinnya.” Ini adalah pendapat yang keliru, karena Nabi ﷺ bersabda, “Siapa saja budak yang menikah tanpa izin tuannya, maka ia adalah pezina.” Sedangkan mukatab adalah budak. Selain itu, pernikahan mengandung unsur pengeluaran harta dengan kewajiban mahar dan nafkah, sedangkan mukatab dilarang melakukan hal tersebut. Jika tuan mengizinkan mukatab untuk menikah, maka itu boleh menurut satu pendapat. Jika seorang perempuan mukatabah ingin melakukan khulu‘ dari suaminya tanpa izin tuannya, maka itu tidak boleh karena di dalamnya terdapat unsur pengeluaran harta. Jika tuan mengizinkan khulu‘, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لِأَنَّ الْحَقَّ فِي الْمَالِ الَّذِي بِيَدِهَا لَا يَعْدُوهَا

Salah satunya membolehkan, karena hak atas harta yang ada di tangannya tidak melampaui dirinya.

فَعَلَى هَذَا يَسْتَوِي حُكْمُ النِّكَاحِ وَالْخُلْعِ فِي جَوَازِهِمَا بِإِذْنِ السَّيِّدِ

Dengan demikian, hukum nikah dan khulu‘ adalah sama dalam hal kebolehan keduanya dengan izin dari tuan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْخُلْعَ لَا يَجُوزُ وَإِنْ أَذِنَ السَّيِّدُ فِيهِ لِضِعْفِ إِذْنِهِ مَعَهَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa khulu‘ tidak diperbolehkan, meskipun tuan mengizinkannya, karena lemahnya izin tuan terhadap budak perempuan tersebut.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الْفَرْقُ بَيْنَ الْخُلْعِ وَالنِّكَاحِ أَنَّ الْمُكَاتَبَ قَدْ يَكُونُ مُضْطَرًّا إِلَى النِّكَاحِ فَجَازَ وَالْمُكَاتَبَةَ غَيْرُ مُضْطَرَّةٍ إِلَى الْخُلْعِ فَلَمْ يَجُزْ

Dengan demikian, perbedaan antara khulu‘ dan nikah adalah bahwa seorang mukatab (budak yang sedang menebus dirinya) mungkin berada dalam keadaan terpaksa untuk menikah sehingga diperbolehkan, sedangkan seorang mukatabah (budak perempuan yang sedang menebus dirinya) tidak berada dalam keadaan terpaksa untuk melakukan khulu‘ sehingga tidak diperbolehkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَتَسَرَّى بِحَالٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak boleh melakukan tasarrī dalam keadaan apa pun.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَ الْمُكَاتَبُ الْإِمَاءَ لِلتِّجَارَةِ وَاكْتِسَابِ الرِّبْحِ لِأَنَّ التِّجَارَةَ فِيهِنَّ جَائِزَةٌ

Al-Mawardi berkata, “Diperbolehkan bagi seorang mukatab untuk membeli budak perempuan guna tujuan perdagangan dan memperoleh keuntungan, karena perdagangan terhadap mereka dibolehkan.”

فَإِذَا اشْتَرَى أَمَةً لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَتَسَرَّى بِهَا وَيَسْتَمْتِعَ بِإِصَابَتِهَا بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ لِضَعْفِ حُكْمِهِ وَقُصُورِ تَصَرُّفِهِ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ فِي إِصَابَتِهَا وَالتَّسَرِّي بِهَا كَانَ مَبْنِيًّا عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي الْعَبْدِ هَلْ يَمْلِكُ إِذَا مَلَكَ أَمْ لَا فَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ وَإِنْ مَلَكَ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَسَرَّى وَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ لِأَنَّ التَّسَرِّيَ إِنَّمَا يَصِحُّ فِي مِلْكٍ وَلَيْسَ الْمُكَاتَبُ مَالِكًا

Apabila seseorang membeli seorang budak perempuan, maka ia tidak berhak untuk melakukan tasarri (berhubungan intim) dengannya dan menikmati hubungan tersebut tanpa izin tuan (pemilik) karena lemahnya kekuasaan dan keterbatasan hak bertindak yang dimilikinya. Jika tuan mengizinkannya untuk berhubungan intim dan melakukan tasarri dengannya, maka hal ini didasarkan pada perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai status budak laki-laki: apakah ia memiliki kepemilikan jika ia telah memiliki sesuatu atau tidak. Menurut pendapat beliau yang baru, budak tidak memiliki kepemilikan, dan jika pun ia memiliki sesuatu, ia tetap tidak berhak melakukan tasarri, meskipun telah diizinkan oleh tuannya, karena tasarri hanya sah dalam kepemilikan penuh, sedangkan mukatab (budak yang sedang dalam proses penebusan diri) bukanlah seorang pemilik.

وَعَلَى قَوْلِهِ فِي الْقَدِيمِ إِنَّ الْعَبْدَ يَمْلِكُ إِذَا مُلِّكَ فَيَجُوزُ تَسَرِّيهِ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ قَوْلًا وَاحِدًا كَالنِّكَاحِ لِأَنَّهُ رُبَّمَا دَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَيْهِمَا فَاسْتَوَيَا

Menurut pendapatnya yang lama, bahwa seorang hamba dapat memiliki sesuatu jika ia diberi kepemilikan, maka boleh baginya melakukan tasarruf dengan izin tuannya menurut satu pendapat, seperti halnya pernikahan, karena terkadang ada kebutuhan mendesak terhadap keduanya, sehingga keduanya disamakan.

وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ خَرَّجَ فِي جَوَازِهِمَا بِإِذْنِ السَّيِّدِ قَوْلَيْنِ كَالْهِبَةِ وَلَيْسَ هَذَا التَّخْرِيجُ صَحِيحًا لِأَمْرَيْنِ

Di antara ulama mazhab kami ada yang mengeluarkan dua pendapat tentang bolehnya kedua hal tersebut (jual beli dan hibah oleh budak) dengan izin tuan, seperti dalam masalah hibah. Namun, penarikan kesimpulan seperti ini tidaklah benar karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْهِبَةَ اسْتِهْلَاكُ مِلْكٍ عَاجِلٍ وَالنِّكَاحَ وَالتَّسَرِّيَ قَدْ يُفْضِي إِلَى الِاسْتِهْلَاكِ وَلَا يُفْضِي

Salah satunya adalah bahwa hibah merupakan bentuk penghabisan kepemilikan secara langsung, sedangkan nikah dan tasarri bisa saja berujung pada penghabisan kepemilikan, namun bisa juga tidak.

وَالثَّانِي أَنَّ الضَّرُورَةَ مَفْقُودَةٌ فِي الْهِبَةِ وَقَدْ تُوجَدُ فِي التَّسَرِّي وَالنِّكَاحِ

Kedua, bahwa keadaan darurat tidak terdapat dalam hibah, sedangkan dalam tasarrī dan nikah, keadaan darurat itu mungkin saja ada.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ وَلَدَتْ مِنْهُ بَعْدَ عِتْقِهِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ كَانَتْ فِي حُكْمِ أُمِّ وَلَدِهِ وَإِنْ وَضَعَتْ لِأَقَلَّ فَلَا تَكُونُ أُمَّ وَلَدٍ إِلَّا بِوَطْءٍ بَعْدَ الْعِتْقِ وَلَهُ بَيْعُهَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ia melahirkan anak darinya setelah enam bulan sejak dimerdekakan, maka ia dihukumi sebagai umm walad-nya. Namun jika ia melahirkan kurang dari itu, maka ia tidak menjadi umm walad kecuali dengan persetubuhan setelah dimerdekakan, dan ia (tuannya) berhak menjualnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا وَطِئَ الْمُكَاتَبُ أَمَةً قَدِ اشْتَرَاهَا فِي كِتَابَتِهِ فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ فِي وَطْئِهَا وَلَا مَهْرَ سَوَاءٌ جَوَّزَ لَهُ ذَلِكَ أَوْ مَنَعَ مِنْهُ أَمَّا سُقُوطُ الْحَدِّ فَلِوُجُودِ الشُّبْهَةِ فِي تَرَدُّدِهِ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ مَالِكًا أَوْ غَيْرَ مَالِكٍ وَأَمَّا سُقُوطُ الْمَهْرِ فَلِأَنَّ مَهْرَهَا مِنْ كَسْبِهِ فَلَمْ يَجِبْ لَهُ عَلَى نَفْسِهِ مَهْرٌ فَإِنْ أَحْبَلَهَا وَجَاءَتْ بِوَلَدٍ فَهُوَ لَاحِقٌ بِهِ لِأَنَّهُ مِنْ مِلْكٍ أَوْ شُبْهَةِ مِلْكٍ وَهُوَ مَمْلُوكٌ لِأَنَّهُ مِنْ بَيْنِ مَمْلُوكَيْنَ وَلَا يَمْلِكُهُ السَّيِّدُ لِزَوَالِ مِلْكِهِ عَنْ أَبَوَيْهِ وَلَا يُعْتَقُ عَلَى الْأَبِ بِالْمِلْكِ لِبَقَاءِ الْأَبِ عَلَى رِقِّهِ وَلَيْسَ لِلْأَبِ بَيْعُهُ لِحُرْمَةِ نَسَبِهِ وَيَكُونُ تَبَعًا لَهُ فِي الْكِتَابَةِ يُعْتَقُ بِعِتْقِهِ وَيَرِقُّ بِرِقِّهِ وَهَلْ تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Jika seorang mukatab menggauli seorang budak perempuan yang telah ia beli dalam akad kitabahnya, maka tidak ada hukuman had atasnya karena perbuatannya itu dan juga tidak ada kewajiban mahar, baik ia diizinkan untuk melakukan itu maupun tidak. Adapun gugurnya hukuman had disebabkan adanya syubhat, karena statusnya yang masih samar antara sebagai pemilik atau bukan pemilik. Sedangkan gugurnya kewajiban mahar karena mahar tersebut berasal dari hasil usahanya sendiri, sehingga tidak wajib baginya memberikan mahar kepada dirinya sendiri. Jika ia menghamilinya dan budak perempuan itu melahirkan anak, maka anak tersebut dinisbatkan kepadanya karena berasal dari kepemilikan atau syubhat kepemilikan. Anak itu berstatus budak karena lahir dari dua orang tua yang sama-sama budak, dan tuan (pemilik) tidak memiliki anak itu karena kepemilikan atas kedua orang tuanya telah hilang. Anak itu juga tidak otomatis merdeka karena ayahnya masih berstatus budak. Ayahnya tidak berhak menjual anak itu karena kehormatan nasabnya. Anak itu mengikuti status ayahnya dalam akad kitabah: ia akan merdeka jika ayahnya merdeka, dan tetap menjadi budak jika ayahnya tetap budak. Apakah dengan kelahiran anak itu budak perempuan tersebut menjadi umm walad atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِأَنَّهَا عَلَقَتْ بِهِ وَهُوَ مَمْلُوكٌ فَلَمْ تَنْتَشِرْ حُرْمَتُهُ إِلَيْهَا فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهَا فِي كِتَابَتِهِ وَبَعْدَ عِتْقِهِ

Salah satunya adalah bahwa perempuan tersebut tidak menjadi umm walad karena ia hamil dari laki-laki itu ketika ia masih berstatus budak, sehingga keharaman (status umm walad) tidak berlaku padanya. Oleh karena itu, laki-laki tersebut boleh menjualnya baik ketika dalam proses kitabah maupun setelah ia merdeka.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهَا قَدْ صَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ لِأَنَّ لِوَلَدِهَا فِي الْحَالِ حُرْمَةً تَمْنَعُ مِنْ جَوَازِ بَيْعِهِ فَانْتَشَرَتْ حُرْمَتُهُ إِلَيْهَا فِي الْمَنْعِ مِنْ بَيْعِهَا فَعَلَى هَذَا يُوقَفُ أَمْرُهَا عَلَى عِتْقِهِ ورقه

Pendapat kedua menyatakan bahwa perempuan tersebut telah menjadi umm walad baginya, karena anaknya pada saat itu memiliki kehormatan yang menghalangi kebolehan untuk dijual, sehingga kehormatan tersebut meluas kepadanya dalam hal larangan untuk menjualnya. Oleh karena itu, statusnya bergantung pada pembebasan anaknya.

فَإِنْ عَتَقَ حَرُمَ بَيْعُهَا وَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ صَارَتْ هِيَ وَوَلَدُهَا مِلْكًا لِلسَّيِّدِ تَبَعًا لِرِقِّ الْمُكَاتَبِ وَلَهُ بَيْعُ جَمِيعِهِمْ هَذَا إِذَا كَانَ وَضْعُهَا لِلْوَلَدِ قَبْلَ عِتْقِ الْمُكَاتَبِ

Jika sang mukatab merdeka, maka haram menjualnya. Namun jika ia tidak mampu (melunasi) dan kembali menjadi budak, maka perempuan itu dan anak-anaknya menjadi milik tuannya, mengikuti status perbudakan sang mukatab, dan tuan berhak menjual semuanya. Hal ini berlaku jika perempuan itu melahirkan anak sebelum sang mukatab merdeka.

فَأَمَّا إِذَا وَضَعَتْ وَلَدًا بَعْدَ عِتْقِ الْمُكَاتَبِ فَلَا يَخْلُو أَنْ تَضَعَهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ أَوْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرَ فَإِنْ وَضَعَتْهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَهُوَ مَمْلُوكٌ فِي حَالِ الْعُلُوقِ وَحُرٌّ فِي وَقْتِ الْوِلَادَةِ فَعَلَيْهِ الْوَلَاءُ لِأَبِيهِ لِعِتْقِ الْوَلَدِ بَعْدَ رِقِّهِ وَهَلْ تَصِيرُ لَهُ أُمَّ وَلَدٍ أَمْ لَا عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Adapun jika ia melahirkan anak setelah pemerdekaan mukatab, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia melahirkan anak kurang dari enam bulan, atau enam bulan atau lebih. Jika ia melahirkan anak kurang dari enam bulan, maka anak itu berstatus sebagai budak pada saat pembuahan dan merdeka pada saat kelahiran. Maka, hak wala’ tetap bagi ayahnya karena anak itu dimerdekakan setelah sebelumnya berstatus budak. Adapun apakah ibu anak itu menjadi umm walad atau tidak, maka hal itu kembali kepada dua pendapat yang telah lalu.

وَإِنْ وَضَعَتْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا كَانَ حُرَّ الْأَصْلِ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عُلُوقُهُ مُتَقَدِّمًا فِي الرِّقِّ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حَادِثًا بَعْدَ الْعِتْقِ وَنَحْنُ عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِهِ وَفِي شَكٍّ مِنْ تَقَدُّمِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَتَعَلَّقَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْيَقِينِ دُونَ الشَّكِّ فَعَلَى هَذَا لَا يَكُونُ عَلَيْهِ وَلَاءٌ لأنه لم يجر عَلَيْهِ رِقٌّ وَتَكُونُ أُمُّهُ أُمَّ وَلَدٍ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهَا عَلَقَتْ بِحُرٍّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika seorang perempuan melahirkan setelah enam bulan atau lebih, maka anak tersebut dihukumi sebagai anak yang berasal dari orang merdeka. Sebab, bisa jadi kehamilannya terjadi saat masih dalam status budak, dan bisa juga terjadi setelah dimerdekakan. Kita yakin akan terjadinya kelahiran tersebut, namun ragu tentang apakah kehamilannya terjadi sebelum atau sesudah dimerdekakan. Maka, hukum yang berlaku adalah berdasarkan keyakinan, bukan keraguan. Oleh karena itu, anak tersebut tidak memiliki wala’, karena tidak pernah mengalami status budak. Ibunya menjadi umm walad secara mutlak, karena ia hamil dari seorang yang merdeka. Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَيُجْبَرُ السَّيِّدُ عَلَى أَنْ يَضَعَ مِنْ كِتَابَتِهِ شَيْئًا لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ الله الذي آتاكم وَهَذَا عِنْدِي مِثْلُ قَوْلِهِ وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَاحْتَجَّ بِابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَاتَبَ عَبْدًا لَهُ بِخَمْسَةٍ وَثَلَاثِينَ أَلْفًا وَوَضَعَ عَنْهُ خَمْسَةَ آلَافٍ أَحْسَبُهُ قَالَ مِنْ آخِرِ نُجُومِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tuan (pemilik budak) diwajibkan untuk mengurangi sebagian dari harga perjanjian pembebasan (kitābah) budaknya, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.’ Menurutku, hal ini serupa dengan firman-Nya: ‘Dan bagi perempuan-perempuan yang dicerai, hendaklah diberi mut‘ah (pemberian) menurut yang patut.’ Beliau juga berdalil dengan perbuatan Ibnu ‘Umar, bahwa ia pernah membuat perjanjian pembebasan (kitābah) dengan budaknya seharga tiga puluh lima ribu, lalu ia mengurangi lima ribu darinya—aku kira beliau berkata: dari cicilan-cicilan terakhirnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ يَجِبُ عَلَى سَيِّدِ الْمُكَاتَبِ أَنْ يَضَعَ عَنْهُ مِنْ كِتَابَتِهِ شَيْئًا إِمَّا إِبْرَاءً مِنْهُ أَوْ رَدًّا عَلَيْهِ مِمَّا أَخَذَ مِنْهُ تَخْفِيفًا عَنْهُ وَمَعُونَةً لَهُ فَإِنْ فَعَلَهُ طَوْعًا وَإِلَّا أُخِذَ بِهِ جَبْرًا وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ

Al-Mawardi berkata: “Ini adalah pendapat yang benar, yaitu wajib bagi tuan dari seorang mukatab untuk mengurangi sebagian dari nilai kitabahnya, baik dengan membebaskannya dari sebagian kewajiban tersebut atau mengembalikan kepadanya sebagian dari apa yang telah diambil darinya, sebagai bentuk keringanan dan bantuan baginya. Jika tuan melakukannya secara sukarela, maka itu baik; namun jika tidak, maka ia harus dipaksa untuk melakukannya. Inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi‘in, dan para fuqaha.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ وَلَا يَجِبُ احْتِجَاجًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمُكَاتَبُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ دِرْهَمٌ وَلَوْ كَانَ الْإِيتَاءُ وَاجِبًا لِعِتْقٍ مَعَ بَقَاءِ ذَلِكَ الدِّرْهَمِ فَدَلَّ عَلَى بُطْلَانِهِ

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa hal itu disunnahkan dan tidak wajib, dengan berdalil pada sabda Nabi ﷺ: “Seorang mukatab tetap berstatus budak selama masih tersisa satu dirham atasnya.” Seandainya pemberian itu wajib untuk memerdekakan, padahal masih tersisa satu dirham, maka hal itu menunjukkan batalnya pendapat tersebut.

وَلِأَنَّ الْمُكَاتَبَةَ مُعَاوَضَةٌ فَإِذَا لَمْ يَسْتَحِقَّ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ شَيْئًا غَيْرَ مَشْرُوطٍ لَمْ يَسْتَحِقَّهُ الْآخَرُ كَالْبَيْعِ طَرْدًا لَا يَسْتَحِقُّ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ إِلَّا مَا شَرَطَهُ الْبَائِعُ مِنَ الثَّمَنِ وَشَرَطَهُ الْمُشْتَرِي مِنَ الْمُثَمَّنِ وَكَالنِّكَاحِ عَكْسًا لَمَّا اسْتَحَقَّتِ الزَّوْجَةُ فِيهِ مَا لَمْ يَشْتَرِطْهُ مِنَ الْمُتْعَةِ اسْتَحَقَّ الزَّوْجُ فِيهِ مَا لَمْ يَشْتَرِطْهُ مِنْ نِصْفِ الْمَهْرِ بِالطَّلَاقِ وَقَبْلَ الدُّخُولِ

Karena mukātabah adalah suatu bentuk mu‘āwadah (pertukaran hak dan kewajiban), maka apabila salah satu pihak tidak berhak atas sesuatu dari pihak lain kecuali yang disyaratkan, maka pihak lain pun tidak berhak atas sesuatu selain yang disyaratkan, sebagaimana dalam jual beli: secara konsisten, tidak ada salah satu pihak yang berhak atas pihak lainnya kecuali apa yang telah disyaratkan oleh penjual berupa harga dan yang disyaratkan oleh pembeli berupa barang yang dijual. Begitu pula dalam pernikahan, secara terbalik: ketika istri berhak atas sesuatu yang tidak disyaratkan berupa mut‘ah, maka suami pun berhak atas sesuatu yang tidak disyaratkan berupa setengah mahar karena terjadinya talak sebelum terjadi hubungan suami istri.

قَالُوا وَلِأَنَّهُ لَوْ وَجَبَ بِالشَّرْعِ لَتَقَدَّرَ بِهِ كَالزَّكَاةِ فَدَلَّ تَرْكُ تَقْدِيرِهِ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِهِ وَلِأَنَّ وُجُوبَهُ يُفْضِي إِلَى جَهَالَةِ الْبَاقِي فَتَصِيرُ الْكِتَابَةُ بِمَجْهُولٍ وَالْعِوَضُ الْمَجْهُولُ تَبْطُلُ بِهِ الْكِتَابَةُ وَيَمْنَعُ مِنْهُ الشَّرْعُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَجِبَ في الشرع ولأنه وُجُوبَهُ مُعْتَبَرٌ بِصِفَةِ الْعِتْقِ لِأَنَّهُ إِذَا كَاتَبَهُ عَلَى أَلْفٍ إِذَا أَدَّى آخِرَهَا فَهُوَ حُرٌّ فَإِذَا أَسْقَطَ عَنْهُ قَدْرَ الْإِيتَاءِ لَمْ تَكْمُلِ الصِّفَةُ وَلَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ

Mereka berkata: “Karena jika hal itu diwajibkan oleh syariat, tentu akan ditentukan kadarnya sebagaimana zakat. Maka, tidak ditentukannya kadar tersebut menunjukkan bahwa hal itu tidak wajib. Selain itu, kewajiban tersebut akan menyebabkan ketidakjelasan sisa (harta), sehingga akad kitabah menjadi atas sesuatu yang tidak diketahui, dan kompensasi yang tidak diketahui membatalkan akad kitabah, serta syariat melarang hal tersebut. Maka, tidak boleh hal itu diwajibkan dalam syariat. Selain itu, kewajibannya juga bergantung pada sifat ‘itq (pembebasan budak), karena jika seseorang melakukan kitabah atas seribu (dirham), maka ketika budak tersebut telah melunasi yang terakhir, ia menjadi merdeka. Jika tuan membebaskan sebagian dari jumlah pembayaran, maka sifat (pembebasan) itu tidak sempurna dan kemerdekaan tidak terjadi.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ الْإِيتَاءِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 فَأَمَرَ بِالْإِيتَاءِ وَظَاهِرُ الْأَمْرِ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ

Dan dalil atas wajibnya memberikan (harta) adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (an-Nur: 33). Maka Allah memerintahkan untuk memberikan, dan perintah secara lahiriah itu menunjukkan kewajiban.

فَإِنْ قِيلَ الْأَمْرُ بِالْإِيتَاءِ مُقْتَرِنٌ بِالْأَمْرِ بِالْكِتَابَةِ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ بِالْكِتَابَةِ مَحْمُولًا عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْوُجُوبِ كَذَلِكَ الْأَمْرُ بِالْإِيتَاءِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْوُجُوبِ

Jika dikatakan bahwa perintah untuk memberikan (sesuatu) disertai dengan perintah untuk menuliskannya, kemudian perintah untuk menulis itu dipahami sebagai anjuran (istihbāb) dan bukan kewajiban (wujūb), maka demikian pula perintah untuk memberikan (sesuatu) seharusnya dipahami sebagai anjuran (istihbāb) dan bukan kewajiban (wujūb).

قِيلَ قَدْ كَانَ ظَاهِرُ الْأَمْرِ يَقْتَضِي الْوُجُوبَ فِيهَا لَكِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْكِتَابَةِ وَبَقِيَ الْوُجُوبُ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْإِيتَاءِ

Dikatakan bahwa tampaknya perkara tersebut menunjukkan kewajiban di dalamnya, namun terdapat dalil yang menunjukkan anjuran untuk menulis (akad), dan kewajiban tetap berlaku secara lahiriah dalam hal penyerahan.

فَإِنْ قِيلَ فَيُحْمَلُ وُجُوبُ الْإِيتَاءِ عَلَى مَا يُعْطُونَهُ مِنْ سَهْمِ الرِّقَابِ فِي الزَّكَاةِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ جَعَلَ لَهُمْ فِيهَا سَهْمًا

Jika dikatakan, maka kewajiban memberikan (bantuan) itu diarahkan kepada apa yang mereka terima dari bagian riqāb dalam zakat, karena Allah Ta‘ala telah menetapkan bagi mereka satu bagian di dalamnya.

قِيلَ لَا يَصِحُّ حَمْلُ هَذَا الْإِيتَاءِ عَلَى سَهْمِهِمْ فِي الزَّكَاةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Dikatakan bahwa tidak sah memaknai pemberian ini sebagai bagian mereka dalam zakat dari tiga segi.

أَحَدُهَا أَنَّهُ لَمَّا كَانَ قَوْله تَعَالَى فَكَاتِبُوهُمْ النور 33 مَحْمُولًا عَلَى شَهَادَةِ الْعَبْدِ وَعَطَفَ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ وَآتُوهُمْ النور 33 وَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَائِدًا إِلَى سَادَاتِهِمْ لِيَكُونَ إِرْسَالُ الْخِطَابِ فِي الْآخَرِ عَائِدًا إِلَى مَنْ أُرِيدَ بِالْأَوَّلِ وَلَا يَكُونُ عَائِدًا إِلَى غَيْرِ مَذْكُورٍ وَإِذَا عَادَ إلى سادة العبيد لم يجز أن يجمل عَلَى الزَّكَاةِ لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَ زَكَاتَهُ إِلَى عَبْدِهِ فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَنْ يُرَادَ بِهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ

Salah satunya adalah bahwa ketika firman Allah Ta‘ala “maka hendaklah kamu adakan perjanjian dengan mereka” (an-Nur: 33) dimaknai sebagai kesaksian dari hamba, lalu diiringi dengan firman-Nya “dan berikanlah kepada mereka” (an-Nur: 33), maka wajib bahwa kembalinya (kata ganti) itu kepada para tuan mereka, agar penyampaian perintah pada bagian akhir kembali kepada pihak yang dimaksudkan pada bagian awal, dan tidak kembali kepada pihak yang tidak disebutkan. Jika kembalinya kepada para tuan budak, maka tidak boleh dimaknai sebagai zakat, karena seorang tuan tidak boleh memberikan zakatnya kepada hambanya. Maka tidak tersisa kecuali bahwa yang dimaksud adalah dari harta perjanjian (kitābah).

وَالثَّانِي أَنَّ سَهْمَهُمْ فِي الزَّكَاةِ مُسْتَفَادٌ مِنْ آيَةٍ أُخْرَى فَكَانَ حَمْلُهُ عَلَى حُكْمٍ آخَرَ أَوْلَى

Kedua, bahwa bagian mereka dalam zakat diambil dari ayat lain, maka menafsirkannya dengan hukum yang lain lebih utama.

وَالثَّالِثُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالْإِيتَاءِ مِنْ مَالٍ أَضَافَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَلَا يُضِيفُ إِلَى نَفْسِهِ وَإِنْ كَانَ جَمِيعُ الْأَمْوَالِ لَهُ إِلَّا لِتَشْرِيفِ الْمَالِ وَاسْتَطَابَتِهِ وَالزَّكَوَاتُ هِيَ أَوْسَاخُ الذُّنُوبِ فَكَانَ حَمْلُهُ عَلَى غَيْرِهَا أَوْلَى

Ketiga, bahwa Allah Ta‘ala memerintahkan untuk memberikan dari harta yang Dia nisbatkan kepada Diri-Nya, dan Dia tidak menisbatkan sesuatu kepada Diri-Nya—meskipun seluruh harta adalah milik-Nya—kecuali untuk memuliakan dan mensucikan harta tersebut. Sementara zakat adalah kotoran-kotoran dosa, maka menafsirkan ayat tersebut dengan selain zakat lebih utama.

وَرَوَى عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي قَوْله تَعَالَى وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 أَنْ يَحُطَّ عَنْهُ رُبُعَ الْكِتَابَةِ وَهَذَا تَفْسِيرٌ وَدَلِيلٌ

Atha’ bin as-Sa’ib meriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, dari Nabi ﷺ mengenai firman Allah Ta’ala: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia karuniakan kepadamu” (an-Nur: 33), bahwa maksudnya adalah hendaknya ia mengurangi seperempat dari akad kitabah. Ini merupakan tafsir dan dalil.

وَلِأَنَّهُ قَوْلُ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَلَيْسَ يُعْرَفُ لَهُمْ مُخَالِفٌ فَكَانَ إِجْمَاعًا

Karena pendapat tersebut adalah pendapat Umar, Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka, maka hal itu menjadi ijmā‘.

وَلِأَنَّهُ نَوْعُ مُعَاوَضَةٍ يَسْتَحِقُّ أَحَدُهُمَا فِيهِ عَلَى صَاحِبِهِ حَقًّا غَيْرَ مَشْرُوطٍ فوجب أَنْ يَسْتَحِقَّ الْآخَرُ فِيهِ حَقًّا غَيْرَ مَشْرُوطٍ كَالَّذِي ذَكَرُوهُ مِنَ النِّكَاحِ وَالَّذِي يَسْتَحِقُّ السَّيِّدُ بِغَيْرِ شَرْطِ الْوَلَاءِ فَيَقْتَضِي أَنْ يَسْتَحِقَّ عَلَيْهِ مِثْلَهُ وَهُوَ الْإِيتَاءُ

Karena hal itu merupakan jenis mu‘āwaḍah di mana salah satu pihak berhak atas pihak lainnya dengan hak yang tidak bersyarat, maka wajib pula agar pihak lainnya berhak atas hak yang tidak bersyarat, sebagaimana yang mereka sebutkan dalam nikah dan sebagaimana hak yang diperoleh tuan tanpa syarat wala’, sehingga hal itu menuntut agar pihak lainnya juga memperoleh hak yang serupa, yaitu pemberian (iṭā’).

وَفِي هَذَا انْفِصَالٌ عَنْ قِيَاسِهِمْ وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ إِذَا بَاعَ عَبْدَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِأَلْفٍ فِي ثُبُوتِ الْوَلَاءِ لَهُ بِغَيْرِ شَرْطٍ وَإِنْ لَمْ يَسْتَحِقَّ الْعَبْدُ مِثْلَهُ لِأَنَّ وَصْفَ الْعِلَّةِ أَنَّهُ نَوْعُ مُعَاوَضَةٍ وَهُوَ الْعِتْقُ بِالْعِوَضِ وَهَذَا الْحُكْمُ ثَابِتٌ فِي النَّوْعِ وَإِنْ شَذَّ عَنْ بَعْضِهِ وَهَذَا التَّعْلِيلُ مُسْتَمِرٌّ فِي الْعُقُودِ طَرْدًا فِي النِّكَاحِ وَعَكْسًا فِي الْبُيُوعِ وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ مَعُونَةَ الْمُكَاتَبِينَ عَلَى غَيْرِ سَادَاتِهِمْ مِنْ زَكَوَاتِ الْأَمْوَالِ فَكَانَ وُجُوبُ مَعُونَتِهِمْ عَلَى سَادَاتِهِمْ أَوْلَى وَلَا يَجُوزُ صَرْفُ زَكَاتِهِمْ إِلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ الْوُجُوبُ إِلَى غَيْرِ زَكَاتِهِمْ

Dalam hal ini terdapat perbedaan dari qiyās mereka, dan tidak berlaku jika seseorang menjual budaknya kepada dirinya sendiri seharga seribu, dalam hal tetapnya hak wala’ baginya tanpa syarat, meskipun budak tersebut tidak berhak mendapatkan yang semisal itu. Karena sifat ‘illat-nya adalah bahwa hal itu merupakan jenis mu‘āwadhah, yaitu pembebasan budak dengan imbalan, dan hukum ini tetap berlaku pada jenis tersebut meskipun menyimpang pada sebagian kasusnya. Penjelasan ini berlaku terus-menerus dalam akad-akad, berlaku secara langsung pada nikah dan sebaliknya pada jual beli. Dan karena Allah Ta‘ala mewajibkan bantuan kepada para mukatab (budak yang sedang menebus dirinya) dari zakat harta orang lain, maka kewajiban membantu mereka atas tuan-tuan mereka sendiri lebih utama. Dan tidak boleh menyalurkan zakat mereka kepada mereka sendiri, maka kewajiban itu berpindah kepada selain zakat mereka.

وَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ بِالْخَبَرِ فَلَا يَصِحُّ لِأَنَّنَا نَقُولُ مَعَ وُجُوبِ الْإِيتَاءِ أَنَّهُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ دِرْهَمٌ وَلَا نَجْعَلُ الدِّرْهَمَ الْبَاقِي قِصَاصًا مِنَ الْإِيتَاءِ لِأَنَّ الْقِصَاصَ إِنَّمَا يَكُونُ مَعَ تَسَاوِي الْحَقَّيْنِ فِي الْجِنْسِ وَالْعِلْمِ بِالْمِقْدَارِ وَمِقْدَارُ الْإِيتَاءِ مَجْهُولٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ قِصَاصًا مِنْ مَعْلُومٍ

Adapun beristidlāl dengan khabar, maka tidak sah, karena kami katakan bahwa meskipun ada kewajiban memberikan (harta), seseorang tetap dianggap sebagai budak selama masih tersisa satu dirham atasnya. Kami juga tidak menjadikan dirham yang tersisa itu sebagai qishāsh dari kewajiban memberikan, karena qishāsh hanya berlaku apabila kedua hak tersebut sama jenisnya dan diketahui kadarnya. Sedangkan kadar pemberian itu tidak diketahui, maka tidak boleh menjadikannya sebagai qishāsh dari sesuatu yang diketahui (kadarnya).

وَأَمَّا قَوْلُهُمْ لَوْ كَانَ وَاجِبًا بِالشَّرْعِ لَتَقَدَّرَ بِهِ فَفَاسِدٌ لِأَنَّهُ قَدْ يَجِبُ بِالشَّرْعِ مَا يَتَقَدَّرُ بِالِاجْتِهَادِ كَالْمُتْعَةِ وَالنَّفَقَةِ فَكَذَلِكَ الْإِيتَاءُ وَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى جَهَالَةٍ فِي الْعِوَضِ فَعَنْهُ جَوَابَانِ

Adapun pernyataan mereka: “Seandainya itu wajib menurut syariat, tentu akan ditentukan kadarnya,” maka itu adalah pernyataan yang keliru, karena bisa saja sesuatu diwajibkan oleh syariat namun kadarnya ditentukan berdasarkan ijtihad, seperti mut‘ah dan nafkah. Demikian pula halnya dengan pemberian (al-ītā’). Adapun pernyataan mereka bahwa hal itu akan menyebabkan ketidaktahuan dalam imbalan, maka terhadapnya ada dua jawaban.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَيْسَ يَتَعَيَّنُ الْإِيتَاءُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَدْفَعَهُ مِنْ أَيِّ أَمْوَالِهِ شَاءَ فَلَمْ يُؤَدِّ إِلَى الْجَهَالَةِ

Salah satunya adalah bahwa tidak disyaratkan pembayaran itu harus dari harta kitabah, dan tuan (pemilik budak) boleh membayarkannya dari harta apa pun yang ia kehendaki, sehingga hal itu tidak menyebabkan ketidakjelasan.

وَالثَّانِي أَنَّ الْجَهَالَةَ فِي الْعِوَضِ تَمْنَعُ صِحَّةَ الْعَقْدِ إِذَا تَضَمَّنَهَا الْعَقْدُ وَلَا تَمْنَعُ مِنْ صِحَّتِهِ إِنْ طَرَأَتْ بَعْدَ الْعَقْدِ كَمَا لَوْ ظَهَرَ الْمُشْتَرِي عَلَى عَيْبٍ وَأَرْشُهُ مَجْهُولٌ وَهُوَ مَحْطُوطٌ مِنْ أَصْلِ الثَّمَنِ وَلَا يُوجِبُ فَسَادَ الْعَقْدِ وَإِنْ أَدَّى إِلَى جَهَالَةِ الثَّمَنِ لِحُدُوثِهِ بَعْدَ صِحَّةِ الْعَقْدِ كَذَلِكَ الْإِيتَاءُ فِي الْكِتَابَةِ

Kedua, bahwa ketidaktahuan (jahālah) terhadap imbalan (iwadh) mencegah keabsahan akad jika ketidaktahuan tersebut terdapat dalam akad, dan tidak mencegah keabsahan akad jika muncul setelah akad berlangsung. Sebagaimana jika pembeli mengetahui adanya cacat pada barang dan besaran kompensasinya (arsh) tidak diketahui, padahal kompensasi itu dikurangkan dari harga pokok, hal ini tidak menyebabkan rusaknya akad meskipun menimbulkan ketidaktahuan terhadap harga, karena ketidaktahuan tersebut terjadi setelah akad sah. Demikian pula halnya dengan pembayaran dalam akad kitābah.

وَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّ هَذَا يُؤَدِّي إِلَى إِبْطَالِ الصِّفَةِ وَيُغَيِّرُ حُكْمَهَا فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِأَنَّ جَمِيعَ الْمَالِ يُؤَدَّى مَعَ وُجُوبِ الْإِيتَاءِ وَيَكُونُ رَدًّا أَوْ إِبْرَاءً

Adapun pernyataan mereka bahwa hal ini akan menyebabkan pembatalan sifat dan mengubah hukumnya, maka itu tidak benar, karena seluruh harta tetap diberikan ketika kewajiban pemberian itu ada, dan hal itu bisa berupa pengembalian atau pembebasan.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِيتَاءِ تَوَجَّهَ الْكَلَامُ بَعْدَهُ فِي ثلاثة فصول أَحَدُهَا فِي جِنْسِ الْإِيتَاءِ وَالثَّانِي فِي قَدْرِهِ وَالثَّالِثُ فِي وَقْتِهِ

Maka apabila telah tetap kewajiban memberikan (zakat), pembahasan setelahnya diarahkan pada tiga bagian: pertama tentang jenis pemberian, kedua tentang kadarnya, dan ketiga tentang waktunya.

فَأَمَّا جِنْسُهُ فَهُوَ مَا كَاتَبَهُ عَلَيْهِ مِنْ مَالٍ فَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى دَرَاهِمَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُؤْتِيَهُ دَنَانِيرَ وَلَا عَرْضًا وَلَوْ كَاتَبَهُ عَلَى دَنَانِيرَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُؤْتِيَهُ دَرَاهِمَ وَلَا عَرْضًا حَتَّى يَكُونَ الْإِيتَاءُ مِنْ كِتَابَةِ الدَّرَاهِمِ دَرَاهِمَ وَمِنْ كِتَابَةِ الدَّنَانِيرِ دَنَانِيرَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 فَإِنْ تَرَاضَيَا أَنْ يُؤْتِيَهُ عَنْ كِتَابَةِ الدَّرَاهِمِ دَنَانِيرَ أَوْ عَرْضًا أَوْ عَنْ كِتَابَةِ الدَّنَانِيرِ دَرَاهِمَ أَوْ عَرْضًا جَازَ كَالثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ إِذَا كَانَ دَرَاهِمَ فَهِيَ الْمُسْتَحَقَّةُ فَإِنْ تَرَاضَيَا عَلَى أَنْ يَأْخُذَ بِهَا دَنَانِيرَ أَوْ عَرْضًا جَازَ وَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْإِيتَاءَ مُسْتَحَقٌّ مِنْ جِنْسِ مَالِ الْكِتَابَةِ فَهَلْ يَتَعَيَّنُ الْحَقُّ فِي الْمَالِ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun jenisnya adalah apa yang telah disepakati dalam akad mukatabah berupa harta. Jika akad mukatabah dilakukan atas dirham, maka tidak boleh diberikan dinar atau barang sebagai gantinya. Dan jika akad mukatabah dilakukan atas dinar, maka tidak boleh diberikan dirham atau barang sebagai gantinya, sehingga pembayaran harus sesuai dengan apa yang telah disepakati, yaitu jika akadnya dengan dirham maka dibayar dengan dirham, dan jika dengan dinar maka dibayar dengan dinar, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (an-Nur: 33). Namun, jika keduanya sepakat untuk membayar akad mukatabah yang semula dengan dirham, lalu diganti dengan dinar atau barang, atau yang semula dengan dinar lalu diganti dengan dirham atau barang, maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana harga dalam jual beli; jika yang wajib adalah dirham, maka itulah yang harus dibayarkan. Jika keduanya sepakat untuk menggantinya dengan dinar atau barang, maka diperbolehkan. Jika telah tetap bahwa pembayaran harus dari jenis harta yang disepakati dalam akad mukatabah, maka timbul pertanyaan: apakah hak itu harus ditentukan pada harta tertentu yang diambil darinya atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَتَعَيَّنُ فِي ذَلِكَ الْمَالِ وَيَجُوزُ لِلسَّيِّدِ إِذَا أَخَذَ مِنْهُ دَرَاهِمَ أَنْ يُعْطِيَهُ مِنْهَا إِنْ شَاءَ أَوْ يُعْطِيَهُ مِثْلَهَا مِنْ غَيْرِهَا كَالزَّكَاةِ يَكُونُ مُخَيَّرًا فِي إِخْرَاجِهَا مِنْ عَيْنِ الْمَالِ الْمُزَكَّى أَوْ مِنْ مِثْلِهِ مِنْ غَيْرِهِ

Salah satunya adalah tidak ditentukan pada harta tersebut, dan dibolehkan bagi tuan, jika ia mengambil darinya sejumlah dirham, untuk memberikannya kepada budak itu dari harta tersebut jika ia menghendaki, atau memberikannya yang semisal dari harta lain, seperti halnya zakat, di mana seseorang diberi pilihan untuk mengeluarkannya dari harta yang dizakati secara langsung atau dari yang semisalnya dari harta lain.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ حَقَّهُ مُعَيَّنٌ فِي الْمَالِ الْمَأْخُوذِ مِنْهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ النور 33 مَعْنَاهُ الَّذِي آتَاكُمْ مُكَاتَبُوكُمْ

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa haknya telah ditentukan pada harta yang diambil darinya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu” (an-Nur: 33), maksudnya adalah harta yang diberikan kepada kalian adalah harta dari para mukatab kalian.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الزَّكَاةِ أَنَّ الْإِيتَاءَ حَطِيطَةٌ وَالْحَطِيطَةُ لَا تَكُونُ إِلَّا مِنْ عَيْنِ الْمَالِ وَالزَّكَاةُ مَعُونَةٌ يَسْتَوِي فِيهَا عَيْنُ الْمَالِ وَمِثْلُهُ فَلَوْ تَرَاضَيَا عَلَى أَنْ يَكُونَ الْإِيتَاءُ مِنْ غَيْرِهِ جَازَ لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَتَرَاضَيَا بِغَيْرِ الْجِنْسِ جَازَ أَنْ يَتَرَاضَيَا بِهِ مِنْ غَيْرِ الْعَيْنِ

Perbedaan antara (pembayaran) ini dengan zakat adalah bahwa pemberian (yang dimaksud) merupakan pengurangan (harta pokok), dan pengurangan itu tidak terjadi kecuali dari pokok harta, sedangkan zakat adalah bantuan yang di dalamnya sama saja antara pokok harta dan yang sejenis dengannya. Maka, jika keduanya sepakat bahwa pemberian itu berasal dari selain pokok harta, maka hal itu boleh, karena sebagaimana dibolehkan keduanya sepakat dengan selain jenisnya, maka dibolehkan pula keduanya sepakat dengan selain pokoknya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقَدْرُ فَقَدْ حُكِيَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَدَّرَهُ بِالرُّبُعِ وَرَوَاهُ مَرْفُوعًا وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ غَيْرُ مُقَدَّرٍ بِالشَّرْعِ وفيه وجهان

Adapun mengenai kadar (jumlahnya), telah diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menetapkannya sebesar seperempat, dan riwayat ini juga dinisbatkan sebagai hadits marfū‘. Adapun menurut mazhab Syafi‘i, tidak ada ketentuan kadar secara syar‘i, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أحدهما انه معتبر بما انطلق عَلَيْهِ اسْمُ الْإِيتَاءِ مِنْ قَلِيلٍ أَوْ كَثِيرٍ حَتَّى لَوْ أَعْطَاهُ دِرْهَمًا مِنَ الْوَرِقِ أَجْزَأَ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّرْ بِشَرْعٍ وَلَا عُرْفٍ اعْتُبِرَ فِيهِ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الِاسْمُ

Pertama, bahwa yang dianggap sah adalah segala sesuatu yang dapat disebut sebagai pemberian, baik sedikit maupun banyak. Sehingga jika seseorang memberikan satu dirham perak, itu sudah mencukupi. Inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, karena sesuatu yang tidak ditentukan kadarnya oleh syariat maupun ‘urf, maka yang dijadikan ukuran adalah apa yang dapat disebut dengan nama tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ يَتَقَدَّرُ بِالِاجْتِهَادِ مِنْ مِثْلِ تِلْكَ الْكِتَابَةِ كَالْمُتْعَةِ الَّتِي رُوعِيَ فِيهَا عِنْدَ إِطْلَاقِهَا مُتْعَةُ الْمِثْلِ اعْتِبَارًا بِحَالِ الزَّوْجَيْنِ وَلَمْ يُرَاعَ فِيهَا مَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الِاسْمُ كَذَلِكَ هَاهُنَا لِأَنَّ مَا انْطَلَقَ عَلَيْهِ الِاسْمُ قَلِيلٌ لَا يُؤَثِّرُ عَلَى الْمُكَاتَبِ فِي معونته

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa nilainya ditentukan berdasarkan ijtihad dari jenis penulisan seperti itu, sebagaimana mut‘ah yang ketika dilepaskan (ketentuannya) memperhatikan mut‘ah yang sepadan, dengan mempertimbangkan keadaan kedua pasangan, dan tidak memperhatikan apa yang sekadar disebut dengan nama tersebut. Demikian pula dalam hal ini, karena apa yang sekadar disebut dengan nama itu jumlahnya sedikit dan tidak berpengaruh terhadap bantuan kepada mukatab.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ اعْتُبِرَ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ

Jika demikian, maka hal itu dipertimbangkan dengan tiga hal.

أَحَدُهَا كَثْرَةُ مَالِ الْكِتَابَةِ وَقِلَّتِهِ فَيَكُونُ مَا يُعْطَى من الكثير وأكثر من الْقَلِيلِ أَقَلَّ

Salah satunya adalah banyak atau sedikitnya harta untuk kitabah, sehingga apa yang diberikan dari harta yang banyak dan lebih banyak dari yang sedikit, bisa jadi lebih sedikit.

وَالثَّانِي قُوَّةُ الْمُكَاتَبِ وَضَعْفُهُ فَيُعْطَى الضَّعِيفُ الْكَسْبِ أَكْثَرَ وَالْقَوِيُّ الْكَسْبِ أَقَلَّ

Yang kedua adalah kekuatan dan kelemahan mukatab; maka mukatab yang lemah dalam mencari nafkah diberikan beban lebih banyak, sedangkan mukatab yang kuat dalam mencari nafkah diberikan beban lebih sedikit.

وَالثَّالِثُ يَسَارُ السَّيِّدِ وَإِعْسَارُهُ فَيُعْطِيهِ الْمُوسِرُ أَكْثَرَ وَالْمُعْسِرُ أَقَلَّ فَيَعْتَبِرُ فِي الِاجْتِهَادِ بِهَذِهِ الثَّلَاثَةِ فَمَا أَدَّى الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ مِنْ قَدْرٍ فَهُوَ الْمُسْتَحَقُّ فِي الْإِيتَاءِ إِلَّا أَنْ يَتَّفِقَا فِيهِ عَلَى زِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ فَيَمْضِيَ عَلَى اتِّفَاقِهِمَا فِيمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ

Ketiga adalah keadaan mampu atau tidak mampunya tuan, sehingga tuan yang mampu memberikan lebih banyak, sedangkan yang tidak mampu memberikan lebih sedikit. Maka dalam ijtihad dipertimbangkan tiga hal ini. Apa yang dihasilkan oleh ijtihad berupa kadar tertentu, itulah yang berhak diberikan, kecuali jika keduanya sepakat atas penambahan atau pengurangan, maka kesepakatan mereka berlaku, baik jumlahnya sedikit maupun banyak.

فَإِنِ اخْتَلَفَا فِيهِ قَدَّرَهُ الْحَاكِمُ بِاجْتِهَادِهِ وَكَانَ مَا أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَيْهِ هُوَ الْقَدْرُ الْمُسْتَحَقُّ

Jika keduanya berselisih tentang hal itu, maka hakim menetapkannya berdasarkan ijtihadnya, dan apa yang dihasilkan oleh ijtihadnya itulah kadar yang berhak didapatkan.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الْوَقْتُ فَلَهُ وَقْتَانِ وَقْتُ جَوَازٍ وَوَقْتُ وُجُوبٍ

Adapun waktu, maka ia memiliki dua macam waktu: waktu jawāz (boleh melaksanakan) dan waktu wujūb (wajib melaksanakan).

فَأَمَّا وَقْتَ الْجَوَازِ فَمِنْ وَقْتِ عَقْدِ الْكِتَابَةِ إِلَى مَا بَعْدَ الْعِتْقِ فِيهَا فَأَمَّا مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعَقْدِ فَلَا يُجْزِئُ مَا تَقَدَّمَهُ فِيهِ لِأَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ لَهَا سَبَبٌ يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّعْجِيلُ

Adapun waktu kebolehan (membayar) adalah sejak akad kitabah hingga setelah merdeka dalam kitabah tersebut. Adapun apa yang dilakukan sebelum akad, maka tidak mencukupi apa yang didahulukan itu di dalamnya, karena belum terdapat sebab baginya yang berkaitan dengan percepatan (pembayaran).

فَأَمَّا وَقْتُ الْوُجُوبِ فَفِيهِ وَجْهَانِ

Adapun waktu kewajiban, terdapat dua pendapat di dalamnya.

أَحَدُهُمَا بَعْدَ الْعِتْقِ كَالْمُتْعَةِ الَّتِي تُسْتَحَقُّ بَعْدَ الطَّلَاقِ وَلِيَكُونَ مُعَانًا فِي وَقْتٍ لَا حَجْرَ عَلَيْهِ فِيمَا يُعْطَى

Salah satunya adalah setelah pembebasan budak, seperti mut‘ah yang menjadi hak setelah talak, agar ia mendapatkan bantuan pada waktu di mana tidak ada larangan terhadap apa yang diberikan kepadanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ يَجِبُ قَبْلَ الْعِتْقِ وَيَتَعَيَّنُ وُجُوبُهُ فِي آخِرِ نَجْمٍ لِأَنَّ الْإِيتَاءَ مَعُونَةٌ عَلَى الْعِتْقِ فَلَمْ يُسْتَحَقَّ بَعْدَ الْعِتْقِ وَلِأَنَّهُ مُعَانٌ بِمَالَيْنِ زَكَاةٍ وَإِيتَاءٍ وَكَانَتِ الزَّكَاةُ قَبْلَ الْعِتْقِ فَكَذَلِكَ الْإِيتَاءُ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa kewajiban itu harus ditunaikan sebelum pembebasan budak dan menjadi wajib secara pasti pada akhir periode pembayaran. Sebab, pemberian tersebut merupakan bantuan untuk pembebasan, sehingga tidak lagi berhak diberikan setelah pembebasan terjadi. Selain itu, ia menerima dua bentuk bantuan, yaitu zakat dan pemberian, dan karena zakat diberikan sebelum pembebasan, maka demikian pula pemberian itu.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا فَالسَّيِّدُ مَا كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ بَاقِيًا مُخَيَّرٌ بَيْنَ حَالَيْنِ بَيْنَ أَنْ يَدْفَعَ مَالَ الْإِيتَاءِ نَقْدًا وَبَيْنَ أَنْ يُبَرِّئَ الْمُكَاتَبَ مِنْهُ فَإِنْ أَبْرَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَطْلُبَهُ نَقْدًا وَإِنْ أَعْطَاهُ نَقْدًا وَطَلَبَ الْمُكَاتَبُ الْإِبْرَاءَ فَقَوْلُ الْمُكَاتَبِ أولى لأنهن يُرِيدُ تَعْجِيلَ مَا عَلَيْهِ بِالْإِبْرَاءِ

Jika telah dipastikan apa yang telah kami sebutkan, maka selama harta kitabah masih tersisa, tuan (sayyid) memiliki dua pilihan: antara memberikan harta pembayaran secara tunai atau membebaskan mukatab darinya. Jika ia membebaskannya, maka mukatab tidak berhak menuntutnya secara tunai. Namun jika ia memberikannya secara tunai dan mukatab meminta pembebasan, maka pendapat mukatab lebih utama, karena ia menginginkan percepatan pelunasan kewajibannya melalui pembebasan.

مَسْأَلَةٌ

Permasalahan

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ مَاتَ السَّيِّدُ وَقَدْ قَبَضَ جَمِيعَ الْكِتَابَةِ حَاصَّ الْمُكَاتَبُ بِالَّذِي لَهُ أَهْلُ الدَّيْنِ وَالْوَصَايَا قَالَ الْمُزَنِيُّ يَلْزَمُهُ أَنْ يُقَدِّمَهُ عَلَى الْوَصَايَا عَلَى أَصْلِ قَوْلِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuan (pemilik budak) meninggal dunia, sedangkan ia telah menerima seluruh pembayaran kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan cicilan), maka budak mukatab berhak atas bagian yang menjadi hak ahli waris, para pemilik utang, dan wasiat.” Al-Muzani berkata: “Wajib mendahulukannya atas wasiat, berdasarkan prinsip pendapat beliau (Imam Syafi‘i).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أن الإيتاء واجب كالدين فإذا أَمْكَنَ أَنْ يُؤْخَذَ مِنَ السَّيِّدِ أخذ به جبرا وإن تَعَذَّرَ أَخْذُهُ مِنَ السَّيِّدِ حَتَّى يَعْتِقَ بِهِ فَأَمَّا تَعَذُّرُهُ مِنْهُ فَيَكُونُ مِنْ أَحَدِ وَجْهَيْنِ إِمَّا تَفْلِيسٌ أَوْ مَوْتٌ

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa pemberian (uang mukatab) itu wajib seperti halnya utang. Jika memungkinkan untuk diambil dari tuan, maka diambil secara paksa. Namun jika pengambilannya dari tuan itu sulit sampai budak tersebut merdeka karenanya, maka kesulitan itu bisa terjadi karena dua hal: yaitu karena pailit atau karena kematian.

فَإِنْ أَفْلَسَ السَّيِّدُ وَلَهُ غُرَمَاءُ وَحَضَرَ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ عِتْقِهِ مُطَالِبًا بِالْإِيتَاءِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ أَوْ قَدْرُ الْإِيتَاءِ مِنْهُ مَوْجُودًا فِي يَدِ السَّيِّدِ فَالْمُكَاتَبُ مُقَدَّمٌ بِهِ عَلَى جَمِيعِ الْغُرَمَاءِ لِأَنَّهُ عَيْنُ مَالِهِ فَكَانَ أَحَقَّ بِهِ مِنْهُمْ كَالْبَائِعِ إِذَا وَجَدَ عَيْنَ مَالِهِ قَبْلَ قَبْضِ ثَمَنِهِ وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ فِي يَدِهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ شَيْءٌ فَالْمُكَاتَبُ أُسْوَةُ الْغُرَمَاءِ فِي الْمَوْجُودِ مِنْ مَالِ السَّيِّدِ

Jika tuan (pemilik budak) jatuh pailit dan memiliki para kreditur, lalu budak mukatab datang setelah ia merdeka menuntut pembayaran (uang mukatab), maka hal ini dilihat: jika harta mukatab atau jumlah pembayaran yang harus diberikan masih ada di tangan tuan, maka budak mukatab lebih didahulukan atas seluruh kreditur, karena itu adalah harta miliknya sendiri, sehingga ia lebih berhak atasnya daripada mereka, sebagaimana penjual yang menemukan barang miliknya sebelum menerima harganya. Namun, jika tidak ada sedikit pun dari harta mukatab di tangan tuan, maka budak mukatab diperlakukan sama dengan para kreditur lainnya dalam harta yang ada pada tuan.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنْ مَاتَ السَّيِّدُ وَحَضَرَ الْمُكَاتَبُ مُطَالِبًا يُقَدَّمُ حَقُّهُ عَلَى الْوَرَثَةِ ثُمَّ نَقَلَ الْمُزَنِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ فَقَالَ حَاصَّ الْمُكَاتَبُ بِالَّذِي لَهُ أَهْلُ الدَّيْنِ وَالْوَصَايَا فَاعْتَرَضَ عَلَى قَوْلِهِ بِإِنْ قَالَ الْإِيتَاءُ وَاجِبٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحَاصَّ بِهِ أَهْلَ الدَّيْنِ وَيَتَقَدَّمَ بِهِ أَهْلَ الْوَصَايَا

Jika tuan (pemilik budak) meninggal dunia dan mukatab hadir untuk menuntut (haknya), maka hak mukatab didahulukan atas para ahli waris. Kemudian al-Muzani menukil dalam masalah ini dengan berkata: “Mukatab mendapat bagian bersama para pemilik utang dan ahli wasiat.” Lalu ada yang mengkritik pendapatnya dengan mengatakan: “Jika penyerahan (hak kepada mukatab) itu wajib, maka seharusnya ia mendapat bagian bersama para pemilik utang dan didahulukan atas para ahli wasiat.”

وَأَجَابَ أَصْحَابُنَا عَنْ هَذَا الِاعْتِرَاضِ بِأَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ

Para ulama kami menjawab keberatan ini dengan empat alasan.

أَحَدُهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ أَنَّ الْمُكَاتَبَ يَتَقَدَّمُ بِهِ عَلَى الْوَرَثَةِ كَأَهْلِ الدَّيْنِ وَالْوَصَايَا ثُمَّ يُحَاصُّ بِهِ أَهْلَ الدَّيْنِ وَيَتَقَدَّمُ بِهِ عَلَى أَهْلِ الْوَصَايَا لِأَنَّهُ دَيْنٌ فكان مضمونا إِلَى الدَّيْنِ

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa hak al-mukatab didahulukan atas para ahli waris seperti halnya para pemilik utang dan wasiat, kemudian ia berbagi dengan para pemilik utang dan didahulukan atas para pemilik wasiat, karena ia merupakan utang sehingga dijamin bersama utang.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوَصَايَا بِالدَّيْنِ لِأَنَّ الدَّيْنَ يَثْبُتُ بَعْضُهُ بِالْبَيِّنَةِ وَبَعْضُهُ بِالْوَصِيَّةِ فَصَارَتِ الْوَصَايَا وَالدَّيْنُ سَوَاءً فَلِذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يُحَاصَّ الْمُكَاتَبُ أَهْلَ الدَّيْنِ وَالْوَصَايَا

Kedua, bahwa hal itu dimaknai berkaitan dengan wasiat mengenai utang, karena sebagian utang dapat dibuktikan dengan bukti (bayyinah) dan sebagian lagi dengan wasiat. Maka, wasiat dan utang menjadi setara, sehingga wajib bagi mukatab untuk membagi secara adil antara para pemilik utang dan para penerima wasiat.

وَلَوْ كَانَتِ الْوَصَايَا بِالْعَطَايَا لَتَقَدَّمَ بِهَا عَلَيْهِمْ

Dan seandainya wasiat-wasiat itu berupa pemberian (hibah), niscaya ia akan didahulukan atas mereka.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّ السَّيِّدَ وَصَّى لَهُ بِأَكْثَرَ مِنْ حَقِّهِ فَيُحَاصُّ أَهْلَ الدَّيْنِ بِالْوَاجِبِ وَأَهْلَ الْوَصَايَا بِالْفَاضِلِ

Ketiga, bahwa hal itu dimaknai bahwa tuan (pemilik harta) telah mewasiatkan kepadanya (penerima wasiat) lebih dari haknya, sehingga ia berbagi dengan para pemilik utang pada bagian yang wajib, dan berbagi dengan para penerima wasiat lainnya pada kelebihan (dari bagian yang wajib).

وَالرَّابِعُ أَنَّ الْمُكَاتَبَ يُحَاصُّ أَهْلَ الْوَصَايَا بِجَمِيعِ الْإِيتَاءِ لِضَعْفِهِ عَنِ الدُّيُونِ الْمُسْتَقِرَّةِ مِنْ وَجْهَيْنِ

Keempat, bahwa seorang mukatab berhak mendapatkan bagian bersama para ahli wasiat dari seluruh pemberian, karena kelemahannya dibandingkan dengan utang-utang yang telah tetap, dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا حُصُولُ الْخِلَافِ فِي اسْتِحْقَاقِهِ

Salah satunya adalah terjadinya perbedaan pendapat mengenai hak kepemilikannya.

وَالثَّانِي الْجَهَالَةُ بِقَدْرِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسَاوِيَ مَا اتُّفِقَ عَلَى اسْتِحْقَاقِهِ وَقَدْرِهِ

Kedua, ketidaktahuan terhadap kadarnya, maka tidak boleh disamakan dengan sesuatu yang telah disepakati hak dan kadarnya.

وَالْقَوْلُ بِهَذَا الْوَجْهِ تَعْلِيلًا بِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ فَاسِدٌ لِأَنَّنَا قد حكمنا باستحقاقه وقدره

Pendapat dengan cara ini, yaitu dengan memberikan alasan berdasarkan dua hal tersebut, adalah tidak sah, karena sesungguhnya kita telah menetapkan haknya dan kadarnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَيْسَ لِوَلِيِّ الْيَتِيمِ أَنْ يُكَاتِبَ عَبْدَهُ بِحَالٍ لِأَنَّهُ لَا نَظَرَ فِي ذَلِكَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Wali dari anak yatim tidak boleh memuktātabkan hambanya dalam keadaan apa pun, karena tidak ada kemaslahatan dalam hal itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَجُوزُ لِوَلِيِّ الْيَتِيمِ أَنْ يُكَاتِبَ عَبْدَهُ إِذَا كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ لِيَسْتَفِيدَ الزِّيَادَةَ عَلَيْهَا كَمَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ الْمَنْدُوبَ إِلَى الْكِتَابَةِ هُوَ الْمَنْدُوبُ إِلَى الْعِتْقِ فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ لِلْوَلِيِّ أَنْ يَعْتِقَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُكَاتِبَ وَلِأَنَّهُ يُؤَدِّي مَالَ الْكِتَابَةِ مِنْ أَكْسَابِهِ وَالْيَتِيمُ يَمْلِكُهَا بِغَيْرِ الْكِتَابَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَهْلِكَ رِقَّهُ بِالْكِتَابَةِ

Al-Mawardi berkata: Abu Hanifah berpendapat bahwa wali dari anak yatim boleh melakukan mukatabah terhadap budaknya jika mukatabah itu dengan nilai lebih dari harga budak tersebut, agar mendapatkan tambahan dari nilai itu, sebagaimana ia boleh menjual budaknya dengan harga lebih dari nilainya. Namun, pendapat ini tidak sah, karena anjuran untuk melakukan mukatabah sama dengan anjuran untuk memerdekakan, sehingga ketika wali tidak boleh memerdekakan, maka ia juga tidak boleh melakukan mukatabah. Selain itu, harta hasil mukatabah berasal dari penghasilan budak, sedangkan anak yatim dapat memilikinya tanpa melalui mukatabah, sehingga tidak boleh mempergunakan status budaknya untuk mukatabah.

فَأَمَّا بَيْعُهُ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَإِنَّمَا جَازَ لِلْوَلِيِّ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذِهِ الزِّيَادَةَ لَا تُسْتَفَادُ بِغَيْرِ الْبَيْعِ فَجَازَ أَنْ يَسْتَفِيدَهَا لَهُ بِالْبَيْعِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ الْكِتَابَةُ لِأَنَّ زِيَادَةَ أَكْسَابِهِ تُمَلَّكُ عَلَيْهِ بِغَيْرِ الْكِتَابَةِ

Adapun menjualnya dengan harga lebih tinggi dari nilainya, maka wali diperbolehkan melakukannya karena tambahan tersebut tidak dapat diperoleh kecuali dengan jual beli, sehingga diperbolehkan baginya untuk memperoleh tambahan itu melalui jual beli. Tidak demikian halnya dengan mukatabah, karena tambahan penghasilan budak dapat dimiliki tanpa melalui akad mukatabah.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ يَمْلِكُ الْمُكَاتَبُ فِي حَالِ كِتَابَتِهِ مِنْ سَهْمِ الزَّكَاةِ مَا لَا يَمْلِكُهُ فِي رِقِّهِ فَاسْتَفَادَ بِالْكِتَابَةِ مَا لَمْ يَمْلِكْهُ مَعَ الرِّقِّ

Jika dikatakan: Bisa jadi seorang mukatab pada masa penulisan akadnya dapat memiliki dari harta zakat sesuatu yang tidak dapat dimilikinya ketika masih berstatus budak, maka ia memperoleh manfaat dari akad kitabah berupa kepemilikan yang tidak dimilikinya saat masih dalam status perbudakan.

قِيلَ هَذَا مَظْنُونٌ وَلَيْسَ مِنْ أَكْسَابِهِ اللَّازِمَةِ وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ وَلَا يَكُونَ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَهْلِكَ رِقَّهُ بِالْمَظْنُونِ فَعَلَى هَذَا لَوْ كَاتَبَهُ الْوَلِيُّ كَانَتْ كِتَابَتُهُ بَاطِلَةً لَا يُعْتَقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ سَوَاءٌ أَدَّاهَا إِلَى الْوَلِيِّ أَوْ إلى اليتيم بعد بلوغه

Dikatakan bahwa hal ini masih bersifat dugaan dan bukan termasuk penghasilan yang pasti baginya, dan bisa jadi terjadi atau tidak terjadi. Maka tidak diperbolehkan menghilangkan status budaknya hanya berdasarkan dugaan. Berdasarkan hal ini, jika wali melakukan mukātabah terhadapnya, maka mukātabah tersebut batal dan tidak menyebabkan ia merdeka dengan pembayaran, baik pembayaran itu diberikan kepada wali maupun kepada anak yatim setelah ia baligh.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ اخْتَلَفَ السَّيِّدُ وَالْمُكَاتَبُ تَحَالَفَا وَتَرَادَّا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika terjadi perselisihan antara tuan dan mukātab, maka keduanya saling bersumpah dan saling mengembalikan (hak masing-masing).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا اخْتَلَفَا فِي صِفَةِ الْكِتَابَةِ مَعَ اتِّفَاقِهِمَا عَلَى الْعَقْدِ وَاخْتِلَافِهِمَا فِيهِ قَدْ يَكُونُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ إِمَّا فِي قَدْرِ الْمَالِ فَيَقُولُ الْمُكَاتَبُ عَلَى أَلْفٍ وَيَقُولُ السَّيِّدُ عَلَى أَلْفَيْنِ أَوْ يَخْتَلِفَانِ فِي صِفَتِهِ فَيَقُولُ الْمُكَاتَبُ عَلَى دَرَاهِمَ سُودٍ وَيَقُولُ السَّيِّدُ عَلَى دَرَاهِمَ بِيضٍ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana yang dikatakan, apabila keduanya berselisih dalam sifat akad kitābah, sementara keduanya sepakat atas terjadinya akad tersebut, maka perselisihan di dalamnya bisa terjadi dalam empat bentuk. Pertama, dalam hal jumlah harta, misalnya mukātab mengatakan ‘atas seribu’, sedangkan tuannya mengatakan ‘atas dua ribu’. Atau mereka berselisih dalam sifatnya, misalnya mukātab mengatakan ‘dengan dirham hitam’, sedangkan tuannya mengatakan ‘dengan dirham putih’.”

أَوْ يَخْتَلِفَانِ فِي الأجل فيقول السيد إلى ستة وَيَقُولُ الْمُكَاتَبُ إِلَى سَنَتَيْنِ أَوْ يَخْتَلِفَانِ فِي عَدَدِ النُّجُومِ فَيَقُولُ السَّيِّدُ الْأَجَلُ سَنَةً قَدِ اتَّفَقْنَا عَلَيْهَا أَنَّهَا فِي نَجْمَيْنِ وَيَقُولُ الْمُكَاتَبُ فِي أَرْبَعَةِ أَنْجُمٍ فَيَكُونُ اخْتِلَافُهُمَا فِي صِفَةِ الْكِتَابَةِ مِنْ هَذِهِ الْأَوْجُهِ الْأَرْبَعَةِ سَوَاءً فِي الْحُكْمِ فَإِنْ كَانَتْ لِأَحَدِهِمَا بَيِّنَةٌ عُمِلَ عَلَيْهَا وَالْبَيِّنَةُ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهَا فِي حُقُوقِ الْأَمْوَالِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةٌ تَحَالَفَا كَمَا يَتَحَالَفُ الْمُتَبَايِعَانِ إِذَا اخْتَلَفَا

Atau mereka berselisih dalam hal jangka waktu, misalnya tuan berkata: “(Jangka waktunya) enam bulan,” sedangkan mukatab berkata: “(Jangka waktunya) dua tahun.” Atau mereka berselisih dalam jumlah cicilan, misalnya tuan berkata: “Jangka waktunya satu tahun, kita telah sepakat bahwa itu dalam dua kali cicilan,” sedangkan mukatab berkata: “Dalam empat kali cicilan.” Maka perselisihan mereka dalam sifat akad kitabah dari keempat aspek ini hukumnya sama. Jika salah satu dari mereka memiliki bukti (bayyinah), maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Bukti (bayyinah) itu berupa dua orang saksi, atau satu orang saksi dan dua perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah, karena ini termasuk dalam hak-hak harta. Jika tidak ada bukti pada salah satu pihak, maka keduanya saling bersumpah, sebagaimana dua orang yang berjual beli jika terjadi perselisihan di antara mereka.

فَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ قُضِيَ بِقَوْلِ الْحَالِفِ مِنْهُمَا عَلَى النَّاكِلِ فَإِنْ حَلَفَا مَعًا لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ قَبْلَ الْعِتْقِ أَوْ بَعْدَهُ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ الْعِتْقِ وَقَعَ الْفَسْخُ بَيْنَهُمَا وَفِيمَا يَقَعُ بِهِ الْفَسْخُ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا بِنَفْسِ التَّحَالُفِ وَالثَّانِي بِفَسْخِ الْحَاكِمِ كَمَا قُلْنَا فِي تَحَالُفِ الْمُتَبَايِعَيْنِ وَيَعُودُ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ الْفَسْخِ عَبْدًا وَقَدْ مَلَكَ السَّيِّدُ مَا أَخَذَهُ مِنْهُ فِي الْأَدَاءِ وَإِنْ كَانَ تَحَالُفُهُمَا بَعْدَ الْعِتْقِ وَانْفَسَخَتِ الْكِتَابَةُ تَرَاجَعَا فَيَرْجِعُ السَّيِّدُ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِقِيمَتِهِ وَيَرْجِعُ الْمُكَاتَبُ عَلَى السَّيِّدِ بِمَا أَدَّاهُ إِلَيْهِ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ تَحَالَفَا فَتَرَادَّا كَمَا يَتَرَادُّ الْمُتَبَايِعَانِ بَعْدَ التَّحَالُفِ عِنْدَ تلف المبيع

Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lainnya enggan, maka diputuskan berdasarkan pernyataan pihak yang bersumpah atas pihak yang enggan. Jika keduanya sama-sama bersumpah, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: terjadi sebelum pembebasan (ʿitq) atau sesudahnya. Jika terjadi sebelum pembebasan, maka terjadilah pembatalan (fasakh) di antara keduanya. Dalam hal apa yang menyebabkan terjadinya pembatalan, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah dengan sendirinya karena saling bersumpah, dan yang kedua adalah dengan pembatalan oleh hakim, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus saling bersumpah antara dua pihak yang berjual beli (mutabāyi‘ayn). Setelah pembatalan, mukatab kembali menjadi budak, dan tuan berhak atas apa yang telah diterimanya dari mukatab dalam pembayaran. Jika sumpah keduanya terjadi setelah pembebasan dan akad kitābah batal, maka keduanya saling mengembalikan (apa yang telah diterima); tuan mengambil dari mukatab senilai dirinya, dan mukatab mengambil dari tuan apa yang telah ia bayarkan kepadanya. Inilah maksud dari perkataan Imam Syafi‘i: “Keduanya saling bersumpah lalu saling mengembalikan (apa yang telah diterima), sebagaimana dua pihak yang berjual beli saling mengembalikan setelah saling bersumpah ketika barang yang dijual rusak.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ مَاتَ الْعَبْدُ فَقَالَ سَيِّدُهُ قَدْ أَدَّى إِلَيَّ كِتَابَتَهُ وَجَرَّ إِلَيَّ وَلَاءَ وَلَدِهِ مِنْ حُرَّةٍ وَأَنْكَرَ مَوَالِي الْحُرَّةِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ مَوَالِي الْحُرَّةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak meninggal dunia, lalu tuannya berkata, ‘Ia telah melunasi akad kitābah-nya kepadaku, sehingga aku berhak atas wala’ anaknya yang lahir dari perempuan merdeka,’ namun para maulā (wali) dari pihak perempuan merdeka itu mengingkarinya, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan para maulā dari pihak perempuan merdeka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا تَزَوَّجَ الْمُكَاتَبُ بِحُرَّةٍ فَأَوْلَدَهَا كَانَ أَوْلَادُهُ مِنْهَا أحراراً تبعاً لأمهم فإن كانت حدة الْأَصْلِ لَا وَلَاءَ عَلَيْهَا وَلَا عَلَى أَوْلَادِهَا بحال وإن كان على الحرة ولا لمعتق فعلى الأولاء وَلَاءٌ لِمُعْتِقِ الْأُمِّ

Al-Mawardi berkata, “Ini seperti yang dikatakan: Jika seorang mukatab menikahi seorang perempuan merdeka lalu memiliki anak darinya, maka anak-anaknya dari perempuan itu adalah merdeka mengikuti status ibu mereka. Jika perempuan merdeka itu adalah asli (bukan budak yang dimerdekakan), maka tidak ada wala’ atasnya dan juga atas anak-anaknya dalam keadaan apa pun. Namun jika perempuan merdeka itu adalah budak yang telah dimerdekakan, maka hak wala’ bagi mu‘tiq (orang yang memerdekakan) ibu mereka tetap ada.”

فَإِنْ عَتَقَ الْأَبُ بِالْأَدَاءِ جَرَّ وَلَاءَ أَوْلَادِهِ مِنْ مُعْتِقِ أُمِّهِمْ إِلَى مُعْتِقِهِ فَإِنِ اخْتَلَفَ مَوْلَاهُ وَمَوْلَى الْأُمِّ فَقَالَ مَوْلَى الْمُكَاتَبِ قَدْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ وَجَرَّ إِلَيَّ وَلَاءَ أَوْلَادِهِ وَقَالَ مَوْلَى الْأُمِّ لَمْ يُعْتَقْ وَوَلَاءُ أَوْلَادِهِ لِي نُظِرَ فَإِنْ كَانَ الْمُكَاتَبُ حَيًّا فَقَدْ عَتَقَ بِإِقْرَارِ سَيِّدِهِ بِعِتْقِهِ وَانْجَرَّ الْوَلَاءُ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ إِلَى مُعْتِقِهِ وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ وَلَا عَلَى سَيِّدِهِ

Jika ayah (seorang mukatab) merdeka karena pelunasan (kitabah), maka hak wala’ anak-anaknya berpindah dari tuan yang memerdekakan ibu mereka kepada tuan yang memerdekakan ayahnya. Jika terjadi perselisihan antara tuan ayah dan tuan ibu, lalu tuan mukatab berkata, “Ia telah merdeka karena pelunasan dan hak wala’ anak-anaknya berpindah kepadaku,” sedangkan tuan ibu berkata, “Ia belum merdeka dan hak wala’ anak-anaknya tetap milikku,” maka perlu diteliti: jika mukatab itu masih hidup, maka ia telah merdeka berdasarkan pengakuan tuannya atas kemerdekaannya, dan hak wala’ berpindah dari tuan ibu kepada tuan ayah, serta tidak ada sumpah atasnya maupun atas tuannya.

وَإِنْ كَانَ الْمُكَاتَبُ قَدْ مَاتَ وَاخْتَلَفَ السَّيِّدُ وَمَوْلَى الْأُمِّ بَعْدَ مَوْتِهِ فَإِنْ قَامَتْ بِمَا ادَّعَاهُ سَيِّدُ الْمُكَاتَبِ بَيِّنَةٌ عَمِلَ عَلَيْهَا وَانْجَرَّ بِهَا الْوَلَاءُ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ إِلَيْهِ وَالْبَيِّنَةُ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ عَلَى مَالٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُ مَوْلَى الْأُمِّ مَعَ يَمِينِهِ وَوَلَاءُ الْأَوْلَادِ لَهُ وَلَا تُقْبَلُ دَعْوَى سَيِّدِ الْمُكَاتَبِ فِي عِتْقِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ؛ لِأَنَّهَا حَالٌ لَا يَنْفُذُ فِيهَا عِتْقُهُ وَنَحْنُ عَلَى يَقِينٍ مِنْ رِقِّ الْمُكَاتَبِ وَثُبُوتِ الْوَلَاءِ لِمُعْتِقِ الْأُمِّ فَلَمْ ينتقل عنها بشك محتمل

Jika seorang mukatab telah meninggal dunia dan terjadi perselisihan antara tuan (sayyid) dan maula ibu (maula al-umm) setelah kematiannya, maka jika ada bukti yang mendukung klaim tuan mukatab, maka keputusan diambil berdasarkan bukti tersebut dan hak wala’ berpindah dari orang yang memerdekakan ibu kepada tuan mukatab. Bukti yang dimaksud adalah dua orang saksi, atau satu saksi dan dua perempuan, atau satu saksi dan sumpah, karena ini adalah bukti terkait harta. Namun jika tidak ada bukti, maka pernyataan maula ibu yang diterima dengan sumpahnya, dan hak wala’ anak-anak menjadi miliknya. Klaim tuan mukatab tentang kemerdekaan mukatab setelah kematiannya tidak diterima, karena pada kondisi tersebut kemerdekaannya tidak berlaku, dan kita meyakini status perbudakan mukatab serta tetapnya hak wala’ bagi orang yang memerdekakan ibu, sehingga hak tersebut tidak berpindah hanya karena keraguan yang mungkin terjadi.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ قَدِ اسْتَوْفَيْتُ مَالِي عَلَى أَحَدِ مُكَاتِبِيَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا فَأَيُّهُمَا خَرَجَ لَهُ الْعِتْقُ عتق والآخر على نجومه والمكاتب عبد ما بقي درهم فإن مات وعنده وفاء فهو وماله لسيده وكيف يموت عبداً ثم يصير بالأداء بعد الموت حرا وإذا كان لا يعتق في حياته إلا بعد الأداء فكيف يصح عتقه إذا مات قبل الأداء

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Aku telah menerima pelunasan hartaku dari salah satu di antara dua mukātabku,’ maka dilakukan undian di antara keduanya. Siapa pun yang keluar namanya, dialah yang merdeka, sedangkan yang lain tetap pada cicilannya. Seorang mukātab tetap berstatus budak selama masih tersisa satu dirham. Jika ia meninggal dunia dalam keadaan masih ada pelunasan (yang belum dibayar), maka ia dan hartanya menjadi milik tuannya. Bagaimana mungkin ia mati dalam keadaan budak, lalu setelah kematiannya menjadi merdeka karena pelunasan? Jika dalam hidupnya saja ia tidak merdeka kecuali setelah pelunasan, maka bagaimana sah kemerdekaannya jika ia mati sebelum pelunasan?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي رَجُلٍ كَاتَبَ عَبْدَيْنِ ثُمَّ أَقَرَّ بَعْدَ الْكِتَابَةِ أَنَّهُ اسْتَوْفَى مَا عَلَى أَحَدِهِمَا أَخَذَ بِالْبَيَانِ فَإِنْ بَيَّنَ أَحَدَهُمَا وَعَيَّنَ عَلَيْهِ عَتَقَ وَكَانَ الْآخَرُ عَلَى كِتَابَتِهِ

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah seorang laki-laki melakukan mukatabah terhadap dua orang budak, kemudian setelah akad mukatabah ia mengakui bahwa ia telah menerima pelunasan dari salah satu dari keduanya, maka ia diminta untuk menjelaskan. Jika ia menjelaskan dan menentukan salah satu dari keduanya, maka budak tersebut merdeka, sedangkan yang lainnya tetap dalam status mukatabah.

فَإِنِ ادَّعَى الْآخَرُ أَنَّهُ هُوَ الَّذِي أَدَّى فَعَتَقَ حَلَفَ لَهُ السَّيِّدُ وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ إِلَّا أَنْ يُقِيمَ بَيِّنَةً بِشَاهِدَيْنِ أَوْ شَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ أَوْ شَاهِدٍ وَيَمِينٍ فَيَعْتِقَ بِالْبَيِّنَةِ وَيَعْتِقَ الْأَوَّلُ بِالْإِقْرَارِ وَإِنْ قَالَ السَّيِّدُ قَدْ أَشْكَلَ عَلَيَّ الَّذِي أَدَّى وَلَسْتُ أَعْرِفُهُ بِعَيْنِهِ حَلَفَ لَهُمَا إِذَا تَدَاعِيَاهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْرَعَ بَيْنَهُمَا مَعَ بَقَائِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَتَذَكَّرَ بَعْدَ نِسْيَانِهِ ثُمَّ فِيهِمَا بَعْدَ يَمِينِهِ وَجْهَانِ

Jika pihak yang lain mengklaim bahwa dialah yang telah membayar sehingga ia merdeka, maka tuan bersumpah untuknya dan ia tetap berada dalam perjanjian kitabahnya, kecuali jika ia mendatangkan bukti dengan dua orang saksi, atau satu orang saksi dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah, maka ia merdeka dengan bukti tersebut, dan yang pertama merdeka dengan pengakuan. Jika tuan berkata, “Aku bingung siapa yang telah membayar dan aku tidak mengenal secara pasti,” maka ia bersumpah untuk keduanya jika keduanya saling mengklaim, dan tidak boleh mengundi di antara keduanya selama tuan masih ada, karena mungkin saja ia akan mengingat setelah lupa. Kemudian, dalam hal keduanya setelah sumpahnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى كِتَابَتِهِ وَلَا يُعْتَقُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا إِلَّا بِأَدَاءِ جَمِيعِهَا وَقَدْ حُكِيَ هَذَا الْوَجْهُ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَمْ يَسْتَقِرَّ لَهُ الْأَدَاءُ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa masing-masing dari keduanya tetap berada pada akad kitabah-nya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang merdeka kecuali setelah seluruh pembayaran dilunasi. Pendapat ini dinukil dari Imam asy-Syafi‘i, karena masing-masing dari mereka belum tetap baginya kewajiban pembayaran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ الدَّعْوَى تُرَدُّ عَلَى الْمُكَاتَبَيْنِ حَتَّى يَتَحَالَفَا عَلَى الْأَدَاءِ فَإِنْ حَلَفَا أَوْ نَكَلَا كَانَا عَلَى الْكِتَابَةِ لَا يَعْتِقَانِ إِلَّا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ حَلَفَ أَحَدُهُمَا وَنَكَلَ الْآخَرُ قُضِيَ بِالْأَدَاءِ لِلْحَالِفِ مِنْهُمَا دُونَ النَّاكِلِ وَعَتَقَ وَكَانَ النَّاكِلُ عَلَى كِتَابَتِهِ

Pendapat kedua adalah bahwa gugatan dikembalikan kepada kedua mukatab hingga keduanya saling bersumpah atas pelunasan. Jika keduanya bersumpah atau keduanya enggan bersumpah, maka keduanya tetap dalam status mukatab dan tidak merdeka kecuali setelah pelunasan. Namun jika salah satu dari mereka bersumpah dan yang lainnya enggan, maka diputuskan pelunasan bagi yang bersumpah saja, dan ia menjadi merdeka, sedangkan yang enggan tetap dalam status mukatab.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ مَاتَ السَّيِّدُ قَبْلَ بَيَانِهِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Jika tuan (pemilik budak) meninggal sebelum menjelaskan (pernyataannya), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ وَالْمُعَوَّلُ عَلَيْهِ عِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُقْرِعُ بَيْنَ الْمُكَاتَبَيْنِ لِأَنَّ إِقْرَارَهُ تَضَمَّنَ عِتْقَ أَحَدِهِمَا وَالْعِتْقُ إِذَا أَشْكَلَ تَمَيَّزَ بِالْقُرْعَةِ فَإِذَا قَرَعَ أَحَدُهُمَا عَتَقَ وَكَانَ الْآخَرُ عَلَى كِتَابَتِهِ يَعْتِقُ بِأَدَائِهَا إِلَى وَرَثَةِ سَيِّدِهِ فَإِنِ ادَّعَى أَنَّهُ هُوَ الْمُؤَدِّي حَلَفَ لَهُ الْوَرَثَةُ عَلَى الْعِلْمِ بِاللَّهِ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ أَنَّ أَبَاهُمْ تَأَدَّاهَا مِنْهُ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang ditegaskan dalam masalah ini dan dijadikan pegangan oleh mayoritas ulama mazhab kami, adalah bahwa dilakukan undian (qur‘ah) di antara dua orang mukatab, karena pengakuannya mengandung makna memerdekakan salah satu dari keduanya, dan jika terjadi kesamaran dalam masalah kemerdekaan, maka dibedakan dengan undian. Maka apabila salah satu dari keduanya terkena undian, ia menjadi merdeka, sedangkan yang lainnya tetap dalam status mukatab dan akan merdeka jika ia melunasi pembayaran kepada ahli waris tuannya. Jika ia mengaku bahwa dialah yang telah membayar, maka para ahli waris bersumpah atas pengetahuan mereka kepada Allah bahwa mereka tidak mengetahui ayah mereka telah menerima pembayaran itu darinya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا قُرْعَةَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّهُ اخْتِلَافٌ فِي أَدَاءٍ وَإِبْرَاءٍ لَا مَدْخَلَ لِلْقُرْعَةِ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَمَا لَوْ كَانَ فِي غَيْرِ الْكِتَابَةِ مِنَ الدُّيُونِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak ada undian (qur‘ah) di antara keduanya, karena ini merupakan perbedaan dalam pelaksanaan dan pelepasan tanggungan, yang mana undian (qur‘ah) tidak memiliki peran dalam salah satu dari keduanya, sebagaimana jika terjadi pada selain kitabah dari utang-utang.

فَعَلَى هَذَا يَرْجِعُ فِيهِمَا إِلَى بَيَانِ الْوَرَثَةِ وَعَتَقَ مَنْ عَيَّنُوهُ وَحَلَفُوا لِلْآخَرِ إِنِ ادَّعَاهُ وَإِنْ أَشْكَلَ عَلَى الْوَرَثَةِ كَانَ كَإِشْكَالِهِ عَلَى السَّيِّدِ فِي حَيَاتِهِ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْوَجْهَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Maka dalam hal ini, dikembalikan kepada penjelasan para ahli waris dan pembebasan budak yang mereka tunjuk, serta mereka bersumpah untuk yang lain jika ia mengakuinya. Jika hal itu masih samar bagi para ahli waris, maka keadaannya seperti kesamaran yang terjadi pada tuan ketika masih hidup, sehingga hukumnya mengikuti dua pendapat yang telah lalu. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَدَّى كِتَابَتَهُ فَعَتَقَ وَكَانَتْ عَرْضًا فَأَصَابَ بِهِ السَّيِّدُ عَيْبًا رَدَّهُ وَرَدَّ الْعِتْقَ قَالَ وَلَوْ فَاتَ الْمَعِيبُ قِيلَ لَهُ إِنْ جِئْتَ بِنُقْصَانِ الْعَيْبِ وَإِلَّا فَلِسَيِّدِكَ تَعْجِيزُكُ كَمَا لَوْ دَفَعْتَ دَنَانِيرَ نَقْصًا لَمْ تَعْتِقْ إِلَّا بِدَفْعِ نُقْصَانِ دَنَانِيرِكَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak mukatab telah membayar uang tebusannya, lalu ia merdeka, dan ternyata pembayaran itu berupa barang, kemudian tuannya menemukan cacat pada barang tersebut, maka tuan boleh mengembalikan barang itu dan membatalkan kemerdekaan budak tersebut. Ia juga berkata: Jika barang cacat itu sudah tidak ada (hilang atau rusak), maka budak tersebut diminta untuk mengganti kekurangan akibat cacat itu; jika tidak mampu, maka tuannya berhak untuk membatalkan akad mukatab, sebagaimana jika engkau membayar dengan dinar yang kurang, maka engkau tidak merdeka kecuali setelah membayar kekurangan dinar tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَاتَبَهُ عَلَى عَرْضٍ مَوْصُوفٍ يَصِحُّ ثُبُوتُهُ فِي الذِّمَّةِ وَأَمْكَنَ قَبْضُهُ فِي نَجْمَيْنِ فَصَاعِدًا وَهُوَ أَنْ يُكَاتِبَهُ عَلَى ثَوْبَيْنِ فَمَا زَادَ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ وَلَا يَصِحُّ عَلَى ثَوْبٍ وَاحِدٍ أَوْ عَبْدٍ وَاحِدٍ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ قَبْضُهُ فِي نَجْمَيْنِ حَتَّى يَكُونَ عَلَى ثَوْبَيْنِ أَوْ عَبْدَيْنِ أَوْ عَلَى ثَوْبٍ وَعَبْدٍ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَالُ الْكِتَابَةِ مِنْ جِنْسَيْنِ فَإِذَا انْعَقَدَتِ الْكِتَابَةُ عَلَى هَذَا وَأَتَاهُ بِالْعَرْضِ الْمُسْتَحَقِّ عَلَيْهِ فِي النَّجْمِ الْأَخِيرِ فَعَتَقَ بِآخِرِ دَفْعِهِ ثُمَّ وَجَدَ السَّيِّدُ بِهِ عَيْبًا لَمْ يَكُنْ قَدْ عَلِمَ بِهِ فَلَا يَخْلُو حَالُ الْعَرْضِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila ia melakukan mukatabah atas barang tertentu yang dapat ditetapkan dalam tanggungan dan memungkinkan untuk diterima dalam dua kali pembayaran atau lebih, yaitu apabila ia melakukan mukatabah atas dua helai pakaian atau lebih, maka mukatabah itu sah. Tidak sah melakukan mukatabah atas satu helai pakaian atau satu budak saja, karena tidak mungkin diterima dalam dua kali pembayaran kecuali jika atas dua helai pakaian, dua budak, atau atas satu helai pakaian dan satu budak, sebab boleh jadi harta mukatabah berasal dari dua jenis. Apabila akad mukatabah telah terjadi atas hal ini, lalu budak itu menyerahkan barang yang menjadi kewajibannya pada pembayaran terakhir, maka ia merdeka dengan pembayaran terakhir tersebut. Kemudian, jika tuan menemukan cacat pada barang itu yang sebelumnya tidak ia ketahui, maka keadaan barang tersebut tidak lepas dari tiga kemungkinan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْعَرْضُ بَاقِيًا عَلَى حَالِهِ الَّتِي قَبَضَهُ عَلَيْهَا فَيَكُونَ لِلسَّيِّدِ الْخِيَارُ فِي إِمْسَاكِهِ أَوْ رَدِّهِ فَإِنْ أَمْسَكَهُ رَاضِيًا بِعَيْبِهِ اسْتَقَرَّ مِلْكُهُ عَلَيْهِ وَاسْتَقَرَّ مِلْكُ الْمُكَاتَبِ بِهِ كَالْمُشْتَرِي إِذَا رَضِيَ بِعَيْبِ مَا اشْتَرَى

Salah satunya adalah apabila barang tersebut tetap dalam keadaan seperti saat diterima, maka tuan (sayyid) memiliki hak memilih antara menahannya atau mengembalikannya. Jika ia menahannya dengan rela atas cacatnya, maka kepemilikannya atas barang itu menjadi tetap, dan kepemilikan mukatab atas barang tersebut juga menjadi tetap, seperti halnya pembeli yang rela terhadap cacat barang yang dibelinya.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا امْتَنَعَ وُقُوعُ الْعِتْقِ بِوُجُودِ الْعَيْبِ لِفَوَاتِ بَعْضِ الْأَجْزَاءِ بِهِ كَمَا لَوْ كَانَ الْبَاقِي مِنَ الْكِتَابَةِ عَشَرَةٍ فَأَعْطَاهُ تِسْعَةً لَمْ يَعْتِقْ

Jika dikatakan: “Mengapa tidak dicegah terjadinya pembebasan budak (ʿitq) karena adanya cacat, karena hilangnya sebagian bagian (dari syarat) akibat cacat tersebut, sebagaimana jika sisa pembayaran mukātabah tinggal sepuluh lalu ia memberinya sembilan, maka budak itu tidak merdeka?”

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ نُقْصَانَ الْقَدْرِ يَسْتَحِقُّهُ نُطْقًا اقْتَضَاهُ الشَّرْطُ فَامْتَنَعَ بِهِ وُقُوعُ الْعِتْقِ وَنُقْصَانُ الصِّفَةِ يَسْتَحِقُّهُ حُكْمًا اقْتَضَاهُ الْعَقْدُ فَجَازَ أَنْ يَقَعَ بِهِ الْعِتْقُ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَ مَا اقْتَضَاهُ نُطْقُ الشَّرْطِ وَبَيْنَ مَا اقْتَضَاهُ مُطْلَقُ الْعَقْدِ أَلَا تَرَى أَنَّ الْجَهَالَةَ بِخِيَارِ الشَّرْطِ تَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الْبَيْعِ لِاسْتِحْقَاقِهِ نُطْقًا وَالْجَهَالَةَ بِخِيَارِ الْمَجْلِسِ لَا تَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الْبَيْعِ لِاسْتِحْقَاقِهِ حُكْمًا وَشَرْعًا

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa kekurangan dalam kadar merupakan sesuatu yang ditetapkan secara lafaz karena adanya syarat, sehingga dengan adanya syarat tersebut, pembebasan budak menjadi tidak sah. Sedangkan kekurangan dalam sifat merupakan sesuatu yang ditetapkan secara hukum karena adanya akad, sehingga pembebasan budak tetap sah dengan kekurangan tersebut, karena terdapat perbedaan antara apa yang ditetapkan oleh lafaz syarat dan apa yang ditetapkan oleh akad secara mutlak. Tidakkah engkau melihat bahwa ketidaktahuan terhadap hak memilih (khiyār) karena syarat menghalangi keabsahan jual beli karena hak tersebut ditetapkan secara lafaz, sedangkan ketidaktahuan terhadap hak memilih (khiyār) karena majelis tidak menghalangi keabsahan jual beli karena hak tersebut ditetapkan secara hukum dan syariat.

وَإِنْ رَدَّ السَّيِّدُ الْعَرْضَ بِعَيْبِهِ كَانَ لَهُ ذَاكَ كَالْمُشْتَرِي فِي رَدِّ مَا وَجَدَ بِهِ عَيْبًا وَيَرْتَفِعُ الْعِتْقُ بِالرَّدِّ لَا بِظُهُورِ الْعَيْبِ لِأَنَّ رَدَّهُ بِعَيْبِهِ نَقْصٌ يَفُوتُ بِهِ بَعْضُ أَجْزَائِهِ فَاقْتَضَى أَنْ لَا يَقَعَ بِهِ الْعِتْقُ كَمَا لَوْ كَانَتْ كِتَابَتُهُ عَشَرَةَ دَنَانِيرَ فَأَدَّاهَا إِلَّا قِيرَاطًا لَمْ يَعْتِقْ بِهَا

Jika tuan menolak barang karena cacatnya, maka ia berhak melakukan itu sebagaimana pembeli yang menolak barang yang ditemukan cacat. Status merdeka (ʿitq) gugur dengan penolakan, bukan dengan munculnya cacat, karena penolakan karena cacat merupakan kekurangan yang menyebabkan sebagian dari haknya hilang, sehingga tidak terjadi kemerdekaan (ʿitq) karenanya. Sebagaimana jika nilai penebusan (kitābah) adalah sepuluh dinar, lalu ia membayarnya kecuali satu qirāṭ, maka ia tidak merdeka karenanya.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يَصِحُّ ارْتِفَاعُ الْعِتْقِ بَعْدَ وُقُوعِهِ وَهُوَ كَالطَّلَاقِ إِذَا وَقَعَ لَمْ يَرْتَفِعْ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ لَوْ خَالَعَ زَوْجَتَهُ عَلَى ثَوْبٍ طَلَّقَهَا بِهِ ثُمَّ وَجَدَ بِالثَّوْبِ عَيْبًا رَدَّهُ بِهِ وَلَمْ يَرْتَفِعِ الطَّلَاقُ بَعْدَ وُقُوعِهِ فَهَلَّا كَانَتِ الْكِتَابَةُ كَذَلِكَ

Jika dikatakan: Bagaimana mungkin pembebasan budak bisa batal setelah terjadi, padahal ia seperti talak yang jika sudah terjadi tidak bisa dibatalkan? Telah tetap bahwa jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan imbalan sebuah pakaian, lalu ia menalaknya dengan imbalan tersebut, kemudian ia menemukan cacat pada pakaian itu, maka ia boleh mengembalikannya, namun talak yang telah terjadi tidak bisa dibatalkan setelah terjadi. Mengapa tidak demikian juga halnya dengan mukatabah?

قِيلَ إِنَّمَا لَا يَرْتَفِعُ الْعِتْقُ بَعْدَ وُقُوعِهِ إِذَا كَانَ مُسْتَقِرًّا وَهَذَا الْعِتْقُ وَقَعَ مُتَوَهَّمًا ثُمَّ بَانَ بِالرَّدِّ أَنَّهُ لَمْ يَقَعْ

Dikatakan bahwa kemerdekaan (budak) tidak dapat dibatalkan setelah terjadi jika telah tetap (sah), sedangkan kemerdekaan ini terjadi secara dugaan, kemudian dengan adanya penolakan menjadi jelas bahwa kemerdekaan itu tidak terjadi.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْكِتَابَةِ وَالْخُلْعِ وَإِنْ كَانَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا ضَيِّقًا أَنَّ الْمُغَلَّبَ فِي الْخُلْعِ حُكْمُ الطَّلَاقِ فَجَازَ أَنْ لَا يَرْتَفِعَ بِعَيْبِ العوض والمغلب في الكتابة حكم العرض فَجَازَ أَنْ يَرْتَفِعَ الْعِتْقُ بِعَيْبِ الْعِوَضِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ قِيلَ لِلْمُكَاتَبِ بَعْدَ رَدِّ الْعِوَضِ عَلَيْهِ قَدِ ارْتَفَعَ عِتْقُكَ وَأَنْتَ عَلَى كِتَابَتِكَ فَإِنْ جِئْتَ سَيِّدَكَ بِبَدَلِ هَذَا الْعِوَضِ سَلِيمًا مِنْ عَيْبٍ اسْتَقَرَّ عِتْقُكَ وَإِنْ لَمْ تَأْتِ بِبَدَلِهِ فَلَهُ تَعْجِيزُكَ وَاسْتِرْقَاقُكَ

Perbedaan antara kitābah dan khulu‘, meskipun perbedaannya tipis, adalah bahwa yang dominan dalam khulu‘ adalah hukum talak, sehingga boleh jadi talak tidak batal karena cacat pada ‘iwadh (tebusan), sedangkan yang dominan dalam kitābah adalah hukum mu‘āwadlah (pertukaran harta), sehingga boleh jadi kemerdekaan (pembebasan budak) batal karena cacat pada ‘iwadh. Jika demikian, dikatakan kepada mukātab setelah ‘iwadh dikembalikan kepadanya: “Kemerdekaanmu telah batal dan engkau tetap dalam status kitābah. Jika engkau datang kepada tuanmu dengan pengganti ‘iwadh yang bebas dari cacat, maka kemerdekaanmu tetap berlaku. Namun jika engkau tidak membawa penggantinya, maka tuanmu berhak untuk membuatmu tidak mampu (membayar) dan memperbudakmu kembali.”

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مِنْ أَقْسَامِ الْعِوَضِ الْمَعِيبِ أَنْ يَتْلَفَ فِي يَدِ السَّيِّدِ قَبْلَ عِلْمِهِ بِعَيْبِهِ فَالْمُسْتَحَقُّ فِيهِ الرُّجُوعُ بِأَرْشِهِ فَيَرْتَفِعُ الْعِتْقُ بِاسْتِحْقَاقِ الْأَرْشِ كَمَا يَرْتَفِعُ بِنُقْصَانِ الْقَدْرِ وَلَا يَقِفُ عَلَى خِيَارِ السَّيِّدِ فَإِنْ أَدَّى الْمُكَاتَبُ الْأَرْشَ إِلَى سَيِّدِهِ عَتَقَ حِينَئِذٍ بِهِ وَإِنِ امْتَنَعَ كَانَ لِلسَّيِّدِ تَعْجِيزُهُ بِهِ وَاسْتِرْقَاقُهُ

Bagian kedua dari jenis kompensasi yang cacat adalah apabila kompensasi tersebut rusak di tangan tuan sebelum ia mengetahui cacatnya, maka yang berhak atasnya adalah pengembalian dengan nilai pengganti (arsh). Dengan demikian, kemerdekaan (itq) menjadi gugur karena adanya hak atas arsh, sebagaimana gugur karena kekurangan jumlah, dan hal ini tidak bergantung pada pilihan tuan. Jika mukatab membayarkan arsh kepada tuannya, maka ia merdeka karenanya pada saat itu juga. Namun jika ia menolak, maka tuan berhak untuk membatalkan akad mukatab dan memperbudaknya kembali.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ الْمَعِيبُ بَاقِيًا فِي يَدِ السَّيِّدِ لَكِنْ قَدْ حَدَثَ بِهِ عَيْبٌ يَمْنَعُهُ مِنْ رَدِّهِ فَيَكُونُ وُقُوعُ الْعِتْقِ مَوْقُوفًا عَلَى مَا يَسْتَقِرُّ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْأَرْشَ لَمْ يَسْتَقِرَّ لِإِمْكَانِ الرَّدِّ وَالرَّدَّ لَمْ يَسْتَقِرَّ لِحُدُوثِ الْعَيْبِ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَسْتَرْجِعَ العرض مَعِيبًا فَيَرُدَّ مِثْلَهُ وَبَيْنَ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنَ اسْتِرْجَاعِهِ وَيَدْفَعَ قَدْرَ أَرْشِهِ

Bagian ketiga adalah apabila barang pengganti yang cacat masih tetap berada di tangan tuan, namun telah terjadi cacat padanya yang menghalangi untuk dikembalikan. Maka, terjadinya pembebasan budak (ʿitq) menjadi tergantung pada kesepakatan yang akan dicapai di antara keduanya, karena kompensasi (arsh) belum tetap disebabkan masih adanya kemungkinan pengembalian, dan pengembalian pun belum tetap karena telah terjadi cacat. Sebab, pihak mukatab memiliki pilihan antara mengambil kembali barang yang cacat lalu mengembalikan barang sejenisnya, atau menolak untuk mengambilnya kembali dan membayar sejumlah kompensasi (arsh) atas cacat tersebut.

فَإِذَا كَانَ هَكَذَا بُدِئَ بِالسَّيِّدِ وَقِيلَ لَهُ أَتَرْضَى بِعَيْبٍ

Maka jika keadaannya demikian, dimulai dengan (menghadap) tuan (pemilik budak) dan dikatakan kepadanya: “Apakah engkau rela dengan cacat (yang ada)?”

فَإِنْ رَضِيَ بِهِ اسْتَقَرَّ وُقُوعُ الْعِتْقِ وَإِنْ لَمْ يَرْضَ بِالْعَيْبِ قِيلَ لِلْمُكَاتَبِ أَتَرْضَى أَنْ يُسْتَرْجَعَ الْعِوَضُ بِالْعَيْبِ الْحَادِثِ فَإِنْ رَضِيَ بِاسْتِرْجَاعِهِ كَانَ ارْتِفَاعُ عِتْقِهِ مَوْقُوفًا عَلَى رَدِّ الْعِوَضِ عَلَيْهِ فَإِنْ رَدَّهُ ارْتَفَعَ عِتْقُهُ فَإِنْ قَضَاهُ بِمِثْلِهِ سَلِيمًا وَإِلَّا عَجَّزَهُ السَّيِّدُ وَاسْتَرَقَّهُ وَإِنِ امْتَنَعَ من استرجاعه معيبا فالمستحق في الْأَرْشُ فَيَرْتَفِعُ عِتْقُهُ بِالِاسْتِحْقَاقِ لِلْأَرْشِ إِلَّا أَنْ يَسْمَحَ بِهِ السَّيِّدُ فَيَصِيرَ كَالْإِبْرَاءِ وَيَسْتَقِرَّ بِهِ وقوع العتق

Jika ia rela dengan cacat tersebut, maka jatuhnya ‘itq tetap berlaku. Namun jika ia tidak rela dengan cacat itu, maka kepada mukatab dikatakan: “Apakah kamu rela jika ‘iwadh dikembalikan karena cacat yang terjadi?” Jika ia rela untuk mengembalikannya, maka batalnya ‘itq bergantung pada pengembalian ‘iwadh kepadanya. Jika ia mengembalikannya, maka ‘itq batal. Jika ia membayarnya dengan yang semisal dalam keadaan selamat, maka tidak mengapa. Jika tidak, maka tuan dapat melemahkannya (mencabut kemerdekaannya) dan memperbudaknya kembali. Jika ia menolak untuk mengembalikan ‘iwadh dalam keadaan cacat, maka yang berhak adalah al-arsy (ganti rugi atas cacat), sehingga ‘itq batal karena hak atas al-arsy, kecuali jika tuan merelakannya, maka itu seperti pembebasan dan jatuhnya ‘itq tetap berlaku.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ ادَّعَى أَنَّهُ دَفَعَ أُنْظِرَ يَوْمًا وَأَكْثَرُهُ ثَلَاثٌ فَإِنْ جَاءَ بِشَاهِدٍ حَلَفَ وَبَرِئَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengaku bahwa ia telah membayar (utang), maka ia diberi tenggang waktu satu hari, dan paling lama tiga hari. Jika ia datang dengan seorang saksi, ia bersumpah dan terbebas (dari tuntutan).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَدَّعِيَ الْمُكَاتَبُ عَلَى سَيِّدِهِ أَنَّهُ دَفَعَ إِلَيْهِ مَالَ كِتَابَتِهِ وَيُنْكِرُهُ السَّيِّدُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ بَيِّنَةٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُ السَّيِّدِ مَعَ يَمِينِهِ أَنَّهُ مَا قَبَضَ مِنْهُ مَالَ كِتَابَتِهِ وَيَكُونُ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ يَمِينِ السَّيِّدِ عَلَى حَالِ الْكِتَابَةِ فَإِنْ نَكَلَ السَّيِّدُ عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْمُكَاتَبِ فَإِذَا حَلَفَ بَرِئَ وَعَتَقَ وَإِنْ كَانَ لِلْمُكَاتَبِ بَيِّنَةٌ نَظَرَ فَإِنْ كَانَتْ بَيِّنَتُهُ حَاضِرَةً سُمِعَتْ وَحُكِمَ بِهَا عَلَى سَيِّدِهِ وَهِيَ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهَا عَلَى دَفْعِ مَالٍ وَإِنْ أَفْضَتْ إِلَى الْعِتْقِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ أَنْ تُسْمَعَ الشَّهَادَةُ فِيمَا يُفْضِي إِلَى مَا لَا يَثْبُتُ بِتِلْكَ الشَّهَادَةِ كَمَا تُسْمَعُ فِي الْوِلَادَةِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ وَإِنْ ثَبَتَ بِهَا نَسَبٌ لَا يَثْبُتُ بِشَهَادَةِ النِّسَاءِ وَإِنْ كَانَتْ بَيِّنَتُهُ غَائِبَةً قِيلَ لَهُ أَتَقْدِرُ عَلَى إِحْضَارِهَا عَنْ قَرِيبٍ فَإِنْ قَالَ لَا

Al-Mawardi berkata, “Kejadiannya adalah apabila seorang mukatab mengklaim kepada tuannya bahwa ia telah menyerahkan uang untuk membayar akad kitabahnya, namun tuannya mengingkarinya. Jika mukatab tidak memiliki bukti, maka perkataan tuanlah yang diterima dengan sumpahnya bahwa ia tidak menerima uang kitabah dari mukatab tersebut, dan setelah sumpah tuan, mukatab tetap berada dalam status kitabah. Jika tuan menolak bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada mukatab; jika mukatab bersumpah, ia terbebas dan merdeka. Jika mukatab memiliki bukti, maka dilihat kembali: jika buktinya hadir, maka didengarkan dan diputuskan berdasarkan bukti tersebut terhadap tuannya, yaitu berupa dua orang saksi, atau satu saksi dan dua perempuan, atau satu saksi dan sumpah, karena perkara ini berkaitan dengan penyerahan harta, meskipun berujung pada kemerdekaan. Tidak terlarang untuk menerima kesaksian dalam perkara yang berujung pada sesuatu yang tidak dapat ditetapkan dengan kesaksian tersebut, sebagaimana dalam kasus kelahiran diterima kesaksian perempuan, meskipun dengan itu dapat ditetapkan nasab yang tidak dapat ditetapkan hanya dengan kesaksian perempuan. Jika buktinya tidak hadir, maka ditanyakan kepadanya, ‘Apakah kamu mampu menghadirkannya dalam waktu dekat?’ Jika ia menjawab tidak…”

قِيلَ فَأَنْتَ كَمَنْ لَا بَيِّنَةَ لَهُ فَيَحْلِفُ السَّيِّدُ وَيَكُونُ الْمُكَاتَبُ بَاقِيًا عَلَى كِتَابَتِهِ فَإِنِ اسْتَرَقَّهُ السَّيِّدُ بِالْعَجْزِ ثُمَّ حَضَرَتْ بَيِّنَتُهُ مِنْ بَعْدُ جَازَ سَمَاعُهَا وَالْحُكْمُ بِعِتْقِهِ لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ الْعَادِلَةَ أَحَقُّ بِالْحُكْمِ مِنَ الْيَمِينِ الْكَاذِبَةِ

Dikatakan: Maka engkau seperti orang yang tidak memiliki bukti, sehingga tuan bersumpah dan mukatab tetap berada pada status kitabah-nya. Jika kemudian tuan memperbudaknya kembali karena ketidakmampuan, lalu setelah itu datang bukti (yang mendukung mukatab), maka boleh mendengarkannya dan memutuskan hukum dengan memerdekakannya. Sebab, bukti yang adil lebih berhak dijadikan dasar keputusan daripada sumpah yang dusta.

وَإِنْ قَالَ أَقْدِرُ عَلَى إِحْضَارِ بَيِّنَتِي عَنْ قَرِيبٍ أُنْظِرَ لِإِحْضَارِهَا يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ وَأَكْثَرُهُ ثَلَاثٌ لِأَنَّ الْمُهْلَةَ فِي إِحْضَارِ الْبَيِّنَةِ عُرْفُ الْحُكَّامِ فِي الضَّرُورَاتِ وَكَانَ غَايَةَ إِنْظَارِهِ ثَلَاثًا لِئَلَّا يَخْرُجَ عَنْ حَدِّ الْقِلَّةِ إِلَى حَدِّ الْكَثْرَةِ وَيُمْنَعُ السَّيِّدُ فِي زَمَانِ إِنْظَارِهِ مِنْ مُطَالَبَتِهِ وَتَعْجِيزِهِ وَيُمَكَّنُ الْعَبْدُ فِيهَا مِنَ اكْتِسَابِهِ لِئَلَّا يَفُوتَ عَلَى أَحَدِهِمَا حَقُّهُ لَكِنْ يُحْجَرُ عَلَيْهِ فِي كَسْبِهِ إِنْ أَظْهَرَ السَّيِّدُ تَعْجِيزَهُ وَلَا يُحْجَرُ إِنْ لَمْ يُظْهِرْ تَعْجِيزَهُ فَإِنْ حَضَرَتِ الْبَيِّنَةُ سُمِعَتْ عَلَى مَا مَضَى وَإِنْ تَأَخَّرَتْ عَنْ زَمَانِ الْإِنْظَارِ أُحْلِفَ عَلَى ما مضى

Jika seseorang berkata, “Saya mampu menghadirkan bayyinah saya dalam waktu dekat,” maka ia diberi tenggang waktu untuk menghadirkannya satu atau dua hari, dan paling lama tiga hari. Sebab, tenggang waktu dalam menghadirkan bayyinah adalah kebiasaan para hakim dalam keadaan darurat, dan batas maksimal penantiannya adalah tiga hari agar tidak keluar dari batas sedikit menuju batas banyak. Selama masa penantian itu, tuan dilarang menuntut atau mempersulitnya, dan budak diberi kesempatan untuk bekerja agar hak salah satu dari keduanya tidak hilang. Namun, budak dicegah dari bekerja jika tuan telah menunjukkan ketidakmampuannya, dan tidak dicegah jika tuan tidak menunjukkan ketidakmampuannya. Jika bayyinah telah hadir, maka didengarkan sesuai dengan yang telah lalu. Namun jika bayyinah terlambat dari waktu penantian, maka ia diminta bersumpah atas apa yang telah berlalu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ عَجَزَ أَوْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دُيُونٌ بُدِئَ بِهَا عَلَى السَّيِّدِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak tidak mampu atau meninggal dunia sementara ia masih memiliki utang, maka pelunasan utang itu didahulukan atas (hak) tuannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا اجْتَمَعَ عَلَى الْمُكَاتَبِ دُيُونٌ مِنْ مُعَامَلَةٍ أَوْ أَرْشٍ عَنْ جِنَايَةٍ وَمَالٍ مِنْ كِتَابَةٍ فَإِنْ وَجَدَ مَا يَقْضِي بِهِ جَمِيعَ الْحُقُوقِ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَإِنْ عَجَزَ عَنْ قَضَاءِ جَمِيعِهَا وَكَانَ مَا بِيَدِهِ يَعْجِزُ عَنْهَا كَانَ صَرَفَ مَا بِيَدِهِ إِلَى غُرَمَائِهِ وَفِي أَرُوشِ جِنَايَاتِهِ أَوْلَى مِنْ صَرْفِهِ إِلَى سَيِّدِهِ لِاسْتِقْرَارِ الدُّيُونِ وَالْأَرُوشِ فِي ذِمَّتِهِ وَأَخْذِهِ جَبْرًا بِأَدَائِهِ وَلَيْسَ مَالُ الْكِتَابَةِ مُسْتَقِرًّا فِي ذِمَّتِهِ وَلَا يُؤْخَذُ بِهِ جَبْرًا بِأَدَائِهِ فَلِذَلِكَ قُدِّمَتِ الدُّيُونُ وَأُرُوشُ الْجِنَايَاتِ عَلَى مَالِ الْكِتَابَةِ فَإِنْ فَضَلَ بَعْدَ قَضَائِهَا فَضْلٌ أَخَذَهُ السَّيِّدُ مِلْكًا إِنْ عَجَّزَهُ وَأَدَاءً إِنْ أَنْظَرَهُ وَإِنْ عَجَزَ مَا بِيَدِهِ عَنْ دُيُونِهِ وَجِنَايَاتِهِ قُدِّمَتِ الدُّيُونُ عَلَى الْجِنَايَاتِ لِتَعَلُّقِ الْجِنَايَاتِ بِرَقَبَتِهِ وَتَعَلُّقِ الدُّيُونِ بِذِمَّتِهِ فَإِذَا اسْتَوْفَى أَرْبَابَ الدُّيُونِ دَفَعَ حِينَئِذٍ فِي جِنَايَاتِهِ فَإِنْ عَجَزَ مَا بِيَدِهِ عَنْ دُيُونِهِ أُنْظِرَ بِالْبَاقِي إِلَى وَقْتِ يَسَارِهِ وَبِيعَ فِي جِنَايَاتِهِ إِنْ كَانَ أُرُوشُهَا بِقَدْرِ ثَمَنِهِ فَإِنْ كَانَتْ أَقَلَّ مِنْ ثَمَنِهِ بِيعَ مِنْهُ بِقَدْرِهَا وَكَانَ الْبَاقِي عَلَى رِقِّ سَيِّدِهِ وَلَا يُبَاعُ فِي بَاقِي دُيُونِهِ لِأَنَّ دُيُونَهُ تَثْبُتُ فِي ذِمَّتِهِ وَلَا تَتَعَلَّقُ بِرَقَبَتِهِ فَإِنْ أَرَادَ السَّيِّدُ بَعْدَ مَا بِيعَ مِنْهُ فِي جِنَايَاتِهِ أَنْ يَسْتَبْقِيَ الْكِتَابَةَ فِي بَاقِيهِ جَازَ لَهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْتَدِئْهَا فِي بَعْضِهِ فَيَمْتَنِعَ مِنْهَا وَإِنَّمَا بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ فِي بَعْضِهِ فَجَازَ أَنْ يَضُمَّ الْبَاقِي مِنْهَا فَإِذَا أَدَّى كِتَابَةَ بَاقِيهِ عَتَقَ وَفِي تَقْوِيمِ بَاقِيهِ عَلَى السَّيِّدِ إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana ia mengatakan, apabila seorang mukatab memiliki utang-utang dari transaksi, atau denda (‘arsh) karena tindak pidana, dan harta dari akad mukatab, maka jika ia mendapatkan sesuatu yang dapat digunakan untuk melunasi seluruh hak tersebut, ia harus memberikan kepada setiap orang yang berhak haknya. Namun jika ia tidak mampu melunasi semuanya dan apa yang ada di tangannya tidak mencukupi, maka apa yang ada di tangannya dibagikan kepada para krediturnya, dan dalam hal denda tindak pidana lebih didahulukan daripada diberikan kepada tuannya, karena utang dan denda telah tetap dalam tanggungannya dan ia dipaksa untuk membayarnya, sedangkan harta akad mukatab belum tetap dalam tanggungannya dan tidak dipaksa untuk membayarnya. Oleh karena itu, utang dan denda tindak pidana didahulukan atas harta akad mukatab. Jika setelah pelunasan itu masih ada sisa, maka tuan mengambil sisanya sebagai milik jika ia telah memfasakhkan (membatalkan) mukatab, dan sebagai pembayaran jika ia menangguhkan. Jika apa yang ada di tangannya tidak cukup untuk melunasi utang dan dendanya, maka utang didahulukan atas denda, karena denda berkaitan dengan dirinya (badan) sedangkan utang berkaitan dengan tanggungannya (dzimmah). Jika para pemilik utang telah menerima haknya, barulah dibayarkan untuk dendanya. Jika apa yang ada di tangannya tidak cukup untuk melunasi utangnya, maka sisanya ditangguhkan hingga ia mampu, dan ia dijual untuk membayar dendanya jika jumlah dendanya seharga dirinya. Jika dendanya kurang dari harga dirinya, maka ia dijual seharga dendanya dan sisanya tetap menjadi budak tuannya. Ia tidak dijual untuk melunasi sisa utangnya, karena utang itu tetap dalam tanggungannya dan tidak berkaitan dengan dirinya (badan). Jika tuan ingin setelah sebagian dirinya dijual untuk dendanya, tetap melanjutkan akad mukatab pada sisanya, maka itu boleh, karena ia tidak memulai akad mukatab pada sebagian dirinya sehingga dilarang, melainkan akad mukatab pada sebagian dirinya batal, sehingga boleh menggabungkan sisanya. Jika ia telah membayar akad mukatab pada sisanya, maka ia merdeka. Dalam hal penilaian sisanya atas tuan jika tuan mampu, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ لِتَقْدِيمِ سَبَبِ الْعِتْقِ قَبْلَ التَّبْعِيضِ

Salah satunya tidak dikenakan penilaian (harga) atasnya karena sebab pembebasan (al-‘itq) telah didahulukan sebelum terjadinya pemisahan (at-tabyīḍ).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُقَوَّمُ عَلَيْهِ الْبَاقِي وَيَسْرِي الْعِتْقُ فِي جَمِيعِهِ لِأَنَّ اخْتِيَارَهُ لِلْإِنْظَارِ كَالِابْتِدَاءِ بِالْعِتْقِ لَكِنْ لَوْ بِيعَ بَعْضُهُ فِي حَيَاتِهِ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْهِ مَالُ كِتَابَتِهِ لَزِمَ السَّيِّدُ أَنْ يُقِيمَ عَلَيْهِ الْكِتَابَةَ فِي بَاقِيهِ لِأَنَّهَا إذا لزمت جَمِيعِهِ لَزِمَتْ فِي بَعْضِهِ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَاقِيهِ إِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّ عِتْقَهُ لَمْ يَقِفْ عَلَى خِيَارِهِ بَعْدَ التَّبْعِيضِ

Pendapat kedua, sisa budak dinilai (dihitung) atasnya dan berlaku pembebasan (’itq) pada seluruhnya, karena pilihannya untuk menunggu (menunda pembayaran) dianggap seperti memulai pembebasan. Namun, jika sebagian dari budak itu dijual ketika tuannya masih hidup sebelum jatuh tempo pembayaran uang kitabah, maka tuan wajib melanjutkan akad kitabah pada sisanya. Sebab, jika akad kitabah telah menjadi kewajiban atas seluruhnya, maka ia juga menjadi kewajiban atas sebagian darinya. Dan tidak dinilai (dihitung) sisa budak atasnya jika ia merdeka dengan pembayaran, menurut satu pendapat, karena kemerdekaannya tidak bergantung pada pilihannya setelah terjadi pemisahan (tab‘īḍ).

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا إِذَا مَاتَ هَذَا الْمُكَاتَبُ وَعَلَيْهِ دُيُونٌ وَجِنَايَاتٌ وَمَالُ كِتَابَةٍ فَقَدْ مَاتَ عَبْدًا تَرَكَ وَفَاءً أَوْ لَمْ يَتْرُكْ لِمَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّ الْعِتْقَ لَا يَقَعُ بِالْأَدَاءِ بَعْدَ الموت وكان مَا خَلَّفَهُ مِنَ الْمَالِ مَصْرُوفًا فِي دُيُونِهِ وَجِنَايَاتِهِ لَا يَتَقَدَّمُ بِهِ أَرْبَابُ الدُّيُونِ عَلَى أَصْحَابِ الْجِنَايَاتِ لِفَوَاتِ رَقَبَتِهِ بِالْمَوْتِ فَصَارَتْ أُرُوشُ الْجِنَايَاتِ مُسَاوِيَةً دُيُونَ الْمُعَامَلَاتِ فَإِنْ عَجَزَ مَالُهُ عَنْهَا تَحَاصَّ الْفَرِيقَانِ فِي مَالِهِ عَلَى قَدْرِ حُقُوقِهِمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمُ الرُّجُوعُ عَلَى السَّيِّدِ بِشَيْءٍ إِنْ بَقِيَ مِنْهَا وَهُوَ غَيْرُ مَأْخُوذٍ بدين عبده ولا بجنايته والله اعلم

Adapun jika mukatab tersebut meninggal dunia sementara ia masih memiliki utang, tanggungan jinayat, dan sisa pembayaran kitabah, maka ia meninggal dalam keadaan sebagai budak, baik ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi semuanya maupun tidak, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa kemerdekaan tidak terjadi dengan pembayaran setelah kematian. Harta yang ditinggalkannya digunakan untuk melunasi utang dan jinayatnya, di mana para pemilik utang tidak didahulukan atas para pemilik hak jinayat, karena hilangnya status budak dengan kematian. Maka diyat jinayat menjadi setara dengan utang muamalah. Jika hartanya tidak mencukupi untuk menutupi semuanya, maka kedua kelompok (pemilik utang dan pemilik hak jinayat) berbagi secara proporsional sesuai hak mereka masing-masing dari harta tersebut, dan mereka tidak berhak menuntut kepada tuan (pemilik budak) atas sisa yang belum terpenuhi, karena tuan tidak dibebani untuk menanggung utang atau jinayat budaknya. Allah Maha Mengetahui.

كِتَابَةُ بَعْضِ عَبْدٍ وَالشَّرِيكَانِ فِي الْعَبْدِ يُكَاتِبَانِهِ أو أحدهما

Penulisan sebagian dari seorang budak, dan dua orang yang berserikat dalam kepemilikan seorang budak dapat melakukan mukātabah terhadapnya, atau salah satu dari keduanya saja.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه لَا يَجُوزُ أَنْ يُكَاتِبَ بَعْضَ عَبْدٍ إِلَّا أَنْ يَكُونَ بَاقِيهِ حُرًّا وَلَا بَعْضًا مِنْ عَبْدٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ شَرِيكِهِ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِ الشَّرِيكِ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ لَا يُمْنَعُ مِنَ السَّفَرِ وَالِاكْتِسَابِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Tidak boleh memerdekakan sebagian dari seorang budak melalui akad mukātabah, kecuali jika bagian sisanya adalah orang merdeka. Dan tidak boleh pula memerdekakan sebagian dari budak yang dimiliki bersama antara dia dan rekannya, meskipun dengan izin rekannya, karena budak mukātab tidak boleh dihalangi dari bepergian dan mencari penghasilan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي سَيِّدٍ تَفَرَّدَ بكتابة بعض عبد فلا يخلو حال بَاقِيهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: “Contohnya adalah pada seorang tuan yang secara khusus menuliskan pembebasan sebagian budaknya, maka keadaan sisanya tidak lepas dari tiga bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ حُرًّا

Salah satunya adalah harus berstatus merdeka.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ مِلْكًا لِشَرِيكٍ فِيهِ

Dan yang kedua adalah bahwa (harta tersebut) merupakan milik seorang rekan (syarikat) di dalamnya.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ الَّذِي كَاتَبَهُ

Ketiga, hendaknya (budak tersebut) merupakan milik tuannya yang melakukan mukātabah dengannya.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بَاقِي الْمُكَاتَبِ حُرًّا فَالْكِتَابَةُ عَلَى الْمَرْقُوقِ مِنْهُ جَائِزَةٌ لِأَنَّ مَقْصُودَهَا الْحُرِّيَّةُ فَإِذَا جَازَتْ كِتَابَةُ مَنْ لَا حُرِّيَّةَ فِيهِ كَانَتْ كِتَابَةُ مَنْ فِيهِ حُرِّيَّةٌ أَجْوَزَ وَلِأَنَّ تَصَرُّفَهُ قَبْلَ الْكِتَابَةِ مُخْتَلِفٌ وَكَسْبَهُ مُتَبَعِّضٌ لِأَنَّهُ يَتَصَرَّفُ لِنَفْسِهِ تَارَةً بِحَقِّ حُرِّيَّتِهِ وَلَهُ بِقَدْرِهَا مِنْ كَسْبِهِ وَيَتَصَرَّفُ لِسَيِّدِهِ تَارَةً بِحَقِّ مِلْكِهِ وَلَهُ بِقَدْرِ ذَلِكَ مِنْ كَسْبِهِ فَإِذَا كَاتَبَ بَاقِيهِ اسْتَكْمَلَ جَمِيعَ تَصَرُّفِهِ وَكَسْبِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ فَكَانَ بِالْكِتَابَةِ أَحَقَّ بِهِ فَإِذَا صَحَّتْ كِتَابَتُهُ كَمَلَ تَصَرُّفُهُ وَجَازَ أَنْ يَسْتَعِينَ بِسَهْمِ الرِّقَابِ مِنَ الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أَدَّى مَالَ الْكِتَابَةِ كَمَلَ عِتْقُهُ وَتَحَرَّرَ جَمِيعُهُ وَإِنْ عَجَزَ وَعَادَ إِلَى الرِّقِّ أَخَذَ السَّيِّدُ مَا فِي يَدِهِ مِنْ كَسْبِ الرِّقِّ وَلَمْ يَأْخُذْ مَا فِي يَدِهِ مِنْ كَسْبِ الْحُرِّيَّةِ كَمَا لَا يَأْخُذُهُ مِنْهُ لَوْ لَمْ يُكَاتِبْهُ

Adapun bagian pertama, yaitu apabila sisa dari mukatab itu adalah orang yang merdeka, maka penulisan (akad kitābah) atas bagian yang masih menjadi budak darinya adalah diperbolehkan, karena tujuan dari kitābah adalah kemerdekaan. Maka jika diperbolehkan melakukan kitābah terhadap orang yang sama sekali tidak memiliki unsur kemerdekaan, maka melakukan kitābah terhadap orang yang masih memiliki unsur kemerdekaan tentu lebih diperbolehkan. Selain itu, tindakan (tasarruf) orang tersebut sebelum akad kitābah adalah berbeda-beda dan hasil usahanya (kasb) terbagi-bagi, karena ia kadang bertindak untuk dirinya sendiri berdasarkan hak kemerdekaannya, sehingga ia berhak atas hasil usahanya sesuai kadar kemerdekaannya, dan kadang bertindak untuk tuannya berdasarkan hak kepemilikan tuannya, sehingga tuannya berhak atas hasil usahanya sesuai kadar kepemilikannya. Maka apabila ia melakukan akad kitābah atas sisa dirinya, sempurnalah seluruh tindakan dan hasil usahanya untuk dirinya sendiri, sehingga dengan akad kitābah itu ia lebih berhak atasnya. Jika akad kitābahnya sah, maka sempurnalah tindakan dan hasil usahanya, dan ia boleh meminta bantuan dari bagian “riqāb” dalam zakat. Jika ia telah melunasi pembayaran akad kitābah, maka sempurnalah kemerdekaannya dan seluruh dirinya menjadi merdeka. Namun jika ia tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka tuannya hanya mengambil apa yang ada di tangannya dari hasil usaha sebagai budak, dan tidak mengambil apa yang ada di tangannya dari hasil usaha sebagai orang merdeka, sebagaimana tuannya juga tidak mengambilnya jika ia tidak melakukan akad kitābah.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بَاقِيهِ مِلْكًا لِشَرِيكٍ فِيهِ فَلَا تَخْلُو كِتَابَةُ هَذَا السَّيِّدِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ تَكُونَ بِإِذْنِ شَرِيكِهِ فِيهِ أَوْ بِغَيْرِ إِذْنِهِ

Adapun bagian kedua, yaitu jika sisa harta tersebut masih menjadi milik seorang syarik (sekutu) di dalamnya, maka penulisan (pengalihan hak) oleh tuan ini tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dilakukan dengan izin syarik-nya atau tanpa izinnya.

فَإِنْ كَانَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ الشَّرِيكِ فَالْكِتَابَةُ فَاسِدَةٌ لِمَا فِيهَا مِنْ دُخُولِ الضَّرَرِ عَلَى الشَّرِيكِ بِنُقْصَانِ قِيمَةِ حِصَّتِهِ وَجَوَّزَهَا الْحَكَمُ بْنُ عُتْبَةَ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى كَمَا يَجُوزُ بَيْعُ حِصَّتِهِ بِغَيْرِ إِذْنِ شَرِيكِهِ وَلَيْسَ لِهَذَا الْقَوْلِ وَجْهٌ لِأَنَّ الْبَيْعَ لَا يَلْحَقُ الشَّرِيكَ فِيهِ ضَرَرٌ فَجَوَّزْنَاهُ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَالْكِتَابَةُ يَدْخُلُ بِهَا ضَرَرٌ عَلَيْهِ فَمَنَعَ مِنْهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ

Jika dilakukan tanpa izin dari rekan (syarik), maka akad kitābah tersebut batal karena di dalamnya terdapat unsur mudarat bagi rekan berupa berkurangnya nilai bagian miliknya. Al-Hakam bin ‘Utbah dan Ibnu Abi Laila membolehkannya, sebagaimana bolehnya menjual bagian miliknya tanpa izin rekannya. Namun, pendapat ini tidak memiliki dasar, karena dalam jual beli tidak ada mudarat yang menimpa rekan, sehingga kami membolehkannya tanpa izinnya. Sedangkan dalam akad kitābah terdapat mudarat bagi rekan, maka dilarang melakukannya tanpa izinnya.

وَإِنْ كَاتَبَهُ بِإِذْنِ شَرِيكِهِ فَفِي صِحَّةِ كِتَابَتِهِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ عَلَى مَسَائِلِ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ أَنَّ الْكِتَابَةَ صَحِيحَةٌ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ لِأَنَّ الْمَانِعَ مِنْهَا دُخُولُ الضَّرَرِ عَلَى الشَّرِيكِ وَإِذْنُهُ رِضًا بِالضَّرَرِ فَزَالَ الْمَنْعُ وَصَحَّتِ الْكِتَابَةُ

Dan jika seseorang melakukan mukatabah terhadap budaknya dengan izin dari rekannya (dalam kepemilikan), maka mengenai keabsahan mukatabah tersebut terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i dalam kitab al-Umm berdasarkan masalah-masalah yang dikemukakan oleh Muhammad bin al-Hasan, bahwa mukatabah tersebut sah. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Hanifah dan Malik, karena yang menjadi penghalang mukatabah adalah adanya potensi mudarat bagi rekannya, dan izinnya merupakan bentuk kerelaan terhadap mudarat tersebut, sehingga penghalang itu hilang dan mukatabah menjadi sah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَأَكْثَرِ كُتُبِهِ وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّ الْكِتَابَةَ فَاسِدَةٌ وَإِنْ أَذِنَ فِيهَا الشَّرِيكُ لِأَرْبَعَةِ مَعَانٍ

Pendapat kedua, yang dinyatakan secara tegas oleh asy-Syafi‘i dalam pembahasan ini dan di sebagian besar kitab-kitabnya, serta dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa akad al-kitābah itu batal, meskipun disetujui oleh sekutu, karena empat alasan.

أَحَدُهَا أَنَّ موضع الْكِتَابَةِ أَنْ يَكْمُلَ بِهَا تَصَرُّفُ الْمُكَاتَبِ وَلَا يَكْمُلُ تَصَرُّفُهُ بِكِتَابَةِ بَعْضِهِ لِأَنَّهُ إِنْ أَرَادَ أَنْ يُسَافِرَ لِكِتَابَتِهِ مَنَعَهُ الشَّرِيكُ مِنَ السَّفَرِ لِرِقِّهِ فَاقْتَضَى أَنْ تَكُونَ فَاسِدَةً

Salah satunya adalah bahwa tempat (kedudukan) kitabah adalah agar dengan kitabah tersebut sempurna hak bertindak (tasarruf) bagi mukatab, dan hak bertindak tersebut tidak sempurna dengan kitabah sebagian saja. Sebab, jika mukatab ingin bepergian karena kitabahnya, maka syarik (rekan pemilik budak) dapat melarangnya bepergian karena status budaknya masih ada. Maka hal ini menuntut bahwa akad tersebut menjadi fasid (rusak/tidak sah).

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يَقْدِرُ بِكِتَابَةِ بَعْضِهِ أَنْ يَسْتَعِينَ بِمَالِ الصدقات لأن الشريك إن يَأْخُذْ مِنْهُ بِقَدْرِ سَهْمِهِ وَالصَّدَقَةُ لَا تَحِلُّ لَهُ فَمُنِعَ مِنْهَا حَتَّى تَكْمُلَ كِتَابَةُ جَمِيعِهِ

Kedua, bahwa ia tidak boleh, dengan menulis sebagian dari perjanjiannya, meminta bantuan dari harta sedekah, karena jika seorang mitra mengambil darinya sesuai dengan bagiannya, sedangkan sedekah tidak halal baginya, maka ia dilarang mengambilnya sampai penulisan seluruh perjanjiannya sempurna.

وَالثَّالِثُ لِأَنَّهُ إِذَا كُوتِبَ فِي نِصْفِهِ عَلَى أَلْفٍ لَمْ يَعْتِقْ إِلَّا بِأَدَاءِ أَلْفَيْنِ لِيَأْخُذَ الشَّرِيكُ مِنْهَا أَلْفًا وَالْمُكَاتَبُ أَلْفًا وَمَا أَفْضَى إِلَى هَذَا لَمْ تَصِحَّ بِهِ الْكِتَابَةُ كَمَا لَوْ شُرِطَتْ عَلَيْهِ الزِّيَادَةُ لَفْظًا

Ketiga, karena jika seorang budak dimukatabkan atas setengah dirinya dengan nilai seribu, maka ia tidak akan merdeka kecuali setelah membayar dua ribu, agar sekutunya mendapatkan seribu dan mukatab juga mendapatkan seribu. Segala sesuatu yang mengakibatkan hal seperti ini, maka akad mukatab tidak sah dengannya, sebagaimana jika disyaratkan kepadanya tambahan secara eksplisit.

وَالرَّابِعُ أَنَّهُ إِذَا عَتَقَ مَا كُوتِبَ عَلَيْهِ سَرَى الْعِتْقُ إِلَى بَاقِيهِ فَعَتَقَ بِالْكِتَابَةِ مَا لَمْ يَدْخُلْ فِيهَا فَفَسَدَتْ كَمَا لَوْ قَالَ كَاتَبْتُكَ عَلَى أَنَّكَ إِذَا أَدَّيْتَ مَالَ كِتَابَتِكَ فَأَنْتَ وَأَخُوكَ حُرَّانِ كَانَتْ كِتَابَتُهُ فَاسِدَةً لِتَعَدِّي الْعِتْقِ فِيهَا إِلَى مَا لَمْ يَدْخُلْ فِي عَقْدِهَا كَذَلِكَ فِي مَسْأَلَتِنَا

Keempat, jika telah merdeka bagian yang menjadi objek mukatab, maka kemerdekaan itu berlaku juga pada bagian sisanya, sehingga kemerdekaan dengan sebab mukatab mencakup juga bagian yang tidak termasuk di dalamnya, maka akad mukatab tersebut menjadi rusak, sebagaimana jika seseorang berkata: “Aku memukatabimu dengan syarat bahwa jika kamu telah membayar uang mukatabmu, maka kamu dan saudaramu sama-sama merdeka,” maka akad mukatabnya menjadi rusak karena kemerdekaan dalam akad itu melampaui apa yang tidak termasuk dalam akadnya. Demikian pula dalam permasalahan kita.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فَإِنْ قُلْنَا بِالْأَوَّلِ مِنْهَا إنَّ الْكِتَابَةَ صَحِيحَةٌ فَكَسْبُ الْمُكَاتَبِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ شَرِيكِهِ لِيَأْخُذَ الشَّرِيكُ مِنْهُ بِقَدْرِ مِلْكِهِ وَيَأْخُذَ الْمُكَاتَبُ مِنْهُ بِقَدْرِ كِتَابَتِهِ لِيُؤَدِّيَهُ فِيهَا فَإِنْ لَمْ يُهَايِئْهُ الشَّرِيكُ قَاسَمَهُ عَلَى كُلِّ كَسْبِهِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ سَهْمِ الرِّقَابِ فِي الصَّدَقَاتِ وَإِنْ هَايَأَهُ لِيَكْتَسِبَ لِنَفْسِهِ يَوْمًا وَلِلشَّرِيكِ يَوْمًا جَازَ وَفِي وُجُوبِهَا إِذَا طَلَبَهَا أَحَدُهُمَا وَجْهَانِ

Apabila telah dijelaskan argumentasi dari kedua pendapat tersebut, maka jika kita memilih pendapat pertama, yaitu bahwa akad kitābah itu sah, maka hasil usaha mukātib adalah milik bersama antara dia dan rekannya; sehingga rekan tersebut mengambil bagian sesuai dengan porsi kepemilikannya, dan mukātib mengambil bagian sesuai dengan porsi kitābah-nya untuk dibayarkan dalam akad tersebut. Jika rekannya tidak mengatur pembagian hasil usaha, maka mereka membagi seluruh hasil usaha secara bersama, dan tidak boleh mengambil dari bagian riqāb dalam zakat. Namun, jika rekannya mengatur pembagian sehingga mukātib dapat berusaha untuk dirinya sendiri pada suatu hari dan untuk rekannya pada hari lain, maka hal itu diperbolehkan. Dalam hal kewajiban pembagian jika salah satu dari mereka memintanya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَجِبُ كَمَا تَجِبُ الْقِسْمَةُ إِذَا دَعَا إِلَيْهَا أَحَدُ الشَّرِيكَيْنِ وَأَصْلُهُ قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بَيْنَ نِسَائِهِ فَجَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ لَيْلَةً وَهِيَ مُهَايَأَةٌ قَدْ أَوْجَبَهَا لِنَفْسِهِ وَعَلَيْهَا وَيَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ بَعْدَ الْمُهَايَأَةِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ سَهْمِ الرِّقَابِ فِي الصَّدَقَاتِ فِي أَيَّامِ نَفْسِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهَا فِي أَيَّامِ سَيِّدِهِ

Salah satunya adalah wajib, sebagaimana wajibnya pembagian jika salah satu dari dua sekutu memintanya. Dasarnya adalah Rasulullah saw. membagi giliran di antara istri-istrinya, sehingga masing-masing dari mereka mendapatkan satu malam. Ini adalah muhayā’ah yang telah beliau wajibkan atas dirinya dan atas mereka. Diperbolehkan bagi mukatab, setelah terjadi muhayā’ah, untuk mengambil dari bagian riqāb dalam zakat pada hari-hari bagi dirinya sendiri, dan tidak diperbolehkan baginya untuk mengambil dari bagian tersebut pada hari-hari milik tuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهَا لَا تَلْزَمُ إِلَّا عَنْ مُرَاضَاةٍ لِأَنَّهَا تُفْضِي إِلَى تَأْخِيرِ حَقٍّ مُعَجَّلٍ وتعجيل حق موخر وَمَا أَفْضَى إِلَى هَذَا لَمْ يَلْزَمْ وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَارَقَ قِسْمَةَ الشُّرَكَاءِ لِأَنَّهُ لَا تَعْجِيلَ فِيهَا وَلَا تَأْخِيرَ وَأَمَّا قَسْمُ الزَّوْجَاتِ فَلَمَّا لَمْ يُمْكِنِ الْجَمْعُ بَيْنَهُنَّ وَلَمْ يَكُنْ بُدٌّ مِنْ إِفْرَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ بِحَقِّهَا لَزِمَتِ الْمُهَايَأَةُ بَيْنَهُنَّ وَلَيْسَ كَذَلِكَ هَاهُنَا لِإِمْكَانِ الِاشْتِرَاكِ مِنْ غَيْرِ مُهَايَأَةٍ فَافْتَرَقَا فَإِذَا صَحَّ هَذَا وَأَدَّى الْمُكَاتَبُ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي كَاتَبَهُ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ أَدَاؤُهُ قَبْلَ أَنْ دَفَعَ إِلَى الشَّرِيكِ مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ لَمْ يَعْتِقْ بِهِ لِأَنَّ لِلشَّرِيكِ أَنْ يَرْجِعَ بِقَدْرِ حِصَّتِهِ مِنْهُ فَلَمْ يَكْمُلْ بِهِ الْأَدَاءُ فَلَمْ يَعْتِقْ وَإِنْ كَانَ مَا أَدَّاهُ بَعْدَ أَنْ دَفَعَ إِلَى الشَّرِيكِ مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ عتق منه قدر ما كوتب منه بالعتق ثُمَّ اعْتُبِرَتْ بِحَالِ سَيِّدِهِ الَّذِي كَاتَبَهُ فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لَمْ يَسْرِ عِتْقُهُ إِلَى بَاقِيهِ وَكَانَ عَلَى رِقِّهِ لِلشَّرِيكِ فِيهِ وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا سَرَى إِلَى الْبَاقِي وَيُقَوَّمُ عَلَى الشَّرِيكِ الَّذِي كَاتَبَهُ وَقْتَ الْأَدَاءِ وَصَارَ جَمِيعُ الْمُكَاتَبِ حُرًّا بِالْأَدَاءِ وَالسِّرَايَةِ وَإِنْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ عَنْ أَدَاءِ كِتَابَتِهِ فَلِسَيِّدِهِ الَّذِي كَاتَبَهُ اسْتِرْقَاقُهُ وَيَصِيرُ جَمِيعُ الْمُكَاتَبِ عَبْدًا قِنًّا وَيَكُونُ مَا فِي يَدِهِ بَعْدَ التَّعْجِيزِ لِلسَّيِّدِ الْمُكَاتَبِ دُونَ الشَّرِيكِ لِأَنَّ الشَّرِيكَ قَدِ اسْتَوْفَى حَقَّهُ مِنَ الْكَسْبِ

Pendapat kedua adalah bahwa kewajiban itu tidak berlaku kecuali atas dasar kerelaan, karena hal itu mengakibatkan penundaan hak yang seharusnya segera dipenuhi dan percepatan hak yang seharusnya ditunda. Sesuatu yang mengakibatkan hal seperti ini tidaklah wajib. Dengan pengertian ini, ia berbeda dengan pembagian harta di antara para syarik (sekutu), karena dalam pembagian itu tidak ada percepatan maupun penundaan. Adapun pembagian giliran di antara para istri, karena tidak mungkin mengumpulkan mereka sekaligus dan harus memberikan hak masing-masing secara terpisah, maka muhayā’ah (pembagian giliran) di antara mereka menjadi wajib. Tidak demikian halnya dalam kasus ini, karena memungkinkan adanya kebersamaan tanpa muhayā’ah, sehingga keduanya berbeda. Jika hal ini telah jelas, dan seorang mukātab membayar kepada tuannya yang telah membuat akad mukātabah dengannya dari harta mukātabahnya, maka dilihat: jika pembayarannya dilakukan sebelum ia memberikan kepada syarik bagian haknya, maka ia tidak merdeka dengan pembayaran itu, karena syarik berhak mengambil bagian miliknya, sehingga pembayaran itu belum sempurna dan ia belum merdeka. Namun, jika pembayaran dilakukan setelah ia memberikan kepada syarik bagian haknya, maka ia merdeka sesuai kadar yang telah disepakati dalam akad mukātabah. Setelah itu, statusnya mengikuti keadaan tuannya yang membuat akad mukātabah dengannya: jika tuannya dalam keadaan tidak mampu, maka kemerdekaannya tidak berlaku pada bagian yang lain dan ia tetap menjadi budak bagi syariknya; namun jika tuannya mampu, maka kemerdekaannya berlaku pada seluruh bagian, dan syarik yang membuat akad mukātabah dengannya harus mengganti nilainya pada saat pembayaran, sehingga seluruh mukātab menjadi merdeka dengan pembayaran dan penyebaran kemerdekaan (sirāyah). Jika mukātab tidak mampu membayar akad mukātabahnya, maka tuannya yang membuat akad mukātabah berhak memperbudaknya kembali, dan seluruh mukātab menjadi budak murni, serta harta yang ada di tangannya setelah ketidakmampuan menjadi milik tuan mukātabah, bukan milik syarik, karena syarik telah mengambil haknya dari hasil usaha.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا قُلْنَا بِالْقَوْلِ الثَّانِي إِنَّ كِتَابَتَهُ فَاسِدَةٌ وَهُوَ الْأَظْهَرُ فَلِسَيِّدِهِ أَنْ يُبْطِلَ كِتَابَتَهُ وَيَرْفَعَهَا فَإِنْ أَبْطَلَهَا وَرَفَعَهَا لَمْ يُعْتَقْ بِالْأَدَاءِ وَكَانَ جَمِيعُهُ مَرْقُوقًا وَاقْتَسَمَ سَيِّدَاهُ كَسْبَهُ عَلَى مَا يَتَّفِقَانِ عَلَيْهِ مِنَ اشْتِرَاكٍ أَوْ مُهَايَأَةٍ وَإِنْ لَمْ تَبْطُلْ كِتَابَتُهُ وَلَا رَفْعُهَا فَمَتَى ادَّعَى أَنَّهُ أَدَّى قَدْرَ الْكِتَابَةِ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي كَاتَبَهُ نُظِرَ فِيمَا أَدَّاهُ فَإِنْ كَانَ بَعْدَ مَا أَخَذَهُ الشَّرِيكُ مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ عَتَقَ بِهِ وَوَقَفَ الْعِتْقُ عَلَى قَدْرِ الْكِتَابَةِ وَإِنْ كَانَ سَيِّدُهُ مُعْسِرًا وَسَرَى إِلَى جَمِيعِهِ الْعِتْقُ إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَرَجَعَ السَّيِّدُ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِقِيمَةِ مَا عَتَقَ مِنْهُ بِالْكِتَابَةِ دُونَ السِّرَايَةِ لِوُقُوعِ الْعِتْقِ فِيهِ عَلَى كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ وَرَجَعَ الْمُكَاتَبُ عَلَيْهِ بِمَا أَدَّاهُ إِلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا فَضْلٌ تَقَاصَّا وَإِنْ كَانَ فِيهِ فَضْلٌ تَرَادَّا وَإِنْ كَانَ مَا أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ إِلَى سَيِّدِهِ لَمْ يَأْخُذِ الشَّرِيكُ مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ فَفِي عِتْقِ الْمُكَاتَبِ بِهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا ابْنُ سُرَيْجٍ

Jika kita mengambil pendapat kedua, yaitu bahwa akad mukatabah-nya batal—dan inilah yang lebih kuat—maka tuannya berhak membatalkan akad mukatabah tersebut dan mencabutnya. Jika ia membatalkan dan mencabutnya, maka budak itu tidak merdeka dengan pembayaran, dan seluruh dirinya tetap menjadi budak. Kedua tuannya membagi hasil usahanya sesuai kesepakatan mereka, baik dengan cara berbagi atau bergiliran. Namun, jika akad mukatabah-nya tidak batal dan tidak dicabut, lalu kapan saja budak itu mengaku telah membayar sejumlah yang disyaratkan dalam akad mukatabah kepada tuannya yang melakukan akad tersebut, maka akan dilihat apa yang telah ia bayarkan. Jika setelah rekannya mengambil bagiannya sesuai haknya, maka budak itu merdeka dengan pembayaran tersebut, dan kemerdekaannya bergantung pada kadar akad mukatabah. Jika tuannya dalam keadaan tidak mampu, maka kemerdekaan hanya berlaku pada bagian yang dibayar; namun jika tuannya mampu, maka kemerdekaan berlaku pada seluruh dirinya, dan tuan tersebut dapat menuntut budak mukatab atas nilai bagian yang telah merdeka melalui akad mukatabah, bukan karena sarayah, karena kemerdekaan terjadi pada akad mukatabah yang batal. Budak mukatab juga dapat menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan kepada tuannya. Jika tidak ada kelebihan di antara keduanya, maka keduanya saling menghapuskan (hak dan kewajiban). Jika ada kelebihan, maka keduanya saling mengembalikan kelebihan tersebut. Jika apa yang dibayarkan budak mukatab kepada tuannya belum diambil oleh rekannya sesuai haknya, maka dalam hal kemerdekaan budak mukatab dengan pembayaran tersebut terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh Ibn Surayj.

أَحَدُهُمَا لَا يُعْتَقُ كَمَا لَا يُعْتَقُ بِهِ فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ لِاسْتِحْقَاقِ الشَّرِيكِ لِبَعْضِهِ فَلَمْ يَكْمُلْ بِهِ الْأَدَاءُ

Salah satunya tidak merdeka, sebagaimana tidak dimerdekakan dalam kitabah yang sah, karena adanya hak milik sebagian dari sekutunya, sehingga dengan itu pembayaran (pembebasan) belum sempurna.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُعْتَقُ بِهِ فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَإِنْ لَمْ يُعْتَقْ بِهِ فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ لِأَنَّ الصَّحِيحَةَ يَغْلِبُ فِيهَا حُكْمُ الْمُعَاوَضَةِ وَالْعِوَضُ الْمَدْفُوعُ يُسْتَحَقُّ فَلَمْ يَكْمُلْ بِخِلَافِ الْفَاسِدَةِ فَإِنَّهُ يَغْلِبُ فِيهَا حُكْمُ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ وَقَدْ وُجِدَتِ الصِّفَةُ وَإِنْ لَمْ تُمَلِّكْ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ أَعْطَيْتَنِي هَذَا الثَّوْبَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَأَعْطَاهُ وَكَانَ مَغْصُوبًا عَتَقَ بِهِ

Pendapat kedua adalah bahwa budak menjadi merdeka melalui kitabah yang fasid (tidak sah), meskipun tidak menjadi merdeka melalui kitabah yang sahih (sah). Sebab, dalam kitabah yang sahih, hukum mu‘awadhah (pertukaran) lebih dominan dan imbalan yang dibayarkan menjadi hak, sehingga kemerdekaan tidak sempurna. Berbeda dengan kitabah yang fasid, di mana hukum ‘itq biṣ-ṣifah (kemerdekaan karena sifat tertentu) lebih dominan, dan sifat tersebut telah terpenuhi meskipun tidak terjadi kepemilikan. Sebagaimana jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu memberiku pakaian ini, maka kamu merdeka,” lalu budak itu memberikannya, padahal pakaian itu adalah barang hasil ghasab (barang rampasan), maka budak itu menjadi merdeka karenanya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بَاقِيهِ مِلْكًا لِسَيِّدِهِ الَّذِي كَاتَبَهُ كَأَنَّهُ كَانَ يَمْلِكُ جَمِيعَهُ فَكَاتَبَ نِصْفَهُ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ أَنَّ الْكِتَابَةَ فَاسِدَةٌ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ مَقْصُودُ الْكِتَابَةِ الْعِتْقَ وَلَا يَجُوزُ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُبَعِّضَ عِتْقَ عَبْدِهِ فَكَذَلِكَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُبَعِّضَ كِتَابَتَهُ

Adapun bagian ketiga, yaitu apabila sisanya masih menjadi milik tuannya yang melakukan mukātabah terhadapnya, misalnya dahulu ia memiliki seluruhnya lalu melakukan mukātabah terhadap setengahnya, maka menurut mazhab Syafi‘i dan mayoritas pengikutnya, mukātabah tersebut batal secara mutlak. Sebab tujuan dari mukātabah adalah memerdekakan, dan tidak boleh bagi seorang tuan untuk memerdekakan sebagian budaknya, maka demikian pula tidak boleh ia melakukan mukātabah terhadap sebagian budaknya.

وَجَوَّزَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا كِتَابَةَ بَعْضِهِ وَخَرَّجَهُ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلًا ثَانِيًا لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَكُونَ فِي الْكِتَابَةِ شَرِيكَ غَيْرِهِ جَازَ أَنْ يَكُونَ فِيهَا شَرِيكَ نَفْسِهِ وَهَذَا خَطَأٌ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ فِي الْعَبْدِ الْمُشْتَرِكِ عَلَى أَكْثَرَ مِنَ الْكِتَابَةِ على حصته فكان غير تبعيض لحقه وقادر في ملكه جميع الْعَبْدِ عَلَى أَنْ يُكَاتِبَهُ بِأَسْرِهِ فَصَارَ مُبَعِّضًا لحقه فإن قلنا تجوز كِتَابَتُهُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ جَازَ أَنْ يُهَايِئَ الْمُكَاتَبَ عَلَى كَسْبِهِ فَيَكْسِبَ لِنَفْسِهِ يَوْمًا يُؤَدِّيهِ فِي كِتَابَتِهِ وَيَوْمًا يَأْخُذُهُ مِنْهُ بِحَقِّ مِلْكِهِ وَجَازَ أَنْ لَا يُهَايِئَهُ وَيَكُونَ عَلَى الشَّرِكَةِ فِي كَسْبِهِ فَإِنْ أَدَّى إِلَيْهِ شَيْئًا احْتَسَبَ مِنَ الْكِتَابَةِ بِنِصْفِهِ الْمُقَابِلِ لِمَا كَاتَبَ مِنْهُ وَكَانَ لَهُ النِّصْفُ الْبَاقِي لِنَفْسِهِ فَإِنْ أَدَّى الْمُكَاتَبُ فِي الْمُهَايَأَةِ أَوْ مَعَ الْإِشْرَاكِ قَدْرَ كِتَابَتِهِ عَتَقَ نِصْفُهُ بِالْكِتَابَةِ وَبَاقِيهِ بِالسِّرَايَةِ سَوَاءٌ كَانَ السَّيِّدُ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا لِأَنَّ الْيَسَارَ مُعْتَبَرٌ فِي تَقْوِيمِ حِصَّةِ الشَّرِيكِ وَلَيْسَ بِمُعْتَبَرٍ بِتَقْوِيمِ حِصَّتِهِ إِذَا سَرَى الْعِتْقُ إِلَيْهَا لِأَنَّهُ مُوسِرٌ إِذَا مَلَّكَهَا وَلَا يَرْجِعُ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِقِيمَةِ بَاقِيهِ إِذَا سَرَى الْعِتْقُ إِلَيْهِ وَإِنْ قُلْنَا بِفَسَادِ الْكِتَابَةِ عَلَى الظَّاهِرِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلِ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ فَلِلسَّيِّدِ فَسْخُهَا وَإِبْطَالُهَا بِالْفَسَادِ وَلَا يَعْتِقُ الْمُكَاتَبُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ لَمْ يَفْسَخْهَا حَتَّى أَدَّى الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِ جَمِيعَ مَالِهَا نَظَرَ فَلَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ أَنِ اسْتَوْفَى السَّيِّدُ مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ بِالْمِلْكِ عَتَقَ وإن كان قبل أداء حقه فَفِي عِتْقِهِ وَجْهَانِ عَلَى مَا حَكَّاهُ ابْنُ سُرَيْجٍ فَإِذَا رَجَعَ الْعِتْقُ عَلَى حِصَّةِ الْكِتَابَةِ سَرَى إِلَى بَاقِيهِ فَعَتَقَ جَمِيعُهُ وَتَرَادَّا الْقِيمَةَ فِي الْأَدَاءِ لِوُقُوعِ الْعِتْقِ عَنْ كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ وَفِيمَا يَرْجِعُ السَّيِّدُ بِهِ عَلَى مُكَاتَبِهِ وَجْهَانِ

Sebagian ulama kami membolehkan penulisan sebagian (dari akad kitābah), dan Ibn Abī Hurairah mengemukakan hal ini sebagai pendapat kedua, karena ketika dibolehkan adanya pihak lain sebagai sekutu dalam penulisan (kitābah), maka dibolehkan pula seseorang menjadi sekutu bagi dirinya sendiri dalam hal itu. Namun, ini adalah kekeliruan, karena pada budak yang dimiliki bersama, seseorang tidak mampu melakukan lebih dari penulisan (kitābah) atas bagiannya saja, sehingga tidak terjadi pembagian haknya, sedangkan pada budak yang sepenuhnya dimilikinya, ia mampu melakukan akad kitābah atas seluruh budak tersebut, sehingga ia membagi haknya. Jika kita mengatakan bahwa penulisan (kitābah) dengan cara ini dibolehkan, maka boleh pula bagi tuan untuk melakukan muhayā’ah (pembagian waktu kerja) dengan mukātab, sehingga mukātab bekerja untuk dirinya sendiri pada suatu hari yang hasilnya digunakan untuk membayar kitābah, dan pada hari lain hasilnya diambil oleh tuan sebagai hak miliknya. Boleh juga tidak melakukan muhayā’ah dan tetap dalam kemitraan atas hasil kerjanya, sehingga jika mukātab memberikan sesuatu kepadanya, maka dihitung dari kitābah sebesar setengahnya yang sesuai dengan bagian yang diakadkan, dan sisanya menjadi milik mukātab sendiri. Jika mukātab membayar dalam keadaan muhayā’ah atau kemitraan sejumlah nilai kitābahnya, maka separuh dirinya merdeka karena kitābah dan sisanya merdeka karena sirāyah, baik tuan itu kaya maupun miskin, karena kecukupan (kaya) hanya dipertimbangkan dalam penilaian bagian sekutu, dan tidak dipertimbangkan dalam penilaian bagiannya sendiri jika sirāyah berlaku atasnya, karena ia dianggap kaya jika telah memilikinya. Tuan tidak dapat menuntut mukātab atas nilai sisanya jika sirāyah berlaku atasnya. Namun, jika kita berpendapat bahwa akad kitābah itu rusak, sebagaimana pendapat yang tampak dalam mazhab Syāfi‘ī dan mayoritas ulama pengikutnya, maka tuan berhak membatalkan dan menghapus akad tersebut karena kerusakannya, dan mukātab tidak menjadi merdeka dengan pembayaran. Jika tuan tidak membatalkannya hingga mukātab membayar seluruh hartanya, maka perlu diteliti: jika itu terjadi setelah tuan menerima hak miliknya, maka budak itu merdeka; namun jika sebelum pembayaran haknya, maka ada dua pendapat tentang kemerdekaannya sebagaimana dikemukakan Ibn Surayj. Jika kemerdekaan kembali pada bagian kitābah, maka berlaku sirāyah pada sisanya, sehingga seluruhnya menjadi merdeka, dan keduanya saling mengembalikan nilai dalam pembayaran karena kemerdekaan terjadi dari akad kitābah yang rusak. Dalam hal apa yang dapat dituntut tuan dari mukātabnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا جَمِيعُ الْقِيمَةِ لِوُقُوعِ عِتْقِهِ فِي كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ

Salah satunya adalah seluruh nilai (budak) menjadi milik tuannya karena pembebasannya terjadi dalam akad kitābah yang tidak sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَرْجِعُ عَلَيْهِ بِقِيمَةِ النِّصْفِ الَّذِي كَاتَبَهُ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ هُوَ الْمُعْتَقُ بِالْكِتَابَةِ وَلَا يَرْجِعُ عَلَيْهِ بِقِيمَةِ مَا عَتَقَ بِالسِّرَايَةِ لِاخْتِصَاصِ السَّيِّدِ بِهِ فِي حَقِّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua adalah bahwa ia berhak menuntut kembali nilai setengah yang telah dijadikan sebagai akad mukatabah, karena bagian itulah yang merdeka melalui akad mukatabah. Ia tidak berhak menuntut kembali nilai bagian yang merdeka melalui sirāyah, karena bagian itu secara khusus menjadi hak tuan dalam urusannya. Dan Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُكَاتِبَاهُ مَعًا حَتَّى يَكُونَا فيه سواء وقال في كتاب الإملاء على محمد بن الحسن وإذا أذن أحدهما لصاحبه أن يكاتبه فالكتابة جائزة وللذي لم يكاتبه أن يختدمه يوما ويخلى والكسب يوما فإن أبرأه مما عليه كان نصيبه حرا وقوم عليه الباقي وعتق إن كان موسراً ورق إن كان معسراً قال المزني الأول بقوله أولى لأنه زعم لو كانت كتابتهما فيه سواء فعجزه أحدهما فأنظره الآخر فسخت الكتابة بعد ثبوتها حتى يجتمعا على الإقامة عليها فالابتداء بذلك أولى قال المزني ولا يخلو من أن تكون كتابة نصيبه جائزة كبيعه إياه فلا معنى لإذن شريكه أو لا تجوز فلم جوزه بإذن من لا يملكه

Imam Syafi‘i ra. berkata, “Tidak boleh keduanya (dua orang tuan) melakukan mukatabah terhadap budaknya secara bersama-sama, kecuali jika keduanya memiliki bagian yang sama dalam budak tersebut.” Dalam kitab al-Imla’ kepada Muhammad bin al-Hasan, beliau berkata, “Jika salah satu dari keduanya mengizinkan temannya untuk melakukan mukatabah, maka mukatabah itu sah. Bagi yang tidak melakukan mukatabah, ia boleh mempekerjakan budak itu sehari dan membebaskannya untuk mencari nafkah sehari. Jika ia membebaskan budak itu dari kewajibannya, maka bagian miliknya menjadi merdeka, lalu bagian sisanya dinilai dan jika ia mampu membayarnya maka budak itu merdeka, namun jika tidak mampu maka tetap menjadi budak.” Al-Muzani berkata, “Pendapat pertama lebih utama, karena ia berpendapat bahwa jika keduanya melakukan mukatabah secara bersama-sama lalu salah satunya tidak mampu, kemudian yang lain menangguhkan, maka akad mukatabah batal setelah sebelumnya sah, hingga keduanya sepakat untuk melanjutkannya. Maka memulai dengan cara itu lebih utama.” Al-Muzani juga berkata, “Tidak lepas dari dua kemungkinan: mukatabah atas bagian miliknya sah seperti menjualnya, maka tidak ada makna izin dari sekutunya; atau tidak sah, lalu mengapa ia membolehkannya dengan izin dari orang yang tidak memilikinya?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا كَانَ الْعَبْدُ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ جَازَ أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَى كِتَابَتِهِ فَتَصِحُّ قَوْلًا وَاحِدًا

Al-Mawardi berkata, “Jika seorang budak dimiliki oleh dua orang yang berserikat, maka keduanya boleh sepakat untuk melakukan mukātabah terhadapnya, dan hal itu sah menurut satu pendapat.”

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا كَانَتْ عَلَى قَوْلَيْنِ كَمَا لَوْ كَاتَبَهُ أَحَدُهُمَا قَبْلَ الْآخَرِ

Jika ada yang bertanya, “Mengapa tidak ada dua pendapat dalam masalah ini, sebagaimana jika salah satu dari keduanya melakukan mukātabah sebelum yang lain?”

قِيلَ قَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَذْهَبُ إِلَى هَذَا وَيُخَرِّجُ كِتَابَتَهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ لِأَنَّ الْعَقْدَ إِذَا اجْتَمَعَ فِي أَحَدِ طَرَفَيْهِ عَاقِدَانِ جَرَى عَلَيْهِ حُكْمُ الْعَقْدَيْنِ فَصَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَالْمُنْفَرِدِ بِكِتَابَتِهِ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ عَلَى قَوْلَيْنِ وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا إِلَى فَسَادِ هَذَا التَّخْرِيجِ وَأَنَّ الْكِتَابَةَ بِاجْتِمَاعِهِمَا عَلَيْهَا جَائِزَةٌ قَوْلًا وَاحِدًا لِكَمَالِ تَصَرُّفِهِ وَهُوَ فِي كِتَابَتِهِمَا كَامِلُ التَّصَرُّفِ وَيَجُوزُ أَخْذُهُ مِنَ الصَّدَقَاتِ وَهُوَ مِنْ كِتَابَةِ أَحَدِهِمَا مَمْنُوعٌ مِنْهَا فَافْتَرَقَا

Dikatakan bahwa sebagian ulama kami berpendapat demikian dan mengaitkan penetapan akad mereka berdua pada dua pendapat, karena apabila dalam salah satu pihak akad terdapat dua orang yang berakad, maka berlaku atasnya hukum dua akad, sehingga masing-masing dari keduanya seakan-akan berdiri sendiri dengan akadnya, sehingga menuntut adanya dua pendapat. Namun mayoritas ulama kami berpendapat bahwa penetapan seperti ini tidak sah, dan bahwa akad yang dilakukan bersama oleh keduanya itu dibolehkan menurut satu pendapat saja, karena sempurnanya hak bertindak mereka. Dalam akad bersama itu, ia memiliki hak bertindak penuh, dan boleh baginya menerima dari zakat, sedangkan dalam akad salah satu dari mereka, ia dilarang menerimanya. Maka keduanya pun berbeda.

فَإِذَا صَحَّ جَوَازُ اجْتِمَاعِهِمَا عَلَى كِتَابَتِهِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَا يَجُوزُ أَنْ يُكَاتِبَاهُ حَتَّى يَكُونَا فِيهِ سَوَاءً وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَأْوِيلِ هَذَا الْكَلَامِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Apabila telah sah kebolehan keduanya berkumpul dalam melakukan mukātabah terhadapnya, maka asy-Syāfi‘ī berkata: Tidak boleh keduanya melakukan mukātabah terhadapnya kecuali keduanya dalam posisi yang sama. Para ulama kami berbeda pendapat dalam menafsirkan perkataan ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ أَرَادَ تَسَاوِيَهُمَا فِي مِلْكِهِ فَيَكُونُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ فَتَصِحُّ حِينَئِذٍ مِنْهُمَا مُكَاتَبَتُهُ عَلَى مَالٍ يَتَسَاوَيَانِ فِيهِ أَوْ يَتَفَاضَلَانِ لِقَوْلِ الشَّافِعِيِّ حَتَّى يَكُونَا فِيهِ سَوَاءً يَعْنِي فِي الْعَبْدِ وَلَوْ أَرَادَ الْكِتَابَةَ لَقَالَ حَتَّى يَكُونَا فِيهَا سَوَاءً وَإِنْ تَفَاضَلَا فِي الْمِلْكِ فَكَانَ لِأَحَدِهِمَا ثلثه وللآخر ثُلُثَاهُ لَمْ تَصِحَّ كِتَابَتُهُمَا لِتَفَاضُلِهِمَا وَقُوَّةِ أَحَدِهِمَا فَصَارَ التَّسَاوِي بَيْنَهُمَا مَعْدُومًا

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud adalah kesetaraan mereka dalam kepemilikan, sehingga keduanya memiliki bagian setengah-setengah. Maka pada saat itu sah bagi keduanya untuk melakukan mukātabah atas harta yang mereka berdua sama-sama miliki atau berbeda-beda, menurut pendapat al-Syafi‘i, hingga keduanya setara di dalamnya, maksudnya dalam hal budak. Seandainya yang dimaksud adalah mukātabah, tentu beliau akan mengatakan “hingga keduanya setara dalam mukātabah itu”. Jika keduanya berbeda dalam kepemilikan, misalnya salah satunya memiliki sepertiga dan yang lain memiliki dua pertiga, maka tidak sah mukātabah mereka berdua karena adanya perbedaan dan salah satu di antara mereka lebih kuat, sehingga kesetaraan di antara mereka menjadi tidak ada.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَبِهِ قَالَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا وَنَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَيْهِ فِي مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ أَنْ يَتَسَاوَيَا فِي مَالِ الْكِتَابَةِ بِحَسْبِ الْمِلْكِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ فَكَاتَبَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى أَلْفٍ جَازَ وَلَوْ كَاتَبَهُ أَحَدُهُمَا عَلَى أَلْفٍ وَالْآخَرُ عَلَى أَلْفَيْنِ لَمْ يَجُزْ لِتَفَاضُلِهِمَا فِي الْمَالِ مَعَ تَسَاوِيهِمَا فِي الْمِلْكِ وَلَوْ كَانَ بَيْنَهُمَا أَثْلَاثًا فَكَاتَبَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى أَلْفٍ لَمْ يَجُزْ لِتَسَاوِيهِمَا فِي الْمَالِ مَعَ تَفَاضُلِهِمَا فِي الْمِلْكِ وَلَوْ كَاتَبَهُ صَاحِبُ الثُّلُثِ عَلَى أَلْفٍ وَصَاحِبُ الثُّلُثَيْنِ عَلَى أَلْفَيْنِ جَازَ لِتَسَاوِيهِمَا فِي الْمَالِ وَإِنْ تَفَاضَلَا فِي الْمِلْكِ لِيَكُونَ الْكَسْبُ الْمُؤَدَّى بَعْدَ الْكِتَابَةِ مُعْتَبَرًا بِاسْتِحْقَاقِهِمَا لَهُ بِالْمِلْكِ قَبْلَ الْكِتَابَةِ

Pendapat kedua, yang dianut oleh mayoritas ulama mazhab kami dan dinyatakan oleh Imam Syafi‘i dalam salah satu bagian Kitab al-Umm, adalah bahwa yang dimaksud adalah keduanya harus setara dalam harta penebusan (mal al-kitābah) sesuai dengan kepemilikan mereka. Jika keduanya memiliki bagian setengah-setengah, lalu masing-masing mengadakan akad kitābah atas seribu, maka itu diperbolehkan. Namun, jika salah satu mengadakan akad kitābah atas seribu dan yang lain atas dua ribu, maka itu tidak diperbolehkan karena adanya perbedaan dalam harta, padahal keduanya setara dalam kepemilikan. Jika keduanya memiliki bagian sepertiga, lalu masing-masing mengadakan akad kitābah atas seribu, maka itu tidak diperbolehkan karena keduanya setara dalam harta, padahal berbeda dalam kepemilikan. Namun, jika pemilik sepertiga mengadakan akad kitābah atas seribu dan pemilik dua pertiga atas dua ribu, maka itu diperbolehkan karena keduanya setara dalam harta meskipun berbeda dalam kepemilikan, agar hasil yang diperoleh setelah akad kitābah sesuai dengan hak kepemilikan mereka sebelum akad kitābah.

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا جَازَ أَنْ يَتَفَاضَلَا فِي الْمِلْكِ وَالْمَالِ جَمِيعًا كَمَا يَجُوزُ فِي اجْتِمَاعِهِمَا عَلَى الْبَيْعِ أَنْ يَتَفَاضَلَا فِي الْمِلْكِ وَالثَّمَنِ قِيلَ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي الْبَيْعِ أَنْ يَمْنَعَ صَاحِبَهُ مِنْهُ فَجَازَ أَنْ يُفَضَّلَ عَلَيْهِ فِيهِ وَلَهُ مَنْعُهُ مِنَ الْكِتَابَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُفَضَّلَ عَلَيْهِ فِيهَا وَلِأَنَّ الْكِتَابَةَ تُؤَدَّى مِنَ الْكَسْبِ الَّذِي قَدْ تَسَاوَيَا فِيهِ وَالثَّمَنُ فِي الْبَيْعِ يُؤَدَّى مِنْ غَيْرِهِ فَافْتَرَقَا

Jika dikatakan, “Mengapa tidak boleh keduanya berbeda dalam hal kepemilikan dan harta secara keseluruhan, sebagaimana dibolehkan dalam perjanjian jual beli bahwa keduanya boleh berbeda dalam kepemilikan dan harga?” Maka dijawab: Karena dalam jual beli, tidak ada salah satu dari keduanya yang berhak mencegah yang lain dari transaksi tersebut, sehingga boleh salah satunya diunggulkan atas yang lain dalam hal itu. Sedangkan dalam akad kitābah, salah satu pihak berhak mencegah pihak lainnya, sehingga tidak boleh ada keunggulan salah satu atas yang lain dalam hal ini. Selain itu, pembayaran dalam akad kitābah berasal dari hasil usaha yang keduanya telah setarakan, sedangkan harga dalam jual beli dibayarkan dari sumber lain, maka keduanya pun berbeda.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَاهُ جَمِيعًا بِمَا يَجُوزُ فَقَالَ دَفَعْتُ إِلَيْكُمَا مُكَاتَبَتِي وَهِيَ أَلْفٌ فَصَدَّقَهُ أَحَدُهُمَا وَكَذَّبَهُ الْآخَرُ رَجَعَ الْمُنْكِرُ عَلَى شَرِيكِهِ بِنِصْفِ مَا أَقَرَّ بِقَبْضِهِ وَلَمْ يَرْجِعِ الشَّرِيكُ عَلَى الْعَبْدِ بِشَيْءٍ وَيَعْتِقُ نَصِيبُ الْمُقِرِّ فَإِنْ أَدَّى إِلَى الْمُنْكِرِ تَمَامَ حَقِّهِ عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ رَقَّ نِصْفُهُ وَالنِّصْفُ الْآخَرُ حُرٌّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika keduanya (dua tuan) melakukan mukātabah kepada budak secara bersama-sama dengan sesuatu yang sah, lalu budak itu berkata, “Aku telah menyerahkan pembayaran mukātabahku kepada kalian berdua, yaitu seribu,” kemudian salah satu dari keduanya membenarkannya dan yang lain mengingkarinya, maka yang mengingkari dapat menuntut separuh dari apa yang diakui telah diterimanya kepada rekannya, dan rekannya (yang membenarkan) tidak dapat menuntut apa pun dari budak tersebut. Maka bagian budak yang diakui (telah dibayar) menjadi merdeka. Jika budak itu melunasi seluruh hak bagian yang mengingkari, maka ia pun merdeka seluruhnya. Namun jika ia tidak mampu membayar, maka separuhnya kembali menjadi budak dan separuh lainnya tetap merdeka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا كَاتَبَ الشَّرِيكَانِ عَبْدًا بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ فَادَّعَى الْمُكَاتَبُ عَلَيْهِمَا أَنَّهُ أَدَّى مَالَ الْكِتَابَةِ إِلَيْهِمَا فَإِنْ صَدَّقَاهُ عَتَقَ عَلَيْهِمَا وَكَانَ وَلَاؤُهُ لَهُمَا وَإِنْ كَذَّبَاهُ حَلَفَا وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ فَإِنْ أَدَّاهَا وَإِلَّا عَجَّزَاهُ وَعَادَ عَبْدًا فَإِنْ صَدَّقَهُ أَحَدُهُمَا وَكَذَّبَهُ الْآخَرُ عَتَقَتْ حِصَّةُ الْمُصَدِّقِ وَحَلَفَ لَهُ الْمُكَذِّبُ وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ فِي حِصَّتِهِ وَلِلْمُكَذِّبِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُصَدِّقِ بِنِصْفِ مَا أَقَرَّ بِقَبْضِهِ وَهُوَ الرُّبُعُ لِوُجُوبِ تَسَاوِيهِمَا فِي الْأَدَاءِ وَالْمُكَذِّبُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَرْجِعَ بِهِ عَلَى الْمُصَدِّقِ بِحُصُولِ حَقِّهِ فِي يَدِهِ وَبَيْنَ أَنْ يَرْجِعَ بِهِ عَلَى الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهُ حَقٌّ تَعَلَّقَ بِذِمَّتِهِ فَإِنْ رَجَعَ بِهِ عَلَى الْمُصَدِّقِ لَمْ يَرْجِعْ بِهِ الْمُصَدِّقُ عَلَى الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهُ مُقِرٌّ أَنَّ الْمُنْكِرَ ظَلَمَهُ بِأَخْذِهِ وَإِنْ رَجَعَ بِهِ عَلَى الْمُكَاتَبِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَرْجِعَ بِهِ عَلَى الْمُصَدِّقِ لِهَذِهِ الْعِلَّةِ فَإِذَا أَخَذَ الْمُكَذِّبُ رُبُعَ الْكِتَابَةِ مِنْ أَحَدِهِمَا بَقِيَ لَهُ عَلَى الْمُكَاتَبِ رُبُعُهَا لِأَنَّ لَهُ النِّصْفَ فَإِنْ أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ رَقَّ وَكَانَ نِصْفُهُ حُرًّا مَمْلُوكًا وَلَا يُقَوَّمُ عَلَى الشَّرِيكِ الْمُصَدِّقِ وَإِنْ عَتَقَتْ حِصَّتُهُ بِالتَّصْدِيقِ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا وَعَلَّلَ بِأَنَّ الْعَبْدَ يُبَرِّئُهُ مِنْ ذَلِكَ وَفِي هَذَا التَّعْلِيلِ دَخَلٌ لِأَنَّ فِي تَكْمِيلِ الْحُرِّيَّةِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَعْتَبِرُ فِيهِ الْإِبْرَاءَ وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُصَدِّقِ عَلَى الْمُنْكِرِ وَإِنْ كَانَ عَدْلًا لِأَنَّهُ يَسْتَدْفِعُ بِهَا ضَرَرَ اسْتِرْجَاعِ نِصْفِ مَا بِيَدِهِ فَصَارَ مَتْهُومَ الشَّهَادَةِ فردت

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, yaitu apabila dua orang yang berserikat menulis akad mukatab kepada seorang budak yang mereka miliki bersama-sama, masing-masing setengah bagian, lalu budak mukatab tersebut mengklaim kepada keduanya bahwa ia telah membayar uang mukatab kepada mereka. Jika keduanya membenarkannya, maka budak itu merdeka dari keduanya dan wala’ (hak perwalian) menjadi milik mereka berdua. Namun jika keduanya mendustakannya, maka mereka berdua bersumpah dan budak itu tetap dalam status mukatab. Jika ia melunasi pembayaran, maka ia merdeka, dan jika tidak, maka ia kembali menjadi budak. Jika salah satu dari keduanya membenarkan dan yang lain mendustakan, maka bagian milik yang membenarkan menjadi merdeka, dan yang mendustakan bersumpah untuk dirinya, serta budak itu tetap dalam status mukatab pada bagian milik yang mendustakan. Orang yang mendustakan berhak menuntut kepada yang membenarkan setengah dari apa yang diakui telah diterimanya, yaitu seperempat, karena keduanya wajib sama dalam pembayaran. Orang yang mendustakan memiliki pilihan antara menuntut kepada yang membenarkan karena haknya ada di tangan yang membenarkan, atau menuntut kepada budak mukatab karena hak itu terkait dengan tanggungannya. Jika ia menuntut kepada yang membenarkan, maka yang membenarkan tidak dapat menuntut kembali kepada budak mukatab, karena ia telah mengakui bahwa penyangkal telah dizalimi dengan pengambilan tersebut. Jika ia menuntut kepada budak mukatab, maka budak mukatab tidak dapat menuntut kembali kepada yang membenarkan karena alasan ini. Maka, jika orang yang mendustakan mengambil seperempat uang mukatab dari salah satu dari keduanya, maka masih tersisa seperempat lagi yang menjadi haknya atas budak mukatab, karena ia memiliki setengah bagian. Jika budak mukatab membayarnya, maka ia merdeka, dan jika tidak mampu, maka ia kembali menjadi budak, sehingga setengahnya menjadi merdeka dan setengahnya tetap menjadi budak, dan tidak dihitung sebagai tanggungan atas sekutu yang membenarkan. Jika bagian milik yang membenarkan menjadi merdeka karena pembenaran, hal ini dinyatakan oleh asy-Syafi‘i di sini, dan beliau beralasan bahwa budak telah membebaskan dirinya dari hal tersebut. Namun dalam alasan ini terdapat kelemahan, karena dalam penyempurnaan kemerdekaan yang merupakan hak Allah Ta‘ala, tidak dipertimbangkan adanya pembebasan (ibra’). Kesaksian orang yang membenarkan terhadap orang yang mendustakan tidak diterima, meskipun ia adalah orang yang adil, karena dengan kesaksian itu ia berusaha menghindari kerugian dari penarikan kembali setengah dari apa yang ada di tangannya, sehingga ia menjadi pihak yang dicurigai dalam kesaksiannya, maka kesaksiannya ditolak.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنِ ادَّعَى أَنَّهُ دَفَعَ جَمِيعَ الْكِتَابَةِ إِلَى أَحَدِهِمَا فَقَالَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بَلْ دَفَعَهُ إِلَيْنَا جَمِيعًا رَجَعَ عَلَيْهِ شَرِيكُهُ بِنِصْفِ مَا أَقَرَّ بِقَبْضِهِ وَعَتَقَ نَصِيبُهُ وَقُوِّمَ عَلَيْهِ نَصِيبُ شَرِيكِهِ إِنْ كَانَ مُوسِرًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang mengaku bahwa ia telah membayarkan seluruh pembayaran kitabah kepada salah satu dari keduanya, lalu pihak yang didakwa mengatakan, “Bahkan, ia telah membayarkannya kepada kami berdua secara keseluruhan,” maka sekutunya dapat menuntutnya atas setengah dari apa yang diakuinya telah diterima, dan bagian sekutunya menjadi merdeka, serta bagian sekutunya dinilai (dihitung harganya) atas dirinya jika ia mampu (membayarnya).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ يَدَّعِيَ هَذَا الْمُكَاتَبُ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ أَنَّهُ دَفَعَ جَمِيعَ مَالِ الْكِتَابَةِ إِلَى أَحَدِهِمَا لِيَأْخُذَ مِنْهُ النِّصْفَ الَّذِي يَسْتَحِقُّهُ وَيَدْفَعَ إِلَى شَرِيكِهِ النِّصْفَ الَّذِي يَسْتَحِقُّهُ فَلِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِي تَصْدِيقِهِ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah apabila seorang mukatab di antara dua orang sekutu mengklaim bahwa ia telah menyerahkan seluruh uang kitabah kepada salah satu dari keduanya, agar ia mengambil separuh yang menjadi haknya dan menyerahkan kepada sekutunya separuh yang menjadi hak sekutunya. Maka, bagi pihak yang dituduh (yang menerima uang) dalam membenarkan klaim tersebut terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَقُولَ دَفَعْتَ ذَلِكَ إِلَيْنَا جَمِيعًا فَعَتَقَتْ حِصَّتِي بِقَبْضِي وَعَتَقَتْ حِصَّةُ شَرِيكِي بِإِقْبَاضِكَ لَهُ وَيُنْكِرُ الشَّرِيكُ الْآخَرُ أَنْ يَكُونَ قَدْ قَبَضَ شَيْئًا فَتَعْتِقُ حِصَّةُ الْمُصَدِّقِ بِهَذَا الْإِقْرَارِ وَيَكُونُ الْقَوْلُ قَوْلَ الْمُنْكِرِ أَنَّهُ مَا قَبَضَ حَقَّهُ وَلَا يَمِينَ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَدَّعِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا عَلَيْهِ أَنَّهُ أَقْبَضَهُ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ يَقُولُ دَفَعْتُهَا إِلَى الْمُقِرِّ لِيَدْفَعَهَا إِلَيْهِ وَالْمُقِرُّ يَقُولُ إِنَّمَا دَفَعَهَا الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِ وَلَمْ يَدَّعِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا تَسْلِيمَهَا إِلَيْهِ فَلِذَلِكَ سَقَطَتِ الْيَمِينُ عَنْهُ وَهُوَ بَعْدَ إِنْكَارِهِ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُكَاتَبِ بِجَمِيعِ حَقِّهِ وَبَيْنَ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُقِرِّ بِنِصْفِهِ وَعَلَى الْمُكَاتَبِ بِنِصْفِهِ وَلَا يَرْجِعُ الْمُقِرُّ عَلَى الْمُكَاتَبِ بِمَا أَخَذَهُ الْمُنْكِرُ مِنْهُ عَلَى مَا ذَكَرْنَا فَإِنِ اسْتَوْفَى الْمُنْكِرُ حَقَّهُ مِنْهَا أَوْ مِنَ الْمُكَاتَبِ فَقَدْ عَتَقَتْ حِصَّتُهُ وَصَارَ جَمِيعُهُ حُرًّا وَإِنْ لَمْ يَسْتَوْفِهِ كَانَ لَهُ تَعْجِيزُ الْمُكَاتَبِ فِي حِصَّتِهِ وَاسْتِرْقَاقُهَا فَأَدَّى لَهُ مُسْتَرِقُّهَا قُوِّمَتْ عَلَى الْمُقِرِّ وَسَرَى الْعِتْقُ إِلَى جَمِيعِ الْمُكَاتَبِ فَعَتَقَ كُلُّهُ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ بِخِلَافِ الْمَسْأَلَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ يَقُولُ قَدْ عَتَقْتُ بِالْأَدَاءِ وَإِنَّمَا أَنْتَ أَيُّهَا الْمُقِرُّ ظَلَمْتَنِي بِتَأْخِيرِ الْأَدَاءِ وَإِبْطَالِ الْعِتْقِ وَفِي هَذَا التَّعْلِيلِ أَيْضًا دَخَلٌ وَلَيْسَ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ عِنْدِي فَرْقٌ يصح والله أعلم

Salah satunya adalah ketika seseorang berkata, “Engkau telah menyerahkan seluruhnya kepada kami, maka bagian saya menjadi merdeka karena saya telah menerimanya, dan bagian rekan saya menjadi merdeka karena engkau telah menyerahkannya kepadanya.” Namun, rekan yang lain mengingkari bahwa ia telah menerima sesuatu, sehingga bagian orang yang membenarkan pengakuan ini menjadi merdeka, dan pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengingkari bahwa ia belum menerima haknya, serta tidak ada sumpah atasnya karena tidak ada satu pun dari mereka yang mengklaim bahwa ia telah menyerahkannya. Sebab, mukatab berkata, “Saya telah menyerahkannya kepada yang mengakui agar ia menyerahkannya kepadanya,” dan yang mengakui berkata, “Sesungguhnya mukatab telah menyerahkannya kepadanya,” dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengklaim telah menyerahkannya kepadanya, maka karena itu gugurlah kewajiban sumpah darinya. Setelah pengingkarannya, ia diberi pilihan antara menuntut seluruh haknya kepada mukatab atau menuntut setengahnya kepada yang mengakui dan setengahnya kepada mukatab. Dan yang mengakui tidak dapat menuntut kepada mukatab atas apa yang telah diambil oleh orang yang mengingkari darinya, sebagaimana telah kami sebutkan. Jika orang yang mengingkari telah menerima haknya darinya atau dari mukatab, maka bagiannya menjadi merdeka dan seluruhnya menjadi merdeka. Namun, jika ia belum menerimanya, maka ia berhak untuk membatalkan perjanjian mukatab pada bagiannya dan memperbudaknya kembali. Jika ada yang memperbudaknya, maka nilainya ditetapkan atas yang mengakui, dan kemerdekaan pun menyebar ke seluruh mukatab sehingga semuanya menjadi merdeka. Ini adalah pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i, berbeda dengan masalah sebelumnya, karena mukatab berkata, “Aku telah merdeka dengan pembayaran, dan engkau wahai pengaku, telah menzalimiku dengan menunda pembayaran dan membatalkan kemerdekaan.” Namun, dalam alasan ini juga terdapat kelemahan, dan menurutku tidak ada perbedaan antara kedua masalah tersebut. Yang benar hanyalah milik Allah.

فصل

Bab

والحالة الثَّانِيَةُ مِنْ حَالِ الْمُصَدِّقِ أَنْ يَقُولَ قَبَضْتُ جَمِيعَ مَالِ الْكِتَابَةِ وَدَفَعْتُ إِلَى شَرِيكِي مِنْهُ قَدْرَ حَقِّهِ وَهُوَ النِّصْفُ وَيُنْكِرُ الشَّرِيكُ قَبْضَ شَيْءٍ مِنْهُ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُنْكِرِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّ الْمُقِرَّ يَدَّعِي عَلَيْهِ تَسْلِيمَ حَقِّهِ إِلَيْهِ فَلِذَلِكَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِ الْيَمِينَ فَإِذَا حَلَفَ فَحِصَّةُ الْمُقِرِّ قَدْ عُتِقَتْ وَحِصَّةُ الْمُنْكِرِ عَلَى كِتَابَتِهَا وَلَهُ الْخِيَارُ فِي الرُّجُوعِ بِجَمِيعِ حَقِّهِ وَهُوَ نِصْفُ الْكِتَابَةِ عَلَى مَنْ شَاءَ مِنَ الْمُكَاتَبِ أَوِ الْمُقِرِّ لِأَنَّ الْمُقِرَّ مُعْتَرِفٌ بِاسْتِيفَائِهَا وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُقِرِّ عَلَيْهِ لِلتُّهْمَةِ فِي دَفْعِ الرُّجُوعِ عَلَيْهِ وَلَا يَصِيرُ شَاهِدًا عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ فَإِنْ رَجَعَ الْمُنْكِرُ بِكِتَابَتِهِ عَلَى الْمُقِرِّ لَمْ يَكُنْ لِلْمُقِرِّ أَنْ يَرْجِعَ بِهَا عَلَى الْمُكَاتَبِ لِاعْتِرَافِهِ بِأَنَّ شَرِيكَهُ ظَلَمَهُ بِهَا وَإِنْ رَجَعَ الْمُنْكِرَ عَلَى الْمُكَاتَبِ فَاسْتَوْفَى مِنْهُ كِتَابَتَهُ رَجَعَ الْمُكَاتَبُ عَلَى الْمُقِرِّ بِمَا أَقَرَّ بِقَبْضِهِ مِنْ حِصَّةِ الشَّرِيكِ الْمُنْكِرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمُكَاتَبُ قَدْ صَدَّقَهُ عَلَى الدَّفْعِ أَوْ أَكْذَبَهُ لِأَنَّهُ وَإِنْ صَدَّقَهُ عَلَى الدَّفْعِ فَقَدْ فَرَّطَ فِي تَرْكِ الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ فَلِذَلِكَ غَرِمَ وَقَدْ عَتَقَ جَمِيعُ الْمُكَاتَبِ وَلَوْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ عَنْ أَدَاءِ حِصَّةِ الْمُنْكِرِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُنْكِرِ إِجْبَارُ الْمُكَاتَبِ عَلَى الرُّجُوعِ عَلَى الْمُقِرِّ لِأَنَّ رُجُوعَهُ كَسْبٌ لَهُ وَالْمُكَاتَبُ لَا يُجْبَرُ عَلَى الْكَسْبِ فَإِنْ عَجَّزَهُ وَاسْتَرَقَّهُ كَانَ لِلْمُنْكِرِ حِينَئِذٍ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُقِرِّ بِمَا أَقَرَّ بِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ ذَلِكَ مَالًا لِعَبْدِهِ فَكَانَ السَّيِّدُ أَمْلَكَ بِهِ وَبِسَائِرِ مَا فِي يَدِهِ وَلَا يُعْتَقُ بِهِ بَعْدَ التَّعْجِيزِ وَلَوْ كَانَ قَدْ قَبَضَهُ قَبْلَ التَّعْجِيزِ عَتَقَ بِهِ وَيُقَوَّمُ بَاقِيهِ عَلَى الْمُقِرِّ وَيَعْتِقُ عَلَيْهِ بِالسِّرَايَةِ فَيَصِيرُ الْمُقِرُّ بَعْدَ التَّعْجِيزِ غَارِمًا لِكِتَابَةِ الْحِصَّةِ وَلِقِيمَتِهَا وَلَوْ دَفَعَ ذَلِكَ قَبْلَ التَّعْجِيزِ لَمْ يَلْتَزِمْ إِلَّا مَالَ الْكِتَابَةِ وَحْدَهَا دُونَ الْقِيمَةِ وَاللَّهُ أعلم

Keadaan kedua dari pihak yang membenarkan adalah ketika ia berkata, “Aku telah menerima seluruh harta kitabah dan telah memberikan kepada rekanku bagian haknya, yaitu setengahnya,” namun rekannya mengingkari telah menerima sesuatu darinya. Maka, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang mengingkari dengan sumpahnya, karena pihak yang mengakui mengklaim bahwa ia telah menyerahkan hak rekannya kepadanya, sehingga ia berhak diminta bersumpah. Jika ia telah bersumpah, maka bagian pihak yang mengakui telah merdeka, sedangkan bagian pihak yang mengingkari tetap berada pada kitabahnya, dan ia memiliki pilihan untuk menuntut seluruh haknya, yaitu setengah dari kitabah, kepada siapa saja yang dikehendaki dari mukatab atau pihak yang mengakui, karena pihak yang mengakui telah mengakui telah menerima bagian tersebut. Kesaksian pihak yang mengakui tidak diterima terhadap rekannya karena ada tuduhan untuk menghindari tuntutan balik, dan ia tidak dapat menjadi saksi atas perbuatannya sendiri. Kemudian, jika pihak yang mengingkari menuntut kitabahnya kepada pihak yang mengakui, maka pihak yang mengakui tidak dapat menuntutnya kembali kepada mukatab karena ia telah mengakui bahwa rekannya telah menzaliminya dengan bagian tersebut. Namun, jika pihak yang mengingkari menuntut kepada mukatab dan telah menerima kitabahnya darinya, maka mukatab dapat menuntut kepada pihak yang mengakui atas apa yang telah diakui telah diterimanya dari bagian rekannya yang mengingkari, baik mukatab membenarkan penyerahan tersebut atau mendustakannya, karena jika ia membenarkan penyerahan tersebut, berarti ia telah lalai dengan tidak meminta kesaksian atasnya, sehingga ia menanggungnya. Maka seluruh mukatab telah merdeka. Jika mukatab tidak mampu membayar bagian pihak yang mengingkari, maka pihak yang mengingkari tidak dapat memaksa mukatab untuk menuntut kepada pihak yang mengakui, karena tuntutan tersebut adalah usaha (kasb) baginya, sedangkan mukatab tidak dapat dipaksa untuk berusaha. Jika ia menyatakan ketidakmampuan (ta‘jīz) dan menjadi budak kembali, maka saat itu pihak yang mengingkari dapat menuntut kepada pihak yang mengakui atas apa yang telah diakuinya, karena hal itu telah menjadi harta bagi hambanya, sehingga tuan lebih berhak atasnya dan seluruh harta yang ada di tangannya, dan tidak bisa dimerdekakan setelah ta‘jīz. Namun, jika telah diterima sebelum ta‘jīz, maka ia merdeka karenanya, dan sisanya dinilai atas pihak yang mengakui dan dimerdekakan dengan sirāyah, sehingga pihak yang mengakui setelah ta‘jīz menjadi penanggung kitabah bagian tersebut dan nilainya. Jika ia menyerahkan hal itu sebelum ta‘jīz, maka ia hanya wajib membayar harta kitabah saja tanpa nilai (budak), dan Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَوْ أَذِنَ أَحَدُهُمَا لِشَرِيكِهِ أَنْ يَقْبِضَ نَصِيبَهُ فَقَبَضَهُ ثُمَّ عَجَزَ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا يَعْتِقُ نَصِيبُهُ مِنْهُ وَلَا يَرْجِعُ شَرِيكُهُ وَيُقَوَّمُ عَلَيْهِ الْبَاقِي إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَجَمِيعُ مَا فِي يَدَيْهِ لِلَّذِي بَقِيَ لَهُ فِيهِ الرِّقُّ لِأَنَّهُ يَأْخُذُهُ بِمَا بَقِيَ لَهُ مِنَ الْكِتَابَةِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ وَفَاءٌ عَتَقَ وَإِلَّا عَجَزَ بِالْبَاقِي وَإِنْ مَاتَ بَعْدَ الْعَجْزِ فَمَا فِي يَدَيْهِ بَيْنَهُمَا نِصْفَانِ يَرِثُ أَحَدُهُمَا بِقَدْرِ الْحُرِّيَّةِ وَالْآخِرُ بِقَدْرِ الْعُبُودِيَّةِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَعْتِقُ وَيَكُونُ لِشَرِيكِهِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهِ فَيُشْرِكَهُ فِيمَا قَبَضَهُ لِأَنَّهُ أَذِنَ لَهُ بِهِ وهو لا يملكه قال المزني هذا اشبه بقوله أن المكاتب عبد ما بقي عليه درهم وما في يديه موقوف ما بقي درهم فليس معناه فيما أذن له بقبضه إلا بمعنى اسبقني بقبض النصف حتى استوفي مثله فليس يستحق بالسبق ما ليس له كأنه وزن لأحدهما قبل الآخر قال في كتاب الإملاء على كتاب مالك إن ذلك جائز ويعتق نصيبه والباقي على كتابته فإن أدى فالولاء بينهما وإن عجز قوم على المعتق إن كان موسرا ورق إن كان معسرا قال المزني قد قال ولو أعتقه أحدهما قوم عليه الباقي إن كان موسرا وعتق كله وإلا كان الباقي مكاتبا وكذلك لو أبرأه كان كعتقه إياه قال المزني فهذا اشبه بقوله وأولى بأصله وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika salah satu dari dua orang (pemilik budak secara bersama) mengizinkan kepada sekutunya untuk mengambil bagian miliknya, lalu ia mengambilnya, kemudian ia tidak mampu (melunasi pembayaran), maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, bagian miliknya menjadi merdeka dan sekutunya tidak dapat menuntut kembali, dan sisa (bagian budak) dinilai (dihitung harganya) atasnya jika ia mampu membayar. Jika ia tidak mampu, maka seluruh yang ada di tangannya menjadi milik orang yang masih memiliki bagian perbudakan di dalamnya, karena ia mengambilnya sebagai ganti dari sisa pembayaran kitabah. Jika dalam harta itu terdapat kecukupan (untuk melunasi), maka budak itu merdeka; jika tidak, maka ia tetap tidak mampu atas sisa pembayaran. Jika ia meninggal setelah tidak mampu, maka apa yang ada di tangannya dibagi dua di antara keduanya: salah satu mewarisi sesuai kadar kemerdekaan, dan yang lain sesuai kadar perbudakan. Pendapat kedua, tidak menjadi merdeka, dan sekutunya berhak menuntut kembali kepadanya, sehingga ia menjadi sekutu dalam apa yang telah diambilnya, karena ia hanya mengizinkan kepadanya atas sesuatu yang bukan miliknya.” Al-Muzani berkata: “Ini lebih mirip dengan pendapatnya bahwa seorang mukatab tetap berstatus budak selama masih ada satu dirham yang tersisa atasnya, dan apa yang ada di tangannya masih tergantung selama masih ada sisa satu dirham. Maka maknanya dalam hal izin mengambil itu tidak lain hanyalah seperti ‘dahulukan aku dalam mengambil setengahnya sampai aku pun mendapatkan yang serupa’, sehingga ia tidak berhak atas sesuatu yang bukan miliknya hanya karena mendahului. Seakan-akan ia menimbang untuk salah satu dari keduanya sebelum yang lain.” Dalam Kitab al-Imlā’ atas Kitab Mālik, beliau berkata: “Hal itu boleh, dan bagian miliknya menjadi merdeka, dan sisanya tetap dalam status kitabah. Jika ia melunasi, maka hak wala’ (hubungan kekerabatan karena memerdekakan budak) menjadi milik keduanya. Jika ia tidak mampu, maka sisa bagian dinilai atas orang yang memerdekakan jika ia mampu, dan tetap menjadi budak jika ia tidak mampu.” Al-Muzani berkata: “Ia juga berkata: ‘Jika salah satu dari keduanya memerdekakan, maka sisa bagian dinilai atasnya jika ia mampu, dan seluruhnya menjadi merdeka; jika tidak, maka sisa bagian tetap sebagai mukatab. Demikian pula jika ia membebaskan dari hutang, maka hukumnya seperti memerdekakannya.’” Al-Muzani berkata: “Ini lebih mirip dengan pendapatnya dan lebih sesuai dengan prinsip dasarnya. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْمُكَاتَبَ إِذَا كَانَ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُقَدِّمَ أَحَدَهُمَا فِي الْأَدَاءِ وَعَلَيْهِ أَنْ يُسَوِّيَ بَيْنَهُمَا فِيهِ لِتَسَاوِيهِمَا فِي الِاسْتِحْقَاقِ فَإِنْ عَجَّلَ إِلَى أَحَدِهِمَا مَالَ كِتَابَتِهِ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ التَّعْجِيلُ بِإِذْنِ الشَّرِيكِ أَوْ بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِ الشَّرِيكِ لَمْ تَعْتِقْ حِصَّةُ الْمُتَعَجِّلِ وَإِنِ اسْتَأْدَى جَمِيعَ كِتَابَتِهِ لِأَنَّ لِشَرِيكِهِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهِ بِقَدْرِ حَقِّهِ مِنْهُ وَهُوَ النِّصْفُ فَلَمْ يَكْمُلِ الْأَدَاءُ فَلِذَلِكَ لَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa seorang mukatab apabila berada di antara dua orang yang berserikat, maka ia tidak boleh mendahulukan salah satu dari keduanya dalam pembayaran, dan ia wajib menyamakan di antara keduanya dalam hal itu karena keduanya sama dalam hak kepemilikan. Jika ia menyegerakan pembayaran kepada salah satu dari mereka berupa harta kitabahnya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: penyegeraan itu dengan izin sekutunya atau tanpa izinnya. Jika dilakukan tanpa izin sekutunya, maka bagian dari yang menerima penyegeraan itu tidak menjadi merdeka, meskipun ia telah membayar seluruh harta kitabahnya, karena sekutunya berhak menuntutnya sesuai dengan bagian haknya, yaitu setengahnya, sehingga pembayaran itu belum sempurna. Oleh karena itu, kemerdekaan (mukatab) belum terjadi.

وَإِنْ كَانَ التَّعْجِيلُ بِإِذْنِ الشَّرِيكِ فَفِي صِحَّتِهِ قَوْلَانِ

Jika percepatan (penarikan bagian modal) dilakukan dengan izin dari mitra, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahannya.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّ التَّعْجِيلَ لَا يَصِحُّ وَلِلشَّرِيكِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُتَعَجِّلِ بِنِصْفِ مَا تَعَجَّلَهُ كَمَا لَوْ لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ لِأَمْرَيْنِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, menyatakan bahwa percepatan (pembagian harta sebelum waktunya) tidak sah, dan seorang syarik (rekan) berhak menuntut kembali dari pihak yang mempercepat setengah dari apa yang telah dipercepatkannya, sebagaimana jika ia tidak mengizinkannya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْآذِنَ لَمْ يَمْلِكْ مَا أَذِنَ فِيهِ فَكَانَ وُجُودُ إِذْنِهِ كَعَدَمِهِ

Salah satunya adalah bahwa orang yang memberi izin tidak memiliki apa yang diizinkannya, sehingga keberadaan izinnya sama saja dengan ketiadaannya.

وَالثَّانِي أَنَّ الْإِذْنَ بِالتَّعْجِيلِ يَجْرِي مَجْرَى السَّبْقِ فِي الْقَبْضِ مَعَ وُجُودِ الْمَالِ وَلَوْ كَانَ الْمَالُ حَاضِرًا فَأَذِنَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنْ يَسْبِقَهُ بِقَبْضِ حَقِّهِ فَقَبَضَهُ وَتَلِفَ الْبَاقِي كَانَ لِلشَّرِيكِ الثَّانِي أَنْ يَرْجِعَ عَلَى السَّابِقِ بِنِصْفِ مَا قَبَضَ لِأَنَّ الْإِذْنَ بِالسَّبْقِ مُعْتَبَرٌ بِأَنْ يَتَعَقَّبَهُ قَبْضُ الْآخَرِ كَذَلِكَ الْإِذْنُ فِي التَّعْجِيلِ

Kedua, bahwa izin untuk percepatan (pembayaran) berlaku seperti halnya izin untuk mendahului dalam penerimaan (harta) ketika harta itu ada. Jika harta itu hadir, lalu salah satu dari keduanya mengizinkan yang lain untuk mendahuluinya dalam menerima haknya, kemudian ia mengambilnya dan sisanya rusak, maka sekutu yang kedua berhak menuntut kepada yang mendahului sebesar setengah dari apa yang telah diambilnya. Sebab, izin untuk mendahului itu dianggap sah apabila diikuti oleh penerimaan dari pihak yang lain; demikian pula halnya dengan izin dalam percepatan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ الْأَصَحُّ أَنَّ التَّعْجِيلَ صَحِيحٌ تُعْتَقُ بِهِ حِصَّةُ الْمُتَعَجِّلِ وَلَيْسَ لِلْآذِنِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْهُ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih shahih, bahwa percepatan (pembayaran) itu sah, sehingga bagian orang yang mempercepat menjadi merdeka, dan pihak yang memberi izin tidak berhak menuntut apa pun darinya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْآذِنَ لَمْ يَمْلِكْ مَا بِيَدِ الْمُكَاتَبِ وَإِنَّمَا مَلَكَ الْحَجْرَ عَلَيْهِ بِحَقِّ كِتَابَتِهِ فَإِذَا أَذِنَ فِي التَّقْدِيمِ فَقَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ مِنَ الْحَجْرِ فَلَمْ يَسْتَحِقَّ الرُّجُوعَ وَجَرَى مَجْرَى الْبَائِعِ يَسْتَحِقُّ حَبْسَ الْمَبِيعِ عَلَى قَبْضِ ثَمَنِهِ فَإِذَا سَلَّمَهُ سَقَطَ حَقُّهُ فِي احْتِبَاسِهِ وَكَالْمُرْتَهِنِ فِي احْتِبَاسِ الرَّهْنِ

Salah satu alasannya adalah bahwa pihak yang memberi izin tidak memiliki apa yang ada di tangan mukatab, melainkan hanya memiliki hak untuk membatasi (hajr) atasnya karena akad kitabah. Maka apabila ia memberi izin untuk mendahulukan (pembayaran), berarti ia telah menggugurkan haknya dalam pembatasan tersebut, sehingga ia tidak berhak untuk menarik kembali (izin itu). Hal ini serupa dengan penjual yang berhak menahan barang yang dijual sampai menerima harganya; jika ia telah menyerahkannya, maka gugurlah haknya untuk menahan barang tersebut. Demikian pula seperti pemegang gadai dalam hal menahan barang gadai.

وَالثَّانِي أَنَّ إِذْنَهُ بِالتَّعْجِيلِ كَالْهِبَةِ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِيمَا وَهَبَ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَرْجِعَ فِيمَا أَذِنَ

Yang kedua, bahwa izinnya untuk percepatan itu seperti hibah, di mana tidak boleh baginya untuk menarik kembali apa yang telah dihibahkan, maka lebih utama lagi untuk tidak menarik kembali apa yang telah diizinkan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ تَوْجِيهُ الْقَوْلَيْنِ فَإِنْ قُلْنَا بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ أَنَّ التَّعْجِيلَ لَمْ يَصِحَّ وَإِنْ أَذِنَ بِهِ الشَّرِيكُ فَلِلشَّرِيكِ أَنْ يَرْجِعَ بِمِثْلِ مَا تَعَجَّلَهُ شَرِيكُهُ فَإِنْ كَانَ مَعَ الْمُكَاتَبِ مِثْلُهُ فَدَفَعَهُ إِلَى الشَّرِيكِ الْآذِنِ اسْتَقَرَّ التَّعْجِيلُ الْأَوَّلُ وَعَتَقَ جَمِيعُ الْمُكَاتَبِ لِأَدَائِهِ مَالَ كِتَابَتِهِ إِلَيْهِمَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِيَدِهِ غَيْرُ مَا عَجَّلَهُ كَانَ لِلْآذِنِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُعَجَّلِ بِنِصْفِ مَا فِي يَدِهِ فَإِذَا رَجَعَ بِهِ لَمْ يَعْتِقْ مِنَ الْمُكَاتَبِ شَيْءٌ لِأَنَّهُ لَمْ يَسْتَوْفِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا حَقَّهُ فَإِنْ وَفَّاهُمَا عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ اسْتَرَقَّاهُ

Jika telah dijelaskan alasan kedua pendapat, maka jika kita mengambil pendapat pertama bahwa percepatan pembayaran tidak sah meskipun diizinkan oleh sekutu, maka sekutu berhak menuntut kembali sejumlah yang telah dipercepat pembayarannya oleh sekutunya. Jika pada pihak mukatab terdapat jumlah yang sama dan ia menyerahkannya kepada sekutu yang mengizinkan, maka percepatan pembayaran yang pertama menjadi tetap dan seluruh mukatab menjadi merdeka karena ia telah melunasi uang kitabahnya kepada keduanya. Namun, jika di tangannya tidak ada selain apa yang telah dipercepat, maka sekutu yang mengizinkan berhak menuntut kepada yang menerima percepatan setengah dari apa yang ada di tangannya. Jika ia telah menuntutnya, maka tidak ada bagian dari mukatab yang merdeka, karena tidak satu pun dari mereka yang telah menerima haknya. Jika ia melunasi kepada keduanya, maka ia merdeka; dan jika ia tidak mampu, maka ia kembali menjadi budak.

وَإِنْ قُلْنَا بِالْقَوْلِ الثَّانِي أَنَّ التَّعْجِيلَ صَحِيحٌ وَأَنَّهُ لَا رُجُوعَ لِلْآذِنِ فِيهِ فَقَدْ عَتَقَتْ حِصَّةُ الْمُتَعَجِّلِ وَفِي سِرَايَةِ عِتْقِهِ إِلَى حِصَّةِ شَرِيكِهِ قَوْلَانِ

Dan jika kita mengikuti pendapat kedua, yaitu bahwa percepatan (pembebasan budak) itu sah dan pemberi izin tidak dapat menarik kembali izinnya, maka bagian budak yang dipercepat pembebasannya telah merdeka. Adapun mengenai apakah kemerdekaan itu menular ke bagian milik rekannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا تَسْرِي وَيَكُونُ بَاقِيهِ عَلَى كِتَابَتِهِ إِنْ أَدَّاهَا إِلَى شَرِيكِهِ عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا رَقَّ وَكَانَ نِصْفُهُ حُرًّا وَوَلَاؤُهُ لِلْمُتَعَجِّلِ وَنِصْفُهُ مَمْلُوكًا لِلْآذِنِ وَإِنَّمَا لَمْ يَسِرْ عِتْقُهُ لِتَقَدُّمِ سَبَبِهِ الَّذِي اشتركا فيه

Salah satunya tidak berlaku (tidak menyebar), dan sisanya tetap berdasarkan akad penulisannya; jika ia melunasi (membayar) kepada rekannya, maka ia merdeka, dan jika ia tidak mampu membayarnya, maka ia tetap sebagai budak, sehingga setengah dirinya merdeka dan setengahnya lagi masih menjadi milik pemberi izin. Hak wala’ (hak perwalian) menjadi milik pihak yang mempercepat (pembebasan), dan setengahnya lagi tetap menjadi milik pemberi izin. Pembebasan ini tidak berlaku (tidak menyebar) karena sebabnya telah lebih dahulu terjadi, yang keduanya terlibat di dalamnya.

القول الثَّانِي أَنَّ عِتْقَهُ يَسْرِي فِي بَاقِيهِ إِنْ كَانَ الْمُتَعَجِّلُ مُوسِرًا لِقِيمَتِهِ لِاخْتِصَاصِهِ بِمَا عَتَقَ بِهِ فَعَلَى هَذَا فِي زَمَانِ سِرَايَتِهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan budak tersebut berlaku pada sisanya jika pihak yang membebaskan lebih dahulu mampu membayar nilainya, karena ia memiliki kekhususan atas bagian yang telah dimerdekakan olehnya. Berdasarkan hal ini, pada masa berlakunya pembebasan tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَسْرِي لِوَقْتِهِ وَيَعْتِقُ عَلَيْهِ جَمِيعُهُ فِي الْحَالِ وَيُؤْخَذُ بِقِيمَتِهِ حِصَّةُ شَرِيكِهِ دُونَ التَّعْجِيلِ وَإِنَّمَا تَعَجَّلَ الْعِتْقَ بِالسِّرَايَةِ لِأَنَّهُ إِذَا تَعَلَّقَ الْعِتْقُ بِسَبَبَيْنِ رُوعِيَ أَعْجَلُهُمَا فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ بِهِ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ وَإِنْ كَلَّمْتَ زَيْدًا فَأَنْتَ حُرٌّ فَعَلَى هَذَا تَنْفَسِخُ الْكِتَابَةُ بِالتَّقْوِيمِ لِيَعُودَ رَقِيقًا مُقَوَّمًا وَفِيمَا يُعْتَقُ بِهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ وَيَكُونُ وَلَاءُ جَمِيعِهِ لِلْمُتَعَجِّلِ بِالْأَدَاءِ وَالتَّقْوِيمِ وَيَرْجِعُ الْآذِنُ عَلَى الْمُكَاتَبِ بِمَا فِي يَدِهِ فَيَأْخُذُهُ إِنْ كَانَ مِثْلَ مَا تَعَجَّلَ شَرِيكُهُ لِيُسَاوِيهِ فِيمَا أَخَذَ فَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنَ التَّعْجِيلِ كَانَتِ الزِّيَادَةُ بَيْنَ الْآذِنِ بِحَقِّ رِقِّهِ وَبَيْنَ الْمُكَاتَبِ بِحَقِّ عِتْقِهِ

Salah satunya adalah bahwa ia berlaku pada waktunya dan seluruhnya menjadi merdeka seketika itu juga, dan bagian milik rekannya diambil berdasarkan nilai harganya tanpa harus disegerakan. Pembebasan (’itq) dipercepat melalui sarāyah, karena jika pembebasan bergantung pada dua sebab, maka yang paling cepatlah yang diperhatikan dalam terjadinya pembebasan, sebagaimana jika seseorang berkata kepada hambanya: “Jika engkau masuk ke rumah, maka engkau merdeka, dan jika engkau berbicara dengan Zaid, maka engkau merdeka.” Berdasarkan hal ini, akad kitābah batal dengan penilaian (taqwīm) agar ia kembali menjadi budak yang dinilai, dan dalam hal yang menyebabkan pembebasan berlaku tiga pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Seluruh hak wala’ menjadi milik pihak yang mempercepat pembayaran dan penilaian, dan pihak yang memberi izin dapat mengambil dari mukātab apa yang ada di tangannya, lalu mengambilnya jika jumlahnya sama dengan yang telah disegerakan oleh rekannya agar seimbang dengan apa yang telah diambil. Jika jumlahnya lebih banyak dari yang disegerakan, maka kelebihan itu dibagi antara pihak yang memberi izin sesuai hak perbudakannya dan antara mukātab sesuai hak kemerdekaannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ السِّرَايَةَ مَوْقُوفَةٌ عَلَى مَا يَكُونُ مِنْ أَدَاءِ الْمُكَاتَبِ لِأَنَّ لِلْآذِنِ فِيهِ عَقْدٌ قَدْ تَقَدَّمَ يَسْتَحِقُّ بِهِ مَالًا وَوَلَاءً فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُفَوَّتَ عَلَيْهِ فعلى هذا للمكاتب ثلاثة أَحْوَالٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pengaruh (sarayah) tergantung pada apa yang dilakukan oleh mukatab, karena orang yang memberi izin (adz-dzin) telah melakukan akad sebelumnya yang dengannya ia berhak mendapatkan harta dan wala’, sehingga tidak boleh hak tersebut hilang darinya. Berdasarkan hal ini, bagi mukatab terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يُؤَدِّيَ

Salah satunya adalah bahwa ia menunaikan.

وَالثَّانِي أَنْ يَعْجِزَ

Dan yang kedua adalah tidak mampu.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَمُوتَ قَبْلَهُمَا

Dan yang ketiga adalah jika ia meninggal sebelum keduanya.

فَإِنْ أَدَّى عَتَقَ بَاقِيهِ بِالْأَدَاءِ وَصَارَ جَمِيعُهُ حُرًّا وَوَلَاؤُهُ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ وَمَا فَضَلَ فِي يَدِهِ بَعْدَ أَدَائِهِ مِلْكٌ لَهُ لَا حَقَّ فِيهِ لِوَاحِدٍ مِنَ الشَّرِيكَيْنِ وَإِنْ عَجَزَ وَقَعَ الْفَسْخُ بِالْعَجْزِ وَلَمْ يَقِفْ عَلَى تَعْجِيزِ الشَّرِيكِ الْآذِنِ لِمَا تَعَلَّقَ بِعِتْقِهِ مِنْ حَقِّ الشَّرِيكِ الْمُتَعَجِّلِ وَيَسْتَقِرُّ الْفَسْخُ بِالتَّقْوِيمِ وَيَقَعُ الْعِتْقُ بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ وَيَكُونُ مَا بِيَدِ الْمُكَاتَبِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ يَأْخُذُ مِنْهُ الْآذِنُ مِثْلَ مَا أَخَذَهُ الْمُتَعَجِّلُ وَيَكُونُ الْبَاقِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمُكَاتَبِ وَإِنْ مَاتَ الْمُكَاتَبُ قَبْلَ الْأَدَاءِ وَالْعَجْزِ مَاتَ عَبْدًا وَكَانَ نِصْفُ مَا بِيَدِهِ لِلشَّرِيكِ الْآذِنِ بِحَقِّ رِقِّهِ وَفِي النِّصْفِ الْبَاقِي قَوْلَانِ

Jika ia melunasi (pembayaran), maka sisa bagian dirinya menjadi merdeka dengan pelunasan itu, sehingga seluruh dirinya menjadi merdeka, dan hak wala’ (loyalitas) terbagi antara kedua orang yang berserikat. Apa yang tersisa di tangannya setelah pelunasan menjadi miliknya sendiri, dan tidak ada hak bagi salah satu dari kedua orang yang berserikat atasnya. Namun jika ia tidak mampu (melunasi), maka akad tersebut batal karena ketidakmampuan, dan tidak bergantung pada pernyataan ketidakmampuan dari pihak sekutu yang mengizinkan, karena kemerdekaan yang terjadi berkaitan dengan hak sekutu yang segera menerima pembayaran. Pembatalan menjadi tetap dengan penilaian (harga), dan kemerdekaan terjadi dengan pelunasan nilai (harga). Apa yang ada di tangan mukatab, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka pihak yang mengizinkan mengambil bagian yang sama dengan yang diambil oleh pihak yang segera menerima pembayaran, dan sisanya menjadi milik bersama antara dia dan mukatab. Jika mukatab meninggal sebelum pelunasan dan sebelum ketidakmampuan, maka ia meninggal dalam keadaan budak, dan setengah dari apa yang ada di tangannya menjadi milik sekutu yang mengizinkan karena hak perbudakannya, dan pada setengah sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِلشَّرِيكِ الْآذِنِ أَيْضًا وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْقَدِيمِ أَنَّ مَنْ لَمْ تَكْمُلْ حُرِّيَّتُهُ لَمْ يُورَثْ

Salah satunya juga berlaku bagi mitra yang memberikan izin, yaitu pendapat beliau dalam karya terdahulu bahwa siapa pun yang belum sempurna kemerdekaannya, maka ia tidak mendapatkan warisan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ يُورَثُ بِقَدْرِ حُرِّيَّتِهِ فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَ لَهُ وَارِثٌ مُنَاسِبٌ كَانَ الْمَالُ لَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُنَاسِبٌ كَانَ لِلْمُعْتِقِ مِيرَاثًا

Pendapat kedua, yaitu pendapatnya dalam al-jadid, menyatakan bahwa ia diwarisi sesuai kadar kemerdekaannya. Maka, berdasarkan hal ini, jika ia memiliki ahli waris yang sesuai, harta itu menjadi milik ahli waris tersebut. Namun jika ia tidak memiliki ahli waris yang sesuai, maka harta itu menjadi milik mu‘tiq sebagai warisan.

وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ يَنْتَقِلُ مَالُهُ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ وَلَا يَكُونُ لِوَارِثِهِ بَحُرِّيَّتِهِ وَلَا لِمَالِكِ رِقِّهِ

Abu Sa‘id al-Ishthakhri berkata, “Hartanya berpindah ke Baitul Mal dan tidak menjadi hak bagi ahli warisnya karena kemerdekaannya, maupun bagi pemiliknya karena status budaknya.”

وَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ اخْتَارَ مِنَ الْقَوْلَيْنِ فِي التَّعْجِيلِ مَا حَكَيْنَاهُ عَنْهُ مِنْ إِبْطَالِهِ وَاحْتَجَّ لَهُ بِمَا يُفِيدُ تَوْجِيهَ الْقَوْلِ الثَّانِي وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun al-Muzani, ia memilih dari dua pendapat tentang percepatan (dalam pelaksanaan) apa yang telah kami sebutkan darinya, yaitu membatalkannya, dan ia mengemukakan alasan yang menguatkan pendapat kedua tersebut. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ مَاتَ سَيِّدُ الْمُكَاتَبِ فَأَبْرَأَهُ بَعْضُ الْوَرَثَةِ مِنْ حِصَّتِهِ عَتَقَ نَصِيبُهُ عَجَزَ أَوْ لَمْ يَعْجِزْ وَوَلَاؤُهُ لِلَّذِي كَاتَبَهُ وَلَا أُقَوِّمُ عَلَيْهِ وَالْوَلَاءُ لِغَيْرِهِ وَأُعْتِقُهُ عَلَيْهِ بِسَبَبِ رِقِّهِ فِيهِ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهِ رِقٌّ فَعَجَزَ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا هَذَا وَالْآخَرُ يُقَوَّمُ عليه إذا عجز وكان له ولاؤه كله لأن الكتابة الأولى بطلت واعتق هذا ملكه قال المزني رحمه الله الأول بمعناه أشبه بأصله إذ زعم انه إذا أبرأه من قدر حقه من دراهم الكتابة عتق نصيبه بمعنى عقد الأب لم يجز أن يزيل ما ثبت وإذ زعم انه إن عجز فيه فقد بطلت الكتابة الأولى فينبغي أن يبطل عتق النصيب بالإبراء من قدر النصيب لأن الأب لم يعتقه إلا بأداء الجميع فكأن الأب أبرأه من جميع الكتابة ولا عتق بإبرائه من بعض الكتابة

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuan dari seorang mukātab meninggal dunia, lalu sebagian ahli waris membebaskan mukātab tersebut dari bagian haknya, maka bagian tersebut menjadi merdeka, baik mukātab itu mampu membayar atau tidak. Dan hak wala’ (loyalitas) tetap menjadi milik orang yang melakukan akad mukātab dengannya. Aku tidak menetapkan penilaian harga atasnya, dan wala’ tidak berpindah kepada selainnya. Aku memerdekakannya atas dasar sebab perbudakan yang masih ada padanya, karena jika tidak ada lagi perbudakan padanya lalu ia tidak mampu membayar, maka tidak ada hak baginya. Dan beliau berkata di tempat lain: Dalam masalah ini ada dua pendapat; salah satunya adalah pendapat ini, dan yang lain adalah bahwa ia dinilai harganya jika ia tidak mampu membayar, dan seluruh hak wala’ menjadi miliknya, karena akad mukātab yang pertama telah batal dan ia memerdekakan miliknya sendiri. Al-Muzani raḥimahullāh berkata: Pendapat pertama lebih sesuai dengan asalnya, karena ia berpendapat bahwa jika ia membebaskannya dari bagian haknya berupa sejumlah dirham dalam akad mukātab, maka bagian tersebut menjadi merdeka, artinya akad ayah tidak boleh menghilangkan apa yang telah tetap. Dan karena ia berpendapat bahwa jika ia tidak mampu membayar, maka akad mukātab yang pertama telah batal, maka seharusnya kemerdekaan bagian tersebut juga batal dengan pembebasan dari bagian tersebut, karena ayah tidak memerdekakannya kecuali dengan membayar seluruhnya. Maka seakan-akan ayah membebaskannya dari seluruh akad mukātab, dan tidak ada kemerdekaan dengan membebaskannya dari sebagian akad mukātab.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ قَدْ مَضَتْ فِي سَيِّدِ الْمُكَاتَبِ إِذَا مَاتَ وَخَلَّفَ ابْنَيْنِ فَأَعْتَقَ أَحَدَهُمَا حِصَّتَهُ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي إِبْرَاءِ أَحَدِهِمَا مِنْ حِصَّتِهِ وَالْإِبْرَاءُ وَالْعِتْقُ سَوَاءٌ لِأَنَّ الْعِتْقَ مُوجِبٌ لِلْإِبْرَاءِ وَالْإِبْرَاءَ مُوجِبٌ لِلْعِتْقِ لَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى الْإِطَالَةِ بِالْإِعَادَةِ وَتَكَلَّمَ الْمُزَنِيُّ بَعْدَهُ كَلَامًا أَطَالَهُ فِي نُصْرَةِ مَا تَقَدَّمَ ذَكَرَهُ وَحَذْفُ الْجَوَابِ عَمَّا تَقَدَّمَتِ الْإِشَارَةُ إِلَيْهِ أَخْصَرُ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini telah dijelaskan sebelumnya pada kasus tuan dari seorang mukatab apabila ia meninggal dunia dan meninggalkan dua anak, lalu salah satu dari keduanya memerdekakan bagiannya. Masalah ini juga digambarkan dalam konteks pembebasan salah satu dari mereka dari bagiannya, dan pembebasan (ibra’) serta pemerdekaan (itq) itu sama saja, karena pemerdekaan menyebabkan pembebasan, dan pembebasan menyebabkan pemerdekaan; tidak ada perbedaan antara keduanya. Maka tidak perlu memperpanjang penjelasan dengan mengulanginya. Setelah itu, al-Muzani berbicara panjang lebar dalam mendukung pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan menghilangkan jawaban atas apa yang telah disinggung sebelumnya adalah lebih ringkas. Hanya kepada Allah-lah taufik.”

باب في ولد المكاتبة

Bab tentang Anak dari Perempuan Mukatab

مسألة

Masalah

قال الشافعي رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ مَوْقُوفٌ فَإِذَا أَدَّتْ فَعَتَقَتْ عَتَقُوا وَإِنْ عَجَزَتْ أَوْ مَاتَتْ قَبْلَ الْأَدَاءِ رَقُّوا

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Anak dari seorang mukātab statusnya tergantung; jika sang ibu melunasi (pembayaran) sehingga ia merdeka, maka anak-anaknya pun merdeka. Namun jika ia tidak mampu membayar atau meninggal sebelum pelunasan, maka anak-anaknya tetap berstatus budak.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مُكَاتَبَةٍ ذَاتِ وَلَدٍ فَلَا يَخْلُو أَنْ تَلِدَهُ قَبْلَ الْكِتَابَةِ أَوْ بَعْدَهَا فَإِنْ وَلَدَتْهُ قَبْلَ الْكِتَابَةِ فَهُوَ مَمْلُوكٌ لِسَيِّدِهَا لَا يَتْبَعُهَا فِي الْكِتَابَةِ بِحَالٍ لِاسْتِقْرَارِ مِلْكِ السَّيِّدِ عَلَيْهِ قَبْلَ الْكِتَابَةِ وَإِنْ وَلَدَتْهُ بَعْدَ الْكِتَابَةِ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ مِنْ سَيِّدِهَا أَوْ مِنْ غَيْرِهِ فَإِنْ كَانَ مِنْ سَيِّدِهَا لَحِقَ بِهِ وَكَانَ حُرًّا وَصَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَهِيَ عَلَى كِتَابَتِهَا بَعْدَ وِلَادَتِهِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ عِتْقٌ بِصِفَةٍ فَلَا يَبْطُلُ بِمَصِيرِهَا أُمَّ وَلَدٍ كَمَا لَوْ قَالَ لَهَا إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ حُرَّةٌ ثُمَّ أولدها وكان عِتْقُهَا بِالصِّفَةِ بَاقِيًا وَإِنْ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ تَعَلَّقَ عِتْقُهَا بِسَبَبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Adapun bentuk kasusnya pada seorang mukatabah yang memiliki anak, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia melahirkan anak itu sebelum akad mukatabah atau setelahnya. Jika ia melahirkan anak itu sebelum akad mukatabah, maka anak tersebut adalah milik tuannya dan tidak mengikuti ibunya dalam akad mukatabah dalam keadaan apa pun, karena kepemilikan tuan atas anak itu telah tetap sebelum akad mukatabah. Namun jika ia melahirkan anak itu setelah akad mukatabah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: anak itu berasal dari tuannya atau dari selainnya. Jika anak itu berasal dari tuannya, maka anak itu mengikuti tuannya dan menjadi merdeka, dan ibunya menjadi umm walad karena anak itu, sementara ia tetap dalam akad mukatabahnya setelah melahirkan anak tersebut. Sebab, akad mukatabah adalah pembebasan dengan syarat tertentu, sehingga tidak batal dengan statusnya sebagai umm walad, sebagaimana jika tuan berkata kepadanya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau merdeka,” lalu ia melahirkan anak, maka kemerdekaannya dengan syarat tersebut tetap berlaku meskipun ia telah menjadi umm walad. Dengan demikian, kemerdekaannya terkait dengan dua sebab.

أَحَدُهُمَا الْأَدَاءُ

Salah satunya adalah al-adā’.

وَالْآخَرُ مَوْتُ السَّيِّدِ

Dan yang lainnya adalah wafatnya tuan (pemilik).

فَأَيُّهُمَا تَعَجَّلَ وَقَعَ بِهِ الْعِتْقُ فَإِنْ تَعَجَّلَ الْأَدَاءَ عَتَقَتْ بِالْكِتَابَةِ وَإِنْ تَعَجَّلَ مَوْتَ السَّيِّدِ عَتَقَتْ بِالْوِلَادَةِ

Maka, mana saja di antara keduanya yang lebih dahulu terjadi, maka dengannya terjadilah pembebasan (’itq). Jika pelunasan (pembayaran) lebih dahulu, maka ia merdeka melalui kitabah. Namun jika kematian tuan lebih dahulu, maka ia merdeka melalui wilāyah.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ كَانَ الْوَلَدُ مِنْ غَيْرِ السَّيِّدِ وَهُوَ أَنْ تَأْتِيَ بِهِ مِنْ زَوْجٍ أَوْ زِنًى فَهُوَ مَمْلُوكٌ مِثْلُهَا لِأَنَّ الْكِتَابَةَ لَمْ تَرْفَعْ رِقَّهَا وَلَا يَكُونُ مِلْكًا لَهَا وَإِنْ كَانَ وَلَدُ الْمُكَاتَبِ مِلْكًا لَهُ لِأَنَّ وَلَدَ الْمَمْلُوكَةِ لِمَالِكِ الْأُمِّ وَالْمُكَاتَبُ مَالِكٌ لِأُمِّ وَلَدِهِ فَصَارَ مَالِكًا لِوَلَدِهِ وَالْمُكَاتَبَةُ لَا تَمْلِكُ نَفْسَهَا فَلَمْ تَمْلِكْ وَلَدَهَا وَإِذَا لَمْ تَمْلِكْ وَلَدَهَا فَهُوَ عَلَى مِلْكِ سَيِّدِهَا لِأَنَّ الْمَمْلُوكَ لَا يَسْتَغْنِي عَنْ مَالِكٍ لِأَنَّهُ مَالِكٌ لِأُمِّهِ فَصَارَ مَالِكًا لَهُ وَإِذَا كَانَ مَالِكًا لَهُ فَهَلْ يَكُونُ تَبَعًا لِأُمِّهِ أَمْ لَا لَا اخْتِلَافَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ أَنْ لَا يَكُونَ تَبَعًا فِي الْكِتَابَةِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ عَقْدُ مُعَاوَضَةٍ يَفْتَقِرُ إِلَى إِيجَابٍ وَقَبُولٍ فَكَانَ مَوْقُوفًا عَلَى الْقَابِلِ لَا يَتَعَدَّاهُ وَخَالَفَ وَلَدُ الْمُدَبَّرةِ حَيْثُ صَارَ تَبَعًا لَهَا فِي التَّدْبِيرِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ لِأَنَّ التَّدْبِيرَ لَيْسَ بِعَقْدِ مُعَاوَضَةٍ فَجَازَ أَنْ يَسْرِيَ إِلَى الْوَلَدِ كَوَلَدِ أُمِّ الْوَلَدِ وَإِذَا لَمْ يَكُنْ ولد الْمُكَاتَبَةِ تَبَعًا لَهَا فِي الْكِتَابَةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ هَلْ يَكُونُ تَبَعًا لَهَا فِي العتق حتى يعتق بعتقها فيرق بِرِقِّهَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Jika anak itu bukan dari tuannya, yaitu jika ia dilahirkan dari suami atau hasil zina, maka anak itu menjadi budak seperti ibunya, karena kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) tidak menghilangkan status perbudakannya, dan anak itu tidak menjadi milik ibunya. Adapun jika anak itu adalah anak dari seorang mukatab (budak yang sedang dalam proses kitabah), maka anak itu menjadi miliknya, karena anak dari seorang budak perempuan adalah milik pemilik ibunya, dan mukatab adalah pemilik ibu dari anaknya, sehingga ia menjadi pemilik anaknya. Sedangkan perempuan mukatab tidak memiliki dirinya sendiri, maka ia pun tidak memiliki anaknya. Jika ia tidak memiliki anaknya, maka anak itu tetap menjadi milik tuannya, karena budak tidak bisa lepas dari pemilik, sebab pemilik ibu adalah pemilik anaknya, sehingga ia menjadi pemilik anak itu. Jika ia menjadi pemilik anak itu, apakah anak itu mengikuti status ibunya atau tidak? Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha bahwa anak itu tidak mengikuti ibunya dalam kitabah, karena kitabah adalah akad mu‘awadhah (akad pertukaran) yang memerlukan ijab dan qabul, sehingga bergantung pada pihak penerima dan tidak berlaku untuk selainnya. Hal ini berbeda dengan anak dari mudabbirah (budak yang dijanjikan merdeka setelah tuannya wafat), di mana anak itu mengikuti ibunya dalam tadbir (janji pembebasan) menurut salah satu dari dua pendapat, karena tadbir bukan akad mu‘awadhah sehingga boleh berlaku pada anak, seperti anak dari umm al-walad (budak yang melahirkan anak dari tuannya). Jika anak dari perempuan mukatab tidak mengikuti ibunya dalam kitabah, maka terdapat perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi‘i, apakah anak itu mengikuti ibunya dalam hal pembebasan (‘itq), sehingga ia merdeka dengan kemerdekaan ibunya, atau tetap menjadi budak dengan status perbudakan ibunya, menurut dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَكَثِيرٍ مِنْ كُتُبِهِ أَنَّهُ يَكُونُ تَبَعًا لِأُمِّهِ يُعْتَقُ إِنْ عُتِقَتْ وَيَرِقُّ إِنْ رَقَّتْ لِأَمْرَيْنِ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang ditegaskan dalam bagian ini dan banyak kitabnya, adalah bahwa ia mengikuti status ibunya: ia menjadi merdeka jika ibunya dimerdekakan, dan menjadi budak jika ibunya menjadi budak, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ وَلَدَ الْمُكَاتَبِ لَمَّا كَانَ تَبَعًا لَهُ وَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ حُرِّيَّتُهُ وَرِقُّهُ فَأَوْلَى أَنْ يَكُونَ وَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ تَبَعًا لَهَا لِمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ حُرِّيَّتِهِ وَرِقِّهِ

Salah satu alasannya adalah bahwa anak dari seorang mukatab, karena ia mengikuti status ayahnya meskipun kemerdekaan dan status budaknya tidak terkait dengannya, maka lebih utama lagi jika anak dari seorang mukatabah juga mengikuti status ibunya, karena kemerdekaan dan status budaknya memang terkait dengan ibunya.

وَالثَّانِي أَنَّ وَلَدَ كُلِّ ذَاتِ رَحِمٍ لَمَّا كَانَ تَبَعًا لَهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ تَبَعًا لَهَا فِي أَسْبَابِ الْعِتْقِ كَوَلَدِ أُمِّ الْوَلَدِ

Kedua, bahwa anak dari setiap perempuan yang memiliki rahim, karena ia mengikuti ibunya dalam hal kebebasan dan perbudakan, maka wajib pula baginya untuk mengikuti ibunya dalam sebab-sebab pembebasan, seperti halnya anak dari umm al-walad.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّهُ لَا يَكُونُ تَبَعًا لَهَا وَيَكُونُ مِلْكًا قِنًّا لِلسَّيِّدِ سَوَاءٌ عَتَقَتْ بِالْأَدَاءِ أَوْ رَقَّتْ بِالْعَجْزِ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, yang dinyatakan secara tegas dalam kitab al-Umm, adalah bahwa anak tersebut tidak mengikuti status ibunya dan tetap menjadi milik sepenuhnya (qinn) bagi tuannya, baik sang ibu merdeka karena membayar (tebusan) maupun tetap menjadi budak karena tidak mampu, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ تَبَعًا لَهَا فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ لَمْ يَكُنْ تَبَعًا لَهَا فِي الْعِتْقِ الْحَادِثِ عَنِ الْكِتَابَةِ

Salah satunya adalah bahwa ketika ia tidak menjadi pengikutnya dalam akad kitābah, maka ia juga tidak menjadi pengikutnya dalam pembebasan (ʿitq) yang terjadi karena kitābah.

وَالثَّانِي أَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ لَمَّا كَانَ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ اللُّزُومِ وَالْفَسْخِ لَمْ يَنْتَشِرْ حُكْمُهُ إِلَى الْوَلَدِ كَالرَّهْنِ وَالْإِجَارَةِ وَخَالَفَ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ وَخَالَفَ وَلَدُ الْمُكَاتَبِ لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْمِلْكِ وَإِذَا ثَبَتَ هَذَا فَأَوْلَادُ الْآدِمِيَّاتِ يَنْقَسِمُونَ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ وَلَدُ الْحُرَّةِ حُرٌّ وَوَلَدُ الْأَمَةِ الْقَنِّ عَبْدٌ وَوَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ تَبَعٌ لَهَا وَوَلَدُ الْمُدَبَّرةِ وَالْمُكَاتَبَةِ وَالْمُعْتَقَةِ بِصِفَةٍ فِي كَوْنِهِمْ تَبَعًا على قولين

Kedua, bahwa akad kitābah, karena statusnya yang masih antara wajib dan batal, maka hukumnya tidak berlaku pada anak, sebagaimana pada rahn dan ijārah. Dalam hal ini, anak dari umm al-walad berbeda, demikian pula anak dari mukātab berbeda karena perbedaan keduanya dalam hal kepemilikan. Jika hal ini telah tetap, maka anak-anak dari perempuan (budak) terbagi menjadi empat golongan: anak dari perempuan merdeka adalah merdeka; anak dari budak perempuan murni adalah budak; anak dari umm al-walad mengikuti status ibunya; dan anak dari mudabbirah, mukātabah, serta mu‘taqah bi shifah, status mereka sebagai pengikut masih diperselisihkan menurut dua pendapat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ جُنِيَ عَلَى وَلَدِهَا فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنْ لِلسَّيِّدِ قِيمَتُهُ وَمَا كَانَ لَهُ لِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا تَمْلِكُ وَلَدَهَا وَيُؤْخَذُ السَّيِّدُ بِنَفَقَتِهِ وَإِنِ اكْتَسَبَ أَنْفَقَ عَلَيْهِ مِنْهُ وَوَقَفَ الْبَاقِي وَلَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَخْذُهُ فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ عِتْقِ أُمِّهِ كَانَ لِسَيِّدِهِ وَإِنْ عَتَقَ بِعِتْقِهَا كَانَ مَالُهُ لَهُ وَإِنْ أَعْتَقَهُ السَّيِّدُ جَازَ عِتْقُهُ وَإِنْ أَعْتَقَ ابْنَ الْمُكَاتَبِ مِنْ أَمَتِهِ لَمْ يَجُزْ عِتْقُهُ وَإِنَّمَا فَرَّقْتُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْمُكَاتَبَةَ لَا تَمْلِكُ وَلَدَهَا وَإِنَّمَا حُكْمُهُ حُكْمُهَا وَالْمُكَاتَبُ يَمْلِكُ وَلَدَهُ مِنْ أَمَتِهِ لَوْ كَانَ يَجْرِي عَلَيْهِ رِقٌّ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ أُمَّهُمْ أَحَقُّ بِمَا مَلَكُوا تَسْتَعِينُ بِهِ لِأَنَّهُمْ يُعْتَقُونَ بِعِتْقِهَا وَالْأَوَّلُ أَشْبَهُهُمَا قَالَ الْمُزَنِيُّ الْآخَرُ أَشْبَهُهُمَا بقوله إذا كانوا يعتقون بعتقها فهم أولى بحكمها ومما يثبت ذلك أيضا قوله لو وطئ ابنة مكاتبته أو أمها كان عليه مهر مثلها وهذا يقضي لما وصفت من معنى ولدها

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika terjadi pelanggaran terhadap anak perempuan budak perempuan, maka ada dua pendapat dalam hal ini. Pertama, bahwa tuan berhak atas nilai anak tersebut dan apa pun yang menjadi miliknya, karena perempuan budak tidak memiliki anaknya. Tuan bertanggung jawab atas nafkahnya, dan jika anak itu memperoleh penghasilan, maka nafkah diambil dari penghasilan tersebut dan sisanya ditahan, tidak boleh diambil oleh tuan. Jika anak itu meninggal sebelum ibunya dimerdekakan, maka hartanya menjadi milik tuannya. Jika anak itu merdeka karena ibunya dimerdekakan, maka hartanya menjadi miliknya sendiri. Jika tuan memerdekakan anak itu, maka kemerdekaannya sah. Namun, jika anak dari seorang mukatab (budak yang sedang dalam proses membayar tebusan untuk merdeka) dari budak perempuannya dimerdekakan oleh tuan, maka kemerdekaannya tidak sah. Saya membedakan antara keduanya karena perempuan mukatab tidak memiliki anaknya, dan hukum anaknya mengikuti hukum ibunya, sedangkan mukatab laki-laki memiliki anak dari budak perempuannya jika status anak itu masih budak. Pendapat kedua, bahwa ibu mereka lebih berhak atas apa yang dimiliki anak-anak itu untuk membantunya, karena mereka akan merdeka dengan kemerdekaan ibunya, dan pendapat pertama lebih mendekati kebenaran. Al-Muzani berkata, pendapat kedua lebih mendekati kebenaran menurutnya, karena jika mereka merdeka dengan kemerdekaan ibunya, maka mereka lebih berhak mengikuti hukum ibunya. Yang menguatkan hal ini juga adalah pernyataannya: jika seseorang menggauli anak perempuan mukatab perempuannya atau ibunya, maka ia wajib membayar mahar seperti mahar perempuan sejenisnya, dan ini menunjukkan makna yang telah saya jelaskan tentang status anaknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا تَقَرَّرَ الْقَوْلَانِ فِي وَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ هَلْ يَكُونُ عَبْدًا لِلسَّيِّدِ أَوْ تَبَعًا لِأُمِّهِ فَإِنْ جَعَلْنَاهُ عَبْدًا تَعَلَّقَتْ عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْعَبِيدِ فِي كَسْبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَعِتْقِهِ وَالْجِنَايَةِ عليه سائر أَحْكَامِهِ وَإِنْ جَعَلْنَاهُ تَبَعًا لِأُمِّهِ وَأَحْكَامُهُ مُعْتَبَرَةٌ بِمَا سَنَذْكُرُهُ وَهِيَ تَشْتَمِلُ عَلَى خَمْسَةِ فُصُولٍ

Al-Mawardi berkata: Jika telah tetap dua pendapat mengenai anak dari seorang mukatabah, apakah ia menjadi budak bagi tuan atau mengikuti status ibunya, maka jika kita menganggapnya sebagai budak, maka berlaku atasnya hukum-hukum budak dalam hal penghasilan, nafkah, pembebasan, tindak pidana terhadapnya, dan seluruh hukum lainnya. Namun jika kita menganggapnya mengikuti status ibunya, maka hukum-hukumnya dipertimbangkan sesuai dengan apa yang akan kami sebutkan, yang mencakup lima bagian.

أَحَدُهَا الْجِنَايَةُ عَلَيْهِ وَهِيَ ضَرْبَانِ نَفْسٌ وَطَرَفٌ فَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَى نَفْسِهِ فَضَرْبَانِ خَطَأٌ يُوجِبُ الْمَالَ وَعَمْدٌ يُوجِبُ الْقَوَدَ فَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَيْهِ خَطَأً تُوجِبُ الْمَالَ فَفِيهِ قِيمَتُهُ لِأَنَّهُ قُتِلَ عَبْدًا وَإِنْ كَانَ تَبَعًا وَفِيهَا قَوْلَانِ

Salah satunya adalah tindak pidana terhadapnya, yang terbagi menjadi dua: jiwa dan anggota tubuh. Jika tindak pidana itu mengenai jiwanya, maka ada dua jenis: kesalahan (khatha’) yang mewajibkan pembayaran harta (diyat), dan kesengajaan (‘amdan) yang mewajibkan qishash (balasan setimpal). Jika tindak pidana terhadapnya terjadi karena kesalahan yang mewajibkan pembayaran harta, maka di dalamnya terdapat nilai (ganti rugi) karena ia telah dibunuh sebagai seorang budak, meskipun ia hanya sebagai pengikut, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ قِيمَتَهُ لِأُمِّهِ تَسْتَعِينُ بِهَا فِي كِتَابَتِهَا وَلَا تَكُونُ لِسَيِّدِهَا وَهَذَا اخْتِيَارُ المزني ووجهه شيئان

Salah satunya adalah bahwa nilainya diberikan kepada ibunya agar ia dapat memanfaatkannya dalam proses penulisannya, dan bukan untuk tuannya. Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, dan alasannya ada dua hal.

أحدها وَهُوَ الَّذِي ذَكَرَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْوَلَدُ تَبَعًا لَهَا يَعْتِقُ بِعِتْقِهَا كَانَتْ أَوْلَى بِقِيمَتِهِ مِنَ السَّيِّدِ الَّذِي لَا يَكُونُ تَبَعًا لَهُ

Salah satunya, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Muzani, adalah bahwa karena anak itu mengikuti ibunya sehingga ia merdeka dengan kemerdekaan ibunya, maka ibu lebih berhak atas nilainya daripada tuan yang tidak menjadi pengikutnya.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا كَانَتْ قِيمَةُ وَلَدِ الْمُكَاتَبِ لَوْ قُتِلَ تَكُونُ لِلْمُكَاتَبِ دُونَ السَّيِّدِ كَذَلِكَ وَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ إِذَا قُتِلَ

Kedua, karena nilai anak dari seorang mukatab, jika ia terbunuh, menjadi milik mukatab dan bukan milik tuan, demikian pula anak perempuan mukatabah jika ia terbunuh.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ قِيمَةَ الْوَلَدِ تَكُونُ لِلسَّيِّدِ دُونَ الْأُمِّ وَوَجْهُهُ شَيْئَانِ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Imam Syafi‘i, adalah bahwa nilai (harga) anak menjadi milik tuan (pemilik budak) dan bukan milik ibu, dan alasannya ada dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لما كانت قيمتها للسيد لو قتل كَانَ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ لَهُ قِيمَةُ وَلَدِهَا

Salah satunya adalah bahwa ketika nilai (budak perempuan) itu menjadi milik tuannya, maka jika ia dibunuh, lebih utama lagi jika nilai anaknya juga menjadi milik tuannya.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مَمْلُوكٌ لِلسَّيِّدِ دُونَ الْأُمِّ فَكَانَ بِقِيمَتِهِ أَحَقَّ مِنَ الْأُمِّ وَبِهَذَا الْمَعْنَى فَرَّقْنَا بَيْنَ وَلَدِ الْمُكَاتَبِ وَوَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ يَمْلِكُ وَلَدَهُ وَالْمُكَاتَبَةَ لَا تَمْلِكُ وَلَدَهَا وَاحْتِجَاجُ الْمُزَنِيِّ بِأَنَّهُ تَبَعٌ لِأُمِّهِ لَا يُوجِبُ أَنْ تَخْتَصَّ بِقِيمَتِهِ لِأَنَّ وَلَدَ أُمِّ الْوَلَدِ تَبَعٌ لَهَا يُعْتَقُ بِعِتْقِهَا وَلَا تَمْلِكُ قِيمَتَهُ إِنْ قُتِلَ

Kedua, bahwa ia adalah milik tuannya, bukan milik ibunya, sehingga tuan lebih berhak atas nilainya daripada ibunya. Dengan makna inilah kami membedakan antara anak laki-laki mukatab dan anak perempuan mukatabah, karena mukatab memiliki hak kepemilikan atas anaknya, sedangkan mukatabah tidak memiliki hak kepemilikan atas anaknya. Dalil yang digunakan oleh al-Muzani bahwa anak itu mengikuti ibunya tidak mewajibkan bahwa ibunya berhak atas nilainya, karena anak dari umm al-walad pun mengikuti ibunya, ia merdeka dengan kemerdekaan ibunya, namun ibunya tidak memiliki hak atas nilainya jika ia terbunuh.

وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَيْهِ عَمْدًا يُوجِبُ الْقَوَدَ فَإِنْ جَعَلْنَا قِيمَتَهُ فِي الْخَطَأِ لِلسَّيِّدِ فَالْقَوَدُ فِي الْعَمْدِ مَرْدُودٌ إِلَى خِيَارِ السَّيِّدِ فَإِنِ اقْتَصَّ أَوْ عَفَا فَلَا اعْتِرَاضَ لِلْأُمِّ عَلَيْهِ وَإِنْ جَعَلْنَا قِيمَتَهُ لِلْأُمِّ فَإِنِ اقْتَصَّتْ كَانَ لَهَا وَلَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ بَيْعُهَا وَإِنْ عَفَتْ عَنْهُ إِلَى الْمَالِ كَانَ لَهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا وَإِنْ عَفَتْ عَنْهُ كَانَ فِي صِحَّةِ عَفْوِهَا قَوْلَانِ مِنَ اخْتِلَافِ الْقَوْلَيْنِ فِي قَتْلِ الْعَمْدِ هَلْ يُوجِبُ الْقَوَدَ وَحْدَهُ أَوْ يُوجِبُ أَحَدَ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْقَوَدِ أَوِ الدِّيَةِ

Jika tindak pidana terhadapnya dilakukan secara sengaja yang mewajibkan qishāsh, maka jika kita menetapkan nilainya dalam kasus kesalahan (khathā’) untuk tuannya, maka qishāsh dalam kasus sengaja dikembalikan kepada pilihan tuan; jika ia menuntut qishāsh atau memaafkan, maka ibu tidak berhak memprotesnya. Namun jika kita menetapkan nilainya untuk ibu, maka jika ibu menuntut qishāsh, itu menjadi haknya dan tuan tidak berhak menjualnya. Jika ibu memaafkan dengan mengambil harta, maka itu menjadi haknya untuk digunakan sebagai bantuan dalam penulisan (kitābah)-nya. Jika ibu memaafkan tanpa syarat, maka dalam keabsahan maafnya terdapat dua pendapat, yang bersumber dari perbedaan dua pendapat dalam kasus pembunuhan sengaja: apakah hanya mewajibkan qishāsh saja atau mewajibkan salah satu dari dua hal, yaitu qishāsh atau diyat.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ مُوجِبٌ لِلْقَوَدِ وَحْدَهُ وَلَا يُوجِبُ الْمَالَ بِاخْتِيَارِ الْوَلِيِّ كَانَ عَفْوُ الْأُمِّ عَنْهُ جَائِزًا أَذِنَ فِيهِ السَّيِّدُ أَوْ لَمْ يَأْذَنْ لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا حَقَّ لَهُ فِي الْقَوَدِ فَيُمْنَعُ مِنَ الْعَفْوِ عَنْهُ وَالْمَالُ لَا يَجِبُ إِلَّا بِاخْتِيَارِ الْأُمِّ وَلَيْسَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجْبِرَهَا عَلَى تَمَلُّكِهِ وَإِنْ قِيلَ إِنَّهُ مُوجِبٌ لِأَحَدِ أَمْرَيْنِ لَمْ يَصِحَّ عَفْوُهَا عَنْهُمَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ لِمَا فِيهِ مِنَ اسْتِهْلَاكِ مَالٍ قَدْ مَلَكَ الْحَجْرَ عَلَيْهَا فِيهِ وَفِي صِحَّةِ عَفْوِهَا بِإِذْنِهِ قَوْلَانِ كَالْهِبَةِ

Jika dikatakan bahwa hal itu hanya mewajibkan qawad (qishash) saja dan tidak mewajibkan pembayaran harta kecuali atas pilihan wali, maka pengampunan ibu terhadapnya adalah sah, baik tuannya mengizinkan atau tidak, karena tuan tidak memiliki hak dalam qawad sehingga ia tidak dapat melarang pengampunan atasnya, dan harta tidak wajib kecuali atas pilihan ibu, serta tuan tidak berhak memaksanya untuk memilikinya. Namun, jika dikatakan bahwa hal itu mewajibkan salah satu dari dua hal, maka pengampunan ibu terhadap keduanya tidak sah tanpa izinnya, karena di dalamnya terdapat penghilangan harta yang ia berhak membatasi kepemilikannya atas ibu. Adapun tentang sahnya pengampunan ibu dengan izinnya, terdapat dua pendapat, sebagaimana dalam masalah hibah.

وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ عَلَيْهِ فِي طَرَفٍ فَهِيَ ضَرْبَانِ أَيْضًا عَمْدٌ وَخَطَأٌ

Dan jika tindak pidana itu terjadi pada anggota tubuh, maka hukumnya juga terbagi menjadi dua, yaitu sengaja (‘amdan) dan tidak sengaja (khaṭa’an).

فَإِنْ كَانَتْ خَطَأً يُوجِبُ الْمَالَ فَفِيهَا ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Jika kesalahan tersebut mewajibkan pembayaran harta, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّ الْأَرْشَ فِيهَا لِلسَّيِّدِ

Salah satunya adalah bahwa arsy dalam hal ini menjadi hak tuan.

وَالثَّانِي لِلْأُمِّ

Dan yang kedua (bagian warisan) untuk ibu.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى الْوَلَدِ فَإِنْ عَتَقَ بِعِتْقِ أُمِّهِ كَانَ الْأَرْشُ لَهُ وَإِنْ رَقَّ بِرِقِّهَا كَانَ لِلسَّيِّدِ وَإِنْ كَانَتْ عَمْدًا يُوجِبُ الْقَوَدَ فَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى مُسْتَحِقِّ الْأَرْشِ فِي الْخَطَأِ فَإِنْ جَعَلْنَاهُ لِلسَّيِّدِ كَانَ الْقَوَدُ فِي طَرَفِهِ مْسُتَحَقًّا لِلْأُمِّ وَإِنْ جَعَلْنَاهُ مَوْقُوفًا عَلَى عِتْقِ الْوَلَدِ وَرِقِّهِ فَلَا حَقَّ لِلْأُمِّ فِي الْقَوَدِ وَهُوَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ الْوَلَدِ وَالسَّيِّدِ فَإِنِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ جَازَ أَنْ يَسْتَوْفِيَاهُ وَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ أَحَدُهُمَا لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ إِنْ تَفَرَّدَ بِهِ الْوَلَدُ جَازَ أَنْ يَكُونَ لِلسَّيِّدِ إِنْ رَقَّ وَإِنْ تَفَرَّدَ بِهِ السَّيِّدُ جَازَ أَنْ يَكُونَ لِلْوَلَدِ إِنْ عَتَقَ فَلِذَلِكَ مُنِعَ أَحَدُهُمَا مِنَ التَّفَرُّدِ بِهِ حَتَّى يَجْتَمِعَا عَلَيْهِ أَوْ تَسْتَقِرَّ أُمُّ الْوَلَدِ عَلَى عِتْقٍ فَيَكُونَ الْقَوَدَ لَهُ أَوْ عَلَى رِقٍّ فَيَكُونَ لِسَيِّدِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Ketiga, bahwa hal ini tergantung pada status anak. Jika anak merdeka karena kemerdekaan ibunya, maka diyat (arsh) menjadi miliknya. Jika anak tetap berstatus budak karena ibunya juga budak, maka diyat menjadi milik tuan (sayyid). Jika perkaranya adalah pembunuhan sengaja (‘amdan) yang mewajibkan qishash (qawad), maka hal itu bergantung pada siapa yang berhak atas diyat dalam kasus pembunuhan tidak sengaja (khatha’). Jika diyat kami tetapkan untuk tuan, maka qishash pada anggota tubuh menjadi hak ibu. Jika kami tetapkan tergantung pada kemerdekaan atau perbudakan anak, maka ibu tidak memiliki hak atas qishash, dan statusnya tergantung antara anak dan tuan. Jika keduanya sepakat, maka boleh bagi mereka untuk menuntut qishash. Namun jika salah satu dari mereka melakukannya sendiri, maka tidak diperbolehkan. Karena jika anak melakukannya sendiri, bisa jadi hak itu menjadi milik tuan jika anak tetap budak. Jika tuan melakukannya sendiri, bisa jadi hak itu menjadi milik anak jika ia merdeka. Oleh karena itu, keduanya dilarang untuk bertindak sendiri hingga mereka sepakat, atau status ibu anak itu telah tetap, apakah ia merdeka sehingga qishash menjadi hak anak, atau tetap budak sehingga menjadi milik tuannya. Dan Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْفَصْلُ الثَّانِي مِنْ أَحْكَامِ الْوَلَدِ فِي كَسْبِهِ إِذَا كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاكْتِسَابِ وَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Bagian kedua membahas hukum-hukum mengenai anak dalam hal penghasilannya apabila ia termasuk orang yang mampu bekerja, dan dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّ كَسْبَ الْوَلَدِ لِأُمِّهِ تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا لِأَنَّهُ تَبَعٌ لَهَا فِي الْعِتْقِ يُعْتَقُ بِعِتْقِهَا فَكَانَ كَسْبُهُ مِثْلَ كَسْبِهَا وَيَكُونُ لِلْأُمِّ أَنْ تَتَمَلَّكَ أَكْسَابَهُ لِوَقْتِهَا

Salah satunya adalah bahwa penghasilan anak bagi ibunya dapat digunakan sebagai bantuan dalam penulisan (akad pembebasan) karena anak merupakan pengikut ibunya dalam hal kemerdekaan; ia merdeka karena kemerdekaan ibunya, sehingga penghasilannya sama seperti penghasilan ibunya, dan ibu berhak memiliki penghasilan anaknya selama masa tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّ كَسْبَهُ لِلسَّيِّدِ لِأَنَّهُ مَمْلُوكُهُ وَالْأُمُّ إِنَّمَا مَلَكَتْ أَكْسَابَ نَفْسِهَا بِالْعَقْدِ وَالْوَلَدُ تَبَعٌ لَهَا فِي الْعِتْقِ دُونَ الْعَقْدِ فَخَرَجَتْ أَكْسَابُهُ عَنِ الْعَقْدِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَتَمَلَّكَ أَكْسَابَهُ لِوَقْتِهَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa hasil usaha anak adalah milik tuannya, karena ia adalah budaknya. Sementara sang ibu hanya memiliki hasil usahanya sendiri melalui akad, dan anak mengikuti ibunya dalam hal pembebasan (ʿitq), bukan dalam akad. Maka, hasil usaha anak keluar dari ketentuan akad. Berdasarkan hal ini, tuan berhak memiliki hasil usaha anak tersebut pada waktunya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ إنْ أَكْسَابَهُ مَوْقُوفَةٌ عَلَى عِتْقِهِ وَرِقِّهِ لِاخْتِصَاصِهِ بِأَكْسَابِهِ وَتَرَدَّدُ حَالُهُ بَيْنَ أَنْ يَعْتِقَ فَيَمْلِكَهَا أَوْ يَرِقَّ فَتَكُونَ لِسَيِّدِهِ فَلِذَلِكَ وَجَبَ وَقْفُهَا حَتَّى تَسْتَقِرَّ حَالُهُ عَلَى أَحَدِ أَمَرَيْهِ فَعَلَى هَذَا إِنْ عَتَقَتِ الْأُمُّ بِمَا أَدَّتْهُ مِنْ كَسْبِهَا مَلَكَ الْوَلَدُ أَكْسَابَ نَفْسِهِ لِأَنَّهُ قَدْ عَتَقَ بِعِتْقِ أُمِّهِ وَإِنْ رَقَّتِ الْأُمُّ بِالْعَجْزِ وَلَمْ يَكُنْ فِي كَسْبِ الْوَلَدِ وَفَاءٌ بِالْأَدَاءِ مَلَكَ السَّيِّدُ أَكْسَابَ الْوَلَدِ لِأَنَّهُ قَدْ رَقَّ بِرِقِّ أُمِّهِ وَإِنْ كَانَ فِي كَسْبِ الْوَلَدِ حِينَ عَجَزَتْ وَفَاءٌ بِمَالِ كِتَابَتِهَا فَفِي اسْتِحْقَاقِهَا لَهُ عِنْدَ وَقْفِهِ لِيَتَحَرَّرَ عِتْقُهَا بِأَدَائِهِ قَوْلَانِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa penghasilan anak tergantung pada status merdeka atau budaknya, karena ia memiliki kekhususan terhadap penghasilannya dan keadaannya masih belum pasti, apakah ia akan merdeka sehingga ia berhak memilikinya, atau tetap menjadi budak sehingga penghasilan itu menjadi milik tuannya. Oleh karena itu, penghasilan tersebut harus ditangguhkan sampai statusnya jelas pada salah satu dari dua keadaan itu. Berdasarkan pendapat ini, jika sang ibu merdeka dengan pembayaran dari penghasilannya, maka anak berhak atas penghasilan dirinya sendiri karena ia telah merdeka dengan merdekanya sang ibu. Namun, jika sang ibu tetap menjadi budak karena tidak mampu membayar dan penghasilan anak tidak cukup untuk melunasi pembayaran, maka tuan berhak atas penghasilan anak karena ia tetap menjadi budak dengan status budak ibunya. Jika pada saat sang ibu tidak mampu membayar, penghasilan anak cukup untuk melunasi pembayaran kitabah ibunya, maka dalam hal hak ibu atas penghasilan itu ketika penghasilannya ditangguhkan agar kemerdekaannya dapat terwujud dengan pembayaran tersebut, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَحِقُّهُ لِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ بَيْنَ الْوَلَدِ وَالسَّيِّدِ فَلَمْ يَكُنْ لِلْأُمِّ فِيهِ حَقٌّ

Salah satunya tidak berhak mendapatkannya karena statusnya tergantung antara anak dan tuan, sehingga ibu tidak memiliki hak atasnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي تَسْتَحِقُّهُ فِي تَحْرِيرِ عِتْقِهَا لِأَنَّهُ وَقْفٌ طَلَبًا لِحَظِّ الْوَلَدِ إِنْ أُعْتِقَ فَإِذَا أَخَذَتْهُ الْأُمُّ فَمُعْتَقٌ كَانَ أَحْظَّ لِلْوَلَدِ مِنْ أَنْ يَأْخُذَهُ السَّيِّدُ فيرق

Pendapat kedua menyatakan bahwa ibu berhak mendapatkannya dalam rangka memerdekakan dirinya, karena hal itu merupakan bentuk penahanan (wakaf) demi kemaslahatan anak, jika ia dimerdekakan. Maka apabila ibu yang mengambilnya, kemerdekaan itu lebih memberikan kemaslahatan bagi anak daripada jika tuan yang mengambilnya lalu menjualnya.

فَأَمَّا إِنْ مَاتَ هَذَا الْوَلَدُ وَكَسْبُهُ مَوْقُوفٌ قَبْلَ أَنْ يَعْتِقَ أَوْ يَرِقَّ فَفِي مُسْتَحِقِّ كَسْبِهِ قَوْلَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى مُسْتَحِقِّ قِيمَتِهِ لَوْ قُتِلَ

Adapun jika anak ini meninggal dunia dan hasil kerjanya masih tergantung sebelum ia merdeka atau menjadi budak, maka mengenai siapa yang berhak atas hasil kerjanya terdapat dua pendapat yang didasarkan pada siapa yang berhak atas nilainya jika ia dibunuh.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِأُمِّهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ قِيمَتَهُ لَهَا

Salah satunya menjadi milik ibunya jika dikatakan bahwa nilainya adalah untuknya.

وَالثَّانِي لِسَيِّدِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ قِيمَتَهُ لَهُ

Dan yang kedua adalah milik tuannya, jika dikatakan bahwa nilainya adalah milik tuannya.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ مِنْ أَحْكَامِ الْوَلَدِ فِي نَفَقَتِهِ وَلَهُ حَالَتَانِ

Bab ketiga membahas hukum-hukum anak terkait nafkahnya, dan anak memiliki dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ مُكْتَسِبًا فَتَكُونَ نَفَقَتُهُ فِي كَسْبِهِ لِأَنَّ لِلْمُكْتَسِبِ مَا فَضَلَ عَنْهَا

Salah satunya adalah apabila seseorang bekerja, maka nafkahnya diambil dari hasil kerjanya, karena bagi orang yang bekerja, kelebihan dari hasil kerjanya adalah miliknya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُكْتَسِبٍ فَهِيَ مُعْتَبَرَةٌ بِمُسْتَحِقِّ كَسْبِهِ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْأُمَّ تَسْتَحِقُّهُ كَانَتِ النَّفَقَةُ عَلَيْهَا وَإِنْ قِيلَ يَكُونُ مَوْقُوفًا فَعَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan kedua adalah apabila (anak) tersebut bukanlah seorang yang memperoleh penghasilan, maka statusnya mengikuti pihak yang berhak atas penghasilannya. Jika dikatakan bahwa ibunya yang berhak atas penghasilannya, maka nafkah menjadi tanggung jawab ibunya. Namun jika dikatakan bahwa statusnya masih tergantung (belum jelas), maka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ نَفَقَتَهُ عَلَى سَيِّدِهِ لِكَوْنِهِ عَلَى مِلْكِهِ

Salah satunya adalah bahwa nafkahnya menjadi tanggungan tuannya karena ia berada dalam kepemilikannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي فِي بَيْتِ الْمَالِ فِي سَهْمِ الْمَصَالِحِ لِأَنَّهُ مِنْهَا وَهَكَذَا لَوْ مَاتَ كَانَتْ مَؤُونَتُهُ وَدَفْنُهُ عَلَى هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

Pendapat kedua adalah bahwa (biaya tersebut) diambil dari Baitul Mal pada bagian untuk kemaslahatan, karena hal itu termasuk di dalamnya. Demikian pula, jika ia meninggal dunia, maka biaya perawatannya dan pemakamannya ditanggung menurut dua pendapat ini.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ مِنْ أَحْكَامِ الْوَلَدِ أَنْ يُعْتِقَهُ السَّيِّدُ وَعِتْقُهُ مُعْتَبَرٌ بِأَيِّهِمَا يَمْلِكُ كَسْبَهُ فَإِنْ قِيلَ إِنَّ كَسْبَهُ لِلْأُمِّ لَمْ يَنْفُذْ عِتْقُ السَّيِّدِ لِمَا فِي عِتْقِهِ مِنْ تَفْوِيتِ كَسْبِهِ عَلَيْهَا

Bab keempat dari hukum-hukum tentang anak adalah bahwa tuannya dapat memerdekakannya, dan kemerdekaannya itu dipertimbangkan berdasarkan siapa di antara keduanya yang memiliki hak atas hasil usahanya. Jika dikatakan bahwa hasil usahanya milik ibunya, maka kemerdekaan yang dilakukan oleh tuan tidak sah, karena dalam memerdekakannya terdapat penghilangan hak hasil usaha dari ibunya.

وَإِنْ قِيلَ إِنَّ كَسْبَهُ لِلسَّيِّدِ نَفَذَ عِتْقُهُ كَعِتْقِ غَيْرِهِ مِنْ عَبِيدِهِ وَإِنْ قِيلَ كَسْبُهُ مَوْقُوفٌ فَفِي نُفُوذِ عِتْقِهِ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي عَجْزِ الْأُمِّ هَلْ تَسْتَحِقُّ إِتْمَامَ كِتَابَتِهَا بِكَسْبِهِ فَإِنْ قِيلَ لَهَا إِتْمَامُ كِتَابَتِهَا بِكَسْبِهِ لَمْ يَنْفُذْ عِتْقُ السَّيِّدِ وَإِنْ قِيلَ لَيْسَ لَهَا ذَلِكَ نَفَذَ عِتْقُ السَّيِّدِ وَكَذَلِكَ لَوْ كَاتَبَهُ السَّيِّدُ كَانَتْ كِتَابَتُهُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى نُفُوذِ عِتْقِهِ تَصِحُّ إِنْ جَازَ عِتْقُهُ وَتَبْطُلُ إِنْ رُدَّ عِتْقُهُ فَإِذَا صَحَّتْ كِتَابَتُهُ عَتَقَ بِأَسْبَقِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ أَدَائِهِ وَأَدَاءِ أُمِّهِ لِأَنَّهُ إِذَا أُعْتِقَ بِانْفِرَادِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَجَبَ أَنْ يَتَحَرَّرَ عِتْقُهُ إِذَا اجْتَمَعَا بِوُجُودِ أَسْبَقِهِمَا فَإِنْ سَبَقَ أَدَاؤُهُ عَلَى أَدَاءِ أُمِّهِ عَتَقَ بِأَدَائِهِ عَنْ كِتَابَتِهِ وَإِنْ سَبَقَ أَدَاءُ أُمِّهِ عَلَى أَدَائِهِ عَتَقَ بِأَدَاءِ أَمِّهِ تَبَعًا وَبَطَلَتْ كِتَابَتُهُ بِعِتْقِهِ

Jika dikatakan bahwa hasil usahanya menjadi milik tuannya, maka merdekanya dia sah seperti kemerdekaan budak-budak tuan yang lain. Namun jika dikatakan bahwa hasil usahanya masih ditangguhkan, maka dalam hal sah atau tidaknya kemerdekaannya terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai ketidakmampuan sang ibu: apakah ia berhak menyelesaikan akad mukatabah-nya dengan hasil usaha anaknya? Jika dikatakan bahwa sang ibu berhak menyelesaikan akad mukatabah-nya dengan hasil usaha anaknya, maka kemerdekaan yang diberikan tuan tidak sah. Namun jika dikatakan bahwa sang ibu tidak berhak atas hal itu, maka kemerdekaan yang diberikan tuan menjadi sah. Demikian pula jika tuan melakukan akad mukatabah dengan anak tersebut, maka akad mukatabah-nya bergantung pada sah atau tidaknya kemerdekaannya: akad itu sah jika kemerdekaannya dibolehkan, dan batal jika kemerdekaannya ditolak. Jika akad mukatabah-nya sah, maka ia merdeka dengan yang lebih dahulu dari dua hal: pelunasan pembayaran oleh dirinya atau oleh ibunya. Sebab, jika masing-masing dari keduanya dapat memerdekakannya secara sendiri-sendiri, maka wajib kemerdekaannya terjadi jika keduanya berkumpul dengan terwujudnya yang lebih dahulu di antara keduanya. Jika pelunasan pembayaran oleh dirinya lebih dahulu daripada ibunya, maka ia merdeka karena pelunasan akad mukatabah-nya. Namun jika pelunasan pembayaran oleh ibunya lebih dahulu daripada dirinya, maka ia merdeka mengikuti kemerdekaan ibunya dan akad mukatabah-nya menjadi batal karena ia telah merdeka.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْفَصْلُ الْخَامِسُ مِنْ أَحْكَامِ الْوَلَدِ أَنْ تَكُونَ بِنْتًا فَيَطَؤُهَا السَّيِّدُ فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ لِأَنَّهَا مِلْكُهُ وَالْوَلَدُ حُرٌّ لَاحِقٌ بِهِ وَلَا قِيمَةَ عَلَيْهِ لِعُلُوقِهِ حُرًّا لِأَنَّهُ مِنْ أَمَتِهِ وَقَدْ صَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَهِيَ عَلَى كِتَابَتِهَا تُعْتَقُ بِأَعْجَلِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ أَدَائِهَا أَوْ مَوْتِ سَيِّدِهَا وَوُجُوبُ مَهْرِ الْمِثْلِ عَلَيْهِ مَبْنِيٌّ عَلَى حُكْمِ الْكَسْبِ فَيَكُونُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Bab kelima dari hukum-hukum mengenai anak adalah jika anak tersebut perempuan, lalu tuannya menggaulinya, maka tidak ada had atasnya karena ia adalah miliknya. Anak tersebut menjadi merdeka dan nasabnya mengikuti tuannya, serta tidak ada kewajiban membayar nilai (diyat) atasnya karena ia telah menjadi merdeka, sebab ia berasal dari budak perempuannya dan dengan kelahiran anak itu, budak perempuan tersebut menjadi umm walad. Jika ia masih dalam status mukatab, maka ia dimerdekakan dengan salah satu dari dua hal yang lebih dahulu terjadi, yaitu pelunasan pembayaran atau wafatnya tuan. Kewajiban membayar mahar mitsil atas tuan didasarkan pada hukum kasb (penghasilan), sehingga terdapat tiga pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهَا لَا مَهْرَ عَلَيْهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْكَسْبَ لَهُ

Salah satunya adalah tidak ada mahar atasnya jika dikatakan bahwa hasil usaha itu miliknya.

وَالثَّانِي عَلَيْهِ مَهْرُ مِثْلِهَا لِلْأُمِّ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْكَسْبَ لِلْأُمِّ يُؤَدِّيهِ إِلَيْهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا

Dan yang kedua, ia wajib membayar mahar mitsil kepada ibu jika dikatakan bahwa hasil usaha itu milik ibu; ia harus memberikannya kepada ibu agar dapat digunakan sebagai bantuan dalam menebus dirinya.

وَالثَّالِثُ يُوقَفُ مَهْرُ مِثْلِهَا إِذَا قِيلَ إِنَّ الْكَسْبَ مَوْقُوفٌ فَعَلَى هَذَا فِي كَيْفِيَّةِ وَقْفِهِ وَجْهَانِ

Ketiga, mahar mitsilnya ditangguhkan jika dikatakan bahwa hasil usaha itu ditangguhkan. Berdasarkan hal ini, dalam tata cara penangguhannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُوقَفُ بَعْدَ قَبْضِهِ مِنَ السَّيِّدِ

Salah satunya ditahan setelah diterima dari tuannya.

وَالثَّانِي يُوقَفُ فِي ذِمَّةِ السَّيِّدِ وَهُوَ عَلَى الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ كُلِّهَا مَمْنُوعٌ مِنْ وَطْءِ هَذَا الْوَلَدِ إِذَا جُعِلَ تَبَعًا لِأُمِّهِ سَوَاءٌ وَجَبَ عَلَيْهِ الْمَهْرُ أَوْ سَقَطَ عَنْهُ لِقُصُورِ مِلْكِهِ وَلِمَصِيرِهِ فِي حُكْمِ أُمِّهِ

Yang kedua, menjadi tanggungan dalam dzimmah tuannya, dan dalam ketiga keadaan tersebut, semuanya dilarang menggauli anak ini jika ia dijadikan pengikut ibunya, baik mahar wajib atasnya maupun gugur darinya karena kepemilikannya tidak sempurna, dan karena kedudukannya mengikuti hukum ibunya.

فَأَمَّا ولد وَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَلَدُ الْبَنَاتِ كَالْبَنَاتِ وَوَلَدُ الْبَنِينَ كَالْأُمَّهَاتِ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ وَلَدَ الْبِنْتِ تَبَعٌ لَهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَوَلَدُ الِابْنِ تَبَعٌ لِأُمِّهِ فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَلِذَلِكَ صَارَ وَلَدُ الْبَنَاتِ كَالْبَنَاتِ وَوَلَدُ الْبَنِينَ كالأمهات

Adapun anak dari anak perempuan dan anak dari anak laki-laki seorang mukatab, Imam Syafi‘i berpendapat bahwa anak-anak perempuan diperlakukan seperti anak perempuan, dan anak-anak laki-laki diperlakukan seperti ibu-ibu mereka. Pendapat ini benar, karena anak perempuan mengikuti status ibunya dalam hal kemerdekaan dan perbudakan, demikian pula anak laki-laki mengikuti status ibunya dalam hal kemerdekaan dan perbudakan. Oleh karena itu, anak-anak perempuan diperlakukan seperti anak perempuan, dan anak-anak laki-laki diperlakukan seperti ibu-ibu mereka.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَهُوَ مَمْنُوعٌ مِنْ وَطْءِ مُكَاتَبَتِهِ فَإِنْ وَطِئَهَا طَائِعَةً فَلَا حَدَّ وَيُعَزَّرَانِ وَإِنْ أَكْرَهْهَا فَلَهَا مهر مثلها قال المزني ويعزر فِي قِيَاسِ قَوْلِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seorang tuan dilarang menggauli budak mukatabnya. Jika ia menggaulinya dengan kerelaan budak tersebut, maka tidak ada hukuman had, namun keduanya dikenai ta‘zīr. Jika ia memaksanya, maka budak tersebut berhak mendapatkan mahar seperti wanita sepadannya. Al-Muzani berkata: Menurut qiyās pendapat beliau, tuan tersebut juga dikenai ta‘zīr.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لَيْسَ لِلسَّيِّدِ وَطْءُ مُكَاتَبَتِهِ لِأَنَّهَا بِالْكِتَابَةِ خَارِجَةٌ عَنْ تَصَرُّفِهِ وَمَالِكَةٌ لِتَصَرُّفِ نَفْسِهَا وَبِذَلِكَ فَارَقَتْ أُمَّ الْوَلَدِ وَالْمُدَبَّرةَ لِبَقَائِهَا عَلَى تَصَرُّفِ السَّيِّدِ فَجَازَ لَهُ وَطْؤُهَا فَإِنْ وَطِئَ السَّيِّدُ مُكَاتَبَتَهُ فَلَا حَدَّ عَلَيْهِمَا لِأَنَّ بَقَاءَ رِقِّهِ عَلَيْهَا مِنْ أَقْوَى الشُّبَهِ فِي سُقُوطِ الْحَدِّ عَنْهُمَا سَوَاءٌ عَلِمَا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لَمْ يَعْلَمَا لَكِنْ إِنْ عَلِمَا بِالتَّحْرِيمِ عُزِّرَا وَإِنْ لَمْ يَعْلَمَا لَمْ يُعَزَّرَا وَإِنْ عَلِمَ بِهِ أَحَدُهُمَا وَجَهِلَهُ الْآخَرُ عُزِّرَ الْعَالِمُ مِنْهُمَا دُونَ الْجَاهِلِ وَعَلَيْهِ لَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا لأنه قَدْ مَلَكَتْ بِالْكِتَابَةِ كَسْبَهَا وَالْمَهْرُ كَسْبٌ فَيُقَدِّرُهُ الْحَاكِمُ وَيَتَقَاصَّا بِهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ إِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِهَا وَلَا يَتَقَاصَّا بِهِ إِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ini benar, tidak halal bagi tuan untuk menggauli budak mukatabnya, karena dengan adanya akad kitabah, ia telah keluar dari kekuasaan tuannya dan menjadi pemilik atas dirinya sendiri. Dengan demikian, ia berbeda dengan umm al-walad dan budak mudabbarah, karena keduanya masih berada di bawah kekuasaan tuan, sehingga tuan boleh menggauli mereka. Jika tuan menggauli budak mukatabnya, maka tidak ada hukuman had atas keduanya, karena status perbudakan yang masih tersisa padanya merupakan salah satu syubhat terkuat yang menggugurkan hukuman had atas mereka, baik keduanya mengetahui keharamannya maupun tidak. Namun, jika keduanya mengetahui keharamannya, maka keduanya dikenai ta‘zir; jika tidak mengetahui, maka tidak dikenai ta‘zir. Jika salah satu dari keduanya mengetahui dan yang lain tidak, maka yang mengetahui saja yang dikenai ta‘zir, sedangkan yang tidak mengetahui tidak. Tuan wajib memberikan mahar yang setara kepadanya, karena dengan akad kitabah ia telah memiliki penghasilan sendiri, dan mahar termasuk penghasilan. Maka hakim menetapkan nilainya dan dilakukan kompensasi dari harta kitabah jika sejenis; jika tidak sejenis, maka tidak dilakukan kompensasi.

فَإِنْ أَحْبَلَهَا كَانَ وَلَدُهَا حُرًّا لَاحِقًا بِهِ لِبَقَاءِ رِقِّهِ عَلَيْهَا وَلَا قِيمَةَ عَلَيْهِ لِوَلَدِهَا لِحُرِّيَّتِهِ عِنْدَ عُلُوقِهِ لِأَنَّهُ ابْنُ أَمَتِهِ وَصَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ وَلَا يُؤَثِّرُ ذَلِكَ فِي كِتَابَتِهَا وَيَعْتِقُ عَلَيْهِ بِأَعْجَلِ الْأَمْرَيْنِ مِنْ أَدَائِهَا أَوْ مَوْتِهِ

Jika ia menghamilinya, maka anaknya menjadi merdeka dan dinisbatkan kepadanya, karena status budaknya masih tetap pada perempuan itu. Tidak ada kewajiban membayar nilai apa pun atas anaknya, karena anak itu telah merdeka sejak ia mulai menempel (di rahim), sebab ia adalah anak dari budak perempuannya dan perempuan itu menjadi umm walad. Hal itu tidak berpengaruh pada status kitabah-nya, dan ia akan merdeka atas tuannya dengan lebih cepat di antara dua hal: pelunasan (kitabah) atau kematian tuannya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَحَكَى عَنِ الشَّافِعِيِّ إِنْ أَكْرَهْهَا فَلَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا فَكَانَ دَلِيلُهُ أَنَّهَا إِنْ طَاوَعَتْهُ فَلَا مهر فَفَرَّقَ الْمُزَنِيُّ فِي مَهْرِ الْكِتَابَةِ بَيْنَ الْمُكْرَهَةِ وَالْمُطَاوِعَةِ

Adapun al-Muzani, ia meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa jika perempuan itu dipaksa, maka ia berhak mendapatkan mahar seperti perempuan sejenisnya. Dalilnya adalah bahwa jika ia melakukannya dengan sukarela, maka tidak ada mahar baginya. Maka al-Muzani membedakan dalam masalah mahar al-kitābah antara perempuan yang dipaksa dan yang melakukannya dengan sukarela.

وَحَكَى الرَّبِيعُ فِي كِتَابِ الْأُمِّ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ عَلَيْهِ مَهْرَ مِثْلِهَا طَائِعَةً أَوْ كارهة وَإِنَّمَا فَرَّقَ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ الطَّائِعَةِ وَالْكَارِهَةِ فِي التَّعْزِيرِ فَجَعَلَهُ الْمُزَنِيُّ فَرْقًا بَيْنَهُمَا فِي الْمَهْرِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا خَرَّجَهُ الْمُزَنِيُّ فِي الْمَهْرِ مِنَ الْغِرَّةِ بَيْنَ الطَّائِعَةِ وَالْكَارِهَةِ فَخَرَّجَهُ بَعْضُهُمْ قَوْلًا ثَانِيًا وَأَجْرَاهُ مَجْرَى الرَّاهِنِ إِذَا أُذِنَ لِلْمُرْتَهِنِ فِي وَطْءِ الْجَارِيَةِ الْمَرْهُونَةِ أَنَّ الْمَهْرَ عَلَى قَوْلَيْنِ لِأَنَّ الطَّائِعَةَ آذِنَةٌ فِي الْإِصَابَةِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَهْرُهَا عَلَى قَوْلَيْنِ وَامْتَنَعَ سَائِرُ أَصْحَابِنَا مِنْ تَخْرِيجِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْمُزَنِيُّ وَسَوَّوْا فِي وُجُوبِ الْمَهْرِ بَيْنَ الطَّائِعَةِ وَالْكَارِهَةِ لِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى حُكْمُ الطَّائِعَةِ وَالْكَارِهَةِ فِي سُقُوطِ الْحَدِّ وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِي وُجُوبِ الْمَهْرِ كَالنِّكَاحِ الْفَاسِدِ يَجِبُ الْمَهْرُ بِالْإِصَابَةِ لِلطَّائِعَةِ وَالْكَارِهَةِ لِاسْتِوَائِهِمَا فِي سُقُوطِ الْحَدِّ فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْمَهْرِ فِي الْمُطَاوَعَةِ وَالْإِكْرَاهِ فَأَصَابَهَا مِرَارًا نَظَرَ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ غُرْمِ الْمَهْرِ فَلَيْسَ لَهَا إِلَّا مَهْرٌ وَاحِدٌ وَإِنْ كَثُرَتِ الْإِصَابَةُ لِتَدَاخُلِ بَعْضِهَا فِي بَعْضٍ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ غُرْمِ الْمَهْرِ بِالْإِصَابَةِ الْأَوْلَى فَعَلَيْهِ مَهْرٌ ثَانٍ بِمَا تَجَدَّدَ مِنَ الْإِصَابَةِ بَعْدَ الْغُرْمِ وَكَذَلِكَ فِي النِّكَاحِ الْفَاسِدِ

Ar-Rabi‘ meriwayatkan dalam Kitab al-Umm dari asy-Syafi‘i bahwa wajib atasnya membayar mahar mitsil, baik perempuan itu rela maupun terpaksa. Asy-Syafi‘i hanya membedakan antara yang rela dan yang terpaksa dalam hal ta‘zīr, lalu al-Muzani menjadikannya sebagai perbedaan antara keduanya dalam hal mahar. Maka para sahabat kami berbeda pendapat mengenai apa yang dikeluarkan al-Muzani tentang mahar dari ghirrah antara yang rela dan yang terpaksa. Sebagian mereka mengeluarkannya sebagai pendapat kedua dan memperlakukannya seperti kasus rahin (orang yang menggadaikan) jika diizinkan kepada murtahin (penerima gadai) untuk menggauli budak yang digadaikan, bahwa mahar itu ada dua pendapat, karena yang rela berarti mengizinkan untuk digauli, sehingga wajib mahar atas dua pendapat. Namun mayoritas sahabat kami menolak mengeluarkan pendapat seperti yang dipegang al-Muzani dan mereka menyamakan kewajiban mahar antara yang rela dan yang terpaksa, karena ketika hukum antara keduanya sama dalam gugurnya had, maka wajib pula disamakan dalam kewajiban mahar, sebagaimana dalam nikah fāsid (pernikahan tidak sah) tetap wajib mahar karena persetubuhan, baik yang rela maupun yang terpaksa, karena keduanya sama dalam gugurnya had. Maka apabila telah tetap kewajiban mahar dalam keadaan suka maupun terpaksa, lalu ia menggaulinya berulang kali, maka dilihat: jika sebelum membayar mahar, maka ia hanya berhak atas satu mahar saja meskipun persetubuhan terjadi berkali-kali, karena sebagian perbuatan itu masuk ke dalam sebagian yang lain. Namun jika setelah membayar mahar karena persetubuhan pertama, maka wajib atasnya mahar kedua atas persetubuhan yang terjadi setelah pembayaran, demikian pula dalam nikah fāsid.

وَمِثَالُهُ السَّارِقُ إِذَا تَكَرَّرَتْ مِنْهُ السَّرِقَةُ فَإِنْ كَانَ بَعْدَ قَطْعِ السَّرِقَةِ الْأَوْلَى قُطِعَ لِلثَّانِيَةِ وَإِنْ كَانَ قَبْلَ أَنْ يُقْطَعَ لِلْأَوْلَى قُطِعَ قَطْعًا وَاحِدًا لِلْأَوْلَى والثانية

Contohnya adalah pencuri; jika pencurian berulang dilakukan olehnya, maka jika pencurian kedua terjadi setelah tangan dipotong karena pencurian pertama, maka dipotong lagi untuk pencurian kedua. Namun, jika pencurian kedua terjadi sebelum tangan dipotong untuk pencurian pertama, maka hanya dilakukan satu kali pemotongan untuk pencurian pertama dan kedua.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي وَلَدِهَا فَقَالَتْ وَلَدْتُ بَعْدَ الْكِتَابَةِ وَقَالَ السَّيِّدُ بَلْ قَبْلُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ مَعَ يَمِينِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika keduanya berselisih tentang anaknya, lalu perempuan itu berkata, “Aku melahirkannya setelah penulisan (akad pembebasan),” sedangkan tuannya berkata, “Bahkan sebelum itu,” maka yang dijadikan pegangan adalah perkataan tuan tersebut dengan disertai sumpahnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا الِاخْتِلَافُ إِنَّمَا يُتَصَوَّرُ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ مَرْقُوقٌ فَإِذَا اخْتَلَفَا فَقَالَتِ الْمُكَاتَبَةُ وَلَدْتُ وَلَدِي هَذَا بَعْدَ كِتَابَتِي فَهُوَ تَبَعٌ لِي يُعْتَقُ بِعِتْقِي وَقَالَ السَّيِّدُ بَلْ وَلَدْتِهِ قَبْلَ الْكِتَابَةِ فَهُوَ عَبْدِي وَاحْتُمِلَ مَا قَالَاهُ وَعُدِمَتِ الْبَيِّنَةُ فِيهِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ السَّيِّدِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Perbedaan pendapat ini hanya dapat dibayangkan jika dikatakan bahwa anak tersebut adalah seorang budak. Maka apabila terjadi perselisihan, misalnya perempuan mukatabah berkata, “Aku melahirkan anak ini setelah akad kitabah, maka ia mengikuti statusku dan akan merdeka bersamaku,” sedangkan tuannya berkata, “Bahkan engkau melahirkannya sebelum akad kitabah, maka ia adalah budakku,” dan kedua pendapat tersebut sama-sama mungkin terjadi serta tidak ada bukti yang dapat menguatkan salah satunya, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat tuan dengan sumpahnya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ أَصْلَهُ الرِّقُّ فَلَمْ يَزَلْ عَنْهُ إِلَّا بِيَقِينٍ

Salah satunya adalah bahwa asal hukumnya adalah perbudakan, sehingga status itu tidak hilang darinya kecuali dengan keyakinan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ إِنْ حُرِّرَ فِي وَقْتِ الْكِتَابَةِ دُونَ الْوِلَادَةِ وَنَحْنُ عَلَى يَقِينٍ مِنْ حُدُوثِهَا وَفِي شَكٍّ مِنْ تَقَدُّمِهَا فَكَانَ حُكْمُ الْيَقِينِ أَوْلَى مِنْ حُكْمِ الشَّكِّ فَإِنْ حَلَفَ السَّيِّدُ عَلَى مَا ادَّعَاهُ كَانَ الْوَلَدُ خَارِجًا مِنْ حُكْمِ الْكِتَابَةِ وَهُوَ عَبْدٌ لِسَيِّدِهِ لَا يُعْتَقُ بِعِتْقِ أُمِّهِ وَإِنْ نَكَلَ السَّيِّدُ عَنِ الْيَمِينِ رُدَّتْ عَلَى الْأُمِّ وَصَارَ تَبَعًا لَهَا إِذَا حَلَفَتْ وَإِنْ نَكَلَتْ عَنِ الْيَمِينِ فَفِي رَدِّهَا عَلَى الْوَلَدِ بَعْدَ بُلُوغِهِ وَجْهَانِ

Kedua, jika yang dibebaskan pada saat penulisan (kitābah) adalah waktu penulisan itu sendiri, bukan waktu kelahiran, sementara kita yakin tentang terjadinya penulisan tersebut dan masih ragu tentang apakah kelahiran terjadi sebelumnya, maka hukum yang berdasarkan keyakinan lebih didahulukan daripada hukum yang berdasarkan keraguan. Jika tuan bersumpah atas apa yang ia klaim, maka anak tersebut keluar dari hukum kitābah dan menjadi budak bagi tuannya, tidak merdeka karena kemerdekaan ibunya. Namun, jika tuan menolak bersumpah, maka sumpah itu dikembalikan kepada ibu, dan anak tersebut menjadi pengikut ibunya jika sang ibu bersumpah. Jika sang ibu juga menolak bersumpah, maka dalam hal pengembalian sumpah kepada anak setelah ia baligh, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تُرَدُّ عَلَيْهِ وَيَصِيرُ تَبَعًا لِأُمِّهِ إِنْ حَلَفَ

Salah satunya dapat dibatalkan dan menjadi mengikuti induknya jika ia bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا تُرَدُّ لِخُرُوجِهِ مِنَ اخْتِلَافِهِمَا وَبِجَهْلِهِ بِكِتَابَتِهَا ويحكم بقول السيد عن نُكُولِ الْأُمِّ وَيَكُونُ عَبْدًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, tidak ditolak karena keluar dari perbedaan keduanya dan karena ketidaktahuannya dalam menuliskannya. Diputuskan berdasarkan pernyataan tuan atas penolakan ibu, dan ia menjadi seorang budak. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي وَلَدِ الْمُكَاتَبِ مِنْ أَمَتِهِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُكَاتَبِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika terjadi perselisihan antara keduanya mengenai anak dari seorang mukātab yang berasal dari budak perempuannya, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat mukātab.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَفِي صُورَةِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مُضْمَرٌ مَحْذُوفٌ وَلَكِنْ حُمِلَ اخْتِلَافُهُمَا عَلَى عُمُومِ ظَاهِرِهِ لِأَنَّ وَلَدَ الْمُكَاتَبِ مِنْ حُرَّةٍ حُرٌّ لَا يَصِحُّ مِنْهُمَا الِاخْتِلَافُ فِيهِ وَوَلَدُهُ مِنْ أَمَةِ السَّيِّدِ مِلْكٌ لِلسَّيِّدِ وَلَا يَصِحُّ مِنْهُمَا الِاخْتِلَافُ فِيهِ وَوَلَدُهُ مِنْ أَمَتِهِ مِلْكٌ لَهُ يُعْتَقْ بِعِتْقِهِ وَلَا يَصِحُّ مِنْهُمَا الِاخْتِلَافُ فِيهِ وَإِنَّمَا الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي السَّيِّدِ إِذَا زَوَّجَ عَبْدَهُ مِنْ أَمَتِهِ ثُمَّ كَاتَبَ الْعَبْدَ وَبَاعَ عَلَيْهِ زَوْجَتَهُ فَيَبْطُلُ نِكَاحُهَا بِابْتِيَاعِهِ وَيَكُونُ أَوْلَادُهُ قَبْلَ الِابْتِيَاعِ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ وَبَعْدَ الِابْتِيَاعِ مِلْكًا لَهُ يُعْتَقُونَ بِعِتْقِهِ فَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الْوَلَدِ فَقَالَ السَّيِّدُ وَلَدَتْهُ قَبْلَ الِابْتِيَاعِ فهو عبدي وقال المكاتب بلد وَلَدَتْهُ بَعْدَ الِابْتِيَاعِ فَهُوَ مِلْكِي وَيُعْتَقُ بِعِتْقِي وَأُمْكِنَ مَا قَالَا فَإِنْ كَانَتْ لِأَحَدِهِمَا بَيِّنَةٌ عُمِلَ عَلَيْهَا وَبَيِّنَةُ الْمُكَاتَبِ شَاهِدَانِ لَا غَيْرَ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ لِإِثْبَاتِ عِتْقٍ وَبَيِّنَةُ السَّيِّدِ شَاهِدَانِ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهَا بَيِّنَةٌ لِإِثْبَاتِ مِلْكٍ فَإِنْ عَدِمَا الْبَيِّنَةَ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُكَاتَبِ مَعَ يَمِينِهِ دُونَ السَّيِّدِ لِأَنَّهُ مُدَّعٍ مِلْكًا وَلَهُ عَلَيْهِ يَدٌ فَصَارَ بِيَدِهِ أَقْوَى مِنَ السَّيِّدِ

Al-Mawardi berkata: Dalam bentuk masalah ini terdapat sesuatu yang tersirat dan dihilangkan, namun perbedaan pendapat mereka dianggap berlaku secara umum sesuai dengan zahirnya. Sebab, anak dari seorang mukatab dengan perempuan merdeka adalah merdeka, sehingga tidak sah bagi keduanya untuk berselisih dalam hal ini. Sedangkan anaknya dari seorang budak perempuan milik tuannya adalah milik tuan, dan tidak sah pula bagi keduanya untuk berselisih dalam hal ini. Adapun anaknya dari budak perempuannya sendiri adalah miliknya, yang akan merdeka bersamaan dengan kemerdekaannya, dan tidak sah pula bagi keduanya untuk berselisih dalam hal ini. Masalah ini hanya digambarkan pada kasus ketika seorang tuan menikahkan hambanya dengan budak perempuannya, kemudian memukatabkan hamba tersebut dan menjual istri hamba itu kepadanya. Maka, pernikahan budak perempuan itu batal karena telah dibeli, dan anak-anaknya sebelum pembelian menjadi milik tuan, sedangkan setelah pembelian menjadi milik hamba tersebut dan akan merdeka bersamaan dengan kemerdekaannya. Jika keduanya berselisih tentang status anak, lalu tuan berkata, “Ia melahirkannya sebelum pembelian, maka ia adalah hambaku,” sedangkan mukatab berkata, “Ia melahirkannya setelah pembelian, maka ia adalah milikku dan akan merdeka bersamaku,” dan apa yang dikatakan keduanya memungkinkan, maka jika salah satu dari mereka memiliki bukti, maka bukti itu yang dijadikan dasar. Bukti mukatab adalah dua orang saksi saja, karena itu adalah bukti untuk menetapkan kemerdekaan, sedangkan bukti tuan adalah dua orang saksi laki-laki dan dua perempuan, atau satu saksi dan sumpah, karena itu adalah bukti untuk menetapkan kepemilikan. Jika keduanya tidak memiliki bukti, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan mukatab dengan sumpahnya, bukan tuan, karena tuan mengklaim kepemilikan dan mukatab memegangnya, sehingga hak mukatab lebih kuat daripada tuan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ وَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ حَيْثُ جَعَلْنَا الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلَ السَّيِّدِ وَبَيْنَ وَلَدِ الْمُكَاتَبِ حَيْثُ جَعَلْنَا الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلَ الْمُكَاتَبِ أَنَّ الْمُكَاتَبَةَ لَا تَمْلِكُ وَلَدَهَا فَلَمْ يَكُنْ لِسَيِّدِهَا عَلَيْهِ تَأْثِيرٌ وَالْمُكَاتَبُ يَمْلِكُ وَلَدَهُ فَكَانَ لِيَدِهِ عَلَيْهِ تَأْثِيرٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Perbedaan antara anak perempuan dari seorang mukatabah, di mana pendapat yang dipegang adalah pendapat tuannya, dan anak laki-laki dari seorang mukatab, di mana pendapat yang dipegang adalah pendapat mukatab itu sendiri, adalah bahwa mukatabah tidak memiliki anaknya, sehingga tuannya tidak memiliki pengaruh terhadapnya. Sedangkan mukatab memiliki anaknya, sehingga ia memiliki pengaruh terhadapnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

بَابُ الْمُكَاتَبَةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَطَؤُهَا أَحَدُهُمَا أَوْ كلاهما

Bab tentang mukātabah antara dua orang yang salah satunya atau keduanya menggaulinya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا وَطِئَهَا أَحَدُهُمَا فَلَمْ تَحْبَلْ فَلَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا يُدْفَعُ إِلَيْهَا فَإِنْ عَجَزَتْ قَبْلَ دَفْعِهِ كَانَ لِلَّذِي لَمْ يَطَأْهَا نِصْفُهُ مِنْ شَرِيكِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika salah satu dari mereka telah menggaulinya namun ia tidak hamil, maka perempuan itu berhak mendapatkan mahar mitsil yang diberikan kepadanya. Jika ia meninggal dunia sebelum mahar itu diberikan, maka setengah dari mahar tersebut menjadi hak pihak yang belum menggaulinya dari pasangannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا كَانَتْ الْمُكَاتَبَةُ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ لَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يَطَأَهَا لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, yaitu apabila akad mukatabah terjadi antara dua orang yang berserikat, maka tidak boleh bagi salah satu dari keduanya untuk menggaulinya karena dua alasan.”

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ وَطْءُ الْمُشْتَرَكَةِ إِذَا كَانَتْ أَمَةً فَأَوْلَى أَنْ لَا يَجُوزَ إِذَا كَانَتْ مُكَاتَبَةً وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ وَطْءُ الْمُكَاتَبَةِ إِذَا كَانَتْ لِوَاحِدٍ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَجُوزَ وَطْؤُهَا إِذَا كَانَتْ مُشْتَرَكَةً فَإِنْ وَطِئَهَا أَحَدُهُمَا فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهَا لِشُبْهَةِ الْمِلْكِ فِيهَا لَكِنْ يُعَزَّرُ مِنْهُمَا مَنْ عَلِمَ بِالتَّحْرِيمِ وَلَا يُعَزَّرُ مَنْ جَهِلَ وَعَلَيْهِ مَهْرُ مِثْلِهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا لِأَنَّهُ مِنْ كَسْبِهَا فَإِنْ لَمْ يَحِلَّ عَلَيْهَا مَالُ الْكِتَابَةِ تَعَجَّلَتْ مَهْرَهَا مِنَ الْوَاطِئِ فَإِذَا حَلَّ عَلَيْهَا مَالُ الْكِتَابَةِ فَأَدَّتْ عَتَقَتْ وَإِنْ عَجَزَتْ رَقَّتْ وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ قَدْ حَلَّ عِنْدَ وُجُوبِ الْمَهْرِ عَلَى الْوَاطِئِ نَظَرَ فَإِنْ كَانَ مَعَهَا مِثْلُهُ دَفَعَتْهُ إِلَى الشَّرِيكِ الَّذِي لَمْ يَطَأْ وَكَانَ الْمَهْرُ قِصَاصًا مِنْ حَقِّ الْوَاطِئِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا غَيْرُهُ أَخَذَتْ مِنَ الْوَاطِئِ نِصْفَ مَهْرِهَا وَدَفَعَتْهُ إِلَى الَّذِي لَمْ يَطَأْ وَكَانَ النِّصْفُ الْآخَرُ قِصَاصًا مِنْ حَقِّ الْوَاطِئِ لِيَتَسَاوَى الشَّرِيكَانِ فِيهِ وَلَا يَخْتَصُّ بِهِ أَحَدُهُمَا وَلَوْ كَانَ الْمَهْرُ بَاقِيًا عَلَى الْوَاطِئِ بِحَالِهِ حَتَّى عَجَزَتْ وَرَقَّتْ نَظَرَتْ فَإِنْ كَانَ بِيَدِهَا بَعْدَ الْعَجْزِ مِثْلُ الْمَهْرِ أَخَذَهُ مِنْهَا الشَّرِيكُ الَّذِي لَمْ يَطَأْ وَبَرِئَ الْوَاطِئُ مِنَ الْمَهْرِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ مِنْ حَقِّهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِيَدِهَا بَعْدَ الْعَجْزِ شَيْءٌ بَرِئَ الْوَاطِئُ مِنْ نِصْفِ الْمَهْرِ وَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يَسُوقَ نِصْفَهُ إلى الشريك ليستويا فيه

Pertama, karena tidak diperbolehkan menyetubuhi budak perempuan yang dimiliki bersama jika ia adalah seorang budak, maka lebih utama lagi tidak diperbolehkan jika ia adalah seorang mukatab (budak perempuan yang sedang dalam proses penebusan diri). Kedua, karena tidak diperbolehkan menyetubuhi budak mukatab jika ia dimiliki oleh satu orang, maka lebih utama lagi tidak diperbolehkan menyetubuhinya jika ia dimiliki bersama. Jika salah satu dari mereka menyetubuhinya, maka tidak dikenakan had (hukuman hudud) atasnya maupun atas perempuan itu karena adanya syubhat kepemilikan atas dirinya, namun akan dikenakan ta‘zir bagi siapa saja di antara mereka yang mengetahui keharamannya, dan tidak dikenakan ta‘zir bagi yang tidak mengetahui. Atasnya wajib membayar mahar yang setara, yang dapat digunakan oleh budak perempuan itu untuk membantu pelunasan kitabah-nya, karena itu termasuk hasil usahanya. Jika belum jatuh tempo pembayaran kitabah atasnya, maka maharnya segera diambil dari orang yang menyetubuhinya. Jika telah jatuh tempo pembayaran kitabah dan ia telah melunasinya, maka ia merdeka; namun jika ia tidak mampu, maka ia kembali menjadi budak. Jika pembayaran kitabah telah jatuh tempo pada saat mahar menjadi wajib atas orang yang menyetubuhinya, maka dilihat: jika ia memiliki harta sepadan dengan mahar tersebut, ia serahkan kepada sekutunya yang tidak menyetubuhinya, dan mahar itu menjadi sebagai kompensasi dari hak orang yang menyetubuhi. Jika ia tidak memiliki harta selain itu, maka ia mengambil setengah mahar dari orang yang menyetubuhinya dan menyerahkannya kepada yang tidak menyetubuhi, dan setengah lainnya menjadi kompensasi dari hak orang yang menyetubuhi, agar kedua sekutu itu sama dalam hal tersebut dan tidak ada yang lebih diutamakan. Jika mahar masih tetap menjadi tanggungan orang yang menyetubuhi hingga budak perempuan itu tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka dilihat: jika setelah ketidakmampuannya ia masih memiliki harta sepadan dengan mahar, maka sekutunya yang tidak menyetubuhi mengambilnya darinya dan orang yang menyetubuhi bebas dari kewajiban mahar karena itu telah menjadi hak sekutunya. Jika setelah ketidakmampuannya ia tidak memiliki apa-apa, maka orang yang menyetubuhi bebas dari setengah mahar dan ia wajib menyerahkan setengahnya kepada sekutunya agar keduanya sama dalam hal tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فإن حبلت وَلَمْ تَدَّعِ الِاسْتِبْرَاءَ فَاخْتَارَتِ الْعَجْزَ أَوْ مَاتَ الْوَاطِئُ فَإِنَّ لِلَّذِي لَمْ يَطَأْ نِصْفَ الْمَهْرِ وَنِصْفَ قِيمَتِهَا عَلَى الْوَاطِئِ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَيَنْبَغِي أن تكون حرة بمؤته

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ia (perempuan) hamil dan tidak mengaku telah melakukan istibra’, lalu ia memilih untuk tidak mampu (melayani) atau laki-laki yang menyetubuhinya meninggal dunia, maka bagi laki-laki yang tidak menyetubuhinya berhak atas setengah mahar dan setengah nilai dirinya dari laki-laki yang telah menyetubuhinya. Al-Muzani berkata: Dan seharusnya ia (perempuan) menjadi merdeka dengan kematiannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا وَطِئَهَا أَحَدُ الشَّرِيكَيْنِ فَأَحْبَلَهَا وَلَمْ تَدَّعِ اسْتِبْرَاءَهَا لَحِقَ بِهِ وَلَدُهَا لِأَنَّهَا قَدْ صَارَتْ بِشُبْهَةِ الْمِلْكِ وَسُقُوطِ الْحَدِّ فِرَاشًا وَيَكُونُ نِصْفُهَا لَهُ أُمَّ وَلَدٍ وَالْكِتَابَةُ فِي جَمِيعِهَا بِحَالِهَا ثُمَّ لَا يَخْلُو حَالُ الْمُحْبِلِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لَمْ يَسِرِ الْإِحْبَالُ إِلَى حِصَّةِ الشَّرِيكِ وَلَمْ تُقَوَّمْ عَلَيْهِ وَرُوعِيَ مَا يَكُونُ مِنْ أَدَائِهَا فَإِنْ أَدَّتْ إِلَيْهَا عَتَقَتْ وَكَانَ عِتْقُهَا مُتَحَرِّرًا بِالْكِتَابَةِ وَبَطَلَ أَنْ تَكُونَ فِي حُكْمِ أُمِّ الْوَلَدِ وَإِنْ عَجَزَتْ عَادَتْ حِصَّةُ الشَّرِيكِ رَقِيقًا وَصَارَتْ حِصَّةُ الْمُحْبِلِ أُمَّ وَلَدٍ تَعْتِقُ بِمَوْتِهِ وَلَا يُقَوَّمُ بَاقِيهَا فِي تَرِكَتِهِ بَلْ تَكُونُ عَلَى رِقِّ شَرِيكِهِ فَلَوْ مَاتَ هَذَا الْمُحْبِلِ قَبْلَ أَدَاءِ الْكِتَابَةِ وَعَجْزِهَا عَتَقَتْ حِصَّةُ الْمُحْبِلِ وَبَطَلَتِ الْكِتَابَةُ فِيهَا وَكَانَ بَاقِيهَا عَلَى كِتَابَتِهِ وَلِوَارِثِ الْمُحْبِلِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَيْهَا بِنِصْفِ مَا بِيَدِهَا وَقْتَ مَوْتِهِ فَأَمَّا الْوَلَدُ مَعَ إِعْسَارِ الْأَبِ فَنَصِفُهُ حُرٌّ لِأَنَّهُ قُدِّرَ حِصَّتُهُ مِنْهُ وَفِي تَقْوِيمِ نِصْفِ الْبَاقِي عَلَيْهِ وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila salah satu dari dua orang yang berserikat (memiliki budak perempuan) menggaulinya lalu membuatnya hamil, dan budak perempuan itu tidak mengaku telah menjalani istibra’ (masa penantian untuk memastikan kosong dari kehamilan), maka anak yang dilahirkan dinisbatkan kepadanya, karena budak perempuan itu telah menjadi seperti miliknya secara syubhat (keraguan) dan hilangnya hukuman had, sehingga ia menjadi seperti istri (firāsy). Setengah dari dirinya menjadi milik orang tersebut sebagai umm walad, dan status kitabah (perjanjian pembebasan) tetap berlaku atas seluruh dirinya. Kemudian, keadaan orang yang menghamili tidak lepas dari dua kemungkinan: kaya atau miskin. Jika ia miskin, maka kehamilan itu tidak berpengaruh pada bagian milik temannya, dan budak perempuan itu tidak dinilai (untuk ditebus) atasnya, serta diperhatikan apa yang akan ia bayarkan. Jika ia mampu membayar, maka ia merdeka dan kemerdekaannya terjadi melalui kitabah, serta batal statusnya sebagai umm walad. Namun jika ia tidak mampu, maka bagian milik temannya kembali menjadi budak, dan bagian milik orang yang menghamili menjadi umm walad yang akan merdeka dengan kematian tuannya, dan sisanya tidak dinilai dalam warisan, melainkan tetap menjadi budak milik temannya. Jika orang yang menghamili itu meninggal sebelum pembayaran kitabah dan sebelum ketidakmampuannya, maka bagian milik orang yang menghamili merdeka dan kitabah atas dirinya batal, sedangkan sisanya tetap dalam status kitabah. Ahli waris orang yang menghamili berhak menuntut setengah dari apa yang ada di tangan budak perempuan itu pada saat kematiannya. Adapun anak yang lahir dari ayah yang miskin, maka setengahnya merdeka karena dianggap sebagai bagian milik ayahnya, dan dalam penilaian setengah sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْمُسْتَهْلِكِ وَيَصِيرُ جَمِيعُ الْوَلَدِ حُرًّا لِوَقْتِهِ

Salah satunya dinilai atasnya meskipun ia dalam keadaan tidak mampu, karena ia dianggap seperti orang yang telah menghabiskan (barang), dan seluruh anak menjadi merdeka saat itu juga.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ مُعْسِرًا كَمَا لَا تُقَوَّمُ عَلَيْهِ الْأُمُّ مَعَ الْإِعْسَارِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ فِي نِصْفِهِ الْبَاقِي وَجْهَانِ

Pendapat kedua adalah bahwa tidak dikenakan penilaian (pembebanan) atasnya jika ia dalam keadaan tidak mampu, sebagaimana tidak dikenakan penilaian atas ibu ketika dalam keadaan tidak mampu. Berdasarkan hal ini, pada separuh sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ مَوْقُوفًا لِلشَّرِيكِ

Salah satunya adalah jika harta tersebut dijadikan waqaf untuk mitra.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ تَبَعًا لِأُمِّهِ وَيَعْتِقُ إِنْ عَتَقَتْ فَهَذَا حُكْمُ الْمُحْبِلِ إِذَا كَانَ مُعْسِرًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut mengikuti status ibunya dan akan merdeka jika ibunya merdeka. Inilah hukum bagi wanita hamil apabila ia dalam keadaan tidak mampu (miskin).

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ كَانَ الْمُحْبِلِ مُوسِرًا لَزِمَ تَقْوِيمُ الْبَاقِي عَلَيْهِ وَسَرَى حُكْمُ الْإِيلَادِ إِلَيْهِ وَهَلْ يُقَوَّمُ عَلَيْهِ فِي الْحَالِ أَوْ يَكُونُ تَقْوِيمُهُ موقوفاً على عجزها على قولين

Jika pihak yang menerima hibah itu mampu, maka wajib menaksir sisa yang masih menjadi tanggungannya, dan hukum ilād berlaku padanya. Adapun apakah penaksiran itu dilakukan saat ini juga ataukah penaksirannya ditangguhkan sampai ia benar-benar tidak mampu, terdapat dua pendapat.

أحدهما أنها تقوم في الحال تغليباً للإيلاد على الكتابة لِلُزُومِ حُكْمِهَا

Yang pertama, ia berlaku seketika dengan mengedepankan status kelahiran atas status penulisan, karena konsekuensi hukumnya yang harus dijalankan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ تَقْوِيمُهُ مَوْقُوفًا عَلَى الْعَجْزِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْكِتَابَةِ عَلَى الْإِيلَادِ لتقدمه فإن قلنا بتقويمها في الحال فبلت كتابتها في حصة الشريك لزوال مِلْكِهِ بِالتَّقْوِيمِ وَكَانَتِ الْكِتَابَةُ فِي حِصَّةِ الْمُحْبِلِ بَاقِيَةً لِأَنَّهُ لَا يَتَنَافَى اجْتِمَاعُ الْكِتَابَةِ وَالْإِيلَادِ فَعَلَى هَذَا إِنْ أَدَّتْ كِتَابَتَهَا فِي حِصَّةِ المحبل عتقت وَسَرَى الْعِتْقُ إِلَى جَمِيعِهَا كَمَا لَوْ بَاشَرَ عِتْقَ بَعْضِهَا وَإِنْ عَجَزَتْ بَطَلَتْ كِتَابَتُهَا وَصَارَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ

Pendapat kedua menyatakan bahwa penilaian (taqwīm) dilakukan ketika terjadi ketidakmampuan (‘ajz), dengan mengedepankan hukum kitābah atas hukum ilād karena kitābah lebih dahulu. Jika kita mengatakan bahwa penilaian dilakukan saat itu juga, maka kitābah berlaku pada bagian milik mitra karena kepemilikannya hilang dengan penilaian tersebut, dan kitābah tetap berlaku pada bagian milik orang yang melakukan ilād, karena tidak ada pertentangan antara berkumpulnya kitābah dan ilād. Berdasarkan hal ini, jika ia melunasi pembayaran kitābah pada bagian milik orang yang melakukan ilād, maka ia merdeka dan kemerdekaan itu berlaku pada seluruh dirinya, sebagaimana jika sebagian dirinya dimerdekakan secara langsung. Namun, jika ia tidak mampu membayar, maka kitābahnya batal dan seluruh dirinya menjadi umm walad.

فَأَمَّا الْوَلَدُ عَلَى هَذَا فقد كَانَ نِصْفُهُ حُرًّا بِالْمِلْكِ وَصَارَ بَاقِيهِ حُرًّا بِالسِّرَايَةِ وَهَلْ تَلْزَمُهُ قِيمَتُهُ لِلشِّرْكِ أَمْ لَا مُعْتَبِرٌ بِحَالِ وَضْعِهِ وَهُوَ لَا يَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ تَضَعَهُ قَبْلَ دَفْعِ القيمة أو بعدها

Adapun anak dalam kasus ini, maka setengah dirinya telah merdeka karena kepemilikan, dan sisanya menjadi merdeka karena sirāyah. Apakah wajib baginya membayar nilai (tebusan) kepada sekutu atau tidak, hal ini tergantung pada keadaan saat kelahirannya, yaitu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia dilahirkan sebelum pembayaran nilai atau sesudahnya.

فَإِنْ وَضَعَتْهُ بَعْدَ أَنْ دَفَعَ إِلَى الشَّرِيكِ قِيمَةَ حِصَّتِهِ مِنْهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ قِيمَةُ الْوَلَدِ لِأَنَّهَا وَضَعَتْهُ بَعْدَ اسْتِقْرَارِهَا عَلَى مِلْكِهِ وَإِنْ وَضَعَتْهُ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَعَلَى قَوْلَيْنِ مَبْنِيَّيْنِ عَلَى اخْتِلَافِ الْقَوْلَيْنِ فِيمَا تَصِيرُ بِهِ حِصَّةُ الشَّرِيكِ أُمَّ وَلَدٍ

Jika ia melahirkan anak itu setelah ia membayar kepada mitra (syarik) nilai bagian miliknya dari budak perempuan tersebut, maka ia tidak wajib membayar nilai anak itu, karena ia melahirkan anak tersebut setelah kepemilikan budak itu sepenuhnya menjadi miliknya. Namun, jika ia melahirkan anak itu sebelum pembayaran nilai tersebut, maka ada dua pendapat yang didasarkan pada perbedaan pendapat mengenai hal apa yang menyebabkan bagian milik mitra menjadi umm walad.

فَأَحَدُ الْقَوْلَيْنِ أَنَّهَا تَصِيرُ أُمَّ وَلَدٍ فِي جَمِيعِهَا بِالْإِحْبَالِ فَعَلَى هَذَا لَا تَلْزَمُهُ قِيمَةُ حِصَّةِ الشَّرِيكِ فِي الْوَلَدِ لِأَنَّهَا وَضَعَتْهُ بَعْدَ أَنْ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa budak perempuan tersebut menjadi umm walad secara keseluruhan karena kehamilan. Dengan demikian, ia tidak wajib membayar nilai bagian anak milik rekannya, karena budak perempuan itu melahirkan anak tersebut setelah ia menjadi umm walad miliknya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ بَاقِيهَا لَا يَصِيرُ أُمَّ وَلَدٍ إِلَّا بِالْإِيلَادِ وَدَفْعِ الْقِيمَةِ فَعَلَى هَذَا تَلْزَمُهُ قِيمَةُ حِصَّةِ الشَّرِيكِ مِنَ الْوَلَدِ لِثُبُوتِ رِقِّهِ عَلَيْهِ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ تَقْوِيمَهَا مَوْقُوفٌ عَلَى عَجْزِهَا عَنِ الْكِتَابَةِ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa sisanya tidak menjadi umm walad kecuali dengan melahirkan dan membayar nilai (budak tersebut). Maka, berdasarkan pendapat ini, ia wajib membayar nilai bagian sekutu dari anak tersebut karena status perbudakannya tetap ada padanya. Jika kita mengatakan bahwa penilaian (budak) itu tergantung pada ketidakmampuannya untuk melakukan mukātabah, maka keadaannya tidak lepas dari salah satu dari dua hal.

إِمَّا أَنْ تُؤَدِّيَ أَوْ تَعْجِزَ

Entah engkau mampu melaksanakan atau engkau tidak mampu.

فَإِنْ أَدَّتْ كِتَابَتُهَا إِلَيْهِمَا عَتَقَ جَمِيعُهَا بِالْكِتَابَةِ وَبَطَلَ حُكْمُ الْإِيلَادِ فَأَمَّا وَلَدُهَا فَلَا يُوقَفُ وَتُقَوَّمُ حِصَّةُ الشَّرِيكِ فِيهِ عَلَى الْأَبِ وَيَتَحَرَّرُ عِتْقُ جَمِيعِهِ وَإِنْ عَجَزَتِ الْأُمُّ عَنِ الْكِتَابَةِ انْفَسَخَتِ الْكِتَابَةُ فِي حَقِّ الشَّرِيكِ الَّذِي لَمْ يُحْبِلْ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقِيمَ عَلَيْهَا لِمَا تَعَلَّقَ بِهَا مِنْ حَقِّ الْمُحْبِلِ فِي تَقْوِيمِهَا عَلَيْهِ فَتُقَوَّمَ عَلَيْهِ حِصَّةُ شَرِيكِهِ وَتَصِيرَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ ثُمَّ لَهَا وَلِلْمُحْبِلِ حَالَتَانِ

Jika ia (budak perempuan) melunasi pembayaran kitabah kepada keduanya, maka seluruh dirinya merdeka karena kitabah, dan hukum umm walad menjadi batal. Adapun anaknya, maka tidak ditangguhkan (kemerdekaannya), dan bagian milik sekutunya dalam anak tersebut dinilai (dihitung nilainya) atas ayahnya, sehingga seluruh anak itu menjadi merdeka. Jika sang ibu tidak mampu melunasi kitabah, maka akad kitabah batal terhadap hak sekutu yang tidak menghamilinya, dan tidak boleh sekutu tersebut tetap memilikinya karena ada hak pihak yang menghamilinya dalam penilaian (harga) dirinya atasnya. Maka bagian sekutunya dinilai atasnya, dan seluruh dirinya menjadi umm walad baginya. Kemudian, bagi dia dan pihak yang menghamilinya terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى الْإِنْظَارِ بِالْكِتَابَةِ فِي حَقِّهِ فَيَجُوزَ ذَلِكَ لَهُمَا إِذَا تَرَاضَيَا بِهِ لِأَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ بِالْكِتَابَةِ حَقٌّ لِغَيْرِهَا بِخِلَافِ الشَّرِيكِ الَّذِي لَمْ يُحْبِلْ أَوْ تَكُونَ الْكِتَابَةُ بَاقِيَةً فِي نِصْفِهَا وَهُوَ حَقُّ الْمُحْبِلِ وَبَاطِلَةً فِي النِّصْفِ الْبَاقِي وَهُوَ حَقُّ الَّذِي لَمْ يُحْبِلْ فَإِنْ أَدَّتْ عَتَقَ نِصْفُهَا بِالْكِتَابَةِ وَبَاقِيهَا بِالسِّرَايَةِ وَإِنْ عَجَزَتْ فُسِخَتِ الْكِتَابَةُ وَكَانَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ

Salah satu di antaranya adalah keduanya sepakat untuk menangguhkan pembayaran melalui akad kitābah dalam haknya, maka hal itu boleh bagi keduanya jika mereka saling merelakannya, karena tidak ada hak orang lain yang terkait dengan akad kitābah tersebut, berbeda dengan sekutu yang tidak melakukan istīlād (menghamilkan), atau jika akad kitābah masih berlaku pada setengah bagiannya yang merupakan hak pihak yang menghamilkan, dan batal pada setengah bagian lainnya yang merupakan hak pihak yang tidak menghamilkan. Jika budak perempuan itu mampu membayar, maka setengah dirinya merdeka melalui akad kitābah dan sisanya merdeka melalui sirāyah. Namun jika ia tidak mampu, maka akad kitābah dibatalkan dan seluruh dirinya menjadi umm walad.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ لَا يَتَّفِقَا عَلَى الْإِنْظَارِ بَلْ يَخْتَلِفَا فِيهِ فَالْكِتَابَةُ تَنْفَسِخُ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ الْمُكَاتَبَةَ لَا يَلْزَمُهَا الْمَقَامُ عَلَى الْعَقْدِ وَالسَّيِّدَ لَا يَلْزَمُهُ الْإِنْظَارُ بِالْمَالِ فَأَيُّهُمَا دَعَا إِلَى الْفَسْخِ بَعْدَ الْعَجْزِ انْفَسَخَتْ بِهِ الْكِتَابَةُ وَإِذَا انْفَسَخَتِ اسْتَقَرَّ بَعْدَ فَسْخِهَا حُكْمُ الْوِلَادَةِ وَصَارَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ يُعْتَقُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ

Keadaan kedua adalah ketika keduanya tidak sepakat mengenai penundaan pembayaran, melainkan berselisih tentangnya, maka akad kitābah batal di antara mereka. Sebab, bagi mukātab tidak wajib tetap pada akad, dan bagi tuan tidak wajib memberikan penundaan pembayaran. Maka, siapa pun di antara mereka yang meminta pembatalan setelah ketidakmampuan (membayar), maka akad kitābah batal karenanya. Jika akad itu telah batal, maka setelah pembatalannya tetaplah hukum tentang kelahiran, sehingga seluruhnya menjadi umm walad yang akan merdeka dengan wafatnya tuan.

فَأَمَّا الْوَلَدُ فَيَلْتَزِمُ الْأَبُ قِيمَةَ نِصْفِهِ لِشَرِيكِهِ وَيَتَحَرَّرُ عِتْقُ جَمِيعِهِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun anak, maka ayah wajib membayar nilai separuhnya kepada rekannya, dan seluruh anak itu menjadi merdeka sebagaimana telah kami sebutkan. Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ وَطِئَاهَا فَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَهْرُ مِثْلِهَا فَإِنْ عَجَزَتْ تَقَاصَّا الْمَهْرَيْنِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika keduanya telah menggaulinya, maka masing-masing dari mereka wajib membayar mahar mitsil kepadanya. Jika ia tidak mampu, maka kedua mahar tersebut saling diperhitungkan (dikompensasikan).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي وَطْءِ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ فَأَمَّا إِذَا وَطِئَهَا الشَّرِيكَانِ مَعًا فَلَا حَدَّ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَإِنْ كَانَ مَحْظُورًا لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ شُبْهَةِ

Al-Mawardi berkata: Telah dijelaskan sebelumnya pembahasan mengenai salah satu dari dua orang yang berserikat (dalam budak perempuan) menggaulinya. Adapun jika kedua orang yang berserikat itu menggaulinya bersama-sama, maka tidak dikenakan had (hukuman) kepada salah satu dari mereka, meskipun perbuatan itu terlarang, karena adanya syubhat (keraguan) sebagaimana telah kami sebutkan.

الْمِلْكِ وَيُعَزَّرَا إِنْ عَلِمَا بِالْحَظْرِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَهْرُ مِثْلِهَا يَدْفَعَانِهِ إِلَيْهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا فَإِنْ تَحَرَّرَ عِتْقُهَا بِالْأَدَاءِ اسْتَقَرَّ مَهْرُهَا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَكَانَ لَهَا إِنْ لَمْ تَقْبَضْهُ أَنْ تَسْتَوْفِيَهُ بَعْدَ الْعِتْقِ وَإِنْ عَجَزَتْ وَرَقَّتْ فَلَهَا فِي مَهْرِهَا ثلاثة أَحْوَالٍ

Keduanya (pemilik dan suami) dikenai ta‘zīr jika mengetahui adanya larangan, dan masing-masing dari mereka wajib memberikan mahar mitsil kepadanya (budak perempuan) yang dapat ia gunakan untuk membantu penulisan (akad pembebasan dirinya). Jika ia berhasil merdeka dengan pembayaran tersebut, maka mahar itu menjadi haknya atas masing-masing dari mereka, dan jika ia belum menerimanya, ia berhak menagihnya setelah merdeka. Namun jika ia tidak mampu membayar dan kembali menjadi budak, maka dalam hal mahar tersebut terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَا قَدْ دَفَعَاهُ إِلَيْهَا فَلَا رُجُوعَ لَهُمَا عَلَيْهَا إِلَّا بِمَا وَجَدَاهُ فِي يَدِهَا

Salah satunya adalah apabila keduanya telah menyerahkan (barang) itu kepadanya, maka tidak ada hak bagi mereka berdua untuk menarik kembali darinya kecuali apa yang mereka temukan masih ada di tangannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَدْ دَفَعَهُ أَحَدُهُمَا دُونَ الْآخَرِ فَيَرْجِعُ الدَّافِعُ بِمَا فِي يَدِهَا بِنِصْفِ الْمَهْرِ وَيَشْتَرِكَانِ فِي بَاقِيهِ فَيَرْجِعُ شَرِيكُهُ الَّذِي لَمْ يَدْفَعْ بِنِصْفِ مَا عليه من المهر ويبرا من باقيه

Keadaan kedua adalah apabila salah satu dari keduanya telah membayarkan (mahar) tanpa yang lain, maka pihak yang membayar berhak menuntut dari yang ada di tangannya sebesar setengah mahar, dan keduanya berbagi dalam sisanya. Maka, pasangannya yang tidak membayar menuntut setengah dari mahar yang menjadi tanggungannya dan terbebas dari sisanya.

والحالي الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ الْمَهْرُ بَاقِيًا عَلَيْهَا فَيَسْتَحِقَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ الرُّجُوعَ بِنِصْفِ الْمَهْرِ الَّذِي عَلَيْهِ وَهَلْ يَكُونُ ذَلِكَ قِصَاصًا أَمْ لَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْأَقَاوِيلِ الْأَرْبَعَةِ فَإِنْ لَمْ نَجْعَلْهُ قِصَاصًا أَعْطَى كُلُّ واحد منهما نِصْفَ مَا عَلَيْهِ وَاسْتَوْفَى نِصْفَ مَالِهِ وَلَيْسَ لواحد منها أَنْ يَحْبِسَ مَا عَلَيْهِ لِيَسْتَوْفِيَ مَالَهُ وَالْمُبْتَدِئُ بِالْمُطَالَبَةِ هُوَ الْمُبْتَدِئُ بِالِاسْتِيفَاءِ وَإِنْ جَعَلْنَا ذَلِكَ قِصَاصًا فَإِنْ تَسَاوَى الْمَهْرَانِ بَرِئَا بِالْقِصَاصِ وَإِنْ تَفَاضَلَ الْمَهْرَانِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ قَدْ وَطِئَهَا أَحَدُهُمَا بِكْرًا وَالْآخَرُ ثَيِّبًا سَقَطَ الْأَقَلُّ مِنَ الْأَكْثَرِ وَرَجَعَ مُسْتَحِقُّ الزِّيَادَةِ بِهَا عَلَى صَاحِبِهِ

Keadaan ketiga adalah apabila mahar masih tetap menjadi tanggungan istri, maka masing-masing dari keduanya berhak menuntut kepada pasangannya untuk mengembalikan setengah mahar yang menjadi tanggungannya. Apakah hal itu dianggap sebagai qishāsh atau tidak, tergantung pada empat pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika kita tidak menganggapnya sebagai qishāsh, maka masing-masing dari keduanya memberikan setengah dari apa yang menjadi tanggungannya dan menerima setengah dari haknya, dan tidak boleh salah satu dari mereka menahan apa yang menjadi tanggungannya agar dapat mengambil haknya. Orang yang lebih dahulu menuntut adalah orang yang lebih dahulu menerima haknya. Namun jika kita menganggapnya sebagai qishāsh, maka jika kedua mahar itu sama nilainya, keduanya bebas dari tanggungan melalui qishāsh. Jika kedua mahar itu berbeda nilainya—karena mungkin salah satu dari mereka telah menggauli istrinya dalam keadaan masih perawan dan yang lain dalam keadaan sudah tidak perawan—maka yang lebih kecil gugur dari yang lebih besar, dan pihak yang berhak atas kelebihan dapat menuntut kelebihan tersebut kepada pasangannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ كَانَتْ حَبِلَتْ فَجَاءَتْ بِوَلَدٍ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ وَطْءِ الثَّانِي وَلَمْ يَسْتَبْرِئْهَا الْأَوَّلُ فَهُوَ وَلَدُهُ وَعَلَيْهِ نِصْفُ قِيمَتِهَا وَنِصْفُ مَهْرِهَا وَفِي نِصْفِ قِيمَةِ وَلَدِهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا يَغْرَمُهُ وَالْآخَرُ لَا غُرْمَ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ وَجَبَ بِهِ قَالَ الْمُزَنِيُّ الْقِيَاسُ عَلَى مَذْهَبِهِ أَنْ لَيْسَ عَلَيْهِ إِلَّا نِصْفُ قِيمَتِهَا دُونَ نِصْفِ قِيمَةِ الْوَلَدِ لِأَنَّهَا بِالْحَبَلِ صَارَتْ أُمَّ ولد وقال الشافعي في الواطئ الآخر قولان أحدهما يغرم نصف مهرها لأنها لا تكون أم ولد للحمل إلا بعد أداء نصف القيمة والآخر جميع مهر مثلها قال المزني هذا أصح لأنه وطئ أم ولد لصاحبه

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang perempuan hamil lalu melahirkan anak kurang dari enam bulan dari hubungan dengan laki-laki kedua, dan laki-laki pertama belum melakukan istibra’ terhadapnya, maka anak itu adalah anaknya (laki-laki pertama), dan ia wajib membayar setengah dari nilai perempuan itu dan setengah dari maharnya. Dalam hal setengah nilai anaknya, ada dua pendapat: salah satunya, ia wajib menanggungnya; yang lain, tidak ada kewajiban menanggung karena kemerdekaan (anak) itu terjadi melalui dirinya. Al-Muzani berkata: Qiyās menurut mazhabnya adalah bahwa ia hanya wajib membayar setengah dari nilai perempuan itu, tanpa setengah dari nilai anak, karena dengan kehamilan itu ia telah menjadi umm walad. Imam Syafi‘i juga berkata, mengenai laki-laki kedua yang menggaulinya, ada dua pendapat: salah satunya, ia wajib membayar setengah mahar perempuan itu karena ia belum menjadi umm walad karena kehamilan kecuali setelah membayar setengah nilai; pendapat lain, ia wajib membayar seluruh mahar yang sepadan dengannya. Al-Muzani berkata: Pendapat ini lebih kuat karena ia telah menggauli umm walad milik orang lain.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا حَبِلَتْ بَعْدَ وَطْءِ الشَّرِيكَيْنِ وَجَاءَتْ بِوَلَدٍ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu apabila seorang perempuan hamil setelah digauli oleh dua orang yang berserikat, lalu ia melahirkan seorang anak, maka keadaan anak tersebut tidak lepas dari empat kemungkinan.”

أَحَدُهَا أَنْ يَنْتَفِيَ عَنْهُمَا

Salah satunya adalah hilangnya kedua hal tersebut dari keduanya.

وَالثَّانِي أَنْ يَلْحَقَ بِالْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي

Yang kedua adalah disamakan dengan yang pertama, tetapi tidak dengan yang kedua.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَلْحَقَ بِالثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ

Dan yang ketiga adalah disamakan dengan yang kedua, namun tidak dengan yang pertama.

وَالرَّابِعُ أَنْ يُمْكِنَ لُحُوقُهُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا

Keempat, bahwa memungkinkan untuk mengaitkannya pada masing-masing dari keduanya.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يَنْتَفِيَ عَنْ كل واحد منهما وذلك في إحدى ثلاثة أَحْوَالٍ

Adapun bagian pertama, yaitu hilangnya (hak atau sifat) dari masing-masing keduanya, hal itu terjadi dalam salah satu dari tiga keadaan.

إِمَّا أَنْ تَضَعَهُ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ إِصَابَتِهِ فَلَا يُلْحَقُ بِهِ لِأَنَّ أَقَلَّ الْحَمْلِ سِتَّةُ أَشْهُرٍ

Atau ia melahirkannya kurang dari enam bulan sejak suaminya menggaulinya, maka anak itu tidak dinisbatkan kepadanya, karena masa kehamilan paling singkat adalah enam bulan.

وَإِمَّا أَنْ تَضَعَهُ لِأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ مِنْ إِصَابَتِهِ فَلَا يُلْحَقُ بِهِ لِأَنَّ أَكْثَرَ الْحَمْلِ أَرْبَعُ سِنِينَ

Atau jika ia melahirkan anaknya kurang dari empat tahun setelah berhubungan dengannya, maka anak itu tidak dinasabkan kepadanya, karena masa kehamilan terlama adalah empat tahun.

وَإِمَّا أَنْ تَضَعَهُ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ إِصَابَتِهِ وَقَدِ اسْتَبْرَأَهَا فَلَا يُلْحَقُ بِهِ لِارْتِفَاعِ فِرَاشِهِ بِالِاسْتِبْرَاءِ فَإِذَا انْتَفَى الْوَلَدُ عَنْهَا فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ كَانَ فِي حُكْمِ وَلَدِ المكاتبة من زوج أو زنى فيكون على ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Atau bisa juga ia melahirkan anak itu setelah lebih dari enam bulan sejak digauli, dan ia telah menjalani istibra’ (masa penantian untuk memastikan kosongnya rahim), maka anak itu tidak dinasabkan kepadanya karena telah terputusnya hubungan tempat tidur (suami-istri) dengan adanya istibra’. Maka apabila anak itu dinafikan darinya dalam tiga keadaan ini, maka hukumnya seperti anak dari seorang mukatabah, baik dari suami maupun dari zina, sehingga berlaku hukum sebagaimana telah kami sebutkan dari dua pendapat tersebut.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ عَبْدًا مَرْقُوقًا لِلسَّيِّدَيْنِ

Salah satunya adalah seorang budak yang dimiliki oleh dua tuan.

وَالثَّانِي يَكُونُ تَبَعًا لِأُمِّهِ يُعْتَقُ بِعِتْقِهَا وَيَرِقُّ بِرِقِّهَا وَيَكُونُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ السَّيِّدَيْنِ مَهْرُ مِثْلِهَا بِإِصَابَتِهِ تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا عَلَى مَا بَيَّنَاهُ

Dan yang kedua, ia mengikuti status ibunya: ia merdeka jika ibunya merdeka, dan menjadi budak jika ibunya menjadi budak. Masing-masing dari dua tuan wajib memberikan mahar mitsil kepadanya karena telah mencampurinya, yang dapat ia gunakan sebagai bantuan dalam membayar kitabah-nya, sebagaimana telah kami jelaskan.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يُلْحَقَ الْوَلَدُ بِالْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي وَذَلِكَ بِأَنْ تَضَعَهُ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا مِنْ إِصَابَةِ الْأَوَّلِ وَدُونَ أَرْبَعِ سِنِينَ مِنْ غَيْرِ اسْتِبْرَاءٍ أَوْ لِأَقَلَّ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ إِصَابَةِ الثَّانِي فَيَكُونُ لَاحِقًا بِالْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي وَيَكُونُ فِي حُكْمِ الْوَلَدِ وَكَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ فَيَ نِصْفِهَا وَفِي تَقْوِيمِ بَاقِيهَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ اعْتِبَارِ يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَلَا تَقْوِيمَ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَهْرُ مِثْلِهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا وَإِنْ عَجَزَتْ سَقَطَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نِصْفُ الْمَهْرِ إِنْ لَمْ يَكُونَا قَدْ دَفَعَاهُ وَتَقَاصَّا النِّصْفَ الْبَاقِي عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ مُوسِرًا قُوِّمَ عَلَيْهِ نِصْفُهَا الْبَاقِي وَفِيهِ قَوْلَانِ

Adapun bagian kedua, yaitu apabila anak dinisbatkan kepada suami pertama dan bukan kepada suami kedua, yaitu jika ia melahirkan anak setelah enam bulan atau lebih sejak berhubungan dengan suami pertama dan kurang dari empat tahun tanpa masa istibra’, atau kurang dari enam bulan sejak berhubungan dengan suami kedua, maka anak tersebut dinisbatkan kepada suami pertama dan bukan kepada suami kedua. Anak tersebut dihukumi sebagai anak dan status perempuan itu sebagai umm walad pada setengah dirinya, dan penilaian sisa dirinya mengikuti apa yang telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu mempertimbangkan keadaan mampu atau tidak mampu dari suami. Jika suami tidak mampu, maka tidak ada penilaian atasnya. Masing-masing dari keduanya wajib memberikan mahar mitsil untuk perempuan itu, yang dapat digunakan sebagai bantuan dalam penulisan (pembebasan dirinya). Jika ia tidak mampu, maka gugur dari masing-masing setengah mahar apabila keduanya belum membayarnya, dan keduanya saling mengurangi setengah sisanya sebagaimana telah kami sebutkan. Jika suami pertama mampu, maka sisa setengah dirinya dinilai atasnya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ التَّقْوِيمُ مَوْقُوفًا عَلَى الْعَجْزِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الْمَهْرُ وَاجِبًا عَلَى الثَّانِي لِلْمُكَاتَبَةِ تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا

Salah satunya adalah penilaian (taqwīm) itu tergantung pada ketidakmampuan. Dengan demikian, mahar menjadi wajib atas pihak kedua untuk diberikan kepada mukātabah agar ia dapat memanfaatkannya dalam proses penulisannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهَا تُقَوَّمُ عَلَى الْأَوَّلِ لِوَقْتِهَا وَلَا يَنْتَظِرُ بِالتَّقْوِيمِ عَجْزَهَا فَعَلَى هَذَا هَلْ يَصِيرُ الْمُقَوَّمُ مِنْهَا أُمَّ وَلَدٍ بِنَفْسِ الْإِيلَادِ أَوْ بِهِ وَيَدْفَعُ الْقِيمَةَ عَلَى قَوْلَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa penilaian (taqwīm) dilakukan terhadap budak perempuan tersebut pada saat pertama kali melahirkan, dan tidak menunggu hingga ia tidak mampu lagi melahirkan. Berdasarkan hal ini, apakah budak perempuan yang telah dinilai tersebut menjadi umm walad hanya dengan proses melahirkan itu sendiri, ataukah dengan melahirkan dan membayar nilai (harga) budak tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَصِيرُ النِّصْفُ الْمُقَوَّمُ عَلَيْهِ أُمَّ وَلَدٍ بِنَفْسِ الْإِيلَادِ كَمَا صَارَ مَا مَلَكَهُ مِنْهَا أُمَّ وَلَدٍ بِنَفْسِ الْإِيلَادِ فَعَلَى هَذَا لَا تَلْزَمُهُ قِيمَةُ النِّصْفِ الْبَاقِي مِنْ وَلَدِهِ وَيَكُونُ مَهْرُ الْمِثْلِ الْوَاجِبِ عَلَى الثَّانِي نِصْفُهُ وَاجِبٌ لِلْأَوَّلِ لِبُطْلَانِ الْكِتَابَةِ فِيهِ بِالتَّقْوِيمِ وَالنِّصْفُ الْآخَرُ يَكُونُ لَهَا إِنْ عَتَقَتْ وَلِلْأَوَّلِ إِنْ رَقَّتْ وَهَذَا هُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ

Salah satu dari keduanya adalah setengah bagian yang telah dinilai (ditetapkan nilainya) menjadi umm walad dengan sendirinya karena proses melahirkan, sebagaimana bagian yang dimiliki darinya juga menjadi umm walad dengan sendirinya karena proses melahirkan. Berdasarkan hal ini, ia tidak wajib membayar nilai setengah bagian yang tersisa dari anaknya, dan mahar mitsil yang wajib atas pihak kedua, setengahnya menjadi hak pihak pertama karena batalnya akad kitabah pada bagian yang dinilai tersebut. Setengah bagian lainnya menjadi miliknya (perempuan) jika ia merdeka, dan menjadi milik pihak pertama jika ia tetap sebagai budak. Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ النِّصْفَ الْمُقَوَّمَ مِنْهَا لَا يَصِيرُ أُمَّ وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ إِلَّا بِدَفْعِ الْقِيمَةِ بَعْدَ الْإِيلَادِ فَعَلَى هَذَا يَلْزَمُ الْأَوَّلَ نِصْفُ قِيمَةِ وَلَدِهِ وَيَكُونُ مَهْرُ الْمِثْلِ الْوَاجِبِ عَلَى الثَّانِي بِوَطْئِهِ لِلْمُكَاتَبَةِ تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا فَإِنْ عَجَزَتْ قَبْلَ دَفْعِهِ سَقَطَ عَنْهُ نِصْفُهُ وَكَانَ النِّصْفُ الْبَاقِي لِلْأَوَّلِ وَعَلَيْهِ مِثْلُهُ فَيَتَقَاصَّانِهِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ وَهَذَا الْقِسْمُ هُوَ مَسْطُورُ الْمَسْأَلَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa separuh bagian yang dinilai dari budak perempuan tersebut tidak menjadi umm walad bagi pemilik pertama kecuali setelah membayar nilai (separuhnya) setelah melahirkan. Maka, berdasarkan pendapat ini, pemilik pertama wajib membayar separuh nilai anaknya, dan mahar mitsil yang wajib atas pemilik kedua karena telah menggauli budak mukatabah tersebut digunakan olehnya untuk membantu pembayaran kitabah-nya. Jika ia tidak mampu membayar sebelum menerima mahar tersebut, maka gugurlah separuhnya dari tanggungan pemilik kedua, dan separuh sisanya menjadi milik pemilik pertama, serta ia juga wajib membayar yang semisalnya. Maka keduanya saling mengkompensasikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Bagian inilah yang merupakan inti dari permasalahan ini.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَلْحَقَ الْوَلَدُ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ بِأَنْ تَضَعَهُ إِمَّا لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ مِنْ وَطْءِ الْأَوَّلِ أَوْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا بَعْدَ اسْتِبْرَائِهِ فَلَا يَلْحَقُ بِالْأَوَّلِ نِصْفُهُ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا بَعْدَ وَطْءِ الثَّانِي وَلَا تَدَّعِي اسْتِبْرَاءً فَيَلْحَقُ بِالثَّانِي فَيَكُونُ مَا يَلْزَمُ الْأَوَّلَ مِنْ مَهْرِ مِثْلِهَا جَارِيًا عَلَى حُكْمِهِ لَوْ لَمْ يُحْبِلْهَا الثَّانِي وَمَا يَلْزَمُ الثَّانِي فِي تَقْوِيمِ الْأُمِّ وَحُكْمِ الْوَلَدِ وَالْمَهْرِ جَارِيًا عَلَى حُكْمِ لُحُوْقِهِ بِالْأَوَّلِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَصِيرَ نِصْفُهَا لَهُ أُمَّ وَلَدٍ لِوَقْتِهِ وَلَا يُبْطِلُ فِيهِ الْكِتَابَةَ ثُمَّ يُعْتَبَرُ حَالُ يَسَارِهِ وَإِعْسَارِهِ فَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا لَمْ يُقَوَّمْ عَلَيْهِ النِّصْفُ الْبَاقِي وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ لِلْأَوَّلِ وَكَانَ نِصْفُ الْوَلَدِ حُرًّا وَفِي نِصْفِهِ الثَّانِي وَجْهَانِ

Adapun bagian ketiga, yaitu ketika anak yang kedua dinasabkan kepada suami kedua saja, bukan kepada suami pertama, yaitu jika ia melahirkan anak itu setelah lebih dari empat tahun dari hubungan dengan suami pertama, atau setelah enam bulan atau lebih setelah masa istibra’ dari suami kedua, maka anak itu tidak dinasabkan kepada suami pertama. Separuh anak itu dinasabkan kepada suami kedua jika telah berlalu enam bulan atau lebih setelah hubungan dengan suami kedua, dan tidak mengklaim adanya masa istibra’, maka anak itu dinasabkan kepada suami kedua. Maka kewajiban mahar yang harus ditanggung oleh suami pertama tetap berlaku sebagaimana hukumnya seandainya suami kedua tidak menghamilinya. Sedangkan kewajiban suami kedua dalam penilaian terhadap ibu, status anak, dan mahar mengikuti hukum nasab anak kepada suami pertama. Hal itu terjadi dengan menjadikan separuh dari ibu sebagai ummu walad (budak yang melahirkan anak tuannya) bagi suami kedua pada saat itu, dan hal ini tidak membatalkan akad kitabah (perjanjian pembebasan budak). Kemudian dilihat keadaan kemampuan atau ketidakmampuan suami kedua; jika ia tidak mampu, maka separuh sisanya tidak dinilai atasnya, dan tetap pada akad kitabah kepada suami pertama, dan separuh anak itu menjadi merdeka, sedangkan pada separuh lainnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا حُرٌّ وَعَلَى أَبِيهِ قِيمَتُهُ لِلْأَوَّلِ يُؤَدِّيهَا إِذَا أَيْسَرَ وَالثَّانِي مَرْقُوقٌ وَهَلْ يَتْبَعُ أُمَّهُ فِي حِصَّةِ الْأَوَّلِ إِنْ عَتَقَتْ بِالْأَدَاءِ عَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا وَالْكَلَامُ فِي الْمَهْرِ عَلَى مَا مَضَى وَإِنْ كَانَ مُوسِرًا قُوِّمَ عَلَيْهِ النِّصْفُ الْآخَرُ وَهَلْ يُقَوَّمُ فِي الْحَالِ أَوْ بَعْدَ الْعَجْزِ عَلَى مَا مَضَى من القولين

Salah satu dari keduanya adalah merdeka, dan ayahnya wajib membayar nilai (anak tersebut) kepada pemilik pertama, yang harus dibayarkan ketika ia mampu. Yang kedua adalah budak. Apakah ia mengikuti status ibunya dalam bagian milik pemilik pertama jika ibunya merdeka dengan pembayaran, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Pembahasan tentang mahar mengikuti apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika ayahnya mampu, maka separuh bagian yang lain dinilai atasnya. Apakah penilaian itu dilakukan saat ini atau setelah ketidakmampuan (membayar), hal ini mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

أحدهما يوم بَعْدَ الْعَجْزِ فَعَلَى هَذَا تَلْزَمُهُ قِيمَةُ نِصْفِ الْوَلَدِ

Salah satunya adalah hari setelah ketidakmampuan, maka dalam hal ini ia wajib membayar nilai setengah dari anak tersebut.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يُقَوَّمُ لِوَقْتِهِ فِي الْحَالِ فَعَلَى هَذَا فِي وُجُوبِ قِيمَتِهِ نِصْفُ الْوَلَدِ قَوْلَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلَيْهِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي يَصِيرُ نِصْفُهَا الْبَاقِي مِنْهُ أُمَّ وَلَدٍ فَإِنْ قِيلَ بِالْإِيلَادِ فَلَا قِيمَةَ عَلَيْهِ لِلْوَلَدِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa penilaian dilakukan pada saat itu juga. Berdasarkan hal ini, dalam kewajiban membayar nilai setengah anak, terdapat dua pendapat yang berbeda, sesuai dengan perbedaan pendapat mengenai waktu ketika setengah budak perempuan yang tersisa darinya menjadi umm walad. Jika dikatakan bahwa penentuannya adalah dengan kelahiran, maka tidak ada kewajiban membayar nilai anak.

وَإِنْ قِيلَ بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ بَعْدَ الْإِيلَادِ فَعَلَيْهِ نِصْفُ قِيمَةِ الْوَلَدِ وَتَبْطُلُ الْكِتَابَةُ فِي النِّصْفِ الْمُقَوَّمِ وَلَا تَبْطُلُ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي فَيُرَاعَى حَالُهَا فِي الْأَدَاءِ وَالْعَجْزِ فَإِنْ عَجَزَتْ صَارَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ وَإِنْ أَدَّتْ عَتَقَ جَمِيعُهَا نِصْفُهَا بِالْكِتَابَةِ وَنِصْفُهَا بِالسِّرَايَةِ فَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ فَيَأْتِي مسطوراً من بعد

Dan jika dikatakan bahwa yang harus dibayarkan adalah nilai (harga) setelah melahirkan, maka ia wajib membayar setengah dari nilai anak tersebut, dan akad kitābah batal pada setengah bagian yang dinilai, namun tidak batal pada setengah bagian sisanya. Maka, keadaan perempuan tersebut diperhatikan dalam hal pembayaran dan ketidakmampuan. Jika ia tidak mampu membayar, seluruh dirinya menjadi umm walad. Jika ia mampu membayar, seluruh dirinya merdeka; setengahnya karena kitābah dan setengahnya lagi karena sirāyah. Adapun bagian keempat akan dijelaskan setelah ini.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ جَاءَتْ بِوَلَدٍ لِأَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ وَطْءِ الْآخَرِ مِنْهُمَا كِلَاهُمَا يَدَّعِيهِ أَوْ أَحَدُهُمَا وَلَا تَدَّعِي اسْتِبْرَاءً فَهِيَ أُمُّ وَلَدِ أَحَدِهِمَا فَإِنْ عَجَزَتْ أُخِذَ بِنَفَقَتِهَا وَأُرِيَ الْقَافَةَ فَبِأَيِّهِمَا أَلْحَقُوهُ لَحِقَ فَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِهِمَا لَمْ يَكُنِ ابْنَ وَاحِدِ مِنْهُمَا حَتَّى يَبْلُغَ فَيَنْتَسِبَ إِلَى أَحَدِهِمَا وَتَنْقَطِعَ عَنْهُ أُبُوَّةُ الْآخَرِ وَعَلَيْهِ لِلَّذِي انْقَطَعَتْ أُبُوَّتُهُ نِصْفُ قِيمَتِهَا إِنْ كَانَ مُوسِرًا وَكَانَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَنِصْفُهَا لِشَرِيكِهِ بِحَالِهِ وَالصَّدَاقَانِ سَاقِطَانِ عَنْهُمَا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang perempuan melahirkan anak setelah lebih dari enam bulan dari hubungan dengan salah satu dari dua orang tersebut, lalu keduanya mengakuinya atau salah satu dari mereka mengakuinya, dan perempuan itu tidak mengaku telah melakukan istibrā’ (masa penantian untuk memastikan kosongnya rahim), maka ia menjadi umm walad (budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya) salah satu dari mereka. Jika ia tidak mampu (menentukan ayahnya), maka nafkahnya diambil dari keduanya dan anak itu diperlihatkan kepada para qāfah (ahli nasab). Kepada siapa pun dari mereka yang para qāfah menisbatkan anak itu, maka anak itu menjadi anaknya. Jika para qāfah menisbatkannya kepada keduanya, maka anak itu tidak menjadi anak salah satu dari mereka sampai ia dewasa, lalu ia memilih untuk bernasab kepada salah satu dari mereka, dan terputuslah hubungan ayah dari yang lain. Kepada yang terputus hubungan ayahnya, diberikan setengah nilai perempuan itu jika ia mampu dan perempuan itu adalah umm walad baginya. Jika ia tidak mampu, maka setengahnya menjadi milik rekannya sesuai keadaannya, dan kedua mahar gugur dari keduanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ هِيَ الْقِسْمُ الرَّابِعُ مِنَ الْأَقْسَامِ الْمَاضِيَةِ وَهُوَ أَنْ يُمْكِنَ لُحُوقُ الْوَلَدِ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَذَلِكَ بِأَنْ تَضَعَهُ لِأَقَلَّ مِنْ أَرْبَعِ سِنِينَ مِنْ وَطْءِ الْأَوَّلِ وَلِسِتَّةِ أَشْهُرٍ فَصَاعِدًا مِنْ وَطْءِ الثَّانِي وَلَيْسَ فِيهَا مَنْ يَدَّعِي الِاسْتِبْرَاءَ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَلْحَقَ بِالْأَوَّلِ لِأَنَّهَا وَضَعَتْهُ لِأَقَلَّ مِنْ أَكْثَرِ الْحَمْلِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَلْحَقَ بِالثَّانِي لِأَنَّهَا وَضَعَتْهُ لِأَكْثَرَ مِنْ أَقَلِّ الْحَمْلِ وَإِذَا احْتَمَلَ الْأَمْرَيْنِ عُرِضَ الْوَلَدُ عَلَى الْقَافَةِ لِيُلْحِقُوهُ بِأَحَدِهِمَا فَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِالْأَوَّلِ كَانَ الْحُكْمُ فِيهِ عَلَى مَا مَضَى فِي الْقِسْمِ الثَّانِي وَإِنْ أَلْحَقُوهُ بِالثَّانِي كَانَ الْحُكْمُ فِيهِ عَلَى مَا مَضَى فِي الْقِسْمِ الثَّالِثِ وَإِنْ أَشْكَلَ عَلَى الْقَافَةِ وَقَفَ الْوَلَدُ عَلَى الِانْتِسَابِ إِلَى أَحَدِهَا وَفِي زَمَانِ انْتِسَابِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Masalah ini adalah bagian keempat dari bagian-bagian yang telah lalu, yaitu apabila memungkinkan anak tersebut dinisbatkan kepada masing-masing dari keduanya. Hal itu terjadi jika ia melahirkan anak tersebut dalam waktu kurang dari empat tahun sejak digauli oleh yang pertama, dan dalam waktu enam bulan atau lebih sejak digauli oleh yang kedua, serta tidak ada di antara mereka yang mengklaim telah melakukan istibra’. Maka dimungkinkan anak itu dinisbatkan kepada yang pertama karena ia melahirkannya dalam waktu kurang dari masa kehamilan terpanjang, dan dimungkinkan juga dinisbatkan kepada yang kedua karena ia melahirkannya dalam waktu lebih dari masa kehamilan terpendek. Jika kedua kemungkinan itu ada, maka anak tersebut diajukan kepada ahli qafah agar mereka menisbatkannya kepada salah satu dari keduanya. Jika ahli qafah menisbatkannya kepada yang pertama, maka hukumnya mengikuti apa yang telah dijelaskan pada bagian kedua. Jika mereka menisbatkannya kepada yang kedua, maka hukumnya mengikuti apa yang telah dijelaskan pada bagian ketiga. Namun jika ahli qafah pun bingung, maka status anak tersebut tergantung pada pengakuan nasab kepada salah satu dari keduanya, dan dalam waktu pengakuan nasab itu terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا إِذَا استكمل سبع سنين في الحال التي خير فِيهَا بَيْنَ أَبَوَيْهِ لِأَنَّهُ يَنْقَادُ بِطَبْعِهِ

Salah satunya adalah apabila seorang anak telah genap berusia tujuh tahun dalam keadaan di mana ia diberi pilihan antara kedua orang tuanya, karena pada usia tersebut ia cenderung mengikuti nalurinya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي الْبُلُوغُ لِأَنَّهُ لَا حُكْمَ لِقَوْلِهِ قَبْلَ بُلُوغِهِ فَإِذَا انْتَهَى إِلَى زَمَانِ الِانْتِسَابِ قِيلَ لَهُ انْتَسِبْ إِلَى أَحَدِهِمَا بِطَبْعِكَ الْمَائِلِ إِلَيْهِ فَإِنَّ الْأَنْسَابَ تَتَعَاطَفُ

Pendapat kedua menyatakan bahwa batasannya adalah baligh, karena tidak ada ketetapan hukum atas ucapannya sebelum ia baligh. Maka, ketika telah sampai pada masa untuk memilih nasab, dikatakan kepadanya: “Pilihlah nasab kepada salah satu dari keduanya sesuai kecenderungan tabiatmu kepadanya,” karena nasab itu saling memiliki hubungan kasih sayang.

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   إِنَّ الرَّحِمَ إِذَا تَمَاسَّتْ تَعَاطَفَتْ   فَإِذَا انْتَسَبَ إِلَى أَحَدِهِمَا لَحِقَ بِهِ وَانْقَطَعَتْ عَنْهُ أُبُوَّةُ الْآخَرِ وَيَكُونُ حُكْمُ مَنْ لَحِقَ بِهِ وَانْتَفَى عَنْهُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya rahim (hubungan kekerabatan) apabila saling bersentuhan maka akan saling berkasih sayang. Apabila seseorang dinasabkan kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan mengikuti nasab tersebut dan terputuslah hubungan kebapakan dari yang lainnya. Hukum bagi orang yang dinasabkan kepadanya dan terlepas darinya adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.”

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الْأَمْرَ فِيهِ مَوْقُوفٌ عَلَى هَذَا الِانْتِسَابِ تَعَلَّقَ بِزَمَانِ الْوَقْفِ ثَلَاثَةُ أَحْكَامٍ

Maka apabila telah dipastikan bahwa perkara ini bergantung pada adanya keterkaitan tersebut, maka pada waktu terjadinya penangguhan itu terdapat tiga hukum yang terkait.

فَالْحُكْمُ الْأَوَّلُ فِي كِتَابَةِ الْأُمِّ وَذَلِكَ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ الْوَاطِئَيْنِ فَإِنَّهُمَا لَا يَخْلُوَانِ فِيهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Maka hukum pertama dalam penulisan Umm (kitab induk) adalah hal itu disesuaikan dengan keadaan kedua pelaku (yang melakukan hubungan), karena keduanya dalam hal ini tidak lepas dari tiga kategori.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَا مُوسِرَيْنِ

Salah satunya adalah keduanya dalam keadaan mampu.

وَالثَّانِي أن يكون مُعْسِرَيْنِ

Dan yang kedua adalah keduanya dalam keadaan tidak mampu (miskin).

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا مُعْسِرًا وَالْآخَرُ مُوسِرًا فَإِنْ كَانَا مُوسِرَيْنِ كَانَتْ كِتَابَتُهُمَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Dan yang ketiga adalah apabila salah satu dari keduanya dalam keadaan sulit (miskin) dan yang lainnya dalam keadaan mampu (kaya). Jika keduanya sama-sama mampu, maka status penulisan mereka terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا بَاقِيَةٌ بِحَالِهَا فِي جَمِيعِهَا وَيَمْلِكُ جَمِيعَ كَسْبِهَا وَيَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا بِجَمِيعِ مَهْرِهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي أَدَاءِ كِتَابَتِهَا فَإِذَا أَدَّتْ عَتَقَتْ وَإِنْ عَجَزَتْ كَانَتْ أُمَّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا تُوقَفُ عَلَى الْبَيَانِ وَلَا تَعْتِقُ إِلَّا بِآخِرِهِمَا مَوْتًا إِنْ مَاتَا قَبْلَ الْبَيَانِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa ia tetap dalam keadaannya semula secara keseluruhan, dan masing-masing dari mereka memiliki seluruh hasil usahanya, serta masing-masing dari mereka berhak atas seluruh maharnya yang dapat digunakan untuk membantu membayar akad kitabah-nya. Jika ia telah melunasi pembayaran tersebut, maka ia merdeka. Namun jika ia tidak mampu, maka ia menjadi umm walad bagi salah satu dari mereka, dan statusnya ditangguhkan hingga ada penjelasan lebih lanjut. Ia tidak akan merdeka kecuali setelah yang terakhir dari mereka meninggal dunia, jika keduanya meninggal sebelum ada penjelasan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ فِي نِصْفِهَا قَدْ بَطَلَتْ وَبَقِيَتْ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ وَيَكُونُ نِصْفُ كَسْبِهَا مَوْقُوفًا عَلَى مَنْ تَصِيرُ لَهُ أُمَّ وَلَدٍ وَالنِّصْفُ الْآخَرُ لَهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا فَإِنْ أَدَّتْ تَحَرَّرَ عِتْقُ جَمِيعِهَا نِصْفُهَا بِالْكِتَابَةِ وَنِصْفُهَا بِالسِّرَايَةِ وَإِنْ عَجَزَتْ كَانَتْ أُمَّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا لَا بِعَيْنِهِ فَيُوقَفُ أَمْرُهَا فِيهِ وَفِي الْفَاضِلِ مِنْ كَسْبِهَا بَعْدَ الْعَجْزِ وَفِي النِّصْفِ الْمَرْقُوقِ مِنَ الْكَسْبِ عَلَى مَا يَتَجَدَّدُ من البيان فيما بعد وإن كان مُعْسِرَيْنِ فَنَصِفُهَا يَكُونُ فِي حُكْمِ أُمِّ الْوَلَدِ وَالْكِتَابَةُ فِي جَمِيعِهَا بَاقِيَةٌ وَالْأَدَاءُ يَكُونُ إِلَيْهَا فَإِنْ عَتَقَتْ بِهِ بَطَلَ حُكْمُ الْإِيلَادِ وَإِنْ عَجَزَتْ كَانَ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ وَنِصْفُهَا مَرْقُوقًا وَتُوقَفَ عَلَى الْبَيَانِ فَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ مَاتَا عَتَقَ نَصِفُهَا بِمَوْتِ آخِرِهِمَا وَكَانَ النِّصْفُ الْمَمْلُوكُ مَوْقُوفًا عَلَى الْبَيَانِ وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مُوسِرًا وَالْآخَرُ مُعْسِرًا فَلَا تَقْوِيمَ عَلَى الْمُوسِرِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ مِنَ الْمُعْسِرِ وَتَكُونُ الْكِتَابَةُ بِحَالِهَا كَمَا لَوْ كَانَا مُعْسِرَيْنِ لِأَنَّهَا عَلَى الصِّحَّةِ فَلَا تُفْسَخُ بِالْجَوَازِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa perjanjian kitabah pada separuhnya telah batal dan masih berlaku pada separuh lainnya. Maka, separuh hasil usahanya ditahan untuk siapa yang kelak menjadi pemiliknya sebagai umm walad, dan separuh lainnya menjadi miliknya untuk membantunya dalam menunaikan kitabah. Jika ia mampu melunasi, maka seluruh dirinya merdeka: separuhnya karena kitabah dan separuhnya karena sirayah. Jika ia tidak mampu, maka ia menjadi umm walad bagi salah satu dari keduanya, namun tidak secara spesifik, sehingga statusnya ditangguhkan, demikian pula kelebihan hasil usahanya setelah ketidakmampuan, dan separuh hasil usaha yang masih menjadi budak ditangguhkan hingga ada penjelasan lebih lanjut di kemudian hari. Jika keduanya fakir, maka separuh dirinya berstatus sebagai umm walad dan perjanjian kitabah pada seluruh dirinya tetap berlaku, dan pembayaran dilakukan kepadanya. Jika ia merdeka karenanya, maka status umm walad gugur. Jika ia tidak mampu, maka separuh dirinya menjadi umm walad dan separuhnya tetap sebagai budak, dan statusnya ditangguhkan hingga ada penjelasan. Jika salah satu dari keduanya meninggal, ia tidak merdeka; namun jika keduanya meninggal, maka separuh dirinya merdeka karena kematian yang terakhir, dan separuh yang masih menjadi budak ditangguhkan hingga ada penjelasan. Jika salah satu dari keduanya mampu dan yang lain fakir, maka tidak ada penilaian harga atas yang mampu, karena mungkin saja anak itu berasal dari yang fakir, dan perjanjian kitabah tetap sebagaimana adanya seperti jika keduanya fakir, karena perjanjian itu sah sehingga tidak dibatalkan hanya karena kemungkinan tersebut.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْحُكْمُ الثَّانِي فِي الْوَلَدِ وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِحَالِهِمَا فِي الْيَسَارِ وَالْإِعْسَارِ فَإِنَّهُمَا لَا يَخْلُوَانِ مِنَ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ

Hukum kedua berkaitan dengan anak, yaitu hukum ini mempertimbangkan keadaan keduanya (orang tua) dalam hal mampu atau tidak mampu (secara finansial), karena keduanya tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَا مُوسِرَيْنِ فَيَكُونُ جَمِيعُ الْوَلَدِ حُرًّا

Salah satunya adalah apabila kedua orang tua itu sama-sama mampu (mampu secara finansial), maka seluruh anak yang lahir dari mereka menjadi merdeka.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَا مُعْسِرَيْنِ فَنِصْفُ الْوَلَدِ حُرٌّ وَفِي نِصْفِهِ الْآخَرِ وَجْهَانِ

Kedua, jika keduanya (ayah dan ibu) adalah orang yang tidak mampu (miskin), maka setengah anak tersebut adalah merdeka, dan pada setengahnya yang lain terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ حُرًّا وَيَتَحَرَّرُ عِتْقُ جَمِيعِهِ وَيَجْرِي مَجْرَى أَحْكَامِ الْأَحْرَارِ

Salah satunya menjadi merdeka, sehingga kemerdekaan berlaku bagi semuanya, dan mereka diperlakukan sesuai dengan hukum-hukum orang merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَكُونُ مَمْلُوكًا يَجْرِي عَلَى نِصْفِهِ حُكْمُ الْحُرِّيَّةِ وَعَلَى نِصْفِهِ حُكْمُ الرِّقِّ

Adapun bentuk kedua adalah seseorang yang dimiliki, di mana berlaku atas separuh dirinya hukum kebebasan dan atas separuh lainnya hukum perbudakan.

فَإِنِ اجْتَمَعَ الْوَاطِئَانِ عَلَى بَيْعِ نِصْفِهِ الْمَرْقُوقِ جَازَ وَوُقِفَ ثَمَنُهُ عَلَى مُسْتَحَقِّهِ مِنْهُمَا وَإِنْ تَفَرَّدَ أَحَدُهُمَا بِبَيْعِ نِصْفِهِ لم يجز لجواز أن يكونا أَبًا

Jika kedua orang yang melakukan hubungan (dengan budak perempuan) sepakat untuk menjual separuh bagian budak perempuan yang menjadi milik bersama mereka, maka hal itu diperbolehkan dan harga jualnya ditahan hingga jelas siapa yang berhak menerimanya di antara mereka. Namun jika salah satu dari mereka menjual separuh bagiannya sendiri secara sendirian, maka hal itu tidak diperbolehkan karena dimungkinkan keduanya adalah ayah (dari anak yang dilahirkan budak tersebut).

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا مُوسِرًا وَالْآخَرُ مُعْسِرًا فَيَكُونُ نِصْفُهُ حُرًّا وَفَى نِصْفِهِ الْآخَرِ وَجْهَانِ

Ketiga, jika salah satu dari keduanya mampu (membayar) dan yang lainnya tidak mampu, maka separuhnya menjadi merdeka, dan pada separuh lainnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ حُرًّا وَيَتَحَرَّرُ عِتْقُ جَمِيعِهِ وَيَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْحُرِّيَّةِ

Salah satunya menjadi merdeka, maka kemerdekaan berlaku atas seluruhnya, dan padanya berlaku hukum-hukum kemerdekaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ مَوْقُوفًا فَإِنْ لَحِقَ بِالْمُوسِرِ كَانَ حُرًّا وَإِنْ لَحِقَ بِالْمُعْسِرِ كَانَ مَمْلُوكًا وَلَوِ اجْتَمَعَا عَلَى بَيْعِهِ لَمْ يَجُزْ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ

Pendapat kedua adalah bahwa statusnya mauquf (tertunda); jika ia bergabung dengan pihak yang mampu, maka ia menjadi merdeka, dan jika ia bergabung dengan pihak yang tidak mampu, maka ia menjadi budak. Jika keduanya sepakat untuk menjualnya, maka tidak diperbolehkan karena statusnya masih ragu antara kemerdekaan dan perbudakan.

فَصْلٌ

Fasal

وَالْحُكْمُ الثَّالِثُ فِي النَّفَقَةِ وَهُمَا نَفَقَتَانِ نَفَقَةُ الْوَلَدِ وَنَفَقَةُ الْأُمِّ

Hukum ketiga berkaitan dengan nafkah, yaitu ada dua macam nafkah: nafkah untuk anak dan nafkah untuk ibu.

فَأَمَّا نَفَقَةُ الْوَلَدِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِأَحْوَالِهِ الثَّلَاثِ أَحَدُهَا أَنْ يُحْكُمَ بِحَرِيَّةِ جَمِيعِهِ فَيُؤْخَذَانِ جَمِيعًا بِنَفَقَتِهِ فَلَوْ أُلْحِقَ بِأَحَدِهِمَا رَجَعَ الْآخَرُ عَلَيْهِ بِمَا أَنْفَقَ وَالثَّانِي أَنْ يَحْكُمَ بِحُرِّيَّةِ نِصْفِهِ وَرِقِّ نِصْفِهِ فَيُؤْخَذَانِ جَمِيعًا بِهَا وَلَا رُجُوعَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى صَاحِبِهِ إِذَا لَحِقَ بِهِ لِأَنَّ الْآخَرَ يَصِيرُ مَالِكًا لِرِقِّهِ وَالثَّالِثُ أَنْ يَحْكُمَ بِحَرِيَّةِ نِصْفِهِ وَوُقُوفِ نِصْفِهِ فَيُؤْخَذَانِ جَمِيعًا بِنَفَقَتِهِ فَإِنْ أُلْحِقَ بِالْمُوسِرِ وَبَانَ بَاقِيهِ حُرًّا رَدَّ عَلَى صَاحِبِهِ مَا أَنْفَقَ وَإِنْ لَحِقَ بِالْمُعْسِرِ وَبَانَ بَاقِيهِ مَمْلُوكًا فَلَا تَرَاجُعَ بَيْنَهُمَا

Adapun nafkah anak, maka hukumnya dipertimbangkan berdasarkan tiga keadaan. Pertama, jika diputuskan seluruhnya merdeka, maka keduanya (para wali) bersama-sama menanggung nafkahnya. Jika kemudian anak itu dinisbatkan kepada salah satu dari mereka, maka yang lain dapat menuntut kembali apa yang telah ia keluarkan. Kedua, jika diputuskan setengahnya merdeka dan setengahnya budak, maka keduanya tetap bersama-sama menanggung nafkahnya, dan tidak ada hak saling menuntut antara keduanya jika anak itu dinisbatkan kepada salah satunya, karena yang lain menjadi pemilik bagian budaknya. Ketiga, jika diputuskan setengahnya merdeka dan setengahnya mauquf (statusnya tertunda), maka keduanya tetap bersama-sama menanggung nafkahnya. Jika kemudian anak itu dinisbatkan kepada yang mampu dan sisanya ternyata merdeka, maka ia harus mengembalikan kepada yang lain apa yang telah dikeluarkan. Namun jika dinisbatkan kepada yang tidak mampu dan sisanya ternyata budak, maka tidak ada hak saling menuntut di antara keduanya.

وَأَمَّا نَفَقَةُ الْأُمِّ فَإِنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِهَا وَهِيَ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Adapun nafkah untuk ibu, maka hal itu disesuaikan dengan keadaannya, dan nafkah tersebut terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ قَدْ تَحَرَّرَ عِتْقُ جَمِيعِهَا بِالْأَدَاءِ فَنَفَقَتُهَا سَاقِطَةٌ عَنْهَا فَلَا يُؤْخَذُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا بِهَا

Salah satunya adalah apabila seluruhnya telah merdeka dengan pelunasan, maka nafkahnya tidak lagi menjadi tanggungannya, sehingga tidak ada seorang pun dari keduanya yang dibebani kewajiban nafkah tersebut.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ جَمِيعُهَا قَدْ صَارَ أُمَّ وَلَدٍ لِعَجْزِهَا وَلِيَسَارِ الْوَاطِئَيْنِ فَنَفَقَتُهَا وَاجِبَةٌ وَيُؤْخَذَانِ جَمِيعًا بِهَا

Bagian kedua adalah apabila seluruh budak perempuan itu telah menjadi umm walad karena ketidakmampuannya dan karena kedua orang yang menggaulinya adalah orang yang mampu, maka nafkahnya wajib diberikan dan keduanya bersama-sama bertanggung jawab atas nafkah tersebut.

فَإِذَا بَانَ أَنَّهَا أُمُّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا بِعَيْنِهِ رَجَعَ الْآخَرُ عَلَيْهِ بِمَا أَنْفَقَ

Maka apabila telah jelas bahwa perempuan itu adalah umm walad milik salah satu dari mereka secara spesifik, maka yang lain berhak menuntut kembali apa yang telah ia keluarkan (nafkah atau biaya) darinya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ وَنِصْفُهَا مَمْلُوكًا لِعَجْزِهَا وَإِعْسَارِ الْوَاطِئَيْنِ فَنَفَقَتُهَا وَاجِبَةٌ عَلَيْهِمَا وَمُسْتَقِرَّةٌ بَيْنَهُمَا وَلَا رُجُوعَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ بَعْدَ الْبَيَانِ لِأَنَّهَا إِذَا صَارَ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا فَقَدْ صَارَ نِصْفُهَا الْبَاقِي مَرْقُوقًا لِلْآخَرِ فَاسْتَوَيَا فِي الْتِزَامِهَا فَسَقَطَ التَّرَاجُعُ

Bagian ketiga adalah apabila separuh dirinya menjadi umm walad dan separuh lainnya tetap menjadi milik karena ketidakmampuan dan kesulitan finansial kedua orang yang menggaulinya. Maka nafkahnya wajib ditanggung oleh keduanya dan menjadi tanggungan bersama di antara mereka, serta tidak ada hak salah satu dari mereka untuk menuntut kembali kepada yang lain setelah penjelasan ini. Sebab, ketika separuh dirinya menjadi umm walad bagi salah satu dari mereka, maka separuh sisanya tetap menjadi budak milik yang lain, sehingga keduanya sama-sama berkewajiban menanggungnya, dan dengan demikian gugurlah hak saling menuntut.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ جَاءَتْ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِوَلَدٍ يَدَّعِيهِ وَلَمْ يَدَّعِهِ صَاحِبُهُ فَإِنْ كَانَ الْأَوَّلُ مُوسِرًا أَدَّى نِصْفَ قِيمَتِهَا وَهِيَ أُمُّ وَلَدٍ لَهُ وَعَلَيْهِ نِصْفُ مَهْرِهَا لِشَرِيكِهِ وَالْقَوْلُ فِي نِصْفِ وَلَدِهَا كَمَا وَصَفْتُ وَيَلْحَقُ الْوَلَدُ الْآخَرُ بِالْوَاطِئِ الْآخَرِ وَعَلَيْهِ مَهْرُهَا كُلُّهُ وَقِيمَةُ الْوَلَدِ يَوْمَ سَقَطَ تَكُونُ قِصَاصًا مِنْ نِصْفِ قِيمَةِ الْجَارِيَةِ وَإِنَّمَا لَحِقَ وَلَدُهَا بِهِ بِالشُّبْهَةِ قَالَ المزني وقد مضى قوله في هذه المسألة بما قلت لأنه لو لم تكن للأول أم ولد إلا بعد أداء نصف القيمة لما كان على المحبل الثاني جميع مهرها ولا قيمة ولده منها فتفهم ذلك

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika masing-masing dari keduanya (dua orang yang bersengketa) mengakui seorang anak yang dilahirkan oleh perempuan itu, dan tidak ada yang mengakui anak yang diakui oleh pihak lainnya, maka jika yang pertama mampu (mampu membayar), ia wajib membayar setengah dari nilai perempuan itu, dan perempuan itu menjadi umm walad baginya, serta ia wajib membayar setengah mahar perempuan itu kepada rekannya. Adapun ketentuan mengenai setengah anaknya sebagaimana telah aku jelaskan. Anak yang lain dinisbatkan kepada pihak yang berhubungan (menyetubuhi) yang lain, dan ia wajib membayar seluruh mahar perempuan itu, serta nilai anak pada hari ia lahir menjadi sebagai pengganti dari setengah nilai budak perempuan itu. Anak perempuan itu dinisbatkan kepadanya karena adanya syubhat (keraguan).” Al-Muzani berkata: “Telah berlalu penjelasan beliau dalam masalah ini sebagaimana yang aku sebutkan, karena jika perempuan itu tidak menjadi umm walad bagi yang pertama kecuali setelah membayar setengah nilai, maka pihak kedua yang menghamili tidak wajib membayar seluruh mahar perempuan itu dan tidak pula nilai anaknya darinya. Maka pahamilah hal ini.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ مُصَوَّرَةٌ فِي وَطْءِ الشَّرِيكَيْنِ إِذَا وَضَعَتْ مِنْهُمَا وَلَدَيْنِ وَتَعَيَّنَ وَلَدُ الْأَوَّلِ مِنْهُمَا وَوَلَدُ الثَّانِي مِنْ غَيْرِ اخْتِلَافٍ وَلَا دَعْوَى اسْتِبْرَاءٍ فَيَلْحَقُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَلَدُهُ وَيُعَزَّرَانِ إِنْ عَلِمَا وَلَا يُحَدَّانِ لِمَا ذَكَرْنَا وَقَدْ صَوَّرَهَا الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ إِذَا رَقَّتْ بِالْعَجْزِ لِأَنَّ حُكْمَهَا إِنْ لَمْ تَعْجِزْ مَبْنِيٌّ عَلَيْهِ وَمَحْكُومٌ فِيهِ بِمَا أَوْضَحْنَاهُ فِي الْوَلَدِ الْوَاحِدِ وَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ اعْتُبِرَتْ حَالُ الْوَاطِئَيْنِ فَإِنَّهُمَا لَا يَخْلُوَانِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ إِمَّا أَنْ يَكُونَا مُوسِرَيْنِ أَوْ يَكُونَا مُعْسِرَيْنِ أَوْ يَكُونُ الْأَوَّلُ مُوسِرًا وَالثَّانِيَ مُعْسِرًا أَوْ يَكُونُ الْأَوَّلُ مُعْسِرًا وَالثَّانِي مُوسِرًا

Al-Mawardi berkata: Masalah ini digambarkan dalam kasus hubungan badan dua orang yang berserikat (memiliki budak perempuan), jika dari keduanya lahir dua anak, dan telah dipastikan anak yang pertama dari salah satu dari mereka, dan anak yang kedua dari yang lainnya, tanpa ada perbedaan pendapat dan tanpa ada klaim istibra’ (masa penantian untuk memastikan kosongnya rahim), maka masing-masing anak dinisbatkan kepada ayahnya, dan keduanya (dua orang yang berserikat itu) dikenai ta‘zir jika mereka mengetahui (larangan tersebut), namun tidak dikenai had sebagaimana telah kami sebutkan. Masalah ini juga digambarkan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm ketika budak perempuan itu menjadi lemah karena ketidakmampuan, karena hukumnya jika tidak lemah dibangun atas hal tersebut dan diputuskan sebagaimana telah kami jelaskan pada kasus anak tunggal. Jika keadaannya demikian, maka dilihat kondisi kedua orang yang melakukan hubungan badan itu; keduanya tidak lepas dari empat keadaan: bisa jadi keduanya mampu (mampu membayar denda), atau keduanya tidak mampu, atau yang pertama mampu dan yang kedua tidak mampu, atau yang pertama tidak mampu dan yang kedua mampu.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَا مُوسِرَيْنِ فَنَبْدَأُ بِحُكْمِ الْأَوَّلِ ثُمَّ حُكْمِ الثَّانِي

Adapun bagian pertama, yaitu apabila keduanya mampu, maka kita mulai dengan hukum yang pertama, kemudian hukum yang kedua.

أَمَّا الْأَوَّلُ فَوَلَدُهُ حُرٌّ كُلُّهُ وَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَتَصِيرُ حِصَّتُهُ مِنْهَا وَهِيَ النِّصْفُ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ وَيُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَاقِيهَا وَهُوَ النِّصْفُ لِيَصِيرَ جَمِيعُهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ وَفِيمَا يَصِيرُ بِهِ مَا يُقَوَّمُ مِنْهَا أُمَّ وَلَدٍ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ أَحَدُهَا بِالْإِحْبَالِ وَالثَّانِي بِأَدَاءِ الْقِيمَةِ وَالثَّالِثُ مَوْقُوفٌ مَرَاعًى فَإِنْ دَفَعَ الْقِيمَةَ عُلِمَ أَنَّهَا أُمُّ وَلَدٍ بِالْعُلُوقِ وَإِنْ لَمْ يَدْفَعْهَا عُلِمَ أَنْ لَمْ تَكُنْ بِذَلِكَ أُمَّ وَلَدٍ وَأَمَّا قِيمَةُ نِصْفِ الْوَلَدِ فَإِنْ وَضَعَتْهُ بَعْدَ دَفْعِ الْقِيمَةِ لَمْ يَلْزَمْهُ وَكَانَ جَمِيعُهُ حُرًّا مِنْ غَيْرِ تَقْوِيمٍ وَإِنْ وَضَعَتْهُ قَبْلَ دَفْعِ الْقِيمَةِ فَإِنْ جُعِلَتْ أُمَّ وَلَدٍ بِالْإِحْبَالِ لَمْ يَلْزَمْهُ قِيمَتُهُ وَإِنْ جُعِلَتْ أُمَّ وَلَدٍ بِدَفْعِ الْقِيمَةِ لَزِمَهُ نِصْفُ قِيمَتِهِ لِشَرِيكِهِ

Adapun yang pertama, maka seluruh anaknya adalah merdeka, dan ia wajib membayar setengah mahar. Bagian miliknya dari perempuan itu, yaitu setengah, menjadi umm walad baginya. Sisa bagian perempuan itu, yaitu setengahnya lagi, harus ditebus nilainya agar seluruhnya menjadi umm walad baginya. Terdapat tiga pendapat mengenai kapan bagian yang ditebus itu menjadi umm walad: pertama, dengan kehamilan; kedua, dengan pembayaran nilai; dan ketiga, tergantung (belum dipastikan), sehingga jika ia membayar nilai tersebut, maka diketahui bahwa perempuan itu menjadi umm walad karena kehamilan. Jika ia tidak membayarnya, maka diketahui bahwa perempuan itu tidak menjadi umm walad karena hal itu. Adapun nilai setengah anak, jika perempuan itu melahirkan setelah pembayaran nilai, maka ia tidak wajib membayar nilai anak tersebut dan seluruh anak itu menjadi merdeka tanpa penebusan nilai. Namun jika perempuan itu melahirkan sebelum pembayaran nilai, maka jika perempuan itu dijadikan umm walad karena kehamilan, ia tidak wajib membayar nilai anak tersebut. Tetapi jika perempuan itu dijadikan umm walad dengan pembayaran nilai, maka ia wajib membayar setengah nilai anak itu kepada rekannya.

وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنْ كَانَ وَطْؤُهُ بَعْدَ أَنْ جَعَلَنَا جميعها أم ولد للأولى فَعَلَيْهِ جَمِيعُ الْمَهْرِ وَجَمِيعُ قِيمَةِ الْوَلَدِ وَلَا تَكُونُ حِصَّتُهُ مِنْهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ لِأَنَّهَا قَدْ صَارَتْ بِالتَّقْوِيمِ أُمَّ وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ وَإِنْ كَانَ وَطْؤُهُ قَبْلَ أَنْ جَعَلَنَا جَمِيعَهَا أُمَّ وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ فَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَنِصْفُ قِيمَةِ الْوَلَدِ

Adapun yang kedua, jika ia menggaulinya setelah kami menetapkan seluruhnya sebagai umm walad bagi yang pertama, maka ia wajib membayar seluruh mahar dan seluruh nilai anak, dan bagiannya dari perempuan itu tidak menjadi umm walad baginya, karena perempuan itu telah menjadi umm walad bagi yang pertama melalui penetapan nilai. Namun, jika ia menggaulinya sebelum kami menetapkan seluruhnya sebagai umm walad bagi yang pertama, maka ia wajib membayar setengah mahar dan setengah nilai anak.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَكُونَا مُعْسِرَيْنِ فَيَجِبُ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ مَهْرِهَا وَيَكُونُ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَاقِيهَا وَنِصْفُ وَلَدِهِ حُرٌّ وَفِي بَاقِيهِ وَجْهَانِ

Adapun bagian kedua, yaitu apabila keduanya (suami dan istri) dalam keadaan tidak mampu, maka suami wajib membayar setengah mahar istrinya, dan setengah dari istri tersebut menjadi umm walad baginya, serta sisanya tidak dikenakan penilaian (harga) atasnya. Setengah dari anaknya adalah merdeka, dan pada sisanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا حُرٌّ وَعَلَيْهِ قِيمَتُهُ إِذَا أَيْسَرَ

Salah satunya adalah orang merdeka, dan ia wajib membayar nilai (diyat) dirinya apabila telah mampu.

وَالثَّانِي مَمْلُوكٌ لِلشَّرِيكِ وَيَكُونُ عَلَى الثَّانِي نِصْفُ مَهْرِهَا وَيَصِيرُ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ لَهُ وَنِصْفُ وَلَدِهِ حُرٌّ وَفِي بَاقِيهِ وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى وَيَتَقَاصَّانِ مَا عَلَيْهَا وَيَتَرَاجَعَانِ فَضْلًا إِنْ كَانَ فيه

Yang kedua adalah budak milik salah satu dari dua sekutu, maka atas sekutu yang kedua wajib membayar setengah mahar untuknya, dan setengah dari budak perempuan itu menjadi umm walad baginya, serta setengah dari anaknya menjadi merdeka. Adapun pada setengah sisanya terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Keduanya saling mengimbangi apa yang menjadi tanggungan masing-masing, dan keduanya saling mengembalikan kelebihan jika ada kelebihan di antara keduanya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ مُوسِرًا وَالثَّانِي مُعْسِرًا فَيَكُونُ عَلَى الْأَوَّلِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَنِصْفُ قِيمَةِ الْأُمِّ وَفِي نِصْفِ قِيمَةِ الْوَلَدِ قَوْلَانِ وَيَكُونُ عَلَى الثَّانِي إِذَا جُعِلَتْ أُمَّ وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ جَمِيعُ الْمَهْرِ وَيَكُونُ جَمِيعُ وَلَدِهِ مَمْلُوكًا لِلْأَوَّلِ وَفِي حُكْمِ أُمِّ الْوَلَدِ لِأَنَّهُ وَلَدُ أُمِّ وَلَدٍ وَيَتَقَاصَّانِ مَا عَلَيْهَا وَيَتَرَاجَعَانِ الْفَضْلَ فِيهِ

Adapun bagian ketiga, yaitu apabila yang pertama adalah orang yang mampu dan yang kedua adalah orang yang tidak mampu, maka atas yang pertama wajib setengah mahar dan setengah nilai ibu (budak perempuan), dan dalam setengah nilai anak terdapat dua pendapat. Sedangkan atas yang kedua, jika ibu (budak perempuan) dijadikan umm walad bagi yang pertama, maka seluruh mahar menjadi tanggungannya, dan seluruh anaknya menjadi milik yang pertama serta berada dalam hukum umm walad, karena ia adalah anak dari umm walad. Keduanya saling mengimbangi apa yang menjadi tanggungan masing-masing, dan saling mengembalikan kelebihan di antara mereka.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْأَوَّلُ مُعْسِرًا وَالثَّانِي مُوسِرًا فَيَكُونُ نِصْفُهَا أُمَّ

Adapun bagian keempat, yaitu apabila yang pertama dalam keadaan tidak mampu (miskin) dan yang kedua mampu (kaya), maka setengahnya menjadi tanggungan ibu.

وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ وَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَنِصْفُ وَلَدِهِ حُرٌّ وَفِي بَاقِيهِ وَجْهَانِ وَيَكُونُ نِصْفُهَا الثَّانِي أُمَّ وَلَدٍ وَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَنِصْفُ قِيمَةِ الْوَلَدِ وَجْهًا وَاحِدًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Anak itu menjadi milik yang pertama, dan atasnya wajib membayar setengah mahar, serta setengah dari anaknya adalah merdeka. Dalam setengah sisanya terdapat dua pendapat. Setengah yang kedua menjadi umm walad, dan atasnya wajib membayar setengah mahar dan setengah nilai anak menurut satu pendapat. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ ادَّعَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنَّ وَلَدَهُ وُلِدَ قَبْلَ وَلَدِ صَاحِبِهِ أُلْحِقُ بِهِمَا الْوَلَدَانِ وَوُقِفَتْ أُمُّ الْوَلَدِ وَأُخِذَا بِنَفَقَتِهَا وَإِذَا مَاتَ وَاحِدٌ مِنْهُمَا عَتَقَ نَصِيبُهُ وَأُخِذَ الْآخَرُ بِنَفَقَةِ نَصِيبِ نَفْسِهِ فَإِذَا مَاتَ عَتَقَتْ وَوَلَاؤُهَا مَوْقُوفٌ إِذَا كَانَا مُوسِرَيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا مُعْسِرٌ وَالْآخَرُ مُوسِرٌ فَوَلَاؤُهَا مَوْقُوفٌ بِكُلِّ حَالٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika masing-masing dari keduanya mengklaim bahwa anaknya lahir sebelum anak milik temannya, maka kedua anak itu dinisbatkan kepada mereka berdua, dan ibu dari anak tersebut ditahan (statusnya), serta keduanya diwajibkan menanggung nafkahnya. Jika salah satu dari mereka meninggal, maka bagian miliknya menjadi merdeka, dan yang lain tetap diwajibkan menanggung nafkah bagian miliknya sendiri. Jika yang satunya lagi meninggal, maka ia pun menjadi merdeka, dan status wala’ (hak perwalian) atasnya tetap ditangguhkan. Jika keduanya mampu secara finansial, atau salah satunya tidak mampu dan yang lain mampu, maka status wala’ atasnya tetap ditangguhkan dalam segala keadaan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا أَنْ تَأْتِيَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِوَلَدٍ يَتَّفِقَانِ عَلَيْهِ وَلَا يَخْتَلِفَانِ فِيهِ وَلَكِنْ يدعي كل واحد منهما أن ولده وهو الْأَسْبَقُ فَيُنْظَرُ فِي سِنِّ الْوَلَدَيْنِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَسْبَقِهِمَا وِلَادَةً سَقَطَ التَّنَازُعُ وَجُعِلَ الْأَسَنُّ مِنْهُمَا هُوَ لِلْأَوَّلِ وَالْأَصْغَرُ مِنْهُمَا هُوَ لِلْآخَرِ فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى وَإِنِ اشْتَبَهَتْ سِنُّ الْوَلَدَيْنِ وَلَمْ يُرَ فِيهَا بَيَانٌ رَجَعَ إِلَى الْبَيِّنَةِ فَإِنْ وُجِدَتْ عُمِلَ عَلَيْهَا وَإِنْ فُقِدَتْ وَالتَّنَازُعُ مُحْتَمَلٌ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْوَاطِئَيْنِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Gambaran kasusnya adalah bahwa masing-masing dari keduanya (dua orang) mendatangkan seorang anak yang mereka berdua sepakat bahwa anak itu adalah milik salah satu dari mereka dan tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang hal itu, namun masing-masing mengklaim bahwa anak itu adalah anaknya dan ia yang lebih dahulu (memilikinya). Maka, dilihat usia kedua anak tersebut; jika terdapat sesuatu pada usia mereka yang menunjukkan siapa yang lebih dahulu lahir, maka perselisihan gugur dan anak yang lebih tua dianggap milik yang pertama, sedangkan anak yang lebih muda dianggap milik yang kedua, sehingga perkara berjalan sebagaimana mestinya. Namun, jika usia kedua anak itu sulit dibedakan dan tidak tampak kejelasan di dalamnya, maka dikembalikan kepada al-bayyinah (bukti). Jika ada bukti, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Jika tidak ada bukti dan perselisihan masih mungkin terjadi, maka keadaan kedua orang yang melakukan hubungan tersebut tidak lepas dari tiga bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَا مُوسِرَيْنِ

Salah satunya adalah keduanya dalam keadaan mampu.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَا مُعْسِرَيْنِ

Dan yang kedua adalah keduanya dalam keadaan tidak mampu.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا مُوسِرًا وَالْآخَرُ مُعْسِرًا

Dan yang ketiga adalah apabila salah satu dari keduanya dalam keadaan mampu, sedangkan yang lainnya dalam keadaan kesulitan (tidak mampu).

فَإِنْ كَانَا مُوسِرَيْنِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدَّعِي بِالسَّبْقِ أن جميعها أم ولد له وعليه نصف قِيمَتِهَا لِشَرِيكِهِ وَوَلَدُهُ حُرٌّ لَيْسَ عَلَيْهِ قِيمَةٌ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَعَلَيْهِ قِيمَةُ نِصْفِهِ فِي الْقَوْلِ الْآخَرِ وَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَأَنَّ شَرِيكَهُ عَلَيْهِ جَمِيعُ الْمَهْرِ وَجَمِيعُ قِيمَةِ الْوَلَدِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَنِصْفُ قِيمَتِهِ فِي الْقَوْلِ الْآخَرِ فَصَارَا بِهَذَا التَّنَازُعِ مُتَّفِقَيْنِ عَلَى شَيْءٍ وَمُخْتَلِفَيْنِ فِي شَيْءٍ

Jika keduanya (dua orang yang bersengketa) adalah orang yang mampu, maka masing-masing dari mereka mengklaim lebih dahulu bahwa seluruh budak perempuan itu adalah umm walad miliknya, dan ia wajib membayar setengah dari nilainya kepada rekannya. Anak dari budak perempuan itu adalah merdeka dan tidak ada kewajiban membayar nilai anak tersebut menurut salah satu pendapat, sedangkan menurut pendapat lain, ia wajib membayar nilai setengahnya. Ia juga wajib membayar setengah mahar, dan rekannya wajib membayar seluruh mahar dan seluruh nilai anak menurut salah satu pendapat, serta setengah nilai anak menurut pendapat lain. Dengan demikian, melalui perselisihan ini, keduanya sepakat dalam satu hal dan berbeda dalam hal yang lain.

أَمَّا مَا اتَّفَقَا عَلَيْهِ فَنِصْفُ الْمَهْرِ اتَّفَقَا عَلَى وُجُوبِهِ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاخْتَلَفَا فِي نِصْفِهِ الْبَاقِي فَلَزِمَ كُلُّ واحد منهما نصف المهر لصاحبه فيتقاصا بِهِ وَيَكُونُ نِصْفُهُ الْبَاقِي مَوْقُوفًا

Adapun hal yang disepakati oleh keduanya adalah setengah mahar; keduanya sepakat atas kewajibannya bagi masing-masing dari mereka. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai setengah sisanya, sehingga masing-masing dari mereka wajib memberikan setengah mahar kepada pihak lainnya, lalu keduanya saling mengimbangi dengan itu, dan setengah sisanya tetap ditangguhkan.

وَأَمَّا مَا اخْتَلَفَا فِيهِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَدَّعِي أَنَّ جَمِيعَهَا أُمُّ وَلَدٍ لَهُ وَعَلَيْهِ نِصْفُ قِيمَتِهَا وَالْآخَرُ يُنْكِرُهُ فَيَكُونُ أَمْرُهَا مَوْقُوفًا بَعْدَ التَّحَالُفِ وَلَا قِيمَةَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ لِأَنَّهُ لَا يَدَّعِيهَا وَلَا تَعْتِقُ بِمَوْتِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ أُمَّ وَلَدٍ لِلْآخَرِ فَإِذَا مَاتَا جَمِيعًا عَتَقَتْ لِأَنَّهَا أُمُّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ وَيَكُونُ وَلَاؤُهَا مَوْقُوفًا عَلَى بَيَانٍ إِنْ تَحَدَّدْ وَأَمَّا قِيمَةُ الْوَلَدِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُقِرٌّ بِنِصْفِهَا فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَمُنْكرٌ مَا سِوَاهَا وَهُوَ فِي الْقَوْلِ الْآخَرِ مُنْكِرٌ لِجَمِيعِهَا فَإِنْ عَمِلَ بِالْقَوْلِ الأول تقاصا نصف القيمة وقف الْبَاقِي عَلَى الْبَيَانِ كَالْمَهْرِ وَإِنْ عَمِلَ عَلَى الْقَوْلِ الثَّانِي وَقَفَ جَمِيعَ الْقِيمَةِ عَلَى الْبَيَانِ كَالْأُمِّ وَيَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِنَفَقَةِ وَلَدِهِ وَيَشْتَرِكَانِ فِي نَفَقَةِ الْأُمِّ حَتَّى يَقَعَ الْبَيَانُ فَيَسْتَحِقَّ التَّرَاجُعُ

Adapun mengenai hal yang diperselisihkan oleh keduanya, maka masing-masing dari mereka mengklaim bahwa seluruhnya adalah umm walad miliknya dan ia wajib membayar setengah dari nilainya, sedangkan yang lain mengingkarinya. Maka statusnya menjadi tertunda setelah keduanya saling bersumpah, dan tidak ada nilai yang wajib dibayarkan oleh salah satu dari mereka kepada yang lain karena ia tidak mengakuinya. Umm walad tersebut juga tidak menjadi merdeka dengan wafatnya salah satu dari mereka, karena masih mungkin ia adalah umm walad milik yang lain. Jika keduanya wafat, maka ia menjadi merdeka karena ia adalah umm walad salah satu dari mereka, meskipun tidak dapat dipastikan siapa, dan status wala’nya pun tertunda sampai ada penjelasan jika telah ditentukan. Adapun mengenai nilai anak, maka masing-masing dari mereka mengakui setengahnya menurut salah satu pendapat, dan mengingkari sisanya, sedangkan menurut pendapat lain, ia mengingkari seluruhnya. Jika mengikuti pendapat pertama, maka setengah nilai dikompensasikan dan sisanya ditangguhkan sampai ada penjelasan, seperti halnya mahar. Jika mengikuti pendapat kedua, maka seluruh nilai ditangguhkan sampai ada penjelasan, seperti halnya pada ibu. Masing-masing dari mereka bertanggung jawab atas nafkah anaknya sendiri, dan keduanya bersama-sama menanggung nafkah ibu sampai ada penjelasan, sehingga keduanya berhak untuk saling menuntut kembali.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ كَانَا مُعْسِرَيْنِ لَمْ يَكُنْ لِتَنَازُعِهِمَا تَأْثِيرٌ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَسْتَوِي حُكْمُهُ فِي تَقَدُّمِهِ وَتَأَخُّرِهِ لِأَنَّ نِصْفَهَا أُمُّ وَلَدٍ لِلْأَوَّلِ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَاقِيهَا وَعَلَيْهِ نِصْفُ الْمَهْرِ وَنِصْفُ وَلَدِهِ حُرٌّ وَفِي نِصْفِهِ الْآخَرِ وَجْهَانِ وَإِذَا كَانَا فِي التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ سَوَاءً سَقَطَ حُكْمُ تُنَازِعِهِمَا وَكَانَ نِصْفُهَا أُمَّ وَلَدٍ لِأَحَدِهِمَا وَالنِّصْفُ الْآخَرُ أُمَّ وَلَدٍ لِلْآخَرِ فَأَيُّهُمَا مَاتَ عَتَقَ نَصِفُهَا بِمَوْتِهِ وَكَانَ عِتْقُ النِّصْفِ الْآخَرِ مَوْقُوفًا عَلَى مَوْتِ الْآخَرِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ نِصْفُ الْمَهْرِ فَيَتَقَاصَّانِهِ وَفِي قِيمَةِ نِصْفِ وَلَدِهِ وَجْهَانِ

Jika keduanya (pemilik) dalam keadaan tidak mampu (miskin), maka perselisihan di antara mereka tidak berpengaruh, karena hukum masing-masing dari mereka sama baik dalam hal mendahului maupun terlambat, sebab separuh budak perempuan itu menjadi umm walad bagi yang pertama, dan tidak dikenakan penilaian (harga) atas separuh sisanya, serta atasnya wajib membayar separuh mahar, dan separuh anaknya menjadi merdeka. Adapun pada separuh yang lain terdapat dua pendapat. Jika keduanya sama dalam hal mendahului dan terlambat, maka gugurlah hukum perselisihan mereka, dan separuh budak perempuan itu menjadi umm walad bagi salah satu dari mereka, dan separuh lainnya menjadi umm walad bagi yang lain. Maka siapa pun di antara mereka yang meninggal, separuh budak perempuan itu merdeka karena kematiannya, dan kemerdekaan separuh lainnya bergantung pada kematian yang lain. Atas masing-masing dari mereka wajib membayar kepada yang lain separuh mahar, sehingga keduanya saling mengimbangi, dan dalam penilaian separuh anaknya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَجِبُ وَيَكُونُ مَمْلُوكًا لِصَاحِبِهِ وَلَا قِصَاصَ وَلَا عِتَاقَ

Salah satunya tidak wajib dan menjadi milik pemiliknya, serta tidak ada qishāsh dan tidak ada ‘itāq.

وَالثَّانِي يَجِبُ وَيَصِيرُ جَمِيعُهُ حُرًّا وَيَتَقَاصَّانِ ذَلِكَ وَيَتَرَاجَعَانِ فَضْلًا إِنْ كَانَ فِيهِ وَيَكُونُ وَلَاؤُهَا بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ وَلَا تُوقَفُ وَنَقَلَ الربيع في كتاب الأم أن ولاؤها مَوْقُوفٌ إِذَا كَانَا مُوسِرَيْنِ أَوْ مُعْسِرَيْنِ فَسَوَّى وُقُوفَ الْوَلَاءِ بَيْنَ الْيَسَارِ وَالْإِعْسَارِ وَهُوَ خِلَافُ مَا نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ لِأَنَّ الْوَلَاءَ فِي الْيَسَارِ مُشْكَلٌ فَلِذَلِكَ كَانَ مَوْقُوفًا وَفِي الْإِعْسَارِ غَيْرُ مُشْكَلٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ مَوْقُوفًا وَلِأَصْحَابِنَا عَمَّا نَقَلَهُ الرَّبِيعُ جَوَابَانِ

Yang kedua, wajib dan seluruhnya menjadi merdeka, lalu keduanya saling mengimbangi (hak dan kewajiban) tersebut dan saling mengembalikan kelebihan jika ada kelebihan di antara keduanya. Wala’ (hak perwalian) budak tersebut menjadi milik keduanya masing-masing setengah, dan tidak ditangguhkan. Al-Rabi‘ menukil dalam Kitab al-Umm bahwa wala’-nya ditangguhkan jika keduanya sama-sama mampu atau sama-sama tidak mampu, sehingga ia menyamakan penangguhan wala’ antara keadaan mampu dan tidak mampu. Ini berbeda dengan apa yang dinukil oleh al-Muzani, karena wala’ dalam keadaan mampu masih problematis, sehingga ditangguhkan. Sedangkan dalam keadaan tidak mampu tidak ada masalah, sehingga tidak boleh ditangguhkan. Dan menurut pendapat ulama kami terhadap apa yang dinukil oleh al-Rabi‘, ada dua jawaban.

أَحَدُهُمَا أَجَابَ بِهِ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ أَنَّهُ سَهْوٌ مِنْهُ فِي النَّقْلِ

Salah satunya adalah jawaban yang diberikan oleh Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa hal itu merupakan kekeliruan darinya dalam meriwayatkan.

وَالثَّانِي وَهُوَ جَوَابُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ مُعْسِرَيْنِ وَقْتَ التَّنَازُعِ مُوسِرَيْنِ وَقْتَ الْإِحْبَالِ

Yang kedua, yaitu jawaban Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, bahwa yang dimaksud olehnya adalah dua orang yang dalam keadaan sulit (mu‘sir) pada saat terjadi perselisihan, namun dalam keadaan mampu (musir) pada saat akad hutang.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مُوسِرًا وَالْآخَرُ مُعْسِرًا فَنِصْفُهَا أُمُّ وَلَدٍ لِلْمُوسِرِ مِنْ غَيْرِ تَنَازُعٍ وَإِنَّمَا يَتَنَازَعَانِ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ مِنْهُمَا فَالْمُوسِرُ يَقُولُ هِيَ أُمُّ وَلَدٍ لِي بِالْقِيمَةِ لِتَقَدُّمِي فِي الْإِيلَادِ وَالْمُعْسِرُ يَقُولُ هِيَ أُمُّ وَلَدٍ لِي بِالْمِلْكِ لِتَقَدُّمِي بِالْإِيلَادِ فَيَكُونُ وَلَاءُ نِصْفِها الَّذِي تَنَازَعَاهُ مَوْقُوفًا وَوَلَاءُ نِصْفِهَا لِلْمُوسِرِ وَنَقَلَ الْمُزَنِيُّ هَاهُنَا أَنَّ جَمِيعَ وَلَائِهَا مَوْقُوفٌ إِذَا كَانَا مُوسِرَيْنِ أَوْ أحدهما

Jika salah satu dari keduanya mampu dan yang lainnya tidak mampu, maka setengah dari budak perempuan itu menjadi umm walad bagi yang mampu tanpa ada perselisihan. Adapun yang diperselisihkan adalah pada setengah bagian lainnya dari keduanya. Pihak yang mampu berkata, “Dia adalah umm waladku berdasarkan nilai karena aku lebih dahulu dalam melakukan ilad,” sedangkan pihak yang tidak mampu berkata, “Dia adalah umm waladku berdasarkan kepemilikan karena aku lebih dahulu dalam melakukan ilad.” Maka, wala’ (hak perwalian) atas setengah bagian yang diperselisihkan itu menjadi tertangguhkan, dan wala’ atas setengah bagian lainnya menjadi milik pihak yang mampu. Al-Muzani meriwayatkan di sini bahwa seluruh wala’-nya menjadi tertangguhkan jika keduanya sama-sama mampu atau salah satunya.

وَهَذَا الْجَوَابُ رَاجِعٌ إِلَى الْمُوسِرَيْنِ فَإِنْ مَاتَ الْمُوسِرُ عَتَقَ نَصِفُهَا وَكَانَ نِصْفُهَا الْبَاقِي مَوْقُوفًا عَلَى مَوْتِ الْمُعْسِرِ وَإِنْ تَقَدَّمَ مَوْتُ الْمُعْسِرِ لَمْ يُعْتَقْ شَيْءٌ مِنْهَا وَيُعْتَقُ بِمَوْتِ الْمُوسِرِ فَأَمَّا الْمَهْرُ فَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نَصِفُهُ لِاتِّفَاقِهِمَا عَلَيْهِ وَاخْتِلَافِهِمَا فِي الزِّيَادَةِ فَيَتَقَاصَّانِهِ وَتُوقَفُ الزِّيَادَةُ عَلَى الْمُعْسِرِ دُونَ الْمُوسِرِ وَأَمَّا الْوَلَدُ فَوَلَدُ الْمُوسِرِ مِنْهَا حُرٌّ كُلُّهُ وَفِي وَلَدِ الْمُعْسِرِ وَجْهَانِ وَإِذَا حَرَّرْتَ ذَلِكَ عَلَى الْأُصُولِ الْمُسْتَقِرَّةِ وَضَحَ لَكَ جَمِيعُ الْأَحْكَامِ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

Jawaban ini berkaitan dengan dua orang yang sama-sama mampu (mampu secara finansial). Jika yang mampu meninggal dunia, maka setengah dari budak perempuan itu merdeka, dan setengah sisanya tetap tergantung pada kematian pihak yang tidak mampu. Jika yang tidak mampu meninggal lebih dahulu, maka tidak ada bagian dari budak perempuan itu yang dimerdekakan, dan ia akan merdeka dengan kematian pihak yang mampu. Adapun mahar, maka masing-masing dari keduanya menanggung setengahnya, karena keduanya sepakat atas hal itu dan berbeda pendapat dalam hal kelebihan (tambahan), sehingga keduanya saling mengkompensasikan, dan kelebihan tersebut digantungkan pada pihak yang tidak mampu, bukan pada pihak yang mampu. Adapun anak, maka anak dari pihak yang mampu seluruhnya merdeka, sedangkan untuk anak dari pihak yang tidak mampu terdapat dua pendapat. Jika engkau menelaah hal ini berdasarkan prinsip-prinsip (ushūl) yang telah mapan, maka seluruh hukum akan menjadi jelas bagimu. Dan hanya kepada Allah-lah taufik diberikan.

باب تعجيل الكتابة

Bab Penyegeraan Penulisan

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَيُجْبَرُ السَّيِّدُ عَلَى قَبُولِ النَّجْمِ إِذَا عَجَّلَهُ له الْمُكَاتَبُ وَاحْتَجَّ فِي ذَلِكَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رحمه الله عليه قال الشافعي وإذا كانت دنانير أو دراهم أو مالا يتغير على طول المكث مثل الحديد والنحاس وما أشبه ذلك فأما ما يتغير على طول المكث أو كانت لحمولته مؤنة فليس عليه قبوله إلا في موضعه فإن كان في طريق بخرابة أو في بلد فيه نهب نهب لم يلزمه قبوله إلا أن يكون في ذلك الموضع كاتبه فيلزمه قبوله

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tuan (pemilik budak) wajib menerima pembayaran cicilan (najm) apabila budak mukatab telah menyegerakannya untuknya.” Beliau berdalil dalam hal ini dengan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḥimahullāh. Imam Syafi‘i juga berkata: “Jika pembayaran itu berupa dinar, dirham, atau harta yang tidak berubah dalam waktu lama seperti besi, tembaga, dan semisalnya, maka wajib diterima. Adapun jika berupa barang yang mudah berubah dalam waktu lama, atau barang yang memerlukan biaya untuk membawanya, maka tuan tidak wajib menerimanya kecuali di tempat yang seharusnya. Jika berada di jalan yang rawan atau di negeri yang rawan penjarahan, maka tuan tidak wajib menerimanya kecuali jika akad mukatab dilakukan di tempat itu, maka wajib baginya untuk menerimanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ تَعْجِيلُ مَالِ الْكِتَابَةِ قَبْلَ نُجُومِهِ كَتَعْجِيلِ السَّلَمِ قَبْلَ حُلُولِهِ وَقَدْ ذَكَرْنَاهُ وَجَمْلَتُهُ أَنَّهُ لَا يَخْلُو مَالُ الْكِتَابَةِ إِذَا عَجَّلَهُ الْمُكَاتَبُ قَبْلَ مَحَلِّهِ مِنْ أَنْ يَقْبَلَهُ السَّيِّدُ أَوْ يَمْتَنِعَ مِنْهُ فَإِنْ قَبِلَهُ عَتَقَ بِهِ الْمُكَاتَبُ فَإِنْ قِيلَ فَشَرْطُ الْعِتْقِ أَدَاءُ الْمَالِ عِنْدَ مَحَلِّهِ فَهَلَّا امْتَنَعَ وُقُوعُ الْعِتْقِ بِدَفْعِهِ قَبْلَ مَحَلِّهِ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِنْ دَفَعْتْ إِلَيَّ أَلْفًا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَدَفَعَهَا فِي شَعْبَانَ لَمْ يَعْتِقْ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana dikatakan bahwa percepatan pembayaran harta kitabah sebelum jatuh temponya adalah seperti percepatan pembayaran salam sebelum waktunya. Kami telah menyebutkannya, dan secara ringkas, bahwa harta kitabah jika dipercepat pembayarannya oleh mukatab sebelum waktunya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: tuan menerima atau menolaknya. Jika tuan menerimanya, maka mukatab merdeka karenanya. Jika ada yang bertanya: syarat kemerdekaan adalah pembayaran harta pada waktunya, lalu mengapa kemerdekaan tetap terjadi dengan pembayaran sebelum waktunya, padahal jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu membayar kepadaku seribu pada bulan Ramadan, maka kamu merdeka,” lalu budak itu membayarnya pada bulan Sya’ban, maka ia tidak merdeka?

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ فِي الْكِتَابَةِ مُعَاوَضَةً يَغْلِبُ حُكْمُهَا عَلَى الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ وَلِذَلِكَ عَتَقَ بِالْإِبْرَاءِ فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَعْتِقَ بِالتَّقَدُّمِ وَلَيْسَ كَالْعِتْقِ بِالصِّفَةِ الْمُجَرَّدَةِ الَّتِي يَغْلِبُ فِيهَا حُكْمُ الصِّفَةِ دُونَ الْعِوَضِ أَلَا تَرَاهُ لَوْ أَبْرَأَهُ فِيهَا مِنَ الْمَالِ لَمْ يُعْتَقْ وَكَذَلِكَ إِذَا قَدَّمَهُ قَبْلَ وَقْتِهِ وَإِنِ امْتَنَعَ السَّيِّدُ مِنْ قَبُولِهِ قَبْلَ مَحَلِّهِ فَلَا يَخْلُو تأخير قبضه من أن يكون فيه غرضصحيح لِقَاصِدٍ أَوْ لَا يَكُونَ فَإِنْ كَانَ فِي تَأْخِيرِ قَبْضِهِ غَرَضٌ مَعْهُودٌ يَصِحُّ لِقَاصِدٍ فَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa dalam kitabah terdapat unsur mu‘āwaḍah (pertukaran hak) yang hukum pertukarannya lebih dominan daripada hukum ‘itq (pembebasan budak) karena sifatnya. Oleh karena itu, budak menjadi merdeka dengan adanya ibrā’ (pembebasan dari utang), sehingga lebih utama jika dimerdekakan dengan pembayaran lebih awal. Hal ini berbeda dengan ‘itq karena sifat semata, di mana hukum sifat lebih dominan daripada adanya imbalan. Tidakkah engkau melihat, jika tuannya membebaskannya dari kewajiban membayar harta dalam hal ini, maka budak tersebut tidak menjadi merdeka? Begitu pula jika pembayaran dilakukan sebelum waktunya. Jika tuan menolak untuk menerima pembayaran sebelum waktunya, maka penundaan penerimaan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah di dalamnya terdapat tujuan yang benar bagi pihak yang bermaksud, atau tidak ada. Jika dalam penundaan penerimaan itu terdapat tujuan yang lazim dan sah bagi pihak yang bermaksud, maka hal itu bisa terjadi dari salah satu dari tiga sisi.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ طَعَامًا رَطْبًا إِنْ تُرِكَ إِلَى أَجْلِهِ فَسَدَ

Salah satunya adalah makanan basah yang jika dibiarkan sampai waktunya akan rusak.

وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ حَيَوَانًا يَحْتَاجُ إلى مؤونة أَوْ يَخَافُ عَلَيْهِ مِنْ مَوْتٍ

Kedua, yaitu berupa hewan yang membutuhkan biaya pemeliharaan atau dikhawatirkan akan mati.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْأَمْوَالِ الْبَاقِيَةِ الَّتِي يَحْتَاجُ لِإِحْرَازِهَا إلى محلها مؤونة فَلَا يَلْزَمُهُ فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثَةِ أَنْ يَقْبَلَ ذَلِكَ قَبْلَ مَحَلِّهِ لِمَا يَلْحَقُهُ مِنَ الضَّرَرِ فِي تَعَجُّلِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي تَأْخِيرِ قَبْضِهِ غَرَضٌ صَحِيحٌ فَهُوَ أَنْ يكون المال مأمون التلف معدوم المؤونة كَالْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ فَعَلَيْهِ قَبُولُهُ إِذَا كَانَ الرَّدَى مَأْمُونًا لِمَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ وَقَدْ رَوَاهُ أَنَسُ بْنُ سِيرِينَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَاتَبَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَاشْتَرَيْتُ وَبِعْتُ حَتَّى رَبِحْتُ مَالًا فَجِئْتُ أَنَسًا بِكِتَابَتِي كُلِّهَا فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا إِلَّا نُجُومًا فَأَتَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَرَادَ أَنَسٌ الْمِيرَاثَ ثُمَّ كَتَبَ إِلَيْهِ فَقَبِلَهَا

Ketiga, jika harta tersebut termasuk harta yang tetap (tidak mudah rusak) dan untuk mengamankannya di tempatnya membutuhkan biaya, maka dalam tiga keadaan ini tidak wajib baginya untuk menerima harta itu sebelum waktunya, karena akan menimbulkan kerugian akibat pengambilan yang dipercepat. Namun, jika tidak ada tujuan yang benar dalam menunda penerimaannya, maka syaratnya adalah harta itu aman dari kerusakan dan tidak membutuhkan biaya pemeliharaan, seperti perak dan emas. Maka ia wajib menerimanya jika aman dari kerusakan, berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm, dan telah diriwayatkan oleh Anas bin Sirin dari ayahnya, ia berkata: Anas bin Malik menulis surat kepadaku, lalu aku membeli dan menjual hingga memperoleh keuntungan, kemudian aku datang kepada Anas membawa seluruh hasil surat perjanjian itu, namun ia menolak menerimanya kecuali secara bertahap. Lalu aku mendatangi Umar bin al-Khaththab ra. dan menceritakan hal itu kepadanya. Umar berkata, “Anas menginginkan warisan.” Kemudian Umar menulis surat kepada Anas, lalu Anas pun menerimanya.

وَرَوَى سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً اشْتَرَتْهُ مِنْ سُوقِ ذِي الْمَجَازِ وَقَدِمَتْ مَكَّةَ فَكَاتَبَتْهُ عَلَى أَرْبَعِينَ أَلْفًا فَأَدَّى عَامَّةَ الْمَالِ ثُمَّ أَتَى بِبَاقِيهِ فَقَالَتْ لَا والله حتى تأتي سنة بعد سنة وشهر بَعْدَ شَهْرٍ فَخَرَجَ بِالْمَالِ إِلَى عُمَرَ وَأَخْبَرَهُ بِذَلِكَ فَقَالَ لَهُ ضَعْهُ فِي بَيْتِ الْمَالِ وَرَاسِلْهَا بِأَخْذِ الْمَالِ وَعِتْقِ أَبِي سَعِيدٍ فَإِنِ اخْتَرْتِ أَخْذَهُ شَهْرًا بِشَهْرٍ أَوْ سَنَةً بِسَنَةٍ فَافْعَلِي فَأَرْسَلَتْ وَأَخَذَتِ الْمَالَ

Said bin Abi Said al-Maqburi meriwayatkan dari ayahnya bahwa seorang wanita membelinya dari pasar Dzi al-Majaz, lalu ia datang ke Mekah dan melakukan mukatabah dengannya dengan nilai empat puluh ribu. Ia telah membayar sebagian besar dari harta tersebut, kemudian ia datang membawa sisanya. Namun wanita itu berkata, “Tidak, demi Allah, sampai berlalu satu tahun demi satu tahun dan satu bulan demi satu bulan.” Maka ia pun membawa harta itu kepada Umar dan memberitahukan hal tersebut kepadanya. Umar berkata kepadanya, “Letakkanlah harta itu di Baitul Mal dan kirimkan pesan kepadanya untuk mengambil harta itu dan memerdekakan Abi Said. Jika engkau memilih untuk mengambilnya bulan demi bulan atau tahun demi tahun, maka lakukanlah.” Maka wanita itu mengirim utusan dan mengambil harta tersebut.

وَلِأَنَّ الْأَجَلَ حَقٌّ لِمَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ لَا عَلَى مَنْ لَهُ الدَّيْنُ وَلِذَلِكَ إِذَا بَاعَهُ بِدَيْنٍ زَادَ فِي الثَّمَنِ وَإِذَا بَاعَهُ نَقْدًا نَقَصَ مِنْهُ فَإِذَا عَجَّلَ الْمُؤَجَّلَ فَقَدْ أَسْقَطَ حَقَّهُ وَزَادَ خَيْرًا

Karena tenggat waktu (jatuh tempo) adalah hak bagi pihak yang berutang, bukan bagi pihak yang berpiutang. Oleh karena itu, jika ia menjual barang dengan pembayaran secara utang, maka ia menambah harga, dan jika ia menjualnya secara tunai, maka ia mengurangi harganya. Maka apabila pihak yang berutang mempercepat pembayaran utang yang seharusnya ditangguhkan, berarti ia telah menggugurkan haknya sendiri dan menambah kebaikan.

فَصْلٌ

Fasal

فَأَمَّا إِذَا كَانَ وَقْتَ التَّعْجِيلِ مُفْتَتَنًا مُخَوَّفًا رُوعِيَ وَقْتُ الْكِتَابَةِ فَإِنْ كَانَ سَاكِنًا آمِنًا ثُمَّ حَدَثَ بَعْدَهُ خَوْفٌ فَعَجَّلَ فِيهِ الْكِتَابَةَ لَمْ يَلْزَمِ السَّيِّدَ قَبُولُهَا لِمَا فِيهِ مِنَ الْحَظْرِ عَلَى مَا تَعَجَّلَ حَتَّى إِذَا حَلَّ لَزِمَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَمْنِ وَالْخَوْفِ وَإِنْ كَانَ وَقْتَ الْكِتَابَةِ مُفْتَتَنًا مُخَوَّفًا مِثْلَ وَقْتِ التَّعْجِيلِ نُظِرَ فَإِنْ صَارَ ذَلِكَ مَعْهُودًا لَا يُرْجَى زَوَالُهُ لَزِمَهُ قَبُولُ التَّعْجِيلِ وَإِنْ كَانَ قَادِرًا يُرْجَى زَوَالُهُ فَفِي لُزُومِ قَبُولِهِ لِلتَّعْجِيلِ وَجْهَانِ

Adapun jika pada waktu percepatan (pembayaran) terjadi fitnah dan kekhawatiran, maka yang diperhatikan adalah waktu penulisan (akad). Jika pada waktu itu keadaan tenang dan aman, kemudian setelahnya terjadi ketakutan sehingga penulisan (akad) dipercepat, maka tuan (pemilik) tidak wajib menerimanya karena di dalamnya terdapat larangan terhadap apa yang telah dipercepat, sampai jika telah tiba waktunya, maka wajib baginya untuk menerima baik dalam keadaan aman maupun takut. Dan jika pada waktu penulisan (akad) juga terjadi fitnah dan kekhawatiran seperti pada waktu percepatan, maka dilihat kembali: jika keadaan tersebut sudah menjadi kebiasaan dan tidak diharapkan hilang, maka wajib baginya menerima percepatan tersebut. Namun jika masih ada kemungkinan keadaan itu akan hilang, maka dalam kewajiban menerimanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ عَلَيْهِ قَبُولُهُ لِتَمَاثُلِ الزَّمَانَيْنِ

Salah satunya adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, dan pendapat yang tampak dari mazhab al-Syafi‘i adalah menerima pendapat tersebut karena kesamaan antara dua waktu tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي حَكَاهُ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ لَا يَلْزَمُهُ قَبُولُهُ لِأَنَّ زَوَالَ الْخَوْفِ قَدْ كَانَ مَأْمُولًا عِنْدَ الْمَحَلِّ فَلَمْ يَلْزَمْهُ تَعَجُّلُ الضَّرَرِ

Pendapat kedua yang diriwayatkan oleh Abu Hamid al-Isfara’ini adalah bahwa ia tidak wajib menerimanya, karena hilangnya rasa takut telah diharapkan pada tempat tersebut, sehingga ia tidak wajib untuk segera menanggung bahaya.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ دَفَعَ إِلَيْهِ مَالَ الْكِتَابَةِ فِي بَلَدٍ آخَرَ إِمَّا تَعْجِيلًا أو في محله فإن كان لنقله مؤونة أَوْ فِي طَرِيقِهِ خَطَرٌ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهُ إِلَّا فِي بَلَدِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِنَقْلِهِ مؤونة وَلَا كَانَ فِي طَرِيقِهِ خَطَرٌ رُوعِيَ حَالُ السَّيِّدِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُ الْمَالِ فِيهِ وَإِنْ كَانَ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ رُوعِيَتْ مَسَافَةُ الْبَلَدَيْنِ فَإِنْ كان بينهما قَرِيبًا لَا يَقْصُرُ فِي مِثْلِهِ الصَّلَاةَ لَزِمَهُ قَبُولُهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا يَقْصُرُ فِي مِثْلِهِ الصَّلَاةَ فَفِي لُزُومِ قَبُولِهِ فِيهِ وَجْهَانِ

Jika ia menyerahkan harta kitābah kepada tuannya di negeri lain, baik sebagai percepatan maupun di tempatnya, maka jika untuk memindahkannya terdapat biaya atau di jalannya terdapat bahaya, maka ia tidak wajib menerimanya kecuali di negerinya sendiri. Namun jika untuk memindahkannya tidak ada biaya dan di jalannya tidak ada bahaya, maka yang diperhatikan adalah keadaan sang tuan. Jika sang tuan tidak berada di negeri tersebut, maka ia tidak wajib menerima harta itu di sana. Namun jika sang tuan berada di negeri tersebut, maka diperhatikan jarak antara kedua negeri. Jika jaraknya dekat sehingga dalam perjalanan seperti itu tidak boleh mengqashar shalat, maka ia wajib menerimanya. Namun jika jaraknya jauh sehingga dalam perjalanan seperti itu boleh mengqashar shalat, maka dalam kewajiban menerimanya di sana terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَلْزَمُهُ لِمَا عَلَيْهِ مِنَ الضَّرَرِ فِي إِبْعَادِ مَالِهِ عَنْ بَلَدِهِ

Salah satunya tidak wajib baginya karena adanya mudarat yang akan ia alami akibat menjauhkan hartanya dari negerinya.

وَالثَّانِي يَلْزَمُهُ قَبُولُهُ فِيهِ لِأَنَّ أحْرَازَهَا مُتَمَاثِلَةً وَاسْتِيطَانَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُمْكِنٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan yang kedua, ia wajib menerimanya dalam hal ini karena tempat-tempat penyimpanannya serupa dan kemungkinan masing-masing dari keduanya untuk menetap di sana memungkinkan. Dan Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَوْ عَجَّلَ لَهُ بَعْضَ الْكِتَابَةِ عَلَى أَنْ يُبَرِّئَهُ مِنَ الْبَاقِي لَمْ يَجُزْ ورد عَلَيْهِ مَا أَخَذَ وَلَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّهُ أَبْرَأَهُ مِمَّا لَمْ يَبْرَأْ مِنْهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang mempercepat pembayaran sebagian dari akad kitābah dengan syarat memerdekakannya dari sisa pembayaran, maka hal itu tidak boleh. Apa yang telah diambil harus dikembalikan kepadanya dan ia belum merdeka, karena ia telah membebaskannya dari sesuatu yang belum terbebaskan darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَ عَلَى الْمُكَاتَبِ أَلْفُ دِرْهَمٍ إِلَى سَنَةٍ فَشَرَطَ أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ خَمْسَمِائَةٍ عَلَى أَنْ يُبَرِّئَهُ مِنَ الْبَاقِي لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ يُضَارِعُ الرِّبَا لِأَنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَزِيدَ فِي الْمَالِ لِيَزِيدَ فِي الْأَجَلِ فَيُعْطِيَ خَمْسَمِائَةٍ مُعَجَّلَةً بِأَلْفٍ إِلَى سَنَةٍ وَهَذَا نَقْصٌ فِي الْمَالِ لِنُقْصَانِ الْأَجَلِ فَبَذَلَ أَلْفًا إِلَى سَنَةٍ بِخَمْسِمِائَةٍ مُعَجَّلَةٍ فَاسْتَوَيَا فِي حُكْمِ الرِّبَا وَالتَّحْرِيمِ وَإِذَا ثَبَتَ فَسَادُهُ بِمَا ذَكَرْنَا بَطَلَ التَّعْجِيلُ وَكَانَ بَاقِي الْكِتَابَةِ إِلَى أَجَلِهِ وَإِذَا بَطَلَ التَّعْجِيلُ بَطَلَ الْإِبْرَاءُ لِأَنَّ الْإِبْرَاءَ فِي مُقَابَلَةِ التَّعْجِيلِ فَصَارَا بَاطِلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar apabila seorang mukatab memiliki kewajiban seribu dirham yang harus dibayar dalam waktu satu tahun, lalu disyaratkan agar ia membayar lebih cepat sebesar lima ratus dirham dengan imbalan dibebaskan dari sisa utangnya, maka hal itu tidak boleh. Sebab, hal itu menyerupai riba, karena riba pada masa jahiliah adalah menambah jumlah harta agar tenggat waktu pembayaran diperpanjang. Dalam kasus ini, ia memberikan lima ratus dirham secara tunai untuk membayar utang seribu dirham yang jatuh tempo dalam satu tahun, dan ini berarti pengurangan jumlah harta karena berkurangnya tenggat waktu. Maka, ia menukarkan seribu dirham yang jatuh tempo dalam satu tahun dengan lima ratus dirham yang dibayarkan lebih awal, sehingga keduanya sama dalam hukum riba dan keharamannya. Jika telah tetap kerusakannya sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka pembayaran lebih awal menjadi batal dan sisa kewajiban mukatab tetap sampai tenggat waktunya. Jika pembayaran lebih awal batal, maka pembebasan utang juga batal, karena pembebasan utang itu sebagai imbalan atas pembayaran lebih awal, sehingga keduanya menjadi batal.”

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوِ ابْتَدَأَ الْمُكَاتَبُ فَعَجَّلَ مِنَ الْأَلْفِ خَمْسَمِائَةٍ وَأَبْرَأَهُ السَّيِّدُ مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ مِنْ بَاقِيهَا وَهُوَ خَمْسُمِائَةٍ كَانَ هَذَا جَائِزًا كَمَا لَوْ أَقْرَضَهُ خَمْسَمِائَةٍ فَرَدَّ عَلَيْهِ أَلْفًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ جَازَ بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ عَنْ شَرْطٍ فَأَمَّا الْمُزَنِيُّ فَإِنَّهُ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَضْعٌ وَتَعْجِيلٌ لَا يَجُوزُ وَأَجَازَهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فَتَوَهَّمَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِي الْإِبْرَاءِ عَلَى شَرْطِ التَّعْجِيلِ وَلَيْسَ الْجَوَابُ مُخْتَلِفًا كَمَا تَوَهَّمَهُ الْمُزَنِيُّ وَإِنَّمَا أَجَازَ التَّعْجِيلَ وَالْإِبْرَاءَ بِغَيْرِ شَرْطٍ وَأَبْطَلَهُمَا مَعَ الشَّرْطِ فَاخْتَلَفَ جَوَابُهُ لِاخْتِلَافِ الشَّرْطِ لَا لِاخْتِلَافِ الْقَوْلِ

Jika seorang mukatab memulai dengan membayar lebih awal dari seribu (dirham) sebanyak lima ratus, lalu tuannya membebaskannya dari sisa pembayaran tanpa syarat, yaitu lima ratus sisanya, maka hal ini diperbolehkan, sebagaimana jika seseorang meminjamkan lima ratus lalu dikembalikan seribu tanpa ada syarat, maka itu juga diperbolehkan. Berbeda halnya jika ada syarat. Adapun al-Muzani, ia mengalami kerancuan terhadap apa yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i. Asy-Syafi‘i berkata dalam masalah ini bahwa pelunasan lebih awal dan pembebasan tidak diperbolehkan, namun beliau membolehkannya dalam masalah lain. Maka al-Muzani mengira bahwa pendapat asy-Syafi‘i berbeda dalam hal pembebasan dengan syarat pelunasan lebih awal. Padahal jawabannya tidak berbeda sebagaimana yang disangka oleh al-Muzani. Sesungguhnya yang dibolehkan adalah pelunasan lebih awal dan pembebasan tanpa syarat, dan keduanya batal jika disertai syarat. Maka perbedaan jawabannya karena perbedaan syarat, bukan karena perbedaan pendapat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِحَّ هَذَا فَلْيَرْضَ الْمُكَاتَبُ بِالْعَجْزِ وَيَرْضَ السَّيِّدُ بِشَيْءٍ يَأْخُذُهُ مِنْهُ عَلَى أن يعتقه فيجوز قال المزني عندي أن يضع عنه على أن يتعجل وأجازه في الدين

Imam asy-Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ingin hal ini menjadi sah, maka hendaklah mukatab rela dianggap lemah (tidak mampu membayar) dan tuan rela menerima sesuatu darinya dengan syarat ia memerdekakannya, maka hal itu boleh. Al-Muzani berkata: Menurutku, boleh bagi tuan untuk mengurangi (utang) dari mukatab dengan syarat ia membayar lebih cepat, dan hal ini dibolehkan dalam utang.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٍ إِذَا اخْتَارَ التَّوَصُّلَ إِلَى وُقُوعِ الْعِتْقِ بِبَعْضِ الْبَاقِي فَعَجَّزَ الْمُكَاتَبُ نَفْسَهُ حَتَّى عَادَ عَبْدًا ثُمَّ اسْتَأْنَفَ السَّيِّدُ بعد العجز فقال له إن أعطيتني دينار فَأَنْتَ حُرٌّ جَازَ لِأَنَّهُمَا بَعْدَ بُطْلَانِ الْكِتَابَةِ بِالْعَجْزِ قَدِ اسْتَأْنَفَا عِتْقًا بِصِفَةٍ فَصَارَ الْعِتْقُ واقعا بهما لَا بِالْكِتَابَةِ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini benar apabila seseorang memilih untuk mencapai terjadinya pembebasan budak (ʿitq) dengan sebagian dari sisa pembayaran, lalu budak mukatab tersebut membuat dirinya tidak mampu membayar hingga kembali menjadi budak, kemudian setelah ketidakmampuan itu tuan memulai kembali (akad) dengan berkata kepadanya, ‘Jika kamu memberiku satu dinar, maka kamu merdeka,’ maka hal itu boleh, karena setelah batalnya akad mukatab akibat ketidakmampuan, keduanya telah memulai kembali proses pembebasan budak dengan suatu syarat, sehingga pembebasan budak itu terjadi karena akad baru tersebut, bukan karena akad mukatab sebelumnya.”

فَصْلٌ

Bagian

وَلَكِنْ لَوْ جَعَلَا عِتْقَ الصِّفَةِ مَشْرُوطًا بِالْعَجْزِ فَقَالَ السَّيِّدُ إِنْ عَجَّزَتْ نفسك أو أعطيتني دينار فأنت حر فعجز المكاتب نفسه وأعطى دينار عَتَقَ بِهِ وَكَانَ هَذَا أَحْوَطَ لِلْمُكَاتَبِ مِمَّا تَقَدَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا عَجَّزَ نَفْسَهُ فَقَدِ انْعَقَدَتِ الصِّفَةُ بِعِتْقِهِ لِوُجُودِ شَرْطِهِمَا فَصَارَتْ لَازِمَةً لَا خِيَارَ لِلسَّيِّدِ فِيهَا بَعْدَ الْعَجْزِ وَهُوَ فِي الْمَسْأَلَةِ الْأَوْلَى مُخَيَّرٌ بَعْدَ الْعَجْزِ بَيْنَ أَنْ يَعْقِدَ عِتْقَهُ بِالصِّفَةِ أَوْ لَا يَعْقِدَهُ

Namun, jika keduanya menjadikan pembebasan bersyarat itu tergantung pada ketidakmampuan, lalu tuan berkata, “Jika kamu tidak mampu (membayar) atau kamu memberiku satu dinar, maka kamu merdeka,” kemudian budak mukatab itu menyatakan dirinya tidak mampu dan memberikan satu dinar, maka ia menjadi merdeka karenanya. Cara ini lebih hati-hati bagi mukatab dibandingkan dengan yang telah disebutkan sebelumnya, karena jika ia menyatakan dirinya tidak mampu, maka syarat keduanya telah terpenuhi sehingga pembebasan itu menjadi wajib dan tuan tidak lagi memiliki pilihan setelah ketidakmampuan itu. Sedangkan dalam permasalahan pertama, setelah ketidakmampuan, tuan masih diberi pilihan antara melaksanakan pembebasan bersyarat atau tidak melaksanakannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا قَالَ السَّيِّدُ لِمُكَاتَبِهِ وَالْكِتَابَةُ بِحَالِهَا إِنْ أَعْطَيْتَنِي دِينَارًا فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ بِدَفْعِهِ وَيَغْلِبُ حُكْمُ الْكِتَابَةِ فَصَارَ الْعِتْقُ فِيهَا عَلَى عِوَضٍ فَاسِدٍ فَيَلْزَمُ الْمُكَاتَبَ فِيهَا قِيمَتُهُ فَيَرْجِعُ بِمَا أَدَّاهُ مِنْ قَبْلُ مَعَ الدِّينَارِ الَّذِي عَتَقَ بِهِ مِنْ بعد ويتقاصانه مع اتفاق الجنسين ويتراجعا فَضْلًا إِنْ كَانَ مِنْهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Adapun jika tuan berkata kepada mukatabnya, sementara akad kitābah masih berlangsung, “Jika kamu memberiku satu dinar, maka kamu merdeka,” maka ia menjadi merdeka dengan menyerahkan dinar tersebut, dan hukum kitābah lebih diutamakan. Maka, kemerdekaan dalam hal ini terjadi atas imbalan yang rusak, sehingga wajib atas mukatab untuk membayar nilai dirinya. Kemudian ia berhak mengambil kembali apa yang telah ia bayarkan sebelumnya beserta dinar yang menyebabkan ia merdeka, lalu keduanya melakukan perhitungan (kompensasi) jika jenisnya sama, dan saling mengembalikan kelebihan jika ada dari salah satu pihak. Allah Maha Mengetahui.

بَيْعُ الْمُكَاتَبِ وَشِرَاؤُهُ وَبَيْعُ كِتَابَتِهِ وَبَيْعُ رَقَبَتِهِ وجوابات فيه

Jual beli mukatab dan pembeliannya, jual beli akad mukatab, serta jual beli kepemilikannya, dan jawaban-jawaban terkait hal itu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَبَيْعُ الْمُكَاتَبِ وَشِرَاؤُهُ وَالشُّفْعَةُ لَهُ وَعَلَيْهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَيِّدِهِ وَالْأَجْنَبِيِّ سَوَاءٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jual beli yang dilakukan oleh seorang mukātab, begitu pula pembeliannya, serta hak syuf‘ah baginya dan atasnya, dalam hal yang terjadi antara dia dengan tuannya maupun dengan orang lain, hukumnya sama.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ الْمُكَاتَبُ مَالِكٌ لِتَصَرُّفِ نَفْسِهِ بِالْمَبِيعِ وَالشِّرَاءِ وَالْأَخْذِ بِالشُّفْعَةِ وَمَالِكٌ لِمَا بِيَدِهِ مِنْ كُلِّ مَا مَلَكَهُ بِتَصَرُّفِهِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ قَدْ رَفَعَتْ عَنْهُ يَدَ السَّيِّدِ وَلِذَلِكَ مُنِعَ مِنِ اسْتِخْدَامِهِ وَأَمَّا مِلْكُهُ لِكَسْبِهِ فَلِأَنَّ فِي ذمته مال لَا يَصِحُّ أَنْ يُؤَدِّيَهُ إِلَّا مِنْ مِلْكِهِ وَلِذَلِكَ مُنِعَ السَّيِّدُ مَعَ بَقَاءِ الْكِتَابَةِ مِنْ أَخْذِهِ وَتَمَلُّكِهِ وَإِذَا صَارَ بِمَا بَيَّنَّا مَالِكًا لِتَصَرُّفِهِ وَلِكَسْبِهِ فَعَلَيْهِ فِيهِمَا لِلسَّيِّدِ حَقُّ الْحَجْرِ حَتَّى لَا يَسْتَهْلِكَهَا فِي غَيْرِ حَقٍّ وَلَا يَكُونُ اسْتِحْقَاقُ الْحَجْرِ مَانِعًا مِنْ ثُبُوتِ الْمِلْكِ ثُمَّ هَذَا الْمِلْكُ مُرَاعًى يَسْتَقِرُّ بِالْأَدَاءِ وَيَزُولُ بِالْعَجْزِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, bahwa seorang mukatab adalah pemilik atas tindakannya sendiri dalam jual beli, pengambilan hak syuf‘ah, dan ia juga pemilik atas apa yang ada di tangannya dari segala sesuatu yang ia miliki melalui tindakannya, karena kitabah telah mengangkat kekuasaan tuan darinya. Oleh sebab itu, tuan dilarang mempekerjakannya. Adapun kepemilikannya atas hasil usahanya, itu karena dalam tanggungannya terdapat harta yang tidak sah untuk dibayarkan kecuali dari miliknya sendiri. Oleh sebab itu, tuan dilarang mengambil dan memilikinya selama akad kitabah masih berlangsung. Jika, sebagaimana yang telah kami jelaskan, ia menjadi pemilik atas tindakannya dan hasil usahanya, maka atas keduanya tuan memiliki hak hajr (pembatasan) agar ia tidak menghabiskannya pada hal yang tidak semestinya. Hak hajr ini tidak menghalangi tetapnya kepemilikan. Kemudian, kepemilikan ini bersifat sementara, akan tetap dengan pelunasan dan hilang dengan ketidakmampuan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا فَكُلُّ عَقْدٍ مِنْ بَيْعٍ وَسَلَمٍ وَإِجَارَةٍ وَأَخْذٍ بِشُفْعَةٍ وَأَرْشِ جِنَايَةٍ وَرَدٍّ بِعَيْبٍ نَفَذَ الْحُكْمُ فِيهِ بَيْنَ الْمُكَاتَبِ وَالْأَجْنَبِيِّ نَفَذَ الْحُكْمُ فِيهِ بَيْنَ الْمُكَاتَبِ وَسَيِّدِهِ وَكَانَ لُزُومُهُ بَيْنَهُمَا كَلُزُومِهِ مَعَ الْأَجْنَبِيِّ لِأَنَّهُ فِيمَا سِوَى الْكِتَابَةِ جَارٍ مَجْرَاهُ فَعَلَى هَذَا لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الشُّفْعَةَ مِنْ سَيِّدِهِ وَلِسَيِّدِهِ أَنْ يَأْخُذَ الشُّفْعَةَ مِنْهُ وَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ أَرْشَ الْجِنَايَةِ مِنْ سَيِّدِهِ وَلِسَيِّدِهِ أَنْ يَأْخُذَ أَرْشَ الْجِنَايَةِ مِنْهُ وَلَا يَكُونُ الْحُكْمُ فِيمَا بَيْنَهُمَا مِنْ حُقُوقِ الْأَمْوَالِ إِلَّا كَالْأَجَانِبِ

Apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, maka setiap akad seperti jual beli, salam, ijarah, pengambilan dengan hak syuf‘ah, pembayaran diyat jinayah, dan pengembalian karena cacat, apabila hukum telah berlaku antara mukatab dan orang lain (ajnabi), maka hukum itu juga berlaku antara mukatab dan tuannya. Kewajiban yang timbul di antara keduanya sama seperti kewajiban antara mukatab dan orang lain, karena dalam hal selain akad kitabah, kedudukannya sama. Oleh karena itu, mukatab berhak mengambil hak syuf‘ah dari tuannya, dan tuannya juga berhak mengambil hak syuf‘ah dari mukatab. Mukatab berhak mengambil diyat jinayah dari tuannya, dan tuannya juga berhak mengambil diyat jinayah dari mukatab. Hukum yang berlaku antara mereka berdua dalam hak-hak harta tidak berbeda dengan hukum antara orang-orang lain.

فَصْلٌ

Bagian

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ أَنْ يَكُونَ السَّيِّدُ قَدْ أَجَّرَ عَبْدَهُ ثُمَّ كَاتَبَهُ فَتَكُونَ الْكِتَابَةُ بَاطِلَةً لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالْإِجَارَةِ مُسْتَحِقَّ الْمَنْفَعَةِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ بِالْكِتَابَةِ مَالِكًا لَهَا فَتَنَافَى اجْتِمَاعُهُمَا فَثَبَتَتِ الْإِجَارَةُ لِتَقَدُّمِهَا وَبَطَلَتِ الْكِتَابَةُ لِتَأَخُّرِهَا وَلَوْ كَاتَبَهُ ثُمَّ أَجَّرَهُ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ وَبَطَلَتِ الْإِجَارَةُ إِثْبَاتًا لِأَسْبَقِ الْعَقْدَيْنِ فِي الْحَالَيْنِ فَأَمَّا الْعَبْدُ الْمَرْهُونُ فَلَا يَجُوزُ كِتَابَتُهُ وَإِنْ لَمْ يَمْلِكْ مَنَافِعَهُ لِعِلَّةٍ أُخْرَى وَهُوَ أَنَّهُ بِعَقْدِ الرَّهْنِ مُعَرَّضٌ لِلْبَيْعِ الَّذِي تَمْنَعُ مِنْهُ الْكِتَابَةُ فَصَارَا مُتَنَافِيَيْنِ لِهَذِهِ الْعِلَّةِ فَبَطَلَتْ كتابته بها

Berdasarkan prinsip ini, jika seorang tuan telah menyewakan budaknya kemudian melakukan kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran cicilan), maka kitābah tersebut batal, karena dengan akad sewa, tuan telah berhak atas manfaat (dari budak tersebut), sedangkan dalam kitābah ia harus menjadi pemilik manfaat tersebut. Kedua hal ini saling bertentangan, sehingga akad sewa tetap berlaku karena lebih dahulu, dan kitābah batal karena datang belakangan. Namun, jika ia melakukan kitābah terlebih dahulu lalu menyewakannya, maka kitābah sah dan akad sewa batal, sebagai penetapan atas akad yang lebih dahulu dalam kedua keadaan tersebut. Adapun budak yang sedang digadaikan, maka tidak boleh dilakukan kitābah terhadapnya, meskipun tuan tidak memiliki manfaatnya, karena ada alasan lain, yaitu dengan akad gadai, budak tersebut berpotensi untuk dijual, yang mana penjualan itu dilarang oleh kitābah, sehingga keduanya saling bertentangan karena alasan ini, maka kitābah menjadi batal karenanya.

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَّا أَنْ الْمُكَاتَبَ مَمْنُوعٌ مِنَ اسْتِهْلَاكِ مَالِهِ وَأَنْ يَبِيعَ بِمَا لَا يَتَغَابَنُ النَّاسُ بِمِثْلِهِ وَلَا يَهَبُ إِلَّا بِإِذْنِ سَيِّدِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Kecuali bahwa seorang mukātab dilarang menghabiskan hartanya, dan dilarang menjual dengan harga yang tidak lazim dipermainkan orang dalam transaksi semacam itu, serta tidak boleh memberi hibah kecuali dengan izin tuannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْمُكَاتَبَ مَالِكٌ لِكَسْبِهِ غَيْرَ أَنَّ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ حَجْرًا وَلَا يَصْرِفُ مَا بِيَدِهِ إِلَّا فِي أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ أَحَدُهَا فِي دَيْنٍ يُسْتَحَقُّ وَالثَّانِي فِي طلب فضل يستزاد والثالث في مؤونة لَا يُسْتَغْنَى عَنْهَا

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa seorang mukatab adalah pemilik atas hasil usahanya, hanya saja tuannya memiliki hak pembatasan atasnya, sehingga ia tidak boleh membelanjakan apa yang ada di tangannya kecuali dalam salah satu dari tiga hal: pertama, untuk membayar utang yang wajib dibayar; kedua, untuk mencari tambahan keutamaan; dan ketiga, untuk kebutuhan pokok yang tidak dapat ditinggalkan.

فَأَمَّا الدَّيْنُ فَنَوْعَانِ مُرَاضَاةٌ وَإِكْرَاهٌ

Adapun utang itu terbagi menjadi dua jenis: yang berdasarkan kerelaan (murāḍāh) dan yang berdasarkan paksaan (ikrāh).

فَأَمَّا دَيْنُ الْمُرَاضَاةِ فَكَالْإِجَارَاتِ وَالْقُرُوضِ

Adapun utang yang terjadi karena kerelaan, maka contohnya adalah seperti ijarah (sewa-menyewa) dan qardh (pinjaman).

وَأَمَّا دَيْنُ الْإِكْرَاهِ فَكَقِيَمِ الْمُتْلَفَاتِ وَأُرُوشِ الْجِنَايَاتِ فَعَلَيْهِ أَدَاؤُهَا مَعًا وَهُمَا سَوَاءٌ فِي وُجُوبِ الْقَضَاءِ وَلَا يَلْزَمُهُ اسْتِئْذَانُ السَّيِّدِ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا

Adapun utang karena paksaan, seperti nilai barang yang dirusak dan diyat jinayat, maka wajib atasnya untuk membayarnya semuanya, dan keduanya sama dalam kewajiban pelunasan. Ia tidak diwajibkan meminta izin kepada tuannya dalam salah satu dari keduanya.

وَأَمَّا طَلَبُ الْفَضْلِ فَقَدْ يَكُونُ مِنْ وَجْهَيْنِ تِجَارَةٌ وَعَمَلٌ

Adapun mencari keutamaan, maka hal itu dapat dilakukan melalui dua cara: perdagangan dan pekerjaan.

فَأَمَّا التِّجَارَةُ فَتَكُونُ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فَلَا اعْتِرَاضَ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ فِيمَا بَاعَهُ وَاشْتَرَاهُ إِذَا لَمْ يَظْهَرْ فِيهِ مُغَابَنَةٌ

Adapun perdagangan dilakukan dengan jual beli, maka tuan tidak berhak memprotes apa yang dijual atau dibeli oleh budak selama tidak tampak adanya penipuan dalam transaksi tersebut.

وَأَمَّا الْعَمَلُ فَهُوَ احْتِرَافُهُ بِيَدَيْهِ فِي أَنْوَاعِ الْمَكَاسِبِ وَلَا اعْتِرَاضَ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ إِذَا تَصَدَّى لَهُ وَلَا يُجْبِرُهُ عَلَيْهِ إِنْ قَعَدَ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجْبِرَهُ عَلَى الِاكْتِسَابِ كَمَا لَيْسَ لَهُ أن يمنعه منه

Adapun bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan tangannya sendiri dalam berbagai jenis usaha, dan tuan tidak berhak memprotesnya jika ia melakukannya, serta tidak boleh memaksanya untuk bekerja jika ia enggan, karena tuan tidak memiliki hak untuk memaksanya mencari penghasilan, sebagaimana ia juga tidak berhak melarangnya dari hal itu.

وأماما لا يستغنى عنه من المؤن فنوعان مؤونة تثمير ماله ومؤونة لحراسة نفسه فأما مؤونة التَّثْمِيرِ فَكَسَقْيِ الزُّرُوعِ وَعَلُوفَةِ الْمَوَاشِي وَنَقْلِ الْأَمْتِعَةِ

Adapun kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dari kebutuhan-kebutuhan pokok terbagi menjadi dua jenis: kebutuhan untuk mengembangkan harta dan kebutuhan untuk menjaga diri. Adapun kebutuhan untuk pengembangan harta seperti pengairan tanaman, pakan ternak, dan pengangkutan barang-barang.

وأما مؤونة نَفْسِهِ فَكَالَّذِي يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ مَأْكُولِهِ 5 وَمَلْبُوسِهِ أَوْ مَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ مِنْ زَوْجَةٍ وولد ولا اعتراض للسيد عليه في كلي المؤونتين مَا لَمْ يَخْرُجْ فِيهِمَا إِلَى حَدِّ السَّرَفِ

Adapun kebutuhan pribadi dirinya, seperti apa yang ia perlukan dari makanan dan pakaian, atau orang yang wajib ia nafkahi seperti istri dan anak, maka tuannya tidak berhak menghalangi dalam kedua kebutuhan tersebut selama tidak berlebihan hingga melampaui batas pemborosan.

فَأَمَّا نَفَقَتُهُ فِي مَلَاذِّهِ فَمَا كَانَ مِنْهَا مَعْهُودًا بِمِثْلِهِ لَمْ يُمْنَعْ مِنْهُ وَمَا خَرَجَ عَنِ الْمَعْهُودِ مُنِعَ مِنْهُ

Adapun nafkah untuk kesenangannya, maka apa yang lazim diberikan sesuai kebiasaan tidak boleh dicegah darinya, dan apa yang melebihi kebiasaan maka dicegah darinya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ نُفُوذُ تَصَرُّفِهِ فِيمَا وَصَفْنَاهُ فَهُوَ مَمْنُوعٌ مِنْ تَصَرُّفِهِ فِيمَا عَدَاهُ مِنْ هِبَةٍ أَوْ مُحَابَاةٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ بِرٍّ فَإِنْ وَهَبَ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ مَرْدُودَ الْهِبَةِ وَإِنْ وَهَبَ بِإِذْنِهِ فَفِي صِحَّةِ هِبَتِهِ قَوْلَانِ

Maka apabila telah tetap keabsahan tindakannya dalam hal yang telah kami sebutkan, maka ia dilarang melakukan tindakan selain itu, seperti hibah, muhabāh (pemberian dengan imbalan yang lebih ringan), sedekah, atau kebajikan. Jika ia memberikan hibah tanpa izin tuannya, maka hibah tersebut batal. Namun jika ia memberikan hibah dengan izin tuannya, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan hibahnya.

أَحَدُهُمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَأَكْثَرِ كُتُبِهِ أَنَّ الْهِبَةَ صَحِيحَةٌ مَاضِيَةٌ لِأَنَّ ذَلِكَ الْمَوْهُوبَ لَا يَتَجَاوَزُهُمَا وَهُوَ مَوْقُوفٌ عَلَيْهِمَا مَعَ التَّصَرُّفِ فِيهِ بِاجْتِمَاعِهِمَا كَالشَّرِيكَيْنِ

Salah satu pendapat yang beliau tegaskan dalam masalah ini dan di sebagian besar kitab-kitabnya adalah bahwa hibah tersebut sah dan berlaku, karena barang yang dihibahkan itu tidak keluar dari keduanya dan tetap menjadi milik mereka berdua, dengan pengelolaan atasnya dilakukan bersama-sama seperti dua orang yang berserikat.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي حَكَّاهُ الرَّبِيعُ أَنَّ الْهِبَةَ بَاطِلَةٌ مَعَ إِذْنِهِ كَبُطْلَانِهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua, yang diriwayatkan oleh ar-Rabi‘, menyatakan bahwa hibah batal meskipun dengan izinnya, sebagaimana batalnya hibah tanpa izinnya, karena dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مِلْكَ الْمُكَاتَبِ ضَعِيفٌ وَمِلْكَ الْمَوْهُوبِ لَهُ قَوِيٌّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْدُثَ عَنِ الضَّعِيفِ مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ

Salah satunya adalah bahwa kepemilikan seorang mukatab itu lemah, sedangkan kepemilikan orang yang diberi hibah itu kuat, sehingga tidak boleh terjadi dari sesuatu yang lemah sesuatu yang lebih kuat darinya.

وَالثَّانِي أَنْ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَمْنُوعٌ أَنْ يَنْفَرِدَ بِهَذَا التَّصَرُّفِ فَضَعُفَ الْإِذْنُ عَنْهُ وَصَارَ وُجُودُهُ كَعَدَمِهِ

Kedua, bahwa masing-masing dari keduanya dilarang untuk melakukan tindakan ini secara sendiri-sendiri, sehingga izin darinya menjadi lemah dan keberadaannya menjadi seperti tidak ada.

فَأَمَّا خَلْعُ الْمُكَاتَبَةِ فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ خَرَّجَهُ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْهِبَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَبْطَلَهُ قَوْلًا وَاحِدًا بِخِلَافِ الْهِبَةِ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِمَّا فِي الْهِبَةِ مِنَ اسْتِحْقَاقِ الْمُكَافَأَةِ عَلَى قَوْلِ مَنْ أَوْجَبَهَا أَوْ جَمِيلِ الذِّكْرِ وَثَوَابِ الْآخِرَةِ عَلَى قَوْلِ مَنْ أَسْقَطَهَا وَلَيْسَ فِي الْخَلْعِ مُكَافَأَةٌ وَلَا ثَنَاءٌ وَلَا ثَوَابٌ

Adapun pembatalan mukātabah, sebagian ulama kami mengqiyaskan hukumnya kepada dua pendapat seperti halnya hibah. Sebagian lain dari mereka membatalkannya secara mutlak, berbeda dengan hibah, karena terdapat perbedaan antara keduanya. Pada hibah, terdapat hak untuk mendapatkan balasan menurut pendapat yang mewajibkannya, atau memperoleh pujian yang baik dan pahala di akhirat menurut pendapat yang tidak mewajibkan balasan. Sedangkan dalam pembatalan mukātabah tidak terdapat balasan, pujian, maupun pahala.

وَأَمَّا مُحَابَاةُ الْمُكَاتَبِ فِيمَا بَاعَ وَاشْتَرَى إِذَا خَرَجَ عَمَّا يَتَغَابَنُ النَّاسُ بِمِثْلِهِ فَهُوَ كَالْهِبَةِ إِنْ فَعَلَهُ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ بَذَلَ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِهِ فَعَلَى الْقَوْلَيْنِ وَكَذَلِكَ الْقَوْلُ فِيمَا تَطَوَّعَ بِهِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ نَفَقَةٍ فِي بِرٍّ إِنْ كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ مَرْدُودٌ إِذَا أَمْكَنَ اسْتِدْرَاكُهُ وَبِإِذْنِهِ عَلَى الْقَوْلَيْنِ

Adapun perlakuan istimewa (muḥābāh) terhadap mukatab dalam jual beli, jika melebihi batas yang biasanya orang-orang saling menipu (dalam harga) seperti itu, maka hukumnya seperti hibah (pemberian). Jika dilakukan tanpa izin tuannya, maka itu batal. Namun jika dengan izinnya, maka ada dua pendapat. Demikian pula hukum mengenai sedekah atau nafkah yang diberikan secara sukarela dalam kebaikan; jika tanpa izin tuannya, maka itu ditolak jika masih memungkinkan untuk dikembalikan, dan jika dengan izinnya, maka ada dua pendapat.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا يُكَفِّرُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكَفَّارَاتِ إِلَّا بِالصَّوْمِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Tidak boleh menunaikan salah satu dari kafarat kecuali dengan puasa.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا وَجَبَتْ عَلَى الْمُكَاتَبِ كَفَّارَةٌ فَفَرْضُهُ فِيهَا أَنْ يُكَفِّرَ بِالصَّوْمِ دُونَ الْإِطْعَامِ وَالْعِتْقِ لِجَرَيَانِ أَحْكَامِ الرِّقِّ عَلَيْهِ كَالْعَبْدِ فَإِنْ عَدَلَ عَنْهُ إِلَى الْعِتْقِ لَمْ يُجْزِهِ لِأَنَّ الْوَلَاءَ فِيهِ لِغَيْرِهِ سَوَاءٌ كَانَ بِإِذْنِ السَّيِّدِ أَوْ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَإِنْ عَدَلَ إِلَى الْإِطْعَامِ فَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ لَمْ يُجْزِهِ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِهِ لَمْ يُجْزِهِ عَلَى قَوْلِهِ فِي الْجَدِيدِ إِنَّ الْعَبْدَ لَا يُمَلَّكُ إِذَا مَلَكَ وَفِي إجْزَائِهِ عَلَى الْقَدِيمِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْعَبْدَ يَمْلِكُ إِذَا ملكَ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنْ قَوْلَيِ الهبة

Al-Mawardi berkata: Jika seorang mukatab diwajibkan membayar kafarat, maka kewajibannya dalam hal ini adalah menunaikan kafarat dengan berpuasa, bukan dengan memberi makan atau memerdekakan budak, karena hukum-hukum perbudakan masih berlaku atasnya seperti budak biasa. Jika ia memilih memerdekakan budak sebagai ganti puasa, maka itu tidak sah baginya, karena hak wala’ (loyalitas) dalam hal itu menjadi milik orang lain, baik dengan izin tuannya maupun tanpa izin. Jika ia memilih memberi makan, maka jika tanpa izin tuan, itu tidak sah baginya. Jika dengan izin tuan, menurut pendapat baru (qaul jadid) beliau, itu tetap tidak sah karena budak tidak memiliki kepemilikan; jika ia memiliki sesuatu, maka itu bukan miliknya. Namun menurut pendapat lama (qaul qadim), jika dikatakan bahwa budak dapat memiliki sesuatu, maka ada dua wajah (pendapat) yang diambil dari dua pendapat tentang hibah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ بَاعَ فَلَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى مَاتَ الْمُكَاتَبُ وَجَبَ الْبَيْعُ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْبُيُوعِ إِذَا مَاتَ أَحَدُ الْمُتَبَايِعَيْنِ قَامَ وَارِثُهُ مَقَامَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang menjual (sesuatu), lalu keduanya belum berpisah hingga si mukatab meninggal dunia, maka jual beli itu tetap berlaku. Dan beliau berkata dalam Kitab al-Buyū‘: Jika salah satu dari dua pihak yang berjual beli meninggal dunia, maka ahli warisnya menggantikan posisinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْبُيُوعِ إِذَا مَاتَ أَحَدُ الْمُتَبَايِعَيْنِ قَامَ الْوَارِثُ مَقَامَهُ وَأَمَّا خِيَارُ الْمَجْلِسِ فَمُسْتَحَقٌّ فِي عَقْدِ كُلِّ بَيْعٍ يَسْتَوِي فِيهِ الْحُرُّ وَالْعَبْدُ وَالْمَالِكُ وَالْوَكِيلُ وَيَكُونُ مُسْتَحَقًّا لِلْمُتَبَايِعَيْنِ مَا لَمْ يَفْتَرِقَا بِأَبْدَانِهِمَا فَإِنْ مَاتَ أَحَدُهُمَا فَهَلْ يَكُونُ قَطْعًا لِلْخِيَارِ كَالِافْتِرَاقِ بِالْأَبْدَانِ

Al-Mawardi berkata, “Dan ia berkata dalam Kitab al-Buyu‘: Jika salah satu dari dua pihak yang berjual beli meninggal dunia, maka ahli warisnya menggantikan posisinya. Adapun khiyār majlis adalah hak yang berlaku dalam setiap akad jual beli, baik yang merdeka maupun budak, pemilik maupun wakil, semuanya sama. Hak ini tetap dimiliki oleh kedua pihak yang berjual beli selama mereka belum berpisah secara fisik. Jika salah satu dari mereka meninggal dunia, apakah kematian itu memutuskan hak khiyār sebagaimana perpisahan secara fisik?”

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ كِتَابِ الْمُكَاتَبِ وَإِذَا بَاعَ فَلَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى مَاتَ الْمُكَاتَبُ وَجَبَ الْبَيْعُ وَظَاهِرُ هَذَا الْوَجْهِ انْقِطَاعُ الْخِيَارِ بِالْمَوْتِ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْبُيُوعِ إِذَا مَاتَ أَحَدُ الْمُتَبَايِعَيْنِ قَامَ الْوَارِثُ مَقَامَهُ وَهَذَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ الْخِيَارُ مَوْرُوثًا لَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اخْتِلَافِ هَذَيْنِ الْجَوَابَيْنِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Syafi‘i berkata dalam bagian ini dari Kitab al-Mukatab: “Jika ia menjual, lalu keduanya belum berpisah hingga mukatab itu meninggal, maka jual beli itu menjadi wajib.” Dan zahir dari pendapat ini adalah bahwa hak khiyar terputus karena kematian. Namun, ia berkata dalam Kitab al-Buyu‘: “Jika salah satu dari dua pihak yang berjual beli meninggal, maka ahli waris menggantikan posisinya.” Ini menunjukkan bahwa hak khiyar diwariskan dan tidak terputus karena kematian. Maka, para sahabat kami berbeda pendapat mengenai perbedaan dua jawaban ini menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا أَنَّ خِيَارَ الْمَجْلِسِ لَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ قَوْلًا وَاحِدًا وَيَنْتَقِلُ إِلَى وَارِثِ الْحُرِّ وَسَيِّدِ الْمُكَاتَبِ وَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي مَوْتِ الْمُكَاتَبِ وَجَبَ الْبَيْعُ يُرِيدُ بِهِ الرَّدَّ عَلَى مَنْ قَالَ إِنَّ مَوْتَ الْمُكَاتَبِ فِي خِيَارِ الْمَجْلِسِ يُبْطِلُ الْبَيْعَ لِأَنَّهُ يَمُوتُ عَبْدًا وَلَمْ يُرِدْ بِهِ انْقِطَاعَ الْخِيَارِ

Salah satunya adalah bahwa khiyār majlis tidak terputus karena kematian menurut satu pendapat, dan hak tersebut berpindah kepada ahli waris orang merdeka dan tuan dari mukatab. Adapun pendapat asy-Syafi‘i mengenai kematian mukatab, bahwa jual beli menjadi wajib, maksudnya adalah sebagai bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa kematian mukatab dalam khiyār majlis membatalkan jual beli, karena ia meninggal dalam keadaan sebagai budak. Namun, asy-Syafi‘i tidak bermaksud bahwa khiyār menjadi terputus karenanya.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي أَنَّ اخْتِلَافَ الْجَوَابَيْنِ مَحْمُولٌ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ فِي مَوْتِ الْحُرِّ وَالْمُكَاتَبِ

Mazhab kedua berpendapat bahwa perbedaan dua jawaban itu didasarkan pada perbedaan dua pendapat mengenai kematian orang merdeka dan mukatab.

أَحَدُهُمَا يَنْقَطِعُ خِيَارُ الْمَجْلِسِ بِالْمَوْتِ فِي بَيْعِ الْحُرِّ وَبَيْعِ الْمُكَاتَبِ عَلَى مَا قَالَهُ فِي الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهُ لَمَّا انْقَطَعَ بِافْتِرَاقِ الْأَبْدَانِ كَانَ أَوْلَى أَنْ يَنْقَطِعَ بِافْتِرَاقِ الْأَرْوَاحِ وَالْأَبْدَانِ

Salah satunya adalah bahwa hak khiyār majlis terputus karena kematian dalam jual beli orang merdeka dan jual beli mukatab, sebagaimana yang dikatakan dalam masalah mukatab. Sebab, ketika hak tersebut terputus karena perpisahan badan, maka lebih utama lagi ia terputus karena perpisahan ruh dan badan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي إِنَّ الْخِيَارَ لَا يَنْقَطِعُ بِمَوْتِ الْحُرِّ وَلَا بِمَوْتِ الْمُكَاتَبِ وَيَنْتَقِلُ عَنِ الْحُرِّ إِلَى وَارِثِهِ وَعَنِ الْمُكَاتَبِ إِلَى سَيِّدِهِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْبُيُوعِ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَنْقَطِعْ بِافْتِرَاقِ الْأَبْدَانِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَنْقَطِعَ بِافْتِرَاقِ الْمَوْتِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak khiyār tidak gugur karena wafatnya orang merdeka maupun wafatnya mukātib, dan hak tersebut berpindah dari orang merdeka kepada ahli warisnya serta dari mukātib kepada tuannya, sebagaimana telah dinyatakan dalam bab jual beli. Sebab, jika hak tersebut tidak gugur karena perpisahan fisik, maka lebih utama lagi untuk tidak gugur karena perpisahan akibat kematian.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ أَنَّ الْجَوَابَ عَلَى ظَاهِرِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ وَأَنَّهُ لَا يَنْقَطِعُ بِمَوْتِ الْحُرِّ وَيَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى وَارِثِهِ وَيَنْقَطِعُ بِمَوْتِ الْمُكَاتَبِ وَلَا يَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى سَيِّدِهِ

Madzhab ketiga berpendapat bahwa jawaban (hukum) tetap sesuai zahirnya pada kedua tempat tersebut, yaitu bahwa (kewajiban) tidak terputus dengan wafatnya orang merdeka dan berpindah darinya kepada ahli warisnya, sedangkan (kewajiban) terputus dengan wafatnya mukatab dan tidak berpindah darinya kepada tuannya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Perbedaan antara keduanya terdapat pada dua aspek.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمَالَ يَنْتَقِلُ عَنِ الْحُرِّ مِيرَاثًا وَعَنِ الْمُكَاتَبِ مِلْكًا فَقَامَ وَارِثُ الْحُرِّ مَقَامَهُ وَلَمْ يَقُمْ سَيِّدُ الْمُكَاتَبِ مَقَامَهُ

Pertama, harta berpindah dari orang merdeka melalui warisan, sedangkan dari mukatab melalui kepemilikan; maka ahli waris orang merdeka menempati posisinya, sedangkan tuan dari mukatab tidak menempati posisinya.

وَالثَّانِي أَنَّ نَظَرَ الْمُكَاتَبِ فِي مُدَّةِ الْخِيَارِ عَائِدٌ إِلَى سَيِّدِهِ فَاكْتَفَى السَّيِّدُ فِيهِ بِنَظَرِ مُكَاتَبِهِ وَكَذَلِكَ الْوَكِيلُ لَا يَنْتَقِلُ خِيَارُ المجلس بموته فِيهِ إِلَى الْمُوكِلِ وَنَظَرِ الْحُرِّ لِنَفْسِهِ فَانْتَقَلَ بِمَوْتِهِ إِلَى وَارِثِهِ لِيَسْتَدْرِكَ بِهِ الْحَظَّ إِلَى نَفْسِهِ

Kedua, bahwa pertimbangan (nazar) seorang mukatab selama masa khiyar kembali kepada tuannya, maka cukuplah bagi tuan dengan pertimbangan mukatabnya. Demikian pula, seorang wakil, hak khiyar majelis tidak berpindah kepada muwakkil karena kematiannya. Adapun pertimbangan orang merdeka adalah untuk dirinya sendiri, sehingga jika ia meninggal, hak itu berpindah kepada ahli warisnya agar mereka dapat mengambil manfaat (hak) tersebut untuk diri mereka sendiri.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا مَوْتُ الْمُكَاتَبِ فِي خِيَارِ الثَّلَاثِ فَيَنْتَقِلُ بَاقِي الْخِيَارِ فِيهِ إِلَى سَيِّدِهِ مَذْهَبًا وَاحِدًا وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خِيَارِ الْمَجْلِسِ من وجهين أَحَدُهُمَا أَنَّهُمَا لَمَّا افْتَرَقَا فِي انْقِطَاعِهِ بِتَفَرُّقِ الْأَبْدَانِ افْتَرَقَا فِي انْقِطَاعِهِ بِالْمَوْتِ وَالثَّانِي أَنَّ خِيَارَ الْمَجْلِسِ مُسْتَحَقٌّ بِالْعَقْدِ الْمَاضِي وَخِيَارَ الثَّلَاثِ مستحق بالشرط الباقي فافترقا

Adapun jika seorang mukatab meninggal dunia dalam masa khiyar tiga hari, maka sisa hak khiyar tersebut berpindah kepada tuannya menurut satu mazhab. Perbedaan antara hal ini dengan khiyar majlis ada pada dua sisi: Pertama, ketika keduanya berbeda dalam hal terputusnya khiyar karena berpisahnya badan, maka keduanya juga berbeda dalam hal terputusnya khiyar karena kematian. Kedua, khiyar majlis menjadi hak karena akad yang telah lalu, sedangkan khiyar tiga hari menjadi hak karena syarat yang masih tersisa, maka keduanya pun berbeda.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَبِيعُ بِدَيْنٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak boleh menjual dengan (pembayaran) utang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ فِي الْبَيْعِ بِالدَّيْنِ تَغْرِيرًا بِالْمَالِ فَلَمْ يَجُزْ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ وَفِي جَوَازِهِ بِإِذْنِهِ قَوْلَانِ وَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَشْتَرِيَ بِالدَّيْنِ وَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ السَّيِّدُ لِأَنَّ التَّغْرِيرَ فِيهِ عَلَى مَالِكِ الدَّيْنِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ فِيمَا اشْتَرَاهُ بِالدَّيْنِ رَهْنًا خَوْفَ تَلَفِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ مَالًا مُضَارَبَةً وَيَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَ مَالًا مُضَارَبَةً لِأَنَّ التَّغْرِيرَ فِي الدَّفْعِ عَائِدٌ عَلَيْهِ وَفِي الْأَخْذِ عَائِدٌ عَلَى غَيْرِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَدْفَعَ مَالًا فِي سَلَمٍ وَيَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَ مَالًا فِي سَلَمٍ لِلْمَعْنَى الذي ذكرنا

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, karena dalam jual beli dengan utang terdapat unsur penipuan terhadap harta, sehingga tidak boleh dilakukan tanpa izin tuan. Adapun kebolehannya dengan izin tuan, terdapat dua pendapat. Seorang budak boleh membeli dengan utang meskipun tuannya tidak mengizinkan, karena unsur penipuan di sini tertuju pada pemilik utang. Tidak boleh baginya memberikan barang yang dibelinya dengan utang sebagai rahn (barang jaminan) karena dikhawatirkan rusak. Tidak boleh pula ia memberikan harta untuk mudharabah, namun boleh baginya menerima harta untuk mudharabah, karena unsur penipuan dalam penyerahan harta kembali kepada dirinya, sedangkan dalam penerimaan harta kembali kepada orang lain. Tidak boleh ia menyerahkan harta dalam akad salam, namun boleh baginya menerima harta dalam akad salam, karena alasan yang telah kami sebutkan.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَهَبُ لِثَوَابٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak boleh memberikan hibah dengan imbalan (tsawāb).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لَا تَصِحُّ مِنَ الْمُكَاتَبِ الْهِبَةُ بِغَيْرِ إِذْنِ السيد سواء كاتب لثواب تجب في الْمُكَافَأَةُ أَوْ بِغَيْرِ ثَوَابٍ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, tidak sah bagi seorang mukatab memberikan hibah tanpa izin tuannya, baik ia melakukan akad kitabah dengan imbalan yang wajib dibalas maupun tanpa imbalan.”

فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا جَازَتِ الْهِبَةُ لِثَوَابٍ لِأَنَّهَا مُعَاوَضَةٌ كَالْبَيْعِ قِيلَ لَا تَصِحُّ مِنْهُ هِبَةُ الثَّوَابِ وَإِنْ صَحَّ مِنْهُ الْبَيْعُ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan, “Mengapa hibah dengan imbalan (hibah ats-tsawāb) tidak diperbolehkan, padahal ia merupakan pertukaran seperti jual beli?” Maka dijawab, “Tidak sah baginya melakukan hibah ats-tsawāb, meskipun jual beli sah darinya, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ اسْتِحْقَاقَ الثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ إِجْمَاعٌ وَاسْتِحْقَاقَ الثَّوَابِ فِي الْهِبَةِ عَلَى خِلَافٍ

Pertama, bahwa hak atas harga dalam jual beli adalah ijmā‘, sedangkan hak atas imbalan dalam hibah masih diperselisihkan.

وَالثَّانِي تَعْجِيلُ الثَّمَنِ وَتَأْجِيلُ الثَّوَابِ وَفَرَّقَ فِي حَقِّ الْمُكَاتَبِ بَيْنَ مَا تَعَجَّلَ مِنَ الْعِوَضِ وَتَأَجَّلَ فَإِنْ أَذِنَ السَّيِّدُ فِيهَا فَعَلَى الْقَوْلَيْنِ وَإِذْنُهُ إِذَا صَحَّتِ الْهِبَةُ مُعْتَبَرٌ فِي عَقْدِهَا وَإِقْبَاضِهَا فَإِنْ أَذِنَ لَهُ فِي الْعَقْدِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ فِي الْإِقْبَاضِ لَمْ تَصِحَّ الْهِبَةُ لِأَنَّ عَقْدَ الْهِبَةِ لَا يَقَعُ بِهِ التَّمْلِيكُ وَإِنَّمَا يَمْلِكُ بِالْإِقْبَاضِ الَّذِي لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ وَإِنْ أَذِنَ فِي الْإِقْبَاضِ وَلَمْ يَأْذَنْ فِي الْعَقْدِ لَمْ يَصِحَّ لِفَسَادِ الْعَقْدِ بِعَدَمِ الْإِذْنِ فَيَصِيرُ الْإِقْبَاضُ مُتَجَرِّدًا عَنْ غَيْرِ عَقْدٍ

Kedua, mempercepat pembayaran harga dan menunda penyerahan imbalan. Dalam hal ini, dibedakan pada hak seorang mukatab antara imbalan yang telah dipercepat dan yang ditunda. Jika tuan (pemilik budak) mengizinkan dalam hal tersebut, maka berlaku dua pendapat. Izin tuan, apabila hibah telah sah, dianggap dalam akadnya dan penyerahannya. Jika ia mengizinkan dalam akad tetapi tidak mengizinkan dalam penyerahan, maka hibah tidak sah, karena akad hibah tidak menyebabkan kepemilikan, melainkan kepemilikan terjadi dengan penyerahan yang tidak diizinkan olehnya. Jika ia mengizinkan dalam penyerahan tetapi tidak mengizinkan dalam akad, maka tidak sah karena rusaknya akad akibat tidak adanya izin, sehingga penyerahan menjadi terlepas dari akad.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِذَا وَهَبَ الْمُكَاتَبُ لِسَيِّدِهِ فَقَبُولُهُ لَهَا كَإِذْنِهِ فِيهَا فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ

Dan apabila seorang mukatab memberikan hibah kepada tuannya, maka penerimaan tuan atas hibah tersebut sama dengan izinnya terhadap hibah itu, sehingga dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بَاطِلٌ وَيَرْجِعُ بِهَا عَلَى الْمُكَاتَبِ أَوْ يَحْتَسِبُ السَّيِّدُ بِهَا مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ

Salah satunya batal, dan (barang tersebut) dikembalikan kepada mukatab, atau tuan memperhitungkannya dari harta kitabah.

وَالثَّانِي صَحِيحَةٌ فَإِنْ قِيلَ فِيهَا بِوُجُوبِ الثَّوَابِ وَجَبَتِ الْمُكَافَأَةُ فِيهَا عَلَى السَّيِّدِ يَدْفَعُهَا إِلَى مُكَاتَبِهِ أَوْ يَحْتَسِبُ بِهَا مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ وَإِنْ قِيلَ بِسُقُوطِ الثَّوَابِ فِيهَا روعي حَالُ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ أَدَّى مَالَ كِتَابَتِهِ مِنْ غَيْرِهَا اسْتَقَرَّ مِلْكُ السَّيِّدِ عَلَى الْهِبَةِ وَإِنْ عَجَزَ وَكَانَ فِي الْهِبَةِ وَفَاءٌ لِمَا عَلَيْهِ فَفِي رُجُوعِ الْمُكَاتَبِ بِهَا لِيُؤَدِّيَهَا فِي كِتَابَتِهِ فَيَعْتِقَ بِهَا وَجْهَانِ

Yang kedua adalah sahih. Jika dikatakan bahwa di dalamnya wajib mendapat pahala, maka wajib bagi tuan untuk memberikan imbalan tersebut kepada mukatabnya, atau ia dapat memperhitungkannya dari harta penebusan mukatab. Namun jika dikatakan bahwa pahala di dalamnya gugur, maka keadaan mukatab diperhatikan; jika ia melunasi harta penebusannya bukan dari hibah tersebut, maka kepemilikan tuan atas hibah itu menjadi tetap. Tetapi jika ia tidak mampu dan dalam hibah itu terdapat kecukupan untuk melunasi kewajibannya, maka mengenai apakah mukatab boleh mengambil kembali hibah tersebut untuk digunakan membayar penebusannya sehingga ia merdeka dengannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا يَرْجِعُ بِهَا كَالْهِبَةِ لِلْأَجْنَبِيِّ وَيَرْجِعُ بِالتَّعْجِيزِ عَبْدًا

Salah satunya adalah tidak boleh menarik kembali (pemberian) seperti hibah kepada orang asing, dan boleh menarik kembali karena ketidakmampuan seorang budak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَرْجِعُ بِهَا لِيُؤَدِّيَهَا فِي عِتْقِهِ لِأَنَّ مَالَ الْمُكَاتَبِ مُسْتَحَقٌّ لِلسَّيِّدِ فِي كِتَابَتِهِ فَبِأَيِّ وَجْهٍ صَارَ إِلَيْهِ اسْتَحَقَّ بِهِ الْعِتْقَ

Adapun pendapat kedua, ia mengembalikan (harta) tersebut agar digunakan untuk membayar (harga) kemerdekaannya, karena harta mukatab memang menjadi hak tuannya dalam akad kitabah. Maka dengan cara apa pun harta itu sampai kepadanya, ia berhak mendapatkan kemerdekaan dengannya.

فَأَمَّا هِبَةُ الْمُكَاتَبِ لِوَلَدِ سَيِّدِهِ فَإِنْ كَانَ صَغِيرًا فَالسَّيِّدُ قَابِلُهَا فَيَصِيرُ قَبُولُهُ لَهَا كَإِذْنِهِ فِيهَا فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ وَلَا يَرْجِعُ بِهَا الْمُكَاتَبُ إِنْ عَجَزَ وَإِنْ كَانَ الِابْنُ كَبِيرًا فَهُوَ الْقَابِلُ وَيَكُونُ كَالْأَجْنَبِيِّ فِي اعْتِبَارِ إِذْنِ السَّيِّدِ فَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ بَطَلَتْ وَإِنْ أَذِنَ فَعَلَى قَوْلَيْنِ

Adapun hibah dari seorang mukatab kepada anak tuannya, maka jika anak itu masih kecil, tuanlah yang menerimanya, sehingga penerimaan tuan terhadap hibah tersebut dianggap sebagai izinnya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat. Mukatab tidak dapat menarik kembali hibah tersebut jika ia tidak mampu (melunasi akad mukatab). Namun jika anak itu sudah dewasa, dialah yang menerima hibah tersebut dan kedudukannya seperti orang lain (ajnabi) dalam hal perlunya izin dari tuan. Jika tuan tidak mengizinkan, maka hibah itu batal, dan jika mengizinkan, maka terdapat dua pendapat.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَبْرَأَ الْمُكَاتَبُ مِنْ دَيْنٍ يَسْتَحِقُّهُ كَانَ كَالْهِبَةِ مِنْهُ فَإِنْ أَبْرَأَ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ بَطَلَ الْإِبْرَاءُ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِهِ فَعَلَى قَوْلَيْنِ فَإِنْ صَالَحَ الْمُكَاتَبَ عَلَى مَالٍ لَهُ فَإِنْ كَانَ صُلْحًا يَجْرِي مَجْرَى الْإِبْرَاءِ كَانَ فِي حُكْمِهِ يَبْطُلُ إِنْ كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِهِ فَعَلَى قَوْلَيْنِ وَإِنْ كَانَ الصُّلْحُ جَارِيًا مَجْرَى الْبَيْعِ اعْتُبِرَ صُلْحُهُ فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ الْقِيمَةِ صَحَّ كَالْبَيْعِ وَإِنْ كَانَ بِأَقَلَّ مِنْهَا فَهُوَ كَالْهِبَةِ يَبْطُلُ إِنْ كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ وَإِنْ كَانَ بِإِذْنِهِ فعلى قولين

Apabila seorang mukatab membebaskan (menghapus) utang yang menjadi haknya, maka hal itu seperti hibah darinya. Jika ia membebaskan tanpa izin tuannya, maka pembebasan itu batal. Namun jika dengan izin tuannya, maka terdapat dua pendapat. Jika mukatab melakukan islah (perdamaian) atas harta yang menjadi miliknya, maka jika islah itu berjalan seperti pembebasan utang, maka hukumnya sama, yaitu batal jika tanpa izin tuannya, dan jika dengan izin tuannya maka ada dua pendapat. Jika islah itu berjalan seperti jual beli, maka islahnya dianggap sah; jika sebesar nilai (harta) maka sah seperti jual beli, dan jika kurang dari nilainya maka seperti hibah, sehingga batal jika tanpa izin tuannya, dan jika dengan izin tuannya maka ada dua pendapat.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِقْرَارُهُ فِي الْبَيْعِ جَائِزٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Pengakuannya dalam jual beli adalah sah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَقَرَّ الْمُكَاتَبُ بِبَيْعِ سِلْعَةٍ كَانَتْ فِي يَدِهِ كَانَ إِقْرَارُهُ بِبَيْعِهَا مَقْبُولًا مَا كَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ وَلَا يُقْبَلُ بَعْدَ عَجْزِهِ لِأَنَّهُ فِي الْكِتَابَةِ نَافِذُ الْبَيْعِ فَنَفَذَ إِقْرَارُهُ فِيهِ وَبَعْدَ الْعَجْزِ مَرْدُودُ الْبَيْعِ فَلَمْ يَنْفُذْ إِقْرَارُهُ فِيهِ وَجَرَى مَجْرَى الْحَاكِمِ يُقْبَلُ قَوْلُهُ فِيمَا حَكَمَ بِهِ فِي وِلَايَتِهِ وَلَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ فِيهِ بَعْدَ عَزْلِهِ

Al-Mawardi berkata: “Hal ini benar, yaitu apabila seorang mukatab mengakui telah menjual suatu barang yang ada di tangannya, maka pengakuannya atas penjualan barang tersebut diterima selama masih dalam masa kitabah (perjanjian pembayaran tebusan untuk memerdekakan diri). Namun, pengakuannya tidak diterima setelah ia tidak mampu membayar (menjadi ‘ajiz), karena selama masa kitabah ia berwenang melakukan penjualan, sehingga pengakuannya pun sah. Adapun setelah ia tidak mampu, penjualannya tertolak, sehingga pengakuannya pun tidak sah. Hal ini serupa dengan seorang hakim, di mana ucapannya diterima dalam perkara yang ia putuskan selama masa jabatannya, namun tidak diterima setelah ia diberhentikan.”

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِقْرَارُ الْمُكَاتَبِ بِالشِّرَاءِ فَمَقْبُولٌ فِي حَالِ كِتَابَتِهِ فَأَمَّا بَعْدَ الْعَجْزِ فَمُعْتَبَرٌ بِحَالِ الثَّمَنِ فَإِنْ كَانَ قَدْ بَرِئَ مِنْهُ بِدَفْعٍ أَوْ إِبْرَاءٍ كَانَ إِقْرَارُهُ مَقْبُولًا بِخِلَافِ الْبَيْعِ لِأَنَّ فِي الْبَيْعِ إِزَالَةَ مِلْكٍ وَفِي الشِّرَاءِ إِثْبَاتَ مِلْكٍ وَإِنْ كَانَ الثَّمَنُ بَاقِيًا لَمْ يَبْرَأْ مِنْهُ نَظَرَ فِيهِ فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ قِيمَةِ السِّلْعَةِ فَمَا دُونَ نَفَذَ إِقْرَارُهُ فِيهِ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ من قيمتها لم يخل فَإِنْ كَانَ بِقَدْرِ قِيمَةِ السِّلْعَةِ فَمَا دُونَ نَفَذَ إِقْرَارُهُ فِيهِ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهَا لَمْ يَخْلُ نُقْصَانُ الْقِيمَةِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Adapun pengakuan seorang mukatab atas pembelian, maka diterima selama masa kitabah-nya. Adapun setelah ia dinyatakan tidak mampu (membayar), maka pengakuannya dipertimbangkan berdasarkan keadaan harga (barang). Jika ia telah terbebas darinya dengan pembayaran atau pembebasan, maka pengakuannya diterima, berbeda dengan kasus penjualan, karena dalam penjualan terdapat pengalihan kepemilikan, sedangkan dalam pembelian terdapat penetapan kepemilikan. Jika harga barang masih tersisa dan ia belum terbebas darinya, maka perlu dilihat: jika sebesar nilai barang atau kurang dari itu, maka pengakuannya berlaku; namun jika lebih dari nilai barang, maka kekurangan nilai tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِمُغَابَنَةٍ فِيهِ عِنْدَ الشِّرَاءِ فَيَكُونَ الْإِقْرَارُ نَافِذًا وَالشِّرَاءُ مَرْدُودًا وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بِسَبَبٍ حَادِثٍ مِنْ نَقْصِ سِعْرٍ أَوْ حُدُوثِ عَيْبٍ فَيَنْفُذَ الْإِقْرَارُ وَيَلْزَمَ الشِّرَاءُ لِأَنَّ زِيَادَةَ الثَّمَنِ إِذَا عَجَزَ عَنْهَا تَعَلَّقَتْ بِذِمَّتِهِ وَكَذَلِكَ إِقْرَارُهُ بِالدَّيْنِ مَقْبُولٌ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ بِالْكِتَابَةِ مُسَلَّطًا عَلَى مَا أَفْضَى إِلَيْهِ فَنَفَذَ إِقْرَارُهُ فِيهِ فَإِنْ عَجَزَ مَا بِيَدِهِ عَنْ أَدَائِهِ كَانَ فِي ذِمَّتِهِ يُؤَدِّيهِ بَعْدَ عتقه والله أعلم

Bisa jadi karena adanya penipuan harga saat pembelian, maka pengakuan (iqrār) itu sah dan pembeliannya dibatalkan. Atau bisa juga karena sebab baru, seperti turunnya harga atau munculnya cacat, maka pengakuan itu tetap sah dan pembeliannya tetap berlaku, karena jika harga yang lebih tinggi tidak mampu dibayar, maka menjadi tanggungan dalam kewajibannya (dzimmah). Demikian pula, pengakuannya atas utang diterima, karena dengan adanya surat (kitābah) ia telah diberi kewenangan atas apa yang menjadi akibatnya, sehingga pengakuannya dalam hal itu sah. Jika apa yang ada di tangannya tidak cukup untuk membayarnya, maka itu menjadi tanggungannya (dzimmah) dan ia akan membayarnya setelah ia merdeka. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَتْ لَهُ عَلَى مَوْلَاهُ دَنَانِيرُ وَلِمَوْلَاهُ عَلَيْهِ دَنَانِيرُ فَجَعَلَا ذَلِكَ قِصَاصًا جَازَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak memiliki piutang dinar kepada tuannya, dan tuannya juga memiliki piutang dinar kepada budak tersebut, lalu keduanya menjadikan hal itu sebagai qishāṣ (saling menghapus utang), maka hal itu diperbolehkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ تَقَدَّمَ ذِكْرُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَقُلْنَا إِنَّهُ كَانَ لِلْمُكَاتَبِ عَلَى سَيِّدِهِ مَالٌ وَحَلَّ عَلَيْهِ مِنْ نُجُومِهِ مَالٌ هَلْ يَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَالَيْنِ فِي الذِّمَّةِ قِصَاصًا بِالْآخَرِ كَالدَّرَاهِمِ بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ بِالدَّنَانِيرِ أَمْ لَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَقَاوِيلَ مَضَتْ

Al-Mawardi berkata: Telah disebutkan sebelumnya masalah ini, dan kami telah mengatakan bahwa jika seorang mukatab memiliki harta pada tuannya, dan telah jatuh tempo atasnya sebagian pembayaran (nujuum) dari akad mukatab, apakah masing-masing dari dua harta tersebut dapat saling diperhitungkan dalam tanggungan (dzimmah), seperti dirham dengan dirham dan dinar dengan dinar, atau tidak? Dalam hal ini terdapat empat pendapat yang telah lalu.

أَحَدُهَا يَكُونُ قِصَاصًا إِذَا تَرَاضَيَا بِالْقِصَاصِ وَلَا يَكُونُ قِصَاصًا إِنْ لَمْ يَجْتَمِعَا عَلَى التَّرَاضِي بِهِ لِأَنَّ الدَّيْنَ لَا يُسْتَحَقُّ مِنْ مَالٍ مُعَيَّنٍ إِلَّا بِرِضَا مَنْ هُوَ عَلَيْهِ

Salah satunya adalah menjadi qishāsh jika kedua belah pihak saling merelakan qishāsh, dan tidak menjadi qishāsh jika keduanya tidak sepakat untuk merelakannya, karena utang tidak dapat diambil dari harta tertentu kecuali dengan kerelaan orang yang berutang.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ قِصَاصًا إِذَا رَضِيَ بِهِ أَحَدُهُمَا وَإِنْ لَمْ يَجْتَمِعَا عَلَيْهِ وَلَا يَكُونُ قِصَاصًا إِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا كَالْحَوَالَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu dapat menjadi qishāsh jika salah satu dari keduanya merelakannya, meskipun keduanya tidak sepakat atasnya. Namun, tidak dianggap sebagai qishāsh jika tidak ada satu pun dari keduanya yang merelakannya, sebagaimana dalam kasus al-hawālah.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّهُ يَكُونُ قِصَاصًا وَإِنْ لَمْ يَتَرَاضَيَا كَالْوَارِثِ إِذَا كَانَ عَلَيْهِ لِلْمَيِّتِ دَيْنٌ صَارَ قِصَاصًا مِنْ حَقِّهِ وَإِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa hal itu menjadi qishāsh meskipun kedua belah pihak tidak saling merelakan, seperti ahli waris yang apabila si mayit memiliki utang, maka hal itu menjadi qishāsh atas haknya meskipun ia tidak rela terhadapnya.

وَالرَّابِعُ لَا يَكُونُ قِصَاصًا بِحَالٍ وَإِنْ تَرَاضَيَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ بيع دين بدين

Keempat, tidak dapat dianggap sebagai qishāsh dalam keadaan apa pun, meskipun kedua belah pihak saling merelakan, kecuali jika itu adalah jual beli utang dengan utang.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَتْ لَهُ عَلَيْهِ أَلْفُ دِرْهَمٍ مِنْ نُجُومِهِ حَالَّةٌ وَلَهُ عَلَى السَّيِّدِ مِائَةُ دِينَارٍ حَالَّةٌ فَأَرَادَ أَنْ يَجْعَلَا الْأَلْفَ بِالْمِائَةِ قِصَاصًا لَمْ يَجُزْ وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ دَيْنُهُ عَلَيْهِ عَرْضًا وَكِتَابَتُهُ نَقْدًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang memiliki piutang seribu dirham yang telah jatuh tempo dari cicilan-cicilannya, dan ia juga memiliki piutang seratus dinar yang telah jatuh tempo atas tuannya, lalu keduanya ingin menjadikan seribu itu sebagai qishāṣ (kompensasi) dengan seratus tersebut, maka itu tidak diperbolehkan. Demikian pula jika utangnya berupa barang dan akad pembebasannya berupa uang tunai.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِذْ قَدْ تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْأَقَاوِيلِ الْأَرْبَعَةِ فِي الْقِصَاصِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو مَا حَلَّ مِنْ نُجُومِ الْمُكَاتَبِ وَمَا عَلَى السَّيِّدِ لِلْمُكَاتَبِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Setelah jelas apa yang telah kami sebutkan mengenai empat pendapat dalam masalah qishāsh, maka ketahuilah bahwa apa yang telah menjadi hak dari cicilan-cicilan (nujūm) yang harus dibayar oleh mukātab, dan apa yang menjadi kewajiban tuan terhadap mukātab, tidak lepas dari dua keadaan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَا مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ أَوْ مِنْ جِنْسَيْنِ

Bisa jadi keduanya berasal dari satu jenis yang sama atau dari dua jenis yang berbeda.

فَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ

Jika keduanya berasal dari satu jenis, maka terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَا نَقْدًا كَالدَّرَاهِمِ بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ بِالدَّنَانِيرِ فَهَذَا الَّذِي يَكُونُ قِصَاصًا عَلَى الْأَقَاوِيلِ الْأَرْبَعَةِ

Salah satunya adalah apabila keduanya berupa uang tunai, seperti dirham dengan dirham dan dinar dengan dinar; inilah yang berlaku qishāsh menurut keempat pendapat (mazhab) yang ada.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عَرْضًا لِأَنَّ السَّيِّدَ كَاتَبَهُ عَلَى ثِيَابٍ مَوْصُوفَةٍ وَأَسْلَمَ الْمُكَاتَبُ إِلَى سَيِّدِهِ فِي ثِيَابٍ عَلَى تِلْكَ الصِّفَةِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَا قِصَاصًا وَإِنْ تَرَاضَيَا قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ الْمُعَاوَضَةَ عَلَى السَّلَمِ قَبْلَ قَبْضِهِ لَا تَصِحُّ وَلَا يُبَرَّءَانِ إِلَّا بِقَبْضٍ وَإِقْبَاضٍ فَإِنْ بَدَأَ الْمُكَاتَبُ بِدَفْعِ مَا عَلَيْهِ إِلَى سَيِّدِهِ كَانَ الْخِيَارُ إِلَى سَيِّدِهِ فِيمَا عَلَيْهِ لِمُكَاتَبِهِ أَنْ يُعْطِيَهُ السَّلَمَ مِنْ ذَلِكَ الْمَأْخُوذِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ قَبْلَ النَّقْلِ وَبَعْدِهِ

Jenis kedua adalah apabila berupa barang, misalnya tuan telah melakukan mukātabah dengan budaknya atas sejumlah pakaian yang memiliki sifat tertentu, lalu budak tersebut menyerahkan kepada tuannya pakaian yang sesuai dengan sifat tersebut. Maka tidak boleh keduanya melakukan qishāsh (tukar-menukar) meskipun keduanya saling rela, menurut satu pendapat, karena mu‘āwadah (pertukaran) atas barang salam sebelum barang tersebut diterima tidak sah, dan keduanya tidak saling bebas tanggungan kecuali dengan adanya penyerahan dan penerimaan. Jika budak memulai dengan menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya kepada tuannya, maka pilihan ada pada tuannya, apakah ia ingin memberikan barang salam dari yang telah diterima itu atau dari selainnya, baik sebelum maupun sesudah pemindahan.

وَإِنْ بَدَأَ السَّيِّدُ بِدَفْعِ مَا عَلَيْهِ مِنَ السَّلَمِ إِلَى مُكَاتَبِهِ كَانَ الْمُكَاتَبُ بِالْخِيَارِ فِيمَا عَلَيْهِ مِنْ نُجُومِهِ أَنْ يَدْفَعَهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَقْبُوضِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ فَإِنْ أَعْطَاهُ مَا قَبَضَهُ مِنْهُ بَعْدَ نَقْلِهِ جَازَ وَإِنْ أَعْطَاهُ قَبْلَ نَقْلِهِ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ مَضَيَا فِي الْبُيُوعِ

Jika tuan memulai dengan membayarkan apa yang menjadi tanggungannya dari akad salam kepada mukatabnya, maka mukatab memiliki pilihan dalam hal pembayaran cicilan yang menjadi tanggungannya, yaitu boleh membayarnya dari harta yang diterimanya itu atau dari selainnya. Jika ia memberikan kepada tuannya apa yang telah diterimanya darinya setelah dipindahkan, maka itu diperbolehkan. Namun jika ia memberikannya sebelum dipindahkan, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan dalam bab jual beli.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Dan jika keduanya berasal dari dua jenis yang berbeda, maka terdapat tiga bentuk.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَا نَقْدًا مِثْلَ أَنْ تَكُونَ نُجُومُ الْمُكَاتَبِ دَرَاهِمَ وَلَهُ عَلَى السَّيِّدِ دَنَانِيرُ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَقَاصَّا لِأَنَّهُ بَيْعُ دَيْنٍ بِدَيْنٍ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ أَنْ يَدْفَعَ مَا عَلَيْهِ وَيُطَالِبَ بِمَا لَهُ فَأَيُّهُمَا دَفَعَ مَا عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعَادَ إِلَيْهِ بَدَلًا مِنْ حَقِّهِ إِلَّا أَنْ يَجْتَمِعَا عَلَى الرِّضَا وَالِاخْتِيَارِ لِأَنَّهُ إِنْ أَرَادَهُ قَابِضُ الدَّرَاهِمِ أَنْ يَدْفَعَهَا بَدَلًا مِنَ الدَّنَانِيرِ الَّتِي د عَلَيْهِ لَمْ يَلْزَمْ صَاحِبَ الدَّنَانِيرِ أَنْ يَعْدِلَ عَنْ حَقِّهِ إِلَّا بِاخْتِيَارِهِ وَإِنْ طَلَبَهَا لَمْ يَلْزَمْ مَنْ عَلَيْهِ الدَّنَانِيرُ أَنْ يَعْدِلَ إِلَى بَدَلٍ عَنْهَا إِلَّا بِاخْتِيَارِهِ

Salah satunya adalah jika keduanya berupa uang tunai, seperti apabila cicilan-cicilan mukatab berupa dirham, sedangkan ia (mukatab) memiliki piutang dinar atas tuannya. Maka tidak boleh dilakukan saling kompensasi, karena hal itu merupakan jual beli utang dengan utang. Masing-masing harus membayar apa yang menjadi tanggungannya dan menuntut apa yang menjadi haknya. Siapa pun di antara keduanya yang telah membayar kewajibannya, tidak boleh dikembalikan kepadanya sebagai pengganti haknya, kecuali jika keduanya sepakat secara suka rela dan pilihan. Sebab, jika penerima dirham ingin menyerahkannya sebagai pengganti dinar yang menjadi tanggungannya, maka pemilik dinar tidak wajib beralih dari haknya kecuali dengan pilihannya. Dan jika ia memintanya, maka orang yang menanggung dinar tidak wajib menggantinya kecuali dengan pilihannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَا عَرْضًا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ النُّجُومُ ثِيَابًا مَوْصُوفَةً وَمَا عَلَى السَّيِّدِ مِنَ السَّلَمِ غَنَمًا مَوْصُوفَةً فَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يُعْطِيَ مَا عَلَيْهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَهُ بَدَلًا مِنْ مَالِهِ وَإِنْ تَرَاضَيَا بِهِ لِأَنَّهُ بَيْعُ مَا لَمْ يُقْبَضْ وَيُطَالِبُ بِحَقِّهِ مِنْ جِنْسِهِ

Jenis kedua adalah apabila keduanya berupa ‘aradh (barang selain uang), seperti bintang-bintang adalah pakaian yang telah ditentukan sifatnya, dan apa yang menjadi tanggungan tuan dari akad salam adalah kambing yang telah ditentukan sifatnya. Maka, masing-masing dari keduanya wajib memberikan apa yang menjadi tanggungannya, dan tidak boleh mengambilnya sebagai pengganti dari hartanya, meskipun keduanya saling rela, karena itu termasuk jual beli barang yang belum diterima, dan ia harus menuntut haknya dari jenis yang sama.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا نَقْدًا وَالْآخَرُ عَرْضًا مِثْلَ أَنْ تَكُونَ نُجُومُ الْمُكَاتَبِ دَرَاهِمَ وَلَهُ عَلَى سَيِّدِهِ ثِيَابٌ مِنْ سَلَمِ فَإِنْ بَدَأَ الْمُكَاتَبُ فَدَفَعَ إِلَى سَيِّدِهِ مَا عَلَيْهِ مِنْ دَرَاهِمِ الْكِتَابَةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْعَلَهَا السَّيِّدُ عِوَضًا مِنَ الثِّيَابِ الَّتِي عَلَيْهِ لِلْمُكَاتَبِ وَإِنْ تَرَاضَيَا لِأَنَّهُ بَيْعُ السَّلَمِ قَبْلَ قَبْضِهِ وَإِنْ بَدَأَ السَّيِّدُ فَدَفَعَ إِلَى مُكَاتَبِهِ مَا عَلَيْهِ مِنْ ثِيَابِ السَّلَمِ جَازَ أَنْ يَجْعَلَهَا الْمُكَاتَبُ بَدَلًا مِمَّا عَلَيْهِ مِنَ الدَّرَاهِمِ الَّتِي لِلسَّيِّدِ إِذَا تَرَاضَيَا لِجَوَازِ أَخْذِ الْعِوَضِ وَالنَّقْدِ بَدَلًا عَمَّا فِي الذِّمَّةِ مِنْ نَقْدٍ

Jenis ketiga adalah apabila salah satunya berupa uang tunai dan yang lainnya berupa barang, seperti apabila cicilan-cicilan pembayaran mukatab berupa dirham, sedangkan ia (mukatab) memiliki piutang berupa pakaian dari akad salam kepada tuannya. Jika mukatab terlebih dahulu membayarkan kepada tuannya apa yang menjadi kewajibannya berupa dirham dari akad mukatab, maka tidak boleh bagi tuan menjadikan pembayaran itu sebagai pengganti dari pakaian yang menjadi kewajibannya kepada mukatab, meskipun keduanya saling rela, karena hal itu termasuk jual beli salam sebelum barangnya diterima. Namun jika tuan terlebih dahulu memberikan kepada mukatab apa yang menjadi kewajibannya berupa pakaian dari akad salam, maka boleh bagi mukatab menjadikannya sebagai pengganti dari dirham yang menjadi kewajibannya kepada tuan, apabila keduanya saling rela, karena diperbolehkan mengambil pengganti dan uang tunai sebagai pengganti dari utang berupa uang tunai.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ أَعْتَقَ عَبْدَهُ أَوْ كَاتَبَهُ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فَأَدَّى كِتَابَتَهُ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا لَا يَجُوزُ لِأَنَّ الْوَلَاءَ لِمَنْ أَعْتَقَ وَالثَّانِي أَنَّهُ يَجُوزُ في الْوَلَاءِ قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ وَلَاءَهُ مَوْقُوفٌ فَإِنْ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ الْأَوَّلُ كَانَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُعْتَقْ حَتَّى يَمُوتَ فَالْوَلَاءُ لِسَيِّدِ الْمُكَاتَبِ مِنْ قِبَلِ أَنَّهُ عَبْدٌ لِعَبْدِهِ عَتَقَ وَالثَّانِي أَنَّ الْوَلَاءَ لِسَيِّدِ الْمُكَاتَبِ بِكُلِّ حَالٍ لِأَنَّهُ عَتَقَ فِي حِينِ لَا يَكُونُ لَهُ بِعِتْقِهِ وَلَاؤُهُ فَإِنْ مَاتَ عَبْدُ الْمُكَاتَبِ الْمُعْتَقِ بَعْدَمَا يُعْتَقُ وُقِفَ مِيرَاثُهُ فِي قَوْلِ مَنْ وَقَفَ الْمِيرَاثَ كما وصفت فإن عتق المكاتب الذي أعتقه فله وإن مات أو عجز فلسيد المكاتب إذا كان حيا يوم يموت وإن كان ميتاً فلورثته من الرجال ميراثه وفي القول الثاني لسيد المكاتب لأن ولاءه له وقال في الإملاء على كتاب مالك إنه لو كاتب المكاتب عبده فأدى لم يعتق كما لو أعتقه لم يعتق قال المزني هذا عندي أشبه

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang memerdekakan budaknya atau melakukan mukātabah terhadap budaknya dengan izin tuannya, lalu budak tersebut melunasi pembayaran mukātabahnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan tidak sah, karena hak walā’ (ikatan loyalitas) adalah bagi orang yang memerdekakan. Pendapat kedua menyatakan boleh, dan dalam masalah walā’ terdapat dua pendapat: salah satunya, walā’-nya ditangguhkan; jika budak mukātabah yang pertama dimerdekakan, maka walā’ menjadi miliknya, dan jika tidak dimerdekakan hingga meninggal dunia, maka walā’ menjadi milik tuan dari budak mukātabah, karena ia adalah budak dari budaknya yang telah merdeka. Pendapat kedua, walā’ menjadi milik tuan dari budak mukātabah dalam segala keadaan, karena ia dimerdekakan pada saat di mana walā’ tidak bisa menjadi milik orang yang memerdekakannya. Jika budak mukātabah yang telah dimerdekakan itu meninggal setelah dimerdekakan, maka warisannya ditangguhkan menurut pendapat yang menangguhkan warisan, sebagaimana telah dijelaskan. Jika budak mukātabah yang memerdekakannya juga dimerdekakan, maka walā’ menjadi miliknya; jika ia meninggal atau tidak mampu, maka walā’ menjadi milik tuan dari budak mukātabah jika ia masih hidup pada hari kematian budak tersebut. Jika ia telah meninggal, maka warisannya menjadi milik ahli waris laki-lakinya. Dalam pendapat kedua, walā’ menjadi milik tuan dari budak mukātabah, karena walā’ itu untuknya. Dalam kitab al-Imlā’ atas Kitab Mālik, beliau menyatakan: Jika budak mukātabah melakukan mukātabah terhadap budaknya, lalu budak itu melunasi pembayaran mukātabahnya, maka ia tidak merdeka, sebagaimana jika ia memerdekakannya, maka tidak menjadi merdeka. Al-Muzani berkata: Menurutku, ini lebih mendekati kebenaran.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مُكَاتَبٍ مَلَكَ عَبْدًا فَأَعْتَقَهُ أَوْ كَاتَبَهُ فَنُفُوذُ ذَلِكَ مُعْتَبَرٌ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فِيهِ فَإِنْ أَعْتَقَ أَوْ كَاتَبَ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ عِتْقُهُ مَرْدُودًا لِأَنَّهُ اسْتِهْلَاكُ مِلْكٍ وَكِتَابَتُهُ بَاطِلَةٌ لِأَنَّ مَقْصُودَهَا الْعِتْقُ وَإِنْ عَتَقَ أَوْ كَاتَبَ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فَفِي عِتْقِهِ وَكِتَابَتِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Gambaran kasusnya adalah seorang mukatab memiliki seorang budak, lalu ia memerdekakannya atau melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan) terhadapnya. Maka keabsahan tindakan tersebut bergantung pada izin tuannya dalam hal itu. Jika ia memerdekakan atau melakukan mukatabah tanpa izin tuannya, maka pembebasannya dianggap batal karena itu berarti menghilangkan hak milik, dan mukatabahnya juga tidak sah karena tujuan utamanya adalah pembebasan. Namun, jika ia memerdekakan atau melakukan mukatabah dengan izin tuannya, maka dalam hal pembebasan dan mukatabah tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بُطْلَانُهَا وَلَا يَصِحُّ مِنَ الْمُكَاتَبِ عِتْقٌ وَلَا كِتَابَةٌ لِنَقْصِ مِلْكِهِ وَتَصَرُّفِهِ فَصَارَ أَسْوَأَ حَالًا مِنَ الْمَجْنُونِ الَّذِي يَبْطُلُ عِتْقُهُ بِنَقْصِ تَصَرُّفِهِ مَعَ تَمَامِ مِلْكِهِ وَلِأَنَّ نُفُوذَ الْعِتْقِ يُوجِبُ ثُبُوتَ الْوَلَاءِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ وَالْمُكَاتَبُ لَا يَسْتَحِقُّ الْوَلَاءَ فَلَمْ يَصِحَّ مِنْهُ الْعِتْقُ وَهَذَا اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ

Salah satunya adalah batalnya (akad tersebut), dan tidak sah bagi seorang mukatab untuk memerdekakan (budak) atau melakukan kitabah karena kurangnya kepemilikan dan hak bertindak yang dimilikinya. Maka, keadaannya menjadi lebih buruk daripada orang gila yang batal tindakan memerdekakannya karena kurangnya hak bertindak, meskipun kepemilikannya sempurna. Selain itu, berlakunya tindakan memerdekakan menyebabkan tetapnya hak wala’, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Wala’ itu seperti hubungan darah.” Sedangkan mukatab tidak berhak mendapatkan wala’, sehingga tidak sah baginya untuk memerdekakan (budak). Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ عِتْقَهُ نَافِذٌ وَكِتَابَتَهُ جَائِزَةٌ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنْ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ سَيِّدِهِ فَاقْتَضَى أَنْ يَزُولَ الْمَنْعُ بِإِذْنِهِ كَمَا يَزُولُ مَنْعُ الرَّهْنِ مِنَ الْعَيْنِ بِإِذْنِ الْمُرْتَهِنِ وَلِأَنَّ حَالَ الْمُكَاتَبِ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ مُشْتَرَكًا بَيْنَهُمَا أَوْ لِأَحَدِهِمَا فَاقْتَضَى أَنْ يَنْفُذَ الْعِتْقُ عَلَى الْأَحْوَالِ بِاجْتِمَاعِهِمَا لِاخْتِصَاصِ الْمِلْكِ بِهِمَا وَعَلَى هَذَا الْقَوْلِ يَكُونُ التَّفْرِيعُ فَإِذَا أَنْفَذَ الْعِتْقَ وَصَحَّتِ الْكِتَابَةُ فَفِي وَلَاءِ الْمُعْتِقِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan budak itu sah dan penulisan akad mukatabah juga diperbolehkan, karena larangan tersebut berasal dari pihak tuannya, sehingga larangan itu menjadi hilang dengan izinnya, sebagaimana larangan menggadaikan suatu barang hilang dengan izin pihak yang menerima gadai. Selain itu, keadaan mukatab tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi kepemilikannya bersama antara keduanya, atau hanya milik salah satu dari mereka. Maka, hal ini menuntut agar pembebasan budak itu sah dalam kedua keadaan tersebut karena kepemilikan khusus ada pada mereka berdua. Berdasarkan pendapat ini, maka cabang hukumnya adalah: apabila pembebasan budak telah dilaksanakan dan akad mukatabah sah, maka dalam hal hak wala’ bagi orang yang membebaskan budak terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِلسَّيِّدِ لِأَنَّ الْوَلَاءَ ثَابِتٌ بِالْعِتْقِ لِمَالِكٍ مُعَيَّنٍ وَلَيْسَ الْمُكَاتَبُ مِمَّنْ يَمْلِكُ الْوَلَاءَ قَبْلَ عِتْقِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ لِسَيِّدِهِ الَّذِي لَمْ يَتِمَّ الْعِتْقُ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَعَلَى هَذَا إِنْ مَاتَ الْمُعْتِقُ كَانَ مِيرَاثُهُ بِالْوَلَاءِ لِسَيِّدِهِ وَلَوْ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ بِالْأَدَاءِ فَهَلْ يَجُرُّ إِلَيْهِ وَلَاءَ مُعْتِقِهِ وَيَنْتَقِلُ عَنْ سَيِّدِهِ إِلَيْهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ حَكَاهُمَا ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ

Salah satunya adalah menjadi milik tuan, karena wala’ itu tetap dengan sebab pembebasan (itq) untuk seorang pemilik tertentu, dan mukatab bukanlah termasuk orang yang memiliki wala’ sebelum ia dimerdekakan. Maka wajiblah bahwa wala’ itu menjadi milik tuannya, yang mana kemerdekaan itu tidak sempurna kecuali dengan izinnya. Berdasarkan hal ini, jika orang yang membebaskan (mu‘tiq) itu meninggal dunia, maka warisannya karena wala’ menjadi milik tuannya. Dan jika mukatab merdeka dengan pembayaran, maka apakah wala’ mu‘tiq berpindah kepadanya dan keluar dari tuannya atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hurairah.

أَحَدُهُمَا لَا يَجُرُّ الْوَلَاءَ وَيَكُونُ بَاقِيًا لِلسَّيِّدِ لِأَنَّ ثُبُوتَ الْوَلَاءِ كَالنَّسَبِ وَالنَّسَبُ لَا يَنْتَقِلُ عَنْ مَحَلِّ ثُبُوتِهِ فَكَذَلِكَ الْوَلَاءُ يَكُونُ لِلسَّيِّدِ ثُمَّ لِعُصْبَتِهِ مِنْ بَعْدِهِ

Salah satunya adalah tidak memindahkan hak wala’ dan tetap menjadi milik tuan, karena penetapan wala’ itu seperti nasab, dan nasab tidak berpindah dari tempat asal penetapannya, maka demikian pula wala’ tetap menjadi milik tuan, kemudian berpindah kepada keluarga laki-lakinya setelahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُرُّ الْوَلَاءَ وَيَنْتَقِلُ عَنِ السَّيِّدِ إِلَيْهِ لِمُبَاشَرَتِهِ الْعِتْقَ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَنْجَرَّ وَلَاءُ الْأَوْلَادِ عَنْ مُعْتِقِ الْأُمِّ إِلَى مُعْتِقِ الْأَبِ وَهُوَ غَيْرُ مُبَاشِرٍ لِعِتْقِ الْأَوْلَادِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَنْجَرَّ وَلَاءُ الْعِتْقِ فِي الْمُبَاشَرَةِ عَنِ السَّيِّدِ إِلَى الْمُكَاتَبِ الْمُبَاشِرِ لِلْعِتْقِ فَهَذَا حُكْمُ الْوَلَاءِ إِذَا قِيلَ إِنَّهُ لِلسَّيِّدِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak wala’ berpindah dan beralih dari tuan kepada orang yang langsung membebaskan (budak), karena ketika hak wala’ anak-anak tidak berpindah dari orang yang membebaskan ibu kepada orang yang membebaskan ayah—padahal ia tidak langsung membebaskan anak-anak—maka lebih utama lagi hak wala’ pembebasan tidak berpindah dalam kasus pembebasan langsung dari tuan kepada mukatab yang langsung membebaskan. Inilah hukum wala’ jika dikatakan bahwa hak tersebut milik tuan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْوَلَاءَ يَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى الْمُكَاتَبِ الْمُعْتِقِ دُونَ السَّيِّدِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ وُقُوفُ الْوَلَاءِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِأَوْكَدَ مِنَ النَّسَبِ الَّذِي يَجُوزُ أَنْ يُوقَفَ عِنْدَ الِاشْتِرَاكِ فِي الْفِرَاشِ عَلَى بَيَانِ الْقَافَةِ أَوِ انْتِسَابِ الْوَلَدِ فَكَانَ الْوَلَاءُ فِي الْوُقُوفِ بِمَثَابَتِهِ وَيُرَاعَى حَالُ الْمُكَاتَبِ الْمُعْتِقِ فَإِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ كَانَ لَهُ وَلَاءُ مُعْتَقِهِ وَإِنْ رَقَّ بِالْعَجْزِ صَارَ الْوَلَاءُ لِسَيِّدِهِ فَعَلَى هَذَا لَوْ مَاتَ الْمُعْتِقُ وَوَلَاؤُهُ مَوْقُوفٌ عَلَى عِتْقِ الْمُكَاتَبِ فَفِي مِيرَاثِهِ وَجْهَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa wala’ tetap tergantung pada mukatab yang memerdekakan, bukan pada tuan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Wala’ itu bagi orang yang memerdekakan.” Tidak ada halangan untuk menangguhkan wala’, karena wala’ tidak lebih kuat dari nasab, yang boleh ditangguhkan ketika ada persekutuan dalam ranjang sampai jelasnya keterangan ahli qafah atau penetapan nasab anak. Maka, wala’ dalam hal penangguhan itu serupa dengan nasab. Keadaan mukatab yang memerdekakan harus diperhatikan; jika ia merdeka dengan pelunasan, maka ia berhak atas wala’ orang yang dimerdekakannya. Namun jika ia kembali menjadi budak karena tidak mampu membayar, maka wala’ menjadi milik tuannya. Berdasarkan hal ini, jika orang yang memerdekakan meninggal dunia sementara wala’nya masih tergantung pada kemerdekaan mukatab, maka dalam hal warisnya ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مَوْقُوفًا لِأَنَّ وَلَاءَهُ مَوْقُوفٌ كَمَا يُوقَفُ مِيرَاثُ الِابْنِ إِذَا مَاتَ وَكَانَ نَسَبُهُ مَوْقُوفًا عَلَى الْبَيَانِ

Salah satunya bersifat ditangguhkan karena wala’-nya juga ditangguhkan, sebagaimana warisan seorang anak ditangguhkan apabila ia meninggal dunia sementara nasabnya masih menunggu penjelasan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّ مِيرَاثَهُ يَكُونُ لِلسَّيِّدِ وَلَا يَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى الْمُكَاتَبِ وَإِنْ كَانَ الْوَلَاءُ مَوْقُوفًا عَلَيْهِ لِأَنَّ السَّيِّدَ وَارِثٌ فِي الْحَالِ وَالْمُكَاتَبَ غَيْرُ وَارِثٍ فِيهَا فَلَمْ يَنْتَظِرْ بِهِ الِانْتِقَالَ إِلَى حَالِ الْمِيرَاثِ كَالْحُرِّ إِذَا خَلَّفَ أَبًا مَمْلُوكًا وَجَدًّا حُرًّا كَانَ مِيرَاثُهُ لِجَدِّهِ وَلَا يُوقَفُ عَلَى عِتْقِ أَبِيهِ

Pendapat kedua adalah bahwa warisannya menjadi milik tuannya dan tidak ditangguhkan kepada mukatab, meskipun wala’ ditangguhkan kepadanya. Sebab, tuan adalah ahli waris pada saat itu, sedangkan mukatab bukan ahli waris pada saat itu, sehingga tidak perlu menunggu sampai berpindah ke keadaan mewarisi, seperti halnya seorang merdeka yang meninggalkan ayah yang masih berstatus budak dan kakek yang merdeka; maka warisannya menjadi milik kakeknya dan tidak ditangguhkan sampai ayahnya dimerdekakan.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا مُكَاتَبُ الْمُكَاتَبِ إِذَا قِيلَ بِصِحَّةِ كِتَابَتِهِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فَعَلَيْهِ أَنْ يُؤَدِّيَ مَالَ كِتَابَتِهِ إِلَى الْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ مَالِكُهُ الْمُتَوَلِّي عَقْدَ كِتَابَتِهِ وَلَا يَخْلُو حَالُهُمَا فِي الْأَدَاءِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

Adapun mukatab dari seorang mukatab, jika dikatakan sah akad kitabah-nya menurut pendapat ini, maka ia wajib membayarkan uang kitabahnya kepada mukatab pertama, karena dialah pemilik dan yang melaksanakan akad kitabah tersebut. Keadaan keduanya dalam hal pembayaran tidak lepas dari empat bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْجِزَ عَنْهُ وَيَعُودَا مَرْقُوقَيْنِ فَيَكُونَا مَعًا مِلْكًا لِلسَّيِّدِ

Salah satunya adalah jika keduanya tidak mampu (membayar) dan kembali menjadi budak, sehingga keduanya bersama-sama menjadi milik tuan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يُؤَدِّيَ الْمُكَاتَبُ الْأَوَّلُ وَيُعْتَقَ وَيَعْجِزَ الْمُكَاتَبُ الثَّانِي وَيَرِقَّ فَيَكُونَ عَبْدًا لِلْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ دُونَ السَّيِّدِ

Bagian kedua adalah apabila mukatab pertama melunasi pembayaran dan menjadi merdeka, sedangkan mukatab kedua tidak mampu melunasi dan kembali menjadi budak, maka ia menjadi budak bagi mukatab pertama, bukan bagi tuan semula.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَعْجِزَ الْمُكَاتَبُ الْأَوَّلُ وَيَرِقَّ وَيُؤَدِّيَ الْمُكَاتَبُ الثَّانِي وَيُعْتَقَ فَيَصِيرَ الْأَوَّلُ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ وَيَكُونُ وَلَاءُ الْمُكَاتَبِ الثَّانِي لِلسَّيِّدِ

Bagian ketiga adalah apabila mukatab pertama tidak mampu (melunasi) dan kembali menjadi budak, lalu mukatab kedua melunasi (pembayaran) dan dimerdekakan, maka mukatab pertama menjadi milik tuan, dan wala’ (hak perwalian) mukatab kedua menjadi milik tuan.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يُؤَدِّيَا جَمِيعًا وَيُعْتَقَا فَيَكُونَ وَلَاءُ الْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ لِلسَّيِّدِ وَوَلَاءُ الْمُكَاتَبِ الثَّانِي مُعْتَبَرًا بِأَسْبَقِهِمَا عِتْقًا فَإِنْ سَبَقَ عِتْقُ الْمَكَاتَبِ الْأَوَّلِ كَانَ وَلَاءُ الثَّانِي لَهُ وَإِنْ سَبَقَ عِتْقُ الْمَكَاتَبِ الثَّانِي كَانَ فِي وَلَائِهِ قَوْلَانِ

Bagian keempat adalah apabila keduanya sama-sama melunasi (uang tebusan) dan keduanya dimerdekakan, maka hak wala’ dari mukatab pertama menjadi milik tuannya, sedangkan hak wala’ dari mukatab kedua dipertimbangkan berdasarkan siapa yang lebih dahulu dimerdekakan di antara keduanya. Jika mukatab pertama lebih dahulu dimerdekakan, maka hak wala’ mukatab kedua menjadi milik mukatab pertama. Namun jika mukatab kedua lebih dahulu dimerdekakan, maka terdapat dua pendapat mengenai hak wala’-nya.

أَحَدُهُمَا لِلسَّيِّدِ

Salah satunya untuk tuan.

وَالثَّانِي لِلْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ والله أعلم

Dan yang kedua untuk mukātab yang pertama. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَبَيْعُ نُجُومِهِ مَفْسُوخٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jual beli hasil panen yang masih berupa bintang-bintang (belum tampak jelas hasilnya) adalah batal.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ بَيْعُ نُجُومِ الْمُكَاتَبِ لَا يَصِحُّ سَوَاءٌ حَلَّتْ أَوْ كَانَتْ إِلَى أَجَلِهَا وَجَوَّزَهُ مَالِكٌ وَذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ فَجَعَلَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا قَوْلًا لَهُ وَجَعَلَهُ بَعْضُهُمْ حِكَايَةً عَنْ مَالِكٍ احْتِجَاجًا بِأَنَّ بَيْعَ بَرِيرَةَ كَانَ مَعْقُودًا عَلَى نُجُومِهَا وَلِأَنَّهُ عَقْدُ الْبَيْعِ عَلَى مِلْكٍ فَصَحَّ كَمَا لَوْ عَقَدَهُ عَلَى عَبْدِهِ

Al-Mawardi berkata, jual beli cicilan-cicilan (nujuum) dari seorang mukatab tidak sah, baik cicilan tersebut sudah jatuh tempo maupun masih dalam tenggat waktunya. Malik membolehkannya, dan Syafi‘i menyebutkannya dalam pendapat lama (al-qadim), sehingga sebagian ulama kami menjadikannya sebagai salah satu pendapat beliau, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai riwayat dari Malik, dengan alasan bahwa jual beli Barirah dahulu dilakukan atas cicilan-cicilannya. Selain itu, karena akad jual beli dilakukan atas sesuatu yang dimiliki, maka sah sebagaimana jika akad dilakukan atas budaknya sendiri.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ بَيْعِهِ نَهْيُ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنِ الْغَرَرِ وَهَذَا غَرَرٌ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ الْأَدَاءِ وَالْعَجْزِ وَلِنَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عَنْ بَيْعِ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ وَلِأَنَّ مَالَ الْكِتَابَةِ غَيْرُ لَازِمٍ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يعقد عليه بيع لازم لتنافيها ولأن مالك يَقُولُ إِنْ وَصَلَ الْمُشْتَرِي إِلَى نُجُومِ الْكِتَابَةِ عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِلْبَائِعِ وَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْكِتَابَةِ مَلَكَ رَقَبَةَ الْمُكَاتَبِ وَهَذَا يُوجِبُ فَسَادَ ابْتِيَاعِهِ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ

Dalil tentang batalnya jual beli ini adalah larangan Nabi ﷺ terhadap gharar, dan ini termasuk gharar karena adanya ketidakpastian antara pelunasan dan ketidakmampuan. Juga karena larangan Nabi ﷺ terhadap jual beli utang dengan utang. Selain itu, harta dari akad kitābah tidak bersifat wajib, sehingga tidak boleh dijadikan objek akad jual beli yang bersifat mengikat karena keduanya saling bertentangan. Malik berkata: Jika pembeli mampu membayar cicilan kitābah, maka budak tersebut merdeka dan hak wala’-nya menjadi milik penjual. Namun jika ia tidak mampu melunasi kitābah, maka penjual berhak atas kepemilikan budak tersebut. Hal ini menunjukkan batalnya jual beli tersebut dari lima sisi.

أَحَدُهَا أَنَّ دَرَكَ مَا فَاتَ قَبْضُهُ مُسْتَحَقٌّ عَلَى الْبَائِعِ وَقَدْ عَدَلَ بِهِ إِلَى جِهَةِ الْمُكَاتَبِ

Salah satunya adalah bahwa tanggung jawab atas sesuatu yang belum sempat diterima tetap menjadi kewajiban penjual, dan ia telah mengalihkannya kepada pihak mukatab.

وَالثَّانِي أَنَّ الدَّرَكَ اسْتِرْجَاعُ الثَّمَنِ وَقَدْ عَدَلَ بِهِ إِلَى رَقَبَةِ الْمُكَاتَبِ

Kedua, bahwa al-darak adalah pengembalian harga, dan ia telah mengalihkannya kepada kepemilikan diri al-mukatab.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ جَعَلَ وَلَاءَهُ لِغَيْرِ مُعْتِقِهِ

Ketiga, bahwa ia menjadikan wala’-nya kepada selain orang yang memerdekakannya.

وَالرَّابِعُ أَنَّهُ عَدَلَ بِعِتْقِهِ عَنِ الصِّفَةِ الْمَعْقُودَةِ فِي قَوْلِ الْبَائِعِ إِذَا أَدَّيْتَ إِلَيَّ آخِرَهَا فَأَنْتَ حُرٌّ إِلَى صِفَةٍ غَيْرِ مَعْقُودَةٍ فِي أَنَّهُ إِذَا أَدَّى إِلَى الْمُشْتَرِي صَارَ حُرًّا

Keempat, bahwa ia telah mengganti sifat yang telah disepakati dalam ucapan penjual, yaitu “Jika kamu telah melunasi seluruhnya kepadaku, maka kamu merdeka,” dengan sifat lain yang tidak disepakati, yaitu bahwa apabila ia telah melunasi kepada pembeli, maka ia menjadi merdeka.

وَالْخَامِسُ أَنَّهُ جَعَلَهُ عَقْدًا عَلَى مَجْهُولٍ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ مِلْكِ الْمَالِ أَوِ السَّرِقَةِ فَأَمَّا بَيْعُ بَرِيرَةَ فَإِنَّمَا عُقِدَ عَلَى رَقَبَتِهَا بَعْدَ الْعَجْزِ لِأَنَّهَا أَتَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْتَعِينُ بِهَا فِي مَالِ كِتَابَتِهَا وَالْبَيْعُ لَيْسَ بِمَعْقُودٍ عَلَى مِلْكٍ كَمَا ذَكَرَهُ

Kelima, bahwa ia menjadikannya sebagai akad atas sesuatu yang tidak diketahui karena adanya kemungkinan antara kepemilikan harta atau pencurian. Adapun jual beli Barirah, maka sesungguhnya akad itu dilakukan atas dirinya setelah ia tidak mampu (membayar), karena ia datang kepada ‘Aisyah ra. untuk meminta bantuan dalam pembayaran harta kitabah-nya. Dan jual beli itu tidak diakadkan atas kepemilikan, sebagaimana telah disebutkan.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَدَّى إِلَى الْمُشْتَرِي كِتَابَتَهُ بِأَمْرِ سَيِّدِهِ عَتَقَ كَمَا يُؤَدِّي إِلَى وَكِيلِهِ فَيُعْتَقُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang budak mukatab menyerahkan pembayaran kitabahnya kepada pembeli atas perintah tuannya, maka ia merdeka, sebagaimana jika ia menyerahkan kepada wakil tuannya, maka ia pun merdeka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا صَحَّ بِمَا قَدَّمْنَا أَنَّ بَيْعَ نُجُومِ الْمُكَاتَبِ بَاطِلٌ فَقَبَضَ الْمُشْتَرِي مِنْهُ مَالَ نُجُومِهِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ هَاهُنَا إِنْ أَدَّاهَا بِأَمْرِ سَيِّدِهِ عَتَقَ وَحَكَى الرَّبِيعُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّهُ لَا يُعْتَقُ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فَكَانَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ يُخَرِّجُ اخْتِلَافَ هَذَيْنِ الْجَوَابَيْنِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Jika telah sah dengan penjelasan yang telah kami sampaikan bahwa jual beli cicilan-cicilan mukatab adalah batal, lalu pembeli menerima dari mukatab harta cicilannya, maka asy-Syafi‘i berkata di sini: Jika ia menyerahkannya atas perintah tuannya, maka ia merdeka. Dan ar-Rabi‘ meriwayatkan dari asy-Syafi‘i dalam Kitab al-Umm bahwa ia tidak merdeka. Maka para ulama kami pun berbeda pendapat. Abu al-‘Abbas bin Surayj mengaitkan perbedaan dua jawaban ini pada dua pendapat (qaulain).

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يُعْتَقُ بِأَدَائِهِ إِلَى الْمُشْتَرِي سَوَاءٌ كَانَ أَدَاؤُهُ بِأَمْرِهِ أَوْ بِغَيْرِ أَمْرِهِ لِأَنَّهُ قَدْ أَقَامَهُ بِالْعَقْدِ مَقَامَ نَفْسِهِ فَصَارَ بِمَثَابَةِ وَكِيلِهِ فِي قَبْضِهِ وَهُوَ يُعْتَقُ بِأَدَائِهِ إِلَى الْوَكِيلِ فَوَجَبَ أَنْ يُعْتَقَ بِأَدَائِهِ إِلَى الْمُشْتَرِي

Salah satunya adalah bahwa ia menjadi merdeka dengan pelunasan (harga dirinya) kepada pembeli, baik pelunasan itu atas perintahnya maupun tanpa perintahnya, karena dengan akad tersebut ia telah menempatkan pembeli pada posisi dirinya sendiri, sehingga pembeli menjadi seperti wakilnya dalam menerima (pembayaran). Ia (budak) menjadi merdeka dengan pelunasan kepada wakil, maka wajib pula ia menjadi merdeka dengan pelunasan kepada pembeli.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يُعْتَقُ بِأَدَائِهِ إِلَى الْمُشْتَرِي وَإِنْ عَتَقَ بِأَدَائِهِ إِلَى الْوَكِيلِ لِأَنَّ الْمُشْتَرِي قَبَضَهُ لِنَفْسِهِ فَكَانَ الْأَدَاءُ إِلَى غَيْرِ مُسْتَحِقِّهِ فَلَمْ يَتَعَيَّنْ بِهِ وَالْوَكِيلُ قَبَضَهُ لِمُوكِّلِهِ فَصَارَ إِلَى مُسْتَحَقِّهِ فَعَتَقَ بِهِ

Kedua, bahwa seorang budak tidak menjadi merdeka dengan pembayaran (uang tebusan) kepada pembeli, meskipun ia menjadi merdeka dengan pembayaran kepada wakil. Sebab, pembeli menerima (uang) itu untuk dirinya sendiri, sehingga pembayaran tersebut diberikan kepada pihak yang tidak berhak, maka tidak menjadi tetap (merdeka) karenanya. Sedangkan wakil menerima (uang) itu untuk orang yang mewakilkannya, sehingga sampai kepada pihak yang berhak, maka budak itu menjadi merdeka karenanya.

وَقَالَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ وَأَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ لَيْسَ اخْتِلَافُ الْجَوَابِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ وَذَلِكَ أَنْ يُرَاعَى حَالُ الْأَدَاءِ فَإِنْ كَانَ بِأَمْرِ السَّيِّدِ عَتَقَ بِهِ لِأَنَّ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَسْتَوْفِيَهُ كَيْفَ شَاءَ وَيُمَلِّكَهُ مَنْ شَاءَ مِنْ مُسْتَحِقٍّ لَهُ وَغَيْرِ مُسْتَحِقٍّ لَهُ وَإِنْ كَانَ الْأَدَاءُ بِغَيْرِ أَمْرِ السَّيِّدِ لَمْ يُعْتَقْ بِهِ الْمُكَاتَبُ مَا لَمْ يُخْبَرْ حَالَهُ لِأَنَّهُ أَدَّاهُ إِلَى غَيْرِ مُسْتَحِقٍّ سَوَاءٌ كَانَ الْمُكَاتَبُ مُتَأَوِّلًا جَوَازَ الدَّفْعِ أَوْ غَيْرَ مُتَأَوِّلٍ لِأَنَّ تَأْوِيلَهُ لَا يَلْزَمُ غَيْرَهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Ali bin Abi Hurairah berkata, “Perbedaan jawaban bukanlah karena perbedaan dua pendapat, melainkan karena perbedaan dua keadaan. Hal itu bergantung pada keadaan pembayaran. Jika pembayaran dilakukan atas perintah tuan, maka dengan pembayaran itu budak mukatab menjadi merdeka, karena tuan berhak mengambil pembayaran itu dengan cara apa pun yang ia kehendaki dan boleh memberikannya kepada siapa saja, baik yang berhak menerimanya maupun yang tidak. Namun jika pembayaran dilakukan tanpa perintah tuan, maka budak mukatab tidak menjadi merdeka sampai keadaannya dijelaskan, karena ia telah membayarkan kepada pihak yang tidak berhak, baik budak mukatab itu berijtihad membolehkan pembayaran atau tidak, sebab ijtihadnya tidak mengikat orang lain. Dan Allah Maha Mengetahui.”

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا فَمَذْهَبُنَا صِحَّةُ الْأَدَاءِ ونفوذ العتق بشراء الْمُكَاتَبِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِسَيِّدِهِ دُونَ الْمُشْتَرِي وَرَجَعَ السَّيِّدُ عَلَى الْمُشْتَرِي بِمَا قَبَضَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَرَجَعَ الْمُشْتَرِي بِالثَّمَنِ عَلَى السَّيِّدِ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ الْأَدَاءَ فَاسِدٌ وَالْعِتْقَ غَيْرُ وَاقِعٍ لَمْ يَبِرَّ الْمُكَاتَبُ بِمَا أَدَّى وَرَجَعَ بِهِ الْمُكَاتَبُ عَلَى الْمُشْتَرِي وَرَجَعَ الْمُشْتَرِي بِالثَّمَنِ عَلَى السَّيِّدِ فَإِذَا أَدَّى الْمُكَاتَبُ إِلَى سَيِّدِهِ عَتَقَ بِهِ حِينَئِذٍ وَاسْتَقَرَّ رُجُوعُهُ عَلَى الْمُشْتَرِي بِمَا قَبَضَ وَإِنْ عَجَزَ عَادَ إِلَى رِقِّ السَّيِّدِ وَصَارَ السَّيِّدُ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ للاسترجاع بما قبضه المشتري

Jika telah dipastikan seperti yang telah kami jelaskan, maka mazhab kami adalah sahnya pelunasan dan berlakunya pembebasan budak (’itq) dengan pembelian mukatab dari harta kitabah, dan hak wala’ tetap untuk tuannya, bukan untuk pembeli. Tuannya dapat menuntut pembeli atas apa yang telah diterimanya dari harta kitabah, dan pembeli dapat menuntut harga kepada tuan. Namun jika kami katakan bahwa pelunasan itu rusak dan pembebasan budak tidak terjadi, maka mukatab tidak dianggap berbakti dengan apa yang telah ia bayarkan, dan mukatab dapat menuntut kembali kepada pembeli, serta pembeli dapat menuntut harga kepada tuan. Maka jika mukatab membayar kepada tuannya, ia menjadi merdeka dengan pembayaran itu, dan hak penuntutan kembali atas pembeli menjadi tetap. Jika ia tidak mampu, ia kembali menjadi budak tuannya, dan tuanlah yang berhak menuntut kembali apa yang telah diterima pembeli.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَيْسَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَشْتَرِيَ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ لَوْ كَانَ حُرًّا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Seorang mukātab tidak boleh membeli seseorang yang jika ia (mukātab) adalah orang merdeka, maka orang tersebut akan merdeka karena sebab kepemilikannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ يُمْنَعُ الْمُكَاتَبُ مِنْ شِرَاءِ مَنْ يُعْتَقُ عَلَيْهِ بِالنَّسَبِ كَوَالِدَيْهِ وَمَوْلُودَيْهِ حِفْظًا لِمَالِهِ فَإِنِ اشْتَرَى مِنْهُمْ أَحَدًا بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ الشِّرَاءُ بَاطِلًا وَجَوَّزَهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَهُ قِيَاسًا وَامْتَنَعَ مِنْهُ اسْتِحْسَانًا لِأَنَّهُ قَدْ يَسْتَفِيدُ كَسْبَهُ بِابْتِيَاعِهِ وَيُدْخِلُهُ إِنْ عَتَقَ فِي وَلَاءِ سَيِّدِهِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, seorang mukatab dilarang membeli orang yang jika dibeli akan merdeka karena hubungan nasab, seperti kedua orang tuanya dan anak-anaknya, demi menjaga hartanya. Jika ia membeli salah satu dari mereka tanpa izin tuannya, maka pembelian itu batal. Abu Hanifah membolehkannya dan berkata bahwa boleh baginya menjualnya berdasarkan qiyās, namun ia menolaknya berdasarkan istihsān, karena bisa jadi ia memperoleh penghasilan dari pembelian tersebut dan jika orang itu merdeka, maka ia akan masuk dalam wala’ tuannya.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِهِ مَا فِيهِ مِنِ اسْتِهْلَاكِ ثَمَنِهِ وَالْتِزَامِ نَفَقَتِهِ وَكَسْبُهُ مَظْنُونٌ وَقَدْ لَا يَكُونُ وَوَلَاؤُهُ لَا يُعَاوَضُ عَلَيْهِ فَصَارَ ابْتِيَاعُهُ إِتْلَافًا فَكَانَ مَرْدُودًا فَإِنِ اشْتَرَاهُ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ فَفِيهِ قَوْلَانِ كَالْهِبَةِ

Dan dalil atas batalnya (akad tersebut) adalah karena di dalamnya terdapat unsur menghabiskan harganya, menanggung nafkahnya, sementara hasil usahanya masih diragukan bahkan bisa jadi tidak ada, dan wala’nya tidak dapat dijadikan sebagai ganti rugi. Maka, membeli (budak seperti itu) sama saja dengan membinasakan (harta), sehingga akadnya tertolak. Namun, jika ia membelinya dengan izin tuannya, maka ada dua pendapat di dalamnya, seperti halnya hibah.

أَحَدُهُمَا بَاطِلٌ

Salah satunya batal.

وَالثَّانِي جَائِزٌ

Dan yang kedua diperbolehkan.

وَيَتَمَلَّكُ كَسْبَهُ وَيَلْتَزِمُ نَفَقَتَهُ وَيَكُونُ تَبَعًا لَهُ يَعْتِقُ بِعِتْقِهِ وَيَرِقُّ بِرِقِّهِ وَفِي جَوَازِ بَيْعِهِ لَهُ قَبْلَ عِتْقِهِ وَجْهَانِ

Ia memiliki hasil usahanya dan wajib menanggung nafkahnya, serta ia mengikuti status tuannya: ia merdeka jika tuannya merdeka, dan tetap sebagai budak jika tuannya tetap sebagai budak. Terdapat dua pendapat mengenai kebolehan menjualnya kepada tuannya sebelum ia dimerdekakan.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَمْلِكَ ثَمَنَ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ

Salah satu pendapat, yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa tidak boleh baginya menjualnya, karena tidak boleh seseorang memiliki harga dari seorang ayah atau anak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ لِأَنَّ لِلسَّيِّدِ فيه حقا

Pendapat kedua, yang dinukil dari Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, membolehkan baginya untuk menjualnya karena tuan memiliki hak di dalamnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَهُ أَنْ يَقْبَلَهُمْ إِنْ أَوْصَى لَهُ بِهِمْ وَيَكْتَسِبُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَيَأْخُذُ فَضْلَ كَسْبِهِمْ وَمَا أَفَادُوا فَإِنْ مَرِضُوا أَوْ عَجِزُوا عَنِ الْكَسْبِ أَنْفَقَ عَلَيْهِمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Ia berhak menerima mereka jika pewaris mewasiatkan mereka kepadanya, dan mereka dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri, sementara ia mengambil kelebihan dari hasil kerja mereka dan apa pun yang mereka peroleh. Namun, jika mereka sakit atau tidak mampu bekerja, maka ia wajib menafkahi mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَوْصَى لِلْمُكَاتَبِ بِابْنِهِ أَوْ أَبِيهِ أَوْ وُهِبَا لَهُ جَازَ لَهُ قَبُولُ الْوَصِيَّةِ وَالْهِبَةِ إِذَا كَانَ وَالِدُهُ أَوْ وَلَدُهُ مُكْتَسِبًا سَوَاءٌ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ فِي الْقَبُولِ أَوْ لَمْ يَأْذَنْ لِأَنَّهُ مَا أَتْلَفَ بِالْقَبُولِ مَالًا وَلَا اسْتَفَادَ بِهِ كَسْبًا فَإِذَا مَلَكَهُمْ بِالْقَبُولِ لَمْ يَعْتِقُوا

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar, apabila seseorang berwasiat kepada seorang mukatab dengan anaknya atau ayahnya, atau menghadiahkan keduanya kepadanya, maka boleh baginya menerima wasiat dan hibah tersebut jika ayah atau anaknya adalah orang yang mampu bekerja, baik tuannya mengizinkan untuk menerima atau tidak, karena dengan penerimaan itu ia tidak membinasakan harta dan tidak memperoleh penghasilan darinya. Maka apabila ia memiliki mereka dengan penerimaan itu, mereka tidak menjadi merdeka.”

وَكَانُوا تَبَعًا لَهُ فِي الْعِتْقِ وَالرِّقِّ وَيُنْفِقُ عليهم من أكسابهم ويملك ما فضل من نَفَقَتِهِمْ فَإِنْ مَرِضُوا أَوْ تَعَرَّضُوا لِلْكَسْبِ فَلَمْ يَكْتَسِبُوا أَنَفَقَ عَلَيْهِمْ مِنْ مَالِهِ

Mereka mengikuti statusnya dalam hal merdeka dan budak, dan ia menafkahi mereka dari penghasilan mereka, serta memiliki hak atas kelebihan dari nafkah mereka. Jika mereka sakit atau tidak mampu bekerja sehingga tidak mendapatkan penghasilan, maka ia menafkahi mereka dari hartanya sendiri.

فَإِنْ قِيلَ فَالْمُكَاتَبُ لَا يَلْزَمُهُ نَفَقَةُ الْأَقَارِبِ قِيلَ لَيْسَ يَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ بِالنَّسَبِ وَإِنَّمَا تَلْزَمُهُ نَفَقَاتُهُمْ بِالْمِلْكِ فَأَمَّا إِنْ كَانَ مَنْ وُصِّيَ بِهِ فمِنْهُمْ غَيْرَ مُكْتَسِبٍ مِثْلَ أَنْ يَكُونَ أَبُوهُ زَمِنًا وَوَلَدُهُ طِفْلًا فَفِي جَوَازِ قَبُولِهِمْ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ وَجْهَانِ

Jika dikatakan bahwa seorang mukatab tidak wajib menanggung nafkah kerabatnya, maka dijawab: ia memang tidak wajib menanggung nafkah mereka karena hubungan nasab, melainkan ia wajib menanggung nafkah mereka karena kepemilikan. Adapun jika orang yang diwasiatkan kepadanya di antara mereka adalah yang tidak mampu bekerja, seperti ayahnya yang sakit atau anaknya yang masih kecil, maka dalam hal kebolehan mereka menerima (nafkah) tanpa izin tuannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ لَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهُمْ لِأَنَّ اسْتِهْلَاكَ مَالِهِ فِي نَفَقَاتِهِمْ كَاسْتِهْلَاكِهِ فِي أَثْمَانِهِمْ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa tidak boleh menerima mereka karena menghabiskan hartanya untuk nafkah mereka itu seperti menghabiskannya untuk menebus mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهُمْ لِجَوَازِ أَنْ تَحْدُثَ لَهُمْ أَكْسَابٌ بِغَيْرِ عَمَلٍ وَرُبَّمَا صَحُّوا فَصَحَّ مِنْهُمُ الْعَمَلُ وَهَذَا الْوَجْهُ ضَعِيفٌ لِأَنَّ الِاعْتِبَارَ بِالظَّاهِرِ مِنْ أَحْوَالِهِمْ وَقْتَ الْقَبُولِ وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا يَدْخُلُ تَحْتَ الْجَوَازِ مِمَّا قَدْ يَكُونُ ولا يكون

Pendapat kedua menyatakan boleh menerima mereka karena dimungkinkan mereka memperoleh penghasilan tanpa bekerja, dan mungkin saja mereka menjadi sehat sehingga mampu bekerja. Namun, pendapat ini lemah karena yang dijadikan pertimbangan adalah keadaan lahiriah mereka pada saat penerimaan, dan tidak diperhitungkan sesuatu yang hanya sekadar kemungkinan, yang bisa saja terjadi atau tidak terjadi.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ جَنَوْا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَفْدِيَهُمْ وَبِيعَ مِنْهُمْ بِقَدْرِ جِنَايَاتِهِمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika mereka melakukan jināyah, maka ia (pemilik) tidak berhak menebus mereka, dan dari mereka dijual sejumlah sesuai kadar jināyah yang mereka lakukan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ مَا يَفْدِيهِمْ بِهِ إِذَا جَنَوْا كَالثَّمَنِ الْمَصْرُوفِ فِي ابْتِيَاعِهِمْ وَهُوَ مَمْنُوعٌ مِنَ ابتياعهم فكذلك يمنع من افتدائهم ويباعوا فِي جِنَايَاتِهِمْ وَيَجُوزُ أَنْ يَتَوَلَّاهُ الْمُكَاتَبُ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ لَيْسَ بَيْعُهُمْ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَإِنَّمَا يَبِيعُهُمْ فِي حَقِّ غَيْرِهِ فَصَارَ فِي بَيْعِهِمْ كَالْوَكِيلِ فَإِنْ كَانَتْ جِنَايَاتُهُمْ تَسْتَوْعِبُ أَثْمَانَهُمْ بِيعَ جَمِيعُهُمْ وَإِنْ كَانَتْ أَقَلَّ بِيعَ مِنْهُمْ بِقَدْرِ جِنَايَاتِهِمْ وَكَانَ الْبَاقِي مِنْهُمْ عَلَى مِلْكِ الْمُكَاتَبِ يُعْتَقُ بِعِتْقٍ وَلَا يُقَوَّمُ عَلَيْهِ بَعْدَ الْعِتْقِ بَاقِي الرِّقِّ

Al-Mawardi berkata: “Hal ini benar, karena apa yang digunakan untuk menebus mereka ketika mereka melakukan tindak pidana adalah seperti harga yang digunakan untuk membeli mereka, dan membeli mereka itu dilarang, maka demikian pula dilarang menebus mereka. Mereka dijual karena tindak pidana mereka, dan boleh bagi mukatab untuk melakukannya dalam satu sisi, karena penjualan mereka bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan ia menjual mereka untuk kepentingan orang lain, sehingga dalam penjualan mereka ia seperti wakil. Jika tindak pidana mereka mencakup seluruh harga mereka, maka semuanya dijual. Jika tindak pidana mereka lebih sedikit, maka dijual dari mereka sesuai dengan kadar tindak pidana mereka, dan sisanya tetap menjadi milik mukatab, lalu mereka dimerdekakan dengan kemerdekaan, dan sisa perbudakan tidak lagi dinilai atasnya setelah kemerdekaan.”

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا الْجِنَايَةُ عَلَيْهِمْ فَهِيَ لِلْمُكَاتَبِ فَإِنْ أَوْجَبَتِ الْقَوَدَ فَالْخِيَارُ لَهُ دُونَهُمْ وَإِنْ أَوْجَبَتِ الْمَالَ فَهُوَ لِلْمُكَاتَبِ دُونَ السَّيِّدِ يَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهِ إِلَّا أَنْ يعجز فيكون لسيده

Adapun tindak kejahatan terhadap mereka, maka haknya adalah milik mukatab. Jika tindak tersebut mewajibkan qishāsh, maka pilihan ada pada mukatab, bukan pada tuannya. Jika mewajibkan pembayaran harta, maka harta itu menjadi hak mukatab, bukan hak tuannya, agar dapat digunakan untuk membantu pelunasan kitabahnya, kecuali jika ia tidak mampu (melunasi), maka harta itu menjadi milik tuannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَا يَجُوزُ بَيْعُ رَقَبَةِ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ قِيلَ بِيعَتْ بَرِيرَةُ قِيلَ هِيَ الْمُسَاوِمَةُ بِنَفْسِهَا عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَالْمُخْبِرَةُ بِالْعَجْزِ بِطَلَبِهَا أُوقِيَّةً وَالرَّاضِيَةُ بِالْبَيْعِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Tidak boleh menjual kepemilikan atas seorang mukatab. Jika ada yang berkata, “Bukankah Barirah pernah dijual?” Maka dijawab: Ia sendiri yang menawar dirinya kepada ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, dan ia sendiri yang memberitahukan ketidakmampuannya dengan meminta satu uqiyah, serta ia pun rela dengan penjualan tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي بَيْعِ رَقَبَةِ الْمُكَاتَبِ فَقَالَ مَالِكٌ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ إِنْ عَتَقَ لِلْمُشْتَرِي وَحَكَاهُ أَبُو ثَوْرٍ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي الْقَدِيمِ

Al-Mawardi berkata: Para fuqaha berbeda pendapat mengenai jual beli kepemilikan budak mukatab. Malik berpendapat bahwa jual beli tersebut diperbolehkan, dan jika budak itu merdeka, maka hak wala’nya menjadi milik pembeli. Pendapat ini juga dinukil oleh Abu Tsaur dari Imam Syafi’i dalam pendapat lamanya.

وَبِهِ قَالَ عطاء النخعي وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ

Dan pendapat ini juga dikatakan oleh ‘Aṭā’ al-Nakha‘ī dan Aḥmad bin Ḥanbal.

وَقَالَ أَبُو ثَوْرٍ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ إِنْ عَتَقَ لِلْبَائِعِ

Abu Tsaur berkata, “Boleh menjualnya, dan jika ia dimerdekakan maka wala’-nya menjadi milik penjual.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْجَدِيدِ وَسَائِرِ كُتُبِهِ إِنَّ بَيْعَهُ لَا يَجُوزُ

Syafi‘i dalam pendapat barunya dan seluruh kitab-kitabnya mengatakan bahwa jual belinya tidak diperbolehkan.

وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ

Dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah.

وَقَالَ الزُّهْرِيُّ وَرَبِيعَةُ يَجُوزُ بَيْعُ الْمُكَاتَبِ بِإِذْنِهِ وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ بِغَيْرِ إِذْنِهِ

Az-Zuhri dan Rabi‘ah berpendapat bahwa jual beli terhadap seorang mukatab diperbolehkan dengan izinnya, dan tidak diperbolehkan menjualnya tanpa izinnya.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ ذَهَبَ إلى جواز بيعه براوية هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُوتِبَتْ بَرِيرَةُ عَلَى تِسْعِ أَوَاقٍ فِي كُلِّ سَنَةٍ أُوقِيَّةٌ فَجَاءَتْ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْتَعِينُهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ لَا وَلَكِنْ إِنْ شِئْتِ عَدَدْتُ لَهُمْ مَالَهُمْ عَدَةً وَاحِدَةً وَيَكُونُ الْوَلَاءُ لِي فَذَهَبَتْ بَرِيرَةُ إِلَى أَهْلِهَا فَذَكَرَتْ لَهُمْ ذَلِكَ فَأَبَوْا عَلَيْهَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْوَلَاءُ لَهُمْ فَجَاءَتْ إِلَى عَائِشَةَ وَجَاءَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَسَارَّتْهَا بِمَا قِيلَ لَهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَا آذَنُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْوَلَاءُ لِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَمَا ذَاكَ فَقَالَتْ أَتَتْنِي بَرِيرَةُ تَسْتَعِينُنِي فِي كِتَابَتِهَا فَقُلْتُ لَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ أَهْلُكِ أَنْ أَعُدَّ لَهُمْ عَدَّةً وَاحِدَةً وَيَكُونَ الْوَلَاءُ لِي فَذَهَبَتْ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا لَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْوَلَاءُ لَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ ابْتَاعِيهَا وَأَعْتِقِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ فَإِنَّ الْوَلَاءَ لِمَنْ أَعْتَقَ فَاشْتَرَتْهَا فَأَعْتَقَتْهَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ قَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ مَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَقُولُونَ أَعْتِقْ فُلَانًا وَالْوَلَاءُ لِي إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ وَكَانَ زَوْجُهَا عَبْدًا فَخَيَّرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَاخْتَارَتْ نَفْسَهَا وَلَوْ كَانَ حُرًّا لَمْ يُخَيِّرْهَا هَذَا الْحَدِيثُ فِي سُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ وَهُوَ نَصٌّ فِي جَوَازِ بَيْعِ الْمُكَاتَبِ وَلِأَنَّ الْمُكَاتَبَ كَالْعَبْدِ فِي عَامَّةِ أَحْكَامِهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ كَالْعَبْدِ فِي جَوَازِ بَيْعِهِ وَلِأَنَّ الْكِتَابَةَ عِتْقٌ بِصِفَةٍ وَذَلِكَ لَا يَمْنَعُ مِنْ جَوَازِ الْبَيْعِ كَمَا لَوْ قَالَ إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ حُرٌّ وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ بَيْعِهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْمَعَانِي الْخَمْسَةِ فِي فَسَادِ بَيْعِ نُجُومِهِ وَلِأَنَّ السَّيِّدَ قَدْ عَاوَضَ عَلَى رَقَبَتِهِ بِكِتَابَتِهِ حَتَّى زَالَ مِلْكُهُ عَنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ عَلَيْهِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَمْنُوعًا مِنْ بَيْعِهِ كَالْعَبْدِ الْمَبِيعِ وَلِأَنَّ الْبَيْعَ إِنْ تَوَجَّهَ إِلَى نُجُومِ الْكِتَابَةِ فَقَدْ أَبْطَلْنَاهُ لِأَنَّ مِلْكَ السَّيِّدِ عَلَيْهَا غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ وَإِنْ تَوَجَّهَ إِلَى الرَّقَبَةِ اقْتَضَى أَنْ تَكُونَ نُجُومُ الْكِتَابَةِ لِلسَّيِّدِ الْبَائِعِ لِخُرُوجِهَا مِنَ الْبَيْعِ وَإِنْ تَوَجَّهَ إِلَيْهَا لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ مَالَ الْعَبْدِ مَمْلُوكٌ وَهُوَ لَا يَدْخُلُ فِي الْبَيْعِ وَمَا أَفْضَى إِلَى هَذَا وَجَبَ أَنْ يَكُونَ بَاطِلًا وَلِأَنَّ بَيْعَهُ لَوْ صَحَّ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْتِقَ عَلَى مُشْتَرِيهِ لِأَنَّ صِفَةَ عِتْقِهِ مُتَقَدِّمَةٌ عَلَى مِلْكِهِ وَلَا عَلَى بَائِعِهِ لِزَوَالِ مِلْكِهِ وَفِي ثُبُوتِ عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ دَلِيلٌ عَلَى فَسَادِ بَيْعِهِ الْمُنَافِي لِحُكْمِهِ وَلِأَنَّ عِتْقَهُ إِذَا نَفَذَ بَعْدَ بَيْعِهِ مُفْضٍ إِلَى سُقُوطِ الْوَلَاءِ لِمُسْتَحَقِّهِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لِلْبَائِعِ لِزَوَالِ مِلْكِهِ وَلَا لِلْمُشْتَرِي لِأَنَّهُ لَمْ يَعْقِدْ سَبَبَ عِتْقِهِ وَمَا أَفْضَى إِلَى هَذَا فَهُوَ بَاطِلٌ وَلِأَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ يَمْنَعُ مِنَ اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِ عَلَى الرَّقَبَةِ لِأَنَّهُ مُفْضٍ إِلَى الْعِتْقِ وَعَقْدُ الْبَيْعِ يُوجِبُ أَنْ يَسْتَقِرَّ مِلْكَ الْمُشْتَرِي عَلَى الْمَبِيعِ فَتَنَافَى اجْتِمَاعُهَا وَالْكِتَابَةُ لَا تَبْطُلُ بِالْبَيْعِ فَوَجَبَ أَنْ يَبْطُلَ الْبَيْعُ بِالْكِتَابَةِ

Orang yang berpendapat tentang bolehnya menjual mukatab berdalil dengan riwayat Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah, ia berkata: Barirah menulis perjanjian mukatab atas sembilan uqiyah, setiap tahun satu uqiyah. Lalu Barirah datang kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk meminta bantuan. ‘Aisyah berkata: “Tidak, tetapi jika engkau mau, aku akan membayarkan seluruh uang mereka sekaligus dan wala’ (hak perwalian) menjadi milikku.” Maka Barirah pergi kepada keluarganya dan menyampaikan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak kecuali jika wala’ tetap menjadi milik mereka. Barirah pun kembali kepada ‘Aisyah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu Barirah membisikkan apa yang dikatakan keluarganya. ‘Aisyah berkata: “Aku tidak mengizinkan kecuali jika wala’ menjadi milikku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Ada apa?” ‘Aisyah menjawab: “Barirah datang kepadaku meminta bantuan dalam perjanjian mukatabnya. Aku katakan: Tidak, kecuali jika keluargamu mau aku membayar seluruhnya sekaligus dan wala’ menjadi milikku. Ia pun pergi kepada mereka, namun mereka menolak kecuali jika wala’ tetap milik mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Belilah dia dan merdekakanlah dia, dan syaratkan kepada mereka bahwa wala’ untuk mereka, karena sesungguhnya wala’ itu bagi orang yang memerdekakan.” Maka ‘Aisyah membelinya lalu memerdekakannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda: “Mengapa ada orang-orang yang mensyaratkan syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah? Barang siapa mensyaratkan syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah, maka syarat itu batil, meskipun seratus syarat. Ketetapan Allah lebih berhak dan syarat Allah lebih kuat. Mengapa ada sebagian dari kalian berkata: ‘Merdekakan si fulan dan wala’ untukku?’ Sesungguhnya wala’ itu hanya untuk orang yang memerdekakan.” Suami Barirah adalah seorang budak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada Barirah, dan ia memilih dirinya sendiri. Seandainya suaminya merdeka, niscaya Rasulullah tidak akan memberinya pilihan. Hadis ini terdapat dalam Sunan ad-Daraquthni, dan merupakan nash yang jelas tentang bolehnya menjual mukatab. Karena mukatab itu seperti budak dalam kebanyakan hukumnya, maka wajib hukumnya ia seperti budak dalam kebolehan menjualnya. Dan karena kitabah (perjanjian mukatab) adalah pembebasan dengan syarat tertentu, dan hal itu tidak menghalangi bolehnya penjualan, sebagaimana jika dikatakan: “Jika engkau masuk rumah, maka engkau merdeka.” Adapun dalil tentang batalnya penjualan mukatab adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya dari lima alasan tentang batalnya penjualan cicilan mukatab, dan karena tuan telah menukar kepemilikannya atas budak itu dengan perjanjian mukatab hingga hilanglah kepemilikannya atas diyat jinayah terhadapnya, maka wajib hukumnya dilarang menjualnya seperti budak yang telah dijual. Dan jika penjualan itu diarahkan pada cicilan mukatab, maka kami telah membatalkannya karena kepemilikan tuan atas cicilan itu tidak tetap. Jika diarahkan pada budaknya, maka konsekuensinya cicilan mukatab menjadi milik tuan penjual karena terpisah dari penjualan, dan jika diarahkan pada cicilannya, maka tidak sah karena harta budak adalah milik tuan dan tidak termasuk dalam penjualan. Apa yang mengarah pada hal ini, maka wajib hukumnya batal. Dan jika penjualannya sah, maka tidak boleh budak itu merdeka atas pembelinya karena sifat kemerdekaannya lebih dahulu dari kepemilikan pembeli, dan tidak pula atas penjualnya karena kepemilikannya telah hilang. Dan jika kemerdekaannya tetap dengan pembayaran, itu menjadi dalil batalnya penjualan yang bertentangan dengan hukumnya. Dan jika kemerdekaannya berlaku setelah penjualan, maka akan menyebabkan hilangnya hak wala’ dari yang berhak, karena tidak boleh menjadi milik penjual karena kepemilikannya telah hilang, dan tidak pula milik pembeli karena ia tidak melakukan sebab kemerdekaan. Apa yang mengarah pada hal ini, maka hukumnya batal. Dan karena akad kitabah mencegah tetapnya kepemilikan atas budak, karena akan berujung pada kemerdekaan, sedangkan akad jual beli mensyaratkan tetapnya kepemilikan pembeli atas barang yang dibeli, maka kedua hal ini saling bertentangan. Kitabah tidak batal dengan penjualan, maka wajib penjualannya batal karena adanya kitabah.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ بَرِيرَةَ فَهُوَ أَنَّ الْكِتَابَةَ غَيْرُ لَازِمَةٍ مِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ وَإِنْ كَانَتْ لَازِمَةً مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ فَصَارَ مُسَاوَمَةُ بَرِيرَةَ لِمَوَالِيهَا وَهُمْ آلُ الْمُغِيرَةِ فِي ابْتِيَاعِ نَفْسِهَا فَسْخًا مِنْهَا كَمَا لَوْ بَاعَ بِشَرْطِ الْخِيَارِ ثُمَّ بَاعَ مَا بَاعَهُ كَانَ بَيْعُهُ الثَّانِي فَسْخًا لِلْبَيْعِ الْأَوَّلِ كَذَلِكَ يَكُونُ مُسَاوَمَةُ بَرِيرَةَ فِي نَفْسِهَا وَابْتِيَاعَهَا فَسْخًا وَبَيْعُهَا بَعْدَ فَسْخِ الْكِتَابَةِ جَائِزٌ أَلَا تَرَى أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَمَرَ عَائِشَةَ بِعِتْقِهَا وَلَوْ بَقِيَتِ الْكِتَابَةُ لَعُتِقَتْ بِهَا قَوْلُهُمْ إِنَّ الْمُكَاتَبَ فِي عَامَّةِ أَحْوَالِهِ كَالْعَبْدِ فَلَيْسَ يُنْكَرُ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ كَأُمِّ الْوَلَدِ وَلِأَنَّهُ قَدْ يُخَالِفُ الْعَبْدَ فِي كَثِيرٍ مِنْ أَحْوَالِهِ وَإِنْ وَافَقَهُ فِي شَيْءٍ مِنْهَا

Adapun jawaban terhadap hadis Barirah adalah bahwa perjanjian kitabah tidak wajib dari pihak mukatab, meskipun wajib dari pihak tuan. Maka, tawar-menawar Barirah dengan para tuannya, yaitu keluarga Al-Mughirah, dalam menebus dirinya sendiri merupakan pembatalan dari pihaknya, sebagaimana jika seseorang menjual dengan syarat khiyar lalu menjual barang yang telah dijualnya itu, maka penjualan yang kedua merupakan pembatalan terhadap penjualan yang pertama. Demikian pula, tawar-menawar Barirah atas dirinya sendiri dan pembeliannya merupakan pembatalan, dan penjualannya setelah pembatalan kitabah itu diperbolehkan. Tidakkah engkau melihat bahwa Nabi ﷺ memerintahkan ‘Aisyah untuk memerdekakannya, dan seandainya kitabah itu masih berlaku, niscaya ia akan merdeka karenanya. Adapun pendapat mereka bahwa mukatab dalam kebanyakan keadaannya seperti budak, maka hal itu tidak diingkari jika memang demikian, dan tidak boleh dijual seperti umm al-walad. Namun, bisa jadi ia berbeda dengan budak dalam banyak hal, meskipun dalam sebagian hal ia serupa dengannya.

وَأَمَّا الْمُعْتَقُ نِصْفُهُ فَمُخَالِفٌ لِلْمُكَاتَبِ لِأَنَّهُ يَمْلِكُ أَكْسَابَهُ وَأَرْشَ الْجِنَايَةِ عَلَيْهِ فَخَالَفَ الْمُكَاتَبَ فِي جَوَازِ الْبَيْعِ

Adapun orang yang dimerdekakan setengahnya, maka ia berbeda dengan mukatab, karena ia memiliki penghasilan dan diyat atas tindak kejahatan yang dilakukannya, sehingga ia berbeda dengan mukatab dalam hal kebolehan untuk dijual.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ المزني رضي الله عنه فَإِنْ قِيلَ فَمَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لعائشة اشترطي لهم الولاء قلت انا لِلْشَّافِعِيِّ فِي هَذَا جَوَابَانِ أَحَدُهُمَا يُبْطِلُ الشَّرْطَ وَيُجِيزُ الْعِتْقَ وَيَجْعَلُهُ خَاصًّا وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ هَذَا مِنْ أَشَدِّ مَا يُغْلَطُ فِيهِ وَإِنَّمَا جَاءَ بِهِ هِشَامٌ وَحْدَهُ وَغَيْرُهُ قَدْ خَالَفَهُ وَضَعَّفَهُ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا أَوْلَى بِهِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ فِي صِفَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فِي مَكَانِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُنْكِرُ عَلَى نَاسٍ شَرْطًا بَاطِلًا وَيَأْمُرُ أَهْلَهُ بِإِجَابَتِهِمْ إِلَى بَاطِلٍ وَهُوَ عَلَى أَهْلِهِ فِي اللَّهِ أَشَدُّ وَعَلَيْهِمْ أَغْلَظُ قَالَ الْمُزَنِيُّ وَقَدْ يَحْتَمِلُ أَنْ لَوْ صَحَّ الْحَدِيثُ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ اشْتَرِطِي عَلَيْهِمْ أَنَّ لَكِ إِنِ اشْتَرَيْتِ وَأَعْتَقْتِ الْوَلَاءَ أَيْ لَا تَغُرِّيهِمْ وَاللُّغَةُ تَحْتَمِلُ ذَلِكَ قال الله جل ثناؤه لهم اللعنة وقال أن عليهم لعنة الله وَكَذَلِكَ قَالَ تَعَالَى أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وكيلا وَقَالَ إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فلها أَيْ فَعَلَيْهَا وَقَالَ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كجهر بعضكم لبعض فَقَامَتْ لَهُمْ مَقَامَ عَلَيْهِمْ فَتَفَهَّمْ رَحِمَكَ اللَّهُ

Al-Muzani raḍiyallāhu ‘anhu berkata: Jika ada yang bertanya, “Apa makna sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah: ‘Buatlah syarat bagi mereka tentang wala’?’” Aku katakan, menurut asy-Syafi‘i dalam hal ini ada dua jawaban: salah satunya membatalkan syarat tersebut, membolehkan pembebasan budak, dan menjadikannya sebagai kekhususan. Dan beliau berkata di tempat lain, “Ini termasuk perkara yang paling sering keliru dipahami, dan hanya Hisham sendiri yang meriwayatkannya, sementara selainnya menyelisihi dan melemahkannya.” Al-Muzani berkata, “Pendapat ini lebih utama, karena tidak mungkin bagi sifat Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dengan kedudukannya di sisi Allah ‘azza wa jalla, beliau mengingkari suatu syarat yang batil pada sebagian orang, lalu memerintahkan keluarganya untuk menerima kebatilan itu, padahal beliau terhadap keluarganya dalam urusan Allah lebih tegas dan lebih keras.” Al-Muzani berkata, “Mungkin juga, seandainya hadis itu sahih, beliau bermaksud: ‘Buatlah syarat kepada mereka bahwa wala’ itu milikmu jika engkau membeli dan memerdekakan,’ yakni janganlah engkau menipu mereka, dan bahasa Arab memungkinkan makna tersebut.” Allah Ta‘ala berfirman: “Bagi mereka laknat,” dan berfirman: “Atas mereka laknat Allah,” demikian pula firman-Nya: “Ataukah engkau menjadi wakil atas mereka?” dan firman-Nya: “Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat buruk, maka keburukan itu atasnya (diri kalian),” dan firman-Nya: “Janganlah kalian mengeraskan suara kepada beliau sebagaimana sebagian kalian mengeraskan suara kepada sebagian yang lain.” Maka, “bagi mereka” menempati posisi “atas mereka.” Maka pahamilah, semoga Allah merahmatimu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا الْفَصْلُ يَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أُمُورٍ عَلَى حُكْمٍ وَعَلَى سُؤَالٍ وَعَلَى جَوَابٍ

Al-Mawardi berkata: “Bagian ini mencakup tiga hal, yaitu tentang hukum, tentang pertanyaan, dan tentang jawaban.”

فَأَمَّا الْحُكْمُ فَيَشْتَمِلُ عَلَى مَسْأَلَتَيْنِ

Adapun hukum, maka mencakup dua permasalahan.

إِحْدَاهُمَا الْبَيْعُ بِشَرْطِ الْعِتْقِ

Salah satunya adalah jual beli dengan syarat pembebasan budak.

وَالثَّانِيَةُ الْبَيْعُ بِشَرْطِ الْوَلَاءِ

Yang kedua adalah jual beli dengan syarat al-walā’.

فَأَمَّا الْبَيْعُ بِشَرْطِ الْعِتْقِ فَفِيهِ قَوْلَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا الشَّافِعِيُّ وَثَالِثٌ حَكَاهُ أَبُو ثَوْرٍ عَنْهُ

Adapun jual beli dengan syarat pembebasan budak, terdapat dua pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i, dan pendapat ketiga yang diriwayatkan oleh Abu Tsaur dari beliau.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْبَيْعَ صَحِيحٌ وَالشَّرْطَ لَازِمٌ وَهُوَ الْأَظْهَرُ مِنْ قَوْلِهِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa jual beli tersebut sah dan syaratnya wajib dipenuhi, dan inilah pendapat yang lebih kuat menurut beliau.

وَالثَّانِي أَنَّ الْبَيْعَ صَحِيحٌ وَالشَّرْطَ بَاطِلٌ

Yang kedua, bahwa akad jual belinya sah, sedangkan syaratnya batal.

وَالثَّالِثُ وَهُوَ الَّذِي حَكَاهُ أَبُو ثَوْرٍ أَنَّ الْبَيْعَ وَالشَّرْطَ بَاطِلَانِ وَهُوَ أَقْيَسُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَدْ مَضَى تَوْجِيهُ هَذِهِ الْأَقَاوِيلِ فِي كِتَابِ الْبُيُوعِ

Ketiga, yaitu pendapat yang diriwayatkan oleh Abu Tsaur bahwa jual beli dan syaratnya sama-sama batal, dan pendapat ini lebih sesuai dengan qiyās. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Hanifah. Penjelasan mengenai pendapat-pendapat ini telah disebutkan dalam Kitab al-Buyū‘.

فَأَمَّا الْبَيْعُ بِشَرْطِ الْوَلَاءِ فَالشَّرْطُ فِي الْوَلَاءِ بَاطِلٌ وَفِي بُطْلَانِ الْبَيْعِ قَوْلَانِ

Adapun jual beli dengan syarat hak wala’, maka syarat dalam hak wala’ itu batal, dan mengenai batal atau tidaknya akad jual belinya terdapat dua pendapat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ شَرْطِ الْعِتْقِ وَشَرْطِ الْوَلَاءِ أَنَّ فِي شَرْطِ الْعِتْقِ قُرْبَةً فَجَازَ لِأَجْلِهَا أَنْ يَصِحَّ الْبَيْعُ وَيَلْزَمَ الشَّرْطُ وَلَيْسَ فِي شَرْطِ الْوَلَاءِ قُرْبَةٌ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِمُوجِبِ الْبَيْعِ وَالْعِتْقِ فَبَطَلَ وَجَازَ أَنْ يَبْطُلَ بِهِ الْبَيْعُ

Perbedaan antara syarat ‘itq (pembebasan budak) dan syarat al-walā’ (hak perwalian) adalah bahwa dalam syarat ‘itq terdapat unsur pendekatan diri kepada Allah (ibadah), sehingga karena alasan itu jual beli menjadi sah dan syaratnya menjadi wajib. Sedangkan dalam syarat al-walā’ tidak terdapat unsur pendekatan diri kepada Allah, dan syarat tersebut bertentangan dengan konsekuensi jual beli dan pembebasan budak, sehingga syarat itu batal dan dimungkinkan jual belinya pun menjadi batal karenanya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا السُّؤَالُ فَقَدْ أَفْرَدَهُ الشَّافِعِيُّ وَأَجَابَ عَلَيْهِ وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا كَانَ الْبَيْعُ بِاشْتِرَاطِ الْوَلَاءِ بَاطِلًا فَلِمَ أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي اشْتِرَاطِهِ مَعَ فَسَادِهِ وَحَظْرِهِ وَهُوَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَأْذَنَ فِي فَاسِدٍ وَلَا مَحْظُورٍ فَقَدْ أَجَابَ الشَّافِعِيُّ عَنْ هَذَا السُّؤَالِ بِجَوَابَيْنِ وَأَجَابَ الْمُزَنِيُّ عَنْهُ بِجَوَابٍ ثَالِثٍ وَأَجَابَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ بِجَوَابٍ رَابِعٍ وَأَجَابَ أَبُو عَلِيٍّ الظَّهْرِيُّ بِجَوَابٍ خَامِسٍ وَحَكَى أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ جَوَابًا سَادِسًا فَالْجَوَابُ الْأَوَّلُ لِلشَّافِعِيِّ فَهُوَ أَنَّ قَوْلَهُ وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ زِيَادَةٌ تَفَرَّدَ بِهَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَلَمْ يَرْوِهَا فَكَانَ تَرْكُ الزِّيَادَةِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ أَوْلَى مِنَ الْأَخْذِ بِهَا لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ

Adapun pertanyaan tersebut, telah dibahas secara khusus oleh Imam Syafi‘i dan beliau telah memberikan jawaban atasnya, yaitu: Jika jual beli dengan syarat pewarisan (walā’) itu batal, maka mengapa Rasulullah ﷺ mengizinkan ‘Aisyah ra. untuk mensyaratkannya, padahal hal itu rusak dan terlarang, sedangkan tidak mungkin beliau mengizinkan sesuatu yang rusak atau terlarang? Imam Syafi‘i telah menjawab pertanyaan ini dengan dua jawaban, sedangkan al-Muzani memberikan jawaban ketiga, Abu ‘Ali bin Abi Hurairah memberikan jawaban keempat, Abu ‘Ali az-Zhahiri memberikan jawaban kelima, dan Abu Hamid al-Isfara’ini meriwayatkan jawaban keenam. Adapun jawaban pertama dari Imam Syafi‘i adalah bahwa sabda beliau, “Dan syaratkanlah untuk mereka walā’,” merupakan tambahan yang diriwayatkan secara khusus oleh Hisyam bin ‘Urwah. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar dari ‘Aisyah ra., namun ia tidak meriwayatkan tambahan tersebut. Maka, meninggalkan tambahan ini dalam konteks ini lebih utama daripada mengambilnya, karena tiga alasan.

أَحَدُهَا إِنْكَارُ الرُّوَاةِ لَهَا

Salah satunya adalah para perawi mengingkarinya.

وَالثَّانِي مَنْعُ الشَّرْعِ مِنْهَا

Dan yang kedua adalah larangan syariat terhadapnya.

وَالثَّالِثُ صِفَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الَّتِي لَا يَجُوزُ مِثْلَ ذَلِكَ مَعَهَا لِمَكَانِهِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنَّهُ قَدْ كَانَ فِي حَقِّهِ أَشَدَّ وَعَلَى أَهْلِهِ فِيهِ أَغْلَظُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْذَنَ لَهُمْ فِي مَحْظُورٍ عَلَيْهِمْ وَغُرُورٍ لِغَيْرِهِمْ فَهَذَا جَوَابٌ

Ketiga adalah sifat Nabi ﷺ yang tidak boleh terjadi hal seperti itu bersamanya karena kedudukannya di sisi Allah Ta‘ala, dan bahwa dalam hak beliau hal itu lebih berat, serta terhadap keluarganya dalam hal itu lebih tegas. Maka tidak boleh beliau mengizinkan mereka dalam sesuatu yang terlarang bagi mereka dan menjadi tipu daya bagi selain mereka. Inilah jawabannya.

والجواب الثاني للشافعي مع إثبات الزيادة أنه كَانَ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لِسَبَبٍ خَاصٍّ دَعَتْ إِلَيْهِ حَادِثَةٌ خَاصَّةٌ وَقَدْ أَطْلَقَ الشَّافِعِيُّ ذَلِكَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ

Jawaban kedua menurut al-Syafi‘i, dengan menetapkan adanya tambahan, adalah bahwa hal itu berasal dari Rasulullah saw. karena suatu sebab khusus yang mendorongnya, yaitu adanya peristiwa tertentu. Al-Syafi‘i telah mengemukakan hal tersebut secara umum, dan para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا إِنَّهُ أَذِنَ بِهِ فِي وَقْتِ جَوَازِهِ ثُمَّ وَرَدَ بَعْدَهُ نَسْخٌ فَأَظْهَرَ نَسْخَهُ فَفَسَخَهُ كَمَا أَمَرَ سَهْلَةَ أَنْ تُرْضِعَ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ وَكَانَ كَبِيرًا ثُمَّ نَسَخَ رَضَاعَ الْكَبِيرِ وَقَالَ الرَّضَاعَةُ مِنَ الْمَجَاعَةِ

Salah satunya adalah bahwa ia membolehkannya pada waktu masih diperbolehkan, kemudian datanglah naskh setelah itu, maka ia pun menampakkan adanya naskh tersebut lalu membatalkannya. Seperti ketika ia memerintahkan Sahla untuk menyusui Salim sebanyak lima kali sedangkan Salim sudah dewasa, kemudian hukum penyusuan orang dewasa itu dinaskh, dan ia pun berkata, “Penyusuan itu hanya karena kelaparan.”

وَالثَّانِي أَنَّهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَتَبَايَعُونَ الْوَلَاءَ وَيَرَوْنَهُ مَالًا فَغَلَّظَ الْأَمْرَ فِيهِ مَعَ نَهْيِهِ عَنْ بَيْعِهِ بِأَنْ أَبْطَلَه عَلَيْهِمْ بَعْدَ بَيْعِهِ وَلِذَلِكَ غَضِبَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ وَخَطَبَ وَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

Kedua, pada masa jahiliah mereka biasa melakukan jual beli wala’ dan menganggapnya sebagai harta, maka Nabi memperberat larangan dalam hal ini dengan membatalkannya atas mereka setelah terjadinya jual beli tersebut, di samping melarang jual belinya. Karena itulah beliau marah, naik mimbar, lalu berkhutbah dan berkata, “Mengapa ada sekelompok orang yang menetapkan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah? Ketetapan Allah lebih berhak dan syarat Allah lebih kuat. Sesungguhnya wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan.”

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ لَمَّا نَهَاهُمْ عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَهِبَتِهِ ظَنُّوا أَنَّ نَهْيَهُ إنما توجه إلى إفراده بالبيع وانه إذا كاغن مَشْرُوطًا فِي بَيْعٍ جَائِزٍ صَحَّ فَأَحَبَّ أَنْ يَفْسَخَهُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَرْطِهِ لِيَكُونَ الْفَسْخُ أَوْكَدَ والنبي أَغْلَظَ كَمَا أَنَّهُمْ كَانُوا يَرَوْنَ الْعُمْرَةَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ مِنَ الْكَبَائِرِ فَلَمَّا أَذِنَ لَهُمْ فِيهَا بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ البقرة 196 تَوَقَّفُوا فَأَذِنَ لَهُمْ فِي الْإِحْرَامِ بِالْحَجِّ ثُمَّ فَسَخَ عَلَيْهِمْ إِحْرَامَهُمْ بِالْحَجِّ وَجَعَلَهُ عُمْرَةً لِيَكُونَ تَغْلِيظًا عَلَيْهِمْ فِي إِثْبَاتِ أَوَامِرِهِ فَهَذَا جَوَابٌ ثَانٍ

Ketiga, ketika Nabi melarang mereka dari menjual dan menghadiahkan al-walā’, mereka mengira bahwa larangan itu hanya ditujukan pada penjualan al-walā’ secara terpisah, dan bahwa jika al-walā’ itu disyaratkan dalam suatu jual beli yang sah, maka hal itu dibolehkan. Maka Nabi ingin membatalkan (transaksi) itu atas mereka setelah syarat tersebut dibuat, agar pembatalan itu lebih menegaskan larangannya dan Nabi lebih menekankan (larangan tersebut). Sebagaimana dahulu mereka memandang bahwa melakukan ‘umrah di bulan-bulan haji termasuk dosa besar, lalu ketika Allah mengizinkan mereka melakukannya dengan firman-Nya: “Dan sempurnakanlah haji dan ‘umrah karena Allah” (al-Baqarah: 196), mereka pun ragu-ragu. Maka Nabi mengizinkan mereka berihram untuk haji, kemudian membatalkan ihram haji mereka dan menjadikannya sebagai ‘umrah, agar hal itu menjadi penegasan atas mereka dalam menetapkan perintah-perintahnya. Inilah jawaban kedua.

وَالْجَوَابُ الثَّالِثُ وَهُوَ جَوَابُ الْمُزَنِيِّ أَنَّ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ بِمَعْنَى وَاشْتَرِطِي عَلَيْهِمُ الْوَلَاءَ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي يَقُومُ بَعْضُهَا مَقَامَ بَعْضٍ كَمَا قَالَ تَعَالَى لَهُمُ اللَّعْنَةُ الرعد 25 بِمَعْنَى عَلَيْهِمُ اللَّعْنَةُ وَقَالَ تَعَالَى إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا الإسراء 7 أَيْ فَعَلَيْهَا وَقَدْ رَدَّ أَصْحَابُنَا عَلَيْهِ هَذَا الْجَوَابَ مِنْ وَجْهَيْنِ

Jawaban ketiga, yaitu jawaban al-Muzani, bahwa sabda Nabi ﷺ “dan syaratkanlah bagi mereka hak wala’” maksudnya adalah “syaratkanlah atas mereka hak wala’”, karena ini termasuk ungkapan-ungkapan yang sebagian katanya dapat menggantikan sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “bagi mereka laknat” (ar-Ra‘d: 25) yang bermakna “atas mereka laknat”, dan firman Allah Ta‘ala: “Jika kalian berbuat baik, maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat buruk, maka untuknya” (al-Isra’: 7), yaitu maksudnya “maka atasnya”. Namun, para ulama kami telah membantah jawaban ini dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَوْضِعَ الْكَلَامِ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى حَقِيقَتِهِ دُونَ مَجَازِهِ إِلَّا فِي مَوْضِعٍ لَا يُمْكِنُ اسْتِعْمَالُهُ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَيَعْدِلُ بِهِ إِلَى الْمَجَازِ وَاسْتِعْمَالُ الْحَقِيقَةِ هَاهُنَا مُمْكِنٌ فِي نَظْمِ الْكَلَامِ

Salah satunya adalah bahwa tempat pembicaraan seharusnya dibawa kepada makna hakiki, bukan makna majazi, kecuali pada tempat yang tidak mungkin digunakan secara hakiki, maka dialihkan kepada makna majazi. Dan penggunaan makna hakiki di sini memungkinkan dalam susunan kalimat.

وَالثَّانِي أَنَّ خُرُوجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مُغْضَبًا وَقَوْلَهُ فِي خُطْبَتِهِ مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَلَوْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الشَّرْطَ كَانَ لَهُمْ فَأَبْطَلَهُ عَلَيْهِمْ فَهَذَا حُكْمُ الْجَوَابِ الثَّالِثِ

Kedua, keluarnya Nabi ﷺ dalam keadaan marah dan ucapannya dalam khutbah beliau: “Mengapa ada sekelompok orang yang menetapkan syarat-syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah? Setiap syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah maka syarat itu batil, meskipun seratus syarat,” merupakan dalil bahwa syarat tersebut sebelumnya ada untuk mereka, lalu beliau membatalkannya atas mereka. Inilah hukum dari jawaban yang ketiga.

وَالْجَوَابُ الرَّابِعُ وَهُوَ جَوَابُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ خَارِجٌ مِنْهُ مَخْرَجَ الْوَعِيدِ وَالتَّهْدِيدِ لَا مَخْرَجَ الْإِذْنِ وَالْجَوَازِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ الكهف 29 وَهَذَا إِنْ كَانَ ظَاهِرُ لَفْظِهِ التَّخْيِيرَ فَهُوَ وَعِيدٌ وَتَهْدِيدٌ

Jawaban keempat, yaitu jawaban dari Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, bahwa sabda Nabi ﷺ “dan syaratkanlah untuk mereka hak wala’” termasuk dalam kategori ancaman dan peringatan, bukan dalam kategori izin dan kebolehan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka barang siapa yang mau, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia kafir” (QS. al-Kahfi: 29). Meskipun secara lahiriah lafaznya menunjukkan pilihan, namun maksudnya adalah ancaman dan peringatan.

وَالْجَوَابُ الْخَامِسُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيٍّ الطَّبَرِيِّ أَنَّ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَاشْتَرِطِي لَهُمُ الْوَلَاءَ أَيِ اشْتَرِطِي لَهُمُ الْعِتْقَ فَعَبَّرَ عَنِ الْعِتْقِ بِالْوَلَاءِ لِحُدُوثِهِ عَنْهُ وَاسْتِحْقَاقِهِ بِهِ وَهَذَا الْجَوَابُ أَيْضًا عُدُولٌ عَنِ الْحَقِيقَةِ إِلَى الْمَجَازِ

Jawaban kelima adalah pendapat Abu ‘Ali al-Thabari, bahwa sabda Nabi ﷺ “dan syaratkanlah bagi mereka al-walā’” maksudnya adalah “syaratkanlah bagi mereka pembebasan (al-‘itq)”, sehingga beliau mengungkapkan pembebasan dengan istilah al-walā’ karena al-walā’ terjadi akibat pembebasan dan menjadi hak karena pembebasan itu. Jawaban ini juga merupakan peralihan dari makna hakiki kepada makna majazi.

وَالْجَوَابُ السَّادِسُ وَهُوَ الَّذِي حَكَاهُ أَبُو حَامِدٍ أَنَّ اشْتِرَاطَ الْوَلَاءِ تَقَدَّمَ الْعَقْدَ لِأَنَّهُ كَانَ وَقْتَ الْمُسَاوَمَةِ وَهُوَ إِنَّمَا يَلْزَمُ إِذَا اقْتَرَنَ بِالْعَقْدِ فَلِذَلِكَ بَطَلَ فَأَعْلَنَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِبْطَالَ حُكْمِهِ وَفِي هَذَا الْجَوَابِ ضَعْفٌ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَبْطَلَ الشَّرْطَ لِفَسَادِهِ وَلَمْ يُبْطِلْهُ لِأَنَّهُ كَانَ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ وَلَوْ أَرَادَ ذَلِكَ لِأَزَالَ الِالْتِبَاسَ وَلَأَبَانَ الْحُكْمَ الْمَقْصُودَ

Jawaban keenam, yang dinukil oleh Abu Hamid, adalah bahwa pensyaratan al-walā’ (hak perwalian) terjadi sebelum akad, karena itu terjadi pada saat tawar-menawar, sedangkan syarat itu hanya menjadi wajib jika disertakan dalam akad. Oleh karena itu, syarat tersebut batal, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan pembatalan hukumnya. Namun, dalam jawaban ini terdapat kelemahan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan syarat tersebut karena rusak (fasad)-nya, bukan karena syarat itu berada di tempat yang tidak semestinya. Seandainya beliau menghendaki hal itu, tentu beliau akan menghilangkan kerancuan dan menjelaskan hukum yang dimaksud.

باب كتابة النصراني

Bab Penulisan oleh Seorang Nasrani

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَتَجُوزُ كِتَابَةُ النَّصْرَانِيِّ بِمَا تَجُوزُ بِهِ كِتَابَةُ الْمُسْلِمِ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata, “Boleh bagi seorang Nasrani menulis dengan cara yang boleh digunakan oleh seorang Muslim.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَشَذَّ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ فَمَنَعَ مِنْ كِتَابَةِ النَّصْرَانِيِّ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَدَبَ الْمُسْلِمِينَ إِلَيْهَا بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ النور 33 وَهَذَا قَوْل فَاسِدٌ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ إِمَّا أَنْ يَغْلِبَ فِيهَا حُكْمُ الْبَيْعِ أَوْ حُكْمُ الْعِتْقِ وَالنَّصْرَانِيُّ فِي كِلَا الْأَمْرَيْنِ كَالْمُسْلِمِ وَلِأَنَّ مَا خُوطِبَ بِهِ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الْمُعَامَلَاتِ يَعُمُّ حُكْمُهُ وَلَا يَقِفُ عَلَيْهِمْ وَإِذَا كَانَتْ فِي غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ رُوعِيَ فِيهَا مَا يُرَاعَى فِي عُقُودِ مُكَاتَبَاتِ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الأحكام

Al-Mawardi berkata, “Ini benar.” Namun sebagian fuqaha’ menyimpang dengan melarang penulisan (akad) bagi orang Nasrani, karena Allah Ta‘ala telah menganjurkan kaum Muslimin untuk melakukannya melalui firman-Nya, “Dan orang-orang yang menginginkan kitab dari budak-budak yang kamu miliki, maka buatlah akad dengan mereka” (an-Nur: 33). Pendapat ini adalah pendapat yang rusak, karena akad tersebut bisa jadi lebih dominan unsur hukumnya sebagai jual beli atau sebagai pembebasan budak, dan dalam kedua hal ini, orang Nasrani kedudukannya sama dengan Muslim. Selain itu, segala bentuk muamalah yang ditujukan kepada kaum Muslimin, hukumnya berlaku umum dan tidak terbatas hanya pada mereka. Jika akad tersebut dilakukan dengan non-Muslim, maka tetap harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam akad mukatabah pada kaum Muslimin.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَسْلَمَ الْعَبْدُ ثُمَّ تَرَافَعَا إِلَيْنَا فَهُوَ عَلَى الْكِتَابَةِ إِلَّا أَنْ يَعْجِزَ فَيُبَاعَ عَلَى النَّصْرَانِيِّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang budak masuk Islam kemudian keduanya (budak dan tuannya) mengadukan perkara kepada kami, maka ia tetap berada dalam status mukātabah, kecuali jika ia tidak mampu (membayar), maka ia boleh dijual kepada seorang Nasrani.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَتْ كِتَابَةُ النَّصْرَانِيِّ جَائِزَةً حُمِلَا عَلَيْهَا وَأَخَذَا بِمُوجِبِهَا سَوَاءٌ أَقَامَهَا عَلَى النَّصْرَانِيَّةِ أَوْ أَسْلَمَ السَّيِّدُ أَوِ الْمُكَاتَبُ أَوْ هُمَا لِأَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ يَصِحُّ فِي كِلَا الْحَالَيْنِ فَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيهَا انْتِقَالُ الْمُكَاتَبِ مِنَ النَّصْرَانِيَّةِ إِلَى الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَدَّى عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِسَيِّدِهِ وَإِنْ كَانَ لَا يَرِثُهُ بِهِ مَعَ اخْتِلَافِ الدِّينِ وَإِنْ عَجَزَ عَادَ رَقِيقًا وَالسَّيِّدُ عَلَى نَصْرَانِيَّتِهِ لَمْ يُقَرَّ عَلَى مِلْكِهِ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ مِنَ اسْتِرْقَاقِ مُسْلِمٍ وَأُخِذَ بِبَيْعِهِ أَوْ عِتْقِهِ وَلَا يُؤْخَذُ بِذَلِكَ قَبْلَ عَجْزِهِ لِخُرُوجِهِ بِالْكِتَابَةِ عَنْ حُكْمِ مِلْكِهِ وَإِفْضَائِهِ بِهَا إِلَى عِتْقِهِ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar apabila akad kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) yang dilakukan oleh seorang Nasrani itu dibolehkan, maka keduanya (tuan dan budak) terikat dengannya dan wajib melaksanakannya, baik ia tetap dalam agama Nasrani, atau tuan maupun budaknya masuk Islam, atau keduanya masuk Islam. Sebab akad kitābah sah dalam kedua keadaan tersebut, sehingga perpindahan budak dari agama Nasrani ke Islam tidak berpengaruh terhadapnya. Jika budak tersebut melunasi pembayaran, maka ia merdeka dan wala’-nya tetap kepada tuannya, meskipun tuannya tidak mewarisinya karena perbedaan agama. Namun jika ia tidak mampu membayar, maka ia kembali menjadi budak, dan jika tuannya tetap dalam agama Nasrani, maka ia tidak dibenarkan untuk tetap memiliki budak Muslim, karena dilarang memperbudak seorang Muslim. Maka ia diwajibkan untuk menjual atau memerdekakannya, dan hal ini tidak diwajibkan sebelum budak tersebut gagal membayar, karena dengan akad kitābah, ia telah keluar dari hukum kepemilikan dan menuju kepada kemerdekaan.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ كَاتَبَهُ عَلَى حَلَالٍ عِنْدَهُمْ حَرَامٌ عِنْدَنَا أَبْطَلْنَا مَا بَقِيَ مِنَ الْكِتَابَةِ فَإِنْ أَدَّاهَا ثُمَّ تَحَاكَمَا إِلَيْنَا فَقَدْ عَتَقَ الْعَبْدُ وَلَا يَرُدُّ وَاحِدٌ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ شَيْئًا لِأَنَّ ذلك مضى في النصرانية ولو اسلما وبقي من الكتابة شيء من خمر فقبضه السيد عتق بقبضه آخر كتابته ورجع على العبد بقيمته

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang melakukan mukātabah dengan syarat yang menurut mereka halal namun menurut kami haram, maka kami membatalkan sisa akad mukātabah tersebut. Jika ia telah melunasinya lalu keduanya mengajukan perkara kepada kami, maka budak itu telah merdeka dan tidak ada satu pun dari keduanya yang mengembalikan sesuatu kepada yang lain, karena hal itu telah terjadi dalam keadaan mereka masih beragama Nasrani. Namun, jika keduanya masuk Islam dan masih tersisa bagian dari akad mukātabah berupa khamr, lalu tuan mengambilnya, maka budak itu merdeka dengan pengambilan bagian terakhir dari akad mukātabah tersebut, dan tuan berhak menuntut budak atas nilai khamr tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ مُكَاتَبَةَ النَّصْرَانِيِّ لَا تَخْلُو مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا أَنْ تَكُونَ مَعْقُودَةً بِحَلَالٍ كُلِّهِ وَالثَّانِي أَنْ تَكُونَ مَعْقُودَةً بِحَرَامٍ كُلِّهِ وَالثَّالِثُ أَنْ تَكُونَ مَعْقُودَةً بِحَرَامٍ وَحَلَالٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa mukātabah seorang Nasrani tidak lepas dari tiga bagian: Pertama, akad tersebut seluruhnya dilakukan dengan sesuatu yang halal; kedua, akad tersebut seluruhnya dilakukan dengan sesuatu yang haram; dan ketiga, akad tersebut dilakukan dengan sesuatu yang haram dan halal sekaligus.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وهو أن تكون معقود بِحَلَالٍ كُلِّهِ وَذَلِكَ أَنْ يَعْقِدَاهَا بِمَا يَتَعَاقَدُ بِهِ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الْأَعْوَاضِ الْمُبَاحَةِ فَيُحْمَلَانِ عَلَيْهَا سَوَاءٌ أَقَامَا عَلَى النَّصْرَانِيَّةِ أَوْ أَسْلَمَا وَيُؤْخَذَانِ بِمُوجِبِهَا مِنْ عِتْقٍ بِالْأَدَاءِ أَوْ رِقٍّ بِالْعَجْزِ

Adapun bagian pertama, yaitu apabila akad dilakukan dengan seluruh hal yang halal, yaitu apabila keduanya melakukan akad dengan sesuatu yang biasa dijadikan alat tukar oleh kaum Muslimin dari harta yang mubah, maka keduanya diberlakukan hukum yang sama atasnya, baik mereka tetap dalam agama Nasrani maupun keduanya masuk Islam. Keduanya juga dikenai ketentuan akad tersebut, baik berupa pembebasan (’itq) jika mampu membayar, maupun tetap dalam perbudakan (riqq) jika tidak mampu.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَاهَا بِحَرَامٍ كُلِّهِ كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ الَّذِي يَرَوْنَهُ مَالًا وَلَا نَرَاهُ مَالًا وَلَهُمَا إِذَا أَسْلَمَا أَوْ أحدهما ثلاثة أَحْوَالٍ

Adapun bagian kedua, yaitu apabila keduanya melakukan akad dengan sesuatu yang seluruhnya haram, seperti khamr dan babi, yang mereka anggap sebagai harta sedangkan kita tidak menganggapnya sebagai harta, maka bagi keduanya apabila keduanya masuk Islam atau salah satunya masuk Islam, terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامُ بَعْدَ تَقَابُضِ جَمِيعِهِ فَالْعِتْقُ بِهِ وَاقِعٌ وَلَا تَرَاجُعَ بَيْنَهُمَا لِنُفُوذِهِ فِي الشِّرْكِ الْمَعْفُوِّ عَنْ عُقُودِهِمْ فِيهِ

Salah satunya adalah apabila Islam terjadi setelah seluruh transaksi telah dilakukan serah terima, maka pembebasan budak dengan sebab itu tetap sah dan tidak ada penarikan kembali di antara keduanya, karena transaksi tersebut telah berlaku pada masa syirik yang diampuni akad-akadnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ حُدُوثُ الْإِسْلَامِ مَعَ بَقَاءِ جَمِيعِهِ فَالْكِتَابَةُ بِهِ فَاسِدَةٌ وَإِنْ تَرَافَعَا فِيهَا إِلَى الْحَاكِمِ حَكَمَ بَيْنَهُمَا بِإِبْطَالِهَا فَإِنْ تَأَدَّاهَا مِنْهُ بَعْدَ إِبْطَالِ الْحُكْمِ لَهَا لَمْ يَقَعِ الْعِتْقُ وَإِنْ تَأَدَّاهَا قَبْلَ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِإِبْطَالِهَا وَقَعَ الْعِتْقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ لِحُصُولِهِ عَنْ عَقْدٍ فَاسِدٍ غَلَبَ فِيهِ حُكْمُ الصِّفَةِ وَكَانَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمُكَاتَبِ بِقِيمَتِهِ وَلَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى سَيِّدِهِ بِقِيمَةِ ما قبضه من خنزيرأو خَمْرٍ لِأَنَّهُ لَا قِيمَةَ لَهُ عِنْدَنَا فِي حَقِّ مُسْلِمٍ وَلَا كَافِرٍ وَلَوْ كَانَ الْخَمْرُ وَالْخِنْزِيرُ بَاقِيًا أُخِذَ بِإِرَاقَتِهِ وَقَتْلِ الْخِنْزِيرِ وَلَمْ يُؤْخَذْ بِرَدِّهِمَا

Keadaan kedua adalah apabila seseorang memeluk Islam sementara seluruh akad (muḳātabah) masih tetap berlangsung. Maka penulisan akad tersebut menjadi fasid (rusak/tidak sah). Jika keduanya mengajukan perkara ini kepada hakim, maka hakim memutuskan untuk membatalkannya. Jika pembayaran dilakukan setelah adanya keputusan hakim yang membatalkan akad, maka tidak terjadi ‘itq (pembebasan budak). Namun, jika pembayaran dilakukan sebelum hakim memutuskan pembatalan, maka terjadi ‘itq karena pembayaran tersebut berasal dari akad yang fasid, di mana hukum sifatnya lebih dominan. Dalam hal ini, tuan (sayyid) berhak menuntut nilai budak dari mukatab, tetapi mukatab tidak berhak menuntut kepada tuannya nilai dari apa yang telah diterimanya berupa babi atau khamar, karena menurut kami, keduanya tidak memiliki nilai dalam hukum Islam, baik bagi Muslim maupun non-Muslim. Jika khamar dan babi itu masih ada, maka keduanya harus dimusnahkan: khamar harus ditumpahkan dan babi harus dibunuh, dan tidak diwajibkan untuk mengembalikannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامُ بَعْدَ قَبْضِ بَعْضِهِ وَبَقَاءِ بَعْضِهِ فَالْكِتَابَةُ فَاسِدَةٌ وَالْمَقْبُوضُ لَا يُؤَثِّرُ فِي مَالِ الْكِتَابَةِ وَلَا يُعْتَدُّ فِي قِسْطِ الْقِيمَةِ

Keadaan ketiga adalah apabila Islam terjadi setelah sebagian harta telah diterima dan sebagian lainnya masih tersisa, maka akad kitābah menjadi fasid (batal), dan harta yang telah diterima tidak berpengaruh terhadap harta kitābah serta tidak diperhitungkan dalam bagian nilai.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ أَصَدَقَهَا فِي الشِّرْكِ خَمْرًا وَأَسْلَمَا بَعْدَ تَقَابُضِ بَعْضِهِ كَانَ الْمَقْبُوضُ مُعْتَدًّا بِقِسْطِهِ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ فَهَلَّا كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِمَثَابَتِهِ قِيلَ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ لَا يَتَبَعَّضُ حُكْمُهَا وَيَقِفُ أَوَّلُهَا عَلَى أَدَاءِ آخِرِهَا حَتَّى لَوْ أَدَّاهَا إِلَّا دِرْهَمًا عَجَزَ عَنْهُ كَانَ لَهُ اسْتِرْقَاقُهُ بِهِ كَمَا يَسْتَرِقُّهُ بِالْعَجْزِ عَنْ جَمِيعِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَكُنِ الْمَقْبُوضُ فِي الشِّرْكِ مُعْتَدًّا بِهِ مِنْ قِسْطِ الْكِتَابَةِ وَخَالَفَ الصَّدَاقَ الَّذِي يَتَبَعَّضُ حُكْمُهُ وَلَا يَقِفُ أَوَّلُهُ عَلَى آخِرِهِ فَكَانَ الْمَقْبُوضُ فِيهِ فِي الشِّرْكِ مُعْتَدًّا بِقِسْطِهِ مِنَ الْمَهْرِ وَإِذَا لَمْ يُعْتَدَّ بِالْمَقْبُوضِ مِنْهُ فِي الشِّرْكِ نَظَرَ فَإِنْ تَرَافَعَا إِلَى الْحَاكِمِ حَكَمَ بَيْنَهُمَا بِفَسْخِ الْكِتَابَةِ وَلَمْ يَعْتَدَّ فِيهَا بِأَدَاءِ الْبَاقِي وَإِنْ لَمْ يَتَرَافَعَا فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ قَبْضِ الْبَاقِي لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ أَنْ يُعَاوِضَ بِخَمْرٍ وَلَا خِنْزِيرٍ فَإِنْ قَبَضَهُ عَتَقَ بِهِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الصِّفَةِ وَرَجَعَ عَلَيْهِ بِجَمِيعِ قِيمَتِهِ

Jika dikatakan, “Bukankah jika seseorang menjadikan khamr sebagai mahar dalam akad syirk, lalu keduanya masuk Islam setelah sebagian mahar itu diterima, maka bagian yang telah diterima dianggap sebagai bagian dari mahar mitsil? Lalu mengapa hal itu tidak berlaku pada akad kitābah?” Maka dijawab: Karena hukum kitābah tidak dapat dibagi-bagi, dan bagian awalnya bergantung pada pelunasan bagian akhirnya. Sehingga, jika ia telah membayar kecuali satu dirham yang tidak mampu ia bayarkan, maka tuannya tetap berhak memperbudaknya kembali karena satu dirham itu, sebagaimana ia juga dapat memperbudaknya kembali jika tidak mampu membayar seluruhnya. Oleh karena itu, bagian yang telah diterima dalam akad syirk tidak dianggap sebagai bagian dari kitābah. Hal ini berbeda dengan mahar (ṣadaq), yang hukumnya dapat dibagi-bagi dan bagian awalnya tidak bergantung pada bagian akhirnya, sehingga bagian yang telah diterima dalam akad syirk dianggap sebagai bagian dari mahar. Jika bagian yang diterima dalam akad syirk tidak dianggap dalam kitābah, maka dilihat: jika keduanya mengadukan perkara kepada hakim, maka hakim memutuskan pembatalan akad kitābah dan tidak memperhitungkan sisa pembayaran. Namun jika keduanya tidak mengadukan perkara, maka tuan berhak menolak menerima sisa pembayaran, karena setelah masuk Islam tidak boleh lagi melakukan transaksi dengan khamr atau babi. Jika ia tetap menerima pembayaran itu, maka budak tersebut menjadi merdeka karenanya dengan mengutamakan hukum sifat, dan tuan berhak menuntut seluruh nilai barang tersebut.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَاهَا بِحَلَالٍ وَحَرَامٍ فَالْكِتَابَةُ فَاسِدَةٌ لِأَنَّ تَحْرِيمَ بَعْضِ الْعِوَضِ كَتَحْرِيمِ جَمِيعِهِ فِي فَسَادِ الْعَقْدِ وَإِذَا كان كذلك فلهما بعد الإسلام أربعة أَحْوَالٍ

Adapun bagian ketiga, yaitu apabila keduanya mengadakan akad dengan sebagian barang yang halal dan sebagian yang haram, maka akad tersebut rusak, karena pengharaman sebagian imbalan sama dengan pengharaman seluruhnya dalam hal kerusakan akad. Jika demikian keadaannya, maka setelah masuk Islam, keduanya memiliki empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامُ بَعْدَ تَقَابُضِ جَمِيعِهِ فَيَكُونَ الْعِتْقُ وَاقِعًا وَلَا تَرَاجُعَ

Salah satunya adalah apabila terjadi penyerahan secara penuh terlebih dahulu, kemudian baru terjadi islam (penyerahan hak). Maka, pembebasan (’itq) dianggap sah dan tidak ada penarikan kembali.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامُ قَبْلَ قَبْضِ جَمِيعِهِ فَالْكِتَابَةُ بَاطِلَةٌ فَإِنْ حَكَمَ بِإِبْطَالِهَا لَمْ يَصِحَّ الْعِتْقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِذَا حَصَلَ الْأَدَاءُ قَبْلَ التَّحَاكُمِ عَتَقَ بِهِ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الصِّفَةِ وَرَجَعَ السَّيِّدُ عَلَى الْمُكَاتَبِ بِقِيمَتِهِ وَرَجَعَ الْمُكَاتَبُ عَلَيْهِ بِمَا أَدَّى مِنَ الْعِوَضِ الْحَلَالِ دُونَ الْحَرَامِ وَإِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِ الْقِيمَةِ تَقَاصَّاهُ

Keadaan kedua adalah apabila akad kitābah dilakukan sebelum seluruh pembayaran diterima, maka akad tersebut batal. Jika diputuskan pembatalannya, maka tidak sah pembebasan budak (ʿitq) melalui pembayaran tersebut. Namun, jika pembayaran terjadi sebelum adanya keputusan hukum, maka budak menjadi merdeka karena mengutamakan hukum sifat (akad). Setelah itu, tuan dapat menuntut budak mukātab atas nilai dirinya, dan budak mukātab dapat menuntut tuannya atas pengganti (ʿiwaḍ) yang telah dibayarkan dari harta yang halal, bukan yang haram. Jika pengganti tersebut sejenis dengan nilai dirinya, maka keduanya saling mengurangi (kompensasi).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَقَابَضَا الْحَلَالَ وَيَبْقَى الْحَرَامُ فَتَكُونَ بَاطِلَةً فَإِنْ أَدَّى الْحَرَامَ قَبْلَ التَّحَاكُمِ عَتَقَ بِالصِّفَةِ وَتَرَاجَعَا

Keadaan ketiga adalah apabila kedua belah pihak saling menyerahkan bagian yang halal dan masih tersisa bagian yang haram, maka akad tersebut menjadi batal. Jika bagian yang haram telah diserahkan sebelum perkara dibawa ke pengadilan, maka pembebasan budak terjadi sesuai dengan sifatnya dan kedua belah pihak saling mengembalikan.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَتَقَابَضَا الْحَرَامَ فِي الشِّرْكِ وَيَبْقَى الْحَلَالُ فِي الْإِسْلَامِ فَفِي الْكِتَابَةِ وَجْهَانِ

Keadaan keempat adalah apabila keduanya saling menerima (barang) yang haram dalam kemusyrikan dan yang halal tetap ada dalam Islam, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat di kalangan para ulama.

أَحَدُهَا يَحْكُمُ بِصِحَّتِهَا لِأَنَّ الْحَرَامَ بِقَبْضِهِ فِي الشَّرَكِ قَدْ صَارَ عَفْوًا وَالْبَاقِي مِنَ الْحَلَالِ فِي الْإِسْلَامِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عِوَضًا فَعَلَى هَذَا يُؤَدِّي الْمُكَاتَبُ الْحَلَالَ وَيَعْتِقُ بِهِ وَلَا تَرَاجُعَ فِيهِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa akad tersebut sah, karena harta haram yang telah diterima dalam kemitraan telah menjadi dimaafkan, dan sisanya yang halal dalam Islam boleh dijadikan sebagai pengganti. Berdasarkan pendapat ini, maka mukatab membayar dengan harta yang halal dan ia merdeka karenanya, serta tidak ada peninjauan kembali dalam hal ini.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُحْكَمُ بِفَسَادِ الْكِتَابَةِ لِأَنَّ الْحَلَالَ بَعْضُ الْعِوَضِ فِي عَقْدٍ فَاسِدٍ وَلِلسَّيِّدِ إِبْطَالُهَا لِئَلَّا يُعْتَقَ بِأَدَائِهَا وَيَصِيرَ عَبْدًا فَإِنْ لَمْ يُبْطِلْهَا وَلَا حَكَمَ بِإِبْطَالِهَا حَاكِمٌ عَتَقَ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَرَجَعَ السَّيِّدُ بِقِيمَتِهِ وَرَجَعَ الْمُكَاتَبُ بِمَا أَدَّاهُ وَكَانَ قِصَاصًا إن تجانس والله أعلم

Pendapat kedua menyatakan bahwa akad kitābah dianggap batal karena sebagian imbalan dalam akad tersebut adalah halāl, namun akadnya sendiri fasid. Tuannya berhak membatalkan akad tersebut agar budak tidak merdeka dengan pembayaran itu dan tetap menjadi budak. Namun, jika tuan tidak membatalkannya, dan tidak ada hakim yang memutuskan pembatalan, maka budak menjadi merdeka dengan pembayaran tersebut. Setelah itu, tuan berhak menuntut nilai budak, dan budak berhak menuntut kembali apa yang telah dibayarkannya. Hal ini dianggap sebagai qishāsh jika keduanya sejenis. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ اشْتَرَى مُسْلِمًا فَكَاتَبَهُ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْكِتَابَةَ بَاطِلَةٌ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِإِخْرَاجٍ لَهُ مِنْ مِلْكِهِ تَامٌّ فَإِنْ أَدَّى جَمِيعَ الْكِتَابَةِ عَتَقَ بِكِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ وَتَرَاجَعَا كَمَا وَصَفْتُ وَالْقَوْلُ الْآخَرُ أَنَّهَا جَائِزَةٌ فَمَتَى عَجَزَ بِيعَ عَلَيْهِ قال المزني القول الآخر أشبه بقوله لأنه ممنوع من النصراني بكتابته وعسى أن يؤدي فيعتق فإن عجز رق وبيع مكانه وفي تثبيته الكتابة إذا أسلم العبد ومولاه نصراني على ما قلت دليل وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membeli seorang Muslim lalu mempersyaratkan mukātabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran bertahap) kepadanya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa mukātabah tersebut batal, karena itu bukanlah pelepasan kepemilikan secara sempurna. Jika ia melunasi seluruh pembayaran mukātabah, maka ia merdeka dengan mukātabah yang rusak, dan keduanya saling mengembalikan seperti yang telah aku jelaskan. Pendapat lain menyatakan bahwa mukātabah itu sah, sehingga apabila ia tidak mampu membayar, maka ia dijual atasnya.” Al-Muzani berkata: “Pendapat yang kedua lebih sesuai dengan pendapat Imam Syafi‘i, karena ia dilarang dari orang Nasrani melalui mukātabahnya, dan bisa jadi ia melunasi pembayaran lalu merdeka. Jika ia tidak mampu, maka ia kembali menjadi budak dan dijual sebagai gantinya. Dalam penetapan mukātabah apabila budak itu masuk Islam dan tuannya seorang Nasrani, sebagaimana yang telah aku sebutkan, terdapat dalil. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا اشْتَرَى النَّصْرَانِيُّ عَبْدًا مُسْلِمًا فَفِي عَقْدِ الشِّرَاءِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Adapun jika seorang Nasrani membeli seorang budak Muslim, maka dalam akad jual belinya terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا بَاطِلٌ لَا يَثْبُتُ لَهُ عَلَيْهِ مِلْكٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ كِتَابَةٌ وَإِنْ كُوتِبَ لَمْ يَعْتِقْ فِيهَا بِالْأَدَاءِ لَا عَلَى صِحَّةٍ وَلَا عَلَى فَسَادٍ

Salah satunya adalah batal, tidak tetap kepemilikan atasnya, dan tidak berlaku penulisan (akad) atasnya. Jika pun dilakukan penulisan, maka tidak terjadi pembebasan (kemerdekaan) di dalamnya dengan pembayaran, baik secara sah maupun tidak sah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الشِّرَاءَ صَحِيحٌ لَكِنْ لَا يُقَرُّ عَلَى مِلْكِهِ لِئَلَّا يَثْبُتَ لَهُ عَلَيْهِ صَغَارٌ وَيُؤْخَذُ بِإِزَالَةِ مِلْكِهِ عَنْهُ إِمَّا بِبَيْعٍ أَوْ عِتْقٍ الْخِيَارُ إِلَى السَّيِّدِ فِي الْبَيْعِ أَوِ الْعِتْقِ فَإِذَا فَعَلَ أَحَدَهُمَا زَالَ الِاعْتِرَاضُ عَنْهُ وَإِنْ دَبَّرَهُ وَلَمْ يُعْتِقْهُ لَمْ يُقَرَّ عَلَى تَدْبِيرِهِ لِمَا فِي التَّدْبِيرِ مِنِ اسْتِدَامَةِ رِقِّهِ مُدَّةَ حَيَّاتِهِ وَإِنْ كَاتَبَهُ فَفِي صِحَّةِ الْكِتَابَةِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa jual beli tersebut sah, namun tidak dibenarkan untuk tetap dimiliki olehnya agar tidak menetapkan adanya kekuasaan (shighār) atasnya. Maka, ia diwajibkan untuk menghilangkan kepemilikannya atas budak tersebut, baik dengan menjualnya atau memerdekakannya, dan pilihan antara menjual atau memerdekakan itu berada di tangan tuan. Jika ia melakukan salah satu dari keduanya, maka tidak ada lagi keberatan terhadapnya. Jika ia mentadbirkan budak itu (yaitu menjanjikan kemerdekaan setelah kematian tuan) namun tidak memerdekakannya secara langsung, maka tadbir tersebut tidak dibenarkan, karena dalam tadbir terdapat keberlanjutan status budak selama hidup tuannya. Jika ia melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran cicilan), maka dalam keabsahan mukatabah itu terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّ الْكِتَابَةَ صَحِيحَةٌ لِأَمْرَيْنِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa al-kitābah itu sah karena dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا قَدْ رَفَعَتْ عَنْهُ يَدَ السَّيِّدِ فَزَالَ عَنْهُ الصَّغَارُ

Salah satunya adalah bahwa perbudakan telah diangkat darinya sehingga hilanglah kehinaan darinya.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَوْ كَاتَبَهُ فِي النَّصْرَانِيَّةِ ثُمَّ أَسْلَمَ أُقِرَّ على الكتابة فكذلك إن كَانَ الْإِسْلَامُ قَبْلَ الْكِتَابَةِ

Kedua, jika seseorang melakukan mukātabah dengan budaknya dalam keadaan budak tersebut masih beragama Nasrani, kemudian budak itu masuk Islam, maka ia tetap diakui dalam perjanjian mukātabah tersebut; demikian pula jika Islamnya terjadi sebelum perjanjian mukātabah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْكِتَابَةَ فَاسِدَةٌ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa akad kitābah batal karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ بَقَاءَ الرِّقِّ وَثُبُوتَ الْحَجْرِ صَغَارٌ وَالْكِتَابَةُ لَا تَرْفَعُ الرِّقَّ وَلَا تَمْنَعُ الْحَجْرَ فَلَمْ تَصِحَّ

Salah satu alasannya adalah bahwa tetapnya status budak dan berlakunya pembatasan (hajr) merupakan bentuk kehinaan, sedangkan kitabah tidak menghapus status budak dan tidak mencegah adanya pembatasan, sehingga tidak sah.

وَالثَّانِي أَنَّ رَفْعَ الصَّغَارِ عَنِ الْمُسْلِمِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى لَا مِنْ حُقُوقِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ لِأَنَّ رضى الْعَبْدِ بِهِ غَيْرُ مُؤَثِّرٍ فَلَمَّا لَمْ يُقَرَّ الصَّغَارُ مُؤَبَّدًا لَمْ يُقَرَّ إِلَى غَايَةٍ

Kedua, bahwa penghapusan hukuman atas pelanggaran kecil dari seorang Muslim termasuk hak Allah Ta‘ala, bukan termasuk hak hamba Muslim, karena kerelaan hamba terhadapnya tidak berpengaruh. Maka, ketika pelanggaran kecil tidak diakui secara permanen, maka tidak pula diakui untuk jangka waktu tertentu.

فَأَمَّا إِذَا كَاتَبَهُ فِي النَّصْرَانِيَّةِ ثُمَّ أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَإِنَّمَا تُقَرُّ الْكِتَابَةُ وَلَا يُبَاعُ فِيهَا لِأَنَّهَا عُقِدَتْ فِي وَقْتِ الْجَوَازِ ثُمَّ طَرَأَ الْإِسْلَامُ عَلَى مُكَاتَبٍ لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ فَلِذَلِكَ أُقِرَّتْ وَإِذَا عُقِدَتْ بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَقَدْ عُقِدَتْ عَلَى عَبْدٍ وَجَبَ بَيْعُهُ فَلِذَلِكَ بَطَلَتْ وَلَكِنْ لَوْ أَسْلَمَ الْعَبْدُ النَّصْرَانِيُّ ثُمَّ كُوتِبَ كَانَتْ كِتَابَتُهُ عَلَى الْقَوْلَيْنِ الْمَاضِيَيْنِ لِلتَّعْلِيلِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ تَوْجِيهًا وَفَرْقًا

Adapun jika seseorang melakukan mukātabah terhadap budak yang beragama Nasrani, kemudian budak tersebut masuk Islam, maka akad mukātabah itu tetap berlaku dan tidak boleh dijual di dalamnya, karena akad tersebut dilakukan pada waktu masih diperbolehkan, lalu setelah itu Islam datang kepada budak mukātab yang tidak boleh dijual, maka sebab itulah akad tersebut tetap berlaku. Namun, jika akad dilakukan setelah budak masuk Islam, maka akad itu dilakukan terhadap budak yang wajib dijual, sehingga akad tersebut batal. Akan tetapi, jika budak Nasrani itu masuk Islam kemudian dilakukan mukātabah, maka hukumnya kembali kepada dua pendapat yang telah lalu, berdasarkan alasan yang telah kami sebutkan sebagai penjelasan dan pembedaan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ الْقَوْلَانِ فَإِنْ قُلْنَا بِصِحَّةِ الْكِتَابَةِ رُوعِيَ حَالُهَا فَإِنْ أَدَّاهَا الْمُكَاتَبُ وَعَتَقَ زَالَ الِاعْتِرَاضُ عَنِ السَّيِّدِ وَكَانَ لَهُ الْوَلَاءُ وَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ أَخَذَ السَّيِّدُ حِينَئِذٍ بِإِزَالَةِ مِلْكِهِ عَنْهُ بِبَيْعٍ أَوْ هِبَةٍ أَوْ عتق فإن لم يفعل واحد مِنْهَا بِيعَ عَلَيْهِ جَبْرًا وَلَمْ يُعْتَقْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ مِلْكٌ لَهُ فَلَا يُسْتَهْلَكُ عَلَيْهِ وَإِنْ قلنا بفساد الكتابة منع في الحال مع إِقْرَارِهِ عَلَى تَمَلُّكِهِ وَأُخِذَ بِإِزَالَةِ مِلْكِهِ فَإِنْ تَأَخَّرَ الْمَالِكُ حَتَّى أَدَّى الْمَكَاتَبُ كِتَابَتُهُ عَتَقَ فِي كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ فَيَرْجِعُ السَّيِّدُ عَلَيْهِ بِقِيمَتِهِ فَيَرْجِعُ الْمُكَاتَبُ بِمَا أَدَّى مِنْ كِتَابَتِهِ وَيَتَقَاصَّانِهِ إن تجانسا والله أعلم

Jika kedua pendapat tersebut telah dijelaskan, maka apabila kita berpendapat bahwa akad kitābah itu sah, maka dilihat keadaannya: jika mukatab membayar (tebusan) dan ia merdeka, maka tidak ada lagi keberatan dari tuan, dan hak wala’ tetap menjadi miliknya. Namun jika ia tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka pada saat itu tuan wajib menghilangkan kepemilikannya atas budak tersebut, baik dengan menjual, menghadiahkan, atau memerdekakannya. Jika ia tidak melakukan salah satu dari hal itu, maka budak tersebut dijual secara paksa dan tidak dimerdekakan atasnya, karena budak itu adalah miliknya, sehingga tidak boleh dihabiskan begitu saja. Dan jika kita berpendapat bahwa akad kitābah itu batal, maka pada saat itu dicegah (kitābah) dengan tetap mengakui kepemilikan tuan, dan tuan diwajibkan menghilangkan kepemilikannya. Jika pemilik menunda hingga mukatab membayar tebusan kitābahnya, maka ia merdeka meskipun dalam akad kitābah yang batal, dan tuan berhak menuntut nilai budak tersebut, lalu mukatab berhak menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan dari tebusan kitābahnya, dan keduanya saling mengkompensasikan jika nilainya sepadan. Dan Allah Maha Mengetahui.

كتابه الحربي

Kitabnya orang harbi

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه إِذَا كَاتَبَ الْحَرْبِيُّ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ ثُمَّ خَرَجَا مُسْتَأْمَنَيْنِ أُثْبِتُهَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَحْدَثَ لَهُ قَهْرًا فِي إِبْطَالِ كِتَابَتِهِ فَالْكِتَابَةُ بَاطِلَةٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang harbi melakukan mukatabah terhadap budaknya di wilayah harb, kemudian keduanya keluar dengan status musta’man, maka aku menetapkan (keabsahan) mukatabah tersebut, kecuali jika ia melakukan pemaksaan baru untuk membatalkan mukatabahnya, maka mukatabah itu batal.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ وَأَصْلُ ذَلِكَ أَنَّ أَهْلَ الْحَرْبِ يَمْلِكُونَ مِلْكًا صَحِيحًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ

Al-Mawardi berkata, “Dan hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, dan asal dari permasalahan tersebut adalah bahwa ahl al-harb memiliki kepemilikan yang sah menurut pendapat al-Syafi‘i.”

وَقَالَ مَالِكٌ لَا يَمْلِكُونَ

Dan Malik berkata, “Mereka tidak memiliki (hak kepemilikan).”

وَقَالَ أبو حنيفة يملكون ملكا ضعيف وَلِلْكَلَامِ عَلَيْهَا مَوْضِعٌ قَدْ تَقَدَّمَ وَفِي قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ الأحزاب 27 دَلِيلٌ كَافٍ لِأَنَّهُ أَضَافَ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ إِضَافَةَ مِلْكٍ تَامٍّ

Abu Hanifah berpendapat bahwa mereka memiliki kepemilikan yang lemah, dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Dalam firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka” (Al-Ahzab: 27), terdapat dalil yang cukup, karena Allah telah menyandarkan hal itu kepada mereka dengan penyandaran kepemilikan yang sempurna.

وَإِذَا ثَبَتَ مِلْكُ الْحَرْبِيِّ فَكَاتَبَ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ صَحَّتْ كِتَابَتُهُ لِأَنَّ الكتابة عتق بعرض يَمْلِكُ الْحَرْبِيُّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَمَلَكَ الْجَمْعَ بَيْنَهُمَا فَإِذَا دَخَلَ الْحَرْبِيُّ بِمُكَاتَبِهِ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِحَالِهَا وَلَا يُعْتَرَضُ عَلَيْهِمَا فِيهَا مَا لَمْ يَتَرَافَعَا فِيهَا إِلَيْنَا فَإِنْ تَرَافَعَا إِلَيْنَا اعْتَبَرْنَاهَا فَإِنْ عُقِدَتْ بِمَا تَصِحُّ بِهِ كِتَابَةُ الْمُسْلِمِ حُكِمَ بِصِحَّتِهَا وَإِنْ عُقِدَتْ بِمَا لَا تَصِحُّ بِهِ كِتَابَةُ الْمُسْلِمِ حُكِمَ بِفَسَادِهَا

Apabila kepemilikan seorang harbi telah tetap, lalu ia melakukan mukatabah terhadap hambanya di wilayah dar al-harb, maka mukatabah tersebut sah, karena mukatabah adalah pembebasan budak dengan imbalan tertentu yang masing-masing dapat dimiliki oleh harbi, sehingga ia berhak menggabungkan keduanya. Jika kemudian orang harbi tersebut bersama mukatabnya masuk ke wilayah dar al-Islam, maka akad mukatabah tetap berlaku sebagaimana adanya dan tidak ada keberatan terhadap keduanya selama mereka tidak mengajukan perkara tersebut kepada kita. Namun, jika mereka mengajukan perkara itu kepada kita, maka kita akan meninjaunya; jika akad tersebut dilakukan dengan cara yang sah menurut ketentuan mukatabah bagi seorang muslim, maka diputuskan sah; tetapi jika akad tersebut dilakukan dengan cara yang tidak sah menurut ketentuan mukatabah bagi seorang muslim, maka diputuskan batal.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا أَحْدَثَ لَهُ السَّيِّدُ قَهْرًا أَبْطَلَ بِهِ كِتَابَتَهُ رُوعِيَ حَالُ قَهْرِهِ وَإِبْطَالِهِ لِكِتَابَتِهِ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي دَارِ الْحَرْبِ نَفَذَ حُكْمُ قَهْرِهِ وَبَطَلَ مَا عَقَدَهُ مِنْ كِتَابَتِهِ لِأَنَّ دَارَ الْحَرْبِ دَارُ إِبَاحَةٍ وَمَنْ تَغَلَّبَ فِيهَا عَلَى شَيْءٍ مَلَكَهُ أَلَا تَرَى أَنَّ عَبْدًا لَوْ تَغَلَّبَ عَلَى سَيِّدِهِ فِي دَارِ الْحَرْبِ فَاسْتَرَقَّهُ وَدَخَلَ بِهِ دَارَ الْإِسْلَامِ مَلَكَهُ وَصَارَ الْعَبْدُ حُرًّا مَالِكًا

Adapun jika tuannya melakukan tindakan pemaksaan yang membatalkan akad kitābah-nya, maka yang diperhatikan adalah keadaan saat pemaksaan dan pembatalan akad kitābah tersebut. Jika hal itu dilakukan di wilayah perang (dār al-ḥarb), maka berlaku hukum pemaksaan tersebut dan batal apa yang telah diakadkan dalam kitābah-nya, karena dār al-ḥarb adalah wilayah yang membolehkan (kepemilikan), dan siapa pun yang menguasai sesuatu di dalamnya maka ia memilikinya. Tidakkah engkau melihat bahwa seorang budak, jika ia mengalahkan tuannya di dār al-ḥarb lalu memperbudaknya dan membawanya masuk ke dār al-Islām, maka ia menjadi pemiliknya dan budak itu menjadi orang merdeka yang memiliki (tuannya)?

لِسَيِّدِهِ والسيد مملوكا لعبده كذلك عليه السَّيِّدِ عَلَى مُكَاتَبِهِ وَإِبْطَالُهُ لِكِتَابَتِهِ تَشَارُكٌ عَلَى تَغْلِيبِهِ وَقَهْرِهِ فَإِذَا دَخَلَا بَعْدَ ذَلِكَ دَارَ الْإِسْلَامِ أُقِرَّا عَلَى مَا خَرَجَا عَلَيْهِ مِنْ دَارِ الْحَرْبِ وَبَطَلَتِ الْكِتَابَةُ وَلَمْ يُعْتَقْ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ دَخَلَا دَارَ الْإِسْلَامِ وَهُمَا عَلَى الْكِتَابَةِ ثُمَّ اسْتَأْنَفَ السَّيِّدُ فِيهَا فَسْخَ الْكِتَابَةِ غَلَبَةً وَقَهْرًا لَمْ تَنْفَسِخْ وَكَانَتْ عَلَى لُزُومِهَا وَيُؤْخَذُ السَّيِّدُ بِحُكْمِهَا بِخِلَافِ فِعْلِهِ فِي دَارِ الْحَرْبِ لِأَنَّ دَارَ الْإِسْلَامِ دَارَ عَدْلٍ وَأَمَانٍ وَدَارَ الْحَرْبِ دَارُ غَلَبَةٍ وَقَهْرٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مَنَعَتْ دَارُ الْإِسْلَامِ مَا فِيهَا وَأَبَاحَتْ دَارُ الشرك ما فيها

Bagi tuannya, dan tuan itu adalah milik bagi hambanya, demikian pula berlaku atas tuan terhadap mukatab-nya (budak yang sedang dalam proses pembebasan melalui perjanjian), dan pembatalan perjanjian mukatab itu merupakan bentuk saling berbagi dalam hal dominasi dan pemaksaan. Maka jika keduanya (tuan dan mukatab) masuk ke Darul Islam setelah sebelumnya keluar dari Darul Harb, keduanya tetap berada pada keadaan sebagaimana saat keluar dari Darul Harb, dan perjanjian mukatab menjadi batal serta tidak terjadi pembebasan budak dengan pembayaran. Namun, jika keduanya masuk ke Darul Islam dalam keadaan masih terikat perjanjian mukatab, kemudian tuan memulai kembali pembatalan perjanjian mukatab secara dominan dan memaksa, maka perjanjian itu tidak batal dan tetap mengikat, serta tuan harus tunduk pada ketentuan perjanjian tersebut, berbeda dengan apa yang terjadi di Darul Harb. Sebab, Darul Islam adalah negeri keadilan dan keamanan, sedangkan Darul Harb adalah negeri dominasi dan pemaksaan. Nabi ﷺ bersabda: “Darul Islam melindungi apa yang ada di dalamnya, dan Darul syirik membolehkan apa yang ada di dalamnya.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَ السَّيِّدُ مُسْلِمًا فَالْكِتَابَةُ ثَابِتَةٌ فَإِنْ سُبِيَ لَمْ يَكُنْ رَقِيقًا لِأَنَّ لَهُ أَمَانًا مِنْ مُسْلِمٍ بِعِتْقِهِ إِيَّاهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuan (pemilik budak) adalah seorang Muslim, maka status kitābah tetap berlaku. Jika budak tersebut tertawan, ia tidak menjadi budak (kembali), karena ia memiliki jaminan keamanan dari seorang Muslim melalui pembebasannya terhadap budak itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مُسْلِمٍ كَاتَبَ عَبْدًا لَهُ حَرْبِيًّا فَالْكِتَابَةُ لَازِمَةٌ وَلَيْسَ لَهُ فَسْخُهَا عَلَيْهِ فِي دَارِ الْحَرْبِ لِأَنَّ أَحْكَامَ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ جَارِيَةٌ فَلَوْ دَخَلَ بِعَبْدِهِ دَارَ الْإِسْلَامِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِحَالِهَا لَمْ تَزِدْهَا دَارُ الْإِسْلَامِ إِلَّا تَأْكِيدًا وَلِلْعَبْدِ أَمَانٌ عَلَى نَفْسِهِ بِمِلْكِ الْمُسْلِمِ لَهُ وَلَا تُؤْخَذُ مِنْهُ جِزْيَةٌ وَإِنْ طَالَ مَقَامُهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا جِزْيَةَ عَلَيْهِ فَيُرَاعَى حَالُ كِتَابَتِهِ فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا رَقَّ وَكَانَ عَبْدًا لِسَيِّدِهِ وَإِنْ أَدَّى وَعَتَقَ صَارَ حُرًّا وَعَلَيْهِ الْوَلَاءُ لِسَيِّدِهِ وَلَا يُقَرُّ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ إِلَّا بِجِزْيَةٍ لِأَنَّهُ حُرٌّ فَإِنْ عَادَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ فَسُبِيَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْتَرَقَّ وَكَانَ السَّابِي عَلَى خِيَارِهِ بَيْنَ قَتْلِهِ أَوْ أَخْذِ فِدَائِهِ أَوِ الْمَنِّ عَلَيْهِ وَيَكُونُ فِيهِ مَمْنُوعًا مِنَ الِاسْتِرْقَاقِ وَحْدَهُ لِأَنَّ فِي اسْتِرْقَاقِهِ إِبْطَالًا لِوَلَائِهِ الَّذِي قَدْ مَلَكَهُ مُسْلِمٌ فَلَمْ يَجُزْ

Al-Mawardi berkata: Adapun bentuk kasusnya adalah seorang Muslim melakukan mukatabah terhadap budaknya yang merupakan seorang harbi, maka akad mukatabah itu tetap berlaku dan tidak boleh dibatalkan atasnya selama ia berada di Dar al-Harb, karena hukum-hukum Islam tetap berlaku atasnya. Jika ia membawa budaknya masuk ke Dar al-Islam, maka akad mukatabah tetap sebagaimana adanya, dan keberadaan di Dar al-Islam hanya semakin menegaskan akad tersebut. Budak tersebut mendapatkan jaminan keamanan atas dirinya karena dimiliki oleh seorang Muslim, dan tidak diambil darinya jizyah meskipun ia tinggal lama di Dar al-Islam, karena budak tidak dikenai jizyah. Maka, keadaan mukatabah-nya tetap diperhatikan; jika ia tidak mampu melunasinya, ia kembali menjadi budak bagi tuannya, dan jika ia mampu melunasinya dan merdeka, maka ia menjadi orang merdeka dan tetap memiliki wala’ kepada tuannya. Ia tidak boleh tetap tinggal di Dar al-Islam kecuali dengan membayar jizyah karena ia telah menjadi orang merdeka. Jika ia kembali ke Dar al-Harb lalu tertawan, maka tidak boleh diperbudak lagi, dan orang yang menawannya memiliki pilihan antara membunuhnya, mengambil tebusan, atau membebaskannya, dan ia tidak boleh diperbudak sendirian, karena memperbudaknya berarti membatalkan wala’ yang telah dimiliki oleh seorang Muslim, sehingga hal itu tidak diperbolehkan.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ لَوْ سُبِيَ حَرْبِيٌ هُوَ ابْنٌ لِمُسْلِمٍ جَازَ اسْتِرْقَاقُهُ فَمَا الْفَرْقُ قِيلَ لِأَنَّ النَّسَبَ لَا يَبْطُلُ بِالِاسْتِرْقَاقِ وَالْوَلَاءَ يَبْطُلُ بِالِاسْتِرْقَاقِ فَإِنْ قِيلَ فَمَا الْحُكْمُ فِي الْمُسْلِمِ إِذَا كَانَتْ لَهُ زَوْجَةٌ حَرْبِيَّةٌ فَسُبِيَتْ أَفَيَنْفَسِخُ نِكَاحُهَا بِالسَّبْيِ أَمْ يَكُونُ بَاقِيًا لِلْمُسْلِمِ كَالْوَلَاءِ قِيلَ قَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika dikatakan: Bukankah jika seorang harbi yang merupakan anak dari seorang Muslim ditawan, maka boleh diperbudak? Lalu apa perbedaannya? Dijawab: Karena nasab tidak batal dengan perbudakan, sedangkan wala’ batal dengan perbudakan. Jika ditanyakan: Lalu bagaimana hukum seorang Muslim yang memiliki istri harbi, kemudian istrinya itu ditawan? Apakah pernikahannya batal karena penawanan itu, ataukah tetap berlaku bagi Muslim tersebut seperti halnya wala’? Dijawab: Para sahabat kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَكُونُ بَاقِيًا

Salah satunya adalah bahwa ia tetap ada.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا النِّكَاحُ يَلْحَقُهُ الْفَسْخُ بِالْعُيُوبِ فَجَازَ أَنْ يَلْحَقَهُ الْفَسْخُ بِالسَّبْيِ وَالْوَلَاءُ لَا يَلْحَقُهُ الْفَسْخُ وَلَا يَزُولُ بَعْدَ ثُبُوتِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ تَزَلْ بِالسَّبْيِ فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يُفْسَخُ النِّكَاحُ بِالسَّبْيِ وَالْمُسْلِمُ لَوِ اسْتَأْجَرَ مِنْ دَارِ الْحَرْبِ دَابَّةً فَغُنِمَتْ لَمْ تَبْطُلْ إِجَارَتُهُ وَالنِّكَاحُ أَوْكَدُ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa nikah dapat dibatalkan karena adanya cacat, sehingga boleh juga dibatalkan karena sebab tawanan, sedangkan wala’ tidak dapat dibatalkan dan tidak hilang setelah tetap, maka karena itu wala’ tidak hilang karena sebab tawanan. Jika ada yang bertanya: bagaimana mungkin nikah bisa dibatalkan karena sebab tawanan, sedangkan seorang Muslim jika menyewa hewan dari negeri perang lalu hewan itu menjadi rampasan perang, sewanya tidak batal, padahal nikah lebih kuat (kedudukannya)?

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا هُوَ أَنَّ الْإِجَارَةَ مُدَّةٌ لَا يَسْتَدِيمُ بِهَا الضَّرَرُ عَلَى الْغَانِمِينَ فَلَزِمَتْ إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّتِهَا وَلَيْسَ تَنْقَطِعُ مُدَّةُ النِّكَاحِ لِتَأْبِيدِهَا فَانْفَسَخَ لِاسْتِدَامَةِ ضَرَرِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa ijārah (sewa-menyewa) memiliki jangka waktu tertentu sehingga mudaratnya tidak terus-menerus menimpa para pihak yang mendapatkan keuntungan, maka ijārah tetap berlaku hingga masa waktunya habis. Sedangkan masa pernikahan (nikāḥ) tidak terputus karena sifatnya yang abadi, sehingga pernikahan itu batal karena mudaratnya yang terus-menerus. Dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَهُ الْمُسْتَأْمَنُ عِنْدَنَا وَأَرَادَ إِخْرَاجَهُ مُنِعَ وَقِيلَ إِنْ أَقَمْتَ فَأَدِّ الْجِزْيَةَ وَإِلَّا فَوَكِّلْ بِقَبْضِ نُجُومِهِ فَإِنْ أَدَّى عَتَقَ وَالْوَلَاءُ لَكَ وَإِنْ مِتُّ دُفِعَتْ إِلَى وَرَثَتِكَ وَقَالَ فِي كِتَابِ السِّيَرِ يَكُونُ مَغْنُومًا قَالَ الْمُزَنِيُّ الْأَوَّلُ أولى لأنه إذا كان في دار الحرب حَيًّا لَا يُغْنَمُ مَالُهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ لِأَنَّهُ مَالٌ لَهُ أَمَانٌ فَوَارِثُهُ فِيهِ بِمَثَابَتِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang musta’man (non-Muslim yang mendapat jaminan keamanan) melakukan mukātabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) menurut kami, lalu ia ingin membawanya keluar (dari wilayah Islam), maka hal itu dicegah. Dikatakan kepadanya: “Jika kamu tetap tinggal, bayarlah jizyah, jika tidak, wakilkanlah kepada seseorang untuk menerima cicilan pembayarannya. Jika ia melunasi, maka ia merdeka dan walā’ (hak perwalian) menjadi milikmu. Jika aku meninggal, maka hak itu diserahkan kepada ahli warismu.” Dalam Kitab al-Siyar disebutkan bahwa budak tersebut menjadi harta rampasan. Al-Muzani berkata: Pendapat pertama lebih utama, karena jika ia berada di negeri perang dalam keadaan hidup, hartanya tidak menjadi harta rampasan di negeri Islam, karena harta itu memiliki jaminan keamanan. Maka ahli warisnya tetap berhak atasnya sebagaimana kedudukannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا دَخَلَ الْحَرْبِيُّ بِعَبْدِهِ دَارَ الْإِسْلَامِ مُسْتَأْمِنًا ثُمَّ كَاتَبَ عَبْدَهُ وَأَرَادَ الرُّجُوعَ بِهِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ بَعْدَ كِتَابَتِهِ فَإِنْ سَاعَدَهُ الْمَكَاتَبُ لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الرُّجُوعِ مَعَهُ وَإِنْ لَمْ يُسَاعِدْهُ وَاسْتَعْدَانَا عَلَيْهِ مَنَعْنَاهُ مِنْ إِخْرَاجِهِ مَعَهُ لِأَنَّ دَارَ الْإِسْلَامِ تَجْرِي عَلَى الْعُقُودِ فِيهَا أَحْكَامُ الْوَفَاءِ بِهَا وَهُوَ إِذَا خَرَجَ بِهِ لَمْ يُؤْمَنْ أَنْ يَغْلِبَهُ عَلَى إِبْطَالِ كِتَابَتِهِ فَلِذَلِكَ مُنِعَ وَلِأَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ قَدْ مَنَعَ سَيِّدَهُ مِنْهُ فَصَارَ لَهُ مَالُ الْكِتَابَةِ دَيْنًا عَلَيْهِ وَمَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ لَا يَلْزَمُهُ السَّفَرُ مَعَ صَاحِبِ الدَّيْنِ وَلَوْ كَانَ الْحَرْبِيُّ قَدْ كَاتَبَ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ ثُمَّ دَخَلَ إِلَيْنَا بِعَبْدِهِ مُسْتَأْمِنًا لَمْ يُمْنَعْ مِنْ رَدِّهِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ لِأَنَّهُ عَقْدٌ لَمْ تَجْرِ عَلَيْهِ حُرْمَةُ الْإِسْلَامِ فَافْتَرَقَا

Al-Mawardi berkata: Ini sebagaimana yang ia katakan, yaitu apabila seorang harbi masuk ke Dar al-Islam bersama hambanya dengan status musta’min, kemudian ia melakukan mukatabah terhadap hambanya dan ingin kembali bersama hambanya itu ke Dar al-Harb setelah melakukan mukatabah, maka jika hamba mukatab tersebut bersedia membantunya, ia tidak dilarang untuk kembali bersamanya. Namun, jika hamba mukatab itu tidak bersedia membantunya dan meminta perlindungan kepada kita terhadap tuannya, maka kita melarang tuannya membawa keluar hamba itu bersamanya, karena di Dar al-Islam berlaku hukum-hukum pemenuhan akad, dan jika ia keluar bersama hambanya, dikhawatirkan ia akan memaksanya untuk membatalkan akad mukatabah tersebut. Oleh karena itu, ia dilarang melakukannya. Selain itu, akad mukatabah telah mencegah tuannya dari mengambil hamba itu, sehingga harta mukatabah menjadi utang atas hamba tersebut, dan siapa yang memiliki utang tidak wajib bepergian bersama pemilik utang. Jika seorang harbi telah melakukan mukatabah terhadap hambanya di Dar al-Harb, kemudian ia masuk ke negeri kita bersama hambanya dengan status musta’min, maka ia tidak dilarang untuk mengembalikan hambanya ke Dar al-Harb, karena akad tersebut belum berlaku perlindungan hukum Islam atasnya, sehingga keduanya dipisahkan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا وَأَنَّ الْحَرْبِيَّ مَمْنُوعٌ مِنْ إِخْرَاجِ مَنْ كَاتَبَهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ وَإِنْ لَمْ يُمْنَعْ مِنْ إِخْرَاجِ مَنْ كَاتَبَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ قِيلَ لِلْحَرْبِيِّ بَعْدَ مَنْعِهِ مِنْ إِخْرَاجِ مُكَاتَبِهِ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ أَنْتَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ تُقِيمَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ لِاسْتِيدَاءِ مَالِ الْكِتَابَةِ وَبَيْنَ أَنْ تُوَكِّلَ مَنْ يَقْبَضُهُ لَكَ فَتَرْجِعَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ فَإِنْ أَرَادَ الْمُقَامَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ مُنِعَ مِنَ اسْتِدَامَةِ مُقَامِهِ إِلَّا بِجِزْيَةٍ يُؤَدِّيهَا عَنْ رَقَبَتِهِ لِيَصِيرَ لَهُ بَعْدَ الْأَمَانِ ذِمَّةٌ بِالْجِزْيَةِ فَإِنِ اسْتَأْدَى مَالَ الْكِتَابَةِ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُقِيمَ بَعْدَ عِتْقِهِ إِلَّا بِجِزْيَةٍ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ حُرًّا مُعْتَبِرًا بِجِزْيَةِ نَفْسِهِ وَإِنْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ عَادَ عَبْدًا وَلَمْ تَلْزَمْهُ الْجِزْيَةُ لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِسَيِّدِهِ وَلَوْ عَادَ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ عِتْقِهِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ فَسُبِيَ جَازَ اسْتِرْقَاقُهُ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَلَاءٌ لِذِمِّيٍّ بِخِلَافِ مَنْ كَانَ وَلَاؤُهُ لِمُسْلِمٍ لِأَنَّ الذِّمِّيَّ يَجُوزُ أَنْ يُسْتَرَقَّ فَلِذَلِكَ جَازَ اسْتِرْقَاقُ مَوْلَاهُ وَالْمُسْلِمُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَرَقَّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْتَرَقَّ مَوْلَاهُ فَإِنْ وَكَّلَ هَذَا الْحَرْبِيُّ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ فِي قَبْضِ الْكِتَابَةِ وَعَادَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ قَامَ وَكِيلُهُ فِي قَبْضِ مَالِ الْكِتَابَةِ مَقَامَهُ فَإِذَا أَدَّى الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِ مَالَ الْكِتَابَةِ عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِسَيِّدِهِ وَإِنْ عَجَزَ رَقَّ وَكَانَ مِلْكًا لِسَيِّدِهِ فَلَوْ كَانَ الْمُكَاتَبُ عَلَى حَالِهِ فَنَقَضَ سَيِّدُهُ الْأَمَانَ فِي دَارِ الْحَرْبِ وَخَرَجَ إِلَيْنَا مُحَارِبًا فَهَلْ يُغْنَمُ مُكَاتَبُهُ أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ حَكَاهُمَا ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ

Apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, dan bahwa seorang harbi dilarang membawa keluar mukatabnya di Dar al-Islam, meskipun ia tidak dilarang membawa keluar mukatabnya di Dar al-Harb, maka dikatakan kepada harbi itu setelah ia dilarang membawa keluar mukatabnya di Dar al-Islam: “Engkau diberi pilihan antara tetap tinggal di Dar al-Islam untuk menagih pembayaran uang kitabah, atau engkau mewakilkan kepada seseorang untuk menerimanya bagimu, lalu engkau kembali ke Dar al-Harb.” Jika ia ingin menetap di Dar al-Islam, maka ia tidak diperbolehkan terus-menerus tinggal kecuali dengan membayar jizyah atas dirinya, sehingga setelah mendapatkan keamanan, ia menjadi ahl al-dhimmah dengan membayar jizyah. Jika ia telah menagih uang kitabah, maka mukatab itu menjadi merdeka, dan ia tidak boleh tinggal setelah merdeka kecuali dengan membayar jizyah, karena ia telah menjadi orang merdeka yang wajib membayar jizyah atas dirinya sendiri. Jika mukatab itu tidak mampu membayar, maka ia kembali menjadi budak dan tidak wajib membayar jizyah karena ia mengikuti status tuannya. Jika mukatab itu setelah merdeka kembali ke Dar al-Harb lalu tertawan, maka boleh diperbudak kembali, meskipun ia memiliki wala’ kepada seorang dzimmi, berbeda dengan orang yang wala’-nya kepada seorang Muslim, karena dzimmi boleh diperbudak, sehingga boleh pula memperbudak mawla-nya, sedangkan Muslim tidak boleh diperbudak, maka tidak boleh pula memperbudak mawla-nya. Jika harbi itu mewakilkan seseorang untuk menerima pembayaran kitabah dan ia kembali ke Dar al-Harb, maka wakilnya menempati posisinya dalam menerima uang kitabah. Jika mukatab membayar uang kitabah kepada wakil tersebut, maka ia menjadi merdeka dan wala’-nya tetap kepada tuannya. Jika ia tidak mampu membayar, maka ia kembali menjadi budak dan menjadi milik tuannya. Jika mukatab tetap dalam keadaannya, lalu tuannya membatalkan perjanjian keamanan di Dar al-Harb dan keluar memerangi kita, apakah mukatabnya boleh menjadi harta rampasan perang atau tidak, terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Hurairah.

أَحَدُهُمَا يُغْنَمُ هَذَا الْمُكَاتَبُ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ بِأَمَانِ السَّيِّدِ فَإِذَا ارْتَفَعَ أَمَانُهُ بِنَقْضِ الْعَهْدِ زَالَ الْمَنْعُ فَعَلَى هَذَا يُؤَدِّي الْمُكَاتَبُ مَالَ الْكِتَابَةِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ لِأَنَّهُ فَيْءٌ يُصْرَفُ مَالُ الْأَدَاءِ مَصْرِفَ الْفَيْءِ وَإِنْ عَجَزَ رَقَّ وَكَانَ قِنًّا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa mukatab ini dapat diperoleh sebagai harta rampasan karena ia terlindungi oleh jaminan keamanan dari tuannya. Maka, apabila jaminan tersebut hilang akibat pelanggaran perjanjian, larangan itu pun hilang. Berdasarkan hal ini, mukatab harus menyerahkan uang pembayaran kitabah ke Baitul Mal, karena itu termasuk fai’ dan harta pembayaran tersebut dialokasikan sebagaimana fai’. Namun jika ia tidak mampu membayar, maka ia kembali menjadi budak murni (raqq) dan berstatus sebagai budak biasa (qinn).

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يُغْنَمُ الْمُكَاتَبُ وَيَكُونُ الْأَمَانُ مُسْتَبْقًى فِي حَقِّهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ لِلْحَرْبِيِّ أَمَانٌ عَلَى مَالِهِ دُونَ نَفْسِهِ وَأَمَانٌ عَلَى نَفْسِهِ دُونَ مَالِهِ وَأَمَانٌ عَلَى نَفْسِهِ وَمَالِهِ فَكَذَلِكَ جَازَ إِذَا انْتَقَضَ أَمَانُهُ فِي نَفْسِهِ جَازَ أَنْ يَكُونَ بَاقِيًا فِي مَالِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa mukatab tidak boleh dijadikan ghanimah, dan jaminan keamanan (aman) tetap berlaku atas dirinya. Sebab, dimungkinkan bagi seorang harbi untuk memperoleh jaminan keamanan atas hartanya saja tanpa dirinya, atau atas dirinya saja tanpa hartanya, atau atas dirinya dan hartanya sekaligus. Maka demikian pula, jika jaminan keamanannya atas dirinya batal, masih dimungkinkan jaminan keamanan itu tetap berlaku atas hartanya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا إِذَا مَاتَ سَيِّدُهُ فَفِيهِ قَوْلَانِ حَكَاهُمَا الْمُزَنِيُّ

Adapun jika tuannya meninggal dunia, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diriwayatkan oleh al-Muzani.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّ وَارِثَهُ يَقُومُ مَقَامَهُ فِي اسْتِيفَاءِ مَالِ الْكِتَابَةِ ولا يَكُونُ غَنِيمَةً لِأَنَّ الْوَارِثَ يَقُومُ مَقَامَ الْمَوْرُوثِ فِي مَالِهِ بِحُقُوقِهِ كُلِّهَا كَالْمَرْهُونِ وَمَا اسْتُحِقَّتْ بِهِ النَّفَقَةُ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, menyatakan bahwa ahli warisnya menempati posisinya dalam menagih harta kitabah, dan harta tersebut tidak menjadi harta rampasan, karena ahli waris menempati posisi orang yang diwarisi dalam seluruh hak-haknya atas hartanya, seperti pada barang yang digadaikan dan apa yang menjadi dasar kewajiban nafkah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ يَصِيرُ مَغْنُومًا يُؤَدِّي مَالَ كِتَابَتِهِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ إِنْ عَتَقَ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ رَقَّ كَانَ فَيْئًا لِأَنَّ الْأَمَانَ لَا يُورِثُ وَلَا يَتَجَاوَزُ الْمُسْتَأْمِنَ وَقَدْ زَالَ الْأَمَانُ بِالْمَوْتِ وَصَارَ الْمُكَاتَبُ لِمَنْ لَيْسَ لَهُ أَمَانٌ فَلِذَلِكَ صَارَ مَغْنُومًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Umm, yaitu bahwa ia menjadi harta rampasan perang, sehingga uang kitabahnya diserahkan ke Baitul Mal, dan wala’-nya jika ia merdeka menjadi milik seluruh kaum Muslimin. Jika ia kembali menjadi budak, maka ia menjadi fai’. Sebab, jaminan keamanan tidak dapat diwariskan dan tidak melampaui orang yang diberi jaminan, dan jaminan itu telah hilang dengan kematian. Maka, mukatab tersebut menjadi milik pihak yang tidak memiliki jaminan keamanan, sehingga ia menjadi harta rampasan perang. Allah Mahatahu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وإن خرج فَسُبِيَ فَمُنَّ عَلَيْهِ أَوْ فُودِيَ بِهِ لَمْ يَكُنْ رَقِيقًا وَرُدَّ مَالُ مُكَاتَبِهِ إِلَيْهِ فِي بِلَادِ الْحَرْبِ أَوْ غَيْرِهِ فَإِنِ اسْتُرِقَّ وَعَتَقَ مكاتبه بالأداء ومات الحربي رقيقا لم يكن رقيقا ولا ولاء لأحد بسببه والمكاتب لا ولاء عليه إلا أن يعتق الحربي قبل موته فيكون له ولاء مكاتبه وما أدى من كتابته لأن ذلك مال كان موقوفا له أمان فلم يبطل أمانه ما كان رقيقا ولم نجعله له في حال رقه فيأخذه مولاه فلما عتق كانت الأمانة مؤداة قال المزني وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا هذا والثاني لما رق كان ما أدى مكاتبه فيئا وقال في كتاب السير يصير ماله مغنوما قال المزني هذا عندي أشبه بقوله الذي ختم به قبل هذه المسألة لأنه لما بطل أن يملك بطل عن ماله ملكه

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang keluar lalu tertawan, kemudian dimerdekakan atau ditebus dengannya, maka ia tidak menjadi budak, dan harta mukatabnya dikembalikan kepadanya di negeri perang atau selainnya. Jika ia kemudian diperbudak dan mukatabnya merdeka dengan pelunasan, lalu orang harbi itu meninggal dalam keadaan sebagai budak, maka ia tidak menjadi budak dan tidak ada wala’ bagi siapa pun karena sebab itu. Mukatab tidak memiliki wala’ kecuali jika orang harbi itu dimerdekakan sebelum wafatnya, maka ia berhak atas wala’ mukatabnya dan apa yang telah dibayarkan dari akad kitabahnya, karena itu adalah harta yang tertahan baginya sebagai amanah, sehingga amanahnya tidak batal selama ia masih menjadi budak, dan kami tidak menjadikannya milik tuannya selama masa perbudakannya, sehingga tuannya mengambilnya. Maka ketika ia merdeka, amanah itu telah ditunaikan. Al-Muzani berkata: Dan beliau (Imam Syafi‘i) berkata di tempat lain bahwa dalam masalah ini ada dua pendapat: salah satunya adalah yang ini, dan yang kedua, ketika ia menjadi budak, maka apa yang telah dibayarkan mukatabnya menjadi fai’. Dan beliau berkata dalam Kitab al-Siyar: Hartanya menjadi harta rampasan. Al-Muzani berkata: Menurutku, pendapat ini lebih sesuai dengan pendapat beliau yang diakhiri sebelum masalah ini, karena ketika kepemilikan atas dirinya batal, maka kepemilikan atas hartanya pun batal.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي حَرْبِيٍّ كَاتَبَ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ اسْتِئْمَانِهِ ثُمَّ لَحِقَ بِدَارِ الْحَرْبِ فَإِنَّ أَمَانَهُ يَزُولُ بِعَوْدِهِ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ مَالِهِ الَّذِي عَادَ مَعَهُ وَلَا يَزُولُ أَمَانُهُ عَنِ الْمَالِ الَّذِي خَلَّفَهُ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ لِأَنَّ الْأَمَانَ يَتَمَيَّزُ عَلَى مَا ذَكَرْنَا وَيَكُونُ مَالُ الْكِتَابَةِ يَسْتَوْفِيهِ وَكِيلُ هَذَا السَّيِّدِ الْحَرْبِيِّ فَإِنْ سُبِيَ هَذَا السَّيِّدُ فَأَمِيرُ الْجَيْشِ فِيهِ بِالْخِيَارِ فِي فِعْلِ الْأَصْلَحِ فِي أَحَدِ أَرْبَعَةِ أُمُورٍ مِنْ قَتْلِهِ أَوْ مُفَادَاتِهِ أَوِ اسْتِرْقَاقِهِ أَوِ الْمَنِّ عَلَيْهِ فَإِنْ قَتَلَهُ كَانَ قَتْلُهُ بَعْدَ الْأَسْرِ كَمَوْتِهِ مِنْ غَيْرِ أَسْرٍ وَهَلْ يُغْنَمُ الْمُكَاتَبُ أَمْ لَا عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْقَوْلَيْنِ وَإِنْ مَنَّ عَلَيْهِ أَوْ فُودِيَ بِهِ كَانَ الْمَنُّ وَالْفِدَاءُ أَمَانًا لَهُ فَيَكُونُ الْمُكَاتَبُ فِي حَقِّ هَذَا السَّيِّدِ عَلَى حُكْمِهِ قَبْلَ أَسْرِهِ يُؤَدِّي مَالَ الْكِتَابَةِ إِلَيْهِ إِنْ كَانَ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ أَوْ إِلَى وَكِيلِهِ إِنْ عَادَ إِلَى دَارِ الْحَرْبِ وَإِنِ اسْتُرِقَّ هَذَا السَّيِّدُ بَعْدَ أَسْرِهِ زَالَ مِلْكُهُ عَنْهُ بِالِاسْتِرْقَاقِ لِأَنَّ الرِّقَّ يَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ الْمِلْكِ وَلَا يَنْتَقِلُ مَالُهُ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي اسْتَرَقَّهُ لِأَنَّ السَّيِّدَ إِنَّمَا يَمْلِكُ أَكْسَابَ عَبْدِهِ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِهِ وَذَاكَ مَالٌ قَدْ كَسَبَهُ قَبْلَ الِاسْتِرْقَاقِ فَلَمْ يَمْلِكْهُ سَيِّدُهُ وَلَا يَكُونُ أَيْضًا لِوَارِثِ هَذَا الأٍسير الْمُسْتَرَقِّ لِأَنَّهُ مَمْلُوكٌ حَيٌّ وَلَا يُورَثُ مَمْلُوكٌ ولا حي

Al-Mawardi berkata: Contoh kasusnya adalah seorang harbi yang membuat perjanjian kitabah dengan hambanya di Darul Islam setelah ia memperoleh jaminan keamanan, kemudian ia kembali ke Darul Harb. Maka, jaminan keamanannya gugur dengan kembalinya ia ke Darul Harb, baik atas dirinya maupun atas harta yang dibawanya bersamanya. Namun, jaminan keamanannya tidak gugur atas harta yang ia tinggalkan di Darul Islam, karena jaminan keamanan itu berbeda sebagaimana telah kami sebutkan. Adapun harta kitabah, maka yang berhak menagihnya adalah wakil tuan harbi tersebut. Jika tuan tersebut tertawan, maka amir pasukan memiliki pilihan untuk melakukan yang terbaik di antara empat hal: membunuhnya, menebusnya, memperbudaknya, atau membebaskannya. Jika ia dibunuh, maka pembunuhannya setelah tertawan sama seperti kematiannya tanpa melalui penawanan. Apakah mukatab (hamba yang melakukan kitabah) menjadi ghanimah atau tidak, kembali kepada dua pendapat yang telah lalu. Jika ia dibebaskan atau ditebus, maka pembebasan dan penebusan itu menjadi jaminan keamanan baginya, sehingga mukatab tersebut dalam hak tuan itu tetap pada hukum sebelum ia tertawan, yaitu membayar harta kitabah kepadanya jika ia berada di Darul Islam, atau kepada wakilnya jika ia kembali ke Darul Harb. Jika tuan tersebut diperbudak setelah penawanannya, maka kepemilikannya atas mukatab itu gugur karena perbudakan, sebab status budak menghalangi tetapnya kepemilikan. Hartanya pun tidak berpindah kepada tuan barunya yang memperbudaknya, karena seorang tuan hanya memiliki penghasilan budaknya setelah perbudakan, sedangkan harta itu telah diperoleh sebelum perbudakan, sehingga tuan barunya tidak memilikinya. Harta itu juga tidak menjadi milik ahli waris dari tawanan yang diperbudak itu, karena ia adalah budak yang masih hidup dan budak yang masih hidup tidak dapat diwariskan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ انْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى حُكْمِ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِ سَيِّدِهِ فَتَكُونُ كِتَابَتُهُ بِحَالِهَا لَا تَبْطُلُ بِاسْتِرْقَاقِ سَيِّدِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَهَا إِلَى وَكِيلِ السَّيِّدِ لِأَنَّ زَوَالَ مِلْكِهِ بِالِاسْتِرْقَاقِ قَدْ أَبْطَلَ وِكَالَتَهُ وَيَكُونُ الْحَاكِمُ هُوَ الْمُسْتَأْدِي لَهَا أَوْ مَنْ يَنْدُبُهُ لِذَلِكَ مِنْ أُمَنَائِهِ وَيَكُونُ حُكْمُ اسْتِرْقَاقِهِ مَبْنِيًّا عَلَى حُكْمِ مَوْتِهِ فَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ لَوْ مَاتَ لَمْ يُغْنَمْ مَالُهُ كَانَ مَوْرُوثًا عَنْهُ فَلِذَلِكَ إِذَا اسْتُرِقَّ لَمْ يُغْنَمْ مَالُهُ الَّذِي فِي دَارِ الْإِسْلَامِ وَلَا الْمُكَاتَبُ الَّذِي فِيهَا وَيَكُونُ مَالُهُ مَوْقُوفًا عَلَى مَا يَحْدُثُ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِهِ مِنْ عِتْقٍ أَوْ مَوْتٍ عَلَى رِقٍّ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ لَوْ مَاتَ كَانَ مَالُهُ وَمُكَاتَبُهُ مَغْنُومًا فَفِيهِ إِذَا اسْتُرِقَّ قَوْلَانِ

Setelah penjelasan ini ditetapkan, pembahasan berpindah kepada hukum mukatab setelah tuannya menjadi budak. Maka akad kitabah-nya tetap berlaku dan tidak batal karena tuannya menjadi budak, dan tidak boleh ia membayarkan (angsuran) kitabah kepada wakil tuannya, karena hilangnya kepemilikan tuan akibat perbudakan telah membatalkan keagenannya. Maka hakimlah yang menjadi pihak yang menerima pembayaran kitabah itu, atau orang yang ditunjuknya dari kalangan para amanahnya untuk tugas tersebut. Hukum perbudakan tuan dibangun atas hukum kematiannya; jika kita katakan bahwa jika ia mati maka hartanya tidak menjadi harta rampasan, melainkan diwariskan darinya, maka demikian pula jika ia diperbudak, hartanya yang berada di Dar al-Islam tidak menjadi harta rampasan, begitu juga mukatab yang ada di dalamnya, dan hartanya menjadi tergantung pada apa yang terjadi setelah perbudakannya, apakah ia dimerdekakan atau mati dalam keadaan budak. Namun jika kita katakan bahwa jika ia mati maka hartanya dan mukatabnya menjadi harta rampasan, maka dalam hal perbudakannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ مَغْنُومًا لِأَنَّ الرِّقَّ يُزِيلُ الْمِلْكَ كَالْمَوْتِ فَاسْتَوَيَا فِي غَنِيمَةِ مَالِهِ

Salah satunya menjadi harta rampasan karena status budak menghilangkan kepemilikan seperti halnya kematian, sehingga keduanya sama dalam hal perolehan harta rampasan miliknya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ مَالَهُ لَا يُغْنَمُ بِاسْتِرْقَاقِهِ وَإِنْ غُنِمَ بِمَوْتِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa hartanya tidak menjadi harta rampasan karena ia dijadikan budak, meskipun hartanya menjadi rampasan jika ia mati.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ زَوَالَ الْمِلْكِ بِالْمَوْتِ لَا يُرْجَى عَوْدُهُ لِاسْتِحَالَةِ حَيَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَزَوَالَ مِلْكِهِ بِالرِّقِّ يُرْجَى عَوْدُهُ لِجَوَازِ عِتْقِهِ بَعْدَ رِقِّهِ فَلَا يُغْنَمُ عَلَيْهِ مَالُهُ بِالرِّقِّ وَيَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى مَا يَحْدُثُ مِنْ عِتْقِهِ أَوْ مَوْتِهِ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa hilangnya kepemilikan karena kematian tidak diharapkan akan kembali, karena mustahil seseorang hidup kembali setelah mati. Sedangkan hilangnya kepemilikan karena perbudakan masih mungkin untuk kembali, karena diperbolehkan memerdekakan seseorang setelah ia menjadi budak. Oleh karena itu, harta miliknya tidak dianggap sebagai harta rampasan karena perbudakan, dan statusnya ditangguhkan hingga terjadi salah satu dari dua hal: ia dimerdekakan atau ia meninggal dunia.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ حُكْمِ مِلْكِهِ بَعْدَ رِقِّهِ فَإِنْ قُلْنَا يَكُونُ مَغْنُومًا كَانَ مَا يُؤَدِّيهِ الْمُكَاتَبُ فَيْئًا لِبَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ كَانَ وَلَاؤُهُ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَيَكُونُ مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَلَا وَلَاءَ لِأَحَدٍ بِسَبَبِهِ يَعْنِي أَنَّهُ لَا وَلَاءَ لأحد من المسلمين بعينه لأن لاءه لِجَمَاعَتِهِمْ وَإِنْ عَجَزَ هَذَا الْمُكَاتَبُ وَرَقَّ كَانَ مَمْلُوكًا فِي بَيْتِ الْمَالِ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَسَوَاءٌ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ أَنْ يَمُوتَ سَيِّدُهُ عَلَى رِقِّهِ أَوْ يُعْتَقَ قَبْلَ مَوْتِهِ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ مَالَهُ يَكُونُ بَعْدَ حُدُوثِ رِقِّهِ مَوْقُوفًا عَلَى مَا يَكُونُ مِنْ عِتْقِهِ أَوْ مَوْتِهِ فَلَهُ حَالَتَانِ حَالَةٌ يُعْتَقُ قَبْلَ مَوْتِهِ وَحَالَةٌ يَمُوتُ عَلَى رِقِّهِ فَإِنْ عَتَقَ قَبْلَ مَوْتِهِ عَادَ مَالُهُ الْمَوْقُوفُ إِلَى مِلْكِهِ وَإِنْ كَانَ الْمُكَاتَبُ بَاقِيًا عَلَى كِتَابَتِهِ أَدَّاهَا عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ إِنْ عَتَقَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ أَدَّاهَا إِلَى الْحَاكِمِ أَخَذَ مِنَ الْحَاكِمِ مَا اسْتَأْدَاهُ مِنْ كِتَابَتِهِ وَكَانَ لَهُ وَلَاءُ مُكَاتَبِهِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى رِقِّهِ كَانَ مَالُهُ مَغْنُومًا لَا يُرَدُّ عَلَى سَيِّدِهِ وَلَا عَلَى وَارِثِهِ وَيُعْتَبَرُ حَالُ مُكَاتَبِهِ فَإِنَّ لَهُ حَالَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا أَنْ يَعْجِزَ وَيَرِقَّ فَيَكُونَ مَغْنُومًا كَسَائِرِ أَمْوَالِهِ

Apabila telah tetap apa yang kami sebutkan mengenai hukum kepemilikannya setelah ia menjadi budak, maka jika kita mengatakan bahwa harta tersebut menjadi harta rampasan (maghnūm), maka apa yang dibayarkan oleh mukatab menjadi fai’ bagi Baitul Mal kaum Muslimin. Jika ia merdeka dengan pembayaran tersebut, maka wala’-nya menjadi milik seluruh kaum Muslimin. Dan maksud dari perkataan Imam Syafi’i “tidak ada wala’ bagi siapa pun karena sebab ini” adalah tidak ada wala’ bagi seorang pun dari kaum Muslimin secara khusus, karena wala’-nya untuk seluruh mereka. Jika mukatab tersebut tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka ia menjadi milik Baitul Mal untuk seluruh kaum Muslimin. Dalam pendapat ini, sama saja apakah tuannya meninggal dalam keadaan ia masih budak, atau ia dimerdekakan sebelum tuannya meninggal. Dan jika kita mengatakan bahwa hartanya setelah ia kembali menjadi budak statusnya tergantung pada apakah ia akan dimerdekakan atau meninggal, maka ada dua keadaan: pertama, ia dimerdekakan sebelum meninggal, maka harta yang tertahan itu kembali menjadi miliknya; kedua, ia meninggal dalam keadaan masih budak. Jika ia dimerdekakan sebelum meninggal, maka harta yang tertahan itu kembali menjadi miliknya. Jika mukatab masih dalam status mukatab dan ia membayar, maka ia merdeka dan wala’-nya jika ia merdeka menjadi miliknya. Jika ia telah membayarkan kepada hakim, maka ia mengambil dari hakim apa yang telah dibayarkan dari akad mukatabnya, dan ia mendapatkan wala’ dari mukatabnya. Jika ia meninggal dalam keadaan masih budak, maka hartanya menjadi harta rampasan yang tidak dikembalikan kepada tuannya maupun ahli warisnya. Keadaan mukatabnya pun dipertimbangkan, karena ada dua keadaan: pertama, ia tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka hartanya menjadi harta rampasan seperti harta-hartanya yang lain.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُؤَدِّيَ فَيَعْتِقَ فَلَا يَخْلُو حال عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Dan keadaan yang kedua adalah apabila ia membayar lalu dimerdekakan, maka keadaan kemerdekaannya dengan pembayaran itu tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ قَبْلَ اسْتِرْقَاقِ سَيِّدِهِ فَفِي وَلَائِهِ وَجْهَانِ

Salah satunya adalah jika terjadi sebelum tuannya memperbudaknya, maka dalam hal wala’ terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ لِبَيْتِ الْمَالِ كَسَائِرِ أَمْوَالِهِ

Salah satunya adalah bahwa harta Baitul Mal diperlakukan seperti harta-harta lainnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَزُولُ الْوَلَاءُ وَيَرْتَفِعُ وَيَصِيرُ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ الْعِتْقِ مِمَّنْ لا ولاء عَلَيْهِ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَلَا وَلَاءَ لِأَحَدٍ بِسَبَبِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa wala’ menjadi hilang dan terangkat, sehingga mukatab setelah merdeka menjadi orang yang tidak memiliki wala’ atasnya, dan inilah maksud dari perkataan asy-Syafi‘i bahwa tidak ada wala’ bagi siapa pun karena sebab tersebut.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عِتْقُ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِ سَيِّدِهِ وَقَبْلَ مَوْتِهِ فالولاء ثَابِتٌ وَفِي مُسْتَحِقِّهِ قَوْلَانِ

Bagian kedua adalah apabila pembebasan budak mukatab terjadi setelah tuannya memperbudaknya kembali dan sebelum tuannya meninggal dunia, maka hak wala’ tetap ada, dan mengenai siapa yang berhak mendapatkannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِبَيْتِ الْمَالِ

Salah satunya adalah untuk Baitul Mal.

وَالثَّانِي يَكُونُ لِسَيِّدِ السَّيِّدِ مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ فِي مُكَاتَبِ الْمُكَاتَبِ إِذَا عَتَقَ الثَّانِي قَبْلَ عِتْقِ الْأَوَّلِ كَانَ فِي وَلَاءِ الثَّانِي قَوْلَانِ

Dan yang kedua adalah milik tuan dari tuan (sebelumnya), yang dibangun di atas perbedaan dua pendapat Imam Syafi‘i mengenai mukatab dari seorang mukatab; jika yang kedua dimerdekakan sebelum yang pertama, maka dalam masalah wala’ bagi yang kedua terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لِلسَّيِّدِ

Salah satunya adalah milik tuan.

وَالثَّانِي مَوْقُوفٌ عَلَى الْمُكَاتَبِ الْأَوَّلِ

Dan yang kedua bergantung pada mukatab yang pertama.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ عِتْقُ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ مَوْتِ سَيِّدِهِ فَيَكُونَ وَلَاؤُهُ ثَابِتًا لِبَيْتِ الْمَالِ قَوْلًا وَاحِدًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Bagian ketiga adalah apabila pembebasan budak mukatab terjadi setelah wafat tuannya, maka hak wala’nya tetap menjadi milik Baitul Mal menurut satu pendapat, dan Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Permasalahan

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَغَارَ الْمُشْرِكُونَ عَلَى مُكَاتَبٍ ثُمَّ اسْتَنْقَذَهُ الْمُسْلِمُونَ كَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika orang-orang musyrik menyerang seorang mukātab, kemudian kaum Muslimin berhasil menyelamatkannya, maka ia tetap berada pada status mukātab-nya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مُسْلِمٍ كَاتَبَ عَبْدَهُ ثُمَّ أَغَارَ الْمُشْرِكُونَ عَلَى الْمُكَاتَبِ فَسَبَوْهُ لَمْ يَمْلِكُوهُ عَلَى سَيِّدِهِ وَكَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ لِأَنَّ الْمُشْرِكَ لَا يَمْلِكُ مَالَ مُسْلِمٍ وَقَدْ وَافَقَنَا عَلَيْهِ أَبُو حَنِيفَةَ فِي أَنَّهُمْ لَا يَمْلِكُونَ عَلَى الْمُسْلِمِ مُكَاتَبَهُ وَلَا مُدَبَّرَهُ وَلَا أُمَّ وَلَدِهِ وَخَالَفَ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ أَمْوَالِ الْمُسْلِمِ وَمَا وَافَقَ عَلَيْهِ أَصْلٌ يُحِجُّهُ فِيمَا خَالَفَ فِيهِ وَهَكَذَا لَوْ كَانَ الْمُكَاتَبُ الْمَسْبِيُّ لِذِمِّيٍّ فِي دَارِ الْإِسْلَامِ أَوْ مُسْتَأْمَنٍ لَمْ يَمْلِكِ الْمُشْرِكُونَ عَلَيْهِ بِالسَّبْيِ لِأَنَّ لِدَارِ الْإِسْلَامِ حُرْمَةً تَمْنَعُ مِنْهُ وَإِذَا كَانَ كذلك فَالْمُكَاتَبُ بَعْدَ السَّبْيِ عَلَى كِتَابَتِهِ وَلَيْسَ لِلسَّبْيِ تَأْثِيرٌ فِي حَلِّهَا لِلُزُومِ الْعَقْدِ فِي حَقِّهِ فَإِذَا أَدَّى فِي حَالِ السَّبْيِ عَتَقَ وَإِنْ لَمْ يُؤَدِّ فَلَا يَخْلُو حَالُهُ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Kasusnya adalah seorang Muslim yang memerdekakan budaknya secara mukatab, kemudian orang-orang musyrik menyerang budak mukatab tersebut dan menawannya. Mereka (orang musyrik) tidak memiliki kekuasaan atas budak itu untuk tuannya, dan budak itu tetap berada dalam status mukatabnya, karena orang musyrik tidak berhak memiliki harta seorang Muslim. Abu Hanifah sependapat dengan kami dalam hal bahwa mereka (orang musyrik) tidak dapat memiliki budak mukatab milik Muslim, juga tidak dapat memiliki budak mudabbar, maupun umm walad-nya. Namun, Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal selain itu dari harta-harta Muslim. Apa yang disepakati itu merupakan dasar yang dapat dijadikan hujjah atas hal yang diperselisihkan. Demikian pula, jika budak mukatab yang ditawan itu milik seorang dzimmi di Darul Islam atau seorang musta’man, maka orang-orang musyrik tidak dapat memilikinya melalui penawanan, karena Darul Islam memiliki kehormatan yang melindungi dari hal itu. Jika demikian keadaannya, maka budak mukatab setelah penawanan tetap dalam status mukatabnya, dan penawanan tidak berpengaruh dalam membatalkan akadnya karena akad itu tetap mengikat baginya. Jika ia melunasi pembayaran dalam keadaan tertawan, maka ia merdeka. Namun jika tidak melunasi, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ مُطْلَقَ التَّصَرُّفِ فِي دَارِ الْحَرْبِ أَوْ مَقْهُورًا فَإِنْ كَانَ مُطْلَقَ التَّصَرُّفِ فِي دَارِ الْحَرْبِ فخلا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَسْبِ فَذَلِكَ الزَّمَانُ مَحْسُوبٌ عَلَيْهِ مِنْ نُجُومِ كِتَابَتِهِ وَلِلسَّيِّدِ إِذَا حَلَّتْ نُجُومُهُ أَنْ يُعَجِّزَهُ بِهَا وَيُعِيدَهُ عَبْدًا وَإِنْ كَانَ مَقْهُورًا فِيهَا لِغَلَبَةِ الْمُشْرِكِينَ عَلَى اسْتِخْدَامِهِ حَتَّى قَدَرْنَا عَلَيْهِ فَهَلْ يُحْسَبُ عَلَيْهِ الْمُدَّةُ الَّتِي كَانَ فيها مَغْلُوبًا عَلَى نَفْسِهِ أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْمُكَاتَبِ إِذَا غَلَبَهُ سَيِّدُهُ عَلَى نَفْسِهِ بِاسْتِخْدَامِهِ

Bisa jadi ia bebas bertindak di Dar al-Harb atau dalam keadaan terpaksa. Jika ia bebas bertindak di Dar al-Harb dan dibiarkan mencari penghasilan, maka waktu tersebut dihitung sebagai bagian dari cicilan pembayaran kitabah-nya. Dan bagi tuan, jika waktu cicilan telah jatuh tempo, boleh baginya untuk menjadikan budaknya ‘ajiz (tidak mampu membayar) dan mengembalikannya sebagai budak. Namun jika ia berada dalam keadaan terpaksa di sana karena dikuasai oleh kaum musyrik yang mempekerjakannya hingga akhirnya kita mampu menguasainya, maka apakah masa ketika ia berada dalam keadaan terpaksa itu dihitung sebagai bagian dari cicilan atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini, sebagaimana halnya dengan mukatab apabila tuannya memaksanya untuk bekerja.

أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ أَنَّهُ لَا يُحْتَسَبُ عَلَيْهِ بِتِلْكَ الْمُدَّةِ لِأَنَّ الْأَجَلَ فِي الْكِتَابَةِ موضوع لِاكْتِسَابِ الْمُكَاتَبِ فِيهَا وَالِاكْتِسَابُ فِي زَمَانِ الْغَلَبَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ فَلَمْ يُحْتَسَبْ بِهِ فَعَلَى هَذَا يُلْغَى زَمَانُ الْغَلَبَةِ فِي السَّبْيِ وَلَا يُعْتَدُّ بِهِ فِي نُجُومِ الْكِتَابَةِ وَيُسْتَأْنَفُ الْأَجَلُ بَعْدَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ قَبْلَ السَّبْيِ لَهُ فَإِذَا حَلَّتْ نُجُومُهُ طُولِبَ بِكِتَابَتِهِ فَإِنْ أَدَّاهَا وَإِلَّا أَعَادَهُ السَّيِّدُ بِالتَّعْجِيزِ عَبْدًا

Salah satu pendapat menyatakan bahwa masa tersebut tidak diperhitungkan baginya, karena tenggat waktu dalam kitabah ditetapkan untuk memberi kesempatan kepada mukatab memperoleh harta, sedangkan memperoleh harta pada masa penawanan tidak mungkin dilakukan, sehingga masa itu tidak diperhitungkan. Dengan demikian, masa penawanan dalam perbudakan diabaikan dan tidak dihitung dalam cicilan kitabah, dan tenggat waktu dimulai kembali setelah ia mampu sebagaimana sebelumnya sebelum ia tertawan. Maka apabila waktu cicilannya telah jatuh tempo, ia dituntut untuk membayar kitabahnya; jika ia membayarnya, maka selesai, namun jika tidak, tuannya mengembalikannya menjadi budak dengan alasan ketidakmampuan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ زَمَانَ الْقَهْرِ وَالْغَلَبَةِ مَحْسُوبٌ عَلَيْهِ فِي نُجُومِهِ وَأَجَلِ كِتَابَتِهِ لِأَنَّهُ لَا صُنْعَ لِلْعَبْدِ فِيهَا فَجَرَى مَجْرَى عَجْزِهِ عَنِ الْكَسْبِ فِي زَمَانِ الْقَهْرِ فِي احْتِسَابِهِ عَلَيْهِ مَجْرَى عَجْزِهِ عَنِ الْكَسْبِ بِالْمَرَضِ وَوُجُوبِ احْتِسَابِهِ عَلَيْهِ فَعَلَى هَذَا إِنْ حَلَّتْ نُجُومُهُ وَهُوَ مَقْهُورٌ بِالسَّبْيِ كَانَ لِلسَّيِّدِ تَعْجِيزُهُ وَإِعَادَتُهُ عَبْدًا وَهَلْ يَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِتَعْجِيزِهِ وَفَسْخِ كِتَابَتِهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa masa penaklukan dan penguasaan tetap dihitung atasnya dalam pembayaran cicilan dan batas waktu penulisan akad karena hamba tidak memiliki peran apa pun dalam masa tersebut, sehingga keadaannya sama seperti ketidakmampuannya untuk bekerja pada masa penaklukan, dalam hal perhitungan kewajiban atasnya, sebagaimana ketidakmampuannya untuk bekerja karena sakit dan tetap wajib dihitung atasnya. Berdasarkan hal ini, jika waktu cicilannya jatuh tempo sementara ia masih berada dalam keadaan tertawan (sebagai budak), maka tuan boleh membatalkan akad dan mengembalikannya menjadi budak. Adapun apakah tuan boleh secara sepihak membatalkan akad dan memutuskan penulisan akad atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لَهُ تَعْجِيزُهُ وَفَسْخُ كِتَابَتِهِ مِنْ غَيْرِ حَاكِمٍ يَفْسَخُهَا كَمَا لَوْ كَانَ الْمُكَاتَبُ حَاضِرًا

Salah satunya boleh baginya untuk membuatnya tidak mampu (melunasi) dan membatalkan akad kitābah-nya tanpa keputusan hakim yang membatalkannya, sebagaimana jika mukātib itu hadir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَيْسَ لَهُ فَسْخُهَا مَعَ غَيْبَتِهِ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ يَنُوبُ عَنِ الْمُكَاتَبِ فِي غَيْبَتِهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُنْفَرِدًا بِهَا وَلِيَكُونَ الْحَاكِمُ كَاشِفًا عَنْ حَالِ الْمُكَاتَبِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَالٌ يُؤَدِّي مِنْهُ فَإِذَا فُسِخَتِ الْكِتَابَةُ عَلَيْهِ وَصَارَ عَبْدًا فِي الْحُكْمِ ثُمَّ عَادَ وَبَانَ أَنَّهُ كَانَ ذَا مَالٍ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَى سَيِّدِهِ بَطَلَ الْحُكْمُ بِتَعْجِيزِهِ وَاسْتِرْقَاقِهِ وَحُكِمَ بعتقه بعد أدائه

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia (majikan) tidak boleh membatalkan akad mukatabah ketika (budak) sedang tidak hadir kecuali dengan keputusan hakim yang mewakili mukatab dalam ketidakhadirannya, agar majikan tidak sendirian dalam perkara ini dan agar hakim dapat meneliti keadaan mukatab, karena bisa jadi ia memiliki harta yang dapat digunakan untuk membayar. Jika akad mukatabah dibatalkan atasnya dan ia menjadi budak secara hukum, kemudian ternyata ia memiliki harta namun tidak mampu menyerahkannya kepada tuannya, maka keputusan yang menetapkan ketidakmampuannya dan perbudakannya menjadi batal, dan diputuskan ia merdeka setelah ia membayar (tebusan) tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَهُ فِي بِلَادِ الْحَرْبِ ثُمَّ خَرَجَ الْمُكَاتَبُ إِلَيْنَا مُسْلِمًا كَانَ حُرًّا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang melakukan mukātabah dengan budaknya di negeri harb (wilayah musuh), kemudian budak mukātab tersebut keluar menuju kita dalam keadaan Muslim, maka ia menjadi orang merdeka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا كَاتَبَ الْحَرْبِيُّ عَبْدَهُ فِي دَارِ الْحَرْبِ ثُمَّ خَرَجَ الْمُكَاتَبُ مِنْهَا إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ مُسْلِمًا أَوْ بِأَمَانٍ فَلَهُ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata: Jika seorang harbi menulis akad mukatabah kepada budaknya di wilayah perang, kemudian budak mukatab tersebut keluar dari wilayah itu menuju wilayah Islam dalam keadaan Muslim atau dengan jaminan keamanan, maka ia memiliki dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مُتَغَلَّبٍ عَلَى نَفْسِهِ فَيَكُونَ عَلَى حَمْلِهِ كِتَابَتُهُ يُؤَدِّيهَا إِلَى سَيِّدِهِ وَإِنْ كَانَ حَرْبِيًّا

Salah satunya adalah jika ia melakukan hal itu tanpa dipaksa oleh dirinya sendiri, maka ia wajib menunaikan kewajiban penulisan tersebut kepada tuannya, meskipun tuannya adalah seorang harbi.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَتَغَلَّبَ عَلَى نَفْسِهِ فَيَصِيرَ بِالْغَلَبَةِ حُرًّا قَدْ زَالَ عَنْهُ مِلْكُ سَيِّدِهِ لِنُفُوذِ أَحْكَامِ الْغَلَبَةِ عَلَيْهِ فِي دَارِ الْحَرْبِ كَمَا لَوْ غَلَبَ سَيِّدَهُ فَاسْتَرَقَّهُ صَارَ عَبْدًا لَهُ فَكَذَلِكَ لَوْ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ فِي دَارِ الْحَرْبِ بِالْأَدَاءِ فَغَلَبَهُ السَّيِّدُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَعَادَهُ إِلَى رِقِّهِ صَارَ عَبْدًا لِأَنَّ دَارَ الْحَرْبِ تُبِيحُ مَا فِيهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Keadaan kedua adalah ketika seseorang mengalahkan dirinya sendiri sehingga dengan kemenangan itu ia menjadi merdeka, dan kepemilikan tuannya atas dirinya hilang karena berlakunya hukum-hukum kemenangan atasnya di wilayah perang. Sebagaimana jika ia mengalahkan tuannya lalu memperbudaknya, maka ia menjadi budaknya. Demikian pula jika seorang mukatab menjadi merdeka di wilayah perang dengan membayar (tebusan), lalu tuannya mengalahkannya atas dirinya dan mengembalikannya ke dalam perbudakan, maka ia menjadi budak, karena wilayah perang membolehkan apa yang ada di dalamnya. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

كتابة المرتد

Tulisan orang murtad

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَ الْمُرْتَدُّ عَبْدَهُ قَبْلَ أَنْ يَقِفَ الْحَاكِمُ مَالَهُ كَانَ جَائِزًا وَقَالَ فِي كِتَابِ المدبر إذا دبر المرتد عبده فيه ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ قَدْ وَصَفْتُهَا فِيهِ وَقَضَيْتُ أَنَّ جوابه في المكاتب أصحها قال فإن نهى الحاكم المكاتب أن يدفع إلى المرتد كتابته فدفعها لم يبرأ منها وأخذه فإن عجز ثم أسلم السيد ألغى السيد التعجيز

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang murtad melakukan mukātabah terhadap budaknya sebelum hakim menyita hartanya, maka hal itu diperbolehkan. Dan beliau berkata dalam Kitāb al-Mudabbir: Jika seorang murtad mendabbirkan budaknya, terdapat tiga pendapat yang telah aku jelaskan di sana, dan aku memutuskan bahwa jawabannya dalam masalah mukātab adalah yang paling sahih. Beliau berkata: Jika hakim melarang budak mukātab untuk menyerahkan pembayaran mukātabah kepada tuannya yang murtad, lalu ia tetap menyerahkannya, maka ia belum terbebas darinya, dan tuannya pun mengambilnya. Jika kemudian budak itu tidak mampu membayar dan tuannya masuk Islam, maka tuan tersebut dapat membatalkan status ketidakmampuan budak itu.”

قال المارودي اعْلَمْ أَنَّ كِتَابَةَ الْمُرْتَدِّ لِعَبْدِهِ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa penulisan (wasiat pembebasan) seorang murtad kepada hambanya terbagi menjadi tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُكَاتِبَهُ فِي حَالِ إِسْلَامِهِ وَقَبْلَ رِدَّتِهِ فَالْكِتَابَةُ مَاضِيَةٌ وَلَا يُؤَثِّرُ فِيهَا حُدُوثُ الرِّدَّةِ وَيَكُونُ مَا قَبَضَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ مَوْقُوفًا وَدَاخِلًا تَحْتَ الْحَجْرِ كَسَائِرِ أَمْوَالِهِ فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ دَفَعَ إِلَيْهِ مَالَ الْكِتَابَةِ وَكَانَ لَهُ وَلَاءُ مُكَاتَبِهِ إِنْ عَتَقَ وَمِلْكُ رَقَبَتِهِ إِنْ رَقَّ وَإِنْ مَاتَ فِي الرِّدَّةِ أَوْ قُتِلَ عَلَيْهَا كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ مَعَ سَائِرِ أَمْوَالِهِ وَوَلَاءُ الْمُكَاتَبِ إِنْ عَتَقَ وَمِلْكُ رَقَبَتِهِ إِنْ رَقَّ فَيْئًا فِي بَيْتِ الْمَالِ

Salah satunya adalah apabila ia melakukan mukātabah dengan budaknya saat masih dalam keadaan Islam dan sebelum murtad, maka akad mukātabah tetap sah dan terjadinya kemurtadan tidak berpengaruh terhadapnya. Harta yang telah diterima dari akad mukātabah itu statusnya ditangguhkan dan termasuk dalam harta yang dibekukan, seperti seluruh hartanya yang lain. Jika ia kembali masuk Islam, maka harta mukātabah itu diserahkan kepadanya dan ia berhak atas hak walā’ budaknya jika budak tersebut merdeka, serta kepemilikan atas dirinya jika budak tersebut kembali menjadi budak. Namun, jika ia meninggal dalam keadaan murtad atau terbunuh karena murtad, maka harta mukātabah itu bersama seluruh hartanya yang lain serta hak walā’ budak jika ia merdeka dan kepemilikan atas dirinya jika ia tetap menjadi budak, semuanya menjadi fai’ dan masuk ke dalam Baitul Māl.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَبْتَدِئَ كِتَابَتَهُ بَعْدَ الرِّدَّةِ وَقَبْلَ الْحَجْرِ عَلَيْهِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ جَوَازَ كِتَابَتِهِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَذَكَرَ فِي تَدْبِيرِهِ ثَلَاثَةَ أَقَاوِيلَ

Bagian kedua adalah jika ia mulai menulis (wasiatnya) setelah murtad dan sebelum dikenai hajr (pembatasan hak), maka asy-Syafi‘i menyebutkan bolehnya penulisan wasiat dalam keadaan ini, dan beliau menyebutkan dalam masalah tadbir (pembebasan budak secara bertahap) terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا أَنَّهَا جَائِزَةٌ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ كِتَابَتُهُ جَائِزَةً

Salah satunya adalah bahwa hal itu diperbolehkan, maka berdasarkan hal ini penulisannya pun diperbolehkan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ تَدْبِيرَهُ بَاطِلٌ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ كِتَابَتُهُ بَاطِلَةً

Pendapat kedua menyatakan bahwa tadbir-nya batal, maka berdasarkan hal ini, penulisannya pun batal.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ أَنَّ تَدْبِيرَهُ مَوْقُوفٌ مُرَاعًى فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ صَحَّتْ وَإِنْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ بَطَلَتْ فَعَلَى هَذَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَصِحُّ تَخْرِيجُ هَذَا الْقَوْلِ الثَّالِثِ فِي الْكِتَابَةِ أَنَّهَا تَكُونُ مَوْقُوفَةً مُرَاعَاةً عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa tindakannya (tadbīr) bersifat ditangguhkan dan diperhatikan; jika ia kembali kepada Islam, maka tindakannya sah, dan jika ia dibunuh karena riddah, maka tindakannya batal. Berdasarkan hal ini, para ulama kami berbeda pendapat apakah pendapat ketiga ini dapat diterapkan pada kasus kitābah, yakni apakah kitābah juga menjadi ditangguhkan dan diperhatikan, dengan dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيٍّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَطَائِفَةٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ عَقْدُ الْكِتَابَةِ مَوْقُوفًا لِأَنَّ عُقُودَ الْمُعَاوَضَاتِ لَا يَصِحُّ وَقْفُهَا كَالْبَيْعِ وَلَيْسَ فِي الْكِتَابَةِ إِلَّا قَوْلَانِ بُطْلَانُهَا فِي أَحَدِهِمَا وَجَوَازُهَا فِي الْآخَرِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dan sekelompok ulama terdahulu, menyatakan bahwa tidak sah akad kitābah itu digantungkan (ditunda pelaksanaannya), karena akad-akad mu‘āwaḍah tidak sah jika digantungkan, seperti halnya jual beli. Dalam masalah kitābah hanya terdapat dua pendapat: batal menurut salah satunya, dan boleh menurut pendapat yang lain.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وَأَبِي حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيِّ أَنَّهُ يَصِحُّ تَخْرِيجُهُ فِي الْكِتَابَةِ وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ مَوْقُوفَةً كَالتَّدْبِيرِ كَمَا يَصِحُّ أَنْ تَكُونَ مُحَابَاةُ الْمَرِيضِ وَهِبَاتُهُ مَوْقُوفَةً فَعَلَى هَذَا تَكُونُ الْكِتَابَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Ishaq al-Marwazi dan Abu Hamid al-Isfara’ini, adalah bahwa sah untuk mengqiyaskan masalah ini dalam hal al-kitābah, dan boleh juga statusnya digantungkan (mu‘allaq) seperti dalam at-tadbīr, sebagaimana juga sah jika muḥābāh (pemberian dengan maksud tertentu) dari orang sakit dan hibah-hibahnya digantungkan. Berdasarkan hal ini, maka al-kitābah memiliki tiga pendapat.

أَحَدُهَا جَائِزَةٌ سَوَاءٌ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ أَوْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ

Salah satunya diperbolehkan, baik ia kembali kepada Islam maupun dibunuh karena riddah.

وَالثَّانِي بَاطِلَةٌ سَوَاءٌ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ أَوْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ

Yang kedua batal, baik ia kembali kepada Islam maupun dibunuh karena riddah.

وَالثَّالِثُ أَنَّهَا مَوْقُوفَةٌ فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ صحت وإن قتل بالردة بطلت

Ketiga, bahwa statusnya ditangguhkan; jika ia kembali kepada Islam, maka (akadnya) sah, dan jika ia dibunuh karena riddah, maka batal.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ فَإِنْ قُلْنَا بِبُطْلَانِ الْكِتَابَةِ لَمْ يُعْتَقِ الْمُكَاتَبُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ لِأَنَّهَا بَطَلَتْ بِحُكْمِ الْمَنْعِ مِنْهَا فَجَرَتْ مَجْرَى كِتَابَةِ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ لَا يَقَعُ الْعِتْقُ فِيهَا بِالْأَدَاءِ وَإِنْ قُلْنَا بِجَوَازِ الْكِتَابَةِ فَإِنْ أَدَّاهَا الْمُكَاتَبُ إِلَيْهِ قَبْلَ حَجْرِ الْحَاكِمِ عَلَيْهِ عَتَقَ وَإِنْ أَدَّاهَا إِلَيْهِ بَعْدَ الْحَجْرِ عَلَيْهِ لَمْ يُعْتَقْ لِدَفْعِهَا 0 إِلَى غَيْرِ مُسْتَحِقٍّ لِقَبْضِهَا وَأُخِذَ بِأَدَائِهَا إِلَى الْحَاكِمِ فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا أَعَادَهُ بِالتَّعْجِيزِ عَبْدًا وَإِنْ أَسْلَمَ الْمُرْتَدُّ عَتَقَ عَلَيْهِ بِمَا اسْتَأْدَاهُ فِي رِدَّتِهِ وَخَالَفَ مَا يَسْتَأْدِيهِ الْمَحْجُورُ عَلَيْهِ بِالسَّفَهِ إِذَا فُكَّ حَجْرُهُ فِي أَنَّهُ لَا يَعْتَدُّ بِأَدَائِهِ فِي حَالِ حِجْرِهِ لِأَنَّ حَجْرَ السَّفَهِ فِي حَقِّ السَّفِيهِ حِفَاظًا لِمَالِهِ عَلَيْهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يُحْتَسَبُ بِالْأَدَاءِ وَحَجْرُ الرِّدَّةِ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِينَ لِحِفْظِهِ عَلَيْهِمْ فَإِذَا زَادَ صَارَ لَهُ فَاحْتَسَبَ بِهِ وَجَرَى مَجْرَى رَجُلٍ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَدَفَعَهُ إِلَى ابْنِ صَاحِبِ الدَّيْنِ لَمْ يَبْرَأْ بِدَفْعِهِ فَلَوْ مَاتَ صَاحِبُ الدَّيْنِ وَوَرِثَهُ ابْنُهُ بَرِئَ بِذَلِكَ الدَّفْعِ وَإِنْ قُلْنَا تُوقَفُ الْكِتَابَةُ كَانَ الْأَدَاءُ فِيهَا إِلَى الْمُرْتَدِّ مَوْقُوفًا فَإِنْ عَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ صَحَّتِ الْكِتَابَةُ وَالْأَدَاءُ وَصَارَ الْمُكَاتَبُ حُرًّا وَإِنْ قُتِلَ بِالرِّدَّةِ بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ وَالْأَدَاءُ وَكَانَ الْمُكَاتَبُ عَبْدًا لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Apabila telah jelas apa yang telah kami sebutkan dari tiga pendapat tersebut, maka jika kita berpendapat bahwa kitabah batal, maka mukatab tidak merdeka dengan pelunasan, karena kitabah tersebut batal berdasarkan hukum larangan darinya, sehingga kedudukannya seperti kitabah yang dilakukan oleh anak kecil dan orang gila, di mana kemerdekaan tidak terjadi dengan pelunasan. Dan jika kita berpendapat bahwa kitabah itu sah, maka jika mukatab melunasinya kepada pemilik sebelum hakim menetapkan larangan atasnya, maka ia merdeka. Namun jika ia melunasinya setelah hakim menetapkan larangan atasnya, maka ia tidak merdeka karena pelunasannya diberikan kepada pihak yang tidak berhak menerimanya, dan ia diwajibkan untuk melunasinya kepada hakim. Jika ia tidak mampu melunasinya, maka ia kembali menjadi budak dengan ketidakmampuannya. Jika murtad tersebut masuk Islam kembali, maka ia merdeka atas apa yang telah ia bayarkan selama masa kemurtadannya, berbeda dengan apa yang dibayarkan oleh orang yang dikenai larangan karena safih (tidak cakap) apabila larangannya dicabut, di mana pelunasannya selama masa larangan tidak dianggap, karena larangan atas safih bertujuan menjaga hartanya untuk dirinya, sehingga pelunasannya tidak diperhitungkan. Adapun larangan atas murtad adalah demi menjaga hak kaum Muslimin, sehingga jika ia kembali (masuk Islam), maka pelunasannya diperhitungkan, dan kedudukannya seperti seseorang yang memiliki utang lalu membayarnya kepada anak dari pemilik utang, maka ia belum bebas dari utangnya dengan pembayaran itu. Namun jika pemilik utang meninggal dan anaknya mewarisinya, maka ia bebas dari utang dengan pembayaran tersebut. Dan jika kita berpendapat bahwa kitabah ditangguhkan, maka pelunasan kepada murtad juga ditangguhkan. Jika ia kembali masuk Islam, maka kitabah dan pelunasannya sah, dan mukatab menjadi merdeka. Namun jika ia dibunuh karena murtad, maka kitabah dan pelunasannya batal, dan mukatab menjadi budak bagi seluruh kaum Muslimin.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَسْتَأْنِفَ كِتَابَتَهُ بَعْدَ الْحَجْرِ عَلَيْهِ فِي رِدَّتِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُهُمْ أَنَّ الْكِتَابَةَ بَاطِلَةٌ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّ ثُبُوتَ الْحَجْرِ يَمْنَعُ مِنْ نُفُوذِ الْعُقُودِ وَمِنْهُمْ مَنْ َرَّجَهَا عَلَى الْأَقَاوِيلِ وَهُوَ قَوْلُ مَنْ أَثْبَتَ الْحَجْرَ بِنَفْسِ الرِّدَّةِ وَلِذَلِكَ سَوَّى بَيْنِ الْحَالَيْنِ وَيَكُونُ الْحُكْمُ فِيهَا إِنْ بَطَلَتْ أَوْ صَحَّتْ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ

Bagian ketiga adalah apabila ia memulai kembali penulisannya setelah dikenai hajr (pembatasan hak) karena riddah (kemurtadan), maka para ulama kami berbeda pendapat. Pendapat yang dipegang oleh mayoritas mereka adalah bahwa penulisan tersebut batal secara mutlak, karena penetapan hajr mencegah berlakunya akad-akad. Namun, sebagian dari mereka menguatkan pendapat lain, yaitu pendapat yang menetapkan hajr dengan sendirinya karena riddah, sehingga menyamakan antara kedua keadaan tersebut. Maka, hukum dalam hal ini, apakah batal atau sah, mengikuti apa yang telah kami jelaskan sebelumnya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ ارْتَدَّ الْعَبْدُ ثُمَّ كَاتَبَهُ جَازَ وَكَانَ حُكْمُهُ حُكْمَ الْمُرْتَدِّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak murtad kemudian ia melakukan mukātabah, maka hal itu sah dan hukumnya tetap seperti hukum orang murtad.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا ارْتَدَّ الْعَبْدُ فَكَاتَبَهُ السَّيِّدُ بَعْدَ رِدَّتِهِ صَحَّتْ كِتَابَتُهُ لِبَقَائِهِ بَعْدَ الرِّدَّةِ عَلَى مِلْكِ السَّيِّدِ وَجَوَازِ تَصَرُّفِ السَّيِّدِ فِيهِ بِبَيْعِهِ وَعِتْقِهِ وَلَا يُحْجَرُ عَلَيْهِ بِالرِّدَّةِ فِي كَسْبِهِ لِأَنَّ كَسْبَهُ مِلْكٌ لِسَيِّدِهِ وَيُؤْخَذُ بِأَدَائِهِ إِلَى السَّيِّدِ فِي كِتَابَتِهِ فَإِنْ أَدَّاهَا عَتَقَ بِهَا ثُمَّ رُوعِيَ حَالُ رِدَّتِهِ فَإِنْ قُتِلَ بِهَا كَانَ مَالُهُ فَيْئًا وَإِنْ تَابَ مِنْهَا بِالْإِسْلَامِ كَانَ مَالُهُ إِنْ مَاتَ مِيرَاثًا لِسَيِّدِهِ بِالْوَلَاءِ وَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْأَدَاءِ عَادَ عَبْدًا وَقُتِلَ بِالرِّدَّةِ إِنْ أَقَامَ عَلَيْهَا وَكَانَ مَا بِيَدِهِ لِلسَّيِّدِ مِلْكًا لَا إِرْثًا وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini benar: jika seorang budak murtad lalu tuannya melakukan mukatabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran) setelah kemurtadannya, maka mukatabah itu sah karena budak tersebut setelah murtad masih tetap menjadi milik tuannya dan tuan tetap boleh melakukan tindakan terhadapnya, seperti menjual atau memerdekakannya. Tidak ada larangan terhadap budak murtad dalam hal usahanya, karena hasil usahanya adalah milik tuannya, dan ia tetap diwajibkan membayar kepada tuannya dalam perjanjian mukatabahnya. Jika ia melunasi pembayaran tersebut, maka ia merdeka karenanya. Setelah itu, dilihat keadaan kemurtadannya: jika ia dibunuh karena murtad, maka hartanya menjadi fai’ (harta rampasan negara). Jika ia bertobat dari kemurtadannya dengan masuk Islam, lalu meninggal, maka hartanya menjadi warisan bagi tuannya karena hubungan wala’. Jika ia tidak mampu membayar, maka ia kembali menjadi budak, dan jika ia tetap dalam kemurtadannya, maka ia dibunuh karena murtad, dan harta yang ada padanya menjadi milik tuannya, bukan warisan. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.”

جناية المكاتب على سيده

Kejahatan yang dilakukan oleh seorang mukatab terhadap tuannya

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا جَنَى الْمُكَاتَبُ عَلَى سَيِّدِهِ عَمْدًا فَلَهُ الْقِصَاصُ فِي الْجُرْحِ وَلِوَارِثِهِ الْقِصَاصُ فِي النَّفْسِ أَوِ الْأَرْشُ فَإِنْ أَدَّى ذَلِكَ فَهُوَ عَلَى كِتَابَتِهِ وَإِنْ لَمْ يُؤَدِّ فَلَهُمْ تَعْجِيزُهُ وَلَا دَيْنَ لَهُمْ عَلَى عَبْدِهِمْ وَبِيعَ فِي جِنَايَةِ الْأَجْنَبِيِّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apabila seorang mukatab melakukan tindak pidana terhadap tuannya secara sengaja, maka tuannya berhak mendapatkan qishāsh dalam hal luka, dan ahli warisnya berhak mendapatkan qishāsh dalam hal jiwa atau ‘arsh. Jika ia membayar hal tersebut, maka ia tetap berada dalam status mukatab. Namun jika ia tidak membayarnya, maka mereka (tuannya atau ahli warisnya) berhak untuk men-taj‘īz (membatalkan akad mukatab) terhadapnya, dan mereka tidak memiliki piutang atas hamba mereka, serta hamba tersebut dapat dijual karena tindak pidana terhadap orang lain (ajnabi).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَلِجِنَايَةِ الْمُكَاتَبِ عَلَى سَيِّدِهِ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh seorang mukatab terhadap tuannya terdapat dua keadaan.”

إِحْدَاهُمَا أَنْ تَكُونَ عَلَى طَرَفٍ فَالْحَقُّ فِيهَا مُخْتَصٌّ بِالسَّيِّدِ فَيُرَاعَى حَالُهَا فَإِنْ كَانَتْ خَطَأً أَوْجَبَ الْمَالَ وَإِنْ كَانَتْ عَمْدًا فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَقْتَصَّ بِهَا مِنْ مُكَاتَبِهِ لِئَلَّا يَعُودَ إِلَى مِثْلِهَا عَلَيْهِ أَوْ عَلَى غَيْرِهِ فَإِنِ اقْتَصَّ مِنْهُ بِطَرَفِهِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بَعْدَ الْقِصَاصِ بِحَالِهَا قَبْلَهُ فَإِنْ عَفَا السَّيِّدُ عَنِ الْقِصَاصِ إِلَى الْمَالِ اسْتَحَقَّ أَرْشُ الْجِنَايَةِ فِي كَسْبِ مُكَاتَبِهِ لَا فِي رَقَبَتِهِ لِأَنَّ مَالِكَ الرَّقَبَةِ قَبْلَ جِنَايَتِهِ بِخِلَافِ الْأَجْنَبِيِّ وَيَصِيرُ الْعَمْدُ فِيهَا بَعْدَ الْعَفْوِ عَنِ الْقِصَاصِ كَالْخَطَأِ فِي وُجُوبِ الْأَرْشِ فَيُؤْخَذُ الْمُكَاتَبُ بِدَفْعِ الْأَرْشِ مُعَجَّلًا وَبِمَالِ الْكِتَابَةِ مُؤَجَّلًا فَإِنِ اتَّسَعَ كَسْبُهُ لَهُمَا عَتَقَ بِأَدَائِهَا وَإِنْ ضَاقَ عَنْهُمَا أَوْ عَنْ أَحَدِهِمَا عَجَّزَهُ السَّيِّدُ بِهِ لِيُعِيدَهُ عَبْدًا سَوَاءٌ عَجَزَ عَنْ مَالِ الْكِتَابَةِ أَوْ عَنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ لِيُحْفَظَ بِالتَّعْجِيزِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْحَقَّيْنِ فَإِذَا عَادَ بِالتَّعْجِيزِ عَبْدًا بَطَلَ مَا عَلَيْهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَأَرْشِ الْجِنَايَةِ لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا يَثْبُتُ لَهُ فِي ذِمَّةِ عَبْدِهِ وَلَا فِي رَقَبَتِهِ مَالٌ بِخِلَافِ الْأَجْنَبِيِّ الَّذِي يَجُوزُ أَنْ يَثْبُتَ لَهُ فِي ذِمَّتِهِ مَالٌ عَنْ مُعَامَلَةٍ وَفِي رَقَبَتِهِ أَرْشُ جِنَايَتِهِ

Pertama, jika (jinayah) itu mengenai anggota tubuh, maka hak di dalamnya khusus milik tuan (sayyid), sehingga harus memperhatikan keadaannya. Jika jinayah itu terjadi karena kesalahan, maka wajib membayar diyat (ganti rugi harta). Jika terjadi secara sengaja (‘amdan), maka tuan berhak melakukan qishash terhadap mukatabnya, agar tidak terulang perbuatan serupa terhadap dirinya atau orang lain. Jika tuan melakukan qishash dengan memotong anggota tubuh mukatab, maka akad kitabah tetap berlaku setelah qishash sebagaimana sebelumnya. Jika tuan memaafkan qishash dan menggantinya dengan pembayaran harta, maka ia berhak atas arsy jinayah (ganti rugi) dari hasil usaha mukatab, bukan dari tubuhnya, karena tuan adalah pemilik tubuh (raqabah) sebelum terjadinya jinayah, berbeda dengan orang lain (ajnabi). Dengan demikian, jinayah yang dilakukan secara sengaja setelah dimaafkan qishash-nya menjadi seperti kesalahan dalam kewajiban membayar arsy. Maka mukatab diwajibkan membayar arsy secara tunai dan membayar harta kitabah secara tangguh. Jika hasil usahanya cukup untuk membayar keduanya, maka ia merdeka setelah melunasinya. Jika hasil usahanya tidak mencukupi untuk keduanya atau salah satunya, maka tuan boleh men-taj’iz (mengembalikan) mukatab menjadi budak, baik karena tidak mampu membayar harta kitabah maupun arsy jinayah, agar kedua hak tersebut tetap terjaga dengan pen-taj’iz-an itu. Jika mukatab kembali menjadi budak karena pen-taj’iz-an, maka gugurlah kewajiban membayar harta kitabah dan arsy jinayah, karena tuan tidak berhak menuntut harta dari budaknya, baik di dalam tanggungan maupun pada tubuhnya, berbeda dengan ajnabi yang boleh menetapkan hak harta dalam tanggungan mukatab karena suatu transaksi, dan berhak atas arsy jinayah pada tubuhnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَكُونَ الْجِنَايَةُ عَلَى نَفْسِ السَّيِّدِ فَيَكُونَ الْوَارِثُ مُسْتَحِقَّهَا فَإِنْ كَانَتْ خَطَأً أَوْجَبَتِ الدِّيَةَ فِي كَسْبِ الْمُكَاتَبِ وَصَارَ الْوَارِثُ مُسْتَحِقًّا لَهَا وَلِمَالِ الْكِتَابَةِ وَإِنْ كَانَتْ عَمْدًا فَلَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْ نَفْسِهِ فَإِذَا اقْتَصَّ فَلَا كِتَابَةَ وَإِنْ عَفَا إِلَى الدِّيَةِ كَانَتْ كَالْجِنَايَةِ عَلَى الطَّرَفِ فِي بَقَاءِ الْكِتَابَةِ وَكَالْخَطَأِ فِي وُجُوبِ الدِّيَةِ وَصَارَ الْوَارِثُ مُسْتَحِقًّا لَهَا فِي كَسْبِ الْمُكَاتَبِ دُونَ رَقَبَتِهِ يَسْتَحِقُّهَا مَعَ مَالِ كِتَابَتِهِ يُعْتَقُ بِأَدَائِهَا وَيُسْتَرَقُّ بِالْعَجْزِ عَنْ أَحَدِهِمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Keadaan kedua adalah apabila jinayah terjadi terhadap diri tuan (pemilik), sehingga ahli waris berhak atasnya. Jika jinayah tersebut terjadi karena kesalahan, maka wajib membayar diyat dari hasil usaha mukatab, dan ahli waris menjadi berhak atasnya serta atas harta kitabah. Jika jinayah tersebut disengaja, maka ahli waris berhak melakukan qishash terhadap dirinya. Jika qishash dilaksanakan, maka tidak ada lagi akad kitabah. Jika dimaafkan hingga diganti dengan diyat, maka hukumnya seperti jinayah terhadap anggota tubuh dalam hal tetapnya akad kitabah, dan seperti kesalahan dalam kewajiban membayar diyat, sehingga ahli waris menjadi berhak atasnya dari hasil usaha mukatab, bukan atas dirinya, dan ia berhak atasnya bersama harta kitabah. Mukatab akan merdeka dengan membayar diyat tersebut, dan akan kembali menjadi budak jika tidak mampu membayar salah satunya. Allah lebih mengetahui kebenaran.

باب جناية المكاتب ورقيقه

Bab tentang tindak pidana yang dilakukan oleh seorang mukatab dan budaknya

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا جَنَى الْمُكَاتَبُ فَعَلَى سَيِّدِهِ الْأَقَلُّ مِنْ قِيمَةِ عَبْدِهِ الْجَانِي يَوْمَ جَنَى أَوْ أَرْشُ الْجِنَايَةِ فَإِنْ قَوِيَ عَلَى أَدَائِهَا مَعَ الْكِتَابَةِ فَهُوَ مُكَاتَبٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apabila seorang mukātib melakukan tindak pidana (jināyah), maka atas tuannya wajib membayar yang paling sedikit antara nilai budaknya yang melakukan jināyah pada hari ia melakukan jināyah atau arsy jināyah tersebut. Jika ia mampu membayarnya bersamaan dengan pembayaran kitabah, maka statusnya tetap sebagai mukātib.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا جَنَى عَبْدُ الْمُكَاتَبِ عَلَى أَجْنَبِيٍّ جِنَايَةً عَمْدًا فَالْمَجْنِيُّ عَلَيْهِ بِالْخِيَارِ فِي الِاقْتِصَاصِ مِنْهُ أَوِ الْعَفْوِ عَنْهُ إِلَى الدِّيَةِ فَإِنِ اقْتَصَّ مِنْهُ وَكَانَتْ نَفْسًا فَقَدِ اسْتَهْلَكَ بِهَا مِلْكَ الْمُكَاتَبِ وَإِنْ كَانَتْ طَرَفًا نَقَصَ بِهَا مِلْكَهُ وَإِنْ عَفَا عَنْهَا إِلَى الدِّيَةِ صَارَ عَمْدُهَا كَالْخَطَأِ فِي تَعَلُّقِهَا بِرَقَبَةِ الْعَبْدِ الْجَانِي يُبَاعُ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَفْدِيَهُ سَيِّدُهُ الْمُكَاتَبُ عَنْهَا فَيَكُونَ لَهُ ذَلِكَ اسْتِصْلَاحًا لِمَالِهِ فَإِنْ كَانَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ فَدَاهُ بِجَمِيعِ الْأَرْشِ وَلَا اعْتِرَاضَ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَإِنْ مُكِّنَ الْمُكَاتَبُ مِنْ بَيْعِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ أَكْثَرُ مِنْ دَفْعِ ثَمَنِهِ وَإِنْ مُنِعَ مِنْ بَيْعِهِ فَفِي قَدْرِ مَا يَسْتَحِقُّهُ الْمَجْنِيُّ عَلَيْهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, apabila budak mukatab melakukan jinayah (kejahatan) secara sengaja terhadap orang lain, maka pihak yang menjadi korban memiliki pilihan antara melakukan qishash terhadapnya atau memaafkannya dengan menerima diyat. Jika ia melakukan qishash dan yang dibunuh adalah jiwa, maka dengan itu harta milik mukatab menjadi lenyap. Jika yang terkena adalah anggota tubuh, maka harta miliknya berkurang karenanya. Jika ia memaafkan dan menerima diyat, maka jinayah yang dilakukan secara sengaja itu diperlakukan seperti kesalahan (khatha’) dalam kaitannya dengan tanggungan budak pelaku jinayah, sehingga budak tersebut dijual untuk membayar diyat, kecuali jika tuan mukatab menebusnya, maka hal itu menjadi haknya sebagai bentuk perlindungan terhadap hartanya. Jika nilai arsy (ganti rugi) jinayah lebih kecil dari harga budak, maka ia menebusnya dengan seluruh arsy dan tuan tidak berhak memprotesnya. Namun jika nilai arsy jinayah lebih besar dari harga budak, maka jika mukatab diizinkan untuk menjualnya, ia tidak wajib membayar lebih dari harga budak tersebut. Jika ia tidak diizinkan untuk menjualnya, maka dalam kadar hak yang berhak diterima oleh korban terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَسْتَحِقُّ بِهَا قَدْرَ قِيمَةِ الْعَبْدِ الْجَانِي لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَبِعْ لَمْ يَكُنْ لَهُ غَيْرُهَا فَكَذَلِكَ إِذَا فَدَى فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لِلْمُكَاتَبِ أن يفديه به وَلَا اعْتِرَاضَ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ

Salah satunya berhak mendapatkan sejumlah nilai budak pelaku pelanggaran, karena jika ia tidak menjualnya, ia tidak memiliki selain itu. Maka demikian pula jika ia menebusnya. Berdasarkan hal ini, maka bagi mukatab boleh menebusnya dengan itu, dan tuan tidak berhak mengajukan keberatan terhadapnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَسْتَحِقُّ أَرْشَ الْجِنَايَةِ إِذَا مُنِعَ مِنْ بَيْعِهِ وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ لِأَنَّهُ لَوْ مُكِّنَ مِنْ بَيْعِهِ لَجَازَ أَنْ يَشْتَرِيَهُ رَاغِبٌ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَصَارَ فِي الِامْتِنَاعِ مِنْ بَيْعِهِ قَطْعًا لِهَذِهِ الرَّغْبَةِ فَلِذَلِكَ ضَمِنَهَا الْمَانِعُ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَفْدِيَهُ مِنْهَا مَا لَمْ يَأْذَنْ لَهُ سَيِّدُهُ لِأَنَّ بَذْلَ الزِّيَادَةِ عَلَى قِيمَتِهِ اسْتِهْلَاكٌ لِمَالِهِ فَجَرَى مَجْرَى الْهِبَةِ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَإِنْ أَذِنَ لَهُ السَّيِّدُ فِي افْتِدَائِهِ فَفِي جَوَازِهِ قَوْلَانِ كَإِذْنِهِ لَهُ بِالْهِبَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa seseorang berhak mendapatkan arsy al-jinayah jika ia dihalangi dari menjualnya, meskipun nilainya berlipat-lipat dari harga aslinya. Sebab, jika ia diizinkan untuk menjualnya, mungkin saja ada orang yang berminat membelinya dengan harga lebih tinggi dari nilainya. Maka, larangan untuk menjualnya berarti memutus keinginan tersebut, sehingga pihak yang menghalangi wajib menanggungnya. Berdasarkan hal ini, tidak boleh bagi seorang mukatab untuk menebusnya dengan nilai tersebut kecuali dengan izin tuannya, karena memberikan tambahan atas nilainya sama saja dengan menghabiskan hartanya, sehingga hukumnya seperti hibah. Sebagaimana tidak boleh membelinya dengan harga lebih tinggi dari nilainya. Jika tuannya mengizinkan untuk menebusnya, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat, sebagaimana izin untuk hibah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَهُ تَعْجِيلُ الْكِتَابَةِ قَبْلَ الْجِنَايَةِ وَقَبْلَ الدَّيْنِ الْحَالِّ مَا لَمْ يَقِفِ الْحَاكِمُ لَهُمْ مَالَهُ كَالْحُرِّ فِيمَا عَلَيْهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seseorang boleh mempercepat penulisan (utang) sebelum terjadi tindak pidana dan sebelum adanya utang yang jatuh tempo, selama hakim belum menahan hartanya untuk mereka, sebagaimana orang merdeka dalam hal kewajiban yang harus dipenuhinya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا اجتمعت على المكاتب حقوق طولت بِهَا مِنْ كِتَابَةٍ تَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ وَأَرْشُ جِنَايَتِهِ يَتَعَلَّقُ بِرَقَبَتِهِ وَدُيُونُ مُعَامَلَةٍ تَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ وَبِمَا في يَدِهِ وَبِيَدِهِ مَالٌ هُوَ عَلَى تَصَرُّفِهِ فِيهِ فَلَهُ فِيمَا حَلَّ مِنْهُ أَنْ يَبْدَأَ بِقَضَاءِ أَيِّ الْحُقُوقِ شَاءَ فَإِنَّ أَرْشَ الْجِنَايَةِ لَا يَثْبُتُ إِلَّا حَالًّا وَمَالَ الْكِتَابَةِ لَا يَثْبُتُ إِلَّا مُؤَجَّلًا وَالدَّيْنُ قَدْ يَثْبُتُ حَالًّا وَمُؤَجَّلًا فَإِنْ حَلَّتِ الْكِتَابَةُ كَانَ الدَّيْنُ حَالًّا وَاجْتَمَعَا مَعَ أَرْشِ الْجِنَايَةِ فَصَارَ الْجَمِيعُ مِنَ الْأَمْوَالِ الْحَالَّةِ عَلَيْهِ فَلَهُ فِي أَرْشِ الْجِنَايَةِ أَنْ يَفْدِيَ نَفْسَهُ بِهَا وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ مَا كَانَ بَاقِيًا عَلَى كِتَابَتِهِ لِمَا فِيهَا مِنِ اسْتِصْلَاحِ نَفْسِهِ وَحِفْظِ كِتَابَتِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ افْتِدَاءُ عَبْدِهِ إِلَّا بِقَدْرِ قِيمَتِهِ لِأَنَّ بَيْعَ عَبْدِهِ فِي الْجِنَايَةِ لَا يُؤَثِّرُ فِي كِتَابَتِهِ فَلِذَلِكَ مَا افْتَرَقَا وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَاجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْحُقُوقُ الثَّلَاثَةُ مَالُ الْكِتَابَةِ وَدُيُونُ الْمُعَامَلَةِ وَأُرُوشُ الْجِنَايَةِ وَبِيَدِهِ مَالٌ وَجَمِيعُ الْحُقُوقِ حَالَّةٌ فَلَهُ أَنْ يُقَدِّمَ قَضَاءَ مَا شَاءَ مِنْهَا إِذَا كَانَ مَا بِيَدِهِ مُتَّسِعًا لِجَمِيعِهَا وَلَيْسَ يُتَصَوَّرُ مَعَ اتِّسَاعِ الْمَالِ أَنْ يَعْجِزَ عَنْ بَعْضِهَا فَإِنْ ضَاقَ الْمَالُ عَنْ جَمِيعِهَا فَلَهُ مَا لَمْ يَحْجُرِ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ بِالْفَلَسِ أَنْ يَبْدَأَ بِقَضَاءِ أَيِّ الثَّلَاثَةِ شَاءَ فَإِنْ قَدَّمَ الدَّيْنَ فَلَا اعْتِرَاضَ فِيهِ لِسَيِّدِهِ وَلَا لِمُسْتَحِقِّ جِنَايَتِهِ وَإِنْ قَدَّمَ أَرْشَ الْجِنَايَةِ فَلَا اعْتِرَاضَ فِيهِ لِسَيِّدِهِ وَلَا لِمُسْتَحِقِّ الدَّيْنِ وَإِنْ قَدَّمَ مَالَ الْكِتَابَةِ فَلَا اعْتِرَاضَ فِيهِ لِصَاحِبِ الْجِنَايَةِ وَلَا لِصَاحِبِ الدَّيْنِ سَوَاءٌ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ أَوْ لَمْ يَعْتِقْ لِجَوَازِ تَصَرُّفِهِ وصحة أدائه

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang ia katakan, yaitu apabila pada seorang mukatab berkumpul beberapa hak yang harus dipenuhi, seperti pembayaran kitabah yang menjadi tanggungannya, diyat jinayah yang terkait dengan dirinya, dan utang muamalah yang juga menjadi tanggungannya serta terkait dengan harta yang ada di tangannya, sedangkan ia memiliki harta yang berada dalam penguasaannya, maka terhadap hak-hak yang telah jatuh tempo tersebut, ia boleh memulai melunasi hak mana saja yang ia kehendaki. Sebab, diyat jinayah hanya dapat ditetapkan secara tunai, sedangkan harta kitabah hanya dapat ditetapkan secara tangguh, dan utang bisa saja ditetapkan secara tunai maupun tangguh. Jika pembayaran kitabah telah jatuh tempo, utang pun jatuh tempo, dan keduanya berkumpul dengan diyat jinayah, maka seluruhnya menjadi kewajiban yang harus dibayar tunai. Dalam hal diyat jinayah, ia boleh menebus dirinya dengannya, meskipun jumlahnya berlipat-lipat dari sisa pembayaran kitabahnya, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk dirinya dan menjaga kitabahnya. Adapun jika ia ingin menebus budaknya, maka hanya sebatas nilai budaknya saja, karena penjualan budak dalam kasus jinayah tidak berpengaruh terhadap kitabahnya, sehingga keduanya berbeda. Jika demikian, dan ketiga hak tersebut berkumpul atas dirinya—yaitu harta kitabah, utang muamalah, dan diyat jinayah—sedangkan di tangannya ada harta dan seluruh hak tersebut telah jatuh tempo, maka ia boleh mendahulukan pelunasan hak mana saja yang ia kehendaki selama harta yang ada di tangannya mencukupi untuk semuanya. Tidak terbayangkan jika dengan kelapangan harta ia tidak mampu melunasi sebagian hak tersebut. Namun, jika hartanya tidak mencukupi untuk melunasi semuanya, maka selama hakim belum memutuskan pailit atas dirinya, ia boleh memulai melunasi salah satu dari ketiga hak tersebut yang ia kehendaki. Jika ia mendahulukan pelunasan utang, maka tidak ada keberatan bagi tuannya maupun bagi pihak yang berhak atas diyat jinayah. Jika ia mendahulukan pelunasan diyat jinayah, maka tidak ada keberatan bagi tuannya maupun bagi pihak yang berhak atas utang. Jika ia mendahulukan pelunasan harta kitabah, maka tidak ada keberatan bagi pihak yang berhak atas jinayah maupun pihak yang berhak atas utang, baik ia merdeka dengan pembayaran tersebut maupun tidak, karena sahnya tindakan dan pembayaran yang ia lakukan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يُعَجِّلَ الدَّيْنَ قَبْلَ مَحَلِّهِ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Kecuali bahwa seorang mukātab tidak boleh mempercepat pembayaran utang sebelum jatuh temponya tanpa izin tuannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ تَعْجِيلَ الدَّيْنِ الْمُؤَجَّلِ كَالْهِبَةِ لِأَنَّ الثَّمَنَ فِي بَيْعِ النَّقْدِ أَقَلُّ وَفِي بيع النساء أكثر إذا كَانَ كَذَلِكَ فَلَيْسَ يُتَصَوَّرُ دُخُولُ الْأَجَلِ فِي أرش الجناية وإمما يُتَصَوَّرُ فِي دَيْنِ الْمُعَامَلَةِ وَمَالِ الْكِتَابَةِ فَإِنْ عَجَّلَ الْمُكَاتَبُ دَيْنَ الْمُعَامَلَةِ لَمْ يَجُزْ إِنْ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ السَّيِّدُ وَفِي جَوَازِهِ بِإِذْنِهِ قَوْلَانِ وَإِنْ عَجَّلَ مَالَ الْكِتَابَةِ كَانَ عَلَى قولين كالهبة لسيده

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, karena percepatan pembayaran utang yang masih jatuh tempo itu seperti hibah, sebab harga dalam jual beli tunai lebih rendah dan dalam jual beli tempo lebih tinggi. Jika demikian, maka tidak mungkin memasukkan tempo dalam diyat akibat tindak pidana, tetapi hal itu mungkin terjadi pada utang transaksi dan harta kitabah. Jika seorang mukatab mempercepat pembayaran utang transaksi, maka tidak boleh kecuali dengan izin tuannya. Dalam kebolehannya dengan izin tuan ada dua pendapat. Jika ia mempercepat pembayaran harta kitabah, maka ada dua pendapat, seperti hibah kepada tuannya.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ وَقَفَ الْحَاكِمُ مَالَهُ أَدَّى إِلَى سَيِّدِهِ وَإِلَى النَّاسِ دُيُونَهُمْ شَرْعًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا يُؤَدِّي هَذَا كُلَّهُ عَجَّزَهُ فِي مال الأجنبي إلا أن ينظروه ومتى شاء من أنظره عجزه ثم خير الحاكم سيده بين أن يفديه بالاقل من أرش الجناية أو يباع فيها فيعطى أهل الجناية حقوقهم دون من داينه ببيع أو غيره لأن ذلك في ذمته ومتى عتق اتبع به

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang hakim menahan harta seseorang, maka ia wajib menyerahkan harta tersebut kepada tuannya dan kepada orang-orang yang memiliki piutang secara syar‘i. Jika orang tersebut tidak memiliki sesuatu untuk melunasi semua itu, maka ia dinyatakan tidak mampu dalam harta milik orang lain, kecuali jika para krediturnya bersedia menunggu. Kapan saja salah satu dari mereka yang memberi penangguhan menghendaki, maka ia dapat menuntut ketidakmampuan tersebut. Kemudian hakim memberi pilihan kepada tuannya antara menebusnya dengan jumlah yang lebih sedikit dari diyat jinayah, atau menjualnya untuk membayar hak-hak para korban jinayah, bukan hak orang yang memberi utang melalui jual beli atau lainnya, karena utang tersebut menjadi tanggungannya. Dan kapan saja ia merdeka, maka ia tetap dituntut untuk melunasi utang tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّ الْحَاكِمَ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَحْجُرَ عَلَى الْمُكَاتَبِ مَا لَمْ يَسْأَلْهُ أَصْحَابُ الْحُقُوقِ الْحَجْرَ عَلَيْهِ فَإِنْ سَأَلُوهُ الْحَجْرَ عَلَيْهِ لَمْ تَخْلُ الْحُقُوقُ أَنْ تَكُونَ حَالَّةً أَوْ مُؤَجَّلَةً فَإِنْ كَانَتِ الْحُقُوقُ مُؤَجَّلَةً لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْجُرَ عَلَيْهِ بِهَا لِأَنَّهَا غَيْرُ مُسْتَحَقَّةٍ فِي الْوَقْتِ وَإِنْ كَانَتْ حَالَّةً لَمْ يَخْلُ مَا بِيَدِهِ مِنَ الْمَالِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُتَّسِعًا لِقَضَاءِ جَمِيعِهَا أَوْ يَضِيقَ عَنْهَا فَإِنِ اتَّسَعَ لِجَمِيعِهَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْجُرَ عَلَيْهِ وَأَخَذَهُ بِقَضَائِهَا وَإِنْ ضَاقَ مَا بِيَدِهِ عَنْهَا نُظِرَ فِي طَالِبِ الْحَجْرِ فَإِنْ طَلَبَهُ السَّيِّدُ لَمْ يَكُنْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْجُرَ عَلَيْهِ فِي حَقِّ السَّيِّدِ لِأَنَّ مَا يَسْتَحِقُّهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ فِي الذِّمَّةِ وَإِنْ طَلَبَ أَرْبَابَ الدَّيْنِ الْحَجْرَ عَلَيْهِ جَازَ أَنْ يَحْجُرَ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ حَجْرَ الْمُفْلِسِ حِفْظًا لِحُقُوقِهِمْ وَإِنْ طَلَبَ مُسْتَحِقُّ الْجِنَايَةِ الْحَجْرَ عَلَيْهِ نُظِرَ فِي أَرْشِ الْجِنَايَةِ فَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ أُجِيبَ إِلَى الْحَجْرِ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَى الزِّيَادَةِ عَلَيْهَا إِلَّا فِيمَا فِي يَدِهِ وَإِنْ كَانَ الْأَرْشُ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ احْتَمَلَ وَجْهَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa hakim tidak berhak memberlakukan hajr (pembatasan hak bertindak) terhadap seorang mukatab selama para pemilik hak belum meminta hajr atasnya. Jika mereka memintanya, maka hak-hak itu tidak lepas dari dua kemungkinan: hak-hak tersebut bersifat segera (jatuh tempo) atau masih ditangguhkan (belum jatuh tempo). Jika hak-hak itu masih ditangguhkan, maka tidak boleh hakim memberlakukan hajr atasnya karena hak tersebut belum menjadi kewajiban pada waktu itu. Namun jika hak-hak itu sudah jatuh tempo, maka harta yang ada di tangannya tidak lepas dari dua keadaan: cukup untuk melunasi seluruh hak atau tidak mencukupi. Jika hartanya cukup untuk melunasi semuanya, maka tidak boleh hakim memberlakukan hajr atasnya dan cukup dengan memaksanya melunasi hak-hak tersebut. Jika hartanya tidak mencukupi, maka dilihat siapa yang meminta hajr: jika yang memintanya adalah tuan (sayyid), maka hakim tidak boleh memberlakukan hajr atasnya dalam hak tuan, karena harta yang menjadi hak tuan dari akad kitabah belum tetap menjadi tanggungan (dzimmah). Namun jika para pemilik utang yang meminta hajr, maka boleh bagi hakim memberlakukan hajr atasnya seperti hajr terhadap orang yang pailit, demi menjaga hak-hak mereka. Jika yang meminta hajr adalah pihak yang berhak atas jinayah (tindak pidana), maka dilihat nilai diyat (ganti rugi) jinayah tersebut: jika nilainya lebih besar dari harga dirinya, maka permintaan hajr dikabulkan, karena kelebihan itu hanya bisa diambil dari harta yang ada di tangannya. Namun jika nilai diyat sama dengan harga dirinya, maka ada dua kemungkinan pendapat.

أَحَدُهُمَا يُجَابُ إِلَى الْحَجْرِ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ قَدْ عَلَّقَتْ أَرْشَ الْجِنَايَةِ بِمَا فِي يَدِهِ فَصَارَتْ كَالدُّيُونِ

Salah satunya dipenuhi permintaannya untuk dikenakan hajr (pembatasan hak bertindak) atas dirinya, karena dalam kitabah telah digantungkan pembayaran diyat (ganti rugi) tindak pidana pada apa yang ada di tangannya, sehingga hal itu menjadi seperti utang.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُجَابُ إِلَى الْحَجْرِ عَلَيْهِ لِثُبُوتِ الْأَرْشِ فِي رَقَبَتِهِ وَأَنَّهُ يَرْجِعُ عِنْدَ إِعْسَارِهِ إِلَى أَخْذِ الْأَرْشِ مِنْهَا

Pendapat kedua: Tidak dikabulkan permintaan untuk memblokir hartanya karena diyakini adanya arsy (ganti rugi) yang menjadi tanggungannya, dan apabila ia mengalami kesulitan (tidak mampu membayar), maka arsy tersebut dapat diambil dari hartanya.

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا حَجَرَ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ أَدَّى إِلَى سَيِّدِهِ وَإِلَى النَّاسِ دُيُونَهُمْ شَرْعًا فَظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُمْ يَكُونُونَ فِيهِ أُسْوَةٌ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Maka apabila hakim telah menetapkan pembatasan (hajr) atasnya, menurut pendapat asy-Syafi‘i, ia wajib membayarkan utangnya kepada tuannya dan kepada orang-orang lain secara syar‘i. Maka, yang tampak dari hal ini adalah bahwa mereka semua diperlakukan sama dalam hal tersebut. Namun, para ulama kami berbeda pendapat mengenai hal ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّ الْجَمَاعَةَ أُسْوَةٌ فِي مَالِهِ بِقَدْرِ حُقُوقِهِمْ فَيَشْتَرِكُ فِيهِ أَرْبَابُ الدُّيُونِ وَأَصْحَابُ الْجِنَايَاتِ وَالسَّيِّدِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمْ مُطَالِبٌ بِحَقٍّ

Salah satu pendapat, yang merupakan pendapat yang tampak dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa jamaah (kelompok orang) memiliki kedudukan yang sama dalam harta seseorang sesuai dengan kadar hak mereka. Maka, para pemilik utang, para pihak yang terkait dengan jinayah (tindak pidana), dan tuan (pemilik budak) semuanya berbagi dalam harta itu, karena masing-masing dari mereka menuntut haknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُمْ إِنَّمَا يَكُونُونَ أُسْوَةٌ مَعَ اتِّسَاعِ الْمَالِ وَفِي كَلَامِ الشَّافِعِيِّ دَلِيلٌ عَلَيْهِ فَأَمَّا مَعَ ضِيقِ الْمَالِ فَيُقَدَّمُ أَرْبَابُ الدُّيُونِ لِأَنَّهُمْ بِمَا فِي يَدِهِ أَخَصُّ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ دُيُونِهِمْ فَضْلٌ كَانَ مُسْتَحِقُّ الْجِنَايَةِ أَحَقَّ بِهَا مِنَ السَّيِّدِ لِاسْتِقْرَارِ حَقِّهِ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ فَضْلٌ صَارَتْ حِينَئِذٍ إِلَى السَّيِّدِ

Pendapat kedua adalah bahwa mereka hanya dapat dijadikan teladan ketika harta itu luas (cukup), dan dalam perkataan asy-Syafi‘i terdapat dalil atas hal ini. Adapun ketika harta itu sempit (tidak cukup), maka para pemilik utang didahulukan, karena mereka lebih berhak atas apa yang ada di tangannya. Jika setelah melunasi utang mereka masih ada kelebihan, maka orang yang berhak atas jinayah (tindak pidana) lebih berhak atas kelebihan itu daripada tuan, karena haknya telah tetap. Jika setelah membayar diyat jinayah masih ada kelebihan, maka kelebihan itu baru menjadi milik tuan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا فَرَّقَ مَالَهُ فِيهِمْ عَلَى مَا وَصَفْنَا وَبَقِيَتْ لَهُمْ حُقُوقٌ وَجَمِيعُهَا حَالَّةٌ فَلَيْسَ يَلْزَمُهُمْ إِنْظَارُهُ بِهَا إِلَّا بِاخْتِيَارِهِمْ فَإِنِ انفقوا عَلَى إِنْظَارِهِ بِهَا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ هَلْ يَلْزَمُهُمْ هَذَا الْإِنْظَارُ إِلَى الْأَجَلِ الَّذِي سَمَّوْهُ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ وَلَهُمْ أَنْ يَرْجِعُوا فِي الْمُطَالَبَةِ مَتَى شاؤوا كَالْهِبَةِ إِذَا لَمْ تُقْبَضُ

Apabila ia telah membagikan hartanya kepada mereka sebagaimana yang telah kami jelaskan, dan masih tersisa hak-hak mereka yang seluruhnya sudah jatuh tempo, maka mereka tidak wajib memberinya penangguhan kecuali atas pilihan mereka sendiri. Jika mereka sepakat untuk memberikan penangguhan hingga waktu tertentu, para fuqaha berbeda pendapat apakah mereka wajib menepati penangguhan tersebut hingga waktu yang telah disepakati. Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, dan mereka berhak kembali menuntut kapan saja mereka menghendaki, seperti halnya hibah yang belum diterima.

وَقَالَ مَالِكٌ يَلْزَمُهُمُ الْإِنْظَارُ وَلَيْسَ لَهُمُ الْمُطَالَبَةُ قَبْلَ الْأَجَلِ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي لُزُومِ الْهِبَةِ قَبْلَ الْقَبْضِ

Malik berpendapat bahwa mereka wajib memberikan penangguhan waktu dan tidak berhak menuntut sebelum jatuh tempo, berdasarkan prinsipnya mengenai kewajiban hibah sebelum terjadi penerimaan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ مَا صَحَّ دُخُولُ الْأَجَلِ فِيهِ كَالْأَثْمَانِ وَمَالِ الْكِتَابَةِ لَزِمَ الْإِنْظَارُ بِهِ إِلَى الْأَجَلِ وَمَا لَمْ يَصِحَّ دُخُولُ الْأَجَلِ فِيهِ كَالْقَرْضِ وَأَرْشِ الْجِنَايَةِ لَمْ يَلْزَمِ الْإِنْظَارُ بِهِ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُمَا

Abu Hanifah berkata: Apa yang sah masuknya tempo di dalamnya, seperti harga-harga dan harta kitabah, maka wajib diberikan penangguhan hingga tempo tersebut. Sedangkan apa yang tidak sah masuknya tempo di dalamnya, seperti pinjaman (qardh) dan denda jinayah, maka tidak wajib diberikan penangguhan. Dan pembahasan tentang hal ini bersama keduanya telah berlalu.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِنْ لَمْ يُنْظِرُوهُ وَطَالَبُوهُ بِحُقُوقِهِمْ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ السَّيِّدِ وَمُسْتَحِقِّ الْجِنَايَةِ أَنْ يُعَجِّزَهُ وَلَيْسَ لِأَرْبَابِ الدُّيُونِ تَعْجِيزُهُ

Jika mereka tidak memberinya penangguhan dan menuntut hak-hak mereka, maka masing-masing dari tuan dan pihak yang berhak atas jināyah berhak untuk membuatnya tidak berdaya (menahan atau membatasi geraknya), sedangkan para pemilik utang tidak berhak membuatnya tidak berdaya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لِأَرْبَابِ الدُّيُونِ تَعْجِيزُهُ أَيْضًا وَبَنَى ذَلِكَ عَلَى أَصْلِهِ فِي تَعَلُّقِ الدَّيْنِ بِرَقَبَتِهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa para pemilik utang juga berhak melakukan tindakan ta‘jīz terhadapnya, dan ia mendasarkan hal itu pada prinsipnya mengenai keterikatan utang pada diri (raqabah) orang yang berutang.

وَدُيُونُ الْمُعَامَلَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَا تَتَعَلَّقُ بِالرَّقَبَةِ وَتَثْبُتُ فِي ذِمَّتِهِ وَفِيمَا بِيَدِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لِأَرْبَابِهَا تَعْجِيزُهُ بِهَا وَاخْتُصَّ السَّيِّدُ وَصَاحِبُ الْجِنَايَةِ بِتَعْجِيزِهِ وَلَهُمَا أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ

Utang-utang mu‘āmalah menurut Imam Syafi‘i tidak terkait dengan tubuh (budak), melainkan tetap menjadi tanggungan (dzimmah) dan apa yang ada di tangannya. Oleh karena itu, para pemilik utang tersebut tidak berhak menjadikan budak itu tidak mampu (ta‘jīz) karena utang tersebut. Hanya tuan (sayyid) dan pemilik perkara jināyah yang khusus berhak melakukan ta‘jīz terhadapnya, dan keduanya memiliki empat keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى إِنْظَارِهِ فَيَكُونَ لَهُمَا ذَلِكَ وَلَا اعْتِرَاضَ لِأَرْبَابِ الدُّيُونِ فِيهِ وَيَكْتَسِبُ بَعْدَ الْإِنْظَارِ وَفِيمَا اسْتَفَادَهُ مِنْ كَسْبٍ وَجْهَانِ

Salah satu di antaranya adalah kedua belah pihak sepakat untuk memberikan penangguhan waktu, maka hal itu dibolehkan bagi mereka berdua dan para pemilik utang tidak berhak mengajukan keberatan dalam hal ini. Setelah penangguhan, pihak yang bersangkutan dapat memperoleh penghasilan, dan terhadap apa yang didapatkannya dari penghasilan tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَخْتَصَّ بِأَرْبَابِ الدُّيُونِ

Salah satunya adalah khusus bagi para pemilik utang.

وَالثَّانِي أَنَّهُ يَكُونُ أُسْوَةً بَيْنَ جَمِيعِ الحقوق

Yang kedua adalah bahwa hal itu menjadi teladan di antara seluruh hak.

والحالة الثَّانِيَةُ أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى تَعْجِيزِهِ وَإِعَادَتِهِ عَبْدًا فَلَهُمَا ذَلِكَ فَإِذَا صَارَ بِالتَّعْجِيزِ عَبْدًا كَانَتِ الدُّيُونُ فِي ذِمَّتِهِ يُؤَدِّيهَا بَعْدَ عِتْقِهِ وَيَسَارِهِ

Keadaan kedua adalah apabila keduanya sepakat untuk membuatnya tidak mampu (membayar) dan mengembalikannya sebagai budak, maka hal itu boleh bagi keduanya. Apabila dengan tindakan tersebut ia kembali menjadi budak, maka utang-utang yang ada dalam tanggungannya tetap harus ia bayar setelah ia dimerdekakan dan telah mampu (secara finansial).

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَكُونُ فِي رَقَبَتِهِ يُبَاعُ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَفْدِيَهُ السَّيِّدُ مِنْهَا وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِمَا ذَكَرْنَاهُ ثُمَّ يُقَالُ لِلسَّيِّدِ بَعْدَ التَّعْجِيزِ أَنْتَ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ تَفْدِيَهُ مِنْ أَرْشِ جِنَايَاتِهِ اسْتِبْقَاءً لِمِلْكِهِ أَوْ يُبَاعَ فِيهِمَا فَإِنْ لَمْ يَفْدِهِ بِيعَ فِي جِنَايَاتِهِ فَإِنْ كَثُرَتْ وَكَانَ مُسْتَحِقُّوهَا أُسْوَةً فِي ثَمَنِهِ بِقَدَرِ أُرُوشِهِمْ وَسَوَاءٌ فِيهَا مَنْ تَقَدَّمَتْ جِنَايَتُهُ أَوْ تَأَخَّرَتْ فَإِنْ فَضَلَ لَهُمَا فَضْلٌ فَهَلْ يَتَعَلَّقُ بِذِمَّةِ الْعَبْدِ يُؤَدِّيهِ بَعْدَ عِتْقِهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ مِن اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي جِنَايَةِ الْعَبْدِ هَلْ وَجَبَتِ ابْتِدَاءً فِي رَقَبَتِهِ أَوْ وَجَبَتْ فِي ذِمَّتِهِ وَانْتَقَلَتْ إِلَى رَقَبَتِهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa diyat (tebusan) itu tetap menjadi tanggungan budak, lalu budak itu dijual untuk menutupi diyat tersebut, kecuali jika tuannya menebusnya dari diyat itu. Namun, pendapat ini tidaklah benar sebagaimana telah kami sebutkan. Kemudian, setelah budak dinyatakan tidak mampu membayar, dikatakan kepada tuannya: “Engkau diberi pilihan antara menebusnya dari diyat-diyat kejahatannya agar tetap menjadi milikmu, atau budak itu dijual untuk menutupi diyat-diyat tersebut.” Jika tuannya tidak menebusnya, maka budak itu dijual untuk membayar diyat kejahatannya. Jika diyatnya banyak dan para penerima diyat itu berhak mendapat bagian yang sama dari harga budak sesuai dengan kadar diyat mereka, maka tidak ada perbedaan antara siapa yang kejahatannya lebih dahulu atau belakangan. Jika masih ada sisa dari harga budak setelah diyat-diyat itu dibayarkan, maka apakah sisa itu menjadi tanggungan budak yang harus dibayar setelah ia dimerdekakan atau tidak, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami dalam masalah kejahatan budak: apakah diyat itu pada awalnya menjadi tanggungan budak atau menjadi tanggungan hartanya lalu berpindah menjadi tanggungan dirinya.

فَإِنْ قِيلَ وَجَبَتِ ابْتِدَاءً فِي رَقَبَتِهِ كَانَ الْبَاقِي مِنْهَا هَدَرًا

Jika dikatakan bahwa (denda) itu wajib sejak awal pada lehernya, maka sisa dari (denda) tersebut menjadi sia-sia (tidak berlaku).

وَإِنْ قِيلَ وَجَبَتْ فِي ذِمَّتِهِ ثُمَّ انْتَقَلَتْ إِلَى رَقَبَتِهِ كَانَ الْبَاقِي مِنْهَا ثَابِتًا فِي ذِمَّتِهِ يُؤَدِّيهِ بَعْدَ عِتْقِهِ وَإِنْ أَرَادَ السَّيِّدُ أَنْ يَفْدِيَهُ مِنْ جِنَايَتِهِ فَفِيمَا يَفْدِيهِ قَوْلَانِ

Jika dikatakan bahwa kewajiban itu tetap dalam tanggungan (dzimmah)-nya, kemudian berpindah kepada dirinya (raqabah)-nya, maka sisa dari kewajiban tersebut tetap menjadi tanggungannya dan ia harus menunaikannya setelah ia merdeka. Dan jika tuannya ingin menebusnya dari tindak kejahatannya, maka dalam hal tebusan tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَفْدِيهِ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ لَا غَيْرَ يَشْتَرِكُ فِيهَا أَرْبَابُ الْجِنَايَاتِ

Salah satunya ditebus sesuai dengan kadar nilainya saja, tidak lebih, dan para pelaku jināyah turut berbagi di dalamnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَفْدِيهِ بِأُرُوشِ جِنَايَاتِهِ كُلِّهَا وَإِنْ زَادَتْ عَلَى الْقِيمَةِ أَضْعَافًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa pelaku menebusnya dengan membayar ‘urūsy (ganti rugi) atas seluruh jināyah (pelanggaran) yang dilakukannya, meskipun jumlahnya melebihi nilai barang tersebut berkali-kali lipat.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَدْعُوَ السَّيِّدُ إِلَى إِنْظَارِهِ وَيَدْعُوَ صَاحِبُ الْجِنَايَةِ إِلَى تَعْجِيزِهِ فَيُقَالُ لِلسَّيِّدِ إِنْ ضَمِنْتَ أَرْشَ الْجِنَايَةِ فَلَكَ إِنْظَارُهُ وَفِي قَدْرِ مَا يَضْمَنُهُ مِنْهُمَا مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَضْمَنْ أَرْشَ الْجِنَايَةِ فَلِصَاحِبِهَا تَعْجِيزُهُ وَبَيْعُهُ فِي جِنَايَاتِهِ لِيَصِلَ إِلَى حَقِّهِ مِنْ ثَمَنِهِ

Keadaan ketiga adalah ketika tuan (pemilik budak) meminta penangguhan pembayaran, sementara pelaku jinayah (budak) meminta agar ia segera dilemahkan (dijual). Maka dikatakan kepada tuan: Jika engkau menjamin pembayaran diyat jinayah, maka engkau berhak menangguhkan (pembayaran)nya. Dalam hal seberapa banyak yang dijamin oleh keduanya, berlaku apa yang telah kami sebutkan dari dua pendapat. Namun jika tuan tidak menjamin diyat jinayah, maka pemilik hak (korban jinayah) berhak untuk melemahkan (menuntut penjualan) budak tersebut dan menjualnya karena jinayah yang dilakukannya, agar ia dapat memperoleh haknya dari hasil penjualan budak itu.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَدْعُوَ صَاحِبُ الْجِنَايَةِ إِلَى إِنْظَارِهِ وَيَدْعُوَ السَّيِّدُ إِلَى تَعْجِيزِهِ فَتَعْجِيزُ السَّيِّدِ أَحَقُّ مِنْ إِنْظَارِ صَاحِبِ الْجِنَايَةِ فَإِذَا عَجَّزَهُ السَّيِّدُ وَفِي يَدِهِ مَالٌ كَانَ أَرْبَابُ الدُّيُونِ أَحَقَّ بِذَلِكَ الْمَالِ وَجْهًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ عَبْدًا وَمَا بِيَدِ الْعَبْدِ مِنْ مَالٍ فَصَرَفَهُ فِي دُيُونِ مُعَامَلَاتِهِ أَحَقُّ مِنْ سَيِّدِهِ وَمِنْ جِنَايَاتِهِ فَإِنْ بَقِيَتْ مِنْ دُيُونِهِمْ بَقَايَا كَانَتْ فِي ذِمَّتِهِ بَعْدَ عِتْقِهِ وَبِيعَ فِي الْجِنَايَةِ إِلَّا أَنْ يَفْدِيَهُ السَّيِّدُ مِنْهَا وَإِنْ فَضَلَ بَعْدَ الدُّيُونِ فَضْلٌ كَانَ صَرْفُهُ فِي مُسْتَحِقِّ الْجِنَايَةِ أَحَقَّ مِنَ السَّيِّدِ وَبِيعَ فِي بَاقِي جِنَايَتِهِ إِلَّا أَنْ يَفْدِيَهُ السَّيِّدُ مِنْهَا

Keadaan keempat adalah ketika pihak yang menjadi korban tindak pidana meminta penundaan pelaksanaan hukuman, sedangkan tuan (pemilik budak) meminta agar budak tersebut dinyatakan tidak mampu (membayar diyat). Maka permintaan tuan untuk menonaktifkan (membebaskan dari tanggungan) lebih diutamakan daripada permintaan penundaan dari korban tindak pidana. Apabila tuan telah menonaktifkannya, sementara di tangan budak tersebut masih ada harta, maka para pemilik utang lebih berhak atas harta itu, karena ia telah menjadi budak, dan apa yang dimiliki budak berupa harta, penggunaannya untuk membayar utang-utang transaksi lebih diutamakan daripada untuk tuannya atau untuk diyat tindak pidananya. Jika masih tersisa utang setelah itu, maka sisa utang tersebut tetap menjadi tanggungannya setelah ia dimerdekakan, dan ia dijual untuk menutupi diyat tindak pidana, kecuali jika tuannya menebusnya dari diyat itu. Jika setelah pelunasan utang masih ada kelebihan harta, maka kelebihan itu lebih berhak diberikan kepada pihak yang berhak atas diyat tindak pidana daripada kepada tuannya, dan ia dijual untuk menutupi sisa diyat tindak pidana, kecuali jika tuannya menebusnya dari diyat itu.

فَصْلٌ

Fasal

وَلَوْ مَاتَ الْمُكَاتَبُ قَبْلَ تَعْجِيزِهِ مَاتَ عَبْدًا وَصَارَتْ جِنَايَتُهُ هَدَرًا تَسْقُطُ بِمَوْتِهِ كَالْعَبْدِ الْجَانِي إِذَا مَاتَ وَكَانَ مَا بِيَدِهِ مَصْرُوفًا في ديونه فإذا فَضَلَ بَعْدَ الدُّيُونِ فَضْلٌ كَانَ لِسَيِّدِهِ وَإِنْ بقي من الديون بقية كانت في ذمته مَيِّتٍ لَا يُؤْخَذُ بِهَا حَيٌّ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika seorang mukatab meninggal sebelum dinyatakan tidak mampu (ta‘jīz), maka ia meninggal dalam status sebagai budak, dan tindak kejahatannya menjadi gugur, tidak ada tuntutan atasnya karena kematiannya, sebagaimana budak yang melakukan kejahatan lalu meninggal. Harta yang ada di tangannya digunakan untuk membayar utang-utangnya. Jika setelah utang-utang itu dilunasi masih ada sisa, maka sisanya menjadi milik tuannya. Namun jika masih ada sisa utang setelah hartanya habis, maka utang tersebut tetap menjadi tanggungan orang yang telah meninggal, dan tidak ada seorang pun yang hidup yang dapat dimintai pertanggungjawaban atasnya. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْجِنَايَاتُ مُتَفَرِّقَةً أَوْ مَعًا وَبَعْضُهَا قَبْلَ التَّعْجِيزِ وَبَعْدَهُ يَتَحَاصُّونَ فِي ثَمَنِهِ مَعًا وَإِنْ أَبْرَأَهُ بَعْضُهُمْ كَانَ ثَمَنُهُ لِلْبَاقِينَ مِنْهُمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Sama saja, apakah tindak pidana (jināyah) itu terjadi secara terpisah atau bersamaan, dan sebagian di antaranya terjadi sebelum atau sesudah tindakan yang menyebabkan kehilangan kemampuan (ta‘jīz), maka mereka semua berbagi dalam harga (ganti rugi) secara bersama-sama. Jika sebagian dari mereka memaafkan (membebaskan haknya), maka nilai (ganti rugi) itu menjadi milik yang tersisa dari mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْمُكَاتَبَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعَجَّزَ إِلَّا بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَأَرْشِ الْجِنَايَةِ فَإِذَا عُجِّزَ بِهِمَا أَوْ بِأَحَدِهِمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يُبَاعَ فِي مَالِ الْكِتَابَةِ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa seorang mukatab tidak boleh dijadikan ‘ajiz (dikembalikan statusnya sebagai budak) kecuali karena harta kitabah dan diyat jinayah. Maka jika ia dijadikan ‘ajiz karena keduanya atau salah satunya, tidak boleh ia dijual dalam harta kitabah karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak tetap.

وَالثَّانِي أَنَّهُ مِلْكٌ لِلسَّيِّدِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُبَاعَ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ فَأَمَّا بَيْعُهُ فِي أُرُوشِ جِنَايَاتِهِ فَمُسْتَحِقٌّ إِلَّا أَنْ يَفْدِيَهُ السَّيِّدُ مِنْهَا فَإِنْ فَدَاهُ مُنِعَ مِنْ بَيْعِهِ وَفِيمَا يَفْدِيهِ بِهِ قَوْلَانِ

Kedua, bahwa budak tersebut adalah milik tuannya, sehingga tidak boleh dijual atas dirinya sendiri. Adapun penjualannya untuk membayar diyat atas tindak pidana yang dilakukannya, maka itu dibenarkan, kecuali jika tuannya menebusnya dari diyat tersebut. Jika tuannya menebusnya, maka penjualannya dilarang. Terkait dengan apa yang digunakan untuk menebusnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا بِأَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أُرُوشِ جِنَايَاتِهِ

Salah satunya dengan nilai yang lebih rendah dari harganya atau dari diyat (ganti rugi) atas luka-luka yang ditimbulkannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَفْدِيهِ بِأُرُوشِ جِنَايَاتِهِ كُلِّهَا وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ وَإِنْ لَمْ يَفْدِهِ بِيعَ جَبْرًا عَلَيْهِ وَكَانَ ثَمَنُهُ مَصْرُوفًا فِي أُرُوشِ الْجِنَايَاتِ سَوَاءٌ كَانَتْ مُجْتَمِعَةً أَوْ مُتَفَرِّقَةً يَشْتَرِكُ فِيهِ مَنْ تَقَدَّمَتْ جِنَايَتُهُ وَتَأَخَّرَتْ فَلَوْ جَنَى قَبْلَ الْكِتَابَةِ ثُمَّ جَنَى فِي حَالِ الْكِتَابَةِ ثُمَّ جَنَى بَعْدَ التَّعْجِيزِ اشْتَرَكَ أَرْبَابُ الْجِنَايَاتِ الثَّلَاثِ فِي ثَمَنِهِ لِتَعَلُّقِ جَمِيعِهَا بِرَقَبَتِهِ يَتَحَاصُّونَ فِيهِ بِقَدْرِ أُرُوشِهِمْ فَلَوْ عَفَا أَحَدُهُمْ عَنْ حَقِّهِ وَأَبْرَأَهُ مِنْ أَرْشِهِ رَجَعَ حَقُّهُ عَلَى الْبَاقِينَ وَلَمْ يُرَدَّ عَلَى السَّيِّدِ لِأَنَّهُ لَوِ انْفَرَدَ أَحَدُهُمْ لَاسْتَوْعَبَ بِالْجِنَايَةِ جَمِيعَ ثَمَنِهِ وَجَرَى مَجْرَى أَهْلِ الْوَصَايَا إِذَا ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْهُمْ وَعَفَا أَحَدُهُمْ تَوَفَّرَ سَهْمُهُ عَلَى الْبَاقِينَ مِنْهُمْ وَكَغُرَمَاءِ الْمُفْلِسِ إِذَا أَبْرَأَهُ أَحَدُهُمْ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia (budak) ditebus dengan ‘urūsy jināyāt-nya seluruhnya, meskipun jumlahnya berlipat-lipat dari nilai dirinya. Jika tidak ditebus, maka budak itu dijual secara paksa, dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar ‘urūsy jināyāt, baik jināyāt itu terjadi secara bersamaan maupun terpisah. Mereka yang jināyātnya lebih dahulu maupun belakangan sama-sama berhak atas bagian dari hasil penjualan tersebut. Jika budak itu melakukan jināyah sebelum akad kitābah, lalu melakukan jināyah saat dalam masa kitābah, kemudian melakukan jināyah lagi setelah dinyatakan tidak mampu membayar, maka para pemilik hak dari tiga jināyah tersebut bersama-sama berhak atas hasil penjualannya, karena seluruh jināyah itu berkaitan dengan dirinya. Mereka berbagi sesuai kadar ‘urūsy masing-masing. Jika salah satu dari mereka memaafkan haknya dan membebaskan budak itu dari ‘urūsy-nya, maka haknya berpindah kepada yang lain dan tidak dikembalikan kepada tuan budak, karena jika salah satu dari mereka berdiri sendiri, ia berhak atas seluruh hasil penjualan karena jināyahnya. Hal ini serupa dengan ahli wasiat jika sepertiga harta tidak cukup untuk mereka, lalu salah satu dari mereka memaafkan bagiannya, maka bagiannya diberikan kepada yang lain. Demikian pula seperti para kreditur orang yang bangkrut, jika salah satu dari mereka membebaskan utangnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَطَعَ يَدَ سَيِّدِهِ فَبَرَأَ وَعَتَقَ بِالْأَدَاءِ اتَّبَعَهُ بِأَرْشِ يَدِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak memotong tangan tuannya, lalu tuannya sembuh dan budak itu merdeka karena membayar (tebusan), maka tuannya dapat menuntut budak tersebut untuk membayar diyat (ganti rugi) atas tangannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا قَطَعَ المكاتب يده سَيِّدِهِ فَإِنْ كَانَ عَمْدًا فَلِلسَّيِّدِ الْقِصَاصُ قَبْلَ الِانْدِمَالِ وَبَعْدَهُ وَتَكُونُ الْكِتَابَةُ بَعْدَ الِاقْتِصَاصِ كَحَالِهَا قَبْلَهُ وَإِنْ كَانَ خَطَأً أَوْ عَمْدًا عَفَا عَنِ الْقِصَاصِ فِيهِ فَهَلْ لَهُ الدِّيَةُ قَبْلَ الِانْدِمَالِ أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ini sebagaimana yang dikatakan, jika seorang mukatab memotong tangan tuannya, maka jika dilakukan dengan sengaja, tuan berhak melakukan qishāsh sebelum atau sesudah luka itu sembuh, dan status kitabah setelah pelaksanaan qishāsh tetap seperti sebelumnya. Namun jika dilakukan karena kesalahan, atau dilakukan dengan sengaja tetapi tuan memaafkan dari qishāsh, maka apakah ia berhak mendapatkan diyat sebelum luka itu sembuh atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يَسْتَحِقُّهَا قَبْلَ الِانْدِمَالِ كَالْقِصَاصِ

Salah satunya berhak mendapatkannya sebelum luka sembuh, seperti dalam kasus qishāsh.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا يَسْتَحِقُّهَا قَبْلَ الِانْدِمَالِ بِخِلَافِ الْقِصَاصِ لِأَنَّ وُجُوبَ الْقِصَاصِ مُسْتَقِرٌّ وَوُجُوبَ الدِّيَةِ مُتَرَقَّبٌ قَبْلَ الِانْدِمَالِ لِجَوَازِ الزِّيَادَةِ بِالسِّرَايَةِ أَوِ النُّقْصَانِ بِالْمُشَارَكَةِ فَلَمْ يَحْكُمْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ الِانْدِمَالِ فَعَلَى هَذَا إِذَا قُلْنَا بِالْأَول إنَّ الدِّيَةَ تُسْتَحَقُّ قَبْلَ الِانْدِمَالِ فَقَدِ اجْتَمَعَ لِلسَّيِّدِ عَلَى مُكَاتَبِهِ حَقَّانِ مَالُ الْكِتَابَةِ وَأَرْشُ الْجِنَايَةِ وَفِي قَدْرِهِ قَوْلَانِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa denda (diyah) tidak berhak diterima sebelum luka sembuh, berbeda dengan qishāsh, karena kewajiban qishāsh sudah tetap, sedangkan kewajiban diyah masih ditunggu-tunggu sebelum luka sembuh, sebab masih dimungkinkan adanya penambahan akibat penyebaran luka atau pengurangan karena adanya pihak lain yang turut serta. Oleh karena itu, diyah tidak diputuskan kecuali setelah luka sembuh. Berdasarkan hal ini, jika kita berpendapat bahwa diyah berhak diterima sebelum luka sembuh, maka bagi tuan atas budaknya yang sedang dalam akad mukātabah, terkumpul dua hak: harta mukātabah dan kompensasi atas tindak pidana (arsh al-jināyah), dan mengenai besarannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَةِ الْمُكَاتَبِ أَوْ دِيَةِ الْيَدِ

Salah satunya adalah yang lebih sedikit di antara dua hal, yaitu nilai mukatab atau diyat tangan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي دِيَةُ الْيَدِ وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ فَإِذَا اجْتَمَعَ عَلَى الْمُكَاتَبِ هَذَانِ الْحَقَّانِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَأَرْشِ الْجِنَايَةِ أَخَذَهُ السَّيِّدُ بِهِمَا فَإِنْ أَتَاهُ الْمُكَاتَبُ بِأَحَدِهِمَا نَظَرَ فَإِنْ جَعَلَهُ الْمَكَاتَبُ مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَجْعَلَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَكَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ بَاقِيًا إِنْ عَجَزَ عَنْهُ الْمُكَاتَبُ فَلِلسَّيِّدِ تَعْجِيزُهُ بِهِ وَإِعَادَتُهُ إِلَى الرِّقِّ وَإِنْ جَعَلَ الْمُكَاتَبُ مَا أَدَّاهُ مَصْرُوفًا إِلَى مَالِ الْكِتَابَةِ دُونَ أَرْشِ الْجِنَايَةِ فَلِلسَّيِّدِ الْخِيَارُ فِي قَبُولِهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ أَوِ الْعُدُولِ بِهِ إِلَى أَرْشِ الْجِنَايَةِ لِئَلَّا يَعْتِقَ بِالْكِتَابَةِ ويتوى بإعساره وحريته أرش الجناية فإن اختاره أَخْذَهُ مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ كَانَ ذَلِكَ بِمُوَافَقَةِ الْمُكَاتَبِ عَلَيْهِ وَبَقِيَ لَهُ مَالُ الْكِتَابَةِ وَإِنْ رَضِيَ أَنْ يَأْخُذَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ عَتَقَ بِهِ وَصَارَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ دَيْنًا عَلَيْهِ بَعْدَ حُرِّيَّتِهِ وَلَيْسَ لَهُ تَعْجِيزُهُ بِهِ وَكَانَ قَدْرُ الْأَرْشِ مُعْتَبَرًا بِمَا ذَكَرْنَا مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa diyat tangan, meskipun nilainya berlipat-lipat dari harga budak tersebut, tetap harus dibayarkan. Jika pada seorang mukatab berkumpul dua hak ini, yaitu harta kitabah dan arsy jinayah, maka tuan dapat menuntut keduanya. Jika mukatab membayar salah satunya, maka dilihat: jika mukatab menjadikan pembayaran itu sebagai arsy jinayah, maka tuan tidak boleh menganggapnya sebagai harta kitabah, dan harta kitabah tetap menjadi tanggungan. Jika mukatab tidak mampu membayar harta kitabah, maka tuan berhak untuk menonaktifkan akad kitabah dan mengembalikannya menjadi budak. Jika mukatab menganggap pembayaran itu sebagai harta kitabah dan bukan arsy jinayah, maka tuan memiliki pilihan untuk menerima pembayaran itu sebagai harta kitabah atau mengalihkannya menjadi arsy jinayah agar mukatab tidak merdeka karena kitabah, sehingga jika ia tidak mampu membayar setelah merdeka, arsy jinayah tetap menjadi utangnya. Jika tuan memilih mengambilnya sebagai arsy jinayah, maka itu harus dengan persetujuan mukatab, dan harta kitabah tetap menjadi tanggungan. Jika tuan rela mengambilnya sebagai harta kitabah, maka mukatab merdeka karenanya dan arsy jinayah menjadi utang atasnya setelah ia merdeka, dan tuan tidak berhak menonaktifkan akad kitabah karena itu. Besaran arsy diperhitungkan sesuai dengan dua pendapat yang telah disebutkan.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنْ قُلْنَا إِنَّ أَرْشَ الْجِنَايَةِ لَا يُسْتَحَقُّ قَبْلَ الِانْدِمَالِ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ مُطَالَبَةُ الْمُكَاتَبِ إِلَّا بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَحْدَهُ إِلَّا أَنْ تَنْدَمِلَ يَدُهُ وَأَيُّ مَالٍ أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ كَانَ مَحْسُوبًا مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ فَإِنْ تَرَاضَيَا عَلَى أَنْ يَكُونَ مَحْسُوبًا مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ كَانَ فِي جَوَازِهِ قَوْلَانِ مِنْ تَعْجِيلِ الدَّيْنِ الْمُؤَجَّلِ أَصَحُّهُمَا هَاهُنَا الْمَنْعُ مِنْهُ لِأَنَّهُ مَعَ تَأْجِيلِهِ مَجْهُولُ الْقَدْرِ فَإِذَا انْدَمَلَتْ يَدُ السَّيِّدِ لَمْ يَخْلُ حَالَ انْدِمَالِهَا مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Jika kita mengatakan bahwa arsy al-jinayah (denda pelanggaran) tidak berhak diterima sebelum luka sembuh, maka tuan tidak berhak menuntut mukatab kecuali hanya dengan pembayaran uang kitabah saja, kecuali jika tangannya telah sembuh. Dan harta apa pun yang dibayarkan oleh mukatab dihitung sebagai bagian dari uang kitabahnya. Jika keduanya sepakat agar harta tersebut dihitung sebagai arsy al-jinayah, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat terkait percepatan pembayaran utang yang masih ditangguhkan; yang lebih sahih di sini adalah pelarangan, karena selama masih ditangguhkan, besaran (denda) itu belum diketahui. Maka apabila tangan tuan telah sembuh, pada saat sembuhnya itu tidak lepas dari dua keadaan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ قَبْلَ عِتْقِ الْمُكَاتَبِ بِالْأَدَاءِ أَوْ بَعْدَهُ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ فَقَدْرُ الْأَرْشِ مُعْتَبَرٌ بِجِنَايَةِ الْمُكَاتَبِ فَيَكُونُ عَلَى قَوْلَيْنِ

Bisa jadi terjadi sebelum pemerdekaan mukatab dengan pelunasan atau sesudahnya. Jika terjadi sebelum pemerdekaan mukatab dengan pelunasan, maka besaran arsy (ganti rugi) dihitung berdasarkan tindak pidana yang dilakukan oleh mukatab, sehingga terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا مُقَدَّرَةٌ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَةِ الْمُكَاتَبِ أَوْ دِيَةِ الْيَدِ

Salah satunya adalah bahwa nilainya ditetapkan dengan yang paling sedikit di antara dua hal, yaitu nilai al-mukatab atau diyat tangan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهَا مُقَدَّرَةٌ بِدِيَةِ الْيَدِ وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa nilainya ditetapkan sebesar diyat tangan, meskipun jumlahnya berlipat-lipat dari nilai tangannya.

وَإِنْ كَانَ الِانْدِمَالُ بَعْدَ عِتْقِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يُعْتَبَرُ بِهَا جِنَايَةُ الْحُرِّ أَوْ جِنَايَةِ الْمُكَاتَبِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika penyembuhan terjadi setelah ia dimerdekakan, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah yang dijadikan acuan adalah tindak pidana orang merdeka atau tindak pidana mukatab, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا يُعْتَبَرُ بِهَا جِنَايَةُ الْحُرِّ اعْتِبَارًا بِحَالِ اسْتِقْرَارِهَا بَعْدَ حُرِّيَّةِ الْمُكَاتَبِ فَلِهَذَا تَلْزَمُهُ دِيَةُ الْيَدِ مَا بَلَغَتْ كَمَا لَوِ ابْتَدَأَ قَطْعَهَا بَعْدَ حُرِّيَّتِهِ

Salah satunya adalah bahwa pada kasus ini, pelanggaran terhadap seorang hamba mukatab diperlakukan seperti pelanggaran terhadap orang merdeka, dengan mempertimbangkan keadaannya setelah ia menjadi merdeka. Oleh karena itu, pelaku diwajibkan membayar diyat tangan sebesar apa pun nilainya, sebagaimana jika pemotongan tangan itu dilakukan setelah ia merdeka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُعْتَبَرُ بِهَا حَالَ جِنَايَةِ الْمُكَاتَبِ اعْتِبَارًا بِوَقْتِ الْجِنَايَةِ لِأَنَّهُ جَنَاهَا وَهُوَ مُكَاتَبٌ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْقَوْلَيْنِ

Pendapat kedua, statusnya dipertimbangkan pada saat terjadinya jinayah oleh mukatab, yaitu dengan memperhatikan waktu terjadinya jinayah, karena ia melakukan jinayah tersebut ketika masih berstatus mukatab. Maka berdasarkan hal ini, berlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan dari dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا مُقَدَّرَةٌ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ

Salah satunya adalah bahwa ia ditetapkan berdasarkan yang paling sedikit di antara dua hal.

وَالثَّانِي بِدِيَةِ الْيَدِ بَالِغَةً مَا بَلَغَتْ

Yang kedua adalah diyat tangan, berapapun besar nilainya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا أَعْتَقَ السَّيِّدُ مُكَاتَبَهُ بَعْدَ جِنَايَتِهِ عَلَى يَدِهِ نَظَرَ فَإِنْ كَانَ الْقَوَدُ مُسْتَحَقًّا لَمْ يَسْقُطْ بِعِتْقِهِ وَكَانَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ بَعْدَ عِتْقِهِ وَإِنْ كَانَتْ خَطَأً تُوجِبُ الْمَالَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُكَاتَبِ وَقْتَ عِتْقِهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِيَدِهِ مَالٌ أَوْ لَا يَكُونُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِيَدِهِ مَالٌ بَرِئَ الْمُكَاتَبُ مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ بِالْعِتْقِ بِخِلَافِ عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ لِأَنَّ عِتْقَهُ بِالْأَدَاءِ إِذَا كَانَ عَنِ اخْتِيَارِهِ فَلَمْ يَتَضَمَّنِ الْإِبْرَاءُ مِنَ الْجِنَايَةِ وَعِتْقُ السَّيِّدِ كَانَ عَنِ اخْتِيَارِ السَّيِّدِ فَصَارَ مُتَضَمِّنًا لِلْإِبْرَاءِ مِنَ الْجِنَايَةِ وَإِنْ كَانَ بِيَدِهِ مَالٌ حِينَ أَعْتَقَهُ السَّيِّدُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَتَعَلَّقُ أَرْشُ الْجِنَايَةِ بِمَا فِي يَدِهِ مِنَ الْمَالِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Adapun jika seorang tuan memerdekakan mukatabnya setelah ia melakukan jinayah (kejahatan) terhadap tangannya, maka perlu diperhatikan: jika qishash memang berhak dilakukan, maka qishash itu tidak gugur karena kemerdekaannya, dan tuan berhak menuntut qishash darinya setelah ia merdeka. Namun jika jinayah itu merupakan kesalahan yang mewajibkan pembayaran harta, maka keadaan mukatab saat dimerdekakan tidak lepas dari dua kemungkinan: ia memiliki harta atau tidak. Jika ia tidak memiliki harta, maka mukatab bebas dari kewajiban membayar diyat jinayah karena dimerdekakan, berbeda dengan kemerdekaan karena pelunasan (pembayaran), karena kemerdekaan karena pelunasan jika atas pilihannya sendiri, maka tidak mengandung pembebasan dari jinayah. Sedangkan kemerdekaan oleh tuan adalah atas pilihan tuan, sehingga mengandung pembebasan dari jinayah. Jika saat dimerdekakan oleh tuan ia memiliki harta, maka para ulama kami berbeda pendapat apakah diyat jinayah itu terkait dengan harta yang ada di tangannya, dan terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَتَعَلَّقُ بِمَا فِي يَدِهِ لِثُبُوتِهَا فِي رَقَبَتِهِ فَعَلَى هَذَا يَبْرَأُ مِنَ الْجِنَايَةِ بِالْعِتْقِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي يَتَعَلَّقُ بِمَا فِي يَدِهِ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ لَهُ اسْتِيفَاءُ الْجِنَايَةِ مِنْهُ فَعَلَى هَذَا لَا يَبْرَأُ مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ بِالْعِتْقِ وَيُسْتَوْفَى مِمَّا فِي يَدِهِ مِنَ الْمَالِ فَإِنْ عَجَزَ الْمَالُ عَنْهُ نَظَرَ فَإِنْ عَلِمَ السَّيِّدُ بِعَجْزِ الْمَالِ بَرِئَ الْمُكَاتَبُ مِنَ الْبَاقِي وَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ السَّيِّدُ بِعَجْزِ الْمَالِ لَمْ يَبْرَأِ الْمُكَاتَبُ مِنَ الْبَاقِي وَكَانَ مَأْخُوذًا بِهِ بَعْدَ الْحُرِّيَّةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu tidak berkaitan dengan apa yang ada di tangannya, karena tanggungan tersebut tetap melekat pada dirinya. Berdasarkan pendapat ini, ia terbebas dari tanggungan jinayah dengan pembebasan (’itq). Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu berkaitan dengan apa yang ada di tangannya, karena ia sebelumnya memiliki hak untuk menunaikan jinayah dari harta tersebut. Berdasarkan pendapat ini, ia tidak terbebas dari pembayaran diyat jinayah dengan pembebasan, dan pembayaran diambil dari harta yang ada di tangannya. Jika hartanya tidak mencukupi, maka dilihat kembali: jika tuan (sayyid) mengetahui kekurangan harta tersebut, maka mukatab terbebas dari sisa tanggungan; namun jika tuan tidak mengetahui kekurangan harta tersebut, maka mukatab tidak terbebas dari sisa tanggungan dan tetap dituntut setelah ia merdeka. Allah Maha Mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَأَيُّ الْمُكَاتَبَيْنِ جَنَى وَكِتَابَتُهُمْ وَاحِدَةٌ لَزِمَتْهُ دُونَ أَصْحَابِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Siapa pun dari para mukatab yang melakukan tindak pidana, sementara akad kitābah mereka satu, maka kewajiban itu dibebankan kepadanya saja, tidak kepada rekan-rekannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ وَذَكَرْنَا أَنَّ السَّيِّدَ إِذَا كَاتَبَ جَمَاعَةً مِنْ عَبِيدِهِ فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ أَنَّ فِي كِتَابَتِهِمْ قولين أَحَدُهُمَا بَاطِلَةٌ وَالثَّانِي جَائِزَةٌ

Al-Mawardi berkata: Masalah ini telah berlalu, dan kami telah menyebutkan bahwa apabila seorang tuan memukatabahkan sekelompok budaknya dalam satu akad, maka dalam pemukatabahan mereka terdapat dua pendapat: salah satunya batal, dan yang kedua boleh.

وَذَكَرْنَا أَنَّهُ إِذَا جَنَى أَحَدُهُمْ كَانَ هُوَ الْمَأْخُوذُ بِجِنَايَتِهِ دُونَ أَصْحَابِهِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَقَالَ مَالِكٌ تَكُونُ الْجِنَايَةُ فِي كِتَابَتِهِمْ وَيُؤْخَذُونَ جَمِيعًا بِأَرْشِهَا وهذا فاسد بما قدمناه لأن عقد الحرين عَلَى الْتِزَامِ الْعَقْلِ وَتَحَمُّلِ الْجِنَايَةِ لَا يُوجِبُ تَحَمُّلَهَا فَكَانَ عَقْدُ الْكِتَابَةِ الْخَالِي مِنْ هَذَا الشَّرْطِ أَوْلَى أَنْ لَا يُوجِبَ التَّحَمُّلَ

Kami telah menyebutkan bahwa jika salah satu dari mereka melakukan tindak pidana, maka dialah yang bertanggung jawab atas tindakannya itu, bukan rekan-rekannya. Inilah pendapat Abu Hanifah. Sedangkan Malik berpendapat bahwa tindak pidana itu tercantum dalam akad kitabah mereka, sehingga mereka semua bertanggung jawab atas diyatnya. Namun, pendapat ini tidak benar sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, karena akad antara dua orang merdeka untuk menanggung diyat dan memikul tanggung jawab pidana tidak mewajibkan mereka menanggungnya. Maka, akad kitabah yang tidak memuat syarat ini lebih utama untuk tidak mewajibkan penanggungan tersebut.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَ هَذَا الْجَانِي وَلَدَ الْمُكَاتَبِ وُهِبَ لَهُ أَوْ مِنْ أَمَتِهِ أَوْ وَلَدَ مُكَاتَبِهِ لَمْ يُفْدَ بِشَيْءٍ وَإِنْ قَلَّ إِلَّا بِإِذْنِ السيد لأني لا أجعل له بيعهم ويسلمون فيباع منهم بقدر الجناية وما بقي بحاله يعتق بعتق المكاتب أو المكاتبة

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika pelaku kejahatan ini adalah anak dari seorang mukātab, atau ia dihibahkan kepadanya, atau berasal dari budak perempuannya, atau anak dari mukātabnya, maka tidak ada kewajiban membayar fidyah apa pun, meskipun sedikit, kecuali dengan izin tuannya. Sebab, aku tidak membolehkannya menjual mereka, dan mereka diserahkan sehingga dijual dari mereka sesuai kadar kejahatan, dan sisanya tetap pada keadaannya, lalu merdeka dengan kemerdekaan mukātab atau mukātabah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَ لِلْمُكَاتَبِ وَلَدٌ مِنْ أَمَتِهِ أَوْ وُهِبَ لَهُ فَقَبِلَهُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْلَيْنِ فَجَنَى لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَفْدِيَهُ مِنْ جِنَايَتِهِ وَإِنْ جَازَ لَهُ أَنْ يَفْدِيَ عَبْدَهُ مِنْ جِنَايَتِهِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُ وَلَدِهِ فَكَانَ مَا يَفْتَدِيهِ بِهِ إِتْلَافًا لِمَالِهِ وَخَالَفَ الْعَبْدُ الَّذِي هُوَ مَالٌ يَحُوزُهُ فَكَانَ مَا يَفْتَدِيهِ بِهِ اسْتِصْلَاحًا لِمَالِهِ فَإِنِ افْتَدَى الْمُكَاتَبُ وَلَدَهُ بِإِذْنِ سَيِّدِهِ كَانَ عَلَى قَوْلَيْنِ كَالْهِبَةِ بِإِذْنِهِ فَأَمَّا وَلَدُ الْمُكَاتَبَةِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar apabila seorang mukatab memiliki anak dari amanya atau anak itu dihibahkan kepadanya lalu ia menerimanya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam dua pendapat. Jika anak itu melakukan kejahatan, maka mukatab tidak boleh menebusnya dari kejahatannya, meskipun ia boleh menebus budaknya dari kejahatannya. Sebab, ia tidak boleh menjual anaknya, sehingga apa yang digunakan untuk menebusnya dianggap sebagai pemborosan hartanya. Hal ini berbeda dengan budak yang merupakan harta yang dapat ia miliki, sehingga apa yang digunakan untuk menebusnya dianggap sebagai upaya memperbaiki hartanya. Jika mukatab menebus anaknya dengan izin tuannya, maka ada dua pendapat, sebagaimana dalam kasus hibah dengan izinnya. Adapun anak perempuan mukatabah, maka dalam hal ini juga terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مِلْكٌ لِلسَّيِّدِ وَهُوَ الْمُخَاطَبُ بِافْتِدَائِهِ إِنْ شَاءَ وَبَيْعِهِ فِي جِنَايَتِهِ

Salah satunya adalah bahwa budak itu merupakan milik tuannya, dan tuanlah yang diberi hak untuk menebusnya jika ia menghendaki, serta menjualnya apabila budak tersebut melakukan jināyah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ تَبَعٌ لِأُمِّهِ يُعْتَقُ بِعِتْقِهَا وَيَرِقُّ بِرِقِّهَا وَلَيْسَ لَهَا أَنْ تَفْدِيَهُ مِنْ جِنَايَتِهِ فَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ بِقَدْرِ قِيمَتِهِ بِيعَ جَمِيعُهُ فِيهَا وَإِنْ كَانَتْ أَقَلَّ بِيعَ مِنْهُ بِقَدْرِهَا وَكَانَ بَاقِيهِ عَلَى حُكْمِهِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ بَيْعُ بَعْضِهِ بِيعَ جَمِيعُهُ لِلضَّرُورَةِ وَكَانَ الْبَاقِي مِنْ ثَمَنِهِ إِنْ كَانَ وَلَدَ مُكَاتَبٍ لِأَبِيهِ يَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهِ لِأَنَّهُ مِلْكُهُ وَإِنْ كَانَ وَلَدَ مُكَاتَبَةٍ فَعَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut mengikuti status ibunya: ia merdeka jika ibunya merdeka, dan menjadi budak jika ibunya menjadi budak. Ibunya tidak berhak menebus anaknya dari tindak pidananya. Jika tindak pidananya seharga nilai anak itu, maka seluruh anak itu dijual untuk menutupi nilai tersebut. Jika nilainya kurang dari itu, maka dijual sebagian dari anak itu sesuai nilainya, dan sisanya tetap mengikuti ketentuan sebelumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menjual sebagian, maka seluruh anak itu dijual karena darurat, dan sisa dari hasil penjualannya—jika anak itu adalah anak dari seorang mukatab laki-laki—maka hasilnya digunakan ayahnya untuk membantu pembayaran kitabah-nya karena anak itu adalah miliknya. Namun jika anak itu adalah anak dari seorang mukatabah perempuan, maka ada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ لَهَا تَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهَا

Salah satunya adalah ia memilikinya untuk membantunya dalam penulisannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكُونُ لِسَيِّدِهَا لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَ وَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ والمكاتب

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut menjadi milik tuannya, berdasarkan apa yang telah kami kemukakan mengenai perbedaan antara anak dari seorang mukātabah dan anak dari seorang mukātab.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِنْ جَنَى بَعْضُ عَبِيدِهِ عَلَى بَعْضٍ عَمْدًا فَلَهُ الْقِصَاصُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ وَالِدًا فَلَا يَقْتُلُ وَالِدَهُ بِعَبْدِهِ وَهُوَ لَا يُقْتَلُ بِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika sebagian budaknya melakukan tindak pidana terhadap sebagian budaknya yang lain secara sengaja, maka baginya (pemilik) ada hak qishāsh, kecuali jika pelakunya adalah seorang ayah, maka ia tidak boleh membunuh ayahnya dengan sebab budaknya, dan ayah tersebut juga tidak boleh dibunuh karenanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَ لِلْمُكَاتَبِ عَبِيدٌ فَقَتَلَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا نَظَرَ الْقَتْلَ فَإِنْ كَانَ الْقَتْلُ خَطَأً كَانَتِ الْجِنَايَةُ هَدَرًا لِأَنَّهَا تُوجِبُ الْمَالَ وَالسَّيِّدُ لَا يَثْبُتُ لَهُ فِي رَقَبَةِ عَبْدِهِ مَالٌ وَإِنْ كَانَ الْقَتْلُ عَمْدًا فَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ وَلَا اعْتِرَاضَ عَلَيْهِ لِلسَّيِّدِ لِمَا فِي الْقِصَاصِ مِنَ اسْتِصْلَاحِ الْمِلْكِ فِي حَسْمِ الْقَتْلِ فَإِنْ كَانَ الْقَاتِلُ أَبًا

Al-Mawardi berkata, “Ini benar apabila seorang mukatab memiliki budak-budak, lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain, maka dilihat dahulu jenis pembunuhannya. Jika pembunuhannya terjadi karena kesalahan, maka tindak pidananya menjadi gugur, karena hal itu mewajibkan pembayaran harta, sedangkan tuan tidak berhak atas harta apa pun dari budaknya. Namun jika pembunuhannya disengaja, maka mukatab berhak melakukan qishāsh dan tuan tidak berhak mengajukan keberatan, karena dalam pelaksanaan qishāsh terdapat kemaslahatan bagi kepemilikan dalam menghentikan pembunuhan. Jika pelakunya adalah seorang ayah…”

لِلْمُكَاتَبِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْ أَبِيهِ لِعَبْدِهِ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ بِنَفْسِهِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَقْتَصَّ مِنْهُ بِعَبْدِهِ وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ الْقَاتِلُ أَبَ الْعَبْدِ الْمَقْتُولِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْ وَالِدٍ بِوَلَدٍ

Seorang mukatab tidak berhak melakukan qishash terhadap ayahnya demi (pembalasan atas) budaknya, karena ketika ia sendiri tidak berhak melakukan qishash terhadap ayahnya secara langsung, maka lebih utama lagi ia tidak berhak melakukannya melalui budaknya. Demikian pula, jika pelaku pembunuhan adalah ayah dari budak yang dibunuh, maka mukatab tidak berhak melakukan qishash terhadap seorang ayah dengan (pembalasan atas) anaknya.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ الْقَاتِلُ ابْنَ الْمُكَاتَبِ فَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنَ ابْنِهِ بِعَبْدِهِ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ بِنَفْسِهِ وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ الْقَاتِلُ ابْنَ الْعَبْدِ الْمَقْتُولِ فَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْ وَلَدٍ بِوَالِدٍ

Adapun jika pelaku pembunuhan adalah anak dari seorang mukatab, maka mukatab berhak melakukan qishāsh terhadap anaknya dengan membunuh budaknya, karena dibolehkan melakukan qishāsh terhadapnya secara langsung. Demikian pula, jika pelaku pembunuhan adalah anak dari budak yang terbunuh, maka mukatab berhak melakukan qishāsh terhadapnya, karena dibolehkan melakukan qishāsh terhadap seorang anak karena orang tuanya.

فَأَمَّا إِنْ عَفَا الْمُكَاتَبُ عَنِ الْقِصَاصِ صَارَتِ الدِّيَةُ هَدَرًا كَالْخَطَأِ فَلَوْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ وَعَادَ عَبْدًا قَبْلَ الْعَفْوِ وَالْقِصَاصِ فَلِلسَّيِّدِ مِنَ الْقِصَاصِ مَا كَانَ لِلْمُكَاتَبِ يَقْتَصُّ مِمَّنْ كَانَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِمَّنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ

Adapun jika mukatab memaafkan qishāsh, maka diyat menjadi gugur seperti pada kasus kesalahan (khathā’). Jika mukatab tidak mampu (melunasi) dan kembali menjadi budak sebelum adanya pemaafan atau pelaksanaan qishāsh, maka hak qishāsh yang sebelumnya dimiliki mukatab berpindah kepada tuan (sayyid), sehingga tuan dapat menuntut qishāsh dari orang yang sebelumnya boleh dituntut qishāsh oleh mukatab, dan tidak boleh menuntut qishāsh dari orang yang tidak berhak dituntut qishāsh oleh mukatab.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَعْتَقَهُ السَّيِّدُ بِغَيْرِ أَدَاءٍ ضَمِنَ الْأَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ أَوِ الْجِنَايَةِ وَلَوْ كَانَ أَدَّى فَعَتَقَ فَعَلَيْهِ الْأَقَلُّ مِنْ قِيمَةِ نَفْسِهِ أَوِ الْجِنَايَةِ لِأَنَّهُ لَمْ يَعْجَزْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tuan memerdekakan budaknya tanpa pembayaran (diyat), maka ia wajib menanggung yang lebih kecil antara nilai budak itu atau nilai jinayah (kerugian akibat kejahatan). Namun, jika budak itu telah membayar (diyat) lalu dimerdekakan, maka ia tetap wajib menanggung yang lebih kecil antara nilai dirinya atau nilai jinayah, karena ia tidak menjadi lemah (tidak kehilangan kemampuan membayar).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا جَنَى الْمُكَاتَبُ جِنَايَةً تُوجِبُ الْمَالَ تَعَلَّقَتْ بِرَقَبَتِهِ وَوَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُؤَدِّيَهَا مِنْ كَسْبِهِ لِأَنَّ بَقَاءَ الْكِتَابَةِ يَمْنَعُ مِنْ جواز بيعه وله ثلاثة أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana ia berkata, “Jika seorang mukatab melakukan jinayah yang mewajibkan pembayaran harta, maka harta tersebut menjadi tanggungan dirinya, dan ia wajib membayarnya dari hasil usahanya. Sebab, keberlangsungan akad kitabah mencegah bolehnya ia dijual, dan dalam hal ini terdapat tiga keadaan.”

أَحَدُهَا أَنْ يُؤَدِّيَ مَالَ الْكِتَابَةِ وَيُعْتَقَ بِهِ فَيَنْتَقِلَ ضَمَانُ الْجِنَايَةِ مِنْ رَقَبَتِهِ إِلَى ذِمَّتِهِ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ هُوَ الْمُسْتَهْلِكُ لِرِقِّهِ بِالْأَدَاءِ فَلَزِمَهُ ضَمَانُ مَا اسْتَهْلَكَ وَيَكُونُ ضَامِنًا لَأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشِ جِنَايَتِهِ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهَا طَرَأَتْ وَهُوَ مُكَاتَبٌ لَا يَجُوزُ بَيْعُهُ

Salah satunya adalah apabila ia membayar harta kitabah dan dimerdekakan karenanya, maka jaminan atas jinayah berpindah dari tanggungan lehernya ke tanggungan pribadinya. Sebab, ia telah menjadi pihak yang menghilangkan status budaknya dengan pembayaran tersebut, sehingga ia wajib menanggung apa yang telah ia hilangkan. Ia menjadi penanggung atas nilai yang lebih rendah di antara dua hal, yaitu nilai dirinya atau diyat jinayahnya, menurut satu pendapat, karena jinayah itu terjadi ketika ia berstatus mukatab yang tidak boleh dijual.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُعَجِّلَ السَّيِّدُ عِتْقَهُ قَبْلَ الْأَدَاءِ فَيَكُونَ السَّيِّدُ هُوَ الضَّامِنُ لِأَرْشِ جِنَايَتِهِ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ لِأَنَّهُ أَعْتَقَهُ بِغَيْرِ الْكِتَابَةِ الْمُتَقَدِّمَةِ على الجناية فصار مستحدثاً لاستهلاك رقبيه فَلِذَلِكَ ضَمِنَ جِنَايَتَهُ وَوَجَبَ فِيهَا أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ قَوْلًا وَاحِدًا كَمَا لَوْ ضَمِنَهَا الْمُكَاتَبُ

Keadaan kedua adalah apabila tuan mempercepat pembebasan budaknya sebelum pelunasan (tebusan), maka tuanlah yang bertanggung jawab atas diyat (ganti rugi) dari tindak pidana budaknya dengan jumlah yang lebih sedikit di antara dua hal: nilai budak tersebut atau diyat tindak pidananya. Hal ini karena tuan telah memerdekakannya tanpa adanya akad kitabah sebelumnya atas tindak pidana itu, sehingga pembebasan tersebut menjadi sesuatu yang baru yang mengakibatkan hilangnya status perbudakan. Oleh karena itu, tuan wajib menanggung diyat tindak pidananya, dan yang diwajibkan adalah yang lebih sedikit di antara dua hal tersebut, menurut satu pendapat, sebagaimana jika diyat itu dijamin oleh budak mukatab.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَعْجِزَ وَيَرِقَّ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ تُعْتَبَرُ جِنَايَتُهُ بِابْتِدَائِهَا فِي مَالِ كِتَابَتِهِ أَوْ بِانْتِهَائِهَا بَعْدَ رِقِّهِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Keadaan ketiga adalah apabila ia menjadi lemah dan kembali menjadi budak, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah pelanggarannya (jināyah) dihitung berdasarkan permulaannya ketika ia masih dalam masa mukatab, ataukah berdasarkan akhirnya setelah ia kembali menjadi budak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا بِابْتِدَائِهَا فِي الْكِتَابَةِ فَعَلَى هَذَا يَفْدِيهِ السَّيِّدُ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشِ جِنَايَتِهِ

Salah satunya adalah dengan memulai penulisan, maka dalam hal ini tuannya wajib membayar diyat dengan nilai yang lebih kecil di antara dua hal: nilai budak tersebut atau kompensasi atas luka/cidera yang ditimbulkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي يُعْتَبَرُ بِانْتِهَائِهَا فِي حَالِ رِقِّهِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ فِيمَا يَفْدِيهِ بِهِ السَّيِّدُ قَوْلَانِ

Pendapat kedua mempertimbangkan (masalah ini) dengan melihat pada berakhirnya (masa iddah) ketika ia masih berstatus budak. Berdasarkan hal ini, terdapat dua pendapat mengenai apa yang digunakan oleh tuannya untuk menebusnya.

أَحَدُهُمَا بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْقِيمَةِ أَوْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ

Salah satunya adalah dengan yang lebih kecil di antara dua hal, yaitu nilai barang atau arsy jināyah.

وَالثَّانِي بِجَمِيعِ أَرْشِ الْجِنَايَةِ وَإِنْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ إِلَّا أَنْ يُمَكَّنَ مِنْ بَيْعِهِ فَلَا يَلْزَمُ فِي الْجِنَايَةِ أَكْثَرُ مِنْ ثمنه

Dan yang kedua (adalah) dengan membayar seluruh diyat jinayah, meskipun jumlahnya berlipat-lipat dari nilai barang tersebut, kecuali jika pelaku diberi kesempatan untuk menjualnya, maka dalam kasus jinayah tidak wajib membayar lebih dari harga barang itu.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ جَنَى جِنَايَةً أُخْرَى ثُمَّ أَدَّى فَعَتَقَ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ عَلَيْهِ الْأَقَلَّ مِنْ قيمة واحدة أو الجناية يشتركان فيها والآخر أن عليه لكل واحد منهما الأقل من قيمته أو الجناية وهكذا لو كانت جنايات كثيرة قال المزني قد قطع في هذا الباب بأن الجنايات متفرقة أو معا فسواء وهو عندي بالحق أولى

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seorang budak melakukan kejahatan lain, kemudian ia membayar (diyat atau ganti rugi), lalu ia dimerdekakan, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia wajib membayar yang paling sedikit antara nilai salah satu (kejahatan) atau nilai kejahatan itu sendiri jika keduanya bersatu. Pendapat lain menyatakan bahwa ia wajib membayar untuk masing-masing yang paling sedikit antara nilainya atau nilai kejahatannya. Demikian pula jika terdapat banyak kejahatan. Al-Muzani berkata: ‘Ia telah memutuskan dalam bab ini bahwa kejahatan-kejahatan itu, baik terpisah maupun bersamaan, hukumnya sama.’ Dan menurutku, pendapat ini lebih benar.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا تَكَرَّرَتْ جِنَايَاتُ الْمُكَاتَبِ لَمْ يَخْلُ حَالُ تُكَرُّرِهَا مِنْ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الْغُرْمِ أَوْ بَعْدَهُ فَإِنْ تَكَرَّرَتْ بَعْدَ الْغُرْمِ كَأَنَّهُ جَنَى جِنَايَةً فَغَرِمَهَا بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ أَرْشِهَا ثُمَّ جَنَى جِنَايَةً أُخْرَى فَإِنَّهُ يَضْمَنُهَا مُسْتَأْنِفًا بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ أَيْضًا فَيَصِيرُ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْجِنَايَتَيْنِ ضَامِنًا لِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ فِي حَالِ الْكِتَابَةِ إِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ وَيَكُونُ السَّيِّدُ ضَامِنًا لِذَلِكَ إِنْ أَعْتَقَهُ بِغَيْرِ أَدَاءٍ وَإِنْ تَكَرَّرَتِ الْجِنَايَةُ قَبْلَ الْغُرْمِ كَأَنَّهُ جَنَى جِنَايَةً وَلَمْ يُغَرَّمْ أَرْشَهَا حَتَّى جَنَى جِنَايَةً أُخْرَى فَفِي قَدْرِ مَا يَضْمَنُهُ إِنْ أَدَّى فَعَتَقَ أَوْ يَضْمَنُهُ سَيِّدُهُ إِنْ كَانَ هُوَ الْمُعْتِقُ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan: jika pelanggaran yang dilakukan oleh seorang mukatab terjadi berulang kali, maka keadaan pengulangan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan, yaitu terjadi sebelum pembayaran ganti rugi atau setelahnya. Jika pelanggaran itu terjadi setelah pembayaran ganti rugi, misalnya ia melakukan satu pelanggaran lalu membayar ganti rugi dengan jumlah yang lebih sedikit antara nilai dirinya atau diyatnya, kemudian ia melakukan pelanggaran lain, maka ia wajib menanggungnya kembali dengan jumlah yang lebih sedikit antara dua hal tersebut juga. Dengan demikian, pada masing-masing dari dua pelanggaran itu, ia menjadi penanggung jumlah yang lebih sedikit dalam keadaan sebagai mukatab jika ia merdeka karena telah melunasi pembayaran, dan tuannya yang menanggung jika ia dimerdekakan tanpa pembayaran. Namun, jika pelanggaran itu terjadi sebelum pembayaran ganti rugi, misalnya ia melakukan satu pelanggaran dan belum membayar diyatnya hingga ia melakukan pelanggaran lain, maka dalam hal berapa besar yang harus ia tanggung jika ia melunasi pembayaran lalu merdeka, atau yang harus ditanggung oleh tuannya jika tuannya yang memerdekakannya, terdapat dua pendapat.”

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يَلْزَمُ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْجِنَايَاتِ أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَةٍ كَامِلَةٍ أَوْ أَرْشُ الْجِنَايَةِ لِأَنَّ لِكُلِّ جِنَايَةٍ حُكْمُهَا فَلَا تَتَدَاخَلُ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ وَيَصِيرُ ذَلِكَ مُفْضِيًا إِلَى الْتِزَامِ قِيمَةٍ كَثِيرَةٍ إِذَا كَثُرَتْ جِنَايَاتُهُ

Salah satunya adalah bahwa pada setiap tindak pidana (jināyah) wajib dikenakan salah satu dari dua hal yang nilainya lebih kecil, yaitu nilai penuh atau arsy jināyah, karena setiap jināyah memiliki hukumnya sendiri sehingga tidak saling tumpang tindih satu sama lain. Hal ini dapat menyebabkan kewajiban membayar nilai yang sangat besar jika tindak pidananya (jināyah) banyak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ لَا يُغَرَّمُ فِي جَمِيعِ الْجِنَايَاتِ وَإِنْ كَثُرَتْ إِلَّا أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ أُرُوشِ الْجِنَايَاتِ كُلِّهَا وَيَتَدَاخَلُ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ لِأَنَّهُ لَوْ بِيعَ فِيهَا بَعْدَ عَجْزِهِ وَرِقِّهِ لَمْ يَكُنْ لِأَرْبَابِ الْجِنَايَاتِ وَإِنْ كَثُرَتْ أَكْثَرُ مِنْ ثَمَنِهِ لِتَدَاخُلِ بَعْضِهَا فِي بَعْضٍ كَذَلِكَ فِي عِتْقِهِ بِكِتَابَتِهِ أَوْ بِعِتْقِ سَيِّدِهِ لَكِنَّهُ إِنْ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ كَانَ الضَّمَانُ عَلَيْهِ وَإِنْ أَعْتَقَهُ السَّيِّدُ كَانَ الضَّمَانُ عَلَى سَيِّدِهِ وَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا هَلْ يُعْتَبَرُ بِهَا الِابْتِدَاءُ أَوِ الِانْتِهَاءُ عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak dikenakan ganti rugi dalam seluruh tindak pidana, meskipun jumlahnya banyak, kecuali sebesar yang paling kecil dari dua hal: antara nilai satu tindak pidana atau jumlah ‘urūsy (denda) seluruh tindak pidana tersebut, dan sebagian dari tindak pidana itu saling masuk ke dalam yang lain. Sebab, jika budak tersebut dijual setelah ia tidak mampu membayar dan tetap dalam status budak, maka para pemilik hak atas tindak pidana itu, meskipun jumlahnya banyak, tidak berhak mendapatkan lebih dari harga budak tersebut karena sebagian hak mereka saling masuk ke dalam yang lain. Demikian pula halnya jika budak itu dimerdekakan melalui mukātabah (perjanjian pembebasan) atau dimerdekakan oleh tuannya. Namun, jika ia merdeka karena membayar sendiri, maka tanggungan ganti rugi ada padanya; dan jika tuannya yang memerdekakannya, maka tanggungan ganti rugi ada pada tuannya. Jika ia tidak mampu dan tetap menjadi budak, maka berlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama kami: apakah yang dijadikan acuan adalah permulaan atau akhir peristiwa, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

فَصْلٌ

Bagian

قَالَ الْمُزَنِيُّ قَدْ قَطَعَ فِي هَذَا الْكِتَابِ بِأَنَّ الْجِنَايَاتِ مُتَفَرِّقَةٌ أَوْ مَعًا سَوَاءٌ وَهُوَ عِنْدِي أَوْلَى بِالْحَقِّ وَهَذَا اخْتِيَارٌ مِنْهُ لِأَصَحِّ الْقَوْلَيْنِ فِي تَدَاخُلِ الْجِنَايَاتِ وَالْتِزَامِ أَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ فِي جَمِيعِهَا مِنْ قِيمَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ أُرُوشِهَا لَكِنَّهُ اسْتَدَلَّ بِمَا لَا دَلِيلَ فِيهِ لِأَنَّهُ إِنَّمَا جَعَلَهَا مُتَفَرِّقَةً وَمُجْتَمِعَةً سَوَاءٌ إِذَا بِيعَ فِيهَا وَقُسِّمَ ثَمَنُهُ فِي جَمِيعِهَا مِنْ قِيمَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ أَرْشِهَا

Al-Muzani berkata: Dalam kitab ini, beliau telah menegaskan bahwa jinayah, baik yang terpisah-pisah maupun yang bersamaan, hukumnya sama. Menurutku, pendapat ini lebih mendekati kebenaran, dan ini merupakan pilihannya terhadap pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat mengenai tumpang tindih jinayah dan kewajiban memilih yang paling ringan di antara dua hal dalam seluruhnya, baik berupa satu nilai maupun arsy-nya. Namun, ia berdalil dengan sesuatu yang sebenarnya tidak menjadi dalil, karena ia hanya menyamakan antara jinayah yang terpisah dan yang bersamaan apabila dijual di dalamnya dan harga jualnya dibagi pada seluruhnya, baik dari satu nilai maupun arsy-nya.

فَأَمَّا وَهُوَ غَيْرُ مَبِيعٍ فِيهَا فَلَا

Adapun jika ia bukan sesuatu yang dijual di dalamnya, maka tidak.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّهُ إِذَا بِيعَ فِيهَا لَمْ يَبْقَ لِلْجِنَايَاتِ مَحَلٌّ غَيْرَ ثَمَنِهِ لِأَجْلِ التَّمْكِينِ مِنْهُ وَمَعَ الْمَنْعِ بِالْعِتْقِ تَتَّسِعُ الذِّمَّةُ لِأَكْثَرَ مِنَ الْقِيمَةِ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ أَرْبَابِ الْجِنَايَاتِ مَمْنُوعٌ مِنْ حَقِّ نَفْسِهِ فَانْفَرَدَ بِحُكْمِهِ فَلِذَلِكَ مَا افْتَرَقَا وَاللَّهُ أعلم

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa jika budak dijual dalam kasus tersebut, maka tidak ada lagi tempat bagi jināyah selain dari harga jualnya, agar memungkinkan untuk mengambilnya. Namun, dengan adanya larangan karena ‘itq (pembebasan budak), tanggungan (dzimmah) dapat mencakup lebih dari nilai budak tersebut, dan masing-masing pemilik jināyah terhalang dari haknya sendiri, sehingga setiap kasus memiliki hukumnya sendiri. Oleh karena itu, keduanya berbeda. Allah lebih mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه   وَإِنْ جَنَى عَلَى الْمُكَاتَبِ عَبْدُهُ جِنَايَةً لَا قِصَاصَ فِيهَا كَانَتْ هَدَرًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika budak milik seorang mukatab melakukan tindak pidana terhadap mukatab tersebut yang tidak ada qishāsh di dalamnya, maka tindak pidana itu dianggap gugur (tidak ada ganti rugi).

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو عَبْدُ الْمُكَاتَبِ إِذَا جَنَى عَلَيْهِ جِنَايَةَ خَطَأٍ تُوجِبُ الْمَالِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa tidaklah seorang budak mukatab apabila ia terkena tindak pidana (jinayah) karena kesalahan yang mewajibkan pembayaran harta, kecuali keadaannya tidak lepas dari salah satu dari dua hal.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ أَوْ مِمَّنْ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ

Bisa jadi ia termasuk orang yang diperbolehkan menjual atau termasuk orang yang tidak diperbolehkan menjual.

فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ بَيْعُهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِوَالِدٍ وَلَا وَلَدٍ كَانَتِ الْجِنَايَةُ هَدَرًا لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا يَثْبُتُ لَهُ فِي رَقَبَةِ عَبْدِهِ مَالٌ لِأَنَّهُ مَالِكٌ لَهَا

Jika budak mukatab tersebut termasuk orang yang boleh dijual, karena ia bukan orang tua maupun anak, maka tindak kejahatan yang dilakukan menjadi gugur (tidak ada ganti rugi), karena tuan tidak memiliki hak harta apa pun atas diri budaknya, sebab ia adalah pemiliknya.

وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ بَيْعُهُ فِي غَيْرِ الْجِنَايَةِ كَوَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ فَفِي جَوَازِ بَيْعِهِ لَهُ فِي الْجِنَايَةِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا

Dan jika orang yang tidak boleh bagi seorang mukatab untuk menjualnya selain karena jinayah, seperti orang tua atau anak, maka dalam kebolehan menjualnya kepada mereka karena jinayah terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami.

أَحَدُهُمَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ فِي الْجِنَايَةِ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ لَهُ بَيْعُهُ فِي غَيْرِ الْجِنَايَةِ جَازَ بَيْعُهُ فِي الْجِنَايَةِ كَالْأَجْنَبِيِّ

Salah satunya boleh dijual dalam kasus jināyah, karena ketika tidak boleh dijual di luar kasus jināyah, maka diperbolehkan penjualannya dalam kasus jināyah, seperti orang asing (ajnabī).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ أَصَحُّ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ فِي الْجِنَايَةِ لِأَنَّ الشَّرْعَ مَانِعٌ مِنْ بَيْعِ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ وَلَيْسَ الْمَنْعُ مِنَ الْبَيْعِ فِي غَيْرِ الْجِنَايَةِ مُوجِبًا لِجَوَازِ الْبَيْعِ فِي الْجِنَايَةِ كَأُمِّ الْوَلَدِ إِذَا جَنَتْ عَلَى سَيِّدِهَا

Pendapat kedua, yang lebih sahih, adalah bahwa tidak boleh baginya menjual (budak) dalam kasus jinayah, karena syariat melarang penjualan ayah dan anak. Larangan menjual di luar kasus jinayah tidak berarti boleh menjual dalam kasus jinayah, sebagaimana halnya umm al-walad jika melakukan jinayah terhadap tuannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا جِنَايَةُ الْعَمْدِ الْمُوجِبَةُ لِلْقَوَدِ إِذَا كَانَتْ بَيْنَ الْمُكَاتَبِ وَبَيْنَ مَنْ يَمْلِكُهُ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ فَلَا يَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Adapun jinayah ‘amdan (kejahatan sengaja) yang mewajibkan qawad (qishash), apabila terjadi antara seorang mukatab dan orang yang memilikinya, baik itu ayah maupun anak, maka tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُكَاتَبِ أَوْ عَلَى الْمُكَاتَبِ

Bisa jadi berasal dari al-mukatab atau atas al-mukatab.

فَإِنْ كَانَتْ عَلَى الْمُكَاتَبِ نَظَرَ فَإِنْ كَانَتْ مِنْ وَلَدِهِ اقْتَصَّ مِنْهُ الْمُكَاتَبُ إِنْ كَانَتْ فِي طَرَفٍ وَاقْتَصَّ مِنْهُ السَّيِّدُ إِنْ كَانَتْ فِي نَفْسٍ لِأَنَّ الْوَلَدَ يُقْتَلُ بِالْوَالِدِ وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ مِنْ وَالِدِهِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ فِي طَرَفٍ وَلَا لِسَيِّدِهِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ فِي نَفْسٍ لِأَنَّ الْوَالِدَ لَا يُقْتَلُ بِالْوَلَدِ وَإِنْ كَانَتِ الْجِنَايَةُ مِنَ الْمُكَاتَبِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَتْ عَلَى وَلَدِهِ لَمْ يَقْتَصَّ مِنَ الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهُ لَا يُقْتَلُ وَالِدٌ بِوَلَدٍ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى وَالِدِهِ فَهَلْ لِوَالِدِهِ الِاقْتِصَاصُ مِنْهُ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Jika jinayah (kejahatan) dilakukan oleh mukatab, maka perlu diperhatikan: jika jinayah itu terhadap anaknya, maka mukatab dapat melakukan qishash terhadapnya jika berkaitan dengan anggota tubuh, dan tuannya dapat melakukan qishash jika berkaitan dengan jiwa, karena anak dapat dihukum mati karena membunuh orang tua. Namun jika jinayah itu dilakukan oleh orang tua mukatab, maka mukatab tidak dapat melakukan qishash terhadapnya dalam hal anggota tubuh, dan tuannya pun tidak dapat melakukan qishash terhadapnya dalam hal jiwa, karena orang tua tidak dihukum mati karena membunuh anak. Jika jinayah itu dilakukan oleh mukatab, maka perlu diperhatikan: jika terhadap anaknya, maka tidak dilakukan qishash terhadap mukatab karena orang tua tidak dihukum mati karena membunuh anak; dan jika terhadap orang tuanya, maka apakah orang tuanya boleh melakukan qishash terhadapnya atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا قِصَاصَ لَهُ لِأَنَّهُ عَبْدُهُ وَالْمَوْلَى لَا يُقْتَصُّ مِنْهُ لِعَبْدِهِ

Salah satunya adalah tidak ada qishāsh baginya karena ia adalah hambanya, dan seorang tuan tidak dikenai qishāsh karena membunuh hambanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي قَدْ أَوْمَأَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي بَعْضِ كُتُبِهِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَقْتَصَّ مِنْهُ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ بَيْعُ أَبِيهِ جَرَى مِنْهُ فِي الْجِنَايَةِ مَجْرَى الْأَحْرَارِ دُونَ الْعَبِيدِ فلذلك جرى القصاص بينهما

Pendapat kedua, yang telah disinggung oleh asy-Syafi‘i dalam sebagian kitabnya, adalah bahwa ia (mukatab) boleh melakukan qishāsh terhadapnya, karena ketika mukatab tidak memiliki hak menjual ayahnya, maka dalam perkara jināyah ia diperlakukan seperti orang merdeka, bukan seperti budak. Oleh karena itu, qishāsh berlaku di antara keduanya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يُؤَدِّبَ رَقِيقَهُ وَلَا يَحُدُّهُمْ لِأَنَّ الْحَدَّ لَا يَكُونُ لِغَيْرٍ حُرٍّ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seorang mukātib berhak mendidik budaknya, namun ia tidak boleh menegakkan hudud atas mereka, karena hudud tidak diberlakukan kecuali kepada orang merdeka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ تَأْدِيبَهُمُ اسْتِصْلَاحُ مِلْكٍ وَحَدُّهُمْ وِلَايَةٌ وَلَيْسَ مِنْ أَهْلِهَا فَلِذَلِكَ جَازَ لَهُ تَأْدِيبُهُمْ وَلَمْ يَجُزْ لَهُ حَدُّهُمْ وَلَيْسَ لِسَيِّدِهِ أَنْ يَحُدَّهُمْ وَلَا يُؤَدِّبَهُمْ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُهُمْ وَلَيْسَ لِلسَّيِّدِ أَيْضًا حَدُّ الْمُكَاتَبِ وَلَا تَأْدِيبُهُ لِارْتِفَاعِ يَدِهِ عَنْهُ بِالْكِتَابَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, karena mendidik mereka adalah demi memperbaiki milik, sedangkan menjatuhkan hudud atas mereka adalah bentuk kekuasaan, dan ia bukanlah termasuk ahlinya. Oleh karena itu, ia boleh mendidik mereka, tetapi tidak boleh menjatuhkan hudud atas mereka. Seorang tuan tidak boleh menjatuhkan hudud atas mereka dan tidak pula mendidik mereka, karena ia tidak memilikinya. Seorang tuan juga tidak boleh menjatuhkan hudud atas mukatab dan tidak boleh mendidiknya, karena kekuasaannya atasnya telah terangkat dengan adanya akad kitabah. Dan Allah Maha Mengetahui.”

باب ما جنى على المكاتب له

Bab tentang apa yang dilakukan oleh muktātab terhadap tuannya

مسألة

Masalah

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَرْشُ مَا جَنَى عَلَى الْمُكَاتَبِ لَهُ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Diyat (ganti rugi) atas luka yang ditimbulkan terhadap seorang mukatab adalah miliknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ وَقَالَ مَالِكٌ مَا جَنَى عَلَى الْمُكَاتَبِ لِسَيِّدِهِ لِأَنَّهُ قِيمَةُ مِلْكٍ مُسْتَهْلَكٍ وَالسَّيِّدُ هُوَ الْمَالِكُ دُونَهُ قَالَ وَلِأَنَّ مَالَ الْكِتَابَةِ يُؤَدَّى مِنَ الْأَكْسَابِ الْمُسْتَفَادَةِ وَلَيْسَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ مِنْ كَسْبِهِ وَهَذَا فَاسِدٌ بَلْ أَرْشُ الْجِنَايَةِ يَكُونُ لِلْمُكَاتَبِ دُونَ سَيِّدِهِ لِخُرُوجِ الْمُكَاتَبِ عَنْ حُكْمِ مِلْكِهِ وَلِأَنَّ مَالَ الْكِتَابَةِ مُعَاوَضَةٌ عَنْ رِقِّهِ وَلِأَنَّ مَهْرَ الْكِتَابَةِ لَمَّا كَانَ لَهَا دُونَ السَّيِّدِ فَأَرْشُ الْجِنَايَةِ أَوْلَى أَنْ لَا يَكُونَ لِلسَّيِّدِ وَبِهَذَا يَفْسُدُ مَا ذَكَرَهُ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar.” Malik berkata, “Apa yang didapatkan dari jinayah terhadap mukatab adalah milik tuannya, karena itu adalah nilai dari kepemilikan yang telah habis, dan tuanlah pemiliknya, bukan mukatab.” Ia juga berkata, “Karena harta kitabah dibayarkan dari penghasilan yang diperoleh, sedangkan diyat jinayah bukan berasal dari penghasilannya.” Namun, pendapat ini rusak, bahkan diyat jinayah itu menjadi milik mukatab, bukan tuannya, karena mukatab telah keluar dari hukum kepemilikan tuannya. Selain itu, harta kitabah adalah sebagai ganti dari status budaknya, dan karena mahar kitabah menjadi milik mukatab, bukan tuannya, maka diyat jinayah lebih utama untuk tidak menjadi milik tuan. Dengan demikian, batal apa yang telah disebutkan oleh Malik.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا فَالْجِنَايَةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ طَرَفٌ وَنَفْسٌ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan, maka jinayah itu terbagi menjadi dua jenis: anggota tubuh (ṭaraf) dan jiwa (nafs).

فَأَمَّا الْجِنَايَةُ عَلَى الطَّرَفِ فَهِيَ الَّتِي يَخْتَصُّ الْمُكَاتَبُ بِهَا فَإِذَا كَانَتْ عَلَى إِحْدَى يَدَيْهِ فَفِيهَا نِصْفُ قِيمَتِهِ فَإِنِ انْدَمَلَتْ حُكِمَ لَهُ بِنِصْفِ الْقِيمَةِ يَسْتَعِينُ لَهُ فِي مَالِ الْكِتَابَةِ وَإِنْ طَلَبَ ذَلِكَ قَبْلَ الِانْدِمَالِ فَعَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا

Adapun pelanggaran terhadap anggota tubuh, maka itu adalah yang khusus berkaitan dengan mukatab. Jika pelanggaran tersebut terjadi pada salah satu tangannya, maka atasnya dikenakan setengah dari nilai dirinya. Jika lukanya telah sembuh, maka ditetapkan baginya setengah nilai tersebut untuk membantunya dalam membayar harta kitabah. Namun, jika ia menuntut hal itu sebelum lukanya sembuh, maka terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

وَأَمَّا الْجِنَايَةُ عَلَى النَّفْسِ فَهِيَ لِلسَّيِّدِ لِأَنَّ الْمُكَاتَبَ مَاتَ بِهَا عَبْدًا

Adapun pelanggaran terhadap jiwa, maka haknya menjadi milik tuan, karena mukatab meninggal dalam keadaan masih sebagai budak.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه ولو قتله السيد لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ شَيْءٌ لِأَنَّهُ مَاتَ عَبْدًا وَلَوْ قَطَعَ يَدَهُ فَإِنْ كَانَ يُعْتَقُ بِأَرْشِ يده وطلبه العبد جعل قصاصا وعتق وإن مات بعد ذلك ضمن ما يضمن لو جنى على عبد غيره فعتق قبل أن يموت وإن كانت الكتابة غير حالة كان له تعجيل الأرش فإن لم يقبضه حتى مات سقط عنه لأنه صار مالا له

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang tuan membunuh budaknya, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya, karena budak tersebut meninggal dalam keadaan masih sebagai budak. Namun, jika tuan itu memotong tangan budaknya, lalu jika budak itu dapat merdeka dengan diyat (ganti rugi) tangannya dan budak itu menuntutnya, maka dijadikan sebagai qishāsh dan budak itu merdeka. Jika budak itu kemudian meninggal setelahnya, maka tuan wajib menanggung apa yang wajib ditanggung jika ia melakukan kejahatan terhadap budak orang lain, dan budak itu telah merdeka sebelum meninggal. Jika akad kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) belum jatuh tempo, maka budak berhak meminta percepatan pembayaran diyat. Jika ia tidak menerima diyat itu hingga meninggal, maka gugur haknya, karena harta itu telah menjadi miliknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَإِذْ قَدْ مَضَى الْكَلَامُ فِي جِنَايَةِ الْأَجْنَبِيِّ عَلَى الْمُكَاتَبِ وَذَكَرْنَا الْفَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ عَلَى نَفْسٍ أَوْ طَرَفٍ وَانْتَقَلَ الْكَلَامُ إِلَى جِنَايَةِ السَّيِّدِ عَلَى مُكَاتَبِهِ وَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Setelah pembahasan mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain terhadap seorang mukatab telah selesai, dan setelah kami sebutkan perbedaan antara tindak pidana yang mengenai jiwa atau anggota tubuh, maka pembahasan berpindah kepada tindak pidana yang dilakukan oleh tuan terhadap mukatabnya, yang terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ تَكُونَ عَلَى نَفْسٍ فَتَكُونَ هَدَرًا لَا قَوَدَ فِيهَا وَلَا دِيَةَ لِأَنَّهُ عَبْدُهُ وَالسَّيِّدُ لَا يُقْتَلُ بِعَبْدِهِ لَكِنَّ عَلَيْهِ كَفَّارَةُ الْقَتْلِ فَإِنْ خَلَّفَ الْمَكَاتَبُ مَالًا كان بيده فَذَلِكَ الْمَالُ لِسَيِّدِهِ وَإِنْ كَانَ قَاتِلُهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ يَأْخُذُهُ مِيرَاثًا فَيَمْنَعُهُ الْقَتْلَ مِنْ أَخْذِهِ وَإِنَّمَا يَأْخُذُهُ مِلْكًا فَلَمْ يَمْتَنِعْ بِالْقَتْلِ مِنْ أَخْذِهِ

Salah satunya adalah jika pembunuhan itu terjadi terhadap jiwa (budak) sendiri, maka hukumnya sia-sia (hadr), tidak ada qishash dan tidak ada diyat, karena ia adalah budaknya sendiri, dan seorang tuan tidak dibunuh karena membunuh budaknya. Namun, ia tetap wajib membayar kafarat pembunuhan. Jika budak mukatab tersebut meninggalkan harta yang ada di tangannya, maka harta itu menjadi milik tuannya, meskipun tuannya adalah pembunuhnya, karena tuan tidak mengambilnya sebagai warisan sehingga pembunuhan tidak mencegahnya untuk mengambil harta itu, melainkan ia mengambilnya sebagai hak milik, sehingga pembunuhan tidak menghalanginya untuk mengambil harta tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ الْجِنَايَةُ عَلَى طَرَفِهِ كَقَطْعِ إِحْدَى الْيَدَيْنِ فَلَا قَوَدَ عَلَى السَّيِّدِ فِيهَا لِأَنَّ السَّيِّدَ لَا يُقَادُ بِعَبْدِهِ وَهَلْ يَلْزَمُهُ دِيَةُ الْيَدِ قَبْلَ انْدِمَالِهَا أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Jenis kedua adalah apabila tindak pidana dilakukan terhadap anggota tubuh budak, seperti memotong salah satu tangannya. Maka tidak ada qishāsh atas tuan dalam hal ini, karena tuan tidak dikenai qishāsh atas budaknya. Apakah ia wajib membayar diyat tangan sebelum luka itu sembuh atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا تَلْزَمُهُ دِيَتُهَا إِلَّا بَعْدَ الِانْدِمَالِ لِأَنَّ أَرْشَ الْجِنَايَةِ قَبْلَ انْدِمَالِهَا غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ لِلسَّيِّدِ مُطَالَبَةُ الْمُكَاتَبِ بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَلَا يَلْزَمُهُ إِنْظَارُهُ لِأَجْلِ الْجِنَايَةِ وَلِلْمُكَاتَبِ حَالَتَانِ

Salah satunya adalah diyat tidak wajib dibayarkan kecuali setelah luka tersebut sembuh, karena besaran ganti rugi jinayah sebelum sembuhnya luka belum tetap. Berdasarkan hal ini, tuan berhak menuntut budak mukatab untuk membayar uang mukatab, dan ia tidak wajib menangguhkan tuntutannya karena adanya jinayah. Adapun bagi budak mukatab, terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ يُؤَدِّيَ فَيَعْتِقَ

Salah satunya adalah ia melaksanakan (pembayaran) lalu menjadi merdeka.

وَالثَّانِيَةُ أَنْ يَعْجِزَ فَيَرِقَّ فَإِنْ أَدَّى فَعَتَقَ فَلِلْجِنَايَةِ حَالَتَانِ

Kedua, apabila ia tidak mampu lalu menjadi budak mukatab ringan (mukatab yang tidak mampu membayar), kemudian jika ia melunasi (pembayaran) sehingga ia merdeka, maka dalam kasus jinayah (tindak pidana) terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ تَنْدَمِلَ فَيُحْكَمُ لَهُ عَلَى نَفْسِهِ بِنِصْفِ قِيمَتِهِ عَبْدًا لِأَنَّهَا لَمْ تَسْرِ فَرُوعِيَ فِيهَا حُكْمُ الِابْتِدَاءِ

Salah satunya adalah jika luka itu sembuh, maka diputuskan baginya atas dirinya sendiri dengan setengah dari nilainya sebagai budak, karena luka tersebut tidak menyebar sehingga hukum permulaan tetap berlaku padanya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَسْرِيَ إِلَى نَفْسِهِ فَيُحْكَمُ عَلَى السَّيِّدِ بِجَمِيعِ دِيَتِهِ لِأَنَّهَا سَرَتْ إِلَى نَفْسِهِ وَهُوَ حُرٌّ فَرُوعِيَ فِيهَا حُكْمُ الِانْتِهَاءِ وَلَا يَرِثُهُ السَّيِّدُ بِالْوَلَاءِ لِأَنَّهُ قَاتِلٌ وَيَكُونُ مِيرَاثُهُ إِنْ لَمْ يُخَلِّفْ وَلَدًا فِي بَيْتِ الْمَالِ وَإِنْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ وَرَقَّ قَبْلَ الِانْدِمَالِ سَقَطَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ عَنِ السَّيِّدِ سَوَاءٌ انْدَمَلَتْ أَوْ سَرَتْ إِلَى النَّفْسِ لِأَنَّ جِنَايَتَهُ عَلَى عَبْدِهِ هَدَرٌ لَكِنَّهُ يَلْتَزِمُ الْكَفَّارَةَ إِنْ سَرَتْ إِلَى نَفْسِهِ فَهَذَا حُكْمُ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ

Keadaan kedua adalah apabila luka tersebut menjalar hingga menyebabkan kematian dirinya, maka diputuskan bahwa tuan (pemilik) wajib membayar seluruh diyatnya, karena luka itu telah menjalar hingga menyebabkan kematiannya, dan ia adalah orang merdeka, sehingga diberlakukan padanya hukum kematian. Tuan tidak mewarisinya melalui wala’, karena ia adalah pembunuh, dan jika ia tidak meninggalkan anak, maka warisannya masuk ke Baitul Mal. Jika mukatab itu tidak mampu membayar dan kembali menjadi budak sebelum lukanya sembuh, maka gugurlah diyat jinayah dari tuan, baik lukanya telah sembuh maupun telah menjalar hingga menyebabkan kematian, karena jinayahnya terhadap budaknya adalah sia-sia. Namun, ia tetap wajib membayar kafarat jika luka itu menjalar hingga menyebabkan kematian. Inilah hukum menurut salah satu dari dua pendapat.

فَصْلٌ

Bagian

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يُعَجِّلُ لَهُ أَرْشَ الْجِنَايَةِ قَبْلَ الِانْدِمَالِ لِأَنَّهُ حَقٌّ قَدْ وَجَبَ فَلَا يُوقَفُ عَلَى ظَنٍّ يُرْتَقَبُ فَعَلَى هَذَا يُحْكَمُ لَهُ عَلَى السَّيِّدِ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ نِصْفِ قِيمَتِهِ عَبْدًا أَوْ جَمِيعِ دِيَتِهِ حُرًّا لِجَوَازِ أَنْ تَسْرِيَ إِلَى نَفْسِهِ بَعْدَ الْعِتْقِ وَأَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ يَقِينٌ فَأَوْجَبْنَاهُ وَوَقَفْنَا مَا زَادَ عَلَيْهِ بِالِاحْتِمَالِ عَلَى ما يتجدد من بيان وإن كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْكِتَابَةِ مِنْ أن يكون قد حل أو باقيا إِلَى أَجَلِهِ فَإِنْ حَلَّ لَمْ يَخْلُ أَرْشُ الْجِنَايَةِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جِنْسِ مَالِ الْكِتَابَةِ أَوْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ فَإِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِهِ تَقَاصَّاهُ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْأَقَاوِيلِ الْأَرْبَعَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembayaran arsy (ganti rugi) atas jinayah (penganiayaan) disegerakan sebelum luka sembuh, karena itu adalah hak yang telah wajib sehingga tidak ditangguhkan pada dugaan yang masih ditunggu. Berdasarkan hal ini, diputuskan atas tuan (pemilik budak) dengan kewajiban membayar yang lebih sedikit dari dua hal, yaitu setengah nilai budak sebagai budak atau seluruh diyatnya sebagai orang merdeka, karena mungkin saja luka itu berakibat pada dirinya setelah dimerdekakan, dan yang lebih sedikit dari dua hal itu adalah sesuatu yang pasti, maka kami wajibkan itu dan menangguhkan kelebihan atasnya karena kemungkinan yang masih menunggu penjelasan lebih lanjut. Jika demikian, maka keadaan kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) tidak lepas dari dua kemungkinan: sudah jatuh tempo atau masih berlangsung hingga batas waktunya. Jika sudah jatuh tempo, maka arsy jinayah tidak lepas dari dua kemungkinan: sejenis dengan harta kitabah atau bukan sejenis. Jika sejenis, maka dilakukan perhitungan kompensasi sesuai dengan empat pendapat yang telah lalu.

ثُمَّ رُوعِيَ حَالُهُ بَعْدَ الْقِصَاصِ فَإِنِ اسْتَوَيَا فِي الْقَدْرِ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ وَبَرِئَ السَّيِّدُ وَإِنْ كَانَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ أَكْثَرَ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ وَرَجَعَ عَلَى سَيِّدِهِ بِبَاقِي الْجِنَايَةِ وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ أَكْثَرَ بَرِئَ السَّيِّدُ مِنَ الْجِنَايَةِ وَرَجَعَ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِبَاقِي الْكِتَابَةِ وَإِنْ كَانَا مِنْ جِنْسَيْنِ لَمْ يَكُنْ قِصَاصًا وَتَقَابَضَاهُ وَطَالَبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِمَالِهِ عَلَى صَاحِبِهِ إلا أن يتبارا عَنْ تَرَاضٍ مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ فَيَصِحَّ وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ مُؤَجَّلًا كَانَ لِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَتَعَجَّلَ مِنْ سَيِّدِهِ أَرْشَ الْجِنَايَةِ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَجْعَلَهُ قِصَاصًا مِنْ كِتَابَةٍ مُؤَجَّلَةٍ فَإِنْ أَرَادَ الْمُكَاتَبُ أَنْ يَجْعَلَهُ قِصَاصًا مِنْ كِتَابَةٍ مُؤَجَّلَةٍ كَانَ لَهُ ذَلِكَ وَلَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ أَنْ يَكُونَ قِصَاصًا كَمَا لَيْسَ لَهُ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ تَعْجِيلِ مُؤَجَّلٍ وَإِذَا صَارَ قِصَاصًا كَانَ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّهُمَا إِنْ تَسَاوَيَا عَتَقَ الْمُكَاتَبُ وَبَرِئَ السَّيِّدُ وَإِنْ كَانَ أَرْشُ الْجِنَايَةِ أَكْثَرَ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ وَرَجَعَ عَلَى سَيِّدِهِ بِالْبَاقِي وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ أَكْثَرَ بَرِئَ السَّيِّدُ وَرَجَعَ عَلَى مُكَاتَبِهِ بِالْبَاقِي

Kemudian, keadaan mukatab setelah pelaksanaan qishāsh diperhatikan. Jika keduanya (nilai diyat dan harta kitabah) seimbang, maka mukatab menjadi merdeka dan tuannya terbebas dari tanggungan. Jika diyat jinayah lebih besar, maka mukatab menjadi merdeka dan ia dapat menuntut sisa diyat dari tuannya. Jika harta kitabah lebih besar, maka tuan terbebas dari tanggungan jinayah dan ia dapat menuntut sisa harta kitabah dari mukatabnya. Jika keduanya berasal dari jenis yang berbeda, maka tidak ada qishāsh, dan keduanya saling menerima haknya serta masing-masing dapat menuntut hartanya dari pihak lain, kecuali jika keduanya saling membebaskan dengan kerelaan tanpa syarat, maka hal itu sah. Jika harta kitabah masih tertunda pembayarannya, maka mukatab berhak segera meminta diyat jinayah dari tuannya dan tidak wajib menjadikannya sebagai qishāsh dari kitabah yang masih tertunda. Namun jika mukatab ingin menjadikannya sebagai qishāsh dari kitabah yang masih tertunda, maka itu boleh baginya dan tuan tidak berhak menolak untuk menjadikannya sebagai qishāsh, sebagaimana ia juga tidak berhak menolak percepatan pembayaran yang tertunda. Jika telah dijadikan sebagai qishāsh, maka berlaku seperti yang telah disebutkan, yaitu jika keduanya seimbang, maka mukatab menjadi merdeka dan tuan terbebas; jika diyat jinayah lebih besar, maka mukatab menjadi merdeka dan ia dapat menuntut sisa dari tuannya; dan jika harta kitabah lebih besar, maka tuan terbebas dan ia dapat menuntut sisa dari mukatabnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا وَتَقَاصَّا مَا حَكَمْنَا بِهِ مِنْ أَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ فَلِلْجِنَايَةِ حَالَتَانِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan dan telah saling mengurangi apa yang telah kami tetapkan dari dua perkara yang lebih sedikit, maka untuk jināyah terdapat dua keadaan.

إِحْدَاهُمَا أَنْ تَنْدَمِلَ فِي الْكَفِّ فَالْمُسْتَقِرُّ فِيهَا عَلَى السَّيِّدِ نِصْفُ قِيمَتِهِ عَبْدًا فَإِنْ كَانَ مَا حَكَمْنَا بِهِ مِنْ أَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ فَقَدِ اسْتَوْفَاهُ وَإِنْ كَانَتْ دِيَتُهُ حُرًّا هِيَ أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ رَجَعَ عَلَى سَيِّدِهِ بِمَا زَادَ عَلَيْهَا مِنْ نِصْفِ قِيمَتِهِ

Salah satunya adalah jika luka itu sembuh di telapak tangan, maka bagian yang menetap di sana, atas tuannya wajib membayar setengah dari nilainya sebagai budak. Jika yang kami tetapkan adalah yang lebih sedikit dari dua hal tersebut, maka ia telah menerima haknya. Namun jika diyatnya sebagai orang merdeka adalah yang lebih sedikit dari dua hal tersebut, maka ia dapat menuntut kepada tuannya kelebihan dari setengah nilainya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَسْرِيَ الْجِنَايَةُ إِلَى نَفْسِهِ فَالْمُسْتَقِرُّ عَلَى السَّيِّدِ جَمِيعُ دِيَتِهِ حُرًّا فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَتْ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ فَقَدْ أَدَّاهُ وَإِنْ كَانَ نِصْفُ قِيمَتِهِ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ رَجَعَ وَارِثُ الْمُكَاتَبِ عَلَى السَّيِّدِ بِتَمَامِ الدِّيَةِ الزَّائِدَةِ عَلَى نِصْفِ الْقِيمَةِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ وَارِثٌ إِلَّا بِالْوَلَاءِ لَمْ يَرِثْهُ السَّيِّدُ لِأَنَّهُ قَاتِلٌ وَكَانَ لِأَقْرَبِ عُصْبَتِهِ إِلَيْهِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عُصْبَةٌ فَلِبَيْتِ الْمَالِ

Keadaan kedua adalah apabila tindak pidana (jināyah) itu berakibat pada dirinya sendiri, maka yang tetap menjadi tanggungan tuan (sayyid) adalah seluruh diyatnya seandainya ia seorang merdeka. Berdasarkan hal ini, jika yang paling kecil dari dua hal itu telah dibayarkan, maka kewajiban telah ditunaikan. Namun, jika setengah dari nilai dirinya adalah yang paling kecil dari dua hal itu, maka ahli waris mukatab dapat menuntut kepada tuan untuk membayar sisa diyat yang melebihi setengah dari nilai dirinya. Jika mukatab tidak memiliki ahli waris kecuali melalui wala’, maka tuan tidak mewarisinya karena ia adalah pembunuhnya, dan hak waris berpindah kepada kerabat laki-laki terdekatnya (‘ashabah). Jika ia tidak memiliki ‘ashabah, maka hak warisnya menjadi milik Baitul Mal.

بَابُ الْجِنَايَةِ عَلَى الْمُكَاتَبِ وَرَقِيقِهِ عَمْدًا

Bab tentang tindak pidana terhadap mukatab dan budaknya secara sengaja.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا جَنَى عَبْدٌ عَلَى الْمُكَاتَبِ عَمْدًا فَأَرَادَ الْقِصَاصَ وَالسَّيِّدُ الدِّيَةَ فَلِلْمُكَاتَبِ الْقِصَاصُ لِأَنَّ السَّيَدَ مَمْنُوعٌ مِنْ مَالِهِ وَبَدَنِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang budak melakukan tindak pidana terhadap seorang mukatab secara sengaja, lalu mukatab menghendaki qishāsh dan tuan budak menghendaki diyat, maka bagi mukatab berhak mendapatkan qishāsh, karena tuan budak terhalang dari hak atas harta dan badan mukatab.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا كَانَتْ الْجِنَايَةُ عَلَى الْمُكَاتَبِ عَبْدًا مِنْ عَبْدٍ أَوْ مُكَاتَبٍ فَهُوَ فِيهَا مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْقَوَدِ أَوِ الدِّيَةِ لِانْقِطَاعِ يَدِ السَّيِّدِ عَنْ مَالِهِ وَبَدَنِهِ فَإِنْ أَرَادَ الْمُكَاتَبُ الْقَوَدَ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجْبِرَهُ عَلَى الْمَالِ وَإِنْ أَرَادَ الْمَالَ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُجْبِرَهُ عَلَى الْقَوَدِ وَيَمْلِكَ مَا حَصَلَ لَهُ مِنْ أَرْشِ الْجِنَايَةِ يَسْتَعِينُ بِهِ فِي كِتَابَتِهِ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى كَسْبِهِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, apabila tindak pidana dilakukan terhadap seorang mukatab yang masih berstatus budak, baik oleh seorang budak maupun oleh mukatab lainnya, maka dalam hal ini ia diberi pilihan antara qishash atau diyat, karena hak tuan telah terputus dari harta dan tubuhnya. Jika mukatab tersebut menghendaki qishash, maka tuan tidak berhak memaksanya untuk memilih harta (diyat), dan jika ia menghendaki harta, maka tuan tidak berhak memaksanya untuk memilih qishash. Ia berhak memiliki apa yang ia peroleh dari kompensasi tindak pidana tersebut untuk membantunya dalam menunaikan akad kitabahnya, karena hal itu pada hakikatnya sama dengan hasil usahanya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُصَالِحَ إِلَّا عَلَى الِاسْتِيفَاءِ لجميع الأرش ز

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Tidak boleh baginya melakukan ishlāḥ (perdamaian) kecuali atas dasar pengambilan seluruh arsy (ganti rugi) secara penuh.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا طَالَبَ بِالدِّيَةِ فَفِيهِ عَفْوٌ عَنِ الْقَوَدِ وَلَوْ طَالَبَ بِالْقَوَدِ لَمْ يَكُنْ فِيهِ عَفْوٌ عَنِ الدِّيَةِ لِأَنَّ الدِّيَةَ بدل عن قود فَكَانَ الْعُدُولُ إِلَى الْبَدَلِ عَفْوًا عَنِ الْمُبْدَلِ ولم يكن العدول أَرْشَ الْعَيْبِ فِي الْمَبِيعِ يَكُونُ الْعُدُولُ إِلَيْهِ عَفْوًا عَنِ الرَّدِّ وَلَا تَكُونُ الْمُطَالَبَةُ بِالرَّدِّ عَفْوًا عَنِ الْأَرْشِ فَأَمَّا الْعَفْوُ عَنِ الْقَوَدِ فله فيه ثلاثة أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika ia menuntut diyat, maka di dalamnya terdapat pengampunan atas qisas. Namun jika ia menuntut qisas, maka tidak terdapat pengampunan atas diyat, karena diyat adalah pengganti dari qisas, sehingga beralih kepada pengganti berarti mengampuni yang digantikan. Berbeda halnya dengan arsy (ganti rugi) atas cacat pada barang jualan, di mana beralih kepadanya berarti mengampuni hak untuk mengembalikan barang, dan menuntut pengembalian barang tidak berarti mengampuni hak atas arsy. Adapun pengampunan atas qisas, maka dalam hal ini terdapat tiga keadaan.

أَحَدُهَا أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ إِلَى الدِّيَةِ مُصَرِّحًا بِطَلَبِهَا فَلَهُ ذَلِكَ وَيَسْتَحِقُّ الدِّيَةَ وَيَسْقُطُ الْقَوَدُ

Salah satunya adalah memaafkannya dengan mengganti hukuman qisas menjadi diyat, dengan menyatakan secara jelas permintaan diyat tersebut. Maka ia berhak melakukan hal itu, berhak mendapatkan diyat, dan gugurlah hak qisas.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَنِ الْقَوَدِ وَيُصَرِّحَ بِالْعَفْوِ عَنِ الدِّيَةِ فَيَصِحَّ عَفْوُهُ عَنِ الْقَوَدِ وَفِي عَفْوِهِ عَنِ الدِّيَةِ قَوْلَانِ

Keadaan kedua adalah apabila ia memaafkan dari qawad (hak pembalasan) dan secara jelas menyatakan pemaafan dari diyat, maka sah pemaafannya dari qawad. Adapun mengenai pemaafannya dari diyat, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَصِحُّ إِذَا قِيلَ إِنَّ جِنَايَةَ الْعَمْدِ تُوجِبُ الْقَوَدَ وَحْدَهُ وَأَنَّ الدِّيَةَ لَا تَجِبُ إِلَّا بِاخْتِيَارِ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ لِأَنَّ الدِّيَةَ لَا تَجِبُ إِلَّا بِاخْتِيَارِهِ وَالْمُكَاتَبُ لَا يُجْبَرُ عَلَى اخْتِيَارِ التَّمَلُّكِ فَيَصِحُّ عَفْوُهُ عَنِ الدِّيَةِ كَمَا صَحَّ عَفْوُهُ عَنِ الْقَوَدِ

Salah satu pendapat yang sah adalah jika dikatakan bahwa jinayah ‘amdan (kejahatan yang disengaja) hanya mewajibkan qishāsh saja, dan diyat tidak wajib kecuali jika dipilih oleh korban, karena diyat tidak menjadi wajib kecuali atas pilihannya. Sedangkan mukatab tidak dipaksa untuk memilih kepemilikan, sehingga sah baginya memaafkan diyat sebagaimana sah pula baginya memaafkan qishāsh.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ عَفْوَهُ عَنِ الدِّيَةِ لَا يَصِحُّ وَإِنْ صَحَّ عَفْوُهُ عَنِ الْقَوَدِ إِذَا قِيلَ إِنَّ جِنَايَةَ الْعَمْدِ تُوجِبُ أَحَدَ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْقَوَدِ أَوِ الدِّيَةِ لِأَنَّ فِي عَفْوِهِ عَنْهَا إِسْقَاطًا لِمَا مَلَكَهُ بِهَا فَجَرَى مَجْرَى الْهِبَةِ فَبَطَلَ الْعَفْوُ إِنْ لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ السَّيِّدُ وَفِي بُطْلَانِهِ بِإِذْنِهِ قَوْلَانِ كَالْهِبَةِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa pengampunan budak terhadap diyat tidak sah, meskipun pengampunannya terhadap qishāsh sah, jika dikatakan bahwa tindak pidana sengaja mewajibkan salah satu dari dua hal, yaitu qishāsh atau diyat. Sebab, dalam pengampunannya terhadap diyat terdapat pengguguran atas apa yang menjadi hak miliknya, sehingga hukumnya seperti hibah. Maka, pengampunan itu batal jika tidak ada izin dari tuannya. Adapun tentang batal atau tidaknya pengampunan itu dengan izin tuan, terdapat dua pendapat, sebagaimana halnya hibah.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَنِ الْقَوَدِ وَلَا يُصَرِّحَ فِي الدِّيَةِ بِعَفْوٍ وَلَا طَلَبٍ فَيَسْقُطَ الْقَوَدُ بِعَفْوِهِ وَفِي سُقُوطِ الدِّيَةِ بِإِمْسَاكِهِ قَوْلَانِ

Keadaan ketiga adalah ketika seseorang memaafkan dari qishāsh, namun tidak secara tegas menyatakan pengampunan atau permintaan terhadap diyat. Maka, qishāsh gugur karena pemaafannya, dan mengenai gugurnya diyat karena ia menahan diri (tidak menyatakan apa pun), terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَسْقُطُ إِذَا قِيلَ إِنَّ جِنَايَةَ الْعَمْدِ تُوجِبُ الْقَوَدَ وَأَنَّ الدِّيَةَ لَا تَجِبُ إِلَّا بِالِاخْتِيَارِ فَإِذَا لَمْ يُوجَدِ اخْتِيَارُ الدِّيَةِ عَلَى الْفَوْرِ سَقَطَ حُكْمُهُ

Salah satunya gugur apabila dikatakan bahwa jināyah ‘amdan (kejahatan sengaja) mewajibkan qawad (balasan setimpal), dan bahwa diyat (tebusan) tidak wajib kecuali dengan pilihan. Maka jika tidak terdapat pilihan untuk diyat secara langsung, maka hukumnya gugur.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تَسْقُطُ الدِّيَةُ إِذَا قِيلَ إِنْ جِنَايَةَ الْعَمْدِ تُوجِبُ أَحَدَ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْقَوَدِ أَوِ الدِّيَةِ فَلَا يَكُونُ الْعَفْوُ عَنْ أَحَدِهِمَا عَفْوًا عَنِ الْآخَرِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa diyat tidak gugur jika dikatakan bahwa jinayah ‘amdan (kejahatan sengaja) mewajibkan salah satu dari dua hal, yaitu qishash atau diyat, sehingga pengampunan terhadap salah satunya tidak berarti pengampunan terhadap yang lainnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا صَالَحَ عَنِ الدِّيَةِ فَإِنْ كَانَ صُلْحَ بَدَلٍ عَدَلَ عَنْ جِنْسِ الدِّيَةِ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْإِبْدَالِ صَحَّ الصُّلْحُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ إِسْقَاطٌ وَمُغَابَنَةٌ وَإِنْ كَانَ صُلْحَ إِبْرَاءٍ بِأَنَّ صَالَحَ مِنَ الدِّيَةِ عَلَى بَعْضِهَا فَإِنْ قِيلَ يَصِحُّ عَفْوُهُ عَنِ الْجَمِيعِ كَانَ عَفْوُهُ عَنِ الْبَعْضِ أَصَحَّ وَإِنْ قِيلَ يَبْطُلُ عَفْوُهُ عَنِ الْجَمِيعِ بَطَلَ عفوه عن البعض

Adapun jika berdamai terkait diyat, maka jika perdamaian itu berupa penggantian, yaitu mengganti jenis diyat dengan selainnya dari bentuk-bentuk pengganti, maka perdamaian itu sah selama tidak terdapat pengguguran dan penipuan di dalamnya. Dan jika perdamaian itu berupa pembebasan, yaitu berdamai dari diyat dengan sebagian darinya, maka jika dikatakan sah memaafkan seluruhnya, maka memaafkan sebagian darinya lebih sah. Dan jika dikatakan batal memaafkan seluruhnya, maka batal pula memaafkan sebagiannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ عَفَا عَنِ الْقِصَاصِ وَالْأَرْشِ مَعًا ثُمَّ عَتَقَ كَانَ لَهُ أَخْذُ الْمَالِ وَلَا قَوَدَ لِأَنَّهُ عَفَا وَلَا يَمْلِكُ إِتَلَافَ الْمَالِ وَلَوْ كَانَ الْعَفْوُ بِإِذْنِ السَّيِّدِ فَالْعِتْقُ جَائِزٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang memaafkan qishāsh dan arsy (denda) sekaligus, kemudian ia dimerdekakan, maka ia berhak mengambil harta (denda), namun tidak berhak menuntut qishāsh, karena ia telah memaafkan dan ia tidak berhak membinasakan harta tersebut. Jika pemaafan itu dilakukan dengan izin tuannya, maka kemerdekaannya sah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا قِيلَ بِصِحَّةِ عَفْوِهِ عَنِ الدِّيَةِ فَقَدْ سَقَطَتْ سَوَاءٌ عَتَقَ بِالْأَدَاءِ أَوْ رَقَّ بِالْعَجْزِ وَلَا مُطَالَبَةَ لِلسَّيِّدِ بِهَا لِصِحَّةِ الْعَفْوِ عَنْهَا فَأَمَّا إِذَا قِيلَ بِبُطْلَانِ الْعَفْوِ عَنِ الدِّيَةِ فَلِلْمُكَاتَبِ إِنْ عَتَقَ أَنْ يُطَالِبَ بِهَا وَلِلسَّيِّدِ إِنَّ رَقَّ الْمُكَاتَبُ أَنْ يُطَالِبَ بِهَا لِبَقَاءِ الدِّيَةِ بِبُطْلَانِ الْعَفْوِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika dikatakan sahnya pemaafan terhadap diyat, maka diyat tersebut gugur, baik mukatab itu merdeka karena telah melunasi pembayaran maupun tetap menjadi budak karena tidak mampu membayar, dan tidak ada tuntutan bagi tuan terhadap diyat tersebut karena sahnya pemaafan atasnya. Adapun jika dikatakan batalnya pemaafan terhadap diyat, maka bagi mukatab jika ia telah merdeka berhak menuntut diyat tersebut, dan bagi tuan jika mukatab tetap menjadi budak juga berhak menuntutnya, karena diyat tetap ada akibat batalnya pemaafan. Allah Maha Mengetahui.

بَابُ عِتْقِ السَّيِّدِ الْمُكَاتَبَ فِي الْمَرَضِ وَغَيْرِهِ

Bab tentang pembebasan budak mukatab oleh tuannya dalam keadaan sakit maupun selainnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه إِذَا وَضَعَ السَّيِّدُ عَنِ الْمُكَاتَبِ كِتَابَتَهُ أَوْ أَعْتَقَهُ فِي الْمَرَضِ فَالْعِتْقُ مَوْقُوفٌ فَإِنْ خَرَجَ مِنَ الثُّلُثِ بِالْأَقَلِّ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ فَهُوَ حُرٌّ وَإِلَّا عَتَقَ مِنْهُ مَا حَمَلَ الثُّلُثَ فَوُضِعَ عَنْهُ مِنَ الْكِتَابَةِ بِقَدْرِ مَا عَتَقَ مِنْهُ وَكَانَ الْبَاقِي مِنْهُ عَلَى الْكِتَابَةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang tuan membebaskan seorang mukatab dari kewajiban pembayarannya atau memerdekakannya ketika sedang sakit, maka kemerdekaan itu bersifat tergantung. Jika nilai kemerdekaan itu atau sisa pembayaran yang masih harus dibayar oleh mukatab tidak melebihi sepertiga harta (tuan) maka ia menjadi merdeka sepenuhnya. Namun jika melebihi sepertiga, maka hanya bagian yang sepadan dengan sepertiga harta saja yang merdeka, dan pembebasan dari kewajiban pembayaran pun hanya sebesar bagian yang telah merdeka, sedangkan sisanya tetap menjadi tanggungan mukatab dalam akad kitabah.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَقَدْ ذَكَرْنَا فِيمَا مَضَى أَنَّ عِتْقَ الْمُكَاتَبِ إِبْرَاءٌ لَهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَإِبْرَاؤُهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ عِتْقٌ لَهُ وَأَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ إِبْرَائِهِ وَعِتْقِهِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَأَبْرَأَ السَّيِّدُ مُكَاتَبَهُ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ أَوْ أَعْتَقَهُ فِي مَرَضِهِ الْمُخَوِّفِ الَّذِي مَاتَ مِنْهُ فَهُوَ مِنْ عَطَايَا مَرَضِهِ الْمُعْتَبَرَةِ مِنْ ثُلُثِ مَالِهِ وَالَّذِي يُعْتَبَرُ مِنْ ثُلُثِ مَالِهِ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ مَالِ كِتَابَتِهِ فَإِنْ كَانَتِ الْقِيمَةُ أَقَلَّ فَهِيَ الْمُعْتَبَرَةُ مِنْ ثُلُثِهِ لِأَنَّهُ لَوْ أَعْتَقَ وَهُوَ عَبْدٌ قِنٌّ اعْتَبَرَ قِيمَتَهُ مِنْ ثُلُثِهِ فَكَانَ الْمُكَاتَبُ أَوْلَى بِاعْتِبَارِ الْقِيمَةِ وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ فَهُوَ الْمُعْتَبَرُ مِنْ ثُلُثِهِ دُونَ الْقِيمَةِ لِأَنَّهُ لَوْ أَدَّاهُ عَتَقَ بِهِ فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ مِنْ ثُلُثِهِ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ مَالِ كِتَابَتِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa memerdekakan mukatab merupakan pembebasan baginya dari kewajiban membayar harta kitabah, dan membebaskannya dari harta kitabah adalah juga memerdekakannya. Tidak ada perbedaan antara membebaskannya dan memerdekakannya. Jika demikian, apabila seorang tuan membebaskan mukatabnya dari harta kitabahnya atau memerdekakannya ketika ia sedang sakit keras yang menyebabkan kematiannya, maka hal itu termasuk pemberian dalam masa sakit yang diperhitungkan dari sepertiga hartanya. Yang diperhitungkan dari sepertiga hartanya adalah yang paling sedikit antara dua hal: nilai mukatab atau harta kitabahnya. Jika nilai mukatab lebih sedikit, maka itulah yang diperhitungkan dari sepertiga hartanya, karena jika ia memerdekakan seorang budak murni (bukan mukatab), maka yang diperhitungkan adalah nilainya dari sepertiga harta, sehingga mukatab lebih utama untuk diperhitungkan nilainya. Namun jika harta kitabah lebih sedikit dari nilainya, maka itulah yang diperhitungkan dari sepertiga hartanya, bukan nilainya, karena jika ia membayarnya, maka ia akan merdeka karenanya. Dengan demikian, yang diperhitungkan dari sepertiga hartanya adalah yang paling sedikit antara nilai mukatab atau harta kitabahnya. Maka, keadaannya tidak lepas dari tiga bagian.

أَحَدُهَا أَنْ يُخْرِجَ جَمِيعَهُ مِنْ ثُلُثٍ فَيَعْتِقَ جَمِيعَ الْمُكَاتَبِ وَيَبْرَأَ مِنْ جَمِيعِ الْمَالِ

Salah satunya adalah ia mengeluarkan seluruhnya dari sepertiga (harta warisan), maka seluruh mukatab dimerdekakan dan ia terbebas dari seluruh kewajiban pembayaran.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ لَا يَحْتَمِلَ الثُّلُثُ شَيْئًا مِنْهُ لِدُيُونٍ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ جَمِيعَ تَرِكَتِهِ فَيَبْطُلَ عِتْقُهُ وَإِبْرَاؤُهُ وَيُؤْخَذُ بِأَدَاءِ جَمِيعِ مَا عَلَيْهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَيَعْتِقُ بِهِ وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ وَلَا اعْتِرَاضَ فِيهِ لِوَارِثٍ وَلَا غَرِيمٍ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ كَانَ تَعْجِيزُهُ وَإِعَادَتُهُ إِلَى الرق موقوفاً على الوارثة وَالْغُرَمَاءِ فَإِنْ أَرَادَ الْوَرَثَةُ تَعْجِيزَهُ كَانَ لَهُمْ وَإِنْ أَرَادَ الْغُرَمَاءُ تَعْجِيزَهُ كَانَ لَهُمْ فَإِنِ اتفق الورثة والغرماء على إنظار جَازَ وَأَيُّهُمْ رَجَعَ عَنْ إِنْظَارِهِ وَطَلَبَ تَعْجِيزَهُ فَلَهُ ذَلِكَ

Bagian kedua adalah apabila sepertiga harta tidak dapat menanggung sedikit pun dari harta tersebut karena adanya utang-utang yang telah menghabiskan seluruh warisannya, maka batalah pembebasan budak dan penghapusannya, dan ia diwajibkan membayar seluruh sisa utang dari harta kitabah, lalu ia merdeka karenanya, meskipun jumlahnya kurang dari nilai dirinya. Tidak ada keberatan dari ahli waris maupun para kreditur dalam hal ini. Jika ia tidak mampu membayarnya, maka ketidakmampuannya dan pengembaliannya ke status budak bergantung pada keputusan ahli waris dan para kreditur. Jika para ahli waris menghendaki agar ia dikembalikan ke status budak, maka itu menjadi hak mereka; jika para kreditur menghendaki demikian, maka itu juga menjadi hak mereka. Jika ahli waris dan para kreditur sepakat untuk menangguhkan, maka hal itu diperbolehkan. Siapa pun di antara mereka yang menarik kembali penangguhan dan meminta agar ia dikembalikan ke status budak, maka ia berhak melakukannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَحْتَمِلَ الثُّلُثُ بَعْضَ ذَلِكَ وَيَعْجِزَ عَنْ بَعْضِهِ مِثْلَ أَنْ يَكُونَ الثُّلُثُ مُحْتَمِلًا لِلنِّصْفِ مِنْ أَقَلِّ أَمْرَيْهِ فَيَعْتِقَ نِصْفُهُ وَيَكُونَ نِصْفُهُ الْبَاقِي عَلَى كِتَابَتِهِ يَعْتِقُ بِأَدَائِهِ وَيَرِقُّ النِّصْفُ مِنْهُ بِعَجْزِهِ

Bagian ketiga adalah apabila sepertiga harta dapat menanggung sebagian dari hal tersebut dan tidak mampu menanggung sebagian lainnya, seperti jika sepertiga harta cukup untuk membebaskan setengah dari yang paling sedikit di antara dua hal, maka setengahnya menjadi merdeka, dan setengah sisanya tetap dalam status mukatab yang akan merdeka dengan pelunasan, sedangkan setengah darinya tetap menjadi budak karena ketidakmampuannya.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يَصِحُّ عِتْقُ بَعْضِهِ بِالْإِبْرَاءِ مِنْ بَعْضِ كِتَابَتِهِ وَلَوْ أَبْرَأَهُ فِي جِنَايَةٍ مِنْ بَعْضِ كِتَابَتِهِ لَمْ يُعْتَقْ شَيْءٌ مِنْهُ فَهَلَّا كَانَ كَذَلِكَ فِيمَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ مِنْ إِبْرَاءِ بَعْضِهِ

Jika ada yang bertanya: Bagaimana mungkin sah memerdekakan sebagian dirinya dengan membebaskan sebagian dari utang mukatabnya, padahal jika ia membebaskannya dalam kasus jinayah dari sebagian utang mukatabnya, tidak ada bagian pun darinya yang merdeka? Mengapa tidak berlaku demikian juga pada kasus yang memungkinkan sepertiga dari pembebasan sebagian dirinya?

قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ صِفَةَ الْعِتْقِ فِي الْإِبْرَاءِ مِنْ بَعْضِ الْكِتَابَةِ فِي حَالِ الْحَيَاةِ لَمْ يُوجَدْ فَلِذَلِكَ لَمْ يُعْتَقُ شَيْءٌ مِنْهُ وَصِفَةُ الْعِتْقِ فِي إِبْرَائِهِ فِي الْمَرَضِ قَدْ وُجِدَتْ فَلِذَلِكَ عَتَقَ وَإِنَّمَا رُدَّ بَعْضُ الْعِتْقِ فِي حَقِّ الْوَرَثَةِ فَافْتَرَقَا

Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa sifat ‘itq (pembebasan budak) pada pembebasan sebagian dari kitabah (perjanjian pembebasan) saat masih hidup tidak terwujud, sehingga tidak ada bagian dari budak yang merdeka. Sedangkan sifat ‘itq pada pembebasan (ibra’) di saat sakit telah terwujud, sehingga budak itu menjadi merdeka. Hanya saja sebagian dari pembebasan itu ditolak dalam hak para ahli waris, maka keduanya pun berbeda.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ تَثْبُتُ الْكِتَابَةُ فِي بَعْضِهِ مَعَ عِتْقِ بَعْضِهِ وَتَبْعِيضُ الْكِتَابَةِ وَالْعِتْقُ لَا يَجْتَمِعَانِ فِيهِ قِيلَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي ابْتِدَاءِ الْكِتَابَةِ وَيَجُوزُ أَنْ يَجْتَمِعَا فِي انْتِهَائِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Jika dikatakan, “Bagaimana mungkin status mukatab tetap berlaku pada sebagian dirinya sementara sebagian lainnya telah merdeka, padahal pemilahan antara mukatab dan merdeka tidak dapat berkumpul pada satu orang?” Maka dijawab, “Keduanya memang tidak dapat berkumpul pada permulaan akad kitabah, namun boleh jadi keduanya berkumpul pada akhirnya.” Dan Allah lebih mengetahui kebenarannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَوْصَى بِعِتْقِهِ عَتَقَ بِالْأَقَلِّ مِنْ قِيمَتِهِ أَوْ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابَتِهِ إِنْ كَانَ قِيمَتُهُ أَلْفًا وَبَاقِي كِتَابَتِهِ خَمْسَمِائَةٍ أَوْ كانت ألفا وثمنه خمسمائة فيعتق بخمسمائة وقال في الإملاء على مسائل مالك ولو أعتقه عند الموت ولا مال له غيره عتق ثلثه فإن أدى ثلثي الكتابة عتق كله وإن عجز رق ثلثاه ولو قال ضعوا عنه كتابته فهي وصية له فيعتق بالأقل من قيمته أو كتابته وسواء كانت حالة أو دينا يحسب في الثُّلُثُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan budaknya, maka budak itu merdeka dengan nilai yang paling sedikit antara harga dirinya atau sisa pembayaran mukātabah-nya. Jika harga dirinya seribu dan sisa pembayaran mukātabah-nya lima ratus, atau jika harga dirinya seribu dan harga jualnya lima ratus, maka ia merdeka dengan lima ratus. Dalam kitab al-Imlā’ atas masalah-masalah Malik, beliau berkata: Jika seseorang memerdekakan budaknya saat menjelang wafat dan ia tidak memiliki harta selain budak itu, maka yang merdeka adalah sepertiganya. Jika ia telah membayar dua pertiga dari mukātabah, maka seluruhnya merdeka. Jika ia tidak mampu, maka dua pertiganya tetap menjadi budak. Jika ia berkata, “Hapuskan pembayaran mukātabah-nya,” maka itu adalah wasiat baginya, sehingga ia merdeka dengan nilai yang paling sedikit antara harga dirinya atau pembayaran mukātabah-nya, baik pembayaran itu sudah jatuh tempo maupun masih berupa utang, dan semuanya dihitung dalam sepertiga harta warisan.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا أَوْصَى السَّيِّدُ بِعِتْقِ مُكَاتَبِهِ أَوْ بِإِبْرَائِهِ مِنْ كِتَابَتِهِ فَهُمَا سَوَاءٌ يُعْتَبَرَانِ فِي الثُّلُثِ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا فَإِنْ خَرَجَ أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الثُّلُثِ عَتَقَ جَمِيعُهُ وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ وَلَمْ يُخَلِّفْ مَالًا سِوَاهُ لَمْ يَخْلُ مَا عَلَيْهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ مِنْ أَنْ يَكُونَ حَالًّا أَوْ مُؤَجَّلًا فَإِنْ كَانَ قَدْ حَلَّ عَتَقَ ثُلُثُهُ فِي الْحَالِ وَقِيلَ لَهُ إِنْ أَدَّيْتَ ثُلُثَيْ كِتَابَتِكَ عَتَقَ جَمِيعُكَ بِالْوَصِيَّةِ وَالْأَدَاءِ وَإِنْ عَجَزْتَ اسْتَرَقَّ الْوَرَثَةُ ثُلُثَيْكَ فَصَارَ ثُلُثُكَ حُرًّا وَثُلُثَاكَ مَرْقُوقًا

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, yaitu apabila seorang tuan berwasiat untuk memerdekakan mukatab-nya atau membebaskannya dari kewajiban kitabah, maka keduanya sama saja, keduanya dipertimbangkan dalam sepertiga (harta peninggalan) dengan mengambil yang lebih kecil dari dua hal tersebut, sebagaimana yang telah kami sebutkan. Jika yang lebih kecil dari dua hal itu dapat ditutupi oleh sepertiga harta, maka seluruhnya merdeka. Namun jika tidak mampu dan tidak meninggalkan harta selain itu, maka harta kitabah yang menjadi tanggungannya tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi telah jatuh tempo atau masih ditangguhkan. Jika telah jatuh tempo, maka sepertiganya langsung merdeka, dan dikatakan kepadanya: “Jika engkau membayar dua pertiga kitabahmu, maka seluruhmu akan merdeka melalui wasiat dan pembayaran. Namun jika engkau tidak mampu, maka ahli waris akan memperbudak dua pertigamu, sehingga sepertigamu menjadi merdeka dan dua pertigamu tetap menjadi budak.”

وَإِنْ كَانَ مَالُ الْكِتَابَةِ مُؤَجَّلًا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَتَعَجَّلُ عِتْقُ ثُلُثِهِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Dan jika harta kitābah itu ditangguhkan pembayarannya, maka para ulama kami berbeda pendapat apakah sepertiga dari budak tersebut langsung merdeka atau tidak, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا لَا يَتَعَجَّلُ عِتْقُ شَيْءٍ مِنْهُ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَمْضِيَ بِالْوَصِيَّةِ مَا لَا يَحْصُلُ لِلْوَرَثَةِ مِثْلَاهُ وَفِي تَعْجِيلِ الْعِتْقِ وَوُقُوفِ الثُّلُثَيْنِ عَلَى الْأَدَاءِ مَنْعٌ لِلْوَرَثَةِ مِنَ التَّصَرُّفِ فِي مِثْلَيْ مَا خَرَجَ بِالْوَصِيَّةِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَوْقُوفًا فَكُلَّمَا أَدَّى مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ شَيْئًا إِلَى الْوَرَثَةِ عَتَقَ مِنْهُ مِثْلُ نِصْفِهِ لِيَصِيرَ إِلَى الْوَرَثَةِ مِثْلَا مَا خَرَجَ بِالْوَصِيَّةِ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan (budak) tidak boleh disegerakan, karena tidak diperbolehkan melaksanakan wasiat terhadap sesuatu yang tidak didapatkan oleh ahli waris yang semisal dengannya. Dalam penyegeraan pembebasan dan penahanan dua pertiga atas pelaksanaan, terdapat pencegahan bagi ahli waris untuk bertindak atas dua kali lipat dari apa yang keluar melalui wasiat. Maka wajib untuk menangguhkannya. Setiap kali ia membayarkan sebagian dari harta kitabahnya kepada ahli waris, maka akan merdeka dari budak itu sebesar setengahnya, agar ahli waris mendapatkan yang semisal dengan apa yang keluar melalui wasiat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ ظَاهِرُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَوْلُ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يَتَعَجَّلُ ثُلُثُهَ فِي الْحَالِ وَيَكُونُ ثُلُثَاهُ مَوْقُوفًا عَلَى الْأَدَاءِ فَإِنْ وَفَّاهُ عَتَقَ وَصَارَ جَمِيعُهُ حُرًّا وَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ رَقَّ ثُلُثَاهُ وَكَانَ ثُلُثُهُ حُرًّا وَاخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا الْوَجْهِ فِي الْعِلَّةِ فِي تَعْجِيلِ الْعِتْقِ وَوُقُوفِ الْبَاقِي فَقَالَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ لِأَنَّ جَمِيعَ الْمُكَاتَبِ حَاضِرٌ وَالْوَرَثَةُ فِي بَاقِيهِ عَلَى يَقِينٍ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ مِنْ عِتْقٍ بِأَدَاءٍ أَوْ رِقٍّ بِعَجْزٍ وَإِنَّمَا يُمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ الْوَصِيَّةِ بِحَاضِرٍ إِذَا كَانَ بَاقِي الْمَالِ غَائِبًا

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i dan juga pendapat mayoritas para pengikutnya, adalah bahwa sepertiga dari harta itu disegerakan (diberikan) saat itu juga, sedangkan dua pertiganya ditangguhkan sampai pelunasan. Jika ia (mukātab) melunasinya, maka ia merdeka dan seluruhnya menjadi bebas. Namun jika ia tidak mampu melunasinya, maka dua pertiganya tetap menjadi budak dan sepertiganya menjadi merdeka. Para ulama yang berpendapat seperti ini berbeda pendapat mengenai alasan disegerakannya pembebasan dan penangguhan sisanya. Abu Ishaq al-Marwazi berkata: “Karena seluruh bagian dari mukātab itu hadir, dan para ahli waris terhadap sisanya berada dalam keyakinan pasti terhadap salah satu dari dua keadaan: merdeka dengan pelunasan atau tetap budak karena ketidakmampuan. Larangan menetapkan wasiat pada sesuatu yang hadir hanya berlaku jika sisa harta itu tidak ada (ghaib).”

وَقَالَ غَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِنَا إِنَّ الْعِلَّةَ فِيهِ أَنَّهُ دَيْنٌ مُؤَجَّلٌ قَدْ أَوْصَى بِهِ لِمَنْ هُوَ عَلَيْهِ فَإِذَا لَمْ يَخْرُجْ مِنَ الثُّلُثِ بَرِئَ مِنْ ثُلُثِ الدَّيْنِ وَكَانَ ثُلُثَاهُ بَاقِيًا لِلْوَرَثَةِ إِلَى أَجْلِهِ وَهَكَذَا حُكْمُ الوصية بالدين

Dan sebagian ulama dari kalangan kami berkata bahwa sebab (‘illah) dalam hal ini adalah karena ia merupakan utang yang ditangguhkan, yang diwasiatkan kepada orang yang berhak atasnya. Maka jika (utang tersebut) tidak melebihi sepertiga (harta peninggalan), maka gugurlah sepertiga utang itu, dan dua pertiganya tetap menjadi hak ahli waris hingga waktu jatuh temponya. Demikianlah hukum wasiat dengan utang.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَاتَبَهُ فِي مَرَضِهِ وَلَا يَخْرُجُ مِنَ الثُّلُثِ وَقَفْتُ فَإِنْ أَفَادَ السَّيِّدُ مَالًا يُخْرِجُ بِهِ مِنَ الثُّلُثِ جَازَتِ الْكِتَابَةُ وَإِنْ لَمْ يُفْدِ جَازَتْ كِتَابَةُ ثُلُثِهِ إِذَا كَانَتْ كِتَابَةَ مثله ولم تجز في ثلثيه قَالَ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا خِلَافُ قَوْلِهِ لا تجوز كتابة بعض عبده

Imam Syafi’i ra. berkata: “Jika seseorang melakukan mukatabah terhadap budaknya saat ia sedang sakit, dan nilai mukatabah itu tidak melebihi sepertiga harta (tsuluts), maka mukatabah itu sah. Jika tuan tersebut kemudian memperoleh harta sehingga nilai mukatabah itu keluar dari batas sepertiga, maka mukatabah itu tetap sah. Namun jika tidak memperoleh harta tambahan, maka hanya sah mukatabah atas sepertiga budaknya saja, selama mukatabah itu sesuai dengan kebiasaan (nilai yang lazim), dan tidak sah untuk dua pertiga sisanya.” Al-Muzani rahimahullah berkata: “Ini bertentangan dengan pendapat beliau (Imam Syafi’i) yang menyatakan tidak sah melakukan mukatabah atas sebagian budaknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ الْكِتَابَةُ فِي الْمَرَضِ المخوف إذا تعقبه الموت معتبر مِنَ الثُّلُثِ لِأَنَّهَا كَالْعَطَايَا وَالْهِبَاتِ وَالصَّدَقَاتِ لِأَنَّ الْمَأْخُوذَ مِنْهَا قَدْ كَانَ مُسْتَحَقًّا بِالْمِلْكِ فَخَالَفَ الْبَيْعِ الَّذِي لَا يُسْتَحَقُّ الثَّمَنُ فِيهِ إِلَّا بِالْعَقْدِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَهِيَ عَلَى الصِّحَّةِ فِي جَمِيعِهِ مَا لَمْ يَمُتِ السَّيِّدُ فَإِنْ قَبَضَهَا مِنْهُ فِي حَيَاتِهِ عَتَقَ بِهَا إِنْ كَانَ الْحَاصِلُ مِنَ الْكِتَابَةِ مِثْلَ قِيمَتِهِ وَإِنْ نَقَصَ فَبِقِسْطِهِ مِنْ ثُلُثِ تَرِكَتِهِ وَإِنْ مَاتَ السَّيِّدُ قَبْلَ الْأَدَاءِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْمُكَاتَبِ مِنْ أَنْ يُخْرِجَ قِيمَتَهُ مِنَ الثُّلُثِ أَوْ لَا يُخْرِجُ فَإِنْ خَرَجَتْ قِيمَتُهُ مِنَ الثُّلُثِ كَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ يُؤَدِّيهَا إِلَى الْوَرَثَةِ لِيَعْتِقَ بِأَدَائِهَا أَوْ يُسْتَرَقَّ بِالْعَجْزِ عَنْهَا وَإِنْ لَمْ يُخْرِجْ قِيمَتَهُ مِنَ الثُّلُثِ وَلَا كَانَ لَهُ مَالٌ سِوَاهُ لَزِمَتِ الْكِتَابَةُ فِي ثُلُثِهِ وَكَانَ ثُلُثَاهُ مَوْقُوفًا عَلَى إِجَازَةِ الْوَارِثِ وَرَدِّهِ فَإِنْ أَجَازَهَا الْوَارِثُ لَهُ مِنْ جَمِيعِ الْكِتَابَةِ جَازَتْ وَإِنْ رَدَّهَا بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ فِي ثُلُثَيْهِ وَلَزِمَتْ فِي ثُلُثِهِ فَإِذَا أَدَّى ثُلُثَ الْكِتَابَةِ عَتَقَ ثُلُثُهُ وَكَانَ ثُلُثَاهُ مَمْلُوكًا

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar, yaitu penulisan (akad kitābah) pada saat sakit yang dikhawatirkan (membawa kematian) jika diikuti oleh kematian, maka nilainya dihitung dari sepertiga harta, karena ia seperti pemberian, hibah, dan sedekah. Sebab, apa yang diambil darinya telah menjadi hak milik, sehingga berbeda dengan jual beli yang mana harga tidak menjadi hak kecuali dengan akad. Jika demikian, maka akad kitābah itu sah seluruhnya selama tuan (pemilik budak) belum meninggal. Jika budak tersebut telah menerima (akad kitābah) darinya saat tuannya masih hidup, maka ia merdeka dengan akad tersebut jika hasil dari kitābah itu senilai dengan harga dirinya. Jika kurang, maka sesuai bagiannya dari sepertiga harta peninggalan tuannya. Jika tuan meninggal sebelum pembayaran, maka keadaan budak mukātab tidak lepas dari dua kemungkinan: nilainya dapat diambil dari sepertiga harta atau tidak. Jika nilainya dapat diambil dari sepertiga harta, maka ia tetap pada akad kitābahnya dan membayarnya kepada para ahli waris agar ia merdeka dengan pembayarannya, atau ia kembali menjadi budak jika tidak mampu membayar. Jika nilainya tidak dapat diambil dari sepertiga harta dan tidak ada harta lain selain itu, maka akad kitābah hanya berlaku pada sepertiganya, dan dua pertiganya tergantung pada persetujuan atau penolakan ahli waris. Jika ahli waris menyetujuinya untuk seluruh akad kitābah, maka sah seluruhnya. Jika menolaknya, maka akad kitābah batal pada dua pertiganya dan tetap berlaku pada sepertiganya. Maka, jika budak tersebut membayar sepertiga dari akad kitābah, maka sepertiga dirinya merdeka dan dua pertiganya tetap menjadi milik (ahli waris).

فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ تَصِحُّ الْكِتَابَةُ فِي ثُلُثِهِ وَكِتَابَةُ بَعْضِ الْعَبْدِ لَا تَصِحْ وَكَيْفَ يُعْتَقُ ثُلُثُهُ بِأَدَاءِ ثُلُثِ الْكِتَابَةِ وَصِفَةُ الْعِتْقِ مَشْرُوطَةٌ بِأَدَاءِ الْجَمِيعِ

Jika dikatakan, “Bagaimana bisa sah melakukan kitābah atas sepertiga budak, sedangkan melakukan kitābah atas sebagian budak tidak sah? Dan bagaimana sepertiga budak bisa merdeka dengan membayar sepertiga dari nilai kitābah, padahal sifat kemerdekaan itu disyaratkan dengan pelunasan seluruh nilai?”

قِيلَ لِأَنَّ عَقْدَ الْكِتَابَةِ قَدْ كَانَ عَلَى جَمِيعِهِ فَصَحَّتْ وَإِنَّمَا بَطَلَ بَعْضُهَا فِي حَقِّ الْوَارِثِ فَلَمْ يُوجِبْ بُطْلَانَ بَاقِيهَا فِي حَقِّ الْمَوْرُوثِ لِاخْتِصَاصِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا بِحَقِّهِ

Dikatakan bahwa akad kitābah telah dilakukan atas seluruhnya, sehingga akad itu sah, dan hanya sebagian dari akad tersebut yang batal bagi ahli waris. Maka, hal itu tidak menyebabkan batalnya bagian lainnya bagi pihak yang mewariskan, karena masing-masing dari keduanya memiliki haknya sendiri-sendiri.

وَإِذَا عَادَتِ الْكِتَابَةُ إِلَى ثُلُثِهِ عَادَ مَالُهَا إِلَى ثُلُثِهِ فَصَارَ هُوَ الْمَشْرُوطَ فِي الْعِتْقِ

Dan apabila penulisan (akad kitābah) kembali kepada sepertiganya, maka hartanya pun kembali menjadi sepertiganya, sehingga yang menjadi syarat dalam pembebasan (ʿitq) adalah sepertiganya itu.

مَسْأَلَةٌ

Permasalahan

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَمَا أَقَرَّ بِقَبْضِهِ فِي مَرَضِهِ فَهُوَ كَالدَّيْنِ يُقِرُّ بِقَبْضِهِ فِي صِحَّتِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Apa yang diakui telah diterima (oleh seseorang) dalam keadaan sakitnya, maka hukumnya seperti utang yang diakui telah diterima dalam keadaan sehatnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِقْرَارُ السَّيِّدِ فِي مَرَضِهِ بِقَبْضِ الْكِتَابَةِ مِنْ مُكَاتَبِهِ لَازِمٌ كَالْإِقْرَارِ بِهِ فِي حَالِ الصِّحَّةِ سَوَاءٌ كَاتَبَهُ فِي الْمَرَضِ أَوْ فِي الصِّحَّةِ لِأَنَّ مَنْ صَحَّ مِنْهُ الْقَبْضُ صَحَّ إِقْرَارُهُ بِالْقَبْضِ وَلِأَنَّهُ إقرار بحق فصار كالشهادة

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana pernyataan bahwa pengakuan seorang tuan dalam keadaan sakit tentang telah menerima pembayaran kitabah dari mukatabnya adalah mengikat, sebagaimana pengakuan dalam keadaan sehat, baik ia melakukan akad kitabah itu ketika sakit maupun ketika sehat. Sebab, siapa saja yang sah baginya menerima pembayaran, maka sah pula pengakuannya atas penerimaan tersebut. Selain itu, pengakuan tersebut berkaitan dengan hak, sehingga kedudukannya seperti kesaksian.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا وَضَعَ عَنْهُ دَنَانِيرَ وَعَلَيْهِ دَرَاهِمُ أَوْ شَيْئًا وَعَلَيْهِ غَيْرُهُ لَمْ يَجُزْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membebaskan (utang) dinar darinya, sedangkan yang menjadi tanggungannya adalah dirham, atau membebaskan sesuatu darinya, sedangkan yang menjadi tanggungannya adalah selain itu, maka hal tersebut tidak diperbolehkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَاتَبَهُ عَلَى دَرَاهِمَ وَأَبْرَأَهُ مِنْ دَنَانِيرَ أَوْ كَاتَبَهُ عَلَى دَنَانِيرَ وَأَبْرَأَهُ من دراهم لم يبر مِنْ شَيْءٍ مِنْ كِتَابَتِهِ لِأَنَّ مَا أَبْرَأَهُ مِنْهُ لَا يَسْتَحِقُّهُ وَمَا يَسْتَحِقُّهُ لَمْ يُبْرِئْهُ مِنْهُ فَكَانَ هَذَا الْإِبْرَاءُ مِنْهُ عَبَثًا إِلَّا أَنْ يَقُولَ وَقَدْ كَاتَبْتُهُ عَلَى أَلْفِ دِرْهَمٍ قَدْ أَبْرَأْتُكَ بِقِيمَةِ عَشَرَةِ دَنَانِيرَ فَصَحَّ إِبْرَاؤُهُ مِنَ الدَّرَاهِمِ بِقِيمَةِ عَشَرَةِ دَنَانِيرَ وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ مِنْ بَعْدُ قَدْ كُنْتُ أَرَدْتُ بِإِبْرَائِي مِنْ عَشَرَةِ دَنَانِيرَ قَدْرَ مَا يَقُومُ مِنَ الدَّرَاهِمِ بِهَا عُمِلَ عَلَى قَوْلِهِ وَإِنَّمَا بَطَلَتِ الْبَرَاءَةُ إِذَا لَمْ يُصَرِّحْ بِذَلِكَ وَلَمْ يَرُدَّهُ فَإِنِ ادَّعَى الْمُكَاتَبُ عَلَيْهِ أَنَّهُ أَرَادَ قِيمَةَ عَشَرَةِ دَنَانِيرَ فَالْقَوْلُ قَوْلُ السَّيِّدِ مَعَ يَمِينِهِ وَلَوْ وَصَّى السَّيِّدُ بِهَذَا الْإِبْرَاءِ كَانَ حُكْمُهُ مَعَ الْوَارِثِ كَحُكْمِهِ مَعَهُ لَوْ كَانَ هُوَ المبرئ

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila ia membuat perjanjian mukatabah dengan budaknya atas sejumlah dirham, lalu ia membebaskannya dari dinar, atau ia membuat perjanjian mukatabah atas dinar lalu membebaskannya dari dirham, maka ia tidak terbebas dari apa pun dari perjanjian mukatabah itu. Sebab, apa yang ia bebaskan darinya bukanlah sesuatu yang menjadi haknya, dan apa yang menjadi haknya tidak ia bebaskan darinya. Maka pembebasan seperti ini menjadi sia-sia, kecuali jika ia berkata, “Aku telah membuat perjanjian mukatabah denganmu atas seribu dirham, dan aku telah membebaskanmu sebesar nilai sepuluh dinar,” maka sah pembebasannya dari dirham sebesar nilai sepuluh dinar. Demikian pula jika ia berkata setelahnya, “Aku dahulu bermaksud dengan pembebasanku dari sepuluh dinar sebesar nilai dirham yang sepadan dengannya,” maka ucapan itu diikuti. Pembebasan itu batal jika tidak dijelaskan demikian dan tidak dikembalikan. Jika pihak mukatab mengklaim bahwa ia bermaksud nilai sepuluh dinar, maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan tuan dengan sumpahnya. Jika tuan mewasiatkan pembebasan ini, maka hukumnya dengan ahli waris sama seperti hukumnya dengan tuan jika ia sendiri yang membebaskan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رحمه الله تعالى وَلَوْ قَالَ قَدِ اسْتَوْفَيْتُ آخِرَ كِتَابَتِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَوْ شَاءَ فُلَانٌ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ اسْتِثْنَاءٌ

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Aku telah melunasi sisa utangmu jika Allah menghendaki’ atau ‘jika si Fulan menghendaki’, maka hal itu tidak sah, karena itu merupakan pengecualian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا قَالَ قَدِ اسْتَوْفَيْتُ مِنْكَ مَالَ كِتَابَتِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَوْ شَاءَ فُلَانٌ لَمْ يَجُزْ وَكَانَ إِقْرَارًا بَاطِلًا وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْعِلَّةِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ تَعَالَى اسْتِثْنَاءٌ يَرْفَعُ حُكْمَ مَا اتَّصَلَ بِهِ كَمَا يَرْتَفِعُ بِهِ حُكْمُ الطَّلَاقِ وَالْعِتَاقِ وَالْأَيْمَانِ وَقَالَ آخَرُونَ لِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ فِي الْكَلَامِ تُسْتَعْمَلُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ دُونَ الْمَاضِي فَصَارَ مَعْنَاهُ سَأَسْتَوْفِي مِنْكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَأَمَّا إِنْ قَالَ قَدِ اسْتَوْفَيْتُ مِنْكَ مَالَ كِتَابَتِكَ إِنْ شَاءَ زَيْدٌ لَمْ يَصِحَّ أَيْضًا وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْعِلَّةِ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى ظَاهِرِ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ أَنَّهُ اسْتِثْنَاءٌ

Al-Mawardi berkata, “Jika seseorang mengatakan, ‘Aku telah mengambil darimu harta kitabahmu, insya Allah atau jika si Fulan menghendaki,’ maka hal itu tidak sah dan merupakan pengakuan yang batal. Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai sebabnya. Sebagian dari mereka, dan ini yang tampak dari perkataan asy-Syafi‘i, berpendapat bahwa penyandaran pada kehendak Allah Ta‘ala adalah pengecualian yang menghapus hukum yang terkait dengannya, sebagaimana hukum talak, pembebasan budak, dan sumpah dapat gugur karenanya. Sementara yang lain berpendapat bahwa penyandaran pada kehendak Allah dalam ucapan hanya digunakan untuk masa depan, bukan masa lalu, sehingga maknanya menjadi, ‘Aku akan mengambil darimu jika Allah menghendaki.’ Adapun jika ia berkata, ‘Aku telah mengambil darimu harta kitabahmu jika Zaid menghendaki,’ maka itu juga tidak sah. Para sahabat kami pun berbeda pendapat mengenai sebabnya. Sebagian mereka mengikuti pendapat yang tampak dari perkataan asy-Syafi‘i bahwa itu adalah pengecualian.”

وَقَالَ آخَرُونَ لِأَنَّهُ إِقْرَارٌ مُقَيَّدٌ بِصِفَةٍ وَحَمَلُوا قَوْلَ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّهُ اسْتِثْنَاءٌ عَلَى مَشِيئَةِ اللَّهِ دُونَ مَشِيئَةِ غَيْرِهِ لِأَنَّ الِاسْتِثْنَاءَ مُخْتَصٌّ بِمَشِيئَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa hal itu merupakan pengakuan yang dibatasi dengan suatu sifat, dan mereka menafsirkan pendapat asy-Syafi‘i bahwa hal itu adalah pengecualian yang dikaitkan dengan kehendak Allah, bukan dengan kehendak selain-Nya, karena pengecualian itu khusus untuk kehendak Allah semata.

وَأَمَّا إِنْ قَالَ قَدِ اسْتَوْفَيْتُ مِنْكَ آخِرَ كتابتك وأطلق لم يكن هذا إقرار بِاسْتِيفَاءِ جَمِيعِ مَالِ الْكِتَابَةِ لِاحْتِمَالِهِ أَنْ يُرِيدَ بِهِ مَا حَلَّ مِنْ نُجُومِهِ دُونَ مَا لَمْ يَحِلَّ أَوْ أَنْ يُرِيدَ بِهِ آخِرَ نَجْمٍ دُونَ أَوَّلِهِ أَوْ يُرِيدَ بِهِ جَمِيعَ الْبَاقِي بِأَسْرِهِ فَلِاحْتِمَالِهِ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ إِقْرَارًا بِاسْتِيفَاءِ جَمِيعِ الْمَالِ حَتَّى يُرِيدَهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب

Adapun jika ia berkata, “Aku telah mengambil darimu pembayaran terakhir dari kitabah-mu,” lalu mengatakannya secara mutlak, maka itu tidak dianggap sebagai pengakuan telah menerima seluruh harta kitabah. Sebab, ada kemungkinan yang dimaksudkannya adalah pembayaran yang telah jatuh tempo saja, bukan yang belum jatuh tempo; atau ia bermaksud pembayaran terakhir saja, bukan pembayaran pertama; atau ia bermaksud seluruh sisa pembayaran sekaligus. Karena adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut, maka ucapan itu tidak dianggap sebagai pengakuan telah menerima seluruh harta, kecuali jika ia memang menginginkannya demikian. Allah-lah yang lebih mengetahui kebenaran.

الوصية للعبد أن يكاتب

Wasiat kepada seorang budak adalah agar ia melakukan mukātabah (perjanjian pembebasan diri dengan membayar sejumlah harta kepada tuannya).

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَوْصَى أَنْ يُكَاتَبَ عَبْدٌ لَهُ لَا يَخْرُجُ مِنَ الثُّلُثِ حَاصَّ أَهْلَ الْوَصَايَا وَكُوتِبَ عَلَى كِتَابَةِ مِثْلِهِ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ وَصَايَا وَلَا مَالَ لَهُ غَيْرُهُ قِيلَ إِنْ شِئْتَ كَاتَبْنَا ثُلُثَكَ وَوَلَاءُ ثُلُثِكَ لِسَيِّدِكَ وَالثُّلُثَانِ رَقِيقٌ لورثته قال المزني رحمه الله هذا خلاف أصل قوله مثل الذي قبله

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berwasiat agar seorang budaknya dimukatabkan (dimerdekakan dengan perjanjian pembayaran) dan nilai budak itu tidak melebihi sepertiga harta peninggalan, maka wasiat itu berlaku bagi ahli wasiat dan budak itu dimukatabkan dengan nilai seperti budak sejenisnya. Jika tidak ada wasiat lain dan tidak ada harta selain budak itu, dikatakan kepada budak tersebut: ‘Jika engkau mau, kami akan memukatabkan sepertiga dirimu, dan wala’ (hak perwalian) atas sepertiga dirimu menjadi milik tuanmu, sedangkan dua pertiga sisanya tetap menjadi budak bagi ahli warisnya.’” Al-Muzani raḥimahullāh berkata: “Ini bertentangan dengan pendapat dasarnya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا وَصَّى بِكِتَابَةِ عَبْدِهِ كَانَتْ قِيمَتُهُ مُعْتَبَرَةً مِنْ ثُلُثِهِ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ كَالْعَطَايَا وَالْهِبَاتِ مِنْ وَجْهٍ وَكَالْعِتْقِ مِنْ وَجْهٍ يَعُودُ الْوَلَاءُ فِيهِ إِلَى السَّيِّدِ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْعَطَايَا وَالْعِتْقِ مُعْتَبَرٌ مِنَ الثُّلُثِ فَكَذَلِكَ الْكِتَابَةُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ أَنْ تَخْرُجَ قِيمَةُ الْعَبْدِ مِنَ الثُّلُثِ أَوْ لَا تَخْرُجُ فَإِنْ خَرَجَتْ قِيمَتُهُ مِنَ الثُّلُثِ كُوتِبَ جَمِيعُهُ إِنْ شَاءَ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ لَا تَتِمُّ إِلَّا بِاخْتِيَارِهِ فَإِنْ لَمْ يُرِدِ الْكِتَابَةَ بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِكِتَابَتِهِ فَإِنْ عَادَ فَطَلَبَهَا بَعْدَ الرِّقِّ لَمْ يَسْتَحِقَّهَا إِلَّا أَنْ يَسْتَأْنِفَ الْوَرَثَةُ كِتَابَتَهُ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ وَإِنْ أَرَادَ الْكِتَابَةَ فِي الِابْتِدَاءِ أُجِيبُ إِلَيْهَا وَرَجَعَ فِي الْقَدْرِ الَّذِي يُكَاتَبُ بِهِ إِلَى الْوَصِيَّةِ فَإِنْ سَمَّاهُ السَّيِّدُ وَذَكَرَ الْقَدْرَ الَّذِي يُكَاتَبُ بِهِ لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ قَلِيلًا أَوْ كَثِيرًا لِأَنَّ الْوَارِثَ لَا يَلْحَقُهُ فِيهِ ضَرَرٌ إِذَا كَانَتْ قِيمَتُهُ مُحْتَسَبَةٌ عَلَى الْمَيِّتِ فِي ثُلُثِهِ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ قَدْرًا كُوتِبَ كِتَابَةَ مِثْلِهِ كَمَا لَوْ وَصَّى بِبَيْعِهِ عَلَى رَجُلٍ بِيعَ بِثَمَنِ مِثْلِهِ وَكِتَابَةُ الْمِثْلِ أَنْ تَكُونَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ كَالْبَيْعِ بِالنَّسَاءِ يَكُونُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِهِ نَقْدًا فَإِذَا صَحَّتْ كِتَابَتُهُ وَانْعَقَدَتْ عَلَى مَا وَصَفْنَا أَدَّى مَالَهَا إِلَى الْوَرَثَةِ وَكَانَ ذَلِكَ كَسْبًا لَهُمْ لَا يُضَمُّ إِلَى تَرِكَةِ الْمُوصِي لِأَنَّهُ نَمَاءُ مَالٍ حَدَثَ بَعْدَ الْوَفَاةِ فَجَرَى مَجْرَى مَا حَدَثَ مِنْ نماء النخل ونتاج الماشية فإن أدى أَدَّى هَذَا الْمُكَاتَبُ مَالَ كِتَابَتِهِ عَتَقَ وَكَانَ وَلَاؤُهُ لِلْمُوصِي يَنْتَقِلُ بِمَوْتِهِ إِلَى الذُّكُورِ مِنْ عَصَبَتِهِ وَإِنْ عَجَزَ كَانَ وَرَثَتُهُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِنْظَارِهِ وَبَيْنَ تَعْجِيزِهِ وَاسْتِرْجَاعِهِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, jika seseorang berwasiat agar budaknya dimerdekakan melalui akad kitābah, maka nilai budak tersebut diperhitungkan dari sepertiga hartanya, karena akad kitābah dari satu sisi serupa dengan pemberian dan hibah, dan dari sisi lain serupa dengan pembebasan budak (‘itq), di mana hak wala’ kembali kepada tuan. Setiap pemberian dan pembebasan budak diperhitungkan dari sepertiga harta, demikian pula akad kitābah. Jika demikian, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: nilai budak itu keluar dari sepertiga harta atau tidak. Jika nilai budak itu dapat diambil dari sepertiga harta, maka seluruhnya boleh dimerdekakan melalui akad kitābah jika ia menghendaki, karena akad kitābah tidak sempurna kecuali dengan pilihannya. Jika ia tidak menghendaki akad kitābah, maka wasiat untuk memerdekakannya batal. Jika kemudian ia kembali dan memintanya setelah masa perbudakan, maka ia tidak berhak mendapatkannya kecuali para ahli waris memulai akad kitābah atas hak mereka sendiri. Jika ia menghendaki akad kitābah sejak awal, maka permintaannya dikabulkan dan besaran yang dijadikan dasar akad kitābah kembali kepada wasiat. Jika tuan menyebutkan namanya dan menyebutkan besaran yang dijadikan dasar akad kitābah, maka tidak boleh melebihi jumlah itu, baik sedikit maupun banyak, karena ahli waris tidak akan dirugikan jika nilai budak itu diperhitungkan dari sepertiga harta mayit. Jika tidak disebutkan besaran, maka akad kitābah dilakukan dengan nilai yang sepadan, sebagaimana jika berwasiat untuk menjualnya kepada seseorang, maka dijual dengan harga yang sepadan. Akad kitābah yang sepadan adalah jika dilakukan dengan nilai lebih dari harga budaknya, seperti penjualan secara angsuran yang nilainya lebih besar daripada harga tunainya. Jika akad kitābahnya sah dan berlangsung sebagaimana yang telah dijelaskan, maka pembayaran uang akad kitābah diberikan kepada para ahli waris dan itu menjadi keuntungan bagi mereka, tidak digabungkan ke dalam harta peninggalan pewaris, karena itu adalah pertambahan harta yang terjadi setelah wafat, sehingga hukumnya seperti pertumbuhan pohon kurma dan kelahiran hewan ternak yang terjadi setelah wafat. Jika budak yang melakukan akad kitābah itu membayar uang akad kitābahnya, maka ia merdeka dan hak wala’ menjadi milik pewasiat, yang kemudian berpindah setelah wafatnya kepada laki-laki dari keluarga (‘ashabah)-nya. Jika ia tidak mampu membayar, maka para ahli waris berhak memilih antara menunggu atau membatalkan akad kitābah dan mengambilnya kembali.

فَصْلٌ

Fasal

وَإِنْ ضَاقَ الثُّلُثُ عَنْ قِيمَتِهِ وَلَمْ يُخْرِجْ جَمِيعَهَا مِنْهُ فَلَا يَخْلُو أَنْ تَكُونَ مَعَهُ وَصَايَا أَوْ لَا تَكُونُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَهُ وَصَايَا تَوَفَّرَ الثُّلُثُ كُلُّهُ فِي قِيمَتِهِ وَكُوتِبَ مِنْهُ بِقَدْرِ ثُلُثِهِ وَإِنْ كَانَتْ مَعَهُ وَصَايَا فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي الْوَصَايَا وَالْعِتْقِ إِذَا

Jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk menutupi nilainya dan tidak seluruhnya dikeluarkan dari sepertiga tersebut, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ada wasiat lain bersamanya atau tidak ada. Jika tidak ada wasiat lain bersamanya, maka seluruh sepertiga harta digunakan untuk menutupi nilainya dan dicatat darinya sebesar sepertiganya. Namun jika ada wasiat lain bersamanya, maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i mengenai wasiat dan pembebasan budak jika…

اجْتَمَعَا فِي الْوَصِيَّةِ هَلْ يُقَدَّمُ الْعِتْقُ أَوْ يَكُونُ أُسْوَةَ جَمِيعِ الْعَطَايَا عَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا فِي الْوَصَايَا

Keduanya berkumpul dalam wasiat: apakah pembebasan budak didahulukan atau disamakan dengan seluruh pemberian lainnya? Terdapat dua pendapat yang telah disebutkan dalam pembahasan wasiat.

أَحَدُهُمَا يَكُونُ الْعِتْقُ أُسْوَةَ الْوَصَايَا فَعَلَى هَذَا تَكُونُ الْكِتَابَةُ أُسْوَةَ جَمِيعِ الْعَطَايَا وَالْوَصَايَا يَتَحَاصُّونَ فِي الثُّلُثِ عَلَى قَدْرِ حُقُوقِهِمْ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak (al-‘itq) diperlakukan seperti wasiat (al-waṣāyā). Berdasarkan hal ini, maka penulisan (al-kitābah) juga diperlakukan seperti seluruh pemberian (al-‘aṭāyā) dan wasiat, sehingga mereka berbagi bagian dalam sepertiga (harta peninggalan) sesuai dengan kadar hak masing-masing.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ الْعِتْقَ مُقَدَّمٌ عَلَى جَمِيعِ الْعَطَايَا وَالْوَصَايَا لِفَضْلِ مَرْتَبَتِهِ بِالسِّرَايَةِ الَّتِي تَخْتَصُّ بِهِ فَعَلَى هَذَا اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْكِتَابَةِ هَلْ تَجْرِي فِي ذَلِكَ مَجْرَى الْعِتْقِ الْمَحْضِ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ‘itq (pembebasan budak) didahulukan atas seluruh pemberian dan wasiat karena keutamaan kedudukannya dengan sirāyah yang menjadi kekhususannya. Berdasarkan hal ini, para ulama kami berbeda pendapat mengenai kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap), apakah dalam hal ini diperlakukan seperti ‘itq murni atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا تَجْرِي مَجْرَى الْعِتْقِ الْمَحْضِ لِإِفْضَائِهَا إِلَيْهِ فَعَلَى هَذَا تُقَدَّمُ الْكِتَابَةُ عَلَى جَمِيعِ الْوَصَايَا كَمَا يُقَدَّمُ الْعِتْقُ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa (kitābah) berlaku seperti pembebasan budak murni karena bermuara padanya, sehingga berdasarkan pendapat ini, kitābah didahulukan atas semua wasiat sebagaimana pembebasan budak juga didahulukan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهَا لَا تَجْرِي مَجْرَى الْعِتْقِ الْمَحْضِ لِمَا فِيهِ مِنِ اسْتِحْقَاقِ الْعِوَضِ فَصَارَ بِالْمُعَاوَضَاتِ فِي ابْتِدَائِهِ أَشْبَهَ وَلَا يُوجِبُ إِفْضَاؤُهُ إِلَى الْعِتْقِ أَنْ يَكُونَ مُقَدَّمًا عَلَى الْوَصَايَا كُلِّهَا كَمَا لَوْ أَوْصَى الرَّجُلُ بِأَبِيهِ لَمْ يُقَدَّمْ عَلَى الْوَصَايَا وَإِنْ أَفْضَى إِلَى عِتْقِهِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ أُسْوَةَ جَمِيعِ الْوَصَايَا وَيُقَسَّمُ الثُّلُثُ عَلَى جَمِيعِهَا بِالْحِصَصِ

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu tidak diperlakukan seperti pembebasan budak murni karena di dalamnya terdapat hak atas imbalan, sehingga dalam hal pertukaran pada awalnya lebih mirip dengan transaksi mu‘āwaḍāt. Tidaklah menyebabkan akibatnya yang berujung pada pembebasan budak itu didahulukan atas semua wasiat, sebagaimana jika seseorang berwasiat untuk membebaskan ayahnya, maka wasiat tersebut tidak didahulukan atas wasiat-wasiat lain, meskipun berujung pada pembebasan ayahnya. Dengan demikian, hal ini diperlakukan sama dengan seluruh wasiat lainnya, dan sepertiga harta dibagi kepada semuanya secara proporsional.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا مِنْ عَوْدِ كِتَابَتِهِ لِعَجْزِ الثُّلُثِ عَنْ قِيمَتِهِ إِلَى بَعْضِهِ أَوْ لَمْ يكن له إلى سَوَاءً فَلَزِمَتِ الْكِتَابَةُ فِي ثُلُثِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَرَثَةِ أَنْ يُكَاتِبُوهُ عَلَى الثُّلُثِ إِذَا اخْتَارَ كِتَابَةَ الْمِثْلِ إِنْ لَمْ يُقَدَّرْ بِالْوَصِيَّةِ وَكَانَ ثُلُثَاهُ رَقِيقًا لِلْوَرَثَةِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan mengenai kembalinya penulisan (akad pembebasan budak dengan pembayaran) karena sepertiga (harta) tidak mencukupi nilainya, kepada sebagian darinya atau tidak ada jalan lain kecuali itu, maka wajib dilakukan penulisan (akad) pada sepertiganya. Maka wajib bagi para ahli waris untuk melakukan akad pembebasan budak tersebut atas sepertiga (harta) jika ia memilih akad pembebasan yang serupa, jika tidak ditentukan dalam wasiat, dan dua pertiganya tetap menjadi milik para ahli waris.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا صَارَ هَذَا الْعَبْدُ مُشْتَرَكًا بَيْنَ الْمُوصِي وَالْوَرَثَةِ فَكَيْفَ تَصِحُّ الْكِتَابَةُ فِي حَقِّ الْمُوصِي وَحْدَهُ وَلَيْسَ لِأَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ أَنْ يُكَاتِبَ حِصَّتَهُ قِيلَ إِنَّمَا منع الشريك من مكاتبة حِصَّته لِئَلَّا يَدْخُلَ بِهَا ضَرَرٌ عَلَى شَرِيكِهِ وَالْوَرَثَةُ هَاهُنَا إِنَّمَا صَارَ لَهُمُ الْمِلْكُ بَعْدَ دُخُولِ الضَّرَرِ بِالْكِتَابَةِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لَهُمُ الْمَنْعُ مِنْهَا

Jika dikatakan: “Jika budak ini menjadi milik bersama antara orang yang berwasiat dan para ahli waris, bagaimana sahnya akad kitābah hanya untuk kepentingan orang yang berwasiat saja, padahal tidak boleh bagi salah satu dari dua orang yang berserikat untuk melakukan akad kitābah atas bagiannya sendiri?” Maka dijawab: Larangan bagi seorang syarikat untuk melakukan akad kitābah atas bagiannya adalah agar tidak menimbulkan mudarat bagi syarikatnya. Adapun para ahli waris dalam hal ini baru memperoleh hak milik setelah terjadinya mudarat akibat akad kitābah, sehingga mereka tidak berhak untuk melarangnya.

فَإِذَا صَحَّتِ الْكِتَابَةُ فِي ثُلُثِهِ أَدَّى مَالَهَا إِلَى الْوَرَثَةِ فَإِنْ وَفَّاهُ عَتَقَ ثُلُثُهُ وَكَانَ ثُلُثَاهُ رَقِيقًا لِلْوَرَثَةِ وَلَا يَسْرِي الْعِتْقُ بِالْكِتَابَةِ إِلَيْهِ لِأَنَّهُ عِتْقٌ عَلَى مَيِّتٍ قَدْ زَالَ مِلْكُهُ وَإِنْ عَجَزَ الْمُكَاتَبُ فَرَّقَ ثُلُثَهُ الَّذِي كَانَ مُكَاتَبًا فَهَلْ يَعُودُ إِلَى التَّرِكَةِ حَتَّى تَتَوَفَّرَ بِهِ الْوَصَايَا أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Apabila penulisan (kitābah) itu sah atas sepertiga hartanya, maka ia menyerahkan hartanya kepada para ahli waris. Jika ia melunasinya, maka sepertiganya merdeka dan dua pertiganya tetap menjadi budak milik para ahli waris, dan kemerdekaan melalui kitābah tidak berlaku baginya karena itu merupakan pembebasan budak atas orang yang telah wafat yang kepemilikannya telah hilang. Jika mukātab tersebut tidak mampu (melunasi), maka sepertiga yang telah menjadi mukātab itu dipisahkan. Apakah ia kembali menjadi bagian dari harta warisan sehingga dapat digunakan untuk memenuhi wasiat-wasiat, atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَعُودُ إِلَى التَّرِكَةِ لِأَنَّهُ إِنَّمَا اعْتُبِرَ مِنَ الثُّلُثِ لِيُعْتَقَ فَإِذَا لَمْ يعتق لم يعتبر فيه وكان تركة

Salah satunya kembali menjadi bagian dari harta warisan, karena ia hanya diperhitungkan dari sepertiga harta agar dapat dimerdekakan. Maka, jika tidak dimerdekakan, ia tidak diperhitungkan dalam hal itu dan menjadi bagian dari harta warisan.

والوجه الثَّانِي لَا يَعُودُ إِلَى التَّرِكَةِ لِأَنَّ اعْتِبَارَهُ فِي الثُّلُثِ لَمْ يَكُنْ مَوْقُوفًا عَلَى الْعِتْقِ فَإِذَا عَادَ بِالْعَجْزِ إِلَى الرِّقِّ صَارَ مَالًا مُسْتَفَادًا لِلْوَرَثَةِ كَمَا كَانَ مَالُ الْأَدَاءِ مِلْكًا مُسْتَفَادًا لَهُمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, harta tersebut tidak kembali kepada tirkah (harta peninggalan), karena pertimbangannya dalam sepertiga (harta) tidak bergantung pada pembebasan budak. Maka apabila budak itu kembali menjadi budak karena ketidakmampuan (membebaskan), ia menjadi harta yang diperoleh untuk para ahli waris, sebagaimana harta yang digunakan untuk pelunasan menjadi milik yang diperoleh bagi mereka. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ كَاتِبُوا أَحَدَ عَبِيدِي لَمْ يُكَاتِبُوا أَمَةً وَلَوْ قَالَ إِحْدَى إِمَائِي لَمْ يُكَاتِبُوا عَبْدًا وَلَا خُنْثَى وَإِنْ قَالَ أَحَدَ رَقِيقِي كَانَ لَهُمُ الْخِيَارُ فِي عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ قَالَ الْمُزَنِيُّ قُلْتُ أَنَا أَوْ خُنْثَى

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Tuliskan akad mukātabah untuk salah satu budakku,” maka mereka tidak boleh menuliskan akad mukātabah untuk seorang budak perempuan. Dan jika ia berkata, “Salah satu budak perempuanku,” maka mereka tidak boleh menuliskan akad mukātabah untuk seorang budak laki-laki maupun khuntsā. Namun jika ia berkata, “Salah satu hamba sahayaku,” maka mereka boleh memilih antara budak laki-laki atau budak perempuan. Al-Muzani berkata: Aku bertanya, “Atau khuntsā?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا اسْمُ الْعَبِيدِ فَلَا يَدْخُلُ فِيهِمُ الْإِمَاءُ وَاسْمُ الْإِمَاءِ فَلَا يَدْخُلُ فِيهِنَّ الْعَبِيدُ فَأَمَّا الْخَنَاثَى فَإِنْ كَانُوا عَلَى إِشْكَالِهِمْ لَمْ يَدْخُلُوا فِي اسْمِ الْعَبِيدِ وَلَا فِي اسْمِ الْإِمَاءِ وَإِنْ زَالَ إِشْكَالُهُمْ فَفِي دُخُولِهِمْ فِي اسْمِ الْعَبِيدِ إِنْ كَانُوا ذُكُورًا وَفِي اسْمِ الْإِمَاءِ إِنْ كَانُوا إِنَاثًا وَجْهَانِ

Al-Mawardi berkata: Adapun istilah “al-‘abīd” (budak laki-laki), maka tidak termasuk di dalamnya “al-imā’” (budak perempuan), dan istilah “al-imā’” tidak mencakup “al-‘abīd”. Adapun khuntsā (orang dengan jenis kelamin ganda), jika mereka masih dalam keadaan tidak jelas (jenis kelaminnya), maka mereka tidak termasuk dalam istilah “al-‘abīd” maupun “al-imā’”. Namun jika ketidakjelasan mereka telah hilang, maka dalam hal memasukkan mereka ke dalam istilah “al-‘abīd” jika mereka laki-laki, dan ke dalam istilah “al-imā’” jika mereka perempuan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا يَدْخُلُونَ فيه بزوال الإشكال الاستقرار حُكْمِهِمْ فِي الْجِنْسِ

Salah satunya adalah mereka masuk ke dalamnya dengan hilangnya kerancuan, yaitu ketetapan hukum mereka dalam jenis tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُمْ لَا يَدْخُلُونَ مَعَ زَوَالِ الْإِشْكَالِ فِي مُطْلَقِ اسْمِ الْعَبِيدِ وَلَا فِي مُطْلَقِ اسْمِ الْإِمَاءِ لِأَنَّ الْأَسْمَاءَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْعُرْفِ دُونَ النَّادِرِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَوَصَّى بِمُكَاتَبَةِ عَبْدٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُكَاتِبَ مَنْ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْعَبِيدِ وَإِذَا وَصَّى أَنْ يُكَاتِبَ أَمَةً لَمْ يَجُزْ أَنْ يُكَاتِبَ مَنْ لَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْإِمَاءِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua adalah bahwa mereka tidak termasuk dalam cakupan nama ‘abid (budak laki-laki) secara mutlak maupun dalam nama ima’ (budak perempuan) secara mutlak, karena penamaan itu mengikuti kebiasaan (‘urf) dan bukan pada hal-hal yang langka. Jika demikian, apabila seseorang berwasiat agar membebaskan seorang budak laki-laki melalui mukatabah, maka tidak boleh membebaskan orang yang tidak termasuk dalam sebutan ‘abid. Demikian pula, jika ia berwasiat agar membebaskan seorang budak perempuan, maka tidak boleh membebaskan orang yang tidak termasuk dalam sebutan ima’. Dan Allah lebih mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا قَالَ كَاتِبُوا رَأْسًا مِنْ رَقِيقِي دَخَلَ فِيهِمُ الْعَبِيدُ وَالْإِمَاءُ وَكَانَ الْوَارِثُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُكَاتِبَ عَبْدًا أَوْ أَمَةً

Adapun jika dikatakan, “Mukatabkanlah satu budak dari budak-budakku,” maka yang termasuk di dalamnya adalah para budak laki-laki dan perempuan, dan ahli waris memiliki pilihan antara memukatabkan budak laki-laki atau budak perempuan.

فَأَمَّا الْخُنْثَى فَإِنْ زَالَ إِشْكَالُهُ دَخَلَ فِي أَسْهُمِ الرَّقِيقِ وَجَازَ أَنْ يُكَاتَبَ لِأَنَّهُ عَبْدٌ إِنْ بَانَ ذَكَرًا أَوْ أَمَةً إِنْ بَانَتْ أُنْثَى وَإِنْ كَانَ عَلَى إِشْكَالِهِ بَاقِيًا فَقَدْ خَرَّجَ أَصْحَابُنَا دُخُولَهُ فِي مُطْلَقِ اسْمِ الْعَبِيدِ وَجَوَازَ كِتَابَتِهِ عَلَى قَوْلَيْنِ

Adapun khuntsa, jika telah hilang ketidakjelasannya, maka ia masuk dalam bagian-bagian warisan budak dan boleh dilakukan mukātabah terhadapnya, karena ia adalah ‘abd jika ternyata laki-laki, atau amat jika ternyata perempuan. Namun jika ketidakjelasannya masih tetap, para ulama kami telah mengemukakan pendapat tentang masuknya ia ke dalam makna umum istilah al-‘abīd dan kebolehan dilakukan mukātabah terhadapnya menurut dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ يَدْخُلُ فِي مُطْلَقِ الِاسْمِ وَتَجُوزُ كِتَابَتُهُ فِي الْوَصِيَّةِ لِأَنَّ اسْمَ الرَّقِيقِ يَنْطَلِقُ عَلَى الْجِنْسِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْجَمِيعُ

Salah satunya, yaitu pendapat al-Muzani, menyatakan bahwa (budak) termasuk dalam makna umum nama tersebut dan boleh dituliskan dalam wasiat, karena nama raqīq berlaku untuk seluruh jenisnya, sehingga semuanya termasuk di dalamnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ الرَّبِيعِ وَأَشَارَ إِلَى نَقْلِهِ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ فِي مُطْلَقِ الِاسْمِ وَلَا تَجُوزُ كِتَابَتُهُ فِي الْوَصِيَّةِ لِأَنَّ مُطْلَقَ الِاسْمِ مَحْمُولٌ فِي الشَّرْعِ عَلَى الْعُرْفِ كَالْأَيْمَانِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua, yaitu pendapat ar-Rabi‘, dan ia mengisyaratkan bahwa pendapat ini dinukil dari asy-Syafi‘i, menyatakan bahwa hal tersebut tidak termasuk dalam makna nama secara mutlak dan tidak boleh dituliskan dalam wasiat. Sebab, makna nama secara mutlak dalam syariat didasarkan pada kebiasaan (‘urf), sebagaimana dalam sumpah-sumpah. Dan Allah lebih mengetahui.

باب موت سيد المكاتب

Bab Kematian Tuan dari Seorang Mukatab

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَنْكَحَ ابْنَةً لَهُ مُكَاتَبَهُ بِرِضَاهَا فَمَاتَ وَابْنَتُهُ غَيْرُ وَارِثَةٍ إِمَّا لِاخْتِلَافِ دِينِهِمَا أَوْ لِأَنَّهَا قَاتِلَةٌ فَالنِّكَاحُ ثَابِتٌ وَإِنْ كَانَتْ وَارِثَةً فَسَدَ النِّكَاحُ لِأَنَّهَا مَلَكَتْ مِنْ زَوْجِهَا بَعْضَهُ قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَأَصْلُ هَذَا أَنَّهُ يَجُوزُ لِلسَّيِّدِ أَنْ يُزَوِّجَ بِنْتَهُ بِمُكَاتَبِهِ إِذَا أَذِنَتْ فِيهِ لِأَنَّ رِضَا الْوَلِيِّ وَالْمَنْكُوحَةِ بِسُقُوطِ الْكَفَاءَةِ لَا يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الْعَقْدِ فَإِذَا مَاتَ السَّيِّدُ وَبِنْتُهُ غَيْرُ وَارِثَةٍ لِاخْتِلَافِ دِينٍ أَوْ قَتْلٍ فَالنِّكَاحُ بِحَالِهِ لِأَنَّهَا لَمْ تَمْلِكْ مِنْهُ فِي الْحَالَيْنِ شَيْئًا وَإِنْ كَانَتْ وَارِثَةً بَطَلَ نِكَاحُهُ لِأَنَّهَا مَلَكَتْ بَعْضَ زَوْجِهَا وَمِلْكُ الْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا أَوْ شَيْءٍ مِنْهُ مُبْطِلٌ لِنِكَاحِهَا لِتَنَافِي مِلْكِ الْيَمِينِ وَعَقْدِ النِّكَاحِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang menikahkan putrinya yang berstatus mukātabah dengan mukātabnya sendiri atas kerelaannya, lalu ia meninggal dunia dan putrinya tersebut bukan ahli warisnya—baik karena perbedaan agama di antara keduanya atau karena putrinya adalah pembunuhnya—maka akad nikahnya tetap sah. Namun, jika putrinya adalah ahli warisnya, maka akad nikahnya batal karena ia (putrinya) memiliki sebagian dari suaminya. Al-Māwardī berkata: Dasar dari masalah ini adalah bahwa seorang tuan boleh menikahkan putrinya dengan mukātabnya jika ia (putrinya) telah mengizinkan, karena kerelaan wali dan mempelai perempuan atas gugurnya kafa’ah tidak menghalangi keabsahan akad. Jika tuan tersebut meninggal dunia dan putrinya bukan ahli warisnya karena perbedaan agama atau karena membunuh, maka akad nikah tetap berlaku karena dalam kedua keadaan itu ia tidak memiliki sesuatu pun dari suaminya. Namun, jika ia adalah ahli waris, maka akad nikahnya batal karena ia memiliki sebagian dari suaminya, dan kepemilikan seorang perempuan atas suaminya atau sebagian darinya membatalkan akad nikahnya, karena kepemilikan melalui yamin bertentangan dengan akad nikah.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَبْطُلُ النِّكَاحُ إِذَا مَلَكَتْهُ بَعْدَ الْعَقْدِ وَلَوْ مَلَكَتْهُ قَبْلَ الْعَقْدِ بَطَلَ النِّكَاحُ وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي أَنَّ الْوَارِثَ لَا يَمْلِكُ رَقَبَةَ الْمُكَاتَبِ وَإِنَّمَا يَمْلِكُ مَا عَلَيْهِ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَإِذَا مَلَكَتِ الْمَرْأَةُ دَيْنًا عَلَى زَوْجِهَا لَمْ يَبْطُلْ نِكَاحُهَا وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ حُقُوقَ الْمِلْكِ إِذَا مَنَعَتِ ابْتِدَاءَ النِّكَاحِ مَنَعَتِ اسْتَدَامَتَهُ كَالْعَبْدِ يَبْطُلُ النِّكَاحُ بِعَقْدِهِ بَعْدَ مِلْكِهِ وَبِمَلِكِهِ بعد عقده كذلك نكاح الكاتب لَمَّا بَطَلَ بِمِلْكِهِ فِي ابْتِدَاءِ الْعَقْدِ وَجَبَ أَنْ يَبْطُلَ بِهِ فِي اسْتَدَامَتِهُ وَلَيْسَ لِقَوْلِهِ إِنَّمَا تَمْلِكُ الدَّيْنَ دُونَ الرَّقَبَةِ وَجْهٌ لِأَمْرَيْنِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa akad nikah tidak batal jika perempuan tersebut memilikinya (suaminya) setelah akad, namun jika ia memilikinya sebelum akad, maka nikahnya batal. Ia mendasarkan hal ini pada prinsip dasarnya bahwa ahli waris tidak memiliki kepemilikan atas tubuh mukatab, melainkan hanya memiliki hak atas harta kitabah yang menjadi tanggungannya. Jika seorang perempuan memiliki piutang atas suaminya, maka nikahnya tidak batal. Namun, pendapat ini tidak benar, karena hak-hak kepemilikan jika mencegah terjadinya akad nikah sejak awal, maka juga mencegah kelangsungannya, sebagaimana budak: akad nikahnya batal jika dilakukan setelah ia dimiliki, dan juga batal jika ia dimiliki setelah akad. Demikian pula nikah mukatab, ketika batal karena kepemilikan pada awal akad, maka seharusnya batal pula jika kepemilikan terjadi saat kelangsungan akad. Adapun pernyataannya bahwa ia hanya memiliki piutang dan bukan tubuhnya, tidak dapat diterima karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهَا تَمْلِكُهُ بِالْعَجْزِ وَالدُّيُونُ لَا تُمَلَّكُ بِالْعَجْزِ عَنْهَا فِي بَابِ الْعَبِيدِ

Salah satunya adalah bahwa harta dapat dimiliki karena ketidakmampuan, sedangkan utang tidak dapat dimiliki karena ketidakmampuan terhadapnya dalam masalah budak.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمْ يَمْنَعْ مِنَ ابْتِدَاءِ الْعَقْدِ إِلَّا لِأَجْلِ الْمِلْكِ فَكَذَلِكَ فِي اسْتَدَامَتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Dan yang kedua, sesungguhnya ia tidak melarang dari permulaan akad kecuali karena alasan kepemilikan, maka demikian pula dalam kelangsungannya. Dan Allah lebih mengetahui.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فإن دَفَعَ مِنَ الْكِتَابَةِ مَا عَلَيْهِ إِلَى أَحَدِ الْوَصِّيَّيْنِ أَوْ أَحَدِ وَارِثَيْنِ أَوْ إِلَى وَارِثٍ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ لَهُ وَصَايَا لَمْ يَعْتِقْ إِلَّا بِوُصُولِ الدَّيْنِ إِلَى أَهْلِهِ وَكُلِّ ذِي حَقٍّ حَقِّهِ إِذَا لَمْ يَدْفَعْ بِأَمْرِ حَاكِمٍ أو إلى وصي

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang budak mukatab membayarkan apa yang menjadi kewajibannya dalam akad kitābah kepada salah satu dari dua washi, atau kepada salah satu dari dua ahli waris, atau kepada seorang ahli waris sementara masih ada utang atasnya atau masih ada wasiat-wasiat, maka ia tidak merdeka kecuali setelah utang tersebut sampai kepada para pemiliknya dan setiap orang yang berhak menerima haknya, jika pembayaran itu tidak dilakukan atas perintah hakim atau kepada seorang washi.

قال الماوردي ولهذا المسألة أصلان أَحَدُهُمَا أَنَّ الْكِتَابَةَ لَا تَبْطُلُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ لِلُزُومِهَا مِنْ جِهَتِهِ وَتَبْطُلُ بِمَوْتِ الْمُكَاتَبِ لِأَنَّهَا غَيْرُ لَازِمَةٍ مِنْ جِهَتِهِ وَالثَّانِي أَنَّ الْمُكَاتَبَ يَلْزَمُهُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ أَنْ يَدْفَعَ مَالَ الْكِتَابَةِ إِلَى كُلِّ مَنْ تَعَلَّقَ حَقُّهُ بِتَرِكَتِهِ وَلَا يُعْتَقُ حَتَّى يُوصِلَهُ إِلَى جَمِيعِهِمْ

Al-Mawardi berkata, “Masalah ini memiliki dua landasan. Pertama, akad kitābah tidak batal karena wafatnya tuan, karena akad itu tetap mengikat dari pihak tuan, dan batal karena wafatnya mukātab, karena akad itu tidak mengikat dari pihaknya. Kedua, apabila tuan wafat, maka mukātab wajib membayarkan harta kitābah kepada setiap orang yang memiliki hak atas warisannya, dan ia tidak merdeka hingga harta tersebut sampai kepada seluruh ahli waris.”

فَإِذَا ثَبَتَ هَذَانِ الْأَصْلَانِ فَلَا تَخْلُو تَرِكَةُ السَّيِّدِ إِذَا مات من أن يتعلق بها دون وَوَصَايَا أَوْ لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا فَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا دُيُونٌ وَلَا وَصَايَا فَالْمُسْتَحِقُّ لَهَا الْوَرَثَةُ فَإِنْ كَانَ وَاحِدًا اعْتَبُرِتْ حَالُهُ فَإِنْ كَانَ جَائِزَ الْأَمْرِ فَهُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِقَبْضِ مَالِهِ إِنْ كَانَ حَاضِرًا فَإِنْ دَفَعَهُ إِلَيْهِ عَتَقَ وَإِنْ عَدَلَ عَنْهُ بِدَفْعِ الْمَالِ إِلَى غَيْرِهِ لَمْ يَعْتِقْ سَوَاءٌ كَانَ الْمَدْفُوعُ إِلَيْهِ حَاكِمًا أَوْ غَيْرَ حَاكِمٍ وَلَوْ كَانَ الْوَارِثُ الْجَائِزُ الْآمِرِ غَائِبًا نَظَرَ فَإِنْ كَانَ لَهُ وَكِيلٌ حاضر دفعه إلى وكيله وعتق بدفعه فغن عَدَلَ بِدَفْعِهِ إِلَى حَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْوَارِثِ الْغَائِبِ وَكِيلٌ دَفَعَهُ إِلَى الْحَاكِمِ وَعَتَقَ بِدَفْعِهِ فَإِنْ عَدَلَ بِدَفْعِهِ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ مُنَاسِبٍ أَوْ أَجْنَبِيٍّ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ كَانَ الْوَارِثُ الْوَاحِدُ مَوْلًى عَلَيْهِ دَفَعَهُ إِلَى وَلِيِّهِ وَعَتَقَ بِدَفْعِهِ إِلَيْهِ فَإِنْ عَدَلَ بِدَفْعِهِ إِلَى غَيْرِ وَلِيِّهِ لَمْ يَعْتِقْ وَإِنْ كَانَ الْوَرَثَةُ جَمَاعَةً دَفَعَهُ إِلَيْهِمْ إِنْ جَازَ أَمْرُهُمْ أَوْ إِلَى وَلِيِّ مَنْ كَانَ مَوْلًى عَلَيْهِ مِنْهُمْ فَإِنْ دَفَعَهُ إِلَى بَعْضِهِمْ لَمْ يَعْتِقْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Apabila kedua prinsip ini telah ditetapkan, maka harta peninggalan tuan ketika ia wafat tidak lepas dari kemungkinan adanya hutang atau wasiat yang terkait dengannya, atau tidak ada yang terkait. Jika tidak ada hutang maupun wasiat yang terkait, maka yang berhak atasnya adalah para ahli waris. Jika ahli warisnya hanya satu orang, maka keadaannya diperhatikan; jika ia adalah orang yang cakap bertindak, maka ia berhak menerima hartanya jika ia hadir. Jika harta itu diserahkan kepadanya, maka ia merdeka. Namun jika harta itu dialihkan kepada selain dirinya, maka ia tidak merdeka, baik yang menerima itu seorang hakim maupun bukan hakim. Jika ahli waris yang cakap bertindak itu tidak hadir, maka dilihat lagi; jika ia memiliki wakil yang hadir, maka harta itu diserahkan kepada wakilnya dan ia merdeka dengan penyerahan tersebut. Namun jika harta itu dialihkan kepada hakim atau selainnya, maka ia tidak merdeka. Jika ahli waris yang tidak hadir itu tidak memiliki wakil, maka harta itu diserahkan kepada hakim dan ia merdeka dengan penyerahan tersebut. Namun jika harta itu dialihkan kepada selain hakim, baik kerabat maupun orang asing, maka ia tidak merdeka. Jika satu-satunya ahli waris adalah orang yang berada di bawah perwalian, maka harta itu diserahkan kepada walinya dan ia merdeka dengan penyerahan tersebut. Namun jika harta itu dialihkan kepada selain walinya, maka ia tidak merdeka. Jika para ahli waris lebih dari satu, maka harta itu diserahkan kepada mereka jika mereka semua cakap bertindak, atau kepada wali dari siapa pun di antara mereka yang berada di bawah perwalian. Jika harta itu diserahkan hanya kepada sebagian dari mereka, maka ia tidak merdeka. Dan Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا تَعَلَّقَ بِتَرِكَةِ السَّيِّدِ دُيُونٌ وَوَصَايَا فَنَذْكُرُ حُكْمَ الدُّيُونِ إِذَا انْفَرَدَتْ وَحُكْمَ الْوَصَايَا إِذَا انْفَرَدَتْ لِيُعْلَمَ بِهِ حُكْمُ اجْتِمَاعِهِمَا فَنَقُولُ

Adapun jika pada harta peninggalan tuan terdapat utang-utang dan wasiat-wasiat, maka kami akan menyebutkan hukum utang apabila berdiri sendiri dan hukum wasiat apabila berdiri sendiri, agar dengan itu diketahui hukum apabila keduanya berkumpul. Maka kami katakan:

إِنَّ الدُّيُونَ لَا يَخْلُو أَنْ يُوصِيَ السَّيِّدُ بِدَفْعِهَا مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ أَوْ لَا يُوصِي بِهِ فَإِنْ أَوْصَى بِدَفْعِهَا مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ فَأَرْبَابُ الدُّيُونِ هُمُ الْمُسْتَحِقُّونَ لِقَبْضِهِ دُونَ الْوَرَثَةِ وَتَكُونُ الْوَصِيَّةُ إِذْنًا بِدَفْعِ الْكِتَابَةِ إِلَيْهِمْ وَجَرَى دَفْعُهُ إِلَيْهِمْ مَجْرَى دَفْعِهِ إِلَى الْوَرَثَةِ إِذَا لَمْ تَكُنْ دُيُونٌ فَإِنْ كَانَ وَاحِدًا صَارَ كَالْوَارِثِ الْوَاحِدِ وَيُعْتَقُ بِدَفْعِهِ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ جَائِزَ الْأَمْرِ وَلَا يَلْزَمُ اسْتِئْذَانُ الْوَارِثِ فِيهِ وَلَا الِاجْتِمَاعُ مَعَ صَاحِبِ الدَّيْنِ عَلَى قَبْضِهِ وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ لِجَمَاعَةٍ عَتَقَ بِدَفْعِهِ إِلَى جَمِيعِهِمْ عَلَى قَدْرِ دُيُونِهِمْ بِالْحِصَصِ وَلَا يَعْتِقُ بِدَفْعِهِ إِلَى بَعْضِهِمْ وَجَرَوْا مَجْرَى الْوَرَثَةِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً فَإِنْ كَانَ لِلسَّيِّدِ وَصِيٌّ فِي قَضَاءِ دُيُونٍ لَهُ لَمْ يَعْتِقِ الْمُكَاتَبُ بِدَفْعِهِ إِلَيْهِ لِأَنَّ أَرْبَابَ الدُّيُونِ لَا وِلَايَةَ لِلْوَصِيِّ عَلَيْهِمْ

Sesungguhnya utang-utang itu tidak lepas dari dua kemungkinan: tuan (pemilik budak) berwasiat agar dibayarkan dari harta kitabah atau tidak berwasiat demikian. Jika ia berwasiat agar utang-utang itu dibayarkan dari harta kitabah, maka para pemilik utanglah yang berhak menerima pembayaran tersebut, bukan para ahli waris. Wasiat tersebut berarti izin untuk membayarkan harta kitabah kepada mereka, dan pembayaran kepada mereka diperlakukan seperti pembayaran kepada ahli waris jika tidak ada utang. Jika hanya ada satu orang pemilik utang, maka ia diperlakukan seperti satu orang ahli waris, dan budak mukatab menjadi merdeka dengan pembayaran kepadanya jika ia cakap bertindak, tanpa harus meminta izin kepada ahli waris atau berkumpul bersama pemilik utang untuk menerima pembayaran. Jika utang itu milik beberapa orang, maka budak mukatab menjadi merdeka dengan pembayaran kepada mereka semua sesuai dengan porsi utang masing-masing, dan tidak menjadi merdeka jika hanya dibayarkan kepada sebagian dari mereka. Mereka diperlakukan seperti para ahli waris jika mereka berjumlah banyak. Jika tuan memiliki seorang washi (pelaksana wasiat) untuk melunasi utang-utang tersebut, maka budak mukatab tidak menjadi merdeka dengan pembayaran kepada washi itu, karena para pemilik utang tidak berada di bawah kekuasaan washi.

فَإِنْ لَمْ يُوصِ السَّيِّدُ بِدَفْعِ مَالِ الْكِتَابَةِ فِي دَيْنِهِ فَعَلَى الْمُكَاتَبِ أَنْ يَجْمَعَ فِي دَفْعِ مَالِ الْكِتَابَةِ بَيْنَ الْوَرَثَةِ وَأَرْبَابِ الدُّيُونِ لِأَنَّ لِأَرْبَابِ الدُّيُونِ حَقَّ الِاسْتِيفَاءِ وَلِلْوَرَثَةِ أَنْ يَقْضُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَيَأْخُذُوا مَالَ الْكِتَابَةِ لِأَنْفُسِهِمْ فَإِنْ دَفَعَهَا الْمُكَاتَبُ إِلَى أَصْحَابِ الدُّيُونِ دُونَ الْوَرَثَةِ لَمْ يَعْتِقْ وَإِنْ دَفَعَهَا إِلَى الْوَرَثَةِ دُونَ أَرْبَابِ الدُّيُونِ لَمْ يَعْتِقْ وَإِنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الدَّفْعِ عَتَقَ

Jika tuan tidak mewasiatkan agar pembayaran harta kitābah digunakan untuk melunasi utangnya, maka bagi mukātab wajib menggabungkan dalam pembayaran harta kitābah tersebut antara para ahli waris dan para pemilik utang, karena para pemilik utang berhak untuk menerima pelunasan, dan para ahli waris berhak melunasi utang itu dari harta mereka lalu mengambil harta kitābah untuk diri mereka sendiri. Jika mukātab membayarkan harta kitābah hanya kepada para pemilik utang tanpa kepada ahli waris, maka ia tidak merdeka. Jika ia membayarkan hanya kepada ahli waris tanpa kepada para pemilik utang, maka ia juga tidak merdeka. Namun jika ia menggabungkan keduanya dalam pembayaran, maka ia merdeka.

فصل

Bab

وأما الوصايا فلا يخلوا أَنْ يُعَيِّنَهَا السَّيِّدُ فِي مَالِ الْكِتَابَةِ أَوْ لَا يُعَيِّنَهَا فَإِنْ لَمْ يُعَيِّنْهَا لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ أَرْبَابُ الْوَصَايَا مُعَيَّنِينَ أَوْ غَيْرَ مُعَيَّنِينَ فَإِنْ كَانُوا غَيْرَ مُعَيَّنِينَ لَزِمَ الْمُكَاتَبُ أَنْ يَجْمَعَ فِي دَفْعِهَا بَيْنَ الْوَصِيِّ وَالْوَرَثَةِ دُونَ أَرْبَابِ الْوَصَايَا فَإِنْ دَفَعَهَا إِلَى الْوَصِيِّ دُونَ الْوَرَثَةِ لَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّ لِلْوَرَثَةِ أَنْ يَدْفَعُوا الْوَصَايَا مِنْ غَيْرِ الْكِتَابَةِ وَإِنْ دَفَعَهَا إِلَى الْوَرَثَةِ دُونَ الْوَصِيِّ لَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّ الْوَصِيَّ هُوَ الْوَالِي عَلَى الْوَصِيَّةِ وَإِذَا جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الدَّفْعِ عَتَقَ لِأَنَّهُمْ غَيْرُ مُتَعَيِّنِينَ إِلَّا بِاجْتِهَادِ الْوَصِيِّ وَإِنْ كَانَ أَهْلُ الْوَصَايَا مُعَيَّنِينَ لَزِمَ الْمُكَاتَبُ أَنْ يَجْمَعَ فِي دَفْعِهَا بَيْنَ أَهْلِ الْوَصَايَا وَالْوَرَثَةِ دُونَ الْوَصِيِّ لِأَنَّ أَهْلَ الْوَصَايَا إِذَا تَعَيَّنُوا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِمْ وِلَايَةٌ لِلْوَصِيِّ فَإِنْ دَفَعَهَا إِلَى الْوَرَثَةِ دُونَ أَهْلِ الْوَصَايَا لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ دَفَعَهَا إِلَى أَهْلِ الْوَصَايَا دُونَ الْوَرَثَةِ لَمْ يُعْتَقْ وَإِنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الدَّفْعِ عَتَقَ

Adapun wasiat-wasiat, tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah wasiat tersebut ditentukan oleh tuan dalam harta kitabah atau tidak. Jika tidak ditentukan, maka tidak lepas dari dua keadaan: apakah para penerima wasiat telah ditentukan atau belum. Jika mereka belum ditentukan, maka wajib bagi mukatab untuk menggabungkan dalam penyerahannya antara wali wasiat dan para ahli waris, tanpa melibatkan para penerima wasiat. Jika ia menyerahkannya hanya kepada wali wasiat tanpa para ahli waris, maka ia tidak merdeka, karena para ahli waris berhak menyerahkan wasiat dari selain harta kitabah. Dan jika ia menyerahkannya kepada para ahli waris tanpa wali wasiat, maka ia juga tidak merdeka, karena wali wasiat adalah pihak yang berwenang atas wasiat. Namun, jika ia menggabungkan keduanya dalam penyerahan, maka ia merdeka, karena mereka belum ditentukan kecuali dengan ijtihad wali wasiat. Jika para penerima wasiat telah ditentukan, maka wajib bagi mukatab untuk menggabungkan dalam penyerahannya antara para penerima wasiat dan para ahli waris, tanpa melibatkan wali wasiat, karena jika para penerima wasiat telah ditentukan, maka wali wasiat tidak lagi memiliki kewenangan atas mereka. Jika ia menyerahkannya kepada para ahli waris tanpa para penerima wasiat, maka ia tidak merdeka. Jika ia menyerahkannya kepada para penerima wasiat tanpa para ahli waris, maka ia juga tidak merdeka. Namun, jika ia menggabungkan keduanya dalam penyerahan, maka ia merdeka.

وَإِنْ عَيَّنَ السَّيِّدُ الْوَصَايَا فِي مَالِ الْكِتَابَةِ فَلَا يَخْلُو أَنْ تَكُونَ الْوَصَايَا لِمُعَيَّنِينَ أَوْ غَيْرِ مُعَيَّنِينَ فَإِنْ كَانَتْ لِمُعَيَّنِينَ لَزِمَ الْمُكَاتَبَ دَفْعُهَا إِلَى أَهْلِ الْوَصَايَا الْمُعَيَّنِينَ دُونَ الْوَصِيِّ وَالْوَرَثَةِ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ لِلْوَصِيِّ عَلَيْهِمْ وَلَيْسَ لِلْوَرَثَةِ أَنْ يَعْدِلُوا بِالْوَصَايَا إِلَى أَمْوَالِهِمْ فَإِذَا انْفَرَدَ أَهْلُ الْوَصَايَا بِهَا عَتَقَ وَإِنْ كَانَتِ الْوَصَايَا لِغَيْرِ مُعَيَّنَيْنِ لَزِمَ الْمُكَاتَبَ دَفْعُهَا إِلَى الْوَصِيِّ وَحْدَهُ دُونَ الْوَرَثَةِ لِأَنَّهُمْ لَا حَقَّ لَهُمْ فِيهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنَ الثُّلُثِ وَدُونَ أَهْلِ الْوَصَايَا لِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَعَيَّنُوا إِلَّا بِاجْتِهَادِ الْوَصِيِّ الْقَابِضِ فَلِذَلِكَ عَتَقَ الْمُكَاتَبُ بِدَفْعِهَا إِلَيْهِ وَحْدَهُ وَاللَّهُ أعلم

Jika tuan telah menentukan wasiat-wasiat dalam harta kitabah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: wasiat tersebut ditujukan kepada orang-orang tertentu atau bukan kepada orang-orang tertentu. Jika wasiat itu ditujukan kepada orang-orang tertentu, maka wajib bagi mukatab untuk menyerahkannya kepada para penerima wasiat yang telah ditentukan, bukan kepada wasi maupun ahli waris, karena wasi tidak memiliki wewenang atas mereka dan ahli waris tidak berhak mengalihkan wasiat kepada harta mereka sendiri. Maka, jika para penerima wasiat telah menerima wasiat tersebut secara khusus, mukatab menjadi merdeka. Namun, jika wasiat itu bukan untuk orang-orang tertentu, maka wajib bagi mukatab untuk menyerahkannya hanya kepada wasi, bukan kepada ahli waris, karena mereka tidak memiliki hak atasnya jika harta tersebut telah keluar dari sepertiga bagian, dan juga bukan kepada para penerima wasiat karena mereka belum ditentukan kecuali melalui ijtihad wasi yang menerima. Oleh karena itu, mukatab menjadi merdeka dengan menyerahkannya hanya kepada wasi. Dan Allah Maha Mengetahui.

باب عجز المكاتب

Bab Ketidakmampuan Muktātab

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَيْسَ لِسَيِّدِهِ أَنْ يَفْسَخَ كِتَابَتَهُ حَتَّى يَعْجَزَ عَنْ أَدَاءِ نَجْمٍ فَيَكُونَ لَهُ فَسْخُهَا بِحَضْرَتِهِ إِنْ كَانَ بِبَلَدِهِ وَإِذَا قَالَ لَيْسَ عِنْدِي مَالٌ فَأُشْهِدَ أَنَّهُ قَدْ عَجَّزَهُ بَطَلَتْ كَانَ عِنْدَ سُلْطَانٍ أَوْ غَيْرِهِ وَاحْتَجَّ فِي ذَلِكَ بِابْنِ عُمَرَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Seorang tuan tidak berhak membatalkan akad mukātabah budaknya sampai budak tersebut benar-benar tidak mampu membayar satu cicilan, maka saat itu tuannya boleh membatalkannya di hadapan budak itu jika masih berada di negerinya. Jika budak itu berkata, ‘Aku tidak memiliki uang,’ lalu dihadirkan saksi bahwa ia memang tidak mampu membayar, maka akad mukātabah itu batal, baik di hadapan penguasa maupun selainnya. Dalam hal ini, beliau berdalil dengan riwayat dari Ibnu ‘Umar.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْكِتَابَةَ لَازِمَةٌ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ دُونَ الْمُكَاتَبِ لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ فَإِذَا لَمْ تَحِلَّ أَنْجُمُ الْكِتَابَةِ فَلَا مُطَالَبَةَ لِلسَّيِّدِ وَالسَّيِّدُ عَلَى كِتَابَتِهِ وَنُفُوذِ تَصَرُّفِهِ وَيَمْلِكُ كَسْبَهُ فَإِنْ حَلَّ النَّجْمُ وَأَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ خَرَجَ بِهِ مِنْ حَقِّ السَّيِّدِ فَإِنْ كَانَ آخَرَ نَجْمٍ عَتَقَ بِهِ وَإِنْ كَانَ فِي تَضَاعِيفِ نُجُومِهِ كَانَ عِتْقُهُ مَوْقُوفًا عَلَى الْأَخِيرِ وَإِنْ لَمْ يُؤَدِّ الْمُكَاتَبُ مَالَ النَّجْمِ عِنْدَ حُلُولِهِ لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِعَجْزٍ مِنْهُ أَوْ مَعَ قدرة عليه فإن كان لعجزه عَنْهُ وَإِعْسَارٍ بِهِ فَالسَّيِّدُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِنْظَارِهِ وَبَيْنَ تَعْجِيزِهِ وَتُفْسَخُ كِتَابَتُهُ اعْتِبَارًا بِأَصْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Telah kami sebutkan bahwa akad kitābah itu wajib dari pihak tuan (sayyid) dan bukan dari pihak mukātab, sebagaimana telah kami jelaskan perbedaan antara keduanya dari dua sisi. Maka apabila waktu pembayaran cicilan kitābah belum jatuh tempo, tidak ada tuntutan bagi tuan, dan tuan tetap berkuasa atas akad kitābah serta sah tindakannya, dan ia berhak atas hasil usaha budaknya. Jika waktu cicilan telah tiba dan mukātab membayarnya, maka ia terbebas dari hak tuannya. Jika itu adalah cicilan terakhir, maka ia merdeka karenanya. Namun jika masih di tengah-tengah cicilan, kemerdekaannya bergantung pada pembayaran cicilan terakhir. Jika mukātab tidak membayar cicilan saat jatuh tempo, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: karena ia tidak mampu atau padahal ia mampu. Jika karena ia tidak mampu dan dalam keadaan sulit, maka tuan berhak memilih antara menunggu atau menyatakan ia tidak mampu dan membatalkan akad kitābahnya, berdasarkan dua prinsip dasar.

أَحَدُهُمَا فَسْخُ الْبُيُوعِ بِالْعُيُوبِ لِأَنَّ عَجْزَهُ عَيْبٌ

Salah satunya adalah pembatalan jual beli karena cacat, karena ketidakmampuannya merupakan suatu cacat.

وَالثَّانِي اسْتِرْجَاعُ الْبَائِعِ عَيْنَ مَالِهِ بِالْفَلَسِ لِأَنَّ عَجْزَهُ فَلَسٌ فَإِنْ أَنْظَرَهُ كَانَ عَلَى كِتَابَتِهِ وَإِنْ عَجَّزَهُ فَسَخَ وَاحْتَاجَ الْفَسْخُ إِلَى شَرْطَيْنِ

Kedua, penjual dapat mengambil kembali barang miliknya dalam kasus kebangkrutan, karena ketidakmampuan pembeli untuk membayar dianggap sebagai kebangkrutan. Jika penjual memberi tenggang waktu, maka hal itu berdasarkan kesepakatan tertulisnya. Namun jika penjual menyatakan ketidakmampuan pembeli, maka ia dapat membatalkan akad, dan pembatalan tersebut memerlukan dua syarat.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَقُولَ الْمُكَاتَبُ قَدْ عَجَزْتُ وَيَقُولَ السَّيِّدُ قَدْ فَسَخْتُ كِتَابَتَكَ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُشْهِدَ بِالْفَسْخِ اسْتِظْهَارًا وَإِنْ لَمْ يَجِبْ وَيَجُوزُ الْفَسْخُ وَإِنْ لم يحضره حاكم اعتباراً بالفسخ بالعيب للإنفاق عَلَى حُكْمِهِ دُونَ الْفَسْخِ بِالْفَلَسِ لِلِاخْتِلَافِ فِيهِ وَقَدْ رَوَى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَاتَبَ عَبْدًا لَهُ عَلَى ثَلَاثِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ فَقَالَ أَنَا عَاجِزٌ فَقَالَ امْحُ كِتَابَتَكَ قَالَ بَلِ امْحُ أَنْتَ يَعْنِي بِهِ الْفَسْخَ وَلَمْ يَحْضُرْهُ حَاكِمٌ فَإِذَا فَسَخَ بَطَلَتِ الْكِتَابَةُ سَوَاءٌ كَانَ الْعَجْزُ عَنْ آخِرِ نَجْمٍ أَوْ عَنْ أَوَّلِهِ

Salah satu caranya adalah dengan si mukatab mengatakan, “Aku telah lemah (tidak mampu),” dan tuannya berkata, “Aku telah membatalkan perjanjian mukatab-mu.” Dianjurkan untuk menghadirkan saksi dalam pembatalan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian, meskipun tidak wajib. Pembatalan itu boleh dilakukan meskipun tidak dihadiri oleh hakim, sebagaimana pembatalan karena cacat yang berlaku menurut hukumnya, berbeda dengan pembatalan karena pailit karena ada perbedaan pendapat di dalamnya. Nafi‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa ia pernah memukatab seorang budaknya dengan harga tiga puluh ribu dirham, lalu budak itu berkata, “Aku tidak mampu,” maka Ibnu ‘Umar berkata, “Hapuslah perjanjian mukatab-mu.” Budak itu menjawab, “Justru engkau yang menghapusnya,” yang dimaksud adalah pembatalan, dan saat itu tidak ada hakim yang hadir. Maka apabila telah dilakukan pembatalan, perjanjian mukatab itu batal, baik ketidakmampuan itu terjadi pada cicilan terakhir maupun pada cicilan pertama.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِنِ امْتَنَعَ الْكَاتِبُ مِنْ أَدَاءِ النَّجْمِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي جَوَازِ تَعْجِيزِهِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ لِلسَّيِّدِ تَعْجِيزَهُ وَفَسْخَ كِتَابَتِهِ بِأَنْ يَقُولَ الْمُكَاتَبُ قَدْ عَجَزَتْ نَفْسِي وَيَقُولُ السَّيِّدُ قَدْ فَسَخْتُ كتابتك

Jika mukatab menolak membayar cicilan (najm) padahal mampu melakukannya, para fuqaha berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya menjadikan ia tidak mampu (ta‘jīz). Imam Syafi‘i berpendapat bahwa tuan (sayyid) boleh menjadikan mukatab tidak mampu dan membatalkan akad mukatabah dengan cara mukatab mengatakan, “Aku telah tidak mampu,” dan tuan berkata, “Aku telah membatalkan mukatabahmu.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَجُوزُ الْفَسْخُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْأَدَاءِ وَيُؤْخَذُ الْمُكَاتَبُ جَبْرًا بِدَفْعِ الْكِتَابَةِ وَقَدْ تَقَدَّمَ مِنَ الْكَلَامِ مَعَهُ مَا أَقْنَعَ وَإِذَا أَجَازَ الْفَسْخَ مَعَ الْقُدْرَةِ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَنْفَرِدَ بِالْفَسْخِ إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ لِمَوْضِعِ الْخِلَافِ فِيهِ كَمَا لَيْسَ لِلْبَائِعِ أَنْ يَرْجِعَ بِعَيْنِ مَالِهِ عِنْدَ فَلَسِ الْمُشْتَرِي إِلَّا بِحُكْمِ حَاكِمٍ لِأَجْلِ الْخِلَافِ فِيهِ

Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh dilakukan pembatalan (fasakh) selama masih mampu untuk membayar, dan orang yang mukatab dapat dipaksa untuk membayar uang mukatab. Telah dijelaskan sebelumnya pembahasan bersamanya yang sudah memadai. Jika membolehkan pembatalan (fasakh) dalam keadaan mampu, maka tuan tidak boleh secara sepihak membatalkan kecuali dengan keputusan hakim karena adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, sebagaimana penjual tidak boleh mengambil kembali barangnya secara langsung ketika pembeli bangkrut kecuali dengan keputusan hakim karena adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ سَأَلَهُ أَنْ يُنْظِرَهُ مُدَّةً يُؤَدِّي إِلَيْهَا نَجْمَهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ وَلَا لِلسُّلْطَانِ أَنْ يُنْظِرَهُ إِلَّا أَنْ يُحْضِرَهُ مَالَهُ يَبِيعُهُ مَكَانَهُ إِلَى الْمُدَةِ فَيُنْظِرَهُ قَدْرَ بَيْعِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang memohon agar diberi penangguhan waktu untuk membayar cicilan yang jatuh tempo kepadanya, maka tidak ada hak baginya maupun bagi penguasa untuk memberinya penangguhan, kecuali jika ia menghadirkan hartanya untuk dijual di tempat itu hingga batas waktu yang diminta, maka ia boleh diberi penangguhan selama waktu yang diperlukan untuk menjual hartanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا سَأَلَ الْمُكَاتَبُ سَيِّدَهُ الْإِنْظَارَ بِمَالِ النَّجْمِ بَعْدَ حُلُولِهِ لَمْ يَخْلُ سُؤَالُهُ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Hal ini benar apabila seorang mukatab meminta kepada tuannya penundaan pembayaran uang angsuran setelah jatuh tempo, maka permintaannya itu tidak lepas dari empat bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ لِاكْتِسَابٍ وَطَلَبٍ فَلَا يَلْزَمُ السَّيِّدَ إِنْظَارُهُ وَلَا لِلسُّلْطَانِ أَنْ يَأْمُرَهُ بِالْإِنْظَارِ سَوَاءٌ كَانَ مَا اسْتَنْظَرَهُ مِنَ الزَّمَانِ قَلِيلًا أَوْ كَثِيرًا لِأَنَّ الْإِنْظَارَ زِيَادَةٌ فِي الْأَجَلِ وَالْآجَالُ لَا تُلْزَمُ إِلَّا فِي الْعُقُودِ

Salah satunya adalah jika penundaan itu untuk memperoleh penghasilan atau mencari nafkah, maka tidak wajib bagi tuan untuk memberinya penangguhan, dan tidak pula wajib bagi penguasa untuk memerintahkan tuan agar memberinya penangguhan, baik waktu yang diminta untuk penangguhan itu sedikit maupun banyak. Sebab, penangguhan merupakan tambahan dalam tenggat waktu, dan tenggat waktu tidaklah wajib kecuali dalam akad-akad.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَسْتَنْظِرَهُ لِبَيْعِ مَتَاعٍ قَدْ أَحْضَرَهُ فَيَلْزَمُهُ إِنْظَارُهُ قَدْرَ بَيْعِهِ لِأَنَّهُ إِنْظَارٌ لِتَأْدِيَةِ الْحَقِّ لَا لِاكْتِسَابِهِ وَطَلَبِهِ وَهَذَا الْإِنْظَارُ هُوَ عِلَّةٌ لِإِمْكَانِ الْأَدَاءِ وَلَيْسَ بِأَجَلٍ زَائِدٍ عَلَى الْعَقْدِ يُعْتَبَرُ فِيهِ قَلِيلُ الزَّمَانِ أَنْ لَا يَتَجَاوَزَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ

Bagian kedua adalah ketika seseorang meminta penangguhan untuk menjual barang yang telah ia hadirkan, maka wajib baginya untuk memberinya penangguhan selama waktu yang dibutuhkan untuk menjualnya. Sebab, penangguhan ini bertujuan untuk melunasi hak, bukan untuk memperoleh atau mencari hak tersebut. Penangguhan ini merupakan alasan yang memungkinkan pelunasan, dan bukan merupakan tenggat waktu tambahan atas akad. Dalam hal ini, yang diperhitungkan adalah waktu yang singkat, yaitu tidak melebihi tiga hari.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَسْتَنْظِرَهُ لِمَالٍ لَهُ غَائِبٍ يَقْدِرُ عَلَى نَقْلِهِ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian ketiga adalah apabila ia meminta penangguhan pembayaran karena memiliki harta yang sedang tidak ada (tidak di tempat) namun ia mampu untuk memindahkannya, maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ عَلَى مَسَافَةٍ قَرِيبَةٍ لَا يَقْصُرُ فِي مِثْلِهَا الصَّلَاةُ فَعَلَيْهِ أَنْ يُنْظِرَهُ إِلَى حِينِ نَقْلِهِ لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْحَاضِرِ

Salah satunya adalah jika berada pada jarak yang dekat, di mana dalam jarak seperti itu tidak boleh melakukan qashar salat, maka ia wajib menunggu hingga waktu pemindahannya, karena ia dalam hukum orang yang hadir (tidak bepergian).

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ عَلَى مَسَافَةٍ بَعِيدَةٍ يَقْصُرُ فِي مِثْلِهَا الصَّلَاةَ فَلَا يَلْزَمُهُ إِنْظَارُهُ لِأَنَّهُ كَالْعَادِمِ

Jenis yang kedua adalah bepergian pada jarak yang jauh, di mana dalam jarak tersebut diperbolehkan melakukan qashar salat, maka tidak wajib baginya untuk menunggu, karena ia dianggap seperti orang yang tidak ada.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ يَسْتَنْظِرَهُ لِاقْتِضَاءِ دَيْنٍ لَهُ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Bagian keempat adalah apabila ia menundanya untuk menagih utang yang dimilikinya, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ مُؤَجَّلًا فَلَا يَلْزَمُ السَّيِّدَ إِنْظَارُهُ إِلَى حُلُولِ الْأَجَلِ لِأَنَّهُ زِيَادَةُ أَجْلٍ وَلَيْسَ بِإِمْهَالٍ لِتَأْدِيَةِ مَالٍ قَدْ وَجَبَ

Salah satunya adalah apabila utang itu bersifat tangguhan (mu’ajjalah), maka tidak wajib bagi tuan (pemilik) untuk menangguhkan (pembayaran) hingga jatuh tempo, karena hal itu merupakan penambahan waktu dan bukan penundaan untuk pelunasan harta yang telah wajib dibayarkan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ حَالًّا فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ

Jenis kedua adalah apabila utang itu telah jatuh tempo, maka hal ini terbagi menjadi dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ عَلَى مُوسِرٍ فَلَا يَلْزَمُ السَّيِّدَ إِمْهَالُهُ لِاقْتِضَاءِ دَيْنِهِ لِأَنَّ الدَّيْنَ عَلَى الْمُوسِرِ كَالْعَيْنِ الْحَاضِرَةِ وَلِذَلِكَ وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ

Salah satunya adalah apabila utang itu berada pada orang yang mampu, maka tidak wajib bagi pemilik (utang) untuk menunda penagihan utangnya, karena utang pada orang yang mampu itu seperti harta yang ada di tangan, dan oleh karena itu wajib dikeluarkan zakat atasnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الدَّيْنُ عَلَى مُعْسِرٍ فَلَا يَلْزَمُ السَّيِّدَ إِنْظَارُهُ إِلَى قَبْضِ دَيْنِهِ لأن ما على المعسر تاو وَلِذَلِكَ لَمْ تَجِبْ فِيهِ الزَّكَاةُ

Jenis yang kedua adalah apabila utang itu berada pada orang yang sedang mengalami kesulitan (muflis), maka tidak wajib bagi pemilik (utang) untuk menunggu hingga ia menerima pelunasan utangnya, karena apa yang menjadi tanggungan orang yang kesulitan itu dianggap tertunda. Oleh karena itu, zakat tidak wajib atasnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ حَلَّ عَلَيْهِ نَجْمٌ فِي غَيْبَتِهِ فَأَشْهَدَ سَيِّدُهُ أَنْ قَدْ عَجَّزَهُ أَوْ فَسَخَ كِتَابَتَهُ فَهُوَ عَاجِزٌ وَلَا يُعَجِّزُهُ السُّلْطَانُ إِلَّا أَنْ تَثْبُتَ بَيِّنَةٌ عَلَى حُلُولِ نَجْمٍ مِنْ نُجُومِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika jatuh tempo pembayaran (najm) atasnya saat ia sedang tidak hadir, lalu tuannya bersaksi bahwa ia telah membuatnya tidak mampu (‘ajz) atau membatalkan akad mukatabah-nya, maka ia dianggap tidak mampu (‘ajiz). Namun, penguasa (sulṭān) tidak boleh menetapkan ketidakmampuannya kecuali ada bukti yang sah (bayyinah) tentang jatuh tempo salah satu cicilan (najm) dari cicilan-cicilannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا سَفَرُ الْمُكَاتَبِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْكِتَابِ جَوَازَ سَفَرِهِ وَمَنَعَهُ فِي الْإِمْلَاءِ مِنَ السَّفَرِ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ فَخَرَّجَهُ بَعْضُهُمْ عَلَى قَوْلَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Adapun bepergian bagi seorang mukatab, maka asy-Syafi‘i menyebutkan dalam kitab ini bolehnya ia bepergian, namun dalam al-Imla’ beliau melarangnya untuk bepergian. Maka para sahabat kami pun berbeda pendapat dalam hal ini, sehingga sebagian dari mereka mengeluarkan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَيْسَ لَهُ أَنْ يُسَافِرَ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِ لِأَنَّ فِي السَّفَرِ تَغْرِيرًا بِالْمَالِ وَتَأْخِيرًا لِلْحَقِّ

Salah satunya adalah bahwa ia tidak boleh bepergian tanpa izin tuannya, karena dalam perjalanan terdapat risiko terhadap harta dan penundaan terhadap hak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُسَافِرَ وَلَيْسَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَمْنَعَهُ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia boleh melakukan perjalanan, dan tuannya tidak berhak melarangnya karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْمُكَاتَبَ مَالِكٌ لِتَصَرُّفِ نَفْسِهِ فَلَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَحْجُرَ عَلَيْهِ بِمَنْعِهِ

Salah satunya adalah bahwa mukatab memiliki hak atas pengelolaan dirinya sendiri, sehingga tuan tidak berhak melarangnya atau membatasi kebebasannya.

وَالثَّانِي أَنَّ لِلسَّيِّدِ عَلَيْهِ الدَّيْنَ إِلَى أَجَلٍ وَلَيْسَ لِصَاحِبِ الدَّيْنِ أَنْ يَمْنَعَ مَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ الْمُؤَجَّلُ مِنَ السَّفَرِ وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنْ لَيْسَ ذَلِكَ عَلَى اخْتِلَافِ قَوْلَيْنِ وَإِنَّمَا هُوَ لِاخْتِلَافِ حَالَيْنِ فَالْمَوْضِعُ الَّذِي جَوَّزَ لَهُ فِيهِ السَّفَرَ إِذَا كَانَ قَرِيبًا لَا يَقْصُرُ فِي مِثْلِهِ الصَّلَاةَ وَالْمَوْضِعُ الَّذِي مَنَعَهُ مِنْهُ مِنَ السَّفَرِ إِذَا كَانَ بَعِيدًا تُقْصَرُ فِي مِثْلِهِ الصَّلَاةُ

Kedua, bahwa tuan (yang memberi utang) memiliki piutang yang jatuh temponya masih di masa mendatang, dan pemilik piutang tidak berhak melarang orang yang berutang dengan utang yang masih ditangguhkan untuk bepergian. Mayoritas ulama kami berpendapat bahwa hal itu bukanlah karena perbedaan dua pendapat, melainkan karena perbedaan dua keadaan. Maka, dalam keadaan di mana diperbolehkan baginya untuk bepergian adalah jika perjalanannya dekat sehingga tidak boleh melakukan qashar shalat di perjalanan semacam itu. Sedangkan dalam keadaan di mana ia dilarang bepergian adalah jika perjalanannya jauh sehingga diperbolehkan melakukan qashar shalat di perjalanan semacam itu.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ هَذَا وَكَانَ الْمُكَاتَبُ عِنْدَ حُلُولِ النَّجْمِ غَائِبًا فَلِلسَّيِّدِ فَسْخُ الْكِتَابَةِ مَعَ غَيْبَتِهِ كَمَا كَانَ لَهُ أَنْ يَفْسَخَهَا مَعَ حُضُورِهِ وَلَا يَلْزَمَهُ الْإِنْظَارُ بِمَالٍ قَدْ وَجَبَ لَكِنِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ تَفَرُّدِ السَّيِّدِ بِالْفَسْخِ عَلَى وَجْهَيْنِ

Maka apabila hal ini telah tetap, dan apabila seorang mukatab pada saat jatuh tempo pembayaran cicilan sedang tidak hadir, maka tuan (pemilik budak) berhak membatalkan akad kitabah meskipun mukatab sedang tidak hadir, sebagaimana ia juga berhak membatalkannya ketika mukatab hadir. Ia tidak wajib menunggu pembayaran harta yang telah menjadi kewajiban. Namun, para ulama kami berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya tuan secara sepihak membatalkan akad, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَصْرِيِّينَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِالْفَسْخِ مَعَ الْغَيْبَةِ كَمَا يَنْفَرِدُ بِهِ مَعَ الْحُضُورِ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab para ulama Basrah, menyatakan bahwa boleh bagi seseorang untuk melakukan pembatalan secara sendiri ketika pihak lain tidak hadir, sebagaimana ia boleh melakukannya secara sendiri ketika pihak lain hadir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَغْدَادِيِّينَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِالْفَسْخِ حَتَّى يَأْتِيَ الْحَاكِمُ فَيَتَوَلَّى الْفَسْخَ لِأَنَّ فِي الْفَسْخِ حَقًّا لِغَائِبٍ لَا يَتَوَلَّاهُ إِلَّا الْحَاكِمُ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَفْسَخَ إِذَا سَأَلَهُ السَّيِّدُ الْفَسْخَ إِلَّا أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ عِنْدَهُ بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَحُلُولِ النَّجْمِ فِي غَيْبَتِهِ فَإِذَا أَقَامَ السَّيِّدُ الْبَيِّنَةَ بِذَلِكَ أَحْلَفَهُ بِاللَّهِ إنَّهُ مَا قَبَضَ مَالَ هَذَا النَّجْمِ وَإنَّهُ لِبَاقٍ عَلَيْهِ وَهَذِهِ الْيَمِينُ اسْتِظْهَارٌ عِنْدَ أَكْثَرِ أَصْحَابِنَا لِأَنَّ الْيَمِينَ لَا تَجِبُ إِلَّا بِطَلَبِ مُسْتَحِقِّهَا وَمِنْهُمْ مَنْ أَوْجَبَ فِي فَسْخِ الْحَاكِمِ لأن لا يَفْسَخَ إِلَّا بِحَقٍّ يَزُولُ مَعَهُ الشُّبَهُ فَإِذَا أَحْلَفَهُ فَسَخَ الْكِتَابَةَ فِي الظَّاهِرِ بَعْدَ إِحْلَافِهِ والله أعلم

Pendapat kedua, yaitu mazhab para ulama Baghdad, menyatakan bahwa tidak boleh seseorang secara mandiri melakukan pembatalan (fasakh) hingga hakim datang dan menangani pembatalan tersebut. Sebab, dalam pembatalan itu terdapat hak bagi pihak yang tidak hadir, yang hanya boleh ditangani oleh hakim. Berdasarkan hal ini, tidak boleh bagi hakim untuk membatalkan (fasakh) jika tuan meminta pembatalan, kecuali jika ia menghadirkan bukti di hadapan hakim tentang harta kitabah dan jatuh tempo cicilan dalam ketidakhadirannya. Jika tuan telah menghadirkan bukti tentang hal itu, maka hakim akan menyuruhnya bersumpah atas nama Allah bahwa ia memang belum menerima harta cicilan tersebut dan bahwa harta itu masih menjadi tanggungannya. Sumpah ini merupakan tindakan kehati-hatian menurut mayoritas ulama kami, karena sumpah tidak diwajibkan kecuali atas permintaan pihak yang berhak. Namun, sebagian dari mereka mewajibkan sumpah dalam pembatalan oleh hakim, agar hakim tidak membatalkan kecuali dengan hak yang menghilangkan keraguan. Jika hakim telah menyuruhnya bersumpah, maka ia membatalkan akad kitabah secara lahiriah setelah sumpah tersebut. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ قَالَ قَدْ أَنْظَرْتُهُ وَبَدَا لِي كُتُبُ السُّلْطَانِ إِلَى حَاكِمِ بَلَدِهِ فَأَعْلَمَهُ بِذَلِكَ وَأَنَّهُ إِنْ لَمْ يُؤَدِّ إِلَيْهِ أَوْ إِلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَكِيلٌ أَنْظَرَهُ قَدْرَ مَسِيرِهِ إِلَى سَيِّدِهِ فَإِنْ جَاءَ وَإِلَّا عَجَّزَهُ حاكم بلده

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Aku telah memberinya penangguhan waktu,” lalu tampak baginya (bukti) berupa surat-surat dari penguasa kepada hakim di negerinya, maka hakim tersebut memberitahukan hal itu kepadanya, dan bahwa jika ia tidak membayar kepada orang itu atau kepada wakilnya—jika ia tidak memiliki wakil—maka hakim menangguhkan (pembayaran) selama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanannya menuju tuannya. Jika ia datang (membayar), maka selesai; jika tidak, maka hakim di negerinya menetapkan ketidakmampuannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا أَنْظَرَ السَّيِّدُ مُكَاتَبَهُ عِنْدَ عَجْزِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِي إِنْظَارِهِ وَإِنْ خَالَفَنَا فِيهِ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلِلْمُكَاتَبِ عِنْدَ رُجُوعِ السَّيِّدِ فِي إِنْظَارِهِ حَالَتَانِ

Al-Mawardi berkata: “Ini sebagaimana yang telah dikatakan, yaitu apabila seorang tuan memberikan penangguhan kepada mukatabnya ketika ia tidak mampu (membayar), maka boleh baginya untuk menarik kembali penangguhan tersebut, meskipun Abu Hanifah berbeda pendapat dengan kami dalam hal ini, dan pembahasan dengannya telah dijelaskan sebelumnya. Jika demikian, maka bagi mukatab ketika tuannya menarik kembali penangguhan tersebut terdapat dua keadaan.”

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ حَاضِرًا فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَفْسَخَ كِتَابَتَهُ إِذَا عَلِمَ الْمُكَاتَبُ بِرُجُوعِهِ فِي الْإِنْظَارِ وَلَمْ يُبَادِرْ بِالْأَدَاءِ

Salah satunya adalah apabila (utang) itu sudah jatuh tempo, maka tuan (pemilik budak mukatab) berhak membatalkan akad kitābah jika budak mukatab mengetahui bahwa tuannya telah menarik kembali penangguhan pembayaran, namun ia tidak segera melunasi (pembayaran tersebut).

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ غَائِبًا مُسَافِرًا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ

Keadaan kedua adalah apabila ia sedang tidak hadir karena bepergian, maka dalam hal ini terdapat dua macam.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ سَفَرًا مَمْنُوعًا مِنْهُ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يَمْنَعُهُ فِيهِ مِنَ السَّفَرِ فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يُعَجِّلَ الْفَسْخَ وَلَا يَلْزَمُهُ التَّوَقُّفُ لِإِعْلَامِهِ لِتَعَدِّيهِ بِالسَّفَرِ فَلَمْ يَسْتَحِقَّ الْإِنْظَارَ بِعُدْوَانِهِ

Salah satunya adalah apabila perjalanan itu merupakan perjalanan yang dilarang baginya dengan cara yang memang melarangnya untuk bepergian, maka tuan (pemilik) berhak untuk segera membatalkan (akad), dan tidak wajib baginya untuk menunggu sampai memberitahukan (kepada budak tersebut), karena ia telah melampaui batas dengan melakukan perjalanan, sehingga ia tidak berhak mendapatkan penangguhan karena pelanggarannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ سَفَرًا لَا يُمْنَعُ مِنْهُ إِمَّا لِأَنَّهُ عَنْ إِذْنِ السَّيِّدُ وَإِمَّا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يَجُوزُ لَهُ السَّفَرُ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ فَلَيْسَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَفْسَخَ قَبْلَ إِعْلَامِ الْمُكَاتَبِ بِرُجُوعِهِ فِي الْإِنْظَارِ فَيُثْبِتُ السَّيِّدُ عِنْدَ حَاكِمِ بَلَدِهِ عَقْدَ الْكِتَابَةِ وَحُلُولَ النَّجْمِ الَّذِي أَنْظَرَهُ بِهِ وَيُخْبِرُهُ بِرُجُوعِهِ فِي إِنْظَارِهِ فَإِذَا أَقَامَ الْبَيِّنَةَ بِذَلِكَ أَحْلَفَهُ الْحَاكِمُ إنَّهُ مَا قَبَضَ مِنْ مَالِ ذَلِكَ النَّجْمِ وَإِنَّهُ لِبَاقٍ عَلَيْهِ فَإِذَا فَعَلَ الْحَاكِمُ ذَلِكَ كَتَبَ حِينَئِذٍ إِلَى حَاكِمِ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمُكَاتَبُ بِرُجُوعِ سَيِّدِهِ إفي إِنْظَارِهِ فَإِذَا عَرَفَ الْمُكَاتَبُ ذَلِكَ مِنْ حَاكِمِ بَلَدِهِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ السَّيِّدُ قَدْ سَافَرَ إِلَيْهِ أَوْ كَانَ لَهُ وَكِيلٌ فِيهِ فَعَجَّلَ دَفْعَ ذَلِكَ إِلَيْهِ أَوْ إِلَى وَكِيلِهِ إِنْ لَمْ يَكُنِ السَّيِّدُ حَاضِرًا وَعَتَقَ وَإِنْ أَخَّرَ الْمَالَ عَنْ وَكِيلِهِ فِي الْحَالِ كَانَ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَفْسَخَ وَيَنُوبُ الْحَاكِمُ عَنْهُ فِي الْفَسْخِ إِذَا سَأَلَهُ عِنْدَ غَيْبَتِهِ وَلَا يَلْزَمُ مَعَ حُضُورِ الْوَكِيلِ كَمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ السَّيِّدُ حَاضِرًا لِأَنَّ الْقَبْضَ فِي الْحَالَيْنِ مُمْكِنٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ وَكِيلٌ فِي بَلَدِ الْمُكَاتَبِ أُنْظِرَ الْمُكَاتَبُ قَدْرَ الْمَسَافَةِ مِنْ مِسِيرِهِ إِلَى سَيِّدِهِ عَلَى حَسَبِ الْمَكِنَةِ فَإِنْ تَأَخَّرَ عَنْهَا فَسَخَ السَّيِّدُ حِينَئِذٍ الْكِتَابَةَ أَوْ نَابَ الْحَاكِمُ عَنْهُ فِي الْفَسْخِ إِذَا فَوَّضَهُ إِلَيْهِ فَلَوْ سَأَلَ السَّيِّدُ حَاكِمَ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمُكَاتَبُ أَنْ يَقْبِضَ مِنْهُ مَالَ كِتَابَتِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ الْقَبْضُ وَكَانَ فِيهِ بِالْخِيَارِ لِأَنَّ الَّذِي يَخْتَصُّ الْحَاكِمُ بِالْتِزَامِهِ هُوَ الْحُكْمُ دُونَ الْقَبْضِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْمَالُ لِمَوْلًى عَلَيْهِ فَتَلْزَمُهُ النِّيَابَةُ عَنْهُ فِي قَبْضِهِ لِثُبُوتِ وِلَايَتِهِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَالِهِ

Jenis yang kedua adalah apabila safar (perjalanan) tersebut tidak dilarang, baik karena dilakukan dengan izin tuan maupun dengan cara yang membolehkan baginya untuk bepergian tanpa izin tuan. Maka, tuan tidak berhak membatalkan (akad) sebelum memberitahu mukatab tentang pencabutan penangguhan (pembayaran). Tuan harus menetapkan di hadapan hakim di negerinya tentang akad kitabah dan jatuh tempo pembayaran yang telah ia tangguhkan, serta memberitahukan kepada hakim bahwa ia telah mencabut penangguhan tersebut. Jika ia telah menghadirkan bukti atas hal itu, hakim akan meminta sumpah darinya bahwa ia belum menerima uang dari pembayaran tersebut dan bahwa uang itu masih menjadi tanggungan mukatab. Setelah hakim melakukan hal itu, barulah ia menulis surat kepada hakim di negeri tempat mukatab berada tentang pencabutan penangguhan oleh tuannya. Jika mukatab telah mengetahui hal itu dari hakim di negerinya, maka dilihat keadaannya: jika tuan telah bepergian menemuinya atau memiliki wakil di sana, maka mukatab harus segera membayar kepada tuan atau wakilnya jika tuan tidak hadir, dan ia pun merdeka. Namun jika ia menunda pembayaran kepada wakilnya saat itu juga, maka tuan berhak membatalkan (akad), dan hakim dapat mewakilinya dalam pembatalan jika tuan memintanya saat ia tidak hadir. Hal ini tidak wajib dilakukan jika ada wakil yang hadir, sebagaimana tidak diperlukan jika tuan hadir, karena penyerahan (uang) dalam kedua keadaan itu memungkinkan. Jika tuan tidak memiliki wakil di negeri mukatab, maka mukatab diberi waktu sesuai jarak perjalanan dari tempatnya ke tempat tuan, sesuai kemampuan. Jika ia terlambat dari waktu tersebut, maka tuan dapat membatalkan kitabah, atau hakim mewakilinya dalam pembatalan jika telah diberi kuasa. Jika tuan meminta hakim di negeri mukatab untuk menerima pembayaran kitabah darinya, maka hakim tidak wajib menerimanya dan ia boleh memilih, karena yang menjadi kewajiban hakim adalah menetapkan hukum, bukan menerima pembayaran, kecuali jika harta itu milik seseorang yang berada dalam perwaliannya, maka hakim wajib mewakilinya dalam penerimaan pembayaran karena telah tetapnya wilayah (kekuasaan) atas orang tersebut dan hartanya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا إِذَا حَلَّ النَّجْمُ وَالْمُكَاتَبُ مُسَافِرٌ قَدْ أَخَّرَ الْأَدَاءَ عَنْ سَيِّدِهِ فَلِلسَّيِّدِ أَنْ يَفْسَخَ وَلَا يُلْزَمَ إِعْلَامَ الْمُكَاتَبِ بِخِلَافِ حَالِ الرُّجُوعِ بَعْدَ الْإِنْظَارِ

Adapun jika waktu pembayaran telah tiba sementara mukatab sedang bepergian dan ia menunda pembayaran kepada tuannya, maka tuan berhak membatalkan (akad mukatab) dan tidak wajib memberitahu mukatab, berbeda halnya dengan keadaan ketika menarik kembali (pembatalan) setelah memberi tenggang waktu.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْمُكَاتَبَ قَدْ عَلِمَ بِحُلُولِ النَّجْمِ فِي سَفَرِهِ وَأَنَّ السَّيِّدَ قَدِ اسْتَحَقَّ بِهِ فَسْخَ كِتَابَتِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَلْزَمْهُ إِعْلَامُهُ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِذَا أَنْظَرَهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَعْلَمْ بِاسْتِحْقَاقِ الْفَسْخِ بَعْدَ رُجُوعِهِ فَلِذَلِكَ وَجَبَ إِعْلَامُهُ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa seorang mukatab telah mengetahui jatuh tempo pembayaran cicilan saat ia sedang dalam perjalanan, dan tuannya telah berhak untuk membatalkan akad kitabah tersebut. Oleh karena itu, tidak wajib memberitahukan kepadanya. Tidak demikian halnya jika tuannya memberinya penangguhan, karena mukatab belum mengetahui hak pembatalan setelah ia kembali, sehingga wajib untuk memberitahukannya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ غُلِبَ عَلَى عَقْلِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُعَجِّزَهُ حَتَّى يَأْتِيَ الْحَاكِمُ وَلَا يُعَجِّزَهُ الْحَاكِمُ حَتَّى يَسْأَلَ عَنْ مَالِهِ فَإِنْ وَجَدَهُ أَدَّى عَنْهُ وَإِنْ لَمْ يَجِدْهُ عَجَّزَهُ وَأُخِذَ السَّيِّدُ بِنَفَقَتِهِ وَإِنْ وَجَدَ لَهُ مَالًا كَانَ لَهُ قَبْلَ التَّعْجِيزِ فَكَّ الْعَجْزَ عَنْهُ وَرَدَّ عَلَى سَيِّدِهِ نَفَقَتَهَ مَعَ كِتَابَتِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang kehilangan akalnya, maka tidak boleh baginya untuk dinyatakan tidak mampu (membayar utang) sampai hakim datang, dan hakim pun tidak boleh menyatakannya tidak mampu sebelum menanyakan tentang hartanya. Jika hartanya ditemukan, maka utangnya dibayarkan darinya; jika tidak ditemukan, barulah ia dinyatakan tidak mampu, dan tuannya diwajibkan menanggung nafkahnya. Jika kemudian ditemukan hartanya sebelum dinyatakan tidak mampu, maka status ketidakmampuan itu dicabut darinya dan nafkah yang telah diberikan oleh tuannya dikembalikan bersamaan dengan penulisan akad (kitābah).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا جُنَّ الْمُكَاتَبُ لَمْ تَبْطُلْ كِتَابَتُهُ لِأَمْرَيْنِ

Al-Mawardi berkata, “Ini sebagaimana ia mengatakan: Jika seorang mukatab menjadi gila, maka akad kitabah-nya tidak batal karena dua alasan.”

أَحَدُهُمَا أَنَّ لُزُومَهَا مِنْ أَحَدِ الطَّرَفَيْنِ يَمْنَعُ مِنْ بُطْلَانِهَا بِجُنُونِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُتَعَاقِدَيْنِ كَالرَّهْنِ

Salah satunya adalah bahwa keharusan tetapnya akad dari salah satu pihak mencegah batalnya akad tersebut karena kegilaan salah satu dari kedua pihak yang berakad, seperti pada akad rahn.

وَالثَّانِي أَنَّ فِيهَا مَعَ الْمُعَاوَضَةِ عِتْقًا بِصِفَةٍ لَا يَبْطُلُ بِالْجُنُونِ فَكَذَلِكَ بِالْمُعَاوَضَةِ

Yang kedua, bahwa di dalamnya terdapat pembebasan budak dengan suatu sifat tertentu bersamaan dengan adanya mu‘āwaḍah (pertukaran atau kompensasi), yang tidak batal karena kegilaan, maka demikian pula halnya dengan mu‘āwaḍah.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ عَقْدُ الْكِتَابَةِ يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ وَإِنْ لَمْ يَبْطُلْ بِهِ الرَّهْنُ فَهَلَّا بَطَلَ بِالْجُنُونِ وَإِنْ لَمْ يَبْطُلْ بِهِ الرَّهْنُ قِيلَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Jika ada yang bertanya, “Bukankah akad kitābah batal karena kematian, meskipun rahn tidak batal karenanya? Lalu mengapa tidak batal karena kegilaan, padahal rahn juga tidak batal karenanya?” Maka dijawab: perbedaan antara keduanya ada pada dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ يُنَافِي الْمَوْتَ وَلَا يُنَافِي الْجُنُونَ فَلِذَلِكَ بَطَلَ بِالْمَوْتِ وَلَمْ يَبْطُلْ بِالْجُنُونِ وَالرَّهْنُ لَا يُنَافِي الْمَوْتَ وَلَا الْجُنُونَ فَلِذَلِكَ لَمْ يَبْطُلْ بِالْمَوْتِ وَلَا بِالْجُنُونِ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak (al-‘itq) bertentangan dengan kematian, tetapi tidak bertentangan dengan kegilaan. Oleh karena itu, pembebasan budak batal karena kematian, namun tidak batal karena kegilaan. Sedangkan gadai (ar-rahn) tidak bertentangan dengan kematian maupun kegilaan, sehingga tidak batal karena kematian maupun kegilaan.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْعِتْقُ بِالصِّفَةِ يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ وَلَا يَبْطُلُ بِالْجُنُونِ كَانَتِ الْكِتَابَةُ بِمَثَابَتِهِ فِي بُطْلَانِهَا بِالْمَوْتِ دُونَ الْجُنُونِ

Kedua, karena ‘itq (pembebasan budak) yang digantungkan pada suatu sifat batal dengan kematian dan tidak batal dengan kegilaan, maka kitābah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran bertahap) diposisikan serupa dengannya, yaitu batal dengan kematian namun tidak batal dengan kegilaan.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْكِتَابَةَ لَا تَبْطُلُ بِالْجُنُونِ وَإِنْ بَطَلَتْ بِالْمَوْتِ فَلِلسَّيِّدِ إِذَا حَلَّ نَجْمُ الْكِتَابَةِ أَنْ يَأْتِيَ الْحَاكِمَ فَيُثْبِتُ عِنْدَهُ عَقْدَ الْكِتَابَةِ وَحُلُولَ النَّجْمِ فِيهَا ثُمَّ يُفَتِّشُ الْحَاكِمُ بَعْدَ ثُبُوتِ ذَلِكَ عَنْ مَالِ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ وَجَدَ لَهُ مَالًا دَفَعَهُ إِلَى السَّيِّدِ وَعَتَقَ بِهِ إِنْ كَانَ مِنْ آخِرِ نُجُومِهِ

Jika telah tetap bahwa akad kitābah tidak batal karena gila, meskipun batal karena kematian, maka bagi tuan (sayyid), ketika waktu pembayaran cicilan kitābah telah tiba, boleh mendatangi hakim untuk menetapkan di hadapannya akad kitābah dan jatuh tempo cicilannya. Setelah itu, hakim meneliti harta milik mukātab. Jika ditemukan bahwa mukātab memiliki harta, maka harta tersebut diserahkan kepada tuan, dan mukātab menjadi merdeka dengan harta itu jika pembayaran tersebut merupakan cicilan terakhirnya.

فَإِنْ قِيلَ فَهَذَا الْمَالُ غَيْرُ لَازِمٍ لِلْمُكَاتَبِ وَلَوْ غَابَ لَمْ يُفَتِّشْ عَنْ ماله فهلا كان فِي الْجُنُونِ كَذَلِكَ قِيلَ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بالجنون مولى عليه فكان للحكام الولي عليه أن يصرف ماله فِي مَصَالِحِهِ وَأَصْلَحُ الْأُمُورِ تَحَرِّي عِتْقِهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ الْغَائِبُ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ عَلَيْهِ وَمَصَالِحُهُ مَوْكُولَةٌ إِلَيْهِ فَإِذَا لَمْ يَجِدْ لِلْمُكَاتَبِ مَالًا أَحْلَفَ الْحَاكِمُ سَيِّدَهُ إنَّهُ مَا قَبَضَ مَالَ النَّجْمِ مِنْهُ وَإِنَّهُ لَبَاقٍ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ قَضَاءٌ عَلَى مَجْنُونٍ فَكَانَ كَالْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ فَإِذَا حَلَفَ السَّيِّدُ حَكَمَ لِسَيِّدِهِ بِتَعْجِيزِهِ وَإِعَادَتِهِ عَبْدًا قِنًّا وَأَخَذَهُ بِنَفَقَتِهِ فَإِنْ أَفَاقَ الْمَجْنُونُ بَعْدَ اسْتِرْقَاقِهِ وَظَهَرَ لَهُ مَالٌ قَامَتِ الْبَيِّنَةُ بِتَقَدُّمِهِ فِي مِلْكِهِ أَبْطَلَ الْحَاكِمُ تَعْجِيزَهُ وَحَكَمَ بِعِتْقِهِ كَمَا يُبْطِلُ مَا نَفَذَ مِنْ أَحْكَامِهِ بِالِاجْتِهَادِ إِذَا خَالَفَ نَصًّا وَحَكَمَ لِلسَّيِّدِ بِاسْتِرْجَاعِ نَفَقَتِهِ لِأَنَّهُ أَنْفَقَ بِحُكْمِهِ فَإِذَا اسْتَرْجَعَهَا نَظَرَ فِي الْبَاقِي بَعْدَهَا مِنْ مَالِ الْمُكَاتَبِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ وَفَاءٌ عَتَقَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ وَفَاءٌ لَمْ يُعْتَقْ وَكَانَ مَا أَخَذَهُ مُسْتَحَقًّا بِالْمِلْكِ لَا بِالْكِتَابَةِ وَلَوْ أَقَامَ الْمُكَاتَبُ الْبَيِّنَةَ بَعْدَ إِفَاقَتِهِ أَنَّهُ قَدْ كَانَ أَدَّى مَالَ كِتَابَتِهِ إِلَى السَّيِّدِ قَبْلَ جُنُونِهِ عَتَقَ وَكَانَ السَّيِّدُ مُتَطَوِّعًا بِالنَّفَقَةِ عَلَيْهِ وَلَا يَرْجِعُ بِهَا بَعْدَ إِفَاقَتِهِ لِأَنَّهُ بِجَحُودِ الِاسْتِيفَاءِ قَدْ صَارَ مُلْتَزِمًا مَا لَمْ يَلْزَمْهُ فلذلك صار به متطوعا

Jika dikatakan: “Harta ini tidak wajib bagi mukatab, dan seandainya ia pergi, tidak akan dicari-cari hartanya, maka mengapa dalam kasus gila tidak demikian juga?” Maka dijawab: Karena dengan kegilaan, ia telah menjadi seseorang yang berada di bawah perwalian, sehingga hakim atau wali berhak mengelola hartanya untuk kemaslahatannya, dan kemaslahatan yang paling utama adalah berusaha membebaskannya (dari perbudakan). Tidak demikian halnya dengan orang yang ghaib, karena tidak ada perwalian atasnya dan kemaslahatannya diserahkan kepadanya sendiri. Maka jika tidak didapati harta bagi mukatab, hakim akan meminta tuannya bersumpah bahwa ia tidak menerima harta cicilan dari mukatab dan bahwa harta tersebut masih menjadi tanggungan mukatab. Karena ini adalah keputusan atas orang gila, maka hukumnya seperti keputusan atas orang yang ghaib. Jika tuan telah bersumpah, maka hakim memutuskan untuk tuan dengan menyatakan ketidakmampuan mukatab dan mengembalikannya menjadi budak murni serta membebankan nafkahnya kepada tuan. Jika setelah diperbudak, orang gila itu sadar kembali dan ternyata ia memiliki harta, dan ada bukti yang menunjukkan bahwa harta itu telah dimilikinya sebelumnya, maka hakim membatalkan keputusan ketidakmampuannya dan memutuskan kemerdekaannya, sebagaimana hakim membatalkan keputusan yang telah dijalankan berdasarkan ijtihad jika bertentangan dengan nash. Hakim juga memutuskan agar tuan mengambil kembali nafkah yang telah ia keluarkan, karena ia telah mengeluarkannya berdasarkan keputusan hakim. Setelah nafkah itu diambil kembali, hakim melihat sisa harta mukatab; jika masih cukup untuk melunasi (cicilan), maka ia merdeka, dan jika tidak cukup, maka ia tidak merdeka, dan apa yang telah diambil tuan menjadi hak milik karena kepemilikan, bukan karena kitabah. Jika setelah sadar, mukatab dapat menghadirkan bukti bahwa ia telah membayar harta kitabah kepada tuannya sebelum ia gila, maka ia merdeka, dan tuan dianggap telah menafkahinya secara sukarela dan tidak boleh meminta kembali nafkah itu setelah mukatab sadar, karena dengan mengingkari penerimaan pembayaran, tuan telah menanggung sesuatu yang sebenarnya tidak wajib baginya, sehingga ia dianggap menafkahi secara sukarela.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ ادَّعَى أَنَّهُ أَوْصَلَ إِلَيْهِ كِتَابَتَهُ وَجَاءَ بِشَاهِدٍ أحلفه مَعَهُ وَأبرئه

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang mengaku bahwa ia telah menyampaikan suratnya kepadanya dan membawa seorang saksi, maka aku akan menyuruhnya bersumpah bersama saksi tersebut dan membebaskannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا ادَّعَى الْمُكَاتَبُ عَلَى سَيِّدِهِ أَنَّهُ دَفَعَ إِلَيْهِ مَالَ كِتَابَتِهِ وَأَنْكَرَ السَّيِّدُ فَالْقَوْلُ قَوْلُ السَّيِّدِ مَعَ يَمِينِهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتَبِ بَيِّنَةٌ وَإِنْ كَانَتْ لَهُ بَيِّنَةٌ سَمِعَهَا الْحَاكِمُ عَلَى سَيِّدِهِ وَبَيِّنَتُهُ فِي الْأَدَاءِ شَاهِدَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ وَلَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ إِلَّا مِنْ شَاهِدَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana yang dikatakan, apabila seorang mukatab mengklaim kepada tuannya bahwa ia telah menyerahkan harta untuk membayar akad kitabahnya, lalu tuannya mengingkari, maka perkataan tuanlah yang diterima disertai sumpahnya, jika mukatab tidak memiliki bukti. Namun jika ia memiliki bukti, hakim akan mendengarkannya terhadap tuannya. Bukti dalam pembayaran adalah dua orang saksi, atau satu saksi dan dua perempuan, atau satu saksi dan sumpah. Adapun bukti dalam akad kitabah tidak diterima kecuali dari dua orang saksi.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Perbedaan antara keduanya terdapat pada dua aspek.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْعِتْقَ بِالْكِتَابَةِ أَوْجَبَهُ الْعَقْدُ وَالْأَدَاءُ فِيهِ صِفَةٌ لِحُلُولِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ تُسْمَعْ فِي الْعَقْدِ إِلَّا شَاهِدَيْنِ وَسُمِعَ فِي الْأَدَاءِ شَاهِدٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِينٌ لِأَنَّهُ بَيِّنَةٌ عَلَى قَضَاءِ دَيْنٍ وَبَرَاءَةِ ذِمَّةٍ

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak melalui mukātabah diwajibkan oleh akad, sedangkan pelunasan (pembayaran) di dalamnya merupakan sifat karena telah jatuh tempo. Oleh karena itu, dalam akad hanya diterima dua orang saksi, sedangkan dalam pelunasan diterima satu orang saksi dan dua orang perempuan, atau satu orang saksi dan sumpah, karena hal itu merupakan bukti atas pelunasan utang dan terbebasnya tanggungan.

وَالثَّانِي أَنَّ فِي عَقْدِ الْكِتَابَةِ إِثْبَاتَ تَصَرُّفٍ لِلْمُكَاتَبِ وَزَوَالَ تَصَرُّفٍ لِلسَّيِّدِ فَصَارَتْ وِلَايَةً لَا تَثْبُتُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ وَالْأَدَاءُ مَالٌ وَإِبْرَاؤُهُ مِنْهُ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ وَالشَّاهِدِ وَالْمَرْأَتَيْنِ كَالْوَصِيَّةِ لَا تَثْبُتُ لِلْمُوصَى إِلَيْهِ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ لِأَنَّهَا وِلَايَةٌ وَتَثْبُتُ لِلْمُوصَى لَهُ بِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ وَشَاهِدٍ وَيَمِينٍ لِأَنَّهُ مَالٌ

Kedua, bahwa dalam akad kitābah terdapat penetapan hak bertindak bagi mukātib dan hilangnya hak bertindak bagi tuan, sehingga menjadi suatu bentuk wilāyah yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi. Sedangkan pembayaran adalah harta, dan pembebasan darinya dapat dibuktikan dengan satu saksi dan sumpah, atau satu saksi dan dua orang perempuan, sebagaimana wasiat yang tidak dapat ditetapkan bagi penerima wasiat kecuali dengan dua orang saksi karena ia merupakan wilāyah, dan dapat ditetapkan bagi yang menerima wasiat dengan satu saksi dan dua orang perempuan, atau satu saksi dan sumpah, karena ia adalah harta.

فَصْلٌ

Bagian

فَلَوْ ذَكَرَ الْمُكَاتَبُ عِنْدَ دَعْوَى الْأَدَاءِ أَنَّ لَهُ بَيِّنَةً غَائِبَةً أُنْظِرَ بِهَا يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ وَأَكْثَرُهُ ثَلَاثًا لِأَنَّ فِي إِرْهَاقِهِ إِضْرَارًا بِهِ وَفِي الزِّيَادَةِ بِالْإِنْظَارِ إِضْرَارٌ بِالسَّيِّدِ وَفِي الْإِنْظَارِ تَقْلِيلُ الزَّمَانِ الَّذِي لَا يَخْرُجُ إِلَى حَدِّ الْكَثْرَةِ وَهُوَ الثُّلُثُ رِفْقٌ بِهِمَا وَرَفْعٌ لِلضَّرَرِ عَنْهُمَا فَإِذَا أَحْضَرَ بَيِّنَةً سُمِعَتْ وَإِلَّا حُكِمَ عَلَيْهِ بِيَمِينِ السَّيِّدِ فَإِنْ أَحْضَرَ فِي الثَّلَاثِ شَاهِدًا وَاحِدًا وَاسْتَنْظَرَ بِالثَّانِي أَنْظَرْتُهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مُسْتَقْبَلَةٍ لِأَنَّ لَهُ أَنْ يَحْلِفَ مَعَ الشَّاهِدِ الْوَاحِدِ إِذَا كَانَ عَدْلًا وَلَوْ أَحْضَرَ فِي الثَّلَاثِ شَاهِدِينَ وَلَمْ يَثْبُتْ عَدَالَتُهُمَا أُنْظِرَ بِهِمَا ثَلَاثًا لِأَنَّهُ اسْتِنْظَارٌ لِبَيِّنَةٍ فِي شَهَادَةٍ أُخْرَى

Jika seorang mukatab, ketika ada gugatan pembayaran, menyatakan bahwa ia memiliki bukti (bayyinah) yang sedang tidak hadir, maka ia diberi tenggang waktu satu atau dua hari, dan paling lama tiga hari. Sebab, jika ia dipaksa segera, itu akan memberatkannya, sementara jika diberi waktu lebih lama, itu akan merugikan tuannya (sayyid). Memberi tenggang waktu yang tidak terlalu lama, yaitu sepertiga (dari waktu yang wajar), merupakan bentuk keringanan bagi keduanya dan menghilangkan mudarat dari mereka berdua. Jika ia kemudian menghadirkan bukti, maka bukti itu didengar; jika tidak, maka diputuskan atasnya dengan sumpah tuannya. Jika dalam tiga hari ia menghadirkan satu orang saksi dan meminta penangguhan untuk menghadirkan saksi kedua, maka ia diberi tenggang waktu tiga hari berikutnya, karena ia boleh bersumpah bersama satu saksi jika saksi itu adil. Jika dalam tiga hari ia menghadirkan dua orang saksi, tetapi keadilan keduanya belum terbukti, maka keduanya diberi tenggang waktu tiga hari, karena ini merupakan penangguhan untuk menghadirkan bukti dalam bentuk kesaksian lain.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ دَفَعَ الْكِتَابَةَ وَكَانَتْ عَرْضًا بِصِفَةٍ فَقَبَضَهُ وَعَتَقَ ثُمَّ اسْتَحَقَّ قِيلَ لَهُ إِنْ أَدَيْتَ مَكَانَكَ وَإِلَّا رَقَقْتَ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membayarkan uang untuk perjanjian kitābah, dan pembayaran itu berupa barang dengan sifat tertentu, lalu barang itu diterima dan budak tersebut menjadi merdeka, kemudian ternyata barang itu disita (karena ada yang lebih berhak), maka dikatakan kepadanya: Jika kamu membayar gantinya, maka kamu tetap merdeka; jika tidak, maka kamu kembali menjadi budak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَتِ الْكِتَابَةُ عَلَى عَرْضٍ مَوْصُوفٍ فَأَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ وَعَتَقَ بِهِ فِي الظَّاهِرِ وَاسْتَحَقَّ مِنْ يَدِ السَّيِّدِ بَطَلَ مَا حَكَمَ بِهِ مِنَ الْعِتْقِ لِأَنَّ مِنْ صِفَةِ الْعَرْضِ فِي الْكِتَابَةِ أَنْ يَسْتَحِقَّهُ السَّيِّدُ مَلِكًا وَالْمُسْتَحِقُّ لَا يَمْلِكُهُ السَّيِّدُ فَلَمْ تَكْمُلْ فِيهِ صِفَةُ الْعِتْقِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَقَعْ بِهِ الْعِتْقُ كَمَنْ عُلِّقَ عِتْقُهُ بِصِفَتَيْنِ لَمْ يَعْتِقْ بِوُجُودِ إِحْدَى الصِّفَتَيْنِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ صَارَ الْمُكَاتَبُ بِاسْتِحْقَاقِ الْعَرْضِ رَاجِعًا إِلَى الْكِتَابَةِ لَا إِلَى الرِّقِّ وَمَعْنَى قَوْلِ الشافعي وقيل لَهُ إِنْ أَدَّيْتَ مَكَانَكَ وَإِلَّا رَقَقْتَ يَعْنِي وَإِلَّا عَجَّزْتُكَ فَرَقَقْتَ لِأَنَّهُ لَا يَعُودُ إِلَى الرق إلا بالتعجير دُونَ الِاسْتِحْقَاقِ وَإِنَّمَا يَعُودُ إِلَى الْكِتَابَةِ بِالِاسْتِحْقَاقِ فَإِذَا أَدَّى لِوَقْتِهِ مِثْلَ ذَلِكَ الْعَرْضِ عَتَقَ بِهِ حِينَئِذٍ وَإِنْ لَمْ يُؤَدِّهِ كَانَ السَّيِّدُ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِنْظَارِهِ وَبَيْنَ تَعْجِيزِهِ وَاسْتِرْقَاقِهِ

Al-Mawardi berkata: “Hal ini benar apabila akad kitābah dilakukan atas suatu barang yang telah ditentukan sifatnya, lalu barang itu diserahkan oleh mukātib dan ia pun merdeka karenanya secara lahiriah, kemudian ternyata barang tersebut menjadi hak milik orang lain dari tangan tuannya, maka batal hukum kemerdekaan yang telah diputuskan, karena di antara syarat barang dalam akad kitābah adalah barang itu harus menjadi milik tuan, sedangkan barang yang menjadi hak orang lain tidak dapat dimiliki oleh tuan, sehingga syarat kemerdekaan tidak sempurna padanya. Oleh karena itu, kemerdekaan tidak terjadi dengan barang tersebut, sebagaimana seseorang yang kemerdekaannya digantungkan pada dua syarat, maka ia tidak merdeka hanya dengan terpenuhinya salah satu syarat saja. Jika demikian, maka mukātib dengan adanya hak atas barang itu kembali kepada akad kitābah, bukan kepada status budak. Maksud perkataan Imam Syafi‘i, ‘Dikatakan kepadanya: Jika engkau membayar, engkau tetap pada posisimu; jika tidak, engkau kembali menjadi budak,’ maksudnya adalah: jika tidak, aku akan melemahkanmu sehingga engkau kembali menjadi budak, karena tidaklah seseorang kembali menjadi budak kecuali dengan tindakan ta‘jīr (menyatakan tidak mampu), bukan hanya dengan adanya hak atas barang tersebut. Seseorang hanya kembali kepada akad kitābah dengan adanya hak atas barang tersebut. Maka jika ia membayar pada waktunya dengan barang seperti itu, ia pun merdeka karenanya saat itu juga. Namun jika ia tidak membayarnya, maka tuan memiliki pilihan antara menunggu atau melakukan ta‘jīz (menyatakan tidak mampu) dan memperbudaknya kembali.”

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ كَانَ السَّيِّدُ قَدِ اسْتَهْلَكَ الْعَرْضَ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهِ مِنْ يَدِهِ لَزِمَهُ غُرْمُهُ لِمُسْتَحَقِّهِ وَكَانَ الْمُسْتَحِقُّ بِالْخِيَارِ فِي الرُّجُوعِ بِهِ عَلَى مَنْ شاء من السيد الْمُكَاتَبِ فَإِنْ رَجَعَ بِهِ عَلَى السَّيِّدِ فَأَغْرَمَهُ إِيَّاهُ بَطَلَ بِهِ عِتْقُ الْمُكَاتَبِ سَوَاءٌ كَانَ غُرْمُهُ مِثْلًا أَوْ قِيمَةً وَإِنْ رَجَعَ بِهِ عَلَى الْمُكَاتَبِ فَأَغْرَمَهُ فَإِنْ كَانَ مِثْلًا لِأَنَّ الْعَرْضَ كَانَ ذَا مِثْلٍ عَتَقَ بِهِ الْمُكَاتَبُ لِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ الرُّجُوعَ بِغُرْمِهِ عَلَى السَّيِّدِ فَصَارَ الْغُرْمُ وَالْأَدَاءُ الْمُسْتَحَقُّ عَلَيْهِ أَدَاءً إِلَيْهِ وَإِنْ كان من غَرِمَهُ الْمُكَاتَبُ قِيمَةً لِأَنَّ الْعَرْضَ لَا مِثْلَ لَهُ لَمْ يَعْتِقْ بِهِ الْمُكَاتَبُ لِأَنَّ الْقَيِّمَةَ وَإِنِ اسْتَحَقَّ الرُّجُوعَ بِهَا عَلَى السَّيِّدِ لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْكِتَابَةِ فَلَمْ يَعْتِقْ بِهَا وَلَمْ تَصِرْ قِصَاصًا مَعَ اخْتِلَافِ الْجِنْسَيْنِ وَرَجَعَ عَلَى سَيِّدِهِ بِالْقِيمَةِ وَرَجَعَ السَّيِّدُ عَلَيْهِ بِالْعَرْضِ فَإِنْ تبارا عَنْ تَرَاضٍ وَقَعَ الْعِتْقُ حِينَئِذٍ بِالْإِبْرَاءِ

Jika tuan telah menghabiskan barang tersebut sebelum hak atasnya jatuh dari tangannya, maka ia wajib mengganti kerugian kepada yang berhak, dan pihak yang berhak memiliki pilihan untuk menuntut ganti rugi dari siapa saja yang ia kehendaki, baik dari tuan maupun dari mukatab. Jika ia menuntut ganti rugi dari tuan dan tuan membayarnya, maka kemerdekaan mukatab batal karenanya, baik ganti ruginya berupa barang sejenis maupun berupa nilai. Namun jika ia menuntut ganti rugi dari mukatab dan mukatab membayarnya, maka jika ganti rugi itu berupa barang sejenis karena barang tersebut memang ada barang sejenisnya, maka mukatab menjadi merdeka karenanya, karena ia berhak menuntut kembali ganti rugi itu dari tuan, sehingga ganti rugi dan pembayaran yang wajib atasnya menjadi pembayaran kepada dirinya sendiri. Tetapi jika yang dibayarkan mukatab adalah berupa nilai karena barang tersebut tidak ada barang sejenisnya, maka mukatab tidak menjadi merdeka karenanya, karena nilai tersebut, meskipun ia berhak menuntut kembali kepada tuan, bukanlah dari jenis pembayaran kitabah, sehingga ia tidak merdeka karenanya dan tidak menjadi qishash karena perbedaan jenis, dan ia menuntut kembali kepada tuannya berupa nilai, dan tuan menuntut kembali kepada mukatab berupa barang. Jika keduanya saling membebaskan dengan kerelaan, maka kemerdekaan terjadi saat itu juga melalui pembebasan.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا قَالَ السَّيِّدُ لِعَبْدِهِ إِنْ دَفَعْتَ إِلَيَّ هَذَا الثَّوْبَ بِعَيْنِهِ فَأَنْتَ حُرٌّ فَدَفَعَهُ إِلَيْهِ وَكَانَ مَغْصُوبًا قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ لَمْ يَعْتِقْ بِهِ وَحَمَلَهُ عَلَى الْكِتَابَةِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ كِتَابَةً وَقَالَ فِي الْخُلْعِ إِذَا قَالَ لِزَوْجَتِهِ إِذَا دَفَعْتِ إِلَيَّ هَذَا الثَّوْبَ بِعَيْنِهِ فَأَنْتِ طَالِقٌ فَدَفَعَتْهُ إِلَيْهِ وَكَانَ مَغْصُوبًا طُلِّقَتْ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فَكَانَ بَعْضُهُمْ يَنْقُلُ جَوَابَ كُلِّ واحد مِنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ إِلَى الْأُخْرَى وَيُخْرِجُهَا عَلَى قَوْلَيْنِ

Apabila seorang tuan berkata kepada hambanya, “Jika kamu menyerahkan kepadaku kain ini secara spesifik, maka kamu merdeka,” lalu hamba itu menyerahkannya kepadanya, dan kain itu ternyata barang hasil ghasab (barang rampasan), Imam Syafi‘i berkata dalam kitab al-Umm: hamba itu tidak merdeka karenanya, dan beliau mengaitkannya dengan masalah kitābah (perjanjian pembebasan budak), meskipun bukan dalam konteks kitābah. Dan beliau berkata dalam masalah khulu‘: jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu menyerahkan kepadaku kain ini secara spesifik, maka kamu tertalak,” lalu istrinya menyerahkannya kepadanya, dan kain itu ternyata barang hasil ghasab, maka jatuhlah talak. Para sahabat kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka memindahkan jawaban dari masing-masing permasalahan ke permasalahan yang lain dan mengeluarkannya dalam dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وُقُوعُ الْعِتْقِ وَالطَّلَاقِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْخُلْعِ

Salah satunya adalah terjadinya pembebasan budak (‘itq) dan talak sebagaimana yang telah dinyatakan secara tegas dalam khulu‘.

وَالثَّانِي لَا يَقَعُ الْعِتْقُ وَلَا الطَّلَاقُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْعِتْقِ

Dan yang kedua, tidak terjadi pembebasan budak maupun talak atas apa yang telah dinaskan dalam masalah pembebasan budak.

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْهُمْ بَلْ جَوَابُهُ فِي الْمَوْضِعَيْنِ عَلَى ظَاهِرِهِ يَقَعُ الطَّلَاقُ بِالْمُعَيَّنِ إِذَا اسْتُحِقَّ وَلَا يَقَعُ بِهِ الْعِتْقُ

Dan sebagian lain dari mereka berkata, “Bahkan jawabannya pada kedua tempat itu adalah sesuai zahirnya: talak terjadi pada yang ditentukan apabila ia menjadi hak, dan tidak terjadi dengannya pemerdekaan (’itq).”

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ لِلزَّوْجَةِ مَدْخَلًا فِي رَفْعِ النِّكَاحِ بِالْفَسْخِ فَكَانَ رَفْعُهُ بِالطَّلَاقِ أَوْسَعَ حُكْمًا وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ مَدْخَلٌ فِي رَفْعِ رِقِّهِ فَكَانَ الْعِتْقُ أَضْيَقَ حُكْمًا وَهَذَا الْفَرْقُ يَصِيرُ وَالَّذِي أَرَاهُ أَنَّ الْعِتْقَ يَقَعُ بِالْمُسْتَحَقِّ إِذَا كَانَ مُعَيَّنًا كَمَا يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ لِأَنَّ المغلب فيها مع التعيين حكم الصفة ولأن لَمْ يَكُنِ الْخَلْعُ أَقْوَى لِكَوْنِهِ عَقْدَ مُعَاوَضَةٍ لَمْ يَكُنْ أَضْعَفَ مِنْ مُجَرَّدِ الْعِتْقِ بِالصِّفَةِ

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa istri memiliki andil dalam pembatalan pernikahan melalui fasakh, sehingga pembatalan pernikahan dengan talak memiliki cakupan hukum yang lebih luas. Sedangkan budak tidak memiliki andil dalam menghilangkan status perbudakannya, sehingga pembebasan budak (‘itq) memiliki cakupan hukum yang lebih sempit. Perbedaan ini menjadi jelas, dan menurut pendapat saya, pembebasan budak (‘itq) berlaku bagi yang berhak jika telah ditentukan secara spesifik, sebagaimana talak juga berlaku baginya. Sebab, yang lebih dominan dalam hal ini ketika ada penentuan adalah hukum sifat, dan karena khulu‘ tidak lebih kuat hanya karena ia merupakan akad mu‘awadhah (akad pertukaran), maka ia juga tidak lebih lemah daripada sekadar pembebasan budak (‘itq) dengan sifat.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ السَّيِّدُ لِمُكَاتَبِهِ عِنْدَ دَفْعِ العرض الَّذِي عُيِّنَ فِي الظَّاهِرِ أَنْتَ حُرٌّ ثُمَّ اسْتَحِقَّ مِنْ يَدِهِ وَاخْتَلَفَ الْمُكَاتَبُ وَالسَّيِّدُ فَقَالَ السيد أردت عتقه بالعرض الَّذِي أَدَّاهُ وَقَالَ الْمُكَاتَبُ بَلْ أَرَادَ عِتْقِي ابْتِدَاءً مِنْ نَفْسِهِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ السَّيِّدِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّ الظَّاهِرَ مَعَهُ وَلَا يُعْتَقُ عَلَيْهِ الْمُكَاتَبُ وَلَوْ قَالَ لَهُ بَعْدَ الِاسْتِحْقَاقِ أَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ عَلَيْهِ وَلَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ إِنِّي أَرَدْتُ مَا ظَنَنْتُهُ فِي عِتْقِهِ بِالْأَدَاءِ لِأَنَّهُ بِخِلَافِ الظَّاهِرِ وَلَوْ قَالَ لَهُ بَعْدَ الْأَدَاءِ وَالْعِتْقِ فِي الظَّاهِرِ وَقَبْلَ الِاسْتِحْقَاقِ أَنْتَ حُرٌّ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ الِاسْتِحْقَاقِ أَرَدْتُ بِالْعِتْقِ مَا كَانَ مِنْ ظَاهِرِ الْأَدَاءِ فَفِي قَبُولِ ذَلِكَ مِنْهُ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ

Jika seorang tuan berkata kepada mukatabnya ketika menyerahkan barang yang telah ditentukan secara lahiriah, “Engkau merdeka,” lalu barang itu diambil kembali dari tangannya, dan kemudian terjadi perselisihan antara mukatab dan tuan, di mana tuan berkata, “Aku bermaksud memerdekakannya dengan barang yang telah ia serahkan,” sedangkan mukatab berkata, “Bahkan, ia bermaksud memerdekakanku sejak awal dari dirinya sendiri,” maka yang dipegang adalah perkataan tuan dengan sumpahnya, karena lahiriah (konteks) mendukungnya, dan mukatab tidak menjadi merdeka atasnya. Namun, jika tuan berkata kepadanya setelah barang itu diambil kembali, “Engkau merdeka,” maka mukatab menjadi merdeka atasnya, dan tidak diterima perkataannya, “Aku bermaksud seperti yang aku sangka dalam memerdekakannya dengan penyerahan barang,” karena itu bertentangan dengan lahiriah (konteks). Jika tuan berkata kepadanya setelah penyerahan dan kemerdekaan secara lahiriah, dan sebelum barang itu diambil kembali, “Engkau merdeka,” lalu setelah barang itu diambil kembali ia berkata, “Aku bermaksud dengan kemerdekaan itu apa yang tampak dari penyerahan barang,” maka dalam hal diterimanya pernyataan itu darinya terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا يُقْبَلُ مِنْهُ قَبْلَ وُجُودِ الِاسْتِحْقَاقِ مَعَ يَمِينِهِ كَمَا يُقْبَلُ مِنْهُ عِنْدَ الْأَدَاءِ لِأَنَّهُ فِي الْحَالَيْنِ عَلَى سَوَاءٍ

Salah satunya diterima darinya sebelum adanya hak untuk menerima, disertai sumpahnya, sebagaimana diterima darinya pada saat pelaksanaan, karena dalam kedua keadaan tersebut posisinya sama.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي لَا يُقْبَلُ وَيَكُونُ الْقَوْلُ قَوْلَ الْمُكَاتَبِ مَعَ يَمِينِهِ لِأَنَّ الْعِتْقَ بِالْأَدَاءِ قَدِ استقر ظاهره بنقص زَمَانِهِ فَصَارَ لِمَا تَجَدَّدَ بَعْدَهُ مِنْ لَفْظِ الْعِتْقِ حُكْم مُبْتَدَأ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pendapat kedua tidak diterima, dan yang dijadikan pegangan adalah pernyataan dari mukatab beserta sumpahnya, karena kemerdekaan dengan pembayaran telah tetap secara lahiriah dengan berkurangnya masa waktunya. Maka, terhadap lafaz kemerdekaan yang muncul setelahnya, berlaku hukum yang baru. Dan Allah Maha Mengetahui.

باب الوصية بالمكاتب والوصية له

Bab Wasiat untuk Maktab dan Wasiat kepada Maktab

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه إذا أَوْصَى بِهِ لِرَجُلٍ وَعَجَّزَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ يَجُزْ كَمَا لَوْ أَوْصَى بِرَقَبَتِهِ وَهُوَ لَا يَمْلِكُهُ ثُمَّ مَلَكَهُ حَتَى يُجَدِّدَ وَصِيَّةً لَهُ بِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berwasiat tentang sesuatu kepada seorang laki-laki, lalu ia telah membuatnya tidak mampu (menguasainya) sebelum wafatnya atau sesudah wafatnya, maka wasiat itu tidak sah, sebagaimana jika ia berwasiat tentang budaknya padahal ia tidak memilikinya, kemudian ia memilikinya, maka ia harus memperbarui wasiatnya untuknya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا وَصَّى بِرَقَبَةِ الْمُكَاتَبِ وَكِتَابَتُهُ صَحِيحَةٌ كَانَتِ الْوَصِيَّةُ بَاطِلَةً سَوَاءٌ عَجَزَ فَرَقَّ أَوْ أَدَّى فَعَتَقَ لِخُرُوجِهِ بِالْكِتَابَةِ عَنْ مِلْكِهِ فَصَارَ كَمَنْ وَصَّى بِعَبْدٍ لَا يَمْلِكُهُ لَمْ تَصِحَّ الْوَصِيَّةُ بِهِ وَإِنْ مَلَكَهُ وَلَوْ قَالَ قَدْ وَصَّيْتُ بِرَقَبَتِهِ إِنْ عَجَزَ وَرَقَّ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ لِأَنَّهُ أَضَافَ الْوَصِيَّةَ إِلَى مِلْكِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْحَالِ مَالِكًا فَصَارَ كَالْوَصِيَّةِ بِثَمَرَةِ نَخْلَةٍ وَنِتَاجِ مَاشِيَةٍ لِجَوَازِ الْوَصَايَا بِالصِّفَاتِ

Al-Mawardi berkata, “Pendapat ini benar apabila seseorang berwasiat dengan budak mukatab dan akad kitabah-nya sah, maka wasiat tersebut batal, baik budak itu tidak mampu membayar lalu kembali menjadi budak, maupun ia melunasi pembayaran lalu merdeka. Hal ini karena dengan akad kitabah, budak tersebut telah keluar dari kepemilikannya, sehingga keadaannya seperti orang yang berwasiat dengan budak yang tidak ia miliki, maka wasiatnya tidak sah meskipun ia kemudian memilikinya. Namun, jika ia berkata, ‘Aku berwasiat dengan budak ini jika ia tidak mampu membayar dan kembali menjadi budak,’ maka wasiat itu sah, karena ia mengaitkan wasiat dengan kepemilikannya, meskipun pada saat itu ia belum menjadi pemilik. Keadaannya seperti wasiat dengan buah pohon kurma atau anak ternak, karena diperbolehkan berwasiat dengan sifat-sifat.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وإذا أوصى بكتابته جازت فِي الثُّلُثِ فَإِذَا أَدَّاهَا عَتَقَ فَإِنْ أَرَادَ الَّذِي أَوْصَى لَهُ تَأْخِيرَهُ وَالْوَارِثُ تَعْجِيزَهُ فَذَلِكَ للْوَارِث تَصِيرُ رَقَبَتُهُ لَهُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berwasiat agar budaknya dibuatkan kitabah (perjanjian pembebasan dengan pembayaran tertentu), maka wasiat itu sah pada sepertiga harta. Jika budak itu telah melunasi pembayaran kitabah, maka ia merdeka. Jika orang yang diwasiati ingin menunda pelaksanaan kitabah, sementara ahli waris ingin menghalanginya, maka hak itu menjadi milik ahli waris dan budak tersebut kembali menjadi milik mereka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا أَوْصَى بِمَا عَلَى الْمُكَاتَبِ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ إِذَا كَانَتِ الْكِتَابَةُ صَحِيحَةً لِأَنَّهُ مَالِكٌ لِمَالِ الْكِتَابَةِ فَصَارَ مُوصِيًا بِمَا يَمْلِكُ فَصَحَّتْ وَصِيَّتُهُ وَإِنْ جَازَ أَنْ تَسْقُطَ بِالْعَجْزِ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يُوصِيَ بِمَالٍ غَائِبٍ وَإِنْ جَازَ أَنْ يُتْلِفَهُ وَبِدينٍ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَتْوَى وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْوَصِيَّةُ تَشْتَمِلُ عَلَى جَمِيعِ مَا يُؤَدِّيهِ الْمُكَاتَبُ فِي حَيَاةِ الْمُوصِي وَبَعْدَ وَفَاتِهِ لَكِنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبِضَ مَا أَدَّاهُ الْمُكَاتَبُ فِي حَيَاةِ الْمُوصِي إِلَّا بَعْدَ وَفَاتِهِ لِأَنَّ الْوَصَايَا لَا تُمَلَّكُ إِلَّا بَعْدَ الْمَوْتِ ثُمَّ لَا يَخْلُو حَالُ الْمُكَاتَبِ مِنْ إِحْدَى حَالَتَيْنِ إِمَّا أَنْ يُؤَدِّيَ أَوْ يَعْجِزَ فَإِنْ أَدَّى أُمْضِيَتِ الْوَصِيَّةُ بِجَمِيعِ مَا أَدَّاهُ إِذَا خَرَجَ مِنَ الثُّلُثِ فَإِنْ عَجَزَ جَمِيعُهُ عَنِ الثُّلُثِ أَمْضَى مِنْهُ قَدْرَ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ وَيَعْتِقُ بِالْأَدَاءِ إِلَى الْمُوصَى لَهُ لِأَنَّهُ أَدَّاهُ إِلَى مُسْتَحِقِّهِ وَيَكُونُ وَلَاؤُهُ لِلْمُوصِي يَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى عُصْبَتِهِ وَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْأَدَاءِ يَمْلِكُ الْمُوصَى لَهُ مَا أَخَذَهُ قَبْلَ الْعَجْزِ وَلَا يَخْلُو حَالُ الْمُوصَى له والوارث مِنْ أَرْبَعَةِ أَحْوَالٍ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar apabila seseorang berwasiat tentang apa yang menjadi tanggungan seorang mukatab berupa harta kitabahnya, maka wasiat tersebut sah jika akad kitabahnya sah, karena ia adalah pemilik harta kitabah tersebut, sehingga ia berwasiat atas apa yang ia miliki, maka wasiatnya pun sah, meskipun boleh jadi gugur karena ketidakmampuan, sebagaimana boleh saja seseorang berwasiat atas harta yang tidak ada di tempat (ghaib) meskipun boleh jadi harta itu rusak, atau berwasiat atas utang meskipun boleh jadi utang itu lenyap. Jika demikian, maka wasiat itu mencakup seluruh apa yang dibayarkan oleh mukatab selama hidup pewasiat maupun setelah wafatnya. Namun, tidak boleh mengambil apa yang telah dibayarkan oleh mukatab selama hidup pewasiat kecuali setelah wafatnya, karena wasiat tidak menjadi milik kecuali setelah kematian. Kemudian, keadaan mukatab tidak lepas dari dua kemungkinan: ia melunasi atau tidak mampu melunasi. Jika ia melunasi, maka wasiat dijalankan atas seluruh yang telah ia bayarkan selama tidak melebihi sepertiga harta. Jika tidak mampu melunasi seluruhnya melebihi sepertiga, maka dijalankan dari wasiat itu sesuai kadar yang dapat ditanggung oleh sepertiga harta. Ia menjadi merdeka dengan pembayaran kepada penerima wasiat, karena ia telah membayarkan kepada yang berhak, dan wala’-nya menjadi milik pewasiat yang kemudian berpindah kepada para ‘ashabah-nya. Jika ia tidak mampu membayar, maka penerima wasiat memiliki apa yang telah diambilnya sebelum ketidakmampuan itu. Dan keadaan penerima wasiat dan ahli waris tidak lepas dari empat kemungkinan.”

أَحَدُهَا أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى إِنْظَارِهِ فَيَجُوزَ وَتَكُونَ الْكِتَابَةُ بِحَالِهَا وَمَا يُؤَدِّيهِ الْمُكَاتَبُ بَعْدَ الْإِنْظَارِ لِلْمُوصَى لَهُ كَمَا يَمْلِكُ مَا يُؤَدِّيهِ قَبْلَ الْعَجْزِ

Salah satunya adalah apabila keduanya sepakat untuk menangguhkan pembayaran, maka hal itu diperbolehkan dan status kitabah tetap sebagaimana adanya. Apa yang dibayarkan oleh mukatab setelah penangguhan menjadi milik penerima wasiat, sebagaimana ia berhak atas apa yang dibayarkan sebelum terjadinya ketidakmampuan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى تَعْجِيزِهِ فَيَعُودَ بِالتَّعْجِيزِ رَقِيقًا يَمْلِكُهُ الْوَارِثُ وَتَبْطُلُ الْوَصِيَّةُ فِيمَا بَقِيَ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ وَتَصِحُّ فِيمَا قَبَضَ مِنْهَا

Keadaan kedua adalah apabila keduanya sepakat untuk membuatnya tidak mampu (membayar), maka dengan ketidakmampuan itu ia kembali menjadi budak yang dimiliki oleh ahli waris, dan wasiat mengenai sisa harta kitabah menjadi batal, sedangkan wasiat atas bagian yang telah diterima tetap sah.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ إِلَى إِنْظَارِهِ لِيَأْخُذَ مَا فِي كِتَابَتِهِ وَيَدْعُوَ الْوَارِثُ إِلَى تَعْجِيزِهِ لِيَصِيرَ وَارِثًا لِرَقَبَتِهِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْوَارِثِ فِي التَّعْجِيزِ لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ مُعَلَّقَةٌ بِالْأَدَاءِ وَمُنْتَهِيَةٌ بِالْعَجْزِ فَلَمَّا لَمْ يَكُنْ لِلْوَارِثِ إِبْطَالُهَا عَلَى الْمُوصَى لَهُ قَبْلَ الْعَجْزِ لَمْ يَكُنْ لِلْمُوصَى لَهُ أَنْ يُبْطِلَ مِلْكَ الْوَارِثِ بَعْدَ الْعَجْزِ

Keadaan ketiga adalah apabila pihak yang menerima wasiat meminta penangguhan agar ia dapat mengambil apa yang telah dituliskan untuknya, sedangkan ahli waris meminta agar penerima wasiat dinyatakan tidak mampu, sehingga ia menjadi ahli waris atas kepemilikannya. Maka, pendapat yang dipegang adalah pendapat ahli waris dalam hal ketidakmampuan, karena wasiat itu tergantung pada pelaksanaan dan berakhir dengan ketidakmampuan. Maka, ketika ahli waris tidak berhak membatalkan wasiat terhadap penerima wasiat sebelum ketidakmampuan, demikian pula penerima wasiat tidak berhak membatalkan kepemilikan ahli waris setelah ketidakmampuan.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ إِلَى تَعْجِيزِهِ وَيَدْعُوَ الْوَارِثُ إِلَى إِنْظَارِهِ فَلَيْسَ لِتَعْجِيزِ الْمُوصَى لَهُ فَائِدَةٌ تَعُودُ عَلَيْهِ فَلَا يُؤَثِّرُ تَعْجِيزَهُ وَيَكُونُ إِمْضَاءُ الْوَارِثِ أَمْضَى لِأَنَّ الْحَقَّ فِي التَّعْجِيزِ لَهُ وَيَكُونُ تَعْجِيزُ الْمُوصَى لَهُ مُبْطِلًا لِلْوَصِيَّةِ فِيمَا يُؤَدِّيهِ بَعْدَ الْإِنْظَارِ وَيَصِيرُ الْوَارِثُ أَحَقَّ بِهِ

Keadaan keempat adalah apabila penerima wasiat meminta agar pewasiat dipersulit, sedangkan ahli waris meminta agar diberi penangguhan. Maka, permintaan penerima wasiat untuk mempersulit tidak memberikan manfaat apa pun baginya, sehingga permintaan tersebut tidak berpengaruh. Penetapan dari pihak ahli waris lebih kuat, karena hak dalam hal mempersulit itu ada pada mereka. Permintaan penerima wasiat untuk mempersulit menjadi pembatal wasiat atas apa yang diberikan setelah penangguhan, dan ahli waris menjadi lebih berhak atasnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا أَوْصَى بِمَالِ كِتَابَتِهِ لِزَيْدٍ إِنْ أَدَّى وَبِرَقَبَتِهِ لعمروا إِنْ عَجَزَ صَحَّتِ الْوَصِيَّتَانِ فَإِنْ أَدَّى وَعَتَقَ اسْتَقَرَّتِ الْوَصِيَّةُ بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَبَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِالرَّقَبَةِ وَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَصَحَّتِ الْوَصِيَّةُ بِالرَّقَبَةِ فَإِنِ اخْتَلَفَ الْمُوصَى لَهُ بِالْكِتَابَةِ وَالْمُوصَى لَهُ بِالرَّقَبَةِ عِنْدَ عَجْزِهِ وَإِنْظَارِهِ وَتَعْجِيزِهِ فَذَلِكَ ضَرْبَانِ

Apabila seseorang berwasiat dengan harta pembayaran kitabah kepada Zaid jika ia mampu membayarnya, dan berwasiat dengan kepemilikan dirinya (budak) kepada ‘Amr jika ia tidak mampu, maka kedua wasiat tersebut sah. Jika ia mampu membayar dan dimerdekakan, maka wasiat dengan harta kitabah menjadi tetap, dan wasiat dengan kepemilikan diri batal. Namun jika ia tidak mampu dan tetap menjadi budak, maka wasiat dengan harta kitabah batal, dan wasiat dengan kepemilikan diri sah. Jika terjadi perselisihan antara penerima wasiat harta kitabah dan penerima wasiat kepemilikan diri terkait ketidakmampuan, penundaan, atau penetapan ketidakmampuan, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan.

أَحَدُهُمَا أَنْ يَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ بِالْكِتَابَةِ إِلَى إِنْظَارِهِ وَيَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ بِالرَّقَبَةِ إِلَى تَعْجِيزِهِ فَيَكُونَ الْمُوصَى لَهُ بِالرَّقَبَةِ فِي تَعْجِيزِهِ أَحَقَّ مِنَ الْمُوصَى لَهُ بِالْمَالِ فِي إِنْظَارِهِ فَتَصِحَّ الْوَصِيَّةُ بِالرَّقَبَةِ وَتَبْطُلَ الْوَصِيَّةُ بِالْكِتَابَةِ

Salah satunya adalah jika penerima wasiat berupa penulisan (kitābah) meminta penangguhan, sedangkan penerima wasiat berupa kepemilikan penuh (raqabah) meminta agar budak tersebut segera dijadikan tidak mampu (ta‘jīz). Maka, penerima wasiat berupa raqabah dalam permintaannya untuk ta‘jīz lebih berhak daripada penerima wasiat berupa harta dalam permintaannya untuk penangguhan. Dengan demikian, wasiat berupa raqabah menjadi sah, sedangkan wasiat berupa kitābah menjadi batal.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ بِالْكِتَابَةِ إِلَى تَعْجِيزِهِ وَيَدْعُوَ الْمُوصَى لَهُ بِالرَّقَبَةِ إِلَى إِنْظَارِهِ فَتَبْطُلَ الْوَصِيَّتَانِ جَمِيعًا بِالْكِتَابَةِ وَالرَّقَبَةَ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَاعٍ إِلَى إِبْطَالِ وَصِيتِهِ فَصَارَ مُبْطِلًا لَهَا وَيَعُودُ الْمُكَاتَبُ إِلَى الورثة فيكونوا فِيهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ إِنْظَارِهِ وَتَعْجِيزِهِ

Jenis kedua adalah apabila penerima wasiat berupa kitabah meminta agar mukatab dipercepat ketidakmampuannya, dan penerima wasiat berupa raqabah meminta agar ia diberi penangguhan. Maka kedua wasiat, baik kitabah maupun raqabah, menjadi batal seluruhnya, karena masing-masing dari mereka berusaha membatalkan wasiatnya sendiri, sehingga ia menjadi penyebab batalnya wasiat tersebut. Maka mukatab kembali kepada para ahli waris, dan mereka memiliki pilihan antara menangguhkan atau mempercepat ketidakmampuannya.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا وَصَّى بِمَا تَعَجَّلَهُ الْمُكَاتَبُ مِنْ مَالِ كِتَابَتِهِ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ وَكَانَتْ مُخْتَصَّةً بِمَا يُؤَدِّيهِ تَعْجِيلًا قَبْلَ حُلُولِهَا فَأَيُّ شَيْءٍ عَجَّلَ الْمُكَاتَبُ اسْتَحَقَّهُ الْمُوصَى لَهُ وَمَا أَدَّاهُ بَعْدَ حُلُولِهِ اسْتَحَقَّهُ الْوَارِثُ لِأَنَّ تَعْلِيقَ الْوَصَايَا بِالصِّفَاتِ الْمَجْهُولَةِ جَائِزٌ

Jika seseorang berwasiat dengan harta yang telah disegerakan pembayarannya oleh seorang mukatab dari harta perjanjian kitabahnya, maka wasiat tersebut sah dan khusus berlaku atas apa yang dibayarkan secara percepatan sebelum jatuh tempo. Maka, apa pun yang disegerakan pembayarannya oleh mukatab menjadi hak penerima wasiat, dan apa yang dibayarkan setelah jatuh tempo menjadi hak ahli waris, karena menggantungkan wasiat pada sifat-sifat yang tidak diketahui hukumnya diperbolehkan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Jika akad penulisan (kitābah) itu rusak, maka wasiat tersebut batal.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ بِمَالِ الْكِتَابَةِ لِأَنَّ بُطْلَانَهَا قَدْ أَسْقَطَ مَالَهَا مِنْ ذِمَّةِ الْمُكَاتَبِ فَصَارَ مُوصِيًا بِمَا لَا يَمْلِكُ وَلَكِنْ لَوْ قَالَ قَدْ أَوْصَيْتُ لَكَ بِمَا يُؤَدِّيهِ مُكَاتَبِي صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ وَإِنْ كَانَتِ الْكِتَابَةُ فَاسِدَةً لِأَنَّهُ يُؤَدِّي فِي الْكِتَابَةِ الْفَاسِدَةِ وَيَعْتِقُ كَمَا يُؤَدِّي فِي الصَّحِيحَةِ ويكون ذلك جَارِيًا مَجْرَى قَوْلِهِ فِي الْكِتَابَةِ الصَّحِيحَةِ قَدْ أَوْصَيْتُ لَكَ بِرَقَبَتِهِ فِي صِحَّةِ الْوَصِيَّتَيْنِ إِنْ عَجَزَ وَيَجْرِي قَوْلُهُ قَدْ وَصَّيْتُ لَكَ بِمَالِ كِتَابَتِهِ وَالْكِتَابَةُ فَاسِدَةٌ مَجْرَى قَوْلِهِ قَدْ وَصَّيْتُ لَكَ بِرَقَبَتِهِ وَالْكِتَابَةُ صَحِيحَةٌ فِي بُطْلَانِ الْوَصِيَّتَيْنِ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar apabila akad kitābah itu rusak, maka batal wasiat terhadap harta kitābah, karena kebatalannya telah menggugurkan hak harta tersebut dari tanggungan mukātab, sehingga ia menjadi orang yang berwasiat dengan sesuatu yang tidak ia miliki. Namun, jika ia berkata: ‘Aku telah mewasiatkan kepadamu apa yang akan dibayarkan oleh mukātabku,’ maka wasiat itu sah meskipun akad kitābahnya rusak, karena ia tetap membayar dalam akad kitābah yang rusak dan ia merdeka sebagaimana ia membayar dalam akad yang sah. Hal itu serupa dengan ucapannya dalam akad kitābah yang sah: ‘Aku telah mewasiatkan kepadamu kepemilikannya,’ sehingga kedua wasiat itu sah jika ia tidak mampu (membayar). Dan ucapannya: ‘Aku telah mewasiatkan kepadamu harta kitābahnya, sedangkan akad kitābahnya rusak,’ berlaku seperti ucapannya: ‘Aku telah mewasiatkan kepadamu kepemilikannya, sedangkan akad kitābahnya sah,’ dalam hal batalnya kedua wasiat tersebut.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ أَوْصَى بِرَقَبَتِهِ وَكِتَابَتُهُ فَاسِدَةٌ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّ الْوَصِيَّةَ بَاطِلَةٌ وَالثَّانِي أَنَّ الْوَصِيَّةَ جَائِزَةٌ قَالَ الْمُزَنِيُّ هَذَا أَشْبَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّهُ فِي مِلْكِهِ فَكَيْفَ لَا يَجُوزُ مَا صَنَعَ فِي مِلْكِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berwasiat dengan budaknya, sementara akad kitābah-nya rusak, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, wasiat tersebut batal. Kedua, wasiat tersebut sah.” Al-Muzani berkata: “Pendapat ini lebih sesuai dengan pendapat beliau, karena budak itu berada dalam kepemilikannya. Maka bagaimana mungkin tidak sah apa yang dilakukan seseorang terhadap miliknya sendiri?”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا عَلِمَ بِفَسَادِ كِتَابَتِهِ فَوَصَّى بِرَقَبَتِهِ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ قَوْلًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ وَصَّى بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ مَالِكُهُ فَأَمَّا إِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِفَسَادِ كِتَابَتِهِ حَتَّى وَصَّى بِرَقَبَتِهِ فَفِي صِحَّةِ وَصِيتِهِ قَوْلَانِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seseorang mengetahui bahwa akad pembebasan budaknya batal, lalu ia berwasiat dengan budak tersebut, maka wasiatnya sah menurut satu pendapat, karena ia berwasiat dengan sesuatu yang ia ketahui sebagai miliknya. Adapun jika ia tidak mengetahui bahwa akad pembebasan budaknya batal hingga ia berwasiat dengan budak tersebut, maka dalam kesahihan wasiatnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا أَنَّ الْوَصِيَّةَ بَاطِلَةٌ لِأَنَّهُ قَدْ وَصَّى بِمَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُهُ فَصَارَ مَقْصُودُهَا فَاسِدًا فَبَطَلَتْ وَصَارَ كَبَيْعِ الِابْنِ دَارَ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا ثُمَّ بَانَ أَنَّ أَبَاهُ مَاتَ وَكَانَ الِابْنُ وَارِثًا لَهَا لَمْ يَصِحَّ الْبَيْعُ وَإِنْ صَادَفَ مِلْكًا لِفَسَادِ الْمَقْصُودِ

Salah satu pendapat menyatakan bahwa wasiat tersebut batal karena ia telah berwasiat terhadap sesuatu yang diyakininya bukan miliknya, sehingga tujuan dari wasiat itu menjadi rusak dan wasiat tersebut menjadi batal. Keadaannya seperti seorang anak yang menjual rumah ayahnya, sementara ia meyakini bahwa rumah itu bukan miliknya, kemudian ternyata ayahnya telah meninggal dunia dan anak tersebut menjadi ahli waris rumah itu. Maka jual beli tersebut tidak sah, meskipun pada akhirnya barang itu menjadi miliknya, karena tujuan dari perbuatan itu telah rusak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ أَنَّ الْوَصِيَّةَ جَائِزَةٌ لِأَنَّهَا صَادَفَتْ مِلْكًا وَإِنْ جَهِلَهُ وَقَصَدَ خِلَافَهُ وَجَرَى مَجْرَى وَصِيَّتَهُ بِثَمَرَةِ بُسْتَانِهِ وَهُوَ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا ثَمَرَةَ فِيهِ تَصِحُّ الْوَصِيَّةُ مَعَ جَهْلِهِ وَقَصَدَ خِلَافَهُ فَصَارَ مَسْطُورَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُشْتَمِلًا عَلَى أَرْبَعِ مَسَائِلَ

Pendapat kedua, yang dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa wasiat itu sah karena wasiat tersebut mengenai suatu kepemilikan, meskipun ia tidak mengetahuinya dan bermaksud sebaliknya. Hal ini serupa dengan wasiat seseorang terhadap hasil kebun miliknya, sementara ia meyakini bahwa kebun tersebut tidak memiliki hasil; maka wasiat itu tetap sah meskipun ia tidak mengetahuinya dan bermaksud sebaliknya. Dengan demikian, apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam bab ini mencakup empat permasalahan.

أَحَدُهَا أَنْ يُوصِيَ بِرَقَبَتِهِ فِي كِتَابَةٍ صَحِيحَةٍ فَتَكُونُ الْوَصِيَّةُ بَاطِلَةً

Salah satunya adalah seseorang berwasiat agar dirinya (budaknya) dimerdekakan melalui suatu akad pembebasan yang sah, maka wasiat tersebut menjadi batal.

وَالثَّانِيَةُ أَنْ يُوصِيَ بِمَالِ كِتَابَتِهِ فِي كِتَابَةٍ فَاسِدَةٍ فَتَكُونَ الْوَصِيَّةُ صَحِيحَةً

Dan yang kedua adalah jika seseorang berwasiat dengan harta yang digunakan untuk akad kitabah yang rusak, maka wasiat tersebut tetap sah.

وَالثَّالِثَةُ أَنْ يُوصِيَ بِرَقَبَتِهِ فِي كِتَابِةٍ فَاسِدَةٍ فَتَكُونَ الْوَصِيَّةُ صَحِيحَةً

Dan yang ketiga adalah seseorang berwasiat untuk memerdekakan dirinya sendiri melalui akad pembebasan budak yang rusak, maka wasiat tersebut tetap sah.

وَالرَّابِعَةُ أَنْ يُوصِيَ بِمَالِ كِتَابَتِهِ فِي كِتَابَةٍ صَحِيحَةٍ فَتَكُونَ الْوَصِيَّةُ بَاطِلَةً

Keempat, apabila seseorang berwasiat dengan harta yang digunakan untuk akad kitābah dalam akad kitābah yang sah, maka wasiat tersebut menjadi batal.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَكْثَرَ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ وَمِثْلَ نِصْفِهِ وُضِعَ عَنْهُ أَكْثَرُ مِنَ النِّصْفِ بِمَا شَاءُوا وَمِثْلُ نِصْفِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Hapuskan darinya lebih banyak dari sisa utangnya dan sejumlah setengahnya,’ maka dihapuskan darinya lebih dari setengah sesuai yang mereka kehendaki, dan juga sejumlah setengahnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا إِذَا أَوْصَى الْمُكَاتَبُ بِأَكْثَرَ مِمَّا عَلَى مُكَاتَبِهِ كَانَتْ وَصِيَّتُهُ بِأَكْثَرَ مِنَ النِّصْفِ بِجُزْءٍ وَإِنْ قَلَّ لِأَنَّ مَا زَادَ عَلَى النِّصْفِ هُوَ أَكْثَرُ الْجُمْلَةِ وَلَوْ وَصَّى لَهُ بِأَكْثَرِ مَا عَلَيْهِ وَمِثْلَ نِصْفِهِ كَانَتْ وَصِيَّةً بِأَكْثَرَ مِنَ النِّصْفِ وَأَكْثَرَ مِنَ الرُّبُعِ لِأَنَّ الْأَكْثَرَ إِذَا كَانَ أَكْثَرَ مِنَ النِّصْفِ كَانَ نِصْفُهُ أَكْثَرَ مِنَ الرُّبُعِ فَيَكُونُ الْوَصِيَّةُ بِثَلَاثَةِ أَرْبَاعِ الْكِتَابَةِ وَجُزْءٌ نِصْفُ ذَلِكَ الْجُزْءِ

Al-Mawardi berkata: Adapun jika seorang mukatab berwasiat dengan jumlah yang lebih banyak dari apa yang menjadi tanggungan mukatabnya, maka wasiatnya dengan jumlah yang lebih banyak dari setengah tetap dihitung sebagai bagian, meskipun sedikit, karena apa yang melebihi setengah adalah bagian terbesar dari keseluruhan. Dan jika ia berwasiat kepadanya dengan jumlah yang lebih banyak dari apa yang menjadi tanggungannya dan juga sebesar setengahnya, maka wasiat itu berarti lebih dari setengah dan lebih dari seperempat, karena jika jumlah yang lebih banyak itu melebihi setengah, maka setengah dari jumlah itu pun lebih dari seperempat. Maka wasiat itu menjadi tiga perempat dari nilai kitabah dan sebagian, yaitu setengah dari bagian tersebut.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَكْثَرَ مَا عَلَيْهِ وَمِثْلَهُ وُضِعَ عَنْهُ الْكِتَابَةُ كُلُّهَا وَالْفَضْلُ بَاطِلٌ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Hapuskan darinya lebih dari apa yang menjadi tanggungannya dan sejumlah itu pula,’ maka seluruh kewajiban kitabah-nya dihapuskan, dan kelebihan (yang dihapuskan) itu batal.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّ الْأَكْثَرَ إِذَا كَانَ أَكْثَرَ مِنَ النِّصْفِ كَانَ ضِعْفُهُ أَكْثَرَ مِنَ الْكُلِّ فَصَارَ مُوصِيًا بِمَالِ الْكِتَابَةِ وَبَطَلَتْ فِيمَا لَا يَمْلِكُهُ مِنَ الزِّيَادَةِ

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, karena jika ‘yang lebih banyak’ itu melebihi setengah, maka dua kalinya akan melebihi keseluruhan, sehingga ia menjadi seperti orang yang berwasiat dengan harta kitabah, dan batal pada bagian tambahan yang bukan miliknya.”

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قَالَ الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا شَاءَ فَشَاءَهَا كُلَّهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ إِلَّا أَنْ يُبْقِيَ مِنْهَا شَيْئًا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Hapuskan darinya (utang) sebanyak yang dia kehendaki,’ lalu dia menghendaki seluruhnya, maka dia tidak memiliki hak kecuali untuk menyisakan sebagian darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَقَلَ الرَّبِيعُ فِيهَا شَرْطًا أَسْقَطَهُ الْمُزَنِيُّ فَالَّذِي نَقَلَهُ الرَّبِيعُ فِي الْأُمِّ وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا شَاءَ مِنْ كِتَابَتِهِ فَشَاءَهَا كُلَّهَا لَمْ يكن له إلا أن يبقي منه شَيْئًا وَهَذَا جَوَابٌ اتَّفَقَ عَلَيْهِ جَمِيعُ أَصْحَابِنَا وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي عِلَّتِهِ

Al-Mawardi berkata, “Ini adalah suatu masalah di mana Ar-Rabi‘ meriwayatkan adanya syarat yang dihapus oleh Al-Muzani. Adapun yang diriwayatkan oleh Ar-Rabi‘ dalam kitab Al-Umm: ‘Seandainya seseorang berkata, “Bebaskanlah darinya apa yang dia kehendaki dari penulisannya,” lalu ia menghendaki seluruhnya, maka ia tidak berhak kecuali menyisakan sebagian darinya.’ Ini adalah jawaban yang disepakati oleh seluruh ulama kami, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam hal ‘illat (alasan hukumnya).”

فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِأَنَّ الْوَضْعَ فِي الْمَعْرُوفِ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ يَتَنَاوَلُ بَعْضَ الشَّيْءِ وَإِبْقَاءَ بَعْضِهِ

Maka sebagian dari mereka berkata, “Karena penggunaan (kata) dalam kebiasaan percakapan manusia mencakup sebagian dari sesuatu dan menyisakan sebagian lainnya.”

وَقَالَ آخَرُونَ بَلِ الْعِلَّةُ فِيهِ أَنَّ لَفْظَةَ مِنْ مَوْضُوعَةٌ لِلتَّبْعِيضِ فَلِذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَضْعُ الْجَمِيعِ

Dan sebagian ulama lain berkata, “Sesungguhnya illat dalam hal ini adalah bahwa lafaz ‘min’ digunakan untuk menunjukkan sebagian, oleh karena itu ia tidak dapat digunakan untuk menunjukkan keseluruhan.”

وَأَمَّا الَّذِي نَقَلَهُ الْمُزَنِيُّ فَهُوَ لَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا شَاءَ فَشَاءَهَا كُلَّهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ نَقْلِهِ بِحَسْبَ اخْتِلَافِهِمْ فِي عِلَّةِ مَا نَقَلَهُ الرَّبِيعُ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى صِحَّةِ نَقْلِهِ وَأَنَّهُ إِذَا شَاءَ إِسْقَاطَ جَمِيعِ الْكِتَابَةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَتَّى يُبْقِيَ مِنْهَا شَيْئًا وَهَذَا قَوْلُ مَنْ عَلَّلَ مَسْأَلَةَ الرَّبِيعِ بِأَنَّ مَعْرُوفَ الْوَضْعِ أَنْ يُبْقِيَ شَيْئًا مِنَ الْأَصْلِ

Adapun apa yang dinukil oleh al-Muzani, yaitu jika seseorang berkata, “Hapuskan darinya apa yang kamu kehendaki,” lalu ia menghendaki untuk menghapus semuanya, maka itu tidak sah baginya. Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai keabsahan riwayatnya, sesuai dengan perbedaan mereka dalam sebab (‘illah) apa yang dinukil oleh ar-Rabi‘. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa riwayatnya sah, dan bahwa jika ia menghendaki untuk menggugurkan seluruh isi tulisan, maka itu tidak sah baginya sampai ia menyisakan sebagian darinya. Ini adalah pendapat orang yang mengaitkan permasalahan ar-Rabi‘ dengan bahwa kebiasaan dalam penghapusan adalah menyisakan sebagian dari pokoknya.

وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ سَهَا الْمُزَنِيُّ فِي نَقْلِهِ وَأَسْقَطَ قَوْلَهُ مِنْ كِتَابَتِهِ وَجَوَابُ نَقْلِهِ عِنْدَ إِسْقَاطِ مِنْ جَوَابُهُ إِذَا شَاءَ وَضْعَ جَمِيعِ الْكِتَابَةِ صَحَّ وَهَذَا جَوَابٌ عَنْ عِلَلِ مَسْأَلَةِ الرَّبِيعِ بِأَنَّ لَفْظَةَ مِنْ موضوعة للتبعيض

Dan sebagian yang lain berkata, “Justru al-Muzani telah lalai dalam penukilannya dan ia telah menghilangkan perkataannya dari tulisannya. Jawaban atas penukilannya ketika ia menghilangkan bagian dari jawabannya adalah bahwa jika ia menghendaki untuk menuliskan seluruh tulisan, maka itu sah. Dan ini adalah jawaban atas ‘illat (alasan) dalam masalah ar-Rabi‘, yaitu bahwa lafaz ‘min’ digunakan untuk menunjukkan sebagian.”

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَإِذَا قَالَ ضَعُوا عَنْهُ نَجْمًا مِنْ نُجُومِهِ كَانَ هَذَا مَرْدُودًا إِلَى اخْتِيَارِ الْوَارِثِ فِي وَضْعِ أَيِّ نَجْمٍ شَاءَ مِنْ قَلِيلِ النُّجُومِ أَوْ كَثِيرِهَا كَمَا لَوْ قَالَ أَعْطُوهُ عَبْدًا أعطوه أي عبد شاؤوا

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Hapuskan darinya satu bagian dari bagian-bagiannya (najm)’, maka hal ini dikembalikan kepada pilihan ahli waris untuk menghapuskan bagian mana saja yang mereka kehendaki, baik sedikit maupun banyak dari bagian-bagian tersebut, sebagaimana jika ia berkata, ‘Berikan kepadanya seorang budak’, maka mereka boleh memberikan budak mana saja yang mereka kehendaki.”

قال الماوردي وكذلك قوله ضعوا عنه أبي نَجْمٍ شِئْتُمْ فَأَمَّا إِذَا قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَيَّ نَجْمٍ شَاءَ كَانَ الْخِيَارُ إِلَى الْمُكَاتَبِ فِي أَنْ يُوضَعَ عَنْهُ أَيُّ نَجْمٍ شَاءَ مِنْ قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَضَعَ إِلَّا نَجْمًا وَاحِدًا لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ تَتَنَاوَلُ نَجْمًا وَاحِدًا

Al-Mawardi berkata: Demikian pula ucapannya, “Bebaskan darinya satu cicilan apa pun yang kalian kehendaki.” Adapun jika ia berkata, “Bebaskan darinya cicilan mana pun yang ia kehendaki,” maka hak memilih ada pada mukatab untuk membebaskan cicilan mana pun yang ia inginkan, baik yang sedikit maupun yang banyak. Namun, ia tidak boleh membebaskan kecuali satu cicilan saja, karena wasiat itu hanya mencakup satu cicilan.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَوْسَطَ نَجْمٍ مِنْ نُجُومِهِ فَالنُّجُومُ تَنْطَلِقُ عَلَى ثَلَاثَةٍ

Dan jika ia berkata, “Kurangi darinya bintang yang paling tengah dari bintang-bintangnya,” maka istilah “bintang-bintang” berlaku untuk tiga.

عَلَى عَدَدِهَا وَعَلَى أَجَلِهَا وَعَلَى قَدْرِهَا لَكِنَّهُ إِذَا قَالَ أَوْسَطُهَا انْطَلَقَ الْوَسَطُ عَلَى الْعَدَدِ لِأَنَّهُ تَعْدِيلٌ مَا بَيْنَ الْأَوَّلِ وَالْأَخِيرِ وَالْأَوَّلُ وَالْأَخِيرُ لَا يَنْطَلِقُ إِلَّا عَلَى الْعَدَدِ فَكَذَلِكَ الْوَسَطُ فَيَنْظُرُ فِي عَدَدِ النُّجُومِ فَإِنْ كَانَتْ وِتْرًا كَالثَّلَاثَةِ وَضَعَ عَنْهُ الثَّانِي وَإِنْ كَانَتْ خَمْسَةً وَضَعَ عَنْهُ الثَّالِثَ فَلَا يُوضَعُ عَنْهُ فِي وِتْرِ النُّجُومِ إِلَّا نَجْمًا وَاحِدًا لِأَنَّهُ يَتَعَدَّلُ بِهِ مَا يَبْقَى فِي الطَّرَفَيْنِ وَإِنْ كَانَتْ شَفْعًا لَزِمَ إِسْقَاطُ نَجْمَيْنِ فَإِنْ كَانَتْ أَرْبَعَةً أَسْقَطَ عَنْهُ الثَّانِي وَالثَّالِثَ وَإِنْ كَانَتْ سِتَّةً أَسْقَطَ عَنْهُ الثَّالِثَ وَالرَّابِعَ لِيَصِيرَ الْبَاقِي فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الطَّرَفَيْنِ مِثْلَ الْآخَرِ حَتَّى يَصِحَّ بِهِ إِسْقَاطُ الْوَسَطِ وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَطْوَلَ نَجْمٍ أَوْ أَقْصَرَ نَجْمٍ انْطَلَقَ عَلَى الْأَجَلِ لِأَنَّ لَفْظَ الطُّولِ وَالْقِصَرِ إِنَّمَا يَنْطَلِقُ عَلَى زَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ وَلَيْسَ فِي الْعَقْدِ مَكَانٌ فَانْطَلَقَ عَلَى الزَّمَانِ وَهُوَ الْأَجَلُ وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَكْثَرَ نَجْمٍ أَوْ أَقَلَّ نَجْمٍ انْطَلَقَ عَلَى الْقَدْرِ لِرُجُوعِ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ إِلَيْهِ

Berdasarkan jumlahnya, jangka waktunya, dan kadarnya. Namun, jika ia mengatakan “yang tengah di antara bintang-bintang itu”, maka yang dimaksud dengan “tengah” adalah pada jumlahnya, karena itu merupakan penyeimbang antara yang pertama dan yang terakhir. Adapun yang pertama dan yang terakhir tidak berlaku kecuali pada jumlah, demikian pula yang tengah. Maka, dilihat jumlah bintangnya; jika ganjil seperti tiga, maka yang dihapus adalah yang kedua; jika lima, maka yang dihapus adalah yang ketiga. Maka, dalam jumlah bintang yang ganjil, yang dihapus hanya satu bintang saja, karena dengan itu akan seimbang antara yang tersisa di kedua ujungnya. Jika jumlahnya genap, maka harus menghapus dua bintang; jika empat, maka yang dihapus adalah yang kedua dan ketiga; jika enam, maka yang dihapus adalah yang ketiga dan keempat, agar yang tersisa di masing-masing ujung sama dengan yang lain, sehingga penghapusan yang tengah menjadi sah. Jika ia berkata, “hapuskan bintang yang paling panjang atau paling pendek”, maka itu berlaku pada jangka waktu, karena istilah panjang dan pendek hanya berlaku pada waktu atau tempat, sedangkan dalam akad tidak ada tempat, maka yang dimaksud adalah waktu, yaitu jangka waktu. Jika ia berkata, “hapuskan bintang yang paling banyak atau paling sedikit”, maka itu berlaku pada kadar, karena sedikit dan banyak kembali kepada kadar.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِنْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ أَوْسَطَ نُجُومِهِ قَدْرًا لَمْ يَخْلُ حَالُ النُّجُومِ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ

Jika ia berkata, “Tentukanlah untuknya nilai rata-rata dari bintang-bintangnya,” maka keadaan bintang-bintang itu tidak lepas dari salah satu dari dua hal.

إِمَّا أَنْ تَتَسَاوَىَ أَوْ تَتَفَاضَلَ فَإِنْ تَسَاوَى الْمَالُ فِي كُلِّ نَجْمٍ بِأَنْ كَاتَبَهُ فِي كُلِّ نَجْمٍ عَلَى مِائَةِ دِرْهَمٍ وَجَبَ حَمْلُ الْوَصِيَّةِ عَلَى وَضْعِ أَوْسَطِ النُّجُومِ عَدَدًا فَإِنْ كَانَتْ وِتْرًا وُضِعَ عَنْهُ نَجْمٌ وَاحِدٌ وَإِنْ كَانَتْ شِفْعًا وَضَعَ عَنْهُ نَجْمَانِ لِأَنَّ تَسَاوِيَ الْمِقْدَارِ يَمْنَعُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَسَطٌ فَحُمِلَ عَلَى النُّجُومِ لِأَنَّ لَهَا وَسَطًا وَإِنْ تَفَاضَلَ مَالُ كُلِّ نَجْمٍ حُمِلَتِ الْوَصِيَّةُ عَلَى أَوْسَطِهَا قَدْرًا لِإِضَافَةِ الْوَسَطِ إِلَيْهِ وَأَنَّهُ يُمْكِنُ مَعَ التَّفَاضُلِ أَنْ يَكُونَ الْمِقْدَارُ وَسَطًا فَإِنْ كَانَتِ الْكِتَابَةُ عَلَى مِائَةٍ فِي النَّجْمِ الْأَوَّلِ وَمِائَتَيْنِ فِي النَّجْمِ الثَّانِي وَثَلَاثِمِائَةٍ فِي النَّجْمِ الثَّالِثِ وُضِعَ عَنْهُ نَجْمُ الْمِائَتَيْنِ وَوَافَقَ وَسَطَ الْمِقْدَارِ أَوْ وَسَطَ الْعَدَدِ وإن كان النجم الأول المائتين وَالثَّانِي ثَلَاثَمِائَةٍ وَالثَّالِثُ أَرْبَعَمِائَةِ دِرْهَمٍ وُضِعَ عَنْهُ المائتانفي النَّجْمِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ وَسَطُ الْمِقْدَارِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَسَطَ الْعَدَدِ وَلَوْ كَانَتِ الْكِتَابَةُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْجُمٍ فِي النَّجْمِ الْأَوَّلِ مِائَةٌ وَفِي الثَّانِي مِائَتَانِ وَفِي الثَّالِثِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَفِي الرَّابِعِ أَرْبَعُمِائَةٍ وُضِعَ عَنْهُ الثَّلَاثُمِائَةٍ لِتُوَسُّطِهَا فِيمَا زَادَ عَلَيْهَا وَنَقَصَ مِنْهَا وَلَوْ كَانَ فِي النَّجْمِ الْأَوَّلِ مِائَتَانِ وَالثَّانِي مِائَةٌ وَالثَّالِثُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَالرَّابِعُ مِائَتَانِ وُضِعَ عَنْهُ الْمِائَتَانِ فِي النَّجْمِ الْأَوَّلِ أو المئتان فِي النَّجْمِ الرَّابِعِ لِأَنَّهُمَا جَمِيعًا وَسَطٌ فِي الْقَدْرِ وَلَيْسَ أَحَدُهُمَا أَخَصَّ مِنَ الْآخَرِ فَأُسْقِطَا مَعًا وَفِي هَذَا الْفَصْلِ تَفْرِيعٌ يُدَقُّ فَحَذَفْنَاهُ اخْتِصَارًا

Entah jumlahnya sama atau berbeda. Jika jumlah harta pada setiap termin (najm) sama, misalnya ia menuliskan pada setiap termin seratus dirham, maka wasiat harus diberlakukan pada posisi tengah dari jumlah termin secara angka. Jika jumlahnya ganjil, maka dihapus satu termin; jika genap, maka dihapus dua termin, karena kesamaan jumlah menghalangi adanya posisi tengah, sehingga diberlakukan pada termin karena termin memiliki posisi tengah. Jika jumlah harta pada setiap termin berbeda, maka wasiat diberlakukan pada posisi tengah dari segi jumlah, karena posisi tengah dikaitkan dengannya, dan memungkinkan dengan perbedaan jumlah, ada jumlah yang menjadi posisi tengah. Misalnya, jika penulisan (akad) dilakukan atas seratus pada termin pertama, dua ratus pada termin kedua, dan tiga ratus pada termin ketiga, maka yang dihapus adalah termin dua ratus, karena itu adalah posisi tengah baik dari segi jumlah maupun angka. Jika termin pertama dua ratus, kedua tiga ratus, dan ketiga empat ratus dirham, maka yang dihapus adalah dua ratus pada termin pertama, karena itu posisi tengah dari segi jumlah, meskipun bukan posisi tengah dari segi angka. Jika penulisan dilakukan atas empat termin: termin pertama seratus, kedua dua ratus, ketiga tiga ratus, dan keempat empat ratus, maka yang dihapus adalah tiga ratus karena ia berada di tengah antara yang lebih dan yang kurang darinya. Jika pada termin pertama dua ratus, kedua seratus, ketiga tiga ratus, dan keempat dua ratus, maka yang dihapus adalah dua ratus pada termin pertama atau dua ratus pada termin keempat, karena keduanya sama-sama posisi tengah dari segi jumlah dan tidak ada yang lebih khusus dari yang lain, maka keduanya dihapus bersama. Pada bagian ini terdapat rincian yang sangat halus, namun kami hapus demi ringkasan.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا يَخِفُّ مِنْ نُجُومِهِ أَوْ مَا يَثْقُلُ مِنْ نُجُومِهِ فَهَذَا يُحْتَمَلُ أَنْ يَنْطَلِقَ عَلَى الْمِقْدَارِ لِأَنَّ قَلِيلَ الْمَالِ أَخَفُّ مِنْ كَثِيرِهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَنْطَلِقَ عَلَى الْأَجَلِ لِأَنَّ قَصِيرَ الْأَجَلِ أَثْقَلُ مِنْ طَوِيلِهِ لَكِنَّ انْطِلَاقَهُ عَلَى الْمِقْدَارِ أَغْلَبُ مِنَ انْطِلَاقِهِ عَلَى الْأَجَلِ وَإِنِ احْتَمَلَهُ فَوَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى أَغْلَبِ احْتِمَالَيْهِ فَيُوضَعُ عَنْهُ في آخر نُجُومِهِ أَقَلُّهَا قَدْرًا وَفِي أَثْقَلِ نُجُومِهِ أَكْثَرُهَا قَدْرًا وَلَكِنْ لَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا خَفَّ أَوْ مَا ثَقُلَ أَوْ قَالَ ضَعُوا عَنْهُ مَا قَلَّ أَوْ مَا كَثُرَ رَجَعَ فِيهِ إِلَى الْوَارِثِ لِيَضَعَ عَنْهُ مَا شَاءَ مِمَّا خَفَّ عَلَيْهِ أَوْ ثَقُلَ وَمَا شَاءَ فِيمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ لِأَنَّ الشَّيْءَ قَدْ يَكُونُ قَلِيلًا إِذَا أُضِيفَ إِلَى مَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْهُ وَكَثِيرًا إِذَا أُضِيفَ إِلَى مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْهُ وَإِذَا قَالَ لِمُكَاتَبِهِ إِذَا عَجَزْتَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَعَجَزَ فِي حَيَاتِهِ عَتَقَ وَإِنْ عَجَزَ بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَعْتِقْ لِأَنَّ إِطْلَاقَ الصِّفَةِ تُوجِبُ حَمْلَهَا عَلَى بَقَاءِ الْمِلْكِ كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ فَأَنْتَ حُرٌّ فَدَخَلَهَا فِي حَيَاةِ سَيِّدِهِ عَتَقَ وَلَوْ دَخَلَهَا بَعْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَعْتِقْ وَلَوْ قَالَ لِمُكَاتَبِهِ إِذَا عَجَزْتَ بَعْدَ مَوْتِي فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ بِعَجْزِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ لِأَنَّهُ عَلَّقَ عِتْقَهُ بِصِفَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا مَوْتُ السَّيِّدِ وَالثَّانِيَةُ عَجْزُ الْمُكَاتَبِ وَلَا يَمْنَعُ أَنْ يَكُونَ الْمَوْتُ صِفَةً فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ كَالتَّدْبِيرِ

Jika seseorang berkata, “Ringankan darinya apa yang ringan dari cicilannya” atau “Ringankan darinya apa yang berat dari cicilannya,” maka hal ini mungkin dimaksudkan pada jumlah (cicilan), karena sedikitnya harta lebih ringan daripada banyaknya, dan mungkin juga dimaksudkan pada jangka waktu, karena jangka waktu yang pendek lebih berat daripada yang panjang. Namun, kemungkinan makna pada jumlah lebih kuat daripada pada jangka waktu, meskipun keduanya mungkin. Maka wajib untuk mengambil makna yang paling kuat kemungkinannya, sehingga yang diringankan darinya pada cicilan terakhir adalah yang paling sedikit nilainya, dan pada cicilan yang paling berat adalah yang paling banyak nilainya. Namun, jika ia berkata, “Ringankan darinya apa yang ringan” atau “apa yang berat” atau berkata, “Ringankan darinya apa yang sedikit” atau “apa yang banyak,” maka dikembalikan kepada ahli waris untuk meringankan apa yang ia kehendaki dari yang ringan atau berat, dan apa yang ia kehendaki dari yang sedikit atau banyak, karena sesuatu bisa menjadi sedikit jika dibandingkan dengan yang lebih banyak darinya, dan bisa menjadi banyak jika dibandingkan dengan yang lebih sedikit darinya. Jika seseorang berkata kepada mukatabnya, “Jika kamu tidak mampu, maka kamu merdeka,” lalu ia tidak mampu saat tuannya masih hidup, maka ia merdeka. Namun jika ia tidak mampu setelah tuannya wafat, maka ia tidak merdeka, karena pengaitan sifat tersebut mengharuskan tetapnya kepemilikan, sebagaimana jika seseorang berkata kepada hambanya, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu merdeka,” lalu ia masuk rumah itu saat tuannya masih hidup, maka ia merdeka, dan jika ia masuk setelah tuannya wafat, maka ia tidak merdeka. Namun jika seseorang berkata kepada mukatabnya, “Jika kamu tidak mampu setelah aku wafat, maka kamu merdeka,” maka ia merdeka karena ketidakmampuannya setelah wafat, karena ia mengaitkan kemerdekaannya dengan dua sifat: yang pertama adalah wafatnya tuan, dan yang kedua adalah ketidakmampuan mukatab. Tidak mengapa kematian menjadi sifat dalam terjadinya kemerdekaan, sebagaimana dalam tadbir.

قَالَ أَصْحَابُنَا وَيَصِحُّ مِثْلُهُ فِي قَوْلِ السَّيِّدِ لِعَبْدِهِ إِذَا دَخَلْتَ الدَّارَ بَعْدَ مَوْتِي فَأَنْتَ حُرٌّ أَنْ يَعْتِقَ بِدُخُولِهَا بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ وَفِيهِ عِنْدِي نَظَرٌ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمُكَاتَبِ فَرْقٌ لِأَنَّ الْعَبْدَ مَوْرُوثٌ وَالْمُكَاتَبَ غَيْرُ مَوْرُوثٍ فَجَازَ أَنْ يُعْتَقَ الْمُكَاتَبُ بِالْعَجْزِ لِبَقَائِهِ عَلَى حُكْمِ مِلْكِ السَّيِّدِ وَلَمْ يُعْتَقِ الْعَبْدُ بِدُخُولِ الدَّارِ لِخُرُوجِهِ عَنْ مِلْكِ السَّيِّدِ وَإِذَا صَحَّ مَا قُلْنَاهُ فِي عِتْقِ الْمُكَاتَبِ بَعْدَ الْمَوْتِ نُظِرَ فِي ادِّعَائِهِ الْعَجْزَ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ حُلُولِ النَّجْمِ لَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّ الْعَجْزَ وَقْتَ الِاسْتِحْقَاقِ وَقَدْ يَجُوزُ وَإِنْ عَجَزَ قَبْلَهُ أَنْ يَسْتَفِيدَ عِنْدَ مَحَلِّهِ وَإِنِ ادَّعَى الْعَجْزَ عِنْدَ حُلُولِ النَّجْمِ اعْتَبَرَ مَا بِيَدِهِ فَإِنَّ مَعَهُ مَالَ النَّجْمِ لَمْ يُعْتَقْ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِعَاجِزٍ وَإِنْ كَانَ لَهُ تَعْجِيزُ نَفْسِهِ لِأَنَّهُ عَلَّقَ عِتْقَهُ بِالْعَجْزِ لَا بِالتَّعْجِيزِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِيَدِهِ مَالٌ فَالظَّاهِرُ عَجْزُهُ فَيَكُونُ الْقَوْلُ فِي الْعَجْزِ قَوْلُهُ مَعَ يَمِينِهِ إِنْ أَكْذَبَهُ الْوَارِثُ وَيَصِيرُ حُرًّا فَلَوْ قَدَرَ الْمُكَاتَبُ عَلَى نَجْمٍ وَعَجَزَ عَنْ آخَرَ كَانَ ذَلِكَ عَجْزًا لَا يُعْتَقُ بِهِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ عَجْزِهِ عَنْ جَمِيعِ النَّجْمِ أَوْ عَنْ أَقَلِّهِ فِي وُقُوعِ الْعِتْقِ بِهِ وَتَكُونُ قِيمَتُهُ مُحْتَسَبَةً عَلَى السَّيِّدِ مِنْ ثُلُثِهِ وَمَا أَخَذَهُ الْوَارِثُ مِنَ النُّجُومِ كَسْبٌ لَهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Para ulama kami berkata: Hal yang serupa juga sah dalam ucapan seorang tuan kepada hambanya, “Jika engkau masuk ke rumah setelah kematianku, maka engkau merdeka,” yaitu hamba tersebut menjadi merdeka dengan masuknya ke rumah setelah tuannya wafat. Namun, menurut saya, dalam hal ini terdapat perbedaan, dan antara kasus ini dengan kasus mukatab terdapat perbedaan, karena hamba adalah harta warisan, sedangkan mukatab bukan harta warisan. Maka, boleh jadi mukatab dimerdekakan karena ketidakmampuannya, sebab ia masih berada di bawah hukum kepemilikan tuan, sedangkan hamba tidak dimerdekakan dengan masuk ke rumah karena ia telah keluar dari kepemilikan tuan. Jika benar apa yang kami katakan tentang kemerdekaan mukatab setelah kematian (tuan), maka perlu dilihat pada pengakuan ketidakmampuannya. Jika pengakuan itu sebelum jatuh tempo pembayaran cicilan (najm), maka ia tidak dimerdekakan, karena ketidakmampuan itu dihitung pada waktu jatuh tempo, dan bisa jadi meskipun ia tidak mampu sebelumnya, ia memperoleh kemampuan saat jatuh tempo. Jika ia mengaku tidak mampu saat jatuh tempo, maka yang diperhitungkan adalah apa yang ada di tangannya; jika ia memiliki harta untuk membayar cicilan, maka ia tidak dimerdekakan karena ia tidak dianggap tidak mampu, meskipun ia mampu membuat dirinya sendiri tidak mampu, sebab kemerdekaannya digantungkan pada ketidakmampuan, bukan pada upaya membuat dirinya tidak mampu. Jika ia tidak memiliki harta di tangannya, maka yang tampak adalah ketidakmampuannya, sehingga dalam hal ini, pengakuan ketidakmampuannya diterima dengan sumpahnya jika ahli waris mendustakannya, dan ia menjadi merdeka. Jika mukatab mampu membayar satu cicilan dan tidak mampu membayar cicilan berikutnya, maka itu dianggap ketidakmampuan yang tidak menyebabkan kemerdekaan. Tidak ada perbedaan antara ketidakmampuannya membayar seluruh cicilan atau sebagian kecilnya dalam terjadinya kemerdekaan. Nilainya diperhitungkan atas tuan dari sepertiga hartanya, dan apa yang diambil ahli waris dari cicilan-cicilan tersebut menjadi keuntungan bagi mereka. Allah Maha Mengetahui.

Kitab tentang pembebasan umm al-walad dari kitab-kitab.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وإذا وَطِئَ أَمَتَهُ فَوَلَدَتْ مَا يَبِينُ أَنَّهُ مِنْ خَلْقِ الْآدَمِيِّينَ عَيْنٍ أَوْ ظُفْرٍ أَوْ أُصْبَعٍ فَهِيَ أُمُّ وَلَدٍ لَا تُخَالِفُ الْمَمْلُوكَةَ فِي أَحْكَامِهَا غَيْرَ أَنَّهَا لَا تَخْرُجُ مِنْ مِلْكِهِ في دين ولا غيره فإن مَاتَ عَتَقَتْ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ وَإِنْ لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهِ مِنْ خَلْقٍ آدَمِيٍّ سَأَلْنَا عُدُولًا مِنَ النِّسَاءِ فَإِنْ زَعَمْنَ أَنَّ هَذَا لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ خَلْقٍ آدَمِيٍّ كَانَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ فَإِنْ شَكَكْنَ لَمْ تَكُنْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang menggauli budak perempuannya lalu ia melahirkan sesuatu yang jelas merupakan bagian dari makhluk manusia, seperti mata, kuku, atau jari, maka budak itu menjadi umm walad dan tidak berbeda dengan budak biasa dalam hukum-hukumnya, kecuali bahwa ia tidak keluar dari kepemilikannya baik karena agama maupun sebab lainnya. Jika tuannya meninggal, maka ia merdeka dari harta peninggalan. Namun, jika pada yang dilahirkan itu tidak tampak adanya bagian dari makhluk manusia, maka kami meminta pendapat perempuan-perempuan yang adil. Jika mereka menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi kecuali dari makhluk manusia, maka budak itu menjadi umm walad karena hal tersebut. Tetapi jika mereka ragu, maka budak itu tidak menjadi umm walad karena hal itu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا أَوْلَدَ الْحَرُّ أَمَتَهُ فِي مِلْكِهِ وَصَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ انْتَشَرَتْ حُرْمَتُهُ إِلَيْهَا فِي شَيْئَيْنِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana ia berkata, “Jika seorang laki-laki merdeka menghamili budak perempuannya yang dimilikinya, lalu budak itu menjadi umm walad baginya—sebagaimana akan kami jelaskan—maka keharaman (hubungan) pun meluas kepadanya dalam dua hal.”

أَحَدُهُمَا تَحْرِيمُ بَيْعِهَا عَلَيْهِ

Salah satunya adalah haramnya menjualnya kepadanya.

وَالثَّانِي عِتْقُهَا بِمَوْتِهِ ثُمَّ هِيَ فِيمَا سِوَاهَا كَالْأَمَةِ

Kedua, ia (umm al-walad) menjadi merdeka karena kematian tuannya, kemudian dalam hal-hal selain itu, ia sama seperti budak perempuan biasa.

فَأَمَّا الْعِتْقُ بِالْمَوْتِ فَمُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَأَمَّا تَحْرِيمُ الْبَيْعِ فَمُخْتَلَفٌ فِيهِ فَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَالْفُقَهَاءِ أَنَّ بَيْعَهَا حَرَامٌ وَأَنَّ مِلْكَهَا لَا يَنْتَقِلُ عَنِ السَّيِّدِ إِلَى غَيْرِهِ

Adapun pembebasan budak karena kematian, maka hal itu telah disepakati. Sedangkan pengharaman jual beli (budak tersebut) masih diperselisihkan. Pendapat yang dipegang oleh jumhur sahabat, tabi’in—semoga Allah meridhai mereka—dan para fuqaha adalah bahwa menjualnya hukumnya haram dan kepemilikannya tidak berpindah dari tuannya kepada orang lain.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ جَوَّزَ بَيْعَهَا بِمَا قَالَهُ فِي الصَّحَابَةِ جَابِرٌ وَابْنُ الزُّبَيْرِ وَذَهَبَ إِلَيْهِ دَاوُدُ وَأَهْلُ الظَّاهِرِ وَالشِّيعَةُ فَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَدْ حُكِيَ عَنْهُ الْقَوْلَانِ حَكَى الْحِجَازِيُّونَ عَنْهُ تَحْرِيمَ بَيْعِهَا وَرَوَى الْعِرَاقِيُّونَ عَنْهُ جَوَازَهُ فَرَوَى الشَّعْبِيُّ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ اقْضُوا فِي أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ بِمَا كُنْتُمْ تَقْضُونَ فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُخَالِفَ أَصْحَابِي يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ

Orang-orang yang membolehkan penjualannya berdalil dengan apa yang dikatakan oleh para sahabat, yaitu Jabir dan Ibnu az-Zubair, dan pendapat ini juga dianut oleh Dawud, Ahluzh-Zhahir, dan Syiah. Adapun Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam, maka dari beliau terdapat dua pendapat: orang-orang Hijaz meriwayatkan darinya tentang haramnya penjualan tersebut, sedangkan orang-orang Irak meriwayatkan darinya kebolehannya. Asy-Sya‘bi meriwayatkan dari Ibnu Sirin dari Ali ‘alaihis salam bahwa beliau berkata, “Putuskanlah dalam perkara ummahātul-awlād sebagaimana kalian biasa memutuskan, karena aku tidak suka menyelisihi para sahabatku,” yang beliau maksud adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallāhu ‘anhum.

وَرَوَى الشَّعْبِيُّ عَنْ عَبِيدَةَ السَّلَمَانِيِّ عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ عَلَى مِنْبَرِ الْكُوفَةِ اجْتَمَعَ رَأْيِي وَرَأْيُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ عَلَى أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ لَا يُبَعْنَ وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَّ بَيْعَهُنَّ جَائِزٌ وَرُوِيَ عَنْ عَبِيدَةَ قَالَ قُلْتُ لَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ رَأْيَكَ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ رَأْيِكَ وَحْدَكَ فَسَكَتَ

Asy-Sya‘bi meriwayatkan dari ‘Ubaidah as-Salmani dari ‘Ali ‘alaihis salam bahwa ia berkata di mimbar Kufah: “Pendapatku, pendapat Abu Bakar, dan pendapat ‘Umar telah sepakat bahwa ummahāt al-awlād tidak boleh dijual. Namun aku berpendapat bahwa menjual mereka itu boleh.” Dan diriwayatkan dari ‘Ubaidah, ia berkata: “Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, pendapatmu bersama jamaah lebih aku sukai daripada pendapatmu sendiri.’ Maka ia pun diam.”

وَاسْتَدَلَّ مَنْ ذَهَبَ إِلَى جَوَازِ بَيْعِهِنَّ بِرِوَايَةِ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نبيع أمهات أَوْلَادِنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِلَى أَنْ نَهَانَا عُمَرُ عَنْ ذَلِكَ فَانْتَهَيْنَا

Orang-orang yang membolehkan jual beli mereka berdalil dengan riwayat ‘Aṭā’ dari Jābir, ia berkata: “Kami dahulu menjual ummahāt awlād kami sementara Rasulullah ﷺ masih berada di tengah-tengah kami, hingga ‘Umar melarang kami dari hal itu, maka kami pun berhenti.”

وَمَا ثَبَتَ جَوَازُهُ عَلَى عَهْدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَمْ يُحَرَّمْ بَعْدَهُ بِنَهْيِ غَيْرِهِ عَنْهُ وَلِأَنَّهَا لَمَّا كَانَتْ فِي عَامَّةِ أَحْكَامِهَا كَالْأَمَةِ وَجَبَ أَنْ تَكُونَ فِي جَوَازِ بَيْعِهَا كَالْأَمَةِ وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ بَيْعُهَا قَبْلَ الْعُلُوقِ وَجَبَ اسْتِصْحَابُ هَذَا الْحُكْمِ فِيمَا بَعْدَ الْوَضْعِ مَا لَمْ يُنْقَلْ عَنْهُ دَلِيلٌ قَاطِعٌ وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ أَوْلَدَهَا بِعَقْدِ نِكَاحٍ ثُمَّ مَلَكَهَا لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ بَيْعُهَا وَإِنْ كَانَتْ لَهُ أُمَّ وَلَدٍ كَذَلِكَ إِذَا أَوْلَدَهَا فِي مِلْكِهِ لِأَنَّهَا فِي الْحَالَيْنِ أُمُّ وَلَدٍ وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ أَنَّ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةَ وَكَانَتْ أُمَّ وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَوْلَدَهَا ابْنَهُ إِبْرَاهِيمَ مَاتَ عَنْهَا وَلَهُ سَنَتَانِ فَلَمَّا احْتَضَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ قَالَ مَا أُخَلِّفُ دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَا عَبْدًا وَلَا أَمَةً قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عنها فمارية فقالت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ تِلْكَ أَعْتَقَهَا وَلَدُهَا

Apa yang telah tetap kebolehannya pada masa Rasulullah ﷺ, tidak diharamkan setelahnya dengan larangan dari selain beliau. Karena ketika dalam kebanyakan hukumnya ia seperti amah (budak perempuan), maka wajib pula dalam kebolehan menjualnya seperti amah. Dan karena ketika telah boleh menjualnya sebelum hamil, maka wajib menetapkan hukum ini setelah melahirkan selama tidak ada dalil yang tegas yang meniadakannya. Dan jika seseorang menghamilinya melalui akad nikah lalu memilikinya, maka tidak haram baginya menjualnya, meskipun ia telah menjadi ummu walad baginya. Demikian pula jika ia menghamilinya dalam kepemilikannya, karena dalam kedua keadaan itu ia adalah ummu walad. Dalil kami adalah riwayat bahwa Mariyah al-Qibthiyyah, yang merupakan ummu walad Rasulullah ﷺ, melahirkan putranya Ibrahim, yang wafat darinya dalam usia dua tahun. Ketika Rasulullah ﷺ menjelang wafat, beliau bersabda, “Aku tidak meninggalkan dinar, dirham, budak laki-laki, maupun budak perempuan.” Aisyah ra. berkata, “Bagaimana dengan Mariyah?” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya.”

وَرَوَى عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ذُكِرَتْ مَارِيَةُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ فَقَالَ أَعْتَقَهَا وَلَدُهَا

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Maryam disebutkan kepada Rasulullah saw., lalu beliau bersabda, “Anaknya telah memerdekakannya.”

وَرَوَى ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ عَهِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُمَّ إِبْرَاهِيمَ حُرَّةٌ

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Al-Walid bin Abdurrahman, ia berkata: Nabi ﷺ berwasiat kepada Ali ra. bahwa Ummu Ibrahim adalah seorang wanita merdeka.

فَإِنْ قِيلَ فَهِيَ لَا تُعْتَقُ بِوَلَدِهَا وَإِنَّمَا تُعْتَقُ بِمَوْتِ سَيِّدِهَا فَلَمْ يَكُنْ فِي هَذَا الظَّاهِرِ دَلِيلٌ

Jika dikatakan: “Ia (umm al-walad) tidak merdeka karena anaknya, melainkan ia merdeka karena wafat tuannya, maka dalam zahir (teks) ini tidak terdapat dalil.”

قِيلَ إِنَّمَا يَتَحَرَّرُ عِتْقُهَا بِمَوْتِ السَّيِّدِ وَالْمُعْتِقُ لَهَا وَلَدُهَا فَصَارَ الْوَلَدُ هُوَ الْمُعْتِقَ لَهَا كَمَا لَوْ قَالَ لِعَبْدِهِ إِذَا مَاتَ زَيْدٌ فَأَنْتَ حُرٌّ عَتَقَ بِمَوْتِ زَيْدٍ وَكَانَ السَّيِّدُ هُوَ الْمُعْتِقَ وَرَوَى عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنَّهُ قَالَ   أَيُّمَا أَمَةٍ وَلَدَتْ مِنْ سَيِّدِهَا فَهِيَ حُرَّةٌ

Dikatakan bahwa kemerdekaannya baru terjadi setelah wafat tuannya, dan yang memerdekakannya adalah anaknya, sehingga anak tersebut menjadi orang yang memerdekakannya, sebagaimana jika seseorang berkata kepada hambanya, “Jika Zaid wafat, maka engkau merdeka,” maka hamba itu merdeka dengan wafatnya Zaid, dan tuan tersebut adalah yang memerdekakannya. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Siapa saja budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya, maka ia merdeka.”

وَرَوَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ   نَهَى عَنْ بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ وَقَالَ لَا يُبَعْنَ وَلَا يُرْهَنَّ وَلَا يُورَثْنَ يَسْتَمْتِعُ بِهَا فِي حَيَاتِهِ فَإِذَا مَاتَ فَهِيَ حُرَّةٌ

Abdullah bin Dinar meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ melarang menjual ummahāt al-awlād dan bersabda: “Mereka tidak boleh dijual, tidak boleh digadaikan, dan tidak boleh diwariskan. Seseorang dapat memanfaatkan mereka selama hidupnya, namun jika ia wafat, maka mereka menjadi merdeka.”

وَرُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نُصِيبُ السَّبَايَا وَنُحِبُّ الْأَثْمَانَ فَنَعْزِلُ عَنْهُنَّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وَمَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَفْعَلُوا فَمَا نَسْمَةٌ قَضَى اللَّهُ خَلْقَهَا إِلَّا وَهِيَ كَائِنَةٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ إِيلَادَهَا مَانِعٌ مِنْ جَوَازِ بَيْعِهَا

Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mendapatkan tawanan perempuan dan kami menyukai harganya, maka kami melakukan ‘azl terhadap mereka.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada masalah bagi kalian untuk tidak melakukannya, sebab tidak ada satu jiwa pun yang telah Allah tetapkan penciptaannya kecuali pasti akan terjadi.” Maka hal ini menunjukkan bahwa kehamilan pada budak perempuan menjadi penghalang dari bolehnya menjualnya.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ لَمَّا أَفَاقَ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ مِنْ إِغْمَائِهِ قَالَ اسْتَوْصُوا بِالْأُدْمِ الْجُعْدِ خَيْرًا يُكَرِّرُ ذَلِكَ مِرَارًا فَقَالُوا مَنِ الْأُدْمُ الْجُعْدُ قَالَ قِبْطُ مِصْرَ فَإِنَّهُمْ أَخْوَالٌ وَأَصْهَارٌ يُرِيدُ بِذَلِكَ قَوْمَ مَارِيَةَ أُمِّ وَلَدِهِ إِبْرَاهِيمَ لِيَكُونَ انْتِشَارُ الْحُرْمَةِ إِلَى قَوْمِهَا تَنْبِيهًا عَلَى ثُبُوتِ الْحُرْمَةِ لَهَا وَدَلِيلًا عَلَى ثُبُوتِهِ لِكُلٍّ مَنْ كَانَ بِمَثَابَتِهَا وَلِأَنَّهُ قَدْ كَانَ لِكَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أُمَّهَاتُ أَوْلَادٍ وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ بَاعَ أُمَّ وَلَدِهِ وَلَوْلَا انْتِشَارُ الْحَظْرِ بَيْنَهُمْ لَكَانَ ذَلِكَ مَوْجُودًا فيهم ومستعملا بينهم ولأن الإجماع منقعد عَلَى تَحْرِيمِ بَيْعِهَا فِي حَالِ الْحَمْلِ لِحُرْمَةٍ لَمْ يَتَحَقَّقْهَا فَكَانَ تَحْرِيمُ بَيْعِهَا بَعْدَ الْوَضْعِ لِحُرْمَةٍ مُتَحَقِّقَةٍ أَوْلَى

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika sadar dari pingsannya dalam sakit menjelang wafatnya, beliau bersabda: “Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada al-udm al-ju‘d, ” dan beliau mengulangi hal itu beberapa kali. Maka mereka bertanya, “Siapakah al-udm al-ju‘d itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang Qibthi Mesir, karena mereka adalah paman dan kerabat melalui pernikahan.” Yang beliau maksud adalah kaum Mariyah, ibu dari anak beliau, Ibrahim, agar tersebarnya kehormatan kepada kaumnya menjadi penegasan atas tetapnya kehormatan bagi dirinya, dan sebagai dalil atas tetapnya kehormatan itu bagi setiap orang yang kedudukannya serupa dengannya. Karena banyak dari kalangan sahabat dan tabi‘in radhiyallahu ‘anhum yang memiliki umm walad, dan tidak dinukil dari seorang pun di antara mereka bahwa ia menjual umm walad-nya. Seandainya larangan itu tidak tersebar di antara mereka, tentu hal itu akan ditemukan dan dipraktikkan di tengah mereka. Selain itu, ijmā‘ telah terwujud atas haramnya menjual umm walad dalam keadaan hamil karena adanya kehormatan yang belum benar-benar terwujud, maka pengharaman menjualnya setelah melahirkan karena kehormatan yang sudah benar-benar terwujud tentu lebih utama.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ جَابِرٍ فَمِنْ وَجْهَيْنِ

Adapun jawaban terhadap hadis Jabir adalah dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى فِعْلِ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ بِنَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَوْ لَمْ يَعْلَمِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ بِفِعْلِهِمْ لَهُ

Salah satu penjelasannya adalah bahwa hal itu dimaknai sebagai perbuatan orang yang tidak mengetahui larangan Nabi ﷺ, atau Nabi ﷺ tidak mengetahui perbuatan mereka tersebut.

وَالثَّانِي أَنْ يُحْمَلَ عَلَى أُمَّهَاتِ أَوْلَادٍ وَلَدْنَ بَعْدَ نِكَاحٍ مِنْ غَيْرِ مِلْكٍ ألا ترى أن عمر رضي الله عنها لَمَّا نَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ تَقَبَّلُوا نَهْيَهُ وَلَوْ كَانَ شَرْعًا مُبَاحًا لَقَالُوهُ وَخَالَفُوهُ

Dan pendapat kedua adalah bahwa yang dimaksud adalah ummahāt awlād (budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya) yang melahirkan setelah terjadi pernikahan tanpa adanya kepemilikan. Tidakkah engkau melihat bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu ketika melarang mereka dari hal itu, mereka menerima larangannya, dan seandainya hal itu merupakan syariat yang dibolehkan, niscaya mereka akan mengatakannya dan menentangnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِصْحَابِهِمْ لِحُكْمِ مَا قَبْلَ الْعُلُوقِ فَهُوَ أن اختلافهما في الحرمة توجب اخْتِلَافَهُمَا فِي الْحُكْمِ ثُمَّ اسْتِصْحَابَ حُكْمِهَا فِي حَالِ الْحَمْلِ إِلَى مَا بَعْدَ الْوِلَادَةِ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا لِأَنَّهَا أَقْرَبُ الْحَالَتَيْنِ

Adapun jawaban terhadap istishab mereka atas hukum sebelum kehamilan adalah bahwa perbedaan mereka dalam hal keharaman mengharuskan adanya perbedaan hukum di antara keduanya. Kemudian, istishab hukum pada masa kehamilan hingga setelah kelahiran lebih utama untuk dianggap sebagai pertimbangan, karena kedua keadaan tersebut lebih dekat satu sama lain.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِإِيلَادِهَا فِي عَقْدِ نِكَاحٍ فَهُوَ أَنَّ وَلَدَهَا فِي النِّكَاحِ كَانَ مَمْلُوكًا لم يثبت له الحرية فلذلك ثم تَنْتَشِرْ حُرْمَتُهُ إِلَيْهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَوَلَدَهَا فِي الْمِلْكِ حُرٌّ فَانْتَشَرَتْ حُرْمَتُهُ إِلَيْهَا فِي ثُبُوتِ الْحُرِّيَّةِ وَإِنَّمَا صَارَ وَلَدُهُ مِنَ النِّكَاحِ مَمْلُوكًا وَمِنَ الْمِلْكِ حُرًّا لِأَنَّ الْوَلَدَ مَخْلُوقٌ مِنْ مَائِهِ وَمَائِهَا وَمَاؤُهَا حَقٌّ لِسَيِّدِهَا فَتَبِعَهُ مَاءُ الرَّجُلِ لِأَنَّ الْوَلَدَ تَبَعٌ لِأُمِّهِ فَصَارَ الْمَاءَانِ فِي النِّكَاحِ مِلْكًا لِغَيْرِهِ فَانْعَقَدَ الْوَلَدُ مَمْلُوكًا وَصَارَ فِي أَمَتِهِ مِلْكًا لِنَفْسِهِ فَانْعَقَدَ الْوَلَدُ حُرًّا وَإِذَا صَارَ بَعْضُهَا حُرًّا جَازَ أَنْ يَسْرِيَ حُكْمُهُ إِلَيْهَا فِي الْحُرِّيَّةِ وَفِي هَذَا الِانْفِصَالِ اسْتِدْلَالٌ عَلَى الْأَصْلِ وَقَدْ نَبَّهَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَهْيِهِ وَقَالَ كَيْفَ نَبِيعُهُنَّ وَقَدْ خَالَطَتْ لُحُومُنَا لُحُومَهُنَّ وَدِمَاؤُنَا دِمَاءَهُنَّ

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan kelahiran anak dari akad nikah adalah bahwa anak yang lahir dari pernikahan itu berstatus sebagai budak, belum tetap baginya kemerdekaan, sehingga keharaman (menikahi ibunya) tidak meluas kepadanya dalam hal kemerdekaan. Sedangkan anak yang lahir dari kepemilikan (budak perempuan) adalah merdeka, sehingga keharamannya meluas kepadanya dalam penetapan kemerdekaan. Anak dari pernikahan menjadi budak dan dari kepemilikan menjadi merdeka karena anak itu tercipta dari air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan air mani perempuan adalah hak tuannya, sehingga air mani laki-laki mengikuti (status) air mani perempuan, karena anak itu mengikuti ibunya. Maka kedua air mani dalam pernikahan menjadi milik orang lain, sehingga anak itu menjadi budak. Sedangkan pada budak miliknya sendiri, maka anak itu menjadi merdeka. Jika sebagian dari dirinya menjadi merdeka, maka boleh hukum kemerdekaan itu meluas kepadanya. Dalam penjelasan ini terdapat dalil atas asal hukum, dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah mengingatkan makna ini ketika melarangnya dan berkata, “Bagaimana kita menjual mereka, padahal daging kita telah bercampur dengan daging mereka dan darah kita dengan darah mereka?”

فَصْلٌ

Fasal

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنِ انْتِشَارِ حُرْمَتِهَا وَتَحْرِيمِ بَيْعِهَا فَالْكَلَامُ فِيهَا مُشْتَمِلٌ عَلَى فَصْلَيْنِ

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan mengenai tersebarnya keharamannya dan diharamkannya jual belinya, maka pembahasan tentangnya mencakup dua bagian.

أَحَدُهُمَا فِيمَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ

Salah satunya adalah mengenai hal-hal yang menyebabkan seorang perempuan menjadi umm walad.

وَالثَّانِي فِي حُكْمِهَا بَعْدَ كَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ

Dan yang kedua adalah tentang hukumnya setelah ia menjadi umm walad.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِيمَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ فَهُوَ أَنْ تَضَعَ مِنْ سَيِّدِهَا مَا انْعَقَدَ خَلْقُ الْوَلَدِ فِيهِ وَهُوَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ

Adapun bagian pertama mengenai hal-hal yang menyebabkan seorang perempuan menjadi umm walad adalah apabila ia melahirkan dari tuannya anak yang telah terbentuk penciptaannya, dan hal ini terbagi menjadi lima bagian.

أَحَدُهَا وَهُوَ أَكْمَلُ أَحْوَالِهَا أَنْ تَضَعَ وَلَدًا كَامِلًا فِي خَلْقِهِ وَزَمَانِهِ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى أَوْ خُنْثَى فَتَصِيرَ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ سَوَاءٌ ثَبَتَتْ حُرْمَةُ الْوَلَدِ بِالْحَيَاةِ أَوْ لَمْ تَثْبُتْ لَهُ الْحُرْمَةُ بِإِلْقَائِهِ مَيِّتًا وَيَتَعَلَّقْ بِالْوَلَدِ إِنْ وَضَعَتْهُ حَيًّا أَرْبَعَةُ أحكام الْمِيرَاثُ وَوُجُوبُ الدِّيَةِ وَالْكَفَّارَةُ وَتَنْقَضِي بِهِ الْعِدَّةُ

Salah satu di antaranya, dan ini adalah keadaan yang paling sempurna, yaitu ketika seorang perempuan melahirkan anak yang sempurna penciptaannya dan waktunya, baik laki-laki, perempuan, maupun khuntsa, maka dengan kelahiran itu ia menjadi umm walad. Baik keharaman anak itu telah tetap karena hidupnya, maupun belum tetap karena ia dilahirkan dalam keadaan mati. Dan berkaitan dengan anak tersebut, jika ia dilahirkan dalam keadaan hidup, maka ada empat hukum yang berlaku: waris, wajibnya diyat, kafarat, dan selesainya masa iddah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ تَضَعَ عُضْوًا مِنَ الْوَلَدِ كَرَأْسٍ أَوْ يَدٍ أَوْ رِجْلٍ أَوْ عَيْنٍ أَوْ إِصْبَعٍ أَوْ ظُفْرٍ فَتَصِيرَ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِأَنَّ الْعُضْوَ لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ جَسَدِ الْوَلَدِ فَصَارَ الْبَعْضُ مِنْهُ دَالًّا عَلَى وُجُودِهِ فَثَبَتَتْ بِهِ حُرْمَةُ الْوِلَادَةِ وَيَتَعَلَّقُ بِهِ ثَلَاثَةُ أَحْكَامٍ وُجُوبُ الْغُرَّةِ وَالْكَفَّارَةُ وَانْقِضَاءُ الْعِدَّةِ

Bagian kedua adalah apabila yang keluar dari anak itu adalah salah satu anggota tubuh, seperti kepala, tangan, kaki, mata, jari, atau kuku, maka dengan keluarnya anggota tersebut, ia menjadi umm walad. Sebab, anggota tubuh itu tidak mungkin berasal kecuali dari jasad anak, sehingga sebagian darinya menunjukkan adanya anak tersebut. Dengan demikian, berlaku hukum keharaman kelahiran, dan terkait dengannya ada tiga hukum: wajib membayar ghurrah, kafarat, dan berakhirnya masa iddah.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَضَعَ جَسَدًا فِيهِ خَلْقٌ جَلِيٌّ قَدْ تَصَوَّرَ فِي الْعُيُونِ لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ كُلُّ مَنْ شَاهَدَهُ مِنْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ فَتَصِيرَ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِانْعِقَادِهِ وَلَدًا وَتَتَعَلَّقُ به الأحكام الثلاثة مع وُجُوبِ الْغُرَّةِ وَالْكَفَّارَةِ وَانْقِضَاءِ الْعِدَّةِ

Bagian ketiga adalah jika diletakkan jasad yang di dalamnya terdapat bentuk penciptaan yang jelas, yang telah terbentuk dalam pandangan mata, sehingga tidak ada perbedaan pendapat di antara semua orang yang melihatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Maka dengan itu, ia menjadi umm walad karena telah terwujud sebagai anak, dan tiga hukum pun terkait dengannya, yaitu wajibnya membayar ghurrah, kafarat, dan berakhirnya masa iddah.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ أَنْ تَضَعَ جَسَدًا فِيهِ مِنْ تَخْطِيطِ الْخَلْقِ الْخَفِيِّ مَا لَا يَعْرِفُهُ إِلَّا قَوَابِلُ النِّسَاءِ وَرُبَّمَا اخْتَبَرَتْهُ بِالْمَاءِ الْجَارِي فَبَانَ فَإِذَا شَهِدَ أَرْبَعٌ مِنْ عُدُولِ النِّسَاءِ أَنَّ فِيهِ ابْتِدَاءً لِتَخْطِيطِ الْخَلْقِ وَمَبَادِئِ أَشْكَالِ الصُّوَرِ سُمِعَتْ فِيهِ شَهَادَتَانِ وَصَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِانْعِقَادِهِ وَلَدًا وَإِنْ لَمْ يَكْمُلْ وَتَتَعَلَّقْ بِهِ الْأَحْكَامُ الثَّلَاثَةُ مِنْ وُجُوبِ الْغُرَّةِ وَالْكَفَّارَةِ وَانْقِضَاءِ الْعِدَّةِ

Bagian keempat adalah apabila terdapat jasad di dalamnya yang pada garis besar penciptaan yang samar tidak diketahui kecuali oleh para bidan perempuan, dan terkadang mereka mengujinya dengan air yang mengalir sehingga menjadi jelas. Apabila empat orang perempuan yang adil bersaksi bahwa di dalamnya terdapat permulaan garis besar penciptaan dan awal bentuk-bentuk rupa, maka diterima dua kesaksian di dalamnya, dan perempuan itu menjadi umm walad karena telah terwujudnya anak, meskipun belum sempurna, dan tiga hukum pun berlaku padanya: wajib membayar ghurrah, kafarat, dan berakhirnya masa iddah.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ أَنْ تَضَعَ جَسَدًا هُوَ مُضْغَةٌ لَيْسَ فِيهِ خَلْقٌ جَلِيٌّ وَلَا خَفْيٌّ وَلَا تَشَكَّلَ لَهُ عُضْوٌ وَلَا تَخَطَّطَ لَهُ صُورَةٌ فَظَاهِرُ ما قاله الشافعي هنا هنا أَنَّهَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَقَالَ فِي كِتَابِ الْعَدَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ بِهِ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فَمِنْهُمْ مَنْ خَرَّجَ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ

Bagian kelima adalah jika yang keluar adalah jasad berupa segumpal daging (mudhghah) yang tidak tampak padanya bentuk penciptaan yang jelas maupun samar, tidak terbentuk anggota tubuh, dan tidak tergambar rupa padanya. Maka, secara lahiriyah dari apa yang dikatakan Imam Syafi‘i di sini adalah bahwa perempuan tersebut menjadi umm walad karenanya. Dan beliau berkata dalam Kitab al-‘Adad sesuatu yang menunjukkan bahwa masa ‘iddah selesai dengannya. Para ulama kami berbeda pendapat; di antara mereka ada yang mengeluarkan permasalahan ini menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَتَنْقَضِي بِهِ الْعِدَّةُ لِانْعِقَادِهِ جَسَدًا فَعَلَى هَذَا يَتَعَلَّقُ بِهِ بَعْدَ مَصِيرِهَا أُمَّ وَلَدٍ الْأَحْكَامُ الثَّلَاثَةُ مِنْ وُجُوبِ الْغُرَّةِ وَالْكَفَّارَةِ وَانْقِضَاءِ الْعِدَّةِ

Salah satunya adalah yang dengannya seorang perempuan menjadi umm walad dan masa iddah berakhir karena telah terbentuknya janin menjadi jasad. Berdasarkan hal ini, setelah perempuan tersebut menjadi umm walad, maka tiga hukum berikut berkaitan dengannya: wajib membayar ghurrah, kewajiban kafarah, dan berakhirnya masa iddah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ ولا تصير به أم ولدولا تَنْقَضِي الْعِدَّةُ بِهِ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ لأنه لم يصر ولدا ولاى تَثْبُتُ لَهُ حُرْمَةٌ وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا تنقضي به العدة عَلَى الظَّاهِرِ مِنْ قَوْلِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa dengan hal itu tidaklah seorang perempuan menjadi umm walad, tidak pula menjadi umm walad karenanya, masa iddah pun tidak selesai dengannya, dan tidak ada hukum yang terkait dengannya, karena ia belum menjadi anak dan belum tetap baginya kehormatan. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa masa iddah selesai dengannya, sebagaimana zahir dari perkataannya dalam dua tempat tersebut.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ تَنْقَضِي بِهِ الْعِدَّةُ وَلَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ أَنَّ مَقْصُودَ الْعِدَّةِ اسْتِبْرَاءٌ وَذَلِكَ مَوْجُودٌ فِيمَا وَضَعَتْهُ وَالْمَقْصُودُ بِكَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ انْتِشَارُ حُرْمَةِ الْوَلَدِ إِلَيْهَا وَلَا حُرْمَةَ لِمَا وَضَعَتْهُ فَعَلَى هَذَا لَا يَتَعَلَّقُ بِمَا وَضَعَتْهُ حُكْمٌ سِوَى الْعِدَّةِ وَلَا تَجِبُ فِيهِ غُرَّةٌ وَلَا كَفَّارَةٌ

Perbedaan antara selesainya masa ‘iddah dengan sebab itu dan tidak menjadi umm walad dengan sebab itu adalah bahwa tujuan dari ‘iddah adalah untuk memastikan rahim bersih, dan hal itu telah tercapai pada apa yang telah dilahirkan. Sedangkan tujuan dari status sebagai umm walad adalah tersebarnya kehormatan anak kepada ibunya, sementara tidak ada kehormatan pada apa yang telah dilahirkan itu. Oleh karena itu, tidak ada hukum yang berkaitan dengan apa yang telah dilahirkan selain hukum ‘iddah, dan tidak wajib membayar diyat ringan (ghurrah) maupun kafarat atasnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي حُكْمِهَا بَعْدَ كَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ فَيَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ

Adapun bagian kedua membahas hukum-hukumnya setelah ia menjadi umm walad, yang mencakup dua subbagian.

أَحَدُهُمَا حُكْمُهَا فِي حَيَاةِ السَّيِّدِ وَالثَّانِي حُكْمُهَا بَعْدَ مَوْتِهِ

Salah satunya adalah hukum budak perempuan selama tuannya masih hidup, dan yang kedua adalah hukumnya setelah tuannya meninggal.

فَأَمَّا حُكْمُهَا فِي حَيَاتِهِ فَتَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ

Adapun hukum-hukumnya pada masa hidupnya terbagi menjadi empat bagian.

أَحَدُهَا مَا كَانَتْ فِيهِ كَالْحُرَّةِ وَذَلِكَ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ فِي الْبَيْعِ وَالرَّهْنِ وَالْهِبَةِ فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهَا وَلَا رَهْنُهَا وَلَا هِبَتُهَا وَقَدْ دَلَّلْنَا عَلَى الْبَيْعِ وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى الْمَنْعِ مِنَ الرَّهْنِ وَالْهِبَةِ

Salah satunya adalah dalam hal di mana ia (budak perempuan) diperlakukan seperti perempuan merdeka, yaitu dalam tiga perkara: jual beli, gadai, dan hibah. Maka tidak boleh menjualnya, tidak boleh menggadaikannya, dan tidak boleh memberikannya sebagai hibah. Kami telah memberikan dalil tentang jual beli, dan di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan larangan terhadap gadai dan hibah.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي مَا كَانَتْ فِيهِ كَالْأَمَةِ وَذَلِكَ فِي سِتَّةِ أَشْيَاءَ مِلْكِ السَّيِّدِ لِأَكْسَابِهَا بِعَقْدِ إِجَارَةٍ وَغَيْرِ إِجَارَةٍ

Bagian kedua adalah apa yang statusnya seperti budak perempuan, yaitu dalam enam hal: kepemilikan tuan atas hasil usahanya, baik melalui akad ijarah maupun selain ijarah.

وَالثَّانِي الْتِزَامُ نَفَقَتِهَا وَكِسْوَتِهَا

Dan yang kedua adalah kewajiban menanggung nafkah dan pakaian untuknya.

وَالثَّالِثُ اسْتِبَاحَةُ وَطْئِهَا

Dan yang ketiga adalah kebolehan melakukan hubungan suami istri dengannya.

وَالرَّابِعُ فِي الْعِدَّةِ إِنْ وَجَبَتْ عَلَيْهَا

Dan yang keempat adalah masa ‘iddah, jika memang diwajibkan atasnya.

وَالْخَامِسُ فِي شَهَادَتِهَا

Kelima, dalam kesaksiannya.

وَالسَّادِسُ فِي الْجِنَايَةِ عَلَيْهَا فَتَكُونُ فِي هَذِهِ الْأَحْكَامِ السِّتَّةِ كَالْأَمَةِ

Keenam, dalam hal tindak pidana terhadapnya, maka dalam enam hukum ini, statusnya seperti budak perempuan (amah).

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا خَالَفَتْ فِيهِ حُكْمَ الْحُرَّةِ وَالْأَمَةِ وَذَلِكَ فِي جِنَايَتِهَا خَطَأٌ يَضْمَنُهَا السَّيِّدُ وَيَكُونُ فِي رَقَبَةِ الْأَمَةِ وَذِمَّةِ الْحُرَّةِ أَوْ عَلَى عَاقِلَتِهَا

Bagian ketiga adalah perkara yang di dalamnya terdapat perbedaan hukum antara perempuan merdeka (ḥurrah) dan budak perempuan (amah), yaitu dalam kasus jinayah (tindak pidana) yang dilakukan secara tidak sengaja. Dalam hal ini, tanggung jawabnya ditanggung oleh tuan (sayyid) dan berlaku atas diri budak perempuan (raqabah al-amah) serta tanggungan perempuan merdeka (dzimmah al-ḥurrah), atau dibebankan kepada ‘āqilah-nya.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِيهِ وَذَلِكَ فِي تَزْوِيجِهِ لَهَا وَسَيَأْتِي حُكْمُهُ مِنْ بَعْدُ

Bagian keempat adalah perkara yang pendapat para ulama berbeda di dalamnya, yaitu mengenai pernikahan yang dilakukan olehnya untuk wanita tersebut, dan hukum terkait hal ini akan dijelaskan setelahnya.

فَصْلٌ

Bagian

وَأَمَّا حُكْمُهَا بَعْدَ مَوْتِ السَّيِّدِ فَهُوَ تَحْرِيرُ عِتْقِهَا بِمَوْتِهِ سَوَاءٌ مَاتَ مُوسِرًا أَوْ مُعْسِرًا أَوْ تَكُونُ مُعْتَقَةً مِنْ رَأْسِ مَالِهِ لَا مِنْ ثُلُثِهِ سَوَاءٌ أَوْلَدَهَا فِي الصِّحَّةِ أَوْ فِي الْمَرَضِ

Adapun hukum tentangnya setelah wafatnya tuan (pemilik), maka ia (umm al-walad) menjadi merdeka karena wafatnya tuan, baik tuan tersebut wafat dalam keadaan kaya maupun miskin, dan ia dimerdekakan dari seluruh harta peninggalannya, bukan hanya sepertiganya, baik ia melahirkan anak dalam keadaan sehat maupun saat sakit.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا كَانَتِ الْوِلَادَةُ هِيَ الْمُوجِبَةَ لِعِتْقِهَا فَهَلَّا تَحَرَّرَ عِتْقُهَا بِالْوِلَادَةِ وَلَمْ يُنْتَظَرْ بِهِ مَوْتُ السَّيِّدِ

Jika dikatakan: Jika kelahiran adalah sebab yang mewajibkan pembebasan budak perempuan itu, mengapa pembebasannya tidak terjadi langsung dengan kelahiran, dan justru harus menunggu sampai tuannya meninggal?

قِيلَ لِأَمْرَيْنِ

Dikatakan karena dua hal.

أَحَدُهُمَا أَنَّ لَهَا حَقًّا بِالْوِلَادَةِ وَلِلسَّيِّدِ حَقٌّ بِالْمِلْكِ وَفِي تَعْجِيلِ حَقِّهَا إِبْطَالٌ لِحَقِّ السَّيِّدِ مِنَ الْكَسْبِ وَالِاسْتِمْتَاعِ وَفِي تَعْلِيقِهِ بِمَوْتِ السَّيِّدِ حِفْظٌ لِلْحَقَّيْنِ فَكَانَ أَوْلَى

Salah satunya adalah bahwa ia (umm al-walad) memiliki hak karena melahirkan, sedangkan tuan memiliki hak karena kepemilikan. Jika haknya disegerakan, maka hal itu akan membatalkan hak tuan atas hasil usaha dan kenikmatan. Namun jika hak itu digantungkan pada kematian tuan, maka kedua hak tersebut dapat terjaga, sehingga hal itu lebih utama.

وَالثَّانِي أَنَّهَا اسْتَحَقَّتْ حِفْظًا لِحُرِّيَّةِ الْوَلَدِ مِنْهَا وَفِي تَعْجِيلِ عِتْقِهَا إِسْقَاطٌ لِحَقِّهَا مِنَ النَّفَقَةِ وَالْكِسْوَةِ وَتَحْرِيمِ الِاسْتِمْتَاعِ وَفِي تَأْخِيرِهِ إِلَى مَوْتِ السَّيِّدِ حِفْظٌ لِحُرْمَتِهَا فِي الْتِزَامِ النَّفَقَةِ وَالْكِسْوَةِ وَبَقَاءِ الِاسْتِمْتَاعِ وَالْإِبَاحَةِ فَكَانَ تَعْلِيقُهُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ أَوْلَى مِنْ تَعْجِيلِهِ بِوَضْعِ الْوَلَدِ وَاللَّهُ أعلم

Yang kedua, bahwa ia berhak mendapatkan perlindungan demi menjaga kebebasan anak darinya. Jika pembebasannya disegerakan, maka hal itu berarti menggugurkan haknya atas nafkah, pakaian, dan mengharamkan kenikmatan (hubungan suami istri). Sedangkan jika pembebasannya ditunda hingga wafatnya tuan, maka hal itu menjaga kehormatannya dalam hal tetap mendapatkan nafkah, pakaian, serta tetap bolehnya kenikmatan dan kebolehan (hubungan suami istri). Oleh karena itu, menangguhkan pembebasan hingga wafatnya tuan lebih utama daripada menyegerakannya saat melahirkan anak. Dan Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَوَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ بِمَنْزِلَتِهَا يُعْتَقُونَ بِعِتْقِهَا كَانُوا مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ وَلَوْ مَاتَتْ قَبْلَهُمْ ثُمَّ مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقُوا بِمَوْتِهِ كَأُمِّهِمْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Anak-anak dari umm al-walad kedudukannya sama dengan ibunya; mereka merdeka karena kemerdekaan ibunya, baik mereka berasal dari hubungan yang halal maupun haram. Jika ibunya meninggal sebelum mereka, lalu tuannya meninggal, maka mereka merdeka karena kematian tuannya, sebagaimana ibunya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ أَمَّا وَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ مِنَ السَّيِّدِ فَهُوَ حُرٌّ لِأَنَّ وَلَدَهُ مِنَ الْأَمَةِ حُرٌّ فَكَانَ مِنْ أُمِّ وَلَدِهِ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ حُرًّا وَأَمَّا وَلَدُهَا مِنْ غَيْرِهِ فَيَكُونُ إِمَّا مِنْ زَوْجٍ فَيَكُونُ مِنْ حلال وإما من زنى فَيَكُونُ مِنْ حَرَامٍ لَا يَلْحَقُ بِالزَّانِي وَالْوَلَدُ فِي الْحَالَيْنِ مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ فِي حُكْمِ أُمِّ الْوَلَدِ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ

Al-Mawardi berkata, “Dan ini sebagaimana yang telah dikatakan: Adapun anak dari umm al-walad yang berasal dari tuannya, maka ia adalah merdeka, karena anaknya dari seorang budak perempuan adalah merdeka, maka anak dari umm al-walad tentu lebih utama untuk menjadi merdeka. Adapun anaknya dari selain tuannya, maka bisa jadi berasal dari suami, sehingga ia berasal dari hubungan yang halal, atau berasal dari zina, sehingga ia berasal dari hubungan yang haram dan tidak dinasabkan kepada pezina. Dalam kedua keadaan, baik dari hubungan halal maupun haram, anak tersebut dalam hukum umm al-walad terkait tiga hal.”

أَحَدُهَا أَنْ يَكُونَ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ كَأُمِّهِ

Salah satunya adalah jika ia merupakan milik tuannya, seperti ibunya.

وَالثَّانِي أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُ كَأُمِّهِ

Dan yang kedua, tidak boleh baginya menjualnya, sebagaimana ibunya.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ يُعْتَقُ بِمَوْتِهِ كَأُمِّهِ وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ لِأَنَّ الْوَلَدَ تَبَعٌ لِأُمِّهِ فِي الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ وَحُكْمُ أُمِّ الْوَلَدِ مُشْتَرَكٌ بَيْنَ الْحُرِّيَّةِ وَالرِّقِّ فَاقْتَضَى أَنْ يَكُونَ وَلَدُهَا تَبَعًا لَهَا فِي الْحَالَيْنِ فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ وَلَدُ الْمُدَبَّرَةِ لَا يَتْبَعُهَا فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ وَلَا يُعْتَقُ بِمَوْتِ السَّيِّدِ إِنْ عُتِقَتْ فَهَلَّا كَانَ وَلَدُ أُمِّ الْوَلَدِ بِمَثَابَتِهِ

Ketiga, bahwa ia (anak) merdeka dengan wafatnya (ibu) sebagaimana ibunya. Hal itu karena anak mengikuti ibunya dalam hal kemerdekaan dan perbudakan, dan hukum ummu al-walad merupakan gabungan antara kemerdekaan dan perbudakan. Maka, sudah sepatutnya anaknya mengikuti ibunya dalam kedua keadaan tersebut. Jika ada yang bertanya, “Bukankah anak dari wanita mudabbirah tidak mengikuti ibunya menurut salah satu pendapat, dan tidak merdeka dengan wafat tuannya jika ibunya dimerdekakan? Lalu mengapa anak ummu al-walad tidak disamakan dengannya?”

قِيلَ لِأَنَّ الْفَرْقَ فَاصِلٌ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ

Dikatakan bahwa perbedaan merupakan pembeda antara keduanya dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا أَنَّ حُكْمَ أُمِّ الْوَلَدِ مُسْتَقِرٌّ فَقَوِيَ فِي اجْتِذَابِ الْوَلَدِ إِلَيْهَا وَحُكْمَ الْمُدَبَّرَةِ غَيْرُ مُسْتَقِرٍّ فَضَعُفَ عَنِ اجْتِذَابِ الْوَلَدِ إِلَيْهَا

Salah satu di antaranya adalah bahwa status hukum umm al-walad sudah tetap, sehingga kuat dalam menarik anak kepadanya, sedangkan status hukum al-mudabbirah belum tetap, sehingga lemah dalam menarik anak kepadanya.

وَالثَّانِي أَنَّ حُرْمَةَ أُمِّ الْوَلَدِ لِأَجْلِ الْبَعْضِيَّةِ فَانْتَشَرَتْ إِلَى وَلَدِهَا وَعِتْقَ الْمُدَبَّرَةِ بِعِقْدٍ وَالْعُقُودُ لَا تَنْتَشِرُ إِلَى غَيْرِ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ

Yang kedua, bahwa keharaman umm al-walad disebabkan oleh adanya hubungan sebagian (bagian dari tuannya), sehingga keharaman itu meluas kepada anaknya; sedangkan pembebasan budak mudabbirah terjadi karena akad, dan akad-akad tidak meluas kepada selain yang diakadkan atasnya.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ وَلَدَ أُمِّ الْوَلَدِ بِمَثَابَتِهَا عَتَقَ بِمَوْتِ السَّيِّدِ فَإِنْ قِيلَ فَهَلَّا تَعَجَّلَ عِتْقُهُ لِمَا بَيَّنْتُهُ لِأُمِّهِ فِي الِاسْتِبَاحَةِ الْمُوجِبَةِ لِتَأْخِيرِ عِتْقِهَا

Maka apabila telah dipastikan bahwa anak dari umm al-walad memiliki kedudukan yang sama dengannya, yaitu merdeka karena wafatnya tuan, maka jika ada yang bertanya: “Mengapa kemerdekaannya tidak disegerakan, sebagaimana yang telah aku jelaskan mengenai ibunya dalam hal kebolehan yang menyebabkan penundaan kemerdekaannya?”

قِيلَ لِأَنَّهُ وَإِنْ فَقَدَ هَذَا الْمَعْنَى فَإِنَّهُ تَابِعٌ لِأُمِّهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حُكْمُ التَّابِعِ أَقْوَى مِنْ حُكْمِ الْمَتْبُوعِ فَلِذَلِكَ تَعَلَّقَ عِتْقُهُ وَعِتْقُ أُمِّهِ بِمَوْتِ السَّيِّدِ وَلَمْ يَتَقَدَّمْ عِتْقُهُ عَلَى عِتْقِهَا وَلَوْ مَاتَتِ الْأُمُّ قَبْلَ مَوْتِ السَّيِّدِ كَانَ عِتْقُ الْوَلَدِ مَوْقُوفًا عَلَى مَوْتِ السَّيِّدِ وَلَا يَبْطُلُ بِمَوْتِ أُمِّهِ بِخِلَافِ وَلَدِ الْمُكَاتَبَةِ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا فِي اسْتِقْرَارِ حُكْمِ أُمِّ الْوَلَدِ ووقوف حكم المكاتبة

Dikatakan bahwa meskipun makna ini tidak ada, anak tersebut tetap mengikuti status ibunya, dan tidak boleh hukum yang mengikuti lebih kuat daripada hukum yang diikuti. Oleh karena itu, kemerdekaan anak dan kemerdekaan ibunya bergantung pada wafatnya tuan, dan kemerdekaan anak tidak didahulukan atas kemerdekaan ibunya. Jika sang ibu meninggal sebelum tuannya meninggal, maka kemerdekaan anak tetap bergantung pada wafatnya tuan dan tidak batal karena kematian ibunya, berbeda dengan anak dari seorang mukatabah menurut salah satu dari dua pendapat, karena perbedaan antara keduanya dalam ketetapan hukum umm al-walad dan ketetapan hukum mukatabah.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوِ اشْتَرَى امْرَأَتَهُ وَهِيَ أَمَةٌ حَامِلٌ مِنْهُ ثُمَّ وَضَعَتْ عِنْدَهُ عَتَقَ وَلَدُهَا مِنْهُ وَلَمْ تَكُنْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ أَبَدًا حَتَّى تَحْمَلَ مِنْهُ وَهِيَ فِي مِلْكِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika seseorang membeli istrinya yang merupakan seorang budak perempuan yang sedang hamil darinya, kemudian ia melahirkan anak di sisinya, maka anaknya itu menjadi merdeka. Namun, istrinya tersebut tidak menjadi umm walad baginya selamanya, kecuali jika ia hamil darinya saat berada dalam kepemilikannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي حُرٍّ تَزَوَّجَ أَمَةً وَأَحْبَلَهَا ثُمَّ اشْتَرَاهَا بطل نكاحها

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang laki-laki merdeka yang menikahi seorang budak perempuan, lalu menghamilinya, kemudian ia membeli budak perempuan tersebut, maka batal akad nikahnya.

وَعَتَقَ وَلَدُهَا وَهَذَانِ الْحُكْمَانِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ هَلْ تَصِيرُ لَهُ بِالْإِحْبَالِ فِي حَالِ الزَّوْجِيَّةِ أُمَّ وَلَدٍ بَعْدَ الْمَلِكِ أَمْ لَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ

Anak yang dilahirkannya menjadi merdeka, dan kedua hukum ini telah disepakati. Para fuqaha berbeda pendapat apakah seorang perempuan menjadi umm walad bagi tuannya karena hamil saat masih dalam status pernikahan setelah kepemilikan, atau tidak, dan dalam hal ini terdapat tiga mazhab.

أَحَدُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا لَا تَصِيرُ لَهُ أُمَّ وَلَدٍ بِذَلِكَ الْإِحْبَالِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ إِحْبَالَهَا بَعْدَ ذَلِكَ سَوَاءٌ مَلَكَهَا حَامِلًا بِالْوَلَدِ أَوْ بَعْدَ وَضْعِهِ

Salah satu pendapat, yaitu mazhab Syafi‘i, menyatakan bahwa perempuan tersebut tidak menjadi umm walad baginya hanya karena kehamilan itu, sampai ia menghamilinya lagi setelah itu, baik ia memilikinya dalam keadaan hamil atau setelah melahirkan anaknya.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي مَا قَالَهُ أَبُو حَنِيفَةَ أَنَّهَا قَدْ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ بِذَلِكَ الْإِحْبَالِ سَوَاءٌ مَلَكَهَا حَامِلًا أَوْ بَعْدَ الْوَضْعِ

Mazhab kedua adalah pendapat Abu Hanifah, yaitu bahwa perempuan tersebut telah menjadi umm walad karena kehamilan itu, baik ia dimiliki dalam keadaan hamil maupun setelah melahirkan.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ مَا قَالَهُ مَالِكٌ وَالْمُزَنِيُّ إِنْ مَلَكَهَا حَامِلًا صَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَإِنْ مَلَكَهَا بَعْدَ الْوَضْعِ لَمْ تَصِرْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ وَالْخِلَافُ مَعَهُمَا فِي كِتَابِ النَّفَقَاتِ وَتَعْلِيلُ الشَّافِعِيِّ فِي كَوْنِهَا أُمَّ وَلَدٍ أَنْ يَكُونَ عُلُوقُهَا مِنْهُ بِحُرٍّ فِي مِلْكِهِ وَعُلُوقُهَا مِنْهُ فِي النِّكَاحِ إِنَّمَا هُوَ مَمْلُوكٌ صَارَ حُرًّا بَعْدَ مِلْكِهِ فَلِذَلِكَ لَمْ تَصِرْ أُمَّ وَلَدٍ فَأَمَّا إِذَا عَلِقَتْ مِنْهُ بِحُرٍّ فِي غَيْرِ مِلْكٍ كَالْوَاطِئِ بِشُبْهَةٍ وَكَالْأَبِ إِذَا وَطِئَ جَارِيَةَ ابْنِهِ فَفِي كَوْنِهَا بِهِ أُمَّ وَلَدٍ إِذَا مَلَكَهَا قَوْلَانِ

Mazhab ketiga adalah pendapat yang dikemukakan oleh Malik dan al-Muzani: jika seseorang memiliki budak perempuan dalam keadaan hamil, maka ia menjadi umm walad baginya; namun jika ia memilikinya setelah melahirkan, maka ia tidak menjadi umm walad baginya. Pembahasan dan perbedaan pendapat dengan keduanya telah dijelaskan dalam Kitab Nafaqat. Alasan Imam Syafi‘i mengenai statusnya sebagai umm walad adalah bahwa kehamilannya terjadi dari seorang laki-laki merdeka dalam kepemilikannya, sedangkan kehamilan dari seorang laki-laki dalam pernikahan hanyalah seorang budak yang kemudian menjadi merdeka setelah dimiliki, sehingga karena itu ia tidak menjadi umm walad. Adapun jika ia hamil dari seorang laki-laki merdeka di luar kepemilikan, seperti laki-laki yang bersetubuh karena syubhat atau seperti ayah yang bersetubuh dengan budak milik anaknya, maka dalam statusnya sebagai umm walad jika kemudian dimiliki terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا تَكُونُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِعُلُوقِهَا مِنْهُ بَحُرٍّ

Salah satunya adalah ia menjadi umm walad karena ia hamil dari tuannya yang merdeka.

وَالثَّانِي لَا تَكُونُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِعُلُوقِهَا مِنْهُ فِي غَيْرِ مِلْكٍ

Yang kedua, ia tidak menjadi umm walad karena hamil darinya terjadi di luar kepemilikan.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلِلْمُكَاتَبِ أَنْ يَبِيعَ أُمَّ وَلَدِهِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seorang mukātib boleh menjual umm walad-nya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَصُورَتُهَا فِي مُكَاتَبٍ مَلَكَ أَمَةً وَأَوْلَدَهَا فَوَلَدُهُ مِنْهَا تَبَعٌ لَهُ يَعْتِقُ بِعِتْقِهِ وَيَرِقُّ بِرِقِّهِ وَلَيْسَ لَهُ بَيْعُهُ وَهَلْ تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِلْمُكَاتَبِ أَمْ لَا عَلَى قَوْلَيْنِ مَضَيَا

Al-Mawardi berkata: Contohnya adalah seorang mukatab yang memiliki seorang budak perempuan, lalu ia menghamilinya, maka anak yang lahir dari budak perempuan itu mengikuti status ayahnya; ia merdeka jika ayahnya merdeka, dan menjadi budak jika ayahnya tetap budak. Ia tidak boleh diperjualbelikan. Adapun apakah budak perempuan itu menjadi umm walad bagi si mukatab atau tidak, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا تَصِيرُ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ لِمَا ثَبَتَ لِوَلَدِهَا مِنْ سَبَبِ الْحُرِّيَّةِ مِنَ الْعِتْقِ بِعِتْقِ أَبِيهِ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ بَيْعُهَا لِمَا ثَبَتَ لَهَا مِنْ حُرْمَةِ الْوِلَادَةِ مِنْهُ وَوَقْفِ أَمْرِهَا مَعَهُ فَإِنْ أَدَّى وَعَتَقَ اسْتَقَرَّ كَوْنُهَا لَهُ أُمَّ وَلَدٍ وَإِنْ عَجَزَ وَرَقَّ صَارَتْ مَعَ الْمُكَاتَبِ وَالْوَلَدِ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ يَجُوزُ لَهُ بَيْعُهُمْ

Salah satunya adalah ia menjadi umm walad karena anaknya memperoleh sebab kemerdekaan dari pembebasan ayahnya. Berdasarkan hal ini, tidak boleh bagi mukatab untuk menjualnya karena ia telah memperoleh kehormatan sebagai ibu dari anaknya dan statusnya pun tergantung pada mukatab. Jika mukatab melunasi pembayaran dan merdeka, maka statusnya sebagai umm walad tetap baginya. Namun jika ia tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka perempuan itu bersama anaknya menjadi milik tuan, dan tuan boleh menjual mereka.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي لَا تَصِيرُ أُمَّ وَلَدٍ لِلْمُكَاتَبِ بِهَذَا الْإِيلَادِ لِأَنَّ وَلَدَهَا قَبْلَ عِتْقِ أَبِيهِ مَمْلُوكٌ وَإِنْ مُنِعَ مِنْ بَيْعِهِ فَلَمْ تَثْبُتْ لَهُ حُرْمَةٌ تَنْتَشِرُ إِلَى أُمِّهِ فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ لِلْمُكَاتَبِ بَيْعُهَا قَبْلَ عِتْقِهِ وَبَعْدَهُ إِلَّا أَنْ يَسْتَأْنِفَ إِحْبَالَهَا بَعْدَ الْعِتْقِ فَتَصِيرَ حِينَئِذٍ أُمَّ وَلَدٍ لَا يَجُوزُ لَهُ بيعها

Pendapat kedua menyatakan bahwa seorang budak perempuan tidak menjadi umm walad bagi mukatab (budak yang sedang menebus dirinya) dengan sebab melahirkan ini, karena anaknya sebelum ayahnya merdeka masih berstatus budak, dan meskipun dilarang untuk dijual, tidak tetap baginya kehormatan yang meluas kepada ibunya. Maka berdasarkan hal ini, diperbolehkan bagi mukatab untuk menjualnya sebelum ia merdeka maupun sesudahnya, kecuali jika ia menghamilinya kembali setelah merdeka, maka saat itu ia menjadi umm walad dan tidak boleh lagi baginya menjualnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَوْصَى رَجُلٌ لِأُمِّ وَلَدِهِ أَوْ لِمُدَبَّرِهِ يُخْرِجُ مِنَ الثُّلُثِ فَهِيَ جَائِزَةٌ لِأَنَّهُمَا يُعْتَقَانِ بموته

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berwasiat kepada ummu walad-nya atau kepada mudabbarnya, maka wasiat itu dikeluarkan dari sepertiga harta, dan wasiat tersebut sah, karena keduanya akan merdeka dengan kematiannya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ يَجُوزُ أَنْ يُوصِيَ السَّيِّدُ لِأُمِّ وَلَدِهِ لِأَنَّهَا تُعْتَقُ بِمَوْتِهِ وَمِلْكُ الْوَصِيَّةِ يَكُونُ بِالْقَبُولِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَهِيَ فِيمَا بَعْدَ مَوْتِهِ حُرَّةٌ فَكَانَتِ الْوَصِيَّةُ لَهَا كَالْوَصِيَّةِ لِسَائِرِ الْأَحْرَارِ وَتَكُونُ الْوَصِيَّةُ لَهَا مِنَ الثُّلُثِ وَالْوَصِيَّةُ لَهُ مِنَ الثُّلُثِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ الثُّلُثِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata, “Ini benar, dibolehkan bagi seorang tuan untuk berwasiat kepada ummu walad-nya, karena ia akan merdeka dengan wafatnya tuan tersebut, dan kepemilikan wasiat terjadi dengan penerimaan setelah kematiannya. Setelah kematian tuannya, ia menjadi seorang yang merdeka, sehingga wasiat kepadanya sama seperti wasiat kepada orang-orang merdeka lainnya. Wasiat untuknya diambil dari sepertiga harta, dan wasiat untuk selainnya juga dari sepertiga harta. Jika demikian, maka keadaan sepertiga harta itu tidak lepas dari empat bagian.”

أَحَدُهَا أَنْ يَتَّسِعَ لِقِيمَةِ الْمُدَبَّرِ وَلِقَدْرِ الْوَصِيَّةِ فَيُعْتَقَ الْمُدَبَّرُ بِمَوْتِ سَيِّدِهِ وَيَمْلِكَ جَمِيعَ الْوَصِيَّةِ بِقَبُولِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ

Salah satunya adalah bahwa harta peninggalan itu mencukupi untuk menutupi nilai mudabbar dan besarnya wasiat, sehingga mudabbar itu merdeka dengan wafatnya tuannya dan ia berhak atas seluruh wasiat tersebut setelah menerimanya sepeninggal tuannya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَضِيقَ الثُّلُثُ عَنْهُمَا وَيَتَّسِعَ لِأَحَدِهِمَا فَيُقَدَّمَ عِتْقُهُ عَلَى الْوَصِيَّةِ لَهُ لِأَمْرَيْنِ

Bagian kedua adalah apabila sepertiga harta tidak mencukupi untuk keduanya, namun cukup untuk salah satunya, maka yang diutamakan adalah pembebasan budak (’itq) daripada wasiat untuknya, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ عِتْقَهُ يَقَعُ بِالْمَوْتِ وَالْوَصِيَّةُ تُمْلَكُ بَعْدَ الْمَوْتِ فَصَارَ الْعِتْقُ سَابِقًا لِمِلْكِ الْوَصِيَّةِ فَلِذَلِكَ قُدِّمَ عَلَيْهَا

Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak (ʿitq) terjadi dengan kematian, sedangkan wasiat (waṣiyyah) menjadi milik setelah kematian, sehingga pembebasan budak (ʿitq) lebih dahulu daripada kepemilikan wasiat (waṣiyyah), oleh karena itu pembebasan budak didahulukan atas wasiat.

وَالثَّانِي أَنَّ فِي تَقْدِيمِ الْوَصِيَّةِ عَلَى الْعِتْقِ إِبْطَالًا لَهَا وَلِلْعِتْقِ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يُعْتَقْ وَصَارَ مَمْلُوكًا بَطَلَتِ الْوَصِيَّةُ لَهُ لِأَنَّهَا تَصِيرُ وَصِيَّةً لِلْوَرَثَةِ فَأَبْطَلْنَا الْوَصِيَّةَ لَهُ وَأَمْضَيْنَا عِتْقَهُ

Kedua, bahwa mendahulukan wasiat atas pembebasan budak (ʿitq) berarti membatalkan wasiat itu sendiri dan juga pembebasan budak, karena jika budak tersebut tidak dimerdekakan dan tetap menjadi milik (mamlūk), maka wasiat untuknya menjadi batal, sebab wasiat itu akan beralih kepada para ahli waris. Oleh karena itu, kami membatalkan wasiat untuknya dan melaksanakan pembebasannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَتَّسِعَ الثُّلُثُ لِأَحَدِهِمَا وَبَعْضِ الْآخَرِ فَيُكْمَلُ عِتْقُهُ مِنَ الثُّلُثِ وَيَكُونَ بَاقِي الثُّلُثِ فِي وَصِيَّتِهِ لِيَكُونَ الْعَجْزُ دَاخِلًا عَلَى وَصِيَّتِهِ دُونَ عِتْقِهِ

Bagian ketiga adalah apabila sepertiga harta cukup untuk membebaskan salah satu dari keduanya dan sebagian dari yang lain, maka pembebasan budak itu disempurnakan dari sepertiga harta, dan sisa sepertiga harta digunakan untuk wasiatnya, sehingga kekurangan itu masuk pada wasiatnya, bukan pada pembebasan budaknya.

وَالرَّابِعُ أَنْ يَضِيقَ الثُّلُثُ عَنْهُمَا وَيَتَّسِعَ لِبَعْضِ أَحَدِهِمَا فَيَكُونَ مَا احْتَمَلَهُ الثُّلُثُ مَصْرُوفًا فِي عِتْقِهِ فَيُعْتَقَ مِنْهُ بِقَدْرِهِ وَيُوقَفَ بَاقِيهِ وَتَبْطُلَ الْوَصِيَّةُ لَهُ

Keempat, apabila sepertiga harta tidak mencukupi untuk keduanya, namun cukup untuk sebagian dari salah satu dari mereka, maka bagian yang dapat ditanggung oleh sepertiga harta itu dialokasikan untuk pembebasan budak tersebut, sehingga budak itu dimerdekakan sesuai dengan bagian tersebut, sedangkan sisanya ditangguhkan, dan wasiat untuknya menjadi batal.

فَصْلٌ

Bagian

وَلَوْ أَوْصَى لِأُمِّ وَلَدِ غَيْرِهِ وَلِمُدَبَّرِ غَيْرِهِ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ لَهُمَا فَإِنْ عَتَقَا بِمَوْتِ سَيِّدِهِمَا قَبْلَ مَوْتِ الْمُوصِي كَانَتِ الْوَصِيَّةُ لَهُمَا وَمَلَكَاهَا بِقَبُولِهِمَا وَإِنْ مَاتَ الْمُوصِي قَبْلَ عِتْقِهِمَا كَانَتِ الْوَصِيَّةُ لِسَيِّدِهِمَا لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ لِلْعَبْدِ وَصِيَّةٌ لِسَيِّدِهِ فَإِذَا قَبِلَهَا السَّيِّدُ مَلَكَهَا وَلِذَلِكَ جَوَّزْنَا أَنْ يُوصِيَ الرَّجُلُ لَعَبْدِ غَيْرِهِ وَلَمْ نُجَوِّزْ أَنْ يُوصِيَ لِعَبْدِهِ لأنها تصير وصية لوارثه

Dan jika seseorang berwasiat kepada ummu walad milik orang lain dan kepada mudabbar milik orang lain, maka wasiat tersebut sah bagi keduanya. Jika keduanya merdeka karena wafat tuan mereka sebelum wafat orang yang berwasiat, maka wasiat itu menjadi milik mereka berdua dan mereka memilikinya dengan penerimaan mereka. Namun, jika orang yang berwasiat wafat sebelum keduanya merdeka, maka wasiat itu menjadi milik tuan mereka, karena wasiat kepada budak berarti wasiat kepada tuannya. Maka apabila tuannya menerima wasiat itu, ia memilikinya. Oleh karena itu, kami membolehkan seseorang berwasiat kepada budak milik orang lain, namun kami tidak membolehkan berwasiat kepada budaknya sendiri, karena hal itu akan menjadi wasiat kepada ahli warisnya.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه وَلَوْ جَنَتْ أُمُّ الْوَلَدِ جِنَايَةً ضَمِنَ السَّيِّدُ الْأَقَلُّ مِنَ الْأَرْشِ أَوِ الْقِيمَةِ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ummu al-walad melakukan suatu tindak pidana, maka tuannya wajib menanggung yang paling sedikit antara diyat (ganti rugi) atau nilai (ummu al-walad) tersebut.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا صَحِيحٌ جِنَايَةُ أُمِّ الْوَلَدِ مَضْمُونَةٌ عَلَى سَيِّدِهَا لِأَنَّهُ أَحْدَثَ فِيهَا مَا مَنَعَ مِنْ بَيْعِهَا وَلَمْ يَبْلُغْ بِهِ الْعِتْقُ الَّذِي يَتَعَلَّقُ الْحَقُّ فِيهِ بِذِمَّتِهَا فَصَارَتْ كَالْأَمَةِ الْقِنِّ إِذَا مَنَعَ السَّيِّدُ مِنْ بَيْعِهَا يَلْتَزِمُ بِالْمَنْعِ غُرْمَ جِنَايَتِهَا

Al-Mawardi berkata: “Ini benar, jinayah (tindak pidana) yang dilakukan oleh umm al-walad menjadi tanggungan tuannya, karena tuan tersebut telah melakukan sesuatu padanya yang menyebabkan ia tidak bisa dijual, namun belum mencapai pembebasan (’itq) yang membuat hak itu terkait dengan tanggungannya sendiri. Maka, ia menjadi seperti budak perempuan biasa (al-amah al-qinn) apabila tuannya melarang penjualannya, maka dengan larangan itu ia wajib menanggung ganti rugi atas jinayah yang dilakukannya.”

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ ضَمِنَ جِنَايَتَهَا بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهَا أَوْ أَرْشِ جِنَايَتِهَا وَخَالَفَتِ الْعَبْدَ الْقِنَّ إِذَا مَنَعَ مِنْ بَيْعِهِ فِي الْجِنَايَةِ أَنَّهُ يَضْمَنُ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ جَمِيعَ جِنَايَتِهِ وَلَوْ كَانَتْ أَضْعَافَ قِيمَتِهِ لِأَنَّ بَيْعَ أُمِّ الْوَلَدِ غَيْرُ مَقْدُورٍ عَلَيْهِ فَصَارَ ضَمَانُهَا ضَمَانَ إِتْلَافٍ لَا يَلْزَمُ فِيهِ أَكْثَرُ مِنَ الْقِيمَةِ وَخَالَفَتِ الْعَبْدَ الْمَقْدُورَ عَلَى بَيْعِهِ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ رَاغِبٌ بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَلِذَلِكَ ضَمِنَ سَيِّدُهُ بِالْمَنْعِ جَمِيعَ جِنَايَتِهِ

Jika demikian, ia wajib menanggung ganti rugi atas jinayah (pelanggaran) yang dilakukan oleh umm al-walad dengan jumlah yang lebih kecil antara dua hal: nilai umm al-walad atau diyat jinayah-nya. Hal ini berbeda dengan budak murni (al-‘abd al-qinn) apabila dilarang untuk dijual dalam kasus jinayah, maka dalam salah satu pendapat, ia wajib menanggung seluruh diyat jinayah-nya, meskipun jumlahnya berlipat ganda dari nilai budak tersebut. Sebab, penjualan umm al-walad tidak dimungkinkan, sehingga tanggungan ganti ruginya menjadi tanggungan atas kerusakan (itlaf) yang tidak mewajibkan lebih dari nilai umm al-walad itu sendiri. Hal ini berbeda dengan budak yang masih mungkin untuk dijual, karena bisa saja ada orang yang membelinya dengan harga lebih tinggi dari nilainya, sehingga tuannya wajib menanggung seluruh diyat jinayah-nya jika melarang penjualannya.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَدَّى قِيمَتَهَا ثُمَّ عَادَتْ فَجَنَتْ فَفِيهَا قولان أحدهما أن إسلامه قيمتها كإسلامه بدنها ويرجع المجني عليه الثاني بأرش جنايته على المجني عليه الأول فيشتركان فيها بقدر جنايتهما ثم هكذا كلما جنت ويدخل فيه أن إسلامه قيمتها كان كإسلام بدنها إلى الأول لزم الأول إخراجها إلى الثاني إذا بلغ ارش الجناية قيمتها والثاني أنه يدفع الأقل من قيمتها أو الجناية فإن عادت فجنت وقد دفع الارش رجع على السيد وهكذا كلما جنت قال المزني والثاني أشبه عندي بالحق لأن إسلام قيمتها لو كان كإسلام بدنها لوجب أن تكون الجناية الثانية على قيمتها وبطلت الشركة وفي إجماعهم على إبطال ذلك إبطال هذا القول وفي إبطاله ثبوت القول الآخر إذ لا وجه لقول ثالث نعلمه عند جماعة العلماء ممن لا يبيع أمهات الأولاد فإذا افتكها ربها صارت بمعناها المتقدم لا جناية عليها ولا سيدها بها فكيف إذا جنت لا يكون عليها مثل ذلك قياسا قال المزني وقد ملك المجني عليه الارش بحق فكيف يجني غيره وغير ملكه وغير من هو عاقله له فيجب عليه غرمه أو غرم شيء منه

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang telah membayar nilai (budak) tersebut, kemudian budak itu kembali melakukan kejahatan, maka ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama, bahwa penyerahan nilainya sama dengan penyerahan fisiknya, sehingga korban kedua dapat menuntut ganti rugi atas kejahatan yang dilakukan terhadapnya dari korban pertama, lalu keduanya berbagi sesuai dengan besarnya kejahatan yang diderita masing-masing. Demikian pula setiap kali budak itu melakukan kejahatan lagi. Termasuk di dalamnya, bahwa penyerahan nilainya dianggap sama dengan penyerahan fisiknya kepada korban pertama, sehingga korban pertama wajib menyerahkannya kepada korban kedua jika besaran ganti rugi kejahatan telah mencapai nilai budak tersebut. Pendapat kedua, bahwa yang diberikan adalah yang lebih kecil antara nilai budak atau besaran kejahatan. Jika budak itu kembali melakukan kejahatan dan ganti rugi telah dibayarkan, maka korban dapat menuntut kepada tuan budak, dan demikian seterusnya setiap kali budak itu melakukan kejahatan. Al-Muzani berkata: Pendapat kedua menurutku lebih mendekati kebenaran, karena jika penyerahan nilai budak itu sama dengan penyerahan fisiknya, maka seharusnya kejahatan kedua ditanggung atas nilai budak tersebut, dan kepemilikan bersama menjadi batal. Namun, dengan adanya ijmā‘ (konsensus) mereka untuk membatalkan hal itu, maka pendapat pertama pun batal, dan dengan pembatalan itu, pendapat kedua menjadi tetap, karena tidak ada pendapat ketiga yang kami ketahui di kalangan para ulama yang tidak memperjualbelikan ummahāt al-awlād (budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya). Jika tuannya telah memerdekakannya, maka budak itu menjadi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada kejahatan atasnya dan tidak ada tuan yang bertanggung jawab atasnya. Maka bagaimana mungkin jika budak itu melakukan kejahatan, tidak berlaku hal yang sama menurut qiyās (analogi)? Al-Muzani berkata: Korban telah memiliki hak atas ganti rugi, maka bagaimana mungkin orang lain melakukan kejahatan terhadap sesuatu yang bukan miliknya dan bukan pula orang yang wajib menanggungnya, sehingga ia harus menanggung kerugian atau sebagian kerugian tersebut?

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا تَخْلُو جِنَايَةُ أُمِّ الْوَلَدِ إِذَا تَكَرَّرَتْ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh umm al-walad apabila terulang, tidak lepas dari tiga macam.

أَحَدُهَا أَنْ تَتَكَرَّرَ قَبْلَ غُرْمِ الْأَرْشِ فَيَكُونُ السَّيِّدُ ضَامِنًا لِأُرُوشِ الْجِنَايَاتِ كُلِّهَا وَإِنْ كَثُرَتْ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ مِنْ قِيمَتِهَا أَوْ أُرُوشِ جِنَايَاتِهَا وَلَا يَلْتَزِمُ السَّيِّدُ مِنَ الْغُرْمِ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهَا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ لِأَنَّ وُجُوبَ الْأَرْشِ فِي حَقِّ الْجَمَاعَةِ كَوُجُوبِهِ فِي حَقِّ الْوَاحِدِ

Salah satunya adalah jika peristiwa itu berulang sebelum pembayaran ganti rugi (al-arsh), maka tuan (pemilik budak) bertanggung jawab atas seluruh ganti rugi jinayah, meskipun jumlahnya banyak, dengan jumlah yang lebih sedikit di antara dua hal: nilai budak atau total ganti rugi jinayahnya. Tuan tidak wajib menanggung kerugian melebihi nilai budak tersebut. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi‘i, karena kewajiban membayar arsh bagi sekelompok orang sama seperti kewajiban membayarnya bagi satu orang.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ تَتَكَرَّرَ جِنَايَتُهَا بَعْدَ غُرْمِهَا وَقَبْلَ اسْتِيفَاءِ قِيمَتِهَا فَيَضْمَنَ السَّيِّدُ غُرْمَ الْجِنَايَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ كَمَا ضَمِنَ غُرْمَ الأولة حَتَّى يَسْتَوْعِبَ غُرْمَ جَمِيعِ الْقِيمَةِ سَوَاءٌ اتَّفَقَتِ الْجِنَايَاتُ أَوِ اخْتَلَفَتْ مِثْلَ أَنْ تَكُونَ الْجِنَايَةُ الأولة نصف قيمتها والثانية ثلث قيمتها والثانية رُبْعَ قِيمَتِهَا فَيُغَرَّمَ أَرْشَ كُلِّ جِنَايَةٍ مِنْهَا حَتَّى يَسْتَكْمِلَ غُرْمَ جَمِيعِ قِيمَتِهَا

Bagian kedua adalah apabila budak tersebut melakukan tindak pidana lagi setelah pembayaran ganti rugi atas tindak pidana sebelumnya dan sebelum nilai budak tersebut dilunasi sepenuhnya, maka tuan budak wajib menanggung ganti rugi atas tindak pidana kedua dan ketiga sebagaimana ia menanggung ganti rugi atas tindak pidana pertama, hingga seluruh nilai budak tersebut terpenuhi, baik tindak pidana-tindak pidana itu serupa maupun berbeda. Misalnya, tindak pidana pertama seharga setengah dari nilainya, tindak pidana kedua sepertiga dari nilainya, dan tindak pidana ketiga seperempat dari nilainya, maka tuan budak wajib membayar diyat (ganti rugi) untuk setiap tindak pidana tersebut hingga seluruh nilai budak tersebut terpenuhi.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ تَتَكَرَّرَ جِنَايَتُهَا بَعْدَ غُرْمِ جَمِيعِ قِيمَتِهَا فِي الْجِنَايَةِ الْأَوْلَى وَهُوَ مَسْأَلَةُ الْكِتَابِ فَفِيهِ قَوْلَانِ

Bagian ketiga adalah apabila hewan itu mengulangi perbuatannya setelah seluruh nilainya telah diganti rugi pada tindakannya yang pertama, dan inilah permasalahan yang dibahas dalam kitab. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ يُغَرَّمُ فِي الْجِنَايَةِ الثَّانِيَةِ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ وَكَذَلِكَ لَوْ جَنَتْ مِائَةَ جِنَايَةٍ بَعْدَ غُرْمِ مَا تَقَدَّمَهَا ضَمِنَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُنَّ بِأَقَلِّ الْأَمْرَيْنِ لِأَمْرَيْنِ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa dalam tindak pidana kedua, ia dikenai ganti rugi dengan jumlah yang lebih kecil dari dua kemungkinan. Demikian pula, jika terjadi seratus tindak pidana setelah membayar ganti rugi atas yang sebelumnya, maka untuk masing-masing tindak pidana tersebut ia wajib menanggung ganti rugi dengan jumlah yang lebih kecil dari dua kemungkinan, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّ مَا أَوْجَبَ الْغُرْمَ فِي الْجِنَايَةِ الْأَوْلَى مَوْجُودٌ فِيمَا بَعْدَهَا فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْغُرْمُ كَالَّتِي قَبْلَهَا

Salah satu alasannya adalah bahwa sebab yang mewajibkan pembayaran ganti rugi (al-ghurm) pada tindak pidana pertama juga terdapat pada tindak pidana setelahnya, maka wajiblah pembayaran ganti rugi itu sama seperti pada tindak pidana sebelumnya.

وَالثَّانِي أَنَّ الْأَوَّلَ قَدْ مَلَكَ مَا أَخَذَهُ مِنَ الْأَرْشِ وَالْجَانِي غَيْرُهُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُؤْخَذَ بِأَرْشِ جِنَايَتِهِ

Dan yang kedua, bahwa orang pertama telah memiliki apa yang ia terima dari arsy, sedangkan pelaku jinayah (kejahatan) adalah orang lain, maka tidak boleh diambil arsy atas jinayah yang dilakukannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّ السَّيِّدَ لَا يَلْتَزِمُ غُرْمَ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَةِ وَاحِدٍ وَيَرْجِعُ الثَّانِي عَلَى الْأَوَّلِ فَيَشْرَكُهُ فِيمَا أَخَذَهُ وَيَرْجِعُ الثَّالِثُ عَلَى الْأَوَّلِ وَالثَّانِي فَيَشْرَكُهُمَا كَالشُّفْعَةِ إِذَا اسْتَحَقَّهَا ثَلَاثَةٌ وَحَضَرَ أَحَدُهُمْ فَأَخَذَهَا ثُمَّ قَدِمَ ثَانٍ شَارَكَ الْأَوَّلَ فِيهَا فَإِذَا قَدِمَ الثَّالِثُ شَارَكَ الْأَوَّلَ وَالثَّانِيَ وَإِنَّمَا لَمْ يُغَرَّمِ السَّيِّدُ أَكْثَرَ مِنْ قِيمَةٍ وَاحِدَةٍ لِأَمْرَيْنِ

Pendapat kedua menyatakan bahwa tuan tidak berkewajiban menanggung ganti rugi lebih dari nilai satu orang, dan pihak kedua dapat menuntut kepada pihak pertama sehingga ia berbagi dengan apa yang telah diambilnya, lalu pihak ketiga dapat menuntut kepada pihak pertama dan kedua sehingga ia berbagi dengan keduanya, seperti dalam kasus syuf‘ah apabila ada tiga orang yang berhak atasnya, lalu salah satu dari mereka hadir dan mengambilnya, kemudian yang kedua datang dan berbagi dengan yang pertama, lalu jika yang ketiga datang, ia berbagi dengan yang pertama dan kedua. Tuan tidak dibebani ganti rugi lebih dari satu nilai karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ فِي حُكْمَ الْمُتْلِفِ وَلَا يَلْزَمُ الْمُتْلِفَ أَكْثَرُ مِنْ قِيمَةِ مَا أَتْلَفَ

Salah satunya adalah bahwa ia dalam hukum dianggap sebagai orang yang merusak, dan tidak wajib atas orang yang merusak untuk mengganti lebih dari nilai barang yang dirusaknya.

وَالثَّانِي أَنَّ تَسْلِيمَ قِيمَتِهَا كَتَسْلِيمِ بَدَنِهَا وَهُوَ إِذَا سلمَ بَدَنُ عَبْدٍ قَدْ جَنَى ثُمَّ عَادَ فَجَنَى اشْتَرَكَ جَمِيعُهُمْ فِي بَدَنِهِ كَذَلِكَ إِذَا سَلَّمَ الْقِيمَةَ ثُمَّ تَكَرَّرَتِ الْجِنَايَةُ اشْتَرَكَ جَمِيعُهُمْ فِي الْقِيمَةِ فَإِنْ تَسَاوَتْ أُرُوشُ جِنَايَاتِهِمْ تَسَاوَوْا فِي الْقِيمَةِ وَإِنْ تَفَاضَلَتْ تَفَاضَلُوا بِقَدْرِهَا فِي الْقِيمَةِ وَلَا يَمْتَنِعُ أَنْ يَرْجِعَ الثَّانِي عَلَى الْأَوَّلِ بِأَرْشِ جِنَايَتِهِ وَيَرْجِعَ الثَّالِثُ عَلَى الْأَوَّلِ وَالثَّانِي وَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا جَانِيًا كَمَا لَوْ حَفَرَ رَجُلٌ بِئْرًا فِي أَرْضٍ لَا يَمْلِكُهَا ثُمَّ مَاتَ فَسَقَطَتْ فِيهَا بَهِيمَةٌ ضَمِنَ قِيمَتَهَا فِي تَرِكَتِهِ فَلَوِ اسْتَوْعَبَتِ الْقِيمَةُ جَمِيعَ تَرِكَتِهِ ثُمَّ سَقَطَتْ فِيهَا بَهِيمَةٌ ثَانِيَةٌ رَجَعَ الثَّانِي عَلَى الْأَوَّلِ فَشَارَكَهُ فِي القيمة فإن سقطت فيهما بَهِيمَةٌ ثَالِثَةٌ رَجَعَ الثَّالِثُ عَلَى الْأَول وَالثَّانِي فَشَارَكَهُمَا فِي الْقِيمَةِ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْهُمَا جَانِيًا وَبِهَذَا يَفْسُدُ مَا اسْتَدَلَّ بِهِ الْمُزَنِيُّ وَاللَّهُ أعلم

Kedua, bahwa penyerahan nilai (harga) sama seperti penyerahan badan (fisik), yaitu apabila badan seorang budak yang telah melakukan jinayah (kejahatan) diserahkan, kemudian ia kembali melakukan jinayah, maka seluruh pihak yang berhak akan berbagi dalam badan tersebut. Demikian pula, jika nilai (harga) diserahkan lalu jinayah terulang, maka seluruh pihak berbagi dalam nilai tersebut. Jika besaran diyat (ganti rugi) dari jinayah mereka sama, maka mereka pun berbagi sama dalam nilai itu. Namun jika besaran diyat berbeda, maka mereka berbagi sesuai kadar masing-masing dalam nilai tersebut. Tidak terlarang bagi pihak kedua untuk menuntut pihak pertama atas diyat jinayahnya, dan pihak ketiga menuntut pihak pertama dan kedua, meskipun tidak satu pun dari mereka adalah pelaku jinayah, sebagaimana jika seseorang menggali sumur di tanah yang bukan miliknya, lalu ia meninggal, kemudian seekor hewan jatuh ke dalamnya, maka ia wajib menanggung nilai hewan itu dari harta warisannya. Jika nilai tersebut menghabiskan seluruh harta warisannya, lalu ada hewan kedua yang jatuh ke dalam sumur itu, maka pihak kedua menuntut pihak pertama dan berbagi dengannya dalam nilai tersebut. Jika kemudian ada hewan ketiga yang jatuh ke dalam sumur itu, maka pihak ketiga menuntut pihak pertama dan kedua, lalu berbagi dengan mereka dalam nilai tersebut, padahal tidak satu pun dari mereka adalah pelaku jinayah. Dengan ini, batal-lah dalil yang digunakan oleh al-Muzani. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِنْ أَسْلَمَتْ أُمُّ وَلَدِ النَّصْرَانِيِّ حِيلَ بَيْنَهُمَا وَأُخِذَ بِنَفَقَتِهَا وَتَعْمَلُ مَا يُعْمَلُ لَهُ مِثْلُهَا فَإِنْ أَسْلَمَ خُلِّيَ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ وَإِنْ مَاتَ عَتَقَتْ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika ummu walad seorang Nasrani masuk Islam, maka dipisahkan antara keduanya, dan ia (majikan) tetap diwajibkan menafkahinya, serta ia (ummu walad) melakukan pekerjaan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang sepertinya. Jika majikannya masuk Islam, maka keduanya dibiarkan bersama. Namun jika majikannya meninggal dunia, maka ummu walad tersebut menjadi merdeka.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ إِذَا أَوْلَدَ النَّصْرَانِيُّ أَمَتَهُ النَّصْرَانِيَّةَ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ بَيْعُهَا وَحُكْمُهَا حُكْمُ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ فَإِنْ أَسْلَمَتْ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أَنَّهَا تَكُونُ فِي حُكْمِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ لَا يُحْدِثُ لَهَا الْإِسْلَامُ عِتْقًا وَلَا اسْتِسْعَاءً

Al-Mawardi berkata: Jika seorang Nasrani menghamili budak perempuannya yang juga Nasrani, maka budak itu menjadi umm walad baginya, sehingga haram baginya menjual budak tersebut dan status hukumnya sama dengan umm walad lainnya. Jika budak itu kemudian masuk Islam, para fuqaha berbeda pendapat mengenai statusnya setelah masuk Islam. Imam Syafi‘i ra. berpendapat bahwa budak tersebut tetap dalam hukum umm walad, dan keislamannya tidak menyebabkan ia menjadi merdeka maupun diwajibkan membayar tebusan (istis‘ā’).

وَقَالَ مَالِكٌ تُعْتَقُ بِالْإِسْلَامِ

Malik berkata, “Ia menjadi merdeka karena Islam.”

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تُسْتَسْعَى فِي قِيمَتِهَا وَتُعْتَقُ بَعْدَ أَدَائِهَا

Abu Hanifah berkata, “Ia diwajibkan bekerja untuk menebus nilai dirinya, dan ia dimerdekakan setelah melunasinya.”

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ تُعْتَقُ وَتُسْتَسْعَى فِي الْقِيمَةِ بَعْدَ الْعِتْقِ

Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa budak tersebut dimerdekakan dan kemudian diwajibkan bekerja untuk membayar nilai (tebusan) dirinya setelah dimerdekakan.

وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ يُعْتَقُ نِصْفُهَا وَتُسْتَسْعَى فِي النِّصْفِ بِنِصْفِ قِيمَتِهَا وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ مَعَهُمْ بِمَا أَغْنَى

Al-Awza‘i berkata, “Separuh dirinya dimerdekakan, dan ia diwajibkan bekerja untuk menebus separuh sisanya dengan setengah dari nilainya.” Dan telah lalu pembahasan bersama mereka dengan penjelasan yang mencukupi.

وَإِذَا كَانَ الْإِسْلَامُ لَا يُنَافِي الرِّقَّ فِي الْعَبْدِ الْقِنِّ فَأَوْلَى أَنْ لَا يُنَافِيَهُ فِي أُمِّ الْوَلَدِ وَإِذَا لَمْ يَتَنَافَيَا وَجَبَ أَنْ تَكُونَ بَعْدَ الْإِسْلَامِ عَلَى حُكْمِهَا قَبْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ يُمْنَعُ مِنِ اسْتِخْدَامِهَا وَالِاسْتِمْتَاعِ بِهَا لِتَحْرِيمِ الْمُسْلِمَةِ عَلَى النَّصْرَانِيِّ إِلَّا أَنْ يُسْلِمَ مَعَهَا فَيَجُوزَ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِهَا وَهُوَ قَبْلَ الْإِسْلَامِ مَمْنُوعٌ مِنَ الْخَلْوَةِ بِهَا وَتُوضَعُ عَلَى يَدِ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ وَلَا يَجُوزُ بَيْعُهَا عَلَيْهِ لِأَنَّ بَيْعَ أُمِّ الْوَلَدِ لَا يَجُوزُ وَلَكِنْ يُؤْخَذُ بِعِتْقِهَا جَبْرًا وَعَلَى السَّيِّدِ نَفَقَتُهَا وَلَهُ كَسْبُهَا فَإِنْ مَاتَ عَتَقَتْ بِمَوْتِهِ وَكَانَ وَلَاؤُهَا لَهُ ثُمَّ لِعُصْبَتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Jika Islam tidak bertentangan dengan status budak pada hamba sahaya murni, maka lebih utama lagi tidak bertentangan pada umm al-walad. Jika keduanya tidak saling bertentangan, maka wajib statusnya setelah masuk Islam tetap seperti sebelum masuk Islam, hanya saja ia dilarang untuk digunakan dan dinikmati karena diharamkannya perempuan Muslimah bagi laki-laki Nasrani, kecuali jika ia juga masuk Islam bersamanya, maka boleh baginya untuk menikmatinya. Sebelum masuk Islam, ia dilarang berduaan dengannya dan harus ditempatkan di bawah pengawasan seorang perempuan yang terpercaya. Tidak boleh menjual umm al-walad kepadanya karena penjualan umm al-walad tidak diperbolehkan, tetapi ia wajib dimerdekakan secara paksa dan nafkahnya menjadi tanggungan tuannya, sedangkan hasil kerjanya menjadi hak tuannya. Jika tuannya meninggal, maka ia merdeka karena kematiannya dan hak wala’ (loyalitas) menjadi milik tuannya, kemudian berpindah kepada keluarga laki-laki tuannya. Allah Maha Mengetahui.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا مَلَكَ الْمُسْلِمُ مَجُوسِيَّةً فَإِنْ وَطِئَهَا فَلَا حَدَّ عَلَيْهِ لِأَجْلِ الْخِلَافِ فِيهِ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا وَإِنْ أَوْلَدَهَا لَحِقَ بِهِ وَلَدُهَا وَإِنْ حَرُمَ وَطْؤُهَا وَصَارَتْ لَهُ أُمَّ وَلَدٍ كَالْمُسْلِمَةِ وَلَوْ مَلَكَ ذَاتَ رَحِمٍ مُحَرَّمٍ مِنْ نَسَبٍ أَوْ رَضَاعٍ حَرُمَ وَطْؤُهَا وَإِنْ كَانَ مَالِكًا فَإِنْ أَوْلَدَهَا لَحِقَ بِهِ وَلَدُهَا وَكَانَ حُرًّا وَصَارَتْ بِهِ أُمَّ وَلَدٍ وَفِي وُجُوبِ حَدِّهِ إِنْ كَانَ عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ قَوْلَانِ

Apabila seorang Muslim memiliki budak perempuan Majusi, lalu ia menggaulinya, maka tidak dikenakan had atasnya karena adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, meskipun pendapat tersebut lemah. Jika budak itu melahirkan anak darinya, maka anak tersebut dinasabkan kepadanya, meskipun menggaulinya diharamkan, dan budak itu menjadi umm walad baginya sebagaimana budak perempuan Muslimah. Jika seseorang memiliki budak perempuan yang memiliki hubungan mahram dengannya, baik karena nasab maupun karena persusuan, maka haram menggaulinya meskipun ia adalah pemiliknya. Jika ia menghamilinya, maka anaknya dinasabkan kepadanya, anak itu menjadi merdeka, dan budak perempuan itu menjadi umm walad karena anak tersebut. Adapun mengenai kewajiban had jika ia mengetahui keharamannya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا لَا حَدَّ عَلَيْهِ لِأَنَّ وَطْأَهُ صَادَفَ مِلْكَهُ

Salah satunya tidak dikenai hudud karena hubungan seksualnya terjadi dalam kepemilikannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي عَلَيْهِ الْحَدُّ لِانْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ عَلَى تَحْرِيمِهَا عَلَيْهِ وَلَيْسَ مَوْضِعٌ يَلْحَقُ فِيهِ مَعَ وُجُوبِ الْحَدِّ إِلَّا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فَصَارَ لِمُخَالَفَةِ الْأُصُولِ ضَعِيفًا

Pendapat kedua menyatakan bahwa baginya dikenakan had, karena telah terjadi ijmā‘ atas keharamannya baginya, dan tidak ada tempat lain yang disamakan dengannya di mana had wajib dijatuhkan kecuali dalam kasus ini menurut pendapat ini. Maka, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar (al-uṣūl), pendapat ini menjadi lemah.

مَسْأَلَةٌ

Masalah

قال الشافعي رضي الله عنه فَإِذَا تُوُفِّيَ سَيِّدُ أُمِّ الْوَلَدِ أَوْ أَعْتَقَهَا فَلَا عِدَّةَ وَتُسْتَبْرَأُ بِحَيْضَةٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْحَيْضِ فَثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ أَحَبُّ إِلَيْنَا قَالَ الْمُزَنِيُّ قُلْتُ أَنَا قَدْ سَوَّى الشَّافِعِيُّ بين استبراء الأمة وعدة أم الولد في كتاب العدد وجعلها حيضة فأشبه بقوله إذا لم يكونا من أهل الحيض أن يقوم الشهر فيهما مقام الحيضة كما قال إن الشهر في الأمة يقوم مقام الحيضة وقد قال في باب استبراء أم الولد في كتاب العدد لا تحل أم الولد للأزواج إن كانت ممن لا تحيض إلا بشهر وهذا أولى بقوله وأشبه بأصله وبالله التوفيق

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Apabila tuan dari umm al-walad wafat atau memerdekakannya, maka tidak ada masa ‘iddah baginya, tetapi ia harus menjalani istibra’ dengan satu kali haid. Jika ia bukan termasuk wanita yang mengalami haid, maka tiga bulan lebih kami sukai. Al-Muzani berkata: Aku berkata, Syafi‘i telah menyamakan antara istibra’ budak perempuan dan ‘iddah umm al-walad dalam Kitab al-‘Iddah, dan menjadikannya satu kali haid. Maka, menurut pendapatnya, jika keduanya bukan termasuk wanita yang mengalami haid, maka bulan dapat menggantikan haid, sebagaimana ia mengatakan bahwa satu bulan pada budak perempuan menggantikan satu kali haid. Ia juga berkata dalam bab Istibra’ Umm al-Walad di Kitab al-‘Iddah: Umm al-walad tidak halal dinikahi oleh para suami jika ia termasuk wanita yang tidak mengalami haid kecuali setelah satu bulan. Dan ini lebih utama menurut pendapatnya dan lebih sesuai dengan asal usul pendapatnya. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَهَذَا كَمَا قَالَ إِذَا مَاتَ سَيِّدُ أُمِّ الْوَلَدِ عَتَقَتْ بِمَوْتِهِ وَلَزِمَهَا الِاسْتِبْرَاءُ لِأَنَّهَا قَدْ كَانَتْ فِرَاشًا لِلسَّيِّدِ فَأَوْجَبَ زَوَالُهُ أَنْ تَسْتَبْرِئَ كَالزَّوْجَاتِ وَالْإِمَاءِ

Al-Mawardi berkata: Hal ini sebagaimana ia mengatakan, “Jika tuan dari umm al-walad meninggal dunia, maka ia (umm al-walad) merdeka karena kematiannya dan wajib baginya menjalani masa istibra’, karena sebelumnya ia adalah tempat tidur (istri) bagi tuannya, maka hilangnya status tersebut mewajibkan ia menjalani istibra’ sebagaimana para istri dan budak perempuan.”

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي قَدْرِ الِاسْتِبْرَاءِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا تَسْتَبْرِئُ نَفْسَهَا بِحَيْضَةٍ كَالْأَمَةِ

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai kadar masa istibra’. Menurut mazhab Syafi‘i, seorang perempuan melakukan istibra’ dengan satu kali haid, sebagaimana halnya budak perempuan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَسْتَبْرِئُ نَفْسَهَا بِثَلَاثَةِ أَقْرَاءَ كَالْحُرَّةِ مِنْ طَلَاقٍ

Abu Hanifah berkata, “Ia harus menjalani masa istibra’ dengan tiga kali quru’ sebagaimana wanita merdeka yang ditalak.”

وَقَالَ سُفْيَانُ تستبرئ نفسها بقرءين

Sufyan berkata, “Ia harus beristibra’ terhadap dirinya dengan dua kali masa suci (qur’ayn).”

وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهْوَيْهِ تَسْتَبْرِئُ نَفْسَهَا بِأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ عِدَّةَ الْوَفَاةِ وَبِهِ قَالَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَقَدْ مَضَتْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي الْعِدَدِ بِمَا أَقْنَعَ

Al-Auza‘i dan Ishaq bin Rahawaih berpendapat bahwa seorang wanita harus menunggu masa iddah selama empat bulan sepuluh hari sebagai masa iddah wafat, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abdullah bin Amr bin al-‘Ash. Masalah ini telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang iddah dengan penjelasan yang memadai.

وَإِذَا كَانَ الِاسْتِبْرَاءُ عَنْ وَطْءٍ فِي مِلْكٍ لَمْ تَكُنْ فِيهِ إِلَّا كَالْأَمَةِ وَلَا يَتَعَيَّنُ بِحُدُوثِ الْحُرِّيَّةِ كَمَا لَوْ أُعْتِقَتِ الْأَمَةُ الْمُسْتَبْرَأَةُ

Dan apabila istibra’ dilakukan karena persetubuhan dalam kepemilikan, maka statusnya tidak lain seperti budak perempuan, dan tidak menjadi berubah dengan terjadinya kemerdekaan, sebagaimana jika budak perempuan yang sedang menjalani istibra’ dimerdekakan.

فَصْلٌ

Bagian

وَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّهَا فِي الِاسْتِبْرَاءِ كَالْأَمَةِ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ أَنْ تَكُونَ حَامِلًا أَوْ حَائِلًا فَإِنْ كَانَتْ حَامِلًا فَاسْتِبْرَاؤُهَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ لِأَنَّهُ يَسْتَوِي فِيهِ اسْتِبْرَاءُ الْأَمَةِ وَعِدَّةُ الْحُرَّةِ وَإِنْ كَانَتْ حَائِلًا لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ أَنْ تَكُونَ مِنْ ذَوَاتِ الْحَيْضِ أَوْ مُؤَيَّسَةً فَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَيْضِ اسْتَبْرَأَتْ نَفْسَهَا بِحَيْضَةٍ وَاحِدَةٍ كَالْأَمَةِ وَإِنْ كَانَتْ مُؤَيَّسَةً فَفِي اسْتِبْرَاءِ نَفْسِهَا قَوْلَانِ

Apabila telah dipastikan bahwa dalam hal istibra’ (masa penantian untuk memastikan rahim kosong) statusnya seperti budak perempuan (amah), maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: hamil atau tidak hamil. Jika ia hamil, maka istibra’-nya selesai dengan melahirkan, karena dalam hal ini istibra’ budak perempuan dan masa ‘iddah perempuan merdeka sama hukumnya. Jika ia tidak hamil, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: termasuk wanita yang masih mengalami haid atau sudah tidak haid (menopause). Jika ia termasuk wanita yang masih mengalami haid, maka ia menjalani istibra’ dengan satu kali haid, sebagaimana budak perempuan. Namun jika ia sudah menopause, maka dalam hal istibra’ terhadap dirinya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ أَنَّهَا تَسْتَبْرِئُ نَفْسَهَا بِشَهْرٍ وَاحِدٍ لِأَنَّ كل حيضةت فِي الْعِدَّةِ تُقَابِلُ شَهْرًا كَالْحُرَّةِ تَعْتَدُّ بِثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ عَنْ ثَلَاثَةِ أَقْرَاءَ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, adalah bahwa ia menjalani masa istibra’ selama satu bulan, karena setiap satu haid dalam masa ‘iddah setara dengan satu bulan, sebagaimana perempuan merdeka menjalani masa ‘iddah selama tiga bulan sebagai pengganti dari tiga kali quru’.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي تَسْتَبْرِئُ نَفْسَهَا بِثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ لِأَنَّهُ أَقَلُّ الزَّمَانِ الَّذِي يُعْلَمُ فِيهِ اسْتِبْرَاءُ الرَّحِمُ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يَكُونُ خَلْقُ أَحَدِكُمْ نُطْفَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ عَلَقَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ مُضْغَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَصَارَ انْعِقَادُهُ مُضْغَةً فِي الشَّهْرِ الثَّالِثِ فَلِذَلِكَ تُقَدِّرُ الِاسْتِبْرَاءَ بِثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ وَاسْتَوَتْ فِيهِ الْحُرَّةُ وَالْأَمَةُ كَاسْتِوَائِهَا فِي الْحَمْلِ وَكَذَلِكَ لَوْ عَجَّلَ السَّيِّدُ عِتْقَهَا اسْتَبْرَأَتْ نَفْسَهَا كَمَا لَوْ مَاتَ

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia harus menjalani masa istibra’ selama tiga bulan, karena itu adalah waktu paling singkat yang dapat diketahui bersihnya rahim, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari nutfah selama empat puluh hari, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh hari, lalu menjadi mudhghah selama empat puluh hari.” Maka, terbentuknya janin sebagai mudhghah terjadi pada bulan ketiga. Oleh karena itu, masa istibra’ ditetapkan selama tiga bulan. Dalam hal ini, perempuan merdeka dan budak perempuan disamakan, sebagaimana keduanya juga disamakan dalam hal kehamilan. Demikian pula, jika tuannya mempercepat pembebasannya, maka ia tetap menjalani masa istibra’ sebagaimana jika tuannya meninggal dunia.

مسألة

Masalah

قال المزني قُلْتُ أَنَا قَدْ قَطَعَ فِي خَمْسَةَ عَشَرَ كِتَابًا بِعِتْقِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ وَوَقَفَ فِي غَيْرِهَا

Al-Muzani berkata: Aku (sendiri) telah menetapkan dalam lima belas kitab tentang pembebasan umm al-walad, dan beliau (Imam Syafi‘i) berhenti (tidak menetapkan hukum) dalam selainnya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ أَمَّا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فَلَمْ يَخْتَلِفْ فِي قَدِيمٍ وَلَا جَدِيدٍ فِي عِتْقِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ بِمَوْتِ السَّيِّدِ وَتَحْرِيمِ بَيْعِهِنَّ فِي حَيَاتِهِ وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْكُتُبِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُزَنِيُّ وَأَمَّا قَوْلُهُ وَوَقَفَ فِي غَيْرِهَا فَلِأَصْحَابِنَا فِي الْجَوَابِ عَنْهُ ثَلَاثَةُ أَجْوِبَةٍ أَحَدُهَا أَنَّهُ سَهْوٌ مِنْهُ فِي النَّقْلِ وَأَنَّهُ لَمْ يَقِفْ عَنْهُ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِهِ وَالثَّانِي أَنَّهُ تَوَقَّفَ حِكَايَةً عَنْ غَيْرِهِ مِمَّنْ يَقِفُ فِي عِتْقِهِنَّ وَمَنَعَ جَوَازَ بَيْعِهِنَّ وَالثَّالِثُ أَنَّهُ تَوَقَّفَ اسْتِيضَاحًا بِحُكْمِ الِاجْتِهَادِ وَإِفْسَادًا لِدَعْوَى الْإِجْمَاعِ رَدًّا عَلَى مَالِكٍ فِي ادِّعَائِهِ الْإِجْمَاعَ فِي تَحْرِيمِ بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي أَنَّ الْإِجْمَاعَ إِجْمَاعُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَهُمْ مِنْ غَيْرِهِمْ مَحْجُوجٌ لَا يَنْتَقِضُ بِهِ إِجْمَاعُهُمْ لِأَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ اسْتَجَدَّ خِلَافَهُ فِي جَوَازِ بَيْعِهِنَّ بِالْكُوفَةِ بَعْدَ أَنْ وَافَقَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ بِالْمَدِينَةِ فَلَمْ يَعْتَدَّ مَالِكٌ بِخِلَافِهِ بَعْدَ خُرُوجِهِ عَنْهَا وَالشَّافِعِيُّ يُخَالِفُهُ فِيمَا يَعْتَقِدُهُ مِنَ الْإِجْمَاعِ فِي تَحْرِيمِ بَيْعِهِنَّ وَفِيمَا يَرَاهُ مِنْ إِجْمَاعِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فِيهِنَّ يَعْنِي الرَّدَّ عَلَيْهِ فِي الْأَمْرَيْنِ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ فِي حُكْمِ الْعِتْقِ وَتَحْرِيمِ الْبَيْعِ والله أعلم

Al-Mawardi berkata: Adapun mazhab Syafi‘i, maka tidak terdapat perbedaan baik dalam pendapat lama maupun baru mengenai pembebasan umm al-walad (budak perempuan yang melahirkan anak tuannya) karena wafatnya tuan, dan pengharaman menjual mereka selama tuannya masih hidup. Hal ini telah ditegaskan dalam kitab-kitab yang disebutkan oleh al-Muzani. Adapun pernyataannya bahwa beliau (Syafi‘i) ragu dalam selain itu, maka para sahabat kami memiliki tiga jawaban atas hal tersebut. Pertama, bahwa itu adalah kekeliruan dalam periwayatan, dan beliau (Syafi‘i) tidak pernah ragu dalam hal itu di kitab-kitabnya. Kedua, bahwa beliau ragu hanya dalam bentuk mengisahkan pendapat orang lain yang memang ragu dalam pembebasan mereka, namun beliau tetap melarang bolehnya menjual mereka. Ketiga, bahwa beliau ragu dalam rangka memperjelas hukum melalui ijtihad dan untuk membantah klaim ijmā‘, sebagai bantahan terhadap Malik dalam pengakuannya adanya ijmā‘ atas pengharaman penjualan umm al-walad, berdasarkan pendapatnya bahwa ijmā‘ adalah ijmā‘ Ahl al-Madīnah, dan bahwa siapa pun yang menyelisihi mereka dari selain penduduk Madinah tidak dianggap membatalkan ijmā‘ mereka. Karena Ali—semoga salam tercurah kepadanya—muncul perbedaan pendapat darinya mengenai bolehnya menjual mereka di Kufah setelah sebelumnya beliau sepakat dengan Abu Bakar dan Umar di Madinah. Namun Malik tidak menganggap perbedaan pendapat Ali setelah ia keluar dari Madinah. Syafi‘i menyelisihi Malik dalam keyakinannya tentang adanya ijmā‘ dalam pengharaman penjualan mereka dan dalam pandangannya tentang ijmā‘ Ahl al-Madīnah dalam masalah ini, yakni membantah Malik dalam kedua hal tersebut tanpa ada keraguan dalam hukum pembebasan dan pengharaman penjualan. Allah Maha Mengetahui.

مسألة

Masalah

قال المزني رضي الله عنه وَقَالَ فِي كِتَابِ النَّكَاحِ الْقَدِيمِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُزَوِّجَهَا بِغَيْرِ إِذْنِهَا وَقَالَ فِي هَذَا الكتاب إننا كَالْمَمْلُوكَةِ فِي جَمِيعِ أَحْكَامِهَا إِلَّا أَنَّهَا لَا تُبَاعُ وَفِي كِتَابِ الرَّجْعَةِ لَهُ أَنْ يَخْتَدِمَهَا وهي كارهة قال المزني قلت أنا وهذا اصح قوليه لأن رقها لم يزل فكذلك ما كان له من وطئها وخدمتها وإنكاحها بغير إذنها لم يزل وبالله التوفيق

Al-Muzani raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Dan ia berkata dalam Kitab an-Nikāḥ versi lama, ‘Tidak boleh baginya menikahkan (budak perempuan itu) tanpa izinnya.’ Dan ia berkata dalam kitab ini, ‘Budak perempuan itu seperti budak laki-laki dalam seluruh hukumnya, kecuali bahwa ia tidak boleh dijual.’ Dan dalam Kitab ar-Raj‘ah, ‘Boleh baginya mempekerjakannya meskipun ia tidak suka.’ Al-Muzani berkata, ‘Saya katakan: Ini adalah pendapat beliau yang paling sahih, karena status perbudakannya tidak hilang, maka demikian pula hak-hak yang dimilikinya seperti menyetubuhinya, mempekerjakannya, dan menikahkannya tanpa izinnya juga tidak hilang. Dan hanya kepada Allah-lah taufik.’”

قال الماوردي أما استخدم السَّيِّدِ لَهَا وَاسْتِمْتَاعُهُ بِهَا فَمِمَّا لَمْ يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فِي جَوَازِهِ كَمَا لَمْ يَخْتَلِفْ مَذْهَبُهُ فِي عِتْقِهَا لِمَوْتِهِ وَتَحْرِيمِ بَيْعِهَا فِي حَيَاتِهِ وَأَمَّا تَزْوِيجُهُ بِهَا فَلَا يَصِحُّ لِأَنَّهُ مُسْتَبِيحٌ لَهَا بِالْمِلْكِ فَلَمْ يَثْبُتْ لَهُ عَلَيْهَا نِكَاحٌ كَالْأَمَةِ وَلَكِنْ لَوْ أَعْتَقَهَا جَازَ لَهُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا لِأَنَّهَا قَدْ حَرُمَتْ عَلَيْهِ بِالْعِتْقِ فَجَازَ أَنْ يَسْتَبِيحَهَا بِالنِّكَاحِ

Menurut al-Mawardi, penggunaan budak perempuan oleh tuannya dan kenikmatan yang diambil darinya adalah hal yang tidak diperselisihkan dalam mazhab Syafi‘i tentang kebolehannya, sebagaimana tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab tersebut mengenai pembebasannya karena kematian tuannya dan keharaman menjualnya selama tuannya masih hidup. Adapun menikahi budak perempuan tersebut, maka tidak sah, karena ia telah halal baginya melalui kepemilikan, sehingga tidak berlaku akad nikah atasnya seperti halnya budak perempuan. Namun, jika ia membebaskannya, maka boleh baginya untuk menikahinya, karena setelah dimerdekakan, ia menjadi haram baginya, sehingga boleh ia menghalalkannya kembali melalui akad nikah.

فَأَمَّا إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَهَا بِزَوْجٍ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقَاوِيلَ

Adapun jika ia ingin menikahkan perempuan itu dengan seorang suami, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا قَالَهُ فِي الْجَدِيدِ وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ يَجُوزُ أَنْ يتزوجها جَبْرًا وَإِنْ لَمْ تَأْذَنْ لِأَنَّهُ يَمْلِكُ الِاسْتِمْتَاعَ بِهَا كَمَا يَمْلِكُ اسْتِخْدَامَهَا فَجَازَ أَنْ يَعْقِدَ عَلَى اسْتِمْتَاعِهَا بِالنِّكَاحِ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَعْقِدَ عَلَى اسْتِخْدَامِهَا بِالْإِجَازَةِ وَلِأَنَّ الْمَهْرَ مِنْ كَسْبِهَا فَلَمْ يَكُنْ لَهَا تَفْوِيتُهُ عَلَى سَيِّدِهَا كَسَائِرِ أَكْسَابِهَا

Salah satu pendapat yang dikemukakan dalam pendapat baru dan dipilih oleh al-Muzani adalah bahwa boleh bagi tuannya menikahkan budak perempuannya secara paksa meskipun tanpa izinnya, karena tuan memiliki hak untuk menikmati budaknya sebagaimana ia memiliki hak untuk mempekerjakannya. Maka, dibolehkan baginya untuk melakukan akad nikah atas dasar hak menikmati budaknya, sebagaimana dibolehkan baginya melakukan akad atas dasar hak mempekerjakannya dengan izin. Selain itu, mahar yang diterima merupakan hasil usaha budak tersebut, sehingga budak tidak berhak menghalangi tuannya dari mendapatkan mahar itu, sebagaimana hasil usaha budak lainnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ يَجُوزُ أَنْ يُزَوِّجَهَا بِإِذْنِهَا وَلَيْسَ لَهُ إِجْبَارُهَا لِأَنَّ منعه من بيعها وقد أَوْهَنَ تَصَرُّفَهُ فِيهَا فَمُنِعَ مِنَ الْإِجْبَارِ لِضَعْفِ تَصَرُّفِهِ فِيهَا

Pendapat kedua, yang dikemukakan dalam pendapat lama, menyatakan bahwa wali boleh menikahkan perempuan tersebut dengan izinnya, dan tidak boleh memaksanya, karena wali dilarang menjualnya dan hal itu telah melemahkan hak wali dalam bertindak atas dirinya, sehingga wali dilarang memaksanya karena lemahnya hak wali dalam bertindak atas dirinya.

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُزَوِّجَهَا وَإِنْ أَذِنَتْ لِنُقْصَانِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ حَالِ الْكَمَالِ فَعَلَى هَذَا هَلْ يُزَوِّجُهَا الْحَاكِمُ أَمْ لَا عَلَى وَجْهَيْنِ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa tidak boleh menikahkan mereka meskipun keduanya telah memberi izin, karena masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dari keadaan sempurna. Berdasarkan pendapat ini, apakah hakim boleh menikahkan mereka atau tidak, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ يَجُوزُ لَهُ تَزْوِيجُهَا إِذَا رَضِيَتْ وَرَضِيَ سَيِّدُهَا وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُزَوِّجَهَا إِذَا لَمْ يَجْتَمِعَا عَلَى الرِّضَا لِأَنَّ الْحَاكِمَ يَمْلِكُ مِنْ عُقُودِ الْمَنَاكَحِ مَا ضَعُفَ عَنْهُ الْأَوْلِيَاءُ

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri, membolehkan baginya untuk menikahkan perempuan tersebut jika ia rela dan tuannya juga rela. Tidak boleh menikahkan jika keduanya tidak sepakat untuk rela, karena hakim hanya berwenang dalam akad-akad pernikahan yang para wali tidak mampu melakukannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ تَزْوِيجُهَا لِأَنَّهُ لَمَّا مُنِعَ مِنْ تَزْوِيجِهَا إِذَا لَمْ يَجْتَمِعَا عَلَى الرِّضَا مُنِعَ مِنْهُ وَإِنِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ لِضَعْفِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يَكُونَ لِإِذْنِهِ تَأْثِيرٌ

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, menyatakan bahwa tidak boleh bagi hakim menikahkan perempuan tersebut, karena ketika wali dan perempuan itu dilarang menikahkannya jika keduanya tidak sepakat atas kerelaan, maka hakim pun dilarang melakukannya, meskipun keduanya sepakat, karena lemahnya masing-masing dari keduanya untuk menjadikan izinnya berpengaruh.

فَصْلٌ

Bagian

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ عَقْدِ نِكَاحِهَا فَإِنْ قِيلَ بِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ كَانَتْ مَقْصُورَةً عَلَى اسْتِمْتَاعِ السَّيِّدِ إِنْ شَاءَ وَهِيَ مُحَرَّمَةٌ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا بَعْدَ الْعِتْقِ وَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِ تَزْوِيجِهَا كَانَ صِحَّةُ الْعَقْدِ عَلَيْهَا مُعْتَبَرًا بِتَقَدُّمِ الِاسْتِبْرَاءِ لِأَنَّهَا قَدْ كَانَتْ فِرَاشًا لِلسَّيِّدِ فَلَمْ يَجُزِ الْعَقْدُ عَلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ زَوَالِهِ بِالِاسْتِبْرَاءِ فَإِنْ عَقَدَ قَبْلَ الِاسْتِبْرَاءِ بَطَلَ النكاح لأن لا يَصِيرَ الْفِرَاشُ مُشْتَرَكًا وَمَهْرُهَا إِذَا صَحَّ الْعَقْدُ مِلْكٌ لِلسَّيِّدِ دُونَهَا لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ كَسْبِهَا وَكَذَلِكَ لَوْ وُطِئَتْ بِشُبْهَةٍ وَوَجَبَ بِهَا الْمَهْرُ كَانَ مِلْكًا لِلسَّيِّدِ

Apabila telah ditetapkan sebagaimana yang telah kami jelaskan mengenai akad nikahnya, maka jika dikatakan bahwa akad tersebut tidak sah, maka ia (budak perempuan) hanya terbatas untuk dinikmati oleh tuannya jika ia menghendaki, dan ia diharamkan bagi selain tuannya kecuali setelah dimerdekakan. Namun jika dikatakan bahwa pernikahannya diperbolehkan, maka keabsahan akad atas dirinya bergantung pada telah didahuluinya istibra’, karena sebelumnya ia adalah tempat tidur (istri) bagi tuannya, sehingga tidak boleh diakadkan atasnya kecuali setelah hilangnya status tersebut melalui istibra’. Jika akad dilakukan sebelum istibra’, maka nikahnya batal agar tempat tidur itu tidak menjadi milik bersama. Mahar yang diterimanya jika akadnya sah menjadi milik tuan, bukan miliknya, karena itu termasuk hasil usahanya. Demikian pula jika ia digauli karena syubhat dan karenanya wajib mahar, maka mahar itu menjadi milik tuannya.

فَصْلٌ

Bagian

فَأَمَّا تَزْوِيجُ وَلَدِ أُمِّ الْوَلَدِ مِنْ غَيْرِ السَّيِّدِ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ فِي حُكْمِهَا فِي عِتْقِهِ وَالْمَنْعِ مِنْ بيعه فإن كان كَانَ الْوَلَدُ جَارِيَةً كَانَ فِي تَزْوِيجِ السَّيِّدِ لَهَا مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْأَقَاوِيلِ الثَّلَاثَةِ كَالْأُمِّ لَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يُزَوِّجَهَا مِنْ غَيْرِ اسْتِبْرَاءٍ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ فِرَاشًا لِلسَّيِّدِ بِخِلَافِ الْأُمِّ وَإِنْ كَانَ الْوَلَدُ غُلَامًا لَمْ يَكُنْ لِلسَّيِّدِ إِجْبَارُهُ عَلَى النِّكَاحِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِكَسْبٍ فَيُجْبِرَهُ عَلَيْهِ بِخِلَافِ الْأُمِّ وَلَيْسَ لِهَذَا الْغُلَامِ أَنْ يَتَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ لِمَا عَلَيْهِ مِنَ الرِّقِّ وَفِي جَوَازِ تَزْوِيجِهِ بِإِذْنِ السَّيِّدِ وَجْهَانِ تَخْرِيجًا مِنَ الْأَقَاوِيلِ فِي أُمِّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Adapun pernikahan anak dari umm al-walad dengan selain tuannya, maka telah kami sebutkan bahwa hukumnya sama dengan umm al-walad dalam hal kemerdekaannya dan larangan untuk diperjualbelikan. Jika anak tersebut adalah seorang perempuan, maka dalam hal pernikahan yang dilakukan oleh tuan terhadapnya berlaku tiga pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, sebagaimana pada ibunya. Namun, boleh bagi tuan menikahkannya tanpa masa istibra’, karena ia bukanlah tempat tidur (firaash) bagi tuan, berbeda dengan ibunya. Jika anak tersebut adalah laki-laki, maka tuan tidak berhak memaksanya untuk menikah, karena ia bukanlah hasil usaha (kasb) sehingga tuan dapat memaksanya, berbeda dengan ibunya. Anak laki-laki ini juga tidak boleh menikah tanpa izin tuannya karena ia masih dalam status budak. Adapun kebolehan menikahkannya dengan izin tuan, terdapat dua pendapat yang diambil dari pendapat-pendapat tentang ibunya. Allah-lah yang lebih mengetahui kebenaran.

ونسأله التوفيق فيما توخيناه وكتبناه من هذا الكتاب وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَوَاتُهُ عَلَى سَيِّدِنَا محمد وآله وصحبه وسلم آخر ما ذكرناه والحمد لله رب العالمين كثيرا هذا آخر كتاب الحاوي والحمد لله على ما يسر من إكماله وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وصحبه وسلم

Kami memohon kepada-Nya taufik atas apa yang kami maksudkan dan kami tulis dalam kitab ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat-Nya atas junjungan kami Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. Ini adalah akhir dari apa yang kami sebutkan, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sebanyak-banyaknya. Inilah akhir dari Kitab al-Hawi, dan segala puji bagi Allah atas kemudahan dalam penyelesaiannya. Semoga Allah mencurahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya, serta salam.

 

Toggle Content