Berkata seorang hamba yang hina yang butuh kepada Allah, yaitu ali ibn husain ibn abdillah ibn husain ibn umar al attos: aku berlindung kepad tuhan manusia, raja manusia, tuhan manusia, dari kejelekan godaan syetan, yang menggoda dalam hati manusia, dari golongan jin dan manusia. segala puji bagi Allah yang maha tinngi dari liputan bayangan, pemahaman dan gerakan hati, dan maha suci dari temuan panca indra. dan maha suci dari cara perkiraan, kepastian . batasan dan persamaan, dan maha suci dari cakupan enam arah atau bisa dirabah. aku memujinya dan bersyukur kepadanya atas keutamaanya yang agung yang kita mengagungkannya, dan menyelam kedalam. Ia lah yang menganugrahi kita dengan mewujudkan, lalu memberi pemberian dangan pengetahuan yang gelas kita menjadi bersih, dan mengususkan kekasihnya dengan menghilangkan dari hati mereka kotoran, dan menunjukkan mereka pada taat kepadanya dari seluruh jinis, dan mengutamakan mereka dengan mengakui akan kelemahanm, butuh, hina, lemah, dan fakir. dan aku berselawat dan mengucapkan salam yang terus-menerus dengan hitungan sesuatu yang menggerakkan ombak, dan memasakkan buat pepohonan.

Ketahuilah -semoga Allah menunjukkan kami dan kamu kepada ridlonya, dan mengarahkah kebaikan waktu kita kepada kemuliaan taanya, dan meratakan kita dangan pemberiannya yang mengallir, dan membangunkan kita dengan tarikannya, dan mengakhiri kita dangan kebaikan di kemuliaan waktunya- bahwa ratib yang agung ini, dan hizib yang besar, dan minuma yang tawar, maksudku rotib junjungan kita umar Al Atthos, telah mencakup beberapa rahasia dan cahaya, dan kemanfaatan yang besar, dan faidah yang banyak, yang besar derajatnya, dan tidak mungkin menghitungya, dan tidak mungkin bagi manusia dalam memenuhi kedatangannya, dan tidak mungkin baginya mengitung hitungannya, kecuali seorang yang menfokuskannya, dan yang mampu dari curahahan pemberiannya, karena rotib ini adalah pemberian yang diberikan Allah yang mulia kepada hamba-hambanya lewat tangan imam yang agung ini, al qotb yang memperoleh tempat depan.

Dan kita tidak mengetahui bahwa sayyidinna Umar ra. menisbatkan kepada diri beliau sendiri selain rotib ini, baik berupa nadzom atau nasar , atau risalah atau karangan. adapun rotib ini maka beliau nisbatka kepada diri beliau sendiri. sampai sayyid al imam isa ibn muhammad al habsyi: sesungguhnya telah darang dari sayyidina umar al atthos banyak tentang keutamaan rotib ini, beliau berkata: datang kepada beliau orang-orang yang mengadukan kekeringan dan sulitnya hidup, maka beliau menyuruh mereka membaca rotib ini, lalu kalimat tauhid yang masyhur setelah rotib. lalu mereka lakukan, dan Allah menghilangkan kesulitan mereka berkah rotib ini.

Sayyid isa berkata: saya diceritai orang yang terpercaya dari syekh ali ibn abdillah baros murid sayyid umar, bahwa beliau melihat suatu tulisan bahwa orang yang istiqomah membaca rorib ini, diharpakan diampuni dosa-dosanya.

Dan beberapa orang yang terpercaya menceritakan dari sayyid alwi ibn alwi ib abdillah ibn muasawa ba alawi bahwa beiliau di akhir umurnya berziarah ke tarim, hal tersebut saat hidupnya sayyidina abdullah ibn alawi al haddad, lalu terjadi pada sayyid alwi sakit kematian. maka habib Abdullah al haddar berkata: wahai sayyid alwi sesungguhnya ajal sudah datang, dangan yakin, maka beliau berkata: wahai sayyid abdullah doakan saya , sampai saya sampai kepada kotaku umad, dan aku memandang anak-anakku dan keluargaku. maka habib abdullah berkata: ualang-ulangilah perkataan sayyidina umar dalam rotibnya: ya latifan lam tazal ultuf bina fima nazal innaka latiful la tazal ultuf bina wal muslimin. sampai engkau sampai di kotamu. lalu sayyid alwi mengulang-ulang kalimat tersebut. dan dari sini beliua dapat smbuh dan bejalan dari tarim dengan mengulang-ngulang kalimat tersebut di jalannya hingga sampai ke kotanya amad, dan beliau menetap di sana dua bulan. dan meniggal di sana.

Dan sampai kepada kami juga, dari syekh Ali ibn Abdullah baros bahwa rotib ini jika dibaca di suatu desa atau tempat, maka menjadi keamanan bagi penduduknya dari penyakit, dan rotib ini menjadi penjaga bagi meraka dari penyakit, seperti tujuh puluh pasukan kuda, dan tiada keraguan akan hal tersebut.

mereka berkata: dan sayyid umar menyukai pelan dalam bacaanya dan tidak suka masyhur dan terlihat. hal tersebut karen beliau mendasari semua urusannya dengan kelembutan dan terhindar dari manusia. dan juga pelan lebih mendekati pada keikhlasan. Allah berfirman: dan ingatlah tuhanmu dalam dirimi dengan mendekatkan diri dan rahasia, dan tanpa keras ucapan, dalam waktu pagi dan sore, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lupa. dan firman Allah: dan sederhanakan jalanmu, dan pelankanlah suaramu, sesungguhnya suara yang paling tidak disuakai adalah suara keledai.

Aku berkata: dan yang lebih baik dalam membaca rotib ini, jika mereka berjamaah atau sendiri agar tengah antara keras dan pelan, sekira mereka saling mendengarkan, karena firman Allah: dan jangan engkau keraskan doamu dan jangan engkau pelankan, dan carilah jalan di antra keduaya.

Dan tidak satu cerita kepadaku bahwa suatu desa yang bernama keluarga masud suatau kabilah dari kabilah nawwah, mereka memiliki kecintaan dan keyakinan pada sayyidina umar, dan mereka membaca ratib beliau ini, dimana pun mereka turun gunung, sampai wanita dan anak-anak. bahkan saya pernah ke sanan di desa mereka, dan aku melihat mayoritas mereka hafal rotib ini, seperti yang diceritakan orang-orang. lalu pada suatu ketiaka ada musuh yang menyerang mereka dan musuh tersebut datang kepada mereka dengna membawa pasukan yang besar, lalu ketika di suatu malam mereka membaca rotib, mereka didatangi mata-mata musuh. dan ketika mata-mata mendekati tempat mereka, mata-mata tersebut mendengar mereka berkata: bismillah amanna billah, wa man yu’min billah la khoufa alaih. maka salah satu musuh berkata: saya takut atas diri kalian, jangan menyerang mereka selamnya. lalu mereka kembali ke teman-temanya, dan tebalik urusannya.

begitu pula ketika aku membaca rotib saat-saat ketakutan, maka saya baik-baik saja. dan sebagian orang yang mencintaiku, bahwa ia membaca rotib saat ketakutan dan diserang oleh sekelompok maling, maka mereka tidak mampu mengalahkannya, padahal mereka berjumlah 15, hal tersebut karean dia diperintahkan membaca rotib oleh al allamah abu bakr ibn walid al hasan ketika mau pergi darinya.

saya berkata: dan mengadu kepadaku sekelompok orang tetan ketakutan yang sangat di masa yang sulit, dari serangan para maling, maling-maling itu mengepung mereka dari arah atas dan bawah, lalu aku memerintahkan mereka membaca rotib, dan aku katakan pada mereka: jika kalian kehilangan sesuatu setelah membaca rotib ini maka aku yang menanggung, lalu mereka membaca dan tidak mengalami bahaya apapum, dan musuh tidak memperdulikan mereka, karena berkah membaca wirid al athos. semoga Allah memberi manfaat kita akan rahasia beliau.