Kitab Arbau Rosail Zaini Dahlan Dan Terjemah [PDF]

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih serta Penyayang Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi saw., kepada keluarganya dan sahabatnya semuanya.

 

Kaum muslimin yang terhormat, semoga Allah membuat kita mengenal agama Islam kita ini. Dan semoga Allah senantiasa menunjukkan kebenaran kepada kita dan semoga Allah menjaga kita dari kejahatan nafsu kita. Amin.

 

Ketahuilah, bahwa shalat ima waktu merupakan tiang bagi agama Islam. Karena itu, barangsiapa menegakkannya maka dia menegakkan agama Islam. Dan barangsiapa menyia-nyiakannya maka dia merobohkan Islam.

 

Termasuk musibah paling besar, perbuatan paling buruk dan cacat paling parah adalah meremehkan shalat lima waktu. menyia-nyiakan shalat Jum’at dan shalat jama’ah. Padahal dengan shalat, Allah meninggikan derajat seseorang dan menuutpi cacatnya. Penghuni bumi dan langit beribadah kepada Allah dengan shalat.

 

Tak ada yang meninggalkan shalat dan tak ada yang terganggu oleh harta benda dari shalat, kecuali orang yang telah ditakdirkan Allah untuk celaka, besar siksanya, transaksinya merugi dan lama penyesalannya,

 

Karena itu, orang yang tidak shalat akan dimurkai Allah, akan mati tanpa membawa agama Islam, kelak menjadi penghuni neraka dan Hawiyah menjadi tempatnya bergulung-gulung. Dia dimurkai oleh Allah dan terusir dari bumi serta langit Allah.

 

Diriwayatkan dari Sayidina Ali Kwh, bahwa dia mendengar Nabi saw. bersabda:

 

“Tak ada hamba mukmin yang meninggalkan shalat dan tak mengerjakannya, kecuali Allah menulis di wajahnya: “Orang mi keluar dari rahmat Allah. Maka Aku cuci tangan darinya”. Jika hamba tak melakukan satu shalat fardlu, maka Allah menulis namanya diatas pintu neraka”.

 

Dalam akhir hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khathab dan Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., dituturkan bahwa beliau bersabda: “Jibril as. turun kepadaku, lalu dia berkata: “Bacalah!” Jibril menjawab: “Apa yang aku baca?” Jibril menjawab:

 

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS. Maryam: 59)

 

Yakni setelah para nabi tersebut, akan muncul generasi yang tidak mengindahkan shalat seperti kaum Yahudi dan Nasrani dan menuruti hawa nafsu. Orang-orang yang sifatnya demikian akan tercebur ke neraka Jahanam.

 

Aku berkata: “Hai Jibril, apakah umatku akan menyianyiakan shalat setelah aku?” Jibril menjawab: “Ya. Pada akhir zaman akan datang beberapa orang dari umatmu yang menyianyiakan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya serta mengikuti syahwat. Satu dinar bagi mereka lebih baik daripada shalat mereka”. Allah swt. berfirman:

 

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah”, (QS. Maryam: 87)

 

Nabi saw. bersabda menafsiri ayat tersebut: “Perjanjian itu adalah shalat lima waktu”

 

Nabi saw, bersabda:

 

“Setelah tauhid, Allah tidak mewajibkan sesuatu yang lebih Dia sukai daripada shalat. Sseandainya ada sesuatu yang lebih Dia sukai daripadanya, tentu para malaikat-Nya beribadah dengannya. Di antara mereka ada yang ruku’, ada yang sujud, ada yang berdiri dan ada yang duduk”,

 

Saking baiknya shalat lima waktu, shalat tersebut dibebankan kepada para hamba Allah.

 

Konon para malaikat yang bertugas melakukan shalat dijuluki ‘malaikat pelayan ar-Rahman’. Mereka membanggakan julukan itu kepada kelompok malaikat laiannya. ,

 

Abu Darda’ra. berkata: “Hamba Allah terbaik adalah mereka yang menjaga matahari, rembulan dan bayangan untuk ingat Allah”. Yakni untuk shalat.

 

Yang dimaksudkan Abu Darda’ adalah sebaik-baik hamba Allah . Itu orang yang menjaga waktu untuk menjalankan shalat. Maksudnya orang yang shalat di awal waktu.

 

Sebaliknya, hamba Allah paling buruk adalah mereka yang mengakhirkan shalat dari waktunya. Wallahu a’lam.

 

Diriwayatkan hadits:

 

“Hal pertama yang dihisab pada hamba besuk pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalat itu ternyata sempurna, maka shalat itu diterima dan perbuatan lainnya diterima. Jika ternyata cacat, maka shalat itu ditolak dan perbuatan lainnya ditolak”.

 

Nabi saw. bersabda kepada Abu Hurairah ra.:

 

“Hai Abu Hurairah, perintahlah keluargamu untuk shalat, karena sesungguhnya Allah mendatangkan rezeki kepada kamu dari mana kamu tak menduga”.

 

Ayat berikut sesuai dengan hadits tersebut:

 

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thaha: 132)

 

Syaikh Atha’ al-Khurasani berkata: “Tak ada hamba yang bersujud kepada Allah sekali di suatu tempat dari tempat-tempat di bumi ini, kecuali tempat itu bersaksi untuknya di hari kiamat dan menangisinya pada saat dia mati”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa sengaja meninggalkan shalat, maka tanggungan Muhammad saw. bebas dari dia”

 

Yakni Nabi saw. tdak lagi mengurus dia.

 

Nabi saw, juga bersabda:

 

“Shalat lima waktu difardlukan Allah atas hamba-hamba-Nya. Barangsiapa menunaikannya pada waktunya, maka shalat itu menjadi nur baginya dan menjadi pertanda di hari kiamat. Barangsiapa menyia-nyiakannya, maka dia dikumpulkan dengan Fir’aun dan Haman”,

 

Dalam hadits yang panjang dituturkan, bahwa Jibril as. turun kepada Nabi saw, dan berkata:

 

  1. “Hai Muhammad, Allah tak menerima dari orang yang tidak shalat puasanya. sedekahnya, hajinya, amalnya maupun zakatnya.

 

  1. Orang yang tidak shalat dilaknat di dalam Taurat, Injil. Zabur dan ” Al-Quran.

 

3, Orang yang tidak shalat setiap bari turun kepadanya seribu laknat dan seribu murka. Dan sesungguhnya para malaikat melaknat dia dari atas tujuh langit.

 

  1. Hai Muhammad, orang yang tidak shalat tidak ada baginya bagian dalam bagian-bagianmu maupun syafa’atmu dan dia tidak termasuk umatmu.

 

5, Hai Muhammad, orang yang tidak shalat tidak dijenguk ketika sakit tidak diiring jenazahnya, tidak disalami, tidak ditemani makan. tidak ditemani minum, tidak dikawanya, tidak ditemani duduk, tiada agama baginya, tidak ada amanah bapinya dan tidak ada baginya dalam rahmat Allah. Dia bersama orang-orang munafik di tingkatan paling rendah dari neraka. ?

 

6, Orang yang tidak shalat ilipatkan siksa baginya dua kali lipat. Pada hari kiamat, dia tiba dengan terbelenggu kedua tangannya ke lehernya, para malaikat memukulnya dan dibuka Jahanam baginya, lalu dia memasuki pintu Jahannam bagaikan anak panah, lalu dia turun dengan kepalanya dahulu di dekat Karun dan Haman di tingkatan paling rendah dari neraka.

 

  1. Orang yang tidak shalat jika suapan diangkat ke muluttnya, suapan itu berkata kepadanya: “Semoga Allah melaknatmu, hai musuh Allah. Kamu makan rezeki Allah dan tidak menuniakan fardlu-fardlu Nya”,

 

  1. Orang yang tidak shalat, baju yang ada di badannya cuci tangan dan berkata kepadanya: “Seandainya Tuhanku tidak menundukkan aku kepadamu, tentu aku lari darimu”. Yakni aku tidak mau kamu kenakan.

 

  1. Orang yang tidak shalat jika keluar dari rumahnya, rumah itu berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak menemanimu dalam perjalanmu, tidak menggantimu setelah kamu pergi dan tidak mengembalikanmu kepada keluargamu dengan selamat”.

 

  1. Orang yang tidak shalat dilaknat pada hidupnya dan setelah matinya.

 

  1. Orang yang tidak shalat mati sebagai Yahudi dan dibangkitkan . sebagai Nasrani”.

 

Demikian wahai kaum muslimin dan muslimat, nasib orang yang tidak shalat. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu.

 

Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah dan taufik-Nya sehingga bisa selalu mengerjakan shalat dengan berjama’ah. Dan semoga shalat kita diterima oleh Allah. Amin.

 

Syaikh Imam Asy-Sya’roni berkata dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah: “Nabi saw. mengambil janyi kepada kita secara umum, Yaitu bahwa kita mau menjelaskan kepada orang-orang yang tidak shalat dari kalangan petani, orang awam dan orang bodoh lainnya. Bahwa kita menjelaskan hadits atau ayat yang berisi fadlilah shalat lima waktu dan fadlilah orang yang mengerjakannya dengan jama’ah. Penjelasan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti Allah dan Nabi saw. bersungguhsungguh menjelaskannya.

 

Lazimnya kaum sufi dan para santri saat ini tidak mengindahkan perintah di atas. Mereka mau berbaur dengan orang yang tidak shalat, baik itu anak, pembantu, kawan maupun lainnya. Mereka mau makan bersamanya dan tertawa dengannya. Bahkan mereka mau mengangkatnya sebagai pekerja di toko mereka, sebagai merbot masjid dan lainnya. Mereka tidak mau menjelaskan dosa orang yang tidak shalat dan pahala orang yang melakukan shalat.

 

Tidak mau menjelaskan atau tidak mau memberikan nasehat, termasuk perbuatan yang merobohkan Islam atau melemahkan agama Islam.

 

Karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, lelaki maupun wanita, hendaknya kamu mau menjelaskan atau memberikan pengertian kepada orang-orang bodoh mengenai kewajiban agama Islam yang tidak dilakukannya. Jika tidak, maka kamu adalah orang yang pertama kali dibakar dengan neraka bersama orang yang tidak shalat (seperti yang dituturkan dalam hadits sahih di atas).

 

Kamu termasuk orang yang memiliki ilmu atau sudah tahu, namun tidak mau mengamalkan ilmunya. Karena setiap orang yang tahu sesuatu dari hukum syariat Islam, namun tidak mau mengamalkannya dan tidak mau mengajarkannya kepada orang lain, dia termasuk orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya ”

 

Saudara sesama muslim dan muslimat, sesungguhnyamengerjakan shalat jama’ah dengan jama’ah secara rutin, menyebabkan tercapainya banyak kebajikan, keberkahan, menaikkan derajat, mengusir keburukan dan menyirnakan prahara serta musibah.

 

Shalat merupakan dasar bagi takwa dan takwa adalah pondasi segala kesempurnaan. Jika seseorang mampu rutin jama’ah shalat lima waktu, maka dia meraih ketakwaan dan segala kebajikan, seperti menjauhi maksiat dan perbuatan keji serta dosa.

 

Allah swt. berfirman:

 

mengerjakannya dengan jama’ah. Penjelasan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti Allah dan Nabi saw. bersungguhsungguh menjelaskannya.

 

Lazimnya kaum sufi dan para santri saat ini tidak mengindahkan perintah di atas. Mereka mau berbaur dengan orang yang tidak shalat, baik itu anak, pembantu, kawan maupun lainnya. Mereka mau makan bersamanya dan tertawa dengannya. Bahkan mereka mau mengangkatnya sebagai pekerja di toko mereka, sebagai merbot masjid dan lainnya. Mereka tidak mau menjelaskan dosa orang yang tidak shalat dan pahala orang yang melakukan shalat.

 

Tidak mau menjelaskan atau tidak mau memberikan nasehat, termasuk perbuatan yang merobohkan Islam atau melemahkan agama Islam.

 

Karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, lelaki maupun wanita, hendaknya kamu mau menjelaskan atau memberikan pengertian kepada orang-orang bodoh mengenai kewajiban agama Islam yang tidak dilakukannya. Jika tidak, maka kamu adalah orang yang pertama kali dibakar dengan neraka bersama orang yang tidak shalat (seperti yang dituturkan dalam hadits sahih di atas).

 

Kamu termasuk orang yang memiliki ilmu atau sudah tahu namun tidak mau mengamalkan ilmunya. Karena setiap orang yang tahu sesuatu dari hukum syariat Islam, namun tidak mau mengamalkannya dan tidak mau mengajarkannya kepada orang lain, dia termasuk orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya.“

 

Saudara sesama muslim dan muslimat, sesungguhnya mengerjakan shalat jama’ah dengan jama’ah secara rutin, menyebabkan tercapainya banyak kebajikan, keberkahan, menaikkan derajat, mengusir keburukan dan menyirnakan prahara serta musibah.

 

Shalat merupakan dasar bagi takwa dan takwa adalah pondasi segala kesempumaan. Jika seseorang mampu rutin jama’ah shalat lima waktu, maka dia meraih ketakwaan dan segala kebajikan, seperti menjauhi maksiat dan perbuatan keji serta dosa.

 

Allah swt. berfirman:

 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. al-A’raf: 96)

 

Yakni adanya iman dan takwa menyebabkan terbukanya pintu rezeki dari langit, seperti hujan. Dan rezeki dari bumi, seperti tumbuhan dan hasil bumi.

 

“Allah swt berfirman:

 

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Gur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka”. (QS. alMaidah: 66)

 

Dari atas mereka yakni langit dan dari bawah mereka yakni bumi,

 

Allah juga berfirman:

 

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)”. (QS. al-Jin: 14)

 

Sesungguhnya musibah pasti sirna dari tempat yang penduduknya mengerjakan shalat. Sebaliknya musibah turun di tempat yang penduduknya tidak menjalankan shalat.

 

Janganlah kamu memungkiri terjadinya gempa bumi, tanah longsor dan petir di tempat yang penduduknya tidak mau shalat.

 

Janganlah kamu berkata atau berpendapat: “Aku sudah shalat. Aku tak peduli orang lain yang tidak mau shalat. Yang penting aku tidak termasuk kelompok yang meninggalkan shalat”.

 

Jangan berkata demikian, sebab musibah jika turun, mengena orang yang baik dan orang yang buruk. Yang baik tidak mau amar makruf nahi mungkar terhadap orang yang buruk, yakni tidak mau shalat. Allah Maha Tahu atas setiap sesuatu.

 

Suatu hari, Nabi saw, bersabda kepada para sahabat:

 

“Hendaknya kalian ucapkan: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan di antara kami orang yang celaka lagi terhalang” Lalu beliau bersabda: “Tahukah kalian, siapa orang celaka yang terhalang?” Para sahabat menjawab: “Siapa orang celaka itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tidak shalat”.

 

Dalam hadits kisah Isra’ Mi’raj dituturkan, ketika Nabi saw.

 

Isra’-beliau melihat sekelompok orang yang kepalanya dipukul sampai hancur dengan batu. Begitu hancur luluh, kepala mereka kembali seperti sedia kala. Hal itu terjadi berulang-ulang tanpa henti. Nabi saw. bertanya: “Hai Jibril, apa salah orang-orang itu?”

 

Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya berat untuk shalat”. Allah swt. berfirman:

 

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS. Al-Ma’un: 4-5)

 

Sebagian ulama tafsir berkata: “Yang dimaksudkan adalah orang-orang yang menyia-nyiakan shalatnya dan mengeluarkannya dari waktunya. Wail adalah sebuah jurang di dalam neraka Jahannam. Seandainya gunung-gunung dunia dijalankan di sana, maka hancur lebur karena sangat panasnya. Wail itulah tempat orang yang meremehkan shalatnya, kecuali jika dia bertobat kepada Allah dan menyesali kesalahannya.”

 

Shalat adalah pembeda antara orang yang mukmin dan orang kafir Nabi saw bersabda:

 

“Barangsiapa menjaga shalat lima waktu dengan jama’ah, maka Allah akan memuliakannya dengan lima hal:

 

Pertama dan kedua, disirnakan sempitnya kubur dan siksa kubur.

 

Ketiga, diberi buku amal perbuatan dengan tangan kanan.

 

Keempat, melewati sirath mustagim bagaikan kilat.

 

Kelima, masuk surga tanpa hisab.

 

Dan barangsiapa meremehkan shalatnya, maka Allah menyiksanya dengan lima belas macam siksa. Enam macam di dunia, tiga macam ketika akan mati, tiga macam ketika masuk kubur dan tiga macam ketika bertemu dengan Tuhan, yaitu di padang hari kiamat.

 

Adapun enam macam di dunia:

 

Pertama, dicabut berkah umurnya.

 Kedua, akan dihapus tanda kesalehan dari mukanya:

Ketiga, seluruh amal perbuatannya tidak akan’diberi pahala.

Keempat, doanya tidak sampai kepada Allah.

Kelima, tidak mendapat bagian dari doa orang-orang saleh.

Keenam, ruh dicabut dari jasadnya tanpa iman. Semoga Allah melindungi kata.

 

Adapun tiga siksaakan mati:

 

Pertama, mati dalam keadaan hina.

Kedua, mati dalam keadaan lapar.

Ketiga, sangat haus. Seadainya seluruh air lut dunia diinumkan, dia belum segar. Yakni tidak hilang hausnya.

 

Adapun tiga yang terjadi di dalam kubur:

 

Pertama, disempitkan kuburnya dengan dijepit, sehingga tulang rusuknya bertubrukan.

 

Kedua, kuburnya menyala api, sehingga dia bergulung-gulung dalam api. Hal itu terjadi siang dan malam .

 

Ketiga, seekor ular besar yang buta menguasainya di dalam kubur Binatang itu menyiksanya karena ia menyia-nyiakan shalat. Siksaannya sesuai dengan waktunya shalat.

 

Adapun tiga yang terjadi ketika ia bertemu Tuhannya:

 

Pertama, ketika langit terbelah, ia didatangi malaikat yang membawa rantai yang panjangnya tuju puluh hasta. Rantai itu dikalungkan pada lehernya, lalu dimasukkan ke mulutnya dan dikeluarkan dari duburnya. Lalu ada seruan dari sisi Allah: “Siksa ini jadi balasan pada orang-orang yang menyia-nyiakan fardlu Allah”.

 

Ibnu Abbas ra. berkata: “Seandainya satu lingkaran dari rantai itu jatuh kebumi, maka bumi terbakar”.

 

Kedua, Allah tidak mau melihatnya.

 

Ketiga, Allah tidak membersihkannya dan baginya siksa yang pedih”

 

Diriwayatkan dalam hadits, bahwa yang pertama kali hitam pada hari kiamat adalah wajah orang yang tidak shalat. Di dalam neraka, ada sebuah jurang bernama Lamlam. Di dalamnya ada banyak ular. Setiap ular besarnya sama dengan punuk unta dan panjangnya perjalanan sebulan. Ular itu menggigit orang-orang yang tidak shalat. Racunnya mendidih di dalam badan orang tersebut dalam waktu tuju puluh tahun. Dagingnya mengelupas, betapa pedihnya.

 

Dalam hadits yang lain dituturkan:

 

“Barangsiapaselalu shalat lima waktu dengan jama’ah, maka Allah memberinya lima hal:

 

Pertama, Allah akan menyirnakan sempitnya ekonomi.

Kedua, Allah akan menyirnakan siksa kubur.

Ketiga, Allah akan memberikan buku amal kepadanya dengan tangan kanan.

Keempat, dia melewati Sirath Mustagim bagaikan kilat yang menyambar.

Kelima, ia masuk surga tanpa hisab.

 

Dan barangsiapa meremehkan shalat lima waktu dengan jama’ah, Allah akan menyiksanya dengan sepuluh hal:

 

Pertama. Allah akan menyirnakan berkah pekerjaanya dan rezekinya.

Kedua, seluruh amal perbuatannya tidak diterima.

Ketiga. tanda kesalehan dihapus dari wajahnya.

Keempat, dibenci oleh hati umat manusia.

Kelima, nyawanya dicabut dalam keadaan lapar dan haus.

Keenam, pertanyaan kubur diberatkan baginya.

Ketujuh, kuburnya disempitkan dan gelap.

Kedelapan, hisabnya diberatkan di hari kiamat.

Kesembilan, dimurkai oleh Tuhan.

Kesepuluh, Tuhan menyiksanya dengan masuk neraka”.

 

Syaikh Qatadah (seorang Tabi’in) berkata: “Hendaknya kalian selalu menjalankan shalat, sebab shalat adalah budi pekerti orang mukmin”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Umatku adalah umat yang dirahmati. Musibah tidak disirnakan dari mereka, kecuali karena ikhlas mereka, shalat mereka, doa mereka dan orang-orang lemah mereka”.

 

Banyak hadits menerangkan kufurnya orang yang tidak shalat. Dan banyak sahabat Nabi saw. yang berpegangan dengan hadits-hadits tersebut.

 

Di antara mereka adalah Umar bin Khathab, Abdur Rahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah dan Abu Darda’ ra. Ulama salaf juga ada yang sependapat dengan mereka. Di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal, Ishag bin Rahawaih, Abdullah bin al-Mubarak, an-Nakhai dan masih banyak lagi.

 

Saudara-saudaraku, hadits-hadits tersebut sudah cukup bagi kita, bahwa orang yang tidak shalat itu kafir. Kita cukup mengikuti pendapat para sahabat Nabi dan para ulama yang berpendapat demikian.

 

Orang yang tidak shalat, dia berpaling dari Tuhannya yang telah menciptakannya dengan sempurna, mendidiknya, memberinya makan minum, menunjukkan jalan keselamatan dan menjelaskan, bahwa musuhnya yaitu setan kelak kembalinya ke neraka.

 

Lalu apakah hamba yang hina dan cacat ini berani durhaka kepada Tuhannya yang Pemurah dan mengikuti jejak setan yang dilaknat dan telah engeluarkan bapaknya dari surga serta mengajak kepada kesesatan? Jelas tidak layak dan tidak pantas.

 

Celaka adalah bagi orang yang mengikuti setan dan menurut ajakannya serta melawan finman Tuhannya.

 

Aduhai betapa buruknya perbuatan orang yang mengikuti setan. Besar musibahnya dan dia sangat celaka pagi dan sore. Orang yang menuruti ajakan setan 12 buruk dan kotor lahir batin.

 

Karena itu, mari kita segera taat kepada Allah ketika mendengar adzan. Janganlah sampai kita tergoda oleh setan yang menggoda kita untuk malas dan menunda shalat. sebab setan jika diikuti, membuat kita hina dan merugi.

 

Saudara-saudara muslimin dan muslimat, semoga Allah memberi kita petunjuk. Hendaknya kalian tahu, bahwa kalian harus memerintah istri kalian dan anak kalian semua untuk melakukan shalat lima waktu.

 

Sebab anak istri merupakan amanat dari-Allah yang dititipkan kepada kalian semua,

 

Allah telah berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ” mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. al-Anfal: 27)

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Takutlah kalian kepada Allah, takutlah kalian kepada Allah mengenai kaum wanita, karena sesungguhnya mereka adalah amanat disisikalian”.

 

Barangsiapa tidak menyuruh istrinya untuk shalat dan tidak mengajarkan shalat kepadanya, maka dia mengkhianati Allah dan Rasulullah. Dia berhak disiksa oleh Allah, sebab dia tidak mengindahkan firman Allah di atas.

 

Dalam sebuah hadits dituturkan orang-orang yang celaka. Di antara orang celaka adalah lelaki yang tidak mau menyuruh istrinya untuk menjalankan shalat. Tidak ada baiknya wanita yang tidak memiliki agama dan tak ada baiknya lelaki yang tidak mau menyuruh Istrinya atau anaknya atau saudaranya untuk melakukan shalat. Istrinya tidak dirahmati Allah dan dilaknati.

 

Istri jika tidak taat kepada suami, maka harus diceraikan, sebab dia musuh Allah dan musuh Rasulullah.

 

Wali atau orang tua wanita harus membantu suami. Yakni membantu menyuruhnya melakukan shalat dan taat kepada suami.

 

Jika orang tua istri tidak mau membantu suami, maka dia masuk neraka dan berhak dimurkai Allah serta berhak disiksa.

 

Karena itu, hendaknya kalian saling bantu-membantu untuk taat kepada Allah, maka kalian beruntung dan selamat dari siksa Allah.

 

Janganlah kalian meremehkan masalah ini.

 

Demi Allah, yang meremehkan masalah ini hanyalah orang yang tidak ada baiknya dan tak beragama. Siksa Allah akan menimpanya, sebab Allah berfirman:

 

“Dan tetaplah alas mereka keputusan azab pada umat-umat Jang terdahulu sebelum mereka dari Jin dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi”. (QS. Fushilat: 25)

 

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata dalam kitab Nashaih ad-Diniyyah:

 

“Sebagaimana kamu wajib menjaga shalat dan haram Meremehkannya, kamu juga wajib menyuruh keluarga dan anakmu untuk melakukan shalat. Demikian juga orang yang berada dalam kekuasaanmu. Jangan berikan alasan kepada mereka untuk tidak shalat. Siapa tidak mendengar dan tidak taat, ancamlah dia dan hukumlah dia. Marahilah dia lebih hebat daripada marahmu jika dia merusak hartamu. Jika kamu tidak berbuat demikian, maka kamu termasuk orang yang meremehkan shalat dan kewajibanmu kepada Allah. Jika dia tidak menurut “ setelah kamu hukum, maka jauhkan dia dan usirlah dia, sebab dia sebenarnya setan yang tidak ada baiknya sama sekali. Dia haram dikasihi dan dikawani, dia harus dimusuhi dan diputus. Dia termasuk orang yang melawan Allah dan Rasulullah. Allah berfirman:

 

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan.orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. al-Mujadilah: 22)

 

Dalam ayat di atas, Allah menafikan iman dari orang yang mengasihi orang yang melawan Allah dan Rasulullah, meskipun dia kerabat yang sangat dekat.

 

Karena itu, wahai saudaraku, hendaknya kalian selalu mengerjalan shalat dengan berjama’ah di masjid. Mintalah perlindungan kepada Allah dari menganggap mudah urusan shalat. Hendaknya kalian segera shalat jama’ah dan selalu itikaf di masjid.

 

Perbuatan yang dituturkan di atas menjadi harta rampasan bagi orang-orang yang beruntung, keberuntungan orang yang bertakwa, kabar gembira surga, rehat orang zuhud yang saleh, tindakan orang yang memperoleh petunjuk, jaminan orang terpilih yang cinta kepada Allah, harta rampasan orang yang makrifat Allah, obat para ulama yang mengamalkan ilmunya dan tidak terganggu apapun dari melakukan shalat. Ketika shalat tiba, mereka tidak peduli hal yang menaikkan ataupun menurunkan pangkatnya. Hati mereka selalu ingin shalat. Jika ada shalat yang qadla’, hati mereka sedih dan berduka. Dengan melakukan shalat, hati mereka gembira, bangga dan suka cita.

 

Semoga Allah selalu mengasihi orang yang segera taat dan mau menjaga shalat jama’ah. Menjaga shalat jama’ah merupakan Keberuntungan yang agung dan kebahagiaan yang besar.

 

Jika kalian mau mendengarkan keterangan-keterangan di atas dan mengindahkannya, maka kalian menjadi orang yang beruntung dan bahagia.

 

Jika kalian semua menentang dan berpaling, maka kalian celaka.

 

Sudah tidak ada lagi alasan bagian kalian.

 

Ya Allah, selamatkanlah kami dari hal-hal yang menyebabkan hina. Tunjukkanlah kebaikan-kebaikan kepada kami. Lipat gandakanlah kebaikan-kebaikan kami. Maafkanlah keburukan-keburukan kami. Jadikanlah kami orang yang beruntung dalam hidup di dunia iri dan setelah mati. Wahai Penguasa kebajikan, wahai Pengangkat derajat, wahai Tuhan langit dan bumi. Dengan wasilah junjungan kami Muhammad saw.makhluk terbaik.

 

Semoga Allah mencurahkan Shalawat dan salam kepada Junjungan kami Muhammad dan dan keluarga serta sahabatnya dengan Shalawat dan salam terbaik. Semoga salam dilimpahkan kepada para rasul dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang

 

Allah swt. berfirman:

 

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. al-Bagarah: 45)

 

Orang yang khusyu’ adalah orang yang diberi pertolongan oleh Allah.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Shalat jama’ah pahalanya melebihi orang yang shalat sendirian terpaut dua puluh lima derajat”. Dan dalam salah satu riwayat, “Dua puluh tujuh derajat.”

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Tidak ada tiga orang di desa atau hutan yang tidak didirikan Shalat jama’ah pada mereka, kecuali setan mengalahkan mereka. Itu sebabnya, kamu hendaknya selalu berjama’ah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh (terpencil)”

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Keras yang sempurna, kufur dan munafik adalah orang yang mendengar panggilan Allah menuju shalat, lalu dia tidak mendatanginya”

 

Pengglan.itu adalah adzan.

 

Nabi saw Juga bersabda:

 

“Sudah cukup mukmin celaka dan merugi jika dia mendengar muadzin memanggil untuk shalat, lalu dia tidak mendatanginya”.

 

Nabi saw. juga bersabda: .

 

“Sesungguhnya setan adalah serigala manusia seperti serigala kambing. Ia mengambil kambing yang jauh. Maka jauhilah lereng-lereng gunung”.

 

Yakni janganlah kalian bercerai berai jauh dari kawan dan hendaknya kalian selalu berjama’ah di masjid.

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Barangsiapa mendengar seruan undangan (yakni adzan), padahal dia sempat dan sehat, lalu dia tidak mendatangi undangan tersebut, maka tak ada shalat baginya”.

 

Yakni shalatnya tidak sempurna.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa mendengar adzan, lalu tidak ada uzur yang mencegahnya untuk mengikuti undangan itu, maka tidak diterima . Shalatnya”.

 

Yakni mendengar adzan dan tidak mau berjama’ah.

 

Abu Said al-Khudri ra. berkata: “Jika kalian melihat lelaki membiasakan diri untuk shalat jama’ah di masjid, maka bersaksilah bahwa dia beriman. Allah swt. berfirman:

 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah”, (QS. at Taubah: 19)

 

Nabi saw, bersabda:

 

“Masjid itu rumah setiap orang yang takut kepada Allah. Allah sudah menjamin orang yang masjid menjadi rumahnya bahwa dia enak, diberi rahmat dan lewat Sirath Mustaqim menuju ridla Allah, yaitu ke surga”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mreramaikan rumah Allah adalah keluargaAllah”.

 

Yakni orang-orang yang berjama’ah di masjid adalah keluarga Allah.

 

“Ibnu Abbas ra. berkata: “Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak mendatanginya, maka dia tidak akan melihat kebaikan dan tidak dikehendaki baik”.

 

Abu Hurairah ra. berkata: “Telinga anak Adam dipenuhi dengan timah yang dihancurkan, itu lebih baik daripada dia mendengar adzan, namun tidak mendatanginya”.

 

“Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa berwudlu di rumahnya lalu berwudlu dengan baik, kemudian mendatangi masjid, maka dia ziarah Allah. layak jika yang diziarahi memuliakan peziarahnya”.

 

Yakni wudlu sesuai dengan syarat dan sunat wudlu.

 

Nabi saw. bersabda kepada para sahabat:

 

“Apakah kalian semua tidak ingin aku tunjukkan sesuatu yang menyebabkan Allah menghapus kesalahan kalian dan meluhurkan derajat?” Mereka menjawab: “Ya, kami mau, Rasulullah”. Nabi saw. bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudlu atas hal-hal yang dibenci, banyaknya langkah ke masjid, . menanti shalat setelah shalat. Inilah yang dimaksudkan ribath (tiga kali)”.

 

Menanti shalat setelah shalat kalau tidak salah maksudnya sudah shalat sendirian, lalu shalat lagi karena mendapatkan jama’ah.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Menyempurnkan wudlu atas hal-hal yang dibenci, aktifnya telapan-telapak kaki menuju masjid-masjid dan menantikan shalat setelah shalat, bisa mencuci kesalahan-kesalahan”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa berangkat pagi dan berangkat sore ke masjid, maka Allah menyiapkan untuknya tempat di surga setiap kali dia berangkat pagi dan berangkat sore”.

 

Ibnu Umi Maktum ra. yang buta menghadap Nabi saw. Dia mengadu bahwa dia buta. Sedangkan di Madinah banyak hewan melata dan sumur.

 

Dia berkata: “Apakah engkau tidak menjumpai keringanan Jika aku shalat di rumah saja?” Nabi saw. balik bertanya: Apakah kamu mendengar adzan?” Dia menjawab: “Ya, masih mendengar”, Nabi saw. bersabda: “O, jika begitu. aku tidak menjumpai keringanan untuk kamu”, Yakni untuk shalat di rumah, (HR .al-Hakim)

 

Nabi saw, bersabda:

 

“Tiga orang dilaknat oleh Allah”

 

Di antara mereka, Nabi saw. menuturkan lelaki yang mendengar Hayya alash shalah hayya alal falah. Namun dia tidak mendatangi undangan itu. (HR. al-Hakim)

 

Yakni dia mendengar Qomat shalat. Nabi saw. bersabda:

 

“Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, kecuali di masjid”

 

Yakni tidak ada shalat yang sempurna.

 

Termasuk hal yang sebaiknya dilakukan dan diperhatikan dalam shalat adalah meluruskan shaf dan merapatkannya.

 

Nabi saw, bersabda:

 

“Luruskanlah shaf kalian, ratakanlah pundak kalian, lembutlah kalian di tangan saudara kalian dan isilah kekosongan, karena sesungguhnya setan masuk di antara kalian bagaikan anak kambing kecil”.

 

Jadi jika barisan shalat tidak rapat, maka sela-selanya ditempati oleh setan.

 

Aturan shaf, di samping lurus adalah harus rapat.

 

Dari al-Bara’ bin Azib ra., ia berkata: “Nabi saw. jikaakan shalat, – beliau mendatangi sisi Shaf untuk menata dada dan pundak orang-orang. Beliau bersabda:

 

“Janganlah kalian berbeda, maka hati kalian bertentangan. Sesungguhnya Allah bershalawat kepada shaf awal”.

 

Shalawat Allah maksudnya memberi rahmat, Shalawat malaikat adalah memintakan ampunan.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Luruskanlah shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf

termasuk mendirikan shalat”.

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Samakanlah shaf kalian, rapatkanlah dan ratakanlah pundak pundak. Karena demi Dia yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari sela-sela shaf bagaikan anak kambing”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Luruslah kalian, maka hati kalian sama, kalian saling berhubungan dan saling sayang”.

 

Imam Syuraih berkata: “Yakni bercampurlah kalian dalam shalat”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Tegakkanlah, ratakanlah antara pundak kalian dan isilah selasela shaf, lembutlah kalian di tangan saudara kalian dan jangan biarkan lowongan-lowongan setan. Barangsiapa menyambung shaf, maka Allah menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskan shaf, maka Allah memutusnya”.

 

Dari Anas ra., ia berkata: “Nabi saw. bersabda:

 

“Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan saling rapatlah kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku”.

 

Maka salah seorang dari kami menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kakinya dengan telak kaki temannya”.

 

 

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa shalat Isya’ dengan jama’ah, maka seolah-olah dia beribadah setengah malam. Dan barangsiapa shalat Shubuh dengan jama’ah, maka seolah-olah dia beribadah semalam suntuk”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Shalat paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat . Isya’ dan shalat Shubuh. Seandainya orang-orang munafik tahu pahala shalat jama’ah Isya’ dan Shubuh, tentu mereka datang, meskipun dengan merangkak. Sungguh aku bermaksud untuk menyuruh agar shalat diqomati, lalu menyuruh seorang lelaki agar mengimami orang-orang. Kemudian aku pergi bersama beberapa orang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau shalat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api”.

 

Ada satu hadits mengatakan, bahwa Nabi saw. tidak melihat beberapa orang yang tidak ikut jama’ah shalat. Maka beliau bersabda:

 

“Aku sungguh bermaksud mengutus seorang lelaki mengimami orang banyak, lalu aku meninggalkan beberapa lelaki yang ketinggalan shalat supaya rumah mereka dibakar dengan kayu”.

 

Dalam sebuah riwayat, Nabi saw. bersabda: “Seandainya di rumah-rumah tidak ada kaum wanita dari ‘anak cucu, maka aku dirikan shalat Isya’, lalu aku suruh para pemudaku membakar apa yang di dalam rumah-rumah itu dengan api”

 

“Ibnu Umar ra. berkata: “Jika kami tidak melihat seseorang dalam shalat Isya’ dan Shubuh, maka kami berburuk sangka kepadanya”.

 

Maksudnya para sahabat Nabi saw. mengira dia munafik. |

 

Nabi saw, bersabda:

 

“Barangsiapa di antara kalian mampu untuk menjalankan dua shalat Isya’ dan Shubuh meski dengan merangkak: maka hendaknya dia lakukan”.

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Barangsiapa shalat Isya’ dengan jama’ah, maka dia mengambil bagiannya dari Laulatul Qadar”

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa shalat jama’ah di masjid sampai empat puluh bari . Tanpa tertinggal takbiratul ihram raka’t pertama maka Allah menulis untuknya merdeka dari neraka”

 

Nabi saw. juga bersabda:

 

“Barangsiapa wudlu, lalu menuju masjid, lalu shalat sunat dua raka’at sebelum shalat Shubuh, lalu shalat suant, lalu duduk, lalu shalat Shubuh, maka shalatnya di hari itu-ditulis shalat orang yang berbakti. Dan dia ditulis di antara kelompok Allah”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa shalat Shubuh dengan berjama’ah, maka dia menjadi tanggungan Allah. Maka janganlah kalian merusak janji Allah. Barangsiapa membunuh orang yang shalat Shubuh dengan jama’ah, maka dia dicari Allah sampai dia diceburkan ke dalam neraka”.

 

Karena hadits ini, al-Hajjaj (seorang jenderal yang kejam) tidak mau membunuh orang yang shalat Isya’ dan Shubuh dengan jama’ah. –

 

Nabi saw. bersabda: ”

 

“Barangsiapa berjalan di kegelapan malam menuju masjidmasjid, maka besok di hari kiamat ia bertemu dengan Allah dengan nur (cahaya)”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Kabarkan berita gembira bagi orang-orang yang banyak berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid berupa cahaya yang sempurna di hari kiamat”

 

Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah sebagai muslim, hendaknya dia segera menjalankan shalat! lima waktu ketika diserukan. Karena sesungguhnya Allah . menyariatkan banyak sunah hidayah untuk Nabi kalian. Sedangkan shalat lima waktu termasuk jalan hidayah. Jika kalian semua shalat di rumah kalian, maka kalian tidak mengindahkan sunah Nabi kalian, Jika kalian tidak mengindahkan sunah Nabi kalian, maka kalian sesat. Tak ada lelaki yang berwudlu, lalu dia berwudlu dengan baik sesuai Syarat dan sunatnya, lalu dia menuju satu di antara masjidmasjid ini untuk berjama’ah, kecuali Allah menulis kebaikan untuk setiap langkahnya, menaikkan derajatnya sebab satu langkahnya dan Allah menghapus keburukan dengan tiap langkah. Sungguh tidak ada yang tertinggal dari jama’ah, kecuali munafik yang jelas munafiknya”.

 

Nabi saw. bersabda:

 

“Barangsiapa wudlu dengan menyempurnakan wudlunya, lalu berjalan menuju Shalat fardlu, lalu shalat fardlu dengan imam, maka dosanya diampuni”.

 

Yakni dia shalat jama’ah.

 

Semoga Allah mencurahkan Shalawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, pimpinan makhluk, keluarganya yang suci dan sahabatnya yang memiliki cita-cita tinggi. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

 

 

 

Imam Atha’ bin Abu Rabah: “Tidak boleh seseorang ketika dia mendengar adzan/orang yang adzan untuk meninggalkan jama’ah”.

 

Imamal-Auzai berkata: “Anak tidak wajib taat kepada orang tua untuk tidak shalat jama’ah”.

 

Imam Said bin al-Musayyab berkata: “Sejak dua puluh tahun silam, muadzin tidak pernah adzan, kecuali aku sudah ada di dalam masjid”.

 

Sebagian ulama salaf berkata: “Sampai kepada kami, ketika hari kiamat tiba, ada sekelompok orang yang dibangkitkan dengan wajah bagaikan bintang yang bersinar: Para malaikat bertanya kepada mereka: “Apa amal perbuatan kalian?” Jawab mereka: “Kami ketika mendengar adzan, kami segera berwudlu. Tak ada “yang menghalangi untuk melakukan hal tersebut”.

 

Ada lagi kelompok yang dibangkitkan dengan wajah bagaikan rembulan. Para malaikat menanyai mereka: “Apa amal perbuatan kalian?” Jawab mereka: “Kami berwudlu sebelum waktu shalat tiba”.

 

Ada lagi kelompok yang dibangkitkan dengan wajah bagaikan matahari. Para malaikat bertanya: “Apa amal perbuatan kalian?”

 

Jawab mereka: “Kami sudah berada di masjid ketika kami mendengar adzan”.

 

Ulama salaf, yakni ulama kuno, melayat kawannya selama tiga hari Jika dia tertinggal takbiratul ihram. Dan melayatnya selama tujuh hari jika dia tertinggal shalatjama’ah.

 

 Kesimpulannya, shalat jama’ah lima waktu di samping mengandung banyak fadlilah yang luar biasa, juga bisa merekatkan tali persaudaraan, persatuan dan lainnya.

 

Imam an-Nakhai berkata: “Menurut ulama salaf, berjalan di malam gelap menuju masjid, menyebabkan seseorang masuk surga” |

 

Nabi saw bersabda:

 

“Para malaikat selalu bershalawat kepada salah seorang dari kalian (memintakan ampun) selama dia masih di tempatnya di mana dia shalat selama dia belum hadas atau berbicara.

 

Mereka berkata:” Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia”

 

Imam Said bin al-Musayyab berkata: “Barangsiapa duduk di masjid, maka dia seolah-olah berbincang-bincang dengan Allah. Karena itu, dia harus mengucapkan perkataan yang baik.”

 

Kalau tidak salah, yang dimaksudkan adalah I’tikaf di masjid.

 

Ibnu Abbas ra. ditanya mengenai seorang lelaki yang beribadah di malam hari dan puasa di siang hari, namun dia tidak menghadiri shalat Jum’at dan shalat jama’ah. Ibnu Abbas menjawab: “Dia masuk | neraka”, Semoga Allah melindngi kita dari hal itu.

 

Dari Syaikh Abu Madyan, ia berkata: “Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa yang ditulis bagi hamba dari shalatnya hanyalah apa yang hadir di dalam hatinya saat shalat. Namun hal itu berlaku bagi orang yang shalat sendirian. Adapuh orang yang shalat berjama’ah, Allah menyempurnakan shalat orang yang tidak ‘hadir’ hatinya dengan shalat orang yang hatinya ‘hadir’ Jadi, Allah mengembalikan berkah orang yang hatinya ‘hadir’ kepada peserta jama’ah lainnya, sehingga shalat mereka seluruhnya ditulis sebagai shalat sempurna, bagaikan satu badan”.

 

Dari Ka’bul Alibar, ia berkata: “Aku menjumpai keterangan dalam kitab Taurat, bahwa seorang lelaki dari umat Muhammad ini bersimpuh sujud kepada Allah, kemudian Allah mengampuni mereka yang bershaf-shaf di belakangnya”.

 

Kesimpulannya, orang yang shalat jama’ah selamaimamnya shalat, Allah mengampuni para makmum di belakang-nya.

 

Sebagian ulama salaf berkata: “Ketika jama’ah shalat sudah – mulai, Allah melihat hati imam jama’ah itu. Jika di dalamnya ada kebaikan, maka Allah ridla kepada para makmum dan menerima shalat mereka serta mengampuni dosa mereka. Jika di dalam hati imam tidak ada kebaikan, Allah melihat para makmum.

 

Jika ada makmum yang di hatinya terdapat kebaikan, maka Allah meridlai mereka dan menerima shalat mereka. Jika di antara makmum tidak ada yang baik hatinya, maka Allah melihat perkumpulan mereka dalam shalat dan berdiri mereka di hadirat Allah. Akhirnya Allah meridlai mereka semua dan menerima shalat mereka serta mengampuni dosa mereka. Imam dan seluruh makmum.

 

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata: “Hanya orang munafik yang bimbang hatinya yang mendengar fadlilah jama’ah dan tak mau jama’ah tanpa alasan. Dia sesat dari kebenaran dan hatinya tidak terisi cahaya pengagungan kepada Allah. Padahal mengagungkan Allah adalah pembawa kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Bahkan hamba tidak akan selamat dari siksa serta murka Allah, kecuali dengan mengagungkan-Nya. Betapa orang munafik itu tidak suka kalau dirinya berbahagia dan beruntung. Dia tidak peduli kalau dirinya celaka dan binasa, sehingga dia tidak mau menjalankan fardlu Allah. Semoga Allah menyelamatkan kita dari celaka dan takdir yang buruk”,

 

Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata dalam kitab an-Nashaih ad-Diniyyah: “Nabi saw. bersabda:

 

“Sesungguhnya shalat jama’ah melebihi shalat sendirian dengan terpaut dua puluh tujuh derajat.” .

 

Karenaitu, barangsiapa meremehkan keuntungan syari ini yang kelak dirasakan di akhirat, padahal begitu mudah dan ringan menjalankannya, maka dia benar-benar lupa betapa pentingnya agam Islam baginya dan betapa minim rasa cintanya kepada hal yang berkaitan dengan akhirat. Padahal kalau demi mengeruk keuntungan duniawi yang hina, dia mau bersusah payah dan penat. Ketika dia berhasil meraih keuntungan duniawi yang sedikit namun usahanya sangat keras, dia lupa usaha itu dan dia merasa apa yang diperolehnya itu keuntungan yang besar. Apakah dia tidak takut kalau di sisi Allah dia ditulis sebagai orang munafik dan orang yang bimbang akan janji Allah? Dalam hadits . yang sampai kepada kami, tidak dituturkan sama sekali, bahwa Nabi saw. melakukan shalat fardlu sendirian, meskipun hanya sekali. Itulah sebabnya, tak layak jika mukmin yang benar-benar beriman meremehkan shalat jama’ah dan shalat sendirian. Jika demikian, maka  dia termasuk orang yang diancam dengan ancaman orang yang tidak: – jama’ah dan keabsahan shalatnya diperselisihkan ulama.”

 

Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari dan banyak sahabat Nabi berpendapat, bahwa orang yang mendengar adzan dan tidak mau jama’ah, padahal tidak ada alasan, shalatnya tidak sah. Banyak ulama salaf berpendapat sama dengan mereka, di antaranya Imam Atha’, Imam ast-Tsauri dan Imam Ahmad. Ketiga orang imam ini sudah cukup menjadi panutan.

 

Ya Allah, berilah kami taufik untuk menjalankan shalat jama’ah dan ibadah-ibadah lainnya. Jauhkanlah kami dari tidak ikut jama’ah shalat fardlu dan jagalah kami dari hal-hal buruk. ‘ Bershalawatlah kepada junjungan kami Muhammad, keluarganya dan sahabatnya. Shalawat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari seluruh fitnah, sakit dan petaka. Dengannya Engkau mengampuni dosa-dosa dari kami, menghapus kesalahan dari kami, menunaikan seluruh hajat kami, mengangkat kami ke derajat tertinggi, mengantarkan kami ke puncak terjauh dalam seluruh kebaikan, di hidup ini dan setelah mati. Wahai Tuhan, ya Allah, wahai Tuhan yang memperkenankan doa-doa.

 

Maha Suci Tuhanku, Tuhan yang bersih dari apa yang mereka katakana. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada utusan Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

  1. Membayangkan Kekhusyu’an Salafus Shalih Saat Mereka Shalat

 

Hal ini dapat memacu kekhusyu’an serta mendorong untuk meneladani mereka. Sekiranya anda melihat salah seorang di antara mereka sedang berdiri untuk shalat, ketika ia berdiri dalam mihrabnya kemudian memulai dengan membaca kalam Tuhannya (Allah), maka dalam hatinya terdetik bahwa Magam (shalat) tersebut adalah magam di mana sekalian manusia menghadap Tuhan sekalian alam. Dengan begitu hatinya seakan terlepas dan akalnya tercenung.”

 

Mujahid ra. berkata: “Jika salah seorang di antara mereka (kaum salaf) melakukan shalat ia takut kepada Allah yang Maha Rahman dan takut pandangannya melirik kepada sesuatu, atau menoleh, atau membolak-balik kerikil, atau memainkan sesuatu atau membisiki jiwanya tentang urusan dunia, kecuali ia lupa bahwa ia dalam shalatnya.”

 

Adalah Ibnu Zubair, ketika ia sedang shalat, ia laksana tongkat yang berdiri karena kekhusyu’annya. Kemudian ia sujud. Maka diletakknlah manjanig (alat pelempar batu untuk peperangan padajaman – dulu) padanya. Maka sekelompok orang mengambilnya dari bajunya ketika ia sedang shalat, ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya.

 

Adalah Maslamah Bin Basyar, ia sedang shalat disuatu masjid, mendadak sebagian temboknya roboh. Manusia pada berdiri, sementara Maslamah, beliau tidak merasa karena khusyu’nya.

 

Terdapat kisah yang sampai kepada kita, bahwa ketika sedang shalat sebagian mereka seperti pakaian yang tergeletak. Sebagian mereka mengenyam perasaannya dan wajahnya berubah pucat karena ja merasa menghadap Tuhan-nya. sebagian mereka ketika dalam shalat, tidak mengetahui siapa yang berada di kanan ataupun kirinya. Sebagian mereka wajahnya menguning ketika berwudlu untuk melaksanakan shalat, maka dikatakan kepadanya: “Ketika Anda berwudlu kami melihat keadaan anda berubah.” Beliau berkata: “Sungguh saya mengetahui di hadapan siapa saya hendak berdiri menghadap.”

 

Adalah Ali Bin Abi Thalib ketika shalat, jiwanya goncang dan wajahnya berubah pucat. Maka dikatakan kepadanya: “Apa yang terjadi padamu?” Ia berkata: “Demi Allah telah datang waktu dipikulkannya amanah di mana Allah menawarkannya kepada langit dan bumi dan juga gunung-gunung untuk membawanya akan tetapi mereka menolaknya sedangkan sekarang aku mau memikulnya.”

 

Adalah Sa’di At-Tanukhi, ketika sedang shalat, air matanya tidak putus-putusnya mengalir di kedua pipinya hingga membasahi jenggotnya.

 

Terdapat kisah yang sampai kepada kami, bahwa sebagian tabi’in ketika ja sedang shalat wajah dan ihwalnya berubah. Dan ia berkata: “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku menghadap dan bermunajat?. “Siapakah di antara kalian yang di dalam hatinya terdapat rasa takut seperti yang demikian ketika menghadap Allah?”

 

Orang-orang bertanya kepada Amir Bin Abdul Oais: “Apakah terbetik sesuatu di benakmu ketika shalat?” Ia menjawab: “Adakah sesuatu yang lebih aku cintai daripada shalat sehingga terdetik sesuatu tersebut kepada diriku?” Mereka berkata: “Sungguh telah terdedik sesuatu pada diri kami ketika shalat.” Ia berkata: “Apakah tentang syurga serta bidadari-bidadarinya dan sebagainya?” Mereka menjawab, “Tidak, akan tetapi kami terdetik tentang keluarga dan harta-harta kami.” Maka ia berkata: “Sungguh banyak luka pada diriku karena tombak lebih aku sukai daripada terdetik perkara dunia ketika shalat.”

 

Sa’ad bin Mu’adz berkata: “Pada diriku terdapat tiga perkara, yang sekiranya dalam setiap keadaan aku berada di dalamnya tentu aku akan menjadi diriku sendiri yaitu jika aku sedang shalat, aku tidak berbicara dengan diriku kecuali dengan sesuatu yang aku beradadi dalamnya, jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasul saw. dalam hatiku tidak terdetik suatu keraguanpun akan kebenarannya. Jika aku berada di dekat jenazah, maka aku tidak berbicara dengan diriku selain apa yang dikatakan mayit dan apa yang tengah dikatakan terhadapnya.”

 

Imam Hatim ra. berkata: “Aku berdiri karena melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, masuk dengan niat, membaca takbir dengan penuh pengagungan, membaca Al Qur’an dengan tertil dan tafakkur, ruku’ dengan khusyu’, sujud dengan tawadhu’, duduk tasyahud dengan sempurna, mengucap salam dengan niat, menyudahi shalat dengan ikhlash karena Allah, dan aku kembali kepada diriku dengan perasaan takut, jika Allah tidak menerimanya dariku, dan aku menjaganya dengan penuh kesungguhan hingga ajal tiba.”

 

Abu Bakar Ashidiqhi berkata: “Saya mengetahui dua imam, yang kebetulan saya belum diperkenankan untuk bisa mendengar ilmu dari keduanya, yaitu: Abu Hatim Ar-Razi dan Muhammad bin Nashr AlMarwaz1. Adapun Ibnu Nashr, saya tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya darinya. Ada cerita yang sampai kepada saya bahwa suatu ketika lalat kerbau hinggap di dahinya, lalu mengalirlah darah ke wajahnya sementara ia tidak bergerak sama sekali (ketika shalat). Muhammad bin Ya’qub Al-Akram berkata: “Saya tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya dari Muhammad bin Nashr. Ada lalat hinggap di telinganya, maka ia tidak berupaya mengusir darinya. Kami kagum dan merasa heran atas kebagusan shalatnya, kekhusyu’annya serta rasa hormatnya terhadap shalat. Ia meletakkan dagunya di atas dadanya, ia laksana kayu yang dipancangkan.”

 

  1. Mengetahui Keistimewaan-keistimewaan Khusyu’ Dalam Shalat

 

Di antaranya sabda Nabi saw.: .

 

“Tiadalah seorang muslim, ketika datang padanya waktu shalat fardlu, kemudian ia membaguskan wudlunya (untuk shalat), khusyu ‘nya dan ruku’nya, kecuali shalat tersebut akan menghapus dosa-dosa yang ia perbuat sebelum itu, selagi ia tidak melakukan dosa besar, hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim)

 

Pahala yang didapat Mushalli (orang yang shalat) sesuai dengan kualitas khusyu’nya. Hal itu sebagaimana sabdanya:

 

 

“Sesungguhnya pahala yang di dapat seorang hamba atas shalat yang diwajibkan atasnya bisa jadi sepersepuluhnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setengahnya.” (HR. Imam Ahmad)

 

Sesungguhnya orang yang shalat tidak akan mendapat pahala shalat kecuali sebatas apa yang ia menyadari di dalamnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra.: “Engkau tiada mendapat pahala dari shalatmu, kecuali sebatas apa yang engkau mengerti (pahami) darinya.”

 

Sesungguhnya dosa-dosa serta kesalahan-kesalahan orang yang shalat akan terhapus jika ia menunaikan shalatnya dengan penuh kekhusyu’an dan kesempurnaan. Sebagaimana sabda Rasul saw:

 

“Sesungguhnya, ketika seorang hambarberdiri shalat, didatangkanlah seluruh dosanya, kemudian di letakkan di atas kepala dan kedua bahunya, maka ketika ia ruku’ dan sujud dosa-dosa tersebut berjatuhan dan berguQur’an.” (HR. Al-Baihaqi)

 

Imam Al-Manawy berkata: “Pengertian hadits di atas adalah, manakala seorang hamba menyempurnakan suatu rukun (shalat), maka gugurlah darinya satu unsur dari dosa-dosanya. Maka manakala ia menyempurnakan shalatnya, sempurna pula proses jatunya dosa tersebut. Hal ini berlaku pada shalat yang disertai dengan kesempurnaan syarat, rukun serta khusyu’nya. Sebagaimana dipahami dari lafazh “Al’Abd” dan “Al-Oiyaam.” Hal itu mengisyaratkan bahwa hamba tersebut sedang berdiri di hadapan Sang Raja di Raja sedang ia adalah hamba yang hina dina.”

 

Orang yang khusyu’ dalam shalatnya, ketika keluar darinya, ia mendapati jiwanya menjadi ringan tanpa beban.-Ia merasakan adanya -beban-beban berat yang terlepas darinya. Ia mendapat sernangat baru, vitalitas, kenyamanan serta sportifitas. Sehingga ia berharap seakan tidak pernah akan keluar darinya. Sebab shalat adalah penyejuk pandangan matanya (Ourratul ‘ain), kenikmatan ruhiyahnya, syurga hatinya, serta tempat istirahatnya di dunia. Seakan hidup di dunia berada dalam penjara dan kesempitan sehingga ketika memasuki shalat, ia merasa bisa istirahat di dalamnya bukan merasa istirahat darinya. Orang-orang terkasih mengatakan: “Kita menunaikan shalat dan merasakan istirahat serta lega dengannya. Sebagaimana disabdakan oleh Imam, tauladan dan Nabi mereka Muhammad saw.: “Hai Bilal, mari kita istirahat dengan menunaikan shalat.” Dan beliau tidak mengatakan: “Istirahatkanlah kami dari shalat.”

 

  1. Hakikat Khusyu’

 

Khusyu’ adalah perkara besar. Keberadaannya sangat penting dan ja tidak dengan mudah diperoleh kecuali bagi mereka yang diberi taufig oleh Allah. Terhalang atau dijauhkan dari nikmat khusyu’ adalah musibab besar serta bencana yang sangat merugikan. Oleh karena itu Rasul senantiasa memohon kepada Allah dengan ungkapan do’anya, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu” (HR. At-Tirmidzi)

 

Orang-orang yang khusyu’ dikelompokkan pada beberapa tingkatan. Khusyu’ adalah perilaku hati. Ia bisa bertambah dan berkurang. Ada orang yang khusyu’nya mencapai langit. Sebaliknya, terdapat pula orang yang ketika selesai dari shalatnya, sama sekali tidak membekas atau menyadari apapun tentangnya.

 

Ada lima tingkatan manusia dalam menunaikan shalatnya:

 

Pertama, Tingkatan orang yang menzalimi diri sendiri. Yaitu orang yang tidak menyempurnakan wudlunya, tidak memelihara waktuwaktunya, batasan-batasannya serta rukun-rukunnya.

 

Kedua, Orang yang memelihara serta memperhatikan waktuwaktunya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya yang zhahir dan menyempurnakan wudlunya, akan tetapi ia tidak bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam memerangi was-was dalam dirinya. Maka hanyut dengan was-was serta pikiran-pikiran selain shalat.

 

Ketiga, Orang yang memelihara serta memperhatikan rukunrukunnya, batasan-batasannya serta bersungguh-sungguh dalam mengusir was-was serta pikiran-pikiran selain shalat. Ia sibuk untuk dengan melawan dan memerangi musuhnya agar tidak mencuri shalatnya. Dalam kondisi begitu, ia berada di antara shalat dan jihad (kesungguhan)

 

Keempat, Orang yang jika berdiri shalat, ia berupaya menyempumakan hak-haknya, rukun-rukunnya, batasan-batasannya serta hatinya begitu sibuk untuk memelihara batasan-batasannya tersebut serta hak-hak shalat agar tidak ada satu pun yang hilang darinya (shalat). Bahkan seluruh keinginannya tercurahkan untuk menegakkan shalat. menyempumakan serta menunaikannya sebagaimana mestinya. Hatinya begitu sibuk dengan urusan shalat serta beribadah kepada Tuhannya dalam shalat tersebut.

 

Kelima, Orang yang jika berdiri shalat ia begitu siap menunaikannya (sebagaimana tingkatan keempat), akan tetapi ada tambahannya, bahwa ia telah mengambil hatinya untuk betul-betul ditempatkan di hadapan Tuhannya. Ia melihat-Nya dengan mata hati terdalamnya, ia selalu merasa dalam pengawasan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kecintaan serta pengagungan terhadap-Nya. Seakan-akan ia melihat dan menyaksikan-Nya secara langsung. Adapun perasaan was-was beraneka ragam bisikan-bisikan hati telah lenyap darinya. Hijab antara dia dengan Tuhannya pun hilang. Baginya, kedekatan dengan Tuhannya di kala shalat adalah sesuatu yang teragung dan paling utama dari apa yang ada antara langit dan bumi. Dalam shalatnya, ia begitu sibuk dengan Tuhannya serta begitu indah pandangan matanya terhadap-Nya.

 

Kelompok pertama akan disiksa. Kedua, akan dihisab. Ketiga, terampuni. Kelompok keempat, diberi pahala dan kelompok kelima, didekatkan dengan Tuhannya. Sebab orang yang kelima ini termasuk kelompok orang yang mana shalat adalah sebagai “penyejuk pandangan matanya”. Barangsiapa yang menjadikan shalat sebagai penyejuk pandangan mata di dunia, maka akan diberikan kesejukan pandangan di akhirat yaitu kedekatannya dengan Tuhannya. Dan ia mendapat kesejukan pandangan dengan-Nya pula di dunia. Dan barangsiapa pandangan matanya sejuk karena melihat-Nya, maka seluruh mata akan merasa sejuk memandangnya. Namun barangsiapa pandangan matanya tidak sejuk karena-Nya, maka nafsunya akan terpotong-potong untuk dunia dan ia akan merugi dengan kerugian yang besar

 

Akhirnya kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita orang-orang yang khusyu’, menerima taubat kija semua. Juga semoga Dia membalas kebaikan bagi yang memberikan andil dalam risalah ini, serta memberikan manfaat kepada para pembaca budiman. Amin. Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan sekalian alam.

 

 

 

 

 

 

HIKMAH SHALAT

 

Shalat adalah tiang agama, cahaya keyakinan, pengobat hati, dan sendi semua perkara. Karena shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar serta menjauhkan nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat kejahatan dari perilaku-perilaku buruk yang secara alamiah nafsu selalu cenderung padanya.

 

Seperti telah kami jelaskan pada bagian sebelumnya bahwa mandi dan wudhu mempunyai manfaat yang besar dan agung. Karena mandi dan wudhu merupakan sarana untuk dapat melakukan shalat. Lalu bagaimana dengan manfaat shalat sendiri yang merupakan tujuan sesungguhnya dan merupakan satu-satunya sasaran yang hendak dicapai dalam wudhu dan bersuci.

 

Seorang manusia diperintahkan untuk berdiri di hadapan Tuhannya dalam sehari semalam sebanyak lima waktu dengan tunduk, khusyu’, merasa hina di hadapan kemuliaan ketuhanan, dan melepaskan hawa nafsunya di bawah kakinya. Karena semua itu secara menyeluruh telah diarahkan untuk menghadap Tuhan Yang Hakiki dimana tidak ada tuhan lannya yang layak untuk disembah melainkan Dia. Semua itu dilakukan, hingga ia dapat melihat keagungan, kebesaran, dan kemuliaan Allah sepanjang harinya.

 

Ia diperintahkan menunaikan shalat Shubuh di waktu dimana ruh dalam keadaan suci bersih dan jiwa dalam keadaan tenang. Di samping kemudahan watak manusia akan tampak jelas dan berkilau ketika bintang-bintang mulai condong ke arah barat dan ketika matahari diizinkan untuk terbit.

 

Pada saat kami hendak menjelaskan bagaimana terhapusnya dosa-dosa kecil dari catatan amal seorang manusia yang melakukan shalat, maka tidak ada lagi sesuatu yang lebih fasih daripada menyerupakan seorang yang shalat dan dia dalam keadaan berdiri setelah bertakbiratul ihram untuk melakukan shalat dengan seorang lelaki yang di atas kepalanya terdapat beban dosa yang amat berat. Begitu ia menundukkan kepalanya untuk melakukan ruku’, lalu duduk meletakkan jidatnya saat sujud, ia lalu mengulang sujudnya, ruku’nya, berdirinya, dan duduknya, maka beban yang berat itu akan jatuh dari bagian paling atas dari kepalanya.

 

Atau dengan ungkapan yang sedikit berbeda, kami hendak menyerukannya dengan seorang lelaki dimana baju dan badannya kotor. Lelaki ini memakai jubah kotor berlumur dosa-dosa dan noda-noda maksiat yang dilakukannya. Maka wudhu dan shalatnya yang mencakup ucapan-ucapan dan perilaku-perilaku tertentu berfungsi untuk membasuh kotoran dan noda-noda itu. Karenanya, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar airnya yang berada di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian dimana ia selalu mandi dari air sungai itu setiap harinya sebanyak lima waktu, maka tidak akan ada lagi kotoran yang tersisa padanya.”

 

Di antara hikmah-hikmah shalat adalah diperolehnya ketenangan dalam hati. Ia tidak akan bersedih meski musibah datang silih berganti. Ketenangan seperti itu juga tidak akan menghalangi kebaikan yang merupakan bagiannya. Karena bersedih akan menafikan kesabaran yang merupakan penyebab utama memperoleh kebahagiaan. Sedang menghalangi kebaikan dari orang lain adalah suatu bahaya yang besar. Sikap demikian itu merupakan petunjuk tidak adanya rasa percaya kepada Sang Pencipta, Pemeberi rezegi, dan Yang Mengganti segala yang telah diinfagkan oleh seorang pada jalan kebaikan. Allah swt telah berfirman:

 

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ja mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”(QS. Al Ma’aarij : 19-22).

 

Memulai shalat dengan membaca basmalah merupakan isyarat bahwa seorang yang melakukan shalat sedang meminta pertolongan dengan menyebut Dzat Yang memberi kemampuan untuk melakukan kewajiban ini dan segala sesuatu yang dilakukannya, Dzat Yang telah meridhainya, mendekatkan dengan rahmat-Nya, dan menjauhkan dari siksa-Nya. Selanjutnya ia memuji kepada Allah yang telah memberinya taufig untuk dapat menjalankan . kewajiban itu, Dzat yang menjadi Tuhan bagi semua makhluk di alam wujud ini, dan Dzat Yang telah memberi kenikmatan dengan kenikmatan-kenikmatan, baik yang besar maupun yang kecil.

 

Juga karena Allah swt adalah Tuhan dunia dan akhirat serta Pemilik hari pembalasan yang pada hari itu tidak akan ada manfaat sedikit pun bagi seorang ayah dari anaknya dan juga tidak manfaat bagi seorang anak dari ayahnya. Jika demikian, maka kita tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kita meminta pertolongan kepada-Nya dalam setiap urusan kita, karena daya, kekuatan, dan kekuasaan semuanya ada pada-Nya.

 

Anda pasti mengetahui bahwa petunjuk hidayah adalah petujukNya. Seseorang yang tersesat, maka tidak ada lagi yang dapat menunjukkan selain Dia. Karena itu pula, kita meminta kepada-Nya untuk memberi kenikmatan petujuk kepada kita untuk selalu berjalan di jalan yang lurus yang tidak ada bengkok sedikitpun. Jalan itu adalah jalan yang Allah berikan nikmat kepada orang-orang yang tidak dimurkai-Nya dan bukan jalan orang-orang yang sesat. Kita juga meminta kepada-Nya agar mengabulkan permintaan kita.

 

Ada sebuah hadits qudsi dari Nabi Muhammad saw dari Allah swt.

 

bahwa Allah berfirman:” Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Maka ketika seorang hamba mengatakan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, maka Allah akan mengatakan: “Hamba-Ku sedang memuji-Ku.” Ketika hamba itu mengatakan: “Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.” Maka Allah akan mengatakan:: “Hamba-Ku sedang memberikan pujian untuk-Ku.” Ketika hamba itu mengatakan: “Yang menguasai hari pembalasan.” Maka Allah akan mengatakan: “Hamba-Ku sedag memuliakan Aku.” Ketika hamba itu berkata: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” Maka Allah akan mengatakan: “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku ada dua bagian. Dan hamba-Ku berhak memperoleh apa yang dimintanya.” (HR. Muslim) Dalam kitab Al Bada’i’ ada penjelasan sebagaimana berikut ini: “Kewajiban shalat telah ditetapkan dalam Al Qur’an, sunnah, kesepakatan para ulama, dan dalil rasional.

 

Dalil yang dapat ditemukan dalam Al Qur’an, berikut firman Allah swt di beberapa ayat:

 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”(QS. Al Baqarah: 43)

 

Juga firman Allah:

 

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’: 103) |

 

Juga firman Allah:

 

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al Bagarah: 238).

 

Penyebutan kata shalat selalu dimaksudkan untuk shalat-shalat yang telah ditetapkan waktunya, yaitu shalat yang dilakukan lima kali dalam sehari semalam. Allah berfirman:

 

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114)

 

Ayat ini mengumpulkan semua waktu-waktu shalat. Shalat Shubuh sendiri dikerjakan pada salah satu dari dua tepi siang, sedang shalat Zhuhur dan Ashar dikerjakan pada tepi yang lain.

 

Waktu siang terbagi menjadi dua bagian: pagi dan petang. Pagi merupakan sebutan untuk awal waktu siang hingga tengah hari, sedang waktu-waktu setelahnya disebut dengan petang. Hingga jika ada orang yang bersumpah tidak akan makan pada petang hari, lalu ia makan setelah tengah hari, maka ia telah melanggar sumpahnya. Ada juga shalat yang diekerjakan pada dua tepi siang. Sedang shalat yang masuk dalam maksud firman Allah:

 

“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Huud: 114)

 

Adalah shalat Maghrib dan Isya’, karena keduanya dikerjakan pada bagian permulaan dari malam, yaitu pada waktu-waktu malam.

 

Firman Allah swt:

 

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Israa’: 78