الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam untuk utusan Allah

وبعد، فهذه كلمات جمعتها على قصة المعراج
Dan setelah itu, ini adalah kata-kata yang aku kumpulkan untuk kisah mikraj

رجاء أن ينتفع بها من يتصدى إلى قراءتها ممن هو قاصر مثلى
karena berharap agar bermanfaat bagi orang yang ingin membacanya dari orang-orang yang kurang sepertiku

جمعتها من الوجوه التي ذكرها مؤلفها العلامة النجم الغيطي رضي الله عنه بعد ذكر القصة
Yang aku kumpulkan dari versi-versi yang di sebut oleh pengarang yaitu, Al allamah anajmu al ghoithi ra. setelah menyebut kisah

ومتي قلت المؤلف فهو المراد
Dan ketika aku mengatakan pengarang maka ialah yang dimaksud

ومن شرح العلامة القليوبي
Dan penjelasan Al allamah Al qolyubi

 وغيرهما ومما يفتح الله تعالى به
Dan selain keduanya yang dimudahkan oleh Allah

 مع عدم التطويل المؤدي للسامة
Serta tanpa melebarkan yang mengakibatkan bosan

فأقول وأنا أفقر عبيد الله تعالى حليف التقصير أحمد بن محمد الدردير
Maka aku berkata, dan saya adalah hamba Allah yang paling fakir, yang tersumpah kekurangan, yaitu Muhammad Dardir

قال مؤلفه نفعنا الله ببركاته بعد أن تكلم على بعض فوائد اية سبحان الذي أسرى بعبده إلخ واية والنجم إذا هوى
Pengarang kirab berkata -semoga Allah memberi manfaat kita dengan keberkahannya- setelah berbicara tentang sebagian faedah-faedah ayat “mahasuci Tuhan yang menjalankan hambanya” dst. dan ayat demi bintang tatkala terbenam

وحيث انتهى الكلام على ذكر بعض فوائد هذه الأيات الشريفة فلنسف القصة عل نسق واحد
Dan ketika selesai membicarakan tentang sebagian faidah ayat-ayat ini, maka hendaknya kita menjelaskan kisah berdasarkan satu runtutan

وإن كانت مأخوذة من أحاديث متعددة
Walaupun diambil dari beberapa hadis yang bermacam-macam

لتكون أبهج للسامعين وأنعش لقلوب المؤمنين
Agar kisah itu lebih indah di para pendengar, dan lebih membangunkah bagi hati-hati orang yang beriman

ونتكلم على بعض فوائدها إن شاء الله تعالى فنقول
Dan kita akan membicarakan sebagian faedahnya insya Allah, maka kami mengucapkan:

Ketika Nabi s.a.w sedang berada di Hijr Isma’il yang terletak di dekat Ka’bah dengan posisi terlentang di antara sepasang kaki, tiba-tiba Jibril dam Mika’il yang ditemani oleh satu malaikat lain mendatangi beliau. Mereka menggotong tubuh beliau. Dan setelah membawakan air zamzam, mereka meletakkan tubub beliau dalam posisi telentang dengan punggung di bawah, Jibril lalu meminta tolong mereka mengurus beliau.

 

Dalam suatu riwayatkan disebutkan, atap rumah Nabi s.a.w dilubangi. Setelah turun, Jibril membedah lehernya sampai ke perut bagian bawah.

 

“Ambilkan aku satu baskom berisi air zamzam untuk membersihkan hatinya, dan melapangkan dadanya”, kata Jibril kepada temannya si Mika’il.

 

Setelah mengeluarkan hati Nabi s.a.w Jibril kemudian membasuhnya sebanyak tiga kali. Ia membersihkan semua kotoran yang ada padanya. Setelah ikut membantu Jibril membawakan baskom berisi air zamzam berganti-ganti sebanyak tiga kali, Mika’il lalu membawakan sebuah baskom terbuat dari emas yang berisi penuh dengan hikmah dan iman. Setelah menuangkan sifat santun, ilmu, keyakinan, dan Islam ke dalam dada Nabi s.a.w Jibril kemudian mengatupkannya kembali. Dan setelah Jibril memasang cap kenabian pada sepasang lengan Nabi s.a.w didatangkanlah Buraq lengkap dengan kendali dan tali kekang, seekor binatang berwarna putih yang tingginya lebih daripada keledal dan lebih pendek daripada bighal. Ia meletakkan kukunya di ujung matanya seraya menggoyang-ngoyangkan sepasang telinganya. Ketika melintasi sebuah gunung, Buraq menaikkan sepasang kakinya, dan ketika turun la mengangkat sepasang tangannya. Binatang ini memiliki sepasang sayap pada pahanya yang digunakan mencengkram oleh kakinya. Jibril merasa tidak berkenan terhadap Buraq. Dan seraya meletakkan tangannya pada bibir binatang ini, Jibril berkata: “Apakah kamu tidak merasa malu, wahai Buraq? Demi Allah, sekarang ini kamu akan dikendarai oleh seorang makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah.”

 

Mendengar itu Buraq merasa malu, sehingga sekujur tubuhnya bercucuran keringat. Nabi s.a.w. kemudian menaikinya, dan para nabi sebelum beliau biasa menaiki Buraq. Kata Sa’id bin al-Musayyab dan lainnya, Buraq adalah binatang yang biasa ditunggangi oleh nabi Ibrahim a.s. ketika ia menuju ke Bait-ulHaram atau Ka’bah.

 

Berangkat Nabi s.a.w. dengan diapit oleh Jibril di sebelah kanan, dan oleh Mika’il di sebelah kiri. Kata Ibnu Sa’ad, yang membantu Nabi s.a.w menaiki Buraq adalah Jibril, dan yang memegang kendalinya adalah Mika’il. Mereka terus bergerak hingga tiba di sebuah tanah yang terdapat banyak pohon kurma.

 

“Turunlahdan shalatlah di sini”, kata Jibril kepada Nabi.  

 

Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w segera menaiki Buraq lagi. “Anda tahu, di mana tadi anda shalat?”, tanya Jibril kepada Nabi s.a.w “Tidak”, jawab beliau.

 

“Tadi anda shalat di Madyan, di dekat pohon Musa”, kata Jibril menjelaskan. Buraq terus bergerak dengan posisi menukik turun membawa Nabi s.a.w seraya meletakkan kukunya ke dekat mata. “Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibril kepada Nabi      Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w segera menaiki Buraq lagi. “Anda tahu, di mana tadi anda shalat?” tanya Jibril kepada Nabi s.a.w “Tidak’, jawab beliau.

 

“Tadi anda shalat di bukit Tursina, tempat di mana Allah dahulu pernah berfirman secara langsung kepada Musa”, kata Jibril menjelaskan. Selanjutnya rombongan tiba di sebuah tanah lapang yang memperlihatkan dengan jelas beberapa bangunan istana Syiria.

 

“Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibril kepada Nabi s.a.w Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w segera menaiki Buraq lagi. Buraq terus bergerak dengan posisi menukik turun membawa Nabi s.a.w “Anda tahu, di mana tadi anda shalat?” tanya Jibril kepada Nabi s.a.w “Tidak”, jawab beliau.

 

“Tadi anda shalat di Bait Lahem, tempat di mana Isa bin Maryam dilahirkan”, kata Jibril menjelaskan.

 

Ketika sedang mengendarai Buraq itulah, Nabi s.a.w tiba-tiba melihat seekor ‘Ifrit dari golongan Jinn yang sedang membawa sebatang obor. Dan begitu menoleh ke belakang, beliau bisa melihatnya.

 

“Aku ingin mengajarkan kepada anda beberapa kalimat yang kalau anda baca, maka obor itu akan padam dan si Ifrit akan lari terbirit-birit”, kata Jibril kepada Nabi     “Baiklah”, kata beliau.

 

“Bacalah: A’udzu bi wajhillah-il-karimi wa bi kalimitillah-it-tammat-il-lati ia yujawizuhunna birrun wa la fasiqun min syarri ma yunzzalu min-as-sama’i, wa min syarri ma ya’ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil-ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitan-il-laili wan-nahari, wa min thawariq-il-laili wan nahari, illa thariqan yathruglqu bi khairin, ya Rahman. (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Dermawan dengan menggunakan kalimat-kalimat Allah yang tidak mampu dilewati oleh orang yang baik maupun orang yang jahat dari keburukan sesuatu yang diturunkan dari langit, dari keburukan sesuatu yang naik ke sana, dari keburukan sesuatu yang tertinggal di muka bumi, dari keburukan sesuatu yang keluar daripadanya, dari fitnah-fitnah waktu malam maupun siang, dan dari bencana-bencana malam maupun siang, kecuali bencana yang membawa suatu kebajikan, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah).”

 

Begitu Nabi s.a.w selesai membacanya, si ‘ifrit lari tungganglanggang sehingga ia jatuh terjerembab, dan obornya pun padam.

 

Rombongan terus melanjutkan perjalanan sehingga mereka mendapati beberapa orang yang menanam dan sekaligus mengetam pada satu hari yang sama. Setiap kali selesai mengetam, maka tanaman akan kembali lagi untuk siap diketam. Begitu seterusnya.

 

“Apa itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi kepada Jibril.

 

“Mereka adalah orang-orang yang pernah berjihad pada jalan Allah ta’ala, sehingga balasan untuk satu amal kebajikan mereka dilipat-gandakan menjadi tujuh ratus kali. Dan harta yang pernah mereka sumbangkan diganti oleh Allah”, jawab Jibril.

 

Mendadak Nabi s.a.w mencium aroma yang sangat harum.

 

“Aroma apa ini, wahai Jibril?”, tanya Nabi kepada Jibril.

 

“Ini adalah aroma Masyithah binti Fir’aun dan putra-putranya”, jawab Jibril. “Pada suatu hari ketika sedang menyisiri putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh. “Dengan menyebut nama Allah, celakalah Fir’aun”, kata Masyithah dengan spontan.

 

“Jadi anda punya Tuhan selain ayahku, ya?” tanya si kecil putri Fir’aun. “Ya”, jawab Masyithah berterus terang.

 

“Kalau begitu, apakah aku boleh memberitahukan hal ini kepada ayahku?”, tanyanya. “Boleh”, jawab Masyithah dengan jujur.

 

Anak kecil tersebut kemudian memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Seketika Masyithah dipanggil Fir’aun.

 

“Benarkah kamu punya Tuhan selain aku?”, tanya Fir’aun.

 

“Benar”, jawab Masyithah. “Tuhanku dan Tuhan anda adalah Allah.”

 

Masyithah punya dua orang anak dan seorang suami. Fir’aun menyuruh untuk mendatangkan mereka. Ia membujuk Masyithah dan suaminya supaya mereka keluar dari agama Islam. Tetapi mereka menolak.

 

“Bagaimana kalau aku akan membunuh kalian berdua?”, tanya Firaun mengancam.

 

“Baik, silahkan saja terserah anda. Tetapi tolong nanti kuburkan mayat kami di dalam satu liang lahat”, jawab Masyithah.

 

“Baik, akan aku penuhi permintaanmu itu”, kata Fir’aun.

 

Fir’aun kemudian menyuruh untuk membawakan sebuah baskon berukuran sangat besar yang terbuat dari timah. Dan setelah dipanaskan dengan air yang sangat mendidih, ia menyuruh Masyithah dan keluarganya untuk memasukinya. Satu persatu mereka memasuki bejana tersebut. Dan ketika tiba giliran anak bungsunya yang masih menyusu, tiba-tiba ia berkata:

 

“Wahai bunda, ayo masuklah dan jangan ragu-ragu, karena anda di pihak yang benar.”

 

Tak pelak Masyithah keluarganya pun akhirnya sama masuk ke dalam bejana dari timah berisi air yang sangat mendidih tersebut.

 

Kata Ibnu Sa’id, ada empat orang yang sudah bisa berbicara ketika masih berada dalam ayunan: yakni anak Masyithah, saksi nabi Yusuf, anaknya si Juraij, dan Isa putra Maryam.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati beberapa orang yang tengah memecahkan kepala sendiri. Dan setelah memar sampai hancur, keadaannya kembali lagi seperti semula. Hal itu terus mereka lakukan tanpa bosan-bosan sedikit pun.

 

“Siapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya terasa berat untuk diajak shalat fardhu”, jawab Jibril,

 

Kemudian Nabi s.a.w mendapati beberapa orang yang tubuhnya bagian depan maupun bagian belakang sama-sama tambahan. Mereka sedang digembalakan laksana sekawanan unta dan domba. Mereka memakan buah dhari’, buah zaqqum, dan batu-batu dari neraka Jahannam.

 

“Siapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat hartanya, dan Allah sama sekali tidak berbuat zalim kepada mereka”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati beberapa orang yang di depan mereka ada daging matang di dalam sebuah periuk, dan di dekat mereka juga ada daging busuk, tetapi mereka justru memilih memakan daging yang busuk dan membiarkan daging yang matang.

 

“Siapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah termasuk umat anda yang sebenarnya mereka sudah memiliki seorang istri baik-baik dan halal, tetapi mereka justru lebih suka memilih menggauli wanita pelacur, bahkan menginap di rumahnya sampai pagi”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati sebilah papan kayu di tepi jalan yang selalu membuat robek pakaian setiap orang yang melewatinya.

 

“Apa itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu adalah seperti perumpamaan beberapa orang dari umat anda yang gemar duduk-duduk iseng di pinggir jalan untuk mengganggu orang lain yang lewat. Mereka suka menghalang-halangi dari jalan Allah”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w melihat seseorang yang sedang berenang di sebuah sungai darah seraya menelan batu.

 

“Apa itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu adalah seperti perumpamaan seseorang yang suka memakan harta riba”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati seseorang yang tengah mengumpulkan setumpuk kayu bakar yang tidak kuat dipikulnya, tetapi ia justru terus menambahinya.

 

“Apa itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu adalah seseorang dari umat anda yang mendapat beberapa amanat dari orang lain. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup mengembannya, tetapi masih terus meminta amanat-amanat yang lain”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati beberapa orang yang sedang menggunting bibir dan lidahnya dengan menggunakan gunting dari besi. Dan setiap kali sudah tergunting bibir dan lidahnya itu kembali utuh lagi seperti sedia kala tanpa ada bekas luka, dan begitu seterusnya.

 

“Siapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu adalah para muballigh yang suka menebarkan fitnah. Mereka itu termasuk umat anda yang pandai mengatakan apa yang tidak mereka lakukan”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w mendapati beberapa orang yang memiliki kuku terbuat dari timah yang mereka gunakan untuk mencakarcakar muka dan dada mereka sendiri.

 

“Sjapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain, dan suka menyerang kehormatan-kehormatannya”, jawab Jibril.

 

Ketika Nabi s.a.w tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah kanan:

 

“Wahai Muhammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau tidak mau menjawabnya.

 

“Siapa orang itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Yang memanggil anda tadi adalah seorang Yahudi. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan menjadi orang-orang Yahudi”, jawab Jibril.

 

Ketika Nabi s.a.w tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah kiri:

 

“Wahai Muhammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau tidak mau menjawabinya.

 

“Siapa orang itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Yang memanggil anda tadi adalah seorang Nashrani. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan menjadi orang-orang Nashrani”, jawab Jibril.

 

Ketika Nabi s.a.w tengah bergerak meneruskan perjalanan, ada seorang Wanita yang tampak sepasang lengannya terbuka dan ia memiliki segala kecantikan yang diciptakan oleh Allah    mengatakan kepada beliau:

 

“Wahai Muhammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu. Tetapi beliau tidak menoleh ke arahnya.

 

 “Siapa wanita itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Wanita itu tadi adalah perumpamaan dunia. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan lebih memilih dunia daripada akhirat”, jawab Jibril.

 

Ketika Nabi s.a.w tengah bergerak meneruskan perjalanan, tibatiba ada seorang kakek yang memanggil beliau seraya menjauh dari jalan. Ia mengatakan: “”Kemarilah, wahai Muhammad.”

 

“Jangan mau, teruslah berjalan, wahai Muhammad”, kata Jibril.

 

“Siapa orang itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu tadi adalah Iblis sang musuh Allah yang ingin supaya anda cenderung kepadanya”, jawab Jibril.

 

Ketika Nabi s.a.w tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada seorang nenek yang memanggil beliau dari tepi jalan: “Wahai Muhammad, tunggu aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya.

 

“Siapa wanita itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Itu tadi adalah perumpamaan sisa umur dunia. Jadi sisa umur dunia adalah seperti umur si nenek yang sudah tua renta tersebut”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w bergerak meneruskan perjalanan, hingga akhirnya tiba di Bait-ul-Maqdis. Beliau memasukinya dari pintu sebelah kanan. Setelah turun dari Buraq, beliau segera menambatkan binatang Ini di dekat pintu masjid, tempat yang dahulu pernah digunakan oleh para nabi     untuk menambatkan binatang kendaraan mereka.

 

Disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa sesungguhnya Jibril menghampiri seonggok batu besar. Begitu meletakkan jarijarinya, seketika batu tersebut hancur-lebur dengan mengeluarkan suara cukup keras, sehingga membuat terkejut Buraq yang sedang istirahat.

 

Nabi s.a.w memasuki masjid dari pintu yang terkena sinar matahari. Beliau dan Jibril sempat shalat sendiri-sendiri dua rakaat. Tidak lama kemudian tiba-tiba sudah berkumpul beberapa orang yang belakangan beliau tahu bahwa mereka itu adalah para nabi. Mereka ada yang sedang berdiri, ada yang sedang ruku’, dan ada yang sedang bersujud. Setelah seruan adzan dikumandangkan dan diteruskan dengan seruan igamat, mereka pun berdiri dengan membentuk beberapa shaf. Mereka sedang menunggu yang akan menjadi imam mereka. Tiba-tiba Jibril memegang tangan Nabi s.a.w seraya memberi isyarat supaya beliau maju ke depan sebagai imam. Dan beliau pun shalat dua rakaat menjadi imam mereka.

 

Diriwayatkan dari Ka’ab, Jibril memberitahu para malaikat. Mereka pun sama turun berbondong-bondong dari langit. Selanjutnya Allah mengumpulkan semua rasul dan nabi untuk ikut bergabung. Nabi.     pun shalat menjadi imam para malaikat serta para rasul.

 

“Wahai Muhammad, anda tahu siapa yang tadi sama shalat di belakang anda?”, tanya Jibril kepada Nabi s.a.w begitu selesai shalat.

 

“Tidak”, jawab Nabi.

 

“Mereka tadi adalah seluruh nabi yang pernah diutus oleh Allah s,w.t ”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi mendengar setiap nabi memuji Tuhannya dengan puji-pujian yang sangat indah.

 

“Kalian semua memuji Tuhan kalian, dan aku pun selalu memuji Tuhanku”, kata Nabi.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w bersabda: “Segala puji kepunyaan Allah yang telah mengutusku dengan membawa rahmat bagi seru sekalian alam dan bagi seluruh umat manusia untuk memberi khabar gembira dan menyampaikan peringatan. Allah-lah yang telah menurunkan al-Qur’an kepadaku sebagai penjelasan bagi segala sesuatu. Allah telah menjadikan umatku sebagai umat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Allah menjadikan umatku sebagai umat yang tengah-tengah.

 

Allah juga menjadikan umatku sebagai yang pertama sekaligus yang terakhir. Allah telah melapangkan dadaku, menghilangkan noda dosa dariku, mengangkat derajatku, dan menjadikan aku sebagai sang pembuka yang paripurna.”

 

Nabi Ibrahim pernah mengatakan: “Berkat hal itulah Muhammad telah memuliakan kalian.”

 

Tiba-tiba Nabi s.a.w merasa kehausan yang teramat sangat. Jibril a.s. segera membawakan untuk beliau sebuah bejana berisi khamar dan sebuah bejana lagi berisi susu. Dan ternyata beliau memilih bejana yang berisi susu untuk diminum.

 

“Anda telah memilih yang fitrah”, kata Jibril kepada Nabi. “Seandainya tadi anda memilih meminum khamar, niscaya umat anda akan suka melakukan sesuatu yang sia-sia, dan di antara mereka tidak ada yang akan mengikuti anda kecuali hanya sedikit saja.”

 

Disebutkan dalam suatu riwayat, sesungguhnya bejana yang dibawa oleh Jibril a.s. ada tiga. Dan bejana yang ketiga berisi air.

 

“Seandainya tadi anda memilih air, niscaya umat anda akan tenggelam.”

 

Disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa salah satu di antara tiga bejana yang disodorkan kepada Nabi s.a.w adalah bejana berisi madu, bukan air. Dan sesungguhnya beliau melihat beberapa bidadari dari sisi kanan batu besar. Beliau mengucapkan salam, dan mereka pun menjawabnya. Beliau bertanya, dan mereka pun memberikan jawaban yang menyenangkan hati.

 

Selanjutnya Nabi dibawa oleh Jibril a.s. menjalani peristiwa mi’raj. Ikut dalam perjalanan ini ialah arwah-arwah anak cucu Adam. Seluruh makhluk tidak pernah melihat yang lebih indah daripada peristiwa mi’raj. Di sana ada perhiasan dari perak dan dari emas yang berasal dari surga Firdaus. Di sebelah kanan dan kiri, beliau diapit oleh rombongan malaikat.

 

Nabi s.a.w dan Jibril a.s. naik hingga tiba di salah satu pintu langit dunia yang bernama pintu Hifzhah. Di sana ada malaikat yang bernama Isma’il, penjaga langit dunia. Malaikat penghuni udara ini sama sekali tidak pernah naik ke langit, dan juga sama sekali tidak pernah turun ke bumi, kecuali hanya pada hari ketika Nabi        wafat. Di hadapannya ada tujuh puluh ribu malaikat yang masing-masing mereka memiliki serdadu sebanyak tujuh puluh ribu malaikat juga.

 

Jibril a.s. meminta dibukakan pintu langit tersebut.

 

“siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu.

 

“Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaikbaik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah nabi Adam a.s. bapak seluruh umat manusia yang bentuknya sama seperti bentuk ketika Allah ta’ala menciptakannya. Arwah-arwah para nabi berikut orang-orang mu’min keturunannya diperlihatkan dengan jelas kepada Nabi s.a.w Beliau bersabda: “Roh yang baik, dan jiwa yang baik. Tolong jadikan mereka di surga tertinggi.”

 

Lalu diperlihatkan dengan jelas kepada Nabi s.a.w arwah-arwah anak cucu keturunan nabi Adam yang kafir. Beliau bersabda: “Roh yang buruk, dan jiwa yang buruk. Tolong jadikan mereka di neraka Sijjin.”

 

Dari sebelah kiri Nabi s.a.w melihat sosok hitam, dan sebuah pintu yang mengeluarkan bau sangat busuk. Begitu melihat ke sebelah kanan ia tampak tersenyum, tetapi begitu melihat dari sebelah kiri ia tampak bersedih dan menangis. Nabi      mengucapkan salam kepadanya. Dan setelah menjawab salam beliau ia mengatakan dengan penuh semangat: “Selamat datang seorang putra yang saleh, Nabi yang saleh.”

 

Lalu Nabi s.a.w bertanya Yaa Jibril, siapa Dia?

 

Jibril menjawab “Dia itu adalah moyang anda si Adam, dan sosok hitam tadi adalah jiwa anak cucunya. Golongan kanan di antara mereka adalah calon penghuni surga, dan golongan kiri di antara mereka adalah calon penghuni neraka. Begitu memandang ke arah kanan ia tersenyum dan merasa gembira, dan begitu melihat ke arah kiri ia bersedih dan menangis. Pintu yang terletak di sebelah kiri adalah pintu Jahannam. Begitu melihat anak cucunya yang memasukinya, ia menangis dan bersedih.”

 

Selanjutnya Nabi s.a.w. berlalu dengan tenang, dan mendapati orang-orang yang suka memakan harta riba serta harta anakanak yatim, para pezina, dan yang lain. Bentuk mereka sangat buruk. :

 

Kemudian Nabi s.a.w. naik ke tingkat langit yang kedua. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu. “Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaik-baik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah kedua putra sang bibi, yakni Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya a.s. Pakaian dan rambut keduanya sangat mirip satu sama lain. Bersama mereka beberapa kaum pengikutnya. Ternyata rambut nabi Isa keriting, postur tubuhnya tinggi besar, kulitnya putih ke merah-merahan. Ia mirip dengan “Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Nabi s.a.w. mengucapkan salam kepada ‘Isa dan Yahya. Dan setelah menjawabi salam beliau, mereka mengucapkan: “Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan seorang Nabi yang saleh.” Mereka juga mendoakan kebaikan untuk beliau.

 

Kemudian Nabi s.a.w. naik ke tingkat langit yang ketiga. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu.

 

“Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaikbaik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w. dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah Yisuf bersama beberapa orang dari kaumnya.

 

Nabi s.a.w mengucapkan salam kepada Yusuf. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang, Wahai saudara yang saleh dan seorang Nabi yang saleh.” Ia juga mendoakan kebaikan untuk beliau. Ternyata Yusuf diberi separo ketampanan seluruh umat manusia.

 

Dalam suatu riwayat disebutkan, sesungguhnya Yusuf adalah makhluk Allah yang paling tampan. Ia laksana bulan di malam purnama di sekeliling bintang-bintang.

 

“Siapa ini, wahai Jibril?”, tanya Nabi. “Saudara anda si Yusuf”, jawab Jibril.

 

Kemudian Nabi s.a.w naik ke tingkat langit yang keempat. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu, “Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang, seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaik-baik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w. dari Jibril a.s.

 

Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah Idris yang telah dikarunia oleh Allah sebuah kedudukan yang sangat tinggi.

 

Nabi s.a.w. mengucapkan salam kepada Idris. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang wahai saudara yang saleh dan seorang nabi yang saleh.” Ia juga mendoakan kebaikan untuk beliau.

 

Kemudian Nabi s.a.w. naik ke tingkat langit yang kelima. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu.

 

“Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril. :

 

“Selamat datang, seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaik-baik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah Harun yang separo jenggotnya berwarna putih dan separonya lagi berwarna hitam. Saking tingginya sampai-sampai ia terkena pukulan lutut Harun. Ia dikelilingi oleh kaumnya orang-orang Bani Isra’il.

 

Nabi s.a.w mengucapkan salam kepada Harin. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang, wahai saudara yang sholih dan seorang nabi yang sholih.”

 

Ia juga mendoakan kebaikan untuk beliau.

 

“Siapa ini, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Ini adalah orang yang sangat dicintai oleh kaumnya. Namanya Harun bin Imran”, jawab Jibril.

 

Kemudian Nabi s.a.w. naik ke tingkat langit yang keenam. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu.

 

“Jibril”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.: “Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang, seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaik-baik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s Nabi & melewati seorang nabi berikut rombongan nabi yang lain serta beberapa orang, melewati seorang nabi berikut rombongan nabi yang lain serta suatu kaum, dan juga melewati seorang nabi berikut rombongan para nabi yang tidak ada siapa pun selain mereka.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w melewati rombongan besar yang jumlahnya sangat banyak sehingga menutupi kaki langit.

 

“Siapa itu?”, tanya Nabi.

 

“Itu adalah Musa dan kaumnya”, jawab Jibril, “Tetapi coba anda angkat kepala anda.”

 

Beliau melihat ada rombongan yang juga sangat besar sehingga menutupi dua ujung kaki langit.

 

“Siapa mereka?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah umat anda”, jawab Jibril. “Selain mereka, masih ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa dihisab.”

 

Begitu Nabi s.a.w dan Jibril a.s. sudah masuk, ternyata itu adalah Musa bin “Imran, seseorang postur tubuhnya cukup tinggi dengan rambut yang sangat lebat.

 

Nabi s.a.w mengucapkan salam kepada Musa a.s. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan seorang Nabi yang saleh.” Ia juga mendoakan kebaikan untuk beliau. Miisa berkata: “Orang-orang mengira aku adalah manusia yang paling dimuliakan oleh Allah. Ternyata orang ini lebih dimuliakan oleh Allah.”

 

Begitu Nabi s.a.w telah lewat, Musa menangis.

 

“Kenapa anda menangis?”, tanya malaikat.

 

“Aku menangis karena sepeninggalanku akan ada seorang anak muda yang diutus yang umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku. Orang-orang Bani Isra’il mengira aku adalah manusia yang paling dimuliakan oleh Allah. Ternyata seorang dari anak cucu Adam ini telah menggantikan aku di dunia, dan aku sudah berada di akhirat. Kalau ia hanya sendirian aku tidak peduli. Tetapi ia bersama umatnya.”

 

Kemudian Nabi s.a.w naik ke tingkat langit yang ketujuh. Jibril meminta dibukakan pintunya.

 

“Siapa ini?”, tanya yang ada di balik pintu.

 

“Jibri?”, jawab Jibril.

 

“Siapa yang bersama anda?”, tanyanya.

 

“Muhammad”, jawab Jibril.

 

“Apakah ia sudah diutus?”, tanyanya.

 

“Ya”, jawab Jibril.

 

“Selamat datang, seorang saudara dan khalifah, sebaik-baik saudara, dan sebaik-baik khalifah. Sebaik-baik orang yang datang telah datang”, katanya.

 

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah Ibrahim sang kekasih Allah. Ia sedang duduk di dekat pintu surga di atas kursi dari emas seraya menyandarkan punggungnya pada Baitul-Ma’mur. Ia ditemani beberapa orang.

 

Nabi s.a.w mengucapkan salam kepada Ibrahim. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang wahai saudara yang sholih dan seorang nabi yang sholih.”

 

Selanjutnya Ibrahim berkata kepada Nabi s.a.w: “Suruh umatmu untuk sebanyak mungkin menanam tanaman surga, karena tanah surga itu sangat subur dan luas.”

 

“Apa itu tanaman surga?”, tanya Nabi.

 

“Yaitu ucapan: La haula wa Ia quwwata illa billah-il-aliyy-il’azhim (Tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)”, jawab Ibrahim.

 

Dalam riwayat lain disebutkan, Ibrahim a.s. berkata kepada Nabi s.a.w: “Sampaikan salamku kepada umatmu, dan beritahu mereka bahwa tanah surga itu indah, airnya tawar, dan tanamannya ialah kalimat: Subhanallahi wal-hamdulillahi wa Ia ilaha illallahu wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji kepunyaan Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar).”

 

Di dekat Ibrahim a.s ada serombongan orang yang tengah duduk dengan wajah putih bersih laksana kertas, dan juga ada serombongan orang yang ada sesuatu pada warna wajah mereka. Rombongan orang yang akhir ini berdiri lalu memasuki sebuah sungai. Setelah mandi di sana, mereka keluar dan dengan muka yang agak bersih. Lalu mereka memasuki sebuah sungai yang lain. Setelah mandi di sana, mereka keluar dengan muka yang sudah sama sekali bersih. Kemudian mereka memasuki sebuah sungai yang ketiga. Dan setelah mandi di sana, mereka keluar dengan penampilan wajah seperti wajah rombongan yang pertama tadi.

 

Mereka lalu duduk bergabung bersama-sama dengan temantemannya tersebut.

 

“Wahai Jibril, siapa orang-orang yang wajahnya putih bersih laksana kertas, dan juga siapa orang-orang yang warna wajah mereka ada sesuatu tadi? Lalu bagaimana dengan sungai-sungai yang mereka masuki lalu mereka di sana?”, tanya Nabi.

 

“Orang-orang yang wajahnya putih bersih laksana kertas adalah suatu kaum yang iman mereka tidak dicampuri dengan kezhaliman. Orang-orang yang warna wajahnya ada sesuatu itu adalah suatu kaum yang biasa mencampur amal saleh dengan amal buruk. Mereka mau bertaubat, dan Allah pun berkenan menerima taubat mereka. Adapun sungai-sungai tadi, yang pertama adalah lambang rahmat Allah, yang kedua lambang nikmat Allah, dan yang ketiga Allah memberi minum mereka dengan air minum yang suci mensucikan. Ada yang mengatakan, itulah tempat anda dan tempat umat anda kelak”, jawab Jibril.

 

Sesungguhnya umat Nabi s.a.w terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian dari mereka mengenakan pakaian putih bersih laksana kertas, dan satu bagian lagi mengenakan pakaian berwarna abu-abu.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w memasuki Bait-ul-Ma’mur. Ikut masuk bersama beliau adalah orang-orang yang mengenakan pakaian putih. Sementara orang-orang yang mengenakan pakaian abu abu tidak bisa ikut masuk. Tetapi mereka tetap dalam keadaan baik-baik saja. Beliau dan orang-orang mu’min yang bersama beliau melakukan shalat di Bait-ul-Ma’mir, Setiap harinya tempat ini dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat nanti, Beliau mengambil posisi tepat di belakang Ka’bah.

 

Dalam riwayat lain disebutkan, ada tiga bejana yang diperlihatkan kepada Nabi s.a.w. Ketika beliau memilih bejana yang berisi susu. Jibril a.s. membenarkannya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Jibril berkata: “Itulah fitrah yang anda dan umat anda ada padanya.”

 

Selanjutnya Nabi s.a.w. naik ke Sidrat-ul-Muntaha, sebagai tempat terakhir perjalanan mi’raj beliau yang dimulai dari bumi. Di sana ada sebatang pohon yang dari akarnya keluar beberapa sungai dari air yang berubah-ubah, beberapa sungai yang rasanya tidak akan pernah berubah, beberapa sungai khamar yang rasanya lezat bagi orang-orang yang meminumnya, dan beberapa sungai madu murni. Orang berkendara yang berjalan mengelilingi naungan pohon tersebut membutuhkannya waktu selama tujuh puluh tahun, dan belum juga selesai karena saking besarnya pohon tersebut.

 

Selembar daunnya saja lebarnya seperti beberapa telinga gajah betina. Daunnya hampir-hampir menutupi umat ini. Menurut suatu riwayat, daun-daun pohon inilah yang menaungi seluruh makhluk, dan setiap lembarnya ada malaikat yang menutupinya sehingga tidak tahu apa warnanya.

 

Disebutkan dalam riwayat lain, selembar daunnya bisa berubah menjadi permata, dan tidak ada seorang pun yang sanggup melukiskan keindahannya. Di dekat pohon tersebut terdapat hamparan dari emas. Dan pada akarnya terdapat empat buah sungai, dua sungai dalam, dan dua sungai luar.

 

“Sungai-sungai apa saja itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Dua sungai dalam ialah sepasang sungai yang ada di surga, dan dua sungai luar ialah sungai Nil dan sungai ‘Ifrat”, jawab Jibril.

 

Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Nabi s.a.w melihat Jibril di Sidrat-ul-Muntaha memiliki enam ratus sayap yang masing-masing sayap menutupi kaki langit, dari dalam sayapsayap Jibril inilah bertaburan butir-butir mutiara serta permata yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah ta’ala.

 

Kemudian Nabi s.a.w memasuki surga. Di dalamnya terdapat nikmat-nikmat yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Di pintu surga beliau melihat tulisan: “Pahala Sedekah Itu Dilipatgandakan Sepuluh Kali, Dan Pahala Menghutangi Dilipatgandakan Delapan Belas Kali.”

 

“Kenapa menghutangi itu lebih utama daripada bersedekah, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Karena orang yang meminta itu terkadang ia masih punya sesuatu. Sementara orang yang hutang itu pasti karena terpaksa oleh kebutuhan”, jawab Jibril.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w. terus berjalan, dan mendapati beberapa sungai susu yang rasanya tidak akan berubah, beberapa sungai khamar yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya, dan beberapa sungai madu murni. Di sungai-sungai ini terdapat untajan-untaian mutiara yang sangat elok dan mempesona. Di dekat sungai-sungai ini juga terdapat buah delima yang laksana kulit unta yang biasa digunakan untuk mengangkut barang, serta burung-burung yang menawan.

 

Abu Bakar pernah bertanya kepada Nabi s.a.w: “Wahai utusan Allah, itu adalah seekor ternak.”

 

“Aku telah memakannya dengan rasa yang jauh lebih nikmat Dan aku pun berharap kamu pun kelak akan memakannya”, jawab Nabi.

 

Nabi s.a.w melihat sungai al-Kautsar yang pada kedua tepinya terdapat untaian-untaian mutiara berlubang. Tanahnya menebarkan aroma kasturi.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w diperlihatkan neraka. Di dalamnya terdapat murka, siksa, dan hukuman Allah ta’ala yang kalau misalnya seonggok batu atau sebatang besi dilemparkan ke sana akan langsung dilalapnya. Di dalam neraka terdapa beberapa orang yang memakan bangkai,

 

“Siapa mereka, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

 

“Mereka adalah orang-orang yang suka makan daging orang lain”, jawab Jibril.

 

Nabi s.a.w melihat malaikat penjaga neraka yang bermuka masam, selalu cemberut, dan terus-menerus marah. Beliau memulai dengan mengucapkan salam kepadanya. Setelah menjawab salam beliau, ia segera mengunci pintu mereka sehingga tidak bisa dilihat dan dimasuki oleh beliau.

 

Selanjutnya Nabi s.a.w. dibawa naik ke Sidrat-ul-Muntaha. Beliau diliputi oleh awan yang mengandung segala macam warna. Jibril sempat tertinggal. Tetapi kemudian ia segera ikut naik bersama beliau ke tempat di mana ia bisa mendengar goresan-goresan qalam. Beliau melihat ada yang bersembunyi dalam cahaya ‘Arasy.

 

“Siapa itu? Apakah ia malaikat?” tanya Nabi.

 

“Bukan”, jawab Jibril.

 

“Atau seorang nabi?” tanya beliau.

 

“Juga bukan”, jawab Jibril. “Ini adalah seseorang yang sewaktu di dunia lidanya selalu basah karena digunakan rajin berdzikir menyebut nama Allah s.w.t, hatinya selalu bergantung pada masjid, dan sama sekali tidak pernah mencaci-maki kedua orang tuanya.”

 

Nabi s.a.w melihat Tuhannya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Seketika beliau sujud bersungkur. Pada saat itulah beliau diajak bercakap-cakap oleh Tuhannya, “Wahai Muhammad!”

 

“Baik, Tuhanku”, jawab beliau.

 

“Mohonlah”, kata-Nya.

 

“Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, dan telah Engkau beri ia kekuasaan yang cukup besar. Engkau telah bercakap-cakap dengan Musa secara langsung. Engkau telah memberi kekuasaan yang cukup besar kepada Daud, dan Engkau juga memberinya kekuatan sehingga ia sanggup melunakkan besi, serta gunung-gunung bersujud kepadanya. Engkau telah memberi kekuasaan yang cukup besar kepada Sulaiman sehingga jinn, manusia, dan syaithan tunduk kepadanya. Bahkan angin pun tunduk kepadanya. Engkau telah memberinya suatu kekuasaan yang tidak diberikan kepada siapapun sepeninggalannya. Engkau telah mengajarkan Taurat dan Injil kepada Isa. Engkau jadikan ia bisa menyembuhkan kebutaan, menyembuhkan penyakit kusta, dan menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Engkau. Engkau lindungi Isa dan ibunya dari syaithan yang terkutuk, sehingga syaithan tidak memiliki cara untuk menggoda mereka berdua.”

 

Allah s.w.t. berfirman: “Aku telah menjadikan kamu sebagai kekasih.

 

Aku akan mengutusmu kepada seluruh manusia untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman, dan menyampaikan peringatan kepada orang-orang yang kafir. Aku akan melapangkan dadamu, menghilangkan noda dosa dari hatimu, dan mengangkat tinggi-tinggi derajatmu. Setiap kali ingat Aku, maka kamu pasti akan ingat kematian. Aku jadikan umatmu sebagai umat yang tengah-tengah. Aku jadikan mereka sebagai golongan yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku jadikan mereka tidak boleh berbicara panjang lebar sebelum mereka memberikan kesaksian bahwa sesungguhnya kamu adalah hamba sekaligus seorang rasul utusan-Ku. Dan Aku jadikan mereka kaum-kaum yang hati mereka lembut. Aku jadikan kamu yang pertama kali diciptakan di antara para nabi, yang terakhir kali diutus di antara mereka, dan yang paling awal untuk diputusi di akhirat nanti. Aku memberikan kepadamu surat Al-fatihah yang tidak pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu. Aku memberikan kepadamu bagian-bagian akhir dari surat Al-Baqarah sebagai simpanan di bawah ‘Arasy yang tidak pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu. Aku memberikan kepadamu telaga Al-Kautsar. Aku memberikan kepadamu delapan yang sangat penting dari Islam, hijrah, jihad, kejujuran, puasa Ramadhan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Pada waktu menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya Aku telah mewajibkan kepadamu dan umatmu shalat lima puluh waktu. Oleh karena itu kalian laksanakan kewajiban tersebut. Aku telah mengampuni siapa saja di antara umatmu yang tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.”

 

Kemudian awan pun tersibak dari Nabi s.a.w. Jibril memegang tangan beliau, dan segera berlalu untuk menemui Ibrahim. Tetapi Ibrahim tidak mengatakan sesuatu apapun. Jibril lalu menemui Musa, seseorang yang mau peduli dan bersedia diajak berbicara untuk menolong mencari jalan keluar dari kesulitan yang sedang terjadi.

 

“Apa yang telah kamu lakukan, wahai Muhammad?”, tanya Musa.

 

“Kewajiban apa yang dibebankan oleh Tuhanmu kepadamu dan kepada umatmu?”

 

“Dia mewajibkan kepadaku dan umatku shalat lima puluh waktu sehari semalam”, jawab Nabi.

 

“Kembalilah temui Tuhanmu”, kata Musa. “Mohonlah keringan kepada-Nya, supaya kamu dan umatmu tidak merasa keberatan. Soalnya mereka tidak akan sanggup melakukannya.

 

Sebelum kamu, aku telah memberitahukan hal itu kepada manusia. Bahkan aku telah mencobanya terhadap orang-orang Bani Isra’il dengan beban kewajiban yang relatif sangat ringan. Itu saja mereka tidak sanggup. Mereka sama meninggalkannya, Padahal dari segi fisik umatmu lebih lemah daripada mereka.”

 

Nabi s.a.w. menoleh ke arah Jibril dengan maksud untuk meminta pertimbangan kepadanya. Dan Jibril memberi isyarat supaya menuruti saran Musa supaya ia kembali menemui Tuhannya guna meminta keringanan. Beliau pun segera beranjak menemui Allah. Ketika tiba di dekat sebatang pohon, ia diselimuti oleh awan. Dengan posisi bersimpuh setelah bersujud beliau berkata: “Wahai Tuhan, tolong beri keringanan umatku, karena mereka adalah umat yang sangat lemah.”

 

Allah s.w.t. berfirman: “Aku beri mereka keringanan sebanyak lima waktu.”

 

Kemudian awan pun tersibak, lalu Nabi s.a.w kembali menemui Musa dan berkata: “Allah telah memberikan keringanan shalat lima waktu bagi umatku.”

 

“Temui Tuhanmu, dan mohonlah lagi keringanan bagi umatmu, karena mereka tidak akan sanggup melaksanakannya”, kata Musa.

 

Beberapa kali Nabi s.a.w harus bolak-balik naik turun menemui Tuhannya dan Misa, sehingga akhirnya umat beliau hanya diberi kewajiban menjalankan shalat sebanyak lima waktu saja. Terakhir Allah ta’ala berfirman: “Wahai Muhammad!”

 

“Baik, wahai Tuhanku”, jawab beliau.

 

Allah s.w.t. berfirman: “Kamu dan umatmu wajib menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

 

Dan pahala setiap shalat dilipatgandakan sepuluh kali. Jad jumlahnya sama dengan lima puluh kali. Ketetapan-Ku ini sudah tidak bisa diganti dan dirubah. Barang siapa yang bermaksud hendak melakukan suatu amal kebajikan namun ia membatalkannya, niscaya di catat untuknya satu kebajikan. Dan jika ia jadi melakukannya, niscaya dicatat untuknya sepuluh kali kebajikan. Sebaliknya barang siapa yang bermaksud hendak melakukan suatu amal keburukan namun batal, niscaya tidak dicatat untuknya apa pun. Dan jika ia jadi melakukannya, niscaya dicatat untuknya hanya satu keburukan saja.”

 

Tiba-tiba suasana menjadi sangat terang benderang. Nabi s.a.w. pun turun menemui Musa untuk memberitahukan hal itu kepadanya.

 

“Temui Tuhanmu, dan mohonlah lagi keringanan bagi umatmu, karena mereka masih tidak akan sanggup melaksanakannya”, kata Musa.

 

“Sudah beberapa kali aku naik turun menemui Tuhanku untuk memohon keringanan. Aku merasa malu kepada-Nya. Aku sudah setuju dan pasrah atas ketetapan-Nya itu”, jawab Nabi.

 

Tiba-tiba ada penyeru yang menyeru: “Sesungguhnya kamu harus menunaikan kewajiban-Ku, dan Aku telah memberikan keringanan buat hamba-hambaKu!”

 

“Sekarang turunlah dengan menyebut nama Allah”, kata Musa kepada Nabi,

 

Dan setiap kali melewati rombongan malaikat, mereka pasti mengucapkan salam kepada beliau. Beliau mendekati Jibril dan perkata: “Kenapa para malaikat penghuni langit sama mengucapkan selamat datang kepadaku? Dan kenapa mereka juga tertawa padaku? Kecuali hanya satu malaikat.