Dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang berkatalah syekh penuntun umat yang sangat berilmu pelita agama Abu Abdillah beliau bernama Muhammad bin qasim pengikut madzhab Imam Syafi’i Semoga Allah meratakan siraman rahmat dan Ridhonya Kepada beliau.

segala puji puji bagi Allah. maksud kami menyebut kata Alhamdulillah di awal kitab ini karena mengharap berkah dengan Fatihah Kitab Alquran, sebab fatihah itu biasa digunakan sebagai hal-hal yang sangat bernilai, Pamungkas setiap doa yang diterima Allah, dan juga kata yang menghentikan doa-doa orang-orang Mukmin di surga sebagai tempat pahala tempat berdzikir dan bertasbeh.

kami memanjatkan puja dan puji kehadirat Allah lantaran berharap agar Allah memberi Taufik kepada segenap orang yaitu hamba-hamba Allah yang termaksud memahami atau mendalami ilmu-ilmu agama Islam, pemahaman yang sesuai dengan kehendak Allah.

dan selanjutnya aku memohon kehadirat Allah semoga shalawat serta salam sejahtera tetap terlimpah kepangkuan makhlukNya yang teristimewa yaitu Muhammad namanya, pemuka para rasul, beliaulah yang bersabda barangsiapa dikehendaki menjadi orang yang baik oleh Allah maka dia diberi kefahaman yang mendalam tentang ajaran agama.

shalawat serta salam sejahtera itu semoga terlimpah pula kepada seluruh keluarga dan sahabat rasul sepanjang masa di mana orang-orang ada yang berdzikir dan ada pula yang melupakan Allah yakni semenjak di dunia hingga di akhirat

dan sehabis Usai memanjatkan Puja puji dan sholawat buat Rasul seluruh keluarga dan sahabatnya, bahwa apa yang ada dalam benak kami ini sebuah kitab yang sangat ringkas, lagi tidak perpanjang kata, singkat dan padat, hal mana Aku susun sebagai komentar kitab yang berjudul at takrib. harapan saya semoga kitab ini bisa dimanfaatkan oleh para peminatnya yaitu orang-orang yang masih dalam tingkat pemula atau dasar untuk mempelajari cabang-cabang ilmu syariat dan agama Islam. dan semoga pula buah karya ini menjadi lantaran atau jembatan penyelamat diriku di hari yang sudah dijanjikan oleh agama Islam. dan semoga pula bermanfaat bagi segenap hamba-hamba Allah yang beragama Islam. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha mendengar akan doa para hamba-nya, Maha dekat lagi maha mengabulkan doa,

dan perlu diketahui bahwa di dalam sebagian beberapa redaksi kitab Matan ini, di selain pembukaanya, terdapat pemberian nama sebuah kitab ini sekali tempo dengan sebuah judul a taqrib, Sedang pada tempo yang lain disebut pula dengan sebuah judul ghoyatul ikhtishor. Oleh karena itu kitab ini kami beri judul pertama Fathul Qorib Al Mujib yaitu sebuah karya yang mengomentari sebuah karya yang berjudul taqrib, kedua al qoulul mukhtar fi syarhi ghoyatil ikhtishor.

berkatalah Syekah penuntun umat Abu Thoyib, populer dengan julukan Abi sujak pelita agama, nama beliau sendiri Ahmad bin Husein bin Ahmad Al asfahani, Semoga Allah memberi siraman makam beliau dengan tumpahan rahmat dan Ridhonya, dan juga ditempatkan di surga firdaus yang bersama.

dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang Aku menyusun menyusun buah karyaku ini. kata-kata Allah itu adalah sebuah nama bagi dzat yang wajib adanya. kata Arrahman adalah kata sifat yang mengandung makna lebih baik dan lebih tajam dan Agung sekutu kata ar-rohim.

segala puji bagi Allah. bersyukur Dengan mengucap kata Alhamdulillah adalah berarti kepada Allah ta’ala dengan menyebut atas nya sebagai upaya sebagai upaya mengagungkan-Nya.

Allah itu Tuhan yang merajai seluruh alam. Kata al alamin dengan dibacakan fathah huruf lamnya, mengembik apa yang dikatakan oleh Ibnu Malik adalah kata yang menunjukkan bentuk jamak, di khususkan buat orang-orang yang berakal fikiran, bukan bentuk kata jamak yang kata mufrod nya berbunyi alam dengan membaca kata huruf lamnya. sebab kata alam itu menunjukkan pengertian perkara yang selain Allah, sementara kata jamaah al alamin tersebut khusus untuk menunjukkan kata jamaknya lafadz alam yang mempunyai arti makhluk yang berakal pikiran.

Shalawat serta salam sejahtera semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan kita yang bernama Muhammad, yang menjadi seorang Nabi. Kata”an-Nabi” dengan berhuruf hamzah dan juga bisa tanpa huruf hamzah, artinya adalah seorang manusia yang kepadanya diberi wahyu oleh Allah, dengan mendapatkan syari’at untuk diamalkan (sendiri), dan sementara dia tidak diperitahkan untuk menyampaiakan wahyu tersebut. Maka dengan demikian , jika dia diperintahkan untuk menyampaiakan wahyu tersebut, maka disebut Nabi dan sekaligus juga seorang Rasul. Maksud semua kata-kata mushannif tersebut, adalah merupakan pengupayaan semoga Shalawat dan salam sejahtera tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad.

Kata” Muhammad”, adalah isim yang menunjukkan nama seseorang. Dan kara “muhammad” itu pindahan dari bentuk kata isim maf’ul yang ditasydid huruf ‘ain-nya, sedang kata “an-Nabi” adalah menjadi badal (pengganti) dari kata “Muhammad”, atau sebagai ‘athaf bayan (penjelasan) pada kata ” muhammad” tersebut diatas.

Shalawat dan salam sejahtera semoga tetap terlimpah pula kepada seluruh keluarga Nabi yang suci-suci. Yang disebut keluarga nabi, adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syafi’i semua kerabat Nabi yang beriman, yaitu seperti keluarga bani Hasyim (anak cucu Hasyim) , dan bani Mutholib (anak cucu Mutholib). Dikatakan oleh pendapat yang lain, dan pendapat ini telah dipilih (untuk diikuti) oleh Imam Nawawi , bahwa yang disebut sebagai keluarga Nabi itu, adalah setiap orang muslim. Dan mungkin saja kata-kata mushannif “at-Thahirin” (yang suci-suci) itu didapat dari kata-kata hang terdapat pada firman Allah :” ويطهركم تطهرا ” (artinya: Dan Allah mensucikan kamu semua sesuci-sucinya). Dan shalawat serta salam sejahtera, itu juga tetap terlimpahkan kepada shahabat Nabi secara keseluruan . Kata “Shahaabatihi” , itu bentuk jama’ dari “Shahibin Nabi”. Sedang kata “Aj-Ma’in” adalah kata penguat (ta’kid) pada kata Shahaabatihi” tersebut. Kemudian mushannif menjelaskan bahwa beliau diminta untuk menyusun buah karya tulis yang mungil ini. Dengan kata-kata-nya (beliau menjelaskan) : “pernah sebagian kawan-kawan meminta kepadaku, semoga Allah Ta’ala menjaga hendaklah aku menyusun buah karya mungil (ringkas), yaitu singkat kata-katanya dan (tetapi) padat maksud kandunganya, buah karya mana membicarakan masalah hukum fiqih. Kata “Fiqih”, menurut tinjauan bahasa, artinya mengerti (faham). Sedang menurut ishtilah (yang lazim dingunakan oleh kalangan para ulama Fiqih) adalah, mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah (hukum tentang amal perbuatan sehari-hari), yang diperoleh dari (hasil rekayasa) beberapa dalil hukum tersebutm secara rinci.” (Buah karya tulis mungil, yang aku susun tersebut , membicarakan tentang hukum-hukum fiqih) berdasarkan pada madzab al-Imam penuntun Ummat, pemimpin besar, ahli ijtihat, penolong (penegak) sunnah Rasul dan agama islam, (yang berjuluk) Abu ‘Abdillah (beliau sendiri bernama) Muhammad bin Idris ‘Abbas bin ‘Ustman bin Syafi’ asy-Syafi’i. Imam Syafi’i itu dilahirkan di Ghuzzah (di negeri Syam, atau sekarang , Syiria) yaitu pasa tahun 150. Beliau semoga Rahmat dan Ridho Allah tetap terlimpah kepadanya adalah wafat pada hari Jum’at , akhir bulan Rajab, tahun 204. (Sebagaimana telah dimaklumi bahwa) mushannif telah memberi ciri-ciri pada buah karya tulis yang mungil itu dengan beberapa sifat, antara lain : Sangat ringkas lagi amat singkat sekali. Kata “Ghayah” dan kata “Nihayah” itu kedua-duanya berdekatan ma’nanya. Demikian pula kata “Ikhtishar” dan kata “Ijaz” adlah berdekatan ma’nanya.

Diantara beberapa ciri kitab yang mungil ini, adalah bahwa kitab ini mendekatkan (kunci) bagi orang yang belajar untuk mengetahui cabang- cabang ilmu fiqih, dan memudahkan bagi para pelajar tingkat dasar untuk menghafalnya. Yakni, menguasai hingga sampai diluar kepala, bagi orang yang berminat sekali menghafalkan buah karya tulis mungil yang membicarakan didalam masalah fiqih tersebut. Dan telah meminta kepadaku pula, sebagian kawan, hendaklah aku memperbanyak didalam kitab yang mungil ini beberapa bagianya sasaran hukum-hukum fiqih. Dan sebagian ada juga orang yang meminta untuk meringkas beberapa perkara yang berkenaan dengan hukum wajib dan hukum sunnah dan hukum lainnya. Maka aku penuhi orang itu atas permintaannya pada hal-hal yang tersebut di atas tadi, Seraya Aku berharap memperoleh pahala dari Allah ta’ala sebagai balasan atas (jerih payahnya) menyusun kitab yang mungil Ini. (disamping berharap pahala) juga sambil (menghadap diri) suka untuk cenderung kepada Allah Swt untuk memohon batuan dari anugerah (kemurahanya) atas kesempurnaan kitab yang mungil ini. Dan untuk mendapat Taufik demi suatu kebenaran dan bukan kesalahan yang terjadi. Sesungguhnya Allah ta’ala itu kuasa yang mewujudkan atas segala sesuatu yang dikehendaki. Dan dialah yang Maha halus (pelik sekali) lagi maha mengetahui terhadap sepak terjang segenap hambah-hambah-Nya kata-kata yang awal “Lathif” itu didapat (iqtigas) dari firman Allah Ta’ala : ” Allahu lathifun bi’ibaadihi.” Sedangkan yang kedua , yaitu “khabiirun,” adalah didapat dari firman Allah: ” wahuwal hakimul khabiir.” (Baik) kata khabir dan kata lathif itu, kedua-duanya adalah nama dari sekian banyak asma’ Allah Ta’ala. Kata yang awal tadi , artinya Maha mengetahui masalah-masalah yang pelik lagi sulit. Dan kadang-kadang juga kata tersebut mempunyai kata pelindung tumpuhan segala-galanya, bagi hamba-hamba Allah. Maka, Allah Ta’ala itulah yang maha mengetahui seluruh hambahnya, dan beberapa juga tempat kebutuhan hamba-hambaNya lagi pula dialah yang maha pelindung, tumpuhan harapan buat hambaNya. Dan kata yang kedua (Khabir) ma’nanya hampir sama dengan ma’na kata yang awal tadi (Lathif) . Dan kata itu (biasa) diucapkan”Khabartu asy-Syai-a” artinya, sama dengan kata “Akhbarahu Fa Anabahu.” Kata “Khabirun” itu, artinya maha pengetahui (sama dengan artinya kata ‘Alimun). Penyusun kitab ini rahimahullahallah Ta’ala berkata:

Kata “kitab” menurut pengertian (dari segi) bahasa artinya “kumpul”. Sementara menurut pengertian secara istilah (yang sudah lazim dikenal oleh para ulama Fiqih), kata kitab menunjukkan arti jenis dari macam-macam hukum. Adapun kata “Bab”, menunjukkan satu bagian (sub) dari pada jenis tersebut. Kata “Thaharah” menurut (tinjauan dari segi) bahasa , artinya sama dengan kata “Nazharah” (bersih dari kotoran). Adapun (menurut tinjauan dari) syara’ pengertian yang sudah lazim berlaku dikalangan ‘ulama ahli fiqih ) , maka hal ini terdapat beberapa pengertian (difinisi yang dikemukakan). Diantara mereka ada yang berpendapat ” suatu perbuatan yang karenanya seseorang diperbolehkan mengerjakan sholat.” Seperti wudlu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. Adapun kata ” thaharah” menunjukkan arti “air suci, sisa dari air yang telah digunakan untuk bersuci” (seperti air yang ada disuatu tempat yang telah dipakai mengambil air wudlu). Tatkala air itu ( sangat penting ) sebagai alat untuk dipakai bersuci , maka penyusun kitab ini , (merasa perlu) untuk menyusul penjelasan macam-macamnya air tersebut. Beliau mengatakan : Bahwa air yang dianggap sah untuk dipakai bersuci itu ada 7 macam sebagai berikut: 1. Air hujan. 2. Air laut (air asin). 3. Air sungai / begawan (air tawar). 4. Air sumur. 5. Air sumber. 6. Air es 7. Air embun. Ketujuh air diatas telah tercangkup pada suatu pengertian yakni semua air yang datang dari langit dan yang keluar dari tanah dengan segala macam warna (corak) keadaan wujud air tersebut dari asal kejadiannya. Kemudian air tersebut, di atas terbagi menjadi 4 bagian sebagai berikut : 1. air yang suci dan mensucikan (berfungsi untuk membersihkan) kepada yang lain, tidak makruh menggunakannya dan lepas dari qayyid (batasan) yang mengikat dalam segala keberadaannya. Air yang demikian ini dinamakan air mutlak, Jadi qayid yang bisa lepas (sewaktu-waktu) tidak membawa akibat apa-apa, seperti air sumur dalam keberadaannya sebagai air “mutlak”. 2. Air suci yang mensucikan tetapi makruh menggunakannya pada (anggota) badan, bukan makruh untuk dipakai mensucikan pakaian. Yaitu air yang dipanaskan dengan sengatan terik matahari. Bahwa menurut tinjauan syara’, hanya makruh menggunakan air yang dipanaskan dengan sengatan terik matahari, apabila air tersebut ditempatkan pada suatu tempat (wadah) yang terbuat dari emas dan perak, karena kekeringan ketua tempat tadi (sehingga bisa menjamin, akan timbulnya sesuatu yang bisa membahayakan kesehatan. Adapun apabila air yang panas tadi telah berubah menjadi dingin lagi, maka hukumnya tidak makruh. Imam Nawawi (cenderung) memilih pendapat yang mengatakan tidak makruh serta mutlak (baik ada ketentuan syarat seperti tersebut diatas atau tidak). Bahkan makruh pula hukumnya menggunakan air yang sangat panas atau yang sangat dingin. 3. Air yang suci tetapi tidak dapat mensucikan pada yang lain, yaitu air mustakmal maksudnya air yang sudah dipakai menghilangkan hadas atau najis, dengan catatan jika air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah kadar beratnya dari asal mulanya (sebelum dipakai) setelah diperkirakan adanya air yang meresap pada sesuatu yang dicuci. Termasuk (dalam katagori) air suci yang tidak (berfungsi) mensucikan pada yang lain, ialah air yang berubah salah satu dari sekian banyak sifat-sifatnya akibat ada suatu benda suci yang bercampur dengan air, sehingga perubahan itu bisa mencegah (merusak) kemutlakan pada air tersebut. Maka dengan demikian, air ini sama halnya dengan mustakmal, dalam arti ia tetap suci tetapi tidak berfungsi untuk mensucika pada yang lain. Baik perubahan air tadi bisa dibuktikan dengan (panca) indera atau dengan fikiran saja, contohnya seperti air bercampur dengan benda yang memiliki kesamaan sifat-sifatnya, seperti campurnya air dengan air mawar yang sudah hilang bauhnya, atau bercampur dengan air mustakmal. apabila berubahnya air tersebut tidak sampai mencegah (merusak) kemutlakan daripada nama air, misalnya berubahnya air tadi disebabkan bercampur dengan benda suci dengan kadar yang sedikit atau karena bercampur dengan benda yang (kebetulan) mempunyai sifat-sifat yang persis dengan air tersebut (dalam segi lahirnya), sedang (pada hakekatnya) diperkirakan ada perbedaan, dan benda yang bercampur itu tidak merubah keadaan air tersebut, maka percampuran itu, tidak bisa meniadakan (status) air sebagai air yang suci dan dapat mensucikan pada yang lain. Penyusun kitab ini, mengatakan bahwa kata “خالطه” ( artinya bercampur nya benda dengan air) itu, berarti mempunyai suatu pengertian ” mengecualikan benda suci yang berdampingan dengan air dan yang bisa merubah keadaan air tersebut, walaupun kadar perubahan yang terjadi pada air tersebut cukup banyak”. Maka dalam hal semacam ini, air tadi tetap suci dan mensucikan. Demikkan pula, air yang berubah sebab bercampur dengan benda yang sulit bisa lepas dengan air, seperti bercampur dengan lumpur dan kiambang (ganggeng), dan juga apa saja yang berada di tempat diamnya air atau tempat lewat nya. Dan (lagi) air yang berubah lantaran terlalu lama berdiam di tempatnya maka air semacam ini hukumnya tetap suci. Atau dibedakan dengan air menurut pandangan mata, contohnya seperti minyak yang tumpah membaur ke dalam air. 4. Air suci yang kena najis (yang tidak dima’fu). Air najis ini, terbagi menjadi dua bagian sebagai berikut : a. air sedikit yang kurang dari 2 qula yang kemasukan najis, baik air tadi berubah atau tidak. (Dalam hal ini) di kecuali kan masuknya ke dalam air bangkai (binatang) yang tidak mempunyai darah yang mengalir ketika sedang dibunuh, atau sedang dibelah sebagian anggota tubuhnya, contohnya seperti lalat (semut dan lain-lain), sepanjang binatang tadi tidak dimasukkan (ke dalam air) secara sengaja dan (juga) tidak bisa merubah (keadaan) air tersebut (maka hukumnya air yang demikian itu, suci). Demikian juga (termasuk yang dikecualikan) apabila najis itu tidak dapat ditemukan (diraba) oleh mata, maka dalam hal ini kedua-duanya tidak bisa membuat najis (menajiskan air yang sedikit dan) benda yang cair (dari air). Dan juga dikecualikan, beberapa contoh yang banyak sekali jumlahnya, (sebagaimana) yang tersebut dalam kitab yang luas keterangannya. b. air yang banyak (2 qulah ke atas ) lalu berubah (sebab kena sesuatu), baik berubahnya itu (cuma)sedikit atau (cukup) banyak. Adapun (ukuran) air 2 qulah itu ialah (air yang mencapai) 500 (lima ratus) negeri Bagdad, demikianlahkira-kira menurut pendapat yang sangat shahih (kuat). Menurut Imam Nahrawim bahwa 1 (satu) kati Bagdad itu sama dengan 128 (seratus dua puluh delapan) dirham lebih 4/7 dirham. Penyusun kitab ini tidak mengemukakan bagian yang kelima, yaitu air suci yang haram memakainya , contohnya seperti air yang diperoleh dengan cara ghasab dipakai untuk wudlu, atau air yang disediakan (ditepi-tepi jalan) untuk minum, lalu dipakai untuk berwudlu. 

PASAL : mengetengahkan tentang benda yang kena najis dan benda-benda yang bisa suci sebab (melalui proses) penyamakan (pemasakan) dan benda yang tidak bisa menjadi suci. bahwa semua kulit bangkai , baik yang berasal dari bangkai yang boleh dimakan dagingnya (seperti keledai) bisa menjadi suci sebab disamak. Cara menyamak kulit bangkai binatang itu ialah, sisa-sisa kotoran yang menempel dikulit seperti darah dan sebagainya (sisa danging yang masih melekat) yang membuat kulit menjadi busuk, harus dihilangkan dengan benda yang mempunyai rasa kelat seperti (daun /kulit kayu) pojon ‘afas (yang mempunyai rasa pahit lagi tengik), walaupun benda yang kelat itu berupa benda yang najis, seperti kotora burung dara (merpati), maka cukuplah pe yamaan itu (sebagai cara u yuk menghilangkan najisnya kulit bangkai tersebut). (Semua kulit bangkai bisa disamak), kecuali kulit anjing dan babi serta binatang yang lahir dari kedua bintang tersebut (anak-anaknya), atau yang lahir dari salah satu kedua binatang tersebut (sebab dikawinkanya) dengan binatang yang suci (misalnya anak seekor kambing yang lahir sebab induk si kambing yang disetubuhi oleh anjing), maka (kulitnya) tidak bisa suci sebab disamak. Tulang bangkai dan bulunya hukumnya najis , demikian pula bangkai binatang itu sendiri hukumnya pun najis. Dan (sementara) yang dimaksud , dengan bangkai (disini), ialah binatang yang sudah hilang nyawannya tanpa melalui (tata cara) penyembelihan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Maka apabila demikian adanya, adalah tidak termasuk yang tanpa terkecuali, yaitu ketika ada janin keluar dari perut induknya yang sudah disembelih (melalui tata cara syari’at Islam), sedang janin tersebut (keluar) dalam keadaan mati. Sebab, sembelihan induknya berarti sembelihan janin itu sendiri (jadi janin ini bukan termasuk bangkai, sebab dengan menyembelih induknya sama hukumnya dengan menyembelih janin.) Demikian pula yang bukan termasuk pantai yaitu masalah lain yang diterangkan didalam kitab yang luas keterangannya. 

Kemudian penulis kitab ini memberi pengecualian atas rambut (bulu) bangkai, pada perkataan beliau (yang berbunyi) ” kecuali bangkainya anak Adam”. Maksudnya rambut anak Adam (manusia) hukumnya sama dengan bangkainya yaitu suci.

PASAL : menjelaskan tentang wadah yang haram digunakan(sebagai wadah air) dan wadah (tempat) yang diperbolehkan dipakainya. Mulailah mushannif membicarakan masalah yang pertama, Beliau berkata: Bahwa tidak diperkenankan (haram) bagj seorang laki-laki atau perempuan, bukan dalam keadaan darurat (terpaksa), yaitu menggunakan tempat (yang terbuat dari) emas dan perak, baim dipakai sebagai tempat untuk makan, minum atau yang lainnya. Dan sebagaimana haram mamakai wadah yang tersebut diatas (wadah yang terbuat dari emas perak), haram pula hukumnya menyimpan (menfa’atkan) meskipun bukan untuk dipakai. Demikianlah menurut pendapat yang lebih shahih (sangat kuat). Haram pula hukumnya, menggunakan baran yang disepuh dengan emas dan perak, apabkla proses penyempuhannya melalui cara dibakar dengan api. Dan diperbolehkan (tidak haram) menggunakan wadah yang terbuat dari bahan selain emas dan perak, yaitu seperti wadah yang indah (berharga) seperti yang terbuat dari yakut. San haram menggunakan wadah yabg ditambal dengan perak yang cukup besar (kadarnya), sedang menurut penilaian uref (pandangan secara umum) dimaksudkan untuk sekedar hiasan. Apabila tambalan tersebut dalam kadar yang banyak (tetapi) karena suatu kepentingan (yang dibenarkan syara’), maka diperbolehkan , tetapi makruh. Adapun apabila karena (didorong) suatu kepentingan maka tidak makruh menggunakanya. Bahwa apabila tambalan itu terdiri sari emas yang murni, maka hukumya haram secara mutlak (baik sedikit atau besar kadar tambalannya, juga baik karena ada kepentingan atau tidak). Demikianlah, sebqgaimana pendapat ini dinilai oleh Imam Nahrawi sebagai pendapat yang shahih.

PASAL : Membicarakan tentang menggunakan alat untuk bersiwakm ia (sekaligus) merupakan sebagian dari sekian banyak sunatnya wudku. Bersiwak biasa juga dikenal dengan (suatu kegiatan) siwak-menyiwak dengan menggunakan alat yang berupa kayu “Arak” dan yang sejenis dengan kayu arak. Bersiwak hukumnya sunnah pada keadaan apapun. Dan tidak makruh tanzih hukumnya, kecuali bersiwak dilakukan pada saat sesudah matahari condong kebarat, bagi orang yang sedang berpuasa, baik puasa sunnah atau puasa fardlu(wajib). Hukum makruh bersiwak itu sirna (tidak berlaku) sebab terbenamnya matahari. Sedang Imam Nahrawi (cenderung) memilih pendapat yang mengatakan tidak makruh secara mutlak. Bersiwak pada 3 keadaan hukumnya sunnah sanggat disunnahkan, daripada bersiwak selain 3 keadaan tadi. 3 keadaan yang sangat dianjurkan bersiwak ialah:
Pertama : apabila bau mulut berubah menjadi bau tidak enak (busuk), yaitu sehqbis berdiam lama (tidak makan) atau meninggalkan (kegiatan) makan. Bahwa penulis kitab ini mengatakan : “Dan berbau busuk disebabkan oleh sesuatu yang selain karena berdiam lama,” tiadalain maksud tujuannya ialah agar supaya mencakup (pula masalah) berubahnya mulut yang disebabkan oleb sebab yang lain seperti sehabis makan makanan yang berbau tidak enak, yaitu seperti makan berambang dan bawang atau selain keduanya.
Kedua : Apabila sedang bangun dari tidur (atau) tersadar dari tidur. Dan ketiga: apabila berdiri (hampir) hendak melakukan sholat fardlu atau sunnah. Dan dianjurkan juga bersiwak pada kesempatan selain tiga yang telah diterangkan tadi, hal mana telah disebutkan pada kitab-kitab yang luas pembicaraannya. Yaitu tatkala hendak membaca Al-Qur’an dan saat gigi-gigi telah menguning. Dan ketika bersiwak disunnahkan hendaklah niat melakuka ibadah sunnah. Dan hendaklah sewaktu bersiwak, alat siwak dipegang dengan tangan kanannya serta memulai bersiwak pada arah kanan dari mulutnya, dan seterusnya melewatkan siwak dengan pelan-pelan pada arah bagian atas tenggorokan dan (akhirnya hingga sampai ke) pada arah gigi geraham (yang paling akhir). PASAL : Membicarakan tentang beberapa fardlunya wudlu. Kata “Wudlu” (وضوء) dengan dibaca dlammah huruf wawunya, menurut pendapat yang lebih masyhur menunjukkan nama bagi suatu perbutan. Pengertian semacam inilah yang dimaksud disini. Dan dengan dibaca fathah huruf wawunya (وضوء) menunjukkan nama suatu benda yang dipakai untuk berwudlu (yaitu air). Wudlu dalam arti pengertian yang pertama tadi, menganung beberapa fardlu dan beberapa sunnah (wudlu) penyusun kitab ini menyebutkan fardlu-fardlunya wudlu pada perkataannya yaitu : Beberapa fardkunya wudlu itu ada 6(enam) perkara : 1. Niat, menurut pandanga syara’, hakikat niat adalah (didalam hati) bermaksud pada sesuatu seraya di iringi dengan mengerjakannya. Jadi, apabila maksudnya tadi tidak (sekaligus) disertai dengan mengerjakannya , maka hal semacam ini disebut “Azam.” Niat tersebut, dilakukan saat membasuh permulaan sebagian dari wajah (muka), yakni ia (niat itu) di iringi dengan membasuh sebagian wajah, bukan (sebelum selesai) secara keseluruhannya, bukan sebelum membasuhnya dan juga bukan sesudahnya (selesai membasuh muka). Bagi orang sedang berwudlu, ketika ia membasuh apa yang telah diterangkan tadi (sebagian dari wajah), harus niat menghilangkan hadats dari sekian banyak hadats-hadatsnya (yang ditanggungnya). Atau niat menunaikan (syarat) diperkenankannya mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan harus wudlu, atau niat menunaikan fardlunya wudlu saja, atau niat bersuci (menghilangkan) hadats. Jadi apabila orang yang sedang berwudhu tadi tidak mengucapkan niat menghilangkan hadats, maka tidak dianggap sah wudhunya. Bahwa ketika ada orang yang berwudhu, ia niat seperti apa yang sudah lazim berlaku pada tata cara niat tadi, Disamping itu ia sertakan (pula) niat membersihkan badan atau disertakan niat biar segar badannya, maka bisa dianggap sah wudlunya.

2. Membasuh bagian muka secara keseluruhan. Adapun batas-batasnya (wajah yang harus dibasuh), dari atas kebawah mjlai dari tumbuhnya rambut kepala menurut ukuran umumnya orang, hingga sampai pada bagian bawah, dimana kedua tulang itu permulaanya (bagian awalnya) berkumpul (bertemu) didagu, sesang oada bahian akhirnya ada (disekitar) telinga. Adapun batas lebar ya (muka), yaitu batas antara kedua telinga ( mulai dari telinga kanan hinga sampai pada telinga kiri. Dan apabila pada bagian wajah terdapat rambut yang tumbuh, baik rambut itu jarang-jarang atau lebat, maka wajib membasuhnya hingga air sampai pada kulit yang ada pada bagian bawahnya rambut (dimana rambut itu tumbuh). Adapun jenggot laki-laki yang (tumbuh) lebat, sekiranya orang yang berbicara buka kurung (di depannya) tak dapat melihat kulitnya dari selah selah jenggot, maka cukuplah membasuh pada bagian muka yang tampak saja . Jadi berbeda dengan jenggot yang tumbuh jarang-jarang (tipis), yaitu sekiranya orang yang berbicara (di depannya), itu dapat melihat kulitnya, maka dalam hal ini wajib membasuhnya hingga air itu sampai ke bagian kulit. Dan dan (persoalan tersebut) berbeda pula dengan jenggotnya orang perempuan dan orang banci, maka (dalam hal ini) wajib bagi mereka membasuh jenggotnya sampai air itu mengenai pada bagian kulit mereka, walaupun jenggotnya tumbuh lebat. Dan di samping harus membasuh wajah, (itu berarti) harus membasuh pula sebagian dari kepala, leher, dan bagian-bagian yang ada di bagian bawah dagu (seperti kerongkongan, bagian disekitar kedua telinga sebab hal ini termasuk yang membuat sempurnanya pembasuhan bagian muka). 3. Membasuh kedua tangan hingga sampai pada siku-siku. Jadi, kalau seseorang tidak memiliki siku-siku, maka yang harus dibasuh bagian yang diperkirakan sebagai siku-sikunya. Dan wajib (pula) membasuh bagian-bagian yang ada di dua tangan seperti rambut (bulu), uci-uci (daging yang tumbuh di badan), jari-jari tambahan dan kuku-kuku (sekalipun panjang). Dan wajib pula menghilangkan kotoran (benda) yang terdapat dibagian bawah kuku yang bisa mencegah air sampai (mengenai) pada (kuku). 4. Mengusap sebagian dari kepala, baik laki-laki atau perempuan (sama saja). Atau (setidak-tidaknya) rambut yang masih ada pada batas-batas kepala. Sedangkan dalam hal mengusap ini, tidak harus dengan tangan, tetapi bisa saja memakai secarik kain dan lainnya. Dan seandainya ada orang tidak mengusap kepala, tetapi sebagai gantinya ia membasuhnya, maka boleh-boleh saja. Dan demikian pula, seandainya ada orang (hanya) meletakkan saja tangannya yang sudah dibasahi, tanpa menggerak-gerakkan nya , (itu pun) boleh-boleh saja (sah hukumnya). 5. Membasuh dua kaki beserta dua mata kaki. (Demikian itu) jika orang yang sedang berwudhu itu tidak memakai dua muzah. Sedang apabila ia memakai kedua muzahnya , atau membasuh kedua kaki. Dan wajib (pula) membasuh apa-apa yang terdapat pada kedua kaki tersebut, seperti rambut (bulu-bulu yang tumbuh), daging yang tumbuh pada kulit dan jari-jari tambahan sebagaimana keterangan yang lalu pada masalah membasuh kedua tangan. 6. Harus tertib sewaktu mengerjakan wudhu, sebagaimana yang telah kami terangkan (seperti membasuh muka sekaligus disertai dengan niat, lalu disusul urutan berikutnya dan seterusnya). Jadi, kalau orang yang berwudhu lupa akan tata tertib, maka tidak cukup (tidak sah) wudhunya, serentak hanya sekali basuhan dengan seizin orang yang wudhu tadi, maka yang hilang (hanya) hadats bagian wajah saja (ia baru dianggap membasuh muka saja).

Sunnah-sunnah nya wudhu itu ada 10 perkara: 1. Membaca bismillah pada permulaan (saat akan mengerjakan wudhu). Sedikit-sedikitnya membaca “Bismillah”. Sedang untuk sempurnanya, membaca “Bismillahirrahmanirrahim”. Maka apabila ia ( lupa) meninggalkan baca Bismillah pada permulaan (saat mau berwudhu), maka ia boleh membacanya ditengah-tengah sedang mengerjakan wudhu. Sedang apabila sudah selesai dari mengerjakan wudhu (tiba-tiba ia ingat), maka tidak usah membaca bismillah ( pun tak mengapa atau tetap sah wudhunya). 2. Membasuh kedua telapak tangan hingga sampai ke batas 2 pergelangan, sebelum ia berkumur. Sedang apabila ia ragu-ragu akan kesucian ketua telapak tangannya, maka (hendaklah) ia membasuh sebanyak 3 kali, sebelum memasukkannya ke dalam sebuah wadah, (apabila) yang termuat di dalam wadah tadi, air kurang dari dua kulah. Jadi,kalau ia tidak membasuh kedua telapak tangan tersebut, maka hukumnya makruh memasukkan kedua telapak tangan tersebut, maka tidak makruh bagi orang yang wudhu tadi, memasukkannya ke dalam wadah (air tersebut). 3. Berkumur setelah membasuh kedua telapak tangan. Dansudah dianggap mendapat kan ke sunatan nya berkumur, yaitu dengan memasukkan air kedalam mulut baik ia memutar mutar (mengumurkan) air tadi kedalam mulutnya, atau tidak memutarnya. Sedang apabila ia hendak mengerjakan berkumur yang lebih sempurna, maka (sesudahnya ia berkumur) lalu ia keluarkan air tersebut dari mulutnya. Dan (Sunnah pula) menghirup air kedalam hidung, sehabis berkumur. Dan (sudah dianggap) mendapat kesunnatan dalam hal Sunnah nya menghirup air, yaitu dengan memasukkan air kedalam hidung, Bai ia menghirup nya sekuatnya hingga sampai ke rongga hidung lalu dikeluarkan dari hidung, atau tidak ( mengerjakan nya dengan sampai sejauh itu). Maka, apabila ia bermaksud (menghirup air) yang lebih sempurna, maka, (hendaklah) ia keluarkan air itu dari hidungnya. Adapun antara berkumur dan menghirup air kedalam hidung itu dikerjakan berbarengan dalam 3 kali cibuan, setiap kali dari 3 cibuan itu, ia berkumur kemudian (diikuti) menghirup air kedalam hidung, itu lebih afdhol ( baik) dari pada ( melakukannya) secara terpisah-pisah antara keduanya. 4. Meratakan usapan keseluruh kepala. Adapun mengusap sebagian kepala hukumnya baik, sebagaimana keterangan yang telah lewat. Dan seandainya ada orang yang hendak membiarkan surban atau yang lainnya yang sejenis yang menjadi tutup kepala , maka mengusap bagian atas tutup kepala tadi sudah (dianggap) sempurna. 5. Mengusap kedua telinga (secara keseluruhan) baik pada bagian muka atau bagian muka atau bagian yang dalamnya (lipat-lipatannya yang tidak tampak dimuka), dengan air yang baru, maksudnya bukan menggunakan air ( yang menetes dari) yang membasahi kepala (muka). Adapun cara mengusap kedua telinga sunnahnya ialah memasukkan jari penunjuk kedalam lubang telinga lalu diputarnya (digerakannya) pada bagian lipat-lipatannya. Dan ( kemudian) ibu jarinya digerakkan pada bagian yang tampak dikedua telinga (seperti bagian belakang telinga), kemudian kedua telapak tangannya yang sudah dibasahi air, dipertemukan dengan kedua telinga biar tampak jelas merata usapannya keseluruh telinga. Memasukkan air kedalam sela-sela jenggot yang lebat bagi orang laki-laki. Adapun jenggot orang laki-laki yang tumbuh ya jarang-jarang, dan juga jenggot orang perempuan serta orang banci, maka (semuanya itu) wajib disela-selai dengan air. Sedang caranya, ialah ia ( seseorang ) masukkan jari-jari nya dari bagian bawah jenggot (kedalam sela-selanya). 7. Memasukkan air kedalam sela-sela (jari-jarinya) kedua tangan dan kedua kaki . Demikian itu, apabila air sudah bisa sampai ( mengenai) pada sela-sela jari-jari tersebut, tanpa harus di sela selai air. Sementara apabilah air tidak bisa sampai mengenai jari jari kecuali dengan memasukkan air kesela sela jari jari tersebut, seperti (hal ini terjadi) jari jari yang berhimpit, maka memasukkan air ke sela sela jari tersebut, wajib hukumnya. Apabilah memasukkan air ke sela sela tadi tidak memungkinkan, maka haram hukumnya membela jari jari dengan maksud agar bisa memasukkan kesela-sela jarinya. Adapun cara agar air bisa sampai mengenai sela jari-jari kedua tangan ialah, dengan memasukkan jari jari tangan ke dalam sela-sela jari tangan yang satunya nya ( bahasa Jawa:ngapu rancang). Sedangkan cara penyelenggaraan kedua kaki ialah, dimulai dengan memasukkan jari kelingking tangan kirinya dari arah sebelah bawah kaki Soraya memulainya pada jari kelingking kaki yang kanan, (lalu) mengakhiri patah jari kelingking kaki yang kiri. 8. Dan Sunnah mendahulukan tangan maupun kaki yang kanan, daripada yang sebelah kiri. Adapun 2 anggota badan yang kedua-duanya mudah dibasuh secara berbarengan, seperti kedua pipi, maka tidak perlu mendahulukan yang kanan (mengakhiri yang kiri) dari ketua anggota tersebut. Tetapi (cukup) dicuci (dibasuh) kedua-duanya secara bebarengan. 9. Penyusun kitab ini menerangkan tentang sunat mengulang hingga tiga kali pada pembasuhan dan pengusapan anggota yang sedang dibasuh dan diusap. Di dalam ucapannya nya (beliau mengatakan):”bersuci itu sunnah (diulang-ulang) sebanyak 3 kali 3 kali.” Sebagian keterangan menyebutkan :”sunnah mengulang-ulang pada waktu membasuh dan mengusap (anggota yang hendak dibasuh dan di usap).” 10. Dan Sunnah “Muwalah” ( susul-menyusul secara segera ). Muwalah, juga (biasa) dikenal dengan ungkapan ” Tatabu’ ” ( berturut-turut ).Yaitu, (Pembasuhan atau Pengusapan ) antara dua anggota badan tidak sampai terjadi tenggang waktu yang cukup lama. Tetapi satu anggota badan dicuci (di basuh atau diusap) segera setelah anggota badan yang lain, selesai dicuci ( dibasuh), sekirannya anggota yang (baru saja) dibasuh sebelumnya belum sampai kering, pada saat cuaca, tabiat (temperamen tubuh) dan situasi kondisi yang sedang Sedang saja. Dan apabila seseorang (yang wudhu) mengulang-ngulang dalam Pembasuha (Pengusapan) Sebanyak 3 kali, Maka yang bisa dianggap Sebagai ukuran muwaran (susul-menyusul antara satu angota badan yang lain) adalah yang terakhir kalinya Pembasuhan (Pembasuhan yang terakhir kali). Bahwa ‘”muwalah “hanya disunnahkan bagi selain orang wudhu dalam keadaan darurat keadaan waktu masih longgar ) . Adapun “muwalah “bagi orang yang wudhu dalam Keadaan darurat hukumnya wajib Sunnah Sunnahnya wudhu yang lain masih banyak, diterangkan pada kitab-kitab yang panjang dan lebar Pembahasannya.

pasal : Membicarakan tentang Istinja’ (bersuci Sehabis buang air besar) dan tata krama Orang buang air besar. Kata “Istinja’ ” berasal dari ungkapan : (من نجوت الشئ) artinya: Saya memotong sesuatu. jadi seolah-olah orang yang hendak bersuci sehabis buang air besar itu,sedang memotong (menghilangkan) kotoranyang terdapat pada dirinya.hukum istinja itu wajib sebab (apabila)keluarnya air kencing dan kotoran sewaktu buang air besar (istinja’ itu)harus memakai air atau batu (Kalau tidak ada air)dan apa saja yang sejenis dengan batu,yaitu setiap benda keras yang suci lagi bisa (berfungsi)untuk menghilangkan najis, (juga benda itu)tidak berupa benda yang terhormat (sejenis makanan).tetapi yang lebih baik (afdlal)Apabila seseorang beristinja hendaklah menggunakan beberapa batu dahulu kemudian menyusulnya (diulangi)lagi Untuk yang kesekian kalinya dengan air. Dan yang wajib (dalam hal istinja ini), ialah melakukannya dengan 3 kali usapan walaupun dengan menggunakan sebuah batu yang mempunyai 3 sudut. (Namun demikian)diperbolehkan (sah saja),bagi orang yang hendak bersuci sehabis berak,menggunakan cukup air saja atau tiga batu yang bisa membersihkan tempat kotoran.bahwa boleh hanya menggunakan 3 buahbatu itu,apabila tempat kotoran itu bisa dibersihkan dengannya.sedang,apabila 3 Buah Batu tadi tidak mampu menghilangkan najis dari tempatnya,maka harus menambah lagi (lebih dari 3 Buah Batu)hingga najisnya (benar-benar) bisa dihilangkan. dan sehabis semua najis najis itu bersih,disunnahkan mengulang untuk yang ketiga kalinya (dibikin tidak genap,Jadi kalau sudah 4 kali baru bersihnya ditambah 1 kali menjadi lima). Adapun apabila seseorang tadi bermaksud hendak menggunakan salah satu sajadari keduanya yang tersebut tadi (air dan batu),maka menggunakan air (sewaktu istinja’)lebih baik.sebab air itu bisa (benar-benar) menghilangkan najisitu sendiri dan (sekaligus)menghilangkan bekas-bekas nya.syarat-syarat beristinja’menggunakan batu ialah,ndak lah jangan sampai najis yang keluar tadi menjadi kering. Dan (juga)tidak boleh najis itu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain yang bukan tempat keluarnya najis tersebut.dan (juga)Tata tempat keluarnya najis tadi tidak boleh terkena najis yang lain (yang bukan kotoran berak).maka oleh karenanya,.apabila satu syarat saja dari sekian banyak syarat yang tersebut tadi tak terpenuhi, maka wajib (beristinja’)dengan menggunakan air. Dan wajib menghindari,bagi orang yang hendak mendatangi hajatnya (kencing atau berak), jangan sampai menghadap ke arah kiblat,yang kini dikenal dengan nama Ka’bah. Dan (juga)dilarang membelakanginya sewaktu (kencing atau berak) berada di tanah lapang, apabila antara dia (orang kencing atau berak) tadi tidak ada tabir (tutup yang beruku tapi lo takdirran 2/3 dzira’ke ke atas).atau ada tabir tetapi tidak mencapai (tingginya) 2/3 dzira’ atau juga ada tabir yang setinggi 2/3 dzira’ (tetapi) jauh dari tempat orang yang berak atau kencing tersebut, (jaraknya) lebih dari 3 dzira’dengan (standar ukuran) dzira’nya orang kebanyakan (orang umum). Demikianlah sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama ahli fiqih.

Adapun (kencing dan berak) disebuah bangunan, dalam hal ini sama ketentuannya dengan yang berlaku di tanah lapang, ya situ syarat syarat yang tersebut di depan. Kecuali,bangunan itu khusus disetiakan untuk kencing dan berak. Maka (semacam WC)ini tidak haram hukumnya apabila tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut).bahwa kata-kata kamu”kiblat yang sekarang ini”,itu berarti mengecualikan kiblat pada zaman awal keislaman, seperti “Baitul Maqdis”. Jadi, ( kalau kiblat yang ini) baik menghadapinya atau membelakangi nya ( sewaktu berak dan kencing), maka hukumnya (cuma) makruh. Stand sebaiknya menghindar sebagai kata krama bagi orang yang mendatangi hajat, yaitu kencing dan berak, jangan Sampai (berak atau kencing) di air yang diam tidak mengalir, maka makruh hukumnya dalam hal air yang sedikit, (jadi) bukan pada air yang banyak. Tetapi, Yang Lebih baik (walaupun air ltu banyak) hendaknya (berusaha) Menghindar (Jangan Sampai kencing dan berak) di air yang diam tidak mengalir. Tentang Keharaman kencing atau berak di air Yang Sedikit, oleh (Imam Nahwawi cenderung Mengharamkan). Dan juga hendaklah menghindari, jangan kencing atau berak ditempat bawah pohon yang masih berbuah, (baik) sewaktu pohon sedang berbuah atau tidak.

Dan (juga) hendaklah menghindari, menjauhi melakukan apa yang tersebut diatas (yakni kencing dan berak) di Jalan (raya) yang biasa dilewati oleh manusia. Dan (juga) hendaklah menghindari, Jangan kencing atau berak ditempat yang teduh diwaktu musim kemarau, dan (juga) hendaklah menghindar, menjauhi tempat liang yang ada ditanah, yaitu tanah yang (berlubang berbentuk) menurun lagi bulat. Adapun kata “Atsaqaf”, menurut redaksi yang ada dikirab lain ditiadakan (gugur). Sebagaimana cara untuk bertata kerama, sewaktu berak atau kencing hendaklah orang yang mendatangi hajat itu , tidak berbicara ( hal-hal) yang tidak dibutuhkan. Sedang apabila memang terdorong oleh suatu kebutuhan untuk berbicara, seperti orang yang melihat ada seekor ular yang hendak memangsa manusia, maka ketika keadaan seperti itu tidak dimakruhkan berbicara. Dan (juga)tidak diperbolehkan menghadap atau membelakangi matahari dan bulan. Maksudnya makruh hukumnya bagi orang yang sedang berak atau kencing, menghadap atau membelakangi matahari dan bulan. Tetapi Imam an-Nawawi didalam kitab Ar-Raudlah dan Syarah kitab Al Muhadzab berpendapat : ” bahwa membelakangi matahari dan bulan (sewaktu kencing atau berak) hukumnya tidak makruh.” Dan (tetapi) Imam Nawawi didalam Syarah kitab Al-Wasith beliau berpendapat: “I bahwa (antara) meninggalkan membelakangi matahari dan bulan, sama saja. Jadi, dalam hal ini hukumnya mubah.” Dan beliau (juga) berkata didalam kitab Al-tahqiq : “bahwa hukum makruhnya menghadap matahari dan bulan itu tidak terdapat hukum asalnya.” Adapun kata-kata penulis kitab ” tidak boleh menghadap dan seterusnya,” itu gugur (ditiadakan) menurut sebagian keterangan dalam mantan.

Pasal : Membicarakan tentang beberapa perkara yang merusak (membatalkan) wudhu, yaitu yang biasa disebut (juga) dengan sebab-sebabnya hadats. Adapun perkara yang merusak wudhu itu ada 5 perkara :

pertama : (sebab) adanya sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan,yaitu qubul (Jalan depan seperti alat kelamin) dan dubur (jalan belakang seperti lubang yang mengeluarkan kotoran waktu buang air besar), hal mana keluar dari seseorang yang telah melakukan wudhu, dia dalam keadaan hidup, dan (yang keluar itu) jelas. Baik yang keluar itu hal biasa seperti air kencing dan kotoran buang air besar, atau hal yang jarang terjadi (langka) seperti darah dan batu kecil ( kerikil), baik yang berupa barang najis seperti contoh-contoh ini tadi. Atau berupa barang yang suci, seperti ulat (cacing/kermi), kecuali air sperma (mani) yang keluar dari seseorang yang telah berwudhu, sebab dia bermimpi (sewaktu tidur) dia dalam keadaan duduk yang kedua pantatnya tidak bergeser dari tanah (tempat) dimana ia sedang duduk. Maka dalam hal semacam ini, wudhunya tidak batal. Adapun orang yang “musykil” (orang yang memiliki dua alat kelamin), maka utuhnya hanya bisa rusak (batal), sebab adanya sesuatu yang keluar dari dua alat kelaminnya secara bersamaan (keseluruhan kedua-duanya).

Kedua: Yaitu tidur pada posisi (dimana) pantat tidak menetap di atas tanah yang dia duduk diatasnya. Dan keterangan yang terdapat di sebagian redaksi matan, ada tambahan : “Menetap diatas tanah dimana orang itu duduk”. Bahwa kata-kata “diatas tanah”, itu bukan hal yang mengikat ( jadi seandainya duduk itu diatas kendaraan yang bisa saja disamakan dengan orang yang duduk diatas tanah sebagaimana yang tersebut tadi). Kata-kata “menetapkan pantat, tidak bergeser “, itu berarti (logikanya) bisa mengecualikan hal tidurnya seorang yang dalam keadaan berdiri, tidak menetapkan (pantatnya) biar tidak bergeser. Atau (juga) orang yang tidur dengan posisi berdiri, atau dengan posisi terlentang walaupun ia menetapkan pantatnya diatas tanah (tempat tidur) biar tidak bergeser dari tempat dimana dia tidur. (Jadi yang semacam ini, semuanya bisa membatalkan wudhu).

Ketiga : Hilang akalnya, maksudnya tidak sadarkan diri sebab mabuk, sakit, gila atau sakit ayan atau karena sebab-sebab yang lain.

Keempat : sentuhannya seseorang laki-laki terhadap orang perempuan lain yang bukan muhrimnya, walaupun perempuan itu tak bernyawa (mati). Adapun yang dimaksud dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan ialah, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mana mere ke a sudah sampai ke batas bersyahwat (menimbulkan syahwat) menurut ukuran standar masyarakat umum. Sedang yang dimaksud dengan “orang yang ada hubungan mahram “, ialah orang yang haram dinikahinya karena ada hubungan nasab, atau hubungan sesusuan, atau hubungan mertua. (Sentuhan yang membatalkan wudhu itu ketika dilakukan tanpa pemisah antara kulit laki-laki dan kulit perempuan yang tersentuh). Adapun ucapan mushannif : ” Tanpa memakai pemisah (sentuhan secara langsung) “. Itu artinya (logikanya) mengecualikan hal sentuhan dilakukan dalam keadaan demikian, tidak dapat merusak wudhu (tidak batal).

Kelima: Sebagaimana nomer terakhir dari perkara yang membatalkan wudhu, ialah menyetuh alat kelamin anak Adam (manusia) dengan bagian dalamnya telapak tangan baik alt kelaminnya sendiri atau alat kelamin orang lain. Baik dia orang laki-laki atau orang perempuan, (juga) baik dia anak kecil atau orang dewasa, (juga) baik dia masih bernyawa atau sudah mati. Adapun kata-kata “anak Adam”, menurut keterangan yang terdapat di sebagian redaksi mata, digugurkan (ditiadakan). Demikian juga ditiadakan, ucapan mushannif : “Dan menyentuh lingkaran dubur anak anak Adam dapat merusak wudhu menurut qaul Jadid.” Menurut qaul qadim, menyentuh lingkaran dubur anak Adam tidak membatalkan wudhu. Adapun yang dimaksud dengan “lingkaran dubur”, ialah tempat ya g berlubang yang menembus (kedalam). Sedangkan yang dimaksud dengan “bathinil kaffi ( bagian dalam telapak tangan),itu berarti (logikanya) terkecualikan bagian muka (atas) telapak tangan bagian pinggir telapak tangan , bagian ujung telapak tangan, bagian ujung jari-jari dan bagian yang ada diantara jari jari oleh karena itu, semua tersebut tadi, (ketika) telah bersentuhan dengan sedikit menekan, tidak dapat membatalkan wudhu.

 

 

(كتاب أحكم الفرائض والوصايا)
KITAB TENTANG HUKUM-HUKUM PEMBAGIAN WARIS DAN WASIAT
وافرائض جمع فريضةبمعنىمفروضة من الفرض بمعنى التقدير.
Lafal “Faraaidh” adalah jamak dari lafal “Fariidhah”,dengan menggunakan lafal “Mafruudhah” yang berasal dari lafal “Fardhi” dengan menggunakan makna “Perkiraan”.

والفرض شرعا إسم نصيب مقدرلمستحقه
Fardhu menurut syara’, adalah nama bagian yang telah di perkirakan bagi orang yang berhak.

والوصايا جمع وصيةمن وصيت الشئ باالشئ إذا وصلته به.
Sedangkan lafal “Washaayaa” adalah jama’ dari lafal “Washiyyah” berasal dari lafal “Washaitusy Syai-a bisysyai-idzaa washaltuhu bihi (Saya berwasiat sesuatu  terhadap sesuatu, yakni ketika saya sudah menemukannya dengan sesuatu itu).

الوصية شرعا تبرع بحق مضاف لما بعدالموت.
Wasiat menurut syara’ adalah beramal hanya karna Allah,dengan hak yang disandarkan pada suatu barang sesudah meninggal dunia.

(والوارثون من الرجال)
المجمع على إرثهم(عشرة) باالاختصاروبالبسط خمسة عشر.
Orang yang bisa mendapat warisan dari orang laki-laki, sebagaimana mereka disepakati berhak mendapat warisan, maka secara ringkas ada 10 orang, dan bisa dibperluas ada 15 orang.

وعدالمصنف بقوله:
(الابن – وابن الابن وإن سفل – والاب والجد وإن علا – والاخ – وابن الاخ وإن تراخى – والعم.
وابن العم وإن تباعدا – والزوج والمولى المعتق).
Mushannif menghitung 10 orang tersebut, sebagaimana perkataan beliau,ialah:
1. Anak laki-laki.
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki kebawah.
3. Ayah.
4. Kakek ke atas.
5. Saudara laki-laki (seayah dan seibu).
6. Anak laki-laki saudara laki-laki (seayah dan    seibu) walaupun jauh.
7. Paman (saudara laki-laki seayah dan seibu    atau seayah saja).
8. Anak laki-laki paman.
9. Suami.
10. Orang laki-laki yang memerdekakan.

ولواجتمع كل الرجال وزث منهم ثلاثة:
Apabila semua ahli waris di atas kumpul, maka yang dapat dipastikan memperoleh warisan adalah 3 orang,ialah:

الاب – والابن والزوج فقط ولا يكون الميت فى هذه الصورةإلاامرأة
1. Ayah
2. Anak laki-laki.
3. Suami
Tidak ada mayat dalam bentuk gambaran ini,kecuali mayat perempuan.

)والوارثت من انساء) المجمع على ارثهن (سبع)باالاختصار وبالبسط عشرة
Adapun orang orang perempuan yang bisa mendapat warisan, sebagaimana mereka disepakati dapat mewaris, maka secara ringkas ada 7 orang, ssefangka bila diperluas ada 10 orang.

وعد المصنف السبع في قوله: (البنت – وبنت الابن) وإن سفلت(والام – والجدة)وإن علت (والاخت والزوجة والموالاة المعتقة).
Mushonnif menghitung 7 orang tersebut dalam perkataannya,ialah:
1. Anak perempuan.
2. Anak perempuan dari anak laki – laki ke bawah.
3. Ibu
4. Nenek ke atas.
5. Saudara perempuan yang seayah-seibu.
6. Istri
7. Perempuan yang memerdekakan.

ولواجتمع كل النساء فقط ورث منهن خمس:
Apabila semua ahli waris perempuan tersebut berkumpul, maka dari mereka yang dapat mewaris hanya lima orang,ialah:

ألبنت – وبنت الابن – والام – والزوخة – والاخت الشقيقة.
1. Anak perempuan.
2. Anak perempuan dari anak laki-laki.
3. Ibu
4. Istri
5. Saudara perempuan seayah-seibu.

ولا يكون الميت في هذه الصورة إلا رجلا.
Dalam masalah ini,maka yang meninggal dunia adalah laki-laki.

(ومن لا يسقط) من الورثة(بحال خمسة : الزوجان)اى الزوج والزوجة (والابوان)اى الاب والام.
(وولد الصلب) زكراكان او انثى.
Orang yang tidak dapat gugur dari hak sebagai ahli waris sebab terhalang ada 5 orang, ialah:
1. Suami.
2. Istri.
3. Ayah.
4. Ibu.
5. Anak sandiri, laki-laki atau perempuan.
(ومن لا يرث بحال سبعة: العبد) والامةولوعبربالرقيق لكان اولى.
(والمدبر-وام الولد-والمكاتب).
واماالذي بعضه حرإذا مات عن مال ملكه ببعضه الحرورثه قرب الحروزوجته ومعتق بعضه.
Orang yang tidak dapat menerima hak waris sebab terhalang, ada 7 orang, ialah:
1. Budak atau perempuan amat. Andaikata Mushannif menggunakan perkataan raqiq. maka hal itu lebih tepat.
2. Budak mudabbar.
3. Amat ibunya anak.
4. Budak mukatab.
Adapun budak yang baru sebagian saja status kemerdekaan-nya, ketika meninggal dunia, lalu meninggalkan harta yang dimiliki dengan sebagian kemerdekaan-nya, maka berhak mewarisi-nya adalah kerabat dan istrinya serta memerdekakan sebagiannya.

(والقاتل) لايرث ممن قتله سواءكان قتله مضمونا أملا.
5. Orang yang membunuh. Dia tidak dapat mewaris orang yang dia bunuh, baik pembunuhannya itu berada dalam penanggungan atau tidak.
(والمرتد)ومثله الزنديق وهو من يخفى الكفرويظهرالاسلام.
6. Orang murtad (keluar dari islam), begitu juga orang zindiq, yaitu orang yang menyamarkan kekufuran dan menampakkan keislamannya.

(وأهل الملتين)فلايرث مسلم من كافر ولا عكسه.
7. Ahli dua agama, maka seorang Islam tidak dapat mewaris orang kafir, begitu juga sebaliknya.

ويرث الكافرمن الكافروإن اختلفت ملتهماكيهودى ونصرنى ولا يرث حربي من ذمي وعكسه.
Orang kafir dapat mewaris terhadap orang kafir, walaupun keduanya berbeda agamanya, seperti kafir Yyahud dan Nasrani. Tetapi, kafir Harbi dapat mewaris dari kafir Dzimmi, begitu juga sebaliknya.

والمرتدلا يرث من مرتدولامن مسلم ولامن كافر.
(Demikian pula), tidak dapat mewaris:
1. Orang murtad dari orang murtad.
2. Orang murtad dari orang islam.
3. Orang murtad dari orang kafir.

(وعقرب العصبات)وفى بعض النسخ العصبةواريدبهامن ليس له حال تعصيبه سهم مقدرمناد المجمع على توريثهم وسبق بيانهم.
Adapun yang lebih dekat memperoleh hak “ashabah” (kelebihan), menurut sebagian keterangan lafal “Ashabah” yang dikehendak, ialah orang yang baginya tidak ada halangan agar menghabiskan bagian yang sudah dipastikan dari orang yang telah disepakati dalam hal mereka dapat mewaris; dan keterangan mengenai hal itu sudah disebutkan.

وإنمااعتبرالسهم حال التعصيب ليدخل الاب والجدفإن لكل منهما سهما مقدرافى غيرالتعصيب.
Akan tetapi diiktibarkan suatu bagian ketika terjadi ashabah, suapaya ayah dan kakek dapat masuk karena masing-masing dari keduanya memperoleh bagian yang sudah dipastikan di luar ashabah.

ثم العدالمصنف الاقربيةفي قوله:
Kemudian Mushannif mulai menghitung beberapa saudara yang dekat dalam perkataannya, ialah:

(ألابن – ثم ابنه – ثم الاب ثم أبوه . ثم الاخ للابواللاب والام – ثم الاخ للاب – ثم ابن الاخ للاب والام.
1. Anak laki – laki.
2. Cucu laki – laki dari anak laki – laki.
3. Ayah.
4. Kakek.
5. Saudara laki-laki seayah dan seibu.
6. Saudara laki-laki seayah saja.
7. Anak laki-laki dari saudara laki-laki yang seayah dan seibu.
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki yang seayah saja.
ثم ابن الاخ للاب)
وقوله :(ثم العم على هذاالترتيب ثم ابنه).
9. Paman yang dalam hal ini diatur secara tertib.
10. Anak laki-laki paman.

أى فيقدم العم للابوين-ثم للاب ثم بنوالعم.
Maksudnya (diatur secara tertib disini), adalah hendaklah didahulukan:
– Paman seayah-seibu.
– Paman seayah saja.
– Beberapa anak laki-laki dari paman.

كذالك ثم يقدم عم الاب من الابوين ثم من الاب-ثم بنوهما كذالك.
Kemudian didahulukan:
– Paman ayah yang seayah dan seibu.
– Paman yang seayah saja.
– Beberapa anak laki-laki dari paman ayah yang seayah-seibu dan yang seayah saja.

ثم يقدم – عم الجدمنالابوين – ثم من الاب وهكذا.
Demikian juga hendaknya didahulukan:
– Paman kakek yang seayah dan seibu.
– Paman kakek yang seayah saja.

(فاذاعدمت العصبات)من النسب فالمولى المعتق يرثه بالعصوبة ذكرا كان المعتق او انثى.
Apabila tidak terdapat ahli waris ashabah yang dari jurusan nasab, sedangkan mayatnya adalah budak yang dimerdekakan, maka orang yang memerdekakan itulah pewarisnya dengan status sebagai ashabah, baik yang memerdekakan itu laki-laki ataupun perempuan.

فان لم يوجدللميت عصبة بالنسب ولا عصبةبالولاء فماله لبيت المال.
Apabila bagi mayat tidak ditemukan ahli waris ashabah sebab nasab dan penguasaan, maka harta tinggalan mayat menjadi hak kas negara.

Pasal: Membicarakan tentang hal-hal yang menyebabkan harus mandi. Kata “mandi” menurut bahasa ialah mengalirnya air pada sesuatu (baik badan maupun yang lainya) secara mutlak (baik dengan niat atau tidak disertai dengan niat). Kata “mandi”, menurut bahasa ialah mengalirkan air pada sesuatu ( baik dibadan maupun lainya) secara mutlak (baik dengan niat atau tidak disertai dengan niat). Adapun pengertian mandi menurut tinjauan syara’, ialah mengalirkan air pada seluruh (anggota) badan disertai dengan niat yang dikhususkan (sesuai dengan apa yang menyebabkan orang itu mandi). Bahwa perkara yang menyebabkan seseorang harus mandi itu ada 6 (enam) perkara. Tiga diantaranya sama-sama terdapat pada diri kaum laki-laki dan kaum perempuan. Yaitu :

1. Bertemunya dua alat kelamin. Tentang hal ini dijelaskan bahwa yang dimaksud ialah, bertemunya dua kemaluan lantaran seseorang yang bernyawa dengan jelas ia memasukkan ujung (penis) dzakarnya secara sempurna (keseluruhan), atau hanya kira-kira ujung kemaluaan bagi orang yang terpotong (buntung) alat kelaminnya, kedalam liang kemaluan (vagina) perempuan yang (liang vaginanya) kemasukkan dzakar itu, sebab yang telah tersebut diatas tadi (penis dzakar) telah masuk. Adapun orang yang tidak bernyawa (yang sudah dimandikan) tidak perlu mandi untuk yang kedua Kalinya) sebab ada dzakar yang masuk ke liang vaginanya. Dan sementara orang yang memiliki dua alat kelamin ia tidak wajib mandi karena ia memasukkan penis dzakarnya (Keluang vagina), atau sebab vaginanya kemasukkan penis dzakar.

2. Dan diantara hal yang sama terdapat pada kaum laki-laki dan kaum perempuan ialah, keluarnya air mani (sperma) dari (diri) seseorang, tanpa ada (upaya) untuk memasukkan penis dzakar, walaupun sprema yabg keluar itu sedikit, seperti (hanya) setetes, dan meskipun ia berupa warna darah. Juga walaupun sperma yang keluar itu disebabkan oleh bersenggama atau oleh sebab yang lain, baik orang yang keluar itu dalam keadaan sadar (tidak tidur) atau dalam keadaan tidur, baik disertai rasa syahwat atau tidak, hal mana dilakukan menurut cara yang wajar, lalu karenannya keluarlah air maninya.

3. Dan diantaranya yang sama-sama terdapat pada laki-laki dan perempuan ialah, mati kecuali mati syahid. ( Jadi , orang yang mati wajib dimandikan kecuali orang yang mati syahid).

Adapun yang tiga (dari enam hal yang menyebabkan wajib mandi) ialah, khususterdapat pada (diri) kaum wanita, yaitu:

1. Haid : yaitu keluarnya darah dari seorang perempuan yang sudah mencapai usia 9 tahun.

2. Yaitu keluarnya darah (dari seorang perempuan), beriringan sehabis ia melahirkan anak. Maka keluarnya darah bukan nifas ini, hal yang mewajibkan mandi secara pasti (tanpa ada perselisihan antar ulama dan hukum wajib).

3. Melahirkan (seorang anak) yang dibarengi dengan basah basah, itu mewajibkan (ia harus) mandi, secara pasti (tidak ada perselisihan antar ulama fiqih). Sedang, melahirkan yang tidak terdapat (disertai) basah basah, menurut pendapat yang tershahih, mewajibkan seseorang itu harus mandi.