dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang berkatalah syekh penuntun umat yang sangat berilmu pelita agama Abu Abdillah beliau bernama Muhammad bin qasim pengikut madzhab Imam Syafi’i Semoga Allah meratakan siraman rahmat dan Ridhonya Kepada beliau.

segala puji puji bagi Allah. maksud kami menyebut kata Alhamdulillah di awal kitab ini karena mengharap berkah dengan Fatihah Kitab Alquran, sebab fatihah itu biasa digunakan sebagai hal-hal yang sangat bernilai, Pamungkas setiap doa yang diterima Allah, dan juga kata yang menghentikan doa-doa orang-orang Mukmin di surga sebagai tempat pahala tempat berdzikir dan bertasbeh.

kami memanjatkan puja dan puji kehadirat Allah lantaran berharap agar Allah memberi Taufik kepada segenap orang yaitu hamba-hamba Allah yang termaksud memahami atau mendalami ilmu-ilmu agama Islam, pemahaman yang sesuai dengan kehendak Allah.

dan selanjutnya aku memohon kehadirat Allah semoga shalawat serta salam sejahtera tetap terlimpah kepangkuan makhlukNya yang teristimewa yaitu Muhammad namanya, pemuka para rasul, beliaulah yang bersabda barangsiapa dikehendaki menjadi orang yang baik oleh Allah maka dia diberi kefahaman yang mendalam tentang ajaran agama.

shalawat serta salam sejahtera itu semoga terlimpah pula kepada seluruh keluarga dan sahabat rasul sepanjang masa di mana orang-orang ada yang berdzikir dan ada pula yang melupakan Allah yakni semenjak di dunia hingga di akhirat

dan sehabis Usai memanjatkan Puja puji dan sholawat buat Rasul seluruh keluarga dan sahabatnya, bahwa apa yang ada dalam benak kami ini sebuah kitab yang sangat ringkas, lagi tidak perpanjang kata, singkat dan padat, hal mana Aku susun sebagai komentar kitab yang berjudul at takrib. harapan saya semoga kitab ini bisa dimanfaatkan oleh para peminatnya yaitu orang-orang yang masih dalam tingkat pemula atau dasar untuk mempelajari cabang-cabang ilmu syariat dan agama Islam. dan semoga pula buah karya ini menjadi lantaran atau jembatan penyelamat diriku di hari yang sudah dijanjikan oleh agama Islam. dan semoga pula bermanfaat bagi segenap hamba-hamba Allah yang beragama Islam. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha mendengar akan doa para hamba-nya, Maha dekat lagi maha mengabulkan doa,

dan perlu diketahui bahwa di dalam sebagian beberapa redaksi kitab Matan ini, di selain pembukaanya, terdapat pemberian nama sebuah kitab ini sekali tempo dengan sebuah judul a taqrib, Sedang pada tempo yang lain disebut pula dengan sebuah judul ghoyatul ikhtishor. Oleh karena itu kitab ini kami beri judul pertama Fathul Qorib Al Mujib yaitu sebuah karya yang mengomentari sebuah karya yang berjudul taqrib, kedua al qoulul mukhtar fi syarhi ghoyatil ikhtishor.

berkatalah Syekah penuntun umat Abu Thoyib, populer dengan julukan Abi sujak pelita agama, nama beliau sendiri Ahmad bin Husein bin Ahmad Al asfahani, Semoga Allah memberi siraman makam beliau dengan tumpahan rahmat dan Ridhonya, dan juga ditempatkan di surga firdaus yang bersama.

dengan menyebut asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang Aku menyusun menyusun buah karyaku ini. kata-kata Allah itu adalah sebuah nama bagi dzat yang wajib adanya. kata Arrahman adalah kata sifat yang mengandung makna lebih baik dan lebih tajam dan Agung sekutu kata ar-rohim.

segala puji bagi Allah. bersyukur Dengan mengucap kata Alhamdulillah adalah berarti kepada Allah ta’ala dengan menyebut atas nya sebagai upaya sebagai upaya mengagungkan-Nya.

Allah itu Tuhan yang merajai seluruh alam. Kata al alamin dengan dibacakan fathah huruf lamnya, mengembik apa yang dikatakan oleh Ibnu Malik adalah kata yang menunjukkan bentuk jamak, di khususkan buat orang-orang yang berakal fikiran, bukan bentuk kata jamak yang kata mufrod nya berbunyi alam dengan membaca kata huruf lamnya. sebab kata alam itu menunjukkan pengertian perkara yang selain Allah, sementara kata jamaah al alamin tersebut khusus untuk menunjukkan kata jamaknya lafadz alam yang mempunyai arti makhluk yang berakal pikiran.

Shalawat serta salam sejahtera semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan kita yang bernama Muhammad, yang menjadi seorang Nabi. Kata”an-Nabi” dengan berhuruf hamzah dan juga bisa tanpa huruf hamzah, artinya adalah seorang manusia yang kepadanya diberi wahyu oleh Allah, dengan mendapatkan syari’at untuk diamalkan (sendiri), dan sementara dia tidak diperitahkan untuk menyampaiakan wahyu tersebut. Maka dengan demikian , jika dia diperintahkan untuk menyampaiakan wahyu tersebut, maka disebut Nabi dan sekaligus juga seorang Rasul. Maksud semua kata-kata mushannif tersebut, adalah merupakan pengupayaan semoga Shalawat dan salam sejahtera tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad.

Kata” Muhammad”, adalah isim yang menunjukkan nama seseorang. Dan kara “muhammad” itu pindahan dari bentuk kata isim maf’ul yang ditasydid huruf ‘ain-nya, sedang kata “an-Nabi” adalah menjadi badal (pengganti) dari kata “Muhammad”, atau sebagai ‘athaf bayan (penjelasan) pada kata ” muhammad” tersebut diatas.

Shalawat dan salam sejahtera semoga tetap terlimpah pula kepada seluruh keluarga Nabi yang suci-suci. Yang disebut keluarga nabi, adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syafi’i semua kerabat Nabi yang beriman, yaitu seperti keluarga bani Hasyim (anak cucu Hasyim) , dan bani Mutholib (anak cucu Mutholib). Dikatakan oleh pendapat yang lain, dan pendapat ini telah dipilih (untuk diikuti) oleh Imam Nawawi , bahwa yang disebut sebagai keluarga Nabi itu, adalah setiap orang muslim. Dan mungkin saja kata-kata mushannif “at-Thahirin” (yang suci-suci) itu didapat dari kata-kata hang terdapat pada firman Allah :” ويطهركم تطهرا ” (artinya: Dan Allah mensucikan kamu semua sesuci-sucinya). Dan shalawat serta salam sejahtera, itu juga tetap terlimpahkan kepada shahabat Nabi secara keseluruan . Kata “Shahaabatihi” , itu bentuk jama’ dari “Shahibin Nabi”. Sedang kata “Aj-Ma’in” adalah kata penguat (ta’kid) pada kata Shahaabatihi” tersebut. Kemudian mushannif menjelaskan bahwa beliau diminta untuk menyusun buah karya tulis yang mungil ini. Dengan kata-kata-nya (beliau menjelaskan) : “pernah sebagian kawan-kawan meminta kepadaku, semoga Allah Ta’ala menjaga hendaklah aku menyusun buah karya mungil (ringkas), yaitu singkat kata-katanya dan (tetapi) padat maksud kandunganya, buah karya mana membicarakan masalah hukum fiqih. Kata “Fiqih”, menurut tinjauan bahasa, artinya mengerti (faham). Sedang menurut ishtilah (yang lazim dingunakan oleh kalangan para ulama Fiqih) adalah, mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amaliyah (hukum tentang amal perbuatan sehari-hari), yang diperoleh dari (hasil rekayasa) beberapa dalil hukum tersebutm secara rinci.” (Buah karya tulis mungil, yang aku susun tersebut , membicarakan tentang hukum-hukum fiqih) berdasarkan pada madzab al-Imam penuntun Ummat, pemimpin besar, ahli ijtihat, penolong (penegak) sunnah Rasul dan agama islam, (yang berjuluk) Abu ‘Abdillah (beliau sendiri bernama) Muhammad bin Idris ‘Abbas bin ‘Ustman bin Syafi’ asy-Syafi’i. Imam Syafi’i itu dilahirkan di Ghuzzah (di negeri Syam, atau sekarang , Syiria) yaitu pasa tahun 150. Beliau semoga Rahmat dan Ridho Allah tetap terlimpah kepadanya adalah wafat pada hari Jum’at , akhir bulan Rajab, tahun 204. (Sebagaimana telah dimaklumi bahwa) mushannif telah memberi ciri-ciri pada buah karya tulis yang mungil itu dengan beberapa sifat, antara lain : Sangat ringkas lagi amat singkat sekali. Kata “Ghayah” dan kata “Nihayah” itu kedua-duanya berdekatan ma’nanya. Demikian pula kata “Ikhtishar” dan kata “Ijaz” adlah berdekatan ma’nanya.

Diantara beberapa ciri kitab yang mungil ini, adalah bahwa kitab ini mendekatkan (kunci) bagi orang yang belajar untuk mengetahui cabang- cabang ilmu fiqih, dan memudahkan bagi para pelajar tingkat dasar untuk menghafalnya. Yakni, menguasai hingga sampai diluar kepala, bagi orang yang berminat sekali menghafalkan buah karya tulis mungil yang membicarakan didalam masalah fiqih tersebut. Dan telah meminta kepadaku pula, sebagian kawan, hendaklah aku memperbanyak didalam kitab yang mungil ini beberapa bagianya sasaran hukum-hukum fiqih. Dan sebagian ada juga orang yang meminta untuk meringkas beberapa perkara yang berkenaan dengan hukum wajib dan hukum sunnah dan hukum lainnya. Maka aku penuhi orang itu atas permintaannya pada hal-hal yang tersebut di atas tadi, Seraya Aku berharap memperoleh pahala dari Allah ta’ala sebagai balasan atas (jerih payahnya) menyusun kitab yang mungil Ini. (disamping berharap pahala) juga sambil (menghadap diri) suka untuk cenderung kepada Allah Swt untuk memohon batuan dari anugerah (kemurahanya) atas kesempurnaan kitab yang mungil ini. Dan untuk mendapat Taufik demi suatu kebenaran dan bukan kesalahan yang terjadi. Sesungguhnya Allah ta’ala itu kuasa yang mewujudkan atas segala sesuatu yang dikehendaki. Dan dialah yang Maha halus (pelik sekali) lagi maha mengetahui terhadap sepak terjang segenap hambah-hambah-Nya kata-kata yang awal “Lathif” itu didapat (iqtigas) dari firman Allah Ta’ala : ” Allahu lathifun bi’ibaadihi.” Sedangkan yang kedua , yaitu “khabiirun,” adalah didapat dari firman Allah: ” wahuwal hakimul khabiir.” (Baik) kata khabir dan kata lathif itu, kedua-duanya adalah nama dari sekian banyak asma’ Allah Ta’ala. Kata yang awal tadi , artinya Maha mengetahui masalah-masalah yang pelik lagi sulit. Dan kadang-kadang juga kata tersebut mempunyai kata pelindung tumpuhan segala-galanya, bagi hamba-hamba Allah. Maka, Allah Ta’ala itulah yang maha mengetahui seluruh hambahnya, dan beberapa juga tempat kebutuhan hamba-hambaNya lagi pula dialah yang maha pelindung, tumpuhan harapan buat hambaNya. Dan kata yang kedua (Khabir) ma’nanya hampir sama dengan ma’na kata yang awal tadi (Lathif) . Dan kata itu (biasa) diucapkan”Khabartu asy-Syai-a” artinya, sama dengan kata “Akhbarahu Fa Anabahu.” Kata “Khabirun” itu, artinya maha pengetahui (sama dengan artinya kata ‘Alimun). Penyusun kitab ini rahimahullahallah Ta’ala berkata:

Kata “kitab” menurut pengertian (dari segi) bahasa artinya “kumpul”. Sementara menurut pengertian secara istilah (yang sudah lazim dikenal oleh para ulama Fiqih), kata kitab menunjukkan arti jenis dari macam-macam hukum. Adapun kata “Bab”, menunjukkan satu bagian (sub) dari pada jenis tersebut. Kata “Thaharah” menurut (tinjauan dari segi) bahasa , artinya sama dengan kata “Nazharah” (bersih dari kotoran). Adapun (menurut tinjauan dari) syara’ pengertian yang sudah lazim berlaku dikalangan ‘ulama ahli fiqih ) , maka hal ini terdapat beberapa pengertian (difinisi yang dikemukakan). Diantara mereka ada yang berpendapat ” suatu perbuatan yang karenanya seseorang diperbolehkan mengerjakan sholat.” Seperti wudlu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. Adapun kata ” thaharah” menunjukkan arti “air suci, sisa dari air yang telah digunakan untuk bersuci” (seperti air yang ada disuatu tempat yang telah dipakai mengambil air wudlu). Tatkala air itu ( sangat penting ) sebagai alat untuk dipakai bersuci , maka penyusun kitab ini , (merasa perlu) untuk menyusul penjelasan macam-macamnya air tersebut. Beliau mengatakan : Bahwa air yang dianggap sah untuk dipakai bersuci itu ada 7 macam sebagai berikut: 1. Air hujan. 2. Air laut (air asin). 3. Air sungai / begawan (air tawar). 4. Air sumur. 5. Air sumber. 6. Air es 7. Air embun. Ketujuh air diatas telah tercangkup pada suatu pengertian yakni semua air yang datang dari langit dan yang keluar dari tanah dengan segala macam warna (corak) keadaan wujud air tersebut dari asal kejadiannya. Kemudian air tersebut, di atas terbagi menjadi 4 bagian sebagai berikut : 1. air yang suci dan mensucikan (berfungsi untuk membersihkan) kepada yang lain, tidak makruh menggunakannya dan lepas dari qayyid (batasan) yang mengikat dalam segala keberadaannya. Air yang demikian ini dinamakan air mutlak, Jadi qayid yang bisa lepas (sewaktu-waktu) tidak membawa akibat apa-apa, seperti air sumur dalam keberadaannya sebagai air “mutlak”. 2. Air suci yang mensucikan tetapi makruh menggunakannya pada (anggota) badan, bukan makruh untuk dipakai mensucikan pakaian. Yaitu air yang dipanaskan dengan sengatan terik matahari. Bahwa menurut tinjauan syara’, hanya makruh menggunakan air yang dipanaskan dengan sengatan terik matahari, apabila air tersebut ditempatkan pada suatu tempat (wadah) yang terbuat dari emas dan perak, karena kekeringan ketua tempat tadi (sehingga bisa menjamin, akan timbulnya sesuatu yang bisa membahayakan kesehatan. Adapun apabila air yang panas tadi telah berubah menjadi dingin lagi, maka hukumnya tidak makruh. Imam Nawawi (cenderung) memilih pendapat yang mengatakan tidak makruh serta mutlak (baik ada ketentuan syarat seperti tersebut diatas atau tidak). Bahkan makruh pula hukumnya menggunakan air yang sangat panas atau yang sangat dingin. 3. Air yang suci tetapi tidak dapat mensucikan pada yang lain, yaitu air mustakmal maksudnya air yang sudah dipakai menghilangkan hadas atau najis, dengan catatan jika air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah kadar beratnya dari asal mulanya (sebelum dipakai) setelah diperkirakan adanya air yang meresap pada sesuatu yang dicuci. Termasuk (dalam katagori) air suci yang tidak (berfungsi) mensucikan pada yang lain, ialah air yang berubah salah satu dari sekian banyak sifat-sifatnya akibat ada suatu benda suci yang bercampur dengan air, sehingga perubahan itu bisa mencegah (merusak) kemutlakan pada air tersebut. Maka dengan demikian, air ini sama halnya dengan mustakmal, dalam arti ia tetap suci tetapi tidak berfungsi untuk mensucika pada yang lain. Baik perubahan air tadi bisa dibuktikan dengan (panca) indera atau dengan fikiran saja, contohnya seperti air bercampur dengan benda yang memiliki kesamaan sifat-sifatnya, seperti campurnya air dengan air mawar yang sudah hilang bauhnya, atau bercampur dengan air mustakmal. apabila berubahnya air tersebut tidak sampai mencegah (merusak) kemutlakan daripada nama air, misalnya berubahnya air tadi disebabkan bercampur dengan benda suci dengan kadar yang sedikit atau karena bercampur dengan benda yang (kebetulan) mempunyai sifat-sifat yang persis dengan air tersebut (dalam segi lahirnya), sedang (pada hakekatnya) diperkirakan ada perbedaan, dan benda yang bercampur itu tidak merubah keadaan air tersebut, maka percampuran itu, tidak bisa meniadakan (status) air sebagai air yang suci dan dapat mensucikan pada yang lain. Penyusun kitab ini, mengatakan bahwa kata “خالطه” ( artinya bercampur nya benda dengan air) itu, berarti mempunyai suatu pengertian ” mengecualikan benda suci yang berdampingan dengan air dan yang bisa merubah keadaan air tersebut, walaupun kadar perubahan yang terjadi pada air tersebut cukup banyak”. Maka dalam hal semacam ini, air tadi tetap suci dan mensucikan. Demikkan pula, air yang berubah sebab bercampur dengan benda yang sulit bisa lepas dengan air, seperti bercampur dengan lumpur dan kiambang (ganggeng), dan juga apa saja yang berada di tempat diamnya air atau tempat lewat nya. Dan (lagi) air yang berubah lantaran terlalu lama berdiam di tempatnya maka air semacam ini hukumnya tetap suci. Atau dibedakan dengan air menurut pandangan mata, contohnya seperti minyak yang tumpah membaur ke dalam air. 4. Air suci yang kena najis (yang tidak dima’fu). Air najis ini, terbagi menjadi dua bagian sebagai berikut : a. air sedikit yang kurang dari 2 qula yang kemasukan najis, baik air tadi berubah atau tidak. (Dalam hal ini) di kecuali kan masuknya ke dalam air bangkai (binatang) yang tidak mempunyai darah yang mengalir ketika sedang dibunuh, atau sedang dibelah sebagian anggota tubuhnya, contohnya seperti lalat (semut dan lain-lain), sepanjang binatang tadi tidak dimasukkan (ke dalam air) secara sengaja dan (juga) tidak bisa merubah (keadaan) air tersebut (maka hukumnya air yang demikian itu, suci). Demikian juga (termasuk yang dikecualikan) apabila najis itu tidak dapat ditemukan (diraba) oleh mata, maka dalam hal ini kedua-duanya tidak bisa membuat najis (menajiskan air yang sedikit dan) benda yang cair (dari air). Dan juga dikecualikan, beberapa contoh yang banyak sekali jumlahnya, (sebagaimana) yang tersebut dalam kitab yang luas keterangannya. b. air yang banyak (2 qulah ke atas ) lalu berubah (sebab kena sesuatu), baik berubahnya itu (cuma)sedikit atau (cukup) banyak. Adapun (ukuran) air 2 qulah itu ialah (air yang mencapai) 500 (lima ratus) negeri Bagdad, demikianlahkira-kira menurut pendapat yang sangat shahih (kuat). Menurut Imam Nahrawim bahwa 1 (satu) kati Bagdad itu sama dengan 128 (seratus dua puluh delapan) dirham lebih 4/7 dirham. Penyusun kitab ini tidak mengemukakan bagian yang kelima, yaitu air suci yang haram memakainya , contohnya seperti air yang diperoleh dengan cara ghasab dipakai untuk wudlu, atau air yang disediakan (ditepi-tepi jalan) untuk minum, lalu dipakai untuk berwudlu. 

PASAL : mengetengahkan tentang benda yang kena najis dan benda-benda yang bisa suci sebab (melalui proses) penyamakan (pemasakan) dan benda yang tidak bisa menjadi suci. bahwa semua kulit bangkai , baik yang berasal dari bangkai yang boleh dimakan dagingnya (seperti keledai) bisa menjadi suci sebab disamak. Cara menyamak kulit bangkai binatang itu ialah, sisa-sisa kotoran yang menempel dikulit seperti darah dan sebagainya (sisa danging yang masih melekat) yang membuat kulit menjadi busuk, harus dihilangkan dengan benda yang mempunyai rasa kelat seperti (daun /kulit kayu) pojon ‘afas (yang mempunyai rasa pahit lagi tengik), walaupun benda yang kelat itu berupa benda yang najis, seperti kotora burung dara (merpati), maka cukuplah pe yamaan itu (sebagai cara u yuk menghilangkan najisnya kulit bangkai tersebut). (Semua kulit bangkai bisa disamak), kecuali kulit anjing dan babi serta binatang yang lahir dari kedua bintang tersebut (anak-anaknya), atau yang lahir dari salah satu kedua binatang tersebut (sebab dikawinkanya) dengan binatang yang suci (misalnya anak seekor kambing yang lahir sebab induk si kambing yang disetubuhi oleh anjing), maka (kulitnya) tidak bisa suci sebab disamak. Tulang bangkai dan bulunya hukumnya najis , demikian pula bangkai binatang itu sendiri hukumnya pun najis. Dan (sementara) yang dimaksud , dengan bangkai (disini), ialah binatang yang sudah hilang nyawannya tanpa melalui (tata cara) penyembelihan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Maka apabila demikian adanya, adalah tidak termasuk yang tanpa terkecuali, yaitu ketika ada janin keluar dari perut induknya yang sudah disembelih (melalui tata cara syari’at Islam), sedang janin tersebut (keluar) dalam keadaan mati. Sebab, sembelihan induknya berarti sembelihan janin itu sendiri (jadi janin ini bukan termasuk bangkai, sebab dengan menyembelih induknya sama hukumnya dengan menyembelih janin.) Demikian pula yang bukan termasuk pantai yaitu masalah lain yang diterangkan didalam kitab yang luas keterangannya. 

Kemudian penulis kitab ini memberi pengecualian atas rambut (bulu) bangkai, pada perkataan beliau (yang berbunyi) ” kecuali bangkainya anak Adam”. Maksudnya rambut anak Adam (manusia) hukumnya sama dengan bangkainya yaitu suci.

PASAL : menjelaskan tentang wadah yang haram digunakan(sebagai wadah air) dan wadah (tempat) yang diperbolehkan dipakainya. Mulailah mushannif membicarakan masalah yang pertama, Beliau berkata: Bahwa tidak diperkenankan (haram) bagj seorang laki-laki atau perempuan, bukan dalam keadaan darurat (terpaksa), yaitu menggunakan tempat (yang terbuat dari) emas dan perak, baim dipakai sebagai tempat untuk makan, minum atau yang lainnya. Dan sebagaimana haram mamakai wadah yang tersebut diatas (wadah yang terbuat dari emas perak), haram pula hukumnya menyimpan (menfa’atkan) meskipun bukan untuk dipakai. Demikianlah menurut pendapat yang lebih shahih (sangat kuat). Haram pula hukumnya, menggunakan baran yang disepuh dengan emas dan perak, apabkla proses penyempuhannya melalui cara dibakar dengan api. Dan diperbolehkan (tidak haram) menggunakan wadah yang terbuat dari bahan selain emas dan perak, yaitu seperti wadah yang indah (berharga) seperti yang terbuat dari yakut. San haram menggunakan wadah yabg ditambal dengan perak yang cukup besar (kadarnya), sedang menurut penilaian uref (pandangan secara umum) dimaksudkan untuk sekedar hiasan. Apabila tambalan tersebut dalam kadar yang banyak (tetapi) karena suatu kepentingan (yang dibenarkan syara’), maka diperbolehkan , tetapi makruh. Adapun apabila karena (didorong) suatu kepentingan maka tidak makruh menggunakanya. Bahwa apabila tambalan itu terdiri sari emas yang murni, maka hukumya haram secara mutlak (baik sedikit atau besar kadar tambalannya, juga baik karena ada kepentingan atau tidak). Demikianlah, sebqgaimana pendapat ini dinilai oleh Imam Nahrawi sebagai pendapat yang shahih.

PASAL : Membicarakan tentang menggunakan alat untuk bersiwakm ia (sekaligus) merupakan sebagian dari sekian banyak sunatnya wudku. Bersiwak biasa juga dikenal dengan (suatu kegiatan) siwak-menyiwak dengan menggunakan alat yang berupa kayu “Arak” dan yang sejenis dengan kayu arak. Bersiwak hukumnya sunnah pada keadaan apapun. Dan tidak makruh tanzih hukumnya, kecuali bersiwak dilakukan pada saat sesudah matahari condong kebarat, bagi orang yang sedang berpuasa, baik puasa sunnah atau puasa fardlu(wajib). Hukum makruh bersiwak itu sirna (tidak berlaku) sebab terbenamnya matahari. Sedang Imam Nahrawi (cenderung) memilih pendapat yang mengatakan tidak makruh secara mutlak. Bersiwak pada 3 keadaan hukumnya sunnah sanggat disunnahkan, daripada bersiwak selain 3 keadaan tadi. 3 keadaan yang sangat dianjurkan bersiwak ialah:
Pertama : apabila bau mulut berubah menjadi bau tidak enak (busuk), yaitu sehqbis berdiam lama (tidak makan) atau meninggalkan (kegiatan) makan. Bahwa penulis kitab ini mengatakan : “Dan berbau busuk disebabkan oleh sesuatu yang selain karena berdiam lama,” tiadalain maksud tujuannya ialah agar supaya mencakup (pula masalah) berubahnya mulut yang disebabkan oleb sebab yang lain seperti sehabis makan makanan yang berbau tidak enak, yaitu seperti makan berambang dan bawang atau selain keduanya.
Kedua : Apabila sedang bangun dari tidur (atau) tersadar dari tidur. Dan ketiga: apabila berdiri (hampir) hendak melakukan sholat fardlu atau sunnah. Dan dianjurkan juga bersiwak pada kesempatan selain tiga yang telah diterangkan tadi, hal mana telah disebutkan pada kitab-kitab yang luas pembicaraannya. Yaitu tatkala hendak membaca Al-Qur’an dan saat gigi-gigi telah menguning. Dan ketika bersiwak disunnahkan hendaklah niat melakuka ibadah sunnah. Dan hendaklah sewaktu bersiwak, alat siwak dipegang dengan tangan kanannya serta memulai bersiwak pada arah kanan dari mulutnya, dan seterusnya melewatkan siwak dengan pelan-pelan pada arah bagian atas tenggorokan dan (akhirnya hingga sampai ke) pada arah gigi geraham (yang paling akhir). PASAL : Membicarakan tentang beberapa fardlunya wudlu. Kata “Wudlu” (وضوء) dengan dibaca dlammah huruf wawunya, menurut pendapat yang lebih masyhur menunjukkan nama bagi suatu perbutan. Pengertian semacam inilah yang dimaksud disini. Dan dengan dibaca fathah huruf wawunya (وضوء) menunjukkan nama suatu benda yang dipakai untuk berwudlu (yaitu air). Wudlu dalam arti pengertian yang pertama tadi, menganung beberapa fardlu dan beberapa sunnah (wudlu) penyusun kitab ini menyebutkan fardlu-fardlunya wudlu pada perkataannya yaitu : Beberapa fardkunya wudlu itu ada 6(enam) perkara : 1. Niat, menurut pandanga syara’, hakikat niat adalah (didalam hati) bermaksud pada sesuatu seraya di iringi dengan mengerjakannya. Jadi, apabila maksudnya tadi tidak (sekaligus) disertai dengan mengerjakannya , maka hal semacam ini disebut “Azam.” Niat tersebut, dilakukan saat membasuh permulaan sebagian dari wajah (muka), yakni ia (niat itu) di iringi dengan membasuh sebagian wajah, bukan (sebelum selesai) secara keseluruhannya, bukan sebelum membasuhnya dan juga bukan sesudahnya (selesai membasuh muka). Bagi orang sedang berwudlu, ketika ia membasuh apa yang telah diterangkan tadi (sebagian dari wajah), harus niat menghilangkan hadats dari sekian banyak hadats-hadatsnya (yang ditanggungnya). Atau niat menunaikan (syarat) diperkenankannya mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan harus wudlu, atau niat menunaikan fardlunya wudlu saja, atau niat bersuci (menghilangkan) hadats. Jadi apabila orang yang sedang berwudhu tadi tidak mengucapkan niat menghilangkan hadats, maka tidak dianggap sah wudhunya. Bahwa ketika ada orang yang berwudhu, ia niat seperti apa yang sudah lazim berlaku pada tata cara niat tadi, Disamping itu ia sertakan (pula) niat membersihkan badan atau disertakan niat biar segar badannya, maka bisa dianggap sah wudlunya.