Kitab Thalaq
قال الشافعي رضي الله عنه قال الله تعالى إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ إلى آخره
Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Allah Ta‘ala berfirman, “Apabila kalian menceraikan para wanita, maka ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menjalani ‘iddahnya,” hingga akhir ayat.
الأصل في الطلاق آيات في الكتاب معروفة وسننٌ ستأتي في مواضعها على حسب مسيس الحاجة إليها إن شاء الله عز وجل وأجمع المسلمون على أصل الطلاق
Dasar hukum talak terdapat pada ayat-ayat yang sudah dikenal dalam Al-Qur’an, serta sunnah-sunnah yang akan disebutkan pada tempatnya sesuai kebutuhan, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kaum muslimin juga telah berijmā‘ mengenai dasar hukum talak.
وهو في اللسان من الإطلاق يقال أطلقتُ البعير إذا أرسلته وحللت عقاله وأطلقتُ الأسيرَ إذا خلّيته وهو لفظ جاهلي ورد الشرع باستعماله وتقريره وقيل كان الطلاق الجاهلية على أنحاءٍ الطلاق والفراق والسَّراح والظهار والإيلاء وأنتِ عليّ حرام قالت عائشة رضي الله عنها جاء الشرع بنسخ البعض وتقريرِ البعض
Dalam bahasa, kata ini berasal dari makna melepaskan; dikatakan “aku melepaskan unta” jika aku membiarkannya pergi dan melepaskan talinya, dan “aku membebaskan tawanan” jika aku membiarkannya bebas. Ini adalah istilah dari masa jahiliah yang kemudian digunakan dan ditegaskan oleh syariat. Ada yang mengatakan bahwa talak pada masa jahiliah memiliki beberapa bentuk: talak, perpisahan, pelepasan, zihar, ila’, dan ucapan “engkau haram bagiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Syariat datang untuk menghapus sebagian bentuk tersebut dan menegaskan sebagian lainnya.”
ثم الشافعي صدّر الكتاب بقوله تعالى يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ قيل التقدير يأيها النبي قل لأمتك إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن وقيل المذكور النبي في صدر الآية وهو وأمته معنيّون والشاهد فيه رجوعُ الخطاب إلى الجمع في قوله إذا طلقتم النساء والكلام في ذلك يطول وما ذكرناه كافٍ ثم قوله طلقوهن لعدتهن معناه طلقوهن لوقت يشرعن عقيبه في العدة وقيل كان صلى الله عليه وسلم يقرأ فطلقوهن لقُبل عدتهن والظاهر أن هذا كان يذكره تفسيراً
Kemudian asy-Syafi‘i memulai kitab ini dengan firman Allah Ta‘ala: “Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan para wanita maka ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menjalani ‘iddahnya.” Ada yang mengatakan maksudnya adalah: “Wahai Nabi, katakanlah kepada umatmu: apabila kalian menceraikan para wanita maka ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menjalani ‘iddahnya.” Ada pula yang mengatakan bahwa yang disebutkan di awal ayat adalah Nabi, namun beliau dan umatnya sama-sama dimaksudkan. Dalilnya adalah kembalinya khithab (seruan) kepada bentuk jamak dalam firman-Nya: “apabila kalian menceraikan para wanita.” Pembahasan tentang hal ini cukup panjang, dan apa yang kami sebutkan sudah memadai. Kemudian firman-Nya: “ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menjalani ‘iddahnya” maksudnya adalah ceraikanlah mereka pada waktu yang setelahnya mereka langsung memulai masa ‘iddah. Ada pula yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini dengan lafaz: “maka ceraikanlah mereka sebelum ‘iddahnya,” dan yang tampak adalah bahwa beliau menyebutkan hal itu sebagai tafsir.
ثم الكتاب مبدوءٌ بالكلام في الطلاق البدعي والسني وهما لفظان أطلقهما أئمة السلف وتداولهما فقهاء الأعصار ونحن نذكر فقه الفصل موضحاً ثم نأتي بالعبارات ونستعين بالله تعالى وهو خير معين
Kemudian, kitab ini diawali dengan pembahasan tentang talak bid‘ī dan talak sunnī, yaitu dua istilah yang digunakan oleh para imam salaf dan telah menjadi pembahasan para fuqaha di berbagai masa. Kami akan menjelaskan fiqh pada bagian ini secara rinci, kemudian menyampaikan redaksi-redaksi terkait, seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala, Dia adalah sebaik-baik penolong.
فنقول يحرم على الرجل أن يطلق زوجته المدخول بها في زمان الحيض من غير عوض ولا رضاً من جهتها هذا متفق عليه
Maka kami katakan, haram bagi seorang laki-laki menceraikan istrinya yang sudah pernah digauli pada masa haid tanpa adanya kompensasi dan tanpa kerelaan dari pihak istri; hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.
وكذلك إذا جامع امرأته في طهر ولم يتبين أنها حامل أو حائل فيحرم عليه تطليقها في الطهر الذي جامعها فيه من غير عوض
Demikian pula, jika seorang suami menggauli istrinya pada masa suci dan belum jelas apakah istrinya hamil atau tidak, maka haram baginya menceraikan istrinya pada masa suci yang telah digaulinya itu tanpa adanya kompensasi.
هذان أصلان ثابتان بالوفاق ومستند الإجماع فيهما الحديث وهو ما روي أن ابنَ عمرَ طلق امرأته في الحيض فسأل عمر رضي الله عنه النبي صلى الله عليه وسلم فقال مُره فليراجعها حتى تطهرَ ثم تحيضَ ثم تطهرَ ثم إن شاء طلق وإن شاء أمسك فتلك العدة التي أمر الله تعالى أن تطلق لها النساء هذا رواية مالك عن نافع عن ابن عمر وروى سالم ويونس بن جبير ومحمد بن سيرين عن ابن عمر وفيه مره فليراجعها حتى تحيض ثم تطهر وسنتكلم على هاتين الروايتين بعد تمهيد القاعدة في السُّنّة والبدعة فنقول
Kedua prinsip ini merupakan dasar yang telah disepakati, dan landasan ijmā‘ pada keduanya adalah hadis, yaitu riwayat bahwa Ibnu Umar menceraikan istrinya saat haid. Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Perintahkan dia untuk merujuk istrinya sampai ia suci, lalu haid lagi, kemudian suci kembali. Setelah itu, jika ia mau, boleh menceraikan, dan jika mau, boleh mempertahankan. Itulah masa iddah yang Allah Ta‘ala perintahkan untuk menceraikan perempuan padanya.” Ini adalah riwayat Malik dari Nafi‘ dari Ibnu Umar. Adapun riwayat Salim, Yunus bin Jubair, dan Muhammad bin Sirin dari Ibnu Umar menyebutkan, “Perintahkan dia untuk merujuk istrinya sampai ia haid, lalu suci.” Kami akan membahas kedua riwayat ini setelah menjelaskan kaidah tentang sunah dan bid‘ah, maka kami katakan:
يحرم إنشاء الطلاق بعد الدخول عرياً عن العوض في زمان الحيض والذي نضبط المذهب به أن هذا يؤدي إلى تطويل عدتها فإن بقية الحيض لا يعتد بها وإلى ذلك أشار الرسول صلى الله عليه وسلم إذ قال فتلك العدة التي أمر الله عز وجل أن تُطلق لها النساء فعلل تحريم الطلاق بإفضائه إلى تطويل العدة ولا مزيد على علة صاحب الشرع صلوات الله عليه
Diharamkan menjatuhkan talak setelah terjadi hubungan suami istri tanpa adanya kompensasi (iwad) pada masa haid. Yang menjadi pegangan dalam mazhab adalah bahwa hal ini menyebabkan masa iddah menjadi lebih panjang, karena sisa masa haid tersebut tidak dihitung dalam iddah. Hal ini telah disinggung oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau bersabda: “Itulah iddah yang Allah Azza wa Jalla perintahkan agar wanita ditalak padanya.” Maka, alasan pengharaman talak adalah karena hal itu menyebabkan iddah menjadi lebih panjang, dan tidak ada alasan yang melebihi alasan yang telah dijelaskan oleh pembawa syariat, shalawat Allah atasnya.
ولو خالعها فلا حظر ولا تحريم
Jika suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya, maka tidak ada larangan dan tidak ada keharaman.
ولو طلقها برضاها من غير ذكر عوض ففي المسألة وجهان أحدهما أن ذلك سائغ لمكان رضاها فصار كما لو اختلعت نفسها
Jika suami menceraikannya dengan kerelaannya tanpa menyebutkan adanya kompensasi, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa hal itu diperbolehkan karena adanya kerelaan dari pihak istri, sehingga keadaannya seperti ketika istri melakukan khulu‘ atas dirinya sendiri.
والثاني لا يجوز فإن حدود الشرع ومواقف التعبدات لا تختلف بالرضا والسخط
Yang kedua tidak diperbolehkan, karena batasan-batasan syariat dan ketentuan-ketentuan ibadah tidak berubah oleh kerelaan atau ketidaksenangan.
فإن قيل على ماذا بنيتم أولاً تحريم الطلاق في الحيض قلنا صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قال مره فليراجعها ارتفع عبد الله إلى مجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أرأيت لو طلقتُها ثلاثاً فقال صلى الله عليه وسلم إذن عصيت وبانت امرأتك وما قال عبد الله ما قال معانداً وقدرُه أعلى من هذا وإنما قال مستفهماً لأنه ما كان بلغه أمرُ البدعة والسنة في الطلاق وبنى الأمر على ظاهر الشرع في أن من ملك تصرفاً لم يُحْجر عليه فيه وأشعر بذلك قوله أرأيت لو طلقتها ثلاثاً فأبان له رسول الله صلى الله عليه وسلم أن التطليق في الحيض عصيان
Jika ditanyakan, “Atas dasar apa kalian pertama kali membangun hukum haramnya talak saat haid?” Kami katakan: Telah sah bahwa Rasulullah ﷺ ketika bersabda, “Perintahkan dia agar merujuk istrinya,” Abdullah pun naik ke majelis Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Bagaimana jika aku menceraikannya tiga kali?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau begitu, engkau telah bermaksiat dan istrimu telah tercerai darimu.” Abdullah tidak mengucapkan pertanyaan itu karena membangkang—kedudukannya lebih tinggi dari itu—melainkan ia bertanya untuk meminta penjelasan, karena ia belum mengetahui perbedaan antara talak bid‘ah dan talak sunnah, dan ia membangun pemahamannya berdasarkan zahir syariat bahwa siapa pun yang memiliki hak melakukan suatu tindakan, tidak ada larangan baginya dalam hal itu. Hal ini ditunjukkan oleh ucapannya, “Bagaimana jika aku menceraikannya tiga kali?” Maka Rasulullah ﷺ menjelaskan kepadanya bahwa menjatuhkan talak saat haid adalah suatu kemaksiatan.
فإن قيل من أين أخذتم نفي التعصية في المخالعة قلنا أخذناه من حديث زوجة ثابت في أصل الخلع فإن النبي صلى الله عليه وسلم أمرها بالافتداء وأمره بالقبول ولم يستفصل وهو يجري افتداء مخلِّصاً ولا يليق بروْم التخليص والتخلّص تخير الأوقات والنظر في تفاصيل الحالات هذا أصل المذهب
Jika ditanyakan, dari mana kalian mengambil penafian adanya ta‘ṣiyah dalam khulu‘, kami katakan: Kami mengambilnya dari hadis istri Tsabit dalam asal khulu‘, di mana Nabi ﷺ memerintahkannya untuk melakukan iftidā’ (menebus diri) dan memerintahkannya (suami) untuk menerima, tanpa menanyakan secara rinci. Ini menunjukkan bahwa iftidā’ dilakukan secara mutlak untuk membebaskan diri, dan tidak layak bagi orang yang menginginkan pembebasan dan pelepasan untuk memilih-milih waktu atau memperhatikan rincian keadaan. Inilah dasar mazhab.
ثم اتفق حملة الشريعة على أن الطلاق وإن كان محرَّماً نافذٌ ولا اكتراث بمخالفة الشيعة في ذلك فهذا ركن
Kemudian para pemegang syariat sepakat bahwa talak, meskipun diharamkan, tetap sah dan tidak perlu menghiraukan perbedaan pendapat dengan Syiah dalam hal ini; inilah satu prinsip.
والركن الثاني في المنع من الطلاق في الطهر الذي وقع الوقاع فيه والطلاق عريٌّ عن البدل وذكر القاضي خلافاً في أن الخلع في الطهر الذي جرى الوقاع فيه هل يحرم والسبب فيه أن تحريم الطلاق في عقد المذهب يرتبط بما يفرض من التندّم إن ظهر ولد فإن الإنسان قد يُؤثر طلاق زوجته وإن كانت أم ولده لم يطلقها فيلحقه الندمُ لو طلق ثم تبين الحَبَل وفي حالة الحيض يرتبط بتطويل العدة فإذا كان المستند هذا فقد نقول اختلاعها في الحيض يشعر بكمال رضاها فإنها لا تبذل المال إلا على طمأنينة فيؤثِّر هذا في رضاها بطول العدة وأما الطلاق في الطهر الذي جرى الوقاع فيه فمستندٌ إلى أمر الولد ولا يؤثر رضاها في أمر الولد
Rukun kedua dalam larangan talak adalah pada masa suci yang telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya, dan talak itu sendiri tidak disertai dengan pengganti (iwad). Qadi menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai apakah khulu‘ pada masa suci yang telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya itu haram. Sebab larangan talak menurut mazhab terkait dengan kemungkinan timbulnya penyesalan jika ternyata ada anak yang dikandung, karena seseorang mungkin lebih memilih menceraikan istrinya, namun jika istrinya adalah ibu dari anaknya, ia tidak akan menceraikannya, sehingga ia akan menyesal jika menceraikan lalu ternyata istrinya hamil. Adapun pada masa haid, larangan itu berkaitan dengan memperpanjang masa iddah. Jika alasan ini yang menjadi dasar, maka kita dapat mengatakan bahwa khulu‘ pada masa haid menunjukkan kerelaan penuh dari istri, karena ia tidak akan memberikan harta kecuali dengan keyakinan, sehingga hal ini berpengaruh pada kerelaannya terhadap lamanya masa iddah. Adapun talak pada masa suci yang telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya, maka dasarnya adalah urusan anak, dan kerelaan istri tidak berpengaruh dalam urusan anak.
وهذا الذي ذكره القاضي غيرُ مرضي فإن التعويل على الندم لأجل الولد ليس بالقوي وقد أوضحنا فساد ذلك في الأساليب ولولا أن الشرع تعرض للعدة والنهي عن تطويلها لما عللنا بذلك أيضاً فالوجه تنزيل الخلع على الخروج عن السنة والبدعة تعويلاً على الحديث والمعنى الكلي الذي أشرنا إليه
Apa yang disebutkan oleh qadhi tersebut tidak dapat diterima, karena bersandar pada penyesalan demi anak bukanlah alasan yang kuat. Kami telah menjelaskan kerusakan pendapat itu dalam berbagai metode. Seandainya syariat tidak membahas tentang ‘iddah dan larangan memperpanjangnya, kami pun tidak akan memberikan alasan demikian. Maka yang tepat adalah memposisikan khulu‘ sebagai keluar dari sunnah dan termasuk bid‘ah, dengan bersandar pada hadits dan makna keseluruhan yang telah kami isyaratkan.
وكان شيخي أبو محمد يحكي عن شيخه القفال أن الأجنبي إذا اختلع المرأة من غير رضاها في زمان الحيض فالخلع محظور فإنه لم يصدر عن رضاها وهذا الذي ذكره متجه حسن
Guru saya, Abu Muhammad, meriwayatkan dari gurunya, al-Qaffal, bahwa apabila seorang laki-laki asing melakukan khulu‘ terhadap seorang perempuan tanpa kerelaannya pada masa haid, maka khulu‘ tersebut terlarang, karena tidak terjadi atas dasar kerelaannya. Apa yang disebutkan ini adalah pendapat yang logis dan baik.
ويجوز أن يقال الخلع كيف فرض لا يكون بدعياً وهذا الذي يليق بمذهب الاقتداء والظاهر ما ذكره القفال فإن المعتمد في إخراج الخلع عن البدعة الحديث وهو وارد في المرأة التي رامت الاختلاع بنفسها
Boleh dikatakan bahwa khulu‘ dalam bentuk apa pun tidak termasuk bid‘ah, dan inilah yang sesuai dengan mazhab mengikuti (ulama terdahulu). Namun, pendapat yang tampak kuat adalah apa yang disebutkan oleh al-Qaffāl, karena dasar dalam mengeluarkan khulu‘ dari kategori bid‘ah adalah hadits, dan hadits itu berkaitan dengan perempuan yang meminta khulu‘ atas inisiatif dirinya sendiri.
ثم قال الأصحاب المذهب ينضبط في السنة والبدعة ونفيهما من جهتين فإن أحببنا أخرجنا اللواتي لا يلحقهن سنة ولا بدعة وقلنا هن خَمْسٌ المختلعةُ للمعنى الذي ذكرنا وغيرُ المدخول بها فإنه لا عدة عليها ولا دخول فيتوقع منه الولد والحاملُ ليس في طلاقها بدعة فإن عدتها لا تطول وإذا كان حملها بيّناً فالظاهر أن الطلاق يصدر على وجه لا يستعقب ندماً ولا بدعة في عدة الصغيرة فإنها تعتد بالأشهر وهي لا تطول ولا تقصر وكذلك الآيسة لا بدعة في طلاقها
Kemudian para ulama mazhab berkata bahwa mazhab ini dapat dirinci dalam hal sunah dan bid‘ah serta peniadaannya dari dua sisi. Jika kita menghendaki, kita dapat mengecualikan kasus-kasus yang tidak termasuk sunah maupun bid‘ah, dan kita katakan bahwa ada lima kasus: wanita yang melakukan khulu‘ karena alasan yang telah kami sebutkan; wanita yang belum pernah digauli, karena tidak ada masa ‘iddah baginya dan tidak ada kemungkinan kehamilan darinya; wanita hamil, tidak ada unsur bid‘ah dalam talaknya karena masa ‘iddahnya tidak menjadi lebih lama, dan jika kehamilannya sudah jelas, maka talak yang dijatuhkan biasanya tidak menimbulkan penyesalan atau bid‘ah; dalam masa ‘iddah wanita yang masih kecil juga tidak ada bid‘ah, karena ia menjalani masa ‘iddah dengan hitungan bulan yang tidak menjadi lebih lama atau lebih singkat; demikian pula wanita yang sudah menopause, tidak ada unsur bid‘ah dalam talaknya.
فإن قيل إن كانت الصغيرة لا يتوقع حبلها فالآيسة قد يتوقع ذلك منها وقد ينفتق رحمها ويعود حيضها فتَعْلَق قلنا البناء على ظواهر الظنون ولو راجع الرجل امرأته الآيسة وكان قد واقعها فليس فيها مرد متوقع حتى يطلّق عنده
Jika dikatakan: Jika anak kecil tidak diharapkan hamil, maka wanita yang sudah menopause masih mungkin diharapkan hamil darinya, dan bisa saja rahimnya terbuka kembali dan haidnya kembali sehingga ia bisa hamil. Kami katakan: Hukum didasarkan pada dugaan yang tampak. Jika seorang laki-laki merujuk istrinya yang sudah menopause dan ia telah menggaulinya, maka tidak ada kemungkinan kembalinya masa iddah padanya sampai ia menceraikannya lagi.
فهذا ضبط اللواتي لا يلحقهن سنة ولا بدعة والطلاق فيهن لا ينعت بحظر ولا بسنة
Inilah penjelasan mengenai para perempuan yang tidak berlaku atas mereka hukum sunnah maupun bid‘ah, dan talak terhadap mereka tidak dapat dikategorikan sebagai terlarang maupun sebagai sunnah.
وإن أردنا الضبط من جانب الإثبات قلنا البدعة إنما تلحق الحائض الممسوسة في الطلاق العريّ عن البدل والرضا وتلحق التي جومعت في طهرها وهي من ذوات الأقراء
Jika kita ingin menetapkan dari sisi penetapan, kita katakan bahwa bid‘ah hanya berlaku bagi perempuan haid yang dicerai tanpa adanya pengganti dan tanpa kerelaan, serta berlaku pula bagi perempuan yang telah digauli pada masa suci dan termasuk wanita yang memiliki masa haid.
ثم الطلاق المحظور البدعي ما يصادِف على الشرائط المقدَّمة حيضاً أو طهراً وقع فيه وقاع والطلاق السني هو الذي يصادف طهراً عرياً عن الوقاع هذا هو الأصل المعتبر في الباب
Kemudian, talak yang terlarang (bid‘ī) adalah talak yang dijatuhkan pada masa haid atau pada masa suci yang di dalamnya telah terjadi hubungan suami istri, sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan talak yang sesuai sunnah (sunnī) adalah talak yang dijatuhkan pada masa suci yang tidak terjadi hubungan suami istri di dalamnya. Inilah ketentuan pokok yang dianggap sah dalam masalah ini.
وقد قال الشيخ أبو علي إذا استدخلت المرأة ماء الزوج كان ذلك في إثارة البدعة كالجماع فإنه يتعلق به خشية ندامة الولد
Syekh Abu Ali berkata, jika seorang wanita memasukkan air mani suaminya ke dalam dirinya, maka hal itu dalam menimbulkan bid‘ah sama seperti jima‘, karena hal tersebut berkaitan dengan kekhawatiran akan penyesalan terhadap anak.
ولو أتاها في غير المأتى وعلم أن الماء لم يسبق إلى الرحم فهل يثير هذا الوطءُ بدعة فيه تردد وميل الشيخ إلى أنه لا يثيرها
Jika seorang suami menggauli istrinya bukan pada tempat yang semestinya, dan diketahui bahwa air mani tidak sampai ke rahim, maka apakah hubungan tersebut dapat menimbulkan bid‘ah (haid)? Dalam hal ini terdapat keraguan, namun pendapat Syaikh cenderung bahwa hal itu tidak menimbulkan bid‘ah.
والظاهر عندنا أخْذُ ذلك من العدّة وقد ذكرنا أن هذا الوطء هل يتضمن العدة
Yang tampak menurut kami adalah mengambil hal itu dari masa ‘iddah, dan kami telah menyebutkan bahwa hubungan suami istri ini apakah mencakup masa ‘iddah.
ولو وطىء امرأته في زمان الحيض ثم مضت بقية الحيض قال البدعة قائمة حتى تحيض حيضة أخرى بعد الطهر
Dan jika seorang suami menggauli istrinya pada masa haid, kemudian sisa masa haid itu berlalu, maka dikatakan bahwa bid‘ah masih tetap berlaku hingga istrinya mengalami satu kali haid lagi setelah suci.
وهذا فيه احتمال فإن بقية الحيض يدل على عدم العلوق
Hal ini mengandung kemungkinan, karena sisa haid menunjukkan tidak terjadinya kehamilan.
وقال المرأة إذا طلبت الفيئة من الزوج المولي بعد المدّة فلم يفىء وطلبت الطلاق وهي في زمان الحيض طلقها الزوج أو القاضي ولا بدعة وهذا متفق عليه وإن ذكرنا خلافاً في سؤال الطلاق لأن هذا طلب حق فكان مخالفاً لسؤالٍ من غير استحقاق
Dan apabila seorang istri meminta al-fay’ dari suami yang melakukan ila’ setelah lewat masa (empat bulan), lalu suami tidak kembali, dan istri meminta talak sementara ia sedang dalam masa haid, maka suami atau hakim dapat menjatuhkan talak kepadanya, dan ini tidak dianggap bid‘ah. Hal ini telah disepakati, meskipun kami menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam permintaan talak, karena permintaan ini adalah permintaan atas hak, sehingga berbeda dengan permintaan tanpa adanya hak.
فصل قال وأحب أن يطلقها واحدة لتكون له الرجعة إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Aku lebih suka jika ia menceraikannya dengan satu talak saja agar ia masih memiliki hak ruju‘ (rujuk) hingga selesai masa ‘iddahnya.”
قال الأئمة إيقاع الطلاق في الأصل مكروه من غير حاجة واحتجوا عليه بما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال أبغض الحلال إلى الله الطلاق وأحبها إليه العتاق والفقهاء قد يتساهلون في إطلاق الكراهية وأرباب الأصول لا يطلقون هذا اللفظ إلا على تثبت فإن ظهر غرض يستحثّ على الطلاق كمخيلة ريبةٍ واستشعار نشوز فالكراهية لا تتحقق وإذا كان لا يهواها وربما لا تسمح نفسه بالتزام مؤنتها من غير حصول غرض الاستمتاع فلا كراهية في الطلاق والحالةُ هذه
Para imam berpendapat bahwa pada dasarnya menjatuhkan talak hukumnya makruh jika tidak ada kebutuhan, dan mereka berdalil dengan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Halal yang paling dibenci Allah adalah talak, dan yang paling dicintai-Nya adalah memerdekakan budak.” Para fuqaha terkadang bersikap longgar dalam menggunakan istilah makruh, sedangkan para ahli ushul tidak menggunakan istilah ini kecuali dengan penuh kehati-hatian. Jika terdapat alasan yang mendorong untuk melakukan talak, seperti adanya dugaan kuat terhadap terjadinya sesuatu yang mencurigakan atau munculnya tanda-tanda pembangkangan, maka kemakruhan tidak terwujud. Jika seorang suami memang tidak mencintai istrinya, atau mungkin dirinya tidak rela menanggung nafkahnya tanpa ada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan, maka dalam keadaan seperti ini talak tidak lagi makruh.
فالكراهية لا يتجه إطلاقها إلا عند زوال الحاجات والأغراضِ التي يُطلِّقُ العقلاء لأجلها وإن لم يكن غرضٌ ولا حاجة فلا بأس بإطلاق الكراهية ثم حيث تُطلق الكراهية لا نفرق بين الواحدة والعدد وإن ظهر غرضٌ ترتفع الكراهية لأجله فقد نقول لا يستحب جمع الطلقات ويستحب أن يفرقها ولسنا ننكر أن وضعها في الكتاب والسنة يشعر بالاستحثاث على تفريقها حتى لا يلقى الإنسانُ ندماً ولا ينتهي الأمر إلى إطلاق لفظ الكراهية حيث لا كراهية في أصل التطليق
Maka kebencian (makruh) tidak dapat diberlakukan kecuali ketika telah hilang kebutuhan dan tujuan yang menjadi alasan orang-orang berakal melakukan talak karenanya. Jika tidak ada tujuan atau kebutuhan, maka tidak mengapa menetapkan kebencian (makruh). Kemudian, ketika kebencian (makruh) ditetapkan, kita tidak membedakan antara satu kali talak atau beberapa kali. Jika muncul suatu tujuan yang menghilangkan kebencian (makruh) tersebut, maka bisa jadi kita mengatakan bahwa tidak dianjurkan mengumpulkan talak sekaligus dan dianjurkan untuk memisahkannya. Kami tidak mengingkari bahwa penyusunan (talak) dalam al-Kitab dan as-Sunnah memberikan isyarat adanya anjuran untuk memisah-misahkan talak, agar seseorang tidak menyesal dan tidak sampai pada penggunaan istilah kebencian (makruh) di mana sebenarnya tidak ada kebencian dalam asal pensyariatan talak.
ومذهب الشافعي أن الجمع بين الطلقتين والثلاث لا سنة فيه ولا بدعة وإنما تتعلق السنة والبدعة بالزمانين المذكورين على التفاصيل المقدمة أحدهما زمان الحيض والثاني الطهر الذي وقع الوقاع فيه وأبو حنيفة يحرم الجمع كما يحرم التطليق في الحيض وفي الطهر الذي جرى الوقاع فيه والمسالة مشهورة معه في الخلاف
Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa menggabungkan dua atau tiga talak sekaligus tidak termasuk sunnah maupun bid‘ah, melainkan yang berkaitan dengan sunnah dan bid‘ah adalah pada dua waktu yang telah disebutkan sebelumnya: yang pertama adalah masa haid, dan yang kedua adalah masa suci yang di dalamnya terjadi hubungan suami istri. Sedangkan Abu Hanifah mengharamkan penggabungan talak sebagaimana ia mengharamkan talak pada masa haid dan pada masa suci yang telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya, dan masalah ini terkenal sebagai salah satu titik perbedaan pendapat dalam fiqh.
وقد قال الشيخ أبو علي في شرح التلخيص جمع الطلقات لا معصية فيه ولكن هل يقال السنة تفريقها فعلى وجهين واحتمل كلامه معنيين أحدهما التردد في استحباب التفريق حكماً وأحد الوجهين أن ذلك لا يوصف بالاستحباب والأمر فيه إلى مالك الطلاق وفي كلامه ما يدل على أن اسم السنة هل يتناول التفريق فعلى وجهين ولا شك أن البدعة لا تتناول الجمع عندنا ومقتضى هذا أنه لو قال أنت طالق ثلاثاً للسنة وزعم أنه نوى التفريق على الأقراء يُصدَّق ظاهراً وهذا بعيدٌ مخالفٌ للنص والمذهبِ والسنةُ والبدعةُ يتعاقبان أما التردد في الاستحباب فللاحتمال إليه تطرُّقٌ والظاهر الاستحباب ومنع لفظ السنة
Syekh Abu Ali berkata dalam Syarh at-Talkhish: Mengumpulkan talak tidak mengandung kemaksiatan, namun apakah dapat dikatakan bahwa sunnah adalah memisahkannya? Ada dua pendapat. Ucapannya mengandung dua makna: pertama, keraguan dalam menetapkan hukum anjuran memisahkan talak; dan salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu tidak dapat digolongkan sebagai anjuran, dan urusannya dikembalikan kepada pemilik hak talak. Dalam ucapannya terdapat indikasi bahwa istilah sunnah, apakah mencakup pemisahan talak, juga ada dua pendapat. Tidak diragukan lagi bahwa bid‘ah menurut kami tidak mencakup pengumpulan talak. Konsekuensinya, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau aku talak tiga dengan cara sunnah,” dan ia mengaku berniat memisahkan talak pada masa suci, maka secara lahiriah ia dibenarkan. Namun, ini adalah pendapat yang jauh, bertentangan dengan nash, mazhab, dan bahwa sunnah dan bid‘ah itu silih berganti. Adapun keraguan dalam anjuran, maka karena ada kemungkinan ke arah itu, namun yang tampak adalah anjuran, dan penolakan terhadap lafaz sunnah.
ثم قال الشافعي لو طلقها طاهراً بعد جماع أحببت أن يرتجعها إلى آخره والمراد بذلك أنه إذا طلقها بدعياً في زمان الحيض فإنا نستحب ونؤثر له أن يرتجعها والأصل في ذلك قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قصة ابن عمر حيث قال مُره فليراجعها وتعليل ذلك أنه إذا طلقها في الحيض فقد طوّل العدة عليها وإذا طلقها في طهر جرى الجماع فيه تعرّض لندامة الولد فإذا تمادى ولم يرتجع كان في حكم من يُديم المعصيةَ مع القدرة على قطعها وإذا ارتجع زال ما كنا نحرّم الطلاق لأجله من تطويل العدة والتعرض للندامة
Kemudian Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan suci setelah berhubungan, aku lebih menyukai agar ia merujuknya hingga akhir masa iddah. Yang dimaksud dengan hal ini adalah, jika seseorang menceraikan istrinya secara bid‘ah pada masa haid, maka kami menganjurkan dan mengutamakan baginya untuk merujuk istrinya. Dasar dari hal ini adalah sabda Rasulullah ﷺ dalam kisah Ibnu Umar, di mana beliau bersabda: “Perintahkan dia untuk merujuk istrinya.” Alasannya adalah, jika seseorang menceraikan istrinya saat haid, maka ia telah memperpanjang masa iddah bagi istrinya. Jika ia menceraikannya dalam keadaan suci setelah berhubungan, maka ia telah menjerumuskan diri pada penyesalan karena kemungkinan adanya anak. Jika ia terus-menerus dan tidak merujuk istrinya, maka ia seperti orang yang terus-menerus melakukan maksiat padahal mampu menghentikannya. Namun jika ia merujuk istrinya, maka hilanglah sebab yang membuat kami mengharamkan talak, yaitu memperpanjang masa iddah dan menjerumuskan pada penyesalan.
وقد ينشأ من هذا الموضع سؤال بأن يقول قائل هل توجبون الارتجاع فإن في الارتجاع قطعُ الضرار عنها بتطويل العدة وكذلك القول في الارتجاع في الطهر الذي جرى الجماع فيه وقد يشهد لوجوب الارتجاع لو صِير إليه ظاهرُ قوله صلى الله عليه وسلم مره فليراجعها
Dari permasalahan ini mungkin muncul sebuah pertanyaan, yaitu: Apakah kalian mewajibkan rujuk? Sebab dalam rujuk terdapat pemutusan mudarat dari istri dengan memperpanjang masa iddah. Demikian pula halnya dengan rujuk pada masa suci yang telah terjadi jima‘ di dalamnya. Mungkin juga yang menjadi dalil atas wajibnya rujuk, jika hal itu dijadikan sandaran, adalah zahir sabda Nabi ﷺ: “Perintahkanlah dia agar merujuk istrinya.”
قلنا أجمع الأصحاب على أن الارتجاع لا يجب ثم أجمعوا على أن ترك الارتجاع لا يلتحق بما يُقضى بكونه مكروهاً وأكثر ما أطلقوه في ذلك أنا نستحب أن يرتجعها
Kami katakan, para sahabat sepakat bahwa rujuk tidaklah wajib, kemudian mereka juga sepakat bahwa meninggalkan rujuk tidak termasuk dalam perkara yang dihukumi makruh. Kebanyakan yang mereka ungkapkan dalam hal ini adalah bahwa kami menganjurkan untuk melakukan rujuk.
فالجواب إذاً عن السؤال أن الارتجاع مقصوده الظاهر تداركُ حقٍّ وجلبُ منفعةٍ ويبعد المصير إلى وجوبه لينبني عليه انتفاء تطويل العدة وأصل التطليق محرّم للخبر وللمعنى فإذا جرى فلا يبلغ المحذور من الطلاق المحظور مبلغاً يوجب لأجله رجعةً مقصودها في الشرع جلبٌ أو استدراكٌ
Maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa maksud yang tampak dari rujuk adalah untuk memperbaiki hak dan meraih manfaat, dan sulit untuk menetapkan kewajibannya sehingga dapat dijadikan dasar untuk meniadakan perpanjangan masa iddah. Pada dasarnya, talak itu terlarang berdasarkan hadis dan maknanya. Namun jika talak itu terjadi, maka tidak sampai pada tingkat bahaya dari talak yang dilarang sehingga mewajibkan adanya rujuk yang tujuannya dalam syariat adalah untuk meraih atau memperbaiki sesuatu.
فإذا ثبت أن الرجعة لا تجب ولكنها تُستَحَب فقد قدمنا في صدر الكتاب روايتين وهذا أوان الكلام عليهما روي عن مالك عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مره فليراجعها ثم ليمسكها حتى تطهر ثم تحيض ثم تطهر ثم إن شاء طلقها وإن شاء أمسكها فتلك العدة التي أمر الله تعالى أن تطلق لها النساء وروى سالم بنُ عبد الله ويونس بنُ جبير ومحمد بن سيرين مره فليراجعها فإذا طهرت فإن شاء فليطلقها وفي ظاهر الروايتين تفاوت وموجب الرواية الأولى أنه يراجعها إذا طلقها في الحيض ثم يمسكها حتى تنقضي بقية الحيض ثم تطهر ثم تحيض ثم تطهر وظاهر الرواية الثانية فيه تردد فإنه قال مره فليراجعها ثم ليمسكها حتى تحيض ثم تطهر فظن بعض الناس أن المراد بقوله حتى تحيض حتى تنقضي بقية الحيض فإذا طهرت فإن شاء طلقها وإن شاء أمسكها
Jika telah tetap bahwa ruju‘ tidak wajib tetapi disunnahkan, maka sebagaimana telah kami sebutkan di awal kitab ini terdapat dua riwayat, dan inilah saatnya membahas keduanya. Diriwayatkan dari Malik, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Perintahkanlah dia (suami) untuk merujuk istrinya, kemudian menahannya hingga ia suci, lalu haid lagi, kemudian suci lagi. Setelah itu, jika ia mau, boleh menceraikannya, dan jika mau, boleh menahannya. Itulah masa ‘iddah yang Allah Ta‘ala perintahkan agar wanita dicerai padanya.” Salim bin Abdullah, Yunus bin Jubair, dan Muhammad bin Sirin meriwayatkan: “Perintahkanlah dia untuk merujuk istrinya, lalu jika ia telah suci, jika ia mau, boleh menceraikannya.” Secara lahiriah, kedua riwayat ini terdapat perbedaan. Konsekuensi dari riwayat pertama adalah bahwa suami merujuk istrinya jika menceraikannya saat haid, lalu menahannya hingga sisa masa haid selesai, kemudian ia suci, lalu haid lagi, kemudian suci lagi. Adapun makna lahiriah riwayat kedua terdapat keraguan, karena disebutkan: “Perintahkanlah dia untuk merujuk istrinya, lalu menahannya hingga ia haid, kemudian suci.” Sebagian orang mengira bahwa maksud dari perkataan “hingga ia haid” adalah hingga sisa masa haid selesai. Jika ia telah suci, maka jika ia mau, boleh menceraikannya, dan jika mau, boleh menahannya.
وكان شيخي أبو محمد يذكر في ذلك وجهين من متن المذهب أحدهما أن المستحب ألا يطلقها كما طهرت من بقية الحيض وهذا هو الذي ذهب إليه الجمهور والسبب فيه أنه لو طلقها كما طهرت لكانت الرجعة مقصودة لأجل الطلاق حتى كأنه ارتجعها ليطلقها وهذا لا يليق بمحاسن الشرع في آداب العشرة بين الزوجين في الدوام والفراق نعم إذا تركها على حكم النكاح طهراً كاملاً ثم حاضت ثم طهرت فنحمل مضي الطهر الأول على إمساكها في زمان الاستمتاع
Syekh saya, Abu Muhammad, menyebutkan dalam hal ini dua pendapat dari inti mazhab. Salah satunya adalah bahwa yang disunnahkan adalah tidak menceraikannya segera setelah ia suci dari sisa haid, dan inilah pendapat mayoritas ulama. Alasannya, jika ia menceraikannya segera setelah suci, maka rujukannya akan terkesan bertujuan untuk menceraikan, seolah-olah ia merujuk istrinya hanya untuk menceraikannya kembali. Hal ini tidak sesuai dengan keindahan syariat dalam adab berumah tangga, baik dalam kebersamaan maupun perpisahan. Namun, jika ia membiarkan istrinya tetap dalam status pernikahan selama satu masa suci penuh, lalu istrinya haid dan kemudian suci kembali, maka masa suci yang pertama dianggap sebagai masa mempertahankan istri pada waktu yang diperbolehkan untuk bersenang-senang dengannya.
ومن أصحابنا من قال لا بأس لو طلقها في الطهر الأول فإن الرجعة قطعت أثر الطلاق البدعي وأزالت تطويل العدة فإذا طلقها كما طهرت فهذا الطهر محسوبٌ وليس فيه ندامةُ ولدٍ
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa tidak mengapa jika ia menceraikannya pada masa suci yang pertama, karena rujuk telah menghapus dampak talak bid‘ī dan menghilangkan lamanya masa iddah. Maka jika ia menceraikannya setelah ia suci, masa suci ini tetap dihitung dan tidak ada penyesalan terkait anak.
ثم على هذين الوجهين يُخَرَّج تنزيل رواية ابن عمر فإن قلنا لا بأس لو طلقها كما طهرت فقوله حتى تحيض ثم تطهر محمول على انقضاءِ الحيض واستفتاح الطهر وإن جرينا على الوجه الأصح فقوله حتى تحيض محمول على حيضة مستأنفة بعد طهر وهذا ظاهر اللفظ فإنَّ حَمْل الأفعال والأحوال مع صيغة الشرط على استفتاح الأمور في الاستقبال أظهر من حملها على انقضاء ما به الملابسة
Kemudian, berdasarkan dua pendapat ini, dapat dijelaskan penerapan riwayat Ibnu Umar. Jika kita mengatakan tidak mengapa jika ia menceraikannya ketika ia baru saja suci, maka ucapannya “hingga ia haid lalu suci” dimaknai sebagai berakhirnya masa haid dan dimulainya masa suci. Namun jika kita mengikuti pendapat yang lebih kuat, maka ucapannya “hingga ia haid” dimaknai sebagai haid yang baru setelah masa suci. Ini lebih jelas secara lafaz, karena menafsirkan perbuatan dan keadaan dengan bentuk syarat sebagai permulaan sesuatu di masa mendatang lebih jelas daripada menafsirkannya sebagai berakhirnya sesuatu yang berkaitan dengannya.
فإن فرعنا على الوجه الظاهر فقد ذكر الأئمة وجهين في أنا هل نؤثر وهل نستحب للزوج أن يجامعها في الطهر الأول فقال قائلون لا يُطْلَقُ في هذا الاستحبابُ والأمر إلى الزوج وقال آخرون يستحب ما ذكرناه إذا لم يكن عذر فإنه إذا لم يواقعها كان تربّصه في الطهر والحيضة بعده محمولاً على أن يطلقها في الطهر الثاني وقد بنينا الأمر بالرجعة على خلاف هذا
Jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat yang tampak, para imam telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah kita menganjurkan atau menyunnahkan bagi suami untuk menggauli istrinya pada masa suci yang pertama. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada anjuran secara mutlak dalam hal ini dan urusannya dikembalikan kepada suami. Sementara ulama lain berpendapat disunnahkan sebagaimana yang telah kami sebutkan jika tidak ada uzur, karena jika suami tidak menggaulinya, maka masa tunggunya pada masa suci dan haid berikutnya dianggap sebagai isyarat bahwa ia akan menceraikannya pada masa suci yang kedua. Kami juga telah membangun perintah untuk rujuk berdasarkan perbedaan pendapat ini.
ولو طلقها في الحيض وراجعها في الحيض وأصابها في زمان الحيض ثم طهرت والتفريع على أنا نؤثر للزوج أن يطلّق في الطهر الثاني فذلك الأمر مستدام ولا حكم للوطء الذي جرى في زمان الحيض فإنه وطء محظور منهي عنه فلا يتعلق به غرض مطلوب في الشريعة فوجودُه كعدمه وإنما ذكرنا هذا حتى لا يظن ظان أنه إذا راجعها ووطئها في الحيض فقد أخرج الرجعة عن أن تكون لأجل الطلاق
Jika seorang suami menceraikan istrinya saat haid, lalu merujuknya kembali saat haid, kemudian menggaulinya pada masa haid, lalu istrinya suci, dan berdasarkan penjelasan bahwa kami membolehkan suami menceraikan pada masa suci kedua, maka hal itu tetap berlaku dan tidak ada pengaruh dari hubungan suami istri yang terjadi pada masa haid. Sebab, hubungan tersebut adalah perbuatan yang dilarang dan terlarang, sehingga tidak ada tujuan syariat yang terkait dengannya; keberadaannya sama saja dengan ketiadaannya. Kami menyebutkan hal ini agar tidak ada yang mengira bahwa jika suami merujuk istrinya dan menggaulinya saat haid, maka hal itu mengeluarkan rujuk dari tujuan untuk perceraian.
ولو طلق امرأته في طهرٍ جامعها فيه ثم راجعها كما ذكرناه فلا شك أنه لا يطلقها ولو طلقها لكان الطلاق بدعياً لأنه وقع في طهر جرى فيه وقاع فإذا حاضت ثم طهرت فله أن يطلقها الآن ولا يشترط في إقامة الأَوْلى والمستحبِّ أكثرُ من ذلك
Jika seorang suami menceraikan istrinya pada masa suci yang telah digaulinya, kemudian ia merujuknya sebagaimana telah kami sebutkan, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidak menceraikannya. Jika ia tetap menceraikannya, maka talaknya adalah talak bid‘ah karena terjadi pada masa suci yang telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya. Jika istrinya kemudian haid lalu suci kembali, maka saat itu ia boleh menceraikannya, dan tidak disyaratkan untuk melakukan yang lebih utama dan yang lebih dianjurkan dari itu.
ولو طلق امرأته في طهر جامعها فيه ثم راجعها في الحيض والتفريع على الأصح فإنه لا يطلقها في الطهر الذي يلي هذا لأن الرجعة تكون لأجل الطلاق
Jika seorang suami menceraikan istrinya pada masa suci yang telah digaulinya, kemudian ia merujuknya pada masa haid, dan menurut pendapat yang paling sahih, maka ia tidak boleh menceraikannya pada masa suci berikutnya setelah itu, karena rujuk tersebut dilakukan demi perceraian.
ولو طلقها في طهر لم يجامعها فيه ولم يكن الطلاق بدعياً غير أنه راجعها في الحيض حكى القاضي عن الأصحاب أنهم قالوا لا نستحب له أن يطلقها إذا طهرت فإنه لو طلقها كما طهرت وقد راجعها في الحيض لكانت الرجعة لأجل الطلاق ثم قال والذي عندي أنه لا بأس عليه لو طلقها كما طهرت لأن الطلاق الأول لم يكن بدعياً في الأصل ونحن إنما نأمر بالرجعة ثم بالإمساك على التفصيل المذكور إذا كان الطلاق الواقع بدعياً وهذا الذي اختاره القاضي هو المذهب الذي لا يُعْرَف غيره ولم أر حكاية غيره لغير القاضي
Jika ia menceraikannya pada masa suci yang belum digaulinya dan talaknya bukan talak bid‘ah, namun kemudian ia merujukinya saat haid, al-Qadhi meriwayatkan dari para sahabat (ulama mazhab) bahwa mereka berkata: Kami tidak menganjurkan baginya untuk menceraikannya ketika ia telah suci, karena jika ia menceraikannya tepat setelah suci dan ia telah merujukinya saat haid, maka rujuk itu seakan-akan hanya untuk tujuan talak. Kemudian ia berkata: Menurut pendapat saya, tidak mengapa baginya jika menceraikannya tepat setelah suci, karena talak pertama pada asalnya bukan talak bid‘ah. Kami hanya memerintahkan rujuk lalu menahan (tidak menceraikan lagi) dengan rincian yang telah disebutkan apabila talak yang terjadi adalah talak bid‘ah. Dan pendapat yang dipilih al-Qadhi inilah yang menjadi mazhab yang tidak diketahui pendapat lain darinya, dan saya tidak menemukan riwayat pendapat selain itu kecuali dari al-Qadhi.
فهذا تفصيل القول في استحباب الرجعة والإمساك بعدها وما يتعلق به من خلاف ووفاق
Inilah perincian penjelasan mengenai anjuran untuk rujuk dan mempertahankan istri setelahnya, serta hal-hal yang berkaitan dengannya berupa perbedaan dan kesepakatan pendapat.
فرع
Cabang
إذا قال الرجل لامرأته التي هي بمحل السنة والبدعة أنت طالق مع آخر جزء من حيضك فمعلوم أن الطلاق ينطبق على الجزء الأخير وذلك الجزء لا يكون من العدة وهي تستفتح طهراً معتداً به فليس في هذا التطليق تطويل العدة عليها فاختلف أصحابنا فيه فذهب القياسون إلى أن الطلاق لا يكون بدعياً لأنه ليس فيه تطويل عدة ولا ندامة ولد وذهب آخرون إلى أن الطلاق بدعي لمصادفته الحيض وهذا القائل يعتضد بالرجوع إلى التوقيف والتعبد ويهون عليه تضعيفُ طريقِ الرأي والتعويلِ على المعنى لما نبهنا عليه قبلُ وقررناه في المسائل
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang berada dalam masa yang sesuai dengan sunnah maupun bid‘ah, “Engkau tertalak pada bagian terakhir dari haidmu,” maka sudah jelas bahwa talak itu jatuh pada bagian terakhir tersebut. Bagian itu bukan termasuk masa ‘iddah, dan ia akan memulai masa suci yang diperhitungkan dalam ‘iddah. Maka, dalam talak seperti ini tidak ada pemanjangan masa ‘iddah baginya. Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Para ahli qiyās berpendapat bahwa talak tersebut tidak termasuk talak bid‘ah, karena tidak ada pemanjangan masa ‘iddah dan tidak ada penyesalan terkait anak. Sementara kelompok lain berpendapat bahwa talak itu adalah talak bid‘ah karena bertepatan dengan masa haid. Pendapat ini didukung dengan kembali kepada dalil yang bersifat tauqīf dan ta‘abbud, serta mereka menganggap lemah metode ra’yu dan penekanan pada makna, sebagaimana telah kami singgung dan jelaskan sebelumnya dalam berbagai masalah.
ولو قال لامرأته أنت طالق مع آخر جزء من طهرك فللشافعي قول إن الانتقال من الطهر إلى الحيض قرءٌ معتد به فإن فرعنا على هذا فالطلاق سنّي لمصادفته الطهر وإفضائه إلى تقصير العدة وإن قلنا لا يعتد بذلك قرءاً فللأصحاب وجهان أقيسهما أن الطلاق بدعي لأنها تستقبل حيضة كاملة لا يعتد بها وإذا كنا نجعل الطلاق في أثناء الحيض بدعياً لأن بقية الحيض غيرُ معتد بها فلأن نقول الطلاق بدعي إذا استقبلت حيضة لا اعتداد بها أولى
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak pada bagian terakhir dari masa sucimu,” menurut pendapat Syafi‘i, perpindahan dari suci ke haid dihitung sebagai satu quru‘ yang diperhitungkan. Jika kita mengikuti pendapat ini, maka talak tersebut adalah talak sunni karena terjadi pada masa suci dan menyebabkan masa iddah menjadi lebih singkat. Namun jika kita berpendapat bahwa hal tersebut tidak dihitung sebagai satu quru‘, maka menurut para ulama terdapat dua pendapat, dan yang lebih kuat menurut qiyās adalah bahwa talak tersebut adalah talak bid‘i, karena istri akan memasuki satu masa haid penuh yang tidak diperhitungkan. Jika kita menganggap talak di tengah masa haid sebagai talak bid‘i karena sisa masa haid tidak diperhitungkan, maka lebih utama lagi untuk mengatakan bahwa talak tersebut adalah talak bid‘i jika istri memasuki satu masa haid yang tidak diperhitungkan.
وذهب بعض أصحابنا إلى أن الطلاق سني لمصادفته الطهر الذي لم يجرِ فيه جماع وهذا القائل يلتفت على التعبد واتباع التوقيف كما تقدم شرحه
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa talak tersebut adalah talak sunni karena terjadi pada masa suci yang belum terjadi hubungan suami istri di dalamnya. Pendapat ini berpijak pada aspek pengabdian dan mengikuti ketetapan syariat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فصل قال وإن كانت في طهر بعد جماعٍ إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan jika (talak) itu terjadi pada masa suci setelah berhubungan badan, hingga akhirnya.”
هذا الفصل مُصدَّر بقُطبٍ يتعلق بمقتضى الألفاظ فنقول الطلاق يُنجَّز ويُعلّق ثم تعليقه تارة يكون على صيغة الشرط وتارة يكون على صيغة التأقيت وهما جميعاً معدودان من التعليق فأما الشرط فهو الذي يتعلّق بما يجوز أن يكون ويجوز ألا يكون مثل أن يقول لامرأته أنت طالق إن دخلت الدار فهذا شرط محقق وأما التأقيت فمثل قول الزوج إذا استهل الهلال فأنت طالق فهذا تأقيتٌ وليس شرطاً فإن الشرط هو الذي لا يُقطع بوقوعه والتأقيت مبني على القطع في المتعلَّق وعن هذا قال سيبويه إذا قال القائل إذا قامت القيامة كان كذا وكذا فهذا إيمان بالقيامة وإذا قال إن قامت فهذا تردد في التصديق بها وعن هذا قال أئمة اللسان قول القائل إن طلع الفجر فأنت طالق كلامٌ معدول عن الوجه المستحسن فإن الفجر يطلع لا محالة وإذا قال إذا طلع الفجر فأنت طالق فهذا هو النظم الجاري في كلام الفصحاء
Bab ini diawali dengan pembahasan yang berkaitan dengan implikasi lafaz, maka kami katakan bahwa talak dapat dilakukan secara langsung (dengan segera) dan dapat pula digantungkan (ditangguhkan). Penggantungannya terkadang menggunakan bentuk syarat dan terkadang menggunakan bentuk penentuan waktu (ta’qīt), dan keduanya termasuk dalam kategori penggantungan (ta‘līq). Adapun syarat adalah sesuatu yang berkaitan dengan hal yang mungkin terjadi dan mungkin juga tidak terjadi, seperti seorang suami berkata kepada istrinya, “Kamu tertalak jika kamu masuk ke dalam rumah.” Ini adalah syarat yang pasti. Adapun penentuan waktu (ta’qīt) adalah seperti ucapan suami, “Jika hilal telah tampak, maka kamu tertalak.” Ini adalah penentuan waktu, bukan syarat. Sebab syarat adalah sesuatu yang belum pasti kejadiannya, sedangkan penentuan waktu didasarkan pada kepastian terjadinya sesuatu yang digantungkan. Mengenai hal ini, Sibawaih berkata, “Jika seseorang berkata, ‘Jika kiamat terjadi, maka begini dan begitu,’ maka itu adalah bentuk keimanan terhadap kiamat. Namun jika ia berkata, ‘Jika kiamat terjadi,’ maka itu menunjukkan keraguan dalam mempercayainya.” Para imam ahli bahasa juga mengatakan, ucapan seseorang, “Jika fajar terbit, maka kamu tertalak,” adalah ucapan yang menyimpang dari bentuk yang baik, karena fajar pasti akan terbit. Namun jika ia berkata, “Apabila fajar terbit, maka kamu tertalak,” maka inilah susunan kalimat yang lazim digunakan dalam bahasa para fasih.
وقد يجري الطلاق معللاً بعلة فحكم الطلاق أن يتنجّز ثبتت تلك العلة أو انتفت وبيانه أنه لو قال أنت طالق لرضا فلانٍ وزعم أنه أراد تعليل إيقاع الطلاق بالرضا فالطلاق ناجزٌ رضي ذلك الشخص أو سخط وذلك أن المعلِّل ليس يعلِّل الطلاق بالعلة وإنما يُنجِّز الطلاق ثم يبتدىء فيعلل تنجيزَه بسبب فالتعليل كلام مبتدأ لا ينشأ ليرتبط الطلاق به وجوداَّ وعدماً وسنذكر مسائل هذا الأصل إن شاء الله عز وجل
Terkadang talak dijatuhkan dengan disertai alasan tertentu. Hukum talak dalam hal ini adalah talak tersebut tetap terjadi, baik alasan itu terbukti maupun tidak. Penjelasannya, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak karena kerelaan si Fulan,” dan ia mengklaim bahwa maksudnya adalah menjadikan kerelaan itu sebagai alasan menjatuhkan talak, maka talak tersebut tetap jatuh, baik orang itu rela maupun tidak. Hal ini karena orang yang memberikan alasan sebenarnya tidak menjadikan talak itu bergantung pada alasan tersebut, melainkan ia menegaskan terjadinya talak, kemudian memulai memberikan alasan atas penegasan itu. Maka, alasan yang disebutkan hanyalah ucapan tambahan yang tidak menjadikan talak itu bergantung padanya, baik ada maupun tidak ada. Kami akan menyebutkan permasalahan terkait prinsip ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم نقول بعد هذا استعمال اللام في الأوقات محمول على التأقيت بالاتفاق وبيانه أنه إذا قال أنت طالق لهلال رمضان فهو بمثابة قوله إذا استهل هلال رمضان فأنت طالق والسبب فيه أن اللام مستعملة مع الأوقات للتأقيت بها وهذا شائع في لغة الفصحاء وهي أظهر من قول القائل إذا استهل الهلال فأنت طالق وينضم إلى ذلك أن تخيّل التعليل بالأوقات بعيد عن الوهم فإن التعليل إنما يقع بمثل السخط والرضا و ما في معناهما فأنتج مجموع ما ذكرناه أن اللام مع الوقت تأقيت
Kemudian kami katakan setelah ini bahwa penggunaan huruf “lām” pada waktu-waktu tertentu dimaknai sebagai penentuan waktu menurut kesepakatan. Penjelasannya adalah jika seseorang berkata, “Engkau tertalak karena hilal Ramadan,” maka itu sama dengan ucapannya, “Jika hilal Ramadan tampak, maka engkau tertalak.” Sebabnya adalah karena huruf “lām” digunakan bersama waktu-waktu untuk penentuan waktu, dan ini sudah umum dalam bahasa para fasih, bahkan lebih jelas daripada ucapan seseorang, “Jika hilal tampak, maka engkau tertalak.” Selain itu, menganggap adanya ta‘līl (alasan) dengan waktu-waktu sangat jauh dari anggapan, karena ta‘līl biasanya terjadi dengan hal-hal seperti marah, ridha, dan yang semakna dengannya. Maka, dari semua yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa huruf “lām” yang berkaitan dengan waktu bermakna penentuan waktu.
وإذا قال الرجل لامرأته التي تعتورها حالةُ السنة والبدعة أنت طالق للسُّنة نُظر فإن كانت في زمان سُنَّة وهو طهر لم يجامعها فيه انتجز الطلاق في الحال وهو بمثابة ما لو قال عند الاستهلال أنت طالق لهلال رمضان فيقع الطلاق مع الهلال
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang mengalami keadaan antara sunnah dan bid‘ah, “Engkau tertalak secara sunnah,” maka dilihat keadaannya: jika itu terjadi pada waktu yang sesuai dengan sunnah, yaitu pada masa suci yang belum digauli, maka talak langsung jatuh saat itu juga. Hal ini serupa dengan jika seseorang berkata saat awal bulan, “Engkau tertalak pada awal Ramadan,” maka talak jatuh bersamaan dengan datangnya awal bulan Ramadan.
وإذا قال لامرأته في زمان الحيض أنت طالق للسُّنة لم تطلق في الحال حتى تطهر ثم تُطلَّق فتحمل اللام على التأقيت بوقت السنة كما قدمنا ذلك في إضافة اللام إلى الأوقات والسبب فيه أن اعتوار زماني السنة والبدعة على المرأة يُظهر قصدَ التأقيت من اللام
Dan jika seorang suami berkata kepada istrinya pada masa haid, “Engkau aku talak sesuai sunnah,” maka talak tidak terjadi saat itu juga hingga ia suci, kemudian baru jatuh talak. Maka huruf “lam” di sini dibawa pada makna penentuan waktu sesuai sunnah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya tentang penyandaran “lam” pada waktu-waktu tertentu. Sebabnya adalah karena pergantian antara waktu sunnah dan waktu bid‘ah pada seorang wanita menunjukkan maksud penentuan waktu dari penggunaan “lam” tersebut.
وكذلك لو قال لها أنت طالق للبدعة وكانت في زمان الحيض أو كانت في طهر جامعها الزوج فيه فالطلاق ينتجز ولو قال لها وهي في طهرٍ لم يجامعها فيه أنت طالق للبدعة لم ينتجز الطلاق حتى تصير إلى زمان البدعة فإن لم يجامعها فحاضت طُلِّقت وإن جامعها في ذلك الطهر فقد انتهت إلى زمان البدعة فتطلق أيضاً كما سنفصل هذا في آخر الفصل إن شاء الله تعالى
Demikian pula, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau ditalak talak bid‘ah,” sementara ia sedang dalam masa haid atau dalam masa suci yang telah digaulinya oleh suaminya, maka talak tersebut langsung jatuh. Namun, jika ia mengucapkan kepada istrinya yang sedang dalam masa suci dan belum digauli dalam masa suci itu, “Engkau ditalak talak bid‘ah,” maka talak belum langsung jatuh hingga ia memasuki masa bid‘ah. Jika suaminya tidak menggaulinya lalu ia mengalami haid, maka ia ditalak. Namun jika suaminya menggaulinya dalam masa suci itu, maka ia telah memasuki masa bid‘ah, sehingga talak juga jatuh, sebagaimana akan kami rinci pada akhir bab ini, insya Allah Ta‘ala.
والغرض الآن أن نبين أن قول الزوج أنت طالق للسنة وللبدعة محمول على التأقيت لا على التعليل
Tujuan sekarang adalah untuk menjelaskan bahwa ucapan suami “engkau ditalak secara sunnah” atau “engkau ditalak secara bid‘ah” itu dimaknai sebagai penentuan waktu, bukan sebagai penjelasan sebab.
ولو قال لامرأة لا يتصور فيها سنة ولا بدعة من النسوة الخمس اللواتي قدمنا ذكرهن أنت طالق للسنة انتجزت الطلقة في الحال وكذلك لو قال لها أنت طالق للبدعة انتجزت الطلقة ولم نرتقب فيها المصير إلى حالة السنة والبدعة وبيان ذلك بالتصوير أنه إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق للسنة أو للبدعة فلا يحمل الأمر على تقدير دخول ومصيرٍ بعده إلى التعرض لطوارىء السنة والبدعة وإن لم يكن هذا بعيداً عن التوقّع والانتظار
Jika seseorang berkata kepada seorang wanita yang tidak mungkin berlaku padanya talak sunnah maupun talak bid‘ah, yaitu salah satu dari lima wanita yang telah kami sebutkan sebelumnya, “Engkau tertalak dengan talak sunnah,” maka talak itu langsung jatuh saat itu juga. Demikian pula jika ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” maka talak itu juga langsung jatuh dan kita tidak menunggu sampai wanita itu berada dalam keadaan yang memungkinkan terjadinya talak sunnah atau talak bid‘ah. Penjelasan hal ini dengan ilustrasi: jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum pernah digauli, “Engkau tertalak dengan talak sunnah” atau “dengan talak bid‘ah,” maka tidak dimaknai bahwa ucapan itu tergantung pada kemungkinan terjadinya hubungan suami-istri dan kemudian menunggu datangnya keadaan yang memungkinkan terjadinya talak sunnah atau talak bid‘ah, meskipun hal itu tidak mustahil untuk diharapkan atau ditunggu.
وقد نص العراقيون على أنه إذا قال لها إذا صرت من أهل السنة فأنت طالق ولم يكن مدخولاً بها فالطلاق لا ينتجز بل يرقب الدخولَ والمصيرَ إلى حالة السنة
Orang-orang Irak telah menegaskan bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu menjadi penganut Ahlus Sunnah maka kamu tertalak,” dan istrinya belum digauli, maka talak tersebut tidak langsung jatuh, melainkan menunggu terjadinya hubungan suami istri dan perubahan keadaan menjadi Ahlus Sunnah.
فإن قيل إذا كان هذا غيرَ بعيد عن التوقع فهلا حملتم قولَ الزوج عليه قلنا حمل السنة والبدعة على الوقت إنما يظهر في التي تتصدّى لهما وتتعرض لاعتوارهما عليها فيصيران في حقها كاعتقاب الجديدين وتوالي الليل والنهار فيستبق إلى الفهم والحالة هذه إرادة الوقت واللامُ في وضعها للتعليل وإنما تستعمل في الوقت إذا قُرنت بذكر الوقت أو قرنت بما يمرّ ويجري جريان الوقت وإلا فالسنة والبدعة لفظتان مستعملتان في الشرع لا جريان لهما في اللغة وإنما استعملتا شرعاً على الخصوص فلا يُعدَّى بهما موضعهما ولا تحمل اللام في حق من يعتورها السنة والبدعة على التأقيت وصرح الأئمة لفظاً وفحوى بما يدل على أن من قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق للسنة فلا يقبل ذلك منه ظاهراً بل يديّن باطناً كما سنذكره في باب أصل التديين وإنما لم نقبل ما ذكره باطناً لظهور اللام في التعليل وانعدام القرينة في اقتضاءِ التأقيت
Jika dikatakan, “Jika hal ini tidak jauh dari kemungkinan, mengapa kalian tidak menafsirkan ucapan suami berdasarkan hal itu?” Kami jawab: Menafsirkan sunnah dan bid‘ah dengan waktu hanya tampak pada perempuan yang memang menghadapi keduanya dan terpengaruh olehnya, sehingga keduanya bagi dirinya seperti pergantian antara dua hal baru dan berurutan seperti siang dan malam. Dalam keadaan seperti ini, yang terlintas dalam pemahaman adalah maksud waktu, dan huruf lām dalam penggunaannya untuk sebab (ta‘līl). Ia hanya digunakan untuk waktu jika disertai penyebutan waktu atau disertai sesuatu yang berjalan dan berlangsung seperti waktu. Adapun sunnah dan bid‘ah adalah dua istilah yang digunakan dalam syariat dan tidak berlaku dalam bahasa (umum), melainkan digunakan secara khusus dalam syariat. Maka, tidak boleh mengalihkan keduanya dari makna asalnya, dan tidak boleh menafsirkan lām pada orang yang mengalami sunnah dan bid‘ah sebagai penunjuk waktu. Para imam telah menegaskan secara lafaz dan makna bahwa siapa yang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau tertalak karena sunnah,” maka hal itu tidak diterima secara lahiriah, melainkan ia diminta bertanggung jawab secara batin, sebagaimana akan kami sebutkan dalam bab asal tadyīn. Kami tidak menerima apa yang disebutkan secara batin karena jelasnya lām sebagai penunjuk sebab (ta‘līl) dan tidak adanya indikasi yang menunjukkan makna waktu.
ولو قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق لوقت السُّنّة فهذا فيه تردد عندي من حيث صرح بالوقت يجوز أن يقال قوله لوقت السنة كقوله للسنة ويجوز أن يقال إن فسر لفظه بمصيرها إلى حالة السنة يقبل ذلك منه ويجوز أن يقال إن فسره بالطهر وفسر وقت البدعة بالحيض وإن لم يكن دخول قبل ذلك منه ولو أطلق اللفظ وزعم أنه لم يكن له نية فالظاهر وقوع الطلاق
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau tertalak pada waktu sunnah,” maka dalam hal ini terdapat keraguan menurutku. Karena ia telah menyebutkan waktu secara jelas, bisa jadi dikatakan bahwa ucapannya “pada waktu sunnah” seperti ucapannya “karena sunnah”. Bisa juga dikatakan bahwa jika ia menafsirkan ucapannya dengan maksud menjadikan istrinya dalam keadaan sesuai sunnah, maka hal itu dapat diterima darinya. Bisa juga dikatakan bahwa jika ia menafsirkannya dengan masa suci, dan menafsirkan waktu bid‘ah dengan masa haid, maka talak tidak terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri. Namun, jika ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak dan mengaku tidak memiliki niat tertentu, maka yang tampak adalah talak jatuh.
فليتأمل الناظر المسالة فإنها محتملة
Maka hendaklah orang yang menelaah masalah ini memperhatikannya dengan saksama, karena masalah ini masih memungkinkan adanya beberapa kemungkinan.
ولو قال لامرأته أنت طالق لرضا فلان فإن زعم أنه أراد بما قال تعليلاً وقع الطلاق ناجزاً سواء رضي فلان أم سخط على ما قررناه في أصل التعليل
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak karena ridha Fulan,” lalu ia mengaku bahwa maksud ucapannya adalah sebagai penjelasan sebab (ta‘līl), maka talak jatuh secara langsung, baik Fulan itu ridha maupun tidak, sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan asal tentang ta‘līl.
ولو أطلق لفظه وزعم أنه لم يرد تعليلاً ولا تأقيتاً انتجز الطلاق فإن صيغة اللفظ تقتضي تنجيزها ولم يظهر ما يدفع التنجيز
Jika seseorang mengucapkan lafaz talak secara mutlak dan mengklaim bahwa ia tidak bermaksud sebagai alasan (ta‘līl) maupun pembatasan waktu (taqyīd), maka talak tersebut langsung jatuh, karena bentuk lafaz tersebut menuntut terjadinya talak secara langsung dan tidak tampak sesuatu yang menolak terjadinya talak seketika.
ولو زعم أنه أراد التعليق بوقت رضا زيد فهذا مقبول باطناً إن صُدِّق فهل يقبل ذلك منه ظاهراً فعلى وجهين ذكرهما الصيدلاني أحدهما أنه لا يقبل منه فإن الرضا ليس مما يؤقت به وهو مما يعلل به فكان التعليلُ أظهرَ وإذا غلب التعليل كان موجبه انتجاز الطلاق
Jika ia mengklaim bahwa ia bermaksud menggantungkan (talak) pada waktu ridha Zaid, maka hal ini dapat diterima secara batiniah jika ia dipercaya. Namun, apakah hal itu dapat diterima secara lahiriah? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh As-Saidalani. Salah satunya adalah tidak diterima darinya, karena ridha bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan waktunya, melainkan sesuatu yang dijadikan alasan. Maka, penjelasan dengan alasan lebih jelas. Jika alasan lebih dominan, maka akibatnya talak menjadi langsung jatuh.
والوجه الثاني أن ما قاله مقبول ظاهراً فإنه مُحْتَمَل غيرُ بعيد فإذا لم يَبْعُد ما قال صُدِّق وسيأتي ضبط هذه الأبواب إن شاء الله عز وجل على ما ينبغي
Adapun sisi kedua, apa yang ia katakan dapat diterima secara lahiriah, karena hal itu masih mungkin dan tidak terlalu jauh. Jika apa yang dikatakan tidak terlalu jauh, maka diterima. Penjelasan tentang bab-bab ini akan dijelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana mestinya.
ثم قال الصيدلاني إذا قال أنت طالق لقدوم فلان فمطلق هذا محمول على التأقيت فإنه يَظهر التأقيت بالقدوم ويبعد التعليل به بخلاف الرضا
Kemudian ash-Shaydalani berkata: Jika seseorang mengatakan, “Engkau tertalak karena kedatangan si Fulan,” maka talak ini dianggap sebagai talak yang dibatasi waktu, karena tampak adanya pembatasan waktu dengan kedatangan tersebut dan kecil kemungkinan hal itu dimaksudkan sebagai alasan, berbeda dengan kerelaan.
ثم ينتظم من هذه الجملة أن اللام مع الوقت تأقيت وهو مع الرضا وما في معناه مما يُتخيل التعليل به تعليلٌ في الإطلاق
Dari keseluruhan uraian ini dapat disimpulkan bahwa huruf “lām” yang berkaitan dengan waktu menunjukkan pembatasan waktu, sedangkan pada kerelaan dan hal-hal yang sejenis dengannya yang dapat dibayangkan sebagai alasan, maka “lām” tersebut bermakna ta‘līl secara mutlak.
وإن أريد به التأقيت صُدق المرء باطناً وهل يصدق ظاهراً فعلى وجهين
Jika yang dimaksud adalah pembatasan waktu, maka seseorang dianggap jujur secara batin, dan apakah ia juga dianggap jujur secara lahiriah, terdapat dua pendapat.
وما يظهر التأقيت به ينقسم إلى ما يتكرر بتكرر الزمان كالسُّنّة والبدعة وإلى ما لا يتكرر تكرر الأزمان كقدوم زيد
Apa yang tampak sebagai penentuan waktu terbagi menjadi dua: ada yang berulang seiring berulangnya waktu seperti sunnah dan bid‘ah, dan ada yang tidak berulang seiring berulangnya waktu seperti kedatangan Zaid.
فأما ما يتكرر تكرر الأزمان وَيَكُرّ كُرورَها فمطلق اللام فيه للتأقيت كقول الرجل للمرأة التي هي بصدد السُّنة والبدعة أنت طالق للسُّنّة أو للبدعة هذا للتأقيت كما ذكرناه
Adapun sesuatu yang berulang seiring berulangnya waktu dan kembali sebagaimana waktu itu kembali, maka huruf “lām” di dalamnya bermakna pembatasan waktu, seperti ucapan seorang laki-laki kepada perempuan yang berada dalam masa iddah sesuai sunnah atau bid‘ah: “Engkau tertalak karena sunnah” atau “karena bid‘ah”; ini bermakna pembatasan waktu sebagaimana telah kami sebutkan.
وأما ما يظهر فيه قصد التأقيت ولا يكرّ كرورَ الزمان كقول القائل أنت طالق لقدوم زيد وزيدٌ غير قادم وإنما يُنتظر قدومُه فالذي قطع به الصيدلاني أن مطلق ذلك تأقيت ولم أر في الطرق ما يخالف هذا وهو متجِهٌ فلا مزيد عليه
Adapun perkara yang tampak padanya adanya maksud pembatasan waktu dan tidak berulang seiring berjalannya waktu, seperti ucapan seseorang, “Engkau tertalak karena kedatangan Zaid,” sementara Zaid belum datang dan hanya sedang dinantikan kedatangannya, maka menurut pendapat tegas yang dikemukakan oleh As-Saidalani, setiap bentuk ucapan seperti itu adalah pembatasan waktu (taqyid). Aku tidak menemukan dalam berbagai riwayat pendapat yang berbeda dari hal ini, dan pendapat tersebut memang kuat, sehingga tidak perlu ditambah lagi.
ولو قال لامرأته أنت طالق لدخول الدار فالظاهر أن مطلق هذا محمول على التعليل وإن زعم أنه أراد بذلك تأقيتاً فهو قريب من قوله أنت طالق لرضا فلان مع زعمه أنه أراد بذلك تأقيتاً وتعليقاً بوقت الرضا ومعنى التعليق في الرضا قد يغلب وإن أمكن أن يُتخيل في دخول الدار فالوجه ألا يُفرّق بين البابين
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak karena masuk rumah,” maka yang tampak adalah bahwa ungkapan ini dianggap sebagai bentuk ta‘līl (penyandaran sebab), dan jika ia mengklaim bahwa maksudnya adalah pembatasan waktu, maka hal itu mirip dengan ucapannya, “Engkau tertalak karena kerelaan si Fulan,” sementara ia mengaku bahwa maksudnya adalah pembatasan waktu dan pengaitan dengan waktu kerelaan tersebut. Makna ta‘līq (pengaitan) pada kerelaan bisa lebih dominan, meskipun mungkin dapat dibayangkan juga pada kasus masuk rumah. Maka yang tepat adalah tidak membedakan antara kedua permasalahan tersebut.
هذا هو الضبط في استعمال اللام فيما نحن فيه من السنة والبدعة وفيما في معناه
Inilah ketentuan dalam penggunaan huruf lām dalam konteks yang sedang kita bahas mengenai sunah dan bid‘ah serta dalam hal-hal yang serupa dengannya.
وذكر الشيخ أبو علي في شرح التلخيص أنه إذا قال للتي لا سنة فيها ولا بدعة أنت طالق للسنة انتجز الطلاق للسنة كما ذكره الأصحاب
Syekh Abu Ali menyebutkan dalam Syarh at-Talkhish bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya yang tidak ada sunnah maupun bid‘ah padanya, “Engkau tertalak secara sunnah,” maka talak secara sunnah langsung terjadi, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.
ولو قال أنت طالق للبدعة فالمذهب أن الطلاق ينتجز كما ذكرناه عن الأصحاب وحكى عن الأصحاب وجهاً أنا ننتظر مصيرها إلى حالة البدعة فإن طلاق السُّنَّة يمكن حمله على ما يسوغ وأما طلاق البدعة فلا مساغ له إذا لم تكن المرأة من أهل البدعة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” maka menurut mazhab, talak tersebut langsung terjadi sebagaimana telah kami sebutkan dari para ulama. Namun, dari para ulama juga terdapat pendapat bahwa kita menunggu hingga istri berada dalam keadaan bid‘ah. Sebab, talak sunah masih mungkin ditafsirkan kepada sesuatu yang diperbolehkan, sedangkan talak bid‘ah tidak ada jalan baginya jika perempuan tersebut bukan termasuk orang yang berada dalam keadaan bid‘ah.
قال الشيخ والصحيح وما عليه الأئمة أنه يقع الطلاق في الموضعين سواء وصف الطلاق بالسنة أو البدعة
Syekh berkata, pendapat yang benar dan yang dianut oleh para imam adalah bahwa talak terjadi pada kedua keadaan, baik talak itu digambarkan sebagai talak sunnah maupun talak bid‘ah.
ثم نعود إلى تفصيل الطلاق السني والبدعي في حق التي يُتصور في حقها السنة والبدعة فإذا قال لامرأته وهي في طهر لم يجامعها فيه أنت طالق للسنة وقع الطلاق فانطبق انتجازه على وقت السنة وإن كانت في حالة الحيض لم تطلق حتى ينقضي حيضها وتشرع في الطهر فإذا شرعت فيه وقع الطلاق مع أول جزء من الطهر ولا يتوقف وقوعه على أن تغتسل خلافاً لأبي حنيفة ولا فرق عندنا بين أن يكون حيضتها منقطعة على أكثر الحيض أو على أقله أو أغلبه
Kemudian kita kembali pada perincian tentang talak sunni dan bid‘ah bagi wanita yang memungkinkan diterapkan padanya hukum sunni dan bid‘ah. Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sedang dalam masa suci dan belum digaulinya, “Engkau tertalak secara sunni,” maka talak pun jatuh, sehingga pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang disunnahkan. Namun, jika istrinya sedang haid, maka talak tidak jatuh hingga masa haidnya selesai dan ia memasuki masa suci. Ketika ia mulai berada dalam masa suci, talak pun jatuh pada bagian pertama dari masa suci tersebut, dan tidak disyaratkan menunggu hingga ia mandi, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Tidak ada perbedaan menurut kami apakah haidnya terputus pada masa maksimal, minimal, atau kebanyakan masa haid.
ولو قال لها أنت طالق للبدعة فإن كانت في حالة البدعة وقع في الحال وإلا فحتى تصير إلى حالة البدعة فلو كانت في طهر لم يجامعها فيه وقد قال لها أنت طالق للبدعة فإن كان خلاّها ولم يجامعها حتى حاضت طلقت مع أول جزءٍ من الحيض
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” maka jika istrinya sedang dalam keadaan bid‘ah, talak jatuh seketika itu juga. Namun jika tidak, maka talak baru jatuh ketika istrinya masuk ke keadaan bid‘ah. Maka jika istrinya sedang dalam masa suci yang belum digaulinya, lalu ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” kemudian ia membiarkannya tanpa menggaulinya hingga istrinya haid, maka talak jatuh pada awal masa haid tersebut.
وإن كان قال لها ذلك وهي في طهر لم يجامعها فيه فلو جامعها في هذا الطهر قبل أن تحيض وقع الطلاق كما غيب الحشفة فإنها انتهت إلى وقت البدعة
Jika ia mengucapkan hal itu kepada istrinya saat ia dalam masa suci yang belum digaulinya, lalu ia menggaulinya dalam masa suci tersebut sebelum istrinya haid, maka talak tetap jatuh ketika terjadi penetrasi, karena ia telah sampai pada waktu bid‘ah.
ثم الكلام مفروض فيه إذا كان الطلاق المعلَّق رجعياً فينظر فإن أَخْرجَ ثم أولج فالحد لا يجب لأنها رجعية والمهر سيأتي مفصلاً في كتاب الرجعة وعقد المذهب فيه أنه إذا وطىء الرجعية وتركها حتى انسرحت التزم مهر مثلها وإن راجعها ففي المسالة وجهان
Kemudian pembahasan ini dimaksudkan jika talak yang digantungkan itu adalah talak raj‘i, maka diperhatikan: jika ia mengeluarkan (kemaluannya) lalu memasukkannya kembali, maka hadd tidak wajib karena ia masih dalam masa raj‘i, dan masalah mahar akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab Raj‘ah. Menurut pendapat mazhab, jika seseorang menyetubuhi istri yang dalam masa raj‘i lalu meninggalkannya hingga habis masa iddah, maka ia wajib membayar mahar mitsil (mahar yang sepadan). Namun jika ia merujuk istrinya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
هذا ظاهر المذهب وأصله وسيأتي ذلك مشروحاً في كتاب الرجعة إن شاء الله عز وجل كذلك إذا غيب الحشفة ووقع الطلاق ثم نزع وأعاد فأولج فهذا جماع مستحدث صادف رجعية
Ini adalah pendapat yang jelas dari mazhab dan merupakan dasarnya, dan hal ini akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab ar-Ruj‘ah, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula, jika seseorang telah memasukkan hasyafah, lalu terjadi talak, kemudian ia mencabut dan mengulangi serta memasukkan kembali, maka ini adalah jima‘ yang baru yang terjadi pada masa iddah raj‘iyyah.
ولو أولج الحشفة أول مرة وحكمنا بوقوع الطلاق فمكث أو تمم الإيلاج فلا شك أن الحد لا يجب لأنه مخالطٌ رجعية فأما المهر فقد سكت الشافعي عن ذكر وجوب المهر هاهنا ونص على أنه إذا أصبح المكلف مجامعاً في نهار رمضان ولم ينزع تلزمه الكفارة والنصان في ظاهر الأمر مختلفان قول الشافعي هاهنا يدل على أن المكث والاستدامة لا يكون بمثابة النزع والإعادة ونص الشافعي في الصيام مصرح بأن الاستدامة بمثابة ابتداء الجماع
Jika seseorang memasukkan hasyafah untuk pertama kali dan kami memutuskan bahwa talak telah jatuh, lalu ia diam atau melanjutkan penetrasi, maka tidak diragukan lagi bahwa hadd tidak wajib karena ia sedang bercampur dengan istri yang masih dalam masa rujuk. Adapun mengenai mahar, Imam Syafi’i tidak menyebutkan kewajiban mahar di sini, namun beliau menegaskan bahwa jika seseorang yang mukallaf berjima‘ di siang hari bulan Ramadan dan tidak segera menarik diri, maka ia wajib membayar kafarah. Kedua nash ini, secara lahiriah, tampak berbeda. Pendapat Imam Syafi’i di sini menunjukkan bahwa diam dan melanjutkan (jima‘) tidak sama dengan menarik diri lalu mengulangi, sedangkan nash Imam Syafi’i dalam masalah puasa secara tegas menyatakan bahwa melanjutkan (jima‘) itu sama dengan memulai jima‘.
وقد ذكر القاضي هاهنا طريقين للأصحاب قال منهم من قال في المهر والكفارة قولان أحدهما أنهما يجبان تنزيلاً للاستدامة منزلة الابتداء والثاني لا تجب الكفارة ولا المهر
Di sini, Qadhi menyebutkan dua pendapat ulama mazhab. Sebagian dari mereka berkata bahwa dalam masalah mahar dan kafarat terdapat dua pendapat: yang pertama, keduanya wajib dengan menjadikan kelanjutan (akad) setara dengan permulaan; dan yang kedua, kafarat dan mahar tidak wajib.
توجيه القولين من لم يوجبهما قال الجماع واحد فلا ينقسم حكمه ولم يتعلق بأوله كفارة ولا مهر فلا يتعلق بالدوام ما لم يتعلق بالابتداء
Penjelasan dua pendapat: Orang yang tidak mewajibkan keduanya (kafarat dan mahar) berpendapat bahwa jima‘ (hubungan suami istri) adalah satu kesatuan sehingga hukumnya tidak terbagi-bagi, dan pada permulaannya tidak terkait kewajiban kafarat maupun mahar, maka pada kelanjutannya pun tidak terkait apa pun selama pada permulaannya tidak ada ketentuan demikian.
ومن قال بالقول الثاني قال صورة الجماع موجودة بعد وقوع الطلاق وطلوع الفجر قال القاضي ومن أصحابنا من لم يوجب المهر هاهنا وأوجب الكفارة وأقر النصين على ظواهرهما وفرق بأن قال الزوج إذا وطىء زوجته وقع الطلاق بأول وطءٍ وهذا الوطء قد تعلق به المهر من جهة أن مهر النكاح يشمل على الوطآت كلها فوقع الاكتفاء باشتمال ذلك المهر على هذه الوطأة والوطأة الواحدة لا يتعلق بها مهران والوطء في حكم الكفارة ليس في هذا المعنى فإنه لم يتعلق بأوّله كفارة وقد وجدت صورته في وقت العبادة ومن أصلنا أن الجماع المانع من الصيام كالجماع القاطع للصيام فهذا وجه الفرق
Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua mengatakan bahwa bentuk jima‘ (hubungan suami istri) terjadi setelah jatuhnya talak dan terbit fajar. Al-Qadhi berkata, di antara ulama kami ada yang tidak mewajibkan mahar dalam kasus ini, tetapi mewajibkan kafarat, dan membiarkan kedua nash pada makna zahirnya. Ia membedakan dengan mengatakan: jika suami menggauli istrinya, maka talak jatuh pada jima‘ yang pertama, dan jima‘ ini telah terkait dengan mahar karena mahar pernikahan mencakup seluruh jima‘, sehingga cukup dengan mahar tersebut untuk mencakup jima‘ ini, dan satu kali jima‘ tidak terkait dengan dua mahar. Adapun jima‘ dalam hukum kafarat tidak demikian, karena pada awalnya tidak terkait dengan kafarat, dan bentuknya terjadi pada waktu ibadah. Dan menurut prinsip kami, jima‘ yang membatalkan puasa itu sama dengan jima‘ yang memutuskan puasa. Inilah letak perbedaannya.
وما ذكره القاضي من تخريج نفي الكفارة غريب في النقل وإن كان متجهاً
Apa yang disebutkan oleh al-Qadhi mengenai istinbat tidak adanya kewajiban kafarat adalah hal yang asing dalam riwayat, meskipun secara argumentasi dapat diterima.
وما ذكرناه في المهر فيه إذا استدام الوطء ووقع التصوير فيه إذا كنا نوجب المهر عند النزع والإعادة ثم نتردد في أن الاستدامة هل تكون بمثابة النزع والإعادة
Apa yang telah kami sebutkan mengenai mahar berlaku jika hubungan suami istri dilanjutkan, dan permasalahan muncul ketika kita mewajibkan mahar pada saat pencabutan dan pengulangan, kemudian kita ragu apakah kelanjutan hubungan itu sama kedudukannya dengan pencabutan dan pengulangan.
ولو أصبح وهو مخالط أهله ثم قرن بأول الإصباح النزعَ فلا كفارة ولا فطر كما قدمناه في كتاب الصيام
Jika seseorang memasuki waktu subuh dalam keadaan masih bercampur dengan istrinya, lalu tepat saat masuk waktu subuh ia menarik diri, maka tidak ada kewajiban kafarat dan tidak pula batal puasanya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Puasa.
ولو وقع الطلاق في الصورة التي نحن فيها وكما وقع نزع ولم يعرّج فالأصحاب متفقون على أن المهر لا يجب لأن النزع انكفاف عن العمل ولا يتعلق بالانكفاف عن العمل ما يتعلق بالإقدام عليه
Jika terjadi talak dalam situasi yang sedang kita bahas ini, dan sebagaimana yang terjadi adalah suami mencabut (alat kelamin) tanpa berhenti sejenak, maka para ulama sepakat bahwa mahar tidak wajib, karena pencabutan itu merupakan bentuk menghentikan perbuatan, dan tidak ada ketentuan yang berkaitan dengan menghentikan perbuatan sebagaimana yang berkaitan dengan memulai perbuatan tersebut.
ومما يتعلق بما نحن فيه أنه لو قال لامرأته في الطهر الذي لم يجامعها فيه أنت طالق ثلاثاً للبدعة ثم جامعها فكما غابت الحشفة طلقت ثلاثاً ثم ننظر فإن أخرج ثم أولج فهذا إيلاج بعد وقوع الثلاث وهو موجب للحد مع العلم بحقيقة الحال وإن مكث أو تمم الإيلاج مع العلم بوقوع الطلاق فظاهر المذهب أنه لا حد عليهما فإن الوطأة لا يتبعض حكمها والحد لم يتعلق بأول هذه الوطأة فلا يتعلق بدوامها
Terkait dengan pembahasan kita, jika seorang suami berkata kepada istrinya pada masa suci yang belum digaulinya, “Engkau tertalak tiga secara bid‘ah,” lalu ia menggaulinya, maka begitu kepala zakar masuk, jatuhlah talak tiga. Kemudian kita perhatikan, jika ia mengeluarkan lalu memasukkan kembali, maka ini adalah penetrasi setelah jatuhnya talak tiga, sehingga wajib dikenakan had jika mengetahui hakikat keadaannya. Namun, jika ia diam atau menyempurnakan penetrasi dengan mengetahui bahwa talak telah jatuh, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, keduanya tidak dikenai had, karena hubungan intim tidak dapat dipisah-pisahkan hukumnya, dan had tidak berkaitan dengan awal hubungan tersebut, maka tidak pula berkaitan dengan kelanjutannya.
وذهب بعض أصحابنا إلى إيجاب الحد فإن صورة الوطء ثابتة مع القطع بالتحريم ولو غيّب الحشفة واستدام وتمم الإيلاج كما صورنا فإن أوجبنا الحد لم يجب المهر وإن لم نوجب الحد فالمهر على الخلاف الذي تقدم
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat wajibnya hudud, karena bentuk perbuatan zina telah terjadi disertai keyakinan akan keharamannya. Jika seseorang telah memasukkan hasyafah, melanjutkan, dan menyempurnakan penetrasi sebagaimana telah kami gambarkan, maka jika kami mewajibkan hudud, tidak wajib membayar mahar. Namun jika kami tidak mewajibkan hudud, maka kewajiban mahar kembali kepada perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
ولو وقع الثلاث بالتغييب كما صورنا ونزع كما وقع فلا حد ولا مهر لما ذكرناه من أن الانكفاف عن الفعل لا يحل محل الإقدام عليه
Jika talak tiga terjadi dengan hanya memasukkan (tanpa berlanjut), sebagaimana yang telah kami gambarkan, lalu mencabutnya sebagaimana yang terjadi, maka tidak ada hudud dan tidak ada mahar, karena seperti yang telah kami sebutkan bahwa menahan diri dari melakukan perbuatan tidak dapat menggantikan tindakan melakukannya.
ولو قال لامرأته وهي في زمان البدعة أنت طالق للسُّنّة في هذا الوقت وأشار إلى وقت البدعة وقع الطلاق ولغا التقييد بالسنة لأن الإشارة أغلب في هذا المقام من العبارة
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sedang dalam masa bid‘ah, “Engkau tertalak secara sunah pada waktu ini,” dan ia menunjuk kepada waktu bid‘ah tersebut, maka talak jatuh dan pembatasan dengan sunah menjadi tidak berlaku, karena penunjukan (isyarat) dalam konteks ini lebih kuat daripada ungkapan (lafaz).
فهذا تفصيل القول وترتيبه في ذكر السُّنة والبدعة
Inilah penjelasan rinci dan urutannya dalam menyebutkan sunnah dan bid‘ah.
فصل قال ولو كان قال في كل قرءٍ واحدة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Seandainya ia mengatakan pada setiap quru’ satu kali hingga selesai.”
قد ذكرنا من أصل الشافعي رضي الله عنه أنه ليس في جمع الطلقات وتفريقها سُنَّة ولا بدعة ونقول على موجب هذا إذا قال لامرأته أنت طالق ثلاثاً للسنة وكانت في زمان السُّنّة ولفظُه مطلق فالطلاق الثلاث ينتجز في الحال وكذلك لو كانت في زمان البدعة فقال أنت طالق ثلاثاً للبدعة فلا أثر لذكر البدعة في الثلاث كما لا أثر لذكر السنة واللفظ مطلق
Telah kami sebutkan dari pendapat pokok Imam Syafi‘i rahimahullah bahwa tidak ada sunnah maupun bid‘ah dalam mengumpulkan atau memisahkan talak. Dan kami katakan berdasarkan hal ini, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali secara sunnah,” dan itu terjadi pada masa yang sesuai dengan sunnah, serta ucapannya bersifat mutlak, maka talak tiga tersebut langsung jatuh saat itu juga. Demikian pula jika itu terjadi pada masa bid‘ah, lalu ia berkata, “Engkau tertalak tiga kali secara bid‘ah,” maka penyebutan bid‘ah dalam talak tiga tidak berpengaruh, sebagaimana penyebutan sunnah juga tidak berpengaruh, selama ucapannya bersifat mutlak.
ولو زعم أنه أراد بقوله أنت طالق ثلاثاً للسنّة تفريقَ ثلاث طلقات على ثلاثة أقراء فهل يقبل ذلك منه ظاهراً أم باطناً وكيف التفصيل فيه هذا سنذكره في آخر الفصل مع إمكان البيان في التديين إن شاء الله تعالى
Jika seseorang mengklaim bahwa maksud ucapannya “engkau tertalak tiga” adalah talak tiga menurut sunnah, yaitu dengan memisahkan tiga talak pada tiga masa suci, apakah klaim tersebut diterima secara lahiriah atau batiniah, dan bagaimana rincian permasalahannya? Hal ini akan kami sebutkan di akhir bab, dengan kemungkinan penjelasan dalam urusan keagamaan, insya Allah Ta‘ala.
ولو قال أنت طالق ثلاثاً في كل قُرء طلقة فالقرء في قاعدة المذهب عند الشافعي طهر بين حيضتين هذا هو الأصل فإذا قال أنت طالق ثلاثاً في كل قرء واحدة فلا تخلو المرأة إما أن تكون مدخولاً بها أو تكون غير مدخول بها
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga, pada setiap qur’ satu talak,” maka qur’ menurut kaidah mazhab Syafi‘i adalah masa suci di antara dua haid, inilah asalnya. Jika ia berkata, “Engkau tertalak tiga, pada setiap qur’ satu talak,” maka perempuan itu tidak lepas dari dua keadaan: apakah ia sudah digauli atau belum digauli.
فإن لم تكن مدخولاً بها وكانت من ذوات الحيض نظر فإن كانت في حال الطهر وقعت عليها طلقة وبانت
Jika ia belum pernah digauli dan termasuk perempuan yang mengalami haid, maka dilihat: jika ia dalam keadaan suci, jatuhlah satu talak atasnya dan ia menjadi terpisah.
وإن كانت في حالة الحيض لم يقع في الحال شيء فإن اسم القرء لا ينطلق على الحيض عند الشافعي فإذا انقطع دمُها وشرعت في الطهر وقعت الطلقة وبانت وإن تركها لم يَلْحَقْها إلا تلك الطلقة
Jika ia dalam keadaan haid, maka tidak terjadi apa-apa saat itu juga, karena istilah “qur’” menurut Imam Syafi’i tidak berlaku untuk haid. Jika darahnya telah berhenti dan ia mulai dalam masa suci, maka talak itu jatuh dan ia menjadi terpisah. Jika ia dibiarkan, maka tidak akan menyusulnya kecuali talak tersebut saja.
وإن نكحها وشرعت في الطهر الثاني ففي لحوق الطلاق في النكاح الثاني بعد تخلل البينونة قولا حِنث اليمين وقد استقصينا ذكرهما
Jika ia menikahinya dan ia telah memulai masa suci yang kedua, maka mengenai jatuhnya talak dalam pernikahan kedua setelah terjadinya pemisahan (baīnūnah), terdapat dua pendapat tentang terlanggarnya sumpah, dan kami telah membahas keduanya secara rinci.
ولو لم يجدد النكاح حتى مضت الأقراء المتوالية ثم نكحها لم تطلّق لأن السبب المحنِّث قد جرى في حالة البينونة ولم يتعلق الحنث به فانحلّت اليمين وقد استقصينا هذا الطرف فيما تقدم متصلاً بالكلام في عَوْد الحِنث
Jika tidak diperbarui akad nikah hingga masa-masa haid yang berurutan telah berlalu, kemudian ia menikahinya kembali, maka ia tidak tertalak, karena sebab yang menyebabkan talak telah terjadi dalam keadaan bain (terputusnya hubungan pernikahan), dan tidak terkait padanya pelanggaran sumpah, sehingga sumpah tersebut menjadi batal. Hal ini telah kami uraikan secara rinci sebelumnya dalam pembahasan tentang kembalinya pelanggaran sumpah.
هذا إذا لم تكن مدخولاً بها
Ini jika ia belum pernah digauli.
فأما إذا كانت مدخولاً بها فلا يخلو إما أن تكون حائلاً أو حاملاً فإن كانت حائلاً وهي من ذوات الأقراء وقال الزوج ما قال وهي في حالة الطهر فتلحقها طلقة رجعية ثم إذا طهرت ثانياً لحقتها طلقة أخرى فإذا طهرت ثالثاً وقعت الطلقة الثالثة
Adapun jika istri sudah digauli, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia tidak hamil atau sedang hamil. Jika ia tidak hamil dan termasuk perempuan yang mengalami haid, lalu suami mengucapkan apa yang ia ucapkan saat istri dalam keadaan suci, maka jatuhlah talak raj‘i kepadanya. Kemudian jika ia suci untuk kedua kalinya, jatuh talak kedua kepadanya. Jika ia suci untuk ketiga kalinya, maka jatuhlah talak ketiga.
ثم الطلقةُ الثانية والثالثة لحقتا وهي في حالة الرجعة ووقوع الطلاق على الرجعية هل يقتضي عدة مستأنفة هذا مما قدمنا اختلاف القول فيه وأحلنا استقصاءه على كتاب العدة فلا معنى للخوض فيه
Kemudian talak kedua dan ketiga terjadi saat istri dalam masa rujuk, dan mengenai jatuhnya talak pada istri yang dalam masa rujuk, apakah hal itu mewajibkan masa iddah yang baru, ini termasuk perkara yang telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat di dalamnya dan kami serahkan pembahasannya secara rinci pada Kitab al-‘Iddah, maka tidak ada gunanya membahasnya di sini.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت حائلاً
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika ia tidak sedang hamil.
فأما إذا كانت حاملاً فلا يخلو إما إن كانت ترى الدم أو كانت لا ترى الدم إن كانت لا ترى الدم وقد قال الزوج أنت طالق ثلاثاً في كل قرء طلقة فتلحقها طلقة في حالة الحمل لا محالة وهذا مما يجب التثبت فيه وقد ذكرنا أن القرء عبارة عن حال احتباس الدم بين حيضتين والحامل تكون كذلك فإن الحيضة تحتبس في زمان الحمل وحكم الحامل كحكم الحائل في طهر يتطاول زمانه ثم إذا وضعت الحملَ انقضت العدة وبانت فإذا طهرت من النفاس لم يلحقها الطلاق الثاني لأنها بائنة فإن نكحها في مدة النفاس ثم طهرت من النفاس في النكاح الثاني فيعود اختلاف القول جديداً وقديماً في عَوْد الحِنْث
Adapun jika ia sedang hamil, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia melihat darah atau tidak melihat darah. Jika ia tidak melihat darah, lalu suaminya berkata, “Engkau tertalak tiga, pada setiap masa suci satu talak,” maka satu talak pasti jatuh padanya dalam keadaan hamil. Hal ini harus benar-benar diperhatikan. Telah kami sebutkan bahwa ‘qar’ adalah keadaan tertahannya darah antara dua haid, dan wanita hamil berada dalam keadaan demikian, karena haid tertahan selama masa kehamilan. Hukum wanita hamil sama dengan wanita yang tidak hamil dalam masa suci yang panjang. Kemudian, jika ia telah melahirkan, maka masa iddahnya selesai dan ia menjadi wanita yang terpisah (bainah). Jika ia telah suci dari nifas, maka talak kedua tidak jatuh padanya karena ia telah menjadi bainah. Jika suaminya menikahinya kembali selama masa nifas, lalu ia suci dari nifas dalam pernikahan kedua, maka perbedaan pendapat lama dan baru tentang kembalinya pelanggaran (hints) akan kembali berlaku.
ولا معنى لتكرير الصورة بعد وضوح المقصود
Tidak ada gunanya mengulang gambaran setelah maksudnya telah jelas.
ولو راجعها في زمان الحمل قبل الوضع فإذا طهرت من النفاس لحقها طلقة أخرى فإن النكاح لم يتعدد وإذا لحقها هذه الطلقة استأنفت العدة قولاً واحداً لأن انقضاء العدة يتعلق بوضع الحمل وهو إن ارتجعها قبل الوضع فقد مضى بعد الرجعة ما يتعلق به انقضاء العدة لولا الرجعة فلا وجه لتخيّل بناء القرء على وضع الحمل وهذا موضع رمزٍ وعقد جُمل في العِدد واستقصاءُ الكلام فيها محالٌ على كتاب العدة
Jika suami merujuk istrinya pada masa kehamilan sebelum melahirkan, lalu setelah ia suci dari nifas, jatuh talak lain kepadanya, maka pernikahan tidak menjadi berlipat ganda. Jika talak ini jatuh kepadanya, ia memulai masa ‘iddah yang baru menurut satu pendapat, karena berakhirnya masa ‘iddah terkait dengan kelahiran. Jika suami merujuknya sebelum melahirkan, maka setelah rujuk telah berlalu apa yang menjadi sebab berakhirnya masa ‘iddah seandainya tidak ada rujuk, sehingga tidak ada alasan untuk mengira bahwa masa quru’ dibangun di atas kelahiran. Ini adalah tempat isyarat dan rangkuman dalam pembahasan ‘iddah, dan pembahasan secara rinci dikembalikan kepada Kitab al-‘Iddah.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت الحامل لا ترى دماً فأما إذا كانت ترى دماً على ترتيب الأدوار ونظمها فقد اختلف قول الشافعي في أن دم الحامل على الترتيب المنتظم هل يكون حيضاًً أم لا فإن قلنا إنه دم فسادٍ فلا حكم له وهو كما لو قال لو لم تَرَ دماً وقد تقدم التفصيل
Dan semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika perempuan hamil tidak melihat darah. Adapun jika ia melihat darah secara teratur sesuai siklusnya, maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i mengenai apakah darah yang keluar dari perempuan hamil secara teratur itu dianggap haid atau tidak. Jika kita katakan bahwa itu adalah darah fasad, maka tidak ada hukumnya, dan keadaannya seperti jika ia tidak melihat darah sama sekali, sebagaimana telah dijelaskan rinciannya sebelumnya.
فإن حكمنا بأن ما تراه دمُ حيض فإذا كان قال أنت طالق ثلاثاً في كل قرء طلقة وكانت الحامل في حالة الحيض لم يقع الطلاق لأن القرء عبارة عن طهر محصور بين حيضتين وهذه الحامل لها حيض وطهر وإن قال لها ذلك وهي في زمان الطهر فيقع لتحقق اسم القرء وهل يتكرر الطلقات الثلاث بتكرر الأقراء عليها وهي حامل فعلى وجهين أقيسهما أنه يتكرر لأنا إذا أثبتنا الحيض والطهر وحققنا اسم القرء فيجب على موجب ذلك أن يتكرر الطلاق بتكرر الأقراء
Jika kita memutuskan bahwa apa yang dilihatnya adalah darah haid, maka jika seorang suami berkata, “Engkau tertalak tiga, pada setiap quru’ satu talak,” dan wanita hamil itu sedang dalam keadaan haid, maka talak tidak jatuh karena quru’ adalah masa suci yang berada di antara dua haid, dan wanita hamil ini memiliki haid dan masa suci. Jika suami mengucapkan itu kepadanya saat ia dalam masa suci, maka talak jatuh karena nama quru’ telah terwujud. Apakah talak tiga itu berulang dengan berulangnya quru’ pada wanita hamil? Ada dua pendapat; yang lebih kuat menurut qiyās adalah bahwa talak itu berulang, karena jika kita menetapkan adanya haid dan masa suci serta menegaskan nama quru’, maka konsekuensinya talak harus berulang dengan berulangnya quru’.
الوجه الثاني أنه لا يتكرر لأن الطلاق إنما يتكرر إذا كان الطهر محتوشاً بدمين دالّين على براءة الرحم وهذا المعنى لا يتحقق في هذه الأطهار وأما الطلقة الأولى فإنا حكمنا بوقوعها كما نحكم بوقوع الطلاق إذا كانت لا ترى دماً ولكنا توقفنا في وقوع الطلاق ولم نوقعه وهي حائض
Alasan kedua adalah bahwa talak tidak berulang karena talak hanya dapat berulang jika masa suci diapit oleh dua darah haid yang menunjukkan bersihnya rahim, dan makna ini tidak terwujud pada masa-masa suci tersebut. Adapun talak pertama, kami menetapkan kejadiannya sebagaimana kami menetapkan terjadinya talak jika seorang wanita tidak melihat darah, namun kami menahan diri dari menetapkan terjadinya talak dan tidak menjatuhkannya ketika ia sedang haid.
ثم قال الأصحاب من حيث إنه يوجد طهر محتوش بدمين يختص وقوع الطلاق به ومن حيث إن الدمين لا يدلاّن على براءة الرحم قلنا لا يتكرر وقوع الطلاق بتكرره وهذا وإن كان ظاهراً في الحكاية فالقياس ما تقدم فإن الطلاق إنما يتحقق بتحقق الاسم واسم الأقراء يتكرر والزوج لم يعلّق الطلاق بأقراء دالة على براءة الرحم فلا معنى لاعتبار البراءة في هذا المقام وكل ما ذكرناه إذا قال لامرأته وهي من ذوات الأقراء أنت طالق ثلاثاً في كل قرء طلقة
Kemudian para ulama mazhab berkata, dari satu sisi terdapat masa suci yang dikelilingi oleh dua darah haid yang khusus terjadi perceraian padanya, dan dari sisi lain dua darah haid itu tidak menunjukkan kosongnya rahim. Kami katakan, perceraian tidak terjadi berulang-ulang karena berulangnya masa tersebut. Meskipun hal ini tampak jelas dalam riwayat, qiyās yang telah disebutkan sebelumnya lebih kuat, karena perceraian itu hanya terjadi dengan terwujudnya nama (masa suci), dan nama “aqrā’” itu berulang, sedangkan suami tidak menggantungkan perceraian pada masa suci yang menunjukkan kosongnya rahim, maka tidak ada makna untuk mempertimbangkan kekosongan rahim dalam hal ini. Semua yang kami sebutkan ini berlaku jika seorang suami berkata kepada istrinya yang termasuk wanita yang mengalami haid: “Engkau tertalak tiga, pada setiap masa suci satu talak.”
فإذا قال لامرأته ولم تحض قط أنت طالق ثلاثاً في كل قرءٍ واحدة فالذي عليه الأصحاب أنا لا نحكم بوقوع الطلاق في الحال ولكن إذا حاضت هل نتبين أن الطلاق وقع عليها باللفظ السابق فعلى وجهين مبنيين على أنها إذا رأت الدم في خلال العدة بالشهور فهل نحتسب ما مضى قرءاً فيه قولان مبنيان على أن القرء عبارة عن ماذا وفيه قولان أحدهما أنه عبارة عن طهرٍ يحتوشه دمان فعلى هذا لا نحتسب ما مضى لها قرءاً لأنه لم يكن بين دمين
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum pernah haid sama sekali, “Engkau tertalak tiga, pada setiap masa suci satu kali,” maka menurut pendapat para ulama yang paling kuat, kita tidak menetapkan jatuhnya talak saat itu juga. Namun, jika ia kemudian mengalami haid, apakah kita menjadi tahu bahwa talak telah jatuh padanya dengan lafaz sebelumnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang didasarkan pada persoalan: jika ia melihat darah haid di masa iddah yang dihitung dengan bulan, apakah masa yang telah berlalu dihitung sebagai satu masa suci (qur’) atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang keduanya berpangkal pada makna qur’. Ada dua pendapat tentang makna qur’: salah satunya adalah bahwa qur’ adalah masa suci yang diapit oleh dua kali haid. Berdasarkan pendapat ini, masa yang telah berlalu tidak dihitung sebagai satu qur’, karena tidak berada di antara dua kali haid.
والقول الثاني أن القرء عبارة عن الانقلاب من الطهر إلى الحيض أو من الحيض إلى الطهر فعلى هذا نحسب ما مضى لها قرءاً من العدة ونحكم بوقوع الطلاق تبيّناً
Pendapat kedua menyatakan bahwa quru’ adalah perubahan dari suci ke haid atau dari haid ke suci. Dengan demikian, masa yang telah dilalui oleh seorang perempuan dihitung sebagai satu quru’ dari masa iddah, dan talak dianggap telah terjadi secara nyata.
وإذا قال للآيسة القاعدة عن الحيض أنت طالق ثلاثاً في كل قرء طلقة فإن عاودها الدم بعد ذلك فلا خلاف في وقوع الطلاق وإن استمرت على التقاعد واليأس فهل يلحقها الطلاق أم لا فعلى وجهين ذكرهما القاضي أحدهما أنه يلحقها الطلاق لأنها انتقلت من الحيض إلى هذه الحالة
Jika seseorang berkata kepada perempuan yang telah putus haid dan telah menopause, “Engkau tertalak tiga, pada setiap masa suci satu talak,” lalu setelah itu darah haid kembali datang kepadanya, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa talak itu jatuh. Namun, jika ia tetap dalam keadaan tidak haid dan menopause, apakah talak tetap berlaku baginya atau tidak, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi. Salah satunya, talak tetap berlaku baginya karena ia telah berpindah dari keadaan haid ke keadaan ini.
والثاني أن الطلاق لا يلحقها فإن القرء طهر بين دمين وهذا نقاء تقدمه دمٌ ولم يستأخر عنه دم والقرء بمعنى الطهر محمول على قول القائل قرأت الماء في الحوض والطعام في الشدق وهذا إنما يتحقق إذا كان يجتمع في زمان النقاء دمٌ في الرحم ثم يزجيه الرحم
Kedua, talak tidak berlaku baginya, karena quru’ adalah masa suci di antara dua darah haid, dan ini adalah masa suci yang didahului darah dan tidak diikuti darah setelahnya. Quru’ yang bermakna suci diartikan sebagaimana ucapan seseorang, “Aku telah mengumpulkan air di kolam” dan “makanan di mulut.” Hal ini hanya benar jika pada masa suci tersebut terdapat darah di rahim yang kemudian dikeluarkan oleh rahim.
هذا تصرف الأصحاب في تعليق الطلقات بالأقراء
Inilah tindakan para sahabat dalam menggantungkan talak pada masa haid.
وذكر صاحب التقريب وجهاً غريباً أن الرجل إذا قال لزوجته الصغيرة أنت طالق ثلاثاً في كل قرء طلقة أن الأقراء في حقها هي الأشهر فتلحقها ثلاث طلقات في ثلاثة أشهر فإن الأشهر في حقها مُقامة مقام الأطهار المحتوشة بالدماء
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat yang ganjil, yaitu jika seorang laki-laki berkata kepada istri kecilnya, “Engkau tertalak tiga, pada setiap masa suci satu talak,” maka masa suci (qur’) baginya adalah bulan-bulan, sehingga jatuh tiga talak dalam tiga bulan. Sebab, bulan-bulan dalam haknya diposisikan sebagai masa-masa suci yang disertai darah.
وهذا ضعيف جداً لأنه مائل عن مأخذ الباب والتعليقاتُ تؤخذ من قضية اللسان وقد يُلتفت فيها على العادات فأما النظر إلى تنزيلات الشرع أشياء مقام أشياء فليس من حكم هذا الكتاب وموجبه أصلاً ولا شك أن العرب لا تسمِّي الأشهر أقراء أصلاً لا في الصغيرة ولا في حق الآيسة فليكن التعويل على موجب اللفظ
Ini sangat lemah karena menyimpang dari pokok permasalahan, dan komentar-komentar diambil dari aspek kebahasaan, yang terkadang dipengaruhi oleh kebiasaan. Adapun memperhatikan penempatan hukum syariat, yaitu sesuatu menggantikan sesuatu yang lain, itu bukan termasuk hukum dan konsekuensi kitab ini sama sekali. Tidak diragukan lagi bahwa orang Arab sama sekali tidak menyebut bulan-bulan sebagai quru’ (masa haid), baik pada anak kecil maupun pada perempuan yang sudah menopause. Maka hendaknya berpegang pada makna lafaznya.
فهذا إذاً وجهٌ غير معتد به
Maka ini adalah pendapat yang tidak dapat dipertimbangkan.
وقد انتهى تفصيل القول في تعليق أعداد الطلاق على الأقراء
Telah selesai penjelasan rinci mengenai pengaitan jumlah talak dengan masa suci (qur’).
ونحن الآن نستفتح مسألة متصلة بهذا النوع ونبتدىء بسببها القولَ في التديين فنقول إذا قال الرجل أنت طالق ثلاثاً للسُّنة ونوى تفريقها على ثلاثة أقراء فقد ذكرنا أن السُّنة والبدعة لا تتعلقان بالجمع والتفريق فإذا قال أنت طالق ثلاثاً للسّنة وزعم أنه أراد تفريقها لم يقبل ذلك منه في ظاهر الحكم وإن علم الله تعالى منه الصدق فيما ادّعاه فلا تقع الطلقات الثلاث معاً بَيْنه وبين الله تعالى وعبّر الفقهاء عن هذا فقالوا لا يُقبل منه في الظاهر ولكن يُدَيّن بينه وبين الله
Sekarang kita akan membahas masalah yang berkaitan dengan jenis ini dan memulai pembahasan tentang at-tadyīn. Kami katakan: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau aku talak tiga kali sesuai sunnah,” dan ia berniat untuk memisahkan talak tersebut pada tiga masa haid, maka telah kami sebutkan bahwa sunnah dan bid‘ah tidak berkaitan dengan penggabungan atau pemisahan talak. Maka jika ia berkata, “Engkau aku talak tiga kali sesuai sunnah,” dan mengaku bahwa ia bermaksud memisahkannya, pengakuan itu tidak diterima secara lahiriah dalam hukum. Namun, jika Allah Ta‘ala mengetahui kejujuran dalam pengakuannya, maka talak tiga itu tidak terjadi sekaligus antara dia dan Allah Ta‘ala. Para fuqaha’ mengungkapkan hal ini dengan mengatakan: “Pengakuannya tidak diterima secara lahiriah, tetapi ia didayyin antara dia dan Allah.”
ونحن نذكر الآن قاعدة التديين ونستعين بالله تعالى فنقول إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق فالذي جاء به لفظ صريح فلو قصد به الطلاق أو أطلقه ولم يقصد به شيئاً ولم يَهْذِ بلفظه ولم يحكه وقع الطلاق ظاهراً وباطناً
Sekarang kami akan menyebutkan kaidah dalam masalah tadyin, dan kami memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala. Kami katakan: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” maka yang diucapkannya adalah lafaz sharih. Jika ia memang bermaksud menjatuhkan talak, atau ia mengucapkannya secara mutlak tanpa maksud tertentu, tidak mengucapkannya secara ngawur, dan tidak pula sekadar mengutip ucapan orang lain, maka talak itu jatuh secara lahir maupun batin.
ولو نوى بقوله طالقٌ التطليق عن وثاق أو حل أسير وحَجْر فإذا أبدى هذا لم يقبل منه في ظاهر الحكم ولكن إذا لم يثبت لفظه في مجلس القضاء وكان صادقاً بينه وبين الله تعالى لم يقع الطلاق في حكم الله وعلمه
Jika seseorang berniat dengan ucapannya “thalāq” untuk melepaskan ikatan, membebaskan tawanan, atau menghilangkan larangan, lalu ia menampakkan hal ini, maka dalam hukum lahiriah hal itu tidak diterima darinya. Namun, jika ucapannya tidak terbukti di majelis pengadilan dan ia jujur antara dirinya dengan Allah Ta‘ala, maka talak tidak terjadi dalam hukum dan pengetahuan Allah.
ولو قال أنت طالق وأضمر ألا يقع وأجرى على ضميره أنت طالق طلاقاً لا يقع عليك فهذا يقع ظاهراً وباطناًً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak,” namun dalam hatinya berniat agar talak itu tidak terjadi, dan ia menjalankan niatnya itu dengan berkata, “Engkau tertalak dengan talak yang tidak jatuh padamu,” maka talak itu tetap jatuh baik secara lahir maupun batin.
وطريق الضبط في هذا الطرف أنه إذا ذكر لفظاً صريحاً وزعم أنه أضمر معنىً محتملاً وفي صيغة اللفظ احتماله فلا سبيل إلى مخالفة الصريح في ظاهر الحكم ولكن إن صدق وفي اللفظ احتمال فلا يقع الطلاق بينه وبين الله تعالى وسنقرر ذلك عند ذكرنا الصرائح وأحكامها إن شاء الله تعالى
Cara memastikan dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang mengucapkan lafaz yang jelas (sharīh) lalu mengklaim bahwa ia menyembunyikan makna lain yang mungkin, dan dalam bentuk lafaz tersebut memang ada kemungkinan makna itu, maka tidak ada jalan untuk menyelisihi makna jelas dalam hukum lahiriah. Namun, jika ia jujur dan dalam lafaz itu memang ada kemungkinan makna lain, maka talak tidak terjadi antara dia dan Allah Ta‘ala. Kami akan menjelaskan hal ini ketika membahas lafaz-lafaz sharīh dan hukumnya, insya Allah Ta‘ala.
ولو أضمر مع صريح الطلاق شيئاً لا ينبىء اللفظ عنه في صيغته ووضْعِه ولو جرى ذكرُ المعنى الجاري في الضمير متصلاً بالكلام الظاهر لما كان الكلام منتظماً ويُعدّ ما جاء به متهافتاً لا يجرّد العاقلُ القصدَ إلى نظم مثله فهذا مردود ولا حكم له
Jika seseorang menyimpan dalam hatinya sesuatu bersamaan dengan lafaz talak yang jelas, namun lafaz tersebut dalam bentuk dan susunannya tidak menunjukkan makna yang tersembunyi itu, bahkan jika makna yang ada dalam hati itu disebutkan secara tersambung dengan ucapan yang tampak, maka ucapan tersebut menjadi tidak teratur dan dianggap ucapan yang rancu, yang tidak mungkin orang berakal sengaja menyusunnya seperti itu. Maka hal semacam ini tertolak dan tidak memiliki hukum.
ومثال هذا القسم ما لو قال أنت طالق ونوى طلاقاً لا يقع فهذا لو صرح به لكان لغواً مُطَّرحاً لا مبالاة بمثله والطلاق واقع فقد خرج الضمير عن صيغة اللفظ وعن معنىً ينتظم مع اللفظ لو فرض وَصْلُه به فلا طريق إلا الإلغاء ظاهراً وباطناً
Contoh dari bagian ini adalah seperti seseorang yang berkata, “Engkau tertalak,” namun ia berniat talak yang tidak jatuh. Jika ia mengucapkannya secara jelas, maka itu dianggap sia-sia dan diabaikan, tidak ada perhatian terhadap ucapan semacam itu, dan talak tetap jatuh. Maka, dhamir (kata ganti) telah keluar dari bentuk lafaz dan dari makna yang sesuai dengan lafaz jika diasumsikan ada penyambungan dengannya. Maka, tidak ada jalan lain selain menganggapnya batal, baik secara lahir maupun batin.
ولو أضمر ما لا يُشعر اللفظ به في صيغته ولكن لو وُصل بالكلام وأظهر لكان ينتظم الكلام معه وذلك مثل أن يقول أنت طالق ثم يقول نويت وأضمرت إن دخلتِ الدار وأضمرت إلى شهرٍ أو ما جرى هذا المجرى من تأقيتٍ أو تعليقٍ فإذا أضمر شيئاً مما ذكرناه وذكرنا ضبطه فلا شك أنا لا نقبل منه في الظاهر ما زعم أنه أضمره ولكن هل يُديّن بينه وبين الله تعالى فعلى وجهين أقيسهما أنه لا يديّن فإن التديين يجري إذا كان ما يضمره لائقاً بمعاني اللفظ على بُعدٍ فأما إذا لم يكن اللفظ مشعراً به على قرب ولا بعد فالإضمار فيه نيّةٌ مجردة ولا تعلق لها بلفظٍ والنية المجردة لا أثر لها عند الشافعي ولهذا نقول إذا أجرى معنى الطلاق جزماً على قلبه لم يقع الطلاق ظاهراً وباطناًً وخالف مالك في هذا
Jika seseorang menyembunyikan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh lafaz dalam bentuknya, namun jika disambungkan dengan ucapan dan dinyatakan secara jelas, maka ucapan tersebut akan menjadi teratur dengannya—seperti seseorang berkata, “Engkau aku talak,” kemudian ia berkata, “Aku berniat dan menyembunyikan (dalam hatiku) ‘jika engkau masuk rumah’ atau ‘aku menyembunyikan (niat) sampai sebulan’ atau hal-hal serupa berupa pembatasan waktu atau penggantungan (syarat)—maka jika ia menyembunyikan sesuatu dari hal-hal yang telah kami sebutkan dan telah kami jelaskan batasannya, tidak diragukan lagi bahwa secara lahiriah kami tidak menerima apa yang ia klaim telah ia sembunyikan. Namun, apakah ia didiyan (diperhitungkan antara dirinya dan Allah Ta‘ala)? Ada dua pendapat. Yang lebih kuat menurut qiyās adalah bahwa ia tidak didiyan, karena pendiyan berlaku jika apa yang ia sembunyikan masih berkaitan dengan makna lafaz, meskipun jauh. Adapun jika lafaz sama sekali tidak menunjukkan hal itu, baik dekat maupun jauh, maka penyembunyian tersebut hanyalah niat semata dan tidak ada kaitannya dengan lafaz. Niat semata tidak berpengaruh menurut Imam Syafi‘i. Oleh karena itu, kami katakan: Jika seseorang menetapkan makna talak secara pasti dalam hatinya, maka talak tidak jatuh baik secara lahir maupun batin. Imam Malik berbeda pendapat dalam hal ini.
والوجه الثاني وهو ظاهر قول الأصحاب أنه إذا علَّق بضميره تعلّق بينه وبين الله والتحق بقواعد التديين
Adapun pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari para ulama, adalah bahwa jika seseorang menggantungkan sesuatu pada niatnya sendiri, maka hal itu menjadi urusan antara dirinya dengan Allah dan termasuk dalam kaidah-kaidah tadyin.
وعلى هذا الخلاف يُخرّج ما إذا قال أنت طالق ثم زعم أنه أضمر إن شاء الله تعالى وقد نص الشافعي في عيون المسائل أنه لو قال لامرأته إن كلمت زيداً فأنت طالق ثم قال أردت بذلك إن كلمتِه شهراً فالحكم بعد انقضاء الشهر يرتفع فلو كلّمتْه بعد الشهر لم يقع الطلاق باطناًً
Berdasarkan perbedaan pendapat ini, dapat dijelaskan hukum jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” kemudian ia mengklaim bahwa dalam hatinya ia menyertakan syarat “insya Allah Ta‘ala.” Imam Syafi‘i telah menegaskan dalam kitab ‘Uyūn al-Masā’il bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika engkau berbicara dengan Zaid, maka engkau tertalak,” lalu ia berkata, “Yang aku maksudkan adalah jika engkau berbicara dengannya selama sebulan,” maka setelah sebulan berlalu, hukum talak tersebut menjadi gugur. Jika istrinya berbicara dengan Zaid setelah sebulan, maka talak tidak terjadi secara batin.
وللفقيه في هذا أدنى نظر فإن قول القائل إن كلمتِ زيداً يتعلق بالأزمان على العموم وحملُ اللفظ الصالح للعموم على الخصوص من تأويل اللفظ على بعض مقتضياته وانتهى الأمر في تردد الألفاظ بين العموم والخصوص إلى نفي طائفة من العلماء صيغةً مجردة ظاهرةً في العموم وهذا لاعتقادهم تردّدَ الألفاظ في هذين المعنيين وليس هذا كما لو قال أنت طالق وزعم أنه أضمر إن دخلت الدار فإن هذه الصيغة وما في معناها لا التفات للفظ عليها بوجهٍ من الوجوه
Bagi seorang faqih dalam hal ini terdapat sedikit pertimbangan, sebab ucapan seseorang “Jika engkau berbicara dengan Zaid” berkaitan dengan waktu-waktu secara umum, dan membawa lafaz yang memungkinkan makna umum kepada makna khusus termasuk menakwil lafaz sesuai sebagian maknanya. Persoalan ini, dalam keraguan lafaz antara makna umum dan khusus, berujung pada penolakan sebagian ulama terhadap suatu bentuk lafaz yang secara lahir tampak bermakna umum. Hal ini karena mereka meyakini adanya keraguan lafaz antara dua makna tersebut. Ini berbeda dengan kasus seseorang berkata, “Engkau tertalak,” lalu mengklaim bahwa ia menyembunyikan syarat “jika engkau masuk rumah.” Maka bentuk lafaz seperti ini dan yang semakna dengannya, sama sekali tidak dapat dianggap dari sisi lafaz dalam keadaan apa pun.
فما نقل عن الشافعي ملحق بقوله أنت طالق مع دعواه أنه نوى الطلاق عن الوثاق
Apa yang dinukil dari asy-Syafi‘i disandarkan pada ucapannya “engkau tertalak” bersamaan dengan pengakuannya bahwa ia berniat talak dari ikatan (bukan perceraian).
فهذا تصرّف الأصحاب في أصول التديين
Inilah cara para sahabat bertindak dalam prinsip-prinsip beragama.
ويلتحق بالأصل الذي مهدناه ما لو قال أنت طالق ثلاثاًً وزعم أنه أراد التفريق على الأقراء فهذا لا يُقبل ظاهراً وهل يُدَيَّن يلتحق هذا بما لو زعم أنه أضمر تأقيتاً أو تعليقاً فإنه ليس في قوله أنت طالق ثلاثاً ما يشعر بما ذَكر ولكن لو ذكره لانتظم الكلام معه
Terkait dengan prinsip yang telah kami jelaskan, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga,” lalu ia mengklaim bahwa maksudnya adalah menjatuhkan talak secara terpisah pada setiap masa haid, maka klaim tersebut tidak diterima secara lahiriah. Adapun apakah ia dihukumi secara batin (di hadapan Allah), maka hal ini serupa dengan kasus ketika seseorang mengaku bahwa ia menyimpan niat pembatasan waktu atau penangguhan. Sebab, dalam ucapannya “Engkau tertalak tiga” tidak terdapat indikasi terhadap apa yang ia sebutkan, namun jika ia menyebutkannya secara eksplisit, maka ucapannya akan menjadi selaras dengan maksudnya.
وإن قال أنت طالق ثلاثاًً للسُنة ثم زعم أنه نوى التفريق على الأقراء فالظاهر إلحاق هذا بما لو أضمر تأقيتاً أو تعليقاً كما ذكرناه ولا يتغيّر الحكم بتقييد الثلاث بالسُّنة فإن هذا اللفظ في إشعار اللغة لا يقتضي تفريقاً وإذا رددنا لفظ السنة إلى موجب الشريعة فقد قدمنا من مذهب الشافعي أن السُّنة والبدعة لا تعلق لهما بالجمع والتفريق
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali sesuai sunnah,” kemudian ia mengaku bahwa ia berniat memisahkan talak itu pada masa-masa haid, maka yang tampak adalah hal ini disamakan dengan kasus jika seseorang menyembunyikan niat pembatasan waktu atau penggantungan sebagaimana telah kami sebutkan. Hukum tidak berubah hanya karena pembatasan talak tiga dengan kata “sunnah”, sebab lafaz ini dalam pemahaman bahasa tidak mengharuskan adanya pemisahan. Dan jika kita kembalikan kata “sunnah” kepada ketentuan syariat, maka telah kami sebutkan dalam mazhab Syafi‘i bahwa istilah sunnah dan bid‘ah tidak berkaitan dengan penggabungan atau pemisahan talak.
فهذا بيان الحكم في هذه المسألة وتنزيلها على مرتبتها في التديين
Inilah penjelasan hukum dalam masalah ini dan penempatannya sesuai dengan tingkatannya dalam agama.
وللألفاظ في الطلاق مسالك كنت أوثر جمعها فبدا لي أن أؤخرها حتى يحصل الإلف بمجاري الكلام في الألفاظ ومعظم مسائل هذا الكتاب مُدارةٌ على مقتضى الألفاظ وهي معتبر الكتب المتعلّقة بقضايا الألفاظ فالوجه أن نُجري في كل فصل ما يليق به ثم نختتم الكلام بضوابط تُنزَّل الألفاظ على مراتبها ونبيّن مقاصد الشرع فيها إن شاء الله تعالى
Lafaz-lafaz dalam talak memiliki berbagai jalur yang sebenarnya ingin saya kumpulkan, namun saya memutuskan untuk menundanya sampai tercapai pemahaman terhadap alur pembicaraan dalam lafaz-lafaz tersebut. Sebagian besar permasalahan dalam kitab ini berputar pada konsekuensi lafaz, dan kitab-kitab yang membahas masalah lafaz pun memperhatikannya. Maka, yang tepat adalah kita membahas dalam setiap bab apa yang sesuai dengannya, lalu kita akhiri pembahasan dengan kaidah-kaidah yang menempatkan lafaz pada tingkatan-tingkatannya, serta menjelaskan maksud syariat di dalamnya, insya Allah Ta‘ala.
فصل قال ولو قال لامرأته أنت طالق ثلاثاًً بعضهن للسنة وبعضهن للبدعة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika seseorang berkata kepada istrinya, ‘Engkau aku talak tiga; sebagian untuk sunnah dan sebagian untuk bid‘ah,’ dan seterusnya.”
إذا قال لامرأته المتعرضة للسُّنة والبدعة أنت طالق ثلاثاًً بعضهن للسُّنة وبعضهن للبدعة راجعناه فإن أراد تنجيز طلقة واحدة في الحال توافق السُّنة أو البدعة وتأخير اثنتين إلى الحالة الثانية فيقع على هذا الترتيب فإن تفسيره البعض بواحدة في الحال ليس بعيداً عن مقتضى الظاهر
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sedang dalam masa iddah sesuai sunnah dan bid‘ah, “Engkau tertalak tiga, sebagian untuk sunnah dan sebagian untuk bid‘ah,” maka kami menanyakannya kembali. Jika ia bermaksud mengeksekusi satu talak saat itu juga, baik sesuai sunnah maupun bid‘ah, dan menunda dua talak lainnya ke keadaan berikutnya, maka talak jatuh sesuai urutan tersebut. Penafsiran “sebagian” dengan satu talak saat itu tidaklah jauh dari makna lahiriah.
وإن أراد فيما زعم تعجيل طلقتين على حسب موافقة الوقت في السُّنة والبدعة وتأخير طلقة إلى ارتقاب الحالة الأخرى فهذا ممكن محتمل وتفسيره فيه مقبول ظاهراً وذلك أن البعض لا يختص في حكم اللسان ولا في موجب العرف بمبلغ وهو لفظ مبهم يتناول الواحد والزائد على الواحد فإذا فسره كان بمثابة من يفسر مجملاً فيحمله على بعض جهات الاحتمال فلم يمتنع قبول حمل البعض على الواحدة و على الثنتين
Dan jika yang dimaksud menurut pengakuannya adalah mempercepat dua talak sesuai dengan waktu yang sesuai dengan sunnah dan bid‘ah, serta menunda satu talak hingga menunggu keadaan yang lain, maka hal itu mungkin dan dapat diterima, serta penafsirannya secara lahiriah dapat diterima. Sebab, kata “sebagian” tidak terbatas dalam hukum lisan maupun dalam ketentuan ‘urf pada jumlah tertentu; ia adalah lafaz yang samar yang mencakup satu atau lebih dari satu. Maka jika ia menafsirkannya, hal itu seperti orang yang menafsirkan sesuatu yang mujmal lalu membawanya pada salah satu sisi kemungkinan. Maka tidak terlarang menerima pemaknaan “sebagian” pada satu atau dua.
وإن زعم أنه أراد بالبعض نصف الثلاث وقعت ثنتان في الحال لأن نصف الثلاثة واحدة ونصف وكأنه نجّز طلقة ونصفاً ولو فعل ذلك لوقعت طلقتان وهذا بيّن في جهات الاحتمال
Dan jika ia mengklaim bahwa yang ia maksud dengan “sebagian” adalah setengah dari tiga, maka jatuhlah dua talak seketika itu juga, karena setengah dari tiga adalah satu setengah, seakan-akan ia telah menjatuhkan satu setengah talak secara langsung, dan jika ia melakukan hal itu maka jatuhlah dua talak. Hal ini jelas dalam berbagai sisi kemungkinan.
ولو طلق وزعم أنه ما نوى شيئاً ولكن أجرى هذا اللفظ فالذي نقله المزني عن الشافعي أنه يقع في الحال ثنتان ثم قال من تلقاء نفسه أشبه بمذهبه عندي أن قوله بعضهن يحتمل واحدةً فلا يقع غيرها فأوضح من قياس الشافعي أنه لا يقع عند الإطلاق إلا واحدة وأورد هذا على صيغة التصرف على مذهب الشافعي وقياسه ولم يورده مختاراً لنفسه وأنا أوثر أن ننظر في كل كلام له إلى ما أشرنا إليه فإنْ تصرف على المذهب وأجرى قياسه فهو تخريج على مذهب الشافعي وتخريجه أولى بالقبول من تخريج غيره وإن لم يتصرف على قياس المذهب واستحدث من تلقاء نفسه أصلاً فيعدّ ذلك مذهبَه ولا يلحق بمتن المذهب فليكن ما قاله في هذه المسألة تخريجاً والمنصوص وقوع طلقتين ومذهب المزني وتخريجه على مذهب الشافعي أنه لا يقع إلا طلقة
Jika seseorang menjatuhkan talak dan mengaku bahwa ia tidak meniatkan apa pun, namun hanya mengucapkan lafaz tersebut, maka menurut riwayat yang dibawakan oleh al-Muzani dari asy-Syafi‘i, talak yang jatuh saat itu adalah dua. Kemudian ia berkata atas inisiatifnya sendiri, menurut pendapatku yang lebih mendekati mazhabnya, bahwa ucapannya “sebagian dari mereka” bisa bermakna satu, sehingga yang jatuh tidak lebih dari satu. Maka, menurut qiyās asy-Syafi‘i yang lebih jelas, talak yang jatuh jika diucapkan secara mutlak hanyalah satu. Ia membawakan hal ini dalam bentuk penjelasan sesuai mazhab asy-Syafi‘i dan qiyās-nya, bukan sebagai pendapat pribadinya. Aku lebih memilih untuk memperhatikan setiap ucapannya sebagaimana yang telah kami isyaratkan; jika ia berpendapat sesuai mazhab dan menjalankan qiyās-nya, maka itu adalah hasil istinbāṭ berdasarkan mazhab asy-Syafi‘i, dan hasil istinbāṭ-nya lebih utama diterima daripada hasil istinbāṭ orang lain. Namun jika ia tidak berpendapat berdasarkan qiyās mazhab dan membuat dasar baru dari dirinya sendiri, maka itu dianggap sebagai pendapat pribadinya dan tidak disandarkan pada inti mazhab. Maka, apa yang ia katakan dalam masalah ini adalah hasil istinbāṭ, dan pendapat yang mu‘tamad adalah jatuhnya dua talak, sedangkan menurut al-Muzani dan hasil istinbāṭ-nya atas mazhab asy-Syafi‘i, yang jatuh hanyalah satu talak.
التوجيه وجه النص أن الثلاث موزعة على بَعْضَين مضافة إليهما فاقتضى إطلاق الإضافة التقسيط على التنصيف وموجب هذا إثبات طلقةٍ ونصف على حسب الحالة الناجزة والطلقة والنصف طلقتان فينتجز طلقتان ويتأخر طلقة وهذا القائل يوجّه النص بمسألة وهي أن صاحب اليد في الدار لو قال بعضها لفلان وبعضها لفلان فمقتضى هذا اللفظ الاعتراف لكل واحد منهما بشطر الدار
Penjelasan makna teks ini adalah bahwa tiga (talak) didistribusikan kepada dua pihak dan dinisbatkan kepada keduanya, sehingga keumuman nisbah tersebut menuntut pembagian secara setengah-setengah. Konsekuensi dari hal ini adalah menetapkan satu setengah talak sesuai dengan keadaan yang telah terjadi, dan satu setengah talak itu berarti dua talak, sehingga dua talak langsung berlaku dan satu talak tertunda. Pendapat ini menafsirkan teks dengan sebuah kasus, yaitu jika seseorang yang memiliki rumah berkata, “Sebagian rumah ini untuk si Fulan dan sebagian lagi untuk si Fulan,” maka konsekuensi dari ucapan ini adalah pengakuan bahwa masing-masing dari keduanya memiliki setengah rumah.
وأما وجه مذهب المزني فهو أن البعض لفظ مجمل كما قدمنا تقريره فإن ذكر صاحب اللفظ تفسيراً قبلناه وإن أطلقه تردد بين القليل والكثير فوجب تنزيله على الأقل فإنا لا نوقع من الطلاق إلا المستيقن وما تقدم ذكره من التسوية خيال لا يقع بمثله الطلاق
Adapun alasan mazhab al-Muzani adalah bahwa kata “sebagian” merupakan lafaz yang mujmal (samar), sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Jika orang yang mengucapkan lafaz tersebut memberikan penafsiran, maka kami menerimanya. Namun jika ia mengucapkannya secara mutlak, maka lafaz itu dapat bermakna sedikit atau banyak, sehingga wajib ditetapkan pada makna yang paling sedikit. Sebab, kami tidak menetapkan terjadinya talak kecuali yang benar-benar diyakini. Adapun pendapat yang menyamakan antara keduanya hanyalah khayalan yang tidak menyebabkan terjadinya talak.
فإذا نصرنا مذهب المزني وعددناه قولاً مخرجاً لم نسلم مسألة الإقرار بالدار
Maka jika kita menguatkan mazhab al-Muzani dan menganggapnya sebagai pendapat yang dihasilkan (qawl mukharraj), kita tetap tidak menerima masalah pengakuan atas rumah.
ومن عجيب الأمر أن الأصحاب نقلوا مسألة الدار نقل من يرى أن الدار مشطرة بموجب اللفظ حتى لا يراجَع فيها المقِر وهذا خارج عن الضبط فالوجه القطع بأنا إذا فرعنا على تخريج مذهب المزني فما ذكره المقر لفظٌ مبهم لا استقلال له ولا بد فيه من مراجعة المقِر وإن عسرت مراجعته كان إقراراً مبهما لا يُطَّلَع على معناه ومقدارِ المقَرّ به ونظائر ذلك كثير في الأقارير
Sungguh mengherankan bahwa para ulama madzhab menukil masalah rumah dengan cara seolah-olah rumah tersebut terbagi dua berdasarkan lafaz, sehingga pengaku tidak boleh dimintai penjelasan lagi. Ini adalah sesuatu yang tidak teratur. Yang benar, jika kita membangun pendapat berdasarkan takhrij madzhab al-Muzani, maka apa yang diucapkan oleh pengaku adalah lafaz yang samar, tidak berdiri sendiri, dan harus ada penjelasan lebih lanjut dari pengaku. Jika sulit meminta penjelasan darinya, maka itu dianggap sebagai pengakuan yang samar, yang makna dan kadar yang diakui tidak diketahui. Hal seperti ini banyak terjadi dalam berbagai pengakuan.
وإذا فرعنا على النص فيجب القطع بالرجوع إلى قول المقر كما ذكرناه في الطلاق فإن عسر الرجوع عليه فقد يجوز حمل اللفظ على التنصيف والتشطير
Jika kita membangun cabang hukum berdasarkan nash, maka harus dipastikan kembali kepada ucapan orang yang mengakui, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah talak. Jika sulit untuk kembali kepadanya, maka boleh jadi lafaz tersebut dapat ditafsirkan dengan pembagian setengah atau pembagian dua.
وهذا كلام ملتبس ولا وجه في مسألة الإقرار إلا الرجوع إلى قول المقر وكل ما كان مُجملاً يُرجع فيه إلى تفسير مُطلِقه فإذا عسر درْك تفسيره استحال أن يُتَلَقَّى من اللفظ ما يُلحقه بالظواهر ويخرجه عن المجملات فإن مخالفة الظاهر غيرُ مقبولة في المعاملات وإن عُدّ التفسير بياناً للمجمل وجب القضاء بالإجمال عند عدم التفسير
Ini adalah pernyataan yang ambigu, dan dalam masalah pengakuan tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ucapan orang yang mengaku. Setiap hal yang bersifat mujmal (global/umum), maka penafsirannya dikembalikan kepada orang yang mengucapkannya. Jika sulit untuk mengetahui penafsirannya, maka tidak mungkin mengambil makna dari lafaz yang dapat mengaitkannya dengan makna zhahir dan mengeluarkannya dari kategori mujmal. Sebab, menyelisihi makna zhahir tidak dapat diterima dalam mu‘āmalah, dan jika penafsiran dianggap sebagai penjelasan atas yang mujmal, maka wajib menetapkan hukum sebagai mujmal ketika tidak ada penafsiran.
وقد يخطر في ذلك للفطن شيء وهو أن المعظم لا يسمى بعضَ الشيء واسم البعض ينطلق على النصف فما دونه وإذا تقابل البعضان أشعر ذلك بأن كل بعض ليس المعظم فيجب القضاء بتنزيل البعضين على الشطرين
Terkadang terlintas dalam benak orang yang cerdas suatu hal, yaitu bahwa sesuatu yang merupakan mayoritas tidak disebut sebagai sebagian dari sesuatu, sedangkan istilah “sebagian” berlaku untuk setengah atau kurang darinya. Jika dua bagian yang sebagian itu saling berhadapan, hal itu menunjukkan bahwa masing-masing bagian tersebut bukanlah mayoritas, sehingga harus diputuskan bahwa kedua bagian itu diartikan sebagai dua setengah.
وهذا الآن يُظهر استفادة التنصيف من اللفظ ومساق هذا يقتضي ألا يقبل منه حمل البعض على الطلقة الواحدة وقد ذكرنا أنه لو حمل البعض على طلقة منجزة وطلقتين مؤخرتين قُبل ذلك منه وهذا يلتحق بفن من الفنون في الطلاق وهو أنا قد نحمل لفظاً في الإطلاق على محمل فإذا قال صاحب اللفظ أردت غيره يُقبل منه ذلك ظاهراً وهذا فوق درجة التديين وسيأتي نظائر لهذا إن شاء الله تعالى فإذاً المطلق محمول على التنصيف لما ذكرناه وإذا حمل البعض على الواحدة ففي قبول ذلك منه احتمال
Hal ini sekarang menunjukkan bahwa penafsiran tanṣīf mengambil manfaat dari lafaz, dan konteks pembahasan ini mengharuskan untuk tidak menerima darinya pemaknaan sebagian pada satu talak saja. Telah kami sebutkan bahwa jika sebagian itu dimaknai sebagai satu talak yang langsung jatuh dan dua talak yang ditangguhkan, maka hal itu diterima darinya. Ini berkaitan dengan salah satu cabang dalam bab talak, yaitu terkadang kita menafsirkan suatu lafaz secara umum pada satu makna, lalu jika orang yang mengucapkan lafaz tersebut mengatakan bahwa ia bermaksud makna lain, maka secara lahiriah hal itu diterima darinya. Ini berada di atas derajat tadyīn, dan akan datang contoh-contoh serupa, insya Allah Ta‘ala. Maka, talak yang diucapkan dibawa pada makna tanṣīf sebagaimana telah kami sebutkan, dan jika sebagian dimaknai sebagai satu talak, maka ada kemungkinan untuk diterima atau tidak.
وقد ذكر صاحب التقريب أوالعراقيون فيه وجهين أحدهما أنه يقبل وهو الصحيح إذ لفظ البعض يحتمل الواحدة احتمالاً بيناً
Penulis kitab at-Taqrīb atau ulama Irak menyebutkan dalam masalah ini dua pendapat; salah satunya adalah bahwa riwayat tersebut diterima, dan inilah pendapat yang benar, karena lafaz “ba‘ḍ” (sebagian) secara jelas dapat bermakna satu orang.
والثاني وهذا اختيار ابن أبي هريرة أنه لا يقبل فإن مقتضى اللفظ ينجز الطلقتين على النص وإذا لاح هذا انتظم منه أن مقتضى النص أن اللفظ ظاهر في التنصيف مستقلٌّ بإفادته وفي حمله على خلافه احتمال ظاهر النص وهل يقبل الحمل على خلاف الظاهر فعلى ما ذكرناه من الوجهين ومقتضى مذهب المزني أن اللفظ مجمل لا ظاهر له وموجب هذا قبول تفسيره فإن عدمنا التفسير نزلناه على الأقل
Yang kedua, dan ini adalah pilihan Ibn Abi Hurairah, adalah bahwa tidak diterima, karena konsekuensi dari lafaz tersebut menetapkan dua talak secara tegas menurut nash. Jika hal ini telah jelas, maka dapat disimpulkan bahwa konsekuensi nash adalah bahwa lafaz tersebut secara lahiriah menunjukkan pembagian dua talak dan sudah cukup untuk memahamkannya. Adapun menafsirkannya dengan makna yang berbeda dari lahiriah lafaz, maka terdapat kemungkinan yang bertentangan dengan kejelasan nash. Apakah boleh menafsirkannya dengan makna yang berbeda dari makna lahiriahnya, maka hal itu kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan. Konsekuensi mazhab al-Muzani adalah bahwa lafaz tersebut bersifat mujmal (samar), tidak memiliki makna lahiriah tertentu, dan akibatnya adalah menerima penafsirannya. Jika kita tidak mendapatkan penafsirannya, maka kita menetapkannya pada makna yang paling sedikit.
ولو قال صاحب المقالة أردت تعجيلَ بعضٍ من كل طلقة في الحال فهذا مقبول وينتجز الطلقات الثلاث فإن أبعاض الطلاق مكمّلةٌ على ما سيأتي شرح ذلك على ترتيب مسائل الكتاب إن شاء الله عز وجل
Jika seseorang yang mengucapkan talak berkata, “Aku bermaksud mempercepat sebagian dari setiap talak sekarang juga,” maka hal itu diterima dan ketiga talak tersebut menjadi langsung jatuh. Sebab, bagian-bagian dari talak itu saling melengkapi, sebagaimana akan dijelaskan penjelasannya sesuai urutan pembahasan dalam kitab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فصل قال ولو قال أنت طالق أعدل أو أحسن إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika ia berkata: ‘Engkau tertalak lebih adil’ atau ‘lebih baik’ dan seterusnya.”
إذا قال لامرأته أنت طالق أعدل الطلاق أو أكمل أو أحسن أو أفضل أو أجمل الطلاق فإنْ أجمل هذه الألفاظ انصرفت إلى ما ينصرف إليه لفظ السُّنة فكأنه قال لها أنت طالق للسنة فإن كانت حالها موافقة للسنة تنجزت الطلقة وإلا انتظرنا حالة السنة
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan talak yang paling adil, atau paling sempurna, atau paling baik, atau paling utama, atau paling indah,” maka makna dari ungkapan-ungkapan ini merujuk kepada apa yang dimaksud dengan lafaz sunah, seakan-akan ia berkata kepadanya, “Engkau tertalak dengan talak menurut sunah.” Jika keadaan istrinya sesuai dengan ketentuan sunah, maka talak langsung jatuh. Jika tidak, maka kita menunggu sampai keadaan sesuai dengan sunah.
وما ذكرناه فيه إذا كانت المرأة بصدد السنة والبدعة فإن أراد بهذه الألفاظ السُّنة فقد طابق قصدُه ظاهرَ ألفاظه
Apa yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika perempuan tersebut berada dalam konteks sunah dan bid‘ah. Jika dengan ungkapan-ungkapan ini ia maksudkan sunah, maka maksudnya telah sesuai dengan makna lahiriah dari ungkapan-ungkapannya.
وإن قال عنيت بما أطلقته من هذه الألفاظ تنجيز الطلاق في الحال فرأيت أحسن أنواع الطلاق أعجلَها فيتعجل الطلاق فإن ما ذكره محتمل ومهما ذكر احتمالاً مقتضاه إيقاع الطلاق فهو مقبول وإن كنا قد لا نقبل في نفي الطلاق مثل ذلك المعنى ظاهراً وإنما نحيل قوله على التديين
Jika ia berkata, “Yang aku maksudkan dengan lafaz-lafaz yang aku ucapkan itu adalah mengeksekusi talak saat ini juga, karena aku melihat bahwa jenis talak yang terbaik adalah yang paling cepat, maka talak pun segera terjadi,” maka apa yang ia sebutkan itu memungkinkan. Dan setiap kali ia menyebutkan suatu kemungkinan yang konsekuensinya adalah jatuhnya talak, maka hal itu diterima, meskipun kita mungkin tidak menerima makna seperti itu secara lahiriah dalam penafian talak, melainkan kita serahkan ucapannya itu pada urusan agama (tadyin).
فإن قال أردت بما أطلقت من الألفاظ تأخير الطلاق وإن كان في زمن السّنة فإني رأيت المَهَل أجملَ من مفاجأة الطلاق فهذا لا يقبل إذا كان حالها موافقاً للسُّنة والسبب فيه أنه يبغي نفيَ الطلاق في الحال ثم ليس لمنتهى وقوع الطلاق ضبط لفظي ولا شرعي فإنه إن أراد التأخير من حال السُّنة إلى حال البدعة فهذا يخالف الشرع والألفاظَ الشرعية وإن أراد التأخير إلى طهرٍ آخر فلا ضبط له فليس انتظار طهر ثانٍ أولى من انتظار طهر ثالث والمرأة في الحال في طهر لم يجر فيه جماع فخرج من مجموع ما ذكرناه أن هذه الألفاظ عند إطلاقها محمولة على السنة حتى إذا كانت المرأة في حالة بدعةٍ تأخر الطلاق إلى وقت السنة وإن نوى تعجيلاً على خلاف السنة فقوله عليه مقبول وإن كانت في حال السنة ونوى تأخيراً عن احتمالٍ يُبديه فذلك غير مقبول منه ظاهراً ولا شك أنه يُديّن على ما مهدنا أصل التديين
Jika ia berkata, “Maksudku dengan lafaz-lafaz yang aku ucapkan adalah menunda talak, meskipun pada waktu yang sesuai sunnah, karena aku melihat bahwa memberi jeda lebih baik daripada tiba-tiba menjatuhkan talak,” maka hal ini tidak diterima jika kondisinya sesuai dengan sunnah. Sebabnya adalah karena ia ingin meniadakan talak saat itu juga, padahal tidak ada batasan secara lafaz maupun syariat mengenai kapan talak itu jatuh. Jika ia bermaksud menunda dari waktu yang sesuai sunnah ke waktu yang bid‘ah, maka itu bertentangan dengan syariat dan lafaz-lafaz syar‘i. Jika ia bermaksud menunda ke masa suci berikutnya, maka tidak ada batasan untuk itu; menunggu masa suci kedua tidak lebih utama daripada menunggu masa suci ketiga, sementara perempuan saat itu sedang dalam masa suci yang belum terjadi jima‘ di dalamnya. Maka dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, lafaz-lafaz ini jika diucapkan, dihukumi sesuai dengan sunnah, sehingga jika perempuan dalam kondisi bid‘ah, talak ditunda hingga waktu yang sesuai sunnah. Jika ia berniat mempercepat talak dengan cara yang tidak sesuai sunnah, maka ucapannya diterima atas dirinya. Namun jika ia dalam kondisi sesuai sunnah dan berniat menunda dengan alasan yang ia kemukakan, maka hal itu tidak diterima secara lahiriah darinya, meskipun tidak diragukan bahwa ia tetap dimintai pertanggungjawaban secara batin sebagaimana telah kami jelaskan dalam prinsip at-tadyīn.
ولو قال لامرأته أنت طالق أقبح الطلاق وأسمجه وأوحشه أو أفضحه أو أفظعه فإن أطلق هذه الألفاظ ولم ينو بها شيئاً فهو كما قال أنت طالق للبدعة ولا يخفى حكم هذه اللفظة فإن كانت في زمان بدعة تنجز الطلاق وإن كانت في زمان سُنة تأخر وقوع الطلاق إلى مصيرها إلى حالة البدعة ولو كانت في حالة سُنّة فقال أردت بأقبح الطلاق أعجله قُبل ذلك منه وانتجز الطلاق وإن كان في حالة بدعةٍ فقال أردت بالأقبح ما يتأخر ويُنتظر لم يقبل ذلك منه لأنه لا ضبط ولا توقف ينتهي إليه كما ذكرناه في الأحسن واكمل
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan talak yang paling buruk, paling keji, paling mengerikan, atau paling memalukan,” maka jika ia mengucapkan kata-kata ini secara mutlak tanpa meniatkan sesuatu pun, hukumnya sama seperti ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” dan hukum dari ungkapan ini tidaklah samar. Jika diucapkan pada masa di mana talak bid‘ah langsung berlaku, maka talak pun langsung jatuh. Namun, jika diucapkan pada masa di mana talak sunah, maka jatuhnya talak ditunda hingga istrinya berada dalam keadaan bid‘ah. Jika diucapkan pada keadaan sunah lalu ia berkata, “Yang aku maksud dengan talak yang paling buruk adalah talak yang paling cepat,” maka maksudnya diterima dan talak langsung jatuh. Namun, jika diucapkan pada keadaan bid‘ah lalu ia berkata, “Yang aku maksud dengan yang paling buruk adalah yang ditunda dan menunggu,” maka maksudnya tidak diterima, karena tidak ada batasan yang jelas dan tidak ada ketentuan yang pasti sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan tentang yang terbaik dan yang paling sempurna.
والذي يختلج في الصدر من هذه المسألة أنه إذا قال أنت طالق للسنة وكان وقت السنة منتظراً فالكلام محمول على التأقيت وكذلك القول فيه إذا قال أنت طالق للبدعة
Pendapat yang terlintas dalam benak mengenai masalah ini adalah bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak secara sunnah,” sementara waktu talak sunnah sedang dinantikan, maka ucapan tersebut dianggap sebagai penetapan waktu. Demikian pula halnya jika ia berkata, “Engkau tertalak secara bid‘ah.”
فأما إذا قال أنت طالق أجمل الطلاق أو أقبح الطلاق فهذا في ظاهره تنجيزٌ مع وصفٍ وليس في صيغة اللفظ ما يقتضي تعليقاً أو تأقيتاً ولو قال قائل مُطلَقُ هذا اللفظ التنجيز ثم ينظر في مُفسده على التفاصيل المقدمة لكان هذا كلاماً جارياً على صيغ الألفاظ ومعناها
Adapun jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan talak yang terbaik” atau “dengan talak yang terburuk”, maka secara lahiriah ini adalah penjatuhan talak secara langsung dengan tambahan sifat, dan tidak ada dalam lafaz tersebut sesuatu yang menunjukkan adanya penggantungan atau pembatasan waktu. Jika ada yang berkata bahwa makna mutlak dari lafaz ini adalah penjatuhan talak secara langsung, kemudian dilihat kerusakannya menurut rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ini adalah ucapan yang sesuai dengan bentuk lafaz dan maknanya.
وليس ما ذكرناه مذهباً لذي مذهب فإن الأصحاب مجمعون في الطرق على أن الأحسن وما في معناه مطلقُه محمول على ما يحمل عليه قول القائل أنت طالق للسُّنة والأقبح محمول عند الإطلاق على ما يحمل عليه قول القائل أنت طالق للبدعة
Apa yang telah kami sebutkan bukanlah mazhab dari seorang pemilik mazhab, karena para ulama sepakat dalam berbagai riwayat bahwa lafaz “yang terbaik” dan yang semakna dengannya, jika diucapkan secara mutlak, maka ditafsirkan sebagaimana ucapan seseorang “engkau ditalak secara sunnah”; sedangkan lafaz “yang terburuk”, jika diucapkan secara mutlak, maka ditafsirkan sebagaimana ucapan seseorang “engkau ditalak secara bid‘ah”.
فهذا بيان الفصل نقلاً واحتمالاً
Inilah penjelasan yang memisahkan antara keduanya, baik berdasarkan riwayat maupun kemungkinan.
ثم ذكر الشافعي أنه لو قال أنت طالق طلقةً حسنة كان كما لو قال أنت طالق للسنة وكذلك ما في معنى هذا اللفظ
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak yang baik,” maka hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak sesuai sunnah,” demikian pula halnya dengan lafaz yang maknanya serupa dengan ini.
وإذا قال أنت طالق طلقة قبيحة فهو كما لو قال أنت طالق للبدعة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan talak yang buruk,” maka hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak bid‘ah.”
ومنتهى التقريب في هذا الفصل أن الأحسن صفةُ مدح وهذا مفهوم من هذا اللفظ فلا محمل له أولى من السُّني والأقبح صفة ذم فلا محمل له أولى من المحظور المحرّم
Kesimpulan dari pembahasan dalam bab ini adalah bahwa “yang terbaik” merupakan sifat pujian, dan hal ini sudah dipahami dari lafaz tersebut, sehingga makna yang paling utama baginya adalah “yang sunah”; sedangkan “yang terburuk” merupakan sifat celaan, sehingga makna yang paling utama baginya adalah “yang terlarang” atau “yang haram”.
ولو قال أنت طالق طلقة حسنةً قبيحةً فقد جمع بين النقيضين وتنتفي الصفتان لتناقضهما ويبقى الطلاق المطلق وهو محمول على التنجيز وكذلك لو قال أنت طالق طلقة لا سُنيّة ولا بدعية وكانت متعرضة لهما جميعاً فتتعارض الصفتان وتسقطان في النفي كما سقطتا في الإثبات ويبقى الطلاق المطلق
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu kali dengan talak yang baik dan buruk,” maka ia telah menggabungkan dua hal yang saling bertentangan, sehingga kedua sifat tersebut menjadi gugur karena saling bertentangan, dan yang tersisa adalah talak muthlaq (umum) yang dianggap sebagai talak yang langsung terjadi. Demikian pula jika ia berkata, “Engkau tertalak satu kali, bukan talak sunni dan bukan pula talak bid‘i,” padahal keduanya mencakup kedua jenis tersebut, maka kedua sifat itu saling bertentangan dan gugur dalam penafian sebagaimana gugur dalam penetapan, sehingga yang tersisa adalah talak muthlaq.
ولو قال للتي لا تتعرض للسنة والبدعة أنت طالق للسنة والبدعة فالصفة ساقطة والطلاق مُطلق وحكم الانتجاز كما ذكرناه
Jika seseorang berkata kepada istri yang tidak termasuk dalam kategori yang terkena talak sunnah maupun talak bid‘ah, “Engkau aku talak dengan talak sunnah dan talak bid‘ah,” maka sifat tersebut gugur dan talaknya menjadi mutlak, serta hukumnya sama seperti talak yang langsung (tanpa syarat), sebagaimana telah kami sebutkan.
ثم قال الشافعي لو قال أنت طالق إذا قدم فلان للسُّنة إلى آخره إذا قال لامرأته إذا قدم فلان فأنت طالق للسُّنة فالقول الوجيز في هذا الفصل أنا ننظر إلى قدوم فلان وإلى حالة المرأة عند قدومه ونقول كأنه قال لها عند قدومه أنت طالق للسنة ثم لا يخفى حكم ذلك
Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika si Fulan datang, untuk talak sunnah,” dan seterusnya, yaitu jika ia berkata kepada istrinya, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak untuk talak sunnah,” maka penjelasan ringkas dalam bab ini adalah kita memperhatikan kedatangan si Fulan dan keadaan istri saat kedatangannya, lalu kita katakan seolah-olah ia berkata kepadanya saat kedatangan itu, “Engkau tertalak untuk talak sunnah,” kemudian hukum dari hal itu tidaklah samar.
وكذلك لو قال إذا قدم فلان فأنت طالق للبدعة فهو كما لو قال عند قدومه أنت طالق للبدعة
Demikian pula, jika seseorang berkata, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak talak bid‘ah,” maka hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Ketika kedatangannya, engkau tertalak talak bid‘ah.”
ومما يتعلق بهذا الفصل أنه لو قال هذا القول والمرأة حالة قوله لم تكن من أهل السنة ولا من أهل البدعة ثم صارت من أهلها فقدم زيد فالحكم بحالها عند قدوم زيد ولو كانت من أهل السنة والبدعة ثم خرجت عن أن تكون من أهل السنة والبدعة باليأس والتقاعد فالاعتبار بحالها عند قدوم زيد
Terkait dengan bab ini, jika seseorang mengucapkan pernyataan ini sementara perempuan tersebut pada saat diucapkannya pernyataan itu belum termasuk golongan Ahlus Sunnah maupun Ahlul Bid‘ah, kemudian ia menjadi bagian dari salah satu golongan tersebut, lalu Zaid datang, maka hukum ditetapkan berdasarkan keadaannya saat kedatangan Zaid. Dan jika ia sebelumnya termasuk Ahlus Sunnah atau Ahlul Bid‘ah, lalu keluar dari kedua golongan itu karena putus asa atau mundur, maka yang menjadi acuan adalah keadaannya saat kedatangan Zaid.
وكل ما ذكرناه يندرج تحت قولنا نجعل ما ذكره بمثابة ما لو قال لامرأته عند قدوم زيد أنت طالق للسنة أو البدعة
Semua yang telah kami sebutkan termasuk dalam pernyataan kami bahwa apa yang disebutkan itu diperlakukan seperti halnya jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak untuk sunnah atau untuk bid‘ah saat kedatangan Zaid.”
ومما يتعلق بهذا الفصل أن الرجل إذا قال لامرأته إذا قدم فلان فأنت طالق للبدعة فهذا التعليق في نفسه بدعة لأن الطلاق لا يقع به إلا موجب البدعة وإذا قال إذا قدم فلان فأنت طالق للسنة فتعليقه هذا ليس محظوراً ولو قال لامرأته إذا قدم زيد فأنت طالق ولم يتعرض لوصف الطلاق عند القدوم بالسُّنّة والبدعة فإذا قدم زيد طلّقت وإذا كان في زمان بدعة وقع الطلاق بدعيّاً وإن كانت في زمان سنة وقع الطلاق سنياً
Terkait dengan bab ini, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak dengan talak bid‘ah,” maka pengaitan seperti ini sendiri adalah bid‘ah, karena talak tidak terjadi dengannya kecuali sebagai talak bid‘ah. Dan jika ia berkata, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak dengan talak sunnah,” maka pengaitan seperti ini tidak terlarang. Dan jika ia berkata kepada istrinya, “Jika Zaid datang, maka engkau tertalak,” tanpa menyebutkan sifat talak saat kedatangan itu apakah sunnah atau bid‘ah, maka jika Zaid datang, istrinya tertalak; jika saat itu dalam masa bid‘ah, maka talaknya menjadi talak bid‘ah, dan jika dalam masa sunnah, maka talaknya menjadi talak sunnah.
هذا قولنا في صفة الطلاق الواقع
Inilah pendapat kami tentang sifat talak yang terjadi.
فأما التعليق نفسه فليس فيه تعرض لسنة وبدعة وإنما هو تعليق طلاق بصفة فظاهر كلام الشافعي على أن التعليق لا يتصف بالبدعة فإن الأمر متردد ولم يقصد المعلّق اعتماد إيقاع الطلاق في وقت البدعة
Adapun ta‘liq itu sendiri, tidak terdapat di dalamnya pembahasan tentang sunah atau bid‘ah, melainkan hanya merupakan pengaitan talak dengan suatu sifat. Secara lahiriah, pendapat asy-Syafi‘i menunjukkan bahwa ta‘liq tidak dapat disifati sebagai bid‘ah, karena perkara tersebut masih bersifat kemungkinan dan orang yang melakukan ta‘liq tidak bermaksud menegaskan jatuhnya talak pada waktu bid‘ah.
وحكى من يوثق به من أصحاب القفال أنه كان يقول التعليق على الإطلاق بدعة إذا كان لا يمتنع وقوع الطلاق في وقت البدعة لأنه متردد بين أن يقع الطلاق بدعيّاً وبين أن يقع سنياً وغيرَ بدعي والتردد بين المعصية وغيرها في نفسه معصية
Diriwayatkan dari orang yang terpercaya di kalangan sahabat al-Qaffal bahwa beliau berkata: “Menjadikan talak secara mu‘allaq (tergantung pada suatu syarat) secara mutlak adalah bid‘ah, jika tidak ada halangan terjadinya talak pada waktu bid‘ah, karena hal itu berada dalam kemungkinan antara terjadinya talak secara bid‘ah dan terjadinya talak secara sunni dan bukan bid‘ah. Dan keraguan antara maksiat dan selainnya pada dirinya sendiri adalah maksiat.”
وهذا الذي ذكره القفال وإن كان معتضداً بمسلك من المعنى فهو بعيد من وجهين أحدهما أنه في حكم الهجوم على ما اتفق عليه الأولون فإن تعليق الطلاق على الصفات لم يحظره أحد والآخر أن تحريم الطلاق بسبب تطويل العدة أو بسبب ندامة الولد ليس جارياً على قياس جلي فإنما التعويل الأظهر فيه التعبّد فلا ينتهي الأمر إلى مصير التعليق بدعيّاً لجواز إفضائه إليه إذا لم يوجد من المطلّق تجريد قصد إلى مصادفة البدعة
Apa yang disebutkan oleh al-Qaffal ini, meskipun didukung oleh salah satu pendekatan makna, tetaplah jauh (dari kebenaran) dari dua sisi. Pertama, hal itu seakan-akan menerobos apa yang telah disepakati oleh para pendahulu, karena menggantungkan talak pada sifat-sifat tertentu tidak pernah dilarang oleh siapa pun. Kedua, pengharaman talak karena alasan memperpanjang masa ‘iddah atau karena penyesalan terhadap anak tidaklah sejalan dengan qiyās yang jelas, sebab yang lebih kuat dalam hal ini adalah aspek ta‘abbud (kepatuhan murni). Maka, tidaklah sampai pada kesimpulan bahwa talak yang digantungkan menjadi bid‘ah hanya karena kemungkinan mengantarkan ke sana, selama dari pihak suami yang mentalak tidak ada niat khusus untuk melakukan bid‘ah.
فصل قال ولو قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika engkau tidak sedang hamil, maka engkau tertalak,” dan seterusnya.
مضمون هذا الفصل الكلامُ في مسألتين إحداهما أن يقول الرجل لامرأته إن كنت حاملاً فأنت طالق والأخرى أن يقول لها إن كنت حائلاً فأنت طالق فنبدأ بما إذا قال لامرأته إن كنت حاملاً فأنت طالق فالطلاق معلق بوجود الحمل في بطنها حالة التعليق فلا نحكم بوقوع الطلاق في الحال للشك القائم والتردد والأصل بقاء النكاح ولكن إن أتت بولد لستة أشهر فقد استيقنّا وجود الحمل حالة التعليق فنقضي بوقوع الطلاق تبيّناً واستناداً ثم تقضي العدة بوضع الحمل ولو أتت بولد لأكثر من أربع سنين فكما مضت أربع سنين تبيّنا حيالها حالة التعليق فلا يقع الطلاق
Isi bab ini membahas dua permasalahan: pertama, ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu sedang hamil, maka kamu tertalak”; dan kedua, ketika ia berkata, “Jika kamu tidak hamil, maka kamu tertalak.” Kita mulai dengan kasus ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu sedang hamil, maka kamu tertalak.” Maka talak tersebut digantungkan pada keberadaan janin di dalam rahimnya pada saat ucapan itu diucapkan. Oleh karena itu, kita tidak langsung memutuskan terjadinya talak karena masih ada keraguan dan ketidakpastian, serta pada dasarnya status pernikahan tetap berlaku. Namun, jika istrinya melahirkan anak setelah enam bulan, maka kita yakin bahwa pada saat ucapan itu diucapkan, ia memang sedang hamil, sehingga talak dinyatakan terjadi secara penjelasan dan berdasarkan keadaan saat itu. Setelah itu, masa iddah dihitung dengan kelahiran anak tersebut. Namun, jika ia melahirkan anak setelah lebih dari empat tahun, maka setelah berlalu empat tahun, kita mengetahui bahwa pada saat ucapan itu diucapkan, ia tidak sedang hamil, sehingga talak tidak terjadi.
وإن أتت به لأكثر من ستة أشهر وأقلَّ من أربع سنين فإن لم يطأها بعد عقد اليمين وقع الطلاق لأنا وإن كنا نجوّز أن يكون علوقها بعد العقد فالأمر محمول على أن العلوق من الزوج والوطء المتقدّم على اليمين وإذا كان كذلك فيقدر الحمل موجوداً حالة التعليق ونقضي بوقوع الطلاق
Jika ia melahirkan anak setelah lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun, maka jika suaminya tidak menggaulinya setelah akad sumpah, jatuhlah talak. Sebab, meskipun kami membolehkan kemungkinan kehamilan terjadi setelah akad, perkara ini dianggap bahwa kehamilan itu berasal dari suami dan dari hubungan suami-istri yang terjadi sebelum sumpah. Jika demikian, maka kehamilan dianggap sudah ada pada saat pengaitan (talak), dan kami menetapkan jatuhnya talak.
وذكر الأئمة قولاً آخر أن الطلاق لا يقع لجواز أن يكون العلوق بعد اليمين والأصل بقاء النكاح وهذا القائل يقول لا نحكم بوقوع الطلاق ما لم نتيقن وجود الحمل حالة اليمين
Para imam juga menyebutkan pendapat lain bahwa talak tidak terjadi karena dimungkinkan kehamilan terjadi setelah sumpah, dan pada dasarnya status pernikahan tetap ada. Pendapat ini menyatakan bahwa kita tidak menetapkan terjadinya talak kecuali jika kita benar-benar yakin adanya kehamilan pada saat sumpah diucapkan.
وإذا كان الزوج يطؤها بعد اليمين وأمكن إحالة العلوق على الوطء المتجدد بعد اليمين فلا خلاف أنا لا نحكم بوقوع الطلاق ولو وطئها بعد اليمين فأتت بولد لأقل من ستة أشهر من ذلك الوطء الجاري بعد اليمين فلا أثر لذلك الوطء فإن إمكان العلوق لا يسند إليه
Jika suami menggaulinya setelah sumpah, dan memungkinkan untuk mengaitkan kehamilan dengan hubungan yang terjadi setelah sumpah tersebut, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa kita tidak memutuskan terjadinya talak. Namun, jika ia menggaulinya setelah sumpah lalu istrinya melahirkan anak dalam waktu kurang dari enam bulan sejak hubungan yang terjadi setelah sumpah itu, maka hubungan tersebut tidak berpengaruh, karena kemungkinan terjadinya kehamilan tidak dapat dikaitkan dengannya.
فتحصل من مجموع ما ذكرناه أنه إذا جرى بعد اليمين وطء يمكن إحالة العلوق عليه لم يقع الطلاق وإن استيقنا وجود الولد حالة التعليق بأن أتت به لدون ستة أشهر حكمنا بوقوع الطلاق وإن لم يجر وطء بعد اليمين أو جرى وطء لا يمكن إحالة العلوق عليه ولكن كان يمكن إحالة العلوق على وطء من غير الزوج فالشرع في إلحاق النسب يقدر استناد العلوق إلى الوطء المتقدم على اليمين غير أن سبيل الاحتمال غير منحسم بأن يفرض العلوق بعد اليمين من غير الزوج فظاهر المذهب الحكم بوقوع الطلاق
Maka dapat disimpulkan dari seluruh penjelasan yang telah kami sebutkan bahwa jika setelah sumpah terjadi hubungan suami istri yang memungkinkan kehamilan disandarkan padanya, maka talak tidak jatuh. Namun, jika diyakini keberadaan anak pada saat penggantungan (talak) dengan tanda bahwa ia melahirkan anak kurang dari enam bulan, maka kami memutuskan jatuhnya talak. Jika tidak terjadi hubungan suami istri setelah sumpah, atau terjadi hubungan yang tidak memungkinkan kehamilan disandarkan padanya, tetapi kehamilan itu mungkin disandarkan pada hubungan dengan selain suami, maka syariat dalam menetapkan nasab memperkirakan kehamilan itu bersandar pada hubungan yang terjadi sebelum sumpah. Namun, kemungkinan itu tidak tertutup, yaitu dengan menganggap kehamilan setelah sumpah berasal dari selain suami. Maka, menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, diputuskan jatuhnya talak.
وفي المسألة قول آخر أنّا لا نحكم بالوقوع للتردد الثابت والأصل بقاء النكاح
Dalam masalah ini terdapat pendapat lain, yaitu bahwa kita tidak memutuskan terjadinya (talak) karena adanya keraguan yang tetap, dan hukum asalnya adalah tetapnya status pernikahan.
ثم إذا قال لها إن كنت حاملاً فأنت طالق فإلى أن نتبين من العواقب ما ذكرناه هل يحل للزوج وطؤها أم كيف الطريق قال الأصحاب لا يطؤها حتى يستبرئها فإنه ذكر لفظة الطلاق ووقوعه غير بعيد وأمر الأبضاع على التشديد ونقل العراقيون قولاً آخر أن الوطء لا يحرم بل يكره فحصل قولان في تحريم الوطء أحدهما أنه محرم لما قدمناه والثاني أنه مكروه غير محظور لأنا لم نستبن وقوعَ المحرم ثم إذا حرمنا الوطء وقلنا يستبرئها فلا يطؤها حتى تنقضي مدّة الاستبراء وبكم يستبرئها فعلى وجهين ذكرهما العراقيون
Kemudian, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu hamil, maka kamu tertalak,” maka sampai jelas akibatnya seperti yang telah kami sebutkan, apakah suami boleh menggaulinya atau bagaimana caranya? Para ulama berpendapat bahwa suami tidak boleh menggaulinya sampai ia melakukan istibra’, karena ia telah mengucapkan lafaz talak dan kemungkinan jatuhnya talak tidaklah jauh, sementara urusan kehormatan (hubungan suami istri) harus diperketat. Ulama Irak meriwayatkan pendapat lain bahwa hubungan suami istri tidak menjadi haram, tetapi makruh. Maka terdapat dua pendapat tentang keharaman hubungan suami istri: yang pertama, haram sebagaimana yang telah kami kemukakan; yang kedua, makruh namun tidak terlarang, karena kita belum memastikan terjadinya keharaman. Kemudian, jika kita mengharamkan hubungan suami istri dan mengatakan harus melakukan istibra’, maka suami tidak boleh menggaulinya sampai masa istibra’ selesai. Adapun berapa lama masa istibra’ itu, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh ulama Irak.
والقول في حرةٍ خوطبت بما ذكرناه فأحد الوجهين أنه يستبرئها بثلاثة أقراء فإن الاستبراء في حق الحرة لا ينقص عن ذلك
Adapun pendapat mengenai seorang perempuan merdeka yang dikenai hukum sebagaimana telah kami sebutkan, maka salah satu pendapat adalah bahwa ia harus menjalani istibra’ dengan tiga kali quru’, karena istibra’ bagi perempuan merdeka tidak kurang dari itu.
والثاني أنه يستبرئها بقرء واحد كما تستبرأ الأمة المملوكة لأن هذا ليس بعدّة واعتبار العَدد في الأقراء يتعلق بالعِدد وإنما الغرض بهذا الاستبراء استظهارٌ وتعلق بعلامة ثم قالوا إن قلنا يستبرئها بثلاثة أقراء فهي أطهار على ما سيأتي في العِدد إن شاء الله تعالى
Kedua, ia harus melakukan istibra’ terhadapnya dengan satu kali quru’ sebagaimana istibra’ terhadap budak perempuan yang dimiliki, karena ini bukanlah ‘iddah, dan penetapan jumlah dalam quru’ berkaitan dengan ‘iddah. Adapun tujuan dari istibra’ ini adalah untuk kehati-hatian dan berkaitan dengan suatu tanda. Kemudian mereka berkata, jika kita katakan bahwa istibra’ dilakukan dengan tiga kali quru’, maka yang dimaksud adalah tiga kali suci, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan ‘iddah, insya Allah Ta‘ala.
وإن قلنا يستبرئها بقرء واحد فسبيله كسبيل استبراء المملوكة ثم المذهب الصحيح أنه حيضة وفيه وجه أنه طهر وسيأتي ذكره في موضعه إن شاء الله تعالى ثم إذا مضى الاستبراء على ما ذكرناه فيحل للزوج وطؤها ومما ذكره العراقيون أنه لو استبرأها أولاً إما بقرء أو أقراء وظهر عنده براءتها في ظاهر الحال ثم قال إن كنت حاملاً فأنت طالق فهل يحل وطؤها بناءً على الاستبراء المتقدم فعلى وجهين أحدهما أنه يحل لحصول علامة براءة الرحم وليست في اعتداد على التحقيق حتى نعتبر فيه الترتيب ونقضي بأن العدة إنما يعتد بها إذا ترتبت على الطلاق
Jika kita katakan bahwa masa istibra’ (pembersihan rahim) cukup dengan satu quru’, maka caranya sama seperti istibra’ bagi budak perempuan. Pendapat yang benar dalam mazhab adalah bahwa satu quru’ itu berarti satu haid, namun ada juga pendapat lain bahwa maksudnya adalah satu masa suci, dan penjelasannya akan disebutkan pada tempatnya, insya Allah Ta’ala. Setelah masa istibra’ selesai sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka suami boleh menggaulinya. Di antara yang disebutkan oleh para ulama Irak adalah, jika ia telah melakukan istibra’ terlebih dahulu, baik dengan satu quru’ maupun beberapa quru’, dan tampak baginya bahwa rahimnya telah bersih secara lahiriah, lalu ia berkata, “Jika engkau hamil, maka engkau tertalak,” maka apakah boleh menggaulinya berdasarkan istibra’ yang telah dilakukan sebelumnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya membolehkan, karena telah terdapat tanda bersihnya rahim, dan perempuan tersebut pada hakikatnya tidak sedang menjalani masa iddah, sehingga tidak disyaratkan adanya urutan, dan masa iddah itu hanya dihitung jika memang terjadi setelah talak.
والوجه الثاني أنه لا حكم للاستبراء المتقدم كما لا حكم للعدة قبل الطلاق والاستبراء قبل الشراء
Adapun alasan kedua adalah bahwa istibra’ yang dilakukan sebelumnya tidak dianggap memiliki hukum, sebagaimana halnya masa ‘iddah sebelum terjadi talak dan istibra’ sebelum terjadinya pembelian.
ومما يتعلق بذلك أنا إذا أمرناه بالاستبراء فمرّت بها صورة الأقراء ثم أتت بولدٍ لزمانٍ يُعلم وجوده حالة اليمين فنتبين بالأَخَرة أن الوطء صادف مطلَّقة وأن ما كنا نحكم به أمرٌ ظاهر وقد بان أن الحكم بخلافه ثم لا يخفى تفصيل القول في المهر وتجدّد العدة وغيرهما من الأحكام وإذا أمرناه بالاستبراء فمضى شهر أو شهران وأكثر فلم ير قرءاً وهي من أهل الأقراء فإنه يجتنبها فإن انقطاع الحيض عنها من مخايل الحمل وهذا يؤكد التحريم ثم الأمر يبين بوضعها الحمل وعدم وضعها كما تقدم
Terkait dengan hal itu, jika kami memerintahkannya untuk melakukan istibra’, lalu berlalu masa iddah dan kemudian ia melahirkan anak pada waktu yang diketahui keberadaannya saat bersumpah, maka pada akhirnya kami mengetahui bahwa hubungan suami istri itu terjadi pada saat ia telah ditalak, dan apa yang sebelumnya kami putuskan hanyalah berdasarkan pada hal yang tampak, namun ternyata hukum sebenarnya berbeda. Selanjutnya, tidak tersembunyi rincian pembahasan tentang mahar, pembaruan masa iddah, dan hukum-hukum lainnya. Jika kami memerintahkannya untuk melakukan istibra’, lalu berlalu satu bulan, dua bulan, atau lebih, namun ia tidak melihat haid padahal ia termasuk wanita yang biasa mengalami haid, maka ia harus dijauhi, karena terputusnya haid darinya merupakan tanda-tanda kehamilan, dan hal ini semakin menegaskan keharaman. Kemudian perkara ini akan menjadi jelas dengan ia melahirkan atau tidak melahirkan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو كانت في سن الحيض ووقت إمكان الحيض فقال إن كنت حاملاً فأنت طالق وما كانت حاضت من قبل فالعدة في حق مثل هذه لو طلقت بالأشهر فإذا اعتدت بالأشهر نكحت وجعلنا مضيّ الأشهر علامة على براءة الرحم حتى يجوز لها أن تنكح وإذ ذاك توطأ ثم في الحكم بانقضاء العدة حكمٌ بانبتات النكاح فإن الرجعية زوجة ما دامت في العدة
Jika seorang perempuan berada pada usia haid dan pada waktu yang memungkinkan untuk haid, lalu suaminya berkata, “Jika kamu hamil, maka kamu tertalak,” dan perempuan tersebut belum pernah haid sebelumnya, maka masa iddah bagi perempuan seperti ini jika ditalak adalah dengan hitungan bulan. Jika ia telah menyelesaikan masa iddah dengan hitungan bulan, maka ia boleh menikah lagi. Kami menjadikan berlalunya bulan-bulan sebagai tanda bahwa rahimnya telah bersih sehingga ia boleh menikah lagi, dan pada saat itu ia boleh digauli. Kemudian, dalam hukum berakhirnya masa iddah terdapat pula hukum terputusnya hubungan pernikahan, karena perempuan yang ditalak raj‘i masih berstatus sebagai istri selama masa iddahnya.
فخرج مما ذكرناه أن الأشهر في حق هذه في مسألتنا إذا لم تكن حاضت قبلُ بمثابة الأقراء فإذا مضت الأشهر حلّ له وطؤها إلا أن تظهر بعد الأشهر علامة الحمل فإذ ذاك يمتنع وذاتُ الأشهر إذا رأت علامة الحمل بعد الاعتداد بالأشهر لم تنكح وإذا استرابت ففيها كلام سيأتي في كتاب العدد إن شاء الله تعالى
Maka dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa masa idah dengan hitungan bulan dalam masalah kita ini, jika perempuan tersebut belum pernah haid sebelumnya, kedudukannya sama dengan masa idah dengan hitungan quru’. Jika telah berlalu masa bulan-bulan tersebut, maka suaminya halal menggaulinya, kecuali jika setelah masa bulan-bulan itu muncul tanda kehamilan, maka saat itu hubungan suami istri menjadi terlarang. Perempuan yang masa idahnya dengan hitungan bulan, jika ia melihat tanda kehamilan setelah selesai masa idah dengan bulan, maka ia tidak boleh menikah. Jika ia ragu, maka ada pembahasan khusus tentang hal ini yang akan dijelaskan dalam Kitab al-‘Iddah, insya Allah Ta‘ala.
هذا تمام البيان فيه إذا قال لها إن كنت حاملاً فأنت طالق
Ini adalah penjelasan lengkap mengenai kasus ketika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu sedang hamil, maka kamu tertalak.”
وقد يتعلق بهذا أنه لو قال للمتقاعدة الآيسة إن كنت حاملاً فأنت طالق فهل يحل له الإقدام على وطئها حق هذه المسألة أن تبنى على أن الاستبراء المتقدم هل يؤثر في إباحة الوطء أم لا فإن جعلناه مؤثراً وقد تحقق اليأس فالظاهر أنه يحل له وطؤها وإن لم نعتبر ما تقدم على عقد اليمين فاستبراؤها بالأشهر محتملٌ
Terkait dengan hal ini, jika seseorang berkata kepada perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena menopause, “Jika engkau hamil, maka engkau tertalak,” apakah boleh baginya untuk menggaulinya? Hakikat permasalahan ini bergantung pada apakah istibra’ (pengecekan bebasnya rahim) yang telah dilakukan sebelumnya berpengaruh dalam membolehkan hubungan suami istri atau tidak. Jika kita menganggapnya berpengaruh dan telah dipastikan menopause, maka yang tampak adalah boleh baginya menggaulinya. Namun jika kita tidak memperhitungkan apa yang telah dilakukan sebelum sumpah diucapkan, maka istibra’ dengan masa beberapa bulan masih mungkin dipertimbangkan.
وكل ذلك كلام في مسألة واحدة من المسألتين الموعودتين
Dan semua itu adalah pembahasan tentang satu dari dua permasalahan yang telah dijanjikan.
فأما المسألة الثانية وهي أن يقول لها إن كنت حائلاً فأنت طالق ومعناه إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق فالطلاق معلق في هذه المسألة بعدم الحمل وكان معلقاً في المسألة الأولى بوجود الحمل فنقول أولاً لو أتت بولد لأقل من ستة أشهر فلا يقع الطلاق لأنا تحققنا وجود الحمل عند عقد اليمين والطلاق معلق على عدم الولد وإن أتت بالولد لأكثر من أربع سنين أو لم تأت بولدٍ في أربع سنين ولا بعدها نحكم بوقوع الطلاق لعلمنا بأنها لم تكن حاملاً حالة عقد اليمين
Adapun masalah kedua, yaitu ketika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu tidak sedang hamil, maka kamu tertalak,” yang maksudnya adalah jika kamu tidak sedang mengandung, maka kamu tertalak. Maka talak dalam masalah ini digantungkan pada tidak adanya kehamilan, sedangkan pada masalah pertama digantungkan pada adanya kehamilan. Kami katakan terlebih dahulu, jika istri melahirkan anak kurang dari enam bulan, maka talak tidak jatuh, karena kami memastikan adanya kehamilan saat sumpah diucapkan, dan talak digantungkan pada tidak adanya anak. Namun, jika ia melahirkan anak lebih dari empat tahun, atau tidak melahirkan anak dalam empat tahun maupun setelahnya, maka kami memutuskan talak jatuh, karena kami mengetahui bahwa ia tidak sedang hamil pada saat sumpah diucapkan.
وإن أتت بولد لأكثر من ستة أشهر ولأقلَّ من أربع سنين واحتمل أن يكون الحمل موجوداً يوم الحلف واحتمل ألا يكون فإن لم يطأها الزوج بعد اليمين فالأظهر أنها حبلت بما سبق من الوطء قبل اليمين وأنها كانت حاملاً قبل اليمين ونحكم في هذه الصورة بأن الطلاق لا يقع وجهاً واحداً إذا الأصل بقاء النكاح وعدم الطلاق والظاهر استناد العلوق إلى ما تقدم فاجتمع الظاهرُ والأصلُ في نفي الطلاق
Jika seorang wanita melahirkan anak setelah lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun, dan ada kemungkinan kehamilan sudah ada pada hari sumpah, serta ada kemungkinan juga belum ada, maka jika suami tidak menggaulinya setelah sumpah, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ia hamil dari hubungan sebelumnya sebelum sumpah, dan bahwa ia sudah hamil sebelum sumpah. Dalam kasus ini, kita menetapkan bahwa talak tidak terjadi secara mutlak, karena pada dasarnya pernikahan tetap ada dan talak tidak terjadi, dan yang tampak adalah kehamilan bersandar pada hubungan sebelumnya. Maka, zhahir dan asal berkumpul dalam menafikan terjadinya talak.
ولو حلف كما صورنا ثم وطىء بعد اليمين فأتت بولد لأكثرَ من ستة أشهر من وقت اليمين نظر فإن أتت به لأقلّ من ستة أشهر من وقت الوطء بعد اليمين فلا أثر لذلك الوطء فإن إمكان العلوق لا يستند إليه فوجوده في غرضنا كعدمه وإن أتت به لأكثر من ستة أشهر من وقت اليمين ومن وقت الوطء بعد اليمين ففي وقوع الطلاق وجهان في هذه الصورة أحدهما يقع لأن الظاهر أنه محمول على الوطء بعد اليمين وأنها كانت حائلاً قبله
Jika seseorang bersumpah seperti yang telah kami gambarkan, kemudian ia menggauli istrinya setelah sumpah itu, lalu istrinya melahirkan anak lebih dari enam bulan sejak waktu sumpah, maka perlu dilihat: jika ia melahirkan anak kurang dari enam bulan sejak waktu hubungan setelah sumpah, maka hubungan tersebut tidak berpengaruh, karena kemungkinan kehamilan tidak dikaitkan dengannya, sehingga keberadaannya dalam konteks ini dianggap seperti tidak ada. Namun, jika ia melahirkan anak lebih dari enam bulan sejak waktu sumpah dan sejak waktu hubungan setelah sumpah, maka dalam hal jatuhnya talak terdapat dua pendapat dalam kasus ini: salah satunya talak jatuh, karena secara lahiriah anak itu dinisbatkan pada hubungan setelah sumpah dan bahwa sebelumnya ia tidak hamil.
والوجه الثاني أنه لا يقع لجواز أن تكون حاملاً وقت اليمين وأن الزوج وطئها وهي حامل ولا يقع الطلاق بالشك وإنما يقع باليقين وقد يقع بالظاهر وليس في الوطء المتجدد ما يظهر الحيال وعدم الحبل قبله وهذا ما اختاره صاحب التقريب وهو لعمري مختار
Pendapat kedua adalah bahwa talak tidak terjadi karena dimungkinkan istri sedang hamil pada saat sumpah diucapkan, dan suami telah menggaulinya saat ia hamil. Talak tidak terjadi karena keraguan, melainkan harus dengan keyakinan, meskipun kadang terjadi berdasarkan dugaan kuat (zhāhir). Dalam hubungan suami istri yang terjadi kemudian, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya rekayasa atau ketiadaan kehamilan sebelumnya. Inilah pendapat yang dipilih oleh penulis kitab at-Taqrīb, dan menurutku, inilah pendapat yang lebih kuat.
ثم نتكلم وراء هذا في حل الوطء وتحريمه ووجوب الاستبراء فإذا قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق فلم نتبين بعدُ حِيالَها وحَملَها فهل يحرم الإقدام على وطئها قبل أن نتبين الأمرَ
Kemudian setelah itu kita membahas tentang kebolehan dan keharaman melakukan hubungan suami istri serta kewajiban melakukan istibra’. Jika seseorang berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” sementara kita belum mengetahui keadaan rahimnya dan apakah ia hamil atau tidak, maka apakah haram melakukan hubungan suami istri sebelum kita mengetahui perkara tersebut?
قد ذكرنا تعليق الطلاق بالحمل قبلُ وهذا تعليق الطلاق بعدم الحمل وذكرنا فيه إذا علق الطلاق بالحمل قولين في تحريم الوطء والأصل عدم الحمل فإذا علق الطلاق بالحيال فالتحريم أغلب هاهنا من جهة أن الأصل عدم الحمل والطلاق يقع بعدم الحمل
Kami telah menyebutkan sebelumnya tentang penangguhan talak dengan kehamilan, dan ini adalah penangguhan talak dengan tidak adanya kehamilan. Kami juga telah menyebutkan bahwa jika talak digantungkan pada kehamilan, terdapat dua pendapat mengenai keharaman berhubungan suami istri, dan pada dasarnya tidak ada kehamilan. Maka jika talak digantungkan pada kemandulan, keharaman di sini lebih kuat, karena pada dasarnya tidak ada kehamilan dan talak terjadi karena tidak adanya kehamilan.
والذي تحصّل من مسلك الأصحاب في المسألتين طريقان أحدهما أنه إذا قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق يحرم الوطء في الحال قولاً واحداً وإذا قال إن كنت حاملاً فأنت طالق فهل يحرم الوطء في الحال فعلى قولين
Kesimpulan yang didapat dari pendapat para ulama dalam dua permasalahan ini ada dua jalan: Pertama, jika seseorang berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” maka haram melakukan hubungan suami istri saat itu juga menurut satu pendapat. Kedua, jika ia berkata, “Jika engkau hamil, maka engkau tertalak,” maka apakah haram melakukan hubungan suami istri saat itu juga? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
والطريقة الأخرى عكس هذه فإذا قال إن كنت حاملاً فأنت طالق فمن أصحابنا من قال لا يحرم الوطء بل نكرهه قولاً واحداً فإن الأصل عدم الحمل
Dan cara yang lain adalah kebalikannya; jika seseorang berkata, “Jika kamu sedang hamil, maka kamu tertalak,” maka sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hubungan suami istri tidak menjadi haram, melainkan hanya makruh menurut satu pendapat, karena pada dasarnya dianggap tidak ada kehamilan.
وإذا قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق فهل يحرم الوطء أم يكره فعلى قولين
Jika seorang suami berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” maka apakah hubungan suami istri menjadi haram atau makruh? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
فإذا جمع الجامع الطريقين فحاصل القول في المسألتين ثلاثة أقوال أحدها التحريم فيهما
Jika seseorang menggabungkan kedua metode tersebut, maka kesimpulan pendapat dalam dua permasalahan ini ada tiga: yang pertama adalah pengharaman pada keduanya.
والثاني الكراهية فيهما مع رفع التحريم
Yang kedua adalah makruh pada keduanya dengan diangkatnya keharaman.
والثالث أن الوطء يحرم إذا كان الطلاق معلقاً بعدم الحمل ولا يحرم إذا كان معلقاً بالحمل
Ketiga, hubungan suami istri menjadi haram jika talak digantungkan pada tidak adanya kehamilan, dan tidak menjadi haram jika digantungkan pada adanya kehamilan.
ثم إذا بان الكلام في التحريم وجرينا على أن الوطء يحرم فيه إذا قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق فإذا انكف عنها فمضى بها قرء أو قرءان على انتظام الأقراء ولم يظهر بها حمل قال صاحب التقريب والقاضي نحكم بوقوع الطلاق وتبيّنا حِيالَها حالة عقد اليمين ثم تكون الأقراء بعد عقد اليمين عدتَها فلها أن تنكح
Kemudian, setelah jelas pembicaraan mengenai pengharaman dan kita mengikuti pendapat bahwa hubungan suami istri menjadi haram jika suami berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” lalu ia menjauhi istrinya dan berlalu satu atau dua masa haid secara berurutan tanpa tampak tanda-tanda kehamilan pada istrinya, maka menurut pendapat ashhab at-taqrib dan al-qadhi, kita memutuskan jatuhnya talak dan kita mengetahui keadaan istrinya pada saat pengucapan sumpah tersebut. Kemudian, masa haid setelah pengucapan sumpah itu menjadi masa iddahnya, sehingga ia boleh menikah lagi.
وإذا جعلنا الاستبراء في هذه المحال بقرء واحد حكمنا بوقوع الطلاق إذا مضى قرء واحتسبنا هذا القرء من عدتها وأمرناها باستقبال قرأين آخرين بَعْده ويتم انقضاء العدة فالذي ذكره المحققون أنا نحكم بوقوع الطلاق عند مضي ثلاثة أقراء تبيّناً وإسناداً إلى وقت اليمين وإذا مضى قرء واحد فهل نحكم بوقوع الطلاق فعلى وجهين
Jika kita menetapkan istibra’ pada kasus-kasus ini dengan satu quru’, maka kita memutuskan terjadinya talak ketika satu quru’ telah berlalu, dan kita menghitung quru’ tersebut sebagai bagian dari masa iddahnya, serta memerintahkannya untuk memulai dua quru’ berikutnya setelahnya hingga selesai masa iddah. Maka, sebagaimana yang disebutkan oleh para muhaqqiq, kami memutuskan terjadinya talak ketika tiga quru’ telah berlalu, sebagai penjelasan dan penetapan waktu sumpah. Namun, jika baru satu quru’ yang berlalu, apakah kita memutuskan terjadinya talak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وفي هذا المقام وقفة على الناظر فإنا إن ذكرنا تردّداً في المسألة الأولى وهي إذا قال إن كنت حاملاً فأنت طالق في أن وطأها هل يحل بقرء واحد فسببه أن الأصل الحِل ونحن نبغي علامةً على البراءة فأما الحكم بوقوع الطلاق بقرء واحد فبعيد وليست النفس خالية عن التردد في الحكم بوقوع الطلاق بعد ثلاثة أقراء فما الظن بالقرء الواحد فإن الرجل إذا طلق امرأته فأصل الطلاق البتُّ ولذلك حرمت الرجعية فإن نحن أحللنا الرجعية بعد ثلاثة أقراء للأزواج فسببه مضي علامات البراءة بعد الطلاق وهاهنا الطلاق واقع بالعلامات عند الأصحاب
Dalam hal ini, perlu ada perhatian bagi yang menelaah, sebab jika kami menyebutkan adanya keraguan dalam masalah pertama, yaitu jika seseorang berkata, “Jika engkau hamil, maka engkau tertalak,” mengenai apakah suaminya boleh menggaulinya dengan satu kali masa suci (qur’), maka sebabnya adalah hukum asalnya adalah halal, dan kita mencari tanda-tanda yang menunjukkan kebebasan dari kehamilan. Adapun menetapkan jatuhnya talak dengan satu kali masa suci adalah jauh (dari kebenaran), dan hati pun tidak sepenuhnya lepas dari keraguan dalam menetapkan jatuhnya talak setelah tiga kali masa suci, apalagi dengan hanya satu kali masa suci. Sebab, jika seorang laki-laki menalak istrinya, maka hukum asal talak adalah talak bain, oleh karena itu istri yang bisa dirujuk menjadi haram (dinikahi kembali tanpa akad baru). Jika kita membolehkan rujuk setelah tiga kali masa suci bagi para suami, maka sebabnya adalah telah berlalu tanda-tanda kebebasan dari kehamilan setelah talak, sedangkan dalam kasus ini talak jatuh dengan adanya tanda-tanda menurut para ulama.
ولكن هذا الذي ذكرناه توسّع في الكلام فإن الذي رأيناه للأصحاب أنه إذا مضت ثلاثة أقراء حكمنا بوقوع الطلاق فإن الأقراء علامة على براءة الرحم وعلى هذا بنينا انقطاعَ الرجعة وبينونةَ الرجعية وحِلَّ نكاحها لغير المطلّق وكان من الممكن أن نأمرها بالتربص إلى انقضاء أكثر مدة الحمل فإذا قضى الشرع بإحلالها بناء على علامة البراءة فيقع القضاء بوقوع الطلاق بناء على علامة البراءة وقد عَلَّق الطلاقَ على عروّ رحمها عن الولد إذ قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق فإذا قامت علامة الاستبراء بقرء أو أقراء قَبْل اليمين فهل نحكم بوقوع الطلاق كما علقه بالحيال فعلى وجهين قدمنا ذكرهما
Namun, penjelasan yang kami sebutkan di atas adalah uraian yang luas, sebab yang kami dapati dari para ulama adalah bahwa apabila telah berlalu tiga kali quru’, maka kami menetapkan terjadinya talak, karena quru’ merupakan tanda bersihnya rahim. Atas dasar inilah kami menetapkan berakhirnya masa rujuk, terputusnya status talak raj‘i, dan bolehnya ia dinikahi oleh laki-laki lain selain suaminya yang mentalaknya. Sebenarnya, memungkinkan juga untuk memerintahkannya menunggu hingga berakhirnya masa maksimal kehamilan. Namun, ketika syariat telah menetapkan kebolehannya menikah berdasarkan tanda bersihnya rahim, maka penetapan terjadinya talak pun didasarkan pada tanda bersihnya rahim. Talak itu digantungkan pada kosongnya rahim dari anak, sebagaimana ucapan: “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak.” Jika telah ada tanda istibra’ berupa satu atau beberapa quru’ sebelum sumpah, apakah kita menetapkan terjadinya talak sebagaimana ia menggantungkan talak pada keadaan tidak hamil? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.
ومما يجب ترتيبه على ذلك أنه إذا قال لامرأته إذا برىء رحمك فأنت طالق يجب تخريج هذا على ما ذكرناه من مضي القرء والأقراء ويجب القطع بأنه إذا مضت ثلاثة أقراء والزوج مجتنبها فيقع الطلاق وفي القرء الواحد الخلاف
Dan yang harus disusun berdasarkan hal itu adalah bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika rahimmu telah bersih, maka engkau tertalak,” maka hal ini harus diarahkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang berlalunya masa quru’ dan masa-masa quru’. Harus dipastikan bahwa jika telah berlalu tiga kali quru’ sementara suami menjauhinya, maka talak jatuh. Namun, dalam satu kali quru’ terdapat perbedaan pendapat.
ولو قال إن استيقنت براءة الرحم لم نقض بوقوع الطلاق ما لم يمض أكثر مدة الحمل ونعود إلى التنبيه مرة أخرى ونقول بنى الأصحاب وقوع الطلاق على حكم الشرع بأن الأقراء دالة على براءة الرحم وذلك حكم مقتفىً وتعبد متبع بعد وقوع الطلاق وكنت أود لو طلبنا في تعليق الطلاق يقين الصفة فإن الأيمان مبنية على معاني الألفاظ ولا فرق بين أن يقول القائل إن قدم زيد فأنت طالق وبين أن يقول إن استيقنت قدوم زيد فأنت طالق فتحقيق القدوم مطلوب وإذا قال إذا استيقنت حيالك فأنت طالق فوقوع الطلاق بثلاثة أقراء محال فإذا قال إن كنت حائلاً فأنت طالق فالحكم بوقوع الطلاق من غير استيقان الحيال بعيد عن موجب الأيمان وقضايا الألفاظ وقد وجدت لشيخنا ما يدل على هذا فلذلك عدت إليه والعلم عند الله تعالى
Dan jika ia berkata, “Jika engkau telah yakin rahimmu bersih, maka talak tidak dijatuhkan sebelum lewat masa kehamilan terpanjang,” maka kami kembali menegaskan sekali lagi: para ulama mendasarkan jatuhnya talak pada hukum syariat, yaitu bahwa masa idah (qurū’) menunjukkan bersihnya rahim, dan itu adalah hukum yang diikuti dan ditaati setelah talak terjadi. Sebenarnya aku berharap seandainya dalam menggantungkan talak, kita mensyaratkan keyakinan terhadap sifat (yang dimaksud), sebab sumpah-sumpah dibangun atas makna lafaz-lafaznya. Tidak ada perbedaan antara seseorang yang berkata, “Jika Zaid datang, maka engkau tertalak,” dengan yang berkata, “Jika engkau yakin Zaid telah datang, maka engkau tertalak.” Maka, kepastian tentang kedatangan itu yang dicari. Jika ia berkata, “Jika engkau yakin sedang tidak hamil, maka engkau tertalak,” maka jatuhnya talak dengan tiga kali masa idah adalah mustahil. Jika ia berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” maka menetapkan jatuhnya talak tanpa keyakinan tentang tidak hamil jauh dari konsekuensi sumpah dan makna lafaz. Aku pun menemukan dari guru kami sesuatu yang menunjukkan hal ini, maka aku kembali pada pendapat itu. Dan ilmu hanyalah milik Allah Ta‘ala.
ومما يتعلق بتمام الكلام في ذلك أنه إذا قال لها إن كنت حائلاً فأنت طالق ثم مرّ بها ثلاثة أشهر ولم تر دماً فإن كانت من ذوات الأقراء لم نحكم بوقوع الطلاق فإنا لا نحكم بأن عدتها تنقضي بالأشهر لو كانت مطلَّقة ولو كانت على سن الحيض ولكن لم تحض وقد قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق ومضت بها ثلاثة أشهر فالأشهر في حق هذه عدةٌ بعد الطلاق مسلِّطةٌ على التزويج فإذا قال لها إن لم تكوني حاملاً أو كنت حائلاً فأنت طالق فقياس قول الأصحاب وقوع الطلاق وهذا على نهاية البعد فإن مضي الأشهر الثلاثة أو مضي شهرٍ واحدٍِ على طريقةٍ أخرى يُفضي إلى الحكم بوقوع الطلاق مع أن الأصل بقاء النكاح والطلاقُ لا يقع بالشك
Terkait dengan penyempurnaan pembahasan dalam hal ini, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu tidak hamil, maka kamu tertalak,” kemudian berlalu tiga bulan tanpa ia melihat darah (haid), maka jika ia termasuk wanita yang biasanya mengalami haid, kita tidak memutuskan terjadinya talak. Sebab, kita tidak menetapkan bahwa masa iddahnya selesai dengan hitungan bulan jika ia ditalak, meskipun ia berada pada usia haid namun tidak mengalami haid. Namun, jika suami berkata, “Jika kamu tidak hamil, maka kamu tertalak,” lalu telah berlalu tiga bulan, maka hitungan bulan dalam kasus ini adalah masa iddah setelah talak yang membolehkan untuk menikah lagi. Jika suami berkata, “Jika kamu tidak hamil, atau jika kamu tidak mengandung, maka kamu tertalak,” maka menurut qiyās pendapat para ulama, talak dianggap terjadi. Namun, ini adalah pendapat yang sangat jauh (dari kebenaran). Sebab, berlalu tiga bulan, atau berlalu satu bulan menurut pendapat lain, mengakibatkan keputusan terjadinya talak, padahal asalnya adalah tetapnya pernikahan dan talak tidak terjadi karena keraguan.
ثم قال الأصحاب إذا حكمنا بوقوع الطلاق بعد مضي ثلاثة أقراء في ذوات الأقراء فأتت بولد بعد ذلك لأقل من ستة أشهر من وقت اليمين بان أن الطلاق الذي حكمنا بوقوعه لم يقع فإنا استيقنا أنها حامل حالة عقد اليمين والطلاق معلّق بالحيال وإذا أتت بالولد لأكثر من ستة أشهر فإن لم يطأها بعد اليمين قالوا نتبين أن الطلاق لم يقع أيضاً وإن وطئها بعد اليمين وطأً يمكن إحالة العلوق عليه ففي نقض ما حكمنا به من الطلاق وجهان
Kemudian para ulama berkata: Jika kami memutuskan terjadinya talak setelah berlalu tiga kali suci pada wanita yang mengalami haid, lalu ia melahirkan anak setelah itu dalam waktu kurang dari enam bulan sejak waktu sumpah, maka jelaslah bahwa talak yang telah kami putuskan kejadiannya sebenarnya tidak terjadi, karena kami yakin bahwa ia telah hamil pada saat akad sumpah, sedangkan talak digantungkan pada masa suci. Dan jika ia melahirkan anak setelah lebih dari enam bulan, maka jika suaminya tidak menggaulinya setelah sumpah, mereka berkata: kami juga menjadi tahu bahwa talak tidak terjadi. Namun jika suaminya menggaulinya setelah sumpah dengan hubungan yang memungkinkan kehamilan terjadi karenanya, maka dalam membatalkan keputusan talak yang telah kami putuskan terdapat dua pendapat.
هذا كلام الأصحاب وقد أتينا فيه بأكمل البيان نقلاً وتنبيهاً على محالٌ الاحتمال والله المستعان
Ini adalah pendapat para ulama, dan kami telah menyajikannya dengan penjelasan yang paling lengkap, baik berupa kutipan maupun penegasan terhadap hal-hal yang mustahil untuk ditafsirkan secara berbeda. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.
فصل قال ولو قالت له طلقني فقال كل امرأة لي طالق طلقت امرأته التي سألته إلا أن يكون عزلها بنيته إلى آخره
Bab: Jika seorang istri berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku,” lalu suaminya berkata, “Setiap istriku aku ceraikan,” maka istri yang meminta cerai itu jatuh talak, kecuali jika suami mengecualikannya dalam niatnya, dan seterusnya.
صورة المسألة أن الزوجة جاءت إلى زوجها مشاجِرةً وهي تزعم أنك نكحت امرأة وهو يترضّاها ويأبى ويزعم أنه لم ينكح وهي مصرّة في خصامها فقال كل امرأة لي فهي طالق وهو يبغي تصديق نفسه فلو استثنى باللسان السائلة المشاجرة وقال كل امرأة لي غيرُك فهي طالق فلا تطلق السائلة وطُلِّقت سائرُ زوجاته سواها وإن لم يستثنها باللسان ولا عزلها بالقلب فظاهر كلام الشافعي أن الطلاق لا يقع ظاهراً فإنه قال طلقت امرأته التي سألته إلا أن يكون عزلها بنيته
Gambaran masalahnya adalah seorang istri datang kepada suaminya dengan berselisih dan ia mengklaim bahwa suaminya telah menikahi perempuan lain, sementara sang suami berusaha menenangkannya dan membantah serta mengaku tidak menikah dengan perempuan lain, namun sang istri tetap bersikeras dalam perselisihannya. Lalu suami berkata, “Setiap perempuan yang menjadi istriku, maka ia tertalak,” dan ia bermaksud membenarkan dirinya sendiri. Jika ia mengecualikan dengan lisannya istri yang sedang bertanya dan berselisih itu, lalu berkata, “Setiap perempuan yang menjadi istriku selain kamu, maka ia tertalak,” maka istri yang bertanya itu tidak tertalak dan seluruh istri lainnya selain dia menjadi tertalak. Namun jika ia tidak mengecualikannya dengan lisan dan tidak pula memisahkannya dalam hati, maka menurut zahir pendapat Imam Syafi‘i, talak tidak jatuh secara zahir, karena beliau berkata, “Istrinya yang bertanya itu tertalak kecuali jika ia memisahkannya dalam niatnya.”
فاختلف أصحابنا فذهب بعضهم إلى أن الطلاق يقع على السائلة فإن قوله كل امرأة لي لفظٌ يعم السائلَة وغيرَها فيجب إجراؤه على عمومه فإذا زعم أنه خصصه لم يقبل ذلك منه في الظاهر فإنه خلاف الظاهر وهذا القائل سلك مسلكين في نص الشافعي أحدهما أنه حمله على التديين والباطن ولا يخفى على من أحاط بأصل التديين أنه إذا كان صادقاً في استثناء السائلة بنيته لم يقع الطلاق عليها باطناً هذا مسلك وربما قال هذا القائل النقل مختلٌّ والخلل من المزني
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka berpendapat bahwa talak jatuh pada wanita yang bertanya, karena ucapannya “setiap wanita yang menjadi istriku” adalah lafaz yang mencakup wanita yang bertanya maupun selainnya, sehingga harus diberlakukan secara umum. Jika ia mengklaim telah mengkhususkannya, maka klaim itu tidak diterima secara lahiriah, karena itu bertentangan dengan makna lahiriah. Pendapat ini menempuh dua jalan dalam penjelasan Imam Syafi’i; salah satunya adalah bahwa hal itu dikembalikan pada urusan batin dan agama. Tidak samar bagi siapa pun yang memahami prinsip urusan batin bahwa jika ia benar-benar jujur dalam mengecualikan wanita yang bertanya dalam niatnya, maka talak tidak jatuh atasnya secara batin. Ini adalah satu jalan. Mungkin juga orang yang berpendapat demikian mengatakan bahwa riwayatnya rusak dan kerusakan itu berasal dari al-Muzani.
وذهب بعض أصحابنا إلى أن الطلاق لا يقع على السائلة ظاهراً والزوج مصدَّق وإذا اتهم حلّف وقد مال القاضي إلى هذا واحتج عليه بأن قرينة الحال تصدقه فيما يدّعيه والكلام يظهر بقرينة الحال ظهورَه بقيود المقال وسنذكر في ذلك أصلاً ممهداً في الفروع ومن صوره أن الرجل إذا حلّ القيد عن زوجته ثم قال أنت طالق وزعم أنه أراد تطليقها عن قيدها وإنشاطها عن عقالها وقد جرى ذلك ظاهراً فهل يصدَّق في حمل لفظ الطلاق على حل الوثاق والحالةُ هذه فعلى اختلاف بين الأصحاب وهذا يجري مهما اقترن باللفظ ما يُظهر قصد التديين وسيأتي ذلك مفصلاً إن شاء الله عز وجل
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa talak tidak jatuh atas wanita yang meminta cerai secara lahiriah, dan suami dipercaya dalam hal ini. Jika ia dituduh, maka ia harus bersumpah. Al-Qadhi cenderung kepada pendapat ini dan berdalil bahwa indikasi situasi menguatkan kebenaran pengakuan suami, dan ucapan itu dapat dipahami maksudnya melalui indikasi situasi, sebagaimana ucapan itu juga tampak dengan batasan-batasan yang ada. Kami akan menyebutkan kaidah yang telah dirumuskan dalam cabang-cabang masalah ini. Di antara contohnya adalah jika seorang laki-laki melepaskan ikatan pada istrinya, lalu berkata, “Engkau tertalak,” dan ia mengklaim bahwa maksudnya adalah menceraikan dari ikatan tersebut dan melepaskannya dari belenggu, dan hal itu tampak secara lahiriah, maka apakah ia dipercaya dalam menafsirkan lafaz talak sebagai melepaskan ikatan dalam kondisi seperti ini? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Hal ini berlaku selama ada sesuatu yang menyertai lafaz tersebut yang menunjukkan maksud religius, dan penjelasan lebih rinci akan datang, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم ذكر القاضي كلاماً آخر بدعاً فقال إذا قال نسائي طوالق وله أربع نسوة ثم زعم أنه عزل واحدة منهن بقلبه فهل نقبل ذلك منه في ظاهر الحكم فعلى وجهين أحدهما أنه يُقبل لأن اللفظ العام قابل للتخصيص وإذا وجدنا جريان ذلك في الكتاب والسنة لم نُبعِد قبولَه ظاهراً ويُصدَّق الزوج فيه
Kemudian Qadhi menyebutkan pendapat lain yang dianggap bid‘ah, yaitu: Jika seseorang berkata, “Istriku semuanya tertalak,” sementara ia memiliki empat istri, lalu ia mengklaim bahwa ia telah mengecualikan salah satu dari mereka dalam hatinya, apakah kita menerima hal itu darinya secara lahiriah dalam hukum? Maka ada dua pendapat: salah satunya, hal itu diterima karena lafaz umum dapat dikhususkan, dan jika kita mendapati hal seperti itu terjadi dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka tidak mengapa menerimanya secara lahiriah, dan suami dibenarkan dalam hal itu.
وهذا غريب لم أره لغيره ويلزم على مقتضاه أنه إذا قال عبيدي أحرار ثم زعم أنه لم يرد بالعبيد إلا ثلاثة منهم واستثنى الباقين فيجب خروج تصديقه ظاهراً على هذا الخلاف ولم يفرض هذه المسألة في قرينةِ حالٍ حتى يستمر تخريجها على رفع القيد مقترناً بقوله أنت طالق عن وثاق ثم قال القاضي لو قال نسائي طوالق وزعم أنه عزل ثلاثاًً وبقّى واحدة فلا يقبل ذلك منه فإن الواحدة لا ينطلق عليها لفظ النساء ولا توصف بالطوالق ولم يذكر التفصيل فيه إذا زعم أنه استثنى ثنتين وأراد بالطلاق ثنتين ولعلّنا نذكر هذا الجنس في مسائل الاستثناء
Ini adalah hal yang aneh yang tidak aku temukan pada selainnya. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, jika seseorang berkata, “Budak-budakku merdeka,” lalu ia mengklaim bahwa yang ia maksud dengan “budak-budakku” hanyalah tiga orang di antara mereka dan ia mengecualikan sisanya, maka menurut pendapat ini, seharusnya klaimnya itu diterima secara lahiriah, sesuai dengan perbedaan pendapat yang ada. Masalah ini tidak dibahas dalam konteks adanya indikasi keadaan, sehingga penjelasannya tetap mengikuti penghilangan syarat yang disertakan dengan ucapannya, “Engkau tertalak dari ikatan,” lalu hakim berkata, “Jika seseorang berkata, ‘Istri-istriku tertalak,’ lalu ia mengklaim bahwa ia mengecualikan tiga orang dan hanya menyisakan satu, maka klaim itu tidak diterima darinya, karena satu orang tidak dapat disebut dengan kata ‘istri-istri’ dan tidak dapat digambarkan dengan ‘tertalaq’ (jamak).” Ia juga tidak menyebutkan perincian jika seseorang mengklaim bahwa ia mengecualikan dua orang dan bermaksud menalak dua orang. Mungkin kita akan membahas jenis masalah ini dalam pembahasan tentang masalah-masalah istisna’ (pengecualian).
وبالجملة قبول الخصوص مع صدور اللفظ عاماً من الزوج في هذا الحكم غلطٌ عندنا صريح وإنما صار إلى هذا من صار من ظنه أن تخصيص العموم سائغ مطلقاً وليس كذلك فمن قال نسائي لم يحمل هذا إلا على جميعهن ولا يجوز تقدير التخصيص في هذا المقام ومن أحاط بمسالك كلامنا في الأصول لم يخف عليه دَرْكُ هذا ولا مطمع في دركه هاهنا ثم من أخذ من ظاهر كلام الأصوليين أن العموم يخصص وجب معه مطالبة المخَصِّص بالدليل فكان يجب أن يحمل هذا على طلب قرينة مُصدِّقة
Secara keseluruhan, menerima kekhususan sementara lafal yang diucapkan oleh suami dalam hukum ini bersifat umum adalah kesalahan yang nyata menurut kami. Adapun orang yang berpendapat demikian, ia melakukannya karena mengira bahwa takhshish (pembatasan makna umum) boleh dilakukan secara mutlak, padahal tidak demikian halnya. Maka, jika seseorang berkata “istri-istriku”, maka ucapan ini tidak dapat dipahami kecuali mencakup seluruh istrinya, dan tidak boleh menganggap adanya takhshish dalam konteks ini. Barang siapa yang memahami metode pembahasan kami dalam ushul, tidak akan kesulitan memahami hal ini, dan tidak ada harapan untuk memahaminya di sini. Selanjutnya, barang siapa yang mengambil dari zahir perkataan para ahli ushul bahwa lafaz umum dapat dikhususkan, maka wajib baginya untuk menuntut adanya dalil dari pihak yang melakukan takhshish. Oleh karena itu, seharusnya hal ini dibawa pada pencarian qarinah (indikasi) yang menguatkan.
فهذا منتهى القول في الفصل
Inilah akhir pembahasan dalam bab ini.
وقد ضَرِي أئمةُ المذهب بحكاية شيء عن بعض المعتبرين في هذه المسألة قيل إن رجلاً من أئمة المذهب ب طَبَسَ كان يستقرىء إلا أن يكون عزلها بثُنْيته والثُّنية هي الاستثناء وكان يرى أن السائلة تُطلّق إلا أن تُستثنى لفظاً
Para imam mazhab telah terbiasa meriwayatkan sesuatu dari sebagian tokoh yang dianggap kredibel dalam masalah ini. Dikatakan bahwa seorang imam mazhab di Thabas biasa meneliti kecuali jika ia mengecualikannya dengan tsuniyah, dan tsuniyah adalah pengecualian. Ia berpendapat bahwa wanita yang meminta cerai itu dianggap tertalak kecuali jika ada pengecualian secara lafaz.
وهذا الذي ذكره كلام منعكس عليه فإنه نسب الأصحاب إلى التصحيف والتصحيف مع اعتدال الحروف قد يقع سيّما إدْا قرب المعنى فأما الغلط في الهجاء فممّا يوبّخ به صبيان المكاتب وقول القائل بثنيته خمسة أحرف سوى الضمير وقوله بنيّته أربعة أحرف فلا حاصل لما جاء به وليس كلُّ ما يهجِس في النفس يُذكر
Apa yang ia sebutkan itu justru berbalik kepadanya, karena ia menuduh para sahabat (ulama terdahulu) melakukan tashif (kesalahan penulisan), padahal tashif dengan kemiripan huruf memang bisa saja terjadi, terutama jika maknanya berdekatan. Adapun kesalahan dalam ejaan adalah sesuatu yang bahkan anak-anak di sekolah dasar akan ditegur karenanya. Ucapannya bahwa “bentuk mutsanna terdiri dari lima huruf selain dhamir” dan ucapannya bahwa “bentuk mufrad terdiri dari empat huruf” tidak memiliki makna yang jelas dari apa yang ia sampaikan. Tidak setiap lintasan pikiran layak untuk disebutkan.
وقد جرى في هذا الفصل ما ينتظم أصلاً وشرطنا أن نذكر في كل فصل ما يليق به ثم نذكر إن شاء الله عز وجل في آخر الكتاب فصلاً ضابطاً يقع جمعاً للجوامع وربطاً للأصول اللفظية
Pada bab ini telah dibahas suatu pokok, dan kami telah menetapkan syarat untuk menyebutkan dalam setiap bab hal-hal yang sesuai dengannya. Kemudian, insya Allah Azza wa Jalla, pada akhir kitab ini kami akan menyajikan sebuah bab yang bersifat komprehensif, yang akan menjadi himpunan dari berbagai kaidah dan penghubung bagi prinsip-prinsip lafaz.
فمما انتظم في هذه المسألة أن تخصيص العموم إذا جرى في الضمير امتنع معه وقوع الطلاق باطناً وهل يقبل ذلك ظاهراً إذا اقترن باللفظ قرينة كسؤال السائلة في لفظ الكتاب ففيه التردد الذي ذكرناه للأصحاب وإن لم تكن قرينة فادّعى اللافظ باللفظ العام التخصيص فقد ذكر القاضي في قبول ذلك وجهين وأسلوب كلامه أن الطلاق صريح في حكم النص فلا يقبل في الظاهر ما يخالفه والعام ظاهرٌ في وضع الشرع ليس بنص فهل يُقبل من اللافظ به تخصيصُه فعلى التردد الذي ذكرناه
Termasuk dalam pembahasan masalah ini adalah bahwa jika takhshish (pembatasan makna umum) terjadi pada dhamir (kata ganti), maka tidak sah terjadinya talak secara batin. Adapun apakah hal itu dapat diterima secara lahiriah jika dalam lafaznya terdapat qarinah (indikasi) seperti pertanyaan seorang wanita dalam lafaz surat, maka terdapat keraguan sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama. Jika tidak ada qarinah, lalu orang yang mengucapkan lafaz umum mengklaim adanya takhshish, maka Qadhi menyebutkan dua pendapat dalam hal diterimanya klaim tersebut. Gaya bahasanya menunjukkan bahwa talak adalah sharih (jelas) dalam hukum seperti nash, sehingga secara lahiriah tidak diterima sesuatu yang bertentangan dengannya. Sedangkan lafaz umum adalah zhahir dalam penetapan syariat, bukan nash. Maka apakah boleh bagi orang yang mengucapkannya untuk melakukan takhshish? Hal ini kembali pada keraguan yang telah kami sebutkan.
وإذا أطلق الزوج كناية ولم ينو شيئاً لم يقع شيء فالألفاظ إذاً في طريقه نصٌّ لا يُقبل في الظاهر ما يخالفه
Jika suami mengucapkan lafaz kinayah tanpa meniatkan apa pun, maka tidak terjadi apa-apa. Maka, lafaz-lafaz itu dalam hal ini adalah nash yang secara lahiriah tidak diterima sesuatu yang bertentangan dengannya.
وظاهر لو أطلق نفذ كاللفظ العام وإذا ادّعى مُطلِقه تخصيصَه ففي قبوله وجهان
Dan jika suatu lafaz dilontarkan secara mutlak, maka berlaku seperti lafaz umum. Jika orang yang mengucapkannya mengklaim adanya takhshis (pembatasan makna), maka dalam hal diterimanya klaim tersebut terdapat dua pendapat.
وكناية لا يسمَّى لفظاً ظاهراً في اقتضاء الطلاق فلا يُعْمَلُ مطلقُه
Dan kinayah tidak disebut sebagai lafaz yang jelas dalam menetapkan terjadinya talak, sehingga tidak berlaku makna mutlaknya.
وهذا ترتيب حسن ولكن العموم في المقام الذي ذكره في حكم النص عند المحققين كما نبهنا عليه
Ini adalah susunan yang baik, namun keumuman dalam konteks yang disebutkan itu menurut para muhaqqiq (peneliti) memiliki kedudukan seperti nash, sebagaimana telah kami ingatkan.
وسنعود إليه في مسائل الطلاق إن شاء الله تعالى
Kita akan kembali membahasnya dalam masalah-masalah talak, insya Allah Ta‘ala.
باب ما يقع من الطلاق وما لا يقع
Bab tentang talak yang sah dan talak yang tidak sah
قال الشافعي ذكر الله الطلاق في كتابه بثلاثة أسماء إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata, Allah menyebutkan talak dalam Kitab-Nya dengan tiga nama hingga akhirnya.
هذا الفصل مشتمل على بيان صرائح الطلاق وكناياته فنقول الألفاظ التي تستعمل في الطلاق تنقسم إلى الصريح والكناية فالصريح ما يَعْمل من غير افتقارٍ إلى النية وهو مُنحصر في ثلاثة ألفاظ الطلاق والفراق والسراح وأخذ الشافعي الصرائح من التكرر في ألفاظ الكتاب قال الله فَارِقُوهُنّ وقال سَرِّحُوهُنّ وقال أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وتكرُّرُ لفظ الطلاق في الكتاب ظاهرٌ وأشهر هذه الألفاظ وأظهرها الطلاق فهذا الذي جرى في الجاهلية والإسلام وأطبق عليه معظم طبقات الخلق ولم يختلف في كونه صريحاً العلماء ومذهب أبي حنيفة أن الصريح هو الطلاق لا غير وقد حكى العراقيون قولاً قديماً للشافعي موافقاً لمذهب أبي حنيفة في أن الصريح لفظ الطلاق لا غير والفراقُ والسراحُ ملتحقان بأقسام الكنايات
Bab ini memuat penjelasan tentang lafaz-lafaz sharih (eksplisit) dan kinayah (implisit) dalam talak. Kami katakan bahwa lafaz-lafaz yang digunakan dalam talak terbagi menjadi sharih dan kinayah. Lafaz sharih adalah lafaz yang berpengaruh tanpa memerlukan niat, dan terbatas pada tiga lafaz: “thalāq”, “firāq”, dan “sarāh”. Imam Syafi’i mengambil lafaz-lafaz sharih dari pengulangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an; Allah berfirman: “Fāriquhunna” (ceraikanlah mereka), “Sarrikhunna” (lepaskanlah mereka), dan “aw tasrīḥun bi ihsān” (atau melepaskan dengan cara yang baik). Pengulangan lafaz thalāq dalam Al-Qur’an sangat jelas, dan lafaz yang paling masyhur dan paling tampak adalah “thalāq”. Inilah yang berlaku pada masa jahiliah dan Islam, dan telah menjadi kesepakatan mayoritas umat manusia, serta tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kejelasannya sebagai lafaz sharih. Adapun menurut mazhab Abu Hanifah, lafaz sharih hanyalah “thalāq” saja, tidak yang lain. Orang-orang Irak meriwayatkan pendapat lama Imam Syafi’i yang sejalan dengan mazhab Abu Hanifah, yaitu bahwa lafaz sharih hanyalah “thalāq” saja, sedangkan “firāq” dan “sarāh” termasuk dalam kategori kinayah.
ثم الألفاظ الصادرة عن الطلاق صرائحُ جرت أسماء أو أفعالاً فإذا قال أنت طالق أو طلقتك أو أنت مطلَّقة وقع الطلاق
Kemudian, lafaz-lafaz yang diucapkan dalam perceraian ada yang bersifat sharih, baik berupa isim maupun fi‘l. Jika seseorang berkata, “Engkau talak,” atau “Aku menceraikanmu,” atau “Engkau ditalak,” maka jatuhlah talak.
وإذا جرينا على الأصح وقضينا بأن الفراق والسراح صريحان فلو قال فارقتك أو سرحتك فالذي جاء به صريحٌ
Dan jika kita mengikuti pendapat yang paling sahih dan memutuskan bahwa lafaz al-firāq dan as-sarāh adalah lafaz sharih, maka jika seseorang berkata, “Aku menceraikanmu” (fāraqtuki) atau “Aku melepaskanmu” (sarrahtuki), maka apa yang diucapkannya itu adalah lafaz sharih.
ولو قال أنت مفارَقة أو مسرَّحة ففي المسألة وجهان أحدهما أن اللفظ صريح كما لو قال أنت مطلقة
Jika seseorang berkata, “Engkau terpisah” atau “Engkau dibebaskan,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa lafaz tersebut adalah sharih, sebagaimana jika ia berkata, “Engkau ditalak.”
والثاني أن اللفظ كناية فإن الفراق والسراح ما ظهرا وما اشتهرا اشتهار الطلاق ومعتمد الشافعي في إلحاقهما بالصريح جريانهما في الكتاب ثم لم يجر ذكرهما إلا على صيغ الأفعال فأما المفارقة والمسرَّحة فلا ذكر لهما والمطلقة مذكورة في القرآن مع شيوع لفظ الطلاق
Kedua, bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah, karena kata al-firāq dan as-sarāh tidaklah tampak dan tidak pula masyhur seperti kemasyhuran kata talak. Dasar Imam Syafi‘i dalam menyamakan keduanya dengan sharih adalah karena keduanya digunakan dalam Al-Qur’an, namun tidak disebutkan kecuali dalam bentuk fi‘il. Adapun bentuk al-mufāraqa dan al-musarraḥah tidak disebutkan, sedangkan bentuk al-muthallaqah disebutkan dalam Al-Qur’an bersamaan dengan tersebarnya lafaz talak.
ولو قال لامرأته أنت الطلاق فقد اختلف أصحابنا فمنهم من قال إنه ليس بصريح فإنه غير معتادٍ وليس جارياً على قياس اللسان أيضاً وكان كالمعدول عن الوضع والعرف
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau adalah talak,” maka para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa itu bukanlah lafaz sharih, karena tidak lazim digunakan dan juga tidak sesuai dengan qiyās bahasa. Ucapan tersebut dianggap telah menyimpang dari penggunaan dan kebiasaan yang berlaku.
ومن أصحابنا من قال إنه صريح لأن لفظ الطلاق لا يطلق كيف فرض الأمر إلا على قصد الفراق فإن جرى لفظٌ على خلاف ما يعرف ويؤلف فالاعتبار بأصل الكلمة
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa itu adalah sharih (lafaz tegas), karena lafaz talak tidak digunakan dalam keadaan apa pun kecuali dengan maksud perpisahan. Maka jika ada lafaz yang digunakan berbeda dari yang dikenal dan biasa dipakai, maka yang menjadi acuan adalah asal kata tersebut.
ولو قال لامرأته أطلقتك أو أنت مُطْلَقة واستعمل صيغة الفعل أو الاسم من الإطلاق فهذا لم يتعرض له الأصحاب وفيه تردد بيّن فإن الإطلاق شائع في حلّ الوثاق وإطلاق الدواب عن رباطها وإطلاق الأسرى والمحبوسين وإخراج اللفظ عن كونه صريحاً أقربُ وأظهر عندنا في هذا منه إذا قال أنت الطلاق فإن الطلاق لا معنى له في الاستعمال إلا الفراق بخلافه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Aku bebaskan kamu” atau “Kamu bebas” dan menggunakan bentuk kata kerja atau kata benda dari kata “itlāq” (membebaskan), maka hal ini tidak dibahas secara khusus oleh para ulama, dan dalam hal ini terdapat keraguan yang jelas. Sebab, kata “itlāq” umum digunakan dalam arti melepaskan ikatan, membebaskan hewan dari tali pengikatnya, membebaskan tawanan dan orang yang dipenjara. Mengeluarkan lafaz tersebut dari makna sharih (jelas) lebih dekat dan lebih nyata menurut kami dalam kasus ini, dibandingkan jika seseorang berkata, “Kamu adalah ṭalāq,” karena kata ṭalāq tidak memiliki makna dalam penggunaan kecuali perpisahan, berbeda dengan kata “itlāq”.
ومن أسرار الصرائح أن يظهر اللفظ على غرض ويعد استعماله في غيره نادراً وإذا كان الاستعمال في غير جهة الطلب شائعاً أشعر هذا بالخروج عن الصرائح في الجهة المطلوبة على ما سنذكر التحقيق في آخر الفصل عند نجاز المنقولات
Di antara rahasia lafaz sharih adalah bahwa lafaz tersebut tampak menunjukkan suatu maksud tertentu, dan penggunaannya untuk maksud lain sangat jarang. Jika penggunaan lafaz tersebut untuk selain maksud permintaan menjadi umum, hal ini menunjukkan bahwa lafaz tersebut telah keluar dari kategori sharih dalam maksud yang dimaksudkan. Penjelasan yang lebih rinci tentang hal ini akan disebutkan pada akhir bab ketika membahas istilah-istilah yang telah mengalami perubahan makna (manqulat).
وممّا يتعلق بذلك أن الأصحاب قالوا معنى الطلاق بالعجميّة صريح وزعموا أن معناه توهشته اي وحكى بعض المصنفين عن الأصطخري أنه لا صريح بغير لسان العرب وهذا غريب لا أصل له وإنما اشتهر الخلاف عن الأصطخري في النكاح كما قدمنا ذكره في الألفاظ المشتملة على ألفاظ النكاح
Terkait dengan hal itu, para ulama mazhab mengatakan bahwa makna talak dengan bahasa non-Arab adalah sharih (jelas), dan mereka mengklaim bahwa maknanya adalah “aku telah menceraikannya.” Sebagian penulis juga meriwayatkan dari Al-Ashthakhri bahwa talak tidak dianggap sharih kecuali dengan bahasa Arab, dan ini adalah pendapat yang aneh serta tidak memiliki dasar. Adapun perbedaan pendapat yang masyhur dari Al-Ashthakhri sebenarnya terjadi dalam masalah nikah, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya pada pembahasan lafaz-lafaz yang mengandung kata-kata nikah.
ثم كان شيخي أبو محمد يقول كل لفظةٍ معدودة من الصرائح في العربية إذا ذكر معناها الخاص بلسان آخر فهو صريح فمعنى قول القائل أنت طالق توهشته اي ومعنى قوله طلقتك دشت بازْداشْتَم ومعنى فارقتك از تو جُدَا كَرْدَم ومعنى سرحتك تُراكسيل كردم
Kemudian guruku Abu Muhammad berkata, setiap lafaz yang termasuk dalam kategori lafaz sharih dalam bahasa Arab, apabila makna khususnya disebutkan dalam bahasa lain, maka itu juga dianggap sebagai sharih. Maka makna ucapan seseorang “kamu tertalak” adalah “toheshteh”; makna ucapannya “aku menalakmu” adalah “dasht bazdashtam”; makna “aku menceraikanmu” adalah “az to juda kardam”; dan makna “aku melepaskanmu” adalah “torā xil kardam”.
وقال القاضي الصريح من هذه الألفاظ توهشته اي فأما قوله دستت باز داشتم فليس بصريح
Dan menurut qadhi, lafaz-lafaz yang jelas maknanya adalah “tawahhasytuhu” (aku menjauhinya), adapun ucapannya “dastat baz dasytam” (aku menahan tanganku) maka itu tidaklah jelas.
وهذا غير سديد فإن قول القائل دشت بازداشتم هو تفسير قوله طلقتك وإذا كان قوله توهشته اي صريحاً من حيث إنه معنى قوله أنت طالق فقوله دشت بازداشتم هو معنى قول القائل طلقتك فلا معنى لإبداء المراء في هذا أما معنى فارقتك وسرحتك فالظاهر أنه ليس بصريح فإنا في المفارقة والتسريح على تردد كما نبهنا عليه وإذا اختلف الأصحاب في المفارقة والمسرَّحة مع اتحاد اللغة فهذا في معنى المفارَقة والتسريح أظهر
Ini tidaklah tepat, karena ucapan seseorang “dasyat bazdasytam” adalah penafsiran dari ucapannya “thallaqtuki”. Jika ucapannya “tawahsytuhu” dianggap sebagai sharih (lafaz eksplisit) karena maknanya adalah “anti thaliq”, maka ucapannya “dasyat bazdasytam” juga bermakna seperti ucapan “thallaqtuki”. Maka, tidak ada gunanya memperdebatkan hal ini. Adapun makna “faraqtu” dan “sarrahtuki”, tampaknya bukanlah sharih, karena dalam kata “mufaraqah” dan “tasrih” masih terdapat keraguan, sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya. Jika para ulama berbeda pendapat tentang makna “mufaraqah” dan “musrrahah” padahal bahasanya sama, maka dalam hal makna “mufaraqah” dan “tasrih” ini lebih jelas lagi.
فهذا ما رأينا نقلَه ولا بد الآن من الكلام في مأخذ الصرائح
Inilah yang kami anggap perlu untuk disampaikan, dan sekarang harus dibahas mengenai sumber-sumber lafaz yang jelas (ṣarīḥ).
الذي يقتضيه الفقه أن الصريح إذا لم يتعلق به توقيف وتعبد يؤخذ من الشيوع ومحاولةِ أهل العرف حصرَ اللفظ في مقصودٍ فإذا اجتمع هذان المعنيان ترتب عليهما ابتدار المعنى إلى الأفهام فإن التردد ينبت من إشكال اللفظ في نفسه ومن جريانه في معانٍ فإذا ظهر لفظٌ على إرادة معنى واحد فهو يُفهِمه ويُعلِمه وحكمنا في مساق الفقه أن من صدر منه لفظ يبتدر فهمُ الناس معناه فإذا زعم أنه أراد خلاف ما تبتدره الأفهام كان ما أضمره خلافَ ما أظهره وعند ذلك تترتب مسائل التَّديين فإنّ ما يُدَيّن المرء فيه يتعلق بمقتضى اللفظ ولكنه خلاف ما يظهر منه ويندر من ذي الجدّ أن يطلقه على خلاف معناه المستفيض إلا أن يريد إلغازاً أو تعقيداً ثم حُكمنا أنا لا نقبل في الظاهر خلاف الظاهر ولا نصدِّق من يبدي إضماراً على خلاف ما أظهره هذا معنى الصريح
Menurut fiqh, jika suatu lafaz sharih (jelas) tidak terkait dengan ketentuan syariat dan ibadah, maka maknanya diambil dari kebiasaan umum dan upaya masyarakat untuk membatasi makna lafaz pada maksud tertentu. Jika kedua makna ini berkumpul, maka makna tersebut akan langsung terlintas dalam pemahaman. Keraguan muncul dari kekaburan lafaz itu sendiri atau dari penggunaannya dalam beberapa makna. Jika suatu lafaz tampak menunjukkan satu makna saja, maka lafaz itu akan memahamkan dan memberitahukan makna tersebut. Hukum kami dalam konteks fiqh adalah bahwa jika seseorang mengucapkan suatu lafaz yang maknanya langsung dipahami oleh orang-orang, lalu ia mengklaim bahwa ia bermaksud selain makna yang langsung dipahami tersebut, maka apa yang ia sembunyikan bertentangan dengan apa yang ia tampakkan. Pada saat itu, timbullah persoalan-persoalan terkait tadyin (urusan agama), di mana yang menjadi dasar dalam urusan agama adalah makna yang ditunjukkan oleh lafaz, meskipun berbeda dengan makna yang tampak darinya. Jarang sekali orang yang serius menggunakan lafaz dengan makna yang berbeda dari makna yang sudah umum, kecuali jika ia memang bermaksud membuat teka-teki atau kerumitan. Kemudian, hukum kami adalah bahwa kami tidak menerima secara lahiriah sesuatu yang bertentangan dengan makna lahiriah, dan kami tidak membenarkan orang yang menampakkan makna tersembunyi yang bertentangan dengan apa yang ia tampakkan. Inilah makna dari lafaz sharih.
وقد يثبت في النكاح تعبّد قررناه في بابه فلا ينبغي أن يكون على ذلك الباب التفات
Terkadang dalam masalah nikah terdapat aspek ibadah yang telah kami tetapkan dalam babnya, maka seharusnya tidak perlu memperhatikan hal tersebut dalam bab ini.
وقد أطبق الفقهاء قاطبة على أن المعتبر في الأقارير والمعاملات إشاعة الألفاظ وما يفهم منها في العرف المطرد والعباراتُ عن العقود تُعنَى لمعانيها وألفاظ الطلاق عبارات عن مقاصد فكانت بمثابتها وموجب هذه الطريقة أن لفظة أخرى لو شاعت في قُطْرٍ وقومٍ شيوع الطلاق كما قدمنا معنى الشيوع فهو صريح وعلى هذا الأصل قول القائل لامرأته أنت عليّ حرام أو حلال الله عليّ حرام ملتحق في قُطرنا وعصرنا بالصرائح
Para fuqaha sepakat bahwa yang menjadi acuan dalam pengakuan dan transaksi adalah penyebaran lafaz dan apa yang dipahami darinya menurut kebiasaan yang berlaku. Ungkapan-ungkapan dalam akad dimaksudkan untuk maknanya, dan lafaz talak adalah ungkapan tentang maksud-maksud tertentu, sehingga ia menempati posisinya. Konsekuensi dari metode ini adalah bahwa jika ada lafaz lain yang tersebar di suatu daerah dan di kalangan suatu kaum dengan penyebaran seperti lafaz talak, sebagaimana telah dijelaskan makna penyebarannya, maka lafaz itu juga dianggap sebagai lafaz sharih. Berdasarkan prinsip ini, ucapan seseorang kepada istrinya, “Engkau haram atasku” atau “Yang halal dari Allah haram bagiku,” di negeri dan zaman kita ini dipersamakan dengan lafaz-lafaz sharih.
وذهب ذاهبون من الأصحاب إلى أنا لا نزيد على الألفاظ الثلاثة الطلاق والفراق والسراح ولا نظر إلى الظهور والشيوع وهذا القائل اعتقد أن مأخذ الصرائح يتعلق بالتعبدات والتلقِّي من لفظ الكتاب وتوقيف الشارع وقد يعتضد في ذلك بإلحاق الشافعي الفراق والسراح بالصرائح وليست أكثر اختصاصاً من البائن والبتة والبَتْلَة والخليّة في لسان العرب فإذا خصّصها الشافعي بالإلحاق وبالصرائح أشعر هذا برجوعه إلى مورد الشرع
Sebagian sahabat berpendapat bahwa kita tidak menambah selain tiga lafaz, yaitu ṭalāq, firāq, dan sarāḥ, serta tidak memperhatikan kemunculan dan penyebarannya. Pendapat ini didasarkan pada keyakinan bahwa dasar penetapan lafaz-lafaz ṣarīḥ berkaitan dengan aspek ibadah dan penerimaan dari lafaz Al-Qur’an serta penetapan dari syariat. Pendapat ini juga dapat diperkuat dengan tindakan Imam Syafi’i yang memasukkan firāq dan sarāḥ ke dalam lafaz ṣarīḥ, padahal keduanya tidak lebih khusus dibandingkan lafaz bā’in, bitta, batlah, dan khaliyyah dalam bahasa Arab. Maka, ketika Imam Syafi’i mengkhususkan kedua lafaz tersebut dengan penyertaan dan penetapan sebagai lafaz ṣarīḥ, hal ini menunjukkan bahwa beliau kembali kepada sumber syariat.
وهذا يتطرق إليه نوعان من النظر أحدهما أنا لا نُبعد شيوع الفراق والسراح في العرب في بلادها وهذا فيه بعض النظر فإن الشافعي تعلق بالقرآن والوجه الآخر من النظر أنه ليس في إلحاق الفراق والسراح بالصّرائح ما ينفي التعلق بالإشاعة إذ لا يمتنع أن يقول القائل للصرائح مأخذان أحدهما الجريان في ألفاظ الشرع
Hal ini dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Pertama, kita tidak menganggap mustahil tersebarnya istilah firaq dan sarāh di kalangan bangsa Arab di negeri mereka, dan dalam hal ini terdapat beberapa pertimbangan, sebab Imam Syafi‘i berpegang pada Al-Qur’an. Sudut pandang lainnya adalah bahwa tidak ada dalam penyamaan firaq dan sarāh dengan lafaz sharih sesuatu yang menafikan keterkaitan dengan penyebaran istilah, karena tidak mustahil seseorang berkata bahwa lafaz sharih memiliki dua sumber: salah satunya adalah yang digunakan dalam lafaz-lafaz syariat.
والثاني الشيوع في الاستعمال كما سبق تفسيره
Kedua, adalah penyebaran dalam penggunaan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وفي النفس شيء من الفراق والسراح فإنه لم يظهر لنا من الخطاب قصد بيان لفظ التسريح والمفارقة ولكن جرى معنى ترك النسوة وحل ربقة النكاح في مقابلة ذكر الإمساك فإنه قال فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ففهم المخاطبون أن الزوج مأمور بأن يمسك المرأة أو يخلّي سبيلها فالغرض الذي سيق الخطاب له ترديد الزوج بين هذين المقصودين وليس من الغرض الظاهر أن يقول لها سرحتك وهو بمثابة قول القائل أكرم هذا السائل أو سرحه ليس المراد بهذا قُلْ له انسرح وكذلك القول في فارقوهن وأما الطلاق فقد اشتملت الآي على الاعتناء بألفاظها وعددها ويقوى على هذا المسلكِ القولُ القديمُ الموافق لمذهب أبي حنيفة في حصر الصريح في لفظ الطلاق
Dalam hati masih ada keraguan tentang makna perpisahan dan pembebasan, karena dari lafaz ayat tidak tampak maksud penjelasan secara khusus tentang kata “tasrih” (pembebasan) dan “mufaraqah” (perpisahan). Namun, maknanya berjalan pada arti meninggalkan para istri dan melepaskan ikatan pernikahan sebagai lawan dari penyebutan “imsak” (menahan), karena Allah berfirman: “Maka tahanlah mereka dengan cara yang baik atau lepaskanlah mereka dengan cara yang baik.” Maka para pendengar memahami bahwa suami diperintahkan untuk menahan istrinya atau membiarkannya pergi. Tujuan dari ayat ini adalah menempatkan suami pada pilihan antara dua maksud tersebut, dan bukanlah tujuan yang jelas agar suami berkata kepada istrinya, “Aku membebaskanmu.” Ini seperti ucapan seseorang, “Muliakanlah pengemis ini atau bebaskanlah dia,” yang maksudnya bukanlah mengatakan kepadanya, “Bebaskanlah dirimu.” Demikian pula halnya dengan ucapan “fariquhunna” (ceraikanlah mereka). Adapun tentang talak, ayat-ayat telah memuat perhatian khusus terhadap lafaz dan jumlahnya. Pendapat lama yang sejalan dengan mazhab Abu Hanifah dalam membatasi lafaz sharih (jelas) hanya pada kata “talak” menjadi semakin kuat dengan pendekatan ini.
وتحصَّل من مجموع ما ذكرناه تردّدُ الأصحاب في مأخذ الصريح كما أوضحناه
Dari keseluruhan apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai dasar lafaz sharih, sebagaimana telah kami jelaskan.
وحكى القاضي عن شيخه القفال أنه كان يقول في لفظ التحريم إذا قال الرجل حلال الله عليّ حرام ونوى طعاماً صُدّق وإن أطلقه وكان أَنِساً بالفقه عالماً بأن الكناية لا تعمل إلا مع النية فإذا أطلق اللفظ ولم ينو لم يقع الطلاق فإن كان عاميّاً سألناه عما سبق إلى فهمه من إطلاق عامّي آخر لهذه الكلمة فإن زعم أنه يسبق إلى فهمه الطلاق قيل له لفظك محمول على فهمك لو كان اللافظ غيرك
Qadhi meriwayatkan dari gurunya, al-Qaffal, bahwa beliau biasa berkata tentang lafaz pengharaman: jika seorang laki-laki berkata, “Halal Allah atas diriku adalah haram,” dan ia berniat makanan, maka niatnya diterima. Namun jika ia mengucapkannya secara mutlak dan ia adalah orang yang paham fiqh serta mengetahui bahwa kinayah tidak berlaku kecuali dengan niat, maka jika ia mengucapkan lafaz tersebut tanpa niat, talak tidak jatuh. Tetapi jika ia orang awam, maka kita tanyakan kepadanya apa yang terlintas dalam pemahamannya ketika mendengar orang awam lain mengucapkan kata tersebut. Jika ia mengaku bahwa yang terlintas dalam pemahamannya adalah talak, maka dikatakan kepadanya, “Lafazmu mengikuti pemahamanmu, seandainya yang mengucapkan lafaz itu adalah orang lain.”
وهذا توسط بين الصريح والكناية وضربٌ من التحكم
Ini adalah posisi tengah antara lafaz eksplisit (ṣarīḥ) dan kināyah, serta merupakan salah satu bentuk penetapan secara subjektif.
ونحن نبُدي في هذا أصلاً ضابطاً ونقول اللفظ الصريح المتفق عليه الشائع في طبقات الخلق هو الطلاق فحكمه أن يعمل مطلَقُهُ ممن صدر منه ومن أبدى فيما زعم عقداً ونيّة بخلاف موجب اللفظ التحق بباب التديين
Kami menetapkan dalam hal ini satu kaidah yang menjadi pedoman, yaitu bahwa lafaz yang jelas, disepakati, dan umum digunakan di kalangan manusia adalah talak. Maka hukumnya adalah bahwa talak berlaku mutlak bagi siapa pun yang mengucapkannya dan mengaku telah melakukan akad dan niat, berbeda dengan maksud lafaz yang tidak sesuai, maka hal itu masuk dalam ranah tadyin.
هذا قسم
Ini adalah sebuah bagian.
ويعارضه الكناية التي سنصفها وهي لفظة محتملة غير شائعة في الطلاق فسبيل هذا القسم ألا يعمل اللفظ إلا مع النية ومطلَقُه لاغٍ والرجوع إلى قصد المطلِق
Dan yang bertentangan dengannya adalah kināyah yang akan kami jelaskan, yaitu lafaz yang mengandung kemungkinan makna dan tidak lazim digunakan untuk talak. Maka, dalam kategori ini, lafaz tersebut tidak dianggap berlaku kecuali disertai niat, dan lafaz yang mutlak dianggap tidak sah, serta dikembalikan kepada maksud orang yang mengucapkannya.
ويتخلل بين الصريح الّذي قدمناه وبين الكناية قسم ثالث يعمل مطلَقه عند الأصحاب من غير نيّة فإذا زعم صاحب اللفظ أنه قصد خلاف الظاهر فقد يقبل ذلك منه ظاهراً ويكون في قبوله خلافٌ
Di antara lafaz sharih yang telah kami sebutkan dan kinayah terdapat bagian ketiga yang menurut para ulama, lafaznya berlaku secara mutlak tanpa memerlukan niat. Namun, jika orang yang mengucapkan lafaz tersebut mengaku bahwa ia bermaksud selain makna lahiriah, maka pengakuannya itu terkadang dapat diterima secara lahiriah, dan dalam penerimaannya terdapat perbedaan pendapat.
وبيان ذلك بالمثال أن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق أحسن الطلاق فمطلَق هذا محمول على الطلاق السُّني وإن لم ينو الزوج الطلاق السّني ولو زعم أنه أراد بالأحسن تعجيل الطلاق في زمن الحيض فهو مقبول منه فهذا يحمل مُطلَقه على محملٍ ويجوز العدول عنه بالقصد وسيأتي لهذا نظائر
Penjelasannya dengan contoh adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan talak yang terbaik,” maka lafaz mutlak ini dibawa kepada makna talak sunni, meskipun suami tidak berniat talak sunni. Jika ia mengklaim bahwa yang dimaksud dengan “yang terbaik” adalah mempercepat talak pada masa haid, maka klaimnya itu diterima. Jadi, lafaz mutlak ini dibawa kepada suatu makna, namun boleh dialihkan darinya berdasarkan niat, dan akan ada contoh-contoh serupa setelah ini.
ثم تنقسم المسائل فقد يتفق الأصحاب على إعمال اللفظ على جهةٍ عند الإطلاق ويختلفون في أن تلك الجهة هل تتغير بالقصد المخالف لها وقد يتفق الأصحاب على إعمال القصد على وجه ويختلفون في الإطلاق وهو مثل قول القائل أنت طالق طالق طالق فلو زعم أنه أراد التأكيد قبل منه ولم يقع إلا طلقة واحدة ولو قال لم أقصد التأكيد ولكن أطلقت هذه الألفاظ ففي المسألة قولان أحدهما أنا نحكم بوقوع الثلاث إذا كانت المرأة مدخولاً بها
Kemudian permasalahan terbagi; terkadang para sahabat sepakat untuk memberlakukan lafaz pada satu sisi ketika diucapkan secara mutlak, namun mereka berbeda pendapat apakah sisi tersebut dapat berubah dengan adanya niat yang bertentangan dengannya. Terkadang pula para sahabat sepakat untuk memberlakukan niat pada suatu bentuk, namun mereka berbeda pendapat dalam hal pengucapan secara mutlak. Contohnya adalah ucapan seseorang: “Engkau tertalak, tertalak, tertalak.” Jika ia mengaku bahwa ia bermaksud menegaskan (hanya satu talak), maka pengakuannya diterima dan hanya jatuh satu talak saja. Namun jika ia berkata, “Aku tidak bermaksud menegaskan, tetapi aku mengucapkan lafaz-lafaz ini secara mutlak,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa kami memutuskan jatuh tiga talak jika perempuan tersebut sudah pernah digauli.
والقول الثاني أنه لا يقع إلا واحدة
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak itu hanya jatuh satu kali saja.
ولكل أصلٍ من هذه الأصول ضابطٌ سيأتي مشروحاً إن شاء الله وإنما ذكرنا هذا المقدارَ لغرضٍ فنقول الطلاق لا يصرفه عن معناه إلا هازل أو منفردٌ بقصد إلغازٍ ولفظ التحريم قد يجرى استعماله مصروفاً عن قصد الطلاق فإذا أُطلق فهو شائع في قصد الطلاق فينقدح فيما هذا سبيله أن يصدّق في الظاهر من زعم أنه نوى غير الطلاق وإن قال لم أنو شيئاً انقدح فيه الحمل على موجب الألفاظ
Setiap pokok dari pokok-pokok ini memiliki kaidah yang akan dijelaskan nanti, insya Allah. Kami menyebutkan hal ini sebatas untuk suatu tujuan. Maka kami katakan: talak tidak keluar dari maknanya kecuali oleh orang yang bercanda atau seseorang yang secara khusus bermaksud untuk mempermainkan. Adapun lafaz tahrim (pengharaman) kadang digunakan dengan maksud yang bukan talak. Jika lafaz itu diucapkan secara mutlak, maka umumnya dimaksudkan untuk talak. Dalam hal seperti ini, secara lahiriah diterima orang yang mengaku berniat selain talak. Namun jika ia berkata, “Saya tidak berniat apa-apa,” maka yang berlaku adalah sesuai dengan konsekuensi lafaz tersebut.
وانتظم من هذا أن ما استمرت الاستفاضة فيه كلفظ الطلاق فلا معدل عنه إلا على حكم التديين وما شاع شيوعاً بيّناً ولكن قد يعتاد بعض الناس استعماله على قصدٍ آخر فما كان كذلك وهو زائد على الألفاظ الثلاثة فهو محلّ تردد الأصحاب فمنهم من لم يلحقه بالصرائح ولم يُعمل مطلَقه ومنهم من ألحقه بالصرائح وجعله كلفظ الطلاق ومنهم من فصَّل بين أن يقصد غير الطلاق وبين أن يُطلقه كما حكيناه عن القفال رضي الله عنه ثم على رأيه إن صار لفظ التحريم في الشيوع كالطلاق التحق بالطلاق فهذا وجه في الصرائح
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa apa yang telah tersebar luas penggunaannya, seperti lafaz talak, maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti hukum agama. Adapun lafaz yang telah tersebar secara jelas, namun sebagian orang terbiasa menggunakannya dengan maksud lain, maka lafaz yang demikian itu—yang melebihi tiga lafaz (talak)—menjadi titik perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian dari mereka tidak menganggapnya sebagai sharih dan tidak mengamalkan lafaz mutlaknya. Sebagian lain menganggapnya sebagai sharih dan menyamakannya dengan lafaz talak. Ada juga yang merinci antara maksud selain talak dan penggunaan secara mutlak, sebagaimana yang kami riwayatkan dari al-Qaffal rahimahullah. Kemudian, menurut pendapat beliau, jika lafaz tahrim telah tersebar luas seperti talak, maka ia disamakan dengan talak. Inilah salah satu pendapat dalam masalah sharih.
فأمّا الكنايات فقد وصفناها ومن ضرورتها أن تكون مشعرة بمعنى الطلاق ولكن لا تكون شائعة على التفسير المقدم فما كان كذلك افتقر إلى النية ولغا مطلَقُه وهذا كالخليّة والبرية والبائنة وما يشبهها وقد قسمها الأصحاب إلى الجلية وإلى الخفية فالجلية منها ما ظهر معناها وقد يجري استعمالها جرياناً ينحط عن الاستفاضة والحصر في معنى الطلاق وما ذكرناه من الألفاظ من الجليّات ومنها الخلية والبريّة
Adapun kinayah, kami telah menjelaskannya, dan salah satu syaratnya adalah harus mengandung makna talak, namun tidak boleh umum sebagaimana penjelasan sebelumnya. Maka, setiap lafaz yang demikian membutuhkan niat, dan jika diucapkan secara mutlak maka tidak dianggap. Contohnya seperti lafaz “khaliyah”, “bariyah”, “ba’inah”, dan yang semisalnya. Para ulama membaginya menjadi dua: kinayah yang jelas (jalīyah) dan yang samar (khafiyah). Kinayah yang jelas adalah yang maknanya tampak, meskipun penggunaannya tidak sampai pada tingkat masyhur dan terbatas hanya pada makna talak. Lafaz-lafaz yang telah kami sebutkan termasuk dalam kategori kinayah yang jelas, seperti “khaliyah” dan “bariyah”.
والخفيةُ كقول القائل لامرأته اعتدي واستبرئي رحمك والحقي بأهلك وحبلُكِ على غاربكِ ولا أَنْدَه سرْبَك واغربي واذهبي وتجرّعي وتجردي وما في معناها مما يشتمل على تقديرٍ أو استعارةٍ والتقدير في مثل قولك اعتدّي معناه طلقتُ فاعتدي والاستعارة في مثل قولك تجرّعي أي معناه تجرعي مرارة الفراق وكذلك حبلك على غاربك وما في معناه
Talak yang samar adalah seperti ucapan seseorang kepada istrinya: “Iddahlah,” “Bersihkan rahimmu,” “Kembalilah kepada keluargamu,” “Tali kandunganmu di pundakmu,” “Aku tidak akan menghalangi jalanmu,” “Pergilah,” “Pergilah menjauh,” “Rasakanlah,” “Bebaskan dirimu,” dan ucapan lain yang serupa yang mengandung takdir (penyusunan makna) atau majas (penggunaan kiasan). Takdir terdapat dalam ucapan seperti “iddahlah,” yang maksudnya adalah “Aku telah menceraikanmu, maka lakukanlah iddah.” Sedangkan majas terdapat dalam ucapan seperti “rasakanlah,” yang maksudnya adalah “Rasakanlah pahitnya perpisahan,” demikian juga ucapan “tali kandunganmu di pundakmu” dan ucapan lain yang serupa maknanya.
وإذا ذكر لفظة ليس فيها إشعارٌ بمعنى الطلاق وزعم أنه نوى الطلاق لم يقع شيء لأن اللفظ غير مشعرٍ والنية المجردة لا تتضمن وقوع الطلاق وقد يتردد الأصحاب في بعض الألفاظ فإذا قال لها كلي أو تنعمي فهذه الألفاظ لا إشعار فيها ولو قدّر مقدر فيها معنى الطلاق على بُعدٍ عُدَّ ذلك من التعقيد الذي لا يتعلق بأصناف البيانا ودرجاتِ الألفاظ المستعملة في المقاصد
Jika disebutkan suatu lafaz yang tidak mengandung isyarat makna talak, lalu seseorang mengaku bahwa ia berniat talak, maka tidak terjadi apa-apa, karena lafaz tersebut tidak mengisyaratkan, dan niat semata tidak menyebabkan terjadinya talak. Para ulama terkadang berbeda pendapat dalam sebagian lafaz. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Makanlah” atau “Bersenang-senanglah”, maka lafaz-lafaz ini tidak mengandung isyarat talak. Andaikan ada yang memaksakan makna talak pada lafaz tersebut, maka itu termasuk bentuk penafsiran yang rumit dan tidak berkaitan dengan jenis-jenis penjelasan dan tingkatan lafaz yang digunakan untuk tujuan tertentu.
ولو قال اشربي فالظاهر أنه لا يقع الطلاق وإن نواه ومن أصحابنا من قضى بوقوع الطلاق حملاً على تقدير اشربي كأس الفراق وهذا بعيد
Jika seseorang berkata, “Minumlah,” maka yang tampak adalah talak tidak terjadi, meskipun ia meniatkannya. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami memutuskan terjadinya talak dengan menganggap maksudnya adalah, “Minumlah cawan perpisahan (talak).” Namun, pendapat ini jauh (dari kebenaran).
فهذا بيان مراتب الألفاظ في عقد الباب
Ini adalah penjelasan tentang tingkatan-tingkatan lafaz dalam pembahasan bab ini.
ولو قال لامرأته لستِ لي بزوجة فهذا إقرار صريح بنفي الزوجية كما سنفصله في فروع الطلاق ولو قصد به إنشاء الطلاق فالمذهب أنه يقع لإشعار اللفظ بذلك
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau bukan istriku,” maka ini adalah pernyataan tegas yang menafikan status pernikahan, sebagaimana akan dijelaskan dalam cabang-cabang pembahasan talak. Jika ia bermaksud dengan ucapan itu untuk menjatuhkan talak, maka menurut mazhab, talak tersebut jatuh karena lafaz tersebut menunjukkan maksud itu.
ومن أصحابنا من قال لا يقع الطلاق فإن اللفظ صريح في الإقرار والإخبار وهذا ليس بشيء
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa talak tidak jatuh, karena lafaz tersebut secara jelas merupakan bentuk pengakuan dan pemberitahuan, dan pendapat ini tidaklah benar.
فإذا تبين أن الكنايات لا تعمل بأنفسها فمذهب الشافعي أنها لا تعمل مع القرائن أيضاً من غير نيّة والرجوعُ في النية إلى الزوج فإذا سألت الطلاق فقال أنت بائن وظهر من مخايله أنه قصد إسعافها فلا تعويل على ذلك عند الشافعي وإذا قال لم أقصد الطلاق فالقول قوله مع يمينه وكذلك الكلام فيه إذا أجرى الزوج بعض هذه الألفاظ في حالة الغضب وقد ظهرت على مخايله التبرم بالمرأة ومحاولة الخلاص منها فالرجوع مع ذلك كلِّه إلى نيته
Jika telah jelas bahwa kinayah tidak berpengaruh dengan sendirinya, maka menurut mazhab Syafi‘i, kinayah juga tidak berpengaruh meskipun ada indikasi, tanpa adanya niat. Penentuan niat dikembalikan kepada suami. Jika seorang istri meminta cerai lalu suami berkata, “Engkau bā’in,” dan tampak dari gelagatnya bahwa ia bermaksud memenuhi permintaan istrinya, maka menurut Syafi‘i hal itu tidak dianggap. Jika suami berkata, “Saya tidak bermaksud talak,” maka perkataannya diterima dengan sumpahnya. Demikian pula jika suami mengucapkan sebagian lafaz tersebut dalam keadaan marah, dan tampak dari gelagatnya rasa kesal terhadap istri dan keinginan untuk berpisah darinya, maka dalam semua itu penentuan tetap dikembalikan kepada niatnya.
وخالف أبو حنيفة على تفصيل له في الألفاظ فأعمل قرائن الأحوال وقرينة السؤّال
Abu Hanifah memiliki pendapat yang berbeda dengan rincian tertentu dalam hal lafaz, sehingga beliau memperhatikan indikator-indikator situasi dan indikator pertanyaan.
فإن قال قائل قد ذكرتم في مأخذ الأصول أن قرائن الأحوال تثير العلوم الضرورية فإذا اقترنت تلك القرائن بألفاظ الزوج فكيف ترون الرجوع إلى نيَّة الزوج وقد علمتم قصده بقرائن الحال قلنا لا ينتهي الأمر في قرائن الأحوال في مأخذ الفقه إلى هذا المنتهى وهي متفاوتة جداً وليس من قواعد الفقه فتح أمثال هذه الأبواب فإن مُدركَ قرائن الأحوال في القصود عسرٌ جداً فحسمنا هذا الباب حسماً
Jika ada yang berkata, “Kalian telah menyebutkan dalam pembahasan sumber-sumber hukum bahwa indikasi-indikasi situasi dapat menimbulkan pengetahuan yang bersifat pasti. Maka jika indikasi-indikasi tersebut menyertai ucapan suami, bagaimana pendapat kalian tentang kembali kepada niat suami padahal kalian telah mengetahui maksudnya melalui indikasi situasi?” Kami katakan: Dalam pembahasan fiqh, indikasi-indikasi situasi tidak sampai pada tingkat tersebut, dan indikasi-indikasi itu sangat beragam. Bukan termasuk kaidah fiqh untuk membuka pintu-pintu seperti ini, karena memahami maksud melalui indikasi situasi sangatlah sulit. Oleh karena itu, kami menutup pintu ini sepenuhnya.
وقد تُعتمد القرائن في تحمل الشهادات مع ابتناء أمرها على طلب التحقيق فالذي يشاهد صبياً يمتص ثدياً فيه لبنٌ قد يشهد على ارتضاعه ولا تعويل على القرائن فيما نحن فيه وسبب ذلك أن الصبي لا تردد فيه إذا كان يمتص ثدياً فيه لبن ومخاطِب زوجته لا ينتهي إلى منتهى يحكم على قصده قطعاً وقد يشهد بذلك اختياره كنايةً مع إمكان التلفظ الصريح فهذا ما يجب التنبيه فيه
Kadang-kadang, petunjuk-petunjuk (qarā’in) dapat dijadikan dasar dalam memikul kesaksian jika perkara tersebut bergantung pada permintaan penyelidikan. Maka, seseorang yang melihat seorang anak kecil mengisap payudara yang mengandung susu dapat memberikan kesaksian atas peristiwa penyusuan tersebut. Namun, dalam masalah yang sedang kita bahas, tidak dapat dijadikan sandaran pada petunjuk-petunjuk tersebut. Sebabnya adalah bahwa pada anak kecil tidak ada keraguan jika ia mengisap payudara yang mengandung susu, sedangkan seseorang yang berbicara kepada istrinya tidak sampai pada batas yang dapat dipastikan maksudnya secara pasti. Bisa jadi ia memilih menggunakan kināyah (ungkapan sindiran) padahal ia mampu mengucapkan lafaz yang jelas. Inilah hal yang perlu mendapat perhatian.
ثم إذا بان أن النية لا بد منها فلو قدّم النيةَ ولما تلفظ لم يكن ناوياً مع اللفظ لم يقع شيء فإن النية منقطعة عن اللفظ واللفظُ متأخر عن النية ولو قدّم اللفظ ثم نوى فالجواب كذلك
Kemudian, jika telah jelas bahwa niat itu harus ada, maka jika seseorang mendahulukan niat sebelum melafalkan dan ketika melafalkan ia tidak berniat bersamaan dengan lafaz, maka tidak terjadi apa-apa, karena niat terputus dari lafaz dan lafaz itu datang setelah niat. Dan jika ia mendahulukan lafaz lalu berniat setelahnya, maka hukumnya juga demikian.
ولو استفتح النية مع اللفظ وتمت نيته وبقي من لفظه شيء فظاهر المذهمب وقوعُ الطلاق ومن أصحابنا من قضى بأنه لا يقع
Jika seseorang memulai niat bersamaan dengan ucapan dan niatnya telah sempurna sementara masih tersisa sebagian ucapannya, maka menurut pendapat mazhab yang tampak, talak terjadi. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa talak tidak terjadi.
ولو استفتح اللفظ عريّاً عن قصد الطلاق ثم أتى بالنية في أثناء اللفظ وانطبق آخر النية على انتجاز اللفظ ففي المسألة وجهان مشهوران أحدهما أن الطلاق يقع نظراً إلى وقت انتجاز اللفظ والثاني أن الطلاق لا يقع لأنه لم ينشىء اللفظ على قصد الطلاق فقد مضى صدرٌ منه عرياً عن قصد الطلاق وباقي اللفظ لا يستقل بنفسه فتجرّدت النية عن اللفظ
Jika seseorang memulai ucapan tanpa disertai niat talak, kemudian menghadirkan niat di tengah-tengah ucapan tersebut dan akhir niatnya bertepatan dengan selesainya ucapan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Pendapat pertama menyatakan bahwa talak jatuh, dengan mempertimbangkan waktu selesainya ucapan. Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tidak jatuh, karena ucapan tersebut tidak dimulai dengan niat talak; sehingga bagian awal ucapan telah berlalu tanpa niat talak, sedangkan sisa ucapan tidak berdiri sendiri, sehingga niat terpisah dari ucapan.
ولو فرضنا إنشاء النية واللفظ ثم انتجز اللفظ وما تمت النية بعدُ لم يقع الطلاق
Jika kita andaikan seseorang memulai niat dan lafaz, kemudian lafaz tersebut diucapkan terlebih dahulu sementara niatnya belum sempurna, maka talak tidak terjadi.
وقد ذكرنا أمثال هذه الصور في نية الصّلاة مع تكبيرة الإحرام وبين الأصلين فرق يتنبه له الفقيه وهو أن نية الصلاة ليست قصداً إلى معنى التكبير ونيةُ الطلاق قصدٌ مختص بمعنى اللفظ واللفظ دونه لا يستقل والنية وتكبيرة الإحرام ركنان في الصلاة وليست النية قصداً إلى خاص معنى التكبير ثم سرُّ النية القصدُ والقصد لا يطول وقد يفرض فيه تردد إلى التجرُّد ومن كان هذا على ذُكره استغنى عن كثير من تطويلات الفقهاء ثم القصد خصلةٌ فلا يتصور انبساطها واللفظ منبسط فحق الاقتران أن يُقرن اللافظ القصدَ بأول اللفظ ثم يُديم ذكرَ القصد لا عينَه والذكر العلمُ وكذلك الحفظ
Kami telah menyebutkan contoh-contoh seperti ini dalam niat salat bersamaan dengan takbiratul ihram, dan antara kedua pokok tersebut terdapat perbedaan yang perlu diperhatikan oleh seorang faqih, yaitu bahwa niat salat bukanlah bermaksud pada makna takbir, sedangkan niat talak adalah maksud yang khusus pada makna lafaz, dan lafaz tanpa niat tidak berdiri sendiri. Niat dan takbiratul ihram adalah dua rukun dalam salat, dan niat bukanlah bermaksud pada makna khusus takbir. Kemudian inti dari niat adalah maksud, dan maksud itu tidak berlangsung lama, bahkan terkadang terjadi keraguan hingga menjadi murni. Barang siapa yang selalu mengingat hal ini, ia tidak membutuhkan banyak penjelasan panjang dari para fuqaha. Selanjutnya, maksud adalah satu sifat, sehingga tidak mungkin ia meluas, sedangkan lafaz itu meluas. Maka yang benar dalam penyertaan adalah orang yang mengucapkan lafaz menyertakan maksud pada awal lafaz, kemudian melanjutkan ingatan terhadap maksud, bukan hakikat maksud itu sendiri, dan ingatan itu adalah pengetahuan, begitu pula hafalan.
وإذا أطلق الزوج لفظاً في الكناية وزعم أنه لم ينو الطلاق فالقول قوله وللمرأة تحليفه فإن حلف فذاك وإن نكل عن اليمين فلها أن تحلف فإذا حلفت يمينَ الرد قُضي بوقوع الطلاق فإن قيل على ماذا يُحمل يمينها ولا اطلاع لها على قصد الزوج قلنا معتمد يمينها قرائن الأحوال والمخايل الدالة على القصود فلها أن تعتمد أمثال ذلك وتبني يمينها عليه وسنوضح في الدعاوى والبينات أن الأيمان تعتمد ذلك
Jika suami mengucapkan lafaz kinayah dan mengaku bahwa ia tidak berniat menjatuhkan talak, maka perkataannya diterima. Namun, istri berhak meminta suaminya bersumpah. Jika suami bersumpah, maka perkara selesai. Jika ia menolak bersumpah, istri boleh bersumpah. Jika istri bersumpah dengan sumpah balasan, maka diputuskan jatuhnya talak. Jika ada yang bertanya, “Atas dasar apa sumpah istri itu didasarkan, padahal ia tidak mengetahui maksud suaminya?” Kami katakan, dasar sumpah istri adalah tanda-tanda keadaan dan indikasi yang menunjukkan adanya niat. Maka ia boleh bersandar pada hal-hal semacam itu dan membangun sumpahnya di atasnya. Kami akan menjelaskan dalam bab gugatan dan alat bukti bahwa sumpah memang didasarkan pada hal-hal tersebut.
فصل
Bab
قال ولو قال أنت طالق من وثاقٍ إلى آخره
Ia berkata: “Jika seseorang mengatakan kepada istrinya, ‘Engkau tertalak dari ikatan,’ dan seterusnya.”
كل ما لو ادعى الزوج القصدَ فيه دُيّن ولم يُقبل في الظاهر فإذا وصله بلفظٍ حُمل أول اللفظ عليه فإذا قال أنت طالق عن وِثاقٍ لم نقضِ بوقوع الطلاق بهذا اللفظ فإن الكلام منتظم وأول النطق مربوط بآخره وهذا يضاهي أصلَ الاستثناء وحكمنَا بتصحيحه كما سيأتي وكذلك إذا قال فارقتك إلى المسجد أو سرحتك إلى أهلك حتى تتنزهي وتعودي فكل ذلك مقبول
Segala sesuatu yang jika suami mengaku memiliki maksud tertentu di dalamnya, maka ia diminta bersumpah dan tidak diterima secara lahiriah; maka jika ia menghubungkannya dengan suatu lafaz, makna awal lafaz tersebut diarahkan pada maksud itu. Maka jika ia berkata, “Engkau aku talak karena ikatan,” kami tidak memutuskan jatuhnya talak dengan lafaz ini, karena kalimatnya tersusun dan awal ucapannya terkait dengan akhirnya. Ini serupa dengan prinsip istisna’ (pengecualian), dan kami menetapkan keabsahannya sebagaimana akan dijelaskan. Demikian pula jika ia berkata, “Aku ceraikan engkau untuk pergi ke masjid,” atau “Aku lepaskan engkau ke keluargamu agar engkau bersenang-senang dan kembali lagi,” maka semua itu diterima.
ومما ذكره الفقهاء أن الرجل إذا أطلق لفظةً صريحةً ونوى ما لا يقبل فهو لا يقبل ظاهراً ولكن يُديَّن الزوج فيه فلو ادعى الزوج شيئاً من هذا لم يقبل قوله ولو قال لامرأته أنت تعلمين ذلك مني فهو لغو فإنها وإن صدّقته فيما ادعاه فالطلاق لا يندفع رعايةً لحق الله تعالى فلا مساغ للتحليف في هذا المجال فإن الغرض من عرض الأيمان أن يرعوي المستحلَف أو يقرّ وقد ذكرنا أن إقرار المرأة لا أثر له فلا معنى لتحليفها
Para fuqaha menyebutkan bahwa apabila seorang laki-laki mengucapkan lafaz yang jelas (dalam talak) namun berniat dengan makna yang tidak dapat diterima, maka secara lahiriah niat tersebut tidak diterima, tetapi suami tetap dimintai pertanggungjawaban secara batin. Jika suami mengklaim sesuatu terkait hal ini, ucapannya tidak diterima. Jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau mengetahui hal itu dariku,” maka itu dianggap sia-sia. Meskipun istrinya membenarkan apa yang ia klaim, talak tetap tidak gugur demi menjaga hak Allah Ta‘ala. Maka, tidak ada ruang untuk sumpah dalam perkara ini, karena tujuan dari meminta sumpah adalah agar orang yang diminta bersumpah menjadi jera atau mengakui. Telah disebutkan bahwa pengakuan istri tidak berpengaruh, sehingga tidak ada makna untuk meminta sumpah darinya.
فصل
Bab
قال ولو قال لها أنت حرة يريد الطلاق إلى آخره
Dan jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau merdeka,” dengan maksud talak, dan seterusnya.
غرض الفصل أن لفظ الإعتاق كنايةٌ في الطلاق ولفظ الطلاق كناية في الإعتاق وأبو حنيفة يمنع إعمال الطلاق في الاعتاق ومعتمد المذهب أن الكناية تتطرّق إلى البابين جميعاً ومعنى الكناية لفظٌ محتمل مشعرٌ كما قدمناه وجملة كنايات الطلاق والعتاق مشتركة في البابين
Tujuan bab ini adalah bahwa lafaz “i‘tiq” (pembebasan budak) merupakan kinayah dalam talak, dan lafaz talak merupakan kinayah dalam i‘tiq. Abu Hanifah melarang penggunaan talak untuk maksud i‘tiq, sedangkan pendapat yang dipegang dalam mazhab adalah bahwa kinayah dapat berlaku pada kedua bab tersebut. Makna kinayah adalah lafaz yang mengandung kemungkinan dan memberikan isyarat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Seluruh bentuk kinayah talak dan i‘tiq digunakan bersama pada kedua bab tersebut.
والذي يستثنى من الإشعار أن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق وزعم أنه نوى ظهاراً فالطلاق مشعرٌ بمعنى الظهار وإذا قال لها أنت عليَّ كظهر أمّي ونوى بذلك الطلاق فاللفظ مشعر بمعنى الطلاق ولا يعمل واحد من اللفظين في مقصود الثاني
Yang dikecualikan dari isy‘ār adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia mengaku bahwa ia berniat melakukan zihar, maka talak tersebut mengisyaratkan makna zihar. Dan jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” dan ia berniat dengan itu untuk menjatuhkan talak, maka lafaz tersebut mengisyaratkan makna talak. Namun, tidak satu pun dari kedua lafaz tersebut berlaku untuk maksud yang kedua.
والضابط فيه أن اللفظ إذا كان صريحاً في بابه ووجد نفاذاً فلا سبيل إلى ردّه عن العمل فيما هو صريح فيه وإذا كان يعمل لا محالة فيما هو صريح فيه فيستحيل أن يكون صريحاً نافذاً في أصله ووضعه ويكون كناية منويَّة في وجه آخر
Patokan dalam hal ini adalah bahwa suatu lafaz, apabila jelas (sharīh) dalam konteksnya dan telah berlaku (berlaku hukum), maka tidak ada jalan untuk menolaknya dari penerapan pada apa yang memang jelas dimaksudkan olehnya. Dan apabila lafaz itu pasti digunakan pada makna yang jelas tersebut, maka mustahil ia menjadi lafaz yang jelas dan berlaku dalam asal dan penetapannya, namun pada saat yang sama dianggap sebagai kināyah (lafaz sindiran) yang diniatkan pada makna lain.
فإن قيل إن كان يبعد صرف الصريح عن معناه فأيُّ بعدٍ في الجمع بين المعنيين قلنا اللفظة الواحدة إذا كانت تصلح لمعنيين فصلاحها ليس يقتضي اجتماع المعنيين وكذلك القول في كل لفظ مشترك سبيل صلاحه للمعاني أن يصلح لكل واحد منهما على البدل فأما أن تكون مجتمعة اجتماع المسميات تحت صيغة الجمع أو تحت لفظٍ عام فلا فإذا تعين إجراء اللفظ صريحاً امتنع إجراؤه في معنى آخر فإذا استعمل الطلاق في العتاق فليس الطلاق صريحاً واجداً محلّه حتى ينفذ وكذلك العتاق إذا استعمل في الطلاق
Jika dikatakan, “Jika memang sulit untuk memalingkan lafaz yang jelas dari maknanya, lalu apa kesulitannya dalam menggabungkan dua makna sekaligus?” Kami jawab: Satu lafaz jika dapat digunakan untuk dua makna, maka kelayakannya itu tidak mengharuskan kedua makna tersebut berkumpul sekaligus. Demikian pula halnya dengan setiap lafaz musytarak; cara kelayakannya untuk makna-makna itu adalah bahwa ia dapat digunakan untuk masing-masing makna secara bergantian, bukan untuk mengumpulkan makna-makna itu sekaligus seperti terkumpulnya beberapa hal yang dinamai dalam bentuk jamak atau dalam lafaz umum—itu tidak bisa. Maka, jika telah dipastikan bahwa suatu lafaz digunakan secara jelas (sharīh), maka tidak boleh digunakan untuk makna lain. Jika lafaz “thalāq” digunakan untuk makna “‘itāq” (pembebasan budak), maka “thalāq” tidak lagi menjadi lafaz sharīh yang menemukan tempatnya sehingga dapat berlaku, demikian pula sebaliknya, jika “‘itāq” digunakan untuk makna “thalāq”.
ولو قال لعبده اعتدَّ واستبرِ رحمك وزعم أنه نوى العتق لم ينفذ فإن هذا اللفظ في حكم المستحيل في حقه وقد ذكرنا أن الكنايات لا بد وأن تكون مشعرةً بالمعنى المقصود
Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Ber‘iddahlah dan bersihkan rahimmu,” lalu ia mengklaim bahwa ia berniat memerdekakan, maka hal itu tidak sah, karena lafaz ini pada hakikatnya mustahil baginya. Telah kami sebutkan bahwa kināyah haruslah mengandung isyarat kepada makna yang dimaksud.
وإذا قال لامرأته التي لم يدخل بها اعتدي واستبرئي رحمك وزعم أنه نوى الطلاق فقد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال لا يقع الطلاق لأنها إذا لم تكن ممسوسة فليست من أهل العدّة والأظهر وقوع الطلاق فإنها محل العدة على الجملة إذا توافت شرائطها والإشعار كافٍ وهو بيّنٌ
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Ber‘iddahlah dan bersihkan rahimmu,” lalu ia mengaku bahwa ia berniat menjatuhkan talak, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa talak tidak jatuh, karena jika istri belum pernah digauli maka ia bukan termasuk orang yang wajib menjalani ‘iddah. Namun pendapat yang lebih kuat adalah talak tetap jatuh, karena pada dasarnya ia adalah pihak yang berpotensi menjalani ‘iddah jika seluruh syaratnya terpenuhi, dan adanya isyarat sudah cukup serta hal itu jelas.
ولو قال لأمته اعتدي واستبرئي رحمك فلا شك أنه إذا نوى العتق عَتَقت ولو قال لأَمَته أنت عليّ كظهر أمي ونوى العتق فالظاهر أنها تَعتِق وذكر القاضي وجهاً أنها لا تعتق فإن هذا اللفظ بعيد عن الإشعار بالعتق
Jika seseorang berkata kepada budaknya perempuan, “Lakukan masa iddah dan periksalah rahimmu,” maka tidak diragukan lagi bahwa jika ia berniat memerdekakan, budak itu menjadi merdeka. Dan jika ia berkata kepada budaknya perempuan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” dan ia berniat memerdekakan, maka yang tampak adalah budak itu menjadi merdeka. Namun, al-Qadhi menyebutkan satu pendapat bahwa budak itu tidak menjadi merdeka, karena lafaz tersebut jauh dari makna yang menunjukkan pemerdekaan.
وهذا لا أصل له والوجه القطع بوقوع العتق تعويلاً على الأصول التي مهدناها
Hal ini tidak memiliki dasar, dan yang benar adalah memastikan terjadinya pembebasan budak dengan berpegang pada prinsip-prinsip yang telah kami jelaskan.
وقد يعترض على مضمون هذا الفصل أن الرجل إذا قال لأمته أنت علي حرام فمطلق هذا صريح في اقتضاء كفارة اليمين كما سيأتي التفصيل فيه إن شاء الله تعالى ثم لو نوى به العتق نفذ العتقُ وهذا يَرِدُ على قولنا الصريحُ إذا وَجَد نفاذاً لم ينتقل عنه وسأقرّر هذا على وجهه في فصل التحريم إن شاء الله تعالى وهو بين أيدينا
Mungkin ada yang mengajukan keberatan terhadap isi bab ini, bahwa apabila seorang laki-laki berkata kepada budaknya perempuan, “Engkau haram atasku,” maka secara mutlak ungkapan ini jelas menunjukkan kewajiban membayar kafarat yamin, sebagaimana akan dijelaskan rinciannya nanti, insya Allah Ta‘ala. Kemudian, jika ia berniat dengan ucapan itu untuk memerdekakan, maka pemerdekaan itu sah. Hal ini menjadi keberatan terhadap pendapat kami bahwa suatu lafaz sharih (jelas) jika telah berlaku, maka tidak berpindah makna darinya. Saya akan menjelaskan hal ini secara khusus dalam bab at-tahrim (pengharaman), insya Allah Ta‘ala, dan pembahasannya ada di hadapan kita.
فصل
Bab
قال ولو قال أنت طالق واحدةً بائناً إلى آخره
Dan jika ia berkata, “Engkau tertalak satu kali secara bain,” dan seterusnya.
مضمون هذا الفصل أن البينونة الباتّة لملك النكاح منوطةٌ عندنا بوقوع الطلاق مع انتفاء العدة أو بوقوع الطلاق مع العوض وإذا فرض استيفاء العَدد انضم إلى زوال ملك النكاح تحريم عقد النكاح حتى يجري التحليل فأما وقوع الطلاق مع قيام العدة من غير عوض ولا استيفاء عَددٍ فإنه يستعقب سلطان الرجعة لا محالة ولو أراد الزوج أن ينفي الرجعة من غير عوض ولا استيفاء عدد لم يكن لذلك معنى مع قيام العدة وكان كمن يريد تحريم عقد النكاح من غير استيفاء عدد وما ذكرناه مكرراً من العدة إشارة إلى شيئين أحدهما أن الطلاق إذا لحق التي ليست مدخولاً بها فلا عِدَّةَ فلا جرم كان الطلاق مُبيناً وكذلك إذا صادف الطلاقُ
Isi bab ini adalah bahwa berakhirnya secara mutlak kepemilikan akad nikah menurut kami bergantung pada terjadinya talak dengan tidak adanya masa iddah, atau terjadinya talak dengan adanya kompensasi (iwad). Jika telah terpenuhi jumlah talak, maka selain hilangnya kepemilikan akad nikah, juga ditambahkan larangan untuk melakukan akad nikah kembali hingga terjadi tahallul. Adapun terjadinya talak saat masa iddah masih berlangsung, tanpa adanya kompensasi dan tanpa terpenuhinya jumlah talak, maka hal itu pasti menimbulkan hak ruju‘. Jika suami ingin meniadakan hak ruju‘ tanpa kompensasi dan tanpa terpenuhinya jumlah talak, maka hal itu tidak bermakna selama masa iddah masih berlangsung, dan sama saja seperti orang yang ingin mengharamkan akad nikah tanpa terpenuhinya jumlah talak. Apa yang kami sebutkan berulang kali tentang iddah adalah isyarat kepada dua hal: Pertama, jika talak dijatuhkan kepada istri yang belum pernah digauli, maka tidak ada iddah, sehingga talak tersebut otomatis menjadi talak bain. Demikian pula jika talak terjadi…
ممسوسة وجرت في العدة فهي رجعية فإذا لم يرتجعها زوجها حتى انقضت العدة بانت والسبب فيه انتفاء العدّة والرجعة مع بقاء الطلاق
Perempuan yang telah disentuh (berhubungan suami istri) dan menjalani masa ‘iddah, maka talaknya adalah talak raj‘i. Jika suaminya tidak merujuknya hingga masa ‘iddah selesai, maka ia menjadi benar-benar berpisah (bain) darinya. Sebabnya adalah karena tidak adanya lagi masa ‘iddah dan hak rujuk, sementara talak tetap berlaku.
وأبو حنيفة ينفي الرجعة بمسلكين أحدهما أن يطلّق الزوج ممسوسة من غير عوض ويشترط قطع الرجعة فالرجعة تنقطع عنده بشرط القطع
Abu Hanifah menafikan adanya ruju‘ dengan dua cara; salah satunya adalah apabila seorang suami menceraikan istrinya yang terkena gangguan jiwa tanpa kompensasi dan mensyaratkan terputusnya hak ruju‘, maka menurut beliau hak ruju‘ terputus dengan adanya syarat pemutusan tersebut.
والمسلك الثاني أن يقع الطلاق بكناية من الكنايات تُشعر بالبينونة فإذا نوى الطلاق بها كان الطلاق مُبيناً لا محالة وإن لم يقصد الزوجُ قطعَ الرجعة
Jalur kedua adalah terjadinya talak dengan lafaz kinayah yang menunjukkan perpisahan. Jika suami meniatkan talak dengan lafaz tersebut, maka talak menjadi mubayyan (talak yang tidak bisa dirujuk) tanpa keraguan, meskipun suami tidak bermaksud memutus hak ruju‘.
فانتظم من مذهبنا أن الرجعة لا تنقطع بالقطع ولا بلفظة وإنما تنقطع بالعوض وعدم العدة واستيفاء العَدد
Maka, menurut mazhab kami, ruju‘ tidak terputus dengan pemotongan (talak bain) maupun dengan suatu lafaz, melainkan terputus dengan adanya ‘iwad (tebusan), tidak adanya masa ‘iddah, dan telah terpenuhinya jumlah (talak) yang ditetapkan.
فصل
Bab
المرأة إذا ادّعت على الزوج أصلَ الطلاق فأنكره أو ادّعت عليه نية الطلاق فدعواها مسموعة واليمين معروضة ومردودة ولو لم تدّع فشهد شاهدان حسبةً على الطلاق سُمعت شهادتهما فإن حق الله تعالى غالب في الطلاق وآيةُ غلبته أن الواقع لا ينتفي بتراضي الزوجين
Jika seorang istri mengklaim kepada suaminya tentang terjadinya talak namun suaminya mengingkarinya, atau ia mengklaim bahwa suaminya berniat menjatuhkan talak, maka klaimnya dapat didengar dan sumpah dapat diajukan maupun ditolak. Jika ia tidak mengklaim, namun ada dua orang saksi yang bersaksi atas terjadinya talak secara hisbah, maka kesaksian mereka dapat diterima. Sebab, hak Allah Ta‘ala lebih dominan dalam perkara talak, dan tanda dominannya hak Allah adalah bahwa talak yang telah terjadi tidak dapat dibatalkan meskipun kedua pasangan saling merelakan.
فلو ادعى واحدٌ من الناس على رجل أنه طلق امرأته فهذا ليس بدعوى فإن كانت عنده شهادةٌ فليقمها من غير دعوى والمرأة لو أرادت أن تَشهد على طلاق الزوج لم تجد إلى ذلك سبيلاً فإن الحظ يرجع إليها من الخلاص ولها مقام الدعوى
Maka jika seseorang dari masyarakat mengklaim bahwa seorang laki-laki telah menceraikan istrinya, ini bukanlah suatu gugatan. Jika ia memiliki bukti berupa kesaksian, hendaklah ia mengajukannya tanpa adanya gugatan. Dan jika seorang perempuan ingin memberikan kesaksian tentang talak yang dilakukan suaminya, ia tidak akan menemukan jalan untuk itu, karena maslahat kembali kepadanya berupa kebebasan, dan ia memiliki kedudukan sebagai pihak yang berhak mengajukan gugatan.
ولو طلقها زوجُها طلقةً رجعيةً ثم زعمت المرأة أنه طلقها طلقة أخرى فإن راجعها فلها أن تدعي حينئذٍ وإن أرادت أن تدعي وهي جارية في عدة الرجعة فظاهر المذهب أن دعواها مسموعة فإن الرجعية زوجة ومن أصحابنا من قال لا تسمع دعواها فإنه ليس لها غرض صحيح في الحال إذ الحيلولة ناجزة والرجعة لا تنقطع بالطلقة الثانية والأصحُّ الأول
Jika suaminya menceraikannya dengan talak raj‘i lalu sang istri mengklaim bahwa suaminya telah menjatuhkan talak kedua, maka jika suaminya telah merujuknya, ia berhak mengajukan klaim saat itu. Namun jika ia ingin mengajukan klaim sementara ia masih dalam masa ‘iddah talak raj‘i, menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, klaimnya dapat didengar, karena istri dalam talak raj‘i masih berstatus sebagai istri. Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa klaimnya tidak dapat didengar, karena pada saat itu ia tidak memiliki kepentingan yang sah, sebab pemisahan sudah terjadi dan rujuk tidak terputus dengan talak kedua. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama.
فصل
Bab
قال ولو كتب بطلاقها فلا يكون طلاقاً إلا أن ينويه إلى آخره
Ia berkata: Dan jika seseorang menuliskan talak untuk istrinya, maka itu tidak dianggap sebagai talak kecuali jika ia meniatkannya hingga selesai.
نقول في صدر الفصل الأخرس يقيم إشاراته المُفْهمة مقام عبارات الناطق فيقع بإشارته طلاقُه وعتاقه ويصح بيعُه وشراؤه وسائرُ عقوده وحلوله وردوده ثم يقع طلاقه بإشارةٍ لها رتبة الصّريح ويقع بإشارة ونيّة لها رتبة الكناية وتصح أقاريره ودعاويه ولا تطويل فإشارة الأخرس كعبارة الناطق
Kami katakan di awal bab ini bahwa orang bisu menjadikan isyarat yang dapat dipahami sebagai pengganti ucapan orang yang berbicara, sehingga dengan isyaratnya dapat terjadi talak dan pembebasan budak, sah jual beli dan pembelian, serta seluruh akad, pelunasan, dan penolakan lainnya. Kemudian talaknya terjadi dengan isyarat yang setara dengan lafaz sharih, dan juga dapat terjadi dengan isyarat dan niat yang setara dengan lafaz kinayah. Pengakuan dan gugatan orang bisu juga sah, dan tidak perlu diperpanjang penjelasannya, karena isyarat orang bisu sama dengan ucapan orang yang berbicara.
ولم يختلف أصحابنا إلا في الشهادة فمنهم من صحح شهادة الأخرس ومنهم من أباها ولعله الأصحُّ
Para ulama kami tidak berbeda pendapat kecuali dalam hal kesaksian; di antara mereka ada yang membenarkan kesaksian orang bisu, dan ada pula yang menolaknya, dan barangkali pendapat yang menolaknya adalah yang lebih sahih.
وممّا يتعلق بتحقيق ذلك أن الأخرس إذا أبلغ في الإشارة فالصّريح منها ما يفهم منها الطلاق ولا يختص بفهمه أصحاب الفطنة والدرْك بل يعمّ دركُ المقصود منه فهذا يُلحق إشارته بالصريح الذي يفهم منه الطلاق على شيوع فإن ترددت إشارته وكانت صالحةً للطلاق ولغيره أو كان يختص بدَرْكه الفطن فهذا يلحق بالكناية
Terkait dengan hal tersebut, jika seseorang yang bisu menyampaikan maksudnya melalui isyarat dengan jelas, maka isyarat yang tegas adalah isyarat yang darinya dapat dipahami maksud talak, dan pemahamannya tidak terbatas pada orang-orang yang cerdas dan tanggap saja, melainkan maksud tersebut dapat dipahami secara umum. Maka, isyaratnya disamakan dengan lafaz sharih yang secara umum dipahami sebagai talak. Namun, jika isyaratnya masih meragukan dan dapat bermakna talak maupun selainnya, atau hanya dapat dipahami oleh orang yang cerdas saja, maka hal itu disamakan dengan kinayah.
وإذا أبلغ الأخرس في الإشارة ثم زعم أنه لم ينو الطلاق فالذي يظهر عندي أن هذا يلتحق بالقسم المتوسط بين الصريح والكناية حتى يتردّد فيه كما لو استعمل اللفظ الشائع في الطلاق وقال قصدت غير الطلاق وليس كلفظ الطلاق في حق الناطق فهذا غائصٌ فقيه فليتأمله الناظر
Jika seorang bisu telah menyampaikan maksudnya dengan isyarat secara jelas, kemudian ia mengaku bahwa ia tidak berniat talak, maka yang tampak menurutku, hal ini termasuk dalam kategori pertengahan antara lafaz sharih dan kinayah, sehingga statusnya menjadi dipertimbangkan, sebagaimana jika seseorang menggunakan lafaz yang umum digunakan untuk talak lalu berkata, “Aku bermaksud selain talak.” Namun, hal ini tidak sama dengan lafaz talak bagi orang yang dapat berbicara. Ini adalah persoalan fiqh yang mendalam, maka hendaknya orang yang menelaahnya memperhatikannya dengan seksama.
ومما وقع في الوقائع أن الأخرس إذا أشار في الصلاة بالطلاق أو بغيره من العقود والحلول فلا شك أنا نُنفّذ منه مقتضى إشاراته وإذا نفَّذناها ففي القضاء ببطلان الصلاة تردّد والظاهر أنها لا تبطل وقد قدمنا ذكر ذلك فيما تقدّم
Di antara kejadian yang terjadi dalam kasus-kasus adalah bahwa seseorang yang bisu, jika ia memberi isyarat dalam salat tentang talak atau selainnya dari akad-akad dan pembebasan, maka tidak diragukan lagi bahwa kami melaksanakan konsekuensi dari isyarat-isyaratnya. Jika kami melaksanakannya, maka dalam hal memutuskan batalnya salat terdapat keraguan, dan yang tampak adalah salatnya tidak batal. Kami telah menyebutkan hal itu pada penjelasan sebelumnya.
وإذا كتب الأخرس بالطلاق نفذ الطلاق منه فإن الكِتْبة أوقع في البيان من الإشارة ولو قدر على الكِتْبة فأشار نفذت إشارته فإن الكتابة في مرتبة الإشارة فليفهم الناظر هذا وإن كانت الكتابة منتظمة والإشارات لا نظم لها
Jika orang bisu menulis lafaz talak, maka talaknya sah, karena tulisan lebih jelas dalam menyampaikan maksud dibandingkan isyarat. Namun, jika ia mampu menulis tetapi memilih untuk berisyarat, maka isyaratnya tetap sah, karena tulisan berada pada tingkatan yang sama dengan isyarat. Hendaknya hal ini dipahami oleh pembaca, meskipun tulisan itu teratur sedangkan isyarat tidak memiliki keteraturan.
فإذا ثبتت هذه المقدمات استفتحنا بعدها القول في كتابة الناطق فنقول القادر على النطق إذا كتب الصّيغة الجازمة بالطلاق قال الأئمة إن كتب وقرأ ونوى وقع الطلاق
Jika premis-premis ini telah ditetapkan, maka setelah itu kita mulai pembahasan tentang penulisan oleh orang yang mampu berbicara. Maka kami katakan, jika seseorang yang mampu berbicara menulis lafaz tegas tentang talak, para imam berpendapat: jika ia menulis, membacanya, dan meniatkannya, maka talak pun jatuh.
فإن قيل إذا قرأ فقد صرّح ونطق فأيّ حاجةٍ إلى النيّة قلت نعم هو كذلك ولكن القراءة مع النظر في المكتوبات يتأتى حملها على محمل الحكاية فيتنزل هذا عندنا وإن كان اللفظ صريحاً منزلة ما لو قال في حالِ حَلّ قيدها أنت طالق ثم زعم أنه أراد تطليقها عن وثاق وفيه التردد الذي قدمناه وإن صرح وقال إنما أريد أن أحكي فهذا كما لو قال أنت طالق عن وِثاق
Jika dikatakan, “Jika seseorang membaca, maka ia telah secara jelas mengucapkan, lalu apa perlunya niat?” Saya katakan, benar, memang demikian. Namun, membaca dengan melihat tulisan-tulisan memungkinkan untuk membawanya pada makna sebagai sekadar menceritakan (hanya mengutip ucapan), sehingga menurut kami, meskipun lafaznya jelas, hal ini diposisikan seperti seseorang yang berkata pada saat melepaskan ikatan istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah menceraikan dari ikatan (bukan talak syar‘i). Dalam hal ini terdapat keraguan sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika ia secara tegas menyatakan, “Saya hanya bermaksud mengutip (mengisahkan),” maka ini seperti orang yang berkata, “Engkau tertalak dari ikatan.”
وإن كتب ولم يقرأ ونوى الطلاق فقد نص هاهنا على الوقوع ونصَّ في الإملاء على أنه إذا كتب بطلاق زوجته ونوى لم يقع طلاقه وقال في كتاب الرجعة ولا يكون رجعة إلا بكلام كما لا يكون نكاح ولا طلاق إلا بكلام
Dan jika seseorang menulis (lafaz talak) tanpa membacanya, namun berniat untuk menceraikan, maka di sini beliau menegaskan bahwa talak terjadi. Namun dalam kitab Al-Imlā’, beliau menegaskan bahwa jika seseorang menulis talak untuk istrinya dan berniat (menceraikan), maka talaknya tidak terjadi. Dan beliau berkata dalam Kitab Ar-Ruj‘ah: Tidak terjadi rujuk kecuali dengan ucapan, sebagaimana tidak terjadi akad nikah maupun talak kecuali dengan ucapan.
فاختلف أصحابنا فمنهم من قال في المسألة قولان أحدهما أن الطلاق لا يقع فإن الكاتب قادر على العبارة فليعبر عن غرضه فإن العبارة أصل البيان والكتابةُ فعلٌ
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka mengatakan bahwa dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak tidak jatuh, karena orang yang menulis itu mampu untuk mengungkapkan maksudnya dengan ucapan, maka hendaknya ia mengungkapkan maksudnya dengan ucapan, sebab ucapan adalah pokok dalam penyampaian maksud, sedangkan tulisan adalah perbuatan.
والقول الثاني أن الطلاق يقع فإن الكتابة مما يتفاهم بها العقلاء وهي أحد البيانين
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tetap jatuh, karena tulisan adalah salah satu cara yang dipahami oleh orang-orang berakal dan merupakan salah satu bentuk penjelasan.
ومن أصحابنا من قال يقع الطلاق بالكتابة مع النية قولاً واحداً وما ذكره في الرجعة قصد به الردَّ على أبي حنيفة في مصيره إلى أن الوطء رجعة ثم استمر في كلامه كما وصفناه ونصُّ الإملاء عند هذا القائل محمول على الأخرس أو على الغائب كما سنبين التفصيل فيه
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa talak jatuh dengan tulisan disertai niat, menurut satu pendapat. Apa yang disebutkan mengenai rujuk, dimaksudkan untuk membantah pendapat Abu Hanifah yang berpendapat bahwa hubungan suami istri merupakan rujuk. Kemudian penjelasannya berlanjut sebagaimana telah kami uraikan, dan nash dalam kitab Al-Imla’ menurut pendapat ini ditafsirkan untuk orang bisu atau orang yang sedang tidak hadir, sebagaimana akan kami jelaskan rinciannya.
ثم فرّع الأئمة الحاضر وجعلوه أولى بأن لا يقع طلاقه بالكتابة من جهة اقتداره على الإفهام بالنطق والكلام والغُيَّبُ يعسر عليهم المناطقة فتصير الكتابة في حقهم بمثابتها في حق الأخرس
Kemudian para imam mengembangkan cabang hukum ini dan menetapkan bahwa orang yang hadir (tidak ghaib) lebih utama untuk tidak jatuh talaknya melalui tulisan, karena ia mampu menyampaikan maksud dengan ucapan dan pembicaraan. Adapun orang yang ghaib, mereka kesulitan untuk berkomunikasi secara lisan, sehingga tulisan bagi mereka menjadi setara dengan tulisan bagi orang bisu.
والذي تحصّل من كلام الأصحاب طريقان في الحاضر وطريقان في الغائب على العكس فأما الطريقان في الغائب فمن أصحابنا من قطع بوقوع الطلاق ومنهم من ذكر قولين
Kesimpulan yang didapat dari pendapat para ulama adalah terdapat dua pendapat dalam kasus suami yang hadir dan dua pendapat dalam kasus suami yang tidak hadir, namun dengan kebalikan. Adapun dua pendapat dalam kasus suami yang tidak hadir, sebagian ulama kami berpendapat tegas bahwa talak terjadi, sementara sebagian yang lain menyebutkan ada dua pendapat.
وفي الحاضر طريقان على العكس منهم من قطع بأن طلاقه لا يقع بالكتابة ومنهم من قال قولان
Pada masa sekarang terdapat dua pendapat yang bertolak belakang dengan mereka: ada yang secara tegas menyatakan bahwa talak tidak jatuh dengan tulisan, dan ada pula yang memiliki dua pendapat.
وينتظم من الغائب والحاضر ثلاثة أقوال
Dari yang tidak hadir dan yang hadir, terkumpul tiga pendapat.
ثم إذا تمهد الأصل فالكلام وراء ذلك في أمور منها تفصيل القول فيما يتعلق بالكِتْبة من الأحكام سوى الطلاق ومنها ما يكتب عليه ومنها اتباع الألفاظ المُثْبتة في الكتب وبيان صيغتها
Kemudian, setelah dasar-dasar tersebut dijelaskan, pembahasan selanjutnya berkaitan dengan beberapa hal, di antaranya adalah perincian pendapat mengenai hukum-hukum yang berkaitan dengan penulisan selain talak, hal-hal yang menjadi objek penulisan, mengikuti lafaz-lafaz yang tercantum dalam kitab-kitab, serta penjelasan bentuk redaksinya.
فأما القول فيما يتعلق بالكتابة فترتيب المذهب فيه أن الأحكام المتعلقة بالألفاظ تنقسم إلى ما لا يفتقر إلى القبول وإلى ما يفتقر إلى القبول فأما ما لا يفتقر إلى القبول فهو كالطلاق والعتاق والإبراء والعفو عن الدّم فهذه الأشياء هل تحصل بالكِتبة فيها التفاصيل التي قدمناها في الطلاق ثم المذهب المقطوع به أن الكِتْبة بمجردها لا تتضمن وقوع الطلاق حتى تنضم إليها النية ولا يحصل بها الإبراء والعفو والعتق كذلك حتى يقترن بها نيات هذه الأشياء وحكى الشيخ أبو علي في شرح التلخيص وجهاً غريباً أن صيغة الكِتبة إذا كانت صريحاً لو فرض النطق بها وقع الطلاق من غير نيّة وهذا بعيد لم أره لغيره
Adapun pembahasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penulisan, maka urutan mazhab dalam hal ini adalah bahwa hukum-hukum yang berkaitan dengan lafaz terbagi menjadi dua: ada yang tidak memerlukan penerimaan (qabul) dan ada yang memerlukan penerimaan. Adapun yang tidak memerlukan penerimaan adalah seperti talak, pembebasan budak (‘itq), pembebasan dari utang (ibrā’) dan pemaafan atas darah (dalam kasus qishāsh). Maka, apakah hal-hal ini dapat terjadi hanya dengan penulisan? Dalam hal ini terdapat rincian yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam pembahasan talak. Kemudian, pendapat mazhab yang pasti adalah bahwa penulisan semata tidak menyebabkan terjadinya talak kecuali disertai dengan niat, dan tidak terjadi pula pembebasan utang, pemaafan, dan pembebasan budak kecuali disertai dengan niat untuk hal-hal tersebut. Syaikh Abu ‘Ali dalam Syarh at-Talkhīsh meriwayatkan satu pendapat yang ganjil, yaitu bahwa jika redaksi penulisan itu jelas, maka seandainya diucapkan akan jatuh talak tanpa memerlukan niat. Namun, ini adalah pendapat yang jauh (lemah) dan saya tidak menemukannya pada selain beliau.
والتحق بهذا المنتهى أن الناطق لو أشار إشارة الأخرس فهل يقع الطلاق بإشارته قال شيخي كان القفال يُجري إشارة الناطق بمثابة كتابته وكان ميله إلى أن الإشارة من الناطق أولى بالإحباط من الكتابة فإن الكتابة مألوفة من الناطقين على اطراد سيما في حالة الغيبة بخلاف الإشارة فإنها لا تصدر على قصد الإفهام إلا على ندورٍ أو في حالة هزء ثم إذا صدر من الناطق على قولنا بإعمال إشارته ما لو صدر من الأخرس لكان صريحاً فكيف سبيلها الوجه القطع بأنها كناية عن الناطق كالكتابة وإن كانت صريحاً من الأخرس
Terkait dengan pembahasan ini, apabila seseorang yang mampu berbicara memberikan isyarat seperti isyarat orang bisu, apakah talak jatuh dengan isyaratnya? Guru saya berkata, al-Qaffal memperlakukan isyarat orang yang mampu berbicara seperti tulisan tangannya, dan kecenderungannya adalah bahwa isyarat dari orang yang mampu berbicara lebih layak untuk tidak dianggap sah dibandingkan tulisan, karena menulis adalah hal yang lazim dilakukan oleh orang yang mampu berbicara secara terus-menerus, terutama dalam keadaan tidak hadir, berbeda dengan isyarat yang tidak dilakukan dengan maksud untuk dipahami kecuali sangat jarang atau dalam keadaan bercanda. Kemudian, jika isyarat itu dilakukan oleh orang yang mampu berbicara—menurut pendapat yang membolehkan penggunaan isyaratnya—dan jika hal itu dilakukan oleh orang bisu maka dianggap sebagai lafaz sharih (jelas), bagaimana hukumnya? Pendapat yang benar adalah bahwa isyarat tersebut dianggap sebagai kinayah (lafaz sindiran) bagi orang yang mampu berbicara, sebagaimana tulisan, meskipun dianggap sharih bagi orang bisu.
وكان شيخي يقطع بأن الكتابة صريحٌ من الأخرس ولي في هذا نظر فإن كتابة الكاتب قد تقع لنظم حروف وامتحان قلم ومحاكاة خط فإن انضمّ إلى الكِتبة قصدُ الإفهام بها فلا ريب حينئذ في أن الكتابة مع مخايل قصد الافهام كالإشارة لو أبلغ فيها فهذا قولنا فيما لا يفتقر إلى القبول
Guru saya berpendapat tegas bahwa tulisan merupakan pernyataan eksplisit dari orang bisu, namun saya memiliki pandangan lain dalam hal ini. Sebab, tulisan seseorang bisa saja terjadi hanya untuk merangkai huruf, mencoba pena, atau meniru tulisan. Jika pada tulisan itu disertai maksud untuk memberi pemahaman, maka tidak diragukan lagi bahwa tulisan yang disertai tanda-tanda maksud untuk memberi pemahaman adalah seperti isyarat, jika isyarat itu dilakukan dengan jelas. Inilah pendapat kami mengenai hal-hal yang tidak memerlukan adanya penerimaan.
فأما ما يفتقر إلى القبول فينقسم إلى النكاح وغيرِه فأما غير النكاح
Adapun perkara yang memerlukan adanya penerimaan, terbagi menjadi nikah dan selainnya. Adapun selain nikah…
كالبيع والإجارة والهبة وما في معناها نفرضها مع الغَيْبة ثم نذكر حكمَها مع الحضور
Seperti jual beli, ijarah, hibah, dan hal-hal yang semakna dengannya, kita anggap terjadi dalam keadaan tidak hadir (ghaibah), kemudian kita sebutkan hukumnya dalam keadaan hadir.
فأما إذا جرت الكتابة بالبيع في الغيبة فمن ضرورة ذلك انقطاع كتابة من يبتدىء عن قبول من يَرِدُ الكتابُ عليه فيجتمع في ذلك إقامة الكتابة مقام اللفظ وفيه التردد الذي ذكرناه في الطلاق والعتاق وما في معناهما مما لا يشترط القبول فيه وتأخُّرُ أحد شقي العقد عن الثاني وهذا لا يقتضي تأكيداً في المنع لا محالة فينتظم منه ترتيب القولين في البيع على القولين في الطلاق والبيعُ أولى بالمنع
Adapun jika transaksi jual beli dilakukan melalui surat-menyurat saat tidak hadir, maka secara niscaya akan terjadi terputusnya penulisan dari pihak yang memulai sebelum adanya penerimaan dari pihak yang menerima surat tersebut. Dalam hal ini, penyuratan diposisikan sebagai pengganti ucapan, dan terdapat keraguan sebagaimana telah disebutkan dalam kasus talak, ‘itāq, dan hal-hal serupa yang tidak disyaratkan adanya penerimaan di dalamnya, serta terjadinya keterlambatan salah satu sisi akad dari sisi yang lain. Hal ini tidak menuntut adanya penegasan larangan secara mutlak, sehingga dapat disusun dua pendapat dalam jual beli sebagaimana dua pendapat dalam talak, namun jual beli lebih utama untuk dilarang.
فإن قيل ما وجه الجواز وقد انفصل أحد الشقين عن الثاني قلنا في ذلك وجهان أحدهما أن نجعل ورود الكتاب بمثابة افتتاح الإيجاب ويتبعه القبول على الاتصال والوجه الثاني أن القبول إنما يشترط اتصاله بالإيجاب لأن الموجِب أنشأ كلامه على وجه يقتضي جواباً متصلاً وإذا كتب الكاتب فكتابته تقتضي الموافقة على حسب ما يليق بالعرف في مثل ذلك وهذا حسن ولكن يلزم على مساقه أن يقال إذا أوجب في الحضور إيجاباً مقترناً بجواز تأخّر القبول وجب تجويزه ولا صائر إلى هذا إلا أبو حنيفة فإنه جعل مدّة المجلس وإن طالت فُسحةً في ذلك ونحن لا نقول به فينضم إلى ما ذكرناه مسيسُ الحاجة في التكاتب وهذا لا يتحقق في التخاطب ويتصل بذلك أنه إذا ورد الكتاب فهل يشترط اتصال القبول بالاطلاع على الكتاب أم لا الوجه القطع باشتراطه على المعنيين إذ لا حاجة بعد الاطلاع وقد جعلنا الاطلاع كإنشاء الإيجاب
Jika dikatakan, “Apa alasan kebolehan (akad melalui surat) padahal salah satu pihak terpisah dari pihak lainnya?” Kami jawab, ada dua pendapat dalam hal ini. Pertama, bahwa sampainya surat dianggap seperti permulaan ijab, lalu diikuti oleh qabul secara bersambung. Kedua, bahwa syarat bersambungnya qabul dengan ijab itu karena pihak yang berijab menyusun ucapannya dengan cara yang menuntut adanya jawaban yang langsung. Namun, jika seseorang menulis surat, maka penulisannya menuntut adanya persetujuan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam hal seperti itu. Pendapat ini baik, tetapi konsekuensinya adalah jika seseorang melakukan ijab secara langsung dengan disertai kebolehan menunda qabul, maka harus dibolehkan juga, dan tidak ada yang berpendapat demikian kecuali Abu Hanifah. Ia menjadikan durasi majelis, meskipun lama, sebagai kelonggaran dalam hal ini. Kami tidak berpendapat demikian. Maka, yang kami sebutkan tadi didukung oleh adanya kebutuhan mendesak dalam surat-menyurat, yang tidak terwujud dalam percakapan langsung. Terkait hal ini, jika surat telah sampai, apakah disyaratkan qabul harus langsung setelah membaca surat atau tidak? Pendapat yang kuat adalah disyaratkan demikian menurut kedua makna, karena tidak ada kebutuhan setelah membaca surat, dan kami menganggap membaca surat itu seperti membuat ijab.
ولو قال الغائب بعت داري هذه من فلان وأُشهد عليه فإذا بلغ الخبر مَنْ هو في مقام المشتري فهي كالكتابة بل هذا أولى بالصحة لوجود اللفظ
Dan jika seseorang yang tidak hadir berkata, “Aku telah menjual rumahku ini kepada si Fulan dan aku telah meminta saksi atasnya,” maka apabila kabar tersebut sampai kepada orang yang berada di posisi pembeli, hukumnya seperti penulisan (akad). Bahkan, ini lebih utama untuk dianggap sah karena adanya lafaz (ucapan).
هذا بيان البيع وما في معناه
Ini adalah penjelasan tentang jual beli dan hal-hal yang serupa dengannya.
فأما النكاح فهو أولاً يترتب على البيع إذا فرض بالكتابة في حالة الغيبة فليرتب على البيع والفرقُ ما في النكاح من التعبد والتضييق في العبارات ثم يتفرع على النكاح افتقاره إلى الشهادة فإن صححنا النكاح وقد جرى من الغائب لفظُه وشهد عليه عدلان وشهدا على قبول من يبلغه الخبر فقد ثبت ركن الشهادة وإن شهد على قول الزوج عدلان وشهد على قبول القابل عدلان آخران ففي المسألة وجهان أصحهما أن النكاح لا ينعقد لأن واحداً منهم لم يشهد على عقد تامٍ
Adapun nikah, pertama-tama diqiyaskan dengan jual beli jika dilakukan melalui tulisan dalam keadaan tidak hadir, maka diqiyaskan dengan jual beli. Perbedaannya terletak pada adanya unsur ibadah dan pembatasan dalam ungkapan-ungkapan pada nikah. Kemudian, dari nikah bercabang kebutuhan akan syahadah (kesaksian). Jika kita membenarkan nikah yang dilakukan oleh pihak yang tidak hadir dengan ucapannya, lalu disaksikan oleh dua orang saksi yang kemudian menyaksikan penerimaan dari pihak yang menerima setelah berita itu sampai kepadanya, maka telah terpenuhi rukun syahadah. Namun, jika dua orang saksi menyaksikan ucapan suami dan dua orang saksi lainnya menyaksikan penerimaan dari pihak penerima, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa nikah tidak sah, karena tidak ada satu pun dari mereka yang menyaksikan akad secara utuh.
ومن أصحابنا من قال يصح النكاح لأن العقد لو جُحد أمكن إثباته بهم وهو المقصود وهذا فيه إذا لَفَظَ الموجِب والقابلُ بالإيجاب والقبول فأما إذا كتب ولم يتلفظ فالإشهاد على الكتابة ممكن ولكن الكتابة كناية ولا اطلاع على نية الكاتب وإن زعم أنه نوى بعد الكتابة فهذا إشهاد على الإقرار ولا يقع الاكتفاء بالإشهاد على الإقرار فالذي يقتضيه قياس الشافعي القطعُ بأن هذا لا يصح ولكن أجرى كثير من الأصحاب القولين في الكتابة في النكاح ولعلهم رأَوْا هذا محتملاً لضرورة الغيبة وهذا بمثابة احتمال انقطاع الإيجاب عن القبول بسبب حاجة الغيبة
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa akad nikah sah, karena jika akad tersebut diingkari, maka dapat dibuktikan dengan kesaksian mereka, dan inilah tujuan utamanya. Hal ini berlaku jika pihak yang melakukan ijab dan kabul mengucapkan ijab dan kabul secara lisan. Adapun jika hanya menulis tanpa mengucapkan, maka penyaksian atas tulisan itu memungkinkan, tetapi tulisan hanyalah kinayah (ungkapan tidak langsung), dan tidak ada cara untuk mengetahui niat penulisnya. Jika penulis mengaku bahwa ia berniat setelah menulis, maka ini adalah penyaksian atas pengakuan, dan tidak cukup hanya dengan penyaksian atas pengakuan. Maka, qiyās menurut Imam Syafi‘i menuntut adanya kepastian bahwa hal ini tidak sah. Namun, banyak dari ulama mazhab kami yang tetap mengemukakan dua pendapat dalam masalah penulisan dalam akad nikah, barangkali mereka memandang hal ini mungkin terjadi karena adanya kebutuhan akibat jarak (ghiyābah). Ini serupa dengan kemungkinan terputusnya ijab dari kabul karena kebutuhan akibat jarak.
هذا منتهى الكلام في هذه القاعدة
Inilah akhir pembahasan pada kaidah ini.
ويتفرع عليه الكتابة في الحضور وقد قدمنا أن الكتابة في الحضور أبعد عن الجواز لانتفاء حاجة الغيبة فإن منعنا فلا كلام وإن جوزنا فقد يمكن فرض اتصال الكتابة بالقبول في الشهود والحضور فإن كان كذلك لم يبق إلا إقامة الكتابة من غير حاجةٍ مقام العبارة وإن انقطع الإيجاب عن القبول في الشهود والحضور فنقطع بالمنع وهو بيّن
Dari permasalahan ini bercabang pembahasan tentang penulisan (akad) saat hadir. Telah kami kemukakan sebelumnya bahwa penulisan saat hadir lebih jauh dari kebolehan, karena tidak adanya kebutuhan akibat ketidakhadiran. Jika kita melarangnya, maka tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Namun jika kita membolehkannya, maka bisa saja dibayangkan adanya keterkaitan antara penulisan dengan penerimaan (akad) di hadapan para saksi dan saat hadir. Jika demikian, maka yang tersisa hanyalah penempatan penulisan tanpa adanya kebutuhan sebagai pengganti ucapan. Namun jika ijab terputus dari qabul di hadapan para saksi dan saat hadir, maka kami memastikan pelarangan, dan hal itu jelas.
ثم يتفرع على هذه القواعد مسائل سهلة المأخذ فإذا كتب إلى إنسان بأنّي وكلتك في بيع مالي وعتْقِ عبدي فهذا يترتب على أنه لو شافهه بهذا هل يفتقر إلى القبول فإن قلنا لا حاجة إلى القبول مع المشافهة فالقول في ذلك كالقول في الكتابة في الطلاق والعتاق وإن شرطنا القبول في ذلك التحق بالقسم الذي يفتقر إلى الإيجاب والقبول وقد ذكرنا حكم الكتابة في هذا القسم
Kemudian dari kaidah-kaidah ini bercabang beberapa permasalahan yang mudah dipahami. Jika seseorang menulis surat kepada orang lain dengan mengatakan, “Aku mewakilkan kepadamu untuk menjual hartaku dan memerdekakan hambaku,” maka hal ini bergantung pada apakah jika ia mengucapkannya secara langsung, apakah memerlukan adanya penerimaan (qabūl). Jika kita katakan tidak perlu adanya penerimaan dalam percakapan langsung, maka hukum dalam hal ini sama seperti hukum penulisan dalam masalah talak dan ‘itāq (pembebasan budak). Namun jika kita mensyaratkan adanya penerimaan dalam hal tersebut, maka hal itu termasuk dalam kategori yang memerlukan ijāb dan qabūl, dan kami telah menyebutkan hukum penulisan dalam kategori ini.
وهذا نجاز الكلام في حكم الكتابة في هذه الأقسام
Demikianlah selesai pembahasan mengenai hukum penulisan dalam bagian-bagian ini.
فأما القول فيما يُكتب عليه فالكتابة على الرَّق والقرطاس والألواح والنقر في الأحجار والخشب كلها بمثابة واحدة ولو خط على الأرض خطوطاً وأفهم فالجواب كما ذكرناه وإذا فهم الفاهم ما كتبه وبلّغه كان كما لو بلّغ كتابه
Adapun pembahasan mengenai media yang digunakan untuk menulis, maka menulis pada kulit, kertas, papan, mengukir pada batu dan kayu, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Jika seseorang membuat garis-garis di tanah dan dapat dipahami, maka hukumnya seperti yang telah kami sebutkan. Apabila orang yang dituju memahami apa yang ditulis dan telah menyampaikannya, maka hal itu sama seperti jika ia menyampaikan suratnya.
ولو رسم الأسطر على الماء أو على الهواء فلا حكم لهذه الكتابة فإن الكتابة حقها أن تقع بياناً ولا انتظام لها على الهواء أو الماء نعم لا يمتنع أن يلتحق هذا بالإشارات فإن هذه الحركات قد يُفهم منها شكلُ الحروف فتتنزل منزلة الإشارات المفهمة
Jika seseorang menulis baris-baris di atas air atau di udara, maka tulisan tersebut tidak memiliki hukum apa pun, karena tulisan seharusnya berfungsi sebagai penjelas, sedangkan tulisan di udara atau air tidak teratur. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini disamakan dengan isyarat, karena gerakan-gerakan tersebut terkadang dapat dipahami sebagai bentuk huruf, sehingga dapat dianggap setara dengan isyarat yang dapat dipahami.
فأما الكلام في صيغ الكتابة ومقتضياتها وما يطرأ على الكُتب من التغايير فهذا خاصية الفصل وينبسط فيه الكلام بعض الانبساط فإذا كان في الكتاب أما بعد فأنت طالق فإذا وقع الحكم بالكتابة تبيّنا وقوع الطلاق من وقت الكتابة فإنه لم يعلّق الطلاق ببلوغ الكتاب ووصوله بل نجّزه إذ قال أما بعد فأنت طالق
Adapun pembahasan mengenai bentuk-bentuk tulisan dan implikasinya, serta perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada surat, hal ini merupakan kekhususan bab tersendiri dan pembahasannya cukup luas. Jika dalam surat tertulis: “Amma ba‘du, maka engkau tertalak,” maka apabila keputusan dijatuhkan berdasarkan tulisan tersebut, kita mengetahui bahwa talak terjadi sejak waktu penulisan surat itu, karena talak tidak digantungkan pada sampainya surat atau diterimanya, melainkan langsung dijatuhkan ketika ia berkata: “Amma ba‘du, maka engkau tertalak.”
وإذا قال إذا بلغك كتابي فأنتِ طالق فلا يقع الطلاق ما لم يبلغها وإذا قال إذا قرأتِ كتابي فأنت طالق فلا يقع الطلاق بنفس البلوغ ما لم تقرأ أو يُقرأ عليها كما سنفصل هذا في آخر الفصل إن شاء الله
Jika seseorang berkata, “Jika suratku sampai kepadamu, maka engkau tertalak,” maka talak tidak jatuh sebelum surat itu benar-benar sampai kepadanya. Dan jika ia berkata, “Jika engkau membaca suratku, maka engkau tertalak,” maka talak tidak jatuh hanya dengan sampainya surat itu, kecuali jika ia membacanya atau dibacakan kepadanya, sebagaimana akan kami jelaskan secara rinci di akhir bab ini, insya Allah.
وإذا انمحى الكتاب فإن بقيت رقوم يُفهم منها الغرض وقع الطلاق المعلق ببلوغ الكتاب وإن انمحى ودرس ولم يبق ما يُفهم منه مضمون الكتاب فالذي قطع به الأصحاب أن الطلاق لا يقع إذا كان معلقاً ببلوغ الكتاب فإن هذا خرج عن كونه كتاباً بالانمحاء والدّليل عليه أن الكاتب لو كان كتب إن بلغك كتابي ثم محا بنفسه فاتفق بلوغ ذلك القرطاس فلا إشكال في أن الطلاق لا يقع فإذا انمحى كان كما لو محاه الكاتب بنفسه
Jika tulisan pada surat telah terhapus, namun masih tersisa bekas-bekas tulisan yang maksudnya dapat dipahami, maka talak yang digantungkan pada sampainya surat tetap jatuh. Namun jika tulisan itu telah terhapus dan hilang sama sekali sehingga tidak ada lagi yang dapat dipahami maksud isi suratnya, maka pendapat yang dipastikan oleh para ulama adalah bahwa talak tidak jatuh jika digantungkan pada sampainya surat tersebut. Sebab, surat itu telah keluar dari statusnya sebagai surat karena telah terhapus. Dalilnya adalah, jika seseorang menulis, “Jika suratku sampai kepadamu,” lalu ia sendiri yang menghapusnya, kemudian kebetulan kertas itu sampai, maka tidak diragukan lagi bahwa talak tidak jatuh. Maka jika tulisan itu terhapus, hukumnya sama seperti jika penulisnya sendiri yang menghapusnya.
وذكر صاحب التقريب وجهاً آخر أن الطلاق يقع فإن هذا وإن انمحى يسمى كتاباً ويقال أتاني كتاب فلان وإن انمحى
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain bahwa talak tetap jatuh, karena meskipun tulisan itu telah terhapus, tetap saja disebut sebagai kitab (surat), dan dikatakan, “Telah datang kepadaku kitab (surat) dari si Fulan,” meskipun telah terhapus.
وهذا الذي ذكره بعيدٌ فإنه إنما يسمى كتاباً بتأويل أنه كان كتاباً ووضوح ذلك مغْنٍ عن بسطه
Apa yang disebutkannya itu jauh dari kebenaran, karena sesuatu itu hanya disebut kitab dengan penafsiran bahwa dahulu ia memang sebuah kitab, dan kejelasan hal ini sudah cukup sehingga tidak perlu dijelaskan panjang lebar.
والكلام يتعلق بعد ذلك بسقوط بعض الكتاب ووصول بعضه ونحن نتكلم فيه إذا وصل أسطرُ الطلاق وسقط غيرها ثم نتكلم في سقوط الأسطر التي فيها الطلاق والتقسيمُ الجاري في ذلك أن نقول الكلام في أربع مسائل إحداها في سقوط أسطر الطلاق من الكتاب والثانية في سقوط الأسطر التي هي من مقاصد الكتاب لكنها غير الطلاق والثالثة في سقوط أسطر فيها التسمية والتصدير أو الحمد والصلاة في آخر الكتاب والرابعة في سقوط البياض من طرفي الكتاب أو حواشيه
Pembahasan selanjutnya berkaitan dengan hilangnya sebagian lembaran surat dan sampainya sebagian lainnya. Kita akan membahasnya jika yang sampai adalah baris-baris yang berisi talak, sementara yang lain tidak sampai. Kemudian kita akan membahas tentang hilangnya baris-baris yang berisi talak. Pembagian yang berlaku dalam hal ini adalah sebagai berikut: pembahasan terbagi menjadi empat masalah. Pertama, tentang hilangnya baris-baris talak dari surat. Kedua, tentang hilangnya baris-baris yang merupakan tujuan surat, tetapi bukan talak. Ketiga, tentang hilangnya baris-baris yang berisi basmalah, pembukaan, atau pujian dan salawat di akhir surat. Keempat, tentang hilangnya bagian kosong di kedua ujung surat atau di pinggirannya.
فأما إذا سقطت أسطر الطلاق وكان في الكتاب إذا بلغك كتابي فأنت طالق فحاصل ما ذكره الأصحاب في هذه الصورة ثلاثة أوجه أحدها أن الطلاق لا يقع فإنه علّقه ببلوغ الكتاب والكتاب عبارة عن مجموعِه وقد سقط مقصود الكتاب فكأن الكتاب لم يصل والوجه الثاني أن الطلاق يقع إذ يقال وصل الكتاب وإن كان سقط منه شيء والوجه الثالث أنه يفصّل فيقال إن قال إن جاءكِ كتابي هذا لم يقع لأن
Adapun jika baris-baris tentang talak terhapus, sementara dalam surat tersebut tertulis: “Jika suratku ini sampai kepadamu, maka engkau tertalak,” maka inti dari apa yang disebutkan para ulama dalam kasus ini ada tiga pendapat. Pendapat pertama, talak tidak jatuh karena ia menggantungkan talak pada sampainya surat, dan surat itu adalah keseluruhan isinya, sementara maksud utama surat telah terhapus, sehingga seakan-akan surat itu tidak sampai. Pendapat kedua, talak jatuh karena dikatakan surat telah sampai meskipun ada bagian yang terhapus. Pendapat ketiga, ada perincian: jika ia berkata, “Jika suratku ini sampai kepadamu,” maka talak tidak jatuh karena…
الإشارة تحوي جميعَ الأجزاء وإن كتب إن جاءكِ كتابي ولم يشر وقع لأنه
Isyarat mencakup seluruh bagian, dan jika seseorang menulis “Jika suratku sampai kepadamu” tanpa memberikan isyarat, maka hal itu tetap sah.
جاءها ما ينطلق عليه اسم الكتاب
Telah sampai kepadanya sesuatu yang dapat disebut sebagai kitab.
المسألة الثانية إذا سقط غير الطلاق ولكن كان من متضمنات الكتاب كعُذرٍ مُقدَّمٍ على الطلاق أو ذكرِ حالٍ منها يتضمن توبيخاً وهو معقَّبٌ بالطلاق فإذا سقط ما يشتمل على هذه الفنون وكانت الأسطر المحتوية على الطلاق باقية فتعود الأوجه ولكن هذه الصورة أولى بوقوع الطلاق فإنه فصّل الطلاق وهو الغرض والمنتهى
Masalah kedua: Jika yang terhapus bukan lafaz talak, tetapi sesuatu yang termasuk dalam isi surat seperti alasan yang didahulukan sebelum talak, atau penyebutan suatu keadaan yang mengandung teguran dan diikuti dengan talak, maka jika bagian-bagian yang memuat hal-hal tersebut terhapus sementara baris-baris yang berisi talak masih ada, maka pendapat-pendapat dalam masalah ini kembali muncul. Namun, dalam kasus ini, lebih utama untuk menetapkan jatuhnya talak, karena talak telah dirinci, dan itulah tujuan serta akhirnya.
المسألة الثالثة إذا سقط من الكتاب محلّ التصدير والحمد ففيه الخلاف والأظهر وقوع الطلاق فإن الساقط لم يَفُت بسقوطه شيء من مقاصد الكتاب وإنما سقطت مراسم ليست معنيّة
Masalah ketiga: Jika dalam kitab hilang bagian pembukaan dan pujian, maka terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini. Pendapat yang lebih kuat adalah talak tetap terjadi, karena bagian yang hilang tersebut tidak menyebabkan hilangnya tujuan utama dari kitab, melainkan hanya tata cara formalitas yang tidak bersifat esensial.
والمسألة الرابعة في سقوط البياض فالذي قطع به أئمة المذهب أن الطلاق يقع لأن الكتاب محل الأسطر والحواشي متصلةٌ وليست مقصودة أصلاً وأشار بعض الأصحاب إلى إبداء احتمال في هذا فإنّ حواشي الكتاب تُعدُّ من الكتاب ويحرم على المحدث مس حواشي المصحف كما يحرم عليه مس الأسطر
Masalah keempat berkaitan dengan hilangnya bagian kosong (margin), maka para imam mazhab secara tegas berpendapat bahwa talak tetap jatuh, karena kitab adalah tempat baris-baris tulisan dan margin-marginnya menyatu serta pada dasarnya tidak dimaksudkan secara khusus. Namun, sebagian ulama mengisyaratkan adanya kemungkinan dalam hal ini, karena margin kitab juga dianggap sebagai bagian dari kitab, dan haram bagi orang yang berhadas menyentuh margin mushaf sebagaimana haram pula menyentuh baris-baris tulisannya.
وكنت أحب لو أجرينا في هذه المسائل أعني المسائل الثلاث الأُوَل الفرقَ بين أن يبقى معظم الكتاب أو يسقط معظمه فإن للمعظم أثراً ظاهراً في بقاء الاسم ولو قال إذا بلغك طلاق فانت طالق فبلغ الكتاب إلا الأسطر التي فيها ذكر الطلاق لم يقع وفاقاً وكذلك إذا بلغ تلك الأسطر التي فيها ذكر الطلاق من غير تفصيل وإذا بنينا على أن الانمحاء يُخرج الكتاب عن كونه كتاباً فالانمحاء بمثابة السقوط في البعض
Saya ingin sekali jika dalam masalah-masalah ini—yakni tiga masalah pertama—kita membedakan antara apakah sebagian besar surat itu masih ada atau sebagian besarnya hilang, karena bagian terbesar memiliki pengaruh yang nyata dalam tetapnya nama (surat). Jika seseorang berkata, “Jika sampai kepadamu surat cerai maka engkau tertalak,” lalu surat itu sampai kecuali bagian-bagian yang memuat lafaz talak, maka talak tidak jatuh menurut kesepakatan. Begitu pula jika yang sampai hanyalah bagian-bagian yang memuat lafaz talak tanpa rincian. Jika kita berpendapat bahwa terhapusnya (tulisan) mengeluarkan surat dari statusnya sebagai surat, maka terhapusnya itu sama kedudukannya dengan hilangnya sebagian.
فهذا تفصيل القول فيما يلحق الكتاب من التغايير
Inilah rincian penjelasan mengenai perubahan-perubahan yang berkaitan dengan al-Kitab.
وإذا قال إذا قرأتِ كتابي فأنت طالق فلم تقرأ ولم يُقرأ عليها لم يقع الطلاق ولو قال إذا قرأتِ كتابي فأنت طالق فكانت قارئةً فقرىء عليها ففي المسألة وجهان أصحهما أن الطلاق لا يقع فإنها لم تقرأ والثاني يقع لأن هذا يراد به الاطلاع على مضمون الكتاب لا صورة القراءة وهذا يحصل بأن يُقرأ عليها كما يحصل بأن تقرأ بنفسها
Jika seseorang berkata, “Jika kamu membaca suratku, maka kamu tertalak,” lalu ia tidak membaca dan surat itu juga tidak dibacakan kepadanya, maka talak tidak jatuh. Namun jika ia berkata, “Jika kamu membaca suratku, maka kamu tertalak,” sedangkan ia adalah seorang yang bisa membaca, lalu surat itu dibacakan kepadanya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih adalah talak tidak jatuh karena ia tidak membacanya sendiri. Pendapat kedua, talak jatuh karena maksud dari ucapan tersebut adalah mengetahui isi surat, bukan sekadar bentuk membaca, dan hal itu bisa terjadi baik dengan dibacakan kepadanya maupun dengan membacanya sendiri.
ولم يختلف علماؤنا في أنها لو طالعت الكتاب وفهمت ما فيه ولم تلفظ بكلمةٍ وقع الطلاق وإن لم يوجد قراءة وهذا يؤكّد أن قراءة الكتاب محمولة على الاطلاع على ما فيه
Para ulama kami tidak berselisih pendapat bahwa jika seorang wanita memperhatikan tulisan (surat), memahami isinya, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun, maka talak tetap jatuh meskipun tidak terjadi pembacaan secara lisan. Hal ini menegaskan bahwa makna membaca tulisan adalah memperhatikan dan memahami isinya.
ولو كانت أُمِّيَّة فالذي قطع به الأصحاب أن الطلاق يقع إذا قرىء الكتاب عليها فإن القراءة في حقها محمولة على الاطلاع لا غير
Dan jika istri tersebut buta huruf, para ulama sepakat bahwa talak tetap jatuh apabila surat (talak) itu dibacakan kepadanya, karena pembacaan dalam kasusnya dianggap sebagai bentuk pemberitahuan, tidak lebih.
وأبعد بعض من لا احتفال به فجعل تعليق الطلاق بالقراءة في حق الأمية بمثابة تعليق الطلاق على محال وهو كما لو قال إن صعدت السماء فأنت طالق فالطلاق لا يقع لعدم الصعود وإن كان محالاً
Sebagian orang yang pendapatnya tidak dianggap telah berlebihan dengan menyamakan pengaitan talak dengan membaca (Al-Qur’an) bagi perempuan buta huruf seperti mengaitkan talak dengan sesuatu yang mustahil. Hal ini seperti jika seseorang berkata, “Jika engkau naik ke langit, maka engkau tertalak,” maka talak tidak jatuh karena tidak mungkin naik ke langit, meskipun hal itu mustahil.
وإذا قال لامرأته إذا رأيت الهلال فأنت طالق فلم تره ورأى غيرها فسنذكر أن الطلاق يقع وإن كانت الرؤية ممكنة منها بخلاف ما لو قال إذا قرأت كتابي وكانت قارئة فلم تقرأ وقُرىء عليها والفرق أن قراءة غيرها ليست قراءتها والرؤية قد يراد بها العلم قال الله تعالى أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ معناه ألم تعلم ربك وسيأتي هذا الفرع بما فيه إن شاء الله
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu melihat hilal, maka kamu tertalak,” lalu istrinya tidak melihatnya tetapi orang lain melihatnya, maka akan kami sebutkan bahwa talak tetap jatuh meskipun istrinya sebenarnya mampu melihatnya. Ini berbeda dengan kasus jika suami berkata, “Jika kamu membaca bukuku,” sementara istrinya bisa membaca namun tidak membacanya, lalu buku itu dibacakan kepada orang lain. Perbedaannya adalah membaca oleh orang lain bukanlah membaca oleh istrinya, sedangkan melihat bisa dimaksudkan sebagai mengetahui. Allah Ta‘ala berfirman, “Tidakkah kamu melihat kepada Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang,” maksudnya adalah tidakkah kamu mengetahui Tuhanmu. Cabang hukum ini akan dijelaskan lebih lanjut, insya Allah.
ومما فرعه صاحب التقريب أنه إذا قال إذا بلغك نصف كتابي فأنت طالق فبلغها الكتاب كله فهل نقضي بوقوع الطلاق فعلى وجهين أحدهما يقع فإن الكتاب يشتمل على نصفين ففي بلوغه بلوغ نصفه
Di antara cabang yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb adalah jika seseorang berkata, “Jika engkau menerima setengah dari suratku, maka engkau tertalak,” lalu surat itu sampai kepadanya secara utuh, apakah kita memutuskan jatuhnya talak? Maka ada dua pendapat: salah satunya talak jatuh, karena surat itu terdiri atas dua bagian, sehingga sampainya seluruh surat berarti sampainya setengahnya.
والثاني لا يقع فإنّ النصف في هذا المقام إنما يُطلق لغرض التبعيض فإذا لم يتحقق التبعيض لم تتحقق الصفة
Yang kedua tidak terjadi, karena setengah dalam konteks ini hanya digunakan untuk tujuan pembagian. Maka jika pembagian itu tidak terwujud, sifat tersebut pun tidak terwujud.
وقد انتهى ما يتعلق بفصل الكتاب فقهاً وإيضاحاً لموجب صيغ الألفاظ
Telah selesai pembahasan yang berkaitan dengan bab kitab ini secara fiqh dan penjelasan mengenai implikasi dari redaksi lafaz-lafaznya.
فصل قال ولو قال لامرأته اختاري أو أمرك بيدك إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Jika seseorang berkata kepada istrinya, ‘Pilihlah’ atau ‘Urusanmu ada di tanganmu’, dan seterusnya.”
مقصود الفصل الكلام فيه إذا فوّض الزوج الطلاق إلى زوجته ونحن نقول تفويض الطلاق إلى أجنبي توكيلٌ على التحقيق ثم الأصحاب ربما يفصلون بين التوكيل وبين الأمر كما تقدم استقصاؤه في كتاب الوكالة وبيانه أن الرجل إذا قال لصاحبٍ له وكلتك ببيع عبدي أو إعتاقه أو طلاق زوجتي فهذا توكيل على الحقيقة
Maksud dari bab ini adalah pembahasan mengenai apabila suami menyerahkan urusan talak kepada istrinya. Kami mengatakan bahwa penyerahan talak kepada orang lain yang bukan istri pada hakikatnya adalah bentuk tawkil (pemberian kuasa). Para ulama terkadang membedakan antara tawkil dan perintah, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-Wakālah. Penjelasannya adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada temannya, “Aku wakilkan kepadamu untuk menjual budakku, atau memerdekakannya, atau menceraikan istriku,” maka ini adalah tawkil (pemberian kuasa) yang sebenarnya.
واختلف الأصحاب في أنه هل يشترط القبول فيه أم لا كما مضى
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah diperlukan adanya kabul dalam hal ini atau tidak, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
وإن قال بع عبدي من أئمتنا من قال هذا أمرٌ غيرُ مفتقر إلى القبول وجهاً واحداً وإنما المطلوب عنده الامتثال والارتسام فحسب ومنهم من قال هو توكيل على صيغة الأمر ويجري فيه الخلاف في القبول كما يجري فيه إذا قال وكلتك
Dan jika seseorang berkata, “Jual hambaku,” maka di antara para imam kami ada yang berpendapat bahwa ini adalah perintah yang tidak membutuhkan penerimaan sama sekali; yang dituntut darinya hanyalah pelaksanaan dan kepatuhan saja. Namun, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ini adalah bentuk tawkil (pendelegasian) dengan redaksi perintah, sehingga berlaku perbedaan pendapat mengenai perlunya penerimaan, sebagaimana berlaku jika seseorang berkata, “Aku mewakilkan kepadamu.”
ثم إن لم نشترط القبول لم يتقيد إيقاع المطلوب بزمانٍ إذا لم يكن التوكيل مقيداً بمراعاة زمان بل إن امتثل الوكيل أو المأمور على الفور أو بعد زمان جاز ونفذ
Kemudian, jika kita tidak mensyaratkan adanya penerimaan, pelaksanaan perintah yang diminta tidak terikat oleh waktu tertentu selama pemberian kuasa tidak dibatasi dengan memperhatikan waktu tertentu. Maka, apabila wakil atau orang yang diperintah melaksanakan perintah itu segera atau setelah beberapa waktu, hal itu diperbolehkan dan sah.
وإن قضينا بأن القبول لا بدّ منه فالاتصال مرعيٌ في القبول لا محالة ثم الكلام في تنفيذ المقصود لا يشترط فيه تعجيلٌ ولا اتصالٌ إذا لم يشترط الآمر والموكّل تعجيلاً
Jika kita memutuskan bahwa penerimaan itu harus ada, maka keterkaitan (antara ijab dan qabul) pasti diperhatikan dalam penerimaan. Selanjutnya, dalam pelaksanaan maksud (dari akad) tidak disyaratkan adanya percepatan atau keterkaitan, selama pihak yang memerintah atau yang mewakilkan tidak mensyaratkan percepatan.
فأمّا إذا فوض الزوج الطلاق إلى زوجه فقال لها طلقي نفسك فقد اختلف قول الشافعي بأن هذا تمليك أو توكيل بالطلاق فأحد القولين أنه توكيل أو أمرٌ كما قدمته والقول الثاني أنه تمليك
Adapun jika suami menyerahkan urusan talak kepada istrinya, lalu berkata kepadanya, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i apakah hal ini merupakan tamlik (penyerahan hak) atau tawkil (pemberian kuasa) dalam talak. Salah satu pendapat menyatakan bahwa itu adalah tawkil atau perintah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan pendapat kedua menyatakan bahwa itu adalah tamlik.
التوجيه من جعله توكيلاً اعتبر المرأة بالأجنبي فإن مالك الطلاق الزوج ومن يطلّق بأمره مأمور من جهته فلا فرق بين أن يتصل الأمر بالزوجة أو بأجنبي
Pendapat yang menganggapnya sebagai wakalah (perwakilan) memandang perempuan seperti orang lain (ajnabi), karena pemilik hak talak adalah suami, dan siapa pun yang menjatuhkan talak atas perintahnya adalah orang yang diperintah dari pihaknya. Maka tidak ada perbedaan apakah perintah itu diberikan kepada istri atau kepada orang lain (ajnabi).
ومن قال بالقول الثاني احتجّ بأن التفويض إليها يتضمن تمكينها من أن تملك نفسها وهذا الأثر يرجع إليها ويتصل بها فكان قوله طلقي نفسك خارجاً عن محض التوكيل
Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa pendelegasian kepadanya mengandung makna memberinya kemampuan untuk memiliki dirinya sendiri, dan akibat dari hal ini kembali kepadanya serta berkaitan dengannya, sehingga ucapannya “ceraikanlah dirimu” keluar dari sekadar perwakilan (tawkil) semata.
التفريع
Pencabangan
إن جعلنا التفويض إليها توكيلاً فلا فور عليها فإن طلقت على الاتصال نفسَها فذاك وإن طلقت نفسَها بعد زمان متطاول وبعد مفارقة ذلك المجلس جاز وهل يشترط قبولها أم لا فعلى ما ذكرناه من تردد الأصحاب في أن الآمر هل يفتقر إلى القبول والمسألة فيه إذا قال لها طلقي نفسك
Jika kami menganggap penyerahan urusan talak kepadanya sebagai bentuk wakalah (perwakilan), maka tidak ada keharusan untuk segera melakukannya. Jika ia menceraikan dirinya sendiri secara langsung, maka itu sah. Dan jika ia menceraikan dirinya sendiri setelah waktu yang lama dan setelah berpisah dari majelis tersebut, itu pun diperbolehkan. Apakah disyaratkan adanya penerimaan darinya atau tidak, hal ini kembali kepada apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan pendapat para sahabat (ulama) mengenai apakah perintah itu memerlukan penerimaan atau tidak, dan permasalahan ini terjadi jika suami berkata kepadanya, “Ceraikanlah dirimu sendiri.”
وإن حكمنا بأن التفويض تمليك فالجواب يقتضي الفورَ وهو بمثابة قبول العَقْد مع إيجابه فإن خلّلت زماناً متطاولاً ينقطع بمثله الإيجاب عن القبول فلا تملك أن تطلق نفسها بحكم التفويض الأوّل كما لا يملك المخاطب بالإيجاب القبول بعد تطاول الزمان هذا مسلكُ الأصحاب في التفريع
Jika kita memutuskan bahwa tafwīḍ (pendelegasian) adalah bentuk pemilikan, maka jawabannya harus segera diberikan, dan hal itu serupa dengan menerima akad setelah adanya ijāb (penawaran). Jika terdapat jeda waktu yang cukup lama sehingga ijāb terputus dari qabūl (penerimaan), maka ia tidak lagi berhak untuk menceraikan dirinya sendiri berdasarkan tafwīḍ yang pertama, sebagaimana orang yang menerima ijāb tidak lagi berhak untuk menerima setelah waktu yang lama berlalu. Inilah pendapat para ulama dalam cabang permasalahan ini.
ومما فرَّعوه على قول التمليك أن الزوج لو رجع عن تفويضه على الفور قبل أن تطلّق نفسها انقطع ملْكها التطليق ولم ينفذ الطلاق إن طلّقت نفسها لأنا إذا جعلناها مملكة فهي بمثابة القابلة للخلع إذا خاطبها الزوج بالإيجاب فيه وهذا يقبل الرجوع
Salah satu cabang dari pendapat tentang tamlik adalah bahwa jika suami menarik kembali pendelegasiannya secara langsung sebelum istri menjatuhkan talak atas dirinya sendiri, maka hak kepemilikan talak oleh istri terputus dan talak tidak sah jika istri tetap menjatuhkan talak atas dirinya sendiri. Sebab, jika kita menganggap istri sebagai pihak yang diberi hak (tamlik), maka posisinya seperti wanita yang menerima khulu‘ ketika suami mengajukan ijab kepadanya, dan dalam hal ini ijab tersebut dapat ditarik kembali.
وقال ابن خيران إذا فرعنا على قول التمليك فليس للزوج الرجوع بعد التفويض ولو رجع لغا رجوعه ونفذ تطليقها نفسَها على الاتصال واعتل بأن قال كأن الزوج قال لها إذا تلفظت بتطليق نفسك فأنت طالق
Ibnu Khairan berkata, jika kita membangun pendapat atas dasar tamlīk, maka suami tidak berhak menarik kembali setelah melakukan tafwīḍ, dan jika ia menarik kembali, penarikannya menjadi batal dan talak yang dijatuhkan oleh istri kepada dirinya sendiri langsung berlaku. Ia beralasan bahwa seakan-akan suami berkata kepada istrinya, “Jika engkau mengucapkan talak atas dirimu sendiri, maka engkau tertalak.”
وهذا وجه مردود لا أصل له والعجب أن شيخي كان لا يحكي في التفريع على قول التمليك غيرَه وكان يعبر عنه ويقول هو تمليك مضمّن بتعليق مشيراً إلى أن الرجوع غير ممكن بتضمّن التمليك التعليق
Ini adalah pendapat yang tertolak dan tidak memiliki dasar. Yang mengherankan, guruku tidak pernah menyebutkan pendapat lain dalam penjabaran masalah ini selain pendapat tentang tamlīk, dan beliau mengungkapkannya dengan mengatakan bahwa itu adalah tamlīk yang mengandung ta‘līq, seraya menunjukkan bahwa rujuk tidak mungkin dilakukan karena tamlīk tersebut mengandung unsur ta‘līq.
هذا نظم المذهب
Ini adalah susunan mazhab.
وسلك القاضي مسلكاً آخر فقال نرسم القولين في أن التفويض تمليك أو توكيل ونقول الأصح أنه تمليك وهو المنصوص عليه في معظم الكتب
Hakim menempuh jalan lain dengan mengatakan bahwa kita harus menguraikan dua pendapat mengenai apakah tafwīḍ merupakan pemilikan atau perwakilan, dan kita katakan bahwa pendapat yang paling sahih adalah bahwa tafwīḍ merupakan pemilikan, dan inilah yang dinyatakan dalam sebagian besar kitab.
والقول الثاني أنه توكيل ولا يُرى للشافعي منصوصاً إلا في الأمالي المتفرقة
Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu adalah tawkil (pendelegasian), dan tidak ditemukan pendapat yang dinukil dari asy-Syafi‘i kecuali dalam al-Amali yang tersebar.
فإن حكمنا بأنه تمليك فالفور لا بد منه
Jika kita menetapkan bahwa itu adalah suatu bentuk pemilikan, maka keharusan untuk segera (melakukannya) tidak dapat dihindari.
ثم غلط هاهنا بعض أصحابنا فقال يمتد جوابها امتداد المجلس كخيار المكان وهذا غلط غير معتدّ به وإنما غلطُ هذا القائل من قول الشافعي ولا أعلم خلافاً أنها إن طلقت نفسها قبل أن يتفرقا من المجلس أو تُحدثَ قطعاً لذلك أن الطلاق يقع عليها والشافعي كثيراً ما يطلق المجلس ويريد به مجلس الإيجاب والقبول والمعنى رعاية التواصل الزماني كما قدّمنا ذكره
Kemudian, di sini sebagian dari sahabat kami keliru dengan mengatakan bahwa jawaban (pilihan) itu berlangsung selama majelis masih ada, seperti pada khiyar tempat, dan ini adalah kekeliruan yang tidak dapat diperhitungkan. Kekeliruan orang yang berpendapat demikian bersumber dari perkataan asy-Syafi‘i. Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika seorang istri menjatuhkan talak atas dirinya sebelum mereka berdua berpisah dari majelis atau sebelum terjadi sesuatu yang memutuskan majelis itu, maka talak itu jatuh atasnya. Asy-Syafi‘i seringkali menggunakan istilah majelis dan yang dimaksudkannya adalah majelis ijab dan qabul, dan maksudnya adalah menjaga kesinambungan waktu, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.
وقد يطلق مثل هذا في الخلع ولم يجسر أحدٌ من أصحابنا على حمل ذلك على المجلس الذي يناط بمنتهاه انقطاع خيار المجلس
Ungkapan seperti ini juga dapat digunakan dalam kasus khulu‘, namun tidak ada seorang pun dari kalangan ulama kami yang berani menafsirkan hal itu pada majelis yang batas akhirnya dikaitkan dengan berakhirnya hak memilih dalam majelis.
قال وإذا فرعنا على أن هذا توكيل فيحتمل أن نقول تطليقها ينبغي أن يكون على الفور أيضاً فإن توكيل الزوج المرأة يشعر بتمليكها لفظاً والتمليك اللفظي يقتضي جواباً عاجلاً ولهذا قلنا إذا قال لزوجته أنت طالق إن شئتِ اقتضى ذلك فوراً في المشيئة بخلاف ما لو قال أنت طالق إن شاء زيد فيتضمن قوله طلِّقي نفسك جواباً عاجلاً والتماسَ تنفيذٍ أو إعراضٍ ثم قال وهذا إذا قال لها طلقي نفسك
Ia berkata: Jika kita membangun pendapat atas dasar bahwa ini adalah bentuk perwakilan (tawkil), maka mungkin kita mengatakan bahwa talak yang dijatuhkan oleh istri juga harus segera dilakukan, karena perwakilan suami kepada istri menunjukkan pemberian kepemilikan secara verbal, dan pemberian kepemilikan secara verbal menuntut adanya jawaban yang segera. Oleh karena itu, kami katakan jika suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” maka hal itu menuntut adanya kehendak secara langsung, berbeda dengan jika ia berkata, “Engkau tertalak jika Zaid menghendaki.” Maka ucapannya, “Talakkanlah dirimu,” mengandung permintaan jawaban yang segera, baik berupa pelaksanaan maupun penolakan. Kemudian ia berkata: Ini berlaku jika suami berkata kepada istrinya, “Talakkanlah dirimu.”
ولو قال وكلتك أن تطلقي نفسكِ وصرّح بلفظ التوكيل قال القاضي يحتمل أن يقال أيضاً في هذه المسألة يختص بالمجلس كما وصفناه وإن صرّح بالتوكيل لأنه يشوبه شُعبة من التمليك فعلى الطريقين يكون جوابها على الفور سواء لَفَظَ بالتوكيل أو لم يلفظ به
Jika seseorang berkata, “Aku mewakilkan kepadamu untuk menceraikan dirimu sendiri,” dan ia secara jelas mengucapkan kata-kata perwakilan (tawkil), menurut pendapat al-Qadhi, ada kemungkinan juga dikatakan dalam masalah ini bahwa hal itu terbatas pada majelis sebagaimana telah kami jelaskan, meskipun ia telah menyatakan secara jelas perihal tawkil, karena di dalamnya terdapat unsur tamlik (pemberian hak milik). Maka menurut kedua pendapat tersebut, jawabannya harus segera, baik ia mengucapkan tawkil secara eksplisit maupun tidak.
وهذا الذي ذكره فقيهٌ حسن ولكنه منفرد به من بين الأصحاب
Apa yang disebutkan oleh seorang faqih ini adalah baik, namun ia sendiri yang berpendapat demikian di antara para sahabat.
والمقدار الذي رمز إليه المحققون أنا إن قلنا هذا توكيل فحكمها حكم الوكيل وإن قلنا هذا تمليك فهل يصح من الزوج توكيلها أم كل تفويض منه إليها يتضمن تمليكاً فعلى ترددٍ وخلاف وهذا محتمل وإيراده على هذا الوجه أمثل
Adapun kadar yang disinggung oleh para peneliti, jika kita katakan bahwa ini adalah tawkil (pemberian kuasa), maka hukumnya sama dengan hukum wakil. Namun jika kita katakan bahwa ini adalah tamlik (pemberian hak milik), maka apakah sah bagi suami untuk mewakilkannya, ataukah setiap bentuk tafwidh (pendelegasian) dari suami kepada istri itu mengandung unsur tamlik? Dalam hal ini terdapat keraguan dan perbedaan pendapat, dan hal ini memungkinkan, serta mengemukakannya dengan cara seperti ini lebih tepat.
ولو قال على قول التوكيل طلقي نفسك متى شئت أو متى ما شئت فهذا لا يقتضي فوراً أصلاً فإن معتمد القاضي مسألة التعليق بالمشيئة ولو قال مهما شئت فأنت طالق فلا فور بل مهما شاءت طلَّقت فإذا كانت المشيئة تقبل التأخير إذا قيّدت بالتأخير فليكن الأمر كذلك في التوكيل
Jika seseorang berkata dalam konteks perwakilan, “Ceraikanlah dirimu kapan saja kamu mau” atau “kapan pun kamu mau”, maka hal ini sama sekali tidak mengharuskan segera dilaksanakan. Karena pendapat yang dipegang oleh al-Qadhi adalah masalah penangguhan dengan kehendak (mashi’ah). Jika seseorang berkata, “Kapan pun kamu mau, kamu tertalak,” maka tidak harus segera, melainkan kapan pun dia mau, dia bisa menceraikan dirinya. Jika kehendak (mashi’ah) itu bisa ditunda ketika dibatasi dengan penundaan, maka demikian pula halnya dalam masalah perwakilan (tawkil).
ومما يهجس في النفس أن من قال التفويض توكيل ولا يقتضي تطليقاً منها نافذاً في الحال فكيف وجه القطع باقتضاء قول الرجل أنت طالق إن شئت فوراً فإن مسألة المشيئة عندي تتوجه بتمليكها الأمر والتمليك مضاهٍ للإيجاب المستعقب للقبول وإلا فلا فرق في العربية بين قول القائل لامرأته أنت طالق إن شئت وقوله أنت طالق إن كلمت زيداً والمستعمل في المسألتين أداة الشرط وأُمُّ بابه وحكم الشرط ألا يتخصّص بزمان بل يسترسل على الأزمان المبهمة
Hal yang terlintas dalam benak adalah bahwa siapa yang mengatakan tafwīḍ (penyerahan) berarti mewakilkan, dan tidak serta merta mengharuskan terjadinya talak secara langsung. Maka, bagaimana bisa dipastikan bahwa ucapan seorang laki-laki kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” langsung berlaku? Menurut saya, masalah kehendak (mashī’ah) ini berkaitan dengan pemberian hak kepadanya, dan pemberian hak itu mirip dengan ijāb (penawaran) yang menunggu qabūl (penerimaan). Jika tidak demikian, maka tidak ada perbedaan dalam bahasa Arab antara ucapan seseorang kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” dan ucapannya, “Engkau tertalak jika engkau berbicara dengan Zaid.” Dalam kedua permasalahan tersebut digunakan alat syarat, dan pokok dari syarat adalah bahwa syarat itu tidak terbatas pada waktu tertentu, melainkan berlaku untuk waktu-waktu yang tidak ditentukan.
فليتأمل الناظر هذا فإنه عويصٌ وسنعود في الفروع إلى مسألة المشيئة إن شاء الله
Maka hendaknya orang yang memperhatikan hal ini merenungkannya, karena perkara ini rumit, dan kita akan kembali pada cabang-cabang pembahasan mengenai masalah kehendak (masyi’ah) insya Allah.
وكل ما ذكرناه فيه إذا فوّض الطلاق إليها بلفظٍ صريح وطلّقت نفسها بلفظ صريح
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika suami menyerahkan urusan talak kepada istri dengan lafaz yang jelas, dan istri menjatuhkan talak atas dirinya sendiri dengan lafaz yang jelas pula.
فأما إذا فوّض إليها في ظاهر الأمر بكناية فأجابت بكناية أو اختلف الجانبان في ذلك فالتفصيل فيه إذا قال لها أمرك بيدك أو فوضت أمرك إليك أو ملكتك أمرك أو قال اختاري نفسك فهذه الألفاظ كنايات منه فإذا أجابت بكناية فقالت اخترت نفسي أو أبنت نفسي فيتعين الرجوع إليهما فإن زعما أنهما نويا الطلاق تفويضاً وإيقاعاً وقع رجعياً إذا كانت بمحل الرجعية
Adapun jika ia menyerahkan urusan kepadanya secara lahiriah dengan lafaz kinayah, lalu ia pun menjawab dengan kinayah, atau kedua belah pihak berbeda pendapat dalam hal ini, maka rinciannya adalah sebagai berikut: jika ia berkata kepadanya, “Urusanmu di tanganmu,” atau “Aku serahkan urusanmu kepadamu,” atau “Aku berikan kekuasaan atas urusanmu,” atau “Pilihlah dirimu sendiri,” maka lafaz-lafaz ini adalah kinayah darinya. Jika ia menjawab dengan kinayah, misalnya berkata, “Aku memilih diriku sendiri,” atau “Aku berpisah dari diriku sendiri,” maka harus dikembalikan kepada keduanya. Jika keduanya mengaku bahwa mereka berniat talak, baik dalam pendelegasian maupun pelaksanaan, maka talak jatuh secara raj‘i jika masih dalam masa raj‘iyyah.
ولو لم ينو الزوج لم يقع وإن نوت ولو نوى تفويض الطلاق إليها ولم تنوِ المرأة إيقاع الطلاق لم يقع الطلاق فإنها الموقعة المطلِّقة فينقسم لفظها إلى الصريح وإلى الكناية
Jika suami tidak berniat (menjatuhkan talak), maka talak tidak terjadi, meskipun istri berniat. Dan jika suami berniat memberikan wewenang talak kepadanya, namun istri tidak berniat menjatuhkan talak, maka talak tidak terjadi, karena dialah (istri) yang menjadi pelaku dan yang menjatuhkan talak. Maka lafaz yang diucapkannya terbagi menjadi lafaz sharih dan kinayah.
وقال أبو حنيفة يقع الطلاق وإن لم تنوِ إذا نوى الزوج وكأنّ كلام المفوِّض معادٌ في جوابها وهذا ساقطٌ لا أصل له وهذه المسألة مشهورة في أصحاب رسول الله عليه السلام وهي ملتطم خلافهم والمسألة مشهورة بالتخيير والاختيار فإذا قال الزوج اختاري فقالت اخترت نفسي فقد ذهب عمرُ وابنُ عمرَ وابنُ مسعودٍ وابنُ عباسٍ وعائشة إلى أنها لو اختارت نفسها وقعت طلقة رجعية ولو اختارت زوجها لم يقع شيء وحيث حكموا بالوقوع أرادوا إذا وجدت النية من الجانبين وروي عن علي أنها لو اختارت نفسها وقعت طلقة بائنة وإن اختارت
Abu Hanifah berpendapat bahwa talak tetap jatuh meskipun tidak ada niat, jika suami memang berniat, seolah-olah ucapan pihak yang diberi hak memilih itu diulang dalam jawabannya, dan pendapat ini tertolak serta tidak memiliki dasar. Masalah ini terkenal di kalangan para sahabat Rasulullah saw., dan merupakan titik silang pendapat mereka. Masalah ini juga dikenal dengan istilah takhyir (pemberian pilihan) dan ikhtiyar (pemilihan). Jika suami berkata, “Pilihlah!” lalu istri menjawab, “Aku memilih diriku sendiri,” maka Umar, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan Aisyah berpendapat bahwa jika istri memilih dirinya sendiri, jatuhlah talak raj‘i (talak yang masih bisa dirujuk), dan jika ia memilih suaminya, maka tidak terjadi apa-apa. Ketika mereka memutuskan jatuhnya talak, maksudnya adalah jika terdapat niat dari kedua belah pihak. Diriwayatkan dari Ali bahwa jika istri memilih dirinya sendiri, jatuhlah talak bain (talak yang tidak bisa dirujuk), dan jika ia memilih…
زوجها وقعت طلقةً رجعيةً وبه قال زيد وروي عن عائشة لما بلغها عن علي أنها لو اختارت زوجها وقعت طلقة رجعية اشتدّ إنكارها عليه وقالت خيّر رسول الله صلى الله عليه وسلم نساءه أترى كان ذلك طلاقاً
Jika seorang istri memilih suaminya, maka jatuhlah satu talak raj‘i, dan pendapat ini dikatakan oleh Zaid. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika sampai kepadanya kabar dari ‘Ali bahwa jika seorang istri memilih suaminya maka jatuh satu talak raj‘i, ia sangat mengingkari hal itu dan berkata, “Rasulullah ﷺ pernah memberi pilihan kepada istri-istrinya, apakah engkau mengira hal itu merupakan talak?”
ومما يتعلق بالفصل أن الزوج لو أنكر نية الطلاق فالقول قوله مع يمينه والمرأة لو قالت نويت الطلاق كما نويتَ فقال الزوج ما نويتِ أنت فقد ذكر القاضي وجهين ذكرهما العراقيون أحدهما أن القول قولها فإن المرأة هي الناوية وإليها الرجوع ولا مطّلع على النية إلا من جهتها نعم إن أراد تحليفها كان له ذلك
Terkait dengan pembahasan ini, jika suami mengingkari niat talak, maka yang dipegang adalah pernyataannya dengan sumpahnya. Jika istri berkata, “Aku berniat talak sebagaimana engkau berniat,” lalu suami berkata, “Engkau tidak berniat,” maka menurut al-Qadhi ada dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Salah satunya, yang dipegang adalah pernyataan istri, karena istri yang berniat dan ia yang mengetahui niatnya, serta tidak ada yang mengetahui niat kecuali dari pihaknya. Namun, jika suami ingin meminta sumpah darinya, maka ia berhak melakukannya.
ومن أصحابنا من قال القول قول الزوج وهذا ضعيف لا أصل له ووجهه على بعده أن الأصل بقاء النكاح وعدم وقوع الطلاق وهي تزعم أن الطلاق وقع بنيتها المنضمّة إلى لفظتها
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa yang dijadikan pegangan adalah pernyataan suami, namun pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar. Alasannya, meskipun jauh, adalah bahwa pada dasarnya status pernikahan tetap ada dan talak belum terjadi, sementara istri mengklaim bahwa talak telah terjadi karena niatnya yang menyertai ucapannya.
ولو ذكر الزوج في التفويض كناية فقال اختاري أو أبيني نفسك أو بتِّي نفسك فقالت طلقت نفسي فالمذهب الظاهر أن الطلاق يقع إذا اشتمل جانب الكناية على النية
Jika suami dalam pendelegasian menggunakan kinayah (lafaz sindiran) seperti mengatakan, “Pilihlah (urusanmu sendiri)” atau “Pisahkan dirimu” atau “Ceraikan dirimu,” lalu istri berkata, “Aku menceraikan diriku,” maka mazhab yang tampak adalah talak jatuh jika pada sisi kinayah tersebut disertai dengan niat.
ومن أصحابنا من قال لا يقع الطلاق حكاه العراقيون عن ابن خَيْران وهذا القائل يقول ينبغي أن يكون جوابها على صيغة التفويض إليها
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa talak tidak jatuh; hal ini diriwayatkan oleh para ulama Irak dari Ibnu Khairan. Pendapat ini menyatakan bahwa seharusnya jawaban perempuan tersebut dalam bentuk pelimpahan (tafwīḍ) kepadanya.
قال القاضي وهذا الخلاف يجري في التوكيل فلو قال لأجنبي طلق زوجتي فقال أبنتها ونوى الطلاق ولو قال أبن زوجتي أو خلّها ونوى الطلاق فقال الوكيل طلقتها أو هي طالق فيخرّج الخلاف
Kata al-Qadhi: Perselisihan ini juga berlaku dalam masalah perwakilan. Jika seseorang berkata kepada orang lain, “Ceraikan istriku,” lalu orang itu berkata, “Aku lepas dia,” dengan niat menceraikan, atau jika ia berkata, “Aku pisahkan istriku” atau “Bebaskan dia,” dengan niat menceraikan, kemudian wakil tersebut berkata, “Aku telah menceraikannya” atau “Dia telah dicerai,” maka perbedaan pendapat ini juga berlaku.
ولو قال لزوجته أبيني نفسك فقالت خلّيت نفسي وَوُجِدت نية الطلاق من الجانبين فلا يخفى تخريج هذا على ظاهر المذهب والطلاق واقع
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Pisahkanlah dirimu sendiri,” lalu sang istri berkata, “Aku telah melepaskan diriku sendiri,” dan terdapat niat talak dari kedua belah pihak, maka tidak samar lagi bahwa kasus ini sesuai dengan pendapat yang zahir dalam mazhab, dan talak pun jatuh.
فأما إذا قلنا اختلافُ الشقين صريحاً وكناية يمنع وقوعَ الطلاق فإذا جرت الكناية من الجانبين ولكن اختلفت الصيغتان ففي المسألة تردد على هذا الوجه الضعيف ولعلّ الأوجه الوقوع تعويلاً على النية فإن اللفظ لا استقلال له في الجانبين
Adapun jika kita mengatakan bahwa perbedaan antara lafaz sharih dan kinayah mencegah terjadinya talak, maka apabila kinayah diucapkan dari kedua belah pihak namun kedua bentuk lafaznya berbeda, dalam masalah ini terdapat keraguan menurut pendapat yang lemah ini. Namun, yang lebih kuat adalah terjadinya talak dengan bersandar pada niat, karena lafaz itu sendiri tidak berdiri sendiri pada kedua belah pihak.
فصل قال وسواء قالت طلقتك أو طلقت نفسي إلى آخره
Bagian: Ia berkata, baik perempuan itu mengatakan, “Aku menceraikanmu” atau “Aku menceraikan diriku sendiri” dan seterusnya.
إذا قال الرجل لامرأته أنا منك طالق قال الأصحاب إن نوى إيقاع الطلاق عليها وقع الطلاق وإن لم ينو إيقاع الطلاق عليها لم يقع وزعموا أن قوله أنا منك طالق صريح في بنيته وصيغته ولكنه أضيف إلى الرجل فهو بمثابة الكنايات فإن المرأة محل الطلاق فإذا أضيف الطلاق إلى الرجل كان على تأويل إضافته إليها من حيث إنه منها على سبب منتظم بينهما وكذلك إذا قال الرجل أنا منك بائن قال الأصحاب لا بدّ من نيتين إحداهما نيّة أصل الطلاق والثانية نية الإيقاع عليها
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku darimu talak,” para ulama berpendapat bahwa jika ia berniat menjatuhkan talak kepadanya, maka talak jatuh. Namun jika ia tidak berniat menjatuhkan talak kepadanya, maka talak tidak jatuh. Mereka menyatakan bahwa ucapan “Aku darimu talak” secara makna dan bentuk adalah sharih (jelas) dalam niatnya, tetapi karena disandarkan kepada laki-laki, maka hukumnya seperti kinayah (lafaz samar). Sebab, perempuan adalah pihak yang menjadi tempat jatuhnya talak, sehingga jika talak disandarkan kepada laki-laki, maka harus ditakwilkan sebagai penyandaran kepada perempuan, karena adanya sebab yang menghubungkan antara keduanya. Demikian pula jika seorang laki-laki berkata, “Aku darimu bain,” para ulama berpendapat bahwa harus ada dua niat: pertama, niat asal talak, dan kedua, niat menjatuhkan talak kepadanya.
وأصل هذه المسألة مقرر في الأساليب ولا نجد بداً من ذكر طرفٍ مما ذكرناه فيها أوّلاً ذهب ذاهبون من أصحابنا إلى أن الرجل معقود عليه في حقها كما أنها معقود عليها في حقه وأكثروا في هذا سؤالاً وانفصالاً
Dasar permasalahan ini telah dijelaskan dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya, dan kami tidak dapat menghindar untuk menyebutkan sebagian dari apa yang telah kami sebutkan di dalamnya. Pertama, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa laki-laki adalah pihak yang diakadkan dalam hak perempuan, sebagaimana perempuan juga diakadkan dalam hak laki-laki. Mereka banyak membahas dan merinci persoalan ini.
ونحن لم نرتضِ هذا المسلكَ فإن المرأة لا تستحق من بدن زوجها ومنفعة زوجها شيئاً فلا معنى لكونه معقوداَّ عَليه لها وفي حقها وإنما المستحِق هو الزوج ومنافعها أو حِلُّها مستحَق له فلا وجه إلا القطع بأنّ مورد العقد محل الاستحقاق
Kami tidak menerima pendapat ini, karena perempuan tidak berhak atas tubuh suaminya maupun manfaat dari suaminya, sehingga tidak ada makna bahwa akad itu ditujukan untuknya atau demi kepentingannya. Yang berhak adalah suami, dan manfaat atau kehalalannya adalah hak suami. Maka tidak ada alasan selain memastikan bahwa objek akad adalah tempat terjadinya hak.
ولكن إذا قال الزوج أنا منك طالق انقدح في هذا وجهان أحدهما أن على الزوج حجْراً من جهتها وإن لم يكن معقوداً عليه فإنه لا ينكح أختها ولا أربعاً سواها فإذا أضاف الطلاق إلى نفسه أمكن حمل ذلك تقريراً على حَلّ السبب المقتضي لهذا الحَجْر
Namun, jika suami berkata, “Aku darimu talak,” maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa suami terkena larangan dari pihak istrinya, meskipun tidak ada akad atasnya; ia tidak boleh menikahi saudara perempuan istrinya atau menikahi empat wanita selainnya. Maka, jika talak itu dinisbatkan kepada dirinya sendiri, hal itu dapat diartikan sebagai penetapan atas sebab yang menyebabkan larangan tersebut.
والوجه الثاني أن المرأة مقيدة والزوج في حكم القيد وقد يقال حُلّ القيد كما يقال حُل المقيّد فإضافة الطلاق إلى الزوج تتجه من غير أن يفرض معقوداً عليه
Pendapat kedua adalah bahwa perempuan itu terikat, dan suami berada dalam status sebagai pengikat. Bisa saja dikatakan bahwa ikatan itu telah dilepas, sebagaimana dikatakan bahwa orang yang terikat telah dilepaskan. Maka, penisbatan talak kepada suami tetap relevan tanpa harus menganggapnya sebagai sesuatu yang diakadkan atasnya.
ثم إذا قصد الزّوج الطلاق ولم يضف الطلاق إليها فالذي صار إليه جمهور الأصحاب أن الطلاق لا يقع كما قدمنا ذكر ذلك
Kemudian, jika suami berniat untuk menjatuhkan talak tetapi tidak mengaitkan talak itu kepada istrinya, maka menurut pendapat mayoritas para ulama, talak tersebut tidak jatuh sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
وذهب طوائف من المحققين إلى أن قصد الطلاق كافٍ وإن لم يضفه لفظاً وعقداً إليها وهذا اختيار القاضي وهو القياس تحقيقاً فإن الطلاق نقيضُ العقد وإذا ارتفع العقد فلا حاجة إلى التنصيص على محلٍّ نطقاً أو نية وقصداً
Sebagian kelompok dari para peneliti berpendapat bahwa niat untuk menjatuhkan talak sudah cukup, meskipun tidak disandarkan secara lafaz maupun akad kepadanya. Ini adalah pilihan al-Qadhi dan merupakan hasil dari qiyās yang mendalam, karena talak adalah lawan dari akad. Jika akad telah hilang, maka tidak perlu lagi penegasan terhadap objeknya, baik secara ucapan, niat, maupun maksud.
وهذا الكلام فيه إبهام بعدُ فإن الرجل لو قال أنا منك طالق وقصد الطلاق ولم يقصد تطليق نفسه فالأمر على ما ذكرناه
Ucapan ini masih mengandung ambiguitas, sebab jika seorang laki-laki berkata, “Aku darimu talak,” dan ia memang bermaksud menjatuhkan talak, bukan menalak dirinya sendiri, maka hukumnya sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan.
وإن قال أنا منك طالق ونوى تطليق نفسه فكيف السبيل وعلى ماذا يحمل هذا القصد وهل نقول الطلاق صريح ولا حاجة فيه إلى التعرض للمحلّ
Jika seseorang berkata, “Aku darimu talak,” dan ia berniat menalak dirinya sendiri, maka bagaimana jalan keluarnya dan bagaimana maksud ini harus dipahami? Apakah kita mengatakan bahwa talak itu sharih (jelas) dan tidak perlu menyebutkan objeknya?
أما مذهب الجمهور فبيّن وأما المذهب الآخر فقد بان منه أنه إن لم يقصد إلا الطلاق على الإطلاق كفى وإن جرّد قصده إلى تطليق نفسه فالوجه عندنا ألا يقع لأن كونه محلاً لإضافة الطلاق و ليس محلاً للعقد ولا استحقاق للمرأة فيه بعيدٌ فهذا كلام لا يستد مطلَقُه حتى يصرف بتأويل إلى مصرفٍ صحيح
Adapun mazhab jumhur sudah jelas, sedangkan mazhab yang lain telah tampak bahwa jika seseorang tidak bermaksud kecuali talak secara mutlak, maka itu sudah cukup. Namun jika ia secara khusus bermaksud menjatuhkan talak atas dirinya sendiri, maka menurut pendapat kami talak itu tidak jatuh, karena dirinya bukanlah tempat untuk penetapan talak, bukan pula tempat untuk akad, dan tidak ada hak bagi perempuan di dalamnya. Maka, ini adalah ucapan yang maknanya tidak dapat diterapkan secara mutlak kecuali dengan penafsiran yang mengarah pada makna yang benar.
ثم الجمهور قالوا ينصرف إليها وقال آخرون يكفي أن يقطع عن تخصيصه بنفسه فأما تنفيذه مع تجريده القصد في إضافة الطلاق إلى نفسه فبعيدٌ جداً
Kemudian jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa hal itu kembali kepadanya, dan sebagian yang lain mengatakan cukup baginya untuk menghentikan pengkhususan itu pada dirinya sendiri. Adapun melaksanakan talak tersebut dengan benar-benar meniadakan niat untuk menisbatkan talak kepada dirinya sendiri, maka itu sangat jauh (tidak mungkin terjadi).
وقد ذكر بعض الخلافيين أن اللفظ صريح وإن قصد تطليق نفسه وهذا لا احتفال به وشبّه مشبهون هذا بما لو قال لامرأته أنت الطلاق من حيث إن لفظ الطلاق جرى على صيغة مستبشعة حائدةٍ عن جهة العرف في الاستعمال
Sebagian ahli khilafiyah menyebutkan bahwa lafaz tersebut adalah sharih (jelas), meskipun yang dimaksudkan adalah menceraikan dirinya sendiri, namun pendapat ini tidak perlu diperhatikan. Sebagian orang menyamakan hal ini dengan kasus ketika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau adalah talak,” karena lafaz talak diucapkan dalam bentuk yang dianggap buruk dan menyimpang dari kebiasaan penggunaan menurut ‘urf.
هذا تمام البيان في ذلك ويترتب عليه فصل متصل بما تقدم من تفويض الطلاق إليها
Inilah penjelasan lengkap mengenai hal tersebut, dan hal ini berkaitan erat dengan pembahasan sebelumnya tentang pelimpahan hak talak kepada istri.
فلو قال لها طلقي نفسك فقالت طلقتك فخاطبته فقال الأصحاب إن قصدت تطليق نفسها وقع وقال المحققون يكفي قصدها الطلاق وفي تخصيصها الطلاق بالزوج على قصد وعمدٍ الكلامُ الذي ذكرناه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu,” lalu sang istri berkata, “Aku menceraikanmu,” dan ia mengarahkan ucapannya kepada suaminya, maka para sahabat (ulama mazhab) mengatakan: Jika ia memang bermaksud menceraikan dirinya sendiri, maka talak itu jatuh. Namun para muhaqqiq (peneliti) berpendapat: Cukup jika ia memang berniat untuk talak. Adapun pengkhususan talak kepada suami dengan maksud dan kesengajaan, maka penjelasan yang telah kami sebutkan sebelumnya tetap berlaku.
والمسألة ليست خاليةً عن تردّد الأصحاب في أن الرّجل إذا فوّض إليها صريح الطلاق فأتت بالكناية فهل يحكم بوقوع الطلاق فإن قولها طلقتك على مخاطبة الزوج كناية كما قدّمنا
Masalah ini tidak lepas dari keraguan para ulama mengenai apakah jika seorang suami menyerahkan secara tegas hak talak kepada istrinya, lalu istri mengucapkan talak dengan lafaz kinayah, maka apakah talak tersebut dianggap sah. Sebab, ucapan istri “aku telah mentalakmu” yang ditujukan kepada suami adalah termasuk lafaz kinayah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو قال السيد لعبده أنا منك حُرّ فهذا مما اشتهر فيه خلاف الأصحاب فمنهم من قال يحصل العتق إذا نواه كالطلاق ثم الترتيب في تنزيله على العبد وفي إطلاقه على ما مضى
Jika seorang tuan berkata kepada budaknya, “Aku merdeka darimu,” maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur di kalangan para ulama. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pembebasan budak terjadi jika ia meniatkannya, sebagaimana dalam kasus talak. Kemudian, terdapat perbedaan dalam hal penerapannya kepada budak dan dalam hal pengucapannya terhadap peristiwa yang telah lalu.
ومن أصحابنا من قال لا يحصل العتق أصلاً فإن الملك لا يوجب حجراً على المالك والنكاح يوجب حجراً على الناكح
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa pembebasan budak sama sekali tidak terjadi, karena kepemilikan tidak menyebabkan adanya larangan (pembatasan) bagi pemilik, sedangkan pernikahan menyebabkan adanya larangan bagi pihak yang menikah.
ولو قال الرّجل لامرأته أعتدُّ منك واستبرىء رحمي ونوى الطلاق فهذا مما اشتهر فيه ذكر وجهين والوجه إلغاء اللفظ لأنه غير منتظم في نفسه والكناية لفظة يظهر انتظامها في معنى ولكن لا تتعين لذلك المعنى فإذا كان الكلام في نفسه مثبَّجاً معدوداً لغواً فلا معول عليه
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku akan ber‘iddah darimu dan aku akan membersihkan rahimku,” serta ia berniat menceraikan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ucapan tersebut dianggap batal karena tidak tersusun dengan baik secara makna. Lafaz kinayah adalah ucapan yang tampak teratur dalam makna, namun tidak dikhususkan untuk makna tersebut. Maka jika suatu ucapan pada dirinya sendiri rusak dan dianggap sia-sia, maka tidak dapat dijadikan sandaran.
فصل قال ولو جعل لها أن تطلق نفسها إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika ia memberinya hak untuk menceraikan dirinya sendiri,” dan seterusnya.
نصدّر هذا الفصل بكلام في نية العدد إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق ثلاثاًً أو طلقتك ثلاثاًً فلا شك في وقوع الثلاث سواء كانت المرأة مدخولاً بها أو غير مدخولٍ بها وقول الزوج ثلاثاًً لا يُقطع عن صدر كلامه فإنّه منعطف عليه تبييناً وشرحاً وإيضاحاً وليس في حكم كلام مبتدأ
Kami memulai bab ini dengan pembahasan tentang niat jumlah talak apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali” atau “Aku menceraikanmu tiga kali,” maka tidak diragukan lagi jatuh talak tiga, baik istri tersebut sudah digauli maupun belum. Ucapan suami “tiga kali” tidak terpisah dari awal perkataannya, karena frasa tersebut kembali kepada kalimat sebelumnya sebagai penjelasan, uraian, dan penegasan, serta tidak dianggap sebagai kalimat yang berdiri sendiri.
ولو قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق وطالق فإنها تبين بالطلقة الأولى ولا تلحقها الثانية فإن المعطوف عليه مستقلٌّ بنفسه وليس المعطوف بياناً له ولا كشفاً لمعناه فإذا استقل الكلام الأول بعد موجبه فتبين المرأة
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau tertalak dan tertalak,” maka ia menjadi terpisah (bain) dengan talak yang pertama dan talak yang kedua tidak berlaku padanya. Sebab, yang di-‘athaf (dihubungkan) itu berdiri sendiri, dan yang di-‘athafkan bukanlah penjelasan atau penyingkapan makna dari yang sebelumnya. Maka, jika ucapan pertama telah berdiri sendiri dengan akibatnya, maka perempuan itu menjadi terpisah.
ثم قال الفقهاء قول الرجل أنت طالق ثلاثاًً مشتمل على مفسَّر وتفسير وزعموا أن قوله ثلاثاًً ينتصب على التفسير وهذا جهل بالعربية وذَهاب عن وضع اللسان وبابُ التفسير والتمييز مشهور بين النحاة وليس هذا منه بل قول الزوج ثلاثاًً نعتُ مصدرٍ محذوف والتقدير أنت طالق طلاقاً ثلاثاًً وهو كقول القائل ضربت زيداً شديداً والتقدير ضرباً شديدأ
Kemudian para fuqaha berkata bahwa ucapan seorang laki-laki “engkau tertalak tiga kali” mengandung makna yang dijelaskan dan penjelasan. Mereka mengira bahwa kata “tiga kali” berfungsi sebagai penjelas (takhshish), dan ini adalah kekeliruan dalam bahasa Arab serta penyimpangan dari kaidah bahasa. Bab tafsir dan tamyiz sudah dikenal di kalangan para ahli nahwu, dan ini bukan termasuk di dalamnya. Namun, ucapan suami “tiga kali” adalah sifat dari mashdar yang dihilangkan, dan maksudnya adalah “engkau tertalak dengan talak tiga kali”, sebagaimana ucapan seseorang “aku memukul Zaid dengan keras”, yang maksudnya adalah “pukulan yang keras”.
ثم معتمد المذهب والقطبُ الذي عليه تدور المسائل أن الفعل من الطلاق والاسمَ المشتق يُشعران بالمصدر لا محالة والمصدر يصلح للواحد والجنس فتَطرَّق إمكانُ العدد فإنْ لَفَظَ الزوج به فذاك وإن قال أنت طالق ونوى عدداً وقع العدد الذي نواه خلافاً لأبي حنيفة فاستبان أن الفعل من لفظ الطلاق والاسمَ صريحان في أصل الطلاق صالحان للعدد على التردّد والنيةُ شأنها تعيين وجهٍ من وجوه التردد
Kemudian, pendapat yang menjadi pegangan mazhab dan poros yang menjadi sandaran dalam berbagai permasalahan adalah bahwa fi‘l (kata kerja) dari lafaz talak dan isim musytaq menunjukkan makna mashdar (kata dasar) secara pasti, dan mashdar itu dapat berlaku untuk satu atau jenis (umum), sehingga memungkinkan adanya jumlah (bilangan). Jika suami mengucapkannya, maka itu berlaku. Jika ia berkata, “Engkau tertalak” dan berniat sejumlah tertentu, maka jatuhlah jumlah yang ia niatkan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Maka jelaslah bahwa fi‘l dari lafaz talak dan isim musytaq keduanya adalah sharih (jelas) dalam pokok talak dan dapat berlaku untuk jumlah secara tafshil, sedangkan niat berfungsi untuk menentukan salah satu dari beberapa kemungkinan tersebut.
ولو قال لامرأته أنت طالق واحدة ونوى الثلاث أو ثنتين فهذا ينقسم قسمين أحدهما أن ينصب قوله واحدةً نصبه قوله ثلاثاًً والآخر أن يقول واحدةٌ بالرفع فأمّا إذا نصبَ قوله واحدةً فهذا يستدعي ذكر مقدمة ستأتي مشروحةً في موضعها إن شاء الله ونحن نذكر مقدار غرضنا منها
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak satu,” namun ia berniat tiga atau dua talak, maka hal ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ia mengucapkan “satu” dengan bentuk nashab seperti ia mengucapkan “tiga”, dan kedua, ia mengucapkan “satu” dengan bentuk rafa‘. Adapun jika ia mengucapkan “satu” dengan bentuk nashab, maka hal ini memerlukan penjelasan pendahuluan yang akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah. Kami akan menyebutkan bagian yang menjadi tujuan kami darinya.
فإذا قال الرجل لامرأته أنت طالق ولم يخطر له إلى استتمام اللفظ الاستثناءُ ثم لمّا تم لفظ الطلاق خطر له أن يقول على الاتصال إن شاء الله تداركاً لما تقدّم فقال إن شاء الله متصلاً فقد قال أبو بكر الفارسي في كتابه المترجم مسائل الإجماع يقع الطلاق في هذه المسألة إجماعاً ووافقه معظم الأصحاب في دعوى الإجماع وتعليلُه أن لفظ الطلاق تم ثم حاول استدراكه من بعدُ فكان قصده في الاستدراك مردوداً
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” dan hingga ia menyelesaikan lafaz tersebut tidak terlintas dalam pikirannya untuk melakukan istisna’ (pengecualian), kemudian setelah lafaz talak itu selesai terucap, terlintas dalam benaknya untuk segera mengatakan “insya Allah” sebagai upaya untuk membatalkan apa yang telah diucapkan sebelumnya, lalu ia pun mengucapkan “insya Allah” secara bersambung, maka Abu Bakar al-Farisi dalam kitabnya yang berjudul “Masā’il al-Ijmā‘” mengatakan bahwa talak jatuh dalam kasus ini secara ijmā‘. Mayoritas para sahabat (ulama) juga sepakat dalam klaim ijmā‘ ini. Alasannya adalah karena lafaz talak telah sempurna, kemudian ia berusaha membatalkannya setelah itu, sehingga maksudnya dalam membatalkan tersebut dianggap tertolak.
ومن أصحابنا من قال لا يقع الطلاق فإن شرط وقوعه ألاّ يُجري على الاتصال به لفظاً ما يكون استدراكاً وهذا الوجه على اشتهاره مزيّفٌ لا تحصيل له وسنعود إلى ذلك في مسائل الاستثناء إن شاء الله
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa talak tidak jatuh, jika disyaratkan jatuhnya talak adalah tidak diucapkannya secara langsung setelahnya suatu lafaz yang merupakan pengecualian. Pendapat ini, meskipun terkenal, adalah pendapat yang lemah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kami akan kembali membahas hal ini dalam masalah istisna’ (pengecualian), insya Allah.
فنقول الآن إذا قال لامرأته أنت طالق واحدة ثم زعم أنه قصد بجميع كلامه ثلاث طلقات وبسط قصده على أوّل كلامه وآخره فهل يقع الثلاث اختلف أصحابنا في المسألة منهم من قال لا يقع الثلاث لأن لفظه يناقض قصدَه والقصد بمجرده لا يعمل ولا ينفذ في الثلاث واللفظ على مناقضته كنية الطلاق عند ذكرٍ من الأذكار عند قراءة القرآن هذا إذا نوى الثلاث بجميع اللفظ
Maka sekarang kita katakan, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak satu,” kemudian ia mengklaim bahwa ia bermaksud dengan seluruh ucapannya itu tiga talak, dan ia membentangkan niatnya pada awal dan akhir ucapannya, maka apakah jatuh tiga talak? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tiga talak tidak jatuh, karena lafaznya bertentangan dengan niatnya, dan niat semata tidak dapat dijadikan dasar dan tidak berlaku dalam menjatuhkan tiga talak, sedangkan lafaz yang bertentangan dengan niat itu seperti niat talak ketika menyebut suatu dzikir atau saat membaca Al-Qur’an. Ini jika ia meniatkan tiga talak pada seluruh lafaznya.
ولو نوى الثلاث بقوله أنت طالق ثم خطر له أن يقول واحدة فعلى طريقة الفارسي يقع الثلاث فإنه طبق نية الثلاث على لفظ محتملٍ لها ثم أتى بعد ذلك بلفظٍ يناقض ما تقدّم فلا حكم له
Jika seseorang berniat menjatuhkan talak tiga dengan ucapannya “engkau tertalak”, kemudian terlintas dalam benaknya untuk mengatakan satu talak saja, maka menurut metode al-Farisi, jatuhlah talak tiga. Sebab, ia telah menyesuaikan niat talak tiga dengan lafaz yang mengandung kemungkinan untuk itu, lalu setelah itu ia mengucapkan lafaz yang bertentangan dengan apa yang telah didahului, maka tidak ada pengaruh baginya.
وإن جرينا على الوجه الضعيف وأعملنا الاستثناء الذي وصله لفظاً وإن قصده بعد نجاز اللفظ فيخرّج على ذلك الوجهان المذكوران فيه إذا نوى بجملة اللفظ الثلاث
Jika kita mengikuti pendapat yang lemah dan memberlakukan pengecualian yang disebutkan secara lafaz, meskipun diniatkan setelah selesainya pengucapan lafaz, maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, apabila seseorang meniatkan dengan keseluruhan lafaz tersebut tiga kali.
وإذا ضممنا هذه الصورة إلى الصورة الأولى انتظم فيها أوجهٌ أحدها أن الثلاث تقع والثاني أنها لا تقع والثالث أنه إن نوى الثلاث بقوله أنت طالق تقع وإن نوى الثلاث بمجموع اللفظ لا تقع
Jika kita menggabungkan gambaran ini dengan gambaran pertama, maka terdapat beberapa kemungkinan: pertama, talak tiga jatuh; kedua, talak tiga tidak jatuh; ketiga, jika ia meniatkan tiga talak dengan ucapannya “engkau tertalak”, maka jatuh talak tiga, dan jika ia meniatkan tiga talak dengan keseluruhan lafaz, maka tidak jatuh.
ولو قال أنت طالق واحدةً وزعم أنّي أردت طلقةً واحدةً ملفّقاً من ثلاث طلقات وقعت ثلاث طلقات فإنّ ما قاله ممكن والطلاق الواحد الملفق حكمه ما ذكرناه
Jika seseorang berkata, “Engkau aku talak satu,” lalu ia mengklaim bahwa maksudnya adalah satu talak yang merupakan gabungan dari tiga talak, maka jatuhlah tiga talak, karena apa yang ia katakan itu mungkin terjadi, dan talak satu yang merupakan gabungan (dari tiga talak) hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.
وذكر بعض أصحابنا وجهاً أن الثلاث لا تقع لأن لفظ الواحد ينافي العدد وتقدير التلفيق بعيد عن الدّرْك والنياتُ إنما تعمل إذا كانت تطابق وجهاً مفهوماً من صيغة اللفظ
Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat bahwa talak tiga tidak jatuh, karena lafaz satu bertentangan dengan jumlah, dan anggapan penggabungan (talfīq) sulit dipahami. Niat hanya berlaku jika sesuai dengan makna yang dapat dipahami dari bentuk lafaz.
والخلاف في هذا يقرب من تردد الأصحاب في ألفاظٍ اختلفوا في إلحاقها بالكنايات كما سنصفها من بعدُ إن شاء الله
Perbedaan pendapat dalam hal ini hampir sama dengan keraguan para ulama dalam beberapa lafaz yang mereka perselisihkan apakah termasuk dalam kategori kināyah, sebagaimana akan kami jelaskan nanti, insya Allah.
ولو قال لامرأته أنت واحدةٌ ونوى الثلاث فالذي قطع به الأئمة في طرقهم أنها تقع على تأويل حمل الواحدة على التوحّد والتفرد عن الزوج والمرأة قد تنفرد عن زوجها بطلقة وقد تنفرد عنه بثلاث طلقاتٍ وذكر القاضي هذا وصححه وحكى معه وجهاً آخر أن الثلاث لا تقع لمنافاة لفظة الواحدة لها
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau satu,” dan ia berniat menjatuhkan talak tiga, maka pendapat yang dipastikan oleh para imam dalam karya-karya mereka adalah bahwa ucapan tersebut dianggap sebagai penafsiran, yaitu membawa makna “satu” pada arti terpisah dan sendiri dari suami. Seorang istri bisa saja terpisah dari suaminya dengan satu talak, dan bisa juga terpisah darinya dengan tiga talak. Qadhi menyebutkan hal ini dan menguatkannya, serta meriwayatkan pendapat lain bahwa talak tiga tidak jatuh karena lafaz “satu” bertentangan dengan makna tiga.
وهذا فيه نظرٌ دقيق عندي فأقول إن خطر له التوحّد وربطَ الطلاق به على التفصيل الذي ذكرناه فلا يجب أن يكون في هذا خلاف وإن نوى الثلاث ولم يخطر له وجهُ حمل الواحدة عليها فهذا فيه احتمال وينبغي أن يكون هذا المسلك على ذُكر الفقيه في مسائل ستأتي على القرب
Menurut saya, hal ini memerlukan telaah yang cermat. Saya katakan, jika terlintas dalam benaknya makna penggabungan dan ia mengaitkan talak dengannya secara rinci sebagaimana telah kami sebutkan, maka seharusnya tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Namun, jika ia berniat menjatuhkan talak tiga tanpa terlintas dalam benaknya alasan mengaitkan satu talak dengan yang lain, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan. Dan seharusnya metode ini selalu diingat oleh seorang faqih dalam permasalahan-permasalahan yang akan segera dibahas.
ومما وصله الأصحاب بهذا المنتهى أنه لو قال لامرأته أنت طالق واحدةٌ بالرفع في واحدة فهذا يُبنى على ما لو قال لها أنت واحدةٌ وقد ذكرنا أن الأصح أنه إن نوى الثلاث وقع فلو قال أنت طالق واحدةٌ يُحمل هذا في العربية على إتباع الصفةِ الصفةَ وكأنه قال أنت طالقٌ أنتِ واحدةٌ
Dan di antara hal yang disampaikan oleh para sahabat (ulama mazhab) hingga batas ini adalah bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau talak satu” dengan menggunakan bentuk raf‘ (marfu‘) pada kata “satu”, maka hal ini dibangun di atas permasalahan jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau satu.” Telah kami sebutkan bahwa pendapat yang lebih sahih adalah jika ia berniat tiga (talak), maka jatuh tiga. Maka jika ia berkata, “Engkau talak satu,” dalam bahasa Arab hal ini diartikan sebagai mengikuti sifat pada sifat, seakan-akan ia berkata, “Engkau talak, engkau satu.”
ثم الكلام في إفراد الواحدة بالذكر ما ذكرناه
Kemudian pembahasan mengenai menyebutkan satu secara tersendiri adalah seperti yang telah kami sebutkan.
وقد يعترض في هذه المسألة وفيه إذا قال واحدةً بالنصب الفرقُ بين أن يكون صاحب اللفظ معرباً أم غيرَ معرِبٍ وهذا فنٌ سيأتي ولسنا نخوض فيه الآن والتنبيهُ عليه كافٍ
Dalam masalah ini, mungkin muncul keberatan, dan di dalamnya, jika seseorang mengucapkan “wāḥidatan” dengan harakat nashab, terdapat perbedaan antara apakah orang yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang yang memahami i‘rab atau bukan. Ini adalah suatu bidang yang akan dibahas nanti, dan kita tidak akan membahasnya sekarang; penunjukan terhadap hal itu sudah cukup.
ولو قال لامرأته أنت طالق فماتت فقال ثلاثاً ووقع موتُها مع قوله ثلاثاًً ففي المسألة أوجه أحدها أن الثلاث تقع لأن الموقَع هو الطلاق وقد صادف حالة الحياة والثلاث منعطفة على الطلاق فلا يضر وقوع اللفظ الثاني في حالة الموت
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu istrinya meninggal dunia, kemudian ia berkata, “tiga kali,” dan kematian istrinya terjadi bersamaan dengan ucapannya yang ketiga, maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak tiga jatuh, karena yang dijatuhkan adalah talak dan itu terjadi saat istri masih hidup, sedangkan tambahan tiga itu mengikuti talak, sehingga tidak mengapa jika ucapan kedua terjadi saat istri sudah meninggal.
والوجه الثاني أنه لا يقع شيء لأن جميع الكلام في حكم المقصود الواحد فإذا وقع بعضه في حالةٍ تنافي وقوعَ الطلاق لم يقع الطلاق كما لو قال لامرأته أنت طالق فوقع اللام والقاف في حالة موتها
Pendapat kedua adalah bahwa tidak terjadi apa-apa, karena seluruh ucapan itu berada dalam hukum satu maksud. Maka jika sebagian dari ucapan itu terjadi dalam keadaan yang bertentangan dengan terjadinya talak, maka talak tidak terjadi, sebagaimana jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu huruf lam dan qaf diucapkan dalam keadaan istrinya telah wafat.
والوجه الثالث أنه يقع طلقة واحدة فإن قوله طالق مستقل بإفادة الطلاق وهذا صادف الحياة فوجب إعمال هذا وإحباط ما يقع بعد الموت
Alasan ketiga adalah bahwa yang terjadi adalah satu kali talak, karena ucapan “tāliq” sudah berdiri sendiri dalam memberikan makna talak, dan ini terjadi saat istri masih hidup. Maka wajib memberlakukan yang ini dan menggugurkan apa yang terjadi setelah kematian.
ولو قال أنت طالق وكان على عزم الاقتصار عليه فماتت فقال ثلاثاً فلا شك أن الثلاث لا تقع في هذه الصورة وينتفي الوجه الثاني أيضاً فلا يبقى إلا الحكم بوقوع الواحدة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak,” dan ia memang berniat untuk membatasi pada satu talak saja, lalu istrinya meninggal dunia, kemudian ia berkata, “Tiga kali,” maka tidak diragukan lagi bahwa talak tiga tidak terjadi dalam keadaan seperti ini, dan kemungkinan kedua juga gugur, sehingga yang tersisa hanyalah menetapkan jatuhnya satu talak saja.
وهذا يلتفت على مسألة الفارسي إذا قال أنت طالق ثم بدا له أن يقول إن شاء الله وقد ذكرنا أن المذهب إلغاء الاستثناء وفيه وجةٌ أن الاستثناء لا يلغو ويبعد أن نقول في التفريع عليه إنه لا يقع شيء على وجهٍ فإنه أتى بما لو قصده ابتداء لما وقع شيء في وجهٍ
Hal ini berkaitan dengan masalah orang Persia yang mengatakan, “Engkau tertalak,” kemudian terlintas baginya untuk menambahkan, “insya Allah.” Telah kami sebutkan bahwa madzhab (pendapat utama) adalah meniadakan pengecualian (istitsnā’), namun ada satu pendapat bahwa pengecualian itu tidak diabaikan. Sulit untuk dikatakan dalam cabang masalah ini bahwa talak tidak terjadi sama sekali, sebab ia telah melakukan sesuatu yang jika diniatkan sejak awal, maka talak tidak akan terjadi sama sekali.
ولو قال إن شاء الله بعد موتها والتفريع على الوجه الضعيف فيجب القطع بأن الاسثتناء لا يعمل والله أعلم
Dan jika ia mengucapkan “insya Allah” setelah kematiannya, serta berdasarkan pada pendapat yang lemah, maka harus dipastikan bahwa pengecualian tersebut tidak berlaku. Dan Allah lebih mengetahui.
ولو كان قصد أن يقول إن شاء الله فلما قال أنت طالق قال إن شاء الله مع موتها هذا محتمل لمصادفة الاستثناء حالة الموت
Jika seseorang bermaksud untuk mengatakan “insya Allah”, lalu ketika mengucapkan “engkau tertalak” ia berkata “insya Allah” bersamaan dengan wafatnya istrinya, maka hal ini masih mungkin (diperhitungkan), karena pengecualian tersebut bertepatan dengan saat kematian.
وسنعود إلى هذا في فروع الاستثناء إن شاء الله
Kita akan kembali membahas hal ini pada pembahasan cabang-cabang istitsnā’ (pengecualian), insya Allah.
وإذا قال لامرأته أنت بائن ونوى ثنتين وقعتا كما إذا نوى واحدةً أو ثلاثاًً وقال أبو حنيفة يقع الثلاث إذا نواها وتقع الواحدة ولا يقع الثنتان وله في ذلك مسلك اشتملت الأساليب على ذكره والردّ عليه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau bā’in,” dan ia berniat dua talak, maka jatuhlah dua talak tersebut, sebagaimana jika ia berniat satu atau tiga talak. Abu Hanifah berpendapat bahwa jatuh tiga talak jika ia meniatkannya, dan jatuh satu talak, tetapi tidak jatuh dua talak. Dalam hal ini, ia memiliki pendapat tersendiri yang telah disebutkan dan dibantah dalam berbagai penjelasan.
وكل ما ذكرناه في تأسيس المذهب في احتمال اللفظ للعدد إذا كان منشىء الطلاق هو الزوج
Segala hal yang telah kami sebutkan dalam penetapan mazhab mengenai kemungkinan lafaz mengandung makna bilangan berlaku apabila yang menjatuhkan talak adalah suami.
ونحن نعود وراء ذلك إلى مسائل تتعلق بتفويض الطلاق فإذا قال الرجل لامرأته طلقي نفسك واحدةً فطلقت نفسها ثلاثاًً وقعت الواحدة ولغا الزائد
Kita kembali dalam hal ini kepada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pendelegasian talak. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Talaklah dirimu satu kali,” lalu istrinya mentalak dirinya tiga kali, maka yang jatuh adalah satu talak saja dan selebihnya dianggap tidak sah.
ولو قال طلقي نفسك ثلاثاًً فطلقت نفسها واحدةً وقعت الواحدة وقال أبو حنيفة إن فوّض إليها ثلاثاًً فطلقت واحدة وقعت الواحدة كما ذكرنا وإن فوض إليها واحدة وطلّقت نفسها ثلاثاً لم يقع شيء
Jika seorang suami berkata, “Ceraikanlah dirimu dengan tiga talak,” lalu istri menceraikan dirinya dengan satu talak, maka jatuhlah satu talak. Abu Hanifah berpendapat: Jika suami mewakilkan kepadanya tiga talak, lalu istri menceraikan dirinya dengan satu talak, maka jatuh satu talak sebagaimana telah disebutkan. Namun jika suami mewakilkan kepadanya satu talak, lalu istri menceraikan dirinya dengan tiga talak, maka tidak jatuh apa pun.
ولو قال لامرأته طلقي نفسك ونوى تفويض الثلاث إليها فقالت طلقت نفسي ونوت الثلاث وقعت الثلاث فإن التفويض بالنية في العدد بمثابة التفويض بالكنايات مع العلم بأن التعويل فيها على النية
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” dan ia berniat memberikan wewenang talak tiga kepadanya, lalu sang istri berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri,” dan ia pun berniat talak tiga, maka jatuhlah talak tiga. Sebab, pendelegasian berdasarkan niat dalam jumlah talak itu kedudukannya seperti pendelegasian dengan lafaz kinayah, dengan syarat mengetahui bahwa dalam hal ini yang dijadikan pegangan adalah niat.
فإذا قال أبيني فقالت أبنت نفسي فلا بد من النية في الجانبين فالقول في النية المتعلقة بعدد الطلاق كالقول في النية المتعلقة بأصل الطلاق
Jika suami berkata, “Aku ceraikan kamu,” lalu istri menjawab, “Aku menceraikan diriku sendiri,” maka harus ada niat dari kedua belah pihak. Maka pembahasan tentang niat yang berkaitan dengan jumlah talak adalah seperti pembahasan tentang niat yang berkaitan dengan asal terjadinya talak.
ولو قال لها طلقي نفسَك ونوى الثلاث فقالت طلقت نفسي ولم تتعرض للنية فالمذهب الذي عليه التعويل أنه لا يقع إلا طلقةٌ واحدة فإنها لم تنو العدد فنفذ اللفظ فيما هو صريح فيه من غير مزيد وهو كما لو قال لها طلقي نفسك ثلاثاًً فقالت طلقت نفسي واحدة
Jika suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” dan ia berniat menjatuhkan talak tiga, lalu istrinya berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri,” tanpa menyebutkan niat suami, maka pendapat yang dijadikan pegangan dalam mazhab adalah bahwa yang jatuh hanya satu talak saja. Sebab, istri tidak meniatkan jumlah talak, sehingga lafaz tersebut berlaku pada apa yang secara jelas dimaksudkan tanpa tambahan. Hal ini seperti jika suami berkata, “Ceraikanlah dirimu sendiri tiga kali,” lalu istri berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri satu kali.”
وذهب بعض الأصحاب إلى أن الزوج إذا نوى الثلاث ولم تتعرض المرأة للنية وقد جرى النطق بالصريح من الجانبين فيقع الثلاث تعويلاً على نيته فإنه فوض إليها لفظ الطلاق وهو تَولَّى قصدَ العدد
Sebagian ulama berpendapat bahwa jika suami berniat menjatuhkan talak tiga, sementara istri tidak menyinggung soal niat, dan telah terjadi pengucapan talak secara sharih dari kedua belah pihak, maka jatuhlah talak tiga berdasarkan niat suami. Sebab, suami telah menyerahkan lafaz talak kepada istri, namun ia sendiri yang menentukan jumlah talak yang dimaksudkan.
وهذا ضعيفٌ جداً إذ لا خلاف أنه لو قال أبيني نفسك ونوى فقالت أبنت نفسي لم يقع الطلاق تعويلاً على نيته فليكن الأمر كذلك في العدد فإن الصريح كناية في العدد
Ini sangat lemah, karena tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” lalu ia berniat tertentu, kemudian istrinya berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri,” maka talak tidak jatuh dengan bersandar pada niatnya. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku dalam jumlah (talak), karena lafaz sharih (jelas) dalam jumlah talak itu seperti kinayah (sindiran).
ولو قال لامرأته طلقي نفسك ثلاثاًً فقالت طلقت نفسي أو قالت طلّقتُ ولم تتلفظ بعدد ولم تنوِه فقد قال القاضي يقع الثلاث فإن قولها جرى جواباً والإيجاب في حكم المعاد في الجواب وقد يجري القبول على وجهٍ لا يفهم لو قدر منفرداً ولكنه ينتظم مع ابتداء الخطاب بسبب البناء عليه ثم قال ليس هذا كما لو قال طلقي نفسك ونوى الثلاث ولم يتلفظ بها فقالت طلقت نفسي ولم تنو الثلاث وذلك أن العدد في جانب الزوج مربوط بالنية فلا يمكن بناء كلامها على النية فإن التخاطب لا يقع إلا بالنية وهي على الجملة لا تحل محل الصّريح
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri dengan tiga talak,” lalu sang istri berkata, “Aku telah menceraikan diriku sendiri,” atau ia berkata, “Aku telah menceraikan (diriku),” tanpa menyebutkan jumlah dan tanpa meniatkannya, maka menurut pendapat al-Qadhi, jatuhlah tiga talak. Sebab, ucapannya itu merupakan jawaban, dan ijab (pernyataan suami) dianggap terulang dalam jawaban tersebut. Kadang-kadang, kabul (penerimaan) dapat terjadi dalam bentuk yang tidak akan dipahami jika berdiri sendiri, namun menjadi jelas ketika mengikuti awal pembicaraan karena adanya keterkaitan. Kemudian beliau berkata, “Ini tidak sama dengan kasus ketika suami berkata, ‘Ceraikanlah dirimu sendiri,’ dan ia meniatkan tiga talak namun tidak mengucapkannya, lalu sang istri berkata, ‘Aku telah menceraikan diriku sendiri,’ tanpa meniatkan tiga talak. Sebab, jumlah talak di pihak suami terkait dengan niat, sehingga tidak mungkin membangun ucapan istri berdasarkan niat suami. Karena komunikasi tidak terjadi kecuali dengan niat, dan secara umum niat tidak dapat menggantikan kejelasan (lafaz) yang eksplisit.”
هذا كلامه
Ini adalah ucapannya.
وقد ذكرنا خلافاً فيه إذا نوى الزوج العدد ولم تنو المرأة ومن تمسك بالوجه الضعيف وحكم بأنّ الثلاث تقع فله أن يعتضد بما إذا قال الزوج صريحاً طلقي نفسك ثلاثاًً فقالت طلقت نفسي
Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini apabila suami berniat tiga talak sementara istri tidak berniat demikian. Barang siapa yang berpegang pada pendapat yang lemah dan memutuskan bahwa tiga talak jatuh, maka ia dapat memperkuat pendapatnya dengan kasus ketika suami secara tegas berkata, “Ceraikanlah dirimu tiga kali,” lalu istri berkata, “Aku menceraikan diriku.”
ولنا تفصيلٌ ونظر في تصريح الزوج بتفويض الثلاث مع اقتصارها على الطلاق من غير ذكر عددٍ فنقول إن كان التفريع على أن تفويض الطلاق تمليكٌ وجوابها بمثابة القبول في مقابلة الإيجاب فيتجه ما ذكره من بناء كلامها على كلامه فإن قولها على قول التمليك بمثابة القبول مع الإيجاب
Kami memiliki rincian dan tinjauan dalam hal suami secara tegas memberikan wewenang talak tiga, namun istri hanya membatasi pada talak tanpa menyebutkan jumlahnya. Maka kami katakan, jika penjelasan didasarkan pada bahwa pendelegasian talak adalah bentuk tamlik (pemberian hak kepemilikan), dan jawaban istri dianggap sebagai penerimaan terhadap ijab (penawaran) suami, maka pendapat yang disebutkan mengenai pembentukan ucapan istri atas ucapan suami adalah tepat. Sebab, ucapan istri terhadap ucapan tamlik itu seperti penerimaan terhadap ijab.
فأما إذا جعلنا التفويض توكيلاً فالوجه أن لا يقع الثلاث فإنّ تصرف الوكيل لا ينبني على التوكيل وإنما هو افتتاح تصرّف ولو كان مبنياً على التوكيل لشُرط اتصاله به
Adapun jika kita menganggap tafwīḍ sebagai bentuk wakalah, maka yang tepat adalah talak tiga tidak terjadi, karena tindakan wakil tidak didasarkan pada pendelegasian, melainkan merupakan permulaan tindakan. Seandainya tindakan itu didasarkan pada pendelegasian, tentu disyaratkan adanya keterkaitan langsung dengannya.
ومن قال يشترط على قول التوكيل اتصالُ كلامها بالتفويض فقد يخطر له ما ذكره القاضي أيضاً
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa menurut pendapat yang membolehkan perwakilan, disyaratkan ucapan perempuan harus bersambung dengan pendelegasian, maka mungkin terlintas dalam benaknya apa yang juga disebutkan oleh al-qāḍī.
ويجوز للفقيه أن يقلب هذا الترتيب فيقول إن جعلنا التفويض توكيلاً فلا نبني كلامها على كلامه وإن جعلناه تمليكاً فالمسألة محتملة يجوز أن يسلك فيه مسلك البناء كما ذكره القاضي ويجوز أن يقال لا يبنى قولها على قوله فإنها متصرفة على الابتداء تصرفاً له صيغة التمام وليس كالقبول الذي لا يقع إلا شقّاً والدليل عليه أنه لو قال طلقي نفسك ثلاثاً فقالت طلقت نفسي واحدة وقعت الواحدة ولو قال طلقي نفسك واحدة فطلقت نفسها ثلاثاًً وقع من الثلاث واحدة ولو كان تطليقها مع تفويضه كالإيجاب والقبول لما وقع الطلاق مع الاختلاف فإن الرجل لو قال لمن يخاطبه بعت منك عبدي هذا بألف فقال اشتريته بألفين لم ينعقد العقد ولم نقل ينعقد بالألف ويلغو الألف الزائد وهذا النوع ينفذ من الوكيل
Seorang faqih boleh membalik urutan ini dengan mengatakan: Jika kita menganggap tafwīdh itu sebagai wakālah, maka ucapan istri tidak dibangun di atas ucapan suami. Namun jika kita menganggapnya sebagai tamlīk, maka masalah ini masih mungkin, boleh saja mengikuti metode membangun sebagaimana disebutkan oleh al-Qāḍī, dan boleh juga dikatakan bahwa ucapan istri tidak dibangun di atas ucapan suami, karena ia bertindak secara mandiri dengan redaksi yang sempurna, tidak seperti kabul yang hanya terjadi sebagai pasangan dari ijab. Dalilnya adalah jika suami berkata, “Ceraikanlah dirimu tiga kali,” lalu istri berkata, “Aku menceraikan diriku satu kali,” maka jatuhlah satu talak. Jika suami berkata, “Ceraikanlah dirimu satu kali,” lalu istri menceraikan dirinya tiga kali, maka yang jatuh hanya satu dari tiga talak itu. Seandainya talak yang dilakukan istri dengan tafwīdh itu seperti ijab dan kabul, maka talak tidak akan jatuh jika terjadi perbedaan. Sebab, jika seorang laki-laki berkata kepada orang yang diajak bicara, “Aku jual budakku ini kepadamu seharga seribu,” lalu orang itu berkata, “Aku membelinya seharga dua ribu,” maka akad tidak sah, dan kita tidak mengatakan akad sah dengan harga seribu dan harga lebihnya diabaikan. Jenis ini berlaku pada wakil.
هذا منتهى القول في تفويض العدد مع تصوير موافقتها ومخالفتها لفظاً وقصداً
Inilah akhir pembahasan tentang penyerahan jumlah, beserta penjelasan tentang kesesuaiannya dan perbedaannya, baik secara lafaz maupun maksud.
ثم قال الشافعي ولو طلق بلسانه واستثنى بقلبه وهذا طرف من أطراف التديين وقد استقصيناه فيما تقدم
Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Seandainya seseorang menjatuhkan talak dengan lisannya, namun membuat pengecualian dalam hatinya—ini merupakan salah satu sisi dari aspek keagamaan, dan kami telah membahasnya secara rinci pada bagian sebelumnya.
فصل قال ولو قال أنت عليَّ حرام يريد تحريمها بلا طلاق إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Engkau haram atasku,” dengan maksud mengharamkannya tanpa talak, dan seterusnya.
هذا الفصل نفرضه حيث لا نحكم بأن لفظ التحريم صريح في الطلاق ثم نذكر مقصود الفصل حيث نحكم بكونه صريحاً في الطلاق
Bab ini kami tetapkan pada kondisi ketika kami tidak memutuskan bahwa lafaz tahrīm (pengharaman) adalah lafaz sharih (tegas) dalam talak, kemudian kami akan menyebutkan maksud bab ini pada kondisi ketika kami memutuskan bahwa lafaz tersebut adalah sharih dalam talak.
فإذا لم نجعله صريحاً في الطلاق وقد قال لامرأته أنت عليَّ حرام أو قال حرّمتك أو أنت محرّمة فقد قال الأصحاب إن نوى بما قال طلاقاً فهو طلاق
Maka jika kita tidak menjadikannya sebagai lafaz sharih dalam talak, lalu seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku,” atau ia berkata, “Aku mengharamkanmu,” atau “Engkau diharamkan,” para ulama berpendapat bahwa jika ia berniat talak dengan ucapannya itu, maka itu adalah talak.
وإن نوى الظهار فهو ظهار وإن نوى تحريم ذاتها على نفسه تلزمه كفارة اليمين بنفس اللفظ ولم يتوقف لزومها على إلمامه بها
Jika ia berniat melakukan zhihār, maka itu menjadi zhihār. Dan jika ia berniat mengharamkan istrinya atas dirinya sendiri, maka ia wajib membayar kafarat yamin hanya dengan ucapan tersebut, dan kewajiban itu tidak bergantung pada apakah ia telah mencampurinya atau belum.
وإن أطلق اللفظ ولم يقصد شيئاً فحاصل ما ذكره الأئمة ثلاثة أوجه أحدها أن اللفظ صريح في إيجاب الكفارة والثاني أنه كناية بحيث لا يجب بمُطْلَقه من غير نيةٍ شيءٌ والثالث أنه كناية في حقّ الحرة صريحٌ في حقّ الأمة إذا خاطبها به وهذا الوجه ذكره العراقيون التوجيه من جعله صريحاً في إيجاب الكفارة تعلق بظاهر قوله تعالى في مخاطبة النبي يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ الآيات والصحيح في سبب نزولها أنه عليه السلام خلا بمارية القبطية في نوبة حفصة فاطلعت عليه وقالت أفي بيتي وفي يومي فاسترضى رسول الله صلى الله عليه وسلم قلبها وحرّم مارية على نفسه فنزلت الآية وقال تعالى في مساقها قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ثم مقتضى القرآن إيجاب الكفارة بنفس اللفظ من غير تعرّض لقصد
Jika seseorang mengucapkan lafaz tanpa maksud tertentu, maka kesimpulan yang disebutkan para imam ada tiga pendapat: pertama, bahwa lafaz tersebut secara tegas mewajibkan kafarat; kedua, bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah sehingga tidak wajib apa pun dengan lafaz mutlak tanpa niat; ketiga, bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah bagi perempuan merdeka namun tegas (sharih) bagi budak perempuan jika ia mengucapkannya kepada budak tersebut. Pendapat ketiga ini disebutkan oleh ulama Irak. Dalil bagi yang menganggapnya tegas dalam mewajibkan kafarat adalah zahir firman Allah Ta’ala dalam ayat yang ditujukan kepada Nabi: “Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu…” dan seterusnya. Pendapat yang benar tentang sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Rasulullah saw. pernah berduaan dengan Maria al-Qibthiyyah pada giliran Hafshah, lalu Hafshah mengetahuinya dan berkata, “Di rumahku dan pada giliranku?” Maka Rasulullah saw. berusaha menenangkan hati Hafshah dan mengharamkan Maria atas dirinya, lalu turunlah ayat tersebut. Allah Ta’ala juga berfirman dalam rangkaian ayat itu: “Sungguh Allah telah mewajibkan atas kalian penebusan sumpah-sumpah kalian.” Maka, konsekuensi dari Al-Qur’an adalah mewajibkan kafarat hanya dengan lafaz tersebut, tanpa memperhatikan adanya maksud tertentu.
وهذا بمثابة ذكر الظهار وكفارته في آيات الظهار
Ini seperti penyebutan zhihār dan kafaratnya dalam ayat-ayat tentang zhihār.
ومن قال مطلق التحريم لا يكون صريحاً في اقتضاء الكفارة احتج بأنّ الزوج لو نوى به الطلاق لكان طلاقاً ولو كان صريحاً في اقتضاء الكفارة لما جاز نقله عما هو موضوع فيه كالطلاق إذا نوى الزوج به ظهاراً وكالظهار إذا نوى به طلاقاً
Dan barang siapa yang mengatakan bahwa larangan secara mutlak tidaklah secara tegas menunjukkan kewajiban kafarat, beralasan bahwa jika suami meniatkannya sebagai talak, maka itu menjadi talak. Seandainya larangan tersebut secara tegas menunjukkan kewajiban kafarat, niscaya tidak boleh dialihkan dari makna asalnya, sebagaimana talak jika suami meniatkannya sebagai zihar, dan sebagaimana zihar jika meniatkannya sebagai talak.
ومن قال بالوجه الثالث اعتمد القرآن وسببَ نزوله وقال المعتمد في هذا الأصل الكتاب وهو وارد في المملوكة والحرّةُ مشبَّهةٌ بالمملوكة فلا يمتنع أن يكون اللفظ صريحاً في موضوعه
Dan siapa yang berpendapat dengan pendapat ketiga, ia bersandar pada Al-Qur’an dan sebab turunnya, serta berkata bahwa yang dijadikan sandaran dalam pokok ini adalah kitab (Al-Qur’an), dan ayat tersebut turun berkaitan dengan perempuan budak, sedangkan perempuan merdeka disamakan dengan perempuan budak, maka tidak mustahil jika lafaz tersebut secara tegas menunjukkan makna yang dimaksud.
ثم مذهب الشافعي أن التحريم حيث يوجب الكفارة لا يتنزّل منزلة اليمين حتى يقال يتوقف وجوب الكفارة على مخالفة التحريم بالإقدام والاستمتاع وأبو حنيفة جعل لفظ التحريم يميناً بمثابة قوله والله لا أطؤك ثم أقامه إيلاءً في النكاح وحلفاً في ملك اليمين ثم لم يخصص أصله بالفروج بل قضى بأن تحريم الأطعمة والأشربة وغيرها من المستحلاّت بمثابة اليمين المعقودة على الامتناع منها فإن خالف اليمين وجبت الكفارة
Menurut mazhab Syafi‘i, pengharaman (taḥrīm) yang mewajibkan kafarat tidak dianggap setara dengan sumpah (yamin), sehingga tidak dikatakan bahwa kewajiban kafarat bergantung pada pelanggaran pengharaman itu dengan melakukan atau menikmati (hal yang diharamkan). Sedangkan Abu Hanifah menganggap lafaz pengharaman sebagai sumpah, seperti ucapan “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” kemudian menjadikannya sebagai ila’ dalam pernikahan dan sumpah dalam kepemilikan budak. Ia juga tidak membatasi asal hukumnya hanya pada masalah farj (kemaluan), melainkan memutuskan bahwa pengharaman makanan, minuman, dan hal-hal halal lainnya diperlakukan seperti sumpah yang diikrarkan untuk meninggalkannya. Maka jika sumpah itu dilanggar, wajib membayar kafarat.
وما ذكرناه من اقتضاء التحريم الكفارةَ يختص بفرج الحرّة والأمة ولا يتعداهما إلى ما عداهما من المستحلات وسنذكر حقيقة هذا في أول كتاب الأَيْمان إن شاء الله
Apa yang telah kami sebutkan mengenai keharusan membayar kafarat akibat pelarangan (jima‘ di siang hari Ramadan) khusus berlaku pada kemaluan perempuan merdeka dan budak perempuan, dan tidak berlaku pada selain keduanya dari wanita-wanita yang halal. Kami akan menjelaskan hakikat hal ini pada awal Kitab al-Aiman, insya Allah.
ولو قال لزوجته أو أمته أنت عليّ حرام ثم زعم أنه أراد الحلف على الامتناع من الوطء ففي قبول ذلك منه وجهان أحدهما أن اليمين لا تنعقد وهو الذي صححه أئمة المذهب فإن عماد اليمين ذكرُ اسمٍ معظَّم أُمرنا بالإقسام به إذا أردنا القسم ولفظ التحريم ليس صريحاً فيه ولا كناية وإنما لفظ التحريم ذكر المقسَم فأين القسم والاسم المقسَم به
Jika seseorang berkata kepada istrinya atau budaknya, “Engkau haram atasku,” lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah bersumpah untuk menahan diri dari berhubungan badan, maka ada dua pendapat mengenai diterimanya pengakuan tersebut. Salah satunya adalah sumpah itu tidak sah, dan inilah yang dianggap benar oleh para imam mazhab. Sebab, inti dari sumpah adalah menyebut nama yang diagungkan, yang kita diperintahkan untuk bersumpah dengannya jika ingin bersumpah, sedangkan lafaz pengharaman bukanlah lafaz yang jelas maupun kiasan untuk itu. Lafaz pengharaman hanyalah menyebut sesuatu yang dijadikan objek sumpah, lalu di mana letak sumpah dan nama yang dijadikan objek sumpah?
ومن أصحابنا من قال يثبت القسم إذا نواه فإن موجب القسم عند الحنث يضاهي موجب التحريم وقد قال أهل اللسان قول القائل لأدخلنّ الدار قسمٌ واللام لام قسم فليس يبعد تحصيل اليمين بالنية إذا جرى مقصود اليمين بعبارة مؤكدة
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa sumpah dapat berlaku jika diniatkan, karena konsekuensi sumpah ketika dilanggar menyerupai konsekuensi pengharaman. Para ahli bahasa juga mengatakan bahwa ucapan seseorang “Sungguh aku akan masuk ke rumah” adalah sumpah, dan huruf lam di situ adalah lam sumpah. Maka tidaklah jauh kemungkinan terwujudnya sumpah dengan niat, apabila maksud sumpah itu dinyatakan dengan ungkapan yang menguatkan.
وهذا غير مرضي فإنا لا نعرف خلافاً أن الرّجل إذا قال لأدخلن الدار ونوى القسم لم يكن مقسماً وأحكام الشرع لا تؤخذ من تقديرات العربية واليمينُ منها منوطةٌ تعبداً باسم الله أو بذكر صفةٍ من صفاته الأزلية
Hal ini tidak dapat diterima, karena kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Aku pasti akan masuk rumah,” dan ia berniat sumpah, maka ia tidak dianggap bersumpah. Hukum-hukum syariat tidak diambil dari penafsiran bahasa Arab, dan sumpah dalam syariat terikat secara ibadah dengan menyebut nama Allah atau salah satu sifat-Nya yang azali.
ثم من جعل التحريم بالنية يميناً تردَّدُوا في لفظ التحريم في سائر المستحلاّت كالمطاعم والملابس وما في معناها فقال القيّاسون من هؤلاء المفرّعين التحريم يصير يميناً بالنية في جميع هذه الأشياء
Kemudian, di antara mereka yang menjadikan pengharaman dengan niat sebagai sumpah, terdapat perbedaan pendapat mengenai lafaz pengharaman pada seluruh hal yang halal seperti makanan, pakaian, dan hal-hal yang serupa. Maka para ahli qiyās dari kalangan para mufarri‘in ini berpendapat bahwa pengharaman menjadi sumpah dengan niat pada semua hal tersebut.
وقال آخرون التحريم إنما يصير يميناً في المنكوحات والإماء
Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengharaman itu baru menjadi sumpah jika terkait dengan istri-istri dan budak perempuan.
ومما يجب الإحاطة به أن هذا الخلاف الذي ذكرناه آخراً إنما نشأ من لفظة الشافعي وهي أنه قال إذا حرم زوجته يقال له أصب وكفّر فظن ظانون أنه رضي الله عنه أوجب الكفارة بالإصابة على تقدير اليمين وليس الأمر كذلك بل أراد أن التحريم لا يحرّم وطأها بخلاف الظهار فإنه يثبت تحريماً ممدوداً إلى التكفير فأبان الشافعي أن التحريم لا يوجب حجراً أو حظراً في الوطء
Hal yang juga perlu diketahui adalah bahwa perbedaan pendapat yang kami sebutkan terakhir ini sebenarnya muncul dari ungkapan asy-Syafi‘i, yaitu ketika beliau berkata: “Jika seseorang mengharamkan istrinya, dikatakan kepadanya: lakukan hubungan dan bayarlah kafarat.” Maka sebagian orang mengira bahwa beliau—semoga Allah meridhainya—mewajibkan kafarat jika melakukan hubungan atas dasar sumpah, padahal kenyataannya tidak demikian. Yang beliau maksudkan adalah bahwa pengharaman tersebut tidak menjadikan hubungan suami istri menjadi haram, berbeda dengan zhihar yang menetapkan keharaman sampai dilakukan kafarat. Dengan demikian, asy-Syafi‘i menjelaskan bahwa pengharaman tidak menyebabkan larangan atau pembatasan dalam berhubungan suami istri.
فإن قيل هلا كان التحريم كالظهار قلنا لو كان كالظهار لكان ظهاراً فهو إذاً لا يقتضي التحريم ولكن يقتضي وجوب الكفارة وهو نازع من وجهٍ إلى اليمين وليس يميناً ويشبه في ظاهره الظهارَ وليس ظهاراً ولا في معناه
Jika dikatakan, “Mengapa pengharaman itu tidak seperti zhihār?” Kami jawab, “Seandainya pengharaman itu seperti zhihār, tentu ia menjadi zhihār. Maka, pengharaman itu tidak menuntut keharaman, tetapi mewajibkan pembayaran kafārah. Ia dari satu sisi mirip dengan sumpah, namun bukan sumpah. Secara lahiriah ia menyerupai zhihār, tetapi bukan zhihār dan tidak pula dalam maknanya.”
ولو قال لنسوة حرمتكن وقصد تحريم أنفسهن فيلزمه كفارة واحدة أم كفارات بعددهن فعلى قولين ذكرهما صاحب التقريب والقاضي وكان شيخي وطوائف من أئمة المذهب يقطعون بأن الكفارة تتّحد فمن ذكر القولين قرّب التحريم المضاف إلى النسوة في هذا المقام من الظهار فلو قال الزوج لنسوةٍ أنتنّ عليّ كظهر أمّي ففي تعدد الكفارة قولان سيأتي ذكرهما
Jika seseorang berkata kepada beberapa wanita, “Aku haramkan kalian,” dan ia bermaksud mengharamkan diri mereka, maka apakah ia wajib membayar satu kafarat saja ataukah kafarat sebanyak jumlah mereka? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib dan al-Qadhi. Guru saya dan sekelompok ulama mazhab secara tegas berpendapat bahwa kafaratnya cukup satu saja. Adapun mereka yang menyebutkan dua pendapat, mereka mendekatkan kasus pengharaman yang diarahkan kepada para wanita ini dengan kasus zhihar. Maka, jika seorang suami berkata kepada beberapa wanita, “Kalian bagiku seperti punggung ibuku,” dalam hal kewajiban membayar kafarat, terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti.
ومن قطع باتحاد الكفارة فوجهه أن الظهار يُثبت التحريم في النسوة ويشابه الطلاق من هذا الوجه والتحريم لا يثبت في ذواتهن ويشابه اليمين من هذا الوجه ويشابهها أيضاً في صفة الكفارة
Adapun pendapat yang menegaskan kesatuan kafarat, alasannya adalah bahwa zhihar menetapkan keharaman terhadap para istri dan dalam hal ini serupa dengan talak, karena keharaman tidak menetap pada zat mereka, sehingga dalam hal ini serupa dengan sumpah, dan juga serupa dengannya dalam sifat kafarat.
ومن سلك طريقة القولين قال وجوب الكفارة في التحريم لا يتوقف على المخالفة فكان حريّاً بأن يشبّه بالظهار ولو خاطب إماء وحرمهن بكلمة فهو كما لو حرّم نسوة بكلمة
Dan barang siapa yang mengikuti metode dua pendapat mengatakan bahwa kewajiban kafarat dalam pengharaman tidak bergantung pada terjadinya pelanggaran, maka hal itu lebih layak untuk diserupakan dengan zhihār. Bahkan jika seseorang berbicara kepada budak-budak perempuan dan mengharamkan mereka dengan satu kata, maka hukumnya sama seperti jika ia mengharamkan beberapa perempuan dengan satu kata.
ثم إن قضينا باتحاد الكفارة إذا خاطب النسوة أو خاطب الإماء فلو قال لنسوته وإمائه أنتن محرمات عليّ أو حرمتكن فمن أصحابنا من قال لا تجب إلا كفارة واحدة تفريعاً على اتحاد الكفارات إذا خاطب نسوةً مجردات أو إماء منفردات وهذا ظاهر القياس
Kemudian, jika kami memutuskan bahwa kafarat itu satu apabila ia berbicara kepada para istri atau kepada para budak perempuan, maka jika ia berkata kepada istri-istrinya dan budak-budak perempuannya, “Kalian haram atas diriku” atau “Aku haramkan kalian,” sebagian ulama kami berpendapat bahwa tidak wajib kecuali satu kafarat saja, sebagai cabang dari penyatuan kafarat apabila ia berbicara kepada beberapa istri saja atau beberapa budak perempuan saja, dan ini adalah pendapat yang jelas menurut qiyās.
ومن أصحابنا من قال هاهنا تتعدد الكفارة لتعدد الجهة نكاحاً وملكاً
Dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa dalam hal ini kafarat menjadi berbilang karena berbilangnya sebab, yaitu sebab pernikahan dan sebab kepemilikan.
وهذا خيالٌ لا أصل له وإن كان مشهوراً حكاه الصيدلاني وغيره ثم صاحب الوجه الضعيف حيث انتهى التفريع إليه لا يوجب إلا كفارتين نظراً إلى تعدد الملك والنكاح وهذا كلام مضطرب والوجه تنشئة الخلاف من عدد المحرمات منكوحات كنّ أو إماء أو مختلطات
Ini adalah khayalan yang tidak berdasar meskipun terkenal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh As-Saidalani dan yang lainnya. Kemudian, pemilik pendapat yang lemah, ketika sampai pada cabang masalah ini, hanya mewajibkan dua kafarat dengan mempertimbangkan adanya dua kepemilikan dan dua pernikahan. Ini adalah pendapat yang rancu, dan yang tepat adalah memunculkan perbedaan pendapat berdasarkan jumlah perempuan yang diharamkan, baik mereka adalah istri, budak perempuan, atau campuran keduanya.
وكل ما ذكرناه مفروض فيه إذا لم يكن لفظ التحريم صريحاً في الطلاق
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila lafaz pengharaman tersebut tidak secara tegas menyatakan talak.
فإن كان صريحاً في الطلاق لاستفاضته وشيوعه وتفريعنا على أن مأخذ الصرائح الشيوع فإذا أطلق التحريم فهذا نفرّعه على أن التحريم في اقتضاء الكفارة صريح أم كناية وتحقيق القول فيه أنا إن حكمنا بأن مأخذ الصرائح الشيوع فلا يتصور كون لفظ التحريم صريحاً في البابين فإن المعنيّ بالشيوع أن لا يستعمل في اطراد العادة إلا في معنىً ولا يقع الحكم للفظ بكونه صريحاً إلا بشرطين أحدهما الاستفاضة والآخر أن لا يستعمل إلا في معنى المطلوب
Jika suatu lafaz merupakan sharih (tegas) dalam talak karena telah tersebar luas dan menjadi kebiasaan, serta kami mendasarkan pendapat bahwa dasar lafaz sharih adalah karena penyebarannya, maka apabila lafaz “pengharaman” (at-tahrīm) diucapkan secara mutlak, hal ini kami kembalikan pada persoalan apakah pengharaman dalam penetapan kewajiban kafarat itu termasuk sharih atau kināyah. Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah: jika kita memutuskan bahwa dasar lafaz sharih adalah penyebarannya, maka tidak mungkin lafaz “pengharaman” dianggap sharih dalam kedua permasalahan tersebut. Sebab, yang dimaksud dengan penyebaran adalah bahwa lafaz itu tidak digunakan dalam kebiasaan yang berlaku kecuali untuk satu makna saja, dan suatu lafaz tidak dapat dihukumi sebagai sharih kecuali dengan dua syarat: pertama, telah tersebar luas, dan kedua, tidak digunakan kecuali untuk makna yang dimaksud.
وإذا بان أنا نضم إلى الشيوع الحصر فلا يتصور أن يشيع لفظ على الحد الذي ذكرناه في معنيين مع اتحاد الزمان والمكان وهذا بمثابة إطلاق الغلبة في النقود فالغالب هو الذي يندر التعامل على غيره ويستحيل تقدير الغلبة في نوعين فإنّ قصارى هذا التقدير يجرّ تناقضاً وهو أن كل واحدٍ منهما أغلب من الثاني فيلزم منه إثبات شيئين كلّ واحدٍ أغلب مما هو أغلب منه فإذا شاع اللفظ في مسألتنا في أحد المعنيين كان صريحاً فيه كناية في الثاني
Jika telah jelas bahwa kita mengaitkan penyebaran (lafaz) dengan pembatasan, maka tidak mungkin suatu lafaz tersebar pada dua makna sekaligus dalam satu waktu dan tempat yang sama, sebagaimana penggunaan istilah “ghalabah” (yang dominan) dalam mata uang; yang dominan adalah yang jarang digunakan selainnya, dan mustahil memperkirakan dominasi pada dua jenis sekaligus, karena puncak dari perkiraan ini akan menimbulkan kontradiksi, yaitu bahwa masing-masing dari keduanya lebih dominan dari yang lain, sehingga mengharuskan penetapan dua hal yang masing-masing lebih dominan dari yang lebih dominan darinya. Maka jika suatu lafaz tersebar dalam salah satu dari dua makna dalam permasalahan kita, lafaz itu menjadi sharih (jelas) pada makna tersebut dan menjadi kinayah (kiasan) pada makna yang kedua.
وإن جوزنا أن يكون للصريح مأخذان أحدهما ورود الشرع والآخر الشيوع على النعت المقدّم واعتمادُ الشرع في باب الصرائح يشهد له نصُّ الشافعي على أن الفراق والسراح صريحان وإن عرفنا قطعاً أنهما ما شاعا شيوعاً يتميزان به عن الخليّة والبريّة والبائن
Jika kita membolehkan bahwa untuk lafaz sharih (eksplisit) terdapat dua sumber, yaitu datangnya syariat dan yang lain adalah tersebarnya penggunaan secara umum dengan sifat yang telah disebutkan sebelumnya, maka dasar syariat dalam bab lafaz sharih didukung oleh nash Imam Syafi‘i bahwa lafaz al-firaq dan as-sarah adalah sharih, meskipun kita mengetahui secara pasti bahwa keduanya tidak tersebar secara umum sehingga dapat dibedakan dari lafaz al-khaliyah, al-bariyyah, dan al-bain.
فلو فرض شيوع التحريم في الطلاق وفرعنا على أن الصرائح تؤخذ من مأخذ الشرع أيضاً فهل ينتهي التفريع إلى كون التحريم صريحاًً في البابين وكيف السبيل في ذلك هذا فيه نظر يجب الاهتمام به ولا يتجه فيه إن أثبتنا المأخذين إلا أمران أحدهما أن نسلك مسلك التغليب إذا جرى اللفظ مطلقاً ونعتقد أن الطلاق أغلب مثلاً لوجوه لا تكاد تخفى واللفظ يطابق المعنى إذا كان طلاقاً فإن الطلاق يحرم النفس والتحريمُ الموجب للكفارة لا يحرم النفس هذا مسلكٌ
Jika kita andaikan bahwa penggunaan kata “pengharaman” (taḥrīm) telah umum dalam konteks talak, dan kita berasumsi bahwa lafaz-lafaz sharih (eksplisit) juga diambil dari sumber syariat, maka apakah hasil dari cabang pembahasan ini adalah bahwa lafaz “pengharaman” menjadi sharih dalam kedua bab tersebut (talak dan pengharaman)? Bagaimana cara menentukannya? Ini adalah persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Jika kita menetapkan kedua sumber tersebut, maka tidak ada kemungkinan lain kecuali dua hal: Pertama, kita menempuh metode taghlīb (mengunggulkan salah satu makna) ketika lafaz itu digunakan secara mutlak, dan kita meyakini bahwa talak lebih dominan, misalnya, karena beberapa alasan yang hampir tidak tersembunyi. Lafaz itu sesuai dengan maknanya jika yang dimaksud adalah talak, sebab talak mengharamkan hubungan suami-istri, sedangkan pengharaman yang mewajibkan kafarat tidak mengharamkan hubungan itu sendiri. Inilah salah satu pendekatan.
وإن انقدح للفقيه استواء الوجهين فلا مطمع في تحصيل معنيين بلفظ واحدٍ هذا ما لا سبيل إليه وإن جرّد القاصد قصده إليهما جميعاًً لأن اللفظ الواحد لا يصلح لمعنيين جميعاً إذا لم يوضع في وضع اللسان للجمع فلا يتجه إذاً إن لم ينقدح وجهٌ في الترجيح إلا أنه يخرج عن كونه صريحاًً في البابين جميعاًً لتعارض العرف والشرع واستحالة الجمع وامتناع تخصيص أحد الجانبين فلا يعمل اللفظ إذاً في أحد المعنيين إلا بالقصد
Jika seorang faqih mendapati bahwa dua makna itu sama kuatnya, maka tidak mungkin memperoleh dua makna sekaligus dari satu lafaz; hal ini mustahil dilakukan, meskipun orang yang bermaksud telah meniatkan keduanya sekaligus. Sebab, satu lafaz tidak dapat digunakan untuk dua makna sekaligus jika dalam kebiasaan bahasa tidak diperuntukkan bagi keduanya. Maka, jika tidak ada kecenderungan pada salah satu makna, lafaz tersebut tidak dapat dianggap sebagai lafaz sharih untuk kedua makna itu sekaligus, karena adanya pertentangan antara ‘urf dan syariat, serta mustahilnya menggabungkan keduanya dan tidak mungkinnya mengkhususkan salah satu sisi. Maka, lafaz itu tidak dapat digunakan untuk salah satu makna kecuali dengan niat.
هذا منتهى النظر
Inilah akhir dari pembahasan.
ومن لطيف الكلام في هذا أن الصريح الذي هو على الدّرجة العليا
Dan termasuk ungkapan yang indah dalam hal ini adalah bahwa lafaz sharih (eksplisit) yang berada pada tingkatan tertinggi.
كالطلاق فإنه لا يُعدَل عن ظاهره إلا على مسلك التديين ويلتحق الظهار به أيضاً لاستوائهما في الجريان في الجاهلية والإسلام وكل ما يلتحق بالصرائح لعموم عرفٍ متجدّدٍ فالعرف لا ثبات له فقد يعرض استعقاب العرف عرفاً آخر وقد مهدنا في قاعدة الصرائح أن من الألفاظ ما يعمل مطلَقُه وتنصرف النية فيه وهذا من ذاك فالتحريم إذا شاع على الحدّ الذي نعهده فلا يكاد يبلغ مبلغ شيوع الطلاق في كل زمانٍ ومكانٍ ولا يعد مستعمل التحريم في غير مقصود الطلاق آتياَّ بَشاذًّ نادرٍ بخلاف من يستعمل الطلاق ويبغي غير معناه ومن أحاط بهذه المرتبة من الصرائح بنى عليه ما ذكرناه من أن التحريم وإن كان صريحاً في اقتضاء الكفارة فيصير طلاقاً بالنية
Seperti halnya talak, maka tidak boleh dialihkan dari makna zahirnya kecuali menurut pendekatan tadyin, dan zhihar juga disamakan dengannya karena keduanya berlaku baik pada masa jahiliah maupun Islam. Segala sesuatu yang disamakan dengan lafaz sharih karena adanya ‘urf baru yang umum, maka ‘urf itu tidak tetap, sebab bisa saja setelah suatu ‘urf muncul, muncul pula ‘urf lain yang menggantikannya. Kami telah menjelaskan dalam kaidah tentang lafaz sharih bahwa ada sebagian lafaz yang maknanya berlaku secara mutlak dan niat di dalamnya dapat berpengaruh, dan ini termasuk dalam kategori tersebut. Maka, pengharaman (tahrim) jika telah tersebar luas sebagaimana yang kita kenal, tidak akan mencapai tingkat penyebaran talak di setiap waktu dan tempat. Pengguna tahrim untuk maksud selain talak tidak dianggap melakukan sesuatu yang ganjil atau langka, berbeda dengan orang yang menggunakan lafaz talak namun menginginkan makna selain talak. Barang siapa memahami tingkatan lafaz sharih ini, maka ia dapat membangun apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa tahrim meskipun secara sharih menuntut adanya kafarat, dapat menjadi talak jika disertai niat.
هذا تحصيل القول في ذلك وتبليغه المرتبة الأقصى في البيان
Inilah rangkuman pembahasan mengenai hal itu dan penyampaiannya pada tingkat penjelasan yang paling sempurna.
ومما يتعلق بتمام الكلام في فصل التحريم أنه لو قال لأمته التي هي أخته من الرضاع أو النسب حرّمتك أو أنت عليّ حرام وزعم أنه أراد تحريمها في ذاتها فلا تلزمه بهذا القول كفارةٌ لأنه وصفها بما هي متصفة به من التحريم وإنما يُلزم لفظُ التحريم الكفارةَ إذا خاطب به مستحلّه فيناقض لفظُه موجَبَ الشرع فيعدّ ما جاء به كلاماً مخالفاً للشرع ثم تعبّد الشرعُ فيه بكفارة
Terkait dengan penyempurnaan pembahasan dalam bab pengharaman, jika seseorang berkata kepada budak perempuannya yang merupakan saudara perempuannya karena hubungan susu (radha‘) atau nasab, “Aku haramkan kamu” atau “Kamu haram atasku”, lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah mengharamkan dirinya sendiri terhadap budak tersebut, maka dengan ucapan itu tidak wajib baginya membayar kafarat. Sebab, ia hanya menyifati budak tersebut dengan sesuatu yang memang sudah menjadi sifatnya, yaitu keharaman. Lafaz pengharaman baru mewajibkan kafarat jika ditujukan kepada sesuatu yang halal, sehingga ucapannya bertentangan dengan ketentuan syariat, dan apa yang ia ucapkan dianggap sebagai perkataan yang menyelisihi syariat, lalu syariat mewajibkan kafarat atasnya.
وإذا قال لأمته المعتدة أو المرتدة أو المزوّجة أو الوثنية أو المجوسية أنت عليّ حرام وأراد تحريمها في ذاتها ففي المسألة وجهان أحدهما أنه لايلزمه شيء لأنه وصفها بالتحريم في حالةٍ كانت فيها محرّمة فلا تناقض ولا حلف والثاني يلزمه لأنها بمحل أن يستبيحها بتغاييرَ تلحق
Jika seseorang berkata kepada budak perempuannya yang sedang menjalani masa ‘iddah, atau yang murtad, atau yang sudah bersuami, atau yang beragama penyembah berhala, atau Majusi, “Engkau haram atasku,” dan ia bermaksud mengharamkannya pada dirinya sendiri, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, ia tidak wajib apa-apa karena ia menyifatinya dengan keharaman pada keadaan di mana ia memang sudah haram baginya, sehingga tidak ada pertentangan dan tidak pula sumpah. Pendapat kedua, ia tetap wajib (menanggung akibatnya) karena ia berada pada posisi yang memungkinkan untuk menghalalkannya dengan adanya perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.
وإذا خاطب بالتحريم امرأته المُحْرِمة ففيه وجهان كما ذكرناه
Jika seseorang mengucapkan larangan kepada istrinya yang sedang ihram, maka terdapat dua pendapat dalam hal ini sebagaimana telah kami sebutkan.
وأطبق المحققون على أنه لو خاطب الرجعية لم يلتزم شيئاً لأنها مُحرَّمة خالية عن الحلّ وفيها احتمال من طريق المعنى وإن لم نجد فيه نقلاً
Para ulama muhaqqiq sepakat bahwa jika seseorang berbicara kepada wanita yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah, maka ia tidak terikat apa pun, karena wanita tersebut masih haram dinikahi dan belum halal baginya, meskipun secara makna terdapat kemungkinan, walaupun kita tidak menemukan dalil yang menukilnya.
وإذا خاطب بالتحريم الصائمة والحائض التزم الكفارة فإن تلك العوارض لا حكم لها والتحريم لا يعم أيضاً جميع وجوه الاستمتاع ولفظ التحريم عام من جهة الوضع
Jika seseorang mengucapkan lafaz pengharaman kepada istri yang sedang berpuasa atau haid, maka ia tetap wajib membayar kafarat, karena keadaan-keadaan tersebut tidak berpengaruh hukum. Pengharaman juga tidak mencakup seluruh bentuk istimta‘, dan lafaz pengharaman itu bersifat umum dari segi bahasa.
فإذا قال لامرأته أنت عليّ كالميْتة أو الدم أو الخمر أو الخنزير فهو كما لو خاطبها بلفظ التحريم ويمكن أن يقال إن جعلنا التحريم صريحاً لمورد القرآن فهذه الألفاظ لا تكون صرائح والعلم عند الله وقد انتجز قولنا في قاعدة التحريم
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti mayat, atau darah, atau khamar, atau babi,” maka hal itu sama seperti jika ia mengucapkan lafaz pengharaman. Dan bisa dikatakan, jika kita menjadikan pengharaman itu sebagai lafaz sharih (tegas) sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, maka ungkapan-ungkapan ini tidak termasuk lafaz sharih. Dan Allah-lah yang lebih mengetahui. Dengan demikian, telah selesai penjelasan kami tentang kaidah pengharaman.
فصل قال فأما ما لا يشبه الطلاق مثل قوله بارك الله فيك إلى آخره
Bagian: Ia berkata, adapun ucapan yang tidak menyerupai talak, seperti ucapannya “semoga Allah memberkahimu” dan seterusnya.
غرض الفصل أنّ شرط ما يوصف بكونه كناية أن يكون مشعراً بالمقصود ثم إن ظهر إشعاره لم يخف كونه كنايةً وإن خفي فقد يُثيرُ خفاؤهُ خلافاً فلو قال لامرأته تجرّعي أو تردّدي أو ذوقي فهذه الألفاظ كنايات فإنها من طريق الاستعارة تشعر بالفراق ولو قال اشربي وزعم أنه نوى الطلاق فوجهان قدمنا ذكرهما ومن جعله كناية قدّر فيه اشربي كأس الفراق
Tujuan dari bab ini adalah bahwa syarat sesuatu yang disebut sebagai kinayah adalah harus memberikan isyarat kepada maksud yang dimaksudkan. Kemudian, jika isyaratnya tampak jelas, maka tidak diragukan lagi bahwa itu adalah kinayah. Namun jika isyaratnya samar, maka samarannya itu bisa menimbulkan perbedaan pendapat. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Teguklah,” atau “Berulang-ulanglah,” atau “Rasakanlah,” maka kata-kata ini adalah kinayah, karena melalui majas, kata-kata tersebut memberikan isyarat kepada perpisahan. Namun jika ia berkata, “Minumlah,” dan mengaku bahwa ia berniat talak, maka ada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan siapa yang menganggapnya sebagai kinayah, maka ia menafsirkan maksudnya dengan “Minumlah cawan perpisahan.”
وكان شيخي يقطع بأن قوله كلي ليس بكنايةٍ وألحق القاضي والعراقيون كلي بقولهِ اشربي وهذا فيه بعد ولو قال بارك الله فيك أو اسقيني أو أطعميني أو ردّديني أو ما أشبه ذاك فليس بطلاق لأن هذه الألفاظ غيرُ مشعرةٍ بالفراق
Dan guruku menegaskan bahwa ucapannya “kulli” (makanlah) bukanlah kinayah, sedangkan al-Qadhi dan para ulama Irak menganggap “kulli” sama dengan ucapannya “ishrabi” (minumlah), namun pendapat ini jauh (dari kebenaran). Jika seseorang berkata, “Semoga Allah memberkahimu,” atau “berilah aku minum,” atau “berilah aku makan,” atau “kembalikan aku,” atau ucapan lain yang serupa, maka itu bukanlah talak, karena lafaz-lafaz tersebut tidak menunjukkan makna perpisahan.
وإن حملها حامل على معنىً بعيد عُدَّ متكلفاً آتياً بما يلتحق بقسم التعقيد والإلغاز
Dan jika seseorang menafsirkan kata-kata tersebut dengan makna yang jauh, maka ia dianggap memaksakan diri dan melakukan sesuatu yang termasuk dalam kategori kerumitan dan teka-teki.
ولو قال أغناكِ الله ونوى الطلاق فقد ذكر العراقيون وجهين ومأخذ أحدهما من قوله عزّ وجل وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ فكأنَّه قال لها فارقيني يغنك الله وهذا بعيد ولا يجوز أن يحمل على ذلك قوله بارك الله فيكِ وإن أمكن على بعدٍ أن يقول أردت أغناك الله فلا تنتهي التقديرات في الكنايات إلى هذا المنتهى
Jika seseorang berkata, “Semoga Allah memberimu kecukupan,” dan ia berniat untuk menceraikan, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat. Dasar salah satunya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan jika keduanya berpisah, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan-Nya,” sehingga seolah-olah ia berkata kepada istrinya, “Berpisahlah dariku, semoga Allah memberimu kecukupan.” Namun, ini adalah pendapat yang lemah, dan tidak boleh ucapan seperti itu dibawa kepada makna tersebut. Demikian pula jika ia berkata, “Semoga Allah memberkahimu,” meskipun secara jauh mungkin saja ia berkata, “Aku bermaksud semoga Allah memberimu kecukupan,” namun penafsiran-penafsiran dalam lafaz kinayah tidak boleh diperluas hingga sejauh ini.
فليقس القائس على محل الوفاق والخلاف ما لم نذكره
Maka hendaklah orang yang melakukan qiyās mengqiyaskan perkara yang belum kami sebutkan kepada perkara yang telah disepakati maupun yang diperselisihkan.
فصل ثم قال الشافعي ولو قال للتي لم يدخل بها أنت طالق ثلاثاًً للسُّنة وقعن معاً إلى آخره
Kemudian Imam Syafi‘i berkata: “Seandainya seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, ‘Engkau aku talak tiga sesuai sunnah,’ maka talak itu jatuh sekaligus.”
مقصود الفصل أن الرجل إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق ثلاثاً وقعت الثلاث عند الشافعي وأصحابه وهو مذهب عامة العلماء
Maksud dari bab ini adalah bahwa apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau tertalak tiga,” maka jatuhlah talak tiga menurut Imam Syafi‘i dan para pengikutnya, dan ini juga merupakan mazhab mayoritas ulama.
وذهب بعض السلف إلى أنه لا يقع إلا واحدة وهذا إنما قاله بسبب أن قول الرجل أنت طالق مستقلٌّ بنفسه فينبغي أن تبين المرأة به فإذا بانت لم يلحقها إلا واحدة ومعتمد مذاهب العلماء أنّ آخر الكلام منعطفٌ على أوّله كما أنّ أوّله مربوط بآخره وقوله ثلاثاً من تمام قوله طالق
Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa talak itu hanya jatuh satu kali saja, dan pendapat ini dikemukakan karena ucapan seorang laki-laki “engkau tertalak” sudah berdiri sendiri, sehingga seharusnya perempuan itu menjadi tercerai karenanya. Jika perempuan itu telah tercerai, maka tidak berlaku lagi kecuali satu talak saja. Namun, dasar pendapat para ulama adalah bahwa akhir ucapan itu kembali kepada awalnya, sebagaimana awalnya juga berkaitan dengan akhirnya, dan ucapan “tiga kali” merupakan penyempurna dari ucapan “tertalak”.
ولو قال للّتي لم يدخل بها أنت طالق وطالق بانت بالأولى ولم تلحقها الثانية وستأتي هذه المسائل بما فيها موضحة إن شاء الله تعالى
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau talak, dan talak,” maka ia telah tercerai dengan talak yang pertama dan talak yang kedua tidak menyusulnya. Masalah-masalah ini beserta rinciannya akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.
باب الطلاق بالوقت وطلاق المكره
Bab Talak dengan Penetapan Waktu dan Talak Orang yang Dipaksa
قال الشافعي وأي أجلٍ طلّق إليه لم يلزمه قبل وقته إلى آخره
Syafi‘i berkata: Setiap talak yang dijatuhkan dengan batas waktu tertentu, maka talak itu tidak berlaku sebelum waktunya sampai batas akhirnya.
إذا علق الرجل طلاق زوجته بأمرٍ في الاستقبال تعلّق به ولم يقع قبل تحققه ولا فرق بين أن يكون ما علّق الطلاقَ به مما يأتي لا محالة وبين أن يكون الظن متردداً فيه قد يكون وقد لا يكون فإذا قال إن دخلت الدارَ فأنت طالق فهذا مما لا يقطع بكونه
Jika seorang laki-laki menggantungkan talak istrinya pada suatu perkara di masa yang akan datang, maka talak itu bergantung pada perkara tersebut dan tidak terjadi sebelum perkara itu terwujud. Tidak ada perbedaan apakah perkara yang dijadikan syarat talak itu pasti akan terjadi atau masih diragukan, bisa terjadi dan bisa juga tidak. Maka jika ia berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” ini termasuk perkara yang tidak dapat dipastikan terjadinya.
فإذا قال إذا طلع الشمس فأنتِ طالق فهذا مما يكون لا محالة والطلاق لا يقع في الموضعين قبل تحقق الصفة خلافاً لمالك فإنه قال إذا علق الزوج الطلاق بما يكون لا محالة انتجز الطلاق في الحال وإنما يقف وقوفه على وجود الصفة إذا لم تكن مستيقنة الكون قد تكون وقد لا تكون
Jika seseorang berkata, “Jika matahari terbit, maka engkau tertalak,” maka ini termasuk sesuatu yang pasti akan terjadi, dan talak tidak jatuh pada kedua keadaan tersebut sebelum terwujudnya sifat (yang disyaratkan). Berbeda dengan pendapat Malik, ia berpendapat bahwa jika suami menggantungkan talak pada sesuatu yang pasti terjadi, maka talak langsung jatuh saat itu juga. Adapun talak bergantung pada terwujudnya sifat jika sifat tersebut belum pasti terjadi, bisa jadi terjadi dan bisa jadi tidak.
ثم ذكر الشافعي مسائل في ذكر الأوقات التي تُفرض متعلقاً للطلاق والعتاق والغرض منها بيان معاني الألفاظ المستعملة فيها فقال لو قال في شهر كذا إلى آخره
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan beberapa permasalahan terkait penjelasan waktu-waktu yang dijadikan sebagai syarat dalam talak dan pembebasan budak, dan tujuan dari hal itu adalah untuk menjelaskan makna-makna lafaz yang digunakan di dalamnya. Ia berkata, “Jika seseorang berkata: ‘Pada bulan ini hingga akhirnya…’”
إذا قال الزوج لزوجته أنت طالق في أول شهر رمضان طلقت كما أهلّ الهلال
Jika suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak pada awal bulan Ramadan,” maka ia tertalak ketika hilal Ramadan terlihat.
ولو قال أنت طالق في شهر رمضان وقع الطلاق مع أوّل جزء منه وكذا إذا قال في أول شهر كذا أو في غرّة شهر كذا أو في أول غرة شهر كذا فالطلاق في هذه المسائل يقع مع أول جزء من الهلال والأصل المعتمد أن اسم الشهر إذا تحقق فقد تحققت الصفة التي هي متعلق الطلاق والطلاق ليس معلَّقاً بدوام الصفة ولا بنجازها فاقتضى ذلك الوقوع مع أول الاسم
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada bulan Ramadan,” maka talak jatuh pada bagian pertama dari bulan tersebut. Demikian pula jika ia berkata, “Pada awal bulan ini,” atau “Pada awal bulan itu,” atau “Pada awal hilal bulan itu,” maka talak dalam masalah-masalah ini jatuh pada bagian pertama dari munculnya hilal. Kaidah yang dijadikan pegangan adalah bahwa jika nama bulan telah terwujud, maka sifat yang menjadi sebab talak pun telah terwujud. Talak tidak digantungkan pada keberlangsungan sifat tersebut atau pada kesempurnaannya, sehingga hal itu mengharuskan jatuhnya talak bersamaan dengan awal penyebutan nama bulan.
ومن دقيق الكلام في هذا أنه قد يظن الظان أن الوقت ظرفٌ للطلاق وشرط الطلاق الواقع فيه أن يحتوش بزمان سابق وهذا تقدير محال فالمعنيّ بالظرف الزماني انطباق فعلٍ على زمان فأما اشتراط تقدم زمان أو تأخّر فلا
Salah satu pembahasan yang mendalam dalam hal ini adalah bahwa sebagian orang mungkin mengira bahwa waktu adalah wadah bagi talak, dan syarat talak yang terjadi di dalamnya adalah harus didahului oleh suatu masa sebelumnya. Namun, anggapan ini adalah sesuatu yang mustahil. Yang dimaksud dengan wadah waktu adalah terjadinya suatu perbuatan yang bertepatan dengan suatu waktu, adapun mensyaratkan adanya waktu yang mendahului atau mengakhirinya, maka tidak demikian.
وإذا قال أنت طالق في يوم كذا وقع الطلاق مع أول جزء من الفجر وقال أبو حنيفة يقف وقوع الطلاق على انتهاء ذلك اليوم بغروب الشمس وهذا بناه على أصلٍ له في العبادات وذلك أنه قال كل فعلٍ عُلِّق بوقتٍ موسّع تعلّق بانتهاء ذلك الوقت كمصيره إلى أن الصلاة تجب بآخر الوقت وهذا جهل بموضوع البابين أما الصلاة فإن ربط وجوبها بآخر الوقت أخذاً من أن المؤخِّر لا يعصي فهذا له وجهٌ على حال وفي معارضته كلامُ أصحابنا فأما مأخذ وقوع الطلاق المعلق فمِن تَحقُّق الصفة ولا وقوف بعد تحقق الصفة وليس هذا مأخوذاً من وجوبٍ حتى ينظرَ الناظرُ في إثبات المعصية ونفيها
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada hari ini,” maka talak jatuh pada bagian pertama dari waktu fajar. Abu Hanifah berpendapat bahwa jatuhnya talak bergantung pada berakhirnya hari itu, yaitu saat matahari terbenam. Pendapat ini didasarkan pada prinsip yang ia pegang dalam masalah ibadah, yaitu bahwa setiap perbuatan yang dikaitkan dengan waktu yang luas, maka pelaksanaannya dikaitkan dengan akhir waktu tersebut. Misalnya, menurutnya, kewajiban shalat itu terjadi di akhir waktunya. Namun, ini adalah kekeliruan dalam memahami pokok permasalahan kedua bab tersebut. Adapun shalat, mengaitkan kewajibannya dengan akhir waktu, dengan alasan bahwa orang yang menunda tidak berdosa, masih memiliki sisi argumentasi tertentu, meskipun ada pendapat berbeda dari para sahabat kami. Adapun dasar jatuhnya talak yang digantungkan pada waktu adalah karena telah terwujudnya sifat (syarat), dan tidak ada penundaan setelah sifat itu terwujud. Hal ini tidak diambil dari kewajiban, sehingga seseorang perlu meneliti apakah ada dosa atau tidak.
وإذا قال أنت طالق في آخر شهر رمضان ففي المسألة وجهان ذكرهما العراقيون أحدهما أنها تطلق في آخر جزء من آخر الشهر فإن ذلك الجزء هو الآخر حقاً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir bulan Ramadan,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Pendapat pertama, ia tertalak pada bagian terakhir dari akhir bulan tersebut, karena bagian itulah yang benar-benar disebut sebagai akhir.
والوجه الثاني أنها تطلق مع أول جزء من ليلة السادس عشر فإنه إذا مضى النصف الأول عُدَّ ما بعده آخراً وهذا أول الآخر وقد ذكرنا أن الطلاق يقع كما تحقق الاسم
Pendapat kedua adalah bahwa ia berlaku sejak bagian pertama malam keenam belas, karena apabila separuh pertama telah berlalu, maka apa yang setelahnya dianggap sebagai bagian akhir, dan ini adalah awal dari bagian akhir tersebut. Kami telah menyebutkan bahwa talak terjadi sebagaimana nama itu telah benar-benar berlaku.
وإذا قال أنت طالق في أول آخر الشهر ففي المسألة وجهان أحدهما أنها تطلق في أول ليلة السادس عشر فإنا أوضحنا أن النصف الأخير ينطلق عليه اسم الآخر والجزء الأول من النصف الثاني أول الآخر وهذا بناء على ما ذكرناه من أنه إذا قال أنت طالق في آخر الشهر يقع الطلاق في الجزء الأول من ليلة السادس عشر وأولُ الاَخِر والآخرُ بمثابة فإن الآخر وإن كان مطلقاً فنحن نكتفي بأوله
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada awal akhir bulan,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak jatuh pada malam pertama tanggal enam belas, karena kami telah menjelaskan bahwa separuh terakhir bulan dapat disebut sebagai “akhir”, dan bagian pertama dari separuh kedua adalah “awal akhir”. Ini didasarkan pada apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir bulan,” maka talak jatuh pada bagian pertama malam keenam belas, dan “awal akhir” serta “akhir” memiliki kedudukan yang sama. Meskipun kata “akhir” bersifat umum, kami menganggap cukup dengan bagian awalnya.
هذا أحد الوجهين
Ini adalah salah satu dari dua pendapat.
والوجه الثاني أن الطلاق يقع كما طلع الفجر من اليوم الأخير من الشهر وهذا بناء على قولنا إذا قال لامرأته أنت طالق آخر الشهر تطلق مع الجزء الأخير فإذا ضَمَّ إلى الآخر أوّلاً مضافاً إليه وقال أنت طالق في أول آخر الشهر طلبنا أقرب أولٍ إلى الآخر فوجدناه اليوم الأخير
Pendapat kedua adalah bahwa talak terjadi sebagaimana terbitnya fajar pada hari terakhir bulan, dan ini didasarkan pada pendapat kami bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak pada akhir bulan,” maka talak terjadi pada bagian terakhir bulan itu. Jika ia menggabungkan antara akhir dan awal yang disandarkan kepadanya, lalu berkata, “Engkau tertalak pada awal akhir bulan,” maka kami mencari awal yang paling dekat dengan akhir, dan kami dapati bahwa itu adalah hari terakhir.
والمسألة محتملة حسنة
Masalah ini memungkinkan dan baik.
ولو قال أنت طالق في آخر أول الشهر ففي المسألة أوجه ذكرها العراقيون وغيرهم أحدها أنها تطلّق مع آخر جزء من الليلة الأولى من الشهر فإن هذا أقرب زمان يضاف فيه الآخر إلى الأول
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir awal bulan,” maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak dan lainnya. Salah satunya adalah bahwa talak terjadi pada akhir bagian malam pertama bulan tersebut, karena itulah waktu terdekat di mana kata “akhir” dapat disandarkan pada “awal”.
والوجه الثاني أن الطلاق يقع مع آخر جزء من اليوم الأول فنعتبر الليلة واليوم في الأولية ثم نأخذ آخر هذا الزمان
Pendapat kedua adalah bahwa talak terjadi pada bagian terakhir dari hari pertama, maka kita memperhitungkan malam dan siang dalam hal permulaan, kemudian kita mengambil akhir dari waktu tersebut.
والوجه الثالث أنا نحكم بوقوع الطلاق مع آخر جزء من اليوم الخامس عشر فإن النصف الأول يعدّ أول الشهر وآخر هذا الأول ما ذكرناه
Alasan yang ketiga adalah bahwa kita menetapkan terjadinya talak pada bagian terakhir dari hari kelima belas, karena setengah pertama dianggap sebagai awal bulan, dan akhir dari setengah pertama itu adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.
ولو قال وهو في بياض نهار إذا مضى اليوم فأنت طالق طلقت بغروب شمس ذلك اليوم وإن لم يبق من اليوم إلا لحظة لأنه عَرَّف اليوم فاقتضى التعريف ما ذكرناه
Jika seseorang berkata saat masih siang hari, “Jika hari ini telah berlalu, maka engkau tertalak,” maka istrinya tertalak saat matahari terbenam pada hari itu, meskipun yang tersisa dari hari itu hanya sesaat, karena ia telah menentukan hari tersebut, sehingga penentuan itu menuntut apa yang telah kami sebutkan.
ولو قال والحالة هذه إذا مضى يومٌ فأنت طالق فلا يقع الطلاق حتى ينتهي في الغد إلى الوقت الذي عقد اليمين فيه لأنه نكّر اليوم فالاسم المنكر يقتضي مسمّى كاملاً وسبيلُ التكميل ما ذكرناه
Dan jika dalam keadaan seperti ini ia berkata, “Jika telah berlalu satu hari, maka engkau tertalak,” maka talak tidak jatuh hingga keesokan harinya pada waktu yang sama dengan waktu ia mengucapkan sumpah itu, karena ia menyebutkan “satu hari” secara nakirah (umum), sedangkan isim nakirah menuntut makna yang sempurna, dan cara penyempurnaannya adalah seperti yang telah kami sebutkan.
ولو قال بالليل إذا مضى يومٌ فأنت طالق فيقع الطلاق بغروب شمس الغد
Jika seseorang berkata pada malam hari, “Jika telah berlalu satu hari, maka engkau tertalak,” maka talak terjadi saat matahari terbenam keesokan harinya.
ثم لا يخفى أن الطلاق يقع مع الغروب وهو أول جزء من الليلة المستقبلة فلا يقع الطلاق مع آخر جزء من النهار فإن الطلاق معلق بمضي النهار
Kemudian, tidaklah tersembunyi bahwa talak terjadi saat matahari terbenam, yaitu pada bagian pertama dari malam yang akan datang, sehingga talak tidak terjadi pada bagian terakhir dari siang hari, karena talak digantungkan pada berlalunya siang hari.
ولو قال أنت طالق في سَلْخ شهر رمضان ففي ذلك أوجه قال العراقيون يقع الطلاق مع آخر جزء من الشهر إذ به الانسلاخ
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir bulan Ramadan,” maka dalam hal ini terdapat beberapa pendapat. Para ulama Irak berpendapat bahwa talak jatuh pada bagian terakhir dari bulan tersebut, karena pada saat itulah terjadi akhir bulan (insilākh).
وقال قائلون يقع الطلاق كما يطلع الفجر من اليوم الأخير وهذا ما ذكره القاضي
Sebagian ulama berpendapat bahwa talak jatuh sebagaimana terbitnya fajar pada hari terakhir, dan inilah yang disebutkan oleh al-qāḍī.
ويحتمل أن يقال يقع الطلاق مع أول جزء من اليوم الذي يبقى معه ثلاثة أيام إلى آخر الشهر فإن السلخ يطلق على الثلاثة من آخر الشهر كما أن الغُرة تطلق على الثلاثة من أول الشهر
Dan mungkin dapat dikatakan bahwa talak terjadi pada bagian pertama dari hari yang tersisa bersamanya tiga hari hingga akhir bulan, karena istilah “as-salkh” digunakan untuk tiga hari terakhir dari bulan, sebagaimana istilah “al-ghurrah” digunakan untuk tiga hari pertama dari bulan.
وذكر صاحب التقريب وجهاً آخر أنه إذا مضى من الشهر جزء وقع الطلاق فإن هذا أول الانسلاخ وهذا على نهاية السقوط وليس مما يعتدّ به
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain, yaitu apabila sebagian dari bulan telah berlalu lalu talak terjadi, maka itu adalah awal dari berakhirnya bulan, dan ini termasuk pada batas akhir jatuhnya (talak), bukan sesuatu yang diperhitungkan.
ولو قال أنت طالق عند انسلاخ شهر رمضان لم يتجه فيه إلا القطع بأنه يقع مع آخر جزء من الشهر ووجهه لائح
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak saat berakhirnya bulan Ramadan,” maka yang tepat dalam hal ini hanyalah memastikan bahwa talak terjadi pada bagian terakhir dari bulan tersebut, dan alasannya jelas.
ووصل الأصحاب بهذا أنه إذا قال لامرأته إذا رأيت الهلال فأنت طالق فإذا رأى الهلالَ غيرها وهي لم تره فالذي ذكره الأصحاب أن الطلاق يقع فإن الرؤية تُطلَق والمراد بها العلم ولو قال أردت بالرؤية العيان فلا شك أن هذا مقبول باطناً إن كان صادقاً بينه وبين الله تعالى وهل يقبل ذلك ظاهراً فعلى وجهين أحدهما أنه لا يقبل لأن الرؤية المطلقة إذا أضيفت إلى الأهلّة عُني بها في الظاهر وقوع الهلال وثبوته قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وأراد العلم به
Para ulama mazhab menyimpulkan dari hal ini bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu melihat hilal, maka kamu tertalak,” lalu orang lain yang melihat hilal tersebut sementara istrinya belum melihatnya, maka menurut pendapat yang disebutkan para ulama mazhab, talak tetap jatuh. Sebab, istilah “melihat” di sini bermakna “mengetahui”. Jika ia berkata, “Yang saya maksud dengan ‘melihat’ adalah menyaksikan langsung dengan mata kepala,” maka tidak diragukan lagi bahwa maksud ini diterima secara batin jika ia jujur antara dirinya dengan Allah Ta‘ala. Namun, apakah maksud tersebut diterima secara lahiriah? Ada dua pendapat. Salah satunya, maksud itu tidak diterima, karena istilah “melihat” yang disebutkan secara mutlak jika dikaitkan dengan hilal, maka yang dimaksud secara lahiriah adalah terjadinya hilal dan penetapannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya,” dan yang dimaksud adalah mengetahuinya.
والوجه الثاني أنه يُقبل فإن إرادة العيان بالرؤية ليس من الأمور البعيدة
Pendapat kedua adalah bahwa hal itu dapat diterima, karena menginginkan penglihatan secara langsung melalui ru’yah bukanlah sesuatu yang mustahil.
ولو قال إذا رأيت فلاناً فأنت طالق وكان غائباً فقدم فلم تره فالظاهر حمل ذلك على العيان وذلك أنا قلنا ما قلنا في الهلال لجريان الاعتياد فيه وللألفاظ مجاري مختلفة باختلاف المحالّ فإن الذي لم ير الهلال قد يقول إذا غاب عن بلده ورأينا الهلال في الليلة الفلانية ولا يقول رأيت فلاناً وما رآه والسبب فيه أن رؤية الأشخاص فيها أغراض وليس في رؤية الهلال غرض وينبغي للمحصل أن يعتقد أن مجاري العبارات التي يستعملها أرباب العقول لا تختلف إلا لأغراض مختلفة قد يظهر مُدركها وقد يخفى
Jika seseorang berkata, “Jika kamu melihat si Fulan, maka kamu tertalak,” sementara si Fulan sedang tidak ada, lalu ia datang tetapi tidak dilihat olehnya, maka yang tampak adalah bahwa hal itu dibawa pada makna melihat secara langsung. Hal ini karena kami mengatakan apa yang kami katakan tentang hilal (bulan sabit) disebabkan kebiasaan yang berlaku padanya, dan karena ungkapan-ungkapan memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan situasi. Sebab, orang yang tidak melihat hilal bisa saja berkata, ketika ia berada di luar negerinya, “Kami melihat hilal pada malam tertentu,” namun ia tidak akan berkata, “Saya melihat si Fulan,” padahal ia tidak melihatnya. Penyebabnya adalah bahwa dalam melihat seseorang terdapat tujuan-tujuan tertentu, sedangkan dalam melihat hilal tidak ada tujuan seperti itu. Hendaknya bagi seorang yang memahami (ilmu) untuk meyakini bahwa makna-makna ungkapan yang digunakan oleh orang-orang berakal tidaklah berbeda kecuali karena tujuan-tujuan yang berbeda, yang kadang alasannya tampak jelas dan kadang tersembunyi.
وقال القفال إذا ذكر الرؤية بالفارسية وأضافها إلى الهلال فهي العيان لا العلم وهذا إنما قاله من جهة أن الرؤية تطلق في العربية والمراد بها العلم كما قال سبحانه أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وهذا الذي ذكره القفال فرقٌ متخيل بين اللغتين لكن فيه خلل ناجع وهو أنا لا ننكر أن المعنى الأظهر للرؤية العيانُ إذا لم يُعدَّ إلى مفعولين فإذا قلت رأيت زيداً كان ظاهره عاينت زيداً وإذا عدّيته إلى مفعولين كان بمعنى الظن كقولك رأيت زيداً عالماً فإذا قال لامرأته إذا رأيت الهلال كان هذا على معنى العيان في اللغة وإنما حملنا ظاهره على العلم للعُرف واكتفاء الناس فيه برؤية الغير وهذا يتحقق في لغة العجم فلا فرق إذاً بين اللغتين
Al-Qaffal berkata, jika disebutkan kata “ru’yah” (melihat) dalam bahasa Persia dan disandarkan kepada hilal, maka maksudnya adalah penglihatan langsung (‘ayan), bukan pengetahuan (‘ilm). Hal ini ia katakan karena dalam bahasa Arab, kata “ru’yah” juga digunakan dengan makna pengetahuan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Tidakkah kamu memperhatikan (tarā) bagaimana Tuhanmu memanjangkan bayangan?” Apa yang disebutkan oleh al-Qaffal ini merupakan perbedaan yang terbayangkan antara kedua bahasa, namun di dalamnya terdapat kekeliruan yang mendasar. Kami tidak mengingkari bahwa makna yang lebih tampak dari “ru’yah” adalah penglihatan langsung (‘ayan) jika tidak disandarkan kepada dua objek (muta‘addī ilā maf‘ūlain). Jika engkau berkata, “Aku melihat Zaid,” maka makna lahiriahnya adalah “Aku menyaksikan Zaid secara langsung.” Namun jika disandarkan kepada dua objek, maka maknanya adalah dugaan, seperti ucapanmu, “Aku melihat Zaid sebagai seorang alim.” Maka jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika engkau melihat hilal,” maka maknanya dalam bahasa adalah penglihatan langsung (‘ayan). Akan tetapi, kami menafsirkan makna lahiriahnya sebagai pengetahuan (‘ilm) karena kebiasaan (‘urf) dan karena orang-orang cukup dengan melihat dari orang lain. Hal ini juga berlaku dalam bahasa non-Arab (‘ajam), sehingga tidak ada perbedaan antara kedua bahasa tersebut.
فصل قال ولو قال إذا مضت سنة فأنت طالق وقد مضى من الهلال
Pasal: Ia berkata, “Jika telah berlalu satu tahun, maka engkau tertalak,” padahal telah berlalu sebagian dari bulan.
خمسٌ الفصل
Bab Kelima
إذا قال لامرأته إذا مضت السنة فأنت طالق انصرفت إلى السنة العربية المفتتحة بالمحرم فإذا كان في بقيةٍ من السنة فانقضت وقع الطلاق وإن كانت تلك البقية لحظة كما ذكرناه في اليوم المعرّف
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika telah berlalu satu tahun, maka engkau tertalak,” maka yang dimaksud adalah tahun Arab yang dimulai dengan bulan Muharram. Jika ucapan itu diucapkan pada sisa tahun dan sisa waktu itu telah berlalu, maka talak jatuh, meskipun sisa waktu itu hanya sesaat, sebagaimana telah dijelaskan pada hari yang telah ditentukan.
ولو قال إذا مضت سنة فأنت طالق فلفظه يقتضي سنة كاملة لما ذكرناه من أن الاسم المنكّر محمول على المسمى الكامل والسنة الكاملة اثنا عشر شهراً بالأهلة ولا معتبر بالشهور العجمية وفي التواريخ شهور مختلفة يعرفها المقوّمون وفيها كبائس ولا اعتبار بشيء منها في الآجال المطلقة في عقود الإسلام قال الله تعالى يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ثم عمّ في عرف أهل الدين إطلاق السنة والأشهر على هذا المراد فانضمّ إلى التعبد عمومُ العرف فالسنة الكاملة اثنا عشر شهراً فإن لم ينكسر الشهر الأول ومضت اثنا عشر شهراً بالأهلة طُلِّقت ولا يتصور ألا ينكسر الشهر الأول إلا بأن يعلق الطلاق على وجه يتأتى هذا الغرض فيه وهو أن يقول إذا مضت سنة من أول رمضان فأنت طالق فيتأتى اعتبار الأشهر بالأهلة
Jika seseorang berkata, “Jika telah berlalu satu tahun, maka engkau tertalak,” maka lafaz tersebut menunjukkan satu tahun penuh, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa nama yang bersifat umum (nakirah) dibawa pada makna yang sempurna. Satu tahun penuh adalah dua belas bulan berdasarkan perhitungan hilal, dan tidak dianggap bulan-bulan non-Arab (ajam). Dalam penanggalan, terdapat berbagai macam bulan yang dikenal oleh para ahli penanggalan, dan di dalamnya terdapat tahun kabisat, namun tidak ada yang dianggap dari semua itu dalam penentuan waktu yang bersifat mutlak dalam akad-akad Islam. Allah Ta‘ala berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal, katakanlah: itu adalah penentu waktu bagi manusia dan ibadah haji.” Kemudian, dalam kebiasaan masyarakat Islam, penggunaan istilah tahun dan bulan juga dimaksudkan demikian, sehingga selain berdasarkan syariat, juga didukung oleh kebiasaan umum. Maka, satu tahun penuh adalah dua belas bulan. Jika bulan pertama tidak terpotong dan telah berlalu dua belas bulan berdasarkan perhitungan hilal, maka jatuhlah talak. Tidak mungkin bulan pertama tidak terpotong kecuali jika talak digantungkan pada cara yang memungkinkan hal itu, yaitu dengan mengatakan, “Jika telah berlalu satu tahun sejak awal Ramadan, maka engkau tertalak,” sehingga memungkinkan perhitungan bulan-bulan berdasarkan hilal.
فأما إذا أنشأ وقال إذا مضت سنة فأنت طالق فقد يعسر تصوير عدم انكسار الشهر الأول فإن قوله يقع في شهرٍ والتنبيهُ في هذا كافٍ
Adapun jika seseorang membuat pernyataan dan berkata, “Jika telah berlalu satu tahun, maka engkau tertalak,” maka mungkin sulit membayangkan agar bulan pertama tidak terputus; karena ucapannya terjadi pada suatu bulan, dan penjelasan dalam hal ini sudah cukup.
فإذا انكسر الشهر الأول فهذا الشهر المنكسر لا بد وأن يكمل ثلاثين يوماً سواء خرج ذلك الشهر ناقصاً أو كاملاً
Jika bulan pertama terputus, maka bulan yang terputus ini harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari, baik bulan tersebut sebelumnya berjumlah kurang maupun genap.
ثم قال الأئمة رضي الله عنهم نعدّ بعد مضي كسر هذا الشهر الأول أحدَ عشرَ شهراً بالأهلة ثم نكمل ذلك الشهرَ الذي انكسر من الشهر الثالث عشر حتى إذا كان مضى من الشهر الذي انكسر خمسٌ ثم عددنا بعد هذا الشهر المنكسر أحد عشر بالأهلة من بين ناقص وكامل فننظر الآن في حساب الشهر الأول المنكسر فإن كان كمل ذلك الشهر ثلاثين فقد مضى خمسة وعشرون فنحسب من هذا الشهر خمسة أيام فإن كان ذلك الشهر ناقصاً فنحسب من ذلك الشهر أربعة وعشرين ونحسب من الشهر الثالث عشر ستة أيام
Kemudian para imam rahimahumullah berkata: Setelah berlalu sebagian dari bulan pertama ini, kita menghitung sebelas bulan berikutnya dengan melihat hilal, kemudian kita lengkapi bulan yang terpotong dari bulan ketiga belas itu. Maka, jika telah berlalu dari bulan yang terpotong itu lima hari, lalu kita menghitung setelah bulan yang terpotong ini sebelas bulan dengan melihat hilal, baik bulan itu kurang maupun sempurna, maka sekarang kita perhatikan perhitungan bulan pertama yang terpotong. Jika bulan itu sempurna tiga puluh hari, berarti telah berlalu dua puluh lima hari, maka kita hitung dari bulan ini lima hari. Jika bulan itu kurang, maka kita hitung dari bulan itu dua puluh empat hari, dan kita hitung dari bulan ketiga belas enam hari.
هذا معنى استكمال ذلك الشهر ثلاثين يوماً وقال أبو حنيفة مهما انكسر السْهر الأول انكسر سائر الشهور فإذا وجب اعتبار التكميل في الشهر الأول وجب اعتبار التكميل في كل شهر وقد قال بهذا بعض أصحابنا
Inilah makna menyempurnakan bulan tersebut menjadi tiga puluh hari. Abu Hanifah berkata, apabila bulan pertama disempurnakan (menjadi tiga puluh hari), maka bulan-bulan berikutnya pun demikian. Jika wajib mempertimbangkan penyempurnaan pada bulan pertama, maka wajib pula mempertimbangkan penyempurnaan pada setiap bulan. Pendapat ini juga dipegang oleh sebagian ulama dari kalangan kami.
ووجهه أنه إذا انكسر الشهر الأول فالوجه أن يكمل من الذي يليه فإنّ السنة لا تنقطع أيامها فيستحيل أن نحتسب منها شهوراً والشهر الأول معلق لم يمض بعد فإذا كان يجب أن يكمل الشهر الأول فينكسر الثاني بالأول ثم ينكسر الثالث بالثاني وهكذا إلى نجاز السنة وهذا المذهب مطرود في العِدد والآجال الشرعية والأيْمان وهو على ما فيه من الإخالة بعيدٌ فإن اعتبار الأهلّة أصل غير منكر وخروج اعتبار الأهلة في أحد عشر شهراً محال وإذا كان كذلك فلا وجه إلا ما ذكرناه أولاً
Penjelasannya adalah bahwa jika bulan pertama terputus, maka yang tepat adalah menyempurnakannya dari bulan berikutnya, karena hari-hari dalam satu tahun tidak terputus sehingga mustahil kita menghitung darinya beberapa bulan sementara bulan pertama masih tergantung dan belum berlalu. Jika memang harus menyempurnakan bulan pertama, maka bulan kedua akan terputus oleh bulan pertama, lalu bulan ketiga terputus oleh bulan kedua, dan seterusnya hingga genap satu tahun. Pendapat ini berlaku dalam masalah ‘iddah, tenggat waktu syar‘i, dan sumpah. Namun, meskipun pendapat ini memiliki kelemahan, tetap saja jauh dari kebenaran, karena mempertimbangkan hilal (pergantian bulan Qamariyah) adalah prinsip yang tidak dapat disangkal, dan mengabaikan pertimbangan hilal dalam sebelas bulan adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu, tidak ada pendapat yang tepat kecuali apa yang telah kami sebutkan pertama kali.
فصل قال ولو قال لها أنت طالق الشهرَ الماضي إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Engkau tertalak bulan lalu sampai akhirnya.”
مضمون الفصل الكلام فيه إذا قال لامرأته أنت طالق الشهر الماضي والكلام في ذلك يقع على وجوه أحدها أن يُطلِق هذا اللفظَ ولا يتعرض لقصد ونيةٍ فالحكم أنه يقع الطلاق في الحال ويلغو قوله الشهر الماضي وسبب ذلك أن قوله أنت طالق صريح في التنجيز وقوله الشهر الماضي لفظ ملتبسٌ متردّد بين جهات كما سنذكرها فإذا لم يقصد بلفظه شيئاً سقط أثر المجمل منه وعمل اللفظ المستقل ولو أطلق اللفظ فلم نتمكن من مراجعته حتى مات أو جنّ فيحكم بالوقوع في الحال بناء على ما ذكرناه من استقلال اللفظ باقتضاء التنجيز
Isi bab ini membahas tentang jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak pada bulan lalu.” Pembahasan mengenai hal ini memiliki beberapa sisi. Salah satunya adalah jika ia mengucapkan lafaz tersebut tanpa disertai maksud dan niat tertentu, maka hukumnya talak jatuh saat itu juga dan ucapannya “bulan lalu” dianggap tidak berlaku. Sebabnya adalah karena ucapannya “engkau tertalak” merupakan lafaz yang jelas (sharīh) dalam penjatuhan talak secara langsung (tanjīz), sedangkan ucapannya “bulan lalu” adalah lafaz yang ambigu dan masih bisa ditafsirkan ke beberapa arah, sebagaimana akan dijelaskan. Maka jika ia tidak meniatkan sesuatu dengan ucapannya itu, pengaruh dari lafaz yang global tersebut menjadi gugur dan yang berlaku adalah lafaz yang berdiri sendiri. Jika ia mengucapkan lafaz tersebut lalu kita tidak sempat menanyakannya hingga ia meninggal atau gila, maka diputuskan bahwa talak jatuh saat itu juga, berdasarkan apa yang telah disebutkan bahwa lafaz tersebut secara mandiri menunjukkan penjatuhan talak secara langsung.
ولو قال أردت بقولي أنت طالق الشهر الماضي أن يقع في الحال الطلاق ولكن يترادّ إلى الشهر الماضي ويستند إليه ويتنجز في الحال وينعكس إلى ما مضى فهذا الذي قاله كلام لا أثر له والطلاق يتنجز في الحال ولا ينعكس على ما تقدم فإن التصرف في الزمان الماضي بأمرٍ ينشأ في الحال مستحيل وقضايا الألفاظ لا تتقدم عليها قط
Jika seseorang berkata, “Maksudku dengan ucapanku ‘engkau tertalak bulan lalu’ adalah agar talak terjadi saat ini, tetapi kembali ke bulan lalu, bersandar padanya, menjadi efektif saat ini, dan berbalik ke masa lalu,” maka apa yang ia katakan itu tidak berpengaruh apa-apa, dan talak menjadi efektif saat ini dan tidak berbalik ke masa lalu. Sebab, melakukan suatu tindakan pada waktu yang telah berlalu dengan sesuatu yang baru terjadi saat ini adalah mustahil, dan konsekuensi dari suatu ucapan tidak pernah mendahului ucapan itu sendiri.
وحكى بعض الأئمة عن الربيع أنه قال لا يقع الطلاق فإنه قصد طلاقاً يعتمد الانعكاس وفي لفظه إشعارٌ به والطلاق على هذا الوجه مستحيل والمستحيل لا يقع وقال الأئمة هذا من تصرف الربيع وتخريجه وتصرّفُه إذا لم يوافق قاعدة المذهب مردود والمقبول منه منقولُه لا مقوله واستدل الربيع على ما قال بان قال إذا علّق الرجل الطلاق بمستحيل لم يقع مثل أن يقول لامرأته إن طرْتِ أو صعدتِ السماء فأنت طالق فلا يقع الطلاق
Sebagian imam meriwayatkan dari ar-Rabi‘ bahwa ia berkata: “Talak tidak jatuh, karena ia bermaksud talak yang bergantung pada sesuatu yang mustahil terjadi, dan dalam lafaznya terdapat isyarat akan hal itu. Talak dengan cara seperti ini adalah mustahil, dan sesuatu yang mustahil tidak terjadi.” Para imam berkata: “Ini adalah pendapat dan hasil ijtihad ar-Rabi‘, dan pendapatnya jika tidak sesuai dengan kaidah mazhab maka ditolak. Yang diterima darinya adalah riwayatnya, bukan pendapat pribadinya.” Ar-Rabi‘ berdalil atas pendapatnya dengan mengatakan: “Jika seorang laki-laki menggantungkan talak pada sesuatu yang mustahil, maka talak tidak jatuh, seperti jika ia berkata kepada istrinya: ‘Jika kamu terbang atau naik ke langit, maka kamu tertalak,’ maka talak tidak jatuh.”
ومن أصحابنا من قال في مناكرة الربيع إن قال إن طرتِ فأنت طالق يقع الطلاق وفي الوصف والتعليق تصرفٌ للأصحاب نذكره ثم نوضح الصحيح فيه قالوا إذا وصف الطلاق بصفة مستحيلة لا يُنظم في الجدّ مثلُها لغت الصفة ويقع الطلاق مثل أن يقول أنت طالق طلاقاً لا يقع عليك فقد وصف الطلاق بصفة مستحيلة وهذه الصفة لا يتخيلها ذو عقلٍ وتحصيل فقيل الطلاق نافذ وحظّ الهزل منه مردود وهو بمثابة ما لو قال أنت طالق ثلاثاً إلا ثلاثاً فالثلاث واقعة والاستثناء المستغرق مردود وإن وصف المطلِّق الطلاقَ بصفة مستحيلة حكماً ولكن لا يبعد أن يتخيلها متخيل وذلك كقول القائل أنت طالق الشهر الماضي فإذا أراد طلاقاً شابَه الانتجازُ في الحال والانعكاس على ما مضى فالطلاق واقع والصفة باطلة بناء على حكم الشرع بإبطال تلك الصفة
Sebagian dari ulama kami berkata dalam kasus penolakan Rabi‘: Jika seseorang berkata, “Jika kamu terbang, maka kamu tertalak,” maka talak jatuh. Dalam hal sifat dan pengaitan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama yang akan kami sebutkan, kemudian kami jelaskan pendapat yang benar. Mereka berkata, jika talak disifati dengan sifat yang mustahil dan tidak mungkin terjadi secara nyata, maka sifat tersebut dianggap batal dan talak tetap jatuh. Misalnya, jika seseorang berkata, “Kamu tertalak dengan talak yang tidak akan pernah jatuh padamu,” maka ia telah mensifati talak dengan sifat yang mustahil, dan sifat ini tidak dapat dibayangkan oleh orang yang berakal dan memahami. Maka dikatakan bahwa talak tersebut sah, dan unsur main-main di dalamnya tertolak. Hal ini serupa dengan orang yang berkata, “Kamu tertalak tiga kali kecuali tiga kali,” maka tiga talak tetap jatuh dan pengecualian yang menyeluruh itu tertolak. Jika orang yang menjatuhkan talak mensifati talak dengan sifat yang mustahil secara hukum, namun masih mungkin dibayangkan oleh sebagian orang, seperti seseorang berkata, “Kamu tertalak pada bulan lalu,” maka jika ia bermaksud menjatuhkan talak yang seolah-olah berlaku seketika dan surut ke masa lalu, maka talak tetap jatuh dan sifat tersebut batal, berdasarkan hukum syariat yang membatalkan sifat tersebut.
وقال الربيع لا يقع الطلاق فإن الذي أوقعه من الطلاق لا يتصور وقوعه على النعت الذي ذكره وهو لم يوقع غيره
Al-Rabi‘ berkata, “Talak tidak terjadi, karena talak yang dijatuhkan itu tidak mungkin terjadi dengan sifat yang disebutkan, dan ia tidak menjatuhkan talak selain itu.”
وهذا مردود عليه فإن اللفظ صريح في اقتضاء التنجيز وهو لم ينف التنجيز في الحال ولكنه ذكر وراء التنجيز أمراً محالاً فوجب الحكم بالتنجيز أخذاً باللفظ والقصد ووجب إلغاء الانعكاس فإنه مستحيل ثم الربيع جعل الوصف كالشرط وقال إذا ذكر الانعكاس فكأنه قال إن انعكس الطلاق على الزمان الماضي فأنت طالق الآن وهذا كلام مستكره متكلَّف
Pendapat ini tertolak, karena lafaz tersebut secara jelas menunjukkan tuntutan untuk menegaskan (talak) secara langsung, dan ia tidak menafikan penegasan pada saat itu, melainkan ia menyebutkan setelah penegasan suatu hal yang mustahil. Maka wajib menetapkan hukum penegasan dengan mengambil makna lafaz dan maksudnya, serta wajib meniadakan pengaruh dari “al-in‘ikās” karena hal itu mustahil. Kemudian al-Rabi‘ menjadikan sifat seperti syarat dan berkata: Jika disebutkan “al-in‘ikās”, maka seolah-olah ia berkata, “Jika talak itu berbalik pada waktu yang telah lalu, maka engkau tertalak sekarang.” Ini adalah ucapan yang dipaksakan dan dibuat-buat.
ثم نعود بعده إلى تعليق الطلاق بالمستحيلات فإذا قال إن صعدت السماء أو إن طرتِ أو إن أحييت ميتاً فأنت طالق فحاصل ما ذكره الأصحاب في هذه الفنون ثلاثة أوجه أحدها أن الطلاق يقع بقوله أنت طالق ويلغو التعليق المحال فإن التعليق إنما يثبت إذا أمكن وجرى شرطاً يرتقب حصوله لتعلق المشروط به فإذا لم يكن كذلك كان خارجاً عن حقيقة التعليق ويلزم إبطاله لخروجه عن وضعه وإذا بطل بقي التطليق من غير تعليق
Kemudian kita kembali setelah itu kepada pembahasan tentang menggantungkan talak pada hal-hal yang mustahil. Jika seseorang berkata, “Jika kamu naik ke langit, atau jika kamu terbang, atau jika kamu menghidupkan orang mati, maka kamu tertalak,” maka kesimpulan dari apa yang disebutkan para ulama dalam bidang ini ada tiga pendapat. Pendapat pertama, talak jatuh dengan ucapannya “kamu tertalak” dan penggantungan pada sesuatu yang mustahil dianggap batal. Sebab, penggantungan itu hanya berlaku jika memungkinkan dan menjadi syarat yang ditunggu-tunggu terwujudnya, karena sesuatu yang disyaratkan itu terkait dengannya. Jika tidak demikian, maka hal itu keluar dari hakikat penggantungan, sehingga harus dibatalkan karena keluar dari ketentuannya. Jika penggantungan itu batal, maka yang tersisa adalah talak tanpa penggantungan.
والوجه الثاني وهو الذي قطع به معظم الأئمة أن الطلاق لا يقع فإنه لم ينجزه فيتنجز بل علقه ثم إن كان التعليق في ممكن فالوجه أن ينتظر و إذا كان التعليق في غير ممكن فغرض الزوج أن يمتنع وقوع الطلاق حسب امتناع الصفة التي ذكرها
Pendapat kedua, yang dipegang teguh oleh mayoritas imam, adalah bahwa talak tidak jatuh, karena talak tersebut tidak dilaksanakan secara langsung, melainkan digantungkan. Jika penggantungannya pada sesuatu yang mungkin terjadi, maka pendapat yang tepat adalah menunggu. Namun jika penggantungannya pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi, maka maksud suami adalah agar talak tidak terjadi, sebagaimana tidak terjadinya sifat yang disebutkannya.
والوجه الثالث أنه إذا قال إن طرتِ أو صعدت لم يقع الطلاق لأن الربّ تعالى موصوف بالاقتدار على إقدارها على الطيران والترقي في السماء فهو من الممكنات والمقدورات فإذا قال إن أحييت ميتاً يقع الطلاق لأن هذا من المستحيلات لأن إحياء الموتى لا يتصف بالاقتدار عليها إلا الإله الأزليّ فيتحقق التحاق هذا بالمستحيلات فلا يبعد إلغاء التعليق فيه هذا ما ذكره الأصحاب
Alasan ketiga adalah bahwa jika seseorang berkata, “Jika kamu terbang atau naik ke langit, maka jatuhlah talak,” maka talak tidak terjadi, karena Allah Ta‘ala bersifat mampu untuk memberikan kemampuan kepadanya untuk terbang dan naik ke langit, sehingga hal itu termasuk dalam hal-hal yang mungkin dan dalam kekuasaan-Nya. Namun, jika seseorang berkata, “Jika kamu menghidupkan orang mati, maka jatuhlah talak,” maka talak terjadi, karena hal ini termasuk hal yang mustahil, sebab menghidupkan orang mati tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Tuhan yang abadi, sehingga hal ini termasuk dalam kategori hal-hal yang mustahil. Maka tidak mengherankan jika syarat tersebut dianggap batal. Inilah yang disebutkan oleh para ulama.
والوجه عندنا القطعُ بمخالفة الربيع في الصفة والقطع بأن التعليق في المستحيل وغير المستحيل يمنع انتجاز الطلاق فإنا لو نجّزناه لأوقعنا طلاقاً لم يوقعه وليس يخرج على الانتظام تعليق الطلاق بما لا يكون على قصد أن الطلاق لا يقع كما أن الصفة المذكورة لا تكون وهذا كقوله تعالى حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ فاقتضى ظاهر الخطاب من جهة الصيغة تعليقَ خروج الكفار من النار على أن يلج الجمل على هيئته في سم الخياط على ضيقه وهذا مستحيل والمقصود أنهم لا يخرجون أبداً كذلك القول في تعليق الطلاق بالمحال
Menurut kami, pendapat yang benar adalah memastikan adanya perbedaan dengan pendapat ar-Rabi‘ dalam hal sifat, dan memastikan bahwa pengaitan (ta‘liq) pada hal yang mustahil maupun yang tidak mustahil mencegah terjadinya talak secara langsung. Sebab, jika kita langsung menjatuhkan talak, berarti kita telah menjatuhkan talak yang sebenarnya tidak dijatuhkan. Tidaklah sesuai dengan keteraturan jika talak digantungkan pada sesuatu yang mustahil terjadi, dengan maksud bahwa talak tidak akan jatuh, sebagaimana sifat yang disebutkan itu tidak akan terjadi. Ini seperti firman Allah Ta‘ala: “Hingga unta masuk ke lubang jarum,” maka makna lahiriah dari ayat tersebut dari sisi redaksi adalah menggantungkan keluarnya orang kafir dari neraka pada masuknya unta ke lubang jarum yang sempit, dan ini adalah sesuatu yang mustahil. Maksudnya adalah mereka tidak akan pernah keluar. Demikian pula halnya dengan pengaitan talak pada sesuatu yang mustahil.
ولو قال أردت بقولي أنت طالق الشهرَ الماضي أن الطلاق يصادف في وقوعه الشهرَ الماضي وإن كان لفظ الإيقاع حاصلاً الآن وهذا يتميز عن الصورة المتقدمة بشيءٍ وهو أنه في الصورة المتقدمة قصد التنجيز في الحال مع العكس على ما مضى فكان المذهب الحكم بالتنجيز وإبطال قصد العكس وهو في هذه الصورة يبغي ألا ينجّز في الحال طلاقاً وإنما يعكسه على ما مضى ويقدّر وقوعه فيما سبق ثم هو يسترسل على الزمان استرسال الطلاق فإذا أراد ذلك فلفظه غير بعيد عن الإشعار بهذا وقد يتخيل بعض الناس إمكان ذلك فيخرج ما أبداه عن الهزل الذي لا يخفى مُدركه ففي هذه الصورة وجهان أحدهما أن الطلاق لا يقع لأنه لم يقصد تنجيزه وقصْدُ الإيقاع على ما رَامَ غيرُ ممكن
Dan jika seseorang berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku ‘engkau tertalak bulan lalu’ adalah talak itu terjadi pada bulan lalu, meskipun lafaz penjatuhannya terjadi sekarang,” maka hal ini berbeda dari gambaran sebelumnya dalam satu hal, yaitu pada gambaran sebelumnya ia bermaksud men-tanjīz-kan (menetapkan) talak saat itu juga, namun dengan maksud sebaliknya sebagaimana telah dijelaskan, sehingga menurut mazhab, hukum yang berlaku adalah penetapan tanjīz dan pembatalan maksud sebaliknya. Adapun dalam gambaran ini, ia menghendaki agar talak tidak langsung terjadi saat itu, melainkan mengaitkannya dengan masa lalu dan menganggap kejadiannya pada waktu yang telah lewat, kemudian ia membiarkan waktu berjalan sebagaimana talak berjalan. Jika ia menghendaki demikian, maka ucapannya tidak jauh dari memberi isyarat kepada hal itu, dan sebagian orang mungkin membayangkan hal itu bisa terjadi, sehingga apa yang ia nyatakan keluar dari kategori senda gurau yang jelas maksudnya. Dalam gambaran ini terdapat dua pendapat: salah satunya, talak tidak jatuh karena ia tidak bermaksud men-tanjīz-kannya, dan maksud menjatuhkan talak seperti yang ia inginkan tidaklah mungkin terjadi.
والوجه الثاني أن الطلاق يقع فإنه ليس يُنكَر انبساط الطلاق على الزمان الذي أنشأ اللفظ فيه فهذا الزمان من مضمّنات قصده في الطلاق فلينتجز في الوقت وليلغُ ما يزيد على ذلك والشافعي ذكر في هذه الصورة لفظةً محتملة مترددة فقال إيقاع الطلاق الآن في شهرٍ مضى محال فمن أصحابنا من قال لا يقع لأنّ الشافعي أحاله والمحال لا يقع ومنهم من قال يقع لأنه نجَّز الطلاق والإحالة في الصفة مُخْرَجة من البَيْن فيجعل كأنه أطلق ولم يصفه
Pendapat kedua adalah bahwa talak tetap jatuh, karena tidak dapat disangkal bahwa talak itu berlaku pada waktu ketika lafal talak diucapkan. Maka waktu tersebut termasuk dalam maksud talak, sehingga talak langsung berlaku pada saat itu dan apa yang melebihi waktu tersebut menjadi tidak berlaku. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kasus ini suatu ungkapan yang mengandung kemungkinan dan keraguan, beliau berkata: “Menjatuhkan talak sekarang untuk bulan yang telah lalu adalah hal yang mustahil.” Sebagian ulama kami berkata, talak tidak jatuh karena Imam Syafi’i menganggapnya mustahil, dan sesuatu yang mustahil tidak terjadi. Namun sebagian yang lain berkata, talak tetap jatuh karena talak telah ditegaskan, dan kemustahilan itu hanya pada sifatnya saja yang dikeluarkan dari pertimbangan, sehingga dianggap seolah-olah talak itu diucapkan secara mutlak tanpa sifat tambahan.
وكان شيخنا يقول إذا قال أردت إيقاع الطلاق في الحال ووقوعه في الشهر الماضي فيقع في الحال ولو قال أردت إسنادَ الإيقاع والوقوعَ إلى الشهر الماضي ففيه وجهان مشهوران وفي لفظه تعقيد
Dan guru kami berkata: Jika seseorang mengatakan, “Saya bermaksud menjatuhkan talak sekarang dan terjadinya pada bulan lalu,” maka talak jatuh saat itu juga. Namun jika ia mengatakan, “Saya bermaksud menisbatkan penjatuhan dan terjadinya talak pada bulan lalu,” maka terdapat dua pendapat yang masyhur, dan dalam lafaznya terdapat kerumitan.
والأولى في التفصيل ما ذكرناه فإن أراد الإيقاع في الحال على شرط الانعكاس فهذه صورة الرّبيع وإن أراد أن يسند وقوع الطلاق بإيقاعه ولفظه المسموع منه في الحال فهذه صورة الوجهين فأما إسناد الإيقاع والوقوع إلى ما مضى فكلامٌ مضطرب وقصد شيخنا ما ذكرناه وإنما التعقيد راجع إلى العبارة
Yang lebih utama dalam perincian adalah apa yang telah kami sebutkan; jika seseorang bermaksud menjatuhkan talak saat ini dengan syarat akan berbalik, maka ini adalah gambaran pendapat ar-Rabi‘. Jika ia bermaksud menisbatkan terjadinya talak dengan penjatuhan dan lafaz yang diucapkan olehnya saat ini, maka ini adalah gambaran dari dua pendapat. Adapun menisbatkan penjatuhan dan terjadinya talak pada masa lalu, maka itu adalah ucapan yang rancu, dan maksud guru kami adalah seperti yang telah kami sebutkan; adapun kerumitan itu kembali pada ungkapan (bahasa) semata.
ومن تمام الكلام في المسألة أنه إذا قال أردت بقولي أنتِ طالق الشهرَ الماضي أنك قد طلقك زوج في الشهر الماضي فأردت الإخبار عنه قال الأصحاب إن أقام بينة أن زوجاً طلقها في الشهر الماضي قُبل منه ما يدعيه في معنى لفظه ثمّ وإن اتهم مع ذلك حُلِّف وإن لم يمكنه أن يُثبت أن زوجاً طلقها في الشهر الماضي فلا يقبل ذلك منه ويحكم بانتجاز الطلاق هكذا قال الأصحاب
Sebagai penyempurna pembahasan dalam masalah ini, jika seseorang berkata, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘engkau tertalak bulan lalu’ bahwa ada seorang suami yang telah menalaknya pada bulan lalu, dan aku bermaksud memberitakan tentang hal itu,” maka para ulama berpendapat: Jika ia dapat menghadirkan bukti bahwa memang ada seorang suami yang telah menalaknya pada bulan lalu, maka diterima apa yang ia klaim mengenai maksud ucapannya. Namun, jika ia tetap dicurigai setelah itu, maka ia harus disumpah. Jika ia tidak dapat membuktikan bahwa ada seorang suami yang telah menalaknya pada bulan lalu, maka klaim itu tidak diterima darinya dan diputuskan bahwa talak tersebut langsung berlaku. Demikianlah pendapat para ulama.
وفي القلب من هذا شيء فإن اللفظ إذا كان محتملاً وهو صاحب اللفظ والإرادة فإذا فسر لفظَه بممكنٍ فلا يبعد أن يقبل تفسيره ثم يكذَّب في إخباره وإذا كنا نجعل المسألة على وجهين فيه إذا فسر لفظه بمحال وهو إسناد الوقوع إلى ما مضى حتى نقول في وجهٍ لا يقع الطلاق فلا يبعد أن ينزل لفظه إذا فسره بالإقرار منزلة ما لو ابتدأ فقال قد طلّقكِ في الشهر الماضي زوجٌ غيري وهذا لا يوجب وقوع الطلاق منه وإن كان كاذباً فإذاً هذا متجهٌ على ما ذكرناه ولو كان قوله لا يحتمل الإقرار لَما جاز الحملُ عليه وإن أمكنه أن يثبت بالبينة طلاقاً من زوج
Dalam hal ini masih ada keraguan, sebab jika suatu lafaz mengandung kemungkinan makna dan orang yang mengucapkan lafaz itu sekaligus memiliki kehendak tertentu, maka jika ia menafsirkan lafaznya dengan makna yang mungkin, tidaklah jauh untuk menerima tafsirannya itu, kemudian mendustakan beritanya. Jika kita menjadikan masalah ini dalam dua kemungkinan, yaitu jika ia menafsirkan lafaznya dengan sesuatu yang mustahil—yakni mengaitkan terjadinya sesuatu pada masa lalu—sehingga kita katakan dalam satu sisi bahwa talak tidak terjadi, maka tidaklah jauh jika lafaznya, ketika ia menafsirkannya sebagai pengakuan, diposisikan seperti orang yang dari awal berkata, “Pada bulan lalu, suamimu yang lain telah menceraikanmu,” dan ini tidak menyebabkan terjadinya talak darinya, meskipun ia berdusta. Maka, hal ini sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan. Namun, jika ucapannya tidak mengandung kemungkinan sebagai pengakuan, maka tidak boleh ditafsirkan demikian, meskipun ia dapat membuktikan dengan saksi bahwa telah terjadi talak dari suami lain.
ولو قال أردت بقولي أنت طالق الشهر الماضي أني طلقتك في نكاحٍ في الشهر الماضي ثم جددت عليك نكاحاً بعد البينونة فهذا بمثابة ما لو فسر لفظه بطلاق صدر من زوجٍ غيره والتفصيل فيه ما مضى
Jika ia berkata, “Maksudku dengan ucapanku ‘engkau tertalak bulan lalu’ adalah bahwa aku telah menalakmu dalam pernikahan pada bulan lalu, kemudian aku memperbarui akad nikah denganmu setelah terjadinya bainunah,” maka ini sama halnya dengan jika ia menafsirkan ucapannya dengan talak yang terjadi dari suami lain, dan rincian masalah ini telah dijelaskan sebelumnya.
ولو قال الزوج أردت بهذا أني طلقتك في الشهر الماضي طلقة رجعية وأنتِ الآن في عدّة الرّجعة فالذي ذكره المحققون أن هذا مقبول منه فإن لفظه محتمل وهو متضمنٌ ثبوتَ الطلاق في هذا النكاحِ إقراراً به وإذا تردد لفظه بين الإقرار وبين الإنشاء والنكاحُ متّحد فالوجه تصديقه من غير أن يُحْوَج إلى بيّنة وغاية الأمر أن يُحَلَّف
Jika suami berkata, “Maksudku dengan ini adalah bahwa aku telah menceraikanmu pada bulan lalu dengan talak raj‘i dan sekarang engkau dalam masa ‘iddah raj‘ah,” maka menurut para ahli yang teliti, hal ini dapat diterima darinya. Sebab, ucapannya mengandung kemungkinan dan mencakup pengakuan terjadinya talak dalam pernikahan ini. Jika ucapannya masih samar antara pengakuan dan penciptaan (talak baru), sementara pernikahannya tetap satu, maka yang tepat adalah membenarkannya tanpa perlu meminta bukti. Paling jauh, ia hanya diminta bersumpah.
ونقل بعض النقلة عن القاضي أنه قال إن صدّقته المرأة قُبل ذلك منه وحُمل قوله على الإقرار بالطلاق وإن كذبته فالقول قولها لأن الظاهر منه إيقاع الطلاق في الحال فنحكم إذاً بوقوع طلاقين أحدهما إنشاء والآخر إقرار منه وهذا كلام مضطرب لا يجوز نسبةُ مثله إلى القاضي فإنا إن قلنا لا نقبل تفسيره بالإقرار فقد يكون لهذا وجه فإن صيغة الإيقاع أغلب والدليل عليه أنه لو قال أنت طالق فهذا في ظاهره صفة فلو قال أردتُ أني طلقتك فأنت الآن بحكم التطليق الماضي طالق فهذا غير بعيد عن صيغة اللفظ ولكنّه لا يقبل
Sebagian perawi menukil dari al-Qadhi bahwa beliau berkata: Jika seorang wanita membenarkannya, maka diterima darinya dan ucapannya dibawa pada pengakuan talak. Namun jika wanita itu mendustakannya, maka yang dipegang adalah ucapannya, karena yang tampak dari ucapannya adalah pelaksanaan talak saat itu juga. Maka, kita memutuskan bahwa terjadi dua talak: salah satunya berupa penciptaan (talak baru) dan yang lainnya berupa pengakuan darinya. Namun, ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak boleh dinisbatkan kepada al-Qadhi. Sebab, jika kita mengatakan bahwa kita tidak menerima penafsirannya sebagai pengakuan, maka hal itu masih memiliki alasan, karena bentuk lafaz pelaksanaan (talak) lebih dominan. Buktinya, jika seseorang berkata, “Engkau aku talak,” maka secara lahiriah itu adalah sifat (talak baru). Jika ia berkata, “Maksudku adalah aku telah menalakkanmu, maka sekarang engkau dalam hukum talak yang lalu telah tertalak,” maka hal ini tidak jauh dari bentuk lafaz tersebut, namun tetap tidak dapat diterima.
فلو قال قائل لا يقبل حَمْلُ قوله أنت طالقٌ الشهرَ الماضي على الإقرار أصلاً لكان كلاماً ويلزم منه ألا يُقبل إقرارُه إذا فسره بتطليق زوج غيره أو بتطليقه في نكاح آخر وإن أقام بينة عليه فإذ قُبل ذلك على الشرائط المقدّمة وقال هذا الناقل في هذه المسألة لو صدَّقَتْه قُبل ولا أثر لتصديقها فإن الطلاق يتعلق بحق الله فلو قال لامرأته أنت طالق وزعم أنه أراد طلاقها عن وِثاق لم يقبل منه ظاهراً ولو صدَّقته المرأة فلا تعويل على تصديقها فلا وجه لهذا التفصيل
Jika seseorang berkata bahwa tidak dapat diterima untuk menafsirkan ucapannya “Engkau tertalak bulan lalu” sebagai pengakuan sama sekali, maka itu adalah pernyataan yang keliru, dan konsekuensinya adalah pengakuannya tidak akan diterima jika ia menafsirkannya sebagai menceraikan istri orang lain atau menceraikan dalam akad nikah yang lain, meskipun ia mendatangkan bukti atas hal itu. Maka, ketika hal tersebut diterima dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya, dan orang yang menukil pendapat ini berkata dalam masalah ini: “Jika istrinya membenarkannya, maka diterima,” padahal pembenaran dari istrinya tidak berpengaruh, karena talak berkaitan dengan hak Allah. Maka jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia mengklaim bahwa yang dimaksud adalah menceraikannya dari ikatan tertentu, maka klaim itu tidak diterima secara lahiriah. Dan jika istrinya membenarkannya, maka tidak ada pertimbangan terhadap pembenarannya. Maka tidak ada alasan untuk perincian seperti ini.
وينبغي أن يقال تفسير الرجل قولَه بالإقرار ويُحَلّف ويُفْصل بين هذه الصورة وبين ما إذا حُمل لفظه على الطلاق من غيره أو منه في نكاح آخر لأن هذا إنكار منه للطلاق في هذا النكاح فإن لم يُقْبل حَمْلُه اللفظَ على الإقرار وجب ألا يؤثر تصديقُها ووجب ألا يقبل حمل كلامه على طلاق غيره وعلى طلاقه في نكاح آخر
Seyogianya dikatakan bahwa penafsiran seseorang terhadap ucapannya sebagai pengakuan, maka ia harus disumpah, dan perlu dibedakan antara situasi ini dengan ketika ucapannya ditafsirkan sebagai talak yang dilakukan oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri dalam pernikahan yang lain. Sebab, dalam hal ini ia mengingkari terjadinya talak dalam pernikahan ini. Jika penafsiran ucapannya sebagai pengakuan tidak diterima, maka seharusnya pengakuan istrinya pun tidak berpengaruh, dan seharusnya tidak diterima penafsiran ucapannya sebagai talak yang dilakukan oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri dalam pernikahan yang lain.
فإن قيل لو قال الزوج إذا مات فلان فأنت طالق قبله بشهرٍ فمات
Jika dikatakan: Seandainya seorang suami berkata, “Jika si Fulan meninggal dunia, maka engkau tertalak satu bulan sebelum kematiannya,” lalu si Fulan meninggal dunia…
قبل مُضيّ الشهر فالطلاق لا يقع في هذه الصورة فهلا غلبتم الإيقاع في ظاهر الحال كما لو قال أنت طالق الشهرَ الماضي قلنا علق الطلاق بما لا يستحيل أن يُتصور أن يبقى ذلك الشخص أشهراً وهو الظاهر الذي عليه بناء الأمر فإن اتفق استئخار موته وقع الطلاق قبل موته بشهرٍ وإن مات قبل مضيّ الشهر فلفظه صريح في ترتيب الطلاق على هذا النسق فإذا جرّ محالاً لم نوقع الطلاق وهذا قد يقوّي مذهب الربيع في الحكم بأن الطلاق لا يقع إذا أراد إيقاع طلاقٍ في الحال على أن ينبسط منعكساً على ما مضى
Sebelum berlalu sebulan, talak tidak jatuh dalam kasus ini. Mengapa kalian tidak lebih menguatkan terjadinya talak secara lahiriah, sebagaimana jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada bulan lalu”? Kami katakan, ia menggantungkan talak pada sesuatu yang tidak mustahil untuk dibayangkan bahwa orang tersebut masih hidup selama beberapa bulan, dan inilah yang tampak sebagai dasar perkara. Jika kebetulan kematiannya tertunda, maka talak jatuh sebulan sebelum kematiannya. Namun jika ia meninggal sebelum berlalu sebulan, maka lafaznya jelas menunjukkan penetapan talak dengan urutan seperti ini. Jika ia mengaitkannya dengan sesuatu yang mustahil, maka kami tidak menetapkan talak. Hal ini dapat memperkuat mazhab ar-Rabi‘ dalam menetapkan bahwa talak tidak jatuh jika seseorang bermaksud menjatuhkan talak saat itu juga, namun ingin agar talak tersebut berlaku surut ke masa lalu.
ولو قال لامرأته أنت طالق غَدَ أمس أو أمس غدٍ على الإضافة في الموضعين فيقع الطلاق في اليوم فإن اليوم غدُ أمسٍ وأمسُ غدٍ
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak besok kemarin atau kemarin besok” dengan pengaitan pada kedua tempat tersebut, maka talak jatuh pada hari itu, karena hari itu adalah besoknya kemarin dan kemarinnya besok.
ولو قال أنت طالق غداً أمسِ من غير إضافةٍ وقع الطلاق غداً ولغا ذكر أمسِ وكذلك لو قال أنت طالق أمسِ غداً لغا ذكر أمس وطلقت غداً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak besok kemarin” tanpa adanya tambahan apa pun, maka talak jatuh besok dan penyebutan “kemarin” menjadi tidak dianggap. Demikian pula jika ia berkata, “Engkau tertalak kemarin besok,” maka penyebutan “kemarin” tidak dianggap dan talak jatuh besok.
وهذا فيه نظر عندنا فإنه إذا قال أنت طالقٌ أمس فهذا بمثابة قوله أنت طالق الشهرَ الماضي فلو أطلق هذا اللفظ لانتجز الطلاق في الحال فذكرُه غداً مع ذكره أمس لا يغيّر هذا المعنى ولا يؤخر الطلاق في الحال وهذا بيّن إذا تأملته
Hal ini masih perlu ditinjau menurut kami, sebab jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kemarin,” maka itu sama saja dengan mengatakan, “Engkau tertalak bulan lalu.” Jika ia mengucapkan lafaz ini secara mutlak, maka talak langsung terjadi saat itu juga. Menyebutkan “besok” bersamaan dengan menyebutkan “kemarin” tidak mengubah makna ini dan tidak menunda terjadinya talak saat itu juga. Hal ini jelas jika engkau memperhatikannya.
وممّا نذكره متصلاً بهذا الفصل أنه إذا قال إذا قدم فلان فأنت طالق قبله بشهر فقدم قبل مضي الشهر لم يقع الطلاق فإنا لو قضينا بوقوعه لقدمناه على القدوم بشهر ثم هذا يتضمن أن يتقدم وقوع الطلاق على لفظ المعلِّق وهذا محال
Perlu kami sebutkan yang berkaitan dengan bab ini, bahwa jika seseorang berkata, “Jika si Fulan datang, maka engkau tertalak satu bulan sebelumnya,” lalu si Fulan datang sebelum berlalu satu bulan, maka talak tidak jatuh. Sebab, jika kami memutuskan jatuhnya talak, berarti kami mendahulukannya satu bulan sebelum kedatangan, dan hal ini mengandung konsekuensi bahwa jatuhnya talak mendahului ucapan orang yang menggantungkan (talak), dan ini adalah hal yang mustahil.
وكذلك إذا قال إن ضربتك فأنت طالق قبله بشهر فإذا ضربها قبل مضي شهرٍ لم يقع الطلاق
Demikian pula, jika seseorang berkata, “Jika aku memukulmu, maka engkau tertalak satu bulan sebelumnya,” maka jika ia memukul istrinya sebelum berlalu satu bulan, talak tidak terjadi.
وإذا علق بالقدوم والضرب على ما صوّرنا فقَدِم الشخص المذكور بعد شهرٍ ووقع الضرب بعد شهرٍ قضينا بوقوع الطلاق متقدماً على القدوم والضّرب بشهر على نحو ما ذكره المعلّق
Jika talak digantungkan pada kedatangan dan pemukulan sebagaimana yang telah kami gambarkan, lalu orang yang disebutkan itu datang setelah satu bulan dan pemukulan terjadi setelah satu bulan, maka kami menetapkan bahwa talak terjadi satu bulan sebelum kedatangan dan pemukulan, sesuai dengan apa yang disebutkan oleh orang yang menggantungkan.
وقال أبو حنيفة إذا ذكر القدومَ أو غيرَه ثم أسند الطلاق إلى شهر قبل الصفة المذكورة فلا حكم للزمان المذكور والطلاق يقع عند القدوم والضّرب سواء تخلل شهر أو لم يتخلل ووافق أنه إذا قال إذا مَات فلان فأنت طالق قبله بشهرٍ فمات بعد شهرٍ أن الطلاق يقع مستنداً ولو قال إن ضربتك فأنت طالق قبل ضربي بشهر ثم ضربها قبل شهر فقد ذكر أن الطلاق لا يقع ثم تنحلّ اليمين بهذا الضرب حتى لو ضرب بعد ذلك بشهرٍ أو أشهر لم يقع الطلاق أيضاً فإن اليمين انحلت بالضرب الأوّل ولم يمكن وقوع الطلاق
Abu Hanifah berkata, jika seseorang menyebutkan kedatangan atau hal lain, kemudian mengaitkan talak dengan bulan sebelum sifat yang disebutkan itu, maka waktu yang disebutkan tidak memiliki pengaruh hukum dan talak terjadi pada saat kedatangan atau pemukulan, baik ada jeda satu bulan atau tidak. Ia juga sepakat bahwa jika seseorang berkata, “Jika si Fulan meninggal, maka engkau tertalak satu bulan sebelum kematiannya,” lalu si Fulan meninggal setelah satu bulan, maka talak berlaku secara mundur. Namun, jika ia berkata, “Jika aku memukulmu, maka engkau tertalak satu bulan sebelum aku memukul,” lalu ia memukulnya sebelum satu bulan, maka disebutkan bahwa talak tidak terjadi, dan sumpahnya menjadi batal dengan pemukulan itu. Sehingga jika ia memukul lagi setelah itu, baik setelah satu bulan atau beberapa bulan, talak pun tidak terjadi, karena sumpahnya telah batal dengan pemukulan pertama dan tidak mungkin talak terjadi.
ولو قال قائل الضرب المعقود عليه هو ضرب يتصور أن يقع الطلاق قبله بشهر فموجب هذا ألا تنحل اليمين بالضرب الأول لما كان هذا بعيداً تخريجاً على أن صفة اليمين إذا وجدت في حالة البينونة لا تنحل اليمين قد ذكرنا هذا في أول الخلع محكيّاً عن الإصطخري وسنعود إلى هذه الأجناس في فروع الطلاق إن شاء الله تعالى
Jika ada yang berkata, “Pukulan yang menjadi objek akad adalah pukulan yang mungkin terjadi talak sebelumnya satu bulan,” maka konsekuensinya adalah sumpah tidak menjadi batal dengan pukulan pertama, karena hal itu dianggap jauh, berdasarkan pendapat bahwa sifat sumpah jika terjadi dalam keadaan bain tidak membatalkan sumpah. Kami telah menyebutkan hal ini di awal pembahasan khulu‘ yang dinukil dari al-Ishthakhri, dan kami akan kembali membahas jenis-jenis ini dalam cabang-cabang masalah talak, insya Allah Ta‘ala.
فصل قال ولو قال لها أنت طالق إذا طلقتك إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” dan seterusnya.
هذا من أصول الكتاب وهو كثير التدوار في المسائل ومضمونه الكلامُ
Ini termasuk pokok-pokok kitab dan sering berulang dalam berbagai permasalahan, serta isinya adalah pembahasan…
في إن و إذا و متى و متى ما إذا اتصلت بالإثبات أو اتصلت بالنفي وفيه بيان تعليق الطلاق على التطليق وعلى وقوع الطلاق والفرق بين الممسوسة وغير الممسوسة
Pada kata “inna”, “idzā”, “matā”, dan “matā mā” apabila dihubungkan dengan penetapan atau dihubungkan dengan penafian, terdapat penjelasan tentang pengaitan talak dengan perbuatan mentalak, dengan terjadinya talak, serta perbedaan antara perempuan yang sudah digauli dan yang belum digauli.
فإذا قال لامرأته إن طلقتك فأنت طالق أوقال إذا طلقتك فأنت طالق أو متى طلقتك أو متى ما طلقتك فإن كانت مدخولاً بها فطلقها طلقت بالتنجيز وطلقت بالتعليق فتلحقها طلقتان ثم هذه الألفاظ لا تقتضي فوراً فمهما طلقها لحقها طلاقان طلاقٌ بحكم التعليق الماضي وانتجز ما نجزه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” atau berkata, “Apabila aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” atau “Kapan pun aku menceraikanmu,” atau “Setiap kali aku menceraikanmu,” maka jika istrinya sudah pernah digauli dan ia menceraikannya, maka jatuhlah talak secara langsung (tanpa syarat) dan juga jatuh talak karena adanya ta‘liq (penggantungan), sehingga istrinya terkena dua talak. Kemudian, lafaz-lafaz ini tidak mensyaratkan harus segera (langsung), sehingga kapan pun ia menceraikannya, maka jatuh dua talak: satu talak karena hukum ta‘liq yang telah lalu, dan satu talak lagi karena talak yang langsung terjadi.
ولو قال إن طلقتك أو إذا أو متى أو متى ما طلقتك فأنت طالق فهذه الألفاظ لا تقتضي قط بداراً وكذلك إذا أضيفت إلى دخول الدار وغيرها من الصفات
Jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu,” atau “apabila,” atau “kapan,” atau “kapan saja aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” maka lafaz-lafaz ini sama sekali tidak menuntut terjadinya talak secara langsung. Demikian pula jika lafaz tersebut dihubungkan dengan masuk rumah atau sifat-sifat lainnya.
وإن أضيفت إلى ما يقتضي عوضاً فإن و إذا يحملان على الفور فإذا قال إن أعطيتني ألفاً أو إذا أعطيتني ألفاً فهذا يقتضي الفور كما قدّمناه في أصول الخلع
Dan jika dikaitkan dengan sesuatu yang menuntut adanya imbalan, maka kata “in” (jika) dan “idha” (apabila) mengandung makna segera. Maka jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu” atau “Apabila kamu memberiku seribu,” hal ini menuntut pelaksanaan secara segera, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan ushul khulu‘.
فأما متى و متى ما و مهما فإنها لا تقتضي الفور وإن قرنت بطلب العوض
Adapun kata “matā”, “matā mā”, dan “mahmā”, maka ketiganya tidak menuntut pelaksanaan segera, meskipun disertai dengan permintaan imbalan.
هذا أصل المذهب وقد مهدناه في الخلع
Ini adalah pokok madhhab, dan kami telah menjelaskannya dalam pembahasan khulu‘.
والفقهُ المتبع في هذه الأبواب أنّ متى و متى ما و مهما بمثابة قولك أيّ وقتٍ وهذا تنصيص على إدخال الأزمنة كلها فإذا قرنت بالعوض فالنص لا يحال والخلع يقبل التأخير والتعجيل
Fiqh yang diikuti dalam bab-bab ini adalah bahwa kata “matā”, “matā mā”, dan “mahmā” memiliki makna seperti ucapan “ayy waqtin” (kapan saja), dan ini merupakan penegasan untuk mencakup seluruh waktu. Maka, jika dikaitkan dengan imbalan, nash tidak berubah, dan khulu‘ dapat dilakukan dengan penundaan maupun percepatan.
وأما إن و إذا فليسا ناصَّين على الأوقات وإدخالِ جميعِها تنصيصاً فإذا اقترن بهما قصد التعويض انتصب التعويض قرينةً في تخصيص إن و إذا بالزمان المتصل هذا إذا كان في الكلام قصد تعويض
Adapun kata “in” dan “idza” tidak secara tegas menunjukkan waktu dan tidak memasukkan seluruh waktu secara eksplisit. Apabila keduanya disertai dengan maksud penggantian, maka penggantian tersebut menjadi petunjuk dalam mengkhususkan “in” dan “idza” pada waktu yang bersambung, yaitu jika dalam pembicaraan terdapat maksud penggantian.
فإن لم يجر ذكر العوض فإنْ و إذا بمثابة متى و متى ما في التأخير فإذا قال إن دخلتِ الدار فأنت طالق لم يقتض ذلك فوراً في الدخول وكذلك إذا قال إذا دخلتِ الدار و مهما بمثابة ما لو قال متى أو متى ما دخلتِ الدارَ فأنت طالق
Jika tidak disebutkan imbalan, maka kata “in” dan “idha” setara dengan “mata” dan “mata ma” dalam hal penundaan. Maka jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” hal itu tidak menuntut terjadinya talak secara langsung saat masuk. Demikian pula jika ia berkata, “Apabila kamu masuk rumah,” dan “mahma” setara dengan seolah-olah ia berkata, “kapan” atau “kapan saja kamu masuk rumah, maka kamu tertalak.”
والمشيئة في الصفات مستثناة فإذا قال أنت طالق إن شئت اقتضى ذلك فوراً بخلاف قوله إن دخلت وإن كلمت زيداً وما جرى هذا المجرى والسبب فيه أن تفويض الطلاق إلى المشيئة يتضمن تمليكها نفسها والتمليك يقتضي قبولاً أو ما في معنى القبول متصلاً بالتمليك وسنذكر مسائل المشيئة إن شاء الله عز وجل
Kehendak (mashi’ah) dalam sifat-sifat dikecualikan; maka jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” hal itu menuntut terjadinya secara langsung, berbeda dengan ucapannya, “Jika engkau masuk,” atau “Jika engkau berbicara dengan Zaid,” dan hal-hal lain yang serupa. Sebabnya adalah karena pelimpahan talak kepada kehendak (istri) berarti memberikan kepemilikan talak kepada dirinya sendiri, dan pemberian kepemilikan itu menuntut adanya penerimaan atau sesuatu yang semakna dengan penerimaan yang bersambung dengan pemberian kepemilikan tersebut. Kami akan menyebutkan masalah-masalah tentang kehendak (mashi’ah) insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فانتظم من مجموع ما ذكرناه أنّ إن و إذا محمولان على الفور عند ذكر العوض و متى و متى ما يجريان على التأخير و إن و ومتى و متى ما في الصفات كلها على التأخير إلا في المشيئة
Maka, dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa kata “in” dan “idha” bermakna segera ketika disebutkan sebagai pengganti, sedangkan “mata” dan “mata ma” bermakna penundaan. Adapun “in”, “mata”, dan “mata ma” dalam seluruh sifat bermakna penundaan, kecuali dalam masalah kehendak (mashi’ah).
ولو علق الطلاق بنفيٍ نظر في هذه الأدوات فإن قال إن لم أطلقك إن لم أضربك إن لم تدخلي الدار أو ما جرى مجرى هذه الصفات فإنْ في جميعها لا تقتضي فوراً كما لو ربط بالإثبات فقوله إن لم تدخلي كقوله إن دخلت في أن لا فور فيهما جميعاًً
Jika talak digantungkan pada penafian, maka dilihat pada alat-alat (ungkapan) tersebut. Jika seseorang berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, jika aku tidak memukulmu, jika kamu tidak masuk ke rumah,” atau ungkapan lain yang serupa, maka dalam semua kasus tersebut tidak disyaratkan segera (pelaksanaannya), sebagaimana jika digantungkan pada penetapan. Ucapannya “Jika kamu tidak masuk” sama dengan ucapannya “Jika kamu masuk” dalam hal tidak disyaratkan segera pada keduanya.
وإذا قال إن لم أطلقك فأنتِ طالق فالأمر على التراخي والتمادي ما بقي الزوجان وأمكن التطليق وتوقعه فلو ماتت أيسنا حينئذ من التطليق فنحكم بوقوع الطلاق قُبَيْل مَوتِها فإنه كان قال إن لم أطلقك فأنت طالق وقد تحقق أنه لم يطلقها
Jika seorang suami berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” maka perkara ini bersifat terus-menerus dan berkelanjutan selama keduanya masih menjadi suami istri dan masih memungkinkan terjadinya talak serta diharapkan akan terjadi. Jika sang istri meninggal, maka kita berputus asa dari kemungkinan terjadinya talak, sehingga kita menetapkan jatuhnya talak sesaat sebelum kematiannya, karena ia telah berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” dan telah nyata bahwa ia tidak menceraikannya.
وإن مات الزوج فقد تحقق اليأس بموته أيضاًً فنتبين وقوعَ الطلاق قبيل موته ولو جن الزوج فلا يأس من التطليق بل نتوقع الإفاقة فلو اتصل الجنون بموت الزوج فنتبين وقوعَ الطلاق قبيل الجنون فإنا تحققنا بالأَخرة أن الطلاق تعذّر من وقت الجنون
Jika suami meninggal, maka telah terwujud keputusasaan (tidak mungkin lagi terjadi talak) karena kematiannya juga, sehingga kita menetapkan terjadinya talak sebelum kematiannya. Namun jika suami menjadi gila, maka tidak ada keputusasaan dari kemungkinan terjadinya talak, melainkan kita masih mengharapkan kesembuhannya. Jika kegilaan itu berlanjut hingga kematian suami, maka kita menetapkan terjadinya talak sebelum kegilaan, karena pada akhirnya kita meyakini bahwa talak menjadi mustahil sejak waktu kegilaan itu.
ولو قال إن لم أطلقك فأنت طالق ثم بانت عنه بفسخٍ وجدّد عليها نكاحاً ففي عَوْد الحِنث قولان فإن حكمنا بأن الحنث يعود فكأنها لم تَبِنْ ويعود استمرار توقع التطليق على الترتيب الذي ذكرناه
Jika seseorang berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” kemudian istrinya berpisah darinya dengan fasakh, lalu ia menikahinya kembali, maka dalam hal kembalinya pelanggaran terdapat dua pendapat. Jika kita memutuskan bahwa pelanggaran itu kembali, maka seakan-akan ia tidak pernah berpisah, dan kelanjutan kemungkinan terjadinya talak kembali seperti urutan yang telah kami sebutkan.
وإن قلنا الحِنث لا يعود فهذا موقفٌ يجب التوقف عنده للوقوف على ما فيه
Dan jika kita mengatakan bahwa pelanggaran sumpah tidak kembali, maka ini adalah suatu persoalan yang harus dicermati untuk mengetahui apa yang terkandung di dalamnya.
فإذا قال إن لم أضربك فأنت طالق ثم بانت عنه بطلاق أو فسخٍ فالضرب بعدُ غير مأيوس وإن بانت عنه فلو ضربها بعد البينونة أو بعد نكاحٍ فالطلاق المعلق بعدم الضرب لا يتوقع له وقوع فإنه قال إن لم أضربك فقد ضربها ولو لم يضربها في النكاح الأول فبانت وماتت أو نكحها وماتت في النكاح الثاني فالطلاق المعلّق في النكاح الأول لا يقع في النكاح الثاني فإنا نفرّع على منع العَوْد وقد تحقق اليأس من الضرب وعجزنا عن إيقاع الطلاق في النكاح الثاني
Jika seseorang berkata, “Jika aku tidak memukulmu, maka engkau tertalak,” kemudian istrinya berpisah darinya karena talak atau fasakh, maka kemungkinan memukul itu masih ada. Namun, jika istrinya telah berpisah darinya, lalu ia memukulnya setelah perpisahan atau setelah akad nikah baru, maka talak yang digantungkan pada tidak adanya pemukulan itu tidak diharapkan terjadi, karena ia telah berkata, “Jika aku tidak memukulmu,” padahal ia telah memukulnya. Jika ia tidak memukulnya pada pernikahan pertama, lalu istrinya berpisah dan meninggal, atau ia menikahinya kembali lalu meninggal dalam pernikahan kedua, maka talak yang digantungkan pada pernikahan pertama tidak berlaku pada pernikahan kedua, karena kita berpegang pada pendapat yang melarang kembalinya (hukum talak tersebut), dan telah dipastikan tidak mungkin lagi terjadi pemukulan serta kita tidak mampu menjatuhkan talak pada pernikahan kedua.
وإن صوّرنا في البائنة موتها من غير تجديد نكاح فهذا يُغني عن التفريع على عود الحنث فنقول إذا تحقق اليأس من الضرب آخراً وعسر الحكم بوقوع الطلاق قبيل موتها فإنها بائنة أو منكوحة نكاحاً جديداً لا يقع فيه الطلاق المعلق في النكاح الأول فإذا كان كذلك فهل نتبين أنها طلقت في النكاح الأول قبيل البينونة هذا موضع النظر
Jika kita membayangkan dalam kasus wanita yang telah bercerai bain bahwa ia meninggal tanpa adanya pembaruan akad nikah, maka hal ini mencukupi sehingga tidak perlu merinci tentang kembalinya pelanggaran sumpah. Maka kita katakan: apabila telah dipastikan tidak ada kemungkinan terjadinya sumpah di kemudian hari dan sulit untuk memutuskan terjadinya talak sebelum kematiannya, maka ia adalah wanita yang telah bercerai bain atau telah dinikahi dengan akad nikah yang baru, di mana talak yang digantungkan pada pernikahan pertama tidak berlaku padanya. Jika demikian, apakah kita dapat memastikan bahwa ia telah ditalak dalam pernikahan pertama sebelum terjadinya bain? Inilah yang perlu diteliti.
والوجه ألا نحكم بوقوع الطلاق فإنا إنما نحكم بوقوع الطلاق عند تعليق الطلاق بالنفي متى تحقق اليأس فوقْتُ وقوع الطلاق يتقدم على اليأس بلحظة وقد صادفت هذه اللحظة بينونةً أو نكاحاً جديداً ولو ذهب ذاهب إلى ردّ الطلاق إلى النكاح الأول ليأسٍ بعده استرسل هذا الكلام إلى أصل لم يصر إليه أحد من الأصحاب وهو أن نقول إذا تحقق اليأس والنكاح واحد فنتبيّن عند اليأس وقوع الطلاق من وقت اللفظ
Pendapat yang lebih kuat adalah kita tidak menetapkan terjadinya talak, karena kita hanya menetapkan terjadinya talak ketika talak digantungkan pada penafian, yaitu ketika keputusasaan telah benar-benar terjadi. Namun, waktu terjadinya talak itu lebih awal daripada keputusasaan, yakni sesaat sebelumnya. Bisa jadi pada saat itu telah terjadi perpisahan (bainunah) atau akad nikah baru. Jika ada yang berpendapat untuk mengembalikan talak kepada pernikahan pertama karena keputusasaan yang terjadi setelahnya, maka pendapat ini akan membawa pada suatu prinsip yang tidak pernah dipegang oleh siapa pun dari para ulama, yaitu bahwa jika keputusasaan telah benar-benar terjadi dan pernikahan masih satu, maka kita menetapkan pada saat keputusasaan itu bahwa talak terjadi sejak waktu pengucapan lafaz.
وهذا من دقيق الفقه فتأمّلوه ترشدوا
Ini termasuk bagian dari fiqh yang mendalam, maka renungkanlah agar kalian mendapatkan petunjuk.
ولم يصر أحد من الأصحاب إلى إسناد الطلاق إلى وقت اللفظ إذا تحقق اليأس وهذا محتمل من جهة أن المذهب الأصح أن المستطيع المستجمع لأسباب الاستمكان إذا لم يحج وقد تمادت سنون في الاستطاعة فنحكم بأنه يموت عاصياً وفي الأصحاب من يبسط المعصية على أول وقت الاستطاعة ومنهم من يحصر التعصية في السنة الأخيرة فليتنبه الناظر لما يُنَبّه له
Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang berpendapat bahwa talak disandarkan pada waktu pengucapan jika telah dipastikan adanya keputusasaan, dan hal ini masih mungkin dari sisi bahwa mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa seseorang yang mampu dan telah memenuhi seluruh syarat kemampuan, jika ia tidak menunaikan haji padahal telah berlalu beberapa tahun dalam keadaan mampu, maka kita menetapkan bahwa ia mati dalam keadaan maksiat. Di antara para sahabat ada yang memperluas maksiat itu sejak awal waktu kemampuan, dan ada pula yang membatasi kemaksiatan hanya pada tahun terakhir. Maka hendaknya orang yang menelaah memperhatikan apa yang diingatkan di sini.
ولم نقل هذا ليكون وجهاً فإن الأصحاب مجمعون على أن الطلاق لا يستند إلى وقت اللفظ والزوج متسلط على الوطء إجماعاً وإن كان بيده أن يضرب ويخلّص نفسه من هذا التوقع
Kami tidak mengatakan hal ini sebagai sebuah pendapat, karena para ulama sepakat bahwa talak tidak berlaku surut ke waktu pengucapan, dan suami berhak melakukan hubungan suami istri secara ijmā‘, meskipun ia memiliki kemampuan untuk menjatuhkan talak dan membebaskan dirinya dari kekhawatiran ini.
ونعود بعد ذلك إلى ما كنا فيه فنقول إذا قال لامرأته إن لم أطلقك فأنت طالق ثم انفسخ النكاح بسببٍ وماتت على البينونة فقد عسر التطليق بالانفساخ ثم اتصلت البينونة بالموت فهذا عندنا بمثابة الجنون إذا طرأ وقد قال إن لم أطلقك فأنت طالق فإذا جنّ فالجنون لا يقطع توقع التطليق بتقدير الإفاقة ولكن إذا اتصل بالموت أسندنا اليأس إلى أول الجنون كذلك البينونة تنافي التطليق ولا تنافي توقّعه فإذا استمرت البينونة إلى الموت كان بمثابة اتصال الجنون بالموت فيلزم من هذا المساق إسناد اليأس إلى الفسخ فليقع الطلاق قُبَيْله
Kemudian kita kembali kepada pembahasan sebelumnya, maka kami katakan: Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” lalu pernikahan itu batal karena suatu sebab dan sang istri meninggal dalam keadaan terpisah, maka perceraian menjadi sulit dilakukan karena pembatalan tersebut, kemudian perpisahan itu bersambung dengan kematian. Dalam hal ini, menurut kami, keadaannya seperti orang yang tiba-tiba menjadi gila setelah berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak.” Jika ia menjadi gila, kegilaan itu tidak memutus kemungkinan terjadinya talak jika ia sembuh, namun jika kegilaan itu bersambung dengan kematian, maka kami sandarkan keputusasaan (tidak mungkin terjadi talak) pada awal kegilaan. Demikian pula, perpisahan (bainunah) bertentangan dengan terjadinya talak, tetapi tidak bertentangan dengan kemungkinan terjadinya talak. Jika perpisahan itu berlangsung terus hingga kematian, maka keadaannya seperti kegilaan yang bersambung dengan kematian. Dari penjelasan ini, keputusasaan (tidak mungkin terjadi talak) disandarkan pada pembatalan pernikahan, sehingga talak terjadi sesaat sebelum itu.
وليتصوّن المرء الآن من الوقوع في الدَّوْر فإن الطلاق المعلق لو كان رجعياً انتظم فيه تصوّر الفسخ وإن كان بائناً وقع في قاعدة الدَّور فلا التفات إليها فإنها بين أيدينا وسنفري فيها فريّنا والله المستعان
Agar seseorang sekarang terhindar dari terjerumus dalam lingkaran (dawr), maka talak yang digantungkan (mu‘allaq), jika bersifat raj‘i, masih memungkinkan untuk membayangkan adanya pembatalan (fasakh). Namun jika bersifat bain, maka akan masuk dalam kaidah lingkaran (dawr), sehingga tidak perlu memperhatikannya, karena masalah ini ada di hadapan kita dan kita akan membahasnya secara mendalam. Allah-lah tempat memohon pertolongan.
والغرض الآن الفرق بين أن يقول إن لم أطلقك فأنتِ طالق وبين أن يقول إن لم أضربك فأنت طالق فإن اليأس عن التطليق يستند إلى أول البينونة فإن البينونة تنافي التطليق والبينونة لا تنافي الضرب فاليأس من الضرب يقع قبيل الموت ولا يصادف محلاً للطلاق
Tujuan sekarang adalah membedakan antara ucapan “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak” dengan ucapan “Jika aku tidak memukulmu, maka engkau tertalak.” Putus asa dari menceraikan bersandar pada terjadinya bainunah pertama, karena bainunah bertentangan dengan talak, sedangkan bainunah tidak bertentangan dengan pemukulan. Maka, putus asa dari memukul terjadi menjelang kematian dan tidak menemukan tempat bagi terjadinya talak.
ولو قال إن لم أطلقك فأنت طالق فانفسخ النكاح بردةٍ أو غيرها ثم جدد عليها نكاحاً فالتطليق يتصوّر في النكاح الثاني وإن منعنا عَوْد الحنث فإن الذي يمتنع هو الطلاق المعلّق لا التطليق في صورته وصورة التطليق في النكاح الثاني كالضرب فلا يتحقق اليأس من التطليق قبيل الموت ثم إذا منعنا عَوْد الحنث لا يتصوّر وقوع الحِنث في تلك اللحظة
Jika seseorang berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” lalu pernikahan itu terputus karena murtad atau sebab lainnya, kemudian ia menikahinya kembali, maka penceraian dapat terjadi pada pernikahan yang kedua. Jika kita melarang kembalinya pelanggaran (al-ḥinth), yang terlarang adalah talak yang digantungkan, bukan penceraian dalam bentuknya. Bentuk penceraian pada pernikahan kedua seperti tindakan memukul; sehingga tidak dapat dipastikan mustahilnya penceraian menjelang kematian. Kemudian, jika kita melarang kembalinya pelanggaran, maka tidak mungkin terjadi pelanggaran pada saat itu.
وهذه أصول بيّنةٌ للفطن ملتبسةٌ على من لا يردّ نظره إليه
Ini adalah pokok-pokok yang jelas bagi orang yang cerdas, namun samar bagi siapa saja yang tidak mengarahkan perhatiannya kepadanya.
وكل ما ذكرناه نفرّع على تعليق الطلاق بنفيٍ بكلمة إن التي هي أم باب الشرط فلو علق الطلاق بنفيٍ واستعمل إذا أو متى أو متى ما أو مهما فقال إذا لم أضربك أو إذا لم أطلقك فأنت طالق فالقول في متى و متى ما كالقول في إذا فإذا مضى من الزمان ما يسع التطليقَ أو الضربَ أو صفةً أخرى علق الطلاق بها ولم يأت بما ذكره يقع الطلاق الذي علقه وليس كما لو قال إن لم أطلقك
Segala sesuatu yang telah kami sebutkan, kami rincikan berdasarkan penangguhan talak dengan penafian menggunakan kata “in” yang merupakan induk dari semua kata syarat. Maka, jika seseorang menangguhkan talak dengan penafian dan menggunakan kata “idzā” atau “matā” atau “matā mā” atau “mahmā”, lalu ia berkata: “Jika aku tidak memukulmu” atau “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak”, maka hukum pada “matā” dan “matā mā” sama dengan hukum pada “idzā”. Maka, jika telah berlalu waktu yang cukup untuk melakukan talak atau pukulan atau sifat lain yang dijadikan syarat penangguhan talak, namun ia tidak melakukan apa yang disebutkan, maka jatuhlah talak yang digantungkan tersebut. Hal ini berbeda dengan jika ia berkata: “Jika aku tidak menceraikanmu.”
ولا يستقل بمعرفة الفرق بين إن و إذا من لم يفهم طرفاً يتعلق بهذا الفصل من العربية فنقول إذا ظرفُ زمان وهو اسم مشعر بالزمان وكذلك متى و متى ما و إن حرف وليس بظرف وليس اسماً للزمان فإذا قال القائل إذا لم أطلقك فمعناه أيُّ وقت لم أطلقك فأنت طالق فقد علق طلاقها بوقت لا يطلقها فيه فإذا مضى وقت لم يطلقها فيه فقد وُجدت الصّفة التي علق الطلاق بها و إن ليس اسماً لوقتٍ وإنما هو حرف مسترسلٌ على الاستقبال لا إشعار فيه بزمان
Tidak dapat memahami perbedaan antara “in” dan “idza” bagi siapa pun yang belum memahami sebagian dari bab ini dalam ilmu bahasa Arab. Maka kami katakan, “idza” adalah zharaf zaman (kata keterangan waktu) dan merupakan isim yang menunjukkan waktu, demikian juga “mata” dan “mata ma”. Sedangkan “in” adalah huruf, bukan zharaf, dan bukan isim untuk waktu. Maka jika seseorang berkata, “idza lam uthalliqki” (jika aku tidak menceraikanmu), maknanya adalah “pada waktu apa pun aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak.” Ia telah menggantungkan talak pada waktu tertentu yang ia tidak menceraikannya pada waktu itu. Maka jika telah berlalu suatu waktu di mana ia tidak menceraikannya, maka telah terwujud sifat yang menjadi syarat talak tersebut. Sedangkan “in” bukanlah isim untuk waktu, melainkan huruf yang menunjukkan masa depan dan tidak mengandung makna waktu.
هذا هو الفرق ويترتب عليه أنّ متى و متى ما في معنى إذا فإن معناهما أي وقتٍ لم أطلقك وابتناؤهما على التأخير في مثل قوله متى أعطيتني ألفاً فأنت طالق لا يغيّر غرضَنا في المقام الذي نحن فيه فإن متى تنطلق على الزمان القريب انطلاقه على البعيد والطلاق يقع بأول الاسم فإذا تحقق الزمان الأول عريّاً عن التطليق فقد وُجدت صفة الطلاق ثم يتسق من هذا أن آثارها تقع على الفور بخلاف ما إذا فرضت في إثبات الأعواض في مثل قول القائل إذا أعطيتني مع قوله متى أعطيتني والسبب فيه ان متعلق الطلاق ثمَّ اعطاءٌ فإن قرن بلفظ لا ينص على عموم الزمان اقتضت قرينة العوضية تعجيلاً وإن قرنت بلفظ ناصٍّ على عموم الأوقات حمل على العموم والطلاق بالإعطاء والزمان ظرفُه
Inilah perbedaannya, dan konsekuensinya adalah bahwa kata “matā” dan “matā mā” memiliki makna yang sama dengan “idhā”, yaitu kapan saja aku tidak menceraikanmu, dan keduanya dibangun di atas penundaan, seperti dalam ucapan “matā a‘ṭaytanī alfan fa-anti ṭāliq” (kapan saja engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak), hal ini tidak mengubah maksud kita dalam konteks yang sedang kita bahas. Sebab, “matā” dapat digunakan untuk waktu dekat maupun jauh, dan talak terjadi pada awal penyebutan nama (waktu). Maka, jika waktu pertama telah terwujud tanpa adanya perceraian, maka sifat talak telah ada. Dari sini dapat disimpulkan bahwa akibat-akibatnya terjadi secara langsung, berbeda dengan jika hal itu diasumsikan dalam penetapan kompensasi, seperti ucapan seseorang “idhā a‘ṭaytanī” dibandingkan dengan “matā a‘ṭaytanī”. Sebabnya adalah bahwa yang berkaitan dengan talak adalah pemberian itu sendiri. Jika digandengkan dengan lafaz yang tidak menunjukkan keumuman waktu, maka indikasi kompensasi menuntut percepatan. Namun, jika digandengkan dengan lafaz yang secara tegas menunjukkan keumuman waktu, maka dipahami sebagai keumuman, dan talak terjadi karena pemberian, sedangkan waktu adalah wadahnya.
والمعتمد فيما نحن فيه تحقق زمان عارٍ عن الصفة
Pendapat yang dipegang dalam masalah yang sedang kita bahas adalah terwujudnya suatu waktu yang bebas dari sifat tersebut.
وهذا بيّن لا إشكال فيه
Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
والذي ذكرناه قاعدة المذهب
Apa yang telah kami sebutkan adalah kaidah mazhab.
والذي سنذكره بعدُ فيه غيرُ معدودٍ من متنه وأصله ولذلك أخرته ولا أجد بداً من ذكره لأنّي وجدته في تصانيف الأئمة مسطوراً قال العراقيون من أصحابنا من لم يتضح له الفرق بين إن و إذا في النفي فقال أجعل المسألة فيهما على قولين نقلاً وتخريجاً أحدهما أن الأمر يُحمل فيهما على الفور إذا كان متعلَّق الطلاق نفياً فإذا قال إن لم أطلقك فأنت طالق فمضى أقل زمان إمكان الطلاق وقع الطلاق كما لو قال إذا لم أطلقك
Apa yang akan kami sebutkan setelah ini tidak termasuk dalam inti dan pokok pembahasan, oleh karena itu aku menundanya. Namun aku tidak menemukan jalan lain kecuali menyebutkannya, karena aku menemukannya tertulis dalam karya-karya para imam. Orang-orang Irak dari kalangan mazhab kami berkata: Barang siapa yang belum jelas baginya perbedaan antara “in” dan “idza” dalam konteks penafian, maka ia berkata, “Aku menjadikan masalah ini pada keduanya berdasarkan dua pendapat, baik secara riwayat maupun istinbat.” Salah satunya adalah bahwa perintah dalam keduanya dibawa kepada makna segera (al-faur) jika berkaitan dengan talak dalam bentuk penafian. Maka jika seseorang berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” lalu berlalu waktu paling singkat yang memungkinkan untuk menjatuhkan talak, maka talak pun jatuh, sebagaimana jika ia berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu.”
والقول الثاني أنّ إن و إذا بمثابةٍ واحدة ولا يقع الطلاق منهما ما لم يتحقق اليأس من الطلاق كأنْ لو كانت الصفةُ إثباتاً فإنَّ إن و إذا في الإثبات مستويان في قول القائل إن دخلت الدار وإذا دخلت الدار وهذه الطريقة مزيفة نقلها العراقيون وبالغوا في تزييفها وذكرها الشيخ أبو علي على هذا النسق وحكى عن صاحب التلخيص أنه قال إذا قال إذا لم أطلقك أو إن لم أطلقك فكلاهما على التراخي وهذا خطأ وهو مذهب أبي حنيفة
Pendapat kedua menyatakan bahwa “in” dan “idha” memiliki kedudukan yang sama, dan talak tidak terjadi dengan keduanya kecuali jika telah benar-benar putus harapan dari terjadinya talak, seperti apabila sifatnya adalah penetapan. Maka, “in” dan “idha” dalam konteks penetapan adalah setara, sebagaimana ucapan seseorang: “Jika aku masuk rumah” dan “Apabila aku masuk rumah.” Metode ini dianggap tidak sahih, sebagaimana yang dinukil oleh para ulama Irak, bahkan mereka sangat menegaskan ketidaksahihannya. Syaikh Abu ‘Ali juga menyebutkannya dengan pola seperti ini, dan menukil dari penulis kitab “At-Talkhish” bahwa ia berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Jika aku tidak menalakkanmu’ atau ‘Apabila aku tidak menalakkanmu,’ maka keduanya bersifat ta’rikh (penundaan).” Ini adalah kekeliruan, dan merupakan mazhab Abu Hanifah.
ومما نذكره بعد عقد المذهب أن صاحب التقريب قال إذا قال إذا لم أطلقك فأنت طلاق فهذا على الفور عند الإطلاق فلو قال أردتُ بذلك إن فاتني طلاقك فأنت طالق فهل يقبل ذلك منه أم لا ذَكَر وجهين وأجرى الكلامَ على أن إذا في الإطلاق مع النفي للفور فإن حَمَل المطلقَ على التراخي بالتأويل الذي ذكرناه ففي قبول ماجاء به في الظاهر وجهان وهذا الذي قاله حسنٌ ملتحق بمتن المذهب لما فيه من الاحتمال
Dan yang perlu kami sebutkan setelah membahas mazhab adalah bahwa penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang berkata, “Jika aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” maka ini berlaku seketika saat diucapkan. Namun, jika ia berkata, “Maksudku dengan itu adalah jika aku terlambat menceraikanmu, maka engkau tertalak,” apakah hal itu dapat diterima darinya atau tidak? Ia menyebutkan dua pendapat, dan membahas bahwa kata “jika” (idha) dalam ungkapan tersebut, jika disertai penafian, menunjukkan makna seketika. Jika orang yang mengucapkan itu diarahkan pada makna penundaan (at-ta’rīkh) dengan takwil yang telah kami sebutkan, maka dalam hal menerima maksud yang ia sampaikan secara lahiriah terdapat dua pendapat. Apa yang ia katakan ini adalah baik dan termasuk dalam inti mazhab karena mengandung kemungkinan makna.
ثم شبَّب في مساق كلامه بشيء فقال إذا قال الرجل لامرأته إن أعطيتني ألفاً فأنت طالق ثم قال أردت متى أعطيتني فيحتمل أن يُقبل ذلك وهذا عندنا يجب ألا يُتردد فيه فإنه فيما يبديه موسّعٌ للطلاق وكل ما يقبل التديين فيه فإذا قاله الرجل وهو عليه فيقبل ولكن يتطرق إليه أنه قد يقصد استحقاق العوض المتراخي فيجب أن يقال إن وافقته المرأة في تصديقه استحقَّ العوض وإن أبت وقد أتت بالعوض في زمانٍ متراخٍ فهذا الآن محتمل
Kemudian ia menyinggung dalam pembicaraannya tentang suatu hal, lalu berkata: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seribu (dirham), maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata, “Maksudku adalah kapan saja kamu memberikannya kepadaku,” maka hal ini mungkin dapat diterima. Namun menurut kami, seharusnya tidak ada keraguan dalam hal ini, karena dalam apa yang ia nyatakan terdapat kelonggaran dalam talak, dan setiap perkara yang dapat diterima secara agama, maka jika seorang laki-laki mengatakannya dan itu menjadi tanggungannya, maka itu diterima. Namun, ada kemungkinan bahwa ia bermaksud memperoleh kompensasi yang tertunda, sehingga harus dikatakan: Jika istrinya membenarkannya, maka ia berhak mendapatkan kompensasi tersebut. Namun jika istrinya menolak dan telah memberikan kompensasi itu di waktu yang tertunda, maka hal ini masih mengandung kemungkinan.
وقد نجز الكلام على إن و إذا و متى و متى ما و مهما في النفي والإثبات مع العوض ومن غير عوض ويلتحق بمتى و متى ما و مهما قولك أيّ وقتٍ وأي حين وأي زمانٍ فهذه الألفاظ بمثابة قولك متى في كل تفصيل
Telah selesai pembahasan tentang in, idzā, matā, matā mā, dan mahmā dalam konteks penafian dan penetapan, baik dengan adanya pengganti maupun tanpa pengganti. Yang termasuk juga bersama matā, matā mā, dan mahmā adalah ucapanmu: ayy waqtin, ayy hīnin, dan ayy zamānin. Maka, kata-kata ini posisinya sama seperti ucapanmu matā dalam setiap perincian.
وقد نجز بنجاز هذا ركنٌ واحد من مضمون الفصلِ المعقود وقد بيّنا أن مضمونه ثلاثة أركان وهذا الذي مضى ركن
Dengan selesainya pembahasan ini, satu rukun dari isi bab yang telah ditetapkan telah tuntas, dan kami telah menjelaskan bahwa isinya terdiri dari tiga rukun, dan apa yang telah lalu adalah satu rukun.
الركن الثاني في تفصيل القول في المدخول بها وغير المدخول بها في الأغراض التي نُجريها فإذا قال لامرأته المدخول بها إن طلقتك فأنت طالق أو إذا طلقتك أو متى فإذا طلقها انتجز ما نجزه ووقع الطلاق الذي علَّقه بالتطليق إذ قال إن طلقتك فأنت طالق
Rukun kedua adalah penjelasan mengenai perbedaan antara istri yang sudah digauli dan yang belum digauli dalam tujuan-tujuan yang kami jalankan. Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” atau “Jika aku menceraikanmu,” atau “Kapan pun,” lalu ia menceraikannya, maka terlaksana apa yang ia nyatakan dan jatuh talak yang ia gantungkan pada perceraian, sebagaimana ucapannya, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak.”
ثم هذه الألفاظ وهي إن و إذا و متى و متى ما و مهما ليس فيها اقتضاء التكرار وإنما فيها عموم الزمن ثم اليمين تنحل بمرة واحدة ولا أثر لهذا والطلاق ثلاث وإنما يظهر أثر ما نقول في العتاق فإذا قال مهما أعتقت عبداً من عبيدي فعبد آخر معه حرّ فإذا أعتق عبداً عتق عبدٌ ولو أعتق بعد ذلك عبداً لم يعتِق عبدٌ آخر بحكم التعليق المقدم فإن اليمين انحلّت بالكرَّة الأولى
Kemudian, lafaz-lafaz ini—yaitu in, idzā, matā, matā mā, dan mahmā—tidak mengandung makna pengulangan, melainkan menunjukkan keluasan waktu. Sumpah (yamin) menjadi gugur dengan satu kali pelaksanaan, dan hal ini tidak berpengaruh pada kasus talak tiga. Namun, pengaruh dari apa yang kami katakan tampak dalam kasus pembebasan budak (‘itāq). Jika seseorang berkata, “Mahmā aku memerdekakan seorang budak dari budak-budakku, maka seorang budak lain bersamanya juga merdeka,” lalu ia memerdekakan seorang budak, maka seorang budak lain juga merdeka. Namun, jika setelah itu ia memerdekakan budak lagi, tidak ada budak lain yang ikut merdeka berdasarkan hukum ta‘liq (pengaitan) yang telah disebutkan sebelumnya, karena sumpah (yamin) telah gugur dengan pelaksanaan yang pertama.
والصّيغة المقتضية للتكرار في العربية قول القائل كلما ضربتك فأنت طالق فإذا ضربها طلقت ثم لو ضربها مرة أخرى طُلّقت طلقة أخرى وكذلك حتى تستوعب الطلقات ولو كانت أعداد الطلاق أكثر من الثلاث لاسترسلت كلمة كلما على جميعها
Ungkapan yang menunjukkan pengulangan dalam bahasa Arab adalah ucapan seseorang, “Setiap kali aku memukulmu, maka engkau tertalak.” Maka jika ia memukul istrinya, istrinya tertalak. Kemudian jika ia memukulnya lagi, jatuh talak yang lain, demikian seterusnya hingga seluruh talak habis. Jika jumlah talak lebih dari tiga, maka kata “setiap kali” akan terus berlaku untuk semuanya.
ولو قال لامرأته التي لم يدخل بها إن طلقتك أو إذا طلقتك فأنت طالق فإذا طلقها انتجز ما نجّز ولم تلحقها الطلقة المعلّقة والسبب فيه أنها تبين بالطلاق المنجز وإذا بانت لم يلحقها طلاقٌ ثانٍ مع البينونة وهذا متفق عليه وتعليله بيّن
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu” atau “Apabila aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” lalu ia menceraikannya, maka talak yang langsung dijatuhkan berlaku, dan talak yang digantungkan tidak berlaku baginya. Sebabnya adalah karena ia telah menjadi terpisah (bain) dengan talak yang langsung, dan jika telah terjadi perpisahan (bain), maka talak kedua tidak dapat berlaku setelah terjadinya perpisahan. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) dan alasannya jelas.
وقد يتصل به سؤال وجواب عنه وبهما يحصل الغرض
Terkadang disertai dengan pertanyaan dan jawaban tentangnya, dan dengan keduanya tujuan dapat tercapai.
فإن قيل إذا قال الرجل لامرأته التي لم يدخل بها أو للمدخول بها إذا دخلت الدار فأنت طالق فالطلاق متى يقع قال قائلون الطلاق يترتب على دخول الدار فإن الفاء تقتضي التعقيب والترتيب فليترتب الطلاق على الدخول ونقول دخولٌ والطلاق بعده كما يترتب عتق القريب المشترَى على حصول الملك
Jika ada yang bertanya: Apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang belum digauli, atau kepada istri yang sudah digauli, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” maka kapan talak itu terjadi? Sebagian orang mengatakan bahwa talak itu terjadi setelah masuk ke dalam rumah, karena huruf “fa” (maka) menunjukkan urutan dan keterkaitan, sehingga talak harus terjadi setelah masuk. Kami katakan: Masuk ke dalam rumah terjadi terlebih dahulu, lalu talak terjadi setelahnya, sebagaimana pembebasan budak kerabat yang dibeli terjadi setelah kepemilikan diperoleh.
وقال المحققون يقع الطلاق مع الدخول لا قبله ولا بعده وأما المصير إلى أن الفاء تقتضي التعقيب والترتيب فهذا لا ننكره من معناه ولكنه ترتُّبُ اللفظ في هذا المقام وليس الغرض تأخير وقوع الطلاق عن الدخول وإنما الغرض تطبيق التطليق على الدخول غير أن الفاء تُستعمل جزاءً والجزاء ينتظم كذلك وإلا فلا يستريب ذو عقلٍ أن غرض الناطق تطبيق الطلاق على الدخول حتى كأنّ الدخول علّته
Para peneliti menyatakan bahwa talak terjadi bersamaan dengan terjadinya hubungan suami istri, tidak sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. Adapun pendapat bahwa huruf “fa” (kemudian) menunjukkan makna urutan dan keterkaitan waktu, hal ini tidak kami ingkari dari segi maknanya. Namun, yang dimaksud di sini adalah urutan lafaz dalam konteks ini, bukan maksud untuk menunda terjadinya talak setelah hubungan suami istri. Tujuannya adalah menyesuaikan terjadinya talak dengan terjadinya hubungan suami istri. Hanya saja, huruf “fa” digunakan sebagai penanda akibat, dan akibat itu pun dapat terjadi secara bersamaan. Jika tidak demikian, maka tidak ada keraguan bagi orang yang berakal bahwa maksud dari orang yang mengucapkan adalah menyesuaikan terjadinya talak dengan terjadinya hubungan suami istri, seakan-akan hubungan suami istri itu menjadi sebabnya.
وإذا قال القائل صيغة الجزاء تتضمن تعقيباً أيضاًً فإن الرجل إذا قال إن جئتني فأنا أكرمك تضمّن هذا ترتُّبَ الإكرام على المجيء
Dan jika seseorang berkata bahwa bentuk kalimat syarat juga mengandung makna urutan, maka ketika seseorang berkata, “Jika kamu datang kepadaku, maka aku akan memuliakanmu,” hal itu mengandung makna bahwa pemuliaan terjadi setelah kedatangan.
قلنا إذا كان الجزاء فعلاً ينشأ ويكون مربوطاً بالشرط فمن ضرورة وقوع الفعل أن يترتب وليس كذلك وقوع الطلاق فإنه حكمٌ لا يمتنع تقدير حصوله على الاقتران بل لا يمتنع تقدير حصوله متقدماً فإنه لو قال إن دخلت الدار فأنت طالق قبْل دخولك بيوم أمكن تقدير الوقوع كذلك وهذا جزاءٌ متقدم على الشرط غير أنّ وجه انتظام الجزاء فيه يرجع إلى نسق اللفظ ثم الجزاء مرتبط بالشرط على معنى أنه لا يحصل دونه فإن قُرن اقترن وإن قُدّم تقدّم وهذا منتظم من طريق اللفظ ولكن شواهد الحكم في المذهب تدل على الوقت وآية ذلك أن الرجل المريض إذا قال إن أعتقت سالماً فغانم حرّ ثم أعتق سالماً في مرضه فإن وفّى الثلث به فحسب عَتَق سالم فحسب وهذا يدل على ترتيب العتق في غانم على سالم
Kami katakan, jika balasan itu berupa perbuatan yang muncul dan terikat dengan syarat, maka secara niscaya terjadinya perbuatan itu harus berurutan. Namun, tidak demikian halnya dengan terjadinya talak, karena talak adalah suatu hukum yang tidak mustahil untuk diperkirakan terjadi bersamaan dengan syarat, bahkan tidak mustahil juga diperkirakan terjadi lebih dahulu. Misalnya, jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu tertalak sebelum kamu masuk satu hari,” maka memungkinkan untuk memperkirakan terjadinya talak seperti itu. Ini adalah balasan yang mendahului syarat, hanya saja keteraturan balasan di sini kembali kepada susunan lafaz. Kemudian, balasan itu terikat dengan syarat dalam arti tidak terjadi tanpa syarat tersebut; jika disandingkan maka bersamaan, jika didahulukan maka mendahului. Ini teratur dari sisi lafaz, tetapi bukti-bukti hukum dalam mazhab menunjukkan pada waktu. Tanda hal itu adalah jika seorang laki-laki yang sakit berkata, “Jika aku memerdekakan Salim, maka Ghanim merdeka,” lalu ia memerdekakan Salim saat sakitnya, jika sepertiga hartanya cukup untuk itu, maka hanya Salim saja yang merdeka. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Ghanim bergantung pada Salim.
ولو قال أعتقتكما ازدحما على الثلث ومما يدل على الترتيب أنه إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها إذا طلقتك فأنت طالق ثم طلقها وقع ما نجّزه ولم يلحقها الطقة المعلّقة وهذا لا يخرّج إلا على أصل الترتيب فإنا لو قدّرنا وقوع المعلّق مع وقوع المنجز لم يبعد الحكم بوقوعهما والمصير إلى أنها بانت بهما فإن قيل لا يلحقها الطلاق المعلّق دل هذا على ترتب المعلق في وقوعه على المنجّز وهذا يشعر بترتب كل طلقة على الصفة وهذا بالغٌ في الإشكال فإن الذي يقتضيه اللفظ ما ذكرناه من الجمع والذي يقتضيه مذهب الفقهاء الترتيبُ وما حكيته في ترتّب الوقوع على الدخول وفي وقوعه معه نقلته من كلام الأصحاب
Jika seseorang berkata, “Aku memerdekakan kalian berdua,” maka keduanya bersaing atas sepertiga (harta). Di antara hal yang menunjukkan adanya urutan adalah jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” kemudian ia menceraikannya, maka jatuhlah talak yang langsung (dilafalkan), dan tidak berlaku talak yang digantungkan. Hal ini tidak dapat dijelaskan kecuali berdasarkan prinsip urutan. Sebab, jika kita menganggap talak yang digantungkan jatuh bersamaan dengan talak yang langsung, maka tidak mustahil untuk memutuskan bahwa keduanya jatuh, dan bahwa perempuan itu menjadi terpisah dengan keduanya. Jika dikatakan bahwa talak yang digantungkan tidak berlaku baginya, maka ini menunjukkan bahwa terjadinya talak yang digantungkan bergantung pada terjadinya talak yang langsung. Ini menunjukkan adanya urutan setiap talak berdasarkan sifatnya. Hal ini sangat membingungkan, sebab yang ditunjukkan oleh lafaz adalah penggabungan, sedangkan yang ditunjukkan oleh mazhab para fuqaha adalah urutan. Apa yang aku sebutkan tentang urutan terjadinya talak setelah adanya hubungan (suami istri) dan tentang terjadinya talak bersamaan dengannya, aku nukil dari perkataan para sahabat (ulama).
ثم لم يختلفوا أن التي لم يدخل بها لا تطلق الطلقة المعلّقة على التطليق المنجز وإن كان يظنّ ظانّ أن الترتب من آثار الفاء قيل له هذه المسائل لا تختلف أحكامها بأن تذكر الفاء فيها أو لا تذكر فإن الرجل إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها إذا طلقتك فأنت طالق فحكم هذا ما قدمناه من أنه إذا طلقها لم يلحقها الطلاق المعلّق ولو قال أنت طالق إذا طلقتك فلا فاء والجواب كما مضى فإذا طلقها انتجز ما نجّز ولم يقع ما علّق ولعلنا في الفروع نعود إلى مزيد مباحثةٍ في ذلك
Kemudian mereka juga sepakat bahwa terhadap istri yang belum digauli, talak yang digantungkan (mu‘allaq) tidak jatuh mengikuti talak yang dijatuhkan secara langsung (munjaz), meskipun ada yang mengira bahwa keterkaitan itu merupakan akibat dari huruf “fa”. Kepadanya dikatakan: Hukum-hukum dalam masalah-masalah ini tidak berbeda, baik disebutkan huruf “fa” di dalamnya atau tidak. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” maka hukumnya sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu jika ia menceraikannya, talak yang digantungkan tidak berlaku baginya. Dan jika ia berkata, “Engkau tertalak jika aku menceraikanmu,” tanpa huruf “fa”, maka jawabannya sama seperti yang telah lalu. Jika ia menceraikannya, maka hanya talak yang dijatuhkan secara langsung yang berlaku, sedangkan talak yang digantungkan tidak terjadi. Barangkali dalam pembahasan cabang-cabang nanti kita akan kembali membahas hal ini lebih lanjut.
والقدر الذي هو غرض الفصل أنه إذا قال للتي لم يدخل بها إذا طلقتك فأنتِ طالق أو أنت طالق إذا طلقتك فإذا طلقها وقع ما نجّز ولم يلحقها ما علَّق
Batasan yang menjadi tujuan pembahasan ini adalah bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” atau “Engkau tertalak jika aku menceraikanmu,” maka apabila ia menceraikannya, jatuhlah talak yang diucapkan secara langsung dan tidak berlaku talak yang digantungkan.
وكذلك قال الشافعي إذا قال لامرأته التي دخل بها إذا طلقتك فأنت طالق ثم خالعها أو طلقها على مالٍ نفذت بينونة الخلع ولم يلحقها الطلقة المعلقة فإن المختلعة لا يلحقها الطلاق عندنا كالبائنة قبل المسيس فالبينونة بالخلع في منافاة لحوق الطلاق كالبينونة لعدم العدة في حق التي لم يدخل بها
Demikian pula, Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” kemudian ia melakukan khulu‘ (cerai tebus) atau menceraikannya dengan imbalan harta, maka terjadilah perpisahan dengan khulu‘ dan talak yang digantungkan itu tidak berlaku padanya. Sebab, menurut kami, wanita yang dicerai dengan khulu‘ tidak terkena talak lagi, seperti halnya wanita yang telah menjadi bain sebelum terjadi hubungan suami istri. Maka, perpisahan dengan khulu‘ bertentangan dengan berlakunya talak, sebagaimana perpisahan karena tidak ada masa iddah pada wanita yang belum digauli.
هذا بيان هذا الركن
Ini adalah penjelasan tentang rukun ini.
والركن الثالث من مضمون الفصل متصل بما نجّزناه الآن وهو القول في تعليق الطلاق وتسمية التعليق تطليقاً فإذا قال لامرأته المدخول بها إذا طلقتك فأنت طالق ثم قال لها إذا دخلت الدار فأنت طالق فإذا دخلت الدار طلقت بالدخول وطلقت بالتعليق الأول على التطليق والمقصود من ذلك أنه قال أولاً إذا طلقتك فأنت طالق وقال بعد ذلك إذا دخلت فأنت طالق فصار تعليق الطلاق بالدخول مع الدخول بمثابة تنجيز التطليق بعد التعليق الأول
Rukun ketiga dari isi bab ini berkaitan dengan apa yang telah kami selesaikan sekarang, yaitu pembahasan tentang talak mu‘allaq (talak yang digantungkan pada suatu syarat) dan penyebutan talak mu‘allaq sebagai talak. Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sudah digauli: “Jika aku menalakkanmu, maka engkau tertalak,” kemudian ia berkata lagi: “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” lalu istrinya masuk ke dalam rumah, maka ia tertalak karena masuk ke dalam rumah dan juga tertalak karena talak yang pertama yang digantungkan pada penjatuhan talak. Maksudnya, ia pertama kali berkata: “Jika aku menalakkanmu, maka engkau tertalak,” lalu setelah itu berkata: “Jika engkau masuk, maka engkau tertalak,” sehingga talak yang digantungkan pada masuknya istri ke dalam rumah, bersamaan dengan masuknya, menjadi seperti penjatuhan talak secara langsung setelah talak mu‘allaq yang pertama.
ولو قال لها أولاً إذا دخلت الدار فأنت طالق ثم قال بعد ذلك إذا طلقتك فأنت طالق فدخلت الدار فوقع الطلاق بوجود الصفة فإنها لا تطلق بسبب قوله إذا طلقتك فأنت طالق فإنه لم يطلقها بعد هذا القول ولم ينشىء التعليق بعد هذا القول أيضاً بل جرى التعليق بالدخول متقدماً على قوله إن طلقتك
Jika seorang suami berkata kepada istrinya terlebih dahulu, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” kemudian setelah itu ia berkata, “Jika aku menalakmu, maka kamu tertalak,” lalu istrinya masuk ke dalam rumah sehingga talak jatuh karena terpenuhinya syarat, maka ia tidak tertalak karena ucapan suami, “Jika aku menalakmu, maka kamu tertalak,” sebab setelah ucapan itu, suami tidak menalaknya dan juga tidak membuat penggantungan setelah ucapan tersebut, melainkan penggantungan talak dengan masuk ke dalam rumah telah terjadi sebelum ucapan, “Jika aku menalakmu.”
فانتظم من مجموع هذا أنه إذا قال إذا طلقتك فأنت طالق ثم نجّز هذا بعد هذا وقع ما نجّز وما علّق بالتطليق
Maka dapat disimpulkan dari keseluruhan ini bahwa jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” kemudian setelah itu ia langsung menjatuhkan talak, maka berlaku baik talak yang dijatuhkan secara langsung maupun yang digantungkan pada perceraian.
ولو أنشأ تعليقاً بعد قوله إن طلقتك فنفس التعليق لا يكون تطليقاً ولكن إذا وجدت الصفة وقد جرى التعليق بعد قوله إن طلقتك كان التعليق مع الوقوع بمثابة التطليق من بعدُ
Dan jika seseorang membuat suatu syarat setelah ucapannya “Jika aku menceraikanmu”, maka syarat itu sendiri bukanlah suatu talak. Namun, apabila sifat (syarat) tersebut terjadi dan syarat itu telah diucapkan setelah ucapannya “Jika aku menceraikanmu”, maka syarat tersebut bersamaan dengan terjadinya talak dianggap seperti talak yang terjadi setelahnya.
ولو قال إن دخلت الدار فأنت طالق ثم قال إذا وقع عليك طلاقي فأنت طالق فإذا دخلت الدار طلقت بالدخول وطلقت بتعليق الطلاق بالوقوع فإنه علق لحوق الطلاق بوقوع الطلاق لا بالتطليق وهذا بيّنٌ
Jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” lalu ia berkata lagi, “Jika talakku jatuh padamu, maka kamu tertalak,” maka apabila ia masuk rumah, ia tertalak karena masuk dan tertalak karena menggantungkan talak pada terjadinya talak. Sebab, ia menggantungkan terjadinya talak pada jatuhnya talak, bukan pada pengucapan talak, dan hal ini jelas.
ومما نجريه متصلاً بهذا أنه إذا قال لها إن أوقعت عليك طلاقي فأنت طالق ثم قال إن دخلت الدار فأنت طالق فدخلت الدار لحقها طلاقان كما قدمنا وهو كما لو قال إن طلقتك فأنت طالق ثم علق الطلاقَ من بعدُ
Dan yang kami hubungkan dengan hal ini adalah bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku jatuhkan talak kepadamu, maka engkau tertalak,” kemudian ia berkata lagi, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” lalu istrinya masuk ke dalam rumah, maka jatuhlah dua talak atasnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Hal ini seperti jika ia berkata, “Jika aku menalakkanmu, maka engkau tertalak,” kemudian setelah itu ia menggantungkan talak.
ووجدت للعراقيين أنهم قالوا إذا قال للمرأة المدخول بها إذا أوقعتُ عليك طلاقي فأنت طالق ثم قال لها بعد ذلك إن دخلت الدار فأنت طالق فدخلت الدار طُلّقت بدخول الدار ولم تطلّق بسبب قوله السابق إن أوقعتُ عليك طلاقي طلقة أخرى وكأنهم قد رأَوْا أنه إذا علق طلاقها فهذا لا يكون إيقاعَ طلاق عليها وإنما يتحقق الإيقاع بالتنجّيز من غير توسط سببٍ وتعليق وهذا مردود في قول المراوزة باطلٌ قطعاً على قياسهم وكنت أحسب هذا خللاً واقعاً في نسختي ثم طالعت نسخاً ومجموعات وتعليقاتٍ معتمدةً فوجدت الأمر مثبتاً على هذا النسق فإن كانوا يقولون ما يقولون فيه إذا قال للمدخول بها إن أوقعت عليك طلاقي ولا يقولونه فيه إذا قال إذا طلقتك فالفرق بين التطليق وإيقاع الطلاق عسرٌ
Aku dapati bahwa menurut para ulama Irak, jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Jika aku jatuhkan talakku atasmu, maka engkau tertalak,” lalu setelah itu ia berkata kepadanya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” kemudian si istri masuk ke dalam rumah, maka ia tertalak karena masuk ke dalam rumah dan tidak tertalak karena ucapan suami sebelumnya, “Jika aku jatuhkan talakku atasmu,” sehingga tidak terjadi talak kedua. Seolah-olah mereka berpendapat bahwa jika talak digantungkan (dengan syarat), maka itu bukanlah pelaksanaan talak, dan pelaksanaan talak hanya terjadi dengan penjatuhan secara langsung tanpa perantara sebab atau penggantungan. Pendapat ini tertolak menurut ulama Marw (maraūzah), bahkan batal secara pasti menurut qiyās mereka. Aku sempat mengira ini adalah kekeliruan dalam naskahku, namun setelah aku menelaah berbagai naskah, kumpulan, dan catatan yang terpercaya, aku dapati perkara ini memang tertulis seperti itu. Jika mereka membedakan antara ucapan “Jika aku jatuhkan talakku atasmu” kepada istri yang sudah digauli dan tidak membedakannya pada ucapan “Jika aku menalakkanmu,” maka perbedaan antara menalakkan dan menjatuhkan talak sangatlah sulit.
وإن عمّمُوا هذا في الإيقاع والتطليق فهو خروج عما عليه الفقهاء فإن التعليق على الاختيار تطليقٌ في اللسان فإذا قال الرّجل لامرأته إن قمت فأنت طالق فقامت وطُلِّقت يقال طلّق فلان زوجته وهذا لا سبيل إلى إنكاره
Dan jika mereka menggeneralisasi hal ini dalam masalah talak dan perceraian, maka itu menyimpang dari pendapat para fuqaha, karena menggantungkan talak pada pilihan adalah talak menurut bahasa. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu berdiri maka kamu tertalak,” lalu istrinya berdiri dan tertalak, maka dikatakan bahwa si fulan telah menceraikan istrinya, dan hal ini tidak dapat disangkal.
ومما نذكره في هذا الفصل أنّ كلّما كلمة تتضمن التكرار في العربية بخلاف متى ما و مهما فإنهما يعمّان الأزمان ولا يقتضيان التكرار فإذا قال لامرأته المدخول بها كلما وقع عليك طلاقي فأنتِ طالق ثم طلقها طلقت ثلاثاًً فإنه يقع عليها بالتنجيز طلاق وبالتعليق السابق طلاق ثم يتكرر ولو زادت أعداد الطلاق على الثلاث لاستوعبتها الكلمة وتضمنت وقوع جميعها
Perlu kami sebutkan dalam bab ini bahwa kata “kullamā” dalam bahasa Arab mengandung makna pengulangan, berbeda dengan “matā mā” dan “mahmā”, karena keduanya mencakup seluruh waktu dan tidak mengharuskan adanya pengulangan. Maka jika seseorang berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Setiap kali talakku jatuh padamu, maka engkau tertalak,” lalu ia mentalaknya tiga kali, maka jatuhlah satu talak secara langsung dan satu talak lagi karena ucapan yang digantungkan sebelumnya, kemudian akan terus berulang. Bahkan jika jumlah talak melebihi tiga, kata tersebut akan mencakup semuanya dan mengandung jatuhnya seluruh talak itu.
وذكر الأصحاب فرعين هذّبوا بهما أصلين أحدهما معنى التكرار المتلقَّى من قول القائل كلّما والثاني يتضمن تمهيد تأخر التعليق وتقدّمه والفرق بينهما إذا قال إن طلقتك فأنت طالقٌ
Para ulama menyebutkan dua cabang yang mereka gunakan untuk memperjelas dua pokok: yang pertama adalah makna pengulangan yang diambil dari ucapan seseorang “setiap kali”, dan yang kedua mencakup penjelasan tentang keterlambatan atau kemendahuluan pengaitan (taklik), serta perbedaan antara keduanya jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak.”
فأمّا الفرع الموضِّح لمعنى التكرر فإذا كان للرجل أربع نسوة وعبيد فقال كلما طلقت واحدةً منكن فعبدٌ من عبيدي حرّ وكلما طلقت ثنتين منكن فعبدان من عبيدي حرّان وكلما طلقت ثلاثاًً منكن فثلاثة أعبدٍ من عبيدي أحرار وكلّما طلقتُ أربعاً فأربعة أعبدٍ من عبيدي أحرار
Adapun cabang yang menjelaskan makna pengulangan adalah sebagai berikut: Jika seorang laki-laki memiliki empat istri dan beberapa budak, lalu ia berkata, “Setiap kali aku menceraikan salah satu dari kalian, maka seorang budak dari budak-budakku merdeka; setiap kali aku menceraikan dua orang dari kalian, maka dua budak dari budak-budakku merdeka; setiap kali aku menceraikan tiga orang dari kalian, maka tiga budak dari budak-budakku merdeka; dan setiap kali aku menceraikan empat orang dari kalian, maka empat budak dari budak-budakku merdeka.”
فالمسلك الحقّ في هذه المسألة أنه عَقَدَ أربعةً من العقود بكلمةِ كلما وهي للتكرار فيتكرر العتق بتكرر كلّ عقد منها ولكن ما حُسب في مرّة لا يحسب هو ولا شيء منه في عقدٍ مماثلٍ له فإذا طلّق واحدة حنث في يمين الواحدة وعتَق عبدٌ فإذا طلّق الثانية حنث في يمينين يمين الواحدة فإنها على التكرر ويمين الاثنين لأنه لما طلقها صار مطلقاً لواحدة أخرى سوى الأولى وصار مطلقاً بتطليقها ثنتين فيعتِق إذاً ثلاثةُ أعبدٍ سوى ما تقدم عبدٌ بتطليقه الثانية وهي واحدة وعبدان بسبب تحقق طلاقين على امرأتين فقد عَتَقَ من العبيد أربعة
Jadi, pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa ia telah mengadakan empat akad dengan lafaz “setiap kali”, yang menunjukkan pengulangan, sehingga pembebasan budak pun berulang setiap kali salah satu akad tersebut terjadi. Namun, apa yang telah dihitung dalam satu kali, tidak dihitung lagi, baik itu sendiri maupun sebagian darinya, dalam akad lain yang serupa. Maka jika ia menceraikan satu istri, ia melanggar satu sumpah dan satu budak merdeka. Jika ia menceraikan istri kedua, ia melanggar dua sumpah: sumpah pertama karena pengulangan, dan sumpah kedua karena menceraikan dua istri. Karena ketika ia menceraikan istri kedua, ia telah menceraikan istri lain selain yang pertama, dan dengan menceraikannya, ia telah menceraikan dua istri. Maka, tiga budak merdeka: satu karena menceraikan istri kedua (yang merupakan satu istri), dan dua karena telah terjadi talak pada dua istri. Dengan demikian, telah merdeka dari para budak sebanyak empat orang.
فإذا طلق الثالثة حنث في يمينين يمين الواحدة ويمين الثلاث لأنه بتطليقها صار مطلقاً واحدة أخرى وكلمة كلما للتكرار وصار محققاً تطليق الثلاث لأن هذا مع الأوليين قبلها ثلاث فيعتِق الآن أربعةُ أعبدٍ سوى ما تقدّم واحد بالحنث الواقع بتطليق الواحدة وثلاث بتطليق الثلاث فيكمل العتق في ثمانية ولا يحنث في يمين الاثنين مرة أخرى لأن الثانية التي قبل الثالثة حسبت في يمين الثنتين مرة فلا تحسب في يمين الثنتين مرة أخرى فإن هذا يؤدي إلى تكرير الحنث مراراً مع اتحاد صنف اليمين ومحلّ اليمين فإذا طلق الرابعة حنث الآن في ثلاث الأيْمان يمين الواحدة ويمين الأربع لأنه حقق طلاق الأربع وحنث في يمين الثنتين مرةً أخرى لأن الرابعة مع الثالثة ثنتان فيعتق سبعة عبيدٍ ويكمل الذين عتقوا خمسة عشر ولا يحنث مرة أخرى في يمين الثلاث لأن الثالثة والثانية حسبتا في يمين الثلاث فلا يحسبان مرة أخرى في يمين الثلاث لأن ما حسب في عقدٍ لا يحسب في عقد مثله
Maka jika ia menjatuhkan talak yang ketiga, ia melanggar dua sumpah: sumpah satu kali talak dan sumpah tiga kali talak, karena dengan menjatuhkan talak tersebut, ia menjadi telah menjatuhkan satu talak lagi, dan kata “setiap kali” (kullamā) menunjukkan pengulangan. Maka, talak tiga kali pun benar-benar terjadi, karena talak ini bersama dua talak sebelumnya menjadi tiga. Maka, sekarang merdekalah empat budak, selain yang telah disebutkan sebelumnya: satu budak karena pelanggaran sumpah talak satu kali, dan tiga budak karena pelanggaran sumpah talak tiga kali, sehingga jumlah budak yang dimerdekakan menjadi delapan. Ia tidak melanggar lagi sumpah dua kali talak, karena talak kedua sebelum talak ketiga sudah dihitung dalam sumpah dua kali talak satu kali, sehingga tidak dihitung lagi dalam sumpah dua kali talak. Sebab, jika dihitung lagi, itu akan menyebabkan pelanggaran sumpah berulang-ulang padahal jenis dan objek sumpahnya sama. Jika ia menjatuhkan talak keempat, maka sekarang ia melanggar tiga sumpah: sumpah satu kali talak dan sumpah empat kali talak, karena ia benar-benar telah menjatuhkan talak empat kali, dan ia juga melanggar sumpah dua kali talak satu kali lagi, karena talak keempat bersama talak ketiga menjadi dua. Maka, merdekalah tujuh budak, sehingga jumlah budak yang telah dimerdekakan menjadi lima belas. Ia tidak melanggar lagi sumpah tiga kali talak, karena talak ketiga dan kedua sudah dihitung dalam sumpah tiga kali talak, sehingga tidak dihitung lagi dalam sumpah tiga kali talak, sebab apa yang sudah dihitung dalam satu akad tidak dihitung lagi dalam akad yang serupa.
وهذا كما لو قال لها كلما دخلت الدار فأنت طالق فإذا دخلت الدار مرةً طلقت فإذا دخلت ثانيةً طلقت طلقةً واحدةً ولا يقال تطلق طلقتين طلقة بهذه الدخلة وطلقة بالدخلة الأولى لأن الدخلة الأولى حسبناها فلا نحسبها في مثلها مرة أخرى
Ini seperti jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Setiap kali kamu masuk rumah, kamu tertalak.” Maka jika ia masuk rumah sekali, ia tertalak. Jika ia masuk untuk kedua kalinya, ia tertalak satu kali saja, dan tidak dikatakan bahwa ia tertalak dua kali—satu talak karena masuk kali ini dan satu talak karena masuk yang pertama—karena masuk yang pertama sudah kita hitung, maka kita tidak menghitungnya lagi dalam kasus yang serupa.
وإذا طلق النسوة الأربع دفعة واحدة عتق من العبيد خمسة عشر إذ لا فرق بين أن نجمع تطاليقهن وبين أن نُرتبه فحكم اللفظ ومقتضى التكرار لا يختلف
Dan jika ia menceraikan keempat istrinya sekaligus, maka lima belas budak akan dimerdekakan, karena tidak ada perbedaan antara mengumpulkan talak mereka sekaligus dengan menjadikannya secara berurutan; hukum lafaz dan konsekuensi pengulangan tidaklah berbeda.
هذا هو المذهب الذي عليه التعويل
Inilah mazhab yang dijadikan pegangan.
ومن أصحابنا من قال إذا طلق الثالثة يحنث في يمين الثنتين مرّة أخرى فيبلغ مجموع الذين يعتقون سبعة عشر
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jika seseorang menjatuhkan talak yang ketiga, maka ia kembali melanggar sumpah pada dua talak sebelumnya, sehingga jumlah budak yang harus dimerdekakan menjadi tujuh belas orang.
وهذا غلط صريح وإن كان مشهوراً لأنا لو حنثناه بالثالثة في يمين الثنتين لزم أن نحنثه أيضاً بالرابعة في يمين الثلاث ونحكم عليه بعتق عشرين عبداً وهذا لا قائل به
Ini adalah kesalahan yang nyata meskipun pendapat ini masyhur, karena jika kita menganggap ia melanggar sumpah pada yang ketiga dalam sumpah dua hal, maka seharusnya kita juga menganggap ia melanggar sumpah pada yang keempat dalam sumpah tiga hal dan menetapkan atasnya memerdekakan dua puluh budak, dan tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian.
وكل ما ذكرناه إذا قال كلما طلقت فَعَقَد الأيْمان بكلمةِ كلما فأما إذا قال إن طلقت واحدةً من نسائي فعبد من عبيدي حر وإن طلقت ثنتين فعبدان حرّان وإن طلقت ثلاثاًً فثلاثة من عبيدي أحرار وإن طلقت أربعاً فأربعة من عبيدي أحرار
Semua yang telah kami sebutkan berlaku jika ia mengucapkan, “Setiap kali aku menceraikan,” lalu ia mengaitkan sumpah dengan kata “setiap kali.” Adapun jika ia berkata, “Jika aku menceraikan salah satu istriku, maka seorang budakku merdeka; jika aku menceraikan dua orang, maka dua budakku merdeka; jika aku menceraikan tiga orang, maka tiga budakku merdeka; dan jika aku menceraikan empat orang, maka empat budakku merdeka.”
فإذا طلقهن ترتيباً أو جمعاً عَتَقَ من عبيده عشرة فلا ننظر إلى عدد الأيمان ومعقود كل يمين ولا يكرّر الحنث في واحدة منها فعدد الأيمان أربعةٌ يمين بواحدة ويمين باثنتين ويمين بثلاث ويمين بأربع فنأخذ مضمون الأيمان من غير تكرر فيبلغ عشرة
Jika ia menceraikan mereka secara berurutan atau sekaligus, lalu memerdekakan sepuluh budaknya, maka kita tidak melihat jumlah sumpah dan objek setiap sumpah, serta tidak mengulangi pelanggaran pada salah satu sumpah tersebut. Jumlah sumpah ada empat: sumpah dengan satu, sumpah dengan dua, sumpah dengan tiga, dan sumpah dengan empat. Maka kita mengambil makna sumpah-sumpah itu tanpa pengulangan, sehingga jumlahnya menjadi sepuluh.
وفي بعض التصانيف ذكر صِيغَ هذه الأيمان بكلمة كلما والجوابَ فيها أنه يعتِق عشرةٌ من العبيد فهذا غلط صريح لم أذكره ليلحق بالوجوه البعيدة ولكن سبب ذكره التنبيهُ على أن هذا من عثرات الكتّاب وما ذكره جواب الأيمان المعقودة بإن و متى و متى ما فإن هذه الكلمة لا تتضمن التكرار
Dalam beberapa karya tulis disebutkan lafaz sumpah-sumpah ini dengan kata “setiap kali”, dan jawabannya di situ adalah bahwa sepuluh budak dimerdekakan; ini adalah kesalahan yang nyata. Aku tidak menyebutkannya agar tidak dimasukkan ke dalam pendapat-pendapat yang lemah, namun alasan penyebutannya adalah untuk memberi peringatan bahwa ini termasuk kekeliruan para penulis. Adapun jawaban sumpah-sumpah yang diikat dengan “in”, “matā”, dan “matā mā”, maka kata ini tidak mengandung makna pengulangan.
فأما إذا كانت الكلمة متضمنة تكراراً فلا تنحلّ اليمين بالواحدة بأن يطلّق واحدةً وكذلك القول في الثتنتين
Adapun jika suatu kata mengandung makna pengulangan, maka sumpah tidak dianggap selesai hanya dengan satu kali, misalnya dengan menjatuhkan talak satu kali saja; demikian pula halnya jika menjatuhkan talak dua kali.
فخرج من مجموع ما ذكرناه أن معنى التكرار أن لا نحل يميناً بحنث في مثله ولكن لا نحسب شيئاً واحداً مرتين في يمينين متماثلين
Maka dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa makna pengulangan adalah tidak membolehkan satu sumpah menjadi batal karena pelanggaran pada hal yang serupa, namun kita juga tidak menghitung satu hal yang sama dua kali dalam dua sumpah yang serupa.
وإذا اختلفت صيغ الأيمان فحينئذ يحسب النسوة عن جهاتٍ في الأيمان المختلفة
Dan apabila bentuk-bentuk sumpah berbeda-beda, maka pada saat itu jumlah wanita dihitung berdasarkan kategori dalam sumpah-sumpah yang berbeda.
فهذا فرعٌ مهدّنا به أصل التكرار
Ini adalah cabang yang kami jadikan sebagai pengantar untuk membahas pokok masalah pengulangan.
فأما الفرع الثاني فإنا نمهدّ به معنى تقدم التعليق وتأخره
Adapun cabang kedua, maka kami akan menjelaskan dengannya makna dari pendahuluan ta‘liq (pengaitan) dan keterlambatannya.
فإذا كان للرجل امرأتان حفصة وعمرة فقال مهما طلقت عمرة فحفصةُ طالق ثم قال مهما طلقت حفصة فعمرةُ طالق ثم إنه بدأ بحفصة وطلقها فتطلق بالتنجيز وطلقت عمرة بالحنث لأنه علّق طلاق عمرة بتطليق حفصة وعادت طلقة على حفصة لأنه علّق طلاق حفصة بطلاق عمرة في الابتداء لما قال مهما طلقت عَمرة فحفصة طالق وقد طلق عمرة بعد هذا بأن علق طلاقها بتطليق حفصة ثم نجّز تطليق حفصة
Jika seorang laki-laki memiliki dua istri, Hafshah dan ‘Amrah, lalu ia berkata: “Siapa pun yang aku ceraikan antara ‘Amrah, maka Hafshah juga tertalak,” kemudian ia berkata lagi: “Siapa pun yang aku ceraikan antara Hafshah, maka ‘Amrah juga tertalak,” lalu ia memulai dengan menceraikan Hafshah, maka Hafshah tertalak secara langsung (tanpa syarat), dan ‘Amrah tertalak karena sumpah (karena talak ‘Amrah digantungkan pada talak Hafshah). Kemudian talak kembali mengenai Hafshah, karena talak Hafshah digantungkan pada talak ‘Amrah sejak awal ketika ia berkata: “Siapa pun yang aku ceraikan antara ‘Amrah, maka Hafshah tertalak.” Dan ia telah menceraikan ‘Amrah setelah itu dengan cara menggantungkan talaknya pada talak Hafshah, lalu ia mengeksekusi talak Hafshah.
وقد ذكرنا أن التعليق إذا اتصل به الوقوع كان تطليقاً
Kami telah menyebutkan bahwa jika talak yang digantungkan (dengan syarat) diikuti dengan terjadinya syarat tersebut, maka itu merupakan talak.
ولو بدأ بعمرة وطلقها طُلِّقت بالإيقاع والتنجيز وطلقت حفصة بالحنث لأنه علّق طلاقها بطلاق عمرة ولا تعود طلقة على عمرة وإن كان علق طلاقها بطلاق حفصة لأن هذا وقع على حفصة بحكم تعليق طلاقها بطلاق عمرة وهو سابق على يمين عمرة
Jika ia memulai dengan menceraikan ‘Umrah dan menjatuhkan talak kepadanya secara langsung dan pasti, maka Hafshah dicerai karena pelanggaran sumpah, karena ia menggantungkan talak Hafshah pada talak ‘Umrah. Talak tidak kembali kepada ‘Umrah meskipun ia menggantungkan talak ‘Umrah pada talak Hafshah, karena talak telah jatuh pada Hafshah berdasarkan penggantungan talaknya pada talak ‘Umrah, dan ini terjadi sebelum sumpah ‘Umrah.
وليس في هذه المسألة غائلة وإنما الذي فيها فهمُ التقدم والتأخر في التعليق وسبب ما فيها من أدنى تعقيدٍ أن المبتدىء ينظر إليها فيرى تطليقاً وتعليقاً فيلتبس عليه معنى التعليق لذكره مع التطليق
Dalam masalah ini tidak terdapat bahaya apa pun, hanya saja yang perlu dipahami adalah urutan lebih dahulu dan belakangan dalam pengaitan. Sebab adanya sedikit kerumitan dalam masalah ini adalah karena seorang pemula melihat di dalamnya ada talak dan pengaitan, sehingga ia menjadi bingung terhadap makna pengaitan karena disebutkan bersamaan dengan talak.
وبيان ذلك أنه إذا قال لعمرة إذا طلقتك فحفصة طالق فهذا تعليق طلاق حفصة وإن خوطبت عمرة بالتطليق وإذا قال لحفصة إذا طلقتك فعمرة طالق فهذا تعليق طلاق عمرة وإن خاطب بالتطليق حفصة فليفهم الفاهم التعليق ولينظر إلى تقدّمه وتأخّره
Penjelasannya adalah bahwa jika seseorang berkata kepada ‘Amrah, “Jika aku menceraikanmu, maka Hafshah tertalak,” maka ini adalah bentuk ta‘liq (pengaitan) talak Hafshah, meskipun yang diajak bicara untuk perceraian adalah ‘Amrah. Dan jika ia berkata kepada Hafshah, “Jika aku menceraikanmu, maka ‘Amrah tertalak,” maka ini adalah bentuk ta‘liq talak ‘Amrah, meskipun yang diajak bicara untuk perceraian adalah Hafshah. Maka hendaklah orang yang memahami memperhatikan bentuk ta‘liq ini dan memperhatikan mana yang didahulukan dan mana yang diakhirkan.
ومما ذكره الأصحاب في اختتام هذا الفصل أنه إذا قال لامرأته إن لم أطلقك فأنت طالق أو إن طلقتك فأنت طالق فهذا تعليل في موجب العربية ومن ذكر لفظَ الطلاق وعلّله وقع الطلاق ولم ينظر إلى العلّة كانت أو لم تكن وتقدير الكلام أنت طالق لأن لم أطلّقك ثم اللام تحذف وتستعمل هذه الكلمة كذلك في اللغة الفصيحة ولو استعمل هذا اللفظ من لا يَفْصِل بين أنَ وإنِ في العربيَّة فهو محمول على التعليق وسنذكر هذا الأصل في الفروع إن شاء الله عز وجل
Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama dalam penutupan bab ini adalah bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku tidak menceraikanmu maka engkau tertalak,” atau “Jika aku menceraikanmu maka engkau tertalak,” maka ini merupakan bentuk ta‘līl menurut kaidah bahasa Arab. Barang siapa yang menyebut lafaz talak dan mengaitkannya dengan suatu alasan, maka talak tetap jatuh tanpa memandang ada atau tidaknya alasan tersebut. Makna kalimat itu adalah: “Engkau tertalak karena aku tidak menceraikanmu,” kemudian huruf lām dihilangkan dan ungkapan ini tetap digunakan dalam bahasa Arab yang fasih. Jika ungkapan ini digunakan oleh orang yang tidak membedakan antara “an” dan “in” dalam bahasa Arab, maka hal itu dianggap sebagai bentuk ta‘liq (penggantungan). Kami akan menjelaskan kaidah ini dalam pembahasan cabang-cabangnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فصل قال ولو قال لامرأته أنت طالق إذا قدم فلان فقدم به ميتاً أو مكرهاً إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika ia berkata kepada istrinya, ‘Engkau tertalak jika si Fulan datang,’ lalu si Fulan datang dalam keadaan sudah meninggal atau dipaksa, dan seterusnya.”
غرض الفصل بيان الإكراه والاختيار والعمد والنسيان ولكنه مفروض في صفة تجتمع فيها غوامض وينفصل باتضاحها قطبٌ من الأقطاب ونحن نقول في مفتتح الفصل
Tujuan bab ini adalah untuk menjelaskan tentang ikrah (paksaan), ikhtiyar (pilihan), ‘amd (kesengajaan), dan nisyan (kelupaan). Namun, pembahasan ini didasarkan pada suatu sifat yang di dalamnya terkumpul berbagai hal yang samar, dan dengan penjelasannya akan terpisah satu poros penting dari poros-poros lainnya. Maka, kami akan memulai bab ini dengan mengatakan:
إذا قال القائل والله لا أدخل الدار فحُمل وأدخل الدار قهراً لم يحنث فإن هذا ليس بدخول ولو أمَرَ حتى حُمل وأدخل الدار حَنِثَ فإن هذا يسمى دخولاً وركوبه الأكتافَ كركوبه دابّهً وأَمْرُ الحاملين بالدخول به كإمالته العنان إلى صَوْب الدار ولو حُمل وكان قادراً على الامتناع وأدخل الدار فلم يأمر ولم يزجر فهذا فيه تردد سيأتي مشروحاً في كتاب الأيْمان إن شاء الله تعالى
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke dalam rumah,” lalu ia dipaksa dan dimasukkan ke dalam rumah secara paksa, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena hal itu tidak disebut sebagai masuk. Namun, jika ia memerintahkan hingga ia diangkat dan dimasukkan ke dalam rumah, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena hal itu disebut sebagai masuk, dan menaiki pundak orang lain sama seperti menaiki hewan tunggangan, serta memerintahkan orang yang membawanya untuk masuk bersamanya seperti menarik tali kekang menuju rumah. Namun, jika ia diangkat dan ia mampu menolak, lalu ia dimasukkan ke dalam rumah tanpa memerintah atau melarang, maka dalam hal ini terdapat keraguan yang akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-Aiman, insya Allah Ta‘ala.
ولو حلف بالله لا يدخل فأكره حتى دخل بنفسه ففي حصول الحنث قولان أحدهما أنه يحنث لأنه دخل الدار والثاني لا يحنث لأن فعل المكره كالمسلوب واختياره فيه موجوداً كالمفقود
Jika seseorang bersumpah demi Allah tidak akan masuk, lalu ia dipaksa hingga akhirnya ia masuk sendiri, maka dalam hal terjadinya pelanggaran sumpah terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa ia dianggap melanggar sumpah karena ia telah masuk ke rumah tersebut. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah karena perbuatan orang yang dipaksa itu seperti orang yang kehilangan kehendak, dan pilihannya dalam hal itu dianggap tidak ada seperti halnya tidak ada sama sekali.
ولو نسي يمينه فدخل الدار ففي حصول الحنث قولان وللأصحاب مسلكان في ترتيب النسيان على الاستكراه والاستكراه على النسيان وسيأتي ذكرهما في الأيْمان
Jika seseorang lupa terhadap sumpahnya lalu masuk ke dalam rumah, terdapat dua pendapat mengenai terjadinya pelanggaran sumpah. Para ulama memiliki dua pendekatan dalam mengurutkan antara lupa dan paksaan, serta antara paksaan dan lupa, dan kedua pendekatan ini akan disebutkan dalam pembahasan tentang sumpah (aymān).
والقدر الذي تمس حاجتنا إلى ذكره الآن أن سبب الخلاف في النسيان أن الناسي غير هاتكٍ لحرمة اليمين وليس بهاجمٍ على المخالفة هذا هو المرعي
Yang perlu kami sebutkan sekarang adalah bahwa sebab terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah lupa adalah karena orang yang lupa tidaklah merusak kehormatan sumpah dan tidak pula sengaja melakukan pelanggaran; inilah yang menjadi pertimbangan.
فأما المكره فسبب الخلاف فيه قضاء الشرع بتضعيف اختياره ويتحقق فيه أيضاًً عدم الانتساب إلى اعتماد الهتك
Adapun orang yang dipaksa, maka sebab perbedaan pendapat tentangnya adalah karena syariat memutuskan untuk melemahkan pilihannya, dan pada dirinya juga terwujud tidak adanya keterkaitan dengan unsur kesengajaan dalam pelanggaran.
ومن نسي صومه فأكلَ لم يفطر ومن أكره على الأكل فأكل ففي حصول الفطر قولان
Barang siapa lupa sedang berpuasa lalu makan, maka puasanya tidak batal. Adapun siapa yang dipaksa untuk makan lalu ia makan, terdapat dua pendapat mengenai batal atau tidaknya puasanya.
وهذه نبذة مست الحاجة إليها فذكرناها واستقصاءُ أصولها وفصولها في كتاب الأيمان
Ini adalah ringkasan yang sangat dibutuhkan, maka kami menyebutkannya di sini, sedangkan penjelasan rinci mengenai pokok-pokok dan bagiannya terdapat dalam Kitab al-Aiman.
ونبتدىء بعد ذلك الكلامَ في الطلاق فنقول إذا علق الرجل الطلاق بصفة فلا يخلو إما أن يعلقه بصفةٍ تصدر منه وإما أن يعلّقه بصفة تصدر من المرأة وإما أن يعلقه بصفةٍ تصدر من أجنبي
Setelah itu, kita mulai membahas tentang talak. Kami katakan, apabila seorang laki-laki menggantungkan talak dengan suatu sifat, maka tidak lepas dari tiga kemungkinan: bisa jadi ia menggantungkan talak dengan sifat yang berasal darinya sendiri, atau ia menggantungkan dengan sifat yang berasal dari perempuan, atau ia menggantungkan dengan sifat yang berasal dari orang lain (ajnabi).
فإن علّق الطلاق بصفةٍ تصدر منه فالمذهب الصحيح أنه يجري فيه الخلاف في الإكراه والنسيان ولا خلاف أنه لو حُمل وأدخل كرهاً لم يقع الطلاق فلو نسي اليمين فدخل أو اكره حتى دخل بنفسه جرى في كل صورةٍ من النسيان والإكراه قولان
Jika talak digantungkan pada suatu sifat yang berasal darinya, maka mazhab yang benar adalah bahwa terdapat perbedaan pendapat dalam hal ikrah (paksaan) dan lupa, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika ia dibawa dan dimasukkan secara paksa, maka talak tidak jatuh. Maka jika ia lupa akan sumpahnya lalu masuk, atau dipaksa hingga masuk sendiri, maka dalam setiap keadaan lupa dan ikrah terdapat dua pendapat.
وكان القفال يقول إنما يختلف القول في الإكراه والنسيان إذا كانت اليمين بالله فالتعويل في اليمين بالله على تعظيم اسم الله تعالى والتعويل في تعليق الطلاق بالصفات على وجود الصفات على أي وجهٍ فرضت
Al-Qaffal berkata bahwa perbedaan pendapat hanya terjadi pada kasus ikrah (paksaan) dan nisyan (lupa) jika sumpah itu dengan nama Allah, karena dalam sumpah dengan nama Allah yang menjadi sandaran adalah pengagungan terhadap nama Allah Ta‘ala. Adapun dalam taklik talak dengan sifat-sifat, yang menjadi sandaran adalah keberadaan sifat-sifat tersebut dalam bentuk apa pun yang diasumsikan.
وهذا مختص بالقفال والأصحاب على طرد الخلاف في الباب والسبب فيه أن الغرض في اليمين بالطلاق الامتناع عن أمرٍ فإذا كان قصد اليمين هذا فقد يتوهم خروج النسيان والاستكراه عنه وهذا يجري مطرداً في اليمين بالله تعالى وفي اليمين بالطلاق والعتاق والدليل عليه أن الإكراه على الطلاق بمثابة الإكراه على اليمين بالله
Hal ini khusus menurut al-Qaffal dan para ulama mazhab, berdasarkan konsistensi perbedaan pendapat dalam masalah ini. Sebabnya adalah bahwa tujuan sumpah dengan talak adalah untuk menahan diri dari suatu perkara. Jika maksud sumpah itu demikian, maka bisa jadi ada anggapan bahwa lupa dan paksaan tidak termasuk di dalamnya. Hal ini berlaku secara konsisten baik pada sumpah dengan nama Allah Ta‘ala, maupun pada sumpah dengan talak dan pembebasan budak (‘itaq). Dalilnya adalah bahwa paksaan untuk menjatuhkan talak itu sama kedudukannya dengan paksaan untuk bersumpah dengan nama Allah.
وإذا فرض الإكراه في سبب الحنث فوجه تضعيف الاختيار في سبب الحنث بالطلاق في الطلاق كوجه تضعيفه في سبب الحنث في اليمين بالله تعالى والدليل عليه أن من حلف لا يدخل الدار لم يعصِ بالدخول ولم تؤثر اليمين عندنا في تحريم ما كان مباحاً قبل اليمين فلا انتساب إذاً إلى هتك الحرمة والشرعُ لا يحظر المخالفة فالذي ذكره القفال إنما يستدّ على مذهب أبي حنيفة في مصيره إلى أن اليمين يحرّم الحلال
Jika dipaksakan dalam sebab pelanggaran, maka alasan melemahkan pilihan dalam sebab pelanggaran sumpah dengan talak sama dengan alasan melemahkannya dalam sebab pelanggaran sumpah dengan nama Allah Ta‘ala. Dalilnya adalah bahwa siapa pun yang bersumpah tidak akan masuk ke rumah, ia tidak berdosa jika masuk, dan sumpah menurut kami tidak berpengaruh dalam mengharamkan sesuatu yang sebelumnya halal sebelum sumpah itu. Maka, tidak ada kaitan dengan pelanggaran kehormatan, dan syariat tidak melarang pelanggaran tersebut. Apa yang disebutkan oleh al-Qaffal hanya berlaku menurut mazhab Abu Hanifah yang berpendapat bahwa sumpah dapat mengharamkan sesuatu yang halal.
هذا إذا كانت اليمين بالطلاق ومعقودةٌ على فعل الزوج
Ini berlaku jika sumpah tersebut dengan talak dan dikaitkan dengan perbuatan suami.
فإن علّق الطلاق بفعل المرأة فإن قال ذلك وهي لم تسمع ولم يقصد الزوج إسماعها اليمين حتى تنزجر بسبب الطلاقمن الصّفة المحلوف عليها فالمذهب الأصح أن الطلاق يقع إذا دخلت الدار مكرهةً على الدّخول وذلك أنه لم يعلق الطلاق بقصدها ولم يظهر من تعليقه منعُها من الدخول حتى يحمل ذلك على العمد فوجب الحملُ على صورة الدخول نعم لو حملت وأدخلت فهذا لا يسمى دخولاً فلا يقع الطلاق لأن الصّفة لم توجد
Jika talak digantungkan pada perbuatan istri, maka jika suami mengucapkannya sementara istri tidak mendengar dan suami tidak bermaksud memperdengarkan sumpah tersebut agar istri jera karena talak yang digantungkan pada sifat yang disumpahkan, maka pendapat mazhab yang paling sahih adalah talak tetap jatuh jika istri masuk ke rumah dalam keadaan terpaksa untuk masuk. Hal ini karena suami tidak menggantungkan talak dengan maksud istri, dan dari penggantungannya tidak tampak adanya larangan bagi istri untuk masuk sehingga hal itu dianggap sebagai kesengajaan, maka wajib dipahami sesuai dengan gambaran masuknya istri. Namun, jika istri digendong dan dimasukkan ke dalam rumah, maka hal itu tidak disebut sebagai masuk, sehingga talak tidak jatuh karena sifat yang digantungkan tidak terpenuhi.
ومن أصحابنا من أجرى القولين في دخولها مكرهة لأن الإكراه على أحد القولين يضعف اختيارها ويلحقها وإن دخلت بالمحمولة المُدخَلة وهذا فقيه حسن أورده القاضي واختاره ولا يمكن فرض النسيان في هذه الصورة فإن المسألة موضوعة فيه إذا لم يكن عندها علم عن اليمين فإذا دخلت مختارة ولا علم عندها طلقت بلا خلافٍ
Sebagian ulama dari kalangan kami mengemukakan dua pendapat mengenai wanita yang masuk dalam keadaan terpaksa, karena paksaan menurut salah satu pendapat melemahkan pilihannya dan menyamakan keadaannya dengan wanita yang dibawa masuk secara paksa. Ini adalah pendapat fiqh yang baik, yang dikemukakan dan dipilih oleh al-Qadhi. Tidak mungkin mengandaikan lupa dalam kasus ini, karena masalah ini dibahas jika ia tidak mengetahui adanya sumpah. Maka jika ia masuk dengan pilihan sendiri dan tidak mengetahui adanya sumpah, maka ia tertalak tanpa ada perbedaan pendapat.
هذا هو التفصيل فيه إذا علق طلاقها وهي لم تشعر
Inilah perinciannya jika talaknya digantungkan sementara ia (istri) tidak mengetahuinya.
فأما إذا علّق طلاقها وهي تشعر فيظهر أنه يقصد أن يكون الطلاق مانعها من الدخول فإذا أُكرهت فدخلت مكرهةً كان إجراء القولين في هذه الصورة أظهر من إجرائهما في الصورة الأولى
Adapun jika talaknya digantungkan sementara ia menyadari, maka tampak bahwa maksudnya adalah agar talak menjadi penghalang baginya untuk masuk. Maka jika ia dipaksa lalu masuk dalam keadaan terpaksa, penerapan dua pendapat dalam situasi ini lebih jelas dibandingkan penerapannya pada situasi pertama.
ولو نسيت يمين الزوج جرى القولان على الأصح
Jika sumpah suami terlupakan, maka menurut pendapat yang lebih sahih, terdapat dua pendapat dalam hal ini.
والقفال إذا كان لا يُجري القولين في فعل الحالف إذا نسي أو أكره فلا شك أنه لا يجريهما فيه إذا كان المعقود عليه فعلَ المرأة
Al-Qaffāl, jika tidak memberlakukan dua pendapat dalam perbuatan orang yang bersumpah apabila ia lupa atau dipaksa, maka tidak diragukan lagi bahwa ia juga tidak memberlakukannya dalam hal apabila objek akad adalah perbuatan perempuan.
فأما إذا كان المعقود عليه فعلَ أجنبي نظر فإن جرى اليمين من حيث لا يشعر فلا يتصور فرض النسيان فيه ولكن إذا أكره ذلك الشخص فوُجد منه متعلّق الطلاق مكرهاً ففيه طريقان للأصحاب أظهرهما عندنا إجراء القولين لضعف الاختيار وتخيّل التحاق فعل المكره بأحوال المحمول
Adapun jika objek akad adalah perbuatan orang lain, maka perlu diteliti: jika sumpah itu terjadi tanpa disadari, maka tidak terbayangkan adanya kemungkinan lupa di dalamnya. Namun, jika orang tersebut dipaksa sehingga terjadi sesuatu yang berkaitan dengan talak dalam keadaan terpaksa, maka ada dua pendapat di kalangan para ulama. Pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah memberlakukan dua pendapat karena lemahnya unsur pilihan dan adanya anggapan bahwa perbuatan orang yang dipaksa serupa dengan keadaan orang yang terbawa.
وإن شعر ذلك الأجنبي بيمين الحالف لم يخلُ إما إن كان ممّن لا يُبالي بيمين الحالف ولا يزعه ذاك عن فعله أو كان ممن يمتنع بسبب حلف الحالف فإن كان ممّن لا يمتنع بسبب حلف الحالف فلا يبالي ببرّه وحنثه فمثل هذا الشخص إذا بلغه خبر اليمين ثم نسيها فلا أثر للنسيان منه فإن الفرق بين الناسي والعامد إنما يظهر في حق من يمتنع في الذكر فيجوز أن يُعذر إذا نسي
Jika orang asing tersebut mengetahui sumpah orang yang bersumpah, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia termasuk orang yang tidak peduli dengan sumpah orang yang bersumpah dan sumpah itu tidak mencegahnya dari perbuatannya, ataukah ia termasuk orang yang menahan diri karena sumpah orang yang bersumpah. Jika ia termasuk orang yang tidak menahan diri karena sumpah orang yang bersumpah, maka ia tidak peduli apakah sumpah itu ditepati atau dilanggar. Orang seperti ini, jika sampai kepadanya berita tentang sumpah tersebut lalu ia melupakannya, maka lupa itu tidak berpengaruh baginya. Sebab, perbedaan antara orang yang lupa dan yang sengaja hanya tampak pada hak orang yang menahan diri ketika ingat, sehingga boleh jadi ia dimaafkan jika lupa.
فأما المكره فالرأي عندنا طرد القولين فيه لما ذكرناه من تأثير الإكراه في سلب حكم الاختيار
Adapun orang yang dipaksa (mukrah), maka pendapat menurut kami adalah mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan, karena apa yang telah kami jelaskan tentang pengaruh paksaan (ikrah) dalam menghilangkan hukum pilihan (ikhtiyar).
وإن كان ذلك الأجنبي ممن يرتدع ويمتنع بسبب يمين الحالف فإذا نسي اختلف مسلك الأصحاب من حيث لا تعلق للنكاح به ويتجه عندنا طرد القولين في النسيان
Jika orang asing tersebut termasuk orang yang dapat dicegah dan menahan diri karena sumpah orang yang bersumpah, lalu ia lupa, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini karena tidak ada kaitan pernikahan dengannya. Menurut kami, dua pendapat dalam masalah lupa tetap berlaku secara konsisten.
ولو حلف الحالف بمشهدٍ من زوجته وعقد على فعل زوجته ولم يقصد منعها وإنما أراد تعليق الطلاق على الصفة مهما وجدت فالوجه القطع بأن النسيان لا أثر له
Jika seseorang bersumpah di hadapan istrinya dan mengaitkan sumpah itu dengan perbuatan istrinya, namun ia tidak bermaksud melarang istrinya, melainkan hanya ingin menggantungkan talak pada suatu sifat kapan pun sifat itu terjadi, maka pendapat yang kuat adalah bahwa lupa tidak berpengaruh.
والضابط فيه أنه إن أسقط أثر النسيان بعدم العلم باليمين أو بعدم مبالاة المحلوف عليه بحلف الحالف أو يقصد الحالف التعليق على الصفة المجردة من غير قصد في المنع بسبب الطلاق فلا وجه لذكر الخلاف في النسيان والقولان في الاستكراه جاريان
Patokan dalam hal ini adalah bahwa jika pengaruh lupa dihilangkan karena tidak mengetahui adanya sumpah, atau karena orang yang menjadi objek sumpah tidak peduli dengan sumpah yang diucapkan, atau jika orang yang bersumpah bermaksud menggantungkan pada sifat semata tanpa ada maksud untuk melarang karena sebab talak, maka tidak ada alasan untuk menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah lupa, dan dua pendapat dalam masalah paksaan tetap berlaku.
هذا بيان هذه التفاصيل على القواعد المحققة
Ini adalah penjelasan rincian-rincian tersebut berdasarkan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan.
ونعود إلى ترتيب السواد فنقول إذا علق طلاق امرأته بقدوم زيد فقدم مختاراً قضينا بوقوع الطلاق وإن كان مكرهاً فعلى القولين وإن كان غير عالم باليمين ففيه التفصيل المقدّم
Kita kembali pada pembahasan urutan masalah, maka kami katakan: Jika seseorang menggantungkan talak istrinya dengan kedatangan Zaid, lalu Zaid datang dengan kehendaknya sendiri, maka diputuskan jatuhnya talak. Namun jika ia datang dalam keadaan dipaksa, maka ada dua pendapat. Dan jika ia tidak mengetahui adanya sumpah tersebut, maka terdapat rincian yang telah dijelaskan sebelumnya.
ولو أدخل البلدة محمولاً لم يقع الطلاق ولو رد إلى البلدة ميتاً لم يقع الطلاق
Jika ia dibawa masuk ke kota dalam keadaan dipikul, maka talak tidak terjadi. Dan jika ia dikembalikan ke kota dalam keadaan telah meninggal, maka talak tidak terjadi.
وهذا المذكور في السواد قسم من الأقسام التي استوعبناها
Dan apa yang disebutkan dalam tulisan hitam ini adalah salah satu dari beberapa bagian yang telah kami bahas secara menyeluruh.
ثم قال ولو قال إذا رأيتُه فرآه في تلك الحالة حنث إلى آخره
Kemudian ia berkata: Jika ia berkata, “Jika aku melihatnya,” lalu ia melihatnya dalam keadaan tersebut, maka ia terkena pelanggaran sumpah, dan seterusnya.
إذا قال لامرأته إذا رأيتِ فلاناً فأنتِ طالق فرأته حياً أو ميتاً وقع الطلاق ولسنا لتعليل البيِّنات وكذلك إذا رأته والمرئي نائمٌ أو سكران ولو رأته في المنام فهو حلم لا يقع به طلاق ولو رأته وهو في ماء والماء بلطفه يحكيه فالظاهر عندنا القطع بوقوع الطلاق فإنه رؤي حقّاً وصار الماء اللطيف بين الناظر والمنظور إليه بمثابة أجزاء الهواء
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu melihat si Fulan, maka kamu tertalak,” lalu istrinya melihatnya baik dalam keadaan hidup maupun mati, maka jatuhlah talak, karena kita tidak mencari alasan dalam hal bukti-bukti yang jelas. Demikian pula jika ia melihatnya sementara orang yang dilihat itu sedang tidur atau mabuk. Namun, jika ia melihatnya dalam mimpi, itu hanyalah mimpi dan talak tidak terjadi karenanya. Jika ia melihatnya sedang berada di dalam air, dan air dengan kelembutannya memantulkan bayangannya, maka menurut pendapat kami yang kuat, talak tetap jatuh, karena itu adalah penglihatan yang nyata, dan air yang lembut di antara orang yang melihat dan yang dilihat itu kedudukannya seperti bagian-bagian udara.
وحكى من يُعتمد عن القاضي أن الطلاق لا يقع وهذا لا اتجاه له فإن ما ذكرناه رؤية في الإطلاق والعرف والحقيقة وهو انكشافٌ في وضع الشريعة ولهذا جعلنا الواقف في الماء اللطيف الذي يحكي العورة عارياً وقضينا بأن صلاته لا تصح فلا وجه إلا ما ذكرناه
Diriwayatkan dari pihak yang dapat diandalkan bahwa qadhi berpendapat talak tidak jatuh, namun pendapat ini tidak memiliki dasar, karena apa yang telah kami sebutkan adalah pendapat yang berlaku secara mutlak, menurut ‘urf, dan menurut hakikatnya, serta merupakan penyingkapan dalam penetapan syariat. Oleh karena itu, kami menganggap orang yang berdiri di air yang jernih sehingga menampakkan auratnya sebagai orang yang telanjang, dan kami memutuskan bahwa shalatnya tidak sah. Maka tidak ada pendapat lain kecuali apa yang telah kami sebutkan.
نعم إذا نظر في المرآة وخَطَر من ورائه مَنْ حَلَف على رؤيته فتراءى له ذلك الخاطر في المرآة أو في الماء فهذا فيه احتمال وإن كان ذلك المرئيُّ في الحقيقة مرئيّاً ولكن سبب التردد العرفُ وإطلاقُ أهله بأني لم أر فلاناً ولكني رأيت مثاله في المرآة
Ya, jika seseorang melihat ke cermin lalu terlintas di belakangnya seseorang yang bersumpah telah melihatnya, kemudian bayangan orang itu tampak baginya di cermin atau di air, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan. Meskipun yang terlihat itu pada hakikatnya memang terlihat, namun sebab keraguannya adalah kebiasaan dan ungkapan masyarakat yang mengatakan, “Aku tidak melihat si fulan, tetapi aku melihat bayangannya di cermin.”
ولو قال لامرأته وهي عمياء إن رأيت فلاناً فأنت طالق فالمذهب أن هذا لغوٌ فيها فإن الطلاق معلق بمستحيل فلا يقع
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang buta, “Jika kamu melihat si Fulan maka kamu tertalak,” menurut mazhab, ucapan ini dianggap sia-sia baginya, karena talak digantungkan pada sesuatu yang mustahil sehingga talak tersebut tidak terjadi.
ومن أصحابنا من جعل قوله إن رأيت فلاناً بمثابة قوله إن رأيت الهلال ثم رؤية الغير تقوم مقام رؤيتها غير أنا نفعل هذا في مسألة الهلال حملاً للرؤية على العلم ومن سلك هذا المسلك في رؤية زيد وعمرٍو لم يكتف بالعلم بوجود من علّقت اليمين به ولكنه حمله على أن يحضر عنده ويقرب منه ويجلس منه مجلس المخاطبة وهذا محمول على قول الضرير قد رأيت اليوم فلاناً وأحطت بما عنده والمراد أنِّي حضرته وشهدته
Sebagian dari ulama kami menganggap ucapan seseorang “Jika aku melihat si Fulan” setara dengan ucapannya “Jika aku melihat hilal”, kemudian penglihatan orang lain dapat menggantikan penglihatannya sendiri. Namun, kami melakukan hal ini dalam masalah hilal dengan menafsirkan penglihatan sebagai pengetahuan. Adapun siapa yang menempuh cara ini dalam melihat Zaid dan ‘Amr, ia tidak cukup hanya dengan mengetahui keberadaan orang yang dijadikan syarat sumpah, melainkan ia menafsirkannya bahwa orang tersebut harus hadir di hadapannya, mendekat kepadanya, dan duduk di tempat yang memungkinkan untuk berbicara langsung. Hal ini diqiyaskan pada ucapan orang buta: “Hari ini aku telah melihat si Fulan dan mengetahui apa yang ada padanya,” yang dimaksud adalah bahwa ia telah menghadiri dan menyaksikannya.
ثم لو رأته وهي مجنونة أو سكرانة وقع الطلاق لأن رؤية السّكرانة والمجنونة صحيحة
Kemudian, jika ia melihatnya dalam keadaan gila atau mabuk, maka talak tetap jatuh, karena penglihatan orang yang mabuk dan orang gila dianggap sah.
وألحق الأصحاب مسائل بهذا الفن منها أنه لو قال لها إن مسست فلاناً فأنت طالق فمسته حياً كان أوميتاً طُلِّقت ولو كان بين البشرتين حائل لم تطلق
Para ulama juga memasukkan beberapa permasalahan ke dalam bab ini, di antaranya: jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu menyentuh si Fulan, maka kamu tertalak,” lalu istrinya menyentuhnya, baik orang itu masih hidup maupun sudah meninggal, maka istrinya tertalak. Namun, jika di antara kulit keduanya terdapat penghalang, maka tidak terjadi talak.
وقد ذكرنا تردداً في أن لمس شعر المرأة هل يوجب نقض الطهارة وفي مسّ الشعر تردد لبعض الأصحاب فإن مسألة الملامسة متلقاة من ظاهر الكتاب والتصرف فيها متعلق بصيغ الألفاظ والوجهُ عندنا القطعُ في اليمين بأن الحنث لا يحصل
Kami telah menyebutkan adanya keraguan mengenai apakah menyentuh rambut perempuan membatalkan thaharah, dan dalam masalah menyentuh rambut terdapat keraguan di kalangan sebagian sahabat. Sebab, permasalahan menyentuh diambil dari zahir al-kitab, dan penafsiran terhadapnya berkaitan dengan bentuk-bentuk lafaz. Adapun menurut kami, pendapat yang kuat dalam sumpah adalah bahwa pelanggaran sumpah tidak terjadi.
ولو قال إن ضربتِ فلاناً فأنت طالق فضربته حياً وقع الطلاق ثم الذي ذهب إليه معظم الأصحاب أنا نشترط أَلَماً وإن لم يكن مبرّحاً شديداً وذهب طوائف من المحققين إلى أن الألم ليس بشرطٍ والضَّربُ يحصل بصدمةٍ وإن كانت لا تؤلم ورُبّ شخص يُضرب مجتمع اللحم منه بجُمعِ كفك فيلتذّ به التذاذ المغموز بالغمز وهذا ضرب ولو وَضَع حجراً ثقيلاً على عضوٍمن ذلك المعيّن ضعيفٍ فانطحن تحته فهذا إيلام وليس بضرب
Jika seseorang berkata, “Jika kamu memukul si Fulan, maka kamu tertalak,” lalu ia memukulnya saat masih hidup, maka talak jatuh. Kemudian, mayoritas para sahabat (ulama mazhab) berpendapat bahwa kami mensyaratkan adanya rasa sakit, meskipun tidak harus sakit yang berat atau parah. Sementara sekelompok ulama muhaqqiqin berpendapat bahwa rasa sakit bukanlah syarat, dan pukulan itu terjadi dengan benturan, meskipun tidak menimbulkan rasa sakit. Bisa jadi seseorang yang daging tubuhnya tebal dipukul dengan seluruh telapak tanganmu, namun ia justru merasakan kenikmatan seperti orang yang digelitik, dan ini tetap disebut pukulan. Jika seseorang meletakkan batu berat di anggota tubuh tertentu yang lemah lalu hancur di bawahnya, maka ini menimbulkan rasa sakit, tetapi bukan termasuk pukulan.
ولو ضربته ميتاً لم تطلق فإن الضرب المطلق في العرف لا يحمل على ضرب الميت
Jika ia memukulnya dalam keadaan sudah mati, maka tidak jatuh talak, karena pemukulan secara mutlak menurut ‘urf tidak dianggap sebagai memukul orang yang sudah mati.
والذي أطلقتُه من الصدمة لا ينبغي أن يعتمد الإنسان مُطلَقها فإن من ضرب أنملةً على إنسان لا يتصور أن يقع بمثله إيلام لم يتعلق بها بَرٌّ ولا حنث فالمحكَّم إذاً ما يسمى ضرباً وهو صدمٌ بما يفرض منه وقوع الألم حصل الألم أو لم يحصل
Apa yang saya sebutkan tentang benturan, tidak sepantasnya seseorang mengandalkan maknanya secara mutlak, karena jika seseorang memukul ujung jari orang lain, yang tidak mungkin menimbulkan rasa sakit, maka tidak ada kewajiban kaffarah atau sumpah yang terkait dengannya. Maka yang dijadikan patokan adalah apa yang disebut sebagai pukulan, yaitu benturan dengan sesuatu yang secara umum dapat menimbulkan rasa sakit, baik rasa sakit itu benar-benar terjadi atau tidak.
ولو قال إن قذفتِ فلاناً فأنت طالق فقذفته حياً أو ميتاً طُلقت لأن قذف الميت كقذف الحي إطلاقاً وحكماً
Jika seseorang berkata, “Jika kamu menuduh zina si Fulan, maka kamu tertalak,” lalu istrinya menuduh zina orang tersebut, baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal, maka jatuh talak, karena menuduh zina orang yang sudah meninggal sama hukumnya dengan menuduh zina orang yang masih hidup, baik secara mutlak maupun dalam ketentuan hukumnya.
ولو قال إن قذفت فلاناً في المسجد فأنت طالق فالشرط في حصول الحنث أن تكون القاذفة في المسجد هكذا قال الأصحاب
Jika seseorang berkata, “Jika aku menuduh si Fulan berzina di masjid, maka engkau tertalak,” maka syarat terjadinya pelanggaran sumpah adalah penuduhnya berada di dalam masjid; demikianlah yang dikatakan oleh para ulama.
ولو قال إن قتلت فلاناً في المسجد فالشرط أن يكون المقتول في المسجد والفرق أن نفس القذف يُجتنبُ في المسجد ولا يفهم من إضافة القذف في المسجد إلا كون القاذف في المسجد فإن هتك حرمة المسجد بإنشاء القذف فيه وإذا أضيف القتل إلى المسجد فُهم من مُطلَقه إيقاعُه بالمقتول وهو في المسجد
Jika seseorang berkata, “Jika aku membunuh si Fulan di masjid,” maka syaratnya adalah orang yang dibunuh harus berada di dalam masjid. Perbedaannya adalah bahwa perbuatan menuduh zina (qadzaf) dihindari di masjid, dan tidak dipahami dari penyandaran qadzaf di masjid kecuali bahwa pelaku qadzaf berada di masjid, karena ia telah menodai kehormatan masjid dengan melakukan qadzaf di dalamnya. Adapun jika pembunuhan disandarkan kepada masjid, maka yang dipahami secara mutlak adalah terjadinya pembunuhan terhadap korban saat ia berada di masjid.
هذا ما ذكره الأصحاب ولم يحملوا القتل في المسجد على كون القتل في المسجد بتأويل أن يرمى إلى ذلك المعيّن أو يناله برمح والقاتل في المسجد والمقتول خارج المسجد والأمر على ما ذكروه واللفظان مطلقان
Inilah yang disebutkan oleh para ulama mazhab, dan mereka tidak menafsirkan pembunuhan di masjid sebagai pembunuhan di masjid dengan penakwilan bahwa yang dimaksud adalah melempar kepada orang tertentu atau mengenainya dengan tombak, sementara pembunuh berada di dalam masjid dan yang terbunuh di luar masjid. Keadaannya sebagaimana yang mereka sebutkan, dan kedua lafaz tersebut bersifat umum.
فأما إذا قال أردت بالقذف في المسجد كَوْن المقذوف في المسجد وأردت بالقتل في المسجد كون القاتل في المسجد فهل يقبل ذلك منه ظاهراً هذا فيه احتمال بيّن وتردُّدٌ ظاهر من قِبل أن قوله في المسجد ظرفٌ متردد بين القاذف والمقذوف والقاتل والمقتول وهو في محض اللغة الفصحى صالحة لهما
Adapun jika seseorang berkata, “Yang aku maksud dengan ‘melempar’ di masjid adalah bahwa yang dilempar berada di masjid, dan yang aku maksud dengan ‘membunuh’ di masjid adalah bahwa pembunuhnya berada di masjid,” maka apakah hal itu dapat diterima darinya secara lahiriah? Dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas dan keraguan yang nyata, karena ungkapan “di masjid” merupakan keterangan tempat yang dapat merujuk baik kepada pelaku pelemparan maupun yang dilempar, serta pelaku pembunuhan maupun yang dibunuh. Dalam bahasa Arab fushha murni, ungkapan tersebut memang dapat digunakan untuk keduanya.
والذي ذكرناه في الإطلاق موجَب العرف تلِّقياً من الهتك فإذا فسّر لفظةً بما يصح على اللسان وينطبق على اللغة وجب أن يكون في قبوله خلاف وهذا من أصول الكتاب فمن خالف اللغة إلى ما لا يبعد انسياغُه في العرف كان في قبوله ظاهراً خلاف ومن خالف العرف إلى ما يوافق اللغة ولا يبعد بعداً كليّاً عن العرف ففى قبول تفسيره خلاف
Apa yang telah kami sebutkan dalam hal pemaknaan secara mutlak adalah berdasarkan pada ‘urf yang diambil dari kebiasaan penggunaan. Maka, jika suatu lafaz ditafsirkan dengan makna yang sah secara bahasa dan sesuai dengan kaidah bahasa, wajib ada perbedaan pendapat dalam penerimaannya. Ini merupakan salah satu prinsip dasar dalam kitab ini. Maka, siapa yang menafsirkan suatu lafaz menyelisihi bahasa kepada makna yang tidak jauh dari kebiasaan (‘urf), dalam penerimaannya secara lahiriah terdapat perbedaan pendapat. Dan siapa yang menafsirkan suatu lafaz menyelisihi ‘urf kepada makna yang sesuai dengan bahasa dan tidak sepenuhnya jauh dari ‘urf, maka dalam penerimaan tafsirnya juga terdapat perbedaan pendapat.
وإذا أكثرنا المسائل في الظاهر والباطن وحصل الأُنس بها هان ضبطها في الآخر
Jika kita memperbanyak pembahasan masalah-masalah, baik yang lahir maupun yang batin, dan telah terbiasa dengannya, maka akan menjadi mudah untuk menguasainya pada akhirnya.
ثم قال ولو حلف لا تأخذ مالك عليّ إلى آخره
Kemudian ia berkata: “Seandainya aku bersumpah, ‘Janganlah engkau mengambil hartamu dariku,’ dan seterusnya.”
إذا قال إن أخذتَ مالك عليّ فامرأتي طالق فإذا أخذه وقع الطلاق سواء أعطاه الحالف فأخذه أو أخذه قهراً من غير إعطاء منه وكذلك لو أجبره السلطان فأعطى فأخذه مختاراً أو أخذه السلطان من ماله وسلّمه إليه فإذا أخذه على اختيارٍ وقع الطلاق والتعويل على أَخْذه كيف فرض
Jika seseorang berkata, “Jika kamu mengambil hartamu dariku, maka istriku tertalak,” lalu harta itu diambil, maka talak jatuh, baik yang bersumpah itu memberikan hartanya lalu diambil, atau diambil secara paksa tanpa pemberian darinya. Demikian pula jika penguasa memaksanya lalu ia memberikan dan diambil secara sukarela, atau penguasa mengambil dari hartanya lalu menyerahkannya kepada orang tersebut. Jika harta itu diambil dengan pilihan, maka talak jatuh, dan yang menjadi tolok ukur adalah pengambilan harta itu dalam keadaan apa pun.
ولو كان عليه دين فقال من عليه الدّين إن أخذتَ مالك عليّ فأخذه قهراً ولا امتناع ممن عليه الدّين فلا يكون هذا آخذاً لماله رجعةً فلا يقع الطلاق إلا حيث يكون راجعاً إلى حقه وهو في الصورة التي ذكرناها غاصبٌ واليمين معقودةٌ على أن يأخذ ماله
Jika seseorang memiliki utang, lalu orang yang berutang berkata, “Jika kamu mengambil hartamu dariku,” kemudian ia mengambilnya secara paksa tanpa ada penolakan dari orang yang berutang, maka ini tidak dianggap sebagai mengambil kembali hartanya, sehingga talak tidak terjadi kecuali dalam keadaan ia benar-benar mengambil kembali haknya. Dalam gambaran yang telah kami sebutkan, ia adalah seorang perampas, dan sumpah itu terkait dengan mengambil kembali hartanya.
ولو أجبره السلطان فأخذ ماله والأولى فرض ذلك فيه إذا كان عيناً من الأعيان فإذا كان مجبراً على الأخذ ففي وقوع الطلاق قولان مذكوران في المكره على ما تفصّل
Jika seorang penguasa memaksanya lalu mengambil hartanya—dan yang utama adalah mewajibkan hal itu jika berupa barang tertentu—maka apabila ia dipaksa untuk mengambilnya, terdapat dua pendapat mengenai jatuhnya talak, sebagaimana disebutkan pada kasus orang yang dipaksa, sebagaimana telah dirinci.
ولو قبض السلطان حقه قهراً حيث يجوز للسلطان ذلك فهذا يحل محل أخذه حكماً ولكن لا يحصل الحنث فإن التعويل في الأَيْمان على الأسماء والإطلاقات لا على الأحكام
Jika penguasa mengambil haknya secara paksa di tempat di mana hal itu dibolehkan bagi penguasa, maka hal itu dianggap sama dengan pengambilan secara hukum, namun tidak terjadi pelanggaran sumpah, karena dalam sumpah yang dijadikan dasar adalah nama-nama dan lafaz yang diucapkan, bukan pada ketentuan hukumnya.
ولو حلف لا تأخذ مني مالك عليّ فإن أعطاه مختاراً فأخذه حَنِثَ ولو أخذ السلطان ماله وسلمه إلى مستحقه المحلوف عليه فلا حِنْث لأنه حلف لا تأخذ منّي وهذا ليس أخذاً منه
Jika seseorang bersumpah, “Jangan ambil hartamu dariku,” lalu orang itu memberikan hartanya secara sukarela dan yang bersumpah mengambilnya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun, jika penguasa mengambil hartanya dan menyerahkannya kepada orang yang menjadi objek sumpah, maka tidak dianggap melanggar sumpah, karena ia bersumpah, “Jangan ambil dariku,” dan yang terjadi bukanlah pengambilan langsung darinya.
ولو أجبره السلطان على التسليم ففي هذا نظر يبين بتقديم أمرٍ عليه وهو أن مستحق الحق لو سلبه من الحالف وقد حلف لا تأخذ مني فالظاهر عندنا أن الطلاق يقع وفي كلام القاضي ما يدل على أن الطلاق لا يقع وفيه على حالٍ إخالةٌ واحتمال فإن الإنسان إنما يقول أخذت مني إذا كان عن طواعيةٍ من المعطي وإن لم يكن يقال سلبت مني
Jika seorang penguasa memaksanya untuk menyerahkan (hak), maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dapat dijelaskan dengan mendahulukan suatu perkara, yaitu jika orang yang berhak atas suatu hak merampasnya dari orang yang bersumpah (untuk tidak memberikannya), padahal ia telah bersumpah “jangan ambil dariku”, maka pendapat yang tampak menurut kami adalah talak tetap jatuh. Namun dalam pendapat al-Qadhi terdapat indikasi bahwa talak tidak jatuh. Dalam hal ini memang terdapat kemungkinan dan keraguan, karena seseorang hanya akan mengatakan “diambil dariku” jika itu dilakukan secara sukarela dari pihak pemberi, sedangkan jika tidak, maka dikatakan “dirampas dariku”.
وهذا بعيدٌ والوجه ما قدمناه
Ini tidak kuat, dan pendapat yang benar adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya.
قال القاضي لو أجبر السلطان الحالف على التسليم فعلى قولين وهذا بناه على اشتراط الاختيار في الإعطاء ونحن لا نرى هذا أصلاً والتعويل على أخذ المحلوف عليه من يد الحالف أَعْطَى أو لم يُعط رضي أو كرِه
Kata al-Qadhi: Jika penguasa memaksa orang yang bersumpah untuk menyerahkan (barang), maka ada dua pendapat. Ini didasarkan pada syarat adanya pilihan dalam pemberian, sedangkan menurut kami hal itu sama sekali bukan syarat, dan yang menjadi pegangan adalah pengambilan barang yang menjadi objek sumpah dari tangan orang yang bersumpah, baik ia memberikannya atau tidak, rela ataupun terpaksa.
ولو حلف لا يعطيه فأعطاه مختاراً ذاكراً حَنِث ولو كان مكرهاً أو ناسياً فعلى الخلاف ولو أخذه السلطان وسلمه إلى صاحب الحق فلا حنث
Jika seseorang bersumpah tidak akan memberinya sesuatu, lalu ia memberikannya secara sadar dan dengan kehendak sendiri, maka ia melanggar sumpah. Namun, jika ia memberikannya karena dipaksa atau lupa, maka terdapat perbedaan pendapat. Jika penguasa mengambilnya dan menyerahkannya kepada pemilik hak, maka tidak dianggap melanggar sumpah.
ومن أحكم الأصول هانت عليه المسائل
Barangsiapa menguasai ushul (prinsip-prinsip dasar), maka baginya permasalahan-permasalahan menjadi mudah.
ثم قال ولو قال إن كلمتِه فأنت طالق إلى آخره
Kemudian ia berkata: “Jika engkau berbicara dengannya, maka engkau tertalak,” dan seterusnya.
إذا قال لها إن كلمتِ فلاناً فأنت طالق فكلمته بحيث يسمع وسمع وقع الطلاق وإن لم يسمع لعارض لفظ وذهول في المكلَّم فقد قال الأصحاب يقع الطلاق وفي هذا نظر سننعكس عليه به إن شاء الله
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu berbicara dengan si Fulan, maka kamu tertalak,” lalu istrinya berbicara dengannya sehingga ia (suami) mendengar dan memang mendengarnya, maka jatuhlah talak. Namun jika ia tidak mendengar karena suatu halangan pada ucapan atau karena kelalaian orang yang diajak bicara, para ulama berpendapat bahwa talak tetap jatuh. Dalam hal ini terdapat tinjauan yang akan kami bahas kembali, insya Allah.
ولو كان المكلَّم أصمَّ فكلمته على وجه لا يسمعه الصم ويسمعه من لا صمم به فقد ذكر الأصحاب وجهين أحدهما أن الطلاق يقع فإن هذا يسمى تكليماً وليست اليمين معقودة على الإسماع
Jika orang yang diajak bicara adalah seorang tuli, lalu ia diajak bicara dengan cara yang tidak dapat didengar oleh orang tuli tersebut, namun dapat didengar oleh orang yang tidak tuli, para ulama menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak tetap jatuh, karena hal ini tetap disebut sebagai berbicara, dan sumpah tidak disyaratkan harus terdengar.
والوجه الثاني أن الطلاق لا يقع فإن ما جرى ليس تكليم الصمّ فهو في حقه بمثابة همسٍ لا يسمعه السميع
Pendapat kedua adalah bahwa talak tidak terjadi, karena apa yang terjadi bukanlah berbicara kepada orang tuli, maka bagi orang tersebut hal itu seperti bisikan yang tidak didengar oleh orang yang dapat mendengar.
واللفظ الذي ذكرناه يتفصّل بعد الإحاطة بفصل الأصمّ فإن كان اللفظ بحيث لا يتصوّر أن يسمع معه وإن جرّد المكلّم قصده في الدّرْك والإصغاء فهذا فيه احتمال مأخوذ من تكْليم الأصمّ وإن كان اللفظ بحيث يتصوّر السّماع معه لو فرضت الإصاخة والإصغاء لأمكن الإسماع فيجب القطع هاهنا بالحِنث فإنه يقال كلمته فلم يُصغِ
Dan lafaz yang telah kami sebutkan itu terperinci setelah memahami pembahasan tentang orang tuli. Jika lafaz tersebut sedemikian rupa sehingga tidak mungkin didengar meskipun orang yang berbicara telah memusatkan niatnya untuk memperdengarkan dan mendengarkan, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang diambil dari pembahasan tentang berbicara kepada orang tuli. Namun, jika lafaz tersebut sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk didengar andaikan ada perhatian dan pendengaran, maka memungkinkan untuk memperdengarkan, sehingga harus dipastikan terjadinya pelanggaran (hins) di sini, karena dikatakan: “Aku telah berbicara kepadanya, tetapi dia tidak mendengarkan.”
وقد ينقدح في هذا نظر في تكليم الأصم إذا كان وجهه إليه وهو أنه يعلم أنه يكلّمه فالوجه هاهنا القطع بوقوع الطلاق وكذلك القول في مثل هذه الحالة والمانع اللفظ
Mungkin timbul pertimbangan dalam hal berbicara kepada orang tuli jika wajahnya menghadap kepadanya, yaitu bahwa ia mengetahui bahwa orang tersebut sedang berbicara kepadanya. Maka dalam hal ini, pendapat yang kuat adalah jatuhnya talak. Demikian pula halnya dalam keadaan serupa, dan penghalangnya adalah lafaz.
وإن كان كلمته على مسافة بعيدةٍ لا يحصل الإسماع في مثلها ولم يحصل فلا يقع الطلاق ولو اختطفت الريح كلامها وسحلته في أذني المكلَّم فالظاهر أنه لا يقع الطلاق
Dan jika ia mengucapkan kata-katanya dari jarak yang jauh sehingga pendengaran tidak mungkin terjadi pada jarak seperti itu, dan memang tidak terdengar, maka talak tidak jatuh. Dan jika angin membawa ucapannya dan meniupkannya ke telinga orang yang diajak bicara, maka yang tampak adalah talak tidak jatuh.
ولو كلمته ميتاً أو نائماً لم يقع الطلاق ولو هذت هي بالكلام لم يقع الطلاق وإن كان على صيغة تكليمه لأن هذا لا يسمى تكليماً وإن سمي كلاماً
Jika ia berbicara kepadanya (suami) yang sudah meninggal atau sedang tidur, maka talak tidak jatuh. Jika ia (istri) yang mengucapkan kata-kata tersebut, maka talak juga tidak jatuh, meskipun dalam bentuk kalimat yang seolah-olah berbicara kepadanya, karena hal itu tidak disebut sebagai berbicara (taklīm), meskipun disebut sebagai ucapan (kalām).
ولو جُنّت فكلمته قال القاضي يقع الطلاق وهذا يخرج على أنها لو أكرهت على التكليم هل يقع فإنّ قصد المجنون أضعف من قصد المكره وسنذكر في حصول الحِنث مع الجنون كلاماً بالغاً في كتاب الإيلاء إن شاء الله
Jika ia menjadi gila lalu mengucapkan talak, menurut pendapat al-Qadhi talak tersebut jatuh. Hal ini juga berlaku jika ia dipaksa untuk mengucapkan talak, apakah talaknya jatuh? Karena kehendak orang gila lebih lemah daripada kehendak orang yang dipaksa. Kami akan menjelaskan secara rinci tentang terjadinya pelanggaran sumpah dalam keadaan gila dalam Kitab al-Ila’ insya Allah.
ولو كلمته سكرانةً أنبني أمرَها على أنها كالصاحية أم لا فإن جعلناها كالصاحية وقع الطلاق وإلا فهي كالمجنونة ولو انتهت إلى السكر الطافح فهذت فهذيانها كهذيان النائم وسيأتي على الاتصال بهذه الفصول أحكام السّكران
Jika seseorang menceraikan istrinya yang sedang mabuk, maka perkaranya didasarkan pada apakah ia diperlakukan seperti orang sadar atau tidak. Jika kita menganggapnya seperti orang sadar, maka talaknya jatuh; jika tidak, maka ia seperti orang gila. Jika mabuknya telah mencapai tingkat mabuk berat sehingga ia mulai mengigau, maka igauannya seperti igauan orang yang sedang tidur. Hukum-hukum tentang orang mabuk akan dijelaskan secara berurutan dalam bab-bab berikutnya.
فصل قال ولو قال للمدخول بها أنت طالق أنت طالق أنت طالقٌ الفصل
Bab: Ia berkata, “Jika seseorang berkata kepada istri yang telah digauli, ‘Engkau talak, engkau talak, engkau talak,’ maka itu adalah talak yang final.”
إذا قال لغير المدخول بها أنت طالق أنت طالق أنت طالق وقعت عليها طلقة وبانت ولم تلحقها الثانية والثالثة فإن اللفظة الأولى مستقلة بإفادة الطلاق وليس ما بعدها تفسيراً لها فإن استقلت ثبت حكمها وحصلت البينونة
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Engkau talak, engkau talak, engkau talak,” maka jatuh satu talak atasnya dan ia menjadi terpisah (bain) serta talak kedua dan ketiga tidak berlaku baginya. Sebab, lafaz pertama sudah berdiri sendiri dalam memberikan makna talak dan apa yang datang setelahnya bukanlah penjelasan bagi lafaz pertama. Jika lafaz pertama sudah berdiri sendiri, maka hukumnya tetap dan terjadilah perpisahan (bainunah).
وإذا قال للمدخول بها أنت طالق أنت طالق أنت طالق وأتى بهذه الكلمات على الوِلاء وقعت الطلقة الأولى ونظرنا في الثانية والثالثة فإن زعم أنه نوى بهما الإيقاع حُملتا على الإيقاع وطُلقت ثلاثاًً وإن نوى باللفظة الثانية والثالثة تأكيد اللفظة الأولى قُبل ذلك منه ولم يقع إلا واحدة
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Engkau tertalak, engkau tertalak, engkau tertalak,” dan ia mengucapkan kata-kata ini secara berurutan, maka jatuhlah talak yang pertama. Kemudian kita melihat pada ucapan kedua dan ketiga: jika ia mengaku bahwa ia bermaksud menjatuhkan talak dengan keduanya, maka keduanya dianggap sebagai talak dan istrinya tertalak tiga kali. Namun jika ia berniat dengan ucapan kedua dan ketiga hanya untuk menegaskan ucapan pertama, maka hal itu diterima darinya dan yang jatuh hanya satu talak.
فإن قيل لم كان كذلك وكل لفظةٍ مستقلّة بنفسها في إفادة الطلاق والإشعار بمعناه فالثانية كالأولى والثالثة كالثانية والتمسك باللفظ أولى من التمسك بقصدٍ يزيل فائدةَ اللفظ قلنا التأكيد من القواعد التي لا سبيل إلى إنكارها وجحدها وهو من مذاهب الكلام ثم أصل التأكيد عند أهل العربية ثلاثة أقسام الدرجة العليا من التأكيد لتكرير اللفظ وكأن الذي يكرره يبغي بتكريره شيئين أحدهما التوثق بإيصال الكلام إلى فهم السامع عند تقدير ذهوله وغفلته والثاني الإشعار بأن هذا اللفظ لم يسبق إلى لسانه فإنه إذا كرّره قطع هذا الوهم فهذا أمّ باب التأكيد وهو ممثل بقول القائل رأيت زيداً زيداً ومررت بزيدٍ زيدٍ
Jika dikatakan, “Mengapa demikian, padahal setiap lafaz berdiri sendiri dalam memberikan makna talak dan menunjukkan maksudnya, sehingga lafaz kedua sama dengan yang pertama, dan yang ketiga sama dengan yang kedua, serta berpegang pada lafaz lebih utama daripada berpegang pada niat yang menghilangkan manfaat lafaz?” Kami jawab: Penegasan (ta’kīd) termasuk kaidah yang tidak mungkin diingkari dan dibantah, dan ini merupakan salah satu metode dalam ilmu kalam. Adapun asal penegasan menurut para ahli bahasa Arab terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan tertinggi dari penegasan adalah dengan mengulang lafaz. Seolah-olah orang yang mengulanginya menginginkan dua hal dengan pengulangan tersebut: pertama, memastikan bahwa perkataan itu benar-benar sampai ke pemahaman pendengar jika diasumsikan ia lalai atau lengah; kedua, menunjukkan bahwa lafaz tersebut tidak terlontar dari lisannya secara tidak sengaja, sebab jika ia mengulanginya, maka hilanglah anggapan tersebut. Inilah pokok dari penegasan, yang dicontohkan dengan ucapan seseorang: “Aku melihat Zaid, Zaid,” dan “Aku melewati Zaid, Zaid.”
والمرتبة الثانية في التأكيد تلي التكرار والإعادة وهو كقول القائل رأيت زيداً نفسه
Tingkatan kedua dalam penegasan setelah pengulangan dan pengulangan kembali adalah seperti ucapan seseorang: “Aku benar-benar melihat Zaid sendiri.”
والمرتبة الثالثة في التأكيد الإتيان بألفاظ تؤكّد معنى ما تقدم وهو كقول من يريد التأكيد في عمومٍ فيقول رأيت القوم أجمعين ثم قد يتبعون هذه الكلمة بكلمٍ لا يستقل مفرده ولا يشتق من معنىً وهو كقوله جاءني القومُ أجمعون أَكْتعون أَبْصَعون فهذا مراتب التأكيد وأصلها التكرير كما ذكرنا وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أراد تحقيق أمرٍ كرّره ثلاثاًً
Tingkatan ketiga dalam penegasan adalah menggunakan ungkapan-ungkapan yang menegaskan makna yang telah disebutkan sebelumnya, seperti ucapan seseorang yang ingin menegaskan dalam hal keumuman, lalu ia berkata: “Aku telah melihat seluruh kaum.” Kemudian, mereka kadang menambahkan kata-kata yang secara sendiri-sendiri tidak berdiri sendiri dan tidak diambil dari suatu makna, seperti ucapannya: “Kaum itu telah datang kepadaku seluruhnya, semuanya, seluruhnya.” Inilah tingkatan-tingkatan penegasan dan asalnya adalah pengulangan, sebagaimana telah kami sebutkan. Rasulullah ﷺ apabila ingin menegaskan suatu perkara, beliau mengulanginya tiga kali.
فإذا كان هذا أصلَ التأكيد وكل لفظةٍ من الألفاظ التي ذكرها ليست مُفردةً في الذكر فإذا فسَّرها بالتأكيد والتأكيدُ أصلٌ في نفسه والتكرير أصل التأكيد لَزِمَ قبول ذلك منه
Jika hal ini merupakan pokok dari penegasan, dan setiap kata dari kata-kata yang disebutkan itu tidak berdiri sendiri dalam dzikir, maka apabila ia menafsirkannya sebagai penegasan—sementara penegasan itu sendiri adalah pokok, dan pengulangan adalah inti dari penegasan—maka wajib menerima hal itu darinya.
ولو أطلق هذه الألفاظ ولم يذكر أنه قصد الإيقاع أو التأكيد بل قال لم يكن لي قصد ففي المسألة قولان أحدهما أنها محمولة على تجديد الإيقاع والثاني أنها محمولة على التأكيد
Jika seseorang mengucapkan kata-kata ini secara mutlak tanpa menyebutkan bahwa ia bermaksud melakukan ikatan baru atau sekadar penegasan, melainkan ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki maksud tertentu, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa ucapan tersebut dianggap sebagai pembaruan ikatan; kedua, bahwa ucapan tersebut dianggap sebagai penegasan.
فمن حملها على الإيقاع فتمسكه باستقلال كل لفظة لو أنفردت
Maka barang siapa yang memaknainya sebagai pelaksanaan (iqa‘), maka ia berpegang pada kemandirian setiap lafaz jika berdiri sendiri.
ومن حملها على التأكيد احتج بما مهدّناه قبلُ من أنّ أصل التأكيد التكرير ومن أراد التجديدَ فالعباراتُ الجامعة للعدد معلومة وقَصْدُ التجديد بتكرير الكلم ليس أصلاً وقَصْدُ التأكيد بالتكرير أصل في بابه والأصل أنا لا نوقع من الطلاق إلا ما نستيقن
Dan siapa yang memahami lafaz tersebut sebagai penegasan, berdalil dengan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa asal penegasan adalah pengulangan. Adapun siapa yang menghendaki pembaruan, maka ungkapan-ungkapan yang mencakup jumlah (talak) sudah diketahui, dan maksud pembaruan dengan mengulang-ulang kata bukanlah suatu asal, sedangkan maksud penegasan dengan pengulangan adalah asal dalam babnya. Dan pada dasarnya, kita tidak menetapkan talak kecuali yang benar-benar kita yakini.
ولو قال للتي دخل بها أنت طالق وطالق لحقتها طلقتان ولا مساغ لقصد التأكيد في ذلك فإن المؤكِّد لا يعطف على المؤكَّد وحكم كل معطوف أن يكون مجدّداً مستأنفاً حالاًّ محلّ المعطوف عليه في الفاصل والاستقلال
Jika seseorang berkata kepada istri yang telah digaulinya, “Engkau tertalak dan tertalak,” maka jatuh dua talak kepadanya, dan tidak ada ruang untuk maksud penegasan dalam hal ini, karena penegas tidak di-‘athaf-kan pada yang ditegaskan. Setiap yang di-‘athaf-kan hukumnya adalah sebagai sesuatu yang baru dan berdiri sendiri, menempati posisi yang sama dengan yang di-‘athaf-kan kepadanya dalam hal pemisahan dan kemandirian.
ولو قال أنت طالق وطالق ثم طالق فالألفاظ متغايرة والحكم وقوع الثلاث إذا كان مدخولاً بها وذلك لأن اللفظة الثانية معطوفة على الأولى فلا تصلح لتأكيدها واللفظة الثالثة متعلقة بصلة لم يسبق لها ذكر حتى يفرض فيها التكرير فاستقلت كُلّ لفظة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, dan tertalak, kemudian tertalak,” maka lafaz-lafaz tersebut berbeda-beda dan hukumnya jatuh talak tiga jika telah digauli. Hal ini karena lafaz kedua di-‘athaf-kan (disambungkan) pada lafaz pertama sehingga tidak bisa menjadi penegasan baginya, dan lafaz ketiga berkaitan dengan sesuatu yang belum disebutkan sebelumnya sehingga tidak dapat dianggap sebagai pengulangan, maka setiap lafaz berdiri sendiri.
ولو قال أنت طالق أنت طالق أنت طالق ثم زعم أنه أراد بالثانية طلاقاً بائنا مجدّداً وأراد بالثالثة تأكيد الثانية فهذا مقبول فإن الثالثة على صيغة الثانية وليس بينهما حائل يمنع من التأكيد وهو متصل بالمؤكَّد ولو قال أردت إيقاع الأولى والثانية وأردت بالثالثة تأكيدَ الأولى ففي المسألة وجهان أحدهما أن التأكيد على هذا الوجه باطل غير مقبول وإذا بطل التأكيد حُمل اللفظ على التجديد فيقع ثلاث طلقات لأن من شأن ما يقع التأكيد به أن يكون متصلاً بالمؤكَّد غيرَ منفصل عنه وهو قد نوى باللفظة الثانية تجديد الطلاق وهي فاصلة بين الأولى والثالثة فامتنع من تخللها قصدُ التأكيد وإذا بطل التأكيد تعيَّن التجديد
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, engkau tertalak, engkau tertalak,” kemudian ia mengklaim bahwa yang ia maksud dengan talak kedua adalah talak bain yang baru, dan yang ia maksud dengan talak ketiga adalah penegasan dari talak kedua, maka hal ini dapat diterima. Sebab, talak ketiga mengikuti bentuk talak kedua dan tidak ada pemisah di antara keduanya yang menghalangi penegasan, serta keduanya saling berhubungan. Namun, jika ia berkata bahwa ia bermaksud menjatuhkan talak pertama dan kedua, dan bermaksud dengan talak ketiga sebagai penegasan talak pertama, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa penegasan dalam bentuk ini batal dan tidak diterima. Jika penegasan itu batal, maka lafaz tersebut dianggap sebagai pembaruan, sehingga jatuh tiga talak. Karena pada dasarnya, sesuatu yang digunakan untuk penegasan haruslah berhubungan langsung dengan yang ditegaskan, tidak terpisah darinya. Sementara ia telah meniatkan dengan lafaz kedua sebagai pembaruan talak, yang berarti menjadi pemisah antara talak pertama dan ketiga, sehingga tidak mungkin ada penegasan yang diselipkan di antaranya. Jika penegasan itu batal, maka pembaruan menjadi satu-satunya kemungkinan.
والوجه الثاني أن قوله مقبول فإن الغرض أن يؤكّد الطلاق السابق ولا يرجع التأكيد إلى اللفظ وإنما يرجع إلى معناه واللفظة الثالثة متصلة بوقوع الأولى والأولى والثالثة متشابهتان لا تتميز إحداهما عن الأخرى والأصح عند المحققين الوجه الأول
Adapun pendapat kedua, bahwa ucapannya dapat diterima, karena tujuannya adalah untuk menegaskan talak yang telah dijatuhkan sebelumnya, dan penegasan itu tidak kembali pada lafaznya, melainkan pada maknanya. Ucapan ketiga berkaitan dengan terjadinya talak pertama, dan talak pertama serta ketiga itu serupa, tidak dapat dibedakan satu sama lain. Namun, menurut para peneliti yang paling kuat adalah pendapat pertama.
ولو قال أنت طالق وطالق وطالق فيقع الطلقة الأولى والثانية وأما الثالثة فإنها على صيغة الثانية فإن أراد بالثالثة تأكيد الثانية قبل منه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, dan tertalak,” maka jatuh talak pertama dan kedua. Adapun talak ketiga, maka hukumnya mengikuti talak kedua. Jika ia bermaksud dengan talak ketiga untuk menegaskan talak kedua, maka hal itu diterima darinya.
وفي هذا أدنى غموض لمكان واو العطف وانفصال اللفظ به عن اللفظ وقد
Dalam hal ini terdapat sedikit ketidakjelasan karena adanya huruf ‘wawu’ sebagai kata sambung dan terpisahnya lafaz tersebut dengan lafaz lainnya.
ذكرنا أن التأكيد ينافي الانفصال ولكن لا خلاف أن قصده في التأكيد على ما ذكرناه مقبول وسببه أن اللفظة الثالثة تكريرُ اللفظة الثانية وقد ذكرنا أن أم التأكيد التكرير والواو إذاً في الثالثة لا تكون عاطفةً وإنما هي تكرير الواو الأولى والكلمة بعدها تكرير الكلمة الثانية
Kami telah menyebutkan bahwa penegasan bertentangan dengan pemisahan, namun tidak ada perbedaan pendapat bahwa maksud penegasan seperti yang telah kami sebutkan adalah dapat diterima. Sebabnya adalah bahwa kata ketiga merupakan pengulangan dari kata kedua, dan kami telah menyebutkan bahwa inti dari penegasan adalah pengulangan. Maka, huruf wāw pada kata ketiga bukanlah sebagai huruf ‘athaf, melainkan hanya pengulangan dari wāw yang pertama, dan kata setelahnya pun merupakan pengulangan dari kata kedua.
ولو أطلق ولم يقصد شيئاً وقعت طلقتان معطوفة ومعطوف عليها وفي الثالثة قولان كما قدمناه ولو قال أردت بالثالثة تأكيد الأولى لم يقبل منه وجهاً واحداً فإنه مخالف للفظة الأولى باتصالها بالواو فلا يصلح للتأكيد
Jika seseorang mengucapkan secara mutlak tanpa maksud tertentu, maka jatuhlah dua talak: talak yang diikuti dan talak yang mengikutinya. Adapun pada talak yang ketiga terdapat dua pendapat, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Jika ia berkata, “Saya maksudkan talak yang ketiga sebagai penegasan dari talak yang pertama,” maka tidak diterima pendapatnya menurut satu pendapat, karena lafaz yang ketiga tersebut berbeda dengan yang pertama karena dihubungkan dengan huruf “wa”, sehingga tidak dapat dianggap sebagai penegasan.
ولو قال أنت طالق طالق طالق وزعم أنه قصد التأكيد لم يقع إلا واحدة
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak, tertalak, tertalak,” lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah untuk menegaskan (bukan untuk mengulangi talak), maka yang terjadi hanyalah satu talak saja.
فإن قيل الكلمة الثانية ليست مصدرةً بالضمير وكذلك الثالثة والأولى مصدرة بالضمير قلنا هذا لا أثر له فإن التأكيد يتعلق بالطلاق ولا فاصل بين الألفاظ
Jika dikatakan bahwa kata kedua tidak diawali dengan dhamir, demikian pula kata ketiga, sedangkan kata pertama diawali dengan dhamir, kami katakan bahwa hal itu tidak berpengaruh, karena penegasan tersebut berkaitan dengan talak dan tidak ada pemisah antara lafaz-lafaz tersebut.
ولو قال أنت طالق طالق أنت طالق فالتأكيد يتطرق إلى الثانية مع الأولى واللفظة الثانية انفصلت عن الثالثة بإعادة الضمير ولا معول على هذا الفصل فإن هذا الضمير ليس عاطفاً حتى يقال العطف يقتضي استئنافاً فأمر التأكيد متجه وإعادة الضمير محمول على التنبيه للتأكيد
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, engkau tertalak,” maka penegasan berlaku pada yang kedua bersama yang pertama, dan kata kedua terpisah dari yang ketiga dengan pengulangan dhamir (kata ganti). Namun, pemisahan ini tidak dianggap, karena dhamir tersebut bukanlah huruf ‘athaf (kata sambung) sehingga dikatakan bahwa ‘athaf menuntut permulaan baru. Maka, urusan penegasan tetap berlaku, dan pengulangan dhamir dimaknai sebagai penegasan untuk penegasan itu sendiri.
وحكى صاحب التقريب نصاً للشافعي يكاد يخرِم ما قدّمناه من الأصل ونحن نحكيه على وجهه ونذكر تصرفه فيه ثم نعود إلى ترتيب الفصل ونستوعب أطرافه وبقاياه قال قال الشافعي لو قال أنت طالق وطالق لا بل طالق فيقع طلقتان بقوله أنت طالق وطالق
Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan secara tekstual pendapat asy-Syafi‘i yang hampir saja menggugurkan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya sebagai dasar. Kami akan menyampaikan pendapat tersebut sebagaimana adanya, lalu menjelaskan bagaimana beliau memahaminya, kemudian kami akan kembali pada penataan bab ini dan membahas seluruh aspeknya serta sisanya. Asy-Syafi‘i berkata: “Jika seseorang berkata kepada istrinya: ‘Engkau tertalak, dan tertalak, tidak, bahkan tertalak,’ maka jatuh dua talak dengan ucapannya: ‘Engkau tertalak, dan tertalak.’”
فلو قال عَنيْت بقولي لا بل طالق تحقيقَ ما مضى وتأكيده قال قال الشافعي يقبل ذلك منه قال صاحب التقريب جعل أصحابنا المسألة على قولين أحدهما هذا وهو بعيد عن القياس
Jika seseorang berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku ‘tidak, bahkan talak’ adalah penegasan dan penguatan atas apa yang telah lalu,” Imam Syafi’i berkata: hal itu diterima darinya. Penulis kitab at-Taqrib berkata: Ulama-ulama kami membagi masalah ini menjadi dua pendapat; salah satunya adalah pendapat ini, namun pendapat ini jauh dari qiyās.
والثاني وظاهر النص في المختصر أنه يقع الثلاث كما لو اختلفت الألفاظ من وجهٍ آخر مثل أن يقول أنت طالق وطالق ثم طالق فإن الطلقات تتعدد إجماعاً
Yang kedua, dan yang tampak dari teks dalam al-Mukhtashar adalah bahwa talak tiga jatuh, sebagaimana jika lafaznya berbeda dari sisi lain, seperti ketika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, lalu tertalak,” maka talak-talak itu menjadi berbilang secara ijmā‘.
ثم قال صاحب التقريب هذا فيه إذا قال لا بل طالق فلو قال طالق وطالق بل طالق من غير لا ففي المسألة طريقان من أصحابنا من قطع بوقوع الثلاث في هذه الصورة ومنهم من جعل المسألة على قولين كما قدمناه فيه إذا قال لا بل طالق
Kemudian penulis kitab at-Taqrīb berkata: Ini berlaku jika ia mengatakan, “Tidak, bahkan talak.” Namun, jika ia mengatakan, “Talak dan talak, bahkan talak,” tanpa kata “tidak”, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Sebagian ulama kami berpendapat tegas bahwa jatuh tiga talak dalam kasus ini, dan sebagian lagi menjadikan masalah ini pada dua pendapat, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya dalam kasus jika ia mengatakan, “Tidak, bahkan talak.”
وهذا النص الذي حكاه صاحب التقريب حكاه العراقيون كذلك وإذا بعد الشيء استأنستُ بكثرة النقلة ولا شك أن الذي يقتضيه القياس أن يُحمل اللفظ على التجديد وامتناع حمله على التأكيد ولا ينبغي أن يُغيَّر أصلُ المذهب وقاعدتُه بما يجري نادراً من حكايات النصوص
Teks yang dikutip oleh penulis at-Taqrīb ini juga dikutip oleh para ulama Irak, dan jika suatu hal telah tersebar luas, aku merasa tenang dengan banyaknya periwayat. Tidak diragukan lagi bahwa yang dituntut oleh qiyās adalah lafaz tersebut dibawa pada makna pembaruan dan tidak boleh dibawa pada makna penegasan. Tidak sepantasnya pokok mazhab dan kaidah dasarnya diubah hanya karena adanya riwayat-riwayat nash yang jarang terjadi.
والذي يمكن توجيه النص به أنّ بل يتضمن استدراكاً في مخالفة ما مضى ومضادّته حتى إن كان الكلام الأوّل نفياً كان بل إثباتاً وإن كان صَدْرُ الكلام إثباتاً كان بل نفياً هذا معنى الكلمة ووضعها فإذا قال أولاً أنت طالق ثم قال آخراً لا بل طالق أو بل طالق فهذه الكلمة ليست على وضعها في اقتضاء المخالفة فضعفت ووهت وكانت كالساقطة المُطَّرحة وهذا المعنى لا يتحقق في سائر التغايير الحاصلة بالصّلات المختلفة وهذا لا بأس به
Penjelasan yang dapat diberikan terhadap teks ini adalah bahwa kata “bal” mengandung makna koreksi terhadap penolakan atau penegasan terhadap apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahkan jika pernyataan pertama berupa penafian maka “bal” menjadi penegasan, dan jika bagian awal pembicaraan berupa penegasan maka “bal” menjadi penafian. Inilah makna dan penggunaan kata tersebut. Maka jika seseorang berkata pertama kali, “Engkau tertalak,” lalu kemudian berkata, “Tidak, bahkan tertalak,” atau “bahkan tertalak,” maka kata ini tidak sesuai dengan penggunaannya yang menuntut adanya penolakan, sehingga menjadi lemah dan tidak bermakna, serta dianggap seperti kata yang gugur dan terbuang. Makna ini tidak terwujud dalam perubahan-perubahan lain yang terjadi karena perbedaan shighat, dan hal ini tidak mengapa.
على أنّ المذهب ما قدّمناه
Adapun pendapat yang dipegang adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.
ولو قال أنت طالق وطالق فطالق وقعت الطلقات الثلاثة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, maka tertalak,” maka jatuhlah tiga talak.
فإن قيل الفاء كالواو في معنى العطف فهلاّ جوزتم أن يكون اللفظ الثالث تأكيداً للفظ الثاني
Jika dikatakan bahwa huruf fa’ seperti huruf waw dalam makna ‘athaf (penghubung), maka mengapa kalian tidak membolehkan bahwa lafaz ketiga merupakan penegasan (ta’kid) bagi lafaz kedua?
قلنا الفاء عاطفة والعطف ينافي التأكيد وليست الفاء تكريرَ الواو فإذا امتنع التكرير في الفاء وجب إجراؤه على حقيقة العطف والعطفُ مقتضاه الاستئناف
Kami katakan bahwa huruf fa’ adalah huruf ‘athaf (penghubung), dan ‘athaf bertentangan dengan penegasan. Fa’ bukanlah pengulangan dari huruf waw. Maka, jika pengulangan tidak dibenarkan pada fa’, wajib memperlakukannya sesuai dengan hakikat ‘athaf, dan konsekuensi ‘athaf adalah permulaan pembicaraan baru.
وإذا أردنا نظمَ هذه المسائل المتفرّقة تحت ترجمةٍ قلنا إذا تغايرت الألفاظ بصلاتِ عواطفَ مختلفة فهي على التجديد
Jika kita ingin menyusun masalah-masalah yang tersebar ini di bawah satu judul, kita katakan: Jika lafaz-lafaz berbeda karena adanya penghubung-penghubung yang berlainan, maka hal itu menunjukkan pembaruan.
وإذا لم يتخللها عواطف فهي بين التجديد والتاكيد فإن قَصَد التأكيد قُبل وإن قَصَد التجديدَ نَفَذ وإن أطلق فعلى الخلاف فإذا تخلل بين لفظين ما يمنع من التأكيد وقعت الثنتان وفي الثالثة ما ذكرنا من التفصيل فإن أكد بها الثالثة قُبل وإن أكد الأولى فعلى وجهين قدمنا ذكرهما
Jika tidak diselingi oleh emosi, maka hal itu berada antara pembaruan (tajdīd) dan penegasan (ta’kīd); jika yang dimaksud adalah penegasan, maka diterima, dan jika yang dimaksud adalah pembaruan, maka berlaku. Jika dibiarkan mutlak, maka terjadi perbedaan pendapat. Jika di antara dua lafaz terdapat sesuatu yang menghalangi penegasan, maka jatuhlah dua talak, dan pada talak ketiga berlaku perincian yang telah kami sebutkan: jika dengan talak ketiga dimaksudkan penegasan, maka diterima; dan jika penegasan ditujukan pada talak pertama, maka ada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.
ولو قال أنت طالق طلقةً فطلقة نص على وقوع طلقتين ونص على أنه لو قال عليَّ درهمٌ فدرهم لم يلزمه إلا درهم واحد فمن أصحابنا من جعل في المسألتين قولين بالنقل والتخريج وهذا بعيد
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak, maka satu talak,” terdapat nash yang menyatakan jatuh dua talak, dan terdapat nash bahwa jika seseorang berkata, “Atas saya satu dirham, maka satu dirham,” maka tidak wajib atasnya kecuali satu dirham saja. Di antara ulama kami ada yang menjadikan dalam dua permasalahan ini dua pendapat, baik berdasarkan riwayat maupun istinbat, namun hal ini jauh (dari kebenaran).
ومنهم من أجراهما على الظاهر وفرّق بأن الطلاق إيقاعٌ لا يَدْرأُ لفظَه إلا مَحْملُ التأكيد والفاء تمنع من التأكيد والإقرار إخبار والإخبارُ يحتمل من التأكيد والتكرار ما لا يحتمله الإيقاع والدليل عليه أنه لو قال أنت طالق طلقةً بل طلقتين فالمنصوص أنها تطلق ثلاثاًً ولو قال عليّ درهمٌ بل درهمان لزمه درهمان ولو أعاد كلمة الطلاق على الهيئة الأولى في المجلس مع تخلل فصلٍ وقعت طلقتان ولو أعاد الإقرار على هيئته الأولى في مجلس أو مجلسين وأراد الإعادة قُبل منه
Sebagian dari mereka menjalankan keduanya sesuai makna lahiriah dan membedakan bahwa talak adalah tindakan hukum (iqā‘) yang tidak dapat dihilangkan maknanya kecuali dengan penafsiran sebagai penegasan, sedangkan huruf fa’ mencegah makna penegasan. Sementara itu, ikrar adalah pemberitahuan (ikhbār), dan pemberitahuan dapat mengandung penegasan dan pengulangan yang tidak dapat diterima dalam tindakan hukum. Dalilnya adalah jika seseorang berkata, “Engkau aku talak satu kali, bahkan dua kali,” maka menurut nash, ia jatuh talak tiga kali. Jika ia berkata, “Atas tanggunganku satu dirham, bahkan dua dirham,” maka ia wajib membayar dua dirham. Jika ia mengulangi kata talak dengan bentuk yang sama dalam satu majelis dengan jeda di antara keduanya, maka jatuh dua talak. Namun jika ia mengulangi ikrar dengan bentuk yang sama dalam satu atau dua majelis dan ia memang bermaksud mengulangi, maka pengulangan itu diterima darinya.
ولي في قوله أنت طالق طلقة بل طلقتين نظرٌ فإنه ربما يبغي بهذا ضمَّ طلقةٍ إلى الأولى فيتطرّق إمكان الإعادة على هذا التأويل وهذا يتجه على النص الذي حكاه صاحب التقريب بل هو أوجه منه
Menurutku, dalam ucapannya “Engkau tertalak satu talak, bahkan dua talak” terdapat pertimbangan, sebab bisa jadi ia bermaksud menambahkan satu talak lagi pada talak yang pertama, sehingga memungkinkan untuk kembali (rujuk) menurut penafsiran ini. Hal ini sejalan dengan teks yang diriwayatkan oleh penulis kitab at-Taqrib, bahkan lebih kuat darinya.
ووجه ما ذكره الأصحاب أنه إذا قال بل طلقتين وجب حملهما على الإنشاء وإذا ذكرنا احتمال الضم كان التقرير ضم إنشاء إلى إقرار كأنه يقول تيك الطلقة الأولى واقعة والأخرى أُنشئها وحَمْلُ الألفاظ في الطلاق على الإقرار بعيد
Dasar pendapat yang disebutkan oleh para ulama adalah bahwa jika seseorang berkata, “Bahkan dua talak,” maka keduanya wajib dianggap sebagai pernyataan (inshā’). Jika kita menyebutkan kemungkinan penggabungan, maka penjelasannya adalah menggabungkan antara pernyataan (inshā’) dan pengakuan (iqrār), seolah-olah ia berkata, “Talak pertama itu sudah terjadi dan yang kedua aku nyatakan sekarang.” Namun, menafsirkan lafaz-lafaz dalam talak sebagai pengakuan (iqrār) adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat).
ولو قال أنت طالق طلاقاً فهي واحدة إن لم ينو أكثر منها فإن قوله طلاقاً مصدر والمصدر إذا أُكّدّ الكلام به لم يقتض تعديداً أو تجديداً وهو كقول القائل ضربت زيداً ضرباً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan talak,” maka itu jatuh satu talak saja selama ia tidak berniat lebih dari itu. Sebab, kata “talak” di sini adalah mashdar (kata dasar), dan apabila mashdar digunakan untuk menegaskan suatu ucapan, maka itu tidak menunjukkan penggandaan atau pembaruan. Hal ini seperti ucapan seseorang, “Aku telah memukul Zaid dengan pukulan.”
فهذا بيان الأصول في مضمون الفصل ولا فصل إلا ويترتب عليه فروع وأنا أرى تأخيرها حتى تقع الفروعُ نوعاً والأصولُ نوعاً
Ini adalah penjelasan tentang pokok-pokok dalam isi bab ini, dan tidak ada satu bab pun kecuali di dalamnya terdapat cabang-cabang. Saya memandang lebih baik menunda pembahasannya agar cabang-cabang dan pokok-pokoknya dapat dibahas secara terpisah.
والذي أختتم به هذا الفصل وهو سرٌّ لطيف أنه إذا قال لامرأته أنت طالق إن شاء الله على الاتصال فسنوضّح أن الطلاق لا يقع إذا أنشأ اللفظ على قصد الاستثناء والشرطُ أن يكون الاستثناء متصلاً والمنفصل منه لا يعمل فهذا مما يراعى فيه الاتصال ومما يعتبر فيه الاتصال أيضاًً الإيجاب والقبول وما في اللفظ المحمول على التأكيد يشترط اتصاله بالمؤكَّد
Yang saya akhiri dalam bab ini, dan ini adalah rahasia yang halus, yaitu jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Allah menghendaki” secara bersambung, maka akan kami jelaskan bahwa talak tidak jatuh jika lafal tersebut diucapkan dengan maksud pengecualian, dan syaratnya adalah pengecualian itu harus bersambung; jika terpisah, maka tidak berlaku. Maka, dalam hal ini harus diperhatikan adanya kesinambungan. Demikian pula, dalam ijab dan qabul, serta dalam lafal yang dimaksudkan sebagai penegasan, disyaratkan adanya kesinambungan dengan yang ditegaskan.
وأنا أقول ليس اتصال المؤكِّد بالمؤكَّد والاستثناء بصدْر الكلام على مساق اتصال القبول بالإيجاب بل يجب أن يكون اتصالُ كلام الشخص الواحد بكلامه أبلغ من اتصال القبول بالإيجاب والمرعي في كل باب ما يليق به فإذا انفصل القبول انفصالاً يُخرجه عن كونه جواباً ويُشعر الفصلُ بإعراض القابل عن الجواب فهذا هو القاطع وبدون ذلك ينقطع الاستثناء عن صدر الكلام فإنَّ تواصُلَ الكلام الواحد فوق اتصال جواب خطاب ويشهد لهذا أن تخلل كلام بين الإيجاب والقبول لا يقطع على الرأي الأصح
Saya katakan bahwa keterhubungan antara mu’akkid dengan mu’akkad dan istisna’ dengan awal pembicaraan tidaklah sama dengan keterhubungan antara penerimaan (qabul) dengan ijab. Bahkan, seharusnya keterhubungan antara ucapan seseorang dengan ucapannya sendiri lebih kuat daripada keterhubungan antara qabul dengan ijab, dan yang diperhatikan dalam setiap bab adalah apa yang sesuai dengannya. Maka, jika qabul terpisah dengan suatu pemisahan yang mengeluarkannya dari status sebagai jawaban dan pemisahan itu menunjukkan bahwa penerima berpaling dari jawaban, maka inilah yang memutuskan (hubungan), dan tanpa itu, istisna’ tidak terputus dari awal pembicaraan. Sebab, kesinambungan satu ucapan lebih kuat daripada keterhubungan antara jawaban dan khitab. Hal ini dibuktikan dengan pendapat yang lebih sahih bahwa adanya ucapan yang menyela antara ijab dan qabul tidak memutuskan (hubungan) tersebut.
والذي أراه أن تخلل كلام بين الاستثناء والمستثنى عنه يقطع الاستثناء حتى لو قال أنت طالق قم يا عبدُ ثم قال إن شاء الله لم يعمل الاستثناء وقياس التأكيد كقياس الاستثناء وقد يرد على هذا أنه إذا قال أنت طالق طالق أنت طالق ثم قال أردت التأكيد باللفظة الثالثة فهذا مقبول كما قدّمته وقوله في اللفظة الثالثة أنت كلام زائد ولكنه في معناه التنبيه للتأكيد وما كان كذلك لم يكن فاصلاً قاطعاً
Menurut pendapat saya, jika terdapat ucapan lain yang menyela antara istisna’ (pengecualian) dan yang dikecualikan darinya, maka istisna’ tersebut terputus. Sehingga, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, berdirilah wahai hamba,” lalu ia berkata, “insya Allah,” maka istisna’ tersebut tidak berlaku. Qiyās (analogi) pada penegasan sama dengan qiyās pada istisna’. Namun, bisa saja dikemukakan keberatan terhadap hal ini, yaitu jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, engkau tertalak,” lalu ia berkata, “Aku bermaksud menegaskan dengan lafaz ketiga,” maka hal itu diterima sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya. Ucapan “engkau” pada lafaz ketiga adalah tambahan kata, namun maksudnya adalah sebagai penegasan. Dan sesuatu yang demikian tidak dianggap sebagai pemisah yang memutuskan.
وإذا ذكرنا هذا تبين أن السكتات إذا تخللت واللفظ واحد فينبغي أن تكون أقصر ما يُفرض بين الإيجاب والقبول ولا يشترط أن يجمع المتكلم الكلام والاستثناء والتأكيد والمؤكَّد في نفسٍ واحد هذا نجاز ما أردناه
Jika kita telah menyebutkan hal ini, maka jelaslah bahwa jeda-jeda jika terjadi di antara (ucapan) dan lafalnya tetap satu, maka seharusnya jeda tersebut adalah yang paling singkat yang dapat dibayangkan antara ijāb dan qabūl, dan tidak disyaratkan bagi orang yang berbicara untuk mengumpulkan ucapan, pengecualian, penegasan, dan yang ditegaskan dalam satu napas. Inilah ringkasan dari apa yang kami maksudkan.
فصل قال وكلّ مكرهٍ إلى آخره
Bab: Beliau berkata, “Setiap orang yang dipaksa…” hingga akhir.
نذكر في هذا الفصل حكمَ الإكراه على الطلاق والعتاق والعقود حتى إذا نجز وتفرّعت مسائله نختتم الفصل بالإكراه ومعناه فنقول طلاق المكره وعتاقه لا يقع إذا تحقق الإكراه وأتى المكرَهُ بالطلاق على مقتضى الإكراه
Pada bab ini, kami akan membahas hukum ikrah (paksaan) terhadap talak, pembebasan budak, dan akad-akad, sehingga apabila pembahasannya telah selesai dan rinciannya telah dijelaskan, kami akan menutup bab ini dengan pembahasan tentang ikrah dan maknanya. Maka kami katakan, talak dan pembebasan budak yang dilakukan oleh orang yang dipaksa tidaklah sah apabila ikrah benar-benar terjadi dan orang yang dipaksa melakukan talak sesuai dengan tuntutan paksaan tersebut.
ولو جرى ما يكون إكراهاً فطلق المكرَه على حسب الاستدعاء منه وزعم أنه اختار إيقاع الطلاق فيقع الطلاق و لا يمتنع أن يوافق قصدُه واختيارُه صورةَ الإكراه من المكرِه
Jika terjadi sesuatu yang termasuk kategori paksaan, lalu orang yang dipaksa itu menjatuhkan talak sesuai permintaan pihak yang memaksa, dan ia mengaku bahwa ia memilih untuk menjatuhkan talak, maka talak itu jatuh. Tidak mustahil kehendak dan pilihannya sendiri bisa saja sesuai dengan bentuk paksaan dari pihak yang memaksa.
وإن أُجبر على أن يقول لامرأته أنت طالق فقال ما قال وهو مُجْبرٌ ونوى تطليقها عن وِثاقٍ لم يقع الطلاق
Jika seseorang dipaksa untuk mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan dalam keadaan terpaksa dan ia berniat mentalaknya karena paksaan, maka talak tersebut tidak jatuh.
وهذا نهاية التصوير في الإكراه فإن اللاّفظ أتى بلفظه على مطابقة المجبِر للخلاص منه ولم يأل جهداً في التغيير وصرف النية عن الفراق إلى غيره
Dan inilah akhir penjelasan tentang ikrah, yaitu bahwa orang yang mengucapkan lafaz melakukannya sesuai dengan kehendak pihak yang memaksa agar dapat terbebas darinya, dan ia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah serta memalingkan niat dari perceraian kepada hal lain.
ولو أُجبر فوافق ولكنه لم ينو تطليقها عن وثاقٍ وكان من الممكن أن ينوي ذلك هل نحكم بوقوع الطلاق ذكر القاضي وجهين أحدهما وهو اختيار القفال أن الطلاق يقع لأنه كان متمكناً من أن يورِّي ويضمر ما ذكرناه فيكون بقصده حائداً عن الفراق فإذا لم يفعل جرّ هذا إليه حكمَ المختارين من حيث لم يستفرغ وُسعه في الحَيْد عن الطلاق وكان يقول لو نوى الطلاق عن الوِثاق في حالة الاختيار لم يقع الطلاق بينه وبين الله تعالى ولكنه لا يصدّق إذا ادعى ما أضمره من حيث إن الظاهر يكذّبه فإنّ ذا الجدِّ لا يطلق لفظ الطلاق ومراده حلّ الوثاق فإذا كان مكرهاً وأضمر حلَّ الوثاق كان مصدَّقاً لاقتران الإجبار بظاهر قوله وهو بمثابة الإقرار في الاختيار والإجبار وإذا أقرّ بالطلاق كاذباً لم يُحكم بوقوع الطلاق باطناًً ولكن لو ادّعى أنه كان كاذباً في إقراره لم يُصدّق وإذا أكره على إقراره ثم زعم أنه كان كاذباً صُدّق لأن ظهور الإجبار يُغلِّب على الظن صدقَه في دعوى الكذب في الإقرار هذا أحد الوجهين وبيان اختيار القفال
Jika seseorang dipaksa lalu setuju, namun ia tidak berniat menceraikannya untuk melepaskan ikatan, padahal ia mungkin saja berniat demikian, apakah kita memutuskan jatuhnya talak? Qadhi menyebutkan dua pendapat; salah satunya, yang dipilih oleh al-Qaffal, adalah bahwa talak jatuh karena ia mampu untuk menggunakan kinayah dan menyembunyikan niat seperti yang telah disebutkan, sehingga dengan niatnya itu ia berpaling dari perceraian. Jika ia tidak melakukannya, maka hal itu menyeretnya kepada hukum orang yang memilih (talak), karena ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghindari talak. Ia berkata, jika seseorang berniat talak untuk melepaskan ikatan dalam keadaan memilih, maka talak tidak jatuh antara dia dan Allah Ta‘ala, namun ia tidak dipercaya jika mengaku apa yang ia sembunyikan, karena secara lahiriah hal itu mendustakannya; sebab orang yang serius tidak akan mengucapkan lafaz talak dengan maksud melepaskan ikatan. Jika ia dipaksa dan menyembunyikan maksud melepaskan ikatan, maka ia dipercaya karena adanya paksaan yang menyertai lahiriah ucapannya, dan hal itu serupa dengan pengakuan dalam keadaan memilih dan dipaksa. Jika seseorang mengakui talak secara dusta, maka talak tidak dihukumi jatuh secara batin, namun jika ia mengaku bahwa ia berdusta dalam pengakuannya, ia tidak dipercaya. Jika ia dipaksa untuk mengaku lalu mengklaim bahwa ia berdusta, maka ia dipercaya, karena tampaknya paksaan lebih kuat dalam memberikan dugaan benar atas pengakuannya dalam mengaku dusta. Ini adalah salah satu dari dua pendapat dan penjelasan pilihan al-Qaffal.
والوجه الثاني أن الطلاق لا يقع وإن لم يُوَرِّ لأنّه أنشأ اللفظ مجبراً عليه فسقط حكمه ولم يأت بنيةٍ تُشعر باختياره
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tidak terjadi meskipun ia tidak melakukan tawriyyah, karena ia mengucapkan lafaz tersebut dalam keadaan dipaksa sehingga hukumnya gugur, dan ia tidak menghadirkan niat yang menunjukkan adanya pilihan dari dirinya.
هذا ما ذكره الأصحاب وفي المسألة مزيد تفصيل عندي فإن فرضت في غرٍّ غبيّ لا يفهم التورية فلا ينبغي أن يكون في انتفاء طلاقه تردّدٌ وإن كان المجبَر فقيهاً عالماً لمسألة التورية ولم يفته ذكر هذه المسألة حالة الإجبار فالأظهر عندنا أن الطلاق يقع وللاحتمال مجالٌ بيِّن إذا لم يقصد ولم يختر وهذا محلّ الوجهين
Inilah yang disebutkan oleh para ulama, dan dalam masalah ini menurut saya masih ada rincian lebih lanjut. Jika kasusnya terjadi pada seseorang yang polos dan bodoh, yang tidak memahami makna sindiran (tawriyyah), maka seharusnya tidak ada keraguan bahwa talaknya tidak jatuh. Namun, jika orang yang dipaksa itu adalah seorang faqih yang mengetahui masalah tawriyyah dan tidak lupa akan masalah ini saat dipaksa, maka pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah talaknya jatuh. Namun, masih ada kemungkinan yang jelas jika ia tidak bermaksud dan tidak memilih (untuk menjatuhkan talak), dan inilah tempat adanya dua pendapat.
ولو كان الرجل عالماً ولكن أذهله الوعيد وبهَرَهُ السَّيفُ المسلول فهو كالغِرّ الغبي الذي لا يذكر ولا يشعر
Dan jika seseorang itu adalah seorang alim, namun ia terperdaya oleh ancaman dan terkesima oleh pedang yang terhunus, maka ia seperti orang bodoh dan dungu yang tidak ingat dan tidak menyadari.
ومما نذكره في ذلك أن الأصحاب قالوا لو أكرهه المكرِه على طلقةٍ فقال هي طالق ثلاثاًً وقعت الثلاث لأنه لمّا زاد على الطلقة المطلوبة منه ظهر بذلك اختياره وقصدُه وإرادتُه الطلاق
Perlu kami sebutkan di sini bahwa para ulama mengatakan, jika seseorang dipaksa oleh pihak yang memaksa untuk menjatuhkan satu talak, lalu ia mengatakan, “Engkau tertalak tiga,” maka jatuhlah tiga talak, karena ketika ia menambah dari talak yang diminta darinya, hal itu menunjukkan adanya pilihan, maksud, dan kehendaknya sendiri untuk menjatuhkan talak.
وقال الأصحاب لو أكرهه على أن يطلقها ثلاثاًً فطلقها واحدةً وقع الطلاق
Para ulama mazhab berkata, jika seseorang memaksanya untuk menceraikan istrinya dengan talak tiga, lalu ia menceraikannya dengan talak satu, maka talak tersebut tetap jatuh.
وطردوا في ذلك أصلاً وقالوا مهما خالف المكرَهُ المكرِهَ بزيادة على ما طلبه أو بنقصان منه نحكم بوقوع الطلاق لأنه إذا خالفه فقد أتى بغير ما طلبه فكان كالمبتدىء بلفظه وموجب ذلك الحكمُ بالوقوع
Mereka menerapkan kaidah ini secara konsisten dan berkata: kapan pun orang yang dipaksa (mukrah) menyelisihi orang yang memaksa (mukrih) dengan menambah dari apa yang dimintanya atau menguranginya, maka kami memutuskan jatuhnya talak. Sebab, jika ia menyelisihinya, berarti ia melakukan sesuatu yang tidak diminta, sehingga ia seperti orang yang memulai dengan ucapannya sendiri, dan hal itu mengharuskan keputusan jatuhnya talak.
وقالوا لو أكرهه على أن يطلّق زوجته عَمْرة فضمها إلى ضرّتها وطلقهما حُكم بوقوع الطلاق بناء على ما ذكرناه من مخالفته إياه
Mereka berkata, jika seseorang memaksanya untuk menceraikan istrinya, ‘Amrah, lalu ia menggabungkannya dengan madunya dan menceraikan keduanya, maka dijatuhkan hukum terjadinya talak berdasarkan apa yang telah kami sebutkan tentang penyelisihannya terhadap perintah tersebut.
ولو أكرهه على تطليق امرأتين فطلق إحداهما قالوا وقع الطلاق كما لو أكرهه على ثلاث طلقات فطلق واحدةً
Jika seseorang dipaksa untuk menceraikan dua istrinya lalu ia menceraikan salah satunya, para ulama mengatakan bahwa talak tetap jatuh, sebagaimana jika seseorang dipaksa untuk menjatuhkan tiga talak lalu ia menjatuhkan satu talak.
وقالوا أيضاًً لو قال المكرِه قُلْ طلقتها فقال فارقتها أو سرّحتها حكم بوقوع الطلاق طرداً للأصل الذي قدمناه من أن المكرَه إذا خالف المكرِه المُجبِرَ حكم بوقوع الطلاق من جهة أن المخالفة تُصوِّر المكرَه بصورة المبتدىء المنشىء الذي لا ينبني كلامُه على استدعاء المجبِر
Mereka juga berkata: Jika orang yang memaksa berkata, “Katakan: aku menceraikannya,” lalu orang yang dipaksa berkata, “Aku telah berpisah dengannya” atau “Aku telah melepaskannya,” maka diputuskan jatuhnya talak, mengikuti kaidah yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa jika orang yang dipaksa menyelisihi permintaan orang yang memaksa dan memaksa tersebut, maka diputuskan jatuhnya talak, karena penyelisihan tersebut menggambarkan orang yang dipaksa seolah-olah sebagai pihak yang memulai dan menginisiasi, sehingga ucapannya tidak didasarkan pada permintaan orang yang memaksa.
ولي في هذه المسألة نظر أما إذا أكرهه على طلاق عمرة فطلّق عمرة وحفصة ففي تحقق الإكراه في عمرة وعدم وقوع الطلاق عليها احتمال بيّن ظاهرٌ فإنه لا منافاة بين اختياره طلاقَ حفصةَ وبين كونه مجبراً على طلاق عمرة فكأنه أتى بما استدعاه المجبر منه وضمّ إليه ما كان في نفسه اختياره والذي يحقق ذلك أنه لو كان على نيّة أن يطلق حفصة فقال المجبر طلق عمرة معها فهذا ظاهر في تحقق الإكراه في طلاق عَمْرة
Menurut pendapat saya dalam masalah ini, jika seseorang dipaksa untuk menceraikan ‘Amrah lalu ia menceraikan ‘Amrah dan Hafshah, maka terdapat kemungkinan yang jelas dan nyata bahwa paksaan hanya terjadi pada ‘Amrah dan talak tidak jatuh atasnya. Hal ini karena tidak ada pertentangan antara pilihannya untuk menceraikan Hafshah dengan kenyataan bahwa ia dipaksa untuk menceraikan ‘Amrah. Seolah-olah ia telah melakukan apa yang diminta oleh pihak yang memaksanya, lalu menambahkan sesuatu yang memang menjadi pilihannya sendiri. Yang menguatkan hal ini adalah, jika ia memang berniat menceraikan Hafshah, lalu orang yang memaksanya berkata, “Ceraikan ‘Amrah bersamanya,” maka ini jelas menunjukkan terjadinya paksaan dalam talak terhadap ‘Amrah.
وأما إذا أكرهه على تطليق عمرةَ وحفصة وطلق عمرة فقد يظهر أنه يبغي بهذا إجابة المجبر في بعض ما قال وهو يرجو أن يكتفي بذلك فهذا فيه احتمال من هذا الوجه أيضاًً والاحتمال في الصورة الأولى أظهر من جهة أنه يتخلص بما يفعله عن إرهاق من يجبره ويتخلص عن الإكراه بتطليق واحدة والمطلوب منه تطليق اثنتين
Adapun jika seseorang dipaksa untuk menceraikan ‘Amrah dan Hafshah, lalu ia menceraikan ‘Amrah saja, maka tampak bahwa ia bermaksud memenuhi permintaan orang yang memaksanya dalam sebagian dari apa yang diminta, dengan harapan hal itu sudah dianggap cukup. Maka dalam hal ini juga terdapat kemungkinan dari sisi ini. Namun kemungkinan pada gambaran pertama lebih jelas, karena dengan apa yang dilakukannya, ia berusaha melepaskan diri dari tekanan orang yang memaksanya dan melepaskan diri dari paksaan dengan menceraikan satu orang, padahal yang diminta darinya adalah menceraikan dua orang.
ولو قال وقد طلب منه طلاق اثنتين أنت طالق وأنت طالق فهذا مما يجب القطع به في كونه مكرهاً فإنه ساعد المجبر على هذه الصيغة فكان بمثابة ما لو جمع طلاقهما في صيغة التثنية
Dan jika seseorang berkata, ketika diminta untuk menceraikan dua istrinya, “Engkau aku ceraikan, dan engkau aku ceraikan,” maka ini termasuk perkara yang harus dipastikan bahwa ia berada dalam keadaan terpaksa, karena ia telah membantu pihak yang memaksanya dengan menggunakan redaksi tersebut, sehingga keadaannya sama seperti jika ia menggabungkan perceraian keduanya dalam satu redaksi dengan bentuk tasniyah (ganda).
فأما إذا أجبره على طلقة فطلق ثلاثاًً فلا شكّ في وقوع الثلاث فإن الذي صدر منه يشعر بانشراح صدره للطلاق ولا يتميز طلقة عن طلقة وليس كامرأتين يضم إحداهما إلى الأخرى نعم إذا أجبره على الثلاث فطلق واحدةً فهذا فيه من الاحتمال ما فيه إذا أجبره على تطليق نسوةٍ فطلّق واحدةً
Adapun jika ia dipaksa untuk menjatuhkan satu talak, lalu ia menjatuhkan tiga talak sekaligus, maka tidak diragukan lagi bahwa ketiganya jatuh, karena apa yang ia lakukan menunjukkan adanya kelapangan hati dalam menjatuhkan talak, dan tidak dapat dibedakan antara satu talak dengan talak lainnya, serta tidak seperti kasus dua perempuan yang salah satunya digabungkan dengan yang lain. Namun, jika ia dipaksa untuk menjatuhkan tiga talak lalu ia hanya menjatuhkan satu talak, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang perlu dipertimbangkan, sebagaimana jika ia dipaksa untuk menceraikan beberapa perempuan lalu ia hanya menceraikan satu di antara mereka.
ثم قال الأئمة الهازل بالطلاق يقع طلاقه وهو الذي يقصد اللفظ دون المعنى وليس هو الذي يقصد طلاقاً عن وِثاقٍ فمطلَقُ اللفظ من الهازل يوقع الطلاق ظاهراً وباطناً ولا يُلحقه بالذي ينوي طلاقاً عن وثاق فإن نواه في هَزلِه باللفظ دُيّن فإن الجادَّ يُدَيّن فالهازل في معنى الجادِّ
Kemudian para imam berkata, talak orang yang bercanda tetap jatuh, yaitu orang yang bermaksud mengucapkan lafaz tanpa bermaksud makna sebenarnya, dan bukan orang yang bermaksud talak karena terpaksa. Maka lafaz talak yang diucapkan oleh orang yang bercanda menyebabkan talak berlaku secara lahir maupun batin, dan tidak disamakan dengan orang yang berniat talak karena terpaksa. Jika ia memang berniat talak dalam candaannya melalui lafaz, maka ia dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana orang yang serius juga dimintai pertanggungjawaban; maka orang yang bercanda dalam hal ini sama dengan orang yang serius.
وأما اللاغي فلا يقع طلاقه وهو الذي يبدُر منه لفظ الطلاق من غير قصدٍ فلا يقع طلاقه
Adapun orang yang melafalkan talak secara tidak sengaja, maka talaknya tidak jatuh, yaitu orang yang mengucapkan lafaz talak tanpa ada maksud, maka talaknya tidak terjadi.
وهذا في تصويره فقهٌ فإن الرجل إذا سمعناه يتلفظ بالطلاق ثم ادّعى أنه كان لاغياً فقد لا يُقبل ذلك منه ظاهراً وإن كان مقبولاً باطناًً لو كان صادقاً فصوّر الأصحاب اللّغوَ على نيته فقالوا إذا كان اسم زوجته طاهرة فقال يا طالقة وذكر أن هذا سبق إلى لسانه وانقلب لسانه في بعض حروف اسمها فقرينة الحال قد تصدّقه فقال الأصحاب إن ادعى اللّغوَ والحالة هذه صُدِّق
Hal ini dalam penjelasannya adalah fiqh, yaitu ketika seseorang kita dengar mengucapkan talak lalu ia mengaku bahwa ucapannya itu tidak bermaksud apa-apa (laghw), maka pengakuan tersebut mungkin tidak diterima secara lahiriah, meskipun secara batiniah dapat diterima jika ia jujur. Para ulama memisalkan laghw itu dengan niatnya, mereka berkata: Jika nama istrinya adalah Thahirah, lalu ia berkata, “Ya thaliqah (wahai yang ditalak),” dan ia menyebutkan bahwa ucapan itu terlontar begitu saja dari lisannya dan lidahnya terpeleset pada sebagian huruf dari nama istrinya, maka keadaan yang menjadi bukti dapat membenarkannya. Maka para ulama berkata: Jika ia mengaku bahwa itu adalah laghw dalam keadaan seperti ini, maka ia dibenarkan.
ولو اقترن بقوله أنت طالق حَلُّ وِثاق ثم زعم أنّه أراد بالطلاق أنها محلولة الوثاق ففي قبول ذلك وجهان والسبب فيه أن لفظ الطلاق مستنكر مع هذه الحالة فإن العاقد لا يختار إطلاق هذا اللفظ والمسألة مفروضة في اختيار اللفظ فأما التفات اللسان في حرفٍ مع ظهور القرينة فلا وجه إلا القطع بقبوله
Jika ucapan “engkau tertalak” disertai dengan pelepasan ikatan, kemudian ia mengklaim bahwa yang ia maksud dengan talak adalah bahwa ia melepaskan ikatan tersebut, maka ada dua pendapat mengenai diterimanya klaim itu. Sebabnya adalah karena lafaz talak terasa asing dalam kondisi seperti ini, sebab orang yang mengikat tidak akan memilih untuk mengucapkan lafaz tersebut, dan permasalahan ini diasumsikan dalam konteks pemilihan lafaz. Adapun jika terjadi perubahan pada satu huruf karena tergelincirnya lidah, sementara terdapat indikasi yang jelas, maka tidak ada pendapat selain memastikan diterimanya klaim tersebut.
ووصل أصحابنا بهذا أن امرأته لو كان اسمها طالقة فقال يا طالقة وهو يقصد نداءها لم يقع الطلاق وكذلك لو كان اسم العبد حرّاً فقال مولاه يا حرّ وقصد النداء لم يُقضَ بوقوع العَتاق ولو قصد الطلاق وقع الطلاق ولو أطلق اللفظ ولا يقصد نداءً ولا إنشاءَ طلاق
Para ulama kami menyimpulkan dari hal ini bahwa jika seorang istri bernama Thaliqah, lalu suaminya berkata, “Wahai Thaliqah,” dengan maksud memanggilnya, maka talak tidak terjadi. Demikian pula jika seorang budak bernama Hurr, lalu tuannya berkata, “Wahai Hurr,” dengan maksud memanggil, maka pembebasan budak tidak terjadi. Namun, jika ia bermaksud menjatuhkan talak, maka talak terjadi. Jika ia mengucapkan lafaz tersebut tanpa bermaksud memanggil maupun menjatuhkan talak, maka…
فحاصل ما ذكره الأصحاب في العَتاق والطلاق وجهان والمسألة محتملة جداً شديدة الشبه بما إذا قال أنت طالق طالق طالق ولم يقصد تجديداً ولا تأكيداً
Jadi, kesimpulan dari apa yang disebutkan para ulama dalam masalah pembebasan budak dan talak terdapat dua pendapat, dan permasalahannya sangat memungkinkan serta sangat mirip dengan kasus ketika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, tertalak,” tanpa bermaksud memperbarui ataupun menegaskan.
والإكراه على تعليق الطلاق يمنع انعقادَه كالإكراه على تنجيزه وكذلك الإكراه على الأيْمان والنذور والبيع والهبة والأجارة والنكاح والعقود جُمَع وكان شيخي يقول الهازل بالبيع فيه احتمال يجوز أن يقال هو كالجادّ وكالهازل بالطلاق والعتاق ويجوز أن يقال لا ينفذ البيع من الهازل به فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثلاث جدّهن جدٌ وهزلهنَّ جدٌّ الطلاق والعَتاق والنكاح وموجب الحديث التحاق النكاح بالطلاق
Paksaan untuk menggantungkan talak mencegah terjadinya talak tersebut, sebagaimana paksaan untuk mengeksekusinya secara langsung. Demikian pula paksaan terhadap sumpah, nazar, jual beli, hibah, ijarah, nikah, dan seluruh akad. Guruku pernah berkata, orang yang bercanda dalam jual beli ada kemungkinan hukumnya, bisa dikatakan sama dengan orang yang serius, sebagaimana orang yang bercanda dalam talak dan pembebasan budak. Bisa juga dikatakan bahwa jual beli dari orang yang bercanda tidak sah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga perkara yang seriusnya dianggap serius dan candanya pun dianggap serius, yaitu talak, pembebasan budak, dan nikah.” Hadis ini menunjukkan bahwa nikah disamakan dengan talak.
وفيه إشكال فإنه في معنى البيع من حيث إنه لا يعلّق ولا يصح باللفظ الفاسد ولا يَشيع من الجزء إلى الكل بخلاف الطلاق والعتاق
Di dalamnya terdapat permasalahan, karena hal itu dalam makna jual beli, di mana tidak boleh digantungkan (ditangguhkan) dan tidak sah dengan lafaz yang rusak (tidak benar), serta tidak menyebar dari sebagian kepada keseluruhan, berbeda dengan talak dan ‘itāq.
وأما الإكراه على الردة فإنه يسلب حكمَها قال الله إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
Adapun pemaksaan untuk murtad, maka hal itu menghilangkan hukumnya. Allah berfirman: “Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap tenang dalam keimanan.”
ومن فقهائنا من يقول يجب التلفظ بالردة لابتغاء الخلاص كما يجب شرب الخمر عند الإكراه عليه وهذا خطأ عندنا فلو أصرّ الأسير على الدّين الحق واستقتل جاز ذلك بل هو الأولى وسنذكر جُملاً من هذا في كتاب الجراح إن شاء الله
Sebagian dari para fuqaha kita berpendapat bahwa wajib melafalkan riddah demi mencari keselamatan, sebagaimana wajib meminum khamar ketika dipaksa melakukannya. Namun, menurut kami, pendapat ini keliru. Jika tawanan tetap teguh pada agama yang benar dan memilih berjuang sampai mati, maka hal itu diperbolehkan, bahkan itu yang lebih utama. Kami akan menyebutkan beberapa ringkasan tentang hal ini dalam Kitab al-Jirāḥ, insya Allah.
فإذا أكُره الحربيّ على الإسلام فنطق بالشهادتين تحت السيف حكم بكونه مسلماً فإن هذا إكراه بحق فلم يغير الحكم اتفقت الطرق على هذا مع ما فيه من الغموض من طريق المعنى فإن كلمتي الشهادة نازلتان في الإعراب عن الضّمير منزلة الإقرار والظاهرُ من المحمول عليها بالسيف أنه كاذب في إخباره
Jika seorang harbi dipaksa masuk Islam lalu mengucapkan dua kalimat syahadat di bawah ancaman pedang, maka ia dihukumi sebagai seorang Muslim. Sebab, ini adalah bentuk ikrah (paksaan) yang dibenarkan, sehingga tidak mengubah hukum. Seluruh jalur (pendapat) sepakat atas hal ini, meskipun dari segi makna terdapat kerancuan. Sebab, dua kalimat syahadat itu dalam pengungkapan terhadap niat (diri) menempati posisi seperti pengakuan, dan yang tampak dari orang yang dipaksa dengan pedang adalah bahwa ia berdusta dalam ucapannya.
ولو أكَره ذميّاً على الإسلام فأسلم فقد ذكر أصحابنا وجهين في أنا هل نحكم بإسلامه والمصير إلى الحكم بإسلامه بعيد مع أن إكراهه عليه غير سائغ فلئن استدّ ما ذكرناه في إكراه الحربيّ من جهة أنه إكراه بحقٍ فلا ثبات لهذا المسلك والمكرَهُ ذميٌّ والإكراه ممنوع
Jika seseorang memaksa seorang dzimmi untuk masuk Islam lalu ia pun masuk Islam, para ulama kami menyebutkan dua pendapat mengenai apakah kita menetapkan keislamannya; dan berpegang pada penetapan keislamannya adalah jauh, karena memaksanya untuk masuk Islam tidak dibenarkan. Jika alasan yang kami sebutkan dalam kasus pemaksaan terhadap orang harbi adalah karena itu merupakan pemaksaan yang dibenarkan, maka alasan ini tidak berlaku di sini, sebab yang dipaksa adalah seorang dzimmi dan pemaksaan itu terlarang.
ومما نلحقه بهذا الأصل أنّا ذكرنا قولين في الإكراه على الصفة الّتي علّق العتق بها مثل أن يقول الزوج إن دخلتُ الدار فأنتِ طالق فإذا أكره على الدخول ففي وقوع الطلاق قولان والفرق بين الإكراه على صفة الطلاق وبين الإكراه على تنجيز الطلاق أو تعليقه أنا نبطل اختيار المكرَه في التنجيز والتعليقِ بالإكراه المقترن به وهذا لا يتحقق في الصفة فإن قول القائل إن دخلتُ الدار متناول لما ينطلق عليه اسم الدخول سواء كان على صفة الاختيار أو على صفة الإجبار فكان الحكم بوقوع الطلاق مأخوذاً من تناول العقد لطَوْرَي الإكراه والاختيار وعقدُ اليمين على ما يوجد من المكره ممكن فإنه لو قال في اختياره إن دخلتُ الدار مكرهاً فأنت طالق فأجبر على الدخول فدخل وقع الطلاق وفاقاً وقد نجز ما أردناه في هذا الفن
Termasuk yang kami kaitkan dengan kaidah ini adalah bahwa kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai pemaksaan pada sifat yang dijadikan syarat terjadinya talak, seperti ketika seorang suami berkata, “Jika aku masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” lalu ia dipaksa untuk masuk. Dalam hal ini terdapat dua pendapat mengenai jatuh atau tidaknya talak. Perbedaan antara pemaksaan pada sifat talak dan pemaksaan pada penjatuhan langsung talak atau penangguhannya adalah bahwa kami membatalkan pilihan orang yang dipaksa dalam penjatuhan langsung atau penangguhan talak dengan adanya paksaan yang menyertainya, dan hal ini tidak terwujud pada sifat (syarat). Sebab, ucapan seseorang, “Jika aku masuk ke dalam rumah,” mencakup segala sesuatu yang dinamakan masuk, baik dengan kehendak sendiri maupun karena dipaksa. Maka, hukum jatuhnya talak diambil dari cakupan akad terhadap dua keadaan: dipaksa dan memilih sendiri. Sumpah yang diikatkan pada sesuatu yang dilakukan oleh orang yang dipaksa adalah mungkin, karena jika seseorang berkata dengan pilihannya, “Jika aku masuk ke dalam rumah karena dipaksa, maka engkau tertalak,” lalu ia dipaksa masuk dan ia pun masuk, maka talak jatuh menurut kesepakatan. Dengan demikian, telah kami selesaikan apa yang kami maksudkan dalam pembahasan ini.
وبقي من الفصل الكلامُ فيما يكون إكراهاً وفيما لا يكون إكراهاً وهذا غائصٌ عويص قلّ اعتناء الفقهاء به ونحن نرى أن ننقل فيه ما بلغنا ثم ننعطف عليه ونتصرّف فيه بترتيب المباحثات
Masih tersisa dari bab ini pembahasan tentang apa yang termasuk ikrah (paksaan) dan apa yang tidak termasuk ikrah. Ini adalah persoalan yang dalam dan rumit, yang jarang mendapat perhatian dari para fuqaha. Kami berpendapat untuk menyampaikan terlebih dahulu apa yang sampai kepada kami, kemudian kami akan kembali membahasnya dan mengaturnya dengan menyusun pembahasan-pembahasan terkait.
أما العراقيون فقد ذكروا فيما يكون إكراهاً على الطلاق أوجهاً أحدها – أنه التخويف بالقتل مع غلبة الظن بوقوعه لو لم يساعِف المجبَر والثاني أن الإكراه هو التخويف بالقتل أو القطع والوجه الثالث أنه التخويف بالقتل أو القطع أو إتلاف المال وكل ما يصعب احتماله ويعدّ في العرف من أسباب الإلجاء
Adapun para ulama Irak telah menyebutkan beberapa bentuk yang dianggap sebagai ikrah (paksaan) dalam talak. Pertama, yaitu ancaman pembunuhan dengan dugaan kuat bahwa hal itu benar-benar akan terjadi jika orang yang dipaksa tidak menuruti kehendak pemaksa. Kedua, ikrah adalah ancaman pembunuhan atau pemotongan anggota tubuh. Ketiga, ikrah adalah ancaman pembunuhan, pemotongan anggota tubuh, perusakan harta, atau segala sesuatu yang sulit untuk ditanggung dan menurut kebiasaan dianggap sebagai sebab yang memaksa.
ثم قالوا ويختلف ذلك بأحوال ذوي المروءات
Kemudian mereka berkata, hal itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang-orang yang memiliki kehormatan diri (muru’ah).
فهذا منتهى كلامهم
Inilah akhir dari pembicaraan mereka.
ونقل القاضي رضي الله عنه عن القفال طريقةً في حدّ الإكراه وارتضى لنفسه مسلكاً وحكى عن العراقيين مسلكاً
Qadhi rahimahullah menukil dari al-Qaffal suatu metode dalam batasan ikrah, dan beliau memilih untuk dirinya sendiri suatu pendekatan, serta meriwayatkan dari kalangan ulama Irak suatu pendekatan pula.
أما ما حكاه عن القفال فهو أنه قال الإكراه أن يخوّفه بعقوبة تنال بدنَه عاجلاً لا طاقة له بها فلو قال إن قتلتَ فلاناً وإلا قتلتُك أو إن لم تقتله لأقطعنّ طرفاً من أطرافك أو لأضربنّك بالسياط أو لأجوّعنّك أو لأعطشنّك أو أخلِّدُ الحبسَ عليك فهذا كله إكراه
Adapun apa yang dinukil dari al-Qaffal, beliau berkata bahwa ikrah (paksaan) adalah menakut-nakuti seseorang dengan hukuman yang segera menimpa badannya dan ia tidak mampu menanggungnya. Maka jika dikatakan: “Bunuhlah si fulan, jika tidak maka aku akan membunuhmu,” atau “Jika kamu tidak membunuhnya, aku akan memotong salah satu anggota tubuhmu,” atau “Aku akan mencambukmu dengan cambuk,” atau “Aku akan membuatmu kelaparan,” atau “Aku akan membuatmu kehausan,” atau “Aku akan memenjarakanmu selamanya,” maka semua itu termasuk ikrah.
فإن قال أفعل بك هذه الأشياء غداً لم يكن إكراهاً
Jika seseorang berkata, “Aku akan melakukan hal-hal ini terhadapmu besok,” maka itu tidak dianggap sebagai ikrah.
وإن قال لأتلفَنَّ مالك أو لأقتلنَّ ولدك لم يكن إكراهاً لأنّ هذه عقوبةٌ لا تنال بدنه
Dan jika seseorang berkata, “Aku pasti akan merusak hartamu” atau “Aku pasti akan membunuh anakmu,” maka itu tidak dianggap sebagai ikrah, karena ancaman tersebut merupakan hukuman yang tidak mengenai tubuhnya langsung.
وقال إن قال لأصفعنّك في السوق والمحمول من ذوي المروءات فليس هذا بإكراه فإن احتمال هذا يصعب على أصحاب المروءات والمتمسكون بالدّين ربما يؤثرون المشي مع الحفاء وتحسر الرأس
Ia berkata: Jika seseorang berkata, “Aku benar-benar akan menamparmu di pasar,” dan yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki kehormatan diri, maka ini tidak dianggap sebagai ikrah (paksaan). Sebab, kemungkinan seperti ini memang berat bagi orang-orang yang menjaga kehormatan dan berpegang teguh pada agama; mereka mungkin lebih memilih berjalan tanpa alas kaki dan membuka kepala.
هذا ما حكاه عن شيخه القفال
Inilah yang diriwayatkan dari gurunya, al-Qaffāl.
وقال رضي الله عنه الإكراه عندي أن يخوّفه بعقوبة لو نالها من بدنه مبتدئاً لوجب عليه القصاص فعلى هذا إذا خوفه بتخليد السجن لم يكن إكراهاً إلا أن يخوّفه بالتخليد في قعر بيتٍ يغلب الموت من الحبس فيه
Beliau ra. berkata, menurutku, ikrah (paksaan) adalah apabila seseorang diancam dengan hukuman yang jika ia menimpanya secara langsung pada tubuh orang tersebut, maka wajib atasnya qishāsh. Berdasarkan hal ini, jika seseorang diancam dengan penjara seumur hidup, itu tidak termasuk ikrah, kecuali jika ia diancam dengan dikurung selamanya di dasar sebuah rumah yang kemungkinan besar menyebabkan kematian karena kurungan di dalamnya.
قال وقال العراقيون إنْ قال له إن قتلتَ فلاناً وإلا قتلتك أوقطعتُ طرفَك كان إكراهاً ولو قال إن قتلته وإلا أتلفت مالك لم يكن إكراهاً وإن قال إن أتلفتَ مال فلان وإلا أتلفت مالك يكون هذا إكراهاً
Orang-orang Irak berkata: Jika seseorang berkata kepadanya, “Jika kamu membunuh si fulan atau aku akan membunuhmu atau memotong anggota tubuhmu,” maka itu dianggap sebagai ikrah (paksaan). Namun, jika ia berkata, “Jika kamu membunuhnya atau aku akan merusak hartamu,” maka itu tidak dianggap sebagai ikrah. Dan jika ia berkata, “Jika kamu merusak harta si fulan atau aku akan merusak hartamu,” maka ini dianggap sebagai ikrah.
قال القاضي الإكراه لا يختلف باختلاف المحالّ فلا فرق بين أن يكون المطلوب من المكره قتلاً أو طلاقاً أو عِتاقاً أو بيعاً أو عُقدة من العقود
Kata al-Qadhi, ikrah (paksaan) tidak berbeda-beda menurut objeknya, sehingga tidak ada perbedaan antara apakah yang diminta dari orang yang dipaksa itu berupa pembunuhan, talak, pembebasan budak, jual beli, atau salah satu akad dari akad-akad lainnya.
وفي بعض التصانيف اختلف أصحابنا في صفة المكرَه منهم من قال إذا توعده بما لا تحتمله نفسه والغالب أنه يحقق ما توعّد به فهذا إكراه ومنهم من قال يختلف ذلك باختلاف عادة الناس فالشريف إذا خُوّف بالصفعة الواحدة على ملأ من الأشهاد فهو إكراه في حقه وفي هذا الكتاب وإن خُوف بإتلاف المال والولد فهل يكون إكراهاً فعلى وجهين
Dalam beberapa kitab, para ulama kami berbeda pendapat mengenai sifat orang yang dipaksa (mukrah). Sebagian dari mereka berpendapat, jika seseorang diancam dengan sesuatu yang tidak sanggup ditanggung oleh dirinya, dan pada umumnya ancaman itu benar-benar akan dilaksanakan, maka itu disebut sebagai ikrah (paksaan). Sebagian lain berpendapat, hal itu berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan manusia; misalnya, seorang bangsawan jika diancam dengan satu tamparan di hadapan banyak orang, maka itu dianggap sebagai ikrah baginya. Dalam kitab ini, jika seseorang diancam dengan perusakan harta atau anak, apakah itu juga termasuk ikrah? Maka ada dua pendapat dalam hal ini.
وكان شيخنا أبو محمّد يقطع جوابه بأن الإكراه يختلف باختلاف المطلوب والإكراهُ على الطلاق دون الإكراه على القتل ثم كان يختار أنّ الرجوع فيما يكون إكراهاً إلى ما يؤثر العقلاءُ الطلاقَ عليه وهذا يجري في الحبس الطويل والضربِ المبرّح والنقصِ الظاهر من المروءة
Dan guru kami, Abu Muhammad, secara tegas menyatakan bahwa ikrah (paksaan) berbeda-beda tergantung pada hal yang diminta, dan ikrah terhadap talak tidak sama dengan ikrah terhadap pembunuhan. Kemudian beliau memilih bahwa dalam menentukan sesuatu sebagai ikrah, hendaknya dikembalikan kepada apa yang dianggap oleh orang-orang berakal sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan talak. Hal ini berlaku pada penahanan yang lama, pemukulan yang berat, dan hilangnya kehormatan secara nyata.
فهذا مجموع ما ذكر في هذا الفصل
Inilah keseluruhan yang disebutkan dalam bab ini.
ونحن نقول إذا كان التخويف يتعلق بالروح وذلك بأن يكون التخويف بالقتل أو القطع الذي لو فرض وقدّر سريانه إلى الهلاك لكان موجباً للقصاص فهذا إكراهٌ في جميع المواضع لا يجب أن يكون فيه خلاف وإن ردّد العراقيون فيما حكيته جوابهم في التخويف بقطع الطرف
Kami mengatakan, jika ancaman itu berkaitan dengan jiwa, yaitu ancaman berupa pembunuhan atau pemotongan anggota tubuh yang jika benar-benar terjadi dan menyebabkan kematian maka mewajibkan qishāsh, maka ini adalah ikrāh (paksaan) dalam semua keadaan, dan seharusnya tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya, meskipun sebagian ulama Irak berbeda pendapat sebagaimana telah saya sebutkan mengenai jawaban mereka tentang ancaman pemotongan anggota tubuh.
وإذا كان التخويف بضربٍ لو فُرض وقوعُهُ لكان من موجبات القصاص إذا أفضى إلى التلف فهو بمثابة التخويف بقطع الطرف وهذا جارٍ في كل محل يخالف فيه من يخالف في التخويف بقطع الطرف إلا أن يكون التخويف بضرب لا يتصوّر البقاء معه فيكون بمثابة التخويف بالقتل
Jika ancaman dengan pemukulan, yang jika diasumsikan benar-benar terjadi akan menjadi salah satu sebab qishāsh, lalu ancaman itu menyebabkan kematian, maka hukumnya sama dengan ancaman memotong anggota tubuh. Hal ini berlaku di setiap kasus yang terdapat perbedaan pendapat mengenai ancaman memotong anggota tubuh, kecuali jika ancaman tersebut berupa pemukulan yang tidak mungkin seseorang tetap hidup setelahnya, maka hukumnya sama dengan ancaman pembunuhan.
فأما إذا كان التخويف بتخليد الحبس أو إتلاف المال أو قتل الولد فهاهنا موقف يجب التنبه له ذهب ذاهبون إلى أن المرعي في هذا المقام أن يكون المطلوب من المجبَر أقلَّ في نفسه ممَّا خُوّف به وبنَوْا عليه أنه إذا كان كذلك فإنه سيؤثر الطلاق في غالب الأمر فيكون محمولاً على اختيار الطلاق ومن كان محمولاً على اختياره سقط اختيارُه فإن الاختيار الحقيقي هو الذي لا يكون المرء محمولاً عليه
Adapun jika ancaman itu berupa penahanan seumur hidup, perusakan harta, atau pembunuhan anak, maka di sini terdapat suatu posisi yang harus diperhatikan. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah bahwa sesuatu yang diminta dari orang yang dipaksa itu harus lebih ringan baginya daripada ancaman yang ditakutkan kepadanya. Berdasarkan hal itu, jika memang demikian keadaannya, maka talak biasanya akan lebih dipilih, sehingga dianggap sebagai pilihan talak. Dan siapa yang dianggap memilih, maka pilihannya gugur, karena pilihan yang sebenarnya adalah pilihan yang tidak didorong oleh paksaan.
وإن كان المطلوب منه أكبرَ في النفوس مما يخوَّف به فلا يتحقق الإكراه حينئذٍ وهذا المسلك يوجب الفرق بين المطلوب والمطلوب فإن كان المطلوب قتلاً فإن احتمال الحبس على انتظار الفرج هو أهون من الإقدام على قتل مسلم
Jika sesuatu yang diminta darinya lebih besar nilainya dalam pandangan jiwa dibandingkan dengan ancaman yang ditakutkan kepadanya, maka pada saat itu tidak terwujudlah unsur ikrah (paksaan). Pendekatan ini mengharuskan adanya perbedaan antara sesuatu yang diminta dan sesuatu yang diminta darinya. Jika yang diminta adalah pembunuhan, maka kemungkinan dipenjara sambil menunggu jalan keluar adalah lebih ringan dibandingkan dengan melakukan pembunuhan terhadap seorang Muslim.
وإن كان المطلوب الطلاق والعتاق لم يهن احتمال الحبس وهذا يرجع إلى الجبلّة وليس من أوزان الفقه وتصرفه في الفرق بين الخطير وما دونه بل لا تحتمل النفس الحبس والمطلوبُ الطلاق فيصير محمولاً على اختيار الطلاق وليس الأمر كذلك في القتل
Jika yang diminta adalah talak dan pembebasan budak, maka kemungkinan untuk menahan diri dari penahanan tidaklah berat, dan hal ini kembali kepada tabiat manusia, bukan termasuk pertimbangan fiqh atau penilaiannya dalam membedakan antara perkara yang besar dan yang di bawahnya. Bahkan, jiwa tidak mampu menahan penahanan sementara yang diminta adalah talak, sehingga hal itu dianggap sebagai pilihan terhadap talak. Namun, hal ini tidaklah sama dalam kasus pembunuhan.
وعليه يخرّج الفرق بين المناصب والمراتب والنظر إلى ذوي المروءات وسرّ هذا المسلك ردّ الأمر إلى كون الإنسان محمولاً على اختيار ما يطلب منه
Dengan demikian, dapat dijelaskan perbedaan antara jabatan dan tingkatan, serta memperhatikan orang-orang yang memiliki muru’ah. Rahasia dari pendekatan ini adalah mengembalikan perkara kepada kenyataan bahwa manusia didorong untuk memilih apa yang dituntut darinya.
فقد لاح أن هذا السبيل يوجب الفرق بين المطلوب والمطلوب وبين المطالَب والمطالَب
Tampak jelas bahwa cara ini mengharuskan adanya perbedaan antara yang diminta dan yang diminta, serta antara pihak yang menuntut dan pihak yang dituntut.
والطريق مبهمٌ بعدُ وسنذكر فيه الممكن من التفصيل بعد تمام البيان في التقعيد والتأصيل
Jalannya masih belum jelas, dan kami akan menyebutkan rincian yang mungkin setelah penjelasan tuntas dalam penetapan kaidah dan peletakan dasar-dasarnya.
ومسلك المحققين أن الإكراه هو الذي يسلب الطاقة والإطاقة ولا يُبقي في غالب الأمر للمرء خِيَرَة التقديم والتأخير حتى يصير كأنه لا اختيار له والمخوّف بالقتل والقطع كذلك فلا يقع المطلوب منه لنظره وتخيره
Pendapat para muhaqqiq (peneliti) adalah bahwa ikrah (paksaan) adalah sesuatu yang menghilangkan kemampuan dan daya, serta pada umumnya tidak menyisakan bagi seseorang pilihan untuk mendahulukan atau mengakhirkan, sehingga seolah-olah ia tidak memiliki kehendak. Orang yang diancam dengan pembunuhan atau pemotongan anggota tubuh juga demikian, sehingga apa yang diminta darinya tidak terjadi karena pertimbangan dan pilihannya sendiri.
فأما الذي يؤثر الطلاق على الحبس فإنما هو مفضّلٌ حالةً على حالة ومرتاد عيشة على عيشةٍ واختياره صحيح فلا يتحقق الإكراه والحالة هذه
Adapun orang yang lebih memilih talak daripada penahanan, sesungguhnya ia hanya mengutamakan satu keadaan atas keadaan yang lain dan memilih satu cara hidup atas cara hidup yang lain, dan pilihannya itu sah, sehingga dalam keadaan seperti ini tidak terwujud unsur paksaan.
والذي فرضه الأولون من الموازنات والنظر في الأقدار مسلكٌ من مسلك الرأي والاستصواب فقد يُرهق الزمانُ المرءَ إلى أمثاله فيستصوب له أن يطلّق أو يبيع وليس هذا من الإكراه الحقيقيّ في شيء فينحصر الإكراه على هذا المسلك فيما يكاد يُعدِم الاختيار حتى لا يبقى إلا ما يؤثره من يفر من الأسد في وطء الأرض المشوكة فقد يتخطاها الفارّ وهو لا يحس بوخز الشوك
Apa yang telah ditetapkan oleh para pendahulu mengenai pertimbangan dan memperhatikan kadar-kadar adalah salah satu metode ra’yu dan istihsan; terkadang zaman memaksa seseorang kepada hal-hal semacam itu sehingga tampak baik baginya untuk menceraikan atau menjual, namun ini sama sekali bukan termasuk ikrah (paksaan) yang sebenarnya. Maka, menurut metode ini, ikrah terbatas pada keadaan yang hampir menghilangkan pilihan, sehingga yang tersisa hanyalah apa yang dilakukan oleh seseorang yang lari dari singa di atas tanah yang dipenuhi duri; bisa jadi orang yang melarikan diri itu melangkahi duri-duri tersebut tanpa merasakan tusukannya.
وبين هذه الطريقة والطريقة الأولى تباين عظيم
Antara metode ini dan metode yang pertama terdapat perbedaan yang sangat besar.
ثم لا نفرّق فيه بين أن يكون الإكراه على إتلاف مالٍ قلّ أو كثر أو على بيع مال أو طلاق أو قتلٍ ولا يعترض على هذا إلا شيء واحد وهو أنه لو خُوّف بإيلامٍ عظيم لا يصابَر وإن لم يكن مما يقصد به القتل فقد يحصل بمثل هذا قريبٌ من سلب الطاقة وفيه نظر
Kemudian, kita tidak membedakan dalam hal ini antara apakah paksaan itu untuk merusak harta, baik sedikit maupun banyak, atau untuk menjual harta, atau talak, atau membunuh. Tidak ada yang menjadi keberatan terhadap hal ini kecuali satu hal, yaitu jika seseorang diancam dengan siksaan yang sangat berat yang tidak dapat ditahan, meskipun bukan sesuatu yang dimaksudkan untuk membunuh, maka bisa saja dengan ancaman seperti itu seseorang hampir kehilangan kemampuannya, dan dalam hal ini masih perlu ditinjau lebih lanjut.
وأنا أقول التخويف به لا يكون إكراهاً أما مفاتحته بالإيلام ففيه الاختلاف وليس هذا كالتخويف بالقتل فإن وقوع الخوف أشد من وقوع هذا الإيلام
Saya berpendapat bahwa menakut-nakuti dengan hal itu tidak termasuk ikrah, adapun mengancam dengan menyakiti, maka terdapat perbedaan pendapat di dalamnya. Hal ini tidak sama dengan menakut-nakuti dengan pembunuhan, karena rasa takut yang timbul dari ancaman pembunuhan lebih berat daripada rasa sakit akibat ancaman menyakiti tersebut.
هذا بيان تأصيل الطريقين
Ini adalah penjelasan tentang penetapan dasar kedua metode.
وعلينا بعد هذا أمران أحدهما التفصيل والآخر الإشارة إلى العثرات أما التفصيل فتأصيل الطريقة الأخيرة بفصلها ولا يرد عليها إلا الألم المرهق الذي ذكرنا ومسألةٌ أخرى وهي أن الأخرق لو خوّف فما يحسبه مهلكاً ولم يكن كذلك فقد ينتهي إلى سقوط الاختيار وهذا يُخرَّج على ما إذا رأى سواداً ظنه عَدُوَّاً فصلى صلاة الخوف ثم لم يكن كما ظنّ
Setelah ini, ada dua hal yang perlu kita lakukan: yang pertama adalah penjelasan secara rinci, dan yang kedua adalah menunjukkan kekeliruan-kekeliruan. Adapun penjelasan secara rinci adalah dengan menetapkan metode terakhir secara terpisah, dan tidak ada yang menentangnya kecuali rasa sakit yang berat sebagaimana telah kami sebutkan, serta satu masalah lain, yaitu jika seseorang yang ceroboh ditakut-takuti dengan sesuatu yang menurutnya membinasakan, padahal sebenarnya tidak demikian, maka hal itu bisa berujung pada hilangnya kemampuan memilih. Ini dapat dianalogikan dengan kasus ketika seseorang melihat bayangan hitam yang dikiranya musuh, lalu ia melaksanakan shalat khauf, padahal ternyata tidak seperti yang ia sangka.
فأما الطريقة الأولى فمن ضرورتها الفصل بين المطلوب والمطلوب فالإكراه على القتل فوق الإكراه على الطلاق وإتلافه المال ثم الإكراه على القتل يقع بالتخويف بالقتل لا غير في وجهٍ أو بالتخويف بالقطع الذي يكون مثله عمداً في قتل النفس فأما ما عداه فلا يكون إكراهاً على القتل فليس التخويف بإتلاف المال والولد إكراهاً على القتل
Adapun metode pertama, maka dari segi keharusannya terdapat perbedaan antara perkara yang diminta; pemaksaan untuk membunuh lebih berat daripada pemaksaan untuk menceraikan atau merusak harta, kemudian pemaksaan untuk membunuh terjadi dengan ancaman pembunuhan saja, atau dengan ancaman pemotongan anggota tubuh yang biasanya menyebabkan kematian secara sengaja. Adapun selain itu, maka tidak dianggap sebagai pemaksaan untuk membunuh; sehingga ancaman perusakan harta atau anak tidak termasuk pemaksaan untuk membunuh.
فأما الإكراه على الطلاق فلا يشترط فيه القتل والقطع ثم قال الأصحاب يختلف الإكراه باختلاف درجة المكرَه كما حكيناه
Adapun ikrah (paksaan) terhadap talak, maka tidak disyaratkan adanya ancaman pembunuhan atau pemotongan anggota tubuh. Kemudian para ulama mazhab berkata, tingkat ikrah itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat orang yang dipaksa, sebagaimana telah kami sebutkan.
وذكروا خلافاً فيما يتعلق بغير بدن المطالَب كالإكراه بإتلاف المال وقتل الولد ومن في معناه
Mereka juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat terkait hal-hal selain badan orang yang dituntut, seperti pemaksaan untuk merusak harta, membunuh anak, dan hal-hal lain yang serupa.
فينتظم منه أن ما يتعلق ببدن المطالَب المكرَه فإن كان عقوبةً وإيلاماً أو حبساً يهون الطلاق في مقابلته فهو إكراه ثم الآلام تختلف بقوّة المكرَه وضعفه فقد يحتمل القوي الضربَ العنيف والضعيفُ لا يحتمله فهذا مما يختلف باختلاف الأبدان لا محالة وما يرجع إلى حط الجاه والغضّ من المروءة كالصفع على رؤوس الأشهاد وتكليف الإحفاء وتحسر الرأس في الأسواق فهذا مختلف فيه فمن أصحابنا من لا يراه إكراهاً ومنهم من يراه إكراهاً في حق من يعظم وقعُه في حقه
Dari sini dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh orang yang dituntut dan dipaksa, jika berupa hukuman, menyakiti, atau penahanan yang membuat talak menjadi ringan baginya sebagai gantinya, maka itu disebut sebagai ikrah (paksaan). Namun, rasa sakit itu berbeda-beda tergantung pada kekuatan dan kelemahan orang yang dipaksa; bisa jadi orang yang kuat mampu menahan pukulan keras, sementara yang lemah tidak mampu menahannya. Maka hal ini pasti berbeda-beda sesuai dengan perbedaan fisik masing-masing orang. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan merendahkan kehormatan dan menjatuhkan martabat, seperti menampar di hadapan banyak orang, memaksa mencukur rambut, atau membuka kepala di pasar, maka hal ini diperselisihkan. Sebagian ulama kami tidak menganggapnya sebagai ikrah, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai ikrah bagi orang yang sangat berat baginya perlakuan tersebut.
هذا فيما يتعلق بالمُطالَب
Ini berkaitan dengan orang yang mukallaf.
فأما ما يتعلق بغيره فهو التخويف بإتلاف المال وقتل الولد أو الوالد فهذا فيه اختلاف فمنهم من يجعله إكراهاً ومنهم من لا يجعله إكراهاً ففي كلام العراقيين ما يدل على أن التخويف بالمال في مقابلة المال إكراه وليس التخويف بإتلاف المال في مقابلة الطلاق إكراهاً
Adapun yang berkaitan dengan selain dirinya, yaitu ancaman dengan perusakan harta atau pembunuhan anak atau orang tua, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sebagian ulama menganggapnya sebagai ikrah (paksaan), sementara sebagian yang lain tidak menganggapnya sebagai ikrah. Dalam pendapat para ulama Irak terdapat keterangan bahwa ancaman terhadap harta sebagai imbalan harta adalah ikrah, namun ancaman perusakan harta sebagai imbalan talak tidak dianggap sebagai ikrah.
هذا مجموع ما ذكروه وهو خارج عن الضبط فإن انتقاص المروءات والأقدار التي يصعب وقعها أو يهون احتمالها بالإضافة إلى الروح لا تنضبط ويرجع الأمر فيه إلى النظر في آحاد الأشخاص فإنهم على تفاوتٍ ظاهر وإن كانوا يُعدّون داخلين تحت نوع أو جنسٍ
Inilah keseluruhan yang telah mereka sebutkan, namun hal itu di luar batasan yang pasti. Sebab, penurunan martabat dan kehormatan yang sulit terjadi atau yang ringan untuk ditanggung jika dibandingkan dengan jiwa, tidak dapat dibatasi secara pasti. Dalam hal ini, perkara tersebut dikembalikan kepada penilaian terhadap masing-masing individu, karena mereka memiliki perbedaan yang jelas, meskipun mereka dianggap termasuk dalam satu jenis atau golongan.
وإذا جعلنا الإكراه بإتلاف المال إكراهاً فالنظر ينتشر في هذا من وجه أنا إن سوّينا بين القليل والكثير كان ذلك مردوداً فلا خطر في إتلاف الدرهم فما دونه وإن نظرنا إلى نصاب السرقة عارضه المقدار الذي تغلظ اليمين فيه ثم هما جميعاً توقيفان والذي نحن فيه معنى معقول وهو الإلجاء الغالب المؤثر في توهين الاختيار فإحالة هذا على التوقيفات محال وأخذ هذا الأصل من جواز الدفع عن المال قلّ أو كثر بعيدٌ فإن معنى الإلجاء يبطل بالكلّية وإن رجعنا إلى عزة المال في النفوس وضِنّتِها بها عارضه تخرّق الأسخياء وهذا نَشَرٌ لا مطمع في ضمّه أصلاً ولا ينقدح فيه إلا النظر إلى حال كل شخصٍ ثم لا مطلع عليه إلا من جهته والكلام يخرج عن ضبط الفقه فيجب ردّ الإكراه إلى التخويف بالقتل أو التخويف بما يؤدي إلى القتل كما ذكرناه
Jika kita menganggap pemaksaan dengan perusakan harta sebagai bentuk ikrah, maka permasalahan ini menjadi luas dari satu sisi: jika kita menyamakan antara jumlah yang sedikit dan yang banyak, hal itu tidak dapat diterima, sebab tidak ada risiko dalam perusakan satu dirham atau kurang darinya. Jika kita melihat kepada batas minimal pencurian, maka akan bertentangan dengan jumlah yang mengharuskan sumpah yang berat, padahal keduanya merupakan ketetapan syariat. Sementara yang sedang kita bahas adalah makna yang dapat dipahami secara rasional, yaitu paksaan yang kuat yang mempengaruhi dan melemahkan pilihan seseorang. Maka, mengembalikan hal ini kepada ketetapan syariat adalah tidak mungkin. Mengambil dasar ini dari kebolehan mempertahankan harta, baik sedikit maupun banyak, juga jauh, karena makna paksaan akan hilang sama sekali. Jika kita kembali kepada nilai harta dalam pandangan manusia dan kecintaan mereka terhadapnya, maka akan bertentangan dengan sifat dermawan yang mudah mengorbankan hartanya. Ini adalah pembahasan yang sangat luas dan tidak mungkin disatukan sama sekali, serta tidak dapat dipertimbangkan kecuali dengan melihat keadaan setiap individu, yang mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali dari dirinya sendiri, dan pembahasan ini keluar dari batasan fiqh. Oleh karena itu, pemaksaan harus dikembalikan kepada ancaman pembunuhan atau ancaman yang dapat mengakibatkan kematian, sebagaimana telah kami sebutkan.
هذا منتهى التفريع
Ini adalah akhir dari penjabaran.
فأما العثرات فعَدُّ القفال الحبسَ إكراهاً على القتل عثرةٌ ولا سبيل إلى اعتقادها فإن الحبس لا يسلب الاختيار وهو في مقابلة القتل قليلٌ في كل مسلك والجمع بين سقوط الطاقة وبين المصير إلى أن الحبس إكراهٌ هفوةٌ
Adapun kekeliruan, maka menganggap penahanan sebagai bentuk paksaan untuk membunuh adalah sebuah kekeliruan, dan tidak ada alasan untuk mempercayainya, karena penahanan tidak menghilangkan kehendak bebas, dan penahanan itu sendiri sangat sedikit jika dibandingkan dengan pembunuhan dalam segala aspek. Menggabungkan antara hilangnya kemampuan dengan anggapan bahwa penahanan adalah paksaan merupakan sebuah kekeliruan.
والقطع بأن التخويف بقتل الولد ليس بإكراه والحبس إكراهٌ هفوةٌ
Dan memastikan bahwa menakut-nakuti dengan ancaman membunuh anak bukanlah termasuk ikrah, sedangkan penahanan (penjara) adalah ikrah, namun merupakan kekeliruan.
وقد انتهى الغرض على أكمل وجه في البيان
Tujuan telah tercapai dengan penjelasan yang paling sempurna.
فصل قال ومغلوب على عقله خلا السّكران إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan orang yang hilang akalnya, kecuali orang yang mabuk,” hingga akhir.
أما المغلوب على عقله بالنوم أو الجنون أو الإغماء فلا يقع طلاقه وأما السّكران وهو مقصود الفصل فنتكلم في حكمه ثم نتعرض لبيان السكر فنقول طلاق السّكران واقع في ظاهر المذهب ولا يُلفى للشافعي نصّ في أنه لا يقع طلاقه ولكن نصّ في القديم على قولين في ظهاره فمن أصحابنا من نقل من الظهار قولاً إلى الطلاق وخرّج المسألتين على قولين
Adapun orang yang hilang akal karena tidur, gila, atau pingsan, maka talaknya tidak jatuh. Adapun orang yang mabuk, yang menjadi pokok pembahasan di sini, maka kita akan membahas hukumnya, lalu menjelaskan tentang mabuk itu sendiri. Talak orang yang mabuk dianggap sah menurut pendapat yang tampak dalam mazhab. Tidak ditemukan nash dari Imam Syafi‘i bahwa talaknya tidak jatuh, namun dalam qaul qadim beliau terdapat dua pendapat mengenai zhihar. Sebagian ulama kami memindahkan salah satu pendapat dari masalah zhihar ke masalah talak, dan membangun kedua permasalahan ini di atas dua pendapat tersebut.
ومعظم العلماء صائرون إلى وقوع طلاق السكران وذهب عثمان وابن عباس وأبو يوسف والمزني وابن سُريج في أتباعٍ لهم إلى أن طلاق السكران لا يقع
Mayoritas ulama berpendapat bahwa talak orang yang mabuk itu jatuh, sedangkan ‘Utsman, Ibnu ‘Abbas, Abu Yusuf, al-Muzani, dan Ibnu Surayj beserta sebagian pengikut mereka berpendapat bahwa talak orang yang mabuk tidak jatuh.
وأما سائر تصرفات السكران فللأصحاب فيها طرق منهم من قال في جميعها قولان أحدهما حكمه فيها حكم الصاحي
Adapun seluruh tindakan orang yang mabuk, para ulama memiliki beberapa pendapat mengenainya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dalam semua tindakan tersebut terdapat dua pendapat; salah satunya adalah hukumnya sama dengan hukum orang yang sadar.
والقول الثاني حكمه فيها حكم المجنون والقولان مُجْريان في أقواله وأفعاله فيما له وعليه
Pendapat kedua menyatakan bahwa hukumnya dalam hal ini sama dengan hukum orang gila, dan kedua pendapat tersebut berlaku pada ucapan dan perbuatannya, baik yang berkaitan dengan haknya maupun kewajibannya.
ومن أصحابنا من قال ما عليه ينفذ وفيما له قولان
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa apa yang menjadi tanggungannya tetap berlaku, sedangkan mengenai apa yang menjadi haknya terdapat dua pendapat.
ومنهم من قال أفعاله كأفعال الصاحي وفي أقواله قولان وهذا لمكان قوة الأفعال
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa perbuatannya seperti perbuatan orang yang sadar, dan mengenai ucapannya terdapat dua pendapat. Hal ini karena kuatnya perbuatan-perbuatannya.
هذه مسالك الأصحاب وأشهرُها طرد القولين في الجميع ولا خلاف أنه مأمور بقضاء الصلوات التي تمرّ عليه مواقيتها في حالة السّكر وإن كان السكر بمثابة الإغماء على معنى أنه لا يتصور إزالته بالتنبيه كما يُزال النّوم به
Ini adalah pendapat-pendapat para ulama, dan yang paling masyhur adalah menerapkan dua pendapat dalam seluruh permasalahan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seseorang diperintahkan untuk mengqadha shalat-shalat yang waktunya berlalu saat ia dalam keadaan mabuk, meskipun mabuk itu serupa dengan pingsan dalam arti tidak mungkin dihilangkan dengan dibangunkan sebagaimana tidur dapat dihilangkan dengan dibangunkan.
وكان شيخي يقول من أُوجر خمراً وانتهى إلى السكر الطافح فمرت عليه مواقيت صلوات لم يلزمه قضاؤها كالمغمى عليه
Dan guruku biasa berkata: Barang siapa dipaksa meminum khamar hingga mencapai mabuk berat, lalu waktu-waktu salat berlalu atasnya, maka ia tidak wajib mengqadha salat-salat tersebut, seperti halnya orang yang pingsan.
وتردد الأصحاب في أنا إذا جعلنا السّكران كالصاحي فهل نجعل صورة السكر حَدَثاً ناقضاً للطهارة فإنه على صورة الإغماء وقد قدّمنا هذا في كتاب الطهارة
Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah jika kita menyamakan orang mabuk dengan orang sadar, maka apakah keadaan mabuk itu dianggap sebagai hadats yang membatalkan thaharah, karena keadaannya mirip dengan pingsan. Hal ini telah kami bahas sebelumnya dalam Kitab Thaharah.
فهذا قولنا في أحكام السكران
Inilah pendapat kami mengenai hukum-hukum orang yang mabuk.
وقد قال الشافعي إذا ارتد السكران ثبت حكم الردة ولكنّه لا يستتاب حتى يُفيق وعن هذا النص نشأ للأصحاب الفرق بين ما له وعليه والأَوْلى حمل ذلك على رعاية مصلحته وإلا فالإسلام يصح ممن تصحّ منه الردة
Syafi‘i berkata, “Jika orang mabuk murtad, maka hukum murtad tetap berlaku atasnya, namun ia tidak diminta untuk bertobat hingga sadar.” Dari teks ini, para ulama membuat perbedaan antara hak-haknya dan kewajibannya. Namun yang lebih utama adalah memahami hal itu sebagai bentuk menjaga kemaslahatan dirinya, sebab keislaman itu sah dari siapa saja yang sah pula murtadnya.
فأما حدّ السكر فقد نقل عن الشافعي أنه قال إذا اختلط كلامه المنظوم وانكشف سره المكتوم فهو سكران
Adapun batasan mabuk, telah dinukil dari asy-Syafi‘i bahwa beliau berkata: Jika ucapan teratur seseorang menjadi kacau dan rahasia yang tersembunyi terbuka, maka ia adalah orang yang mabuk.
وقال قائلون إذا أخذ يهذي في الكلام ويتمايل في المشي فقد انتهى إلى السكر
Dan sebagian orang berkata, apabila seseorang mulai mengigau dalam berbicara dan berjalan terhuyung-huyung, maka ia telah mencapai keadaan mabuk.
وقال بعض الأصحاب السكران من لا يعلم ما يقول وهذا يعتضد بظاهر قوله تعالى لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ
Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang mabuk adalah orang yang tidak mengetahui apa yang diucapkannya, dan pendapat ini didukung oleh makna lahiriah firman Allah Ta‘ala: “Janganlah kalian mendekati shalat sedang kalian dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan.”
وهذه العبارات متقاربة ولكنها ليست على الحدّ الذي أرتضيه في البيان فأوّل السكر لا يسلب الكلامَ ولا يُنهي السكران إلى الهذيان الذي يصدر مثله من النائم ولكن السكران هو الذي يكون في كلامه وخطابه وجوابه وما يقوله ويفعله كالمجنون وللمجنون مَيْزٌ وفهم وهو يبني عليه الجوابَ والإصغاء وفهم الخطاب فإذا انتهى السكران إلى مثل حاله فهو في حد السكر
Ungkapan-ungkapan ini saling berdekatan maknanya, namun belum mencapai batas penjelasan yang saya anggap memadai. Pada awal mabuk, seseorang belum kehilangan kemampuan berbicara dan belum sampai pada kondisi mengigau seperti yang terjadi pada orang yang sedang tidur. Namun, orang yang mabuk adalah seseorang yang dalam ucapan, pembicaraan, jawaban, serta apa yang ia katakan dan lakukan, keadaannya seperti orang gila. Adapun orang gila masih memiliki sedikit kemampuan membedakan dan memahami, yang menjadi dasar baginya dalam menjawab, mendengarkan, dan memahami pembicaraan. Jika orang yang mabuk telah sampai pada keadaan seperti itu, maka ia telah mencapai batas mabuk.
ثم قد ينظم المجنون كلاماً وقد يخبطه ولا تخفى تاراته في نظمه وخَبْطه والمعنىُّ بكلام الشافعي إذا اختلط كلامه المنظوم أن يتطرق إلى كلامه الاختلاطُ الذي يتطرق إلى كلام المجانين
Terkadang orang gila dapat merangkai ucapan, dan terkadang pula ia mengucapkan kata-kata yang kacau, dan tidak samar waktu-waktu ketika ia dapat merangkai ucapan maupun ketika ia berbicara kacau. Maksud dari ucapan Imam Syafi‘i bahwa jika ucapan yang terangkai itu telah tercampur, adalah bahwa pada ucapannya telah masuk kekacauan yang biasa terdapat pada ucapan orang-orang gila.
ومن قال السكران من يهذي ويتمايل فالذي جاء به لا بيان فيه والتمايل لا معنى له
Dan barang siapa yang mengatakan bahwa orang mabuk adalah orang yang mengigau dan berjalan sempoyongan, maka apa yang ia sampaikan tidak mengandung penjelasan, dan berjalan sempoyongan itu sendiri tidak memiliki makna.
ومن قال السكران من لا يعلم ما يقول فعليه مراجعةٌ لما ذكرنا من أن أصل العلم لا يمكن سلبُه من البهائم فضلاً عن السكارى والمجانين ومن أراد الإحاطة بهذا على التحقيق فليجدّد عَهْده بمجموعاتنا في حقيقة العقل ثم ليَبْنِ عليه أن السكران من لا يتصف بالعقل وإن نجّزنا طرفاً منه فمن لا عقل له لا يتصوّر منه النظر العقلي وإن ذكر من مباديه شيئاً فهو عبارات الفقهاء ولا يخفى عروُّه عن حقيقتها
Barang siapa yang mengatakan bahwa orang mabuk adalah orang yang tidak mengetahui apa yang diucapkannya, maka hendaknya ia meninjau kembali apa yang telah kami sebutkan bahwa asal pengetahuan itu tidak mungkin dihilangkan dari hewan, apalagi dari orang mabuk dan orang gila. Barang siapa yang ingin memahami hal ini secara mendalam, hendaklah ia memperbarui pemahamannya terhadap kumpulan tulisan kami tentang hakikat akal, kemudian membangun pemahamannya di atas itu, bahwa orang mabuk adalah orang yang tidak memiliki sifat akal. Jika kami telah menyelesaikan sebagian pembahasannya, maka orang yang tidak memiliki akal tidak mungkin darinya muncul pemikiran rasional. Jika ia menyebutkan sesuatu dari prinsip-prinsipnya, maka itu hanyalah ungkapan para fuqaha, dan tidak tersembunyi bahwa ungkapan tersebut jauh dari hakikatnya.
فإذا دبّت الخمرة انتشى الشارب وعَرتْه طَرِبَةٌ وهِزّةٌ وهذا قد يَحُدّ العقل فليس من السكر
Jika khamr mulai meresap, peminumnya akan merasa gembira dan muncul kegembiraan serta getaran pada dirinya. Hal ini dapat memengaruhi akal, namun belum termasuk kategori mabuk.
وبعد ذلك ما وصفناه من السكر مع بقاء أفعال وأقوال
Setelah itu, apa yang telah kami jelaskan mengenai keadaan mabuk dengan tetap adanya perbuatan dan ucapan.
ومنتهى السكر الاتصاف بصفة المغشي عليه
Batas maksimal mabuk adalah sampai seseorang memiliki sifat seperti orang yang pingsan.
ثم في هذا نظر
Kemudian dalam hal ini masih perlu ditinjau kembali.
فإن انتهى إلى حالة الإغماء وسقوط الاختيار بالكلية فالوجه القطع بإلحاقه
Jika seseorang sampai pada keadaan pingsan dan hilangnya kesadaran secara total, maka pendapat yang tepat adalah menyamakannya.
بالمغمى عليه حتى إذا بدرت منه كلمة الطلاق بُدورَها من النائم الهاذي فلا حكم لها وكذلك القول في أفعاله فهي منزّلة منزلة ما يصدر من المغشي عليه
Begitu pula dengan orang yang pingsan; jika keluar darinya kata talak sebagaimana keluarnya dari orang yang tidur atau mengigau, maka tidak ada hukumnya. Demikian pula halnya dengan perbuatannya; ia diposisikan sama dengan apa yang keluar dari orang yang pingsan.
وإنما التردد والكلامُ فيه إذا كان السكران على مضاهاة المجانين
Adapun keraguan dan pembicaraan mengenai hal ini muncul apabila orang yang mabuk itu dalam keadaan menyerupai orang gila.
وأبعدَ بعض أصحابنا فألحق ما يصدر من ذي السكر الطافح بما يصدر منه وهو يفعل ويقول ويتردد وهذا إنما أخذه من إيجابنا عليه قضاء الصلوات وإن انتهى السكر إلى رتبة الإغماء
Sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh dengan menyamakan apa yang dilakukan oleh orang yang sangat mabuk dengan apa yang dilakukan, dikatakan, dan diulang-ulang olehnya, dan pendapat ini diambil dari kewajiban mengganti shalat atasnya, meskipun tingkat mabuknya telah mencapai derajat pingsan.
ثم الفقه في الصّلاة يستدعي الإشارة إلى مسائل قدمناها في كتاب الصلاة منها أنّ من ردّى نفسه من شاهقٍ فانخلعت قدماه وصلّى قاعداً فإذا استبلّ وبرأ فالأصح أنه لا يلزمه قضاء الصلوات التي أقامها قاعداً من جهة أن الرخص والتخفيفات وإن كانت لا تثبت للعصاة فالمعصية قد انقضت بالتَّرْدية ودوامُ العجز كان بعد انقضائها
Kemudian, fiqh dalam shalat memerlukan penjelasan terhadap beberapa permasalahan yang telah kami kemukakan dalam Kitab Shalat, di antaranya adalah bahwa seseorang yang menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi sehingga kedua kakinya terkilir lalu ia shalat dalam keadaan duduk, maka apabila ia telah sembuh dan pulih, pendapat yang lebih sahih adalah ia tidak wajib mengqadha shalat-shalat yang ia lakukan dalam keadaan duduk. Hal ini karena keringanan dan dispensasi, meskipun tidak berlaku bagi pelaku maksiat, namun kemaksiatan tersebut telah berakhir dengan perbuatan menjatuhkan diri, dan kelangsungan uzur terjadi setelah kemaksiatan itu selesai.
ومن أصحابنا من أوجب القضاء تغليظاً على الذي عصى بترْدية نفسه وإذا عاطت المرأة فأَجْهَضَتْ جنيناً ونُفِست فالمذهب القطع بأنها لا تقضي الصلوات التي تمر مواقيتها في النفاس وفيه خلاف
Sebagian ulama dari kalangan kami mewajibkan qadha sebagai bentuk penegasan hukuman bagi orang yang bermaksiat dengan menjatuhkan dirinya sendiri. Jika seorang wanita mengalami keguguran dan nifas, maka mazhab yang kuat menyatakan bahwa ia tidak wajib mengqadha salat yang waktunya berlalu selama masa nifas, meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini.
ثم من يُلزم القضاء في الضروب التي أشرنا إليها يستدل بالسّكران فإن الشّرب هو الذي يتعلق الاختيار به كترْدية النفس وكالسعي في الاستجهاض والسكر لا يقع مختاراً
Selanjutnya, pihak yang mewajibkan qadhā’ dalam berbagai bentuk yang telah kami sebutkan, berdalil dengan kasus orang mabuk; sebab minum adalah perbuatan yang terkait dengan pilihan, seperti menjatuhkan diri sendiri atau berusaha melakukan aborsi, sedangkan mabuk itu sendiri tidak terjadi secara sukarela.
وفصل المحققون بين السكر وبين الصّنوف التي قدمناها بأن قالوا مطلوبُ من يشرب السُّكر وإلا فالسَّكر في نفسه والمشروب مرٌّ بشعٌ وليس مطلوباً ومبنى الشرع على التغليظ على من يبغي ما لا يجوز ابتغاؤه فلما كان السُّكر شوْفَ النفس التحق عند حصوله بمعصية مختارة وانخلاع القدم واسترخاء النفاس ليس مطلوبَ النفوس ثم السُّكر في عينه تركٌ للصلاة أو سببٌ خاصٌّ فيه فلم يُسقط قضاءَ الصلاة قولاً واحداً
Para ulama yang teliti membedakan antara mabuk dan jenis-jenis yang telah kami sebutkan sebelumnya dengan mengatakan bahwa yang dicari oleh orang yang meminum adalah mabuk itu sendiri, sedangkan mabuk pada dirinya sendiri dan minuman yang menyebabkan mabuk itu pahit dan tidak enak, bukan sesuatu yang diinginkan. Syariat dibangun di atas penegasan hukuman bagi siapa saja yang menginginkan sesuatu yang tidak boleh diinginkan. Maka, ketika mabuk menjadi keinginan jiwa, ia termasuk ke dalam kategori maksiat yang dipilih secara sadar. Adapun terpelesetnya kaki atau lemahnya tubuh wanita nifas bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh jiwa. Selain itu, mabuk pada hakikatnya adalah meninggalkan shalat atau sebab khusus yang berkaitan dengannya, sehingga tidak menggugurkan kewajiban mengqadha shalat menurut kesepakatan ulama.
وأما الحكم بوقوع الطلاق فمما يقع متفرعاً على السكر وقد لا يتفرع وكأن التردد فيه وفي أمثاله لما نبهنا عليه والسُّكر بالإضافة إلى الصلاة عينُ الترك أو سببٌ خاصّ في الترك
Adapun penetapan jatuhnya talak merupakan sesuatu yang terkadang menjadi cabang dari keadaan mabuk, dan terkadang tidak menjadi cabang darinya. Tampaknya keraguan dalam hal ini dan hal-hal serupa sebagaimana yang telah kami isyaratkan sebelumnya, sedangkan mabuk dalam kaitannya dengan shalat adalah hakikat meninggalkan shalat itu sendiri atau merupakan sebab khusus dalam meninggalkannya.
ومن تعاطى شيئاً يزيل العقل من غير حاجة عصى ربّه ثم قال الأصحاب حكمه إذ اختلط عقله كحكم السكران
Dan barang siapa menggunakan sesuatu yang menghilangkan akal tanpa ada kebutuhan, maka ia telah durhaka kepada Tuhannya. Kemudian para ulama berkata, hukumnya ketika akalnya bercampur (terganggu) adalah sama dengan hukum orang mabuk.
والذي أراه فيه أنه لا يُلحق بالسَّكران والتحقيق فيه أن هذا النوع من زوال العقل إذا لم يكن مقصوداً فهو عندنا في حكم الصّلاة كانخلاع القدم في حق من يردّي نفسه وكالنفاس في حق المستجهضة
Menurut pendapat saya, hal ini tidak dapat disamakan dengan orang yang mabuk. Penjelasan yang tepat mengenai hal ini adalah bahwa jenis hilangnya akal seperti ini, jika tidak disengaja, maka dalam hukum shalat menurut kami, ia seperti terlepasnya kaki bagi orang yang menjatuhkan dirinya sendiri, dan seperti nifas bagi perempuan yang mengalami keguguran.
وإذا كان الفقه المحض يقتضي إسقاط قضاء الصّلاة مع خلافٍ فيه فالقطع بإلحاقه بالسكران لا وجه له وكذلك إذا تسبب فجنّن نفسَه ففي الأصحاب من ألحقه بالسكارى وهذا غفلةٌ عن المعنى الذي نبهنا عليه
Jika fiqh murni mengharuskan gugurnya kewajiban mengqadha salat, meskipun terdapat perbedaan pendapat di dalamnya, maka memastikan penyamaannya dengan orang mabuk tidaklah beralasan. Demikian pula, jika seseorang menyebabkan dirinya sendiri menjadi gila, di antara para ulama ada yang menyamakannya dengan orang-orang yang mabuk, dan ini merupakan kelalaian terhadap makna yang telah kami tunjukkan.
ولما أراد المزنيّ نصرة مذهبه في أن طلاق السّكران لا يقع احتج بالذي جنّن نفسه ولم ير أنه يخالَف في وقوع طلاقه وللأصحاب فيه التردد الذي حكيناه وفي كلام القاضي ما يدل على القطع بإلحاقه بالسكارى وهذا فيه خلل ظاهر لما نبَّهت عليه
Ketika al-Muzani ingin membela mazhabnya bahwa talak orang yang mabuk tidak jatuh, ia berdalil dengan orang yang sengaja membuat dirinya gila, dan ia tidak melihat adanya perbedaan pendapat mengenai jatuhnya talak orang tersebut. Namun, para ulama memiliki keraguan dalam hal ini sebagaimana telah kami sebutkan, dan dalam perkataan al-Qadhi terdapat indikasi adanya keputusan untuk menyamakan hukumnya dengan orang yang mabuk. Namun, dalam hal ini terdapat kekeliruan yang jelas sebagaimana telah saya tunjukkan.
ولم يختلف أصحابنا في أنّ من أُوجر خمراً فسكر وطلّق لم يقع طلاقه
Para ulama kami tidak berselisih pendapat bahwa seseorang yang dipaksa meminum khamar lalu mabuk, kemudian menjatuhkan talak, maka talaknya tidak jatuh.
ومن تداوى ببَنْجٍ أو غيره فزال عقله لم يقع طلاقه
Dan siapa yang berobat dengan bius atau selainnya sehingga akalnya hilang, maka talaknya tidak jatuh.
وإذا حرّمنا التداوي بالخمر فالمتداوي بها عاصٍ بشربها ولا يخفى الحكم وراء ذلك
Jika kita mengharamkan pengobatan dengan khamr, maka orang yang berobat dengannya berdosa karena meminumnya, dan hukum di balik itu pun sudah jelas.
باب الطلاق بالحساب
Bab Talak dengan Perhitungan
قال الشافعي ولو قال لها أنت طالق واحدة في اثنتين إلى آخره
Syafi‘i berkata: “Seandainya seseorang berkata kepada istrinya, ‘Engkau tertalak satu kali dalam dua (dan seterusnya hingga akhir)…”
إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق واحدة في اثنتين فإن قال نويت واحدةً مع اثنتين والمرأة مدخول بها وقعت الثلاث لأن ما قاله محتمل ونحن نوقع الطلاق بأدنى احتمال يبديه وإن كنّا لا ندفع الطلاق بمثله وكلمةُ في قد تستعمل بمعنى مع قال الله تعالى ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ أي مع أمم
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak satu dalam dua,” lalu ia berkata, “Aku berniat satu bersama dua,” dan istrinya sudah digauli, maka jatuh talak tiga, karena apa yang diucapkannya mengandung kemungkinan, dan kami menetapkan talak dengan kemungkinan sekecil apa pun yang ia tunjukkan, meskipun kami tidak menolak talak dengan kemungkinan seperti itu. Kata “fi” kadang digunakan dengan makna “ma‘a” (bersama), sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Masuklah kalian ke dalam umat-umat yang telah berlalu,” maksudnya bersama umat-umat.
وإن أراد جعل الطلقتين ظرفاً ورأى الواقع واحداً هو المقصود بالوقوع فهذا مقبول منه فإن في معناه الظاهر إفادة الظرف والإشعار به ثم الذي في الظرف يخالف الظرف
Dan jika ia bermaksud menjadikan dua talak itu sebagai zḥarf (konteks/waktu) dan memandang bahwa yang terjadi hanyalah satu talak yang memang dimaksudkan untuk terjadi, maka hal itu dapat diterima darinya. Sebab, dalam maknanya yang lahir, terdapat indikasi zḥarf dan penunjukan terhadapnya. Namun, apa yang ada di dalam zḥarf berbeda dengan zḥarf itu sendiri.
وإن أراد به الحساب وكان عالماً به حُمل لفظه على الحساب ووقع ثنتان
Dan jika yang dimaksudkannya adalah perhitungan dan ia memang ahli dalam hal itu, maka ucapannya dianggap berdasarkan perhitungan, dan jatuhlah dua (talak).
وإن أطلق لفظه وزعم أنه لم يرد شيئاً فقد ذكر القاضي وغيرُه من المحققين قولين أحدهما أنه محمول على الحساب فيقع ثنتان
Jika ia mengucapkan lafaznya secara mutlak dan mengklaim bahwa ia tidak bermaksud apa-apa, maka al-Qadhi dan para ulama muhaqqiq lainnya menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa hal itu dikaitkan dengan perhitungan, sehingga jatuh dua kali.
والثاني أنه لا يقع إلا واحدة لأنه يحتمل الحساب ويحتمل الظرف ولا مزيد على المستيقن وهو طلقة واحدة وما زاد مشكوك فيه وقرّبوا هذين القولين من قول الزوج لامرأته المدخول بها أنت طالق طالق طالق إذا زعم أنه أطلق لفظه ولم يَعْنِ تأكيداً ولا تجريداً
Yang kedua, bahwa talak itu hanya jatuh satu kali saja karena bisa jadi bermakna perhitungan dan bisa juga bermakna keterangan waktu, dan tidak boleh menambah dari yang diyakini pasti, yaitu satu kali talak, sedangkan selebihnya masih diragukan. Mereka mendekatkan dua pendapat ini dengan kasus suami yang berkata kepada istrinya yang sudah digauli: “Engkau tertalak, tertalak, tertalak,” jika ia mengaku bahwa ia hanya mengucapkan lafaz tersebut tanpa bermaksud menegaskan atau memisahkan.
وهذا في عالمٍ بعبارة الحساب يزعم أنه أطلق لفظه ولم يخطُر له معنى
Ini terjadi pada seseorang yang, menurut istilah hisab, mengira bahwa ia telah mengucapkan suatu lafaz tanpa terlintas maknanya dalam benaknya.
وفي بعض التصانيف ذِكْرُ قول ثالث وهو أنه يقع ثلاث طلقات وذكره شيخنا وهو بعيدٌ ووجهه على بعده أنه يعرض لثلاث طلقات مع صلةٍ والأصلُ وقوع العدد الذي تلفظ به
Dalam beberapa kitab disebutkan pendapat ketiga, yaitu bahwa jatuh tiga talak, dan pendapat ini disebutkan oleh guru kami, namun pendapat ini lemah. Alasannya, meskipun lemah, adalah bahwa hal itu mengarah pada terjadinya tiga talak sekaligus dengan adanya hubungan, dan pada dasarnya jumlah talak yang diucapkan itulah yang terjadi.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كان عالماً بمراد الحُسّاب بمثل هذه اللفظة
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika ia mengetahui maksud para ahli hisab dengan ungkapan seperti ini.
فإن كان جاهلاً بمراد الحُسّاب وقد أطلق اللفظ فالذي قطع به المحققون أنه لا يقع إلا واحدة إذا زعم أنه لم يكن له قصد وينقدح عندنا خروج القول الذي حكيناه عن بعض التصانيف في إيقاع الثلاث نظراً إلى التلفظ بها ولكنني لست أثق بهذا القول
Jika seseorang tidak mengetahui maksud para ahli hisab dan ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak, maka para muhaqqiq (peneliti) telah memastikan bahwa yang terjadi hanyalah satu talak saja, apabila ia mengaku bahwa ia tidak memiliki maksud tertentu. Namun, menurut kami, pendapat yang kami sebutkan dari sebagian kitab tentang jatuhnya tiga talak dengan mempertimbangkan pengucapannya, keluar dari kaidah ini. Akan tetapi, saya sendiri tidak mempercayai pendapat tersebut.
ولو قال مُطلِق هذا اللفظ وهو جاهل بالحساب وعبارةِ أهله أردت بهذا اللفظ ما يعنيه الحُسّاب ولست عالماً به ففيما يقع والأمر كذلك وجهان ذكرهما العراقيون أحدهما أنه يقع ما يقتضيه الحساب فإنه قصد الطلاق وربط العدد بمقصودهم فيقع الطلاق ويراجع الحُسّاب في مقصودهم وهو كما لو قال إن كان الطائر غراباً فامرأته طالق فليس هو على علم بموقع الطلاق في الحال ولكن إذا تبينا تحقق الصفة حكمنا بوقوع الطلاق تبيّناً
Jika seseorang yang mengucapkan lafaz ini adalah orang yang tidak memahami ilmu hisab dan istilah para ahlinya, lalu ia berkata, “Saya maksudkan dengan lafaz ini apa yang dimaksudkan oleh para ahli hisab, dan saya sendiri tidak mengetahuinya,” maka dalam hal ini, menurut para ulama Irak, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah talak terjadi sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh ilmu hisab, karena ia memang berniat menjatuhkan talak dan mengaitkan jumlahnya dengan maksud para ahli hisab. Maka talak pun jatuh, dan untuk mengetahui maksudnya dikembalikan kepada para ahli hisab. Hal ini seperti jika seseorang berkata, “Jika burung itu adalah gagak, maka istriku tertalak,” padahal ia sendiri tidak mengetahui status talak pada saat itu. Namun, jika kemudian diketahui bahwa sifat tersebut benar-benar ada, maka talak pun dihukumi jatuh berdasarkan pengetahuan tersebut.
والوجه الثاني أنه لا يقع إلا واحدة فإنه لم يفهم معنى اللفظ والنياتُ لا تثبت على الإبهام وإنما تثبت على التحقيق والتفصيل ولا خلاف أن الأعجمي إذا نطق بالطلاق بلغة العرب ونوى معناه عند أهله ولم يفهمه عند إطلاق اللفظ ثم وضح له معناه لم يقع الطلاق باتفاق الأصحاب وليس هذا كما لو علّق الطلاق على صفةٍ هو جاهل بها فإن قصده إلى الطلاق ثابت ومتعلّقه مشكل فيبحث عنه ومعظم التعليقات كذلك تقع
Pendapat kedua adalah bahwa talak tersebut tidak jatuh kecuali satu kali, karena ia tidak memahami makna lafaz tersebut, sedangkan niat tidak dapat ditetapkan dalam keadaan samar, melainkan harus dengan penetapan dan perincian. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seorang non-Arab yang mengucapkan talak dengan bahasa Arab dan meniatkan maknanya menurut pemahaman kaumnya, namun ia tidak memahami maknanya saat mengucapkan lafaz tersebut, lalu setelah itu maknanya menjadi jelas baginya, maka talak tidak jatuh menurut kesepakatan para sahabat (ulama). Ini berbeda dengan kasus jika seseorang menggantungkan talak pada suatu sifat yang ia tidak mengetahuinya; karena niatnya untuk menjatuhkan talak tetap ada, hanya saja kaitannya yang masih samar sehingga perlu dicari tahu, dan kebanyakan talak yang digantungkan seperti itu tetap jatuh.
ويخرّج عندنا على هذا الخلاف أن يقول القائل طلقت فلانة مثل ما طلق فلان زوجته وكان لا يدري أنه طلق زوجته واحدة أو أكثر فيقع الواحدة وفي الزيادة الخلافُ الذي ذكرناه
Menurut kami, dalam perbedaan pendapat ini dapat dianalogikan jika seseorang berkata, “Aku menceraikan Fulanah seperti apa yang dilakukan Fulan terhadap istrinya,” sementara ia tidak mengetahui apakah Fulan menceraikan istrinya satu kali atau lebih. Maka jatuhlah satu kali talak, dan untuk tambahan dari itu terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.
وهذا أصلٌ فلتسند إليه مسائله وحاصله أن من لفظ ولم يدر أصلَ معنى الطلاق ثم بُيّن له أنّ معناه الطلاق فلا خلاف أنه لا يقع الطلاق وإن علق الطلاق على مبهمٍ تعّلق به
Ini adalah sebuah kaidah; hendaknya permasalahan-permasalahan dikembalikan kepadanya. Intinya adalah bahwa siapa pun yang mengucapkan suatu lafaz dan ia tidak mengetahui makna asal dari talak, kemudian dijelaskan kepadanya bahwa maknanya adalah talak, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa talak tersebut tidak jatuh. Dan jika talak digantungkan pada sesuatu yang samar, maka talak itu bergantung padanya.
وإن قصد أصلَ الطلاق وأبهم فيما زعم قصدَه في العدد وأحالَه على قول الغير فهذا موضع التردد
Jika seseorang memang berniat untuk menjatuhkan talak, namun ia menyamarkan maksudnya dalam hal jumlah talak yang dimaksud, dan menyerahkan penentuan jumlah tersebut kepada ucapan orang lain, maka inilah tempat terjadinya keraguan.
ثم قال الشافعي ولو قال أنت طالق واحدة لا تقع عليك فهي واحدة تقع
Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu kali, tetapi tidak jatuh atasmu,” maka itu adalah satu talak yang jatuh.
والأمر على ما ذَكَر فإنه أتى بالطلاق ثم أتى بما يدفعه على وجهٍ لا ينظم ذو الجدّ مثلَه فكان بمثابة ما لو قال أنت طالق ثلاثاً إلا ثلاثاًً وسنعيد هذا في أصل الاستثناء ونجمع من هذا الجنس محلّ الوفاق والخلاف
Keadaannya sebagaimana telah disebutkan, yaitu seseorang mengucapkan talak, kemudian mengucapkan sesuatu yang menolaknya dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang cermat, maka hal itu serupa dengan orang yang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali tiga.” Kami akan mengulang pembahasan ini pada pokok pembahasan istisna’ (pengecualian), dan kami akan mengumpulkan dari jenis ini tempat-tempat yang menjadi titik kesepakatan dan perbedaan pendapat.
فصل قال وإن قال واحدة قبلها واحدة كانت طلقتين إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Jika seseorang mengatakan ‘satu sebelum satu’, maka itu dihitung sebagai dua talak,” dan seterusnya.
إذا قال لامرأته التي دخل بها أنت طالق وطالق طلقت طلقتين على الترتب فيلحقها واحدة بقوله الأول والثانيةُ بقوله الآخر
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang telah digaulinya, “Engkau talak, dan talak,” maka istrinya jatuh talak dua secara berurutan; talak pertama terjadi dengan ucapannya yang pertama, dan talak kedua dengan ucapannya yang berikutnya.
ولو قال لها أنت طالق ثلاثاًً فالمذهب المبتوت أن الثلاث تقع عند الفراغ من قوله ثلاثاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau aku talak tiga,” maka menurut mazhab yang mapan, talak tiga itu jatuh setelah ia selesai mengucapkan kata “tiga.”
ومن أصحابنا من يقول إذا فرغ عن قوله ثلاثاًً تبيّنا وقوعَ الثلاث بقوله أنت طالق
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa apabila seseorang telah selesai mengucapkan tiga kali, maka jelaslah jatuhnya talak tiga dengan ucapannya “kamu tertalak”.
وهذا الخلاف مأخوذ ممّا إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق فماتت ثم قال ثلاثاً فمن قال ثَمَّ لا يقع شيء فيقول في سلامة الحال يقع الثلاث عند قوله ثلاثاًً
Perbedaan pendapat ini diambil dari kasus ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu istrinya meninggal dunia, kemudian ia berkata, “tiga kali.” Maka, siapa yang berpendapat bahwa dalam keadaan itu tidak terjadi apa-apa, ia juga akan berpendapat bahwa dalam keadaan normal talak tiga jatuh ketika ia mengucapkan “tiga kali.”
ومن قال ثَمَّ يقع الثلاث يقول في سلامة الحال يقع الثلاث بفراغه من قوله أنت طالق
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa talak tiga jatuh sekaligus, ia mengatakan bahwa dalam keadaan normal, talak tiga itu jatuh setelah selesai mengucapkan “engkau tertalak.”
ومن قال ثَمَّ إذا ماتت المرأة وقعت طلقة بقوله طالق في حياتها فيلزمه على هذا المساق أن يقول يقع طلقة بقوله طالق ويتم الثلاث بقوله ثلاثاًً
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa jika seorang wanita meninggal dunia, jatuh satu talak dengan ucapannya “engkau tertalak” saat ia masih hidup, maka menurut alur pemikiran ini, ia juga harus mengatakan bahwa jatuh satu talak dengan ucapannya “engkau tertalak”, dan menjadi tiga talak dengan ucapannya “tiga kali”.
هذا مسلكٌ لبعض الأصحاب وهو ساقط عندنا فالوجه القطع بأن الثلاث تقع مع الفراغ من الكلام إذ لا خلاف أنه إذا قال للتي لم يدخل بها أنت طالق ثلاثاًً طلقت ثلاثاً ولو كانت تطلق واحدة بقوله أنت طالق لبانت ثم لا يلحقها غير الواحدة
Ini adalah pendapat sebagian ulama, namun menurut kami pendapat ini tertolak. Pendapat yang benar adalah memastikan bahwa talak tiga jatuh sekaligus setelah selesai mengucapkan lafaznya, karena tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau tertalak tiga,” maka ia tertalak tiga. Padahal, jika ia menceraikannya dengan satu kali ucapan “Engkau tertalak,” maka ia menjadi talak satu dan setelah itu tidak bisa lagi dijatuhkan talak selain satu tersebut.
ومن لطيف الكلام في هذا أنه إذا أنشأ قولَه أنت طالق وعزم على أن يقول ثلاثاًً فهذا ليس يطبِّق قصدَ الثلاث ونيّتَها على قوله طالق فإنه بنى كلامه على أن يصرّح ويعوّل على ذكر الثلاث فلا معنى للمصير إلى أنه في حكم من يقول أنت طالق وينوي الثلاث ولكن إن تمّ اللفظ واتَّسق على ما أراد فالتعويل على اللفظ
Salah satu ungkapan yang halus dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang memulai ucapannya dengan mengatakan “engkau tertalak” dan berniat untuk mengucapkannya tiga kali, maka hal itu tidak berarti ia menerapkan maksud dan niat talak tiga pada ucapannya “tertalak”. Sebab, ia membangun ucapannya dengan maksud untuk menegaskan dan bersandar pada penyebutan tiga kali, sehingga tidak ada makna untuk menganggapnya seperti orang yang mengatakan “engkau tertalak” sambil berniat tiga talak. Namun, jika lafal tersebut sempurna dan sesuai dengan apa yang ia maksudkan, maka yang dijadikan pegangan adalah lafalnya.
والوجه القطع بوقوع الثلاث مع الفراغ من اللفظ وإن طرأ ما يمنع نفوذ الطلاق كالموت في المخاطبة فيثور الإشكال الآن فإن تعطيل لفظه وقد أتى بما يستقل ويفيد في حالة الحياة محال فاضطرب رأي الأصحاب عند طريان ما وصفنا فمن طرد القياس الذي قدمنا صائر إلى أن بعض اللفظ إذا وقع بعد الموت لغا كلُّه وهذا وهم والمصير إلى وقوع الثلاث وهمٌ والأقرب ألا يعطَّل ويُكتفى بموجب اللفظ المصادف للحياة
Pendapat yang kuat adalah bahwa talak tiga jatuh secara pasti setelah selesai mengucapkan lafaz, meskipun setelah itu terjadi sesuatu yang menghalangi berlakunya talak, seperti kematian pada orang yang diajak bicara. Maka timbul permasalahan di sini, sebab meniadakan efek dari lafaz yang telah diucapkan secara sempurna dan bermakna pada saat masih hidup adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat ketika terjadi hal seperti yang telah kami sebutkan. Barang siapa yang konsisten dengan qiyās yang telah kami kemukakan, maka ia berpendapat bahwa sebagian lafaz yang diucapkan setelah kematian menjadi batal seluruhnya, dan ini adalah kekeliruan. Berpendapat bahwa talak tiga jatuh seluruhnya juga merupakan kekeliruan. Pendapat yang lebih dekat adalah tidak meniadakan efeknya, dan cukup dengan konsekuensi dari lafaz yang diucapkan saat masih hidup.
وينتظم من هذا أنه إذا أنشأ الطلاق على أن يفسّره فالأمر فيه موقوف فإن انتظم اللفظ من غير مانع قطعنا بوقوع الكل مع آخر اللفظ وإن طرأ مانع فعند ذلك يضطرب الرأي كما نبهنا عليه
Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa jika seseorang mengucapkan talak dengan maksud akan menjelaskannya, maka perkara tersebut statusnya tergantung. Jika lafalnya tersusun tanpa ada penghalang, maka kami menetapkan jatuhnya seluruh talak bersamaan dengan akhir lafal tersebut. Namun jika muncul penghalang, maka pada saat itu pendapat menjadi tidak menentu, sebagaimana telah kami singgung sebelumnya.
ولو قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق وطالق فلا يلحقها إلا الطلقة الأولى ولو قال أنت طالق ثنتين أو قال أنت طالق ثلاثاًً فيلحقها العدد المفسِّر إجماعاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau talak, dan talak,” maka yang jatuh padanya hanya talak yang pertama saja. Namun jika ia berkata, “Engkau talak dua,” atau “Engkau talak tiga,” maka jatuh padanya jumlah talak yang dijelaskan itu secara ijmā‘.
ولو قال لامرأته التي دخل بها أنت طالق طلقةً قبلها طلقةٌ أو أنت طالق طلقةً بعد طلقةٍ فيلحقها طلقتان فإنه وإن رتّب لفظه وجاء بالطلقتين في صيغتين فالمدخول بها تحتمل الطلقات المتتابعات
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang telah digauli, “Engkau tertalak satu kali, sebelumnya telah ada satu talak,” atau “Engkau tertalak satu kali setelah satu talak,” maka jatuh kepadanya dua talak. Meskipun ia menyusun ucapannya dan menyebutkan dua talak dalam dua ungkapan, istri yang telah digauli memungkinkan untuk menerima talak-talak yang berurutan.
ثم إذا لحقها طلقتان فلا خلاف أنهما يقعان في زمانين فإنه مصرّح بإيقاعهما كذلك وذكر العراقيون وجهين في كيفية وقوع الطلقتين بهاتين الصيغتين بعد القطع بوقوعهما في زمانين أحد الوجهين أنه يتنجّز طلقةً ويستبين وقوع طلقة قبلها والثاني أن المُوقَع المنجَّز يتنجّز ويعقبه طلقة أخرى
Kemudian, jika setelahnya terjadi dua talak, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa keduanya terjadi pada dua waktu yang berbeda, karena secara jelas dinyatakan bahwa keduanya dijatuhkan demikian. Ulama Irak menyebutkan dua pendapat tentang bagaimana terjadinya dua talak dengan dua lafaz ini setelah dipastikan bahwa keduanya terjadi pada dua waktu. Salah satu pendapatnya adalah bahwa satu talak terjadi secara langsung dan tampak bahwa satu talak telah terjadi sebelumnya. Pendapat kedua adalah bahwa talak yang dijatuhkan secara langsung itu terjadi, lalu diikuti oleh talak lainnya.
وقد ذكر القاضي الوجهين على هذا النسق
Qadhi telah menyebutkan kedua pendapat tersebut dengan urutan seperti ini.
وهذا مضطرب عندي فإنا ننظر إلى الطلاق المنجَّز فإن قدّرنا وقوع طلقة قبله على معنى أنها تتقدم على لفظ المطلِّق فهذا من المحالات فإن الطلاق لا يتقدم وقوعه على لفظ المطلِّق وإن نظرنا إلى الطلاق الموقَع وقلنا يقع بعد طلاق آخر فهذا أحد الوجهين الذي لا يفهم غيره في الإمكان والوقوع
Hal ini menurut saya masih membingungkan, karena kita memperhatikan talak yang dilafalkan secara langsung. Jika kita menganggap adanya satu talak yang terjadi sebelumnya, dalam arti talak itu mendahului ucapan orang yang menjatuhkan talak, maka ini adalah sesuatu yang mustahil, karena talak tidak mungkin terjadi sebelum ucapan orang yang menjatuhkan talak. Namun jika kita memperhatikan talak yang dijatuhkan dan mengatakan bahwa talak itu terjadi setelah talak lain, maka inilah salah satu kemungkinan yang dapat dipahami dalam hal kemungkinan dan terjadinya.
ولكن يسوغ للقائل الأول أن يقول إذا قال أنت طالق طلقة قبلها طلقة فلا يقع ما في ضمن قوله أنت طالق طلقة حتى يقدُمه طلاق وهذا الطلاق الذي يتقدّم يقع أيضاًً بعد اللفظ وكأن المعنى أنت طالق طلقة من قبلها طلقة تقع فهذا يزيل الخبط والاضطراب ويقطع توهم الغلط
Namun, pihak yang berpendapat pertama dapat mengatakan bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu kali yang sebelumnya telah ada satu talak,” maka yang termasuk dalam ucapannya “engkau tertalak satu kali” tidak terjadi kecuali setelah didahului oleh talak. Dan talak yang mendahului itu juga terjadi setelah ucapan tersebut. Seakan-akan maksudnya adalah, “Engkau tertalak satu kali yang sebelumnya telah ada satu talak yang terjadi.” Dengan demikian, hal ini menghilangkan kekacauan dan kerancuan, serta menepis dugaan adanya kesalahan.
فإذا انتظم الوجهان فتمام المراد أنه لو أراد بقوله قبلها طلقة إسناد الطلاق إلى ما قبل تلفّظه فيكون ذلك بمثابة قوله أنت طالق الشهر الماضي وقد قدمنا ما فيه من الأقسام ويعترض في أقسام تلك المسألة أنه لو أراد الإيقاع في زمانٍ مضى فهل يُحكم بالوقوع فعلى وجهين وفي هذه المسألة إن أراد بقوله قبلها طلقة ما ذكرناه فالكلام كالكلام المقدّم في الشهر الماضي وإنما قطع الأصحاب بوقوع الطلقتين من غير إعادة تلك الأقسام لبنائهم المسألة على ترتيب الطلقتين بعد اللفظ ولا ينتظم والمسألة هكذا إلا مع تأخير وقوع مضمون قوله أنت طالق فليفهم الناظر ذلك فإنه دقيق المُدرك
Jika kedua sisi tersebut telah tersusun, maka maksud yang sempurna adalah bahwa jika seseorang bermaksud dengan ucapannya “sebelumnya satu talak” untuk menisbatkan talak kepada waktu sebelum ia mengucapkannya, maka hal itu serupa dengan ucapannya “engkau tertalak pada bulan lalu”. Kami telah menjelaskan pembagian-pembagian yang terdapat dalam hal tersebut. Dalam pembagian-pembagian masalah itu, terdapat pertanyaan: jika seseorang bermaksud menjatuhkan talak pada waktu yang telah lalu, apakah talak itu dihukumi jatuh? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Dalam masalah ini, jika seseorang bermaksud dengan ucapannya “sebelumnya satu talak” seperti yang telah kami sebutkan, maka pembahasannya sama seperti pembahasan sebelumnya tentang talak pada bulan lalu. Namun, para ulama secara tegas menetapkan jatuhnya dua talak tanpa mengulangi pembagian-pembagian tersebut, karena mereka membangun masalah ini atas dasar pengurutan dua talak setelah ucapan, dan masalah ini tidak akan tersusun kecuali dengan mengakhirkan jatuhnya makna ucapan “engkau tertalak”. Maka hendaklah orang yang menelaah memahami hal ini, karena ini adalah pemahaman yang sangat halus.
ونعود بعده إلى إطلاق الوجهين ونفرّع عليهما أمر التي لم يدخل الزوج بها
Setelah itu, kita kembali kepada pembolehan kedua pendapat dan merincikan berdasarkan keduanya mengenai perkara istri yang belum digauli oleh suami.
فإذا قال للتي لم يدخل بها أنت طالق طلقةً قبلها طلقة أو قال أنت طالق طلقة بعد طلقة فكيف الوجه لا خلاف أنه لا يلحقها طلقتان فإن هاتين الطلقتين تقعان على المدخول بها في زمانين ولا يتصور أن يلحق بها طلاقان في زمانين فإنها تبين بأولهما ولكن تلحقها طلقة واحدة أم لا يلحقها شيء هذا محل النظر
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Engkau tertalak satu kali yang sebelumnya ada talak,” atau berkata, “Engkau tertalak satu kali setelah talak,” maka bagaimana hukumnya? Tidak ada perbedaan pendapat bahwa tidak jatuh dua talak padanya, karena kedua talak tersebut berlaku pada istri yang sudah digauli dalam dua waktu yang berbeda, dan tidak mungkin jatuh dua talak pada istri yang belum digauli dalam dua waktu, sebab ia telah berpisah dengan talak yang pertama. Namun, apakah jatuh satu talak padanya atau tidak jatuh apa-apa, inilah yang menjadi bahan kajian.
قال القاضي إن حكمنا بأن مضمون قوله طلقة يقع ثم يتبعه طلقة فهذه يلحقها طلقة وهي الموقعة وتبين ولا يلحقها ما بعدها
Qadi berkata: Jika kami memutuskan bahwa makna ucapannya adalah satu talak jatuh, kemudian diikuti oleh satu talak lagi, maka talak yang kedua ini mengikuti talak yang pertama, dan inilah talak yang dijatuhkan, sehingga istri menjadi terpisah (bain), dan talak setelahnya tidak lagi berlaku padanya.
وإن قلنا يتأخّر مضمون قوله طلقة ويقدُمها طلقة بقوله قبلها طلقة قال القاضي على هذا لا تطلق هذه أصلاً واعتلَّ بأن قال لمَّا قال لها أنت طالقة قبلها فحاصل كلامه أنت طالق طلقةً مسبوقة بطلقةٍ ولا يتصور في غير المدخول بها طلقة مسبوقة بطلقةٍ وإذا لم يقع الطلقة المعيّنة بقوله أنت طالق طلقة لا تقع الطلقة السابقة تقديراً فإن الأُولى شرطها أن تكون قبل ثانيةٍ وإذا عسرت الثانية فالتي يقدرها سابقة لا يقال فيها قبلها فعسُر إيقاع الطلقتين ودارت المسألة وهذا على نهاية الحسن واللطف
Jika kita mengatakan bahwa makna ucapannya “satu talak” itu tertunda dan didahului oleh ucapannya “sebelumnya satu talak” dengan mengatakan “sebelumnya satu talak”, maka menurut Qadhi, dalam hal ini perempuan tersebut sama sekali tidak tertalak. Ia beralasan dengan mengatakan bahwa ketika ia berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak sebelumnya,” maka inti dari ucapannya adalah, “Engkau tertalak satu kali talak yang didahului oleh satu talak.” Dan hal ini tidak mungkin terjadi pada perempuan yang belum digauli, karena tidak terbayangkan adanya satu talak yang didahului oleh talak lain. Jika talak yang ditentukan dengan ucapannya “Engkau tertalak satu talak” tidak terjadi, maka talak sebelumnya yang diperkirakan juga tidak terjadi, karena syarat talak pertama adalah harus didahului oleh talak kedua. Jika talak kedua sulit terjadi, maka talak yang diperkirakan sebagai talak sebelumnya tidak bisa dikatakan “sebelumnya”, sehingga sulit untuk menjatuhkan dua talak tersebut dan masalah ini berputar-putar. Pendapat ini sangat baik dan halus.
ثم في المسألة غائلة وذلك أن القاضي قال من ذهب مذهب ابن الحداد وصار إلى أن الدَّور يمنع وقوع الطلاق فالجواب ما ذكرناه من امتناع وقوع الطلاق على التي لم يدخل بها بالعبارة التي ذكرناها
Kemudian dalam masalah ini terdapat bahaya, yaitu bahwa qadi berkata: Barang siapa yang mengikuti mazhab Ibn al-Haddad dan berpendapat bahwa daur (lingkaran alasan) mencegah terjadinya talak, maka jawabannya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang tidak terjadinya talak pada perempuan yang belum digauli dengan ungkapan yang telah kami jelaskan.
ومن ذهب مذهب أبي زيد ولم يُدِر المسألة قال تلحق المرأة طلقة واحدة فإن القول بالدّور على أصله باطلٌ
Dan barang siapa yang mengikuti mazhab Abu Zaid namun tidak memutar masalahnya, maka wanita tersebut dijatuhi satu talak saja, karena pendapat tentang adanya perputaran (daur) menurut asalnya adalah batil.
وهذا كلام مختلّ من جهة أن صورة الدّور أن يقول لامرأته إذا طلقتك فأنت طالق قبل تطليقي إياكِ ثلاثاً فإذا نجّز تطليقها لم يقع شيء على رأي ابن الحداد ومعظم الأصحاب وسببه أنه لو وقع ما نجز لوقع قبله ثلاثاًً ولو وقعت الثلاث لامتنع وقوع ما نجّز
Ini adalah pernyataan yang rancu, karena bentuk daur adalah ketika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak sebelum aku menjatuhkan talak kepadamu tiga kali.” Maka jika ia langsung menjatuhkan talak, tidak terjadi apa-apa menurut pendapat Ibnu al-Haddad dan mayoritas ulama. Sebabnya adalah, jika talak yang dijatuhkan itu terjadi, maka sebelumnya sudah terjadi talak tiga. Dan jika talak tiga sudah terjadi, maka tidak mungkin talak yang dijatuhkan itu terjadi.
ووجه قول أبي زيدٍ أن الشرط لا يقف على المشروط بل المشروط يقف على الشرط وما نجّزه شرط فليقع ثم ننظر في الجزاء وتيسره وتعسّره
Pendapat Abu Zaid adalah bahwa syarat tidak bergantung pada yang disyaratkan, melainkan yang disyaratkanlah yang bergantung pada syarat. Apa yang telah ditegaskan sebagai syarat, maka hendaknya terjadi terlebih dahulu, kemudian kita melihat pada ganjaran serta kemudahan atau kesulitannya.
والمسألة التي نحن فيها ليست من هذا القبيل فإنه ليس في لفظ المطلِّق شرطٌ ولا جزاء نعم فيها صفة وموصوف وارتباط على هذا الحكم فإن كانت الطلقة المقدّمة المعنيّة بقوله قبلها موصوفة بكونها سابقة فلتقع لاحقة وإن وقعت فردة فليست سابقة فهذا من باب تعذّر الصفة ثم تتعذر المسبوقة تعذراً حقيقياً إذ ليس من الممكن فرض طلقة مسبوقةٍ في التي لم يدخل بها إذا كان يوقعهما في قَرَن فليس هذا مأخذ الدور وإن كان يشابهه من طريق التعذر بالارتباط
Permasalahan yang sedang kita bahas bukanlah termasuk dalam kategori tersebut, karena dalam lafaz orang yang menjatuhkan talak tidak terdapat syarat maupun konsekuensi. Memang, di dalamnya terdapat sifat dan yang disifati serta keterkaitan pada hukum ini. Jika talak yang didahulukan, yang dimaksud dengan ucapannya “sebelumnya”, disifati sebagai talak yang mendahului, maka hendaknya talak itu terjadi setelahnya. Namun jika talak itu terjadi terlebih dahulu, maka ia bukanlah talak yang mendahului. Ini termasuk dalam kategori tidak terpenuhinya sifat, kemudian tidak terpenuhinya talak yang didahului secara hakiki, karena tidak mungkin ada talak yang didahului pada wanita yang belum digauli jika talak itu dijatuhkan secara bersamaan. Maka, ini bukanlah termasuk dalam kategori daur (lingkaran), meskipun secara kemustahilan karena keterkaitan, ia menyerupainya.
ولو صحّ هذا لقال أبو زيد لا يلحقها طلقة وإن كان الشرط المنجّز عنده يقع في مسألة الدَّور
Seandainya hal ini benar, tentu Abu Zaid akan mengatakan bahwa talak tidak jatuh padanya, meskipun syarat yang ditetapkan menurutnya berlaku dalam masalah ad-daur.
فالوجه وراء هذا أن نقول إن أوقعنا مضمون قوله أنت طالق أولاً فهذه تلحقها طلقة كما قدمنا وإن رأينا في المدخول بها أن نوقع أولاً مضمون قوله قبلها فيحتمل وجهين أحدهما ما ذكرناه وتوجيهه الصفة والموصوف
Alasan di balik hal ini adalah bahwa jika kita menjatuhkan terlebih dahulu makna ucapannya “engkau tertalak”, maka jatuhlah satu talak atasnya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Namun jika kita memandang pada istri yang sudah digauli bahwa kita menjatuhkan terlebih dahulu makna ucapannya sebelum itu, maka terdapat dua kemungkinan: salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan, dan penjelasannya adalah antara sifat dan yang disifati.
ويحتمل أن نقول يقع طلقة فإنه قصد توزيع طلقتين على زمانين ولا يكون طلقة قط صِفة لطلقة فعلى هذا يلحقها الأولى وكأن هذه العبارة بمثابة قول القائل أنت طالق طلقةً وطلقةً فإذاً نُجْري الوجهين على أحد الوجهين ونوجههما بهذا فأما الأخذ من قول ابن الحداد وقول أبي زيد فلا وجه له
Dan mungkin dapat dikatakan bahwa jatuh satu talak, karena ia bermaksud membagi dua talak pada dua waktu yang berbeda, dan tidak mungkin satu talak menjadi sifat bagi talak lainnya. Maka berdasarkan hal ini, talak yang pertama yang dikenakan kepadanya. Seakan-akan ungkapan ini seperti ucapan seseorang: “Engkau tertalak satu talak dan satu talak.” Maka kita jalankan dua pendapat pada salah satu dari dua pendapat tersebut dan menafsirkannya dengan cara ini. Adapun mengambil dari pendapat Ibn al-Haddad dan pendapat Abu Zaid, maka tidak ada dasarnya.
ولو قال للتي دخل بها أنت طالق طلقة قبل طلقة أو قال أنت طالق طلقة بعدها طلقة فاللفظان معناهما واحد ولا حاجة بنا إلى تكلف بيان ذلك فليتأمله الناظر واستواء هذين اللفظين في معنيهما كاستواء اللفظين الأوّلين في معناهما
Jika seseorang berkata kepada istri yang telah digaulinya, “Engkau tertalak satu kali sebelum talak satu,” atau ia berkata, “Engkau tertalak satu kali setelahnya talak satu,” maka kedua ungkapan tersebut maknanya sama, dan kita tidak perlu bersusah payah menjelaskan hal itu. Hendaknya yang memperhatikan memperhatikan hal ini, dan kesamaan kedua ungkapan ini dalam maknanya seperti kesamaan dua ungkapan pertama dalam maknanya.
فإذا خاطب بما ذكرناه امرأته المدخولَ بها وقعت طلقتان وإذا قال لغير المدخول بها أنت طالق طلقة قبل طلقةٍ أو طلقة بعدها طلقة فتلحقها طلقةٌ لا محالة فإن الطلقة الموقعة أولى وإذا كانت أولى فإنها تقع وقد يتمسك الفطن بهذا محتجاً لأحد الوجهين في المسألة الأولى ويقول إن صح مذهب الوصف والموصوف وجب أن يقال لا تقع الطلقة الأولى فإنها لا تقبل الوصف باستعقاب أخرى وإذا امتنع هذا فقد زالت الصفة فيزول الموصوف
Jika seseorang mengucapkan sebagaimana yang telah kami sebutkan kepada istrinya yang sudah digauli, maka jatuhlah dua talak. Dan jika ia mengucapkan kepada istri yang belum digauli, “Engkau tertalak satu talak sebelum talak atau satu talak setelah talak,” maka pasti akan jatuh satu talak kepadanya, karena talak yang dijatuhkan lebih utama. Dan jika itu lebih utama, maka talak tersebut jatuh. Orang yang cerdas dapat berpegang pada hal ini sebagai dalil untuk salah satu pendapat dalam masalah pertama, dan mengatakan: Jika pendapat tentang sifat dan yang disifati benar, maka harus dikatakan bahwa talak pertama tidak jatuh, karena talak tersebut tidak menerima sifat dengan diiringi talak lain. Jika hal ini tidak mungkin, maka sifat tersebut hilang, sehingga yang disifati pun hilang.
وقد ينقدح عن هذا جواب لا يخفى فإن الرجل إذا قال لأمته أول ولدٍ تلدينه فهو حر فإذا ولدت عن نكاح أو سفاح عَتَق وإن لم تلد بعده وستأتي هذه الألفاظ بمعانيها إن شاء الله
Dari hal ini mungkin muncul sebuah jawaban yang tidak samar, yaitu apabila seorang laki-laki berkata kepada budaknya perempuan, “Anak pertama yang engkau lahirkan adalah merdeka,” maka jika ia melahirkan anak baik dari pernikahan maupun dari zina, anak itu menjadi merdeka, meskipun setelahnya ia tidak melahirkan lagi. Istilah-istilah ini dan maknanya akan dijelaskan kemudian, insya Allah.
ولو قال للتي دخل بها أنت طالق طلقة معها طلقة أو مع طلقة طلقت طلقتين واختلف أصحابنا في كيفية وقوعهما فمنهم من قال يقعان معاً لأن كلمة مع للاقتران والوفاءُ بمعنى لفظه ممكن فيجب الحكم بالإيقاع على نحو ما ذكره ومعنى لفظه الجمع
Jika seseorang berkata kepada istri yang telah digaulinya, “Engkau aku talak satu kali bersama satu talak” atau “dengan satu talak”, maka ia jatuh talak dua kali. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang bagaimana kedua talak itu jatuh. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa keduanya jatuh sekaligus, karena kata “bersama” (ma‘a) menunjukkan keterkaitan, dan memenuhi makna lafaznya memungkinkan, maka wajib menetapkan jatuhnya talak sebagaimana yang disebutkan. Makna lafaz tersebut adalah penggabungan.
والوجه الثاني أنه تقع طلقة وتعقبها طلقة أخرى فإنه أتى بلفظتين ليست واحدة منهما تفسيراً للأخرى وكل لفظة مستقلة فليقع الطلاقان بهما في زمانيهما وقد صدرا منه في زمانين فليقع كلّ طلاق عند منقرض كل لفظ وليس كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً فإن آخر الكلام بيانُ الأول
Pendapat kedua adalah bahwa terjadi satu talak kemudian diikuti oleh talak lainnya, karena ia mengucapkan dua lafaz yang masing-masing bukan penjelasan bagi yang lain, dan setiap lafaz berdiri sendiri, maka kedua talak itu jatuh dengan kedua lafaz tersebut pada waktunya masing-masing. Kedua lafaz itu diucapkan pada dua waktu yang berbeda, maka setiap talak jatuh pada akhir setiap lafaz. Hal ini berbeda dengan jika ia berkata, “Engkau tertalak tiga,” karena akhir ucapan tersebut merupakan penjelasan bagi yang pertama.
ويتّصل ببيان الوجهين أنا إذا قلنا يقع الطلاقان في وقتين فلا إشكال أنهما يترتبان وإن قلنا يقعان معاً فلا يقع بقوله أنت طالق طلقة شيء حتى يتنجّز الفراغ من اللفظ الأخير ويتنزل اللفظان منزلة قول القائل أنت طالق ثلاثاًً وقد أوضحنا أنه إذا جرى هذا اللفظ ولم يطرأ مانع وقع الثلاث مع الفراغ من آخر الكلام
Terkait dengan penjelasan dua sisi tersebut, apabila kita mengatakan bahwa dua talak itu terjadi pada dua waktu yang berbeda, maka tidak ada masalah bahwa keduanya berurutan. Namun, jika kita mengatakan bahwa keduanya terjadi secara bersamaan, maka dengan ucapan “engkau tertalak satu kali” tidak terjadi apa-apa sampai selesai pengucapan lafaz terakhir, dan kedua lafaz itu diposisikan seperti ucapan seseorang “engkau tertalak tiga kali”. Kami telah menjelaskan bahwa apabila lafaz ini diucapkan dan tidak ada penghalang yang muncul, maka tiga talak itu jatuh setelah selesai dari ucapan terakhir.
فإذا تبين هذا فرّعنا على الصورة التي ذكرناها مخاطبة المرأة التي لم يدخل بها بما ذكرناه فإذا قال أنت طالق طلقة مع طلقة أو قال معها طلقة فإن قلنا في المدخول بها يلحقها طلاق واحد ثمّ يعقبه طلاق فإذا لم يكن مدخولاً بها لحقها طلاق ولم تلحقها أخرى وإذا قلنا في المدخول بها إن الطلاقين يلحقانها على جمع واقتران فنقول يلحق غيرَ المدخول بها طلاقان كما لو قال لها أنت طالق طلقتين
Jika hal ini telah jelas, maka kami turunkan hukum pada kasus yang telah kami sebutkan, yaitu berbicara kepada perempuan yang belum digauli dengan apa yang telah kami jelaskan. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak bersama satu talak,” atau berkata, “bersamanya satu talak,” maka jika menurut pendapat bahwa pada perempuan yang sudah digauli jatuh satu talak lalu diikuti talak berikutnya, maka jika belum digauli, jatuh satu talak dan tidak jatuh talak yang lain. Namun jika menurut pendapat bahwa pada perempuan yang sudah digauli dua talak jatuh sekaligus dan bersamaan, maka pada perempuan yang belum digauli juga jatuh dua talak, sebagaimana jika ia berkata kepadanya, “Engkau tertalak dua talak.”
وقال أبو حنيفة إذا قال لغير المدخول بها أنت طالق طلقة قبلها طلقة أو بعد طلقة تقع طلقتان
Abu Hanifah berkata, jika seseorang mengatakan kepada istri yang belum dicampuri, “Engkau tertalak satu kali yang sebelumnya ada talak atau setelah talak,” maka jatuh dua talak.
وهذا يخالف جميعَ مسالكنا وهو قول من لا يدري ولا يحيط بحقائق الألفاظ فإن قوله قبلها و بعد صريح في الترتيب والنصِّ على الزمانين وقال إذا قال لها أنت طالق طلقة قبل طلقة أو بعدها طلقة وهي غير مدخول بها لم يلحقها إلا طلقة واحدة
Hal ini bertentangan dengan seluruh metode kami dan merupakan pendapat orang yang tidak mengetahui dan tidak memahami hakikat lafaz. Sebab, ucapannya “sebelumnya” dan “setelahnya” jelas menunjukkan urutan dan penegasan atas dua waktu. Dan dikatakan: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak satu kali sebelum talak atau setelah talak satu kali,” sedangkan ia belum digauli, maka tidak jatuh kepadanya kecuali satu talak saja.
فرع
Cabang
إذا قال أنت طالق طلقة تحت طلقة أو قال تحتها طلقة أو فوق طلقة أو فوقها طلقة أو على طلقة أو عليها طلقة فقد قال الأئمة هذا بمثابة ما لو قال أنت طالق طلقة مع طلقة أو معها طلقة فإن هذه الصلات تقتضي من الجمع ما يقتضيها مع فكان الجواب فيها كالجواب في مع
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak di bawah satu talak,” atau berkata, “Di bawahnya satu talak,” atau “Di atas satu talak,” atau “Di atasnya satu talak,” atau “Pada satu talak,” atau “Padanya satu talak,” para imam berpendapat bahwa hal ini sama seperti jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak bersama satu talak,” atau “bersamanya satu talak.” Karena kata-kata penghubung ini menunjukkan makna penggabungan sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata “bersama,” maka jawabannya dalam kasus ini sama seperti jawabannya dalam kasus “bersama.”
فرع
Cabang
لو قال لغير المدخول بها إن دخلت الدار فأنت طالق وطالق فدخلت الدار فكم يلحقها من الطلاق اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال لا يلحقها إلا طلقة واحدة لأن المعلَّق بلفظ بمثابة المنجّز عند وجود الصفة فكأنه قال لها عند الدخول أنت طالق وطالق ولو نجّز ذلك على هذا الوجه لم يلحقها إلا واحدة
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak dan tertalak,” lalu ia masuk ke dalam rumah, berapa talak yang jatuh padanya? Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang jatuh hanya satu talak saja, karena talak yang digantungkan dengan suatu lafaz itu kedudukannya seperti talak yang langsung dijatuhkan ketika syaratnya terpenuhi. Maka seakan-akan ia berkata kepadanya saat masuk, “Kamu tertalak dan tertalak.” Jika ia menjatuhkan talak secara langsung dengan cara seperti ini, maka yang jatuh hanya satu talak saja.
والوجه الثاني أنه يلحقها الطلاقان فإن كل واحد منهما معلّق بالدخول ولو فرضا في حق المدخول بها لقيل وقعا معاً مع الدخول أو على الترتيب كما أشرنا إليه وليس كما لو نجَّز فقال أنت طالق وطالق فإن كل لفظ مستقل بتنجيز الطلاق ولا تعلّق لأحد اللفظين بالآخر ونحن في الطلاق المعلق لا نقدّر تصحيح النطق بالطلاق عند وجود الصّفة فإنه لو قال لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق ثم جُنَّ فدخلت الدار وقع الطلاق وإن لم يكن الزوج عند دخول الدار من أهل التطليق فإذاً الطلاقان يتساوقان في الدخول ويقعان على جمع
Pendapat kedua adalah bahwa kedua talak tersebut mengikuti satu sama lain, karena masing-masing dari keduanya digantungkan pada terjadinya masuk (ke dalam rumah). Seandainya keduanya terjadi pada istri yang sudah digauli, maka dapat dikatakan bahwa keduanya jatuh bersamaan saat masuk, atau secara berurutan sebagaimana telah kami isyaratkan. Hal ini berbeda dengan jika suami mengucapkan secara langsung, “Engkau tertalak, dan tertalak,” karena setiap lafaz berdiri sendiri dalam menegaskan talak dan tidak ada keterkaitan antara satu lafaz dengan lafaz lainnya. Dalam kasus talak yang digantungkan (mu‘allaq), kita tidak mensyaratkan sahnya pengucapan talak pada saat terjadinya sifat (syarat), karena jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” lalu ia menjadi gila, kemudian istrinya masuk ke dalam rumah, maka talak tetap jatuh, meskipun pada saat istri masuk ke dalam rumah suami bukan termasuk orang yang berhak menjatuhkan talak. Maka dari itu, kedua talak tersebut berjalan bersamaan dalam kaitannya dengan masuk ke dalam rumah dan keduanya jatuh sekaligus.
وهذا فيما إذا قدّم الشرط وقال إن دخلت الدار فأنت طالق وطالق
Ini berlaku apabila syarat didahulukan, misalnya seseorang berkata: “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak dan tertalak.”
فأما إذا أخّر الشرط وقال أنت طالق وطالق إن دخلت الدار فهذا رتّبه الأصحاب على ما لو قدّم الشرط فإن قلنا هناك يقع طلقتان فهاهنا أولى وإن قلنا هناك يقع واحدة فهاهنا وجهان والأظهر وقوعهما فإنه قدّم ذكر الطلاق ثم ذكر الرابط من بعد فكان مشبهاً بما لو قال أنت طالق ثلاثاًً
Adapun jika syaratnya diakhirkan, seperti seseorang berkata, “Engkau tertalak, dan tertalak jika engkau masuk rumah,” maka para ulama mengaitkannya dengan kasus jika syarat didahulukan. Jika menurut pendapat di sana jatuh dua talak, maka di sini lebih utama lagi. Dan jika di sana jatuh satu talak, maka di sini terdapat dua pendapat, dan yang lebih kuat adalah jatuhnya dua talak, karena ia mendahulukan penyebutan talak kemudian menyebutkan penghubung setelahnya, sehingga hal itu menyerupai ucapan, “Engkau tertalak tiga kali.”
وهذا الترتيب لا يتحصَّل عندنا والتعليق شرطٌ قدِّم أو أخِّر والوقوع جزاء قدّم أو أخر فلا يعتدّ بمثل هذا إلا من لا دُرْبَة له في نظم الكلام والعربيّة
Urutan seperti ini tidak berlaku menurut kami, dan ta‘liq (penggantungan hukum) adalah syarat, baik didahulukan maupun diakhirkan, sedangkan terjadinya (peristiwa) adalah sebagai konsekuensi, baik didahulukan maupun diakhirkan. Maka, hal seperti ini tidak dianggap kecuali oleh orang yang tidak memiliki keahlian dalam tata bahasa dan bahasa Arab.
فصل قال وإن قال رأسكِ أو شعرك إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Jika ia berkata: kepalamu, atau rambutmu, dan seterusnya.”
إذا أضاف الطلاق إلى جزء يتصل بها اتصال خِلقة مثل أن يقول رأسُكِ أو يدكِ أو شعركِ طالق فيقع الطلاق ولو أضاف الطلاق إلى جنينها لم يقع الطلاق اتفق عليه نقلة المذهب
Jika seseorang menisbatkan talak kepada bagian tubuh yang menyatu dengannya secara penciptaan, seperti mengatakan, “Kepalamu, tanganmu, atau rambutmu tertalak,” maka talak jatuh. Namun, jika talak dinisbatkan kepada janin dalam kandungannya, maka talak tidak jatuh. Hal ini telah disepakati oleh para perawi mazhab.
ولو أضاف الطلاق إلى فضلات بدنها كالدمع والريق والبول والعرق وما في معناها ففي المسألة وجهان أصحهما أنه لا يقع لأن هذه الأجزاء لا يلحقها الحلّ والحرمة وليست متَّصلة بها اتصال خلقة فإن قيل ما الفرق بين هذه الأشياء وبين الجنين والجنين متكون من فضلة منها قلنا ولكن له حكم الاستقلال والانفصال
Jika seseorang menjatuhkan talak dengan mengaitkannya pada bagian-bagian sisa dari tubuh istrinya seperti air mata, air liur, air kencing, keringat, dan yang semakna dengannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah talak tersebut tidak jatuh, karena bagian-bagian ini tidak terkait dengan status halal dan haram, serta tidak terhubung dengan tubuhnya secara penciptaan. Jika ada yang bertanya, apa bedanya antara bagian-bagian ini dengan janin, padahal janin juga terbentuk dari sisa tubuhnya, maka kami katakan: janin memiliki status kemandirian dan terpisah.
وإذا قال روحك طالق وقع الطلاق فإنه يعبَّر به عن الجملة وكأنه الأصل المقوِّم وما عداه فرع
Jika seseorang berkata, “Ruhmu tertalak,” maka talak jatuh, karena ungkapan tersebut digunakan untuk menyatakan keseluruhan diri, seolah-olah ruh adalah unsur pokok yang membentuk seseorang, sedangkan selainnya adalah cabang.
وإذا قال دمك طالق فلأصحابنا طريقان منهم من قطع بوقوع الطلاق فإن الدم في معنى الروح إذ به قوام البدن وليس من الفضلات التي تنفضها الطبيعة كالبول وما في معناه
Jika seseorang berkata, “Darahmu talak,” menurut para ulama kami terdapat dua pendapat. Sebagian dari mereka menegaskan jatuhnya talak, karena darah itu serupa dengan ruh, sebab dengannya tubuh tetap hidup, dan darah bukan termasuk kotoran yang dikeluarkan oleh tubuh seperti air kencing dan yang semisalnya.
ومنهم من قال نُجري الوجهين في الدم لأنه غير متصل اتصال التحام والتئام وليس الروح المقوِّم بمثابة الفضلات ثم البدن لا يخلو عن الفضلات وتنفض الطبيعة بعضها والدم كذلك
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kedua pendapat itu berlaku pada darah, karena darah tidak menyatu secara erat dan menyeluruh, dan ruh yang membentuk bukanlah seperti kotoran-kotoran, kemudian tubuh tidak pernah lepas dari kotoran, dan sebagian kotoran itu dikeluarkan oleh tabiat, demikian pula darah.
ولو قال للمرأة لبنك طالق أو قال منيّك طالق قال الأصحاب اللبن كالرجيع والبول فإنه يُنْتَفَض لا محالة بخلاف الدّم القارّ في العروق وإذا قال منيك طالق فهو في معنى اللبن فإن ما يصير منيّاً يُنْتَفَض ومادته الدّم وما دام دماً لا يكون منيّاً
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Susumu talak” atau berkata, “Manimu talak,” para ulama berpendapat bahwa susu itu seperti kotoran dan air kencing, maka pasti akan keluar dan tidak bisa dicegah, berbeda dengan darah yang masih menetap di pembuluh darah. Dan jika ia berkata, “Manimu talak,” maka maknanya sama dengan susu, karena sesuatu yang akan menjadi mani pasti akan keluar, dan asalnya adalah darah. Selama masih berupa darah, ia belum menjadi mani.
ولو أضاف الطلاق إلى صفة من الصفات التي ليست من الأجزاء كالحُسن والقبح واللون لم يقع الطلاق
Jika seseorang mengaitkan talak dengan suatu sifat yang bukan merupakan bagian (dari tubuh), seperti kecantikan, keburukan, atau warna, maka talak tidak terjadi.
ولو قال سِمَنُك طالق فالسِّمَن جزء من أجزائها ملتحم بها
Jika seseorang berkata, “Lemakmu tertalak,” maka lemak adalah bagian dari anggota tubuhnya yang menyatu dengannya.
ولو قال شحمك طالق والشحم على الثَّرْب كالشيء الجامد ولا التحام له ولا روح فيه وإذا اندلقت حشوةُ الإنسان من الجرح فيُبَان الشحم منه ولا يألم فهذا فيه ضرب من التردد وليس عندنا مذهبٌ ننقله
Jika seseorang berkata, “Lemakmu tertalak,” sedangkan lemak menempel pada lapisan perut seperti benda padat yang tidak menyatu dan tidak memiliki ruh di dalamnya, dan apabila isi perut seseorang keluar karena luka, maka lemak itu akan tampak dan tidak menimbulkan rasa sakit, maka dalam hal ini terdapat unsur keraguan, dan tidak ada mazhab yang kami ketahui yang meriwayatkannya.
ولو قال حياتك طالق والحياة صفة فالأشبه أنها بمعنى الروح ولا يختبطن الفقيه في الروح والحياة فيقع فيما لا يعنيه
Jika seseorang berkata, “Hidupmu talak,” sedangkan kehidupan adalah sifat, maka yang lebih mendekati adalah bahwa maksudnya adalah ruh. Seorang faqih tidak sepatutnya mencampuradukkan antara ruh dan kehidupan sehingga terjerumus pada hal yang tidak menjadi urusannya.
ولو أبينت أذنها فالصقتها بحرارة الدم والتحمت إن أمكن ذلك وتُصوّر فلو أضاف الطلاق إلى هذه الأذن الملتحمة ففي وقوع الطلاق وجهان أحدهما أنه يقع للاتصال الحقيقي من جهة الخلقة
Jika telinganya terlepas lalu ditempelkan kembali dengan panas darah dan menyatu, jika hal itu memungkinkan dan dapat dibentuk kembali, kemudian seseorang menisbatkan talak kepada telinga yang telah menyatu tersebut, maka dalam jatuhnya talak terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah talak jatuh karena adanya keterhubungan yang nyata dari sisi penciptaan.
والوجه الثاني أنه لا يقع لأنها مستحقة الإبانة والفصل لأجل الصلاة فكأنها كالمبانة وحكمها حكم الجماد والميتة وهذه المسألة صوّرها الفقهاء وبنَوْا الحكم على اعتقاد تصوّرها وهي ليست متصوَّرة فإن ما أبين وفصل لا يلتحم قط في طرد العادة وقد يبان البعض فيلتحم ما أبين ومثل هذا لو أضيف الطلاق إليه وبعضه مبانٌ غير ملتحم فالطلاق يقع مع انقطاع البعض قبل التحامه
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tidak terjadi karena anggota tubuh yang terpisah itu memang seharusnya dipisahkan dan dilepaskan demi keperluan salat, sehingga keadaannya seperti anggota tubuh yang sudah terpisah (mubānah), dan hukumnya sama dengan benda mati atau bangkai. Para fuqaha telah membahas masalah ini dan menetapkan hukum berdasarkan anggapan bahwa hal tersebut dapat terjadi, padahal sebenarnya tidak mungkin terjadi; sebab anggota tubuh yang telah dipisahkan dan dilepaskan tidak akan pernah menyatu kembali menurut kebiasaan. Namun, terkadang sebagian anggota tubuh terpisah lalu dapat menyatu kembali. Dalam kasus seperti ini, jika talak dikaitkan dengan anggota tubuh tersebut, sementara sebagian sudah terpisah dan belum menyatu, maka talak terjadi ketika sebagian anggota tubuh itu terputus sebelum sempat menyatu kembali.
ولو أضاف إلى الأخلاط المنسلكة في البدن كالبلغم والمِرّتين فسبيل الإضافة إليها كسبيل الإضافة إلى فضلات البدن وليس كالدّم فإن به قوام البدن وهو مادة خَلَف ما ينحل من الإنسان
Jika ia menambahkan pada cairan-cairan tubuh yang mengalir di dalam badan seperti dahak dan dua empedu, maka cara menisbatkannya sama seperti menisbatkan pada sisa-sisa tubuh, dan tidak seperti darah, karena darah merupakan penopang tubuh dan menjadi bahan pengganti dari apa yang hilang dari manusia.
ومن بقية الكلام في هذا الفصل أنه إذا أضاف الطلاق إلى جزء منفصلٍ أو إلى جزء شائع وحكمنا بوقوع الطلاق فللأصحاب اختلاف مشهور في تقدير ذلك فمنهم من قال يصادف الطلاق الجزء المعيّن أو الشائع ثم يسري منه ويستوعب كما يسري العتق من النصف
Dan sisa pembahasan dalam bab ini adalah bahwa jika seseorang menisbatkan talak kepada bagian yang terpisah atau kepada bagian yang bersifat syuyu‘ (tidak tertentu), lalu kita memutuskan jatuhnya talak, maka para ulama memiliki perbedaan pendapat yang masyhur dalam menilai hal tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa talak mengenai bagian yang tertentu atau yang syuyu‘ terlebih dahulu, kemudian menyebar darinya dan mencakup seluruhnya, sebagaimana pembebasan budak yang menyebar dari setengah bagian.
ومنهم من قال تقديرُ وقوع الطلاق بتنزيل عضو أو جزء منزلة الكل فإذا قال يدك طالق أو نصفك طالق كان كما لو قال أنت طالق وإذا كان التقدير على هذا الوجه فلا حاجة إلى تقدير توجيه الطلاق على البعض والتسرية منه إلى الباقي
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa penetapan terjadinya talak dilakukan dengan menjadikan suatu anggota tubuh atau sebagian tubuh setara dengan keseluruhan. Maka jika seseorang berkata, “Tanganmu tertalak” atau “Separuhmu tertalak,” hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak.” Jika penetapannya seperti ini, maka tidak perlu lagi memperkirakan pengkhususan talak pada sebagian dan penularannya kepada bagian yang lain.
توجيه الوجهين
Penjelasan kedua sisi
من قال يقدّر فيه التَّسرية استدلّ بمقتضى اللفظ أولاً وبما استشهدنا به من التسرية في العتق
Siapa yang berpendapat bahwa dalam hal ini diperkirakan adanya tasriyyah, ia berdalil berdasarkan makna lafaz terlebih dahulu dan juga dengan apa yang telah kami jadikan sebagai dalil berupa tasriyyah dalam masalah pembebasan budak.
ومن قال لا تقدر التسرية احتج بأن الطلاق لا يفرض له ثبات على جزء شائع حتى يُبنى عليه التسرية منه وليس كذلك العتق المضاف إلى الجزء الشائع وإذا كانت التسرية نتيجة إمكان الثبات على الجزء المذكور وذلك غير ممكن في الطلاق فيتصدّى بعد ذلك إبطال اللفظ وإلغاؤه أو إعمالهُ بتنزيله منزلة مخاطبة الجملة فإذا لم يمكن الإلغاء لم يبق إلا الوجه الثاني
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa tasyriyyah tidak dapat dilakukan, ia berdalil bahwa talak tidak dapat ditetapkan pada bagian yang tidak tertentu (bagian syu‘ā‘) sehingga tasyriyyah tidak dapat dibangun atasnya, berbeda dengan pembebasan budak (‘itq) yang disandarkan pada bagian syu‘ā‘. Jika tasyriyyah merupakan akibat dari kemungkinan penetapan pada bagian tersebut, sedangkan hal itu tidak mungkin dalam talak, maka setelah itu muncul dua kemungkinan: membatalkan dan meniadakan lafaz tersebut, atau mengamalkannya dengan menempatkannya seperti berbicara kepada keseluruhan. Jika pembatalan tidak mungkin dilakukan, maka tidak tersisa kecuali kemungkinan kedua.
والذي يحقق هذا أنه لو قال أنتِ طالق نصف طلقةٍ لم يفرض ثبوتٌ وسريان بل جعل النصف عبارة عن الكل فإذاً ثبت الوجهان وفائدتهما أن الرجل إذا قال لامرأته إن دخلت الدار فيمينك طالق فقُطعت يمينها ثم دخلت الدار فإن جعلنا تنفيذ الطلاق بتقدير التسرية من الجزء المعين لم يقع الطلاق لأن التسرية تستدعي تمكيناً من أصل وذلك الأصل زائل
Yang menjelaskan hal ini adalah bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak setengah talak,” maka tidak ditetapkan adanya talak dan tidak pula berlakunya talak, melainkan setengah itu dianggap sebagai keseluruhan. Maka, terdapat dua pendapat dalam hal ini dan manfaat dari kedua pendapat tersebut adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, tangan kananmu tertalak,” lalu tangan kanannya terputus kemudian ia masuk ke dalam rumah, maka jika kita menganggap pelaksanaan talak itu bergantung pada penyebaran dari bagian tertentu, maka talak tidak terjadi karena penyebaran itu memerlukan keberadaan asalnya, sedangkan asalnya telah tiada.
وإن جعلنا العبارة عن الجزء عبارة عن الكل فالطلاق واقع وقوله يمناك بمثابة قوله أنت طالق
Dan jika kita menganggap ungkapan tentang sebagian sebagai ungkapan tentang keseluruhan, maka talak terjadi, dan ucapannya “tangan kananmu” sama kedudukannya dengan ucapannya “engkau tertalak.”
ولو قال لامرأته التي لا يمنى لها يمناك طالق فمن أصحابنا من خرّج هذا على التردد الذي ذكرناه وقال إن جعلنا ذكر الجزء كالكل فالطلاق واقع وإن قدرنا التسرية لم يقع
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang tangan kanannya tidak ada, “Engkau tertalak dengan tangan kananmu,” maka sebagian ulama dari kalangan kami meng-qiyās-kan hal ini pada kasus keraguan yang telah kami sebutkan. Mereka mengatakan, jika kita menganggap penyebutan sebagian anggota tubuh sama dengan keseluruhan, maka talak jatuh. Namun jika kita menganggap adanya penyebaran makna (tasyriyyah), maka talak tidak jatuh.
وهذا غير سديد في هذا المحل والوجه القطع بأن الطلاق لا يقع لأن العبارة لم تصادف معبَّراً فكان كما لو قال لامرأته لحيتك طالق أو قال ذكرك طالق
Ini tidaklah tepat dalam konteks ini, dan pendapat yang benar adalah bahwa talak tidak jatuh karena ungkapan tersebut tidak mengenai objek yang dapat dijadikan sasaran, sehingga keadaannya seperti jika seseorang berkata kepada istrinya, “Janggutmu tertalak,” atau berkata, “Kemaluanmu tertalak.”
وهذا يجب أن يكون متفقاًعليه
Dan hal ini harus menjadi sesuatu yang disepakati.
ولو أضاف العتق إلى عضوٍ معيّن من عبدِه اختلف الأصحاب فيه أيضاً على حسب ما ذكرناه في الطلاق فإن تقدير تثبيت العتاق في الجزء المعيّن ليبنى عليه التسرية مستحيل فكان العتاق فيه كالطلاق في الجزء الشائع والمعيّن ولو قال مالك العبد نصفك حرٌّ فظاهر المذهب تقدير التسرية
Jika seseorang menisbatkan pembebasan (‘itq) kepada anggota tertentu dari budaknya, para ulama juga berbeda pendapat dalam hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam masalah talak. Karena menetapkan kebebasan pada bagian tertentu untuk kemudian dijadikan dasar tasyriyyah (penyebaran hukum ke seluruh tubuh) adalah mustahil, maka pembebasan dalam hal ini sama seperti talak pada bagian yang tidak tertentu maupun yang tertentu. Jika pemilik budak berkata kepada budaknya, “Setengah dari dirimu merdeka,” maka pendapat yang tampak dalam mazhab adalah memperkirakan terjadinya tasyriyyah.
ومن أصحابنا من قال النصف في العبد الخالص عبارة عن الكل ولا يسلك فيه مسلك التسرية فإن العتق في المملوك الواحد لا يتبعض وإنما تفرض التسرية من ملك إلى ملك
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa setengah pada budak murni itu bermakna seluruhnya, dan tidak ditempuh padanya cara tasriyyah, karena pembebasan pada satu budak tidak dapat dibagi-bagi, dan tasriyyah itu hanya dapat diterapkan dari satu kepemilikan ke kepemilikan lain.
وما ذكرناه من الإضافة إلى الجزء المعين والشائع لا يجرى إلا فيما يقبل التعليق بالأغرار ويبنى على السّريان والغلبة قال القاضي إضافة الإقالة والفسوخ إلى الجزء المعين فاسد لاغٍ فإن الفسوخ ينحى بها نحو العقود ولا تُعَلّقُ كما لا تُعَلَّقُ العقود فما لا تصح إضافة العقد إليه لا يصح إضافة الفسخ إليه والإقالة بين أن تكون بيعاً أو فسخ بيع
Apa yang telah kami sebutkan mengenai penyandaran kepada bagian tertentu dan bagian yang tidak tertentu (syā’i‘) hanya berlaku pada hal-hal yang dapat dikaitkan dengan risiko dan dibangun di atas asas keberlanjutan dan dominasi. Al-Qadhi berkata, penyandaran pembatalan (iqālah) dan pembatalan akad (fusūkh) kepada bagian tertentu adalah batal dan tidak sah, karena pembatalan akad diperlakukan seperti akad itu sendiri dan tidak dapat digantungkan, sebagaimana akad juga tidak dapat digantungkan. Maka, sesuatu yang tidak sah untuk disandarkan akad kepadanya, tidak sah pula untuk disandarkan pembatalan akad kepadanya. Adapun iqālah, terdapat perbedaan pendapat apakah ia merupakan jual beli atau pembatalan jual beli.
فصل قال ولو قال أنت طالق بعض تطليقة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Engkau tertalak sebagian talak,” dan seterusnya.
إذا قال لامرأته أنت طالق بعض تطليقة طلقت طلقة واحدة وهذا على مذهب تنزيل العبارة عن البعض منزلة العبارة عن الكل ولا تتخيل التسرية في ذلك
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak sebagian talak,” maka istrinya tertalak satu kali talak. Hal ini menurut mazhab yang memposisikan ungkapan tentang sebagian sama dengan ungkapan tentang keseluruhan, dan tidak dibayangkan adanya tasyriyyah dalam hal ini.
ولو قال أنت طالق ثلاثة أنصاف طلقة أو أربعة أثلاث أو خمسة أرباع أو ما شابه ذلك فزاد على الأجزاء الطبيعية ففي المسألة وجهان أحدهما أنه لا يقع إلا طلقة فإنه أضاف الأجزاء التي ذكرها إلى طلقة واحدة فكان الاعتبار بالمضاف إليه فإن زادت الأجزاء فالزائد ملغى فإن الأضافة من غير مضاف إليه لاغية لا حقيقة لها
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga setengah talak,” atau “empat pertiga,” atau “lima seperempat,” atau yang semisalnya, sehingga melebihi bagian-bagian yang wajar, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa yang jatuh hanyalah satu talak, karena ia telah menisbatkan bagian-bagian yang disebutkan itu kepada satu talak, sehingga yang menjadi acuan adalah yang dinisbatkan kepadanya. Jika bagian-bagian itu melebihi, maka kelebihannya dianggap tidak ada. Sebab, penisbatan tanpa sesuatu yang dinisbatkan kepadanya adalah batal dan tidak memiliki hakikat.
والوجه الثاني أنه يقع طلقتان فإنه زاد على أجزاء طلقة فانصرف نصفان إلى طلقة وتمت بهما والزائد محتسب من طلقة أخرى والطلاق على الغلبة والسّريان
Pendapat kedua adalah bahwa jatuh dua talak, karena ia menambah dari bagian-bagian satu talak, maka dua setengah bagian itu diarahkan kepada satu talak dan sempurna dengannya, sedangkan sisanya dihitung sebagai bagian dari talak yang lain, dan talak itu berlaku menurut keumuman dan kelangsungannya.
وحقيقة الوجهين ترجع إلى أن من الأصحاب من يعتبر المضاف إليه ولا يزيد عليه ومنهم من ينظر إلى الأجزاء المذكورة فإن كانت على قدر طلقة أو أقل نفذت طلقة وإن كان في الأجزاء المذكورة زيادة فهي محتسبة طلقة أخرى
Hakikat dari dua pendapat tersebut kembali kepada bahwa sebagian ulama dari kalangan mazhab memperhitungkan pihak yang menjadi mudhaf ilaih saja dan tidak menambahkannya, sementara sebagian yang lain melihat kepada bagian-bagian yang disebutkan; jika bagian-bagian tersebut seukuran satu talak atau kurang, maka berlaku satu talak, dan jika dalam bagian-bagian tersebut terdapat tambahan, maka tambahan itu dihitung sebagai talak yang lain.
ويتفرع على ما ذكرناه مسائل فإذا قال أنت طالق أربعة أنصاف طلقة ففي وجهٍ طلقة والزيادة لاغية وفي الوجه الثاني طلقتان
Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, terdapat beberapa cabang permasalahan. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak empat setengah talak,” maka menurut satu pendapat jatuh satu talak dan selebihnya dianggap tidak sah, sedangkan menurut pendapat kedua jatuh dua talak.
وإذا قال خمسة أنصاف طلقة فهي في وجهٍ طلقة وفي وجهٍ ثلاث طلقات فإن الطلقتين يكملان بأربعة أنصافٍ والنصف الخامس يُعتد به من الطلقة الثالثة
Jika seseorang mengatakan “lima setengah talak”, maka menurut satu pendapat itu dihitung satu talak, dan menurut pendapat lain dihitung tiga talak. Sebab, dua talak dapat disempurnakan dengan empat setengah, dan setengah kelima dianggap sebagai bagian dari talak ketiga.
وعلى هذا قياس سائر الأجزاء إذا زادت على أجزاء واحدة
Demikian pula, hal ini menjadi qiyās bagi seluruh bagian lainnya jika jumlahnya melebihi satu bagian.
ولو قال أنت طالق نصف طلقتين وزعم أنه أراد نصفاً من كل طلقة وقعت طلقتان ولو أطلق لفظه فالأصح أنه لا يقع إلا طلقة فإنه يظهر حمل نصف الطلقتين على طلقة من غير أخذ جزء من كل طلقة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak setengah dari dua talak,” lalu ia mengklaim bahwa maksudnya adalah setengah dari setiap talak, maka jatuhlah dua talak. Namun, jika ia mengucapkannya secara mutlak, maka pendapat yang lebih sahih adalah yang jatuh hanya satu talak, karena tampak bahwa maksud dari setengah dua talak adalah satu talak, tanpa mengambil sebagian dari setiap talak.
ومن أعظم الأصول المعتبرة ألا نوقع الطلاق إلا على استيقان أو ظهورٍ يلي الاستيقان والضابط فيه أن يكون تقدير الحَيْد عن ذلك الظهور في حكم المستكره في الكلام المستبعد وحمل نصف الطلقتين على طلقة لا استكراه فيه
Dan di antara prinsip terpenting yang dijadikan pegangan adalah bahwa kita tidak menetapkan terjadinya talak kecuali berdasarkan keyakinan atau sesuatu yang tampak jelas yang mendekati keyakinan. Patokan dalam hal ini adalah bahwa kemungkinan berpaling dari kejelasan tersebut dianggap seperti orang yang dipaksa dalam ucapan yang tidak masuk akal, dan menetapkan setengah talak sebagai satu talak tidak mengandung unsur paksaan di dalamnya.
ومن أصحابنا من قال يقع طلقتان فإن نصف الطلقتين بمثابة نصف العبدين ونصف العبدين نصفٌ من كلّ عبدٍ فليكن الأمر كذلك في نصف الطلقتين
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa yang terjadi adalah dua talak, karena setengah talak itu seperti setengah dari dua budak, dan setengah dari dua budak berarti setengah dari setiap budak, maka hendaknya perkara ini juga demikian dalam setengah talak.
فإذا حمل هذا على الإشاعة لزم وقوع طلقتين وينشأ من هذا أنه لو قال لفلان نصف هذين العبدين ثم قال أردت أن أحد العبدين له لم يقبل ذلك منه وفاقاً والسّبب فيه أنهما شخصان فلا شك لا يتماثلان فإضافة النصف إليهما تتضمن إضافة النصف إلى كل واحد منهما لا محالة وليس كذلك إضافة النصف إلى طلقتين فإن الطلقتين تضاهيان عدداً محضاً من غير تمثيل معدودٍ فإذا أضيف النصف إلى اثنين من العدد اتّجه فيه الحمل على واحدٍ
Jika hal ini dikaitkan dengan penyebaran, maka akan mengakibatkan terjadinya dua talak. Dari sini timbul permasalahan, yaitu jika seseorang berkata kepada seseorang lain, “Bagimu setengah dari dua budak ini,” kemudian ia berkata, “Aku bermaksud salah satu dari kedua budak itu untukmu,” maka hal itu tidak diterima darinya menurut kesepakatan. Sebabnya adalah karena keduanya adalah dua individu yang jelas berbeda, sehingga tidak diragukan lagi bahwa keduanya tidak sama. Maka, menisbatkan setengah kepada keduanya berarti menisbatkan setengah kepada masing-masing dari keduanya, tanpa keraguan. Tidak demikian halnya dengan menisbatkan setengah kepada dua talak, karena dua talak itu menyerupai bilangan murni tanpa memperhatikan objek yang dihitung. Jika setengah dinisbatkan kepada dua dari suatu bilangan, maka penafsiran kepada salah satunya menjadi masuk akal.
ومن سلك المسلك الآخر جعل الحكم المسمى بالعدد كالشخص الماثل
Dan siapa yang menempuh jalan lain, ia menjadikan hukum yang disebut dengan ‘adad (jumlah) seperti sesuatu yang nyata di hadapan mata.
هذا إذا قال أنت طالق نصف طلقتين وأطلق
Ini jika seseorang berkata, “Engkau tertalak setengah dari dua talak,” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
فإن قال أردت بنصف الطلقتين طلقة فإن حملنا المطلَق على هذا فلا شك أنه إذا فسّر به قُبل وإن لم يحمل المطلق على هذا فإذا فسّر به ففيه وجهان ولهذا الفنّ أمثلة ومسائل مضى بعضها وسنكمل الأُنس بذكر باقيها
Jika ia berkata, “Yang aku maksud dengan setengah talak adalah satu talak,” maka jika lafaz yang diucapkan diarahkan pada makna ini, tidak diragukan lagi bahwa jika ia menjelaskannya demikian, penjelasannya diterima. Namun, jika lafaz yang diucapkan tidak diarahkan pada makna ini, lalu ia menjelaskannya demikian, maka terdapat dua pendapat. Untuk jenis permasalahan ini terdapat beberapa contoh dan persoalan; sebagian telah disebutkan dan kami akan melengkapi pembahasan dengan menyebutkan sisanya.
وبالجملة الألفاظ ومعانيها على مراتبَ عندنا فمنها ما لا سبيل فيه إلى الإزالة ظاهراً وباطناًً وهذا يفرض في جهات مخصوصة وهو ممثل بأن يقول لامرأته أنت طالق ثم زعم أنه نوى طلاقاً لا يقع فهذا مردود ظاهراً وباطناً وضبطه أنه لو صرح به متصلاً لرُدّ وأُلغي فلا يزيد منويُّه على ملفوظه
Secara ringkas, lafaz-lafaz dan maknanya memiliki beberapa tingkatan menurut kami. Di antaranya ada yang tidak mungkin dihilangkan baik secara lahir maupun batin, dan hal ini terjadi pada situasi-situasi tertentu. Contohnya adalah seseorang yang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia mengaku bahwa ia berniat talak yang tidak jatuh; maka pengakuan ini tertolak baik secara lahir maupun batin. Ketentuannya adalah, jika ia mengucapkan niat tersebut secara terang-terangan dalam satu rangkaian kalimat, maka akan ditolak dan dianggap tidak berlaku, sehingga apa yang diniatkan tidak lebih kuat daripada apa yang diucapkan.
والرتبة الثانية ما لا يُقبل فيه تغيير اللفظ ظاهراً ويدَيَّن اللافظ بينه وبين الله تعالى وهذا كقول القائل أنت طالق مع إضماره التطليق عن الوثاق وقد ضبطنا قاعدة التديين بما فيه أكملُ مَقْنع وهذه المرتبة تضبط بأن يضم اللافظ ما لا يعتاد إرادته باللفظ مع اختلاف الأحوال ثم ينقسم مسلك المذهب فمن الأصحاب من يضبطه بما يمكن النطق به ومنهم من يضبطه بذلك ويشترط معه إشعار اللفظ به في وضعه على بُعدٍ كالتطليق عن الوثاق
Tingkatan kedua adalah perkara yang tidak diterima perubahan lafaznya secara lahiriah, namun orang yang mengucapkannya bertanggung jawab di hadapan Allah Ta’ala. Contohnya adalah ucapan seseorang “Engkau tertalak” dengan maksud melepaskan ikatan (bukan talak dalam pernikahan). Kami telah menetapkan kaidah tentang pertanggungjawaban batin dengan penjelasan yang paling memadai. Tingkatan ini ditetapkan ketika pengucap mengandung maksud yang tidak lazim dimaksudkan dari lafaz tersebut dalam berbagai keadaan. Kemudian, dalam mazhab terdapat dua pendapat: sebagian ulama menetapkan dengan sesuatu yang mungkin diucapkan, dan sebagian lagi menetapkan dengan itu serta mensyaratkan adanya isyarat dari lafaz tersebut dalam penggunaannya, meskipun jauh, seperti maksud melepaskan ikatan.
والمرتبة الثالثة ظهور اللفظ في غرضٍ مع صرفه بتأويلٍ آخر إلى وجهٍ آخر والصرفُ إلى ذلك الوجه قد يجري في مجاري الكلام ولا يبعد بُعْدَ ما ذكرناه في المرتبة الثانية
Tingkatan ketiga adalah tampaknya suatu lafaz memiliki maksud tertentu, namun kemudian dialihkan dengan takwil lain kepada makna yang berbeda, dan pengalihan kepada makna tersebut bisa saja terjadi dalam penggunaan bahasa, serta tidak terlalu jauh seperti yang telah disebutkan pada tingkatan kedua.
وهذا ينقسم ثلاثة أقسام قد يظهر التأويل حتى يكاد يكون اللفظ في حكم المتردّد بين معنيين فيظهر في هذا المقام ألا نحكم بالوقوع بحكم اللفظ
Hal ini terbagi menjadi tiga bagian: terkadang takwil tampak begitu jelas sehingga lafaz tersebut seakan-akan berada dalam posisi ragu antara dua makna, sehingga dalam keadaan seperti ini tampak bahwa kita tidak menetapkan terjadinya sesuatu berdasarkan hukum lafaz tersebut.
وقد يخفى التأويل وإن كان يفرض جريانه فيغلب أن مطلِق اللفظ لا يُطلِق اللفظَ إلا على مقتضى ظهور فإن أراد غيره صُرِف بالنية فما كان كذلك يضطرب الرأي في حكم إطلاقه
Terkadang takwil bisa tersembunyi meskipun dianggap mungkin terjadi, sehingga umumnya seseorang yang mengucapkan suatu lafaz tidak akan mengucapkannya kecuali sesuai dengan makna lahiriah. Jika ia menghendaki makna lain, maka dialihkan dengan niat. Maka, terhadap hal semacam ini, pendapat menjadi tidak menentu dalam menetapkan hukum atas pengucapannya.
وقد يتناهى ظهور اللفظ ويخفى التأويل حتى يقتضي الرأيُ القطعَ بحمل المطلق على الوقوع ويتردد الرأي في قبول التأويل في حكم الظاهر فيصير التأويل في نظرٍ مائلاً إلى التديين وفي نظرٍ يمتاز بتقدير إجرائه في الفرق وإن كان على ندور
Terkadang kejelasan lafaz sangat tampak, sementara takwilnya tersembunyi, sehingga pendapat pun memastikan untuk membawa makna mutlak pada makna yang tampak. Namun, pendapat juga bisa ragu dalam menerima takwil terhadap hukum yang zahir, sehingga takwil dalam satu pandangan cenderung menjadi bagian dari sikap religius, dan dalam pandangan lain menjadi berbeda dengan mempertimbangkan penerapannya dalam perbedaan, meskipun hal itu jarang terjadi.
وتُهذَّب هذه الأقسام بأن نقول إذا تردّد اللفظ بين أن يقع ولا يقع وظهر التردّد قطعنا بنفي الوقوع
Bagian-bagian ini dapat dirumuskan kembali dengan mengatakan: apabila suatu lafaz masih diragukan antara terjadi atau tidak terjadi, dan keraguan tersebut tampak jelas, maka kita menetapkan dengan pasti bahwa hal itu tidak terjadi.
وإن تعلّى عن التردّد وكان الوقوع أظهر ولم ينته التأويل إلى الخفاء قطعنا بقبول التأويل فترددنا في صورة الإطلاق
Dan jika telah terangkat dari keraguan dan terjadinya (makna) lebih jelas, serta penakwilan tidak berujung pada makna yang samar, maka kita memastikan diterimanya penakwilan tersebut, dan kita ragu dalam bentuk yang bersifat mutlak.
وإن اتصل التأويل برتبة الخفاء أعملنا اللفظ المطلق وإن ادعى اللافظ صرفه إلى التأويل ترددنا فيه
Jika takwil berkaitan dengan tingkat kesamaran, maka kami memberlakukan lafaz secara mutlak, dan jika orang yang mengucapkan mengklaim bahwa ia memalingkannya kepada takwil, maka kami ragu terhadapnya.
وهذا الذي نذكره أقصى الإمكان في الضبط
Dan inilah yang kami sebutkan sebagai batas maksimal kemampuan dalam penetapan.
وميزان هذه الأقسام قريحة الفقيه على شرط الرسوخ في معرفة اللفظ والعادة
Timbangan dari pembagian-pembagian ini adalah kecerdasan seorang faqih dengan syarat telah mendalam dalam pengetahuan tentang lafaz dan kebiasaan.
وما ذكرناه الآن مثال قسم من هذه الأقسام فإذا قال أنت طالق نصف طلقتين فالذي نراه أن الحمل على طلقة مع الحمل على نصفي طلقتين في رتبة التقاوم واللفظ مردّد بينهما فكان الأظهر أن المطلق منه يحمل على الأقل ومن أبدى فيه خلافاً فلإلفه بالخلاف في الألفاظ المطلقة وعدم اعتنائه بمعرفة الإقرار
Apa yang telah kami sebutkan tadi adalah contoh dari salah satu bagian dari pembagian ini. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak setengah dari dua talak,” maka menurut pendapat kami, memaknainya sebagai satu talak dan memaknainya sebagai setengah dari dua talak berada pada tingkatan yang seimbang, dan lafaz tersebut mengandung kemungkinan keduanya. Maka yang lebih jelas adalah bahwa yang dimaksud dari lafaz tersebut dibawa kepada makna yang paling sedikit. Adapun siapa yang mengemukakan pendapat berbeda dalam hal ini, itu karena kebiasaannya dengan perbedaan pendapat dalam lafaz-lafaz mutlak dan ketidakperhatiannya dalam memahami pengakuan.
ولو قال أنت طالق نصفي طلقتين فاللفظ محمول على طلقتين كيف فرض وقدّر
Jika seseorang berkata, “Engkau aku talak setengahnya dua talak,” maka lafaz tersebut dianggap sebagai dua talak, bagaimanapun bentuk dan kemungkinannya.
ولو قال أنت طالق ثلاثة أنصاف طلقتين فالأجزاء المضافة زائدة على المضاف إليه فمن راعى المضاف إليه أوقع طلقتين وألغى الزيادة ومن راعى الأجزاء في أنفسها أوقع ثلاث طلقات على القياس المقدم
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga setengah dari dua talak,” maka bagian-bagian yang ditambahkan melebihi yang menjadi objek penambahan. Maka, siapa yang memperhatikan objek penambahan, ia menjatuhkan dua talak dan mengabaikan kelebihannya. Dan siapa yang memperhatikan bagian-bagian itu sendiri, ia menjatuhkan tiga talak berdasarkan qiyās yang telah dikemukakan.
ولو قال أنت طالق خمسة أنصاف طلقتين فمن راعى المضاف إليه لم يزد على طلقتين فإنه إذا ألغى الزيادة لم يكترث بمبلغها ومن نظر إلى الأجزاء أوقع الثلاث فإنه لم يجد أكثر من الثلاث
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak lima setengah talak,” maka siapa yang memperhatikan pada yang disandari (yakni talak), tidak menambah dari dua talak, karena jika ia mengabaikan kelebihan tersebut, ia tidak peduli dengan jumlahnya. Namun, siapa yang melihat pada bagian-bagiannya, ia menjatuhkan tiga talak, karena ia tidak mendapati lebih dari tiga.
ولو قال أنت طالق سدس وثلث وربع طلقة فالواقع طلقةٌ
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak seperenam, sepertiga, dan seperempat talak,” maka yang terjadi adalah satu talak.
ولو قال أنت طالق سدس طلقةٍ وربع طلقةٍ وثمن طلقةٍ فالمذهب الصحيح أنه يقع ثلاث طلقاتٍ فإنه عطف الجزء على الجزء وأضاف كل جُزءٍ إلى طلقةٍ فاقتضى ذلك تغاير الطلقات المضاف إليها وإذا تغايرت انصرف كل جزءٍ إلى طلقةٍ وهذا يقتضي التعدّد لا محالة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak seperenam talak, seperempat talak, dan sepertujuh talak,” maka mazhab yang benar adalah jatuh tiga talak. Sebab, ia mengaitkan satu bagian dengan bagian lain dan menisbatkan setiap bagian kepada satu talak, sehingga hal itu menuntut perbedaan talak yang dinisbatkan kepadanya. Ketika talak-talak tersebut berbeda, maka setiap bagian kembali kepada satu talak, dan ini mengharuskan terjadinya talak yang berbilang, tanpa keraguan.
ومن أصحابنا من قال إذا نوى صَرْفَ هذه الأجزاء إلى طلقة واحدة قُبل ذلك منه وإن تعددت الألفاظ ومثَّل هذا القائل المسألةَ بما لو قال أنت طالق طالق طالق فإن الألفاظ وإن تعدّدت تطرّق إليها إمكان التوحيد والتأكيد فكذلك الطلقات وإن تعدّدت فالأمر فيها على التردد وإذا تردّدت الطلقات بين التأكّد والتجدّد والأجزاء مضافة إليها تبع المضافُ المضافَ إليه
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jika seseorang berniat untuk menjadikan bagian-bagian ini sebagai satu talak saja, maka hal itu diterima darinya meskipun lafalnya berulang-ulang. Pendapat ini mencontohkan masalah tersebut dengan kasus jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak, tertalak,” maka meskipun lafalnya berulang, tetap dimungkinkan untuk dianggap sebagai satu talak atau sebagai penegasan (ta’kīd). Demikian pula halnya dengan talak, meskipun berulang, urusannya tetap dalam keraguan antara penegasan dan pembaruan. Jika talak-talak tersebut berada dalam keraguan antara penegasan dan pembaruan, dan bagian-bagian itu disandarkan kepadanya, maka yang disandarkan mengikuti yang disandari.
وهذا ساقط لا أصل له والأصل ما قدّمناه وذلك أنه لو قال أنت طالق طلقة طلقةً طلقةً فالتأكيد مقبول ولو خلل بين الطلقات صلاتٍ متغايرة فهي على التجدّد والإتيان بالأجزاء المتغايرة يفيد من التجدد في المضاف إليه ما تفيده الصلات المتغايرة والمسألة مفروضة فيه إذا قال أنت طالق سدس طلقةٍ وثمن طلقة
Ini tidak sah dan tidak ada dasarnya, sedangkan yang menjadi dasar adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya. Sebab, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu talak, satu talak, satu talak,” maka penegasan itu dapat diterima. Namun, jika di antara talak-talak tersebut diselingi dengan shalat-shalat yang berbeda, maka itu menunjukkan adanya pembaruan, dan penyebutan bagian-bagian yang berbeda menunjukkan adanya pembaruan pada yang disandarkan kepadanya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh shalat-shalat yang berbeda. Permasalahan ini diasumsikan jika seseorang berkata, “Engkau tertalak sepertiga talak dan seperdelapan talak.”
وقد يجرى ذلك الوجه الضعيف فيه إذا قال أنت طالق ثلث طلقةٍ وثلث طلقة وثلث طلقةٍ
Kadang-kadang pendapat yang lemah itu diterapkan jika seseorang berkata, “Engkau aku talak sepertiga talak, sepertiga talak, dan sepertiga talak.”
ومن قواعد هذا الفصل إيقاع طلقةٍ بين نسوةٍ فإن هذا قد يُفضي إلى التبعيض فكان منتظماً مع تبعيض الطلاق فإذا قال لأربع نسوة أوقعت عليكن طلقة وقع على كل واحدة منهن طلقة لا محالة فإنه عمّمهن وصرّح باشتراكهن فكأنه طلق كل واحدة ربع طلقة
Di antara kaidah dalam bab ini adalah menjatuhkan satu talak kepada beberapa istri, karena hal ini dapat mengakibatkan terjadinya pemisahan (tab‘īḍ), sehingga hal itu sejalan dengan pemisahan dalam talak. Jika seseorang berkata kepada empat istrinya, “Aku jatuhkan kepada kalian satu talak,” maka jatuhlah satu talak kepada masing-masing dari mereka tanpa diragukan, karena ia telah menggeneralisasi mereka dan menegaskan kebersamaan mereka, seakan-akan ia menalak masing-masing dari mereka dengan seperempat talak.
ولو قال أوقعت عليكن طلقتين وقصد قسمة الطلقتين عليهن على استواء وتعديل من غير إفراد كل طلقةٍ بالتوزيع على جميعهن فمقتضى هذه القسمة أن يخص كل واحدة نصف طلقة فيطلقن واحدة واحدة
Jika seseorang berkata, “Aku jatuhkan kepada kalian berdua dua talak,” dan ia bermaksud membagi dua talak tersebut kepada mereka secara merata dan adil tanpa mengkhususkan setiap talak untuk masing-masing istri, maka konsekuensi dari pembagian ini adalah setiap istri mendapatkan setengah talak, sehingga mereka masing-masing tertalak satu talak.
ولو قال أردت كل طلقةٍ على جميعهن فيخص كل واحدة منهن جزءان من طلقتين فتطلق كل واحدة طلقتين
Jika ia berkata, “Aku maksudkan setiap talak untuk seluruh mereka,” maka masing-masing dari mereka mendapatkan dua bagian dari dua talak, sehingga masing-masing dari mereka tertalak dua kali.
ولو أطلق ولم يتعرض لتفصيل القسمة فلفظه في الإطلاق محمول على استواء القسمة من غير تقدير فضّ كل طلقةٍ على جميعهن فإن تقدير هذا تأويل بعيد ولا تحمل اللفظة مع إطلاقه على التأويل البعيد
Jika seseorang mengucapkan secara mutlak tanpa merinci pembagian talak, maka lafaznya dalam bentuk mutlak itu dianggap bermakna pembagian talak secara merata tanpa menganggap setiap talak dijatuhkan kepada seluruh istri. Karena menganggap demikian adalah penafsiran yang jauh, dan suatu lafaz yang diucapkan secara mutlak tidak boleh dibawa kepada penafsiran yang jauh.
وإذا قال الرجل لعبده اقسم درهمين على هؤلاء الأربعة لم يفهم المأمورُ منه تقسيمَ كل درهم على جميعهم
Jika seseorang berkata kepada hambanya, “Bagikan dua dirham kepada keempat orang ini,” maka orang yang diperintah tidak akan memahami bahwa setiap dirham harus dibagikan kepada mereka semua.
ولو قال أوقعت بينكن تطليقةً ثم زعم أنه أراد تطليق واحدة منهن دون الباقيات والمعنيَّ باللفظ أوقعتُ طلقةً على واحدة منكن فإذا كانت المطلّقة بينهن فالطلاق بينهن وهو كقول القائل وهو يتّهم بالسرقة واحداً من جمع المسروق لا يخرج من بين هؤلاء فيطلِقُ اللفظ وإن كان يرى أنه في يدٍ واحد منهم دون غيره من أصحابه فإذا فسّر قوله أوقعت بينكن تطليقة بما ذكرناه فقد ذكر الأصحاب وجهين أحدهما أن ذلك لا يقبل فإن مقتضى اللفظ التشريك وترك هذا المقتضى إزالةٌ للظاهر بتأويل بعيدٍ
Jika seseorang berkata, “Aku jatuhkan satu talak di antara kalian,” kemudian ia mengklaim bahwa maksudnya adalah menceraikan salah satu dari mereka saja, bukan yang lainnya, dan maksud dari ucapannya adalah “Aku jatuhkan satu talak kepada salah satu dari kalian,” maka jika yang ditalak sudah jelas di antara mereka, maka talak itu berlaku pada mereka semua. Ini seperti ucapan seseorang yang menuduh salah satu dari sekelompok orang telah mencuri, namun tidak ada yang keluar dari kelompok tersebut, sehingga ucapannya berlaku untuk semuanya, meskipun ia meyakini bahwa barang itu ada di tangan salah satu dari mereka saja, bukan yang lainnya. Jika ia menafsirkan ucapannya “Aku jatuhkan satu talak di antara kalian” seperti yang telah kami sebutkan, para ulama menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa penafsiran itu tidak diterima, karena konsekuensi dari lafaz tersebut adalah adanya penyertaan, dan meninggalkan konsekuensi ini berarti meniadakan makna lahiriah dengan penafsiran yang jauh.
والوجه الثاني أن هذا مقبولٌ منه وهذا الوجه صححّه بعض المصنّفين وزعم أنه الأظهر وهو غير سديد والصحيح حمل اللفظ على الاشتراك لأن الطلاق أضيف إلى جميعهن بصلةٍ اتصلت بضميرهنّ
Adapun pendapat kedua adalah bahwa hal ini dapat diterima darinya. Pendapat ini dibenarkan oleh sebagian penulis dan mereka menganggapnya sebagai pendapat yang lebih kuat, namun pendapat ini tidaklah tepat. Yang benar adalah bahwa lafaz tersebut harus dipahami sebagai lafaz musytarak (memiliki makna ganda), karena talak tersebut disandarkan kepada semuanya dengan suatu hubungan yang berkaitan dengan dhamir (kata ganti) mereka.
وقد زيّف القاضي قبول تخصيص الطلاق بواحدة منهن ولم يحك الشيخُ أبو عليّ هذا الوجهَ أصلاً بل قطع بأنّ اللفظ محمول على الاشتراك ثم الذين يصححون وجوب الحمل على الاشتراك ويضعّفون الوجه الآخر قاطعون بأن اللفظ المطلق من غير إبداء قصد محمول على الاشتراك
Hakim telah menolak pendapat yang membolehkan pengkhususan talak kepada salah satu dari mereka, dan Syaikh Abu ‘Ali sama sekali tidak meriwayatkan pendapat ini, bahkan beliau menegaskan bahwa lafaz tersebut harus dipahami sebagai mencakup semuanya. Kemudian, mereka yang membenarkan kewajiban memahami lafaz secara mencakup semuanya dan melemahkan pendapat lain, juga menegaskan bahwa lafaz yang mutlak tanpa adanya penjelasan maksud harus dipahami sebagai mencakup semuanya.
ومن صحح قبول حمل الطلاق على واحدة لا بعينها ذكر في الإطلاق أن الظاهر الحَملُ على الاشتراك وشبّب بوجهٍ مخالفٍ لهذا واللفظُ مطلق وهذا باطل قطعاً فلا شك في الحمل على الاشتراك في الإطلاق وإنما التردد فيه إذا قال أردتُ تطليق واحدة لا بعينها والأصح أنه لا يقبل
Siapa yang membolehkan menerima pengaitan talak pada satu istri tanpa penentuan tertentu, menyebutkan dalam kasus mutlak bahwa yang tampak adalah pengaitan pada makna musytarak (bersama), dan ia mengemukakan alasan yang berbeda dari ini, sementara lafaznya bersifat mutlak. Ini jelas-jelas batil, maka tidak diragukan lagi bahwa dalam kasus mutlak harus diarahkan pada makna musytarak. Adapun keraguan hanya muncul jika ia berkata, “Aku bermaksud menceraikan satu istri tanpa penentuan tertentu,” dan pendapat yang paling sahih adalah bahwa hal itu tidak dapat diterima.
ولو قال أوقعت بينكن ثلاثَ طلقات وأراد القسمة المستوية أو أطلق اللفظ فتطلّق كلّ واحدة طلقة ويخصها من القسمة ثلاثةُ أرباع طلقةٍ ثم تُكمّل
Jika seseorang berkata, “Aku jatuhkan kepada kalian bertiga tiga talak,” dan ia bermaksud pembagian yang merata, atau ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak, maka masing-masing istri tertalak satu kali talak, dan bagian masing-masing dari pembagian itu adalah tiga perempat talak, kemudian disempurnakan.
ولو قال أردت توزيع كل طلقةٍ عليهنّ طُلقت كل واحدة ثلاثاًً والمطلَق محمول على القسمة المستوية
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud membagi setiap talak kepada mereka,” maka masing-masing istri tertalak tiga kali, dan yang dimaksud dengan pembagian adalah pembagian yang merata.
ولو قال أوقعت بينكن أربعَ طلقاتٍ وأراد الاستواء أو أطلق طلقت كل واحدة طلقةً وأصابها من حساب القسمة طلقة
Jika seseorang berkata, “Aku telah menjatuhkan kepada kalian berempat empat talak,” dan ia bermaksud membaginya rata atau mengatakannya secara mutlak, maka masing-masing istri tertalak satu kali, dan setiap istri mendapatkan satu talak sesuai dengan pembagian tersebut.
ولو قال أوقعت بينكن خمسَ طلقات وهن أربع طُلِّقت كل واحدة طلقتين فإن القسمة المستوية توجب أن يخص كلَّ واحدة طلقةٌ وشيء
Jika seseorang berkata, “Aku jatuhkan kepada kalian berlima lima talak,” padahal mereka hanya berjumlah empat orang, maka masing-masing istri dianggap ditalak dua kali. Namun, pembagian yang merata mengharuskan setiap istri mendapatkan satu talak dan sebagian (dari talak).
ثم هذا جارٍ في الست والسّبع والثمان
Hal ini juga berlaku pada usia enam, tujuh, dan delapan tahun.
فإن قال أوقعت بينكن تسعَ طلقات وأراد القسمة المستوية أو أطلق اللفظ طلقت كلُّ واحدة ثلاثَ طلقات فإن تسوية القسمة على الأربع والمقسوم تسعة يوجب أن يخص كل واحدة طلقتان وربع أو جزء طلقة فَتُكَمَّلَ
Jika seseorang berkata, “Aku telah menjatuhkan kepada kalian sembilan talak,” dan ia bermaksud pembagian yang merata atau mengucapkan lafaz secara mutlak, maka setiap istri tertalak tiga kali. Sebab, pembagian yang merata pada empat orang istri sementara yang dibagi adalah sembilan, mengharuskan setiap istri mendapat dua talak seperempat atau sebagian dari satu talak, sehingga harus disempurnakan.
وإن أراد تقسيط كل طلقة فقسمة الثلاث عليهنّ يوجب تكميل الطلقات في حق كل واحدة فلا معنى لذكر هذا القسم وراء الثلاث
Dan jika yang dimaksud adalah membagi setiap talak, maka membagi tiga talak kepada mereka (para istri) mewajibkan penyempurnaan talak bagi masing-masing, sehingga tidak ada makna menyebut bagian ini setelah tiga talak.
ولو قال أوقعت بينكن خمسَ طلقات وكن أربعاً فإن أطلق لفظه طلقت كل واحدة طلقتين كما تقدم وإن قال أردت تطليق واحدةٍ ثلاثاًً وتطليق واحدة اثنتين وتبرئة اثنتين عن الطلقات فهذا خارج على الخلاف الذي ذكرناه فمن أصحابنا من قال لا يجوز إخراج واحدة منهن عن الطلاق لما يقتضيه اللفظ من التشريك
Jika seseorang berkata, “Aku telah menjatuhkan lima talak di antara kalian, padahal kalian berjumlah empat orang,” maka jika ia mengucapkan secara mutlak, setiap istri ditalak dua kali sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika ia berkata, “Aku bermaksud menalak salah satu dari kalian tiga kali, menalak satu lagi dua kali, dan membebaskan dua orang dari talak,” maka hal ini kembali kepada perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan. Sebagian ulama kami berpendapat tidak boleh membebaskan salah satu dari mereka dari talak karena lafal tersebut mengandung makna penyertaan (musyarakah).
ومن أصحابنا من قال يُقبل ذلك منه وقد قدمنا هذا الخلاف
Dan sebagian ulama kami berpendapat bahwa hal itu diterima darinya, dan kami telah mengemukakan perbedaan pendapat ini sebelumnya.
ولو قال أردتُ تطليق فلانة منهن ثنتين وفضَّ ثلاث طلقات من الخمس على الباقيات حتى يطلقن واحدة واحدة فهذا ليس فيه إخراج واحدة عن أصل الطلاق ولكن فيه تفاوت بينهنّ في المقدار فمن قبل منه إخراج بعضهن عن قسمة الطلاق فلا شك أنه يقبل هذا أيضاً ومن لم يقبل إخراج بعضهن عن الطلاق فهل يقبل التفاوت في القسمة هذا فيه تردّد من أصحابنا من قال لا بد من تقدير التسوية والقسمة ثم ننظر إلى ما يقتضيه حكم القسمة في حق كل واحدة
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud menceraikan si Fulanah di antara mereka sebanyak dua kali talak, dan aku membagi tiga talak dari lima talak kepada yang lainnya sehingga mereka masing-masing ditalak satu kali,” maka dalam hal ini tidak ada pengeluaran satu orang dari asal talak, tetapi terdapat perbedaan di antara mereka dalam jumlah talak. Maka, siapa yang menerima pengeluaran sebagian dari mereka dari pembagian talak, tidak diragukan lagi bahwa ia juga menerima hal ini. Dan siapa yang tidak menerima pengeluaran sebagian dari mereka dari talak, maka apakah ia menerima perbedaan dalam pembagian? Dalam hal ini terdapat keraguan di kalangan ulama kami. Ada yang berpendapat bahwa harus ada takaran kesetaraan dan pembagian, kemudian kita melihat apa yang dituntut oleh hukum pembagian itu bagi masing-masing.
وقطع الشيخ أبو علي بأن التفاوت في القسمة مقبول من تفسيره فإنه أضاف الطلقات إليهن وأبهم القسمة مردَّدةً بين تخيّر التفاوت وبين التعديل فإذا لم يأت ما يخالف الاشتراك والإضافةُ مبهمة اتّجه قبول تفسيره
Syekh Abu Ali menegaskan bahwa perbedaan dalam pembagian dapat diterima menurut penafsirannya, karena ia menambahkan talak kepada mereka dan menjadikan pembagian itu samar, antara memilih perbedaan dan melakukan penyesuaian. Maka, jika tidak ada hal yang bertentangan dengan kebersamaan, dan penambahan itu masih samar, maka penafsirannya layak diterima.
ولو قال بينكن وهنَّ أربعٌ عشرُ طلقات فإن أراد القسمة المستوية قُبل وطلقت كل واحدة ثلاث طلقات فإنه ينالها طلقتان ونصفٌ
Dan jika ia berkata, “Antara kalian ada empat belas talak,” maka jika ia menginginkan pembagian yang merata, hal itu diterima, dan setiap istri ditalak tiga kali, karena masing-masing mendapatkan dua setengah talak.
ولو قال أردت فضَّ العَشْر على أن يكون ثلاث على زينب وثلاث على عَمْرة وثلاث على فاطمة وواحدة على عائشة فهذا يخرّج على التردد الذي ذكرناه واختيار الشيخ فيه القبول
Jika seseorang berkata, “Aku ingin membagi sepuluh (bagian) dengan ketentuan tiga untuk Zainab, tiga untuk Amrah, tiga untuk Fatimah, dan satu untuk Aisyah,” maka hal ini dikembalikan pada perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan, dan pendapat yang dipilih oleh asy-Syaikh dalam hal ini adalah boleh diterima.
ولو قال أوقعت بينكن طلقتين وهُنّ أربع ثم ادّعى أنه أراد تطليق اثنتين دُون الأُخريين ففي المسألة وجهان وكذلك لو قال أوقعت بينكن أربعاً ثم قال أردت طلقتين على واحدة وطلقتين على واحدة ففي المسألة الوجهان المذكوران
Jika seseorang berkata, “Aku jatuhkan di antara kalian berempat dua talak,” lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah menceraikan dua orang saja dari empat orang tersebut, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Demikian pula, jika ia berkata, “Aku jatuhkan di antara kalian berempat empat talak,” lalu ia berkata, “Aku maksudkan dua talak untuk satu orang dan dua talak untuk satu orang lainnya,” maka dalam masalah ini juga terdapat dua pendapat yang telah disebutkan.
ولو ادعى أنه أراد إيقاع الأربع على واحدة منهن وفرّعنا على أنه يقبل منه تفسير التخصيص فهاهنا تطلّق المعيّنة ثلاثاًً وفي الطلقة الرابعة جوابان للقاضي أحدهما أنها تلغو فكأنه قال لواحدة أنت طالق أربعاً فإنا إذا قبلنا التخصيص في الأصل فهذا من موجبه
Jika seseorang mengaku bahwa ia bermaksud menjatuhkan talak empat kali kepada salah satu dari mereka, dan kita membangun pendapat bahwa penjelasan tentang takhshish (pembatasan) diterima darinya, maka dalam kasus ini, yang ditentukan (istri yang dimaksud) tertalak tiga kali. Adapun untuk talak keempat, terdapat dua pendapat menurut al-Qadhi: salah satunya adalah talak itu dianggap batal, seakan-akan ia berkata kepada salah satu istri, “Engkau tertalak empat kali,” karena jika kita menerima takhshish pada asalnya, maka ini adalah salah satu konsekuensinya.
والجواب الثاني أن هذه الطلقة الرابعة توزّع على الثلاث الباقيات حتى لا تضيع فإن تفسير التخصيص إنما يقبل إذا لم يتضمن إحباط طلاقٍ مما جاء به
Jawaban kedua adalah bahwa talak keempat ini dibagi ke dalam tiga talak yang tersisa agar tidak hilang, karena penafsiran takhshish hanya dapat diterima jika tidak mengakibatkan pembatalan talak yang telah ditetapkan.
والمسألة محتملة حسنة
Masalah ini masih memungkinkan dan baik.
ولو قال وتحته أربع نسوةٍ لثلاث منهن أوقعت بينكن طلقةً وحملنا هذا على الاشتراك فيقع على كل واحدة منهنّ طلقة بحكم اللفظ فلو قال للرابعة أشركتك معهنّ والمسألة لصاحب التلخيص قال الأئمة فيها إن لم ينو بقوله أشركتك طلاقاً لم يقع شيء فإنه كناية وإن قال أردت بذلك طلقةً واحدةً وعنيت بالإشراك أن تكون كواحدة منهن فيقبل هذا منه فإن هذا الاحتمال ظاهر
Jika seseorang berkata, “Aku memiliki empat istri, dan kepada tiga di antara kalian aku jatuhkan satu talak yang berlaku untuk kalian bersama-sama,” lalu kita memahami ucapan ini sebagai bentuk penyertaan, maka masing-masing dari mereka terkena satu talak berdasarkan lafaz tersebut. Jika kemudian ia berkata kepada istri keempat, “Aku sertakan engkau bersama mereka,”—dan masalah ini disebutkan oleh penulis kitab at-Talkhīṣ—para imam berpendapat: Jika ia tidak berniat talak dengan ucapannya “Aku sertakan engkau,” maka tidak terjadi apa-apa, karena itu adalah kinayah (lafaz samar). Namun jika ia berkata, “Aku maksudkan dengan ucapan itu satu talak, dan aku maksudkan dengan penyertaan itu agar engkau seperti salah satu dari mereka,” maka hal ini diterima darinya, karena kemungkinan ini jelas.
ولو قال أردت بالإشراك أن تصير الرابعة شريكة لكل واحدة من الثلاث على التفصيل فينالها من شركة كل واحدة طلقة فتطلق ثلاثاً
Jika seseorang berkata, “Maksudku dengan isyrāk (menjadikan sekutu) adalah agar yang keempat menjadi sekutu bagi masing-masing dari tiga istri secara terperinci, sehingga ia mendapatkan dari kemitraan dengan masing-masing satu talak, maka ia tertalak tiga kali.”
ولو قال نويت الإشراك ولم يخطر لي لا الواحدة ولا الثلاث فقد قال القفال فيما حكاه الشيخ أبو علي إن هذه الرابعة تطلق طلقتين فإنه نال الثلاث ثلاث طلقات وهن حزِبٌ وهذه الواحدة في مقابلتهن وقد لحقهن ثلاث طلقاتٍ طلقة طلقةً فإشراكها يتضمن أن تكون على النصف من ثلاث طلقات فينالها طلقة ونصف وإذا كمّلنا أصابها طلقتان
Jika seseorang berkata, “Aku berniat menyekutukan (talak) dan tidak terlintas dalam benakku apakah satu atau tiga,” maka menurut pendapat al-Qaffal sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syekh Abu ‘Ali, talak keempat ini jatuh dua kali talak. Sebab, jika ia meniatkan tiga, maka itu adalah tiga kali talak, dan itu adalah satu kelompok. Sedangkan yang satu ini sebagai lawan dari yang tiga, dan pada tiga talak itu masing-masing jatuh satu talak. Maka penyekutuan ini mengandung makna bahwa talak ini berada di tengah-tengah antara tiga talak, sehingga jatuh padanya satu setengah talak. Jika kita sempurnakan, maka jatuh padanya dua kali talak.
قال الشيخ أبو علي الصواب عندي أن هذه الرابعة في صورة الإطلاق لا تطلّق إلا واحدة فإن ظاهر التشريك في الطلاق يقتضي أن تكون كواحدة منهن حتى تنزل منزلة الواحدة هذا أقرب إلى الفهم وأقرب إلى الدرك من جمع ثلاث طلقات وتقدير التشطير فيها والأمر على ما ذكره الشيخ ولا اتجاه لغيره
Syekh Abu Ali berkata, menurut pendapat saya yang benar adalah bahwa talak keempat ini, dalam bentuk mutlak, tidak dijatuhkan kecuali satu kali saja. Sebab, makna penyertaan dalam talak mengharuskan bahwa ia seperti salah satu dari mereka, sehingga diposisikan seperti satu talak. Ini lebih mudah dipahami dan lebih mudah dimengerti daripada mengumpulkan tiga talak dan memperkirakan pembagiannya. Dan perkara ini sebagaimana yang disebutkan oleh syekh, tidak ada pendapat lain yang dapat diterima.
ومما يتعلق بتمام المسألة أنه لو قال لأربع نسوة أوقعت بينكن ثُلثَ طلقة وسدُس طلقةٍ ونصفَ طلقة قالى العراقيون يقع على كل واحدة ثَلاث طلقات فإنه فصل الطلقات وقسم كل جزء من طلقةٍ عليهنّ وهذا الذي ذكروه ينبني أولاً على ما لو قال لواحدة أنت طالق سدس طلقةٍ وثلث طلقةٍ ونصف طلقة وهذه المسألة قدّمناها فإن قلنا فيها الواحدة لا تطلق ثلاثاًً إذا أطلق الزوج هذه الألفاظ فهذا في القسمة أَوْلى وإذا قلنا الواحدة إذا خُوطبت بهذه الألفاظ طلقت ثلاثاً فإذا قال لأربع نسوة أوقعت بينكنّ سدس طلقةٍ وثلث طلقة ونصف طلقة فالمسألة محتملة يجوز أن يقال هو كما لو قال أوقعت بينكنّ ثلاث طلقات والقسمة المستوية لا توجب في ذلك إلا طلقة
Terkait dengan kesempurnaan masalah ini, jika seseorang berkata kepada empat orang istri: “Aku jatuhkan di antara kalian sepertiga talak, seperenam talak, dan setengah talak,” maka menurut para ulama Irak, jatuh pada masing-masing istri tiga talak. Sebab, ia telah memisahkan talak-talaknya dan membagi setiap bagian talak kepada mereka. Apa yang mereka sebutkan ini pertama-tama didasarkan pada kasus jika seseorang berkata kepada satu istri: “Engkau tertalak seperenam talak, sepertiga talak, dan setengah talak.” Masalah ini telah kami kemukakan sebelumnya. Jika kita berpendapat bahwa satu istri tidak tertalak tiga kali ketika suami mengucapkan lafaz-lafaz ini, maka dalam pembagian kepada empat istri lebih utama lagi tidak jatuh tiga talak. Namun jika kita berpendapat bahwa satu istri yang ditujukan dengan lafaz-lafaz ini jatuh tiga talak, maka jika dikatakan kepada empat istri: “Aku jatuhkan di antara kalian seperenam talak, sepertiga talak, dan setengah talak,” maka masalah ini masih diperselisihkan. Boleh jadi dikatakan bahwa hukumnya seperti jika ia berkata: “Aku jatuhkan di antara kalian tiga talak,” dan pembagian yang merata tidak mewajibkan kecuali satu talak saja.
ويجوز أن يقال لمّا أفرد ذكرَ كل جزء من طلقة ظهر من ذلك قصد توزيع كل طلقة على الجميع والتقديرُ قسمت عليكن طلقة ثم أخرى ثم أخرى
Dan boleh dikatakan, ketika disebutkan secara terpisah setiap bagian dari satu talak, maka dari situ tampak maksud untuk mendistribusikan setiap talak kepada semuanya, dan maknanya adalah: “Aku membagikan kepada kalian satu talak, kemudian satu lagi, kemudian satu lagi.”
ولو قال على الطريقة التي ارتضاها العراقيون أوقعت بينكن طلقة وطلقة وطلقة فهذا محتمل على قياسهم يجوز أن يقال تطلّق كل واحدة ثلاثاًً لما في لفظه من التفصيل ويجوز أن يقال هذا كما لو قال أوقعت بينكن ثلاث طلقات ويجوز أن يقدر فرقٌ بين هذا وبين أن يقول أوقعت بينكن سدس طلقة وثلث طلقةٍ ونصف طلقةٍ فإن في تغاير أجزاء الطلاق مزيد دلالة على تفصيل بعضها عن البعض بالقسمة وليس في عطف الطلقة على الطلقة هذا
Dan jika seseorang berkata, menurut metode yang disetujui oleh para ulama Irak: “Aku jatuhkan pada kalian satu talak, satu talak, dan satu talak,” maka hal ini masih mungkin, menurut qiyās mereka, untuk dikatakan bahwa masing-masing dari mereka ditalak tiga kali, karena adanya perincian dalam ucapannya. Dan boleh juga dikatakan bahwa ini seperti jika ia berkata: “Aku jatuhkan pada kalian tiga talak.” Dan boleh juga dianggap ada perbedaan antara ini dengan ucapan: “Aku jatuhkan pada kalian seperenam talak, sepertiga talak, dan setengah talak,” karena perbedaan bagian-bagian talak menunjukkan adanya perincian sebagian dari sebagian yang lain melalui pembagian, sedangkan dalam penggabungan talak satu dengan talak yang lain tidak demikian.
فصل قال ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا اثنتين فهي واحدة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua,” maka itu menjadi satu talak, dan seterusnya.
قدمنا في كتاب الأقارير أصل الاستثناء وتفصيلَه والقولُ في صورة الاستثناء يتسّع في الأقارير فإنّ فرض الأعداد ممكن فيتوسع المجال في ورود النفي على الإثبات والإثباتِ على النفي ولا مزيد على الثلاث في الطلاق وفيما قدمناه من الأقارير ما يُطْلع على تمام المقصود في الطلاق ونحن نتوفَّى التكريرَ جهدنا ولكن لا يمكن إخلاء هذا الفصل مما ذكره الأصحاب فإن اقتضى الترتيب تكريراً كان محتملاً ونحن نحرص ألا نُخلي ما نذكره عن زوائدَ وفوائدَ
Kami telah membahas dalam Kitab al-Iqrar tentang dasar istisna’ (pengecualian) dan rinciannya, serta pembahasan tentang bentuk istisna’ yang cukup luas dalam masalah iqrar, karena kemungkinan adanya pembatasan jumlah, sehingga ruang lingkup penafian terhadap penetapan dan penetapan terhadap penafian menjadi lebih luas. Tidak ada tambahan atas tiga kali dalam masalah talak. Dalam apa yang telah kami sampaikan pada pembahasan iqrar, terdapat penjelasan yang memadai tentang maksud dalam masalah talak. Kami berusaha untuk menghindari pengulangan sebisa mungkin, namun tidak mungkin mengosongkan bab ini dari apa yang telah disebutkan oleh para ashab (ulama mazhab). Jika urutan pembahasan menuntut adanya pengulangan, maka hal itu dapat diterima. Kami berupaya agar apa yang kami sampaikan tidak kosong dari tambahan dan faedah.
وفي الاستثناء أصلان معتبران أحدهما الاتصال وقد مضى بيانهُ وسببُ اشتراطه والآخر ألا يكون الاستثناء مستغرقاً للمستثنى عنه فإن استغرق كان مردوداً ولا يتوقف الرّد على بعضه بل يَحبَط كلُّه وينفُذ المستثنى منه بكماله
Dalam istisna’ terdapat dua prinsip yang dianggap sah. Pertama adalah keterhubungan (ittishāl), yang penjelasannya beserta alasan pensyaratannya telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, istisna’ tidak boleh mencakup seluruh objek yang dikecualikan darinya. Jika istisna’ mencakup seluruhnya, maka istisna’ tersebut tertolak, dan penolakan itu tidak hanya berlaku pada sebagian, melainkan seluruhnya batal, sehingga yang berlaku adalah keseluruhan objek yang dikecualikan darinya.
ومن الأصول المرعيّة أن الاستثناء يناقض المستثنى عنه فإن جرى بعد نفي كان إثباتاً وإن جرى بعد إثباتٍ كان نفياً
Di antara kaidah yang diperhatikan adalah bahwa istisna’ (pengecualian) itu bertentangan dengan yang dikecualikan darinya; maka jika istisna’ datang setelah penafian, ia menjadi penetapan, dan jika datang setelah penetapan, ia menjadi penafian.
ومن الأصول أن الاستثناء المعطوف على الاستثناء في معناه فلا يكون استثناء منه بل يكون مع المعطوف عليه استثناء عما تقدم وإن جرت صيغة الاستثناء بعد الاستثناء من غير واو عاطفة فالثاني استثناء من الاستثناء الأول ويجري على مضادته لا محالة
Di antara kaidahnya adalah bahwa istisna’ (pengecualian) yang diikutkan pada istisna’ lainnya memiliki makna yang sama, sehingga ia bukanlah pengecualian dari pengecualian sebelumnya, melainkan bersama dengan yang diikutkan padanya menjadi pengecualian dari hal yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika bentuk istisna’ datang setelah istisna’ tanpa adanya huruf ‘wawu’ (‘dan’) sebagai penghubung, maka istisna’ yang kedua merupakan pengecualian dari istisna’ yang pertama, dan berlaku kebalikannya tanpa diragukan lagi.
ونحن بعد الإشارة إلى الأصول نذكر المسائل فإن قال أنت طالق ثلاثاًً إلاّ ثلاثاً طلقت ثلاثاً وبطل الاستثناء وصار كأنه لم يكن
Setelah kami menyebutkan pokok-pokoknya, kami akan menyebutkan permasalahannya. Jika seseorang berkata, “Engkau aku talak tiga kecuali tiga,” maka jatuh talak tiga dan istisna’ (pengecualian) menjadi batal, sehingga seolah-olah istisna’ itu tidak pernah ada.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا واحدة طلقت ثنتين
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kecuali satu,” maka jatuh talak dua.
ولو قال أنت طالق ثلاثاً إلاّ واحدة وإلا واحدة فقد استثنى طلقتين بعبارتينمعناهما واحدٌ فكان كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثنتين
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali satu dan kecuali satu,” maka ia telah mengecualikan dua talak dengan dua ungkapan yang maknanya sama, sehingga hukumnya seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua.”
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثنتين إلا واحدة فاللفظة الأخيرة استثناء من الاستثناء فإنها غير معطوفة والتقدير أنت طالق ثلاثاًً تقع فهو إثباتٌ إلا ثنتين لا تقعان وهذا نفي ما أثبته إلا واحدة تقع وهذا إثبات ما نفاه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua kecuali satu,” maka kata terakhir merupakan pengecualian dari pengecualian, karena ia tidak di-‘athaf-kan (tidak disambungkan dengan kata penghubung), dan maksudnya adalah: “Engkau tertalak tiga,” maka talak itu jatuh (terjadi); “kecuali dua,” maka dua talak tidak jatuh, dan ini adalah meniadakan apa yang telah ditetapkan; “kecuali satu,” maka satu talak jatuh, dan ini adalah menetapkan apa yang telah dinafikan.
وإذا عَطَف المستثنى عنه بعضَه على بعض وأَتى بالعدد في صيغٍ وعَطَف البعض منها على البعض ثم عَقّبه باستثناءٍ فهل نجمع المستثنى عنه حتى كأنه في صيغةٍ واحدة أم نتركه على إفراده ونقطعه ذكر القاضي وجهين ذكرهما الشيخ أبو علي وتصوير المسألة أن يقول أنت طالق واحدةً وواحدة وواحدة إلا واحدة فقد ذكر ثلاث طلقات في ثلاث صيغ فمن جمع تلك الصيغ صحح الاستثناء فكأنه قال أنت طالق ثلاثاًً إلا واحدة ومن يترك تلك الصيغ على تقطيعها فالاستثناء عنده باطل فإنه قال آخراً وواحدة ثم قال إلا واحدة فانصرف استثناء الواحدة إلى الواحدة فكان مستغرقاً والاستثناءُ المستغرق باطل
Jika seseorang menghubungkan bagian-bagian dari mustatsnā ‘anhu (yang dikecualikan) satu sama lain, lalu menyebutkan jumlah dalam beberapa bentuk, kemudian menghubungkan sebagian bentuk itu dengan sebagian lainnya, lalu diakhiri dengan pengecualian (istitsnā’), maka apakah kita menggabungkan mustatsnā ‘anhu seolah-olah dalam satu bentuk, ataukah kita membiarkannya terpisah dan memutusnya? Menurut Qādī ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abū ‘Alī. Gambaran masalahnya adalah seseorang berkata: “Engkau tertalak satu, dan satu, dan satu, kecuali satu.” Maka ia telah menyebutkan tiga talak dalam tiga bentuk. Barang siapa yang menggabungkan bentuk-bentuk itu, ia membenarkan istitsnā’, seolah-olah ia berkata: “Engkau tertalak tiga kecuali satu.” Sedangkan yang membiarkan bentuk-bentuk itu terpisah, maka istitsnā’ menurutnya batal, karena ia berkata terakhir: “dan satu,” lalu berkata: “kecuali satu,” sehingga pengecualian satu itu kembali kepada satu yang terakhir, sehingga menjadi mustaghriq (menyeluruh), dan istitsnā’ yang mustaghriq adalah batal.
ولو قال أنت طالق واحدة وواحدة وواحدة إلا ثنتين فهذا يخرج على الوجهين فإن جمعنا الصيغ لم يقع إلا طلقة واحدة وكان كما لو قال أنت طالق ثلاثاً إلا ثنتين ولو تركنا الصيغ على تقدّمها وتقطعها وقع الثلاث وبطل الاستثناء فإنه قال آخراً وواحدة إلا ثنتين فاستثنى ثنتين من واحدة والاستثناء زائد على ما يقع به الاستغراق
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu, dan satu, dan satu, kecuali dua,” maka hal ini kembali kepada dua pendapat. Jika kita menggabungkan semua lafaz tersebut, maka yang jatuh hanyalah satu talak saja, dan hukumnya seperti orang yang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua.” Namun jika kita membiarkan setiap lafaz sesuai urutannya dan terpisah-pisah, maka jatuh tiga talak dan pengecualian menjadi batal, karena pada akhirnya ia berkata, “dan satu kecuali dua,” sehingga ia mengecualikan dua dari satu, dan pengecualian tersebut melebihi jumlah yang dapat mencakup keseluruhan.
ولو قال أنت طالق واحدة وواحدة وواحدة إلا ثلاثاًً فلا شك في وقوع الثلاث كيفما قدّرنا ضممنا الصيغَ أو تركناها مفرّقة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu, dan satu, dan satu, kecuali tiga,” maka tidak diragukan lagi bahwa talak tiga jatuh, bagaimanapun cara kita memperhitungkannya, baik kita menggabungkan lafaz-lafaznya maupun membiarkannya terpisah.
ولو عطف الاستثناءات بعضَها على البعض بحرف الواو فالكل في معنى واحدٍ لما مهدناه من اقتضاء العطف الإشراك ولكنا هل نجمعها على تقدير أنها كالمذكورة في صيغة واحدة أم نتركها على تقطعها ونفرّق صيغها قال القاضي وغيره في المسألة وجهان كالوجهين فيه إذا عطف المستثنى عنه بعضه على البعض بالصيغ المتفرقة
Jika beberapa pengecualian dihubungkan satu sama lain dengan huruf waw, maka semuanya berada dalam satu makna, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa ‘athaf (penyambungan) mengandung makna penyertaan. Namun, apakah kita menggabungkannya dengan anggapan bahwa semuanya seperti disebutkan dalam satu bentuk (shighah) saja, ataukah kita membiarkannya terpisah-pisah dan membedakan bentuk-bentuknya? Al-Qadhi dan yang lainnya mengatakan dalam masalah ini ada dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam hal jika yang dikecualikan (‘al-mustatsnā minhu’) dihubungkan satu sama lain dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
وبيان الغرض بالصور أنه لو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا واحدةً وواحدة وواحدة فإن جمعنا هذه الصيغ وجعلناها كالصيغة الواحدة بطلت بجملتها ووقع الثلاث وكأنه قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثلاثاًً
Penjelasan maksud dengan contoh adalah, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali satu, satu, dan satu,” maka jika kita menggabungkan semua ungkapan ini dan menganggapnya seperti satu ungkapan, semuanya menjadi batal dan jatuh talak tiga, seolah-olah dia berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali tiga.”
ولو تركناها على تقطعها فيصح الاستثناء في ثنتين وتبطل الصّيغة الأخيرة فإنها مستغرقة فيختص الإبطال بها ويصير كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا واحدة وواحدة
Jika kita biarkan lafaz tersebut dalam bentuk terpisah-pisah, maka istisna’ (pengecualian) sah pada dua lafaz pertama dan batal pada lafaz terakhir, karena lafaz terakhir bersifat mencakup keseluruhan, sehingga pembatalan khusus terjadi padanya. Keadaannya menjadi seperti seseorang yang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali satu dan satu.”
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثنتين وإلا واحدة فإن جمعنا الصيغ أوقعنا الثلاث وصار كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثلاثاًً وإن فرعنا على التفريق فاستثناء الثنتين صحيح واستثناء الواحدة باطلٌ مردودٌ
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua dan kecuali satu,” maka jika kita menggabungkan kedua ungkapan tersebut, kita jatuhkan talak tiga, dan hal itu menjadi seperti orang yang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali tiga.” Namun jika kita memisahkan kedua ungkapan tersebut, maka pengecualian dua adalah sah, sedangkan pengecualian satu batal dan tertolak.
ولو قلب فقال إلا واحدة وثنتين فالثلاث تقع على أحد الوجهين ويقع ثنتان على الوجه الثاني فإن الصّيغة الأولى في الاستثناء مشتملة على واحدة والصيغة الثانية مستغرقة وإذا بطل بعض مضمونها بطل الجميع
Jika ia membalikkan (urutan) lalu berkata: “kecuali satu dan dua”, maka talak tiga jatuh menurut salah satu pendapat, dan talak dua jatuh menurut pendapat yang lain. Sebab, lafaz pertama dalam istisna’ (pengecualian) mencakup satu, sedangkan lafaz kedua mencakup seluruhnya. Jika sebagian maknanya batal, maka batal pula seluruhnya.
ولو قال أنت طالق ثلاثاً إلا ثلاثاً إلا ثنتين فالتقدير أنت طالق ثلاثاًً تقع إلا ثلاثاًً لا تقع إلا ثنتين تقع ففي المسألة أوجه أحدها أن الثلاث تقع لأن الاستثناء الأول كان مستغرقاً فلغا ولغا الثاني لأنه استثناء من لاغٍ وهذا ضعيف
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali tiga kecuali dua,” maka perinciannya adalah: engkau tertalak tiga jatuh, kecuali tiga tidak jatuh, kecuali dua jatuh. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak tiga jatuh, karena pengecualian pertama mencakup seluruhnya sehingga dianggap batal, dan pengecualian kedua juga batal karena merupakan pengecualian dari sesuatu yang sudah batal. Pendapat ini lemah.
والوجه الثاني وهو الأصح أنا نصحح الاستثناءين فنجعل الاستثناء الثاني منصرفاً إلى الاستثناء الأول على حكم المضادة فيخرج الاستثناء الأول من كونه مستغرقاً فإذا خرج عن كونه مستغرقاً صحّ والتقدير على ما قدمناه أنت طالق ثلاثاًً تقع إلا ثلاثاًً لا تقع إلا ثنتين تقعان فيعود الاستثناء الأول إلى واحدة فيقع طلقتان وكأنه قال أنت طالق ثلاثاً إلا واحدة
Pendapat kedua, yang lebih sahih, adalah bahwa kami membenarkan kedua istisna’ (pengecualian) tersebut, sehingga istisna’ yang kedua diarahkan kepada istisna’ yang pertama berdasarkan kaidah pertentangan. Dengan demikian, istisna’ yang pertama keluar dari sifatnya yang mencakup keseluruhan, sehingga ketika ia keluar dari sifat mencakup keseluruhan, ia menjadi sah. Adapun takdirnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, adalah: “Engkau ditalak tiga, jatuh kecuali tiga, tidak jatuh kecuali dua, keduanya jatuh.” Maka istisna’ yang pertama kembali kepada satu, sehingga jatuhlah dua talak, seakan-akan ia berkata, “Engkau ditalak tiga kecuali satu.”
والوجه الثالث أن الاستثناء الأول يلغو ويرفع من البين فيقدّر كأنه لم يكن فيبقى الاستثناء الثاني والطلقات الثلاث فكأنه قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثنتين ولو قال ذلك لم يقع إلا طلقة واحدة
Alasan ketiga adalah bahwa pengecualian pertama menjadi batal dan dihapuskan, sehingga dianggap seolah-olah tidak pernah ada, maka yang tersisa adalah pengecualian kedua dan talak tiga, sehingga seolah-olah ia berkata: “Engkau tertalak tiga kecuali dua.” Jika ia mengucapkan demikian, maka yang jatuh hanyalah satu talak saja.
وهذا على نهاية الضعف ولولا اشتهاره وتوّلع الأصحاب بحكايته لما ضمَّنته هذا المجموع فإنه خارج عن صيغة اللفظ وعن حكم القصد والمراد وليس في المصير إليه استمساكٌ بمقتضى فقهيّ
Ini adalah pendapat yang sangat lemah, dan kalau bukan karena telah masyhur serta para ulama sangat gemar meriwayatkannya, niscaya aku tidak akan mencantumkannya dalam kumpulan ini. Sebab, pendapat tersebut keluar dari bentuk lafaz, dari ketentuan maksud dan tujuan, serta tidak ada sandaran fiqh yang dapat dijadikan pegangan untuk mengikutinya.
ولو قال أنت طالق واحدة وواحدة وواحدة إلا واحدة وواحدة وواحدة وقع الثلاث إجماعاً لأنا إن جمعنا لم نخصص بالجمع جانباً وكان التقدير أنت طالق ثلاثاًً إلا ثلاثاًً وإن فرقنا لم نخصّص بالتفريق واحداً من الجانبين فيؤول الكلام إلى استثناء واحدة عن واحدة فيقع الثلاث على التقديرين جميعاًً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu, dan satu, dan satu, kecuali satu, dan satu, dan satu,” maka jatuh talak tiga menurut ijmā‘, karena jika kita menggabungkan, kita tidak mengkhususkan salah satu sisi dengan penggabungan, sehingga maknanya menjadi, “Engkau tertalak tiga kecuali tiga.” Dan jika kita memisahkan, kita juga tidak mengkhususkan salah satu sisi dengan pemisahan, sehingga makna perkataannya kembali kepada pengecualian satu dari satu, maka talak tiga tetap jatuh pada kedua penafsiran tersebut.
وكان شيخي أبو محمد يقول كل تفريق يؤدي إلى تصحيح الاستثناء فهو مختلف فيه ميلاً إلى إيقاع الطلاق
Guru saya, Abu Muhammad, biasa mengatakan bahwa setiap pembedaan yang mengarah pada pembenaran istisna’ (pengecualian) adalah perkara yang diperselisihkan, cenderung kepada terjadinya talak.
ولا أصل لهذا فإنا نتبع الألفاظ وصِيغَها فإن عنّ لفقيهٍ تغليبُ وقوع الطلاق عارضه أن الأصل عدم وقوعه ومن الأصول الممهدة أنا إذا ترددنا في وقوع الطلاق قلنا الأصل عدم الوقوع
Tidak ada dasar untuk hal ini, karena kita mengikuti lafaz dan bentuk-bentuknya. Jika seorang ahli fiqh terlintas untuk menguatkan terjadinya talak, maka yang menentangnya adalah bahwa asalnya talak itu tidak terjadi. Di antara kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa apabila kita ragu tentang terjadinya talak, maka kita mengatakan bahwa asalnya talak itu tidak terjadi.
ومما يتعلق بتتمة الفصل أمرٌ فرّعه ابن الحدّاد وتكلم الأصحاب فيه وذلك أنه قال إذا زاد المطلّق على العدد الشرعي في الطلاق فالاستثناء بعده يتردّد كما نصف ونصوّر فإذا قال لامرأته أنت طالق خمساً إلا ثلاثاًً فقد اختلف أصحابنا في المسألة اختلافاً مشهوراً فمنهم من قال يقع الثلاث فإن الخمس التي ذكرها عبارة عن الثلاث فكأنه قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثلاثاًً ولو قال لوقعت الثلاث لأن الاستثناء مستغرق
Adapun hal yang berkaitan dengan pelengkap bab ini adalah suatu permasalahan yang dirinci oleh Ibnu al-Haddad dan dibahas oleh para ulama, yaitu apabila seseorang yang menjatuhkan talak melebihi jumlah talak yang disyariatkan, maka istisna’ (pengecualian) setelahnya menjadi dipertimbangkan sebagaimana akan kami jelaskan dan gambarkan. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak lima kali kecuali tiga,” maka para ulama kami berbeda pendapat secara masyhur dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang jatuh adalah tiga talak, karena lima yang disebutkan itu pada hakikatnya adalah tiga, sehingga seakan-akan ia berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali tiga,” dan jika ia berkata demikian, maka jatuhlah tiga talak karena pengecualian tersebut mencakup seluruhnya.
والوجه الثاني وهو اختيار ابن الحداد أنه يقع ما استبقاه بعد الاستثناء والخمسُ إذا استثني منها ثلاث بقيت ثنتان فتطلق طلقتين وسرّ هذا الوجه أنه ذكر الخمس ليتوسّع في الاستثناء فليقع ما يلغو في مقابلة ما يستثنى إذ هذا طباع الاستثناء وليقع ما بقي
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Ibn al-Haddad, adalah bahwa yang berlaku adalah sisa setelah pengecualian. Jika dari lima talak dikecualikan tiga, maka yang tersisa adalah dua, sehingga jatuhlah dua talak. Rahasia dari pendapat ini adalah bahwa penyebutan lima talak dimaksudkan agar pengecualian bisa lebih luas, sehingga yang tidak dianggap adalah sebagai pengganti dari yang dikecualikan, karena demikianlah tabiat istisna’ (pengecualian), dan yang berlaku adalah apa yang tersisa.
ولو قال أنت طالق أربعاً إلا ثنتين فهذا يخرج على الوجهين فمن قال الأربع عبارة عن الثلاث يقول في هذه الصورة لا يقع إلا طلقة وكأنه قال أنت طالق ثلاثاًً إلا ثنتين ومن قال يقع ما أبقى حَكَم بوقوع طلقتين
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak empat kali kecuali dua,” maka hal ini kembali kepada dua pendapat. Barang siapa yang berpendapat bahwa ungkapan “empat” adalah istilah untuk “tiga”, maka dalam kasus ini hanya jatuh satu talak, seakan-akan ia berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali dua.” Sedangkan barang siapa yang berpendapat bahwa yang jatuh adalah sisa dari yang dikecualikan, maka ia memutuskan jatuh dua talak.
ولو قال أنت طالق ستاً إلا ثلاثاًً فيقع الثلاث على المذهبين وخروجه بيّن فإن من يعتبر ما يبقى بعد الاستثناء يقول قد بقي ثلاث ومن جعل الست عبارةً عن الثلاث فكأنه قال أنت طالق ثلاثاً إلا ثلاثاًً وهذا بيّن إذا تأمّلته
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak enam kali kecuali tiga,” maka yang jatuh adalah tiga talak menurut kedua mazhab. Penjelasannya jelas, karena siapa yang memperhitungkan sisa setelah pengecualian akan mengatakan bahwa yang tersisa adalah tiga. Dan siapa yang menganggap enam itu adalah ungkapan dari tiga, maka seolah-olah dia berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali tiga,” dan ini jelas jika engkau memperhatikannya.
ولو قال أنت طالق طلقتين ونصفاً إلا واحدة قال ابن الحداد يقع الثلاث وإنما بناه على أصلٍ ذكرناه في تقطيع العبارة فكأنه قال أنت طالق ثنتين وواحدة إلا واحدة
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dua setengah kecuali satu,” Ibn al-Haddad berkata, jatuh talak tiga. Ia mendasarkannya pada suatu prinsip yang telah kami sebutkan dalam pemotongan ungkapan, seakan-akan ia berkata, “Engkau tertalak dua dan satu kecuali satu.”
ومما يتعلق بتمام الفصل أن بعض الطلقة في الإيقاع طلقةٌ كما سبق تمهيده وإن غالط مغالط وقال لا يقع طلقةٌ بلفظ النّصف ولكن إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق نصفَ طلقة وقع الطلاق بقوله أنت طالق ولغا قوله نصف طلقة ولو قال أنت طالق طلاقاً لا يقع لوقع فذكر النصف بعد ذكر الطلاق لا معنى له
Dan termasuk hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pembahasan ini adalah bahwa sebagian talak dalam pelafalan tetap dihitung sebagai satu talak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, meskipun ada yang keliru dan mengatakan bahwa talak tidak jatuh dengan lafaz “setengah”. Namun, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak setengah talak,” maka talak jatuh dengan ucapannya “Engkau tertalak”, dan ucapannya “setengah talak” dianggap tidak bermakna. Jika ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak yang tidak jatuh,” maka talak tetap jatuh. Maka, penyebutan “setengah” setelah menyebutkan talak tidak memiliki makna apa pun.
وهذا ليس بشيء فإنه لو قال أنت طالق طلقةً ونصفاً وقعت طلقتان ولا حيلة في الطلقة الثانية وقد استقل الطالق بطلقة إلا حملُ نصف طلقة على طلقةٍ وكذلك لو قال أوقعت عليك نصف طلقة وقعت طلقة
Ini tidaklah benar, sebab jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu setengah talak,” maka jatuhlah dua talak, dan tidak ada cara untuk menghindari talak kedua itu. Karena orang yang mentalak telah berhak atas satu talak, kecuali jika setengah talak itu dianggap sebagai satu talak. Demikian pula, jika ia berkata, “Aku jatuhkan atasmu setengah talak,” maka jatuhlah satu talak.
فهذا أصلٌ لا مدافعة فيه
Ini adalah prinsip yang tidak dapat dibantah.
ثم قال الأئمة رضي الله عنهم إذا قال أنت طالق ثلاثاًً إلا نصف طلقة وقعت الثلاث ولغا استثناء النّصف هذا ما صار إليه حملة المذهب
Kemudian para imam rahimahumullah berkata: Jika seseorang mengatakan kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kecuali setengah talak,” maka jatuhlah talak tiga dan pengecualian setengah talak itu dianggap tidak berlaku. Inilah pendapat yang dianut oleh para pengusung mazhab.
وذكر الشيخ أبو علي في شرح الفروع ما ذكرناهُ وحكى وجهاً غريباً أن النصف في الاستثناء بمثابة الطلقة ونجعل البعض عبارةً عن الكل في الإيقاع والإسقاط وهذا غريب لم أرَهُ إلاّ لهُ
Syekh Abu Ali dalam Syarh al-Furū‘ menyebutkan apa yang telah kami sebutkan, dan ia meriwayatkan satu pendapat yang ganjil bahwa setengah dalam istitsnā’ (pengecualian) itu seperti satu talak, dan kita menganggap sebagian sebagai ungkapan untuk keseluruhan dalam hal pelaksanaan dan pembatalan. Ini adalah pendapat yang ganjil yang tidak aku temukan kecuali darinya.
ووجهه على بعده أنا نحكم بوقوع الطلقة إذا جرى ذكر بعضها لا على مذهب السريان كما تقدّم شرح ذلك بل لا يتجه فيه إلا إقامة العبارة عن الجزء مقام العبارة عن الواحدة ولعلّ السر فيه أن ما لا ينقسم فبعضه ككلّه
Penjelasannya, meskipun tampak jauh, adalah bahwa kita menetapkan terjadinya talak jika disebutkan sebagian lafaznya, bukan menurut mazhab saryān sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Bahkan, yang tepat di sini hanyalah menempatkan ungkapan tentang sebagian sebagai pengganti ungkapan tentang satu keseluruhan. Barangkali rahasianya adalah bahwa sesuatu yang tidak terbagi, maka sebagian darinya sama dengan keseluruhannya.
وهذا غير صحيح فإن الطلاق يُغَلَّب في وقوعه والاستثناءُ مناقَضةُ الوقوع وإذا استثنى من يبغي النفي بنصف طلقة فقد ألغى نصف طلقةٍ والذي أبقاه يُكمَّل
Hal ini tidak benar, karena talak lebih diutamakan untuk terjadi, sedangkan pengecualian bertentangan dengan terjadinya talak. Jika seseorang mengecualikan dengan maksud meniadakan setengah talak, maka ia telah menghapus setengah talak, dan yang ia sisakan menjadi sempurna.
ولو كنا نجري على أن الجزء عبارة عن الكل فيما لا ينقسم للزم أن نقول ما قاله بعض أصحاب أبي حنيفة في أن الرجل إذا قال زوَّجْتك نصف ابنتي كان بمثابة ما لو قال زوجتك ابنتي لم يختلف أصحابنا في أن النكاح لا يصح بذكر الجزء من المنكوحة
Seandainya kita mengikuti pendapat bahwa bagian adalah sama dengan keseluruhan dalam hal yang tidak dapat dibagi, maka kita harus mengatakan seperti yang dikatakan sebagian pengikut Abu Hanifah, bahwa jika seorang laki-laki berkata, “Aku menikahkanmu dengan setengah putriku,” maka itu sama saja seperti ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan putriku.” Namun, para ulama kami tidak berbeda pendapat bahwa akad nikah tidak sah dengan menyebutkan bagian dari perempuan yang dinikahkan.
فالتفريع إذاً على أن استثناء الجزء باطل فإذا قال أنت طالق ثلاثاًً إلا طلقةً ونصفاً بطل استثناء النصف وصح استثناء الواحدة ووقعت طلقتان
Maka, berdasarkan hal tersebut, pengecualian terhadap sebagian (dari jumlah talak) adalah batal. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali satu talak dan setengah,” maka pengecualian setengah talak adalah batal, sedangkan pengecualian satu talak sah, sehingga jatuhlah dua talak.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا اثنتين ونصفاً فإن جعلنا النّصف عبارة عن طلقةٍ في الوجه الغريب الذي حكاه الشيخ أبو علي فالتقدير أنت طالق ثلاثاًً إلا اثنتين وواحدة ثم يقع هذا في أنا هل نجمع المفرّق فيه التفصيل المقدّم
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali dua setengah,” maka jika kita menganggap setengah itu bermakna satu talak, sebagaimana pendapat ganjil yang diriwayatkan oleh Syekh Abu Ali, maka maknanya menjadi, “Engkau tertalak tiga kecuali dua dan satu,” kemudian hal ini masuk dalam pembahasan apakah kita menggabungkan perkara yang dipisahkan di dalam rincian yang telah disebutkan sebelumnya.
وإن قلنا إنَّ ذكر الجزء في الاستثناء باطل فهذا فيه احتمال على هذا المقام ظاهر القياس أن النصف يبطل ويبقى استثناء ثنتين فكأنه قال أنت طالق ثلاثاً إلا اثنتين ولا يتجه فيه إعمال الاستثناء لأن في إعماله إبطاله إذ لو عمل النصف لصار الاستثناء مستغرفاً مع التفريع على أن المفرّق كالمجموع ونحن نغلب وقوع الطلاق في هذه المنازل
Jika kita mengatakan bahwa penyebutan bagian dalam istisna’ (pengecualian) adalah batal, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan, menurut qiyās yang jelas pada posisi ini, bahwa setengahnya batal dan yang tersisa adalah pengecualian dua, seolah-olah dia berkata: “Engkau tertalak tiga kecuali dua.” Dan tidak mungkin di sini untuk memberlakukan istisna’, karena jika istisna’ diberlakukan maka itu berarti membatalkannya, sebab jika setengahnya diberlakukan maka istisna’ menjadi mencakup seluruhnya, dengan asumsi bahwa yang dipisahkan itu sama dengan keseluruhan. Dan kami lebih menguatkan terjadinya talak dalam kasus-kasus seperti ini.
ولو قال والتفريع على الأصحّ أنت طالق ثلاثاًً إلا طلقتين إلا نصفَ طلقة فهذا الاستثناء الأخير صحيح فإنه إيقاعٌ والتقدير أنت طالق ثلاثاًً تقعُ إلا ثنتين لا يقعان إلا نصفاً يقع
Dan jika dikatakan, berdasarkan pendapat yang paling sahih, “Engkau tertalak tiga kali kecuali dua talak, kecuali setengah talak,” maka pengecualian terakhir ini sah, karena ini adalah pelaksanaan talak. Maka maksudnya adalah: “Engkau tertalak tiga kali,” yang jatuh (terjadi), “kecuali dua talak,” yang tidak jatuh, “kecuali setengah,” yang jatuh.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا طلقة ونصف فإذا فرعنا على الأصح فذكر النصف باطل لأنه للإسقاط لو صح فالتعويل على هذا فمهما كان الاستثناء للإيقاع صح فيه لفظ الجزء ومهما كان للإسقاط لم يصح على الأصح
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali satu talak dan setengah,” maka jika kita mengikuti pendapat yang paling sahih, penyebutan setengah talak adalah batal, karena jika dianggap sah, itu bermakna untuk pengguguran. Berdasarkan hal ini, kapan pun istisna’ (pengecualian) dimaksudkan untuk menjatuhkan talak, maka sah menggunakan lafaz bagian (seperti setengah), dan kapan pun dimaksudkan untuk pengguguran, maka menurut pendapat yang paling sahih, itu tidak sah.
وفي هذا نجاز مسائل الاستثناء والله أعلم بالصواب
Dengan ini selesailah pembahasan masalah-masalah istisna’, dan Allah-lah yang lebih mengetahui kebenaran.
فصل قال ولو قال كلّما ولدت ولداً فأنت طالق إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Setiap kali engkau melahirkan seorang anak, maka engkau tertalak,” hingga akhir kalimat.
هذا الفصل يشتمل على أحكامٍ منوطةٍ بمقتضى الألفاظ والقولِ في انقضاء العدة بوضع الحمل وإذا اشترك في المسألة النظرُ في الألفاظ والكلامُ في الأحكام أحوجت المسألةُ الناظرَ إلى مزيد تدبّر ومضمون المسألة يتأدّى بمسألتين إحداهما مفروضة في لفظةٍ لا تقتضى التكرّر والأخرى مفروضة في لفظةٍ تقتضي التكرر ثم تتشعب كل مسألة ونحن نأتي في كل واحدة بما يليق بها
Bab ini mencakup hukum-hukum yang bergantung pada makna lafaz, serta pembahasan tentang berakhirnya masa ‘iddah dengan kelahiran. Jika dalam suatu masalah terdapat pertimbangan lafaz dan pembahasan hukum sekaligus, maka hal itu menuntut penelaah untuk lebih cermat. Inti dari masalah ini dapat dijabarkan menjadi dua persoalan: yang pertama, didasarkan pada lafaz yang tidak menunjukkan pengulangan; yang kedua, didasarkan pada lafaz yang menunjukkan pengulangan. Kemudian, masing-masing persoalan akan bercabang, dan kami akan membahas pada setiap bagian sesuai dengan yang layak baginya.
فإذا قال لامرأته إن ولدت ولداً فأنت طالق فولدت ولداً ثم أتت بولدٍ آخر لأقلّ من ستة أشهرٍ من ولادة الولد الأول فيلحقها طلاق واحد بالولادة الأولى وتنقضي عدتها بوضع الولد الثاني ولا يتكرر الطلاق فإنه علّقه بقوله إنْ وهو لا يقتضي التكرر والولد الثاني يلحقه نسبُه فإن الأول لحقه إذ العلوق به كان في النكاح والولد للفراش والولد الثاني في معنى الولد الأول فإنهما من بطن واحد وحكم البطن لا يختلف احتمالاً ولحوقاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu melahirkan seorang anak, maka kamu tertalak,” lalu istrinya melahirkan seorang anak, kemudian melahirkan anak lagi dalam waktu kurang dari enam bulan setelah kelahiran anak pertama, maka jatuh satu talak kepadanya karena kelahiran pertama, dan masa iddahnya selesai dengan kelahiran anak kedua. Talak tidak terulang, karena suami menggantungkan talak dengan ucapan “jika”, yang tidak menunjukkan pengulangan. Nasab anak kedua tetap diakui, sebagaimana anak pertama diakui nasabnya, karena kehamilan anak pertama terjadi dalam pernikahan dan anak itu adalah anak dari hubungan pernikahan. Anak kedua pun dalam kedudukan yang sama dengan anak pertama, karena keduanya berasal dari satu rahim, dan hukum satu rahim tidak berbeda baik dari segi kemungkinan maupun pengakuan nasab.
فإن كان بين الولدين والمسألة بحالها أكثرُ من ستة أشهُرٍ فلا شك أن العلوق بالولد الثاني وقع بعد انفصال الأول إذ لو كانا من بطنٍ واحدٍ لما تخلل بينهما ستة أشهر فإذا تبين أن العلوق بالثاني وقع بعد الأول فهل يَلحق الولدُ الثاني الزوجَ
Jika antara kedua anak tersebut—dengan permasalahan tetap seperti itu—terdapat jarak lebih dari enam bulan, maka tidak diragukan lagi bahwa kehamilan anak kedua terjadi setelah kelahiran anak pertama. Sebab, jika keduanya berasal dari satu kandungan, tidak mungkin terdapat jeda enam bulan di antara mereka. Jika telah jelas bahwa kehamilan anak kedua terjadi setelah anak pertama, maka timbul pertanyaan: apakah anak kedua tersebut tetap dinisbatkan kepada suami?
في المسألة قولان مبنيان على صورة نرسمها ونُحيل استقصاءها على كتاب العدة وهي أن الرجل إذا طلق امرأته طلقة رجعيةً ثم أتت بولدٍ لأكثر من أربع سنين من وقت الطلاق ولأقلّ من أربع سنين من وقت انقضاء العدة وكان الطلاق رجعياً فابتداء أربع سنين يحتسب من وقت الطلاق أو من وقت انقضاء العدة فعلى قولين أحدهما وهو الأصح عند المحققين أنه يحتسب من يوم الطلاق فإن الطلاق وإن كان رجعياً فهو قاطع لاستحلال الافتراش وإن كان الملك قائماً ونحن إنما نلحق الولد بالفراش لاطراد استحلال الافتراش والطلاق وإن كان رجعياً فهو قاطع لهذا المعنى ولهذا استعقب الاعتدادَ وهو غير معقول إلا في زمان الانعزال
Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada suatu gambaran yang akan kami jelaskan, dan penjelasan rinciannya kami serahkan pada Kitab al-‘Uddah. Gambaran masalahnya adalah: apabila seorang laki-laki menceraikan istrinya dengan talak raj‘i, kemudian istrinya melahirkan anak lebih dari empat tahun sejak waktu talak, dan kurang dari empat tahun sejak berakhirnya masa ‘iddah, sedangkan talaknya adalah talak raj‘i, maka permulaan hitungan empat tahun itu dimulai sejak waktu talak atau sejak berakhirnya masa ‘iddah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, dan ini yang paling sahih menurut para peneliti, adalah bahwa hitungan dimulai sejak hari talak, karena talak, meskipun raj‘i, tetap memutuskan kehalalan berhubungan suami istri, meskipun kepemilikan (pernikahan) masih tetap ada. Kita hanya menasabkan anak kepada suami karena adanya kehalalan berhubungan suami istri secara terus-menerus, dan talak, meskipun raj‘i, memutuskan makna tersebut. Oleh karena itu, setelah talak langsung diwajibkan masa ‘iddah, dan hal itu tidak masuk akal kecuali pada masa perpisahan.
والقول الثاني أن ابتداء السنين الأربع محتسب من آخر العدة لأنّ الرجعية في العدة زوجة وسلطنة الزوج قائمة عليها
Pendapat kedua menyatakan bahwa permulaan empat tahun dihitung sejak akhir masa ‘iddah, karena wanita yang berada dalam masa ‘iddah raj‘iyyah masih berstatus sebagai istri dan kekuasaan suami atasnya masih tetap berlaku.
وسيأتي تحقيق ذلك توجيهاً وتفريعاً إن شاء الله
Hal itu akan dijelaskan secara rinci dan dikembangkan penjelasannya, insya Allah.
وإذا أتت المرأة بولدٍ ولحقها الطلاق عند الولادة ثم أتت بولدٍ بعد ذلك لستة أشهرٍ فصاعداً فنحن نعلم قطعاً أن العلوق بالولد الثاني لم يكن في حال استمرار النكاح كما نعلم قطعاً أنها إذا أتت بولدٍ بعد الطلاق الرّجعي لأكثر من أربع سنين من وقت الطلاق فالعلوق به لا يكون متقدّماً على الطلاق فاستوت المسألتان في تحقق وقوع العلوق بعد الطلاق فخرجت المسألة على قولين في لحوق الولد الثاني فإن قلنا الولد يلحق فقد طُلِّقت هذه عند الولد الأول ثم انقضت عدتها بوضع الولد الثاني وإن قلنا الولد لا يلحق فلا تنقضي العدة به فإن عدة الرجل إنما تنقضي بوضع المرأة حملها إذا كان الولد ملتحقاً بمن العدة منه
Jika seorang wanita melahirkan seorang anak, lalu ia ditalak saat melahirkan, kemudian setelah itu ia melahirkan anak lagi setelah enam bulan atau lebih, maka kita mengetahui secara pasti bahwa kehamilan anak kedua itu tidak terjadi saat masih dalam masa pernikahan. Sebagaimana kita juga mengetahui secara pasti bahwa jika ia melahirkan anak setelah talak raj‘i lebih dari empat tahun sejak waktu talak, maka kehamilan anak tersebut tidak mungkin terjadi sebelum talak. Kedua kasus ini sama-sama menunjukkan bahwa kehamilan terjadi setelah talak. Maka, masalah ini keluar pada dua pendapat tentang status anak kedua. Jika kita mengatakan anak itu diakui sebagai anak suami, maka wanita tersebut ditalak saat anak pertama lahir, lalu masa iddahnya selesai dengan melahirkan anak kedua. Namun jika kita mengatakan anak itu tidak diakui sebagai anak suami, maka masa iddahnya tidak selesai dengan kelahiran anak tersebut. Sebab, masa iddah seorang laki-laki hanya berakhir dengan wanita melahirkan kandungannya jika anak tersebut diakui sebagai anak dari orang yang menjadi sebab iddah.
ولو أتت والمسألة كما صورناها بولدين بينهما أقل من ستة أشهرٍ ثم أتت بثالث لأكثر من ستة أشهر من الولادة الثانية فيلحقها طلقة بوضع الولد الأول وتنقضي عدتها بوضع الولد الثاني ويلحقه الولدان ولا يلحق الولد الثالث قولاً واحداً فإنا نعلم أن العلوق به وقع بعد الولد الثاني وهذا ثابت بوضع الولد الثاني وعاد إمكان العلوق إلى زمان البينونة وإذا كان كذلك ترتب عليه انتفاءُ الولد الثالث فإن الولد اللاحق قولاً واحداً هو الذي يمكن تقدير علوقه في صُلب النكاح والولد الذي اختلف القول فيه هو الذي يمكن تقدير علوقه في زمان الرجعة ولا يمكن تقديره قبل الطلاق
Jika seorang wanita melahirkan, dan kasusnya seperti yang telah kami gambarkan, yaitu ia melahirkan dua anak dengan jarak kurang dari enam bulan di antara keduanya, kemudian ia melahirkan anak ketiga dengan jarak lebih dari enam bulan dari kelahiran kedua, maka jatuhlah satu talak padanya dengan kelahiran anak pertama, dan masa iddahnya selesai dengan kelahiran anak kedua. Kedua anak tersebut dinasabkan kepada suaminya, sedangkan anak ketiga tidak dinasabkan kepadanya menurut satu pendapat. Sebab, kita mengetahui bahwa kehamilan anak ketiga terjadi setelah kelahiran anak kedua, dan ini terbukti dengan kelahiran anak kedua, sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan kembali ke masa setelah terjadinya perpisahan (bainunah). Jika demikian, maka anak ketiga tidak dinasabkan kepadanya. Anak yang dinasabkan menurut satu pendapat adalah anak yang memungkinkan terjadinya kehamilan saat masih dalam ikatan nikah, sedangkan anak yang diperselisihkan pendapat tentangnya adalah anak yang memungkinkan terjadinya kehamilan pada masa iddah raj‘iyyah, dan tidak mungkin diperkirakan kehamilan terjadi sebelum talak.
ولو قيل لو أتت بالولد الثالث لأكثر من ستة أشهرٍ من وضع الولد الأول ولأقلَّ من ستة أشهرٍ من وضع الولد الثاني وكان بين الثاني والأول أقلُّ من ستة أشهر فكيف الحكم فيه إذاً قلنا هذه مغالطة والمسألة لا تتصور كذلك فإن الرحم إذا اشتمل على أولادٍ كانت المدة بين وضع الأول وبين وضع الآخر أقل من ستة أشهر فإن الرحم تنتفض عما فيه وتبرأ عما عداه في أقلَّ من ستة أشهر
Jika dikatakan: “Bagaimana hukumnya jika seorang wanita melahirkan anak ketiga lebih dari enam bulan setelah melahirkan anak pertama, namun kurang dari enam bulan setelah melahirkan anak kedua, sedangkan jarak antara anak kedua dan pertama kurang dari enam bulan?” Maka kami katakan: Ini adalah kekeliruan dan permasalahan seperti ini tidak dapat dibayangkan terjadi. Sebab, jika rahim mengandung beberapa anak dan jarak antara kelahiran anak pertama dan berikutnya kurang dari enam bulan, maka rahim akan kosong dari apa yang ada di dalamnya dan bersih dari selainnya dalam waktu kurang dari enam bulan.
وما ذكرناه فيه إذا ذكر لفظة لا تقتضي التكرار
Apa yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika disebutkan suatu lafaz yang tidak mengandung makna pengulangan.
فإن ذَكَر لفظة مقتضاها التكرار فقال كلما ولدتِ ولداً فأنت طالق فأتت بأولادٍ من بطن واحدٍ فإن أتت بأربعة أولادٍ لحقتها ثلاث طلقات فتطلق بالوضع الأول واحدةً وبوضعِ الثاني ثانيةً وبوضع الثالث ثالثة وتنقضي عدّتها بوضع الولد الرابع ولا إشكال فإن الطلقات كملت وفي الرحم بقية
Jika ia mengucapkan lafaz yang mengandung makna pengulangan, misalnya berkata, “Setiap kali engkau melahirkan seorang anak, engkau tertalak,” lalu sang istri melahirkan beberapa anak sekaligus dari satu kandungan, maka jika ia melahirkan empat anak, jatuhlah tiga talak kepadanya: ia tertalak dengan kelahiran anak pertama satu talak, dengan kelahiran anak kedua talak kedua, dan dengan kelahiran anak ketiga talak ketiga, serta masa iddahnya selesai dengan kelahiran anak keempat. Tidak ada kerancuan dalam hal ini, karena seluruh talak telah sempurna sementara masih ada sisa anak dalam rahim.
فأما إذا ولدت ثلاثة أولادٍ من بطن واحدٍ ولم يتخلل بين الأول والآخر ستة أشهرٍ فيلحقها طلقتان الأولى والثانية
Adapun jika ia melahirkan tiga anak dalam satu kandungan dan tidak terdapat jeda enam bulan antara anak pertama dan berikutnya, maka ia dikenai dua talak, yaitu talak pertama dan kedua.
ثم المنصوص عليه في الجديد أن العدّة تنقضي بوضع الثالث ولا يقع الطلاق بوضعه ونص في الإملاء على أنّ الطلقة الثالثة تقع بالولد الثالث وتستأنف العدة بالأقراء
Kemudian, pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru adalah bahwa masa ‘iddah berakhir dengan kelahiran anak ketiga dan talak tidak jatuh dengan kelahirannya. Dalam kitab al-Imlā’, ditegaskan bahwa talak ketiga jatuh dengan kelahiran anak ketiga dan masa ‘iddah dimulai kembali dengan masa haid.
فاختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قطع القولَ بأن الطلاق الثالث لا يقع أصلاً وأنها تَبين بوضع الولد الثالث ووجهه بيّنٌ فإن الطلاق لو لم يلحقها لبانت بالولادةَ لمكان براءة الرحم فإذا كان وضع الولد مقترناً بالبينونة فالطلاق الثالث مضافٌ إذاً إلى حال البينونة وهذا محالٌ وهو كما لو قال لامرأته التي لم يدخل بها إذا طلقتك فأنت طالق فإذا طلقها تنجيزاً تنجّز الطلاق ولا يقع ما علّقه لأنها تبين بوقوع الطلاق الأول
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat tegas bahwa talak ketiga sama sekali tidak jatuh, dan perempuan itu menjadi terpisah (dari suaminya) dengan kelahiran anak ketiga. Alasannya jelas, karena jika talak tidak mengenai dirinya, maka ia menjadi terpisah dengan kelahiran anak karena rahimnya telah bersih. Jika kelahiran anak itu bersamaan dengan terjadinya perpisahan, maka talak ketiga itu berarti dikaitkan dengan keadaan perpisahan, dan ini mustahil. Hal ini seperti seseorang yang berkata kepada istrinya yang belum digauli: “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak.” Jika ia menceraikannya secara langsung, maka talak itu langsung terjadi dan apa yang digantungkan tidak terjadi, karena ia telah terpisah dengan jatuhnya talak pertama.
وهذا القائل يتأوّل نصَّ الإملاء ويحمله على ما إذا ولدت الولد الثاني فراجعها وردّها إلى صلب النكاح فولدت الولد الثالث في النكاح فتلحقها الطلقة الثالثة ثم تستقبل العدة وتكون كما لو قال لامرأته الحامل بولد واحدٍ وهو لا يملك إلا الطلقة الثالثة إذا ولدت فأنت طالق فإذا ولدت طُلِّقت واستقبلت العدة
Orang yang berpendapat demikian menafsirkan teks imlā’ dan memahaminya dalam konteks apabila seorang istri melahirkan anak kedua, lalu suaminya merujuknya dan mengembalikannya ke dalam ikatan nikah, kemudian ia melahirkan anak ketiga dalam pernikahan tersebut, maka jatuhlah talak ketiga kepadanya, lalu ia menjalani masa ‘iddah, dan keadaannya seperti jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sedang hamil satu anak—sementara ia hanya memiliki hak talak ketiga—“Jika kamu melahirkan, maka kamu tertalak,” maka ketika ia melahirkan, jatuhlah talak dan ia pun menjalani masa ‘iddah.
وهذه الطريقة مستدّة في المعنى ولكنها مخالفة للنصّ فإن الأصحاب عن الإملاء نقلوا التصريح بتصوير اعتقاب الولادات من غير تخلل رجعةٍ
Cara ini didasarkan pada makna, namun bertentangan dengan nash, karena para ulama dari kitab Al-Imla’ telah menukil pernyataan tegas tentang kemungkinan terjadinya pergantian kelahiran tanpa adanya jeda rujuk di antaranya.
والطريقة المشهورة طرد القولين أحدهما وهو المنصوص عليه في الجديد أن الطلاق لا يقع بالولادة الثالثة ووجهه مما ذكرناه
Cara yang masyhur adalah dengan menolak kedua pendapat, salah satunya—yang merupakan pendapat yang dinyatakan dalam pendapat baru (al-jadid)—bahwa talak tidak terjadi dengan kelahiran yang ketiga, dan alasannya telah kami sebutkan.
والقول الثاني أن الطلاق يقع وقد تكلف الأصحاب توجيه هذا القول لاشتهاره فلم يتحصّلوا على معنى عليه مُعوّل
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak tetap jatuh, dan para ulama telah berupaya keras untuk memberikan penjelasan atas pendapat ini karena ketenarannya, namun mereka tidak mendapatkan makna yang dapat dijadikan sandaran.
وقد ذكر القفال مسلكاً نحن نذكره ثم نوضح اختلاله قال اختلف قول الشافعي في أن الرجعية إذا طلقها زوجها في عدة الرجعة فهل تستأنف عدةً إذا لحقها الطلاق أم تتمادى على العدة الأولى وقد أشرنا إلى هذين القولين فيما سبق وسنستقصيهما في العدد إن شاء الله
Al-Qaffal telah menyebutkan satu metode yang akan kami sebutkan, lalu kami akan menjelaskan kekeliruannya. Ia berkata: Terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i mengenai perempuan yang dicerai raj‘i; apabila suaminya menceraikannya lagi dalam masa iddah raj‘at, apakah ia harus memulai iddah yang baru jika talak itu menyusulnya, ataukah ia tetap melanjutkan iddah yang pertama. Kami telah menyinggung dua pendapat ini sebelumnya dan akan membahasnya secara rinci dalam pembahasan iddah, insya Allah.
ثم إذا قلنا تتمادى على العدة بانيةً فلا كلام وإن قلنا يستعقبُ الطلاقُ عدةً جديدة فالعدّة الأولى تنقطع وتستأنف هذه عدة جديدة ثم لا نقضي بأن الطلاق وقع وهي في بقية من العدة الماضية ولكن نقول يقع الطلاق على مفصل الانقطاع والاستقبال وهو كما لو قال لامرأته أنت طالق بين الليل والنهار فإذا صادفها الطلاق لم يكن الطلاق واقعاً في جزء من النهار ولا في جزءٍ من الليل
Kemudian, jika kita mengatakan bahwa ia melanjutkan masa iddah dengan membangunnya, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita mengatakan bahwa talak itu menimbulkan iddah yang baru, maka iddah yang pertama terputus dan ia memulai iddah yang baru ini. Selanjutnya, kita tidak memutuskan bahwa talak terjadi sementara ia masih dalam sisa masa iddah yang lalu, tetapi kita katakan bahwa talak jatuh pada batas antara berakhirnya yang lama dan dimulainya yang baru. Hal ini seperti jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak antara malam dan siang.” Maka jika talak itu terjadi padanya, talak tersebut tidak jatuh pada bagian malam maupun pada bagian siang.
هذا كلامه
Ini adalah ucapannya.
وقال بانياً عليه إذا حكمنا بأن الطلاق يقتضي عدّة مستقبلة فالطلاق الثالث يلحق مع انفصال الولد ويتصل به استقبال العدة فلا يكون واقعاً في جزءٍ من العدة المستقبلة ولا في جزء من الزمان قبل تمام الانفصال ولكن يقع على المتصل
Dan ia berkata, berdasarkan hal itu, jika kita memutuskan bahwa talak mengharuskan adanya masa iddah yang akan datang, maka talak yang ketiga terjadi bersamaan dengan berpisahnya anak, dan masa iddah yang akan datang pun dimulai setelahnya. Maka talak tersebut tidak terjadi pada bagian dari masa iddah yang akan datang, dan tidak pula pada bagian waktu sebelum sempurnanya perpisahan, tetapi terjadi pada waktu yang berdekatan dengannya.
هذا ما ذكره
Inilah yang telah disebutkan.
وهو كلام مضطرب ولو التزمنا في هذا المجموع أن نُري بفضلةٍ في اللسان الباطلَ في صورة الحقّ لكنا مُلبِّسين ونحن نبرأ إلى الله من ذلك ومقصودنا فيه أن نوضح ما عندنا في كل مسألة على حقيقتها وهذا مما يقطع قولَنا فيه بأن هذا القول لا يتوجه فإن الولادة هي الانفصال ويتحقق معه من غير ترتبٍ انقضاءُ العدة فالطلاق المعلق على الولادة لا يقع إلا مع الانفصال وحق الإنسان أن يتحفظ في ذلك جهده ولا يقول إلا ما يُشعر بالتحقيق
Ini adalah pernyataan yang rancu. Jika kami dalam kumpulan ini berkomitmen untuk menampakkan kebatilan dalam bentuk kebenaran dengan kelebihan kemampuan berbicara, maka kami telah melakukan penyesatan, dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu. Tujuan kami di sini adalah menjelaskan apa yang kami miliki dalam setiap permasalahan secara apa adanya. Hal ini menegaskan pendapat kami bahwa pernyataan tersebut tidak dapat diterima, karena kelahiran adalah pemisahan, dan bersamaan dengan itu tanpa jeda, masa iddah pun selesai. Maka, talak yang digantungkan pada kelahiran tidak terjadi kecuali dengan adanya pemisahan. Sudah sepantasnya seseorang berhati-hati dalam hal ini semaksimal mungkin dan tidak mengatakan kecuali sesuatu yang menunjukkan ketelitian.
فإن قال القائل يقع الطلاق بعد الانفصال بناء على ما ذكرناه من قول الأصحاب في أن الطلاق المعلّق على الصفة يترتب على حصولها فهذا وجهٌ ولكن يزداد توجيه القول بعداً فإن الانقضاء يحصل بالانفصال وتقع البينونة معه حكماً فإن هذا ليس تعليقاً وشرطاً مشروطاً وإنما هو حكم شرعي
Jika ada yang berkata bahwa talak terjadi setelah perpisahan berdasarkan apa yang telah kami sebutkan dari pendapat para sahabat bahwa talak yang digantungkan pada suatu sifat akan berlaku ketika sifat itu terwujud, maka ini adalah satu sisi pendapat. Namun, penjelasan pendapat ini semakin jauh dari kebenaran, karena masa iddah berakhir dengan perpisahan dan terjadinya bainunah bersamanya secara hukum. Maka hal ini bukanlah suatu bentuk ta‘liq (penggantungan) dan syarat yang disyaratkan, melainkan merupakan hukum syar‘i.
فإن قلنا يقع الطلاق مع الصفة فيصادف أول حال البينونة وإن قلنا يترتب عليه فيقع مسبوقاً بالبينونة فلا وجه أصلاً
Jika kita mengatakan bahwa talak terjadi bersama dengan sifat (syarat), maka talak itu bertepatan dengan awal terjadinya perpisahan. Namun jika kita mengatakan bahwa talak itu bergantung padanya, maka talak itu terjadi setelah didahului oleh perpisahan, sehingga sama sekali tidak ada alasan (untuk terjadinya talak).
وما ذكره القفال غير سديد فإنه فرض حكماً في غير زمانٍ وهذا خارج عن المعقول فإن التي يقال فيها ليست مُطلَّقةً ثم يقال طلقت فمن ضرورة حكم مرتب على حكم أن ينفصل كل واحد منهما عن الثاني بزمان وقد تبيّن أن الطلاق لم يقع قبل تمام الانفصال فليقع مع الانفصال أو بعده
Apa yang disebutkan oleh al-Qaffāl tidaklah tepat, karena ia menetapkan suatu hukum pada waktu yang bukan zamannya, dan ini bertentangan dengan akal. Sebab, dalam kasus yang dibicarakan, perempuan itu belum menjadi muṭallaqah (perempuan yang ditalak), kemudian dikatakan ia telah ditalak. Maka, suatu hukum yang ditetapkan berdasarkan hukum lain, menuntut adanya jeda waktu antara keduanya. Telah jelas bahwa talak tidak terjadi sebelum sempurnanya pemisahan, maka hendaklah talak itu terjadi bersamaan dengan pemisahan atau setelahnya.
فأما الفصل فكلام غير معقول وأما ما استشهد به من قول الرجل لامرأته أنت طالق بين الليل والنهار وليس بينهما فاصل زماني فالوجه عندنا القطع بأن الطلاق يلحقها في آخر جزء من الليل أو آخر جزء من النهار وبذلك تكون طالقاً بين الليل والنهار
Adapun kata “fashl” (pemisah) adalah ucapan yang tidak masuk akal. Adapun dalil yang digunakan, yaitu ucapan seorang laki-laki kepada istrinya, “Engkau tertalak antara malam dan siang, dan tidak ada pemisah waktu di antara keduanya,” maka menurut kami, yang benar adalah bahwa talak jatuh pada bagian terakhir dari malam atau bagian terakhir dari siang, sehingga dengan demikian ia menjadi tertalak di antara malam dan siang.
فإن قيل هلا قضيتم بأن الطلاق يقع في أول جزء من الليل قلنا لأن معنى وقوع الطلاق بين الليل والنهار أن تكون متصفةً بالطلاق في منقطع النهار ومبتدأ الليل وهذا إنما ينتظم على الوجه الذي ذكرناه
Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak memutuskan bahwa talak jatuh pada bagian awal malam?” Kami menjawab, karena makna jatuhnya talak di antara malam dan siang adalah bahwa ia berstatus telah tertalak pada akhir siang dan awal malam, dan hal ini hanya dapat terwujud dengan cara yang telah kami sebutkan.
ثم إن أصحابنا اختبطوا وراء هذا من وجوهٍ نصفها فقال قائلون إذا قال الرجل لامرأته الرجعية أنت طالق مع انقضاء العدة ففي الحكم بوقوع الطلاق قولان مبنيان على القولين في مسألة الولادة وهذا لا شك ينطبق على مسألة الولادة ومن أقام القولين في مسألة الولادة التزم إقامتهما في هذه المسألة
Kemudian, para ulama kami berbeda pendapat setelah itu dalam beberapa hal, sebagian mereka berkata: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang dalam masa iddah raj‘iyyah, “Engkau tertalak setelah habis masa iddah,” maka dalam menetapkan jatuhnya talak terdapat dua pendapat yang dibangun di atas dua pendapat dalam masalah kelahiran. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini sesuai dengan masalah kelahiran, dan siapa yang menetapkan dua pendapat dalam masalah kelahiran, maka ia pun harus menetapkannya dalam masalah ini.
والذي أُنكره من قول هؤلاء أنهم قالوا القولان في مسألة الولادة مبنيان على ما لو قال لامرأته أنت طالق مع انقضاء العدة وهذا كلام سخيف فإن الشافعيّ نصّ على القول البعيد في الولادة ولا نصّ له في تعليق الطلاق بانقضاء العدة فكيف يُبنى قولٌ منصوصٌ على صورة مفرعةٍ عليه نعم لو قيل هذا القول يقتضي الحكمَ بوقوع الطلاق إذا قال أنت طالق مع انقضاء العدة لكان ذلك وجهاً
Yang aku ingkari dari perkataan mereka adalah bahwa mereka mengatakan kedua pendapat dalam masalah kelahiran dibangun atas kasus jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan berakhirnya masa iddah.” Ini adalah perkataan yang tidak masuk akal, karena Imam Syafi‘i telah menegaskan pendapat yang lemah dalam masalah kelahiran, dan beliau tidak menegaskan pendapat dalam masalah penangguhan talak dengan berakhirnya iddah. Maka bagaimana mungkin suatu pendapat yang ditegaskan dibangun di atas suatu gambaran yang merupakan cabang darinya? Namun, jika dikatakan bahwa pendapat ini mengharuskan hukum jatuhnya talak jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan berakhirnya iddah,” maka itu adalah suatu kemungkinan.
ومما ذكره بعض النقلة عن القاضي أن هذا مفرّع عليه أن الرجل إذا قال للرجعية أنت طالق في آخر العدّة فهل يقع الطلاق أم لا فإن قلنا في مسألة الولادة بوقوع الطلاق وقع الطلاق في هذه الصّورة
Sebagian perawi menyebutkan dari al-Qadhi bahwa hal ini bercabang dari persoalan jika seorang laki-laki berkata kepada istri yang dalam masa iddah raj‘iyyah, “Engkau tertalak pada akhir masa iddah,” apakah talak tersebut jatuh atau tidak. Jika kita berpendapat dalam masalah kelahiran bahwa talak jatuh, maka talak juga jatuh dalam kasus ini.
وإن قلنا في مسألة الولادة المُبرئة للرّحم لا يقع الطلاق فلا يقع فيه إذا قال أنت طالق في آخر العدة
Dan jika kita berpendapat dalam masalah kelahiran yang membebaskan rahim tidak terjadi talak, maka talak juga tidak terjadi jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir masa ‘iddah.”
وهذا غلط صريح فإن آخر العدة من العدة كما أن آخر اليوم من اليوم وآخر الشهر من الشهر وقد ذكرنا العبارات الدائرة في ذكر الآخِر والأول وإذا لاح ذلك فإضافة الطلاق إلى جزء من العدة كيف يمتنع وقوعها وأين هذا من تعليق الطلاق بالولادة المُبرئة للرحم والعدة تنقضي بالانفصال والطلاق يقع بالانفصال أو يترتب عليه والانفصالُ يعقب منقَرَضَ العدة كما يعقب السّوادُ البياض من غير تخلل خلوّ عن اللون بينهما
Ini adalah kesalahan yang jelas, karena akhir masa iddah termasuk dalam iddah, sebagaimana akhir hari termasuk dalam hari, dan akhir bulan termasuk dalam bulan. Kami telah menyebutkan ungkapan-ungkapan yang umum digunakan dalam menyebutkan “akhir” dan “awal”. Jika hal ini sudah jelas, maka bagaimana mungkin pelarangan jatuhnya talak yang dikaitkan dengan bagian dari masa iddah dapat diterima? Apa bedanya ini dengan menggantungkan talak pada kelahiran yang membersihkan rahim, sementara iddah berakhir dengan perpisahan, dan talak terjadi karena perpisahan atau bergantung padanya? Perpisahan terjadi setelah berakhirnya iddah, sebagaimana warna hitam mengikuti warna putih tanpa ada jeda kosong di antara keduanya.
وإن ظنّ الناقل أن قول القائل في آخر العدة يقتضي كون زمان الطلاق ظرفاً ثم ظنّ أن ما كان في ظرف يجب أن يكون محتوشاً به فهذا وهم لا يشتغل بمثله طالبُ معنىً فإن الظرف الزمانيّ هو الزمن الذي ينطبق عليه ما يضاف إليه ذو الظرف فأما الإحاطة به فمن خيالات النفوس
Jika sang penukil mengira bahwa ucapan seseorang “di akhir masa ‘iddah” mengharuskan bahwa waktu talak adalah sebagai wadah (zharf), lalu ia mengira bahwa sesuatu yang berada dalam wadah haruslah dilingkupi oleh wadah tersebut, maka ini adalah kekeliruan yang tidak layak disibukkan oleh pencari makna. Sebab, wadah waktu (zharf zamani) adalah waktu yang padanya sesuatu yang disandarkan kepadanya terjadi, sedangkan pengelilingannya adalah semata-mata khayalan jiwa.
ومن عجيب الأمر أن هذا القائل شبَّه قول القائل أنت طالق في آخر جزء من العدة بقول الرّجل لامرأته أنت طالق في آخر الحيض ثم للأصحاب وجهان في أنه هل يبدّع بهذا الطلاق
Sungguh mengherankan bahwa orang yang berpendapat demikian menyamakan ucapan seseorang “engkau tertalak pada bagian terakhir dari masa iddah” dengan ucapan seorang laki-laki kepada istrinya “engkau tertalak pada akhir masa haid”, kemudian menurut para ulama terdapat dua pendapat mengenai apakah talak seperti ini dianggap sebagai bid‘ah atau tidak.
وهذا اضطراب فاحش وخلطٌ للأصول فما قدمناه من وقوع الطلاق مأخوذ من مصادفة الطلاق زماناً من الرجعة وما استشهد به هذا القائل من إضافة الطلاق إلى آخر الحيض مأخوذ من التردّد في أنا نتبع التعبّد وقد ورد النهي عن الطلاق في الحيض أو نستمسك بطرفٍ من المعنى وهو اعتبار تطويل العدة وليس في إضافة الطلاق إلى آخر الحيض تطويلُ العدة فقد تباعد الأصلان وبان أن الطلاق المضاف إلى آخر عدة الرجعية واقع قطعاً وليس هو ناظراً لمسألة الولادة فلم نتحصل من المسألة على ما نوجّه به قول القاضي ولم نقف في هذا وقوف ناظرٍ أو محيلٍ على ذي فكر بعدنا ولكن القول الضعيف ضعيف كما وصفناه
Ini adalah kekacauan yang parah dan pencampuradukan prinsip-prinsip dasar. Apa yang telah kami sampaikan sebelumnya tentang terjadinya talak diambil dari terjadinya talak secara bersamaan dengan masa ruju‘. Sedangkan apa yang dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat tersebut, yaitu mengaitkan talak dengan akhir masa haid, diambil dari keraguan apakah kita mengikuti ketentuan syariat—karena terdapat larangan menjatuhkan talak saat haid—atau kita berpegang pada sebagian makna, yaitu mempertimbangkan lamanya masa ‘iddah. Padahal, mengaitkan talak dengan akhir masa haid tidak menyebabkan lamanya masa ‘iddah. Maka, kedua dasar tersebut sangat berbeda dan jelaslah bahwa talak yang dikaitkan dengan akhir masa ‘iddah bagi perempuan yang masih bisa diruju‘ pasti terjadi, dan hal itu tidak berkaitan dengan masalah kelahiran. Maka, dari permasalahan ini kita tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan landasan untuk pendapat qadi, dan kami pun tidak menemukan dalam hal ini pendapat seorang penelaah atau orang yang berpikiran setelah kami. Namun, pendapat yang lemah tetaplah lemah sebagaimana telah kami jelaskan.
فصل قال ولو قال إن شاء الله لم يقع إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika Allah menghendaki,” maka tidak terjadi hingga akhirnya.
إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق إن شاء الله لم يقع الطلاق وهذا لا يختص بالطلاق بل لو عقّب العِتاق أو البيعَ أو الهبة أو غيرَها من الألفاظ التي يتعلق بها العقودُ أو غيرُها من الأحكام بالتعليق بالمشيئة بطلت الألفاظ جُمعُ ولم يتعلق الحكم بشيء منها
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Allah menghendaki,” maka talak tidak terjadi. Hal ini tidak khusus pada talak saja, bahkan jika seseorang mengaitkan pembebasan budak, penjualan, hibah, atau selainnya dari lafaz-lafaz yang berkaitan dengan akad atau hukum-hukum lain dengan penggantungan pada kehendak (mashī’ah), maka seluruh lafaz tersebut menjadi batal dan tidak ada hukum yang terkait dengan salah satunya.
ولو قال مستحق الدم عفوت إن شاء اله فالذي جاء به ليس بعفوٍ
Dan jika ahli waris korban berkata, “Aku memaafkan jika Allah menghendaki,” maka ucapan yang ia sampaikan itu tidak dianggap sebagai pemaafan.
وهذا سمّاه العلماء الاستثناء وهو في التحقيق تعليق وسبيل تسمية قول القائل أنت طالق إن شاء الله تعالى استثناء كسبيل تسمية قول القائل أنت طالق إن دخلت الدار استثناء وليس يبعد عن اللغة تسمية جميع ذلك استثناء فإن مَنْ أطلق قوله أنت طالق كان يقتضي لفظُه وقوعَ الطلاق على الاسترسال من غير تقيُّد بحالٍ فإذا عقَّب اللفظ بالاستثناء فكأنه ثَناه عن مقتضى إطلاقه ثَنْي الحبل عن امتداده وإنما سُمّي قولُ القائل أنت طالق ثلاثاً إلا اثنتين استثناء لأن الاستثناء يَثْني موجب اللفظ عن الوقوع
Hal ini oleh para ulama disebut sebagai istisna’ (pengecualian), padahal pada hakikatnya itu adalah ta‘liq (penggantungan). Cara penamaan ucapan seseorang “Engkau tertalak jika Allah menghendaki” sebagai istisna’ sama dengan cara penamaan ucapan seseorang “Engkau tertalak jika engkau masuk rumah” sebagai istisna’. Tidaklah jauh dari bahasa untuk menamakan semua itu sebagai istisna’, sebab siapa saja yang mengucapkan “Engkau tertalak” secara mutlak, maka ucapannya menuntut jatuhnya talak secara terus-menerus tanpa terikat pada keadaan tertentu. Jika kemudian ia menambahkan ucapan dengan istisna’, maka seolah-olah ia membelokkan makna dari keumuman ucapannya, seperti membelokkan tali dari kelurusannya. Ucapan seseorang “Engkau tertalak tiga kecuali dua” dinamakan istisna’ karena istisna’ membelokkan konsekuensi lafaz dari terjadinya (talak).
وممّا نمهده في صدر الفصل أن الرجل إذا قال أنت طالق إن شاء الله فهذا في التحقيق نفي بعد إثبات وهو مقبول وليس كقوله لفلان عليّ عشرة إلا عشرة وأنت طالق ثلاثاً إلا ثلاثاً فإن الاستثناء المستغرق باطل والمستثنى عنه نافذ بكماله وفرّق الأصحاب بين البابين بأن قالوا الإتيان بالاستثناء المستغرق لا يبني عليه الجادُّ ابتداءً كلامَه ولا يعدّ الكلام المتصل به منتظماً على جدٍّ وتحصيلٍ وأمّا تعليق الكلام بالمشيئة فمما يعدّ منتظماً ثم قيل الكلام بآخره
Di antara hal yang perlu kami jelaskan di awal bab ini adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Allah menghendaki,” maka pada hakikatnya ini adalah penafian setelah penetapan, dan hal ini diterima. Ini tidak seperti ucapannya, “Fulan berutang kepadaku sepuluh kecuali sepuluh,” atau “Engkau tertalak tiga kecuali tiga,” karena istisna’ (pengecualian) yang mencakup seluruhnya adalah batal, dan yang dikecualikan darinya tetap berlaku sepenuhnya. Para ulama membedakan antara dua permasalahan ini dengan mengatakan bahwa penggunaan istisna’ yang mencakup seluruhnya tidak akan dijadikan dasar oleh orang yang serius sejak awal dalam ucapannya, dan ucapan yang berkaitan dengannya tidak dianggap sebagai ucapan yang teratur dan bermakna. Adapun menggantungkan ucapan pada kehendak (Allah), maka hal itu masih dianggap sebagai ucapan yang teratur. Kemudian dikatakan bahwa ucapan itu dinilai berdasarkan akhirnya.
وهذا يعتضد بأن قول القائل أنت طالق ثلاثاًً إلا ثلاثاًً تعقيبُ إثبات بنفيٍ على التناقض المحض وقول القائل أنت طالق إن شاء الله تعليقٌ بصفة صيغتها تتضمن التردّد فإن مشيئة الله غيبٌ لا يُطَّلع عليه فلم يكن مبنى الكلام على التنافي والتناقض ثم إن وقع الحكم بانتفاء الطلاق لأمرٍ يقتضيه الشرع فهذا لا يرجع إلى اختلال الكلام في نفسه هذا هو الفرق
Hal ini dikuatkan oleh kenyataan bahwa ucapan seseorang “Engkau tertalak tiga kecuali tiga” merupakan penegasan suatu hal dengan meniadakan hal yang sama sekali bertentangan, sedangkan ucapan seseorang “Engkau tertalak jika Allah menghendaki” adalah penangguhan dengan sifat yang bentuknya mengandung keraguan, karena kehendak Allah adalah perkara gaib yang tidak dapat diketahui. Maka, dasar ucapan tersebut bukanlah pertentangan dan kontradiksi. Kemudian, jika terjadi penetapan hukum berupa tidak jatuhnya talak karena suatu sebab yang ditetapkan syariat, maka hal itu tidak kembali pada kerusakan ucapan itu sendiri. Inilah perbedaannya.
وقد حكيتُ فيما أظن عن صاحب التقريب أن التعليق بمشيئة الله تعالى لا يؤثر في إبطال الألفاظ وهذا شيء غريبٌ لا تعويل على مثله وقد قدّمت ذكرَه في كتاب الإقرار فالتفريع إذاً على ما عليه الأصحاب
Saya kira, saya telah meriwayatkan dari penulis kitab at-Taqrīb bahwa pengaitan dengan kehendak Allah Ta‘ala tidak berpengaruh dalam membatalkan lafaz-lafaz, dan ini adalah sesuatu yang aneh yang tidak dapat dijadikan sandaran. Saya telah menyebutkannya sebelumnya dalam kitab al-Iqrār. Maka, pembahasan selanjutnya mengikuti pendapat para ashḥāb.
ثم لا فرق بين الطلاق والعتاق فإن مشيئة الله غيبٌ في جميعها وعن مالك أنه قال العتق المعلق بمشيئة الله ناجزٌ والطلاق المعلّق بالمشيئة لا يقع وقد أورد إسحاق في مسند مُعَاذ بن جَبَل عن يحيى بن يحيى عن إسماعيل بن عيّاشٍ عن حميد بن مالك اللخمي عن مكحُول عن معاذٍ أنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا معاذ ما خلق الله شيئاً على وجه الأرض أحبَّ إليه من العتاق وما خلق الله شيئاً على وجه الأرض أبغضَ إليه من الطلاق فإذا قال الرّجل للمملوك أنت حر إن شاء الله فهو حرّ ولا استثناء له وإذا قال لامرأته أنت طالق إن شاء الله فله استثناؤه ولا طلاق فيه وروى أبو الوليد في تخريجه في الأيمان عن معدي كَرِب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من أعتق أو طلّق واستثنى فله ثُنَيَّّاه
Kemudian, tidak ada perbedaan antara talak dan pembebasan budak, karena kehendak Allah adalah perkara gaib dalam semuanya. Menurut pendapat Malik, pembebasan budak yang digantungkan pada kehendak Allah menjadi langsung terjadi, sedangkan talak yang digantungkan pada kehendak Allah tidak jatuh. Ishaq meriwayatkan dalam Musnad Mu‘adz bin Jabal dari Yahya bin Yahya, dari Isma‘il bin ‘Ayyasy, dari Humayd bin Malik al-Lakhmi, dari Makḥūl, dari Mu‘adz, bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Mu‘adz, tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan di muka bumi yang lebih dicintai-Nya daripada pembebasan budak, dan tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan di muka bumi yang lebih dibenci-Nya daripada talak. Jika seorang laki-laki berkata kepada budaknya, ‘Engkau merdeka jika Allah menghendaki,’ maka ia merdeka dan tidak ada pengecualian baginya. Namun jika ia berkata kepada istrinya, ‘Engkau tertalak jika Allah menghendaki,’ maka ia boleh menggunakan pengecualian itu dan talak tidak terjadi.” Abu al-Walid meriwayatkan dalam kitab Takhrij-nya tentang sumpah, dari Ma‘diy Karib, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, “Barang siapa membebaskan budak atau mentalak lalu memberikan pengecualian, maka ia berhak atas pengecualiannya.”
ولو قال أنت طالق إن شاء زيد توقف وقوع الطلاق على مشيئته فإن شاء وقع وإلا لم يقع والاطّلاع على مشيئته منتظَرٌ كالاطلاع على سائر أفعاله وأقواله التي يفرض تعليق الطلاق بها
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika Zaid menghendaki,” maka terjadinya talak bergantung pada kehendaknya; jika ia menghendaki, talak terjadi, dan jika tidak, talak tidak terjadi. Mengetahui kehendaknya itu ditunggu, sebagaimana mengetahui perbuatan dan perkataannya yang lain yang dijadikan syarat terjadinya talak.
ولو قال انت طالق إلا أن يشاء الله فهذا فصلٌ فيه اضطرابٌ للأصحاب والرأي في التدرج إليه أن نفرض في مقدمة الخوض في التعليق بالمشيئة تعليقاً بصفةٍ أخرى ثم تعليقاً بنفيه ثم نفرض التعليق على هذه الصِّفة بمشيئة زيدٍ ثم نعود بعد ذلك كُلِّه ونبيّن الحكم فيه إذا قال أنت طالق إلا أن يشاء الله تعالى فنقول
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki,” maka ini adalah permasalahan yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Pendapat yang tepat dalam membahasnya adalah dengan bertahap, yaitu kita memulai dengan membahas terlebih dahulu tentang talak yang digantungkan pada suatu sifat, kemudian talak yang digantungkan pada penafian sifat tersebut, lalu kita bahas talak yang digantungkan pada sifat itu dengan kehendak Zaid, kemudian setelah semua itu kita kembali dan menjelaskan hukum jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah Ta‘ala menghendaki.” Maka kami katakan…
إذا قال لامرأته أنتِ طالق إن دخل زيدٌ الدّار فهذا طلاق متعلق ثبوته بثبوت الدخول ولو قال أنت طالق إن لم يدخل زيدٌ الدارَ فالطلاق ثبوته متعلق بعدم دخول زيد الدار والطلاق القابل للتعليق يتأتّى تعليقهُ بثبوت الصّفات ويتأتى تعليقه بانتفائها فإن التعويل على قول المعلِّق والصفاتُ وإن أُخرجت مخرج الشروط فهي في التحقيق بمثابة الأوقات لما عُلق بها ويجوز أن يعلق الشيء بوقت ثبوت شيء ويجوز أن يعلّق بوقت انتفائه
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Zaid masuk ke dalam rumah,” maka talak tersebut bergantung pada terjadinya masuknya Zaid. Dan jika ia berkata, “Engkau tertalak jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah,” maka talak tersebut bergantung pada tidak terjadinya masuknya Zaid ke dalam rumah. Talak yang dapat digantungkan, bisa digantungkan pada terwujudnya suatu sifat, dan bisa pula digantungkan pada tidak terwujudnya sifat tersebut. Hal ini karena yang menjadi acuan adalah ucapan orang yang menggantungkan, dan sifat-sifat itu meskipun diletakkan dalam bentuk syarat, pada hakikatnya kedudukannya seperti waktu bagi sesuatu yang digantungkan padanya. Maka boleh menggantungkan sesuatu pada waktu terwujudnya sesuatu, dan boleh pula menggantungkan pada waktu tidak terwujudnya sesuatu.
ثم إذا قال الرجل أنت طالق إن لم يدخل زيدٌ الدار لم يحكم بوقوع الطلق ما دام الدخول منتظراً من زيد فإن مات وفات إمكان دخوله حكمنا بوقوع الطلق
Kemudian, apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah,” maka talak belum dianggap jatuh selama masih ada kemungkinan Zaid masuk. Namun, jika Zaid meninggal dunia dan tidak mungkin lagi baginya untuk masuk, maka talak dinyatakan jatuh.
ثم ما عليه الأصحاب أنّ الطلاق يقع إذا تحقق اليأس من الدخول ثم يسند وقوع الطلاق إلى ما قبل اليأس كما تقدّم
Kemudian, menurut pendapat para ulama, talak terjadi apabila telah dipastikan tidak mungkin terjadi hubungan suami istri, lalu terjadinya talak itu disandarkan pada waktu sebelum kepastian tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو قال لامرأته أنت طالق إلا أن يدخل زيد الدار فإنه إن دخل لم تطلق وإن لم يدخل طُلِّقت كما إذا قال أنت طالق إن لم يدخل زيد الدار فقوله إلا أن يدخل زيد الدار يعطي من المعنى في الحال والمآل على طوري النفي والإثبات ما يعطيه قوله أنت طالق إن لم يدخل زيد الدار
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah,” maka jika Zaid masuk, istrinya tidak tertalak, dan jika Zaid tidak masuk, istrinya tertalak. Hal ini sama seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah.” Ucapan “kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah” memberikan makna, baik saat ini maupun di masa mendatang, dalam dua keadaan penafian dan penetapan, sebagaimana makna yang diberikan oleh ucapan “engkau tertalak jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah.”
وينتظم من ذلك أنه إذا قال أنت طالق إلا أن يدخل زيد الدار فالطلاق معلَّق بعدم دخوله
Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah,” maka talak tersebut tergantung pada tidak masuknya Zaid.
ومما لا يستريب فيه من لا يرضى بالتخابيل أن الطلاق بين أن يُنَجّز أو يعلّق وهذا تقسيمٌ لا يُفرض عليه مزيدٌ
Dan tidak diragukan lagi bagi siapa pun yang tidak menerima khurafat bahwa talak itu terbagi menjadi dua: ada yang dijatuhkan secara langsung (dengan segera) dan ada yang digantungkan (dengan syarat atau waktu tertentu). Ini adalah pembagian yang tidak membutuhkan tambahan lagi.
فإن تعلّق الطلاق فلا انتجاز في الحال ومتعلَّق الطلاق نفي أو إثبات وإن تنجز فلا يجوز أن يكون له ارتباط بأمرٍ منتظرٍ ولا يجوز أن يقدّر معنى التنجز ثم يفرض فيه مستدرك
Jika talak digantungkan pada suatu syarat, maka tidak terjadi secara langsung saat itu juga, dan hal yang menjadi sandaran talak bisa berupa penafian atau penetapan. Namun jika talak dijatuhkan secara langsung (tanpa syarat), maka tidak boleh dikaitkan dengan sesuatu yang masih ditunggu kejadiannya, dan tidak boleh pula dimaknai sebagai talak langsung lalu kemudian dianggap ada sesuatu yang dapat membatalkannya.
وإنما ذكرنا هذا حتى لا يعتقد الناظر أن قول القائل أنت طالق إلا أن يدخل زيد الدار تنجيز بعده مستدرك فإن الطلاق المنجز لا يستدرك ولكن حق الفقيه أن ينظر في عاقبة اللفظ ومغزاه فإن رُوعي نفيٌ أو إثبات مأخوذ من اللفظ بوقوع الطلاق فهو متعلّق الطلاق والطلاق متعلّق به ونحن نبني على هذا القول إذا قال أنت طالق إن لم يدخل زيد الدار ثم إن مات زيد ولم ندر أدخل أم لم يدخل فالرأي الأصحّ أن الطلاق لا يقع فإنا لم ندر هل انتفى دخوله فالطلاقُ متعلق بعدَمِ دخوله
Kami menyebutkan hal ini agar orang yang menelaah tidak mengira bahwa ucapan seseorang “Engkau tertalak kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah” adalah talak yang langsung kemudian dapat dibatalkan, karena talak yang langsung tidak dapat dibatalkan. Namun, yang benar bagi seorang faqih adalah memperhatikan akibat dan maksud dari lafaz tersebut. Jika ada penafian atau penetapan yang diambil dari lafaz itu terkait jatuhnya talak, maka itulah yang menjadi sandaran talak, dan talak bergantung padanya. Berdasarkan pendapat ini, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah,” lalu Zaid meninggal dunia dan kita tidak mengetahui apakah ia telah masuk atau belum, maka pendapat yang paling benar adalah talak tidak jatuh, karena kita tidak mengetahui apakah ketidakhadirannya (masuk ke rumah) benar-benar terjadi, sedangkan talak bergantung pada ketidakhadirannya masuk.
وأبعد بعض من لا بصيرة لهُ وقال إذا أشكل دخوله فالأصل عدم دخوله وهذا هذيان لا حاصل لمثلِه فإنَّ توقع الدخول كتوقع عدم الدخول وهما في مسلك الاحتمال متساويان ويعارض تساويهما أن الطلاق لا يقع بالشك
Sebagian orang yang tidak memiliki pemahaman yang baik berpendapat, “Jika waktu masuknya (sesuatu) masih samar, maka hukum asalnya adalah belum masuk.” Pendapat ini adalah omong kosong yang tidak memiliki dasar, karena kemungkinan masuknya sama dengan kemungkinan tidak masuknya, dan keduanya dalam ranah kemungkinan adalah setara. Kesetaraan ini bertentangan dengan kaidah bahwa talak tidak jatuh karena keraguan.
ولو قال أنت طالق إلا أن يدخل زيد الدار ثم مات ولم ندر أدَخَل أم لم يدخُل فالذي ذهب إليه الجمهور كُثرهُ أن الطلاق يقع وإنما صاروا إلى هذا من حيث اعتقدوا أنّه نجّز الطلاق ثم عقبه بمستدرك فإذا لم يثبت الاستدراك فالطلاق مقرّ على تنجيزه وهذا عندنا خيالٌ لا حاصل له فإن مضمون قوله إلا أن يدخل زيد الدار تعليق كما أن مضمون قوله إن لم يدخل زيد الدار تعليق وإذا لم يتحقق متعلّق الطلاق فالوجه القطع بأن الطلاق لا يقع
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah,” lalu ia meninggal dunia dan kita tidak mengetahui apakah Zaid telah masuk atau belum, maka pendapat mayoritas ulama adalah bahwa talak tetap jatuh. Mereka berpendapat demikian karena menganggap bahwa ia telah mengeksekusi talak, kemudian menyusulinya dengan pengecualian. Jika pengecualian itu tidak terbukti, maka talak tetap berlaku sebagaimana penegasannya. Namun menurut kami, ini hanyalah anggapan yang tidak berdasar, karena makna dari ucapannya “kecuali jika Zaid masuk ke dalam rumah” adalah ta‘liq (penggantungan), sebagaimana makna dari ucapannya “jika Zaid tidak masuk ke dalam rumah” juga merupakan ta‘liq. Jika syarat yang menjadi penggantung talak itu tidak terbukti, maka yang benar adalah memastikan bahwa talak tidak jatuh.
وعضَدُ هذا وتأييدُه بأن نقول لم يعلق الزوج الطلاق بأن لا يعلم دخوله وإنما علّقه بأن لا يدخل معلِّقاً كان أو مستثنياً
Penguat dan pendukung hal ini adalah dengan mengatakan bahwa suami tidak menggantungkan talak pada tidak diketahuinya ia masuk, melainkan ia menggantungkan talak pada tidak masuk, baik sebagai mu‘allaq (syarat) maupun sebagai mustatsnā’ (pengecualian).
فإذا ثبتت هذه المقدمة رجعنا بعدها إلى تعليق الطلاق بمشيئة شخصٍ فإن قال أنت طالق إن لم يشأ زيد فمعناه في تنزيل الكلام وتقديره أنت طالق إن لم يشأ زيدٌ طلاقَك أي إن شاء طلاقَك لم تطلقي فكأنه علق الطلاق بأنْ لا يشاء الطلاق
Jika premis ini telah ditetapkan, maka kita kembali pada pembahasan tentang penangguhan talak dengan kehendak seseorang. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika Zaid tidak menghendaki,” maka makna dari ucapan ini dan takdirnya adalah, “Engkau tertalak jika Zaid tidak menghendaki talakmu,” yaitu jika Zaid menghendaki talakmu, maka engkau tidak tertalak. Seolah-olah ia menggantungkan talak pada tidak adanya kehendak talak.
ثم ممّا يجب التنبّه له على ظهوره أنه إن شاء الطلاق لم يقع الطلاق فإن متعلق الطلاق أن لا يشاء ولو لم يبلغه الخبر أو بلغه فلم يشأ نفياً ولا إثباتاً حتى فات الأمر وقع الطلاق فإنه لم يعلِّق الطلاق بأن يشاء أن لا يطلِّق وإنما علق الطلاق بأن لا يشاء أن يطلِّق ثم تنتفي مشيئته بإعراضه وإضرابه وتنتفي مشيئته بعدم الطلاق بأن يشاء الطلاق ثم إذا شاء الطلاق لم يقع بمشيئته الطلاق وإنما يقع الطلاق بعدم مشيئته الطلاق
Kemudian, hal yang juga harus diperhatikan meskipun sudah jelas adalah bahwa jika ia menghendaki talak, maka talak tidak terjadi. Sebab, syarat terjadinya talak adalah jika ia tidak menghendakinya. Jika kabar itu belum sampai kepadanya, atau telah sampai tetapi ia tidak menghendaki—baik menafikan maupun menetapkan—hingga waktu berlalu, maka talak terjadi. Sebab, ia tidak menggantungkan talak pada keinginannya untuk tidak menalak, melainkan ia menggantungkan talak pada tidak adanya keinginan untuk menalak. Maka, keinginannya menjadi tidak ada karena ia berpaling dan mengabaikannya, dan keinginannya untuk tidak menalak menjadi hilang jika ia justru menghendaki talak. Kemudian, jika ia menghendaki talak, talak tidak terjadi karena keinginannya itu, melainkan talak terjadi karena tidak adanya keinginan untuk menalak.
وهذا يُحوج الناظر إلى أدنى تدبّر وهو الذي يقفه على المقصود وإيجاز اللفظ الكافي أنجع وأوقع في مثل ذلك
Hal ini menuntut orang yang memperhatikan untuk sedikit saja merenung, karena itulah yang akan membawanya kepada maksud yang dimaksudkan. Ungkapan yang ringkas namun cukup itu lebih manjur dan lebih berkesan dalam hal seperti ini.
ولو قال أنت طالق إلا أن يشاء زيد فمعناه كمعنى قوله أنت طالق إن لم يشأ زيد والتقدير أنت طالق إلا أن يشاء زيد أن لا تُطلَّق فلا تُطلَّق
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid menghendaki,” maka maknanya sama dengan ucapan, “Engkau tertalak jika Zaid tidak menghendaki,” dan maksudnya adalah, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid menghendaki agar engkau tidak ditalak, maka engkau tidak ditalak.”
ومما يتعلق بهذا الفنّ سؤال وجواب فإن قيل إذا زعمتم أن متعلق الطلاق أن لا يشاء زيد الطلاق واعتقدتم أن عدم مشيئته متعلَّقُ الطلاق فلو شاء الطلاق ثم أعرضَ أو ترك فقد تحقق عدم المشيئة فأوقعوا الطلاق كما لو قال أنت طالق إن شاء زيد فلم يشأ زيد زمناً ثم شاء فإن الطلاق يقع إذا شاء والثبوت بعد النفي كالنفي بعد الثبوت
Terkait dengan bidang ini, terdapat pertanyaan dan jawaban: Jika dikatakan, “Kalian mengklaim bahwa yang menjadi objek talak adalah tidak adanya kehendak Zaid untuk mentalak, dan kalian meyakini bahwa ketiadaan kehendak tersebut adalah objek talak. Maka, jika Zaid menghendaki talak lalu berpaling atau meninggalkannya, berarti telah terwujud ketiadaan kehendak, sehingga talak dijatuhkan sebagaimana jika dikatakan, ‘Engkau tertalak jika Zaid menghendaki,’ lalu Zaid tidak menghendaki dalam suatu waktu, kemudian ia menghendaki, maka talak jatuh ketika ia menghendaki, dan penetapan setelah penafian itu sama dengan penafian setelah penetapan.”
قلنا هذا وهم وذهولٌ عن دَرْك معاني الألفاظ فالنفي المرسل محمول على العموم والاستدراك ولذلك يقتضي النهيُ استيعابَ الأزمنة بالانكفاف و الأمرُ على الرأي المحقق لا يقتضي التكرار واستيعابَ الأزمان بتجديد الامتثال حالاً على حال والتنبيه في مثل هذا كافٍ
Kami katakan bahwa ini adalah kekeliruan dan kelalaian dalam memahami makna-makna lafaz, karena penafian yang mutlak itu dibawa kepada makna umum dan pengecualian. Oleh karena itu, larangan menuntut untuk menahan diri secara menyeluruh pada seluruh waktu, sedangkan perintah, menurut pendapat yang kuat, tidak menuntut pengulangan dan mencakup seluruh waktu dengan memperbarui pelaksanaan dari waktu ke waktu, dan penjelasan dalam hal seperti ini sudah cukup.
فإذا تبيَّن هذا عُدنا بعده إلى ما هو مقصود الفصل فإذا قال القائل أنت طالق إلا أن يشاء الله فالذي حكاه الصّيدلاني أن الطلاق لا يقع وحكى قولاً آخر أن الطلاق يقع وزعم أن الشيخ لم يحكه ونقل من يوثق به عن القاضي أنه كان يختار الحكم بوقوع الطلاق إذا قال أنت طالق إلا أن يشاء الله
Setelah hal ini menjadi jelas, kita kembali kepada inti pembahasan. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki,” maka menurut pendapat yang diriwayatkan oleh As-Saidalani, talak tidak terjadi. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa talak tetap terjadi, dan ia mengklaim bahwa pendapat ini tidak diriwayatkan oleh Asy-Syaikh. Sementara itu, orang yang terpercaya meriwayatkan dari Al-Qadhi bahwa beliau lebih memilih untuk memutuskan jatuhnya talak jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki.”
ولستُ أنكر أن الفطِن الفقيهَ النفس قد يبتدر إلى هذا الجواب ولكن لو تثبّت وغضّ نَزَقَات القريحة ولم يُتْبع نظرَه بوادر مُضطرب النفس وكان بصيراً بمعنى اللفظ لتبيّن أن الوجه القطعُ بأن الطلاق لا يقع وذلك أنه قال إلا أن يشاء الله فمعناه إلا أن يشاء الله أن لا يقع فلا يقع ومشيئةُ الله في تعلقه وعدم تعلّقه بالنفي والإثبات غَيبٌ وقد أوضحنا بالمقدمات أن النفي في هذه الصّيغة متعلق بالطلاق وليس الطلاق منجَّزاً فهذا طلاق معلّق بنفي هو في حقنا غيبٌ والأصل استمرار النكاح وعدمُ وقوع الطلاق
Saya tidak mengingkari bahwa orang yang cerdas dan memiliki pemahaman fiqh yang tajam mungkin akan segera memberikan jawaban seperti ini. Namun, seandainya ia bersikap hati-hati, menahan gejolak pikirannya, tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan, serta benar-benar memahami makna lafaz tersebut, niscaya ia akan menyadari bahwa pendapat yang benar adalah memastikan bahwa talak tidak terjadi. Sebab, ia mengatakan “kecuali jika Allah menghendaki”, yang maknanya adalah “kecuali jika Allah menghendaki talak itu tidak terjadi, maka talak itu pun tidak terjadi”. Kehendak Allah dalam kaitannya dengan terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu, baik dalam bentuk penafian maupun penetapan, adalah perkara gaib. Kami telah menjelaskan dalam pendahuluan bahwa penafian dalam bentuk kalimat ini berkaitan dengan talak, dan talak tersebut tidak bersifat langsung (tidak langsung jatuh). Maka ini adalah talak yang digantungkan pada penafian yang bagi kita merupakan perkara gaib, dan hukum asalnya adalah tetapnya pernikahan dan tidak terjadinya talak.
ثم قال قائلون من أصحابنا إذا مات زيد وكان قال الزوج أنت طالق إلا أن يشاء زيد ولم ندر أشاء أم لم يشأ فالطلاق واقع
Kemudian sebagian dari para sahabat kami berkata: Jika Zaid meninggal dunia, sedangkan sebelumnya suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak kecuali jika Zaid menghendaki,” lalu kami tidak mengetahui apakah Zaid telah menghendaki atau tidak, maka talak tetap jatuh.
ولو قال أنت طالق إلا أن يشاء الله فمشيئة الله غيب ولا نحكم بوقوع الطلاق ثم أخذ يفرق ويقول المشيئة صفةٌ طارئة على زيدٍ فالأصل عدمها ومشيئة الله صفته الأزلية فلا يقال الأصل عدمها
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki,” maka kehendak Allah adalah perkara gaib dan kita tidak memutuskan terjadinya talak. Kemudian ia membedakan dan berkata, “Kehendak adalah sifat yang baru muncul pada Zaid, maka asalnya tidak ada; sedangkan kehendak Allah adalah sifat-Nya yang azali, maka tidak dikatakan asalnya tidak ada.”
وهذا كلام أخرق لا بصيرة معه فإن الطلاق ليس معلّقاً بنفس المشيئة وإنما تعلُّقه بعدم مشيئة عدَمِ الطلاق ومشيئة الله تتعلق ولا تتعلق فعدم التعلق فيها متعلَّق طلاق الرجل فما معنى قول القائل الأصل ثبوت مشيئة الإله
Ini adalah perkataan yang bodoh tanpa pemahaman, karena talak tidak digantungkan pada kehendak itu sendiri, melainkan keterkaitannya adalah pada tidak adanya kehendak untuk tidak menjatuhkan talak. Kehendak Allah itu terkait dan tidak terkait; ketidakterkaitan di dalamnya berkaitan dengan talak seorang laki-laki. Maka apa makna ucapan seseorang: “Pada dasarnya kehendak Tuhan itu tetap”?
ومن ألف كلامَنا وغشيَ أطراف مجلسنا استهان بمثل هذا الكلام فلا فرق إذاً بين أن يموت زيد ويستبهم علينا مشيئته وبين أن يقع التعليق بمشيئةٍ أزليةٍ تعلُّقها غيب مستبهَمٌ علينا فلا يقع الطلاق في الوجهين
Barang siapa yang telah terbiasa dengan pembicaraan kami dan sering menghadiri majelis kami, ia akan menganggap remeh pembicaraan semacam ini. Maka, tidak ada perbedaan antara kematian Zaid yang membuat kehendaknya menjadi samar bagi kami, dengan terjadinya pengaitan pada kehendak azali yang keterkaitannya merupakan perkara gaib yang samar bagi kami; sehingga talak tidak terjadi pada kedua keadaan tersebut.
وقد انتجز تمام الغرض على تبرّم منا بالإطناب فيه فإنه واضح ومن أنعم النظر في مقدّماته لم يخْفَ عليه دَرْكُ المقصود من آخره
Tujuan sepenuhnya telah tercapai, meskipun kami merasa jenuh dengan penjelasan yang panjang lebar di dalamnya, karena hal itu sudah jelas. Barang siapa yang mencermati premis-premisnya dengan saksama, tidak akan sulit baginya untuk memahami maksud dari bagian akhirnya.
وإنما إشكال الفصل في أن يقول القائلُ إذا أشكل أمر زيدٍ يقع الطلاق وإذا قال إلا أن يشاء الله لا يقع وهذا أمرٌ لا ينفصل أبداً
Permasalahan bab ini adalah ketika seseorang berkata, “Jika perkara Zaid menjadi samar, maka talak jatuh,” dan jika ia berkata, “Kecuali jika Allah menghendaki,” maka talak tidak jatuh. Ini adalah perkara yang tidak pernah dapat dipisahkan.
وقد يقال عدم مشيئة زيدٍ إذاً لا تبين قيل لكن مشيئة الله عز وجل كذلك ثم إذا شاء الطلاق فقد جزم العدم لما ذكرنا من أن العدم المحلوف عليه حقه أن يستمر
Mungkin akan dikatakan: “Tidak adanya kehendak dari Zaid, maka tidak jelas.” Dijawab: Namun kehendak Allah ‘Azza wa Jalla juga demikian. Kemudian, jika ia menghendaki talak, maka ia telah memastikan terjadinya ketiadaan, karena sebagaimana telah kami sebutkan bahwa ketiadaan yang dijadikan objek sumpah seharusnya berlangsung terus-menerus.
فهذه فصول كافية في غرضنا ونحن نرى أن نصل بمختتم هذا الفصل فروعاً تتعلق بالمشيئة
Ini adalah beberapa bagian yang cukup untuk tujuan kita, dan kami berpendapat bahwa pada penutup bab ini, kami akan menambahkan beberapa cabang pembahasan yang berkaitan dengan kehendak (masyi’ah).
فروع
Cabang-cabang
إذا قال لامرأته أنت طالق إن شئت فقد ذكرنا أن المشيئة تتعلق بالمجلس والمعنيُّ بالمجلس قربُ الزمان المعتبر في اتصال الخطاب بالجواب وقد قدمنا تعليلاً في ذلك ومِلْنا في التعليل إلى ما في المشيئة من التمليك
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” maka telah kami sebutkan bahwa kehendak (mashī’ah) itu terkait dengan majelis, dan yang dimaksud dengan majelis adalah kedekatan waktu yang dianggap dalam keterkaitan antara ucapan dan jawaban. Kami telah mengemukakan alasan mengenai hal itu, dan kami condong dalam penjelasan kepada adanya unsur pemberian hak (tamlīk) dalam mashī’ah.
ولو قال أنت طالق إن شاء فلان لم يختص ذلك بقرب زمانٍ ومجلس وهو بمثابة ما لو قال أنت طالق إن قدم فلان
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika si Fulan menghendaki,” maka hal itu tidak terbatas pada waktu yang dekat atau satu majelis saja, dan hukumnya sama seperti jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika si Fulan datang.”
وإذا قال لأجنبي إن شئتَ فامرأتي طالق ففي المسألة وجهان أحدهما أن هذا على التراخي كما لو قال إن دخلت الدار والثاني إنه على الفور فإنه استدعاء نطقٍ يقع جواباً فحقه أن يكون على الفور وقد قال الشافعي في الإيلاء لو قال لها والله لا أقربك إن شئت فشاءت في المجلس كان مولياً فشَرَطَ المشيئةَ في المجلس وإن لم تكن قد مُلّكت الطلاق لم يُعلّق بمشيئتها الطلاق وهذا يؤكد أحدَ الوجهين في الأجنبي ويجوز أن يفرضَ في محل النص تخريجاً أخذاً من الخلاف المذكور في الأجنبي
Jika seseorang berkata kepada orang lain yang bukan istrinya, “Jika kamu mau, maka istriku tertalak,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, hal ini bersifat muallaq (ditangguhkan), sebagaimana jika ia berkata, “Jika kamu masuk rumah.” Pendapat kedua, hal ini harus segera (langsung), karena ini merupakan permintaan pengucapan yang menjadi jawaban, sehingga seharusnya dilakukan segera. Imam Syafi’i berkata dalam masalah ila’: jika seseorang berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu jika kamu mau,” lalu istrinya menghendakinya dalam satu majelis, maka ia menjadi mu’ila (orang yang bersumpah ila’). Maka, syarat kehendak (mashī’ah) adalah dalam satu majelis. Jika istri belum diberi hak talak, maka talak tidak digantungkan pada kehendaknya. Hal ini menguatkan salah satu pendapat dalam kasus orang lain (ajnabi). Dan boleh jadi, kasus ini dapat diterapkan pada tempat nash dengan mengambil dari perbedaan pendapat yang disebutkan dalam kasus orang lain.
ويجوز أن يفرّق بينها وبين الأجنبي بأن الإيلاء قد يُفضي إلى الطلاق فهي في حكم المملَّكةِ على هذا التقدير
Dan boleh dibedakan antara dia (istri) dan perempuan asing (bukan istri), karena ila’ (sumpah tidak menggauli istri) bisa berujung pada talak, sehingga dalam hal ini istri dianggap seperti yang dimiliki (istri sah) menurut ketentuan ini.
وإذا قال الزوج امرأتي طالق إن شاءت قال القاضي هذا مما أتوقف فيه فإنها لو شاءت لوقع الطلاق وملكت نفسها فهي مخيّرة مُملّكة على هذا الرأي
Dan jika seorang suami berkata, “Istriku tertalak jika ia menghendaki,” maka hakim berkata, “Ini termasuk perkara yang aku berhenti padanya (tidak memutuskan secara pasti), karena jika sang istri menghendaki, maka talak terjadi dan ia memiliki dirinya sendiri; maka menurut pendapat ini, ia (istri) diberi pilihan dan kekuasaan (untuk menentukan talak).”
وينتظم ممّا ذكرناه أنه إذا خاطب امرأته بالمشيئة بحرف إن فهذا على الفور لاجتماع معنى التمليك والاستنطاق بالجواب ولو قال أنت طالق إن شاء زيد فهذا لا يُحمل على الفور لانتفاء معنى التمليك واستدعاء الجواب
Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang berkata kepada istrinya dengan lafaz bersyarat menggunakan kata “jika” (in) yang berkaitan dengan kehendak, maka hal itu berlaku seketika karena terkumpulnya makna pemberian hak (tamlik) dan permintaan jawaban. Namun, jika ia berkata, “Engkau tertalak jika Zaid menghendaki,” maka hal itu tidak berlaku seketika karena tidak terdapat makna pemberian hak dan permintaan jawaban.
ولو قال لزيد زينب طالق إن شئتَ فوجهان لوُجُود استدعاء الجواب وانتفاء التمليك
Jika seseorang berkata kepada Zaid, “Zainab tertalak jika kamu menghendaki,” maka terdapat dua pendapat, karena adanya permintaan jawaban dan tidak adanya pendelegasian kepemilikan.
وإذا قال امرأتي طالق إن شاءت فهذا فيه معنى التمليك وليس فيه استدعاء الجواب
Jika seseorang berkata, “Istriku tertalak jika ia menghendaki,” maka dalam hal ini terdapat makna pemberian hak (tauliyah), dan tidak terdapat permintaan jawaban.
وفي هذا الفصل الأخير مستدرك عندي فإذا قال وامرأته حاضرة امرأتي طالق إن شاءت فيجوز أن يُتخيل في هذا تردد وإن كانت غائبةً فقال ما وصفناه فيبعد اعتبار اتصال الجواب فإن الحالة ناطقة بصريح التعليق والبعدِ عن قصد التمليك وإذا قال لامرأته أنت طالق إن دخلتِ الدار فقد ملكها التسبب إلى الطلاق ثم لم يكن لهذا أثر في حمل الدخول على الفور ويجوز أن نقول إذا بلغها الخبر فيحتمل أن يطلب منها الابتدار إلى المشيئة وليس هذا بعيداً عن غرض المتكلم
Pada bab terakhir ini, ada hal yang perlu saya tambahkan. Jika seseorang berkata, sementara istrinya hadir, “Istriku tertalak jika ia menghendaki,” maka boleh jadi dalam hal ini terdapat kemungkinan keraguan. Namun jika istrinya sedang tidak hadir, lalu ia berkata seperti yang telah kami jelaskan, maka sulit untuk mempertimbangkan adanya keterkaitan antara jawaban dengan ucapan tersebut, karena situasinya secara jelas menunjukkan adanya ta‘liq (pengaitan) dan jauhnya dari maksud pemberian kepemilikan (talak langsung). Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau masuk ke dalam rumah,” maka ia telah memberikan hak kepada istrinya untuk menyebabkan terjadinya talak. Namun, hal ini tidak berpengaruh dalam mengharuskan masuknya istri ke rumah secara langsung (segera). Boleh jadi kita mengatakan, jika berita itu telah sampai kepadanya, maka mungkin saja diminta darinya untuk segera memilih (melakukan kehendak), dan hal ini tidaklah jauh dari maksud si pembicara.
وإذا قال أنت طالق إن شئت أنت وأبوك فمشيئتها تختص بالمجلس وإن شاءت هي في المجلس وأخّر الأبُ ثم شاء قال القاضي لم يقع الطلاق لأنه قرن بين مشيئة الأب ومشيئتها على الفور فلزم من المشيئة المقترنة بمشيئتها ما يلزم من مشيئتها وهذا حكاه رضي الله عنه وراجعه أصحابه فيه فأصر عليه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki, engkau dan ayahmu,” maka kehendaknya (istri) terbatas pada majelis (saat itu juga). Jika ia (istri) menghendaki dalam majelis, lalu ayahnya menunda, kemudian ayahnya menghendaki (setelah majelis), menurut pendapat al-Qadhi, talak tidak terjadi. Sebab, ia telah mengaitkan antara kehendak ayah dan kehendak istri secara langsung, sehingga apa yang berlaku pada kehendak yang bersamaan dengan kehendak istri juga berlaku pada kehendak istri itu sendiri. Pendapat ini dinukil oleh beliau—semoga Allah meridhainya—dan para sahabatnya mendiskusikan hal ini dengannya, namun beliau tetap bersikukuh pada pendapat tersebut.
والتحقيق أن مشيئة الأب قرينةُ مشيئةٍ يشترط فيها التعجيل والاتصال فتكتسب مشيئةُ الأب من الاقتران التعجيلَ فإن حقها أن تكون مقترنة بمشيئة الزوجة وإذا تعجّلت مشيئة الزوجة واقترنت بها مشيئة الأب كانت على التعجيل
Penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa kehendak ayah adalah kehendak yang disyaratkan untuk segera dilakukan dan harus bersambung, sehingga kehendak ayah memperoleh sifat segera karena adanya keterkaitan tersebut. Seharusnya kehendak ayah itu bersamaan dengan kehendak istri, dan apabila kehendak istri disegerakan lalu diikuti oleh kehendak ayah yang bersamaan dengannya, maka keduanya menjadi bersifat segera.
ويحتمل احتمالاً ظاهراً أن تكون مشيئتها على البدار والاتصال ولا يجب رعاية ذلك في مشيئة الأب وتقرّ كلّ مشيئةٍ على حكمها لو كانت مفردةً وهو كما لو قال أنت طالق إن شئت ودخلتِ الدار فالمشيئة حقها أن تتنجّز ودخول الدار لو استأخر ثم وقع وقع الطلاق
Ada kemungkinan yang jelas bahwa kehendak (istri) itu diarahkan pada percepatan dan keterhubungan, dan tidak wajib memperhatikan hal tersebut dalam kehendak ayah. Setiap kehendak tetap pada hukumnya masing-masing seandainya berdiri sendiri. Hal ini seperti jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki dan engkau masuk rumah.” Maka kehendak itu seharusnya segera terlaksana, dan jika masuk rumah itu terjadi belakangan lalu benar-benar terjadi, maka talak pun jatuh.
ولو قال أنت طالق إن شئتِ فقالت شئتُ إن شئتَ فقال الزوج شئتُ لم يقع شيء لأن المشيئة حقها أن تكون مبتُوتةً مجزومة فإذا قالت شئتُ إن شئتَ فقد أخرجت ما قالت عن كونه خبراً عن المشيئة الحقيقية وهذا واضح
Jika seorang suami berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” lalu istri menjawab, “Aku menghendaki jika engkau menghendaki,” kemudian suami berkata, “Aku menghendaki,” maka tidak terjadi apa-apa. Sebab, kehendak (mashī’ah) seharusnya dinyatakan secara tegas dan pasti. Ketika istri berkata, “Aku menghendaki jika engkau menghendaki,” maka ucapannya itu tidak lagi merupakan pernyataan kehendak yang sebenarnya. Hal ini jelas.
ولو قال أنت طالق ثلاثاً إلا أن يشاء أبوك واحدةً فشاء واحدةً فالمذهب المشهور أنه لا يقع شيء لأن معنى الكلام وتقديره الظاهر أنتِ طالق ثلاثاًً إلا أن يشاء أبوك واحدةً فلا يقع شيء فعلّق عدم وقوع الثلاث بمشيئته واحدةً وقد شاء واحدةً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali kecuali jika ayahmu menghendaki satu kali,” lalu ayahnya menghendaki satu kali, maka mazhab yang masyhur adalah tidak terjadi apa-apa. Karena makna dan maksud perkataan tersebut secara lahir adalah, “Engkau tertalak tiga kali kecuali jika ayahmu menghendaki satu kali,” maka tidak terjadi apa-apa. Ia telah menggantungkan tidak jatuhnya talak tiga pada kehendak ayahnya satu kali, dan ayahnya telah menghendaki satu kali.
وهو كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً إلا أن يدخل أبوك الدار فإذا دخل الدار لم يقع شيء فمشيئته واحدة بمثابة دخوله الدار في الصورة التي ذكرناها
Ini seperti ketika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kecuali jika ayahmu masuk ke dalam rumah.” Maka jika ayahnya masuk ke dalam rumah, tidak terjadi apa-apa. Maka kehendaknya itu satu, seperti halnya masuknya ayah ke dalam rumah pada contoh yang telah kami sebutkan.
وذهب بعض أصحابنا إلى أنهُ يقع واحدةً والتقدير عنده أنت طالق ثلاثاًً إلا أن يشاء أبوك واحدة فواحدة فكأنه يقول الثلاث يقعن إلا أن يكتفي الأب بواحدةٍ فلا يقع إلا واحدة وهذا التردد فيه إذا أطلق اللفظ ولم يُرد شيئاً فإن أراد وقوع واحدة على التأويل الذي ذكرناه في توجيه الوجه الضعيف فلا شك أن الواحدة تقع فإن التأويل وإن بعد فهو مقبول إذا كان مقتضاه وقوع الطلقة
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa yang jatuh adalah satu talak saja, dan menurut mereka, maksudnya adalah: “Engkau tertalak tiga, kecuali jika ayahmu menghendaki satu, maka satu saja.” Seolah-olah ia mengatakan, “Tiga talak jatuh kecuali jika ayah mencukupkan dengan satu, maka yang jatuh hanya satu.” Pendapat ini berlaku jika lafalnya diucapkan secara mutlak tanpa maksud tertentu. Namun, jika ia memang bermaksud menjatuhkan satu talak sebagaimana penafsiran yang telah kami sebutkan dalam penjelasan pendapat yang lemah, maka tidak diragukan lagi bahwa yang jatuh adalah satu talak, karena penafsiran tersebut, meskipun jauh, tetap dapat diterima jika konsekuensinya adalah jatuhnya satu talak.
ومن قال إنه يقع واحدة إذا أطلق لفظه وهو الوجه البعيد فلو قال اللافظ أردت تعليق انتفاء الثلاث بمشيئته واحدة فهل يقبل ذلك منه حتى لا يقع شيء فعلى وجهين أظهرهما أنه يصدّق ولا يقع شيء
Dan barang siapa yang mengatakan bahwa talak yang terjadi hanya satu jika ia mengucapkan lafaznya secara mutlak—ini adalah pendapat yang lemah—maka jika orang yang mengucapkan berkata, “Aku bermaksud menggantungkan tidak terjadinya talak tiga pada kehendaknya satu,” apakah hal itu diterima darinya sehingga tidak terjadi apa-apa? Ada dua pendapat, yang lebih kuat adalah ia dibenarkan dan tidak terjadi apa-apa.
ولو قال لامرأته أنت طالق إن شئت فقالت بلسانها شئتُ وكانت كارهةً بقلبها فلا شك أنا نحكم بوقوع الطلاق ظاهراً وهل يقع في الباطن قال القفال جرت هذه المسألة بيني وبين أبي يعقوب الأَبيْوَرْدي فذهبَ إلى أنه لا يقع الطلاق باطناًً كما لو قال أنت طالق إن حضتِ فقالَت حِضتُ كاذبةً فهي مصدّقة ظاهراً ولا يقع الطلاق باطناً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” lalu sang istri berkata dengan lisannya, “Aku menghendaki,” padahal dalam hatinya ia membenci (tidak menghendaki), maka tidak diragukan lagi bahwa kami menetapkan terjadinya talak secara lahiriah. Namun, apakah talak itu juga terjadi secara batin? Al-Qaffal berkata, “Masalah ini pernah terjadi antara aku dan Abu Ya‘qub al-Abiwardi. Ia berpendapat bahwa talak tidak terjadi secara batin, sebagaimana jika seorang suami berkata, ‘Engkau tertalak jika engkau haid,’ lalu sang istri berkata, ‘Aku telah haid,’ padahal ia berdusta, maka secara lahiriah ia dibenarkan, tetapi talak tidak terjadi secara batin.”
قال القفال قلتُ يقع الطلاق باطناًً وكأنه معلّق بوجود لفظ المشيئة وقد وجد والدليل عليه أنه لو قال أنت طالق إن شاء فلان فقال شئت حُكم بوقوع الطلاق وصُدّق ولو كان معتبر الطلاق مشيئةَ القلب لكان ذلك بمثابة ما لو قال أنت طالق إن دخل فلان الدار فقال فلان دخلتُ لم يصدق فدلَّ على أن الطلاق معلق بالنطق بالمشيئة وقد جرى قطعاً
Al-Qaffal berkata: Saya katakan, talak terjadi secara batin dan seolah-olah digantungkan pada adanya lafaz keinginan (mashi’ah), dan lafaz itu telah ada. Dalilnya adalah jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika si Fulan menghendaki,” lalu si Fulan berkata, “Saya menghendaki,” maka diputuskan bahwa talak terjadi dan ia dibenarkan. Jika yang menjadi pertimbangan dalam talak adalah keinginan hati, maka hal itu sama saja seperti jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika si Fulan masuk ke rumah,” lalu si Fulan berkata, “Saya sudah masuk,” maka ia tidak dibenarkan. Maka hal ini menunjukkan bahwa talak digantungkan pada pengucapan keinginan, dan hal itu benar-benar telah terjadi.
قال القاضي لعل ما ذكره الأبيوردي أصح وما استدلّ به الشيخ فيه نظر من جهة أن تعليق الطلاق على مشيئتها فيه معنى التمليك وهو يعتمد الإرادة ومحلها القلب وليس في تعليق الطلاق على مشيئة زيدٍ معنى التمليك بل هو فيه لفظ مجرد منه ظاهراً وباطناًً
Kata al-Qadhi, barangkali apa yang disebutkan oleh al-Abiwardi lebih benar, dan apa yang dijadikan dalil oleh asy-Syaikh masih perlu ditinjau kembali dari sisi bahwa menggantungkan talak pada kehendaknya mengandung makna tamlik (penyerahan hak), yang bergantung pada kehendak dan tempatnya adalah hati. Sedangkan menggantungkan talak pada kehendak Zaid tidak mengandung makna tamlik, bahkan dalam hal itu hanyalah lafaz yang kosong dari makna tersebut, baik secara lahir maupun batin.
وهذا كلام لا يشفي الغليل فإن لفظ المشيئة مشعر بإرادة القلب في الموضعين ولا وقع لملكها نفسها لو طلقت في هذا المقام فالوجه في الجواب أن مشيئة زيدٍ وإن تعلقت بإرادة قلبه فلا مطلع على إرادته إلا من جهته وما كان كذلك فلا طريق فيه إلا التصديق وليس كما لو قال أنت طالق إن دخل فلان الدار فإن الدخول يمكن أن يعرف لا من جهة الداخل
Ini adalah pernyataan yang tidak memuaskan dahaga, karena lafaz “mashi’ah” (kehendak) menunjukkan adanya keinginan hati pada kedua tempat tersebut, dan tidak ada pengaruh bagi penguasaan dirinya sendiri jika ia dicerai dalam konteks ini. Maka, jawaban yang tepat adalah bahwa kehendak Zaid, meskipun berkaitan dengan keinginan hatinya, tidak ada yang mengetahui keinginannya kecuali dari dirinya sendiri. Dan sesuatu yang demikian, tidak ada jalan lain kecuali dengan membenarkannya. Ini berbeda dengan ucapan, “Engkau tertalak jika si Fulan masuk ke rumah,” karena masuknya dapat diketahui bukan hanya dari pihak yang masuk saja.
ولو قال الرجل لامرأته أنت طالق إن دخلت الدار فقالت دخلت لم تصدق ولو قال أنت طالق إن حضت فقالت حضتُ صُدّقت لأن الحيض لا يعرَف إلا من جهتها كما ستأتي المسائل المعلّقة على الحيض
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau masuk rumah,” lalu istrinya berkata, “Aku telah masuk,” maka ucapannya tidak dipercaya. Namun jika ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau haid,” lalu istrinya berkata, “Aku telah haid,” maka ucapannya dipercaya, karena haid tidak dapat diketahui kecuali dari pihaknya, sebagaimana akan dijelaskan pada permasalahan-permasalahan yang digantungkan pada haid.
ومساق كلام القاضي دليل على احتكامه على أبي يعقوب فإن الطلاق إذا كان معلقاً على مشيئة زيدٍ فقال شئت ولم يرد بقلبه أن الطلاق يقع باطناً تعويلاً على اللفظ وإنما لا يقع باطناًً إذا كان معلقاً بمشيئة المرأة ولم تُرد بقلبها وهذا تحكُّم محال
Alur pembicaraan al-Qadhi menunjukkan bahwa ia merujuk pada pendapat Abu Ya‘qub, karena jika talak digantungkan pada kehendak Zaid lalu Zaid mengatakan “aku menghendaki”, namun dalam hatinya tidak bermaksud agar talak itu benar-benar terjadi secara batin, maka talak itu tetap terjadi secara batin berdasarkan lafaz. Talak tidak terjadi secara batin hanya jika digantungkan pada kehendak perempuan dan ia dalam hatinya tidak bermaksud demikian. Ini adalah penetapan hukum yang tidak masuk akal.
وأبو يعقوب أفقه من أن يسلّم الفرق بين المسألتين ولكن المسألة تدور على نكتة وهي أن المرأة لو أرادت الطلاق بقلبها ولم تنطق بالمشيئة فإن كان أبو يعقوب يزعم أن الطلاق يقع باطناً لتحقق إرادة القلب ولكن لا يقع الحكم به لعدم الاطلاع فيستدُّ كلامُه وإن سلّم أن الطلاق لا يقع باطناًً فيضعف ما ذكره ونتبين أن متعلق الطلاق اللفظُ المجرد
Abu Ya‘qub lebih faqih daripada sekadar menerima adanya perbedaan antara dua permasalahan tersebut, namun permasalahan ini berputar pada satu poin penting, yaitu jika seorang wanita menginginkan talak dalam hatinya tetapi tidak mengucapkan keinginannya, maka jika Abu Ya‘qub berpendapat bahwa talak terjadi secara batin karena adanya kehendak hati, tetapi hukum talak tidak berlaku karena tidak ada yang mengetahui, maka pendapatnya dapat diterima. Namun jika ia menerima bahwa talak tidak terjadi secara batin, maka pendapat yang ia sebutkan menjadi lemah, dan kita dapat memahami bahwa yang menjadi dasar talak adalah semata-mata lafaz.
والذي أراه أن استدلال القفال حَرَّفه النقلة والخلل يتسرع إلى النقل سيّما في العلوم المعنوية وعندي أن القفال ألزمَ الأبيوردي وقوع الطلاق بإرادة القلب فقال أبو يعقوب يقع فقال القفال يجب أن يصدّق إذا أخبر عن إرادة قلبه هذا يجب أن يكون مجال الكلام ولأبي يعقوب أن يرتكب مسألة الأجنبي ويقول يصدّق
Menurut pendapat saya, argumentasi al-Qaffal telah diselewengkan oleh para perawi, dan kekeliruan mudah terjadi dalam periwayatan, terutama dalam ilmu-ilmu yang bersifat maknawi. Menurut saya, al-Qaffal mewajibkan al-Abiwardi bahwa talak terjadi dengan niat hati. Maka Abu Ya‘qub berkata, “Talak jatuh.” Lalu al-Qaffal berkata, “Seseorang harus dipercaya jika ia mengabarkan tentang niat hatinya; inilah yang seharusnya menjadi ruang pembicaraan.” Dan Abu Ya‘qub dapat mengambil permasalahan orang lain (ajnabi) dan berkata, “Ia dipercaya.”
فأما إذا قال لامرأته أنت طالق إن شئت فأرادت بقلبها ولم تنطق فيجب القطع بأن الطلاق لا يقع باطناًً وظاهراً فإنَّ شرطَ جوابها أن يكون على صيغة الأجوبة واتصالها بالخطاب والكلام الجاري في النفس لا يكون جواباً فكأن الزوج علق الطلاق بإرادة وجوابٍ فإذا لم يتحقق الجواب لم يقع الطلاق ظاهراً وباطناًً
Adapun jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” lalu sang istri menghendakinya dalam hati tanpa mengucapkannya, maka harus dipastikan bahwa talak tidak terjadi baik secara lahir maupun batin. Sebab, syarat jawaban dari istri adalah harus dalam bentuk ucapan jawaban yang tersambung dengan perkataan suami, sedangkan apa yang terlintas dalam hati tidak dianggap sebagai jawaban. Maka seolah-olah suami menggantungkan talak pada kehendak dan jawaban istri; jika jawaban itu tidak terwujud, maka talak tidak terjadi baik secara lahir maupun batin.
ولو قال لامرأته أنت طالق متى شئت فهي كالأجنبي فإن الجواب غير ملتمسٍ منها
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak kapan pun engkau kehendaki,” maka kedudukannya seperti orang asing, karena jawaban tidak diminta darinya.
وانتظم من مجموع ما ذكرناه أن التعليق إن كان على مشيئةٍ تقع جواباً فالطلاق لا يقع بمجرّد إرادة القلب ظاهراً وباطناًً وإن شاءت على الاتصال وهي كارهة بقلبها وظهر اللفظ منها فهذا موضع تردّد الإمامين وإن كان الطلاق معلقاً بالمشيئة من غير اشتراط صيغة الجواب فإن وُجد لفظ المشيئة مع كراهية القلب فالطلاق يحكم به ظاهراً وفي الباطن التردد الذي ذكرناه وإن وجدت الإرادة باطناًً ولم يوجد لفظ المشيئة فمن لا يعتبر الباطن يقول لا يقع الطلاق باطناًً لعدم اللفظ والأبيوردي قد يقول يقع الطلاق بإرادة القلب باطناًً إذا لم يجر في التعليق استدعاء جواب
Dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa jika penangguhan (talak) dikaitkan dengan kehendak yang menjadi jawaban, maka talak tidak jatuh hanya dengan kemauan hati, baik secara lahir maupun batin. Jika ia menghendaki secara langsung sementara hatinya membenci, dan lafaz talak keluar dari lisannya, maka inilah tempat terjadinya perbedaan pendapat antara dua imam. Jika talak digantungkan pada kehendak tanpa mensyaratkan bentuk jawaban, maka apabila terdapat lafaz kehendak meskipun hati membenci, talak dihukumi jatuh secara lahir, sedangkan secara batin terdapat keraguan sebagaimana telah disebutkan. Jika hanya ada kemauan hati secara batin tanpa adanya lafaz kehendak, maka menurut yang tidak mempertimbangkan batin, talak tidak jatuh secara batin karena tidak adanya lafaz. Sedangkan Abu al-Wardi berpendapat bahwa talak jatuh dengan kemauan hati secara batin jika dalam penangguhan tidak disyaratkan adanya permintaan jawaban.
هذا منتهى الكلام في ذلك
Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.
فرع
Cabang
ولو قال لزوجته الصبية أنت طالق إن شئت فقد قدّمنا ترددَ الأئمة في ذلك وميلُ الأكثرين إلى أن الطلاق لا يقع وهذا قد يؤكّد مذهب الأبيوردي فإنه لو كان التعويل على مجرد اللفظ فلفظها منتظم كائن وذهب ذاهبون إلى أن الطلاق يقع كما لو قال للصبية أنت طالق إن تكلمتِ أو قلت شئتُ فقالت شئت
Jika seseorang berkata kepada istrinya yang masih kecil, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” maka telah kami sebutkan sebelumnya adanya perbedaan pendapat para imam dalam hal ini, dan mayoritas cenderung berpendapat bahwa talak tidak jatuh. Hal ini dapat menguatkan mazhab al-Abiwardi, sebab jika yang dijadikan sandaran hanyalah lafal semata, maka lafalnya sudah tersusun dan berlaku. Namun, ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa talak jatuh, sebagaimana jika seseorang berkata kepada anak kecil, “Engkau tertalak jika engkau berbicara,” atau “jika engkau berkata ‘aku menghendaki’,” lalu ia pun berkata, “aku menghendaki.”
ولو قال لمجنونةٍ أنت طالق إن شئت فقالت شئت لم يقع الطلاق وفاقاً والسبب فيه أنا وإن كنا نعتمد اللفظَ فالشرط صدَر اللفظ ممّن يتصوّر أن يكون لفظه إعراباً عن مشيئة قلبه ولا يثبت للمجنونة قصدٌ على الصحة وليس هذا كما لو قال إن تكلمتِ
Dan jika seseorang berkata kepada wanita gila, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” lalu wanita itu berkata, “Aku menghendaki,” maka talak tidak jatuh menurut kesepakatan. Sebabnya adalah, meskipun kita berpegang pada lafaz, syaratnya adalah lafaz itu keluar dari orang yang dapat dibayangkan bahwa ucapannya merupakan ungkapan dari kehendak hatinya. Sedangkan wanita gila tidak memiliki maksud yang sah secara valid. Ini berbeda dengan kasus jika ia berkata, “Jika engkau berbicara…”
وإن قال إن شئتِ فقالت في سكرها شئتُ فهذا يخرّج على أن السّكران كالمجنون أو كالصاحي
Jika seorang suami berkata, “Jika kamu mau,” lalu istrinya dalam keadaan mabuk menjawab, “Saya mau,” maka hal ini dikembalikan pada perbedaan pendapat apakah orang yang mabuk itu seperti orang gila atau seperti orang sadar.
وكان شيخي يقطع بأنه لو قال للصبيّة أنت طالق على ألف فقالت قبلت لا يقع شيء فإنه لا عبارة لها في معاملات الأموال وليس كما لو قال إن شئت فقالت شئتُ ففيه الخلاف المقدم
Dan guruku menegaskan bahwa jika seseorang berkata kepada seorang gadis kecil, “Engkau tertalak dengan seribu,” lalu ia berkata, “Aku terima,” maka tidak terjadi apa-apa, karena ia tidak memiliki otoritas ucapan dalam transaksi harta. Ini berbeda dengan kasus jika seseorang berkata, “Jika engkau menghendaki,” lalu ia berkata, “Aku menghendaki,” maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
وقال القاضي قبول الصبيّة يجوز أن يكون بمثابة قبول المحجورة السّفيهة حتى يقع الطلاق رجعياً ولا يثبت المال وهذا بعيد جداً
Hakim berkata, penerimaan dari seorang anak perempuan dapat dianggap seperti penerimaan dari perempuan yang berada di bawah perwalian karena kebodohannya, sehingga talak yang terjadi menjadi talak raj‘i dan tidak menetapkan hak mahar. Namun, pendapat ini sangat jauh dari kebenaran.
ولو قال طلّقي نفسك إن شئت والتفريع على أن هذا تمليك يستدعي جوابها على الفور فللزوج الرجوع قبل أن تجيب ولو قال لها أنت طالق إن شئت وأراد الرجوع قبل أن تقول شئت فلا يقبل رجوعه فإن هذا في ظاهره تعليق والتعليق لا يقبل الرجوع كما لو قال إن أعطيتني ألف درهم فأنت طالق ثم قال رجعتُ عما قلت فلا أثر لرجُوعه وإذا اتصل الإعطاء وقع الطلاق
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu jika kamu mau,” dan berdasarkan rincian bahwa ini adalah bentuk tamlik (pemberian hak), maka hal itu menuntut jawaban dari istri secara langsung. Maka suami boleh menarik kembali ucapannya sebelum istri memberikan jawaban. Namun jika suami berkata kepada istrinya, “Kamu tertalak jika kamu mau,” lalu ia ingin menarik kembali ucapannya sebelum istri mengatakan “saya mau,” maka penarikan kembali itu tidak diterima. Sebab, secara lahiriah ini adalah bentuk ta‘liq (penggantungan), dan ta‘liq tidak dapat ditarik kembali, sebagaimana jika ia berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham, maka kamu tertalak,” lalu ia berkata, “Saya menarik kembali ucapan saya,” maka penarikan kembali itu tidak berpengaruh. Jika pemberian seribu dirham itu terjadi, maka talak pun jatuh.
فإذا قال طلقي نفسك إن شئت والتفريع على أن هذا تفويض فلا يستدعي جوابَها على الفور فلو ابتدرت وقالت طلقت نفسي و شئت فلا إشكال ولو قالت طلقت نفسي فقال الزوج رجعتُ قبل أن تقول شئت فلا أثر لرجوعه فإنه لم يبق إلا التعليق بالمشيئة وقد ذكرنا أن التعليق لا يقع فيه الرجوع ولو أراد الزوج أن يرجع قبل أن تقول طلقت نفسي نفذ رجوعه فإن تفويض الطلاق يقبل الرجوع قبل أن تجيب فقد اشتمل كلامه على ما يؤثر الرجوع فيه وعلى ما لا يؤثر الرجوع فيه فانتظم الأمر في قبول رجوعه مرةً وردِّه أخرى كما وصفنا
Jika seorang suami berkata, “Ceraikanlah dirimu sendiri jika kamu mau,” dan berdasarkan pendapat bahwa ini adalah bentuk tafwīḍ (pendelegasian), maka tidak disyaratkan istrinya harus segera menjawab. Jika istri langsung berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri dan aku menghendakinya,” maka tidak ada masalah. Namun, jika ia berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri,” lalu suami berkata, “Aku telah menarik kembali (ucapanku) sebelum kamu mengatakan ‘aku menghendakinya’,” maka penarikan kembali itu tidak berpengaruh, karena yang tersisa hanyalah ta‘liq (penggantungan) pada kehendak, dan telah kami sebutkan bahwa dalam ta‘liq tidak berlaku penarikan kembali. Namun, jika suami ingin menarik kembali sebelum istrinya berkata, “Aku menceraikan diriku sendiri,” maka penarikan kembalinya sah, karena tafwīḍ talak dapat ditarik kembali sebelum istri menjawab. Dengan demikian, ucapan suami mencakup hal yang penarikan kembalinya berpengaruh dan hal yang tidak berpengaruh, sehingga perkara ini menjadi teratur dalam menerima penarikan kembali pada satu keadaan dan menolaknya pada keadaan lain, sebagaimana telah kami jelaskan.
ومما ذكره الأئمة في المشيئة أنه لو قال لامرأته يا طالق إن شاء الله
Di antara hal yang disebutkan para imam mengenai mashī’ah adalah jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Allah menghendaki.”
قالوا يقع الطلاق ويلغو الاستثناء فإن الاستثناء إنما يعمل في الأخبار وصيغ الأفعال فأما الأسامي فلا عمل للاستثناء فيها
Mereka berkata, talak tetap terjadi dan pengecualian menjadi tidak berlaku, karena pengecualian itu hanya berpengaruh dalam kalimat berita dan bentuk-bentuk perbuatan, adapun pada nama-nama maka pengecualian tidak berpengaruh di dalamnya.
وهذا فيه نظر فإن الطالق وإن كان اسماً فمعناه يعني طلقتك ولو أراد أن يصرف اللفظ عن اقتضاء الإيقاع لم يقبل منه أصلاً وإذا قال أنت طالق ثلاثاً إن شاء الله لم يقع شيء والثلاث تقع تفسيراً لمصدرٍ يُضمِّنه الطلاق وهو متعلق الاستثناء فالوجه عندنا صحة الاستثناء وانتفاء الطلاق وقد وجدت هذا في مرامز المحققين
Hal ini masih perlu ditinjau, sebab lafaz “ṭāliq” meskipun merupakan sebuah isim, maknanya adalah “aku menceraikanmu”. Jika seseorang bermaksud memalingkan lafaz tersebut dari makna yang mengharuskan terjadinya talak, maka hal itu sama sekali tidak diterima darinya. Jika ia berkata, “Engkau aku talak tiga kali, insya Allah,” maka talak tidak terjadi sama sekali, dan tiga kali talak itu menjadi penjelasan dari mashdar yang mengandung makna talak, yang terkait dengan pengecualian. Maka menurut kami, pengecualian tersebut sah dan talak tidak terjadi. Aku telah menemukan hal ini dalam karya-karya para muhaqqiq.
ولو قال يا طالق أنت طالق ثلاثاًً إن شاء الله انصرف الاستثناء إلى الثلاث ووقعت طلقة بقوله يا طالق وهذا بيّن
Jika seseorang berkata, “Wahai yang tertalak, engkau tertalak tiga kali jika Allah menghendaki,” maka pengecualian (istitsna’) itu kembali kepada tiga talak, dan jatuh satu talak dengan ucapannya “wahai yang tertalak.” Hal ini jelas.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً يا طالق إن شاء الله قال الأصحاب لا يقع عليها شيء لأن قوله يا طالق لا يعمل الاستثناء فيه فانصرف إلى ما يقبل الاستثناء وهو قوله أنت طالق ثلاثاًً وامتنع وقوعها ولم نُوقع طلقة بقوله يا طالق بعد إيقاع الثلاث لأنه وصفها بالطلاق لإضافة الطلاق الثلاث الذي أوقعها إليها وقد لغت الثلاث فلغا الوصف الصادر عنها ولم ينقطع حكم الاستثناء بما تخلل بينه وبين المستثنى عنه من قوله يا طالق لأنه على وفق المستثنى عنه من جنسه فالاستثناء إنما ينقطع إذا تخلل بينه وبين المستثنى عنه ما ليس من جنس النظم الذي يتسق فيه الاستثناء فلو قال طلقتك يا فاطمة إن شاء الله أو أنت طالق ثلاثاًً ياحفصة إن شاء الله فالاستثناء يعمل ولايضرّ تخلل التسمية بين الاستثناء وبين المستثنى عنه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali,” lalu berkata, “Wahai yang tertalak, insya Allah,” para ulama berpendapat bahwa tidak jatuh talak apapun atasnya. Sebab, ucapan “wahai yang tertalak” tidak berlaku padanya pengecualian (istitsna’), sehingga pengecualian itu kembali kepada ucapan “engkau tertalak tiga kali,” dan talak pun tidak terjadi. Kami juga tidak menetapkan satu talak pun dengan ucapan “wahai yang tertalak” setelah jatuhnya talak tiga, karena ia menyifati perempuan itu dengan talak yang telah dijatuhkan kepadanya, dan talak tiga itu telah batal, sehingga sifat yang disandarkan kepadanya pun menjadi batal. Hukum pengecualian tidak terputus dengan adanya ucapan “wahai yang tertalak” yang berada di antara pengecualian dan yang dikecualikan, karena ucapan itu masih satu jenis dengan yang dikecualikan. Pengecualian hanya terputus jika di antara pengecualian dan yang dikecualikan terdapat sesuatu yang bukan dari jenis susunan kalimat yang di dalamnya pengecualian berlaku. Maka jika seseorang berkata, “Aku menalakkanmu, wahai Fathimah, insya Allah,” atau “Engkau tertalak tiga kali, wahai Hafshah, insya Allah,” maka pengecualian berlaku dan penyebutan nama di antara pengecualian dan yang dikecualikan tidak membahayakan.
وهذا فيه وجهان من النظر أحدهما ما قدمناه من صرف الاستثناء إلى الطالق فلا امتناع فيه فيتّجه إذاً ربط الاستثناء بالطالق وقطعه عن الثلاث وإذا انقطع الاستثناء عن الثلاث وقعنَ فيبقى الطالق القابل للاستثناء في وضعه والاستثناء مختص به ولكن لا يعمل في هذه المسألة بعد أن طلقت ثلاثاً
Dalam hal ini terdapat dua sudut pandang: yang pertama adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu mengaitkan istisna’ (pengecualian) pada talak, sehingga tidak ada keberatan di dalamnya. Maka, yang tepat adalah mengaitkan istisna’ pada talak dan memutusnya dari tiga (talak). Jika istisna’ terputus dari tiga (talak), maka jatuhlah tiga talak tersebut, sehingga talak yang masih memungkinkan untuk dikenai istisna’ tetap pada posisinya, dan istisna’ hanya khusus padanya. Namun, dalam masalah ini, istisna’ tidak berlaku setelah seorang perempuan ditalak tiga.
ولا يمتنع أن يقال يلغو الاستثناء لتخلل الطالق فإنه في حكم اللّغو الذي لا حاجة إليه وليس كالتسمية فإنها تجري على سَداد الكلام وحسن النظم والطالق في قوله أنت طالق ثلاثاًً يا طالق إن شاء الله فضلةٌ مستغنى عنها فيُقْطع الاستثناء ويقع الثلاث على هذا التأويل
Tidak terlarang untuk dikatakan bahwa istisna’ (pengecualian) menjadi sia-sia karena adanya kata “ṭāliq”, sebab hal itu dianggap seperti lafaz yang sia-sia dan tidak diperlukan. Hal ini berbeda dengan basmalah, karena basmalah berjalan sesuai dengan kelurusan ucapan dan keindahan susunan kata. Adapun kata “ṭāliq” dalam ucapan “engkau aku talak tiga, wahai ṭāliq, insya Allah” adalah tambahan yang tidak diperlukan, sehingga istisna’ terputus dan talak tiga jatuh menurut penafsiran ini.
ويتجه وجهٌ آخر وهو صرف الاستثناء إلى الثلاث وإبطال الثلاث فيبقى قوله يا طالق فتطلق طلقة بذلك ولا حاصل لقول من قال هذه الصفة صادرة عن الثلاث بل هي مقالة مستقلة بنفسها فيرتبط بها حكمها ما سبق ثلاثة أوجه أحدها إنه لا يقع شيء وهو الذي حكاه القاضي
Ada pendapat lain yang mengarahkan bahwa istisna’ (pengecualian) itu diarahkan kepada tiga (talak) dan membatalkan tiga talak tersebut, sehingga ucapan “engkau talak” menyebabkan jatuh satu talak saja. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa sifat ini berasal dari tiga talak, melainkan ia adalah pernyataan yang berdiri sendiri, sehingga hukumnya terkait dengannya. Sebelumnya telah disebutkan tiga pendapat: salah satunya adalah tidak jatuh talak sama sekali, dan inilah yang diriwayatkan oleh al-Qadhi.
والثاني إن الثلاث تقع وله معنيان والثالث إنه يقع طلقة واحدة كما لو قال أنت طالق ثلاثاً إن شاء الله يا طالق فإنه لو قال هذا بطلت الثلاث بالاستثناء ويقع طلقة بقوله آخراً يا طالق
Yang kedua, talak tiga jatuh, dan hal ini memiliki dua makna. Yang ketiga, talak itu jatuh sebagai satu talak saja, sebagaimana jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga, insya Allah, wahai tertalak.” Maka jika ia mengucapkan demikian, talak tiga itu batal karena adanya pengecualian, dan jatuh satu talak karena ucapannya terakhir, “wahai tertalak.”
ولو قال أنت طالق يا زانيةُ إن دخلت الدار فالطلاق معلق بالدخول ولا يضرّ تخلل ما جرى
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, wahai pezina, jika engkau masuk ke dalam rumah,” maka talak tersebut tergantung pada peristiwa masuknya ke dalam rumah, dan tidak berpengaruh apa pun yang terjadi di antara ucapan tersebut.
ومما نذكره في خاتمة الفصل ونجمع فيه تراجم أنه لو قال لامرأته أنت طالق إن لم يشأ الله فقد نص الشافعي على أن الطلاق لا يقع فإنه علقه بمحال فإذا كان المحال لا يقع كما لو قال أنت طالق إن صعدت السّماء فإذا استحال صعودها انتفى الطلاق وكذلك إذا قال أنت طالق إلا أن يشاء الله فعدم تعلق المشيئة بالطلاق مع وقوع الطلاق محال
Dan hal yang kami sebutkan di akhir bab ini serta kami rangkum dalam beberapa terjemahan adalah bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika Allah tidak menghendaki,” maka asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa talak tidak terjadi, karena ia menggantungkan talak pada sesuatu yang mustahil. Maka jika sesuatu yang mustahil tidak terjadi, seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau naik ke langit,” maka karena mustahil baginya untuk naik ke langit, talak pun tidak terjadi. Demikian pula jika ia berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki,” maka tidak terhubungnya kehendak (mashyī’ah) dengan talak bersamaan dengan terjadinya talak adalah sesuatu yang mustahil.
قال صاحب التلخيص لو قلت يقع الطلاق لم أكن مُبعداً فإنه خاطبها بالطلاق وقال بعده محالاً غيرَ ممكن في العقد وما لا إمكان له لا تعليق به وليس كالتعليق بصعود السماء فإن الرب قادر على إقدار العبد عليه وقد قدمنا خلافاً بين الأصحاب فيه إذا قال أنت طالق إن صعدت السماء ورتبنا عليه جملاً تُوضِّح الغرض وسنعود إليها في الفروع إن شاء الله
Penulis kitab at-Talkhīṣ berkata: Jika aku mengatakan bahwa talak jatuh, maka aku tidaklah berlebihan, karena ia telah mengucapkan talak kepadanya dan kemudian mengaitkannya dengan sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi dalam akad. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, tidak sah dijadikan syarat dalam ta‘liq. Ini berbeda dengan ta‘liq dengan naik ke langit, karena Allah mampu memberikan kemampuan kepada hamba untuk melakukannya. Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat di antara para sahabat (ulama) dalam masalah ini, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau naik ke langit,” dan kami telah menguraikan beberapa poin yang menjelaskan maksudnya. Kami akan kembali membahasnya dalam pembahasan cabang-cabangnya, insya Allah.
فانتظم فيه أنه لو قال أنت طالق إن شاء الله لم يقع الطلاق
Maka tercakup di dalamnya bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika Allah menghendaki,” maka talak tidak terjadi.
وحكى صاحب التقريب والشيخ أبو علي قولاً غريباً أن الطلاق يقع ونقلا للشافعي نصاً أنه لو قال أنت علي كظهر أمي إن شاء الله فهو مظاهر وطرد المحققون هذا القولَ في الطلاق والعقودِ جُمَع والحلول وكلَّ لفظ حقه أن ينجزم ورام بعض الأصحاب أن يفرق بين الظهار وغيرِه ولست أرى لذكر ما لا أفهمه وجهاً
Penulis kitab at-Taqrib dan Syekh Abu Ali meriwayatkan satu pendapat yang ganjil bahwa talak tetap jatuh, dan mereka menukil dari Imam asy-Syafi‘i secara tekstual bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku, insya Allah,” maka itu termasuk zhihar. Para peneliti menerapkan pendapat ini pada talak, akad-akad secara umum, pembayaran, dan setiap lafaz yang seharusnya bersifat pasti. Sebagian sahabat mencoba membedakan antara zhihar dan selainnya, namun aku tidak melihat alasan untuk menyebutkan sesuatu yang tidak aku pahami.
وقال بعض المحققين الاستثناء بعد الإقرار باطل فإذا قال الرجل لفلان علي عشرة إن شاء الله فالعشرة ثابتة والاستثناء باطل فإنه أخبر ثم رام بآخر كلامه أن ينفي فأما ما هو إنشاء فشرطه أن يصح اللفظ فيه فإذا قال إن شاء الله لم يأت بلفظ صحيح فلا يصلح اللفظ المضطرب للإثبات
Sebagian ulama muhaqqiq berpendapat bahwa istisna’ (pengecualian) setelah ikrar adalah batal. Maka jika seseorang berkata, “Saya berutang sepuluh kepada si Fulan, insya Allah,” maka utang sepuluh itu tetap berlaku dan istisna’ tersebut batal, karena ia telah mengabarkan, lalu di akhir ucapannya ia berusaha menafikan. Adapun sesuatu yang merupakan insha’ (pernyataan kehendak), syaratnya adalah lafalnya harus sah. Jika ia berkata, “Insya Allah,” maka ia tidak mengucapkan lafal yang sah, sehingga lafal yang rancu tidak sah untuk penetapan.
وكل ذلك خبطٌ والصّحيح أن التعليق بالمشيئة يفنِّد جميعَ ما تقدم من إقرار وإنشاء وحَل وعَقْد وطلاق وظهار
Semua itu adalah kekeliruan, dan yang benar adalah bahwa penggantungan dengan syarat kehendak (ta‘liq bi al-masyi’ah) membatalkan seluruh hal yang telah disebutkan sebelumnya, baik berupa pengakuan, pernyataan, pembatalan, akad, talak, maupun zihar.
ولو قال أنت طالق إن لم يشأ الله فالنص أنه لا يقع وخَرَّج صاحب التلخيص الوقوع
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika Allah tidak menghendaki,” maka menurut nash (teks utama), talak tersebut tidak jatuh. Namun, menurut penjelasan penulis kitab at-Talkhīṣ, talak tersebut jatuh.
ولو قال أنت طالق إلا أن يشاء الله فالصحيح أن الطلاق لا يقع وقد أطنبنا فيه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak kecuali jika Allah menghendaki,” maka pendapat yang benar adalah talak tidak terjadi, dan kami telah membahasnya secara panjang lebar.
وفي المسألة قولٌ آخر إنه يقع زعم القاضي أنه القياس وهو غفلة منه والصحيح أنه لا يقع قال الصّيدلاني كان القفال لا يذكر غيره
Dalam masalah ini terdapat pendapat lain bahwa qiyās bisa terjadi karena sang qādī mengira itu adalah qiyās, padahal itu adalah kelalaiannya. Namun, pendapat yang benar adalah bahwa qiyās tidak terjadi. As-Saidalani berkata, Al-Qaffāl tidak menyebutkan selain pendapat ini.
ومما نذكره متصلاً بالفصل أن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق ثم كما تم اللفظ بدا له أن يقول إن شاء الله تعالى فقاله على الاتصال ولكنه لم ينشىء اللفظ على قصد أن يعقبه بالاستثناء قال أبو بكر الفارسي لا خلاف أن الطلاق يقع فإن الاستثناء أنشاه بعد وقوع الطلاق وهذا المعنى ظاهر لا مناكرة فيه ولكنه جمعَ مسائلَ عويصةً وادّعى الإجماع فيها فلم تسلم له دعوى واحدةٍ منها وخالفه الأصحاب في جميعها فكذا حتى ذكروا خلافاً في هذه المسألة وكان شيخي يَعْزيه إلى الأستاذ أبي إسحاق ورأيته لغيره
Di antara hal yang perlu disebutkan berkaitan dengan bab ini adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” kemudian setelah selesai mengucapkan lafaz tersebut, terlintas dalam benaknya untuk menambahkan “insya Allah Ta‘ala,” lalu ia mengucapkannya secara bersambung, namun ia tidak memulai ucapan itu dengan maksud untuk menyusulkannya dengan pengecualian. Abu Bakr al-Farisi berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa talak tetap jatuh, karena pengecualian itu diucapkan setelah talak terjadi.” Makna ini jelas dan tidak ada yang mengingkarinya. Namun, ia telah mengumpulkan beberapa masalah yang rumit dan mengklaim adanya ijmā‘ di dalamnya, padahal tidak satu pun klaim ijmā‘ tersebut diterima, dan para sahabatnya pun menyelisihinya dalam semua masalah itu. Demikian pula, mereka bahkan menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Guruku menisbatkan pendapat tersebut kepada al-Ustadz Abu Ishaq, dan aku juga melihatnya dinisbatkan kepada selain beliau.
ولست أرى له وجهاً فإن الطلاق يقع مع تمام اللفظ فإنشاء الاستثناء بعده تداركُ طلاقٍ واقعٍ وأبو بكر ما نقل الإجماع في المسائل ولكن ذكرَ مسائلَ غريبةً تستند إلى معانٍ ظاهرة لا مُدرك فيها إلا المعنى ولا ينقدح فيها إلا وجهٌ واحد وهذه المسألة من أظهرها
Saya tidak melihat adanya alasan yang kuat untuk itu, karena talak terjadi dengan sempurnanya lafaz, sehingga membuat pengecualian setelahnya berarti mencoba membatalkan talak yang sudah terjadi. Adapun Abu Bakar, ia tidak menukil ijmā‘ dalam masalah-masalah ini, melainkan hanya menyebutkan beberapa masalah yang aneh yang didasarkan pada makna-makna yang jelas, yang tidak ada dasar hukumnya kecuali makna tersebut, dan tidak terlintas di dalamnya kecuali satu sisi saja, dan masalah ini adalah salah satu yang paling jelas di antaranya.
ثم ما ذكره يجري في التعاليق فلو قال أنت طالق ثم بدا له أن يقول إن دخلت الدار فقاله فالطلاق يتنجز على ما ذكر والتعليق بعده طائحٌ
Kemudian, apa yang disebutkan juga berlaku dalam kasus ta‘liq. Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak,” lalu terlintas dalam benaknya untuk mengatakan, “jika engkau masuk rumah,” kemudian ia mengucapkannya, maka talak langsung jatuh sebagaimana yang telah disebutkan, dan ta‘liq setelahnya menjadi gugur.
ومن خالف في مسألة الاستثناء يخالف في هذه قال شيخي عن القفال إذا قال أنت طالق واحدة ثلاثاً إن شاء الله فلا يقع شيء وينصرف الاستثناء إلى جميع الكلام والواحدة التي قدّمها معادة في الثلاث فانصرف الاستثناء إلى جميع الكلام
Dan barang siapa yang berbeda pendapat dalam masalah istitsna’ (pengecualian), maka ia juga berbeda pendapat dalam hal ini. Guruku meriwayatkan dari al-Qaffal: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak satu kali tiga kali, insya Allah,” maka tidak terjadi apa-apa (tidak jatuh talak), dan istitsna’ (pengecualian) itu berlaku untuk seluruh ucapan tersebut. Satu talak yang didahulukan itu termasuk dalam tiga talak, sehingga pengecualian itu berlaku untuk seluruh ucapan.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً ثلاثاً إن شاء الله لم يقع شيء
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali, tiga kali, insya Allah,” maka tidak terjadi apa-apa.
ولو قال أنت طالق واحدةً وثلاثاً بالواو العاطفة إن شاء الله ففي المسألة وجهان أحدهما أن الاستثناء يرجع إلى الجميع فإنه وإن عطف فلا مزيد على الثلاث وإذا تعلقت الثلاث بالمشيئة لم يقع شيء والوجه الثاني أن الطلقة الأولى تقع والواو فاصلة
Jika seseorang berkata, “Engkau aku talak satu dan tiga” dengan menggunakan huruf ‘wawu’ (‘dan’) sebagai penghubung, lalu ia menambahkan “insya Allah”, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, istisna’ (pengecualian) kembali kepada seluruhnya, karena meskipun dihubungkan dengan ‘wawu’, tidak ada tambahan atas tiga talak, dan jika tiga talak tersebut dikaitkan dengan kehendak (Allah), maka tidak terjadi apa-apa. Pendapat kedua, talak pertama jatuh, karena ‘wawu’ berfungsi sebagai pemisah.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً وثلاثاًً إن شاء الله فوجهان أحدهما لا يقع شيء والثاني يقع الثلاث والواو فاصلة مانعة من انعطاف الاستثناء
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga kali dan tiga kali jika Allah menghendaki,” terdapat dua pendapat: salah satunya, tidak terjadi talak sama sekali; dan yang kedua, jatuh talak tiga, sedangkan kata “dan” (wa) berfungsi sebagai pemisah yang mencegah pengecualian kembali pada bagian sebelumnya.
ولو قال أنت طالق واحدة واثنتين إن شاء الله فهذا مخرَّج على أنا هل نجمع ما يفرقه من الصيغ فإن لم نجمع وقعت الطلقة الأولى وإن جمعنا لم يقع شيء
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu dan dua jika Allah menghendaki,” maka hal ini dikembalikan pada persoalan apakah kita menggabungkan apa yang ia pisahkan dari lafaz-lafaz tersebut. Jika kita tidak menggabungkannya, maka jatuhlah talak yang pertama. Namun jika kita menggabungkannya, maka tidak terjadi apa-apa.
باب طلاق المريض
Bab Talak Orang Sakit
قال الشافعي وطلاق المريض والصحيح سواء إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata, talak yang dijatuhkan oleh orang yang sakit dan orang yang sehat hukumnya sama hingga akhir pembahasan.
طلاق المريض واقع كطلاق الصحيح لا مراء فيه ومقصود الباب الكلام في انقطاع الميراث وتحصيلُ المذاهب في ذلك فنقول إذا طلق في الصحة وأبان انقطع الميراث من الجانبين سواء اتفق موت الزوج وهي في العدة بعدُ أو مات بعد انقضاء العدة وسواء كان الطلاق بسؤالها أو لم يكن بسؤالها
Talak yang dijatuhkan oleh orang sakit berlaku seperti talak yang dijatuhkan oleh orang sehat, tidak ada perbedaan dalam hal ini. Tujuan pembahasan bab ini adalah mengenai terputusnya hak waris dan penjelasan mazhab-mazhab dalam hal tersebut. Maka kami katakan: jika talak dijatuhkan saat suami dalam keadaan sehat dan telah terjadi pemutusan (bain), maka hak waris terputus dari kedua belah pihak, baik suami meninggal dunia saat istri masih dalam masa iddah maupun setelah iddah selesai, dan baik talak itu atas permintaan istri maupun bukan atas permintaannya.
وإن كان الطلاق رجعيّاً فالرّجعية زوجة في الميراث إن مات الزوج وهي في عدة الرجعية ورثته وإن ماتت في العدة ورثها
Jika talak yang dijatuhkan adalah talak raj‘i, maka istri yang dalam masa iddah raj‘i tetap berstatus sebagai istri dalam hal warisan. Jika suami meninggal dunia sementara ia masih dalam masa iddah raj‘i, maka ia mewarisi suaminya. Dan jika ia meninggal dunia dalam masa iddah, maka suaminya mewarisinya.
فأما الطلاق في مرض الموت فإن كان رجعياً فالتوارث قائم ما دامت في العدة حتى لو ماتت قبل انقضاء العدة ورثها الزوج ولو مات ورثته
Adapun talak pada saat sakit menjelang kematian, jika talaknya adalah talak raj‘i, maka hak waris tetap berlaku selama masih dalam masa ‘iddah. Sehingga jika istri meninggal sebelum masa ‘iddah berakhir, suami mewarisinya, dan jika suami meninggal, istri mewarisinya.
ولو أبانها نُظر فإن أبانها بسؤالها أو اختلاعها انقطع الميراث ولم يكن الزوج فارّاً لأنه غير مُتّهم إذ هي الراغبة في البينونة
Jika ia menceraikannya, maka dilihat dahulu: jika ia menceraikannya atas permintaan istrinya atau karena istrinya menebus diri (khulu‘), maka hak waris terputus dan suami tidak dianggap lari (far), karena ia tidak dicurigai, sebab istrinyalah yang menginginkan perpisahan.
وذكر العراقيون أن من أصحابنا من أجرى القولين اللذين سنذكرهما في انقطاع الميراث ونسبوهُ إلى ابن أبي هريرة وهذا وإن كان غريباً في الحكاية فهو معتضد بقصة عبد الرحمن بن عوف وزوجتِه تماضر فإنها سألت الطلاق فطلقها ثلاثاًً وورّثها عثمان وهذا غير مُعتدٍّ به وقد ذكرنا في الطلاق البدعي اتفاقاً في أن الخلع ليس بدعياً وفي الطلاق بالسؤال قولين و لست أدري هل نجريهما هاهنا في الاختلاع ولا ينبغي أن نعتني بالتفريع على الضعيف
Orang-orang Irak menyebutkan bahwa sebagian ulama dari kalangan mazhab kami menerapkan dua pendapat yang akan kami sebutkan terkait terputusnya hak waris, dan mereka menisbatkannya kepada Ibn Abi Hurairah. Meskipun hal ini terdengar asing dalam riwayat, namun didukung oleh kisah Abdurrahman bin ‘Auf dan istrinya, Tamadhur, di mana ia meminta cerai lalu dicerai tiga kali, dan ‘Utsman mewariskannya. Namun, hal ini tidak dapat dijadikan pegangan. Kami telah sebutkan dalam pembahasan talak bid‘ī bahwa ada kesepakatan bahwa khulu‘ bukanlah talak bid‘ī, sedangkan dalam talak atas permintaan istri terdapat dua pendapat. Saya sendiri tidak tahu apakah kedua pendapat itu juga berlaku di sini dalam kasus khulu‘, dan sebaiknya kita tidak terlalu memperhatikan pengembangan hukum berdasarkan pendapat yang lemah.
وإن لم تسأل الطلاق فطلقها ثلاثاً أو طلقها الطلقةَ الثالثة الباقية أو سألت طلقةً أو طلقتين رجعيتين فطلقها ثلاثاًً فلا أثر للسؤال في هذا المقام فالمسائل يُخرّجُ في جميعها قولان أظهرهما وهو المنصوص عليه في الجديد أن الميراث ينقطع والعبارة المشهورة عن هذا القول أنا لا نجعله فارّاً بل نقضي بانقطاع الميراث لأن علة الوراثة عصمة الزوجية وقد انقطعت
Jika ia tidak meminta talak lalu suaminya mentalaknya tiga kali, atau menjatuhkan talak ketiga yang tersisa, atau ia meminta satu atau dua talak raj‘i lalu suaminya menjatuhkan talak tiga kali, maka permintaan tersebut tidak berpengaruh dalam hal ini. Dalam semua permasalahan ini terdapat dua pendapat, dan pendapat yang lebih kuat—yang juga dinyatakan dalam pendapat baru—adalah bahwa hak waris terputus. Ungkapan yang masyhur dari pendapat ini adalah bahwa kami tidak menganggapnya sebagai orang yang lari, melainkan kami memutuskan bahwa hak waris terputus karena sebab waris adalah ikatan pernikahan, dan ikatan itu telah terputus.
والقول الثاني أن الميراث لا ينقطع نص عليه في القديم واعتمد حديثَ عبد الرحمن كما ذكرناه في المسائل وهو في القديم كان يقدم الأثر على القياس والعبارة عن القول القديم أنا نجعله فارّاً ونتّهمه بقصد قطع الميراث ونعاقبه بضدّ مقصوده كما نحرم القاتلَ الميراثَ من جهة أنا نتّهمه باستعجال الميراث
Pendapat kedua menyatakan bahwa warisan tidak terputus; ini dinyatakan secara eksplisit dalam pendapat lama dan didasarkan pada hadis Abdurrahman sebagaimana telah kami sebutkan dalam permasalahan. Dalam pendapat lama, dalil (atsar) lebih didahulukan daripada qiyās. Penjelasan mengenai pendapat lama adalah bahwa kami menganggapnya sebagai orang yang melarikan diri dan menuduhnya berniat memutus warisan, lalu kami menghukumnya dengan kebalikan dari maksudnya, sebagaimana kami mengharamkan pembunuh dari mendapatkan warisan karena kami menuduhnya ingin mempercepat memperoleh warisan.
ثم إذا فرّعنا على القديم فعبارتنا عنه أنه فارّ وإن جرت مسألة فيها خلاف وردَّدنا هذه العبارة بين النفي والإثبات فليعرف الناظر هذا في صدر الباب ثم ينتظم في التفريع على هذا القول اتباع التهمة والتفريعات مطردة على هذا المعنى
Kemudian, jika kita membangun cabang hukum berdasarkan pendapat lama, maka ungkapan kita tentangnya adalah bahwa itu telah ditinggalkan. Namun, jika muncul suatu permasalahan yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat, lalu kita mengulang-ulang ungkapan ini antara penafian dan penetapan, maka hendaknya orang yang menelaah mengetahui hal ini di awal pembahasan. Selanjutnya, dalam membangun cabang hukum berdasarkan pendapat ini, hendaknya mengikuti prinsip kehati-hatian, dan cabang-cabang hukum akan berjalan secara konsisten menurut makna ini.
وإن لم يكن له ثبات في سبر النظر وإقامة الجدال ورُبَّ معنىً نستعمله رابطةً للتفريعات فيجري ولا نرى التمسك به في الخلاف
Dan jika seseorang tidak memiliki keteguhan dalam meneliti pendapat dan membangun argumentasi, terkadang ada suatu makna yang kita gunakan sebagai penghubung dalam membuat cabang-cabang hukum, sehingga ia berjalan (digunakan), namun kita tidak melihat perlunya berpegang teguh padanya dalam perbedaan pendapat.
فإن ورثنا المبتوتة فإلى متى نورثها فعلى أقوال أحدها أنا نورثها إلى أن تنقضي العدة فإن مات الزوج قبل انقضاء العدة ورثته وإن مات بعد انقضاء العدة لم ترث فإنّ العدة تابع من توابع النكاح وعُلْقَة من بقايا أحكامه وهذا مذهب أبي حنيفة
Jika kita mewariskan kepada perempuan yang ditalak ba’in, sampai kapan kita mewariskannya? Ada beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa kita mewariskannya sampai masa ‘iddah selesai; jika suami meninggal sebelum masa ‘iddah selesai, ia mewarisinya, dan jika suami meninggal setelah masa ‘iddah selesai, ia tidak mewarisinya. Sebab, masa ‘iddah adalah salah satu konsekuensi dari pernikahan dan merupakan ikatan yang tersisa dari hukum-hukum pernikahan. Ini adalah mazhab Abu Hanifah.
والفول الثاني أنا نورثها إلى أن تنكح وهذا مذهب ابن أبي ليلى ووجهه أن اعتبار العدة باطل فإنها بائنة في العدة وبعد انقضائها فلا معنى للنظر إلى العدة ولو طلقها في الصحة ثم مرض ومات وهي في العدة لم ترثه فإذا بطل اعتبار العدة فالنظرُ إلى النكاح فإنها لو نكحت صارت محل أن ترث زوجها الثاني فبعُد أن تورّث من زوجين ولا يمتنع أن نجعل تزوجها إسقاطاً منها لحقها والأولى التعلّقُ باستبعاد توريثها من زوجين
Pendapat kedua: Kami mewariskannya sampai ia menikah, dan ini adalah mazhab Ibnu Abi Laila. Alasannya adalah bahwa mempertimbangkan masa ‘iddah itu batal, karena ia telah menjadi wanita yang terputus hubungan (bain) baik saat masa ‘iddah maupun setelah masa ‘iddah selesai, maka tidak ada makna untuk memperhatikan masa ‘iddah. Jika suaminya menceraikannya saat sehat lalu sakit dan meninggal dunia sementara ia masih dalam masa ‘iddah, maka ia tidak mewarisinya. Maka, jika pertimbangan masa ‘iddah batal, maka yang diperhatikan adalah akad nikah. Jika ia menikah lagi, maka ia berpotensi mewarisi suami keduanya, sehingga tidak masuk akal jika ia mewarisi dari dua suami sekaligus. Tidak mengapa jika kita menganggap pernikahan barunya sebagai penggugur hak warisnya dari suami pertama. Namun yang lebih utama adalah berpegang pada ketidakmasukakalan mewariskan dari dua suami.
والقول الثالث أنا لا نُسقط ميراث المبتوتة بشيء إلا بأن تموت قبل زوجها فلو نكحت أزواجاً فميراثها قائم فإن حق الإرثِ إذا ثبت لم يسقط وإذا أدمنا توريثها بعد الزوجية لم نُبق لمستبعدٍ متعلَّقاً وهذا مذهب مالك
Pendapat ketiga adalah bahwa kami tidak menggugurkan hak waris wanita yang ditalak bain dengan alasan apa pun kecuali jika ia meninggal sebelum suaminya. Maka jika ia menikah lagi dengan suami-suami lain, hak warisnya tetap ada. Sebab, jika hak waris telah tetap, maka tidak gugur. Jika kami terus-menerus mewariskannya setelah adanya hubungan pernikahan, maka kami tidak menyisakan alasan bagi orang yang menganggapnya tidak berhak. Inilah mazhab Malik.
وممّا نفرّعه أن المريض لو طلق زوجته التي لم يدخل بها فإن قلنا في المدخول بها إذا انقضت عدتها لم ترث فغير المدخول بها لا ترث إذ لا عدة عليها وإن لم نعتبر العدة في المدخول بها ورّثنا هذه ثم إلى متى ترث فعلى قولين أحدهما أنها ترث إلى أن تتزوج
Dan di antara cabang permasalahan adalah jika seorang suami yang sakit mentalak istrinya yang belum digauli, maka jika kita berpendapat bahwa pada istri yang sudah digauli, apabila masa ‘iddahnya telah selesai maka ia tidak berhak mewarisi, maka pada istri yang belum digauli tentu tidak berhak mewarisi karena tidak ada ‘iddah baginya. Namun, jika kita tidak mensyaratkan ‘iddah pada istri yang sudah digauli, maka kita juga mewariskan kepada istri yang belum digauli ini. Lalu, sampai kapan ia berhak mewarisi? Dalam hal ini ada dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ia berhak mewarisi sampai ia menikah lagi.
والثاني أنه لا ينقطع حقها من الميراث ما لم تمت قبل المطلِّق
Kedua, haknya atas warisan tidak terputus selama ia belum meninggal sebelum suami yang menceraikannya.
ومن الأصول المفرّعة على القول القديم أنه لو كان تحته أربع نسوة فطلقهن في مرض الموت وتزوج بأربعٍ سواهن ثم مات ففي المسألة ثلاثة أوجهٍ أحدها أن حق الإرث للمطلقات ولا ميراث للواتي نكحهن في المرض فإنه نكحهن ونصيبُ الزوجات مستحَق من الميراث فلا حظ لهن إذ لا سبيل إلى حرمان الأوائل ويبعد توريث أكثر من أربع
Di antara kaidah yang dibangun di atas pendapat lama adalah bahwa jika seseorang memiliki empat istri, lalu ia menceraikan mereka saat sakit menjelang kematian, kemudian menikahi empat wanita lain selain mereka, lalu ia meninggal dunia, maka dalam masalah ini terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa hak waris diberikan kepada para istri yang dicerai, dan tidak ada warisan bagi wanita-wanita yang dinikahinya saat sakit, karena ia menikahi mereka sementara bagian istri-istri sudah menjadi hak dalam warisan, sehingga mereka (istri-istri baru) tidak mendapat bagian, sebab tidak mungkin menghalangi istri-istri yang pertama, dan tidak masuk akal mewariskan kepada lebih dari empat istri.
والوجه الثاني أن الميراث بين البائنات وبين المنكوحات فإن البائنات لم ينقطع
Adapun sisi yang kedua adalah bahwa warisan itu berlaku antara para wanita yang telah dicerai secara bain dan para istri yang masih dalam ikatan pernikahan; maka bagi wanita yang telah dicerai secara bain, hubungan waris belum terputus.
استحقاقهن وإذا ورثناهن استحال أن نحرم المنكوحات وعلى هذا الوجه لا يمتنع أن نورث عدداً كثيراً من النسوة بفرض نكاحهن وطلاقهن
Hak mereka harus dipenuhi, dan jika kita mewarisi mereka, maka mustahil kita mengharamkan wanita-wanita yang dinikahi. Dengan cara seperti ini, tidak mustahil kita dapat mewarisi sejumlah besar wanita dengan menganggap mereka telah dinikahi dan ditalak.
والوجه الثالث أن الميراث للمنكوحات ويسقط بهن حق المطلقات فإنا ورثناهن لتعلقهن بآثار النكاح والمنكوحات الجديدات مستمسكات بعين النكاح فكنَّ أولى من صواحبات العلائق والآثار
Alasan ketiga adalah bahwa warisan diberikan kepada para istri yang masih berstatus sebagai istri, dan dengan itu gugurlah hak para istri yang telah dicerai, karena kami mewariskan kepada mereka disebabkan keterkaitan mereka dengan akibat-akibat dari pernikahan, sedangkan para istri yang masih baru lebih kuat keterikatannya dengan inti pernikahan itu sendiri, sehingga mereka lebih berhak dibandingkan dengan para istri yang hanya memiliki keterkaitan dan akibat-akibatnya saja.
وهذه الأوجه إنما تنشأ لزيادة العدد على مبلغ الحصر فلو طلق امرأة ونكح أخرى فلا وجه إلا الاشتراك إذا كنا نفرّع على الوجه الأول أو على الوجه الثاني أمّا الوجه الثاني فمقتضاه الاشتراك وأما الوجه الأول فمقتضاه تخصيص المطلقات في الصّورة الأولى وهذا لا ينقدح في هذه الصورة فإنا نقدّر كأنّ التي طلقت لم تطلق ولو لم يطلق الأولى ونكح عليها أخرى لاشتركتا وهذا على وضوحه يجب ألا يُغْفَلَ عنه إذ قد يظن ظانٌّ أن الواحدة تستغرق الربع أو الثمن كالأربع ويحسَبُ أن الخلاف يجري في مطلقة ومنكوحة وليس الأمر كذلك فما ذكرناه من إدخال منكوحة على منكوحة وهذا لا يتحقق مع الزيادة على الحصر
Wajah-wajah (pendapat-pendapat) ini muncul karena jumlah istri melebihi batas maksimal yang ditentukan. Jika seseorang menceraikan seorang istri dan menikahi yang lain, maka tidak ada kemungkinan kecuali keduanya berbagi (bagian warisan), baik kita merujuk pada pendapat pertama maupun pendapat kedua. Adapun pendapat kedua, konsekuensinya adalah keduanya berbagi. Sedangkan pendapat pertama, konsekuensinya adalah mengkhususkan bagian bagi para istri yang dicerai pada kasus pertama, namun hal ini tidak dapat diterapkan pada kasus ini. Sebab, kita menganggap seolah-olah istri yang dicerai itu tidak dicerai. Jika ia tidak menceraikan istri pertama dan menikah lagi, maka keduanya akan berbagi. Hal ini, meskipun jelas, tidak boleh diabaikan, karena bisa saja seseorang menyangka bahwa satu istri akan mengambil seluruh seperempat atau seperdelapan seperti halnya jika ada empat istri, dan mengira bahwa perbedaan pendapat terjadi antara istri yang dicerai dan yang dinikahi. Padahal, tidak demikian halnya. Apa yang kami sebutkan tentang menambahkan istri yang dinikahi kepada istri yang sudah dinikahi tidak akan terjadi jika jumlah istri melebihi batas maksimal yang ditentukan.
فأما إذا فرعنا على الوجه الثالث وهو أن الميراث للمنكوحات الأربع المتأخرات فإذا طلق واحدة ونكح أخرى فكيف الوجه وقد وجهنا الوجه الثالث باستمساك المتأخرات بحقيقة النكاح نقول لا ينقدح إلا التشريك فإن التشريك بين اثنتين ممكن وهذا كما لو نكح امرأتين فأبان إحداهما في المرض والتفريع على القديم فالميراث بين الباقية في حالة النكاح وبين البائنة فاستبان أن الأوجُه في فرض الزيادة على العدد المحصور
Adapun jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat ketiga, yaitu bahwa warisan diberikan kepada empat istri terakhir yang dinikahi, maka jika seseorang menceraikan salah satu istrinya dan menikahi yang lain, bagaimana hukumnya? Setelah kami jelaskan pendapat ketiga dengan berpegang pada keabsahan akad nikah para istri terakhir, maka kami katakan bahwa yang tampak hanyalah pembagian bersama (tasyriik), karena pembagian warisan antara dua orang memungkinkan. Ini seperti seseorang yang menikahi dua wanita, lalu menceraikan salah satunya saat sakit, dan jika mengikuti pendapat lama (al-qadīm), maka warisan dibagi antara istri yang masih dalam ikatan nikah dan istri yang telah dicerai. Maka jelaslah bahwa pendapat-pendapat dalam kasus melebihi jumlah yang dibatasi adalah demikian.
صورة أخرى إذا طلق أربعاً وأبانهنّ ونكح واحدةً فإن رأينا تخصيص المطلقات حرمنا الجديدة وإن رأينا الإشراك أشركنا وإن رأينا في الصورة الأولى تقديم المنكوحات فلا وجه إلا صرف جميع ميراث الزوجات إلى الواحدة الجديدة فإن الذي نحاذره الزيادة على العدد وإذا عسر خصصنا الميراث بأحد الحِزْبَيْن والمنكوحة أولى
Contoh lain adalah jika seseorang menalak empat istrinya dan memisahkan mereka, lalu menikahi satu wanita lagi. Jika kita memandang adanya pengkhususan terhadap istri-istri yang ditalak, maka kita haramkan istri yang baru. Jika kita memandang adanya penyertaan, maka kita sertakan semuanya. Jika dalam kasus pertama kita mendahulukan istri-istri yang masih dalam ikatan pernikahan, maka tidak ada pilihan lain kecuali memberikan seluruh warisan istri kepada istri yang baru, karena yang kita khawatirkan adalah melebihi jumlah yang ditetapkan. Jika hal itu sulit, maka kita khususkan warisan kepada salah satu dari dua kelompok, dan istri yang masih dalam ikatan pernikahan lebih utama.
ولو طلق واحدةً ونكح أربعاً فإن أشركنا فلا كلام وإن خصصنا المنكوحات حرمنا المطلقة وإن خصّصنا المطلقات انفردت الواحدة البائنة بجميع الميراث وسقطت الزوجات
Jika ia menceraikan satu istri lalu menikahi empat wanita, maka jika kita menganggap semuanya sama (musyarakah), tidak ada masalah. Namun, jika kita mengkhususkan kepada para istri yang dinikahi, maka yang dicerai menjadi haram (tidak mendapat warisan). Dan jika kita mengkhususkan kepada yang dicerai, maka satu wanita yang telah dicerai secara bain akan mendapatkan seluruh warisan, sedangkan para istri yang dinikahi gugur haknya.
ولو علّق طلاقها في المرض نُظِر فإن علَّقهُ بفعل نفسه ثم أوجد ذلك فهو فارٌّ
Jika ia menggantungkan talak istrinya saat sakit, maka dilihat dahulu: jika ia menggantungkan talak tersebut dengan perbuatannya sendiri lalu ia mewujudkannya, maka ia dianggap sebagai orang yang lari (dari kewajiban waris).
وإن علّق بفعلها ولها منه بدٌّ ففعلت وبانت فليس بفارٍّ كما لو سألت
Dan jika ia menggantungkan (talak) pada perbuatannya, sementara ia (istri) masih memiliki kebutuhan darinya, lalu ia melakukannya dan terjadi perceraian, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang lari (dari istri), sebagaimana jika istri yang meminta (perceraian).
وإذا ذكرنا قولاً بعيداً لم نعُد إليه
Dan apabila kami menyebutkan suatu pendapat yang lemah, kami tidak kembali kepadanya.
وإن لم يكن لها منه بدٌّ وكانت مدفوعةً إلى ذلك الفعل محمولةً عليه طبعاً أو شرعاً كالنوم والطهارة وتأدية الفرائض فالرجل فارّ
Dan jika ia (perempuan) tidak dapat menghindarinya dan terdorong untuk melakukan perbuatan itu, baik secara tabiat maupun syariat, seperti tidur, bersuci, dan menunaikan kewajiban-kewajiban, maka laki-laki itu adalah pihak yang lari.
وإن علّق الطلاق في المرض بفعل أجنبيّ أو بمجيء وقتٍ أو جريان شيء من الحَدَثان فتحقَّقَ ذلك فالرجل فارّ بمثابة المنجِّز في المرض
Jika talak digantungkan saat sakit pada perbuatan orang lain, atau pada datangnya waktu, atau terjadinya suatu peristiwa, lalu hal itu benar-benar terjadi, maka laki-laki tersebut dianggap sebagai orang yang lari (dari kewajiban) sebagaimana talak yang dijatuhkan secara langsung saat sakit.
ولو علق الطلاق بفعلها فنسيت قلنا إن لم يكن عندها علم من اليمين فالرجل فارّ
Jika talak digantungkan pada perbuatannya lalu ia lupa, kami katakan: jika ia tidak mengetahui adanya sumpah tersebut, maka laki-laki itu dianggap lari (menghindar).
وإن كان عندها علم وظهر من قصده أنه رام منعها عن ذلك الفعل فإذا نسيت وفعلت وحكمنا بوقوع الطلاق مع نسيانها فهل نجعل الرجل فارّاً هذا يحتمل إن نظرنا إليه فإنه لم يجرّد تطليقها وإن نظرنا إليها فلم يوجد منها ما يحل محلَّ سؤالها الطلاق والأشبه أنه فارّ لأنه علق الطلاق في المرض فوقع من غير قصدها والمعلَّق على هذا الوجه كالمطْلَق
Jika istri memiliki pengetahuan dan tampak dari maksud suami bahwa ia bermaksud mencegah istrinya dari melakukan perbuatan tersebut, lalu sang istri lupa dan melakukannya, dan kita memutuskan jatuhnya talak meskipun ia lupa, maka apakah kita menganggap suami sebagai orang yang lari (far) dari istrinya? Hal ini masih mungkin diperdebatkan: jika kita melihat dari sisi suami, maka ia tidak secara langsung menjatuhkan talak; namun jika kita melihat dari sisi istri, maka tidak ada dari dirinya yang dapat dianggap sebagai permintaan talak. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa suami dianggap sebagai orang yang lari (far), karena ia menggantungkan talak pada masa sakit, lalu talak itu jatuh tanpa kehendak istri, dan talak yang digantungkan dengan cara seperti ini sama dengan talak yang dijatuhkan secara langsung.
وممّا يتعلق بذلك أنه إذا علق الطلاق بتطعّمها فما حدّ الحاجة أنجعلها على حدّ الضرورة كالتي لا تختار الطلاق ونجعلها دون الضرورة مختارةً أم نعتبر شيئاً آخر وما قولنا في التَّفِلَة هذا كلام منتشر
Terkait dengan hal itu, apabila talak digantungkan pada makanannya, maka apa batas kebutuhan itu? Apakah kita menjadikannya setara dengan darurat, seperti perempuan yang tidak memilih talak, atau kita menjadikannya di bawah darurat, yakni perempuan yang memilih, ataukah kita mempertimbangkan hal lain? Dan apa pendapat kita tentang at-tafilah? Ini adalah pembahasan yang tersebar.
أما الضرورة فلا نرعاها فإذا أكلت أكلاً عَدَمُه يضرّ بها فليست مختارة وإن تلذّذت بالطعام وذلك يضرها فنجعلها كالمختارة وإن تلذذت والأكل ينفعها فيجوز أن يُلحق بجنس الطعام فإن الفصل بين هذه المراتب عسر يعجز عنه مهرة الأطباء ويجوز أن تجعل كالمختارة فيه
Adapun keadaan darurat, maka kita tidak memperhatikannya; jika seseorang makan makanan yang ketiadaannya membahayakan dirinya, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang memilih (bebas memilih), meskipun ia menikmati makanan tersebut. Namun, jika ia menikmati makanan dan hal itu membahayakan dirinya, maka kita menganggapnya seperti orang yang memilih. Jika ia menikmati makanan dan makan tersebut bermanfaat baginya, maka boleh jadi hal itu dapat disamakan dengan jenis makanan (yang lain). Karena membedakan antara tingkatan-tingkatan ini sangat sulit, bahkan para dokter ahli pun tidak mampu melakukannya, maka boleh saja hal itu dianggap seperti orang yang memilih dalam masalah ini.
والذي أراه أن التعويل في هذا على ظنّها فإن ظنت تطعّمَها على حدٍّ يضر تركه فليست مختارةً وإن كان الأمر على ضدّ ذلك بناءً على ما مهّدتُه في النسيان
Menurut pendapat saya, dalam hal ini yang dijadikan pegangan adalah dugaan (zhann) perempuan itu sendiri; jika ia menduga bahwa suntikan yang diterimanya berada pada batas yang jika ditinggalkan akan membahayakan dirinya, maka ia tidak dianggap memilih (tidak dalam keadaan ikhtiyār). Namun, jika keadaannya sebaliknya, maka hal itu didasarkan pada apa yang telah saya jelaskan sebelumnya mengenai lupa (nisyān).
وإن ظنت أن ذلك التطعّم مضرّ فهي مختارة وإن كان الأمر على خلاف ما ظنت فهذا نوع من الكلام في تعليق الطلاق
Jika ia mengira bahwa vaksinasi tersebut membahayakan, maka ia boleh memilih (untuk melakukannya atau tidak). Namun, jika kenyataannya berbeda dari apa yang ia sangka, maka ini termasuk salah satu bentuk pembicaraan tentang taklik talak.
ومما يتعلق بتمام الكلام في هذا القولُ في تعليق الطلاق في الصحّة مع وقوعه في المرض أو في زمنٍ يتصل بهِ ونحن نفصِّل هذا بالمسائل
Adapun hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan ini adalah pembicaraan tentang talak yang digantungkan (syarat) pada masa sehat, namun jatuh (terjadi) pada masa sakit atau pada waktu yang berdekatan dengannya. Kami akan merinci hal ini dalam beberapa masalah.
فإن علق الصّحيحُ الطلاق بمقدمات الموت وما يُنبىء عنه فهو فارٌّ وإن جرى التعليق في حالة الصحة وذلك مثل أن يقول إذا وقعتُ في النزع أو تردّدت روحي في الشراسيف فأنت طالق وإنما قطعنا بكونه فارّاً لأنه اعتمد الفرار وأضافه إلى المحل الذي ينشأ منه التهمة
Jika seseorang yang sehat mengaitkan talak dengan tanda-tanda kematian atau sesuatu yang menunjukkan kematian, maka ia dianggap sebagai orang yang lari (farّ) dari hukum, meskipun pengaitan itu dilakukan dalam keadaan sehat. Contohnya adalah jika ia berkata, “Jika aku berada dalam keadaan sakaratul maut atau ruhku berada di tenggorokan, maka engkau tertalak.” Kami menetapkan bahwa ia termasuk orang yang lari (farّ) karena ia sengaja mengandalkan cara untuk menghindar dan mengaitkannya dengan keadaan yang menimbulkan tuduhan (niat menghindar dari hukum).
وكذلك لو قال أنت طالق قبل موتي بيوم أو يومين وذكر مدة قريبةً الأغلبُ أن مرض الموت ينبسط عليها فإذا مات وتبيّنا بتاريخ تلك المدة أن الطلاق وقع في أولها وأولها في الصّحة كذلك اتفق فالرجل فارٌّ والتعليقُ في الصحة والوقوع في الصّحة فإن معتمد هذا القول تحقق التهمة
Demikian pula jika seseorang berkata, “Engkau tertalak sehari atau dua hari sebelum kematianku,” dan ia menyebutkan jangka waktu yang dekat, maka yang paling sering terjadi adalah bahwa sakit yang menyebabkan kematian meliputi masa tersebut. Jika ia meninggal dan setelah diteliti berdasarkan tanggal waktu tersebut ternyata talak terjadi di awal masa itu, dan awal masa itu dalam keadaan sehat, maka demikianlah yang terjadi: laki-laki itu dianggap melarikan diri (farar), dan pengaitan (ta‘liq) terjadi saat sehat, serta jatuhnya talak juga saat sehat. Karena dasar pendapat ini adalah adanya dugaan kuat atas kecurigaan (tuduhan).
وقد ذكرت في مقدمة الباب أننا نعتبر التهمة تطرد في التفريع على القول القديم وقد وقع الطلاق في هذه المسألة في وقتٍ لو نجّزه فيه لم يكن فارّاً
Saya telah menyebutkan dalam pendahuluan bab ini bahwa kami menganggap tuduhan (adanya motif tertentu) berlaku dalam penjabaran berdasarkan pendapat lama, dan dalam masalah ini talak terjadi pada waktu yang jika kami menganggapnya langsung (saat itu juga), maka tidaklah termasuk sebagai upaya menghindar.
وكان شيخي أبو محمدٍ يقول إذا علق الصحيح الطلاق على الموت أو على مرض الموت ففي كونه فارّاً خلاف
Guru saya, Abu Muhammad, berkata: Jika seseorang menggantungkan talak yang sah pada kematian atau pada sakit yang menyebabkan kematian, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah ia dianggap sebagai orang yang lari (dari tanggung jawab) atau tidak.
وهذا مجازفة وذهول عن المسألة نعم الصورة الأخيرة التي ذكرناها صعبة فإن التّهمة وإن تحققت فينبغي أن يقع أحد الطرفين في المرض فتقدير الخلاف في هذا ظاهر
Ini adalah tindakan gegabah dan kelalaian terhadap permasalahan. Ya, gambaran terakhir yang telah kami sebutkan memang sulit, sebab meskipun tuduhan itu benar-benar terjadi, seharusnya salah satu pihak mengalami sakit. Maka, kemungkinan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini jelas adanya.
وحكى من يوثق به أن القاضي قال في مجالس الإفادة إذا قال إذا مرضت مرض الموت فأنت طالق قبله بيومٍ أو قال لعبده إذا مرضتُ مرض الموت فأنت حرٌ قبله بيومٍ قال ليس بفارٍّ وليس العتق من الثلث لوقوع الطلاق والعتق في حال الصحة
Diriwayatkan dari orang yang terpercaya bahwa qadhi berkata dalam majelis-majelis pengajaran: Jika seseorang berkata, “Jika aku sakit sakit yang menyebabkan kematian, maka engkau tertalak sehari sebelumnya,” atau ia berkata kepada budaknya, “Jika aku sakit sakit yang menyebabkan kematian, maka engkau merdeka sehari sebelumnya,” maka hal itu tidak dianggap sebagai upaya menghindar (dari hukum waris), dan pembebasan budak tersebut tidak dihitung dari sepertiga harta, karena talak dan pembebasan budak itu terjadi dalam keadaan sehat.
وكان يجوز أن نقول المطلِّق فارّ والعتق من الثلث أما الفرار فالمتبع فيه التهمة وهي لائحة والشاهد لهذا المسألةُ التي نذكرها الآن وهي إذا قال أنت طالق قبل موتي بيومٍ ثم مضى يوم في أوّله صحيح ومرض في آخره ومات فالطلاق وقع في الصّحة وهو طلاقُ فارّ على القياس البيّن فليكن الأمر كذلك في تقديمه على مرض الموت
Dan boleh saja kita mengatakan bahwa orang yang menjatuhkan talak adalah orang yang melarikan diri (dari hukum), dan pembebasan budak dari sepertiga harta. Adapun pelarian (dari hukum), maka yang diikuti di dalamnya adalah tuduhan, dan tuduhan itu jelas. Bukti untuk masalah ini adalah permasalahan yang akan kami sebutkan sekarang, yaitu jika seseorang berkata, “Engkau tertalak sehari sebelum kematianku,” kemudian berlalu satu hari, di awal hari itu ia sehat dan di akhir hari ia sakit lalu meninggal dunia, maka talak terjadi saat ia sehat, dan itu adalah talak orang yang melarikan diri menurut qiyās yang jelas. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku dalam mendahulukan talak sebelum sakit menjelang kematian.
ثم إذا تحقق هذا في الطلاق فالعتق يتبعه فكل طلاق يفرضُ طلاقُ فارٍّ فالعتق إذا أقيم في محله فهو عتق تبرّع
Kemudian, jika hal ini telah dipastikan dalam perkara talak, maka pembebasan budak mengikuti hukumnya. Setiap talak yang dianggap sebagai talak orang yang lari, maka pembebasan budak, jika dilakukan pada tempatnya, merupakan pembebasan budak secara sukarela.
ولنا وراء هذا تصرفان أحدهما أنه لا يبعد فرق بين المسألة الأولى التي استشهدنا بها وبين الثانية فإنه ذكر في الأولى أياماً يغلب على القلب انبساطُ المرض عليها وصرّح في المسألة التي أفادها القاضي بالتقديم على المرض فإن كانت تهمةٌ فلتكن فإنا لا نلتزم مضادّته في كل تهمةٍ ولا بدّ من ضربٍ من الارتباط بالمرض هذا وجهٌ والأَوْجه أنه فارّ فإنّ هذا ينشأ من استشعار الموت
Kami memiliki dua sikap terkait hal ini. Pertama, tidak mustahil ada perbedaan antara masalah pertama yang kami jadikan dalil dan masalah kedua, karena pada masalah pertama disebutkan hari-hari yang secara dominan diyakini penyakit akan berlangsung padanya, dan dalam masalah yang dijelaskan oleh qadhi disebutkan secara tegas bahwa pembayaran zakat didahulukan atas penyakit. Jika ada dugaan, biarlah ada, karena kami tidak berkomitmen untuk menentang setiap dugaan, dan harus ada semacam keterkaitan dengan penyakit. Ini satu sisi. Sisi yang lebih kuat adalah bahwa hal ini merupakan bentuk pelarian, karena hal ini muncul dari perasaan takut akan kematian.
والوجه الثاني في النظر أن ما ذكرناه من الفرار متجه فأمَّا عتق يفرض وقوعه في الصحة ويختلف في احتسابه من رأس المال فلا وجه له فإن مأخذ الاحتساب من الثلث وقوعُ التبرّع في حالة الحجر ومرض الموت يجرّ على المرء حجراً ويردّ مضطربة إلى ثُلثه فلا التفات في هذا على التهمة
Pendekatan kedua dalam kajian ini adalah bahwa apa yang telah kami sebutkan tentang upaya menghindar (dari hukum) adalah relevan. Adapun pembebasan budak yang ditetapkan terjadi saat sehat, namun berbeda pendapat dalam menghitungnya sebagai bagian dari harta pokok, maka tidak ada alasan untuk itu. Sebab, dasar perhitungan dari sepertiga harta adalah terjadinya hibah pada saat seseorang dalam keadaan terbatas (harta), dan sakit yang membawa kematian menyebabkan seseorang berada dalam kondisi terbatas, sehingga hibahnya dikembalikan kepada sepertiga hartanya. Maka, dalam hal ini, tidak perlu memperhatikan adanya tuduhan (niat menghindar).
ومما يتعلق بهذا أنه لو علق الطلاق في الصحة بفعل من أفعال نفسه ثم مرض فَفَعَله في المرض قطع القاضي بأنه فارّ فإنّه اعتمد سبب الطلاق في مرضه فكان كما لو نجّز الطلاق في المرض وهذا حسنٌ فقيه وكان شيخي يذكر وجهين في هذه الصورة والوجه عندي القطعُ بما ذكره القاضي فإن عماد القول التهمةُ وتحققُها في هذه الصورة كتحققها في تنجيز الطلاق
Terkait dengan hal ini, jika seseorang menggantungkan talak saat sehat pada suatu perbuatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri, kemudian ia sakit lalu melakukan perbuatan itu saat sakit, maka hakim memutuskan bahwa ia adalah orang yang lari dari tanggung jawab, karena ia menjadikan sebab talak terjadi saat sakitnya, sehingga hukumnya seperti orang yang menegaskan talak saat sakit. Ini adalah pendapat fiqh yang baik. Guru saya menyebutkan dua pendapat dalam kasus ini, namun menurut saya pendapat yang tepat adalah sebagaimana yang disebutkan oleh hakim, karena dasar pendapat ini adalah adanya tuduhan, dan tuduhan itu benar-benar terjadi dalam kasus ini sebagaimana terjadinya pada penegasan talak.
وإن علَّق الطلاق في الصّحة بفعل أجنبي أو بأمرٍ يجوز أن يقع في الصحة ويجوز أن يقع في المرض مما لا يتعلق به فاتفق وقوع ذلك في المرض فحينئذٍ في المسألة قولان أحدهما أن الاعتبار بحالة التعليق ولقد كان صحيحاً فيه فليس فاراً
Jika talak digantungkan pada saat sehat dengan perbuatan orang lain atau dengan suatu perkara yang mungkin terjadi saat sehat dan mungkin juga terjadi saat sakit, yang tidak berkaitan dengannya, lalu kebetulan perkara itu terjadi saat sakit, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keadaan saat penggantungan, dan pada saat itu ia dalam keadaan sehat, maka talaknya tidak dianggap sebagai upaya lari (dari hukum waris).
والقول الثاني أنه فارّ نظراً إلى وقت وقوع الطلاق ولعلّ الأقيس القولُ الأول فإنّ التهمة لا تتحقق
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia adalah seorang yang lari jika dilihat dari waktu terjadinya talak, namun yang lebih sesuai dengan qiyās adalah pendapat pertama, karena tuduhan tersebut tidak terbukti.
وكما طرد الأصحاب قولين في الطلاق طردوهما في العِتاق ومحلِّ احتسابه وجريانُ القولين في العِتاق في الصورة التي انتهينا إليها حسنٌ تردداً في وقت التعليق ووقت النفوذِ
Sebagaimana para sahabat menolak dua pendapat dalam masalah talak, mereka juga menolaknya dalam masalah ‘itāq dan tempat perhitungannya. Berlakunya dua pendapat dalam masalah ‘itāq pada gambaran yang telah kami sebutkan adalah baik, sebagai bentuk keraguan antara waktu penangguhan dan waktu berlakunya.
فإن قال قائل إذا كان عماد الفرار على التهمة فكيف يخرج قول الفرار في الصورة التي ذكرتموها قلنا إذا علّق بصفةٍ مترددةٍ بين أن تقع في الصّحة أوالمرض ولو أوقع في المرض لاتّهم فإذا أطلق التعليق بما يجوز تقدير وقوعِه في المرض انبسط التعليق على زمانٍ لا تهمةَ فيه وعلى زمانٍ فيه تهمة فلا يبعد أن يُنْظَر إلى العاقبة وإن وقع في زمانِ نفْي التهمة فلا فرار وإن وقع في زمان التهمة جعلناه فارّاً
Jika ada yang berkata, “Jika dasar dari al-firār adalah tuduhan, lalu bagaimana pendapat tentang al-firār dalam kasus yang telah kalian sebutkan?” Kami katakan, jika suatu perkara digantungkan pada sifat yang masih samar antara terjadi dalam keadaan sehat atau sakit, dan jika terjadi dalam keadaan sakit maka akan timbul tuduhan, maka apabila penggantungan itu dilakukan pada sesuatu yang mungkin saja terjadi saat sakit, maka penggantungan tersebut mencakup waktu yang tidak ada tuduhan di dalamnya dan waktu yang ada tuduhan. Maka tidaklah jauh untuk melihat pada akibat akhirnya; jika terjadi pada waktu yang tidak ada tuduhan, maka itu bukan al-firār, dan jika terjadi pada waktu yang ada tuduhan, maka kami menganggapnya sebagai al-firār.
وقال أبو حنيفة إذا وقع العتق في المرض وقد جرى التعليق في الصّحة فالعتق من الثلث وإذا جرى تعليق الطلاق في الصّحة ووجدت الصّفة في المرض فلا يكون الزوج فارّاً وتعلَّق في الفرق بفصل التهمة وكنت أودّ لو كان ذاك مذهباً لأصحابنا وقد قدمنا رمزاً إلى مثله في الفرق بين العتق والطلاق
Abu Hanifah berkata, jika pembebasan budak terjadi saat sakit dan penangguhannya telah dilakukan ketika sehat, maka pembebasan itu berlaku dari sepertiga harta. Jika penangguhan talak dilakukan ketika sehat dan syaratnya terpenuhi saat sakit, maka suami tidak dianggap sebagai orang yang lari (dari kewajiban), dan perbedaan antara keduanya terkait dengan adanya tuduhan. Aku berharap seandainya hal itu menjadi mazhab bagi para sahabat kami, dan sebelumnya kami telah memberi isyarat tentang hal yang serupa dalam perbedaan antara pembebasan budak dan talak.
ومما يتعلق بهذا أنه إذا أقرّ في المرض بطلاقها في الصحة فليس بفارٍّ وإقراره مقبول ولو أقر في المرض بعتقٍ نجّزه في الصحة فهو من رأسِ المال
Terkait dengan hal ini, apabila seseorang mengakui dalam keadaan sakit bahwa ia telah mentalaknya (istrinya) ketika sehat, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang sengaja menghindar (dari kewajiban waris), dan pengakuannya diterima. Namun, jika ia mengakui dalam keadaan sakit bahwa ia telah memerdekakan (seorang budak) dan pelaksanaannya dilakukan ketika sehat, maka hal itu dihitung dari harta pokok.
قال القاضي يجوز أن يُخرَّج في المسألتين قولٌ آخر أنه يكون فاراً والعتق من الثلث وأقرب مأخذٍ لهذا أن المريض في حالة حجرٍ والمحجور عليه إذا أقرّ وأسند إقراره إلى حالة الإطلاق ففي قبول إقراره في الحالِّ قولان كالمفلس يقرّ بعد اطراد الحجر عليه بدين فيما مضى زعم التزامَه في حالة الإطلاق فهل يزاحم المقَرُّ له سائرَ الغرماء فعلى قولين قدمنا ذكرهما
Kata al-Qadhi: Boleh jadi dalam kedua permasalahan tersebut terdapat pendapat lain, yaitu bahwa ia dianggap melarikan diri dan pembebasan budaknya berasal dari sepertiga harta. Pendekatan yang paling dekat untuk hal ini adalah bahwa orang sakit berada dalam keadaan terbatas (hajr), dan orang yang sedang dalam hajr jika mengakui sesuatu dan mengaitkan pengakuannya dengan keadaan bebas (ithlaq), maka dalam menerima pengakuannya pada saat itu terdapat dua pendapat, seperti orang yang bangkrut (muflis) yang mengakui adanya utang setelah hajr ditetapkan atasnya, dengan mengklaim bahwa ia telah berkomitmen pada utang tersebut ketika masih dalam keadaan bebas. Maka, apakah pihak yang diakui (muqarr lahu) dapat bersaing dengan para kreditur lainnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.
ولو أبان في مرض الموت امرأته الأمةَ فعَتَقَت أو امرأته الذِّمية فأسلمت أو كان الزوج عبداً فطلّق ثم عَتَق فالذي قطع به الأئمة أنه لا يكون فارّاً في هذه المسائل لأنه لم يكن متعرضاً للتهمة حالة الطلاق فإن السبب المورّث لم يكن ثابتاً في ذلك الوقت فإن طرأ سببٌ فذلك لا حكم له
Jika seseorang dalam keadaan sakit menjatuhkan talak kepada istrinya yang merupakan seorang budak lalu ia merdeka, atau kepada istrinya yang beragama dzimmi lalu ia masuk Islam, atau jika suaminya adalah seorang budak lalu ia menceraikan istrinya kemudian ia merdeka, maka para imam secara tegas berpendapat bahwa dalam kasus-kasus ini ia tidak dianggap sebagai orang yang lari (fārr), karena pada saat talak dijatuhkan ia tidak berada dalam posisi yang dicurigai; sebab yang menyebabkan tuduhan tersebut belum ada pada waktu itu. Jika kemudian muncul sebab setelahnya, maka hal itu tidak berpengaruh hukum.
وقد يتطرق إلى ما ذكرناه نظرٌ مأخوذ من إقرار الرجل لعمّهِ وله أولادٌ ذكور فإذا جرى الإقرار في مرض الموت ثم اتفق موت الأولاد ومصير العمّ وارثاً والتفريع على أن الإقرار للوارث مردود فهل يُردّ الإقرار في هذه الصّورة فعلى قولين وكذلك لو فرض الأمر على عكس ذلك وقدّر المقَرّ له وارثاً لو فرض موت المقِرّ ثم حدث حاجبٌ ففي قبول الإقرار قولان
Terkadang, persoalan yang telah kami sebutkan dapat ditinjau dari sudut pandang lain, misalnya seorang laki-laki mengakui hak kepada pamannya, sementara ia memiliki anak laki-laki. Jika pengakuan itu terjadi saat sakit menjelang wafat, lalu anak-anak tersebut meninggal dunia dan sang paman menjadi ahli waris, serta berdasarkan cabang hukum bahwa pengakuan kepada ahli waris ditolak, maka apakah pengakuan itu juga ditolak dalam kasus seperti ini? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Demikian pula jika keadaannya dibalik, yaitu orang yang diakui haknya semula adalah ahli waris seandainya yang mengakui meninggal dunia, lalu kemudian muncul penghalang waris, maka dalam hal diterimanya pengakuan juga terdapat dua pendapat.
فلو قال قائل إذا جرى الطلاق ثم أفضى الأمر إلى الوراثة فيخرّج كون المطلق فارّاً على ما ذكرناه من القولين في اعتبار الحال أو المآل لم يكن ذلك بعيداً
Maka jika seseorang berkata, “Apabila terjadi talak kemudian perkara itu berujung pada warisan, maka status suami yang menalak sebagai orang yang lari (dari kewajiban) dapat dikaitkan dengan apa yang telah kami sebutkan mengenai dua pendapat tentang mempertimbangkan keadaan saat ini atau akibat di masa mendatang,” maka hal itu tidaklah jauh (dari kebenaran).
والضابط في الباب أن الوصية يُرعى فيها المآل حتى لو أوصى لأجنبيّة ثم نكحها فالوصية مردودة ولهذا لم نفرق بين وصية الصحيح وبين وصية المريض
Patokan dalam masalah ini adalah bahwa dalam wasiat harus diperhatikan akibat yang akan terjadi, sehingga jika seseorang berwasiat kepada seorang perempuan asing lalu kemudian menikahinya, maka wasiat tersebut batal. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara wasiat yang dibuat oleh orang sehat dengan wasiat yang dibuat oleh orang sakit.
فإن محل الوصية في حق الكافة بعد الموت والإقرار تنجيز التبرّع في المرض فخرج على قولين في اعتبار الحال والمآل
Adapun tempat wasiat bagi semua orang adalah setelah kematian dan pengakuan, sedangkan pelaksanaan hibah pada saat sakit, maka hal ini diperselisihkan menjadi dua pendapat dalam hal mempertimbangkan keadaan saat ini dan akibat di kemudian hari.
ولو أقرّ لأجنبية في مرضه ثم نكحها فهل نجعل ذلك إقراراً لوارثٍ فعلى طريقين منهم من قطع بقبول الإقرار ومنهم من جعل المسألة على قولين على الأصل الممهّد
Jika seseorang mengakui hak kepada perempuan asing (bukan mahram) saat ia sakit, kemudian ia menikahinya, apakah pengakuan itu dianggap sebagai pengakuan kepada ahli waris? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: sebagian ulama secara tegas menerima pengakuan tersebut, sementara sebagian lain menjadikan masalah ini sebagai masalah yang memiliki dua pendapat, sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.
ولو نكح ذمّي ذميةً ثم أسلم الزوج في مرض الموت وأصرت المرأة وأفضى اختلاف الدّين إلى انقطاع التوارث فلا يكون الزوج فارّاً إجماعاً لأنّ الزوج أدّى مفروضاً عليه ثم لا يتطرق التهمة إليه في قصد الحرمان وكذلك لو فسَخَ النكاحَ بعيبٍ فلا يُجعل فارّاً لأنه استوفى حقاً مستحقاً له فلم يُحمل ما جرى منه على قصد الحرمان
Jika seorang laki-laki dzimmi menikahi perempuan dzimmah, kemudian suami masuk Islam saat sakit menjelang wafat, sementara istrinya tetap pada agamanya, dan perbedaan agama tersebut menyebabkan terputusnya hubungan saling mewarisi, maka suami tidak dianggap sebagai orang yang lari (dari kewajiban) menurut ijmā‘, karena suami telah menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, sehingga tidak ada tuduhan bahwa ia bermaksud menghalangi (istri dari warisan). Demikian pula jika ia membatalkan pernikahan karena cacat, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang lari, karena ia telah mengambil hak yang memang menjadi haknya, sehingga apa yang ia lakukan tidak dianggap sebagai upaya untuk menghalangi (istri dari warisan).
ولو ارتدّ الزوج فانبتَّ النكاح ثم عاد فهل نجعله فارّاً فعلى وجهين ذكرهما العراقيون أحدهما أنا لا نجعله فارّاً لأنه لا يظن به أن يبدّل دينه لقصد الفرار مع تمكنه من الطلاق
Jika suami murtad lalu pernikahan menjadi terputus, kemudian ia kembali (masuk Islam), maka apakah kita menganggapnya sebagai orang yang lari (dari istrinya)? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Salah satunya adalah bahwa kita tidak menganggapnya sebagai orang yang lari, karena tidak diduga ia akan mengganti agamanya dengan tujuan melarikan diri, padahal ia mampu melakukan talak.
والثاني أنه فارّ ولا يُمهَّد له عذر
Yang kedua, ia adalah seorang yang melarikan diri dan tidak diberikan alasan untuknya.
والمرأة لو ارتدت يجري الوجهان فيها والأصح انقطاع ميراث الزوج عنها فإنا وإن كنّا نطرد معنى التهمة فلا ينبغي أن نبعد عن مورد الأثر وهذا وارد في الطلاق والطلاق مثبَتٌ لرفع النكاح والردة ليست تصرفاً في النكاح
Dan jika seorang wanita murtad, maka berlaku dua pendapat padanya. Pendapat yang lebih sahih adalah terputusnya warisan suami darinya. Meskipun kita konsisten dengan makna tuduhan, seharusnya kita tidak jauh dari sumber dalil. Hal ini berlaku dalam kasus talak, dan talak itu ditetapkan untuk mengakhiri pernikahan, sedangkan murtad bukanlah tindakan terhadap pernikahan.
وإن لاعن الزوج نظرنا فإن لم يكن ثَمَّ نسبٌ وكانت لا تطلب اللعان فقد قيل إنَّه فارّ كما لو أبانها بالطلاق ولو كان ثَمَّ نسبٌ متعرّض للثبوت فنفاه باللعان أو طلبت اللعان ولو لم يلتعن لعوقب على ما صدر منه من قذفٍ فلا يكون فاراً
Jika suami melakukan li‘ān, maka kita perhatikan: jika tidak ada nasab di sana dan istri tidak menuntut li‘ān, maka ada pendapat bahwa ia dianggap lari seperti halnya jika ia menceraikannya dengan talak. Namun, jika ada nasab yang berpotensi untuk ditetapkan lalu ia menafikannya dengan li‘ān, atau istri menuntut li‘ān, maka meskipun ia tidak melakukan li‘ān, ia tetap dihukum atas tuduhan zina yang ia lontarkan, sehingga ia tidak dianggap lari.
وفي كلام الأئمة رمزٌ إلى أن اللعان لا يكون فراراً وإن لم يكن ثَمَّ نسبٌ ولا طلب فإن التهمة بعيدة مع ما في اللعان من التعرض للشهرة والخزي والطلاقُ ممكن دون ذلك
Dalam perkataan para imam terdapat isyarat bahwa li‘ān tidak dianggap sebagai upaya melarikan diri, meskipun tidak ada nasab atau tuntutan, karena tuduhan itu jauh kemungkinannya, mengingat dalam li‘ān terdapat keterbukaan terhadap ketenaran, aib, dan perceraian yang mungkin terjadi tanpa hal tersebut.
ثم إذا طلق الزوج زوجته وأبانها فالقولان في توريثها منه لو مات فأما إذا اتفق موت المبتوتة فلا خلاف أن الزَّوج لا يرثها والسبب فيه أنه المطلِّق المُؤْثرُ للقطع وإذا كنا نقول الطلاق إذا كان صادراً عن سؤالها فينقطع ميراثها فلأن ينقطع ميراث الزوج وهو المنشىء للطلاق أولى وأحرى
Kemudian, jika seorang suami menceraikan istrinya dan menjadikannya bercerai ba’in, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah ia mewarisi dari suaminya jika suaminya meninggal. Adapun jika istri yang telah dicerai ba’in itu meninggal, tidak ada perbedaan pendapat bahwa suami tidak mewarisinya. Sebabnya adalah karena suamilah yang menceraikan dan menyebabkan terputusnya hubungan. Jika kita mengatakan bahwa talak yang terjadi atas permintaan istri memutuskan hak warisnya, maka lebih utama dan lebih layak lagi jika hak waris suami—yang menjadi penyebab terjadinya talak—juga terputus.
باب الشك في الطلاق
Bab Keraguan dalam Talak
صدر الشافعي الباب بحديث لرسول الله صلى الله عليه وسلم وردَ في الشك في الحدث وذلك أنه قال إن الشيطان ليأتي أحدَكم بين إليتيه في الصّلاة فلا ينصرفنّ حتى يسمع صوتاً أو يشمّ ريحاً فأمر صلى الله عليه وسلم عليه بالبناء على اليقين وطرح الشك فاتبع الشافعي هذا الحديث واتخذه أسوته في الشكوك الطارئة على محالّ اليقين وأراد أن يبني مسائل الشك في الطلاق على هذا الحديث وإنما استدلّ بهذا الحديث في صدر باب الطلاق لسببٍ وهو أن مالكاً رضي الله عنهُ قال إن شك في عدد الطلاق أخذ بالأكثر بناء على أصل له وهو أن الأصل المطرد إذا حدث فيه أصل آخر فالتمسك عنده بالأصل الثاني ولذلك يقول لو شك في الحدث قبل الشروع في الصّلاة لم يبن على يقين الطهارة لأنه الآن متيقّن عدم انعقاد الصّلاة فإذا عقدها فهو على شك في الانعقاد وإذا شك في الحدث بعد الشروع في الصّلاة لم يخرج منها بما طرأ له من الشك لأن الأصل انعقادُها هذا أصله فلم يُرد الشافعي أن يتمسك بمحلّ مناقضة وجعل ما يسلمه معتبره فإنه لا يستنبط المعنى إلا من محالّ الإجماع ولم يثق بإجماع فاتخذ الحديث مستنده في قاعدة طريان الشّك على الأصل ثم بنى عليه الكلام واتسع في الكلام
Imam Syafi‘i memulai bab ini dengan sebuah hadis Rasulullah saw. yang berkaitan dengan keraguan dalam hadas, yaitu sabda beliau: “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian di antara kedua pantatnya saat shalat, maka janganlah ia berpaling hingga mendengar suara atau mencium bau.” Maka Rasulullah saw. memerintahkan untuk berpegang pada keyakinan dan menolak keraguan. Imam Syafi‘i mengikuti hadis ini dan menjadikannya teladan dalam menghadapi keraguan yang muncul pada tempat-tempat keyakinan. Ia ingin membangun permasalahan keraguan dalam talak berdasarkan hadis ini. Ia menggunakan hadis ini di awal bab talak karena ada sebab, yaitu Imam Malik ra. berpendapat bahwa jika seseorang ragu dalam jumlah talak, maka diambil jumlah yang terbanyak, berdasarkan prinsipnya bahwa jika ada asal (hukum) yang tetap lalu muncul asal (hukum) lain, maka menurutnya yang dipegang adalah asal yang kedua. Oleh karena itu, ia berkata: jika seseorang ragu tentang hadas sebelum memulai shalat, maka tidak dibangun atas keyakinan suci, karena saat itu ia yakin shalat belum dimulai. Jika ia telah memulai shalat, maka ia ragu tentang keabsahan shalat. Jika ia ragu tentang hadas setelah memulai shalat, maka ia tidak keluar dari shalat karena keraguan yang muncul, karena asalnya shalat telah sah. Inilah prinsipnya. Maka Imam Syafi‘i tidak ingin berpegang pada tempat yang bertentangan, dan menjadikan apa yang disepakati sebagai pertimbangannya, karena ia tidak mengambil makna kecuali dari tempat ijmā‘. Ia juga tidak mempercayai adanya ijmā‘, sehingga ia menjadikan hadis sebagai sandarannya dalam kaidah munculnya keraguan atas asal, lalu membangun pembahasan di atasnya dan memperluas penjelasan.
والمسلك الضابط في طريان الشكوك على الأصول لا يبين إلا بأن نذكر عبارة الفقهاء ونبُدي ما فيها من الإشكال ثم نأتي بالمعتبر الموثوق
Pendekatan yang tepat dalam membahas keraguan yang muncul terhadap prinsip-prinsip dasar tidak akan jelas kecuali dengan menyebutkan ungkapan para fuqaha dan menjelaskan permasalahan yang terdapat di dalamnya, kemudian menghadirkan pendapat yang dianggap sahih dan dapat dipercaya.
فعبارة الفقهاء إن اليقين لا يترك بالشك وهذا مختلٌّ فإن الشك إذا طرأ فلا يقين ثم إن حُمل هذا على ما مضى وقيل معنى قول الفقهاء إن اليقين السّابق لا يترك بالشك الطارىء فليس هذا على هذا الإطلاق ولكن القول في ذلك ينقسم فإن طرأ الشك وأمكن الاجتهاد تنوّع الكلام فقد يتمهد مسلك الاجتهاد بالمتعلّقات الواضحة كمسائلِ الاجتهاد في الطلاق التي اختلف العلماء فيها وصار صائرون إلى أن الطلاق يقع وذهب آخرون إلى أنه لا يقع فالمتبع الاجتهاد ولا حكم للنكاح السابق وما تقدم من استيقان انعقاده
Ungkapan para fuqaha bahwa keyakinan tidak ditinggalkan karena keraguan adalah tidak tepat, sebab jika keraguan muncul maka tidak ada lagi keyakinan. Kemudian, jika ungkapan ini dibawa pada perkara yang telah lalu dan dikatakan bahwa maksud ucapan para fuqaha adalah keyakinan sebelumnya tidak ditinggalkan karena keraguan yang muncul kemudian, maka hal ini tidak berlaku secara mutlak. Namun, pembahasan dalam hal ini terbagi; jika muncul keraguan dan memungkinkan dilakukan ijtihad, maka pembicaraan menjadi beragam. Terkadang jalan ijtihad dapat ditempuh dengan hal-hal yang jelas, seperti dalam masalah-masalah ijtihad tentang talak yang para ulama berbeda pendapat di dalamnya; sebagian berpendapat bahwa talak jatuh, sementara yang lain berpendapat tidak jatuh. Maka yang diikuti adalah ijtihad, dan tidak ada hukum bagi pernikahan sebelumnya serta apa yang telah diyakini sebelumnya tentang keabsahannya.
وإن جرى الاجتهاد وخفيت العلامة فإن دعت الضرورة إليه وجب التمسك به وهذا كما إذا كان مع الرجل إناءان أحدهما طاهر والآخر نجس فلا سبيل إلا ترك الماءين أو الاجتهاد في الأخذ بأحدهما ولا سبيل إلى الترك فتعيّن الاجتهاد
Jika ijtihad telah dilakukan dan tanda-tandanya tersembunyi, maka apabila ada kebutuhan mendesak terhadapnya, wajib berpegang pada hasil ijtihad tersebut. Ini seperti seseorang yang memiliki dua bejana, salah satunya suci dan yang lainnya najis, sehingga tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan kedua air tersebut atau melakukan ijtihad dalam memilih salah satunya. Karena tidak mungkin meninggalkannya, maka ijtihad menjadi keharusan.
وإن كان مع الرّجل إناء واحد وفيه ماء فشك في طريان النجاسة عليه وغلبت عنده علاماتها فهل يأخذ بالاجتهاد وعلاماتُ النجاسة خفية وقد أدرك خفاءها من أحاط بأبواب النجاسات وإذا رَقتِ العلامات إلى الظهور وقدت في اليقين فلا جرم اختلف القول في أنه هل يجب التمسك بالعلامات أو يستصحب اليقين السابق وهذا هو استصحاب الحال الذي يخوض فيه الأصوليون
Jika seseorang memiliki satu wadah yang berisi air, lalu ia ragu apakah najis telah mengenainya, dan tanda-tanda najis lebih dominan menurutnya, maka apakah ia boleh menggunakan ijtihad, padahal tanda-tanda najis itu samar dan hanya dapat diketahui oleh orang yang memahami seluk-beluk najis? Jika tanda-tanda itu semakin jelas hingga mendekati keyakinan, maka memang terjadi perbedaan pendapat mengenai apakah wajib berpegang pada tanda-tanda tersebut atau tetap mempertahankan keyakinan sebelumnya. Inilah yang disebut dengan istishab al-hal yang dibahas oleh para ahli ushul.
وإن انحسم الاجتهاد وطرأ الشك فعند ذلك يرى الشافعي أن يستمسك باليقين السابق ولا يقيمَ للشك وزناً وسببه من طريق المعنى أن الشّك يتعلق بمعتقدين متعارضين ليس أحدهما أولى من الثاني ولا يخلو في غالب الأمر المرءُ عن الشك سيّما إذا بُلي بأطراف الوسوسة فرأى الشافعي التمسكَ باليقين المستصحب أولى واعتضد فيما رآه بحديث المصطفى صلى الله عليه وسلم
Jika ijtihad telah selesai dan muncul keraguan, maka dalam hal ini asy-Syafi‘i berpendapat bahwa harus berpegang pada keyakinan sebelumnya dan tidak memberikan bobot pada keraguan. Sebabnya, dari segi makna, keraguan berkaitan dengan dua keyakinan yang saling bertentangan, yang tidak ada salah satunya lebih utama dari yang lain. Seringkali seseorang tidak lepas dari keraguan, terutama jika ia diuji dengan bisikan-bisikan waswas. Oleh karena itu, asy-Syafi‘i memandang bahwa berpegang pada keyakinan yang sudah ada lebih utama, dan pendapatnya ini didukung oleh hadis Nabi Muhammad saw.
وهذا تأسيس الباب ونحن نقول بعده
Inilah dasar pembahasan bab ini, dan setelahnya kami akan menjelaskannya.
مَنْ شك في الطلاق فالأصل بقاء النكاح وله الأخذ بحكم استصحابه ولا يخفى الورع والأخذ به على أصحابه ولو علم الطلاقَ وشك في العدد فالواقع القدر المستيقن والمشكوكُ فيه لا يقع في الظاهر المحكوم به
Barang siapa ragu tentang terjadinya talak, maka hukum asalnya adalah tetapnya pernikahan, dan ia boleh mengambil keputusan berdasarkan istishab (hukum asal yang berlanjut). Tidak samar lagi bahwa sikap wara‘ dan mengambil keputusan ini adalah yang lebih utama bagi para pelakunya. Jika seseorang yakin telah terjadi talak namun ragu tentang jumlahnya, maka yang dianggap terjadi adalah jumlah yang diyakini secara pasti, sedangkan yang diragukan tidak dianggap terjadi menurut hukum yang tampak.
وكذلك العتق وما في معناهما وعلى هذا بنى الشافعي الشك في أعداد ركعات الصّلاة
Demikian pula halnya dengan pembebasan budak dan hal-hal yang sejenis dengannya. Atas dasar ini, Imam Syafi‘i membangun pendapatnya mengenai keraguan dalam jumlah rakaat salat.
ثم إذا تمهّد أصل الباب فنذكر صوراً تجرّ شكوكاً منها أنه لو طار طائر فقال الزوج إن كان هذا غراباً فامرأتي طالق ولم يتبيّن له حقيقة الحال فلا يقع الطلاق لاحتمال أنه لم يكن غراباً وكذلك لو قال إن كان غراباً فامرأتي طالق وإن كان حماماً فعبدي حرّ فلا نحكم بالطلاق ولا بالعتاق فإن الطائر قد يكون جنساً ثالثاً
Kemudian, setelah pokok permasalahan ini dijelaskan, kami akan menyebutkan beberapa contoh yang menimbulkan keraguan, di antaranya: jika seekor burung terbang lalu sang suami berkata, “Jika burung itu seekor gagak, maka istriku tertalak,” namun ia tidak mengetahui secara pasti kenyataannya, maka talak tidak terjadi karena ada kemungkinan burung itu bukan gagak. Demikian pula jika ia berkata, “Jika itu gagak, maka istriku tertalak, dan jika itu merpati, maka budakku merdeka,” maka kita tidak menetapkan terjadinya talak maupun pemerdekaan, karena bisa jadi burung itu merupakan jenis ketiga.
ولو قال إن كان غراباً فعمرة طالق وإن لم يكن غراباً فزينب طالق فتطلق إحداهما فإن الطائر إما أن يكون غراباً أو لا يكون غراباً فقد وقعت طلقةٌ مبهمة بين زوجتيه وسيأتي هذا الأصل في الباب فهو المقصود
Jika seseorang berkata, “Jika itu burung gagak, maka ‘Umrah tertalak; dan jika bukan burung gagak, maka Zainab tertalak,” maka salah satu dari keduanya menjadi tertalak. Sebab, burung itu pasti antara burung gagak atau bukan burung gagak, sehingga jatuhlah talak yang tidak jelas kepada salah satu istrinya. Prinsip ini akan dijelaskan pada bab berikutnya, dan inilah yang dimaksudkan.
ولو صدر هذان القولان من رجلين قال أحدهما إن كان غراباً فامرأتي طالق وقال الآخر إن لم يكن غراباً فامرأتي طالق فلا نحكم عند إشكال الأمر بوقوع الطلاق على زوجةِ واحد منهما بخلاف ما لو اتحد الحالف وتعدّد المحلوف بطلاقه والفرق أن الحالف إذا اتحد فقد تعين الحانث وأمكن توجيه الخطاب عليه بربط بعض أمره بالبعض وحمله على مقتضى وقوع الالتباس وإذا تعدّد الرّجلان امتنع الجمع بينهما في توجيه خطاب ومعلوم أن أحدهما لو انفرد بمقالته لما حكمنا بوقوع الطلاق على زوجته فإذا ذكر صاحبه شيئاً استحال أن يتغيّر حُكْمنا على زيد بسبب مقالةٍ صدرت من عمرو فيتعذر المؤاخذة إذاً
Jika dua pernyataan ini diucapkan oleh dua orang, salah satunya berkata, “Jika itu burung gagak maka istriku tertalak,” dan yang lain berkata, “Jika itu bukan burung gagak maka istriku tertalak,” maka ketika perkara tersebut menjadi samar, kita tidak menetapkan jatuhnya talak pada istri salah satu dari mereka. Hal ini berbeda jika yang bersumpah hanya satu orang dan objek sumpah talaknya lebih dari satu. Perbedaannya adalah, jika yang bersumpah hanya satu orang, maka yang melanggar sumpah telah jelas, sehingga memungkinkan untuk mengarahkan hukum kepadanya dengan mengaitkan sebagian urusannya dengan sebagian yang lain dan membawanya pada konsekuensi terjadinya kerancuan. Namun jika dua orang yang bersumpah, maka tidak mungkin menggabungkan keduanya dalam satu arahan hukum. Diketahui bahwa jika salah satu dari mereka mengucapkan pernyataannya sendiri, kita tidak akan menetapkan jatuhnya talak pada istrinya. Maka, jika temannya mengucapkan sesuatu, mustahil hukum kita terhadap Zaid berubah hanya karena ucapan yang keluar dari Amr. Oleh karena itu, tidak mungkin ada pertanggungjawaban dalam hal ini.
وهذا قد يناظر ما إذا سمعنا صوت حدثٍ بين رجلين ثم قام كل واحدٍ منهما
Hal ini dapat disamakan dengan keadaan ketika kita mendengar suara suatu kejadian di antara dua orang laki-laki, kemudian masing-masing dari keduanya berdiri.
واستفتح الصّلاة فلا معترض على واحد منهما فإن كل واحد يورِّك بالذنب على صاحبه نعم إذا أراد أحدُهما أن يقتدي بالآخر لم يجد إلى ذلك سبيلاً والإمام لا معترض عليه فإنه في حكم المنفرد
Dan ketika keduanya memulai shalat, maka tidak ada yang dapat menghalangi salah satu dari mereka, karena masing-masing melemparkan kesalahan kepada yang lain. Namun, jika salah satu dari mereka ingin mengikuti yang lain (sebagai makmum), ia tidak akan menemukan jalan untuk itu. Adapun imam, tidak ada yang dapat menghalanginya, karena ia dalam hukum seperti orang yang shalat sendirian.
وبمثله لو تيقن الرجل وقد صلى صلاة الصبح وصلاة الظهر أنه كان محدثاً في إحداهما والتبس الأمر عليه فلم يدر الصلاة التي كان محدثاً فيهما فنأمره بقضاء الصّلاتين جميعاًً فإن المحكوم عليه واحد ولا يمتنع توجيه الخطاب عليه بمؤاخذة تتعلق بواقعتين ثم سبيل الاستدراك قضاء الصّلاتين
Demikian pula, jika seorang laki-laki telah yakin bahwa setelah melaksanakan salat Subuh dan salat Zuhur, ia dalam keadaan berhadas pada salah satu dari keduanya, namun ia bingung dan tidak mengetahui salat mana yang ia lakukan dalam keadaan berhadas, maka kita memerintahkannya untuk mengqadha kedua salat tersebut. Sebab, orang yang dikenai hukum adalah satu, dan tidak terlarang untuk mengarahkan perintah kepadanya dengan tanggung jawab yang berkaitan dengan dua peristiwa. Maka cara untuk memperbaikinya adalah dengan mengqadha kedua salat tersebut.
وفي مسألة الطلاق إذا اتحد الزوج واستبهم الأمر فالطلاق يقع على إحداهما
Dalam masalah talak, jika suami satu orang dan perkara menjadi samar, maka talak jatuh pada salah satu dari keduanya.
ولو فرضنا كلام الرجلين في العِتاق لكان على هذا النسق فإذا قال زيد إن كان الطائر غراباً فعبدي حر وقال عمرو إن لم يكن غراباً فعبدي حرّ فلا نحكم بالعتق في واحد منهما بناء على الأصل الذي قدمناه في الطلاق في مثل هذه الصورة
Seandainya kita anggap ucapan kedua orang tersebut berkaitan dengan pembebasan budak, maka keadaannya akan seperti ini: jika Zaid berkata, “Jika burung itu seekor gagak, maka budakku merdeka,” dan Amr berkata, “Jika bukan seekor gagak, maka budakku merdeka,” maka kita tidak memutuskan terjadinya pembebasan budak pada salah satu dari keduanya, berdasarkan kaidah yang telah kami kemukakan sebelumnya dalam masalah talak pada gambaran seperti ini.
ولكن مما يجب التنبه له أنا وإن لم نحكم في حق واحدٍ منهما بحصول الطلاق والعتاق فإنا نقول إحداهما طالق وأحد العبدين حرٌ في علم الله وإن كنا لا نطّلع على ذلك فقد يظهر أثر ما ذكرناه بمسألة تتصوّر في العتاق دون الطلاق وهي أنه إذا جرى التعليق من مالكَي العبدين على حسب ما ذكرناه فلا نحكم بالعتق في واحدٍ من العبدين لاشتباه المحكوم عليه غيرَ أن أحد العبدين لو صار إلى المالك الثاني بشراءٍ أو بجهة من جهات الملك فإذا ملكه فلا بد من الحكم بالعتق في أحد العبدين فإنّه اتحد المخاطَب الآن ثم سبيل التفصيل فيه أنه إن لم يكن قال شيئاً سوى ما تقدم من التعليق فنقول أحد العبدين في يدك حرّ فعيّن أحدهما والبحث عن سبيل البيان
Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa meskipun kita tidak menetapkan terjadinya talak atau pembebasan budak pada salah satu dari keduanya, kita mengatakan bahwa salah satu dari mereka telah tertalak dan salah satu dari dua budak itu telah merdeka menurut ilmu Allah, meskipun kita tidak mengetahuinya. Hal ini dapat terlihat dampaknya dalam suatu permasalahan yang dapat dibayangkan pada kasus pembebasan budak namun tidak pada talak, yaitu apabila terjadi ta‘liq (pengaitan) dari kedua pemilik budak sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka kita tidak menetapkan pembebasan pada salah satu dari kedua budak karena tidak jelas siapa yang dimaksud. Namun, jika salah satu dari kedua budak itu kemudian berpindah kepada pemilik kedua melalui pembelian atau sebab-sebab kepemilikan lainnya, maka ketika ia telah menjadi miliknya, haruslah ditetapkan pembebasan pada salah satu dari kedua budak itu, karena kini hanya ada satu orang yang menjadi mukhathab (yang dituju dalam hukum). Adapun rincian dalam hal ini, jika ia tidak mengucapkan sesuatu selain apa yang telah disebutkan sebelumnya berupa ta‘liq, maka kita katakan: salah satu dari kedua budak yang ada di tanganmu adalah merdeka, maka tentukanlah salah satunya, dan pembahasan mengenai cara penjelasannya.
وبالجملة تصير الصورة كما لو قال ابتداء إن لم يكن غراباً فسالم حرّ وإن كان غراباً فغانم حرّ
Secara ringkas, keadaannya menjadi seperti seseorang yang sejak awal berkata: “Jika itu bukan seekor burung gagak, maka Salim merdeka; dan jika itu seekor burung gagak, maka Ghanim merdeka.”
وإن كان قد قال ما حنثتُ في يميني فكما ملك عبد صاحبه حُكم بحرّيته عليه لأنه إذا نفى الحنث عن نفسه فلا بدّ وأن يكون صاحبه حانثاً ومن أقر بحرّية عبدٍ لغيره ولم يصدّق عليه ثم اشتراه فيؤاخذ بحكم قوله ويُقضى بعتقه
Dan jika ia berkata, “Aku tidak melanggar sumpahku,” maka sebagaimana seorang budak memiliki tuannya, diputuskan kebebasan bagi tuannya, karena jika ia menafikan pelanggaran sumpah dari dirinya, maka pasti tuannya yang melanggarnya. Dan barang siapa mengakui kebebasan seorang budak milik orang lain, namun tidak dibenarkan atasnya, lalu ia membelinya, maka ia terikat dengan pengakuannya dan diputuskan pembebasan budak tersebut.
ثم في هذه الصورة التي انتهينا إلينا ليس له أن يرجع بالثمن على صاحبهِ لأنه إنما عَتَق بحكم إقراره وإقرارُه مردود على البائع وصاحبه مكذّبٌ له فهذا أصل الباب
Kemudian, dalam kasus yang telah kita bahas ini, ia tidak berhak menuntut kembali harga kepada pemiliknya, karena kemerdekaan (budak) itu terjadi berdasarkan pengakuannya, sedangkan pengakuannya itu ditolak oleh penjual, dan pemiliknya mendustakannya. Inilah pokok permasalahan dalam bab ini.
ثم ذكر الشافعي بعد هذا حنثاً واقعاً من رجل مردَّداً بين الطلاق والعتاق وأنا أرى من الرأي أن أذكر التردد في طلاق زوجتين أو زوجات وأعتبر به التردد في العتاق ثم أبني عليه تردداً بحنث بين الطلاق والعتاق
Kemudian setelah itu, asy-Syafi‘i menyebutkan kasus pelanggaran sumpah yang terjadi pada seseorang yang ragu antara talak dan pembebasan budak. Menurut pendapat saya, sebaiknya saya menyebutkan terlebih dahulu keraguan dalam talak terhadap dua istri atau beberapa istri, lalu saya jadikan keraguan itu sebagai pertimbangan dalam kasus pembebasan budak, kemudian saya bangun di atasnya keraguan dalam pelanggaran sumpah antara talak dan pembebasan budak.
فصل قال ولو قال إحداكما طالق ثلاثاًً منع منهما إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika salah satu dari kalian aku ceraikan tiga kali,” maka keduanya dilarang (dinikahi olehnya) dan seterusnya.
إذا قال لامرأتين تحته إحداكما طالق ثلاثاًً فلا يخلو إما أن ينوي إحداهما بالقلب أو يُطْلق إطلاقاً ولا ينوي عند إطلاقه اللفظَ واحدةً منهما بعينها فإن نوى بقلبه واحدةً منهما فهي الطالق في حكم الله ولكن الأمر مبهم وهو محبوس عنهما مأمور بالإنفاق عليهما لأنهما في حبسه وإن كانت إحداهما مطلقة ثلاثاًً فيطالب بالبيان ويقال له بيّن المطلّقة عندك
Jika seseorang berkata kepada dua istrinya yang berada dalam tanggungannya, “Salah satu dari kalian aku ceraikan tiga kali,” maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: ia meniatkan salah satunya dalam hati, atau ia mengucapkannya secara mutlak tanpa meniatkan salah satu dari keduanya secara khusus ketika mengucapkan lafaz tersebut. Jika ia meniatkan dalam hatinya salah satu dari keduanya, maka dialah yang dianggap dicerai menurut hukum Allah. Namun, perkara ini menjadi samar, dan ia terhalang dari keduanya serta tetap diwajibkan menafkahi keduanya, karena keduanya berada dalam tanggungannya. Jika salah satu dari keduanya telah dicerai tiga kali, maka ia diminta untuk menjelaskan dan dikatakan kepadanya, “Jelaskanlah siapa yang menurutmu telah dicerai.”
ثم قال الأصحاب الطلاق يقع باللفظ السابق فلا يتأخّر وقوعه إلى البيان الذي يطالب به والعدة تحسب من يوم اللفظ على ظاهر المذهب وخُرِّج قولٌٌ آخر إن العدة محسوبة من يوم البيان
Kemudian para ulama berkata bahwa talak terjadi dengan lafaz sebelumnya, sehingga kejadiannya tidak ditunda sampai penjelasan yang diminta, dan masa iddah dihitung sejak hari pengucapan lafaz menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa masa iddah dihitung sejak hari penjelasan.
وبنى الأصحاب هذين القولين الظاهر والمخرّج على القولين في أن المستفرشة بالنكاح الفاسد إذا فرقنا بينها وبين الواطىء بالشبهة فالعدة من آخر وطأة أو من وقت التفريق بينهما ووجه التشبيه أن الأمر ملتبس فاختلف القول في تاريخ ابتداء العدة كذلك إذا لم يُبيّن فالأمر ملتبس في ظاهر الأمر مع كل واحدة فإذا فرض البيان كان هذا كالتفريق
Para ulama membangun dua pendapat, yaitu pendapat yang zahir dan pendapat yang di-mukharrij, berdasarkan dua pendapat dalam masalah wanita yang melakukan istibra’ karena pernikahan fasid: apabila kita memisahkan antara wanita tersebut dan laki-laki yang berhubungan dengannya karena syubhat, maka masa ‘iddah dihitung dari hubungan terakhir atau dari waktu pemisahan antara keduanya. Adapun alasan adanya kemiripan adalah karena perkara ini masih samar, sehingga terdapat perbedaan pendapat mengenai awal mula masa ‘iddah. Demikian pula jika tidak ada penjelasan, maka perkara ini juga samar secara lahiriah dengan masing-masing wanita tersebut. Jika kemudian ada penjelasan, maka hal ini seperti kasus pemisahan.
وهذا غير سديد والأصح في استبهام الطلاق الاعتداد بالعدة من وقت اللفظ والسبب فيه أن استرسال الواطىء بالشبهة على المرأة ينافي صورة الانعزال الذي تتصف به المعتدة فنشأ القولان من ذلك وليس كذلك استبهام الطلاق فإن الحيلولة ناجزة وقد فرقنا بين الزوج وبينها والنيّة مقترنة باللفظة فالوجه تأريخ ابتداء العدة باللفظ
Pendapat ini tidak tepat, dan yang benar dalam kasus ketidakjelasan talak adalah memperhitungkan masa iddah sejak waktu diucapkannya lafaz talak. Sebabnya adalah bahwa berlanjutnya hubungan suami istri karena syubhat bertentangan dengan keadaan terpisah yang menjadi ciri wanita yang sedang menjalani iddah, sehingga dari sini muncul dua pendapat. Namun, hal ini tidak berlaku dalam kasus ketidakjelasan talak, karena pemisahan telah terjadi secara langsung dan kita telah memisahkan antara suami dan istri, serta niat telah menyertai lafaz talak. Oleh karena itu, yang tepat adalah memulai perhitungan masa iddah sejak diucapkannya lafaz talak.
ثم مما يتعلق بهذا القسم أن قوله إحداكما غير صالح للتعيين في وضع اللسان ولكنه صالح لكل واحدة منهما فإذا انضمّت النية إلى اللفظ المبهم صار اللفظ معها كالنّص في التعيين وهذا كالكنايات فإنها في نفسها صالحة لجهات من الاحتمالات ثم يتعين الطلاق بالنية كذلك القول المبهم المتردّد بين الزوجين يتعيّن بالنية ويختصّ بإحداهما
Selanjutnya, yang berkaitan dengan bagian ini adalah bahwa ungkapan “salah satu dari kalian berdua” tidak dapat digunakan untuk penetapan secara spesifik dalam bahasa, namun dapat berlaku untuk masing-masing dari keduanya. Apabila niat disertakan pada lafaz yang samar, maka lafaz tersebut bersama niat menjadi seperti nash dalam penetapan. Ini seperti kinayah, yang pada dirinya sendiri dapat mengandung berbagai kemungkinan, kemudian talak menjadi pasti dengan niat. Demikian pula, ucapan yang samar dan masih meragukan antara dua istri akan menjadi pasti dengan niat dan khusus berlaku untuk salah satu dari keduanya.
ومما يجب ذكره أن اعتقاد ضرب الحيلولة بينه وبينهما صحيح أطلقه الأصحاب وحكموا به كما ذكرناه فليس له أن يُقدم على وطء واحدة ما لم يقدّم بياناً
Perlu disebutkan bahwa keyakinan tentang adanya penghalang antara dia dan keduanya adalah benar sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama dan telah mereka tetapkan sebagaimana telah kami sebutkan. Maka, tidak boleh baginya untuk mendatangi salah satu dari keduanya sebelum ia mengajukan penjelasan.
وهذا فيه فضل نظرٍ عندي فإنه إذا كان يعرِف المطلّقة منهما باطناًً وإليه الرجوع وإذا قال صُدِّق وإن اتهم حُلّف فإذا أقدم على إحداهما فما الوجه في سبب منعه نعم هو ممنوعٌ من غشيانهما جميعاًً فأما إذا غشي إحداهما فما سبب المنع والحالةُ كما وصفناها قلنا هذا محل التثبت وإن كان ظاهراً عند المتأملين
Menurut pendapat saya, dalam hal ini terdapat keutamaan untuk meneliti lebih lanjut, sebab jika seseorang mengetahui secara batin siapa di antara keduanya yang telah ditalak, maka kepadanya ia dapat kembali. Jika ia mengaku, maka pengakuannya diterima, dan jika ia dituduh berdusta, ia harus bersumpah. Maka jika ia mendatangi salah satu dari keduanya, apa alasan pelarangan terhadapnya? Ya, memang ia dilarang untuk menggauli keduanya sekaligus, tetapi jika ia menggauli salah satu dari keduanya, apa sebab pelarangannya, padahal keadaannya seperti yang telah kami gambarkan? Kami katakan, inilah tempat untuk berhati-hati, meskipun hal ini tampak jelas bagi orang-orang yang mendalaminya.
فنقول إذا قال الرجل لامرأتيه إحداكما طالق ولم يشعر بهذا القول أحد ونوى إحداهما وكانت متعينة فإذا لم ترفع الواقعة إلى القاضي فالمطلقة في حكم الله هي المنويّة ولا يجب حبسٌ ووقفٌ وهو يقدم على استحلال المستحَلَّة عنده وعند الله تعالى
Maka kami katakan, apabila seorang laki-laki berkata kepada dua istrinya, “Salah satu dari kalian berdua tertalak,” dan tidak ada seorang pun yang mengetahui ucapan ini, lalu ia meniatkan salah satunya yang telah ditentukan, maka jika perkara ini tidak diajukan kepada qadhi, maka istri yang tertalak menurut hukum Allah adalah yang diniatkan. Tidak wajib ada penahanan atau penangguhan, dan ia boleh mendahulukan untuk menghalalkan yang dihalalkan menurutnya dan menurut Allah Ta‘ala.
وإنما مسألة الوقف فيها إذا ظهرت هذه الواقعة لمن إليه الحكم فيقول قد طلقتَ يا رجلُ وأبهمتَ فحق عليّ ألا أتركك تختلط بهما كما كنت تفعل من قبل ولست أجعل إقدامك على غشيان إحداهما بياناً ولو رأيتك تغشاها لم أتبيّن أنها المنكوحة فإن الوطء لا يُعيِّن إذا كنت نويت المطلَّقة لمَّا أطلقت اللفظ فقد تطوقتُ عهدةً في الشرع إذ علمتُ وقوعَ الطلاق وأشكل علي الأمر ففصِّل ثم أَقْدِم فإذا قال أيّها القاضي عنيتُ بالطلاق هذه فالقاضي يرجع إلى قوله ويزول الاستبهام وبيانُه وإن استأخر بمثابة اقتران البيان بلفظه
Adapun permasalahan waqaf dalam hal ini adalah jika peristiwa ini tampak bagi orang yang berwenang memutuskan hukum, maka ia akan berkata: “Wahai lelaki, engkau telah menjatuhkan talak dan engkau mengaburkannya, maka sudah menjadi kewajibanku untuk tidak membiarkanmu bercampur dengan keduanya sebagaimana yang biasa engkau lakukan sebelumnya. Aku juga tidak akan menganggap tindakanmu mendatangi salah satu dari mereka sebagai penjelasan. Seandainya aku melihatmu mendatangi salah satu dari mereka, aku pun tidak dapat memastikan bahwa dialah istri yang masih sah, karena hubungan suami istri tidak dapat menentukan (identitas istri) jika engkau memang meniatkan talak ketika mengucapkan lafaz tersebut. Maka aku telah memikul tanggung jawab dalam syariat, karena aku mengetahui terjadinya talak dan perkaranya menjadi samar bagiku. Maka, jelaskanlah terlebih dahulu, lalu lakukanlah apa yang hendak engkau lakukan. Jika ia berkata, ‘Wahai qadhi, yang aku maksud dengan talak adalah yang ini,’ maka qadhi kembali kepada ucapannya dan hilanglah kesamaran serta penjelasannya, meskipun datang belakangan, dianggap seperti penjelasan yang bersamaan dengan lafaznya.”
فإن سكتت الموطوءة أضرب القاضي عنه وقد تعينت المطلَّقة وإن خاصمت تلك قال القاضي انكفّ عنها حتى تنفصل الخصومة بينكما كما سنبيّن فصل الخصومة
Jika perempuan yang digauli diam, maka hakim mengabaikan perkara itu dan yang menjadi pasti adalah perempuan yang ditalak. Namun jika perempuan tersebut menggugat, maka hakim berkata, “Jauhilah dia hingga perselisihan antara kalian selesai,” sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan tentang penyelesaian perselisihan.
فهذا سرّ القول في الحبس الذي ذكره الأصحاب
Inilah rahasia dari pendapat mengenai penahanan yang disebutkan oleh para ulama.
وقد يخطر للفطن أن المرأة إذا لم تخاصم وقال القاضي أبهمتَ الطلاق فاحلف بالله أنك عنيت بالطلاق من أبهمتها فلست أرى للقاضي هذا فإن الرجوع إلى الزوج في هذا وإنما يثبت التحليف لذاتِ حظٍّ وهي المرأة ونحن إذا قلنا يحلَّف من يؤدي الزكاة فرأينا المقطوع فيه أنه استحبابٌ ثم ذاك محض حق الله والغالب في الطلاق والنكاح طلب الحظوظ
Mungkin terlintas dalam benak orang cerdas bahwa jika seorang perempuan tidak mengajukan gugatan, lalu hakim berkata, “Engkau telah mengucapkan talak secara samar, maka bersumpahlah demi Allah bahwa engkau memang berniat talak terhadap perempuan yang engkau maksudkan secara samar,” maka aku tidak melihat hakim berhak melakukan hal ini. Sebab, rujukan dalam perkara ini adalah kepada suami, dan sumpah hanya ditetapkan bagi pihak yang memiliki hak, yaitu perempuan. Adapun jika kita mengatakan bahwa orang yang menunaikan zakat harus bersumpah, maka menurut pendapat yang pasti, hal itu hanya bersifat anjuran, dan itu murni hak Allah. Sementara dalam perkara talak dan nikah, yang dominan adalah pencarian hak-hak pribadi.
ومما أطلقه الأصحاب في ذلك ولا بدّ فيه من مزيد كشفٍ أنهم قالوا إذا حبسناه عنهما أو خلّينا بينه وبينهما فيجب عليه أن ينفق عليهما ويُدرَّ عليهما من حقوق النكاح ما كان يُدرّه قبل الإشكال الواقع وهذا متفق عليه ثم إذا بيّن فلا يسترد النفقة المصروفة إلى المطلقة
Di antara hal yang telah dinyatakan secara umum oleh para ulama dalam hal ini—dan memang perlu penjelasan lebih lanjut—adalah bahwa mereka berkata: Jika kami menahannya dari keduanya atau membiarkannya bersama keduanya, maka ia wajib menafkahi keduanya dan memberikan kepada keduanya hak-hak pernikahan sebagaimana yang diberikan sebelum terjadinya masalah yang ada, dan hal ini telah disepakati. Kemudian, jika telah jelas (statusnya), maka nafkah yang telah diberikan kepada yang dicerai tidak dapat diminta kembali.
وهذا من النوادر فإنه أنفق على مطلقة ثلاثاً وقد تكون غير مدخول بها حتى لا يرتبط الفكر بالعدّة والسّبب فيه أنها كانت محبوسةً حبس الزوجاتِ وقد يظن الظانّ أن النفقة إنما لا تستردّ لامتناع الزوج نكداً عن التعيين مع تمكنه منه
Ini termasuk hal yang jarang terjadi, karena ia menafkahi perempuan yang telah ditalak tiga kali, bahkan mungkin belum pernah digauli, sehingga pemikiran tidak terikat pada masa ‘iddah. Sebabnya adalah karena ia telah ditahan seperti istri-istri lainnya, dan mungkin ada yang mengira bahwa nafkah itu tidak dapat diminta kembali karena suami menolak secara sengaja untuk menentukan (nafkah) padahal ia mampu melakukannya.
وهذا يرد عليه ما إذا لم يكن الزوج متمكناً من البيان وذلك بأن يقول إن كان الطائر غراباً فزينب طالق وإن لم يكن غراباً فعمرة طالق ثم حلّق الطائر ومرّ وأيس من درك جنسه فلا توانيَ من الزوج وقد يقال هو الذي ورّط نفسه وزوجته في الإبهام فَيَرِدُ عليه ما لو طلق إحدى امرأتيه ثم التبست المطلقة عليه بغير المطلقة ولا مبالاة بالصور فإن المخطىء في التزام الكفارة وحرمان الميراث ملحق بالعامد في وضع الشرع وإن كنا نستبق إلى فهم التكفير من الكفارة ومضادة المقصود بالحرمان
Hal ini dapat dibantah apabila suami tidak mampu menjelaskan, misalnya dengan mengatakan: “Jika burung itu gagak, maka Zainab tertalak, dan jika bukan gagak, maka ‘Amrah tertalak.” Lalu burung itu terbang dan lewat, dan ia putus asa untuk mengetahui jenisnya, maka tidak ada keraguan dari pihak suami. Bisa juga dikatakan bahwa dialah yang menjerumuskan dirinya dan istrinya ke dalam ketidakjelasan. Maka hal ini serupa dengan kasus seseorang yang menalak salah satu dari dua istrinya, lalu ia bingung membedakan mana yang tertalak dan mana yang tidak. Tidak perlu memperhatikan bentuk-bentuk kasus tersebut, karena orang yang keliru dalam menanggung kafarat dan kehilangan warisan dipersamakan dengan orang yang sengaja menurut ketentuan syariat, meskipun kita cenderung memahami bahwa kafarat itu untuk penebusan dan kehilangan warisan itu bertentangan dengan maksud (pemberian warisan).
وممّا يتعلق بتأصيل المقصود في الفصل أن الزوج إذا أبهم الطلاق فحتمٌ عليه أن يبيّن ولا يترك الأمرَ مبهماً ولو امتنع عن البيان وتركهما معلقتين عصى ربَّه وقد قدّمنا في نكاح المشركات أنه يتعين عليه اختيار أربعٍ إذا أسلم على أكثرَ من أربع نسوة وذاك مبني على ضربٍ من التروِّي ثم لم نعذره في التأخير وهاهنا المطلقة بيّنة عنده فيتعين عليه إزالة الإبهام وإن ادّعى إشكال الأمر عليه فسنوضح ذلك في فصل الخصومات إن شاء الله
Termasuk hal yang berkaitan dengan penetapan maksud dalam bab ini adalah bahwa jika suami menjatuhkan talak secara samar, maka wajib baginya untuk menjelaskan dan tidak membiarkan perkara tersebut tetap samar. Jika ia menolak untuk menjelaskan dan membiarkan keduanya dalam keadaan tergantung, maka ia telah bermaksiat kepada Tuhannya. Sebelumnya telah kami sampaikan dalam pembahasan nikah dengan wanita musyrik bahwa ia wajib memilih empat istri jika ia masuk Islam dengan istri lebih dari empat, dan hal itu didasarkan pada pertimbangan tertentu, namun kami tidak membolehkannya menunda-nunda. Dalam hal ini, perempuan yang ditalak sudah jelas baginya, maka wajib baginya untuk menghilangkan kesamaran tersebut. Jika ia mengaku bahwa perkara itu membingungkannya, maka kami akan menjelaskan hal itu dalam bab perselisihan, insya Allah.
ووجه الرأي عندنا أن نذكر ما يتعلق بالمسألة من فقه ونظرٍ إلى قضيةٍ لفظيّة ثم نختتم الفصل بالخصومة وسبيل فصلها ونحن الآن فيه
Pendapat kami adalah bahwa kami menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah ini dari segi fiqh dan tinjauan terhadap persoalan kebahasaan, kemudian kami menutup bab ini dengan membahas perselisihan dan cara penyelesaiannya, dan saat ini kami sedang membahasnya.
إذا أجمل طلقةً وبيّن بقلبه المطلقة فنستتم هذا الفصل قائلين إذا طلبنا المبهِم بالبيان وكان أجمل طلقةً بين امرأتين فقال لمّا أخذناه بالبيان وكان أجمل طلقة هي هذه أو هذه فنقول ما زدتنا بياناً والذي أتيتَ به عبارةٌ عن الإشكال ولا نجعل قوله هذا تعييناً فإن الكلام بآخره وإن قال أردتُ هذه وهذه فقد أقر فيهما بالطلاق فحكمنا بوقوع الطلاق عليهما بإقراره
Jika seseorang menjatuhkan talak secara global dan di dalam hatinya telah menentukan siapa yang ditalak, maka kita menyempurnakan pembahasan ini dengan mengatakan: jika kita meminta penjelasan dari orang yang mengucapkan lafaz yang samar, dan ia telah menjatuhkan talak secara global antara dua istri, lalu ketika kita memintanya untuk menjelaskan, ia berkata, “Talak yang saya maksud adalah yang ini atau yang itu,” maka kita katakan, “Engkau tidak menambah kejelasan; apa yang engkau sampaikan hanyalah ungkapan dari ketidakjelasan.” Kita tidak menganggap ucapannya itu sebagai penetapan. Karena penetapan itu ada pada akhir perkataan. Namun, jika ia berkata, “Saya maksudkan yang ini dan yang itu,” maka berarti ia telah mengakui talak atas keduanya, sehingga kita memutuskan jatuhnya talak atas keduanya berdasarkan pengakuannya.
وإن قال هذه بل هذه تعينت الأولى بصدْر كلامه ثم أراد أن يرجع عنه بقوله بل هذه فلم يُقبل رجوعه في حق الأولى وثبت إقراره في حق الثانية
Jika seseorang berkata, “yang ini, bahkan yang ini,” maka yang pertama telah ditetapkan berdasarkan awal ucapannya. Kemudian jika ia ingin menarik kembali ucapannya dengan mengatakan “bahkan yang ini,” maka penarikannya tidak diterima terhadap yang pertama, dan pengakuannya tetap berlaku terhadap yang kedua.
وإن قال هذه هذه إن أشار بهذه الكلمة إلى إحداهما وكرّر الكلمة في خطابها فهي المتعينة وإن واجهٍ إحداهما فقال أردت هذه ثم واجه الأخرى على الاتصال وقال هذه حكمنا بوقوع الطلاق عليهما كما لو قال أردت هذه وهذه
Jika ia berkata “ini ini”, yaitu jika ia menunjuk dengan kata ini kepada salah satu dari keduanya dan mengulangi kata tersebut dalam pembicaraannya, maka yang ditunjuk itulah yang dimaksud. Namun, jika ia menghadapkan ucapannya kepada salah satu dari keduanya lalu berkata, “aku maksudkan ini”, kemudian langsung menghadapkan ucapannya kepada yang lain dan berkata, “ini”, maka kami memutuskan jatuhnya talak atas keduanya, sebagaimana jika ia berkata, “aku maksudkan ini dan ini.”
فلو قال أردت هذه ثم هذه قال القاضي يتعين الأولى ولا تطلق الثانية لأن كلمة ثم تقتضي التأخير والتراخي فقد أثبت في الثانية على حكم الإخبار طلاقاً واقعاً على موجب التراخي وهو إنما طلق واحدةً لا غير ولم يسبق منه طلاقٌ يُحمَل على ترتيب
Jika seseorang berkata, “Aku maksudkan yang ini lalu yang itu,” menurut pendapat al-Qadhi, yang ditentukan adalah yang pertama dan yang kedua tidak jatuh talak, karena kata “tsumma” mengandung makna penundaan dan jeda waktu. Maka, pada yang kedua, ia menetapkan talak berdasarkan hukum pemberitahuan yang berlaku atas dasar jeda waktu, padahal ia hanya menjatuhkan satu talak saja, tidak lebih, dan sebelumnya tidak ada talak darinya yang dapat dianggap sebagai urutan.
وهذا كلام مختل فإن قوله ثم هذه اعترافٌ بالطلاق فيهما فليَثْبُت وليَفْسُد ما جاء به من اقتضاء التأخير أو الترتيب والدليل عليه أنه لو قال أردت هذه وهذه حكمنا بوقوع الطلاق عليهما وإن لم يكن في لفظه ما يوجب وقوع الطلاق عليهما
Ini adalah pernyataan yang rancu, karena ucapannya “kemudian ini” merupakan pengakuan adanya talak pada keduanya, maka talak itu tetap berlaku dan batal apa yang ia kemukakan mengenai perlunya penundaan atau urutan. Dalilnya adalah jika seseorang berkata, “Saya maksudkan ini dan ini,” maka kami menetapkan jatuhnya talak pada keduanya, meskipun dalam lafaznya tidak ada yang mewajibkan jatuhnya talak pada keduanya.
ولو قال الرّجل لامرأتيه إحداكما طالق ونوى طلاقهما فالوجه عندنا أنهما لا تطلقان جمعاً وقد ذكرنا تردداً فيه إذا قال لامرأته أنت طالق واحدة وزعم أنه نوى ثلاثاًً وتلك المسألة قد يتطرق إليها تأويل أمّا حمل إحدى المرأتين عليهما فلا وجه له وإيقاع الطلاق بمجرد النية لا سبيل إليه ومع هذا إذا قال في التفسير أردت هذه وهذه وقع الحكم بوقوع الطلاق عليهما وإن كان الإقرار لا يوقع الطلاق وليس إقراره مرسلاً فيحمل على طلاق ماضٍ ولكنه أحاله على اللفظ الذي أبهمه لما راجعناه مستفسرين ثم هذا الحكم يقع ظاهراً وسببه أن كل امرأة حكمها متميز عن حكم ضَرَّتها وقد ثبت في حق كل واحدة إقرار فجرى الحكم في حقهما بالطلاق وإذا كنا لا نُبْعد هذا فلا فقه في التمسك بما في ثُمّ من التأخير
Jika seorang laki-laki berkata kepada dua istrinya, “Salah satu dari kalian aku ceraikan,” dan ia berniat menceraikan keduanya, maka menurut pendapat kami, keduanya tidak langsung tercerai sekaligus. Kami telah menyebutkan adanya keraguan dalam hal ini jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau aku ceraikan satu kali,” lalu ia mengaku berniat tiga kali talak. Masalah tersebut masih memungkinkan adanya penafsiran. Adapun mengaitkan ucapan “salah satu” kepada keduanya sekaligus, tidak ada dasarnya. Menjatuhkan talak hanya dengan niat semata juga tidak dibenarkan. Namun demikian, jika dalam penjelasannya ia berkata, “Yang aku maksud adalah ini dan ini,” maka hukum talak berlaku atas keduanya, meskipun pengakuan semata tidak menjatuhkan talak. Pengakuannya pun tidak dibiarkan begitu saja sehingga dianggap sebagai talak yang sudah lampau, melainkan diarahkan pada lafaz yang ia ucapkan secara samar ketika kami menanyakannya untuk memperjelas. Kemudian, hukum ini berlaku secara lahiriah, dan sebabnya adalah karena setiap istri memiliki hukum yang berbeda dari madunya. Telah tetap adanya pengakuan untuk masing-masing istri, sehingga hukum talak berlaku atas keduanya. Jika kami tidak menganggap hal ini mustahil, maka tidak ada fiqh dalam berpegang pada kata “kemudian” yang menunjukkan penundaan.
ويتفرع على ما ذكرناه أنه لو قال أردت هذه بَعْد هذه فقياس قول القاضي أن الثانية تطلق فإنها وإن ذُكرت آخراً فهي مقدَّمة في المعنى إذ قال بعد هذه والتي أشار إليها أولاً لا تطلق فإنها المؤخَّرة في المعنى
Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, jika seseorang berkata, “Aku maksudkan yang ini setelah yang itu,” maka menurut qiyās pendapat al-Qāḍī, yang kedua menjadi tertalak, karena meskipun disebutkan terakhir, ia didahulukan dalam makna, sebab ia berkata “setelah yang ini,” dan yang pertama kali ditunjuk tidak tertalak, karena ia yang diakhirkan dalam makna.
وهذا بعيد
Dan ini tidak mungkin.
ولو قال هذه قبل هذه فالأولى تطلق ولا تطلق الثانية على قياس القاضي وهما طالقتان على المسلك الحق
Jika seseorang berkata, “Yang ini sebelum yang itu,” maka yang pertama jatuh talak dan yang kedua tidak jatuh talak menurut qiyās al-Qāḍī, sedangkan keduanya jatuh talak menurut pendapat yang benar.
وسنكثر المسائل والصّور بعد ذلك لتدريب المبتدئين ولا نعيد في كل صورة أردتُ وإن كنا نريده ونقتصر على إطلاق هذه وما يتصل به من صلاتٍ
Kami akan memperbanyak soal-soal dan contoh-contoh setelah itu untuk melatih para pemula, dan kami tidak akan mengulangi pada setiap contoh apa yang kami maksudkan, meskipun sebenarnya kami menginginkannya. Kami cukup dengan menyebutkan hal ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya dari sisi keterkaitan.
فلو كان تحته ثلاث نسوةٍ وقد أبهم بينهنّ طلقة فلمّا راجعناه أحبس واحدة منهن وحدها وأحبس اثنتين مجتمعتين ثم أشار إلى الاثنتين مثلاً وقال هذه وهذه ثم وقف وقال أو هذه قال الأصحاب الطلاق مردّد بين الثالثة الفردة وبين الأوليين المجتمعتين وعلى الزوج بيان فإن بيّن في الثالثة تعينت وتعينت الأوليان للزوجية هذا مقتضى اللفظ
Jika seorang laki-laki memiliki tiga istri, lalu ia menjatuhkan talak secara samar di antara mereka, kemudian ketika kami menanyakannya kembali, ia mengurung satu dari mereka secara terpisah dan mengurung dua lainnya bersama-sama, lalu ia menunjuk kepada dua orang tersebut, misalnya, seraya berkata, “yang ini dan yang ini,” kemudian ia berhenti dan berkata, “atau yang ini,” maka menurut para ulama, talak tersebut tertunda antara istri ketiga yang sendirian dan dua istri yang dikumpulkan bersama. Suami wajib memberikan penjelasan; jika ia menjelaskan maksudnya pada istri ketiga, maka talak jatuh padanya dan dua istri lainnya tetap menjadi istrinya. Inilah konsekuensi dari lafaz tersebut.
وإن عين الأوليين للطلاق وقع الحكم بطلاقهما وتعينت الثالثة للزوجية ولو عيّن من الأوليين إحداهما طلقت صاحبتها المجتمعة معها فإنه قال أولاً هذه وهذه مشيراً إليهما والواو عاطفة مشرِّكة فلا يفترقان
Jika ia telah menentukan dua yang pertama untuk ditalak, maka keputusan talak berlaku atas keduanya, dan yang ketiga tetap sebagai istri. Namun, jika dari dua yang pertama ia hanya menentukan salah satunya, maka yang bersama dengannya dalam penunjukan tersebutlah yang ditalak. Sebab, jika ia berkata terlebih dahulu, “yang ini dan yang ini,” sambil menunjuk keduanya, maka huruf “dan” (wa) di sini berfungsi sebagai penghubung yang menyatukan, sehingga keduanya tidak terpisahkan.
وحاصل كلامه ترديد الطلاق بين واحدة فردةٍ إن طلقت تعينت ثنتان للزوجية وبين زوجتين تجتمعان في الطلاق وإذا تعينتا له تعينت الثالثة الفردة للزوجية وهذا بيّن
Inti dari perkataannya adalah menempatkan talak antara satu talak tunggal—jika salah satu istri ditalak maka yang tersisa dua untuk status sebagai istri—dan antara dua istri yang keduanya terkena talak; jika keduanya telah ditentukan untuknya, maka yang ketiga menjadi satu-satunya istri yang tersisa, dan hal ini jelas.
وبمثله لو أشار إلى الفردة أولاً وقال أردت هذه أو هذه وهذه فالجواب كما مضى ولا يختلف موجب اللفظ ومأخذه بتقديم الواحدة أو تأخيرها
Demikian pula, jika ia menunjuk kepada salah satu terlebih dahulu lalu berkata, “Saya maksudkan yang ini atau yang ini dan yang ini,” maka jawabannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dan makna serta asal-usul lafaz tersebut tidak berbeda, baik ia mendahulukan yang satu atau mengakhirkan yang lain.
وما ذكرناه فيه إذا جعل الثلاث حزبين واحدةً واثنتين ثم أشار على الصّيغة التي قدّمناها وفَصَل بين الحزب والحزب بوقفةٍ فلو جرى على سرد الكلام واطرادهِ وقال أردت هذه أو هذه وهذه ولم يفصل بين الواحدة والثنتين بوقفٍ في الكلام وسكتةٍ ولا بنغمةٍ تدلّ على التقطيع بل قال مرسلاً هذه أو هذه وهذه فإذا جرى الكلام سرداً احتمل أن تكون الثالثة معطوفةً على الأولى مضمومةً إليها واحتمل أن تكون مضمومةً إلى الثانية فلا بدّ من المراجعة فإن زعم أنه أراد عطف الثالثة على الثانية فالثانية والثالثة حزب والأولى حزب ورجع التفصيل إلى ما إذا أشار إلى واحدة وقال هذه ثم فصل عنها ثنتين وقال أو هذه وهذه
Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika tiga talak itu dijadikan dua kelompok: satu dan dua, kemudian ia menunjuk dengan lafaz yang telah kami sebutkan sebelumnya, serta memisahkan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dengan jeda. Namun, jika ia mengucapkan kata-katanya secara berurutan dan terus-menerus, lalu berkata, “Saya maksudkan ini atau ini dan ini,” tanpa memisahkan antara satu dan dua dengan jeda dalam ucapan, diam sejenak, atau nada yang menunjukkan pemisahan, melainkan ia mengucapkannya secara terus-menerus, “ini atau ini dan ini,” maka jika kata-katanya diucapkan secara berurutan, ada kemungkinan talak ketiga dihubungkan pada yang pertama dan digabungkan dengannya, dan ada kemungkinan digabungkan pada yang kedua. Maka harus ada klarifikasi. Jika ia mengaku bahwa ia bermaksud menghubungkan talak ketiga pada yang kedua, maka talak kedua dan ketiga menjadi satu kelompok, dan yang pertama menjadi kelompok tersendiri. Maka perinciannya kembali pada keadaan ketika ia menunjuk pada satu dan berkata, “ini,” lalu memisahkannya dari dua lainnya dan berkata, “atau ini dan ini.”
فإن زعم أن الثالثة مضمومة إلى الأولى معطوفة عليها فالأولى والثالثة حزب والثانية حزب والكلام في ترديد اللفظ كما مضى حرفاً حرفاً
Jika ia beranggapan bahwa yang ketiga digabungkan dengan yang pertama dan di-‘athaf-kan kepadanya, maka yang pertama dan ketiga menjadi satu kelompok (hizb), dan yang kedua menjadi kelompok (hizb) tersendiri, sedangkan pembahasan mengenai pengulangan lafaz seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu huruf demi huruf.
ولو اتَّسق الكلام من غير فصلٍ بوقفٍ ونغمةٍ وقال هذه وهذه أو هذه فيحتمل أن تكون الثالثة مضمومةً إلى الثانية دون الأولى ولو كان كذلك طلقت الأولى وإحدى الأخريين من الثانية والثالثة ويحتمل أن تكون الثالثة مضمومةً إليها فتكون الأولى والثانية حزباً والثالثة حزباً والجواب لو كان كذلك فالرجوع إلى نيته في محالّ الاحتمال فنقول أبهم الطلاقَ بين فردةٍ وهي الثالثة وبين ثنتين وهما الأولى والثانية فتطلق الثالثة وحدها أو الأخريان جمعاً كما قدّمنا نظائر ذلك فيؤخذ بالبيان كما مضى
Jika rangkaian kata-kata itu tersusun tanpa jeda berupa waqaf dan nada, lalu ia berkata: “ini dan ini” atau “ini”, maka ada kemungkinan bahwa yang ketiga digabungkan dengan yang kedua tanpa yang pertama. Jika demikian, maka yang pertama dan salah satu dari dua yang lain, yaitu yang kedua atau ketiga, tertalak. Ada juga kemungkinan bahwa yang ketiga digabungkan dengannya, sehingga yang pertama dan kedua menjadi satu kelompok, dan yang ketiga menjadi kelompok lain. Jawabannya, jika demikian, maka kembali kepada niatnya pada tempat-tempat yang masih mengandung kemungkinan. Maka kami katakan: ia mengaburkan talak antara satu, yaitu yang ketiga, dan dua, yaitu yang pertama dan kedua. Maka yang ketiga saja tertalak, atau kedua yang lain sekaligus, sebagaimana telah kami sebutkan contoh-contohnya sebelumnya. Maka keputusan diambil berdasarkan penjelasan, sebagaimana telah lalu.
ولو كنّ أربعاً فأبهم بينهن طلقةً ثم قال هذه أو هذه أو هذه أو هذه فما زاد بياناً وإن قال هذه وهذه وهذه وهذه فقد أقر في الكل بالطلاق وكذلك لو قال هذه بل هذه بل هذه فكل استدراك إقرارٌ مبتوتٌ في محل الاستدراك وما فيه من الرجوع مردود ثم إن قسم الأربع فيتصوّر في تقسيمهن تحزيبات وتفريقات أكثر المتكلفون الصورَ فيها ومن أحاط بمأخذ الكلام فيما قدمناه هان عليه مُدرك الجميع ولو كنتُ أرى فيها إشكالاً لم أتبرم بتكثير الصور
Jika istri itu ada empat, lalu ia mengucapkan talak secara samar di antara mereka, kemudian berkata: “yang ini atau yang ini atau yang ini atau yang ini,” maka itu tidak menambah kejelasan. Namun jika ia berkata: “yang ini dan yang ini dan yang ini dan yang ini,” maka ia telah mengakui talak pada semuanya. Demikian pula jika ia berkata: “yang ini, bahkan yang ini, bahkan yang ini,” maka setiap penegasan ulang adalah pengakuan yang pasti pada tempat penegasan tersebut, dan apa pun bentuk penarikan kembali setelahnya tidak diterima. Selanjutnya, jika ia membagi empat istri itu, maka dalam pembagian mereka dapat dibayangkan berbagai pengelompokan dan pemisahan; para ahli telah memperbanyak contoh-contohnya. Barang siapa memahami dasar pembahasan yang telah kami sampaikan sebelumnya, akan mudah baginya memahami semua kemungkinan itu. Seandainya aku melihat ada kesulitan di dalamnya, aku pun tidak akan merasa keberatan dengan banyaknya contoh yang ada.
والذي يجب اختتام الكلام به أنا ذكرنا في أثناء المسائل الوقفةَ والنغمةَ ويجب أن يكون عنهما بحث فإنا بنينا هذا المجموع على التعرض لأمثال ذلك فنفرض صورةً واحدةً ونعيد فيها حكم الوقفة والنغمة فإذا كنَّ ثلاثاًَ فحزَّبهنَّ حزبين ثم قال هذه وأشار إلى الفردة ثم أقبل على المجتمعتين وقال أو هذه وهذه فقد ذكرنا أن تفصيل الكلام يخالف سردَ الكلام وطردَه إذ ذكرنا في السرد احتمالين وذكرنا في التفصيل احتمالاً واحداً ثم الذي ذكره القاضي أنا نَفْصل بالوقفة والنغمة أما الوقفة فهي أن يقول هذه قال القاضي ثم يقف لحظة ويقول مشيراً إلى الثنتين أو هذه وهذه فَذَكَر الوقفةَ وقيّدها باللحظة
Hal yang harus menjadi penutup pembahasan ini adalah bahwa kami telah menyebutkan dalam beberapa permasalahan tentang waqfah (berhenti sejenak) dan naghmah (nada suara), dan keduanya memang perlu dibahas, karena kami membangun kumpulan ini dengan membahas hal-hal semacam itu. Maka kami misalkan satu gambaran, lalu kami ulangi di dalamnya hukum waqfah dan naghmah. Jika ada tiga hal, lalu ia membaginya menjadi dua kelompok, kemudian ia berkata, “ini,” sambil menunjuk pada yang satu, lalu menghadap pada dua yang lain dan berkata, “atau ini dan ini,” maka kami telah sebutkan bahwa perincian ucapan berbeda dengan penyampaian secara berurutan dan terus-menerus; karena dalam penyampaian berurutan kami sebutkan dua kemungkinan, sedangkan dalam perincian kami sebutkan satu kemungkinan saja. Kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi, kami membedakan dengan waqfah dan naghmah. Adapun waqfah adalah ketika seseorang berkata, “ini,” lalu Qadhi berkata, kemudian ia berhenti sejenak, lalu berkata sambil menunjuk pada dua yang lain, “atau ini dan ini.” Maka Qadhi menyebutkan waqfah dan membatasinya dengan jeda sejenak.
وأول ما يجب فهمه في ذلك أن المبيِّن يقول أردت هذه ويشير إلى واحدة مثلاً فإن أطال الوقوف حتى انتهى إلى الانقطاع ثم قال أو هذه وهذه طلقت الأولى ولغا قوله أو هذه وهذه فإن هذا كلام لا استقلال له فقد انقطع نظم الكلام بطول الفصل فلم يرد القاضي بالوقفة الوقفةَ الفاصلة القاطعة للنظم وإنما أراد وقفةً تدل على التفصيل مع انتظام الكلام ولهذا قرّب الوقفةَ باللحظة ثم عاد فقربها بالنغمة وتلك النغمةُ لا تَبين بالكِتْبة ومراسم الخط ولكن يفهم الفطن معناها ووجهَ إفضائها إلى إفادة الفصل والإشارة إلى التحزيب
Hal pertama yang harus dipahami dalam hal ini adalah bahwa orang yang menjelaskan berkata, “Saya maksudkan yang ini,” sambil menunjuk pada salah satu, misalnya. Jika ia diam terlalu lama hingga pembicaraan terputus, lalu berkata, “atau yang ini dan yang ini,” maka yang jatuh talak adalah yang pertama, dan ucapannya “atau yang ini dan yang ini” menjadi tidak berlaku, karena itu adalah ucapan yang tidak berdiri sendiri; susunan pembicaraan telah terputus karena jeda yang terlalu lama. Maka, yang dimaksud qadhi dengan jeda bukanlah jeda yang memutus dan mengakhiri susunan pembicaraan, melainkan jeda yang menunjukkan perincian namun tetap menjaga kesinambungan pembicaraan. Oleh karena itu, qadhi mendekatkan makna jeda itu dengan sekejap, lalu mendekatkannya lagi dengan nada suara. Dan nada suara itu tidak dapat dijelaskan dengan tulisan atau tanda baca, tetapi orang yang cerdas dapat memahami maknanya dan bagaimana hal itu dapat menunjukkan adanya pemisahan dan penunjukan pada pembagian.
وفي هذا فضلُ نظرٍ على المتأمل فإن ما ذكره ليس تعلقاً بالألفاظ وإنما هو من قبيل القرائن والعملُ بالقرائن وإن كانت دالَّةً في مجاري التخاطب بعيدٌ عن مذهب الشافعي فإنه لا يعوّل على القرائن في إلحاق الكنايات بالصرائح وهذا الذي ذكرته تنبيهٌ على الإشكال وإلا فالحق المبتوت الذي لا يجوز غيره ما ذكرناه من التعلق بدلالة الوقف ونعتبر النغمةَ
Dalam hal ini terdapat keutamaan bagi orang yang memperhatikan secara mendalam, karena apa yang disebutkan bukanlah sekadar keterikatan pada lafaz, melainkan termasuk dalam kategori qarīnah. Mengamalkan qarīnah, meskipun menunjukkan makna dalam percakapan sehari-hari, adalah sesuatu yang jauh dari mazhab Syafi‘i, karena beliau tidak menjadikan qarīnah sebagai sandaran dalam menyamakan kināyah dengan lafaz sharih. Apa yang saya sebutkan ini hanyalah sebagai penunjuk terhadap adanya permasalahan, adapun kebenaran yang pasti dan tidak boleh diambil selainnya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu keterikatan pada dalālah waqf, dan kami juga mempertimbangkan intonasi suara.
والقرائنُ التي ينكرها الشافعي هي مثل سؤال المرأة الطلاق مع قول الرجل أنت بائن في جوابها وممّا أنكره الغضب فإن أبا حنيفة جعل الغضب قرينةً على الطلاق عند التلفظ بالكناية والشافعي أبَى هذا فإن السّؤالَ حالُ المرأة والرجلُ قد يُسعِف وقد يخالف والغضبان قد لا يطلق
Indikasi-indikasi (qarā’in) yang ditolak oleh Imam Syafi‘i adalah seperti permintaan cerai dari seorang wanita disertai ucapan suami “engkau bā’in” sebagai jawabannya. Di antara yang juga ditolaknya adalah kemarahan; sebab Abu Hanifah menjadikan kemarahan sebagai indikasi (qarīnah) terjadinya talak ketika mengucapkan lafaz kināyah, sedangkan Syafi‘i menolak hal ini. Sebab, permintaan adalah keadaan pihak wanita, sementara suami bisa saja menyetujui atau menolak, dan orang yang sedang marah belum tentu menjatuhkan talak.
فالذي أنكره الشافعي هذه الضروب فأما أصل القرينة فلا ينكره ذو فَهمٍ والدليل عليه أن الرّجل لو قال حاكياً أنت طالق في درج كلام وكانت زوجته حاضرةً لم نقض بوقوع الطلاق وإن جرّد قصدَه في مخاطبتها وقع الطلاق إذا لفظ الزوج بالصريح وصيغة الحكاية كصيغة الخطاب لا تتميز إحداهما عن الأخرى إلا بتحديقٍ أو نغمة مخصوصة أو وقفةٍ تقطع المخاطبة بالطلاق عن انثيال الكلام ولو لم يقل القائل بهذه الضروب لما انتظم كلام ولالتبس ما يخاطِب به بما يحكيه
Apa yang diingkari oleh Imam Syafi’i adalah bentuk-bentuk seperti ini; adapun asal dari qarinah (indikasi), maka tidak ada orang yang berakal yang mengingkarinya. Buktinya adalah jika seseorang berkata dengan maksud menceritakan, “Engkau tertalak,” di tengah-tengah pembicaraan, dan istrinya hadir, maka kita tidak memutuskan terjadinya talak. Namun jika ia benar-benar bermaksud menyampaikan kepada istrinya, maka talak jatuh apabila suami mengucapkan dengan lafaz yang jelas. Bentuk lafaz menceritakan dan bentuk lafaz menyampaikan langsung itu sama, tidak dapat dibedakan kecuali dengan penekanan tertentu, nada suara khusus, atau jeda yang memisahkan antara ucapan talak sebagai percakapan langsung dengan ucapan talak sebagai cerita. Seandainya seseorang tidak membedakan bentuk-bentuk seperti ini, maka pembicaraan tidak akan teratur dan akan rancu antara ucapan yang ditujukan langsung dengan ucapan yang hanya diceritakan.
وهذه الضروب من القرائن تورث العلومَ الضرورية وعليها تُبْتَنى صيغ الألفاظ في الأخبار والإقرار والإنشاء والأمر والنهي فوضح أن الذي أنكره الشافعي ما لا يُثبت العلمَ ويَبْقَى معه التردّدُ واللفظ كنايةٌ في نفسه فأما ما يفيد العلم فقرائن الأحوال مع الألفاظ كقيود المقال
Jenis-jenis qarīnah ini menimbulkan pengetahuan yang bersifat pasti (daruriyyah), dan padanya dibangun bentuk-bentuk lafaz dalam berita, pengakuan, penciptaan (insha’), perintah, dan larangan. Maka jelaslah bahwa yang diingkari oleh Imam Syafi’i adalah apa yang tidak menetapkan pengetahuan dan masih menyisakan keraguan, serta lafaz itu sendiri hanyalah kiasan. Adapun yang memberikan pengetahuan adalah qarīnah keadaan bersama lafaz, seperti batasan-batasan dalam ucapan.
وكل ما ذكرناه فيه إذا أبهم طلقةً ونوى واحدةً بعينها فأما إذا أوقع طلقة بين امرأتين أو نسوةٍ ولم يعين واحدةً منهنَّ بقلبه فيطالب بتعيين واحدة كما يطالب في القسم الأول بتبيين المنوية المعنية عند إطلاق اللفظ فالمطالبة في ذلك القسم بالتبيين وفي هذا القسم بالتعيين
Segala yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika seseorang mengucapkan talak secara samar dan berniat menjatuhkan satu talak kepada salah satu istri secara spesifik. Adapun jika ia menjatuhkan satu talak kepada dua orang wanita atau lebih tanpa menentukan salah satu dari mereka dalam hatinya, maka ia diminta untuk menentukan salah satu dari mereka, sebagaimana pada bagian pertama ia diminta untuk menjelaskan siapa yang ia maksudkan ketika mengucapkan lafaz tersebut. Maka, pada bagian itu permintaan adalah untuk penjelasan, sedangkan pada bagian ini permintaan adalah untuk penentuan.
ثم إذا عيّن واحدةً فالطلاق يقع من وقت التعيين أو يستند إلى وقت التلفظ فعلى وجهين مشهورين أحدهما أنه يقع من وقت التعيين والثاني أنه يقع من وقت اللفظ
Kemudian, apabila ia telah menentukan salah satu, maka talak terjadi sejak waktu penentuan atau kembali kepada waktu pengucapan, sehingga terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa talak terjadi sejak waktu penentuan, dan yang kedua bahwa talak terjadi sejak waktu pengucapan.
توجيه الوجهين من قال إنه يقع من وقت اللفظ احتج بأمورٍ منها أنه جزم الطلاق ونجّزه إذ قال إحداكما طالق وليس في لفظه تعليق فلو أخرنا وقوع الطلاق إلى وقت التعيين لكان ذلك مخالفاً لمقتضى قوله وأيضاً فإن التعيين المتأخر ليس بياناً للكلام الأوّل وليس إنشاءَ طلاق فإذا كان لا يتأتى منه أن يقول عنيت بالطلاق هذه على معنى الإخبار عما خطر له قبل الطلاق لم يكن قوله عنيت هذه طلاقاً والطلاق لا بعض له ويستحيل أن يصير التعيين مع اللفظ السابق بمثابة لفظ منتظم فإن اللفظ الواحد أو الجملة الواحدة لا تتقطع وقد تخلل بين الأول وبين هذا التعيين زمان ينقطع الوصل بمثله فلا وجه إلا استناد وقوع الطلاق إلى اللفظ
Penjelasan kedua pendapat: Orang yang berpendapat bahwa talak terjadi sejak waktu pengucapan beralasan dengan beberapa hal, di antaranya bahwa ia telah memastikan talak dan menegaskannya ketika berkata, “Salah satu dari kalian tertalak,” dan dalam ucapannya tidak ada unsur ta‘liq (penggantungan). Jika kita menunda terjadinya talak sampai waktu penentuan (siapa yang dimaksud), maka itu bertentangan dengan maksud ucapannya. Selain itu, penentuan yang dilakukan belakangan bukanlah penjelasan dari ucapan pertama dan bukan pula merupakan penciptaan talak yang baru. Jika tidak mungkin baginya untuk berkata, “Yang aku maksud dengan talak adalah yang ini,” dalam arti memberitakan apa yang terlintas dalam benaknya sebelum talak, maka ucapannya, “Aku maksudkan yang ini,” bukanlah talak. Talak itu sendiri tidak memiliki bagian-bagian, dan tidak mungkin penentuan yang dilakukan bersamaan dengan ucapan sebelumnya dianggap seperti satu ucapan yang utuh, karena satu kata atau satu kalimat tidak dapat terpotong-potong. Telah berlalu waktu antara ucapan pertama dan penentuan itu sehingga hubungan di antara keduanya terputus. Maka, tidak ada alasan lain kecuali bahwa terjadinya talak harus dikaitkan dengan ucapan (awal).
ومن قال يقع الطلاق عند التعيين احتج بأن الزوج يعين أيتهما شاء عن خِيَرةٍ وتشهٍ ويستحيل وقوع الطلاق مبهماً من غير نزولٍ على محلٍّ مخصوصٍ ويستحيل بقاء الطلاق محوِّماً على محلٍّ إلى النزول عليه فلا وجه إلا المصير إلى أنه يقع عند التعيين
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa talak terjadi pada saat penentuan, ia berdalil bahwa suami memilih salah satu dari keduanya sesuai kehendak dan keinginannya, dan mustahil talak terjadi secara samar tanpa jatuh pada objek tertentu, serta mustahil talak tetap menggantung pada objek sampai benar-benar jatuh padanya. Maka tidak ada jalan lain kecuali berpegang bahwa talak terjadi pada saat penentuan.
وأهمّ ما يجب الاعتناء به فهْمُ هذا الخلاف وتنزيلُه على حقيقته ثم ابتداء التفريع وراء ذلك
Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah memahami perbedaan pendapat ini dan menempatkannya pada hakikatnya, kemudian memulai penjabaran hukum setelah itu.
ذكر القاضي أن هذه المسألة بينها وبين الكلام في أن القسمة بيعٌ أو إفراز حق مشابهةٌ ومضاهاةٌ في المعنى فإن الشريكين في الدار المشتركة إذا اقتسماها فوقع بعض الأبنية في حصةٍ والبعض في حصّةٍ فللشافعي قولان في حقيقة القسمة وماهيتها قال في أحد القولين القسمة بيعٌ وكأن الذي وقع في حصته البيت الشرقي باع حصته من البيت الغربي الذي وقع في حصة صاحبه بحصّة صاحبه من البيت الشرقي وإلا فالحقان كانا شائعين في البيتين وهذا القائل يقول ثبت اختصاص كل واحدٍ منهما بالقسمة ثبوتاً مبتدءاً هذا أحد القولين
Qadhi menyebutkan bahwa permasalahan ini memiliki kemiripan dan kesesuaian makna dengan pembahasan apakah qismah itu merupakan jual beli atau pemisahan hak. Jika dua orang berserikat dalam sebuah rumah lalu mereka membaginya, sehingga sebagian bangunan jatuh pada bagian salah satu dan sebagian lagi pada bagian yang lain, maka menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat mengenai hakikat dan esensi qismah. Dalam salah satu pendapat, qismah dianggap sebagai jual beli. Seolah-olah orang yang mendapatkan bagian rumah sebelah timur telah menjual bagiannya dari rumah sebelah barat—yang jatuh pada bagian rekannya—dengan bagian rekannya dari rumah sebelah timur. Jika tidak demikian, maka kedua hak tersebut sebelumnya bercampur pada kedua rumah itu. Pendapat ini menyatakan bahwa kepemilikan khusus masing-masing dari mereka atas bagian tertentu terjadi karena qismah secara baru. Inilah salah satu dari dua pendapat tersebut.
والقول الثاني أن القسمة إفراز حق ومعنى هذا القول أنا نتبين بالأخرة أن حق كلّ شريكٍ من الدار ما تبين وتميز بالقسمة ولا نُثبت لواحد منهما ملكاً مجدداً
Pendapat kedua menyatakan bahwa pembagian adalah pemisahan hak. Maksud dari pendapat ini adalah bahwa pada akhirnya kita mengetahui bahwa hak setiap sekutu atas rumah tersebut adalah apa yang telah jelas dan terpisah melalui pembagian, dan kita tidak menetapkan kepemilikan baru bagi salah satu dari mereka.
هذا بيان القولين ووجه تشبيه ما نحن فيه بمأخذ القولين أنا في وجهٍ نقول يقع الطلاق على إحداهما على إبهام ثم إذا تعينت تبين لها أنها الطالقة قبلُ
Ini adalah penjelasan tentang dua pendapat dan alasan penyerupaan permasalahan yang sedang kita bahas dengan dasar kedua pendapat tersebut. Dalam salah satu pendapat, kita mengatakan bahwa talak jatuh pada salah satu dari keduanya secara samar, kemudian apabila telah ditentukan, maka menjadi jelas bagi perempuan tersebut bahwa dialah yang telah ditalak sebelumnya.
وفي وجهٍ نقول يقع الطلاق عند التعيين كما يثبت اختصاص كل شريك عند القسمة
Menurut salah satu pendapat, talak terjadi ketika telah ditentukan, sebagaimana setiap sekutu memperoleh bagian khususnya masing-masing ketika pembagian.
وقد بالغ القاضي في استنباط ذلك وأحسن في إيضاح وجه الشبه فإن الدار كانت على الشيوع حساً كما جرت اللفظة على الإبهام فيما نحن فيه وتميُّزُ الحصة ثَمَّ كتعيُّن المطلقة والزوجةِ هاهنا واستناد التمييز ثَمّ إحرازاً أو إفرازاً كاستناد وقوع الطلاق هاهنا
Sang qadhi sangat mendalam dalam menggali hal itu dan sangat baik dalam menjelaskan sisi kesamaannya, karena rumah tersebut pada awalnya dimiliki secara bersama secara nyata, sebagaimana kata-kata yang digunakan dalam kasus kita ini juga bersifat umum. Pembedaan bagian di sana seperti penentuan istri yang dicerai dan istri yang tetap di sini, dan dasar pembedaan di sana adalah karena penguasaan atau pemisahan, sebagaimana dasar terjadinya talak di sini.
والمصير ثَمَّ إلى أن القسمة هي المفيدة للتخصيص على الابتداء بمثابة مصيرنا إلى أن التعيين هو الذي يفيد الوقوع متصلاً به غيرَ مستند إلى اللفظ
Dan kesimpulannya di sana adalah bahwa pembagian itulah yang memberikan faedah takhshish (pengkhususan) sejak awal, sebagaimana kesimpulan kita bahwa penetapanlah yang memberikan faedah terjadinya sesuatu yang bersambung dengannya tanpa bersandar pada lafaz.
وهذا وإن كان حسناً فالوجهان مستقلان في الباب دون هذا التشبيه
Meskipun hal ini baik, kedua pendapat tersebut berdiri sendiri dalam permasalahan ini tanpa memerlukan perumpamaan ini.
فأما من قال يستند الطلاق إلى اللفظ فوجهه بيّن فإن صيغة الطلاق جازمة لا تعليق فيها ولا سبيل إلى ردّ الطلاق والتعيين يبيّن بالأخرة التي طُلقِّت أولاً وهو كما لو أسلم المشرك على نسوة فالإسلام يدفع الزائدات على الأربع ولا يتوقف اندفاعهن على تعيين الزوج الممسَكات والمفارقات غير أن تعيين الزوجات مرتبط باختيارالزوج فإذا اختار أربعاً تبيّنا أن صواحباتهن اندفعن بالإسلام وتبيّن لنا ذلك آخراً مستنداً إلى الأول
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa talak didasarkan pada lafaz, maka alasannya jelas, karena bentuk lafaz talak itu tegas, tidak ada unsur ta‘liq (penggantungan), dan tidak ada jalan untuk menolak talak tersebut. Penentuan (istri yang tertalak) dapat diketahui belakangan, yaitu istri yang pertama kali ditalak. Hal ini seperti ketika seorang musyrik masuk Islam sementara ia memiliki beberapa istri; keislamannya menyebabkan istri-istri yang melebihi empat orang menjadi terlepas (tidak lagi menjadi istrinya), dan pelepasan mereka tidak bergantung pada penentuan istri mana yang tetap dipertahankan atau yang diceraikan. Hanya saja, penentuan istri-istri tersebut terkait dengan pilihan suami; jika ia memilih empat orang, maka menjadi jelas bahwa istri-istri lainnya terlepas karena keislaman, dan hal itu baru kita ketahui belakangan, namun tetap bersandar pada peristiwa yang pertama.
والقائل الثاني يقول إيقاع الطلاق من غير محلٍّ محال ولكن قول الزوج إحداكما طالق جزمٌ منه في الإيقاع فاقتضى إيقاع الحيلولة فإن الطلاق وإن لم يتم صدر صدوراً لا يرد فلم يستقل ليقع ولم يتعلق لينتظر متعلقه فكان مقتضاه إلزام الزوج إتمامَه ولو بعد حين فإذا أتمه إذ ذاك وقع الطلاق فكأنه أوجب الطلاق ولم يوقعه وأبو حنيفة يصير إلى أن اللّعان يوجب الفراق ولا يوقعه والإيلاء عنده يوقع الفراق عند انقضاء المدة وعندنا يوجبه إذا امتنع من الفيئة وإبهام الطلاق فيما نحن فيه لا يوقع الفراق ولكنه فوق الإيلاء فيوقع الحيلولة ويلزم الإتمام
Pendapat kedua mengatakan bahwa menjatuhkan talak di luar tempatnya adalah mustahil, namun ucapan suami “salah satu dari kalian tertalak” merupakan penegasan darinya dalam menjatuhkan talak, sehingga menimbulkan terjadinya pemisahan. Meskipun talak tersebut belum sempurna, ia telah diucapkan dengan cara yang tidak dapat ditarik kembali, sehingga belum berdiri sendiri untuk jatuh (talak), dan belum pula terkait sehingga menunggu keterkaitannya. Maka konsekuensinya adalah mewajibkan suami untuk menyempurnakannya, meskipun setelah beberapa waktu. Jika ia menyempurnakannya saat itu, maka talak pun jatuh. Seolah-olah ia mewajibkan talak namun belum menjatuhkannya. Abu Hanifah berpendapat bahwa li‘ān mewajibkan perpisahan namun tidak langsung menjatuhkannya, dan menurutnya, ila’ menjatuhkan perpisahan ketika masa telah habis. Sedangkan menurut kami, ila’ mewajibkan perpisahan jika suami enggan melakukan hubungan kembali. Ketidakjelasan talak dalam kasus yang sedang kita bahas tidak menjatuhkan perpisahan, namun ia lebih tinggi dari ila’, sehingga menimbulkan pemisahan dan mewajibkan penyempurnaan.
والفقيهُ من يطلب في كل موضع ما يليق به وقد اجتمع في هذه المسألة تنجيزٌ فعسر ردّه ولم يصادف محلاًّ متعيناً نُطقاً وعقداً فمست الحاجة إلى التعيين إذا لم يجر التعيين أولاً ثم كان الطلاق مفتقراً إلى التعيين غيرَ معلق به فنشأ منه الخلاف في أنه واقعٌ أو واجب الوقوع
Seorang faqih adalah orang yang mencari apa yang sesuai pada setiap tempat. Dalam masalah ini, telah terkumpul unsur penegasan sehingga sulit untuk menolaknya, namun tidak ditemukan tempat tertentu baik secara lisan maupun akad. Maka, kebutuhan untuk penetapan menjadi penting jika penetapan itu tidak dilakukan sejak awal. Kemudian, talak membutuhkan penetapan yang tidak terkait dengannya, sehingga timbullah perbedaan pendapat apakah talak itu sudah jatuh atau wajib untuk dijatuhkan.
هذا حقيقة الوجهين في وضعهما
Inilah hakikat kedua pendapat tersebut dalam posisinya masing-masing.
ويتم الغرض والبيان بالتفريع فنقول أولاً إذا أبهم الطلقة ولم ينو واحدة فلا دعوى للزوجات بخلاف ما لو أطلق اللفظ ونوى بقلبه فإن للزوجات الدّعوى على الزوج كل تدّعي أنك عنيتنيعلى ما سنذكر في فصل التداعي والخلاف
Tujuan dan penjelasan akan tercapai dengan penjabaran sebagai berikut: Pertama, jika talak diungkapkan secara samar tanpa meniatkan satu istri pun, maka para istri tidak memiliki hak untuk mengajukan klaim. Berbeda halnya jika suami mengucapkan lafaz secara umum namun dalam hatinya meniatkan salah satu istri, maka para istri berhak mengajukan klaim terhadap suami, masing-masing mengklaim bahwa yang dimaksud adalah dirinya, sebagaimana akan dijelaskan pada bab tentang persengketaan dan perbedaan pendapat.
وإذا لم يكن من الزوج نيّة فالدعوى منهن لا معنى لها ولكنه مطالبٌ بإنشاء التعيين عن خِيرَةٍ وتشهٍ وهذا بمثابة مطالبة المسلم على النّسوة الزائدات على الحصر بأن يعيّن منهن أربعاً فلهن الطَّلِبة وليس لهن الدعوى
Jika dari pihak suami tidak ada niat, maka klaim dari para istri tidak ada artinya. Namun, suami tetap dituntut untuk melakukan penetapan secara pilihan dan keinginan. Hal ini serupa dengan tuntutan terhadap seorang Muslim yang memiliki istri lebih dari jumlah yang diperbolehkan, agar ia menentukan empat di antara mereka. Dalam hal ini, para istri berhak menuntut, tetapi mereka tidak berhak mengajukan klaim.
وممّا نفرع على ذلك أنا إن حكمنا بأن الطلاق يقع من يوم التعيين فالعدة من ذلك الوقت
Dan di antara cabang dari hal tersebut adalah bahwa jika kita memutuskan bahwa talak berlaku sejak waktu penetapan, maka masa iddah pun dimulai sejak waktu itu.
وإن قلنا من يوم اللفظ ففي احتساب العدة وجهان كما تقدم ذكرهما فيه إذا لفظ بالطلاق وعيّن بالعقد والنية وذلك أن الطلاق في المسألتين وقع من وقت اللفظ ولكن لما التبس الأمر اختلف الأصحاب في تاريخ أول العدة كما تقدم شرح ذلك
Dan jika kita mengatakan dari hari pengucapan, maka dalam perhitungan masa iddah terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, yaitu ketika seseorang mengucapkan talak dan menentukannya dengan akad dan niat. Hal ini karena talak dalam kedua permasalahan tersebut terjadi sejak waktu pengucapan, namun karena adanya kerancuan, para ulama berbeda pendapat mengenai awal mula masa iddah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ومما يتفرّع على ذلك أنه إذا أبهم طلقةً ثم وطىء واحدةً وكان الإبهام بين امرأتين مثلاً فينظر إن نوى لمّا لفظ بالطلاق وعين بالقصد فالوطء لا يكون تعييناً واتفق الأصحاب أنه لا يكون تبييناً للتعيين السابق الحاصل بالقصد فإن الوطء فعلٌ والفعل لا صيغة له ونحن جعلنا الوطء من البائع في زمن الخيار فسخاً وجعلناه من المشتري إجازة لأن الفسخ والإجازة أمران منشآن فوقع الحكم بحصولهما وإنما المستنكر وقوع الفعل بياناً
Salah satu cabang dari permasalahan ini adalah bahwa jika seseorang menjatuhkan talak secara samar, kemudian menggauli salah satu istrinya, sementara ketidakjelasan itu terjadi antara dua orang istri misalnya, maka perlu dilihat: jika ketika mengucapkan talak ia telah berniat dan menentukan dengan maksud tertentu, maka hubungan suami istri (jima‘) tidak menjadi penentu (siapa yang ditalak). Para ulama sepakat bahwa jima‘ tidak dapat menjadi penjelas bagi penentuan sebelumnya yang telah terjadi melalui niat, karena jima‘ adalah perbuatan, dan perbuatan tidak memiliki bentuk lafal. Kita telah menetapkan bahwa jima‘ yang dilakukan penjual pada masa khiyar dianggap sebagai pembatalan, dan jika dilakukan oleh pembeli dianggap sebagai pengesahan, karena pembatalan dan pengesahan adalah dua perkara yang diciptakan (dengan perbuatan), sehingga hukum berlaku atas terjadinya keduanya. Namun, yang dianggap tidak lazim adalah terjadinya perbuatan sebagai penjelas.
هذا إذا نوى لما لفظ بالطلاق
Ini berlaku jika ia berniat ketika mengucapkan talak.
فأما إذا لم ينو وكان مطالباً بالتعيين فهل يكون الوطء الصادر منه تعييناً للمنكوحة حتى تتعين الأخرى بالطلاق فعلى وجهين قال القفال الوجهان مبنيان على أن الطلاق يقع بالتعيين أو يستند إلى اللفظ فإن حكمنا بأن الطلاق يقع بالتعيين فالوطء لا يُوقع الطلاقَ وإن حكمنا بأن الطلاق يقع باللفظ فالوطء يضاهي اختيار الفسخ أو اختيار الإجازة من المتعاقدَيْن وكما اختلف الأئمة في أن الوطء هل يكون تعييناً للطلاق المبهم في التي يكف عن وطئها
Adapun jika tidak berniat dan ia diminta untuk menentukan (pilihan), maka apakah hubungan suami istri yang dilakukan olehnya dianggap sebagai penentuan terhadap istri yang dinikahi sehingga istri yang lain menjadi pasti dicerai? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Al-Qaffal berkata, kedua pendapat tersebut dibangun di atas pertanyaan apakah talak terjadi karena penentuan ataukah kembali kepada lafaz. Jika kita berpendapat bahwa talak terjadi karena penentuan, maka hubungan suami istri tidak menyebabkan terjadinya talak. Namun jika kita berpendapat bahwa talak terjadi karena lafaz, maka hubungan suami istri menyerupai pilihan untuk membatalkan atau memilih melanjutkan akad dari kedua pihak yang berakad. Sebagaimana para imam berbeda pendapat tentang apakah hubungan suami istri dapat menjadi penentuan terhadap talak yang masih samar pada istri yang tidak lagi digauli.
كذلك اختلفوا في العتاق إذا أبهم المالك العتق بين أَمَتين ولم يعيّن واحدة منهما بقلبه عند تلفظه فإذا وطىء إحداهما فهل تتعين الموطوءة للملك والأخرى للعتق فعلى الخلاف الذي ذكرناه وأبو حنيفة يفصل بين العتق والطلاق فيقول الوطء تعيين في الطلاق وليس تعييناً في العتاق والمسألة مشهورة معه في الخلاف
Demikian pula, mereka berbeda pendapat mengenai pembebasan budak perempuan apabila pemiliknya mengaburkan pembebasan antara dua budak perempuan dan tidak menentukan salah satu dari keduanya dalam hatinya ketika mengucapkannya. Jika ia menggauli salah satu dari keduanya, apakah yang digauli itu menjadi miliknya dan yang lainnya menjadi merdeka? Maka hal ini mengikuti perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan. Abu Hanifah membedakan antara pembebasan budak dan talak; ia berpendapat bahwa hubungan badan merupakan penentuan dalam talak, tetapi bukan penentuan dalam pembebasan budak. Masalah ini terkenal sebagai masalah khilaf menurutnya.
ومما يتعلق بما نحن فيه أنه إذا أبهم الطلاق ولم ينو فلما طالبناه بالتعيين في هذا القسم قال عَنَيْتُ هذه أو هذه فنقول ما زدتنا بياناً ولم توقع تعييناً وإن قال هذه وهذه أو قال هذه بل هذه تعينت الأولى ولغا لفظه في الثانية أما تعيين الأولى فتعليله بيّن وأما بطلان لفظه في الثانية فسببه أن تعيينها للطلاق محالٌ ولا مجال للحمل على الإقرار في هذا القسم والقضاء بموجبه بخلاف ما إذا نوى عند اللفظ ثم قال هذه وهذه أو قال هذه بل هذه فإنا نؤاخذه بموجب إقراره وإخباره عما مضى ثم يعترض لنا قبول الإقرار الثاني وإن طال الرجوع على الأول إذا لم ينو عند اللفظ فلا مساغ للإخبار عن ماضٍ والإقرار إخبارٌ عن ماضٍ وإذا انحسم الإقرار فالتعيين يصحّ على وجهٍ يقتضيه اللفظ واللفظ لا يقتضي إلا مطلّقةً واحدةً وقد ذكرنا أنه إذا قال إحداكما طالق ونواهما لم تطلقا وإنما تطلق واحدةٌ منهما ثم إذا صح التعيين في واحدة انحسم التعيين في الأخرى وهذا فقه حسنٌ وسواء فرّعنا على أن الطلاق يقع عند التعيين أو يستند إلى اللفظ فإن حكمنا بأن الطلاق يقع عند التعيين فتعليل ما ذكرناه بيّن وإن أسندنا الوقوع إلى اللفظ تبيُّناً فاللفظ يكمل بالتعيين فإنه لم يكن كاملاً إذا طلّق ولا مقترناً بنيّةٍ فإذا حصل إكماله آخراً لم يقبل الإكمال إلا على صيغة اللفظ
Terkait dengan pembahasan kita, apabila talak diungkapkan secara samar tanpa disertai niat, lalu ketika kita memintanya untuk menentukan pada bagian ini ia berkata, “Yang saya maksud adalah yang ini atau yang itu,” maka kita katakan, “Engkau tidak menambah kejelasan dan belum melakukan penetapan.” Jika ia berkata, “Yang ini dan yang itu,” atau berkata, “Yang ini, bahkan yang itu,” maka yang pertama menjadi pasti, dan ucapannya pada yang kedua menjadi batal. Adapun penetapan pada yang pertama, alasannya jelas. Sedangkan batalnya ucapannya pada yang kedua, sebabnya adalah karena penetapan talak pada yang kedua mustahil, dan tidak mungkin diarahkan pada pengakuan dalam bagian ini serta tidak dapat diputuskan berdasarkan hal itu, berbeda halnya jika ia berniat saat mengucapkan, kemudian berkata, “Yang ini dan yang itu,” atau berkata, “Yang ini, bahkan yang itu,” maka kita mengambilnya berdasarkan pengakuannya dan keterangannya tentang apa yang telah lalu. Kemudian muncul pertanyaan tentang diterimanya pengakuan kedua meskipun telah lama ia menarik kembali pengakuan pertama; jika ia tidak berniat saat mengucapkan, maka tidak ada ruang untuk memberitakan tentang masa lalu, dan pengakuan adalah pemberitaan tentang masa lalu. Jika pengakuan tertutup, maka penetapan dapat dilakukan sesuai dengan makna yang ditunjukkan oleh lafaz, dan lafaz tidak menunjukkan kecuali satu orang yang ditalak. Telah kami sebutkan bahwa jika ia berkata, “Salah satu dari kalian berdua aku talak,” dan ia meniatkan keduanya, maka keduanya tidak tertalak, melainkan hanya salah satu dari mereka saja. Kemudian, jika penetapan sah pada salah satu, maka penetapan pada yang lain tertutup. Inilah fiqh yang baik. Baik kita berpendapat bahwa talak jatuh saat penetapan maupun kita sandarkan kejatuhannya pada lafaz, jika kita memutuskan bahwa talak jatuh saat penetapan, maka alasan yang telah kami sebutkan jelas. Namun, jika kita sandarkan kejatuhannya pada lafaz sebagai penjelasan, maka lafaz menjadi sempurna dengan penetapan, karena lafaz tersebut belum sempurna saat talak diucapkan dan tidak disertai niat. Jika penyempurnaannya terjadi belakangan, maka penyempurnaan itu hanya diterima sesuai dengan bentuk lafaznya.
وتمام البيان فيه أنه إذا نوى عند اللفظ ثم قال هذه بل هذه فلا تطلق إلا واحدة في علم الله والذي ذكرناه مؤاخذة تتعلق بالظاهر لأنا وجدنا للإقرار مساغاً وإذا اتضح أن لا مساغ للإقرار فلا وجه إلا ما قدّمناه وهذا متضح لا إشكال فيه
Penjelasan lengkapnya adalah bahwa jika seseorang berniat saat mengucapkan, kemudian berkata, “ini, bukan, ini,” maka talak yang jatuh menurut ilmu Allah hanyalah satu. Apa yang telah kami sebutkan sebelumnya adalah bentuk pertanggungjawaban yang berkaitan dengan hal lahiriah, karena kami menemukan adanya ruang untuk pengakuan. Namun, jika telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk pengakuan, maka tidak ada pendapat lain kecuali apa yang telah kami kemukakan sebelumnya. Hal ini sudah jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
وممّا نفرعه على هذا الأصل أنه إذا قال لامرأتيه إحداكما طالق ولم يعيّن واحدةً بنيّة فلو ماتتا وبقي الزوج فالذي قطع به أئمة المذهب أن التعيين لا ينحسم بموتهما وهذا يؤكد أحد الوجهين في استناد الوقوع إلى اللفظ وإذا قلنا لمن يصير من الأصحاب إلى أن الطلاق يقع عند التعيين كيف سبيل الحكم بوقوع الطلاق بعد الموت وهلاّ قلتَ إن الطلاق يمتنع وقوعه بعد فقدان المحل يقول إن هذا اللفظ وإن كان لا يوقع الطلاق ابتداء فإنه يوجبه إيجاباً لا يُدفع ولو حكمنا بأنه يفوت لوجب أن نقول إذا بدا للزوج ألا يعيّن ورأى أن يبقيَهما على النكاح فلا معترض عليه والنكاحُ يستمرّ فإذا لم نقل ذلك تبين أن الطلاق لا بد منه وقد ذهب أبو حنيفة إلى أنهما إذا ماتتا في الصّورة التي ذكرناها فقد فات التعيين بموتهما ومذهبه أن الطلاق يقع عند التعيين وكان شيخي يميل إلى هذا المذهب وليس هذا ملتحقاً بمذهب الشافعي والمذهب المقطوع به ما ذكرناه
Salah satu cabang dari kaidah ini adalah bahwa jika seseorang berkata kepada dua istrinya, “Salah satu dari kalian berdua tertalak,” tanpa menentukan siapa di antara keduanya dengan niat tertentu, lalu keduanya meninggal dunia dan suami masih hidup, maka pendapat yang dipastikan oleh para imam mazhab adalah bahwa penentuan (siapa yang tertalak) tidak menjadi jelas dengan kematian keduanya. Hal ini menegaskan salah satu pendapat bahwa jatuhnya talak bergantung pada lafaz. Jika ada yang bertanya kepada para sahabat yang berpendapat bahwa talak jatuh ketika penentuan dilakukan, “Bagaimana mungkin talak bisa jatuh setelah kematian? Mengapa Anda tidak mengatakan bahwa talak tidak mungkin terjadi setelah objeknya (istri) tidak ada?” Maka ia akan menjawab, “Lafaz ini meskipun tidak langsung menjatuhkan talak, namun mewajibkannya dengan kewajiban yang tidak bisa dihindari. Jika kita memutuskan bahwa talak itu gugur, maka seharusnya kita juga mengatakan bahwa jika suami memutuskan untuk tidak menentukan dan ingin mempertahankan keduanya dalam pernikahan, maka tidak ada yang bisa memprotesnya dan pernikahan tetap berlangsung. Namun, jika kita tidak mengatakan demikian, maka jelas bahwa talak pasti terjadi.” Abu Hanifah berpendapat bahwa jika keduanya meninggal dalam situasi yang telah disebutkan, maka penentuan itu gugur dengan kematian keduanya, dan menurut mazhabnya talak jatuh ketika penentuan dilakukan. Guruku cenderung kepada mazhab ini, namun ini tidak termasuk dalam mazhab Syafi’i, dan pendapat yang pasti dalam mazhab Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.
ثم إن كنا نرى استناد الطلاق إلى اللفظ فلا إشكال فإن فرّعنا على أن الطلاق يقع عند التعيين في حياتهما ففرض الوقوع عند التعيين بعد الموت محال ولا بدّ من فرض استناد على هذا الوجه في هذه الصورة ثم كيف الاستناد وما المستند المذهب الأصح أن الطلاق يستند إلى اللفظ في هذه الصورة ويلتقي الوجهان فإنا لم نجد إلى رد الطلاق سبيلاً ولم يمكنا أن نحقّقه عند التعيين وترددنا بين اللفظ والتعيين فإذا عسر تحقيق الطلاق عند التعيين استند إلى اللفظ تبيّنا
Kemudian, jika kita berpendapat bahwa talak bergantung pada lafaz, maka tidak ada masalah. Jika kita berasumsi bahwa talak terjadi pada saat penetapan selama keduanya masih hidup, maka menganggap terjadinya talak pada saat penetapan setelah kematian adalah mustahil, dan harus diasumsikan adanya ketergantungan pada sisi ini dalam situasi tersebut. Lalu, bagaimana bentuk ketergantungan itu dan apa sandarannya? Mazhab yang paling sahih adalah bahwa talak dalam situasi ini bergantung pada lafaz, sehingga kedua sisi tersebut bertemu. Sebab, kami tidak menemukan jalan untuk menolak talak, dan kami juga tidak dapat mewujudkannya pada saat penetapan. Kami pun ragu antara lafaz dan penetapan. Maka, ketika sulit mewujudkan talak pada saat penetapan, talak itu bergantung pada lafaz, sebagaimana telah kami jelaskan.
ومن أصحابنا من قال تطلق المعينة قبيل موتها فإن عُمرها كان محلّ التعيين فإذا تصرّم رددنا وقوع الطلاق إلى آخر زمن يمكن فرض التعيين فيه وهذا فقيه حسنٌ وهو يناظر في الظاهر مذهب أبي حنيفة في حكمه بَعتاقة المكاتَب الذي خلف وفاء إذا أخذت النجوم من تركته فالعتق لا يحصل بعد الموت عنده ولكن إذا أُدّيت النجوم تبين حصول العَتاقة قبيل الموت ويقرب هذا من قولنا برجوع المبيع إلى ملك البائع قبيل التلف فيصادف الانفساخ ملكاً قائماً وإن كان قيام الملك ينافي الانفساخ ولكن لما عسر الحكم بالانفساخ بعد الموت ودلّ الشرع على أن العقد لا يبقى مع تلف المبيع في ضمان البائع فانتظم من مجموع ذلك أنا اضطررنا إلى إيقاع الفسخ بالموت قبله ويكثر نظائر ذلك
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa talak terhadap istri yang ditentukan (mu‘ayyanah) terjadi sesaat sebelum kematiannya, karena umurnya adalah waktu penentuan tersebut. Jika umurnya telah habis, maka kami mengembalikan terjadinya talak ke akhir waktu yang masih mungkin untuk penentuan itu. Pendapat ini adalah pendapat fiqh yang baik, dan secara lahiriah mirip dengan mazhab Abu Hanifah dalam menetapkan kemerdekaan bagi budak mukatab yang meninggalkan harta cukup untuk melunasi pembayaran, jika cicilan-cicilan (nujūm) diambil dari warisannya. Menurut beliau, kemerdekaan tidak terjadi setelah kematian, tetapi jika cicilan-cicilan itu dibayarkan, maka jelaslah bahwa kemerdekaan terjadi sesaat sebelum kematian. Hal ini mirip dengan pendapat kami bahwa barang yang dijual kembali ke kepemilikan penjual sesaat sebelum rusak, sehingga pembatalan akad (infisakh) terjadi saat barang itu masih menjadi milik penjual. Meskipun keberadaan kepemilikan bertentangan dengan pembatalan akad, namun karena sulitnya menetapkan pembatalan setelah kematian, dan syariat menunjukkan bahwa akad tidak tetap jika barang yang dijual rusak dalam tanggungan penjual, maka dari keseluruhan hal tersebut kami terpaksa menetapkan pembatalan akad dengan kematian sebelum terjadinya kematian itu sendiri. Banyak pula contoh serupa dalam masalah ini.
فصل قال فإن ماتتا أو إحداهما الفصل
Bagian: Ia berkata, “Jika keduanya meninggal atau salah satu dari keduanya, maka ada penjelasan (fashl).”
إذا طلق إحدى المرأتين ثم فرض طريان الموت قبل التبيين أو قبل التعيين فلا يخلو إما أن يفرض في جانبه وإما أن تموتا ويبقى وإما أن تموت إحداهما ثم يموت الزوج
Jika ia menceraikan salah satu dari dua perempuan, kemudian terjadi kematian sebelum penjelasan atau sebelum penetapan, maka tidak lepas dari kemungkinan: bisa jadi kematian terjadi pada pihaknya, atau kedua perempuan itu meninggal dan ia masih hidup, atau salah satu dari keduanya meninggal kemudian suami meninggal.
فإن ماتتا وبقي الزوج نظرنا فإن كان لفَظَ ونوى وكان مؤاخذاً بالتبيين فإذا بيّن الطلاق في إحداهما سقط ميراثه منها وبقي ميراثه من الأخرى وبيانه لا شك مقبول فلو ادّعى ورثةُ التي عينها للزوجيّة ليرثها أنه كان عيّنها للطلاق عند اللفظ فالقول قوله مع اليمين ما عيّنها فإن نكل حلفوا وخرج الميراثان أحدهما لإقراره والثاني لقيام يمين الرد بعد إنكاره ونكوله
Jika kedua istri tersebut meninggal dan suami masih hidup, maka kita perhatikan: jika suami telah mengucapkan (talak) dan berniat (menjatuhkan talak), serta ia wajib menjelaskan (kepada siapa talak itu ditujukan), maka apabila ia menjelaskan talak pada salah satu dari keduanya, gugurlah hak warisnya dari istri yang ditalak tersebut dan tetaplah hak warisnya dari istri yang lain. Penjelasannya itu, tanpa diragukan, diterima. Jika ahli waris dari istri yang ditetapkan sebagai istri (bukan yang ditalak) mengklaim bahwa suami sebenarnya telah menetapkan istri tersebut untuk ditalak saat mengucapkan (talak), maka perkataan suami diterima dengan sumpah bahwa ia tidak menetapkannya. Jika ia enggan bersumpah, maka mereka (ahli waris) yang bersumpah. Maka, warisan terbagi dua: salah satunya berdasarkan pengakuan suami, dan yang kedua berdasarkan sumpah ahli waris setelah suami mengingkari dan enggan bersumpah.
وإن أطلق اللفظ أولاً ولم ينو بقلبه ثم ماتتا وقد ذكرنا أنه يعيّن بعد الموت فإذا عين واحدة للطلاق ورث الأخرى ولا يتوجّه عليه الدعوى وقد ذكرنا الآن أن التعيين لا ينحسم بموتها وأبو حنيفة لمّا صار إلى انحسام التعيين ورّث الزوج منهما جميعاً ولكن لم يُثبت له تمامَ الميراث من واحدة منهما وقضى بأنه يأخذ من تركة كل واحدة منهما نصف ميراث زوج
Jika seseorang mengucapkan lafaz talak secara umum tanpa meniatkan dalam hatinya, lalu kedua istrinya meninggal, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa penetapan (istri yang ditalak) dapat dilakukan setelah kematian, maka jika ia menetapkan salah satu dari keduanya sebagai yang ditalak, ia mewarisi dari yang lain, dan tidak ada tuntutan hukum terhadapnya. Namun, sebagaimana telah kami sebutkan sekarang, penetapan tersebut tidak terputus dengan kematian istri. Abu Hanifah, ketika berpendapat bahwa penetapan itu terputus dengan kematian, memutuskan bahwa suami mewarisi dari keduanya, tetapi ia tidak menetapkan hak waris penuh dari salah satu istri, dan memutuskan bahwa suami mengambil dari harta warisan masing-masing istri setengah bagian warisan suami.
وهذا كلام مختبط لا أصل له فإن التعيين إن انحسم فمقتضاه سقوط الطلاق رأساً وإن ماتتا على الزوجية فالزوج يرثهما ويثبت له من تركة كل واحدة منهما ميراث زوج وكان شيخي في ميله إلى هذا المذهب يُثبت له ميراثين وفرّع أبو حنيفة مذهبه فقال إذا ماتت إحداهما تعيّنت الحيّة للطلاق ووقع الحكم بأن التي ماتت زوجة وكان شيخي في تقدير اختياره وراء المذهب يصحح هذا التفريع ويقول به وهو لعمري صحيح لو صح الأصل ولكن ما ذكره الشيخ إظهار ميلٍ وما أجمع عليه الأصحاب أن التعيين لا ينحسم بالموت
Ini adalah pernyataan yang kacau dan tidak berdasar, karena jika penentuan (istri yang dimaksud) terputus, maka konsekuensinya talak batal sama sekali. Jika keduanya meninggal dalam status sebagai istri, maka suami mewarisi keduanya dan berhak mendapatkan warisan dari masing-masing istri sebagai suami. Guru saya, dalam kecenderungannya pada mazhab ini, menetapkan dua warisan baginya. Abu Hanifah merinci pendapat mazhabnya dengan mengatakan: jika salah satu dari keduanya meninggal, maka yang masih hidup menjadi yang dimaksud talak, dan keputusan berlaku bahwa yang telah meninggal adalah istri. Guru saya, dalam mempertimbangkan pilihannya di luar mazhab, membenarkan rincian ini dan berpendapat demikian. Dan ini, demi Allah, benar jika dasarnya benar. Namun, apa yang disebutkan oleh guru hanyalah menunjukkan kecenderungan, dan yang telah disepakati para sahabat (ulama) adalah bahwa penentuan (istri yang dimaksud) tidak terputus dengan kematian.
هذا كله فيه إذا ماتتا وبقي الزوج
Semua ini berlaku jika keduanya (dua istri) meninggal dunia dan suami masih hidup.
فأما إذا مات الرجل وبقيتا فهل يقوم الوارث مقام الزوج في البيان والتعيين اختلف طرق أصحابنا فمنهم من قال في التبيين والتعيين جميعاًً قولان أحدهما يقوم الوارث مقامه في البيان والتعيين جميعاًً لأن الوارث خَلَف الموروثَ فيقوم مقامه في التبيين والتعيين جميعاً كما يخلفه في حق الشفعة والردِّ بالعيب وحبسِ المبيع واستلحاقِ النسب
Adapun jika seorang laki-laki meninggal dunia dan kedua wanita itu masih hidup, apakah ahli waris dapat menggantikan posisi suami dalam hal penjelasan dan penetapan? Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa dalam hal penjelasan dan penetapan, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ahli waris dapat menggantikan posisi suami dalam penjelasan dan penetapan, karena ahli waris adalah pengganti orang yang diwarisi, sehingga ia dapat menggantikan posisinya dalam penjelasan dan penetapan, sebagaimana ia juga menggantikannya dalam hak syuf‘ah, pengembalian karena cacat, penahanan barang yang dijual, dan pengakuan nasab.
والثاني لا يقوم الوارث مقامه لأن حقوق النكاح لا خلافة فيها فلا تتعلق الوارثة بشيء منها كحق اللعان وأقرب الأحكام شبهاً بما نحن فيه أن من أسلم وتحته عشر ومات قبل البيان فالورثة لا يقومون مقام المورّث في تعيين أربع ولا يكاد ينفصل هذا عن إطلاق الطلاق من غير نيةٍ هذه طريقة الأصحاب
Yang kedua, ahli waris tidak menggantikan posisinya karena hak-hak pernikahan tidak ada pewarisan di dalamnya, sehingga ahli waris tidak terkait dengan apa pun darinya, seperti hak li‘ān. Hukum yang paling mirip dengan masalah yang sedang kita bahas adalah jika seseorang masuk Islam dan memiliki sepuluh istri, lalu ia meninggal sebelum memilih empat di antaranya, maka ahli waris tidak menggantikan posisi pewaris dalam menentukan empat istri tersebut. Hal ini hampir tidak dapat dipisahkan dari kasus talak yang dijatuhkan tanpa niat; inilah pendapat para ulama mazhab.
ومنهم من قال إن كان نوى لمّا لَفَظَ فالوارث يقوم مقامه في البيان إذ قد يكون للوارث اطلاع على ما نواه المورث كأن كان سمعه أو تبيّنه من مَخيلةِ حاله وعلى مثل ذلك تَعْتَمد المرأة في الحلف إذا أفضت الخصومة إلى ردّ اليمين عليها
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika seseorang telah berniat ketika mengucapkan suatu lafaz, maka ahli waris dapat menggantikan posisinya dalam memberikan penjelasan, karena bisa jadi ahli waris mengetahui apa yang diniatkan oleh pewaris, seperti jika ia pernah mendengarnya atau memahami dari tanda-tanda keadaannya. Hal serupa juga dijadikan dasar oleh seorang wanita ketika bersumpah, jika perselisihan berujung pada pengembalian sumpah kepadanya.
ومن أصحابنا من قلب الترتيب وقال يقوم الوارث مقام المورث في التعيين إذا لم يكن اقترن باللفظ نية فإن اقترن باللفظ نيّة فهل يقوم الوارث مقام المورث في التبيين فعلى قولين
Sebagian dari ulama kami membalik urutan pendapat dan mengatakan bahwa ahli waris menggantikan posisi pewaris dalam penetapan jika tidak disertai niat pada lafaz. Namun, jika pada lafaz disertai niat, apakah ahli waris menggantikan posisi pewaris dalam penjelasan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وينتظم من جميع هذه الطرق أقوال أحدها أن الوارث يقوم مقام المورثِ في التبيين والتعيين
Dari seluruh metode ini, dapat disimpulkan salah satu pendapat bahwa ahli waris menempati posisi pewaris dalam hal penjelasan dan penetapan.
والثاني أنه لا يقوم مقامه فيهما
Yang kedua, bahwa ia tidak dapat menggantikannya dalam kedua hal tersebut.
والثالث أنه يقوم مقامه في التبيين ولا يقوم مقامه في التعيين كالعدد الزائد في مسألة نكاح المشركات
Ketiga, bahwa ia dapat menggantikan posisinya dalam penjelasan, namun tidak dapat menggantikan posisinya dalam penetapan, seperti jumlah yang melebihi dalam masalah pernikahan dengan wanita musyrik.
هذه طرق مرسلة
Ini adalah metode-metode yang tidak bersanad.
وذكر الشيخ القفال طريقة مفصلة حسنة موافقة لظاهر النص فكان يقول إن كانت المرأتان حيتين فليس للوارث التعيين ولا البيان لأنه لا غرض للوارث في أن تكون المطلقة هذه أو تلك فإن ميراث الواحدة ميراث الاثنتين ربعٌ أو ثمن وإذا لم يكن له غرض فهو كالأجنبي وليس كالزوج فإنه صاحب الأمر ومنه الواقعة وإليه المآل
Syekh al-Qaffal menyebutkan suatu metode yang terperinci dan baik, sesuai dengan makna lahiriah nash, yaitu beliau berkata: Jika kedua perempuan itu masih hidup, maka ahli waris tidak berhak menentukan atau menjelaskan, karena tidak ada kepentingan bagi ahli waris apakah yang ditalak itu yang ini atau yang itu, sebab warisan satu orang sama dengan warisan dua orang, yaitu seperempat atau seperdelapan. Jika tidak ada kepentingan baginya, maka ia seperti orang luar (ajnabi), tidak seperti suami, karena suami adalah pihak yang memiliki urusan, dari dialah peristiwa itu berasal dan kepadanyalah akibatnya kembali.
وإن ماتت إحداهما ثم مات الزوج ثم ماتت الأخرى فإن عين الوارث الميتة للطلاق قُبل قوله فإنه أقر على نفسه بما يوجب حرماناً من حقٍ واقتضى استحقاقَ حقٍّ عليه فكان هذا من قبيل قبول الأقارير فهذا مقبول قولاً واحداً فإنه في التحقيق أضر بنفسه من وجهين
Jika salah satu dari keduanya meninggal, kemudian suami meninggal, lalu yang lainnya meninggal, maka jika ahli waris menentukan siapa yang wafat karena talak, pernyataannya diterima, karena ia mengakui atas dirinya sendiri sesuatu yang menyebabkan kehilangan hak dan menuntut adanya hak atas dirinya, sehingga hal ini termasuk dalam kategori penerimaan pengakuan, maka hal ini diterima menurut satu pendapat, karena pada hakikatnya ia telah merugikan dirinya sendiri dari dua sisi.
وإن عين الطلاق في الحيّة بعد الزوج فله في هذا غرض صحيح وللقصد به تعلُّق فإن هذا لو ثبت يخلُصُ له ميراث أبيه ويثبت حق الإرث في تركة الميتة فهل يُقبل قول الوارث حتى يثبت غرضه في التركتين فعلى قولين ثم يحسن في هذا المقام إعادة الطرق في التبيين والتعيين
Jika talak ditetapkan pada istri yang masih hidup setelah suami, maka hal itu memiliki tujuan yang benar dan ada maksud tertentu di baliknya. Sebab, jika hal ini terbukti, maka ahli waris akan memperoleh warisan dari ayahnya dan hak waris atas harta peninggalan orang yang telah wafat akan tetap berlaku. Maka, apakah diterima pernyataan ahli waris hingga terbukti maksudnya terhadap kedua harta warisan tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Kemudian, dalam konteks ini, baik untuk mengulang kembali metode-metode dalam penjelasan dan penetapan.
ولو كانتا ميتتين فقد يظهر غرض الوارث في التعيين بأن يكون الميراث من إحداهما أكثر وقد يكون له غرض في عينٍ من أعيان التركتين وهذا كلام مستعارٌ فلا ينبغي أن يكون إلى أقدار المواريث التفات أصلاً والغرض أن يكون للخصومة تعلّقٌ بالوارث فلا نظر إلى الغرض مع هذا
Jika keduanya telah meninggal, maka bisa jadi ada tujuan dari ahli waris dalam menentukan (pilihan), misalnya warisan dari salah satu dari keduanya lebih banyak, atau mungkin ia memiliki tujuan pada salah satu harta tertentu dari dua harta peninggalan tersebut. Namun, ini adalah pembicaraan yang dipinjamkan (bukan pokok), sehingga seharusnya tidak perlu memperhatikan besaran warisan sama sekali. Tujuannya adalah agar perselisihan itu berkaitan dengan ahli waris, maka tidak perlu memperhatikan tujuan (pribadi) dalam hal ini.
وإذا كانتا حيتين فهذا المعنى معدوم ولكن عبّر الأصحاب عما ذكرناه بالأغراض
Dan jika keduanya masih hidup, maka makna ini tidak ada, namun para ulama menyebutkan apa yang telah kami sebutkan tadi dengan istilah al-aghrāḍ (tujuan-tujuan).
ولو كان أجمل عتقاً بين عبدين ومات وبقيا فهذا محل القولين في بيان الوارث فإن استحقاقه يتعلق بأحدهما وهذا لا يتحقق في الزوجتين الحيتين
Jika seseorang melakukan pembebasan budak secara mujmal (umum) antara dua budak, lalu ia meninggal dunia sementara kedua budak itu masih hidup, maka inilah tempat munculnya dua pendapat dalam menjelaskan siapa yang menjadi ahli waris, karena haknya berkaitan dengan salah satu dari keduanya, dan hal ini tidak terjadi pada dua istri yang masih hidup.
فحاصل كلام القفال وإليه ميل معظم المحققين أن الكلام يقع مع الوارث في ثلاث صورٍ إحداها ألا يكون له غرض في التبيين والتعيين فلا نجعله من أهل واحدٍ منهما والثاني أن تتعلق الواقعة بغرضه فيأتي بكلام يَضرُّ به نفسَه فيقبل ذلك منه قبولَ الأقارير
Kesimpulan dari pendapat al-Qaffāl, yang juga menjadi kecenderungan mayoritas para muhaqqiq, adalah bahwa pembicaraan dengan ahli waris terjadi dalam tiga keadaan: pertama, apabila ia tidak memiliki tujuan untuk menjelaskan atau menentukan, maka kita tidak menganggapnya termasuk salah satu dari keduanya; kedua, apabila peristiwa tersebut berkaitan dengan kepentingannya, lalu ia mengucapkan perkataan yang merugikan dirinya sendiri, maka hal itu diterima darinya sebagaimana diterimanya pengakuan.
وإن كانت الواقعة متعلقة بغرضه وقال قولاً في البيان والتعيين ينفعه من كلّ الوجوه أو ينفعه من وجهٍ ففي قبول البيان والتعيين قولان هذا مسلكه
Jika suatu peristiwa berkaitan dengan tujuannya, lalu ia mengucapkan suatu pernyataan dalam bentuk penjelasan dan penetapan yang bermanfaat baginya dari segala sisi atau bermanfaat baginya dari satu sisi, maka terdapat dua pendapat mengenai diterima atau tidaknya penjelasan dan penetapan tersebut; inilah pendekatannya.
ثم يجري الفرق بين البيان والتعيين على المراسم التي قدمناها حيث يجري اختلافُ القول في القبول ويتطرق إلى ما ذكره من القطع بالقبول في صورة الإضرار أن يُقْبَلَ البيان إقراراً وفي التعيين وإن كان مضراً التردد الذي ذكرناه
Kemudian perbedaan antara bayān dan ta‘yīn berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah kami sebutkan sebelumnya, di mana terjadi perbedaan pendapat dalam hal penerimaan, dan berkaitan dengan apa yang disebutkan mengenai kepastian penerimaan dalam kasus yang menimbulkan mudarat, maka bayān dapat diterima sebagai pengakuan, sedangkan pada ta‘yīn, meskipun menimbulkan mudarat, tetap ada keraguan sebagaimana telah kami sebutkan.
وأطلق العراقيون وصاحب التقريب إجراءَ القولين في تبيين الورثة وتعيينهم وإن لم يكن لهم غرض
Orang-orang Irak dan penulis kitab at-Taqrīb membolehkan penerapan dua pendapat dalam penjelasan para ahli waris dan penetapan mereka, meskipun tidak ada tujuan tertentu bagi mereka.
وهذه الطريقة ليست بالمرذولة فإنا لا نقبل قول الوارث بغرضه إذ قبول الأقوال لا يناط بأغراض القائلين وإنما يناط بكونهم من أهل القبول تأصلاً أو خلافةً وهذا المعنى يتحقق في حق الورثة وإن لم يكن لهم غرض
Cara ini tidak tercela, karena kami tidak menerima perkataan ahli waris berdasarkan maksud pribadinya; sebab penerimaan suatu perkataan tidak bergantung pada tujuan orang yang mengatakannya, melainkan bergantung pada apakah mereka termasuk orang yang layak diterima perkataannya, baik secara langsung maupun sebagai pengganti. Makna ini juga berlaku bagi para ahli waris, meskipun mereka tidak memiliki tujuan tertentu.
وهذا لا بأس به إلا في صورة واحدة وهي إذا أقر الوارث بما يضره فيجب قبولُ ذلك وقطعُ القول بهِ وشرطه أن يكون إقراراً ولا يكون تعييناً فهذه الصورة مستثناة لا يرتاب فقيه في استثنائها فإنه أقرَّ بحرمان نفسه واستحقاق غيره وقبول ذلك لا مراء فيه
Hal ini tidak mengapa kecuali dalam satu keadaan, yaitu apabila ahli waris mengakui sesuatu yang merugikan dirinya, maka pengakuan itu harus diterima dan diputuskan berdasarkan pengakuan tersebut. Syaratnya adalah bahwa hal itu merupakan pengakuan, bukan penetapan. Keadaan ini merupakan pengecualian yang tidak diragukan lagi oleh seorang pun ahli fiqh, karena ia telah mengakui dirinya terhalang dan orang lain berhak, dan penerimaan hal itu tidak ada perdebatan di dalamnya.
هذا منتهى القول فيما يقبل ويرد من تبيين الورثة وتعيينهم وذكْرِ اختلاف الطرق والمسالك
Inilah akhir pembahasan mengenai hal-hal yang dapat diterima dan ditolak dalam penjelasan para ahli waris dan penetapan mereka, serta penyebutan perbedaan metode dan pendekatan.
ثم يتفرع عليه أنا إذا لم نقبل قول الوراث والزوجتان ميتتان نُظر فإن ماتتا بعد الزوج وقفنا بين ورثتيهما ميراث زوجة من تركة الزوج وإن كانتا حيتين وقفنا بينهما ميراث زوجة
Kemudian, dari situ bercabang bahwa jika kita tidak menerima pernyataan ahli waris dan kedua istri telah meninggal, maka dilihat: jika keduanya meninggal setelah suami, kita menahan warisan istri dari harta peninggalan suami di antara para ahli waris keduanya; dan jika keduanya masih hidup, kita menahan warisan istri di antara keduanya.
وإن مات الزوج ثم ماتت إحداهما والأخرى حيّة وُقِف ميراث زوجةٍ بين الحيّة وبين ورثة الميتة ولو ماتتا ثم مات الزوج وُقِف لورثة الزوج من تركة كل واحدة منهما ميراث زوج إلى أن يصطلحوا
Jika suami meninggal kemudian salah satu dari kedua istrinya meninggal sementara yang lainnya masih hidup, maka warisan istri tersebut ditangguhkan antara istri yang masih hidup dan para ahli waris istri yang telah meninggal. Jika kedua istri meninggal lalu suami meninggal setelahnya, maka bagian warisan suami dari harta peninggalan masing-masing istri ditangguhkan untuk para ahli waris suami hingga mereka mencapai kesepakatan.
ولو ماتت إحداهما ثم الزوج ثم الأخرى وُقِف لورثة الزوج من تركة الأولى ميراث زوج ووقف من تركته لورثة الأخرى ميراث زوجة إلى أن يصطلحوا
Jika salah satu dari keduanya meninggal, kemudian suami meninggal, lalu yang lainnya meninggal, maka bagian warisan suami dari harta peninggalan istri pertama ditahan untuk ahli waris suami, dan dari harta peninggalan suami ditahan bagian warisan istri untuk ahli waris istri yang lain, hingga mereka mencapai kesepakatan.
وإن أقبلنا قول الوارث فقد يُفرض نزاع وخلاف وسنذكره في فصلٍ مفردٍ عند نجاز الباب
Jika kita menerima pendapat ahli waris, maka bisa saja timbul perselisihan dan perbedaan pendapat, dan hal ini akan kami sebutkan dalam satu bab tersendiri ketika pembahasan bab ini selesai.
وقد كنّا أخّرنا فصلاً في وقوع الإشكال بين الطلاق والعَتاق وهذا أوان ذكره وإذا انتجز ذكرنا بعده الخلاف بين المطلِّق والزوجتين ثم بين الزوجتين والورثة ونُلحق بهذا المنتهى فروعاً نستدرك ما انسلّ عن ضبط الأصول
Kami telah menunda satu pembahasan tentang terjadinya kerancuan antara talak dan pembebasan budak, dan sekaranglah saatnya untuk membahasnya. Setelah itu, kami akan menyebutkan perbedaan pendapat antara suami yang menjatuhkan talak dan kedua istrinya, kemudian antara kedua istri dan para ahli waris. Pada bagian akhir ini, kami akan menambahkan beberapa cabang hukum untuk melengkapi hal-hal yang terlewat dari penjelasan pokok-pokoknya.
فصل قال ولو قال حنِثتُ بالطلاق أو العتاق وقف عن نسائه ورقيقه الفصل
Pasal: Ia berkata, “Aku telah melanggar dengan talak atau pembebasan budak,” maka ia harus menahan diri dari istri-istrinya dan budak-budaknya hingga ada keputusan.
إذا حلف يمينين إحداهما بالطلاق والأخرى بالعَتاق وتيقّن الحِنث في إحداهما ولم يدر أنه حنث في أيتهما وتصوير ذلك هيّن فلو سَقَته في ظلمة الليل جاريةٌ فقال إن كانت الساقية امرأةً من نسائي فهي طالق وإن كانت جارية فهي حرة وقد يفرض هذا في الطائر فإذا قال إن كان غراباً فامرأتي طالق وإن لم يكن غراباً فعبدي حر
Jika seseorang bersumpah dengan dua sumpah, salah satunya dengan talak dan yang lainnya dengan pembebasan budak (‘itāq), lalu ia yakin telah melanggar salah satunya namun tidak tahu mana yang ia langgar, maka gambaran kasus ini mudah. Misalnya, pada malam yang gelap seorang perempuan membawakan minuman kepadanya, lalu ia berkata: “Jika yang membawakan minuman itu adalah salah satu istriku, maka ia tertalak; dan jika ia adalah budak perempuan, maka ia merdeka.” Kasus ini juga bisa terjadi pada burung, misalnya ia berkata: “Jika itu adalah burung gagak, maka istriku tertalak; dan jika bukan burung gagak, maka budakku merdeka.”
هذا هو التصوير
Inilah gambaran tersebut.
قال الشافعي يوقف عن النساء والعبيد ولا يمكّن من أن يستمتع بالنساء ويتصرف في العبيد ويؤمر بالإنفاق عليهم لأنهم في حبسه ثم يؤمر بالتبيين كما تفصّل من قبل
Syafi‘i berkata: Ia dicegah dari (menggunakan) perempuan dan budak, dan tidak diperbolehkan untuk menikmati perempuan serta memperlakukan budak, dan ia diperintahkan untuk menafkahi mereka karena mereka berada dalam tahanannya, kemudian ia diperintahkan untuk menjelaskan (perkara) sebagaimana telah dirinci sebelumnya.
ولو مات قبل البيان فلأصحابنا طريقان منهم من قال في قيام الوارث مقامه في البيان أو التعيين قولان كما ذكرناهما في المرأتين وفي العبدين وكل كلام يجري في الطلاق المبهم الفرد أو العَتاق المبهم الفرد وجب أن يجري إذا ارتبط الاستبهام بالطلاق والعَتاق
Jika seseorang meninggal sebelum memberikan penjelasan, maka menurut para ulama kami terdapat dua pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa dalam hal pewaris menggantikan kedudukan si mayit dalam memberikan penjelasan atau penetapan, terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus dua perempuan dan dua budak. Setiap pembahasan yang berlaku pada talak yang samar satu kali atau pembebasan budak yang samar satu kali, maka harus pula berlaku jika ketidakjelasan itu berkaitan dengan talak dan pembebasan budak.
ومن أصحابنا من قطع القول بأن الوارث لا يبيِّن ولا يعيِّن إذا تعلق الإبهام بالطلاق والعَتاق والسبب فيه أن القرعة تجري في العَتاق وإن عارضه الطلاق
Sebagian ulama mazhab kami berpendapat tegas bahwa ahli waris tidak boleh menjelaskan atau menentukan jika terdapat ketidakjelasan terkait talak dan ‘itaq, karena sebabnya adalah bahwa undian (qur‘ah) berlaku dalam masalah ‘itaq meskipun bertentangan dengan talak.
وهذا من الهذيان الذي لا مبالاة به إلا أن يُجري صاحب هذه الطريقة مسلكه في العتق الممحّضّ فإن العتق إذا تمحّض فهو أولى بالقرعة منه إذا عارض العَتاقُ الطلاقَ
Ini adalah omongan yang tidak perlu diperhatikan, kecuali jika orang yang mengikuti metode ini menerapkannya pada kasus pembebasan budak yang murni. Sebab, jika pembebasan budak itu murni, maka ia lebih layak untuk diundi daripada jika pembebasan budak itu bertentangan dengan talak.
ثم من قال بالبيان قدّمه على القرعة كما في حالة الحياة
Kemudian, siapa yang berpendapat dengan al-bayān, maka ia mendahulukannya atas al-qur‘ah sebagaimana dalam keadaan hidup.
وإن لم نقل بالبيان أو قلنا به ولكن لم يبيّن الوارث فالقرعة تجري فَنُقرِع بين الأمة والزوجة فإن خرجت على الأمة عَتَقَت وتعينت المرأة للزوجية إذ لا يتصور التعيين إلا مع زوال الإبهام ومن ضرورة زوال الإبهام ما ذكرناه
Jika kita tidak berpendapat dengan penjelasan, atau kita berpendapat dengannya tetapi ahli waris tidak menjelaskan, maka undian dilakukan. Kita mengundi antara budak perempuan dan istri; jika undian jatuh pada budak perempuan, maka ia merdeka dan perempuan itu ditetapkan sebagai istri, karena penetapan tidak mungkin dilakukan kecuali setelah hilangnya ketidakjelasan, dan di antara hal yang menjadi syarat hilangnya ketidakjelasan adalah apa yang telah kami sebutkan.
وإن خرجت القرعة على المرأة لم تطلق فإن القرعة لا تؤثر في إيقاع الطلاق أصلاً وإنما أثرها في العتاق ثم إذا خرجت القرعة على المرأة وحكمنا بأن القرعة لا تؤثر فالمذهب المبتوت أن الأمر يبقى ملتبساً ويسقط ما كنا نبغيه بالقرعة من البيان
Jika undian jatuh pada istri, maka ia tidak tertalak, karena undian sama sekali tidak berpengaruh dalam menjatuhkan talak, melainkan pengaruhnya hanya pada pembebasan budak. Kemudian, jika undian jatuh pada istri dan kita memutuskan bahwa undian tidak berpengaruh, maka pendapat yang kuat dalam mazhab adalah bahwa perkara tetap dalam keadaan samar dan tujuan penjelasan yang kita harapkan dari undian menjadi gugur.
وفي بعض التصانيف أن القرعة تعاد مرّة أخرى عند بعض أصحابنا وعندي أن صاحب هذه المقالة يجب أن يخرج من أحزاب الفقهاء فإن القرعة إذا كانت تعاد ثانية فقد تعاد ثالثة ثم لا يزال الأمر كذلك حتى تقع على الأمة فإن القرعة تُسْتَخْرجُ عليها وحق صاحب هذا المذهب أن يقطع بعتق الأمة وهذا لا سبيل إليه
Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa undian diulang sekali lagi menurut sebagian ulama kami. Menurut pendapat saya, orang yang berpendapat demikian seharusnya dikeluarkan dari kelompok fuqaha, karena jika undian diulang kedua kali, maka bisa saja diulang ketiga kali, dan seterusnya, hingga akhirnya jatuh pada budak perempuan, sebab undian bisa saja dilakukan atas dirinya. Orang yang menganut mazhab ini seharusnya memastikan pembebasan budak perempuan tersebut, dan hal itu tidak mungkin dilakukan.
وذكر طوائف من أصحابنا أن الطلاق وإن كان لا يقع على المرأة فالقرعة تؤثِّر في إرقاق الأمة
Beberapa kelompok dari kalangan ulama kami menyebutkan bahwa meskipun talak tidak jatuh pada perempuan, undian tetap berpengaruh dalam menjadikan budak perempuan itu berstatus budak penuh.
فقد تحصّل سوى الوجه الفاسد وجهان أحدهما أن الأمر يبقى ملتبساً في العتق والطلاق والثاني أن الأمة تَرِقُّ
Maka selain pendapat yang rusak, terdapat dua pendapat lain: yang pertama, bahwa perkara tetap samar dalam masalah pembebasan budak (’itq) dan talak; dan yang kedua, bahwa perempuan budak tetap berstatus budak.
فإن قيل ألستم قلتم إذا خرجت القرعة على الأمة عَتَقت وتعينت الزوجة للزوجية وقطعتم بهذا فهلاّ قطعتم بأن الأمة ترِق قلنا لأن القرعة إذا وردت على الأَمَة فقد خرجت على محلٍّ تؤثِّر القرعة فيه وهو العَتاق وإذا خرجت على الطلاق فلا أثر لهذا في هذا المحل وإذا لم يكن لها أثر لم يبعد أن تُلغى حتى يستمر اللبس
Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah mengatakan bahwa jika undian jatuh pada budak perempuan, maka ia menjadi merdeka dan istri tersebut menjadi pasti sebagai istri, dan kalian menetapkan hal ini secara pasti? Lalu mengapa kalian tidak menetapkan secara pasti bahwa budak perempuan itu menjadi budak?” Kami menjawab, karena jika undian jatuh pada budak perempuan, maka undian itu telah jatuh pada tempat yang memang berpengaruh, yaitu kemerdekaan. Namun jika undian jatuh pada perceraian, maka tidak ada pengaruh apa pun pada tempat itu. Dan jika tidak ada pengaruhnya, maka tidak mengapa jika undian itu diabaikan agar kerancuan tetap berlangsung.
ويتعلق بهذا الفصل مسائل لطيفة في الاختلاف سنذكرها في فصلِ الاختلاف وهذا أوان افتتاحه
Terkait dengan bab ini, terdapat beberapa permasalahan yang menarik mengenai perbedaan pendapat yang akan kami sebutkan dalam bab tentang perbedaan pendapat, dan sekarang adalah saat untuk memulainya.
فصل مشتمل على وجوه الاختلاف
Bagian yang memuat berbagai bentuk perbedaan pendapat
مسائله
Permasalahannya
إذا قال الرجل لامرأتيه إحداكما طالق وكان نوى واحدةً منهما بقلبه فلما طالبناه بالبيان فإن عيّن واحدة منهما تعينت فإن لم تخاصم الأخرى فلا تعرّض لهما ولا تبقى طَلِبةٌ من جهة السّلطان
Jika seorang laki-laki berkata kepada dua istrinya, “Salah satu dari kalian berdua tertalak,” dan ia telah meniatkan salah satunya dalam hatinya, lalu ketika kami memintanya untuk menjelaskan, ia menunjuk salah satu dari keduanya, maka yang ditunjuk itulah yang tertalak. Jika yang lain tidak menggugat, maka tidak perlu ada tindakan terhadap keduanya dan tidak ada tuntutan lagi dari pihak pemerintah.
وإن قالت الأخرى نويتني وعنيتني فالخصومة تدار بينهما فيحلف الزوج بالله لم ينوها ولم يعنها فإن حلف انقطعت الخصومة ويمينه على البت فإنه ينفي فعلَ نفسه فإن نكل رُدَّت اليمين على المرأة فإن حلفت حكمنا بوقوع الطلاق عليها ظاهراً لأجل يمينها وقد نُثبت طلاق الأولى بإقراره
Dan jika istri yang lain berkata, “Aku yang diniatkan dan aku yang dimaksudkan,” maka perselisihan terjadi di antara keduanya. Suami harus bersumpah dengan nama Allah bahwa ia tidak meniatkannya dan tidak memaksudkannya. Jika ia bersumpah, maka perselisihan pun selesai, dan sumpahnya harus secara tegas karena ia menafikan perbuatannya sendiri. Jika ia enggan bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada istri. Jika istri bersumpah, maka kami menetapkan jatuhnya talak atas dirinya secara lahiriah karena sumpahnya. Dan bisa jadi kami menetapkan talak atas istri pertama berdasarkan pengakuan suami.
وإن نكلت عن يمين الردّ كان نكولها بمثابة حَلِفهِ
Dan jika ia enggan melakukan sumpah balasan, maka keengganannya itu diperlakukan seperti ia telah bersumpah.
ولو قال الزوج لما طالبناه بالبيان قد كنت نويت وعنيت إحداكما ثم نسيت فإن صدقناه فلا طَلِبةَ فإن المطالبة بالتعيين تأتي من جهتهما فإذا رضيتا بالمقام تحت الاحتباس فلا تعرض للسلطان نعم يُمنع من مُلابستهما جميعاًً ومن مُلابسة كل واحدة منهما
Jika suami berkata ketika kami memintanya untuk menjelaskan, “Aku telah berniat dan menghendaki salah satu dari kalian berdua, kemudian aku lupa,” maka jika kami membenarkannya, tidak ada tuntutan. Sebab, permintaan untuk penetapan datang dari pihak keduanya. Jika keduanya rela tetap tinggal dalam keadaan tertahan, maka tidak ada campur tangan dari penguasa. Namun, suami dilarang berhubungan dengan keduanya sekaligus dan juga dilarang berhubungan dengan masing-masing dari mereka.
فأما إذا ادعى الرجل النسيان فكذبتاه فإذا سبقت واحدة وقالت عنيتني فقال في جوابها لا أدري فلا يقبل ذلك منه ولو قال حلّفوني بالله لا أدري لم نكتف بهذه اليمين منه فإن المحلوف عليه فعله فلتكن يمينه جازمةً ولو فتحنا هذا الباب لما توجهت يمين جازمة على من يُدّعى عليه استقراضٌ أو إتلافٌ أو قتلٌ أو غيرُها
Adapun jika seorang laki-laki mengaku lupa, lalu dua perempuan mendustakannya, kemudian salah satu dari keduanya mendahului berkata, “Aku maksudkan diriku,” lalu ia (laki-laki itu) menjawab, “Aku tidak tahu,” maka hal itu tidak diterima darinya. Dan jika ia berkata, “Bersumpahlah kalian atas nama Allah bahwa aku tidak tahu,” kami tidak cukup dengan sumpah seperti itu darinya, karena perkara yang disumpahkan adalah perbuatannya, maka sumpahnya harus tegas. Jika kami membuka pintu ini, niscaya tidak akan ada sumpah tegas yang dapat dibebankan kepada orang yang dituduh meminjam, merusak, membunuh, atau perkara lainnya.
فإن قال الزوج أتجوّزون صدقي قلنا نعم فلو قال فلم تطالبونني باليمين الجازمة وأنا أمنحكم يميناً جازمةً في أني نسيت قلنا لا سبيل إلى إجابتك
Jika suami berkata, “Apakah kalian membenarkan kejujuranku?” Kami katakan, “Ya.” Lalu jika ia berkata, “Mengapa kalian menuntutku dengan sumpah yang tegas, padahal aku bersedia memberikan sumpah yang tegas bahwa aku lupa?” Kami katakan, “Tidak ada jalan untuk memenuhi permintaanmu itu.”
ولكن وراء هذا سرّ وهو أنا لا نقضي بنكولك عن اليمين المعروضة عليك بل نقول اليمين مردودة على المدّعية فإن حلفت وقع القضاء بيمين الرد وهي حجة جازمةٌ في الخصومة نازلةٌ في طريقةٍ منزلةَ البيّنة وفي طريقةٍ منزلةَ الإقرار
Namun, di balik itu ada rahasia, yaitu kami tidak memutuskan dengan ketidakmampuanmu untuk bersumpah atas sumpah yang diajukan kepadamu, melainkan kami mengatakan bahwa sumpah itu dikembalikan kepada penggugat. Jika ia bersumpah, maka keputusan dijatuhkan dengan sumpah pengembalian, yang merupakan hujjah yang kuat dalam persengketaan; menurut satu pendapat, kedudukannya setara dengan bayyinah, dan menurut pendapat lain, setara dengan iqrar.
ومما نذكره على الاتصال بهذا أنه لو كان قال إن كان هذا الطائر غراباً فزينبُ طالق وإن لم يكن غراباً فعمرةُ طالق ثم فرضت الدعوى منهما أو من إحداهما وكانتا لا تدعيان طلاقاً إلا من هذه الجهة فلو قال قلت ما قلت من تعليق الطلاق وأنا في كِنٍّ والليلُ ملقٍ سُودَ أكنافه على الآفاق وقد مرّ الطائر فكيف أطلع على جنسه فاقنعوا مني بيمينٍ على نفي العلم إذ لا خلاف أن المحلوف عليه لو كان أمراً أنفيه من فعل غيري لكنت أحلف على نفي علمي به مثل أني لو قلت إن دخلتِ الدار فأنت طالق ثم ادّعت المرأة الدخول كان يكتفى مني بالحلف على نفي العلم بالدخول من جهة أن إحاطة العلم بنفي فعل الغير يعسر وإذا كان يقع الاكتفاء بنفي العلم لتعذر الإحاطة فإحاطة العلم بجنس الطائر في الصورة التي ذكرناها أعسر والدَّرك فيه أبعد
Dan termasuk yang perlu disebutkan terkait hal ini adalah, jika seseorang berkata: “Jika burung ini adalah burung gagak, maka Zainab tertalak; dan jika bukan burung gagak, maka ‘Amrah tertalak,” kemudian terjadi gugatan dari keduanya atau dari salah satu dari mereka, dan keduanya tidak mengaku adanya talak kecuali dari sisi ini, lalu ia berkata: “Aku mengucapkan apa yang aku ucapkan dalam keadaan aku berada di dalam rumah, malam telah menebarkan kegelapannya di seluruh penjuru, dan burung itu telah lewat, maka bagaimana aku bisa mengetahui jenisnya? Maka cukupkanlah dariku dengan sumpah untuk menafikan pengetahuan, karena tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika yang disumpahkan adalah sesuatu yang aku nafikan dari perbuatan orang lain, maka aku cukup bersumpah atas tidak tahunya aku tentang hal itu. Misalnya, jika aku berkata: ‘Jika engkau masuk ke rumah, maka engkau tertalak,’ lalu istri mengaku telah masuk, maka cukup bagiku bersumpah atas tidak tahunya aku tentang masuknya dia, karena mengetahui secara pasti tentang perbuatan orang lain itu sulit. Dan jika cukup dengan menafikan pengetahuan karena sulitnya mengetahui, maka mengetahui jenis burung dalam gambaran yang telah kami sebutkan itu lebih sulit lagi, dan untuk mengetahuinya lebih jauh lagi.”
قلنا إن سلمت المرأتان الصورة التي ذكرها الزوج فقد تحقق أن العلم منه بجنس الطائر غيرُ ممكن فهذا اعتراف منهما بأنه ليس يعلم حقيقة الحال وإن اعترفتا كذلك فلا يتصوّر من واحدة منهما دعوى منضبطة عليه وحكم هذه الصورة ما تقدم من أنهم إذا اعترفوا بالإشكال تُرك الأمر مبهماً وانقطعت طَلِبةُ البيان ويلزمه أن يَرُد عليهما حقوقَ النكاح
Kami katakan: Jika kedua perempuan itu membenarkan gambaran yang disebutkan oleh suami, maka telah dipastikan bahwa pengetahuan suami tentang jenis burung tersebut tidak mungkin, sehingga ini merupakan pengakuan dari keduanya bahwa ia memang tidak mengetahui hakikat keadaan yang sebenarnya. Jika keduanya mengakui demikian, maka tidak mungkin salah satu dari mereka mengajukan tuntutan yang jelas terhadapnya. Hukum untuk kasus seperti ini adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu apabila mereka mengakui adanya kerancuan, maka perkara tersebut dibiarkan tetap samar dan permintaan penjelasan pun terputus, serta ia wajib mengembalikan kepada keduanya hak-hak pernikahan.
وإن ادعى الزوج حالةً لا يتصوّر معها الإحاطة بجنس الطائر وأنكرت المرأتان ذلك وادعت كل واحدة منهما على البت أنه طلقها فلا يُكتفى منه بادعاء نفي العلم وإن أبدى الجهلَ جُعل ذلك إنكاراً منه وعُرضت عليه اليمين الجازمة فإن تمادى على ادعاء الجهل جُعل ذلك بمثابة النكول عن اليمين وتردّ اليمين على المدعية فإن قال الزوج إذا كان لا يمتنع صدقي في دعوى الجهالة فكيف تستجيزون إثبات الطلاق قلنا لسنا نثبت الطلاق بنكولك عن اليمين وإنما أثبتناه بيمينها الجازمة في إثبات الطلاق ولكن سبيل الوصول إلى يمين الرد في ترتيب الخصومة ما ذكرناه
Jika suami mengaku dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengetahui jenis burung tersebut, lalu kedua perempuan itu membantahnya dan masing-masing dari mereka secara tegas mengaku bahwa suami telah menceraikannya, maka tidak cukup baginya hanya dengan mengaku tidak tahu. Jika ia menyatakan ketidaktahuan, hal itu dianggap sebagai penyangkalan darinya dan ia diminta untuk bersumpah dengan sumpah yang tegas. Jika ia tetap bersikeras mengaku tidak tahu, maka hal itu dianggap seperti menolak bersumpah dan sumpah dialihkan kepada pihak penggugat. Jika suami berkata, “Jika tidak mustahil aku benar dalam mengaku tidak tahu, bagaimana kalian membenarkan penetapan talak?” Kami katakan, “Kami tidak menetapkan talak karena engkau menolak bersumpah, tetapi kami menetapkannya dengan sumpah tegas dari pihak perempuan dalam menetapkan talak. Namun, cara sampai pada sumpah pengalihan dalam urutan persengketaan adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.”
وهذا قدمنا تقديره فيه إذا قال إحداكما طالق وكان قد عيّن بقلبه إحداهما ثم زعم أنه نسي من نواها
Hal ini telah kami jelaskan penilaiannya dalam kasus ketika seseorang berkata, “Salah satu dari kalian aku ceraikan,” dan ia telah menentukan salah satu di antara mereka dalam hatinya, kemudian ia mengaku bahwa ia lupa siapa yang ia maksudkan.
ولو ذكر في مجلس الحكم صورة الحال وكانت المرأتان لا تدعيان الطلاق إلا من جهة التعليق في مسألة الطائر فتقدمت امرأة كان علق طلاقها بكون الطائر غراباً فقد ادعت أن الطائر الذي علق الطلاق به كان غراباً فهذه الدعوى يجب أن يجيب عنها فإن التنازع محصور في صفة الطائر
Jika dalam majelis pengadilan disebutkan gambaran keadaan, dan kedua perempuan itu tidak mengklaim terjadinya talak kecuali dari sisi ta‘liq dalam masalah burung, lalu salah satu perempuan yang talaknya digantungkan pada burung gagak maju ke depan, kemudian ia mengklaim bahwa burung yang dijadikan syarat talak itu adalah burung gagak, maka klaim ini harus dijawab, karena perselisihan terbatas pada sifat burung tersebut.
فالذي أراه أن الزوج ينفي كونه غراباً جزماً فإن الاطلاع على جنس الطائر ممكن وهو من قبيل الإثبات الذي حقه أن يحلف عليه جزماً فإن ادعى الجهل جُعل منكراً ثم ناكلاً وتُعرض اليمين الجازمة على المدّعية وإن كان الشيء في جنسه مما يفرض الاطلاع عليه فلا ننظر إلى تفاصيل الصور وهذا كما أنا إذا جعلنا اليمين على نفي فعل الغير على نفي العلم فلا نغيّر هذا الأصل بتصوّر الإحاطة بالنفي في بعض الصّور
Menurut pendapat saya, suami menafikan bahwa burung itu adalah gagak secara tegas, karena mengetahui jenis burung itu memungkinkan, dan ini termasuk bentuk penetapan yang seharusnya ia bersumpah atasnya secara tegas. Jika ia mengaku tidak tahu, maka ia dianggap sebagai pihak yang mengingkari, kemudian menjadi pihak yang enggan bersumpah, lalu sumpah yang tegas ditawarkan kepada pihak penggugat. Jika sesuatu dalam jenisnya memungkinkan untuk diketahui, maka kita tidak melihat pada rincian gambaran-gambarannya. Ini sebagaimana ketika kita menjadikan sumpah atas penafian perbuatan orang lain sebagai penafian pengetahuan, maka kita tidak mengubah prinsip ini hanya karena membayangkan adanya pengetahuan menyeluruh dalam sebagian kasus.
فإن قيل نفي كون الطائر غراباً ليس بإثبات قلنا كم من نفي يجب أن يكون اليمين عليه جزماً وإنما تكون اليمين على نفي فعل الغير على نفي العلم فحسب ونفي صفةٍ في طائر كإثبات صفة فيه وسبيل العلم في البابين على نسق واحدٍ
Jika dikatakan bahwa menafikan seekor burung sebagai burung gagak bukanlah suatu penetapan, kami katakan: betapa banyak penafian yang mengharuskan sumpah secara tegas. Sumpah itu hanya diwajibkan atas penafian perbuatan orang lain atau penafian pengetahuan saja. Menafikan suatu sifat pada seekor burung itu seperti menetapkan suatu sifat padanya, dan cara memperoleh pengetahuan dalam kedua hal tersebut adalah sama.
فهذا ما أراه في ذلك
Inilah pendapat yang saya lihat dalam hal itu.
وبالجملة ما يفرض من إشكالٍ في ذلك بمثابة ما لو قال الزّوج نسيت ما نويت ولا ينفع الزوج ذلك وإن كان ما يدّعيه ممكناً
Secara ringkas, segala bentuk permasalahan yang diajukan dalam hal ini serupa dengan jika seorang suami berkata, “Aku lupa apa yang aku niatkan,” dan hal itu tidak bermanfaat bagi suami, meskipun apa yang ia klaim itu mungkin terjadi.
فهذا منتهى الغرض في ذلك
Inilah tujuan akhir dalam hal itu.
ومما نذكره في الاختلاف أنه لو وقع الإبهام بين الطلاق والعَتاق كما صورناه في جاريةٍ وزوجةٍ فإن قال حَنِثْتُ في العتق عَتَقت وبقيت الدعوى للمرأة فإن حلف الزوج أنه لم يحنَث في طلاقها انفصلت الخصومة وإن نكل رُدت اليمين على المرأة ولو قال لا أدري لم نقنع منه بهذا كما تقدّم ذكره
Hal yang perlu disebutkan dalam perbedaan pendapat adalah apabila terjadi ketidakjelasan antara talak dan ‘itq (pembebasan budak), seperti yang telah kami gambarkan pada kasus seorang budak perempuan dan seorang istri. Jika ia berkata, “Saya melanggar sumpah dalam masalah ‘itq,” maka budak perempuan itu merdeka dan gugatan tetap berlaku bagi istri. Jika suami bersumpah bahwa ia tidak melanggar sumpah dalam masalah talak istrinya, maka perselisihan selesai. Namun, jika ia enggan bersumpah, sumpah itu dikembalikan kepada istri. Jika ia berkata, “Saya tidak tahu,” maka kami tidak menerima hal itu darinya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
ولو كان علق عتق عبيدٍ وطلاقَ نسوةٍ على الإبهام فادّعت واحدة من النساء الحِنْث فنكل الزوج وحلفت ثبت طلاقُها ولم يثبت طلاقُ صواحباتها وإن كان اليمين بطلاقهن والحِنْث لا يتبعّض ولكن إنما ثبت الحنث باليمين ويمينُ واحدةٍ لا يثبت في حق الغير وهذا كما لو مات رجل وخلّف ابنين وكان له على إنسانٍ دين فلو أقام أحدهما شاهداً وحلف معه ثبتت حصته من الدّين ولم تثبت حصة أخيه وهو على دعواه ولو أقام أحد الابنين شاهدين ثبت جميع الدّين في حق الأخوين وهذا واضح
Jika seseorang menggantungkan pembebasan budak-budaknya dan talak istri-istrinya secara samar, lalu salah satu dari para istri mengklaim telah terjadi pelanggaran (ḥinth), kemudian suami menolak bersumpah dan istri tersebut bersumpah, maka talaknya menjadi sah untuk istri tersebut dan tidak sah untuk istri-istri lainnya. Meskipun sumpah itu berkaitan dengan talak mereka semua dan pelanggaran itu tidak bisa dibagi-bagi, namun pelanggaran hanya dapat dibuktikan dengan sumpah, dan sumpah satu orang tidak berlaku untuk orang lain. Hal ini seperti jika seorang laki-laki meninggal dan meninggalkan dua anak laki-laki, dan ia memiliki piutang pada seseorang. Jika salah satu dari keduanya menghadirkan satu saksi dan bersumpah bersamanya, maka bagian utangnya yang terbukti hanya untuk dirinya dan tidak untuk saudaranya, meskipun klaimnya sama. Namun jika salah satu dari kedua anak itu menghadirkan dua saksi, maka seluruh utang itu terbukti untuk keduanya. Hal ini jelas.
ولو قال الزوج إن دخلتُ الدار فأنتن طوالق فادعت المرأة أنه دخل الدار وعرضنا اليمين عليه فنكل فحلفت تلك المدعية طلقت ولم تطلق صواحباتها لما ذكرناه
Jika seorang suami berkata, “Jika aku masuk ke dalam rumah, maka kalian semua tertalak,” lalu salah satu istrinya mengaku bahwa suaminya telah masuk ke dalam rumah, kemudian kami menawarkan sumpah kepada suami namun ia menolak bersumpah, lalu istri yang mengaku tersebut bersumpah, maka ia tertalak, sedangkan istri-istri lainnya tidak tertalak sebagaimana telah kami sebutkan.
وقد يعترض للإنسان أن الطلاق يتعلق بحق الله ولكن حق الله لا يثبت في حق الغير بيمين الغير أيضاًً وإذا كانت الدعوى تتوجه والخصومة تَتَرتّبُ تحليفاً ورداً فالأصل الثابت الذي لا مراء فيه ما ذكرناه من أن اليمين لا تُثبت شيئاً في حق غير الحالف
Mungkin seseorang berpendapat bahwa talak berkaitan dengan hak Allah, namun hak Allah juga tidak dapat ditetapkan atas hak orang lain melalui sumpah orang lain. Jika suatu gugatan diarahkan dan perselisihan berujung pada pengambilan sumpah dan penolakan, maka prinsip dasar yang tidak dapat disangkal adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa sumpah tidak menetapkan sesuatu atas hak selain orang yang bersumpah.
ومن بقية الكلام في الاختلاف أن الذي أبهم الطلاق إذا مات فقد ذكرنا أن الوارث هل يقوم مقامه في البيان فإن قلنا لا يُقبل بيانه فلا تتوجه عليه الدّعوى فإنه بمثابة الأجنبي في القول الذي نفرّع عليه
Adapun sisa pembahasan tentang perbedaan pendapat, yaitu apabila seseorang yang mengucapkan talak secara samar meninggal dunia, maka sebagaimana telah kami sebutkan, apakah ahli waris dapat menggantikan posisinya dalam memberikan penjelasan. Jika kita katakan bahwa penjelasan ahli waris tidak diterima, maka tidak ada tuntutan yang diarahkan kepadanya, karena ia dalam posisi seperti orang asing menurut pendapat yang kami uraikan.
وإن قلنا إن بيانه مقبولٌ فإن كان لا يتعلق به حقّ وغرض ورأينا قبولَ قوله في بعض الطرق وذلك مثل أن يموت الزوج ويخلّفَ زوجتين قد أبهم بينهما طلقةً مُبينةً فلو امتنع عن البيان فلا تتوجه عليه الدعوى منهما فإنه لا يتعلق بعين واحدةٍ منهما غرضه بوجهٍ
Dan jika kita mengatakan bahwa penjelasannya dapat diterima, maka jika tidak berkaitan dengan hak dan kepentingan tertentu, serta kita melihat bahwa menerima ucapannya diperbolehkan dalam beberapa keadaan, seperti misalnya seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua istri, sementara ia telah menjatuhkan talak bain yang tidak jelas kepada salah satu dari keduanya. Jika ia menolak untuk menjelaskan, maka tidak dapat diajukan gugatan terhadapnya oleh kedua istri tersebut, karena tidak ada kepentingan khusus yang berkaitan dengan salah satu dari mereka secara langsung.
وإن كانت المسألة مفروضةً حيث يتعلق الأمر بغرضه مثل أن يكون الإبهام في عتق عبدين فتتوجّه الدّعوى على الوارث ثم إن ادعى أحدهما أن أباه حَنِث فإنه يحلف على نفي العلم بالله لا يعلم أن أباه حَنِث ثم لا يخفى تمام الخصومة لو فرض النكول والردّ
Jika masalahnya bersifat hipotetis, di mana perkara tersebut berkaitan dengan tujuannya, seperti adanya ketidakjelasan dalam pembebasan dua budak sehingga gugatan diarahkan kepada ahli waris, kemudian salah satu dari keduanya mengklaim bahwa ayahnya telah melanggar sumpah, maka ia bersumpah dengan menafikan pengetahuan, yaitu dengan mengatakan: “Demi Allah, saya tidak tahu bahwa ayah saya telah melanggar sumpah.” Selanjutnya, tidak tersembunyi lagi kesempurnaan persengketaan jika terjadi penolakan sumpah dan pengalihan sumpah.
فهذا تمام المراد ثم ما لم نذكره لا يخفى قياسه فلم نر المزيد على هذا
Inilah seluruh maksud yang ingin disampaikan. Adapun hal-hal yang tidak kami sebutkan, qiyās-nya tidaklah samar, sehingga kami tidak melihat perlunya menambah lebih dari ini.
وإذا كان الإبهام بين العتق والطلاق ومات المبهِم وقلنا تعيين الوارث مقبول فإذا زعم أنه كان حَنِثَ في الطلاق قُبل قوله وللمرأة أن تحلِّفه فيحلف على الإثبات أن أباه حَنِث في الطلاق
Jika terjadi ketidakjelasan antara pembebasan budak (‘itq) dan talak, lalu orang yang membuat pernyataan tidak jelas itu meninggal dunia, dan kita berpendapat bahwa penetapan dari ahli waris dapat diterima, maka jika ahli waris mengklaim bahwa ayahnya telah melanggar sumpah dalam talak, ucapannya diterima. Namun, istri berhak meminta sumpah darinya, sehingga ia harus bersumpah untuk menegaskan bahwa ayahnya benar-benar telah melanggar sumpah dalam talak.
ثم للعبد أن يحلّفه فيحلف بالله لا يعلم أن أباه حَنِث في عتقه فإن اليمين في حقه متعلقة بنفي فعل الغير وهذا جارٍ على الأصل الذي مهدّناه
Kemudian, bagi pihak yang bersengketa berhak meminta lawannya untuk bersumpah, lalu ia bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui ayahnya telah melanggar dalam memerdekakan budaknya, karena sumpah dalam hal ini berkaitan dengan penafian perbuatan orang lain, dan hal ini sesuai dengan kaidah yang telah kami jelaskan sebelumnya.
وقد نجز ما أردناه في ذلك والله المستعان
Apa yang kami maksudkan dalam hal ini telah selesai, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.
فروع متعلقة بالباب
Cabang-cabang yang berkaitan dengan bab ini
إذا أشار الرجل إلى امرأته وأجنبية وقال إحداكما طالق ثم ادّعى أنه أراد بذلك الأجنبية فهل يصدق في ذلك اختلف أصحابنا في المسألة فذهب الأكثرون إلى أنه يصدّق فيما يدعيه فإن قوله إحداكما صريح في الترديد بينهما
Jika seorang laki-laki menunjuk kepada istrinya dan seorang perempuan asing lalu berkata, “Salah satu dari kalian berdua aku ceraikan,” kemudian ia mengaku bahwa yang ia maksud adalah perempuan asing tersebut, apakah ia dapat dipercaya dalam pengakuannya itu? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Mayoritas berpendapat bahwa ia dapat dipercaya atas apa yang ia klaim, karena ucapannya “salah satu dari kalian berdua” jelas menunjukkan adanya keraguan antara keduanya.
ومن أصحابنا من قال يقع الطلاق على زوجته فإنه أرسل الطلاق بين أجنبية ليست محلاً لطلاقه وبين زوجته فينزل الطلاق على التي هي محل الطلاق ويلغو موجبُ الترديد وهو كما لو أوصى بطبلٍ من طبوله وله طبل حربٍ وطبولُ لهو فالوصية تنزل على طبل الحرب فإنه محل الوصية الصّحيحة والطلاق أولى بالنفوذ من الوصية
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa talak jatuh pada istrinya, karena ia telah menjatuhkan talak antara seorang perempuan asing yang bukan tempat talak baginya dan antara istrinya, maka talak itu berlaku pada yang memang merupakan tempat talak, dan alasan pengulangan (tardid) menjadi tidak berlaku. Hal ini seperti jika seseorang berwasiat dengan salah satu dari beberapa genderangnya, sementara ia memiliki genderang perang dan genderang hiburan, maka wasiat itu berlaku pada genderang perang karena itulah yang merupakan tempat wasiat yang sah, dan talak lebih utama untuk diberlakukan daripada wasiat.
ومما ذكره الأصحاب متصلاً بهذا أن الزوج إذا قال زينب طالق وكانت زوجته تسمى زينب ثم قال أردت بذلك جارتي وهي زينب فالأكثرون من الأصحاب صاروا إلى أن الطلاق واقع ولا يُقبل حمله إيّاه على الجارة فإن الطلاق لا يردّ ولا يحمل على اللغو
Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama mazhab yang berkaitan dengan masalah ini adalah bahwa jika seorang suami berkata, “Zainab talak,” sementara istrinya bernama Zainab, lalu ia berkata, “Yang aku maksud adalah tetanggaku yang juga bernama Zainab,” maka mayoritas ulama mazhab berpendapat bahwa talak tetap jatuh dan tidak diterima alasan bahwa yang dimaksud adalah tetangganya. Sebab, talak tidak dapat ditarik kembali dan tidak dapat dianggap sebagai ucapan sia-sia.
ومن أصحابنا من قال يقبل ذلك فإن لفظه محتمل له والأصل بقاء النكاح ومال إلى اختيار ذلك القاضي وهذا التردد في الظاهر
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa hal itu dapat diterima, karena lafaznya memungkinkan untuk itu dan pada dasarnya status pernikahan tetap berlaku, dan pendapat ini cenderung dipilih oleh hakim. Keraguan ini tampak jelas.
فأما من أنكر قبول قوله ظاهراً لا يُنكر أن الطلاق لا يقع باطناًً بينه وبين الله إذا صُدِّق
Adapun orang yang mengingkari diterimanya ucapannya secara lahiriah, tidak dapat mengingkari bahwa talak tidak terjadi secara batin antara dia dengan Allah jika ia dibenarkan.
والجهل لا يمنع وقوعَ الطلاق بلا خلاف فلو كان نسي أن له زوجة فقال زوجتي طالق طلقت
Kebodohan tidak menghalangi terjadinya talak tanpa ada perbedaan pendapat. Maka jika seseorang lupa bahwa ia memiliki istri lalu ia berkata, “Istriku tertalak,” maka talak pun terjadi.
ولو أشار إلى عبدٍ لأبيه وقال أعتقتك ثم تبين له أنه كان قال هذا وأبوه قد مات والعبد رجع إليه ميراثاً فالعتق نافذ
Jika seseorang menunjuk kepada seorang budak milik ayahnya dan berkata, “Aku telah memerdekakanmu,” lalu ternyata diketahui bahwa ia mengucapkan hal itu setelah ayahnya meninggal dunia dan budak tersebut kembali menjadi miliknya sebagai warisan, maka pemerdekaan itu tetap sah.
فرع
Cabang
إذا أبهم طلقة مُبينة بين امرأتين فيلزمه البيان أو التعيين كما مضى تفصيله ولو أبهم طلقةً رجعيّة بينهما فهل يلزمه أن يُبيِّن أو يعيّن فعلى وجهين أحدهما لا يلزمه فإن الرجعيّة زوجة
Jika seseorang mengaburkan talak bain antara dua orang perempuan, maka ia wajib menjelaskan atau menentukan sebagaimana telah dijelaskan rinciannya. Namun, jika ia mengaburkan talak raj‘i antara keduanya, apakah ia wajib menjelaskan atau menentukan? Ada dua pendapat: salah satunya, ia tidak wajib melakukannya, karena perempuan yang ditalak raj‘i masih berstatus istri.
والثاني يلزمه فإنها محرّمة والحيلولة مستحقة بالطلاق الرجعي والأصح الأول والله أعلم
Dan pendapat kedua menyatakan bahwa itu wajib baginya, karena hal itu diharamkan dan pencegahan (dari hubungan) menjadi hak dengan adanya talak raj‘i. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah pendapat pertama. Allah Maha Mengetahui.
فرع
Cabang
إذا طار طائر فقال زيد إن كان غراباً فعبدي حر وقال عمرو إن لم يكن غراباً فعبدي حر فلا نحكم بعتق واحد منهما كما تقدم ذكره فلو اشترى أحدهما عبد الثاني فالشراء صحيح ولكن إذا اجتمع العبدان في ملكه فلا شك أن أحدهما في معلوم الله حر وإنما كنا لا نحكم بهذا لتعدد المالكَيْن وتعذر جمع الخطاب وهما متفرقان فإذا اجتمع العبدان في ملكٍ واحد منهما فهما في حقه مجتمعان الآن وهو مخاطب واحد
Jika seekor burung terbang lalu Zaid berkata, “Jika itu burung gagak maka budakku merdeka,” dan Amr berkata, “Jika itu bukan burung gagak maka budakku merdeka,” maka kita tidak memutuskan kemerdekaan salah satu dari mereka berdua, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika salah satu dari mereka membeli budak milik yang lain, maka pembelian itu sah. Akan tetapi, jika kedua budak itu berkumpul dalam kepemilikan satu orang, maka tidak diragukan bahwa salah satu dari keduanya menurut ilmu Allah adalah merdeka. Adapun kita tidak memutuskan demikian sebelumnya karena kepemilikan yang berbeda dan tidak mungkin menggabungkan hukum ketika keduanya terpisah. Namun, jika kedua budak itu telah berkumpul dalam kepemilikan satu orang, maka keduanya sekarang berada dalam satu kepemilikan, dan ia adalah satu orang yang terkena hukum.
وقد ذكر صاحب التقريب وجهين بعد التنبيه لما ذكرناه أحدهما أنهما إذا اجتمعا في يده وتصرّفه فيوقف عنهما جميعاًً إلى أن يتبين الأمر ويصير بمثابة ما لو كان العبدان جميعاًً في ملكه أو لا فقال إن كان هذا الطائر غراباً فعبدي سالم حرّ وإن لم يكن غراباً فعبدي غانم حرّ وهوى الطائر وأشكل الأمر وهذا أصح الوجهين وقد قدّمت ذكره
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat setelah memberikan penjelasan sebagaimana yang telah kami sebutkan. Salah satunya adalah apabila keduanya berada dalam kekuasaan dan pengelolaan orang tersebut, maka keduanya harus ditahan hingga perkara menjadi jelas, dan hal ini serupa dengan keadaan apabila kedua budak tersebut sejak awal memang berada dalam kepemilikannya. Misalnya, seseorang berkata: “Jika burung ini adalah seekor gagak, maka budakku Sālim merdeka; dan jika bukan gagak, maka budakku Ghānim merdeka.” Lalu burung itu terbang dan perkara menjadi samar. Pendapat inilah yang paling kuat di antara dua pendapat tersebut, dan sebelumnya telah saya sebutkan.
والوجه الثاني أن يده لا تُقبض عن التصرّف في عبده الأوّل لأن الحكم فيه هكذا جرى فلا نغير الحكم المتقدم وإنما نمنعه من التصرف في عبده الذي اشتراه فإن هذا عبد جديد فنجدّد فيه حكم الوقف ثم لا نقطع في العبد الثاني بالحرية ولكن نقفه عن التصرّف فيه إلى أن يبين حقيقة الأمر والوجه الأول أقيس
Pendapat kedua adalah bahwa tangannya tidak dicegah untuk melakukan tasharruf (perbuatan hukum) terhadap budaknya yang pertama karena hukum sebelumnya telah berlaku demikian, maka kita tidak mengubah hukum yang telah ada. Namun, kita melarangnya melakukan tasharruf terhadap budak yang dibelinya, karena ini adalah budak baru sehingga kita menetapkan kembali hukum waqf padanya. Kemudian, kita tidak memutuskan secara pasti bahwa budak kedua itu merdeka, tetapi kita menahan tasharruf terhadapnya sampai jelas hakikat perkaranya. Pendapat pertama lebih sesuai dengan qiyās.
والله أعلم
Dan Allah lebih mengetahui.
باب الهدم
Bab tentang pembongkaran
إذا طلق الرجل الحرّ زوجته ثلاثاً أو استوفى العبدُ ما يملك فطلّق زوجته طلقتين حرمت الزوجة وحرم نكاحُها ثم يمتدّ تحريم النكاح إلى التحليل كما قدمنا وصفه في الأبواب المتقدمة وقد أطلق الفقهاء أن وطء الزوج المحلِّل يهدم الطلقات الثلاث وترجمة الباب توافق هذا وهذا فيه استعارة وتجوّز فإن الطلاق بعد وقوعه لا يتصور هدمه ولكن الطلاق الواحد والاثنين في حق الحر لا يحرِّم عقدَ النكاح بل إن كان رجعياً لم يخف حكمه وإن كان مُبيناً فلا بدّ من نكاح جديد وإن استوفى ما يملك من الطلاق تعلّق باستيفائه تحريمُ النكاح ثم هو في التوقيف ووضع الشرع ممتد إلى اتفاق التحليل والتخلّي من الزوج المحلل ثم يقال انقضت الطلقات الثلاث وانتهى حكمها وصارت المرأة إذا نكحها الأول بمثابة أجنبية ينكحها الرجل ابتداء فيملك عليها ثلاث طلقات
Jika seorang laki-laki merdeka menceraikan istrinya tiga kali, atau seorang budak telah menggunakan seluruh hak talaknya lalu menceraikan istrinya dua kali, maka istrinya menjadi haram baginya dan haram untuk dinikahi kembali. Kemudian larangan menikah ini berlangsung hingga terjadi taḥlīl, sebagaimana telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya. Para fuqahā’ menyatakan bahwa hubungan suami-istri dengan suami muhallil menghapus tiga talak, dan judul bab ini sesuai dengan hal tersebut. Namun, di sini terdapat penggunaan istilah secara kiasan dan majaz, karena talak setelah terjadi tidak mungkin dihapus. Akan tetapi, satu atau dua talak bagi laki-laki merdeka tidak mengharamkan akad nikah. Jika talaknya raj‘i, maka hukumnya tidak hilang; jika talaknya bain, maka harus ada akad nikah baru. Jika seluruh hak talak telah digunakan, maka dengan selesainya hak tersebut, terjadi pengharaman nikah. Kemudian, menurut ketentuan syariat, larangan ini berlangsung hingga terjadi taḥlīl dan suami muhallil melepaskan istrinya. Setelah itu, dikatakan bahwa tiga talak telah selesai dan hukumnya telah berakhir, sehingga jika perempuan tersebut dinikahi kembali oleh suami pertama, ia seperti perempuan asing yang dinikahi dari awal, dan suami memiliki hak tiga talak atasnya.
ثم أطلق الفقهاء الهدم وعنَوْا به أنها تعود بثلاث طلقات ولم يُريدوا أن تلك الطلقات الواقعة تُهدَم بعد وقوعها وتزول إذ لو زالت لعادت المرأة منكوحةَ الأول من غير احتياج إلى نكاح جديد
Kemudian para fuqaha menggunakan istilah “haddm” (penghapusan) dan yang mereka maksudkan adalah bahwa perempuan itu kembali kepada suaminya dengan tiga talak, dan mereka tidak bermaksud bahwa talak-talak yang telah terjadi itu benar-benar dihapus setelah terjadinya dan menjadi tidak ada; sebab jika benar-benar dihapus, maka perempuan itu akan kembali menjadi istri suami pertama tanpa memerlukan akad nikah baru.
ولو طلق امرأته طلقةً أو طلقتين ولم يستوف العددَ فانسرحت المرأة ونكحت وأصيبت ثم تخلّت ونكحها الأول فإنها تعود إلى الأول ببقية الطلاق عندنا وعند محمد وقال أبو حنيفة إذا نكحت ووطئها الزّوج ثم تخلّت عن النكاح والعدة ونكحها الأول عادت إليه بثلاث طلقات والمسألة مشهورة في الخلاف
Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan satu atau dua kali talak dan belum mencapai jumlah talak yang sempurna, lalu wanita itu berpisah darinya, menikah dengan laki-laki lain, kemudian digauli, setelah itu bercerai dan masa iddahnya selesai, lalu dinikahi kembali oleh suami pertama, maka menurut kami dan menurut Muhammad, wanita itu kembali kepada suami pertama dengan sisa jumlah talak yang masih ada. Namun menurut Abu Hanifah, jika wanita itu menikah dan digauli oleh suami kedua, kemudian berpisah dan selesai masa iddahnya, lalu dinikahi kembali oleh suami pertama, maka ia kembali dengan tiga talak penuh. Masalah ini terkenal dalam perbedaan pendapat (khilaf).
وقد نجزت المسائل المنصوصة في السواد وما يتصل بها
Telah selesai pembahasan masalah-masalah yang dinyatakan secara tegas dalam nash mengenai sisa tinta hitam dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
وهذا الكتاب من بين الكتب كثير الفروع والشعب فإنه مبني على الألفاظ ولا نهاية لما ينطق الناطقون به تنجيزاً وتعليقاً وينضم إلى دَرْك الصيغ أمورٌ تتعلق بالعادات والحاجة تَمس إلى الإحاطة بحقيقتها ضمّاً إلى دَرْك الألفاظ ونحن لا نألوا جهداً في الإتيان بها والتنبيه على ضوابطَ فيها وتقرير أصولٍ تهدي إلى المراشد فيما نذكره وفيما ينسلّ عن ذكرنا وحفظنا ونحرص أن نُجري الفروع مصنفةً ونذكرها صنفاً صنفاً وما لا يدخل تحت ضبط التنويع نجمعه في مسائل شتى وإلى الله الرغبة في التوفيق وهو بإسعاف راجيه حقيق
Dan kitab ini, di antara kitab-kitab yang banyak cabang dan aspeknya, disusun berdasarkan lafaz-lafaz, sedangkan tidak ada batas bagi apa yang diucapkan oleh para penutur, baik secara langsung maupun bersyarat. Selain memahami bentuk-bentuk lafaz, terdapat pula hal-hal yang berkaitan dengan adat kebiasaan dan kebutuhan yang menuntut pemahaman hakikatnya, yang harus digabungkan dengan pemahaman terhadap lafaz. Kami tidak akan menyisakan upaya dalam menyajikan hal-hal tersebut, memberikan penjelasan atas kaidah-kaidahnya, serta menetapkan prinsip-prinsip yang dapat membimbing menuju petunjuk dalam apa yang kami sebutkan maupun yang luput dari penyebutan dan ingatan kami. Kami berusaha untuk mengelompokkan cabang-cabang hukum secara terklasifikasi dan menyebutkannya satu per satu, sedangkan apa yang tidak dapat diklasifikasikan, kami kumpulkan dalam berbagai masalah yang beragam. Kepada Allah-lah harapan akan taufik, dan Dia-lah yang pantas untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya yang berharap.
فروع في تعليق الطلاق بالحيض
Cabang-cabang pembahasan tentang penangguhan talak dengan haid
إذا قال لامرأته إن حضت فأنت طالق اقتضى ذلك حيضةً مستأنفة حتى لو كانت في خلال حيض لم تطلق في الحال حتى تطهر ثم تحيض والسبب فيه أن الشرط يستدعي استئنافاً وبقية الشيء لا تكون استئنافاً فيه لساناً وعرفاً حتى لو قال لامرأته والثمار مُدركةٌ إذا أدركت الثمار فأنت طالق اقتضى ذلك إدراكاً مستأنفاً يأتي في العام القابل
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu haid, maka kamu tertalak,” maka yang dimaksud adalah haid yang baru (haid yang dimulai setelah ucapan itu). Sehingga, jika istrinya sedang dalam masa haid, ia tidak langsung tertalak saat itu juga, melainkan harus menunggu hingga ia suci terlebih dahulu, lalu haid kembali. Sebabnya adalah karena syarat menuntut permulaan yang baru, dan sisa dari sesuatu tidak dianggap sebagai permulaan, baik secara bahasa maupun kebiasaan. Sehingga, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ketika buah-buahan telah masak, maka kamu tertalak,” maka yang dimaksud adalah kematangan buah-buahan yang baru yang akan terjadi pada tahun berikutnya.
ثم إذا رأت دماً مستأنفاً لم نحكم بوقوع الطلاق وإن كان على ترتيب الأدوار فإنه قد ينقطع دون أقل الحيض ويكون دمَ فسادٍ والطلاق معلق بالحيض فإذا استمر الدم المسبوق بطهرٍ كامل يوماً وليلةً تبينا أنه دم حيضٍ ثم الطلاق يتبين وقوعه مستنداً إلى أول جزءٍ من الدّم فإنّا تحققنا آخراً أن ما رأته أولاً دمُ حيضٍ وتوقُّفنا كان لنتبين
Kemudian, jika seorang wanita melihat darah yang baru, kita tidak menetapkan terjadinya talak, meskipun sesuai dengan urutan siklus, karena bisa saja darah itu berhenti sebelum mencapai minimal masa haid dan itu adalah darah fasad, sedangkan talak digantungkan pada haid. Jika darah yang didahului oleh masa suci penuh selama sehari semalam terus berlanjut, maka kita mengetahui bahwa itu adalah darah haid, lalu talak dinyatakan terjadi dan dikaitkan dengan bagian pertama dari darah tersebut, karena pada akhirnya kita memastikan bahwa darah yang pertama kali dilihatnya adalah darah haid, dan penundaan keputusan kita adalah untuk memastikan hal tersebut.
ويعترض في ذلك أنها إذا رأت الدّم فهل يجب اجتنابها في الاستمتاع ناجزاً هذا بمثابة ما لو قال إن لم تكوني حاملاً فأنت طالق وقد ذكرنا في ذلك بياناً كافياً
Ada keberatan dalam hal ini, yaitu apabila ia melihat darah, apakah wajib menjauhinya dalam menikmati hubungan secara langsung? Ini serupa dengan kasus seseorang yang berkata, “Jika engkau tidak hamil, maka engkau tertalak,” dan kami telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang cukup.
ثم إذا قالت المرأة وقد علّق الطلاق بحيضها قد حضت فالقول قولها مع يمينها ولو كذّبها الزوج فلا معتبر بتكذيبه
Kemudian, apabila seorang wanita berkata—sementara talak digantungkan pada haidnya—“Aku telah haid,” maka perkataannya diterima dengan sumpahnya, meskipun suaminya mendustakannya; pendustaan suami tidak dianggap.
والذي عليه التعويل في ذلك يبينُ بتقسيمٍ فإن علق الرجل طلاق امرأته بأمرٍ يظهر ويُتَصور إثباته بالبينة مثل أن يقول إن دخلت الدار فأنت طالق فإذا زعمت أنها دخلت وأنكر الزوج دخولها لم نصدقها ولم نقض بوقوع الطلاق حتى يَثْبت الدخول بالبينة
Yang menjadi pegangan dalam hal ini dijelaskan dengan pembagian: jika seorang laki-laki menggantungkan talak istrinya pada suatu perkara yang tampak dan dapat dibuktikan dengan alat bukti, seperti ia berkata, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” lalu sang istri mengaku bahwa ia telah masuk, sementara suaminya mengingkari bahwa ia telah masuk, maka kita tidak membenarkan pengakuan istri dan tidak memutuskan terjadinya talak sampai terbukti masuknya istri dengan alat bukti.
ولو قال إن حضتِ فأنت طالق فقالت حضتُ صُدّقت مع يمينها وقال الفقهاء النساء مؤتمنات في أرحامهن وزاد زائدون بياناً وقالوا لا يتبين الحيض إلا من جهتها فإن الدّم في عينه وإن رُئي فلا يمكن القضاء عليه بكونه حيضاً ما لم تخبر بترتيبٍ في أدوارها يقتضي ذلك كونَ ما تراه حيضاًً
Jika seorang suami berkata, “Jika kamu haid, maka kamu tertalak,” lalu istrinya berkata, “Aku telah haid,” maka ia dipercaya dengan sumpahnya. Para fuqaha berkata, “Perempuan dipercaya dalam urusan rahim mereka.” Sebagian ulama menambahkan penjelasan, “Tidak ada yang dapat memastikan haid kecuali dari pihak perempuan itu sendiri, karena darah itu pada hakikatnya ada pada dirinya. Meskipun darah itu terlihat, tidak bisa dipastikan sebagai darah haid kecuali jika ia mengabarkan dengan urutan siklusnya yang menunjukkan bahwa apa yang ia lihat itu adalah haid.”
فهذا ما ذكره الأصحاب ووراءه كلام يأتي الشرح عليه إن شاء الله
Inilah yang disebutkan oleh para ulama, dan setelahnya terdapat pembahasan yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah.
ولو قال لامرأته إن زنيتِ فأنت طالق فزعمت أنها زنت فالمذهب الذي عليه التعويل أنا لا نحكم بوقوع الطلاق من جهة أن الزنا يفرض الاطلاع عليه لا من جهتها
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu berzina, maka kamu tertalak,” lalu istrinya mengaku bahwa ia telah berzina, maka mazhab yang dijadikan pegangan adalah kita tidak memutuskan terjadinya talak, karena perbuatan zina itu harus dibuktikan dengan pengetahuan dari pihak lain, bukan dari pengakuannya sendiri.
وقال بعض أصحابنا كل عملٍ خفيٍّ لا يفرض الاطلاع عليه فهي مصدقة فيه والزّنا منه وهذا حائد عن التحقيق غيرُ معدودٍ من المذهب
Sebagian ulama kami berkata, setiap perbuatan tersembunyi yang tidak diwajibkan untuk diketahui orang lain, maka perempuan dipercaya dalam hal itu, dan zina termasuk di dalamnya. Namun pendapat ini menyimpang dari penelitian yang benar dan tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab.
ولو قال الرجل لامرأته إن أضمرتِ بُغضي فأنت طالق فزعمت أنها أضمرت وقع الطلاق وإن اتُّهمت حُلّفت إذ لا مطّلع على مكنون الضمائر إلا من جهات أصحابها فلا وجه إلا أن نصدقها وهذا أصل جارٍ في القصود والنيات المعتبرة
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika engkau menyimpan kebencian terhadapku, maka engkau tertalak,” lalu sang istri mengaku bahwa ia memang menyimpan kebencian, maka jatuhlah talak. Namun jika ia dicurigai, maka ia harus disumpah, karena tidak ada yang mengetahui isi hati kecuali dari keterangan pemiliknya. Maka tidak ada jalan lain kecuali mempercayainya. Ini adalah kaidah yang berlaku dalam urusan niat dan maksud yang diperhitungkan.
وما ذكره الأصحاب من الفرق بين الأفعال التي يتطرق إليها إمكان الإثبات وبين ما لا يُعلم إلا من جهة المرأة يكاد يوافق مذهب مالك في ادعاء المودَع التلف فإنه قال إن ادعى سبباً جلياً يظهر مثله ويتأتى في الغالب الإشهاد عليه فلا يقبل قوله وإن ادعى سبباً خفياً يعسر الإشهاد عليه فيصدّق حينئذٍ
Apa yang disebutkan oleh para ulama mazhab tentang perbedaan antara perbuatan yang memungkinkan untuk dibuktikan dan perbuatan yang hanya dapat diketahui dari pihak perempuan saja, hampir sejalan dengan mazhab Malik dalam kasus orang yang dititipi barang mengaku barangnya rusak. Ia mengatakan: Jika ia mengaku dengan sebab yang jelas, yang biasanya dapat disaksikan dan pada umumnya memungkinkan untuk dihadirkan saksi atasnya, maka pengakuannya tidak diterima. Namun jika ia mengaku dengan sebab yang samar, yang sulit untuk dihadirkan saksi atasnya, maka pada saat itu ia dibenarkan.
وعندنا لا فرق في المودَع إذا أمكن صدقه وذلك الكتاب مبني على أن صاحب الوديعة يحُل محلَّ المؤتمنين في إيداعه فكان التزامُ تصديقه فيما يمكن صدقه فيه ولم يوجد من الزوج ائتمان المرأة في جليّ ولا خفيّ فامتاز هذا بوضعه عن المودَع وقياسِه وبان أنا إنما نُصدّق المرأة في ذكر الحيض والإعرابِ عن معنىً في الضمير يفرض متعلَّقاً للطلاق من جهة أن كل معلِّقٍ بصفةٍ فقضيةُ كلامه إمكان وقوع الطلاق عند وجود الصفة فإن من ضرورة التعليق ترديد الأمر فإذا كان لا مطَّلِع على ما جعله متعلَّقَ الطلاق إلا من جهتها وهي في التقدير مكذَّبة فكيف الوقوع ونفسُ تعليقه وما به التعليق لا يأتي إلا من جهتها في حكم الالتزام لتصديقها وهذا أظهر من التزام المودِع تصديق المُودَع فإن ذلك المعنى لا يستدّ في ذلك الكتاب ما لم يُعضَّد بمصلحة الإيداع كما قرّرناه في موضعه
Menurut kami, tidak ada perbedaan pada orang yang dititipi (mūda‘) jika memungkinkan untuk mempercayai ucapannya, dan kitab tersebut dibangun atas dasar bahwa pemilik titipan menempati posisi orang-orang yang dipercaya dalam menitipkan, sehingga menjadi kewajiban untuk mempercayai ucapannya dalam hal-hal yang memungkinkan untuk dipercaya. Namun, dari pihak suami tidak terdapat tindakan mempercayakan istri, baik dalam perkara yang jelas maupun yang samar, sehingga hal ini berbeda dari posisi dan qiyās orang yang dititipi. Juga, kami hanya mempercayai perempuan dalam menyebutkan haid dan mengungkapkan makna yang tersembunyi dalam hati yang dijadikan sebagai syarat talak, karena setiap orang yang menggantungkan talak pada suatu sifat, maka konsekuensi ucapannya adalah kemungkinan terjadinya talak ketika sifat itu ada. Sebab, dalam menggantungkan (talak) pasti ada keraguan, dan jika tidak ada yang mengetahui apa yang dijadikan syarat talak kecuali dari pihak istri, sementara secara takdir ia dianggap berdusta, maka bagaimana mungkin talak itu terjadi? Padahal, penggantungannya dan hal yang menjadi dasar penggantungannya hanya bisa diketahui dari pihak istri, sehingga dalam hal ini wajib mempercayai ucapannya. Hal ini lebih jelas daripada kewajiban orang yang menitipkan untuk mempercayai orang yang dititipi, karena makna tersebut tidak mesti ada dalam kitab itu kecuali jika didukung oleh kemaslahatan penitipan, sebagaimana telah kami jelaskan pada tempatnya.
وممّا يتعلق بهذا الأصل أنه لو قال لإحدى امرأتيه إن حضت فَضَرّتك طالق فإذا زعمت أنها حاضت لم نحكم بوقوع الطلاق على ضَرَّتها وإنما تُصدّق في حق نفسها إذا علق طلاقها بحيضها وهذا يكاد يخرِم ما مهدّناه من قولنا لا يُطَّلع على الحيض إلا من جهة المرأة ويعترض أيضاًً على ما ذكرناه عَضُداً للكلام إذا قلنا التعليق يتضمن إمكان وقوع الطلاق على الجملة
Termasuk hal yang berkaitan dengan kaidah ini adalah jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Jika kamu haid, maka madumu tertalak.” Jika ia mengaku bahwa dirinya telah haid, maka kita tidak menetapkan jatuhnya talak atas madunya. Ia hanya dipercaya dalam urusan dirinya sendiri jika talaknya digantungkan pada haidnya. Hal ini hampir saja merusak apa yang telah kami tegaskan, yaitu bahwa haid tidak dapat diketahui kecuali dari pihak perempuan itu sendiri. Ini juga menjadi sanggahan terhadap apa yang telah kami sebutkan sebagai penguat pembahasan, jika kita mengatakan bahwa ta‘liq (penggantungan talak) mengandung kemungkinan jatuhnya talak secara umum.
وسبيل الجواب عما نبهنا عليه أن المرأة إذا علق طلاقها بحيضها فليست مصدَّقةً من غير يمين وكلُّ مؤتمن فمعنى ائتمانه الاكتفاءُ بيمينه ثم تحليفها ممكن في حق نفسها وإذا علق طلاق الضَّرّة بحيضها فإن لزم تصديقُها من غير يمين كان بعيداً فإنه إثبات الطلاق من غير حُجّة وإن حلفت كان تحليفها لغيرها ولا تعلّق للخصام بها محالاً
Cara menjawab atas apa yang telah kami singgung adalah bahwa apabila seorang wanita digantungkan talaknya pada haidnya, maka ia tidak dapat dipercaya tanpa sumpah. Setiap orang yang diberi amanah, makna dari pemberian amanah itu adalah cukup dengan sumpahnya. Kemudian, meminta sumpah darinya mungkin dilakukan dalam perkara yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Namun, jika talak istri madunya digantungkan pada haidnya, maka jika harus mempercayainya tanpa sumpah, itu adalah hal yang jauh (dari kebenaran), karena itu berarti menetapkan talak tanpa bukti. Jika ia bersumpah, maka sumpah itu untuk orang lain, dan tidak ada kaitan perkara dengan dirinya, sehingga hal itu mustahil.
وقد يرد على هذا ما يتم البيان بالجواب عنه وهو أن الرجل إذا قال لامرأته إن حضت فأنت وضرتك طالقان فزعمت أنها حاضت فهي مُصدّقة مع يمينها والطلاق واقع عليها ولا يلحق ضَرَّتَها وإن ثبت حيضها بيمينها المرتبطةِ بخاصّتها والجواب أن اليمين وإن اشتملت على حق الحالف وحق غيره فإذا ثبت حقُّ الحالف لم يثبت حقُّ غيره إذ الأيْمان بعيدةٌ عن قبول النيابة وعن إثبات الحقوق لغير الحالفين
Mungkin ada keberatan terhadap hal ini, namun penjelasannya adalah sebagai berikut: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu haid, maka kamu dan madumu tertalak,” lalu istrinya mengaku bahwa ia telah haid, maka ia dipercaya dengan sumpahnya dan talak jatuh padanya, namun tidak berlaku pada madunya. Meskipun haidnya terbukti dengan sumpah yang berkaitan khusus dengan dirinya, jawabannya adalah bahwa sumpah, meskipun mencakup hak orang yang bersumpah dan hak orang lain, jika hak orang yang bersumpah telah terbukti, maka hak orang lain tidak ikut terbukti. Sebab, sumpah sangat jauh dari kemungkinan mewakilkan dan dari penetapan hak bagi selain orang yang bersumpah.
ولو مات رجل وخلّف ابنين ودَيْناً فادعى أحد الابنين الدين وأقام شاهدين يثبت بالبينة حقُّه وحقُّ أخيه ولو أقام شاهداً واحداً وحلف معه لم يثبت من الدّين إلا حصتُه وإن تعرّض في اليمين لواقعةٍ يشتمل ذكرها على تمام الدين
Jika seorang laki-laki meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak laki-laki serta utang, lalu salah satu dari kedua anak tersebut mengklaim adanya utang itu dan menghadirkan dua orang saksi, maka dengan adanya bukti tersebut haknya dan hak saudaranya menjadi tetap. Namun jika ia hanya menghadirkan satu orang saksi dan bersumpah bersamanya, maka yang tetap dari utang itu hanyalah bagiannya saja, meskipun dalam sumpahnya ia menyebutkan kejadian yang mencakup seluruh utang tersebut.
فهذا قاعدة الفصل
Ini adalah kaidah pemisahan.
وإذا قال إن حضت حيضةً فأنت طالق اقتضى ذلك حيضةً تبتدئها وتختمها بخلاف ما لو قال إن حضت فأنت طالق فإنا نحكم بوقوع الطلاق مع أول جزءٍ من الحيض إذا تبيّناه باستمرار الدم يوماً وليلةً
Jika ia berkata, “Jika engkau mengalami satu kali haid, maka engkau tertalak,” maka hal itu mensyaratkan satu kali haid yang dimulai dan diakhiri olehnya. Berbeda halnya jika ia berkata, “Jika engkau haid, maka engkau tertalak,” maka kami menetapkan jatuhnya talak pada bagian pertama dari haid ketika telah dipastikan dengan terus-menerusnya darah selama sehari semalam.
وإذا قال إن حضت حيضةً اقتضى ذلك حيضة كاملةً ثم الطلاق يقع مع انقضاء الحيضة فإنه متعلَّق الطلاق
Jika seseorang berkata, “Jika kamu haid satu kali,” maka hal itu mengharuskan satu kali haid yang sempurna, kemudian talak terjadi setelah selesainya haid tersebut, karena talak itu bergantung pada selesainya haid.
وإذا قال لامرأتيه إن حضتما فأنتما طالقان فلو حاضت إحداهما لم تطلق الحائض ولا صاحبتها فإنه علّق الطلاقين على الحيضين فلا وقوع ما لم تحيضا
Jika seseorang berkata kepada kedua istrinya, “Jika kalian berdua haid, maka kalian berdua tertalak,” lalu salah satu dari keduanya haid, maka yang haid maupun yang tidak haid tidak tertalak, karena ia menggantungkan dua talak pada dua haid, sehingga talak tidak terjadi kecuali keduanya telah haid.
ولو قال إن حضتما حيضةً فأنتما طالقان فللأصحاب وجهان أحدهما لا يقع على واحدة وإن حاضتا لأن مُطْلَقَ هذا اللفظ يقتضي أن تحيضا حيضةً واحدةً وهذا مستحيل فإنهما إذا حاضتا فالصادر منهما حيضتان فكأن الطلاق معلّق بمستحيل
Jika seseorang berkata, “Jika kalian berdua mengalami satu kali haid, maka kalian berdua tertalak,” maka menurut para ulama terdapat dua pendapat. Salah satunya, talak tidak jatuh pada salah satu dari keduanya, meskipun keduanya mengalami haid. Sebab, lafaz ini secara mutlak mengharuskan keduanya mengalami satu kali haid, dan hal itu mustahil, karena jika keduanya mengalami haid, maka yang terjadi adalah dua kali haid dari keduanya. Maka seakan-akan talak tersebut digantungkan pada sesuatu yang mustahil.
والوجه الثاني أنه يقع لأن حمل قوله حيضة واحدة على حيضةٍ واحدةٍ من كل واحدة ممكن وإذا أمكن تنزيل اللفظ على ممكن له تصوّر وجب حمل اللفظ عليه فإن مبنى النطق على ألا يُلغى ما أمكن استعماله وهذا قطب في الكتاب فليتنبه المرء له وهو إذا تردّد اللفظ على وجه يحتمل استحالةً ويحتمل إمكاناً فمن الأصحاب من لا يُبعد الحملَ على الاستحالة حتى لا يقع الطلاق ومنهم من يوجب الحمل على الإمكان حتى لا يلغو اللفظ فإن التعرض للاستحالات يكاد أن يكون كالهزل وهَزْلُ الطلاق جدّ وعن هذا قال قائلون الطلاق المعلَّق بالاستحالة على التصريح يتنجز ولا يتعلق
Alasan kedua adalah bahwa talak tersebut terjadi, karena memaknai ucapan “satu haid” sebagai satu haid dari masing-masing istri adalah mungkin. Jika memungkinkan untuk menafsirkan lafaz pada makna yang dapat dibayangkan, maka wajib menafsirkannya demikian, sebab dasar dari suatu ucapan adalah agar tidak diabaikan selama masih mungkin untuk digunakan. Ini adalah prinsip penting dalam kitab ini, maka hendaknya seseorang memperhatikannya. Yaitu, jika suatu lafaz mengandung kemungkinan makna yang mustahil dan makna yang mungkin, sebagian ulama tidak menganggap jauh kemungkinan memaknainya pada makna yang mustahil sehingga talak tidak terjadi, sementara sebagian lain mewajibkan memaknainya pada makna yang mungkin agar lafaz tersebut tidak menjadi sia-sia. Sebab, membahas hal-hal yang mustahil hampir sama dengan bercanda, padahal bercanda dalam talak dianggap sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa talak yang digantungkan pada sesuatu yang mustahil secara eksplisit akan langsung terjadi dan tidak bergantung.
ومن الأصل الذي نبهنا عليه قول القائل لامرأته وأجنبية إحداكما طالق فإذا زعم أنه أراد الأجنبية فهو من فنّ الحمل على المحال وفيه التردد الذي ذكرناه في فروع باب الشك
Dan dari kaidah yang telah kami singgung adalah ucapan seseorang kepada istrinya dan seorang perempuan asing, “Salah satu dari kalian berdua tertalak.” Jika ia mengaku bahwa yang ia maksud adalah perempuan asing, maka ini termasuk dalam kategori memaknai pada hal yang mustahil, dan di dalamnya terdapat keraguan yang telah kami sebutkan dalam cabang-cabang bab keraguan.
وإذا قال لامرأتيه إن حضتما فأنتما طالقان فقالتا حضنا نظر فإن صدّقهما طُلِّقتا وإن صدق إحداهما وكذَّب الأخرى طُلقت المكذَّبة لأن صاحبتها مصدّقة وقولها في حق نفسها مقبول
Jika seseorang berkata kepada dua istrinya, “Jika kalian haid, maka kalian berdua tertalak,” lalu keduanya berkata, “Kami telah haid,” maka hal itu perlu diteliti. Jika ia membenarkan keduanya, maka keduanya tertalak. Jika ia membenarkan salah satu dari keduanya dan mendustakan yang lain, maka yang didustakanlah yang tertalak, karena temannya telah dibenarkan dan perkataannya tentang dirinya sendiri diterima.
هذا ما ذهب إليه جماهير الأصحاب ووجهه ما نبهنا عليه من أن المكذَّبة مصدّقة في حق نفسها والمصدّقة يثبت حيضها بتصديقها وأما المصدَّقة فإنها لا تطلق فإن حيضها وإن ثبت في حقها فحيض المكدَّبة لا يثبت في حقها فلم تطلق المصدَّقة من جهة أن حيض المكذَّبة غيرُ ثابت في حقها
Inilah pendapat mayoritas para ulama mazhab, dan alasannya sebagaimana telah kami isyaratkan, yaitu bahwa perempuan yang didustakan adalah orang yang membenarkan untuk dirinya sendiri, dan perempuan yang membenarkan, haidnya ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Adapun perempuan yang dibenarkan, maka ia tidak jatuh talak, karena meskipun haidnya telah ditetapkan untuk dirinya, haid perempuan yang didustakan tidak ditetapkan untuk dirinya, sehingga perempuan yang membenarkan tidak jatuh talak karena haid perempuan yang didustakan tidak berlaku baginya.
وإذا كذبهما لما قالتا حضنا لم تطلق واحدة منهما هذه لا تطلق لأن حيض صاحبتها مردود في حقها والأخرى لا تطلق بمثل هذه العلة
Dan jika ia mendustakan keduanya ketika mereka berkata, “Kami sedang haid,” maka tidak ada satu pun dari keduanya yang jatuh talak. Yang satu tidak jatuh talak karena haid temannya tidak dianggap dalam haknya, dan yang lain juga tidak jatuh talak dengan alasan seperti ini.
وإذا قال لأربع نسوة إن حضتن فأنتن طوالق وقلن حضنا فإن صدّقهن طلقن وإن كذبهن لم تطلق واحدةٌ منهن لا لأنها مكذبة في حق نفسها ولكن لأن طلاق واحدة لا يقع ما لم يثبت حيض الجميع وحيض صواحبات كل واحدة لا يثبت في حقها وظهور ذلك يغني عن الإطناب فيه
Jika seseorang berkata kepada empat wanita, “Jika kalian haid, maka kalian semua tertalak,” lalu mereka berkata bahwa mereka telah haid, maka jika ia membenarkan mereka, mereka tertalak. Namun jika ia mendustakan mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang tertalak, bukan karena ia mendustakan dirinya sendiri, tetapi karena talak salah satu dari mereka tidak jatuh kecuali jika haid semuanya telah terbukti, dan haid teman-teman masing-masing tidak dapat dibuktikan untuk dirinya sendiri. Penjelasan ini sudah cukup tanpa perlu diperpanjang lagi.
وإن صدّق واحدةً منهن وكذب ثلاثاًً فلا تطلق واحدة وتعليله ما مضى وكذلك إن صدّق ثنتين وكذّب ثنتين وإن صدّق ثلاثاًً وكذّب واحدةً طلقت المكدَّبة لأنها مصدَّقة في حق نفسها وقد ثبت حيض صاحباتها بتصديق الزوج ولا يطلق المصدقات ولا واحدة منهن لأن حيض المكذَّبة لا يثبت في حقوقهنّ
Jika ia membenarkan salah satu dari mereka dan mendustakan tiga lainnya, maka tidak jatuh talak satu pun, dan alasannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Demikian pula jika ia membenarkan dua orang dan mendustakan dua orang. Namun, jika ia membenarkan tiga orang dan mendustakan satu orang, maka yang didustakanlah yang tertalak, karena ia dibenarkan dalam hak dirinya sendiri, dan haid teman-temannya telah terbukti dengan pembenaran suami. Adapun yang dibenarkan, tidak tertalak, dan tidak satu pun dari mereka, karena haid yang didustakan tidak terbukti dalam hak mereka.
وإذا تمهدت الأصول وجب الاكتفاء في التفريع بالمرامز
Jika prinsip-prinsip dasar telah ditetapkan, maka dalam pengembangan cabang-cabang hukum cukup menggunakan isyarat-isyarat.
فإذا قال إن حاضت واحدة منكن فصواحباتها طوالق فإذا حاضت واحدة لم تطلق الحائض وطلقت صواحباتها طلقة طلقة وقد ذكرنا أنه لو كذب هذه لم تطلق صواحباتها
Jika ia berkata, “Jika salah satu dari kalian haid, maka teman-temannya tertalak,” maka apabila salah satu dari mereka haid, perempuan yang haid itu tidak tertalak, sedangkan teman-temannya masing-masing tertalak satu kali talak. Dan telah kami sebutkan bahwa jika perempuan yang haid itu berdusta (mengaku haid padahal tidak), maka teman-temannya tidak tertalak.
فإن قيل كيف يصدقها ولا حجة فإنها لا تحلف في حق الغير لو كُذّبت ولا يعلم الزوج صدقَها قطعاً والطلاق لا يقع من غير تثبّتٍ وإن قيل إقرار الزوج يُلزمه موجَبَ قوله فكل إقرار له مستند فما مستند إقرار الزوج وهو لم يتعرض لإقرار مرسلٍ بوقوع الطلاق وإنما قال صُدِّقت في ادّعاء الحيض
Jika dikatakan, bagaimana mungkin ia dibenarkan tanpa adanya bukti, padahal ia tidak boleh bersumpah untuk hak orang lain jika ia didustakan, dan suami pun tidak mengetahui kebenarannya secara pasti, sedangkan talak tidak terjadi tanpa adanya ketelitian? Dan jika dikatakan bahwa pengakuan suami mewajibkan konsekuensi dari ucapannya, maka setiap pengakuan pasti memiliki dasar. Lalu, apa dasar dari pengakuan suami, sementara ia tidak menyatakan pengakuan secara mutlak atas terjadinya talak, melainkan hanya mengatakan bahwa ia membenarkan istrinya dalam pengakuan haid?
وهذا السؤال له وَقْعٌ إذ لو قال الزوج سمعتها وأنا أجوّز أن تكون صادقةً وكاذبةً ويغلب على ظنّي صدقُها فلو لم يذكر إلا هذا لم نحكم بوقوع الطلاق وإذا قال صدقتِ فلا مستند لتصديقها إلا هذا وقد قال الشافعي إذا اعترف السيّد بوطء أمتهِ ولم يدع استبراءً لحقه النسبُ فإنه لو استلحقه لم يُسنده إلى ما ذكرنا فلا جرم جعل الشافعي الإقرار بالوطء استلحاقاً إذ الاستلحاق معناه الإقرار بالوطء فهذا نهاية السؤال
Pertanyaan ini memiliki bobot tersendiri, sebab jika seorang suami berkata, “Aku mendengarnya dan aku memperkirakan bisa jadi ia jujur atau dusta, namun aku lebih condong meyakini kejujurannya,” maka jika ia hanya menyebutkan hal ini saja, kita tidak menetapkan terjadinya talak. Dan jika ia berkata, “Engkau benar,” maka tidak ada dasar untuk membenarkannya kecuali hal tersebut. Imam Syafi’i berkata, jika seorang tuan mengakui telah menggauli budaknya dan tidak mengaku telah melakukan istibra’ (masa penantian untuk memastikan tidak ada kehamilan), maka nasab anak itu dinisbatkan kepadanya. Sebab, jika ia mengakui anak itu sebagai anaknya, ia tidak menyandarkannya kecuali pada apa yang telah kami sebutkan. Maka tidak diragukan lagi, Imam Syafi’i menjadikan pengakuan atas hubungan badan sebagai bentuk istilhaq (pengakuan nasab), karena makna istilhaq adalah pengakuan atas hubungan badan. Inilah inti dari pertanyaan ini.
وقد سمعت بعض أكابر العراق يحكي عن القاضي أبي الطيب أنه حكى عن الشيخ أبي حامدٍ تردداً في الحكم بوقوع الطلاق إذا لم يكن للتحليف وجهٌ فأما إذا حلفها والمعلّق طلاقها فاليمين حجّة وحجج الشريعة مناط الأحكام وينتظم منه أنه إن اكتفى بتصديقها ولم يُحلِّفها فالحكم بوقوع الطلاق مشكلٌ كما ذكرناه
Saya pernah mendengar sebagian tokoh besar Irak menceritakan dari Qadhi Abu Thayyib, bahwa beliau meriwayatkan dari Syaikh Abu Hamid adanya keraguan dalam menetapkan jatuhnya talak jika tidak ada alasan untuk bersumpah. Adapun jika ia menyuruh istrinya bersumpah dan talaknya digantungkan pada sumpah tersebut, maka sumpah menjadi hujjah, dan hujjah-hujjah syariat adalah dasar penetapan hukum. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika cukup dengan membenarkan ucapan istri tanpa menyuruhnya bersumpah, maka penetapan jatuhnya talak menjadi problematis, sebagaimana telah kami sebutkan.
وهذا نقلتُه وأسندتُه ولست أعتمد ذلك فإن المعتمد ما أطبق الأصحاب عليه وقد تتبّعت طرقاً منقولةً عن الشيخ أبي حامدٍ فوجدتها عريّةً عن ذلك
Ini telah aku nukil dan aku sandarkan, namun aku tidak berpegang pada hal itu, karena yang dijadikan pegangan adalah apa yang telah disepakati oleh para ashhab. Aku telah menelusuri beberapa riwayat yang dinukil dari Syaikh Abu Hamid, namun aku dapati riwayat-riwayat tersebut tidak mengandung hal itu.
وسبيل دفع السؤال أن جواز الحلف قد يستند إلى مخايلَ وأحوالٍ دالةٍ على الصّدق حتى جوّرنا للمرأة أن تحلف على نية الزوجِ الطلاقَ ولا مستند ليمينها إلا مخايلُ تتبيّنها من قصده ولا قطعَ إذ لو كانت تيك المخايلُ تورث قطعاً لما صُدِّق الزوج في أنه لم ينو الطلاق فإذا كان مثل هذا مستند الحلف والحلفُ حجة فإذا استند الإقرار إليه كيف لا نحكم به وإنما ذكرت السؤالَ والجوابَ ونَقْلَ التردد حتى نُرسِّخ التنبه لما ذكرته في قلب الناظر
Cara untuk menolak pertanyaan tersebut adalah bahwa kebolehan bersumpah terkadang didasarkan pada tanda-tanda dan keadaan yang menunjukkan kebenaran, sehingga kami membolehkan seorang wanita bersumpah atas niat suaminya untuk menjatuhkan talak, padahal dasar sumpahnya hanyalah tanda-tanda yang ia pahami dari maksud suaminya, dan tidak ada kepastian; sebab jika tanda-tanda itu menghasilkan kepastian, tentu suami tidak akan dipercaya ketika ia mengatakan bahwa ia tidak berniat menjatuhkan talak. Maka, jika hal seperti ini bisa menjadi dasar sumpah, dan sumpah itu adalah hujjah, maka jika pengakuan didasarkan padanya, bagaimana mungkin kita tidak memutuskan dengannya? Aku menyebutkan pertanyaan, jawaban, dan penukilan keraguan ini agar dapat meneguhkan perhatian terhadap apa yang telah aku sebutkan di dalam hati para pembaca.
ولو قال أيتكن حاضت فصواحباتها طوالق فقلن حضنا إن كذَّبهنّ لم تُطلَّق واحدةٌ منهنّ وإن صدّقهنّ طُلّقن ثلاثاًً ثلاثاًً لأن لكل واحدة منهن ثلاثَ صاحبات فتأتيها ثلاثُ طلقات من جهاتهنّ
Jika seseorang berkata, “Siapa di antara kalian yang sedang haid, maka teman-temannya tertalak,” lalu mereka berkata, “Kami sedang haid,” jika ia mendustakan mereka, maka tidak ada satu pun dari mereka yang tertalak. Namun jika ia membenarkan mereka, maka masing-masing dari mereka tertalak tiga kali, karena setiap dari mereka memiliki tiga teman, sehingga masing-masing mendapatkan tiga talak dari pihak teman-temannya.
وإن صدّق واحدةً طلقت صواحباتها طلقة طلقةً بلا مزيد ولم تطلق المصدَّقة
Dan jika ia membenarkan salah satu dari mereka, maka teman-temannya yang lain ditalak satu-satu tanpa tambahan, dan yang dibenarkan tidak ditalak.
وإن صدق ثنتين طلقت كل واحدة من المصدّقتين طلقةً لأن لها صاحبةً مصدَّقةً فتأتيها من جهة صاحبتها طلقة وطلقت المكدَّبتان طلقتين طلقتين لأن لكل واحدة منهما صاحبتين مصدّقتين وإن صدّق ثلاثاًً وكذّب واحدة طُلقت المكذَّبة ثلاثاًً إذ لها ثلاث صاحبات مصدَّقات فتأتيها من جهاتهن ثلاث طلقات وتطلق كل واحدة من المصدَّقات طلقتين لأن لكل واحدة صاحبتين مصدّقتين
Jika ia membenarkan dua orang, maka masing-masing dari dua yang dibenarkan itu ditalak satu kali, karena masing-masing dari mereka memiliki seorang teman yang juga dibenarkan, sehingga dari temannya itu datang satu talak kepadanya. Sedangkan dua yang didustakan, masing-masing ditalak dua kali, karena masing-masing dari mereka memiliki dua teman yang dibenarkan. Jika ia membenarkan tiga orang dan mendustakan satu, maka yang didustakan ditalak tiga kali, karena ia memiliki tiga teman yang dibenarkan, sehingga dari mereka datang tiga talak kepadanya. Dan masing-masing dari tiga yang dibenarkan ditalak dua kali, karena masing-masing dari mereka memiliki dua teman yang dibenarkan.
فهذا بيان أصول هذه الفروع والإرشاد إلى كيفية تفريعها
Inilah penjelasan tentang pokok-pokok cabang ini dan petunjuk mengenai cara merincinya.
فروع في تعليق الطّلاق بالولادة
Cabang-cabang pembahasan tentang penangguhan talak dengan kelahiran
قد قدمنا الأصلَ المقصود في ذلك فيما سبق فإن عاد فيما نجدّده بعضُ ما سبق احتُمل فلو قال لأربع نسوةٍ إن ولدتنّ فأنتن طوالق فلا تطلق واحدة ما لم تلدن
Kami telah mengemukakan pokok yang dimaksud dalam hal ini pada pembahasan sebelumnya. Jika dalam pembahasan yang akan kami perbarui terdapat sebagian dari apa yang telah disebutkan sebelumnya, maka hal itu dapat diterima. Maka, jika seseorang berkata kepada empat orang istri, “Jika kalian melahirkan, maka kalian tertalak,” maka tidak ada satu pun dari mereka yang tertalak sampai mereka benar-benar melahirkan.
ولو قال كلما ولدت واحدة منكن فأنتن طوالق فولدت واحدة طلقت الوالدة طلقةً وطلقت صواحباتها طلقة طلقة فإن الولادة متحدة بعدُ فإذا ولدت الثانية وقد كانت في العدّة عن الطلقة التي لحقتها انقضت عدتها في الجديد ولم تلحقها طلقة أخرى والأُولى لما ولدت وطلِّقت استقبلت العدة بالأقراء وإذا كانت في بقية من عدتها فتلحقها بولادة الثانية طلقة ثانية والثالثة والرّابعة تلحقها طلقتان
Jika seseorang berkata, “Setiap kali salah satu dari kalian melahirkan, maka kalian semua tertalak,” lalu salah satu dari mereka melahirkan, maka yang melahirkan tertalak satu kali dan teman-temannya masing-masing tertalak satu kali. Karena kelahiran itu masih dianggap satu peristiwa. Jika yang kedua melahirkan, dan ia masih dalam masa ‘iddah dari talak yang telah menimpanya, maka menurut pendapat baru, masa ‘iddahnya selesai dan tidak terkena talak lagi. Adapun yang pertama, ketika ia melahirkan dan ditalak, ia memulai masa ‘iddah dengan hitungan quru’. Jika ia masih dalam sisa masa ‘iddahnya, maka dengan kelahiran yang kedua, ia terkena talak kedua. Demikian pula yang ketiga dan keempat, masing-masing terkena dua kali talak.
هذا الذي ذكرناه في الثانية تفريعٌ على الجديد وإن فرعنا على القديم قلنا يلحقها أيضاًً طلقة ثانية وتستقبل العدة بالأقراء وهذا قولٌ لا ينقدح لي توجيهه وقد نقلت ما قيل فيه
Apa yang telah kami sebutkan pada pendapat kedua merupakan cabang dari pendapat baru. Jika kami mengaitkannya dengan pendapat lama, kami katakan bahwa jatuh juga talak kedua kepadanya dan ia memulai masa iddah dengan hitungan quru’. Ini adalah pendapat yang aku sendiri tidak menemukan alasan yang jelas untuk mengarahkannya, dan aku telah menyampaikan apa yang telah dikatakan mengenai hal itu.
فإذا ولدت الثالثة انقضت عدّتها في الجديد عن طلقتين وطلّقت الأولى الطلقة الثالثة إن كانت في بقية العدة وتطلق الرابعة ثلاثاً وفي القديم تطلق الثالثة الطلقة الثالثة وتستقبل الأقراء وتلحق الطلقةُ الثالثةُ الثانيةَ
Jika ia melahirkan anak ketiga, maka selesai masa iddahnya menurut pendapat baru setelah dua kali talak, dan istri pertama dijatuhkan talak ketiga jika masih dalam sisa masa iddah, sedangkan istri keempat dijatuhkan tiga kali talak. Dalam pendapat lama, istri ketiga dijatuhkan talak ketiga dan memulai masa haid baru, dan talak ketiga mengikuti talak kedua.
ومهما فرضت ولادة في مطلَّقة جاريةٍ في العدة والطلاقُ يتعلق بالولادة فالقول الجديد مقتضاه انقضاء العدة والانسراح وعدم لحوق الطلاق والقول القديم مقتضاه وقوع الطلاق واستقبال العدة بالأقراء
Dan apabila terjadi kelahiran pada seorang budak perempuan yang ditalak saat masih dalam masa ‘iddah, sementara talak tersebut dikaitkan dengan kelahiran, maka menurut pendapat baru, konsekuensinya adalah berakhirnya masa ‘iddah, kelapangan, dan talak tidak terjadi. Sedangkan menurut pendapat lama, konsekuensinya adalah jatuhnya talak dan dimulainya masa ‘iddah dengan hitungan quru’.
وهذا في الولادة المبرئة للرحم وقد مهدنا هذا فيما تقدم
Hal ini berlaku pada kelahiran yang membersihkan rahim, dan kami telah menjelaskan hal ini pada bagian sebelumnya.
وإذا قال كلما ولدتْ واحدةٌ منهن فصواحباتها طوالق فولدت واحدة طُلقت صواحباتها طلقة طلقة فإذا ولدت الثانيةُ والتفريع على الجديد ولا عَوْد إلى القديم انقضت عدّتها عن طلقةٍ ووقعت على الأولى طلقة وكملت للثالثة والرابعة طلقتان فإذا ولدت الثالثة انقضت عدّتها من طلقتين وكملت للأولى طلقتان والرابعة ثلاث فإذا ولدت الرابعة انقضت عدتها عن ثلاث وكملت للأولى ثلاث إن كانت في بقية العدة
Jika seseorang berkata, “Setiap kali salah satu dari mereka melahirkan, maka teman-temannya tertalak,” lalu salah satu dari mereka melahirkan, maka teman-temannya tertalak satu kali satu kali. Jika yang kedua melahirkan—dan ini berdasarkan pendapat baru (al-jadid) tanpa kembali ke pendapat lama (al-qadim)—maka masa iddahnya selesai dari satu talak, dan jatuh talak satu pada yang pertama, serta sempurna dua talak bagi yang ketiga dan keempat. Jika yang ketiga melahirkan, maka masa iddahnya selesai dari dua talak, dan sempurna dua talak bagi yang pertama, serta tiga talak bagi yang keempat. Jika yang keempat melahirkan, maka masa iddahnya selesai dari tiga talak, dan sempurna tiga talak bagi yang pertama jika ia masih dalam sisa masa iddah.
وإن ولدت ثنتان منهن دفعةً ثم ثنتان دفعة وقعت على كل واحدة من الأوليين طلقة من جهة صاحبتها وعلى كل واحدة من الأُخريين طلقتان بولادة الأوليين إذ تأتي كلَّ واحدة منهما طلقتان من الولادتين فلما ولدت الأخريان وقع على كل واحدة من الأوليين على تقدير بقاء العدة طلقتان أخريان فتكمل الثلاث في حق كل واحدة من الأوليين ولم يقع على الأخريين بولادتهما شيء في الجديد لأنهما ولدتا معاً فصادف آخر انقضاء العدة في كل واحدة من الأخريين ولادة الأخرى وإذا وجدت صفة الطلاق في حال انقضاء العدة فلا فرق بين أن تكون تلك الصفة ولادة غيرها وبين أن يكون ولادتها
Jika dua dari mereka melahirkan secara bersamaan, lalu dua lainnya juga melahirkan secara bersamaan, maka jatuh satu talak pada masing-masing dari dua yang pertama dari pihak temannya, dan pada masing-masing dari dua yang terakhir jatuh dua talak karena kelahiran dua yang pertama, karena masing-masing dari mereka mendapatkan dua talak dari dua kelahiran tersebut. Ketika dua yang terakhir melahirkan, maka pada masing-masing dari dua yang pertama, jika masa iddahnya masih berlangsung, jatuh lagi dua talak sehingga genap tiga talak bagi masing-masing dari dua yang pertama. Sedangkan pada dua yang terakhir, tidak jatuh talak apa pun karena kelahiran mereka berdua menurut pendapat baru, karena mereka melahirkan secara bersamaan sehingga akhir masa iddah masing-masing dari dua yang terakhir bertepatan dengan kelahiran yang lain. Jika sifat talak terjadi pada saat berakhirnya iddah, maka tidak ada perbedaan apakah sifat tersebut karena kelahiran orang lain atau kelahiran dirinya sendiri.
فهذا بيان هذه الفروع ومنشؤها وما لم نذكر منها فالمذكور مرشد إليه
Inilah penjelasan tentang cabang-cabang ini dan asal-usulnya, sedangkan apa yang tidak kami sebutkan darinya, maka yang telah disebutkan menjadi petunjuk kepadanya.
فروع في المسائل الدائرة
Cabang-cabang dalam masalah-masalah yang diperdebatkan.
إذا قال الرجل لامرأته إذا طلقتك فأنت طالق قبله ثلاثاًً فطلقها لم يقع عند ابن الحداد ومعظمِ الأصحاب وهذا مما يجرُّ ثبوتُ الطلاق فيه سقوطَه وإذا كان كذلك استدارت المسألة وسقطت من أصلها لأنّا لو أوقعنا الطلقة الّتي نجزها للزمنا أن نوقع ثلاثاًً قبلها ولو وقعت الثلاث قبلها لامتنع وقوع هذه المنجّزة وإذا امتنع وقوعها امتنع وقوع الثلاث قبلها فهذا معنى دورانها
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak tiga kali sebelum itu,” lalu ia menceraikannya, maka talak tidak jatuh menurut Ibnu al-Haddad dan mayoritas para sahabat (ulama mazhab). Ini termasuk kasus di mana jika talak itu sah, justru menyebabkan talak tersebut batal. Jika demikian, maka permasalahan ini berputar dan gugur dari asalnya, karena jika kita menetapkan talak yang dijatuhkan secara langsung, maka kita harus menetapkan tiga talak sebelumnya. Jika tiga talak itu terjadi sebelumnya, maka talak yang dijatuhkan secara langsung tidak mungkin terjadi. Jika talak yang dijatuhkan secara langsung tidak mungkin terjadi, maka tiga talak sebelumnya pun tidak mungkin terjadi. Inilah makna dari perputaran permasalahan ini.
وذهب الشيخ أبو زيد إلى أن الطلقة المنجّزة تقع وهذا مذهب أبي حنيفة واحتج محمدٌ لأبي حنيفة بأن الجزاء إذا رُتّب على الشرط ترتب عليه ولا يترتب الشرط على الجزاء في وضع الكلام فيجب على هذا المقتضى تحقيقُ الشرط والنظر في الجزاء فإن أمكن إمضاؤه أُمضي وإن كان من عُسرٍ انحصر على الجزاء فأما أن ينعطف الجزاء على الشرط فبعيد عن وضع الكلام وتمسك أبو زيد باستبعاده في انسداد باب الطلاق
Syekh Abu Zaid berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan secara langsung itu terjadi, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah. Muhammad memberikan argumen untuk Abu Hanifah bahwa jika suatu balasan dikaitkan dengan suatu syarat, maka balasan itu akan terjadi jika syaratnya terpenuhi, dan tidak sebaliknya—yakni syarat tidak bergantung pada balasan—menurut kaidah dalam penggunaan bahasa. Maka, berdasarkan ketentuan ini, syarat harus dipenuhi dan balasan harus diperhatikan; jika memungkinkan untuk dilaksanakan, maka dilaksanakan, dan jika sulit, maka terbatas pada balasan saja. Adapun jika balasan dikaitkan kembali pada syarat, itu jauh dari kaidah penggunaan bahasa. Abu Zaid berpegang pada penolakannya karena hal itu akan menutup pintu talak.
وهذا ليس بذاك
Ini tidaklah sama dengan itu.
ووضع ابنُ الحداد هذه المسألة وذكر فيها زيادةً مستغنىً عنها فقال إذا قال إن طلقتك طلقةً أملك رجعتك بعدها فأنت طالق قبلها ثلاثاًً ولا حاجة إلى التقييد بالرّجعة فإن المسألة تدور دون ذكرها لو قال إذا طلقتك فأنت طالق قبله ثلاثاًً
Ibnu al-Haddad mengemukakan masalah ini dan menyebutkan tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan, yaitu: jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu dengan satu talak yang aku masih memiliki hak rujuk setelahnya, maka engkau tertalak sebelumnya dengan tiga talak.” Tidak ada kebutuhan untuk membatasi dengan kata “rujuk”, karena masalah ini tetap berlaku tanpa menyebutkannya, misalnya jika ia berkata, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak sebelumnya dengan tiga talak.”
وإن قال إن طلقتك طلقة أملك رجعتك فأنت طالق قبلها طلقتين أفادت الزيادة ودارت المسألة فلا تقع المنجزة ولا المعلقة فإنه لو وقعت المنجزة لوقعت قبلها طلقتان وتكون المنجزة ثالثة والثالثة لا تستعقب الرجعة
Jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu dengan satu talak yang aku masih memiliki hak ruju‘, maka engkau telah tertalak dua kali sebelumnya,” maka ucapan ini menunjukkan adanya tambahan talak dan menyebabkan masalah ini menjadi berputar-putar, sehingga talak yang langsung maupun yang tergantung tidak terjadi. Sebab, jika talak yang langsung terjadi, maka sebelumnya sudah terjadi dua talak, sehingga talak yang langsung itu menjadi talak ketiga, dan talak ketiga tidak memungkinkan adanya ruju‘.
ولو أطلق فقال إذا طلقتك فأنت طالق قبلها طلقتين فإذا طلّقها طُلّقت ثلاثاً ولا دَوْر
Jika ia mengucapkan secara mutlak, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak sebelum itu dengan dua talak,” lalu ia menceraikannya, maka wanita itu tertalak tiga kali dan tidak ada perputaran (dawr).
وإن قال لغير المدخول بها إذا طلقتك فأنت طالق قبلها طلقةً دارت المسألة فإنه لو وقعت المنجّزة لوقعت قبلها طلقة ولبانت المرأة ثم لا تلحقها المنجّزة بعد البينونة وتدور
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak sebelum itu satu talak,” maka masalah ini menjadi berputar (tidak terjadi). Sebab, jika talak yang langsung (mu‘ajjal) dijatuhkan, maka sebelumnya telah terjadi satu talak dan wanita tersebut telah menjadi bain (terpisah), sehingga talak yang langsung tidak lagi berlaku setelah terjadinya bain, dan masalah ini terus berputar.
وإذا فرّعنا على القول بالدَّور وأراد الزوج أن يتّخذه ذريعةً فليقل إذا طلقتك فأنت طالق قبله ثلاثاً ثم إذا أراد طلاقاً فليوكل فإن تطليق الوكيل لا يندرج تحت تطليق الزوج
Jika kita membangun pendapat berdasarkan adanya daur (lingkaran) dan suami ingin menjadikannya sebagai dalih, maka hendaklah ia berkata: “Jika aku menceraikanmu, maka engkau telah tertalak sebelumnya tiga kali.” Kemudian jika ia ingin menceraikan, hendaklah ia mewakilkan (kepada orang lain), karena talak yang dijatuhkan oleh wakil tidak termasuk ke dalam talak yang dijatuhkan oleh suami.
ولو قال مهما وقع عليك طلاقي فأنت طالق قبله ثلاثاً فينحسم عليه باب التطليق والتوكيلِ على القول بالدور
Jika seseorang berkata, “Apa pun yang menyebabkan talak jatuh padamu, maka engkau tertalak tiga kali sebelumnya,” maka tertutuplah baginya pintu penjatuhan talak dan pemberian kuasa untuk talak menurut pendapat yang menyatakan adanya daur (sirkularitas hukum).
وقد يلزم على مذهب ابن الحداد تصوير انسداد الطرق من كل وجه بأن يقول مهما وقع عليك طلاقي فأنت طالق قبله ثلاثاًً ومهما فسخت نكاحكِ فأنت طالق قبله ثلاثاً فلا ينفذ منه لا فسخ ولا طلاق
Dan menurut mazhab Ibn al-Haddad, terkadang perlu menggambarkan tertutupnya seluruh jalan dengan mengatakan: “Kapan pun talakku jatuh padamu, maka engkau telah tertalak tiga kali sebelumnya; dan kapan pun engkau membatalkan nikahmu, maka engkau telah tertalak tiga kali sebelumnya.” Dengan demikian, tidak berlaku darinya baik pembatalan nikah maupun talak.
ومذهب من ينكر الدورَ تنفيذُ المنجّزةِ وردُّ ما قبلها هذا هو المشهور
Pendapat orang yang menolak adanya daur adalah melaksanakan wasiat yang sudah jatuh tempo dan menolak wasiat yang sebelumnya; inilah pendapat yang masyhur.
وذكر الشيخ أبو علي وجهاً على إبطال الدور أنها تطلق ثلاثاًً قال ثم اختلف الصّائرون إلى ذلك في وجه وقوع الثلاث فمنهم من قال يقع الثلاث المشروطة تقدمها ولا تقع هذه التي أنشأها وكأنه قال مهما تلفظت بإنشاء طلقة فأنت طالق قبلها ثلاثاًً فوقوع الثلاث موقوف على لفظه وإن كان لا يقع بلفظه طلاق منجّز
Syekh Abu Ali menyebutkan satu pendapat tentang pembatalan daur (sirkularitas) bahwa seorang istri ditalak tiga kali. Ia berkata, kemudian para ulama yang berpendapat demikian berbeda pendapat tentang bagaimana terjadinya talak tiga tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang jatuh adalah talak tiga yang disyaratkan sebelumnya, dan talak yang baru diucapkan tidak jatuh. Seolah-olah ia berkata: setiap kali engkau mengucapkan lafaz talak, maka engkau telah tertalak tiga kali sebelumnya. Maka terjadinya talak tiga itu bergantung pada ucapannya, meskipun dengan ucapannya itu tidak langsung terjadi talak secara pasti (munjiz).
وهذا رديء لا خروج له إلا على مذهب من يحمل اللفظَ المطلقَ على الفاسد والصحيح جميعاًً وعليه خُرّج قول للشافعي فيه إذا أذن الرجل لعبده في النكاح فنكح نكاحاً فاسداً ووطىء قال في قول يتعلق المهر بكسبه
Ini adalah pendapat yang lemah, dan tidak dapat diterima kecuali menurut mazhab yang memahami lafaz mutlak mencakup baik yang fasid maupun yang sahih sekaligus. Berdasarkan pendapat ini, terdapat satu pendapat dari Imam Syafi‘i yang menyatakan: Jika seorang laki-laki mengizinkan budaknya untuk menikah, lalu budaknya menikah dengan akad yang fasid dan melakukan hubungan, maka menurut salah satu pendapat, mahar tersebut terkait dengan hasil usaha budak tersebut.
وهذا بعيد لا يفرّع على مثله
Hal ini sangat jauh dan tidak dapat dijadikan dasar untuk membuat cabang hukum atas hal yang serupa.
قال الشيخ وقال قائلون تقع الواحدة التي أنشأها واثنتان من الثلاث المعلّقة
Syekh berkata, dan ada yang berpendapat bahwa satu talak yang diucapkan langsung terjadi, dan dua dari tiga talak yang digantungkan juga terjadi.
فانتظم أوجهٌ أحدها الدّورُ والقولُ به وعليه تفريع معظم الأصحاب والثاني وقوع ما ينجّز لأنه شرطٌ وإبطال الجزاء والثالث تكميل الثلاث ثم له مأخذان حكاهما الشيخ كما بيناهما
Maka terkumpullah beberapa sisi: yang pertama adalah daur dan pendapat yang mengikutinya, dan inilah yang menjadi dasar bagi kebanyakan ulama; yang kedua adalah terjadinya sesuatu yang menegaskan karena ia merupakan syarat dan membatalkan konsekuensi; yang ketiga adalah penyempurnaan tiga hal, kemudian ada dua sumber yang dinukil oleh Syaikh sebagaimana telah kami jelaskan.
ولو كانت المرأة غيرَ مدخول بها فقال مهما طلقتك فأنت طالق قبلها فالمسألة تدورُ على مذهب ابن الحداد كما ذكرنا فأما على مذهب أبي زيد فالطلقة المنجزة تقع ومن قال ممن يخالف ابنَ الحداد في المسألة الأولى بوقوع الثلاث فلا يوقع هاهنا أكثرَ من طلقةٍ واحدةٍ فإن الطلقتين متباينتان زماناً ووقتاً ويستحيل لحوق طلقتين كذلك بامرأة غيرِ مدخول بها ولكن اختلف هؤلاء في أن تلحقها الطلقة المعلقة أو المنجزة والمذهب عندهم وقوع المنجّزة
Jika perempuan tersebut belum pernah digauli, lalu suami berkata, “Kapan pun aku menceraikanmu, maka engkau tertalak sebelum itu,” maka permasalahan ini kembali kepada pendapat Ibn al-Haddad sebagaimana telah kami sebutkan. Adapun menurut pendapat Abu Zaid, talak yang dijatuhkan secara langsung (munjaza) berlaku. Sedangkan siapa pun yang berbeda pendapat dengan Ibn al-Haddad dalam permasalahan pertama dan berpendapat jatuhnya tiga talak, maka dalam kasus ini ia tidak menjatuhkan lebih dari satu talak saja. Sebab, dua talak tersebut berbeda waktu dan masa, dan tidak mungkin dua talak seperti itu terjadi pada perempuan yang belum pernah digauli. Namun, mereka berbeda pendapat apakah talak yang tergantung (mu‘allaq) atau yang langsung (munjaza) yang berlaku, dan pendapat yang kuat di kalangan mereka adalah jatuhnya talak yang langsung (munjaza).
ومن صور الدّور في العتق أن العبد إذا كان مشتركاً بين شريكين فقال أحدهما وهو موسر مهما أعتقتَ نصيبك فنصيبي حرّ قبل نصيبك والتفريع على تعجيل السّراية فمهما أعتق الشريك لم ينفذ عتقه فإنه لو نفذ لنفذ عتق شريكه قبله وسرى إلى نصيبه ثم كان لا ينفذ عتقه
Salah satu bentuk daur dalam masalah pembebasan budak adalah apabila seorang budak dimiliki bersama oleh dua orang, lalu salah satu dari keduanya yang mampu secara finansial berkata: “Kapan pun kamu membebaskan bagianmu, maka bagianku merdeka sebelum bagianmu,” dan ini didasarkan pada pendapat tentang percepatan penyebaran (sarayah). Maka kapan pun salah satu dari kedua pemilik itu membebaskan bagiannya, pembebasannya tidak sah; sebab jika pembebasannya sah, maka pembebasan rekannya akan sah lebih dahulu dan menyebar ke bagiannya, sehingga pembebasannya sendiri tidak sah.
ولو ذكر كلُّ واحد منهما لصاحبه مثلَ ذلك وهما موسران لم ينفذ عتقُ واحد منهما
Jika masing-masing dari keduanya menyebutkan hal yang sama kepada temannya, sedangkan keduanya adalah orang yang mampu, maka pembebasan budak salah satu dari mereka tidak sah.
أما أبو زيدٍ فإنه يمنع ذلك ويشتدّ على ابن الحداد فإنه استبعد انحسام الطلاق على المطلِّق وهذا حَسْمُ الإعتاق على المالك ممّن ليس مالكاً فكأنّ كل واحد منهما حجر على صاحبه أن يتصرّف بأقوى التصرفات في ملكه
Adapun Abu Zaid, ia melarang hal itu dan sangat keras terhadap Ibn al-Haddad, karena ia menganggap mustahil terputusnya talak bagi yang menjatuhkan talak, dan ini sama dengan terputusnya pembebasan budak bagi pemilik budak oleh orang yang bukan pemiliknya. Seakan-akan masing-masing dari keduanya membatasi pihak lain untuk melakukan tindakan paling kuat atas miliknya.
ومن صور الدّور في هذه الأجناس أن يقول لامرأته إن وطئتك وطأ مباحاً فأنت طالق قبله فإذا وطئها لم يقع الطلاق فإنه لو وقع لما كان الوطء مباحاً قال الشيخ وأبو زيد يوافق في هذا فإن الذي نحاذره انحسامَ الطلاق وانسداد باب التصرف وهذا لا يتحقق في تعليقٍ بفعلِ واحدٍ
Salah satu bentuk daur dalam masalah-masalah ini adalah ketika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu dengan hubungan yang dibolehkan, maka engkau tertalak sebelumnya.” Jika ia menggaulinya, maka talak tidak jatuh, karena jika talak jatuh, maka hubungan tersebut tidak lagi dibolehkan. Syekh dan Abu Zaid sependapat dalam hal ini, karena yang dikhawatirkan adalah terputusnya talak dan tertutupnya pintu tindakan, dan hal ini tidak terwujud dalam talak yang digantungkan pada satu perbuatan saja.
ولو قال لامرأته إن ظاهرتُ عنكِ أو آليت عنك فأنتِ طالق قبله ثلاثاًً فلا يصح الإيلاء والظهار على أصل ابن الحداد للدّور وعند أبي زيدٍ يصح الإيلاء والظهار فإنه سدُّ بابٍ من التصرفات ولا يقع الطلاق قبلهما
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku melakukan zihar terhadapmu atau melakukan ila’ terhadapmu, maka engkau tertalak tiga sebelum itu,” maka menurut pendapat pokok Ibn al-Haddad, ila’ dan zihar tidak sah karena terjadi perputaran (dawr). Namun menurut Abu Zaid, ila’ dan zihar tetap sah, karena ia menutup salah satu pintu tindakan, dan talak tidak terjadi sebelum keduanya.
ومن المسائل أن يقول للرجعية إن راجعتك فأنت طالق قبلها ثلاثاًً فلا يصح الرّجعة عند ابن الحداد للدّور ويصح عند أبي زيدٍ حتى لا يؤدي إلى حَسْم التصرف
Di antara permasalahan adalah jika seorang suami berkata kepada istri yang dalam masa iddah talak raj‘i: “Jika aku merujukmu, maka engkau tertalak sebelum rujuk sebanyak tiga kali,” maka menurut Ibnu al-Haddad, rujuk tersebut tidak sah karena terjadi daur (lingkaran hukum), sedangkan menurut Abu Zaid, rujuk tersebut sah selama tidak menyebabkan terhentinya hak melakukan tindakan (hakam).
ومن الصور أن يكون للرجل امرأة وعبد فيقول لامرأته مهما دخلتِ الدار وأنت زوجتي فعبدي حر قبل دخولك وقال لعبده مهما دخلت الدار وأنت عبدي فزوجتي طالق قبل دخولك ثم دخلا معاً لم تطلق المرأة ولم يعتِق العبد وتعليله بيّن والشيخ أبو زيد لا يخالف في هذه المسألة لأنه ليس فيه سدّ بابٍ
Di antara contohnya adalah seorang laki-laki memiliki seorang istri dan seorang budak, lalu ia berkata kepada istrinya: “Setiap kali kamu masuk rumah sementara kamu masih istriku, maka budakku merdeka sebelum kamu masuk.” Dan ia berkata kepada budaknya: “Setiap kali kamu masuk rumah sementara kamu masih budakku, maka istriku tertalak sebelum kamu masuk.” Kemudian keduanya masuk bersama-sama, maka istrinya tidak tertalak dan budaknya tidak merdeka. Alasannya jelas, dan Syaikh Abu Zaid tidak berbeda pendapat dalam masalah ini karena di dalamnya tidak terdapat penutupan pintu (sadd al-bāb).
وذكر الشيخ صوراً واضحةً لم أر في ذكرها فائدة ومَنْ فَقُه نفسُه لا يتصور أن تُلقى عليه مسألة دائرة فلا يتنبه أما من احتدّت قريحته فإنه يبتدر فهمَ الدّور ومن كان في دركه بطء يتبين الدّورَ إذا لم تنتظم المسألة
Syekh menyebutkan beberapa contoh yang jelas, namun aku tidak melihat adanya manfaat dalam penyebutannya. Barang siapa yang memiliki pemahaman fiqh yang baik, tidak mungkin baginya untuk tidak menyadari adanya masalah yang berputar-putar (masalah daur) ketika dihadapkan kepadanya. Adapun orang yang pikirannya tajam, ia akan segera memahami adanya daur. Sedangkan orang yang pemahamannya lambat, ia akan dapat mengetahui adanya daur jika masalah tersebut tidak tersusun dengan baik.
ومما ذكره أن قال من أصحابنا من حكى عن ابن سُريج أنه قال إذا قال لامرأته مهما طلقتك طلقة أملك فيها الرّجعة فأنت طالق ثلاثاًً قال ابن سريج فيما حكاه هذا الحاكي تدور المسألة ولا يقع المنجّز ولا المعلّق لأنه لو وقع ما نَجَّز لوقع الثلاث وإذا وقع الثلاث لم تثبت الرّجعة وإذا لم تثبت لم تقع الثلاث فلا يقع
Di antara yang disebutkan adalah bahwa sebagian ulama kami menukil dari Ibn Surayj, bahwa ia berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Setiap kali aku menceraikanmu dengan talak yang masih aku miliki hak rujuk di dalamnya, maka engkau tertalak tiga,” maka Ibn Surayj, sebagaimana dinukil oleh perawi ini, berpendapat bahwa masalah ini berputar-putar dan tidak terjadi talak yang langsung maupun yang tergantung. Sebab, jika talak yang langsung terjadi, maka jatuhlah tiga talak. Jika tiga talak telah jatuh, maka tidak ada lagi hak rujuk. Jika tidak ada hak rujuk, maka tiga talak tidak terjadi. Maka, talak pun tidak terjadi.
قال الشيخ حُكي عنه هذا ونُسب إلى كتاب له يسمى كتاب العيبة ولم ينقلوا في هذه المسألة التقييد بما قبلُ فلم يقل مهما طلقتك طلقةً أملك الرجعة فأنت طالق قبلها ثلاثاًً قال الشيخ ابن سريج أجلّ من أن يقول ذلك فلعلّ المنقول سقطة من كاتب أو ناقل والمسألة لا تدور والثلاث تقع لأنه إذا طلق واحدةً استعقبت الرجعةَ ووقع الثلاث على الاتصال بها مترتبةً عليها وهي التي تقطع الرجعة فلا وجه في الدور
Syekh berkata: Telah diceritakan darinya hal ini dan dinisbatkan kepada sebuah kitab miliknya yang disebut Kitab al-‘Aibah, namun mereka tidak meriwayatkan dalam masalah ini adanya pembatasan dengan apa yang sebelumnya. Maka ia tidak mengatakan, “Setiap kali aku menceraikanmu satu talak yang aku masih memiliki hak ruju‘, maka engkau tertalak tiga sebelumnya.” Syekh Ibn Suraij lebih mulia daripada mengatakan hal itu, maka barangkali riwayat yang ada adalah kekeliruan dari penulis atau perawi. Masalah ini tidak berputar (tidak terjadi perulangan), dan talak tiga jatuh karena jika ia menjatuhkan satu talak, maka ia berhak melakukan ruju‘, dan talak tiga jatuh secara berurutan setelahnya, yang mana talak tiga itulah yang memutuskan hak ruju‘. Maka tidak ada alasan untuk terjadinya perulangan.
ولكن لو قال إن طلقتك طلقةً رجعيةً فأنت طالق معها ثلاثاًً فإذا طلقها فيجوز أن تخرّج المسألة على وجهين أحدهما لا يقع شيء لأن الثلاث تقترن بالطلقة المنجَّزة فلا تكون رجعيةً فتدور المسألة
Namun, jika seseorang berkata, “Jika aku menceraikanmu dengan talak raj‘i, maka engkau tertalak bersamanya tiga kali,” lalu ia menceraikannya, maka masalah ini dapat dianalisis dengan dua kemungkinan: pertama, tidak terjadi apa-apa, karena talak tiga digabungkan dengan talak yang dilafazkan secara langsung, sehingga tidak menjadi talak raj‘i, sehingga permasalahan ini berputar pada hal tersebut.
والوجه الثاني يقع الكل على الترتيب وإن قُيّد بالجمع
Pendapat kedua menyatakan bahwa semuanya berlaku secara berurutan meskipun dibatasi dengan lafaz jamak.
وهذا كاختلاف أصحابنا في أنه لو قال لغير المدخول بها إذا طلقتك فأنت طالق طلقة معها طلقة فطلقها هل يقع الطلقة المعلَّقةُ فيه وجهان ذكرناهما
Hal ini seperti perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami mengenai kasus jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak satu kali bersama satu talak,” lalu ia menceraikannya. Apakah talak yang digantungkan itu jatuh? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan.
وعندي أن المسألة المنقولة عن ابن سريج على وجهها فإنه قال إذا طلقتك طلقة أملك فيها الرجعة ولا يتصوّر ملك الرجعة مع وقوع الثلاث فلا تتحقق الصفة وإذا لم تتحقق لم يقع الثلاث وتحقيقُ ذلك أنه لا يفرض حال فيها رجعة لا يصادمها وقوع الثلاث فالثلاث تمنع الرّجعة ولا تقطعها فلا وجه لاستبعاد الشيخ فإنّ ما ذكره إن كان متجهاً فما ذكره ابن سريج أو حُكي عنه لا ينحط عن وجهٍ ظاهر
Menurut pendapat saya, permasalahan yang dinukil dari Ibn Suraij sebagaimana adanya adalah bahwa beliau berkata: “Jika aku menceraikanmu dengan satu talak yang aku masih memiliki hak ruju‘ di dalamnya,” maka tidak mungkin hak ruju‘ itu ada bersamaan dengan jatuhnya talak tiga, sehingga syarat tersebut tidak terwujud. Jika syarat itu tidak terwujud, maka talak tiga pun tidak jatuh. Penjelasannya adalah bahwa tidak ada keadaan di mana hak ruju‘ itu ada tanpa bertentangan dengan jatuhnya talak tiga, sebab talak tiga mencegah adanya ruju‘, namun tidak memutuskan ruju‘ itu sendiri. Maka, tidak ada alasan untuk menganggap pendapat Syaikh itu aneh, karena jika apa yang beliau sebutkan itu dianggap masuk akal, maka apa yang disebutkan oleh Ibn Suraij atau yang dinukil darinya tidak kurang jelasnya.
فروع متعلقة بالتعليق بصفات الأولاد والحمل
Cabang-cabang hukum yang berkaitan dengan pengaitan pada sifat-sifat anak dan kehamilan.
قد ذكرنا أنه لو قال لها إن كنت حاملاً فأنت طالق فأتت بولد لأقلَّ من ستة أشهر طلّقت وإن أتت به لأكثرَ من أربع سنين لم تطلق وإن أتت لأقلَّ من أربع سنين وأكثرَ من ستة أشهر فقد تقدّم التفصيل فيه
Telah kami sebutkan bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika engkau hamil, maka engkau tertalak,” lalu ia melahirkan anak dalam waktu kurang dari enam bulan, maka ia tertalak. Jika ia melahirkan setelah lebih dari empat tahun, maka ia tidak tertalak. Dan jika ia melahirkan dalam waktu kurang dari empat tahun dan lebih dari enam bulan, maka rincian hukumnya telah dijelaskan sebelumnya.
ونحن ننشىء الآن فروعاً تتعلق بتغايير الصيغ والألفاظ
Sekarang kita sedang membahas cabang-cabang yang berkaitan dengan perubahan bentuk dan lafaz.
فإذا قال إن كنتِ حاملاً بذكرٍ فأنتِ طالق وإن كنت حاملاً بأنثى فأنت طالق طلقتين فإن وضعت ذكراً فحسب انقضت عدتها عن طلقةٍ فإنه لم يتعلق الطلاق بالولادة وإن وضعت أنثى فحسب انقضت عدتها عن طلقتين ولو وضعت ذكرين فحسب فالطلقة واحدة لا تزيد بزيادة الذكور وكذا إن وضعت أنثيين فيقع بالثنتين ما يقع بالواحدة ولو وضعت ذكراً وأنثى انقضت عدتها عن ثلاث فإنا تبينا أنها حامل بذكر وأنثى فلحقها الثلاث ولم يتوقف وقوع الطلاق على الولادة حتى نقع في تفريع مصادفة وقوع الطلاق انقضاء العدة
Jika seseorang berkata, “Jika engkau hamil anak laki-laki, maka engkau tertalak satu kali; dan jika engkau hamil anak perempuan, maka engkau tertalak dua kali,” lalu ia melahirkan hanya anak laki-laki, maka masa iddahnya selesai karena satu talak, karena talak tersebut tidak terkait dengan kelahiran. Jika ia melahirkan hanya anak perempuan, maka masa iddahnya selesai karena dua talak. Jika ia melahirkan dua anak laki-laki saja, maka talaknya tetap satu, tidak bertambah karena jumlah anak laki-laki. Demikian pula jika ia melahirkan dua anak perempuan, maka yang berlaku pada dua anak perempuan sama dengan satu anak perempuan. Jika ia melahirkan anak laki-laki dan perempuan, maka masa iddahnya selesai karena tiga talak, karena telah jelas bahwa ia hamil anak laki-laki dan perempuan, sehingga jatuhlah tiga talak tersebut. Kejadian talak tidak bergantung pada kelahiran sehingga tidak perlu masuk pada rincian apakah talak terjadi bersamaan dengan selesainya masa iddah.
ولو قال إن كان حملك ذكراً فأنت طالق طلقةً وإن كان أنثى فأنت طالق طلقتين فإن وضعت ذكراً فحسب انقضت عدتها عن طلقة وإن وضعت أنثى انقضت عدتها عن طلقتين وإن وضعت ذكراً وأنثى لم يقع عليها شيء لأن قوله إن كان حملك ذكراً يقتضي أن يكون جميع حملها ذكراً وكذلك قوله إن كان حملك أنثى يقتضي كون جميع الحمل أنثى فإذا كان البعض ذكراً والبعض أنثى لم توجد الصفة في الوجهين جميعاًً فلم يقع شيء
Jika seseorang berkata, “Jika kandunganmu laki-laki, maka kamu tertalak satu kali; dan jika perempuan, maka kamu tertalak dua kali,” maka jika ia melahirkan hanya laki-laki, masa idahnya selesai karena satu talak; jika ia melahirkan hanya perempuan, masa idahnya selesai karena dua talak; namun jika ia melahirkan laki-laki dan perempuan sekaligus, maka tidak terjadi apa-apa atasnya, karena ucapannya “jika kandunganmu laki-laki” mengharuskan seluruh kandungannya laki-laki, demikian pula ucapannya “jika kandunganmu perempuan” mengharuskan seluruh kandungannya perempuan. Maka jika sebagian kandungan laki-laki dan sebagian perempuan, syarat pada kedua sisi tidak terpenuhi, sehingga tidak terjadi apa-apa.
ولو كانت المسألة بحالها فأتت بذكرين لا أنثى معهما أو أتت بأنثيين لا ذكر معهما فقد قال القاضي يقع الطلاق وقوله إن كان حملك ذكراً محمول على جنس الذكور وقوله إن كان حملك أنثى محمول على جنس الإناث
Jika masalahnya tetap seperti itu, lalu ia melahirkan dua anak laki-laki tanpa ada anak perempuan bersama mereka, atau melahirkan dua anak perempuan tanpa ada anak laki-laki bersama mereka, maka menurut pendapat al-Qadhi, talak tetap jatuh. Ucapannya “jika kandunganmu laki-laki” dimaknai pada jenis laki-laki, dan ucapannya “jika kandunganmu perempuan” dimaknai pada jenis perempuan.
وهذا ليس على وجهه عندنا وكان شيخنا يقول إذا أتت بذكرين لم يقع شيء فإن حملها زائد على ذَكَر فهو كما لو أتت بذكر وأنثى والاسم المنكور مقتضاه التوحيد في مثل ذلك فإذا أتت بعددٍ فصفة التوحيد غيرُ متحققة وصار كما لو أتت بذكر وأنثى والمسألة مفروضة فيه إذا كانت مُطْلقة والحكم بوقوع الطلاق حملاً على الجنس في صورة الإطلاق بعيد
Hal ini menurut kami tidaklah demikian adanya. Guru kami berkata, jika seorang wanita melahirkan dua anak laki-laki, maka tidak terjadi apa-apa. Jika kandungannya lebih dari satu anak laki-laki, maka hukumnya seperti jika ia melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kata benda yang tidak ditentukan (nakirah) mengandung makna tunggal dalam kasus seperti ini. Maka jika ia melahirkan beberapa anak, sifat tunggal tersebut tidak terpenuhi, dan keadaannya menjadi seperti jika ia melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Masalah ini dibahas jika kasusnya bersifat mutlak, dan menetapkan jatuhnya talak dengan alasan jenis (jins) dalam bentuk mutlak seperti ini adalah jauh (tidak tepat).
نعم إن قال أردت الجنس فنحكم بوقوع الطلاق للاحتمال الذي يبديه وقد ذكرنا أن الطلاق يقع باحتمال خفيّ إذا أراده الرجل
Ya, jika ia berkata, “Aku maksudkan jenisnya,” maka kita menetapkan jatuhnya talak karena adanya kemungkinan yang ia kemukakan, dan telah kami sebutkan bahwa talak dapat jatuh karena kemungkinan yang samar apabila laki-laki itu menghendakinya.
ولو قال إن كان ما في بطنك ذكرٌ فأنت طالق طلقةً ولو كان ما في بطنك أنثى فأنت طالق طلقتين فهو كما لو قال إن كان حملك ذكراً وإن كان حملك أنثى ولو قال إن كان في بطنك ذكر فأنت طالق واحدةً وإن كان في بطنك أنثى فأنت طالق ثنتين فإذا ولدت ذكراً وأنثى تبينا أنها طلقت ثلاثاً قبل الوضع وانقضت عدّتها بآخر الولدين والفرقُ ظاهر فإن قوله إن كان ما في بطنك تعبير عن جميع ما في البطن وقوله إن كان في بطنك لا يتضمن حصراً ولكن يتضمن كون الذكر والأنثى أو كونهما
Jika seseorang berkata, “Jika yang ada di perutmu adalah laki-laki, maka kamu tertalak satu kali; dan jika yang ada di perutmu adalah perempuan, maka kamu tertalak dua kali,” maka hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Jika kandunganmu laki-laki, dan jika kandunganmu perempuan.” Dan jika ia berkata, “Jika di perutmu ada laki-laki, maka kamu tertalak satu kali; dan jika di perutmu ada perempuan, maka kamu tertalak dua kali,” maka apabila ia melahirkan anak laki-laki dan perempuan, maka jelaslah bahwa ia tertalak tiga kali sebelum melahirkan, dan masa iddahnya selesai dengan kelahiran anak terakhir. Perbedaannya jelas, karena ucapannya “jika yang ada di perutmu” merupakan ungkapan untuk seluruh yang ada di perut, sedangkan ucapannya “jika di perutmu ada” tidak mengandung pembatasan, tetapi mengandung kemungkinan adanya laki-laki dan perempuan, atau keduanya.
ولو قال إن كان مما في بطنك ذكر فأنت طالق طلقةً وإن كان مما في بطنك أنثى فأنت طالق طلقتين فهذا لا يقتضي أولاً كون جميع الحمل ذكراً أو أنثى فإن كلمة مِن للتبعيض ولكن لو أتت بذكرٍ فالذي أطلقه الأصحاب أنها تطلق طلقة وإن لم يشتمل رحمها على غيره ولو كان في رحمها أنثى فحسب طلقت طلقتين
Dan jika seseorang berkata, “Jika yang ada di dalam perutmu itu laki-laki, maka engkau tertalak satu kali; dan jika yang ada di dalam perutmu itu perempuan, maka engkau tertalak dua kali,” maka hal ini pada awalnya tidak mengharuskan seluruh kandungan itu laki-laki atau perempuan, karena kata “min” menunjukkan sebagian. Namun, jika ia melahirkan seorang laki-laki, maka menurut pendapat yang dipegang para ulama, ia tertalak satu kali, meskipun rahimnya tidak mengandung selainnya. Dan jika di rahimnya hanya ada perempuan, maka ia tertalak dua kali.
وهذا فيه بعض النظر والوجه ألا يقع شيء إذا أتت بولدٍ واحدٍ لأن مما مركّبٌ مِن مِنْ وما و مِن للتبعيض فكأنّ الطلاق معلّق بالذكر إن كان بعضاً من الحمل وإذا كان وحده لم يتحقق هذا المعنى
Dalam hal ini terdapat beberapa pertimbangan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak terjadi apa-apa jika ia melahirkan satu anak saja, karena kata “mimma” tersusun dari “min” dan “ma”, dan “min” di sini bermakna sebagian, sehingga seolah-olah talak itu digantungkan pada anak laki-laki jika ia merupakan sebagian dari kandungan. Jika hanya satu saja, maka makna ini tidak terwujud.
وكذلك القول في الأنثى الفردة
Demikian pula halnya dengan perempuan tunggal.
ولو أتت بذكرين وقع الطلاق لتحقق التبعيض وكذلك القول في الأنثيين
Jika ia melahirkan dua anak laki-laki, maka talak terjadi karena terbukti adanya pemisahan, dan demikian pula halnya jika melahirkan dua anak perempuan.
ولو قال إن كنت حاملاً بذكر فأنت طالق واحدة وإن كنت حاملاً بأنثى فأنت طالق ثنتين فإن وضعت ذكراً فطلقةٌ وإن وضعت أنثى فطلقتان وإن وضعت ذكراً وأنثى انقضت عدتها عن ثلاث طلقات
Jika seseorang berkata, “Jika engkau hamil anak laki-laki, maka engkau tertalak satu kali; dan jika engkau hamil anak perempuan, maka engkau tertalak dua kali,” maka jika ia melahirkan anak laki-laki, jatuh satu talak; jika ia melahirkan anak perempuan, jatuh dua talak; dan jika ia melahirkan anak laki-laki dan perempuan, maka selesai masa iddahnya karena tiga talak.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الطلاق معلّقاً على الحمل
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika talak itu digantungkan pada kehamilan.
فأما إذا علّق بالولادة فقد تمهّدت الأصول فيها ولكنا نذكر مسائل
Adapun jika dikaitkan dengan kelahiran, maka kaidah-kaidah dasarnya telah dijelaskan, namun kami akan menyebutkan beberapa permasalahan.
فإذا قال إن ولدت ذكراً فأنت طالق طلقةً وإن ولدت أنثى فأنت طالق طلقتين فلو ولدت ذكراً فحسب وقعت عليها طلقةٌ واعتدت بالأقراء فإن ولدت أنثى فحَسْب فطلقتان وتعتد بالأقراء وإن ولدت ذكراً وأنثى فإن وضعتهما متعانقين دفعةً واحدةً طلقت ثلاثاًً واستقبلت العدة بالأقراء
Jika seseorang berkata, “Jika engkau melahirkan anak laki-laki, maka engkau tertalak satu kali, dan jika engkau melahirkan anak perempuan, maka engkau tertalak dua kali,” maka jika ia hanya melahirkan anak laki-laki, jatuhlah satu talak atasnya dan ia menjalani masa iddah dengan hitungan quru’. Jika ia hanya melahirkan anak perempuan, maka jatuh dua talak dan ia menjalani masa iddah dengan hitungan quru’. Namun jika ia melahirkan anak laki-laki dan perempuan, dan keduanya dilahirkan secara bersamaan dalam satu waktu, maka jatuh tiga talak dan ia memulai masa iddah dengan hitungan quru’.
وإن وضعتهما على الترتيب نُظر إن وضعت الذكر أولاً فطلقة وانقضت عدتها بالأنثى في الجديد عن طلقة
Jika ia meletakkannya secara berurutan, maka dilihat: jika ia meletakkan anak laki-laki terlebih dahulu, maka satu talak, dan jika masa iddahnya selesai dengan (kelahiran) anak perempuan menurut pendapat baru, maka satu talak.
وإن وضعت الأنثى أولاً فطلقتان وانقضت عدتها بالذكر عن طلقتين على المذهب الجديد
Jika yang dilahirkan terlebih dahulu adalah anak perempuan, maka jatuh dua talak, dan jika masa iddahnya selesai dengan kelahiran anak laki-laki, maka berlaku dua talak menurut mazhab baru.
ولا يخفى القديم والتفريع عليه
Tidak tersembunyi (bagi kita) perkara yang lama (masalah asal) dan penurunan hukum atasnya (masalah cabang yang diambil darinya).
وإن أشكل المتقدّم منهما أخذنا بالأقل وحكمنا بوقوع طلقةٍ
Dan jika sulit diketahui mana yang lebih dahulu di antara keduanya, maka kita mengambil jumlah yang lebih sedikit dan menetapkan terjadinya satu kali talak.
وإن وضعت ذكرين وأنثى نُظر فإن وضعتهما ثم وضعت الأنثى لحقتها طلقة بالأول فحسب وانقضت العدّة بالأنثى
Jika seorang wanita melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan, maka dilihat: jika ia melahirkan kedua anak laki-laki terlebih dahulu, kemudian melahirkan anak perempuan, maka talak hanya berlaku pada kelahiran pertama saja, dan masa ‘iddah selesai dengan kelahiran anak perempuan.
وإن وضعت الأنثى أولاً ثم وضعتهما على الترتيب لحقتها طلقتان وطلقة أخرى بالأوّل من الذكرين وانقضت العدة بالثاني
Jika perempuan melahirkan lebih dahulu, kemudian keduanya dilahirkan secara berurutan, maka ia terkena dua talak, dan satu talak lagi jatuh pada anak laki-laki yang pertama, serta masa iddah selesai dengan anak laki-laki yang kedua.
وإن وضعت الذكرين بعد الأنثى ملْتفَّين معاً لحقتها طلقتان بالأنثى وانقضت العدة بوضع الذكرين على الجديد وعلى القديم يلحقها طلقة بأحد الذكرين بعد الثنتين وتستقبل العدّة بالأقراء
Jika dua anak laki-laki dilahirkan setelah anak perempuan dalam keadaan keduanya melilit bersama, maka jatuh dua talak karena anak perempuan dan selesai masa iddah dengan kelahiran dua anak laki-laki menurut pendapat baru. Sedangkan menurut pendapat lama, jatuh satu talak karena salah satu anak laki-laki setelah dua talak, dan ia memulai masa iddah dengan hitungan quru’.
وإن وضعت في هذه الصورة ذكراً ثم أنثى ثم ذكراً فطلقة ثم طلقتان وتنقضي العدة بالذكر الثاني عن ثلاث وإن وضعت ذكراً وأنثيين فالقياس على ما مضى
Jika ia melahirkan dalam keadaan seperti ini: seorang anak laki-laki, kemudian seorang anak perempuan, lalu seorang anak laki-laki lagi, maka satu talak, kemudian dua talak, dan masa iddah selesai dengan anak laki-laki kedua sebagai talak yang ketiga. Jika ia melahirkan seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan, maka qiyās-nya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
ولو كانت له امرأتان عمرة وزينب فقال كلما ولدَتْ واحدةٌ منكما فأنتما طالقان فولدت عمرة يوم الخميس ولداً وزينب يوم الجمعة ولداً ثم ولدت عمرة يوم السبت ولداً آخر وزينب يوم الأحد ولداً آخر فنقول لما ولدت عمرة وقعت على كل واحدة منهما يوم الخميس طلقة ووقعت على كل واحدة منهما يوم الجمعة طلقة أخرى ثم تنقضي عدة عمرة بما ولدت يوم السبت عن طلقتين في الجديد ووقعت بها طلقة أخرى على زينب فكمل لها الثلاث وانقضت عدتها بولادتها يوم الأحد عن ثلاث
Jika seseorang memiliki dua istri, yaitu ‘Umrah dan Zainab, lalu ia berkata, “Setiap kali salah satu dari kalian melahirkan, kalian berdua tertalak,” kemudian ‘Umrah melahirkan seorang anak pada hari Kamis dan Zainab melahirkan seorang anak pada hari Jumat, lalu ‘Umrah kembali melahirkan seorang anak pada hari Sabtu dan Zainab kembali melahirkan seorang anak pada hari Minggu, maka kami katakan: Ketika ‘Umrah melahirkan, jatuh satu talak atas masing-masing dari keduanya pada hari Kamis, dan jatuh satu talak lagi atas masing-masing dari keduanya pada hari Jumat. Kemudian masa iddah ‘Umrah selesai dengan kelahiran pada hari Sabtu dari dua talak menurut pendapat baru, dan jatuh satu talak lagi atas Zainab, sehingga genap tiga talak baginya, dan masa iddahnya selesai dengan kelahiran pada hari Minggu dari tiga talak.
ولو قال إن ولدتِ أنثى فأنت طالق طلقتين وإن ولدتِ ولداً فأنت طالق طلقة فولدت أنثى طُلِّقت ثلاثاً لأنها وضعت ما يسمى ولداً وما يسمى أنثى فهو كما لو قال إن كلمت رجلاً فأنت طالق وإن كلمت زيداً فأنت طالق وإن كلمت فقيهاً فأنت طالق فكلمت زيداً وكان فقيها طلقت ثلاثاًً لاجتماع الصفات الثلاث به
Jika seseorang berkata, “Jika kamu melahirkan anak perempuan, maka kamu tertalak dua; dan jika kamu melahirkan anak laki-laki, maka kamu tertalak satu,” lalu istrinya melahirkan anak perempuan, maka ia tertalak tiga, karena ia telah melahirkan sesuatu yang disebut anak laki-laki dan juga disebut anak perempuan. Hal ini seperti jika seseorang berkata, “Jika kamu berbicara dengan seorang laki-laki, maka kamu tertalak; jika kamu berbicara dengan Zaid, maka kamu tertalak; dan jika kamu berbicara dengan seorang faqih, maka kamu tertalak,” lalu istrinya berbicara dengan Zaid yang juga seorang faqih, maka ia tertalak tiga karena ketiga sifat tersebut terkumpul pada dirinya.
فروع في تعليق الطلاق بالحلف بالطلاق
Cabang-cabang dalam masalah menggantungkan talak dengan sumpah talak
إذا كانت له امرأتان زينبُ وعمرةُ فقال إن حلفت بطلاقكما فعمرة طالق ثم قال ثانية وثالثةً إن حلفتُ بطلاقكما فعمرة طالق فلا يقع الطلاق أصلاً فإنه انعقد يمينه أولاً ثم لم يحلف بعدها بطلاقهما بل حلف بطلاق عمرة فإن المحلوف بطلاقها هي التي تطلق ولم يقع التعرض إلا بوقوع الطلاق على عمرة وهو قد علق الطلاق على أن يحلف بطلاقهما
Jika seseorang memiliki dua istri, Zainab dan ‘Amrah, lalu ia berkata, “Jika aku bersumpah dengan talak kalian berdua, maka ‘Amrah tertalak,” kemudian ia mengucapkan untuk kedua dan ketiga kalinya, “Jika aku bersumpah dengan talak kalian berdua, maka ‘Amrah tertalak,” maka talak sama sekali tidak jatuh. Sebab, sumpahnya yang pertama telah terikat, kemudian setelah itu ia tidak bersumpah lagi dengan talak keduanya, melainkan ia bersumpah dengan talak ‘Amrah saja. Maka, yang dijadikan objek sumpah talaknya adalah ‘Amrah, dan talak tidak terjadi kecuali terhadap ‘Amrah, sedangkan ia telah menggantungkan talak pada sumpah dengan talak keduanya.
فلو قال أولاً إن حلفت بطلاقكما فعمرة طالق ثم قال إن حلفت بطلاقكما فزينب طالق فلا تطلق بعدُ واحدةٌ منهما فإنه علّق طلاق عمرةَ على الحلف بطلاقهما فليقع بعد ذلك حلف بطلاقهما ولم يحلف بعد ذلك إلا بطلاق زينب فلو ذكر الحلف بطلاق زينب مراراً فلا يقع الطلاق أصلاً
Jika seseorang berkata terlebih dahulu, “Jika aku bersumpah dengan talak kalian berdua, maka ‘Amrah tertalak,” kemudian ia berkata, “Jika aku bersumpah dengan talak kalian berdua, maka Zainab tertalak,” maka tidak ada satu pun dari keduanya yang tertalak setelah itu. Sebab, ia menggantungkan talak ‘Amrah pada sumpah dengan talak mereka berdua, sehingga setelah itu terjadi sumpah dengan talak mereka berdua, dan ia tidak bersumpah setelah itu kecuali dengan talak Zainab. Maka, jika ia menyebut sumpah dengan talak Zainab berulang kali, talak sama sekali tidak terjadi.
ولو ذكر عمرة أولاً على الصيغة التي ذكرناها ثم ذكر زينب على الصيغة التي وصفناها ثم ذكر عمرة مرَّة أخرى فتطلق عمرة الآن فإنه حلف بطلاقها أولاً وعلّق طلاقها بأن يحلف بطلاقهما ثم جرى بعد ذلك حلف بطلاق زينب ثم حلف بطلاق عمرة فقد تحققت الصفتان واجتمع اليمينان في حقها وأما زينب فلم يوجد بعدُ الحلف بطلاقهما بعد الحلف بطلاق زينب
Jika seseorang menyebut ‘Amrah terlebih dahulu dengan lafaz yang telah kami sebutkan, lalu menyebut Zainab dengan lafaz yang telah kami jelaskan, kemudian menyebut ‘Amrah sekali lagi, maka ‘Amrah tertalak sekarang. Sebab, ia telah bersumpah untuk menceraikannya pertama kali dan menggantungkan talaknya dengan sumpah untuk menceraikan keduanya. Setelah itu terjadi sumpah untuk menceraikan Zainab, lalu sumpah untuk menceraikan ‘Amrah, maka kedua sifat tersebut telah terpenuhi dan dua sumpah itu berkumpul atas dirinya (‘Amrah). Adapun Zainab, belum terjadi sumpah untuk menceraikan keduanya setelah sumpah untuk menceraikan Zainab.
فصوِّرْ واحْكُم وهذا سهل المُدرك
Maka gambarkanlah dan berilah keputusan, dan ini mudah untuk dipahami.
ولو كانت له امرأتان فقال أيما امرأة لم أحلف بطلاقها منكما فصاحبتها طالق قال صاحب التلخيص إذا سكت ساعةً يمكنه أن يحلف فيها بطلاقهما فلم يحلف طلقتا ولو قال مرةً أخرى أيما امرأة لم أحلف بطلاقها فصاحبتها طالق على الاتصال باليمين الأولى قال قد برّ في اليمين الأولى فإنه قال أيما امرأة لم أحلف بطلاقها فإذا كرّر هذه اللفظة مرة أخرى فقد حلف بطلاقهما جميعاًً وبرّ في اليمين الأولى ولكن انعقدت يمين أخرى فإن كرّر ثلاثاً على الاتصال برّت اليمين الثانية وانعقدت اليمين الأخرى فلو سكت عقيب اليمين الأخيرة لحظةً يتصور فيها الحلف بالطلاق فلم يحلف طُلِّقتا جميعاً
Jika seseorang memiliki dua istri lalu berkata, “Istri mana saja di antara kalian berdua yang tidak aku sumpahi dengan talak, maka temannya tertalak,” menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, jika ia diam sejenak dalam waktu yang memungkinkan untuk bersumpah dengan talak kepada keduanya namun ia tidak bersumpah, maka keduanya tertalak. Jika ia berkata lagi, “Istri mana saja yang tidak aku sumpahi dengan talak, maka temannya tertalak,” secara bersambung dengan sumpah pertama, maka ia telah memenuhi sumpah pertama, karena ia berkata, “Istri mana saja yang tidak aku sumpahi dengan talak.” Jika ia mengulangi ucapan ini sekali lagi, berarti ia telah bersumpah dengan talak kepada keduanya dan telah memenuhi sumpah pertama, namun terbentuklah sumpah yang lain. Jika ia mengulangi tiga kali secara bersambung, maka sumpah kedua telah terpenuhi dan terbentuk sumpah yang lain. Jika setelah sumpah terakhir ia diam sejenak dalam waktu yang memungkinkan untuk bersumpah dengan talak namun ia tidak bersumpah, maka keduanya tertalak.
والمسألة فيها إشكال من قِبل أنه جعل ما يجري مقتضياً للفور حتى قال لو سكت عقيب اللفظ لحظة حكم بوقوع الطلاق بالحلف الأوّل قال الشيخ أبو عليَّ عرضت هذه المسألة على الشيخ القفال وعلى كل مَنْ شرح التلخيص فصوَّبوه
Masalah ini mengandung kesulitan karena ia menjadikan apa yang terjadi sebagai sebab langsung (faur) sehingga dikatakan bahwa jika seseorang diam sejenak setelah mengucapkan lafaz, maka talak dianggap jatuh dengan sumpah yang pertama. Syaikh Abu ‘Ali berkata, “Aku telah mengajukan masalah ini kepada Syaikh al-Qaffal dan kepada semua orang yang mensyarah kitab at-Talkhīṣ, lalu mereka membenarkannya.”
والذي يقتضيه القياس عندي أن قوله أيما امرأة لم أحلف بطلاقها فغيرها طالق لا يقتضي الفور أصلاً ولو سكت على ذلك لم نحكم بوقوع الطلاق على واحدة منهما إلى أن يتحقق اليأس بأن يموت هو أو تموتا
Menurut pendapat saya, yang dituntut oleh qiyās adalah bahwa ucapannya, “Perempuan mana pun yang tidak aku sumpahi dengan talak, maka selainnya tertalak,” tidak mengharuskan pelaksanaan segera sama sekali. Jika ia diam saja setelah mengucapkan itu, kita tidak memutuskan jatuhnya talak pada salah satu dari keduanya sampai benar-benar dipastikan mustahil, yaitu jika ia meninggal dunia atau keduanya meninggal.
وإنما قلنا ذلك لأن الذي يقتضي الفور في هذه المنازل هو الذي ينطوي على ذكر وقتٍ مع التعلق بالنفي مثل قوله أيُّ وقتٍ لم أطلّق أو إذا لم أطلّق أو متى لم أطلّق وقد نصّ الأصحاب على أنّه إذا قال متى لم أطلقك فهذا يقتضي الفور ولو قال إن لم أطلقك فهذا على التراخي وقوله أيُّما امرأة ليس فيه تعرض للأوقات أصلاً
Kami mengatakan demikian karena yang mengharuskan segera dalam kasus-kasus ini adalah lafaz yang mengandung penyebutan waktu yang terkait dengan penafian, seperti ucapannya: “pada waktu mana pun aku tidak menceraikan” atau “jika aku tidak menceraikan” atau “kapan saja aku tidak menceraikan.” Para ulama telah menegaskan bahwa jika seseorang berkata, “kapan saja aku tidak menceraikanmu,” maka ini mengharuskan segera. Namun jika ia berkata, “jika aku tidak menceraikanmu,” maka ini bersifat tawaqquf (tidak harus segera). Adapun ucapannya, “perempuan mana pun,” di dalamnya sama sekali tidak ada penyinggungan waktu.
والذي ذكره الشيخ أوضح من أن يُحتاج فيه إلى الإطناب ولست أدري لما ذكره صاحب الكتاب وجهاً
Apa yang disebutkan oleh Syekh itu sudah sangat jelas sehingga tidak perlu diperpanjang penjelasannya, dan saya tidak tahu mengapa penulis kitab menyebutkan pendapat lain.
فإن قيل قد نص الأصحاب على أنه لو قال لامرأته كلما لم أطلقك فأنت طالق فهذا على الفور وليس فيه تعرّض للوقت قلنا هذه المسألة صحيحة وأجمع أهل العربيّة على أنّ ما في كلما ظرف زمانٍ وأمّا قوله فأيما امرأة فـ أيّ تسمية المرأة
Jika dikatakan, para ulama mazhab telah menegaskan bahwa jika seseorang berkata kepada istrinya, “Setiap kali aku tidak menceraikanmu, maka engkau tertalak,” maka ini berlaku seketika dan di dalamnya tidak ada penentuan waktu. Kami katakan, masalah ini benar, dan seluruh ahli bahasa Arab sepakat bahwa kata “kullamā” adalah zharaf zamān (kata keterangan waktu). Adapun ucapannya, “fa ayyumā imra’ah,” maka “ayy” di sini adalah penamaan perempuan.
ولو قال أنت طالق ما لم أطلقك فهذا على الفور أيضاًً فإن ما في هذه المنزلة بمثابة إذا فهو ظرف زمان
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak selama aku belum menalakkanmu,” maka ini juga berlaku seketika, karena ungkapan seperti ini kedudukannya seperti “jika”, yaitu sebagai keterangan waktu.
ومما نذكره في الحلف بالطلاق أن الرّجل إذا قال لامرأته إن حلفت بطلاقك فأنت طالق ثم قال لها إن دخلت الدار فأنت طالق طلقت بهذا التعليق فإنه حلف بطلاقها
Dan termasuk yang perlu disebutkan dalam sumpah dengan talak adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika aku bersumpah dengan talakmu, maka engkau tertalak,” kemudian ia berkata lagi kepadanya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak,” maka ia telah menjatuhkan talak dengan ucapan yang mengandung ta‘liq (penggantungan), karena ia telah bersumpah dengan talaknya.
وبمثله لو قال بعد الكلام الأول إذا طلعت الشمس فأنت طالق لم تطلق هكذا ذكره ابن سريج رحمه الله واعتل بأن اليمين ما يقصد بها استحثاث على إقدامٍ أو على إحجامٍ وذِكْر طلوع الشمس في الصّورة التي ذكرناها تأقيتٌ ليس فيه حث على فعلٍ ولا على ترك فعلٍ وقد وجدت الأصحاب على موافقته
Demikian pula, jika setelah ucapan pertama ia berkata, “Jika matahari terbit, maka engkau tertalak,” maka talak tidak jatuh. Demikian disebutkan oleh Ibnu Suraij rahimahullah, dan beliau beralasan bahwa sumpah (yamin) itu dimaksudkan untuk mendorong melakukan suatu perbuatan atau menahan diri dari suatu perbuatan. Penyebutan terbitnya matahari dalam kasus yang kami sebutkan hanyalah sebagai penentuan waktu, yang tidak mengandung dorongan untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Dan para sahabat (ulama) pun sependapat dengannya.
ولو قال إذا دخلت الدّار فأنت طالق ففي المسألة وجهان أحدهما أن هذا يمين لأنّ قصده المنع فصار كما لو قال إن دخلت الدّار
Jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa ini adalah sumpah (yamin), karena maksudnya adalah untuk mencegah, sehingga hukumnya seperti jika ia berkata, “Jika kamu masuk rumah.”
والثاني إنه ليس بيمين والاعتبار باللفظ وإذا للتأقيت
Yang kedua, itu bukanlah sumpah, dan yang menjadi pertimbangan adalah lafalnya, sedangkan “idza” digunakan untuk pembatasan waktu.
ولو قال إن طلعت الشمس فأنت طالق فقد ذكر بعض أصحابنا وجهين في أن هذا هل يكون يميناً وهذا زللٌ فإن ما لا يتصور الاستحثاث عليه لا يفرض اليمين فيه كيف صرفت العبارات
Jika seseorang berkata, “Jika matahari terbit, maka engkau tertalak,” sebagian ulama kami menyebutkan dua pendapat mengenai apakah hal ini termasuk sumpah (yamin) atau tidak. Ini adalah kekeliruan, karena sesuatu yang tidak mungkin untuk didorong atau dimotivasi terjadinya, tidak dapat dijadikan objek sumpah, bagaimanapun bentuk ungkapannya.
مسائل شتى وفروع مختلفة
Berbagai persoalan dan cabang yang beragam.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته إن بدأتك بالكلام فأنت طالق فقالت إن بدأتك بالكلام فعبدي حرّ ثم كلمها ثم كلمته لم تطلق هي ولم يعتق عبدها لأن الزوج بتكليمها بعد عقد يمينها لم يكن بادئاً بالكلام وإنما كان تالياً فإنها بدأته بقولها إن بدأتك بالكلام فعبدي حرّ والرمز في مثل هذا كافٍ فلا نبسُط بعد هذا إلا في محل الحاجة
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku memulai berbicara denganmu, maka engkau tertalak,” lalu sang istri berkata, “Jika aku memulai berbicara denganmu, maka hambaku merdeka,” kemudian suami berbicara kepadanya, lalu istri berbicara kepadanya, maka sang istri tidak tertalak dan hambanya tidak merdeka. Sebab, suami yang berbicara kepadanya setelah akad sumpahnya bukanlah orang yang memulai pembicaraan, melainkan hanya mengikuti. Karena istri telah memulai dengan ucapannya, “Jika aku memulai berbicara denganmu, maka hambaku merdeka.” Isyarat dalam kasus seperti ini sudah cukup, sehingga kami tidak akan memperluas pembahasan kecuali pada tempat yang diperlukan.
ولو قال لواحدٍ إن بدأتك بالسلام فعبدي حرّ فقال له ذلك الإنسان إن بدأتك بالسلام فعبدي حرّ فسلم كل واحد منهما على صاحبه دفعةً واحدةً لم يحنث واحد منهما لأنه لم يوجد منهما البداية بالسّلام وانحلت اليمين
Jika seseorang berkata kepada orang lain, “Jika aku memulai mengucapkan salam kepadamu, maka hambaku merdeka,” lalu orang itu menjawab, “Jika aku memulai mengucapkan salam kepadamu, maka hambaku merdeka,” kemudian masing-masing dari mereka mengucapkan salam kepada yang lain secara bersamaan, maka tidak ada satu pun dari mereka yang terkena kafarat sumpah, karena tidak ada dari keduanya yang benar-benar memulai salam, dan sumpah pun menjadi batal.
فلو سلم أحدهما بعد ذلك لم يحنث فإن سلامه لا يقع ابتداء مع ما تقدم
Maka jika salah satu dari keduanya memberi salam setelah itu, ia tidak dianggap melanggar sumpah, karena salamnya tidak terjadi secara bersamaan dengan yang telah lalu.
فرع
Cabang
إذا قال لها إن أكلت رمانةً فأنت طالق وإن أكلت نصف رمانةٍ فأنت طالق فأكلت رمانةً كاملة طُلقت ثنتين لأنها أكلت رمانةً ونصفَ رمانةٍ وهذا من الأصول فإنّ إن وإن كان لا يقتضي تكراراً فإذا ذكر لفظ إن وجرى موجودٌ واحد تحت اسمين فقد وجد الاسمان فالتعدد من تعدد الاسم لا من التكرار
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu makan satu buah delima, maka kamu tertalak; dan jika kamu makan setengah buah delima, maka kamu tertalak,” lalu istrinya memakan satu buah delima utuh, maka ia tertalak dua kali, karena ia telah memakan satu buah delima dan setengah buah delima. Ini termasuk dalam kaidah ushul, yaitu bahwa kata “jika” (in) meskipun tidak menunjukkan pengulangan, apabila disebutkan kata “jika” dan terdapat satu perbuatan yang masuk di bawah dua nama, maka kedua nama itu telah terwujud. Maka, penggandaan itu berasal dari penggandaan nama, bukan dari pengulangan perbuatan.
ولو قال لها إن أكلتِ رمانةً فأنتِ طالق وقال كلما أكلت نصف رمانة فأنت طالق فأكلت رمانة طلقت ثلاثاًً وهذا من أصل التكرار وقد أكلت نصفي رمانة ورمانة وفي المسألة الأولى تحقق اسمان الرمانة ونصف الرمانة
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu makan satu buah delima, maka kamu tertalak,” dan ia juga berkata, “Setiap kali kamu makan setengah buah delima, maka kamu tertalak,” lalu sang istri memakan satu buah delima, maka ia tertalak tiga kali. Ini berasal dari dasar hukum pengulangan, karena ia telah memakan dua setengah buah delima dan satu buah delima. Dalam permasalahan pertama, telah terwujud dua nama, yaitu satu buah delima dan setengah buah delima.
فرع
Cabang
إذا كانت له امرأتان حفصة وعمرة فقال مَنْ بَشَّر بقدوم زيدٍ فهي طالق فبشرته حفصة ثم عمرة طُلقت حفصة ولم تطلق عمرة لأن البشارة هي الأولى
Jika seseorang memiliki dua istri, Hafshah dan ‘Amrah, lalu ia berkata, “Siapa yang memberi kabar gembira tentang kedatangan Zaid, maka ia tertalak,” kemudian Hafshah memberinya kabar gembira terlebih dahulu, lalu disusul oleh ‘Amrah, maka Hafshah tertalak dan ‘Amrah tidak tertalak, karena kabar gembira itu adalah yang pertama.
ولو ذكرت حفصة كاذبةً لم تطلق فإذا ذكرت عمرة صادقة طلقت
Jika Hafshah menyebutkan (nama) secara dusta, maka ia tidak dicerai; namun jika ia menyebutkan (nama) ‘Amrah secara jujur, maka ia dicerai.
ولو بشره أجنبي بقدوم زيد صادقاً ثم بشّرتاه أو إحداهما لم يقع الطلاق
Jika seorang laki-laki diberi kabar oleh orang lain yang bukan keluarganya tentang kedatangan Zaid dengan jujur, kemudian istrinya atau kedua istrinya memberinya kabar yang sama, maka talak tidak jatuh.
والبشارة الكلامُ الأول الصدق الذي يقرع سمع الإنسان
Kabar gembira adalah perkataan pertama yang benar yang mengetuk pendengaran manusia.
ولو بشرتاه معاً صادقتين طلقتا
Jika kedua istrinya memberi kabar kepadanya secara bersamaan dan keduanya jujur, maka keduanya tertalak.
ولو قال من أخبرني بقدوم زيدٍ فهي طالق فأخبرتاه على الجمع أو على الترتيب صادقتين أو كاذبتين طلقتا فإن اسمَ الخبر يتناول ذلك كلّه
Jika seseorang berkata, “Siapa yang memberitahuku tentang kedatangan Zaid, maka istriku tertalak,” lalu dua perempuan memberitahunya secara bersamaan atau secara berurutan, baik keduanya jujur maupun berdusta, maka keduanya tertalak, karena istilah ‘kabar’ mencakup semua itu.
فرع لابن الحداد إذا كان له امرأتان زينب وعمرة فنادى عمرة وقال يا عمرة فأجابت زينب فقال أنت طالق فنَسْتَفْصِلُ الزوجَ أولاً ونقول هل عرفت أن التي أجابتك زينب أم ظننتها عمرة فإن قال عرفت أن التي أجابتني زينب فيقال له فما كان قصدك بعد ذلك فإن قال أردت تطليق زينب ولم أرد تطليق عمرة فيقبل قوله إذ قد ينادي الرجل امرأةً ثم لا يطلقها ويطلق غيرها وربما نادى عمرة لشغل فلما أجابته زينب غاظه ذلك فطلقها فليس من ضرورة النداء السّابق أن تكون المناداة مطلّقةً
Cabang menurut Ibn al-Haddad: Jika seseorang memiliki dua istri, Zainab dan ‘Amrah, lalu ia memanggil ‘Amrah dan berkata, “Wahai ‘Amrah,” namun yang menjawab adalah Zainab, kemudian ia berkata, “Engkau tertalak,” maka kita menanyakan terlebih dahulu kepada suami dan berkata, “Apakah engkau tahu bahwa yang menjawabmu adalah Zainab ataukah engkau mengira itu adalah ‘Amrah?” Jika ia berkata, “Aku tahu bahwa yang menjawabku adalah Zainab,” maka dikatakan kepadanya, “Apa maksudmu setelah itu?” Jika ia berkata, “Aku bermaksud menceraikan Zainab dan tidak bermaksud menceraikan ‘Amrah,” maka ucapannya diterima, karena bisa saja seseorang memanggil seorang istri lalu tidak menceraikannya, melainkan menceraikan yang lain. Barangkali ia memanggil ‘Amrah karena suatu urusan, lalu ketika yang menjawab adalah Zainab, hal itu membuatnya marah sehingga ia menceraikannya. Maka, tidaklah menjadi keharusan dari panggilan sebelumnya bahwa yang dipanggil itu pasti yang ditalak.
ولو قال علمت أن التي أجابتني زينب ولكني أردت بقولي أنت طالق تطليقَ عمرة لا تطليق زينب أما عمرة فتطلق ظاهراً وباطناً فإنه سمّاها وقال أنت طالق وأما زينب فتطلق ظاهراً فإنه خاطبها بالطلاق ولا يقبل ما قاله ظاهراً في درء الطلاق عن زينب ولكن يُدَيَّن باطناًً
Jika seseorang berkata, “Aku tahu bahwa yang menjawabku adalah Zainab, tetapi maksudku dengan ucapanku ‘engkau tertalak’ adalah menalak ‘Amrah, bukan menalak Zainab,” maka ‘Amrah tertalak secara lahir dan batin karena ia telah disebutkan namanya dan dikatakan kepadanya “engkau tertalak.” Adapun Zainab, maka ia tertalak secara lahir karena ia telah diajak bicara dengan ucapan talak, dan apa yang dikatakannya secara lahir untuk menolak talak dari Zainab tidak diterima, namun secara batin ia dihakimi sesuai keyakinannya.
وفي هذا فضل نظر فإنه إن نادى واسترسل في كلامه ولم يربط قوله أنت طالق بانتظار جواب وبان ذلك في جريانه في الكلام واتحاد جنس صوته ونغمته ثم قال أردت عمرة لم تطلق إلا عمرة ظاهراً وباطناً وقد أوضحنا فيما تقدّم ظهور أثر النغمات والتقطيعات
Dalam hal ini terdapat pertimbangan yang mendalam, yaitu apabila seseorang memanggil dan terus berbicara tanpa mengaitkan ucapannya “engkau tertalak” dengan menunggu jawaban, dan hal itu tampak dalam kelancaran ucapannya serta kesatuan jenis suara dan nadanya, kemudian ia berkata, “Yang aku maksud adalah ‘Amrah,” maka yang tertalak hanyalah ‘Amrah, baik secara lahir maupun batin. Kami telah menjelaskan sebelumnya tentang jelasnya pengaruh nada dan pemenggalan ucapan.
فأما إذا نادى منتظراً جواباً فاتّصل جواب زينب فقال أنت طالق وَرَبَط بالنغمة قوله على جواب زينب فعند ذلك نقول تطلق زينب ظاهراً وعمرة لا يظهر طلاقها والحالةُ هذه غيرَ أنه إذا قال نويتُها صُدِّق ظاهراً وإلا فلا يتصوّر ظاهران على التنافي غير أنا ذكرنا أن القصد الخفي في الوقوع ملحق بالظاهر
Adapun jika ia memanggil sambil menunggu jawaban, lalu jawaban Zainab terdengar, kemudian ia berkata, “Engkau tertalak,” dan ia mengaitkan ucapannya dengan jawaban Zainab, maka pada saat itu kami katakan Zainab tertalak secara zhahir, sedangkan ‘Amrah tidak tampak talaknya dalam keadaan ini. Namun, jika ia berkata, “Aku meniatkannya (‘Amrah),” maka ia dibenarkan secara zhahir, jika tidak, maka tidak mungkin ada dua zhahir yang saling bertentangan. Hanya saja, telah kami sebutkan bahwa maksud tersembunyi dalam terjadinya talak disamakan dengan zhahir.
هذا كله إذا قال علمت أن المجيبة زينب
Semua ini berlaku jika ia berkata, “Aku tahu bahwa yang menjawab adalah Zainab.”
فأما إذا قال حسبت أن التي أجابتني عمرة وما ظننتها زينب فخاطبتها بالطلاق على ظن أنها عمرة
Adapun jika ia berkata, “Saya mengira bahwa yang menjawab saya adalah ‘Amrah dan saya tidak menyangka bahwa dia adalah Zainab, lalu saya menjatuhkan talak kepadanya dengan dugaan bahwa dia adalah ‘Amrah.”
قال ابن الحداد أما عمرة فلا تطلق فإنه ناداها وسمّاها ثم خاطب بالطلاق غيرَها فانقطع خطاب الطلاق عن النداء فنجعل كأنّ النداء لم يكن فلا يبقى فيها عُلقة إلا أنه ظن المخاطبةَ عمرة وهذا لا يقتضي وقوعَ الطلاق على عمرة فإنه لو خاطب واحدةً من نسائه وقال أنت طالق ثم قال خاطبتها على ظن أنها عمرة فإذا هي زينب فيقع على زينب المخاطبة ولا تطلق عمرة هذا قولنا في عمرة
Ibnu al-Haddad berkata: Adapun ‘Amrah, maka ia tidak jatuh talak, karena ia telah dipanggil dan disebut namanya, kemudian talak itu ditujukan kepada selainnya, sehingga ucapan talak itu terputus dari panggilan tersebut. Maka kita anggap seolah-olah panggilan itu tidak pernah ada, sehingga tidak tersisa keterkaitan apa pun padanya, kecuali bahwa ia menyangka orang yang diajak bicara itu adalah ‘Amrah. Namun, hal ini tidak menyebabkan jatuhnya talak atas ‘Amrah. Sebab, jika seseorang berbicara kepada salah satu istrinya dan berkata, “Engkau tertalak,” lalu ia berkata, “Aku mengira yang aku ajak bicara itu adalah ‘Amrah, ternyata dia adalah Zainab,” maka talak itu jatuh kepada Zainab, orang yang diajak bicara, dan tidak jatuh kepada ‘Amrah. Inilah pendapat kami tentang ‘Amrah.
وهل تطلق زينب التي أجابت ذَكَر فيه وجهين أحدهما تطلق وهو الظاهر ولهذا قطعنا الطلاق عن عمرة ولو قيل المخاطبة تطلق ظاهراً والتي ناداها أولاً هل تطلق أم لا فعلى وجهين لكان محتملاً
Apakah Zainab yang menjawab juga jatuh talak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, jatuh talak, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Oleh karena itu, kita memutuskan bahwa talak terjadi pada ‘Amrah. Jika dikatakan bahwa yang diajak bicara jatuh talak secara zhahir, sedangkan yang pertama kali dipanggil, apakah jatuh talak atau tidak, maka terdapat dua pendapat, dan hal ini masih mungkin diperdebatkan.
فرع
Cabang
إذا كان تحته امرأتان فقال لإحداهما أنت طالق إن دخلتِ الدار لا بل هذه وأشار إلى الأخرى قال أصحابنا إن أطلق لفظه وتحقق أنه رام تطليق الثانية بقوله لا بل هذه فمطْلَق ذلك يقتضي أن المرأتين جميعاًً تطلقان إذا دخلت الأولى الدار
Jika seseorang memiliki dua istri lalu berkata kepada salah satu dari keduanya, “Engkau tertalak jika engkau masuk ke dalam rumah,” kemudian ia berkata, “Bukan, tetapi yang ini,” sambil menunjuk kepada istri yang lain, para ulama kami mengatakan: Jika ia mengucapkan kata-katanya secara mutlak dan benar-benar bermaksud menalak istri kedua dengan ucapannya “bukan, tetapi yang ini,” maka secara mutlak hal itu mengharuskan kedua istri tersebut tertalak jika istri pertama masuk ke dalam rumah.
ومعنى الكلام أنت طالق إن دخلتِ الدار لا بل هذه عند دخولك فلا يصح رجوعه عن طلاق الأولى ويُثبت الثانية فيقع الطلاق عليهما جميعاً عند دخول الأولى
Makna dari ucapan tersebut adalah: “Engkau tertalak jika engkau masuk rumah, tidak, melainkan ini (talak) saat engkau masuk.” Maka tidak sah baginya untuk menarik kembali talak yang pertama, dan talak yang kedua tetap berlaku, sehingga kedua talak itu jatuh bersamaan ketika yang pertama masuk.
ولو قال أردت بقولي لا بل هذه أن هذه تطلق إذا دخلت هي بنفسها الدار فهل يُقبل ذلك منه أم لا فعلى وجهين أحدهما يُقبل منه ويحمل الكلام عليه للاحتمال الظاهر فيه وحقيقة عطف هذه على الأولى أن تكون مثلَها وشريكتَها في المعنى ثم الأولى لا تطلق إلا بدخول الدار فكذلك الثانية ينبغي ألا تطلق حتى تدخل بنفسها الدار إذا فُسّر قوله بهذا
Jika seseorang berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku ‘tidak, tetapi yang ini’ adalah bahwa yang ini ditalak jika ia sendiri masuk ke dalam rumah,” apakah hal itu diterima darinya atau tidak? Ada dua pendapat: salah satunya, diterima darinya dan ucapan tersebut ditafsirkan demikian karena adanya kemungkinan makna yang jelas di dalamnya. Hakikat penggabungan (‘athf) “yang ini” pada yang pertama adalah bahwa keduanya sama dan sepadan dalam makna; kemudian, yang pertama tidak ditalak kecuali setelah masuk ke dalam rumah, maka demikian pula yang kedua seharusnya tidak ditalak sampai ia sendiri masuk ke dalam rumah jika ucapannya ditafsirkan seperti itu.
والوجه الثاني وهو اختيار القفال أنه لا يقبل ذلك منه في الثانية على هذا الوجه ولكن يحمل لفظه على طلاق الثانية بدخول الأولى ولا يصدق فيما قاله من إرادة دخولها بنفسها وتمسك فيما قاله بمسألة وهي أنه قال الطلاق يقع بالكناية تارةً وبالصّريح أخرى والأيْمان لا تنعقد بالكنايات وبيانه أنه لو قال لإحدى امرأتيه أنت طالق إذا دخلت الدار ثم قال للأخرى أنت شريكتها فإن أراد بذلك أن الثانية تطلق إذا طلقت الأولى فيقبل منه ذلك وإن أراد بذلك أنها إذا دخلت الدار بنفسها طلقت كالأولى إذا دخلت فلا يقبل ذلك منه
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan al-Qaffal, adalah bahwa pernyataan tersebut tidak diterima darinya pada istri kedua dengan cara seperti ini. Namun, ucapannya ditafsirkan sebagai talak atas istri kedua yang terjadi karena masuknya istri pertama, dan ia tidak dibenarkan dalam klaimnya bahwa yang ia maksud adalah talak atas istri kedua karena masuknya sendiri. Ia berpegang pada suatu permasalahan, yaitu bahwa talak terkadang terjadi dengan kināyah dan terkadang dengan sharih, sedangkan sumpah tidak sah dengan kināyah. Penjelasannya, jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Engkau tertalak jika engkau masuk ke rumah,” lalu ia berkata kepada istri yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” maka jika ia bermaksud bahwa istri kedua tertalak jika istri pertama tertalak, maka hal itu diterima darinya. Namun, jika ia bermaksud bahwa istri kedua tertalak jika ia sendiri masuk ke rumah, seperti halnya istri pertama jika ia masuk, maka hal itu tidak diterima darinya.
وهذه المسألة التي استشهد القفال بها ربما لا تَسْلَم دعوى الوفاق فيها والقول الجامع فيه أنه لو حلف بالله على فعلٍ أو تركٍ ثم قال الفعلُ الآخَر مثلُ الفعل الأول فلا يكون حالفاً فإن عماد اليمين بالله تعالى ذكر الاسم المعظم ولم يجر ذلك الاسم في الفعل الثاني الذي أشار إليه
Masalah yang dijadikan contoh oleh al-Qaffal ini mungkin tidak sepenuhnya selamat dari klaim adanya kesepakatan di dalamnya. Pernyataan yang mencakup seluruhnya adalah: jika seseorang bersumpah demi Allah untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, lalu ia berkata, “perbuatan yang lain sama dengan perbuatan yang pertama,” maka ia tidak dianggap bersumpah. Sebab, inti dari sumpah dengan nama Allah Ta‘ala adalah penyebutan nama yang agung itu, dan nama tersebut tidak disebutkan pada perbuatan kedua yang ia maksudkan.
وإذا قال لإحدى امرأتيه أنت طالق ثم قال لضرتها أنت شريكتها ونوى التسويةَ بينهما في الطلاق فهذا مقبول ولو قال لإحدى امرأتيه إن دخلت الدار فأنت طالق ثم قال للأخرى أنت شريكتها وأراد أنك تطلقين إذا طلقت فهذا يثبت فإنه إشراك في الطلاق عند وقوعه
Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Engkau tertalak,” lalu berkata kepada madunya, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia berniat menyamakan keduanya dalam talak, maka hal itu diterima. Jika ia berkata kepada salah satu istrinya, “Jika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak,” lalu berkata kepada yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia maksudkan bahwa engkau akan tertalak jika yang pertama tertalak, maka hal itu berlaku, karena ini merupakan penyekutuan dalam talak ketika talak itu terjadi.
ولو علق طلاق الأولى بصفة ثم قال للأخرى أنت شريكتها ونوى تعليق طلاقها بالدخول فهذا محل الوجهين فإن هذا يتردد بين الإشراك في اليمين وبين الإشراك في الطلاق فإذا قلنا يقبل الإشراك في الطلاق فالتعليق قريب منه ومن لم يَقْبل قوله في حق الثانية إن قال أردت تعليق طلاقها بدخول نفسها فلا يوقع عليها طلاقاً إذا دخلت الأولى بل تُلغى اللفظة ولو قال لإحدى امرأتيه إن دخلت الدار فأنت طالق لا بل هذه ثم زعم أنه نوى تعليق طلاق الثانية بدخولها في نفسها فإن قبلنا هذا فلا كلام وإن لم نقبله حكمنا بأنها تطلق بدخول الأولى فإن قوله لا بل هذه يترتب على كلام صريح في الطلاق منتظمٍ معه انتظاماً يقتضي الطلاق لا محالة وقوله أنت شريكةُ الأولى كلامٌ مبتدأ متردّدٌ فإن حمل على محملٍ غير صحيح بطل اللفظ والحمل
Jika seseorang menggantungkan talak istri pertama pada suatu sifat, kemudian berkata kepada istri yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia berniat menggantungkan talak istri kedua dengan masuknya (istri kedua), maka hal ini merupakan tempat terjadinya dua pendapat. Sebab, hal ini bisa dipahami sebagai penyekutuan dalam sumpah atau penyekutuan dalam talak. Jika kita mengatakan bahwa penyekutuan dalam talak diterima, maka penggantungannya dekat dengan hal itu. Namun, siapa yang tidak menerima ucapannya terkait istri kedua, jika ia berkata, “Aku bermaksud menggantungkan talaknya dengan masuknya dirinya sendiri,” maka talak tidak jatuh atasnya jika istri pertama masuk, bahkan ucapan itu dianggap batal. Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Jika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak, tidak, melainkan yang ini,” kemudian ia mengaku bahwa ia bermaksud menggantungkan talak istri kedua dengan masuknya dirinya sendiri, maka jika kita menerima hal ini, tidak ada masalah. Namun, jika kita tidak menerimanya, maka kita memutuskan bahwa ia tertalak dengan masuknya istri pertama. Sebab, ucapannya “tidak, melainkan yang ini” mengikuti ucapan yang jelas dalam talak dan berkaitan dengannya dengan keterkaitan yang pasti menimbulkan talak. Sedangkan ucapannya “engkau adalah sekutu istri pertama” adalah ucapan yang berdiri sendiri dan masih diperselisihkan. Jika ditafsirkan dengan makna yang tidak benar, maka ucapan itu batal dan penafsirannya juga batal.
فرع
Cabang
إذا قال الرجل وتحته امرأتان زينب وعمرة فقال لزينبٍ إن طلقتك فعمرة طالق وقال لعمرة إن طلقتك فزينب طالق فقد علق طلاق عمرة ابتداء ثم علّق طلاق زينب انتهاء فلو طلق عمرة أولاً تنجيزاً طُلِّقت وطلقت زينب فإنه قال إن طلقت عمرة فزينب طالق وهل تطلق عمرة طلقة أخرى غير المنجزة بسبب أن الطلاق وقع على زينب وقد قال إن طلقت زينب فعمرة طالق
Jika seorang laki-laki yang memiliki dua istri, Zainab dan Amrah, berkata kepada Zainab, “Jika aku menceraikanmu maka Amrah tertalak,” dan berkata kepada Amrah, “Jika aku menceraikanmu maka Zainab tertalak,” maka ia telah menggantungkan talak Amrah terlebih dahulu, kemudian menggantungkan talak Zainab setelahnya. Jika ia menceraikan Amrah terlebih dahulu secara langsung, maka Amrah tertalak dan Zainab juga tertalak, karena ia berkata, “Jika aku menceraikan Amrah maka Zainab tertalak.” Apakah Amrah tertalak lagi selain talak yang langsung itu, karena talak juga jatuh pada Zainab, sedangkan ia berkata, “Jika aku menceraikan Zainab maka Amrah tertalak?”
طريق التحقيق في ذلك أن نقول قد قال ابتداء إن طلقت زينب فعمرة طالق فمهما أنشأ بعد ذلك تعليق طلاق زينب ثم وقع الطلاق بالصفة فقد طلق زينب ومعلوم أنه بعد ما ذكر أولاً تعليق طلاق عمرة علق بعد ذلك طلاق زينب حيث قال آخراً إن طلقت عمرة فزينب طالق فلما طلقت زينب بوجود الصفة فتعود طلقة إلى عمرة لا محالة فتطلق طلقتين طلقةً بالتنجيز وطلقة بالصّفة وزينب لا تلحقها إلا طلقة واحدة
Cara penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah sebagai berikut: Pada awalnya ia berkata, “Jika aku menceraikan Zainab, maka Amrah tertalak.” Maka, kapan pun setelah itu ia membuat taklik talak Zainab, lalu talak itu terjadi sesuai syarat, berarti Zainab telah tertalak. Sudah jelas bahwa setelah ia menyebutkan pertama kali taklik talak Amrah, kemudian ia men-taklik talak Zainab, yaitu ketika ia berkata terakhir, “Jika aku menceraikan Amrah, maka Zainab tertalak.” Maka ketika Zainab tertalak karena terpenuhinya syarat, satu talak kembali kepada Amrah tanpa diragukan, sehingga Amrah tertalak dua kali: satu talak secara langsung (tanpa syarat) dan satu talak karena syarat. Sedangkan Zainab hanya terkena satu talak saja.
ولو كان المسألة بحالها ولكنه طلّق زينب أولاً فتطلق عمرة فإنه قد قال ابتداء إن طلقت زينب فعمرة طالق ولا تعود طلقة إلى زينب وذلك أنه لم يعلق طلاق زينب إلا انتهاء لمّا قال إن طلقت عمرة فزينب طالق فينبغي أن تطلق بعد هذا عمرة إنشاء أو يبتدىء فيعلق بعد ذلك طلاقها ولم يوجد بعد القول الأخير تعليق طلاق عمرة وإنما علّق طلاقها قبل ذلك
Jika permasalahan tetap seperti semula, namun ia menceraikan Zainab terlebih dahulu sehingga Amrah pun dicerai, maka ia telah mengatakan sejak awal: “Jika aku menceraikan Zainab, maka Amrah tertalak.” Talak itu tidak kembali kepada Zainab, karena ia tidak menggantungkan talak Zainab kecuali sebagai akibat dari ucapannya: “Jika aku menceraikan Amrah, maka Zainab tertalak.” Maka seharusnya setelah itu Amrah dicerai secara langsung atau ia memulai dan kemudian menggantungkan talaknya setelah itu. Namun, setelah ucapan terakhir tersebut, tidak ada penggantungan talak Amrah; talaknya hanya digantungkan sebelumnya.
وعبرة هذه المسألة أنه لو قال لامرأته زينب إن دخلتِ الدار فأنتِ طالق ثم قال لعبده إن طلقتُ زينب فأنت حرّ فإذا دخلت الدار وطلقت لم يعتِق العبد فإن تعليق طلاق المرأة سبق تعليق العتق
Inti dari permasalahan ini adalah jika seseorang berkata kepada istrinya, Zainab, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata kepada budaknya, “Jika aku menalak Zainab, maka kamu merdeka,” maka jika Zainab masuk rumah dan ia menalaknya, budak tersebut tidak menjadi merdeka, karena penangguhan talak terhadap istri lebih dahulu daripada penangguhan pembebasan budak.
وبمثله لو قال لعبده أولاً إن طلقتها فأنت حرٌ ثم ابتدأ بعد ذلك فعلّق طلاقها بدخول الدار فإذا دخلت طلقت وحصل العتق
Demikian pula, jika seseorang berkata kepada budaknya terlebih dahulu, “Jika aku menceraikannya, maka kamu merdeka,” kemudian setelah itu ia memulai lagi dan menggantungkan talak istrinya dengan masuk ke rumah, maka jika istrinya masuk ke rumah, talak terjadi dan budak tersebut menjadi merdeka.
هذا هو الأصل وقد يحوّج بعض الصور إلى مزيد فكرٍ
Inilah kaidah dasarnya, namun dalam beberapa kasus tertentu mungkin diperlukan pemikiran tambahan.
فرع
Cabang
الذمي الحرّ إذا نكح امرأة وطلقها واحدة ثم نقض العهد واستُرِق فأراد أن ينكح امرأته التي طلقها في الحرّية طلقةً واحدة فنكحها بإذن السّيد ملك عليها طلقةً واحدةً فإنه طلقها من قبلُ طلقةً وهي محسوبةٌ ثم نكح وهو رقيق ولا يملك الرقيق إلا طلقتين وقد استوفى إحداهما
Seorang dzimmi yang merdeka apabila menikahi seorang wanita lalu menceraikannya dengan satu talak, kemudian ia membatalkan perjanjian (dzimmah) dan menjadi budak, lalu ia ingin menikahi kembali istrinya yang telah ia ceraikan dengan satu talak saat masih merdeka, kemudian ia menikahinya dengan izin tuannya, maka ia memiliki atasnya satu talak saja. Sebab, ia telah menceraikannya sebelumnya dengan satu talak dan talak itu tetap dihitung, lalu ia menikahinya kembali dalam keadaan sebagai budak, sedangkan budak hanya memiliki dua talak, dan ia telah menggunakan salah satunya.
وبمثله لو نكح في الكفر امرأة وطلقها طلقتين ثم التحق بدار الحرب فاستُرق بعد نقض العهد وأراد أن ينكح تلك المرأة بعينها قال ابن الحداد له ذلك ويملك عليها طلقة واحدةً والعلّة فيه أنه لما طلقها في الحرّية لم تحرَّم عليه إذ هو حر فيستحيل أن يقال طرْدُ الرق يحرم عليه امرأة لم تكن محرمة في الحرية
Demikian pula, jika seseorang menikahi seorang wanita saat masih kafir lalu menceraikannya dengan dua talak, kemudian ia kembali ke negeri perang lalu menjadi budak setelah perjanjian damai dibatalkan, dan ia ingin menikahi wanita yang sama, menurut Ibn al-Haddad, ia boleh melakukannya dan hanya memiliki satu talak atasnya. Alasannya adalah karena ketika ia menceraikannya saat masih merdeka, wanita itu tidak menjadi haram baginya sebab ia masih berstatus merdeka. Maka tidak mungkin dikatakan bahwa status budak membuat wanita itu menjadi haram baginya, padahal saat merdeka pun wanita itu tidak haram baginya.
قال الشيخ من أصحابنا من قال إذا طلقها ثنتين في الحرّية ثم استُرق فأراد أن ينكح تلك المرأة قبل أن تنكح غيره فليس له ذلك فإنه الآن عبد وما مضى من الطلاق محسوب عليه وقد سبقت طلقتان فيجعل كأنهما سَبقتا في الرق
Syekh berkata: Di antara para sahabat kami ada yang berpendapat bahwa jika seseorang menceraikan istrinya dua kali saat ia masih merdeka, kemudian ia menjadi budak dan ingin menikahi kembali wanita itu sebelum wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain, maka ia tidak boleh melakukannya. Sebab, sekarang ia adalah seorang budak dan talak yang telah terjadi tetap dihitung atasnya, dan dua talak telah terjadi sebelumnya, sehingga dianggap seolah-olah kedua talak itu terjadi saat ia dalam keadaan sebagai budak.
والصّحيح الأول
Yang benar adalah pendapat pertama.
ومما يلحق بهذه المسألة أن العبد إذا طلق امرأته طلقةً واحدة ثم عَتَقَ فيملك عليها طلقتين في الحرّية وبمثله لو طلق طلقتين ثم عَتَقَ فالذي ذكره الأصحاب بأجمعهم أنه لا ينكحها حتى تنكح غيره
Termasuk dalam permasalahan ini adalah apabila seorang budak menceraikan istrinya dengan satu kali talak, kemudian ia dimerdekakan, maka ia memiliki hak dua kali talak lagi dalam status merdeka. Demikian pula, jika ia menceraikan dengan dua kali talak lalu dimerdekakan, maka sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama secara keseluruhan, ia tidak boleh menikahinya kembali hingga istrinya menikah dengan laki-laki lain terlebih dahulu.
قال الشيخ رأيت لبعض أصحابنا وجهاً غريباً أنه إذا عتق فله أن ينكحها على طلقة وهذا قد يخرّج على الوجه الذي حكيناه في الحرّ الذمّي إذا طلق طلقتين ثم استرق فإن قلنا الاعتبار برقّه في الحال فلا ينكحها فنقول الاعتبار بالحرية الطارئة والحرّ يملك ثلاثاًً وهذا بعيد جدّاً ولكن حكى الشيخ الوجهين في المسألتين وصرّح بالحكاية
Syekh berkata: Aku melihat sebagian ulama kami memiliki pendapat yang unik, yaitu jika seorang budak dimerdekakan, maka ia boleh menikahinya dengan satu talak. Pendapat ini dapat dianalogikan dengan kasus yang telah kami sebutkan tentang seorang laki-laki merdeka beragama dzimmi yang telah mentalak istrinya dua kali, kemudian ia menjadi budak. Jika kita mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah status perbudakannya saat itu, maka ia tidak boleh menikahinya. Namun, jika kita mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah kemerdekaan yang datang kemudian, maka seorang merdeka memiliki hak tiga talak. Namun, ini sangat jauh (dari pendapat yang kuat). Akan tetapi, Syekh telah meriwayatkan dua pendapat dalam kedua permasalahan tersebut dan menegaskan riwayatnya.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها إذا دخلت الدار فأنت طالق واحدةً ثم قال لها قبل الدخول إذا دخلت الدار فأنت طالق ثنتين فإذا دخلت الدار طلقت ثلاثاً فإن مضمون اليمينين يقعان معاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak satu,” kemudian ia berkata lagi sebelum istrinya masuk, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak dua,” maka apabila istrinya masuk rumah, jatuhlah talak tiga, karena kedua sumpah tersebut berlaku bersamaan.
ولو قال لغير المدخول بها أنت طالق وطالق فلا تلحقها إلا الطلقةُ الأولى
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Engkau aku talak dan talak,” maka yang jatuh padanya hanyalah talak yang pertama saja.
ولو قال لعبد من عبيده إذا مت فأنت حرّ ثم قال لآخَر هكذا إذا مت فأنت حر فإذا مات لم يقدّم المذكور أولاً بالحرية وإن قَدّم ذكرَه فهذا نظير تعليقين متعاقبين
Jika seseorang berkata kepada salah satu budaknya, “Jika aku mati, maka kamu merdeka,” kemudian ia berkata kepada budak yang lain hal yang sama, “Jika aku mati, maka kamu merdeka,” maka ketika ia meninggal dunia, tidak didahulukan budak yang disebutkan pertama untuk dimerdekakan. Jika ia mendahulukan penyebutan budak tersebut, maka hal ini serupa dengan dua taklik (penggantungan) yang berurutan.
ولو قال في مرضهِ سالم حرّ وغانم حر فسالم مقدم فإن العتق ينفذ فيه قبل التعبير عن غانم وهذا نظير ما لو قال لغير المدخول بها أنت طالق وطالق ولو قال لغير المدخول بها إذا طلقتك فأنت طالق فطلقها وقعت المنجّزة ولم تقع الأخرى بعدها فإن المنجزة متقدمة وقد أوضحنا هذا في الأصول
Jika seseorang dalam keadaan sakit berkata, “Salim merdeka dan Ghanim merdeka,” maka Salim didahulukan, karena pembebasan (Salim) berlaku padanya sebelum pernyataan tentang Ghanim. Ini serupa dengan kasus jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Engkau aku talak dan talak,” atau jika ia berkata kepada istri yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” lalu ia menceraikannya, maka talak yang langsung (munajjazah) terjadi, dan yang lainnya tidak terjadi setelahnya, karena yang langsung itu lebih dahulu. Kami telah menjelaskan hal ini dalam ilmu ushul.
ولو قال مهما أعتقت سالماً فغانم حرّ فإذا أعتق سالماً فيكون عتقه مقدّماً على عتق غانم عند ضيق التركة
Jika seseorang berkata, “Siapa pun yang aku merdekakan dari Salim, maka Ghanim juga merdeka,” lalu ia memerdekakan Salim, maka pemerdekaan Salim didahulukan atas pemerdekaan Ghanim ketika harta warisan terbatas.
ولو قال لغير المدخول بها إذا طلقتك فأنت طالق مع الطلقة المنجزة ثم طلقها فهل يقع الطلقةُ الأخرى عليها فعلى وجهين ذكرهما رضي الله عنه أحدهما يقعان لاجتماعهما واقترانهما والثاني لا يقع إلا المنجّزة فإنه غاير بينهما في اللفظ
Jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak bersamaan dengan talak yang dijatuhkan secara langsung,” kemudian ia menceraikannya, apakah talak yang lain juga jatuh padanya? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh beliau rahimahullah: pertama, kedua talak itu jatuh karena keduanya berkumpul dan bersamaan; kedua, yang jatuh hanya talak yang dijatuhkan secara langsung, karena ia membedakan antara keduanya dalam lafaz.
قال وكذلك اختلف أصحابنا في أنه لو قال إذا أعتقت سالماً فغانم حر معه ثم أعتق سالماً فهل يقدّم عتقه على عتق غانم فعلى وجهين
Demikian pula, para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai seseorang yang berkata, “Jika aku memerdekakan Salim, maka Ghanim juga merdeka bersamanya,” kemudian ia memerdekakan Salim. Apakah pembebasan Salim didahulukan atas pembebasan Ghanim? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وكل ذلك مما قدمنا أصوله فإن أعدنا شيئاً مما سبق فالقصد الإفادة لا الإعادة
Semua itu merupakan hal-hal yang telah kami kemukakan pokok-pokoknya; maka jika kami mengulangi sesuatu dari yang telah lalu, tujuannya adalah untuk memberikan manfaat, bukan sekadar mengulang.
ومما ذكره رضي الله عنه أنه لو قال لغير المدخول بها أنت طالق طلقة قبلها طلقة قال في المسألة ثلاثة أوجه أحدها لا يقع عليها شيء وتدور المسألة فإذا وقع عليها طلقة وهي غير ممسوسة فلا تلحقها الثانية وإذا لم تلحقها الثانية لم تلحقها الأولى فإن الارتباط مشروط بينهما
Dan di antara yang beliau sebutkan, semoga Allah meridhainya, bahwa jika seseorang berkata kepada istri yang belum digauli, “Engkau tertalak satu kali, sebelumnya ada satu talak,” maka dalam masalah ini terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah tidak jatuh talak apa pun padanya, dan masalah ini berputar-putar; jika jatuh satu talak padanya sementara ia belum disentuh (belum digauli), maka talak kedua tidak menyusulnya. Jika talak kedua tidak menyusulnya, maka talak pertama pun tidak menyusulnya, karena keterkaitan antara keduanya adalah syarat.
والوجه الثاني تلحقها طلقتان أما الواحدة فبقوله أنت طالق طلقة وأما الثانية بقوله قبلها طلقة فيلغو قوله قبلها فيكون كما لو قال أنت طالق الشهر الماضي فكأنه جمع عليها طلقتين
Adapun pendapat kedua, maka jatuh dua talak padanya. Talak yang pertama karena ucapannya, “Engkau tertalak satu talak.” Adapun talak yang kedua karena ucapannya sebelumnya, “Satu talak.” Maka ucapannya sebelumnya menjadi gugur, sehingga seakan-akan seperti orang yang berkata, “Engkau tertalak pada bulan lalu,” sehingga seolah-olah ia menjatuhkan dua talak atasnya.
وهذا ضعيف لا اتّجاه له
Ini lemah dan tidak memiliki dasar.
والوجه الثالث أنه تلحقها طلقة واحدة وهو المشهور نقلاً وتعليلاً وسرّ الدّور في هذه المسألة قد ذكرته فيما تقدّم وأوضحت أن هاتين الطلقتين تقعان على المدخول بها بدفعتين في زمانين وكيف وقوعهما وترتّبهما فلا نعيد ما سبق
Pendapat ketiga adalah bahwa jatuh padanya satu kali talak, dan inilah yang masyhur baik dari segi riwayat maupun alasan. Rahasia dari perputaran masalah ini telah saya sebutkan sebelumnya, dan saya telah menjelaskan bahwa dua talak tersebut jatuh pada istri yang sudah digauli dalam dua kali penjatuhan pada dua waktu yang berbeda. Bagaimana cara jatuhnya dan urutannya, tidak perlu kami ulangi apa yang telah disebutkan sebelumnya.
والذي زدناه الوجه الذي حكاه الشيخ في وقوع الطلاقين على غير المدخول بها
Tambahan dari kami adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syekh mengenai terjadinya dua talak atas perempuan yang belum digauli.
فرع
Cabang
إذا علق العبد ثلاث طلقات بصفة فقال لامرأته إن دخلتِ الدار فأنت طالق ثلاثاًً فعتَقَ العبد أولاً ثم وجدت الصفة بعدُ فقد اختلف أصحابنا اختلافاً مشهوراً فذهب بعضهم إلى أنه لا يقع إلا طلقتان فإنه كان لا يملك غيرهما حالة التعليق وكان تعليقه للثالثة بمثابة تعليق الطلاق قبل النكاح
Jika seorang budak menggantungkan tiga talak pada suatu syarat, lalu ia berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak tiga,” kemudian budak tersebut dimerdekakan terlebih dahulu, lalu syarat itu terjadi setelahnya, maka para ulama kami berbeda pendapat secara masyhur. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang jatuh hanyalah dua talak saja, karena pada saat penggantungan ia tidak memiliki hak lebih dari dua talak, dan penggantungannya terhadap talak ketiga dianggap seperti penggantungan talak sebelum akad nikah.
والوجه الثاني أن الثالثة تقع فإنه كان مالكاً لأصل النكاح والطلاق تصرّفٌ فيه والأقيسُ الوجه الأول
Adapun pendapat kedua, talak yang ketiga jatuh, karena ia adalah pemilik asal akad nikah, dan talak merupakan bentuk tindakan terhadapnya. Namun, yang lebih sesuai dengan qiyās adalah pendapat pertama.
وإذا قال الرّجل لأَمته إذا علقت بمولود بعد لفظي هذا فهو حرٌ فالولد الجديد إذا أتت به هل تنفذ فيه الحرية فعلى وجهين أحدهما لا ينفذ لأنه لم يكن مالكاً لذلك المولود حالة التعليق إذ شرط كون الشيء مملوكاً أن يكون موجوداً
Jika seorang laki-laki berkata kepada budaknya perempuan, “Jika engkau mengandung anak setelah ucapanku ini, maka anak itu merdeka,” maka anak yang baru lahir jika ia melahirkannya, apakah kemerdekaan berlaku padanya? Ada dua pendapat. Salah satunya, kemerdekaan tidak berlaku, karena pada saat pengaitan ucapan tersebut, ia belum memiliki anak itu. Syarat sesuatu dapat dimiliki adalah ia telah ada (eksis).
والثاني ينفذ نظراً إلى المِلْك في الأصل
Yang kedua berlaku dengan mempertimbangkan kepemilikan pada asalnya.
ولو قال العبد لزوجته إذا مات مالكي فأنت طالق طلقتين وقال السيد لذلك العبد إذا مت فأنت حرّ فمات السّيد وحصلت الحرية قال ابن الحداد يقع طلقتان ويملك الرجعة وعلّل فقال لأن الطلاق وقع بعد الحرية
Jika seorang budak berkata kepada istrinya, “Jika tuanku meninggal, engkau tertalak dua kali,” lalu sang tuan berkata kepada budak itu, “Jika aku mati, engkau merdeka,” kemudian sang tuan meninggal dan kemerdekaan pun terjadi, Ibn al-Haddad berpendapat bahwa jatuhlah dua talak dan ia (bekas budak) masih memiliki hak ruju‘. Ia beralasan, karena talak itu terjadi setelah kemerdekaan.
قال الشيغ جوابه في المسألة صحيح وتعليله باطل فإنه قال وقع الطلاق بعد الحرية وليس كذلك بل وقعا معاً فإنهما عُلِّقا بالموت على وجهٍ واحد فلا معنى لتقدم الحرية على الطلاق وإذا وقعت الطلقتان في الحرية اقتضى وقوعُهما فيها استعقابَ الرّجعة وليس كما لو وقعا في الرق
Syekh berkata, jawabannya dalam masalah ini benar namun alasannya batal, karena ia mengatakan bahwa talak terjadi setelah kemerdekaan, padahal tidak demikian, melainkan keduanya terjadi bersamaan. Keduanya digantungkan pada kematian dengan cara yang sama, sehingga tidak ada makna mendahulukan kemerdekaan atas talak. Jika kedua talak itu terjadi dalam keadaan merdeka, maka terjadinya dalam keadaan merdeka mengharuskan adanya hak ruju‘ setelahnya, berbeda halnya jika keduanya terjadi dalam keadaan budak.
وحكى الشيخ عن بعض الأصحاب وجهاً بعيداً أنها تحرم عليه لأن الحرية لم تتقدم على الطلاق وهذا على نهاية الضّعف
Syekh menukil dari sebagian sahabat satu pendapat yang lemah, yaitu bahwa perempuan itu menjadi haram baginya karena kemerdekaan tidak mendahului talak, dan pendapat ini sangat lemah.
وإذا فرعنا على ما أفتى به ابن الحداد وهو المذهب الذي لا يجوز غيره فلو قال العبد لزوجته إذا مات سيّدي فأنت طالق في آخر جزء من حياته وقال السيد إذا مت فعبدي هذا حرّ فالطلاق يقع في زمان الرق ولا رجعة فإن الرّجعة لا تثبت بعد الطلاق وإنما تثبت حيث تثبت مع الطلاق ومعنى وقوع الطلاق في الرق وقوع الحرمة الكبرى وهذا يناقض ثبوتَ الرجعة لا محالة وهذا ذكرناه على وضوحه ليقطع وهمَ من يظن أن وقوع الطلاق يستعقب الرجعة وقد يطلق الفقهاء ذلك وهو تجوّز منهم والتحقيق ما نصصنا عليه
Jika kita merujuk pada pendapat yang difatwakan oleh Ibnu al-Haddad, yaitu mazhab yang tidak boleh diambil selainnya, maka jika seorang budak berkata kepada istrinya, “Jika tuanku meninggal, maka engkau tertalak pada bagian akhir dari hidupnya,” dan sang tuan berkata, “Jika aku mati, maka budakku ini merdeka,” maka talak terjadi pada masa perbudakan dan tidak ada hak ruju‘. Sebab, hak ruju‘ tidak berlaku setelah talak, melainkan hanya berlaku pada tempat yang memang ditetapkan bersamaan dengan talak. Makna jatuhnya talak pada masa perbudakan adalah terjadinya keharaman besar, dan hal ini secara pasti bertentangan dengan adanya hak ruju‘. Kami sebutkan hal ini dengan jelas agar menghilangkan anggapan orang yang menyangka bahwa jatuhnya talak otomatis menyebabkan adanya hak ruju‘. Kadang-kadang para fuqaha’ memang mengungkapkan demikian, namun itu hanyalah bentuk majaz dari mereka, sedangkan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami tegaskan.
فرع
Cabang
لو تزوج الرجل بجارية أبيه وعلّق طلاقها بموت الأب فإذا مات لم يقع الطلاق على ظاهر المذهب لأن الملك يحصل في الرقبة وحصوله يتضمّن انفساخ النكاح فلو وقع الطلاق لكان واقعاً على مملوكته وهذا محال
Jika seorang laki-laki menikahi budak perempuan ayahnya dan ia menggantungkan talak atasnya dengan kematian sang ayah, maka apabila sang ayah meninggal, talak tidak jatuh menurut pendapat yang zahir dalam mazhab. Sebab kepemilikan terjadi pada diri budak tersebut, dan terjadinya kepemilikan itu mengakibatkan batalnya pernikahan. Jika talak terjadi, berarti talak itu jatuh atas budak miliknya sendiri, dan hal ini mustahil.
وأبعد بعض أصحابنا وقال يقع الطلاق
Sebagian ulama kami berpendapat berbeda dan mengatakan bahwa talak tetap jatuh.
وهذا وهمٌ وغلط وإنما تخيّله من صار إليه من حيث اعتقد أن الملك يحصل مع الموت والانفساخُ يترتب عليه كما يشتري الرجل من يَعْتِق عليه فيملكه في لحظة ثم يعتِق عليه فظنّ ظانّون أن الانفساخ مع الملك كذلك يكون وليس الأمر كذلك فإن الانفساخ يحصل مع الملك والملك مع النكاح يتعاقبان تعاقب الضّدين وليس كما وقع الاستشهاد به فإنا قدّرنا ملك القريب اضطراراً ليصحّ العقد وهاهنا لا ضرورة إلى مناقضة الحقائق والقياسِ ولا تناقض في الحكم بالملك والفسخ جميعاًً فإن الملك سيبقى بعد الانفساخ مطرداً
Ini adalah kekeliruan dan kesalahan. Anggapan seperti itu muncul pada orang yang berpendapat demikian karena mereka mengira bahwa kepemilikan terjadi bersamaan dengan kematian, dan pembatalan (an-nifsakh) terjadi setelahnya, sebagaimana seseorang membeli budak yang kemudian menjadi merdeka baginya; ia memilikinya sejenak lalu budak itu langsung merdeka. Maka sebagian orang menyangka bahwa pembatalan dengan kepemilikan juga terjadi seperti itu. Padahal kenyataannya tidak demikian, karena pembatalan terjadi bersamaan dengan kepemilikan, dan kepemilikan dalam pernikahan saling bergantian seperti dua hal yang saling bertentangan. Tidak seperti contoh yang dijadikan dalil tersebut. Karena kita menetapkan kepemilikan kerabat secara terpaksa agar akadnya sah, sedangkan di sini tidak ada kebutuhan untuk menyalahi realitas dan qiyās. Tidak ada pertentangan dalam menetapkan kepemilikan dan pembatalan sekaligus, karena kepemilikan akan tetap ada setelah pembatalan secara terus-menerus.
وقد قال أبو إسحاق المروزي من اشترى قريبه حصل الملك والعتق معاً
Abu Ishaq al-Marwazi berkata, “Barang siapa membeli kerabatnya, maka kepemilikan dan pembebasan budak (‘itq) terjadi secara bersamaan.”
وزعم أن موجب العتق الملك وموجب الملك العقد وقد وقع الموجبان معاً ثم زعم أنه لا يمتنع ثبوت حكمين نقيضين يقتضيهما القياس وإنما الممتنع وجود ضدّين حساً ووقوعاً
Ia berpendapat bahwa sebab terjadinya pembebasan budak adalah kepemilikan, dan sebab terjadinya kepemilikan adalah akad, dan kedua sebab tersebut telah terjadi bersamaan. Kemudian ia berpendapat bahwa tidak mustahil adanya dua hukum yang saling bertentangan yang ditetapkan oleh qiyās; yang mustahil hanyalah adanya dua hal yang saling berlawanan secara inderawi dan secara nyata.
وهذا على نهاية السقوط فإن التناقض غير محتمل شرعاً وعقلاً
Dan ini adalah pada puncak kejatuhan, karena kontradiksi tidak mungkin terjadi baik secara syar‘i maupun secara akal.
وما ذكرناه فيه إذا لم يكن عليه دين فإن كان عليه دين فالجواب على ظاهر المذهب ما ذكرناه لأن الدين لا يمنع الميراث على الصحيح من المذهب وقال الإصطخري الدّين المستغرق يمنع الميراث وعلى هذه الطريقة يقع الطلاق لأنها لا تنتقل بالموت إليه
Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika ia tidak memiliki utang. Namun, jika ia memiliki utang, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, jawabannya adalah seperti yang telah kami sebutkan, karena utang tidak menghalangi warisan menurut pendapat yang sahih dalam mazhab. Al-Ishthakhri berpendapat bahwa utang yang meliputi seluruh harta menghalangi warisan. Berdasarkan pendapat ini, talak tetap terjadi karena hak tersebut tidak berpindah kepadanya dengan sebab kematian.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته أنت طالق مع أول موتي أو مع موتي أو قال أنت طالق مع انقضاء عدتك فالمذهب أنه لا يقع الطلاق فإنه جعل وقوع الطلاق مقارناً بحالة لا يتصوّر فيها نكاح وإنما يقع الطلاق في وقت يفرض فيه النكاح لولا الطلاق فصار كما لو قال أنت طالق بعد موتي أو بعد انقضاء عدتك والمخاطبةُ رجعية
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak bersamaan dengan kematianku” atau “dengan kematianku” atau berkata, “Engkau tertalak bersamaan dengan berakhirnya masa iddahmu,” maka menurut mazhab, talak tersebut tidak jatuh. Sebab, ia menjadikan jatuhnya talak bersamaan dengan keadaan yang tidak mungkin terjadi adanya pernikahan. Padahal, talak hanya terjadi pada waktu yang masih dianggap ada pernikahan jika bukan karena talak itu. Maka, hal ini sama saja seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak setelah kematianku” atau “setelah berakhirnya masa iddahmu,” dan ucapan tersebut termasuk talak raj‘i.
ولو قال أنت طالق مع آخر جزء من عدتك فقد ذكر الأصحاب وجهين في وقوع الطلاق ومنْعُ الوقوع ضعيف ساقط ولا تعلق لاشتراط كون محل الوقوع محبوساً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada akhir bagian terakhir dari masa ‘iddah-mu,” para ulama menyebutkan dua pendapat mengenai jatuhnya talak tersebut. Pendapat yang melarang jatuhnya talak adalah pendapat yang lemah dan tertolak, serta tidak ada kaitannya dengan syarat bahwa tempat jatuhnya talak harus dalam keadaan terikat (masih dalam masa ‘iddah).
وحكى الشيخ عن الخِضْري أنه قال إذا قال أنت طالق مع موتي أوْ مع انقضاء العدة يقع الطلاق وهذا خرجه على القول عن الإملاء فيه إذا قال لامرأته وهي حامل بولدين كلما ولدت ولداً فأنت طالق فإذا ولدت الولد الأول طَلَقت وإذا ولدت الثاني لم تَطْلُق بالولادة الثانية وتنقضي عدتها على الصحيح المنصوص عليه في الجديد
Syekh mengutip dari al-Khidri yang berkata: Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak bersamaan dengan kematianku” atau “bersamaan dengan berakhirnya masa iddah,” maka talak jatuh. Ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan, jika seseorang berkata kepada istrinya yang sedang hamil anak kembar, “Setiap kali engkau melahirkan seorang anak, engkau tertalak,” maka ketika ia melahirkan anak pertama, talak jatuh. Namun, ketika melahirkan anak kedua, talak tidak jatuh dengan kelahiran yang kedua, dan masa iddahnya berakhir menurut pendapat yang sahih dan dinyatakan dalam pendapat baru (al-jadid).
وقال في الإملاء يلحقها طلقة ثانية وتستقبل العدة بالأقراء ونحن نعلم أن العدة تنقضي بوضع الولد والطلاقُ المعلق بالولادة يقع مع انقضاء الولد فيقع الطلاق إذاً مع انقضاء العدة فخرجت المسألة في الموت والتعليق بالانقضاء على قولين
Dan ia berkata dalam kitab Al-Imlā’: “Dijatuhi talak kedua atasnya, dan ia memulai masa ‘iddah dengan hitungan quru’. Padahal kita mengetahui bahwa masa ‘iddah berakhir dengan kelahiran anak, dan talak yang digantungkan pada kelahiran terjadi bersamaan dengan berakhirnya masa kelahiran, sehingga talak itu jatuh bersamaan dengan berakhirnya masa ‘iddah. Maka permasalahan ini keluar dalam kasus kematian dan penggantungan pada berakhirnya masa ‘iddah menurut dua pendapat.”
قال الشيخ القول المذكور عن الإملاء في نهاية الضعف ولا استقامة له في القياس فهو ممّا لا يفرّع عليه والتخريج على الضعيف يقود المخرِّج إلى مقاربة مخالفة الإجماع
Syekh mengatakan bahwa pendapat yang disebutkan berdasarkan imlā’ berada pada tingkat kelemahan yang paling akhir dan tidak lurus menurut qiyās, sehingga tidak dapat dijadikan dasar pengembangan hukum, dan melakukan takhrīj atas pendapat yang lemah akan membawa orang yang melakukan takhrīj tersebut mendekati pelanggaran terhadap ijmā‘.
فرع
Cabang
إذا نكح امرأةً حاملاً من الزنا فقد ذكرنا أن النكاح يصحّ وفي حلّ الوطء وجهان أصحهما أنه لا يحرم فلو قال لها الزوج وهي حامل من الزنا وقد وطئها أنت طالق للسُّنة قال ابن الحداد لا يقع الطلاق أصلاً فإنه وطئها في طهر ووجود الحمل وعدمه بمثابةٍ وقد جرى الوطء فكان الطلاق في طهر جامعها فيه
Jika seseorang menikahi seorang wanita yang sedang hamil karena zina, telah kami sebutkan bahwa akad nikahnya sah, dan dalam hal kebolehan berhubungan suami istri terdapat dua pendapat; yang paling sahih adalah bahwa hal itu tidak diharamkan. Maka jika suami berkata kepada istrinya yang sedang hamil karena zina, dan ia telah menggaulinya, “Engkau aku talak untuk sunnah,” Ibn al-Haddad berpendapat bahwa talak tersebut sama sekali tidak jatuh, karena ia telah menggaulinya pada masa suci, dan ada atau tidak adanya kehamilan itu sama saja, dan hubungan suami istri telah terjadi, sehingga talak itu terjadi pada masa suci yang telah ia gauli istrinya di dalamnya.
ولو كان الحمل من الزوج ووطئها بعد ظهور الحمل ثم طلقها للسُّنة فيقع الطلاق فكأنا لا نجعل للحمل أثراً
Jika kehamilan itu dari suami, lalu suami menggaulinya setelah kehamilan itu tampak, kemudian menceraikannya dengan talak sesuai sunnah, maka talaknya tetap jatuh, seakan-akan kita tidak menjadikan kehamilan itu berpengaruh.
وممّا يتعلق بذلك أنها لو كانت ترى الدم وهي حامل من الزنا وقلنا الحامل تحيض فلو قال في زمن الدَّم أنت طالق للسُّنة فلا يقع الطلاق لمكان الدم وهي كحائل رأت الدّم
Dan termasuk hal yang berkaitan dengan itu adalah jika seorang wanita melihat darah sementara ia hamil akibat zina, dan kita berpendapat bahwa wanita hamil bisa mengalami haid, maka jika suaminya berkata pada masa keluarnya darah itu, “Engkau tertalak untuk sunnah,” maka talak tersebut tidak jatuh karena adanya darah, dan ia seperti wanita tidak hamil yang melihat darah.
ولو كان الحمل من الزوج وكانت ترى دماً وقلنا إنها تحيض فقال لها في زمان الدم الموجود في الحبل أنت طالق للسُّنة ففي وقوع الطلاق وجهان مشهوران ذكرناهما والفرق أنا لا نجعل للحمل من الزنا حكماً أصلاً
Jika kehamilan itu dari suami dan ia melihat darah, lalu kita katakan bahwa ia sedang haid, kemudian suaminya berkata kepadanya pada masa darah yang ada saat hamil itu, “Engkau tertalak dengan talak sunah,” maka dalam jatuhnya talak terdapat dua pendapat yang masyhur yang telah kami sebutkan. Perbedaannya adalah bahwa kita sama sekali tidak menetapkan hukum apa pun bagi kehamilan dari zina.
وكان شيخي يقول على هذا القياس يجب أن نقطع بأنّ الحامل من الزنا تحيض وهذا فيه نظر فإن اختلاف القول في أن الحامل هل تحيض أم لا أمرٌ متعلق بأن وجود الحمل هل يَنفي الحيضَ حكماً وهذا يستوي فيه الولد النسيب والدّعي
Dan guruku berkata, berdasarkan qiyās ini, seharusnya kita memastikan bahwa wanita hamil karena zina mengalami haid. Namun, hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena perbedaan pendapat mengenai apakah wanita hamil mengalami haid atau tidak berkaitan dengan apakah keberadaan kehamilan meniadakan haid secara hukum, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara anak yang sah maupun anak yang tidak sah.
فرع
Cabang
العبد إذا نكح امرأة وطلقها طلقتين وتبين أن سيده قد أعتقه ولم يدر أن العتق كان قبل الطلاق أو الطلاق كان قبل العتق فإن كان العتق مقدماً فلا شك في ثبوت الرجعة وإن كان الطلاق متقدّماً فقد حَرُمَت حتى تنكح زوجاً غيره
Seorang budak apabila menikahi seorang wanita dan menceraikannya dua kali, lalu ternyata tuannya telah memerdekakannya, namun tidak diketahui apakah pemerdekaan itu terjadi sebelum talak atau talak terjadi sebelum pemerdekaan, maka jika pemerdekaan lebih dahulu, tidak diragukan lagi bahwa hak ruju‘ tetap ada. Namun jika talak lebih dahulu, maka wanita itu telah menjadi haram baginya hingga ia menikah dengan suami yang lain.
وإذا أشكل الأمر ولم يَدْرِ واتفق الزوجان على الإشكال قال ابن الحدّاد تحرُم حتى تنكح غيره فإنا استيقنا رقّه وعرفنا وقوع الطلاق والأصل أن العتق لم يكن قبل الطلاق وقد وافقه معظم الأصحاب
Jika perkara menjadi samar dan tidak diketahui, lalu kedua suami istri sepakat bahwa perkara itu memang samar, Ibn al-Haddad berkata: Ia haram (kembali kepada suaminya) hingga ia menikah dengan laki-laki lain, karena kita telah yakin bahwa ia adalah budak dan mengetahui terjadinya talak, sedangkan asalnya adalah bahwa pembebasan budak belum terjadi sebelum talak. Pendapat ini juga disetujui oleh mayoritas para sahabat (ulama mazhab).
وذهب بعضهم إلى أن الرّجعة ثابتة فإن الأصل أن تحريم العقد لم يحصل فلا نقضي به إلا بثبت والأول هو المذهب
Sebagian ulama berpendapat bahwa ruju‘ tetap berlaku, karena pada dasarnya larangan akad belum terjadi, sehingga kita tidak menetapkannya kecuali dengan dalil yang pasti. Namun, pendapat pertama itulah yang menjadi mazhab.
فأما إذا اختلف الزوجان فقال الزوج أُعتقت أولاً ثم طلقتُ وقالت الزوجة طلقتَ أولاً ثم عَتَقْت فقد حرمتُ عليك فإن اتفقا في وقت العتق واختلفا في وقت الطلاق مثل أن يتفقا على أن العتق كان يوم الخميس وقال الزوج إنما طلقتُ يوم السبت وقالت المرأة بل يوم الأربعاء قبل الخميس فالقول في هذه الصورة قول الزوج فإن المطلِّق هو الأصل والطلاقُ يومَ الأربعاء إليه فإذا نفاه انتفى
Adapun jika suami istri berselisih pendapat, suami berkata, “Engkau dimerdekakan terlebih dahulu lalu aku menceraikanmu,” sedangkan istri berkata, “Engkau menceraikanku terlebih dahulu lalu aku dimerdekakan, maka aku telah menjadi haram bagimu.” Jika keduanya sepakat tentang waktu pembebasan (‘itq) namun berselisih tentang waktu talak, misalnya keduanya sepakat bahwa pembebasan terjadi pada hari Kamis, lalu suami berkata, “Aku menceraikanmu pada hari Sabtu,” sedangkan istri berkata, “Bahkan pada hari Rabu sebelum hari Kamis,” maka dalam kasus ini yang dipegang adalah ucapan suami, karena yang menjatuhkan talak adalah suami dan talak pada hari Rabu berkaitan dengannya; jika ia menafikannya, maka talak itu tidak terjadi.
وإذا اتفقا على وقت الطلاق وأنه يوم الخميس واختلفا في وقت العتق فقال الزوج كان العتق يوم الأربعاء والطلاق بعده وقالت المرأة لا بل كان العتق يوم الجمعة فالقول في هذه الصورة قولها فإن الأصل دوام الرق يوم الأربعاء
Jika keduanya sepakat tentang waktu talak, yaitu pada hari Kamis, namun berselisih mengenai waktu pembebasan budak, di mana suami berkata bahwa pembebasan budak terjadi pada hari Rabu dan talak setelahnya, sedangkan istri berkata tidak, justru pembebasan budak terjadi pada hari Jumat, maka dalam kasus ini yang dipegang adalah perkataan istri, karena asalnya status perbudakan tetap ada pada hari Rabu.
ولهذا نظير في الرجعة سنذكره ونعيد هذه المسألة وأمثالَها إن شاء الله ونذكر ضابطاً في المذهب جامعاً
Demikian pula terdapat padanannya dalam masalah ruju‘ yang akan kami sebutkan, dan kami akan mengulang pembahasan masalah ini serta contoh-contohnya, insya Allah, dan kami akan menyebutkan kaidah yang mencakup dalam mazhab.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته أنت طالق يوم يَقْدَم فلان فقدم وقت الظهر فإنها تطلّق ومتى تطلق فعلى قولين مخرّجين أحدهما أنها تطلق عقيب القدوم ولا يتقدم الطلاق على القدوم
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak pada hari si Fulan datang,” lalu Fulan datang pada waktu zuhur, maka istrinya tertalak. Adapun kapan terjadinya talak, terdapat dua pendapat yang ditarjihkan: salah satunya, talak terjadi segera setelah kedatangan dan talak tidak berlaku sebelum kedatangan.
والقول الثاني أنه إذا قدِم بان لنا أنه وقع الطلاق مع أول الصّبح فإن اسم اليوم يتحقق ذلك الوقت وابن الحداد فرّع على قول التبيّن وله أصل مشهور في النذور سيأتي مشروحاً إن شاء الله
Pendapat kedua menyatakan bahwa jika telah jelas bagi kita bahwa talak terjadi pada awal pagi, maka nama hari itu telah terwujud pada waktu tersebut. Ibn al-Haddad membangun cabang pendapat berdasarkan pendapat tentang penjelasan ini, dan ia memiliki pendapat yang masyhur dalam masalah nadzar yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah.
فلو ماتت امرأته ضحوةً أو خالعها ثم قدِم فلان وقت الظهر والطلاق معلَّق بقدومه ثلاثٌ فإن قلنا يقع الطلاق عقيب القدوم فلا يقع في هذه الصورة شيء فإنه قدم وهي ميّتة أو مختلعة
Jika istrinya meninggal pada waktu dhuha atau ia melakukan khulu‘ dengannya, kemudian si Fulan datang pada waktu zuhur, sedangkan talak digantungkan pada kedatangannya sebanyak tiga kali, maka jika kita berpendapat bahwa talak jatuh setelah kedatangan, maka dalam kasus ini tidak terjadi apa-apa, karena ia datang sementara istrinya sudah meninggal atau telah terjadi khulu‘.
وإن قلنا بالتبين تبيّن لنا عند قدومه أنها ماتت مطلقةً وأن الخلع جرى بعد وقوع الثلاث ولا يكاد يخفى تفريع ذلك في العتق
Jika kita berpendapat dengan at-tabayyun (penjelasan), maka menjadi jelas bagi kita ketika ia datang bahwa ia telah wafat dalam keadaan sebagai perempuan yang ditalak, dan bahwa khulu‘ terjadi setelah jatuhnya talak tiga, dan hampir tidak samar lagi cabang hukumnya dalam masalah pembebasan budak.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته المدخول بها أنت طالق واحدة بل ثلاثاًً إذا دخلت الدار فلا شك أن الثلاث لا تقع ما لم تدخل الدار ولكن هل تقع واحدة فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أحدهما أن التعليق يرجع إلى جميع ما تقدّم فما لم تدخل الدار لا يقع شيء فإن الشرط ينعكس على جميع ما تقدّم ولو قال إن دخلت الدار فأنت طالق واحدة بل ثلاثاًً لا يقع شيء حتى تدخل فليكن الأمر كذلك إذا تأخر التعليق
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang sudah digauli, “Engkau tertalak satu, bahkan tiga, jika engkau masuk rumah,” maka tidak diragukan lagi bahwa talak tiga tidak jatuh kecuali setelah ia masuk rumah. Namun, apakah talak satu jatuh? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh. Pendapat pertama, bahwa penggantungan (talak) itu kembali kepada seluruh ucapan sebelumnya, sehingga selama istri belum masuk rumah, tidak ada satu pun talak yang jatuh. Sebab, syarat tersebut berlaku untuk seluruh ucapan sebelumnya. Seandainya ia berkata, “Jika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak satu, bahkan tiga,” maka tidak ada satu pun talak yang jatuh sampai ia masuk rumah. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku jika penggantungan syarat itu datang belakangan.
والوجه الثاني وهو اختيار ابن الحداد أن الطلقة الأولى تقع وما ذكره بعدَ بل هو المعلق بالدخول فإن بل تَضَمَّنَ قطعاً لكلام عن كلام على سبيل الاستدراك
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Ibn al-Haddad, adalah bahwa talak pertama jatuh, dan apa yang disebutkan setelah kata “bal” (bahkan) adalah yang digantungkan pada terjadinya hubungan suami istri, karena “bal” mengandung pemutusan pembicaraan dari pembicaraan sebelumnya sebagai bentuk istidrak (penegasan atau koreksi).
ولو كانت المرأة غيرَ مدخول بها فقال أنت طالق واحدةً بل ثلاثاًً إن دخلت الدار فإن قلنا جميع الطلقات تتعلق بالصّفة فلا تطلق في الحال ثم إذا دخلت الدار وقعت طلقة وفاقاً وهل يقع الباقي فعلى وجهين حكيناهما في مواضع وهو كما لو قال لغير المدخول بها إذا دخلت الدار فأنت طالق وطالق وهذا يجري في كل طلاقين في لفظين مقتضاهما الوقوع معاً وإن قلنا الطلقة الأولى لا تتعلّق بل تتنجز فتبين بالطلقة الأولى ولا تلحقها الأخرى إذا دخلت فإنها بائنة ولو نكحها فدخلت لم يعد الحِنث فإن التعليق وقع بعد البينونة حيث انتهينا إليه
Jika seorang wanita belum pernah digauli, lalu suaminya berkata, “Engkau tertalak satu kali, bahkan tiga kali, jika engkau masuk ke dalam rumah,” maka jika kita berpendapat bahwa seluruh talak tersebut bergantung pada sifat (syarat), maka talak tidak terjadi saat itu juga. Kemudian jika ia masuk ke dalam rumah, jatuhlah satu talak menurut kesepakatan. Adapun apakah sisanya juga jatuh, terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan di beberapa tempat, dan ini seperti jika seseorang berkata kepada wanita yang belum digauli, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak dan tertalak.” Hal ini berlaku pada setiap dua talak dalam dua lafaz yang keduanya mengharuskan jatuhnya talak secara bersamaan. Jika kita berpendapat bahwa talak pertama tidak bergantung (pada syarat) tetapi langsung terjadi, maka wanita tersebut menjadi bercerai dengan talak pertama dan talak berikutnya tidak menyusul jika ia masuk ke dalam rumah, karena ia telah menjadi bercerai. Jika ia menikahinya kembali lalu masuk ke dalam rumah, maka sumpah (yang digantungkan) tidak kembali berlaku, karena pengaitan talak terjadi setelah terjadinya perceraian, sebagaimana telah kami jelaskan.
وحكى الشيخ وجهاً عن بعض الأصحاب أن هذا يخرّج على عَوْد الحنث ولولا عِظم قدر الشيخ لما نقلت هذا الوجه
Syekh meriwayatkan satu pendapat dari sebagian sahabat bahwa masalah ini dikaitkan dengan kembali terjadinya pelanggaran sumpah, dan jika bukan karena kedudukan agung Syekh, niscaya aku tidak akan meriwayatkan pendapat ini.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته إن دخلت الدّار طالقاً فأنت طالق أو قال أنت طالق إن دخلت الدار طالقاً فإن دخلت الدار وما كان طلقها قبل الدخول فلا يقع بالدخول طلاق فإنه علّق الطلاق على صفتين إحداهما دخول الدار والثانية أن تدخلها طالقةً وهذا يبتني على أن الطلاق المعلّق بالصفة يترتب على الصفة ولا يقع معها وقد كرّرت هذا مراراً ونبهت على ما فيه من الإشكال ثم أوضحت استمرار اتفاق الأصحاب في التفريع ولو كنا نقول يقع الطلاق المعلّق بالدخول مع الدخول لكنا لا نوقع الطلاق أيضاًً فإن قوله إن دخلت الدار طالقاً يقتضي أن تكون طالقاً بغير الدخول حتى يتعلقَ الطلاقُ بكونها طالقاً مع الدخول ويستحيل أن يكون الطلاق المعلق هو الطلاق الذي علق به الطلاق واقتضاء اللفظ التغاير الذي ذكرناه بيّن لا إشكال فيه
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, kamu talak,” atau berkata, “Kamu talak, jika kamu masuk ke dalam rumah, kamu talak,” lalu istrinya masuk ke dalam rumah, dan sebelumnya ia belum mentalaknya sebelum masuk, maka talak tidak jatuh dengan masuknya istri ke dalam rumah. Sebab, ia telah menggantungkan talak pada dua sifat: yang pertama adalah masuk ke dalam rumah, dan yang kedua adalah masuk ke dalam rumah dalam keadaan sudah tertalak. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa talak yang digantungkan pada suatu sifat akan terjadi setelah sifat itu terwujud, bukan bersamaan dengannya. Saya telah mengulang-ulang hal ini berkali-kali dan menunjukkan adanya problematika di dalamnya, kemudian saya jelaskan bahwa para ulama tetap sepakat dalam cabang masalah ini. Seandainya kita berpendapat bahwa talak yang digantungkan pada masuknya istri ke rumah terjadi bersamaan dengan masuknya, maka kita pun tidak akan menetapkan jatuhnya talak. Sebab, ucapannya “Jika kamu masuk ke dalam rumah, kamu talak” mengharuskan bahwa ia telah tertalak tanpa masuk ke rumah, sehingga talak itu digantungkan pada keadaannya yang sudah tertalak ketika masuk ke rumah. Mustahil talak yang digantungkan itu adalah talak yang menjadi syarat bagi talak itu sendiri. Tuntutan lafaz tersebut untuk adanya perbedaan sebagaimana telah dijelaskan adalah jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
فرع
Cabang
إذا نكح الرّجل أمةً ثم قال إن اشتريتك فأنت طالق ثلاثاًً وقال مالكها إن بعتكِ فأنت حرّة فإذا باعها عَتَقت في زمان خيار المجلس
Jika seorang laki-laki menikahi seorang budak perempuan, lalu ia berkata, “Jika aku membelimu, maka engkau tertalak tiga,” dan pemiliknya berkata, “Jika aku menjualmu, maka engkau merdeka,” kemudian ia menjualnya, maka budak perempuan itu menjadi merdeka pada masa khiyār majelis.
قال ابن الحداد ويقع الطلاق فإن الشراء قد وجد قال أصحابنا هذا تفريع منه على أن الملك في زمان الخيار للبائع
Ibnu al-Haddad berkata: Talak terjadi, karena pembelian telah terjadi. Para ulama kami mengatakan, ini merupakan cabang dari pendapat beliau bahwa kepemilikan pada masa khiyar adalah milik penjual.
فإن قلنا الملك بنفس العقد ينتقل إلى المشتري فينفسخ النكاح بالملك على المشهور ولا يقع الطلاق فإن قيل كيف ينتقل الملك إليه بعد نفوذ عتق البائع قلنا لما صح البيع فمن حكم صحته نقل الملك على هذا القول وهو كما ذكرناه في شراء من يعتِق على المشتري إذ لولا ذلك لما انعقد العقد على القول الذي عليه نفرع
Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan berpindah kepada pembeli dengan sendirinya melalui akad, maka pernikahan menjadi batal karena kepemilikan menurut pendapat yang masyhur, dan talak tidak terjadi. Jika ada yang bertanya, bagaimana kepemilikan bisa berpindah kepadanya setelah pembebasan budak oleh penjual sah? Kami jawab, karena jual beli itu sah, maka di antara konsekuensi sahnya adalah berpindahnya kepemilikan menurut pendapat ini. Hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus membeli budak yang akan merdeka di tangan pembeli; seandainya tidak demikian, maka akad tidak akan sah menurut pendapat yang menjadi dasar cabang pembahasan ini.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته إن كان أول ولدٍ تلدينه ذكراً فأنت طالق واحدة وإن كان أول ولدٍ تلدينه أنثى فأنت طالق ثلاثاًً فولدت ذكراً وأنثى ولم يخرجا معاً ولكن أشكل المتقدم فلا يقع إلا طلقة واحدة هكذا قال أصحابنا أخذاً بالمستيقن وهذا واضح
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika anak pertama yang engkau lahirkan laki-laki, maka engkau tertalak satu kali, dan jika anak pertama yang engkau lahirkan perempuan, maka engkau tertalak tiga kali,” lalu istrinya melahirkan seorang laki-laki dan seorang perempuan, namun keduanya tidak lahir bersamaan dan tidak diketahui mana yang lebih dahulu lahir, maka yang jatuh hanyalah satu kali talak. Demikianlah pendapat para ulama kami, berdasarkan pada hal yang diyakini pasti, dan ini jelas.
ولو خرجا معاً دفعة واحدة قال الشيخ ما ذهب إليه معظم الأئمة أنه لا يقع الطلاق أصلاً فإنه علق طلقةً بأن يخرج ذكرٌ أولاً وثلاثاًً بأن تخرج الأنثى أولاً فإذا خرجا معاً لم يتحقق الأوّلية في واحد منهما
Jika keduanya keluar bersamaan dalam satu waktu, menurut pendapat Syekh dan mayoritas imam, talak tidak terjadi sama sekali. Sebab, ia menggantungkan satu talak jika yang keluar lebih dulu adalah anak laki-laki, dan tiga talak jika yang keluar lebih dulu adalah anak perempuan. Maka jika keduanya keluar bersamaan, tidak terwujud keutamaan (keluarnya lebih dulu) pada salah satu dari keduanya.
قال الشيخ لو قلت وقع الثلاث كان محتملاً فإن الأول هو الذي لا يتقدمه شيء وليس من ضرورة الأول أن يستأخر عنه شيء والدليل عليه أنه لو قال لها إن كان أوّل ولدٍ تلدينه ذكراً فأنت طالق فولدت ذكراً ولم تلد سواه في عمرها فيقع الطلاق فعلى ذلك يجوز أن يقال الذكر لم يتقدمه أنثى والأنثى لم يتقدمها ذكرٌ
Syekh berkata: Jika aku katakan bahwa jatuhnya talak tiga itu mungkin, maka hal itu bisa diterima, karena yang dimaksud dengan “yang pertama” adalah sesuatu yang tidak didahului oleh apa pun, dan bukan merupakan syarat dari “yang pertama” bahwa setelahnya harus ada sesuatu. Dalilnya adalah jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika anak pertama yang engkau lahirkan adalah laki-laki, maka engkau tertalak,” lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki dan tidak melahirkan anak lain seumur hidupnya, maka talak pun jatuh. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa anak laki-laki itu tidak didahului oleh anak perempuan, dan anak perempuan itu tidak didahului oleh anak laki-laki.
قال الشيخ عرضت ذلك على القفال فقال المسألة محتملة
Syekh berkata, “Aku mengajukan hal itu kepada al-Qaffāl, lalu beliau berkata, ‘Masalah ini masih memungkinkan untuk ditafsirkan.'”
والمذهب ما قدّمناه لأن الرجل لو قال لعبديه من جاء منكما أولاً فهو حرٌّ فلو جاءا معاً لم يعتِقْ واحد منهما هكذا ذكر الأصحاب ولا يجوز أن يُتَخيّل في هذه المسألة خلاف فإنه علق العتق على السّبق ولا سبق إذا جاءا متساوقين وليس كما إذا ولدت ولداً واحداً فإنه لم يتعرّض في تلك المسألة لولدين وتقدير أولية فيهما
Pendapat mazhab adalah seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya, karena jika seorang laki-laki berkata kepada dua budaknya, “Siapa di antara kalian yang datang lebih dahulu, maka ia merdeka,” lalu keduanya datang bersamaan, maka tidak ada satu pun dari keduanya yang merdeka. Demikianlah yang disebutkan oleh para ashhab (ulama mazhab). Tidak boleh dibayangkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, karena ia menggantungkan kemerdekaan pada siapa yang lebih dahulu, dan tidak ada yang lebih dahulu jika keduanya datang bersamaan. Ini tidak sama seperti jika seorang wanita melahirkan satu anak, karena dalam masalah itu tidak dibahas tentang dua anak dan tidak ada pengandaian tentang siapa yang lebih dahulu di antara keduanya.
فرع
Cabang
إذا نكح جارية أبيه أو أخيه ثم قال إذا مات سيدك فأنت طالق فإذا مات فملكها الزوج أو ملك بعضها على ما يقتضيه التوريث فلا يقع الطلاق بل ينفسخ النكاح
Jika seseorang menikahi budak perempuan ayahnya atau saudaranya, kemudian ia berkata, “Jika tuanmu meninggal, maka engkau tertalak,” lalu tuannya meninggal sehingga suami tersebut menjadi pemilik budak itu atau memiliki sebagian darinya sesuai dengan ketentuan waris, maka talak tidak jatuh, melainkan pernikahan tersebut batal.
قال ابن الحداد هذا هو الصحيح
Ibnu al-Haddad berkata, “Inilah yang benar.”
ومن أصحابنا من قال يقع الطلاق وقد قدمت هذا في الأصول
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa talak tetap jatuh, dan saya telah mengemukakan hal ini dalam pembahasan ushul.
ولو قال السيد لها إذا متُّ فأنت حرّة وقد سبق من الزوج التعليق كما ذكرنا فمات وهي خارجة من الثلث فيقع الطلاق لا محالة ولو علق الزوج الطلاق فقال السّيد إذا متّ فأنت حرّة بعد موتي بشهر فإذا مات فتبقى تلك مملوكةً إلى شهر والتفريع على ما اختاره ابن الحدّاد وهو أن الفسخ أولى بالتنفيذ من الطلاق وفي هذه الصورة في وقوع الطلاق وجهان مبنيان على أن الملك فيها إلى أن تعتق لمن وفيه وجهان أحدهما أن الملك للوارث والثاني أنه تبقى على ملك الميت إلى أن تَعتِق فعلى هذا يقع الطلاق ولا ينفسخ النكاح
Jika tuannya berkata kepadanya, “Jika aku mati, maka engkau merdeka,” dan sebelumnya sang suami telah menggantungkan talak sebagaimana telah disebutkan, lalu tuannya meninggal dunia sementara ia (istri budak) berada di luar sepertiga (harta peninggalan), maka talak pasti terjadi. Jika suami menggantungkan talak, lalu tuannya berkata, “Jika aku mati, maka engkau merdeka setelah satu bulan dari kematianku,” kemudian tuannya meninggal dunia, maka ia tetap menjadi budak selama satu bulan. Penjabaran ini mengikuti pendapat yang dipilih oleh Ibn al-Haddad, yaitu bahwa pembatalan (fasakh) lebih utama untuk dilaksanakan daripada talak. Dalam kasus ini, terdapat dua pendapat mengenai terjadinya talak, yang didasarkan pada pertanyaan: kepemilikan atas dirinya sampai ia merdeka itu milik siapa? Ada dua pendapat: pertama, kepemilikan berpindah kepada ahli waris; kedua, ia tetap menjadi milik orang yang telah meninggal dunia sampai ia merdeka. Berdasarkan pendapat kedua, talak terjadi dan akad nikah tidak batal.
وإن قلنا الملك للوارث ففي الانفساخ وجهان أحدهما أنه ينفسخ وهو الأصح لحصول الملك والثاني لا ينفسخ لأن هذا ملك تقديري ثبت لانتظام كلام وإلا فلا حقيقة له ولا يُفضي إلى مقصود
Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan berpindah kepada ahli waris, maka dalam hal pembatalan terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa akad tersebut batal, dan ini adalah pendapat yang lebih sahih karena kepemilikan telah terjadi. Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tidak batal, karena kepemilikan tersebut bersifat taksiran yang ditetapkan untuk keteraturan pembicaraan saja, dan jika tidak demikian maka sebenarnya tidak ada hakikatnya serta tidak mengantarkan pada maksud yang diinginkan.
فرع
Cabang
إذا قال أنت طالق أكثرَ الطلاق فتطلق امرأته ثلاثاً فإن الأكثر صريح في أقصى عدده والكثرة مُصرِّحة بمعنى العدد ولو قال أنت طالق أكبرَ الطلاق ولم ينو عدداً فلا يقع إلا واحدة لأن الكِبَر لا يُنبىء عن العدد وكذلك لو قال أعظم الطلاق أو قال أنت طالق ملءَ الأرض أو ملءَ العالم فلا يقع بمطلق اللفظ إلا طلقة ولو قال أنت طالق ملءَ هذه البيوت الثلاثة فهذا يقتضي تعدّد الطلقات وكذلك إذا قال أنت طالق ملءَ السموات
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan talak yang paling banyak,” maka istrinya tertalak tiga kali, karena kata “yang paling banyak” secara jelas menunjukkan jumlah maksimal, dan kata “banyak” menegaskan makna jumlah. Namun jika ia berkata, “Engkau tertalak dengan talak yang paling besar,” tanpa berniat jumlah tertentu, maka yang jatuh hanya satu talak, karena “besar” tidak menunjukkan jumlah. Demikian pula jika ia berkata, “Talak yang paling agung,” atau “Engkau tertalak sebanyak isi bumi,” atau “sebanyak isi dunia,” maka dengan lafal mutlak tersebut hanya jatuh satu talak. Namun jika ia berkata, “Engkau tertalak sebanyak isi tiga rumah ini,” maka ini menunjukkan adanya talak yang berbilang. Demikian pula jika ia berkata, “Engkau tertalak sebanyak isi langit.”
فرع
Cabang
قال ابن سريج إذا قال لامرأته أنت طالق هكذا وأشار بأصبع واحدة فهي طلقة وإن أشار بأصبعين فطلقتان وإن أشار بثلاث فثلاث
Ibnu Surayj berkata: Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak seperti ini,” lalu ia menunjuk dengan satu jari, maka itu satu talak. Jika ia menunjuk dengan dua jari, maka dua talak. Jika ia menunjuk dengan tiga jari, maka tiga talak.
هذا إذا قال هكذا وأشار إلى أصابعه
Ini jika ia berkata demikian sambil menunjuk kepada jari-jarinya.
فإن قال أنت طالق ولم يقل هكذا ولكن أشار بأصابعه فلا نحكم بوقوع الثلاث ما لم ينوها وهذا بيّن ولم أر فيه إذا قال هكذا وأشار إلى أصابعه الثلاث خلافاً وذاك فيه إذا أشار إلى أصابعه إشارة تكون قرينةً مثبتةً للعلم فلو لم تقم قرينةٌ فلا وجه للحكم بالثلاث فإن الرجل قد يعتاد الإشارة بأصابعه الثلاث في الكلام فإذا لم يوضح ينظر إلى الأصابع أو ترديد نغمة على صيغة إلى أن يتبين الغرض فلا نحكم بالوقوع وما أجريناه من الكلام على القرائن من الأصول والأقطاب
Jika seseorang berkata, “Kamu tertalak,” dan tidak mengucapkan demikian, melainkan hanya memberi isyarat dengan jarinya, maka kami tidak memutuskan jatuhnya talak tiga kecuali jika ia memang meniatkannya. Hal ini jelas, dan aku tidak menemukan adanya perbedaan pendapat dalam hal jika seseorang berkata demikian lalu memberi isyarat dengan tiga jarinya. Dalam hal ini, jika ia memberi isyarat dengan jarinya dengan isyarat yang menjadi petunjuk yang menguatkan pengetahuan, maka jika tidak ada petunjuk (qarīnah) yang jelas, tidak ada alasan untuk memutuskan jatuhnya talak tiga. Sebab, seseorang terkadang sudah terbiasa memberi isyarat dengan tiga jarinya ketika berbicara. Maka, jika ia tidak memperjelas dengan melihat ke arah jari-jarinya atau mengulang-ulang nada suara dalam suatu bentuk tertentu hingga maksudnya menjadi jelas, maka kami tidak memutuskan jatuhnya talak. Apa yang kami lakukan dalam pembahasan tentang petunjuk-petunjuk (qarīnah) ini merupakan bagian dari prinsip-prinsip dan pokok-pokok (al-uṣūl wa al-aqṭāb).
فرع
Cabang
إذا قال لزوجته أنت طالق إن دخلت الدار إن كلمت زيداً فيقف وقوع الطلاق على الدخول والكلام
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau masuk ke rumah, jika engkau berbicara dengan Zaid,” maka jatuhnya talak bergantung pada terjadinya masuk ke rumah dan berbicara dengan Zaid.
ثم قال الأصحاب يشترط ترتُّبُ الكلام على الدخول حتى لو كلمتْ ثم دخلتْ لم تطلق لأنه في الحقيقة علّق وقوع الطلاق عليهما عند الدخول بكلام فكان هذا تعليقَ التعليق والتعليقُ يقبل التعليق كما أن التنجيز يقبل التعليق وهذا كما لو قال لعبده إن دخلت الدار فأنت مدبّر فالتدبير يقف على دخول الدار ثم لا عتق حتى يموت السّيد بعد دخول العبد الدار وليس كما لو قال أنت طالق إن كلمت ودخلت بشرط وجود الوصفين لا غير لأن الواو للجمع خصوصاً في المعاملات
Kemudian para ulama berpendapat bahwa disyaratkan urutan antara ucapan dan masuk, sehingga jika ia berbicara terlebih dahulu lalu masuk, maka tidak jatuh talak, karena pada hakikatnya ia menggantungkan terjadinya talak pada keduanya (ucapan dan masuk) saat masuk dengan ucapan, maka ini merupakan ta‘liq (penggantungan) atas ta‘liq, dan ta‘liq dapat menerima ta‘liq sebagaimana tanjīz (penetapan langsung) dapat menerima ta‘liq. Ini seperti jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu menjadi mudabbir,” maka status mudabbir bergantung pada masuknya ke rumah, kemudian tidak terjadi pembebasan budak hingga tuan meninggal setelah budak masuk ke rumah. Ini berbeda dengan jika ia berkata, “Kamu tertalak jika kamu berbicara dan masuk,” dengan syarat adanya kedua sifat tersebut saja, karena huruf “wa” (dan) menunjukkan penggabungan, khususnya dalam mu‘āmalah (transaksi).
هذا ما ذكره القاضي والأصحاب أما المسألة الأخيرة فسديدة وأما المسألة الأولى ففيها نظر فإنه ذَكَر صفتين من غير عاطف فالوجه الحكم بتعلّق الطلاق بهما فأما الترتيب فلا معنى للحكم به
Inilah yang disebutkan oleh al-Qadhi dan para sahabat. Adapun masalah terakhir, maka itu benar. Sedangkan masalah pertama, masih perlu ditinjau lagi, karena ia menyebutkan dua sifat tanpa penghubung, maka yang tepat adalah menetapkan bahwa talak terkait dengan keduanya. Adapun urutan, maka tidak ada alasan untuk menetapkan hukum atasnya.
ولو قال إن دخلتِ الدار إن كلمتِ زيداً إن أكلتِ رغيفاً فأنت طالق فالطلاق يتعلق بوجود هذه الصفات والحكمُ بترتّب بعضها على بعض تحكُّمٌ لا أصل له فإن كان هذا مسلماً فلا فرق بين أن يُقدِّم ذِكْرَ الطلاق وبين أن يؤخره وإن كان ممنوعاً فما قدمناه من الكلام كافٍ
Jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk rumah, jika kamu berbicara dengan Zaid, jika kamu makan roti, maka kamu tertalak,” maka talak tersebut bergantung pada terwujudnya sifat-sifat ini, dan menetapkan bahwa sebagian sifat tersebut harus terjadi setelah yang lain adalah penetapan yang tidak berdasar. Jika hal ini dibolehkan, maka tidak ada perbedaan antara mendahulukan penyebutan talak atau mengakhirkan penyebutannya. Dan jika hal ini dilarang, maka penjelasan yang telah kami sampaikan sebelumnya sudah cukup.
ولو قال أنت طالق إن كلمت زيداً إلى أن يقدَمَ فلان فالتأقيت راجع إلى الصفة والتقديرُ إن كلمته قبل قدوم زيدٍ فأنت طالق ولا يرجع هذا التأقيت إلى أصل الطلاق إذ لو رجع إليه لتنجز في الحال كما لو قال أنت طالق إلى شهرٍ ثم إن كلّمتْه قبل أن قدِمَ زيد طلقت ولو لم تكلمه حتى قَدِم زيد لم تطلق ولا يضر التكلم بعدُ
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau berbicara dengan Zaid sampai Fulan datang,” maka pembatasan waktu tersebut kembali kepada sifat (syarat), dan maksudnya adalah: jika engkau berbicara dengannya sebelum kedatangan Zaid, maka engkau tertalak. Pembatasan waktu ini tidak kembali kepada pokok talak itu sendiri, sebab jika kembali kepadanya, maka talak akan langsung terjadi saat itu juga, sebagaimana jika seseorang berkata, “Engkau tertalak sampai sebulan.” Kemudian, jika ia berbicara dengannya sebelum Zaid datang, maka ia tertalak. Namun, jika ia tidak berbicara dengannya hingga Zaid datang, maka ia tidak tertalak, dan pembicaraan setelah itu tidak berpengaruh.
هذا معنى التأقيت
Inilah makna pembatasan waktu.
فرع
Cabang
لو قال إن دخلتِ الدار فأنت طالق ثم كرّر هذا اللفظ ثلاثَ مراتٍ فإن أراد التأكيد فطلقة واحدة عند دخول الدار وإن أراد التجديد فإن دخلت الدار طُلِّقت ثلاثاًً بدخلةٍ واحدة
Jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” lalu ia mengulangi ucapan ini sebanyak tiga kali, maka jika ia bermaksud menegaskan, maka jatuh satu talak ketika masuk rumah. Namun jika ia bermaksud memperbarui (ucapan talak), maka jika ia masuk rumah, jatuh tiga talak sekaligus dalam satu kali masuk.
ولو قال أردت عقد ثلاثة أيمان حتى تطلقَ طلقاتٍ ثلاث بثلاث دخلات فهذا لا يحمل عليه مُطلقُ الكلام بالإجماع فإن اليمين الأخيرة حقها أن تنحل بأول دخلةٍ لتحقق الصّفة وكذلك القول في الثانية والأولى ولكن يُديّن فيما يقول باطناً ولا وجه لقبوله ظاهراً
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud mengadakan tiga sumpah agar engkau tertalak tiga kali dengan tiga kali persetubuhan,” maka hal ini, menurut ijmā‘, tidak dapat dibawa kepada makna umum dari ucapan tersebut. Sebab, sumpah yang terakhir seharusnya batal dengan persetubuhan pertama karena sifatnya telah terpenuhi, demikian pula halnya dengan sumpah kedua dan pertama. Namun, ia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia katakan secara batin, dan tidak ada alasan untuk menerimanya secara lahiriah.
فرع
Cabang
إذا قال لأربع نسوة أربعكن طوالق إلا فلانة أو إلاّ واحدة على الإجمال لغا الاستثناء لأنه أوقع الطلاق على الأربع بجملتهن فإذا قال إلا فلانة فقد قصد إبطال اللفظ في حقها ورفْعَ مقتضاه بالكلية فصار كما لو قال أنت طالق ثلاثاًً لا تقع أو ثلاثاًً إلا ثلاثاًً وليس كما لو قال ثلاثاًً إلا واحدة فإن الاستثناء في الواحدة صحيح
Jika seseorang berkata kepada empat orang wanita, “Kalian berempat aku ceraikan, kecuali Fulanah” atau “kecuali satu orang” secara umum, maka istisna’ (pengecualian) tersebut dianggap tidak sah, karena ia telah menjatuhkan talak kepada keempat-empatnya secara keseluruhan. Maka jika ia berkata “kecuali Fulanah”, berarti ia bermaksud membatalkan lafaz tersebut terhadap dirinya dan menghapuskan konsekuensinya secara total, sehingga hal itu menjadi seperti seseorang yang berkata, “Engkau aku ceraikan tiga kali, tidak jatuh” atau “tiga kali kecuali tiga kali”. Ini berbeda dengan jika ia berkata, “tiga kali kecuali satu kali”, maka istisna’ pada satu kali itu sah.
ولو قال أربعكن إلا فلانة طوالق فيصح الاستثناء في فلانة
Jika seseorang berkata, “Kalian berempat aku talak kecuali Fulanah,” maka pengecualian terhadap Fulanah dianggap sah.
هذا ما أورده القاضي والمسألة مخيلة حسنة
Inilah yang dikemukakan oleh al-Qadhi, dan permasalahan ini merupakan contoh yang baik.
و يحتمل أن نقول يصح الاستثناء طرداً لقاعدة الاستثناء فإنه إذا قال أنت طالق ثلاثاً فقد تعرّض لعدد الطلقات ولو سكت عليه ولم يستثن لكان الكلام مستقلاً في إيقاع الثلاث ثم صح مع هذا استثناء الواحدة والثنتين بعد ذكر الثلاث فلا فرق بين عدد الطلقات وبين عدد المطلّقات
Dan mungkin dapat dikatakan bahwa istisna’ (pengecualian) itu sah sesuai dengan kaidah istisna’, sebab apabila seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga,” maka ia telah menyebutkan jumlah talak. Jika ia diam atasnya dan tidak mengecualikan, maka ucapannya sudah berdiri sendiri dalam menjatuhkan tiga talak. Namun, tetap sah setelah itu mengecualikan satu atau dua talak setelah menyebutkan tiga, sehingga tidak ada perbedaan antara jumlah talak dengan jumlah perempuan yang ditalak.
ووجه ما قاله القاضي أنه إذا قال أربعكن طوالق إلا فلانة فهذا اللفظ لا يستعمل كذلك في الاعتياد كما لا يستعمل قول القائل ثلاثاًً إلا ثلاثاً ويستعمل أنت طالق إن شاء الله ولو تكلفنا فرقاً سوى ذلك لم نجده ولعلّ القاضي يقول إذا قال هؤلاء العبيد الأربعة لك إلاّ هذا وأشار إلى واحد منهم قال الاستثناء باطل ولعلّ ممّا يقوّي كلامَه ثبوتُ الكلام بالإشارة وللإشارة أثر ووَقْعٌ في تثبيت الكلام ولو قال لفلان أربعة أعبدٍ عليّ إلا عبداً فالاستثناء صحيح
Dasar pendapat yang dikemukakan oleh al-Qadhi adalah bahwa jika seseorang berkata, “Kalian berempat aku ceraikan kecuali Fulanah,” maka lafaz ini tidak biasa digunakan dalam kebiasaan, sebagaimana tidak lazim pula ucapan seseorang, “Tiga kecuali tiga,” dan yang lazim digunakan adalah, “Engkau aku ceraikan jika Allah menghendaki.” Jika kita memaksakan adanya perbedaan selain itu, kita tidak akan menemukannya. Barangkali al-Qadhi berpendapat bahwa jika seseorang berkata, “Keempat budak ini untukmu kecuali yang ini,” lalu ia menunjuk salah satunya, maka istisna’ (pengecualian) itu batal. Barangkali yang menguatkan pendapatnya adalah adanya penetapan ucapan melalui isyarat, dan isyarat memiliki pengaruh dan dampak dalam penetapan ucapan. Namun, jika ia berkata, “Untuk Fulan ada empat budak atasku kecuali satu budak,” maka istisna’ (pengecualian) itu sah.
فرع
Cabang
إذا قال قائل للزوج أطلّقت امرأتك فقال نعم فقال
Jika seseorang berkata kepada seorang suami, “Apakah kamu telah menceraikan istrimu?” lalu ia menjawab, “Ya,” maka…
ذكر صاحبُ التلخيص في ذلك قولين أحدهما أن الطلاق يُحكم بوقوعه لقوله نعم مع السؤال المتقدِّم وإن لم ينو الطلاق
Penulis kitab at-Talkhīṣ menyebutkan dalam hal ini dua pendapat; salah satunya adalah bahwa talak dianggap jatuh karena jawaban “ya” atas pertanyaan sebelumnya, meskipun tidak berniat untuk menjatuhkan talak.
والقول الثاني إن الطلاق إنما يقع به إذا نوى فإذا لم ينو شيئاً لم يقع
Pendapat kedua menyatakan bahwa talak hanya terjadi jika disertai niat; maka jika tidak ada niat apa pun, talak tidak terjadi.
قال الشيخ حكمَ بأن الطلاق يقع بهذه اللفظة مع النيّة في قولٍ ويقع من غير نيّة في قولٍ وجعل هذا إنشاءً للطلاق صريحاًً أو كناية
Syekh berpendapat bahwa talak jatuh dengan lafaz ini disertai niat menurut satu pendapat, dan jatuh tanpa niat menurut pendapat lain, serta beliau menganggap hal ini sebagai pernyataan talak secara sharih atau kinayah.
ووافقه بعض أئمتنا وقال ما ذكره من القولين مبنيّ على قولين للشافعي فيه إذا قال الولي زوجتك هذه فقال في جوابه قبلتُ ولم يقل قبلت نكاحها فهل ينعقد النكاح بذلك بناء على ما تقدم من الإيجاب فعلى قولين
Beberapa imam kami sependapat dengannya dan berkata bahwa apa yang disebutkan berupa dua pendapat itu didasarkan pada dua pendapat Imam Syafi‘i dalam masalah ini, yaitu apabila wali berkata, “Aku menikahkanmu dengan wanita ini,” lalu dalam jawabannya ia berkata, “Aku terima,” tanpa mengatakan, “Aku terima nikahnya,” maka apakah akad nikah sah dengan hal tersebut, berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya tentang ijab, maka terdapat dua pendapat.
قال الشيخ هذه الطريقة غير مرضية فقوله نعم في جواب السؤال ينبغي ألا يكون صريحاًً في الطلاق ولا كناية بل هو صريح في الإقرار بالطلاق ثم إن كان صادقاً فلا كلام وإن كان كاذباً فلا يقع به الطلاق باطناًً وينفذ الحكم بالإقرار ظاهراً ثم لا يجوز أن يكون في ثبوت الإقرار اختلافُ قولٍ ومن قال لرجل بين يدي القاضي ألي عليك ألف درهم فقال نعم قضى القاضي بكونه مُقرّاً ولو جرى ذلك بين يدي الشهود تحمّلوا الشهادة على صريح إقراره فعلى هذا لو قال في جواب السؤال كما ذكرنا ثم قال أردت بذلك أني كنت نكحتها من قبل هذا وطلقتها في ذلك النكاح السابق فهذا ينزل منزلة ما لو قال لامرأته أنت طالق الشهر الماضي ثم فسّره بأنه كان طلقها في نكاحٍ سابق وقد تقدم تفصيل ذلك
Syekh berkata: Cara ini tidak dapat diterima, karena jawabannya “ya” atas pertanyaan tersebut seharusnya tidak menjadi lafaz sharih dalam talak maupun kinayah, melainkan merupakan sharih dalam pengakuan talak. Jika ia jujur, maka tidak ada masalah. Namun jika ia berdusta, maka talak tidak terjadi secara batin, tetapi hukum tetap dijalankan berdasarkan pengakuan secara lahir. Kemudian, tidak boleh ada perbedaan pendapat dalam penetapan pengakuan. Jika seseorang berkata kepada orang lain di hadapan hakim, “Apakah engkau berutang seribu dirham kepadaku?” lalu ia menjawab, “Ya,” maka hakim memutuskan bahwa ia telah mengakui. Jika hal itu terjadi di hadapan para saksi, mereka akan memikul kesaksian atas pengakuan sharih tersebut. Berdasarkan hal ini, jika seseorang menjawab pertanyaan seperti yang telah disebutkan, lalu ia berkata, “Maksudku adalah aku telah menikahinya sebelumnya dan telah mentalaknya dalam pernikahan yang lalu,” maka ini sama halnya dengan seseorang yang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak bulan lalu,” lalu ia menafsirkannya bahwa ia telah mentalaknya dalam pernikahan sebelumnya. Penjelasan rinci tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.
ولو قيل ألك زوجة فقال لا قال أصحابنا هذا كذبٌ صريح لا يتعلق به حكم وقال المحققون هذا كناية في الإقرار قال القاضي عندي أن هذا صريح في الإقرار بنفي الزوجية وقال رضي الله عنه إذا أشار المشير إلى امرأةٍ فقال لبعلها هذه زوجتك فقال لا كان ذلك تصريحاًً بالإقرار بنفي الزوجية
Jika seseorang ditanya, “Apakah kamu punya istri?” lalu ia menjawab, “Tidak,” para ulama kami mengatakan bahwa ini adalah dusta yang jelas dan tidak berkaitan dengan hukum apa pun. Namun, para ahli yang teliti berpendapat bahwa ini adalah kinayah (ungkapan tidak langsung) dalam pengakuan. Qadhi berkata, menurutku ini adalah pernyataan yang jelas dalam pengakuan penafian status pernikahan. Dan beliau—semoga Allah meridhainya—berkata, jika seseorang menunjuk kepada seorang wanita lalu berkata kepada suaminya, “Apakah ini istrimu?” kemudian ia menjawab, “Tidak,” maka itu adalah pernyataan tegas dalam pengakuan penafian status pernikahan.
ولو قيل له أطلقت زوجتك فقال قد كان بعض ذلك فلا نجعل هذا إقراراً بالطلاق لأنه يحتمل التعليق ويحتمل أنها كانت تُلاجّه وتخاصمه وتسأل منه الطلاق ولم يكن قد أوقع بعد فعبّر عن بعض المفاوضة التي جرت
Jika seseorang ditanya, “Apakah kamu telah menceraikan istrimu?” lalu ia menjawab, “Sebagian dari itu memang pernah terjadi,” maka kita tidak menganggap ini sebagai pengakuan talak, karena bisa jadi maksudnya adalah talak yang digantungkan (tidak langsung), dan bisa juga maksudnya adalah istrinya pernah berselisih dan bertengkar dengannya serta meminta cerai, namun talak itu belum dijatuhkan, sehingga ia hanya mengungkapkan sebagian dari perundingan yang pernah terjadi.
ولو قال الدّلال لصاحب المتاع بعتَ متاعك هذا بألف درهم من هذا الرجل فقال نعم فلا يكون هذا إيجاباً بلا خلاف فإنّ نعم خبرٌ يدخله الصّدق والكذب فلا يصلح للإنشاء وكذلك لو قال القابل نعم لم يكن ذلك منه قبولاً
Jika makelar berkata kepada pemilik barang, “Aku telah menjual barangmu ini seharga seribu dirham kepada orang ini,” lalu pemilik barang menjawab, “Ya,” maka itu tidak dianggap sebagai ijab menurut kesepakatan ulama, karena kata “ya” adalah sebuah pernyataan yang bisa mengandung kebenaran atau kebohongan, sehingga tidak sah untuk digunakan sebagai pernyataan akad. Demikian pula, jika pihak penerima berkata “ya”, maka itu juga tidak dianggap sebagai bentuk kabul darinya.
ولو قال الدلال لصاحب المتاع بعتَ متاعك هذا بألفٍ من هذا الرجل فقال بعتُ فالوجه القطع بأن هذا لا يكون بيعاً إذا لم يُعِد ذكرَ الثمن وخطابَ الطالب ولم يأت بكلام ينتظم مبتدءاً وليس كما لو قال المخاطب قبلتُ فإن قوله مع الإيجاب كلامان ينتظم أحدهما مع الثاني
Jika makelar berkata kepada pemilik barang, “Aku telah menjual barangmu ini seharga seribu dari orang ini,” lalu pemilik barang berkata, “Aku telah menjual,” maka pendapat yang kuat adalah bahwa hal itu tidak dianggap sebagai jual beli jika ia tidak mengulangi penyebutan harga dan tidak menyapa pembeli, serta tidak mengucapkan perkataan yang membentuk satu kalimat yang utuh. Ini berbeda dengan jika orang yang diajak bicara mengatakan, “Aku terima,” karena ucapannya bersama ijab merupakan dua perkataan yang salah satunya menyatu dengan yang lain.
وإذا قال الدلال بعتَ عبدك هذا من هذا الرجل فقال بعتُ فيقع قوله جواباً للدلال وما كان جواباً له لم يصلح أن يكون خطاباً لذلك الطالب فلا يتجه في كونه جواباً إلا الخبر وهو مضطرب في كونه إقراراً أيضاًً فإن قرينة استدعاء الدلال شاهدة على أنه يبغي منه الابتداء
Jika makelar berkata, “Apakah engkau telah menjual budakmu ini kepada laki-laki ini?” lalu ia menjawab, “Saya telah menjual,” maka ucapannya itu menjadi jawaban bagi makelar. Dan apa yang menjadi jawaban baginya tidaklah layak menjadi khitab (pernyataan langsung) kepada orang yang meminta (pembeli), sehingga dalam konteks sebagai jawaban, ucapannya itu hanya dapat dianggap sebagai berita (pemberitahuan). Namun, hal ini juga masih diperdebatkan apakah dapat dianggap sebagai iqrar (pengakuan), karena adanya indikasi permintaan dari makelar menunjukkan bahwa ia menginginkan pernyataan awal (dari penjual).
وقال الأصحاب لو قالت المرأة لزوجها طلاق ده مرا فقال دادم لا يقع به شيء لأن قوله دادم لا يصلح للإيقاع
Para ulama berpendapat, jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Talak deh, marā,” lalu suaminya menjawab, “Dādam,” maka tidak terjadi apa-apa dengan ucapan tersebut, karena jawaban “dādam” tidak sah untuk menjatuhkan talak.
قال القاضي عندي يقع الطلاق لأن المبتدأ يصير معاداً في الجواب وهذا الذي ذكره مذهب أبي يوسف وهو متجه فإن السؤال مع الجواب يترتبان ترتب الإيجاب والقبول فأما إذا قال الدلال بع عبدك هذا بألف فقال بعت فلا يستقل قول صاحب العبد بعت كلاماً مبتدأ ولا يترتب على قول الدلاّل جواباً
Menurut pendapat qadhi, talak terjadi karena kalimat pembuka menjadi pengulangan dalam jawaban, dan pendapat yang beliau sebutkan adalah mazhab Abu Yusuf, yang memang logis. Sebab, pertanyaan dan jawaban itu berurutan seperti urutan ijab dan qabul. Adapun jika seorang makelar berkata, “Jual budakmu ini seharga seribu,” lalu pemilik budak berkata, “Saya jual,” maka ucapan pemilik budak “Saya jual” tidak berdiri sendiri sebagai kalimat pembuka dan tidak menjadi jawaban atas ucapan makelar.
فرع
Cabang
لو قال أنت طالق طلقةً عددَ التراب وقعت طلقة واحدة لأن التراب في نفسه جنس واحد فإن قال أنت طالق عدد أنواع التراب طلقت ثلاثاً
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak satu kali sebanyak jumlah butir tanah,” maka jatuh satu kali talak saja, karena tanah pada hakikatnya adalah satu jenis. Namun jika ia berkata, “Engkau tertalak sebanyak jumlah jenis tanah,” maka jatuh tiga kali talak.
فرع
Cabang
لو قال أنت طالق طلقةً وطلقتين وقع الثلاث فإن قال أردت إعادة تلك الطلقة الأولى في الطلقتين وضمَّ أخرى إليها قيل يقبل ويقع طلقتان فإن هذا محتمل
Jika seseorang berkata, “Engkau aku talak satu kali dan dua kali,” maka jatuh talak tiga. Namun jika ia berkata, “Aku bermaksud mengulangi talak pertama itu dalam dua talak tersebut dan menambahkan satu talak lagi padanya,” maka dikatakan pendapatnya diterima dan jatuh dua talak, karena hal ini memungkinkan.
والذي صار إليه الجمهور أنه تقع الثلاث لأن المعطوف غير المعطوف عليه
Pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa talak tiga jatuh, karena sesuatu yang di-‘athaf-kan (dihubungkan dengan kata sambung) berbeda dengan sesuatu yang di-‘athaf-i.
ولو قال بالفارسية تو از زني مَن بيك طلاق ودو طلاق هشته اي كان القفال يفتي بالثلاث قياساً على ما ذكرناه في العربية قال القاضي يقع عندي طلقتان لأن الناس يقصدون منه إيقاع طلقتين ومن أراد منهم الثلاث زاد فقال بيك طلاق وبدو طلاق وبسه طلاق هشته اي
Jika seseorang berkata dalam bahasa Persia, “Kamu dari istriku telah jatuh satu talak dan dua talak,” maka al-Qaffal berfatwa bahwa jatuh tiga talak, dengan qiyās terhadap apa yang telah kami sebutkan dalam bahasa Arab. Al-Qadhi berkata, menurutku jatuh dua talak, karena orang-orang bermaksud dari ucapan itu untuk menjatuhkan dua talak, dan barang siapa di antara mereka yang menginginkan tiga talak, ia menambahkan dengan berkata, “Kamu satu talak, dua talak, dan tiga talak telah jatuh.”
فرع
Cabang
إذا قال الزوج طلّقي نفسك إن شئت ثلاثاً فلا بُدّ في هذه المسألة من أن تشاء هذا هو الذي عليه التفريع فلو أنها شاءت فتطلِّق نفسها وتقول شئت وطلقت نفسي ولا يكفي أن تقول شئت فإنه لم يعلّق الطلاق على مشيئتها بل علق تفويض الطلاق إليها على مشيئتها
Jika suami berkata, “Ceraikanlah dirimu sendiri jika kamu mau, tiga kali,” maka dalam masalah ini harus ada kemauan dari pihak istri; inilah yang menjadi dasar perincian. Jika istri menghendaki, maka ia menceraikan dirinya sendiri dan berkata, “Aku menghendaki dan aku menceraikan diriku sendiri.” Tidak cukup jika ia hanya berkata, “Aku menghendaki,” karena suami tidak menggantungkan talak pada kehendaknya, melainkan menggantungkan pendelegasian talak kepadanya pada kehendaknya.
فلو قال طلقي نفسك ثلاثاًً فطلقت واحدة وقعت الواحدة وهذا الأصل مشهورٌ قدمنا ذكره
Jika seseorang berkata, “Ceraikanlah dirimu dengan tiga talak,” lalu ia (istri) menjatuhkan satu talak, maka jatuhlah satu talak tersebut. Prinsip ini sudah masyhur dan telah kami sebutkan sebelumnya.
فلو قال طلقي نفسك إن شئت ثلاثاً فلو أنها شاءت طلقةً واحدةً وطلقت نفسها واحدة قال صاحب التلخيص لا يقع شيء وكذلك لو قال لها طلقي نفسك إن شئت واحدة فشاءت ثلاثاًً فطلقت نفسها ثلاثاًً فلا تقع واحدة منها
Jika seorang suami berkata, “Ceraikanlah dirimu jika kamu mau, tiga kali,” lalu istri itu menghendaki satu talak saja dan menceraikan dirinya satu kali, menurut pendapat penulis kitab at-Talkhīṣ, tidak terjadi apa-apa. Demikian pula, jika suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu jika kamu mau, satu kali,” lalu istri itu menghendaki tiga talak dan menceraikan dirinya tiga kali, maka tidak jatuh satu pun dari talak tersebut.
وعلة ما ذكره أنه لم يملّكها الثلاث ولا الواحدة في المسألتين تمليكاً مجرداً بل علّق التمليك بمشيئة موصوفة بصفةٍ فإذا قال طلقي نفسك إن شئت ثلاثاًً فقد شرط في ملكها الطلاق أن تشاء ثلاثاً وكذلك عكس هذا
Alasan dari apa yang disebutkan adalah bahwa ia tidak memberikan kepemilikan talak tiga atau satu dalam kedua permasalahan tersebut secara mutlak, melainkan ia menggantungkan pemberian kepemilikan itu pada kehendak yang disifati dengan suatu sifat. Maka, jika ia berkata, “Ceraikanlah dirimu jika kamu menghendaki tiga kali,” maka ia mensyaratkan dalam kepemilikan talak oleh istri bahwa ia menghendaki tiga kali, demikian pula sebaliknya.
وذكر الأصحاب ما ذكره ووافقوه
Para ulama mazhab juga menyebutkan apa yang telah disebutkan olehnya dan mereka menyetujuinya.
ومسألتاه مصورتان فيه إذا خلّل ذكرَ المشيئة بين قوله طلقي وبين قوله ثلاثاًَ أو واحدة فلو قال ثلاثاًَ إن شئت أو طلقي نفسك واحدة إن شئت فذكر المشيئةَ بعد ذكر العدد أو بعد ذكر الواحدة فلو شاءت واحدةً وقد جرى التفويض في ثلاث وقعت الواحدة
Dua permasalahannya digambarkan di sini, yaitu jika ia menyisipkan penyebutan kehendak (mashi’ah) di antara ucapannya “talaklah” dan antara ucapannya “tiga kali” atau “satu kali”. Maka jika ia berkata, “tiga kali jika engkau kehendaki” atau “talaklah dirimu satu kali jika engkau kehendaki”, lalu ia menyebutkan kehendak setelah menyebutkan jumlah (talak) atau setelah menyebutkan satu kali (talak), maka jika ia menghendaki satu kali, padahal pendelegasian (tafwidh) terjadi pada tiga kali, maka jatuhlah satu kali talak.
ولو طلقت نفسها في مسألة الواحدة ثلاثاً وقعت الواحدة كما لم يكن في المسألة مشيئة ولكن لا بدّ من أن تذكر المشيئة ومجرد تطليقها نفسها لا يكفي
Jika istri menjatuhkan talak satu atas dirinya sendiri dalam masalah yang diberikan hak memilih (khiyār), maka jatuhlah satu talak sebagaimana jika dalam masalah tersebut tidak ada pilihan. Namun, harus disebutkan adanya pilihan (mashi’ah), dan semata-mata menjatuhkan talak atas dirinya sendiri tidaklah cukup.
والفرق بين ذكر المشيئة قبل العدد وبين ذكرها بعدَه أنه إذا قال لها طلقي نفسك إن شئت ثلاثاً فإذا لم تشأ ثلاثاًَ لم تتحقق مشيئتها فإنه وصف مشيئتها بالتعلّق بالثلاث فإذا لم تحصل المشيئة المشروطة فلا يقع الطلاق فمهما ذكر العدد بعد المشيئة فالعدد متعلق المشيئة وكذلك لو قال طلقي نفسكِ إن شئت واحدة وليس كذلك قوله طلقي نفسك ثلاثاًً إن شئت
Perbedaan antara menyebutkan syarat kehendak (mashi’ah) sebelum jumlah (talak) dan menyebutkannya setelah jumlah adalah: jika ia berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu jika kamu menghendaki tiga kali,” maka apabila ia tidak menghendaki tiga kali, berarti kehendaknya belum terwujud. Sebab, ia telah mensyaratkan kehendaknya itu berkaitan dengan tiga kali (talak). Maka jika syarat kehendak yang ditentukan tidak terpenuhi, talak pun tidak jatuh. Jadi, kapan pun jumlah disebutkan setelah syarat kehendak, maka jumlah itu menjadi objek kehendak. Demikian pula jika ia berkata, “Ceraikanlah dirimu jika kamu menghendaki satu kali.” Tidak demikian halnya jika ia berkata, “Ceraikanlah dirimu tiga kali jika kamu menghendaki.”
وهذا الذي ذكره الأصحاب ظاهر إذا كان الكلام مطلقاً
Apa yang disebutkan oleh para ulama ini jelas berlaku apabila pembicaraan tersebut bersifat mutlak.
وإن زعم أني أردت بقولي ثلاثاًً بعد المشيئة تفسيرَ الطلاق لا وصفَ المشيئة فهذا مقبول
Dan jika ia mengklaim bahwa maksudku dengan ucapanku “tiga setelah disertai syarat” adalah penafsiran terhadap talak, bukan sebagai sifat dari syarat, maka hal ini dapat diterima.
وإذا قال لها طلقي نفسكِ إن شئت واحدةً فطلقت نفسها ثلاثاًً فهذا فيه احتمال عندي فإن من شاء الثلاث فقد شاء واحدة إذ الثلاث تنطوي على الواحدة ويحتمل ما قاله الأصحاب فإنه جعل الواحدة متعلَّق المشيئة فلا يمنع أن تكون المشيئة موصوفة باتحاد المراد
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu jika kamu mau satu kali,” lalu istrinya menceraikan dirinya sendiri tiga kali, maka menurut pendapat saya ada kemungkinan dalam hal ini. Sebab, siapa yang menghendaki tiga kali talak, berarti ia juga menghendaki satu kali, karena tiga kali talak mencakup satu kali talak. Namun, ada juga kemungkinan seperti yang dikatakan para ulama, yaitu bahwa satu kali talak dijadikan sebagai objek kehendak, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kehendak itu bersifat khusus pada satu maksud saja.
فرع
Cabang
قد ذكرنا أنه إذا قال إن حلفت بطلاقك فأنت طالق ثم قال إذا طلعت الشمس أو مطرت السماء أو هبت الريح أو ما أشبه ذلك مما لا يتعلق باختيارٍ لها ولا يتصور فيه منع ولا تحريض فلا يقع الحِنث بذلك
Telah kami sebutkan bahwa jika seseorang berkata, “Jika aku bersumpah dengan talakmu maka engkau tertalak,” kemudian ia berkata, “Jika matahari terbit, atau hujan turun, atau angin bertiup, atau hal-hal serupa yang tidak berkaitan dengan pilihannya, dan tidak mungkin dicegah atau dimotivasi,” maka pelanggaran sumpah tidak terjadi karena hal tersebut.
ولو زعم الزّوج أن الشمس قد طلعت فخالفته المرأة فقال إن لم تطلع فأنت طالق فيحنث بهذا في يمينه الأولى وهو قوله إن حلفت فإنه قصد تصديق نفسه وهذا من مقاصد الأَيْمان فصار قوله يميناً على هذا الوجه
Jika seorang suami mengklaim bahwa matahari telah terbit, lalu istrinya membantahnya, kemudian ia berkata, “Jika matahari belum terbit, maka engkau tertalak,” maka ia dianggap melanggar sumpahnya yang pertama, yaitu ucapannya, “Jika aku bersumpah,” karena ia bermaksud membenarkan dirinya sendiri, dan ini termasuk tujuan dari sumpah. Maka ucapannya itu menjadi sumpah dalam hal ini.
فروعٌ تتعلق بالمعاياة وطرائف الأسئلة
Cabang-cabang yang berkaitan dengan mu‘āyāh dan keunikan-keunikan pertanyaan.
إذا قال لها إن لم تعرّفيني عدد الجوز الذي في هذا البيت فأنت طالق وكان البيت ممتلئاً جوزاً وربما يضيق عليها الزمان الذي تجيب فيه قال الأصحاب الحيلة في نفي الطلاق أن تذكر المرأة عدداً يقدّر الجوز عليه فإن استرابت زادت حتى تستيقن أنها ذكرت فيما ذكرت عدد الجوز ولا يضرها الزيادة على العدد فإنها وإن زادت فقد ذكرت العدد المطلوب
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu tidak memberitahuku jumlah buah kenari yang ada di rumah ini, maka kamu tertalak,” sementara rumah itu penuh dengan buah kenari dan waktu yang diberikan untuk menjawabnya mungkin sempit baginya, para ulama berpendapat bahwa cara untuk menghindari terjadinya talak adalah dengan si istri menyebutkan suatu angka yang diperkirakan sesuai dengan jumlah kenari tersebut. Jika ia ragu, ia dapat menambah jumlahnya hingga ia yakin bahwa di antara angka-angka yang ia sebutkan sudah termasuk jumlah kenari yang sebenarnya. Penambahan jumlah tersebut tidak membahayakannya, karena meskipun ia menambah, ia tetap telah menyebutkan jumlah yang diminta.
وهذا خطأ عندي إن ذكر في سؤاله التعريف فإنّ اللفظ يشعر بأن غرضه أن تفيده المعرفة بعدد الجوز والذي ذكرْته على مجازفةٍ ليس بتعريفٍ وإنما فرض الفقهاء هذه الصورة فيه إذا قال لها إن ذكرت لي عدد ما في البيت وإلا فأنت طالق فإذا ذكرت عدداً على النسق الذي ذكرناه فتكون ذاكرةً لذلك العدد فيما تذكره من الأعداد ولكن الشيخ ذكر في المسألة التعريف
Menurut saya, ini adalah sebuah kekeliruan jika dalam pertanyaannya disebutkan “ta‘rīf” (pemberian definisi), karena lafaz tersebut menunjukkan bahwa maksudnya adalah agar ia memperoleh pengetahuan tentang jumlah buah kenari itu. Apa yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah perkiraan, bukanlah sebuah definisi. Para fuqaha’ hanya mengandaikan gambaran ini dalam kasus ketika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika engkau menyebutkan kepadaku jumlah yang ada di dalam rumah ini, maka engkau tidak dicerai, jika tidak maka engkau dicerai.” Jika sang istri menyebutkan suatu jumlah sesuai urutan yang telah kami sebutkan, maka ia dianggap mengingat jumlah tersebut dalam apa yang ia sebutkan dari angka-angka itu. Namun, Syaikh dalam permasalahan ini menyebutkan “ta‘rīf” (pemberian definisi).
ثم إذا فرضنا في الذكر وهو الوجه فلتأخذ من عدد تستيقنه مثل أن تعلم أن عدد الجوز في البيت يزيد على ألفٍ ثم تذكر الألف وتزيد ضمّاً للعدد إلى العدد حتى تنتهي إلى مبلغٍ تستيقن أن ما في البيت لا يزيد عليه ولا يتصور هذا ما لم تزد إلى أن يفرض وفاق وهو نادرٌ في التصور
Kemudian, jika kita menganggap dalam penyebutan (yaitu dalam metode taksiran), maka hendaklah engkau mengambil dari jumlah yang engkau yakini, misalnya engkau mengetahui bahwa jumlah kacang di dalam rumah lebih dari seribu, lalu engkau sebutkan seribu dan tambahkan lagi jumlah demi jumlah hingga engkau mencapai angka yang engkau yakini bahwa apa yang ada di dalam rumah tidak melebihi angka itu. Namun, hal ini tidak dapat dibayangkan kecuali jika engkau terus menambah hingga mencapai batas yang pasti, dan hal itu jarang dapat dibayangkan.
ومما يجب الاعتناء به أنها إذا ذكرت الألف كما صوّرناه فقد ذهب القاضي إلى أنها تزيد على ما استيقنته واحداً واحداً فلو قالت ألفاً ثم ألفين أو مائة ألفٍ لم يكفها ذلك إذ لو كان يكفيها ذلك لذكرت عدداً على مبلغ عظيم أوّل مرّةٍ فإذا قال الأئمة تذكر ما تستيقن ثم تزيد عليه فلا وجه للزيادة إلا ما ذكرناه فإنها سَتَمُرّ إذا كانت تزيد واحداً واحداً بالعدد الخاص بجَوْزِ البيت وإذا لم تفعل هكذا وذكرت مائة ألفٍ وعددُ ما في البيت ينقص عن هذا فما ذكرت عدد الجَوْز في البيت وإنما ذكرت عدداً عددُ ما في البيت بعضه
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika ia menyebutkan seribu seperti yang telah kami gambarkan, maka menurut pendapat qadhi, ia harus menambah jumlah yang diyakininya satu per satu. Jadi, jika ia berkata seribu, lalu dua ribu, atau seratus ribu, itu tidak cukup baginya. Sebab, jika itu cukup, tentu ia akan langsung menyebutkan jumlah yang sangat besar sejak awal. Maka, ketika para imam mengatakan bahwa ia menyebutkan jumlah yang diyakini lalu menambahkannya, tidak ada alasan untuk penambahan kecuali seperti yang telah kami sebutkan. Sebab, jika ia menambah satu per satu, ia akan melewati jumlah khusus biji-bijian di dalam rumah. Jika ia tidak melakukan seperti itu dan menyebutkan seratus ribu, sementara jumlah yang ada di rumah kurang dari itu, maka yang ia sebutkan bukanlah jumlah biji-bijian di rumah, melainkan hanya sebagian dari jumlah yang ada di rumah.
ثم هذا الذي ذكرناه في اللفظ المطلق فلو أراد الزوج بهذا تنصيصها على العدد المطلوب فلا ينفع ما ذكرناه
Kemudian, apa yang telah kami sebutkan ini berlaku pada lafaz yang mutlak. Namun, jika suami bermaksud dengan ucapannya itu untuk menegaskan jumlah yang dimaksud, maka apa yang telah kami sebutkan sebelumnya tidak berlaku.
والذي يدور في خلدي من هذه المسألة أن مطلق هذا في العرف لا يُشعر إلا بالتنصيص وقد نصّ الأصحاب على خلاف هذا وكنت أودّ لو فرضت هذه المسألة فيه إذا نوى الزوج ما ذكرناه ثم كان يقال هل يزال ظاهر الإطلاق بنيّته فعلى تردد
Yang terlintas dalam benak saya mengenai masalah ini adalah bahwa secara umum dalam kebiasaan, ungkapan ini tidak menunjukkan kecuali adanya penegasan secara eksplisit. Namun, para ulama mazhab telah menegaskan kebalikannya. Saya berharap seandainya masalah ini dibahas dalam konteks ketika suami berniat seperti yang telah kami sebutkan, kemudian dipertanyakan: apakah makna lahiriah dari ungkapan yang bersifat mutlak itu bisa berubah karena niatnya? Maka dalam hal ini terdapat keraguan.
ولو قال إن لم تعُدِّي الجوز الذي في هذا البيت في ساعة فأنت طالق ذكر أصحابنا وجهين أحدهما أنها تأخذ من مبلغ تستيقنه ثم تأخذ في الزيادة كما ذكرناه فيه إذا قال لها إن لم تذكري عدد الجوز
Jika seorang suami berkata, “Jika kamu tidak menghitung buah kenari yang ada di rumah ini dalam satu jam, maka kamu tertalak,” para ulama mazhab kami menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa istri mengambil jumlah yang diyakininya, kemudian menambahkannya sebagaimana telah kami sebutkan dalam kasus ketika suami berkata kepadanya, “Jika kamu tidak menyebutkan jumlah buah kenari.”
ومنهم من قال إذا كانت اليمين معقودة على العدّ فلا بد وأن تبتدىء من الواحدة وتأخذ في الزيادة حتى تنتهي إلى الاستيقان كما ذكرناه فإن العدّ متضمّنه التفصيل من الواحدة إلى المنتهى وليس كالذكر ولم يذكر أحد من الأصحاب أن العدّ محمول على تولّي العدّ فعلاً وزعموا أن العدّ إنما هو العدّ باللسان
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika sumpah itu terkait dengan hitungan, maka harus dimulai dari satu dan terus bertambah hingga mencapai keyakinan, sebagaimana telah kami sebutkan. Sebab, hitungan itu mencakup perincian dari satu hingga batas akhirnya, dan tidak seperti sekadar menyebutkan. Tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama) yang menyatakan bahwa hitungan itu dimaksudkan dengan melakukan perhitungan secara langsung, dan mereka berpendapat bahwa hitungan itu hanyalah hitungan dengan lisan.
ولست أرى الأمر كذلك فإن من جلس نَبْذةً من بيتٍ فيه جَوْز ثم أخذ يهذي ويذكر باللّسان أعداداً فهذا لا يسمى عدّاً في الإطلاق وإن حمل لفظُهُ عليه كان تأويلاً والنظر في أن التأويل المزيل للظاهر هل يقبل نعم إذا قال إن لم تعدّي فرمقت الجوز وأخذت تعدّ وترمق كل جوّزة فهذا عدٌّ وإن لم يوجد فعلٌ باليد فأما قول اللسان فلست أراه عدّاً
Saya tidak melihat perkara ini demikian, sebab jika seseorang duduk sejenak di sebuah rumah yang di dalamnya terdapat kacang, lalu ia mulai mengigau dan menyebutkan sejumlah angka dengan lisannya, maka hal itu tidak disebut menghitung secara mutlak. Jika lafaznya dibawa kepada makna tersebut, itu adalah takwil. Adapun meneliti apakah takwil yang menghilangkan makna lahiriah dapat diterima atau tidak, maka jawabannya: ya, jika seseorang berkata, “Jika engkau tidak menghitung,” lalu ia memperhatikan kacang-kacang itu dan mulai menghitung serta memperhatikan setiap butir kacang, maka itu adalah menghitung, meskipun tidak ada perbuatan dengan tangan. Adapun ucapan lisan, saya tidak menganggapnya sebagai menghitung.
ولو قال وقد خلط دراهم لامرأته بدراهمَ كانت في كفّه إن لم تميّزي دراهمَك من هذه الدراهم فأنت طالق قال الأصحاب المخلّص أن تميز الدراهم كلها تمييزاً عاماً بحيث لا تبقي منها درهماً ودرهمين ملتصقين
Jika seseorang berkata, setelah mencampur dirham milik istrinya dengan dirham yang ada di tangannya, “Jika kamu tidak dapat membedakan dirhammu dari dirham-dirham ini, maka kamu tertalak,” para ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah istri harus dapat membedakan seluruh dirham itu secara umum, sehingga tidak tersisa satu atau dua dirham yang masih tercampur.
وكذلك إذا كانا يأكلان تمراً أو مشمشاً فقال إن لم تميزي نوى ما أكلت فأنت طالق فالطريق ما ذكرناه
Demikian pula, jika keduanya sedang memakan kurma atau aprikot, lalu suami berkata, “Jika kamu tidak dapat membedakan biji dari apa yang telah kamu makan, maka kamu tertalak,” maka hukumnya sama seperti yang telah kami sebutkan.
وهذا فيه نظر عندي فإن نوى التنصيص في التمييز فالذي ذكرناه ليس بمخلّص وإن أطلق اللفظ فالذي ذكره الأصحاب أن ما ذكرناه مُخلِّص
Menurut saya, hal ini masih perlu ditinjau kembali. Jika seseorang berniat menegaskan dalam pembedaan, maka apa yang telah kami sebutkan tidak dapat menjadi jalan keluar. Namun jika ia mengucapkan lafaz secara mutlak, maka menurut pendapat para ulama, apa yang telah kami sebutkan dapat menjadi jalan keluar.
ولست أرى الأمر كذلك إن كنا نأخذ المعاني مما تبتدره الأفهام ولئن كان للفقه تحكم في حصر الصرائح أخذاً من التعبد والتكرّر في الشرع فألفاظ المعلِّقين لا نهاية لها وليس للصفات التي يذكرونها ضبط فسبيل الكلام على الظواهر تنزيلها على ما يُفهم وإنما يتميز الظاهر عن الكلام المتردد بشيء واحدٍ وهو أن يفرض الإطلاق ثم لا يفرض مراجعة المطلِق واستفسارُه فما كان كذلك فهو ظاهرٌ والنص كذلك غيرَ أن مُطْلِقَه لو ذكر له تأويلاً لم يُقبل ولم يُرَ له وجهٌ في الاحتمال وأمثال هذه الألفاظ لا يستريب الفاهمون أن معانيها على خلاف ما وضعها أصحاب المعاياة فالوجه وضعها مع تجريد القصد إليها على حسب ما يذكره الفقيه
Saya tidak melihat persoalannya seperti itu jika kita mengambil makna dari apa yang langsung dipahami oleh akal. Jika fiqh memang membatasi makna-makna yang jelas berdasarkan ketentuan ibadah dan pengulangan dalam syariat, maka ungkapan para pengucapnya tidak terbatas jumlahnya, dan sifat-sifat yang mereka sebutkan pun tidak dapat dibatasi. Maka, cara berbicara tentang zhahir adalah menafsirkannya sesuai dengan apa yang dipahami. Perbedaan antara zhahir dan ucapan yang masih samar hanya terletak pada satu hal, yaitu jika suatu ucapan dilepaskan tanpa penjelasan lebih lanjut, dan tidak ada peninjauan ulang atau permintaan penjelasan dari pengucapnya, maka ucapan itu adalah zhahir. Begitu pula dengan nash, kecuali jika pengucapnya menyebutkan suatu takwil, maka takwil itu tidak diterima dan tidak dianggap memiliki kemungkinan makna lain. Ungkapan-ungkapan seperti ini, orang-orang yang memahami tidak akan ragu bahwa maknanya berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh para ahli teka-teki kata. Maka, yang tepat adalah menempatkannya dengan maksud yang murni sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh seorang faqih.
ولو كان في فم المرأة تمرة فقال الزوج إن بلعتيه فأنت طالق وإن لفظتيه فأنت طالق وإن أمسكتيه فأنت طالق فالمخلِّص أن تأكل نصفه وتلفظ نصفه ولا يحصل الحِنث بوجهٍ من الوجوه التي ذكرناها
Jika di mulut seorang wanita terdapat sebutir kurma, lalu suaminya berkata, “Jika kamu menelannya, maka kamu tertalak; jika kamu meludahkannya, maka kamu tertalak; dan jika kamu menahannya di mulutmu, maka kamu tertalak,” maka cara untuk selamat adalah dengan memakan setengahnya dan meludahkan setengahnya, sehingga tidak terjadi pelanggaran sumpah dengan cara-cara yang telah kami sebutkan.
ولو قال وهي في ماءٍ جارٍ إن مكثت فيه فأنت طالق وإن خرجت منه فأنت طالق
Jika ia berkata sementara istrinya berada di air yang mengalir, “Jika kamu tetap di dalamnya, maka kamu tertalak, dan jika kamu keluar darinya, maka kamu tertalak.”
قال الأصحاب لو مكثتْ لم تطلق لأنّ الدُّفع من الماء التي تَلْقاها قد جرت وانحدرت فلم تمكث فيه ولم تخرج منه
Para ulama berpendapat: jika air itu diam, maka tidak menjadi najis, karena dorongan dari air yang mengenainya telah mengalir dan turun, sehingga air itu tidak diam di dalamnya dan tidak keluar darinya.
وهذا قريب من الفنون المقدمة
Ini hampir sama dengan disiplin-disiplin ilmu yang didahulukan.
فإن نوى الزوج الخروج من ماء النهر فما ذكرناه ليس بمخلِّص وإن خطر له ما ذكرناه أمكن أن يقبل وإن أطلق ففيه نظر وهذا من الأقطاب فإن أمثال هذه الألفاظ لو ردّت إلى اللغة فيمكن تنزيلها على ما ذكره الفقهاء وإن ردّت إلى ما يفهم منها في الإطلاق فالأمر على خلاف ما ذكروه والحمل على موجب الفهم عند الإطلاق أوْلى
Jika suami berniat mengambil air dari sungai, maka apa yang telah kami sebutkan sebelumnya tidak dapat menjadi solusi. Namun, jika terlintas dalam benaknya apa yang telah kami sebutkan, maka mungkin dapat diterima. Jika ia mengucapkannya secara mutlak, maka masih perlu diteliti lebih lanjut. Ini termasuk pokok-pokok penting, karena ungkapan-ungkapan semacam ini jika dikembalikan pada makna bahasa, maka bisa diarahkan seperti yang disebutkan para fuqaha. Namun, jika dikembalikan pada pemahaman yang umum dari ungkapan tersebut secara mutlak, maka keadaannya berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Mengambil makna sesuai pemahaman umum ketika diucapkan secara mutlak lebih utama.
هذا منتهى القول في هذه الأجناس
Inilah akhir pembahasan mengenai jenis-jenis ini.
وإذا كانت على سلّم فقال إن نزلت من هذا السّلم فأنت طالق وإن زَنأتِ فأنت طالق وإن وقفت فأنت طالق فالوجه أن تطفر إن قدرت عليه وإلا تُحْمل من السلم أو يُضْجَع السلم وهي عليه أو ينصب بجانب السُّلّم سُلَّم آخر حتى تتحول إليه
Jika seorang istri berada di atas tangga lalu suaminya berkata, “Jika kamu turun dari tangga ini, maka kamu tertalak; jika kamu melompat, maka kamu tertalak; jika kamu diam, maka kamu tertalak,” maka cara yang tepat adalah ia melompat jika mampu melakukannya. Jika tidak mampu, maka ia dibantu untuk turun dari tangga, atau tangga itu direbahkan sementara ia masih di atasnya, atau diletakkan tangga lain di samping tangga itu agar ia bisa berpindah ke sana.
ولست بالراغب في هذه الفنون واللائق بهذا المجموع أن يبتنى على ما هو الوجه وما ذكرته من نظر الناظرين إلى اللغة والإضراب عن المفهوم من الألفاظ
Saya sendiri tidak begitu berminat pada bidang-bidang ini, dan yang layak bagi kumpulan ini adalah dibangun di atas apa yang merupakan pendapat yang benar, serta apa yang telah saya sebutkan mengenai pandangan para pengkaji terhadap bahasa dan berpaling dari makna yang dipahami dari lafaz-lafaz.
ولو قال لامرأته إن أكلت هذه الرمانة فأنت طالق فأكلتها إلا حبة لم تطلق وهذا سديد في اللغة والعرف وقد يقول القائل أكلتُ رمانة وإن فاتته حبّة ولكن للاحتمال فيه مجالٌ وإذا اجتمعت اللغة وتردد العرف فالحكم بوقوع الطلاق لا وجه له ولا يعدُّ من قال لم يأكل رمانةً إذا ترك حبّةً حائداً عن ظاهر الكلام
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu makan buah delima ini, maka kamu tertalak,” lalu istrinya memakannya kecuali satu butir, maka ia tidak tertalak. Hal ini sesuai dengan bahasa dan kebiasaan yang benar. Seseorang bisa saja berkata, “Aku telah memakan sebuah delima,” meskipun masih tersisa satu butir, namun masih ada kemungkinan makna lain di dalamnya. Jika bahasa dan kebiasaan sama-sama mengandung kemungkinan, maka tidak ada alasan untuk menetapkan terjadinya talak. Orang yang mengatakan belum memakan sebuah delima jika masih menyisakan satu butir, tidak dianggap menyimpang dari makna lahiriah ucapan tersebut.
ولو علق الطلاق بأكلِ رغيفٍ فجرى الأكل فيه وبقيت فُتَاتةٌ قال القاضي لا تطلق واعتبر الفتاتة بحبات الرمانة
Jika talak digantungkan pada makan satu roti, lalu ia memakannya namun masih tersisa remah kecil, menurut qadhi talak tidak jatuh, dan remah kecil itu dianggap seperti butir-butir buah delima.
والقول في هذا مفصل عندي فإن كان ما سقط قطعةً محسوسةً وإن صغرت فهي كالحبة من الرمانة وأما ما دق مُدركه من الفتاتة فما عندي أنه يؤثر في الحِنث والبر وهذا عندي مقطوع به في حكم العرف إن كان على العرف معوّل في الأَيْمان
Menurut saya, pembahasan dalam hal ini terperinci: jika yang jatuh adalah bagian yang dapat dirasakan secara fisik, meskipun kecil, maka ia seperti sebutir biji dari buah delima. Adapun bagian yang sangat halus sehingga sulit dirasakan, menurut saya itu tidak berpengaruh terhadap pelanggaran sumpah (ḥinth) maupun pemenuhan sumpah (bar). Hal ini menurut saya sudah pasti dalam hukum ‘urf, jika memang dalam sumpah-sumpah itu yang dijadikan sandaran adalah ‘urf.
وسمعت شيخي كان يقطع بهذا في الفتاوى
Dan aku mendengar guruku menetapkan hal ini secara tegas dalam fatwa-fatwanya.
والضبطُ لهذه الأجناس أن من سئل عن لفظة فإن كان لا يدري معناها في اللغة فلا يهجم على الجواب ولكن من جوابه إني أراجع في هذه من يعرف اللغة وإن كان يعرف معناها في اللغة وأحاط بأنه منطبق على العرف جرى في الجواب
Patokan untuk hal-hal semacam ini adalah bahwa siapa pun yang ditanya tentang suatu lafaz, jika ia tidak mengetahui maknanya dalam bahasa (Arab), maka ia tidak boleh gegabah dalam menjawab, melainkan hendaknya ia menjawab, “Saya akan menanyakan hal ini kepada orang yang memahami bahasa.” Namun jika ia mengetahui maknanya dalam bahasa dan memahami bahwa makna tersebut sesuai dengan ‘urf (kebiasaan), maka ia dapat melanjutkan dalam memberikan jawaban.
وإن جهل العرف سأل عنه أهل العرف وإن كان العرف متردّداً كان صغوه الأكثر إلى استبقاء النكاح
Jika ‘urf (kebiasaan) tidak diketahui, maka ditanyakan kepada para ahli ‘urf. Jika ‘urf itu masih diperselisihkan, maka kecenderungan yang lebih kuat adalah pada upaya mempertahankan pernikahan.
وإن صادف العرفَ على خلاف اللغة في وضعها كان واقعاً في المعاياة والوجه عندي تحكيم العرف على اللغة كما أوضحته وبينت مسلك الأصحاب ولا يسوغ الميل عن جادّة الفقه حتى تحلو المسائل في استماع العوام
Jika ‘urf bertentangan dengan bahasa dalam penetapannya, maka hal itu termasuk dalam perkara yang membingungkan. Menurut pendapat saya, yang patut dijadikan acuan adalah ‘urf dibandingkan bahasa, sebagaimana telah saya jelaskan dan tunjukkan jalan para ashhab. Tidak diperbolehkan menyimpang dari jalur fiqh hanya agar permasalahan terasa mudah di telinga orang awam.
فروع في المكافأة والتعليقات بالصفات النادرة
Cabang-cabang dalam masalah kesetaraan dan penetapan hukum berdasarkan sifat-sifat yang langka
وهي كثيرة الجريان في الخصومات الناشئة بين الزوجين وأكثر ما تقع هذه المسائل فيه إذا بدأت المرأة فواجهت زوجها بما يكرهه ووصفته بصفةِ ذمٍّ
Hal ini sering terjadi dalam perselisihan yang timbul antara suami istri, dan kebanyakan permasalahan ini muncul ketika istri memulai dengan menghadapi suaminya dengan sesuatu yang tidak disukainya, serta menyifatinya dengan sifat celaan.
وقال الزوج إن كنتُ كما قلتِ فأنت طالق فهذه المسائل تجري على ثلاثة أقسام أحدها أن يقصد الزوج تعليقاً على التحقيق والثاني أن يقصد مكافأتها ليغيظها بالطلاق كما غاظته بما أسمعته
Dan jika suami berkata, “Jika aku seperti yang kamu katakan, maka kamu tertalak,” maka permasalahan-permasalahan ini terbagi menjadi tiga bagian: pertama, suami bermaksud menggantungkan talak secara sungguh-sungguh; kedua, suami bermaksud membalas istrinya untuk membuatnya kesal dengan talak sebagaimana istrinya telah membuatnya kesal dengan ucapan yang didengarnya;
والثالث أن يُطْلِق اللفظَ فإن قصد التعليق فلا بدّ من النظر في الصّفات فإن تحققت وقع الطلاق وإن انتفت لم يقع وإن أشكلت فالأصل أنْ لا طلاق ثم كثيراً ما يجري في المهاترات والإفحاش والخنا في المنطق صفاتٌ لا تكون فيقع الناظر في التطلب فالوجه الحكم بأن الطلاق لا يقع
Ketiga, jika seseorang mengucapkan lafaz (talak) secara mutlak, maka jika ia bermaksud menggantungkan (talak) tersebut, harus dilihat sifat-sifat yang disebutkan. Jika sifat-sifat itu benar-benar ada, maka talak jatuh; jika tidak ada, maka talak tidak jatuh. Jika sifat-sifat itu samar, maka hukum asalnya adalah talak tidak jatuh. Sering kali dalam perdebatan, ucapan kasar, dan kata-kata kotor, disebutkan sifat-sifat yang sebenarnya tidak ada, sehingga orang yang menilai menjadi bingung dalam mencari-cari (kebenarannya). Maka yang tepat adalah memutuskan bahwa talak tidak jatuh.
وأنا أذكر من جملتها واقعةً رُفعت في الفتاوى وهي أن المرأة قالت لزوجها يا جهوذروى فقال في جوابها إن كنت كذلك فأنت طالق فوقع المسْتَطْرِفُون وبَنُو الزمان في طلب هذه الصفة فذهب بعضهم إلى الحمل على صفار الوجه وسلك سالكون مسلك مخيلة الذل في خبطٍ لا أصفه وكان جوابنا فيه إن المسلم لا يكون على النعت المذكور فلا يقع الطلاق ولم أوثر ذكر ما فيه فحش وفيما أوردته التنبيه التام للفطن
Saya akan menyebutkan di antaranya sebuah peristiwa yang diajukan dalam fatwa, yaitu seorang wanita berkata kepada suaminya, “Wahai Jahudzarwa,” lalu suaminya menjawab, “Jika aku memang demikian, maka engkau tertalak.” Maka orang-orang yang aneh dan generasi zaman ini pun berusaha mencari makna sifat tersebut. Sebagian dari mereka menafsirkannya sebagai wajah yang kekuningan, dan sebagian lain menempuh jalan prasangka kehinaan dalam kebingungan yang tak dapat saya gambarkan. Jawaban kami dalam hal ini adalah bahwa seorang muslim tidak mungkin memiliki sifat yang disebutkan itu, sehingga talak tidak terjadi. Saya pun tidak suka menyebutkan hal yang mengandung keburukan, dan dalam apa yang saya sampaikan ini sudah cukup sebagai peringatan bagi orang yang cerdas.
وإن قصد الرجل بذلك مكافأتها فاللفظ صريح في التعليق ولكن إذا أراد الزوج مكافأةً فلها وجه والتقدير إن كنت كذلك فأنت طالق إذاً ومما مهدته أن الاحتمال الخفي مقبول في وقوع الطلاق إذا أراده اللافظ
Jika seorang laki-laki bermaksud membalas istrinya dengan ucapan tersebut, maka lafaznya jelas menunjukkan ta‘liq (penggantungan), namun jika suami memang bermaksud membalas, maka ada sisi (penafsiran) yang membolehkannya, dan takdirnya adalah: “Jika engkau demikian, maka engkau tertalak.” Di antara hal yang telah aku jelaskan adalah bahwa kemungkinan makna tersembunyi dapat diterima dalam terjadinya talak jika memang diinginkan oleh orang yang mengucapkannya.
وإن أطلق اللفظَ فهو محمول عندي على التعليق إلا أن يعم عرفٌ في المكافأة فيجتمع وضع اللغة والعرف وقد سبق الكلام فيه
Jika lafal tersebut diucapkan secara mutlak, menurutku ia dibawa kepada makna ta‘liq (penggantungan) kecuali jika terdapat ‘urf yang umum dalam hal imbalan, sehingga makna bahasa dan ‘urf berkumpul, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
وقد رأيت كثيراً من المشايخ يميلون إلى المكافأة للعجز عن النظر في الصفات وسبب ذلك أنهم حسبوا كلّ مذكورٍ كافياً ومعظم بدائع الشتائم غير كائنة فلا يقع الطلاق
Saya telah melihat banyak ulama condong kepada pendapat adanya kompensasi karena ketidakmampuan meneliti sifat-sifatnya, dan sebabnya adalah mereka mengira setiap hal yang disebutkan sudah cukup, padahal kebanyakan bentuk-bentuk sumpah serapah yang luar biasa itu tidak terjadi, sehingga talak pun tidak jatuh.
فرع
Cabang
إذا قال أنت طالق يوم يقدَم فلان فقدم ليلاً فالمذهب أن الطلاق لا يقع فإنه لم يعلّق الطلاق على مجرّد القدوم حتى ربطه بالوقوع في يوم وذكر بعض الأصحاب وجهاً أن مطلق هذا يحمل على وقت القدوم وهذا بعيد لا أعده من المذهب ومن أحكم الأصول إلى هذا المنتهى لم يخف عليه دَرْكُ مثل هذا
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada hari si fulan datang,” lalu si fulan datang pada malam hari, maka menurut mazhab, talak tidak jatuh. Sebab, ia tidak menggantungkan talak pada sekadar kedatangan, melainkan mengaitkannya dengan terjadinya pada hari itu. Sebagian ulama menyebutkan pendapat bahwa ungkapan ini berlaku pada waktu kedatangan, namun ini pendapat yang lemah dan aku tidak menganggapnya sebagai bagian dari mazhab. Barang siapa memahami kaidah-kaidah ushul hingga tingkat ini, ia tidak akan kesulitan memahami perkara seperti ini.
فرع
Cabang
حكى العراقيون عن ابن سريج أنه قال إذا قال الزوج لامرأته إن لم أطلقك اليوم فأنت طالق اليوم فلا يقع الطلاق أصلاً وذلك أنه ما دام اسم اليوم موجوداً فيقدّر التطليق فيه فلا يقع الطلاق وإذا انقضى اليوم فقد فات الإيقاع والوقوع جميعاً
Orang-orang Irak meriwayatkan dari Ibn Suraij bahwa ia berkata: Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku tidak menceraikanmu hari ini, maka engkau tertalak hari ini,” maka talak sama sekali tidak terjadi. Hal ini karena selama nama hari itu masih ada, perceraian dapat dilakukan pada hari itu, sehingga talak tidak jatuh. Dan jika hari itu telah berlalu, maka kesempatan untuk menjatuhkan dan terjadinya talak pun telah lewat seluruhnya.
قال الشيخ أبو حامدٍ وهذا هفوة والوجه القطع بأن الطلاق يقع في آخر جزء من اليوم ونتبين ذلك بعد انقضائه والدليل عليه أنه لو قال أنت طالق إن لم أطلقك فإذا مات ولم يطلقها فيتضح لنا أنها طلقت قُبيل موته وما ذكره ابن سريج يقتضي ألا يقع الطلاق ولو هجم هاجم على ركوب هذا لكان خارقاً للإجماع
Syekh Abu Hamid berkata, “Ini adalah kekeliruan, dan pendapat yang benar adalah memastikan bahwa talak terjadi pada bagian terakhir dari hari itu, dan kita mengetahuinya setelah hari itu berlalu. Dalilnya adalah jika seseorang berkata, ‘Engkau tertalak jika aku tidak menalakkanmu,’ lalu ia meninggal dunia dan tidak menalakkan istrinya, maka jelaslah bagi kita bahwa istrinya tertalak sesaat sebelum kematiannya. Apa yang disebutkan oleh Ibn Surayj mengandung konsekuensi bahwa talak tidak terjadi sama sekali, dan jika seseorang nekat mengikuti pendapat ini, maka ia telah menyalahi ijmā‘.”
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته إن خالفت أمري فأنت طالق ثم قال لها لا تكلمي زيداً فكلمته لم تطلق لأنها خالفت نهيه ولم تخالف أمره
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu melanggar perintahku, maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata kepadanya, “Jangan berbicara dengan Zaid,” lalu istrinya tetap berbicara dengan Zaid, maka istrinya tidak tertalak, karena ia telah melanggar larangan suaminya, bukan perintahnya.
ولو قال لها إن خالفتِ نهيي فأنت طالق ثم قال لها قومي فقعدت فقد ذهب الفقهاء إلى أن الأمر بالشيء نهي عن أضداد المأمور به وقالوا على حسب معتقدهم إذا قعدت فقد خالفت نهيه فيقع الطلاق وقد أوضحنا في مجموعاتنا في الأصول أن الأمر لا يكون نهياً ولا يتضمن نهياً فلا يقع الطلاق إذاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu melanggar laranganku, maka kamu tertalak,” lalu ia berkata kepadanya, “Berdirilah,” namun istrinya justru duduk, para fuqaha berpendapat bahwa perintah untuk melakukan sesuatu berarti larangan terhadap lawan dari apa yang diperintahkan. Mereka mengatakan, menurut keyakinan mereka, jika istri duduk maka ia telah melanggar larangan suami sehingga talak jatuh. Namun, kami telah menjelaskan dalam kumpulan karya kami dalam bidang ushul bahwa perintah tidaklah berarti larangan dan tidak mengandung larangan, sehingga talak tidak jatuh.
ولو كنا نعتقد اعتقاد الفقهاء لتوقفنا في وقوع الطلاق أيضاًً فإن الأيْمان لا تحمل على معتقدات الناس في الأصول وإذا قال لها الرجل قومي فلم يوجد منه نهي حتى يفرض تعلّق الطلاق بمخالفته والطلاق لا يقع بالضِّمْن إذا لم يجر الوصف الذي هو متعلق الطلاق تحقيقاً
Seandainya kita meyakini sebagaimana keyakinan para fuqaha, niscaya kita juga akan ragu dalam terjadinya talak, karena sumpah-sumpah tidak didasarkan pada keyakinan orang-orang dalam masalah pokok. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Berdirilah,” lalu tidak ada larangan darinya sehingga dapat dianggap talak terkait dengan pelanggarannya, maka talak tidak terjadi secara implisit jika tidak ada sifat yang secara nyata menjadi sebab terjadinya talak.
فرع
Cabang
إذا قال لنسائه من أخبرتني بقدوم زيدٍ فهي طالق فأخبرته منهن واحدة طلقت صادقةً كانت أو كاذبةً
Jika ia berkata kepada istri-istrinya, “Siapa di antara kalian yang memberitahuku tentang kedatangan Zaid maka ia tertalak,” lalu salah satu dari mereka memberitahunya, maka ia tertalak, baik ia berkata jujur maupun dusta.
وقال بعض المصنفين لا يقع الطلاق ما لم تكن صادقة وهذا فيه احتمال
Dan sebagian penulis mengatakan bahwa talak tidak jatuh kecuali jika ia jujur, namun dalam hal ini terdapat kemungkinan (perbedaan pendapat).
ولو قال من أخبرتني أن زيداً قَدِمَ فهي طالق فأخبرته واحدة طلقت وإن كانت كاذبة وإنما أوردنا هذا الفرع لحكاية هذا الفرق بين اللفظين وهو حسن فانتظم منه أنه إذا قال من أخبرني بأن زيداً قد قَدِمَ فلا فرق بين الصّدق والكذب وإن قال من أخبرني بقُدومِ زيدٍ فأخبرت واحدة كاذبةً ففي المسألة وجهان لم أقدّم ذكرهما
Jika seseorang berkata, “Siapa yang memberitahuku bahwa Zaid telah datang, maka ia tertalak,” lalu ada seseorang yang memberitahunya, maka istrinya tertalak, meskipun orang yang memberitahu itu berdusta. Kami menyebutkan cabang hukum ini untuk menjelaskan perbedaan antara dua lafaz tersebut, dan ini adalah perbedaan yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berkata, “Siapa yang memberitahuku bahwa Zaid telah datang,” maka tidak ada perbedaan antara kejujuran dan kebohongan. Namun, jika ia berkata, “Siapa yang memberitahuku tentang kedatangan Zaid,” lalu ada seseorang yang memberitahu dengan dusta, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang belum saya sebutkan sebelumnya.
فرع
Cabang
إذا قال أنت طالق بمكة وأراد تعليق الطلاق على أن تأتي مكة وتطلّق حينئذ فهذا محتمل وإن قال أردت التنجّيز قَبِلْنا ولم نتأنّق في إظهار وجهٍ من الوقوع
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak di Mekah,” dan ia bermaksud menggantungkan talak pada saat istrinya datang ke Mekah dan talak terjadi ketika itu, maka hal ini mungkin terjadi. Namun jika ia berkata, “Aku maksudkan penjatuhan talak secara langsung,” maka kami menerimanya dan tidak terlalu mempermasalahkan dalam menunjukkan alasan terjadinya talak.
وإن أطلق لفظه فقد حكى شيخي وجهين في أنه هل يحمل على التعليق أو على التنجيز ففي المسألة احتمال أما التعليق فسابق إلى الفهم وأما التنجيز فسببه أنه ليس في اللفظ أداة تصلح للتعليق
Jika ia mengucapkan lafaznya secara mutlak, guruku telah meriwayatkan dua pendapat mengenai apakah hal itu dibawa kepada makna ta‘liq (penggantungan) atau kepada tanjīz (penegasan langsung). Dalam masalah ini terdapat kemungkinan. Adapun ta‘liq, maka itu yang lebih dahulu terlintas dalam pemahaman. Sedangkan tanjīz, alasannya adalah karena dalam lafaz tersebut tidak terdapat kata penghubung yang cocok untuk ta‘liq.
فرع
Cabang
إذا قال لامرأته إذا دخلت الدار فأنت طالق ثم قال عجّلت تلك الطلقة المعلقة وجعلتها منجّزة فإنها تقع في الحال
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata, “Aku percepat talak yang digantung itu dan aku jadikan ia langsung terjadi,” maka talak itu jatuh seketika.
ولو وُجدت تلك الصفة ففي وقوع الطلاق وجهان ذكرهما شيخي وحاصلهما يرجع إلى أن الطلاق المعلق هل يقبل التنجيز أم لا وقد قدمت هذا في أول كتاب الخلع ولكن رأيت هذين الوجهين للشيخ أبي عليّ فأحببت نقلهما
Jika sifat tersebut ditemukan, maka dalam terjadinya talak terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh guruku. Kesimpulannya kembali pada pertanyaan apakah talak yang digantungkan pada suatu syarat dapat dijadikan pasti (tanjīz) atau tidak. Saya telah mengemukakan hal ini di awal Kitab Khul‘, namun saya melihat dua pendapat ini dari Syekh Abu ‘Ali, sehingga saya ingin menukilkannya.
فرع
Cabang
إذا قال أنت طالق إلى حين أو زمان فإذا مضت لحظة وإن لطفت حكمنا بوقوع الطلاق فإن اسم الحين والزمان ينطلق عليه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak sampai waktu tertentu atau masa tertentu,” maka ketika telah berlalu sesaat saja, meskipun sangat singkat, kami menetapkan jatuhnya talak, karena istilah “waktu” (ḥīn) dan “masa” (zamān) sudah mencakupnya.
ولو قال لها إذا مضى حِقَبٌ أو دهرٌ فأنت طالق قال الأصحاب هذا كما لو قال إذا مضى زمان أو حين وهذا مشكل جداً فإن اسم الدهر والحقب لا يقع على الزمان اللطيف وإيقاع الطلاق بعيد مع حسن قول القائل هذا الذي مضى ليس بدهرٍ وقيل سُئل أبو حنيفة عن تعليق الطلاق بالدهر فقال لا أدري وروجع مراراً فأصرّ عليه
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika telah berlalu ḥiqab atau dahr, maka engkau tertalak,” para sahabat (ulama) mengatakan bahwa ini seperti jika ia berkata, “Jika telah berlalu suatu masa atau waktu.” Namun, hal ini sangat problematis, karena istilah dahr dan ḥiqab tidak digunakan untuk waktu yang singkat, dan menjatuhkan talak dalam kasus ini jauh dari kebaikan, sebab orang yang berkata, “Yang telah berlalu ini bukanlah dahr,” ucapannya baik. Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah pernah ditanya tentang penangguhan talak dengan dahr, maka ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ia ditanya berulang kali, namun tetap bersikukuh pada pendapatnya.
والذي أراه فيه أن العَصر عبارة عن زمانٍ يحوي أمماً فإذا انقرضوا فقد انقرض العصر أو من قول الناس انقرض عصر الصحابة ومن كلام الأصوليين هل يشترط في انعقاد الإجماع انقراض العصر هذا بيّن في معنى العصر والحكم بوقوع الطلاق دون ذلك أو في الزمن القريب بعيد عندي وأما الدّهر فإطلاقه على الزمان القريب بعيدٌ بعد ما تمهّد من وجوب إمالة الفتوى إلى نفي الطلاق
Menurut pendapat saya, yang dimaksud dengan ‘ashr adalah suatu masa yang mencakup beberapa umat; jika umat-umat itu telah punah, maka masa itu pun telah berakhir, sebagaimana ucapan orang-orang: “Telah berlalu ‘ashr para sahabat.” Dalam istilah para ahli ushul, terdapat pembahasan apakah disyaratkan dalam terjadinya ijmā‘ harus menunggu punahnya ‘ashr. Hal ini jelas dalam makna ‘ashr. Adapun menetapkan terjadinya talak pada masa yang lebih singkat dari itu, atau pada waktu yang dekat, menurut saya adalah jauh (tidak tepat). Sedangkan penggunaan kata dahr untuk waktu yang dekat juga tidak tepat, setelah dijelaskan kewajiban memiringkan fatwa kepada penafian terjadinya talak.
وهذه الألفاظ تُصوّر مطلقةً وفيها يقع الكلام وبحقٍّ توقّف أبو حنيفة في هذه المسألة وفي القرآن ما يدل على أن الحين من الدّهر قال الله تعالى هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ وسُمي القائلون بقدم العالم دهريةً وقد يطلق الدهر ولا يراد به الزمان وهو معنى تسمية الملحدة دَهْرية فإنهم يضيفون مجاري الأحكام إلى الدّهر وإلى هذا أشار الرسول عليه السلام وقال لا تسبوا الدهر فإن الله هو الدهر وليس ينقدح لي في الدهر معنى إذا كان مطلقاً وقرن بالمضي إلا الحمل على العصر فإنه يقال مضى عصر الأكاسرة وانقضى دهرهم ولست واثقاً بهذا أيضاًً والذي حكيته عن الأصحاب تنزيل الدهر والعصر منزلة الحين والزمان
Kata-kata ini menggambarkan makna secara mutlak, dan di dalamnya terjadi pembicaraan. Dengan tepat, Abu Hanifah berhati-hati dalam masalah ini. Dalam Al-Qur’an terdapat dalil bahwa “ḥīn” merupakan bagian dari “dahr”, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Apakah telah datang kepada manusia suatu waktu dari dahr (masa)…” (QS. Al-Insan: 1). Orang-orang yang berpendapat tentang qadim-nya alam disebut “dahriyyah”. Kadang istilah “dahr” digunakan tanpa bermaksud “zaman”, dan inilah makna penamaan kaum mulhid sebagai “dahriyyah”, karena mereka mengaitkan jalannya hukum-hukum kepada “dahr”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyinggung hal ini dan bersabda, “Janganlah kalian mencela dahr, karena Allah adalah dahr.” Tidak terlintas dalam benak saya makna tertentu untuk “dahr” jika disebut secara mutlak dan dikaitkan dengan masa lalu, kecuali makna “‘ashr” (masa), seperti dikatakan, “Telah berlalu masa para Kisra dan telah berakhir dahr mereka.” Namun saya pun tidak terlalu yakin dengan hal ini. Pendapat yang saya nukil dari para sahabat (ulama) adalah bahwa “dahr” dan “‘ashr” diposisikan setara dengan “ḥīn” dan “zamān”.
فرع
Cabang
قال صاحب التقريب إذا قال أنت طالق اليوم إذا جاء الغد فلا يقع أصلاً فإنه علق وقوع الطلاق في اليوم على مجيء الغد فلا يقع الطلاق قبل مجيء الغد ثم إذا جاء الغد فقد مضى اليوم فلا يمكننا أن نوقع الطلاق في الزمان الماضي
Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang mengatakan, “Engkau tertalak hari ini jika besok datang,” maka talak sama sekali tidak jatuh, karena ia menggantungkan terjadinya talak hari ini pada datangnya hari esok. Maka talak tidak terjadi sebelum datangnya hari esok, lalu jika hari esok telah datang, maka hari ini sudah berlalu, sehingga kita tidak mungkin menetapkan terjadinya talak pada waktu yang telah lewat.
ولا يبعد أن يقال يقع الطلاق إذا جاء الغد مستنداً إلى اليوم كما لو قال إذا قدم زيد فأنت طالق قبل قدومه بيوم فالمسألة مشكلة
Tidak jauh kemungkinan untuk dikatakan bahwa talak terjadi apabila hari esok telah datang dengan bersandar pada hari ini, sebagaimana jika seseorang berkata, “Jika Zaid datang, maka engkau tertalak sehari sebelum kedatangannya.” Maka masalah ini memang rumit.
فروع ذكرها ابن الحداد من مسائل الخلع
Cabang-cabang permasalahan yang disebutkan oleh Ibn al-Haddad dari permasalahan khulu‘.
منها إن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق ثنتين إحداهما بألف فنقول لا تخلو المرأة إما أن تكون مدخولاً بها وإما ألا تكون مدخولاً بها فإن كانت مدخولاً بها فلا يخلو إما أن قبلت الألف أو لم تقبلها فإن قبلت الألف حكمنا بوقوع الطلقتين على الصحيح وسنذكر فيها خلافاً في أثناء المسألة إن شاء الله
Di antaranya, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dua, salah satunya dengan seribu (dirham),” maka kami katakan: perempuan itu tidak lepas dari dua keadaan, yaitu apakah ia sudah digauli atau belum. Jika ia sudah digauli, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia menerima seribu itu atau tidak. Jika ia menerima seribu tersebut, maka kami menetapkan jatuhnya dua talak menurut pendapat yang shahih, dan kami akan menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini di tengah pembahasan, insya Allah.
وإن لم تقبل الألف فهل يقع طلقة واحدة أم لا فعلى وجهين أحدهما لا يقع شيء فإنه ذكر عوضاً في مقابلة إحداهما وجعل الأخرى تابعة لها فإذا لم تقع التي هي بعوض فلا تقع الأخرى
Jika istri tidak menerima kompensasi (’iwad), maka apakah jatuh satu talak atau tidak? Ada dua pendapat. Pendapat pertama, tidak jatuh apa pun, karena suami menyebutkan kompensasi sebagai imbalan untuk salah satu talak dan menjadikan talak yang lain sebagai pengikutnya. Maka jika talak yang disertai kompensasi tidak terjadi, talak yang lain pun tidak terjadi.
والوجه الثاني تقع واحدة من غير عوض رجعية فإنّه علق إحداهما بعوض ولم يعلق الأخرى بالعوض فينبغي أن تقع فلا تفتقر إلى القبول قال الشيخ هذا هو القياس واختار ابن الحداد الوجه الأوّل
Adapun pendapat kedua, jatuh satu talak tanpa kompensasi dan bersifat raj‘i, karena ia menggantungkan salah satunya dengan kompensasi dan tidak menggantungkan yang lainnya dengan kompensasi, maka seharusnya talak itu jatuh dan tidak memerlukan penerimaan. Syekh berkata, inilah qiyās, dan Ibn al-Haddād memilih pendapat pertama.
ثم قال رضي الله عنه ولا خلاف أنه لو قال أنت طالق ثنتين واحدة بألفٍ والأخرى بغير شيء فتقع تلك الواحدة من غير قبول وحكي الوفاق في هذه الصيغة وليس يبعد عندنا طرد الوجهين فيها أيضاًً تشبيهاً بالمسألة الأولى
Kemudian beliau ra. berkata: Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dua, yang satu dengan seribu dan yang lainnya tanpa apa pun,” maka talak yang tanpa syarat itu jatuh tanpa perlu adanya penerimaan. Telah dinukil adanya kesepakatan (ijmā‘) dalam redaksi ini, namun menurut kami tidak mustahil untuk menerapkan dua pendapat juga dalam masalah ini, dengan menganalogikannya (qiyās) pada permasalahan pertama.
فإن قلنا إنه لا يقع شيء أصلاً لو لم تَقبل فإذا قبلت وقعتا جميعاًً
Jika kita mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa sama sekali jika belum ada penerimaan, maka apabila telah diterima, keduanya terjadi sekaligus.
وإن قلنا إن طلقةً تقع من غير قبول فعلى هذا كما قال الزوج ما قاله حكمنا بوقوع طلقة رجعيةٍ فإذا قبلت فيكون ذلك بعد وقوع طلقة رجعية فإذا قبلت فيكون ذلك اختلاعاً بعد وقوع طلقةٍ رجعيةٍ
Dan jika kita mengatakan bahwa satu talak terjadi tanpa adanya penerimaan, maka dalam hal ini, sebagaimana yang diucapkan oleh suami, kita menetapkan terjadinya satu talak raj‘i. Jika istri kemudian menerima, maka itu terjadi setelah jatuhnya satu talak raj‘i. Jika istri menerima, maka itu berarti khulu‘ yang terjadi setelah jatuhnya satu talak raj‘i.
وقد اختلف المذهب في أن الرجعية هل يصح اختلاعها فإن جوّزناه فقد لزمها الألف وبانت وإن قلنا لا يلزمها المال أصلاً قال الشيخ فهل يقع الطلاق الثاني رجعياً مع الأوّل فيقع طلقتان رجعيتان فعلى وجهين أحدهما لا يقع فإن المال لم يلزم وهو ملازمٌ للمال
Mazhab berbeda pendapat tentang apakah talak raj‘i boleh dilakukan khulu‘. Jika kita membolehkannya, maka istri wajib membayar tebusan dan ia menjadi benar-benar berpisah. Namun jika kita mengatakan bahwa istri sama sekali tidak wajib membayar harta, Syaikh berkata: Apakah talak kedua menjadi talak raj‘i bersama talak pertama sehingga terjadi dua talak raj‘i? Dalam hal ini ada dua pendapat: salah satunya, talak kedua tidak terjadi karena harta tidak wajib dibayarkan, padahal khulu‘ itu berkaitan erat dengan harta.
والثاني إنه يقع فإن المرعي في وقوع الطلاق القبول وقد جرى فأشبه ما لو خالع امرأته المحجورة
Kedua, bahwa talak itu terjadi, karena yang menjadi pertimbangan dalam terjadinya talak adalah adanya penerimaan, dan hal itu telah terjadi, sehingga hal ini serupa dengan seseorang yang melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang sedang berada dalam status mahjur (terhalang melakukan transaksi).
هذا كله إذا كانت المرأة مدخولاً بها
Semua ini berlaku jika perempuan tersebut sudah pernah digauli.
فإن كانت غير مدخول بها والمسألة بحالها فإن قلنا لا يقع طلقة من الطلقتين إلا بالقبول فإن قبلت صح الخلع ووقعتا جميعاًً
Jika istri belum digauli dan permasalahan tetap seperti itu, maka jika kita mengatakan bahwa talak dari dua talak itu tidak jatuh kecuali dengan adanya kabul, maka jika istri menerima, khulu‘ menjadi sah dan kedua talak itu jatuh sekaligus.
وإذا قلنا تقع طلقة مجّاناً فتبين بها قبل أن تجيب ولا يصح الخلع أصلاً فلا حكم لقبولها فإنه جرى بعد البينونة
Dan jika kami mengatakan bahwa talak jatuh secara cuma-cuma, maka perempuan menjadi terpisah karenanya sebelum ia menerima (khul‘), dan khul‘ tidak sah sama sekali, sehingga tidak ada hukum bagi penerimaannya, karena penerimaan itu terjadi setelah terjadinya perpisahan.
وفي المسألة مباحثةٌ نُطلع على لطفها وسرِّها وذلك أنا إذا قلنا لا يقع شيء إذا لم تقبل فإذا قبلت وقعت الطلقتان فإحداهما تُقابل بالعوض والأخرى عريَّةٌ عن العوض والطلاق المقابَل بالعوض في حق المدخول بها مُبينٌ والطلاق الذي لا عوض معه ولا يحصل استيفاء العدد به ليس بمُبين فيقع طلاقان أحدهما المبين ويقترن به طلاق على نعت الطلاق الرجعي
Dalam masalah ini terdapat pembahasan yang akan kami jelaskan kehalusan dan rahasianya. Yaitu, apabila kita katakan bahwa tidak terjadi apa-apa jika ia tidak menerima, maka jika ia menerima, jatuhlah dua talak. Salah satunya sebagai imbalan (‘iwadh), dan yang lainnya tanpa imbalan. Talak yang disertai imbalan bagi istri yang sudah digauli adalah talak bain, sedangkan talak yang tidak disertai imbalan dan tidak menyebabkan habisnya jumlah talak bukanlah talak bain. Maka terjadilah dua talak: salah satunya talak bain, dan bersamanya terjadi talak dengan sifat talak raj‘i.
ولو قال لامرأته التي دخل بها إذا طلقتك فأنت طالق ثم خالعها طُلِّقت طلقةً بعوض ولم تلحقها الطلقة المعلقة فإنها لو لحقتها لصادفت بينونةً واقتران البينونة يمنع وقوع الطلاق كما أن تقدّم البينونة يمنع استعقاب الطلاق فكيف يقع طلاقان مختلفان أحدهما بمال والآخر عريٌّ عن العوض فالطلاق المُبين ينافي وقوع الطلاق الذي لو انفرد لكان رجعيّاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya yang telah digauli, “Jika aku menceraikanmu, maka engkau tertalak,” kemudian ia melakukan khulu‘ terhadapnya, maka terjadilah satu talak dengan kompensasi (iwad), dan talak yang digantungkan itu tidak terjadi padanya. Sebab, jika talak yang digantungkan itu terjadi, maka ia akan bertepatan dengan terjadinya bain (putusnya hubungan pernikahan), sedangkan terjadinya bain secara bersamaan menghalangi jatuhnya talak, sebagaimana terjadinya bain terlebih dahulu juga menghalangi terjadinya talak setelahnya. Maka bagaimana mungkin terjadi dua talak yang berbeda, salah satunya dengan kompensasi dan yang lainnya tanpa kompensasi? Talak bain bertentangan dengan terjadinya talak yang jika berdiri sendiri akan menjadi talak raj‘i.
وإن قيل في جواب ذلك لا يمتنع في الاجتماع هذا فإن من طلق امرأته ثلاثاً فلو فرضنا الاقتصار على طلقتين لكانتا رجعيتين والثالثة توقع الحرمة الكبرى ثم لم يمتنع الاقتران
Dan jika dikatakan sebagai jawaban atas hal itu bahwa tidak mustahil dalam hal penggabungan ini, maka sesungguhnya seseorang yang menalak istrinya tiga kali, seandainya kita anggap hanya dua kali talak, maka keduanya adalah talak raj‘i, dan talak yang ketiga menyebabkan terjadinya keharaman besar, namun demikian tidaklah mustahil terjadinya penggabungan.
وهذا لا يدفع بالسؤال فإن الثلاث إذا جمعت فحكمها تحريم العقد ولا يتصف طلقة منها بكونها رجعية بل حكم جميعها تحريم النكاح والطلاق بالمال متميز عن الطلاق المقترن به صفةً وحكماً فيقع الطلاق المقترن به مع البينونة والواقع مع البينونة يصادف بائنة وإذا صادف بائنةً وجب ألا يمتنع وقوعه بعد البينونة
Hal ini tidak dapat dibantah dengan pertanyaan, karena jika tiga talak digabungkan, hukumnya adalah haramnya akad (nikah), dan tidak ada satu pun dari talak tersebut yang berstatus raj‘i, melainkan hukum semuanya adalah haramnya pernikahan. Talak dengan tebusan (khulu‘) berbeda dari talak yang disertai (dengan sesuatu) baik dari segi sifat maupun hukumnya. Talak yang disertai (dengan sesuatu) jatuh bersamaan dengan bainunah, dan talak yang jatuh bersamaan dengan bainunah terjadi pada wanita yang sudah bain (tidak bisa dirujuk). Jika talak terjadi pada wanita yang sudah bain, maka seharusnya tidak ada halangan untuk jatuhnya talak setelah bainunah.
فوجه الجواب إذاً أن نقول إذا فرعنا على أن المرأة لو لم تقبل المال لم يقع واحدة من الطلقتين فاستحقاق المال يتعلق بالطلاقين وإن أثبت أحدهما أصلاً والثاني تبعاً فسبب وقوع التابعة ارتباطها بالأخرى من حيث إنها تتوقف على قبول المال توقف الأخرى
Maka jawaban yang tepat adalah dengan mengatakan: Jika kita berpendapat bahwa apabila seorang wanita tidak menerima harta, maka tidak terjadi salah satu dari dua talak tersebut, maka hak atas harta itu berkaitan dengan kedua talak tersebut, meskipun salah satunya ditetapkan sebagai pokok dan yang kedua sebagai pengikut. Maka sebab terjadinya talak yang mengikuti adalah keterkaitannya dengan talak yang lain, karena talak yang mengikuti itu bergantung pada penerimaan harta sebagaimana talak yang menjadi pokok juga bergantung padanya.
هذا هو الوجه في الانفصال عن السؤال وقد تركنا على الناظر فضلَ نظر فلينظر فقد مهدنا السبيل
Inilah penjelasan mengenai pemisahan dari pertanyaan, dan kami telah meninggalkan keutamaan berpikir bagi para penelaah; maka hendaklah ia menelaah, karena kami telah memudahkan jalannya.
ولو قال أنت طالق ثلاثاًً على ألف فقالت قبلتُ واحدة أو قالت قبلت واحدةً بثلث الألف فلا يقع الطلاق أصلاً وبمثله لو قالت المرأة لزوجها طلقني ثلاثاً بألف فطلقها واحدة استحق ثُلثَ الألف
Jika seorang suami berkata, “Engkau aku talak tiga dengan imbalan seribu,” lalu sang istri berkata, “Aku terima satu talak saja,” atau ia berkata, “Aku terima satu talak dengan sepertiga dari seribu,” maka talak sama sekali tidak jatuh. Demikian pula, jika seorang istri berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suaminya menceraikannya satu kali, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu.
وقد قدمنا هذا في أصول الخلع واستفرغنا الوُسع في الفرق
Kami telah mengemukakan hal ini dalam pembahasan ushul khulu‘ dan telah mencurahkan segala upaya dalam menjelaskan perbedaannya.
قال الشيخ رأيت لبعض أصحابنا تخريجاً في جنب الزوج أنها إذا سألت ثلاثاًً بألف وأجابها إلى واحدةٍ لم يستحق شيئاً ولم يقع الطلاق قياساً على جانبها
Syekh berkata: Aku melihat sebagian ulama kami memberikan takhrij dalam kasus pihak suami, bahwa jika istri meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), lalu suami mengabulkan satu talak saja, maka ia tidak berhak mendapatkan apa pun dan talak tidak jatuh, berdasarkan qiyās terhadap kasus pada pihak istri.
وهذا غريب جداً
Ini sangat aneh.
ولو قال لامرأته أنت طالق على ألف فقالت قبلت واحدة بألفٍ قال الشيخ المذهب الصحيح أن الطلاق يقع على الجملة على ما سنفصله إن شاء الله وإنما قلنا ذلك لأن التعويل في جانبها على قبول المال وقد قبلت المال
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu,” lalu sang istri berkata, “Aku terima satu talak dengan seribu,” maka menurut pendapat Syekh, mazhab yang benar adalah talak jatuh seluruhnya, sebagaimana akan kami rinci insya Allah. Hal ini karena yang menjadi acuan dari pihak istri adalah penerimaan harta, dan ia telah menerima harta tersebut.
ومن أصحابنا من قال لا يقع الطلاق لاختلاف الإيجاب والقبول فأشبه ما لو قال الرجل بعت منك هذين العبدين بألف فقال المخاطب قبلت البيع في هذا العبد بألف فلا يصح البيع
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa talak tidak terjadi karena adanya perbedaan antara ijab dan qabul, sehingga hal itu serupa dengan kasus ketika seorang laki-laki berkata, “Aku jual kepadamu dua budak ini seharga seribu,” lalu orang yang diajak bicara menjawab, “Aku terima jual beli budak yang ini seharga seribu,” maka jual belinya tidak sah.
قال الشيخ ويحتمل أن نقول يصح البيع في ذلك العبد بالألف تخريجاً على أصلٍ وهو أنه لو قال لوكيله بع عبدي هذا بألفٍ فباعه بألفٍ وثوبٍ فهل يصح ذلك فيه قولان وتفصيلٌ طويل
Syekh berkata, dan mungkin kita dapat mengatakan bahwa jual beli pada budak tersebut dengan harga seribu itu sah, berdasarkan pada suatu prinsip, yaitu jika seseorang berkata kepada wakilnya, “Juallah budakku ini dengan harga seribu,” lalu sang wakil menjualnya dengan harga seribu dan sebuah kain, maka apakah jual beli itu sah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat dan penjelasan yang panjang.
وهذا التخريج في البيع بعيد من قِبل أن المخاطب في البيع إذا غير طريق المقابلة يخرج كلامه عن كونه جواباً والمرأة إذا قبلت الألف فتعرضها لعدد الطلاق وتوحيده لا معنى له فإذا عرفت أن الأصح وقوع الطلاق فكم يقع
Penarikan analogi seperti ini dalam masalah jual beli adalah jauh, karena pihak yang diajak bicara dalam jual beli jika mengubah cara penawaran, maka ucapannya keluar dari makna sebagai jawaban. Sedangkan perempuan, jika ia menerima lafaz seribu (dalam talak), maka keterpaparannya pada jumlah talak dan pengkhususannya tidak ada maknanya. Jika engkau telah mengetahui bahwa pendapat yang lebih sahih adalah talak itu jatuh, maka berapa jumlah talak yang terjadi?
اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال يقع واحدة فإنها قبلت واحدة وهذا ظاهر كلام ابن الحداد وإن لم يصرح به وذلك أنه قال قد أجابته وزادته خيراً فلو كان يقع الثلاث لما كان لما قاله ابنُ الحداد معنى
Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa talak yang jatuh adalah satu, karena istri menerima satu talak. Ini adalah pendapat yang tampak dari perkataan Ibnu al-Haddad, meskipun ia tidak menyatakannya secara eksplisit. Hal itu karena ia berkata, “Ia telah menjawabnya dan menambahkannya dengan kebaikan.” Seandainya yang jatuh adalah tiga talak, maka perkataan Ibnu al-Haddad tidak akan bermakna.
والوجه الثاني وهو اختيار القفال أنه يقع الثلاث وهذا هو المذهب الصحيح وذلك أن قبول الطلاق وتفصيله ليس إليها وإنما إليها قبول المال فحسب فمهما قبلت ما رامه الزوج من المال وقع ما قاله الزوج من الطلاق وما ذكره الشيخ أبو علي من التخريج في البيع ينقدح على رأي ابن الحداد ولا خروج له على الأصح الذي اختاره القفال ولا يخفى دَرْكُ ذلك على الناظر
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan al-Qaffal, adalah bahwa talak tiga jatuh, dan inilah mazhab yang benar. Sebab, penerimaan talak dan perinciannya bukanlah hak istri, melainkan hak istri hanyalah menerima harta saja. Maka, apa pun yang diterima istri dari harta yang diminta suami, jatuhlah apa yang diucapkan suami berupa talak. Adapun apa yang disebutkan oleh Syaikh Abu ‘Ali tentang analogi (takhriij) dalam jual beli, itu hanya berlaku menurut pendapat Ibn al-Haddad, dan tidak berlaku menurut pendapat yang benar yang dipilih oleh al-Qaffal. Hal ini tidak samar bagi orang yang menelaahnya.
ثم إذا حكمنا بوقوع الطلاق فالمذهب الصحيح أن الألف يلزم
Kemudian, apabila kita menetapkan bahwa talak telah terjadi, maka mazhab yang benar adalah bahwa jumlah seribu itu menjadi wajib.
قال الشيخ رأيت لابن سريج وجهاً أن العوض يفسد والرجوع إلى مهر المثل
Syekh berkata: Aku melihat pendapat Ibn Suraij bahwa kompensasi menjadi batal dan kembali kepada mahar mitsil.
قال الشيخ وهذا محتمل إن قلنا يقع طلقة واحدة بل هذا أوجه على هذا الوجه وإن قلنا يقع الثلاث ففساد العوض أبعد على ذلك
Syekh berkata, “Hal ini memungkinkan jika kita mengatakan bahwa yang terjadi adalah satu talak saja, bahkan ini lebih kuat menurut pendapat tersebut. Namun jika kita mengatakan bahwa yang terjadi adalah tiga talak, maka batalnya kompensasi (’iwadh) lebih jauh kemungkinannya menurut pendapat itu.”
ثم ذكر ابن الحداد مسائل في الاختلاف نشير إلى بعضها فإن أكثرها متعلق بكتب ستأتي إن شاء الله
Kemudian Ibn al-Haddad menyebutkan beberapa permasalahan dalam perbedaan pendapat, yang akan kami singgung sebagian di antaranya, karena sebagian besar dari permasalahan tersebut berkaitan dengan kitab-kitab yang akan dibahas selanjutnya, insya Allah.
فمما ذكره أن الرجل إذا كان تحته صغيرة وكبيرة فخالع الكبيرة على مال وأرضعت الكبيرة الصغيرة وأشكل الأمر فلم ندر أيهما أسبق ولا يخفى حكم سبق كل واحدٍ منهما لو ظهر فلو سبق الرضاع لغا الخلع ولو سبق الخلع صح ولا أثر للرضاع في الإفساد فإن اختلف الزوجان نُظر إن اتفقا على وقت الخلع وأنه جرى يوم الجمعة واختلفا في وقت الرضاع فقال الزوج جرى يوم السبت فقالت بل يوم الخميس فالقول قول الزوج والأصل بقاء النكاح يوم الخميس وإن اتفقا على أن الرضاع كان يوم الجمعة واختلفا في الخلع فقال الزوج كان يوم الخميس وقالت لا بل يوم السبت فالقول قولها فإن الأصل بقاء النكاح وذكر من هذا الجنس مسائل ستأتي في كتبٍ إن شاء الله فلم نأت بها
Di antara yang disebutkan adalah apabila seorang laki-laki memiliki dua istri, yang satu masih kecil dan yang lain sudah dewasa, lalu istri yang dewasa melakukan khulu‘ dengan memberikan harta, dan ia juga menyusui istri yang masih kecil itu, kemudian perkara menjadi samar sehingga tidak diketahui mana yang lebih dahulu terjadi. Tidak tersembunyi hukum jika salah satu dari keduanya lebih dahulu diketahui: jika penyusuan lebih dahulu, maka khulu‘ menjadi batal; jika khulu‘ lebih dahulu, maka sah dan penyusuan tidak berpengaruh dalam membatalkan (pernikahan). Jika suami istri berselisih, maka dilihat: jika keduanya sepakat tentang waktu khulu‘, misalnya terjadi pada hari Jumat, namun berselisih tentang waktu penyusuan, suami berkata terjadi pada hari Sabtu, sedangkan istri berkata pada hari Kamis, maka yang dipegang adalah ucapan suami, karena asalnya pernikahan masih ada pada hari Kamis. Jika keduanya sepakat bahwa penyusuan terjadi pada hari Jumat, namun berselisih tentang waktu khulu‘, suami berkata terjadi pada hari Kamis, sedangkan istri berkata pada hari Sabtu, maka yang dipegang adalah ucapan istri, karena asalnya pernikahan masih ada. Ia juga menyebutkan beberapa masalah serupa yang akan dibahas dalam kitab-kitab lain, insya Allah, sehingga tidak disebutkan di sini.
فرع
Cabang
إذا قالت المرأة لزوجها طلقني على ألف درهم طلقة فقال طلقتك بخمس مائة فالمذهب أن الطلاق يقع بمجرد ذلك
Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku dengan imbalan seribu dirham untuk satu talak,” lalu suaminya berkata, “Aku menceraikanmu dengan lima ratus dirham,” maka menurut mazhab, talak langsung terjadi dengan ucapan tersebut.
ومن أصحابنا من قال لا يقع لاختلاف الإيجاب والقبول كما لو قال بعني عبدك بألفٍ فقال بعتكه بخمسمائة قال الشيخ أبو علي تصحيح البيع محتمل عندي وقد قدمنا لذلك نظيراً
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa akad tidak sah karena adanya perbedaan antara ijab dan qabul, sebagaimana jika seseorang berkata, “Jual kepadaku budakmu seharga seribu,” lalu dijawab, “Aku jual kepadamu seharga lima ratus.” Syaikh Abu Ali berkata, menurutku, pensahihan jual beli tersebut masih mungkin, dan kami telah mengemukakan contoh yang serupa sebelumnya.
ثم إذا وقع الطلاق فكم يستحق الزوج فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أحدهما أنه يستحق تمام الألف فإن تقدير المال إليها والطلاق إليه
Kemudian, apabila talak telah terjadi, maka berapa yang berhak didapatkan oleh suami? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syaikh. Pertama, suami berhak mendapatkan seluruh seribu, karena penetapan harta itu berada di tangan istri, sedangkan talak berada di tangan suami.
والوجه الثاني أنه لا يستحق إلا خمسمائة فإنه رضي بها ولم يقبل الملك إلا فيها والعوض لا يُمْلَك إلا بتمليك وتملك ويحتمل عندي أن يُخرّج وجهٌ في المسألة في فساد العوض والرجوع إلى مهر المثل
Pendapat kedua adalah bahwa ia hanya berhak atas lima ratus, karena ia telah rela dengan jumlah itu dan tidak menerima kepemilikan kecuali atas jumlah tersebut, sedangkan kompensasi tidak dapat dimiliki kecuali dengan adanya pemberian hak milik dan penerimaan. Menurut saya, ada kemungkinan untuk mengemukakan pendapat dalam masalah ini mengenai batalnya kompensasi dan kembali kepada mahar mitsil.
وقد ذكر الشيخ لهذا نظيراً فيما سبق ولم يذكره هاهنا
Syekh telah menyebutkan hal yang serupa dengan ini pada bagian sebelumnya, namun beliau tidak menyebutkannya di sini.
ولو قال الرجل لآخر إن رددت علي عبدي الآبق فلك عليّ دينار فقال المخاطب أرده بنصف دينارٍ فالوجه عندي القطع بأنه يستحق الدينار فإن القبول لا أثر له في الجعالة وقد ينقدح فيه خلاف أيضاًً فإن قبول المال لا أصل له في الخلع أيضاًً فالطلاق ثَمَّ كردّ العبد هاهنا غيرَ أن الطلاق قولٌ شُرط اتصاله بالاستدعاء فضاهى القبول ولبسه
Jika seseorang berkata kepada orang lain, “Jika kamu mengembalikan budakku yang kabur kepadaku, maka bagimu dariku satu dinar,” lalu orang yang diajak bicara berkata, “Aku akan mengembalikannya dengan setengah dinar,” maka menurut pendapatku yang benar adalah dia berhak mendapatkan satu dinar, karena penerimaan (syarat) tidak berpengaruh dalam ja‘ālah. Namun, dalam hal ini juga mungkin timbul perbedaan pendapat, karena penerimaan harta juga tidak ada dasarnya dalam khulu‘, sehingga talak di sana seperti pengembalian budak di sini. Hanya saja, talak adalah ucapan yang disyaratkan bersambung dengan permintaan, sehingga menyerupai penerimaan dan berkaitan dengannya.
فرع
Cabang
الزوج إذا ادعى اختلاع امرأته بألف درهم فأنكرته فأقام شاهداً وحلف معه أو شاهداً وامرأتين ثبت المال فإن المال يثبت بما ذكرناه أما الفرقة فقد ثبتت بقوله
Seorang suami, apabila mengklaim bahwa istrinya telah melakukan khulu‘ darinya dengan seribu dirham, lalu istrinya mengingkarinya, kemudian ia menghadirkan satu orang saksi dan bersumpah bersamanya, atau satu orang saksi dan dua orang perempuan, maka harta tersebut menjadi tetap. Adapun harta itu menjadi tetap dengan apa yang telah kami sebutkan, sedangkan perpisahan (khulu‘) telah tetap dengan pengakuannya.
ولو ادعت المرأة الخلع فأنكره الزوج فلا بد من شاهدين فإن غرضها إثبات الفرقة
Jika seorang wanita mengaku telah terjadi khulu‘, namun suaminya mengingkarinya, maka harus ada dua orang saksi, karena tujuannya adalah untuk menetapkan terjadinya perpisahan.
قال الشيخ لو ادعى الرجل الوطء في النكاح وغرضه إثبات العدة والرجعة فلا يقبل منه إلا شاهدان إن أراد إقامة البينة
Syekh berkata: Jika seorang laki-laki mengaku telah melakukan hubungan suami istri dalam pernikahan dan tujuannya adalah untuk menetapkan masa ‘iddah dan hak ruju‘, maka pengakuannya tidak diterima kecuali disertai dua orang saksi jika ia ingin menegakkan bukti.
ولو ادعت المرأة مهراً في النكاح وأنكر الزوج أصل النكاح فأقامت شاهداً ويميناً على النكاح وغرضها إثبات المهر قال الشيخ لم يثبت شيء بخلاف ما قدمناه وذلك أن النكاح ليس المقصود منه إثبات المال وإنما المال تابع والنكاح لا يثبت إلا بشهادة عدلين
Jika seorang wanita mengklaim mahar dalam pernikahan dan suami mengingkari adanya pernikahan, lalu ia menghadirkan satu saksi dan bersumpah atas terjadinya pernikahan dengan tujuan menetapkan mahar, Syekh berkata: tidak ada sesuatu pun yang dapat ditetapkan, berbeda dengan yang telah kami sebutkan sebelumnya. Hal ini karena tujuan dari pernikahan bukanlah untuk menetapkan harta, melainkan harta hanyalah sesuatu yang mengikuti, dan pernikahan tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kesaksian dua orang yang adil.
وكان شيخي يقول يثبت المهر إذا قصدته وما ذكره الشيخ أبو علي أفقه فإنها وإن أثبتت مقصود المال فمقصودها في النكاح غيرُ المال والشاهد لهذا أن الشافعي لم يقض بانعقاد النكاح بحضور رجل وامرأتين وهذا مشعر بأن النكاح من الجانبين لا يثبت إلا بعدلين ولا يثبت شيء من مقاصده وفي المسألة احتمال على حال
Dan guruku berkata, mahar menjadi tetap jika diniatkan, dan apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali lebih tepat secara fiqh, karena meskipun ia menetapkan tujuan harta, namun tujuan dalam pernikahan bukanlah harta. Bukti untuk hal ini adalah bahwa Imam Syafi’i tidak memutuskan sahnya akad nikah dengan kehadiran satu laki-laki dan dua perempuan, dan ini menunjukkan bahwa pernikahan dari kedua belah pihak tidak sah kecuali dengan dua orang laki-laki yang adil, dan tidak ada satu pun dari tujuan-tujuannya yang sah. Dalam masalah ini masih terdapat kemungkinan (perbedaan pendapat) dalam kondisi tertentu.
وسأجمع بتوفيق الله في الدعاوى والبيّنات قواعدَ المذهب فيما يثبت بالشاهد والمرأتين وما لا يثبت إلا بعدلين
Dengan taufik Allah, saya akan menghimpun dalam perkara-perkara dan alat bukti, kaidah-kaidah mazhab mengenai hal-hal yang dapat dibuktikan dengan satu saksi laki-laki dan dua perempuan, serta hal-hal yang tidak dapat dibuktikan kecuali dengan dua laki-laki yang adil.
وإلى الله الابتهال في تصديق الرجاء وتحقيق الأمل وصرف ما نتعب فيه إلى نفع المسلمين وقد نجز ما حصرنا من مسائل الطلاق أصلاً وفرعاً وستأتي بقايا في الرجعة والإيلاء والظهار إن شاء الله
Kepada Allah-lah permohonan dengan penuh harap untuk mengabulkan harapan dan mewujudkan cita-cita, serta menjadikan segala jerih payah kita bermanfaat bagi kaum Muslimin. Telah selesai kami rangkum berbagai permasalahan tentang talak, baik pokok maupun cabangnya, dan sisanya akan dibahas pada bab ruju‘, ila’, dan zihar, insya Allah.
وقد كنا وعدنا أن نجمع في آخر الكتاب قولاً ضابطاً يجري مجرى التراجم المذكّرة والكتابُ مشتمل على أحكام وتصرُّفٍ في ألفاظ فأما الأحكام فلها أصول وقد تمهدت وتفرعت
Kami telah berjanji untuk mengumpulkan pada akhir kitab ini sebuah pernyataan yang bersifat kaidah, yang berfungsi seperti ringkasan-ringkasan yang telah disebutkan. Kitab ini memuat hukum-hukum dan pengelolaan dalam ungkapan-ungkapan. Adapun hukum-hukum itu memiliki ushul (prinsip-prinsip dasar) yang telah dijelaskan dan bercabang-cabang.
وأما الألفاظ فالكلام فيها على أنحاء منها القول في الصريح والكناية وقد مضى موضّحاً ولا مَعْدِل عما هو صريح لفظاً ومحلاً وصيغةً إلا بجهات التديين وقد انتظمت قواعد التديين
Adapun mengenai lafaz, pembahasan tentangnya terbagi dalam beberapa bagian, di antaranya pembahasan tentang lafaz sharih dan kinayah, yang telah dijelaskan sebelumnya. Tidak ada pilihan selain mengikuti apa yang sharih secara lafaz, tempat, dan bentuk, kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan aspek tadyin, dan kaidah-kaidah tadyin telah tersusun dengan baik.
والقول في الكنايات مضبوطٌ فلا حاجة إلى إعادته والصرائح تجري على صيغ وصلات وتكريرات تتردد بين التأكيد والتجديد وغيرها فيلقى الفقيه أقساماً وربما يقتضي الإطلاق وقوعاً وينتظم في إبداء تأويل يخالف الوقوع خلافٌ
Pembahasan tentang kinayah telah ditetapkan, sehingga tidak perlu diulang kembali. Sedangkan sharih berjalan pada bentuk-bentuk, susunan-susunan, dan pengulangan-pengulangan yang berkisar antara penegasan, pembaruan, dan lain-lain. Maka, seorang faqih akan menemui berbagai macam bagian. Terkadang, suatu lafaz yang mutlak menuntut terjadinya sesuatu, dan dalam mengemukakan suatu takwil yang berbeda dengan kenyataan, terdapat perbedaan pendapat.
وربما يقع الوفاق في قبول التأويل ويجري في الإطلاق خلاف وقد قدمت مراتب المذهب فيه
Mungkin saja terjadi kesepakatan dalam menerima takwil, namun dalam penerapan secara mutlak terdapat perbedaan pendapat, dan aku telah mengemukakan tingkatan-tingkatan mazhab dalam hal ini.
هذا كله تصرف في الصريح والكناية ومبانيها وصلاتها ومحالّها
Semua ini merupakan pembahasan tentang lafaz sharih dan kinayah, bentuk-bentuknya, hubungannya, serta tempat-tempat penggunaannya.
فأما ألفاظ المطلّقين في صفاتهم وتعليقاتهم فلا ضبط لها فكل ما يتفق فيه موجب اللسان والعرف فالحكم به ولا حيد عنه إلا بالتّدْيين على شرطه
Adapun lafaz-lafaz para suami yang menjatuhkan talak dalam sifat-sifat dan pengandaian mereka, maka tidak ada batasan khusus baginya. Setiap lafaz yang sesuai dengan makna bahasa dan kebiasaan, maka hukum berlaku atasnya dan tidak boleh menyimpang darinya kecuali dengan sumpah menurut syaratnya.
وإذا أشكل اللفظ في اللسان والعرف فإن كان مثبَّجاً فلغوٌ فإن النية المجردة لا توقع الطلاق وإن كان مردداً بين الاحتمالات فليس إلا مراجعة صاحب اللفظ
Jika lafaz menjadi samar dalam bahasa dan kebiasaan, maka jika lafaz tersebut rusak (tidak jelas maknanya), itu dianggap sia-sia, karena niat semata tidak menyebabkan terjadinya talak. Namun jika lafaz tersebut mengandung kemungkinan makna yang berbeda-beda, maka tidak ada jalan lain kecuali mengembalikannya kepada orang yang mengucapkan lafaz tersebut.
وإن اقتضى اللسان معنىً والمفهومُ في عرف الاستعمال غيره فيختلف العلماء في أن المتبع اللسان أو ما يسبق إلى الفهم في اطراد العرف وعلى هذا التردد خرجت مسائل المعاياة وذكرنا أن المختار اتباعُ العرف فإن العبارات لا تُعنى لأعيانها وهي على التحقيق أماراتٌ منصوبة على المعاني المطلوبة وهذا منتهى المراد
Jika suatu lafaz menunjukkan suatu makna, sedangkan makna yang dipahami dalam kebiasaan penggunaan berbeda, para ulama berbeda pendapat apakah yang diikuti adalah lafaz atau makna yang langsung terlintas dalam pemahaman berdasarkan kebiasaan yang berlaku. Dari keraguan ini muncul berbagai permasalahan dalam mu‘āyah. Kami telah menyebutkan bahwa pendapat yang dipilih adalah mengikuti ‘urf (kebiasaan), karena ungkapan-ungkapan itu tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, melainkan pada hakikatnya hanyalah tanda-tanda yang menunjukkan makna-makna yang dimaksudkan. Inilah tujuan akhir yang diinginkan.
Kitab ar-Raj‘ah
الأصل في الرجعة الكتاب والسنة والإجماع فأما الكتاب فقوله تعالى وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ والرد الرجعةُ باتفاق المفسرين وقال تعالى الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ قيل أراد بالإمساك الرجعة في العدة وأراد بالتسريح أن يتركها حتى تنسرح بانقضاء العدة وقيل الإمساك في الآية ليس رجعة والمراد مخاطبة الأزواج بأن يمسكوا بالمعروف أو يسرحوا بالإحسان
Dasar hukum ruju‘ adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘. Adapun dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan para suami mereka lebih berhak untuk mengembalikan mereka,” dan yang dimaksud dengan “mengembalikan” di sini adalah ruju‘ menurut kesepakatan para mufassir. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Talak itu dua kali, setelah itu boleh rujuk dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.” Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “rujuk dengan cara yang baik” adalah ruju‘ selama masa ‘iddah, sedangkan “menceraikan dengan cara yang baik” maksudnya membiarkan istri hingga masa ‘iddah selesai sehingga ia benar-benar berpisah. Ada pula yang berpendapat bahwa “rujuk” dalam ayat tersebut bukanlah ruju‘, melainkan perintah kepada para suami untuk mempertahankan istri dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.
وذكر الشافعي في أول الكتاب آيتين إحداهما قوله تعالى فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ والأخرى قوله تعالى وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ ثم قال دل سياق الكلامين على افتراق البلوغين فالبلوغ في قوله فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بمعنى مقاربة انقضاء العدة لأن العدة إذا انقضت فلا سبيل إلى الإمساك ولا ينتظم التخيير بينه وبين التسريح والبلوغُ في الآية الثانية بمعنى انقضاء العدة فإن النهي عن العضل لا يتحقق إلا عند انقضاء العدة أما البلوغ بمعنى الانقضاء فبيّنٌ لا يحتاج فيه إلى تأويل وأما البلوغ بمعنى المقاربة ففيه ضَربٌ من التوسع وهو على مذهب قول القائل بلغت البلدة إذا قاربها ودنا منها
Syafi‘i menyebutkan di awal kitab dua ayat; yang pertama adalah firman Allah Ta‘ala: “Apabila mereka telah mencapai ajalnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik,” dan yang kedua adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila kamu menceraikan para wanita lalu mereka telah mencapai ajalnya, maka janganlah kamu menghalangi mereka untuk menikah dengan suami-suami mereka.” Kemudian beliau berkata, konteks kedua ayat tersebut menunjukkan perbedaan makna “baligh” (mencapai) pada keduanya. “Baligh” dalam firman-Nya “apabila mereka telah mencapai ajalnya, maka tahanlah mereka…” bermakna mendekati berakhirnya masa ‘iddah, karena jika ‘iddah telah benar-benar selesai, maka tidak ada lagi jalan untuk menahan (rujuk), dan tidak mungkin ada pilihan antara menahan dan melepaskan. Sedangkan “baligh” dalam ayat kedua bermakna telah berakhirnya masa ‘iddah, sebab larangan untuk menghalangi (al-‘adl) hanya berlaku setelah masa ‘iddah benar-benar selesai. Adapun “baligh” yang bermakna telah selesai, itu sudah jelas dan tidak memerlukan penafsiran. Sedangkan “baligh” yang bermakna mendekati, di situ terdapat bentuk perluasan makna, sebagaimana dalam ucapan seseorang: “Aku telah sampai di kota itu,” maksudnya adalah ketika ia telah mendekati dan hampir sampai ke sana.
والأصل في الرجعة من جهة السّنة ما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعمرَ في ابنه عبدِ الله مُرْه فليراجعها الحديث
Dasar hukum ruju‘ dari sisi sunah adalah sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Umar tentang putranya Abdullah, “Perintahkan dia agar meruju‘ istrinya,” (hadis).
وأجمع المسلمون على ثبوت الرجعة فمن يملك ثلاثَ طلقاتٍ يُتصوّر منه رجعتان إحداهما بعد الطلقة الأولى والثانية بعد الثانية والطلقة الثالثة تُحرِّم عقد النكاح تحريماً ممدوداً إلى التحليل والتخلّي من نكاح المحلِّل وعِدّته
Kaum muslimin telah sepakat atas ketetapan hak ruju‘. Maka, siapa yang memiliki tiga kali talak, dapat dibayangkan adanya dua kali ruju‘ darinya: yang pertama setelah talak pertama, dan yang kedua setelah talak kedua. Sedangkan talak ketiga mengharamkan akad nikah secara berkepanjangan hingga terjadi tahallul dan berakhirnya masa iddah dari pernikahan dengan muhallil.
والعبد يملك طلقتين ورجعةً واحدةً ثم الاعتبار عندنا في عدد الطلاق برق الزوج وحريته فالحر يملك ثلاثَ طلقات سواء كانت زوجته حرة أو رقيقة والعبد يملك طلقتين سواء كانت زوجته حرةً أو رقيقةً وأبو حنيفة اعتبر في عدد الطلاق رق الزوجة وحرّيتها والمسألة مشهورة في الخلاف
Seorang budak memiliki hak untuk menjatuhkan dua talak dan satu kali rujuk. Kemudian, menurut kami, yang menjadi tolok ukur dalam jumlah talak adalah status merdeka atau budaknya suami; maka seorang laki-laki merdeka memiliki hak tiga talak, baik istrinya itu merdeka maupun budak, dan seorang budak memiliki hak dua talak, baik istrinya itu merdeka maupun budak. Abu Hanifah menjadikan tolok ukur dalam jumlah talak adalah status budak atau merdekanya istri, dan masalah ini terkenal sebagai masalah khilaf.
فصل
Bab
قال والقولُ فيما يمكن فيه انقضاءُ العدة قولُها إلى آخره
Ia berkata: Dan pendapat dalam perkara yang memungkinkan selesainya masa ‘iddah adalah pendapatnya (perempuan) hingga akhir.
مقصود هذا الفصل يتعلق بالأصناف التي تتعلق العدة بها فنذكر في كل صنف ادعاء المرأة انقضاء العدة فإن كانت من ذوات الأشهر بأن تكون آيسة متقاعدةً عن الحيض فإذا ادعت انقضاء الأشهر وأنكر الزوج فهذا الخلاف في التحقيق يرجع إلى وقت الطلاق وإذا اختلف الزوجان في وقت الطلاق فالقول قول الزوج مع اليمين لا محالة إذ الرجوع إلى قوله في أصل الطلاق وعَدده فالقول قوله في وقت الطلاق وحقيقةُ هذا يرجع إلى نفي الطلاق وإثباته في الوقت المعيّن فهي تدعي الطلاق فيه والزوج ينكر
Maksud dari bab ini berkaitan dengan jenis-jenis perempuan yang masa iddahnya bergantung padanya. Maka, pada setiap jenis, kami sebutkan tentang klaim perempuan bahwa masa iddahnya telah selesai. Jika ia termasuk perempuan yang masa iddahnya dengan hitungan bulan, yaitu perempuan yang telah putus haid dan tidak lagi mengalami haid, lalu ia mengaku bahwa masa bulannya telah selesai, sedangkan suami mengingkarinya, maka perselisihan ini dalam tinjauan yang mendalam kembali kepada waktu terjadinya talak. Jika suami istri berselisih tentang waktu talak, maka pendapat suami yang dipegang dengan sumpah, tanpa keraguan, karena dalam perkara pokok talak dan jumlahnya, pendapat suami yang dipegang, maka demikian pula dalam waktu talak. Hakikat dari masalah ini kembali kepada penafian dan penetapan talak pada waktu tertentu; istri mengklaim talak terjadi pada waktu itu, sedangkan suami mengingkarinya.
فأما إذا كان انقضاء العدة بوضع الحمل وهذا ينقسم ثلاثة أقسامٍ أحدها أن تدعي إسقاط سقطٍ ظهر فيه التخطيط والتخليق فالقول قولها مع اليمين إذ لا طريق إلى معرفة ذلك إلا من جهتها فكان الرجوع إليها كما لو ادعت الحيض ولا يشترط أن تأتي بالسقط وتُريه الناس وإن كان ذلك داخلاً في الإمكان فإنها وإن فعلت ذلك لم نتحقق أن السقط منها فلا معنى لتكليفها ذلك
Adapun jika masa iddah berakhir karena melahirkan, maka hal ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, jika seorang perempuan mengaku telah mengalami keguguran janin yang sudah tampak bentuk dan penciptaannya, maka perkataannya diterima dengan sumpah, karena tidak ada cara untuk mengetahui hal itu kecuali dari dirinya sendiri. Maka, kembali kepada pengakuannya sebagaimana jika ia mengaku telah haid. Tidak disyaratkan baginya untuk membawa janin yang gugur itu dan memperlihatkannya kepada orang lain, meskipun hal itu memungkinkan. Sebab, meskipun ia melakukan hal itu, kita tidak dapat memastikan bahwa janin yang gugur itu benar-benar darinya, sehingga tidak ada gunanya membebankan hal tersebut kepadanya.
ثم ذكر القاضي وبعضُ المصنفين أن إسقاط السقط إنما يكون في مائة وعشرين
Kemudian al-Qadhi dan beberapa penulis lainnya menyebutkan bahwa pengguguran janin hanya boleh dilakukan dalam rentang seratus dua puluh hari.
يوماً فإن ادعت ذلك في هذه المدة من يوم إمكان الوطء بعد النكاح قُبل ذلك منها وإن ادعت إسقاط السِّقْط لأقلَّ من ذلك من يوم النكاح لم يقبل ذلك منها
Jika ia mengaku demikian dalam rentang waktu tersebut, yaitu sejak hari kemungkinan terjadinya hubungan suami istri setelah akad nikah, maka pengakuannya diterima. Namun, jika ia mengaku telah mengalami keguguran kurang dari rentang waktu tersebut sejak hari akad nikah, maka pengakuannya tidak diterima.
قال ابن مسعود رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بدء خلق أحدكم في بطن أمه أربعون يوماً نطفة وأربعون يوماً علقة وأربعون يوماً مضغة ثم يبعث الله ملَكاً فينفخ فيه الروح ويكتب أجله ورزقه ويكتب أشقييٌّ هو أم سعيد
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Permulaan penciptaan salah seorang dari kalian di dalam perut ibunya adalah selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian empat puluh hari berupa ‘alaqah, kemudian empat puluh hari berupa mudhghah. Setelah itu Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan ajalnya, rezekinya, serta menuliskan apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia.
ولو ادعت إسقاط لحم لم يظهر فيه التخطيط ففي انقضاء العدة بوضعه قولان سيأتي ذكرهما في كتاب العِدد إن شاء الله
Jika seorang wanita mengaku telah menggugurkan daging (janin) yang belum tampak bentuknya, maka dalam hal berakhirnya masa ‘iddah dengan sebab keguguran tersebut terdapat dua pendapat yang akan disebutkan dalam Kitab al-‘Iddah, insya Allah.
فإذا قلنا لا تنقضي العدة بوضعه فلا معنى لادعائها وإن قلنا تنقضي العدة به فالقول فيه كالقول في القسم الأول فيقبل قولها مع يمينها ثم إن ادعته لثمانين يوماً من يوم النكاح صُدِّقت وحُلِّفت وإن ادعته لأقلَّ من ذلك من يوم النكاح لم تصدق وإذا كنا في أمثال هذه المدد والحُكم بالأقل منها والأكثر نرجع إلى الوجود مع ما فيه من الخبط والاضطراب فإذا وجدنا فيه مستمسكاً من خبر الرسول صلى الله عليه وسلم كان أولى بالتعلق وقد دل حديث ابن مسعود أن التخليق في المائة والعشرين وانعقاد اللحم على تواصل والتئام في ثمانين يوماً
Jika kita mengatakan bahwa masa iddah tidak berakhir dengan keluarnya janin, maka tidak ada makna bagi pengakuannya. Namun jika kita mengatakan bahwa masa iddah berakhir dengannya, maka hukumnya sama seperti pada bagian pertama, yaitu pengakuannya diterima dengan sumpahnya. Kemudian, jika ia mengakuinya setelah delapan puluh hari sejak akad nikah, maka ia dibenarkan dan disumpah. Namun jika ia mengakuinya kurang dari itu sejak akad nikah, maka ia tidak dibenarkan. Ketika kita berada dalam batas-batas waktu seperti ini dan dalam penetapan hukum antara yang paling sedikit dan yang paling banyak, kita kembali kepada kenyataan yang ada meskipun di dalamnya terdapat kekacauan dan ketidakpastian. Maka jika kita menemukan pegangan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu lebih utama untuk dijadikan sandaran. Dan hadis Ibnu Mas‘ud menunjukkan bahwa pembentukan janin terjadi pada hari ke seratus dua puluh, dan pembentukan daging secara berkesinambungan dan sempurna terjadi pada delapan puluh hari.
ولو ادعت ولادة ولدٍ كاملِ الخلقة فالقول فيه قولها في ظاهر المذهب وقال أبو إسحاق لا يقبل قولها لأن الولادة تشهدها القوابل في الغالب بخلاف السِّقْط فإن سقوطه يفجأ والولد التام يقدُم انفصالَه الطَّلْقُ والولادة فيه على الجملة مشهودة وهذا المذهب متروك على أبي إسحاق والأصح تصديقها فإن النساء مؤتمنات في أرحامهن
Jika seorang wanita mengaku telah melahirkan anak yang sempurna bentuk fisiknya, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, perkataannya diterima. Namun Abu Ishaq berpendapat bahwa pengakuannya tidak diterima, karena kelahiran biasanya disaksikan oleh para bidan, berbeda dengan keguguran (sikṭ), sebab keguguran biasanya terjadi secara tiba-tiba, sedangkan kelahiran anak yang sempurna didahului oleh kontraksi dan proses kelahiran secara umum disaksikan. Pendapat mazhab ini ditinggalkan menurut Abu Ishaq, dan pendapat yang lebih sahih adalah membenarkan pengakuan wanita tersebut, karena para wanita dipercaya dalam urusan rahim mereka.
فأما إذا كانت عدتها بالأقراء فادعت انقضاء العدة فهذا من حقه أن يذكر في كتاب العِدد ولكن توافَقَ الأصحابُ في المجموعات والمصنفات على ذكره في الرجعة فإن الحاجة ماسة إلى ذلك في أمر الرجعة وبقائها وانقضائها فالمرأة لا تخلو إما أن تكون مبتدأة أو معتادة فإن كانت معتادةً فلا تخلو إما أن تكون عاداتها مختلفة وإما أن تكون أدوارها مستقيمة فإن كانت عاداتها مختلفة أو كانت عادتها مستقيمة على الأقل في الطهر والحيض نظر
Adapun jika masa idahnya dengan hitungan quru’ lalu ia mengaku bahwa masa idahnya telah selesai, maka hal ini memang layak disebutkan dalam kitab-kitab tentang masa idah. Namun, para ulama sepakat dalam berbagai kumpulan dan karya mereka untuk menyebutkannya dalam pembahasan tentang ruju’, karena kebutuhan terhadap hal ini sangat mendesak dalam perkara ruju’, keberlangsungannya, dan berakhirnya. Seorang wanita tidak lepas dari dua keadaan: apakah ia seorang yang baru mengalami haid (mubtada’ah) atau sudah terbiasa (mu‘taadah). Jika ia sudah terbiasa, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah kebiasaannya berbeda-beda ataukah siklusnya teratur. Jika kebiasaannya berbeda-beda atau siklusnya teratur setidaknya dalam masa suci dan haid, maka perlu diperhatikan.
فإن طلقها في حالة الطهر فأقل مدة تصدق فيها على انقضاء العدة اثنان وثلاثون يوماً ولحظتان لأنا نقدر وقوع الطلاق وقد بقي من الطهر لحظة فنحسبها قرءاً ثم بعدها يوم وليلة حيضٌ ثم خمسةَ عشرَطُهرٌ ثم يوم وليلة حيضٌ ثم خمسةَ عشرَ طهر ثم تطعن في حيضة بلحظة وهذه اللحظة للاستبانة محسوبةٌ من العدة فإن ادعت انقضاء العدة في اثنين وثلاثين يوماً ولحظة واحدة فهذا يخرج على قولٍ للشافعي في أن القرء وهو الانتقال من الطهر إلى الحيض
Jika ia menceraikannya dalam keadaan suci, maka paling sedikit masa yang dapat dianggap telah habis masa iddah adalah tiga puluh dua hari dan dua saat. Sebab, kita memperkirakan terjadinya talak ketika masih tersisa satu saat dari masa suci, lalu kita menghitungnya sebagai satu quru’, kemudian setelah itu satu hari satu malam haid, lalu lima belas hari masa suci, kemudian satu hari satu malam haid, lalu lima belas hari masa suci, kemudian ia masuk ke dalam haid dengan satu saat, dan saat ini untuk kejelasan juga dihitung sebagai bagian dari iddah. Jika ia mengaku bahwa iddahnya telah selesai dalam tiga puluh dua hari dan satu saat, maka hal ini sesuai dengan salah satu pendapat Imam Syafi’i bahwa quru’ adalah perpindahan dari masa suci ke masa haid.
فعلى هذا إذا قال أنت طالق في آخر جزءٍ من طهركِ فيقع الطلاق في الجزء الأخير من الطهر ويُحْسَب انتقالها إلى الحيض قرءاً فيسقط لحظة وعلى المشهور لا بد من لحظة من الطهر بعد الطلاق وقول الانتقال لا يتصور إلا إذا كان الطلاق معلقاً بآخر جزء من الطهر فإنه لا يمكن تنجيز طلاق مع درك مصادفته للجزء الأخير من الطهر وإذا علق وقع كذلك
Maka berdasarkan hal ini, jika seseorang berkata, “Engkau tertalak pada bagian terakhir dari masa sucimu,” maka talak jatuh pada bagian terakhir dari masa suci tersebut dan perpindahannya ke masa haid dihitung sebagai satu quru’, sehingga hanya berlangsung sesaat saja. Menurut pendapat yang masyhur, harus ada sesaat dari masa suci setelah talak. Ungkapan perpindahan ini tidak dapat dibayangkan kecuali jika talak digantungkan pada bagian terakhir dari masa suci, karena tidak mungkin menjatuhkan talak secara langsung dengan memastikan bertepatan dengan bagian terakhir dari masa suci. Jika talak digantungkan, maka jatuh sebagaimana itu.
وإن طلقها في حالة الحيض فأقل مدة تُصدَّقُ فيه على انقضاء العدة سبعة وأربعون يوماً ولحظة لأنا نقدر وقوع الطلاق في آخر جزء من الحيض بالتعليق فيمضي خمسةَ عشرَ يوماً وهي طهر ثم يوم وليلة حيض ثم خمسةَ عشرَ يوماً ثم يوم وليلة ثم خمسةَ عشرَ ثم تطعن بلحظة في الدم وهذه اللحظة للاستبانة وليست محسوبة من العدة ولم نشترط في أول العدة أن تبقى من الحيض لحظة لأن زمان الحيض لا يحتسب من العدة بخلاف ما قدمناه في زمان الطهر فإن اللحظة الأخيرة محسوبة من العدة معدودة قرءاً والانتقال من الطهر إلى الحيض معدود قرءاً في قول بخلاف الانتقال من الحيض إلى الطهر
Jika ia menceraikannya dalam keadaan haid, maka waktu paling singkat yang dapat diterima untuk berakhirnya masa iddah adalah empat puluh tujuh hari dan satu saat. Hal ini karena kita memperkirakan terjadinya talak pada bagian terakhir dari haid dengan penangguhan, kemudian berlalu lima belas hari, yaitu masa suci, lalu satu hari satu malam haid, kemudian lima belas hari lagi, lalu satu hari satu malam, kemudian lima belas hari lagi, lalu ia memasuki darah haid dengan satu saat. Saat ini hanya untuk memastikan (kejelasan), dan tidak dihitung sebagai bagian dari iddah. Kami tidak mensyaratkan pada awal iddah agar tersisa satu saat dari haid, karena masa haid tidak dihitung sebagai bagian dari iddah, berbeda dengan yang telah kami sebutkan sebelumnya pada masa suci, di mana saat terakhir dihitung sebagai bagian dari iddah dan dianggap sebagai satu quru’, dan perpindahan dari suci ke haid dihitung sebagai satu quru’ menurut satu pendapat, berbeda dengan perpindahan dari haid ke suci.
فهذا بيان أقل زمان يفرض انقضاء العدة فيه إذا صادف الطلاق الطهر أو الحيض فإن ادعت الانقضاءَ في زمان ممكن صُدِّقت مع اليمين
Ini adalah penjelasan tentang waktu paling singkat yang dianggap cukup untuk berakhirnya masa ‘iddah jika talak terjadi saat suci atau haid. Jika seorang wanita mengaku bahwa masa ‘iddahnya telah selesai dalam waktu yang memungkinkan, maka ia dibenarkan dengan sumpah.
وإذا ادعت الانقضاء في زمان أقلَّ مما ذُكر فلا شك أنا لا نصدقها فإنها ادعت ما لا يوافقه الإمكان فلو مضى من الزمان ما انتهى به الأمد إلى حد الإمكان فإن كذََّبت نفسَها فيما ادعته من قبل وابتدأت عند مضي زمان الإمكان فادعت الانقضاء الآن صُدِّقت بلا خلاف
Jika seorang wanita mengaku masa idahnya telah selesai dalam waktu yang lebih singkat dari yang telah disebutkan, maka tidak diragukan lagi bahwa kita tidak mempercayainya, karena ia mengaku sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Namun, jika waktu telah berlalu hingga mencapai batas kemungkinan, lalu ia mendustakan pengakuannya sebelumnya dan memulai pengakuan baru setelah lewatnya masa yang memungkinkan, kemudian ia mengaku bahwa masa idahnya telah selesai sekarang, maka pengakuannya diterima tanpa ada perbedaan pendapat.
وإن أصرّت على دعواها الأولى التي كذبناها فيها ثم انقضى من الزمان ما يتصل به الإمكان فهل نصدقها الآن فظاهر المذهب أنا نصدقها ولا معوّل على ما سبق منها وإصرارُها على دعوى انقضاء العدة بمثابة ابتدائها الدعوى بعد تحقق الإمكان
Jika ia tetap bersikeras pada pengakuan pertamanya yang telah kami dustakan, lalu berlalu waktu yang memungkinkan (selesainya masa iddah), apakah sekarang kami mempercayainya? Menurut pendapat yang masyhur, kami mempercayainya, dan tidak dianggap apa yang telah terjadi sebelumnya. Kegigihannya dalam mengaku telah selesai masa iddah sama kedudukannya dengan memulai pengakuan setelah terbukti adanya kemungkinan (selesainya masa iddah).
وهذا يناظر ما لو ادّعى المخروص عليه في الزكاة غلطاً متفاحشاً على الخارص لا يتفق وقوع مثله لخبيرٍ بالخرص فقول المخروص عليه مردود في المقدار المتفاحش وهل يقبل قوله في المقدار الذي يقع مثله للخارص المتدرب المذهب أنه يقبل قوله في ذلك المقدار وإن كانت دعواه متعلقة به وبالزائد عليه المنتهي إلى ما يندر وقوعه
Hal ini serupa dengan kasus ketika orang yang terkena taksiran zakat mengklaim adanya kesalahan yang sangat besar pada taksiran yang dilakukan oleh petugas taksir, kesalahan yang tidak mungkin terjadi pada seorang ahli taksir. Maka, klaim orang yang terkena taksiran tersebut ditolak untuk jumlah yang sangat besar itu. Adapun apakah diterima klaimnya untuk jumlah yang masih mungkin terjadi pada petugas taksir yang berpengalaman, pendapat yang menjadi mazhab adalah klaimnya diterima untuk jumlah tersebut, meskipun klaimnya berkaitan dengan jumlah itu dan juga dengan jumlah yang melebihi hingga batas yang jarang terjadi.
ومن أصحابنا من قال إذا أصرت المرأة على دعواها الأولى ولم تكذب نفسها فيما سبق منها ولم تستفتح دعوى ممكنة فلا يقبل قولها فإن انقضاء العدة مما لا يتكرر والذي ادعته مردود ولم تدع دعوى أخرى فتقبل والحالة هذه وهذا الوجه له اتجاه في المعنى وإن كان الأظهر غيرَه
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa jika seorang wanita tetap bersikeras pada pengakuan pertamanya dan tidak membantah dirinya sendiri atas apa yang telah ia sampaikan sebelumnya, serta tidak mengajukan pengakuan baru yang mungkin, maka pengakuannya tidak diterima. Sebab, berakhirnya masa ‘iddah adalah sesuatu yang tidak berulang, dan apa yang ia akui sebelumnya telah ditolak, serta ia tidak mengajukan pengakuan lain yang dapat diterima dalam keadaan seperti ini. Pendapat ini memiliki arah dalam makna, meskipun pendapat yang lebih kuat bukanlah ini.
والقائل الأول يقول إذا كنا لا نصدقها وهي مصرّة أدّى ذلك إلى أن ينقضي الزمن الأمد ولا نحكم بانقضاء عدتها بالبادرة التي صدرت منها
Pendapat pertama mengatakan bahwa jika kita tidak mempercayainya sementara ia tetap bersikeras, hal itu akan menyebabkan berlalunya waktu iddah tanpa kita memutuskan bahwa masa iddahnya telah selesai karena pernyataan yang telah ia sampaikan.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت عادتها مضطربة أو كانت عادتها مستقيمة على الأقل في الحيض والطهر
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika kebiasaannya tidak teratur, atau kebiasaannya setidaknya teratur dalam hal haid dan suci.
فأما إذا كانت عادتها مستقيمة على الأغلب في الحيض والطهر مثلاً فادعت انقضاء العدة في أقلَّ من ثلاثة أقراء معهودة في أدوارها فهل يقبل قولها أم لا فعلى وجهين أحدهما وهو الأصح أنه يقبل لأن العادة قد تتغير وتتبدل بالزيادة والنقصان والتقدم والتأخر والأصل تصديقها إذا أخبرت بمُمكن
Adapun jika kebiasaannya umumnya teratur dalam haid dan suci, misalnya, lalu ia mengaku bahwa masa ‘iddahnya telah selesai dalam waktu kurang dari tiga quru‘ yang biasa terjadi pada siklusnya, maka apakah pengakuannya diterima atau tidak, terdapat dua pendapat. Salah satunya, dan ini yang paling sahih, adalah bahwa pengakuannya diterima karena kebiasaan bisa berubah dan berganti, baik bertambah maupun berkurang, lebih awal maupun lebih lambat, dan pada dasarnya ia dipercaya jika mengabarkan sesuatu yang mungkin terjadi.
ومن أصحابنا من قال لا تصدق لأن العادة المستمرة تخالف ما تذكره وهذا الوجه وإن كان مشهوراً في الحكاية فهو بعيد في الاتجاه
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak diterima (pengakuannya), karena kebiasaan yang terus-menerus bertentangan dengan apa yang ia sebutkan. Pendapat ini, meskipun terkenal dalam riwayat, namun jauh dari kebenaran.
ثم اختلف الأئمة في أن العادة هل تثبت بالمرة الواحدة والأصح ثبوتها بها كما قدمناه في كتاب الحيض
Kemudian para imam berbeda pendapat mengenai apakah suatu kebiasaan dapat ditetapkan hanya dengan satu kali kejadian, dan pendapat yang lebih sahih adalah kebiasaan itu memang dapat ditetapkan dengan satu kali kejadian, sebagaimana telah kami jelaskan dalam Kitab Haid.
وإذا فرعنا على الرجوع إلى عادتها فيما نحن فيه فيبعد عندي التعويل على المرة ويبعد أيضاًً التعويل على المرتين ولست أرى لهذا الوجه ضبطاً نَنْتهي في التفريع إليه والتفاريع محنة الأصول بها يبين فسادُها وسدادُها ثم لا وجه عندنا مع ما نبهنا عليه من الإشكال إلا الرجوعُ إلى العادة المعتبرة في الحيض ويجب طرد الخلاف في المرة الواحدة
Jika kita membangun pendapat berdasarkan kembali kepada kebiasaan wanita dalam masalah yang sedang kita bahas ini, menurut saya sulit untuk dijadikan sandaran hanya pada satu kali (kejadian), dan juga sulit untuk dijadikan sandaran pada dua kali (kejadian). Saya tidak melihat adanya batasan yang pasti untuk pendapat ini yang bisa dijadikan pegangan dalam pengembangan hukum, dan pengembangan hukum adalah ujian bagi kaidah-kaidah ushul; dengannya akan tampak mana yang rusak dan mana yang benar. Maka, menurut kami, tidak ada jalan lain dalam menghadapi permasalahan yang telah kami singgung kecuali kembali kepada kebiasaan yang dianggap dalam masalah haid, dan wajib untuk tetap mempertahankan perbedaan pendapat dalam satu kali kejadian.
وإن كانت المرأة مبتدأة ففيما تصدق على انقضاء العدة
Jika perempuan tersebut adalah seorang yang baru pertama kali haid, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang ia yakini tentang telah berakhirnya masa ‘iddah.
فيه وجهان مبنيان على أن القرء عبارة عن ماذا فإن جعلناه عبارة عن الانقلاب فإنها تصدق في اثنين وثلاثين يوماً ولحظة فإنا نقدر وقوع الطلاق في اللحظة التي تعقبها الحيضة الأولى وهذا القائل يقول الصغيرة إذا حاضت بعد الطلاق احتسب لها ما جرى قرءاً
Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dibangun di atas makna dari kata “qar’”. Jika kita memaknainya sebagai perubahan (dari suci ke haid atau sebaliknya), maka ia dianggap telah selesai masa iddahnya dalam dua puluh dua hari dan satu saat. Sebab, kita memperkirakan terjadinya talak pada saat yang langsung diikuti oleh haid pertama. Pendapat ini mengatakan bahwa anak perempuan yang masih kecil, jika ia mengalami haid setelah talak, maka masa yang telah berlalu dihitung sebagai satu qar’.
وإن لم نجعل الانقلاب إلى الحيض قرءاً وجعلنا القرء عبارة عن طهرٍ يحتَوِشُه دمان فلا نعتد بما يتقدم على الحيضة الأولى طهراً وتفصيل هذا على كمالِه يأتي في كتاب العدة إن شاء الله فإذاً لا تنقضي عدتها في أقلَّ من ثمانية وأربعين يوماً ولحظة تطعن بها في الدم فإنه تمر عليها ثلاثة أطهار وثلاث حيض والمسألة فيه إذا صادفها الطلاق قبيل الحيضة الأولى
Dan jika kita tidak menganggap perpindahan menuju haid sebagai quru’ dan kita menganggap quru’ itu adalah masa suci yang diapit oleh dua darah (haid), maka kita tidak menghitung masa suci yang mendahului haid pertama. Rincian lengkapnya akan dijelaskan dalam Kitab ‘Iddah, insya Allah. Maka, masa ‘iddahnya tidak akan selesai dalam waktu kurang dari empat puluh delapan hari dan satu saat ketika ia mulai mengalami darah haid, karena ia akan mengalami tiga masa suci dan tiga kali haid. Permasalahan ini terjadi jika talak dijatuhkan kepadanya tepat sebelum haid pertama.
فهذا تمام المراد في ذلك فإن أغفلنا البسطَ التام فذاك لتعلقه بأصول العدد وقد ذكرنا في هذا الموضع ما فيه كفاية لغرض الفصل
Inilah keseluruhan maksud dalam hal ini. Jika kami tidak menguraikan secara lengkap, itu karena hal tersebut berkaitan dengan ushul al-‘adad (prinsip-prinsip bilangan), dan kami telah menyebutkan pada bagian ini apa yang cukup untuk tujuan pembahasan.
فصل
Bab
قال الشافعي وهي محرَّمةٌ عليه تحريمَ المبتوتة إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata: “Ia diharamkan baginya sebagaimana haramnya wanita yang telah ditalak tiga sampai akhir ketentuannya.”
الطلاق الرجعي عندنا يحرم الوطءَ وجميعَ الاستمتاعات من اللمس والنظر وهي في التحريم كالبائنة والشافعي شبهها بالمبتوتة في أصل التحريم لا في صفته فإن تحريم المبتوتة لا يدفعه إلا نكاحٌ مستجمع لشرائطِ الشرع بخلاف الرجعية ووطءُ المبتوتة مع العلم بالتحريم يوجب الحد ووطءُ الرجعية لا يوجب الحد وقد هَذَى بعض الناس بإيجابه في الرجعية ولعله أخذه من القول القديم في وجوب الحد على من وطىء مملوكته المحرمة عليه بالرضاع أو وطىء مملوكته وقد زوجها وهذا على نهاية البعد فإن الرجعية مستحلّةُ الوطء عند شَطر الأمة فهذا إذاً غيرُ معتد به ولا عود إليه
Talak raj‘i menurut kami mengharamkan hubungan seksual dan seluruh bentuk kenikmatan, baik berupa sentuhan maupun pandangan. Dalam hal keharaman, talak raj‘i sama seperti talak bain. Imam Syafi‘i menyamakannya dengan talak mubaṭṭah (talak tiga) dalam pokok keharamannya, bukan dalam sifatnya. Sebab, keharaman pada talak mubaṭṭah tidak dapat dihilangkan kecuali dengan akad nikah baru yang memenuhi seluruh syarat syariat, berbeda dengan talak raj‘i. Hubungan seksual dengan perempuan yang telah ditalak mubaṭṭah, jika dilakukan dengan sadar akan keharamannya, mewajibkan hukuman had, sedangkan hubungan seksual dengan perempuan yang ditalak raj‘i tidak mewajibkan hukuman had. Sebagian orang berpendapat keliru dengan mewajibkan hukuman had pada talak raj‘i, dan mungkin ia mengambil pendapat ini dari qaul qadim tentang kewajiban had bagi orang yang berhubungan seksual dengan budaknya yang haram baginya karena hubungan persusuan, atau berhubungan dengan budaknya yang telah ia nikahkan. Ini adalah pendapat yang sangat jauh (dari kebenaran), sebab perempuan yang ditalak raj‘i masih halal digauli menurut sebagian besar umat. Maka, pendapat ini tidak dianggap dan tidak perlu kembali kepadanya.
ثم أطلق الأصحاب القول بأن الطلاق الرجعي يؤثِّر في الحل وإزالة الملك ولكنه قابل للارتجاع والردّ ورُبَّ ملك يزول مع إمكان التدارك فيه
Kemudian para sahabat (ulama) secara umum menyatakan bahwa talak raj‘i berpengaruh terhadap kehalalan dan menghilangkan kepemilikan (ikatan pernikahan), namun masih dapat dirujuk dan dikembalikan, dan terkadang ada kepemilikan yang hilang meskipun masih memungkinkan untuk diperbaiki di dalamnya.
ثم قال الأصحاب انتظم من قواعد المذهب ثلاثةُ أقوال في أن الطلاق الرجعي هل يزيل الملك قولان منها مأخوذان من أصولٍ ثلاثة للشافعي أحدها مخالعة الرجعية وفيها قولان أظهرها أنها جائزة والثاني الإشهاد على الرجعة وفي وجوبه قولان
Kemudian para ulama mazhab berkata, dari kaidah-kaidah mazhab terhimpun tiga pendapat mengenai apakah talak raj‘i menghilangkan kepemilikan (hak suami atas istri); dua di antaranya diambil dari tiga ushul (prinsip dasar) Imam Syafi‘i. Salah satunya adalah mengenai khulu‘ terhadap istri yang dalam masa iddah raj‘i, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat; yang lebih kuat adalah bahwa khulu‘ tersebut diperbolehkan. Yang kedua adalah tentang kewajiban melakukan penyaksian (isyhād) atas rujuk, dan dalam hal ini juga terdapat dua pendapat mengenai kewajibannya.
والثالث أن مدة أربع سنين تعتبر من وقت الطلاق أو من وقت انقضاء العدة يعني عدة الرجعية وفيه قولان
Yang ketiga, bahwa jangka waktu empat tahun dihitung sejak waktu talak atau sejak berakhirnya masa ‘iddah, yaitu ‘iddah bagi istri yang ditalak raj‘i, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وأما القول الثالث فهو التوقف فإن انسرحت تبينا زوال الملك بالطلاق وإن روجعت تبينا أنه لم يَزُل وهذا القول مأخوذ من قول بعض أصحابنا إن الرجعية إذا وطئها زوجها نظر فإن راجعها في العدة لم يلتزم المهر بوطئها وإن تركها حتى انقضت عدتها لزمه المهر وسنذكر هذا مفصلاً على أثر ذلك إن شاء الله
Adapun pendapat ketiga adalah tawaqquf (menunda penetapan hukum); jika istri pergi, maka jelaslah bahwa kepemilikan (hak suami atas istri) hilang karena talak, dan jika ia dirujuk, maka jelaslah bahwa kepemilikan itu tidak hilang. Pendapat ini diambil dari ucapan sebagian ulama mazhab kami, bahwa jika seorang suami menggauli istri yang dalam masa iddah raj‘iyyah, maka dilihat: jika ia merujuk istrinya dalam masa iddah, ia tidak wajib membayar mahar atas hubungan tersebut; namun jika ia membiarkan hingga iddah selesai, maka ia wajib membayar mahar. Kami akan menjelaskan hal ini secara rinci setelah ini, insya Allah.
فاستنبط الأصحاب عن هذه الأصول ثلاثةَ أقوال وهي شبيهة بالأقوال في أن الملك في زمان الخيار في البيع لمن والذي عندنا فيه أن المصير إلى زوال الملك خروجٌ عن المذهب وقد قال الشافعي الرجعية زوجة بخمس آيٍ من كتاب الله وذكر الآيات المتعلقة بالأحكام التي استشهد بها وكيف لا تكون زوجةً وهي وارثةٌ وموروثةٌ والتوريث لا يقع من الجانبين إلا بالنكاح والطلاق يلحقها ولا تطلق إلا منكوحة ولا ينكِحها مُطلِّقها بل يرتجعها فهي إذاً صائرة إلى البينونة لو لم يرتجعها زوجها
Maka para ulama mazhab menyimpulkan dari prinsip-prinsip ini tiga pendapat, yang serupa dengan pendapat-pendapat mengenai kepemilikan pada masa khiyar dalam jual beli: milik itu untuk siapa. Menurut kami, berpendapat bahwa kepemilikan hilang adalah keluar dari mazhab. Imam Syafi‘i berkata, “Istri yang dalam masa rujuk adalah tetap sebagai istri menurut lima ayat dari Kitab Allah,” lalu beliau menyebutkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum yang dijadikan dalil. Bagaimana mungkin ia bukan istri, padahal ia mewarisi dan diwarisi, dan pewarisan tidak terjadi dari kedua belah pihak kecuali karena pernikahan. Talak pun berlaku padanya, dan talak hanya dijatuhkan kepada wanita yang masih berstatus istri. Suaminya tidak dapat menikahinya kembali, melainkan hanya dapat merujuknya. Maka, ia akan benar-benar berpisah (bain) jika suaminya tidak merujuknya.
وأما أخذ زوال الملك من وجوب الإشهاد فساقط فإنه مأخوذ من التعبد لا غير ولو لم يكن كذلك لاشترط رضاها والولي وأما إفساد مخالعة الرجعية فهو في الأصل غير متجه ولو كان عليه معوّل لكان امتناع الخلع لزوال الملك ولامتنع التطليق من غير عوض أيضاً بناءً على هذا الأصل وأما احتساب أكثر مدة الحمل من وقت الطلاق فسببه أنها غير مستفرشة ونحن لا نقنع بصورة النكاح في الإلحاق حتى لو غاب الرجل عن المرأة مدة يُقطَع بأنهما ما التقيا فيها فإنا لا ندخل تلك المدة في الإمكان المعتبر على ما سيأتي في موضعه إن شاء الله
Adapun pengambilan hilangnya kepemilikan (hak suami) sebagai alasan wajibnya penyaksian adalah tidak tepat, karena hal itu diambil dari aspek ta‘abbud (pengabdian ibadah) semata, dan jika bukan demikian, tentu disyaratkan kerelaan istri dan wali. Adapun pembatalan khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah, pada dasarnya tidak dapat diterima. Jika pendapat tersebut dijadikan sandaran, tentu khulu‘ tidak sah karena hilangnya kepemilikan (hak suami), dan juga talak tanpa kompensasi pun tidak sah berdasarkan prinsip ini. Adapun perhitungan masa kehamilan terpanjang sejak waktu talak, sebabnya adalah karena istri tidak dalam keadaan mustafraşah (tidak dalam keadaan tidur bersama suami). Kami pun tidak cukup hanya dengan adanya akad nikah dalam penetapan nasab, sehingga jika seorang laki-laki pergi meninggalkan istrinya dalam waktu yang dipastikan mereka tidak bertemu, maka kami tidak memasukkan masa tersebut ke dalam kemungkinan (kehamilan) yang diperhitungkan, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah.
وأما قول الوقف فعلى نهاية السقوط فإن مضمونه الحكمُ بالبينونة مستنداً إلى الطلاق كما نفعل مثل ذلك في الردة الطارئة على النكاح
Adapun pendapat kelompok waqf tentang akhir masa jatuhnya (talak), maka maksudnya adalah menetapkan hukum berpisah secara final yang didasarkan pada talak, sebagaimana yang kita lakukan dalam kasus riddah (kemurtadan) yang terjadi di tengah pernikahan.
فإن قيل لم حرمتم وطأها إن كانت منكوحة ولم قضيتم بانقضاء عدتها والعدة لا تنقضي عن الزوج في الزوجية قلنا هذا مثار الإشكال فإن كنا ننشىء زوال الملك من أصلٍ فهذا أولى بالذكر من التحويم على خيالات ثم تحريم الوطء يستند إلى الآثار قبل الحقائق والتحريمُ قد يحصُل بعوارضَ والملك تامّ فكيف إذا ظهر التحلل وهذا مما نستخير الله فيه ولم يصر أحد من أصحابنا إلى إطلاق البينونة لا تحقُّقاً ولا استناداً وإنما عبروا بالبينونة عن انبتات الملك على وجهٍ لا يُستدرك بالرجعة
Jika dikatakan, “Mengapa kalian mengharamkan hubungan suami istri dengannya jika ia masih berstatus istri, dan mengapa kalian memutuskan bahwa masa iddahnya telah selesai, padahal masa iddah tidak berakhir bagi seorang istri selama masih dalam ikatan pernikahan?” Kami katakan, inilah sumber permasalahannya. Jika kita menetapkan hilangnya kepemilikan (hak suami) dari asalnya, maka hal ini lebih utama untuk disebutkan daripada berputar-putar pada bayangan-bayangan (keraguan). Kemudian, pengharaman hubungan suami istri itu didasarkan pada dampak-dampak (atsar) sebelum pada hakikat-hakikatnya, dan pengharaman itu bisa terjadi karena adanya halangan-halangan, sementara kepemilikan (hak suami) masih sempurna, apalagi jika telah tampak adanya pembatalan (tahallul). Dalam hal ini, kami memohon petunjuk kepada Allah, dan tidak ada seorang pun dari kalangan ulama kami yang secara mutlak menyatakan terjadinya perpisahan (al-baynūnah), baik secara nyata maupun berdasarkan alasan tertentu. Mereka hanya mengekspresikan istilah “al-baynūnah” untuk menggambarkan terputusnya kepemilikan (hak suami) dengan cara yang tidak dapat dipulihkan lagi melalui rujuk.
والحاصل عندنا مما قدمناه أن الزوجية باقية ولكن الطلاق يُجريها إذا كانت مدخولاً بها إلى البينونة وجريانُها إلى البينونة يوجب تحريمَها والاحتسابَ بعدّتها هذا حكم الشرع فيها ولا شك أنه خارج عن قياس الأقيسة الجلية ولا يتخلص أبو حنيفة عن هذا الإشكال بإباحته وطأَها فإنه وافق في شروعها في العدة والعدةُ لا تمضي من الزوج في صلب النكاح بدليل أن عدة التي آلى عنها زوجها لا تنقضي في الأربعة الأشهر وإن كان الإيلاء طلاقاً عند أبي حنيفة
Kesimpulan dari apa yang telah kami paparkan adalah bahwa status pernikahan masih tetap ada, namun talak menjadikannya, jika istri sudah digauli, menuju perpisahan (bainunah). Proses menuju perpisahan ini menyebabkan keharamannya (bagi suami) dan kewajiban menghitung masa iddahnya. Inilah hukum syariat mengenai hal ini, dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini di luar qiyās-qiyās yang jelas. Abu Hanifah pun tidak dapat melepaskan diri dari permasalahan ini dengan membolehkan suami menggaulinya, karena ia pun sepakat bahwa masa iddah telah dimulai, sedangkan iddah tidak berjalan dari suami selama masih dalam inti akad nikah. Buktinya, iddah bagi wanita yang suaminya melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri) tidak selesai dalam empat bulan, meskipun ila’ menurut Abu Hanifah adalah talak.
فصل
Bab
قال ولمّا لم يكن نكاح ولا طلاق إلا بكلام فلا تكون رجعةٌ إلا بكلام إلى آخره
Ia berkata: “Dan ketika tidak ada akad nikah maupun talak kecuali dengan ucapan, maka rujuk pun tidak terjadi kecuali dengan ucapan, dan seterusnya.”
قصد الشافعي الرد على أبي حنيفة في مصيره إلى أن الوطء رجعة وأوضح من مذهبه أن الرجعة لا تحصل إلا بالكلام وعند أبي حنيفةَ الوطءُ واللمسُ بالشهوة والنظرُ إلى الفرج بالشهوة يُحصّل الرجعة سواء جرى على قصدٍ إلى الرجعة أو لم يقصد الزوج الرجعةَ وعن مالك أن الوطء يكون رجعةً إذا قصد الزوج به الرجعةَ
Imam Syafi‘i bermaksud membantah pendapat Abu Hanifah yang berkesimpulan bahwa jima‘ (hubungan badan) merupakan bentuk rujuk. Syafi‘i menegaskan bahwa rujuk hanya sah dengan ucapan. Menurut Abu Hanifah, jima‘, sentuhan dengan syahwat, dan melihat kemaluan dengan syahwat dapat mewujudkan rujuk, baik dilakukan dengan niat rujuk maupun tanpa niat rujuk dari suami. Sedangkan menurut Malik, jima‘ menjadi rujuk jika suami memang berniat rujuk dengannya.
فإذا تبين أن الرجعة لا تحصل إلا بلفظ أو إشارة من الأخرس قائمةٍ مقام اللفظ فإن إشاراتِ الأخرس تقوم مقام ألفاظ الناطقين فالكلام بعد ذلك في العبارات فإذا قال الزوج رددتك إليّ فهذا صريح في الرجعة وقد قال تعالى وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ ولو قال رددتك ولم يقل إليّ فهل يكون ذلك صريحاً في الرجعة أم لا ذكر الشيخ أبو علي والقاضي وغيرُهما وجهين
Jika telah jelas bahwa ruju‘ tidak terjadi kecuali dengan lafaz atau isyarat dari orang bisu yang menggantikan posisi lafaz, maka isyarat orang bisu menempati kedudukan ucapan orang yang bisa berbicara. Setelah itu, pembahasan berlanjut pada ungkapan-ungkapan. Jika suami berkata, “Aku mengembalikanmu kepadaku,” maka ini adalah lafaz sharih (jelas) dalam ruju‘. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan suami-suami mereka lebih berhak untuk mengembalikan mereka.” Namun, jika ia berkata, “Aku mengembalikanmu,” tanpa menambahkan “kepadaku”, apakah itu juga termasuk lafaz sharih dalam ruju‘ atau tidak? Syaikh Abu ‘Ali, al-Qadhi, dan selain keduanya menyebutkan dua pendapat.
ولو قال راجعتك كفى ذلك من غير صلةٍ فإن هذه اللفظة مُجراةٌ في الاستعمال من غير صلة وسبب التردد في قوله رددتك أن مُطلِقه من غير صلةٍ بقوله إليّ قد يُفهم منه الرد الذي هو نقيض القبول وهذا المعنى لا يتحقق في قوله راجعتك وارتجعتك ولو قال رَجعْتُك فهذا مما يستعمل لازماً ومتعدياً تقول رجعت رجوعاً ورجعتُ المالَ من زيد رجعاً فإذا قال رجعتك فقد عدى إلى الضمير وهو الكاف فالوجه تنزيله منزلة قوله ارتجعتك
Jika seseorang berkata, “Aku telah merujukmu kembali (rujū‘),” maka itu sudah cukup tanpa tambahan kata lain, karena ungkapan ini lazim digunakan tanpa tambahan atau sambungan. Adapun keraguan dalam ucapan “Aku mengembalikanmu (raddadtu-ka)” muncul karena jika diucapkan tanpa tambahan kata “kepadaku (ilayya)”, bisa saja dipahami sebagai pengembalian yang merupakan lawan dari penerimaan, dan makna ini tidak terdapat dalam ucapan “Aku telah merujukmu kembali (rajā‘tuka)” atau “Aku telah mengambilmu kembali (irtaja‘tuka)”. Jika seseorang berkata, “Aku kembali kepadamu (raja‘tuka)”, maka ungkapan ini digunakan baik sebagai kata kerja yang tidak memerlukan objek maupun yang memerlukan objek. Misalnya, dikatakan, “Aku telah kembali (raja‘tu) dengan kembali (rujū‘an),” dan “Aku telah mengembalikan harta dari Zaid (raja‘tu al-māla min Zaid raj‘an).” Maka jika seseorang berkata, “Aku kembali kepadamu (raja‘tuka),” berarti telah sampai pada dhamir (kata ganti) yaitu “-ka”, sehingga yang lebih tepat adalah menyamakannya dengan ucapan “Aku telah mengambilmu kembali (irtaja‘tuka).”
ولو قال أمسكتك واقتصر على ذلك ففيه وجهان أحدهما أنه صريح في الرجعة وهذا القائل يتمسك بورود لفظ الإمساك في القرآن دالاً على إرادة الرجعة
Jika seseorang berkata, “Aku menahanmu,” dan hanya mengucapkan itu saja, maka ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa itu adalah lafaz sharih dalam rujuk, dan pendukung pendapat ini berpegang pada adanya lafaz “imsak” dalam Al-Qur’an yang menunjukkan maksud rujuk.
ومن أصحابنا من قال ليس لفظ الإمساك صريحاً في الرجعة
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa lafaz “imsak” (menahan) tidak secara tegas menunjukkan makna ruju‘.
ثم اختلف المفرّعون على هذا الوجه فذهب الشيخ والقاضي إلى أن قوله
Kemudian para ahli yang merinci pendapat pada sisi ini berbeda pendapat; Syekh dan Qadhi berpendapat bahwa ucapannya…
أمسكتك وإن لم يكن صريحاً في الرجعة فهو كناية فيها فإذا نوى الرجعة صحت باللفظ والنية
Aku menahanmu, meskipun ungkapan tersebut tidak secara tegas menunjukkan rujuk, ia merupakan kinayah (kiasan) dalam rujuk. Maka jika seseorang berniat rujuk, rujuk tersebut sah dengan lafaz dan niat.
وذكر العراقيون وجهاً آخر أن الإمساك لا يصلح للرجعة وإن اقترنت النية بها لأن الإمساك معناه الاستدامة والاستصحاب والرجعةُ ابتداء استحلال فلا تحصل بما ليس فيه معنى الابتداء
Orang-orang Irak menyebutkan pendapat lain bahwa menahan (istri) tidak sah untuk rujuk, meskipun disertai niat rujuk, karena menahan itu berarti melanjutkan dan mempertahankan, sedangkan rujuk adalah permulaan kembali menghalalkan (hubungan), sehingga tidak dapat terjadi dengan sesuatu yang tidak mengandung makna permulaan.
فتحصّل من مجموع ما ذكره الأصحاب ثلاثة أوجه في لفظ الإمساك أحدها أنه صريح في الرجعة
Dari keseluruhan pendapat yang disebutkan oleh para ulama, terdapat tiga pendapat mengenai lafaz “imsāk”; salah satunya adalah bahwa lafaz tersebut merupakan sharih (lafaz jelas) dalam rujuk.
والثاني أنه كناية مفتقرة إلى النية والثالث أنه غير صالح للرجعة مع النية أيضاً
Kedua, bahwa itu adalah kinayah yang memerlukan niat, dan ketiga, bahwa itu juga tidak sah untuk rujuk meskipun disertai niat.
ومما اختلف الأصحاب فيه الرجعةُ بلفظ النكاح والتزويج فمن أصحابنا من قال تحصل الرجعة به فإن اللفظ إذا كان صالحاً لابتداء العقد وإثبات الاستحقاق فلأن يصلح لتدارك ما وقع من الخرم أولى ومن أصحابنا من قال لا تحصل الرجعة بلفظ التزويج والنكاح فإن النكاح للابتداء وليس فيه إشعار بالتدارك
Di antara hal yang diperselisihkan oleh para sahabat (ulama mazhab) adalah mengenai rujuk dengan lafaz nikah dan tazwij. Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa rujuk dapat terjadi dengan lafaz tersebut, karena jika suatu lafaz sah digunakan untuk memulai akad dan menetapkan hak, maka lebih utama lagi jika lafaz itu digunakan untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Namun, sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa rujuk tidak sah dengan lafaz tazwij dan nikah, karena nikah digunakan untuk permulaan (akad baru) dan tidak mengandung makna memperbaiki (mengembalikan) sesuatu yang telah terjadi.
وهذا الخلاف قرّبه الأصحاب من الخلاف إذا قال المُكري بعتك منافع هذه الدار سنة ففي انعقاد الإجارة بلفظ البيع وجهان ووجهُ التقريب أن البيع موضوع لتمليك الرقبة والإجارةُ موضوعةٌ لاستحقاق المنفعة فتباعد المقتضيان
Perbedaan pendapat ini didekatkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat apabila pemilik sewa berkata, “Aku telah menjual kepadamu manfaat rumah ini selama satu tahun.” Dalam hal ini, terdapat dua pendapat mengenai sah atau tidaknya akad ijarah dengan lafaz jual beli. Adapun alasan kedekatannya adalah karena jual beli ditetapkan untuk kepemilikan atas benda (ain), sedangkan ijarah ditetapkan untuk hak atas manfaat, sehingga kedua sebab tersebut saling berjauhan.
ثم إن حكمنا بأن الرجعة تصح بلفظ النكاح فقد ذهب القاضي إلى أنه كناية في الرجعة ولا بد من النية وقال قائلون لا حاجة إلى النية وهو من باب تحصيل الأضعف بالأقوى
Kemudian, apabila kami memutuskan bahwa ruju‘ sah dengan lafaz nikah, maka menurut pendapat al-Qadhi, lafaz tersebut merupakan kinayah dalam ruju‘ dan harus disertai niat. Namun, sebagian ulama berpendapat tidak perlu adanya niat, karena hal itu termasuk mengambil yang lebih lemah dengan yang lebih kuat.
وللأصحاب تردُّدٌ في هذه المسألة من وجه آخر فمنهم من قال لا يصلح لفظ النكاح للرجعة وإن نوى به الرجعة ومنهم من قال تحصل الرجعة مع النية والخلاف في أن مُطلَقه هل يفيد الرجعة
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dari sisi lain; sebagian dari mereka berpendapat bahwa lafaz nikah tidak sah digunakan untuk rujuk, meskipun disertai niat rujuk, dan sebagian lagi berpendapat bahwa rujuk terjadi jika disertai niat, serta terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah lafaz nikah yang mutlak dapat memberikan makna rujuk.
فينتظم من مجموع ما ذكرناه أوجه أحدها أن لفظ النكاح والتزويج يُحصّل الرجعة من غير نية والثاني أنه لا يحصّلها مع النية والثالث أنه كناية لا يعمل بنفسه فإن اقترن بالنية نفذ
Maka dapat disimpulkan dari keseluruhan yang telah kami sebutkan beberapa pendapat: pertama, bahwa lafaz nikah dan tazwij dapat mewujudkan rujuk tanpa disertai niat; kedua, bahwa lafaz tersebut tidak mewujudkan rujuk meskipun disertai niat; dan ketiga, bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah yang tidak berlaku dengan sendirinya, sehingga jika disertai niat maka berlaku.
ووراء ما ذكرناه سرٌّ لا بد من التنبه له وهو أنا سنذكر تردداً في أن الإشهاد هل يشترط على الرجعة فإن قلنا لا يشترط الإشهاد فلا يمتنع حصول الرجعة بالكناية وإن قلنا الإشهاد يشترط في صحة الرجعة فعقْدُ الرجعة بالكناية بعيد فإن الشهود لا يطلعون على النيات
Di balik apa yang telah kami sebutkan, terdapat rahasia yang harus diperhatikan, yaitu bahwa kami akan menyebutkan adanya keraguan apakah penyaksian (isyhād) merupakan syarat dalam rujuk. Jika kami katakan bahwa isyhād tidak disyaratkan, maka tidak mustahil terjadinya rujuk dengan kināyah. Namun jika kami katakan bahwa isyhād disyaratkan dalam sahnya rujuk, maka akad rujuk dengan kināyah menjadi jauh kemungkinannya, karena para saksi tidak mengetahui niat.
وقد يخطر للمنتهي إلى هذا الموضع أن الزوج إذا تلفظ بكناية في الطلاق ثم رددنا اليمين على المرأة فإنا نسمع منها اليمين على أن الزوج نوى الطلاق ومعتمدها في ذلك التعلّقُ بمخايلِ الزوج فإذا جاز هذا في اليمين فلتجز الشهادة
Mungkin terlintas dalam benak orang yang sampai pada pembahasan ini bahwa apabila suami mengucapkan lafaz kinayah dalam talak, lalu kita mengembalikan sumpah kepada istri, maka kita mendengarkan sumpah darinya bahwa suami memang berniat menjatuhkan talak, dan dasar yang dipegangnya dalam hal ini adalah bergantung pada tanda-tanda dari suami. Jika hal ini dibolehkan dalam sumpah, maka seharusnya kesaksian pun dibolehkan.
قلنا لا يجوز تحمّلُ الشهادة بما يجوز الإقدامُ على اليمين به فإنا قد نجوّز للرجل أن يحلف معتمداً على خط أبيه إذا كان موثوقاً به عنده وسنصف مجال الأيْمان والبصائر المرعيّة في تحمل الشهادات في كتاب الدعاوى والبيّنات إن شاء الله عز وجل
Kami katakan, tidak boleh memikul kesaksian atas sesuatu yang boleh dilakukan sumpah atasnya. Sebab, kami membolehkan seseorang bersumpah dengan bersandar pada tulisan ayahnya jika ia mempercayainya. Kami akan menjelaskan ruang lingkup sumpah dan pertimbangan-pertimbangan yang diperhatikan dalam memikul kesaksian pada kitab Da‘wā dan Bayyināt, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وقد يجوز أن يقال يشهد الشاهد على اللفظ ويبقى التنازعُ في النية وهذا بمثابة قولنا المقصود من الشهود إثبات النكاح عند فرض الجحود ثم لا يشترط الشهادة على رضا المرأة وهو عماد النكاح فإن الرجل لو جحد لم يبق النكاح مع جحوده فإذا جحدت المرأة فالشهادة على عقد النكاح لا تغني شيئاً
Bisa saja dikatakan bahwa seorang saksi memberikan kesaksian atas lafaz, sementara perselisihan tetap terjadi pada niat. Ini serupa dengan pernyataan kita bahwa tujuan dari kesaksian adalah untuk membuktikan pernikahan jika terjadi pengingkaran, namun tidak disyaratkan adanya kesaksian atas kerelaan perempuan, padahal itu adalah inti dari pernikahan. Sebab, jika laki-laki mengingkari, maka pernikahan tidak lagi ada bersamaan dengan pengingkarannya; dan jika perempuan yang mengingkari, maka kesaksian atas akad nikah tidak memberikan manfaat apa pun.
والوجه ما قدمناه من تنزيل الأمر في الصريح والكناية على الإشهاد
Pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu menempatkan perintah, baik yang jelas maupun yang samar, pada makna penyaksian.
ومن أسرار هذا الفصل أن العراقيين صاروا إلى أن ألفاظ الرجعة محصورة شرعاً في الرجعة والارتجاع والمراجعة والرد وفي الإمساك والنكاح الخلافُ المقدم
Di antara rahasia dari pembahasan ini adalah bahwa para ulama Irak berpendapat bahwa lafaz-lafaz rujuk secara syar‘i terbatas pada kata “rujuk”, “irtijā‘”, “murāja‘ah”, dan “radd”, serta pada kata “imsāk” dan “nikāh”, terdapat perbedaan pendapat yang diutamakan.
وقول الشيخ أبي علي دالٌّ على أن ألفاظ الرجعة لا تنحصر تعبداً بخلاف النكاح حتى لو قال الزوج رفعتُ الحرمة بيننا أو ما جرى هذا المجرى كان صريحاًً وسبب الاختلاف في الإمساك ما فيه من التردد وسبب الخلاف في النكاح مشابهتُه البيعَ بالإضافة إلى الإجارة
Pernyataan Syekh Abu Ali menunjukkan bahwa lafaz-lafaz rujuk tidak terbatas secara ta‘abbudi, berbeda dengan nikah. Sehingga jika suami berkata, “Aku telah mengangkat keharaman antara kita,” atau ungkapan lain yang semakna, maka itu termasuk lafaz sharih. Adapun sebab perbedaan pendapat dalam (lafaz) imsak adalah karena mengandung keraguan, dan sebab perbedaan pendapat dalam (lafaz) nikah adalah karena kemiripannya dengan jual beli dibandingkan dengan ijarah.
والعراقيون قالوا سببُ الخلاف في الإمساك تردُّدُ المفسرين في قوله تعالى فَأَمْسِكُوهُنَّ على ما قدمناه في صدر الكتاب وسبب الخلاف في لفظ النكاح إقامةُ الأقوى مقام الأدنى
Orang-orang Irak mengatakan bahwa sebab perbedaan pendapat dalam masalah imsak adalah adanya keraguan para mufassir dalam firman Allah Ta‘ala “maka tahanlah mereka” sebagaimana telah kami jelaskan di awal kitab ini, dan sebab perbedaan pendapat dalam lafaz nikah adalah karena menempatkan yang lebih kuat menggantikan yang lebih rendah.
وهذا المسلك قد يجري في مجال الحصر والتقيُّد والمسألة محتملة فإن الرجعة نازلة منزلة جَلْبٍ في البضع بلفظٍ فكان قريبَ الشبه بالنكاح في هذا المعنى وإذا اختلف الأصحاب في انحصار صرائح الطلاق وأنها مبنية على التعبد وهي على التحقيق إزالة فهذا في لفظ الرجعة أمكن وأوجه
Pendekatan ini dapat diterapkan dalam ranah pembatasan dan pengikatan, dan masalah ini bersifat kemungkinan, karena ruju‘ diposisikan sebagai tindakan memperoleh hak atas hubungan badan dengan suatu lafaz, sehingga dalam hal ini ia mirip dengan nikah. Jika para ulama berbeda pendapat tentang terbatasnya lafaz-lafaz sharih talak dan bahwa hal itu didasarkan pada ta‘abbud, padahal pada hakikatnya talak adalah tindakan penghilangan (ikatan), maka dalam hal lafaz ruju‘, hal ini lebih memungkinkan dan lebih kuat.
ومما ذكره الشيخ أبو علي أن الرجل إذا قال للرجعيّة راجعتك للمحبة أو للإهانة أو بالمحبة أو بالإهانة فإن قال قصدت بذلك الرجعةَ الحقيقيةَ وعلّلتها بالمحبة أو بالإهانة فيقبلُ منه وتثبت الرجعة
Di antara yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istri yang masih dalam masa iddah talak raj‘i, “Aku rujuk kepadamu karena cinta” atau “karena penghinaan” atau “dengan cinta” atau “dengan penghinaan”, lalu ia mengatakan, “Aku memang bermaksud melakukan rujuk yang sebenarnya dan aku hanya menyebutkan cinta atau penghinaan sebagai alasan,” maka ucapannya diterima dan rujuknya dianggap sah.
وإن قال أردت بذلك أني راجعتك في المحبة ولكن لم أرْدُدك إلى استمرار النكاح فلا تصح الرجعة
Jika ia berkata, “Maksudku dengan itu adalah aku telah merujukmu dalam hal cinta, tetapi aku tidak bermaksud mengembalikanmu kepada kelangsungan pernikahan,” maka rujuknya tidak sah.
وإن أطلق لفظَه في ذلك ولم ينوِ شيئاً فقد قال الشيخ مُطلَقُه يقتضي الرجعةَ وهذا ما رأيته للمشايخ وفيه احتمال على بُعدٍ وإجراؤه على ما ذكر الشيخ هو المتجه وهو من الأقطاب والأصول فإن قول القائل راجعتك لو فرض الاقتصار عليه فهو صريح وفي الصلة الآتية بعده تردّد فيؤثِّرُ هذا في قبول النية منه في وجهي التردد وإذا فرض الإطلاقُ بطلت الصلة وبقيت اللفظة لو قدّرت مفردة فينتظم منه قبول التبيين والمصيُر عند الإطلاق إلى إعمال اللفظ وإلغاء الصلة ووجه تطرّق الاحتمال أن قائلاً لو قال كون اللفظ صريحاً يجرّده وهذا ضعيف فإن المراجعة إذا كانت ملتحقة بالصرائح فقول الرجل لم أنو شيئاً يرجع إلى نفي القصد عن الصلة فينزل هذا منزلة ما لو نطق العربيُّ بصريح الطلاق ووصله بأعجمية لا يفهمها
Jika seseorang mengucapkan lafaz tersebut tanpa meniatkan apa pun, Syekh berkata bahwa lafaz mutlak itu menunjukkan rujuk, dan inilah yang aku dapati dari para ulama. Namun, ada kemungkinan lain meskipun jauh, dan menjalankan sesuai apa yang disebutkan Syekh adalah pendapat yang lebih kuat, karena ia termasuk pokok dan prinsip utama. Sebab, ucapan seseorang “Aku rujuk kepadamu”, jika hanya itu yang diucapkan, maka itu adalah sharih (jelas). Dalam tambahan kalimat setelahnya, terdapat keraguan, sehingga hal ini berpengaruh pada diterimanya niat dari orang yang ragu, dengan dua kemungkinan. Jika lafaz itu diucapkan secara mutlak, maka tambahan kalimat setelahnya menjadi batal dan yang tersisa hanyalah lafaz itu saja, seakan-akan ia berdiri sendiri. Dari sini, dapat disimpulkan diterimanya penjelasan dan keputusan, bahwa dalam keadaan mutlak, lafaz itu yang berlaku dan tambahan kalimat diabaikan. Adapun alasan munculnya kemungkinan lain adalah jika ada yang berkata bahwa lafaz sharih itu berdiri sendiri, namun ini pendapat yang lemah. Sebab, jika rujuk itu termasuk dalam kategori lafaz sharih, maka ucapan seseorang “Aku tidak meniatkan apa pun” kembali pada penafian maksud terhadap tambahan kalimat, sehingga hal ini sama seperti jika seorang Arab mengucapkan lafaz sharih talak lalu menyambungnya dengan bahasa asing yang tidak dipahami.
ثم ذكر الشافعي أن الوطء لا يكون رجعة وقد ذكرت مسلك هذه المسألة في الأساليب وأوضحت أن حقها أن تبنى على تحريم الوطء فليتأمله طالبه في موضعه
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa jima‘ bukanlah merupakan rujuk, dan saya telah menjelaskan metode pembahasan masalah ini dalam kitab al-Asalib serta menegaskan bahwa seharusnya masalah ini dibangun di atas dasar keharaman jima‘, maka hendaknya orang yang mencari ilmu memperhatikan hal ini pada tempatnya.
ثم إذا لم يكن الوطء رجعةً فهل يتعلّق به وجوب مهر المثل نصُّ الشافعي دال على وجوب مهر المثل وقد قال في غير موضع من كتبه يجب على الزوج المهرُ راجعها أو لم يراجعها فلم يختلف أئمة المذهب في أنه لو لم يراجعها ويتركها حتى انسرحت بانقضاء العدة فيلزمه مهرُ المثل ولو راجعها فظاهر النص أنه يلزمه مهر المثل وخرّج الأصحاب فيه قولاً أنه لا يجب وهذا مشكل في التعليل جداً
Kemudian, jika jima‘ bukan merupakan rujuk, apakah hal itu menyebabkan kewajiban membayar mahar mitsil? Naskah Imam Syafi‘i menunjukkan kewajiban membayar mahar mitsil, dan beliau juga menyatakan di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya bahwa suami wajib membayar mahar, baik ia merujuk istrinya atau tidak. Maka para imam mazhab tidak berbeda pendapat bahwa jika suami tidak merujuk istrinya dan membiarkannya hingga selesai masa ‘iddah, maka ia wajib membayar mahar mitsil. Jika ia merujuk istrinya, maka secara lahiriyah dari nash, ia juga wajib membayar mahar mitsil. Namun para sahabat (ulama) mazhab mengemukakan satu pendapat bahwa hal itu tidak wajib, dan ini sangat sulit untuk dijelaskan alasannya.
وأصدق آية على أن الطلاق يتضمن زوال الملك هذا الذي ذكرناه فإنها لو كانت على حقيقة الزوجية لاستحال أن يلتزم الزوج بوطئها مهراً وقد غَرِم مهرَ النكاح فلما نص الشافعي على وجوب المهر أشعر هذا بكونها غيرَ مُستَحَقةٍ بالنكاح
Dan ayat yang paling jelas bahwa talak mengandung makna hilangnya kepemilikan (hak suami) adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu seandainya (wanita yang ditalak) masih berada dalam hakikat status istri, niscaya mustahil suami diwajibkan membayar mahar karena berhubungan dengannya, padahal ia telah menanggung mahar pernikahan. Maka ketika asy-Syafi‘i menegaskan wajibnya mahar, hal ini menunjukkan bahwa ia (wanita tersebut) tidak lagi berhak atas mahar karena pernikahan.
والتحقيق فيه أنا إذا قلنا زال الملك بالطلاق فقد ملكت المرأة نفسها ولكن للزوج عليها سُلطان الرّد فإذا لم نجعل الوطء رداً فقد وقع الوطء وهي غير مملوكة للزوج نعم لو كنا نجعل الوطء رجعة لكان الوطء من الزوج بمثابة وطء البائع الجاريةَ المبيعةَ في زمان الخيار فالوطء فيه فسخ فلا جرم لا يلتزم المهرَ بما هو فاسخ به فإذا لم نجعل الزوج مرتجعاً جعلنا وطأه إياها بمثابة ما لو وُطئت بشبهة فيكون المهر لها لا محالة
Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa jika kita mengatakan kepemilikan suami hilang karena talak, maka perempuan telah memiliki dirinya sendiri, namun suami masih memiliki kekuasaan untuk merujuknya. Jika kita tidak menganggap hubungan badan sebagai rujuk, maka hubungan badan itu terjadi ketika perempuan sudah tidak lagi dimiliki oleh suami. Benar, seandainya kita menganggap hubungan badan sebagai rujuk, maka hubungan badan yang dilakukan suami serupa dengan hubungan badan yang dilakukan penjual terhadap budak perempuan yang telah dijualnya selama masa khiyar; hubungan badan dalam kondisi itu dianggap sebagai pembatalan, sehingga tidak wajib membayar mahar atas sesuatu yang menyebabkan pembatalan tersebut. Maka, jika kita tidak menganggap suami telah merujuk, kita menganggap hubungan badan yang dilakukannya seperti hubungan badan karena syubhat, sehingga mahar tetap menjadi hak perempuan tanpa keraguan.
وقد يلتفت الفطن فيما ذكرناه على تفريعنا على قولنا إن الملك في زمان الخيار للمشتري فلو وُطئت الجارية ثم لم يتفق فسخ العقد فالمهر للمشتري هذا مسلك الكلام ولكن تفريعه على أن الرجعية ليست بزوجة ولا خروج له إلا على ذلك
Orang yang cerdas mungkin akan memperhatikan apa yang telah kami sebutkan berdasarkan pendapat kami bahwa kepemilikan pada masa khiyār adalah milik pembeli. Maka, jika budak perempuan digauli kemudian akadnya dibatalkan, maka mahar menjadi hak pembeli. Inilah jalannya pembahasan, namun cabang permasalahan ini didasarkan pada pendapat bahwa istri yang dalam masa rujuk bukanlah istri, dan tidak keluar dari ketentuan tersebut kecuali atas dasar itu.
ولو تكلف متكلف فقال منافع بضع المرأة على حكمها والدليل عليه أن الزوجة لو وطئت بشبهة في صلب النكاح فالمهر لها فإذا انعزلت عن زوجها في الاعتداد ثم وطئها الزوج وحُكم الانعزال مستمر عليها فقد أتلف منفعةً هي بحكمها
Seandainya ada seseorang yang memaksakan pendapat lalu berkata bahwa manfaat kemaluan perempuan berada di bawah kekuasaannya, maka dalil atas hal itu adalah jika seorang istri digauli karena syubhat dalam masa pernikahan, maka mahar tetap menjadi haknya. Maka apabila ia terpisah dari suaminya dalam masa iddah, kemudian suaminya menggaulinya sementara status perpisahan masih berlaku atasnya, berarti ia telah merusak suatu manfaat yang berada di bawah kekuasaannya.
وهذا تلبيسٌ فإن الزوج لو كان مستحق المنفعة لكان بالوطء مستوفياً منفعةً هو مستحقها
Ini adalah suatu kekeliruan, sebab jika suami memang berhak atas manfaat tersebut, maka dengan melakukan hubungan intim, ia telah mengambil manfaat yang memang menjadi haknya.
ثم ذكر أصحابنا تصرفاً على النص فقالوا قال الشافعي في الرجعية إذا وطئها الزوج يلزمه المهر راجعها أو لم يراجعها وقال إذا ارتدت المرأة فوطئها الزوج وكانت مدخولاً بها فعادت إلى الإسلام قبل انقضاء العدة لم يلتزم مهرها ولو أصرت على الردة حتى انقضت العدة التزم مهرها فقال الأئمة أما إذا أصرت على الردة حتى انقضت العدة فلا شك في لزوم المهر فإن الوطء صادف البينونة
Kemudian para ulama kami menyebutkan suatu penjelasan berdasarkan nash, mereka berkata: Imam Syafi’i berpendapat bahwa dalam kasus talak raj‘i, jika suami menggauli istrinya, maka ia wajib membayar mahar, baik ia merujuk istrinya atau tidak. Dan beliau juga berkata: Jika seorang wanita murtad lalu suaminya menggaulinya, sementara ia sudah pernah digauli, kemudian ia kembali masuk Islam sebelum masa iddahnya habis, maka suami tidak wajib membayar maharnya. Namun jika ia tetap dalam kemurtadannya hingga masa iddah habis, maka suami wajib membayar maharnya. Para imam berkata: Adapun jika ia tetap dalam kemurtadannya hingga masa iddah habis, maka tidak diragukan lagi kewajiban membayar mahar, karena hubungan suami istri tersebut terjadi setelah terjadinya perpisahan.
وهذا لا يدرج في خيال الخلاف وإمكانه
Hal ini tidak termasuk dalam ranah perbedaan pendapat maupun kemungkinan terjadinya.
فأما إذا عادت إلى الإسلام فمن أصحابنا من قال ننقل جواب الرجعية إلى المرتدة وجواب المرتدة إلى الرجعية ونقول في المسألتين قولان نقلاً وتخريجاً
Adapun jika ia kembali masuk Islam, maka sebagian ulama kami berpendapat bahwa jawaban untuk kasus talak raj‘i dipindahkan kepada kasus murtad, dan jawaban untuk kasus murtad dipindahkan kepada kasus talak raj‘i, sehingga dalam kedua permasalahan tersebut terdapat dua pendapat, baik secara naql maupun takhrij.
وهذا كلام مختلط لا ثبات له أما المرتدة إذا عادت إلى الإسلام قبل انقضاء العدة فقد تبينا بالأخرة أن الزوج وطئها ولا انخرام في النكاح فإن الأمرَ كان على التوقف فإذا بان من الموقوف أحدُ طرفيه التحق الحكم فيه بما لو كان مستحقاً في ابتداء الأمر فلا وجه لذكر الخلاف هاهنا
Ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak memiliki ketetapan. Adapun wanita murtad, jika ia kembali kepada Islam sebelum masa iddah berakhir, maka pada akhirnya kita mengetahui bahwa suaminya telah menggaulinya, dan tidak ada kerusakan dalam pernikahan tersebut. Sebab, perkara itu sebelumnya berada dalam keadaan tertunda, maka jika salah satu dari dua kemungkinan yang tertunda itu telah jelas, hukumnya mengikuti seolah-olah memang sudah berhak sejak awal. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menyebutkan perbedaan pendapat di sini.
وأما وجوب المهر في الرجعية فلا وجه إلا ما ذكرناه من اعتقاد زوال الملك على التدريج المقدّم
Adapun kewajiban mahar pada istri yang dalam masa iddah raj‘īyah, maka tidak ada alasan kecuali apa yang telah kami sebutkan, yaitu keyakinan bahwa kepemilikan (hak suami atas istri) hilang secara bertahap yang didahulukan.
ثم يحيك في الصدر التوريثُ من الجانبين وأقصى الإمكان فيه أن يقال
Kemudian muncul dalam hati keraguan tentang pewarisan dari kedua sisi, dan batas maksimal kemungkinan dalam hal ini adalah dengan dikatakan:
لا يختص التوريث بحقيقة الزوجية وكيف يختص بهذا والموت يُنهي النكاح فوقع الاكتفاء بعُلقة فيها سلطنةُ الزوج سواء كانت صلبَ النكاح أو تابعةً تستدعي قهر الزوج فإذا ماتت تحت قهره أو مات عنها وهي مقهورة فالتوريث ثابت هذا أقصى الإمكان
Pewarisan tidak khusus pada hakikat pernikahan semata, dan bagaimana mungkin hal itu dikhususkan padanya sementara kematian mengakhiri pernikahan. Maka, dianggap cukup dengan adanya hubungan yang di dalamnya terdapat kekuasaan suami, baik hubungan itu berasal dari inti pernikahan maupun hubungan yang mengikuti yang menuntut adanya kekuasaan suami. Jika istri meninggal dalam keadaan berada di bawah kekuasaan suami, atau suami meninggal sementara istrinya berada di bawah kekuasaannya, maka hak waris tetap berlaku. Inilah batas maksimal yang mungkin.
وليت شعري ماذا نقول إذا قال الرجل زوجاتي طوالق فالرجعيات هل يندرجن تحت مطلق هذا اللفظ كان شيخي يقطع بأنهن يدخلن والوجه عندي تخريج هذا على تردد الأصحاب في أن الرجعية زوجة أم لا وهذا أهون مُحتمَلاً من الأحكام المتناقضة التي ذكرناها
Aku bertanya-tanya, apa yang harus kita katakan jika seseorang berkata, “Istri-istriku tertalak”? Apakah para istri yang dalam masa rujuk termasuk dalam cakupan lafaz umum ini? Guruku berpendapat tegas bahwa mereka termasuk di dalamnya. Menurutku, permasalahan ini dapat dikembalikan pada perbedaan pendapat para ulama mengenai apakah istri yang dalam masa rujuk masih dianggap sebagai istri atau tidak. Ini lebih ringan kemungkinannya dibandingkan dengan hukum-hukum yang saling bertentangan yang telah kami sebutkan.
وقد اختلف القول في أن من قال عبيدي أحرار فهل يدخل المكاتَبون تحت هذا اللفظ أم لا وقد يعترض للفقيه أن الكتابة تُوقِع حيلولةً لازمة بين المَوْلى وبين العبد بخلاف الطلاق الرجعي فإن الأمر في الطلاق وتدارك حرمته إلى الزوج والمسألة على الجملة محتَمَلة
Terdapat perbedaan pendapat mengenai orang yang berkata, “Budak-budakku merdeka,” apakah para mukatab termasuk dalam lafaz ini atau tidak. Seorang faqih dapat berpendapat bahwa akad kitabah menimbulkan penghalang yang tetap antara tuan dan budak, berbeda dengan talak raj‘i, karena urusan talak dan pemulihan status kehalalannya kembali kepada suami. Secara umum, masalah ini masih diperdebatkan.
ومما يتصل بالقول في تحريم الرجعية أن الزوج إذا اشترى زوجته الأمة نُظر فإن اشتراها في صلب النكاح فقد اختلف أصحابنا في أنها هل تحل له من غير استبراء فقال قائلون لا بد من الاستبراء لأنه استحدث ملكاً عليها ومن القواعد الممهدة أن من ملك جارية لم يحل له وطؤها حتى يستبرئها
Terkait dengan pembahasan tentang haramnya rujuk, apabila seorang suami membeli istrinya yang berstatus budak, maka perlu dilihat: jika ia membelinya saat masih dalam ikatan pernikahan, para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah ia boleh menggaulinya tanpa istibra’ (menunggu masa suci). Sebagian berpendapat bahwa istibra’ tetap diperlukan karena ia telah memperoleh kepemilikan baru atas dirinya, dan di antara kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa siapa pun yang memiliki seorang jariyah (budak perempuan), tidak halal baginya menggaulinya sebelum melakukan istibra’.
ومن أصحابنا من قال له أن يستحلّها من غير استبراء بخلاف ما إذا اشترى جارية ليست منكوحتَه فإن من ملك جارية فإنها إذا لم تكن مستحَلَّةً له من قبل فإذا كان الملك المتجدد مترتباً على حظرٍ سابقٍ فلا يمتنع إيجاب الاستبراء وإذا اشترى منكوحته فإنما نقلها من سبب حلٍّ إلى سبب حلٍّ فلا معنى لتخلل الاستبراء بينهما
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia boleh menghalalkannya tanpa harus melakukan istibra’, berbeda halnya jika seseorang membeli budak perempuan yang bukan istrinya. Sebab, siapa pun yang memiliki budak perempuan, jika sebelumnya belum halal baginya, maka apabila kepemilikan yang baru itu didahului oleh larangan sebelumnya, tidak terhalang untuk mewajibkan istibra’. Namun, jika seseorang membeli istrinya, maka ia hanya memindahkan status dari sebab yang halal ke sebab yang halal pula, sehingga tidak ada makna untuk menyisipkan istibra’ di antara keduanya.
ولو طلق زوجته الأمة طلاقاً رجعياً ثم اشتراها في العدة فقد قال الأصحاب لا يحل له وطؤها حتى تنقضي بقيةُ العدة بعد الشراء أو ينقضي الاستبراء كما سنوضحه في التفريع والسبب فيه أنه نقلها من حرمةٍ إلى الملك وليس كما إذا اشترى زوجته فإنه نقلها من حلٍّ إلى حل
Jika seorang suami menceraikan istrinya yang merupakan seorang budak perempuan dengan talak raj‘i, kemudian ia membelinya kembali selama masa ‘iddah, maka para ulama berpendapat bahwa tidak halal baginya untuk menggaulinya hingga sisa masa ‘iddah setelah pembelian itu selesai, atau hingga masa istibra’ selesai, sebagaimana akan dijelaskan dalam rincian. Sebabnya adalah karena ia memindahkan status perempuan itu dari keharaman (karena talak) kepada kepemilikan, dan hal ini berbeda dengan jika seseorang membeli istrinya sendiri, karena dalam kasus itu ia memindahkannya dari status halal ke halal.
فإن قيل أليس لو ارتجعها استحل وطأها وكانت محرمة عليه فاجعلوا طريان ملك اليمين بمثابة طريان الرجعة قلنا ملك اليمين يضادّ النكاح ويتضمّن قطعَه وفسخَه والرجعة تردّها إلى ماكانت عليه من قبلُ فإذا اختلف ملك اليمين والنكاح لم يكن أحدُهما مستدركاً لما وقع في الثاني من خلل
Jika dikatakan, “Bukankah jika ia merujuk istrinya, ia menjadi halal menggaulinya padahal sebelumnya haram baginya? Maka anggaplah terjadinya kepemilikan budak perempuan (milk al-yamīn) sama dengan terjadinya ruju‘.” Kami menjawab: Kepemilikan budak perempuan (milk al-yamīn) bertentangan dengan pernikahan (nikāh) dan mengandung pemutusan serta pembatalannya, sedangkan ruju‘ mengembalikannya kepada keadaan semula. Maka, karena milk al-yamīn dan nikāh berbeda, salah satunya tidak dapat memperbaiki kekurangan yang terjadi pada yang lain.
فيجب إذاً أن نقول من اشترى جاريةً وكانت محرمةً عليه من قبلُ فلا يحل له ابتدارُ وطئها والتسارع إلى غشيانها من غير جريان ما هو استبراء
Maka wajiblah kita mengatakan bahwa siapa saja yang membeli seorang jariyah (budak perempuan) yang sebelumnya haram baginya, maka tidak halal baginya untuk segera menyetubuhinya dan tergesa-gesa menggaulinya tanpa terlebih dahulu menjalankan apa yang disebut istibra’.
ثم إن كان بقي من العدة مقدار قليل والاستبراء يزيد عليه أو كان الباقي
Kemudian, jika sisa masa ‘iddah tinggal sedikit dan masa istibra’ lebih lama dari itu, atau jika yang tersisa…
أكثرَ من الاستبراء فقد قال معظم الأصحاب يُكتفى بأقلِّ الأمرين وقال آخرون لا بد من الاستبراء الكامل وهذا قياس فإنا لو نظرنا إلى ما سبق لقلنا إنها تحل فإن عدتها تؤثر في تحريمها على الغير وليست المعتدة عن الرجل محرمةً عليه للعدة ولكن التحليل يستدعي شيئاً من رجعة أو نكاحٍ مجدد وقد جرى سبب التحليل وهو الملك فلو كنا ببقية العدة وبقية العدة ليست استبراء لكانت العدة مؤثرة في تحليلها له
Lebih dari sekadar istibra’, mayoritas para ulama berpendapat cukup dengan yang paling sedikit di antara keduanya, sementara sebagian lain berpendapat harus dilakukan istibra’ secara sempurna, dan ini adalah qiyās. Sebab, jika kita melihat pada yang telah lalu, kita akan mengatakan bahwa ia menjadi halal, karena masa iddah berpengaruh dalam mengharamkannya bagi orang lain, dan perempuan yang sedang menjalani iddah dari seorang laki-laki tidaklah haram baginya karena iddah. Namun, kehalalan itu memerlukan sesuatu berupa rujuk atau akad nikah baru, dan sebab kehalalan itu telah terjadi, yaitu kepemilikan. Maka, jika kita masih berada pada sisa masa iddah, dan sisa masa iddah itu bukanlah istibra’, berarti iddah berpengaruh dalam menghalalkannya baginya.
وهذا غير سديد
Ini tidaklah tepat.
فانتظم ما ذكرناه أن بقية العدة إن كانت لا تزيد على الاستبراء أو كانت تزيد فالاستبراء كافٍ وإن كانت بقية العدة أقلَّ من الاستبراء ففي المسألة وجهان
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jika sisa masa ‘iddah tidak lebih lama dari masa istibra’ atau lebih lama darinya, maka istibra’ sudah mencukupi. Namun, jika sisa masa ‘iddah lebih singkat daripada masa istibra’, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
وفي الكلام نوع من الاختلاط فإن الاستبراء بالحيض والعدةُ بالأطهار فكيف يترتب استواء البقية ومدة الاستبراء فلا وجه إذاً لتصوير الاستواء فإجراؤه في الكلام مجاز والحيضة الكاملة لا تقع في العدة إلا وبعدها طهر يتبين انقضاؤه بالطعن في الحيضة الأخرى فإذا كان كذلك فيقع الاكتفاء بالحيضة وإن بقي من العدة بقية طهر فمن أصحابنا من يكتفي بها ومنهم من يشترط حيضاًً
Dalam pembahasan ini terdapat semacam kerancuan, karena istibra’ dilakukan dengan haid, sedangkan ‘iddah dilakukan dengan masa suci. Maka bagaimana mungkin dapat disamakan antara sisa masa dan masa istibra’? Tidak ada alasan untuk membayangkan adanya kesamaan tersebut, sehingga penerapannya dalam pembahasan ini adalah majaz (kiasan). Satu kali haid yang sempurna tidak terjadi dalam masa ‘iddah kecuali setelahnya ada masa suci yang dapat dipastikan berakhirnya dengan masuknya haid berikutnya. Jika demikian keadaannya, maka cukup dengan satu kali haid meskipun masih tersisa masa suci dari ‘iddah. Di antara ulama mazhab kami ada yang mencukupkan dengan satu kali haid, dan ada pula yang mensyaratkan dua kali haid.
وإن فرعنا على وجهٍ بعيد في أن الاستبراء بالطهر كالعدة فينتظم على هذا الوجه البعيد تصوير الاستواء ولكن إذا كان بقي من الطهر بقية فهذه البقية استبراء كامل على هذا الوجه البعيد
Dan jika kita membangun pendapat pada pandangan yang lemah bahwa istibra’ dengan suci itu seperti ‘iddah, maka menurut pandangan yang lemah ini dapat digambarkan adanya kesetaraan. Namun, jika masih tersisa sebagian masa suci, maka sisa masa suci tersebut merupakan istibra’ yang sempurna menurut pandangan yang lemah ini.
وما يتعلق بالاستبراء من هذا الفصل فسيأتي استقصاء القول فيه في كتاب الاستبراء
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan istibra’ dari bab ini, maka pembahasan lengkapnya akan dijelaskan pada Kitab Istibra’.
ولو طلق زوجته ثلاثاًً وكانت مملوكة فلو اشتراها فالمذهب أنه لا يستحل وطأها ما لم تنكِح زوجاً على شرط التحليل فإن الطلقات الثلاث تُثبت حرمةً ممدودةً إلى وطء المحلل والتخلِّي منه
Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan talak tiga, lalu istrinya itu adalah seorang budak, kemudian ia membelinya, maka menurut mazhab, ia tidak halal menggaulinya kecuali setelah ia menikah dengan suami lain dengan syarat tahlil. Sebab, talak tiga menetapkan keharaman yang berlanjut hingga terjadi hubungan suami istri dengan muhallil dan berpisah darinya.
ومن أصحابنا من قال يحل له وطء المطلقِة ثلاثاًً بملك اليمين وهذا غريب ووجهه على بعده أن الطلقات الثلاث خاصّيتها تحريمُ عقد النكاح وهو لم ينكحها وإنما ملكها فلو عَتَقت فأراد أن ينكحها لم ينكحها حتى تنكح زوجاً غيره
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa boleh baginya menggauli perempuan yang telah ditalak tiga kali dengan kepemilikan budak, dan ini adalah pendapat yang langka. Dasar pendapat ini, meskipun jauh, adalah bahwa tiga kali talak itu kekhususannya adalah mengharamkan akad nikah, sedangkan ia tidak menikahinya, melainkan memilikinya sebagai budak. Maka jika perempuan itu dimerdekakan lalu ia ingin menikahinya, ia tidak boleh menikahinya sampai perempuan itu menikah dengan suami lain terlebih dahulu.
ولا ينبغي أن يُخطر الفقيهُ بباله أنا إذا فرّعنا على هذا الوجه الضعيف فكأنا أسقطنا حكم الطلقات بالملك فإذا زال الملك كان له أن ينكحها فإن هذا مصير إلى إقامة الملك مقام التحليل وهذا لا يجوز فالوجه ما قدمناه
Tidak sepantasnya seorang faqih membayangkan bahwa jika kita membuat cabang hukum berdasarkan pendapat yang lemah ini, seolah-olah kita telah menghapus hukum talak dengan sebab kepemilikan, sehingga ketika kepemilikan itu hilang, ia boleh menikahinya kembali. Sebab, hal ini berarti menjadikan kepemilikan sebagai pengganti taḥlīl, dan itu tidak diperbolehkan. Maka pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.
فصل قال ولو أشهد على رجعته إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Dan jika ia menghadirkan saksi atas rujuknya,” dan seterusnya.
الإشهاد على الرجعة مأمور به والأصل فيه قوله تعالى فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ والمنصوص عليه في الجديد أنه لا يجب الإشهاد ولكن يستحب وسبب استحبابه مقابلة ما يتوقع من الجحود بشهادة الشهود وقد ندب الله تعالى إلى الإشهاد على المداينات ونصّ الشافعي في القديم على وجوب الإشهاد وبه قال مالك
Disyariatkannya menghadirkan saksi dalam rujuk adalah sesuatu yang dianjurkan, dan dasar hukumnya adalah firman Allah Ta’ala: “Maka pertahankanlah mereka dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian.” Dalam pendapat baru (al-jadid) disebutkan bahwa menghadirkan saksi tidaklah wajib, namun dianjurkan. Alasan dianjurkannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan pengingkaran dengan adanya kesaksian para saksi. Allah Ta’ala juga telah menganjurkan untuk menghadirkan saksi dalam transaksi utang-piutang. Imam Syafi‘i dalam pendapat lama (al-qadim) menegaskan wajibnya menghadirkan saksi, dan pendapat ini juga dipegang oleh Malik.
توجيه القولين من لم يوجب الإشهاد احتج بأن الرجعة في حكم استدامةٍ واستمرارٍ على النكاح السابق ولذلك لم تفتقر إلى الرضا والولي ولا يتصور أن يثبت بسببها مهر وإن سُمِّي فكان الإشهاد فيه مستحباً غيرَ مستحَق
Penjelasan dua pendapat: Mereka yang tidak mewajibkan adanya saksi beralasan bahwa rujuk itu pada hakikatnya merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari pernikahan sebelumnya, sehingga tidak memerlukan kerelaan, wali, dan tidak mungkin menetapkan mahar karenanya, meskipun disebutkan. Maka, menghadirkan saksi dalam hal ini hanya dianjurkan, bukan merupakan suatu keharusan.
ومن نصر القول القديم احتج بظاهر قوله تعالى وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ ومالك رأى الإشهاد في الرجعة ركنَ الرجعة ولم يشترط الإشهادَ في النكاح ولكن اشترط الإعلان بأي جهةٍ تتفق والرجعةُ على الجملة مردّدة في ظن الأصحاب بين النكاح وابتداء العقد وبين الاستدامة والاستصحاب ولما كان الظاهر أن الإشهاد لا يُشترط خرّج القاضي عليه ما ذكره الأصحاب من أن المحرم يرتجع زوجته المطلّقة وإن كان لا ينكِح ابتداء
Orang yang membela pendapat lama berdalil dengan makna lahiriah firman Allah Ta’ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian.” Malik berpendapat bahwa persaksian dalam rujuk merupakan rukun rujuk, namun tidak mensyaratkan persaksian dalam pernikahan, melainkan mensyaratkan adanya pengumuman dengan cara apa pun yang disepakati. Adapun rujuk secara umum, menurut para sahabat (ulama), diperselisihkan antara disamakan dengan pernikahan dan akad baru, atau disamakan dengan kelanjutan dan keberlanjutan (status pernikahan). Karena yang tampak adalah bahwa persaksian tidak disyaratkan, maka Qadhi mengeluarkan pendapat berdasarkan apa yang disebutkan para sahabat (ulama), yaitu bahwa orang yang sedang ihram boleh merujuk istrinya yang telah ditalak, meskipun ia tidak boleh menikah baru.
وذهب شرذمة من الأصحاب إلى أن المُحْرِم لا يصح منه الرجعة
Sekelompok kecil dari para ulama berpendapat bahwa orang yang sedang ihram tidak sah melakukan ruju‘.
قال القاضي هذا الخلاف خارج على أن الإشهاد هل يشترط فإن جعلنا الإشهاد شرطاً فقد أحلَلْنا الرجعة محلَّ النكاح فلا يمتنع أن لا تصح من المحرم كما لا يصح منه ابتداء النكاح وإن لم نشترط الإشهاد على الرجعة فقد أحللناها محلّ الاستدامةَ والإحرامُ لا ينافي استدامةَ النكاح
Kata al-Qadhi, perbedaan pendapat ini berpangkal pada apakah persaksian merupakan syarat atau tidak. Jika kita menganggap persaksian sebagai syarat, maka kita menempatkan rujuk pada posisi seperti akad nikah, sehingga tidak mustahil rujuk tidak sah dilakukan oleh orang yang sedang ihram, sebagaimana akad nikah juga tidak sah baginya. Namun jika kita tidak mensyaratkan adanya persaksian dalam rujuk, maka kita menempatkannya seperti kelanjutan (istidāmah) pernikahan, dan ihram tidak bertentangan dengan kelanjutan pernikahan.
ومما ذكره تخريجاً على ذلك أن العبد إذا طلّق فله المراجعةُ دون إذن السيد قال القاضي هذا إذا لم نشترط الإشهاد فإن شرطنا الإشهاد على الرجعة ونزَّلناها منزلةَ ابتداء النكاح فلا يمتنع أن لا تصح الرجعةُ من العبد إلا بإذن السيد
Di antara hal yang disebutkan sebagai analogi dari itu adalah bahwa jika seorang budak menceraikan istrinya, maka ia berhak merujukinya kembali tanpa izin tuannya. Al-Qadhi berkata, ini berlaku jika kita tidak mensyaratkan adanya saksi. Namun, jika kita mensyaratkan adanya saksi dalam rujuk dan menyamakannya dengan akad nikah baru, maka tidak mustahil bahwa rujuk dari seorang budak tidak sah kecuali dengan izin tuannya.
وهذا الذي ذكره على نهاية البُعد فإنا لا نوجب الإشهاد لكون الرجعة بمثابة عقد النكاح ولا معتمدَ في اشتراط الإشهاد إلا التعلّق بنص القرآن ومن طمع في توجيه هذا القول بمسلك من مسالك المعاني فقد أبعد ولو كان كما ظن لتردد الرأي في اشتراط إذنها وفي اشتراط الولي فلما حصل الوفاق على أنهما لا يُشترطان تبين أن الرجعةَ ليست عقداً ووجوب الإشهاد في القول القديم مربوط بظاهر القرآن كما قدمنا الاستدلال به
Apa yang disebutkan di atas adalah sangat jauh, karena kami tidak mewajibkan adanya saksi dalam ruju‘, sebab ruju‘ tidaklah seperti akad nikah. Tidak ada dasar dalam mensyaratkan adanya saksi kecuali yang berkaitan dengan nash Al-Qur’an. Barang siapa yang berharap untuk mengarahkan pendapat ini melalui salah satu pendekatan makna, maka ia telah jauh menyimpang. Seandainya memang demikian sebagaimana yang disangka, tentu akan timbul keraguan dalam mensyaratkan izin dari istri dan wali. Namun, ketika telah terjadi kesepakatan bahwa keduanya tidak disyaratkan, maka jelaslah bahwa ruju‘ bukanlah sebuah akad. Kewajiban menghadirkan saksi dalam pendapat lama terkait dengan zhahir Al-Qur’an, sebagaimana telah kami kemukakan dalilnya sebelumnya.
وأما ما ذكره في فصل العبد فمما لا أستجيز إلحاقَه بالمذهب وهو قول مسبوق بإجماعٍ للأصحاب على خلافه ولو كان يخرّج من قولِ وجوب الإشهاد قولٌ في أن العبد يحتاج إلى مراجعة سيده في الرجعة من حيث شابهت الرجعةُ النكاحَ في اشتراط الإشهاد لكان أقربُ تفريع على هذا أن يقال لا تصح الرجعة ما لم ترضَ المرأة فإن مدار النكاح على رضاها فإذا لم يُشترط إذنُ المرأة كان اشتراط إذن السيد بعيداً بل الوجه القطع ببطلان ذلك
Adapun apa yang disebutkan dalam bab tentang budak, maka saya tidak membenarkan untuk mengaitkannya dengan mazhab, karena itu adalah pendapat yang telah didahului oleh ijmā‘ para sahabat mazhab atas kebalikannya. Seandainya pendapat bahwa dalam rujuk wajib menghadirkan saksi dijadikan dasar untuk berpendapat bahwa budak membutuhkan izin tuannya dalam rujuk, karena rujuk menyerupai nikah dalam syarat menghadirkan saksi, maka cabang yang lebih dekat dari hal ini adalah dikatakan bahwa rujuk tidak sah kecuali dengan kerelaan istri, sebab inti dari akad nikah adalah kerelaan istri. Jika izin istri saja tidak disyaratkan, maka mensyaratkan izin tuan lebih jauh lagi dari kebenaran. Bahkan yang benar adalah memastikan batalnya pendapat tersebut.
ومما نذكره على الاتصال بهذا أن الرجعة لا تقبل التعليق بالأعذار والأخطار ولا بالصفات التي ستأتي لا محالة بل لا صحة لها إلا من جهة التنجيز كالنكاح والبيع وغيرهما من العقود فلو قال لامرأته مهما طلقتك فقد راجعتك فإذا طلقها لم تثبت الرجعة لما بيّناه من امتناع تعليق الرجعة ولو علق الطلاق بالرجعة فقال لامرأته الجارية في عدة الرجعة مهما راجعتك فأنت طالق فإذا راجعها طلقت
Perlu kami sampaikan pula terkait hal ini bahwa ruju‘ tidak sah dikaitkan dengan alasan-alasan, bahaya-bahaya, maupun sifat-sifat yang pasti akan terjadi, melainkan tidak sah kecuali dengan cara langsung (tanpa syarat), sebagaimana dalam akad nikah, jual beli, dan akad-akad lainnya. Maka jika seseorang berkata kepada istrinya, “Setiap kali aku menceraikanmu, maka aku merujukmu kembali,” lalu ia menceraikannya, maka ruju‘ tersebut tidak sah, sebagaimana telah kami jelaskan tentang tidak bolehnya menggantungkan ruju‘. Namun jika ia menggantungkan talak pada ruju‘, misalnya ia berkata kepada istrinya yang masih dalam masa iddah ruju‘, “Setiap kali aku merujukmu, maka engkau tertalak,” lalu ia merujuknya, maka ia tertalak.
وقد ذهب شرذمة من أصحابنا إلى أن تعليق الطلاق بالرجعة لاغٍ فإن المقصود من الرجعة الإحلال فلا يجوز تعليق نقيضه به وهذا غير معتد به ولولا أن القاضي حكاه لما حكيته
Sekelompok kecil dari kalangan kami berpendapat bahwa menggantungkan talak pada rujuk adalah batal, karena maksud dari rujuk adalah untuk menghalalkan (hubungan suami istri), sehingga tidak boleh menggantungkan lawannya (yaitu talak) pada rujuk. Namun, pendapat ini tidak dianggap. Kalau bukan karena qadhi (hakim) yang meriwayatkannya, niscaya aku tidak akan menyebutkannya.
ثم ذكر الأصحاب نوعاً من الاختلاف متصلاً بفصل الإشهاد وهو قريب المُدرك فنذكره على ما ذكره الأصحاب ثم نعقد فصلاً يجمع بيان أحكام اختلاف الزوجين في الرجعة وانقضاء العدة فنقول
Kemudian para ulama menyebutkan suatu jenis perbedaan pendapat yang berkaitan dengan bab penyaksian, dan hal ini dekat dengan sebabnya. Maka kami akan menyebutkannya sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, kemudian kami akan membuat satu bab yang menghimpun penjelasan hukum-hukum perbedaan pendapat antara suami istri dalam masalah rujuk dan berakhirnya masa ‘iddah. Maka kami katakan:
إذا راجع امرأته وأشهد على ذلك ثم إنها نكحت زوجاً ولم تشعر بالرجعة أو علمتها ولم تبالِ بها فنقول إذا ادعى الزوج تقدم الرجعة على النكاح فإن أقام بينةً تَبيَّن لنا أن النكاح مردود والشافعي يُطلق في مثل هذا المقام الفسخَ فيقول النكاح مفسوخ ومراده بالمفسوخ المردود كما ذكرناه هذا إذا أقام الرجل بيّنة على الرجعة
Jika seorang suami merujuk istrinya dan menghadirkan saksi atas hal itu, kemudian istrinya menikah dengan laki-laki lain tanpa mengetahui adanya rujuk, atau ia mengetahuinya namun tidak menghiraukannya, maka kami katakan: jika suami mengklaim bahwa rujuk terjadi sebelum pernikahan tersebut, lalu ia mendatangkan bukti, maka jelas bagi kami bahwa pernikahan itu batal. Imam Syafi‘i menggunakan istilah “fasakh” dalam situasi seperti ini, beliau mengatakan bahwa pernikahan itu difasakh, dan yang beliau maksud dengan “mufasakh” adalah pernikahan yang batal sebagaimana telah kami sebutkan. Ini berlaku jika suami mendatangkan bukti atas rujuk tersebut.
فإن لم يكن له بيّنة وقد نكحت المرأة زوجاً فإذا ادّعى المطلِّق الأول الرجعةَ نُظر فإن أقرت المرأة بالرجعة لم يُقبل إقرارُها لأنها تُبطل به حقَّ الغير وهو حق الزوج الثاني وإن أنكرت فهل تحلّف هذا مما تمهد في كتاب النكاح والقدرُ المغني في نظم الكلام أنها لو أقرت بعد ما نكحت فإقرارها مردود ولكنها هل تغرَم للمطلِّق الذي ادعى الرجعةَ المهرَ فعلى قولين تمهّد أصلُهما ووضح فرعهما في كتاب النكاح فقال الأئمة عرض اليمين عليها إذا أنكرت يخرِّج على القولين في أنها لو أقرت هل تغرَم للمقر له المهرَ فإن قلنا إنها تغرم فاليمين معروضة عليها فعساها تُقرّ أو تنكُل عن اليمين إذا عُرضت عليها فيحلف المدير يمين الرد ويغرّمُها
Jika ia tidak memiliki bukti dan perempuan tersebut telah menikah dengan suami yang lain, lalu jika mantan suami pertama mengaku telah melakukan ruju‘, maka hal itu perlu diteliti. Jika perempuan tersebut mengakui adanya ruju‘, pengakuannya tidak diterima karena dengan pengakuan itu ia membatalkan hak orang lain, yaitu hak suami kedua. Jika ia mengingkari, apakah ia harus disumpah? Hal ini telah dijelaskan dalam Kitab Nikah, dan penjelasan yang cukup dalam susunan pembahasan ini adalah bahwa jika ia mengakui setelah menikah, maka pengakuannya ditolak. Namun, apakah ia wajib membayar mahar kepada mantan suami yang mengaku telah melakukan ruju‘? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang asal dan cabangnya telah dijelaskan dalam Kitab Nikah. Para imam berkata, penawaran sumpah kepadanya jika ia mengingkari dikembalikan pada dua pendapat tersebut, yaitu jika ia mengakui, apakah ia wajib membayar mahar kepada orang yang diakui. Jika dikatakan ia wajib membayar, maka sumpah ditawarkan kepadanya; bisa jadi ia mengakui atau menolak bersumpah ketika sumpah ditawarkan kepadanya, sehingga pihak yang menuduh bersumpah sumpah balasan dan ia wajib membayar.
وإن قلنا إنها لا تغرَم فلا فائدة في عرض اليمين
Jika kita mengatakan bahwa ia tidak wajib membayar ganti rugi, maka tidak ada manfaat dalam menawarkan sumpah.
ثم إن عرضنا اليمين فجحدت ونكلت وحلف الرجل يمين الرد فالمذهب أن النكاح لا يُردُّ في حق الثاني
Kemudian, jika kami mengajukan sumpah lalu wanita itu mengingkari dan menolak bersumpah, dan laki-laki itu bersumpah dengan sumpah balasan, maka menurut mazhab, akad nikah tidak batal bagi pihak kedua.
وأبعد بعض أصحابنا فقال إذا حكمنا بأن يمين الرد بمثابة البينة المقامة فالنكاح يبطل وترتد هذه إلى النكاح الأوّل
Sebagian ulama kami berpendapat secara lebih jauh, mereka mengatakan bahwa jika kami memutuskan bahwa sumpah penolakan (yamin ar-radd) itu setara dengan bukti yang ditegakkan, maka pernikahan menjadi batal dan perempuan tersebut kembali kepada pernikahan yang pertama.
وقد ذكرت هذا الوجهَ وزيفته في النكاح وبنيت عليه أنا إذا كنا نرى ردّ النكاح فلا يتوقف عرضُ اليمين على مصيرنا إلى أنها تغرَم لو أقرت بل نعرض اليمين ونحن نتوقع ارتداد النكاح الجديد وهذا بعيدٌ لا تعويل عليه ولا أثر عندنا لدخول الزوج الثاني بها خلافاً لمالك وهذا مما قدمته أيضاً في كتاب النكاح
Saya telah menyebutkan pendapat ini dan kelemahannya dalam masalah nikah, dan saya membangun pendapat bahwa jika kita berpendapat untuk menolak akad nikah, maka pengajuan sumpah tidak bergantung pada keputusan kita bahwa ia harus membayar denda jika ia mengaku, melainkan kita tetap mengajukan sumpah sambil menunggu kemungkinan batalnya akad nikah yang baru, dan ini adalah hal yang jauh (lemah) yang tidak bisa dijadikan sandaran. Tidak ada pengaruh menurut kami atas terjadinya hubungan suami istri dengan suami kedua, berbeda dengan pendapat Malik. Hal ini juga telah saya sampaikan sebelumnya dalam kitab nikah.
ولو أراد من يدّعي الرّجعة أن يوجه الدعوى على الزوج فالمذهب أنه لا يجد إلى ذلك سبيلاً لأنّه لا يد للزوج إلا على زوجته فليدّع على الزوجة لا غير
Jika orang yang mengaku melakukan ruju‘ ingin mengajukan gugatan kepada suami, menurut mazhab, ia tidak dapat melakukannya karena suami tidak memiliki hak kecuali atas istrinya. Maka hendaklah ia menggugat istri saja, tidak yang lain.
وذكر العراقيون وجهاً أنه لو أراد أن يدعي على الزوج جاز لاستيلائه حكماً عليها وهذا له غَوْرٌ وغائلةٌ وسنستقصي أسراره في كتاب الدعاوى فليس هذا من خواصِّ كتاب الرجعة
Orang-orang Irak menyebutkan satu pendapat bahwa jika ia ingin mengajukan gugatan terhadap suami, maka hal itu diperbolehkan karena suami secara hukum menguasainya. Pendapat ini memiliki kedalaman dan konsekuensi yang akan kami bahas secara rinci dalam Kitab al-Da‘āwā, karena hal ini bukan termasuk kekhususan Kitab al-Ruj‘ah.
ومما يتعلق بهذا الفصل أن العدة إذا انقضت في ظاهر الحال وادّعى الزوج أنه كان راجعها من قبلُ فأنكرت المرأة الرّجعةَ واقتضى ترتيب المذهب تصديقها مع يمينها كما سنفصل صور اختلاف الزّوجين على أثر هذا إن شاء الله تعالى فلو أنها بعد ما أنكرت الرّجعة وصدقناها عادت فأقرت بجريان الرجعةِ وما كانت نكحت حتى يؤدي إقرارُها إلى إبطال حق الزوج الثاني فقد قال العلماء إقرارها مقبول وإن سبق منها إنكارٌ وهذا قد يعترض فيه إشكال من جهة أن قولها الأول اقتضى تحريمها على ذلك المطلّق وإذا سبق منها قول يدل على تحريمها فقبول نقيض ذلك القول مشكلٌ
Terkait dengan bab ini, apabila masa iddah telah selesai secara lahiriah dan suami mengaku bahwa ia telah merujuk istrinya sebelumnya, namun istri mengingkari rujuk tersebut, maka menurut tata urut mazhab, istri dibenarkan dengan sumpahnya, sebagaimana akan kami rinci bentuk-bentuk perselisihan suami istri akibat hal ini, insya Allah Ta‘ala. Jika setelah mengingkari rujuk dan kita membenarkannya, istri kemudian mengakui bahwa rujuk memang telah terjadi, dan ia belum menikah hingga pengakuannya itu menyebabkan batalnya hak suami kedua, maka para ulama berpendapat bahwa pengakuannya diterima meskipun sebelumnya ia mengingkari. Dalam hal ini terdapat permasalahan, yaitu bahwa pernyataan pertamanya menyebabkan ia menjadi haram bagi suami yang telah mentalaknya. Jika sebelumnya ia telah mengucapkan sesuatu yang menunjukkan keharamannya, maka menerima pernyataan yang bertentangan dengan itu menjadi masalah.
وقد قال الأصحاب إذا قالت المرأة أنا أخت فلان من الرضاع أو النسب ثم أنكرت ذلك وكذّبت نفسها فيما سبق منها فلا يُقبل قولُها الثاني وقد سبق منها الاعتراف بما يوجب الحرمة وهذا من مواقف الاستفراق فقال الأصحاب حرمة الرضاع مؤبّدةٌ مؤكّدة بخلاف حرمة البينونة بانقضاء العدة
Para ulama berkata: Jika seorang wanita mengatakan, “Aku adalah saudara perempuan si Fulan karena hubungan persusuan atau nasab,” kemudian ia mengingkari hal itu dan mendustakan pengakuannya yang terdahulu, maka perkataannya yang kedua tidak diterima, karena sebelumnya ia telah mengakui sesuatu yang menyebabkan keharaman (pernikahan). Ini termasuk salah satu situasi ihtiyāṭ (kehati-hatian). Para ulama juga berkata: Keharaman karena persusuan itu bersifat abadi dan sangat ditekankan, berbeda dengan keharaman karena perpisahan setelah habis masa ‘iddah.
وهذا لا يَشفي مع ثبوت الحرمة في الموضعين والاستفراق في أصل الحرمتين
Hal ini tidak memadai, karena telah tetap adanya keharaman pada kedua tempat tersebut dan adanya perbedaan asal dari kedua keharaman itu.
وقال قائلون الفرق أن الرضاع يتعلق بها وهي أحد الركنين فيه فإقرارها به يكون على ثبتِ وتحقّقٍ فلا يَقبل الرجوعَ والرجعةُ تثبت وهي لا تشعر فلا يمتنع أن تنكرها ثمّ تذكّرَها وتعترفَ بها
Sebagian orang berkata bahwa perbedaannya adalah bahwa dalam kasus radha‘, perempuan terlibat di dalamnya dan ia merupakan salah satu dari dua rukun dalam hal itu, sehingga pengakuannya atasnya didasarkan pada kepastian dan keyakinan, maka tidak diterima baginya untuk menarik kembali pengakuan tersebut. Adapun dalam kasus ruju‘, hal itu dapat terjadi sementara ia tidak menyadarinya, sehingga tidak mustahil baginya untuk mengingkarinya, kemudian mengingatnya dan mengakuinya.
وهذا غير شافٍ أيضاًَ فإن الرضاع يجري في الحولين والمرتضِع لا يشعر به في الغالب وإن شعر به في الحال نسيه وذَهِلَ عنه في المآل فلا خير في هذا الفرق
Ini pun tidak memuaskan, karena penyusuan terjadi dalam dua tahun, dan anak yang disusui pada umumnya tidak menyadarinya; bahkan jika ia menyadarinya saat itu, ia akan melupakannya dan tidak mengingatnya di kemudian hari. Maka, tidak ada manfaat dalam perbedaan ini.
فالوجه إذاً أن نقول اعترافها بأخوّة الرضاع والنسب مستندٌ إلى ثبوت فلم يقبل الرجوع فيه قياساً على الأقارير كلها وجحدُها الرجعة وإن صُدّقت يستند إلى نفي ذلك ولذلك لا تحلف على البتّ بل تحلف على نفي العلم ولا امتناع في أن تقول لا أعلم ثم تعلم
Maka yang tepat adalah kita katakan bahwa pengakuannya tentang persaudaraan karena susuan dan nasab didasarkan pada adanya ketetapan, sehingga tidak diterima pencabutan pengakuan tersebut dengan qiyās kepada seluruh pengakuan lainnya. Sedangkan penolakannya terhadap pencabutan pengakuan, meskipun dibenarkan, didasarkan pada penafian hal itu. Oleh karena itu, ia tidak disumpah secara pasti, melainkan disumpah atas ketidaktahuan, dan tidak mustahil seseorang mengatakan “saya tidak tahu” kemudian menjadi tahu.
ولو ادعت المرأة على الزوج أنه طلقها فأنكر ونكل عن اليمين وحلفت المرأة ثم كذَّبت نفسها فلا معوّلَ على تكذيبها بعد ما ادّعت الطلاق وإن كان كذبُها ممكناً ولا يمتنع صدقُها في القول الثاني ولكن إذا استند قولها إلى إثباتٍ لم يقبل رجوعها
Jika seorang istri mengaku bahwa suaminya telah menceraikannya, lalu suaminya mengingkari dan enggan bersumpah, kemudian sang istri bersumpah, tetapi setelah itu ia mendustakan dirinya sendiri, maka pendustaannya itu tidak dianggap setelah sebelumnya ia mengaku telah ditalak, meskipun pendustaannya itu mungkin saja terjadi dan tidak mustahil ia benar dalam pernyataan keduanya. Namun, jika pernyataannya didasarkan pada suatu penetapan, maka ia tidak diterima untuk menarik kembali pengakuannya.
ولو نكحت المرأة فقالت لم أرض وكانت على صفةٍ يفتقر النكاح إلى رضاها فإنا نصدقها مع يمينها فلو قالت تذكّرت أنّي رضيت فهذا محتمل عندي وإن كان نفياً فإنه نفيٌ تتعلق اليمين الباتّة به فيتجه ألا نصدقها ويظهر أيضاًً أن نصدّقها
Jika seorang wanita dinikahkan lalu ia berkata, “Aku tidak rela,” dan ia termasuk golongan yang pernikahannya memerlukan kerelaannya, maka kami membenarkannya dengan sumpahnya. Jika ia berkata, “Aku teringat bahwa aku telah rela,” maka menurutku hal ini masih mungkin, meskipun itu merupakan penafian, karena penafian tersebut berkaitan dengan sumpah yang tegas, sehingga tampaknya kami tidak membenarkannya. Namun, juga tampak bahwa kami membenarkannya.
ويترتب مما ذكرناه ثلاث مراتب إحداها أن يتعلق الاعتراف بإثباتٍ فلا يُقبل الرجوع عنه إذا كان يتعلق بحق الغير كحق الله في الطلاق
Dari penjelasan yang telah disebutkan, terdapat tiga tingkatan. Pertama, apabila pengakuan itu berkaitan dengan penetapan suatu hal, maka tidak diterima pencabutan pengakuan tersebut jika berkaitan dengan hak orang lain, seperti hak Allah dalam masalah talak.
وما يتعلق بنفي فعل الغير فالرجوع عنه لا يَمتنع قبولُه إلا في حكمٍ واحد وهو أن يتضمن قولُه الأول سقوطَ حقه مثل أن يقول ما أتلف فلانٌ مالي فإذا عاد وادعى الإتلاف على مناقضة ذلك القول لم يقبل منه فإنه بنفي الفعل اعترف بانتفاء استحقاقه
Adapun yang berkaitan dengan penafian perbuatan orang lain, maka pencabutan dari penafian tersebut tidak terhalang untuk diterima kecuali dalam satu hukum, yaitu apabila pernyataan pertamanya mengandung pengakuan atas gugurnya haknya, seperti ketika ia berkata, “Si Fulan tidak merusak hartaku,” kemudian ia kembali dan mengklaim adanya perusakan yang bertentangan dengan pernyataan tersebut, maka klaimnya tidak diterima darinya, karena dengan menafikan perbuatan itu ia telah mengakui hilangnya haknya.
وإذا تعلق الاعتراف أو القول الذي ليس اعترافاً بنفيٍ يتعلق بالنافي كقول المرأة لم أرض مع قولها من بعدُ قد تذكرت أني كنت رضيت فهذا فيه احتمال
Apabila pengakuan atau pernyataan yang bukan merupakan pengakuan berkaitan dengan penafian yang berhubungan dengan orang yang menafikan, seperti ucapan seorang wanita, “Aku tidak rela,” kemudian setelah itu ia berkata, “Aku teringat bahwa aku pernah rela,” maka dalam hal ini terdapat kemungkinan.
ولست أخوض في فصلٍ يتعلق بالتنازع إلاّ وأنا أستشعر منه وَجَلاً لعلمي بأنه لا يمكن الانتهاء إلى استقصاء أطرافه وهو محالٌ على الدعاوى والبينات وسنأتي فيها بالعجائب والآيات إن شاء الله وعندها تنكشف أسرار الخصومات
Aku tidak membahas satu bab pun yang berkaitan dengan perselisihan kecuali aku merasakannya dengan penuh kekhawatiran, karena aku tahu bahwa mustahil untuk menuntaskan seluruh aspeknya. Hal itu berkaitan dengan gugatan dan bukti-bukti, dan kita akan mendatangkan hal-hal yang menakjubkan dan tanda-tanda di dalamnya, insya Allah. Pada saat itulah rahasia-rahasia persengketaan akan terungkap.
فصل قال ولو قال راجعتك قبل انقضاء العدة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Seandainya ia berkata: ‘Aku telah merujukmu sebelum masa iddah berakhir,’ dan seterusnya.”
من أهم ما يجب الاعتناء به وقد كثر تَرْدادُه في الكتب وتردُّدُ الاستشهاد به والطرق مضطربة فيه غاية الاضطراب القولُ في اختلاف الزوج والمرأة في الرجعة وانقضاء العدة ورَأْيُنا في أمثال هذه الفصول أن نأتي بجميع المنقول على ما فيه من الاختلاف ثم ننعطف عليه بالتنقيح والتصحيح وهذا الفصل لا يحتمل هذا المسلك فإن القول فيه يتكرر وينتشر فالوجه أن نأتيَ بمضمون الفصل منقحاً على ما ينبغي ونجمعَ اختلافَ الطرق بعد تقرير البحث في النفس وتعرية الكتاب عن طرق المطالب فنقول
Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan, yang sering disebut-sebut dalam kitab-kitab dan sering dijadikan rujukan, serta jalannya sangat membingungkan, adalah pembahasan tentang perbedaan pendapat antara suami dan istri dalam masalah rujuk dan berakhirnya masa iddah. Pendapat kami dalam bab-bab semacam ini adalah menyajikan seluruh riwayat yang ada beserta perbedaannya, kemudian kami melakukan penelaahan dan koreksi. Namun, bab ini tidak memungkinkan untuk menempuh cara tersebut, karena pembahasannya akan berulang dan meluas. Maka, cara yang tepat adalah menyajikan inti bab ini secara terperinci sebagaimana mestinya, lalu mengumpulkan perbedaan jalur setelah melakukan penelitian secara mendalam dan membersihkan kitab dari jalur-jalur yang tidak perlu. Maka kami katakan:
الكلام في هذا المقصود يتعلق بثلاثة فصول أحدها فيه إذا جرت الرجعة وذكرت المرأة انقضاء العدة وحصل الوفاق على الأمرين ورجع النزاع إلى التقديم والتأخير هذا فصلٌ فنشتغل بما فيه ثم نذكر بعده الفصلين فنقول
Pembahasan dalam maksud ini berkaitan dengan tiga bab. Salah satunya adalah jika terjadi rujuk dan perempuan menyebutkan telah habis masa ‘iddah, serta terjadi kesepakatan atas kedua hal tersebut, lalu perselisihan kembali pada masalah mendahulukan atau mengakhirkan. Ini adalah satu bab, maka kita akan membahas isinya terlebih dahulu, kemudian setelah itu kita sebutkan dua bab berikutnya.
إذا توافق الزوجان على انقضاء العدة وجريان لفظ الرجعة وتنازعا في التقدم والتأخر فالقول في ذلك يتعلق بمسائلَ إحداها أن يتفقا على وقت انقضاء العدّة ويختلفا في وقت الرّجعة نحو أن يتفقا على أن العدة انقضت يوم الجمعة غيرَ أن الزوج زعم أنه ارتجع يوم الخميس المتقدّم على الجمعة وزعمت المرأة أن الرجعة جرت يوم السبت
Jika suami istri sepakat tentang berakhirnya masa iddah dan terucapkannya lafaz rujuk, lalu mereka berselisih mengenai mana yang lebih dahulu atau belakangan, maka permasalahan ini berkaitan dengan beberapa hal. Salah satunya adalah apabila mereka sepakat tentang waktu berakhirnya iddah namun berbeda pendapat mengenai waktu rujuk, misalnya mereka sepakat bahwa iddah telah berakhir pada hari Jumat, tetapi suami mengklaim bahwa ia telah merujuk istrinya pada hari Kamis sebelum Jumat, sedangkan istri mengklaim bahwa rujuk terjadi pada hari Sabtu.
قال المراوزة الآخذون عن القفال شيخي والقاضي والشيخُ أبو علي ومن صنف في طريقته القولُ قول المرأة واعتلّوا بأن انقضاء العدة متفق عليه محكومٌ به والزوج يدّعي رجعةً قبل الوقت المتفق عليه والمرأة تنكر ذلك والأصل عدم الرجعة والمرأة مؤتمنة في انقضاء العدّة وقد أجرى الزوج الرجعة في وقتٍ مضى زمنُ العدّة قبله والعدةُ أوانُ الرجعة ومضطرب سلطان الزوج فيتنزّل هذا منزلة ما لو وَكَّل رجل رجلاً ببيع مالٍ ثم إنه عزله على رؤوس الأشهاد فادعى الوكيل أني كنت بعت المتاع قبل العزل فلا يقبل قول الوكيل كما لا يقبل قول الولي بعد زوال الولاية في تصرفٍ يُقرّ به مستنداً إلى حالة الولاية كما لا يُقبل قول القاضي بعد الانعزال بأني كنت حكمت لفلان بكذا فكذلك إذا ادعى الزوج الرّجعة فالسّبيل فيه ما ذكرناه
Para ulama Marwazi yang mengambil pendapat dari al-Qaffal, yaitu guruku, al-Qadhi, dan Syaikh Abu Ali, serta mereka yang menulis menurut metodenya, berpendapat bahwa yang dipegang adalah ucapan perempuan. Mereka beralasan bahwa berakhirnya masa ‘iddah adalah perkara yang telah disepakati dan telah diputuskan, sementara suami mengaku telah melakukan ruju‘ sebelum waktu yang disepakati tersebut, dan perempuan mengingkari hal itu. Pada dasarnya, tidak ada ruju‘, dan perempuan dipercaya dalam hal berakhirnya masa ‘iddah. Suami telah melakukan ruju‘ pada waktu yang telah berlalu sebelum masa ‘iddah, sedangkan ‘iddah adalah waktu ruju‘ dan kekuasaan suami dalam hal ini tidak tetap. Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang mewakilkan orang lain untuk menjual harta, lalu ia mencabut kuasa itu di hadapan banyak saksi, kemudian si wakil mengaku bahwa ia telah menjual barang tersebut sebelum pencabutan kuasa; maka ucapan si wakil tidak diterima, sebagaimana ucapan wali tidak diterima setelah hilangnya kewalian dalam tindakan yang diakuinya dengan bersandar pada keadaan saat masih menjadi wali, dan sebagaimana ucapan qadhi tidak diterima setelah ia diberhentikan dengan mengaku bahwa ia telah memutuskan perkara untuk si fulan dengan sesuatu. Maka demikian pula jika suami mengaku telah melakukan ruju‘, maka cara penyelesaiannya adalah seperti yang telah kami sebutkan.
وذكر صاحب التقريب والعراقيون في هذه الصورة وجهاً آخر مضاداً لما ذكرناه عن المراوزة وذلك أنّهم قالوا إذا كان الوقت الزماني في العدة متفقاً عليه فالقول قول الزوج في ادعاء الرجعة قبل ذلك
Penulis kitab at-Taqrīb dan para ulama Irak menyebutkan dalam kasus ini pendapat lain yang bertentangan dengan apa yang kami sebutkan dari ulama Marw, yaitu bahwa mereka berkata: Jika waktu yang ditentukan dalam masa iddah telah disepakati, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan suami dalam mengklaim telah melakukan ruju‘ sebelum waktu tersebut.
ووجه هذا أن المرأة إنما تُصدّقُ في إخبارها عن طهر وحيض وقد صُدّقت فانتهى قولها وبقي وراء ذلك ادعاء الزوج رجعةً يوم الخميس المتقدم على الجمعة المتفق عليها الزوجُ يدعيها ولو صُدِّق فيها لما انقضت العدة بل كانت تنقلب إلى صلب النكاح وصدْقُ الزوج ممكن فيها والزوجُ أعرف بالرجعة منها إذ لا يشترط في الرجعة مخاطبتها أو إعلامها فنفيها الرجعةَ بعيد عن القبول
Penjelasannya adalah bahwa perempuan hanya dipercaya dalam pemberitaannya tentang suci dan haid, dan dalam hal ini ia telah dipercaya sehingga perkataannya dianggap selesai. Namun, setelah itu masih ada klaim suami tentang rujuk pada hari Kamis yang mendahului hari Jumat yang telah disepakati. Suami mengklaimnya, dan jika klaim itu dibenarkan, maka masa iddah belum selesai, bahkan kembali menjadi pernikahan yang sah. Kebenaran suami dalam hal ini memungkinkan, dan suami lebih mengetahui tentang rujuk daripada istrinya, karena dalam rujuk tidak disyaratkan adanya pembicaraan atau pemberitahuan kepada istri. Maka penolakan istri terhadap adanya rujuk sulit untuk diterima.
وهذا يعتضد بمسألة اتفق الأصحاب عليها وهي أن الزوج لو أقر بالعنّة لمّا رَفَعت المرأةُ الأمرَ إلى القاضي واقتضى ترتيب القضاء تأجيلَه سنة فإذا انقضت وادّعى الزوج أنه وطئها وأنكرت المرأة الوطء فالأصل عدم الوطء وقد اعتضد ذلك بإقرار الزوج بالعجز والعنة ثم جعلنا القولَ قولَ الزوج مع يمينه تشوفاً إلى استبقاء الزواج فليكن الأمر كذلك في الرجعة
Hal ini dikuatkan oleh suatu permasalahan yang telah disepakati oleh para ulama mazhab, yaitu apabila seorang suami mengakui dirinya impoten setelah istrinya mengadukan perkara tersebut kepada hakim, dan proses peradilan menuntut penundaan selama satu tahun. Jika setelah masa itu berlalu, suami mengaku telah menggauli istrinya, sementara istri mengingkari adanya hubungan suami istri, maka hukum asalnya adalah tidak terjadi hubungan tersebut. Hal ini juga dikuatkan dengan pengakuan suami atas ketidakmampuannya dan impotensinya. Namun, kami tetap menjadikan pernyataan suami sebagai pegangan dengan sumpahnya, demi menjaga kelangsungan pernikahan. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku dalam masalah ruju‘.
وهنا مزيد ترجيح وهو أنها في الغالب تشعر بالوطء وقد لا تشعر بالرجعة
Di sini terdapat penguatan tambahan, yaitu bahwa pada umumnya seorang perempuan merasakan adanya hubungan badan, namun bisa jadi ia tidak merasakan adanya rujuk.
فإن أُلزم هذا القائلُ ادعاءَ الوكيل البيع بعد جريان العزل مع إسناده البيع إلى ما قبل العزل فسبيل الجواب أنا إنما نصدّق الوكيل في البيع من جهة أنه قادر على إنشاء البيع ومن الأصول الممهّدة أن من قدر على إنشاء شيء فخبره عنه مقبول هذا هو الذي يوجب تصديقَ الوكيل لا غيرُ وإلا فلا يتحقق في الموكَّل بالبيع ما يتحقق في المودَع والدليل عليه أن المودَع لو ادعى ردَّ الوديعة على غير المودِع بأمر المودِع فقد لا يصدق وبيع الوكيل يتعلق بثالث فاستبان أنه ليس على قانون الودائع والأمانات فإذا انقطع سلطانه ظاهراً استحال قبول قوله وأما جانب الزّوج فإنه يعتضد بما جعلناه عُهدة الكلام من استبقاء النكاح والاستشهاد بالوطء
Jika orang yang berpendapat ini dipaksa untuk mengklaim bahwa wakil melakukan penjualan setelah pemecatan berlangsung, sementara ia menyandarkan penjualan itu pada waktu sebelum pemecatan, maka cara menjawabnya adalah: Sesungguhnya kita membenarkan wakil dalam penjualan karena ia mampu melakukan akad penjualan, dan dari kaidah yang telah ditetapkan bahwa siapa pun yang mampu melakukan suatu perbuatan, maka beritanya tentang hal itu dapat diterima. Inilah yang menyebabkan kita membenarkan wakil, tidak ada alasan lain. Jika tidak demikian, maka pada wakil penjualan tidak berlaku apa yang berlaku pada orang yang menerima titipan (mudi‘). Buktinya, jika orang yang menerima titipan mengklaim telah mengembalikan barang titipan kepada selain orang yang menitipkan atas perintah si penitip, bisa jadi ia tidak dipercaya. Sementara penjualan oleh wakil berkaitan dengan pihak ketiga, sehingga jelas bahwa hal itu tidak mengikuti kaidah titipan dan amanat. Maka, jika kekuasaannya telah terputus secara lahiriah, tidak mungkin menerima pengakuannya. Adapun pada pihak suami, ia didukung oleh apa yang telah kami jadikan sebagai dasar pembicaraan, yaitu upaya mempertahankan pernikahan dan pembuktian dengan adanya hubungan suami istri.
وقد ينقدح لصاحب الوجه الآخر أن يقول الطلاق قاطع للنكاح والزوج يدعي استدراكاً وفسخ المرأة بالعنة إنشاء قطع فيتجه ثَمَّ الاستبقاء فإن النكاح بعيد عن الفسخ وهاهنا انثلم النكاح بالطلاق وإن كان الزوج على سلطنته في التدارك فهذا سرّ التوجيه
Mungkin terlintas dalam benak pihak yang memilih pendapat lain untuk mengatakan bahwa talak memutuskan pernikahan, dan suami mengklaim adanya kemungkinan pemulihan, sedangkan pembatalan oleh istri karena ‘inah merupakan penciptaan pemutusan, sehingga di sana relevan adanya upaya mempertahankan (pernikahan). Sebab, pernikahan itu jauh dari pembatalan, namun di sini pernikahan telah terpecah oleh talak. Meskipun suami masih memiliki otoritas untuk melakukan pemulihan, inilah inti dari argumentasi tersebut.
وذكر صاحب التقريب في هذه الصورة وجهاً ثالثاً لا يكاد يفهم إلا بتقديم المعنى الذي يُنتجه فنقول تصديق الزوج في الرجعة أصلٌ على قياس الاستبقاء وتصديقُ المرأة في انقضاء العدة أصلٌ فهما متقابلان فمن سبق إلى دعواه فالحكم له
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dalam kasus ini pendapat ketiga yang hampir tidak dapat dipahami kecuali dengan mendahulukan makna yang dihasilkannya, yaitu: pembenaran terhadap suami dalam masalah rujuk merupakan asal menurut qiyās istibqā’ (prinsip mempertahankan status), dan pembenaran terhadap istri dalam masalah berakhirnya masa iddah juga merupakan asal. Keduanya saling berlawanan, maka siapa yang lebih dahulu mengajukan klaimnya, dialah yang diputuskan hukum untuknya.
فإن قال الزوج أولاً قد راجعتك يوم الخميس فقالت المرأة انقضت عدتي يوم الجمعة وما راجعتَ يوم الخميس فالزوج هو المصدَّق مع اليمين والسبب فيه أنّه أنشأ دعوى الرّجعة منتظماً مع تمادي العدة فإذا ذكرت الانقضاءَ بعد هذا القول قيل لها وقع الحكم بالرجعة ورؤيتُك الدمَ بعد هذا لا تكون انقضاء العدة وإنما هو رؤية الحيض في صلب النكاح ولا بدّ مع هذا من تحليف الزوج
Jika suami berkata terlebih dahulu, “Aku telah merujukmu pada hari Kamis,” lalu istri berkata, “Masa idahku telah selesai pada hari Jumat dan engkau tidak merujukku pada hari Kamis,” maka suami yang dibenarkan dengan sumpah. Sebabnya adalah karena ia mengajukan klaim rujuk yang masih berada dalam rentang masa idah. Jika setelah itu istri menyatakan bahwa idah telah selesai, maka dikatakan kepadanya bahwa hukum rujuk telah berlaku, dan melihat darah setelah pernyataan itu bukanlah tanda berakhirnya idah, melainkan itu adalah haid yang terjadi dalam ikatan nikah. Namun demikian, suami tetap harus disumpah.
وإن سبقت المرأة وقالت انقضت عدتي وكان ذلك صحوة يوم الجمعة فقال الزوج بعد قولها قد راجعتك أمس فالقول قول المرأة فإنها لما ذكرت طَعْنَها في الحيض الرابع فقد وقع الحكم بانقضاء العدة فإذا أنشأ الزوج بعد هذا قولَه لم يُقبل منه
Jika seorang wanita lebih dahulu berkata, “Masa idahku telah selesai,” dan itu terjadi pada pagi hari Jumat, lalu setelah ucapannya itu suami berkata, “Aku telah merujukmu kemarin,” maka yang dipegang adalah ucapan wanita. Sebab, ketika ia menyebutkan bahwa ia telah memasuki haid keempat, maka telah berlaku hukum bahwa masa idah telah selesai. Jika setelah itu suami mengucapkan pernyataannya, maka tidak diterima darinya.
وهذا الوجه ارتضاه صاحب التقريب واختاره العراقيون
Pendapat ini disetujui oleh penulis kitab at-Taqrīb dan dipilih oleh para ulama Irak.
وفي الحالة الأخيرة سرٌّ ينبّه على الغرض فإذا قلنا المتبع قولها فاليمين لا تسقط فتحلف بالله لا تعلم أن الزوج راجعها أمس فإنها بيمينها تنفي فعل الغير والزوج إذا كان هو السابق المبتدر فيحلف بالله أنه راجعها فإنّ يمينه تتضمن إثبات قوله
Dalam kasus terakhir terdapat rahasia yang menunjukkan tujuan. Jika kita katakan bahwa yang diikuti adalah perkataannya (istri), maka sumpah tidak gugur, sehingga ia bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui suaminya telah merujuknya kemarin. Dengan sumpahnya, ia menafikan perbuatan orang lain. Dan jika suami adalah pihak yang lebih dahulu dan bersegera, maka ia bersumpah demi Allah bahwa ia telah merujuk istrinya. Sumpahnya mengandung penetapan atas ucapannya.
فقد انتظمت ثلاثة أوجه في هذه الحالة أحدها تصديق الزوج كيف فرض الأمر
Dalam hal ini terdapat tiga kemungkinan, salah satunya adalah menerima keterangan suami, bagaimanapun keadaannya.
والثاني تصديق المرأة مطلقاً
Yang kedua adalah menerima keterangan perempuan secara mutlak.
والثالث النظر إلى من يبتدر قال العراقيون من ابتدر منهما فالحكم لقوله بلا خلاف وإن أنشآ قَوْلَيْهما معاً فحينئذ وجهان أحدهما أن القول قول المرأة وهو فيما حكَوْه اختيار أبي العباس وأبي إسحاق والوجه الثاني ذكره صاحب التقريب وغيرُه أن القول قول الزوج
Yang ketiga adalah melihat siapa yang lebih dahulu mengucapkan. Ulama Irak berpendapat, siapa pun dari keduanya yang lebih dahulu mengucapkan, maka keputusan diambil berdasarkan ucapannya tanpa ada perbedaan pendapat. Namun, jika keduanya mengucapkan pernyataan mereka secara bersamaan, maka ada dua pendapat: pendapat pertama, ucapan istri yang dijadikan pegangan, dan ini adalah pilihan Abu al-‘Abbas dan Abu Ishaq menurut apa yang mereka riwayatkan; pendapat kedua, yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib dan lainnya, adalah ucapan suami yang dijadikan pegangan.
التوجيه من قال القول قول المرأة إذا أنشآ قوليهما معاً قال المرأة مؤتمنة وليست منشئةً أمراً وإنما هي مخبرةٌ عما هي مصدّقة فيه فلا اطلاع عليها إلاّ من جهتها والزوج يدعي إنشاء رجعةٍ على اختيار منه فكان أبعد عن التصديق
Penjelasan: Siapa yang mengatakan bahwa yang dipegang adalah perkataan perempuan jika keduanya menyampaikan pernyataan secara bersamaan, berpendapat bahwa perempuan itu dapat dipercaya dan bukanlah pihak yang menciptakan suatu perkara, melainkan hanya menyampaikan sesuatu yang memang ia dibenarkan di dalamnya, sehingga tidak ada yang dapat mengetahui kecuali dari pihaknya sendiri. Sementara suami mengklaim telah melakukan rujuk berdasarkan pilihannya sendiri, maka klaimnya lebih jauh dari kebenaran.
ومن قال القول قول الزوج احتج بأن قال المرأة لا تخبر عن انقضاء العدة وإنما تخبر عن مَرِّ أطهارٍ وحِيَضٍ والزوج يُخبر عما ملّكه الله من الرجعة فكان قوله أوْلى بالقبول وهذا إذا ضَمْمناه إلى ما تقدّم انتظم من المجموع أوجهٌ ونحن نرى إعادةَ جميعها
Dan orang yang berpendapat bahwa yang dipegang adalah perkataan suami, berdalil dengan mengatakan bahwa perempuan tidak memberitakan tentang berakhirnya masa ‘iddah, melainkan hanya memberitakan tentang telah berlalu masa suci dan haid, sedangkan suami memberitakan tentang apa yang Allah berikan kepadanya berupa hak ruju‘, maka perkataannya lebih utama untuk diterima. Jika kita gabungkan hal ini dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya, maka dari keseluruhan terkumpul beberapa sisi pendapat, dan kami memandang perlu untuk mengulang semuanya.
فمن أصحابنا من صدّق المرأة مطلقاً
Sebagian dari ulama kami membenarkan (kesaksian) perempuan secara mutlak.
ومنهم من صدق الرجلَ مطلقاً
Dan di antara mereka ada yang membenarkan laki-laki itu secara mutlak.
ومنهم من قال المصدّق منهما من يبتدر ثم من يدعي الابتدار يُفرِّعُ ويقول إن صدر القولان منهما معاً فوجهان
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dianggap benar di antara keduanya adalah siapa yang lebih dahulu memulai, kemudian siapa yang mengaku telah memulai lebih dahulu, maka ia mengaitkan (hukum) dan berkata: Jika kedua ucapan itu keluar dari keduanya secara bersamaan, maka ada dua pendapat.
هذا مجموع ما ذكره الأصحاب في صورة تقدّم الرجعة على يوم الجمعة وتأخرها عنها
Inilah keseluruhan yang disebutkan oleh para ulama dalam kasus talak rujuk yang terjadi sebelum hari Jumat dan yang terjadi setelahnya.
فأما إذا وقع الوفاق على أن الرجعة وقعت يوم الجمعة وقالت المرأة انقضت عدتي يوم الخميس وقال الزوج بل انقضت يوم السبت فهذه الصّورة تجري فيها الوجوه المقدمة ولا نتبرم بإعادتها لمزيدٍ فيها
Adapun jika terjadi kesepakatan bahwa rujuk terjadi pada hari Jumat, lalu istri berkata bahwa masa iddahnya selesai pada hari Kamis, sedangkan suami berkata bahwa masa iddah selesai pada hari Sabtu, maka dalam kasus ini berlaku pendapat-pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan kita tidak merasa keberatan untuk mengulanginya karena terdapat tambahan di dalamnya.
قال المراوزة القول قول الزوج لأن الرجعة وقع الوفاق على جريانها والمرأة ادعت انقضاء العدة والأصل بقاؤها
Para ulama mazhab Marwazi berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan suami, karena dalam masalah ruju‘ telah terjadi kesepakatan bahwa ruju‘ itu berlaku, sementara istri mengklaim bahwa masa ‘iddah telah selesai, padahal asalnya masa ‘iddah itu masih tetap ada.
وقال صاحب التقريب والعراقيون القول قول المرأة فإنها تقول ما يقوله الزوج صورةً ولفظاً اتفقنا عليه فانتهى قول الزّوج نهايته وأنا ادعيت انقضاء العدة قبل هذا الوقت فلزم تصديقي
Penulis kitab at-Taqrīb dan para ulama Irak mengatakan bahwa yang dipegang adalah ucapan perempuan, karena ia mengucapkan apa yang diucapkan suami baik secara lahir maupun secara lafaz, dan kita telah sepakat atas hal itu. Maka, ketika ucapan suami telah berakhir, aku mengklaim bahwa masa ‘iddah telah selesai sebelum waktu ini, sehingga wajib membenarkanku.
ومن أصحابنا من فَصَل بين أن تبتدر وتقولَ أو يسبق الزوج فيقولَ كما مضى ثم التفريع على وجه الابتدار يجري على النسق المقدم
Sebagian dari ulama kami membedakan antara jika istri yang lebih dahulu mengucapkan atau suami yang lebih dahulu mengucapkan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kemudian penjabaran hukum pada kasus istri yang lebih dahulu mengucapkan berjalan sesuai urutan yang telah disebutkan sebelumnya.
والذي نَزيده في هذه الصورة أن قول الزوج قد راجعتك أمس مع الوفاق على وقت انتهاء صور الأقراء ادّعاءُ رجعةٍ فيما سبق بعد ظهور انقطاع سلطانه بالوفاق على وقت انقضاء مدة العدة فكان ذلك شبيهاً بدعوى الوكيل بعد العزل أما إذا وقع الوفاق على لفظ الرجعة ووقتِه فقول المرأة قد كانت عدتي منقضيةً قبلُ ليس إنشاءَ أمرٍ منها ولا إخباراً بإنشاء أمرٍ فيما سبق بل أخبرت عما رأت قبلُ وهي مؤتمنة فيما تُخبر عنه إذ لا مطّلع عليه إلا من جهتها وهذا المعنى الموجب لتصديقها يستوي فيه الصور كلُّها وهذا حسن بالغ ومقتضاه أن نغلّب في الصورة الأولى تصديقَها كما مضى ونغلبَ في هذه الصورة تصديقَها وهذا بعينه هو الوجه الذي حكاه العراقيون عن أبي العباس بن سريج وأي إسحاق وما ذكرناه تنبيهٌ على وجه التوجيه فيه
Yang kami tambahkan dalam kasus ini adalah bahwa pernyataan suami, “Aku telah merujukmu kemarin,” dengan kesepakatan mengenai waktu berakhirnya masa haid, merupakan klaim rujuk terhadap masa lalu setelah tampak berakhirnya kekuasaannya karena adanya kesepakatan tentang waktu berakhirnya masa ‘iddah. Maka hal itu serupa dengan klaim seorang wakil setelah ia diberhentikan. Adapun jika kesepakatan terjadi atas lafaz rujuk dan waktunya, maka pernyataan istri, “Masa ‘iddahku telah selesai sebelumnya,” bukanlah penciptaan perkara baru darinya, dan bukan pula pemberitahuan tentang penciptaan perkara baru di masa lalu, melainkan ia mengabarkan apa yang telah ia saksikan sebelumnya, dan ia dapat dipercaya dalam apa yang ia kabarkan karena tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali dari pihaknya. Makna inilah yang mewajibkan untuk membenarkannya dalam seluruh kasus, dan ini sangat baik. Konsekuensinya adalah bahwa dalam kasus pertama kita lebih menguatkan kebenaran pernyataannya, sebagaimana telah dijelaskan, dan dalam kasus ini pun kita lebih menguatkan kebenaran pernyataannya. Inilah tepatnya pendapat yang diriwayatkan oleh para ulama Irak dari Abu al-‘Abbas bin Suraij dan Abu Ishaq. Apa yang kami sebutkan merupakan penjelasan tentang alasan pendapat tersebut.
وقد نجزت مسألتان في هذا الفصل
Dua permasalahan telah selesai dibahas dalam bab ini.
المسألة الثالثة ألا يقع التعرض لوقت الرّجعة ولا لوقت انقضاء العدة ولكن يقول الزوج راجعتك قبل انقضاء العدة وتقول المرأة بل انقضت عدتي قبل الرّجعة كان شيخي فيما سمعتُه وبلّغنيه عنه بعضُ الأثبات يذكر وجهين في هذه الصورة أحدهما أن القول قول الزوج تغليباً لاستبقاء النكاح
Masalah ketiga adalah apabila tidak disebutkan waktu rujuk maupun waktu berakhirnya masa iddah, namun suami berkata, “Aku telah merujukmu sebelum berakhirnya masa iddah,” sedangkan istri berkata, “Masa iddahku telah berakhir sebelum rujuk,” maka guruku, sebagaimana yang aku dengar dan disampaikan kepadaku oleh sebagian orang yang terpercaya, menyebutkan dua pendapat dalam kasus ini. Salah satunya adalah bahwa yang dipegang adalah ucapan suami, dengan pertimbangan untuk lebih mengutamakan kelangsungan pernikahan.
والثاني أن القول قول المرأة تغليباً لائتمانها وتصديقها فيما لا مطّلَع عليه إلا من جهتها بخلاف الرّجعة فإنه يُتصور الإشهاد عليها والإشعار بها
Kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat perempuan, dengan pertimbangan kepercayaan dan pembenaran terhadapnya dalam hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali dari pihaknya, berbeda halnya dengan rujuk, karena dalam rujuk dimungkinkan untuk menghadirkan saksi dan memberitahukannya.
قال ابن سريج إذا تعارض أصلان فالتحريم أغلب وظهر هاهنا اعتبار المبادرة إلى الدعوى فمن سبق فهو المصدّق ومن لا يعتبر المسابقة يفرض صدور اللفظين معاً ويذكر الوجهين كما قدّمنا
Ibnu Suraij berkata, jika dua prinsip bertentangan maka keharaman lebih dominan, dan di sini tampak adanya pertimbangan untuk segera mengajukan klaim; siapa yang lebih dahulu maka dialah yang dibenarkan. Adapun siapa yang tidak mempertimbangkan siapa yang lebih dahulu, maka diasumsikan kedua lafaz itu keluar bersamaan dan disebutkan dua pendapat sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya.
وفي فصل المسابقة والتفريع عليه مزيد شرح لا يتأتى ذكره هاهنا فإن اختلج في نفس الطالب شيء فصبراً حتى ينتهي إليه
Pada bab tentang perlombaan dan cabang-cabang yang berkaitan dengannya terdapat penjelasan lebih lanjut yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini. Maka jika ada sesuatu yang terlintas dalam benak penuntut ilmu, bersabarlah hingga sampai pada pembahasannya.
وقد نجز فصلٌ واحد من الفصول الثلاثة الموعودة
Satu bab dari tiga bab yang dijanjikan telah selesai.
الفصل الثاني
Bab Kedua
فيه إذا وقع الوفاق على الوقت الذي قالت المرأة فيه انقضت عدّتي فقال الزوج قد راجعتك قبل هذا وأنكرت المرأة قوله وما اعترفت بارتجاعه أصلاً والفصل الأول فيه إذا اعترفت بارتجاعه وأنكرت التقدم على وقت انقضاء العدة فأصل لفظه متفق عليه والخلاف في وقته وهاهنا أصل الارتجاع قد أنكرته المرأة
Dalam hal ini, apabila terjadi kesepakatan mengenai waktu yang dikatakan perempuan bahwa masa ‘iddahnya telah selesai, lalu suami berkata, “Aku telah merujukmu sebelum itu,” namun perempuan membantah ucapan suami dan sama sekali tidak mengakui adanya rujuk, maka pembahasan pertama adalah jika perempuan mengakui adanya rujuk namun membantah bahwa rujuk itu terjadi sebelum masa ‘iddah selesai. Jadi, pokok lafaznya telah disepakati, sedangkan perbedaan pendapat terletak pada waktunya. Adapun dalam kasus ini, perempuan justru membantah pokok adanya rujuk itu sendiri.
قال صاحب التقريب هاهنا القول قول المرأة بلا خلاف من غير تفصيل
Penulis kitab at-Taqrīb berkata, di sini pendapat yang diterima adalah pendapat perempuan tanpa ada perbedaan pendapat dan tanpa perincian.
وهذا عندي خطأ صريح فإنها إذا اعترفت برجعةٍ بعد العدّة فذلك الاعتراف لا حكم له فإنها ما أقرّت برجعةٍ وإنما أقرت بالتلفظ بصيغة الرجعة وقال الزوج لو أتيتُ بلفظ الرجعة في الوقت الذي اعترفت المرأة به لكان لغواً غيرَ مفيدٍ فإذاً التنازع يؤول إلى ما ادّعاه الزوج من الرجعة يومَ الخميس هذا مثار الخلاف والاعتراف بقوله يوم السبت باطل فتعود المسائل الثلاث في ذلك بما أجرينا فيها من الأوجه ولا ينبغي للفقيه أن يتمادى فيه
Menurut saya, ini adalah kesalahan yang nyata, karena jika seorang istri mengakui adanya rujuk setelah masa ‘iddah, maka pengakuan tersebut tidak memiliki konsekuensi hukum. Sebab, ia tidak mengakui adanya rujuk, melainkan hanya mengakui pengucapan lafaz rujuk. Sementara suami berkata, “Seandainya aku mengucapkan lafaz rujuk pada waktu yang diakui oleh istri, maka itu hanyalah ucapan sia-sia yang tidak membawa manfaat.” Maka, perselisihan kembali pada apa yang diklaim oleh suami, yaitu rujuk pada hari Kamis. Inilah sumber perbedaan pendapat, dan pengakuan istri atas ucapannya pada hari Sabtu adalah batal. Maka, tiga permasalahan yang terkait kembali pada apa yang telah kami uraikan sebelumnya dari berbagai sisi, dan tidak sepantasnya seorang faqih berlarut-larut dalam hal ini.
الفصل الثالث في تنازع الزوجين والعدة باقية
Bab Ketiga: Tentang Perselisihan Suami Istri Sementara Masa ‘Iddah Masih Berlangsung
فإذا قال الزوج راجعتك أمس وقالت المرأة ما راجعتني أصلاً والعدّة باقية وربما يجري هذا في صدر العدّة
Jika suami berkata, “Aku telah merujukmu kemarin,” sedangkan istri berkata, “Engkau sama sekali belum merujukku dan masa ‘iddah masih berlangsung,” dan hal seperti ini mungkin terjadi di awal masa ‘iddah.
قال صاحب التقريب المذهب أن القول قول الزوج فإنه ادعى الرّجعةَ في وقت لو أراد إنشاءَ الرجعةِ فيه لأمكنه فقوي جانبه بذلك وقُبل قوله فيه
Penulis kitab at-Taqrīb berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan suami, karena ia mengklaim telah melakukan ruju‘ pada waktu yang seandainya ia ingin melakukan ruju‘ saat itu, hal itu memungkinkan baginya. Dengan demikian, posisinya menjadi lebih kuat dan pernyataannya diterima dalam hal ini.
وحكى وجهاً غريباً أن القول قولُ المرأة في نفي الرجعة فيما سبق فإن الأصل عدم الرجعة وبقاءُ أثر الطلاق فإن أراد الزوج تحقيق ما قال فليبتدىء ارتجاعاً
Diriwayatkan satu pendapat yang ganjil bahwa yang dipegang adalah ucapan istri dalam menafikan rujuk terhadap masa lalu, karena pada dasarnya tidak ada rujuk dan bekas talak tetap ada. Maka jika suami ingin menegaskan apa yang ia katakan, hendaklah ia memulai rujuk yang baru.
وهذا بعيد جداً ويلزم على قياس ذلك أن يقال إذا وكل وكيلاً ببيع شيء من ماله فقال الوكيل قد بعته وأنكر الموكِّل بيعَه ولم يعزله عن الوكالة فالقول قول الوكيل لأنّه ادّعى البيع في وقتٍ لو أنشأه لنفذ منه فإنْ طَردَ الخلاف في الوكيل كان هاجماً على خرق الإجماع وإن سلّمه عَسُر الفرق بين رجعة الزوج وتصرف الوكيل وهذا الوجه أراه غلطاً كالوجه الذي ذكره في الفصل الثاني وقد ذكرته الآن
Ini sangat jauh (dari kebenaran), dan jika diqiyaskan atas dasar itu, maka akan dikatakan: jika seseorang mewakilkan kepada seorang wakil untuk menjual sesuatu dari hartanya, lalu sang wakil berkata, “Aku telah menjualnya,” sedangkan sang pemberi kuasa mengingkari penjualan tersebut dan tidak mencabut kuasa dari wakil, maka yang dipegang adalah pernyataan wakil, karena ia mengaku telah melakukan penjualan pada waktu yang jika ia melakukannya saat itu juga, maka sah darinya. Jika perbedaan pendapat dalam masalah wakil ini diteruskan, maka itu berarti menerobos ijmā‘. Dan jika diterima, maka sulit membedakan antara rujuknya suami dan tindakan wakil. Pendapat ini menurutku adalah keliru, sebagaimana pendapat yang disebutkan pada bagian kedua, dan aku telah menyebutkannya sekarang.
فإذا قطعنا بأن القول قول الزوج إذا كانت العدة باقيةً فقد كان شيخي يحكي عن القفال أنّ الإقرار بالشيء في وقت إمكان إنشائه بمثابة إنشائه وإن كان إقراراً على الحقيقة وهذا لست أرى له وجهاً فإن الإقرار نقيضُ الإنشاء فيستحيل أن يفيده ويقوم مقامه والإقرار يدخله الصّدق والكذب بخلاف الإنشاء فإذا أقرّ كاذباً كيف نجعله منشئاً فلا وجه لذلك
Jika kita memastikan bahwa yang dijadikan pegangan adalah ucapan suami selama masa iddah masih berlangsung, maka guruku pernah meriwayatkan dari al-Qaffal bahwa pengakuan terhadap sesuatu pada waktu masih mungkin untuk mewujudkannya, kedudukannya seperti mewujudkannya, meskipun pada hakikatnya itu adalah pengakuan. Namun, aku tidak melihat adanya alasan untuk pendapat ini, karena pengakuan adalah lawan dari penciptaan (insha’), sehingga mustahil pengakuan itu memberikan efek yang sama dan menggantikan kedudukannya. Pengakuan bisa mengandung kebenaran dan kebohongan, berbeda dengan penciptaan (insha’). Maka jika seseorang mengakui secara dusta, bagaimana mungkin kita menganggapnya sebagai penciptaan? Maka tidak ada alasan untuk hal itu.
وكان شيخي يطرد هذا الوجه في الطلاق ويقول الإقرار بالطلاق طلاقٌ عند هذا القائل
Guru saya menolak pendapat ini dalam masalah talak dan beliau mengatakan bahwa pengakuan terhadap talak dianggap sebagai talak menurut pendapat orang yang berpendapat demikian.
وهذا خطأ فإن الشافعي وأصحابَه نصّوا على أنّ من أقر بالطلاق كاذباً فالزوجية قائمةٌ بينه وبين الله ولو كان الإقرار الكاذب طلاقاً واقعاً ظاهراً وباطناًً لما تُصوِّرت مسائل التديين وقد قلنا إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق ونوى الطلاق عن وِثاق لم يقع الطلاق باطناًً ولم نعرف في هذا خلافاً ومن يقول بوقوع الطلاق باطناًً إذا أقر كاذباً وهو لا يبغي الإنشاء بل صرح بإسناد الطلاق إلى ما مضى مخبراً غير موقع فكيف يقع الطلاق باطناً
Ini adalah kesalahan, karena asy-Syafi‘i dan para pengikutnya telah menegaskan bahwa siapa pun yang mengakui talak secara dusta, maka status pernikahan tetap berlaku antara dia dan Allah. Seandainya pengakuan dusta itu menyebabkan talak terjadi secara lahir dan batin, niscaya tidak akan terbayangkan adanya permasalahan at-tadyīn. Kami telah katakan, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” dan ia berniat talak atas ikatan (bukan talak sungguhan), maka talak tidak terjadi secara batin, dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Adapun orang yang berpendapat bahwa talak terjadi secara batin jika seseorang mengaku secara dusta, padahal ia tidak bermaksud melakukan inisiasi (talak), melainkan secara tegas mengaitkan talak pada masa lalu sebagai pemberitahuan, bukan sebagai pelaksanaan, maka bagaimana mungkin talak terjadi secara batin?
فإن قيل نصَّ الشافعيُّ على أنّ من نكح أَمةً ثم أقرّ بأني كنت نكحتها وأنا غير خائف من العنت فهذا طلاق قلنا هذا ضمُّ إشكال إلى إشكال فإنّا نبُعد كونَ الإقرار بالطلاق إنشاء وهذا النص يقتضي أن يكون الإقرار بفساد النكاح إنشاءَ طلاق وهذا كلام متناقض فإن فساد النكاح يمنع وقوعَ الطلاق فلا وجه عندي إلا حمل هذا النص على خللٍ في النقل وليس من الحزم تشويش أصول المذهب بمثل هذا
Jika dikatakan bahwa asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa seseorang yang menikahi seorang budak perempuan, kemudian mengakui, “Aku telah menikahinya sementara aku tidak khawatir terjerumus dalam perzinaan,” maka itu adalah talak, kami katakan bahwa ini menambah kerumitan pada kerumitan yang sudah ada. Sebab, kami menganggap jauh kemungkinan bahwa pengakuan terhadap talak adalah suatu bentuk inisiasi (talak). Dan nash ini mengharuskan bahwa pengakuan atas rusaknya akad nikah merupakan inisiasi talak. Ini adalah pernyataan yang kontradiktif, karena rusaknya akad nikah mencegah terjadinya talak. Maka menurut saya, tidak ada penafsiran lain kecuali menganggap nash ini sebagai kekeliruan dalam periwayatan. Dan tidaklah bijak mengacaukan prinsip-prinsip mazhab dengan hal-hal seperti ini.
فإن قلنا لا يكون الإقرار كالإنشاء وصدقنا الزوج في دعوى الرجعة المضافة إلى أمس فللمرأة أن تُحَلِّفه فإن كل مصدَّق في الخصومات محلَّفٌ في أمثال ما نحن فيه
Jika kita mengatakan bahwa pengakuan tidak sama dengan penciptaan (perbuatan hukum baru), dan kita membenarkan suami dalam klaim ruju‘ yang disandarkan pada kemarin, maka istri berhak meminta suami bersumpah. Sebab, setiap orang yang dibenarkan dalam perkara sengketa dapat diminta bersumpah dalam kasus seperti yang sedang kita bahas ini.
وقد انتهت الفصول الثلاثة وبقيت وراءها مسألةٌ نص الشافعي عليها في المختصر ولم يقفْ عليها المزني ونحن نذكرها ونذكر لَحْن المزني فيها
Tiga bab telah selesai, dan masih ada satu masalah yang telah dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam al-Mukhtashar, namun al-Muzani tidak mengetahuinya. Kami akan menyebutkan masalah tersebut dan menyebutkan kekeliruan al-Muzani di dalamnya.
قال الشافعي ولو قال ارتجعتك اليوم وقالت انقضت عدتي قبل رجعتك صدّقتُها إلا أن تُقرّ بعد ذلك فتكون كمن جحد حقاً ثم أقرّ به هذا لفظ الشافعي
Syafi‘i berkata: “Jika seorang laki-laki berkata, ‘Aku merujukmu hari ini,’ lalu perempuan itu berkata, ‘Masa idahku telah habis sebelum engkau merujukku,’ maka aku membenarkan perempuan itu, kecuali jika ia mengaku setelah itu, maka ia seperti orang yang mengingkari suatu hak lalu mengakuinya kembali.” Inilah redaksi Syafi‘i.
ونحن نقول بعدُ هذه المسألة نصوّرها إنشاء ونصورها إخباراً فإذا أنشأ وقال راجعتك فقالت على الاتصال انقضت عدتي فالرجعة لا تصحّ فإنا لو حكمنا بصحتها لحصلت مع الفراغ من اللفظ وهكذا سبيل كل ما يتعلق بالألفاظ وقولُها إخبار والمخبَر عنه لو صُدّقت يتقدّم على قولها فإن العدة تنقضي ثم تُنشىء على الاتصال إن ابتدرت إخباراً عن انقضاءٍ سابق على أول الخبر وقد ثبت أنها مصدَّقةٌ فإذا قررنا الإنشاء في الرّجعة على حقّه وصدقناها وقع انقضاء العدة مع فراغ الزوج من لفظ الرّجعة فيتبين أنها وقعت في وقتٍ صدّقنا المرأة في انقضاء العدة
Kami katakan setelah permasalahan ini, kita gambarkan kasusnya secara penciptaan (inshā’) dan secara pemberitahuan (ikhbār). Jika suami melakukan penciptaan dan berkata, “Aku merujukmu,” lalu istri berkata secara langsung, “Masa iddahku telah selesai,” maka rujuk tidak sah. Sebab, jika kita memutuskan keabsahannya, maka rujuk itu terjadi setelah selesai pengucapan. Demikian pula halnya dengan semua perkara yang berkaitan dengan lafaz. Adapun ucapan istri adalah pemberitahuan, dan hal yang diberitakan, jika dibenarkan, mendahului ucapannya. Maka iddah telah selesai, kemudian ia membuat pernyataan secara langsung jika ia segera memberitakan tentang selesainya iddah sebelum awal berita itu. Dan telah tetap bahwa ia dibenarkan. Jika kita menetapkan penciptaan dalam rujuk pada tempatnya dan membenarkannya, maka selesainya iddah terjadi bersamaan dengan selesainya suami mengucapkan lafaz rujuk. Maka jelaslah bahwa rujuk itu terjadi pada waktu ketika kita membenarkan perempuan dalam selesainya iddah.
فيه
Di dalamnya.
وحمل معظم الأصحاب قول الشافعي في رسم المسألة على إنشاء الرّجعة منه وإخبارِها على الاتصال إذ لا يتصوّر منها إنشاءُ أمر والعدّة لا تنقضي بالقول حسب حصول الرجعة بالقول وإذا كانت الرجعة توجب الحِلَّ وانقضاءُ العدّة يوجب البينونة فإذا انتفى الموجبان وجب تغليب الحظر فهذا حمل المسألة على إنشاء الرجعة
Mayoritas ulama mazhab membawa pendapat asy-Syafi‘i dalam penulisan masalah ini kepada makna bahwa rujuk dilakukan oleh suami dan pemberitahuan kepada istri dilakukan secara langsung, karena tidak mungkin istri melakukan suatu tindakan (dalam hal ini), dan masa iddah tidak berakhir hanya dengan ucapan, sebagaimana rujuk pun terjadi dengan ucapan. Jika rujuk menyebabkan halal (kembali menjadi suami istri) dan berakhirnya iddah menyebabkan perpisahan, maka apabila kedua sebab tersebut tidak terpenuhi, wajib mengedepankan larangan (yaitu, tidak boleh kembali). Maka, masalah ini diarahkan pada makna terjadinya rujuk.
فإن زعم الزوج أنّي لم أرد بقولي راجعتك إنشاءَ الرجعة وإنما أردت الإخبار عن رجعةٍ سبقت مني فإذا قالت المرأة على الاتصال انقضت عدّتي فهذه المسألة تنعطف على الصور التي تقدّمت فيقع الحكم مثلاً بانقضاء زمن العدة بقولها ونقول للزوج متى راجعتَها فإن زعم أنه راجعها قبل هذا بيوم مثلاً فقوله راجعتك في الحال لا يزاحم خبرَها عن انقضاء العدة حتى يقالَ ابتدر بالدعوى بل قوله صالح للإنشاء وهو صريح فيه وقد ذكرنا أن صريح الإنشاء لا يزاحِم خبرها فهي امرأة مبتدئة بدعوى انقضاء العدة فإذا قال الزوج بعد ذلك قد راجعتها قبل هذا الزمان فهذا كلام مؤخَّر عن قولها وقد سبق التفصيل فيه إذا ابتدرت فادّعت انقضاء العدة ثم ادعى الزوج بعد هذا رجعةً سابقةً
Jika suami mengklaim, “Aku tidak bermaksud dengan ucapanku ‘Aku merujukmu’ sebagai penciptaan rujuk, melainkan aku bermaksud memberitahukan tentang rujuk yang telah aku lakukan sebelumnya,” lalu istri segera mengatakan, “Masa iddahku telah selesai,” maka permasalahan ini kembali pada beberapa gambaran yang telah disebutkan sebelumnya. Maka, hukum ditetapkan misalnya dengan berakhirnya masa iddah berdasarkan ucapan istri, dan kita bertanya kepada suami, “Kapan engkau merujuknya?” Jika ia mengaku bahwa ia telah merujuknya sehari sebelum itu, misalnya, maka ucapannya “Aku merujukmu sekarang” tidak dapat menandingi pernyataan istrinya tentang berakhirnya masa iddah, sehingga dikatakan bahwa ia lebih dahulu dalam pengakuan. Bahkan, ucapannya itu sah sebagai penciptaan rujuk dan itu adalah pernyataan yang jelas. Telah kami sebutkan bahwa pernyataan penciptaan rujuk yang jelas tidak dapat menandingi pernyataan istrinya. Maka, istri adalah pihak yang memulai dengan klaim berakhirnya masa iddah. Jika setelah itu suami berkata, “Aku telah merujuknya sebelum waktu ini,” maka ucapan ini datang setelah pernyataan istri, dan telah dijelaskan rinciannya jika istri lebih dahulu mengklaim berakhirnya masa iddah, kemudian suami setelah itu mengaku telah melakukan rujuk sebelumnya.
هذا بيان المسألة إذا صُوِّرت إنشاءً أو حُمل قولُ الزوج على الإخبار
Ini adalah penjelasan masalah apabila kasusnya dibayangkan sebagai suatu penciptaan (baru) atau apabila ucapan suami dianggap sebagai sebuah pemberitahuan.
ولمّا أورد المزني هذه المسألة جعل الزوج مبتدئاً بدعوى الرّجعة وقدّر المرأة مستأخرة في دعوى الانقضاء ورأى أن الزوج أولى بالتصديق
Ketika al-Muzani mengemukakan masalah ini, ia menjadikan suami sebagai pihak yang memulai dengan klaim rujuk, dan menganggap istri sebagai pihak yang belakangan mengajukan klaim telah habis masa iddah, serta berpendapat bahwa suami lebih berhak untuk dibenarkan.
والذي ذكره قد يتجه إذا تأخّر قولها ولم يتصل وتقدّمت دعوى الرجل فأما إذا قال الزوج راجعتها فقالت على الاتصال انقضت عدتي فلا يتجه إلا إبطالُ الرّجعة فإنّ لفظه صريح في الإنشاء والإنشاءُ باطل مع الخبر المتصل
Apa yang disebutkan itu mungkin dapat diterima jika ucapan perempuan terlambat dan tidak bersambung, sementara klaim laki-laki lebih dahulu. Adapun jika suami berkata, “Aku telah merujuknya,” lalu istri segera menyambung dengan berkata, “Masa idahku telah selesai,” maka yang tepat hanyalah pembatalan ruju‘, karena lafaz suami jelas merupakan pernyataan (ruju‘), dan pernyataan itu batal jika bersambung dengan kabar (selesainya idah) dari istri.
وإن حمله على الإخبار فلفظه المطلق لا يصل لذلك فيقع الحكم بالانقضاء فإن أنشأ بعد ذلك تقديمَ دعوى فهذا مزيد في تصوير المسألة وإتيانٌ بدعوى أخرى مستَفْتَحةٍ
Jika hal itu dianggap sebagai pemberitahuan, maka lafaznya yang mutlak tidak cukup untuk mencapai maksud tersebut sehingga hukum jatuh pada terjadinya pemutusan. Jika setelah itu ia mengajukan klaim mendahulukan, maka ini merupakan tambahan dalam menggambarkan permasalahan dan merupakan pengajuan klaim lain yang baru dimulai.
هذا بيان الأصول والصور في اختلاف الزوجين والله أعلم
Ini adalah penjelasan tentang pokok-pokok dan bentuk-bentuk dalam perbedaan antara suami istri, dan Allah Maha Mengetahui.
فصل قال ولو دخل بها ثم طلقها إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan jika ia telah menggaulinya kemudian menceraikannya, dan seterusnya.”
أراد الشافعي رضي الله عنه بقوله دخل بها خلا بها ثم تعرض للخلاف في ادّعاء الإصابة ونفيِها وقد ذكرنا اختلاف القول في أن الخلوة هل تنزل منزلة الوطء في اقتضاء العدة وتقريرِ المهر فإن نزّلنا الخلوة منزلة الوطء في إيجاب العدّة فالرأي الظاهر الّذي يجب القطع به أن الرجعة تثبت ثبوتَها لو كانت موطوءة
Imam Syafi‘i raḥimahullāh, dengan ucapannya “telah digauli” (dakhala bihā), yang dimaksud adalah telah berduaan (khalā bihā), kemudian beliau membahas perbedaan pendapat dalam klaim terjadinya persetubuhan dan penafiannya. Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat mengenai apakah khalwat (berduaan) dipersamakan dengan jima‘ (hubungan badan) dalam hal mewajibkan ‘iddah dan penetapan mahar. Jika kita mempersamakan khalwat dengan jima‘ dalam mewajibkan ‘iddah, maka pendapat yang paling kuat dan harus dipastikan adalah bahwa hak ruju‘ tetap berlaku sebagaimana jika ia telah digauli.
وقال أبو حنيفة تثبت العدة ولا تثبت الرجعة وحكى الشيخ أبو علي وجهاً مثلَ مذهب أبي حنيفة
Abu Hanifah berkata bahwa iddah tetap berlaku, tetapi hak ruju‘ tidak berlaku. Syaikh Abu ‘Ali meriwayatkan satu pendapat yang serupa dengan mazhab Abu Hanifah.
وهذا لا اتجاه له في القياس فإن العدة إذا ثبتت في مُطَلَّقة من غير عوض ولا استيفاءِ عدد فلا معنى لنفي الرّجعة
Hal ini tidak memiliki arah dalam qiyās, karena jika masa ‘iddah telah ditetapkan bagi perempuan yang ditalak tanpa adanya kompensasi maupun terpenuhinya jumlah talak, maka tidak ada makna untuk menafikan hak rujuk.
قال الشيخ هذا يوجَّه بأن الرّجعة تستدعي عُلقة كاملة فإذا لم يجر سبب العلوق لم تتأكد العُلقة ومقتضى الطلاق القطعُ وإزالةُ الملك
Syekh berkata, hal ini dapat dijelaskan bahwa rujuk memerlukan adanya hubungan (ikatan) yang sempurna, sehingga jika tidak terjadi sebab terjadinya ikatan tersebut, maka hubungan itu tidak menjadi kuat. Sementara konsekuensi dari talak adalah pemutusan dan penghilangan kepemilikan.
ولا حاصل لهذا الكلام فإن العدة تترتب على اشتغال الرحم أو على جريان سبب الاشتغال والعدة بهذا المعنى أخص من الرجعة فإذا لم يبعد وجوب العدة على خلاف قياس موضوعها لم يبعد ثبوت الرجعة
Tidak ada makna yang jelas dari pernyataan ini, karena masa iddah ditetapkan berdasarkan adanya keterisian rahim atau karena adanya sebab yang memungkinkan rahim terisi, dan iddah dalam pengertian ini lebih khusus daripada ruju‘. Maka jika tidak mustahil diwajibkannya iddah yang bertentangan dengan qiyās terhadap pokok hukumnya, maka tidak mustahil pula ditetapkannya hak ruju‘.
وحكى الشيخ أيضاًً وجهين في أنا إذا أوجبنا العدة على المطلقة التي أتاها الزوج في دبرها فهل تثبت الرجعة في مثل هذه العدة أم لا أحدهما تثبت الرجعة وهو القياس
Syekh juga meriwayatkan dua pendapat mengenai apakah, jika kita mewajibkan ‘iddah atas perempuan yang ditalak dan digauli suaminya melalui dubur, maka apakah hak ruju‘ berlaku dalam ‘iddah semacam ini atau tidak. Salah satu pendapat menyatakan hak ruju‘ tetap berlaku, dan inilah yang sesuai dengan qiyās.
والثاني لا تثبت فإن إيجاب العدة في حق المأتيّة في غير المأتَى مرتبط بضروبٍ من التغليظ ويليق بالتغليظ نفيُ الرجعة وهذا الوجه على ضعفه قد يستند إلى ما ذكره الشيخ من التغليظ أما الوجه الذي حكاه في الخلوة فلا وجه له أصلاً
Yang kedua tidak dapat dijadikan dasar, karena mewajibkan ‘iddah bagi perempuan yang digauli pada selain tempat yang semestinya berkaitan dengan berbagai bentuk pengetatan, dan pengetatan itu sesuai dengan meniadakan hak ruju‘. Pendapat ini, meskipun lemah, mungkin bersandar pada apa yang disebutkan oleh Syekh tentang pengetatan tersebut. Adapun pendapat yang dinukilkan mengenai khalwat, sama sekali tidak memiliki dasar.
ومما ذكره الشيخ متصلاً بهذا أنه لو قال لامرأته مهما وطئتك فأنت طالق فإذا وطئها وقع الطلاق واستقبلت العدة بالأقراء إن لم تَعْلَق
Dan di antara yang disebutkan oleh Syekh yang berkaitan dengan hal ini adalah jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Setiap kali aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” maka apabila ia menggaulinya, jatuhlah talak dan masa iddah dengan hitungan quru’ pun dimulai, jika ia tidak hamil.
ثم لو وطئها ورأينا إيجاب المهر بوطء الرجعية فتفصيل القول في المهر لو نزع أو استدام أو نزع وأعاد كتفصيل القول فيه إذا قال إذا وطئتك فأنت طالق ثلاثاًً أو نفرض الاستدامة والنزع والإعادة على جهالة وقد تمهد هذا فيما سبق
Kemudian, jika ia menggaulinya dan kita melihat adanya kewajiban mahar karena menggauli istri yang dalam masa iddah raj‘iyyah, maka rincian pendapat tentang mahar, baik jika ia berhenti, melanjutkan, atau berhenti lalu mengulangi, adalah seperti rincian pendapat dalam kasus ketika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak tiga.” Atau kita menganggap kelanjutan, penghentian, dan pengulangan itu dalam keadaan tidak diketahui, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
وإذا حكمنا بأن الخلوة لا تقرّر المهرَ ولا تحل محل الوطء فلو ادعى الزوج الإصابة وأنكرتها المرأة أو ادّعت المرأة الإصابة لتقرير المهر وأنكرها الرجل ففي المسألة قولان قدمنا ذكرهما في كتاب الصّداق
Jika kita memutuskan bahwa khalwat tidak menetapkan mahar dan tidak menggantikan posisi hubungan badan, maka jika suami mengaku telah melakukan hubungan badan dan istri mengingkarinya, atau istri mengaku telah terjadi hubungan badan untuk menetapkan mahar dan suami mengingkarinya, dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam Kitab Ṣadāq.
فصل قال ولو ارتدّت بعد طلاقه إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan jika seorang istri murtad setelah ditalak, dan seterusnya.”
إذا طلق الرجل امرأته ثم ارتدّ أو ارتدّت فارتجعها في حال رِدّتها أو ردة أحدهما قال الشافعي الرجعة فاسدة لأنها للإحلال والردة تنافي الإحلال وقال المزني إن دامت الردة حتى انقضت العدة فنتبين أن الرجعة وقعت وراء البينونة فإنا نتبين عند استمرار الردّة إلى انقضاء العدة أنها تضمنت قطع النكاح كما وقعت
Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya, kemudian ia murtad atau istrinya yang murtad, lalu ia merujuk istrinya dalam keadaan murtadnya atau murtad salah satu dari keduanya, menurut asy-Syafi‘i, rujuk tersebut tidak sah karena rujuk bertujuan untuk menghalalkan (hubungan suami istri) dan murtad bertentangan dengan kehalalan tersebut. Sedangkan menurut al-Muzani, jika kemurtadan itu berlangsung hingga masa ‘iddah selesai, maka kita mengetahui bahwa rujuk itu terjadi setelah terjadinya bainunah, sebab kita mengetahui ketika kemurtadan terus berlangsung sampai habis masa ‘iddah bahwa hal itu mengandung makna pemutusan pernikahan sebagaimana yang telah terjadi.
وإن زالت الرّدة في مدة العدة فنتبيّن أن الرّجعة واقعةٌ صحيحةٌ لمصادفتها محلَّها تبيُّناً هذا ذكره المزني واختاره لنفسه وله عبارات في اختياراته تارةً يفرط ويسرف ويقول بعد النقل هذا ليس بشيء وما كان كذلك فهو من مفرداته وكلامُه مشعر بمجانبته مذهبَ الشافعي فيما نقله وأخْذِه في مأخذٍ آخر فلا يعد مذهبُه تخريجاً
Jika hilang status riddah dalam masa iddah, maka kita menjadi tahu bahwa ruju‘ yang dilakukan adalah sah, karena terjadi pada tempatnya, demikianlah penjelasannya. Hal ini disebutkan oleh al-Muzani dan ia memilih pendapat ini untuk dirinya sendiri. Dalam pilihannya, terkadang ia berlebihan dan berkata setelah menyampaikan pendapat lain: “Ini bukan apa-apa.” Apa yang demikian itu termasuk pendapat pribadinya. Ucapannya menunjukkan bahwa ia menyelisihi mazhab asy-Syafi‘i dalam apa yang ia nukilkan, dan mengambil jalan lain, sehingga pendapatnya tidak dianggap sebagai hasil takhrij dari mazhab.
وتارة يقول قياس الشافعى خلافُ ما نقلته فإذا قال ذلك فالأوجه عدُّ ما يذكره قولاً مخرجاً للشافعي
Terkadang ia berkata, “Qiyās menurut asy-Syafi‘i berbeda dengan apa yang aku riwayatkan.” Jika ia mengatakan demikian, maka yang lebih tepat adalah menghitung apa yang ia sebutkan sebagai pendapat yang dimarjinalkan dari asy-Syafi‘i.
وإذا لم يتصرف على قياسه وقال الأشبه عندي كان لفظه متردداً بين التصرف على قياس الشافعي مَصيراً إلى أن المعنيّ بقوله هذا أشبهُ أي هذا أشبهُ بمذهب الشافعي ويجوز أن يقال هذا أشبه معناه أشبهُ بالحق ومسلك الظن ولم أر أحداً من أصحابنا يَعُدّ اختيار المزنى فى هذه المسألة قولاً معدوداً من المذهب مخرجاً
Dan apabila ia tidak berfatwa berdasarkan qiyās-nya, lalu berkata, “Menurut saya, yang lebih mendekati adalah…”, maka ucapannya itu masih samar antara berfatwa berdasarkan qiyās Imam Syafi‘i—yakni maksud dari ucapannya “ini yang lebih mendekati” adalah “ini yang lebih mendekati mazhab Syafi‘i”—atau bisa juga dimaknai “ini yang lebih mendekati kebenaran dan jalan dugaan (zhann).” Aku tidak melihat seorang pun dari kalangan sahabat kami yang menganggap pilihan al-Muzani dalam masalah ini sebagai pendapat yang terhitung bagian dari mazhab yang dikeluarkan.
وما ذكره متجه على القياس جداً فإن الردة إذا زالت قبل انقضاء مدة العدة تبيّنا أن النكاح لم ينخرم وأن الملك لم يزُل أصلاً وما مضى كنا نحسَبه من العدة ثم تبينّا أنها لم تخض في العدة بخلاف الرجعية إذا ارتجعها زوجها فإن العدة تنقطع ولا نتبين أنها لم تخض في العدة والإشكال يتأكد بأن الإحرام مع أنه يمنع من ابتداء النكاح لا يمنع من الرجعة على النص والمذهب المعتمد فكان يتجه تخريج الرجعة على الوقف وليست الرجعية بعيدة عن التفريع على الوقف فيما نحن فيه
Apa yang disebutkan sangat sesuai dengan qiyās, karena jika murtad telah hilang sebelum masa ‘iddah berakhir, maka kita mengetahui bahwa pernikahan tidak batal dan kepemilikan (hak suami atas istri) tidak hilang sama sekali. Apa yang telah berlalu sebelumnya kita kira sebagai bagian dari ‘iddah, kemudian ternyata istri tersebut belum memasuki masa ‘iddah. Berbeda dengan talak raj‘i, jika suami merujuk istrinya, maka masa ‘iddah terputus dan kita tidak mengetahui bahwa istri tersebut belum memasuki masa ‘iddah. Permasalahan ini semakin jelas karena ihram, meskipun mencegah dimulainya pernikahan, tidak mencegah rujuk menurut nash dan mazhab yang dipegang. Oleh karena itu, seharusnya rujuk dapat dianalogikan dengan waqf, dan talak raj‘i tidak jauh untuk dirinci berdasarkan waqf dalam permasalahan ini.
ولا خلاف أن المرتدة إذا طُلقت ثم زالت الردة قبل انقضاء أمد العدة فالطلاق واقع وهذا متفق عليه
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seorang perempuan murtad yang ditalak, kemudian ia kembali kepada Islam sebelum masa iddahnya berakhir, maka talaknya tetap berlaku, dan hal ini telah disepakati.
والذي يمكن توجيه النصّ به أن الرّدة إذا تمادت حتى انقضت العدة
Penjelasan yang dapat diberikan terhadap teks tersebut adalah bahwa apabila riddah (kemurtadan) berlangsung terus-menerus hingga masa iddah berakhir.
وقعت البينونة تبيُّناً مع أول جزء من الردة ووقع التمادي بعد البينونة فلا يقع التمادي شرطاً في وقوع البينونة فإن الشرط لا يتأخر عن المشروط ويتحقق بذلك أن الردة تمنع الإقدام على الاستحلال ابتداء ولو فرض زوالها فهي محتَمَلةٌ في دوام النكاح فأما أن تحتَمل في ابتداء تصحيح تحليل ينشأ فلا وينضم إليه ما يقتضيه الشرع من التغليظ على المرتد
Terjadi perpisahan (bainunah) secara jelas dengan bagian pertama dari riddah (kemurtadan), dan kelanjutan setelah perpisahan itu terjadi, sehingga kelanjutan tersebut tidak menjadi syarat terjadinya perpisahan, karena syarat tidak boleh datang setelah sesuatu yang disyaratkan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa riddah mencegah dimulainya tindakan menghalalkan (hubungan) sejak awal, dan sekalipun andaikan riddah itu hilang, ia masih mungkin ditoleransi dalam kelangsungan pernikahan. Namun, untuk menoleransi riddah dalam permulaan pembenaran penghalalan yang baru muncul, maka tidak bisa. Hal ini juga didukung oleh ketentuan syariat yang menetapkan pengetatan terhadap orang yang murtad.
وأما المحرم فلا مجال للمعنى فيه والمتبع في امتناع نكاح المحرم خبرُ الرسول صلى الله عليه والردة تنافي الاستحلال على معنىً معتبر فلا معنى للتصحيح
Adapun ihram, maka tidak ada ruang bagi makna (rasionalisasi) di dalamnya, dan yang diikuti dalam larangan menikah bagi orang yang sedang ihram adalah hadis Rasulullah saw. Sedangkan riddah bertentangan dengan sikap menghalalkan (pernikahan) dalam makna yang dianggap sah, sehingga tidak ada alasan untuk membenarkannya.
وأما الخروج على الوفف فقد ذكرنا توجيهه على رأي المزني ولكن لم يقل به أحدٌ من أئمة المذهب ووجه ردّ الوقف أن الردّة التي وقعت لا نتبين آخراً أنها لم تقع فاقترانها بابتداء الرجعة كاقتران مفسد بالعقد وهو بمثابة ما لو وهب الخمر أو رهنها ثم استحالت خلاً فأقبضَ الخلَّ فالشدّة المقترنة بالعقد تمنع انعقاد العقد وقد تطرأ الشدة بعد الانعقاد فيتوقف على الزوال كما ذكرناه في مسائل الرّهون
Adapun mengenai pembatalan waqaf, kami telah menjelaskan penjelasannya menurut pendapat al-Muzani, namun tidak ada satu pun dari para imam mazhab yang berpendapat demikian. Adapun alasan penolakan waqaf adalah bahwa riddah (kemurtadan) yang terjadi tidak dapat dipastikan di akhirnya bahwa ia tidak terjadi, sehingga keterkaitannya dengan permulaan ruju‘ seperti keterkaitan sesuatu yang merusak pada akad. Hal ini serupa dengan seseorang yang mewakafkan khamar atau menjadikannya sebagai barang gadai, lalu khamar itu berubah menjadi cuka, kemudian ia menyerahkan cuka tersebut; maka unsur yang merusak yang menyertai akad mencegah terjadinya akad. Namun, jika unsur yang merusak itu muncul setelah akad terjadi, maka pelaksanaannya ditangguhkan sampai unsur tersebut hilang, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah-masalah rahn.
وأمّا وقوع الطلاق عند زوال الرّدّة في مدة العدة فليس بدعاً من جهة أن الطلاق تحريم كالرّدة فلا منافاة وقد تبيّن آخراً أن النكاح كان دائماً
Adapun terjadinya talak ketika hilangnya riddah dalam masa iddah, itu bukanlah sesuatu yang aneh, karena talak adalah suatu bentuk pengharaman seperti halnya riddah, sehingga tidak ada pertentangan. Dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa pernikahan tetap berlangsung.
وإذا أردنا تقييد المذهب بمراسم قلنا الوقف الذي رجع إلى الجهالة كالذي يبيع عبداً كان لأبيه في حالة ظنه بقاءه فإذا تبين أن أباه كان ميّتاً والعبد انتقل إلى البائع إرثاً قبل البيع فالضابط في هذا الفن أن ما لا يقبل التعليقَ إذا اقترن به جهلٌ على هذا النسق نُظر فإن لم يكن الجهل مستنداً إلى أصلٍ ماضٍ فلا حكم له وهو بمثابة ما لو باع عبداً حسِبه لغيره ثم تبين له أن العبد كان له فالبيع نافذ
Jika kita ingin membatasi mazhab dengan ketentuan-ketentuannya, kita katakan: wakaf yang kembali kepada ketidakjelasan adalah seperti seseorang yang menjual seorang budak yang dulunya milik ayahnya dalam keadaan ia mengira budak itu masih ada, lalu ternyata ayahnya telah meninggal dan budak itu telah berpindah kepada penjual sebagai warisan sebelum penjualan. Maka kaidah dalam bidang ini adalah bahwa sesuatu yang tidak menerima ta‘liq (penggantungan), jika disertai dengan ketidaktahuan seperti ini, maka perlu dilihat: jika ketidaktahuan itu tidak bersandar pada suatu asal di masa lalu, maka tidak ada hukumnya, dan itu seperti seseorang yang menjual budak yang ia kira milik orang lain, lalu ternyata budak itu adalah miliknya sendiri, maka jual belinya sah.
وإن استند الجهل إلى أصل متقدم كبيع عبد الأب على ظن بقائه إذا تبين أن الأب كان ميتاً وقت البيع ففي المسألة قولان أما الطلاق فإنه لا يندفع بالظنون سواء استندت إلى أصول أو لم تستند
Jika kebodohan itu didasarkan pada suatu asal yang telah ada sebelumnya, seperti penjualan budak oleh seorang ayah dengan dugaan bahwa ia masih hidup, kemudian ternyata ayah tersebut telah wafat pada saat penjualan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Adapun talak, maka talak tidak gugur hanya karena dugaan, baik dugaan itu didasarkan pada asal maupun tidak.
ومما نذكر في ذلك أن الرجل إذا قال لأَمَته إن قيّض الله بيننا نكاحاً فأنت حرة قُبَيْله فإذا نكحها فقد قطع صاحب التقريب ومعظم المحققين بصحة النكاح فإن الإقدام عليه كان على ثبت
Perlu kami sebutkan dalam hal ini, bahwa apabila seorang laki-laki berkata kepada budak perempuannya, “Jika Allah mentakdirkan terjadinya pernikahan antara kita, maka engkau merdeka sesaat sebelum itu,” kemudian ia menikahinya, maka menurut pendapat pemilik kitab at-Taqrīb dan mayoritas ulama yang meneliti, pernikahan tersebut sah, karena tindakan melangsungkan pernikahan itu dilakukan atas dasar keyakinan yang kuat.
وقال بعض الأصحاب هذا يخرج على الوقف وهذا لا أصل له
Sebagian ulama berpendapat, “Ini termasuk dalam hukum waqaf,” namun pendapat ini tidak memiliki dasar.
ومن مراتب الكلام في الوقف ما دُفِعْنا إليه فالمزني ألحق رجعة المرتد والمرتدة بالوقف والشافعي رأى نفس اقتران الرّدة مفسداً للفظ الرجعة وأجرى عدمَ الردّة شرطاً في الصحة والتوقف الذي حسبه المزني ذاك في دوام النكاح لا في إنشاء ما ينشأ على الصحة وينشأ على الفساد فيفسد
Di antara tingkatan pembicaraan tentang waqf adalah apa yang mendorong kita kepadanya, yaitu bahwa al-Muzani menyamakan rujuknya murtad laki-laki dan perempuan dengan waqf, sedangkan asy-Syafi‘i memandang bahwa terjadinya riddah itu sendiri membatalkan lafaz rujuk, dan beliau menjadikan tidak adanya riddah sebagai syarat sahnya rujuk. Adapun sikap tawaqquf yang dianggap oleh al-Muzani itu berkaitan dengan keberlangsungan pernikahan, bukan pada penciptaan sesuatu yang kadang sah dan kadang batal, sehingga menjadi batal.
هذا منتهى القول في ذلك
Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.
باب المطلقة ثلاثاً
Bab tentang perempuan yang ditalak tiga kali
قال الشافعي رضي الله عنه قال الله تعالى في المطلقة الطلقة الثالثة إلى آخره
Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Allah Ta‘ala berfirman tentang perempuan yang ditalak pada talak ketiga hingga akhir ayat.
إذا طلق الرجل الحرُّ امرأته ثلاثاًً أو طلق العبد زوجته طلقتين واستوفى كلُّ واحد منهما أقصى ما أُثبت له من الطلاق فيحرُم عليه عقدُ النكاح عليها حتى تنكِح زوجاً آخر نكاحاً صحيحاً ثم يغشاها الزوج الثاني وينبتُّ النكاح وتُخلي عن العدّة فإذ ذاك يحلّ للزوج المطلِّق تجديدُ النكاح وسبيلها معه كسبيل أجنبيةٍ يبتغي ابتداء نكاحها قال الله تعالى فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ والمعنى فإن طلقها الطلقةَ الثالثةَ فلا تحل له بنكاح حتى تتزوج زوجاً آخر
Jika seorang laki-laki merdeka menceraikan istrinya tiga kali, atau seorang budak menceraikan istrinya dua kali, dan masing-masing dari mereka telah menggunakan batas maksimal talak yang ditetapkan baginya, maka haram baginya untuk mengadakan akad nikah kembali dengan istrinya tersebut sampai istrinya menikah dengan suami lain dengan akad yang sah, kemudian suami kedua tersebut telah berhubungan dengannya, lalu pernikahan mereka berakhir, dan ia telah menyelesaikan masa ‘iddah. Setelah itu, barulah suami yang pertama boleh memperbarui akad nikah dengannya, dan kedudukannya terhadap wanita tersebut seperti orang asing yang ingin memulai pernikahan dari awal. Allah Ta‘ala berfirman: “Jika ia telah menceraikannya (untuk yang ketiga kalinya), maka wanita itu tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan suami yang lain.” Maksudnya, jika ia menceraikannya dengan talak ketiga, maka tidak halal baginya untuk menikahinya kembali sampai ia menikah dengan suami lain.
وليس للإصابة ذكرٌ في القرآن وإنما هي مستفادةٌ من السنة روي أن رفاعة بن رافع طلق امرأته ثلاثاً فتزوجت من عبد الرحمن بن الزبير ثم جاءت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شاكيةً فقالت يا رسول الله إن ما معه مثلُ هُدبة الثوب فقال عبد الرحمن كذبَتْ يا رسول الله والله إني لأعرُكها عرْك الأديم العُكاظي فقال صلى الله عليه وسلم تريدين أن ترجعي إلى رفاعة حتى تذوقي عسيلته ويذوق عسيلتك فشرط الإصابة
Tidak ada penyebutan tentang al-ishābah dalam Al-Qur’an, melainkan hal itu dipahami dari sunnah. Diriwayatkan bahwa Rifa‘ah bin Rafi‘ menceraikan istrinya dengan talak tiga, lalu istrinya menikah dengan ‘Abdurrahman bin az-Zubair. Kemudian ia datang kepada Rasulullah ﷺ mengadukan halnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang ada padanya seperti sehelai benang kain.” Maka ‘Abdurrahman berkata, “Ia berdusta, wahai Rasulullah. Demi Allah, sungguh aku telah menggaulinya sebagaimana menguliti kulit adim ‘Ukaz.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah engkau ingin kembali kepada Rifa‘ah sebelum engkau merasakan manisnya madu darinya dan ia merasakan manisnya madu darimu?” Maka disyaratkan terjadinya al-ishābah.
وقال بعض العلماء جَمْعُ الطلاق مما لا يحبّه الله تعالى والرجلُ إن لم يكن ممنوعاً عنه قولاً صريحاًً فلعل الغرض من إثبات التحليل أن ينكف الرجل عن تطليق التي يضمر معاودتها ثلاثاًً حَذَراً من التحليل الذي يشتد وقعه على كل ذي غَيْرة من الرجال
Sebagian ulama mengatakan bahwa mengumpulkan talak adalah sesuatu yang tidak disukai Allah Ta‘ala, dan seorang laki-laki, meskipun tidak dilarang secara tegas, mungkin tujuan dari penetapan keharusan taḥlīl adalah agar laki-laki menahan diri dari menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istri yang sebenarnya ia berniat untuk rujuk kembali, karena khawatir terhadap taḥlīl yang sangat berat dirasakan oleh setiap laki-laki yang memiliki rasa cemburu.
ثم الكلام يقع في فصول أحدها القول في الجهة التي يشترط حصول الوطء فيها فنقول إذا طلق الرجل زوجته الأمةَ ثلاثاًً فوطئها مولاها بملك اليمين لم يحصل التحليل به وفاقاً والمرعيُّ حصول الوطء في الجهة الكاملة الموضوعة للوطء التي وقع الطلاق فيها
Kemudian pembahasan terletak pada beberapa bagian. Salah satunya adalah pembahasan tentang sisi (status) yang disyaratkan terjadinya persetubuhan di dalamnya. Maka kami katakan: Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya yang berstatus budak sebanyak tiga kali, lalu dia digauli oleh tuannya dengan kepemilikan (sebagai budak), maka hal itu tidak menyebabkan kehalalan (untuk kembali kepada suami pertama) menurut kesepakatan. Yang menjadi tolok ukur adalah terjadinya persetubuhan pada status yang sempurna dan memang diperuntukkan bagi persetubuhan, yaitu status ketika terjadi talak.
ولو نكحت المطلَّقة ثلاثاً نكاح شبهةٍ وحصل الوطء على ظن التحليل ففي حصول التحليل قولان أظهرهما أنه لا يحصل فإنه لم يقع في نكاح ولا معوّل على الظن المخالف للحقيقة
Jika seorang wanita yang telah ditalak tiga kali dinikahi dengan akad syubhat dan terjadi hubungan suami istri dengan dugaan bahwa hal itu dapat menyebabkan halal (kembali kepada suami pertama), maka dalam hal terjadinya kehalalan terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kehalalan tidak terjadi, karena hubungan tersebut tidak terjadi dalam pernikahan yang sah, dan dugaan yang bertentangan dengan kenyataan tidak dapat dijadikan sandaran.
وهذا كما أن الإحصان لا يحصل بالوطء في النكاح الفاسد
Demikian pula, status ihshan tidak diperoleh melalui hubungan suami istri dalam pernikahan yang fasid.
والقول الثاني إن التحليل يحصل لأن النكاح الفاسد ملحق بالصحيح في معظم الأحكام والمعنى الذي ذكرناه فيه متعلِّقاً بالغَيْرة يحصل به وليس التحليل كالإحصان فإن الوطء في الإحصان ركنٌ في إفادة كمال التمتع يُنتج التعرض للعقوبة الكبرى فلئن وُقف على التحقيق لم يبعد
Pendapat kedua menyatakan bahwa taḥlīl terjadi karena nikah fasid disamakan dengan nikah sah dalam sebagian besar hukum, dan makna yang telah kami sebutkan terkait dengan rasa cemburu juga terwujud dengannya. Namun, taḥlīl tidaklah sama dengan iḥsān, karena hubungan badan dalam iḥsān merupakan rukun untuk memperoleh kesempurnaan kenikmatan yang berakibat pada kemungkinan terkena hukuman besar. Maka, jika hal itu digantungkan pada kepastian, tidaklah mustahil.
ثم إذا فرعنا على القول الضعيف فلو وُطئت تلك المرأة بشبهة من غير فرض جريان صورة النكاح فقد اختلف جواب الأئمة فالذي اختاره المحققون أن التحليل لا يحصل به فإنه لم يجر فيما يسمى نكاحاً
Kemudian, jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat yang lemah, maka apabila perempuan tersebut digauli karena syubhat tanpa adanya bentuk pernikahan, para imam berbeda pendapat dalam menjawabnya. Pendapat yang dipilih oleh para muhaqqiq adalah bahwa tahlil tidak terjadi karenanya, karena tidak terjadi sesuatu yang disebut sebagai pernikahan.
ومن يُلحق النكاحَ الفاسدَ بالصحيح فقد يتخيل اندراج النكاح تحت الاسم المطلق مع ثبوت الأحكام والمذكور في كتاب الله النكاحُ
Dan barang siapa yang menyamakan nikah fasid dengan nikah sah, bisa jadi ia membayangkan bahwa nikah termasuk dalam istilah umum dengan tetap berlakunya hukum-hukum, padahal yang disebutkan dalam Kitab Allah adalah nikah (yang sah).
وذهب بعض أصحابنا إلى أن وطء الشبهة بمثابة الوطء في النكاح الفاسد فإن اسم النكاح على الإطلاق لا يتناول الفاسد عندنا فليس في الوطء في النكاح الفاسد إلا ظنُّ الحِل وهذا المعنى متحقق في وطء الشبهة
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa hubungan intim karena syubhat itu sama kedudukannya dengan hubungan intim dalam pernikahan fasid, karena menurut kami, istilah nikah secara mutlak tidak mencakup nikah fasid. Maka, dalam hubungan intim pada nikah fasid itu tidak ada kecuali dugaan adanya kehalalan, dan makna ini juga terwujud dalam hubungan intim karena syubhat.
التفريع
Pencabangan
إن جرينا على أن وطء الشبهة لا يحلل فلا كلام
Jika kita berpegang pada pendapat bahwa hubungan intim karena syubhat tidak menjadikan halal, maka tidak ada pembahasan lebih lanjut.
وإن جعلناه محللاً فالوجه عندنا أن نفرض جريانه على ظن الزوجية فلو ألم بها رجل وحسبها مملوكتَه فحسبان الملك لا يزيد على نفس الملك والوطء في نفس الملك لا يوجب التحليل وسيكون لنا عودٌ إلى تفصيل وطء الشبهة واختلاف الظنون فيه في أحكام الاستيلاد وحرية الولد إن شاء الله
Jika kita menganggapnya sebagai muhallil, maka menurut kami, seharusnya hal itu didasarkan pada dugaan adanya pernikahan. Jika seorang laki-laki menggaulinya dan mengira bahwa ia adalah budaknya, maka persangkaan kepemilikan tidak lebih dari kepemilikan itu sendiri, dan hubungan badan dalam kepemilikan itu sendiri tidak menyebabkan kehalalan (bagi suami pertama). Kami akan kembali membahas secara rinci tentang hubungan badan karena syubhat dan perbedaan dugaan di dalamnya dalam hukum istilad dan status kebebasan anak, insya Allah.
ولو علمت المرأة فساد النكاح وتعرضت لحد الزنا وجهل الزوج أو كان الأمر على العكس فقد ذكرنا أوجهاً في أن تحريم المصاهرة هل يحصل مع الجهل في أحد الجانبين
Jika seorang wanita mengetahui rusaknya akad nikah dan ia terjerumus pada hudud zina, sementara suaminya tidak mengetahui, atau sebaliknya, maka telah kami sebutkan beberapa pendapat mengenai apakah keharaman mushāharah terjadi apabila salah satu pihak tidak mengetahui.
والذي أراه القطع بأن التحليل لا يحصل ما لم يكن الجهل شاملاً لهما فإن العلم إذا ألحق أحدَهما بالزنا استحال تخيُّلُ التحليل مع هذا ولهذا قطعنا القول أن الوطء في نكاح الشبهة يوجب حرمةَ المصاهرة وقلنا القول الأصح أن الوطء في نكاح الشبهة الشاملة للجانبين لا يقتضي التحليل
Menurut pendapat saya, dapat dipastikan bahwa taḥlīl tidak terjadi kecuali jika kebodohan (ketidaktahuan) mencakup kedua belah pihak, karena jika salah satu dari keduanya mengetahui dan menganggapnya sebagai zina, maka mustahil membayangkan terjadinya taḥlīl dalam keadaan seperti ini. Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa hubungan badan dalam nikah syubhat menyebabkan terjadinya keharaman mushāharah, dan kami mengatakan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hubungan badan dalam nikah syubhat yang mencakup kedua belah pihak tidak menyebabkan terjadinya taḥlīl.
فهذا تمام القول في الجهة التي يشترط حصول الوطء فيها
Demikianlah penjelasan lengkap mengenai bagian yang disyaratkan terjadinya hubungan suami istri di dalamnya.
فأما الكلام في الوطء فتغييب الحشفة أو تغييبُ مقدارها إن كانت الحشفة مقطوعة هو المعتبرُ وقد ذكرنا هذا فيما تقدم وأوضحنا أن الأحكام المنوطة بالوطء تحصل جملتُها بما نصصنا عليه
Adapun pembahasan mengenai jima‘, maka yang dianggap adalah masuknya hasyafah atau masuknya bagian yang seukuran hasyafah jika hasyafahnya terpotong. Hal ini telah kami sebutkan sebelumnya dan kami telah menjelaskan bahwa hukum-hukum yang berkaitan dengan jima‘ seluruhnya berlaku dengan apa yang telah kami tegaskan tersebut.
والإتيان في الدّبر لا يفيد التحليل وفاقاً فالذي هو المقصود في الفصل استدخال المرأةِ الفرجَ بالأصبع ولا بد من الاعتناء في ذلك بضبط المذهب فإن حصل الانتشار ووقع الإيلاج مع الاستعانة بالأصبع فهذا وطء وإن كان العضو فاتراً لم يخل إما أن يكون ممن لا يتوقع منه في مثل حده انتشاراً أو كان يتوقع منه انتشار فإن كان ذلك ممن يتوقع منه انتشار ولكن صادف الإدخال والاستدخال فتوراً أو عُنة فالذي أطلقه الأصحاب أن هذا يحصل به التحليل فإن العضو مما يتوقع الإيلاج به وقد حصل الوصول إلى الباطن فلا نظر إلى وصوله بصفته وقوته أو إلى وصوله بإدخال واستدخالٍ
Melakukan hubungan di dubur tidak menyebabkan terjadinya taḥlīl menurut kesepakatan, maka yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah memasukkan jari ke dalam farji wanita. Dalam hal ini, perlu memperhatikan ketentuan mazhab secara cermat. Jika terjadi ereksi dan terjadi penetrasi dengan bantuan jari, maka itu dianggap sebagai hubungan (wath’). Namun, jika alat kelamin dalam keadaan lemas, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dari orang yang pada usianya tidak diharapkan terjadi ereksi, atau dari orang yang masih diharapkan ereksi. Jika itu dari orang yang masih diharapkan ereksi, tetapi saat memasukkan atau dimasukkan sedang lemas atau mengalami impoten, maka menurut pendapat yang dikemukakan para ulama, hal itu sudah cukup untuk terjadinya taḥlīl, karena alat kelamin tersebut pada dasarnya masih diharapkan bisa melakukan penetrasi, dan telah terjadi penetrasi ke bagian dalam, sehingga tidak dipermasalahkan apakah penetrasinya dengan kekuatan dan sifat aslinya atau dengan cara memasukkan atau dimasukkan.
فأما إذا كان الزوج صبيّاً لا يتصور من مثله انتشار كابن أيامٍ فإذا استدخلت المرأة ذلك منه وقد قُبل النكاح له فالذي أطلقه الأصحاب أن التحليل لا يحصل بهذا فإن ذلك إذا لم يكن في مظنة إمكان الوطء لا يسمى وطءاً فلا اعتبار به
Adapun jika suami masih anak-anak yang tidak mungkin terjadi ereksi darinya, seperti bayi yang baru berumur beberapa hari, lalu istrinya memasukkan (kemaluannya) darinya dan akad nikahnya telah sah untuknya, maka pendapat yang dikemukakan oleh para ulama adalah bahwa tahallul (bolehnya menikah kembali dengan suami pertama) tidak terjadi dengan hal ini. Sebab, jika tidak ada kemungkinan terjadinya jima‘, maka hal itu tidak disebut sebagai jima‘, sehingga tidak dianggap (sah) menurut hukum.
وهذا مشكل عندنا وقد وصل الفرج إلى داخل الفرج ولا يجوز أن يكون في وجوب الغسل خلاف وإن منع مانع هذا كان مُبْعِداً وإن سَلَّم أنه وطءٌ تام في الغسل استحال تبعيضُ الأحكام وإن التفت الأصحاب على أن المرعي في وطء المحلّل ما يُنتج انتعاشَ الغَيْرة وهذا إنما يُفرض عند إمكان الوطء فهذا أقرب ما يتمسك به
Ini merupakan persoalan bagi kami, dan telah terjadi bahwa alat kelamin telah masuk ke dalam alat kelamin, sehingga tidak boleh ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya mandi junub. Jika ada yang melarang hal ini, maka itu adalah pendapat yang jauh dari kebenaran. Jika ia mengakui bahwa itu adalah hubungan seksual yang sempurna dalam hal mandi junub, maka tidak mungkin ada pemisahan hukum. Para ulama sepakat bahwa yang menjadi ukuran dalam hubungan seksual yang diperbolehkan adalah apa yang menimbulkan kecemburuan, dan hal ini hanya dapat terjadi jika hubungan seksual itu memungkinkan. Inilah pendapat yang paling mendekati untuk dijadikan pegangan.
وذكر شيخي قولاً غريباً أن وطء الصبي لا يفيد التحليل وإن أولج
Guru saya menyebutkan suatu pendapat yang ganjil, yaitu bahwa persetubuhan dengan anak laki-laki tidak menyebabkan kehalalan (istri bagi suami pertama), meskipun telah terjadi penetrasi.
وهذا لم أره إلاّ له وقد نقلته بعد تكرّر السماع عنه ومصادفتِه في التعاليق وإن صح فوجهه أنه لا يحرِّك الغيرة ولست أعتد بهذا القول من المذهب ولو ذكر هذا التردد في الإدخال من الصبي الذي لا يتصور من مثله الجماع لكان حسناً ولكنه ذكره في غير البالغ وإن ناهز وأولج الفرجَ المنتشر وهذا على نهاية البعد
Hal ini tidak aku temukan kecuali darinya, dan aku menukilkannya setelah berulang kali mendengar darinya dan menemukannya dalam catatan-catatan. Jika memang benar, maka alasannya adalah karena hal itu tidak membangkitkan rasa cemburu. Namun aku tidak menganggap pendapat ini sebagai bagian dari mazhab. Seandainya keraguan ini disebutkan dalam hal memasukkan (kemaluan) dari anak kecil yang tidak mungkin melakukan jima‘, maka itu baik. Akan tetapi, ia menyebutkannya pada selain anak yang belum baligh, meskipun sudah mendekati baligh dan telah memasukkan kemaluannya yang sudah menegang. Ini adalah sesuatu yang sangat jauh (dari kebenaran).
وذكر بعض الأصحاب في التخفيف من الغيرة تزويج المطلقة من عبدٍ صغير إذا قلنا يقبل السيد النكاح لعبده الصغير ثم يولج القدر المرعيَّ ويوهَب العبد منها فينفسخ النكاح
Sebagian ulama menyebutkan bahwa di antara bentuk keringanan dalam masalah kecemburuan adalah menikahkan perempuan yang ditalak dengan seorang budak kecil, jika kita berpendapat bahwa tuan dapat menerima akad nikah untuk budaknya yang masih kecil. Kemudian dilakukan penetrasi sekadar ukuran minimal yang diperhitungkan, lalu budak tersebut dihibahkan kepada perempuan itu sehingga akad nikahnya pun batal.
ولا شك أن وطء الخصي كوطء الفحل
Tidak diragukan lagi bahwa persetubuhan yang dilakukan oleh seorang kasim hukumnya sama dengan persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki yang tidak dikebiri.
ومما نذكره الكلامُ في حالاتِ مُحرّمةِ الوطء مع دوام النكاح فنقول إذا أصابها الزوج صائمة أو مُحْرمة أو حائضاً حلت بالإصابة وإن كانت محرّمةً خلافاً لمالك
Perlu disebutkan juga pembahasan mengenai keadaan-keadaan di mana hubungan suami istri diharamkan meskipun pernikahan tetap berlangsung. Kami katakan, apabila suami menggauli istrinya yang sedang berpuasa, ihram, atau haid, maka hubungan itu tetap sah meskipun dilakukan dalam keadaan yang diharamkan, berbeda dengan pendapat Malik.
ومقصود الفصل أنه لو أصابها وهي مرتدة أو هو مرتد أو أصابها وهي في عدّة الرجعة ثم زالت الردّة فكيف السبيل وهل نقضي بأن التحليل يحصل تكلم الشافعي رضي الله عنه فيما ذكرناه وأنكر المزني تصوّرَ المسألة فإن الردة من غير دخول تبتّ النكاح والطلاق من غير مسيس يستعقب البينونةَ فكيف تصوير المسألة فقيل له إذا استدخلت ماء الرجل تلتزم العدة ولا تحل لزوجها والإتيان في الدبر يوجب العدة ولا يتعلق به التحليل كما قدمناه والخلوة في القول البعيد توجب العدة ولا تحلل فهذا تصوير المسألة
Maksud dari bagian ini adalah, jika seorang suami menggauli istrinya saat ia dalam keadaan murtad, atau suaminya yang murtad, atau ia menggaulinya saat istrinya dalam masa iddah raj‘iyyah, kemudian kemurtadan itu hilang, bagaimana hukumnya dan apakah kita memutuskan bahwa tahlil (halalnya kembali) terjadi? Imam Syafi‘i rahimahullah membahas hal ini sebagaimana telah kami sebutkan, dan al-Muzani mengingkari kemungkinan terjadinya kasus ini, karena kemurtadan tanpa adanya hubungan suami istri memutuskan pernikahan, dan talak tanpa adanya persetubuhan menyebabkan terjadinya bainunah. Maka bagaimana mungkin menggambarkan kasus ini? Kepadanya dijawab: jika seorang wanita memasukkan air mani laki-laki ke dalam rahimnya, ia wajib menjalani iddah dan tidak halal kembali bagi suaminya; bersetubuh melalui dubur mewajibkan iddah namun tidak menyebabkan tahlil sebagaimana telah kami sebutkan; dan khalwat menurut pendapat yang lemah mewajibkan iddah namun tidak menyebabkan halal kembali. Inilah gambaran kasusnya.
فأما الحكم فقد قال الشافعي رضي الله عنه لا يحصل التحليل بالوطء في زمان الردة ولا بوطء الرجعية فإن هذا وطءٌ في ملك مختل
Adapun hukum, Imam Syafi‘i rahimahullah berkata bahwa tidak terjadi taḥlīl dengan jima‘ pada masa riddah, dan tidak pula dengan jima‘ terhadap istri yang dalam masa rujuk, karena ini adalah jima‘ dalam kepemilikan yang tidak sempurna.
قال المحققون إن حكمنا بأن الوطء في النكاح الفاسد يفيد التحليل فلا شك أن الوطء في الردة ووطء الرجعية يفيد التحليل وإن حكمنا بأن الوطء في نكاح الشبهة لا يفيد التحليل فلا شك أن الردة لو دامت حتى انقضت العدة لم يفد التحليل وإن زالت الردة قبل انقضاء العدة فالمسألة حيث انتهينا إليه محتملة أيضاًً وليس الوطء في هذا كالرجعة مع الردة فإن الرجعة في حكم عقد يَفْسُد ويصح فيجوز أن يتخلّف عنه شرط الصحة وأما الوطء فقد بان جريانه في صلب النكاح ولا يتطرق إليه وقفٌ وامتناعٌ بسببه فإن ذلك يليق بالعقود نعم وطء الرجعية قد يفرض في محلّه ضعف فإن الطلاق يزيل الملك على رأي الأصحاب
Para ulama yang teliti mengatakan bahwa jika kita memutuskan bahwa hubungan suami istri dalam pernikahan fasid (batal) dapat menyebabkan kehalalan (bagi suami pertama untuk menikahi kembali istrinya setelah talak tiga), maka tidak diragukan lagi bahwa hubungan suami istri dalam keadaan murtad dan hubungan dengan istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyah juga dapat menyebabkan kehalalan. Dan jika kita memutuskan bahwa hubungan suami istri dalam pernikahan syubhat tidak menyebabkan kehalalan, maka tidak diragukan lagi bahwa jika kemurtadan berlangsung hingga masa iddah selesai, maka itu tidak menyebabkan kehalalan. Namun, jika kemurtadan hilang sebelum masa iddah selesai, maka masalah ini, sebagaimana yang telah kami uraikan, juga masih mungkin terjadi. Hubungan suami istri dalam hal ini tidaklah sama dengan rujuk yang disertai kemurtadan, karena rujuk itu pada hakikatnya seperti akad yang bisa batal dan bisa sah, sehingga syarat sahnya bisa saja tidak terpenuhi. Adapun hubungan suami istri, jelas terjadi dalam inti pernikahan dan tidak ada penangguhan atau pencegahan yang disebabkan olehnya, karena hal itu lebih cocok terjadi pada akad. Memang, hubungan suami istri dengan istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyah bisa saja dianggap lemah dalam konteksnya, karena talak menurut pendapat para ulama yang lebih kuat, menghilangkan kepemilikan (hak suami atas istri).
والمذهب الذي عليه التعويل أن الوطء يوجب المهرَ راجعها أو لم يراجعها والرأي في ذلك أن يَتْبع ما نحن فيه المهرَ فإن لم يراجعها ثبت المهر ولا تحليل وإن راجعها ففي المهر خلافٌ وفي التحليل احتمال
Mazhab yang dijadikan pegangan adalah bahwa hubungan suami istri mewajibkan mahar, baik suami telah merujuk istrinya atau belum. Pendapat dalam hal ini adalah bahwa yang sedang kita bahas mengikuti ketentuan mahar; jika suami tidak merujuk istrinya, maka mahar tetap berlaku dan tidak ada kehalalan (hubungan suami istri). Namun jika suami merujuk istrinya, maka dalam hal mahar terdapat perbedaan pendapat, dan dalam hal kehalalan terdapat kemungkinan (perbedaan pendapat).
وكل هذا إذا لم نجعل الوطء في نكاح الشبهة محللاً ولكن إذا جعلنا الوطء في نكاح الشبهة محللاً فالوجه ألا نجعله محللاً في الردة إذا دامت فإن المرتد على اعتقاد استدامته والله أعلم
Semua ini berlaku jika kita tidak menganggap hubungan suami istri dalam pernikahan syubhat sebagai sesuatu yang dapat menjadi sebab halal, tetapi jika kita menganggap hubungan suami istri dalam pernikahan syubhat sebagai sebab halal, maka yang lebih tepat adalah tidak menganggapnya sebagai sebab halal dalam kasus riddah jika keadaan riddah itu berlangsung terus-menerus, karena orang yang murtad itu berada dalam keyakinan untuk terus-menerus dalam kemurtadannya. Allah lebih mengetahui.
وقد يرد على هذا أن الحد مدفوع عنه في الرأي الظاهر
Mungkin ada yang berpendapat bahwa hudud tidak dikenakan atasnya menurut pendapat yang paling kuat.
ثم قال الشافعي ولو ذكرت أنها نكحت نكاحاً صحيحاً إلى آخره
Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Seandainya disebutkan bahwa ia telah menikah dengan akad nikah yang sah, dan seterusnya.”
إذا طلق الرجل امرأته ثلاثاًً فانسرحت ذاكرةً أنها تنكِح وتسعى في تحليل نفسها فإذا عادت فذكرت أنها نكَحت ووُطئت وتخَلَّت وَحلّت وكان لا يقترن بقولها ما يكذبها قال الأصحاب إن غلب على قلب الزوج صدقُها فله التعويل على قولها وإن شك ولم يترجح له ظن فالورعُ الاجتنابُ
Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya tiga kali, lalu sang istri pergi dengan mengingat bahwa ia harus menikah lagi dan berusaha menghalalkan dirinya, kemudian ia kembali dan mengabarkan bahwa ia telah menikah dan telah digauli serta telah menjalani masa iddah dan telah menjadi halal, dan tidak ada ucapan darinya yang menunjukkan kebohongan, maka para ulama berpendapat: jika suami lebih condong untuk mempercayai kejujurannya, maka ia boleh bersandar pada ucapannya. Namun jika ia ragu dan tidak memiliki dugaan kuat, maka sikap wara‘ adalah meninggalkannya.
ولكن لو عوّل على قولها ونكَحها صح ولو غلب على الظن كذبُها وكان صدقُها ممكناً فلو نكحها فالذي قطع به الأصحاب صحةُ النكاح مع انتهاء الأمر إلى الكراهية
Namun, jika seseorang bersandar pada ucapannya dan menikahinya, maka pernikahan itu sah, meskipun kuat dugaan bahwa ia berdusta, selama kejujurannya masih mungkin. Maka jika ia menikahinya, pendapat yang dipastikan oleh para ulama adalah sahnya pernikahan tersebut, meskipun pada akhirnya hal itu tetap makruh.
وفي بعض التصانيف أنه إذا ظنها كاذبة وعوّل على قولها ونكَحها لم تحل له
Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa jika seseorang menduga perempuan itu berdusta, namun tetap bersandar pada ucapannya dan menikahinya, maka perempuan itu tidak halal baginya.
وهذا غلط صريح وهو من عثرات الكُتّاب والذي قطع به الأمامُ وصاحبُ التقريب والشيخُ أبو علي والعراقيون أن النكاح ينعقد وتحل في ظاهر الحكم وإن غلب على الظن كذبها إذا كان الصدق ممكناً
Ini adalah kesalahan yang nyata dan termasuk kekeliruan para penulis. Imam, penulis kitab at-Taqrib, Syaikh Abu Ali, dan para ulama Irak telah menegaskan bahwa akad nikah tetap sah dan perempuan tersebut halal dinikahi secara lahiriah menurut hukum, meskipun kuat dugaan bahwa ia berdusta, selama kejujuran itu masih mungkin.
وهذا المنقول وإن كان هو المذهب فقد يعترض للفقيه فيه إشكال فإن إثبات النكاح بشهادة الشهود ممكن وكيف لا ولا يصح النكاح إلا بمحضر عدلين ولكن الجواب أن النكاح يُعنى للوطء وإثباتُه عسر والزوج يمتنع عن قيام الشهود عليه فهذا يُفضي إلى حسم الباب ولا يُغني إثباتُ النكاح شيئاً والعسرُ في المقصود قائم
Meskipun pendapat yang dinukil ini merupakan mazhab, seorang faqih mungkin menghadapi kesulitan di dalamnya. Sebab, penetapan pernikahan dengan kesaksian para saksi adalah mungkin, dan bagaimana tidak, sedangkan pernikahan tidak sah kecuali di hadapan dua orang saksi yang adil. Namun jawabannya adalah bahwa pernikahan dimaksudkan untuk hubungan suami istri, dan penetapannya sulit, sementara suami enggan untuk menghadirkan saksi atas dirinya. Hal ini akan berujung pada tertutupnya pintu (penetapan) tersebut, dan penetapan pernikahan pun tidak memberikan manfaat apa-apa, sedangkan kesulitan dalam tujuan utama tetap ada.
ثم إثباتُ النكاح من غير جحد وخصومة مقام الوطء متعذر وكل ما لا يجوز إظهاره فهو هُتكة فكان التعويل على قولها في الحكم اضطراراً
Kemudian penetapan pernikahan tanpa adanya pengingkaran dan perselisihan menempati posisi hubungan suami istri yang sulit dibuktikan, dan segala sesuatu yang tidak boleh ditampakkan adalah aib, maka bersandar pada perkataannya dalam hukum merupakan suatu keterpaksaan.
والأجنبية تنكِح والتعويل على قولها في أنها خليّةٌ عن الموانع وهي في مقام بائعٍ لحماً يجوز أن يكون من ذكيّ ومن ميتة فالرجوع إلى قولها
Perempuan asing boleh menikah, dan keputusannya diterima ketika ia menyatakan dirinya bebas dari halangan (untuk menikah). Ia berada dalam posisi seperti penjual daging yang boleh jadi daging itu berasal dari hewan yang disembelih secara syar‘i atau dari bangkai, maka keputusan dikembalikan kepada ucapannya.
ولو قال الزوج الثاني ما وطئتها فلا معول على قول الزوج فإنا لو اعتمدناه لأَحْوجْنا المرأة إلى إثبات الوطء بالبينة وفيه العُسْر الذي بنينا الفصلَ عليه
Dan jika suami kedua berkata, “Aku tidak menggaulinya,” maka perkataan suami tidak dapat dijadikan sandaran. Sebab, jika kita menjadikannya sandaran, niscaya kita akan memaksa perempuan untuk membuktikan terjadinya hubungan suami istri dengan menghadirkan bukti, dan di dalamnya terdapat kesulitan yang menjadi dasar pembahasan ini.
فإن قيل هلا أوجبتم تحليفها قلنا هذا قول من لم يربط الفقهُ قلبَه فإن الحلف لا يُثبت يقيناً وقد أوضحنا أن النكاح ينعقد مع الرَّيب والله أعلم
Jika ada yang bertanya, “Mengapa kalian tidak mewajibkan ia bersumpah?” Kami katakan, ini adalah pendapat orang yang hatinya belum terikat dengan fiqh, karena sumpah tidak dapat menetapkan keyakinan secara pasti, dan kami telah menjelaskan bahwa akad nikah tetap sah meskipun ada keraguan. Allah Maha Mengetahui.
Kitab Al-Ila’
قال الشافعي رحمه الله قال الله تعالى لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ إلى آخره
Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Allah Ta‘ala berfirman, “Bagi orang-orang yang bersumpah tidak akan menggauli istri-istri mereka, ada masa menunggu selama empat bulan. Jika mereka kembali (rujuk), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Namun jika mereka berketetapan untuk menceraikan, maka sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” dan seterusnya.
الأصل في الإيلاء قول الله تعالى لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ والإيلاء في اللسان الحلف والأليّة اليمين ومنه قول القائل
Dasar hukum dalam masalah ila’ adalah firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang meng-ila’ istrinya…” Ila’ dalam bahasa berarti bersumpah, dan al-ayyah adalah sumpah. Di antaranya adalah ucapan seseorang…
قليلُ الأَلاَيا حافظٌ ليمينه وإن بدرت منه الأَلِيَّةُ برّت
Orang yang jarang bersumpah adalah orang yang menjaga sumpahnya; jika ia mengucapkan sumpah, maka ia akan menepatinya.
والإيلاء في لسان الشرع اسمٌ لحلف الرجل على الامتناع من وطء امرأته على تفاصيلَ ستأتي إن شاء الله
Dalam istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang laki-laki untuk menahan diri dari menggauli istrinya, dengan rincian yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah.
وأصل الإيلاء متفق عليه وكان من طلاق الجاهلية وصورته وحكمه على الجملة في الإسلام ما نذكره فنقول إذا حلف بالله أو حلف يميناًَ سَنصفها لا يطأ امرأته وأطلق أو ذكر الامتناع مدّة تزيد على أربعة أشهر ولو بلحظة فهذا هو المولي ثم إن جامع في المدة استمر النكاح كما كان وسنذكر ما يلتزمه بالمخالفة
Dasar hukum ila’ telah disepakati, dan ila’ merupakan salah satu bentuk talak pada masa jahiliah. Bentuk dan hukumnya secara umum dalam Islam akan kami sebutkan sebagai berikut: Jika seseorang bersumpah atas nama Allah atau bersumpah dengan sumpah yang akan kami jelaskan, bahwa ia tidak akan menggauli istrinya, baik secara mutlak maupun dengan menyebutkan masa waktu yang melebihi empat bulan, meskipun hanya sesaat, maka ia disebut sebagai orang yang melakukan ila’. Kemudian, jika ia menggauli istrinya dalam masa tersebut, maka pernikahan tetap berlangsung seperti sediakala, dan kami akan sebutkan kewajiban yang harus dipenuhinya jika ia melanggar sumpah tersebut.
وإن بقي على امتناعه حتى انقضت المدة رفعته المرأة إن أرادت إلى مجلس القاضي وطالبته بالفيئة أو الطلاق فإن فاء وجامع أو طلق انقطعت الطَّلِبة وإن أصرّ فللشافعي قولان فيما يعامل به أحد القولين أنه يُحبس حتى يطلِّق
Jika suami tetap menolak hingga masa yang ditentukan berakhir, maka istri, jika ia menghendaki, dapat mengadukan hal tersebut ke majelis hakim dan menuntut suaminya untuk melakukan fi’ah atau menceraikannya. Jika suami kembali dan menggauli istrinya, atau menceraikannya, maka gugurlah tuntutan tersebut. Namun jika ia tetap bersikeras, menurut Imam Syafi’i terdapat dua pendapat mengenai tindakan yang diambil terhadapnya; salah satu pendapat menyatakan bahwa ia dipenjara hingga menceraikan istrinya.
والثاني أن القاضي يطلِّق عليه زوجته ثم يكفي في الطلاق أن يطلقها طلقة
Kedua, bahwa hakim menceraikan istrinya darinya, kemudian cukup dalam perceraian itu jika hakim menjatuhkan satu kali talak.
رجعية وإن حكمنا بأن السلطان يطلّق لم يطلِّق إلا طلقة واحدة فإن صادفت محل الرجعة فرجعيّة وإن لم تكن محلاًّ للرجعة فبائنة
Jika kami memutuskan bahwa penguasa (hakim) yang menjatuhkan talak, maka ia hanya menjatuhkan satu kali talak saja; jika talak tersebut jatuh pada masa iddah yang masih memungkinkan rujuk, maka talaknya adalah talak raj‘i, dan jika tidak berada pada masa yang memungkinkan rujuk, maka talaknya adalah talak bain.
وأبو حنيفة يقول إذا انقضت الأربعة أشهر طُلقت طلقةً من غير حاجة إلى إنشاء الطلاق والفيئةُ عنده تدفع الطلاق إذا وقعت في المدة ثم الطلاق الواقع عند منقرض المدة بلفظ الإيلاء بائنٌ عنده
Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila telah berlalu empat bulan, maka jatuh satu kali talak tanpa perlu mengucapkan lafal talak yang baru, dan menurut beliau, rujuk (al-fiyā’ah) dapat mencegah terjadinya talak jika dilakukan dalam masa tersebut. Adapun talak yang terjadi setelah berakhirnya masa itu dengan lafal ila’, menurut beliau, adalah talak bain.
ومما نذكره في تأسيس الكتاب وطلب الإيناس بتصويره أن الرجل إذا آلى أخذت المدة في الجريان من غير حاجة إلى ضربٍ من جهة القاضي بخلاف مدة العُنّة فإنها من يوم الترافع إلى القاضي لأنها مجتهد فيها
Hal yang perlu kami sebutkan dalam pembahasan dasar kitab ini dan untuk memberikan gambaran yang jelas adalah bahwa apabila seorang laki-laki melakukan ila’, maka masa (penantian) berjalan dengan sendirinya tanpa perlu penetapan dari hakim, berbeda dengan masa dalam kasus ‘innah, karena masa tersebut dihitung sejak hari perkara diajukan kepada hakim, sebab di dalamnya terdapat unsur ijtihad.
والمعنى الكلي الذي عنه صَدَرُ مسائل الكتاب أن الرجل إذا امتنع عن وطء امرأته من غير أَلِيّة فإنها تُزجي الوقتَ بتوقّع الوقاع وإذا آلى ألاّ يجامعها فذلك يقطع توقّعَها ويشتدّ ضِرارُها وسنذكر قصة حفصةَ وعمرَ رضي الله عنهما وهي تدلّ على أن للمدّة المنصوص عليها في القرآن أثراً ووقعاً في الإضرار
Makna umum yang menjadi dasar munculnya permasalahan-permasalahan dalam kitab ini adalah bahwa apabila seorang laki-laki menahan diri dari menggauli istrinya tanpa melakukan ilā’, maka sang istri masih dapat mengisi waktu dengan harapan akan terjadi hubungan suami istri. Namun jika ia melakukan ilā’ dengan bersumpah tidak akan menggaulinya, maka hal itu memutus harapan sang istri dan memperparah mudarat yang dialaminya. Kami akan menyebutkan kisah Hafshah dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā, yang menunjukkan bahwa jangka waktu yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an memiliki pengaruh dan dampak dalam hal kemudaratan.
ومن الأصول أن الأربعة الأشهر بجملتها فُسحةٌ ومهلةٌ من الله تعالى أثبتها للزوج فلتقع الطَّلِبةُ بعدها وهذا الأصل يقتضي أن تكون المدة التي ذكرها الزوج في يمينه زائدة على المهلة التي أثبتها الله له ثم لا ضبط للزائد فيقع الاكتفاء بأقل القليل
Di antara prinsip-prinsipnya adalah bahwa keempat bulan secara keseluruhan merupakan masa kelonggaran dan tenggang waktu dari Allah Ta‘ala yang ditetapkan untuk suami, sehingga permintaan (rujuk atau talak) terjadi setelahnya. Prinsip ini mengharuskan bahwa jangka waktu yang disebutkan oleh suami dalam sumpahnya harus lebih lama dari tenggang waktu yang telah ditetapkan Allah untuknya. Namun, tidak ada batasan pasti untuk tambahan waktu tersebut, sehingga cukup dengan tambahan waktu yang paling sedikit.
ولو قال قائل هلا راعيتم زماناً بعد الأربعة الأشهر يمكن في مثله فرض الطلب قلنا هذا لا يُرعى فإن المدّة إنما تعتمد زمانَ الضِّرار والمرأةُ تصبر على زوجها أربعةَ أشهر فحسب وإن كانت الجِبِلات تختلف فالأصل الكلي ما ذكرناه
Jika ada yang berkata, “Mengapa kalian tidak memperhatikan adanya waktu setelah empat bulan yang memungkinkan untuk mewajibkan upaya mencari (suami)?” Kami katakan, hal itu tidak perlu diperhatikan, karena masa (iddah) itu didasarkan pada waktu terjadinya mudarat, dan seorang wanita hanya bersabar terhadap suaminya selama empat bulan saja, meskipun tabiat manusia berbeda-beda. Prinsip dasarnya adalah apa yang telah kami sebutkan.
ولكن لو مضت تلك اللحظةُ الزائدةُ على الأربعة الأشهر المذكورة في اليمين لم يلتزم شيئاً فليس الرجل بعد المدة مولياً
Namun, jika waktu tambahan itu telah berlalu setelah empat bulan yang disebutkan dalam sumpah, maka ia tidak berkewajiban apa pun; laki-laki tersebut setelah masa itu tidak lagi dianggap sebagai mu‘li.
ولو حلف لا يطؤها خمسة أشهر فلم ترفعه حتى انقضى الشهر الخامس فقد انقضى الإيلاء وصار الرجل بمثابة ما لم يولِ وسيأتي كل ذلك مشروحاً
Jika seorang suami bersumpah tidak akan menggaulinya selama lima bulan, lalu istrinya tidak mengadukan hal itu hingga berlalu bulan kelima, maka masa ila’ telah berakhir dan kedudukan laki-laki itu menjadi seperti orang yang tidak melakukan ila’. Semua hal tersebut akan dijelaskan secara rinci nanti.
فإن قيل فأي فائدة في الحكم بكونه مولياً ولا يُتصور توجيه الطلب عليه ولا يقع الطلاق عندكم بمضي المدة قلنا لا أثر للإيلاء إلا انتسابُ الرجل إلى المأثم في الإضرار بها إذْ آيسها وقطع أملها عن الوطء وهذا الأصل يعترض كثيراً في المسائل فقدّمناه
Jika dikatakan, “Lalu apa manfaat dari penetapan hukum bahwa ia adalah seorang mu’īl (orang yang melakukan ila’) padahal tidak mungkin ada tuntutan yang diarahkan kepadanya, dan menurut kalian talak tidak terjadi dengan berlalunya masa?” Kami jawab, “Tidak ada pengaruh dari ila’ kecuali penisbatan laki-laki tersebut kepada perbuatan dosa karena telah menzalimi istrinya, membuatnya putus asa, dan memutus harapannya untuk berhubungan suami istri. Prinsip ini sering muncul dalam banyak permasalahan, maka kami dahulukan penjelasannya.”
ومما نرى تقديمه أن الرجل إذا قال لامرأته والله لا أصبتك أربعة أشهر فإذا انقضت فوالله لا أصبتك أربعة أشهر ثم هكذا حتى نَظَم أيماناً فالذي صار إليه الأئمة أن الرجل ليس مولياً نعم هو حالف ولا يخفى حكم الحالفين فإذا نفينا الإيلاء عَنَيْنا نفيَ خاصية هذا الكتاب من الإفضاء إلى الطلب كما مهدناه وهذا مشكل معترض على المعنى الكلي الذي هو عماد الكتاب وهو قطع التوقع والإضرار
Dan hal yang kami pandang perlu didahulukan adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” lalu setelah empat bulan berlalu ia berkata lagi, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” kemudian demikian seterusnya hingga ia merangkai sumpah-sumpah, maka pendapat para imam adalah bahwa laki-laki tersebut bukanlah seorang mu’li (pelaku ila’). Ya, ia adalah seorang yang bersumpah, dan hukum orang-orang yang bersumpah tidaklah samar. Maka, ketika kami menafikan status ila’, yang kami maksud adalah menafikan kekhususan bab ini, yaitu berujung pada tuntutan (dari istri), sebagaimana telah kami jelaskan. Dan ini merupakan masalah yang sulit yang menjadi keberatan terhadap makna umum yang menjadi pokok kitab ini, yaitu memutus harapan dan menolak kemudaratan.
وذكر الشيخ وجهاً غريباً أنه إذا ذكر يمينين مشتملين على مدّتين يزيد مجموعهما على أربعة أشهر وكانتا متواصلتين فهو مولٍ وهذا وإن كان جارياً على المعنى الذي ذكرناه فهو خارج عن قياس الأبواب فإن لكل يمين حكمَها وقد ذكر العراقيون هذا الوجه وزيفوه وزيفه الشيخ أيضاًً
Syekh menyebutkan satu pendapat yang ganjil, yaitu jika seseorang mengucapkan dua sumpah yang masing-masing mencakup dua masa yang jika dijumlahkan melebihi empat bulan dan kedua masa itu berurutan, maka ia dianggap sebagai mu‘alla. Meskipun pendapat ini sejalan dengan makna yang telah kami sebutkan, namun pendapat ini keluar dari qiyās bab-bab fiqh, karena setiap sumpah memiliki hukumnya sendiri. Para ulama Irak juga menyebutkan pendapat ini dan melemahkannya, demikian pula syekh juga melemahkannya.
وقد ذكرنا أن من حلف لا يجامع امرأته أربعة أشهر ولحظة فهو مولٍ وإن كان الزمان لا يتسع للطَّلِبة ورَدَدْنا فائدة الحكم بكونه مولياً إلى تأثيمه فليت شعري هل يؤثّم المُولي من الأيمان المشتملة على المدد البالغة بمجموعها خمسة أشهر فصاعداً فإن لم نؤثمه بَعُدَ وقد ظهر نَكَدُه وقصدُه في الإضرار وإن أثّمناه وليس بيدنا في مسألة الأربعة الأشهر واللحظة إلا التأثيم وقد قطعنا ثمّ بكونه مولياً وبيّنا أن المذهب أن صاحب الأيمان المتوالية ليس بمولٍ فكيف الكلام
Kami telah menyebutkan bahwa siapa pun yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama empat bulan dan sesaat, maka ia termasuk mu‘alla (orang yang melakukan ilā’), meskipun waktu tersebut tidak cukup untuk melakukan permintaan (rujukan). Kami telah mengaitkan manfaat penetapan hukum sebagai mu‘alla pada unsur pendosaannya. Maka, saya ingin tahu, apakah orang yang melakukan ilā’ dengan sumpah-sumpah yang mencakup jangka waktu keseluruhan lima bulan atau lebih juga dianggap berdosa? Jika kita tidak menganggapnya berdosa, hal itu terasa jauh (dari kebenaran), padahal telah tampak adanya kesengsaraan dan niatnya untuk berbuat mudarat. Namun jika kita menganggapnya berdosa, sementara dalam masalah empat bulan dan sesaat kita hanya menetapkan unsur pendosaan, dan kita telah memastikan bahwa ia termasuk mu‘alla, serta telah kami jelaskan bahwa menurut mazhab, orang yang memiliki sumpah-sumpah berurutan tidak dianggap mu‘alla, maka bagaimana penjelasan masalah ini?
أقصى الإمكان أن نقول للتأثيم مأخذ فالذي يحلف على الأربعة الأشهر واللحظة يأثم إثمَ المولين والذي يوالي بين الأيمان إن كان يأثم فالوجه ألا يأثم إثمَ المولين ولا يمتنع أن يقال الصدوق اللهجة إذا قال لا أجامعك فقد يأثم ولو قال قائل القياس لا يأثم صاحب الأيمان المتوالية لم يكن قوله بعيداَّ وهذا يحصر الإثم في الإتيان بما نهى الرب تعالى عنه
Sebatas kemampuan, kita dapat mengatakan bahwa untuk pengharaman (ta’tsim) ada dasar pengambilan hukumnya. Maka, orang yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama empat bulan dan sesaat, ia berdosa dengan dosa orang yang melakukan ila’. Sedangkan orang yang mengulangi sumpah secara berurutan, jika ia berdosa, maka yang tepat adalah ia tidak berdosa dengan dosa orang yang melakukan ila’. Tidak mustahil juga dikatakan bahwa seseorang yang jujur ucapannya, jika ia berkata, “Aku tidak akan menggaulimu,” bisa saja ia berdosa. Namun, jika ada yang berkata berdasarkan qiyās bahwa orang yang bersumpah secara berurutan tidak berdosa, maka pendapatnya tidaklah jauh (dari kebenaran). Dengan demikian, dosa itu terbatas pada melakukan apa yang dilarang oleh Allah Ta‘ala.
وهذه جمل في تصوير الإيلاء وتمهيد أصله
Berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai gambaran tentang ila’ dan penetapan asal-usulnya.
فصل قال والمولي من حلف بيمين تلزمه بها كلفارة إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan orang yang melakukan ila’ adalah orang yang bersumpah dengan sumpah yang mewajibkan baginya kafarat,” hingga akhir.
مضمون الفصل يتعلق بمقصودين أحدهما فيما هو إيلاء من جملة الأيمان والثاني فيما يلتزمه المُولي إذا فاء وحنث
Isi bab ini berkaitan dengan dua maksud: yang pertama mengenai ila’ sebagai bagian dari sumpah, dan yang kedua mengenai kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang yang melakukan ila’ apabila ia kembali (rujuk) dan melanggar sumpahnya.
فأما القول في الأيمان فهي ثلاثة أقسام أحدها اليمين بالله تعالى أو بصفة من صفاته الأزلية كما سيأتي القول فيها إن شاء الله تعالى في أول كتاب الأَيْمَان فإذا حلف بالله وأطلق أو قيد بالتأبيد أو ذكر مدّة تزيد على أربعة أشهر فهذا مولٍ فهذا قِسْمٌ
Adapun pembahasan tentang sumpah, maka sumpah itu terbagi menjadi tiga bagian. Salah satunya adalah sumpah dengan nama Allah Ta‘ala atau dengan salah satu sifat-Nya yang azali, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala pada awal Kitab al-Aiman. Jika seseorang bersumpah dengan nama Allah secara mutlak, atau membatasinya dengan keabadian, atau menyebutkan jangka waktu yang melebihi empat bulan, maka ia termasuk orang yang melakukan ila’. Inilah satu bagian.
والقسم الثاني أن يعلّق بالوطء حكماً يقع كالطلاق والعتاق فالمنصوص عليه في الجديد أنه مولٍ وعلى هذا القول تفريع مسائل الكتاب والقول الثاني أنه ليس بمولٍ
Bagian kedua adalah apabila seseorang menggantungkan suatu hukum pada hubungan badan yang akan terjadi, seperti talak atau pembebasan budak, maka menurut pendapat yang dinyatakan dalam pendapat baru, ia dianggap sebagai mu‘il (orang yang melakukan ila’), dan berdasarkan pendapat ini, rincian masalah-masalah dalam kitab ini dibangun. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak dianggap sebagai mu‘il.
والقسم الثالث ما لو علق بالوطء التزامَ أمرٍ يفرض لزومه بالنذر مثل أن يقول إن وطئتك فلله عليّ صوم أو صلاة أو صدقة أو لله عليّ أن أعتق عبداً فالقول الجديد أنه مولٍ وفي القديم قولٌ أنه ليس بمولٍ ثم إذا جعلناه مولياً فإذا خالف وفاء فهو حانث في يمين اللجاج والغضب وفيما يلزمه ثلاثة أقوال سنشير إليها في مسائلِ الكتاب ونستقصيها في كتاب النذور
Bagian ketiga adalah jika seseorang mengaitkan dengan hubungan suami istri suatu kewajiban yang seharusnya wajib karena nadzar, seperti ia berkata: “Jika aku menggaulimu, maka karena Allah atasku puasa, atau shalat, atau sedekah, atau karena Allah atasku memerdekakan seorang budak.” Menurut pendapat baru, ia dianggap melakukan ila’, sedangkan menurut pendapat lama, ia tidak dianggap melakukan ila’. Kemudian, jika kita menganggapnya sebagai ila’, maka jika ia melanggar dan menunaikan (apa yang dinazarkan), ia dianggap melanggar sumpah lājaj dan kemarahan. Adapun mengenai apa yang wajib baginya, terdapat tiga pendapat yang akan kami singgung dalam beberapa masalah di dalam kitab ini dan akan kami bahas secara rinci dalam Kitab Nadzar.
وضابط المذهب في أقسام الأيْمان أن الحالف بالله تعالى على الشرائط التي ذكرناها في الإطلاق والتأقيت مولٍ
Patokan mazhab dalam pembagian sumpah adalah bahwa orang yang bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan syarat-syarat yang telah kami sebutkan dalam sumpah mutlak dan sumpah yang dibatasi waktu, dianggap sebagai orang yang memulai (mubtadi’).
ثم المنصوص في الجديد أنه إنما صار مولياً لأنه عرّض نفسه لالتزام أمرٍ إذا جامع فظهر الضِّرار بذلك وبنى عليه إثباتَ الإيلاء بكل التزامٍ وضمَّ إلى الالتزام ما يقع كالطلاق والعَتاق يعلّقان فإن الالتزام لا فقه فيه وإنما الغرض ذكر أمرٍ محذور لو فرض الوقاع وهذا يظهر الضّرار واقعاً كان أو ملتزَماً هذا مسلك القول الجديد
Kemudian, pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru (al-qawl al-jadīd) adalah bahwa seseorang menjadi mu‘alla (orang yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya) karena ia telah menjerumuskan dirinya pada komitmen terhadap suatu perkara jika ia melakukan hubungan suami istri, sehingga tampaklah adanya mudarat dari hal itu. Berdasarkan hal ini, ditetapkanlah hukum iilā’ (sumpah tidak menggauli istri) pada setiap bentuk komitmen, dan digabungkan pula ke dalam komitmen itu hal-hal yang terjadi seperti talak dan ‘itāq (pembebasan budak) yang digantungkan (pada suatu syarat). Sebab, dalam komitmen itu sendiri tidak ada aspek fiqh, melainkan tujuannya adalah menyebutkan suatu perkara yang dikhawatirkan jika terjadi hubungan suami istri. Dengan demikian, tampaklah adanya mudarat, baik yang benar-benar terjadi maupun yang hanya berupa komitmen. Inilah pendekatan pendapat baru.
وأما القول القديم فإنه مبنيّ على اتباع الحلف بأعظمَ ما يحلف به وفيه يظهر قصد الرجل في الامتناع وقد يقلّ الملتَزم حتى يستهان به فالمولي من يؤكد وعْدَ الامتناع بذكر أمر عظيم وكانت العرب تولي فتذكر اسم الله تعالى وإن ذكرت بعض الأصنام اعتقدته إلهاً فالإيلاء ينبغي أن يكون على النعت الذي عُهد في الجاهلية فإنه طلاق جاهلي فغُيّر بعضَ التغيير فيبقى على اقتضاء الطلاق إذا كان على الصفة المعهودة فإن لم يكن على تلك الصفة كان يميناً من الأيمان هذا توجيه القول القديم
Adapun pendapat lama, maka ia didasarkan pada mengikuti sumpah dengan sesuatu yang paling agung untuk dijadikan sumpah, dan di dalamnya tampak maksud seseorang dalam menahan diri, dan kadang-kadang hal yang dijadikan komitmen itu sedikit sehingga dianggap remeh. Maka, seorang yang melakukan ila’ adalah orang yang menegaskan janji untuk menahan diri dengan menyebut sesuatu yang agung. Orang Arab dahulu melakukan ila’ dengan menyebut nama Allah Ta’ala, dan jika mereka menyebut sebagian berhala, mereka meyakininya sebagai tuhan. Maka, ila’ seharusnya dilakukan dengan sifat yang dikenal pada masa jahiliah, karena ia adalah talak jahiliah yang kemudian diubah sebagian, sehingga tetap mengandung konsekuensi talak jika dilakukan sesuai sifat yang dikenal itu. Jika tidak sesuai dengan sifat tersebut, maka ia hanyalah sumpah di antara sumpah-sumpah lainnya. Inilah penjelasan pendapat lama.
وإذا أردنا أن ننظم القول قلنا الحلف بالله على الامتناع عن الوقاع مطلقاً أو مقيداً بمدة زائدةٍ على الأربعة الأشهر إيلاء ثم ذكر في العلة الجارية مجرى الضبط والحد مسلكان أحدهما أنه مولٍ لأنه يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر أمراً وهذا هو المسلك الجديد ويخرّج عليه أن الحلف بالطلاق والعَتاق والتزامَ ما يلتزِم إيلاءٌ
Jika kita ingin merumuskan pernyataan, kita katakan bahwa sumpah dengan nama Allah untuk menahan diri dari hubungan suami istri, baik secara mutlak maupun dibatasi dengan waktu yang melebihi empat bulan, adalah termasuk ilā’. Kemudian, dalam sebab yang berlaku sebagai ukuran dan batasan, terdapat dua pendekatan: yang pertama, bahwa ia dianggap sebagai orang yang melakukan ilā’ karena ia berkomitmen untuk melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan sebagai suatu kewajiban. Inilah pendekatan baru, dan berdasarkan pendekatan ini, maka sumpah dengan talak, pembebasan budak, serta komitmen terhadap apa yang menjadi komitmen dalam ilā’ juga termasuk ilā’.
والمسلك القديم أن المولي من يمتنع عن الوقاع بذكر الاسم المعظّم اتباعاً لما عُهد فيه فيخرجُ الحلف بغير الله وبغير صفاته عن كونه إيلاء
Pendapat lama menyatakan bahwa orang yang melakukan ila’ adalah orang yang menahan diri dari berhubungan badan dengan menyebut nama yang Maha Agung, mengikuti kebiasaan yang telah dikenal dalam hal itu, sehingga sumpah dengan selain Allah dan selain sifat-sifat-Nya tidak termasuk dalam kategori ila’.
والتفريعُ على الجديد
Dan pengembangan hukum didasarkan pada pendapat baru.
وقد نجز أحد مقصودي الفصل
Salah satu tujuan pembahasan ini telah tercapai.
فأما المقصود الثاني فهو بيان ما يلتزمه المولي إذا حلف بالله لا يجامع ثم جامع المنصوصُ عليه في الجديد لزمته كفارةُ اليمين وقياسه بيّن
Adapun maksud kedua adalah penjelasan tentang apa yang wajib dilakukan oleh seorang mūlā jika ia bersumpah demi Allah tidak akan berhubungan suami istri, kemudian ia melakukannya; menurut pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru, ia wajib membayar kafārah sumpah, dan qiyās-nya jelas.
والمنصوص عليه في القديم قولان أحدهما ما ذكرناه في الجديد والثاني أن الكفارة لا تلزم
Pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama ada dua: salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan dalam pendapat baru, dan yang kedua adalah bahwa kafarat tidak wajib.
ووجه القول الجديد لائح واضح ووجه القول القديم أن الأيلاء منتزَع عن حكم الأيْمان لما فيه من اقتضاء الطلاق حملاً عليه عند الامتناع من الفيئة فكأن اليمين مستعملة في اقتضاء هذا المعنى مصروفةٌ عن وضع الأيمان وقد قالت عائشة رضي الله عنها الإيلاء طلاق غير أنه غُيّر في الإسلام
Pendapat baru memiliki alasan yang jelas dan gamblang, sedangkan pendapat lama menyatakan bahwa ila’ diambil dari hukum sumpah karena di dalamnya terdapat konsekuensi talak yang diberlakukan ketika suami menolak untuk kembali (kepada istrinya), sehingga seolah-olah sumpah digunakan untuk menuntut makna ini dan dialihkan dari makna asal sumpah. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Ila’ itu adalah talak, hanya saja diubah dalam Islam.”
والأصح القول الجديد وفيه تبقية مُوجَب اليمين وإثباتُ حكم الطلاق عند الامتناع من جهة إظهار الضرار فلا تناقض بين الحكمين
Pendapat yang paling sahih adalah pendapat baru, yaitu tetap memberlakukan konsekuensi sumpah dan menetapkan hukum talak ketika terjadi penolakan, karena adanya indikasi menimbulkan mudarat. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara kedua hukum tersebut.
وذكر القاضي رحمه الله في توجيه القول القديم التعلقَ بقوله تعالى فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ واستنبط منه أن المولي إذا فاء أدركه صفح الشرع وعفوهُ وهذا يشعر بانتفاء الغُرم ثم تصرّف على موجب هذا الاستدلال فقال الفيئةُ مذكورة بعد مضي المدة فيجري القولان في انتفاء الكفارة في الوطء الجاري بعد انقضاء المدة فإنا نتبع النص في توجيه أحد القولين حتى إذا فرضت الفيئة في الأربعة الأشهر قبل انقضائها فالظاهر وجوب الكفارة فإن هذه الفيئة لا ذكر لها في القرآن ولا متعلق عنده في توجيه نفي الكفارة إلا ظاهر الآية ثم استقر كلامه على أن نذكر في الفيئة بعد المدة قولين ونذكر في الفيئة دون المدة قولين والصورة الأخيرة أولى بوجوب الكفارة
Qadhi rahimahullah menyebutkan dalam penjelasan pendapat lama, keterkaitan dengan firman Allah Ta‘ala: “Maka jika mereka kembali (rujuk), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dan beliau menyimpulkan darinya bahwa apabila seorang yang melakukan ila’ telah kembali (rujuk), maka ia mendapatkan ampunan dan maaf dari syariat. Hal ini menunjukkan tidak adanya kewajiban denda. Kemudian beliau berpendapat sesuai dengan dalil ini, yaitu bahwa rujuk (al-fay’ah) disebutkan setelah berlalunya masa (empat bulan), sehingga terdapat dua pendapat mengenai tidak adanya kewajiban kafarat pada hubungan suami istri yang terjadi setelah masa tersebut berakhir. Kita mengikuti nash dalam mengarahkan salah satu pendapat, sehingga jika rujuk dilakukan dalam empat bulan sebelum masa itu berakhir, maka yang tampak adalah wajibnya kafarat, karena rujuk seperti ini tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan tidak ada dalil yang mendukung penafian kafarat kecuali makna lahiriah ayat tersebut. Kemudian, pendapat beliau menetap pada bahwa dalam rujuk setelah masa (empat bulan) terdapat dua pendapat, dan dalam rujuk sebelum masa (empat bulan) juga terdapat dua pendapat, dan keadaan terakhir lebih utama untuk mewajibkan kafarat.
وهذا ترتيب رآه وبناه على التوجيه بظاهر القرآن وليس بذاك فليس في القرآن ما يوجب نفي الكفارة وإنما المقصود من قوله فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ أن الفيئة لا تَحْرُم باليمين على الامتناع منها وقد يخطر للمؤمن المعظِّم اعتقادُ تحريم الفيئة وقد صار إلى ذلك أبو حنيفة فالآية بظاهرها تدل على نفي الحرج والتحريم عن الفيئة ثم لو صح ما تخيله القاضي ففي الفيئة في الأشهر قطع الضرار فإذا كان يستحق المطالَب في التضييق عليه التخفيفَ فابتداره تدارك الأمر في قطع الضرار أولى بذلك فلا وجه لما ظنه كيف قدر الأمر
Ini adalah urutan yang ia lihat dan bangun berdasarkan petunjuk dari lahiriah Al-Qur’an, namun sebenarnya tidak demikian. Tidak ada dalam Al-Qur’an yang mewajibkan meniadakan kafarah, melainkan maksud dari firman-Nya “Maka jika mereka kembali (rujuk), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” adalah bahwa rujuk tidak menjadi haram karena sumpah untuk menahan diri darinya. Terkadang seorang mukmin yang sangat memuliakan (ajaran agama) bisa saja terlintas dalam benaknya keyakinan bahwa rujuk itu haram, dan Abu Hanifah memang berpendapat demikian. Maka ayat tersebut secara lahiriah menunjukkan tiadanya keberatan dan keharaman atas rujuk. Kemudian, seandainya benar apa yang dibayangkan oleh al-Qadhi, maka dalam rujuk selama beberapa bulan sudah cukup untuk memutuskan kemudaratan. Jika seseorang berhak untuk menuntut keringanan dalam hal penyempitan (rujuk), maka lebih utama baginya untuk segera memperbaiki keadaan demi menghilangkan kemudaratan. Maka tidak ada alasan untuk apa yang ia sangka, bagaimanapun keadaannya.
نعم من الجليات التي ننظمها أن من حلف لا يطأ زوجته أربعة أشهر ثم جامع في الأشهر لزمته الكفارة بلا خلاف فإنه ليس بمولٍ والضابط في ذلك أن اليمين إذا كانت لا تُفضي إلى توجيه الطلب بالفيئة أو الطلاق فتعلقُ الحنث فيها الكفارةُ وسبيلها كسبيل سائر الأيمان
Ya, termasuk hal yang jelas yang kami atur adalah bahwa siapa pun yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya selama empat bulan, kemudian ia menggauli istrinya dalam bulan-bulan tersebut, maka wajib baginya membayar kafarat tanpa ada perbedaan pendapat, karena ia tidak termasuk orang yang melakukan ila’. Kaidah dalam hal ini adalah bahwa sumpah yang tidak mengarah pada tuntutan untuk kembali (berhubungan) atau talak, maka jika melanggar sumpah tersebut wajib membayar kafarat, dan hukumnya sama seperti sumpah-sumpah lainnya.
وإن تعلق باليمين خاصّية الإيلاء وكانت يميناً بالله تعالى فالفيئةُ ترفع حكم الإيلاء فيختلف القول في وجوب الكفارة
Jika sumpah tersebut mengandung kekhususan ilā’, dan sumpah itu dilakukan dengan menyebut nama Allah Ta‘ala, maka rujuk (fi’ah) akan menghapus hukum ilā’. Oleh karena itu, terdapat perbedaan pendapat mengenai kewajiban membayar kafarat.
ومما ذكره القاضي رضي الله عنه وكان شيخي يحكيه عن القفال أن القولين في انتفاء الكفارة والحلف بالله تعالى يقرب مأخذهما من أن الأيْمان بالطلاق والعتاق والالتزامات هل تكون إيلاء أم لا فإن قلنا المولي لا يلتزم بالفيئة الكفارة فلا تعويل على الالتزام ولا إيلاء إلا الحلف بالله تعالى
Di antara yang disebutkan oleh al-Qadhi, semoga Allah meridhainya, dan yang guruku ceritakan dari al-Qaffal, bahwa dua pendapat mengenai gugurnya kewajiban kafarat dan sumpah dengan nama Allah Ta‘ala, keduanya hampir bersumber dari persoalan apakah sumpah dengan talak, pembebasan budak, dan berbagai bentuk iltizam (komitmen) termasuk kategori ila’ atau tidak. Jika kita katakan bahwa seorang yang melakukan ila’ tidak diwajibkan membayar kafarat karena menahan diri dari kembali (kepada istrinya), maka tidak ada dasar untuk mengandalkan iltizam tersebut, dan tidak dianggap ila’ kecuali sumpah dengan nama Allah Ta‘ala.
وإن قلنا الحالف بالله يلتزم الكفارة إذا فاء فلا يبعد أن يكون كلُّ ملتزِمٍ في معناه
Jika kita mengatakan bahwa orang yang bersumpah dengan nama Allah wajib membayar kafarat jika ia kembali (melanggar sumpahnya), maka tidaklah jauh kemungkinan bahwa setiap orang yang berkomitmen dalam makna yang serupa juga demikian.
وكان شيخنا يقول هذا الترتيب قريب في مسلك المعنى ولكنه لا ينتظم على ترتيب الجديد والقديم وذلك أن قول الشافعي في القديم يختلف في أن المولي بالله هل يلتزم الكفارة ولا يختلف مذهبه في القديم أن الحالف بغير الله ليس بمولٍ فإن سلك سالك طريقة البناء فلا بد وأن نخرّج قولاً في القديم في أن الإيلاء يختص بالحلف بالله
Guru kami berkata, urutan ini mendekati dari segi makna, namun tidak sesuai dengan urutan pendapat baru dan lama. Hal ini karena pendapat Imam Syafi‘i dalam qaul qadim berbeda mengenai apakah orang yang bersumpah dengan nama Allah wajib membayar kafarat, dan tidak ada perbedaan dalam mazhabnya pada qaul qadim bahwa orang yang bersumpah dengan selain nama Allah tidak disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’). Jika seseorang menempuh metode penyusunan ini, maka harus dikeluarkan satu pendapat dalam qaul qadim bahwa ila’ itu khusus bagi sumpah dengan nama Allah.
فصل قال ولا يلزمه الأيلاء حتى يصرح إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Tidak wajib baginya melakukan ila’ hingga ia menyatakannya secara jelas,” dan seterusnya.
اختلفت الطرق في صرائح الألفاظ في الجماع ونحن نذكر طريقة ضابطة جامعة إن شاء الله فنقول انقسام الألفاظ إلى الكناية والصريح يأتي من ألفاظ القسم بالله وبصفاته وهذا الفن ليس من غرضنا وسيأتي مستقصىً في أول الأيْمان إن شاء الله عز وجل وغرض الفصل التعرضُ لانقسام الألفاظ إلى الصرائح والكنايات فيما يتعلق بالجماع
Terdapat perbedaan pendapat mengenai lafaz-lafaz yang jelas (sharīh) dalam masalah jima‘ (hubungan suami istri). Di sini, kami akan menyebutkan suatu metode yang bersifat komprehensif dan teratur, insya Allah. Kami katakan bahwa pembagian lafaz menjadi kināyah (lafaz sindiran) dan sharīh (lafaz jelas) juga terdapat pada lafaz sumpah dengan nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Namun, bidang ini bukan tujuan pembahasan kita sekarang, dan akan dijelaskan secara rinci pada awal pembahasan tentang yamin (sumpah), insya Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun tujuan bab ini adalah membahas pembagian lafaz menjadi sharīh dan kināyah dalam hal-hal yang berkaitan dengan jima‘.
وقد ذكر الشيخ أبو علي ثلاثة أقسام تحوي جميعِ المقصد فقال من الألفاظ عن هذا المقصد ما هو صريح ولا يتطرق إليه تدْيينٌ وأمرٌ في الباطن يخالف الظاهر
Syekh Abu Ali telah menyebutkan tiga bagian yang mencakup seluruh maksud tersebut. Ia berkata, dari lafaz-lafaz yang berkaitan dengan maksud ini, ada yang bersifat tegas dan tidak mengandung unsur penipuan agama (tadyīn) serta tidak ada perkara batin yang bertentangan dengan lahiriah.
ومنها ما يتطرق التدْيين إليه
Di antaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan aspek keagamaan.
ومنها ما هو كناية في الظاهر أيضاً
Di antaranya ada juga yang secara lahiriah merupakan kinayah (ungkapan sindiran).
فأما ما هو صريح ظاهراً ولا يُنَوّى فيه أصلاً فمنه النيّك فلو قال لا أنيكك ثم فسر ذلك بالضم والالتزام والقُبلة فلا يقبل ذلك منه ظاهراً وباطناً فإن التديين إنما يجري بأحد وجهين إما أن يكون في اللفظ إشعارٌ به على بُعد كصرف الطالق إلى الطلاق عن الوِثاق وإما ألا يكون اللفظُ مشعراً به ولكن ينتظم وصل اللفظ به مثل أن يقول أنت طالق ويُضمر إن شاء الله تعالى وهذا فيه اختلافٌ قدمته
Adapun lafaz yang jelas secara terang dan tidak dimaksudkan makna lain sama sekali, di antaranya adalah lafaz “menyetubuhi” (an-nīk). Maka jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menyetubuhimu,” lalu ia menafsirkannya dengan maksud memeluk, berpelukan, atau mencium, maka penafsiran itu tidak dapat diterima baik secara lahir maupun batin. Sebab, pertimbangan agama (at-tadyīn) hanya berlaku dalam dua keadaan: pertama, jika dalam lafaz tersebut terdapat isyarat ke arah makna itu meskipun jauh, seperti mengalihkan kata “ṭāliq” kepada makna “melepaskan ikatan” (bukan talak); kedua, jika lafaz tersebut tidak mengisyaratkan makna itu, tetapi ada hubungan antara lafaz dengan makna yang dimaksud, seperti seseorang berkata, “Engkau tertalak,” namun dalam hatinya ia mengucapkan, “insya Allah Ta‘ala.” Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan sebelumnya.
فأما إذا قال لا أنيكك وحَمَل اللفظَ على القُبلة فلا انتظام لهذا ولا إشعارٌ به وكذلك لو قال لا أُدخل ذكري في فرجك أو لا أولج
Adapun jika ia berkata, “Aku tidak menyetubuhimu,” lalu mengartikan lafaz tersebut sebagai mencium, maka ini tidak teratur dan tidak ada isyarat ke arah itu. Demikian pula jika ia berkata, “Aku tidak memasukkan zakarku ke dalam farjimu,” atau “Aku tidak melakukan penetrasi.”
ولو قال للبكر والله لا أفتضك فهذا صريح فلو زعم أنه نوى به الضم والالتزام فهل يُنوَّى فيه باطناً فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أصحهما أنه لا يديّن لأن الافتضاض لا يَحْتَمل ما نواه بزعمه
Jika seseorang berkata kepada seorang perempuan perawan, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan iftiḍāḍ (hubungan suami istri pertama kali dengan perawan),” maka ini adalah lafaz yang sharih (jelas). Jika ia mengaku bahwa ia bermaksud dengan ucapan itu hanya memeluk dan mendekap, maka apakah niat batinnya itu dianggap? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh asy-Syaikh, dan yang lebih shahih adalah bahwa niat batinnya tidak dianggap, karena lafaz iftiḍāḍ tidak dapat mengandung makna yang ia klaim dalam niatnya.
وفيه وجه بعيد أنه يُنَوّى فإنه ربما يستعار الافتضاض في استفتاح الأمور والتديينُ يُكتفى فيه بأدنى إمكانٍ في الاحتمال
Ada pendapat yang lemah bahwa kata tersebut dimaknakan secara metaforis, karena terkadang istilah “iftidāḍ” (membuka keperawanan) digunakan secara kiasan untuk permulaan suatu urusan, dan dalam masalah agama (tadyīn) cukup dengan kemungkinan terendah dalam hal kemungkinan.
فأما القسم الثاني فهو ما يكون صريحاً ظاهراً ويتطرق التديين إليه وهذا ينقسم فمنه ما يكون صريحاً قولاً واحداً ومنه ما اختلف القول فيه فأما ما لم يختلف القول فيه فقد اختلف فيه جواب الأئمة بعد الاتفاق على أن الجماع صريح قولاً واحداً وكان شيخي لا يقطع القولَ إلا في الجماع وقال صاحب التقريب الجماع والوطء صريحاًن قولاً واحداً وقال الشيخ أبو علي الجماع والوطء والإصابة صرائح في ظاهر الحكم قولاً واحداً وهذا ما ذكر العراقيون والقطع في لفظ الإصابة بعيد وإلحاق الوطء بالجماع غيرُ بعيد
Adapun bagian kedua adalah apa yang bersifat jelas dan nyata serta berkaitan dengan urusan agama. Bagian ini terbagi lagi: ada yang secara tegas merupakan satu pendapat, dan ada pula yang diperselisihkan pendapatnya. Adapun yang tidak diperselisihkan pendapatnya, maka para imam berbeda pendapat dalam jawabannya setelah sepakat bahwa jima‘ adalah tegas menurut satu pendapat. Guru saya tidak memastikan kecuali pada jima‘. Penulis kitab at-Taqrīb mengatakan bahwa jima‘ dan wath’ adalah tegas menurut satu pendapat. Syaikh Abu ‘Ali mengatakan bahwa jima‘, wath’, dan isābah adalah tegas dalam hukum lahir menurut satu pendapat. Inilah yang disebutkan oleh para ulama Irak, namun memastikan pada lafaz isābah itu jauh, sedangkan menyamakan wath’ dengan jima‘ tidaklah jauh.
فهذا بيان الأجوبة فيما يتحد القول فيه
Berikut ini adalah penjelasan jawaban-jawaban mengenai hal-hal yang serupa dalam penyampaiannya.
فأما ما اختلف القول فيه فالمباشرةُ والملامسة والمماسَّة والمباضعة فهذه الألفاظ وما يصدرُ منها فيها قولان أحدهما أنها صرائح كالجماع والثاني أنها كناياتٌ بخلاف الجماع فإن لفظ الجماع شائع في الاستعمال حتى لا يتمارى السامع في معناه وهذه الألفاظ التي ذكرناها لا تُستعمل استعمال الجماع ومن لم يؤثر ذكرَ الجماع عدل إلى لفظةٍ من هذه الألفاظ وهذا يوضح أنها ليست في منزلة الجماع
Adapun mengenai istilah-istilah yang diperselisihkan pendapat tentangnya, seperti al-mubāsharah, al-mulāmasah, al-mumāsah, dan al-mubādhah, maka istilah-istilah ini dan yang sejenis dengannya terdapat dua pendapat: yang pertama, bahwa istilah-istilah tersebut adalah sharih seperti jimā‘; dan yang kedua, bahwa istilah-istilah tersebut adalah kināyah, berbeda dengan jimā‘, karena lafaz jimā‘ sudah sangat umum digunakan sehingga pendengar tidak ragu lagi terhadap maknanya. Adapun istilah-istilah yang telah kami sebutkan tidak digunakan seperti penggunaan lafaz jimā‘, dan siapa yang tidak ingin menyebut lafaz jimā‘ akan beralih menggunakan salah satu dari istilah-istilah ini. Hal ini menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut tidak setara dengan jimā‘.
قال صاحب التقريب الألفاظ الدائرة في الشريعة التي اختلف المفسرون في معناها فحملها بعضهم على الجسّ وحملها آخرون على الجماع اختلف القول فيها حسب اختلاف علماء التفسير
Menurut penulis kitab at-Taqrīb, istilah-istilah yang sering digunakan dalam syariat yang para mufassir berbeda pendapat tentang maknanya—sebagian mereka memaknainya sebagai sentuhan fisik, sementara yang lain memaknainya sebagai jima‘—maka pendapat tentangnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan para ulama tafsir.
وهذا الذي ذكره ليس بحدٍّ عليه معوّل والأصل في الباب أن المعنى المطلوب في ذلك وضَعَ اللسانُ فيه الكنايةَ فإن أرباب المروءات يأنفون من الألفاظ الموضوعة لهذا المعنى صريحاًً فكان الوضع على المكاني ولكن ظهر بعضها وشاع فالتحق بالصريح الموضوع للمعنى ولم يظهر بعضها ولم يَشِعْ فتردد القول وسبب التردد مع أنها مكاني الاعتناءُ بالمكاني في الباب وأرى الوقاعَ في مرتبة الوطء وقد سبق التردد فيه
Apa yang disebutkan itu bukanlah batasan yang dapat dijadikan sandaran, dan kaidah dalam masalah ini adalah bahwa makna yang dimaksud di sini, bahasa telah meletakkan ungkapan kinayah untuknya. Sebab, orang-orang yang memiliki harga diri merasa enggan menggunakan lafaz yang secara terang-terangan menunjukkan makna tersebut, sehingga digunakanlah lafaz kinayah. Namun, sebagian lafaz itu menjadi jelas dan tersebar luas, sehingga ia pun disamakan dengan lafaz sharih yang memang diciptakan untuk makna itu. Sementara sebagian lainnya tidak menjadi jelas dan tidak tersebar, sehingga pendapat pun menjadi berbeda-beda. Penyebab perbedaan pendapat, meskipun itu merupakan lafaz kinayah, adalah karena perhatian terhadap lafaz kinayah dalam masalah ini. Saya memandang bahwa hubungan suami istri (al-wiqā‘) berada pada tingkatan yang sama dengan al-wath’, dan sebelumnya telah disebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.
فأما ما يلتحق بالكنايات قولاً واحداً فهو كقول القائل لأبعدن عنكِ لا يجمع رأسي ورأسَك وسادة وألحق الأصحاب بهذا أن يقول لأسوأَنّك وهذا من أبعد الكنايات
Adapun yang termasuk dalam kategori kinayah menurut satu pendapat adalah seperti ucapan seseorang, “Aku akan menjauh darimu, tidak akan ada satu bantal pun yang menyatukan kepalaku dan kepalamu,” dan para sahabat (ulama) juga memasukkan ucapan, “Aku akan memperburuk keadaanmu,” ke dalamnya. Ini termasuk kinayah yang paling jauh (dari makna eksplisit talak).
والقِرْبان والغِشيان فيهما ترددٌ من الأصحاب مَنْ ألحقها بالكنايات التي ذكرناها آخراً ومنهم من ألحقها بالمسّ والجسّ ولعل هذا أقربُ فإن لفظ القرب جرى في الكنايات على إرادة الوقاع قال الله تعالى وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ ويجوز أن يكون الإتيان في معنى القِربان قال الله تعالى فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ ولا يبعد أن يقال القِربان والغِشيان إذا استعملا مصدرين فإنهما كالملامسة وما في درجتها مصدراً وفعلاً فإن قال لا أقربك فيلتحق بالكنايات المحضة فإن القِربان يشيع استعماله في الوقاع والقرب يشبع في غير الوقاع من وجوه القرب المكاني والفعل الصادر عن المصدرين كالقرب لا كالقربان
Terkait dengan istilah “qirbān” dan “ghisyān”, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama; sebagian menggolongkannya ke dalam kināyah yang telah kami sebutkan terakhir, sementara sebagian lain mengaitkannya dengan “al-mass” dan “al-jass”. Barangkali pendapat kedua ini lebih mendekati kebenaran, sebab lafaz “qarb” (mendekat) digunakan dalam kināyah untuk maksud hubungan badan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu mendekati mereka hingga mereka suci.” Juga, boleh jadi kata “al-ityān” (mendatangi) bermakna sama dengan “qirbān”, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Apabila mereka telah bersuci, maka datangi mereka.” Tidak mustahil pula dikatakan bahwa “qirbān” dan “ghisyān” apabila digunakan sebagai mashdar, maka kedudukannya seperti “mulāmasah” dan yang setingkat dengannya, baik sebagai mashdar maupun sebagai fi‘l. Jika seseorang berkata, “Aku tidak akan mendekatimu,” maka itu termasuk kināyah murni, karena “qirbān” umum digunakan untuk makna hubungan badan, sedangkan “qarb” lebih sering dipakai untuk kedekatan selain hubungan badan, baik kedekatan secara tempat maupun bentuk kedekatan lain. Adapun perbuatan yang bersumber dari kedua mashdar itu, hukumnya seperti “qarb”, bukan seperti “qirbān”.
وإذا مهدنا القواعد ثم شذت لفظة لم نذكرها لم يَخْفَ على الفقيه إلحاقُها بالأقسام المضبوطة التي ذكرناها
Jika kami telah meletakkan kaidah-kaidah, kemudian ada satu lafaz yang luput tidak kami sebutkan, maka tidaklah samar bagi seorang faqih untuk mengaitkannya dengan kategori-kategori yang telah kami tetapkan.
ثم لو نوى بالجماع غير المعنى المطلوب وزعم أنه أراد الاجتماع فما ذكره محتمل ولكن اللفظ شائع فَيُنوَّى ويديّن باطناًً ولا يقبل ما قاله ظاهراً
Kemudian, jika seseorang berniat dengan jima‘ (hubungan intim) selain makna yang dimaksudkan dan mengklaim bahwa ia hanya bermaksud berkumpul, maka apa yang disebutkan itu mungkin saja, namun lafaz tersebut sudah umum digunakan sehingga dinilai sesuai niatnya dan urusannya diserahkan kepada batinnya, sedangkan secara lahiriah apa yang ia katakan tidak diterima.
وقد نجز الغرض في هذا الفن
Tujuan dalam bidang ini pun telah tercapai.
ثم قال الشافعي رضي الله عنه لو قال والله لا أجامعك في دبرك فهو محسن إلى آخره
Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu melalui duburmu,” maka ia telah berbuat baik, dan seterusnya.
وهذا كما قال لأنه عقد اليمين على ما هو ممنوع محرّم فقد وافقت اليمين موجَب الشرع وكذلك لو قال والله لا أجامعك في حيضك أو نفاسك فالذي صدر منه ليس إيلاء لأنه حلف على الامتناع مما هو ممنوع شرعاً
Hal ini sebagaimana yang dikatakan, karena ia mengucapkan sumpah atas sesuatu yang dilarang dan diharamkan, sehingga sumpahnya sesuai dengan ketentuan syariat. Demikian pula jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu saat haid atau nifas,” maka yang diucapkannya itu bukanlah ila’, karena ia bersumpah untuk meninggalkan sesuatu yang memang dilarang secara syariat.
فصل قال ولو قال والله لا أقربك خمسة إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu selama lima…” dan seterusnya.
فإذا قال والله لا أجامعك خمسة أشهر ثم إذا مضت خمسةُ أشهر فوالله لا أجامعك سنة فقد عقد يمينين على مدّتين مختلفتين متعاقبتين فنتصرّف في المدة الأولى واليمينِ فيها ونقول إذا مضت أربعةُ أشهر توجهت الطَّلِبة من المرأة بحكم اليمين الأولى ثم لا يخلو الزوج إما أن يفيء أو يطلق فإن فاء انحلت اليمين الأولى وفي لزوم الكفارة من اختلاف القَوْل ما ذكرناه
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama lima bulan,” kemudian setelah lima bulan berlalu ia berkata lagi, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama setahun,” maka ia telah mengucapkan dua sumpah untuk dua masa yang berbeda dan berurutan. Maka kita memperlakukan masa pertama dan sumpah yang terkait dengannya, dan kita katakan bahwa setelah empat bulan berlalu, istri berhak menuntut sesuai hukum sumpah pertama. Kemudian, suami tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia kembali (berhubungan) atau menceraikan. Jika ia kembali, maka sumpah pertama menjadi batal, dan mengenai kewajiban membayar kafarat, terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah disebutkan.
ثم لا يحتسب الشهر الخامس فإن اليمين قد انحلت فيه بل نقول إذا مضى الشهر الخامس فيدخل مفتتحُ مدّة اليمين الثانية فإنه كان قال فإذا مضت خمسةُ أشهر فوالله لا أجامعك سنة فإذا مضت أربعةُ أشهر من أول مدة اليمين الثانية وهي تقع لا محالة بعد انقضاء الشهر الخامس فإذا انقضت الأربعة الأشهر بعد الخمسة توجهت الطَّلِبةُ مرة أخرى فإن فاء انحلّت اليمين وفي لزوم الكفارة ما قدمناه
Kemudian bulan kelima tidak dihitung, karena sumpah telah terlepas di dalamnya. Bahkan, kami katakan bahwa jika bulan kelima telah berlalu, maka itu menjadi awal masa sumpah yang kedua. Misalnya, seseorang berkata: “Jika telah berlalu lima bulan, demi Allah aku tidak akan menggaulimu selama setahun.” Maka, jika telah berlalu empat bulan dari awal masa sumpah yang kedua—yang pasti terjadi setelah berakhirnya bulan kelima—maka setelah empat bulan berlalu setelah lima bulan, tuntutan (untuk kembali) muncul sekali lagi. Jika ia kembali (rujuk), maka sumpah pun terlepas, dan mengenai kewajiban membayar kafarat, telah kami jelaskan sebelumnya.
هذا إذا سلك طريق الفيئة
Ini jika menempuh jalan al-fiyā’ (kembali taat).
فأما إذا وجهنا عليه الطَّلبة في اليمين الأولى وطلّق فالقول فيه إذا راجع أو تركها حتى تبين ثم جدّد النكاح يستدعي تقديمَ أصلٍ مقصود فنقول
Adapun jika kita menuntutnya untuk bersumpah pada sumpah yang pertama lalu ia mentalak, maka pembahasan mengenai hal ini—apabila ia merujuk atau membiarkannya hingga terjadi talak bain lalu ia memperbarui akad nikah—memerlukan pemaparan suatu pokok bahasan yang dimaksudkan. Maka kami katakan:
إذا حلف الرجل لا يجامع امرأته وأطلق اليمين ولم يقيّدها بمدّة ثم لما طولب طلّق فإذا ردَّها لم يخلُ إما أن يردّها بالرجعة في العدة أو يردّها بالنكاح بعد البينونة فإن راجعها فيعود حكم الإيلاء بعد انقطاع الطّلبة والسبب فيه أن البينونة إذا لم تقع فالنكاح في حكم الاتحاد والتواصل فإذا راجعها فهو على حال المولين فإن المولي من يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر شيئاً وهو بعد الرجعة بهذه المثابة وللنكاح حكم الاتحاد فسبيله كسبيل من يحلف على الابتداء فإن دوام اليمين وتصوُّرَ الحنث كابتداء اليمين
Jika seorang laki-laki bersumpah tidak akan menggauli istrinya dan ia mengucapkan sumpah tersebut secara mutlak tanpa membatasinya dengan waktu tertentu, kemudian ketika dituntut (untuk menggauli) ia malah menceraikannya, lalu setelah itu ia merujuk istrinya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia merujuknya dengan rujuk dalam masa iddah, atau ia menikahinya kembali setelah terjadi bainunah. Jika ia merujuknya (dalam masa iddah), maka hukum ila’ (sumpah tidak menggauli istri) kembali berlaku setelah tuntutan (untuk menggauli) terputus. Sebabnya adalah karena jika bainunah belum terjadi, maka pernikahan masih dianggap sebagai satu kesatuan dan keterhubungan. Maka jika ia merujuk istrinya, keadaannya sama seperti orang yang melakukan ila’. Sebab orang yang melakukan ila’ adalah orang yang berkomitmen untuk melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan, dan setelah rujuk pun keadaannya seperti itu. Dan pernikahan memiliki hukum kesatuan, maka keadaannya sama seperti orang yang bersumpah sejak awal. Maka keberlangsungan sumpah dan kemungkinan terjadinya pelanggaran sumpah sama seperti permulaan sumpah.
فهذا قولنا في اطراد حكم الإيلاء
Inilah pendapat kami mengenai keberlakuan hukum ila’.
ثم قال الأئمة إذا كانت اليمين مُطْلَقة وقد طلق لمّا طولب بعد المدة فإذا راجع فلا تتوجه عليه الطَّلِبة على الفور كما راجعها وهذا من الجليات المتفق عليها ولا بد من التنبّه له فمعظم غلطات الفقهاء في الجليات
Kemudian para imam berkata, jika sumpah itu bersifat mutlak dan ia telah menceraikan ketika diminta setelah lewatnya waktu, maka jika ia rujuk, tidak wajib baginya untuk segera memenuhi permintaan itu sebagaimana ia telah merujuk istrinya. Ini termasuk perkara yang jelas dan telah disepakati, dan harus diperhatikan, karena kebanyakan kesalahan para fuqaha terjadi pada perkara-perkara yang sudah jelas.
وكان ينقدح في القياس أن يقال كما راجعها عادت الطلبة لأن النكاح له حكم الاتحاد ولم تجر منه الفيئة والضرارُ دائم ولكن لما طلق فقد أتى بأحد ما طولب به فيؤثّر الطلاق بإجماع الأصحاب بقطع حكم الطَّلبة التي توجهت بانقضاء المدة ثم جُعل في الرجعة كأنه آلى ابتداءً ولقد كان من قبل مخيَّراً بين أمرين الفيئة والطلاق فخرج منه أن الفيئة تَحِل اليمين وتدرأ الضرار ويخرج الرجل عن كونه مولياً والطلاق بعد المطالبة يقطع الطَّلِبةَ الحاقّةَ ولسنا نعني انسداد باب الطلب إذ لو كنا نعني ذلك ونكتفي به لعاد الطلب كما راجع فكان سقوط الطلب محققاً وكأنه وفّى بما أفضى إليه انقضاءُ المدة ثم جعلناه كالمبتدىء لأنه يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر أمراً فصار كما لو ارتجع وحلف ثم أثّر اتحاد النكاح في هذا المعنى وهذه قاعدة لا بد من الوقوف عليها
Dalam qiyās, dapat saja dikatakan bahwa sebagaimana ketika suami rujuk kepada istrinya maka permintaan (untuk kembali) kembali lagi, karena pernikahan memiliki hukum kesatuan, dan tidak terjadi darinya al-fiyā’ (kembali kepada istri) sementara mudarat tetap berlangsung. Namun, ketika suami menjatuhkan talak, berarti ia telah melakukan salah satu dari dua hal yang dituntut darinya, sehingga talak itu, menurut ijmā‘ para sahabat, berpengaruh dengan memutuskan hukum permintaan yang muncul akibat berakhirnya masa (empat bulan). Kemudian, dalam hal rujuk, suami dianggap seperti orang yang baru saja melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri). Sebelumnya, ia diberi pilihan antara dua hal: al-fiyā’ dan talak. Dari sini dipahami bahwa al-fiyā’ membatalkan sumpah dan menghilangkan mudarat, serta mengeluarkan suami dari status sebagai mu’li (orang yang bersumpah tidak menggauli istri), sedangkan talak setelah adanya tuntutan memutus permintaan yang sebenarnya. Kami tidak bermaksud menutup pintu permintaan sama sekali, sebab jika itu yang dimaksud dan kami cukupkan dengan itu, maka permintaan akan kembali sebagaimana saat suami rujuk. Maka, hilangnya permintaan benar-benar terjadi, seolah-olah suami telah memenuhi apa yang menjadi konsekuensi dari berakhirnya masa (empat bulan). Kemudian kami menganggapnya seperti orang yang memulai dari awal, karena ia berkomitmen dengan melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan terhadap suatu perkara, sehingga keadaannya seperti orang yang rujuk lalu bersumpah. Kemudian, kesatuan pernikahan berpengaruh dalam makna ini. Inilah kaidah yang harus diperhatikan.
ولو طلق لما طولب ثم تركها حتى بانت واليمين مُطْلقة ثم جدد النكاح عليها فلا شك أن اليمين باقيةٌ في باب البرّ والحِنث ولو قال رجل لأجنبية واللهِ لا أجامعك ثم زنا بها حنِث ولكن هل نجعله مولياً حتى إذا مضت أربعة أشهر نحكم بتوجيه الطلبة عليه فعلى قولي عَوْد الحنث
Jika seorang suami mentalak istrinya karena diminta, kemudian membiarkannya hingga habis masa iddah dan sumpahnya bersifat mutlak, lalu ia memperbarui akad nikah dengannya, maka tidak diragukan lagi bahwa sumpah itu tetap berlaku dalam hal memenuhi sumpah dan melanggarnya. Jika seorang laki-laki berkata kepada perempuan asing, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” lalu ia berzina dengannya, maka ia dianggap melanggar sumpah. Namun, apakah kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ sehingga jika telah berlalu empat bulan kita menetapkan adanya tuntutan terhadapnya? Maka hal ini mengikuti dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran sumpah.
فإذاً حكم البر والحنث مستمر والقولان في خاصّية الإيلاء من توجيه الطّلبة المردّدة بين الفيئة والطلاق
Jadi, hukum berkaitan dengan menunaikan sumpah dan melanggarnya tetap berlaku, dan dua pendapat mengenai kekhususan ila’ berasal dari penjelasan para penuntut ilmu yang masih diperdebatkan antara kembali (rujuk) dan talak.
هذا بيان الحكم في الأصل الذي قدمناه ونحن نعود بعده إلى مسألة الكتاب
Ini adalah penjelasan hukum pada pokok yang telah kami kemukakan, dan setelahnya kami akan kembali kepada pembahasan masalah dalam kitab.
فإذا قال والله لا أجامعك خمسة أشهر فإذا مضت فوالله لا أجامعك سنة فإذا مضت أربعة أشهر من المدّة الأولى وتوجهت الطلبة فطلق ثم راجع فلا تتوجه الطلبة بحكم اليمين الأولى قط فإنه لم يبق من مدتها إلا شهرٌ
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama lima bulan,” lalu setelah berlalu waktu itu ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama setahun,” kemudian setelah berlalu empat bulan dari masa yang pertama dan permintaan (untuk melakukan hukum) telah diajukan, lalu ia mentalak kemudian merujuk kembali, maka permintaan (untuk menjalankan hukum) tidak dapat diajukan berdasarkan sumpah yang pertama sama sekali, karena yang tersisa dari masanya hanya satu bulan.
ولو كانت اليمين مُطلقة كنا نمهله أربعة أشهر ثم نعرض الطلبةَ بعدها فقد حَبِط أثرُ الإيلاء في اليمين الأولى نعم لو وطىء وهو غير مطالب به وقد بقي من الشهر الخامس بقية فيلزمه كفارة يمين
Jika sumpah itu diucapkan secara mutlak, maka kita memberinya tenggang waktu selama empat bulan, kemudian setelah itu kita menanyakan kembali permintaannya. Maka, pengaruh ila’ pada sumpah yang pertama menjadi gugur. Namun, jika ia melakukan hubungan suami istri tanpa ada tuntutan dan masih tersisa waktu dari bulan kelima, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.
وهاهنا سؤال وجواب عنه إن قيل إذا فرّعنا على أن المولي لو فاء لم يلتزم الكفارة فإذا طلق في الصورة التي ذكرناها ثم راجع ولا طَلِبةَ فلو فاء هل يلتزم الكفارة الوجه عندنا أنه يلتزم لأنه خرج عن كونه مولياً
Di sini terdapat sebuah pertanyaan beserta jawabannya: Jika dikatakan, apabila kita berpendapat bahwa seorang suami yang melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri) lalu kembali (berhubungan) maka ia tidak wajib membayar kafarat, maka jika ia menceraikan dalam keadaan seperti yang telah kami sebutkan, kemudian ia merujuk istrinya dan tidak ada tuntutan dari pihak istri, lalu ia kembali (berhubungan), apakah ia wajib membayar kafarat? Menurut pendapat kami, ia wajib membayar kafarat karena ia telah keluar dari status sebagai orang yang melakukan ila’.
ولا يبعد أن يقال لا يلتزم الكفارة نظراً إلى ابتداء عقد اليمين فإنها لم تعقد على التزام الكفارة والمولي الذي لا يلتزم الكفارة بالوطء بعد المدة لو وطىء قبل انقضاءِ المدة لا يلتزم الكفارة وإن لم يكن مطالباً بذلك الوطء
Tidak jauh kemungkinan untuk dikatakan bahwa tidak wajib membayar kafarat dengan mempertimbangkan awal akad sumpah, karena sumpah tersebut tidak diikrarkan untuk mewajibkan kafarat. Seseorang yang melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri) dan tidak mewajibkan kafarat jika berhubungan setelah masa tertentu, maka jika ia berhubungan sebelum habisnya masa tersebut, ia juga tidak wajib membayar kafarat, meskipun ia tidak dituntut untuk melakukan hubungan tersebut.
وهذا تلبيس فإن ذلك الوطء هو الذي يطالَب به بعد المدة ولكنه في مَهَلٍ وأجل والدليل عليه أن الطلب ينقطع بجريانه فهذا مسلك الكلام
Ini adalah suatu bentuk penyesatan, karena hubungan suami istri itu adalah yang dituntut setelah lewatnya masa tertentu, namun ia berada dalam tenggang waktu dan batas waktu tertentu. Dalilnya adalah bahwa tuntutan itu gugur dengan berjalannya waktu tersebut. Inilah cara pembahasan masalah ini.
والوجه عندنا ما قدمناه من أن الكفارة تجب في الشهر الخامس بعد الرجعة إذا انقطعت طَلِبةُ الإيلاء فإن الدافع للكفارة ما كان في اليمين من شوب الطلاق وإذا زال حُكم الطلاق فاليمين مستمرة على صيغتها وحقيقتها
Menurut kami, pendapat yang telah kami kemukakan adalah bahwa kafarat wajib dilakukan pada bulan kelima setelah rujuk, jika tuntutan untuk melakukan ila’ telah terputus. Sebab yang mendorong kewajiban kafarat adalah adanya unsur talak dalam sumpah tersebut. Jika hukum talak telah hilang, maka sumpah tetap berlangsung sesuai lafaz dan hakikatnya.
ثم إذا مضى الشهر الخامس ودخل أمد اليمين الثانية فتحسب أربعة أشهر من أول الشهر السادس ثم تتوجه الطلبة فإن طلق انقطع الطلب فإن راجع نُظر كم بقي من السنة فإن كان تبقى من السنة أربعةُ أشهر أو أقل فلا إيلاء فإن المدة الباقية ليست زائدة على الأربعة الأشهر فلا يفرض الإيلاء فيها ولكن لو وطىء حنِث في يمينه إذ لو وطئها في البينونة لَحَنِث فليتنبه الناظر لانقطاع حكم الإيلاء وبقاء اليمين في البر والحنث
Kemudian, apabila bulan kelima telah berlalu dan telah masuk masa sumpah kedua, maka dihitung empat bulan sejak awal bulan keenam, kemudian permintaan (untuk memenuhi hak istri) diajukan. Jika suami menceraikan, maka permintaan tersebut terputus. Jika suami rujuk, maka dilihat berapa sisa dari satu tahun. Jika sisa tahun tersebut empat bulan atau kurang, maka tidak ada ilā’. Sebab, sisa waktu tersebut tidak melebihi empat bulan, sehingga tidak ditetapkan ilā’ di dalamnya. Namun, jika suami menggauli istrinya, ia dianggap melanggar sumpahnya, karena jika ia menggauli istrinya dalam masa bain (talak bain), ia pun dianggap melanggar sumpah. Maka hendaknya orang yang menelaah masalah ini memperhatikan bahwa hukum ilā’ telah terputus, namun sumpah tetap berlaku dalam hal menepati atau melanggar.
ولو كان الباقي من السنة بعد الخمسة الأشهر أكثرُ من أربعة أشهر فالإيلاء يعودُ على معنى أنه إذا انقضت أربعةُ أشهر بعد الرّجعة توجهت الطلبة ثم لا يخفى حكم الطلب وما يتعلق به
Jika sisa waktu dari satu tahun setelah lima bulan itu lebih dari empat bulan, maka ila’ kembali pada makna bahwa apabila telah berlalu empat bulan setelah rujuk, maka permintaan (untuk berhubungan) menjadi berlaku. Kemudian, tidaklah samar hukum permintaan tersebut dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
وكل ذلك والطلاق رجعي وقد ردها بالرجعة
Semua itu terjadi sementara talak yang dijatuhkan adalah talak raj‘i, dan ia telah merujuk istrinya kembali dengan melakukan ruju‘.
فأما إذا تركها حتى بانت ثم جدد النكاح فحيث لا يعود الإيلاء بالرجعة لقصر المدة لا يعود الإيلاء بعد النكاح
Adapun jika ia membiarkannya hingga terjadi talak bain, kemudian memperbarui akad nikah, maka sebagaimana ila’ tidak kembali dengan rujuk karena singkatnya masa, demikian pula ila’ tidak kembali setelah akad nikah.
وحيث يعود الإيلاء بعد الرجعة فهل يعود بعد النكاح فعلى قولي عود الحنث وقد ذكرنا في تعليق الطلاق وعَوْد الحنث أقوالاً ورأينا أنه إذا علق الطلاق ثم نجّز ثلاثَ طلقات ثم نكح بعد التحلل فالأصح أن الحِنث لا يعود فإنه نجّز ما علق فاقتضى ذلك انحلالَ اليمين وفيه قولٌ آخر ذكرناه ووجّهناه بالممكن
Karena ila’ dapat kembali setelah rujuk, maka apakah ia juga kembali setelah akad nikah? Maka, menurut dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran sumpah (al-hinth), kami telah menyebutkan dalam pembahasan tentang ta‘liq talak dan kembalinya pelanggaran sumpah beberapa pendapat. Kami berpendapat bahwa jika seseorang menggantungkan talak, kemudian menjatuhkan tiga talak secara langsung, lalu menikah kembali setelah masa halal, maka pendapat yang paling sahih adalah pelanggaran sumpah tidak kembali, karena ia telah mengeksekusi apa yang digantungkan, sehingga hal itu menuntut lepasnya sumpah. Namun, ada pendapat lain yang telah kami sebutkan dan kami jelaskan kemungkinannya.
فإن قيل كما فصلتم بين البينونة من غير استيفاء العَدد وبين استيفاء العدد في عَوْد الحنث في باب تعليق الطلاق فهل تَفْصِلون في عَوْد حكم الإيلاء بين أن يتخلل استيفاء العدد وبين ألا يتخلل قلنا ينقدح الفصل هاهنا أيضاًً فإن من آلى فحكم الإيلاء توجيه الطِّلِبة عليه بطلاق يملكه فإذا استوفى الطلقات فقد زال ملكه فيظهر زوال المطالبة
Jika dikatakan, sebagaimana kalian membedakan antara perpisahan (ba’inah) tanpa penyempurnaan ‘iddah dan dengan penyempurnaan ‘iddah dalam hal kembalinya pelanggaran pada bab ta‘liq talak, maka apakah kalian juga membedakan dalam kembalinya hukum ila’ antara adanya penyempurnaan jumlah talak dan tidak adanya? Kami katakan, perbedaan itu juga mungkin terjadi di sini. Sebab, siapa yang melakukan ila’, maka hukum ila’ adalah mengarahkan tuntutan kepadanya untuk menjatuhkan talak yang masih dimilikinya. Jika ia telah menyempurnakan jumlah talak, maka kepemilikannya telah hilang, sehingga tampaklah hilangnya tuntutan tersebut.
ويجوز أن يقال لا يظهر الفرق لأن المقصود بالطلب الفيئةُ لا الطلاق ووجه طلب الطلاق كونهُ مخلِّصاً من الضرار والفيئة توفيةٌ للحق
Dan boleh dikatakan bahwa tidak tampak perbedaan, karena yang dimaksud dari permintaan adalah al-fiyā’ (kembali suami) bukan talak. Adapun alasan permintaan talak adalah karena talak itu membebaskan dari kemudaratan, sedangkan al-fiyā’ adalah pemenuhan hak.
وإذا نبهنا على تقابل الإمكان اهتدى من تهدَّى
Dan apabila kami menunjukkan adanya pertentangan kemungkinan, maka orang yang mendapat petunjuk akan memperoleh petunjuk.
ومما نذكره متصلاً بعود الحِنث أن الرجل إذا قال لأجنبية والله لا أجامعك ثم نكحها فالحنث والبرّ يجريان لا محالة ولكن لا يثبت حكم الإيلاء فإن اليمين ما جرت في النكاح والمطالبةُ بالطلاق من أحكام النكاح فيستحيل أن يثبت اقتضاءُ الطلاق بيمينٍ سابقة على النكاح وكذلك لو قال إن نكحتك فوالله لا أصيبك فلا يثبت الإيلاء ولا أثر للإضافة إلى النكاح
Hal yang perlu kami sebutkan terkait dengan kembalinya pelanggaran sumpah adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada perempuan asing, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” lalu ia menikahinya, maka pelanggaran dan penunaian sumpah pasti berlaku. Namun, hukum ila’ tidak berlaku, karena sumpah tersebut tidak terjadi dalam pernikahan, sedangkan tuntutan cerai merupakan bagian dari hukum pernikahan. Maka, tidak mungkin tuntutan cerai ditetapkan berdasarkan sumpah yang diucapkan sebelum pernikahan. Demikian pula, jika ia berkata, “Jika aku menikahimu, demi Allah aku tidak akan menggaulimu,” maka ila’ tidak berlaku dan tidak ada pengaruh dari pengaitan sumpah dengan pernikahan.
وكل ما ذكرناه فيه إذا ذكر يمينين مشتملتين على مدّتين متعاقبتين فلو قال والله لا أصيبك خمسة أشهر والله لا أصيبك سنة فإذا مضت أربعة أشهر وتوجهت الطَّلبة ففاء انحلت اليمينان
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika disebutkan dua sumpah yang masing-masing mencakup dua masa yang berurutan. Maka jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyetubuhimu selama lima bulan, demi Allah, aku tidak akan menyetubuhimu selama satu tahun,” lalu telah berlalu empat bulan dan istri menuntut (haknya), kemudian suami melakukan fā’, maka kedua sumpah tersebut menjadi batal.
فإذا فرّعنا على إيجاب الكفارة أوجبنا كفارتين أو كفارة واحدة فعلى وجهين يجريان في كل يمينين ينحلاّن بفعل واحد
Jika kita membangun pendapat atas kewajiban membayar kafarat, maka apakah wajib membayar dua kafarat atau satu kafarat saja, terdapat dua pendapat yang berlaku dalam setiap dua sumpah yang keduanya gugur dengan satu perbuatan.
وإذا قال الرجل والله لا آكل الخبز والله لا آكل طعام زيد ثم أكل الخبز من مال زيد وانحلت اليمينان ففي تعدد الكفارة وجهان أحدهما التعدّد فإن الحنث متعدّد وهو المحلّل لا صورة الفعل ولو قلنا الفعلُ في حقيقته متعدد لم يكن بعيداً فإنه أكل رغيفاً وأكل مالَ زيد
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan makan roti,” dan “Demi Allah, aku tidak akan makan makanan Zaid,” kemudian ia memakan roti dari harta Zaid sehingga kedua sumpahnya batal, maka dalam hal kewajiban membayar kafarat ada dua pendapat. Pendapat pertama, kafaratnya berlipat ganda karena pelanggarannya berlipat ganda, yaitu pada hal yang membolehkan, bukan pada bentuk perbuatannya. Jika dikatakan bahwa perbuatan itu pada hakikatnya berlipat ganda, maka itu tidaklah jauh, karena ia telah memakan sepotong roti dan juga memakan harta Zaid.
ولو توجهت الطلبة فطلق ثم راجع فكما راجع ابتدأنا في احتساب الأربعة الأشهر ولا نصْبر إلى انقضاء الشهر الخامس فإنه في اليمين الثانية عقد على سنةٍ يندرج تحتها الخمسةُ الأشهر التي حلف عليها أولاً فإذا راجع فهو في بقية اليمين الثانية
Jika istri mengajukan permohonan, lalu suami mentalak, kemudian merujukinya kembali, maka ketika suami merujukinya, kita mulai menghitung kembali masa empat bulan, dan kita tidak menunggu sampai berakhirnya bulan kelima. Sebab, pada sumpah yang kedua, suami telah mengikat pada satu tahun yang di dalamnya termasuk lima bulan yang telah ia sumpahkan sebelumnya. Maka jika ia merujukinya, ia berada dalam sisa masa sumpah yang kedua.
والمسألة مفروضة فيه إذا بقيت من السنة أكثرُ من أربعة أشهر لِما تقدم تمهيده
Permasalahan ini diasumsikan terjadi apabila sisa waktu dari tahun tersebut masih lebih dari empat bulan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولا معنى بعد هذا لتكثير الصور والذي تجدد في المسألة الثانية دخولُ خمسة أشهر تحت يمينين وفرضُ انحلالهما جميعاًً بالوطء في الخمسة الأشهر
Tidak ada lagi makna setelah ini untuk memperbanyak bentuk-bentuk (kasus), dan hal baru dalam masalah kedua adalah masuknya lima bulan di bawah dua sumpah, serta anggapan keduanya batal seluruhnya karena hubungan suami istri dalam lima bulan tersebut.
وإن انقضت من غير وطء تجرّدت يمين واحدة ولا يكاد يخفى هذا ولسنا نترك الصور في أمثال ذلك إلا بعد النظر فيها والعلم بأنها لا تخفى على متأمل
Dan jika masa tersebut berakhir tanpa adanya hubungan suami istri, maka cukup dengan satu sumpah saja, dan hal ini hampir tidak tersembunyi. Kami tidak meninggalkan rincian kasus dalam hal-hal semacam itu kecuali setelah meneliti dan mengetahui bahwa hal tersebut tidak akan luput dari perhatian orang yang memperhatikan.
ولو قال والله لا أجامعك أربعة أشهر فإذا مضت فوالله لا أجامعك أربعة أشهر فقد قدمنا أنه لا يكون مولياً وذكرنا فيه الوجهَ الغريب ولم نعدّه من المذهب وقد شبه المحققون هذا بما لو اشترى الرجل بصفقاتٍ ألفَ وَسْقٍ في العرايا وكل صفقة تشتمل على أربعة أوسق فلا امتناع في ذلك وإن كنا نمنع اشتمال صفقة واحدة على ستة أوسق فان كان صاحبُ الوجه الغريب يسلّم هذا ولا يشبّب فيه بتخريج فهو لازم وإن طرد فيه التخريج لم نملك إلا الاستبعاد
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” kemudian setelah waktu itu berlalu ia berkata lagi, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” maka telah kami sebutkan sebelumnya bahwa hal itu tidak termasuk dalam kategori ila’ (sumpah tidak menggauli istri), dan kami telah menyebutkan pendapat yang ganjil dalam hal ini, namun kami tidak menganggapnya sebagai bagian dari mazhab. Para ahli yang teliti telah menyamakan kasus ini dengan seseorang yang membeli seribu wasq dalam beberapa transaksi araya, di mana setiap transaksi terdiri dari empat wasq; maka tidak ada larangan dalam hal itu, meskipun kami melarang satu transaksi mencakup enam wasq. Jika pemilik pendapat ganjil itu menerima hal ini dan tidak mengaitkannya dengan istinbat, maka itu menjadi konsekuensinya. Namun jika ia menerapkan istinbat dalam hal ini, maka kami tidak bisa kecuali menganggapnya jauh dari kebenaran.
وقد يظهر فرق بين البابين من جهة أن رعاية الضرار ظاهرة في الإيلاء وهذا يعم الجبلاّت فإن ندرت صورة فالإيذاء باللسان وإظهار الزهد بيّن وقد يثبت الإيلاء من المجبوب لما في لسانه من الإيذاء وأما أمرُ الحاجة فلا يكاد يظهر في بيع العرايا ولهذا نصحح العريةَ من الغني صاحب البساتين فتخيُّلُ الحاجة في العرية كتخيّل الحاجة في الإجارة فينفصل من هذا الوجه البابُ عن الباب وإذا تبين اعتبار الضرر فالإضرار كائن في الأيمان المتوالية على وجه كونها في اليمين الواحدة
Mungkin tampak ada perbedaan antara kedua bab ini dari sisi bahwa pertimbangan adanya mudarat sangat jelas dalam masalah ila’, dan ini mencakup sifat-sifat bawaan; meskipun jarang terjadi, menyakiti dengan lisan dan menunjukkan sikap tidak peduli sangat nyata, dan bisa saja ila’ ditetapkan atas orang yang telah dikebiri karena lisannya yang menyakiti. Adapun soal kebutuhan, hal itu hampir tidak tampak dalam jual beli ‘ariyah. Oleh karena itu, kami membolehkan ‘ariyah bagi orang kaya pemilik kebun, sehingga membayangkan adanya kebutuhan dalam ‘ariyah seperti membayangkan kebutuhan dalam ijarah. Dengan demikian, dari sisi ini, kedua bab tersebut dapat dibedakan. Jika telah jelas bahwa pertimbangan mudarat itu penting, maka mudarat juga terdapat dalam sumpah-sumpah yang berulang-ulang, sebagaimana adanya dalam satu sumpah.
ولا خلاف أنه لو قال لا أجامعك أربعة أشهر ثم مكث حتى انقضت فقال مبتدئاً والله لا أجامعك أربعة أشهر فلا يكون مولياً والوجه الضعيف إنما يُخرّج إذا صدرت منه الأيمان وظهر منه قصدُ إطالة مدة الامتناع بالأيمان وليس من الحزم التفريع على الوجوه البعيدة
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” lalu ia diam hingga waktu itu berlalu, kemudian ia memulai lagi dengan berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu selama empat bulan,” maka ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ila’. Pendapat yang lemah hanya dikemukakan jika sumpah-sumpah itu diucapkan darinya dan tampak darinya maksud memperpanjang masa penahanan dengan sumpah-sumpah tersebut. Namun, bukanlah sikap yang bijak membangun cabang hukum atas pendapat-pendapat yang jauh (lemah).
فصل قال ولو قال إن قربتك فلله علي صوم هذا الشهر إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika aku mendekatimu, maka wajib atasku karena Allah untuk berpuasa bulan ini sampai selesai.”
إذا قال لامرأته إن قربتك فعليّ صوم شهر فالذي جاء به يمين عُلّق والتفريع على الجديد في أن الإيلاء لا يختص باليمين بالله ثم التفريع لا محالة على أن الحانث ملتزم وإذا حَنِث في يمين اللجاج والغضب ففيما يلزمه ثلاثة أقوال أحدها أنه يلزمه الوفاء بما التزم والثاني أنه يلزمه كفارة اليمين والثالث أنه يتخير بين كفارة اليمين وبين الوفاء
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika aku mendekatimu, maka aku wajib berpuasa satu bulan,” maka yang ia lakukan adalah sumpah yang digantungkan (pada suatu syarat). Pembahasan ini didasarkan pada pendapat baru (al-jadid) bahwa ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri) tidak khusus dengan sumpah atas nama Allah. Kemudian, pembahasan selanjutnya pasti didasarkan pada pendapat bahwa orang yang melanggar sumpahnya tetap berkewajiban (menunaikan apa yang ia ucapkan). Jika ia melanggar sumpah lājaj dan kemarahan, maka ada tiga pendapat mengenai apa yang wajib ia lakukan: pertama, ia wajib memenuhi apa yang ia janjikan; kedua, ia wajib membayar kafarat sumpah; dan ketiga, ia boleh memilih antara membayar kafarat sumpah atau memenuhi janjinya.
وقد نص الشافعي على هذا القول في هذه المسألة من هذا الكتاب ولم يُلْفَ هذا النص للشافعي إلا هاهنا
Imam Syafi‘i telah menegaskan pendapat ini dalam masalah ini di dalam kitab ini, dan tidak ditemukan nash (teks) dari Imam Syafi‘i mengenai hal ini kecuali di sini.
وتوجيهُ الأقوال فيما يلتزمه الحانث من يمين اللجاج والتفريعِ عليها يأتي في كتاب النذور
Penjelasan mengenai pendapat-pendapat tentang apa yang wajib dipenuhi oleh orang yang melanggar sumpah lājaj dan rincian hukumnya akan dibahas dalam Kitab Nazar.
وقدْرُ غرضنا منها أنه إذا قال إن أصبتك فلله علي صوم شهرٍ فهو مولي فإنه يلتزم بالجماع بعد أربعة أشهر أمراً
Tujuan kami dari pembahasan ini adalah bahwa jika seseorang berkata, “Jika aku menyetubuhimu, maka aku wajib berpuasa satu bulan karena Allah,” maka ia dianggap melakukan ila’, sehingga ia diwajibkan untuk melakukan jima’ setelah empat bulan sebagai suatu perintah.
وإذا قال إن أصبتك فلله علي صوم هذا الشهر فهو ليس بمولٍ من جهة أن هذا الشهرَ إذا انقضى انحلت اليمين إذْ لو وطىء فلا يتصور التزام الصوم على قول الوفاء فإن الصوم إذا أضيف إلى أيام اختصّ بها ومن التزم بالنذر صوم يومٍ تعيّن اليومُ الذي عينه على الرأي الظاهر فإذا انقضى الشهر فالوفاء غير ممكن وإذا لم يجب الوفاء على قول الوفاء لم تجب الكفارة
Dan jika seseorang berkata, “Jika aku mencampurimu, maka aku wajib berpuasa pada bulan ini karena Allah,” maka ia tidak termasuk kategori ilā’ dari sisi bahwa jika bulan ini telah berlalu, sumpah itu menjadi batal. Sebab, jika ia mencampuri istrinya, tidak mungkin ia melaksanakan puasa sebagai bentuk memenuhi sumpah, karena puasa jika dikaitkan dengan hari-hari tertentu, maka ia menjadi khusus pada hari-hari tersebut. Barang siapa yang mewajibkan puasa satu hari dengan nadzar, maka hari yang ia tentukan itu menjadi wajib menurut pendapat yang kuat. Maka jika bulan itu telah berlalu, pelaksanaan nadzar tidak mungkin dilakukan. Dan jika pelaksanaan nadzar tidak wajib menurut pendapat yang mewajibkan pelaksanaan, maka kafārah pun tidak wajib.
فإن قيل الكفارة إنما تجري حيث يتصور الالتزام نذراً فإذا تبيّن أن الحِنْث لا يتصور بعد الشهر الأول فليس الرجل مولياً فإن المولي من يلتزم بالجماع بعد أربعة أشهر أمراً وقد أوضحنا أن الجماع لو فرض بعد الشهر الأول لم يجب شيء ولا نظر إلى إطلاق الامتناع عن الوطء عموماً بل يجب مراعاة تقدير الالتزام بالوطء بعد أربعة أشهر وهذا المعنى مفقود في هذه المسألة
Jika dikatakan bahwa kafarat hanya berlaku di tempat di mana dapat dibayangkan adanya komitmen seperti nazar, maka jika telah jelas bahwa pelanggaran sumpah (hints) tidak mungkin terjadi setelah bulan pertama, berarti laki-laki tersebut bukanlah seorang mu‘alla (orang yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya). Sebab, mu‘alla adalah orang yang berkomitmen untuk melakukan jima‘ (hubungan suami istri) setelah empat bulan sebagai suatu kewajiban. Kami telah menjelaskan bahwa jika jima‘ itu terjadi setelah bulan pertama, maka tidak ada kewajiban apa pun, dan tidak perlu memperhatikan larangan mutlak terhadap jima‘ secara umum, melainkan yang harus diperhatikan adalah komitmen untuk melakukan jima‘ setelah empat bulan. Makna ini tidak terdapat dalam permasalahan ini.
قال الشافعي رضي الله عنه إذا قال إن أصبتك فلله علي صوم هذا الشهر فليس بمولٍ كما لو قال إن أصبتك فلله عليّ صوم أمس وغرضه في الشبه بيّنٌ واضح وإن كان مطلَقُه محوجاً إلى التأويل فإن قول القائل إن وطئتك فلله عليّ صوم أمس فهذا لغوٌ لا انعقاد له في وجه
Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka wajib atasku puasa bulan ini karena Allah,” maka ia tidak dianggap melakukan ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri), sebagaimana jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka wajib atasku puasa kemarin karena Allah.” Tujuan dalam kemiripan ini jelas dan nyata, meskipun lafaznya secara mutlak membutuhkan penafsiran. Sebab, ucapan seseorang, “Jika aku menggaulimu, maka wajib atasku puasa kemarin karena Allah,” adalah ucapan sia-sia yang tidak memiliki konsekuensi apapun menurut salah satu pendapat.
وإذا قال إن وطئتك فلله علي صوم هذا الشهر فاليمين منعقدة على الجملة فإنه لو وطىء في ذلك الشهر كان حانثاً ملتزماً أمراً على الأقوال الثلاثة
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka wajib atasku karena Allah untuk berpuasa pada bulan ini,” maka sumpahnya dianggap sah secara keseluruhan. Sebab, jika ia benar-benar menggauli pada bulan tersebut, ia dianggap melanggar sumpah dan wajib menunaikan sesuatu menurut tiga pendapat yang ada.
وإذا قال فعليّ صوم أمس فهذا لغوٌ لا يتعلق به التزامٌ أصلاً وإنما شبه الشافعي رضي الله عنه هذه المسألة بالتزام صوم أمس من حيث إنه لا يكون مولياً في المسألتين جميعاًً فلا أثر لليمين بعد الأربعة الأشهر فهذا وجه تشبيهه وغرضُ الكلام في إثبات الإيلاء ونفيه
Dan jika seseorang berkata, “Atas diriku puasa kemarin,” maka ini adalah ucapan sia-sia yang sama sekali tidak mengandung komitmen apa pun. Hanya saja, Imam Syafi‘i raḥimahullāh menyerupakan masalah ini dengan komitmen untuk berpuasa kemarin dari segi bahwa dalam kedua permasalahan tersebut tidak dianggap sebagai mu‘alla (orang yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya), sehingga sumpah tersebut tidak berpengaruh setelah empat bulan. Inilah sisi penyerupaannya, dan tujuan pembicaraan ini adalah untuk menetapkan atau menafikan status iilā’ (sumpah tidak menggauli istri).
فصل قال ولو قال إن قربتك فأنت طالق ثلاثاًً إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika aku mendekatimu, maka engkau tertalak tiga,” dan seterusnya.
الشافعي رضي الله عنه أدار معظم مسائل الإيلاء على الألفاظ التي هي كناية في الجماع كقوله إن قربتك الأصحُّ أن هذا كناية وإنما فعل الشافعي هذا لأنه مهّد القول في الصريح والكناية ثم اللائق بحفظ المروءة الكنايةُ في هذه المعاني فلم يُؤْثر ذكرَ الصريح وعَلِم أن ذلك يستبان من غرضه
Imam Syafi‘i raḥimahullāh membahas sebagian besar persoalan ila’ berdasarkan lafaz-lafaz yang merupakan kinayah dalam hubungan suami istri, seperti ucapannya “Jika aku mendekatimu.” Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ini merupakan kinayah. Imam Syafi‘i melakukan hal ini karena beliau telah menjelaskan perbedaan antara lafaz sharih dan kinayah, kemudian yang lebih sesuai dengan menjaga kehormatan adalah menggunakan kinayah dalam makna-makna seperti ini, sehingga beliau tidak memilih untuk menyebutkan lafaz sharih. Beliau juga mengetahui bahwa maksud dari ucapan tersebut dapat dipahami dari tujuannya.
فإذا قال الرجل لامرأته إن جامعتك فأنت طالق فهو مولٍ لأنه لو جامع بعد أربعة أشهر التزم بالجماع الطلاقَ والمعنيُّ بالالتزام وقوعُه وفواتُ حق النكاح به والتفريع على الجديد فإذا ثبت أنه مولٍ فإذا مضت أربعة أشهر توجهت الطّلبة
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” maka ia termasuk orang yang melakukan ila’, karena jika ia menggauli istrinya setelah empat bulan, ia berkomitmen bahwa dengan melakukan hubungan suami istri akan terjadi talak, dan yang dimaksud dengan komitmen di sini adalah terjadinya talak dan hilangnya hak pernikahan karenanya. Berdasarkan pendapat baru (al-qawl al-jadid), jika telah tetap bahwa ia termasuk orang yang melakukan ila’, maka setelah berlalu empat bulan, tuntutan (untuk memilih antara kembali atau bercerai) menjadi berlaku.
ثم لا يخلو إما أن يؤثر الفيئة وإما أن يؤثر الطلاق فإن فاء فكما غيّب الحشفةَ طُلقت ثلاثاًً فإن اسم الوطء وحكمه يتحققان بتغييب الحشفة ثم إن غيّب وكما غيب نزع من غير مُكث لم يلزمه حدٌّ ولا مهر فإن التغييب وقع في ملكه ثم لم يعرِّج على أمرٍ إلا على الترك وتركُ الشيء والانكفافُ عنه ليس في معنى الإقدام عليه ولهذا قلنا من أدرك أول الفجر فقرن به النزعَ وكان مخالطاً أهله صح صومه
Kemudian, tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memilih untuk kembali (rujuk) atau memilih untuk menceraikan. Jika ia kembali (rujuk), maka sebagaimana ketika ia memasukkan hasyafah (kepala zakar), istrinya langsung tertalak tiga, karena nama dan hukum jima‘ (hubungan suami istri) telah terwujud dengan masuknya hasyafah. Kemudian, jika ia memasukkan dan langsung mencabut tanpa berdiam lama, maka tidak wajib baginya hadd (hukuman) maupun mahar, karena penetrasi itu terjadi dalam hak miliknya, lalu ia tidak melakukan apa-apa selain meninggalkan (jima‘), dan meninggalkan sesuatu serta menahan diri darinya tidak sama maknanya dengan melakukannya. Oleh karena itu, kami katakan: barang siapa yang mendapati awal fajar lalu mencabut (zakar) dan ia sedang berhubungan dengan istrinya, maka puasanya sah.
وإن استدام ومكث أو أَوْعب ولم ينزع فإن كانت جاهلة فقد سكت الشافعي عن وجوب المهر ونص في الصوم على أن من كان مخالطاً أهلَه فطلع الفجر فمكث ولم ينزع قال يلزمه الكفارة
Jika ia tetap melanjutkan dan berdiam, atau melakukannya secara penuh tanpa mencabut, maka jika perempuan itu tidak mengetahui hukumnya, Imam Syafi‘i diam (tidak berpendapat tegas) mengenai kewajiban mahar. Namun, beliau menegaskan dalam masalah puasa bahwa siapa pun yang sedang berhubungan dengan istrinya lalu fajar terbit dan ia tetap tidak mencabut, maka ia wajib membayar kafarat.
فمن أصحابنا من قال في المسألتين قولان بنقل الجوابين أحدهما يجب المهر والكفارة لأنه بالمكث والاستدامة مجامع والاستدامةُ استمتاعٌ حقه أن يُتقَوَّم وهو مناقض للصوم أيضاًً فلا وجه لاعتبار الابتداء مع العلم بأن صورة الفعل وجنسه هو المعنيُّ بالنهي
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat dalam dua permasalahan tersebut terdapat dua pendapat, dengan menukil dua jawaban: salah satunya adalah wajib membayar mahar dan kafarat, karena dengan berdiam diri dan melanjutkan (hubungan), seseorang dianggap melakukan jima‘, dan melanjutkan itu merupakan bentuk istimta‘ yang seharusnya bernilai (dihitung), dan hal itu juga bertentangan dengan puasa. Maka, tidak ada alasan untuk mempertimbangkan permulaan (perbuatan) saja, karena diketahui bahwa bentuk perbuatan dan jenisnya itulah yang dimaksud dalam larangan.
والثاني لا يلزمه المهر ولا الكفارة لأنهما لم يتعلقا بأول الفعل والفعل متحد فلا يتعلقان بدوامه
Yang kedua, tidak wajib baginya membayar mahar maupun kafarat, karena keduanya tidak berkaitan dengan awal perbuatan, sedangkan perbuatan itu satu, sehingga keduanya tidak berkaitan dengan kelangsungannya.
ومن أصحابنا من لم يوجب المهر وأوجب الكفارة في محلها وفرّق بأن قال إذا قال إن وطئتك فأنت طالق ثلاثاً ثم وطئها فأول الوطء يتعلق به مهر النكاح فإن المهر المسمى في النكاح يقابل كل وَطْئِه ولا بد من هذا التقدير حتى لا تعرى وطأة عن مقابل وإذا كان كذلك امتنع وجوب المهر لاستدامة الوطء فإنا لو قلنا بذلك لعلّقنا بأول الوطء مهرَ النكاح ثم علقنا بدوامه مهراً مجدّداً ولا سبيل إلى ذلك
Sebagian dari ulama kami ada yang tidak mewajibkan mahar dan mewajibkan kafarat pada tempatnya, serta membedakan dengan mengatakan: Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak tiga,” lalu ia menggaulinya, maka pada awal hubungan tersebut terkait kewajiban mahar nikah, karena mahar yang disebutkan dalam akad nikah itu menjadi imbalan bagi setiap kali hubungan, dan harus ada anggapan seperti ini agar tidak ada satu kali hubungan pun yang tanpa imbalan. Jika demikian keadaannya, maka tidak mungkin mewajibkan mahar untuk kelanjutan hubungan, sebab jika kita mengatakan demikian, berarti kita menggantungkan mahar nikah pada awal hubungan, lalu menggantungkan mahar baru pada kelanjutannya, dan hal itu tidak mungkin dilakukan.
وأما الكفارة فإنها لم تتعلق بأول الوطء الواقع في الليل فإذا علقنا الكفارة بدوامه لم يكن جامعاً بين كفارتين بوطء واحدٍ
Adapun kafarat, maka ia tidak berkaitan dengan awal jima‘ yang terjadi pada malam hari. Jika kita mengaitkan kafarat dengan kelangsungan jima‘ tersebut, maka hal itu tidak berarti menggabungkan dua kafarat untuk satu kali jima‘.
ثم إن لم نوجب مهراً بالاستدامة عند فرض الجهل فلو علم تحريم الاستدامة فالأصح أن الحدّ لا يجبُ لأن أول الفعل واقعٌ في الملك
Kemudian, jika kita tidak mewajibkan mahar karena keberlanjutan dalam kasus ketidaktahuan, maka jika diketahui keharaman keberlanjutan, pendapat yang paling sahih adalah bahwa hadd tidak wajib, karena awal perbuatan terjadi dalam keadaan kepemilikan yang sah.
ومن أصحابنا من ذكر وجهاً ضعيفاً في وجوب الحد وهو مزيف لا تعويل عليه
Sebagian ulama dari kalangan kami menyebutkan satu pendapat yang lemah mengenai wajibnya hudud, namun pendapat itu tertolak dan tidak dapat dijadikan sandaran.
ولو غيب الحشفة وحكمنا بوقوع الثلاث ثم إنه نزع وأعاد فالذي قطع به الأصحاب أن هذا ابتداء وطء فإن كان مع الجهالة لزم المهر وإن كان مع العلم تعلّق الحدّ به فإنه ابتداء فعل وإنشاء وطء
Jika seseorang telah memasukkan hasyafah dan kami memutuskan terjadinya talak tiga, kemudian ia mencabut dan mengulangi lagi, maka menurut pendapat yang ditegaskan oleh para ulama, hal itu dianggap sebagai permulaan jima‘ yang baru. Jika dilakukan dalam keadaan tidak mengetahui (hukum), maka wajib membayar mahar. Namun jika dilakukan dengan pengetahuan (hukum), maka hudud berlaku atasnya, karena itu merupakan permulaan perbuatan dan penciptaan jima‘ yang baru.
قال شيخي أبو محمد رضي الله عنه إذا نزع ثم أعاد فهو وطء مبتدأ لا محالة وإن نزع ثم أعاد في أزمنة متواصلة قبل قضاء الوطر فقد يقع مثله في الوطاة الواحدة في ترديدات الرهز فهل يجب مهر بما فعل فعلى وجهين مرتبين على الوجهين في الاستدامة ولا شك أن هذه الصورة أولى بلزوم المهر ولم أر هذا إلا لشيخنا وباقي الأصحاب قاطعون بأن الإيلاج بعد النزع وطء مبتدأ في كل حكم
Syekhku Abu Muhammad, semoga Allah meridhainya, berkata: Jika seseorang mencabut (kemaluannya) lalu memasukkannya kembali, maka itu adalah hubungan seksual yang baru tanpa diragukan lagi. Jika ia mencabut lalu memasukkannya kembali dalam waktu-waktu yang berdekatan sebelum mencapai kepuasan, maka hal seperti itu bisa saja terjadi dalam satu kali hubungan seksual pada beberapa kali gerakan. Apakah wajib membayar mahar atas apa yang dilakukan? Maka ada dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam masalah kesinambungan (istidāmah). Tidak diragukan lagi bahwa kasus ini lebih utama untuk mewajibkan mahar. Aku tidak menemukan pendapat ini kecuali dari guru kami, sedangkan para ulama lain sepakat bahwa penetrasi setelah pencabutan dianggap sebagai hubungan seksual yang baru dalam setiap hukum.
والممكن في توجيه ما ذكره ما أجريناه في التصوير حيث قلنا هذا يعدّ وطأة واحدة ويمكن أن يشبّه باتحاد الرضعة والصبيُّ قد يلتقم الثدي ثم يلفظه ويلهو ثم يعود ويلتقم والكل رضعة ولا تعويل على هذا الوجه مع ما ذكرناه
Penjelasan yang mungkin atas apa yang telah disebutkan adalah seperti yang kami lakukan dalam ilustrasi, di mana kami katakan bahwa hal ini dianggap sebagai satu kali hubungan, dan dapat diibaratkan dengan penyatuan satu kali menyusu; seorang anak bisa saja mengisap payudara, lalu melepaskannya dan bermain-main, kemudian kembali lagi dan mengisapnya, dan semuanya tetap dihitung sebagai satu kali menyusu. Namun, tidak dapat dijadikan sandaran pada penjelasan ini dibandingkan dengan apa yang telah kami sebutkan.
وحيث ذكرنا المهر فلا شك أنه مفروض في جهلها ولا أثر لعلمه في إسقاط المهر ومن استكره أمرأة وزنى بها التزم الحدّ بزناه والمهرَ لكونها محترمة
Dan ketika kami menyebutkan tentang mahar, tidak diragukan lagi bahwa mahar tetap diwajibkan jika perempuan tidak mengetahui (pernikahan), dan pengetahuan laki-laki tidak berpengaruh dalam menggugurkan mahar. Barang siapa yang memaksa seorang perempuan dan berzina dengannya, maka ia wajib dikenai had karena perbuatannya berzina dan juga wajib membayar mahar karena perempuan tersebut adalah perempuan yang terhormat.
ومما يتعلق بتمام القول في ذلك أن من علق الطلاق الثلاث بالوطء كما صورنا فهل يحل له الإقدام على الوطء على أن يغيب الحشفة وينزع قال العراقيون يحل له الإقدام فإنه إلى حصول التغييب متصرّفٌ في محل حقه وحِلّه وإذا ابتدأ النزعَ متصلاً بحصول التغييب فهذا تارك ولا معصية على تاركٍ لفعله متردد بين الوقوع في محل الملك وبين الترك
Terkait dengan penyempurnaan pembahasan dalam hal ini, apabila seseorang menggantungkan talak tiga pada hubungan suami istri sebagaimana telah kami gambarkan, maka apakah boleh baginya untuk melakukan hubungan tersebut dengan memasukkan hasyafah lalu mencabutnya? Ulama Irak berpendapat bahwa hal itu boleh dilakukan, karena sebelum terjadinya penetrasi, ia masih berhak dan halal atas istrinya. Jika ia segera mencabut setelah terjadinya penetrasi, maka ia dianggap meninggalkan (perbuatan), dan tidak ada dosa bagi orang yang meninggalkan sesuatu, karena tindakannya masih berada antara melakukan pada tempat yang menjadi hak miliknya dan antara meninggalkannya.
وحكَوْا عن ابن خَيْران أنه قال لا يحل له تغييب الحشفة فإنه لا يقدر على وَصْل أول النزع بآخر التغييب حتى لا يقع بينهما فصل فإذا كان يعلم على الجملة خروج هذا عن الإمكان فلا يجوز الإقدام
Mereka meriwayatkan dari Ibnu Khairan bahwa ia berkata: Tidak halal baginya untuk memasukkan hasyafah, karena ia tidak mampu menyambung awal penarikan dengan akhir pemasukan sehingga tidak terjadi jeda di antara keduanya. Maka jika secara umum ia mengetahui bahwa hal itu mustahil dilakukan, maka tidak boleh baginya untuk melakukannya.
والأولون يبنون الأمر على أن يصل النزعَ بالتغييب فالفقه صحيح في وضعه ثم ما أطلقه من الوصل والفصل لا يتحدد بالزمان الذي لا يُحَس وإنما تتعلق التكاليف نفياً وإثباتاً بما يدخل في الحس ويفرضُ دركه
Golongan pertama mendasarkan persoalan ini pada anggapan bahwa pencabutan (penarikan) dihubungkan dengan penetrasi, sehingga fiqh tetap sah dalam penetapannya. Kemudian, apa yang mereka sebutkan tentang penyambungan dan pemisahan tidak dibatasi oleh waktu yang tidak dapat dirasakan, melainkan taklif—baik penetapan maupun peniadaannya—berkaitan dengan hal-hal yang dapat dirasakan dan diasumsikan dapat dipahami.
هذا كله تفصيل الأحكام المتعلقة بالوطء إذا كان قال إن وطئتك فأنت طالق ثلاثاًً ثم حكم الطلب فيه أن الأربعة الأشهر إذا انقضت ورفعته الزوجة إلى القاضي فإن وطىء سقطت الطلبة والحكم ما ذكرناه وإن طلق طلقة رجعية انقطعت الطَّلِبة ثم إن راجعها فاليمين قائمةٌ فنضرب مدة أخرى فإذا انقضت توجهت عليه الطلبة فإن طلق ثم راجع ضربنا عليه مدة أخرى ثم تعود الطلبة فإما أن يطلّق فتحرم عليه حتى تنكح غيره وإما أن يطأ فتقع الطلقة الثالثة فلا محيص عن الطلاق ما أصرّت على الطلب إلا أن يطلقها طلقة ويتركها حتى تنسرح بانقضاء العدة فإذا جدد عليها نكاحاً وقع التفريع في عَوْد الحِنْث فقد نقول لا تعود الطلبة ولو وطئها في النكاح الثاني لم تُطلَّق تفريعاً على أن الحِنث لا يعود فهذا هو المُخلِّصُ لا غيرُ
Semua ini adalah perincian hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan suami istri apabila seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak tiga.” Kemudian, hukum permintaan (ṭalabah) dalam hal ini adalah jika empat bulan telah berlalu dan istri mengadukan hal itu kepada qadhi, maka jika suami menggaulinya, permintaan tersebut gugur dan hukumnya seperti yang telah kami sebutkan. Jika suami menjatuhkan talak raj‘i, maka permintaan terputus. Kemudian, jika suami merujukinya kembali, sumpahnya tetap berlaku, sehingga kami menetapkan masa baru. Jika masa itu berlalu, maka permintaan kembali berlaku atasnya. Jika suami menjatuhkan talak lagi lalu merujukinya, kami tetapkan masa baru lagi, kemudian permintaan kembali berlaku. Maka, bisa jadi suami menjatuhkan talak sehingga istri menjadi haram baginya sampai menikah dengan laki-laki lain, atau suami menggaulinya sehingga jatuh talak ketiga, sehingga tidak ada jalan keluar dari talak selama istri tetap bersikeras pada permintaannya, kecuali suami menjatuhkan satu talak dan membiarkannya hingga selesai masa ‘iddah, sehingga istri benar-benar berpisah. Jika suami menikahinya kembali, maka terjadi cabang pembahasan tentang kembalinya pelanggaran (ḥinth). Bisa jadi kami katakan permintaan tidak kembali, dan jika suami menggaulinya dalam pernikahan kedua, istri tidak tertalak, berdasarkan cabang bahwa pelanggaran tidak kembali. Inilah satu-satunya jalan keluar, tidak ada yang lain.
وإن قال ابتداء إن وطئتك فأنت طالق فعلّق طلقة واحدة وما كان دخل بها فهو مولٍ فإذا مضت أربعة أشهر فإن فاء انحلت اليمين ووقعت طلقة رجعية فإن المسيس وإن لم يكن متقدِّماً على هذه الحالة فالطلاق غيرُ متقدم على المسيس وقد أشرنا فيما تقدم إلى مسلكين في أن الطلاق المعلّق بالصفة يقع مترتباً على الصفة أو مقترناً بها وأوضحنا أن أقوال الأصحاب في المسائل دالّة على ترتب الطلاق على الصفة ولو رُدِدْنا إلى الأخذ بصيغة اللفظ لم يبعد أن نقول يقع الطلاق مع الصفة وهذا مما سبق تمهيده والغرض من إعادته الآن أنا
Jika seseorang sejak awal berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” maka ia telah menggantungkan satu talak, dan jika ia belum menggaulinya, maka ia termasuk kategori mu‘allaq. Jika telah berlalu empat bulan, lalu ia kembali (rujuk), maka sumpahnya menjadi batal dan jatuhlah satu talak raj‘i. Sebab, hubungan badan, meskipun tidak terjadi sebelum keadaan ini, maka talak tidaklah mendahului hubungan badan. Kami telah mengisyaratkan sebelumnya tentang dua pendekatan dalam hal apakah talak yang digantungkan pada suatu sifat itu terjadi setelah sifat tersebut atau bersamaan dengannya. Kami telah menjelaskan bahwa pendapat para sahabat (ulama) dalam masalah ini menunjukkan bahwa talak terjadi setelah sifat tersebut. Namun, jika kita kembali pada redaksi lafaz, tidak mustahil kita katakan bahwa talak terjadi bersamaan dengan sifat tersebut. Ini telah kami jelaskan sebelumnya, dan tujuan pengulangan sekarang adalah…
إن جرينا على موجب الشواهد فالطلاق يترتب على الوطء والتغييبُ يقع في النكاح فيكون الطلاق بعد الوطء هذا معنى الترتب وإن لطف الزمان فيظهر الحكم بكون الطلاق رجعياً
Jika kita mengikuti berdasarkan dalil-dalil, maka talak itu bergantung pada hubungan suami istri, dan penetrasi terjadi dalam pernikahan, sehingga talak terjadi setelah adanya hubungan tersebut; inilah makna keterkaitan tersebut. Jika waktu berlangsung dengan lembut, maka tampaklah hukum bahwa talak itu bersifat raj‘i (dapat dirujuk kembali).
وإن ذهب ذاهب إلى أن الطلاق يقع مع الصفة فالعدّة تجب مع التغييب والوطء يقيّد النكاح عن البينونة فيقع الطلاق على تقدير الاقتران مع المقيّد ومع العدّة واتصال العدة على هذا الترتيب بالنكاح وهذا واضح لاخفاء به
Dan jika ada yang berpendapat bahwa talak terjadi dengan adanya sifat (syarat), maka iddah menjadi wajib dengan adanya perpisahan, dan hubungan suami istri membatasi terjadinya perpisahan dalam pernikahan. Maka talak terjadi jika dikaitkan dengan sesuatu yang dibatasi, dan dengan iddah serta keterkaitan iddah dengan pernikahan menurut urutan ini. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
وليس يخفى الترتيب فيه إذا لم يُؤْثر الوطءَ لما طولب واختار الطلاق
Tidaklah tersembunyi urutan dalam hal ini apabila suami tidak mengutamakan hubungan suami istri ketika diminta, lalu memilih talak.
وقد تقدم في ذلك ما فيه مقنع وقد تطلّق ثلاثاًً بتكرر المطالبات عند تخلّل الرجعات والردّات وهذا خلاف الرأي فإنه كان لا يقع بالوطء إلا طلقة واحدة مع انحلال اليمين بها
Telah dijelaskan sebelumnya penjelasan yang memadai tentang hal itu, dan terkadang terjadi talak tiga kali karena berulangnya permintaan talak ketika terdapat jeda antara rujuk dan penolakan. Ini bertentangan dengan pendapat (mazhab), karena menurutnya tidak terjadi kecuali satu kali talak dengan adanya hubungan suami istri, bersamaan dengan lepasnya sumpah dengan talak tersebut.
ويلتزم بالامتناع عنها ثلاث طلقات وهذا لرغبته عن الوطء
Ia wajib menahan diri darinya selama tiga kali talak, dan hal ini karena ia tidak menginginkan hubungan suami istri.
ثم قال لو قال أنت عليّ حرام إلى آخره
Kemudian ia berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Engkau haram atasku,’ dan seterusnya.”
هذا مما ذكرناه في كتاب الطلاق ونعيد طرفاً منه لما يتعلق بغرض الكتاب فإذا قال أنت عليَّ حرام ونوى الطلاق كان طلاقاً وإن نوى الظهار كان ظهاراً وإن نوى تحريمَها في نفسها التزم كفارة اليمين ولو نوى عقد يمينٍ في الامتناع عن وطئها فظاهرُ المذهب أنه لا يكون حالفاً مولياً وفي المسألة وجهٌ بعيد أنه يصير مولياً
Hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab Thalaq, dan kami ulangi sebagian darinya karena berkaitan dengan tujuan kitab ini. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku,” lalu ia berniat thalaq, maka itu menjadi thalaq. Jika ia berniat zhihar, maka itu menjadi zhihar. Jika ia berniat mengharamkan istrinya atas dirinya sendiri, maka ia wajib membayar kafarat yamin. Dan jika ia berniat menjadikan ucapan itu sebagai sumpah untuk tidak menggaulinya, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, ia tidak dianggap sebagai orang yang bersumpah (hālif) atau melakukan ila’. Namun, ada pendapat lain yang lemah bahwa ia menjadi orang yang melakukan ila’.
وهو نأيٌ عن التحقيق فإنه لو قال لإحدى امرأتيه والله لا أجامعك ثم قال للأخرى أنت شريكتُها ونوى أن يصير مولياً عن الثانية كما أنه مولٍ عن الأولى لم يصر مولياً عنها لأنه لم يأت في حقها بلفظ اليمين وذِكْرِ الاسم المقْسَم به وهذا متفق عليه فإذا قال أنت علي حرام ونوى القَسَم بعُد الحكمُ بتحصيله كما ذكرنا
Ini adalah bentuk menjauh dari ketelitian, sebab jika seseorang berkata kepada salah satu istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” lalu berkata kepada istrinya yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia berniat untuk menjadi mu‘allaq (orang yang bersumpah untuk tidak menggauli) atas istri yang kedua sebagaimana ia menjadi mu‘allaq atas istri yang pertama, maka ia tidak menjadi mu‘allaq atas istri yang kedua karena ia tidak mengucapkan lafaz sumpah dan penyebutan nama yang dijadikan sumpah terhadap istri yang kedua. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘). Maka jika ia berkata, “Engkau haram atasku,” dan ia berniat untuk bersumpah, maka penetapan hukum sumpah menjadi jauh (tidak berlaku) sebagaimana telah kami sebutkan.
ومن أصحابنا من جعله مقسِماً بخلاف ما لو قال أشركتك مع التي آليتُ عنها فإن التحريم مذكور في كتاب الله تعالى مع الاقتران بكفارة اليمين فهو قريب من اليمين وإن لم يَكُنْها فكان هذا تقريباً في وضع الشرع ولا تعويل على ذلك ولا اعتداد به
Sebagian dari ulama kami menjadikannya sebagai bentuk sumpah, berbeda halnya jika seseorang berkata, “Aku mempersekutukanmu dengan istri yang telah aku ila’ darinya,” karena pengharaman disebutkan dalam Kitab Allah Ta’ala bersamaan dengan kewajiban membayar kafarat sumpah, sehingga hal itu mirip dengan sumpah meskipun sebenarnya bukan sumpah. Maka ini hanyalah pendekatan dalam penetapan syariat, dan tidak dapat dijadikan sandaran atau dianggap sebagai pegangan.
والمذهب أنه لا يصير مولياً بقوله حرمتك وأنت علي حرام وإن نوى الإيلاء
Pendapat mazhab menyatakan bahwa seseorang tidak menjadi mu‘alli (orang yang melakukan ila’) dengan ucapannya, “Engkau haram bagiku” atau “Engkau bagiku adalah haram”, meskipun ia berniat melakukan ila’.
فصل قال ولو قال إن قَرِبتُك فغلامي حر عن ظهاري إن تظاهرت لم يكن مولياً إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Jika aku mendekatimu maka budakku merdeka sebagai tebusan dari zihar-ku jika aku melakukan zihar terhadapmu,” maka ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ila’ hingga seterusnya.
قد ذكرنا أن مسائل الكتاب نفرعها على القول الجديد فنقول المولي من التزم بالوطء بعد الأربعة الأشهر أمراً وحرّرْنا المذهب فيه بما يضبطه وقد ذكر الشافعي رضي الله عنه فصولاً متواليةً في تعليق العتق المصروف إلى الظهار المنجّز أو الظهار المعلّق ونحن نقدم على الفصول أصلاً فنقول
Kami telah menyebutkan bahwa permasalahan-permasalahan dalam kitab ini kami cabangkan berdasarkan pendapat baru. Maka kami katakan, seorang mu‘alla (suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) yang berkomitmen untuk melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan adalah suatu perkara, dan kami telah merumuskan mazhab dalam hal ini dengan ketentuan yang jelas. Imam asy-Syafi‘i rahimahullah telah menyebutkan beberapa bab secara berurutan mengenai pengaitan pembebasan budak yang diarahkan kepada zhihār yang dilakukan secara langsung maupun zhihār yang digantungkan. Sebelum memasuki bab-bab tersebut, kami akan mengemukakan satu prinsip dasar, maka kami katakan…
إذا كان الرجل قد ظاهر عن امرأته ثم قال لأخرى إن وطئتك فعبدي هذا حر عن ظهاري فهو مولٍ عن هذه فإنه لو وطىء وقع العتق لا محالة فهو ملتزم بالوطء بعد أربعة أشهر حصولَ العتاقة في العبد الذي عينه ولولا هذا التعليق لكان العتق لا يحصل فيه ولا نظر الآن في أن العتق هل يقع عن كفارة الظهار أم لا فإن المقدار المكتفى به وقوعُ العتق بعين هذا العبد وهو متعلِّق بالوطء المقدر بعد الأشهر ولئن كان العتق منصرفاً إلى الظهار فوقوعه في هذا العبد بعينه من آثار اليمين
Jika seorang laki-laki telah melakukan zihar terhadap istrinya, kemudian berkata kepada wanita lain, “Jika aku menggaulimu, maka budakku ini merdeka sebagai tebusan atas zihar-ku,” maka ia dianggap melakukan ila’ terhadap wanita tersebut. Sebab, jika ia menggaulinya, pembebasan budak pasti terjadi. Maka, ia terikat untuk menggauli setelah empat bulan, sehingga pembebasan budak yang telah ia tentukan itu terjadi. Jika tidak ada pengaitan seperti ini, maka pembebasan budak tidak akan terjadi. Saat ini, tidak dibahas apakah pembebasan budak itu sah sebagai kafarat zihar atau tidak, karena yang cukup di sini adalah terjadinya pembebasan budak tertentu, yang dikaitkan dengan hubungan suami istri yang diperkirakan terjadi setelah beberapa bulan. Jika pembebasan budak itu memang dimaksudkan sebagai kafarat zihar, maka terjadinya pada budak tertentu ini adalah akibat dari sumpah yang diucapkan.
ولو قال إن جامعتُك فلله عليّ أن أعتق عبدي عن ظهاري وكان الظهار كائناً واقعاً بإحدى امرأتيه فالقول في ذلك يستند إلى تمهيد أصلٍ فنقول إذا عين رجل يوماً لصوم منذور في ابتداء الالتزام فقال لله عليّ أن أصوم اليوم الفلاني فالصوم يلزمه والمذهب أنه يتعين له اليوم الذي عينه
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka demi Allah atasku untuk memerdekakan budakku sebagai tebusan dari zhihar-ku,” dan zhihar itu telah terjadi pada salah satu dari dua istrinya, maka pembahasan dalam hal ini kembali kepada penetapan suatu prinsip. Kami katakan, jika seseorang menentukan suatu hari untuk puasa nazar pada awal komitmennya, lalu ia berkata, “Demi Allah atasku untuk berpuasa pada hari tertentu,” maka puasa itu wajib baginya, dan menurut mazhab, hari yang telah ia tentukan itu menjadi ketetapan baginya.
ولو قال لله علي أن أتصدق بهذه الدراهم لزمه الوفاء بنذره إذا صححنا النذر وكذلك إذا قال لله علي أن أعتق هذا العبد وصححنا النذر فعليه الوفاء بتعيين ذلك العبد في الإعتاق هذا إذا اقترن الالتزام والتعيين
Dan jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku wajib bersedekah dengan dirham-dirham ini,” maka ia wajib menunaikan nadzarnya jika kita menganggap nadzar itu sah. Demikian pula jika ia berkata, “Demi Allah, aku wajib memerdekakan budak ini,” dan kita menganggap nadzarnya sah, maka ia wajib menunaikannya dengan menentukan budak tersebut untuk dimerdekakan. Hal ini berlaku jika komitmen dan penentuan itu dilakukan secara bersamaan.
فأما إذا سبق لزومٌ في الذمة غيرُ مرتبط بتعيينٍ ثم صرفه بالتزام مبتدأٍ إلى معيّن فقال من عليه صومٌ من قضاءٍ أو نذر أو كفارة لله علي أن أوقع الصومَ المفروض في يومٍ عيّنه فلا يلزمه الوفاء بهذا التعيين باتفاق الأصحاب وكذلك لو التزم صرف دراهم عيّنها إلى زكاته أو إلى نذرٍ سابق مستقر في ذمته فلا يلزمه التعيين فليس كما لو اقترن التعيين بالالتزام فإن التعيين يقع لازماً فلا يبعد أن يثبت وينضم إلى ذلك أن لفظه يتضمن حصرَ اللزوم فيما عينه ونفْيَه عما عداه فلو حكمنا بأنه لا يتعلق بما عينه لاقتضى هذا أن نُلزمه ما لم يلتزمه وهذا محال وإحباطُ لفظه لا سبيل إليه وفاقاً
Adapun jika telah ada kewajiban yang melekat dalam tanggungan tanpa terikat pada penentuan tertentu, kemudian ia mengalihkannya dengan komitmen baru kepada sesuatu yang tertentu—misalnya seseorang yang memiliki kewajiban puasa qadha, nazar, atau kafarat, lalu berkata: “Saya wajib melaksanakan puasa yang fardhu pada hari yang telah saya tentukan”—maka ia tidak wajib memenuhi penentuan tersebut menurut kesepakatan para ulama. Demikian pula jika ia berkomitmen untuk mengalokasikan sejumlah dirham yang telah ia tentukan untuk zakatnya atau untuk nazar terdahulu yang sudah pasti menjadi tanggungannya, maka penentuan itu tidaklah wajib. Ini berbeda dengan kasus ketika penentuan dilakukan bersamaan dengan komitmen, maka penentuan itu menjadi wajib. Tidak mustahil hal itu dapat berlaku, dan selain itu, lafaznya mengandung pembatasan kewajiban pada apa yang ia tentukan dan menafikan dari selainnya. Jika kita memutuskan bahwa kewajiban tidak terkait dengan apa yang ia tentukan, maka hal itu mengharuskan kita membebankan sesuatu yang tidak ia komitmenkan, dan ini tidak mungkin. Adapun mengabaikan lafaznya, tidak ada jalan ke sana menurut kesepakatan.
وَيرِدُ على ذلك أنه لو عين مع التزام الصلاة وقتاً لها أو مكاناً فالصلاة تلزمه ولا يتعين الزمان والمكان وهذا من مشكلات المذهب في قاعدة النذر لما نبهت عليه من أن لفظه لا يتضمن التزاماً مطلقاً فإن لم يصح التخصيص فالوجه إبطال لفظه
Terkait hal itu, jika seseorang menentukan waktu atau tempat tertentu untuk salat saat bernazar, maka kewajiban salat tetap berlaku baginya, namun waktu dan tempatnya tidak menjadi tertentu. Ini merupakan salah satu permasalahan sulit dalam mazhab terkait kaidah nazar, sebagaimana telah saya singgung bahwa lafaznya tidak mengandung komitmen secara mutlak. Jika penentuan khusus tersebut tidak sah, maka yang tepat adalah membatalkan lafaznya.
وعن هذا أخرج بعض الأصحاب قولاً في أن اليوم لا يتعين للصوم المنذور وإن اقترن تعيينه بالالتزام وسيأتي هذا في كتاب النذور إن شاء الله تعالى
Mengenai hal ini, sebagian ulama mengemukakan pendapat bahwa hari tertentu tidak menjadi ketentuan wajib untuk puasa nazar, meskipun penentuan hari tersebut disertai dengan komitmen. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam Kitab Nazar, insya Allah Ta‘ala.
وإذا انتهينا إلى غائلة كتاب نحتاج في حلها إلى تمهيد أصل في ذلك الكتاب فلا مطمع في الخوْض وليكْتف الناظر بالإحالة عليه
Jika kita menemui suatu permasalahan dalam kitab yang penyelesaiannya memerlukan penjelasan suatu prinsip yang terdapat dalam kitab tersebut, maka tidak ada harapan untuk membahasnya lebih lanjut; cukuplah bagi pembaca untuk merujuk kepadanya.
هذا في تعيين مالٍ بعد الوجوب أو تعيين يوم بعد لزوم الصوم
Ini berkaitan dengan penetapan harta setelah kewajiban ditetapkan atau penetapan hari setelah kewajiban puasa menjadi wajib.
فأما إذا قال لله علي أن أعتق هذا العبد عن العتق اللازم في ذمتي عن نذر أو كفارة فالذي يقتضيه النص وعليه الأصحاب أنه إذا نذر ذلك لزمه الوفاء بنذره حيث يصح النذر وفرّقوا بين هذا وبين تعيين اليوم بعد لزوم الصوم بأن قالوا لا حَقَّ لليوم في الصوم وكذلك القول فيما تعينّ من المال وللعبد حق في العتاقة ولهذا يدّعي العتقَ على مولاه ويحلف يمين الرد إذا نكل المَوْلى عن اليمين ففي هذا حق بيّنٌ للعبد وغرضٌ ظاهر فيجوز أن يلتزم صرف الواجب السابق إليه
Adapun jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku wajib memerdekakan budak ini sebagai pelaksanaan kewajiban yang ada dalam tanggunganku, baik karena nazar atau kafarat,” maka yang ditunjukkan oleh nash dan yang dianut oleh para ulama adalah bahwa jika ia bernazar demikian, maka wajib baginya menunaikan nazarnya selama nazar itu sah. Mereka membedakan antara hal ini dengan penetapan hari tertentu setelah kewajiban puasa telah tetap, dengan mengatakan bahwa hari tertentu tidak memiliki hak dalam puasa. Demikian pula halnya dengan harta yang telah ditentukan; sedangkan budak memiliki hak dalam kemerdekaan. Oleh karena itu, budak dapat menuntut kemerdekaan dari tuannya dan bersumpah sumpah penolakan jika tuannya enggan bersumpah. Dalam hal ini, terdapat hak yang jelas bagi budak dan tujuan yang nyata, sehingga boleh baginya untuk menetapkan pelaksanaan kewajiban yang telah ada sebelumnya kepada budak tersebut.
وهذا مشكل فإن الملتزَم بالنّذر قرباتٌ بأنفسها أما تحصيل أغراض فيبعد التزامه وما يقتضيه قياس قول الأصحاب أنه لو نذر أن يصرف زكاته إلى أشخاصٍ من الأصناف يلزمه الوفاء فإن طردوا القياس فيه كان بعيداً وإن سلّموا أنه لا يجب ذلك فلا فرق بين تعيين العبد لعتاقةٍ مستحقةٍ قبلُ وبين تعيين أشخاص من أصنافِ الزكاة وقد قال القاضي إذا عين مساكين لصرف زكاته وصدقاته إليهم لزمه الوفاء بذلك قياساً على ما لو عيّن عبداً لصرف العتق المستحَق إليه
Ini merupakan persoalan yang pelik, sebab yang diwajibkan dalam nadzar adalah bentuk-bentuk ibadah itu sendiri, sedangkan memenuhi tujuan-tujuan tertentu sulit untuk diwajibkan. Berdasarkan qiyās menurut pendapat para ulama, jika seseorang bernadzar untuk menyalurkan zakatnya kepada orang-orang tertentu dari golongan yang berhak, maka ia wajib menunaikannya. Jika mereka konsisten dengan qiyās ini, maka hal itu terasa jauh (dari kebenaran). Namun jika mereka mengakui bahwa hal itu tidak wajib, maka tidak ada perbedaan antara penetapan seorang budak untuk dimerdekakan yang memang sudah berhak sebelumnya dengan penetapan orang-orang tertentu dari golongan penerima zakat. Qadhi berkata: Jika seseorang telah menentukan para miskin tertentu untuk menerima zakat dan sedekahnya, maka ia wajib menunaikannya, berdasarkan qiyās terhadap kasus jika seseorang telah menentukan seorang budak untuk dimerdekakan yang memang sudah berhak.
والقولُ الكامل فيه أن التعيين ليس من القربات الملتزَمة المقصودة بالنذر ولا قربة في تعيين سالم عن غانم
Pendapat yang lengkap dalam hal ini adalah bahwa penentuan (sesuatu) bukanlah termasuk ibadah yang diwajibkan dan dimaksudkan secara khusus dalam nadzar, dan tidak ada nilai ibadah dalam menentukan (misalnya) Salim sebagai ganti dari Ghanim.
قال المزني الأشبه بقول الشافعي أنه لا يجب الوفاء بالتعيين واستدلّ باليوم في الصوم كما ذكرناه وهذا الذي ذكرناه أورده على صيغة التخريج على المذهب ويجب عندي عدُّ مثلَ ذلك من متن المذهب فإن تخريجه على قياس الشافعي أولى من تخريج غيره
Al-Muzani berkata, yang lebih mendekati pendapat asy-Syafi‘i adalah bahwa tidak wajib memenuhi penetapan tertentu, dan ia berdalil dengan hari dalam puasa sebagaimana telah kami sebutkan. Apa yang telah kami sebutkan ini, aku kemukakan dalam bentuk takhrīj atas mazhab, dan menurutku, hal semacam itu harus dihitung sebagai bagian dari inti mazhab. Sebab, mentakhrīj-nya berdasarkan qiyās asy-Syafi‘i lebih utama daripada mentakhrīj berdasarkan selainnya.
هذا بيان المذهب نقلاً وتخريجاً وتنبيهاً على الإشكال وهذا بيان الأصل الذي رأينا تقديمه
Ini adalah penjelasan mazhab secara riwayat, istinbat, dan penegasan terhadap permasalahan, serta ini adalah penjelasan pokok yang kami pandang perlu didahulukan.
عاد بنا الكلام إلى مسائل الكتاب المتعلقة بالمقصود
Pembahasan kita kembali pada persoalan-persoalan dalam kitab yang berkaitan dengan tujuan pembahasan.
فإذا قال إن قربتك فعبدي حر عن ظهاري وكان ثبت الظهار وتقدم فهو مولٍ فإذا مضت أربعة أشهر توجهت عليه الطَّلبة فإن فاء حصل العتق وسنتكلم في وقوعه عن الظهار في آخر الفصل عند نجاز غرض الإيلاء وإنما جعلناه مولياً لأن العتق يحصل بالوطء بعد أربعة أشهر سواء انصرف إلى الظهار أو لم ينصرف
Jika seseorang berkata, “Jika aku mendekatimu, maka budakku merdeka sebagai tebusan dari zihar-ku,” dan zihar itu telah tetap dan terjadi sebelumnya, maka ia dianggap sebagai orang yang melakukan ila’. Jika telah berlalu empat bulan, maka istrinya berhak menuntut. Jika ia kembali (rujuk), maka terjadilah pembebasan budak. Kami akan membahas terjadinya pembebasan budak sebagai tebusan dari zihar di akhir bab, ketika tujuan dari ila’ telah tercapai. Kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ karena pembebasan budak terjadi dengan jima’ setelah empat bulan, baik ia bermaksud pada zihar atau tidak.
ولو قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري إن تظاهرت فهذه المسألة مفروضة فيه إذا لم يكن تظاهر من قبل ونحن نجريها على المذهب الظاهر لينتظم الفصل ثم نعيده بعد ذلك في فصل آخر لغرضٍ آخر فإذا قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري إن تَظَهَّرْتُ فلو وطئها لم يعتق العبد فإنه علق عتقه بالوطء والتظهّر والعتقُ المعلّق بصفتين لا يقع بإحداهما وهو بمثابة ما لو قال لعبده أنت حر إن دخلت الدار إن أكلت فلا يحصل العتق بمجرد الدخول ولو تظاهر فلا شك أن العتق لا يحصل ما لم يطأ
Dan jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu maka hambaku merdeka sebagai tebusan dari zihar-ku jika aku melakukan zihar,” maka masalah ini diasumsikan terjadi ketika sebelumnya belum pernah terjadi zihar, dan kami membahasnya menurut mazhab yang zahir agar pembahasan bab ini menjadi runtut, kemudian kami akan mengulanginya pada bab lain untuk tujuan yang berbeda. Maka jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu maka hambaku merdeka sebagai tebusan dari zihar-ku jika aku melakukan zihar,” lalu ia menggaulinya, maka hamba tersebut tidak menjadi merdeka, karena ia menggantungkan kemerdekaan hamba itu pada dua syarat: hubungan suami istri dan zihar. Kemerdekaan yang digantungkan pada dua syarat tidak terjadi hanya dengan salah satunya. Ini seperti seseorang berkata kepada hambanya, “Engkau merdeka jika engkau masuk rumah jika engkau makan,” maka kemerdekaan tidak terjadi hanya dengan masuk rumah saja. Dan jika ia melakukan zihar, maka tidak diragukan lagi bahwa kemerdekaan tidak terjadi selama ia belum menggaulinya.
فيخرج من ذلك أنه قبل أن يتظهر لا يلتزم بالوطء شيئاً فليس مولياً إذاً على ما نُجريه في هذا الفصل
Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa sebelum ia menampakkan (sikap) tidak ada kewajiban baginya untuk melakukan hubungan suami istri, maka ia bukanlah dianggap sebagai mu‘alla (orang yang melakukan ila’) menurut apa yang kami jelaskan dalam bab ini.
ولو كانت المسألة بحالها فتظاهر عنها فقد صار إلى حالةٍ لو وطئها الآن لحصل العتق فلا جرم يصير مولياً بعد الظهار
Jika perkaranya tetap seperti itu, lalu ia melakukan zihar terhadap istrinya, maka ia telah berada dalam keadaan bahwa jika ia mencampurinya sekarang, maka terjadilah pembebasan (dari perbudakan), sehingga tidak diragukan lagi ia menjadi seorang yang melakukan ila’ setelah zihar.
فحصل مما ذكرناه أنه لا يكون مولياً في ابتداء أمره لأن الوطء لا يحصّل العتق فإذا ظاهر فيصير مولياً لأن الوطء يحصّل العتاقة بعد الظهار هذا غرض الإيلاء من هذا الفصل
Maka dari apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak menjadi mu‘alla (orang yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) pada permulaan keadaannya, karena jima‘ (hubungan suami istri) tidak menyebabkan terjadinya pembebasan budak. Namun jika ia melakukan zihar, maka ia menjadi mu‘alla, karena jima‘ setelah zihar menyebabkan terjadinya pembebasan budak. Inilah maksud dari pembahasan tentang ila’ (sumpah tidak menggauli istri) dalam bagian ini.
وقد شبَّبْنا في أثناء الكلام بخلافٍ فيه إذا قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري إن تظهرت وسنذكر أن من أصحابنا من يجعله مولياً قبل التظهر على أصلٍ سنشرحه من بعدُ ولكن لما كان هذا الوجه ضعيفاً لم نَبْنِ الفصلَ عليه
Kami telah menyinggung dalam pembahasan sebelumnya tentang adanya perbedaan pendapat dalam masalah jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu maka budakku merdeka sebagai kafarat atas zhihar-ku jika aku melakukan zhihar terhadapmu.” Kami akan sebutkan bahwa sebagian ulama kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ sebelum terjadinya zhihar, berdasarkan suatu prinsip yang akan kami jelaskan nanti. Namun, karena pendapat ini lemah, kami tidak membangun pembahasan bab ini di atasnya.
ونحن نذكر التفصيل في أن العتق إذا حصل هل يقع عن الظهار ونوضِّح في ذلك المذهب في الصورتين اللتين ذكرناهما ونبدأ بالصورة الأخيرة
Kami akan menjelaskan secara rinci mengenai apakah pembebasan budak, jika telah dilakukan, dapat dianggap sebagai pelaksanaan kafarat zhihar, dan kami akan memperjelas pendapat mazhab dalam dua keadaan yang telah kami sebutkan, dimulai dari keadaan yang terakhir.
فإذا قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري إن تظهرتُ فإذا تظاهر ثم وطىء فالعتق يحصل لا محالة فإنه علّقه بصفتين وقد وُجدَتا وأطبق الأصحاب على أن العتق لا يقع عن الظهار في هذه الصورة وعلّل الأصحاب ذلك بعلّتين إحداهما أنه علق العتق قبل الظهار ولو نجّز عتقاً عن الظهار قبل الظهار ثم ظاهر لم ينصرف العتق إلى الظهار يقيناً فإذا امتنع التنجيز عن الظهار امتنع التعليق عنه في الوقت الذي يمتنع التنجيز فيه فإن صحة التعليق وفسادَه مرتبط عند الشافعي بصحة التنجيز وفسادِه
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka budakku merdeka sebagai kafarat atas zihar-ku jika aku melakukan zihar,” lalu ia melakukan zihar kemudian menggauli istrinya, maka pembebasan budak pasti terjadi, karena ia menggantungkan pembebasan pada dua sifat dan keduanya telah terpenuhi. Para ulama sepakat bahwa pembebasan budak tidak berlaku sebagai kafarat zihar dalam kasus ini. Para ulama memberikan dua alasan untuk hal ini. Pertama, ia menggantungkan pembebasan budak sebelum terjadinya zihar. Jika seseorang memerdekakan budak sebagai kafarat zihar sebelum melakukan zihar, lalu ia melakukan zihar, maka pembebasan budak tersebut tidak dapat dianggap sebagai kafarat zihar secara pasti. Jika pembebasan secara langsung tidak dapat berlaku sebagai kafarat zihar sebelum zihar, maka pembebasan yang digantungkan pun tidak dapat berlaku pada waktu yang sama ketika pembebasan secara langsung tidak sah. Sebab, menurut Imam Syafi‘i, sah atau tidaknya penggantungan hukum terkait dengan sah atau tidaknya pelaksanaan secara langsung.
هذا بيان إحدى العلتين
Ini adalah penjelasan salah satu dari dua ‘illat.
ومن أصحابنا من علّل بأن قال المولي جعل العتق موجب حنثه في اليمين ويتخلص به والحنث يقتضي حقاً على الحانث فإذا كان يتأدى بالعتق حقُّ الحِنْث فيستحيل أن ينصرف إلى الظهار إذ لو كان كذلك لتأدى حقّان بعتقٍ واحد
Sebagian dari ulama kami beralasan dengan mengatakan bahwa orang yang bersumpah telah menjadikan pembebasan budak sebagai sebab terjadinya pelanggaran sumpahnya, sehingga ia dapat terbebas dengannya, dan pelanggaran sumpah menuntut adanya hak atas orang yang melanggarnya. Jika hak pelanggaran sumpah itu dapat ditunaikan dengan pembebasan budak, maka mustahil hal itu diarahkan kepada zhihār, karena jika demikian, berarti dua hak ditunaikan dengan satu pembebasan budak.
فهذا تفصيل القول في ذلك
Inilah penjelasan rinci mengenai hal tersebut.
ولو كان قد ظاهر أوّلاً ثم قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري ثم وطىء فلا شك في حصول العتق وهل ينصرف العتق إلى تلك الجهة وهي جهة الظهار فعلى وجهين مشهورين بناهما الأصحاب على العلّتين المذكورتين في الصورة الأولى فإن قلنا العلة في تلك الصورة أن التعليق تقدم على الظهار فالعتق في هذه الأخيرة يقع عن الظهار فإن الظهار مقدم على التعليق
Jika seseorang telah melakukan zihar terlebih dahulu, kemudian berkata, “Jika aku menggaulimu maka budakku merdeka karena zihar-ku,” lalu ia menggaulinya, maka tidak diragukan lagi bahwa pembebasan budak terjadi. Namun, apakah pembebasan budak itu terkait dengan sebab zihar atau tidak, terdapat dua pendapat masyhur yang dibangun oleh para ulama atas dua alasan yang telah disebutkan pada gambaran pertama. Jika kita mengatakan bahwa alasan pada gambaran pertama adalah karena ta‘liq (pengaitan) dilakukan sebelum zihar, maka pada kasus terakhir ini pembebasan budak terjadi karena zihar, sebab zihar dilakukan sebelum ta‘liq.
وإن قلنا العلة في الصورة الأولى أن العتق يقع عن جهة الحِنْث في اليمين فلا يقع العتق في الصورة الأخيرة أيضاًً عن الظهار فإنه تأدّى بالعتق حقُّ الحِنث في هذه الصورة
Jika kita katakan bahwa ‘illat pada kasus pertama adalah bahwa pembebasan budak terjadi karena pelanggaran sumpah, maka pada kasus terakhir pun pembebasan budak tidak terjadi karena zhihār, karena dengan pembebasan budak pada kasus ini telah terpenuhi hak pelanggaran sumpah.
ولو كان الرجل ظاهر عن امرأته ثم قال لعبدٍ من عبيده إن دخلت الدار فأنت حر عن ظهاري فإذا دخل الدار عَتَق وفي انصرافه إلى الظهار الوجهان إذ لا فرق بين أن يعلّق العتق عن الظهار على وطء أو دخول دارٍ
Jika seorang laki-laki telah melakukan zihar terhadap istrinya, kemudian ia berkata kepada salah satu budaknya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu merdeka karena zihar-ku,” maka apabila budak itu masuk ke dalam rumah, ia menjadi merdeka. Dalam hal pengaitan kemerdekaan dengan zihar, terdapat dua pendapat, karena tidak ada perbedaan antara mengaitkan kemerdekaan karena zihar dengan hubungan suami istri atau dengan masuk ke dalam rumah.
ولكن الوجه عندنا القطعُ بانصراف العتق إلى الظهار إذا كان الظهار مقدماً على التعليق والإيلاء فإن من يعلِّق عتقاً بصفة ليس يلتزم أمراً وإنما يوقعه عند وجود الصفة فإذا وُجد متعلَّق العتق جُعل ذلك بمثابة إنشاء العتق عند وجود الصفة فلا معنى لقول من يقول تأدى بالعتق حقٌ غيرُ الكفارة فإنه لا حق يُتخيل نعم قد يعترض بعد تزييف هذا الوجه أن الأمر إذا كان كذلك فالمولي ليس يلتزم بالوطء شيئاً والجواب عنه أنه التزم إيقاعَ ما عليه أو تعجيلَ ما ليس متضيقاً ولا يمتنع تعجيله وإذا استدّ النظر في ذلك تبين للناظر أن المعجّل هو المستحق في الكفارة والتعجيل متعلّق الإيلاء وإنما يمتنع انصراف العتق إلى الكفارة إذا كان في عينه استحقاقٌ من وجه وهذا بمثابة تعليل الأصحاب امتناعَ صرف عتق المكاتب إلى الكفارة فإنه مستحَقٌ للمكاتب على مقابلة عوض فامتنع وقوعه على حكم الكتابة منصرفاً إلى الكفارة
Namun, pendapat yang benar menurut kami adalah memastikan bahwa pembebasan budak (‘itq) diarahkan kepada zhihār jika zhihār didahulukan atas ta‘liq (penggantungan) dan īlā’. Sebab, orang yang menggantungkan pembebasan budak pada suatu sifat, ia sebenarnya tidak mewajibkan sesuatu, melainkan hanya akan melakukannya ketika sifat itu terwujud. Maka, jika syarat pembebasan budak itu terpenuhi, hal itu dianggap seperti menetapkan pembebasan budak saat sifat itu ada. Oleh karena itu, tidak ada makna dari pendapat yang mengatakan bahwa dengan pembebasan budak, ada hak selain kafārah yang terpenuhi, sebab tidak ada hak yang dapat dibayangkan di sini. Memang, setelah penjelasan ini, mungkin ada yang mengkritik bahwa jika demikian, orang yang melakukan īlā’ tidak mewajibkan apa pun dengan melakukan hubungan suami istri. Jawabannya adalah, ia telah berkomitmen untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya atau mempercepat sesuatu yang tidak bersifat wajib secara sempit dan tidak dilarang untuk dipercepat. Jika diteliti lebih dalam, akan tampak bagi yang meneliti bahwa yang dipercepat itulah yang menjadi hak dalam kafārah, dan percepatan itu berkaitan dengan īlā’. Adapun pembebasan budak tidak dapat diarahkan kepada kafārah jika pada dirinya terdapat hak yang harus dipenuhi dari sisi lain. Ini sebagaimana alasan para ulama bahwa tidak boleh mengarahkan pembebasan budak milik mukātab kepada kafārah, karena budak itu menjadi hak bagi mukātab sebagai imbalan atas pembayaran, sehingga tidak sah menjadikannya sebagai kafārah dalam akad kitābah.
فإن قيل هلا قلتم يصح تعليق العتق فيه إذا قال عبدي هذا حر عن ظهاري إن تظهرت فإن التعليق صادف ملك المعلِّق والعتق قابل للتعليق فالوقوع مرتب على الوجوب وهلا كان هذا كما لو قال للحائض أنت طالق للسُّنة وهو لا يملك الطلاق السني تنجيزاً ولكن يكفي كونُه مالكاً للطلاق في تصحيح تعليق الطلاق السُّني قلنا السيد وإن كان مالكاً لعتق عبده فليس يملك تأديةَ الكفارة فوقع التعليق عن الظهار تصرُّفاً في تأدية ما لا يملك تأديته ووقع من وجهٍ تصرفاً في الملك فمن حيث كان تصرفاً في الملك نفذ العتقُ ومن حيث إنه تصرف في تأدية دينٍ لا يجب ولا يملك تأديته لم يقع عن تلك الجهة فإن من لا يملك شيئاً لا يملك التصرف فيه
Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa sah menggantungkan pembebasan budak dalam hal ini, jika seseorang berkata, ‘Budakku ini merdeka sebagai tebusan atas zhihar-ku jika aku melakukan zhihar,’ padahal penggantungan itu terjadi atas milik orang yang menggantungkan dan pembebasan budak itu bisa digantungkan, sehingga kejadiannya bergantung pada kewajiban? Dan mengapa hal ini tidak seperti jika seseorang berkata kepada istrinya yang sedang haid, ‘Engkau aku talak secara sunni,’ padahal ia tidak memiliki hak untuk men-talaq secara sunni secara langsung, tetapi cukup baginya memiliki hak talaq untuk membenarkan penggantungan talaq sunni?” Kami menjawab: Meskipun tuan adalah pemilik budaknya, ia tidak memiliki hak untuk menunaikan kafarah, sehingga penggantungan pembebasan budak atas zhihar itu merupakan tindakan dalam menunaikan sesuatu yang bukan haknya untuk ditunaikan, dan dari sisi lain merupakan tindakan dalam kepemilikan. Maka, dari sisi tindakan dalam kepemilikan, pembebasan budak itu sah, namun dari sisi tindakan dalam menunaikan kewajiban yang belum wajib dan bukan haknya untuk ditunaikan, maka tidak sah dari sisi tersebut. Sebab, siapa yang tidak memiliki sesuatu, ia tidak berhak bertindak atasnya.
فأما الطلاق السني والبدعي فإنه يتعلق بالوقت والزمان وقوله أنت طالق للسنة بمثابة قوله إذا طُهرتِ فأنت طالق فليست السُّنة جهةَ استحقاق حتى يتصرّف المالك فيها
Adapun talak sunni dan bid‘i, maka hal itu berkaitan dengan waktu dan masa. Ucapan “engkau ditalak secara sunni” sama halnya dengan ucapan “jika engkau telah suci, maka engkau ditalak.” Maka, sunnah bukanlah suatu sisi hak yang dapat dikelola oleh pemiliknya.
هذا تحقيق القول في هذا الفصل
Inilah penjelasan yang mendalam mengenai pembahasan dalam bab ini.
ونحن نختتمه بصورة فلو قال إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري واقتصر على هذا قال الأصحاب إن كان ظاهر فقد مضى التفصيل فيه وإن لم يكن قد ظاهر جعلناه مقرّاً بالظهار وفائدة ذلك في الظاهر أنا نجعله مولياً في الحال ونجعله مظاهراً إن عين التي أضاف الظهار إليها وأما أمر الباطن فلا يخفى لا نجعله مولياً باطناًً ولا نجعله مظاهراً فإن قوله هذا لا يصلح لإنشاء ظهار إذ هو إخبار مصرّح به
Kami menutupnya dengan gambaran berikut: jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka budakku merdeka karena aku telah melakukan zihar terhadapmu,” dan ia hanya mengucapkan ini saja, para ulama mengatakan: jika ia memang telah melakukan zihar, maka telah dijelaskan rinciannya sebelumnya. Namun jika ia belum melakukan zihar, maka kami menganggapnya sebagai orang yang mengakui zihar. Manfaat dari hal ini secara lahiriah adalah bahwa kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ saat itu juga, dan kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan zihar jika ia menentukan istri yang ia nisbatkan zihar kepadanya. Adapun urusan batin, maka tidak tersembunyi: kami tidak menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ secara batin, dan tidak pula sebagai orang yang melakukan zihar, karena ucapannya ini tidak layak untuk dijadikan sebagai permulaan zihar, sebab ia hanyalah berupa pemberitahuan yang jelas.
فإن قيل فلو ظاهر هل يصير مولياً باطناً وهل ينزل هذا منزلة ما لو قال عبدي حر عن ظهاري إن تظهرت ثم تظهّر قلنا لا معنى لهذا السؤال في الباطن فإن نوى ما ذكره السائل وجرّد القصد إليه فيثبت واللفظ صالح له وإن لم يكن مستقلاً بإفادة وقد ذكرنا في مسائل الطلاق أن ما يقع في الباطن يكتفى فيه بعُلقة من الاحتمال فإن لم يجرد قصده الباطن إلى تقدير ظهارٍ سيكون لَمْ يثبت حكمه في حقه لا محققاً ولا معلقاً
Jika ada yang bertanya: Jika seseorang melakukan zhihar, apakah ia menjadi seperti orang yang melakukan ila’ secara batin? Dan apakah hal ini sama dengan kasus ketika seseorang berkata, “Budakku merdeka sebagai ganti zhihar-ku jika aku melakukan zhihar,” lalu ia benar-benar melakukan zhihar? Kami katakan: Tidak ada makna dari pertanyaan ini dalam ranah batin. Jika ia memang meniatkan seperti yang disebutkan oleh penanya dan benar-benar mengarahkan niatnya ke sana, maka hal itu berlaku, dan lafaz tersebut dapat digunakan untuk maksud itu, meskipun tidak berdiri sendiri dalam memberikan makna. Kami telah sebutkan dalam masalah talak bahwa apa yang terjadi dalam ranah batin cukup dengan adanya keterkaitan kemungkinan. Jika ia tidak benar-benar mengarahkan niat batinnya pada kemungkinan zhihar yang akan terjadi, maka hukumnya tidak berlaku atas dirinya, baik secara pasti maupun secara mu‘allaq (tergantung).
فصل قال ولو قال إن قرِبتُك فلله علي أن أعتق فلاناً عن ظهاري إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika aku mendekatimu, maka wajib bagiku karena Allah untuk memerdekakan si Fulan sebagai tebusan atas zhihar-ku,” dan seterusnya.
مضمون هذا الفصل مرتب على الأصل الذي مهدناه في مفتتح الفصل السابق الذي انتجز الآن
Isi bab ini disusun berdasarkan prinsip yang telah kami jelaskan di awal bab sebelumnya yang kini telah selesai.
وصورة المسألة في مقصود الفصل أنه إذا كان مظاهراً عن امرأة ثم قال لأخرى إن وطئتك فلله عليّ أن أعتق هذا عن ظهاري فالظهار كائن فإذا وطىء فهل يلزمه الوفاء بما قال النصُّ وقول الأصحاب على أن هذا على الجملة مما يُلتزم ومذهب المزني وتخريجه على قياس الشافعي أنه مما لا يُلتزم وقد ذكرنا أن ما لا يلتزم بالنذر لا ينعقد به يمين اللجاج والغضب فإن فرعنا على مذهب المزني فكلام الزوج لغو وليس بمولٍ فإنه لم يُعلِّق بالوطء التزاماً
Gambaran masalah dalam maksud bab ini adalah jika seseorang telah melakukan zihar terhadap seorang wanita, kemudian ia berkata kepada wanita lain, “Jika aku menggaulimu, maka karena Allah aku wajib memerdekakan budak ini sebagai tebusan dari zihar-ku,” maka zihar itu tetap berlaku. Jika ia benar-benar menggaulinya, apakah ia wajib memenuhi ucapannya tersebut? Teks nash dan pendapat para ulama menyatakan bahwa secara umum hal ini termasuk sesuatu yang wajib dipenuhi. Adapun menurut mazhab al-Muzani dan hasil istinbath berdasarkan qiyās Imam asy-Syafi‘i, hal ini termasuk sesuatu yang tidak wajib dipenuhi. Telah kami sebutkan bahwa sesuatu yang tidak wajib dipenuhi melalui nadzar, maka tidak sah pula menjadi sumpah lujaj dan kemarahan. Jika kita mengikuti pendapat al-Muzani, maka ucapan suami tersebut dianggap sia-sia dan ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ila’, karena ia tidak menggantungkan suatu kewajiban pada perbuatan menggauli.
وإن فرعنا على النص وقول الأصحاب فقد عقد اليمينَ بما يُلتزم بالنذر الصحيح فينعقد اليمين وفيما يجب عند تقدير الحِنث الأقوال الثلاثة ثم نجعله مولياً وفيما يلزمه لو حنث ثلاثة أقوال أحدها الوفاء والثاني كفارة اليمين والثالث التخيير وهذا مولٍ يلتزم بالوطء بعد أربعة أشهر أمراً فنجعله مولياً
Jika kita membangun (hukum) berdasarkan nash dan pendapat para sahabat (ulama), maka seseorang telah mengikat sumpah dengan sesuatu yang wajib dipenuhi dalam nazar yang sah, sehingga sumpahnya pun menjadi sah. Dalam hal apa yang wajib dilakukan ketika terjadi pelanggaran sumpah, terdapat tiga pendapat. Kemudian, kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’. Dalam hal apa yang wajib baginya jika ia melanggar sumpah, terdapat tiga pendapat: yang pertama adalah memenuhi (apa yang disumpahkan), yang kedua adalah membayar kafarat sumpah, dan yang ketiga adalah memilih di antara keduanya. Ini adalah orang yang melakukan ila’ yang berkomitmen untuk melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan, maka kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’.
وفي نقل المزني في هذا الفصل خلل ظاهر فإنه نقل عن الشافعي أن تعيين العبد مما يُلتزم بالنذر وإذا ذكر في اليمين كانت اليمين المعقودة يميناً منعقدة ثم نقل عن الشافعي أنه قال ليس بمولٍ وهذا غلط صريح والمنصوص عليه للشافعي في كتبه أنه مولٍ على الحقيقة
Dalam riwayat al-Muzani pada bagian ini terdapat kekeliruan yang jelas, karena ia meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa penetapan budak adalah sesuatu yang wajib dipenuhi karena nadzar, dan jika disebutkan dalam sumpah maka sumpah tersebut menjadi sumpah yang terikat. Kemudian ia meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa beliau berkata, “Ia bukanlah seorang muwālī,” dan ini adalah kesalahan yang nyata. Pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab-kitabnya adalah bahwa ia benar-benar seorang muwālī.
ثم إذا بان الخطأ وتقرر المذهب فنفرِّع ونقول إذا وطىء وحَنِث وفرعنا على وجوب الوفاء فلو أعتق ذلك العبدَ عن ظهاره فيحصل العتق ويخرج عن عهدة اليمين وهل يقع العتق عن الظهار فعلى وجهين كما تقدّم ذكرهما أصحهما بل الذي لا يصح غيره أن العتق ينصرف إلى الظهار
Kemudian, apabila kesalahan telah jelas dan mazhab telah ditetapkan, maka kita merinci dan mengatakan: Jika seseorang melakukan hubungan suami istri lalu melanggar sumpah, dan kita rincikan berdasarkan kewajiban menunaikan sumpah, maka jika ia memerdekakan budak itu sebagai kafarat zhihar, maka pemerdekaan itu sah dan ia terbebas dari tanggungan sumpah. Adapun apakah pemerdekaan itu juga berlaku sebagai kafarat zhihar, terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Pendapat yang lebih kuat, bahkan yang selain itu tidak sah, adalah bahwa pemerdekaan tersebut berlaku untuk kafarat zhihar.
والوجه الثاني أنه لا ينصرف إليه لأن حق الحنث قد تأدّى به وهذا زللٌ عظيم فإن الذي يعلق شيئاً ليس ملتزماً وإنما هو في حكم الموقع عند الحنث كما قدمناه
Alasan kedua adalah bahwa hal itu tidak mengarah kepadanya karena hak pelanggaran sumpah telah terpenuhi dengannya, dan ini adalah kesalahan besar. Sebab, orang yang menggantungkan sesuatu tidaklah berkomitmen, melainkan ia berada dalam hukum seperti orang yang melanggar sumpah ketika pelanggaran itu terjadi, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.
ثم إذا قلنا العتق لا ينصرف إلى الظهار فإنه يحصل لا محالة وكأنه نذر عتقاً مطلقاً في عبْد عيّنه ولو صح هذا الاعتبار وهو تنزيل ما قاله على النذر المطلق مع إبطال الجهة حتى كأنه قال لو وطئتك فعليَّ أن أعتق هذا العبد فيلزم على هذا المساق أن يقال إذا قال إن وطئتك فلله علي أن أصوم يوماً بعينه عن القضاء الذي هو عليّ يكون هذا بمثابة ما لو قال إن وطئك فلله علي أن أصوم ذلك اليوم بعينه بعد الأشهر فإذا كان الأصحاب لا يجعلون تعيين اليوم لواجبٍ سابق بمثابة نذر صوم ذلك اليوم فقد تخبط هذا الوجه على اشتهاره ووجب الحكم بوقوع العبد عن الظهار لا محالة وهذا تفريعٌ على وجوب الوفاء
Kemudian, jika kita katakan bahwa pembebasan budak tidak berlaku untuk kafarat zihar, maka pembebasan itu tetap terjadi tanpa diragukan lagi, seolah-olah ia bernazar untuk membebaskan budak secara mutlak pada budak tertentu yang ia tunjuk. Jika pertimbangan ini sah, yaitu menganggap apa yang diucapkannya sebagai nazar mutlak dengan meniadakan sisi (kafarat), sehingga seakan-akan ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka wajib atasku membebaskan budak ini,” maka menurut alur ini, jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka karena Allah atasku untuk berpuasa satu hari tertentu sebagai qadha yang menjadi tanggunganku,” maka ini sama seperti jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka karena Allah atasku untuk berpuasa hari itu secara khusus setelah beberapa bulan.” Jika para ulama tidak menganggap penentuan hari untuk kewajiban sebelumnya sebagai nazar puasa pada hari itu, maka pendapat ini menjadi rancu meskipun terkenal, dan wajiblah menetapkan bahwa budak tersebut menjadi kafarat zihar tanpa diragukan lagi. Ini merupakan cabang dari kewajiban menunaikan nazar.
فإن أوجبنا كفارة اليمين فلو أعتق ذلك العبدَ المعيّن عن ظهاره فكفارة اليمين باقية عليه وإن وجد الوفاء فلا شك أن العبد يقع عن الظهار فإنه لم يتأدّ به حق الحِنْث ولو أعتقه عن كفارة اليمين فلا شك أن كفارة الظهار باقية عليه فإن قيل لو أخرج كفارةَ اليمين كُسوة أو طعاماً فهل يتعين عليه إعتاق ذلك العبد المعيّن قلنا لا فإنا نُفرِّع على أن موجب يمين اللجاج الكفارة والعبد إنما يتعين إعتاقه عن الظهار إذا فرض نذره وهذا الذي نحن فيه يمينٌ وليس هذا مما يخفى ولكن إذا طال الكلام لا يضرّ التنبيه على مثل هذا
Jika kami mewajibkan kafarat yamin, maka jika seseorang memerdekakan budak tertentu itu sebagai kafarat zihar, kafarat yamin tetap wajib atasnya. Dan jika ia melaksanakan pembayaran, tidak diragukan bahwa budak itu sah sebagai kafarat zihar, karena dengan itu hak pelanggaran sumpah belum terpenuhi. Dan jika ia memerdekakan budak itu sebagai kafarat yamin, tidak diragukan bahwa kafarat zihar tetap wajib atasnya. Jika dikatakan: Jika ia mengeluarkan kafarat yamin berupa pakaian atau makanan, apakah ia wajib memerdekakan budak tertentu itu? Kami katakan: Tidak, karena kami berpendapat bahwa yang menjadi konsekuensi dari yamin lajjaj adalah kafarat, dan budak itu hanya menjadi wajib dimerdekakan untuk zihar jika memang dinazarkan. Adapun yang sedang kita bahas ini adalah yamin, dan hal ini bukanlah sesuatu yang samar, namun jika pembahasan menjadi panjang, tidak mengapa memberikan penjelasan seperti ini.
ولو ابتدأ ناذراً وقال لله عليّ أن أعتق هذا العبدَ عن ظهاري وجرينا على النص فإذا أعتقه عن الظهار هل يقع عن الظهار وهل يخرّج ذلك الوجه الضعيف البعيد قلنا الوجه القطع بأنه يقع عن الظهار فإنا نصحح هذا النذر على هذا الوجه فإذا صححناه أوقعناه وإذا فرعنا على قول الوفاء فأعتقه وفاءً فقد ذكرنا الوجهين لأن الوفاء وقع تَحِلَّةً للقسم وتأديةً لحق الحِنث وحق الحِنث يغاير الملتزَم فإذا كان الفرض في نذر مجرد فليس إلا تصحيحُ إيقاعه على وجه تصحيح التزامه
Jika seseorang memulai dengan bernazar dan berkata, “Demi Allah, aku wajib memerdekakan budak ini sebagai penebus zhihar-ku,” lalu kita mengikuti teks nash, maka jika ia memerdekakannya sebagai penebus zhihar, apakah itu sah sebagai penebus zhihar? Dan apakah pendapat yang lemah dan jauh itu bisa dijadikan dasar? Kami katakan, pendapat yang kuat adalah bahwa itu sah sebagai penebus zhihar, karena kami mengesahkan nazar ini dalam bentuk seperti itu. Jika kami mengesahkannya, maka kami menetapkannya. Jika kami merinci berdasarkan pendapat bahwa nazar harus dipenuhi, lalu ia memerdekakannya sebagai pemenuhan nazar, maka kami telah menyebutkan dua sisi pendapat, karena pemenuhan nazar itu terjadi sebagai penebus sumpah dan sebagai pelaksanaan hak akibat pelanggaran sumpah, sedangkan hak akibat pelanggaran sumpah berbeda dengan apa yang dinazarkan. Maka jika kasusnya adalah nazar murni, maka tidak ada selain mengesahkan pelaksanaannya sebagaimana mengesahkan komitmennya.
فصل
Bab
إذا قال لإحدى امرأتيه إن وطئتك فصاحبتك هذه طالق فهو مولٍ عن التي عينها على الجديد فإنه يتعلق بالوطء طلاق ضرتها ثم إذا توجهت الطَّلبة ففاء طلقت صاحبتها وانحلّت اليمين
Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka istrimu yang ini tertalak,” maka menurut pendapat baru, ia dianggap melakukan ila’ terhadap istri yang telah ditentukan itu, karena talak terhadap madunya dikaitkan dengan hubungan badan. Kemudian, apabila tuntutan (untuk kembali) telah diarahkan kepadanya, lalu ia kembali (berhubungan), maka istri yang disebutkan itu tertalak dan sumpahnya pun menjadi batal.
ولو طلّق التي آلى عنها ثم راجعها أو تركها حتى بانت وجدّد النكاح عليها فمهما وطئها حكمنا بطلاق صاحبتها إذا كان النكاح مستمراً عليها فإن طريان البينونة على التي آلى عنها لا يؤثر في طلاق التي حلف بطلاقها
Jika seseorang menceraikan istri yang telah ia ila’ (bersumpah tidak menggaulinya), kemudian ia merujuknya kembali atau membiarkannya hingga terjadi bain (perceraian yang tidak bisa dirujuk) lalu memperbarui akad nikah dengannya, maka kapan pun ia menggaulinya, kami menetapkan jatuhnya talak atas istri yang menjadi objek sumpah talak, selama akad nikah masih berlangsung atasnya. Sebab, terjadinya bain pada istri yang di-ila’ tidak berpengaruh terhadap jatuhnya talak atas istri yang ia sumpahi dengan talak.
ولو أبان التي آلى عنها وزنا بها طلقت صاحبتها فإنَّ طلاق صاحبتها معلّق بصورة وطء هذه وهذا بيّن
Jika seorang suami menceraikan istri yang telah ia ilā’ (bersumpah tidak menggaulinya) lalu ia menggauli istri tersebut, maka istri yang lain pun tertalak, karena talak terhadap istri yang lain itu digantungkan pada terjadinya hubungan suami-istri dengan istri yang di-ilā’-i, dan hal ini jelas.
ولو كانت المسألة بحالها فأبان صاحبتها التي علق طلاقها ثم جدد النكاح عليها فنقول أولاً إذا أبانها فقد صارت إلى حالة لا تطلق فيرتفع الإيلاء وتقديرُ الطلب فيه فإنه لو وطىء في اطراد البينونة على الصاحبة لما تعلق بالوطء شيء وإذا انتهى المولي إلى حالةٍ لو فرض منه الوطء لما التزم شيئاً فإنه يخرج بالانتهاء إليها عن اطراد حكم الإيلاء
Jika perkaranya tetap seperti itu, lalu suaminya menceraikan istrinya yang digantungkan talaknya, kemudian memperbarui akad nikah dengannya, maka pertama-tama kami katakan: Jika ia telah menceraikannya dengan talak bain, maka istrinya telah berada dalam keadaan yang tidak lagi dapat dijatuhkan talak, sehingga hukum ila’ dan ketentuan tuntutan di dalamnya menjadi gugur. Sebab, jika ia berhubungan suami istri dalam keadaan bain dengan istrinya, maka tidak ada sesuatu pun yang berkaitan dengan hubungan tersebut. Dan jika seorang suami yang melakukan ila’ telah sampai pada keadaan di mana seandainya ia melakukan hubungan suami istri pun tidak menimbulkan kewajiban apa pun, maka dengan sampai pada keadaan itu, ia telah keluar dari kelanjutan hukum ila’.
فإذا عادت الصاحبة وفرعنا على أن الحِنْث لا يعود فقد زال الإيلاء بالكلية وإن قلنا يعود الحنث عليها حتى يلحقها الطلاق المعلق فيعود الإيلاء وحكمه وتوجيه الطّلبة به
Jika istri kembali dan kita berpendapat bahwa pelanggaran sumpah (hins) tidak kembali, maka iilā’ telah hilang sepenuhnya. Namun jika kita berpendapat bahwa pelanggaran sumpah kembali kepadanya hingga talak yang digantungkan menimpanya, maka iilā’ dan hukumnya pun kembali, serta permintaan (talak) dengannya menjadi sah.
والذي يجب التنبّه له في هذا المقام أن من آلى عن امرأته ثم طلقها لما طولب بعد المدّة فإذا راجعها استفتحنا مدةً بعد المراجعة كما أوضحنا فيما سبق فإذا علق طلاق صاحبتها بوطئها ثم أبان المحلوفَ بطلاقها ثم نكحها وحكمنا بعَوْد الحنث فيها وعَوْد الإيلاء في التي آلى عنها فهل نستفتح مدةً ونفرض بعدها طلباً كما قدمناه فيه إذا طلق التي آلى عنها ثم راجعها أو جدد عليها نكاحاً
Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang melakukan ila’ terhadap istrinya lalu menceraikannya ketika diminta setelah lewat masa tertentu, kemudian ia merujuk istrinya, maka kita memulai masa baru setelah rujuk sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika ia menggantungkan talak istri yang lain dengan menggaulinya, lalu menceraikan istri yang dijadikan objek sumpah, kemudian menikahinya kembali, dan kita memutuskan bahwa pelanggaran sumpah kembali berlaku padanya, serta ila’ juga kembali berlaku pada istri yang telah di-ila’, maka apakah kita memulai masa baru dan menetapkan adanya permintaan setelahnya sebagaimana telah kami sebutkan jika ia menceraikan istri yang di-ila’ lalu merujuknya atau menikahinya kembali?
الظاهر عندنا أنا لا نبتدىء ضرب مدة فإنَّ طلاق التي آلى عنها من وجهٍ وفاءٌ بالطّلبة وإن لم يكن فيئةً ورجوعاً إلى حقها في المستمتع وكان طلبها يتعلق بالاستمتاع وهو الأصل أو بتخليصها فإذا طلقها كان هذا سعياً في التخليص فإذا تجدد حقها أمكن أن يؤثر الطلاق السابقُ في استحداث مدة جديدة سوى المدة الماضية أوَّلاً وهذا المعنى لا يتحقق بانقطاع أثر الإيلاء بسبب إبانة الصاحبة المحلوف بطلاقها فإنه ليس في إبانتها إسعافُ التي آلى عنها بوجهٍ من وجوه الطّلبة وبمقصودٍ من مقاصدها
Pendapat yang tampak menurut kami adalah bahwa kami tidak memulai penghitungan masa baru, karena talak terhadap istri yang di-ila’ darinya, dari satu sisi, merupakan pemenuhan terhadap permintaan, meskipun bukan berupa rujuk dan kembali kepada haknya dalam hal hubungan suami istri. Permintaannya berkaitan dengan hubungan suami istri, yang merupakan pokok, atau berkaitan dengan pembebasan dirinya. Maka jika suami menceraikannya, hal itu merupakan upaya untuk membebaskannya. Jika haknya muncul kembali, maka talak sebelumnya dapat berpengaruh dalam memulai masa baru selain masa yang telah berlalu sebelumnya. Makna ini tidak terwujud dengan hilangnya pengaruh ila’ karena perpisahan dengan istri yang dijadikan objek sumpah talak, karena dalam perpisahan tersebut tidak terdapat pemenuhan permintaan istri yang di-ila’ darinya, baik dari segi permintaan maupun dari segi tujuannya.
وقد يتجه المصير إلى استفتاح مدة فإن الزوج بإبانتها رفع المانع من الوطء فكان هذا سبباً لقطع الضرار وتسهيلاً للإقدام على الوطء
Dan terkadang keputusan diarahkan kepada penetapan masa tertentu, karena suami dengan menjatuhkan talak bain telah menghilangkan penghalang untuk melakukan hubungan suami istri, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya mudarat dan memudahkan untuk melakukan hubungan suami istri.
وسيأتي فصلٌ جامع في قواطع المدة وما يقتضي ابتداؤها ونعيد طرفاً مما ذكرناه وعند ذلك يحصل شفاء الصدور
Akan datang satu bab yang komprehensif tentang hal-hal yang memutus masa dan apa saja yang menyebabkan permulaannya, dan kami akan mengulang sebagian dari apa yang telah kami sebutkan. Pada saat itu, dada-dada akan mendapatkan kepuasan.
وإذا قال لامرأته إن وطئتك فعبدي هذا حرّ فهو مولٍ على الجديد فلو باع ذلك العبد انقطع أثر الإيلاء فلو عاد إلى ملكه ففي عود الحنث قولان وفي عَوْد الإيلاء قولان مأخوذان من ذلك والتفصيل في العتق كالتفصيل في الطلاق
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu maka budakku ini merdeka,” maka menurut pendapat baru, ia dianggap melakukan ila’. Jika ia menjual budak tersebut, maka pengaruh ila’ terputus. Jika budak itu kembali menjadi miliknya, terdapat dua pendapat mengenai kembalinya pelanggaran sumpah, dan dua pendapat mengenai kembalinya status ila’, yang diambil dari permasalahan tersebut. Perincian dalam masalah pembebasan budak sama seperti perincian dalam masalah talak.
فصل قال ولو آلى ثم قال لأخرى قد أشركتك معها في الأيلاء إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Seandainya seseorang melakukan ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri), kemudian ia berkata kepada istri yang lain, ‘Aku telah menyertakanmu bersamanya dalam ila’ hingga selesai,’ …”
إذا طلق الرجل إحدى امرأتيه ثم قال للأخرى أنت شريكتها ونوى بذلك تطليقها طلقت
Jika seorang laki-laki menceraikan salah satu dari dua istrinya, kemudian berkata kepada istri yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia berniat menceraikannya dengan ucapan itu, maka istri tersebut juga tertalak.
ولو آلى عن إحدى امرأتيه ثم قال للأخرى أنت شريكتها وزعم أنه أراد بذلك الإيلاءَ عنها وتنزيلَها منزلةَ الأولى لم يصر مولياً بهذا اللفظ وغرض الفصل أن الإيلاء يمينٌ فلا يحصل بالكناية على هذا الوجه فإن عماد اليمين ذكر محلوفٍ به وليس في لفظة الإشراك ذلك فخاصّية اليمين زائلة والنية بمجردها لا تعويل عليها
Jika seseorang melakukan ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri) terhadap salah satu dari dua istrinya, kemudian ia berkata kepada istri yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia mengklaim bahwa maksudnya adalah melakukan ila’ juga terhadap istri yang kedua dan menempatkannya pada posisi yang sama dengan istri pertama, maka ia tidak dianggap telah melakukan ila’ dengan lafaz tersebut. Tujuan dari pembahasan ini adalah bahwa ila’ merupakan sumpah, sehingga tidak sah dilakukan dengan kinayah (lafaz sindiran) dalam bentuk seperti ini. Sebab, inti dari sumpah adalah menyebutkan sesuatu yang dijadikan objek sumpah, sedangkan dalam lafaz “menjadikan sekutu” tidak terdapat hal tersebut, sehingga kekhususan sumpah menjadi hilang, dan niat semata tidak dapat dijadikan sandaran.
فإن قيل ألستم قضيتم بأن قول الزوج والله لا يجمع رأسي ورأسك وسادةٌ كناية في الأيلاء قلنا الممتنع من الحصول بالمكاني المقسم به فأما الألفاظ التي تتعلق بمقصود اليمين فلا يمتنع تطرق الكنايات إليها
Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah memutuskan bahwa ucapan suami ‘Demi Allah, tidak akan berkumpul kepala saya dan kepalamu di satu bantal’ adalah kinayah dalam masalah ila’?” Kami menjawab, yang mustahil terjadi adalah sesuatu yang berkaitan dengan tempat yang dijadikan objek sumpah. Adapun lafaz-lafaz yang berkaitan dengan maksud sumpah, maka tidak mustahil kinayah dapat masuk ke dalamnya.
ولو ظاهر عن إحدى امرأتيه ثم قال للأخرى أشركتك معها وقصد إحلالها محل الأولى في الظهار فهل يحصل الظهار بهذا اللفظ مع النية فعلى وجهين مبنيين على أن المغلَّب في الظهار أحكامُ الطلاق أو أحكام اليمين فإن غَلّبنا شَبَه
Jika seseorang melakukan zihar terhadap salah satu dari dua istrinya, kemudian berkata kepada istri yang lain, “Aku menyertakanmu bersamanya,” dan ia bermaksud menempatkannya pada posisi istri pertama dalam zihar, maka apakah zihar terjadi dengan lafaz ini disertai niat? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dibangun di atas pertimbangan apakah yang lebih dominan dalam zihar adalah hukum-hukum talak atau hukum-hukum sumpah. Jika kita lebih menguatkan kemiripan dengan…
الطلاق صيرناه مظاهراً وإن غلبنا شبه اليمين لم نجعله مظاهراً وسيأتي شرح هذا الأصل في موضعه إن شاء الله عز وجل
Talak kami anggap sebagai zihar, namun jika sisi kemiripannya dengan sumpah lebih kuat, maka kami tidak menganggapnya sebagai zihar. Penjelasan tentang kaidah ini akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ولو قال لإحدى امرأتيه إن دخلت الدار فأنت طالق ثم قال للأخرى أشركتك معها فهذا مما ذكرناه في فروع الطلاق وفيه مقنع فلا نعيده
Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata kepada istrinya yang lain, “Aku menyertakanmu bersamanya,” maka hal ini termasuk yang telah kami sebutkan dalam cabang-cabang hukum talak, dan di sana telah terdapat penjelasan yang memadai, sehingga kami tidak mengulanginya di sini.
ثم قال ولو قال إن قَرِبْتُك فأنت زانية إلى آخره
Kemudian ia berkata: “Jika aku mendekatimu, maka engkau adalah pezina,” dan seterusnya.
إذا قال إن جامعتك فأنت زانية فلا يكون مولياً فإنه لا يلتزم بجماعها أمراً إذ لو وطئها لم يَصِرْ قاذفاً والقذف لا يقبل التعليق فإنه خبر صفتُه أن يكون جازماً وعلى هذا الوجه يقدح في العِرض فإذا تعلق خرج عن وضعه
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau adalah pezina,” maka ia tidak menjadi seorang yang melakukan ila’, karena ia tidak berkomitmen untuk menggaulinya dalam suatu perkara. Sebab, jika ia menggaulinya, ia tidak menjadi seorang yang menuduh zina (qadzaf), dan qadzaf tidak dapat diterima dengan bentuk mu‘allaq (tergantung syarat), karena qadzaf adalah sebuah berita yang sifatnya harus tegas. Dengan cara seperti ini, qadzaf mencederai kehormatan (‘ird), maka jika dikaitkan dengan syarat, ia keluar dari ketentuan asalnya.
فصل قال ولو قال والله لا أصبتك في السنة إلا مرة لم يكن مولياً إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu dalam setahun kecuali sekali,” maka ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ila’ hingga akhir.
هذا الفصل يستدعي تقديم أصلٍ فنقول أوضحنا أن التفريع على أن المولي من يلتزم بالوقاع أمراً بعد أربعة أشهر ثم قسمنا وجوه الالتزام فلو كان لا يلتزم بالوقاع بعد الأشهر أمراً غيرَ أنه كان يقرُب بسببه من الحِنْث في يمين فهل نجعله مولياً وهل نجعل القرب من الحنث في معنى التزام أمر حتى نقول يتعلق بالوطء التزامٌ فنجعله مولياً في المسألة قولان أصحهما أنا لا نجعله مولياً فإن الوطء ليس يستعقب لزومَ أمر والقرب ليس حكماً ثابتاً ولا أمراً لازماً وحاصله دنوّ توقّعٍ في لازم
Bab ini memerlukan penjelasan prinsip, maka kami katakan: Kami telah menjelaskan bahwa dasar pembahasan adalah bahwa seorang mūlā (orang yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) adalah orang yang berkomitmen untuk tidak melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu empat bulan, kemudian kami membagi bentuk-bentuk komitmen tersebut. Jika seseorang tidak berkomitmen untuk tidak berhubungan suami istri setelah empat bulan, namun ia mendekati kemungkinan melanggar sumpah karena sebab tertentu, apakah kita menganggapnya sebagai mūlā? Dan apakah kita menganggap kedekatan pada pelanggaran sumpah itu sebagai bentuk komitmen, sehingga kita katakan bahwa terkait hubungan suami istri terdapat komitmen, lalu kita menganggapnya sebagai mūlā? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat, dan yang paling sahih adalah bahwa kita tidak menganggapnya sebagai mūlā, karena hubungan suami istri tidak serta-merta menimbulkan kewajiban tertentu, dan kedekatan pada pelanggaran sumpah bukanlah suatu hukum yang tetap maupun perkara yang wajib. Intinya, hal itu hanyalah sebatas kemungkinan terjadinya kewajiban di masa mendatang.
والقول الثاني أنه مولٍ فإنه بسبب الوطء يقرب من اللزوم وهو مما يُحاذَر فينتصب في مقابلة الوطء أمرٌ محذور وهو عماد الإيلاء
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia adalah seorang mu’īl, karena dengan adanya hubungan badan, perkara tersebut hampir menjadi wajib, dan hal itu merupakan sesuatu yang diwaspadai. Maka, sebagai lawan dari hubungan badan, terdapat perkara yang dikhawatirkan, yaitu inti dari ilā’.
ونحن نفرض للقولين صورة ثم نتبعها بصورٍ يتقرر بها الغرض فإذا كان للرجل أربع نسوة فقال والله لا أجامعكن فلو جامع واحدة لم يلتزم أمراً وكذلك إذا وطىء الثانية والثالثة فإن الحنث يحصل بوطئهن كلهن ولكنه بوطء الأولى يقرب من الحنث فهل نجعله مُولياً فعلى ما ذكرناه من القولين فإن جعلنا الوطء المقرّب كالوطء المحنّث فالطلبة تتوجه والإيلاء يثبت وإن لم نجعل الوطء المقرب كالوطء المحنث فلا نجعله مولياً حتى يطأ ثلاثاً منهن فإذ ذاك يصير مولياً عن الرابعة فنُجري ابتداءَ المدة بعد وطء الثالثة والحِنْث يتعلق بوطء الرابعة
Kita misalkan kedua pendapat tersebut dalam sebuah ilustrasi, lalu kita ikuti dengan beberapa ilustrasi lain agar maksudnya menjadi jelas. Jika seorang laki-laki memiliki empat istri lalu ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli kalian,” maka jika ia menggauli salah satu dari mereka, ia belum wajib melakukan apa pun. Demikian pula jika ia menggauli istri kedua dan ketiga. Sumpahnya dianggap batal (terjadi pelanggaran/ḥinth) jika ia menggauli keempat-empatnya, namun dengan menggauli istri pertama, ia telah mendekati pelanggaran sumpah. Maka, apakah kita menganggapnya sebagai mu’li (orang yang melakukan ilā’)? Berdasarkan dua pendapat yang telah disebutkan, jika kita menganggap perbuatan yang mendekati pelanggaran sumpah sama dengan perbuatan yang benar-benar melanggar sumpah, maka tuntutan (hukum ilā’) berlaku dan ilā’ pun ditetapkan. Namun, jika kita tidak menganggap perbuatan yang mendekati pelanggaran sumpah sama dengan pelanggaran sumpah itu sendiri, maka ia belum dianggap sebagai mu’li sampai ia menggauli tiga dari mereka. Pada saat itu, ia baru dianggap sebagai mu’li terhadap istri keempat, sehingga masa ilā’ dimulai setelah ia menggauli istri ketiga, dan pelanggaran sumpah (ḥinth) berkaitan dengan menggauli istri keempat.
فهذا من صور القولين
Ini termasuk salah satu contoh dari dua pendapat.
ومما يجري القولان فيه صورة مسألة الكتاب وهي إذا قال لامرأته والله لا أصبتك في السنة إلا مرة فالأصح المنصوص عليه في الجديد أنا لا نجعله مولياً قبل أن يطأ فالوطء الأول لا يلتزم به شيئاً وإن وطىء مرة نظرنا إلى ما بقي من السنة فإن كان الباقي منها أربعة أشهر أو أقل فلا يكون مولياً فإن المدة قاصرة
Di antara masalah yang terdapat dua pendapat di dalamnya adalah seperti kasus yang disebutkan dalam kitab, yaitu apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu dalam setahun kecuali satu kali.” Pendapat yang paling sahih dan dinyatakan dalam pendapat baru adalah bahwa kita tidak menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ sebelum ia menggauli istrinya. Maka, pada hubungan pertama, ia tidak terikat apa pun. Jika ia menggauli istrinya satu kali, maka kita melihat sisa waktu dari tahun tersebut. Jika sisa waktu itu empat bulan atau kurang, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ila’, karena masa waktunya kurang.
وإن كان الباقي من السنة أكثر من أربعة أشهر جعلناه مولياً فإنه بعد الوطأة المستثناة صار إلى حالةٍ لو فُرض منه الوطء بعد أربعة أشهر لالتزم الكفارة وهذا أصح القولين
Jika sisa waktu dari satu tahun lebih dari empat bulan, maka kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’, karena setelah jima’ yang dikecualikan itu, ia berada dalam keadaan yang jika diasumsikan ia melakukan jima’ setelah empat bulan, maka ia wajib membayar kafarat. Dan ini adalah pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat.
والقول الثاني أنه مولٍ من أول السنة فإن الوطء المستئنى وإن كان لا يحنِّث فإنه يقرّب من الحنث فتتوجه الطلبة إذاً بعد أربعة أشهر فإن فاء خرج عن عهدةِ الطلب في هذه الكرة ثم إذا مضت أربعة أشهر فلو وطىء التزم الكفارة فيتوجه الطلبة والوطء الأول لا يحل اليمين فإنه كان مستثنى والحِنْث يحصل بالوطأة الثانية
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia dianggap melakukan ila’ sejak awal tahun, sehingga hubungan suami istri yang dikecualikan (dalam sumpah) meskipun tidak membatalkan sumpah, tetap mendekatkan pada pembatalan sumpah. Maka tuntutan (untuk memilih antara kembali atau bercerai) berlaku setelah empat bulan. Jika ia kembali (rujuk), ia terbebas dari tuntutan pada putaran ini. Kemudian, jika telah berlalu empat bulan lagi, lalu ia berhubungan suami istri, ia wajib membayar kafarat, sehingga tuntutan kembali berlaku. Hubungan suami istri yang pertama tidak membatalkan sumpah karena itu dikecualikan, dan pembatalan sumpah terjadi pada hubungan suami istri yang kedua.
ولو استثنى عن اليمين المعقودة على السنة وطآت كثيرة فالقولان جاريان ولا فرق بين الوطأة الواحدة المستثناة وبين الوطآت فإن التقريب يحصل بكل وطء
Jika seseorang membuat pengecualian (istitsnā’) dari sumpah yang diikrarkan sesuai sunnah terhadap banyak persetubuhan, maka dua pendapat tetap berlaku, dan tidak ada perbedaan antara satu persetubuhan yang dikecualikan dengan beberapa persetubuhan, karena pendekatan (taqrīb) tercapai dengan setiap persetubuhan.
ولو قال لامرأته إن وطئتك فوالله لا أطؤك فهذا تعليق منه للإيلاء بالوطأة الأولى وللأصحاب طريقان منهم من قطع بانه لا يكون مولياً في الحال بخلاف الصورة المقدّمة في عقد اليمين على السنة واستثناء ما أراد وهاهنا علّق ابتداء العقد بالوطأة الأولى فلا يمين قبل الوطأة الأولى ويستحيل أن نحكم بكونه مولياً في وقتٍ لا يكون فيه حالفاً
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, demi Allah aku tidak akan menggaulimu lagi,” maka ini merupakan penangguhan sumpah ila’ pada persetubuhan yang pertama. Para ulama memiliki dua pendapat: di antara mereka ada yang menegaskan bahwa dalam keadaan ini ia belum dianggap sebagai orang yang melakukan ila’ saat itu, berbeda dengan kasus sebelumnya ketika sumpah diikrarkan sesuai sunah dan dengan pengecualian yang diinginkan. Di sini, ia menangguhkan permulaan akad pada persetubuhan yang pertama, sehingga tidak ada sumpah sebelum persetubuhan pertama, dan mustahil kita menetapkan bahwa ia telah melakukan ila’ pada waktu ia belum bersumpah.
ومن أصحابنا من أجرى القولين في هذه المسألة وقال إن لم يكن حالفاً بالله في حالِه فهو في حكم الحالف بالله تعالى فكان الوطءُ مقرِّباً من الحنث فهو يجري بعد يمين كما ذكرت
Sebagian ulama dari kalangan kami mengemukakan dua pendapat dalam masalah ini dan berkata: Jika seseorang tidak bersumpah dengan nama Allah dalam keadaannya, maka ia berada dalam hukum orang yang bersumpah dengan nama Allah Ta‘ala, sehingga hubungan suami istri menjadi mendekati terjadinya pelanggaran sumpah, maka hal itu berlaku setelah adanya sumpah sebagaimana telah aku sebutkan.
ولو قال لامرأته إن وطئتك فأنت طالق إن دخلت الدار فقد نقل بعض الأثبات عن القاضي أنه قال نجعله مولياً في هذه الصورة قولاً واحداً ولو قال إن وطئتك فأنت عليّ كظهر أمي إن دخلت الدار فيكون مولياً قولاً واحداً واعتلّ بأنه التزم بالوطء تعليق الطلاق والظهار والمولي من يلتزم بالوطء شيئاً على ما ذكرناه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak jika engkau masuk rumah,” sebagian ulama yang terpercaya menukil dari al-Qadhi bahwa beliau berkata: “Kami menetapkannya sebagai seorang yang melakukan ila’ (muli) dalam kasus ini, menurut satu pendapat.” Dan jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku jika engkau masuk rumah,” maka ia juga menjadi seorang yang melakukan ila’ menurut satu pendapat. Alasannya adalah karena ia telah mengaitkan perbuatan menggauli dengan talak dan zihar, sedangkan muli adalah orang yang mengaitkan perbuatan menggauli dengan sesuatu, sebagaimana telah kami sebutkan.
وهذا غير سديد وقطع شيخي بتخريج تعليق الطلاق والظهار على قولين والسبب فيه أن الوطء لا يوجب وقوع الطلاق والظهار بل يوجب انعقاد تعليقهما فهو كما لو قال إن أصبتك فوالله لا أصيبك وأي فرق بين تعليق عقد اليمين بالطلاق والظهار بالوطء وبين تعليق عقد اليمين بالله تعالى بالوطء فلا وجه للفرق بينهما
Pendapat ini tidak tepat, dan guruku menegaskan adanya dua pendapat dalam men-takhrij hukum menggantungkan talak dan zihar. Sebabnya adalah bahwa hubungan suami istri tidak menyebabkan jatuhnya talak dan zihar, melainkan menyebabkan terjadinya penggantungan keduanya. Hal ini seperti seseorang yang berkata, “Jika aku menggaulimu, demi Allah aku tidak akan menggaulimu lagi.” Apa bedanya antara menggantungkan akad sumpah dengan talak dan zihar pada hubungan suami istri, dengan menggantungkan akad sumpah dengan nama Allah pada hubungan suami istri? Maka tidak ada alasan untuk membedakan antara keduanya.
ولعل الذي تخيّله الفارق أن الإيلاء المعهود هو الحلف بالله على الامتناع من الوطء فلما كان ذلك معلّقاً بالإصابة الأولى انتظم لهذا القائل أن الإيلاء موعود معلق وليس منجزاً وإن كان المعلق بالإصابة الأولى طلاقاً أو ظهاراً فليس ذلك التعليق إيلاءً في نفسه فَحَسِبه أمراً ملتزماً وحسِب التزامه إيلاءً وهذا ذهول عن دقيقة نبهنا عليها وهي أن من قال إن أصبتك فوالله لا أصيبك فهذا حلف بالحَلف كما أنه إذا قال إن أصبتك فأنت طالق إن دخلت الدار فهذا حلف بتعليق الطلاق فلا وجه إذاً للفرق
Barangkali yang dibayangkan sebagai perbedaan adalah bahwa ila’ yang dikenal adalah bersumpah dengan nama Allah untuk tidak melakukan hubungan suami istri. Maka ketika hal itu digantungkan pada persetubuhan pertama, bagi orang yang berpendapat demikian, ila’ menjadi janji yang digantungkan dan bukan sesuatu yang langsung terjadi. Jika yang digantungkan pada persetubuhan pertama itu adalah talak atau zihar, maka penggantungannya itu sendiri bukanlah ila’. Ia mengira hal tersebut sebagai suatu komitmen, dan mengira komitmen itu sebagai ila’. Ini adalah kekeliruan terhadap hal yang telah kami tunjukkan sebelumnya, yaitu bahwa siapa yang berkata, “Jika aku menggaulimu, demi Allah aku tidak akan menggaulimu lagi,” maka ini adalah sumpah dengan sumpah, sebagaimana jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak jika engkau masuk rumah,” maka ini adalah sumpah dengan menggantungkan talak. Maka tidak ada alasan untuk membedakan antara keduanya.
ومما نذكره متصلاً بهذا الذي انتهينا إليه أن الرجل إذا قال لامرأته إن وطئتك فعبدي حر عن ظهاري إن تظهرت فقد كنا وعدنا في ذلك ذكرَ خلاف وها نحن نقول الوطء قبل الظهار لا يُلزم أمراً فكان ظاهر المذهب ألا نجعله مولياً فإن قلنا القرب من الحِنث يثبت الإيلاء فإذا وطىء فقد قرب حصول العتق فمن أصحابنا من ألحق هذا بمحالّ القولين في القرب من الحنث وجعله مولياً قبل الظهار على أحد القولين
Perlu juga kami sebutkan, berkaitan dengan apa yang telah kami bahas sebelumnya, bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Jika aku menggaulimu, maka budakku merdeka karena zhihar-ku jika aku melakukan zhihar,” sebagaimana telah kami janjikan sebelumnya untuk menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, maka sekarang kami katakan: berhubungan suami istri sebelum zhihar tidak mewajibkan sesuatu pun, sehingga menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, kami tidak menganggapnya sebagai tindakan ila’. Namun, jika dikatakan bahwa mendekati pelanggaran sumpah (hinth) menetapkan status ila’, maka jika ia menggauli istrinya, berarti ia telah mendekati terjadinya pembebasan budak. Maka sebagian ulama kami mengaitkan hal ini dengan tempat terjadinya dua pendapat dalam masalah mendekati pelanggaran sumpah, dan menganggapnya sebagai ila’ sebelum zhihar menurut salah satu dari dua pendapat.
ومنهم من قطع القول بأنه لا يكون مولياً ولا يكاد يتضح الفرق والأصح أن القرب من الحِنْث لا يثبت موجَب الإيلاء
Sebagian dari mereka secara tegas berpendapat bahwa hal itu tidak dianggap sebagai tindakan ila’ (mūliyan), dan perbedaannya hampir tidak jelas. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa mendekati pelanggaran sumpah tidak menetapkan konsekuensi hukum ila’.
ومما ذكره الأصحاب في بعض مسائل الفصل أن الرجل إذا قال لامرأته والله لا أصبتك إلا مرة واحدة فلو وطئها ثم نزع في الأثناء وأعاد فلا يحنث بالإيلاج الأول وإذا نزع وأعاد حَنِث فإنه وطءٌ مجدّد وقد حكيتُ في هذا خلافاً فيما تقدّم وأوردته فيه إذا قال إن وطئتك فأنت طالق ثلاثاًً ثم أولج ونزع وأعاد قبل قضاء الوطر فالمذهب المبتوت وجوبُ المهر إذا جرى على جهلٍ فإن هذا وطء مبتدأ فمن أصحابنا من عدّ النزع والإعادة في حكم استدامة الوطأة الواحدة وهذا بعيد وإن كان يتوجه فهو في اليمين أقرب فإن وجوب المهر يتلقى من مأخذ الأحكام وأما إذا تعرض لذكر الوطأة بالاستثناء في اليمين المعقودة فقد يظهر الرجوع فيما هذا سبيله إلى العرف ولو قال والله لا آكل إلا أكلة واحدة فقد يحمل ذلك في الأيمان على أكلة تحويها جلسة على الاعتياد والغرض بإعادة ما ذكرناه حكايةُ قول الأصحاب في هذا المقام
Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama dalam beberapa permasalahan bab ini adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu kecuali satu kali saja,” lalu ia menggaulinya kemudian mencabut (kemaluannya) di tengah-tengah dan mengulangi lagi, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah pada penetrasi yang pertama. Namun jika ia mencabut dan mengulangi lagi, maka ia dianggap melanggar sumpah, karena itu adalah hubungan yang baru. Aku telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini sebelumnya, dan aku juga telah mengemukakannya dalam kasus jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak tiga,” lalu ia melakukan penetrasi, mencabut, dan mengulangi sebelum mencapai kepuasan, maka pendapat yang kuat adalah wajibnya mahar jika hal itu dilakukan karena ketidaktahuan, karena ini dianggap sebagai hubungan yang baru. Di antara para ulama kami ada yang menganggap bahwa mencabut dan mengulangi itu masih dalam hukum satu kali hubungan, namun pendapat ini lemah, meskipun secara logika bisa diterima, tetapi dalam masalah sumpah lebih dekat (kepada kebenaran). Sebab, kewajiban mahar diambil dari sumber-sumber hukum. Adapun jika seseorang secara khusus menyebutkan hubungan badan dengan pengecualian dalam sumpah yang diikrarkan, maka dalam hal seperti ini bisa jadi kembali kepada kebiasaan (‘urf). Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan makan kecuali satu kali makan,” maka dalam sumpah bisa jadi itu diartikan sebagai satu kali makan yang terkumpul dalam satu duduk menurut kebiasaan. Tujuan dari pengulangan penjelasan ini adalah untuk menyampaikan pendapat para ulama dalam masalah ini.
فصل قال ولو قال والله لا أقربك إلى يوم القيامة إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu sampai hari kiamat,” dan seterusnya.
غرض الفصل تقاسيم الأيمان فيما يتعلق بامتداد المُدَد في الحلف على الانكفاف عن الوطء
Tujuan bab ini adalah pembagian sumpah-sumpah yang berkaitan dengan lamanya waktu dalam bersumpah untuk menahan diri dari melakukan hubungan suami istri.
فنقول الأيمان في غرض الفصل تقع على أقسامٍ أحدها يمين مُطْلقة في الامتناع لا تعرّض فيها لتعليق بوقتٍ أو أمرٍ منتظر وسبيل هذا اللفظ الاسترسال على الأزمنة والانعقاد عليها ولو قُيِّدت بالتأبيد لكان التقييد بالتأبيد تأكيداً وحكمُ هذا القسم احتسابُ مدّة الإيلاء من وقت اللفظ
Maka kami katakan, sumpah-sumpah dalam pembahasan bab ini terbagi menjadi beberapa bagian. Salah satunya adalah sumpah mutlak dalam bentuk penolakan, yang di dalamnya tidak terdapat pengaitan dengan waktu tertentu atau perkara yang sedang ditunggu. Lafaz sumpah seperti ini berlaku terus-menerus sepanjang waktu dan mengikat pada seluruh masa tersebut. Jika sumpah itu dibatasi dengan kata “selamanya”, maka pembatasan dengan keabadian tersebut hanyalah sebagai penegasan. Hukum untuk bagian ini adalah perhitungan masa ila’ dimulai sejak waktu pengucapan sumpah.
ومن الأقسام تقييد اللفظ بالوقت وهذا مما تقدم شرحه فإن كانت المدة أربعةَ أشهر أو أقلَّ فلا إيلاء وإنما الذي جاء به يمين لا يتعلق بها حكمُ طَلِبة الإيلاء ولا يخفى موجَبُ البر والحِنْث وإن ذَكَر زماناً زائداً على الأربعة الأشهر انعقد الإيلاءُ فالأربعة الأشهر مَهَلٌ واشترط المزيد بسبب فرض توجيه الطلب فإن الإيلاء عندنا لا يتضمن وقوع الطلاق بنفسه وقد روي أن عمرَ بنِ الخطاب رضي الله عنه قال لحفصة أتصبر المرأة عن زوجها شهراً فقالت نعم فقال أتصبر ثلاثةَ أشهر فقالت نعم فقال أتصبر أربعة أشهر فسكتت فبعث
Di antara pembagian tersebut adalah pembatasan lafaz dengan waktu, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Jika jangka waktunya empat bulan atau kurang, maka itu bukanlah ila’, melainkan hanya sumpah yang tidak terkait dengan hukum permintaan ila’. Tidak tersembunyi pula kewajiban menepati sumpah atau melanggarnya. Jika disebutkan waktu yang melebihi empat bulan, maka ila’ pun terjadi. Empat bulan adalah masa tenggang, dan tambahan waktu disyaratkan karena adanya kewajiban untuk mengajukan permintaan. Sebab, menurut kami, ila’ tidak secara otomatis menyebabkan terjadinya talak. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Hafshah, “Apakah seorang wanita mampu bersabar dari suaminya selama satu bulan?” Ia menjawab, “Ya.” Umar bertanya lagi, “Tiga bulan?” Ia menjawab, “Ya.” Umar bertanya, “Empat bulan?” Maka Hafshah pun terdiam. Lalu Umar mengutus…
عمر بنُ الخطاب رضي الله عنه إلى أمراء الأجناد وأمرهم أن يردوا الرجال إلى أهليهم في الأربعة الأشهر فكان ابتناء مُدَّةِ الإيلاء على ما جرت الإشارة إليه من إمكان الصبر وظهور الضرار
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada para panglima pasukan dan memerintahkan mereka agar mengembalikan para prajurit kepada keluarga mereka setiap empat bulan. Maka penetapan masa ila’ didasarkan pada apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kemampuan untuk bersabar dan tampaknya terdapat mudarat.
ومن أقسام الأيمان ما يشتمل على مدة الامتناع عن الوطء إلى أمرٍ منتظر في الاستقبال وهذا ينقسم أقساماً فمنه ما يعلم قطعاً أنه لا يقع إلا بعد أربعة أشهر وذلك مثل أن يقول لامرأته والله لا أجامعك إلى إدراك الرطب وكان إنشاء اليمين في الشتاء والإدراكُ يقع بعد الأربعة الأشهر لا محالة فيثبت حكم الإيلاء وفاقاً
Di antara jenis-jenis sumpah adalah sumpah yang mencakup penahanan diri dari berhubungan suami istri sampai terjadinya suatu perkara yang akan datang di masa depan. Ini terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya adalah sumpah yang secara pasti diketahui tidak akan terjadi kecuali setelah empat bulan, seperti seseorang berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu sampai kurma matang,” sementara sumpah itu diucapkan pada musim dingin dan kematangan kurma pasti terjadi setelah empat bulan. Maka dalam hal ini, hukum ila’ (sumpah tidak menggauli istri) tetap berlaku menurut kesepakatan (ijmā‘) para ulama.
ولو علق بما يُعدّ وقوعُه مستبعداً كخروج الدّجال ونزول عيسى وما أشبههما من أشراط الساعة فيثبت الإيلاء وإذا مضت الأشهر توجهت الطَّلِبة
Jika sumpah itu digantungkan pada sesuatu yang dianggap kejadiannya sangat mustahil, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa, dan hal-hal serupa yang merupakan tanda-tanda kiamat, maka hukum ila’ tetap berlaku, dan apabila telah berlalu empat bulan, maka hak tuntutan (talāb) menjadi berlaku.
ولو ذكر ما لا يبعد حصوله قبل الأربعة الأشهر مثل أن يقول لا أجامعك حتى يقدَمَ فلان وكان قدومه متوقعاً قبل الأربعة فلا نحكم بكونه مولياً في الحال فلو مضت أربعةُ أشهر ولم يتفق القدوم فهل نقول إنا نتبيّن الآن أنه كان مولياً حتى تتوجه الطلبة بعد انقضاء الأشهر فعلى قولين أحدهما أنا نتبين ذلك وتتوجه الطلبة فإنا كنا نتوقف لظهور توقع السبب المذكور قبل الأربعة الأشهر والآن إذا بان بأَخَرةٍ تبينا امتدادَ الامتناع واليمين أربعةَ أشهر
Jika seseorang menyebutkan sesuatu yang tidak mustahil terjadi sebelum empat bulan, seperti mengatakan, “Aku tidak akan menggaulimu hingga si Fulan datang,” sementara kedatangan si Fulan diperkirakan akan terjadi sebelum empat bulan, maka kita tidak langsung memutuskan bahwa ia telah melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri) pada saat itu. Namun, jika telah berlalu empat bulan dan kedatangan itu tidak juga terjadi, apakah kita mengatakan bahwa sekarang kita mengetahui bahwa ia memang telah melakukan ila’ sehingga tuntutan (hak istri) berlaku setelah berakhirnya empat bulan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, kita memang baru mengetahuinya sekarang dan tuntutan pun berlaku, karena sebelumnya kita menunda keputusan karena adanya kemungkinan sebab yang disebutkan akan terjadi sebelum empat bulan, dan sekarang setelah jelas ternyata tidak terjadi, kita mengetahui bahwa penahanan dan sumpah itu telah berlangsung selama empat bulan.
والقول الثاني أنا نحكم بالإيلاء فإن السبب الذي ذكره إذا كان ممكن الوجود غيرَ مستبعد الكَوْن فلا نتحقق إظهار المضادة لموجمب اليمين ولَوْ لم يكن يمينٌ فامتنع الرجل عن الوقاع لم يثبت لها طلب لأنها تزجي زمانها على التوقع فلا تعويل إذاً على وقوع الامتناع أربعة أشهر وإنما التعويل على إظهار الضرار وتأكيده باليمين
Pendapat kedua menyatakan bahwa kita menetapkan hukum ila’, karena sebab yang disebutkan itu jika masih mungkin terjadi dan tidak mustahil keberadaannya, maka kita tidak dapat memastikan adanya penentangan terhadap konsekuensi sumpah. Seandainya tidak ada sumpah, lalu seorang laki-laki menolak berhubungan badan, maka perempuan tidak berhak menuntut, karena ia hanya menghabiskan waktunya dalam penantian. Oleh karena itu, tidak dapat dijadikan dasar pada terjadinya penolakan selama empat bulan, melainkan yang dijadikan dasar adalah adanya penampakan mudarat dan penegasannya dengan sumpah.
وهذا القول أفقه
Dan pendapat ini lebih sesuai dengan fiqh.
والذي يحقق الغرض في ذلك أنه إذا آلى مطلقاً فلا طلبة في الحال وإذا انقضت الأشهر طولب فكأن صاحب القول الأول يثبت الإيلاء والذي يحقق هذا أنه لو قال لا أجامعك ما عشتُ فلو مات قبل أربعة أشهر فقد تبين أنه لم يكن مولياً فإذا كان التبيّن يتطرق والمذكور سببٌ مستبعد كما يتطرق والسبب قريب فلا يبقى فرقٌ عند ذكر الأسباب والأمر في الكل على التبيّن ويجب لَوْ صح هذا القياس القولُ بالإيلاء وإحالة ارتفاع الإيلاء على وقوع السبب قبل الأشهر
Yang menjelaskan maksud dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang melakukan ila’ (sumpah tidak akan menggauli istri) secara mutlak, maka tidak ada tuntutan pada saat itu juga, dan jika telah berlalu empat bulan, barulah ia dituntut. Seolah-olah pemilik pendapat pertama menetapkan terjadinya ila’. Yang menegaskan hal ini adalah bahwa jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggaulimu selama aku hidup,” lalu ia meninggal sebelum empat bulan, maka jelaslah bahwa ia tidak termasuk orang yang melakukan ila’. Jika penjelasan seperti ini bisa terjadi pada sebab yang jarang, maka tentu bisa juga terjadi pada sebab yang dekat, sehingga tidak ada perbedaan ketika menyebutkan sebab-sebabnya. Dalam semua kasus, perkara ini kembali pada penjelasan yang muncul kemudian. Seandainya qiyās ini sah, maka pendapat tentang terjadinya ila’ dan pengaitan berakhirnya ila’ pada terjadinya sebab sebelum empat bulan harus diterima.
ولعل ناصرَ القول الأول يردّ ذلك القولَ إلى أمر في العبارة يقول إن كان السبب مستبعداً أطلقنا القول بثبوت الإيلاء فإن جرى السبب المستبعد على ندورٍ قبل أربعة أشهر رددنا التبيُّن إلى أن الإيلاء لم يكن وإن كان السبب المذكور غيرَ مستبعد لم نطلق القول بحصول الإيلاء إن سئلنا عنه فإن استأخر السبب تبيّنا أنه كان مولياً
Barangkali pendukung pendapat pertama mengembalikan pendapat tersebut kepada suatu hal dalam ungkapan, yaitu jika sebabnya tidak lazim, kami menyatakan secara mutlak bahwa terjadi ila’, maka jika sebab yang tidak lazim itu terjadi secara jarang sebelum empat bulan, kami kembalikan penjelasan bahwa ila’ tersebut sebenarnya tidak terjadi. Namun jika sebab yang disebutkan itu tidak dianggap tidak lazim, kami tidak menyatakan secara mutlak terjadinya ila’ jika ditanyakan kepada kami. Jika sebab itu tertunda, maka kami mengetahui bahwa ia memang telah melakukan ila’.
والقول في ذلك قريب
Pendapat mengenai hal itu hampir serupa.
ولو قال لا أجامعك إلى أن تموتي أو إلى أن أموت فالإيلاء ثابت ولو قال لا أجامعك إلى أن يموت فلان فالذي ذكره القاضي وأصحابُ القفال أن الإيلاء ثابت وموت ذلك الشخص من المستبعدات وقال المزني ذِكْرُ موت شخص غير الزوجين بمثابة ذكرِ قدومٍ متوقع إذ ليس الموت ببعيد في الوقوع وما لم يبعد وقوعه لم يبعد توقعه
Jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggaulimu sampai engkau mati” atau “sampai aku mati,” maka ila’ tetap berlaku. Jika ia berkata, “Aku tidak akan menggaulimu sampai si fulan mati,” maka menurut pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi dan para sahabat al-Qaffal, ila’ tetap berlaku, karena kematian orang tersebut adalah sesuatu yang jarang terjadi. Sedangkan menurut al-Muzani, menyebutkan kematian seseorang selain suami istri itu sama seperti menyebutkan kedatangan yang mungkin terjadi, karena kematian bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, dan selama sesuatu itu tidak mustahil terjadi, maka tidak mustahil pula untuk diharapkan.
وذكر العراقيون مذهب المزني واختاروه ولم يعرفوا غيره ونزّلوا موت الثالث بمثابة القدوم وغيره من المتوقعات فقد حصل وجهان من الطرق أحدهما أن موت الثالث من المستبعدات فيرتب فيه المذهب على حسب ما مضى من المستبعدات
Orang-orang Irak menyebutkan mazhab al-Muzani, mereka memilihnya dan tidak mengetahui selain itu. Mereka menyamakan wafatnya orang ketiga dengan kedatangan dan hal-hal lain yang masih mungkin terjadi. Maka terdapat dua pendapat dari jalur ini: salah satunya adalah bahwa wafatnya orang ketiga termasuk hal-hal yang jarang terjadi, sehingga mazhab ini diterapkan sesuai dengan apa yang telah berlaku pada hal-hal yang jarang terjadi.
والوجه الثاني وهو اختيار العراقيين أنه لا يلتحق بالمستبعدات
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan para ulama Irak, adalah bahwa hal tersebut tidak termasuk dalam hal-hal yang dikecualikan.
وفي لفظ السّواد إشكالٌ ونحن ننقله على وجهه فقال حتى يخرج الدّجال أو حتى ينزل عيسى بنُ مريم أو حتى يقدَم فلان أو يموت أو تموتي أو تفطمي ابنك جمع الشافعي رضي الله عنه بين هذه الأسباب وهي مختلفة فمنها مستبعد ومنها مستقرب وقرن بين موت فلان وقدومِه فلا تعلّق بالسواد من حيث إنه جمع بين الأسباب المختلفة
Dalam lafaz “as-sawād” terdapat kerancuan, dan kami akan menukilkannya sebagaimana adanya. Ia berkata: “Sampai keluar Dajjal, atau sampai turun Isa bin Maryam, atau sampai si Fulan datang, atau meninggal, atau engkau meninggal, atau engkau menyapih anakmu.” Imam Syafi‘i raḥimahullāh mengumpulkan berbagai sebab ini, padahal sebab-sebab tersebut berbeda-beda; di antaranya ada yang mustahil terjadi dan ada yang dekat kemungkinannya. Ia menyandingkan antara kematian seseorang dan kedatangannya, maka tidak ada kaitan dengan “as-sawād” dari sisi bahwa ia mengumpulkan sebab-sebab yang berbeda.
ثم تصرف المزني وقال حتى يقدَمَ فلان أو يموت سواء في القياس وأبان أنهما متوقعان على نسق واحد فهذا بيان لفظ السواد وميلُ النص إلى أنه إذا مضت أربعة أشهر ولم يتفق السبب المذكور توجهت الطّلبة فإنه قال بعد الأسباب المختلفة فإذا مضت أربعة أشهر قبل أن يكون شيء مما حلف عليه كان مولياً
Kemudian al-Muzani berpendapat bahwa baik menunggu hingga si Fulan datang maupun hingga ia meninggal adalah sama dalam qiyās, dan ia menjelaskan bahwa keduanya diharapkan terjadi dalam urutan yang sama. Ini adalah penjelasan secara tekstual, dan kecenderungan nash menunjukkan bahwa jika telah berlalu empat bulan tanpa terwujudnya sebab yang disebutkan, maka permintaan (untuk melanjutkan proses) menjadi sah. Sebab, setelah menyebutkan berbagai sebab, beliau berkata: Jika telah berlalu empat bulan sebelum terjadi sesuatu dari apa yang ia sumpahkan, maka ia menjadi seorang mu‘li.
وقال في موضع آخر وهذا لفظ السواد حتى تفطمي ولدك لا يكون مولياً لأنها قد تفطمه قبل أربعة أشهر وأما قوله حتى تموتي أو حتى أموت فالإيلاء محكوم به ظاهراً في الحال ولا يؤخذ هذا من توقع الموت واستبعاده وإنما يؤخذ من قطع رجائها عن استمتاعه ما بقيت طالبة راجية
Dan ia berkata di tempat lain: Adapun lafaz “sampai engkau menyapih anakmu” tidak termasuk sebagai ilā’, karena ia bisa saja menyapihnya sebelum empat bulan. Adapun ucapannya “sampai engkau mati” atau “sampai aku mati”, maka ilā’ dihukumi secara lahiriah pada saat itu juga, dan hal ini tidak diambil dari kemungkinan terjadinya kematian atau kecilnya kemungkinan tersebut, melainkan diambil dari terputusnya harapan istri untuk mendapatkan kenikmatan darinya selama ia masih menginginkan dan mengharapkannya.
وحاصل جميع ما ذكرناه يرجع إلى أن السبب الذي جعله المنتهى إن كان مستبعداً فالضرار كائن وإن كان السبب متوقعاً فلا نحكم بالإيلاء فإن استأخر وقوعُ ما كنا لا نستبعده عن الأشهر فقولان منصوصان في السواد وفي موت الثالث من بين الأسباب نظرٌ في أنه من المستبعدات أم لا ولعل الأظهر أنه من المستبعدات فإن الناس كذلك يَحْسَبون ومدار الإيلاء على الإضرار المُظهَر باللسان
Kesimpulan dari semua yang telah kami sebutkan kembali pada bahwa sebab yang dijadikan batas akhir itu, jika termasuk hal yang mustahil terjadi, maka mudarat pasti ada. Namun jika sebab tersebut masih mungkin terjadi, maka kita tidak menetapkan terjadinya ila’. Jika terjadinya sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak mustahil itu tertunda melebihi beberapa bulan, maka ada dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit dalam kasus hitam (susu) dan dalam kematian orang ketiga di antara sebab-sebab tersebut, terdapat kajian apakah termasuk hal yang mustahil atau tidak. Barangkali pendapat yang lebih kuat adalah bahwa itu termasuk hal yang mustahil, karena demikianlah anggapan kebanyakan orang. Dan inti dari ila’ adalah pada mudarat yang ditampakkan secara lisan.
والمسألة محتملةٌ على حال
Masalah ini masih memungkinkan untuk dua keadaan.
وإذا قال حتى تفطمي فإن أراد وقوع الفطام وكان متوقع الكون قبل الأربعة الأشهر فهو ملتحق بما لا يُستبعد وقد مضى تفصيله وإن كان أراد انقضاء مدة الرضاع وهي الحولان نظرنا فيما بقي من المدة وخرّجناه على التفاصيل المذكورة في المدد
Jika ia berkata, “sampai engkau menyapih (anak),” maka jika yang dimaksud adalah terjadinya penyapihan dan hal itu diperkirakan akan terjadi sebelum empat bulan, maka hal itu termasuk dalam perkara yang tidak mustahil terjadi, dan telah dijelaskan rinciannya sebelumnya. Namun jika yang dimaksud adalah berakhirnya masa penyusuan, yaitu dua tahun, maka kita melihat sisa waktu yang ada dan mengembalikannya pada rincian yang telah disebutkan mengenai batas waktu.
وإن قال لا أجامعك حتى تحبَلَ فلانة فهذا من الأسباب المتوقعة على القرب إلا أن تكون صغيرة أو آيسة ولا يكاد يخفى ترديد النظر بعد تمهيد الأصول
Dan jika ia berkata, “Aku tidak akan menggaulimu sampai Fulanah hamil,” maka ini termasuk sebab-sebab yang kemungkinan terjadinya dekat, kecuali jika Fulanah masih kecil atau sudah menopause. Hampir tidak samar lagi perlunya meninjau ulang setelah menetapkan kaidah-kaidah dasarnya.
ولو ذكر قدوم شخص وكان على مسافة شاسعة ولا يتوقع رجوعه منها وقدومُه في الأربعة الأشهر فهذا ملحق بالمستبعدات ولو كان قدومه مستبعداً وزعم الزوج أنه ظنه متوقعاً فهذا فيه نظر إذا ادّعى الزوج ظنّاً بقرب موضعه يجوز أن يقال يُبنى الأمر على ظنه فإن نوزع فيه حُلّف ويجوز أن يقال يبنى الأمر على حقيقة الحال ولا التفات إلى ما يدعيه من الظن
Jika disebutkan tentang kedatangan seseorang yang berada pada jarak yang sangat jauh dan tidak diharapkan ia kembali dari sana, lalu kedatangannya terjadi dalam empat bulan, maka hal ini termasuk perkara yang mustahil. Namun, jika kedatangannya dianggap mustahil, lalu suami mengklaim bahwa ia menyangka kedatangan itu mungkin terjadi, maka hal ini perlu ditinjau. Jika suami mengaku bahwa ia menyangka tempat orang tersebut dekat, maka boleh dikatakan bahwa perkara ini didasarkan pada sangkaannya; jika ada yang membantahnya, maka suami dapat diminta bersumpah. Namun, boleh juga dikatakan bahwa perkara ini didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya, dan tidak perlu memperhatikan sangkaan yang diklaim oleh suami.
فصل إذا قال والله لا أقربك إن شئت فشاءت في المجلس فهو مولٍ إلى آخره
Bagian: Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu jika engkau menghendaki,” lalu istrinya menghendaki hal itu dalam majelis (pada saat itu juga), maka ia dianggap melakukan ila’ hingga akhir (hukum ila’ berlaku atasnya).
إذا قال والله لا أقربك إن شئت فهذا تعليق الإيلاء بمشيئتها على صيغةٍ تقتضي تخير الجواب والإيلاء قابلٌ للتعليق كالطلاق إذ لو قال لامرأته إن دخلت الدار فوالله لا أجامعك إن شئت فالقول في اشتراط اتّصال لفظها على ما مضى في الطلاق
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu jika engkau menghendaki,” maka ini adalah bentuk menggantungkan sumpah ila’ pada kehendaknya dengan ungkapan yang memberikan pilihan jawaban. Ila’ dapat digantungkan sebagaimana talak, karena jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka demi Allah aku tidak akan menggaulimu jika engkau menghendaki,” maka pembahasan tentang syarat keterkaitan ucapannya mengikuti apa yang telah dijelaskan dalam masalah talak.
وحاصل ما ذكره الأصحاب ثلاثُ طرق إحداها اشتراط التلفظ بالمشيئة على الاتصال الزماني كما يشترط ذلك بين الإيجاب والقبول وهذا ظاهر المذهب
Kesimpulan dari apa yang disebutkan oleh para ulama ada tiga pendapat. Salah satunya adalah disyaratkannya pengucapan syarat (mashī’ah) secara berkesinambungan waktu, sebagaimana disyaratkan antara ijab dan qabul, dan inilah pendapat yang jelas dalam mazhab.
والطريقة الثانية أنا لا نشترط الاتصال في ذلك ومتى شاءت انعقد الإيلاء وقوله إن شئتِ كقوله إن دخلت الدار وهذا منقاس
Dan cara kedua adalah bahwa kita tidak mensyaratkan adanya kesinambungan dalam hal itu, sehingga kapan saja ia menghendaki, maka terjadilah ila’. Ucapannya “jika kamu mau” itu seperti ucapannya “jika kamu masuk rumah”, dan hal ini termasuk dalam qiyās.
وتوجيه الطريقة الأولى يُحْوِج إلى تكلفٍ في التقدير ولكن الطريقة الثانية بعيدة في الحكاية ذكرها الشيخ أبو علي في الشرح
Penjelasan metode pertama memerlukan upaya dalam memperkirakan, namun metode kedua jauh dari kenyataan sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali dalam syarahnya.
والوجه الثالث أن المشيئة تتقيد بالمجلس وإن طال وهذا أبعد الطرق ولست أعرف له توجيهاً وإنما أخذ بعضُ الأصحاب هذا الوجهَ من لفظ الشافعي فإنه قال وشاءت في المجلس وذكر هذا اللفظ أيضاً في تعليق الطلاق بالمشيئة على هذه الصيغة فظن ظانون أنه أراد المجلس حقاً وإنما عبر رضي الله عنه عن قرب الزمان بذكر المجلس ولم يصر أحد من أصحابنا إلى اعتبار المجلس في القبول والإيجاب وقد اعتبره أبو حنيفة فيهما
Pendapat ketiga adalah bahwa kehendak (mashī’ah) dibatasi oleh majelis, meskipun majelis itu berlangsung lama. Ini adalah cara yang paling jauh, dan aku tidak mengetahui alasan yang jelas untuknya. Hanya saja sebagian sahabat (ulama mazhab) mengambil pendapat ini dari lafaz Imam Syafi‘i, karena beliau berkata, “dan ia berkehendak di dalam majelis,” dan beliau juga menyebutkan lafaz ini ketika mengaitkan talak dengan kehendak pada bentuk redaksi seperti ini. Maka sebagian orang mengira bahwa beliau benar-benar menghendaki majelis, padahal beliau—semoga Allah meridhainya—hanya mengekspresikan kedekatan waktu dengan menyebut majelis. Tidak ada seorang pun dari sahabat kami yang berpendapat bahwa majelis harus dipertimbangkan dalam hal kabul dan ijab, sedangkan Abu Hanifah mempertimbangkannya pada keduanya.
وقال مالك إذا قال لا أجامعك إن شئت فهو ليس بمولٍ وإن شاءت فإن المولي من يَجزِمُ الامتناعَ إضراراً بها فإذا علق بمشيئتها فقد خرج عن كونه مضارّاً وهذا الذي ذكره غيرُ بعيد من مأخذ الفقه
Malik berkata, “Jika seseorang berkata, ‘Aku tidak akan menggaulimu jika kamu mau,’ maka ia bukanlah seorang mu‘li. Jika istrinya menghendaki, maka ia bukan termasuk mu‘li, karena mu‘li adalah orang yang menegaskan penolakan (berhubungan) untuk membahayakan istrinya. Jika ia menggantungkan pada kehendak istrinya, maka ia telah keluar dari kategori orang yang membahayakan. Apa yang disebutkan ini tidak jauh dari dasar-dasar fiqh.”
واعترض عليه الشافعي بأن قال إذا كان الإيلاء جازماً فأظهرت الرضا به لم ينقطع الإيلاء ولم تنقطع المدة وإذا رضيت بعد المدة لم نستفتح ضرب مدّة فدلّ أنا وإن كنا نعتبر المضارة اعتباراً كلياً فلسنا نبني الأمر عليها فإن الأمور بعد ما رسخت لا تزول بفرْض أمثال ذلك وهذا كابتناء الإجارة على الحاجة ثم لا تتقيد بها ولو كانت المرأة فاركة زوجَها مُناها أن يهاجرها فالإيلاء في حقها كالإيلاء في حق الوامقة والتي لا أرَب لها في الرجال كالمتشوفة
Imam Syafi’i membantah pendapat tersebut dengan mengatakan: Jika sumpah ila’ (iilā’) itu tegas, lalu istri menampakkan kerelaannya terhadapnya, maka sumpah ila’ itu tidak terputus dan masa (ila’) pun tidak terputus. Jika ia rela setelah masa (ila’) berakhir, maka kami tidak memulai perhitungan masa baru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kami mempertimbangkan unsur mudarat secara umum, kami tidak mendasarkan perkara ini sepenuhnya pada hal tersebut. Sebab, perkara-perkara yang sudah kokoh tidak akan hilang hanya karena kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Ini seperti halnya akad ijarah (sewa-menyewa) yang didasarkan pada kebutuhan, namun tidak terikat padanya. Jika seorang wanita membenci suaminya dan keinginannya adalah agar suaminya menjauhinya, maka hukum ila’ terhadapnya sama dengan hukum ila’ terhadap wanita yang mencintai suaminya. Begitu pula wanita yang tidak memiliki hasrat terhadap laki-laki, hukumnya sama dengan wanita yang sangat menginginkannya.
فهذا بيان الأصل
Inilah penjelasan tentang asal-usulnya.
ولو قال لا أصبتك متى شئتِ قال الإمام هذه اللفظة محتملة ويُرجع فيها إلى قوله فإن قال أردت بذلك تعليق اليمين على مشيئتها حتى إذا شاءت انعقدت اليمين والإيلاء فالأمر كذلك والفرق بين قوله إن شئتِ وبين قوله متى شئتِ أن قوله إن شئتِ يستدعي جوابها على الفور على ظاهر المذهب وقوله متى شئت يقبل التأخير كما قدمناه في مسائل الطلاق
Jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menyetubuhimu kapan pun engkau menghendaki,” Imam berkata bahwa ungkapan ini mengandung kemungkinan makna dan dikembalikan kepada penjelasan si pengucap. Jika ia berkata, “Aku maksudkan dengan itu menggantungkan sumpah pada kehendaknya, sehingga apabila ia menghendaki, maka sumpah dan ila’ menjadi berlaku,” maka demikianlah keadaannya. Perbedaan antara ucapannya “jika engkau menghendaki” dan “kapan pun engkau menghendaki” adalah bahwa ucapannya “jika engkau menghendaki” menuntut jawaban segera menurut pendapat yang zahir, sedangkan ucapannya “kapan pun engkau menghendaki” dapat menerima penundaan, sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah talak.
فإن قال الزوج أردت بقولي لا أجامعك متى شئتِ أني إنما أجامعك إذا أردتُ لا إذا أردتِ فهذا ليس بالإيلاء وإنما هو إعراب عن موجَب الشرع ومقتضاه وحلف عليه
Jika suami berkata, “Maksudku dengan ucapanku ‘Aku tidak akan menggaulimu kapan pun engkau mau’ adalah bahwa aku hanya akan menggaulimu jika aku menghendaki, bukan jika engkau menghendaki,” maka ini bukanlah ila’, melainkan hanya penjelasan tentang ketentuan syariat dan konsekuensinya, serta ia bersumpah atas hal itu.
ولو أطلق الزوج هذا اللفظ ففي المسألة وجهان أحدهما أنه من الكنايات فإنه متردد بين الوجهين الذين ذكرناهما فإذا لم يكن نية فاللفظ لاغٍ
Jika suami mengucapkan lafaz ini secara mutlak, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa lafaz tersebut termasuk kināyah, karena lafaz itu masih samar antara dua makna yang telah kami sebutkan. Maka jika tidak ada niat, lafaz tersebut dianggap tidak berlaku.
ومن أصحابنا من قال هو في الإطلاق محمول على تعليق عقد الإيلاء بالمشيئة حتى إذا شاءت ثبت الإيلاء وإن كنا نصدق الزوجَ في حمله على المحمل الآخر وقد ذكرنا نظائر هذا في الألفاظ المطلقة والمتأوَّلة في مسائل الطلاق
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa secara mutlak, hal itu dianggap sebagai pengaitan akad ila’ dengan kehendak, sehingga apabila ia menghendaki, maka ila’ pun menjadi tetap. Namun, kami tetap membenarkan suami jika ia menafsirkannya dengan makna lain. Kami telah menyebutkan hal-hal yang serupa dengan ini dalam lafaz-lafaz yang bersifat mutlak dan yang ditakwilkan dalam masalah-masalah talak.
ولو علق فعل الوطء بمشيئتها وأراد أنها مهما أبت أن يطأها فلا يطؤها فليس بمولٍ وفي هذا المقام ينقدح مسلكُ مالك فإنه علق اليمين على اتباع مشيئتها في الوطء إقداماً وامتناعاً فإذا قال والله لا أجامعك إن شئت فليس يعلق الوطء على مشيئتها وإنما يعلق عقد اليمين على مشيئتها ثم إذا انعقدت اليمين فلا أثر بعد ذلك لمشيئتها
Jika seseorang menggantungkan perbuatan berhubungan badan pada kehendak istrinya, dan maksudnya adalah bahwa kapan pun istrinya menolak untuk digauli maka ia tidak akan menggaulinya, maka ia tidak termasuk kategori orang yang melakukan ila’. Dalam hal ini, terdapat pendapat Malik yang patut dipertimbangkan, yaitu bahwa ia menggantungkan sumpah pada mengikuti kehendak istrinya dalam hal berhubungan badan, baik dalam melakukannya maupun menolaknya. Maka jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu jika kamu menghendaki,” maka ia tidak menggantungkan perbuatan berhubungan badan pada kehendak istrinya, melainkan ia menggantungkan akad sumpah pada kehendak istrinya. Setelah sumpah itu terwujud, maka kehendak istrinya tidak lagi berpengaruh setelah itu.
ثم قال الشافعي رضي الله عنه والإيلاء في الغضب والرضا سواء وقصد بذلك الرد على مالك فإنه يقول انعقاد الإيلاء يختص بحالة الغضب فإنَّ قصد المضارّة إنما يتحقق في حالة الغضب
Kemudian Imam Syafi’i ra. berkata, “Ila’ (sumpah tidak menggauli istri) dalam keadaan marah maupun ridha hukumnya sama.” Dengan pernyataan ini, beliau bermaksud membantah pendapat Malik yang berpendapat bahwa terjadinya ila’ itu khusus dalam keadaan marah, karena maksud untuk menyakiti (istri) itu hanya benar-benar terjadi dalam keadaan marah.
وهذا من ظنونه التي ينبني على أمثالها مذهبُه وهو بمثابة تخصيص الخلع بحالة المشاقّة ومذهبُه في الخلع أقربُ لأنه يتمسك في إثباته بظاهر القرآن وهو قوله تعالى فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا والإيلاء غير مقيد بشيء من ذلك وليس في القرآن فصلٌ
Ini adalah salah satu dugaan yang menjadi dasar mazhabnya, dan hal ini setara dengan pembatasan khulu‘ pada keadaan adanya perselisihan. Mazhabnya dalam masalah khulu‘ lebih dekat kepada kebenaran karena ia berpegang dalam penetapannya pada makna lahiriah Al-Qur’an, yaitu firman Allah Ta‘ala: “Jika kalian khawatir bahwa keduanya tidak dapat menegakkan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya.” Sedangkan ila’ tidak dibatasi oleh hal semacam itu, dan tidak ada pemisahan dalam Al-Qur’an.
ثم قال الشافعي وإن قال والله لا أقربك حتى أُخرجَك من البلد إلى آخره هذا يتحقق بالأسباب القريبة فإن الإخراج من البلد ممكن غيرُ مستبعد فكأنه قال والله لا أجامعك في البلدة فإن مضت أربعة أشهر فهل نجعله مولياً فيه القولان المقدمان فإن قلنا يصير مولياً وتتوجه الطلبة فإن أراد الزوج الخلاص فالوجه أن يخرجها من البلد وإذا أخرجها انقطعت الطّلبة فإن اليمين لم يتناول هذه الحالة ولو وطىء لم يلزمه الكفارة وإذا انتهى إلى حالة لو وطىء لم يلتزم الكفارة فقد خرج في ذلك الوقت عن مطالبة الإيلاء وهذا مستبين لا غموض فيه
Kemudian asy-Syafi’i berkata: Jika seseorang bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu sampai aku mengeluarkanmu dari kota ini ke kota lain,” maka hal ini dapat direalisasikan dengan sebab-sebab yang dekat, karena mengeluarkan dari kota itu mungkin dan tidak mustahil. Seolah-olah ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu di kota ini.” Jika telah berlalu empat bulan, apakah kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Jika kita katakan bahwa ia menjadi orang yang melakukan ila’ dan tuntutan istri berlaku, maka jika suami ingin terbebas dari tuntutan itu, cara yang tepat adalah mengeluarkan istrinya dari kota tersebut. Jika ia telah mengeluarkannya, maka tuntutan itu terputus, karena sumpahnya tidak mencakup keadaan setelah istri keluar dari kota. Jika ia menggauli istrinya setelah itu, ia tidak wajib membayar kafarat. Jika telah sampai pada keadaan di mana jika ia menggauli istrinya ia tidak wajib membayar kafarat, maka pada saat itu ia telah keluar dari tuntutan ila’. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
فرع
Cabang
لو قال إن جامعتك فعبدي حر فهو مولٍ على الجديد ولو قال إن جامعتك فعبدي حر قبل مجامعتي إياك بشهر قال الأصحاب ابتداء المدة يقع بعد شهر فإنه لو فرض الجماع قبل الشهر لم يعتِق العبد إذ لو قدّرنا العتق للزم أن يتقدم على الوقاع بشهر ولو تقدم لكان العتق واقعاً قبل اللفظ وقد ذكرنا استحالة هذا وإذا مضت أربعة أشهر من وقت اللفظ فلو قدّرنا توجيه الطلبة لم يكن على قاعدة الإيلاء فهانه لا يلتزم بالوقاع لو واقع العتق بعد أربعة أشهر بل لو فُرض الوقاع لوقع العتق بعد الأربعة الأشهر
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka hambaku merdeka,” maka ia termasuk mu’īl menurut pendapat baru. Namun jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka hambaku merdeka sebelum aku menggaulimu selama satu bulan,” para ulama berpendapat bahwa awal masa (iddah) dimulai setelah satu bulan. Sebab, jika hubungan suami istri terjadi sebelum satu bulan, maka sang hamba tidak merdeka. Jika kita menganggap hamba itu merdeka, maka kemerdekaannya akan terjadi satu bulan sebelum hubungan suami istri, dan jika demikian, kemerdekaan itu terjadi sebelum ucapan (sumpah) diucapkan. Padahal, telah kami sebutkan bahwa hal ini mustahil. Jika telah berlalu empat bulan sejak ucapan itu, maka jika kita menganggap adanya permintaan (untuk rujuk), hal itu tidak sesuai dengan kaidah ilā’. Karena dalam hal ini, ia tidak terikat dengan hubungan suami istri; jika ia melakukan hubungan setelah empat bulan, maka hamba itu baru merdeka setelah empat bulan. Bahkan, jika hubungan terjadi, kemerdekaan hamba itu terjadi setelah empat bulan.
ولو باع العبد بعد انتصاف الشهر الخامس فالطَّلِبة تتوجه بعد الشهر الخامس فإنا لو فرضنا وقاعاً بعد الشهر الخامس لاقتضى تقدّمَ العتق بشهر ولو تقدمَ العتق بشهر لتبيّنا بطلان البيع ويحصل بما ذكرناه شرط الإيلاء وعماده
Jika seseorang menjual budak setelah pertengahan bulan kelima, maka tuntutan (hak) baru muncul setelah bulan kelima. Sebab, jika kita andaikan terjadi hubungan (suami istri) setelah bulan kelima, hal itu menuntut terjadinya pembebasan (budak) sebulan sebelumnya. Jika pembebasan itu terjadi sebulan sebelumnya, maka jelaslah bahwa penjualan tersebut batal. Dengan penjelasan ini, terpenuhi syarat ila’ dan pokok permasalahannya.
ولو باع العبدَ و لم تتفق مطالبة الزوج والمسألة بحالها حتى مضى شهر كامل فلا وجه للمطالبة وقد انقطع أثر الإيلاء فإنه لو فرض الوطء لم ينعكس العتق على البيع ولم يُفضِ إلى بطلانه ولو اشترى العبدَ بعد البيع فيعود التفريع في عَوْد الحنث وبحسبه يعود التفصيل في الإيلاء وقد تمهد هذا فيما تقدم
Jika seorang suami menjual budaknya, dan istri tidak segera menuntut, sementara permasalahan tetap seperti semula hingga berlalu satu bulan penuh, maka tidak ada lagi alasan untuk menuntut, dan pengaruh dari ilā’ pun telah terputus. Sebab, jika diasumsikan terjadi hubungan suami istri, maka kemerdekaan budak tidak akan berbalik pada penjualan dan tidak menyebabkan batalnya penjualan tersebut. Jika suami membeli kembali budak itu setelah penjualan, maka pembahasan kembali pada apakah pelanggaran sumpah (ḥinth) juga kembali, dan sesuai dengan itu pula rincian hukum ilā’ kembali berlaku. Hal ini telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.
باب الإيلاء عن نسوة
Bab tentang ila’ dari beberapa istri
قال الشافعي وإذا قال لأربع نسوة والله لا أقربكن إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata kepada empat orang wanita, “Demi Allah, aku tidak akan mendekati kalian sampai akhir,”
إذا قال لزوجاته الأربع والله لا أجامعكن فالوجه أن نذكر ما يتعلق بالبر والحِنث ثم نعود إلى حكم الإيلاء فإذا قال لا أجامعكن لم يحصل الحنث بمجامعة ثلاث منهن فإن اليمين المعقود على أفعال لا يتحقق الحنث فيها بالبعض كما لو حلف لا يأكل أرغفة فإنه لا يحنث بأكل بعضها بل لا يحنث ما بقيت منها قطعة وهذا ممهّد في الأَيْمان ومعناه واضح متلقى من موجَب اللفظ ولو ماتت واحدة منهن انحلّت اليمين فإنه يتحقق امتناع الحنث واسم الوطء في حنث اليمين وبرّها ينطلق على غشيان الحيّة
Jika seseorang berkata kepada keempat istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli kalian,” maka yang seharusnya dibahas adalah hal-hal yang berkaitan dengan menepati dan melanggar sumpah, kemudian kembali kepada hukum ila’. Jika ia berkata, “Aku tidak akan menggauli kalian,” maka tidak terjadi pelanggaran sumpah dengan menggauli tiga dari mereka, karena sumpah yang berkaitan dengan beberapa perbuatan tidak dianggap dilanggar dengan melakukan sebagian saja, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan memakan roti, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah dengan memakan sebagian roti itu, bahkan tidak dianggap melanggar selama masih tersisa sebagian roti tersebut. Hal ini sudah dijelaskan dalam pembahasan sumpah, maknanya jelas dan diambil dari konsekuensi lafaznya. Jika salah satu dari istri-istri itu meninggal, maka sumpahnya menjadi batal, karena telah benar-benar terwujud ketidakmungkinan melanggar sumpah. Istilah “menggauli” dalam konteks pelanggaran dan penepatan sumpah berlaku untuk menggauli istri yang masih hidup.
ولو قال والله لا أجامع فلانة فماتت فاقتحم المأثم وأتاها لم يحنث
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli si fulanah,” lalu si fulanah itu meninggal dunia, kemudian ia melanggar sumpahnya dan menggaulinya (setelah wafat), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah (tidak wajib membayar kafarat).
هذا هو المذهب
Inilah mazhabnya.
وحكى الشيخ أبو علي وجهاً غريباً أن البر والحنث يتعلّقان بوطء الميت
Syekh Abu Ali meriwayatkan satu pendapat yang ganjil bahwa pemenuhan sumpah dan pelanggarannya berkaitan dengan hubungan badan dengan mayit.
وهذا بعيد لا تعويل عليه فلا خلاف أنه لو قال والله لا أضرب فلاناً فضربه بعد الموت لم يكن ما جاء به الضربَ الذي انعقدت اليمين عليه ولو وطىء واحدة ثم ماتت لم يقدح موتها بعد الوطء فإنْ وطىء الباقيات في حياتهن حنث
Hal ini jauh dan tidak dapat dijadikan sandaran. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memukul si Fulan,” lalu ia memukulnya setelah si Fulan meninggal, maka perbuatannya itu bukanlah pemukulan yang menjadi objek sumpahnya. Jika ia menggauli salah satu dari mereka lalu wanita itu meninggal, maka kematian wanita itu setelah digauli tidak membatalkan sumpahnya. Namun, jika ia menggauli yang lainnya saat mereka masih hidup, maka ia dianggap melanggar sumpah.
ولو قال لنسوته والله لا أجامعكن ثم طلق ثلاثاًً منهن فبِنَّ ثم زنا بهنَّ ثم وطىء الرابعة حَنِث بوطئها فإن اليمين لا يختص بالوطء المستباح
Jika seseorang berkata kepada istri-istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli kalian,” lalu ia menceraikan tiga dari mereka sehingga mereka menjadi perempuan yang tidak lagi menjadi istrinya, kemudian ia berzina dengan mereka, lalu ia menggauli istri keempat, maka ia dianggap melanggar sumpahnya karena menggauli istri keempat tersebut. Sebab, sumpah itu tidak terbatas pada hubungan suami istri yang halal saja.
فهذا ما يتعلق بحكم البر والحنث ولا شك أنه إذا جامعهن لم يلتزم إلا كفارة واحدة فإنْ وطئهن حنث حنثاً واحداً واتحاد الكفارة وتعددها يُتلقى من الحِنْث
Inilah yang berkaitan dengan hukum memenuhi dan melanggar sumpah. Tidak diragukan lagi bahwa jika seseorang menggauli mereka, ia hanya wajib membayar satu kafarat saja. Jika ia menggauli mereka, maka ia hanya melanggar satu kali saja. Kesatuan atau keberagaman kafarat diambil dari jumlah pelanggaran (hints).
وإذا قال لا أجامعكن فأتى بعضهن أو جميعهن في أدبارهن فالذي أراه أنه في حكم الحنث كالإتيان في المأتى فإن ذلك وإن كان يندر فعلاً فليس خارجاً عن عرف اللسان ولا يُرعى في الأيمان ما يجري العرف به عملاً وإنما يُرعى ما يعدّ مندرجاً تحت اللسان وسأصف عرف الأيمان في موضعه إن شاء الله عز وجل
Jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggauli kalian,” lalu ia mendatangi sebagian atau seluruh istrinya dari belakang (anal), maka menurut pendapatku, hal itu termasuk dalam hukum melanggar sumpah, sebagaimana jika ia mendatangi pada tempat yang biasa. Meskipun perbuatan itu jarang terjadi, namun tidak keluar dari kebiasaan bahasa, dan dalam sumpah tidak diperhatikan apa yang berlaku menurut kebiasaan perbuatan, melainkan yang diperhatikan adalah apa yang termasuk dalam cakupan bahasa. Aku akan menjelaskan kebiasaan sumpah pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ونحن نعود إلى حكم الإيلاء فنقول إذا قال لنسوته والله لا أجامعكن فالمنصوص عليه في الجديد أنه لا يثبت حكم الإيلاء في حق واحدة منهن فإنه لا يلتزم بجماع واحدة بعد الأشهر أمراً وفي المسألة قول قديم أنه يصير مولياً فإنه بوطء واحدة يقرب من الحِنْث والقربُ من الحِنْث في حكم أمر ملتزم وقد مهدنا هذا فيما تقدم وإن فرعنا على الجديد فلو وطىء ثالثاً صار مولياً عن الرابعة فيبتدىء بعد وطء الثالثة ابتداء المدّة في إيلاء الرابعة فإذا انقضت فلها الطّلبة و على القديم لكل واحدة منهن الطلب تعويلاً على القُرب من الحنث ثم إن كان يطأ فلا يلتزم بوطء ثلاثٍ إلا القربَ من وقوع الحنث في حق الرابعة
Kami kembali kepada hukum ila’ dan mengatakan: Jika seorang suami berkata kepada istri-istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli kalian,” maka menurut pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru (al-jadid), tidak berlaku hukum ila’ terhadap salah satu dari mereka, karena ia tidak berkewajiban menggauli salah satu dari mereka setelah berlalu beberapa bulan. Namun, dalam pendapat lama (al-qadim) disebutkan bahwa ia menjadi mu’li (orang yang melakukan ila’), karena dengan menggauli salah satu dari mereka, ia telah mendekati terjadinya pelanggaran sumpah (al-hinth), dan kedekatan terhadap pelanggaran sumpah dianggap sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi. Hal ini telah kami jelaskan sebelumnya. Jika kita mengikuti pendapat baru, maka jika ia menggauli istri ketiga, ia menjadi mu’li terhadap istri keempat, sehingga setelah menggauli istri ketiga, dimulailah masa ila’ untuk istri keempat. Jika masa itu telah berlalu, maka istri keempat berhak menuntut. Sedangkan menurut pendapat lama, setiap istri dari mereka berhak menuntut, berdasarkan kedekatan terhadap pelanggaran sumpah. Kemudian, jika ia menggauli, maka ia tidak berkewajiban menggauli tiga istri kecuali hanya mendekati terjadinya pelanggaran sumpah terhadap istri keempat.
ولو ماتت واحدة قبل الوطء فالمذهب انحسام الإيلاء فإن الحنث بوطئهن صار مأيوساً عنه
Jika salah satu dari mereka meninggal sebelum terjadi hubungan suami istri, maka menurut mazhab, iilā’ menjadi terputus, karena pelanggaran sumpah dengan menggauli mereka telah menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan.
وإن أبان واحدة منهن لم يرتفع الإيلاء في حق الباقيات لأن الحنث ممكن كما قدمناه نعم هذه البائنة لو عادت فهل يعود لها حكم الطَّلبة على ما يقتضيه التفريع على قولي الجديد والقديم فعلى قولي عَوْد الحنث
Jika ia menceraikan salah satu dari mereka, maka iilā’ tidak gugur atas yang lainnya karena pelanggaran sumpah masih mungkin terjadi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika perempuan yang telah dicerai itu kembali, apakah ia kembali memiliki hak untuk menuntut sesuai dengan rincian pendapat baru dan lama? Maka menurut pendapat yang menyatakan kembalinya pelanggaran sumpah, demikian pula hukumnya.
ومن أحاط بما مهدناه في البر والحنث لم يخف عليه كيفية التفريع على القولين في مقتضى الإيلاء
Barang siapa yang memahami penjelasan yang telah kami sampaikan mengenai sumpah dan pelanggarannya, maka tidak akan samar baginya bagaimana cara merinci pendapat-pendapat terkait implikasi dari ilā’ (sumpah tidak menggauli istri).
وقد نجز الغرض في هذه الصورة وهي إذا قال والله لا أجامعكن ونحن نذكر بعد ذلك صورتين ونذكر بعدهما فرعاً لابن الحداد وعليه يتنجّز الباب
Tujuan telah tercapai dalam kasus ini, yaitu apabila seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli kalian.” Setelah itu, kami akan menyebutkan dua kasus lagi, lalu setelah keduanya kami akan menyebutkan satu cabang menurut pendapat Ibn al-Haddad, dan dengan itu selesailah pembahasan bab ini.
صورة إذا قال لنسوته الأربع والله لا أجامع واحدة منكن فهذا يستعمل على وجهين أحدهما على اقتضاء التعميم والثاني على تخصيص الإيلاء بواحدة منهن
Contohnya adalah jika seseorang berkata kepada keempat istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli satu pun dari kalian,” maka hal ini digunakan dalam dua makna: yang pertama bermakna mencakup semuanya, dan yang kedua bermakna mengkhususkan ila’ pada salah satu dari mereka.
فإن قال أردت التعميمَ فهذه اللفظة فيها لطيفةٌ يجب فهمها ثم الخوض بعدها في الفقه فلو قال لا أجامعكن فهذا يقتضي حصولَ الجماع في جميعهن واللفظ على هذا الوجه يعمهن بتأويل اقتضاء اجتماعهن حتى لا يحصل الغرض بمجامعة بعضهن فهذا معنىً في العموم
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud untuk menggeneralisasi,” maka dalam ungkapan ini terdapat makna halus yang harus dipahami sebelum membahas fiqh. Jika ia berkata, “Aku tidak akan menggauli kalian semua,” maka ini mengandung makna terjadinya hubungan suami istri dengan seluruh istri, dan lafaz tersebut dalam bentuk ini mencakup mereka semua dengan penafsiran bahwa yang dimaksud adalah terkumpulnya mereka, sehingga tujuan tidak tercapai hanya dengan menggauli sebagian dari mereka. Inilah makna dari keumuman.
وإذا قال لا أجامع واحدة منكن على إرادة العموم فهذا عمومُه على معنىً آخر فإن اليمين متعلّقة بآحادهن هذا هو وجه في العموم ولا يقتضي تحقّقُ الحنث وطءَ جميعهن من جهة أنه قال لا أجامع واحدة منكن والمعنى جميعهن مع تنزيل اليمين على كل واحدة على طريق البدل
Dan jika ia berkata, “Aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian” dengan maksud keumuman, maka keumuman di sini bermakna lain, karena sumpah tersebut terkait dengan masing-masing dari mereka. Inilah salah satu bentuk keumuman, dan tidak disyaratkan terjadinya pelanggaran sumpah dengan menggauli semua dari mereka, karena ia berkata, “Aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian,” dan maksudnya adalah semua dari mereka, dengan menempatkan sumpah pada masing-masing secara bergantian.
فإذا فهم هذا المعنى انبنى عليه أنا نجعله مولياً عن كل واحدة منهن من جهة أنه لا يقدم على وطء واحدة بعد الأربعة الأشهر إلا ويلتزم الكفارة بغشيانها للمعنى الذي نبهنا عليه ولو وطىء واحدة منهن وحنث وألزمناه الكفارة فتنحلّ يمينه ويسقط حكم الإيلاء في حق الباقيات لأنه بوطء واحدة خالف جميع قوله لا أجامع واحدة منكن فاقتضى ذلك انحلالَ اليمين وإذا انحلّت سقط أثرها في مقتضى الإيلاء
Jika makna ini telah dipahami, maka berdasarkan hal itu, kami menetapkan bahwa ia dianggap melakukan ilā’ terhadap masing-masing istrinya, dalam arti bahwa ia tidak boleh menggauli salah satu dari mereka setelah empat bulan kecuali dengan menanggung kewajiban membayar kafarat karena telah menggaulinya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Jika ia menggauli salah satu dari mereka dan melanggar sumpahnya sehingga kami mewajibkan kafarat atasnya, maka sumpahnya menjadi batal dan hukum ilā’ tidak lagi berlaku bagi istri-istri yang lain. Sebab, dengan menggauli salah satu dari mereka, ia telah melanggar seluruh ucapannya, yaitu “Aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian,” sehingga hal itu menyebabkan batalnya sumpah, dan jika sumpah telah batal, maka tidak ada lagi pengaruhnya dalam konsekuensi ilā’.
فإن قيل ألستم قلتم إنه مولٍ عن كل واحدة قلنا نعم هو كذلك ولكن على طريق البدل فهذا فيه معنى العموم وفيه معنى التخصيص ثم جملة اليمين تنحلّ إذا وطىء واحدةً
Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah mengatakan bahwa ia berpaling dari masing-masing istri?” Kami katakan, “Ya, memang demikian, tetapi itu dilakukan secara bergantian. Maka dalam hal ini terdapat makna umum dan juga makna khusus. Kemudian, sumpah tersebut menjadi gugur jika ia menggauli salah satu dari mereka.”
وهذا يبين بصورة أخرى تناقض هذه الصورة وهو أنه لو قال والله لا أجامع كل واحدة منكن فهذا يتضمن تخصيص كلّ واحدة بالإيلاء على وجه لا يتعلق بصواحباتها حتى كأنه أفرد كل واحدة بيمين على حيالها
Hal ini juga menunjukkan dengan cara lain kontradiksi dari gambaran ini, yaitu jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli setiap dari kalian,” maka hal itu mengandung pengkhususan sumpah ilā’ kepada masing-masing istri secara terpisah, sehingga seolah-olah ia memisahkan setiap istri dengan satu sumpah tersendiri yang tidak berkaitan dengan istri-istri yang lain.
ونقل بعض النقلة عن القاضي أنه جعل قوله لا أجامع كل واحدة بمثابة قوله لا أجامع واحدة منكن حتى قضى بأن اليمين تنحلّ بوطء واحدة
Sebagian perawi menukil dari al-Qadhi bahwa ia menganggap ucapan seseorang “aku tidak akan menggauli setiap dari kalian” setara dengan ucapannya “aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian,” sehingga ia memutuskan bahwa sumpah tersebut menjadi batal dengan menggauli salah satu dari mereka.
وهذا خطأ صريح والخطأ محال على الناقل فإن القاضي أعرف بالعادات وصيغ العبارات من أن يقول هذا
Ini adalah kesalahan yang nyata, dan kesalahan tidak mungkin berasal dari perawi, karena seorang qadhi lebih memahami adat kebiasaan dan bentuk-bentuk ungkapan daripada mengatakan hal seperti ini.
فإذاً الألفاظ المدارة في الباب ثلاثة أحدها أن يقول لا أجامعكن فالحنث لا يحصل إلا بجماع جميعهن والثاني أن يقول لا أجامع واحدة منكن وهو يبغي التعميم الذي فسرناه فهذا تعميمٌ على البدل ويحصل الحنث بأول امرأة يجامعها والثالث أن يقول لا أجامع كل واحدة وهذا يوجب انعقاد اليمين في حق كل واحدة على وجهٍ لا يتعلق حكمها بحكم غيرها وموجب ذلك أن الحنث لا يحصل في حق الجميع بوطء الواحدة
Jadi, lafaz-lafaz yang digunakan dalam permasalahan ini ada tiga. Pertama, jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggauli kalian,” maka pelanggaran sumpah (hints) tidak terjadi kecuali jika ia menggauli semua dari mereka. Kedua, jika ia berkata, “Aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian,” dengan maksud untuk mencakup semuanya sebagaimana telah kami jelaskan, maka ini merupakan pengkhususan secara bergantian, dan pelanggaran sumpah terjadi pada wanita pertama yang ia gauli. Ketiga, jika ia berkata, “Aku tidak akan menggauli setiap dari kalian,” maka ini menyebabkan sumpah berlaku untuk masing-masing secara terpisah, sehingga hukum satu orang tidak terkait dengan hukum yang lain, dan konsekuensinya adalah pelanggaran sumpah tidak terjadi pada semuanya hanya dengan menggauli satu orang saja.
ولو قال لا أجامع واحدة منكن وزعم أنه أراد الإيلاء عن واحدة من جملتهن فهذا مقبول فإن اللفظ صالح لهذا ثم يقال له أعيّنتَها بقلبك أم لا فإن زعم أنه عيّنها قلنا له بيّنها والمذهب أنه يطالَب بتعيينها كما يطالَب بتعيين المطلقة وتبيينها إذا أَبْهمَ طلقةً بين النسوة
Jika seseorang berkata, “Aku tidak akan menggauli salah satu dari kalian,” lalu ia mengklaim bahwa maksudnya adalah melakukan ila’ terhadap salah satu dari mereka secara keseluruhan, maka hal ini dapat diterima karena lafaz tersebut memungkinkan untuk maksud itu. Kemudian ia ditanya, “Apakah engkau telah menentukannya dalam hatimu atau tidak?” Jika ia mengaku telah menentukannya, maka dikatakan kepadanya, “Sebutkan siapa orangnya.” Menurut mazhab, ia wajib menyebutkan siapa yang dimaksud sebagaimana ia juga wajib menyebutkan dan menjelaskan siapa yang ditalak jika ia menjatuhkan talak secara samar di antara beberapa istri.
وذكر الشيخ أبو علي وجهين أحدهما ما ذكرناه
Syekh Abu Ali menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan.
والثاني أنه لا يطالب بالبيان ولا يُحمل عليه بخلاف الطلاق والفرق أن المطلّقة خارجة عن النكاح فضبطها في حِبالة النكاح من غير نكاح ممنوع وليس كذلك الإيلاءُ فإن المرأة لا تصير خارجة عن ربقة النكاح بالإيلاء فليس في حبسها في حِبالة النكاح ما يخالف وضعَ الشرع
Kedua, ia tidak dituntut untuk memberikan penjelasan dan tidak dibebani kewajiban tersebut, berbeda dengan kasus talak. Perbedaannya adalah bahwa perempuan yang ditalak telah keluar dari ikatan pernikahan, sehingga menahannya dalam jerat pernikahan tanpa adanya akad nikah adalah terlarang. Tidak demikian halnya dengan ila’, karena perempuan tidak keluar dari ikatan pernikahan dengan ila’, sehingga menahannya dalam jerat pernikahan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
ثم لو ادعت واحدة منهن أنه عناها فيجب عليه أن يجيب عن دعواها والخلاف الذي ذكرناه فيه إذا اعترف بالإشكال فإذا ادّعت واحدةٌ أنه عناها طولب بالجواب فإن قال لم أَعْنها حُلّف فإن نكل رُدّت اليمين والتفريع في فصل الخصومة كما تقدم في الطلاق فلا نعيد تلك التفاصيل
Kemudian, jika salah satu dari mereka mengklaim bahwa yang dimaksud adalah dirinya, maka ia wajib menjawab atas klaim tersebut. Perselisihan yang telah kami sebutkan sebelumnya terjadi jika ia mengakui adanya ketidakjelasan. Jika salah satu dari mereka mengaku bahwa yang dimaksud adalah dirinya, maka ia diminta untuk memberikan jawaban. Jika ia berkata, “Aku tidak bermaksud dirinya,” maka ia harus disumpah. Jika ia enggan bersumpah, maka sumpah itu dikembalikan kepadanya. Penjabaran lebih lanjut mengenai hal ini terdapat pada bab persengketaan, sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah talak, sehingga kami tidak mengulang rincian tersebut di sini.
ولو قال الزوج لا أدري لم نقنع منه بهذا وهذا مما تقرّر في إبهام الطلاق فلم نؤثر إعادته
Jika suami berkata, “Aku tidak tahu,” maka kami tidak menerima hal itu darinya. Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan dalam masalah ketidakjelasan talak, sehingga kami tidak perlu mengulanginya.
ومما يتعلق بالمسألة أنه لو كان قال والله لا أجامع واحدة منكن ثم زعم أن لفظه مطلق وأنه لم يخطر له لا معنى العموم على التفسير المقدم فيه ولا تخصيصُ واحدة على تأويل إبهام الإيلاء فقد ذكر الشيخ أبو علي وجهين أحدهما أن مطلق لفظه يُحمل على عقد اليمين على جميعهن على التأويل المقدّم
Terkait dengan masalah ini, jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli satu pun dari kalian,” lalu ia mengklaim bahwa ucapannya bersifat mutlak dan ia tidak terpikirkan makna umum seperti penafsiran yang telah dijelaskan sebelumnya, maupun pengkhususan pada salah satu istri dengan penafsiran samar dalam masalah ila’, maka Syaikh Abu Ali menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa lafaz mutlaknya dianggap sebagai sumpah yang mencakup seluruh istri, sesuai dengan penafsiran yang telah dijelaskan sebelumnya.
والوجه الثاني أنه يُحمل على الإبهام
Dan pendapat kedua adalah bahwa hal itu dimaknai sebagai sesuatu yang masih samar.
والمسألة محتملة وقد ذكرنا قاعدة أمثال هذه المسائل في كتاب الطلاق فإذا حملنا مطلق اللفظ على العموم فقد بان حكمه وإن حملناه على الإبهام فليتثبت الناظر في معناه فإن من أبهم طلقة ولم يعيّن بقلبه قلنا له عيّن باختيارك تشهياً ما شئت فإذا أبهم الإيلاء ولم يُعيّن بقلبه وهكذا يكون الأمر إذا حملنا المطلق عليه فكيف الوجه وما السبيل هذا ينبني على أنه هل يطالب بالتعيين فإن قلنا إنه يطالب به فليعيّن واحدةً كما مهدناه في الطلاق
Permasalahan ini bersifat kemungkinan, dan kami telah menyebutkan kaidah untuk persoalan-persoalan semacam ini dalam kitab Thalaq. Jika kita memahami lafaz mutlak sebagai umum, maka telah jelas hukumnya. Namun jika kita memahaminya sebagai sesuatu yang samar, maka hendaklah orang yang menelitinya berhati-hati dalam memahami maknanya. Jika seseorang mengucapkan talak secara samar tanpa menetapkan dalam hatinya, maka kami katakan kepadanya: “Tentukanlah dengan pilihanmu, sesuka hatimu.” Jika ia menyamarkan sumpah ila’ dan tidak menetapkannya dalam hatinya, maka demikian pula keadaannya jika kita memahami lafaz mutlak seperti itu. Lalu bagaimana caranya dan apa jalannya? Ini bergantung pada apakah ia diminta untuk menentukan (niatnya) atau tidak. Jika kita katakan bahwa ia diminta untuk menentukan, maka hendaklah ia menentukan satu, sebagaimana telah kami jelaskan dalam masalah thalaq.
ثم ينتظم عليه أن مدة الإيلاء من وقت التعيين أو من وقت اللفظ ففيه وجهان قدمنا نظيرَهما في إبهام الطلاق حيث قلنا إن الطلاق يقع عند التعيين أو يستند إلى اللفظ وهذا كذلك فإن جعلناه مولياً من وقت التعيين فابتداء المدة من ذلك الوقت وإن جعلناه مولياً من وقت اللفظ تبيُّناً فابتداء المدة من اللفظ ولا يخرّج هذا على اختلافٍ ذكرناه في العدة فإن المدّة قد لا يُعتدّ بها مع التباس الحال ولا يظهر مثل ذلك الأصل هاهنا
Kemudian, berkaitan dengan hal ini, muncul pertanyaan apakah masa ila’ dihitung sejak waktu penetapan atau sejak waktu pengucapan. Dalam hal ini terdapat dua pendapat, sebagaimana telah kami kemukakan padanannya dalam masalah talak yang samar, di mana kami katakan bahwa talak terjadi pada saat penetapan atau dikaitkan dengan waktu pengucapan. Demikian pula dalam masalah ini: jika kita menganggap seseorang melakukan ila’ sejak waktu penetapan, maka awal masa dihitung sejak waktu itu; namun jika kita menganggapnya melakukan ila’ sejak waktu pengucapan secara jelas, maka awal masa dihitung sejak pengucapan. Hal ini tidak dapat dianalogikan dengan perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam masalah ‘iddah, karena masa tersebut terkadang tidak diperhitungkan ketika keadaannya masih samar, dan dasar seperti itu tidak tampak dalam permasalahan ini.
وقد نجز الكلام في الصورتين الموعودتين
Dan telah selesai pembahasan mengenai dua bentuk yang telah dijanjikan.
فرع لابن الحداد
Cabang menurut Ibn al-Haddad
إذا كان للرجل امرأتان فقال إن وطئت إحداهما فالأخرى طالق فلا يخلو من أن يعيّن بقلبه واحدة منهما ويريدها بالإيلاء فإن كانت المسألة كذلك فالإيلاء يثبت في حق تلك المعينة بالقلب دون الأخرى فإذا انقضت المدة والأمر مبهم عندنا قال ابن الحداد إذا رفعنا الزوج إلى القاضي قال له القاضي فىء وخالف يمينك فإن فاء فذاك وإن أبى قال ابن الحداد يُطلّق القاضي إحدى امرأتيه على الإبهام وفرّع على أن القاضي يطلّق
Jika seorang laki-laki memiliki dua istri lalu berkata, “Jika aku menggauli salah satu dari kalian, maka yang lainnya tertalak,” maka hal itu tidak lepas dari kemungkinan bahwa ia menetapkan dalam hatinya salah satu dari keduanya dan menginginkannya dalam sumpah (īlā’). Jika perkaranya demikian, maka īlā’ berlaku atas istri yang telah ditetapkan dalam hatinya, bukan atas yang lain. Jika masa telah berlalu dan perkara masih samar menurut kami, Ibn al-Haddād berkata: Jika kami membawa suami itu ke hadapan qādī, maka qādī berkata kepadanya, “Kembalilah (berhubunganlah) dan langgar sumpahmu.” Jika ia kembali, maka selesai perkara. Namun jika ia menolak, Ibn al-Haddād berkata: Qādī menceraikan salah satu dari kedua istrinya secara samar, dan ia berpendapat bahwa qādī dapat menjatuhkan talak.
وقد قال القفال هذا غلط صريح من قول ابن الحداد فإن تطليق القاضي يترتب على صحة الدعوى ومسألة ابن الحداد مفروضة فيه إذا كانتا معترفتين بالإشكال إذ لو كانت المولَى عنها معيّنة بقلبه لدارت الخصومة في محاولة التعيين كما نبهنا عليه وأحلناه على ما قدمناه في الطلاق فإذا قال ابن الحداد
Al-Qaffal berkata, ini adalah kesalahan yang nyata dari pendapat Ibn al-Haddad, karena talak yang dijatuhkan oleh hakim bergantung pada kebenaran gugatan. Adapun permasalahan yang dikemukakan oleh Ibn al-Haddad itu terjadi jika kedua belah pihak sama-sama mengakui adanya kerancuan. Sebab, jika perempuan yang dijatuhi ila’ itu telah ditentukan dalam hati, maka perselisihan akan berputar pada upaya penetapan siapa yang dimaksud, sebagaimana telah kami singgung dan kami kembalikan pada pembahasan sebelumnya tentang talak. Maka, jika Ibn al-Haddad berkata…
يبهم القاضي الطلاقَ دلّ أنه فرض المسألة في اطراد الإشكال وإذا كان كذلك فلا تصح الدعوى من واحدةٍ منهما وهي معترفة بأنها لا تدري أن الزوج عناها أم لا وهذا بمثابة ما لو قال رجلان لأحدنا عليه ألفُ درهم فالدعوى لا تسمع على هذا الوجه إلا أن تكون مجزومةً وكذلك لو قالت امرأة آلَى عنّي زوجي أو ضربني أو قالت آلَى عني أو شتمني فلا تسمع الدعوى على هذا الوجه
Jika qadi merasa samar tentang talak, hal itu menunjukkan bahwa ia membayangkan kasus ini dalam konteks adanya keraguan yang terus-menerus. Jika demikian, maka gugatan dari salah satu dari keduanya tidak sah, sementara ia sendiri mengakui bahwa ia tidak tahu apakah suaminya memang bermaksud kepadanya atau tidak. Ini serupa dengan kasus dua orang yang berkata, “Salah satu dari kami memiliki utang seribu dirham kepadanya,” maka gugatan tidak dapat diterima dalam bentuk seperti ini kecuali jika dinyatakan secara tegas. Demikian pula jika seorang wanita berkata, “Suamiku telah ila’ (bersumpah tidak menggauli) terhadapku,” atau “Ia telah memukulku,” atau ia berkata, “Ia telah ila’ terhadapku,” atau “Ia telah mencaciku,” maka gugatan tidak dapat diterima dalam bentuk seperti ini.
وهذا الاعتراض متجهٌ جداً والعجب أن الشيخ أبا علي مع انبساطه في الإتيان بكل ما قيل وهو من أقدم أصحاب القفال نقل جواب ابن الحداد ولم يورد اعتراض القفال عليه ولم يعترض هو من تلقاء نفسه وأخذ يفرع على مذهب ابن الحداد بما سنذكره
Keberatan ini memang sangat relevan, dan yang mengherankan adalah Syekh Abu Ali, meskipun biasanya luas dalam menyampaikan semua pendapat yang pernah dikemukakan dan ia termasuk murid tertua dari al-Qaffal, ia hanya menukil jawaban Ibn al-Haddad tanpa menyebutkan keberatan al-Qaffal terhadapnya, dan ia sendiri pun tidak mengajukan keberatan dari dirinya, bahkan ia justru mengembangkan cabang-cabang hukum berdasarkan mazhab Ibn al-Haddad, sebagaimana akan kami sebutkan.
فإن قيل هل يتوجه مذهب ابن الحداد قلنا نعم الممكن فيه أن المرأتين إذا اعترفتا بالإشكال فالضرار قائم على الإبهام فإذا امتنع عن الفيئة فلا سبيل إلى إهمال الواقعة ولا سبيل إلى تعيين الطلاق فلا ينطبق على صورة الحال إلا ما ذكره هذا هو الممكنُ ثم إذا وقع الطلاق من جهة القاضي مبهماً فالتعيين إلى الزوج فإن كان عين بقلبه واحدة صادفها الطلاقُ فعليه التبيين وإن لم يعين بقلبه واحدةً عند إبهام الإيلاء فعليه التعيينُ الآن للطلاق
Jika dikatakan, apakah pendapat Ibn al-Haddad dapat diterapkan? Kami katakan, ya, yang mungkin dalam hal ini adalah jika kedua perempuan tersebut mengakui adanya ketidakjelasan, maka mudarat tetap ada karena ketidakjelasan itu. Jika suami menolak untuk melakukan hubungan (fi’ah), maka tidak mungkin mengabaikan peristiwa tersebut dan tidak mungkin pula menentukan talak secara pasti. Maka, yang sesuai dengan kondisi ini hanyalah apa yang telah disebutkan. Inilah yang mungkin dilakukan. Kemudian, jika talak dijatuhkan oleh hakim secara tidak jelas, maka penentuan (siapa yang ditalak) dikembalikan kepada suami. Jika suami telah menentukan dalam hatinya salah satu dari keduanya, maka talak itu jatuh pada yang ia maksudkan, dan ia wajib menjelaskannya. Namun jika ia tidak menentukan dalam hatinya salah satu dari keduanya ketika terjadi sumpah ila’ yang tidak jelas, maka sekarang ia wajib menentukan untuk talak tersebut.
فلو قال ارتجعت من طلقت فهل تصح الرجعة على الإبهام فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أبو علي أحدهما أنها تصح بناء على الطلاق
Jika seseorang berkata, “Aku telah merujuk salah satu dari istri-istri yang telah kuceraikan,” maka apakah rujuk tersebut sah meskipun tidak disebutkan secara spesifik? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali; salah satunya adalah bahwa rujuk tersebut sah, berdasarkan pada talak.
والثاني لا تصح فإن الرجعة استحلال مضاهٍ لعقد النكاح فلا يليق بها الإبهام إذ الإبهام يناظر التعليق فما لا يصح تعليقه لا يصح إبهامه ولذلك أثرت الجهالة في صحة الإبراء لمّا امتنع تعليقه وهذا هو السديد وإن قلنا تصح الرجعة مبهمةً فلا كلام وإن قلنا لا تصح فالوجه أن يعيّن المطلقة أولاً ثم يبنى على تعيّنها الرجعةَ
Kedua, tidak sah, karena ruju‘ adalah penghalalan yang serupa dengan akad nikah, sehingga tidak pantas ada ketidakjelasan di dalamnya, sebab ketidakjelasan itu sebanding dengan ta‘liq (penggantungan syarat), maka sesuatu yang tidak sah untuk digantungkan, tidak sah pula untuk dibuat samar. Oleh karena itu, ketidaktahuan (jahalah) berpengaruh terhadap keabsahan pembebasan utang (ibrā’), karena tidak boleh digantungkan. Inilah pendapat yang benar. Jika kita katakan ruju‘ yang samar itu sah, maka tidak ada masalah. Namun jika kita katakan tidak sah, maka sebaiknya ditentukan dulu siapa yang ditalak, kemudian setelah penentuan itu baru dilakukan ruju‘.
بابٌ على من يجب التوقيف في الإيلاء وعمن يسقط
Bab tentang siapa yang wajib dikenai penahanan dalam kasus ila’ dan siapa yang gugur darinya.
قال الشافعي رضي الله عنه لا نعرض للمولي ولا لامرأته حتى يطلب الوقف إلى آخره
Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Kita tidak membahas tentang orang yang melakukan ila’ (mūlā) maupun istrinya sampai salah satu dari keduanya meminta penetapan hukum hingga selesai.
إذا آلى الرجل عن امرأته فلا طَلِبة في الأربعة الأشهر فإنه مُمَهَّل فيها فإذا انقضت فلها رفع زوجها إلى مجلس القضاء ولو لم تطلب حقها فلا معترض عليها فإنها صاحبة الحق وهذا يؤكد أن الزوج لا يطالَب بالتعيين فإن النكاح قائم
Jika seorang laki-laki melakukan ila’ terhadap istrinya, maka tidak ada tuntutan selama empat bulan; ia diberi tenggang waktu dalam masa itu. Apabila masa itu telah habis, maka istri berhak membawa suaminya ke majelis pengadilan. Namun jika ia tidak menuntut haknya, tidak ada yang boleh mempersoalkannya, karena ia adalah pemilik hak tersebut. Hal ini menegaskan bahwa suami tidak dituntut untuk menentukan (pilihan), karena akad nikah masih tetap berlaku.
وينفصل هذا عن صورة الإبهام انفصالاً بيّناً فإن الخلاف فيه إذا طلبت المرأتان التعيين لتتوصل صاحبة الحق إلى طلب حقها فلو انقضت المدة فذكرت أنها راضية بالمقام تحت زوجها المولي مع استمراره على الإضرار بها فمهما أرادت المرأة أن تعود إلى الطلب كان لها العَوْد وهذا كما إذا أثبتنا لها حقَّ الفسخ لسبب الإعسار بالنفقة فرضيت بمصابرة زوجها على الضُرّ والعسر ثم بدا لها فأرادت العَوْد إلى الفسخ فلها ذلك
Hal ini berbeda secara jelas dari kasus ketidakjelasan, karena dalam hal ini perbedaan pendapat terjadi jika dua perempuan meminta penetapan agar pemilik hak dapat menuntut haknya. Jika masa telah berlalu lalu ia menyatakan bahwa ia rela tetap bersama suaminya yang melakukan ila’ meskipun suaminya terus-menerus menyakitinya, maka kapan pun perempuan itu ingin kembali menuntut, ia berhak untuk kembali menuntut. Ini seperti jika kami menetapkan hak fasakh baginya karena suami tidak mampu memberi nafkah, lalu ia rela bersabar bersama suaminya dalam kesulitan dan penderitaan, kemudian ia berubah pikiran dan ingin kembali menuntut fasakh, maka ia berhak melakukannya.
ولو ثبتت العُنّة وانقضت المدّة المضروبة أجلاً للعنّين فرضيت المرأة بالمقام ثم أرادت أن تفسخ فليس لها ذلك وإنما فرضنا الكلام في العُنة عند قصد الاستفراق لأن العنة من وجهٍ ليست عيباً محضاً فيقال الرضا بها رضاً بالعيب والدليل على ذلك أن الزوج لو اعترف بالعنة في ابتداء المرافعة فإنا نمهله مع ذلك سنة ومع ما ذكرناه من الفرق ما أجريناه من أنها إذا رضيت بمصابرة الزوج على الضرار فليست راضيةً بصفة كائنة وإنما تُسقط حقها في الحال فإن تعرضت للإسقاط في المستقبل كانت مسقطة حقّاً لم يدخل وقته وإسقاط الحق قبل ثبوته غيرُ سائغ وكذلك القول في رضا زوجة المعسر بمصابرة العُسر والتعذر في النفقة يتعلق بحق النفقة والنفقةُ تجب شيئاً شيئاً
Jika telah terbukti adanya ‘innah (impotensi) dan telah berlalu masa yang ditetapkan sebagai tenggat waktu bagi suami yang ‘annin, lalu istri rela tetap bersama, kemudian setelah itu ia ingin membatalkan (pernikahan), maka ia tidak berhak melakukan hal itu. Sesungguhnya pembahasan tentang ‘innah ini kami batasi pada saat ada keinginan untuk berpisah, karena ‘innah dari satu sisi bukanlah cacat murni sehingga dikatakan bahwa kerelaan terhadapnya berarti kerelaan terhadap cacat. Dalilnya adalah jika suami mengakui adanya ‘innah di awal persidangan, maka kami tetap memberinya tenggat waktu satu tahun. Selain perbedaan yang telah kami sebutkan, jika istri rela bersabar menghadapi suami yang menimbulkan mudarat, itu bukan berarti ia rela dengan sifat yang ada, melainkan ia hanya menggugurkan haknya untuk saat itu saja. Jika ia menggugurkan haknya untuk masa depan, berarti ia menggugurkan hak yang belum tiba waktunya, dan menggugurkan hak sebelum hak itu tetap tidak diperbolehkan. Demikian pula halnya dengan kerelaan istri dari suami yang tidak mampu (memberi nafkah) untuk bersabar menghadapi kesulitan dan ketidakmampuan dalam nafkah, hal itu berkaitan dengan hak nafkah, dan nafkah itu wajib sedikit demi sedikit.
كذلك مطالبة الزوج بالفيئة تتعلق بطلب الوقاع وهو مرتبط بما سيكون من الاستمتاع في مستقبل الزمان وأما العُنّة فإنها عيبٌ فإذا رضيت به لم تجد سبيلاً إلى الرجوع فإن العنة خصلةٌ واحدة
Demikian pula, tuntutan istri kepada suami untuk melakukan al-fiyah berkaitan dengan permintaan hubungan badan, yang berhubungan dengan kenikmatan yang akan terjadi di masa mendatang. Adapun ‘unnah (impotensi) adalah suatu cacat; jika istri telah ridha dengannya, maka ia tidak memiliki jalan untuk kembali (menuntut cerai), karena ‘unnah adalah satu sifat (cacat) saja.
فإن عورضنا وقيل لنا العسر والضرارُ في النفقة والوطء في حكم الخصلة الواحدة قلنا ليس الأمر كذلك فإنه منبسطٌ على الأوقات لتعلقه بالحقوق المتجدّدة على مرّ الأوقات وإذا حُقّق العُسر لم يكن له معنىً إلا عدم النفقة وليس ذلك صفة ثابتة بخلاف العُنّة فإنها عجزٌ
Jika kami ditentang dan dikatakan kepada kami bahwa kesulitan dan mudarat dalam nafkah dan hubungan suami istri itu hukumnya sama, kami katakan bahwa tidak demikian halnya, karena hal itu tersebar pada waktu-waktu tertentu karena berkaitan dengan hak-hak yang terus-menerus muncul seiring berjalannya waktu. Jika kesulitan itu benar-benar terjadi, maka tidak ada maknanya selain tidak adanya nafkah, dan itu bukanlah sifat yang tetap, berbeda dengan ‘innah (impotensi), karena itu adalah ketidakmampuan.
ثم حق المطالبة في الإيلاء لا يثبت إلا للزوجة فإن كانت من أهلها فالأمر مفوّض إليها وإن كانت صغيرة لم ينب عنها وليها كما ذكرناه في باب العنة وحق الطّلب للأمة المنكوحة دون مولاها والقول في حق الفسخ إذا أثبتناه بعذر الإعسار قد يَدِق مُدركه إذا قلنا حق الفسخ للأمة دون المولى مع تعلق هذا بصلاح مِلْك المَوْلَى فإن الزوج إذا لم ينفق احتاج السيد إلى الإنفاق استبقاءً للملك ومع هذا لم يُثبت الأصحاب له حقَّ الفسخ وفي هذا مباحثة وتشعيبٌ للكلام سنذكره في كتاب النفقات إن شاء الله عز وجل
Kemudian, hak untuk menuntut dalam kasus ila’ (sumpah suami tidak menggauli istri) hanya ditetapkan bagi istri. Jika istri termasuk orang yang berhak, maka urusan itu diserahkan kepadanya. Namun jika ia masih kecil, walinya tidak dapat mewakilinya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab ‘inah. Hak untuk menuntut juga berlaku bagi budak perempuan yang dinikahi, bukan bagi tuannya. Adapun pembahasan tentang hak fasakh (pembatalan nikah) jika kami tetapkan karena alasan tidak mampu memberi nafkah, maka kadang-kadang alasan tersebut sangat halus untuk dipahami, jika kami katakan bahwa hak fasakh bagi budak perempuan, bukan bagi tuannya, padahal hal ini berkaitan dengan kemaslahatan milik tuan. Sebab, jika suami tidak memberi nafkah, maka tuan harus menafkahi budaknya demi menjaga kepemilikannya. Meskipun demikian, para ulama tidak menetapkan hak fasakh bagi tuan. Dalam hal ini terdapat pembahasan dan rincian yang akan kami sebutkan dalam Kitab Nafkah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم ذكر المزني فصولاً قدمنا ذكرها فنرمز إليها للجريان على ترتيب السواد منها أن الإيلاء إذا كان معقوداً على مدةٍ فحقها أن تكون زائدةً على الأربعة الأشهر خلافاً لأبي حنيفة وسبب الخلاف تباين المذهبين في وضع الإيلاء فإن وضعه عند الشافعي على أن المولي يُمهَل حتى يرجع عن المضارّة في المدة المعلومة والمدة بجملتها له فإنها مَهَلُه وأجلُه وليس الإيلاء طلاقاً وإنما هو إظهار مضارة فإذا انقضت المدة تحقق إصرارٌ على المضارّة فتتوجه عليه الطّلبة ولا بد من فرض الطَّلِبة وراء المدة ولا بد للطَّلِبة من مدّة فهذا عقد مذهب الشافعي رضي الله عنه
Kemudian al-Muzani menyebutkan beberapa bagian yang telah kami sebutkan sebelumnya, maka kami akan merujuk kepadanya untuk mengikuti urutan teks aslinya. Di antaranya adalah bahwa ila’ (sumpah suami untuk tidak menggauli istri) jika diikat dengan suatu jangka waktu, maka seharusnya jangka waktu itu lebih dari empat bulan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Sebab perbedaan pendapat ini adalah perbedaan kedua mazhab dalam memahami hakikat ila’. Menurut asy-Syafi‘i, hakikat ila’ adalah bahwa suami yang bersumpah diberi tenggang waktu agar ia dapat kembali dari perbuatan menyakiti istrinya dalam jangka waktu yang telah diketahui, dan seluruh jangka waktu itu adalah miliknya, karena itu adalah masa tenggang dan batas waktunya. Ila’ bukanlah talak, melainkan hanya menunjukkan adanya keinginan untuk menyakiti. Jika jangka waktu itu telah habis, maka terbukti adanya keteguhan dalam menyakiti, sehingga istri berhak menuntut, dan tuntutan itu harus dilakukan setelah jangka waktu tersebut, serta tuntutan itu pun membutuhkan jangka waktu tertentu. Inilah inti mazhab asy-Syafi‘i, semoga Allah meridhainya.
وأبو حنيفة جعل الإيلاء طلاقاً معلقاً بانقضاء مدةٍ فاكتفى بأربعة أشهر
Abu Hanifah menganggap ila’ sebagai talak yang digantungkan pada berlalunya suatu masa, sehingga ia mencukupkan dengan empat bulan.
ثم الأمر الخارج عن كل معقول قضاؤه بأن الطلاق الواقع بائن ولعله صار إلى هذا من جهة تخليصها فلا تخليص إلا بالبينونة والرجعية مستحلّة عنده
Kemudian, perkara yang berada di luar segala akal adalah keputusannya bahwa talak yang terjadi adalah talak bain, dan barangkali ia sampai pada pendapat ini dari sisi keinginannya untuk membebaskan perempuan itu, karena tidak ada pembebasan kecuali dengan talak bain, sedangkan talak raj‘i masih memungkinkan rujuk menurutnya.
ومما ذكره المزني أنه إذا حلف بطلاق امرأته أنه لا يطأ الأخرى فهو مولٍ في الجديد ثم القول في تفاصيل المسألة وما يتعلق بها من التفريع على قَوْلَيْ عوْد الحنث مستقصىً لا حاجة إلى إعادته على قرب العهد به
Di antara yang disebutkan oleh al-Muzani adalah bahwa jika seseorang bersumpah dengan talak istrinya bahwa ia tidak akan menggauli istri yang lain, maka ia dianggap sebagai mu’allaq dalam pendapat baru. Kemudian pembahasan mengenai rincian masalah ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya, termasuk penjabaran pada dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran sumpah, telah dijelaskan secara rinci sehingga tidak perlu diulangi lagi karena pembahasannya masih dekat.
ثم قال والإيلاء يمينٌ لوقتٍ فالحر والعبد فيه سواء وأراد بهذا أن الزوج إذا كان عبداً فمدة إيلائه أربعة أشهر كما لو كان حراً وخالف في ذلك أبو حنيفة ومالك غير أن أبا حنيفة يقول يختلف الأمر برقها وحريتها فلو كانت حرة فالمدة أربعة أشهر وإن كان الزوج عبداً وإن كانت الزوجة أمة فشهران وإن كان الزوج حراً وعند مالك الاعتبار برقه وحريته
Kemudian ia berkata: Iilā’ adalah sumpah yang dibatasi waktu, sehingga antara laki-laki merdeka dan budak di dalamnya sama saja. Maksudnya adalah bahwa jika suami itu seorang budak, maka masa iilā’-nya adalah empat bulan, sebagaimana jika ia seorang merdeka. Dalam hal ini, Abu Hanifah dan Malik memiliki pendapat berbeda. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkara ini berbeda tergantung pada status istri, apakah ia merdeka atau budak. Jika istri adalah wanita merdeka, maka masa iilā’ adalah empat bulan, meskipun suaminya seorang budak. Namun jika istri adalah budak, maka masa iilā’ adalah dua bulan, meskipun suaminya seorang merdeka. Adapun menurut Malik, yang menjadi pertimbangan adalah status suami, apakah ia budak atau merdeka.
وقول الشافعي الإيلاء يمين معناها أنها يمين عُلّقت بوقت شرعاً فكانت كما لو علقها الحالف بالوقت ولو كان كذلك لم يؤثر الرق والحرية
Menurut pendapat asy-Syafi‘i, ila’ adalah sumpah yang maksudnya merupakan sumpah yang digantungkan dengan waktu secara syar‘i, sehingga hukumnya seperti jika orang yang bersumpah menggantungkan sumpahnya dengan waktu. Jika demikian, maka status budak atau merdeka tidak berpengaruh.
ثم ذكر اختلافَ الزوج والزوجة في انقضاء مدة الإيلاء وأبان أن حقيقة الاختلاف في هذا يرجع إلى التنازع في وقت الإيلاء والقول قول الزوج في وقت الإيلاء فإن المرأة إذا ادعت انقضاء المدّة و الزوج قال بل مضى شهران فكأنها ادّعت تقدم إيلائه وهو منكر وقد قدمنا نظير هذا في كتاب الرجعة
Kemudian disebutkan perbedaan pendapat antara suami dan istri mengenai berakhirnya masa ila’ dan dijelaskan bahwa hakikat perbedaan ini kembali kepada perselisihan tentang waktu terjadinya ila’. Pendapat yang dipegang adalah pendapat suami mengenai waktu ila’, karena jika istri mengklaim bahwa masa telah berakhir, sedangkan suami mengatakan baru berlalu dua bulan, maka seolah-olah istri mengklaim bahwa ila’ dilakukan lebih awal, dan suami mengingkarinya. Hal yang serupa telah kami jelaskan sebelumnya dalam Kitab Raj‘ah.
ثم ذكر أنه لو آلى عن الرجعيّة ثبت الإيلاء فإن الرجعية في حكم الزوجات وأثر هذا أنه لو ارتجعها احتسبنا المدة من وقت الارتجاع
Kemudian disebutkan bahwa jika seseorang melakukan ila’ terhadap istri yang dalam masa rujuk, maka ila’ tersebut tetap berlaku, karena istri yang dalam masa rujuk dihukumi sebagai istri. Dampaknya adalah jika suami merujuknya kembali, maka masa ila’ dihitung sejak waktu rujuk tersebut.
ولو قال لأجنبية والله لا أجامعك ثم نكحها فلو جامعها لحنث
Jika seseorang berkata kepada perempuan asing, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” kemudian ia menikahinya, maka jika ia menggaulinya, ia dianggap melanggar sumpah.
ولا يكلون مولياً وإن كان يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر أمراً لأنه أنشأ الإيلاء في وقت انتفاء النكاح وحق الطلب في الإيلاء مردّد بين الوطء والطلاق وهذا خاصيّة الإيلاء فلا ينعقد الايلاء في وقتٍ لا نكاح فيه والرجعية منكوحة أو على عُلقةٍ صالحة من الزوجية
Mereka tidak membebankan kepada orang yang melakukan ila’ (sumpah tidak menggauli istri) suatu kewajiban, meskipun ia berkomitmen untuk berhubungan setelah empat bulan, sebagai suatu perintah, karena ia melakukan ila’ pada waktu tidak adanya pernikahan, dan hak untuk menuntut dalam ila’ itu terbagi antara hubungan suami istri dan talak. Ini adalah kekhususan ila’, sehingga ila’ tidak sah dilakukan pada waktu tidak adanya pernikahan, sedangkan istri yang dalam masa iddah raj‘īyah masih berstatus sebagai istri atau masih ada ikatan yang sah dari pernikahan.
والذي يجب نظمُه في هذا الفصل أن الطلاق حرّمها فاقتضى ذلك انعزالَها للعدّةِ واستبراءِ الرحم ونصُّ الشافعي رضي الله عنه في إيجاب المهر أصدق شاهد على زوال الملك وإن كان عُرضةَ الاستدراك والتوريثُ أصدق شاهد في بقاء النكاح وإن تكلفنا قلنا الإرث يستقلّ بعُلقة ثابتة فإنه لا يجري إلا بعد النكاح
Hal yang harus diatur dalam bab ini adalah bahwa talak telah mengharamkannya, sehingga hal itu menuntut pemisahan istri untuk menjalani masa iddah dan memastikan kebersihan rahim. Pernyataan tegas Imam Syafi‘i ra. tentang kewajiban mahar adalah bukti paling kuat atas hilangnya kepemilikan (suami terhadap istri), meskipun hal itu masih mungkin dikoreksi. Sedangkan pewarisan adalah bukti paling kuat atas keberlangsungan pernikahan, meskipun jika kita memaksakan penjelasan, kita dapat mengatakan bahwa warisan berdiri sendiri dengan adanya hubungan yang tetap, karena warisan tidak terjadi kecuali setelah adanya pernikahan.
وكأنا نقول ليست البائنة على عُلقةٍ من النكاح وعِدّةُ البينونة ليست من علائق النكاح ولهذا لا تثبت فيها النفقة للحائل والرجعية على علقة من النكاح ولهذا تستحق النفقة ويحرم نكاح أختها في عدتها ونكاح أربعٍ سواها للعُلقة المستقرّة في طريقةٍ أو للنكاح القائم وإذا كان تحريم الجمع متعلقاً بالنكاح لم يبعد أن يتعلق بالعُلقة المختصة به
Seakan-akan kami mengatakan bahwa wanita yang dicerai ba’in tidak lagi memiliki hubungan dengan pernikahan, dan masa iddah ba’in bukan termasuk dari hubungan pernikahan. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban nafkah bagi wanita yang tidak hamil dalam masa iddah ba’in. Adapun wanita yang dicerai raj‘i masih memiliki hubungan dengan pernikahan, sehingga ia berhak mendapatkan nafkah, dan haram menikahi saudara perempuannya selama masa iddah, serta haram menikahi empat wanita selain dirinya karena adanya hubungan yang masih tetap dalam satu sisi atau karena pernikahan yang masih berlangsung. Jika larangan mengumpulkan (dua wanita bersaudara) berkaitan dengan pernikahan, maka tidak mustahil larangan itu juga berkaitan dengan hubungan khusus yang ada pada pernikahan tersebut.
وهذا بمثابة امتناع الإحرام بالعمرة مع ملابسة الحج ثم المقيم بمنى أيام منى ليس في الإحرام ولكنه في نسك تابعٍ للإحرام مُفدٍ لو تركه فامتنع ابتداء الإحرام في الأيام المشتملة على تلك المناسك فأما الإيلاء عن الرجعية فمعتمده النكاح نفسه إن قلنا إنها منكوحة أو العُلقة القائمة المسلِّطة على الرّد إلى عين النكاح الأول وهذا لا يتحقق في البائنة
Hal ini serupa dengan larangan ihram untuk umrah ketika sedang melaksanakan haji, kemudian orang yang tinggal di Mina pada hari-hari Mina tidak sedang dalam keadaan ihram, tetapi ia sedang menjalankan manasik yang merupakan bagian dari ihram dan wajib membayar fidyah jika meninggalkannya. Maka, tidak diperbolehkan memulai ihram pada hari-hari yang di dalamnya terdapat manasik tersebut. Adapun sumpah ila’ terhadap istri raj‘iyyah, dasarnya adalah akad nikah itu sendiri jika kita mengatakan bahwa ia masih berstatus istri, atau hubungan yang masih ada yang memberikan hak untuk kembali kepada akad nikah yang pertama. Hal ini tidak terwujud pada istri yang telah ditalak bain.
باب الوقف في الإيلاء
Bab Penangguhan dalam Iilā’
ذكر المزني مسائل هذا الباب على غاية الاختلاط ووقعت له غلطات في النقل والترتيب ونحن نرى من الرأي أن نصدّر الباب بفصلين أحدهما مشتمل على موانعَ من الوطء فيه وفيها ثم القول يتردد في أحكامها على ما سنوضحه
Al-Muzani menyebutkan permasalahan-permasalahan dalam bab ini dengan sangat campur aduk, dan terdapat kesalahan-kesalahan dalam penukilan dan penataannya. Menurut pendapat kami, sebaiknya kami memulai bab ini dengan dua bagian: salah satunya memuat hal-hal yang menjadi penghalang dari hubungan suami istri, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, kemudian pembahasan akan berlanjut pada hukum-hukumnya sebagaimana akan kami jelaskan.
والفصل الثاني في المطالبة بعد المدة وما يمنع منها
Bab kedua membahas tentang tuntutan setelah lewatnya waktu dan hal-hal yang menghalangi tuntutan tersebut.
فأما الفصل الأول
Adapun bagian pertama
فإنا نقول الطلاق يقطع مدة الإيلاء وإن كان رجعيّاً فليقع الاعتناء به ثم لا يخفى حكم الطلاق البائن فإذا آلى الرجل عن امرأته وخاض في المدة ثم طلقها في أثناء المدة انقطعت المدة فإذا راجعها فلا بناء على ما مضى من المدة ويستفتح مدة جديدة بعد الرجعة فإذا مضت ثبتت الطلبة بعدها ولو انقضت المدة فطلقها ثم راجعها ابتدأنا مدةً فإذا مضت بكمالها عادت الطّلِبة وقد قرّرنا هذا وأوضحنا فقهه
Kami katakan bahwa talak memutus masa ila’, meskipun talaknya raj‘i, maka hendaknya hal ini diperhatikan. Kemudian, hukum talak bain pun tidak samar. Jika seorang laki-laki melakukan ila’ terhadap istrinya dan telah berjalan dalam masa tersebut, lalu ia menalaknya di tengah masa itu, maka masa ila’ terputus. Jika ia merujuk istrinya, maka masa yang telah berlalu tidak dihitung, dan ia memulai masa baru setelah rujuk. Jika masa tersebut telah berlalu, lalu ia menalaknya kemudian merujuknya, maka kami memulai masa baru; jika masa itu telah sempurna, maka tuntutan (hak istri) kembali berlaku. Hal ini telah kami tetapkan dan kami jelaskan fiqhnya.
فالطلاق إذاً يقطع المدة ويُسقطُها حتى لا يُفرض البناء على السابق منها فإذا جرى بعد المدة ثم فرضت الرجعة فالإيلاء قائم ولكن لا بد من افتتاح المدة مرة أخرى
Maka talak itu memutus masa (‘iddah) dan menggugurkannya sehingga tidak boleh membangun (hukum) atas masa yang telah lalu darinya. Jika talak terjadi setelah masa (‘iddah), kemudian terjadi rujuk, maka ila’ tetap berlaku, namun harus memulai masa (‘iddah) yang baru lagi.
والردة إذا فرضت في ممسوسة أو في زوجها فهي كالطلاق الرجعي في جميع ما ذكرناه فتقطع المدةَ قَطْع إسقاطٍ يمنع البناء وإذا زالت الردّة في مدة العدة فلا بناءَ بل نبتدىء المدّة
Riddah, jika terjadi pada seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa atau pada suaminya, hukumnya seperti talak raj‘i dalam seluruh hal yang telah kami sebutkan, sehingga masa iddah terputus sebagai pemutusan yang mencegah kelanjutan masa iddah. Jika riddah itu hilang dalam masa iddah, maka tidak ada kelanjutan masa iddah, melainkan masa iddah dimulai kembali dari awal.
وهذا متفق عليه بين الأصحاب وإن كنا نبيّن أن الرّدة إذا زالت قبل انقضاء العدة فكأن النكاح لم ينخرِم بخلاف الطلاق فإن الواقع منه لا يزول بالرجعة ولكن لما كانت الردّة مؤثرة على الجملة في إزالة الملك كانت قاطعة للمضارة بترك الوطء والتعويل على إظهار المضارّة فإذا فرض عودٌ فهذا جرى قبل انقطاع قصد المضارة بترك الوطء مع استمرار الحِلّ
Hal ini telah disepakati di antara para ulama mazhab, meskipun kami menjelaskan bahwa jika riddah hilang sebelum masa iddah berakhir, maka seolah-olah pernikahan tidak pernah batal, berbeda dengan talak, karena talak yang telah terjadi tidak dapat dihapus dengan rujuk. Namun, karena riddah secara umum berpengaruh dalam menghilangkan kepemilikan (ikatan pernikahan), maka riddah memutuskan mudharat akibat meninggalkan hubungan suami istri, dan penilaian didasarkan pada tampaknya mudharat tersebut. Jika diasumsikan adanya kembali (masuk Islam lagi), maka hal itu terjadi sebelum maksud melakukan mudharat dengan meninggalkan hubungan suami istri terputus, selama kehalalan (hubungan) masih berlangsung.
وليست الردّة كالإحرام فإنه ليس إعراضاً عن النكاح إذ النكاح في أصل الوضع يدوم معه وهذا الفقه واقعٌ لمن تأمل
Murtad tidaklah seperti ihram, karena ihram bukanlah bentuk berpaling dari pernikahan, sebab pada asalnya pernikahan tetap berlangsung bersamanya. Inilah fiqh yang nyata bagi siapa saja yang merenunginya.
وإذا انقضت مدة الإيلاء فارتدّ أحد الزوجين ثم زالت الردّة واستمر النكاح كان ذلك بمثابة الطلاق الرجعي إذا طرأت الرجعة بعده فلا بد من استئناف مدة وهذا من المسائل التي تُحفظ في هذا الكتاب وهي مولٍ يتجدد إيلاؤه ولا يطرأُ طلاقٌ ولا فيئة فتنقضي أربعة أشهر فنضرب أربعة أخرى وذلك إذا آلى فمضت المدة فارتد أو ارتدت ثم فرض العود على الفور
Apabila masa ila’ telah berakhir lalu salah satu dari suami istri murtad, kemudian kemurtadan itu hilang dan pernikahan tetap berlangsung, maka hal itu dianggap seperti talak raj‘i; jika rujuk terjadi setelahnya, maka harus memulai masa baru. Ini termasuk masalah yang dicatat dalam kitab ini, yaitu seorang yang melakukan ila’ kemudian ila’-nya diperbarui, dan tidak terjadi talak maupun rujuk sehingga berlalu empat bulan, lalu kita tambahkan empat bulan lagi. Hal ini terjadi apabila seseorang melakukan ila’, lalu masa berlalu, kemudian ia atau istrinya murtad, lalu diwajibkan kembali secara langsung.
فهذا بيان الطلاق والردة
Inilah penjelasan tentang talak dan riddah.
فأما ما عداهما من الموانع فينظر فإن كان فيه كمرضٍ أو غيره من حبسٍ أو غَيْبة والموانع فيه تنقسم إلى الحسيّ والشرعي فالحسية منها ما ذكرناها وأمثالها والشرعية كالإحرام والظهار ونحوهما وكل مانع في جانبه فلا يمنع الاحتساب بالمدة فإذا طرأت هذه الموانع في وقت الطّلبة فسنذكر في الفصل الثاني تحصيلَ القول في الطلب وغرضنا الآن مقصورٌ على الكلام في انقطاع المدة واستمرارها فإذا اطردت الموانع عليه بعد المدة ثم زالت حقَّت الطلبة وإذا كانت لا تقطع المدة لا توجب ابتداء المدة
Adapun selain keduanya dari penghalang-penghalang, maka perlu diperhatikan: jika terdapat penghalang seperti sakit atau selainnya, seperti penahanan atau ketidakhadiran, maka penghalang-penghalang tersebut terbagi menjadi penghalang hissi (fisik) dan syar‘i (syariat). Penghalang hissi adalah seperti yang telah kami sebutkan dan yang semisalnya, sedangkan penghalang syar‘i seperti ihram, zihar, dan yang semacamnya. Setiap penghalang yang berada di pihaknya tidak menghalangi perhitungan masa. Jika penghalang-penghalang ini muncul pada waktu permintaan (ṭalabah), maka kami akan sebutkan pada bab kedua penjelasan tentang permintaan tersebut. Tujuan kami sekarang terbatas pada pembahasan tentang terputus atau berlanjutnya masa. Jika penghalang-penghalang itu terus-menerus ada setelah masa berlalu, kemudian hilang, maka permintaan menjadi hak. Jika penghalang-penghalang itu tidak memutus masa, maka tidak menyebabkan dimulainya masa dari awal.
فأما إذا كانت الموانع فيها فهي تنقسم إلى الطبيعية والشرعية فإذا كانت محبوسة أو مجنونة لا يتأتى غشيانها أو كانت من الصغر بحيث لا تحتمل الجماع أو امتنع وقاعها للدَّنَف أو الضِّنى أو نشزت وامتنعت من التمكين فجملة هذه الموانع تقطع المدة وتمنع الاحتساب بها معها وإذا اقترنت بالإيلاء لم نبتدىء المدّة
Adapun jika terdapat halangan pada istri, maka halangan tersebut terbagi menjadi halangan alami dan syar‘i. Jika istri sedang ditahan, atau gila sehingga tidak mungkin digauli, atau masih terlalu kecil sehingga tidak mampu melakukan hubungan suami istri, atau suami tidak dapat menggaulinya karena sakit berat atau kelemahan, atau istri melakukan nusyūz dan menolak untuk memberikan kesempatan, maka seluruh halangan ini memutus masa (iddah) dan masa tersebut tidak dihitung bersamanya. Jika halangan-halangan ini bersamaan dengan terjadinya ila’, maka masa (iddah) tidak dimulai.
والسبب فيه أن الإيلاء إظهار الضرار بالامتناع عن وطئها إذا لم يكن فيها مانع وإذا كان وأمكنت الإحالة على ما فيها من المانع فلا وجه لتحقيق المضارة
Penyebabnya adalah bahwa ila’ merupakan bentuk menampakkan tindakan menyakiti dengan menahan diri dari menggaulinya apabila tidak ada penghalang pada dirinya. Namun jika terdapat penghalang dan memungkinkan untuk merujuk pada penghalang tersebut, maka tidak ada alasan untuk memastikan terjadinya tindakan menyakiti.
ثم هذه المعاني فيها إذا طرأت وقطعت المدة ثم زالت فهل تُستأنف المدة أم يُبنى عليها فعلى وجهين أحدهما يبنى عليها حتى لو كان طرأ مانع فيها بعد مضي ثلاثة أشهر ثم زال فلا مهل أكثر من شهر
Kemudian, apabila makna-makna ini muncul dan memutus masa, lalu setelah itu hilang, apakah masa tersebut dimulai kembali dari awal atau dilanjutkan dari sisa sebelumnya? Ada dua pendapat: salah satunya adalah dilanjutkan dari sisa sebelumnya, sehingga jika ada penghalang yang muncul setelah berlalu tiga bulan, lalu penghalang itu hilang, maka tidak ada tenggang waktu lebih dari satu bulan.
والوجه الثاني تستأنف المدة بعد ارتفاع العوارض أربعة أشهر
Pendapat kedua menyatakan bahwa masa (iddah) dimulai kembali setelah hilangnya halangan-halangan selama empat bulan.
توجيه الوجهين من قال بالبناء قال لم يطرأ ما يخرم الملك ولكن امتنع الاحتساب بالمدة إذ لا تمكين فإذا زال المانع فليس إلا استكمال المدة
Penjelasan kedua pendapat: Bagi yang berpendapat dengan dasar status tetap (al-bina’), mereka mengatakan bahwa tidak terjadi sesuatu yang membatalkan kepemilikan, namun perhitungan masa menjadi tidak berlaku karena tidak ada pemberian kesempatan (tamkin). Maka, apabila penghalang telah hilang, yang berlaku hanyalah melanjutkan sisa masa yang tersisa.
ومن قال بالوجه الثاني احتج بأن المضارة إنما تتحقق إذا تتابعت أزمانها ولم نجد لها مستنداً إلا امتناع الزوج وهذا يوجب افتتاح المدة
Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa mudarat itu baru benar-benar terjadi jika berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu tertentu, dan kami tidak menemukan alasan bagi hal itu kecuali penolakan dari pihak suami, sehingga hal ini mewajibkan dimulainya perhitungan masa (iddah).
ولو طرأت هذه الموانع بعد المدة فلا شك أنها لا تطالِب مع قيام المانع فإذا زال فهل يعود الطلب أم نبتدىء مدةً المذهبُ المبتوت أنها تعود إلى الطلب فإن المضارة قد تحققت وِلاءً في أربعة أشهر وليس كما لو طرأ المانع على المدة
Jika halangan-halangan ini muncul setelah berlalunya masa, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidak dapat menuntut selama halangan itu masih ada. Namun, jika halangan itu telah hilang, apakah tuntutan itu kembali atau kita memulai masa yang baru? Menurut mazhab yang kuat, tuntutan itu kembali, karena kemudaratan telah benar-benar terjadi secara berkesinambungan selama empat bulan, dan hal ini tidak sama dengan jika halangan itu muncul di tengah-tengah masa.
وأبعد بعض الضَّعفة فقال إذا قلنا تستأنف المدة وقد طرأ المانع على المدة فكذلك تستانف المدة إذا طرأ المانع بعد المدّة وزال
Sebagian orang yang lemah pendapatnya berpendapat secara berlebihan dengan mengatakan: Jika kami katakan bahwa masa (iddah) diulang dari awal ketika ada penghalang yang muncul di tengah masa tersebut, maka demikian pula masa (iddah) harus diulang dari awal jika penghalang itu muncul setelah masa tersebut selesai lalu hilang.
هذا عقد المذهب في الموانع القاطعة والمانعة
Ini adalah pembahasan mazhab mengenai hal-hal yang membatalkan dan yang menghalangi.
ونحن نذكر بعد ذلك قولاً غريباً حكاه صاحب التقريب وغلطاً للمزني في النقل ومباحثةً تتعلق بتعليل المذهب
Setelah itu, kami akan menyebutkan sebuah pendapat yang ganjil yang dikisahkan oleh penulis kitab at-Taqrīb, sebuah kekeliruan al-Muzanī dalam periwayatan, serta sebuah pembahasan yang berkaitan dengan penalaran (ta‘līl) mazhab.
فأما ما حكاه صاحب التقريب فقد نقل قولاً غريباً عن البويطي عن الشافعي رضي الله عنه أن الزوج إذا كان متمكناً من الوطء في ابتداء المدة ثم طرأ مرضُها بعد مضي زمان الإمكان فهذا لا يمنع احتساب المدة ولو كانت مريضة مع ابتداء المدة مرضاً مانعاً فلا تحتسب المدة حينئذ فإنه أنشأ اليمين وهو يصادف منها مانعاً فأما إذا عقد اليمين على المضارّة والتمكينُ مقترن فلا التفات على ما يطرأ
Adapun apa yang diriwayatkan oleh penulis at-Taqrīb, ia telah menukil pendapat yang ganjil dari al-Buwaiti dari asy-Syafi‘i ra., bahwa jika suami mampu melakukan hubungan suami istri pada awal masa (‘iddah), kemudian setelah masa kemampuan itu berlalu, istrinya jatuh sakit, maka hal itu tidak menghalangi perhitungan masa (‘iddah). Namun, jika istri sudah sakit sejak awal masa (‘iddah) dengan sakit yang menghalangi (hubungan), maka masa (‘iddah) tidak dihitung saat itu, karena suami mengucapkan sumpah (ila’) dalam keadaan ada penghalang dari pihak istri. Adapun jika sumpah (ila’) diucapkan dengan maksud menyakiti, sementara kemampuan (untuk berhubungan) ada, maka tidak diperhatikan apa yang terjadi setelahnya.
وهذا غريب لا تعويل عليه
Ini adalah hal yang ganjil dan tidak dapat dijadikan sandaran.
وأما غلط المزني فقد نقل أن المولي إذا حُبس لم تحسب عليه المدة زمانَ حبسه ثم اعترض فقال قد نص على أنه لو مرض مرضاً مانعاً حسب عليه المدة فزمان حبسه بذلك أولى
Adapun kesalahan al-Muzani, ia telah meriwayatkan bahwa jika seorang mu‘alla (suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) dipenjara, maka masa waktu tidak dihitung selama ia dipenjara. Kemudian ia mengkritik pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa telah dinyatakan secara nash bahwa jika ia sakit dengan sakit yang menghalangi, maka masa waktu tetap dihitung atasnya, maka masa ia dipenjara lebih utama untuk dihitung.
فقال الأصحاب الخطأ منك في النقل وإنما تعترض على نفسك وقد صادف الأصحاب نص الشافعي في كتبه جازماً بأن مدة حبس الزوج محسوبةٌ
Para ulama berkata, kesalahan itu berasal darimu dalam hal penukilan, sehingga sesungguhnya engkau sedang membantah dirimu sendiri. Sementara para ulama telah menemukan nash Imam Syafi‘i dalam kitab-kitabnya secara tegas bahwa masa penahanan suami itu diperhitungkan.
وأما المباحثة فلو قال قائل إذا تحقق المانع في الزوج فهلاّ عُذر فإن المعتمد إظهار الضرار وإذا تحقق المنع فيه لم تظهر المضارة
Adapun mengenai pembahasan, jika ada yang berkata: “Apabila penghalang telah nyata pada suami, mengapa tidak ada uzur?” Maka pendapat yang dipegang adalah menampakkan adanya mudarat, dan apabila pencegahan itu telah nyata pada dirinya, maka mudarat tersebut tidak tampak.
ولم يصر أحدٌ من الأصحاب إلى تصديق المزني في نقل نصِّ الحبس ونصِّ المرض على مناقضته والمصيرِ إلى إجراء القولين بالنقل والتخريج ولو قال قائل بذلك لكان قريباً ولكن التعويل على النقل
Tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama) yang membenarkan al-Muzani dalam meriwayatkan nash tentang penahanan dan nash tentang sakit atas dasar pertentangannya, serta mengambil sikap untuk menjalankan dua pendapat berdasarkan riwayat dan takhrij. Namun, seandainya ada yang berpendapat demikian, itu pun tidak jauh (dari kebenaran). Akan tetapi, yang dijadikan sandaran adalah riwayat.
والممكن في الانفصال عما ذكرناه أن الإيلاء صدر منه فإذا انقضت المدة والمانع قائم فلسنا نردده بين الوطء والطلاق بل نكتفي منه بالفيئة باللسان كما سنصفه على أثر ذلك فليفىء بلسانه فإن هذا لا امتناع فيه وإذا كان الإيلاء ينعقد والمدة تجري والمطلوب بالأَخَرة اللسانُ فلا تنقطع المدة على هذا القياس وطريان المانع على الزوج ولا يمتنع ابتداء المدة باقتران المانع به
Kemungkinan dalam perpisahan dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa ila’ telah terjadi darinya. Maka, apabila masa telah berlalu sementara penghalang masih ada, kami tidak mengharuskannya memilih antara berhubungan suami istri atau talak, melainkan kami cukupkan baginya dengan kembali (rujuk) melalui ucapan, sebagaimana akan kami jelaskan setelah ini. Maka, hendaklah ia kembali dengan lisannya, karena hal ini tidak ada halangan di dalamnya. Dan apabila ila’ telah sah dan masa berjalan, sedangkan yang pada akhirnya diminta adalah ucapan, maka masa tersebut tidak terputus menurut qiyās ini, dan munculnya penghalang pada suami tidak menghalangi permulaan masa dengan adanya penghalang tersebut bersamaan dengannya.
فأما إذا كان المانع فيها فليس من جهته أبداً مضارّة وليس تخلو محاولة الفصل بين المانعين عن إشكال لا يخفى دركه على الفهم المنصف
Adapun jika penghalang itu berasal dari pihaknya, maka sama sekali tidak ada mudarat darinya. Upaya untuk membedakan antara dua penghalang pun tidak lepas dari problematika yang tidak samar bagi pemahaman yang objektif.
وقد نجز تفصيل القول في الموانع
Telah selesai penjelasan secara rinci mengenai hal-hal yang menjadi penghalang.
الفصل الثاني
Bab Kedua
فأما الفصل الثاني وهو الكلام في المطالبة بعد انقضاء المدة
Adapun bagian kedua, yaitu pembahasan tentang tuntutan setelah berakhirnya masa waktu.
فإذا لم يكن مانع وأرادت المطالبةَ بعد المدة ورفعت زوجَها إلى القاضي وطالبته فإن فاء فذاك وإن امتنع ففي المسألة قولان أحدهما أن القاضي يطلق عليه زوجته إذا تحقق الامتناعُ منه إلا أن يبتدر هو فيطلق والسبب فيه أن الغرض دفع الضرار وحكم الشرع أن الممتنع عن الحق المتعيَّن عليه يُستوفى منه الحق بقهر الولاية إذا أمكن واستيفاءُ الفيئة منه غير ممكن وترك المرأة تحت المضارّة غيرُ ممكن وهذا لا وجه له فالطريق أن يطلقها ويخلّصها من دوام المضارّة وهذا أظهر القولين وهو المنصوص عليه في الجديد
Jika tidak ada halangan dan istri ingin menuntut setelah masa (iddah) berlalu, lalu ia membawa suaminya ke hadapan hakim dan menuntutnya, maka jika suaminya kembali (rujuk), itulah yang diharapkan. Namun jika ia menolak, dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa hakim boleh menceraikan istri dari suaminya jika benar-benar terbukti penolakan dari pihak suami, kecuali jika suami segera menceraikannya sendiri. Sebabnya adalah bahwa tujuan syariat adalah mencegah kemudaratan, dan hukum syariat menetapkan bahwa orang yang menolak hak yang wajib atasnya, maka hak tersebut diambil darinya dengan paksaan kekuasaan jika memungkinkan. Mengambil kembali (rujuk) dari suami tidak memungkinkan, dan membiarkan istri dalam keadaan terzalimi juga tidak mungkin. Maka tidak ada alasan lain, sehingga jalan keluarnya adalah hakim menceraikan dan membebaskan istri dari terus-menerus mengalami kemudaratan. Inilah pendapat yang lebih kuat dan merupakan pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru (qaul jadid).
والقول الثاني أن القاضي لا يطلق بل يضيق الأمر عليه بالحبس حتى يطلق
Pendapat kedua menyatakan bahwa hakim tidak menjatuhkan talak, melainkan mempersempit urusan suami dengan memenjarakannya hingga ia menjatuhkan talak.
ونصَّ الشافعي في هذا القول على أن القاضي لو أراد أن يعزره لكان له ذلك فإنه قادرٌ على التطليق وتخليص المرأة معاندٌ بترك الطلاق الذي يُدعى إليه
Syafi‘i menegaskan dalam pendapat ini bahwa jika hakim ingin menjatuhkan ta‘zir kepadanya, maka ia berhak melakukannya, karena hakim mampu menjatuhkan talak dan membebaskan perempuan dari suami yang membangkang dengan menolak talak yang diminta darinya.
قال المزني لم يذهب إلى هذا أحد من العلماء وبالغ في تزييفه واختار القول الأول وهو المختار
Al-Muzani berkata, “Tidak ada seorang pun dari para ulama yang berpendapat seperti ini.” Ia sangat menolak pendapat tersebut dan memilih pendapat pertama, dan itulah pendapat yang dipilih.
وقد ذكرنا أن المنصوص عليه في القديم في حكم المرجوع عنه
Kami telah menyebutkan bahwa pendapat yang dinyatakan dalam qaul qadīm mengenai hukum pendapat yang telah ditinggalkan.
ولو لم يمتنع الزوج عن الفيئة ولكن استمهل فقد اختلف أصحابنا في ذلك فقال بعضهم لا نمهله مَهَلاً معتبراً به مبالاة فنقول له قد أمهلناك أربعة أشهر فلا نزيدك أجلاً آخر ثم هؤلاء لا يكلّفونه القيام إليها على الفور فإن الفحل المتشوف إلى الوقاع قد لا توافقه الطبيعة في التسرّع إلى الوطء على هذا الحد ولكن يقال له شمّر وتهيأ ولك الفسحة ريثما تثوب بسطتُك وتنهض شهوتك وهذا قد يتأتى في نصف يوم
Jika suami tidak menolak untuk melakukan al-fi’ah (kembali berhubungan), tetapi meminta penundaan, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang hal itu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kita tidak memberinya penundaan yang dianggap sebagai kelonggaran, sehingga kita katakan kepadanya: “Kami telah memberimu waktu empat bulan, maka kami tidak akan menambah waktu lagi untukmu.” Namun, mereka tidak mewajibkan suami untuk segera melakukannya secara langsung, karena seorang lelaki yang sangat ingin berhubungan pun terkadang secara alami tidak bisa langsung melakukannya dengan cepat seperti itu. Akan tetapi, dikatakan kepadanya: “Bersiaplah dan persiapkan dirimu, dan kamu diberi kelonggaran sampai gairahmu kembali dan syahwatmu bangkit.” Hal ini bisa saja terjadi dalam setengah hari.
قال أصحابنا أو في يوم وعندنا أن الليلة تتبع اليوم فإن المدافعة إلى مجلس الحكم ليلاً غيرُ مألوفة فإن فاء فذاك وإن لم يفىء وفرعنا على الصحيح ابتدرنا الطلاق فإنه لو استمهل في اليوم الثاني لتوجّه هذا في الثالث
Para ulama kami berkata: atau pada hari itu, dan menurut kami malam mengikuti siang, karena menunda ke majelis pengadilan pada malam hari bukanlah sesuatu yang lazim. Jika ia kembali (rujuk), maka itu yang diharapkan. Namun jika tidak kembali, dan kami membangun hukum atas pendapat yang shahih, maka kami segera menetapkan terjadinya talak, sebab jika ia meminta penundaan pada hari kedua, maka hal yang sama akan berlaku pada hari ketiga.
هذا مسلك بعض الأصحاب
Ini adalah pendapat sebagian ulama.
ومن أصحابنا من قال إذا استمهل نُمهله ثلاثةَ أيام والاختلاف في ذلك يقرب من القولين في استتابة المرتد غير أنا وإن أمهلنا المرتد فلو ابتدره مبتدر وقتله لكان هَدَراً وإذا أمهلنا الزوج فلو ابتدر القاضي وطلّق قبل انقضاء المدة وهي ثلاثة أيام لم ينفذ طلاقه وهذا لا شك فيه إذا انقضت منه الفيئة في المدة بعد طلاق القاضي فأما إذا طلق القاضي ثم بان أنه لم يفىء في الأيام الثلاثة فالظاهر أن الطلاق لا ينفذ وفيه شيء
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa jika seseorang meminta penangguhan, maka kami memberinya waktu tiga hari. Perbedaan pendapat dalam hal ini hampir sama dengan dua pendapat dalam istitabah (permintaan taubat) bagi murtad. Namun, jika kami menangguhkan murtad dan ada seseorang yang segera membunuhnya, maka darahnya menjadi sia-sia (tidak ada diyat). Sedangkan jika kami menangguhkan suami, lalu hakim segera menjatuhkan talak sebelum habis masa penangguhan, yaitu tiga hari, maka talaknya tidak sah. Tidak diragukan lagi, jika masa penangguhan telah habis dan suami belum melakukan ruju‘ dalam masa tersebut setelah talak hakim, maka talak itu berlaku. Adapun jika hakim menjatuhkan talak, kemudian ternyata diketahui bahwa suami tidak melakukan ruju‘ dalam tiga hari itu, maka yang tampak adalah talaknya tidak sah, namun masih ada perbedaan pendapat dalam hal ini.
وهذا عسر التصوير فإن طلاق القاضي قد يستند إلى رأيه في أنْ لا إمهال فإذا كان كذلك ينفذ اتّباعاً للاجتهاد فإذا نفذ الطلاق حمل ذلك منه على القضاء به
Ini adalah gambaran yang sulit, karena talak oleh hakim bisa saja didasarkan pada pendapatnya bahwa tidak perlu penundaan. Jika demikian, maka talak itu berlaku mengikuti ijtihad. Jika talak itu telah berlaku, maka hal itu dianggap sebagai keputusan hakim atas talak tersebut.
وكل ذلك والزوج يَستمهِل فأما إذا أبدى الإباء فيبتدر القاضي ويطلّق
Dan semua itu terjadi sementara suami meminta penangguhan; adapun jika suami menunjukkan penolakan, maka hakim segera bertindak dan menjatuhkan talak.
ولو قالت المرأة لست أبغي الطلاق وإنما أطالب بالفيئة فالقاضي هل يطلق وهي لا تطلب الطلاق بل تأباه وتبغي أن يَحبس الزوجَ ليطأ فليس لها ذلك لأن توحيد جهة الطلب في الفيئة تكليفُ شطط فإن النفس قد لا تطاوع ولولا ذلك لثبت للمرأة مطالبةُ الزوج بحق المستمتع كما يثبت له مطالبتُها بالتمكين
Jika seorang wanita berkata, “Aku tidak menginginkan talak, melainkan aku menuntut al-fiyah (pemenuhan hak biologis),” maka apakah hakim boleh menjatuhkan talak sementara ia tidak meminta talak, bahkan menolaknya dan menginginkan agar suami ditahan (dipaksa) untuk menggaulinya? Maka ia tidak berhak atas hal itu, karena mempersatukan arah tuntutan dalam al-fiyah adalah beban yang berlebihan, sebab jiwa (seseorang) mungkin saja tidak mau menurut. Kalau bukan karena hal itu, niscaya wanita berhak menuntut suami untuk memenuhi hak bersenang-senang (jima‘), sebagaimana suami berhak menuntutnya untuk memberikan kesempatan (berjima‘).
فإذاً لا يصح منها الطَّلِبة إلا مردّدةً بين الوطء والطلاق وإذْ ذاك تكون مطالِبةً بممكن وهذا على ظهوره لا يضرّ ذكره فإنها طَلِبةٌ لا نظير لها في الشرع مبناها على التردد وإذا كان لا يصح منها الطلب إلا مردّداً فإذا امتنع الزوج من الفيئة تعيّن الطلاق فإن أبت فقد تركت الطلب ولا يتصوّر حبسٌ لأجل الفيئة المجردة قطّ
Maka, tidak sah baginya untuk menuntut kecuali dengan permintaan yang masih tergantung antara hubungan suami istri (jima‘) dan talak, dan pada saat itu ia menuntut sesuatu yang mungkin (dilakukan). Hal ini, meskipun tampak jelas, tidak mengapa disebutkan, karena ia adalah tuntutan yang tidak ada bandingannya dalam syariat, yang dasarnya adalah keraguan. Dan jika tidak sah baginya untuk menuntut kecuali dengan permintaan yang masih tergantung, maka apabila suami menolak melakukan hubungan suami istri, talak menjadi keharusan. Jika ia (istri) menolak, berarti ia telah meninggalkan tuntutan tersebut, dan tidak terbayangkan adanya penahanan (istri) hanya demi hubungan suami istri semata, sama sekali.
فهذا الذي ذكرناه بيان قاعدة المذهب حيث لا مانع طبعاً وشرعاً لا فيه ولا فيها
Inilah penjelasan kaidah mazhab sebagaimana yang telah kami sebutkan, selama tidak ada penghalang secara tabiat maupun syariat, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan.
فأما إذا فرض مانع فلا يخلو إما أن يكون المانع فيه أو فيها فإن كان المانع فيه لم يخل ذلك المانع من أن يكون طبيعياً أو شرعيّاً
Adapun jika diasumsikan adanya suatu penghalang, maka tidak lepas dari kemungkinan penghalang itu terdapat pada dirinya atau pada dirinya (perempuan). Jika penghalang itu terdapat pada dirinya (laki-laki), maka penghalang tersebut tidak lepas dari kemungkinan bersifat alami atau bersifat syar‘i.
فإن كان طبيعيّاً كالمرض وما في معناه فالطلبة تتوجه والمطلوب منه الفيئة باللسان ووجهه أن يعترف بالإساءة ويَعِدُ بالفيئة عند القدرة وسنشرح فيئة اللسان بعد هذا هذا فيئة اللسان فليأت بها أو يطلق أو تطلّقُ عليه زوجته ولو استمهل فلا مَهَلَ فإن اللسان منطلق بما ذكرناه وإن قال لست أنطق بموعد ولكن أخروني إلى الاقتدار فلا نسعفه ولا ينبغي أن يستبعد الفقيه مطالبته بفيئة اللسان فإن أداة الإيذاء اللسان
Jika sebabnya bersifat alami seperti sakit atau yang semakna dengannya, maka tuntutan tetap diarahkan kepadanya dan yang diminta darinya adalah fi’ah dengan lisan. Maksudnya adalah ia mengakui kesalahan dan berjanji akan kembali (berbuat baik) ketika mampu. Kami akan menjelaskan fi’ah dengan lisan setelah ini. Inilah fi’ah dengan lisan, maka hendaklah ia melakukannya, atau menceraikan, atau istrinya diceraikan atasnya. Jika ia meminta penundaan, maka tidak ada penundaan, karena lisan dapat mengucapkan apa yang telah kami sebutkan. Jika ia berkata, “Saya tidak mau berjanji, tetapi tunda sampai saya mampu,” maka kami tidak mengabulkannya. Tidak sepantasnya seorang faqih menganggap aneh tuntutan fi’ah dengan lisan, karena alat untuk menyakiti adalah lisan.
ثم إذا زال المانع حقّت الطّلبة بالفيئة نفسِها فلو استمهل إذ ذاك عادت التفاصيل في الاستمهال كما تقدم هذا جارٍ في مسائل يعني الإمهالَ ثلاثة أيام استتابة المرتد وقتل تارك الصلاة والفسخ بالإعسار بالنفقة والفسخ بسبب العُنة وخيار العتق والأخذ بالشفعة فهذه سبع مسائل والردُّ بالعيب على الفور بلا خلاف ولا مَهَلَ فيه مع التمكن
Kemudian, apabila penghalang telah hilang, maka tuntutan untuk kembali (kepada hukum asal) menjadi wajib dengan sendirinya. Jika pada saat itu seseorang meminta penangguhan, maka rincian tentang permintaan penangguhan kembali seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini berlaku dalam beberapa permasalahan, yaitu permintaan penangguhan selama tiga hari dalam istitabah (permintaan tobat) bagi murtad, pembunuhan terhadap orang yang meninggalkan salat, pembatalan nikah karena ketidakmampuan memberi nafkah, pembatalan nikah karena impotensi, hak memilih (khiyar) karena dimerdekakan, dan pengambilan hak syuf‘ah. Maka ini adalah tujuh permasalahan. Adapun pengembalian (barang) karena cacat harus segera dilakukan tanpa ada perbedaan pendapat dan tidak ada penangguhan di dalamnya jika memungkinkan.
هذا كله إذا كان المانع طبيعياً
Semua ini berlaku jika penghalangnya bersifat alami.
فأما إذا كان المانع شرعياً مثل أن يكون الزوج مُحرماً أو مظاهراً فلا نقنع بفيئة اللسان فإن الوطء ممكن حسّاً ولا نستجيز أن نقول جامعها والطِّلِبةُ بالطلاق المجرد لا سبيل إليها فالوجه أن نقول أنت صنعت على نفسك فإن جامعتها أسأت وأفسدت العبادة أو ارتكبت محرّماً في الظهار وإن تحرّجت وامتنعت طلقنا عليك زوجتك
Adapun jika penghalang itu bersifat syar‘i, seperti suami sedang berihram atau melakukan zihar, maka kami tidak cukup dengan kembali secara lisan, karena hubungan suami istri secara fisik masih mungkin dilakukan. Kami tidak membenarkan untuk mengatakan bahwa ia telah menggaulinya, dan permintaan cerai semata tidak dapat ditempuh. Maka yang tepat adalah kami katakan: engkau telah membuat masalah pada dirimu sendiri; jika engkau menggaulinya, engkau berbuat salah dan merusak ibadah atau melakukan keharaman dalam zihar, dan jika engkau merasa berat dan menahan diri, maka kami jatuhkan talak atas istrimu.
وسنعقد في الموانع الشرعية فصلاً في أثناء الباب إن شاء الله وهو ممثّل بمسألة الدجاجة واللؤلؤة كما مضى ذكرها في كتاب الغصب
Kami akan membahas tentang hal-hal yang menjadi penghalang secara syar‘i dalam satu bab tersendiri di tengah pembahasan ini, insya Allah, yang dicontohkan dengan permasalahan ayam betina dan mutiara sebagaimana telah disebutkan dalam Kitab Ghashb.
ولو كان يتحلل عن إحرامه في ثلاثة أيام ورأينا أن نمهله ثلاثة أيام فالوجه إسعافُه ولا طريق غيرُه
Jika ia dapat bertahallul dari ihramnya dalam tiga hari dan kita melihat bahwa sebaiknya kita memberinya waktu tiga hari, maka yang tepat adalah membantunya, dan tidak ada cara lain selain itu.
ثم إذا تحلل بعد الأيام الثلاثة فلهذا الطرف اختلاج في النفس يجوز أن يقال يترك حتى ينشطَ نشاطَه وتنهضَ شهوتُه ويجوز أن نقول إن لم يبتدر طَلَّق عليه زوجتَه إن طلبت وهذا فقيه حسن
Kemudian, apabila ia telah tahallul setelah tiga hari, maka bagi pihak ini terdapat gejolak dalam jiwa yang memungkinkan untuk dikatakan: dibiarkan saja hingga ia kembali bersemangat dan syahwatnya bangkit. Dan boleh juga dikatakan: jika ia tidak segera melakukannya, maka istrinya boleh menuntut cerai darinya jika ia memintanya. Ini adalah pendapat fiqh yang baik.
والفرق بين المانع الشرعي والطبيعي أن الوطء غير ممكن وجوداً مع الموانع الطبيعية وهو ممكن مع الموانع الشرعية والزوج منتسب إلى التضييق على نفسه بإدخال الظهار على الإيلاء أو بإدخال الإيلاء على الظهار ولا نأمن أن يكون جمعه بين الأمرين نكداً فإنهما جميعاًً متعلقان باختياره
Perbedaan antara penghalang syar‘i dan penghalang alami adalah bahwa hubungan suami istri secara fisik tidak mungkin terjadi dengan adanya penghalang alami, sedangkan masih mungkin terjadi dengan adanya penghalang syar‘i. Suami dianggap telah mempersempit dirinya sendiri dengan memasukkan zhihār ke dalam sumpah ila’ atau memasukkan ila’ ke dalam zhihār, dan kita tidak dapat memastikan bahwa penggabungan keduanya tidak akan membawa kesulitan, karena keduanya sama-sama berkaitan dengan pilihannya sendiri.
ولو كانت المرأة حائضاً بعد المدة لم تملك المطالبة ما استمر الحيض فإن المانع فيها محقق والحيض لا يتضمن قطعَ المدة وفاقاً فإنه في غالب العادات يكُرّ على المرأة مراراً في أربعة أشهر ولو كانت قاطعةً للمدة قطعاً يقتضي استئنافاً لما انقضت مدة الإيلاء غالباً على ذات أقراء وإن كانت تقطع ولا تقتضي استئنافاً وذلك غالب فيهن لوقع التعرض له في الكتاب أو السنة فإن جرى ذكر أربعة أشهر من غير تعرض للحيض دلّ على أنه لا اعتبار به في المدة والحيض لا يقطع تتابع صيام الشهرين فلأن لا يقطع تتابع الأربعة الأشهر أوْلى فإن المعتمد في أنه لا يقطع تتابع صيام الشهرين أنه يغلب وجودُ الحيض في مدة الشهرين
Jika seorang wanita mengalami haid setelah berakhirnya masa (iddah), ia tidak berhak menuntut selama haid itu masih berlangsung, karena penghalang pada dirinya telah nyata, dan haid tidak memutus masa iddah menurut kesepakatan (ijmā‘). Sebab, dalam kebiasaan umumnya, haid akan kembali berulang pada wanita beberapa kali dalam empat bulan. Jika haid itu memutus masa iddah secara pasti, maka hal itu menuntut dimulainya kembali masa iddah setelah masa ila’ berakhir, yang umumnya terjadi pada wanita yang memiliki masa suci (qurū’). Namun, jika haid itu memutus tetapi tidak menuntut dimulainya kembali, maka hal itu lebih sering terjadi pada mereka, karena telah disebutkan dalam kitab atau sunnah. Jika disebutkan empat bulan tanpa menyebutkan haid, maka itu menunjukkan bahwa haid tidak diperhitungkan dalam masa iddah. Haid tidak memutus kesinambungan puasa dua bulan berturut-turut, maka lebih utama lagi jika haid tidak memutus kesinambungan empat bulan. Adapun dasar bahwa haid tidak memutus kesinambungan puasa dua bulan adalah karena umumnya haid terjadi dalam rentang waktu dua bulan tersebut.
ولو كانت مُحْرمةً أو صائمة صوم فرض وذكرت ذلك لنا وأرادت مطالبة الزوج بالفيئة أو الطلاق فليس لها ذلك اعتباراً بالحيض
Jika seorang istri sedang dalam keadaan ihram atau sedang berpuasa wajib, lalu ia mengabarkan hal itu kepada kami dan ingin menuntut suami untuk melakukan fi’ah atau meminta talak, maka ia tidak berhak atas hal tersebut, sebagaimana halnya wanita yang sedang haid.
وكذلك لو كان فيها مانع طبيعي فلا معنى لمطالبتها ولا تملك المطالبة والمانع فيها بفيئة اللسان
Demikian pula, jika terdapat penghalang alami pada dirinya, maka tidak ada makna untuk menuntutnya dan ia tidak memiliki hak untuk menuntut, sedangkan penghalang itu berasal dari ketidakmampuan berbicara.
ثم قال ولو كان بينها وبينه مسيرة أربعة أشهر إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Meskipun antara dia dan suaminya terdapat jarak perjalanan empat bulan,” dan seterusnya.
إذا غاب المولي وكان بينه وبين المرأة مسيرةَ أربعة أشهر وكان مع الزوج وكيل من جهة المرأة بالخصومة فلما انقضت أربعةُ أشهر والغيبةُ مانع فيه فإنه أنشأها إذا غاب عنها فالزوج مطالب بالفيئة باللسان عند مسألة الوكيل فإن فاء باللسان وأخذ في المسير نحوها فذاك وإن لم يأخذ في السير حتى مضى زمان الإمكان فالحاكم يطلّق عليه على القول الجديد بمسألة الوكيل أو يضيق الأمر عليه حتى يطلق بنفسه على القول الآخر
Jika suami yang melakukan ila’ pergi dan jarak antara dia dengan istrinya sejauh perjalanan empat bulan, sementara bersama suami ada seorang wakil dari pihak istri untuk mengajukan gugatan, maka ketika empat bulan telah berlalu dan kepergian suami menjadi penghalang, ila’ itu tetap berlaku jika suami pergi meninggalkan istrinya. Maka suami dituntut untuk melakukan ruju’ secara lisan ketika ditanya oleh wakil. Jika ia melakukan ruju’ secara lisan dan mulai melakukan perjalanan menuju istrinya, maka itu sudah cukup. Namun, jika ia tidak mulai melakukan perjalanan hingga waktu yang memungkinkan telah berlalu, maka hakim dapat menjatuhkan talak atasnya menurut pendapat baru dengan permintaan dari wakil, atau hakim dapat mempersempit urusannya hingga suami itu sendiri menjatuhkan talak menurut pendapat lain.
وإذا انقضى زمان الإمكان وتوجّه الطلب من الوكيل فقال الزوج أبتدىء الآن في المسير فلا يَلتفت إلى قوله ويَحبسه أو يُطلِّق عليه
Apabila masa kemungkinan telah berakhir dan tuntutan telah diajukan oleh wakil, lalu suami berkata, “Sekarang aku akan mulai berangkat,” maka ucapannya tidak dianggap, dan ia dapat dipenjara atau dijatuhkan talak atasnya.
وقد نجز الكلام في الفصلين فصل الموانع وفصل المطالبة وأدرجنا في أثناء ما ذكرناه مسائل من الباب وتنبيهاتٍ على غلطات المزني في النقل
Pembahasan pada dua bagian, yaitu bagian tentang penghalang dan bagian tentang tuntutan, telah selesai. Di sela-sela penjelasan yang telah kami sampaikan, kami juga memasukkan beberapa permasalahan dari bab ini serta penjelasan mengenai kekeliruan al-Muzani dalam periwayatan.
وكان شيخي يقول الصوم منها لا يقطع المدّة ولا يمنع الاحتساب
Dan guruku berkata, puasa dari hal-hal tersebut tidak memutus masa (iddah) dan tidak menghalangi perhitungan (masa iddah).
وهذا فيه نظر فإن كانت تصوم تطوعاً فالأمر كذلك فإن الزوج يغشاها ولا يبالي بصومها وإن كانت تصوم الفرض في رمضان وهو من الأشهر فهو محسوب فإن في الليالي مقنعاً ولا بدّ لها من الصوم
Hal ini perlu ditinjau kembali; jika ia berpuasa sunnah, maka keadaannya demikian, yaitu suami boleh menggaulinya dan tidak perlu memperhatikan puasanya. Namun jika ia berpuasa wajib di bulan Ramadan, yang merupakan salah satu bulan yang ditentukan, maka puasanya tetap dihitung, karena pada malam harinya sudah cukup baginya, dan ia tetap wajib berpuasa.
ولو كان عليها قضاء والقضاء على التأخير فإذا أرادت تعجيله من غير إذن الزوج فهل لها ذلك فعلى خلافٍ بين الأصحاب وكذلك لو أرادت المرأة إقامة الصلاة في أول الوقت والرجل يبغي منها مستمتعاً في ذلك الوقت ففي المسألة اختلاف
Jika seorang wanita memiliki kewajiban qadha dan qadha itu boleh ditunda, lalu ia ingin menyegerakannya tanpa izin suami, apakah ia boleh melakukannya? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Demikian pula jika seorang wanita ingin melaksanakan shalat di awal waktu, sementara suaminya menginginkan untuk mendapatkan kenikmatan darinya pada waktu itu, maka dalam masalah ini juga terdapat perbedaan pendapat.
وكذلك لو كانت مستطيعةً فأرادت أن تحج حجة الإسلام والزوج يبغي أن تؤخر ففي المسألة اختلاف
Demikian pula, jika seorang istri telah mampu lalu ingin menunaikan haji Islam, sementara suaminya menghendaki agar ia menunda, maka dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat.
والمسائل متناظرة فمن اعتبر رضا الزوج تمسك بأنه لا حرج عليها في التأخير وحق الزوج مُضيِّق عليها ومن جوّز لها التعجيل قال النكاح للأبد والموت منتظر ولا ثقة بالعمر
Permasalahan ini saling berkaitan; maka siapa yang mensyaratkan kerelaan suami berpegang pada alasan bahwa tidak ada keberatan baginya untuk menunda, sedangkan hak suami bersifat membatasi dirinya. Sementara siapa yang membolehkan percepatan (iddah) beralasan bahwa pernikahan itu untuk selamanya, kematian pasti akan datang, dan tidak ada jaminan umur.
فإن قلنا ليس لها أن تصوم دون إذنه فإذا أخذت تصوم فهي كالمتطوّعة وقد سبق الكلام فيها
Jika kami katakan bahwa ia (istri) tidak boleh berpuasa tanpa izin suaminya, maka apabila ia tetap berpuasa, keadaannya seperti orang yang melakukan puasa sunnah, dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
وإن قلنا لها التعجيل ففي المسألة احتمال فإنها ممتنعة على زوجها في شطر الزمان باختيارها والأظهر أنه لا أثر للصوم فإنا إذا جوزنا لها أن تبتدر فليست على رتبة الناشزة وفي الليالي مضطرب
Jika kita mengatakan bahwa istri boleh mempercepat (iddah), maka dalam masalah ini terdapat kemungkinan, karena ia menolak suaminya pada sebagian waktu atas pilihannya sendiri. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa puasa tidak berpengaruh, sebab jika kita membolehkannya untuk segera menyelesaikan (iddah), maka ia tidak berada pada kedudukan wanita nusyuz. Adapun pada malam hari, keadaannya tidak menentu.
وإذا نشزت فنشوزها من الموانع القاطعة للمدة ولو كان الزوج قادراً على ردّها قهراً فلا اعتبار بذلك بل المنع ثابت والضرار مندفع على الوجه الذي فرضناه وبنينا الباب عليه
Dan jika istri melakukan nusyūz, maka nusyūz tersebut menjadi salah satu penghalang yang memutus masa (iddah), meskipun suami mampu mengembalikannya secara paksa, hal itu tidak dianggap, melainkan pencegahan tetap berlaku dan mudarat pun terhindarkan sebagaimana yang telah kami tetapkan dan menjadi dasar pembahasan bab ini.
ثم ذكر الشافعي أنهما لو اختلفا في الإصابة فزعم الزوج أنه أصابها وأنكرت المرأة فالقول قول الزوج
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa jika keduanya berselisih tentang terjadinya hubungan, lalu suami mengaku bahwa ia telah menggaulinya sementara istri mengingkarinya, maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan suami.
وهذا مما ذكرناه في كتاب النكاح ولكن نعيد ذلك الأصلَ لمزيد فائدة فنقول مهما وقع النزاع في إثبات الإصابة ونفيها فالقول قول النافي إلا في مسائل إحداها إذا ضربت مدة العنة فلما انقضت زعم الزوج أني وطِئتُها أو قال في ابتداء الأمر أنا الآن عنين ولكن قبل هذا وطئتها فلا تضربوا المدة فالقول قول الزوج مع يمينه وقد قدمنا هذا وعللناه
Hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab Nikah, namun kami ulangi kembali prinsip tersebut untuk menambah manfaat. Kami katakan: kapan pun terjadi perselisihan dalam menetapkan terjadinya persetubuhan atau menafikannya, maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menafikan, kecuali dalam beberapa masalah. Salah satunya adalah apabila telah ditetapkan masa ‘innah (impotensi), lalu setelah masa itu berakhir, suami mengaku bahwa ia telah menyetubuhinya, atau ia berkata pada awal perkara: “Sekarang aku adalah seorang yang impoten, tetapi sebelum ini aku telah menyetubuhinya, maka jangan tetapkan masa tersebut.” Dalam hal ini, yang dipegang adalah pernyataan suami dengan sumpahnya. Hal ini telah kami kemukakan sebelumnya beserta alasannya.
ومن المسائل اختلاف الزوج المولي مع المرأة وهذه مسألة الكتاب فإذا جعلنا القول قولَ الزوج في إثبات الوطء مع يمينه فإن حلف على ذلك ثم إن الزوج طلقها وأراد ارتجاعها فإنه قد وطئها بزعمه
Di antara permasalahan adalah perselisihan antara suami yang melakukan ila’ dengan istrinya, dan inilah permasalahan yang dibahas dalam kitab. Jika kita menetapkan bahwa pendapat suami diterima dalam penetapan terjadinya hubungan suami istri dengan sumpahnya, lalu ia bersumpah atas hal itu, kemudian suami menceraikannya dan ingin merujuknya kembali, maka menurut pengakuannya, ia telah melakukan hubungan suami istri dengannya.
قال ابن الحداد ليس له أن يرتجعها فإنا وإن جعلنا القول قولَه في إثبات الوطء ابتداءً فهذه خصومة أخرى وقضية أخرى فالقول في ذلك قولها مع يمينها فتحلف وتنتفي الرجعةُ عنها كما لو كانت الخصومة ابتداء في الرجعة فإن الزوج لو طلق امرأته ثم زعم أنه كان وطئها فيرتجعها وأبت المرأة فالقول قولها فإنه لا يلزمها عِدّةٌ لقول الزوج فإذا لم تثبت العدةُ لم تثبت الرجعة
Ibnu al-Haddad berkata, “Suami tidak berhak merujuk istrinya kembali. Meskipun kami menetapkan bahwa pernyataan suami diterima dalam pembuktian terjadinya hubungan suami istri pada awalnya, namun ini adalah perselisihan dan perkara yang berbeda. Dalam hal ini, pernyataan istri yang diterima disertai sumpahnya. Maka ia bersumpah dan gugurlah hak rujuk darinya, sebagaimana jika perselisihan sejak awal terjadi dalam masalah rujuk. Jika seorang suami menceraikan istrinya lalu mengaku telah menggaulinya dan ingin merujuknya, sementara sang istri menolak, maka pernyataan istri yang diterima. Sebab, istri tidak wajib menjalani masa ‘iddah hanya karena klaim suami. Jika ‘iddah tidak terbukti, maka rujuk pun tidak sah.”
فإن قيل هذا يُبطل معوَّلكم في أن الأصل بقاء النكاح وعليه يتم تصديق الزوج في مسألة العُنّة والإيلاء فإن كان الأصل عدمَ الوطء قلنا إنما يصدق الزوج والنكاحُ قائم وإذا طلق فالطلاق يحل النكاحَ وهو في إثبات المستدرك مدعٍ
Jika dikatakan bahwa hal ini membatalkan sandaran kalian bahwa hukum asal adalah tetapnya pernikahan, dan atas dasar itulah suami dibenarkan dalam masalah ‘innah dan ila’, maka jika hukum asalnya adalah tidak terjadi hubungan suami istri, kami katakan: Suami hanya dibenarkan selama pernikahan masih berlangsung. Jika ia menceraikan, maka talak itu membatalkan pernikahan, dan dalam menetapkan perkara yang diklaim setelahnya, ia menjadi pihak yang mengklaim.
قال الشيخ من أصحابنا من ذكر في صورة ابن الحداد وجهاً أن الرجعة تثبت فإنا صدقنا الزوج في إثبات الوطء في خصومةٍ وقوّينا جانبه واعتضد هذا أيضاًً باستبقاء النكاح وهذا ضعيف لا تعويل عليه
Seorang syekh dari kalangan ulama kami menyebutkan dalam kasus Ibnu al-Haddad suatu pendapat bahwa ruju‘ dapat ditetapkan, karena kami membenarkan suami dalam penetapan terjadinya hubungan badan dalam suatu perselisihan dan kami menguatkan posisinya, dan hal ini juga didukung dengan tetapnya status pernikahan. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran.
والمسألة الثالثة أن يخلو بها وقلنا الخلوة لا تقرر المهر فإذا ادّعت الوطء فهل نصدقها فيه قولان ذكرناهما
Masalah ketiga adalah apabila suami berduaan dengannya, dan kami katakan bahwa khalwat tidak menetapkan mahar. Maka jika istri mengaku telah terjadi hubungan badan, apakah kita membenarkannya? Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan.
والمسألة الرابعة أن تدعي المرأةُ الوطءَ من غير خلوة تبغي تقريرَ المهر فإذا أنكر الزوج فالقول قول الزوج في نَفَي الوطء فلو أتت بولدٍ لزمان يلحق الزوجَ فإنْ نَفَى الولدَ باللعان فالذي سبق من نفي الوطء على ما سبق والقول قول الزوج كما مضى وإن لم ينفه باللعان ولحقه الولد فهل نقول الآن القول قول المرأة إذ قد ظهر تقدم وطء منه بلحوق الولد
Masalah keempat adalah ketika seorang wanita mengaku telah digauli tanpa adanya khalwat, dengan tujuan untuk menetapkan mahar. Jika suami mengingkari, maka yang dipegang adalah pernyataan suami dalam menafikan terjadinya hubungan badan. Namun, jika wanita tersebut melahirkan anak pada waktu yang memungkinkan anak itu dinasabkan kepada suami, lalu suami menafikan anak itu dengan li‘ān, maka penafian hubungan badan tetap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dan pernyataan suami yang dipegang sebagaimana telah lalu. Tetapi jika suami tidak menafikan anak itu dengan li‘ān dan anak tersebut dinasabkan kepadanya, apakah sekarang kita mengatakan bahwa pernyataan wanita yang dipegang, karena telah tampak adanya hubungan badan dari suami dengan kelahiran anak tersebut?
ما نقله المزني أنا نجعل الآن القولَ قولَها في إثبات الوطء مع يمينها فتحلف وتستحق المهر كَمَلاً
Apa yang dinukil oleh al-Muzani: Sekarang kami menetapkan bahwa perkataan istri diterima dalam penetapan terjadinya hubungan suami istri dengan sumpahnya, maka ia bersumpah dan berhak mendapatkan mahar secara penuh.
قال الشيخ رضي الله عنه نقل الربيع ما نقله المزني ونقل قولاً آخر أن القول قول الزوج فإنها قد تَحْبَل من استدخالٍ من غير وطء
Syekh raḥimahullāh berkata: Al-Rabi‘ meriwayatkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Muzani, dan ia juga meriwayatkan pendapat lain bahwa yang dijadikan pegangan adalah perkataan suami, karena bisa saja seorang wanita hamil akibat memasukkan (mani) dari selain hubungan badan.
واختلف أصحابنا على طرق فمنهم من قال في المسألة قولان ومنهم من قطع بما نقله المزني وزيف القول الثاني وجعله من تخريج الربيع ومنهم من قال المسألة على حالين حيث قال القول قولها أراد إذا نشأ الاختلاف بعد الولد ولحوقه فالقول قولها إذ الظاهر معها والاستدخال بعيد وإن اختلفا قبل الولد وظهور أمره وحلّفنا الزوجَ فقد تمت الخصومة ونفذت فلا نجعل القول قولها
Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi beberapa pendapat. Sebagian dari mereka mengatakan ada dua pendapat dalam masalah ini. Sebagian lagi memastikan pendapat yang dinukil oleh al-Muzani dan melemahkan pendapat kedua serta menganggapnya sebagai hasil istinbat ar-Rabi‘. Ada juga yang mengatakan bahwa masalah ini terbagi menjadi dua keadaan: ketika dikatakan “pendapat dipegang oleh istri”, yang dimaksud adalah jika perselisihan muncul setelah adanya anak dan anak tersebut telah diakui nasabnya, maka pendapat dipegang oleh istri karena zhahir berpihak kepadanya dan kemungkinan adanya istidkhal (memasukkan benih dari luar) sangat jauh. Namun, jika keduanya berselisih sebelum adanya anak dan sebelum jelasnya perkara anak tersebut, lalu kami telah meminta sumpah kepada suami, maka perselisihan telah selesai dan telah diputuskan, sehingga tidak lagi menjadikan pendapat dipegang oleh istri.
ومن سلك طريقة القولين أجراهما في الحالين قال الشيخ الأصح من ذلك كله القطع بما نقله المزني في الأحوال كلها
Dan barang siapa yang mengikuti metode dua pendapat, maka ia menjalankan keduanya dalam dua keadaan tersebut. Imam asy-Syaikh berkata: yang paling sahih dari semua itu adalah keputusan tegas sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani dalam seluruh keadaan.
ثم ذكر المزني أنه يخلص عن عهدة الإيلاء بتغييب الحشفة وهذا كما ذكرناه من قبل وإن كانت المرأة بكراً فلا بد من إزالة العُذرة وهي تحصل بتغييب الحشفة لا محالة فلو ادعى العجز عن الافتضاض كلفناه الفيء باللسان في الحال وضربنا له مدة العُنة ثم أجرينا حكم العِنِّين كما مضى مفصلاً
Kemudian al-Muzani menyebutkan bahwa seseorang terbebas dari tanggungan sumpah ila’ dengan memasukkan hasyafah (kepala zakar). Ini sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Jika perempuan itu masih perawan, maka harus dihilangkan keperawanannya, dan hal itu terjadi dengan memasukkan hasyafah, sudah pasti. Jika ia mengaku tidak mampu melakukan deflorasi, maka kami mewajibkan ia melakukan rujuk (al-fay’) secara lisan saat itu juga, lalu kami tetapkan baginya masa ‘innah (impotensi), kemudian kami berlakukan hukum tentang laki-laki ‘innin sebagaimana telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.
ثم قال لو أصابها وهي مُحْرِمة إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Jika ia menyetubuhinya sementara ia dalam keadaan ihram, dan seterusnya.”
إذا أصاب الرجل امرأته وهي مُحْرِمة وكان قد آلى فقد حصلت الفيئة ولا نظر إلى انتسابه إلى العصيان بعد حصول الوطء وانحلال اليمين
Jika seorang laki-laki menggauli istrinya yang sedang ihram, padahal ia telah melakukan ila’, maka telah terjadi ruju’ (fi’ah), dan tidak dipertimbangkan lagi keterkaitannya dengan perbuatan maksiat setelah terjadinya hubungan suami istri dan lepasnya sumpah.
فصل
Bab
قال ولو آلى ثم جن إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika seseorang melakukan ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri) kemudian ia menjadi gila, dan seterusnya.”
إذا آلى الرجل ثم جن ووطىء في حالة الجنون فالمنصوص عليه أنه لا يحنث فلا كفارة عليه وخُرِّج فيه قولٌ آخر أن الكفارة تلزمه من حِنْث الناسي وهذا له التفات على أن المجنون إذا قتل صيداً في الحرم فهل يلتزم الفدية وفيه قولان
Jika seorang laki-laki melakukan ila’ lalu ia menjadi gila dan berhubungan badan dalam keadaan gila, maka menurut pendapat yang ditegaskan, ia tidak dianggap melanggar sumpah sehingga tidak ada kewajiban kafarat atasnya. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kafarat tetap wajib baginya sebagaimana orang yang melanggar sumpah karena lupa. Hal ini berkaitan dengan perbedaan pendapat tentang apakah orang gila yang membunuh hewan buruan di tanah haram wajib membayar fidyah, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.
ومما نذكره أن المولي إذا أُكره على الوطء فوطىء مكرهاً قال الشيخ في وجوب الكفارة على المكره قولان مشهوران فإن قلنا إن الكفارة تلزمه فلا شك في حنثه وانحلال يمينه فإن قلنا إن الكفارة لا تلزمه فهل نقول يحنث وينحل يمينه فعلى وجهين ذكرهما رضي الله عنه وهذا الترتيب يجري في المجنون فإن ألزمناه الكفارة فقد انحلت اليمين وإن قلنا لا تلزمه الكفارة فهل تنحل اليمين حتى إذا أفاق فوطىء لا تلزمه الكفارة فعلى وجهين
Perlu disebutkan bahwa apabila seorang mūlā (suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) dipaksa untuk melakukan hubungan suami istri lalu ia melakukannya dalam keadaan terpaksa, menurut Syekh terdapat dua pendapat masyhur mengenai kewajiban kafārah atas orang yang dipaksa tersebut. Jika kita berpendapat bahwa kafārah wajib baginya, maka tidak diragukan lagi bahwa sumpahnya batal dan yamin-nya terlepas. Namun jika kita berpendapat bahwa kafārah tidak wajib baginya, apakah kita mengatakan sumpahnya batal dan yamin-nya terlepas? Maka ada dua pendapat yang disebutkan oleh beliau rahimahullah. Urutan ini juga berlaku pada orang gila; jika kita mewajibkan kafārah kepadanya, maka yamin-nya terlepas. Namun jika kita berpendapat kafārah tidak wajib baginya, apakah yamin-nya terlepas sehingga ketika ia sadar lalu melakukan hubungan suami istri, kafārah tidak wajib baginya? Maka ada dua pendapat.
ولا يختص ما ذكرناه بالإيلاء ولكن كل حالفٍ وُجد منه المحلوف عليه على وجه الإكراه وقلنا لا يلتزم الكفارة فهل تنحل يمينه فعلى الخلاف الذي ذكرناه
Apa yang telah kami sebutkan tidak khusus berlaku pada kasus ila’, tetapi setiap orang yang bersumpah, lalu perbuatan yang disumpahkan itu terjadi darinya dalam keadaan terpaksa, dan kami katakan bahwa ia tidak wajib membayar kafarat, maka apakah sumpahnya menjadi batal? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan.
فإذا تمهد هذا رجعنا إلى حكم الإيلاء في المكره فإن قلنا بانحلال اليمين ولا كفارة فقد ارتفع حكم الإيلاء وإن قلنا ما انحلت بما جرى حتى لو وطىء مرة أخرى يلزمه الكفارة فهل يعود حكم الإيلاء والطلب فعلى وجهين وهما يجريان في المجنون إذا قلنا لا تنحل اليمين بما جرى في الجنون
Jika hal ini telah dijelaskan, kita kembali kepada hukum ila’ pada orang yang dipaksa. Jika kita berpendapat bahwa sumpahnya batal dan tidak ada kafarat, maka hukum ila’ pun gugur. Namun, jika kita berpendapat bahwa sumpahnya tidak batal dengan apa yang terjadi, sehingga jika ia menggauli istrinya lagi maka ia wajib membayar kafarat, maka apakah hukum ila’ dan tuntutannya kembali berlaku? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan kedua pendapat ini juga berlaku pada orang gila jika kita berpendapat bahwa sumpahnya tidak batal dengan apa yang terjadi saat ia dalam keadaan gila.
توجيه الوجهين من قال يعود الطلب قال لأنّ اليمين قائمة ولو وطىء الرجل بعد أربعة أشهر التزم الكفارة ومن قال لا يعود الطلب احتج بأن الضرار اندفع بالوقاع الذي جرى فكأن الإيلاء صار منحلاً في حقها وإن كانت اليمين قائمة
Penjelasan kedua pendapat: Bagi yang mengatakan bahwa tuntutan kembali, alasannya adalah karena sumpah masih tetap berlaku, dan jika seorang laki-laki berhubungan setelah empat bulan, ia tetap wajib membayar kafarat. Sedangkan yang mengatakan bahwa tuntutan tidak kembali, beralasan bahwa bahaya (dharar) telah hilang dengan terjadinya hubungan (jimā‘) tersebut, sehingga seolah-olah ilā’ telah batal baginya, meskipun sumpah masih tetap berlaku.
قال الشيخ وهذا الذي ذكرناه في صورة الإكراه مفرّع على المذهب الصحيح وهو أن الإكراه على الوطء يُتصور
Syekh berkata: Apa yang telah kami sebutkan mengenai bentuk pemaksaan ini didasarkan pada mazhab yang benar, yaitu bahwa pemaksaan dalam hubungan suami istri itu dapat dibayangkan terjadi.
ومن أصحابنا من قال لا يتصور الإكراه على الوطء ولا يوجد الوطء إلا من مختار وهذا القائل يقول من حُمل على الزنا بالتخويف بالقتل فأتى بما حمل عليه لزمه الحد
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak mungkin terjadi ikrah (paksaan) dalam hubungan seksual, dan perbuatan tersebut hanya terjadi dari orang yang memilih secara sadar. Pendapat ini mengatakan bahwa siapa pun yang dipaksa melakukan zina dengan ancaman dibunuh, lalu melakukan apa yang dipaksakan kepadanya, maka ia tetap dikenai had.
وهذا غريب في المذهب وإن ذهب إليه أبو حنيفة ووجهه على بعده أن المكره هو المسلوب الاختيار الذي لم يبق له أَرَب إلا الخلاص ومن كان كذلك لم تنبسط شهوته ولم تطاوعه نفسه وقد ظهر أن المرعوب لا ينتشر والمنتشر إذا تداخله خوف فَتَر
Ini adalah hal yang ganjil dalam mazhab, meskipun Abu Hanifah berpendapat demikian. Alasannya, meskipun lemah, adalah bahwa orang yang dipaksa (mukrah) adalah orang yang kehilangan kehendak, yang tidak memiliki keinginan lain kecuali untuk melepaskan diri. Seseorang yang demikian, syahwatnya tidak bangkit dan dirinya tidak mau menurut. Telah jelas bahwa orang yang ketakutan tidak dapat ereksi, dan jika seseorang yang ereksi kemudian diliputi rasa takut, maka ereksinya akan melemah.
ثم زاد العراقيون في مسألة الجنون تفريعاً فقالوا إذا قلنا لو وطىء في جنونه لم تنحل اليمين وإذا أفاق ووطىء لزمته الكفارة وفرّعنا على أن حكم الطلب يعود فلو وطىء في جنونه ثم أفاق على الفور فهل نقول الطَّلِبة تتوجه في الحال أم نضرب مدّة ونقول إذا مضت تجددت الطَّلِبة بعدها فعلى وجهين أقيسهما أنا لا نعتبر مدة أصلاً فإنه لم يتخلل طلاقٌ ولا رِدّة والطَّلِبةُ ثابتةٌ وقد انقضت المدة
Kemudian, para ulama Irak menambahkan rincian dalam masalah kegilaan, mereka berkata: Jika kita mengatakan bahwa jika seseorang berhubungan badan dalam keadaan gila, sumpahnya tidak batal, dan jika ia sadar lalu berhubungan badan, maka ia wajib membayar kafarat. Kami juga merinci bahwa hukum tuntutan (ṭalabah) kembali berlaku. Jika ia berhubungan badan saat gila lalu segera sadar, apakah kita mengatakan tuntutan itu langsung berlaku saat itu juga, ataukah kita menetapkan suatu jangka waktu dan mengatakan bahwa jika waktu itu telah berlalu, tuntutan itu diperbarui setelahnya? Maka ada dua pendapat. Menurut pendapat yang aku anggap lebih kuat, kita sama sekali tidak mempertimbangkan adanya jangka waktu, karena tidak ada talak atau riddah yang terjadi di antara keduanya, dan tuntutan itu tetap berlaku serta masa waktunya telah berlalu.
والوجه الثاني أنه لا بد من مضي مدة لأنه قد فاء ظاهراً فإن لم يؤثِّر ما صدر منه في الخروج من عهدة الطلب فلا أقل من أن يستفيد الزوج به مَهَلاً
Dan alasan kedua adalah bahwa harus ada jeda waktu, karena bisa jadi suami telah melakukan rujuk secara lahiriah. Jika apa yang dilakukan suami tidak berpengaruh dalam membebaskannya dari tuntutan, maka setidaknya suami mendapatkan tenggang waktu karenanya.
وممّا يتعلق بما نحن فيه أن الرجل إذا آلى عن امرأته فجاءت المرأة في نومه وصادفته منتشراً فنزلت عليه واستدخلت ذكره ولا عِلْم له بما جرى فالذي نقطع به أن اليمين لا تنحلّ فإن الذي جرى ليس بوطء والمحلوف عليه الوطءُ وليس هذا كوطء المكره والوطءِ في حالة الجنون
Terkait dengan pembahasan kita, apabila seorang laki-laki melakukan ila’ terhadap istrinya, lalu istrinya datang saat ia sedang tidur dan mendapati ia dalam keadaan ereksi, kemudian ia menaiki suaminya dan memasukkan zakarnya tanpa sepengetahuan suaminya atas apa yang terjadi, maka yang kami pastikan adalah sumpah ila’ tidak batal. Sebab, yang terjadi bukanlah jima‘, sedangkan yang menjadi objek sumpah adalah jima‘. Kejadian ini tidak sama dengan jima‘ orang yang dipaksa atau jima‘ dalam keadaan gila.
ورأيت في بعض التعاليق عن شيخي أن من أصحابنا من جعل هذا كالوطء في حالة الجنون حتى يُخرّجَ فيه الخلافُ المقدم في انحلال اليمين
Saya melihat dalam beberapa catatan dari guruku bahwa sebagian ulama kami menyamakan hal ini dengan hubungan suami istri dalam keadaan gila, sehingga perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya tentang batalnya sumpah juga dapat diterapkan di dalamnya.
وهذا غلط صريح لا يجوز التعويل عليه
Ini adalah kesalahan yang nyata dan tidak boleh dijadikan sandaran.
فإذا بان ذلك فلو وطىء في يقظته لزمته الكفارة وهل لها مطالبة الزوج فعلى وجهين كالوجهين في المجنون إذا قلنا وطؤه في الجنون لا يحل اليمين
Jika telah jelas demikian, maka jika seseorang melakukan hubungan suami istri dalam keadaan sadar, ia wajib membayar kafarat. Apakah istri berhak menuntut suaminya? Ada dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam kasus orang gila jika kita mengatakan bahwa hubungan suami istri yang dilakukan saat gila tidak membatalkan sumpah.
ثم قال الشافعي رضي الله عنه والذمي كالمسلم فيما يلزمه من الإيلاء إلى آخره
Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Orang dzimmi sama seperti Muslim dalam hal kewajiban yang berkaitan dengan ila’ dan seterusnya.
الذمي من أهل الإيلاء فإذا ارتفع إلينا ونزل على حكمنا فحُكمنا عليه كحُكمنا على المسلم فتتوجه عليه الطَّلِبة وإذا فاء لزمته الكفارة وأبو حنيفة لم يجعله من أهل الظهار من حيث لم يكن عنده من أهل الكفارة وجعله من أهل الإيلاء وإن لم يكن عنده من أهل الكفارة والمسلم إذا آلى وفاء لزمته الكفارة عند أبي حنيفة والإيلاء لا يختص عنده باليمين بالله
Seorang dzimmi termasuk dalam golongan orang yang melakukan ila’. Jika ia mengadukan perkara kepada kita dan tunduk pada hukum kita, maka hukum kita atasnya sama seperti hukum kita atas seorang muslim, sehingga ia wajib memenuhi tuntutan. Jika ia kembali (rujuk), maka ia wajib membayar kafarat. Abu Hanifah tidak memasukkannya ke dalam golongan orang yang melakukan zihar, karena menurut beliau ia bukan termasuk orang yang wajib membayar kafarat, namun beliau memasukkannya ke dalam golongan orang yang melakukan ila’, meskipun menurut beliau ia bukan termasuk orang yang wajib membayar kafarat. Seorang muslim yang melakukan ila’ dan kemudian rujuk, maka ia wajib membayar kafarat menurut Abu Hanifah. Ila’ menurut beliau tidak terbatas pada sumpah dengan nama Allah saja.
ولو قال لامرأته إن وطئتك فعبدي حر ثم مات ذلك العبد المحلوف بعتقه انحلت اليمين لمّا عَرِيَتْ الواقعة عن التزامٍ عند تقدير الوطء وهذا تناقض منه بَيّن
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka hambaku merdeka,” lalu hamba yang dijadikan objek sumpah pembebasan itu meninggal dunia, maka sumpah tersebut menjadi batal karena peristiwa itu telah kosong dari adanya komitmen jika terjadi hubungan suami istri. Ini merupakan kontradiksi yang jelas darinya.
ثم قال الشافعي العربي لو آلى بلسان العجم إلى آخره إذا آلى الأعجمي بلسان العرب فإن كان يحسن العربية فهو كالعربي فلو زعم أنه لم يفهم معنى الكلمة التي تلفظ بها وكانت الحالة تكذّبه فهو مكذَّب وإن كان الأمر محتملاً فالرجوع إلى قوله مع اليمين
Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Orang Arab yang melakukan ila’ dengan bahasa ‘ajam, dan seterusnya. Jika orang ‘ajam melakukan ila’ dengan bahasa Arab, maka jika ia menguasai bahasa Arab, hukumnya seperti orang Arab. Jika ia mengaku tidak memahami makna kata yang diucapkannya, sementara keadaannya mendustakannya, maka ia dianggap berdusta. Namun jika perkara tersebut masih memungkinkan, maka kembali kepada pengakuannya dengan sumpah.
وكذلك العربي إذا نطق بلسان العجم وما ذكرناه جارٍ في كل من نطق بلغة غيره
Demikian pula orang Arab apabila berbicara dengan bahasa non-Arab, dan apa yang telah kami sebutkan berlaku pada setiap orang yang berbicara dengan bahasa selain bahasanya sendiri.
فصل
Bab
كنا وعدنا أن نتكلم في الموانع الشرعية إذا اتصف الزوج بها عند انقضاء المدة وهذا وإن سبق استيفاء القول فيه فقد رأيت للعراقيين ترتيباً حسناً فرأيت اتخاذه قدوة في الفصل
Kami telah berjanji untuk membahas tentang hal-hal yang menjadi penghalang secara syar‘i apabila suami memiliki sifat tersebut pada saat berakhirnya masa (iddah), dan meskipun pembahasan tentang hal ini telah disampaikan sebelumnya, aku melihat adanya susunan yang baik dari para ulama Irak, sehingga aku memandang baik untuk menjadikannya sebagai contoh dalam pembahasan ini.
فإذا آلى الرجل عن امرأته ومضت الأشهر وكان الزوج محرماً أو مظاهراً فلا شك أنه لو وطىء عَصى ربَّه وإذا توجهت عليه الطَّلبة وهو موصوف بمانع محرِّم فلو قال أنا أفيء على ما بي من المانع فقالت المرأة لا أمكنه من الوطء فهل تُجبر على التمكين
Jika seorang laki-laki melakukan ila’ terhadap istrinya dan telah berlalu beberapa bulan, sedangkan suami berada dalam keadaan ihram atau melakukan zihar, maka tidak diragukan lagi bahwa jika ia berhubungan badan, ia telah bermaksiat kepada Tuhannya. Jika ia diminta untuk kembali (rujuk) sementara ia masih dalam keadaan yang menghalangi dan diharamkan, lalu ia berkata, “Aku akan kembali (rujuk) meskipun aku masih dalam keadaan terhalang,” kemudian sang istri berkata, “Aku tidak akan membiarkannya berhubungan badan,” maka apakah ia (istri) dipaksa untuk memberikan kesempatan (untuk berhubungan badan)?
فعلى وجهين ذكرهما العراقيون أحدهما أنها لا تجبر على التمكين إذا دعاها الرجل إلى التمكين بل لها الامتناع فإنه إذا كان يحرم عليه أن يغشاها فالتحريم متعلق بها ويجب من ثبوته في حقه أن يحرم عيها التمكين إذ لا يتصور ثبوت التحريم إلا متعلقاً بهما فأشبه ما لو طلقها طلقة رجعية وقضينا بتحريمها فلو أراد الزوج أن يغشاها فلها الامتناع بل عليها الامتناعُ حتى يرتجعها وكذلك إذا كانت حائضاً فلها منعُ نفسها عن زوجها وكذلك لو كانت مُحْرمة أو صائمة
Ada dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak; salah satunya adalah bahwa istri tidak wajib memberikan diri (untuk digauli) jika suami memintanya, melainkan ia berhak menolak. Sebab, jika suami diharamkan untuk menggaulinya, maka keharaman itu berkaitan dengannya (istri), dan wajib dari adanya keharaman bagi suami bahwa istri juga diharamkan untuk memberikan diri, karena tidak mungkin keharaman itu ada kecuali berkaitan dengan keduanya. Hal ini serupa dengan kasus jika suami menceraikan istrinya dengan talak raj‘i dan kita memutuskan keharaman baginya, maka jika suami ingin menggaulinya, istri berhak menolak, bahkan wajib menolak sampai suami merujuknya kembali. Demikian pula jika istri sedang haid, maka ia berhak menahan dirinya dari suaminya. Begitu juga jika ia sedang ihram atau sedang berpuasa.
والوجه الثاني أنه ليس لها أن تمتنع فإنه لا حرمة فيها وهي في نفسها على صفة الاستباحة وليس لها أن تنظر في حال الزوج وتتصرف فيما يحرم عليه ويحل له
Alasan kedua adalah bahwa istri tidak berhak menolak, karena tidak ada kehormatan pada dirinya dalam hal ini, dan pada dasarnya ia berada dalam keadaan yang boleh-boleh saja. Ia juga tidak berhak mempertimbangkan keadaan suami atau ikut campur dalam hal yang diharamkan atau dihalalkan baginya.
ومن أصحابنا من فصل بين أن يكون الزوج مظاهراً وبين أن يكون صائماً أو مُحْرماً فقال لها أن تمتنع إذا كان الزوج مظاهراً وليس لها أن تمتنع إذا كان الرجل محرماً أو صائماً
Sebagian ulama dari kalangan kami membedakan antara suami yang sedang melakukan ẓihār dan suami yang sedang berpuasa atau beriḥrām; mereka berpendapat bahwa istri boleh menolak (berhubungan) jika suaminya sedang melakukan ẓihār, namun tidak boleh menolak jika suaminya sedang beriḥrām atau berpuasa.
وحاصل المذهب أن المطلّقة تمتنع لأن الطلاق واقع بها وإذا كان الرجل مُحِلاً وهي مُحرمة امتنعت وكذلك لو كانت صائمة صياماً لا يجوز إفساده عليها فمهما تحقق سبب التحريم فيها على الاختصاص امتنعت وإذا ظهر تعلق السبب بها كالطلاق فإنها تمتنع من التمكين
Kesimpulan mazhab adalah bahwa perempuan yang ditalak harus menahan diri karena talak telah terjadi padanya. Jika laki-laki dalam keadaan halal sementara perempuan dalam keadaan haram, maka ia juga harus menahan diri. Demikian pula jika ia sedang berpuasa dengan puasa yang tidak boleh dibatalkan atasnya, maka kapan pun sebab keharaman itu secara khusus ada padanya, ia harus menahan diri. Jika sebab itu tampak berkaitan dengannya, seperti talak, maka ia harus menahan diri dari memberikan izin (untuk berhubungan).
وإن اختص الزوج بالسبب المحرِّم كما إذا كان مُحرماً أو صائماً صوماً لا يجوز إفساده فهل تمتنع من التمكين أو ليس لها الامتناع فعلى وجهين
Jika suami secara khusus memiliki sebab yang mengharamkan, seperti sedang berihram atau berpuasa dengan puasa yang tidak boleh dibatalkan, maka apakah istri boleh menolak untuk memberikan pelayanan (hubungan suami istri) ataukah ia tidak berhak menolak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وإذا ظاهر عنها الزوج فهذا مردّد بين الطلاق وبين الإحرام وجه مشابهته للطلاق أن الظهار يحرّم المرأةَ كالطلاق ووجه مشابهته للإحرام أن الظهار لا ينقصُ ملك الزوج ولا يخرم حقّه فيها ولكنه لما قال زوراً وكذباًَ عاقبه الشرع بتحريم الغشيان عليه
Jika seorang suami melakukan zhihār terhadap istrinya, maka hal itu berada di antara talak dan ihram. Sisi kemiripannya dengan talak adalah bahwa zhihār mengharamkan istri bagi suami sebagaimana talak. Adapun sisi kemiripannya dengan ihram adalah bahwa zhihār tidak mengurangi kepemilikan suami dan tidak menghilangkan haknya atas istri, namun karena ia telah berkata dusta dan bohong, maka syariat menghukumnya dengan mengharamkan hubungan suami istri atasnya.
واختيار الشيخ أبي حامد أن الزوج إذا كان محرماً أو صائماً فليس لها أن تمتنع عن التمكين وجهاً واحداً وإنما الوجهان في الظهار
Pendapat yang dipilih oleh Syekh Abu Hamid adalah bahwa jika suami sedang berihram atau berpuasa, maka istri tidak berhak menolak untuk memberikan pelayanan (hubungan suami istri) menurut satu pendapat saja, sedangkan dua pendapat (ikhtilaf) hanya terdapat dalam masalah zhihar.
ثم مهما قلنا إنها تمتنع فحقٌّ عليها أن تمتنع وإذا قلنا لا تمتنع فحق عليها أن تمكن إذا دعاها زوجها
Kemudian, kapan pun kita mengatakan bahwa ia (istri) boleh menolak, maka memang hak baginya untuk menolak. Dan jika kita mengatakan bahwa ia tidak boleh menolak, maka memang hak baginya untuk membiarkan (suami) jika suaminya memanggilnya.
فهذا أصل قدمناه على غرضنا من الإيلاء ونحن نبني عليه غرضنا من الإيلاء فنقول إن ألزمنا المرأةَ أن تمكن فإن مكنت فذاك وإلا يسقط طلبها في الوقت وليس لها أن تقول لا أمكِّن وأطلبُ الطلاقَ
Ini adalah prinsip yang telah kami kemukakan sebelum pembahasan tentang ila’, dan kami akan membangun pembahasan ila’ di atas prinsip ini. Maka kami katakan: jika kami mewajibkan istri untuk memberikan kesempatan (berhubungan), lalu ia melakukannya, maka itu sudah cukup. Namun jika tidak, maka gugurlah hak tuntutannya pada saat itu, dan ia tidak berhak berkata, “Aku tidak mau memberikan kesempatan dan aku menuntut talak.”
وإن قلنا لها أن تمتنعَ ولا تُجبرَ على التمكين فإن مكنت ولم يطأها فيطالب بالطلاق أو تطلّق عليه زوجته
Dan jika kita mengatakan bahwa istri boleh menolak dan tidak dipaksa untuk memberikan izin (berhubungan), maka jika ia mengizinkan namun suaminya tidak menggaulinya, maka suami diminta untuk menceraikan atau istrinya dapat menggugat cerai terhadapnya.
وإن أبت ولم تمكِّن وطلبت الطلاق وقلنا لها الامتناع من التمكين ففي المسألة وجهان أحدهما أنها لا تطلب الطلاق بل يفيء فيئة معذور إلى زوال العذر كما ذكرناه في المانع الحسي فأشبه ما لو لم يكن مانع فنشزت أو مرضت
Jika istri menolak dan tidak mau memberikan kesempatan (untuk berhubungan), lalu ia meminta cerai, dan kami katakan kepadanya bahwa penolakan untuk memberikan kesempatan itu, maka dalam masalah ini ada dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia tidak berhak meminta cerai, melainkan suami boleh menunda (hubungan) dengan alasan yang dibenarkan hingga hilangnya uzur, sebagaimana telah kami sebutkan dalam penghalang secara fisik. Maka hal ini serupa dengan keadaan jika tidak ada penghalang, lalu istri durhaka atau sakit.
والوجه الثاني أن الزوج يجبر على الطلاق أو يطلّق عليه فإنه هو الذي ضيق على نفسه هذا التضييق
Pendapat kedua adalah bahwa suami dipaksa untuk menceraikan atau diceraikan atas dirinya, karena dialah yang telah menyempitkan dirinya sendiri dengan kesempitan ini.
هذه طريقة العراقيين وهي على نهاية الحسن
Ini adalah metode para ulama Irak, dan metode ini sangat baik.
وأما أصحابنا المراوزة فإنهم لم يتعرضوا لوجوب التمكين عليها أو لتحريمه بل اقتصروا على قولهم نقول للرجل إن وطئت عصيت وإن لم تطأ طلقنا عليك زوجتك وهذا لا يستقل ما لم نفصِّل المذهب على نحو ما ذكره العراقيون
Adapun para ulama kami dari Marw, mereka tidak membahas tentang wajibnya memberikan kesempatan (untuk berhubungan) atas istri atau keharamannya, melainkan mereka hanya mengatakan: “Kami katakan kepada laki-laki, jika engkau menggauli (istri), maka engkau berdosa; dan jika tidak engkau gauli, maka kami akan menceraikan istrimu darimu.” Namun, hal ini tidaklah cukup jelas kecuali jika kami merinci mazhab sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama Irak.
فصل قال ولو آلى ثُم آلى فَحَنِث في الأولى إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika seseorang melakukan ila’ kemudian melakukan ila’ lagi, lalu ia melanggar sumpah pada yang pertama hingga selesai,”
إذا تكررت كلمة الإيلاء من الزوج بأن قال لها والله لا أطؤك والله لا أطؤك حتى كرره مراراً فألفاظه لا تخلو إما أن تكون متواصلة وإما أن يتخلل بينها فصول فإن كانت متواصلة وزعم أنه نوى تكرار الألفاظ وتأكيدَ المعنى بها ولم يرد تجديداً فهو مصدق فإنه لو والى بين كلام في الطلاق في أزمنة متواصلة ولم يتخلل في أثنائها ما يمنع التأكيد وزعم أنه أراد التأكيد قُبل منه
Jika suami mengulangi kata-kata ila’ dengan mengatakan kepada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu, demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” hingga ia mengulanginya beberapa kali, maka ucapannya itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ucapannya itu bersambung, atau di antara ucapannya itu terdapat jeda. Jika ucapannya bersambung dan ia mengaku bahwa ia berniat mengulangi lafaz tersebut untuk menegaskan makna dan bukan untuk memperbarui sumpah, maka ia dipercaya. Sebab, jika seseorang menyambung ucapan talak dalam waktu yang berdekatan tanpa ada sesuatu yang menghalangi penegasan, lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah penegasan, maka pengakuannya diterima.
وإن قال في كَلِم الإيلاء أردت بكل كلمة يميناً معقودةً مقصودةً فيكون الأمر كذلك وفائدةُ تعددها أنه إذا فرض الوطء انحلت بجملتها ثم يختلف الأصحاب في اتحاد الكفارة وتعددها والصحيح التعددُ كما قدمناه
Jika seseorang berkata dalam lafaz ila’, “Aku maksudkan dengan setiap kata adalah sumpah yang diikrarkan dan disengaja,” maka keadaannya seperti itu. Manfaat dari pengulangan sumpah tersebut adalah bahwa jika terjadi hubungan suami istri, maka seluruh sumpah itu menjadi batal sekaligus. Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang apakah kafaratnya satu atau berbilang, dan pendapat yang benar adalah berbilang, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.
ولو أطلق الألفاظ وزعم أنه لم ينو تأكيداً ولا تجديداً ففي المسألة قولان
Jika seseorang mengucapkan lafaz-lafaz tersebut secara mutlak dan mengaku bahwa ia tidak berniat untuk menegaskan maupun memperbarui, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
ولو قال أنت طالق وطالق وخلَّل بين الكلمة والكلمة فتراتٍ تُقطِّع وصْلَ الكلام ونظمَه ونضَدَه وتمنع الحملَ على التأكيد ثم زعم أنه أراد التأكيد فلا يقبل منه
Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak, tertalak,” dan ia memisahkan antara kata yang satu dengan kata yang lain dengan jeda-jeda yang memutus kesinambungan ucapan, susunan, dan keteraturannya, serta mencegah pemahaman bahwa itu adalah penegasan, kemudian ia mengaku bahwa maksudnya adalah penegasan, maka pengakuannya itu tidak diterima.
ولو قال أردت تكريرَ ما قدمته وإعادتَه قلنا لا نقبل ذلك منك فإن الطلاق إيقاع فإذا انحسم وجهُ التأكيد لم يبق إلا الحملُ على الإيقاع
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud mengulangi apa yang telah aku ucapkan dan mengulanginya kembali,” maka kami katakan, “Kami tidak menerima hal itu darimu,” karena talak adalah suatu tindakan yang menjatuhkan (ikā‘). Maka, jika sisi penegasan telah terputus, yang tersisa hanyalah memaknainya sebagai tindakan penjatuhan (ikā‘).
ثم هذا يجري في كل لفظٍ فلو أقر بألفٍ لزيدٍ ثم أقر له بعد أيام بألفٍ وزعم أنه أراد تكرير الإقرار الأول قبل ذلك خلافاً لأبي حنيفة
Kemudian, hal ini berlaku pada setiap lafaz. Jika seseorang mengakui seribu untuk Zaid, lalu beberapa hari kemudian ia kembali mengakui seribu untuknya, kemudian ia mengklaim bahwa maksudnya adalah mengulangi pengakuan yang pertama, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dengan Abu Hanifah.
وعمدة المذهب أن الخبر الواحد يكرر ليشهر ويذكر وإذا كان ذلك ممكناً صدقناه فيما يريده فإن أراد نشر الطلاق الذي قدمه فليقرّ به فإذا لم يخبر عمّا مضى واستقل كلامُه إيقاعاً لم يحتمل غير الإيقاع
Dasar mazhab adalah bahwa khabar ahad diulang-ulang agar menjadi masyhur dan dikenal. Jika hal itu memungkinkan, maka kita membenarkannya dalam apa yang ia maksudkan. Jika ia bermaksud menyebarkan talak yang telah ia jatuhkan sebelumnya, maka hendaklah ia mengakuinya. Namun jika ia tidak memberitakan tentang apa yang telah lalu dan ucapannya berdiri sendiri sebagai pelaksanaan (talak), maka tidak dimungkinkan makna lain selain pelaksanaan talak.
ولو قال والله لا أجامعك ثم أعاد اليمين مع انقطاع الوصل وتخلُّلِ الفصل وزعم أنه أراد إعادة اليمين الأولى فالذي ذكره المحققون أن هذا مقبول منه فإن الحلف في الحقيقة خبرٌ مؤكد بالقَسَم وقد ذكرنا أن الخبر يقبل التكرير وقول الفقهاء عقد فلان اليمينَ ليس على معنى العقود التي تُنشأ وإنما المراد أخبر خبراً يُلزمه أمراً
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” lalu ia mengulangi sumpahnya setelah terputusnya hubungan dan adanya jeda, kemudian ia mengklaim bahwa maksudnya adalah mengulangi sumpah yang pertama, maka menurut pendapat para pakar yang disebutkan, hal ini dapat diterima darinya. Sebab, sumpah pada hakikatnya adalah sebuah pernyataan yang dikuatkan dengan sumpah, dan telah kami sebutkan bahwa pernyataan dapat diulang. Ucapan para ahli fiqh, “Si Fulan mengadakan sumpah,” bukanlah bermakna akad seperti akad-akad yang diciptakan, melainkan maksudnya adalah ia mengabarkan suatu berita yang mewajibkan dirinya melakukan sesuatu.
هذا إذا قال أردت تكرير اللفظ الأول ولم يرد تجديدَ يمين
Ini jika ia berkata, “Aku bermaksud mengulangi lafaz yang pertama” dan tidak bermaksud memperbarui sumpah.
قال الأصحاب لو قال لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق ثم قال بعد زمان متطاول إن دخلت الدار فأنت طالق وزعم أنه أراد إعادة اللفظ الأول ولم يُرِد تعليق طلاق مجدَّد كان كما قال فإن هذا في حكم الخبر
Para ulama mazhab berkata: Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” kemudian setelah waktu yang cukup lama ia berkata lagi, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” dan ia mengaku bahwa maksudnya adalah mengulangi ucapan yang pertama dan bukan bermaksud menggantungkan talak yang baru, maka hal itu berlaku sebagaimana yang ia katakan, karena ini dalam hukum merupakan sebuah pemberitaan.
فهذه ثلاث مسائل أطلق الأصحاب فيها قبولَ تأويل التكرير الإقرار واليمينُ بالله وتعليقُ الطلاق والعَتاق
Maka inilah tiga permasalahan yang para ulama menyatakan diterimanya penafsiran pengulangan, yaitu dalam pengakuan, sumpah dengan nama Allah, serta penangguhan talak dan pembebasan budak.
ومن أصحابنا من قال تأويل التكرير مقبول في الإقرار فحسب وهو غير مقبولٍ في اليمين بالله وتعليقِ الطلاق فإن اليمين إنشاء وكذلك التعليق
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa takwil terhadap pengulangan hanya dapat diterima dalam pengakuan saja, dan tidak dapat diterima dalam sumpah demi Allah maupun dalam taklik talak, karena sumpah merupakan bentuk insha’ (pernyataan baru), demikian pula taklik.
ومنهم من قال يقبل تأويل التكرير في اليمين بالله ولا يقبل في الطلاق وهذا لا بأس به لأن قول القائل لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق ليس بخبر وإنما هو وضعَ الطلاقَ مربوطاً بصفة والدليل عليه أنه لا يدخله التصديق والتكذيب
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa takwil pengulangan dapat diterima dalam sumpah dengan nama Allah, namun tidak diterima dalam talak, dan pendapat ini tidak mengapa, karena ucapan seseorang kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” bukanlah sebuah berita, melainkan ia meletakkan talak yang dikaitkan dengan suatu sifat, dan buktinya adalah bahwa ucapan tersebut tidak dapat dimasuki oleh pembenaran maupun pendustaan.
فخرج مما ذكرناه أن الإقرار لما كان إخباراً محضاً معرَّضاً للصدق والكذب ظهر فيه إمكان التكرير
Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa ikrar, karena merupakan pemberitahuan murni yang memungkinkan adanya kebenaran dan kebohongan, maka tampak kemungkinan untuk diulang.
واليمينُ بالله خبرٌ من وجه وإنشاء من وجه فتطرق الخلاف إليه ودليل انحطاطه عن الإقرار قُبْحُ التكذيب فيه ولكن للتكذيب فيه مساغٌ على الجملة
Sumpah dengan nama Allah adalah sebuah pernyataan dari satu sisi dan penciptaan (tindakan) dari sisi lain, sehingga perbedaan pendapat mengenainya dapat terjadi. Dalil bahwa sumpah lebih rendah kedudukannya daripada pengakuan adalah buruknya sikap mendustakan sumpah, namun secara umum masih ada kemungkinan untuk mendustakannya.
وتعليق الطلاق إنشاء إذ لا مساغ للتكذيب فيه أصلاً
Menjadikan talak tergantung pada suatu syarat adalah suatu bentuk penciptaan (hukum baru), karena sama sekali tidak ada ruang untuk mendustakannya.
ثم إذا أتى بألفاظ الأيمان أو بتعليق الطلاق مراراً وخلّل فصولاً فإن قلنا لا يقبل منه تأويل التكرير فمطلق الألفاظ محمول على التجديد وإن قلنا يقبل منه تأويل التكرير فإذا كانت الألفاظ مطلقة فالمذهب أنها محمولة على التجديد
Kemudian, jika seseorang mengucapkan lafaz sumpah atau menggantungkan talak berulang kali dan diselingi dengan beberapa bagian, maka jika kita berpendapat bahwa penakwilan pengulangan tidak diterima darinya, maka lafaz-lafaz yang mutlak dianggap sebagai pembaruan. Namun jika kita berpendapat bahwa penakwilan pengulangan diterima darinya, maka apabila lafaz-lafaz tersebut bersifat mutlak, pendapat yang dipegangi (mazhab) adalah bahwa lafaz tersebut dianggap sebagai pembaruan.
وأبعد بعض أصحابنا فقال هي محمولة على التكرير والطلاق لا يحتمل هذا فإذا تقطعت ألفاظ المطلق وخرجت عن حد التأكيد فهي على التجديد إذا صادفت محلها
Sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh dengan mengatakan bahwa hal itu dimaknai sebagai pengulangan, sedangkan talak tidak dapat menanggung makna tersebut. Maka jika lafaz-lafaz orang yang menjatuhkan talak telah terpisah-pisah dan keluar dari batas penegasan, maka itu dianggap sebagai pembaruan (talak baru) jika terjadi pada tempatnya.
ثم إن الشافعي رضي الله عنه أعاد في آخر الباب مناظرةً مع أبي حنيفة في مُدّة الإيلاء ولا غرض لنا فيها
Kemudian, asy-Syafi‘i raḥimahullāh mengulangi pada akhir bab ini suatu dialog dengan Abū Ḥanīfah mengenai masa iddah dalam kasus īlā’, namun kami tidak memiliki tujuan dalam hal itu.
باب إيلاء الخصي غير المجبوب والمجبوب
Bab Ila’ bagi orang kasim yang tidak terpotong seluruh alat kelaminnya dan yang terpotong seluruh alat kelaminnya
الخصيّ إذا لم يكن مجبوباً فآلى فهو بمثابة الفحل يولي وكذلك إذا جُبّ من ذكره البعضُ وبقي ما يتعلق به الجماع التام
Seorang khasi jika tidak dikebiri seluruhnya lalu melakukan ila’, maka hukumnya seperti pejantan yang melakukan ila’. Demikian pula jika sebagian dari kemaluannya yang dikebiri dan masih tersisa bagian yang memungkinkan terjadinya jima‘ secara sempurna.
فأما المجبوب الذي استؤصل ذكره أو بقي منه ما لا يتعلق به الجماع فقد اختلف أصحابنا في إيلائه فمنهم من قال في المسألة قولان أحدهما ينعقد إيلاؤه
Adapun orang yang telah terpotong habis zakarnya, atau yang tersisa darinya bagian yang tidak mungkin digunakan untuk jima‘, para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hukum ila’ (sumpah tidak menggauli istri) baginya. Sebagian mereka mengatakan bahwa dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah ila’-nya dianggap sah.
والثاني لا ينعقد
Dan yang kedua tidak sah.
من قال لا ينعقد قال إنه حلف على الامتناع عن أمرٍ يستحيل منه الإقدام عليه فكان كلامه لغواً وأيضاً فإن الإيلاء مبناه على قطع رجائها وإظهار الضرار من هذه الجهة وهذا لا يتحقق من المجبوب
Siapa yang berpendapat bahwa sumpah tersebut tidak sah mengatakan bahwa ia bersumpah untuk menahan diri dari suatu perkara yang mustahil baginya untuk melakukannya, sehingga ucapannya menjadi sia-sia. Selain itu, dasar dari ila’ adalah untuk memutus harapan istri dan menampakkan kemudaratan dari sisi ini, dan hal itu tidak terwujud pada orang yang telah terputus kemaluannya (majbūb).
والقول الثاني أنا نجعله مولياً لأن عماد الإيلاء الإيذاء باللسان وقد تحقق ذلك منه
Pendapat kedua menyatakan bahwa kami menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ (mūli), karena inti dari ila’ adalah menyakiti dengan ucapan, dan hal itu telah benar-benar terjadi darinya.
ومن أصحابنا من قطع بأن إيلاءه لا يصح ويلغو وإنما القولان فيه إذا آلى وهو فحلٌ ثم جُبّ ففي قولٍ ينقطع الإيلاء وفي قولٍ يبقى ويكون ما طرأ مانعاً من الوقاع مؤدياً إلى الاكتفاء بفيئة اللسان
Sebagian ulama kami berpendapat tegas bahwa sumpah ila’ yang diucapkan oleh seorang kasim tidak sah dan dianggap batal. Adapun dua pendapat dalam masalah ini muncul jika seseorang bersumpah ila’ saat ia masih mampu berhubungan, kemudian ia dikebiri. Dalam satu pendapat, sumpah ila’ tersebut menjadi batal, dan dalam pendapat lain, sumpah itu tetap berlaku, sedangkan hal yang terjadi kemudian (kebiri) menjadi penghalang untuk melakukan hubungan, sehingga cukup baginya dengan kembali secara lisan.
ومن أصحابنا من قطع بأن إيلاءه لا يصح وإن طرأ الجب انقطع
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat tegas bahwa sumpah ila’nya tidak sah, dan jika kebiri terjadi setelahnya maka sumpah tersebut terputus.
وهذا هو الذي لا يصح على التحقيق غيره فإن اليمين يستحيل فرض بقائها مع استحالة الحِنْث
Inilah pendapat yang tidak benar selainnya menurut penelitian yang cermat, karena sumpah tidak mungkin tetap ada jika pelanggaran sumpah (hints) mustahil terjadi.
ولو قال إن وطئتك فعبدي حر ثم إنه أنشأ إعتاقه فالإيلاء ينحلّ بامتناع لزوم شيء عند فرض الوطء والجبُّ بذلك أولى
Jika seseorang berkata, “Jika aku menggaulimu, maka budakku merdeka,” kemudian ia benar-benar memerdekakan budaknya, maka sumpah ila’ menjadi batal karena tidak ada lagi sesuatu yang wajib jika terjadi hubungan suami istri, dan pembatalan sumpah dengan cara ini lebih utama.
قال الشيخ أبوعلي إيلاء الفحل عن الرتقاء بمثابة إيلاء المجبوب في جميع ما ذكرناه اقتراناً وطرياناً
Syekh Abu Ali berkata, ila’ (sumpah tidak menggauli istri) yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang mengalami retak (retak pada alat kelamin) hukumnya sama dengan ila’ yang dilakukan oleh suami yang terputus alat kelaminnya, dalam seluruh hal yang telah kami sebutkan, baik yang terjadi bersamaan maupun yang muncul kemudian.
ثم إذا حكمنا بثبوت الإيلاء إما في صورة الاقتران وإما في صورة الطريان فالطّلبة تتوجه بعد المدة بفيئة اللسان
Kemudian, apabila kita menetapkan terjadinya ila’ baik dalam bentuk yang bersamaan maupun yang terjadi kemudian, maka tuntutan (istri) diarahkan setelah berakhirnya masa (empat bulan) dengan permintaan rujuk secara lisan.
ثم قال الأصحاب ليقل إذا توجهت الطلبة لوْ قدرتُ لوطئتك وهذا سبيل المعذور الذي يرجى زوال عذره وما يذكر في فيئة المعذور الذي يرجى زواله شيئان أحدهما الاعتذار بالمانع الواقع والثاني وعدٌ بالإصابة عند الزوال قال الأصحاب لا بد منهما والاقتصارُ على إحداهما لا يكفي ولو اقتصر على أحدهما طُلّقت عليه زوجته
Kemudian para ulama berkata: Hendaknya ia mengucapkan, ketika muncul keinginan (untuk kembali), “Seandainya aku mampu, niscaya aku akan menggaulimu.” Ini adalah cara bagi orang yang memiliki uzur yang diharapkan akan hilang. Adapun yang disebutkan mengenai fi’ah (kembali) bagi orang yang beruzur dan diharapkan uzurnya hilang, terdapat dua hal: yang pertama adalah meminta maaf karena adanya penghalang yang terjadi, dan yang kedua adalah janji untuk melakukan hubungan ketika uzurnya hilang. Para ulama mengatakan: Keduanya harus ada, dan cukup dengan salah satunya saja tidak mencukupi. Jika ia hanya melakukan salah satunya, maka istrinya jatuh talak atasnya.
والرأي عندنا أنه لو اقتصر على الوعد فقال إذا ارتفع مرضي أصبتك فهذا كافٍ وإن لم يقل لولا المرض لأصبتك الآن فإن التعويل على الوعد عند ارتفاع المانع ولكن الأصحاب ذكروا الأمرين
Pendapat kami adalah bahwa jika hanya terbatas pada janji, misalnya seseorang berkata, “Jika penyakitku sembuh, aku akan menggaulimu,” maka itu sudah cukup, meskipun ia tidak mengatakan, “Kalau bukan karena sakit, aku pasti menggaulimu sekarang,” karena yang dijadikan acuan adalah janji ketika penghalang telah hilang. Namun, para ulama menyebutkan kedua hal tersebut.
أما المجبوب فلا يتصور منه الوطءُ وفيئتُه أن يقول لولا المانع لوطئتك وهذا عندي في حكم العبث الذي لا يليق بمحاسن الشرع مثله وضرب المدة أقبح من الكُل فإنه مَهَلٌ أثبت لمن يُرجى منه الوطء فكيف يُتخيل هذا في المجبوب
Adapun orang yang telah dikebiri, maka tidak mungkin baginya melakukan hubungan suami istri, dan bentuk kembali kepadanya (fi’ah) adalah dengan mengatakan: “Seandainya tidak ada penghalang, tentu aku akan menggaulimu.” Menurutku, hal ini termasuk perbuatan sia-sia yang tidak pantas bagi keindahan syariat seperti ini. Menetapkan batas waktu (iddah) lebih buruk daripada semuanya, karena itu adalah penangguhan yang diberikan kepada orang yang masih diharapkan dapat melakukan hubungan suami istri, lalu bagaimana mungkin hal ini dibayangkan pada orang yang telah dikebiri?
فرع
Cabang
قدمنا من رأي الأصحاب كافة أن الرجل إذا قال لأجنبية إن وطئتك فعبدي حر أو قال والله لا أجامعك ثم نكحها فلا يكون مولياً وإن كان يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر أمراً لأن هذا تقدَّم على الملك
Kami telah mengemukakan pendapat seluruh ulama mazhab bahwa apabila seorang laki-laki berkata kepada perempuan asing, “Jika aku menggaulimu maka budakku merdeka,” atau ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” kemudian ia menikahinya, maka ia tidak dianggap sebagai mu‘allaq atau melakukan ilā’, meskipun ia berkomitmen untuk melakukan hubungan setelah empat bulan, karena hal ini terjadi sebelum adanya kepemilikan (pernikahan).
وذكر صاحب التقريب وجهاً عن بعض الأصحاب أنه يكون مولياً وهذا لا خروج له إلا على قول غريب حكاه صاحب التقريب في أن تعليق الطلاق قبل الملك يصح كما ذهب إليه أبو حنيفة وهذا على نهاية البعد ولم أره إلا له ولم أذكر هذا في أثناء الكلام حتى لا يُعتد به
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat dari sebagian sahabat bahwa hal itu dianggap sebagai tindakan ila’, dan ini hanya berlaku menurut pendapat yang ganjil yang dinukil oleh penulis at-Taqrīb, yaitu bahwa penangguhan talak sebelum memiliki (istri) itu sah, sebagaimana pendapat Abu Hanifah. Namun, pendapat ini sangat jauh (dari kebenaran), dan aku tidak menemukannya kecuali darinya, dan aku tidak menyebutkannya dalam pembahasan sebelumnya agar tidak dianggap sebagai pendapat yang diakui.
فرع
Cabang
إذا آلى الرجل عن امرأته فلما انقضت المدة زعم أنه عاجز عنّين فالذي ذهب إليه الأصحاب أنا نضرب له المدة ثم نحكم بعد انقضائها حُكْمَنا في العنة
Jika seorang laki-laki melakukan ila’ terhadap istrinya, lalu setelah masa ila’ berakhir ia mengaku bahwa ia tidak mampu karena impoten, maka menurut pendapat para ulama yang paling kuat, kita menetapkan baginya masa tertentu, kemudian setelah masa itu berakhir kita menetapkan hukum yang sama seperti dalam kasus impotensi.
وحكى العراقيون وجهاً غريباً أنه لا يقبل ذلك منه وتطلق عليه زوجته على قولٍ أو نحبسه إن لم يطلق وليس كما لو ظهر به مرض يغلب على الظن عجزه بسببه وهذا الوجه لا اعتداد به وقد نقله العراقيون ثم زيّفوه والله الموفق للصواب
Orang-orang Irak meriwayatkan satu pendapat yang ganjil, yaitu bahwa hal itu tidak diterima darinya dan istrinya dicerai darinya menurut satu pendapat, atau kita menahannya jika ia tidak menceraikan. Ini tidak seperti jika tampak padanya suatu penyakit yang kuat dugaan akan menyebabkan ketidakmampuannya. Pendapat ini tidak dianggap, dan orang-orang Irak telah meriwayatkannya lalu melemahkannya. Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.
Kitab Zhihār
صورة الظهار أن يقول لامرأته أنت عليّ كظهر أمي ومقتضاه على الجملة أن تَحْرُمَ عليه زوجته مع استمرار النكاح ويدوم التحريم حتى يكفّر
Bentuk zhihār adalah ketika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” dan konsekuensinya secara umum adalah istrinya menjadi haram baginya sementara pernikahan tetap berlangsung, dan keharaman itu terus berlaku sampai ia membayar kafarat.
والأصل في الظهار مفتَتَحُ سورة المجادلة وسبب النزول ما روي أن خولة بنت ثعلبة زوجة أوس بن الصامت أخي عُبادة شرعت في الصلاة فدخل زوجها وهمّ بقِربانها فخالفته وامتنعت عليه فغاظه ذلك فقال أنت عليّ كظهر أمي وكان الظهار طلاقاً في الجاهلية مؤكداً فلما قال ذلك اغتمّت خولة فجاءت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في حجرة عائشة وكانت تمشط رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت خولة كنت شابة يا رسول الله ذاتَ جمال ومال فلما كبر سني ونفد مالي جعلني أوسُ على نفسه كظهر أمه فقال صلى الله عليه وسلم حرمت عليه فقالت يا رسول الله انظر في أمري فإن لي معه صحبة وإني لا أصبر عنه فقال صلى الله عليه وسلم حرمت عليه فكررت ذلك وهو عليه السلام يقول حرمت عليه فلما أيست اشتكت إلى الله تعالى فنزل قوله قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ قالت عائشة كانت تُسارّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أسمع من كلامهما الكلمة والكلمتين فنزلت الآيات مشتملة على قواعد الظهار
Dasar hukum tentang ẓihār terdapat pada awal Surah al-Mujādilah, dan sebab turunnya ayat tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Khaulah binti Tsa‘labah, istri dari Aus bin Shāmit, saudara ‘Ubādah, sedang melaksanakan salat ketika suaminya masuk dan berniat menggaulinya. Ia menolaknya dan menjauh darinya, sehingga Aus marah dan berkata, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Pada masa jahiliah, ẓihār merupakan bentuk talak yang dikuatkan. Ketika Aus mengucapkan hal itu, Khaulah merasa sangat sedih lalu mendatangi Rasulullah ﷺ yang saat itu berada di kamar ‘Aisyah, sementara ‘Aisyah sedang menyisir rambut Rasulullah ﷺ. Khaulah berkata, “Dulu aku masih muda, wahai Rasulullah, memiliki kecantikan dan harta. Namun ketika usiaku bertambah dan hartaku habis, Aus memperlakukanku seperti punggung ibunya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau telah haram baginya.” Khaulah berkata, “Wahai Rasulullah, pertimbangkanlah keadaanku, karena aku telah lama bersamanya dan aku tidak bisa berpisah darinya.” Rasulullah ﷺ tetap bersabda, “Engkau telah haram baginya.” Ia mengulangi permohonannya, namun beliau tetap berkata, “Engkau telah haram baginya.” Ketika Khaulah merasa putus asa, ia mengadu kepada Allah Ta‘ala, lalu turunlah firman-Nya: “Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah.” ‘Aisyah berkata, “Khaulah berbicara dengan Rasulullah ﷺ secara perlahan, dan aku hanya mendengar satu atau dua kata dari percakapan mereka, lalu turunlah ayat-ayat yang memuat ketentuan-ketentuan tentang ẓihār.”
ثم إن الشافعي رضي الله عنه صدّر الباب ببيان من يصح ظهاره ثم عقّبه بمن يصح الظهار عنه فأما الفصل الأول
Kemudian, Imam Syafi‘i ra. memulai bab ini dengan penjelasan tentang siapa saja yang sah melakukan zhihar, lalu beliau melanjutkannya dengan penjelasan tentang siapa saja yang sah dilakukan zhihar terhadapnya. Adapun bagian pertama…
فحدُّ المذهب فيمن يصح ظهاره أن يقال من كان من أهل الطلاق كان من أهل الظهار وهذا يطّرد وينعكس على مذهب الحدود ثم يتعلق الطلاق بالظهار طرداً وعكساً كما يتعلق الظهار بالطلاق
Batas mazhab mengenai siapa yang sah melakukan zihar adalah dengan dikatakan: siapa saja yang termasuk golongan orang yang sah melakukan talak, maka ia juga termasuk golongan orang yang sah melakukan zihar. Kaidah ini berlaku searah dan sebaliknya menurut mazhab tentang batasan-batasan. Kemudian, talak berkaitan dengan zihar secara searah dan sebaliknya, sebagaimana zihar juga berkaitan dengan talak.
ثم أجرى الكلامَ رضي الله عنه إلى المسألة الخلافية في الذمي وأبان أنه من أهل الظهار كما أنه من أهل الطلاق وخالف أبو حنيفة في المسألة وصار إلى أن الذمي ليس من أهل الظهار بناء على أن الكفارة لا تصح منه ولا تلزمه والظهار عاقبته الكفارة ومن مذهب أبي حنيفة أن الكافر ليس من أهل التزام الكفارة ونصّ مذهب الشافعي أن الكافر من أهل التزام الكفارة المالية وليس من أهل الصوم ولا خلاف أن الكافر الأصلي لا يلتزم الزكاة وعَقْدُ المذهب أن الزكاة وظيفةٌ أُثبتت عبادةً على المسلم ليس فيها معنى التغليظ بخلاف الكفارة فإنها مضاهية للحدود ثم ليس في نفي الكفارة ما يوجب نفي تحريم الظهار كما قررناه في الأساليب
Kemudian beliau melanjutkan pembahasan, semoga Allah meridhainya, kepada masalah khilafiyah tentang dzimmi, dan menjelaskan bahwa dzimmi termasuk orang yang dapat melakukan zihar sebagaimana ia juga termasuk orang yang dapat melakukan talak. Namun, Abu Hanifah berbeda pendapat dalam masalah ini dan berpendapat bahwa dzimmi bukan termasuk orang yang dapat melakukan zihar, berdasarkan bahwa kafarat tidak sah darinya dan tidak wajib atasnya, sedangkan zihar akibatnya adalah kafarat. Menurut mazhab Abu Hanifah, orang kafir bukan termasuk orang yang wajib menunaikan kafarat. Adapun nash mazhab Syafi‘i menyatakan bahwa orang kafir termasuk orang yang wajib menunaikan kafarat maliyah (kafarat berupa harta), namun bukan termasuk orang yang wajib berpuasa. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang kafir asli tidak wajib menunaikan zakat. Pokok mazhab menyatakan bahwa zakat adalah kewajiban yang ditetapkan sebagai ibadah atas seorang muslim, yang di dalamnya tidak terdapat unsur penegasan (hukuman), berbeda dengan kafarat yang serupa dengan hudud. Selain itu, tidak adanya kewajiban kafarat tidak serta-merta meniadakan keharaman zihar, sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan sebelumnya.
فالذمي إذاً من أهل الإعتاق فإن لم يجد لم يكن من أهل الصوم ثم لا تجزىء إلا المؤمنة عندنا وقد نمنعه من ابتياع عبد مسلم فلو قال لمسلمٍ أعتق عبدك عن كفارتي ففي ذلك وجهان قدمنا ذكرهما في كتاب البيع فإن لم نجوّزه انحسم العتق إلا أن يكون له عبد كافر فيسلم أو يرث عبداً مسلماً
Maka dzimmi termasuk orang yang boleh melakukan pembebasan budak. Jika ia tidak menemukan (budak untuk dibebaskan), maka ia tidak termasuk orang yang wajib berpuasa. Kemudian, menurut kami, tidak sah kecuali (budak) perempuan yang beriman. Kami juga dapat melarangnya membeli budak Muslim. Jika ia berkata kepada seorang Muslim, “Bebaskanlah budakmu sebagai kafaratku,” maka dalam hal ini ada dua pendapat yang telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘. Jika kami tidak membolehkannya, maka pembebasan budak tidak sah, kecuali jika ia memiliki budak kafir lalu budak itu masuk Islam, atau ia mewarisi seorang budak Muslim.
فإن كان معسراً متمكناً من الصوم فالذي ذكره القاضي أنه لا ينتقل إلى الإطعام فلا يصير الكفر عذراً في حقه يجوّز له الانتقالَ إلى الإطعام فإن أراد الخلاص من التحريم فليسلم وليصم وإلا استمر التحريم
Jika ia seorang yang tidak mampu secara finansial namun mampu berpuasa, menurut pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi, maka ia tidak boleh beralih kepada membayar fidyah (memberi makan), sehingga kekufuran tidak menjadi alasan baginya untuk membolehkan beralih kepada fidyah. Jika ia ingin terbebas dari keharaman, hendaklah ia masuk Islam dan berpuasa, jika tidak maka keharaman itu tetap berlaku.
وهذا فيه نظر فإن الخطاب بالعبادة البدنية لا يجب على الكافر الأصلي فكأنّ الصوم مُخرَجٌ من كفارة الذمي وهي آيلة في حقه إلى الإعتاق والإطعام
Hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena kewajiban ibadah badaniyah tidak dibebankan kepada orang kafir asli, sehingga seakan-akan puasa dikeluarkan dari kafarat bagi dzimmi, yang pada akhirnya baginya kembali kepada pembebasan budak dan memberi makan.
وقد يَرِدُ عليه أن الإطعام بدلُ الصيام ولا يجوز تقدير البدل في حق من لا يتحقق في حقه المبدل فنُحْوَجُ عند ذلك إلى تقدير الكفر بمثابة العجز وهذا يوجب إسقاط الخطاب فإن العاجز لا يخاطَب بالصوم
Mungkin akan muncul keberatan bahwa memberi makan adalah pengganti puasa, dan tidak boleh menetapkan pengganti bagi orang yang pada dirinya tidak mungkin dilakukan yang digantikan. Maka, dalam hal ini kita perlu menganggap kekufuran setara dengan ketidakmampuan, dan hal ini mengharuskan gugurnya kewajiban, karena orang yang tidak mampu tidak dibebani kewajiban puasa.
والذي يؤكد ما ذكرنا أن حكمنا على الذمي بتأبد حرمة الظهار عليه بعيدٌ وحمله على الإسلام بعيدٌ وقد يكون في حمله على ذلك حملٌ على الإسلام والمسألة على الجملة محتملة
Yang menegaskan apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa penetapan hukum kami terhadap dzimmi dengan keabadian keharaman zhihar atasnya adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), dan menafsirkannya berdasarkan Islam juga jauh (tidak tepat). Bisa jadi, jika ditafsirkan demikian, berarti memaksakan hukum Islam kepadanya, dan secara keseluruhan masalah ini masih bersifat kemungkinan.
فهذا تفصيل القول فيمن يُظاهِر
Inilah penjelasan rinci mengenai orang yang melakukan ẓihār.
الفصل الثاني
Bab Kedua
فأما التي يصح الظهار عنها فيطرد في هذا النسق اعتبارُ الطلاق أيضاً فكل امرأة يلحقها الطلاق يلحقها الظهار سواء كانت صغيرة أو كبيرة عاقلة أو مجنونة
Adapun perempuan yang sah dijatuhi zihar atasnya, maka dalam hal ini juga berlaku pertimbangan talak; setiap perempuan yang dapat dijatuhi talak, maka dapat pula dijatuhi zihar, baik ia masih kecil atau sudah dewasa, berakal atau tidak berakal.
والبائنة لا يلحقها الطلاق ولا يثبت في حقها الظهار والرّجعية يلحقها الطلاق والظهار والمرتدة الممسوسة إذا فُرض الظهار عنها كان كما لو فرض تطليقها والطلاق والظهار فيها يبتنيان على الترقب فإن استمرت على الردة حتى انقضت العدة فلا طلاق ولا ظهار ولو عادت قبل انقضاء العدة فنتبين وقوع الطلاق والظهارِ
Perempuan yang telah bercerai secara bain tidak terkena talak dan tidak berlaku atasnya zhihar, sedangkan perempuan yang dalam masa iddah raj‘iyyah masih dapat dijatuhi talak dan zhihar. Adapun perempuan murtad yang telah digauli, jika dianggap zhihar dijatuhkan atasnya, maka hukumnya seperti jika dijatuhkan talak atasnya; talak dan zhihar pada kasus ini bergantung pada penantian. Jika ia tetap dalam kemurtadan hingga selesai masa iddah, maka tidak terjadi talak dan tidak pula zhihar. Namun jika ia kembali kepada Islam sebelum masa iddah berakhir, maka dipastikan jatuhnya talak dan zhihar atasnya.
والإيلاءُ يجاري الطلاق والظهار فهذه الخلال الثلاث تتلازم غير أن الأصح أن الإيلاء لا يصح من المجبوب ولا يصح إيلاء الفحل من الرتقاء وظهار المجبوب صحيح كطلاقه والظهار من الرتقاء صحيح كتطليقها والفرق أن الإيلاء يختص بالوقاع فلا ينعقد حيث لا يفرض تصوّره
Ila’ sejalan dengan talak dan zihar; ketiga perkara ini saling berkaitan, hanya saja pendapat yang paling sahih adalah bahwa ila’ tidak sah dari seorang yang terputus kemaluannya (majbūb), dan tidak sah ila’ dari seorang suami yang mampu bersetubuh terhadap istri yang mengalami sumbatan pada kemaluannya (ratqā’). Adapun zihar dari seorang majbūb adalah sah sebagaimana talaknya, dan zihar dari ratqā’ juga sah sebagaimana talaknya. Perbedaannya adalah bahwa ila’ khusus berkaitan dengan hubungan badan, sehingga tidak dapat terjadi apabila tidak mungkin untuk membayangkannya.
والظهار يحرِّم الوقاع وجملةَ الاستمتاعات ولو فرض الإيلاء معقوداً بما دون الجماع من الاستمتاعات مثل أن يقول والله لا أُقبِّلك أو أفاخذُك فاليمين تنعقد ولا يثبت حكم الإيلاء
Zhihar mengharamkan hubungan badan dan seluruh bentuk kenikmatan seksual. Andaikan terjadi ilā’ (sumpah tidak menggauli istri) yang diikatkan pada selain jima‘ (hubungan badan) dari bentuk-bentuk kenikmatan seksual, seperti seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencium atau melakukan mufākhadhah denganmu,” maka sumpah tersebut sah, namun hukum ilā’ tidak berlaku.
ثم إذا ظاهر عن الرجعية لم يخل إما أن يتركها حتى تنسرح أو يرتجعها فإن تركها حتى انسرحت فقد ظاهر ولم يَعُد فلا تلزمه الكفارة
Kemudian, jika seorang suami melakukan ẓihār terhadap istri yang masih dalam masa rujuk, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia membiarkannya hingga masa idahnya habis sehingga istri tersebut menjadi bebas, atau ia merujuknya kembali. Jika ia membiarkannya hingga masa idahnya habis, maka ia telah melakukan ẓihār namun tidak kembali kepadanya, sehingga ia tidak wajib membayar kafarat.
وهذا فيه وقفة من جهة أن تطليق الرجعية إن كان لا يفيد مزيد تحريم فإنه يقطع سلطته في الرجعة من جهة أن من يملك ثلاث طلقات يفرض له رجعتان فإذا طلق واحدة ثبتت له رجعة ولو طلق الثانية قطع بها رجعة وفيه تنقيص العُدَد والظهار ليس فيه ما يتضمن التأثير في الملك والرجعية محرمة ولم يتفق عَوْدٌ فتجب الكفارة ولا يبقى في الظهار فائدة إلا تحريم محرمة ولكن التحريم حكم من الأحكام وقد يَثْبت الحكم الواحد بعلل وتحقيق هذا في الأصول
Dalam hal ini terdapat catatan, yaitu bahwa jika talak terhadap istri yang masih dalam masa iddah (raj‘iyyah) tidak menambah keharaman, maka talak tersebut memutuskan hak suami untuk rujuk. Sebab, seseorang yang memiliki hak tiga kali talak, maka baginya dua kali kesempatan rujuk; jika ia menjatuhkan satu talak, ia masih memiliki hak rujuk, namun jika ia menjatuhkan talak kedua, maka hak rujuknya terputus. Dalam hal ini, terjadi pengurangan jumlah talak. Adapun zihar, tidak terdapat di dalamnya sesuatu yang berpengaruh terhadap kepemilikan (hak suami atas istri), dan istri yang dalam masa iddah (raj‘iyyah) adalah haram (bagi suami), serta tidak terjadi rujuk, sehingga wajib membayar kafarat, dan tidak tersisa manfaat dari zihar kecuali pengharaman terhadap sesuatu yang memang sudah haram. Namun, pengharaman adalah salah satu hukum, dan terkadang satu hukum dapat ditetapkan dengan beberapa sebab. Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini terdapat dalam ilmu ushul.
ثم إذا ظاهر عن الرجعية وراجعها فهل نجعل نفسَ الرجعة عوداً أم لا فيه وجهان وسنذكر ذلك عند ذكرنا معنى العَوْد إن شاء الله تعالى
Kemudian, jika seseorang melakukan zihar terhadap istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah lalu ia merujukinya, apakah kita menganggap rujuk itu sendiri sebagai ‘awd (kembali) atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan kami akan menjelaskannya ketika membahas makna ‘awd, insya Allah Ta‘ala.
فصل قال ولو تظاهر من امرأته وهي أَمَةٌ ثم اشتراها إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Jika seseorang melakukan zihar terhadap istrinya yang merupakan seorang budak perempuan, kemudian ia membelinya…” dan seterusnya.
نذكر في أول الفصل رسْم العَوْد حتى إذا أردنا التفريع عليه لم يخف المراد على المنتهي إليه
Kami sebutkan di awal bab ini gambaran tentang ‘awd agar ketika kami ingin merincinya, maksud yang dimaksud tidak samar bagi orang yang membacanya.
فالمذهب الذي عليه التفريع أن معنى العَوْد أن يمسك المظاهر امرأته زماناً لو أراد أن يطلقها فيه لأمكنه فإذا ظاهر ثم لم يطلّق مع التمكن منه حتى مضى زمان إمكان الطلاق فهذا مُظاهرٌ عائد ومعنى العود في وضع اللسان إذا أردنا تطبيقه على المعنى أن الذي قال أنت عليّ كظهر أمي أتى بلفظةٍ متضمّنها التحريم فإذا أمسكها فكأنه لم يحقق ذلك التحريمَ فكان كالمناقِض وسمي عائداً على مذهب قول القائل قال فلان قولاً ثم عاد فيه نقضاً ورفضاً وعاد فلان في هبته
Maka mazhab yang dijadikan dasar dalam penjabaran hukum adalah bahwa makna ‘al-‘aud’ (kembali) adalah seorang yang melakukan zihar menahan istrinya dalam suatu masa yang jika ia ingin menceraikannya pada masa itu, ia mampu melakukannya. Maka jika seseorang melakukan zihar lalu tidak menceraikan istrinya padahal ia mampu, hingga berlalu masa di mana ia bisa menceraikan, maka ia adalah seorang yang melakukan zihar dan kembali (‘a’id). Adapun makna ‘al-‘aud’ dalam penggunaan bahasa, jika kita ingin menerapkannya pada makna tersebut, adalah bahwa orang yang mengatakan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” telah mengucapkan suatu lafaz yang mengandung makna pengharaman. Maka jika ia menahan istrinya, seakan-akan ia tidak merealisasikan pengharaman tersebut, sehingga ia seperti orang yang membatalkan ucapannya. Ia disebut ‘kembali’ (‘a’id) menurut kebiasaan ucapan orang yang berkata, “Si Fulan telah mengucapkan suatu perkataan, lalu ia kembali padanya dengan membatalkan dan menolaknya,” dan juga seperti ungkapan, “Si Fulan kembali pada hibahnya.”
وإذا ظاهر وطلّق قيل مُظاهرٌ غير عائد أي أظهر تحريماً ثم حققه
Dan jika seseorang melakukan ẓihār lalu menceraikan, dikatakan bahwa ia adalah seorang muẓāhir yang tidak kembali, yaitu ia telah menyatakan pengharaman kemudian merealisasikannya.
هذا معنى العَوْد على الجملة وسيأتي تفصيله في موضعه إن شاء الله
Ini adalah makna dari kembali kepada kalimat, dan penjelasannya secara rinci akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah.
فإذا بان هذا قلنا بعده إذا ظاهر الرجل عن زوجته الأمة وعاد في ظهاره والتزم الكفارة ثم إنه اشتراها فإنا نحكم بانفساخ النكاح بطريان الملك وهل يستبيحها بملك اليمين ظاهر المذهب أنه لا يستبيحها فإن تحريم الظهار ممدود إلى التكفير وهذا ظَاهَر والتزم الكفارة بالعَوْد ولم يكفّر
Jika hal ini telah jelas, maka kami katakan setelahnya: apabila seorang laki-laki melakukan zhihar terhadap istrinya yang berstatus budak, kemudian ia mengulangi zhihar dan berkomitmen untuk membayar kafarat, lalu ia membelinya, maka kami memutuskan bahwa pernikahan batal karena kepemilikan (budak) telah terjadi. Namun, apakah ia boleh menggaulinya dengan hak milik (milk al-yamīn)? Menurut mazhab yang paling kuat, ia tidak boleh menggaulinya, karena keharaman zhihar tetap berlaku hingga ia membayar kafarat. Dalam kasus ini, ia telah melakukan zhihar, berkomitmen untuk membayar kafarat karena kembali (mengulangi zhihar), namun belum membayar kafarat.
ومن أصحابنا من قال يحل له وطؤها بملك اليمين فإن الظهار يوجب التحريم في النكاح ويمنع الاستباحةَ به والدليل عليه أنه لو قال لأمته أنت عليّ كظهر أمي لم تحرم ولم يكن للظهار معنى ولم تجب الكفارة فإذا انتهى الأمر في الأثناء إلى ملك اليمين فقد انقطع محل الظهار
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa boleh baginya menggauli perempuan tersebut dengan kepemilikan budak, karena zhihār menyebabkan keharaman dalam pernikahan dan mencegah kebolehan melalui pernikahan. Dalilnya adalah jika seseorang berkata kepada budaknya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka budak tersebut tidak menjadi haram baginya, zhihār tidak memiliki makna, dan tidak wajib membayar kafārah. Maka jika pada suatu saat perempuan itu menjadi miliknya sebagai budak, maka tempat berlakunya zhihār telah terputus.
وهذا يجري في مسألتين إحداهما أنه إذا طلق زوجته الأمة ثلاثاًً بعدها جرى الحكم بأنها محرّمةٌ عليه حتى تَنْكِح زوجاً غيره فلو اشتراها فهل يستبيح وطأها قبل أن تنكِح زوجاً آخر
Hal ini berlaku dalam dua permasalahan. Pertama, apabila seseorang menalak istrinya yang merupakan seorang budak sebanyak tiga kali, maka berlaku hukum bahwa ia menjadi haram baginya sampai ia menikah dengan suami yang lain. Lalu, jika ia membeli budak tersebut, apakah ia boleh menggaulinya sebelum budak itu menikah dengan suami yang lain?
فيه خلاف قدمته والأظهر أنه لا يستبيحها
Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya kemukakan sebelumnya, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hal itu tidak membuatnya menjadi halal.
وألحق القاضي ما لو لاَعَن عن زوجته وحرمت عليه ثم اشتراها قال في استباحتها بملك اليمين الوجهان فتحصلت ثلاث مسائل والظاهر في جميعها استمرار التحريم وذكرُ الخلاف في اللعان بعيدٌ مع قول رسول الله صلى الله عليه وسلم المتلاعنان لا يجتمعان أبداً
Qadhi juga mengqiyaskan jika seorang suami melakukan li‘ān terhadap istrinya sehingga ia menjadi haram baginya, kemudian ia membeli istrinya tersebut, maka dalam hal kebolehan berhubungan dengannya melalui kepemilikan budak terdapat dua pendapat. Dengan demikian, terdapat tiga permasalahan, dan pendapat yang tampak dalam semuanya adalah tetapnya keharaman. Menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam kasus li‘ān adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dua orang yang saling melakukan li‘ān tidak akan pernah bersatu selamanya.”
وهذا تهويلٌ والقياس طرد الخلاف ولكن إن حكمنا بأن اللعان لا يجري في ملك اليمين أو قلنا إنه يجري ولا يوجب التحريم لأنه مخصوص بضرورة نفي النسب فالخلاف الذي ذكرناه مذكور فأما إذا قلنا اللعان يجري في ملك اليمين ويحرّم المملوك على الأبد فيبعد ذكر الخلاف مع العلم بأن تحريم اللعان لا ينافي ملك اليمين
Ini adalah suatu bentuk pembesaran perkara, dan qiyās memang memperluas perbedaan pendapat. Namun, jika kita memutuskan bahwa li‘ān tidak berlaku pada milik tangan kanan (budak), atau kita mengatakan bahwa li‘ān berlaku tetapi tidak menyebabkan keharaman karena ia dikhususkan untuk kebutuhan menafikan nasab, maka perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan tetap ada. Adapun jika kita mengatakan bahwa li‘ān berlaku pada milik tangan kanan dan menyebabkan keharaman budak untuk selamanya, maka sulit untuk menyebutkan adanya perbedaan pendapat, karena diketahui bahwa keharaman akibat li‘ān tidak bertentangan dengan status milik tangan kanan.
وهذا كله فيما يوجب تحريماً ولا يوجب محرميّة
Semua ini berkaitan dengan hal-hal yang menyebabkan keharaman, namun tidak menyebabkan status mahram.
فأما ما يوجب التحريم والمحرمية فيستوي فيه النكاح وملك اليمين كالنسب والرضاع والصهر
Adapun hal-hal yang menyebabkan keharaman dan mahram, maka dalam hal ini pernikahan dan kepemilikan budak perempuan (milk al-yamīn) sama hukumnya, seperti nasab, radha‘ (persusuan), dan mushaharah (hubungan persemendaan).
وكل ما ذكرناه فيه إذا ظاهر عن امرأته وعاد والتزم الكفارة ثم اشتراها
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya adalah apabila seseorang melakukan ẓihār terhadap istrinya, kemudian rujuk dan berkomitmen untuk membayar kafārah, lalu ia membeli istrinya.
فأما إذا قال للزوجة الأمة أنت عليّ كظهر أمي ثم قال على الاتصال اشتريتها فهل نجعل هذا تحقيقاً للظهار ناقضاً للعَوْد من جهة أن الملك إذا حصل تضمن حصولَ الفراق فإذا أعقب المظاهرُ الظهارَ بسببٍ من أسباب الفراق لم يلتزم الكفارة إذا لم تُلتزم فَتَحِلّ هذه بملك اليمين
Adapun jika seseorang berkata kepada istri yang berstatus budak, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu segera setelah itu ia berkata, “Aku membelimu,” maka apakah hal ini dianggap sebagai penguatan terhadap zhihār yang membatalkan ‘aud (kembali) dari sisi bahwa jika kepemilikan terjadi, maka itu mengandung terjadinya perpisahan? Maka jika orang yang melakukan zhihār menyusulkan zhihār dengan salah satu sebab perpisahan, ia tidak diwajibkan membayar kafarat jika memang tidak diwajibkan, sehingga perempuan ini menjadi halal baginya melalui kepemilikan tangan kanan (milk al-yamīn).
اختلف أصحابنا في المسألة فذهب بعضهم إلى أن هذا يناقض العَوْدَ من حيث إنه قاطع للنكاح وقال آخرون ليس ذلك مناقضاً للعَوْد فإن المناقض للعَوْد هو الذي يحقق التحريمَ كالطلاق والشراءُ وإن كان يرفع النكاح فإنه سببُ استحلالٍ فقد نقلها من سبب حلٍّ إلى سبب حل ومن فراش إلى فراش فإن لم نجعله عائداً فقد حقّق الظهار وانتهى وتحِل هذه بملك اليمين
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal ini bertentangan dengan ‘aud (kembali), karena ia memutuskan pernikahan. Sementara yang lain berpendapat bahwa hal itu tidak bertentangan dengan ‘aud, karena yang membatalkan ‘aud adalah sesuatu yang benar-benar mewujudkan keharaman, seperti talak. Adapun jual beli (budak perempuan), meskipun menghilangkan pernikahan, ia merupakan sebab kehalalan, karena ia memindahkannya dari sebab halal ke sebab halal, dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain. Maka jika kita tidak menganggapnya sebagai ‘aud, maka ia telah mewujudkan zhihar dan selesai, dan perempuan itu menjadi halal dengan kepemilikan melalui milik tangan (milk al-yamin).
وإن قلنا لا يكون الشراء مناقضاً للعَوْدِ فهو عَوْدٌ فإنه ترك الطلاق مع القدرة عليه ثم إذا جعلنا هذا عوداً فيلتزم الكفارة وفي استباحتها بملك اليمين الخلاف الذي ذكرته وسنعيد فصل الشراء في فصل العوْد إذا خُضنا في بيانه ثم نذكر عنده أن الاشتغال بأسباب الشراء قد ينزل منزلة الشراء
Dan jika kita katakan bahwa membeli bukanlah bertentangan dengan ‘aud, maka itu adalah ‘aud, karena ia telah meninggalkan talak padahal mampu melakukannya. Kemudian, jika kita menganggap hal ini sebagai ‘aud, maka wajib baginya membayar kafarah. Dalam hal kebolehan membebaskan dengan kepemilikan melalui yamin terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan, dan kami akan mengulangi pembahasan tentang pembelian dalam bab ‘aud ketika kami membahas penjelasannya. Lalu, akan kami sebutkan di sana bahwa kesibukan dengan sebab-sebab pembelian bisa disamakan dengan pembelian itu sendiri.
قال الشيخ أبو علي لو ظاهر وعاد ثم اشتراها وانفسخ النكاح وأعتقها ثم نكحها لم يستحل وطأها في النكاح الثاني حتى يكفر وجهاً واحداً فإن التردد الذي ذكره الأصحاب في الاستباحة بملك اليمين فأما الاستباحةُ بالنكاح مع بقاءٍ كفارة الظهار فلا سبيل إليه وقد يختلج في نفس الفقيه تخريجُ هذا على عَوْد الحنث مصيراً إلى أنه بالظهار تَصَرَّفَ في النكاح الأول وقد تَصَرَّم ذلك النكاح فلا يبعد أن يتصرم ما فيه وتبقى الكفارة في ذمته إلى أن يخرج عن عهدتها
Syekh Abu Ali berkata: Jika seseorang melakukan zhihar, kemudian kembali (rujuk), lalu membeli istrinya, kemudian pernikahan itu batal, lalu ia memerdekakannya, kemudian menikahinya lagi, maka ia tidak halal menggaulinya dalam pernikahan kedua sampai ia membayar kafarat, menurut satu pendapat. Sebab, keraguan yang disebutkan oleh para ulama adalah dalam hal kebolehan (menggauli) dengan kepemilikan budak (milk al-yamin). Adapun kebolehan dengan pernikahan sementara kafarat zhihar masih ada, maka tidak ada jalan ke sana. Terkadang terlintas dalam benak seorang faqih untuk mengqiyaskan hal ini pada kembalinya pelanggaran, dengan alasan bahwa dengan zhihar ia telah melakukan tindakan dalam pernikahan pertama, dan pernikahan itu telah terputus, maka tidak mustahil bahwa apa yang ada di dalamnya juga terputus, dan kafarat tetap menjadi tanggungannya sampai ia menunaikannya.
والذي يوضح هذا أن الطلاق على أثر الظهار أسقط أثرَ تحريم الظهار وهذا إن ظنه ظانٌّ فلا أصل له في قول المشايخ والذي رأيناه القطع بما ذكرناه فلو ظاهر الرجل عن امرأته وعاد ثم أبانها ثم نكحها لم يجامعها حتى يكفر ولعل السبب فيه أن الظهار يتضمن تحريماً من غير أن يؤثر في الملك فلا يقطعه زوال الملك
Yang menjelaskan hal ini adalah bahwa talak yang terjadi setelah zhihar menghapuskan dampak pengharaman zhihar, dan jika ada yang mengira demikian, maka tidak ada dasarnya menurut pendapat para masyaikh. Pendapat yang kami lihat adalah tegas sebagaimana yang telah kami sebutkan: jika seorang laki-laki melakukan zhihar terhadap istrinya, kemudian ia kembali (rujuk), lalu menceraikannya dengan talak bain, kemudian menikahinya kembali, maka ia tidak boleh menggaulinya sebelum membayar kafarat. Barangkali sebabnya adalah karena zhihar mengandung unsur pengharaman tanpa memengaruhi kepemilikan (status pernikahan), sehingga hilangnya kepemilikan (pernikahan) tidak memutuskan pengaruh zhihar.
وقد ذكرنا إجراء القولين في الإيلاء والسبب فيه أن الإيلاء يتعلق عاقبته بالطلاق وعوْدُ الحنث أصله الطلاق وهو مشبّه به
Kami telah menyebutkan penerapan dua pendapat dalam masalah ila’, dan sebabnya adalah karena ila’ akibat akhirnya berkaitan dengan talak, dan kembali kepada pelanggaran sumpah pada dasarnya adalah talak, sehingga ia diserupakan dengannya.
ولو قال لامرأته إن دخلت الدار فأنت عليّ كظهر أمي ثم أبانها ونكحها فدخلت الدار خرج ذلك على عَوْد الحِنْث فإنه جرى يميناً كالإيلاء وتعليق الطلاق
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu bagiku seperti punggung ibuku,” kemudian ia menceraikannya, lalu menikahinya kembali, lalu istrinya masuk ke dalam rumah, maka hal itu kembali kepada masalah ‘aud al-hinth, karena ucapan tersebut berlaku sebagai sumpah seperti dalam kasus ila’ dan pengaitan talak.
وينتظم من ذلك أن التعليق واليمين يجري فيهما أقوال العَوْد لأن المقصود منهما مرتقب غير ناجز والظهار إذا حَرَّم فقد تنجز ثم ارتفاعه معلّق شرعاً بالتكفير فتجدّد النكاح وتعدّده لا يؤثر في رفع ما وقع وهذا متجه وهو يُقَوِّي تحريمَها بملك اليمين أيضاًً
Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa dalam masalah ta‘liq (penggantungan) dan sumpah, berlaku pendapat tentang ‘awd (pengulangan), karena maksud dari keduanya adalah sesuatu yang masih ditunggu, belum terjadi. Sedangkan dalam zhihar, jika seseorang mengharamkan istrinya, maka keharaman itu langsung terjadi, kemudian penghapusannya secara syar‘i digantungkan pada pembayaran kafarat. Maka, pembaruan akad nikah dan pengulangannya tidak berpengaruh dalam menghapus apa yang telah terjadi. Ini adalah pendapat yang kuat, dan hal ini juga menguatkan keharaman istri melalui kepemilikan budak perempuan (milk al-yamin).
هذا منتهى النقل والتوجيه والتنبيه والله المستعان
Inilah akhir dari kutipan, penjelasan, dan penegasan. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
ثم ذكر الشافعي رضي الله عنه ظهار السكران وقد استقصيت الكلام فيه في كتاب الطلاق والذي عثرت عليه هاهنا أنا إذا قلنا تصرّفُ السكران نافذٌ فهذا مطّرد وهو ينطق ويخاطَب ويُجيب فأما إذا كان في السكر الطافح فبدرت منه كلمةٌ من حَلٍّ أو عقدٍ أو تحريمٍ أو تحليل فالذي قدمتُه أن ذلك لاغٍ وليس يسمى كلاماً وهذا صحيح
Kemudian asy-Syafi‘i raḥimahullāh menyebutkan tentang zhihār orang yang mabuk, dan aku telah membahasnya secara rinci dalam Kitab Ṭalāq. Yang aku temukan di sini adalah bahwa jika kita mengatakan tindakan orang mabuk itu sah, maka itu berlaku secara umum, karena ia berbicara, diajak bicara, dan menjawab. Adapun jika ia dalam keadaan sangat mabuk sehingga keluar darinya suatu ucapan berupa akad, pembatalan akad, pengharaman, atau penghalalan, maka yang telah aku kemukakan adalah bahwa hal itu tidak dianggap dan tidak disebut sebagai ucapan, dan ini adalah pendapat yang benar.
وحكى شيخي أن ذلك نافذٌ تغليظاً وتشديداً وإن بعد هذا عند إنسان قيل له السكران الذي ينطق ويجيب على صورة المجنون ثم نفذت ألفاظه فليكن السكر الطافح كذلك
Guru saya menceritakan bahwa hal itu berlaku sebagai bentuk penegasan dan pengetatan, meskipun hal ini dianggap jauh menurut sebagian orang. Dikatakan kepadanya: orang mabuk yang berbicara dan menjawab seperti orang gila, lalu ucapannya dianggap sah, maka hendaknya mabuk berat pun diperlakukan demikian.
وهذا يعارضه أن ما صدر منه لا يسمى كلاماً فليتصوّر منه نطق ثم يقع النظر بعده في تصحيحه ورده ويجوز أن يجاب عنه فيقال من كلام الناس أن فلاناً كان يتكلم نائماً وهذا تلبيس فإن ذلك يذكر على مذهب التجوّزِ والتشبيهِ واللفظُ الحق فيه أنه هذى وما تكلم
Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa apa yang keluar darinya tidak disebut sebagai kalam, sehingga dapat dibayangkan adanya ucapan darinya, kemudian setelah itu baru diteliti apakah sah atau ditolak. Boleh saja dijawab bahwa dalam ucapan manusia sering dikatakan, “Si Fulan berbicara dalam tidurnya,” namun ini adalah suatu bentuk penipuan, karena ungkapan tersebut digunakan secara majaz (kiasan) dan tasybih (penyerupaan), sedangkan lafaz yang benar untuk hal itu adalah “ia mengigau” dan bukan “berbicara.”
باب ما يكون ظهاراً وما لا يكون ظهاراً
Bab tentang apa yang termasuk zhihār dan apa yang tidak termasuk zhihār
الكلمة الشائعةُ في الجاهلية والإسلام في الظهار أن يقول أنت علي كظهر أمي ثم لا مناقشة في الصلات إذا انتظم الكلام فلو قال أنت عليّ كظهر أمي أو أنت معي كظهر أمي أو مني كظهر أمي فهذه الصلات كلها شائعة لا تتغير بها مراتب الكلام
Ungkapan yang umum digunakan pada masa jahiliah dan Islam dalam zhihār adalah seseorang mengatakan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Kemudian, tidak ada perbedaan dalam penggunaan kata penghubung jika susunan kalimatnya teratur. Maka jika seseorang berkata, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” atau “Engkau bersamaku seperti punggung ibuku,” atau “Engkau dariku seperti punggung ibuku,” semua kata penghubung ini adalah umum digunakan dan tidak mengubah tingkatan makna kalimat.
ولو لم تستعمل صلة فقال أنت كظهر أمي فذلك صريح هكذا ذكره القاضي وإن كان يحتمل أن يريد أنها كظهر أمه في حق غيره ولكن لا نظر إلى هذا كما لو قال لامرأته أنت طالق ثم قال أردت بذلك الإخبار عن كونها طالقاً من جهة فلان
Jika tidak digunakan kata penghubung, lalu seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka itu adalah sharih (lafaz yang jelas), sebagaimana disebutkan oleh al-Qadhi. Meskipun ada kemungkinan ia bermaksud bahwa istrinya seperti punggung ibunya dalam kaitannya dengan orang lain, namun kemungkinan ini tidak dianggap, sebagaimana jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak,” lalu ia berkata, “Aku bermaksud memberitakan bahwa engkau telah tertalak dari pihak si Fulan.”
ولو شبّه امرأته بعضوٍ آخر من أعضاء الأم سوى الظهر فقال أنت عليّ كـ يَدِ أمي أو كـ رِجل أمي أو كـ بطن أمي فلأصحابنا طريقان منهم من أجرى في غير الظهر من الأعضاء التي لا يشعر التشبيهُ بها بالإكرام قولين أحدهما وهو المنصوص عليه في الجديد أن الظهار يثبت والثاني وهو المنصوص عليه في القديم أن الظهار لا يثبت
Jika seseorang menyerupakan istrinya dengan anggota tubuh lain dari ibunya selain punggung, lalu berkata, “Engkau bagiku seperti tangan ibuku” atau “seperti kaki ibuku” atau “seperti perut ibuku,” maka menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat. Di antara mereka ada yang memberlakukan pada selain punggung—dari anggota tubuh yang penyerupaannya tidak menunjukkan pemuliaan—dua pendapat: yang pertama, dan ini yang dinyatakan dalam pendapat baru (al-jadid), bahwa zhihār tetap berlaku; dan yang kedua, yang dinyatakan dalam pendapat lama (al-qadim), bahwa zhihār tidak berlaku.
ومنشأ القولين أن الشافعي رحمه الله في الجديد قد يتبع المعنى فلا يرى اتباع صيغة اللفظ المعهود في الجاهلية حقّاً وكان في القديم لا يرى إلا الاتباعَ ومعهودَ الجاهلية وهذا بعينه مأخذ القولين المذكورين في الإيلاء فالجديد مبناه على أن يلتزم بالوطء بعد أربعة أشهر أمراً ولا يختص الإيلاء على ذلك باليمين بالله كما سبق تفصيله وفي القديم رأى اتّباع معهود الجاهلية وهذا يوجب ألا يثبت الإيلاء إلا بالحلف بالله تعالى أو بصفةٍ من صفاته وهؤلاء من أصحابنا أجرَوْا القولين فيه إذا قال أنت عليّ كفرج أمي ولم يستثنوا من الأجزاء إلا ما في ذكره معنى الكرامة على ما سنصفه
Asal mula dua pendapat tersebut adalah bahwa Imam Syafi‘i rahimahullah dalam pendapat barunya kadang mengikuti makna, sehingga beliau tidak memandang keharusan mengikuti lafaz yang biasa digunakan pada masa jahiliah. Sedangkan dalam pendapat lamanya, beliau hanya memandang keharusan mengikuti lafaz dan kebiasaan jahiliah. Inilah pokok dari dua pendapat yang disebutkan dalam masalah ila’. Pendapat baru didasarkan pada kewajiban untuk melakukan hubungan suami istri setelah empat bulan, dan ila’ tidak dikhususkan hanya dengan sumpah atas nama Allah, sebagaimana telah dirinci sebelumnya. Sedangkan dalam pendapat lama, beliau memandang keharusan mengikuti kebiasaan jahiliah, sehingga ila’ tidak ditetapkan kecuali dengan sumpah atas nama Allah Ta‘ala atau dengan menyebut salah satu sifat-Nya. Para ulama dari kalangan kami juga menjalankan dua pendapat ini dalam kasus jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti kemaluan ibuku,” dan mereka tidak mengecualikan dari keabsahan kecuali pada lafaz yang di dalamnya terdapat makna pemuliaan, sebagaimana akan dijelaskan.
وقال شيخنا أبو علي رحمه الله إذا قال أنت عليّ كفرج أميّ فهذا ظهار قولاً واحداً فإنه تصريح بالمقصود والتشبيه بعضو آخر تسبُّبٌ لهذا ونحن وإن كنا نقتصر على موارد النصوص في بعض المواضع فلا ننتهي إلى منع الإلحاق بالكلية بل نُلحق بالمنصوص عليه ما في معناه
Syekh kami, Abu Ali rahimahullah, berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti farj (kemaluan) ibuku,” maka ini adalah zhihar menurut satu pendapat, karena ini merupakan pernyataan yang jelas tentang maksudnya, dan penyerupaan dengan anggota tubuh lain adalah sebab yang mengantarkan pada hal tersebut. Meskipun kami membatasi pada tempat-tempat yang terdapat nash dalam beberapa kasus, kami tidak sampai melarang qiyās secara keseluruhan, bahkan kami menyamakan sesuatu yang serupa maknanya dengan yang disebutkan dalam nash.
هذا بيان القول في تشبيه الزوجة بجزء من أجزاء الأم غيرِ الظهر إذا كان الجزء غيرَ مشعر بالكرامة
Ini adalah penjelasan mengenai pendapat tentang menyamakan istri dengan salah satu anggota tubuh ibu selain punggung, apabila anggota tersebut bukan bagian yang menunjukkan kemuliaan.
ولو قال أنت علي كعين أمي أو كروح أمي فإن أراد ظهاراً كان ظهاراً على الجديد وإن أراد الكرامة فليس بظهارٍ فإن لفظه محتمل لذلك وإن أطلق لفظه اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من جعله كرامة وقد حُكي ذلك عن القفال
Jika seseorang berkata, “Engkau bagiku seperti mata ibuku” atau “seperti ruh ibuku”, maka jika ia bermaksud melakukan zihar, maka itu dihukumi sebagai zihar menurut pendapat baru. Namun jika ia bermaksud memuliakan, maka itu bukanlah zihar, karena lafaznya memungkinkan untuk kedua makna tersebut. Jika ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini; sebagian dari mereka menganggapnya sebagai bentuk pemuliaan, dan hal ini telah dinukil dari al-Qaffal.
ومنهم من جعل المطلق محمولاً على الظهار وهو اختيار القاضي فإن اسم العضو صريح في الحرمة والكرامةُ تعرض ضمناً إذا قُصدت فإذا كان اللفظ مطلقاً وجب التمسك بحمل اللفظ على العضو نفسه
Sebagian dari mereka ada yang menganggap lafaz mutlak dibawa kepada makna zhihar, dan ini adalah pilihan al-Qadhi. Sebab, penyebutan anggota tubuh secara jelas menunjukkan keharaman, sedangkan makna penghormatan hanya terkandung secara implisit jika memang dimaksudkan. Maka, apabila lafaz tersebut bersifat mutlak, wajib berpegang pada makna lafaz yang merujuk langsung kepada anggota tubuh itu sendiri.
وهذا الذي ذكرناه تفريعٌ على أن التشبيه بالبطن وما في معناه ظهارٌ فإنا إذا كنا لا نجعل التشبيه بالبطن ظهاراً فالتشبيه بالعين أولى ألا يكونَ ظهاراً
Apa yang telah kami sebutkan ini merupakan cabang dari pendapat bahwa penyerupaan dengan perut dan yang semakna dengannya adalah zihar. Sebab, jika kami tidak menganggap penyerupaan dengan perut sebagai zihar, maka penyerupaan dengan mata lebih utama untuk tidak dianggap sebagai zihar.
ولو قال أنت عليّ كرأس أمي اختلف أصحابنا فمنهم من قال الرأس من أعضاء الكرامة كالعين وقد سبق التفصيل فيه
Jika seseorang berkata, “Engkau bagiku seperti kepala ibuku,” para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kepala termasuk anggota tubuh yang dimuliakan seperti mata, dan rincian mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
ومنهم من قال الرأس كالبطن وقد تقدم الكلام فيه أيضاً والمسألة محتملة
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kepala itu seperti perut, dan pembahasan tentang hal ini juga telah disebutkan sebelumnya, serta masalah ini masih memungkinkan untuk diperdebatkan.
ولو قال لامرأته أنت كأمي فإن نوى أنك بمحلّ أمي كرامةً وتعظيماً فما قاله محتمل ولا يصح الظهار ولو أراد الظهار فهو ظهار تفريعاً على الجديد
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau seperti ibuku,” maka jika ia berniat bahwa istrinya berada pada kedudukan ibunya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan, maka ucapannya itu masih mengandung kemungkinan makna dan tidak sah sebagai zhihār. Namun jika ia bermaksud zhihār, maka itu dihukumi sebagai zhihār menurut pendapat baru.
ولو أطلق فعلى اختلاف الجواب
Jika disebutkan secara mutlak, maka terdapat perbedaan pendapat dalam jawabannya.
قال صاحب التلخيص هذا الأصلُ على مناقضة الأصول فإن الطلاق إذا أضيف إلى الجملة كان صريحاًً وإذا أضيف إلى البعض حُمل على الصريح بتسريةٍ أو تكلّفِ معنى آخر والظهار إذا أضيف إلى الظهر وهو جزء من الجملة كان صريحاًً فإنه معهود الجاهلية وإذا أضيف إلى الجملة كان متردداً كما نبهنا عليه
Penulis kitab at-Talkhīṣ berkata: Kaidah ini bertentangan dengan kaidah-kaidah lain, karena talak jika disandarkan kepada seluruh tubuh maka dianggap sebagai lafaz sharih, dan jika disandarkan kepada sebagian tubuh, maka ditafsirkan sebagai sharih dengan penyeretan makna atau dipaksakan makna lain. Sedangkan zhihar, jika disandarkan kepada punggung—yang merupakan bagian dari tubuh—maka dianggap sebagai lafaz sharih, karena itu adalah kebiasaan pada masa jahiliah. Namun jika disandarkan kepada seluruh tubuh, maka menjadi sesuatu yang diperselisihkan, sebagaimana telah kami jelaskan.
ثم ذكر صاحب التلخيص ألفاظاً تضاف إلى الأبعاض ولا خفاء بمعظم ما ذكره ونحن نذكر ما نرى فيه فائدة قال النكاحُ والرجعةُ إذا أضيفا إلى البعض لم يصح واحد منهما والضابط فيه أن ما لا يُعلّق لا يضاف إلى البعض ويخرج منه أن الطلاق والعَتاق يعلّقان فلا جرم يضافان إلى الأجزاء والظهارُ يقبل التعليق أيضاًً وهو في وضعه مضاف إلى عضو
Kemudian penulis at-Talkhīṣ menyebutkan beberapa ungkapan yang disandarkan kepada sebagian (bagian tubuh), dan kebanyakan dari apa yang disebutkannya sudah jelas. Kami akan menyebutkan apa yang menurut kami bermanfaat. Ia berkata: Nikah dan ruju‘ jika disandarkan kepada sebagian (bagian tubuh), maka keduanya tidak sah. Kaidahnya adalah bahwa sesuatu yang tidak dapat digantungkan (ditangguhkan) tidak boleh disandarkan kepada sebagian. Dari sini, talak dan ‘itq (pembebasan budak) dapat digantungkan, maka keduanya boleh disandarkan kepada bagian-bagian (tubuh). Zhihār juga dapat digantungkan, bahkan pada dasarnya zhihār memang disandarkan kepada anggota tubuh.
ولو قال والله لا أجامع نصفك فإنّا نقدم عليه أصلاً فنقول لو أضاف اليمين إلى عضوٍ معيّن فهل يكون مولياً
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli separuh dirimu,” maka kita mendahulukan suatu kaidah, yaitu: jika seseorang mengaitkan sumpahnya pada anggota tubuh tertentu, apakah ia dianggap sebagai orang yang melakukan ila’?
إن أضافه إلى الفرج كان مولياً فإنه صرّح بالمقصود ونصَّ وتعرّض للغرض وخصّه بالذكر فلو قال والله لا أجامع فرجك والله لا أولج ذكري في فرجك فهذا إيلاء
Jika ia menisbahkan sumpahnya kepada farj (kemaluan), maka ia termasuk mu‘alla (orang yang melakukan ila’), karena ia telah secara jelas menyatakan maksudnya, menegaskan, dan menyebutkan tujuannya secara khusus. Maka jika ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli farj-mu,” atau “Demi Allah, aku tidak akan memasukkan zakarku ke dalam farj-mu,” maka ini adalah ila’.
ولو قال والله لا أجامع بعضك قال صاحب التلخيص لا يكون مولياً قال الشيخ وعندي أنه لو قال والله لا أجامع بعضك فنوى بذلك البعض فرجها فيكون مولياً فإن اسم البعض صالح للفرج فأما إذا ذكر جزءاً شائعاً فقال والله لا أجامع نصفك قال الشيخ أبو علي لا يكون مولياً إذا قصد الإشاعة فإن اليمين ليست مفهومةً على الشيوع في النصف
Jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli sebagian darimu,” menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ilā’. Namun, menurut pendapat Syaikh, jika seseorang berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli sebagian darimu,” dan yang ia maksud dengan “sebagian” itu adalah kemaluannya, maka ia dianggap sebagai orang yang melakukan ilā’, karena kata “sebagian” dapat merujuk pada kemaluan. Adapun jika ia menyebutkan bagian yang bersifat umum, seperti berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggauli setengah darimu,” menurut Syaikh Abū ‘Alī, ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan ilā’ jika yang dimaksud adalah bagian yang bersifat umum, karena sumpah tersebut tidak dipahami berlaku secara umum pada setengah bagian.
هذا ما ذكره الشيخ وفيه فضل نظر فنقول إن أراد بالنصف أسافلها فهو كما لو ذكر البعضَ وأراد به الفرجَ وإن زعم أنه أراد بالنصف النصفَ الشائع حقاً فالذي ذكره الشيخ أن هذا ليس بإيلاء أما أن نجعله صريحاًً فلما ذكره وجهٌ فإن لفظ المجامعة مستعار في الأصل وُضِع كنايةً وإلا فهو من المضامّة التي تناقض المفارقة ثم استفاضت وشاعت حتى التحقت بالصرائح وشرط كون هذا اللفظ صريحاًً أن يستعمل على المعهود والمعتاد فإن لم يستعمل كذلك لم يكن مشعراً بالمعنى وضعاً ولا عرفاً وهذا تعليل قولنا إن هذا ليس بصريح
Inilah yang disebutkan oleh Syekh, dan di dalamnya terdapat keutamaan dalam memperhatikan (masalah ini). Maka kami katakan: jika yang dimaksud dengan “setengahnya” adalah bagian bawahnya, maka hal itu seperti ketika seseorang menyebut sebagian dan yang dimaksud adalah farj (kemaluan). Namun jika ia mengklaim bahwa yang dimaksud dengan “setengah” adalah setengah yang umum secara hakiki, maka sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh, hal itu bukanlah termasuk ila’. Adapun jika kita menjadikannya sebagai lafaz sharih (tegas), maka ada sisi pendapat yang mendukungnya. Sebab, lafaz “berkumpul” (mujāma‘ah) pada asalnya adalah lafaz pinjaman yang diletakkan sebagai kiasan, bukan makna hakiki, karena ia berasal dari makna “berdekatan” yang bertentangan dengan “berpisah”. Kemudian, lafaz itu menjadi populer dan tersebar luas hingga akhirnya disamakan dengan lafaz-lafaz sharih. Syarat agar lafaz ini dianggap sharih adalah harus digunakan sesuai dengan kebiasaan dan pemahaman yang berlaku. Jika tidak digunakan demikian, maka lafaz itu tidak menunjukkan makna tersebut, baik secara bahasa maupun secara ‘urf (kebiasaan). Inilah alasan kami mengatakan bahwa lafaz ini bukanlah lafaz sharih.
وإن أراد أنه لو نوى بالجماع المقصودَ المحقق وأضافه إلى النصف الشائع فلا يكون مولياً فهذا قد يتطرق إليه وجه في الاحتمال فإنه إذا نوى بقلبه المقصودَ صار ذلك المعنى كالطلاق ثم الطلاقُ لا يصح اعتقاد وقوفه على النصف الشائع غيرَ أنه يتعداه ويثبت في الجميع فلو قيل بهذا في الإيلاء لم يكن بعيداً
Dan jika yang dimaksud adalah bahwa apabila seseorang berniat dengan jima‘ (hubungan suami istri) yang dimaksudkan secara pasti lalu ia nisbatkan kepada setengah bagian yang tidak tertentu, maka ia tidak dianggap sebagai mu‘li (orang yang melakukan ila’), maka hal ini masih mungkin diperdebatkan. Sebab, jika ia berniat dalam hatinya maksud tersebut, maka makna itu menjadi seperti talak. Sedangkan talak tidak sah jika diyakini hanya berlaku pada setengah bagian yang tidak tertentu, melainkan talak itu akan melampauinya dan berlaku pada seluruhnya. Maka, jika dikatakan demikian juga dalam masalah ila’, hal itu tidaklah jauh (masuk akal).
ويجوز أن يقال الجماع معنى معلوم لا يعقل إضافته إلى الجزء الشائع والطلاق يعقل إضافته إلى الجزء الشائع كما يعقل إضافة العتق إليه وكما يصح إضافة البيع والرهن إليه
Boleh dikatakan bahwa jima‘ adalah suatu makna yang diketahui, yang tidak dapat dipahami nisbatnya kepada bagian yang umum, sedangkan talak dapat dipahami nisbatnya kepada bagian yang umum, sebagaimana ‘itq juga dapat dinisbatkan kepadanya, dan sebagaimana jual beli serta rahn juga sah dinisbatkan kepadanya.
ثم قولنا لا يقف على النصف حكمٌ ومقصود الجماع فعل محسوس وإضافته إلى الجزء الشائع غير معقول
Kemudian, pernyataan kami bahwa tidak ada hukum yang bergantung pada separuh, sedangkan maksud dari jima‘ adalah perbuatan yang dapat dirasakan secara inderawi, dan mengaitkannya dengan bagian yang tidak tertentu (bagian yang tersebar) adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
هذا منتهى المراد في ذلك
Inilah batas akhir maksud dalam hal itu.
و مما ذكره صاحب التلخيص أنه لو قال زنا فرجُك أو دبرك فهو صريح في القذف وهو بمثابة قوله زنيت
Dan di antara yang disebutkan oleh penulis kitab at-Talkhīṣ adalah bahwa jika seseorang berkata, “Kemaluanmu atau duburmu berzina,” maka itu adalah lafaz yang jelas dalam menuduh zina (qadzaf), dan kedudukannya sama seperti ucapan, “Engkau telah berzina.”
ولو قال زنى بدنك فهل يكون صريحاًً في القذف فعلى وجهين ذكرهما الشيخ ووجه الاحتمال فيه بيّن ولو قال الرجل زنى بدني لم يكن ذلك صريحاً في الإقرار بالزنا والفرق بين الإقرار وبين القذف عسر فالوجه طرد الوجهين فيهما
Jika seseorang berkata, “Tubuhmu telah berzina,” apakah itu termasuk lafaz sharih dalam qadzaf? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh asy-Syaikh, dan alasan kemungkinan dalam hal ini jelas. Jika seseorang berkata, “Tubuhku telah berzina,” itu tidak dianggap sebagai pengakuan sharih atas perbuatan zina. Perbedaan antara pengakuan dan qadzaf dalam hal ini memang sulit, sehingga pendapat yang ada pada keduanya tetap berlaku.
ومما ذكره الأئمة أنه لو شبه امرأته بغير أُمِّه من محارمه مثل أن يشبهها بجدته أو أخته من النسب أو الرضاع أو من تحرم عليه بالصهر فكيف السبيل في هذه الألفاظ
Para imam juga menyebutkan bahwa jika seseorang menyerupakan istrinya dengan selain ibunya dari kalangan mahramnya, seperti menyerupakannya dengan neneknya, atau saudara perempuannya baik dari nasab maupun dari susuan, atau dengan perempuan yang haram dinikahi karena hubungan pernikahan (mushaharah), maka bagaimana hukum penggunaan lafaz-lafaz seperti ini?
المنصوص عليه في القديم أنه لا يكون مظاهراً إذا تعدى التشبيه بالأم وهذا يُخرَّج على اتباعِ معهود الجاهلية كما تقدم واستثنى معظم الأئمة الجدةَ وجعلوها كالأم وحكموا بأنه يكون مظاهراً في الجديد والقديم فإن الجدة تسمّى أماً
Pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama adalah bahwa seseorang tidak dianggap melakukan zihar jika ia melampaui perumpamaan dengan ibu, dan hal ini didasarkan pada mengikuti kebiasaan masyarakat jahiliah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, mayoritas imam mengecualikan nenek dan menjadikannya seperti ibu, serta memutuskan bahwa seseorang dianggap melakukan zihar baik menurut pendapat baru maupun lama, karena nenek juga disebut sebagai ibu.
ومن أئمتنا من أجرى في الجدة القولين فأما من عَدَا الجدات من المحرمات بالنسب فالقولان جاريان في التشبيه بهن
Di antara para imam kami, ada yang menerapkan dua pendapat pada nenek, adapun selain nenek dari kalangan perempuan yang haram dinikahi karena nasab, maka dua pendapat tersebut juga berlaku dalam penyerupaan dengan mereka.
والمحرمات من الرضاع إذا جرى تشبيهٌ بهن ففيه ثلاثة أقوال أحدها أنه لا يكون مظاهراً لأنه على خلاف معهود الجاهلية
Perempuan-perempuan yang diharamkan karena hubungan radha‘ jika terjadi penyerupaan terhadap mereka dalam zhihar, terdapat tiga pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa itu tidak dianggap sebagai zhihar, karena bertentangan dengan kebiasaan pada masa Jahiliyah.
والقول الثاني أنه يكون مظاهراً إذا كانت المشبه بها مَحْرَماً حالة التشبيه
Pendapat kedua menyatakan bahwa seseorang dianggap melakukan zhihar apabila perempuan yang diserupakan (dalam ucapan zhihar) adalah mahram pada saat terjadinya penyerupaan tersebut.
والقول الثالث أنها إن لم يعهدها الرجل إلا محرّمة فالتشبيه بها ظهار فإن كانت مستحلّة في حياته ثم طرأ التحريم برضاع طارىء فالتشبيه بها لا يكون ظهاراً
Pendapat ketiga menyatakan bahwa jika seorang laki-laki tidak mengenal seorang perempuan kecuali dalam keadaan haram baginya, maka penyerupaan dengannya termasuk zihar. Namun, jika perempuan itu sebelumnya halal baginya lalu kemudian menjadi haram karena sebab baru seperti persusuan, maka penyerupaan dengannya tidak dianggap sebagai zihar.
وأما التشبيه بالمحرمات بالصهر ففي أصله خلاف من أئمتنا من قال لا يكون المشبّه بالمحرمات صهراً مظاهراً فإن الرضاع إن تبع من حيث إنه ينبت اللحم ويُنشِز العظمَ فالصهر لا يلتحق به
Adapun penyerupaan dengan mahram melalui hubungan perbesanan (ṣihr), maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para imam kami. Sebagian berpendapat bahwa orang yang diserupakan dengan mahram melalui hubungan perbesanan tidak menjadi mahram muẓāharah, karena jika raḍā‘ (persusuan) diikuti sebab ia menumbuhkan daging dan menguatkan tulang, maka hubungan perbesanan tidak dapat disamakan dengannya.
ويُبعد من أصحابنا من قال المحرمات بالصهر في التشبيه بهن بمثابة المحرمات بالرضاع ثم تجري الأقوال الثلاثة التي ذكرناها في المحرمات بالرضاع
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena hubungan perbesanan, dalam hal penyerupaan dengan mereka, kedudukannya sama dengan perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena hubungan persusuan. Kemudian berlaku tiga pendapat yang telah kami sebutkan mengenai perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena persusuan.
ولو قال الرجل لامرأته أنت علي كظهر أبي فقد وجدت الطرقَ متفقة على أن هذا لا يكون ظهاراً فإنه اجتمع فيه أنه ليس معهودَ الجاهلية وليس من شخص يتوقع فيه استحلال حتى إذا لم يكن الحل وكانت الحرمة بغرض التشبيه
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ayahku,” maka telah didapati bahwa seluruh pendapat sepakat bahwa hal ini tidak dianggap sebagai zihar, karena di dalamnya terkumpul dua hal: pertama, ungkapan tersebut bukanlah kebiasaan pada masa jahiliah; kedua, tidak berasal dari seseorang yang dikhawatirkan akan menghalalkan (hubungan tersebut), sehingga jika tidak ada kehalalan dan keharaman itu hanya dimaksudkan sebagai bentuk penyerupaan.
ولا خلاف أن تشبيه المرأة المحرمة تحريماً مؤقتاً لا يكون ظهاراً مثل أن يقول لامرأته أنت عليّ كظهر فلانة وكان طلقها ثلاثاً وكذلك أجمعوا على أن التشبيه بالتي لاعن عنها لا يكون ظهاراً وإن كانت الملاعَنةُ محرَّمةً على الأبد فلا يقع الاكتفاء بالتحريم حتى ينضم إليه المحرميّة
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa penyerupaan dengan perempuan yang haram dinikahi secara sementara tidak dianggap sebagai zihar, seperti jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung fulanah,” padahal fulanah itu adalah perempuan yang telah ia talak tiga. Demikian pula, para ulama sepakat bahwa penyerupaan dengan perempuan yang telah dilakukan li‘an dengannya tidak dianggap sebagai zihar, meskipun perempuan yang telah dilakukan li‘an itu haram dinikahi untuk selamanya. Maka, tidak cukup hanya dengan adanya keharaman, sampai keharaman itu disertai dengan hubungan mahram.
ومأخذ الكلام في هذه المسائل أن الشافعي في القديم اتبع النصَّ ومعقودَ الجاهلية ولم ير الحيدَ عنه بطريق المعنى ورأى في الجديد اتباعَ المعنى ولم ير الإبعاد بالكلِّيّة وطَرْدَ التحريمِ بل شبّه وقرّب ولم ير التمسك بالقياس المحض من كل وجه فإن هذا تصرّف منه في الأصل والأقيسة لا تجول في الأصول على اتساعٍ ولا بد وأن تكون مضبوطة بنوعٍ من الاتّباع
Dasar pembahasan dalam masalah-masalah ini adalah bahwa Imam Syafi’i dalam pendapat lama mengikuti nash dan tradisi jahiliah, serta tidak melihat perlunya menyimpang darinya melalui pendekatan makna. Namun dalam pendapat baru, beliau memilih mengikuti makna, tetapi tidak memandang perlu untuk menjauh sepenuhnya dan menerapkan pelarangan secara mutlak. Beliau melakukan penyerupaan dan pendekatan, serta tidak berpegang pada qiyās murni dari segala sisi, karena hal itu merupakan intervensi terhadap asal (hukum), sedangkan qiyās tidak dapat diterapkan secara luas pada pokok-pokok hukum, melainkan harus tetap terikat dengan suatu bentuk ittibā‘ (mengikuti dalil).
فإذا ترقى الناظر إلى الفروع فيتسع عند ذلك مجاله في القياس
Jika seorang penelaah naik ke pembahasan cabang-cabang (furu‘), maka pada saat itu ruang lingkupnya dalam qiyās menjadi lebih luas.
فصل قال ويلزم الحنث بالظهار كما يلزم بالطلاق إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Kewajiban membayar kafarat berlaku pada zhihar sebagaimana berlaku pada talak, dan seterusnya.”
الظهار قابلٌ التعليق بالصفات والأخطار فإذا قال إن دخلت الدار فأنت على كظهر أمي تعلق الظهار كما يتعلق الطلاق والظهار في تفريع المسائل مردّد بين الإيلاء وبين الطلاق كما سيأتي بيان ذلك ثم الطلاق يقبل التعليقَ والإيلاء يقبل التعليقَ أيضاًً والظهار لا يجاذبه أصل سوى ما ذكرناه
Zhihār dapat digantungkan pada sifat atau peristiwa. Jika seseorang berkata, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu bagiku seperti punggung ibuku,” maka zhihār tersebut menjadi tergantung, sebagaimana talak juga dapat digantungkan. Dalam rincian masalah, zhihār berada di antara ilā’ dan talak, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Kemudian, talak dapat digantungkan, ilā’ juga dapat digantungkan, dan zhihār tidak memiliki asal lain selain apa yang telah kami sebutkan.
ولو قال إذا نكحتك فأنت عليّ كظهر أمي خاطب بذلك أجنبية أو بائنة فإذا نكحها لم ينعقد الظهار كما لا ينعقد الإيلاءُ والطلاقُ قبل النكاح
Jika seseorang berkata kepada seorang perempuan asing atau yang telah bercerai darinya, “Jika aku menikahimu, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu ia menikahinya, maka zhihar tersebut tidak sah, sebagaimana tidak sahnya ila’ dan talak sebelum akad nikah.
هذا ما ذكره الأئمة وأطلقوه
Inilah yang disebutkan dan dinyatakan secara umum oleh para imam.
وحكى صاحب التقريب قولاً مثلَ مذهب أبي حنيفة في الطلاق وأعاد حكايته في الإيلاء وكرره في الظهار وعزاه إلى القديم وأخذ يُجريه في الكتاب ويفرع عليه وهو غريب ولولا اعتناؤه بترديده لما حكيته
Penulis kitab at-Taqrīb mengutip suatu pendapat yang serupa dengan mazhab Abu Hanifah dalam masalah talak, lalu mengulang kutipannya itu dalam masalah ila’, dan mengulanginya lagi dalam masalah zihar, serta menisbatkannya kepada pendapat lama (al-qadīm). Ia pun mulai menerapkannya dalam kitab tersebut dan membangun cabang-cabang hukum di atasnya. Ini adalah hal yang aneh, dan kalau bukan karena perhatiannya yang besar dalam mengulang-ulang pendapat itu, niscaya aku tidak akan mengutipnya.
فصل قال ولو قال أنت طالق كظهر أمي يريد الظهار فهو طلاق إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Engkau tertalak seperti punggung ibuku,” dengan maksud zhihār, maka itu adalah talak, dan seterusnya.
إذا قال لامرأته أنت طالق كظهر أمي فالذي يجب القطع به أن كلامه يشتمل على صريح الطلاق إذ قال أنت طالق فلا مدفع للطلاق ولا مطمع في نفيه
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak seperti punggung ibuku,” maka yang harus dipastikan adalah bahwa ucapannya mengandung lafaz talak yang jelas, karena ia berkata, “Engkau tertalak,” sehingga talak tidak dapat ditolak dan tidak ada harapan untuk menafikannya.
فإذا تبيّن هذا بنينا عليه ما نقصد فنقول إن أطلق هذا اللفظَ فهو طلاقٌ لا غير فإن قيل قد أتى بصريح لفظ الظهار أيضاًً فإذا ضممنا قولَه آخراً إلى الخطاب المذكور أولاً لكان صريحاًً إذ في كلامه أنت كظهر أمي
Jika hal ini telah jelas, maka kami membangun tujuan kami di atasnya, lalu kami katakan: Jika ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak, maka itu adalah talak dan tidak lain. Jika dikatakan: Ia juga telah mengucapkan lafaz zhihar secara sharih, maka jika kita menggabungkan ucapannya yang terakhir dengan ucapan yang disebutkan di awal, itu akan menjadi sharih, karena dalam ucapannya terdapat: “Engkau seperti punggung ibuku.”
قلنا اتصل قوله طالق بقوله أنتِ فاتسق الطلاق لفظاً ونظماً وتخلل ذلك بين الخطاب وبين آخر الكلام فخرج بالتقطع عن كونه صريحاً واتجه فيه إيقاعُ الطلاق وجَعْلُ لفظ الظهار تأكيدَ التحريم فلا يقع عند الإطلاق إذاً إلا الطلاق
Kami katakan, ucapan “talak” tersambung dengan ucapan “engkau” sehingga lafaz talak menjadi serasi secara lafaz dan susunan, dan hal itu terjadi di antara ucapan langsung (khitab) dan akhir perkataan. Maka, jika terjadi pemisahan, ia keluar dari kategori sharih (jelas), dan yang tepat adalah jatuhnya talak serta menjadikan lafaz zihar sebagai penegasan atas pengharaman, sehingga jika diucapkan secara mutlak, yang jatuh hanyalah talak.
وإن نوى الظهار بقوله كظهر أمي نظر فإن بانت بالطلاق فهذا ظهار بعد البينونة والظهار بعد البينونة مردود
Jika seseorang berniat melakukan zhihār dengan ucapannya “seperti punggung ibuku”, maka dilihat: jika istrinya telah menjadi bercerai dengan talak, maka ini adalah zhihār setelah terjadinya bainunah, dan zhihār setelah bainunah itu tidak berlaku.
وإن كان الطلاق رجعياً فهذا ظهار عن رجعية وحكمه ما قدمناه من الصحة وتوقُّفِ العَوْد
Jika talak yang dijatuhkan adalah talak raj‘i, maka ini merupakan zhihar atas istri yang dalam masa raj‘iyyah, dan hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu zhihar tersebut sah dan hukum kembali (rujuk) tergantung.
وحاصل الكلام أن ما ذكر من لفظ الظهار كناية وما ذكر من لفظ الطلاق صريح ثم الطلاق سابق لفظاً ووقوعاً والظهار بعده وهذه الجملة تتضمن التفصيل الذي ذكرناه لا محالة
Kesimpulan pembahasan adalah bahwa lafaz yang disebutkan dari zhihar merupakan kinayah, sedangkan lafaz yang disebutkan dari talak adalah sharih. Kemudian, talak lebih dahulu baik dari segi lafaz maupun kejadiannya, sedangkan zhihar datang setelahnya. Keseluruhan kalimat ini pasti mencakup rincian yang telah kami sebutkan.
ثم إذا كان الطلاق رجعياً فقد ذكرنا أن الظهار يصح ولا يثبت العود وكذلك لو ظاهر عن رجعية ابتداءً ثم إذا ارتجعها فنفسُ الرجعة هل تكون عوداً فيه وجهان ذكرناهما أحدهما أنه تكون عوداً لأن إمساك المرأة بعد الظهار لحظةً من حيث يناقض التحريمَ جُعل عَوْداً فالرجعة ابتداءُ استحلال فهو أولى بأن يكون عوْداً
Kemudian, jika talak itu raj‘i, telah kami sebutkan bahwa zhihar tetap sah dan tidak tetap kewajiban ‘ud (kembali), demikian pula jika seseorang melakukan zhihar terhadap istri yang dalam masa raj‘i sejak awal. Lalu, jika ia merujukinya, apakah rujuk itu sendiri dianggap sebagai ‘ud? Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan; salah satunya adalah bahwa rujuk itu dianggap sebagai ‘ud, karena menahan istri setelah zhihar, meskipun hanya sesaat, yang bertentangan dengan pengharaman, dijadikan sebagai ‘ud. Maka rujuk, yang merupakan permulaan dari upaya menghalalkan kembali, lebih utama untuk dianggap sebagai ‘ud.
والوجه الثاني أن الرجعة لا تكون عَوْداً فإن الحلّ يحصل بها والمناقضة إنما تتحقق بالإمساك في زمن الحل
Pendapat kedua adalah bahwa rujuk tidak dianggap sebagai kembali, karena dengan rujuk terjadi kehalalan, dan pertentangan itu hanya terjadi pada penahanan (istri) di masa kehalalan.
ولو قال لامرأته أنت عليّ كظهر أمي ثم طلقها على الاتصال طلاقاً مبيناً ثم جدد النكاح فقد قال الشيخ هل نجعل النكاح عَوْداً في الظهار الذي مضى في النكاح الأول فعلى وجهين مرتبين على الوجهين المذكورين في الرجعة والنكاحُ أولى بأن لا يكون عَوْداً والسبب فيه أن الطلاق إذا كان رجعياً فلا ينافي الظهار فلا يقطعه والظهار على الابتداء يوجَّه على الرجعيّة فيصحّ فإذا كان الطلاق المتصل بالظهار مبيناً فقد انقطع الظهار بانقطاع النكاح وهذا على قول عَود الحنث وفيه كلام عريض سيأتي في فصلٍ مفردٍ بعد هذا إن شاء الله
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu segera menceraikannya dengan talak bain, kemudian memperbarui akad nikah, maka Syaikh berkata: Apakah kita menganggap akad nikah tersebut sebagai ‘awd (kembali) dalam zihar yang telah terjadi pada pernikahan pertama? Maka ada dua pendapat yang mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan dalam masalah ruju‘. Dan akad nikah lebih utama untuk tidak dianggap sebagai ‘awd. Sebabnya adalah jika talak itu raj‘i, maka tidak bertentangan dengan zihar sehingga tidak memutusnya, dan zihar pada permulaan dapat diarahkan pada talak raj‘i sehingga sah. Namun jika talak yang menyertai zihar itu talak bain, maka zihar terputus dengan terputusnya pernikahan. Ini menurut pendapat ‘awd al-hinth, dan dalam hal ini terdapat pembahasan yang luas yang akan dijelaskan pada bab tersendiri setelah ini, insya Allah.
فصل قال ولو قال أنت عليّ حرام كظهر أمي يريد الطلاقَ فهو ظهار إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Engkau haram atasku seperti punggung ibuku,” jika ia bermaksud talak, maka itu adalah zihar, dan seterusnya.
هذه المسألة فيها التباسٌ ولم يعتن بنهاية الكشف فيها أحدٌ اعتناءَ الشيخ أبي علي وذَكَر في مقدمة المسألة فوائدَ تتعلق بلفظ التحريم ونحن نستاق كلامه على وجهه ونذكر ما يتعلق به من مزيد فوائد عندنا
Masalah ini terdapat kerancuan di dalamnya, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan penyelesaian akhirnya sebagaimana perhatian yang diberikan oleh Syekh Abu Ali. Ia menyebutkan dalam pendahuluan masalah ini beberapa faedah yang berkaitan dengan lafaz tahrim, dan kami akan mengutip perkataannya sebagaimana adanya serta menyebutkan tambahan faedah yang berkaitan dengannya menurut kami.
قال رضي الله عنه إذا قال الرجل أنت عليّ حرام ونوى بذلك تحريمَها في عينها فيلزمه كفارةُ اليمين ثم قال والمذهب أن الكفارة تلزم وإن لم يطأها
Beliau raḥimahullāh berkata: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku,” dan ia berniat mengharamkan istrinya secara khusus, maka ia wajib membayar kafārah yamin. Kemudian beliau berkata: Dan menurut mazhab, kafārah tetap wajib meskipun ia belum menggaulinya.
فمجرد لفظ التحريم يوجب الكفارة قال وقد غلط بعض أصحابنا فقال لا يلزمه الكفارةُ من غير جماع وإن لم يكن قد نوى اليمين والحلف وقد ذكر هذا الوجهَ صاحبُ التقريب والعراقيون وزيّفوه
Maka sekadar lafaz pengharaman saja mewajibkan kafarat. Ia berkata, “Sebagian ulama kami telah keliru dengan mengatakan bahwa tidak wajib kafarat kecuali karena jima‘, meskipun tidak berniat sumpah atau bersumpah.” Pendapat ini telah disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib dan para ulama Irak, dan mereka telah melemahkannya.
ولو قصد بالتحريم إيلاءً فهل يصير حالفاً المذهب الذي قطع به معظم المحققين أنه لا يكون إيلاء فإن عماد اليمين بالله تعالى ذكرُ اسم الله سبحانه والكنايات لا تشعر بهذا المقصود
Jika seseorang bermaksud dengan pengharaman itu sebagai ila’, apakah ia menjadi orang yang bersumpah? Mazhab yang dipastikan oleh mayoritas ulama muhaqqiqin adalah bahwa itu tidak dianggap sebagai ila’, karena inti dari sumpah dengan nama Allah Ta’ala adalah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan lafaz kinayah tidak menunjukkan maksud tersebut.
وذكر شيخي رضي الله عنه أن لفظ التحريم يصير بالنّيّة إيلاء حتى كأنه قال والله لا أصبتك ولا نعرف خلافاً أنه لو قال لإحدى امرأتيه والله لا أصبتك ثم قال لصاحبتها أشركتك معها ونوى عقد اليمين عليها فلا ينعقد اليمين ومن ذكر الوجه الذي قدمناه في التحريم قال في التحريم مشابهةُ اليمين من حيث يتعلق به كفارة اليمين قال الله تعالى في أول سورة التحريم قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ فاحتمل الانصراف إلى اليمين بما له من المشابهة مع اليمين في موجبها وهذا لا يتحقق في لفظ الإشراك وما في معناه
Syekh saya, semoga Allah meridhainya, menyebutkan bahwa lafaz “pengharaman” (at-tahrīm) dengan niat dapat menjadi seperti ilā’, sehingga seolah-olah ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu.” Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata kepada salah satu istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” kemudian berkata kepada istri yang lain, “Aku menyertakanmu bersamanya,” dan ia berniat mengikat sumpah atasnya, maka sumpah itu tidak terikat. Barang siapa yang menyebutkan pendapat yang telah kami kemukakan tentang pengharaman, ia berkata bahwa dalam pengharaman terdapat kemiripan dengan sumpah dari segi adanya kewajiban membayar kafarat sumpah. Allah Ta‘ala berfirman di awal Surah at-Tahrīm: “Sungguh Allah telah mewajibkan bagimu jalan untuk membebaskan sumpah-sumpahmu.” Maka, ayat ini dapat diarahkan kepada sumpah karena adanya kemiripan antara pengharaman dan sumpah dalam hal konsekuensinya. Hal ini tidak berlaku pada lafaz “penyertaan” (al-isyrāk) dan yang semakna dengannya.
ثم لما ذكر الشيخ أبو علي الوجه الضعيف في وقوف وجوب الكفارة على الوطء وإن لم يكن التحريم يميناً بنى عليه أمراً فقال إذا فرعنا على هذا الوجه ومضت أربعة أشهر فهل يكون الزوج مولياً فإنه يلتزم بالوقاع بعد أربعة أشهر أمراً وهذا عماد الإيلاء فعلى وجهين أحدهما أنه يكون مولياً لما ذكرناه كما لو قال إن وطئتك فعبدي حر والوجه الثاني أنه لا يكون مولياً لبعد لفظه عن صيغ الأيْمان وقد ذكرنا أنا وإن كنا نتصرّف على المعنى فلا نطمع في طرده والكلامُ في الأصل وكأنا على الجديد قد نشترط أن يلتزم بالوطء بعد أربعة أشهر أمراً إذا كان حالفاً وكان الالتزام بطريق الحلف حتى لا يبعد عن الأَلِيّة والإيلاء
Kemudian, setelah Syaikh Abu Ali menyebutkan pendapat yang lemah mengenai bergantungnya kewajiban kafarat pada hubungan suami istri meskipun keharamannya bukan karena sumpah, beliau membangun suatu perkara di atasnya. Beliau berkata: Jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat yang lemah ini, lalu telah berlalu empat bulan, apakah suami dianggap melakukan ila’ (sumpah untuk tidak menggauli istri)? Karena ia berkomitmen untuk melakukan hubungan setelah empat bulan, dan ini adalah inti dari ila’. Maka ada dua pendapat: salah satunya, ia dianggap melakukan ila’ sebagaimana yang telah kami sebutkan, seperti jika ia berkata, “Jika aku menggaulimu, maka budakku merdeka.” Pendapat kedua, ia tidak dianggap melakukan ila’ karena lafaznya jauh dari bentuk-bentuk sumpah. Dan telah kami sebutkan bahwa meskipun kami memperhatikan makna, kami tidak berharap dapat menerapkannya secara mutlak, dan pembahasan ini pada dasarnya. Seolah-olah menurut pendapat baru, kami mensyaratkan bahwa ia harus berkomitmen untuk melakukan hubungan setelah empat bulan sebagai suatu perkara jika ia bersumpah, dan komitmen itu melalui jalan sumpah, sehingga tidak jauh dari makna al-iliyyah dan ila’.
وشبب الشيخ بمذهب مالك في الظهار وقال إذا ظاهر عن امرأته ومضت أربعة أشهر فلا يمتنع أن نجعله مولياً ونطالبه مطالبة المولين على قولنا إن العَوْد من المظاهر هو الجماع فيتسق على هذا القول التزامُ الكفارة بالوطء
Syekh menyinggung mazhab Malik dalam masalah zhihar dan berkata: Jika seseorang melakukan zhihar terhadap istrinya dan telah berlalu empat bulan, maka tidak mustahil kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ dan menuntutnya sebagaimana tuntutan terhadap orang yang melakukan ila’, menurut pendapat kami bahwa yang dimaksud dengan ‘audu dari orang yang melakukan zhihar adalah jima‘, sehingga menurut pendapat ini, kewajiban membayar kafarat menjadi berlaku dengan terjadinya jima‘.
وهذا بعيد جداً ولا يسوغ عدّه من المذهب وما ذكره في التحريم تفريع على وجه مزيف غير معتد به ثم لو قدرناه ثابتاً فليس التحريم كالظهار فإن التحريم وإن وقعت الكفارة فيه على الوقاع فهو لا يقتضي إيقاع تحريم فينتظم المَهَلُ وضربُ الأجل فإن مقتضاه التخيّر بين الوطء والترك وهذا إنما يتحقق في التي ليست محرّمة ولهذا حكمنا بأن الأسباب المحرَّمة فيها تمنع من انقضاء المدة واحتسابها والظهار يتضمن التحريم فلا يطابق الإمهال ويبعد عن وضع الإيلاء فإن كنا نقول ونحن نفرع على أن العود هو الوطء إن الوطء لا يحرُم بنفس الظهار فيتجه حينئذ ما أشار إليه وكل ذلك بُعدٌ عن مقتضى الأصول وتشويشٌ لها فهذه فوائد أجراها الشيخ في مقدمة المسألة
Hal ini sangat jauh dan tidak layak dianggap sebagai bagian dari mazhab, dan apa yang disebutkan tentang pengharaman adalah cabang dari pendapat yang lemah dan tidak dianggap. Kemudian, seandainya pun hal itu dianggap tetap, maka pengharaman tidaklah sama dengan zihar. Sebab, pengharaman, meskipun kafaratnya dikenakan karena hubungan suami istri, tidak mengharuskan terjadinya pengharaman sehingga dapat diatur masa tunggu dan penetapan batas waktu. Karena konsekuensinya adalah pilihan antara melakukan hubungan atau meninggalkannya, dan ini hanya dapat terjadi pada perempuan yang tidak diharamkan. Oleh karena itu, kami memutuskan bahwa sebab-sebab yang diharamkan di dalamnya mencegah berakhirnya masa dan perhitungannya. Sementara zihar mengandung unsur pengharaman, sehingga tidak sesuai dengan penundaan dan jauh dari ketentuan ila’. Jika kita mengatakan—dan kita menganggap bahwa ‘kembali’ adalah hubungan suami istri—bahwa hubungan suami istri tidak menjadi haram hanya karena zihar, maka pada saat itu apa yang dia isyaratkan menjadi relevan. Semua itu jauh dari konsekuensi ushul dan menyebabkan kekacauan terhadapnya. Inilah beberapa faedah yang disampaikan oleh Syekh dalam pendahuluan masalah ini.
ونحن نخوض بعدها فنقول
Setelah itu, kami membahasnya dengan mengatakan
إذا قال الرجل لامرأته أنت عليّ حرام وزعم أنه نوى بذلك الظهار قبل منه
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku,” dan ia mengaku bahwa ia berniat zhihār dengan ucapannya itu, maka pengakuannya diterima.
ولو قال أردت الطلاق قبل منه
Jika ia berkata, “Aku bermaksud talak,” maka ucapannya diterima.
ولو زعم أنه نواهما معاً جمعاً من غير فرض تقدم وتأخر في النية فقد أجمع الأصحاب على أنهما جميعاً لا يحصلان جمعاً قال ابن الحداد قد حصل أحد المنويّين فنقول للزوج اختر الآن أيَّهما شئت فإن اختار الظهار كان ظهاراً
Dan jika seseorang mengaku bahwa ia meniatkan keduanya sekaligus secara bersamaan tanpa menentukan mana yang didahulukan atau diakhirkan dalam niat, maka para ulama sepakat bahwa keduanya tidak dapat terjadi secara bersamaan. Ibnu al-Haddad berkata, “Salah satu dari dua hal yang diniatkan itu telah terjadi, maka kita katakan kepada suami: ‘Pilihlah sekarang mana yang kamu kehendaki.’ Jika ia memilih zihar, maka itu menjadi zihar.”
وإن اختار الطلاق كان طلاقاً فمن أصحابنا من يوافقه على ما يقول ومنهم من يزعم أن الطلاق يتعين ويندفع الظهار فإن الطلاق أقوى وأنفذ وأثره في الملك فكان أولى في التنفيذ
Jika ia memilih talak, maka itu menjadi talak. Di antara ulama kami ada yang sependapat dengannya dalam hal ini, dan ada pula yang berpendapat bahwa talak menjadi satu-satunya pilihan dan zhihār gugur, karena talak lebih kuat dan lebih efektif serta pengaruhnya terhadap kepemilikan (ikatan pernikahan) lebih besar, sehingga lebih utama untuk dilaksanakan.
هذا إذا ذكر لفظ التحريم وزعم أنه نوى الطلاق والظهار معاً
Ini jika seseorang mengucapkan lafaz pengharaman dan mengaku bahwa ia berniat talak dan zihar sekaligus.
فأما إذا قال نويت الطلاق والظهار جميعاًً ولكن نويت أحدهما قبل الثاني على ترتب وأتيت بالنيّتين على مساوقة اللفظ فهذا إخبار منه عن وقوع النيتين في وقتين لطيفين قال ابن الحداد إن نوى الظهار أولاً ثم الطلاق بعده حصلا جميعاًً وهذا رجل ظاهر ولم يعد فإنه أعقب الظهار بالطلاق فكان كما لو قال لامرأته أنت علي كظهر أمي أنت طالق
Adapun jika seseorang berkata, “Aku berniat talak dan zihar sekaligus, namun aku meniatkan salah satunya lebih dahulu dari yang lain secara berurutan, dan aku menghadirkan kedua niat itu bersamaan dengan pengucapan lafaz,” maka ini merupakan pemberitahuan darinya bahwa kedua niat itu terjadi dalam dua waktu yang sangat singkat. Ibn al-Haddad berkata, jika ia meniatkan zihar terlebih dahulu kemudian talak setelahnya, maka keduanya terjadi sekaligus. Ini adalah seorang laki-laki yang melakukan zihar dan tidak melakukan ila’, karena ia mengiringi zihar dengan talak, sehingga keadaannya seperti seseorang yang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku, engkau tertalak.”
وإن نوى الطلاق أوّلاً ثم الظهار وقع الطلاق ثم نُظر فإن كان الطلاق بائناً فإنه واقع ولا معنى للظهار بعده وإن كان الطلاق رجعياً وقع وكأنه ظاهر عن رجعية
Jika seseorang berniat untuk menjatuhkan talak terlebih dahulu kemudian melakukan zihar, maka talak terjadi terlebih dahulu, kemudian dilihat kembali; jika talak tersebut adalah talak bain, maka talak itu sah dan tidak ada makna bagi zihar setelahnya. Namun jika talaknya adalah talak raj‘i, maka talak itu terjadi dan seolah-olah ia melakukan zihar terhadap istri yang dalam masa iddah raj‘i.
قال الشيخ أبو علي هذا الذي قاله غلط عندي ولا سبيل إلى تحصيل الأمرين جميعاًً فإن اللفظ واحد وإذا اتحد اللفظُ استحال تعلّق الحكمين به ولا أثر للتقدم والتأخر والحكم في هذه الصورة كالحكم فيه إذا نواهما معاً ثم فيه وجهان تقدم ذكرها
Syekh Abu Ali berkata: Apa yang dikatakannya menurutku adalah keliru, dan tidak mungkin untuk memperoleh kedua hal tersebut sekaligus, karena lafaznya satu. Jika lafaznya satu, mustahil dua hukum sekaligus berkaitan dengannya, dan tidak ada pengaruh antara mendahulukan atau mengakhirkan. Hukum dalam kasus ini sama seperti hukumnya jika ia meniatkan keduanya sekaligus, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
وفي هذا مزيد نظر يستدعي تقديم وجهٍ حكاه العراقيون قالوا إذا ذكر الرجل كناية من كنايات الطلاق ونوى الطلاق نظر فإن انبسطت النية على اللفظ على قدر الطلاق وقع الطلاق وإن قارنت النية بعض اللفظ وتمّت وبعضُ اللفظ باقٍ وابتداء النية بعد ما مضى صَدْرُ اللفظ ثم انطبق نجازها على نجاز اللفظ ففي وقوع الطلاق خلاف حكَوْه فإذا قلنا لا يقع فقياس هذا يقتضي إذا ترتّبت النيّتان في وقتين مقترنين باللفظ ألاّ يقع الطلاق ولا الظهار فإن واحدة من النيتين ما انبسطت على جميع اللفظ
Dalam hal ini terdapat pembahasan lebih lanjut yang memerlukan penyampaian pendapat yang diriwayatkan oleh para ulama Irak. Mereka berkata: Jika seseorang mengucapkan kinayah (lafaz sindiran) dari kinayah-kinayah talak dan ia berniat talak, maka diperhatikan; jika niat itu meliputi seluruh lafaz sesuai kadar talak, maka talak jatuh. Namun, jika niat itu hanya bersamaan dengan sebagian lafaz dan telah selesai, sementara sebagian lafaz masih tersisa, atau jika permulaan niat terjadi setelah sebagian lafaz telah terucap, lalu selesainya niat bersamaan dengan selesainya lafaz, maka dalam hal jatuhnya talak terdapat perbedaan pendapat yang mereka riwayatkan. Jika kita mengatakan talak tidak jatuh, maka secara qiyās, hal ini menuntut bahwa jika dua niat terjadi secara berurutan dalam dua waktu yang berdekatan dengan lafaz, maka talak maupun zihar tidak jatuh, karena salah satu dari kedua niat itu tidak meliputi seluruh lafaz.
فنعود بعد ذلك إلى مسألة الكتاب ونبيّن ما يجري فيها من الأقسام فإذا قال لامرأته أنت عليّ حرام كظهر أمّي فالمسألة تنقسم أقساماً ونحن نأتي عليها إن شاء الله تعالى ونذكر في كل قسم ما يليق به
Kemudian kita kembali kepada masalah kitab dan menjelaskan pembagian-pembagian yang terdapat di dalamnya. Apabila seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau haram atasku seperti punggung ibuku,” maka masalah ini terbagi menjadi beberapa bagian. Kami akan membahasnya, insya Allah Ta‘ala, dan menyebutkan pada setiap bagian apa yang sesuai dengannya.
فإن قال أردت بقولي أنت عليّ حرام طلاقاً ولم أنوِ بباقي الكلام شيئاً فالمذهب أن الطلاق يقع ولا يحصل الظهار ويكون كما لو قال أنت طالق كظهر أمي فإن لفظ التحريم مع نية الطلاق ينزله منزلة صريح لفظ الطلاق
Jika ia berkata, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘engkau haram atasku’ adalah talak, dan aku tidak meniatkan apa pun dari ucapan lainnya,” maka menurut mazhab, talak jatuh dan tidak terjadi zihar, dan hal itu seperti jika ia berkata, “Engkau tertalak seperti punggung ibuku,” karena lafaz pengharaman dengan niat talak diposisikan seperti lafaz talak yang jelas.
وقد ذكر أصحابنا في المسألة قولاً آخر أن الظهار يحصل دون الطلاق فإنه صرّح بالظهار وكنّى عن غيره والصريح الملفوظ أقوى وبالنفوذ أولى من المكنّى
Para ulama kami menyebutkan pendapat lain dalam masalah ini, yaitu bahwa zhihār terjadi tanpa talak, karena ia secara tegas menyatakan zhihār dan menggunakan kinayah (sindiran) untuk selainnya. Lafaz yang tegas (sharīh) lebih kuat dan lebih layak untuk diberlakukan daripada lafaz kinayah.
والقسم الثاني أن يقول نويت بقولي أنت عليّ حرام ظهاراً ولم أنو غيره فيصير مظاهراً بقوله أنت علي حرام ويكون قوله كظهر أمي تأكيداً لما مضى
Bagian kedua adalah ketika seseorang berkata, “Aku berniat dengan ucapanku ‘engkau haram atasku’ sebagai ẓihār, dan aku tidak berniat selain itu,” maka ia menjadi melakukan ẓihār dengan ucapannya “engkau haram atasku,” dan ucapannya “seperti punggung ibuku” menjadi penegasan atas apa yang telah diucapkan sebelumnya.
والقسم الثالث أن يقول أردت الطلاق والظهار جميعاًً وهذا ينقسم فإن قال أردتهما جميعاًً بقولي أنت عليّ حرام وأتيت بالنية مع هذا اللفظ دون ما بعده قال الشيخ ففي هذه المسألة ثلاثة أوجه أحدها أنه يقال له اختر فلا سبيل إلى تحصيلهما جميعاًً ولا بد من أحدهما والوجه الثاني أن الطلاق ينفذ دون غيره وقد وجهنا هذا الوجه فيما تقدم والوجه الثالث أن النافذَ الظهارُ في هذه الصورة فإنه أقوى من الطلاق إذ في الكلام بوحٌ يذكره تصريحاًً فتغليب ما فيه لفظٌ صريح في معناه أولى
Bagian ketiga adalah ketika seseorang berkata, “Aku bermaksud talak dan zihar sekaligus.” Ini pun terbagi lagi; jika ia berkata, “Aku bermaksud keduanya sekaligus dengan ucapanku ‘Engkau bagiku haram’,” dan ia berniat demikian bersamaan dengan lafaz tersebut, bukan setelahnya, maka menurut Syekh, dalam masalah ini terdapat tiga pendapat. Pertama, ia diminta untuk memilih salah satunya, karena tidak mungkin keduanya terwujud sekaligus dan harus memilih salah satu. Pendapat kedua, talak yang berlaku dan bukan yang lain, dan pendapat ini telah dijelaskan sebelumnya. Pendapat ketiga, yang berlaku adalah zihar dalam kasus ini, karena zihar lebih kuat daripada talak, sebab dalam ucapan tersebut terdapat penjelasan yang disebutkan secara tegas, sehingga mengutamakan apa yang mengandung lafaz tegas dalam maknanya lebih utama.
ولو قال أردت بقولي أنت عليّ حرام طلاقاً وبقولي كظهر أمي ظهاراً أما الطلاق فإنه يقع على الصحيح وهو الذي عليه نفرّع في هذه المسألة ثم إن كان الطلاق بائناً فلا معنى للظهار بعده وإن كان رجعياً فقد ظاهر عن رجعية فيثبت الظهار ثم لا يكون عائداً حتى يرتجعها
Jika seseorang berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku ‘engkau haram atasku’ adalah talak, dan dengan ucapanku ‘seperti punggung ibuku’ adalah zihar,” maka talak terjadi menurut pendapat yang sahih, dan pendapat inilah yang menjadi dasar pembahasan dalam masalah ini. Kemudian, jika talaknya adalah talak bain, maka tidak ada makna bagi zihar setelahnya. Namun jika talaknya adalah talak raj‘i, maka ia telah melakukan zihar terhadap istri yang dalam masa iddah raj‘i, sehingga zihar itu berlaku. Setelah itu, ia tidak dianggap sebagai ‘āid (orang yang kembali) kecuali setelah ia merujuk istrinya.
قال الشيخ من أصحابنا من قال في هذه الصورة إنه ينفذ الطلاق ولا يصح الظهار أصلاً لأنه قد استغرق قولَه أنت عليّ حرام بالطلاق فبقي قوله كظهر أمي وهذا كلام غير مستقل بنفسه فلا يصلح لكونه كناية وليس صريحاً أيضاً لنقصانه
Syekh berkata: Di antara para ulama kami ada yang berpendapat bahwa dalam kasus ini talak berlaku dan zhihar sama sekali tidak sah, karena ucapannya “engkau haram atasku” telah digunakan untuk talak, sehingga tersisa ucapannya “seperti punggung ibuku”, dan ini adalah ucapan yang tidak berdiri sendiri, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kinayah dan juga bukan lafaz sharih karena terdapat kekurangan di dalamnya.
وهذا مردود مزيف فإن إشعاره بالظهار لا ينكر والكلام منتظم على ما ذكرناه
Ini adalah pendapat yang tertolak dan palsu, karena makna zhihar memang terkandung di dalamnya dan pembicaraan ini teratur sebagaimana yang telah kami sebutkan.
ولو قال أردت بقولي أنت علي حرام ظهاراً وبقولي كظهر أمي طلاقاً حصل الظهار ولم ينفذ الطلاق هكذا قال الشيخ وعلل بأن قوله كظهر أمي صريح في موضوعه وبابه
Jika seseorang berkata, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘engkau bagiku haram’ sebagai zhihār, dan dengan ucapanku ‘seperti punggung ibuku’ sebagai talak,” maka zhihār terjadi dan talak tidak berlaku. Demikianlah yang dikatakan oleh Syekh, dan beliau beralasan bahwa ucapannya “seperti punggung ibuku” adalah lafaz sharih (jelas) dalam konteks dan babnya.
ولو قال قائل يقع الطلاق من حيث إن قوله كظهر أمي ليس مستقلاً بنفسه لم ينفذ وإلى هذا أشار شيخي والاحتمال فيه ظاهر
Jika ada yang berkata bahwa talak terjadi karena ucapannya “seperti punggung ibuku” tidak berdiri sendiri, maka tidak berlaku. Hal ini telah disinggung oleh guruku, dan kemungkinan dalam hal ini jelas.
ولو قال أردت بقولي أنت علي حرام تحريمَ عينها ولم أنو غيره فإن قلنا التحريم صريح في ذلك كما قدمنا ذكره في الطلاق فيثبت ما قاله لا شك فيه ويلزمه كفارة اليمين على التفصيل المقدم ولا يثبت الظهار أصلاً ويكون ذلك في حكم التحريم بمثابة ما لو قال أنت طالق كظهر أمي فيقع الطلاق دون الظهار
Jika seseorang berkata, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘engkau haram atasku’ adalah mengharamkan zatnya dan aku tidak meniatkan selain itu,” maka jika kita berpendapat bahwa pengharaman adalah lafaz sharih dalam hal tersebut sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam bab talak, maka berlaku apa yang ia katakan tanpa keraguan, dan ia wajib membayar kafarat sumpah sesuai rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, serta tidak berlaku hukum zihar sama sekali. Hal itu dalam hukum pengharaman sama seperti jika seseorang berkata, “Engkau tertalak seperti punggung ibuku,” maka jatuh talak tanpa jatuh zihar.
وإن قلنا لفظ التحريم كناية في تحريم العين وإيجاب الكفارة كما أنه كناية في الطلاق فإذا قال نويت به التحريم الملزم للكفارة ولم أنو غيره فالمذهب أن التحريم يحصل دون الظهار
Jika kita katakan bahwa lafaz “pengharaman” adalah kinayah dalam mengharamkan sesuatu dan mewajibkan kafarat, sebagaimana ia merupakan kinayah dalam talak, maka apabila seseorang berkata, “Aku berniat dengan pengharaman itu yang mewajibkan kafarat dan tidak meniatkan selainnya,” maka menurut mazhab, pengharaman itu terjadi tanpa dihukumi sebagai zihar.
وفي المسألة القول البعيد أنه يحصل الظهار دون التحريم وتكون نية التحريم في مقتضاها كنية الطلاق ثم لو نوى به الطلاق ففي المسألة قول بعيد أنه يحصل الطلاق ويحصل الظهار فكذلك إذا نوى تحريم العين وجعلناه كناية فيه فيخرج فيه قول آخر أنه لا يحصل التحريم ويحصل الظهار
Dalam masalah ini, terdapat pendapat yang lemah bahwa zhihār terjadi tanpa terjadinya pengharaman, dan niat pengharaman dalam konsekuensinya seperti niat talak. Kemudian, jika ia berniat talak, dalam masalah ini terdapat pendapat lemah bahwa talak terjadi bersamaan dengan zhihār. Demikian pula jika ia berniat mengharamkan sesuatu secara spesifik dan kami menganggapnya sebagai kināyah dalam hal ini, maka muncul pendapat lain bahwa pengharaman tidak terjadi, tetapi zhihār tetap terjadi.
ومن بقية هذه المسألة أنه لو أطلق التحريم وقال أنت علي كظهر أمي ولم يَنْوِ شيئاً فإن قلنا التحريم صريح في تحريم العين فتلزم كفارة اليمين وإن قلنا إن التحريم كناية في تحريم العين ولم ينو شيئاً قال الشيخ فينبغي أن يصير مظاهراً ويلغو قوله حرام فيبقى قوله أنت علي كظهر أمي وهذا حسن فقيه
Dan termasuk bagian lain dari masalah ini adalah jika seseorang mengucapkan larangan secara mutlak dan berkata, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” tanpa meniatkan sesuatu pun, maka jika kita mengatakan bahwa larangan (tahrīm) adalah lafaz sharih dalam mengharamkan dzat (istri), maka wajib baginya membayar kafarat yamin. Namun jika kita mengatakan bahwa larangan (tahrīm) adalah kinayah dalam mengharamkan dzat dan ia tidak meniatkan apa pun, Syekh berkata: “Sebaiknya ia menjadi zhihar dan ucapan ‘haram’ dianggap tidak berlaku, sehingga yang tersisa adalah ucapannya ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku’.” Dan ini adalah pendapat yang baik menurut fiqh.
ثم قالوا لو ذكر اللفظَ على الصيغة التي ذكرناها ثم قال أردت به ظهاراً لا بل طلاقاً فقد قال الأصحاب يحصلان جميعاًً فإنه أقرّ بهما
Kemudian mereka berkata, jika seseorang mengucapkan lafaz dengan bentuk yang telah kami sebutkan, lalu ia berkata, “Aku maksudkan dengannya zhihār,” atau, “Tidak, tetapi talak,” maka para ulama berpendapat bahwa keduanya terjadi sekaligus, karena ia telah mengakui keduanya.
قال الشيخ هذا محتمل عندي فإنه يحتمل أن يجعل كأنه نواهما معاً بقوله أنت علي حرام وقد قدمنا في ذلك تفصيلاً
Syekh berkata, menurut saya hal ini memungkinkan, karena bisa jadi dianggap seolah-olah ia meniatkan keduanya sekaligus dengan ucapannya “engkau bagiku haram”, dan sebelumnya kami telah menjelaskan rincian tentang hal itu.
فهذا نهاية البسط على أبلغ وجهٍ في البيان
Inilah akhir dari penjelasan secara paling jelas dalam penyampaian.
فصل قال ولو قال لأخرى أشركتك معها إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan jika ia berkata kepada perempuan lain, ‘Aku menyekutukanmu dengannya,’ dan seterusnya.”
إذا ظاهر عن واحدة ثم قال لأخرى أشركتك معها أو أنت شريكتها أو أنت كهي فإن لم ينو الظهار فليس بظهار وإن نوى الظهار فقولان
Jika seseorang melakukan ẓihār terhadap seorang istri, kemudian berkata kepada istri yang lain, “Aku menyertakanmu bersamanya,” atau “Engkau adalah sekutunya,” atau “Engkau seperti dia,” maka jika ia tidak berniat melakukan ẓihār, maka itu bukanlah ẓihār. Namun jika ia berniat melakukan ẓihār, terdapat dua pendapat.
وضبط المذهب يظهر بذكر مرتبتين متعارضتين وإيقاع الظهار بينهما فإذا قال لإحدى امرأتيه أنت طالق ثم قال لأخرى أنت شريكتها ونوى تطليقها وقع الطلاق
Penetapan mazhab tampak dengan menyebutkan dua tingkatan yang saling bertentangan dan menjatuhkan zhihār di antara keduanya. Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Engkau tertalak,” kemudian berkata kepada istri yang lain, “Engkau sekutunya,” dan ia berniat menceraikannya, maka talak pun jatuh.
ولو قال لإحدى امرأتيه والله لا أجامعك ثم قال لأخرى أنت شريكتها ونوى الإيلاء عنها فلا يحصل الإيلاء بما ذكرناه من أن هذا إحالة اليمين وإزالة صيغتها بالكلية
Jika seseorang berkata kepada salah satu dari dua istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu,” lalu berkata kepada istrinya yang lain, “Engkau adalah sekutunya,” dan ia berniat melakukan ila’ terhadap istri yang kedua, maka tidak terjadi ila’ dengan apa yang telah disebutkan, karena hal itu merupakan pengalihan sumpah dan menghilangkan bentuk lafal sumpah secara keseluruhan.
أما الظهار فإنه بين الطلاق والإيلاء
Adapun zhihār, maka ia berada di antara talak dan ila’.
وقد ذكر الأئمة قولين في أنه هل يُلحَق بالطلاق في مشابهه وأحكامه أم يلحق بالإيلاء وسيدور القولان ويتشعب عنهما مسائلُ جمة في الكتاب فإن ألحقناه بالطلاق فلفظ الإشراك مع نية الظهار يُثبت الظهار وإن ألحقناه بالإيلاء فلا يحصل الظهار بلفظ الإشراك كما لا يحصل الإيلاء بلفظ الإشراك فإن قيل تشبيه الظهار بالطلاق من جهة أنه يحرّم تحريمَه بيّنٌ فما وجه تشبيهه بالإيلاء قلنا الظهار لا يبتّ الملك ولا يؤثر فيه بالتوهين كالإيلاء ويتعلق بكل واحد منهما كفارة
Para imam telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah hukum zhihār disamakan dengan talak dalam hal keserupaan dan hukumnya, ataukah disamakan dengan iilā’. Dua pendapat ini akan terus berputar dan darinya bercabang banyak permasalahan dalam kitab ini. Jika kita samakan zhihār dengan talak, maka lafaz isyrāk (penyamaan) dengan niat zhihār menetapkan zhihār. Namun jika kita samakan dengan iilā’, maka zhihār tidak terjadi dengan lafaz isyrāk, sebagaimana iilā’ juga tidak terjadi dengan lafaz isyrāk. Jika dikatakan bahwa penyerupaan zhihār dengan talak dari sisi pengharamannya yang jelas, maka apa alasan penyerupaannya dengan iilā’? Kami katakan, zhihār tidak memutus kepemilikan (pernikahan) dan tidak berpengaruh dalam melemahkannya seperti iilā’, dan pada masing-masing dari keduanya terdapat kewajiban membayar kafārah.
فصل قال ولو تظاهر عن أربع نسوة بكلمة واحدة إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Seandainya seseorang melakukan zihar terhadap empat orang istri dengan satu kalimat hingga seterusnya.”
صورة المسألة رجل تحته أربع نسوة تظاهر عنهن بكلمة واحدة فقال أنتن عليّ كظهر أمي فإن طلقهن عقيب اللفظ فليس عليه كفارة فإنه ظاهر ولم يعد وإن أمسكهن حتى مضى زمان إمكان الطلاق ففي المسألة قولان أظهرهما أنه يلزمه أربع كفارات نظراً إلى عدد اللواتي ظاهر عنهن
Gambaran masalahnya adalah seorang laki-laki yang memiliki empat istri melakukan zihar terhadap mereka dengan satu kalimat, lalu ia berkata, “Kalian bagiku seperti punggung ibuku.” Jika setelah mengucapkan itu ia langsung menceraikan mereka, maka tidak wajib atasnya membayar kafarat, karena ia telah melakukan zihar namun tidak kembali (kepada mereka). Namun jika ia tetap mempertahankan mereka hingga lewat waktu yang memungkinkan untuk menceraikan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; pendapat yang lebih kuat adalah ia wajib membayar empat kafarat, sesuai dengan jumlah istri yang ia lakukan zihar terhadap mereka.
والقول الثاني أنه يلزمه كفارة واحدة اعتباراً باتّحاد اللفظ والقولان يبتنيان على أن المغلَّب في الظهار مشابه الطلاق أو مشابه اليمين فإن قلنا المغلب معنى الطلاق تعددت الكفارات كما تتعدد الطلقات إذا قال طلقتكن ويلحق كل واحدة منهن طلقة ولا يستقيم على السبر إلا هذا القول فإنه إذا ظاهر عنهن فقد ثبت التحريم في حق كل واحدة منهن وهن متميزات والتحريم في حق كل واحدة صفة شرعية لها ويظهر بهذا تعدد التحريم فإذا تعدد التحريم فليتعلق كل تحريم بعَوْد وكفارة
Pendapat kedua menyatakan bahwa cukup baginya satu kafarat saja, dengan pertimbangan karena ucapannya satu. Kedua pendapat ini didasarkan pada apakah yang lebih dominan dalam zhihar itu kemiripannya dengan talak atau dengan sumpah. Jika kita mengatakan bahwa yang lebih dominan adalah makna talak, maka kafaratnya menjadi berbilang sebagaimana talak juga berbilang jika seseorang berkata, “Aku menalak kalian,” dan setiap dari mereka terkena satu talak. Tidak ada yang sesuai dengan penelitian kecuali pendapat ini, karena jika seseorang melakukan zhihar terhadap mereka, maka keharaman telah tetap bagi masing-masing dari mereka, dan mereka itu berbeda-beda. Keharaman bagi masing-masing adalah sifat syar‘i yang khusus baginya, dan dengan ini tampaklah bahwa keharaman itu berbilang. Jika keharaman itu berbilang, maka setiap keharaman terkait dengan satu ‘aud (kembali) dan satu kafarat.
وإن غلبنا جهة اليمين فالواجب كفارة واحدة كما لو حلف لا يطؤهن فإنه لا يلتزم بوطئهن إلا كفارة واحدة وهذا القول ضعيف وإن كان مشهوراً
Jika yang lebih kuat menurut kami adalah sisi kanan, maka yang wajib hanyalah satu kafarat, sebagaimana jika seseorang bersumpah tidak akan menggauli mereka, maka ia tidak diwajibkan untuk menggauli mereka kecuali dengan satu kafarat saja. Namun pendapat ini lemah, meskipun terkenal.
ويمكن تقريب القولين بما إذا قذف جماعة بكلمة واحدة فإن للشافعي قولين أحدهما يلزمه حدٌّ واحد لاتحاد اللفظ والثاني يلزمه حدودٌ لتعدد المقذوف وتعدد حكم التعيين والجناية على العرض فالمعنى متعدد وإن اتحد اللفظ وقد نُقرّب هذا بما إذا حنث في يمينين بفعل واحد فإنا ذكرنا اختلافاً في أن الكفارة تتّحد أم تتعدد
Kedua pendapat tersebut dapat didekatkan dengan contoh apabila seseorang menuduh sekelompok orang dengan satu kata, maka menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat: salah satunya, ia dikenai satu hukuman had karena ucapannya satu; pendapat kedua, ia dikenai beberapa hukuman had karena yang dituduh lebih dari satu, dan hukum penetapan serta pelanggaran terhadap kehormatan juga berbilang, sehingga maknanya menjadi banyak meskipun ucapannya satu. Hal ini dapat didekatkan dengan kasus apabila seseorang melanggar dua sumpah dengan satu perbuatan, sebagaimana telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat apakah kafaratnya menjadi satu atau berbilang.
فهذه أصول متشابهة وأقرب أصل بما نحن فيه شبهاً قذفُ الجماعة بكلمة واحدة فإن قلنا يلزمه أربع كفارات فلو طلق البعضَ معقباً باللفظ أو مات بعضهن على أثر اللفظ فتسقط الكفارة التي كانت تقابل التي ماتت وكذلك لا تجب الكفارة في حق التي طلقت على الاتصال
Ini adalah beberapa kaidah yang serupa, dan kaidah yang paling mirip dengan permasalahan kita adalah kasus menuduh zina sekelompok orang dengan satu kata. Jika kita mengatakan bahwa pelakunya wajib membayar empat kafarat, maka jika sebagian dari mereka dicerai segera dengan ucapan atau sebagian dari mereka meninggal setelah ucapan tersebut, maka kafarat yang seharusnya untuk yang telah meninggal menjadi gugur. Demikian pula, kafarat tidak wajib bagi yang dicerai secara langsung.
وإن قلنا الواجب كفارة واحدة في ظهارهن فلو ماتت ثلاثٌ منهن على أثر اللفظ أو طلق ثلاثاًً منهن وعاد في الرابعة فالكفارة تلزم وليس كما لو حلف لا يجامعهن فإنه لا يلزم الكفارة ما لم يجامع جميعَهن حتى لو فات الجماع في واحدةٍ لم يلتزم الكفارة أصلاً
Jika kita mengatakan bahwa yang wajib adalah satu kafarat untuk zhihar terhadap mereka, maka jika tiga dari mereka meninggal setelah diucapkan lafaz tersebut, atau ia menceraikan tiga dari mereka dan kembali kepada yang keempat, maka kafarat tetap wajib. Hal ini tidak seperti jika seseorang bersumpah tidak akan menggauli mereka, maka kafarat tidak wajib kecuali ia menggauli semuanya; sehingga jika ia tidak menggauli salah satu dari mereka, maka sama sekali tidak wajib membayar kafarat.
والسبب فيه أن اليمين لا توجب الكفارة إلا عند تحقق الحِنث والحِنثُ يحصل بجماعهن وكفارة الظهار لا تتعلق بحنث وإنما تتعلق بزور ومنكر يحُقِّقُه العَوْدُ فإذا ظهر ذلك وثبت في واحدة وإن لم يظهر في ثلاث فيتحقق موجب الكفارة
Penyebabnya adalah karena sumpah tidak mewajibkan kafarat kecuali setelah benar-benar terjadi pelanggaran, dan pelanggaran itu terjadi dengan menggauli mereka. Sedangkan kafarat zhihar tidak berkaitan dengan pelanggaran, melainkan berkaitan dengan ucapan dusta dan mungkar yang dibuktikan dengan kembali (menggauli). Jika hal itu tampak dan terbukti pada salah satu istri, meskipun tidak tampak pada tiga istri, maka kewajiban kafarat pun menjadi nyata.
وقيل الظهار وإن ألحقناه باليمين فهو نازعٌ إلى الطلاق وهذا كلام مطلق يشعر بعجز المقدِّر
Dikatakan bahwa zhihār, meskipun kami menyamakannya dengan sumpah, ia cenderung kepada talak. Ini adalah pernyataan umum yang menunjukkan kelemahan orang yang menetapkan batasan.
وكان شيخي يحكي في تعليل ذلك عن شيخه القفال أن الظهار نازع إلى الطلاق فيبقى لذلك الحكم في الحيَّة ولم تتعدد الكفارة للنزوع إلى الأيمان وهذا شأن كل أصل يتجاذبه أصلان فيؤثر عليه مقتضاهما
Guru saya pernah menceritakan dalam penjelasan hal itu dari gurunya, al-Qaffal, bahwa zhihar cenderung kepada talak, sehingga hukum itu tetap berlaku pada wanita yang masih hidup, dan kafarat tidak berulang karena kecenderungan kepada sumpah. Inilah keadaan setiap pokok hukum yang ditarik oleh dua pokok hukum lainnya, sehingga keduanya memberikan pengaruh sesuai konsekuensinya.
وهذا كلام مضطرب فإن كل واحدٍ من القولين إنما ينتظم بتغليب أحد الشبهين فإذا أردنا تغليبهما والجمعَ بينهما لم يستقم وفيما قدّمته من الفرق بين اليمين وبين الظهار أكمل مقنع
Ini adalah pernyataan yang rancu, karena masing-masing dari kedua pendapat itu hanya dapat diterima dengan menguatkan salah satu dari dua kemiripan. Jika kita ingin menguatkan keduanya dan menggabungkannya, maka hal itu tidak akan tepat. Dalam penjelasan yang telah saya sampaikan sebelumnya tentang perbedaan antara sumpah dan ẓihār terdapat penjelasan yang lebih memadai.
وبالجملة لا يُتلَقى اتحاد الكفارة من مشابهة الأيمان وإنما استيفاؤه من قذف الجماعة بالكلمة الواحدة كما قدمناه
Secara keseluruhan, kesamaan kafarat tidak diambil dari kemiripannya dengan sumpah, melainkan penetapannya diambil dari kasus menuduh sekelompok orang dengan satu ucapan, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.
وكل ما ذكرناه فيه إذا تظاهر عن النسوة بالكلمة الواحدة
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika para wanita bersekongkol dengan satu kata.
فأما إذا أفرد كلّ واحدة بكلمة وخاطبها بظهار منفرد فلا شك في تعدد الظهار ثم ظهاره عن الثانية عَوْدٌ في حق الأولى والظهار عن الثالثة عوٌد عن الثانية والظهار عن الرابعة عود في حق الثالثة فإن عاد في حق الرابعة بأن أمسكها زمانَ إمكان الطلاق لزمته أربع كفارات وإن طلق الرابعة لما ظاهر عنها فيلزمه ثلاث كفارات بسبب الثلاث المتقدّمات إذ قد تحقق في حقوقهن الظهار والعَوْدُ جميعاًً
Adapun jika setiap istri disebutkan secara terpisah dengan satu kata dan ia menyampaikan zihar kepada masing-masing secara terpisah, maka tidak diragukan lagi bahwa zihar tersebut menjadi berbilang. Kemudian zihar kepada istri kedua merupakan ‘audu (kembali) terhadap istri pertama, zihar kepada istri ketiga merupakan ‘audu terhadap istri kedua, dan zihar kepada istri keempat merupakan ‘audu terhadap istri ketiga. Jika ia melakukan ‘audu terhadap istri keempat, yaitu dengan menahannya selama masa di mana talak masih mungkin dilakukan, maka ia wajib membayar empat kafarat. Namun jika ia menceraikan istri keempat setelah melakukan zihar terhadapnya, maka ia wajib membayar tiga kafarat karena tiga zihar sebelumnya, karena pada mereka telah benar-benar terjadi zihar dan ‘audu sekaligus.
أما الظهار فبيّن مأخوذ من تعدد الألفاظ وتعدد المحل ولا يبقى بعد التعدد في هذين سبب مانع من الحكم بالتعدد في الظهار
Adapun zhihār, maka ia jelas diambil dari adanya pengulangan lafaz dan pengulangan objek, dan tidak ada lagi setelah adanya pengulangan pada keduanya sebab yang menghalangi penetapan hukum berlipatnya zhihār.
أما العَوْد فقد حققناه إذ قلنا اشتغاله بالظهار للثانية تركٌ منه لطلاق الأولى وكذلك القول إلى الرابعة
Adapun kembali (rujuk), telah kami jelaskan ketika kami katakan bahwa kesibukannya dengan zhihar terhadap istri kedua merupakan bentuk meninggalkan talak terhadap istri pertama, demikian pula halnya sampai istri keempat.
ولو قال لأربع نسوة حرّمتكن وقصد تحريمهن بأعيانهن ففي اتحاد الكفارة وتعددها ما في تعدد كفارة الظهار واتحادها على ما تقدم
Jika seseorang berkata kepada empat orang wanita, “Aku haramkan kalian,” dan ia bermaksud mengharamkan mereka masing-masing secara spesifik, maka dalam hal apakah kafarat itu satu atau berbilang, terdapat perbedaan pendapat sebagaimana perbedaan pendapat tentang berbilangnya kafarat zhihār atau kesatuannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وكل هذا فيه إذا خاطب نسوةً بكلمة أو كلمات
Dan semua ini berlaku jika ia berbicara kepada para wanita dengan satu kata atau beberapa kata.
فأما إذا كرر الظهار في امرأة واحدة فقال لها أنت علي كظهر أمي ثم قال مثلَ ذلك ثانية وثالثة إلى غير ذلك فلا تخلو هذه الكَلِم إما أن يأتي بها متواصلة من غير تخلل فَصْلٍ وإما أن يأتي بها متقطعة مع تخلل فواصل فإن أتى بها متصلات وِلاءً و زعم أنه أراد بجميع الألفاظ ظهاراً واحداً وإنما كررها تأكيداً فالظهار واحد والكفارة واحدة إذا وجبت كما ذكرناه في الطلاق والإيلاء ثم إن فرغ من الألفاظ المتواصلة وسكت عن الطلاق حتى مضى زمان إمكانه فتلزمه الكفارة
Adapun jika seseorang mengulangi lafaz zihar kepada satu wanita, misalnya ia berkata kepadanya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu ia mengucapkan yang serupa untuk kedua dan ketiga kalinya, dan seterusnya, maka ucapan-ucapan ini tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia mengucapkannya secara berurutan tanpa jeda, atau ia mengucapkannya secara terpisah dengan jeda di antara keduanya. Jika ia mengucapkannya secara berurutan dan ia mengaku bahwa maksudnya dari semua ucapan itu adalah satu zihar saja, dan ia hanya mengulanginya untuk penegasan, maka zhihar-nya dianggap satu dan kafarat-nya pun satu jika memang wajib, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah talak dan ila’. Kemudian, jika ia telah selesai mengucapkan lafaz-lafaz yang berurutan itu dan diam dari talak hingga waktu kemungkinannya berlalu, maka ia wajib membayar kafarat.
وإن أتى بهذه الكلمات على التواصل ثم عقبها بالطلاق فظاهر المذهب أنه ليس بعائد ولا تلزمه الكفارة
Jika seseorang mengucapkan kata-kata ini secara berurutan lalu setelah itu menjatuhkan talak, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, ia tidak dianggap sebagai ‘ā’id dan tidak wajib baginya membayar kafarat.
ومن أصحابنا من قال تلزمه الكفارة
Dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia wajib membayar kafarat.
توجيه الوجهين من قال تلزمه الكفارة احتج بأنه أخر الطلاق لمّا اشتغل بالتأكيد على زعمه مع تمكنه من تعقيب الكلمة الأولى بالطلاق فإذا لم يفعل كان اشتغاله بالتكرير والتأكيد تركاً منه للطلاق وعوْداً
Penjelasan kedua pendapat: Orang yang berpendapat bahwa ia wajib membayar kafarat berdalil bahwa ia telah menunda talak karena sibuk dengan penegasan menurut anggapannya, padahal ia mampu menyusulkan kata pertama dengan talak. Maka ketika ia tidak melakukannya, kesibukannya dengan pengulangan dan penegasan itu dianggap sebagai meninggalkan talak dan kembali (kepada istrinya).
ومن قال بالوجه الثاني احتج بأن الكلمة إذا تكررت على شرطها في التواصل فهي كالكلمة الواحدة ولا يتخللها حكم بتقصير أو تأخير وكأن المؤكِّد إنما فرغ من كلامه عند فراغه من الكلمة الأخيرة وهذا الوجه أفقه إن شاء الله تعالى
Dan siapa yang berpendapat dengan pendapat kedua, berdalil bahwa apabila suatu kata diulang dengan syarat adanya kesinambungan, maka ia seperti satu kata saja dan tidak diselingi oleh hukum pemendekan atau penundaan. Seolah-olah orang yang menegaskan baru selesai berbicara ketika ia selesai mengucapkan kata terakhir. Pendapat ini lebih sesuai dengan fiqh, insya Allah Ta‘ala.
ولو كرر الكلمَ وزعم أنه أراد بكل كلمةٍ ظهاراً جديداً فالمذهب أن الظهار يتعدد ثم ننظر بعد ذلك في الكفارة كما سنذكره في أثناء الفصل إن شاء الله تعالى وفي بعض التصانيف أنه وإن نوى التجديد والاستئناف فيُخرَّج خلافٌ في اتحاد الكفارة وتعددها وهذا القائل يقول إذا تعددت الكَلِم على قصد التجديد واتحد المحلّ كان كما لو تعدد المحل واتّحدت الكلمة فيخرج على قولين
Jika seseorang mengulangi ucapan dan mengklaim bahwa ia bermaksud setiap kata sebagai zhihār yang baru, maka menurut mazhab, zhihār menjadi berlipat ganda. Setelah itu, kita melihat masalah kafarat sebagaimana akan dijelaskan di bagian bab ini, insya Allah Ta‘ala. Dalam sebagian kitab disebutkan bahwa meskipun ia berniat memperbarui dan memulai kembali, tetap ada perbedaan pendapat mengenai apakah kafaratnya satu atau berbilang. Pendapat ini menyatakan: jika ucapan diulang-ulang dengan niat memperbarui dan objeknya satu, maka keadaannya seperti jika objeknya berbeda namun ucapannya satu, sehingga muncul dua pendapat.
وهذا بعيد
Dan ini tidak mungkin.
وحاصل المذهب أن المحالّ إذا تعددت وتعدّدت الكَلِم أيضاًً فالقطع بتعدد الظهار والكفارة إذا تعدد العود
Kesimpulan mazhab adalah bahwa apabila objek-objek (yang di-zhihar) berbilang dan ucapan zhihar juga berbilang, maka dipastikan terjadinya berbilangnya zhihar dan kewajiban kafarat jika terjadi berbilangnya ‘aud (pengulangan).
وإن اتحدت الكلمة وتعدد المحل ففي تعدد الكفارة قولان
Jika kata-katanya sama namun tempatnya berbeda, maka dalam hal kewajiban membayar kafarat terdapat dua pendapat.
وإذا تعددت الكَلِم واقترن بها قصد الاستئناف والتجديد واتحد المحل ففي المسألة طريقان أحدهما القطع بتعدد الظهار والكفارات إذا تحقق العَوْد كما سنصفه
Jika terdapat beberapa ucapan dan disertai dengan niat untuk memulai dan memperbarui, serta objeknya sama, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah memastikan terjadinya berulangnya zhihar dan kewajiban membayar beberapa kafarat jika benar-benar terjadi ‘aud, sebagaimana akan dijelaskan.
والطريقة الأخرى حَملُ المسألة على قولين كما لو تعدد المحل واتحدت الكلمة
Cara lainnya adalah membawa permasalahan pada dua pendapat, seperti halnya jika tempatnya berbeda namun lafaznya sama.
وذكر العراقيون مسلكاً آخر فقالوا إذا ظاهر عن امرأته وعاد ولم يكفر ثم ظاهر مرة أخرى بعد تخلل زمان متطاول فهل يصح منه الظهار حتى إذا عاد فيه تلزمه الكفارة فعلى قولين أحدهما أنه لا يصح الظهار ما لم يكفر ظهارَه الأول
Orang-orang Irak menyebutkan pendapat lain, mereka berkata: Jika seseorang melakukan zhihār terhadap istrinya, kemudian rujuk tanpa membayar kafarat, lalu melakukan zhihār lagi setelah jeda waktu yang cukup lama, maka apakah zhihār tersebut sah sehingga jika ia kembali melakukannya, ia wajib membayar kafarat? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya menyatakan bahwa zhihār tidak sah sebelum ia membayar kafarat zhihār yang pertama.
وهذا قريب مما ذكرناه في تعدد الكلم مع قصد الاستئناف ولكنهم عبروا عنه بهذه العبارة ويمكن أن يقال مأخذه من تكرير القذف بكلم على مقذوف واحد مع تعدد الزمان المخبَر عنه فإنه إذا اتحد فلا حكم لتعدد الإخبار عنه وإذا كنا نأخذ الظهار عن نسوة بكلمةٍ عن قذف جماعة بكلمةٍ فلا بُعْد في أخذ الظهار عن امرأة بكلمات من قذف رجل بكلمات ونسبته إلى زَنْيات
Ini hampir sama dengan yang telah kami sebutkan mengenai banyaknya ucapan dengan maksud memulai pembicaraan baru, namun mereka mengungkapkannya dengan ungkapan ini. Dapat juga dikatakan bahwa sumbernya adalah dari pengulangan tuduhan zina dengan beberapa ucapan terhadap satu orang yang dituduh, dengan adanya perbedaan waktu yang diberitakan; jika waktunya sama, maka tidak ada hukum atas banyaknya pemberitaan tersebut. Jika kita mengambil hukum zhihar terhadap beberapa wanita dengan satu ucapan, sebagaimana tuduhan zina terhadap sekelompok orang dengan satu ucapan, maka tidaklah jauh untuk mengambil hukum zhihar terhadap satu wanita dengan beberapa ucapan, sebagaimana tuduhan zina terhadap satu laki-laki dengan beberapa ucapan, dan menisbatkannya kepada beberapa perbuatan zina.
وهذا غير سديد فإن القذف يوجب الحد ومن قضايا الحد الاندراج إذا اتحد جنس الواجب ولم يتخلل استيفاءُ الحد وهذا المعنى لا يجري في الكفارات فالوجه أن نفرِّع على أن الظهار يتعدد بتعدد الكلم إذا قَصَد مُطْلِقها الاستئنافَ والتجديدَ
Ini tidaklah tepat, karena qadzaf mewajibkan had, dan dalam perkara had berlaku prinsip penggabungan jika jenis kewajiban sama dan belum ada pelaksanaan had di antaranya. Makna ini tidak berlaku dalam kafarat, maka pendapat yang benar adalah kita merinci bahwa zhihar menjadi berlipat sesuai banyaknya ucapan jika orang yang mengucapkannya memang berniat memulai dan memperbarui.
ثم إذا أتى بهذه الكلم المتواصلة على قصد التجديد والاستئناف فلا يخلو إما أن يطلِّق عقيب الفراغ منها وإما ألا يطلق فإن طلق فهل نجعله عائداً في الظهار الأول بسبب الاشتغال بالظهار الثاني أم كيف الوجه في المسألةِ وجهان أحدهما أنه يكون عائداً في كل ظهار يسبق إذا اشتغل بظهار بعده فإنه بالاشتغال بالظهار يكون تاركاً للطلاق وهذا أقيس الوجهين في صورة التجديد
Kemudian, jika seseorang mengucapkan kata-kata tersebut secara berurutan dengan maksud memperbarui dan memulai kembali, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia menjatuhkan talak setelah selesai mengucapkannya, atau tidak menjatuhkan talak. Jika ia menjatuhkan talak, maka timbul pertanyaan: apakah kita menganggapnya telah melakukan ‘iyādah (kembali) pada zhihār yang pertama karena ia sibuk dengan zhihār yang kedua, atau bagaimana sebenarnya permasalahan ini? Ada dua pendapat dalam masalah ini. Salah satunya adalah bahwa ia dianggap telah melakukan ‘iyādah pada setiap zhihār yang terdahulu jika ia sibuk dengan zhihār berikutnya, karena dengan sibuk melakukan zhihār, berarti ia telah meninggalkan talak. Ini adalah pendapat yang lebih sesuai dengan qiyās dalam kasus pembaruan zhihār.
والوجه الثاني أنا لا نجعله عائداً فإن كل ما يأتي به جنسٌ واحد وإن كان له حكم التجديد فما لم يفرغ عن هذا الجنس لا نجعله عائداً
Adapun pendapat kedua, kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang diulang, karena semua yang dilakukan termasuk dalam satu jenis, meskipun ada hukum tajdid (pembaruan) padanya. Maka selama belum selesai dari jenis ini, kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang diulang.
وهذا ضعيف عندنا ولكن حكاه القاضي وغيرُه والوجه أن يرتب على صورة التكرير والتأكيد فإن جعلنا المؤكِّد عائداً فلأن نجعل المجدد عائداً أولى
Ini lemah menurut kami, namun hal ini telah dinukil oleh al-Qadhi dan yang lainnya. Pendapat yang kuat adalah mengaitkannya dengan bentuk pengulangan dan penegasan. Jika kita menganggap penegas sebagai pengulangan, maka menjadikan pembaru sebagai pengulangan tentu lebih utama.
وإن قلنا لا يكون المكرر المؤكِّد عائداً ففي المسألة وجهان والفرق أن التأكيد في حكم الجزء من الكلام المؤكَّد فكأنْ لا فراغَ عنه ما لم ينقض التأكيد وأما التجديد فمن ضرورته قطعُ الكلام الأول واستئنافُ آخر
Jika kita mengatakan bahwa pengulangan yang bersifat penegasan tidak dianggap sebagai ‘āid (kata ganti yang kembali), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Perbedaannya adalah bahwa penegasan itu dalam hukum dianggap sebagai bagian dari kalimat yang ditegaskan, sehingga seolah-olah tidak ada jeda darinya selama penegasan itu belum selesai. Adapun pembaruan (tajdīd), maka secara niscaya harus memutus kalimat pertama dan memulai kalimat yang baru.
فإذا فرعنا على الأصح نظرنا في عدد الألفاظ وجعلنا كلَّ لفظة عَوْداً في التي قبلها ثم نظرنا إلى اللفظة الأخيرة فإن استعقبت سكوتاً فقد تحقق العَوْد فيها أيضاًً فيجب الكفارةُ بأعداد الكلم وإن عقب الكلمة الأخيرةَ بالطلاق فلم يَعُد فيها فلا كفارة عليه بسببها وتجب الكفارات بأعداد الكلم التي قبلها فإذاً أوضحنا أنه صار عائداً فيها على الأصح هذا إذا واصل الكلام ونوى به تأكيد أو تجديداً
Jika kita mengambil pendapat yang paling sahih, maka kita memperhatikan jumlah lafaz dan menjadikan setiap lafaz sebagai ‘audu (pengulangan) terhadap lafaz sebelumnya. Kemudian kita perhatikan lafaz terakhir; jika setelahnya terjadi diam, maka telah dipastikan adanya ‘audu juga pada lafaz tersebut, sehingga wajib membayar kafarat sebanyak jumlah kata. Namun, jika setelah kata terakhir ia langsung mengucapkan talak tanpa mengulanginya, maka tidak ada kafarat atasnya karena lafaz terakhir tersebut, dan kafarat hanya wajib sebanyak jumlah kata sebelumnya. Dengan demikian, telah kami jelaskan bahwa ia telah mengulanginya menurut pendapat yang paling sahih, yaitu jika ia menyambung ucapan dan meniatkan penegasan atau pembaruan.
فأما إذا أطلق الألفاظ ولم ينو تأكداً ولا تجديداً ففي المسألة قولان كالقولين في نظير هذه المسألة من مسائل الطلاق فإن قلنا إن الألفاظ محمولةٌ على التأكيد فقد مضى حكم التأكيد وإن قلنا إنها محمولة على التجديد فقد مضى حكم التجديد وكل ذلك والألفاظ متواصلة
Adapun jika seseorang mengucapkan lafaz-lafaz tersebut secara mutlak tanpa berniat untuk penegasan (ta’kīd) maupun pembaruan (tajdīd), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam masalah serupa pada perkara talak. Jika kita mengatakan bahwa lafaz-lafaz tersebut dianggap sebagai penegasan, maka berlaku hukum penegasan. Namun jika kita mengatakan bahwa lafaz-lafaz tersebut dianggap sebagai pembaruan, maka berlaku hukum pembaruan. Semua itu berlaku selama lafaz-lafaz tersebut diucapkan secara berurutan.
فأما إذا أتى بها متقطعةً منفصلةً وتخلل بينهما من الأزمنة ما يمنع الحمل على التأكيد على العادة الجارية فيه أما العراقيون فإنهم أجرَوْا القولَ الضعيف الذي حكَوْه وقالوا لا يصح الظهار الثاني وما بعده إذا لم يتخلل تكفير وهذا وجه مزيّفٌ لا أصل له ولا عوْد إليه
Adapun jika seseorang mengucapkannya secara terpisah-pisah dan di antara keduanya terdapat jeda waktu yang menurut kebiasaan yang berlaku tidak dapat dianggap sebagai penegasan, maka menurut para ulama Irak, mereka menjalankan pendapat lemah yang mereka sebutkan, yaitu bahwa zhihar kedua dan seterusnya tidak sah jika tidak diselingi dengan pembayaran kafarat. Ini adalah pendapat yang lemah, tidak berdasar, dan tidak perlu kembali kepadanya.
فنقول إذاً إذا تقطعت الكلم وقصد بكل كلمة ظهاراً فقد تعدد الظهار فإذا تعدد العَوْد تعددت الكفارات
Maka kami katakan, jika kata-kata itu terputus-putus dan setiap kata dimaksudkan sebagai zhihār, maka zhihār pun menjadi berbilang. Jika ‘aud juga berbilang, maka kafarat pun menjadi berbilang.
ولو قال قصدت التكرار وإعادة عين ما تقدم ففي بعض التصانيف أن جواب القفال اختلف في ذلك فقال مرة يقبل ذلك منه وقال مرة لا يقبل وهذا فصلٌ قد قررناه فيما سبق عند ذكرنا أن كَلِمَ الإيلاء إذا تعددت مع تخلل الفواصل يجوز أن تحمل على التكرار والاتحاد تشبيهاً بالإقرار وفيه تردد قدمته
Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud mengulangi dan mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya,” maka dalam beberapa kitab disebutkan bahwa jawaban al-Qaffāl berbeda-beda mengenai hal ini. Beliau pernah mengatakan bahwa hal itu diterima darinya, dan pernah pula mengatakan tidak diterima. Ini adalah permasalahan yang telah kami jelaskan sebelumnya ketika kami menyebutkan bahwa lafaz ilā’ jika diucapkan berulang-ulang dengan adanya jeda di antaranya, boleh ditafsirkan sebagai pengulangan atau sebagai satu kesatuan, dengan menyerupakannya pada pengakuan (iqrār), dan dalam hal ini terdapat keraguan yang telah saya kemukakan sebelumnya.
فاختلاف جواب القفال في الظهار ينبني بعد التنبيه على ما ذكرناه وهو أن تغليب شوْب الطلاق في الظهار أغلب أم تغليب شوب الإيلاء فإن رأينا تغليبَ الطلاق فلا يقبل منه دعوى التكرار وكل لفظ يصدر منه ظهارٌ جديد ككلم الطلاق وقد تخللتها الفواصل
Perbedaan jawaban al-Qaffal dalam masalah zihar didasarkan, setelah penjelasan atas apa yang telah kami sebutkan, pada pertanyaan apakah yang lebih dominan dalam zihar adalah unsur talak atau unsur ila’. Jika kita memandang bahwa unsur talak lebih dominan, maka tidak diterima darinya klaim pengulangan, dan setiap lafaz yang diucapkannya merupakan zihar baru seperti halnya kata-kata talak, meskipun di antara keduanya terdapat jeda.
وإن قلنا شوبُ الإيلاء أغلب فهو ككَلِم الإيلاء إذا تكررت وبينها الفواصل هذا إذا قال قصدت التجديد أو التكرار وليس من الحصافة ذكرُ عبارة التأكيد في هذا المقام فإن التأكيد إنما يجمُل موقعه إذا توالت الألفاظ وهذا يَذْكُر التكرارَ وقد يثبت مذهبُ التكرار مع الفواصل كما ذكرناه في الإقرار
Dan jika kita mengatakan bahwa unsur iilā’ lebih dominan, maka hukumnya seperti kalimat iilā’ yang diulang-ulang dengan adanya jeda di antara masing-masing, hal ini berlaku jika ia mengatakan bahwa ia bermaksud memperbarui atau mengulangi. Tidaklah bijak menyebutkan ungkapan penegasan dalam konteks ini, karena penegasan hanya tepat jika lafaz-lafaznya berurutan. Dalam hal ini, ia menyebutkan pengulangan, dan pendapat tentang pengulangan dapat tetap berlaku meskipun ada jeda, sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab iqrar.
فأما إذا أطلق هذه الألفاظ وقد تخلّلتها الفواصل فالوجه عندنا حملُها على الاستئناف والتجديد لا على التكرار
Adapun jika lafal-lafal ini diucapkan secara umum sementara di antara lafal-lafal tersebut terdapat jeda, maka menurut kami yang tepat adalah memaknainya sebagai permulaan dan pembaruan, bukan sebagai pengulangan.
فصل
Bab
قال ولو قال مهما تظاهرتُ من فلانة الأجنبية إلى آخره
Dan jika ia berkata, “Apa pun yang aku tampakkan dari perempuan asing itu, dan seterusnya.”
إذا كانت له امرأتان حفصة وعمرة فقال لحفصة إن تظاهرت عنك فعمرة عليّ كظهر أمي فتظاهر عنها ثبت الظهار عنهما جميعاً أما حفصة فقد نجّز ظهارها وأما عمرة فقد كان علق الظهار عنها على الظهار عن حفصة وقد ظاهر عن حفصة فحصل الظهار عنهما تنجيزاً وتعليقاً
Jika seseorang memiliki dua istri, Hafshah dan ‘Amrah, lalu ia berkata kepada Hafshah, “Jika aku menziharmu, maka ‘Amrah bagiku seperti punggung ibuku,” kemudian ia menzihar Hafshah, maka zhihar berlaku atas keduanya. Adapun Hafshah, zhihar atasnya telah dilangsungkan secara langsung, sedangkan terhadap ‘Amrah, zhihar digantungkan pada zhihar terhadap Hafshah, dan karena ia telah menzihar Hafshah, maka zhihar berlaku atas keduanya, baik secara langsung maupun dengan penggantungan.
ولو قال إذا تظاهرتُ عن إحداكما فالأخرى عليَّ كظهر أمي ثم تظاهر عن إحداهما انعقد الظهار فيهما تنجيزاً وتعليقاً كما تقدم
Jika seseorang berkata, “Jika aku menziharkan salah satu dari kalian, maka yang lainnya atas diriku seperti punggung ibuku,” kemudian ia menziharkan salah satu dari keduanya, maka zhihar berlaku pada keduanya, baik secara langsung maupun secara tergantung, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو قال إن تظاهرتُ عن فلانة وسمى امرأةً أجنبيةً فأنت عليّ كظهر أمي خاطب زوجته فلا شك أن الظهار عن الأجنبية لا يصح فلو نكحها وظاهر عنها والزوجية قائمة في التي كان علق ظهارها أولاً فيصير مظاهراً عنها فإن الصفة التي علق ظهارها عليها قد تحققت
Jika seseorang berkata, “Jika aku melakukan zihar terhadap fulanah,” lalu ia menyebut nama seorang perempuan asing, “maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” dan ia mengucapkannya kepada istrinya, maka tidak diragukan lagi bahwa zihar terhadap perempuan asing tidak sah. Namun, jika ia menikahi perempuan tersebut dan melakukan zihar terhadapnya, sementara status pernikahan dengan istri yang pertama masih tetap, maka ia menjadi melakukan zihar terhadapnya, karena syarat yang ia gantungkan pada zihar itu telah terpenuhi.
ولو قال لتلك الأجنبية أنت علي كظهر أمي لم يحنَث في زوجته ولم يصر مظاهراً عنها فإن الذي أجراه لم يكن ظهاراً وإنما كان لفظَ الظهار والتعليقاتُ بالعقود والحلول محمولةٌ عندنا على ما يصح منها ولا يقع الاكتفاء بالألفاظ فيها
Dan jika seseorang berkata kepada perempuan asing itu, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka ia tidak dianggap melanggar sumpah terhadap istrinya dan tidak menjadi zihar terhadap istrinya, karena yang ia lakukan bukanlah zihar, melainkan hanya lafaz zihar saja. Adapun pengaitan dengan akad dan ketentuan hukum menurut kami hanya berlaku pada hal-hal yang sah darinya, dan tidak cukup hanya dengan lafaz semata.
فإن قال أردت بقولي إن تظاهرت عن فلانة مخاطبتَها بهذا القول ولم أُرد غير صورة القول فيصير مظاهراً عن امرأته حينئذ بإجراء هذا القول مع الأجنبية فإنّ ما ذكره من الحمل على القول ممكنٌ وإن كان بعيداً وقد ذكرنا أن المحامل البعيدة مقبولة في تحقيق الحِنْث وإنما نرى المحاملَ البعيدة ظاهراً في ردّ الحنث حتى نقول الأمر مردود إلى الباطن ومقتضى التديين
Jika ia berkata, “Maksudku dengan ucapanku ‘Jika aku menzihārimu dari Fulanah’ adalah aku berbicara kepadanya dengan ucapan ini dan aku tidak bermaksud selain bentuk ucapan saja,” maka ia menjadi menzihār terhadap istrinya pada saat itu dengan mengucapkan kata-kata ini kepada perempuan asing. Apa yang ia sebutkan tentang kemungkinan menafsirkan pada ucapan memang mungkin, meskipun jauh, dan telah kami sebutkan bahwa penafsiran-penafsiran yang jauh dapat diterima dalam memastikan terjadinya pelanggaran sumpah (ḥinṡ). Kami hanya memandang penafsiran-penafsiran yang jauh sebagai alasan lahiriah untuk menolak pelanggaran sumpah, sehingga kami katakan bahwa perkara dikembalikan kepada batin dan sesuai dengan tuntutan tadyīn.
هذا إذا قال إن ظاهرت عن فلانة وقد كانت أجنبية وهو لم يتعرّض في يمينه لذكر كونها أجنبية فأما إذا قال إن ظاهرت عن فلانة أجنبيةً فأنت علي كظهر أمي فقد شرط في الظهار عن المذكورة أن تكون أجنبية وليس يخفى أن الظهار لا يصح مع الشرط الذي ذكره قال الأصحاب هذا تعليق بصفة لا تكون فلا يحكم بحصول الظهار
Ini jika seseorang berkata, “Aku melakukan ẓihār terhadap fulanah,” padahal ia adalah perempuan asing (bukan istrinya), dan dalam sumpahnya ia tidak menyebutkan bahwa perempuan itu adalah perempuan asing. Adapun jika ia berkata, “Jika aku melakukan ẓihār terhadap fulanah dalam keadaan ia perempuan asing, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka ia telah mensyaratkan dalam ẓihār terhadap perempuan yang disebutkan itu bahwa ia harus dalam keadaan perempuan asing. Tidaklah samar bahwa ẓihār tidak sah dengan syarat yang disebutkan tersebut. Para ulama berkata, “Ini adalah pengaitan dengan sifat yang tidak mungkin terjadi, maka tidak dihukumi terjadinya ẓihār.”
وقال المزني هذا محمول على لفظ الظهار فإذا قال لها أنت عليّ كظهر أمي فقد تحققت الصفة وهذا كما لو قال إن اشتريت الخمر فأنت طالق فإذا اشترى الخمر كما يشتري الخمر طالبوها وقع الطلاق والأصحاب على مخالفة المزني ومنهم من يشبّب بموافقته وسنذكر هذا المذهب للمزني وخوض الأصحاب معه في الكلام في كتاب الأيمان إن شاء الله عز وجل
Al-Muzani berkata, hal ini dibawa pada lafaz zhihar. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka sifat (larangan) itu telah terwujud. Ini seperti jika seseorang berkata, “Jika aku membeli khamar, maka engkau tertalak,” lalu ia benar-benar membeli khamar sebagaimana orang-orang yang memang membeli khamar, maka jatuhlah talak. Namun para sahabat (ulama) berbeda pendapat dengan Muzani, meskipun ada sebagian yang cenderung setuju dengannya. Kami akan menyebutkan mazhab Muzani ini dan perdebatan para sahabat dengannya dalam pembahasan di Kitab al-Aiman, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وإذا كان قال إن تظاهرت عن فلانة أجنبيةً فأنت علي كظهر أمي فلو نكح تلك المعيّنة وظاهر عنها في النكاح صح الظهار ولم يحصل الحنث فإنه شرط في الحنث وقوع الظهار في حالة كونها أجنبية فإذا ظاهر عنها بعد النكاح فليس هذا الظهار الذي ذكره ولو أنه أراد لفظ الظهار ثم قال للأجنبية أنت علي كظهر أمي فيصير مظاهراً عن زوجته كما قدمناه
Jika seseorang berkata, “Jika aku menziharkan dari si Fulanah yang masih asing, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu ia menikahi perempuan yang ditentukan itu dan menziharkan darinya setelah pernikahan, maka zihar tersebut sah dan tidak terjadi pelanggaran sumpah. Sebab, syarat terjadinya pelanggaran adalah zihar dilakukan saat ia masih berstatus asing. Jika ia menziharkan darinya setelah menikah, maka itu bukanlah zihar yang dimaksudkan sebelumnya. Namun, jika ia bermaksud mengucapkan lafaz zihar, lalu berkata kepada perempuan asing, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka ia menjadi menziharkan istrinya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو قال إن ظاهرتُ عن فلانة الأجنبية فأنت عليّ كظهر أمي فلو نكحها ثم ظاهر عنها فهل يصير مظاهراً عن زوجته وقد صح الظهار عن تلك التي نكحها فعلى وجهين أحدهما أنه يصير مظاهراً عن زوجته كما لو قال إن ظاهرت عن فلانة ولم يتعرض لكونها أجنبية
Jika seseorang berkata, “Jika aku melakukan zihar terhadap Fulanah yang bukan istriku, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu ia menikahi wanita tersebut kemudian melakukan zihar terhadapnya, apakah ia menjadi melakukan zihar terhadap istrinya? Padahal zihar terhadap wanita yang dinikahinya itu telah sah. Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, ia menjadi melakukan zihar terhadap istrinya, sebagaimana jika ia berkata, “Jika aku melakukan zihar terhadap Fulanah,” tanpa menyebutkan statusnya sebagai wanita asing.
والوجه الثاني أنه لا يصير مظاهراً عن زوجته لأنه ذكر تلك المرأة ووصفها بكونها أجنبية إذ قال إن ظاهرتُ عن فلانة الأجنبية فإذا نكحها خرجت عن كونها أجنبية وحقيقة الوجهين تنزِع إلى أن قوله فلانة الأجنبية هل يقع شرطاً أم هي للتعريف والإعلام لا للاشتراط وفيه الخلاف
Pendapat kedua adalah bahwa ia tidak menjadi muzāhir terhadap istrinya karena ia menyebutkan perempuan itu dan menyifatinya sebagai ajnabiyyah (perempuan asing), yaitu dengan ucapannya: “Jika aku melakukan zihar terhadap Fulanah yang ajnabiyyah.” Maka apabila ia menikahinya, status ajnabiyyah itu hilang darinya. Hakikat dari kedua pendapat ini kembali pada persoalan apakah ucapannya “Fulanah yang ajnabiyyah” itu menjadi syarat ataukah hanya sebagai penjelasan dan pemberitahuan, bukan untuk pensyaratan, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.
وقد دار الكلام على ثلاث صور إحداها أن يقول إن ظاهرت عن فلانة من غير أن يتعرض لكونها أجنبية
Pembicaraan berputar pada tiga bentuk, salah satunya adalah ketika seseorang berkata, “Aku melakukan zihar terhadap fulanah,” tanpa menyebutkan apakah ia adalah perempuan asing (bukan istrinya) atau bukan.
والثانية أن يقول إن ظاهرت عن فلانة أجنبيةً أو قال إن ظاهرت عن فلانة وهي أجنبية فهذا اشتراط
Dan yang kedua adalah jika seseorang berkata, “Jika aku melakukan ẓihār terhadap fulanah yang merupakan perempuan asing,” atau ia berkata, “Jika aku melakukan ẓihār terhadap fulanah padahal ia adalah perempuan asing,” maka ini adalah suatu pensyaratan.
والثالثة أن يقول إن ظاهرت عن فلانة الأجنبية وهذا مردّدٌ بين التعريف وبين الشرط
Yang ketiga adalah jika seseorang berkata, “Aku melakukan zihar terhadap perempuan asing (bukan istriku) itu,” maka hal ini masih diperselisihkan antara bermakna sebagai pengenalan (ta‘rīf) dan sebagai syarat (syarth).
باب العوْد
Bab ‘Awd
قال الشافعي رحمه الله قال الله عز وجل ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ الآية إلى آخره
Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Kemudian mereka kembali kepada apa yang telah mereka ucapkan, maka wajib memerdekakan seorang budak…” (ayat) hingga akhir ayat.
مضمون هذا الباب الكلامُ في العود ومعناه فإنه عز من قائل علّق الكفارة بالظهار والعَوْد جميعاًً إذ قال تعالى ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا
Isi dari bab ini adalah pembahasan tentang ‘al-‘aud’ (kembali) dan maknanya, karena Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi mensyaratkan kewajiban kafarat pada zhihar dan ‘al-‘aud’ sekaligus, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Kemudian mereka kembali kepada apa yang telah mereka ucapkan.”
وقد اختلف مذاهب العلماء في تفسير العَوْد فذهب الثوري وغيره إلى أن العَوْد هو الإتيان بالظهار في الإسلام ونفسُ لفظ الظهار عنده موجِبٌ للكفارة ومعنى العود في الكتاب أن الظهار لفظٌ كانت العرب في الجاهلية تستعمله فمن استعمله في الإسلام فكأنه عاد لما كان ومعناه في الجاهلية
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna ‘aud. Ats-Tsauri dan yang lainnya berpendapat bahwa ‘aud adalah melakukan zhihar di masa Islam, dan lafaz zhihar itu sendiri menurutnya mewajibkan kafarat. Makna ‘aud dalam Al-Kitab adalah bahwa zhihar merupakan lafaz yang digunakan oleh bangsa Arab pada masa jahiliah, maka siapa yang menggunakannya di masa Islam seolah-olah ia kembali kepada apa yang dahulu ada, dan maknanya di masa jahiliah…
وهذا لا حاصل له فإن الله عز وجل ذكر الظهار ورتب عليه العَوْد فقال ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ وهذا يقتضي إنشاء أمرٍ هو العَوْد بعد الظهار فلا يوافق هذا المذهبُ ظاهرَ الكتاب أصلاً
Hal ini tidak memiliki makna yang jelas, karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang zhihār dan menetapkan adanya ‘aud (kembali) atasnya, sebagaimana firman-Nya: “Kemudian mereka kembali kepada apa yang telah mereka ucapkan, maka wajib memerdekakan seorang budak.” Ini menunjukkan adanya perbuatan baru, yaitu ‘aud setelah zhihār. Maka, pendapat ini sama sekali tidak sesuai dengan zahir Al-Kitab.
وذهب داود إلى أن العَوْد تكرير كلمة الظهار وهذا ركيكٌ لا أصل له
Dawud berpendapat bahwa ‘awd adalah mengulangi lafaz zihar, dan pendapat ini lemah serta tidak memiliki dasar.
وذهب الزهري ومالك في إحدى الروايتين إلى أن العَوْد هو الوطء وهذا المذهب فيه استيضاح حقيقة المعنى فإن قوله تعالى ثُمَّ يَعُودُون معناه ثم يناقضون ما كان منهم فإن الظهار مقتضاه التحريم فإذا جرى شيء يخالفه ويناقضه فهو الذي فهمه العلماء من العود وهو بمثابة قول القائل قال فلان قولاً وعاد فيه أي يُتبعه بما يخالفه
Az-Zuhri dan Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘aud (kembali) adalah melakukan hubungan suami istri. Pendapat ini lebih menjelaskan hakikat makna, karena firman Allah Ta‘ala “kemudian mereka kembali” maksudnya adalah kemudian mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Karena zhihar itu mengandung makna pengharaman, maka jika terjadi sesuatu yang bertentangan dan menyalahi hal itu, itulah yang dipahami para ulama sebagai ‘aud (kembali). Hal ini seperti ungkapan seseorang: “Si Fulan telah berkata sesuatu lalu ia kembali dalam ucapannya,” maksudnya ia mengikutinya dengan sesuatu yang bertentangan dengannya.
ثم من فهم هذا على الصحة اختلفوا فيما يقع به المخالفة فذهب الزهري ومالك إلى أن المخالفة تقع بالوطء لا غير
Kemudian, di antara mereka yang memahami hal ini dengan benar, terjadi perbedaan pendapat mengenai hal apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran. Az-Zuhri dan Malik berpendapat bahwa pelanggaran itu terjadi hanya dengan melakukan hubungan badan, dan tidak dengan yang lain.
وقال أبو حنيفة في رواية ومالك في رواية العَوْد هو العزم على الوطء
Abu Hanifah dalam salah satu riwayat dan Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa ‘aud (kembali) adalah bertekad untuk melakukan hubungan suami istri.
والرواية الصحيحة عن أبي حنيفة وعنها يذبُّ أصحابُه وبها يُفتون أن الكفارة لا تستقر في الظهار استقرار اللزوم وإنما هي مشروعة للاستحلال فإن كفّر استحلّ وإن وطىء قبل التكفير عصى ربَّه ولم تستقر الكفارة أيضاًً بل التحريم باقٍ إلى أن يكفر
Riwayat yang sahih dari Abu Hanifah, yang juga dibela oleh para pengikutnya dan dijadikan dasar fatwa mereka, adalah bahwa kafarat dalam kasus zihar tidak menjadi kewajiban yang tetap, melainkan disyariatkan sebagai sarana untuk menghalalkan kembali hubungan. Jika seseorang telah membayar kafarat, maka ia menjadi halal kembali (boleh berhubungan). Namun jika ia berhubungan sebelum membayar kafarat, berarti ia telah durhaka kepada Tuhannya dan kafarat pun belum menjadi kewajiban yang tetap, bahkan keharaman itu tetap berlaku sampai ia membayar kafarat.
وهذا وإن اختاروه مضطربٌ سيّما على أصلهم فإن الكفارة لا تقدّم على وجوبها وهذا الذي ذكروه تكفير قبل الوجوب
Meskipun mereka memilih pendapat ini, pendapat tersebut mengandung kerancuan, terutama menurut prinsip mereka sendiri, karena kaffarah tidak boleh didahulukan sebelum kewajibannya, dan apa yang mereka sebutkan itu merupakan pelaksanaan kaffarah sebelum kewajibannya.
والمذهب الصحيح للشافعي أن العَوْد هو أن يمسكها عقيب الفراغ من الكلمة زماناً يتمكن فيه من الطلاق فإذا فعل ذلك ولم يطلق فقد أمسكها زوجةً وإمساكُها زوجةً في لحظةٍ يناقض ما اقتضاه الظهار من التحريم
Mazhab yang benar menurut asy-Syafi‘i adalah bahwa ‘aud (kembali) itu adalah ketika seorang suami menahan istrinya setelah selesai mengucapkan kalimat (zhihar) dalam waktu yang cukup baginya untuk menjatuhkan talak. Jika ia melakukan hal itu dan tidak menjatuhkan talak, maka ia telah menahan istrinya sebagai istri. Menahan istri sebagai istri dalam sekejap saja bertentangan dengan konsekuensi zhihar, yaitu pengharaman.
والحملُ على الوطء بعيدٌ فإنه تعالى ذكر الظهار والعَوْد ثم قال فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فأشعر هذا بكون الظهار والعود متقدمَيْن على التماسّ وقد قيل للشافعي قولٌ في القديم أن العود هو الوطء وهذا إن صح فهو في حكم المرجوع عنه ولا معوّل عليه
Menafsirkan ‘al-‘aud’ sebagai jima‘ (hubungan badan) adalah penafsiran yang lemah, karena Allah Ta‘ala telah menyebutkan zhihar dan ‘al-‘aud’, kemudian berfirman: “Maka (wajib) memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bersentuhan.” Hal ini menunjukkan bahwa zhihar dan ‘al-‘aud’ terjadi sebelum adanya persentuhan. Imam Syafi‘i pernah berpendapat dalam qaul qadim bahwa ‘al-‘aud’ adalah jima‘, namun jika pendapat ini benar, maka ia termasuk pendapat yang telah ditinggalkan dan tidak dapat dijadikan sandaran.
ثم إذا ظاهر الرجل ولم يطلّق حتى مضى زمانٌ يسع التطليق فقد عاد واستقرت الكفارةُ فلو تلفظ بالظهار ومات هو عقيبه أو ماتت فلا كفارة فإن الإمساك لم يتحقق وأيس من العود
Kemudian, jika seorang laki-laki melakukan ẓihār dan tidak menceraikan istrinya hingga berlalu waktu yang cukup untuk melakukan talak, maka ia telah kembali dan kafarat menjadi wajib. Namun, jika ia mengucapkan ẓihār lalu segera meninggal dunia, atau istrinya yang meninggal setelah itu, maka tidak ada kafarat, karena penahanan (terhadap istri) tidak terjadi dan tidak ada harapan untuk kembali.
ولو طلقها فالطلاق ينافي العود فلا تجب الكفارة ثم لو راجع بعد الطلاق الرجعي أو جدد النكاح بعد الطلاق المبين فسنفردُ في ذلك فصلاً فإنه عمدةٌ الكتاب
Jika suami menceraikannya, maka talak bertentangan dengan rujuk sehingga tidak wajib membayar kafarat. Kemudian, jika suami merujuk setelah talak raj‘i atau memperbarui akad nikah setelah talak bain, maka hal ini akan kami bahas secara khusus dalam satu bab tersendiri, karena hal itu merupakan pokok pembahasan kitab ini.
ثم ذكر المزني كلاماً لا يليق بهذا المحل فنذكره ثم نعود إلى ما وعدناه من تفصيل الطلاق والرجعة والنكاح
Kemudian al-Muzani menyebutkan suatu pembicaraan yang tidak sesuai dengan tempat ini, maka kami akan menyebutkannya terlebih dahulu, lalu kami akan kembali kepada apa yang telah kami janjikan berupa perincian tentang talak, rujuk, dan nikah.
قال الشافعي معنى قوله سبحانه مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا وقتٌ لأن يؤدي فيه إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata: Makna firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala “sebelum keduanya bersentuhan” adalah waktu yang memungkinkan untuk sampai pada akhirnya.
أراد بذلك أن المظاهر يحرم عليه الجماع حتى يكفّر فإن كان يكفر بصوم الشهرين المتتابعين فحرام عليه أن يمَسها حتى يستكمل الصيام فلو جامعها نهاراً في الشهرين فسد الصوم وانقطع التتابع ولزم استئناف صوم الشهرين وتحريم الجماع ممتدٌّ وليس هذا من خاصية الجماع بل لو أفطر في اليوم الأخير من غير عذرٍ على ما سيأتي التفصيل فيما يقطع التتابع وفيما لا يقطعه فالحكم ما ذكرناه من فساد الكفارة ووجوب العود إلى استئناف الصوم فلو كان يكفر بصوم الشهرين فوطىء التي ظاهر عنها ليلاً فالجماع حرامٌ لأنه قبل تبرئة الذمة عن الكفارة ولكن صوم الشهرين لا يفسد بما جرى والتتابع لا ينقطع وقال أبو حنيفة تفسد الكفارة
Yang dimaksud adalah bahwa orang yang melakukan ẓihār diharamkan baginya berhubungan suami istri sampai ia menunaikan kafarat. Jika kafaratnya adalah dengan berpuasa dua bulan berturut-turut, maka haram baginya menyentuh istrinya sampai ia menyelesaikan puasa tersebut. Jika ia berhubungan suami istri pada siang hari di antara dua bulan itu, maka puasanya batal, keterpaduan (tataabu‘) puasa terputus, dan ia wajib mengulangi puasa dua bulan dari awal. Larangan berhubungan suami istri ini terus berlaku, dan ini bukan kekhususan untuk hubungan suami istri saja, bahkan jika ia membatalkan puasa pada hari terakhir tanpa uzur, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci tentang apa yang memutus keterpaduan dan apa yang tidak memutuskannya, maka hukumnya seperti yang telah disebutkan, yaitu kafaratnya batal dan ia wajib kembali mengulangi puasa. Jika kafaratnya adalah dengan berpuasa dua bulan, lalu ia berhubungan suami istri dengan wanita yang ia zhihar pada malam hari, maka hubungan tersebut tetap haram karena ia belum terbebas dari tanggungan kafarat, namun puasa dua bulannya tidak batal karena kejadian tersebut dan keterpaduan puasanya tidak terputus. Abu Hanifah berpendapat bahwa kafaratnya batal.
وعبر الشافعي عن حقيقة المسألة بأن قال الصوم مؤقت بالزمان المتقدّم على المسيس فلو استفتح شهرين بعد المسيس لكان جميع الصوم وراء الوقت فإذا مضى بعض الصوم قبل المسيس فهذا المقدار واقعٌ في الوقت فإيقاع البقية وراء الوقت أقربُ إلى الامتثال من إيقاع الجميع وراء الوقت والمسألة مشهورة مع أبي حنيفة
Asy-Syafi‘i mengungkapkan hakikat permasalahan ini dengan mengatakan bahwa puasa itu ditentukan waktunya sebelum terjadinya hubungan (seksual), sehingga jika seseorang memulai puasa dua bulan setelah terjadinya hubungan, maka seluruh puasa itu berada di luar waktu yang ditentukan. Jika sebagian puasa telah dijalani sebelum terjadinya hubungan, maka bagian tersebut berada dalam waktu yang ditetapkan. Maka, menjalankan sisa puasa setelah waktu yang ditentukan lebih dekat kepada pelaksanaan perintah daripada melaksanakan seluruh puasa di luar waktu yang ditetapkan. Permasalahan ini masyhur bersama pendapat Abu Hanifah.
ثم قال فإذا منع الجماعَ أحببتُ أن يمنع القُبَلَ إلى آخره قد ذكرنا أن من ظاهر وعاد التزم الكفارة ولا يحل له الوطء ما لم يكفر وإذا حرمت التي ظاهر عنها وتحقق التحريم في الوطء فهل يحرم سائر جهات الاستمتاع كالمسّ والاعتناق والقبلة وغيرها من وجوه الاستمتاع عدا الجماع ظاهر النص هاهنا أنه لا يحرم شيء سوى الجماع ونص في رواية الزعفراني على أنه يَحْرُم جميع جهات الاستمتاع فحصل قولان أحدهما ولعله الأظهر أن جميع الجهات من الاستمتاعات تَحْرُم كالوطء وما يحرّم الوطءَ من هذه الأجناس يحرِّم وجوه الاستمتاع كالعدة والإحرام
Kemudian ia berkata: Jika dilarang melakukan jima‘, aku lebih suka juga melarang ciuman dan seterusnya. Telah kami sebutkan bahwa siapa yang melakukan zihar lalu mengulanginya, ia wajib membayar kafarat dan tidak halal baginya melakukan hubungan suami istri sebelum membayar kafarat. Jika wanita yang dizihar diharamkan dan keharaman dalam jima‘ telah dipastikan, maka apakah bentuk-bentuk kenikmatan lain seperti menyentuh, berpelukan, mencium, dan bentuk kenikmatan lainnya selain jima‘ juga diharamkan? Teks yang tampak di sini menunjukkan bahwa tidak ada yang diharamkan selain jima‘. Namun dalam riwayat Az-Zu‘farani disebutkan bahwa semua bentuk kenikmatan diharamkan. Maka terdapat dua pendapat: salah satunya, dan mungkin ini yang lebih kuat, bahwa semua bentuk kenikmatan diharamkan seperti halnya jima‘, dan apa yang mengharamkan jima‘ dari jenis-jenis ini juga mengharamkan bentuk-bentuk kenikmatan lainnya, seperti masa ‘iddah dan ihram.
والقول الثاني لا يحرم إلا الوطءُ والمسيسُ في القرآن كنايةٌ عن الجماع والقائل الأول يقول هو محمول على حقيقته ولا خلاف أن قوله تعالى إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ محمول على الوطء فالمس في هذه الآية كناية بلا خلاف وهي فيما عداها من الآي على التردد والاختلاف كآية الملامسة وكآية الظهار التي نحن في ذكر معناها
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang diharamkan hanyalah hubungan badan, dan kata “al-mas” dalam Al-Qur’an adalah kiasan untuk jima‘ (hubungan suami istri). Sedangkan pendapat pertama mengatakan bahwa kata tersebut dibawa pada makna hakikinya. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa firman Allah Ta‘ala: “Apabila kalian menikahi perempuan-perempuan mukmin, kemudian kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka,” maksudnya adalah hubungan badan. Maka “al-mas” dalam ayat ini adalah kiasan, tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun dalam ayat-ayat lain, seperti ayat tentang “al-mulamasah” dan ayat tentang zihar yang sedang kita bahas maknanya, masih terdapat keraguan dan perbedaan pendapat.
ثم نجمع في هذا كلاماً ضابطاً إن شاء الله فنقول كل ما يُحرّم الوطءَ من جهة تأثيره في الملك فلا شك أنه يُحرِّم سائرَ جهات الاستمتاع كالطلاق وما لا يحرّم الملك ويُقصد به استبراء الرحم عن الغير فهو يحرّم جهات الاستمتاع بجملتها كالعدة تجب في صلب النكاح عن وطء الشبهة فإنها تتضمن التحريم من كل الوجوه
Kemudian, kami akan merangkum dalam pembahasan ini suatu kaidah, insya Allah, yaitu: segala sesuatu yang mengharamkan hubungan suami istri karena berpengaruh terhadap status kepemilikan (hak suami atas istri), maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu juga mengharamkan seluruh bentuk kenikmatan lainnya, seperti talak. Adapun sesuatu yang tidak mengharamkan status kepemilikan dan dimaksudkan untuk memastikan rahim bersih dari benih orang lain, maka hal itu mengharamkan seluruh bentuk kenikmatan secara keseluruhan, seperti masa ‘iddah yang wajib dalam pernikahan akibat hubungan syubhat, karena hal itu mencakup pengharaman dari segala sisi.
وكل ما يبيح المرأة لشخصٍ فلا شك أنه يحرمها على غيره من الوجوه كلها كالنكاح في الأَمَة
Segala sesuatu yang membolehkan seorang perempuan bagi seseorang, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu mengharamkannya bagi selain orang tersebut dari segala segi, seperti pernikahan pada budak perempuan.
وكل تحريم يرجع إلى الأذى كالحيض فهو مقطوع به في محل الأذى وهو الوطء ولا يثبت فوق السرة وتحت الركبة وفي ثبوته دون السرة وفوق الركبة مع توقي الوقاع الخلافُ المعروف
Setiap larangan yang berkaitan dengan gangguan, seperti haid, maka larangan itu sudah pasti berlaku pada tempat gangguan tersebut, yaitu hubungan badan, dan tidak berlaku di atas pusar dan di bawah lutut. Adapun mengenai keberlakuannya di bawah pusar dan di atas lutut dengan menghindari hubungan badan, terdapat khilaf yang dikenal.
ثم من أصحابنا من حمل هذا الخلافَ على التحويم على الحمى وخشية الوقوع فيه
Kemudian, sebagian dari ulama kami menafsirkan perbedaan pendapat ini sebagai larangan berputar-putar di sekitar wilayah terlarang dan kekhawatiran akan terjatuh ke dalamnya.
ومنهم من حمله على غلبة الظن في الأذى في المحل القريب
Sebagian dari mereka menafsirkannya sebagai dugaan kuat akan adanya gangguan pada tempat yang dekat.
والعبادة التي حرُم الجماع فيها تنقسم إلى الإحرام والصوم والاعتكاف فأما الإحرام فإنه يحرّم التقاء البشرتين من كل وجه وهذا تعبُّدٌ لا نلتزم تعليلَه
Ibadah yang diharamkan melakukan hubungan suami istri di dalamnya terbagi menjadi ihram, puasa, dan i‘tikaf. Adapun ihram, maka diharamkan bersentuhan kulit dari segala sisi, dan ini merupakan bentuk penghambaan yang tidak wajib kita cari alasannya.
وأما الصوم فيحرُم الوقاعُ فيه وكل ما يُخشى منه الإنزال فهو محرم وفيه تفصيل طويل ذكرته في موضعه من كتاب الصيام وأما التلذذ مع الأمن من الإنزال فالصحيح أنه لا يحرم وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُقَبِّل وهو صائم
Adapun puasa, maka diharamkan melakukan hubungan intim di dalamnya, dan segala sesuatu yang dikhawatirkan dapat menyebabkan keluarnya mani juga haram. Mengenai hal ini terdapat rincian yang panjang yang telah saya sebutkan pada tempatnya dalam Kitab Puasa. Adapun menikmati (istri) dengan tetap merasa aman dari keluarnya mani, maka pendapat yang sahih adalah bahwa hal itu tidak diharamkan, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium (istri beliau) saat sedang berpuasa.
ومنهم من قال التلذذ حرام من الصائم وإنما نُبيح القُبلة والجسَّ ممّن لا يتلذّذ
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa menikmati (syahwat) adalah haram bagi orang yang berpuasa, dan kami hanya membolehkan ciuman dan sentuhan bagi orang yang tidak merasakan kenikmatan.
وهذا خطأ صريح عندنا والتعويل فيما يحرم ويحل على الأمن من الإنزال والخوف منه
Ini adalah kesalahan yang jelas menurut kami, dan yang dijadikan dasar dalam menentukan halal dan haram adalah rasa aman dari keluarnya mani atau kekhawatiran akan hal itu.
وأما الظهار ففيه قولان أحدهما أنه يحرّم كل استمتاع والثاني أنه لا تحرم جميعاًً فإذا لم تحرم فلا بأس بالتلذذ وإن أفضى إلى الإنزال أما الاستمتاع بما تحت السرة وفوق الركبة ففيه تردد يجوز أن يخرّج على الخلاف المذكور في الحائض ويجوز أن يقال إنه يحلّ فإن التحريم فيها ليس مربوطاً بالأذى
Adapun mengenai zhihār, terdapat dua pendapat: yang pertama, zhihār mengharamkan seluruh bentuk kenikmatan; yang kedua, zhihār tidak mengharamkan semuanya. Maka jika tidak diharamkan, tidak mengapa menikmati, meskipun sampai menyebabkan keluarnya mani. Adapun kenikmatan pada bagian tubuh di bawah pusar dan di atas lutut, terdapat keraguan; boleh jadi hal ini dikembalikan pada perbedaan pendapat yang telah disebutkan mengenai wanita haid, dan boleh juga dikatakan bahwa hal itu diperbolehkan, karena keharaman pada wanita haid tidak terkait dengan adanya gangguan (adzā).
فأما الاستبراء وتحريم المستبرأة فإنا نقول فيه إذا كانت الجارية مستبرأة في جهة لو ثبت فيها كونُها مستولدةً للغير لحرمت فجميع وجوه الاستمتاع محرّم منها كما يحرّم من المعتدّة
Adapun istibra’ dan pengharaman terhadap perempuan yang sedang dalam masa istibra’, maka kami katakan bahwa jika seorang budak perempuan sedang dalam masa istibra’ dalam suatu keadaan yang jika terbukti ia adalah ummul walad bagi orang lain maka ia menjadi haram, maka seluruh bentuk kenikmatan (hubungan) dengannya adalah haram, sebagaimana diharamkan pula terhadap perempuan yang sedang dalam masa ‘iddah.
وأما المسبية فلو ثبت أنها أمُّ ولدٍ لم يضر فالاستبراء فيها تعبُّدٌ فلا يحل وطؤها وهل يحل سائر وجوه الاستمتاع فعلى اختلاف مشهور وسيأتي ذلك مستقصىً في كتاب الاستبراء إن شاء الله عز وجل
Adapun perempuan tawanan, jika telah terbukti bahwa ia adalah ummu walad, maka hal itu tidak membahayakan. Istibra’ padanya adalah bentuk ta‘abbud, sehingga tidak halal menggaulinya. Adapun apakah halal melakukan bentuk-bentuk kenikmatan lainnya, terdapat perbedaan pendapat yang masyhur. Hal ini akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-Istibra’ insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ومما أجراه الشافعي رضي الله عنه أن الذي يكفر بالإعتاق لا يطأ قبل الإعتاق والذي يكفر بالصيام كذلك ثم هذا يطّردُ في التكفير بالإطعام فلا يحل للذي يكفّر بالإطعام أن يطأ قبل الإطعام خلافاً لأي حنيفة وهذا الخلاف نشأ من تقييد العتق والصيام بالمسيس فإنه تعالى قال فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا وقال في الصوم فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ولما ذكر الإطعام لم يقيده بالتّماسّ فقال أبو حنيفة يتقيّد ما قيّده ولا يتقيد ما أرسله ورأى الشافعي حمل المطلق على المقيّد سيّما إذا اتحدت الواقعة
Di antara pendapat yang dikemukakan oleh Imam Syafi‘i rahimahullah adalah bahwa seseorang yang melakukan kafarat dengan memerdekakan budak tidak boleh berhubungan suami istri sebelum memerdekakan budak, dan demikian pula bagi yang melakukan kafarat dengan berpuasa. Kemudian, hal ini juga berlaku dalam kafarat dengan memberi makan; maka tidak halal bagi orang yang melakukan kafarat dengan memberi makan untuk berhubungan suami istri sebelum memberi makan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Perbedaan pendapat ini muncul karena adanya pembatasan pada kafarat memerdekakan budak dan berpuasa dengan larangan bersentuhan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka hendaklah memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bersentuhan,” dan dalam hal puasa: “Maka berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan.” Namun, ketika menyebutkan kafarat dengan memberi makan, Allah tidak membatasinya dengan larangan bersentuhan. Maka Abu Hanifah berpendapat bahwa yang dibatasi tetap dibatasi dan yang tidak dibatasi tetap tidak dibatasi, sedangkan Imam Syafi‘i berpendapat bahwa yang mutlak dibawa kepada yang muqayyad, terutama jika kasusnya sama.
فصل قال ولو تظهّر ثم أتبع الظهار طلاقاً إلى آخره
Pasal: Ia berkata, “Jika seseorang melakukan zhihār, kemudian setelah itu ia menjatuhkan talak, dan seterusnya.”
هذا هو الفصل الموعود وبه يظهر سر العود وفيه نذكر عَوْد الحنث في الظهار فالله المستعان
Inilah bab yang dijanjikan, dan di dalamnya tampak rahasia pengulangan, serta di dalamnya kami sebutkan pengulangan sumpah dalam masalah zhihār. Maka hanya kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan.
فنقول أوّلاً من ظاهر عن امرأته وعاد فإن أمسكها في زمان إمكان الطلاق فقد لزمت الكفارة واستقر لزومها ثم كما استقرت الكفارة استقر التحريم المرتبط به فلا يزول التحريم إلا بالتكفير ومن أثر ذلك أنه لو ظاهر وعاد ثم أبان زوجته ثم نكحها فهي محرّمة عليه سواء قلنا بعود الحنث أو لم نقل به لما حققناه من استقرار التحريم وتعلقِ زواله بتبرئة الذمة عن الكفارة فلا خلاص من الكفارة إلا بأدائها ولا انتهاء للتحريم إلا بالتكفير حتى قال المحققون إذا ظاهر وعاد ثم اشترى التي ظاهر عنها فلا يستحل وطأها بملك اليمين ما لم يكفر هذا هو المذهب الظاهر وفيه وجه بعيد ذكرته فيما تقدم
Maka kami katakan pertama-tama, siapa pun yang melakukan zihar terhadap istrinya lalu kembali (rujuk), maka jika ia menahan istrinya dalam masa di mana talak masih mungkin dilakukan, maka kafarat menjadi wajib atasnya dan kewajiban itu telah tetap. Kemudian, sebagaimana kewajiban kafarat itu telah tetap, demikian pula keharaman yang terkait dengannya juga telah tetap, sehingga keharaman itu tidak hilang kecuali dengan membayar kafarat. Di antara dampaknya adalah jika seseorang melakukan zihar lalu kembali (rujuk), kemudian menceraikan istrinya, lalu menikahinya kembali, maka istrinya tetap haram baginya, baik kita mengatakan dosa zihar itu kembali atau tidak, karena telah kami tegaskan bahwa keharaman itu telah tetap dan hilangnya keharaman itu bergantung pada pelunasan kafarat. Maka tidak ada jalan keluar dari kafarat kecuali dengan menunaikannya, dan keharaman itu tidak berakhir kecuali dengan membayar kafarat. Sampai-sampai para ulama muhaqqiq berkata, jika seseorang melakukan zihar lalu kembali (rujuk), kemudian membeli perempuan yang telah dizihar darinya, maka ia tidak halal menggaulinya dengan status milik tangan (budak) sebelum membayar kafarat. Inilah mazhab yang paling kuat, meskipun ada pendapat lain yang lemah yang telah saya sebutkan sebelumnya.
هذه مقدمة مهدناها ونخوض بعدها في بيان غرض الفصل
Ini adalah pendahuluan yang telah kami siapkan, dan setelahnya kami akan membahas tujuan bab ini.
فإذا ظاهر وطلق على الاتصال فلا يخلو إما أن يكون الطلاق رجعياً وإما أن يكون الطلاق بائناً فإن كان الطلاق رجعياً فهذا يمنع حصول العَوْد فإذا لم يحصل العود لم يلتزم الكفارة أصلاً فإن راجعها وأمسكها صار عائداً واختلف أصحابنا في أنه هل يصير بنفس الرجعة أم بالإمساك بعدها وهذا مما قدمنا ذكره وظاهر النص يدل على أن نفس الرجعة عوْدٌ وهو القياس فإن العود مخالفةٌ لمقتضى الظهار وإذا كان إمساك ساعة مناقضاً للظهار فالرجعة أولى بأن تكون مناقضة للظهار
Jika seseorang melakukan zihar dan langsung menceraikan istrinya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah talaknya talak raj‘i atau talak bain. Jika talaknya talak raj‘i, maka hal ini mencegah terjadinya ‘aud (kembali). Jika tidak terjadi ‘aud, maka ia sama sekali tidak wajib membayar kafarat. Namun jika ia merujuk istrinya dan menahannya, maka ia menjadi ‘a’id (orang yang kembali), dan para ulama kami berbeda pendapat apakah ia menjadi ‘a’id dengan sendirinya karena rujuk, ataukah dengan menahan setelah rujuk. Hal ini telah kami sebutkan sebelumnya. Lafaz nash yang tampak menunjukkan bahwa rujuk itu sendiri adalah ‘aud, dan ini adalah qiyās, karena ‘aud adalah menyelisihi konsekuensi zihar. Jika menahan istri sesaat saja sudah bertentangan dengan zihar, maka rujuk lebih utama untuk dianggap bertentangan dengan zihar.
ومن فوائد الوجهين أنا إن جعلنا نفسَ الرجعة عوْداً فلو راجعها ثم طلقها على الاتصال بالرجعة فقد استقرت الكفارة بالظهار والعوْد وهو الرجعة ولا أثر للطلاق بعد ذلك وإن لم نجعل نفسَ الرجعة عوداً فلو طلقها عقيب الرجعة فهو غيرُ عائد والكفارة غيرُ لازمة هذا إذا كان الطلاق رجعياً
Di antara manfaat dari dua pendapat tersebut adalah bahwa jika kita menganggap rujuk itu sendiri sebagai ‘awd (kembali), maka jika seorang suami merujuk istrinya lalu menceraikannya segera setelah rujuk, maka kafarat zhihar telah tetap baginya karena zhihar dan ‘awd, yaitu rujuk, dan talak setelah itu tidak berpengaruh. Namun, jika kita tidak menganggap rujuk itu sendiri sebagai ‘awd, maka jika ia menceraikannya setelah rujuk, ia tidak dianggap sebagai orang yang kembali (‘ā’id) dan kafarat tidak wajib baginya. Ini berlaku jika talaknya adalah talak raj‘i.
فأما إذا كان الطلاق بائناً أو كان رجعيّاً فتركها حتى انسرحت بانقضاء العدة فإذا جدّد النكاح عليها فقد قال الأصحاب أولاً هل يعود موجَب الظهار في النكاح الثاني على ما نفصله قالوا هذا يبتني على عَوْد الحنث وفيه قولان منسوبان إلى الجديد والقديم ثم بنَوْا عليه أنا إذا قلنا بعوْد الحنث فالنكاح كالرجعة فإن أمسك بعد النكاح فقد عاد ولزمت الكفارة الآن وهل يكون نفس النكاح عوداً فعلى وجهين وقد قدمنا ذكرهما ورتبناهما على الوجهين في الرجعة
Adapun jika talak yang dijatuhkan adalah talak bain atau talak raj‘i namun ia membiarkannya hingga selesai masa ‘iddah, lalu ia memperbarui akad nikah dengannya, maka para ulama berkata: Pertama, apakah kewajiban zihar kembali berlaku dalam pernikahan yang kedua? Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa hal ini tergantung pada kembalinya pelanggaran (al-hinth), dan dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dinisbatkan kepada pendapat baru dan lama. Kemudian mereka membangun pendapat tersebut bahwa jika kita mengatakan pelanggaran itu kembali, maka pernikahan itu seperti rujuk; jika ia menahan istrinya setelah akad nikah, maka zihar kembali berlaku dan wajib membayar kafarat saat itu juga. Apakah akad nikah itu sendiri sudah dianggap sebagai kembalinya zihar? Dalam hal ini ada dua pendapat, dan sebelumnya telah kami sebutkan dan urutkan kedua pendapat tersebut pada dua sisi dalam masalah rujuk.
هذا إذا رأينا عوْد الحنث
Ini jika kita melihat kembalinya pelanggaran sumpah.
وإن قلنا لا يعود فكما بانت انقطع الظهار وزال أثره فلا تحرم في النكاح الثاني ولا تلزم الكفارة
Dan jika kita mengatakan bahwa tidak kembali, maka sebagaimana ia telah bercerai, maka zhihar pun terputus dan pengaruhnya hilang, sehingga ia tidak menjadi haram dalam pernikahan yang kedua dan tidak wajib membayar kafarat.
وقد أرسل معظمُ الأصحاب ذكر القولين ولم يعتنوا بالتعرّض للكشف ونحن نذكر سؤالاً ينصّ على إشكال المسألة ثم نخوض في الجواب بعدها فإن قال قائل إذا ظاهر عن امرأته ثم أبانها هلاّ قلتم إنه بالإبانة حقق التحريم الجاهلي ووفّى بما كانوا يَرَوْنَه ويعتقدونه وليس كالطلاق الرجعي فإنه من خواص الإسلام ولم يعهد رجعة في الجاهلية على سبيل القهر فإذا حقق معهودَ الجاهلية فينبغي أن يكون هذا وفاءً بمقتضى اللفظ ومن وفّى بمقتضى اللفظ استحال أن يكون مخالفاً لها ناقضاً لمعناها هذا وجه
Sebagian besar sahabat hanya menyebutkan dua pendapat tanpa menaruh perhatian untuk mengungkapkan penjelasan, dan kami akan menyebutkan sebuah pertanyaan yang secara jelas menunjukkan permasalahan ini, kemudian kami akan membahas jawabannya. Jika ada yang bertanya: “Jika seseorang melakukan zihar terhadap istrinya lalu menceraikannya secara bain, mengapa kalian tidak mengatakan bahwa dengan perceraian bain itu ia telah mewujudkan bentuk pengharaman seperti pada masa jahiliah dan telah memenuhi apa yang mereka yakini dan pandang? Ini berbeda dengan talak raj‘i, karena talak raj‘i adalah kekhususan dalam Islam dan tidak dikenal adanya rujuk secara paksa pada masa jahiliah. Maka jika ia telah mewujudkan apa yang dikenal pada masa jahiliah, seharusnya hal itu dianggap sebagai pemenuhan terhadap konsekuensi lafaznya. Dan barang siapa telah memenuhi konsekuensi lafaz, mustahil ia dianggap menyelisihi atau menyalahi maknanya.” Inilah satu sisi permasalahannya.
وإن جُعل الظهار مقتضياً تحريماً مسترسلاً على الأزمان وقيل الظهار علّة الكفارة وللعلة شرطٌ وهو العَوْد فإن اتصل العود فقد وُجدت العلةُ وشرطها فوجبت الكفارة وإن ظاهر وكما ظاهر أبان ثم نكح بعد طول الزمان فهذا النكاح مناقض للظهار الذي مقتضاه التحريم المسترسل ومهما وجدت العلّة وتخلف عنها شرطها فإذا وجد الشرط وجب ثبوت الحكم المعلول فهذا المسلك لو صحّ لوجب القطع بأن الكفارة تجب بالنكاح الثاني ولا يخرّج هذا على اختلاف القول في عَوْد الحنث
Jika zhihar dijadikan sebagai sebab yang mengakibatkan keharaman yang terus-menerus sepanjang waktu, dan dikatakan bahwa zhihar adalah ‘illat (alasan hukum) bagi kewajiban kafarat, maka bagi ‘illat itu ada syarat, yaitu kembali (al-‘aud). Jika ‘aud itu terjadi, berarti ‘illat dan syaratnya telah terpenuhi, sehingga kafarat menjadi wajib. Jika seseorang melakukan zhihar, lalu menceraikan istrinya, kemudian menikahinya kembali setelah waktu yang lama, maka pernikahan ini bertentangan dengan zhihar yang konsekuensinya adalah keharaman yang terus-menerus. Kapan pun ‘illat telah ada namun syaratnya belum terpenuhi, maka ketika syarat itu terpenuhi, wajiblah hukum yang diakibatkan oleh ‘illat tersebut. Maka, jika pendekatan ini benar, seharusnya dipastikan bahwa kafarat wajib dilakukan dengan pernikahan kedua, dan hal ini tidak dikaitkan dengan perbedaan pendapat mengenai kembalinya pelanggaran (‘aud al-hinth).
والذي يعضد هذا السبيل أن خاصّية النكاح في هذه الأبواب طلب الطلاق أو الطلاق نفسه كما يفرض في تعليق الطلاق مع تخلل البينونة أما لزوم الكفارة فليس من خواص النكاح فحاصل السؤال بعد هذا البسط أنا إن جعلنا البينونة وفاءً بتحريم الظهار فليقع الاكتفاء بها حتى لا نَفْرِضَ عوداً أو لزوم كفارة ولتقع البينونة مع الظهار موقع البرّ من اليمين
Yang menguatkan jalan ini adalah bahwa kekhususan nikah dalam pembahasan-pembahasan ini adalah permintaan talak atau talak itu sendiri, sebagaimana yang terjadi pada talak yang digantungkan dengan adanya pemisahan (ba’inah). Adapun kewajiban membayar kafarat, itu bukan termasuk kekhususan nikah. Maka inti pertanyaannya setelah penjelasan ini adalah: Jika kita menjadikan pemisahan (ba’inah) sebagai pemenuhan terhadap pengharaman zihar, maka cukuplah dengan itu sehingga kita tidak perlu menganggap adanya rujuk atau kewajiban kafarat, dan biarlah pemisahan (ba’inah) bersama zihar menempati posisi sumpah yang ditepati dalam masalah sumpah.
وإن لم يكن الأمر كذلك ورأينا التحريم مسترسلاً على الأزمان فينبغي أن يتحقق العود في النكاح الثاني قولاً واحداً كيف فرض الأمر كما قلنا إنه لو ظاهر وعاد فالتحريم مسترسل على كل نكاح من غير بناء على عود الحنث
Jika keadaannya tidak demikian dan kita melihat keharaman itu terus berlanjut sepanjang waktu, maka seharusnya dipastikan terjadinya pengulangan pada pernikahan kedua menurut satu pendapat, bagaimanapun keadaannya. Sebagaimana telah kami katakan, jika seseorang melakukan ẓihār lalu mengulangi, maka keharaman itu terus berlanjut pada setiap pernikahan tanpa didasarkan pada pengulangan pelanggaran.
هذا حاصل السؤال ونحن نقول أما الطرف الأول من السؤال وهو إحلال البينونة محل البرّ في اليمين فلا أصل له من وجهين أحدهما أنه لو كان كذلك لكان إذا ظاهر ثم طلق طلاقاً رجعياً يُجعل عائداً لقدرته على الإبانة وآية ذلك أن الرجعية إذا انسرحت فالبينونة تحصل مع انقضاء العدة غيرَ مستندة فالذي يطلق طلاقاً رجعياً مؤخرٌ للبينونة قطعاً
Inilah inti pertanyaannya, dan kami katakan: Adapun bagian pertama dari pertanyaan, yaitu menempatkan bainunah sebagai pengganti pembebasan (al-birr) dalam sumpah, maka hal itu tidak memiliki dasar dari dua sisi. Pertama, jika memang demikian, maka ketika seseorang melakukan zihar lalu menceraikan dengan talak raj‘i, ia dianggap telah kembali (kepada istrinya) karena ia mampu melakukan pemutusan (bainunah). Bukti dari hal ini adalah bahwa istri yang ditalak raj‘i, jika masa iddahnya habis, maka bainunah terjadi dengan berakhirnya iddah tanpa ada kaitan sebelumnya. Maka orang yang menceraikan dengan talak raj‘i, ia pasti menunda terjadinya bainunah.
هذا وجهٌ في الرد على هذا الطرف
Ini adalah salah satu sisi dalam membantah pendapat tersebut.
وأما الوجه الثاني فهو أنا لم نتعبد بتحقيق التحريم ومطابقة الجاهلية فلا ينبغي أن يكون ذلك مظنونَ فقيهٍ ولو كان من غرض الشرع تحقيقُ الفراق لأدام حكم الجاهلية في أن الظهار طلاق
Adapun alasan kedua adalah bahwa kita tidak diperintahkan untuk menetapkan keharaman dan menyesuaikan dengan tradisi jahiliah, maka hal itu tidak sepantasnya menjadi dugaan seorang faqih. Jika tujuan syariat adalah menegaskan perpisahan, niscaya syariat akan menetapkan hukum jahiliah bahwa zihar adalah talak.
بقي الطرف الآخر وهو سؤال السائل في أن الكفارة ينبغي أن تُلْتزم في النكاح الثاني قولاً واحداً وهذا موضع التوقف ولكن تحريم الظهار وثبوت الكفارة من خصائص النكاح إذ لا يفرض الظهار في مملوكة وإن كان تحريم عين المملوكة في إيجاب كفارة اليمين كتحريم عين المنكوحة فإذا استدعى ابتداءُ الظهار نكاحاً يجوز أن يستدعي العودُ النكاحَ الذي جرى الظهار فيه فإن الظهار مع اقتضائه من حيث الصيغة التحريمَ اختص بالنكاح دون ملك اليمين وإن كانت المملوكة تُسْتَحَلُّ وتَحْرُم بأسباب وتَحْرُم التحريمَ المقتضي للكفارة فيجوز أن يتقيد مُطلَقُه بالنكاح الذي جرى فيه كما أن قول القائل لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق فهذا من جهة الصيغة مسترسل فإذا ارتفع النكاح وبقي الطلاق المعلق فإن المرأة تعود ببقية الطلاق ومع هذا جرى قولا عوْد الحنث فكذلك أجرَوْا حكم العود ولزوم الكفارة على قولَيْ عوْد الحنث
Tinggal satu sisi lagi, yaitu pertanyaan penanya tentang kewajiban melaksanakan kafarat dalam pernikahan kedua menurut satu pendapat saja, dan inilah titik yang perlu diteliti. Namun, pengharaman zihar dan penetapan kafarat merupakan kekhususan dalam pernikahan, karena zihar tidak dapat terjadi pada budak perempuan, meskipun pengharaman terhadap budak perempuan dalam mewajibkan kafarat sumpah serupa dengan pengharaman terhadap istri. Maka, jika permulaan zihar mensyaratkan adanya pernikahan, boleh jadi kembalinya (rujuk) juga mensyaratkan pernikahan yang terjadi zihar di dalamnya. Sebab, zihar dari segi lafaznya memang mengandung unsur pengharaman, namun ia khusus berlaku dalam pernikahan, tidak pada kepemilikan budak, meskipun budak perempuan dapat dihalalkan dan diharamkan karena sebab-sebab tertentu, dan diharamkan dengan pengharaman yang mewajibkan kafarat. Maka, boleh jadi keumumannya dibatasi pada pernikahan yang terjadi zihar di dalamnya, sebagaimana ucapan seseorang kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak.” Dari segi lafaz, ini bersifat umum, namun jika pernikahan berakhir dan talak yang tergantung masih tersisa, maka istri kembali dengan sisa talak tersebut. Dengan demikian, dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran juga berlaku di sini, sehingga mereka juga menetapkan hukum kembalinya pelanggaran dan kewajiban kafarat menurut dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran.
وإنما ينتظم الكلام بذكر مراتب لا بد من التنبّه لها
Dan sesungguhnya pembahasan ini akan tersusun dengan baik apabila disebutkan tingkatan-tingkatan yang harus diperhatikan.
المرتبة الأولى لتعليق الطلاق فإنه يُعلِّق ما يملكه في ذلك النكاح فإذا انبتَّ ذلك النكاح ثم فُرض عودٌ جرى قولا عَوْد الحنث في أوانهما حقَّ الجريان
Tingkatan pertama dari talak mu‘allaq adalah bahwa seseorang menggantungkan apa yang ia miliki dalam pernikahan tersebut; maka jika pernikahan itu terputus, kemudian diasumsikan terjadi rujuk, maka berlaku dua pendapat tentang kembalinya pelanggaran pada waktunya, dan keduanya berhak untuk berlaku.
والمرتبة الثانية للإيلاء فإنه يمين لا يستدعي نكاحاً ولكن لما تعلّق به طلب الطلاق انتظم فيه عَوْدُ الحنث والتخريجُ على القولين ولعل الأظهر العودُ
Tingkatan kedua dari ila’ adalah bahwa ia merupakan sumpah yang tidak memerlukan akad nikah, namun karena berkaitan dengan permintaan talak, maka di dalamnya terdapat kemungkinan kembali kepada pelanggaran sumpah dan pengembangan hukum berdasarkan dua pendapat. Barangkali yang lebih kuat adalah pendapat tentang kembalinya (kepada pelanggaran sumpah).
والظهار ليس طلاقاً ولا يُفضي إلى طلب طلاق ولكنه تحريم يختص بالنكاح ولا يجري ابتداءً إلا فيه فلا يبعد تختلُ اختصاصِه بجميع آثاره بالنكاح الذي جرى فيه
Zhihār bukanlah talak dan tidak mengakibatkan permintaan talak, melainkan merupakan bentuk pengharaman yang khusus terkait dengan pernikahan dan tidak berlaku sejak awal kecuali dalam pernikahan itu sendiri. Maka tidaklah jauh jika seluruh akibat zhihār juga khusus berlaku pada pernikahan yang terjadi di dalamnya.
ويخرج على هذا المنتهى أن ما ذكرناه فيه إذا لم يتم الموجَب بالعود فأما إذا تم واستقرت الكفارة فلا مدفع لها بعد استقرارها ثم ينبني على قرارها أن التحريم لا يزول إلا بإبراء الذمة عن الكفارة وهذا يُخرَّج على الالتفات على النكاح
Berdasarkan penjelasan di atas, jika sebab yang mewajibkan kafarat belum sempurna dengan kembalinya suami, maka hukumnya seperti yang telah disebutkan. Namun, jika sebab tersebut telah sempurna dan kafarat telah tetap, maka tidak ada jalan untuk menggugurkannya setelah ia menjadi tetap. Selanjutnya, dengan tetapnya kafarat tersebut, keharaman tidak akan hilang kecuali dengan membebaskan tanggungan kafarat. Hal ini dianalogikan dengan kasus rujuk dalam pernikahan.
فإن قال قائل يحل وطء هذه بملك اليمين فلست أنكر أن هذا التفاتٌ منه على جنس النكاح على بُعد ويَرِدُ عليه زوال التحريم وإن بقيت الكفارة بزوال النكاح الأول ولا ينبغي أن تُشَوَّشَ القواعدُ بالتفريع على الوجوه البعيدة
Jika ada yang berkata, “Boleh menggauli perempuan ini dengan kepemilikan budak,” maka aku tidak mengingkari bahwa ini merupakan perhatian terhadap jenis pernikahan meskipun dengan jarak yang jauh, dan hal itu mengakibatkan hilangnya keharaman, meskipun kewajiban kafarat tetap ada karena hilangnya pernikahan yang pertama. Namun, tidak sepantasnya kaidah-kaidah dasar diganggu dengan cabang-cabang yang jauh kemungkinannya.
هذا حاصل القول في عود الحنث ولا يبقى فيه شيء إلا سؤال وجواب عنه فإن قال قائل من آلى عن امرأة ثم أبانها قبل الفيئة ثم نكحها فإنه يلتزم بوطئها كفارةَ اليمين وإن قلنا إن الحنث لا يعود فهلا قلتم كفارة الظهار تجب في النكاح الثاني على هذا القياس
Inilah ringkasan pembahasan tentang kembalinya pelanggaran sumpah, dan tidak tersisa di dalamnya kecuali satu pertanyaan dan jawabannya. Jika ada yang bertanya: Seseorang yang melakukan ila’ terhadap istrinya, lalu menceraikannya sebelum melakukan ruju’, kemudian menikahinya kembali, maka ia wajib membayar kafarat sumpah jika berhubungan dengannya. Jika kita mengatakan bahwa pelanggaran sumpah tidak kembali, mengapa kalian tidak mengatakan bahwa kafarat zihar juga wajib dalam pernikahan kedua menurut qiyās ini?
قلنا لزوم كفارة اليمين لا اختصاص له بالنكاح فإنه يجرى في ملك اليمين بل في السفاح وأما كفارة الظهار فإنها تختص بالنكاح اختصاصَ تحريم الظهار بل التحريمُ والكفارة مقترنان اقتران ارتباط
Kami katakan bahwa kewajiban membayar kafarat sumpah tidak khusus berlaku pada pernikahan, karena hal itu juga berlaku pada kepemilikan budak, bahkan pada perzinaan. Adapun kafarat zhihar, maka itu khusus berlaku pada pernikahan, sebagaimana keharaman zhihar itu sendiri khusus pada pernikahan, bahkan keharaman dan kafarat itu saling berkaitan secara erat.
هذا منتهى الكلام في ذلك
Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.
وقد يجري في نفس الفقيه الذي يطلب الغايات أن الظهار بنفسه هل يُحرِّم الوطء حتى يقال إذا حرمنا المسّ فلو ظاهر ومس في الزمن الذي يفرض الإمساك فيه فيحرم المس قبل تحقق العود أم يقال إنما يثبت ابتداء التحريم إذا وجبت الكفارة هذا سأذكره موضحاً في فصل تأقيت الظهار وإنما أخرته لغرض يتبين إن شاء الله
Terkadang terlintas dalam benak seorang faqih yang mencari tujuan-tujuan hukum, apakah zhihar itu sendiri mengharamkan hubungan suami istri, sehingga dapat dikatakan: jika kita mengharamkan sentuhan, maka jika seseorang melakukan zhihar dan kemudian menyentuh istrinya pada waktu yang seharusnya ia menahan diri, apakah sentuhan itu menjadi haram sebelum terjadi rujuk, ataukah dikatakan bahwa pengharaman itu baru berlaku ketika kewajiban membayar kafarat telah ditetapkan? Hal ini akan saya jelaskan secara rinci pada bab tentang penentuan waktu zhihar, dan saya menundanya untuk tujuan tertentu yang akan dijelaskan, insya Allah.
واختيار المزني أن الحنث لا يعود وطردَ اختياره في الظهار وهذا يقوّي نظرَ الفقيه في إجراء العود هاهنا
Pilihan al-Muzani adalah bahwa pelanggaran sumpah (al-hinth) tidak kembali, dan ia menerapkan pilihannya ini juga dalam masalah zhihar. Hal ini menguatkan pandangan seorang faqih dalam menerapkan kembalinya (al-‘aud) pada permasalahan ini.
فصل قال ولو تظاهر منها ثم لاعنها مكانه بلا فصل إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Jika seorang suami melakukan zhihār terhadap istrinya, kemudian langsung melakukan li‘ān terhadapnya di tempat itu juga tanpa jeda hingga selesai, …”
التفريع على ما هو المذهب وهو أنه إذا ظاهر وأمسكها في زمان يتأتى فيه الطلاق فإنه يصير عائداً ملتزماً للكفارة فلو ظاهر عنها ثم أراد اللعان متصلاً فكيف السبيل فيه ظاهر النص أنه يسقط حكم الظهار ولا يكون عائداً
Penjabaran berdasarkan mazhab adalah bahwa jika seseorang melakukan zihar dan menahan istrinya dalam waktu yang memungkinkan terjadinya talak, maka ia dianggap telah kembali (‘ā’id) dan wajib membayar kafarat. Jika ia melakukan zihar terhadap istrinya lalu ingin melakukan li‘ān secara langsung, maka bagaimana caranya? Teks yang jelas menunjukkan bahwa hukum zihar gugur dan ia tidak dianggap telah kembali (‘ā’id).
وهذا كلام مبهم في تصويره فاختلف أصحابنا فيما يمنع مصيرَه عائداً فمنهم من قال إذا ظاهر ثم قذف على الاتصال واشتغل بالمرافعة إلى الحاكم وتهيئةِ أسباب اللعان فلا يصير عائداً حتى لو تظاهر عنها ثم قذفها على الفور ولم يؤخر الاشتغال بأسباب اللعان فليس عائداً وإن بقي في ذلك إلى حصول الغرض أياماً لأن هذا اشتغال بأسباب الفرقة فَحَلَّ محلَّ الاشتغال بنفس الفرقة
Ini adalah pernyataan yang samar dalam penjelasannya, sehingga para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apa yang menghalangi seseorang dianggap kembali (‘ā’id). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa jika seseorang melakukan zihar lalu segera menuduh istrinya (qadzaf) dan sibuk mengajukan perkara kepada hakim serta mempersiapkan sebab-sebab li‘ān, maka ia tidak dianggap kembali. Bahkan jika ia melakukan zihar terhadap istrinya lalu segera menuduhnya tanpa menunda kesibukan dengan sebab-sebab li‘ān, maka ia tidak dianggap kembali, meskipun ia tetap dalam keadaan itu selama beberapa hari hingga tujuannya tercapai. Sebab, hal ini dianggap sebagai kesibukan dengan sebab-sebab perpisahan (al-furqah), sehingga menempati posisi kesibukan dengan perpisahan itu sendiri.
ومن أصحابنا من قال هذه المسألة تصور فيه إذا قدّم القذف وحصل الترافع وتجمعت الأسباب ولم يبق إلا إنشاء كلماتِ اللعان فإذا قدم عليها الظهارَ وعقَّبه بإنشاء اللعان فهو غير عائد وإن لم تكن كذلك فهو عائد
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa masalah ini dapat dibayangkan jika tuduhan zina telah diajukan, perkara telah dibawa ke pengadilan, seluruh sebab-sebab telah terkumpul, dan yang tersisa hanyalah pengucapan lafaz li‘ān. Jika pada saat itu ia mendahulukan zhihār lalu setelahnya mengucapkan lafaz li‘ān, maka ia tidak dianggap kembali (‘ā’id). Namun jika keadaannya tidak demikian, maka ia dianggap kembali.
ومن أصحابنا من قال ينبغي أن يقدم كلماتِ اللعان حتى لا تبقى منها إلا كلمة اللعن فإذا ظاهر ثم أتى بكلمة اللعن لم يكن عائداً
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa sebaiknya diucapkan terlebih dahulu kalimat-kalimat li‘ān hingga tidak tersisa darinya kecuali kalimat la‘n; sehingga jika seseorang melakukan ẓihār lalu mengucapkan kalimat la‘n, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang kembali (‘ā’id).
وهذا سرفٌ ومجاوزة حدٍّ ولكنه اختيار ابن الحداد ووجهه على بعده أن كل كلمة من كلمات اللعان مستقلة بإفادة معنى ولا تستعقب واحدةٌ منها الفراق وإنما يحصل ترك العوْد بتعقيب الظهار بكلمةٍ أو كلمات يقترن بإفادتها المعنى حصولٌ الفراق
Ini adalah sikap berlebihan dan melampaui batas, namun inilah pilihan Ibnu al-Haddad. Alasannya, meskipun pendapat ini jauh, adalah bahwa setiap kata dari kata-kata li‘ān berdiri sendiri dalam memberikan makna, dan tidak satu pun dari kata-kata itu secara langsung menyebabkan terjadinya perpisahan. Perpisahan hanya terjadi jika zhihār diikuti dengan satu kata atau beberapa kata yang maknanya secara langsung menyebabkan terjadinya perpisahan.
ثم خالفه معظمُ الأصحاب وألزموه أموراً ما أُراها مسلّمة على قياسه وذلك أنه قيل له لو قال المظاهر يا زينب أنت طالق فهذا ليس بعائد وكان من الممكن أن يقول طلقتك ولا يزيد عليه ويجوز أن يقال إذا قال يا زينب فهذا اشتغال منه بما لا يَعْنيه فيقع هذا ممنوعاً على رأي ابن الحداد
Kemudian mayoritas para sahabat (ulama) berbeda pendapat dengannya dan membebankan kepadanya beberapa hal yang menurutku tidak dapat diterima menurut qiyās-nya. Hal itu karena dikatakan kepadanya: Jika seorang yang melakukan ẓihār berkata, “Wahai Zainab, engkau tertalak,” maka ini bukanlah ‘ā’id (kembali), dan dia bisa saja mengatakan, “Aku menceraikanmu,” dan tidak menambah apa pun atasnya. Dan boleh juga dikatakan, jika dia berkata, “Wahai Zainab,” maka itu adalah kesibukan dengan sesuatu yang tidak ada urusannya, sehingga hal ini menjadi terlarang menurut pendapat Ibn al-Haddād.
ويجوز أن يقال المرعيُّ مقصود الكلام وقول القائل يا زينب أنت طالق مقصوده التطليق ولا تستقل كلمة مما ذكره بإفادة معنى مستقل وللأول أن يقول قوله يا زينب كلام مفيدٌ وقد عدّه النحاة جملةً مستقلة مركبةً من اسم وحرف ينوب مناب فعلٍ والكلامُ المفيد مبتدأ وخبر واسم وفعل والأظهر التسليم بالفرق
Boleh dikatakan bahwa yang menjadi perhatian utama adalah maksud dari ucapan tersebut. Ucapan seseorang “Wahai Zainab, engkau tertalak” maksudnya adalah untuk menjatuhkan talak, dan tidak ada satu kata pun dari yang disebutkan itu yang berdiri sendiri memberikan makna yang utuh. Namun, menurut pendapat pertama, ucapan “Wahai Zainab” adalah kalimat yang bermakna, dan para ahli nahwu menganggapnya sebagai satu kalimat tersendiri yang tersusun dari isim dan huruf yang menggantikan posisi fi‘il. Kalimat yang bermakna terdiri dari mubtada’ dan khabar, atau isim dan fi‘il. Yang lebih kuat adalah menerima adanya perbedaan tersebut.
ومما يتصل بذلك أن الزوج إذا اشترى زوجته المملوكة والتفريع على أنه لا يصير عائداً فقد ادعى الأصحاب على ابن الحداد أنه جعل الاشتغال بأسباب الشراء مانعاً من العود كقوله اشتريت فهذا ما لا أشك في كونه ممنوعاً على رأيه
Terkait dengan hal itu, apabila seorang suami membeli istrinya yang berstatus budak, dan berdasarkan pendapat bahwa ia tidak dianggap kembali (rujuk), para ulama menisbatkan kepada Ibn al-Haddad bahwa ia menjadikan keterlibatan dalam sebab-sebab pembelian sebagai penghalang dari kembali, seperti ucapannya “Aku telah membeli.” Maka, aku sama sekali tidak ragu bahwa hal ini dilarang menurut pendapatnya.
وإنما النظر على الطريقة الأخرى فإذا ظاهر وكان الشراء ممكناً متيسّراً فأقبل على تحصيله ولم يقصّر فيجوز أن يقال من ذهب إلى أن القذف والاشتغال بأسباب اللعان يمنع من العَوْد فالاشتغال بأسباب الشراء المتيسر هكذا يجري
Adapun jika dilihat dari cara yang lain, maka apabila seseorang telah menampakkan (keinginan) dan pembelian itu memungkinkan serta mudah, lalu ia berusaha untuk mendapatkannya dan tidak lalai, maka boleh dikatakan bahwa siapa yang berpendapat bahwa tuduhan zina dan sibuk dengan sebab-sebab li‘ān dapat mencegah untuk kembali (rujuk), maka sibuk dengan sebab-sebab pembelian yang mudah juga berlaku demikian.
ومن صار إلى أن القذف والمرافعة وغيرهما من الأسباب إلى النطق بكَلِم اللعان حقُّها أن تتقدم فلا يجعل الاشتغال بأسباب الشراء مانعاً فأما إذا كان الشراء متعذراً فالاشتغال بتسهيله لا ينافي العود عندي والعلم عند الله
Dan barang siapa berpendapat bahwa qadzaf, pengaduan, dan sebab-sebab lain yang mengantarkan kepada pengucapan kalimat li‘ān seharusnya didahulukan, maka kesibukan dengan sebab-sebab jual beli tidak menjadi penghalang. Adapun jika jual beli itu sulit dilakukan, maka menurutku, upaya untuk memudahkannya tidak bertentangan dengan kembali (kepada li‘ān), dan ilmu itu milik Allah.
وفرّع الأصحاب على مضمون الفصل فقالوا إذا ظاهر عن امرأته ثم قال إذا دخلت الدار فأنت طالق فهذا عائدٌ لأنه أخر الطلاق مع الاستمكان من تنجيزه فلو كان قال أولاً إن دخلتُ أنا الدار فأنت طالق ثم ظاهر وعقّب الظهار بالاشتغال بالدخول فهو بمثابة الاشتغال بالشراء المتيسر وقد قدمنا الفصل فيه
Para ulama mazhab menguraikan berdasarkan isi bab ini dengan mengatakan: Jika seseorang melakukan zihar terhadap istrinya, lalu berkata, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” maka ini termasuk ‘ā’id, karena ia menunda talak padahal ia mampu untuk langsung menjatuhkannya. Namun, jika ia berkata terlebih dahulu, “Jika aku masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” lalu melakukan zihar dan setelah zihar ia sibuk dengan masuk ke rumah, maka hal itu serupa dengan sibuk melakukan pembelian yang memungkinkan, dan sebelumnya telah kami jelaskan bab ini.
فصل
Bab
قال ولو تظهر منها يوماً فلم يصبها إلى آخره
Ia berkata: “Dan seandainya ia menampakkan diri darinya (dari rumah) selama satu hari, lalu tidak menimpanya sesuatu hingga akhir (iddahnya)…”
مضمون الفصل الكلام في الظهار المؤقت فإذا قال لامرأته أنت علي كظهر أمي خمسةَ أشهر مثلاً أو يوماً ففي انعقاد الظهار قولان مأخوذان من قاعدة المعنى واتباع معهود الجاهلية فمن اتبع المعهود أبطل الظهار المؤقت ومن تمسك بالمعنى فقد أثبت للظهار المؤقت حكماً على تردُّدٍ سيبين في التفريع
Isi bab ini membahas tentang zhihār yang bersifat sementara. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku selama lima bulan,” misalnya, atau “selama satu hari,” maka terdapat dua pendapat mengenai terjadinya zhihār. Kedua pendapat ini diambil dari kaidah makna dan mengikuti kebiasaan pada masa jahiliah. Barang siapa yang mengikuti kebiasaan tersebut, ia membatalkan zhihār yang bersifat sementara. Sedangkan siapa yang berpegang pada makna, ia menetapkan adanya hukum bagi zhihār sementara, namun dengan keraguan yang akan dijelaskan dalam rincian berikutnya.
والأوْلى أن نقول لا ظهار على القديم تعلّقاً بالاتباع وفي الجديد قولان أحدهما البطلان أيضاًً
Yang lebih utama adalah kita mengatakan bahwa tidak ada zihar atas istri yang telah ditalak ba’in, mengikuti pendapat dalam madzhab lama. Sedangkan dalam madzhab baru terdapat dua pendapat, salah satunya juga menyatakan batal.
والثاني الثبوت وهذا يقرب من التردّد في أن الغالب على الظهار معنى الطلاق أو شوْب الإيلاء ولا يكاد يخفى وجه التلقي
Kedua adalah penetapan, dan hal ini mendekati keraguan apakah yang lebih dominan dalam zhihār adalah makna talak atau unsur ilā’. Hampir-hampir tidak tersembunyi alasan penerimaannya.
فإن ألغينا اللفظ فلا كلام وإن صححناه ولم نُلغه فالظهار يثبت مؤقتاً أم يتأبد فعلى وجهين منطبقين على تغليب الطلاق والإيلاء فإن غلبنا الطلاق كان الظهار المؤقت كالطلاق المؤقت فيتأبد وينحذف ذكر الوقت عنه
Jika kita mengabaikan lafaznya, maka tidak ada pembicaraan. Namun jika kita membenarkannya dan tidak mengabaikannya, maka zhihar berlaku secara sementara ataukah menjadi permanen, terdapat dua pendapat yang sesuai dengan pendapat yang menguatkan talak dan ila’. Jika kita menguatkan talak, maka zhihar sementara itu seperti talak sementara, sehingga menjadi permanen dan penyebutan waktunya dihapuskan.
وإن غلبنا مشابهة الأيمان يبقى التأقيت فإن اليمين إذا خصت بزمان اختصت به فليكن الظهار كذلك
Jika kita menganggap kemiripan antara sumpah (yamin) dan zihar, maka masih tersisa masalah penetapan waktu; sebab jika sumpah dibatasi dengan waktu tertentu, maka ia hanya berlaku pada waktu itu saja, maka hendaknya zihar pun demikian.
فإن قلنا يتأبّد اللفظ المؤقت فالعود فيه كالعوْد في الظهار المطلق على ما سبق تفصيله
Jika kita mengatakan bahwa lafaz yang dibatasi waktu menjadi tetap, maka kembali padanya hukumnya seperti kembali pada zhihār yang bersifat mutlak, sebagaimana telah dijelaskan rinciannya sebelumnya.
وإن قلنا يثبت الظهار مؤقتاً فالعود فيه على وجهين أحدهما أن العود فيه كالعود في الظهار المطلق فإذا ظاهر ثم سكت ساعةً وإن قلّت فهو عائد ملتزمٌ للكفارة هذا أحد الوجهين
Dan jika kita mengatakan bahwa zhihar dapat berlaku secara temporer, maka hukum kembali (al-‘aud) di dalamnya ada dua pendapat. Pertama, bahwa kembali di dalamnya sama seperti kembali pada zhihar mutlak. Maka jika seseorang melakukan zhihar lalu diam sejenak, meskipun hanya sebentar, maka ia dianggap telah kembali dan wajib membayar kafarat. Inilah salah satu dari dua pendapat.
والثاني أن العود في الظهار المؤقت هو الوطء وإن كنا نقول العود في الظهار المطلق يحصل بإمساك ساعة تَسَعُ الطلاقَ
Kedua, bahwa ‘ud dalam zhihar mu’aqqat adalah jima‘, meskipun kami mengatakan bahwa ‘ud dalam zhihar muthlaq terjadi dengan menahan istri selama waktu yang cukup untuk terjadinya talak.
توجيه الوجذهين من قال يحصل العودُ بالإمساك في لحظةٍ جعل الظهار المؤقت كالظهار المؤبد
Penjelasan bagi dua kelompok yang berpendapat bahwa rujuk terjadi dengan menahan dalam sesaat adalah bahwa mereka menyamakan zhihār sementara dengan zhihār selamanya.
ومن نصر الوجه الثاني وهو ظاهر النص احتج بأن قال التحريم في الظهار المؤبد متعلق بجميع الأزمان أخذاً من صيغة اللفظ فإذا وُجد الإمساك في لحظة فقد ناقض التحريم الذي اقتضاه الظهار وإن كان الظهار مؤقتاً فعقبه الإمساكَ والسكوتَ في لحظة اتجه في ذلك أنه يُمسكها لينتفع بها وراء المدة ولا ظهار وراءها فلا يتجرد الإمساك للمناقضة والوطء إيقاع المخالفة وتحقيق المضادّة فإنه ليس كما يرتبط بما سيكون
Dan orang yang mendukung pendapat kedua, yaitu makna lahir dari nash, beralasan dengan mengatakan bahwa pengharaman dalam zhihar mu’abbad (zhihar yang bersifat permanen) berkaitan dengan seluruh waktu, berdasarkan bentuk lafazhnya. Maka jika terjadi penahanan (terhadap istri) walau sesaat, berarti telah bertentangan dengan pengharaman yang ditetapkan oleh zhihar. Namun jika zhihar itu bersifat sementara, lalu setelahnya terjadi penahanan dan diam sesaat, maka dapat dikatakan bahwa ia menahan istrinya untuk mengambil manfaat darinya setelah masa tersebut, dan tidak ada zhihar setelahnya, sehingga penahanan itu tidak murni sebagai bentuk pertentangan. Adapun jima‘ (hubungan suami istri) merupakan pelaksanaan pelanggaran dan realisasi pertentangan, karena hal itu tidak terkait dengan apa yang akan terjadi di masa depan.
هذا بيان الوجهين في العود وسنعود إليهما بمزيد إيضاح مفرعين
Ini adalah penjelasan tentang dua sisi dalam masalah ‘al-‘aud’, dan kami akan kembali membahas keduanya dengan penjelasan yang lebih rinci dan terperinci.
فإن قلنا يثبت الظهار المؤقت وقد جرى العوْد على الخلاف المقدم فالواجب على المذهب الظاهر كفارةُ الظهار وأبعد بعض أصحابنا فقال لا تجب إلاّ كفارة اليمين وكأنّ لفظ الظهار ينزل منزلة لفظ التحريم وقد قال علماؤنا إذا صححنا الظهار مؤقتاً فلو قال لامرأته حرمتك وقصد تحريم العين الموجب لكفارة اليمين وأقّت التحريم بوقتٍ فالأصح صحةُ التحريم فإنه أشبه باليمين من الظهار من جهة أن موجبه موجب الحنث في اليمين
Jika kita mengatakan bahwa zhihār mu’aqqat (zhihār yang dibatasi waktu) itu sah, dan telah terjadi ‘aud (kembali) sebagaimana perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, maka yang wajib menurut mazhab yang zahir adalah membayar kafarat zhihār. Namun sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh, mereka mengatakan bahwa yang wajib hanyalah kafarat yamin, seakan-akan lafaz zhihār diposisikan seperti lafaz tahrīm (pengharaman). Para ulama kami berkata, jika kita membolehkan zhihār mu’aqqat, lalu seseorang berkata kepada istrinya, “Aku haramkan engkau,” dan ia bermaksud mengharamkan dzat istrinya yang mewajibkan kafarat yamin, kemudian ia membatasi pengharaman itu dengan waktu tertentu, maka pendapat yang lebih sahih adalah pengharaman itu sah, karena hal itu lebih mirip dengan yamin daripada zhihār, dari sisi bahwa konsekuensinya adalah konsekuensi pelanggaran sumpah.
وخرَّج الأصحابُ وجهاً آخر في إلغاء التحريم وإبطاله رأساً لأنه ورد في الشرع مطلقاً كما أن الظهار ورد مطلقاً
Para ulama juga mengemukakan pendapat lain, yaitu menghapuskan keharaman dan membatalkannya secara keseluruhan, karena larangan tersebut datang dalam syariat secara mutlak, sebagaimana zhihār juga datang secara mutlak.
ومما نفرعه في الظهار المؤقت أنه إذا ذكر أَمَداً وحكمنا بأن الوقت يثبت فلو طلق عقيب الظهار فهو غير عائد وإن راجع نُظر فإن جرت المراجعة في المدة عاد خلافُ الأصحاب في أن الرجعة بنفسها هل تكون عَوْداً وهذا تفريع على أنا لا نشترط الوطء في العود ولو تركها حتى انقضت المدّة ثم راجعها فليس عائداً وقد تصرم الظهار بانقضاء الوقت ولم يبق له حكمٌ
Salah satu cabang pembahasan dalam masalah zhihar mu’aqqat (zhihar yang dibatasi waktu) adalah bahwa jika seseorang menyebutkan batas waktu tertentu dan kita memutuskan bahwa waktu tersebut berlaku, maka jika ia menceraikan istrinya setelah zhihar, itu tidak dianggap sebagai ‘audu (kembali). Namun, jika ia melakukan rujuk, maka perlu dilihat: jika rujuk dilakukan dalam masa waktu tersebut, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama mazhab) apakah rujuk itu sendiri sudah dianggap sebagai ‘audu—dan ini merupakan cabang dari pendapat bahwa kita tidak mensyaratkan adanya hubungan suami istri (jima’) dalam ‘audu. Jika ia membiarkan istrinya hingga waktu yang ditentukan habis, lalu melakukan rujuk setelahnya, maka ia tidak dianggap sebagai ‘aidu (kembali), karena zhihar telah berakhir dengan habisnya waktu dan tidak ada lagi hukumnya.
ومما يتعلق بتفريع الظهار المؤقت أنه لو قال أنت عليّ كظهر أمي خمسةَ أشهر ثم تركها وولّى حتى مضت أربعة أشهر قال الأئمة إن قلنا إن العود هو الإمساك فلا نجعله مولياًً فإن الكفارة لا يتعلق وجوبها بالوطء وإن قلنا العود في الظهار المؤقت الوطء فهذا شخص يلتزم بالوقاع الكفارة بعد أربعة أشهر أمراً بسبب أنشأه في النكاح وهذا حقيقة المولي ونصه
Terkait dengan cabang hukum tentang zhihar sementara, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku selama lima bulan,” kemudian ia meninggalkannya dan berpaling hingga berlalu empat bulan, para imam berpendapat: Jika kita mengatakan bahwa ‘al-‘aud’ (kembali) adalah menahan (tidak menceraikan), maka kita tidak menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ (membiarkan istri tanpa hubungan suami istri), karena kewajiban kafarat tidak terkait dengan hubungan badan. Namun jika kita mengatakan bahwa ‘al-‘aud’ dalam zhihar sementara adalah hubungan badan, maka orang ini mewajibkan atas dirinya kafarat setelah empat bulan karena suatu perkara yang ia lakukan dalam pernikahan, dan inilah hakikat orang yang melakukan ila’ sebagaimana nashnya.
وكان شيخي يقول لا نجعله مولياًً فإنه ليس حالفاً وقد ذكرت تفصيل ذلك فيه إذا حرمها ثم انقضى أربعة أشهر وفرعنا على وجه ضعيف في أن الكفارة في التحريم لا تجب قبل الوطء وإنما تجب عند الوطء فهل نجعله مولياًً مطالَباً إذا مضت أربعة أشهر فعلى تردّدٍ وخلافٍ قدمته في فصل التحريم من هذا الكتاب
Dan guruku biasa berkata, “Kita tidak menjadikannya sebagai orang yang melakukan ila’, karena ia bukanlah orang yang bersumpah.” Aku telah menjelaskan rinciannya di sana, yaitu jika ia mengharamkan istrinya lalu berlalu empat bulan. Kami juga telah membahas dalam satu pendapat yang lemah bahwa kafarat dalam pengharaman tidak wajib sebelum terjadi hubungan suami istri, melainkan baru wajib ketika terjadi hubungan tersebut. Maka, apakah kita menganggapnya sebagai orang yang melakukan ila’ yang harus diminta pertanggungjawaban jika telah berlalu empat bulan? Dalam hal ini terdapat keraguan dan perbedaan pendapat yang telah aku sebutkan sebelumnya dalam bab pengharaman pada kitab ini.
ومن أهم ما يجب دَرْكُه وقد أخّرتُه من صدر باب العود إلى هذا الفصل الكلامُ في أن نفس الظهار هل يحرِّم أم يثبت التحريم بالظهار بالعود
Salah satu hal terpenting yang harus dipahami, dan yang saya tunda dari awal pembahasan bab kembali hingga bagian ini, adalah pembahasan mengenai apakah zhihar itu sendiri langsung menyebabkan keharaman, ataukah keharaman itu baru berlaku dengan zhihar ketika disertai dengan kembali (al-‘aud).
فنقول أولاً إذا حصل الظهار والعودُ فلا شك في تحريم الوطء والكلامُ في الظهار المُطلق وذلك لأن الظهار والعودَ يوجبان الكفارة ونصُّ القرآن ناطقٌ بامتداد التحريم بعد وجوب الكفارة إلى التخلي منها والخروج عن عهدتها قال الله تعالى ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فأوجب تقديم التكفير على المماسّة فكان ذلك نصّاً فيما ذكرناه
Maka kami katakan pertama-tama, apabila terjadi zhihār dan ‘ud (kembali), tidak diragukan lagi haramnya hubungan suami istri, dan pembahasan ini mengenai zhihār yang mutlak. Hal ini karena zhihār dan ‘ud mewajibkan pembayaran kafārah, dan nash Al-Qur’an secara jelas menunjukkan bahwa keharaman itu tetap berlaku setelah kewajiban kafārah sampai kafārah itu ditunaikan dan seseorang terbebas dari tanggungannya. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian mereka kembali kepada apa yang telah mereka ucapkan, maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.” Maka Allah mewajibkan mendahulukan pembayaran kafārah sebelum melakukan hubungan suami istri, dan ini merupakan nash yang jelas tentang apa yang telah kami sebutkan.
فإن فرعنا على أن الظهار يحرّم اللمسَ تحريمَه الجماعَ وإنما اخترنا التفريع على هذا القول ليسهل تصوير اللمس في اللحظة الخفيفة والساعةِ المختلسةِ ثم إذا ظهر أثر قولنا في اللمس تفريعاً على تحريمه اتّسق الحكم نفياً وإثباتاً في الوطء
Jika kita membangun pendapat bahwa zhihār mengharamkan sentuhan sebagaimana ia mengharamkan jima‘, dan kami memilih membangun pendapat atas dasar ini agar memudahkan penggambaran sentuhan dalam momen yang singkat dan waktu yang tersembunyi, maka ketika telah tampak pengaruh pendapat kami dalam hal sentuhan berdasarkan pengharamannya, maka hukum pun menjadi konsisten baik dalam menafikan maupun menetapkan pada masalah jima‘.
والظاهر عندي أن الظهار بمفرده لا يُحرِّم وإنما يحصل التحريم إذا لزمت الكفارة فإن التحريم مرتب على وجوب الكفارة والخروجُ منه مرتب على أداء الكفارة وهذه الكفارة تجري على الضد من كفارة اليمين فإن الحنث فيها يوجب الكفارة ووجوب الكفارة في هذا الباب يقدُم التحريمَ هذا والدّليل عليه أن الظهار لو كان يحرّم بعينه لحرَّم الإمساك ولأوجب الطلاق فلما لم يكن الأمر كذلك وجاز الإمساك تبين بهذا ما ذكرناه والدليل عليه أن إمساك ساعة مناقض للظهار ولهذا كان عوداً فدل أن مُناقِضَه لا يَحْرُم به فهذا ما أراه
Menurut pendapat saya, zhihar itu sendiri tidak menyebabkan keharaman, melainkan keharaman terjadi apabila kewajiban membayar kafarat telah ditetapkan. Sebab, keharaman itu bergantung pada wajibnya kafarat, dan keluar dari keharaman itu bergantung pada pelaksanaan kafarat. Kafarat ini berlaku kebalikan dari kafarat sumpah, karena dalam kafarat sumpah, pelanggaran sumpah mewajibkan kafarat, sedangkan dalam masalah ini, kewajiban kafarat mendahului keharaman. Dalilnya adalah, jika zhihar itu sendiri menyebabkan keharaman, tentu menahan istri akan menjadi haram dan akan mewajibkan talak. Namun, karena kenyataannya tidak demikian dan menahan istri masih diperbolehkan, maka jelaslah apa yang saya sebutkan. Dalil lainnya adalah, menahan istri sesaat saja bertentangan dengan zhihar, dan karena itu dianggap sebagai rujuk, sehingga bertentangan dengannya tidak menyebabkan keharaman. Inilah pendapat yang saya yakini.
وإذا فرعنا على الظهار المؤقت ورأينا العود فيه بالوقاع على ما سنشرح ذلك على أثر هذا شرحاً واضحاً إن شاء الله تعالى فالوطء الذي هو العودُ يجب ألا يَحْرُم ويكون حصولُ الوطء بمثابة حصوله والطلاقُ الثلاث معلّق عليه وقد حكينا عن بعض الأصحاب أن من قال لامرأته إن وطئتك فأنت طالق ثلاثاًً لا يحل له التغييب ولا شك أن هذا الوجه يُخَرَّج هاهنا
Jika kita membahas tentang zhihar sementara dan memandang bahwa ‘ud (kembali) di dalamnya terjadi dengan hubungan badan, sebagaimana akan kami jelaskan setelah ini dengan penjelasan yang jelas insya Allah Ta‘ala, maka hubungan badan yang merupakan ‘ud itu seharusnya tidak diharamkan, dan terjadinya hubungan badan dianggap sebagai terjadinya hubungan itu sendiri, sedangkan talak tiga digantungkan padanya. Kami telah meriwayatkan dari sebagian sahabat (ulama mazhab) bahwa siapa yang berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak tiga,” maka tidak halal baginya melakukan penetrasi. Tidak diragukan lagi bahwa pendapat ini juga dapat diterapkan di sini.
ثم تمام البيان في ذلك يتعلق بشرح العَوْد في الظهار المؤقت قال الصيدلاني إذا جعلنا العود بالوقاع فليس معناه أنه عين العود ولكن إذا حصل الوطء تبينا أن العود حصل بالإمساك في لحظةٍ عقيب كلمة الظهار ولكنا لا نتبين هذا إلا بالوقاع
Kemudian penjelasan yang sempurna dalam hal ini berkaitan dengan penjelasan tentang ‘aud (kembali) dalam zhihār yang bersifat sementara. Asy-Syidhlani berkata, jika kita menetapkan bahwa ‘aud itu dengan melakukan hubungan badan, maka maksudnya bukanlah bahwa hubungan badan itu sendiri adalah ‘aud, tetapi jika terjadi hubungan badan, kita menjadi tahu bahwa ‘aud telah terjadi dengan menahan (istri) sesaat setelah ucapan zhihār, namun kita tidak dapat mengetahui hal ini kecuali dengan terjadinya hubungan badan.
وبيان ذلك أنا لم نجعل الإمساك عوداً على هذا الوجه الذي نفرع عليه لجواز أن يكون الإمساك للاستحلال بعد مدة الظهار فإذا حصل الوطء في المدة تبين أن الإمساك مصروف إلى الاستمتاع الذي وقع
Penjelasannya adalah bahwa kami tidak menjadikan tindakan menahan diri (imsāk) kembali pada makna yang sedang kami bahas ini, karena mungkin saja imsāk itu dimaksudkan untuk menghalalkan hubungan setelah masa zihar. Maka jika terjadi hubungan suami istri dalam masa tersebut, jelaslah bahwa imsāk itu diarahkan kepada kenikmatan yang telah terjadi.
وهذا فقيه حسن واتجاهه من طريق المعنى ما ذكرناه وانتظامه في ترتيب المذهب أن الشافعي في الجديد لا يجعل عين الوقاع عوداً مع علمه بأن الظهار والعود في نص القرآن مقدّمان على الوطء والتماسّ فإنْ نصَّ الشافعيُّ رحمه الله على الجماع نتبين أنه شرطه ليتسنَّى صرفُ الإمساك إليه لا لعينه
Ini adalah pendapat seorang faqih yang baik, dan arah pemikirannya dari segi makna sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan. Keteraturannya dalam susunan mazhab adalah bahwa Imam Syafi‘i dalam pendapat barunya tidak menganggap perbuatan jima‘ sebagai ‘ud (kembali) meskipun beliau mengetahui bahwa zhihar dan ‘ud dalam nash Al-Qur’an didahulukan atas jima‘ dan sentuhan. Jika Imam Syafi‘i rahimahullah menegaskan tentang jima‘, maka kita dapat memahami bahwa beliau mensyaratkannya agar penahanan (imsak) dapat diarahkan kepadanya, bukan karena hakikat perbuatannya itu sendiri.
وذكر غيرُ الصيدلاني أن الوقاع في عينه هو العود على هذا القول ولا نتبين حصول العود قبله فإن الممسك قد يضمر بإمساكه الاستحلال وراء المدة ثم يتفق الوقاع فلا معنى للمصير إلى أن الوقاع ينعطف على تعيين الإمساك للاستمتاع ونحن من طريق الحس نجد الرجل يمسك ولا يُضمر غرضاً وإنما نجعل العود في الظهار المؤقت جماعاً لضعف الظهار وإذا ضعف افتقر إلى عودٍ قوي
Dan selain As-Saidalani menyebutkan bahwa hubungan intim itu sendiri adalah ‘awd (kembali) menurut pendapat ini, dan kita tidak dapat memastikan terjadinya ‘awd sebelumnya. Sebab, orang yang menahan diri (dari berhubungan) mungkin saja dalam penahanannya itu menyimpan niat untuk menghalalkan (hubungan) setelah waktu yang ditentukan, lalu kemudian terjadi hubungan intim. Maka, tidak ada makna untuk berpendapat bahwa hubungan intim itu kembali kepada penetapan penahanan diri untuk tujuan bersenang-senang. Dari sisi pengalaman inderawi, kita mendapati seorang laki-laki menahan diri tanpa menyimpan tujuan apa pun. Oleh karena itu, kita menetapkan bahwa ‘awd dalam zhihar mu’aqqat (zhihar sementara) adalah hubungan intim, karena zhihar tersebut lemah, dan jika lemah maka membutuhkan ‘awd yang kuat.
فإذا تبين هذا أعدنا فصلَ التحليل وقلنا إن كنا نجعل عين الوطء عوداً من غير تقدير انعطافٍ وتبيُّنٍ فالوجه ما ذكرناه من أن الوطأة الأولى لا تحرم
Jika hal ini telah jelas, maka kita kembali pada pembahasan tentang taḥlīl dan mengatakan: jika kita menganggap bahwa hubungan intim itu sendiri sudah dianggap sebagai kembalinya (suami pertama) tanpa memperhitungkan adanya peninjauan ulang dan kejelasan, maka pendapat yang benar adalah seperti yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa hubungan intim yang pertama tidak menyebabkan keharaman.
وإن سلكنا مسلك الصيدلاني في أنا نتبين بالوطء حصول العود بالإمساك المعقب للظهار فعلى هذا لا نطلق القول بتحليل الوطء فإنا نتبين أن العود سابق عليه ولو قال الرجل لامرأته إذا وطئتك فأنت طالق قبله ثلاثاًً فالإقدام على الوطء محرَّمٌ فإنه لا يقع إلا بعد وقوع الطلاق
Jika kita mengikuti metode seperti yang dilakukan oleh ahli farmasi, yaitu kita mengetahui terjadinya ‘ud dengan adanya penahanan (imsak) yang terjadi setelah zhihar, maka dalam hal ini kita tidak bisa secara mutlak mengatakan bahwa jima‘ (hubungan suami istri) menjadi halal, karena kita mengetahui bahwa ‘ud terjadi sebelumnya. Dan jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika aku menggaulimu, maka kamu tertalak sebelumnya tiga kali,” maka melakukan jima‘ adalah haram, karena jima‘ itu tidak akan terjadi kecuali setelah terjadinya talak.
وعنينا بالوطء التغييب فأما ما دون ذلك فليس بوطء
Yang kami maksud dengan wath’ adalah penetrasi; adapun selain dari itu, maka tidak disebut wath’.
وقد نجز غرضنا في بيان الظهار المؤقت
Tujuan kami dalam menjelaskan zhihār sementara telah tercapai.
باب عتق المؤمنة في الظهار
Bab Membebaskan Perempuan Mukmin dalam Kasus Zhihār
إيمانُ الرقبة المعتَقة شرطٌ في جملة الكفارات فلا تُجزىء رقبةٌ كافرة في كفارة
Iman dari budak yang dimerdekakan merupakan syarat dalam seluruh kafarat, sehingga tidak sah membebaskan budak kafir dalam kafarat.
ولو نذر إعتاقَ رقبة فإن عيَّن عبداً كافراً والتزم إعتاقه جاز وكذلك لو كان معيباً فعيّن إعتاقَه في التزامه جاز ولزمه الوفاء بنذره
Jika seseorang bernazar untuk memerdekakan seorang budak, lalu ia menentukan seorang budak yang kafir dan berkomitmen untuk memerdekakannya, maka hal itu diperbolehkan. Demikian pula jika budak tersebut cacat, lalu ia menentukan untuk memerdekakannya dalam nazarnya, maka hal itu juga diperbolehkan dan ia wajib menunaikan nazarnya.
ولو أطلق ذكر عبدٍ فقال لله عليّ أن أعتق عبداً فهل يخْرُج عن موجب نذره بإعتاق رقبة كافرة أو معيبةٍ بعيب يمنع من الإجزاء في الكفارة في المسألة قولان مبنيان على أن مطلق النذر يحمل على أقل إيجاب الله تعالى أو على أقل ما يتقرب به إلى الله تعالى
Jika seseorang mengucapkan secara mutlak tentang seorang budak, misalnya dengan berkata, “Demi Allah, aku wajib memerdekakan seorang budak,” maka apakah ia telah memenuhi kewajiban nadzarnya dengan memerdekakan budak yang kafir atau yang cacat dengan cacat yang menghalangi keabsahan dalam kafarah? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat, yang dibangun atas dasar apakah nadzar yang diucapkan secara mutlak itu dibawa kepada batas minimal yang diwajibkan Allah Ta‘ala, atau kepada batas minimal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala.
فإن حملناه على أقل درجات الإيجاب لم يُجزىء الكافر والمعيب وإن حملناه على أقل درجات التقرب إلى الله تعالى أجزأ فإن التقرب إلى الله بإعتاق الكافر والمعيب سائغ وعلى هذا الأصل تخرج مسائلُ ستأتي مشروحةً في كتاب النذور إن شاء الله تعالى
Jika kita memaknainya pada derajat paling rendah dari kewajiban, maka membebaskan budak kafir dan cacat tidaklah mencukupi. Namun jika kita memaknainya pada derajat paling rendah dari pendekatan diri kepada Allah Ta‘ala, maka hal itu mencukupi, karena mendekatkan diri kepada Allah dengan membebaskan budak kafir dan cacat adalah sesuatu yang dibolehkan. Berdasarkan prinsip ini, terdapat beberapa permasalahan yang akan dijelaskan pada Kitab Nazar, insya Allah Ta‘ala.
فإن قيل لو نذر لله تعالى صوماً فماذا يلزمه قلنا يلزمه صوم يوم
Jika ada yang bertanya: Jika seseorang bernazar kepada Allah Ta‘ala untuk berpuasa, maka apa yang wajib baginya? Kami katakan: Wajib baginya berpuasa satu hari.
فإن قيل أقل وظيفة واجبة من الصيام في الشرع ثلاثة أيام وهي كفارة اليمين قلنا كل يوم منه فرضٌ على حياله والأيام الثلاثة تناظر ثلاثَ رقاب
Jika dikatakan bahwa kewajiban minimal puasa menurut syariat adalah tiga hari, yaitu sebagai kafarat sumpah, maka kami katakan: setiap harinya merupakan kewajiban tersendiri, dan tiga hari itu sebanding dengan tiga budak.
وخالف أبوحنيفة فلم يشترط الإيمان في شيء من الرقاب المعتقةِ في الكفارات إلا كفارةَ القتل والمسألة مشهورة
Abu Hanifah berpendapat berbeda; beliau tidak mensyaratkan keimanan pada budak yang dimerdekakan dalam kafarat apa pun kecuali kafarat pembunuhan, dan masalah ini sudah masyhur.
ثم قال الشافعي رضي الله عنه فإن كانت أعجمية وصفت الإسلام إلى آخره
Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika ia (perempuan) adalah seorang non-Arab, maka ia harus mendeskripsikan keislamannya, dan seterusnya.
العبد الأعجمي إذا وصف الإسلام بلسان العرب وعلمنا أنه كان يعلم معناه فهو كالعربي وإن كان لا يعلم معناه فلا حكم لما صدر منه
Seorang hamba non-Arab, apabila ia mengucapkan syahadat Islam dengan bahasa Arab dan kita mengetahui bahwa ia memahami maknanya, maka hukumnya sama seperti orang Arab. Namun, jika ia tidak mengetahui maknanya, maka apa yang diucapkannya tidak memiliki ketetapan hukum.
ثم ذكر الأصحاب بعد هذا تقسيمَ الإسلام وما يحصل الايمان به وقسّموه إلى ما يحصُل إنشاءً وابتداء وإلى ما يحصُل تبعاً
Kemudian para ulama menyebutkan setelah ini pembagian Islam dan hal-hal yang dengannya iman dapat terwujud, dan mereka membaginya menjadi apa yang terwujud secara langsung dan permulaan, serta apa yang terwujud secara ikutannya.
والقول في جهات التبعيةِ وفي الإسلام الحاصلِ به والأحكام المتعلقة بذلك الإسلامِ مستقصىً في كتاب اللقيط على أحسن وجه وأبلغِه في البيان فيه نصصنا على إعتاق الطفل المحكوم له بالإسلام تبعاً عن الكفارة ثم ذكرنا إعرابه عن نفسه بالكفر بعد البلوغ والتفصيل فيه فلا نعيد هذا الفن
Pembahasan mengenai aspek-aspek ketergantungan, tentang status Islam yang diperoleh karenanya, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan Islam tersebut telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab Al-Laqīṭ dengan cara yang paling baik dan paling jelas. Di sana, kami telah menegaskan tentang pembebasan anak yang diputuskan sebagai Muslim secara ikut-ikutan dalam kaitannya dengan kafarat, kemudian kami juga telah membahas pernyataannya sendiri tentang kekufuran setelah baligh beserta rinciannya. Oleh karena itu, kami tidak mengulang pembahasan ini di sini.
والقسم الثاني هو الإسلام الحاصل إنشاء أما العَقْدُ فلا مطَلعَ عليه وإنما يعرفه خالق الخلق وكلامنا يتعلق بالظاهر فنتكلم فيمن يُسلم وفيما هو الإسلام
Bagian kedua adalah Islam yang terjadi secara aktual, adapun akadnya maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Pencipta makhluk, dan pembahasan kita berkaitan dengan hal yang lahiriah, maka kita membahas tentang siapa yang masuk Islam dan apa itu Islam.
فأما المكلف فيصح إسلامه ابتداء إذا اختار الإسلام فإن اكره عليه وكان حربياً فكذلك نحكم بإسلامه والذّمّي إذا اكره فأسلم ففي المسألة وجهان
Adapun seorang mukallaf, maka sah keislamannya sejak awal jika ia memilih Islam. Jika ia dipaksa masuk Islam dan ia adalah seorang harbi, maka demikian pula kita menghukumi keislamannya. Adapun seorang dzimmi jika dipaksa lalu masuk Islam, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
وأما المجنون فلا عبارة له والصبي لا يصح منه إسلامه بنفسه على ظاهر المذهب وذكرت فيه خلاف الأصحاب من وجوهٍ في كتاب اللقيط فلا أعيده
Adapun orang gila, maka tidak sah pernyataannya, dan anak kecil tidak sah Islamnya atas inisiatif sendiri menurut pendapat mazhab yang zahir. Aku telah menyebutkan perbedaan pendapat para ulama dalam beberapa aspek terkait hal ini di Kitab al-Laqīṭ, sehingga aku tidak mengulanginya di sini.
والذي أخّرناه إلى هذا الكتاب الكلامُ فيما يصح الإسلام به لا خلاف أنا لا نشترط أن يُعرب من يحاول الإسلام عن جميع قواعد العقائد حتى لا يغادر منها قاعدةً
Pembahasan yang kami tunda hingga kitab ini adalah mengenai hal-hal yang membuat keislaman seseorang sah. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa kami tidak mensyaratkan orang yang hendak memeluk Islam untuk mengungkapkan seluruh kaidah akidah hingga tidak ada satu kaidah pun yang terlewatkan.
فالأصل الذي اعتمده الشرع وهو من أبدع البدائع وأعجب الأمور وقد ذهل عنها معظم العلماء الإتيانُ بالشهادتين وهما على التحقيق يحويان القواعدَ جُمَع إذ في التوحيد الاعتراف بالإله والوحدانية وفيه التعرض لصفات الإلهية وتفويض الأمور إلى من لا إله غيره
Prinsip yang dijadikan dasar oleh syariat, yang merupakan salah satu ciptaan paling menakjubkan dan perkara yang paling mengagumkan—namun kebanyakan ulama telah lalai darinya—adalah pengucapan dua kalimat syahadat. Sesungguhnya, jika diteliti, keduanya mencakup seluruh kaidah secara keseluruhan. Sebab, dalam tauhid terdapat pengakuan terhadap keberadaan Tuhan dan keesaan-Nya, serta di dalamnya terdapat penegasan terhadap sifat-sifat ketuhanan dan penyerahan segala urusan kepada Dzat yang tiada Tuhan selain Dia.
والشهادة بنبوة محمد صلى الله عليه وسلم تصدّقه في جميع ما أتى به وعن هذا قال عليه السلام لما سأله جبريل عليه السلام في الحديث المعروف عن الإسلام فقال شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
Kesaksian atas kenabian Muhammad saw. berarti membenarkan beliau dalam semua yang beliau bawa. Tentang hal ini, Nabi saw. bersabda ketika Jibril as. bertanya kepadanya dalam hadis yang terkenal tentang Islam: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
ثم إذا تبين وظهر إشارة الشرع إلى الشهادتين فللأصحاب طريقان في المسألة منهم من قال لا يحصل الإسلام إلا بالشهادتين ورأى ذلك باباً من التعبد حتى قال المعطِّلُ إذا قال لا إله إلا الله لا نحكم بإسلامه ما لم يقل محمد رسول الله
Kemudian, apabila telah jelas dan tampak isyarat syariat kepada dua kalimat syahadat, maka para ulama memiliki dua pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Islam tidak terwujud kecuali dengan dua kalimat syahadat, dan mereka memandang hal itu sebagai bentuk ibadah. Bahkan, mereka mengatakan bahwa seorang mu‘aththil, jika ia hanya mengucapkan “la ilaha illallah”, kita tidak menghukuminya sebagai seorang Muslim selama ia belum mengucapkan “Muhammad Rasulullah”.
وقال المحققون من أتى بالشهادتين بما يخالف عقده حُكم له بالإسلام فإذا قال المعطل لا إله إلا الله صار مسلماً وعرض عليه شهادة النبوة فإن أتى بها وإلا كان مرتداً وكذلك إذا قال الثنوي بإثبات الإله فليس بمسلم فإن وَحّد حُكم له بالإسلام وإذ قال اليهودي أو النصراني محمد رسول الله حكم بإسلامه وإن لم يوحّد فإن النصراني يثلث واليهودي يقول العزير ابن الله
Para ulama yang meneliti berpendapat bahwa siapa pun yang mengucapkan dua kalimat syahadat meskipun bertentangan dengan keyakinannya, tetap dihukumi sebagai Muslim. Maka jika seorang penganut ta‘ṭīl (yang meniadakan sifat Allah) mengucapkan “Lā ilāha illā Allāh”, ia menjadi Muslim, lalu ditawarkan kepadanya untuk bersyahadat tentang kenabian; jika ia mengucapkannya, maka tetap sebagai Muslim, jika tidak, ia menjadi murtad. Demikian pula, jika seorang penganut dualisme mengakui adanya Tuhan, ia belum menjadi Muslim; jika ia mentauhidkan Allah, maka dihukumi sebagai Muslim. Jika seorang Yahudi atau Nasrani mengucapkan “Muhammad adalah Rasul Allah”, maka dihukumi sebagai Muslim meskipun belum mentauhidkan Allah, karena Nasrani meyakini trinitas dan Yahudi mengatakan Uzair adalah anak Allah.
وحاصل هذه الطريقة أن من أتى من الشهادتين بما يوافق ملّته فلا يصير مسلماً ومن أتى من الشهادتين بما يخالف ملّته حكم له بالإسلام وإن لم يأت بالشهادتين جميعاًً وهذا هو الذي قطع به معظم المحققين من الأصحاب ثم قالوا في الناس من يعترف بنبوة محمد صلى الله عليه وسلم ولكنه يزعم أنه مبعوث إلى الأمة الأمّية وهم العرب فلا يقع الاكتفاء منهم بأن يقولوا محمد رسول الله
Inti dari metode ini adalah bahwa siapa pun yang mengucapkan dua syahadat dengan lafaz yang sesuai dengan keyakinan agamanya, maka ia tidak menjadi Muslim. Namun, siapa pun yang mengucapkan dua syahadat dengan lafaz yang bertentangan dengan keyakinan agamanya, maka ia dihukumi sebagai Muslim, meskipun ia tidak mengucapkan kedua syahadat secara lengkap. Inilah pendapat yang dipastikan oleh mayoritas ulama terkemuka dari kalangan mazhab. Kemudian mereka berkata, di antara manusia ada yang mengakui kenabian Muhammad ﷺ, namun mereka menganggap bahwa beliau hanya diutus kepada umat ummi, yaitu bangsa Arab, sehingga tidak cukup bagi mereka hanya dengan mengucapkan “Muhammad Rasulullah.”
ونحن نفرع على الطريقتين أما الطريقة الأخيرة فإنا نقول عليها لو اعترف يهودي أو نصراني بصلاة من الصلوات على موافقة ملتنا أو بحكمٍ من الأحكام يختص بشريعتنا فهل نحكم بإسلامه فيه اختلاف فمنهم من قال ينبغي أن يكون ما يعترف به من الشهادتين والذي إليه ميل المعظم من أهل التحقيق أن هذا إسلام
Kami akan menguraikan berdasarkan dua metode tersebut. Adapun metode terakhir, kami katakan bahwa jika seorang Yahudi atau Nasrani mengakui salah satu salat yang sesuai dengan agama kita, atau mengakui suatu hukum yang khusus dalam syariat kita, maka apakah kita menghukuminya sebagai seorang Muslim? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang harus diakui adalah dua kalimat syahadat. Namun, pendapat yang lebih cenderung dipilih oleh mayoritas ahli tahqiq adalah bahwa pengakuan tersebut sudah dianggap sebagai Islam.
وضبط القاضي هذا بأن قال كل ما إذا أنكره المسلم قيل كفر لمّا جحده فما يكفر بجحده يصير الكافر المخالف به مؤمناً بعقده
Hakim menjelaskan hal ini dengan mengatakan: Setiap perkara yang jika seorang Muslim mengingkarinya lalu dikatakan ia kafir karena ia mengingkarinya, maka sesuatu yang menyebabkan kafir karena pengingkarannya itu, orang kafir yang berbeda dengannya menjadi beriman dengan mengakuinya.
ثم التصديق لا يتبعض فإن صدق وراء ذلك بالجميع فهو وافٍ بعقده وإن كذب في غير ما صدق به فهو مرتد
Kemudian, keimanan (tasdiq) itu tidak dapat dibagi-bagi; jika setelah itu ia membenarkan seluruhnya, maka ia telah memenuhi akadnya, dan jika ia mengingkari sebagian dari apa yang telah dibenarkannya, maka ia menjadi murtad.
ومَنْ شرط من أصحابنا الشهادتين اختلفوا في أنا هل نشترط التبرِّي من كل ملة تخالف ملة الإسلام فمنهم من قال لا يشترط ذلك وهو الأصح الذي لا يسوغ غيره فإن عماد الشرع الاكتفاء بالشهادتين وعليه تدلّ الأخبار والآثار
Dan barang siapa dari kalangan ulama kami yang mensyaratkan dua syahadat, mereka berbeda pendapat apakah kita juga mensyaratkan berlepas diri dari setiap agama yang menyelisihi agama Islam. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak disyaratkan, dan inilah pendapat yang paling benar yang tidak boleh diabaikan, karena pokok syariat adalah cukup dengan dua syahadat, dan hal ini didukung oleh hadis-hadis dan atsar.
ومنهم من قال يشترط التبري وبضم هذه الكلمة إلى الشهادتين يصير الكلام جامعاً
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa disyaratkan adanya pernyataan berlepas diri (tabarri), dan dengan menambahkan kata ini pada dua kalimat syahadat, maka ucapan tersebut menjadi lengkap.
هذا بيان ما يظهر الإسلام
Ini adalah penjelasan tentang apa yang menampakkan keislaman.
والأخرس يشير بالإسلام فيحكم له به والشاهد فيه الخبر ثم النظر أما الخبر فحديث الخرساء وهو مشهور
Orang bisu mengisyaratkan keislamannya, maka keislamannya dihukumi sah, dan dalilnya adalah hadis serta penalaran. Adapun hadis, yaitu hadis tentang wanita bisu, dan hadis ini masyhur.
والنظرُ اعتبار الإسلام بسائر العقود فإن إشارات الأخرس قائمة مقام عبارات الناطقين وأبعد بعض أصحابنا فشرط أن يضم إلى الإشارة إقامةَ صلاة وهذا بعيد لا أصل له
Pandangan Islam terhadap berbagai akad adalah bahwa isyarat orang bisu dianggap setara dengan ucapan orang yang dapat berbicara. Namun, sebagian ulama kami berpendapat secara berlebihan dengan mensyaratkan agar isyarat tersebut disertai dengan pelaksanaan shalat, dan pendapat ini jauh serta tidak memiliki dasar.
وقال بعض من يُحوِّم على التحقيق إنما لا يحصل الإسلام بإشارة الأخرس لأن الإشارة فيه تُناقِض ما يجب عقدُه في أوصاف الإلهية إذ الإشارة لا تتم إلا بالإيماء إلى جهة وما يُومأ إليه جسم فإن قال قائل كيف تستجيزون ذكر هذا وحديث الخرساء في الصحيح قلنا ذاك حديث مؤوّل باتفاقِ من عليه معوّل فإن فيه أنه قال لها أين الله وكل حديث يقضي العقلُ بإزالة ظاهره فلا حجة فيه
Sebagian ulama yang mendekati penelitian mendalam berpendapat bahwa Islam tidak dapat terwujud melalui isyarat orang bisu, karena isyarat tersebut bertentangan dengan apa yang wajib diyakini dalam sifat-sifat keilahian. Sebab, isyarat hanya dapat dilakukan dengan menunjuk ke suatu arah, sedangkan sesuatu yang ditunjuk itu adalah jasad. Jika ada yang bertanya, “Bagaimana kalian membolehkan penyebutan hal ini padahal ada hadis tentang wanita bisu dalam kitab shahih?” Kami jawab, hadis itu adalah hadis yang ditakwil menurut kesepakatan para ulama yang menjadi sandaran, karena di dalamnya disebutkan bahwa Nabi bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Setiap hadis yang akal menuntut untuk menafikan makna lahiriahnya, maka tidak dapat dijadikan hujah.
باب ما يجزىء من الرقاب وما لا يجزىء وما يجزىء من الصيام وما لا يجزىء
Bab tentang budak yang sah untuk digunakan (sebagai tebusan) dan yang tidak sah, serta puasa yang sah dan yang tidak sah.
ذكر في صدر الباب أن من اشترى عبداً بشرط أن يعتقه فهل يصح العقد وإن صح فهل يجب عتقه حقاً لله تعالى وإذا فرض من المشتري الإعتاقُ ونوى صرفَه إلى الكفارة هل ينصرف إليها وهذا الفصل مما استقصيناه بما فيه في كتاب البيع
Disebutkan di awal bab bahwa apabila seseorang membeli seorang budak dengan syarat akan memerdekakannya, apakah akad tersebut sah, dan jika sah, apakah wajib memerdekakannya sebagai hak Allah Ta‘ala? Dan jika pembeli mewajibkan dirinya untuk memerdekakan budak tersebut dan berniat menjadikannya sebagai kafarat, apakah niat itu dapat diarahkan untuk kafarat? Pembahasan ini telah kami uraikan secara rinci dalam Kitab al-Bay‘.
ثم قال لا يجزىء فيها مكاتَب إلى آخره
Kemudian beliau berkata: Tidak sah di dalamnya seorang mukatab, dan seterusnya.
المكاتب كتابة صحيحة إذا أعتقه مولاه عن كفارته نفذ العتق عن جهة الكتابة ولم ينصرف إلى الكفارة عندنا خلافاً لأبي حنيفة
Seorang mukatab yang akadnya sah, apabila dimerdekakan oleh tuannya untuk menunaikan kafarat, maka kemerdekaannya berlaku atas dasar akad kitabah dan tidak dianggap sebagai pelaksanaan kafarat menurut pendapat kami, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
وللأصحاب طرق في تعليل المذهب منهم من قال العتق يقع عن جهة الكتابة وهو مستحَقٌّ فيها فلا يقع عن جهة أخرى تستحق العتق فيها
Para ulama mazhab memiliki beberapa cara dalam memberikan alasan terhadap pendapat mazhab. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa pembebasan budak (‘itq) terjadi karena sebab kitābah, dan budak tersebut memang berhak mendapatkan pembebasan dalam hal itu, sehingga tidak boleh terjadi pembebasan karena sebab lain yang juga membuat budak tersebut berhak mendapatkan pembebasan.
ومنهم من قال المكاتب ناقص الرق فضاهى المستولدة
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa mukatab adalah budak yang status perbudakannya kurang sempurna, sehingga ia menyerupai mustauladah.
ومنهم من قال إعتاقه ناقص فإنه ليس إعتاقاً محضاً وإنما هو إبراء إذ لو كان إعتاقاً لكان العتق يحصل معجلاً فالذمة تبقى مشغولة بالعوض المسمى
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pembebasan budak tersebut kurang sempurna, karena itu bukanlah pembebasan murni, melainkan hanya merupakan pembebasan dari tanggungan. Sebab, jika itu adalah pembebasan murni, tentu kemerdekaan akan langsung terjadi, sehingga tanggungan tetap terkait dengan kompensasi yang telah ditetapkan.
وإذا كان العبد مكاتباً كتابة فاسدة فأعتقه مولاه عن كفارته فهذا يترتب على أن السيد إذا أعتقه فهل يستتبع اكسابَ والأولادَ وفيه اختلاف وتردد سيأتي إن شاء الله في الكتابة
Jika seorang hamba berstatus mukatab dengan akad kitābah yang rusak, lalu tuannya memerdekakannya untuk menunaikan kafārah, maka hal ini bergantung pada apakah ketika tuannya memerdekakannya, ia juga mengikuti dalam hal perolehan harta dan anak-anak. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dan keraguan, yang insya Allah akan dijelaskan pada pembahasan tentang kitābah.
فإن قلنا إنه لا يستتبع فالإعتاق فسخٌ للكتابة الفاسدة فينفذ عن الكفارة إذا نواها المعتِق
Jika kita katakan bahwa hal itu tidak berkonsekuensi, maka pembebasan budak merupakan pembatalan terhadap akad kitābah yang rusak, sehingga sah untuk pelaksanaan kafārah jika orang yang memerdekakan berniat untuk itu.
وإن قلنا يستتبع المكاتبُ الأكسابَ والأولاد فعلى هذا الوجه في انصرافه إلى الكفارة خلافٌ مبني على المعاني التي قدمناها فإن وقع التعويل في الكتابة الصحيحة على نقصان الرق أو على نقصان العتق فهذا العتق منصرف إلى الكفارة فإن الرق كامل والعتق لا يتضمن إبراء الذمة عن عوض واجب وإن عولنا في الكتابة على وقوع العتق عن جهة الكتابة فلا ينصرف العتق في الفاسدة إلى جهة الكفارة لوقوعها عن جهة الكتابة
Jika kita mengatakan bahwa seorang mukatab mengikuti dalam hal penghasilan dan anak-anak, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah pembebasan budak tersebut dapat diarahkan kepada kafarat, yang didasarkan pada makna-makna yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika dalam akad kitabah yang sah, penekanannya adalah pada berkurangnya status budak atau berkurangnya status merdeka, maka pembebasan budak tersebut diarahkan kepada kafarat, karena status budaknya masih sempurna dan pembebasan itu tidak mengandung pembebasan tanggungan dari kewajiban pembayaran. Namun, jika kita menekankan dalam kitabah pada terjadinya pembebasan karena akad kitabah, maka pembebasan budak dalam akad yang rusak tidak diarahkan kepada kafarat, karena pembebasan itu terjadi karena akad kitabah.
ثم قال ولا تجزىء أمُّ ولد في قول من لا يبيعها إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Dan ummu walad tidak mencukupi menurut pendapat orang yang tidak memperbolehkan menjualnya,” hingga akhir.
ظاهر هذا الكلام يوهم تعليق القول في بيع أمهات الأولاد وقد فهم المزني التعليق واختار منع البيع ولم يحتجّ في اختياره إلا بنصوص للشافعي رحمه الله قطع فيها بمنع البيع وسكوتُه عن الاحتجاج بمعنىً ومسلكٍ في النظر من أصدق الشواهد على عظم قدره فإنه لا يكاد يظهر معنىً في منع بيع المستولدة
Teks ini secara lahiriah memberi kesan adanya penangguhan pendapat dalam masalah jual beli ummahāt al-awlād. Al-Muzani memahami adanya penangguhan tersebut dan memilih pendapat yang melarang jual beli, dan dalam pilihannya itu ia hanya berpegang pada nash-nash dari Imam Syafi’i rahimahullah yang secara tegas melarang jual beli tersebut. Diamnya al-Muzani dari berhujah dengan makna atau metode istinbat merupakan salah satu bukti paling nyata atas keagungan kedudukannya, karena hampir tidak ditemukan makna yang jelas dalam larangan jual beli al-mustawladah.
وقال بعض الأصحاب لم يردّد الشافعي قولَه وإنما أشار إلى مذهب بعض السلف وقد روي عن علي كرم الله وجهه في آخر العهد أنه قال ببيع أمهات الأولاد وذكر في أثناء خطبة اجتمع رأيي ورأي عمر رضي الله عنه على أن أمهات الأولاد لا يُبَعْن وأنا أرى الآن أن يبعن فقام عبيدة السَّلماني فقال رأيك مع الجماعة أحب إلينا من رأيك وحدك
Sebagian ulama mazhab kami mengatakan bahwa Imam Syafi’i tidak meragukan pendapatnya, melainkan hanya mengisyaratkan kepada mazhab sebagian salaf. Telah diriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah, pada akhir masa hidupnya, bahwa beliau berpendapat boleh menjual ummahatul awlad. Disebutkan pula dalam salah satu khutbahnya bahwa pendapat beliau dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah sepakat bahwa ummahatul awlad tidak boleh dijual, namun sekarang beliau berpendapat bahwa mereka boleh dijual. Maka Ubaidah as-Salmani berdiri dan berkata, “Pendapatmu bersama jamaah lebih kami sukai daripada pendapatmu sendiri.”
ومن أصحابنا من أجرى في بيعهن قولين على الإطلاق بناء على أن الإجماع هل يشترط فيه انقراض أهل العصر فإن وقع التفريع على القول البعيد فإعتاقها جائز عن الكفارة ولا حكم للاستيلاد وكان رحمها ظرفاً احتوى على مولود ثم نفضه ولا تَعتِق بالموت
Sebagian dari ulama mazhab kami mengemukakan dua pendapat secara mutlak dalam jual beli mereka, berdasarkan pada persoalan apakah dalam ijmā‘ disyaratkan lenyapnya seluruh ulama pada masa itu. Jika pendapat yang lemah dijadikan dasar, maka memerdekakan budak perempuan tersebut sah sebagai pelaksanaan kafarat, dan status istilad (menjadi ummu walad) tidak berlaku. Rahimnya hanya dianggap sebagai wadah yang pernah mengandung anak lalu mengosongkannya, dan ia tidak menjadi merdeka karena kematian tuannya.
وإن وقع التفريع على ما يجب القطع به فإعتاقها لا يجزىء عن الكفارة فإنها مستحقة العتاقة وأبو حنيفة وافق في هذا وإن أجاز إعتاق المكاتَب عن الكفارة
Dan jika penjabaran dilakukan berdasarkan sesuatu yang harus diyakini secara pasti, maka memerdekakan budak perempuan tersebut tidak sah sebagai pelaksanaan kafarat, karena ia memang berhak untuk dimerdekakan. Abu Hanifah sependapat dalam hal ini, meskipun beliau membolehkan memerdekakan budak mukatab sebagai kafarat.
ثم قال وإن أعتق مرهوناً أو جانياً أو غائباً إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Dan jika seseorang memerdekakan budak yang sedang digadaikan, atau budak yang melakukan tindak pidana, atau budak yang sedang tidak hadir, dan seterusnya.”
قد مضى القول في إعتاق الراهن العبدَ المرهونَ وحظُّ هذا الكتاب منه أنا إن نفذنا عتق الراهن قضينا بانصرافه إلى كفارته إذا نوى صرفَه إليها
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai pembebasan budak yang dijadikan barang gadai oleh orang yang menggadaikan, dan bagian dari pembahasan ini dalam kitab ini adalah bahwa jika kita membolehkan pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan, maka kita menetapkan bahwa pembebasan tersebut dapat diarahkan untuk menjadi kafarat jika ia meniatkannya untuk itu.
فإن قيل أليس نقصان الملك يمنع صرفَ العتق إلى الكفارة ونقصانُ الملك وكماله يمتحنان بالتصرفات نفوذاً ورداً قلنا الملك في المرهون كامل فإذا فرّعنا على نفوذ العتق فهذا يتضمّن فكّ الرهن ولا مانع سوى استيثاق المرتهن فإذا كان في تنفيذ العتق ردُّه فيصادف العتقُ ملكاً مفكوكاً عن الرهن وليس كذلك عتق المكاتب فإنه يقع على حكم الكتابة
Jika dikatakan, “Bukankah kekurangan kepemilikan mencegah pengalihan pembebasan budak (’itq) untuk kafarat, sedangkan kekurangan dan kesempurnaan kepemilikan diuji melalui keabsahan dan penolakan tindakan?” Kami jawab: Kepemilikan atas barang yang digadaikan (marhūn) adalah sempurna. Jika kita berlandaskan pada keabsahan pembebasan budak, maka hal itu mengandung makna pelepasan gadai, dan tidak ada penghalang selain jaminan dari pihak penerima gadai (murtahin). Jika dalam pelaksanaan pembebasan budak itu terdapat pelepasan gadai, maka pembebasan budak itu terjadi pada kepemilikan yang telah bebas dari gadai. Tidak demikian halnya dengan pembebasan budak muktātab, karena ia terjadi sesuai dengan ketentuan akad kitābah.
وعتق الجاني يُخرَّج على هذا وقد اختلف القول في بيعه ثم اختلف القول على منع البيع في عتقه فإن نفذنا العتقَ جوّزنا صرفَه إلى الكفارة
Pembebasan budak yang melakukan tindak pidana diqiyaskan atas hal ini. Terdapat perbedaan pendapat mengenai penjualannya, kemudian terdapat perbedaan pendapat lagi mengenai larangan penjualan dalam pembebasannya. Jika kita menganggap sah pembebasannya, maka kita membolehkan pengalihannya untuk kafarat.
ثم قال وإن أعتق عبداً له غائباً إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Dan jika seseorang memerdekakan seorang budak miliknya yang sedang tidak hadir,” dan seterusnya.
يجوز إعتاق العبد الغائب عن الكفارة إذا لم تنقطع الأخبار فإن انقطعت الأخبار انقطاعاً يُغلِّب على القلب أنه أصابته آفةٌ هلك فيها وذلك بأن لا نجد
Boleh memerdekakan budak yang tidak hadir sebagai pelaksanaan kafarat jika masih ada kabar tentangnya. Namun, jika kabar tentangnya terputus dengan cara yang membuat hati lebih condong meyakini bahwa ia telah tertimpa musibah yang menyebabkan kematiannya, yaitu ketika tidak ditemukan…
حاجزاً للأخبار فإذا أعتقه ففي وقوعه عن الكفارة في الحال قولان استقصيت القول فيه في كتاب زكاة الفطر وأتيت فيه بالمسلك الحق فليُطْلَب في موضعه
Menjadi penghalang bagi berita, maka jika ia memerdekakannya, terdapat dua pendapat mengenai apakah hal itu langsung dianggap sebagai pelaksanaan kafarat. Saya telah membahas pendapat ini secara rinci dalam Kitab Zakat Fitrah dan telah menyampaikan pendapat yang benar di sana, maka silakan merujuk pada tempatnya.
وفائدة هذا الخلاف تظهر في كفارة الظهار فإن حكمنا بالبناء على حياة العبد فالإعتاق يُسلِّط على الوطء وإن حكمنا بالبناء على وفاته واشتغال الذمة فلا يتسلط المظاهر على الوطء ولو منعناه ثم تواصلت الأخبار بالحياة تبيّنا أن الكفارة تأدّت ووقع العتقُ موقعَه
Manfaat dari perbedaan pendapat ini tampak dalam masalah kafarat zhihar. Jika kita memutuskan dengan berpegang pada kehidupan budak, maka pembebasan budak memberikan hak untuk melakukan hubungan suami istri. Namun jika kita memutuskan dengan berpegang pada kematian budak dan keterikatan tanggungan, maka orang yang melakukan zhihar tidak berhak melakukan hubungan suami istri. Jika kita melarangnya, lalu kemudian datang berita berkesinambungan tentang kehidupan budak tersebut, maka menjadi jelas bahwa kafarat telah terlaksana dan pembebasan budak itu sah pada tempatnya.
ولو أعتق المالك عبداً مغصوباً تحت يد ظالم لا يُغالَب فقد قال القفال إعتاقه عن الكفارة يجزىء وفي بعض التصانيف أن أبا حامد كان يقول لا يجزىء لأن الغرض من الإعتاق تخليصُه من الأسر وتمكينُه من التصرف ولهذا لا يجزىء العبد الأقطع لنقصان عمله فإذا كان المحبوس بَعَيْبه عن التصرف لا يجزىء فكذلك لا يجزىء المغصوب
Jika seorang pemilik memerdekakan seorang budak yang digasak dan berada di bawah kekuasaan orang zalim yang tidak dapat dilawan, maka menurut al-Qaffal, memerdekakannya untuk membayar kafarat dianggap sah. Namun dalam sebagian kitab disebutkan bahwa Abu Hamid berpendapat tidak sah, karena tujuan dari memerdekakan adalah membebaskannya dari penawanan dan memberinya kemampuan untuk bertindak. Oleh karena itu, budak yang cacat tidak sah untuk dimerdekakan karena kekurangan dalam amalnya. Jika budak yang terhalang untuk bertindak karena cacatnya tidak sah, maka demikian pula budak yang digasak juga tidak sah.
وهذا رديءٌ وغيرُ معتد به ولست أراه من المذهب ولم أطلع عليه في كتب العراق
Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan. Saya tidak menganggapnya sebagai bagian dari mazhab, dan saya tidak menemukannya dalam kitab-kitab ulama Irak.
ثم قال لو اشترى من يَعْتِق عليه لم يجزئه عن كفارته إلى آخره
Kemudian ia berkata: Jika seseorang membeli budak yang akan menjadi merdeka karena hubungan nasab dengannya, maka hal itu tidak mencukupi sebagai pelaksanaan kafaratnya, dan seterusnya.
من اشترى مَنْ يعتِق عليه ونوى صرفَ العتق الحاصل فيه إلى كفارته صح الشراء ونفذ العتق ولم ينصرف إلى الكفارة خلافاً لأبي حنيفة وهو يبني هذا على أن الشراء عقدُ عَتاقة ووجه الرّد عليه بيّن مذكور في المسائل ومذهب الأصحاب أن من اشترى من يعتِق عليه فإنه يملكه ثم يحصل العتق مرتَّباً على الملك قال أبو إسحاق المروزي يحصل الملك والعتق معاً وعُدّ هذا من هفواته
Barang siapa membeli seseorang yang akan merdeka atas dirinya, lalu ia berniat untuk menjadikan kemerdekaan yang terjadi padanya sebagai pelaksanaan kafaratnya, maka jual beli tersebut sah dan kemerdekaan itu berlaku, namun tidak dianggap sebagai pelaksanaan kafarat, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa jual beli adalah akad pembebasan budak. Adapun bantahan terhadap pendapat ini jelas dan telah disebutkan dalam pembahasan masalah-masalah terkait. Menurut mazhab para sahabat (ulama Syafi‘iyah), barang siapa membeli seseorang yang akan merdeka atas dirinya, maka ia memilikinya terlebih dahulu, kemudian kemerdekaan terjadi setelah kepemilikan. Abu Ishaq al-Marwazi berpendapat bahwa kepemilikan dan kemerdekaan terjadi secara bersamaan, dan pendapat ini dianggap sebagai kekeliruannya.
ولو اشترى العبدُ نفسَه من مولاه وصححنا منه هذه المعاملة فهل يملك نفسَه حتى يترتب عتقه على ملك نفسه فيه تردد معروف وسيأتي شرحه إن شاء الله في كتاب الكتابة وعلى الخلاف ابتنى أمرُ الولاء فمن قال إنه يملك نفسَه يحكم بانقطاع الولاء ومن قال يترتب عتقه على ملك المولى فالولاء للمولى وهذا يأتي مشروحاً إن شاء الله عز وجل
Jika seorang budak membeli dirinya sendiri dari tuannya dan kita menganggap sah transaksi ini darinya, maka apakah ia memiliki dirinya sendiri sehingga kemerdekaannya bergantung pada kepemilikan dirinya? Dalam hal ini terdapat keraguan yang sudah dikenal, dan penjelasannya akan datang, insya Allah, dalam Kitab al-Kitābah. Persoalan tentang walā’ juga didasarkan pada perbedaan pendapat ini: barang siapa yang berpendapat bahwa budak tersebut memiliki dirinya sendiri, maka diputuskan bahwa walā’ terputus; dan barang siapa yang berpendapat bahwa kemerdekaannya bergantung pada kepemilikan tuan, maka walā’ tetap menjadi hak tuan. Hal ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
والفرق بين شراء الرجلِ من يعتِق عليه وبين شراء العبد نفسَه أن شراء من يعتِق عليه لا يُحيل حصولَ العتق في المشترَى ولولا ورود الشرع لدام الملك وكون الإنسان مالكاً لنفسه محال من طريق التصور ومعتمد المذهب وقوع العتق من جهة القرابة وهو مستحَق مع حصول الملك واقعٌ لا محالة
Perbedaan antara seorang laki-laki membeli orang yang akan merdeka karena hubungan kekerabatan dengannya dan seorang budak membeli dirinya sendiri adalah bahwa pembelian terhadap orang yang akan merdeka karena hubungan kekerabatan tidak menghalangi terjadinya kemerdekaan pada orang yang dibeli. Seandainya tidak ada ketentuan syariat, maka kepemilikan itu akan tetap ada, dan seseorang memiliki dirinya sendiri adalah sesuatu yang mustahil secara logika. Dasar mazhab adalah terjadinya kemerdekaan karena adanya hubungan kekerabatan, dan hal itu pasti terjadi ketika kepemilikan telah diperoleh.
ثم إذا اشترى النصف ممن يعتِق عليه وكان موسراً سرى العتق إلى الباقي وعلى المشتري الضمان ولو ورث النصفَ ممن يعتق عليه نفذ العتق ولم يَسْرِ والسبب فيه أنّا لو سرّينا العتق المرتّب على الملك المستفاد بالإرث لأحْبطنا ملك الشريك إن سرّيناه ولم يضمن الوارث وإن سرَّيناه وضمّناه كان محالاً فإن تغريمه مالاً فيما لم يتسبّب إليه بوجه من وجوه الاختيار محالٌ لا سبيل إليه والمشتري متسبّبٌ وإن لم يكن مُعتِقاً والضمان يتعلق بالأسباب كما يتعلق بالمباشرات ثم يختلف التسرية باليسار والإعسار إذا اشترى النصفَ ممن يعتق عليه كما يختلف ذلك في إعتاق أحد الشريكين نصيبه
Kemudian, jika seseorang membeli separuh (budak) dari orang yang jika ia memerdekakannya maka budak itu menjadi merdeka, dan ia adalah orang yang mampu, maka kemerdekaan itu berlaku juga pada bagian yang tersisa, dan pembeli wajib menanggung jaminan. Namun jika ia mewarisi separuh dari orang yang jika ia memerdekakannya maka budak itu menjadi merdeka, maka kemerdekaan itu sah tetapi tidak berlaku pada bagian yang lain. Sebabnya adalah, jika kita memberlakukan kemerdekaan yang bergantung pada kepemilikan yang diperoleh melalui warisan, maka kita akan membatalkan hak milik rekan (syarikat) jika kita memberlakukan kemerdekaan itu tanpa menuntut jaminan dari ahli waris. Dan jika kita memberlakukan kemerdekaan itu dan menuntut jaminan dari ahli waris, maka itu adalah hal yang mustahil, karena membebankan ganti rugi atas sesuatu yang tidak ia sebabkan dengan salah satu bentuk pilihan adalah mustahil dan tidak mungkin dilakukan. Sedangkan pembeli adalah orang yang menyebabkan (terjadinya kemerdekaan), meskipun ia bukan orang yang memerdekakan, dan jaminan berkaitan dengan sebab-sebab sebagaimana berkaitan dengan pelaksanaan langsung. Kemudian, pemberlakuan kemerdekaan itu berbeda antara orang yang mampu dan yang tidak mampu jika seseorang membeli separuh (budak) dari orang yang jika ia memerdekakannya maka budak itu menjadi merdeka, sebagaimana hal itu juga berbeda dalam kasus salah satu dari dua orang yang berserikat memerdekakan bagiannya.
فصل قال ولو أعتق عبداً بينه وبين آخر إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Dan jika seseorang memerdekakan seorang budak yang dimiliki bersama antara dirinya dan orang lain hingga selesai.”
إذا أعتق نصفين من عبدين ولم يَسْر عتقُه بسبب الإعسار فحاصل المذهب ثلاثةُ أوجه أحدها أنّ ذمته تبرأ فإنّ ضمَّ شَطْر إلى شَطر يتضمن مساواة الإعتاق في العبد الكامل والأنصاف والأشقاص في نُصُب الزكوات كالأشخاص إذا فرض الضم فيها فعلى مالك ثمانين نصفاً من الأغنام وشريكُه فيها ذمّي ما على مالك أربعين من الغنم من الزكاة كما لو ملك أربعين خالصاً
Jika seseorang memerdekakan dua setengah bagian dari dua budak dan kemerdekaannya tidak berlaku karena ketidakmampuan (miskin), maka menurut madzhab terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa tanggungannya menjadi bebas, karena menggabungkan setengah bagian dengan setengah bagian lainnya berarti menyamakan pembebasan pada budak yang utuh, dan setengah-setengah serta bagian-bagian dalam nishab zakat seperti halnya orang-orang jika penggabungan itu dianggap di dalamnya. Maka, pemilik delapan puluh setengah kambing dan rekannya yang non-Muslim (dzimmi) dalam kepemilikan itu, wajib membayar zakat seperti halnya pemilik empat puluh kambing, sebagaimana jika ia memiliki empat puluh ekor kambing secara penuh.
والوجه الثاني أنه لا تبرأ ذمته عن الكفارة فإنه متعبَّدٌ بإعتاق رقبة وهو لم يعتق رقبة وأيضاًً فالمقصود من الإعتاق حلّ رباط الرق والتخليص من أسر العبودية وهذا المعنى لا يتحقق في إعتاق الشطرين إذ كل واحدٍ منهما قد عتق نصفُه ونصفه في الأسر والحجر
Alasan kedua adalah bahwa tanggungannya terhadap kewajiban kafarat tidak gugur, karena ia diperintahkan untuk memerdekakan seorang budak, sedangkan ia belum memerdekakan seorang budak. Selain itu, tujuan dari pemerdekaan adalah melepaskan ikatan perbudakan dan membebaskan dari belenggu perhambaan, dan tujuan ini tidak terwujud dalam memerdekakan dua bagian, karena masing-masing dari keduanya hanya setengahnya yang merdeka, sementara setengahnya lagi masih dalam perbudakan dan kekangan.
والوجه الثالث أنه إن أعتق نصفين من شخصين نصف كل واحد منهما حُرّ ونصفه رقيق أجزأه ذلك وبرئت ذمته وإن أعتق نصفين من رقيقين ولم يسر عتقُه لم يُجزه والفارق بينهما أنه في الشخصين اللذين كل واحد منهما نصفه حرّ تسبب إلى تكميل الإطلاق وحلِّ الوثاق وحصل بجمع النصفين ما يحصل بإعتاق الرقبة الكاملة
Alasan ketiga adalah bahwa jika seseorang memerdekakan dua setengah bagian dari dua orang, yaitu setengah dari masing-masing mereka, maka setengah dari masing-masing menjadi merdeka dan setengahnya lagi tetap sebagai budak, hal itu dianggap sah dan tanggungannya telah lepas. Namun jika ia memerdekakan dua setengah bagian dari dua budak dan kemerdekaannya tidak menyebar (tidak berlaku pada seluruh budak), maka itu tidak sah baginya. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa pada dua orang yang masing-masing setengahnya merdeka, ia telah berusaha untuk menyempurnakan pembebasan dan melepaskan ikatan, sehingga dengan menggabungkan dua setengah itu tercapai apa yang didapatkan dengan memerdekakan satu budak secara utuh.
ولو كان بينه وبين شريكه عبد مشترك فأعتق هو شِرْكه ونصيبَه وكان موسراً فاختلاف الأقوال في أن العتق يحصل على الفور والبدار أم يتوقف على تأدية قيمة حصة الشريك حتى يحصل عقيب الأداء أم نحكم بالوقف والتبيّن مشهور وسيأتي مستقصىً في كتاب العتق إن شاء الله عز وجل
Jika antara dia dan rekannya terdapat seorang budak yang dimiliki bersama, lalu dia memerdekakan bagian dan bagiannya sendiri, sedangkan dia adalah orang yang mampu, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah kemerdekaan itu terjadi seketika dan langsung, ataukah ditangguhkan sampai pembayaran nilai bagian rekannya sehingga kemerdekaan terjadi setelah pembayaran, ataukah kita memutuskan untuk menangguhkan dan menunggu kejelasan; pendapat ini masyhur dan akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-‘Itq, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فإذا فرضنا في الموسر وفرعنا على الأصح وهو تعجيل السراية باللفظ فالعتق على الجملة يجري لأنا نجعل معتق النصف معتقاً للجميع فإن نصيب صاحبه ينتقل إلى ملكه في ألْطف زمانٍ ثم يعتق عليه فيحصل جميعُ العتق في ملكه الخالص ويكفيه النيةُ المقترنةُ بإعتاقه نصيبَ نفسه
Jika kita berandai-andai pada orang yang mampu dan kita mengambil pendapat yang paling sahih, yaitu bahwa penyebaran (sarayah) terjadi secara langsung dengan ucapan, maka pembebasan budak secara keseluruhan terjadi. Sebab, kita menganggap orang yang memerdekakan separuh budak sebagai orang yang memerdekakan seluruhnya, karena bagian temannya berpindah ke dalam kepemilikannya dalam waktu yang sangat singkat, lalu budak itu dimerdekakan atasnya. Dengan demikian, seluruh pembebasan terjadi dalam kepemilikan murninya, dan cukup baginya niat yang disertakan ketika memerdekakan bagiannya sendiri.
وقال القفال أنا أُخرِّج وجهاً آخر أنه إذا وَجَّه العتقَ على نصيب نفسه لم يُجْزِه العتقُ في نصيب شريكه وإن وقع واحتج في ذلك بأنه متعبَّدٌ بالإعتاق وهو لا يسمَّى معتقاً للرقبة إذ العتق في البعض يقع شرعاً من غير إيقاعه ويحسن منه أن يقول ما أعتقت العبد بكماله وإنما أعتقت نصفه وعَتَق الباقي عليَّ
Al-Qaffal berkata, “Saya mengemukakan pendapat lain, yaitu jika seseorang mengarahkan pembebasan budak hanya pada bagian miliknya sendiri, maka pembebasan itu tidak mencukupi untuk bagian milik rekannya, meskipun pembebasan itu telah terjadi. Ia beralasan bahwa ia dibebani kewajiban membebaskan budak, namun ia tidak disebut sebagai orang yang membebaskan seluruh budak tersebut, karena pembebasan pada sebagian budak terjadi secara syar‘i tanpa ia melakukannya secara langsung. Maka, layak baginya untuk mengatakan, ‘Saya tidak membebaskan budak itu secara keseluruhan, melainkan hanya membebaskan setengahnya, dan sisanya masih menjadi tanggungan saya.’”
ونُقل عنه بناء الوجهين على ما لو توضأ لاستباحة صلاة بعينها وفيه أوجه أحدها أن الطهارة لا تصح أصلاً والثاني أنها تصحّ لتلك الصلاة بعينها دون غيرها وهذا على نهاية الضعف وما كنت أظن أن القفال يذكر هذا الوجهَ فإنه فاحش بالغ في الفساد والوجه الثالث أن الطهارة تصح وتصلح لجميع الصلوات
Diriwayatkan darinya bahwa dua pendapat dibangun atas dasar seseorang berwudu untuk membolehkan salat tertentu, dan dalam hal ini terdapat beberapa pendapat: yang pertama, bahwa thaharah tersebut sama sekali tidak sah; yang kedua, bahwa thaharah itu sah hanya untuk salat tertentu tersebut dan tidak untuk yang lainnya, dan pendapat ini sangat lemah. Aku tidak pernah menyangka bahwa al-Qaffal akan menyebutkan pendapat ini, karena pendapat tersebut sangat buruk dan rusak. Pendapat ketiga, bahwa thaharah itu sah dan berlaku untuk semua salat.
ووجه التخريج أنه في مسألتنا خص نصيبه بتوجيه العتق عليه وإن حصل العتق في الباقي وفي الطهارة خصص النية تخصيصاً لا يقف الشرع عنده
Adapun alasan takhrīj adalah bahwa dalam permasalahan kita, bagian warisannya dikhususkan dengan penetapan pembebasan budak atasnya, meskipun pembebasan itu juga terjadi pada bagian yang lain. Sedangkan dalam masalah thahārah, niat dikhususkan dengan suatu kekhususan yang tidak dibatasi oleh syariat.
والأصح في المسألتين أن التخصيص لا أثر له والطهارة تصلح للصلوات والعتق بجملته يقع عن الكفارة
Pendapat yang paling sahih dalam kedua permasalahan tersebut adalah bahwa penspesifikan tidak berpengaruh; wudhu tetap sah untuk seluruh shalat, dan pembebasan budak secara keseluruhan tetap berlaku untuk kafarat.
وفي هذا فضل بيانٍ سنذكره
Dan dalam hal ini terdapat keutamaan penjelasan yang akan kami sebutkan.
وإذا فرّعنا على أن العتق يحصل في نصيب الشريك عند أداء القيمة فالجواب كما مضى فإنه حيث يحصل يحصل بسبب إعتاقه السابق ولا حكم للمتأخر
Dan jika kita membangun pendapat bahwa kemerdekaan (’itq) terjadi pada bagian milik sekutu ketika nilai (tebusan) dibayarkan, maka jawabannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu di mana pun kemerdekaan itu terjadi, ia terjadi karena pembebasan yang dilakukan sebelumnya, dan tidak ada ketetapan hukum bagi yang terjadi belakangan.
ولو قال من عليه الكفارة إن دخلتَ الدار فأنت حر عن كفارتي فإذا دخل عَتَق عن الكفارة هذا ثابت في الأصل
Jika seseorang yang wajib membayar kafarat berkata, “Jika kamu masuk ke rumah, maka kamu merdeka sebagai tebusan kafaratku,” lalu orang itu masuk, maka ia menjadi merdeka sebagai kafarat. Hal ini tetap berlaku menurut hukum asal.
ولكن لو نوى صرف العتقِ في نصيبه إلى الكفارة ثم نوى صرف العتق في نصيب شريكه عند أداء القيمة فهذا لا يصح وإن نوى عند إعتاق نصيبه صرفَ جميع العتق إلى كفارته فأنتجز العتق في نصيبه وتأخر في نصيب شريكه ثم حصلَ فالنية السابقة هل تكفي فعلى وجهين أحدهما أنها كافية فإنها ارتبطت بالعتق ثم حصل العتق على ترتيب
Namun, jika ia berniat menujukan pembebasan budak pada bagiannya untuk kafarah, kemudian ia berniat menujukan pembebasan budak pada bagian milik rekannya ketika membayar nilai (budak tersebut), maka hal ini tidak sah. Namun, jika ketika membebaskan bagiannya ia berniat menujukan seluruh pembebasan budak untuk kafarahnya, lalu pembebasan budak langsung terjadi pada bagiannya dan tertunda pada bagian rekannya, kemudian akhirnya terjadi (pembebasan budak pada bagian rekannya), maka apakah niat sebelumnya sudah cukup? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa niat tersebut sudah cukup, karena niat itu telah terikat dengan pembebasan budak, kemudian pembebasan budak terjadi secara berurutan.
والثاني أنه لا يجوز فإن تقدم النية على نفوذ العتق فاسدٌ مع القدرة على الإتيان بها مقترنة بحصول العتق
Kedua, bahwa hal itu tidak diperbolehkan, karena mendahulukan niat sebelum terjadinya pembebasan budak adalah tidak sah apabila mampu untuk melakukannya bersamaan dengan terjadinya pembebasan budak.
وقال الشيخ أبو حامد ينبغي أن ينوي العتقَ كلَّه عند إعتاقه نصيب نفسه فإن النية باللفظ أليق حتى لو بعّض النية لم يجز وهذا مما انفرد به
Syekh Abu Hamid berkata, seharusnya ia meniatkan pembebasan seluruhnya ketika membebaskan bagian dirinya sendiri, karena niat dengan lafaz lebih utama, sehingga jika ia membagi-bagi niat, maka tidak sah, dan inilah yang menjadi kekhususannya.
ومما يجب التنبيه له أنه إذا أعتق نصيب نفسه وفرعنا على تعجيل السريان وعلى أن العبارة عن النصف صحيحة والعتقَ في الكل منصرف إلى الكفارة فهذا فيه إذا نوى صرفَ الكل إلى الكفارة فأما إذا نوى صرف العتق في نصيبه إلى الكفارة فحسب فلا يبرأ عن الكفارة وفاقاً وهذا ظاهر لا يخفى دركه فإن عماد انصراف العتق إلى الكفارة النية
Perlu diperhatikan bahwa jika seseorang memerdekakan bagian dirinya sendiri, dan kita berasumsi bahwa pembebasan itu berlaku segera serta ungkapan tentang setengahnya adalah sah dan pemerdekaan seluruhnya diarahkan untuk kafarat, maka hal ini berlaku jika ia berniat untuk mengarahkan seluruh pemerdekaan itu kepada kafarat. Adapun jika ia hanya berniat mengarahkan pemerdekaan pada bagiannya saja untuk kafarat, maka ia tidak terbebas dari kewajiban kafarat menurut kesepakatan, dan hal ini jelas serta tidak sulit dipahami, karena inti dari diarahkan atau tidaknya pemerdekaan kepada kafarat adalah niat.
ولو أعتق عبده الخالص ونوى صرفَ نصف العتق إلى الكفارة لم ينصرف إليها أكثرُ من النصف
Jika seseorang memerdekakan budaknya yang sepenuhnya miliknya, lalu ia berniat untuk mengarahkan setengah dari pembebasan itu kepada kafarah, maka tidak terhitung kepada kafarah lebih dari setengahnya.
ولو أعتق عبدين خالصين ونوى صرف نصفيهما إلى الكفارة فهذا بمثابة ما لو أعتق نصفين من شخصين النصف من كل واحد منهما حرّ
Jika seseorang memerdekakan dua budak yang sepenuhnya miliknya dan berniat menjadikan masing-masing setengah dari keduanya untuk kafarat, maka hal ini sama seperti jika ia memerdekakan dua setengah bagian dari dua orang, yaitu setengah dari masing-masing mereka menjadi merdeka.
فإن قيل ألستم ذكرتم خلافاً في التبعيض في العبد المشترك قلنا ذلك الخلاف في اللفظ فمن أصحابنا من قال إذا أعتق نصفه ولم يتعرض للنصف الآخر بلفظه ونوى صرفَ العتق كلّه إلى الكفارة يجزئه
Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang pembebasan sebagian pada budak yang dimiliki bersama?” Kami menjawab, perbedaan itu hanya pada lafaz. Di antara para ulama kami ada yang berpendapat, jika seseorang memerdekakan setengah budak tersebut tanpa menyebutkan setengah yang lain dalam ucapannya, dan ia berniat memfokuskan seluruh pembebasan itu untuk keperluan kafarat, maka itu sudah mencukupi.
ومنهم من قال لا يجزئه حتى يتلفظ بإعتاق الجميع ويقول أعتقت هذا العبدَ عن كفارتي هذا موقع الخلاف
Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak sah baginya sampai ia mengucapkan pembebasan seluruhnya dan berkata, “Aku membebaskan budak ini sebagai kafaratku.” Inilah letak perbedaannya.
وحكى العراقيون عن نص الشافعي رضي الله عنه أنه قال إذا لزمته كفارتان في كل كفارة رقبة فقال أعتقت هذين العبدين عن كفارتيّ نصفاً من كل عبد عن كل كفارة فينفذ العتقان عن الكفارتين فلا شك أن هذا دالٌّ على جواز إعتاق شقصين من عبدين عن كفارة واحدة فيعتضد إجراء الوجوه بالنص
Orang-orang Irak meriwayatkan dari nash Imam Syafi‘i ra. bahwa beliau berkata: Jika seseorang wajib menunaikan dua kafarat, dan pada setiap kafarat disyaratkan membebaskan seorang budak, lalu ia berkata, “Aku membebaskan dua budak ini untuk dua kafaratku, setengah dari setiap budak untuk setiap kafarat,” maka pembebasan kedua budak itu sah untuk kedua kafarat tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini menunjukkan bolehnya membebaskan dua bagian dari dua budak untuk satu kafarat, sehingga pendapat-pendapat yang ada diperkuat oleh nash ini.
قالوا ومن أصحابنا من جوز هذا وإن منع التبعيض فإن ثمرة اللفظ حصولُ عتقه في عبدين عن كفارتين فلا نظر إلى تقدير التبعيض وقالوا لو قال أعتقت هذين العبدين عن كفارتيّ فينفذ العتقان عنهما
Mereka berkata, di antara ulama mazhab kami ada yang membolehkan hal ini meskipun melarang adanya pembagian, karena hasil dari lafaz tersebut adalah terjadinya pembebasan dua budak untuk dua kafarat, sehingga tidak perlu memperhatikan kemungkinan adanya pembagian. Mereka juga berkata, jika seseorang berkata, “Aku membebaskan dua budak ini untuk dua kafaratku,” maka pembebasan keduanya sah untuk keduanya.
واختلف أصحابنا في كيفية الوقوع فمنهم من قال يقع عن كل كفارة نصفا العبدين ولا حاجة إلى هذا عندنا فإن ظاهر إعتاق العبدين عن الكفارتين صرفُ عتق عبد كامل إلى كل كفارة ولا معنى للحمل على التبعيض واللفظ ليس يشعر به والإعتاق المطلق لا يفهم منه في العرف التبعيض والتشقيص
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai bagaimana pelaksanaannya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa untuk setiap kafarat, yang dibebaskan adalah setengah dari dua budak. Namun, menurut kami, hal ini tidak diperlukan, karena secara lahiriah, memerdekakan dua budak untuk dua kafarat berarti memfokuskan pembebasan satu budak secara utuh untuk setiap kafarat. Tidak ada alasan untuk menafsirkannya sebagai pembagian atau pemisahan, dan lafaznya pun tidak menunjukkan hal itu. Dalam kebiasaan, pembebasan budak secara mutlak tidak dipahami sebagai pembagian atau pemisahan.
فصل
Bab
قال ولو أعتقه على أن يجعل له عشرةَ دنانير إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika ia memerdekakannya dengan syarat agar memberikan kepadanya sepuluh dinar, dan seterusnya.”
إذا قال الرجل لسيد المستولدة أعتقها بألف فأعتقها صح واستحق الألفَ على من استدعى العَتاقة وكان العتق واقعاً عن الموْلَى وسبيل استحقاق العوض التخليص وهذا بمثابة ما لو استدعى الأجنبيُّ من الزوج تطليق زوجته بمال فإذا طلق استحق المالَ على المستدعي على التفاصيل المقدمة في الخلع
Jika seseorang berkata kepada tuan dari seorang wanita mustauladah, “Merdekakanlah dia dengan seribu,” lalu tuannya memerdekakannya, maka hal itu sah dan tuan tersebut berhak mendapatkan seribu dari orang yang meminta pembebasan tersebut. Pembebasan itu dianggap berasal dari tuan, dan cara memperoleh kompensasi adalah dengan melakukan pembebasan. Ini serupa dengan kasus ketika orang lain meminta seorang suami menceraikan istrinya dengan imbalan harta; jika suami menceraikannya, maka ia berhak atas harta itu dari orang yang memintanya, sebagaimana rincian yang telah dijelaskan dalam masalah khulu‘.
ولو قال لمالك العبد الرقيق أعتق عبدك عنّي بألف فأعتقه عنه نفذ العتق ووقع عن المستدعي واستحق المعتِقُ العوضَ المسمّى على الصحة
Jika seseorang berkata kepada pemilik budak, “Merdekakanlah budakmu atas namaku dengan imbalan seribu,” lalu pemilik itu memerdekakannya atas namanya, maka pembebasan budak tersebut sah dan berlaku atas nama pihak yang meminta, serta pemilik yang memerdekakan berhak mendapatkan kompensasi yang telah disepakati secara sah.
ولو قال أعتق عبدك عنّي ولم يذكر عوضاً فأسعفه وأعتقه عنه وقع العتق عندنا كما لو ذكر عوضاً خلافاً لأبي حنيفة
Jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu atas namaku,” tanpa menyebutkan imbalan, lalu orang itu memenuhi permintaannya dan membebaskan budaknya atas namanya, maka pembebasan budak itu sah menurut kami, sebagaimana jika disebutkan imbalan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
ولو وهب المالك عبدَه من إنسان ثم أذن للمتهب حتى يعتقه عن نفسه فالإعتاق على هذا الوجه يكون بمثابة القبض في الهبة فيفيد الملكَ ويحصلُ العتقُ وقال أبو حنيفة لا يقع العتقُ قبل القبض الحسي قبضاً في الهبة وإن صدر عن إذن الواهب
Jika seorang pemilik menghadiahkan budaknya kepada seseorang, lalu ia memberi izin kepada penerima hibah tersebut untuk memerdekakan budak itu atas nama dirinya sendiri, maka pemerdekaan dengan cara seperti ini dianggap sebagai bentuk qabd (penguasaan) dalam hibah, sehingga memberikan kepemilikan dan terjadilah pemerdekaan. Namun, Abu Hanifah berpendapat bahwa pemerdekaan tidak terjadi sebelum adanya qabd secara fisik dalam hibah, meskipun dilakukan dengan izin dari pemberi hibah.
ثم إذا صرفنا العتق إلى المستدعي عند ذكر العوض أو من غير عوض فقد أطبق أصحابنا على أن من ضرورة صرف العتق إلى المستدعي نقلَ الملك إليه إذ من المحال أن يترتب عتق المعتِق علىَ مِلكِه ثم يقع من غيره
Kemudian, apabila kita menisbatkan pembebasan budak kepada pihak yang memohon, baik ketika disebutkan adanya kompensasi maupun tanpa kompensasi, para ulama kami sepakat bahwa salah satu konsekuensi menisbatkan pembebasan budak kepada pihak yang memohon adalah berpindahnya kepemilikan budak tersebut kepadanya. Sebab, mustahil pembebasan budak yang dilakukan oleh seseorang didasarkan pada kepemilikannya, lalu pembebasan itu terjadi dari orang lain.
ثم أشكل على الأصحاب وجهُ نقل الملك ووقتُه
Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai cara perpindahan kepemilikan dan waktunya.
قال القاضي هذا إشكالٌ عظيم ووجه الإشكال أنّا إن قلنا الملك ينتقل قبل التلفظ بالإعتاق كان ذلك تقديمَ الحكم الذي يوجبه اللفظ على اللفظ وهذا محال وإن نقلنا الملك بعد العتق كان كلاماً متهافتاً وإن قدرنا نقل الملك والعتق معاً كان جمعاً بين النقيضين
Kata al-Qadhi: Ini adalah permasalahan besar. Sisi permasalahannya adalah, jika kita katakan kepemilikan berpindah sebelum diucapkannya pembebasan (‘itq), maka itu berarti mendahulukan hukum yang ditimbulkan oleh ucapan atas ucapannya sendiri, dan ini mustahil. Jika kita pindahkan kepemilikan setelah pembebasan, maka itu adalah ucapan yang saling bertentangan. Jika kita perkirakan perpindahan kepemilikan dan pembebasan terjadi bersamaan, maka itu berarti menggabungkan dua hal yang saling bertolak belakang.
وقد ذكر العراقيون في حصول الملك للمستدعي أوجهاً أحدها أنه يتبين لنا أنه حصل له الملك مع قوله أعتق عني
Orang-orang Irak telah menyebutkan beberapa pendapat mengenai terjadinya kepemilikan bagi orang yang memohon (pembebasan budak), salah satunya adalah bahwa menjadi jelas bagi kita bahwa kepemilikan itu telah terjadi padanya bersamaan dengan ucapannya, “Bebaskanlah budak itu atas namaku.”
والوجه الثاني أنه يحصل الملك بشروع المعتق في لفظ الإعتاق فكما شرع حصل الملك للمستدعي فيتم اللفظ ويعتِق ملكَ المستدعي وكل ذلك تبيُّنٌ يقع الحكم به بعد الفراغ من اللفظ فإنه لو شرع في اللفظ ثم بدا له فلم يكمله فلا يحصل نقل الملك
Pendapat kedua adalah bahwa kepemilikan terjadi dengan dimulainya mu‘tiq (orang yang memerdekakan) dalam lafaz pemerdekaan. Maka, sebagaimana ia telah memulai, kepemilikan diperoleh oleh pemohon, sehingga lafaz itu disempurnakan dan hamba tersebut menjadi milik pemohon. Semua itu merupakan penjelasan yang hukumya ditetapkan setelah selesai dari lafaz, sebab jika ia telah memulai lafaz lalu berubah pikiran dan tidak menyempurnakannya, maka perpindahan kepemilikan tidak terjadi.
والوجه الثالث حكَوْه عن أبي إسحاق المروزي أنه قال يحصل الملك والعتق معاً عند الفراغ من اللفظ وهذا ليس بدعاً منه وقد حكينا من أصله هذا المذهبَ فيه إذا اشترى الرجل من يعتِق عليه ومذهبه في شراء القريب أبدع وأبعد فإن تقدير الملك للحكم بانعقاد العقد لا غموض فيه
Pendapat ketiga, yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa kepemilikan dan pembebasan budak terjadi bersamaan ketika selesai mengucapkan lafaz. Ini bukanlah pendapat baru darinya, karena kami telah meriwayatkan dari asal pendapatnya dalam masalah ini, yaitu jika seseorang membeli budak yang akan menjadi merdeka baginya. Bahkan, pendapatnya dalam pembelian kerabat lebih unik dan lebih jauh lagi, sebab penetapan kepemilikan untuk tujuan hukum dengan terjadinya akad tidaklah mengandung kerancuan.
وحكَوْا وجهاً رابعاً عن الشيخ أبي حامد أنه قال إذا فرغ من لفظ الإعتاق حصل الملك بعده في لحظة لطيفة ثم ينفذ العتق مترتباً عليه وذلك في وقتين لا يُدرَك بالحسّ تفصيلُهما
Mereka juga meriwayatkan pendapat keempat dari Syekh Abu Hamid, bahwa beliau berkata: Jika seseorang telah selesai mengucapkan lafaz pembebasan budak (‘itāq), maka kepemilikan atas budak itu terjadi sesaat setelahnya dalam waktu yang sangat singkat, kemudian pembebasan budak itu berlaku setelahnya secara berurutan. Hal ini terjadi dalam dua waktu yang tidak dapat dibedakan secara indrawi secara rinci.
وذكر شيخي وجهاً خامساً وغالب ظني أنه حكاه عن القفال وهو أن الملك يحصل مع آخر اللفظ والعتقُ بعده
Syekh saya menyebutkan pendapat kelima, dan saya sangat yakin bahwa beliau meriwayatkannya dari al-Qaffal, yaitu bahwa kepemilikan terjadi bersamaan dengan akhir lafal, sedangkan pembebasan budak terjadi setelahnya.
هذا كلامُ الأصحاب وهو مشكلٌ كما قال القاضي وسبب إشكاله أنه لم يقع تملّك ولا تمليك من طريق اللفظ وإنما نُضطر إلى تحصيله ضمناً ثم حصل ضمناً لنقيض الملك ولا حصول إلا باللفظ ولا حكم للفظ ما لم يتم وكل من صار إلى تقديم الملك على اللفظ فليس من الفقه على شيء وليس هذا كقولنا إذا تلف المبيع في يد البائع تبينا انتقال الملك فيه إلى البائع وتلفَه على ملكه فإن قال قائل التلف هو الذي يوجب هذا فكيف يقدّم الموجَب على الموجِب قلنا إن قُدّر مثلُ هذا في الواقعات التي لا ترجع إلى الألفاظ لم يكن ذلك بدعاً في وضع الشرع فأما ثبوت حكم اللفظ قبل اللفظ فلا وجه له
Ini adalah pendapat para ulama, namun pendapat ini bermasalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qadhi. Penyebab permasalahannya adalah karena tidak terjadi kepemilikan atau pemindahan kepemilikan melalui lafaz, melainkan kita terpaksa menetapkannya secara implisit, lalu secara implisit pula terjadi hal yang bertentangan dengan kepemilikan, padahal tidak ada ketetapan kecuali dengan lafaz, dan tidak ada hukum bagi lafaz sebelum lafaz itu sempurna. Siapa pun yang mendahulukan kepemilikan atas lafaz, maka ia tidak memiliki bagian dari fiqh. Ini tidak sama dengan pernyataan kita bahwa jika barang yang dijual rusak di tangan penjual, maka kita mengetahui bahwa kepemilikan barang itu telah berpindah kepada penjual dan kerusakannya terjadi dalam kepemilikannya. Jika ada yang berkata, “Kerusakan itulah yang menyebabkan hal ini, lalu bagaimana mungkin akibat didahulukan atas sebab?” Kami katakan, jika hal seperti ini terjadi pada kasus-kasus yang tidak berkaitan dengan lafaz, maka itu bukanlah sesuatu yang aneh dalam ketentuan syariat. Adapun penetapan hukum lafaz sebelum adanya lafaz, maka itu tidak dapat diterima.
وكل ما ذكرناه قبلَ الوجه المحكي عن الشيخ أبي حامد فلا وجه له وأما ما ذكره الشيخ أبو حامد فإنه أثبتَ حكمَ اللفظ بعده غيرَ أنه يدخل عليه أمر ضروري لا يندفع وهو أن اللفظ لم يستعقب حصولَ العتق بل استعقب انتقال الملك ثم ترتب النفوذ عليه وسببه أن هذا ليس إعتاقاً مطلقاً إنما هو إعتاق عن الغير ومعنى الإعتاق عن الغير إزالةُ الملك إليه وإيقاعُ العتق بعده
Segala sesuatu yang telah kami sebutkan sebelum pendapat yang dinukil dari Syekh Abu Hamid tidak memiliki dasar. Adapun apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Hamid, beliau menetapkan hukum lafaz setelahnya, hanya saja terdapat hal yang secara pasti tidak dapat dihindari, yaitu bahwa lafaz tersebut tidak langsung menyebabkan terjadinya pembebasan budak, melainkan menyebabkan perpindahan kepemilikan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru berlaku pembebasan. Sebabnya adalah bahwa ini bukanlah pembebasan budak secara mutlak, melainkan pembebasan budak atas nama orang lain. Makna pembebasan budak atas nama orang lain adalah mengalihkan kepemilikan kepadanya dan kemudian melakukan pembebasan setelahnya.
وأما ما ذكره شيخي فالذي يلوح فيه من اتجاهٍ لقربه من مذهب أبي حامد وفسادُه من وقوعه في مذهب أبي إسحاق
Adapun apa yang disebutkan oleh guruku, maka yang tampak darinya adalah kecenderungan yang mendekati mazhab Abu Hamid dan kerusakannya terletak pada jatuhnya ke dalam mazhab Abu Ishaq.
وبالجملة اختلف أئمتنا في أن من طلق أو أعتق فحكم لفظه متى يثبت فمنهم من قال يثبت مع آخر جزء من اللفظ وهو حسن فإن التطليق والإعتاق إنما يحصل مع آخر جزء
Secara ringkas, para imam kami berbeda pendapat tentang kapan hukum lafaz talak atau pembebasan budak itu berlaku. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku pada bagian terakhir dari lafaz, dan pendapat ini baik, karena talak dan pembebasan budak itu baru terjadi pada bagian terakhir.
ومنهم من قال يحصل حكم اللفظ بعده على الاتصال ويعاقبه معاقبة الضدّ
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hukum lafaz tersebut berlaku setelahnya secara bersambung dan menghukuminya seperti menghukum lawannya.
فإن قلنا الحكم يحصل مع آخر اللفظ فيتجه ما حكاه الشيخ من حصول الملك مع آخر اللفظ واستئخار العتق عنه للضرورة فيئول هذا إلى اختلاف الشيخين في أن حكم اللفظ متى يحصل فإن قلنا حكم اللفظ يحصل بعده فالملك والعتق في وقتين بعد اللفظ وإن قلنا حكم اللفظ يحصل مع آخره فالملك يحصل في أول حصول حكم اللفظ والعتقُ يستأخِر للضرورة
Jika kita mengatakan bahwa hukum terjadi bersamaan dengan akhir lafaz, maka pendapat yang dikemukakan oleh Syekh tentang terjadinya kepemilikan bersamaan dengan akhir lafaz dan penundaan pembebasan budak setelahnya karena darurat menjadi masuk akal. Maka hal ini kembali pada perbedaan pendapat dua Syekh mengenai kapan hukum lafaz itu terjadi. Jika kita mengatakan hukum lafaz terjadi setelahnya, maka kepemilikan dan pembebasan budak terjadi pada dua waktu yang berbeda setelah lafaz diucapkan. Namun jika kita mengatakan hukum lafaz terjadi bersamaan dengan akhirnya, maka kepemilikan terjadi pada awal terjadinya hukum lafaz, sedangkan pembebasan budak ditunda karena adanya kebutuhan mendesak.
والذي ارتأيناه أن يكون التفريع على حصول الحكم بعد اللفظ ثم يقع القضاء في هذه الصورة بأن الملك يحصل مع آخر اللفظ والعتق يحصل بعده فيكون الملك على هذا الوجه قبل أوانه ولا فرق بين أن يقع كذلك وبين أن يقع عند الخوض في اللفظ كما صار إليه صائرون أو قبل لفظ العتق كما ذكره ذاكرون
Pendapat yang kami pilih adalah bahwa penjabaran dilakukan berdasarkan terjadinya hukum setelah lafaz, kemudian diputuskan dalam kasus ini bahwa kepemilikan terjadi bersamaan dengan akhir lafaz, dan pembebasan budak terjadi setelahnya. Dengan demikian, kepemilikan dalam hal ini terjadi sebelum waktunya. Tidak ada perbedaan antara terjadinya seperti itu dengan terjadinya saat pembahasan lafaz, sebagaimana pendapat sebagian ulama, atau sebelum lafaz pembebasan budak, sebagaimana disebutkan oleh sebagian yang lain.
هذا كله إذا قال لمالك العبد أعتق عبدك عني
Semua ini berlaku jika seseorang berkata kepada pemilik budak, “Merdekakanlah budakmu atas namaku.”
فأما إذا قال أعتق عبدك عن نفسك ولك علي عشرة فإذا أسعفه وأعتقه كما استدعاه فالعتق ينفذ ولا مردّ له وهل يستحق العوض المذكور على المستدعي فعلى وجهين أحدهما أنه يستحقه كما لو استدعى منه إعتاق أم ولده فإن العتق يقع عن المعتِق وهو يستحق العوض المذكور والوجه الثاني أنه لا يستحق العوض فإن إيقاع العتق عن المستدعي ممكن وبذلُ العوض على الخلاص إنما يثبت للضرورة فإذا أمكنت جهةٌ في العتق غيرُ التخليص لم يصح بذل العوض على التلخيص
Adapun jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu atas nama dirimu sendiri dan engkau akan mendapatkan sepuluh dariku,” lalu orang itu memenuhi permintaannya dan membebaskan budaknya sebagaimana yang diminta, maka pembebasan budak tersebut sah dan tidak dapat dibatalkan. Apakah ia berhak mendapatkan kompensasi yang disebutkan dari orang yang meminta? Ada dua pendapat. Pendapat pertama, ia berhak mendapatkannya, sebagaimana jika seseorang meminta orang lain membebaskan ibu dari anaknya, maka pembebasan itu berlaku atas nama orang yang membebaskan dan ia berhak atas kompensasi yang disebutkan. Pendapat kedua, ia tidak berhak atas kompensasi tersebut, karena pelaksanaan pembebasan atas nama orang yang meminta memungkinkan, dan pemberian kompensasi atas pembebasan hanya berlaku dalam keadaan darurat. Jika ada cara lain dalam pembebasan selain penyelamatan, maka tidak sah memberikan kompensasi atas penyelamatan tersebut.
ثم قال صاحب التقريب وضيخي إن قلنا لا يستحق العوض فلا كلام والعتق منصرف إلى المعتِق وإن قلنا يستحق العوض فالعتق عمن يقع فعلى وجهين أحدهما أنه يقع عن المستدعي وإن نفاه عن نفسه وهذا على نهاية الفساد والسقوط فإن صَرْفَ العتق إليه حيث يستدعيه لنفسه على خلافٍ فكيف يُصرفُ العتقُ إليه وهو نفاه عن نفسه
Kemudian penulis at-Taqrīb dan guruku berkata: Jika kita mengatakan bahwa tidak berhak mendapatkan kompensasi, maka tidak ada pembahasan lagi dan pembebasan budak itu kembali kepada orang yang membebaskan. Namun jika kita mengatakan bahwa berhak mendapatkan kompensasi, maka pembebasan budak itu jatuh kepada siapa? Ada dua pendapat: pertama, bahwa pembebasan itu jatuh kepada orang yang memintanya, meskipun ia menafikannya dari dirinya sendiri. Ini adalah pendapat yang sangat rusak dan tertolak, karena mengaitkan pembebasan budak kepada orang yang memintanya untuk dirinya sendiri saja sudah diperselisihkan, apalagi jika pembebasan itu diarahkan kepadanya padahal ia sendiri telah menafikannya dari dirinya.
ومن تمام الكلام في هذا الفصل أنه لو قال أعتق أم ولدك هذه عني ولك عليّ كذا فلا شك أن عتق أم الولد لا يتصوّر انصرافه إلى المستدعي والعتق ينفذ ولا مردّ له
Sebagai penyempurna pembahasan dalam bab ini, jika seseorang berkata, “Bebaskanlah umm walad-mu ini atas namaku dan aku akan memberimu sekian,” maka tidak diragukan lagi bahwa pembebasan umm walad tidak mungkin beralih kepada pihak yang meminta, dan pembebasan itu tetap sah serta tidak dapat dibatalkan.
والكلام في أنه هل يستحق العوضَ على المستدعي المذهب أنه لا يستحق لأنه لم يعتقها عنه واستحقاق العوض مقرون بحصول ذلك وأبعد بعض أصحابنا فأثبت العوض وألغى قوله عني
Pembahasan mengenai apakah ia berhak mendapatkan kompensasi dari pihak yang memohon; menurut mazhab, ia tidak berhak karena ia tidak memerdekakannya atas nama pihak tersebut, dan hak atas kompensasi itu berkaitan dengan terwujudnya hal tersebut. Namun, sebagian ulama kami berpendapat jauh dengan menetapkan adanya kompensasi dan mengabaikan ucapan “atas namaku”.
ولو قال طلّق امرأتك عني ولك ألف فالوجه إثبات العوض وإلغاء قوله عني وحمله على الصرف إلى استدعائه فكأنه قال طلقها لأجلي أو بسبب استدعائي والله أعلم
Jika seseorang berkata, “Ceraikan istrimu untukku dan bagimu seribu (dirham),” maka pendapat yang tepat adalah menetapkan adanya ‘iwadh (imbalan) dan mengabaikan ucapannya “untukku”, serta menafsirkannya sebagai permintaan perceraian. Seolah-olah ia berkata, “Ceraikan dia demi aku” atau “karena permintaanku.” Allah Maha Mengetahui.
وعتق المستولدة وإن كان لا يقع عن المستدعي فاعتقاد الانصراف إلى المستدعي منتظم إلى أن نحكم بفساده
Pembebasan budak perempuan yang melahirkan anak tuannya, meskipun tidak terjadi atas nama pihak yang memintanya, maka anggapan bahwa pembebasan itu diarahkan kepada pihak yang meminta tetap dianggap sah sampai kita memutuskan bahwa hal itu batal.
ولو قال لمالك الرقيق أعتق عبدك ولك عليّ ألف ولم يقل أعتقه عني ولا عن نفسك فهذا نفرعه على أنه لو قال أعتقه عن نفسك هل يستحق العوض عليه إذا أعتقه فإن قلنا لا يستحق العوض عليه لو قال أعتقه عن نفسك فإذا أطلق استدعاء الإعتاق ففي المسألة وجهان أحدهما أنه يُحمل على ما لو قال أعتقه عن نفسك والثاني أنه يحمل على ما لو قال أعتقه عني إذ هذا المعنى متأكدٌ بالاستدعاء وبذل المال فصار بمثابة التصريح من المستدعي بالإضافة إلى نفسه
Jika seseorang berkata kepada pemilik budak, “Bebaskanlah budakmu dan aku akan memberimu seribu (dirham),” namun ia tidak mengatakan “bebaskanlah untukku” atau “untuk dirimu sendiri,” maka hal ini kami rincikan pada kasus jika ia berkata, “bebaskanlah untuk dirimu sendiri,” apakah ia berhak mendapatkan kompensasi jika budak itu dimerdekakan? Jika kami katakan bahwa ia tidak berhak mendapatkan kompensasi jika ia berkata, “bebaskanlah untuk dirimu sendiri,” maka jika permintaan pembebasan itu diungkapkan secara mutlak, terdapat dua pendapat dalam masalah ini: pertama, bahwa hal itu dianggap seperti ia berkata, “bebaskanlah untuk dirimu sendiri”; dan kedua, bahwa hal itu dianggap seperti ia berkata, “bebaskanlah untukku,” karena makna ini dikuatkan dengan adanya permintaan dan penawaran uang, sehingga hal itu menjadi seperti pernyataan tegas dari pihak yang meminta terkait dirinya sendiri.
وإن فرعنا على أنه لو قال أعتقه عن نفسك فالعوض مستحَق عليه فإذا أطلق ففي المسألة وجهان أحدهما أن العتق يقع عن المستدعي والثاني أنه يقع عن المعتِق وهدا ينبني على ما هو المذهب وهو أن العتق إذا أضيف إلى المعتِق فلا يقع عن المستدعي وإن فرعنا على استحقاق العوض
Jika kita berpendapat bahwa apabila seseorang berkata, “Bebaskanlah (budak ini) untuk dirimu sendiri,” maka kompensasi menjadi hak atasnya, maka apabila ia mengucapkannya secara mutlak, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa pembebasan budak itu terjadi atas nama pemohon; kedua, bahwa pembebasan itu terjadi atas nama orang yang membebaskan. Hal ini didasarkan pada pendapat mazhab, yaitu bahwa jika pembebasan budak disandarkan kepada orang yang membebaskan, maka tidak terjadi atas nama pemohon, meskipun kita berpendapat bahwa kompensasi menjadi hak atasnya.
وهدا حاصل التفريع في استدعاء العَتاقة على التفاصيل التي ذكرناها
Inilah hasil dari penjabaran dalam memohon pembebasan budak berdasarkan rincian yang telah kami sebutkan.
ونعود الآن إلى موجب الكفارة فإن قال لمالك العبد القن أعتق عبدك عن كفارتي ولك ألف أو قال ذلك من غير عوض فالعتق ينصرف إلى كفارة المستدعي
Sekarang kita kembali kepada sebab kafarat. Jika seseorang berkata kepada pemilik budak murni, “Bebaskanlah budakmu sebagai kafaratku dan engkau akan mendapatkan seribu,” atau ia mengatakannya tanpa imbalan apa pun, maka pembebasan budak tersebut dihitung sebagai kafarat orang yang memintanya.
ولو قال أعتق عبدك عن نفسك ولك كذا فأعتقه عن كفارة نفسه فإن قلنا إنه يستحق العوض فلا ينصرف العتق إلى كفارته إذ من المستحيل أن يقع العتقُ في مقابلة عوض مستحَقاً عن تلك الجهة ثم يقع قضاءً لحق الله تعالى
Dan jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu untuk dirimu sendiri dan bagimu sekian,” lalu ia membebaskannya untuk kafarat dirinya sendiri, maka jika kita berpendapat bahwa ia berhak mendapatkan imbalan, maka pembebasan budak itu tidak dapat diarahkan untuk kafaratnya. Sebab, mustahil pembebasan budak itu terjadi sebagai imbalan yang memang menjadi hak dari sisi tersebut, kemudian juga dianggap sebagai pelaksanaan kewajiban kepada Allah Ta‘ala.
وإن قلنا إنه لا يستحق العوض إذا أعتق عن كفارته على استحقاق العوض لم يقع العتق عن كفارته وذلك أنه وإن لم يقع مستحقاً عن تعويض ثابت فنيّته فاسدة من جهة أنه لم يجردها لحق الله والنية ركن في الكفارة وشرطها أن تخلُصَ ولا تتردد هذا ذكره القاضي ولا وجه لتقدير خلافه
Dan jika kita mengatakan bahwa ia tidak berhak mendapatkan kompensasi apabila ia memerdekakan (budak) untuk kafaratnya dengan maksud memperoleh kompensasi, maka pemerdekaan tersebut tidak sah sebagai kafaratnya. Hal ini karena meskipun pemerdekaan itu tidak terjadi atas dasar kompensasi yang pasti, niatnya telah rusak dari sisi bahwa ia tidak memurnikannya untuk hak Allah, sedangkan niat adalah rukun dalam kafarat dan syaratnya adalah harus murni dan tidak ragu-ragu. Hal ini disebutkan oleh al-Qadhi dan tidak ada alasan untuk memperkirakan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.
فرع
Cabang
ذكرنا من أصلنا أنه إذا قال أعتق عبدك عني ولم يذكر عوضاً فاعتق عبده وقع العتق عن المستدعي قال صاحب التقريب هل يستحق المعتِق على المستدعي شيئاً فعلى وجهين مبنيين على ما لو قال اقضِ دَيْني ولم يقل بشرط الرجوع عليّ ثم إذا أثبتنا حق الرجوع فالمعتق يرجع بقيمة العبد
Kami telah sebutkan dalam dasar kami bahwa jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu atas namaku,” dan tidak menyebutkan imbalan, lalu ia membebaskan budaknya, maka pembebasan itu berlaku atas nama orang yang meminta. Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Apakah orang yang membebaskan (budak) berhak mendapatkan sesuatu dari orang yang memintanya? Ada dua pendapat yang dibangun atas kasus jika seseorang berkata, “Bayarlah utangku,” tanpa menyebutkan syarat untuk menagih kembali kepadaku. Kemudian, jika kami menetapkan hak untuk menagih kembali, maka orang yang membebaskan (budak) berhak menuntut nilai budak tersebut.
ولا ينبغي للفقيه أن يأخذ هذا من أن الهبة هل تقتضي العوض حتى إذا أخذه من هذا الوجه ردّه إلى الخلاف في أن عوض الهبة ماذا فإن هذا المأخذ يقع وراء الحاجة ونحن قد صادفنا قبله أصلاً قريباً فإن العتق حق على المستدعي فإذا قال أعتق عن كفارتي كان كما لو قال اقض ديني نعم لو لم يكن عليه عِتقٌ واستدعى الإعتاق عنه تبرعاً فلا يمتنع أن يكون هذا كالهبة المطلقة والعلم عند الله تعالى
Tidak sepantasnya bagi seorang faqih mengambil persoalan ini dari apakah hibah mensyaratkan adanya imbalan, sehingga jika ia mengambilnya dari sisi ini, maka ia mengembalikannya pada perbedaan pendapat tentang apa imbalan dari hibah itu. Sebab, pendekatan seperti ini berada di luar kebutuhan, sementara kami telah menemukan sebelumnya suatu prinsip yang lebih dekat, yaitu bahwa pembebasan budak (‘itq) adalah hak atas orang yang memintanya. Maka jika seseorang berkata, “Bebaskanlah (budak) sebagai kafaratku,” maka hal itu seperti ia berkata, “Bayarlah utangku.” Ya, jika tidak ada kewajiban ‘itq atasnya dan ia meminta pembebasan budak untuknya secara sukarela, maka tidak mustahil hal itu seperti hibah mutlak. Dan ilmu hanyalah milik Allah Ta‘ala.
فرع
Cabang
إذا قال أعتق عبدك عني غداً بألف فقد طوّل صاحب التقريب نَفَسه في هذا ونحن نذكر المقصود منه فنقول إذا قال قُل إذا جاء الغد فعبدي هذا حر عنك ولك عليّ ألف فإذا قال ذلك فهذا يناظر تعليق الخلع وقد مضى في كتابه وإن ظن الفقيه أن هذه المسألة فيها تقدير نقل ملك فيبعد عن التعليق قبل هذا التقدير ضمناً فلا يختلف به ترتيب المذهب والعتق يحصل منصرفاً إلى المستدعي وفي صحة المسمى وفساده خلاف كما مضى في الخلع
Jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu untukku besok dengan seribu (dirham),” maka penulis kitab at-Taqrīb telah membahasnya secara panjang lebar. Kami akan menyebutkan inti permasalahannya, yaitu: jika ia berkata, “Katakanlah, jika besok telah tiba, maka budakku ini merdeka untukmu dan engkau berutang seribu kepadaku,” maka pernyataan ini serupa dengan pengaitan khulu‘, dan hal ini telah dijelaskan dalam kitab tersebut. Jika seorang ahli fikih mengira bahwa permasalahan ini mengandung unsur pemindahan kepemilikan, maka pengaitan sebelum adanya pemindahan tersebut secara implisit menjadi tidak tepat, sehingga tidak ada perbedaan dalam urutan madzhab. Pembebasan budak itu berlaku untuk orang yang memintanya, dan mengenai keabsahan atau kerusakan nilai yang disebutkan (seribu dirham), terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah khulu‘.
ولو قال أعتق عبدك عني على خمرٍ فأعتقه عنه قال صاحب التقريب وقع عن المستدعَى وجهاً واحداً وهذا قد يَجُرّ إشكالاً على الناظر في ابتداء نظره من جهة أنه يعتقد حصول الملك بالعوض الفاسد وليس الأمر كذلك فإن الملك يحصل بالعوض الثابت شرعاً وهو قيمة العبد ولكن لم يفسد الملك من حيث إنه لم يقع مقصوداً وإنما وقع ضمناً ولذلك قُبل التعليق وإن كان نقل الملك لا يقبل التعليق فكأن الأصل العتقُ والعتقُ إذا قوبل بالعوض الفاسد إيجاباً وقبولاً حصل حصول الطلاق ثم إن تخلف شرط من شرائط الملك فلا مبالاة به لحصوله
Jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu untukku dengan imbalan khamr,” lalu orang itu membebaskannya untuknya, menurut penulis kitab at-Taqrīb, pembebasan tersebut sah atas permintaan orang yang meminta, menurut satu pendapat. Hal ini mungkin menimbulkan kerancuan bagi orang yang baru pertama kali menelaahnya, karena ia mengira terjadinya kepemilikan dengan imbalan yang rusak (tidak sah). Padahal, kenyataannya tidak demikian, sebab kepemilikan terjadi dengan imbalan yang sah menurut syariat, yaitu nilai budak tersebut. Namun, kepemilikan itu tidak rusak karena tidak terjadi sebagai tujuan utama, melainkan hanya sebagai konsekuensi. Oleh karena itu, penangguhan (ta‘liq) diterima, meskipun perpindahan kepemilikan biasanya tidak menerima penangguhan. Seakan-akan yang menjadi pokok adalah pembebasan budak, dan jika pembebasan budak itu diiringi dengan imbalan yang rusak, baik dari sisi ijab maupun qabul, maka pembebasan itu tetap terjadi seperti halnya talak. Selanjutnya, jika ada syarat dari syarat-syarat kepemilikan yang tidak terpenuhi, maka hal itu tidak perlu diperhatikan karena pembebasan budak tetap terjadi.
ضمناً غيرَ ملفوظ به
Secara implisit, tidak diucapkan secara lisan.
قال صاحب التقريب إذا قال أعتق عبدك عني غداً ولك ألف فصبر المالك حتى جاء الغد وأعتقه إنشاء لمّا جاء الغد فيقع العتق عن المستدعي ويستحق الألفَ في هذه الصورة إذا لم يجر العتق على صفة التعليق ثم قال صاحب التقريب هذا ما ذكره الأصحاب وفيه نظر
Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu untukku besok dan kamu akan mendapatkan seribu,” lalu pemilik budak bersabar hingga datang hari esok dan membebaskannya dengan niat baru ketika hari esok tiba, maka pembebasan budak itu berlaku atas nama orang yang meminta dan ia berhak mendapatkan seribu dalam kasus ini, selama pembebasan itu tidak dilakukan dengan sifat ta‘liq (penggantungan). Kemudian penulis kitab at-Taqrīb berkata: Inilah yang disebutkan oleh para ulama, namun di dalamnya terdapat catatan (kritik).
والأمر على ما ذكر فإن استدعاء العتق بالعوض قد يستدعي إجابة متصلة فإذا انفصلت الإجابة تطرّق الاحتمال وهذه المسألة تؤخذ من نظيرتها من فصل تعليق الخلع
Keadaannya sebagaimana telah disebutkan, bahwa permintaan pembebasan budak dengan imbalan bisa saja memerlukan jawaban yang langsung. Jika jawaban itu terpisah, maka timbul kemungkinan (keraguan). Masalah ini diambil dari permasalahan yang serupa dalam bab ta‘liq khulu‘.
فصل قال ولو أعتق عبدين عن ظهارين إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan jika seseorang memerdekakan dua budak sebagai tebusan untuk dua kali zihar, dan seterusnya.”
النية شرط في الكفارات ولأنها عبادة والعبادات مفتقرة إلى النيات فلو أعتق رقبة ولم ينو صرفَها إلى الكفارات لم يُحسَب العتق عنها
Niat adalah syarat dalam kafarat, karena ia merupakan ibadah dan ibadah membutuhkan niat. Maka jika seseorang memerdekakan budak tanpa meniatkannya untuk kafarat, maka pemerdekaan tersebut tidak dianggap sebagai pelaksanaan kafarat.
وتعيين النية في الكفارات ليس شرطاً حتى لو كانت عليه رقبةٌ واجبةٌ لم يدر أنها عن ظهارٍ أو يمين أو وِقاعِ أو قتلٍ ونوى إعتاق الرقبة عن الواجب الذي عليه كفاه ذلك زاد القاضي فقال كذلك لو جوّز أن تكون الرقبة منذورة فلا بأس عليه ويجب تعيين النية في الصلوات المفروضة والصيام وقد مضى حكم كل صنف في كتابه
Menetapkan niat secara spesifik dalam kafarat bukanlah syarat, sehingga jika seseorang memiliki kewajiban membebaskan budak namun tidak mengetahui apakah itu karena zhihar, sumpah, hubungan suami istri, atau pembunuhan, lalu ia berniat membebaskan budak untuk kewajiban yang ada padanya, maka itu sudah cukup baginya. Al-Qadhi menambahkan: demikian pula jika ia memperkirakan bahwa budak tersebut mungkin dinazarkan, maka tidak mengapa baginya. Namun, penetapan niat secara spesifik wajib dilakukan dalam shalat fardhu dan puasa, dan hukum masing-masing jenis telah dijelaskan dalam kitabnya.
وقال الأصحاب سبب ذلك أن العبادات البدنية تتمحّض عبادةً فكان التعيين شرطاً فيها للإخلاص والكفارة نازِعةٌ إلى الغرامات إذ هي عبادات مالية فاكتفي فيها بأصل النية
Para ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah karena ibadah-ibadah badaniyah murni merupakan bentuk ibadah, sehingga penentuan (jenis ibadah) menjadi syarat di dalamnya demi keikhlasan. Sedangkan kafarat cenderung kepada denda, karena ia merupakan ibadah maliyah, maka cukup di dalamnya dengan niat secara umum.
وهذا الكلام مُختلٌّ غير مستقل والوجه عندنا في اعتماد إيجاب التعيين ونفيه أن نقول العبادات البدنية لها مناصب ومراتب وبينها تفاضل يُعقَلُ سببه وقد لايُعقل سببُه فالذي يعقل ما يتعلق سببه بالنَّصَب والتعب المرتبط بالوقت فإن صلاة الصبح أشق وصلاة الظهر في القائلة صعبة وصلاة المغرب مع التضييق وهي في منتهى سفح النهار واستقبال الليل وصلاة العتمة وقد ظهرت دواعي الدَّعة في النفوس على أقدارٍ من النَّصَب مختلفة وأجناسٍ متفاوتة وقد قال مبلّغ الشرع صلى الله عليه وسلم أجْرُك على قدر نَصَبك فلاقَ بها التعيين
Ucapan ini tidak kokoh dan tidak mandiri. Menurut kami, alasan dalam menetapkan kewajiban penentuan (takyīn) dan menafikannya adalah bahwa ibadah-ibadah badaniyah memiliki kedudukan dan tingkatan, serta di antara ibadah-ibadah tersebut terdapat keutamaan yang sebabnya kadang dapat dipahami dan kadang tidak dapat dipahami. Adapun yang dapat dipahami adalah sebab yang berkaitan dengan kesulitan dan keletihan yang berhubungan dengan waktu. Misalnya, shalat Subuh lebih berat, shalat Zuhur di tengah hari terasa sulit, shalat Maghrib dilakukan dalam waktu yang sempit dan berada di penghujung siang serta menjelang malam, dan shalat Isya’ (atamah) ketika kecenderungan untuk beristirahat sudah muncul dalam jiwa, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda dan jenis keletihan yang beragam. Rasulullah, penyampai syariat, bersabda: “Pahalamu sesuai dengan kadar keletihanmu.” Maka, penetapan (takyīn) sesuai dengan hal tersebut.
وكذلك القول في الصوم والعتق لا تفاضل فيه باختلاف الأسباب الموجبة إذ لا سبيل إلى الحكم بأن العتق عن كفارة اليمين دون العتق عن كفارة الظهار نعم قد يظن الفطن أن العتق في كفارة اليمين نازع إلى التطوع لمكان التخيير بخلاف العتق في كفارة الظهار وهذا لا ثبات له مع الحكم بأن الكفارة واجبةٌ
Demikian pula halnya dengan puasa dan pembebasan budak, tidak ada keutamaan di antara keduanya karena perbedaan sebab yang mewajibkannya. Tidak mungkin menetapkan bahwa pembebasan budak untuk kafarat sumpah lebih rendah daripada pembebasan budak untuk kafarat zhihar. Memang, orang yang cermat mungkin mengira bahwa pembebasan budak dalam kafarat sumpah cenderung kepada tathawwu‘ (ibadah sunnah) karena adanya pilihan, berbeda dengan pembebasan budak dalam kafarat zhihar. Namun, anggapan ini tidak memiliki dasar, karena kafarat itu hukumnya wajib.
وهذا الذي ذكرناه يجري في صوم الكفارات فإن الصوم لا يفضُل الصومَ بتفاوت الأسباب
Hal yang telah kami sebutkan ini juga berlaku dalam puasa kafarat, karena puasa tidak menjadi lebih utama daripada puasa lainnya hanya karena perbedaan sebab.
وما حكيناه قبلُ يَرِد عليه الصوم في الكفارات فإن الذي ذكرناه من نزوع الكفارة إلى الغرامات لا يتحقق في الصوم ثم لا يجب في الزكاة تعيين مال عن مال للفقه الذي ذكرناه فإن الزكوات لا تتفاوت مناصبها في الفضيلة باختلاف الأموال
Apa yang telah kami sebutkan sebelumnya dapat disanggah dengan adanya puasa dalam kafarat, karena apa yang kami sebutkan tentang kecenderungan kafarat kepada bentuk ganti rugi tidak terwujud dalam puasa. Kemudian, dalam zakat tidak wajib menentukan harta tertentu dari harta yang lain, sesuai fiqh yang telah kami sebutkan, karena zakat-zakat tidak berbeda tingkat keutamaannya berdasarkan perbedaan harta.
وقد يَرِدُ على هذا التباسُ النذر بالكفارة فإن الكفارة إن كانت لا تستدعي تعييناً لإسنادها إلى جريمة أو إلى ما هو في معنى الجريمة وتعيينُها ذكرُ أسبابها وهذا قد لا يتحقق في النذر فإن التزام القربة قربة والدليل عليه أن من كان عليه نذرٌ وصومٌ آخر مفروض عن قضاء فإنه يتعرض للنذر
Mungkin timbul kerancuan antara nazar dan kafarat, sebab kafarat jika tidak memerlukan penetapan tertentu untuk dikaitkan dengan suatu pelanggaran atau sesuatu yang sepadan dengan pelanggaran, maka penetapannya adalah dengan menyebutkan sebab-sebabnya. Hal ini mungkin tidak terwujud dalam nazar, karena komitmen untuk melakukan suatu ibadah adalah juga sebuah ibadah. Buktinya, seseorang yang memiliki nazar dan juga kewajiban puasa lain sebagai qadha, maka ia tetap harus melaksanakan nazar tersebut.
وقد حكيت عن القاضي أنه قال إذا التبس ما عليه من العتق بالنذر والكفارة كفاه أن ينوي به العتق الواجب فليتأمل الناظر هذا والظن بالقاضي أن يطرد ذلك في الصوم المتردّد بين المنذور وبين الكفارة مع التباس الحال فهذا فيه نوع تأمل على الناظر ولو ذهب ذاهب إلى التزام التعيين لأجل النذر فإنه يكتفي بإعتاق عبدين يجرّد نيته في أحدهما عن النذر ويبهم الآخر والعلم عند الله
Telah dinukil dari al-Qadhi bahwa beliau berkata: Jika seseorang bingung mengenai kewajiban memerdekakan budak antara karena nazar atau karena kafarat, maka cukup baginya untuk berniat bahwa pembebasan budak itu adalah untuk kewajiban yang harus ia tunaikan. Maka hendaknya orang yang menelaah hal ini memperhatikannya. Dan dugaan terhadap al-Qadhi adalah bahwa beliau juga menerapkan hal ini pada puasa yang diragukan antara puasa nazar dan puasa kafarat ketika keadaannya tidak jelas. Maka dalam hal ini terdapat sisi yang perlu diperhatikan oleh penelaah. Namun, jika ada seseorang yang berpendapat bahwa penetapan secara spesifik harus dilakukan karena nazar, maka cukup baginya untuk memerdekakan dua budak: pada salah satunya ia meniatkan secara khusus bukan untuk nazar, dan pada yang lain ia membiarkannya samar. Dan ilmu itu di sisi Allah.
ثم إذا رفعنا اشتراط التعيين في نية الكفارة فلا فرق بين أن يتحد الجنس وبين أن يختلف ولا فرق بين أن يكون الفرض صوماً أو إعتاقاً أو إطعاماً فلو كان عليه كفارتان فصام أربعة أشهر بنية الكفارتين أجزأه وانصرف كل شهرين إلى كفارةٍ
Kemudian, jika kita tidak mensyaratkan penentuan secara spesifik dalam niat kafarat, maka tidak ada perbedaan apakah jenisnya sama atau berbeda, dan tidak ada perbedaan apakah kewajiban itu berupa puasa, memerdekakan budak, atau memberi makan. Maka, jika seseorang memiliki dua kafarat lalu ia berpuasa selama empat bulan dengan niat untuk kedua kafarat tersebut, itu sudah mencukupi dan setiap dua bulan terhitung untuk satu kafarat.
ولو صام شهرين شهراً عن هذه الكفارة وشهراً عن تلك لم يجز والسبب فيه أن التتابع شرط في الصيام فإذا صام يوماً عن غير ما شَرَعَ فيه فقد انقطع التتابع في ذلك المقدّم وهذا افتتاح كفارة أخرى
Jika seseorang berpuasa dua bulan, satu bulan untuk kafarat ini dan satu bulan untuk kafarat itu, maka itu tidak sah. Sebabnya adalah karena kontinuitas (tataabu‘) merupakan syarat dalam puasa kafarat. Jika ia berpuasa satu hari untuk selain tujuan yang telah ia niatkan, maka kontinuitas pada kafarat yang didahulukan itu terputus, dan ini berarti memulai kafarat yang lain.
ولو كان فرضه الإطعام وعليه كفارتان فأطعم مائة وعشرين مسكيناً عن الكفارتين أجزأه ولو كان ينوي بمُدٍّ كفارةً وبمُدٍّ كفارةً أخرى واتخذ ذلك سجيَّة حتى أتى بما عليه فلا بأس إذ لا تتابع في الإطعام
Jika kewajibannya adalah memberi makan dan ia memiliki dua kafarat, lalu ia memberi makan seratus dua puluh orang miskin untuk kedua kafarat tersebut, maka itu sudah mencukupi. Jika ia berniat dengan satu mud untuk satu kafarat dan dengan mud lainnya untuk kafarat yang lain, serta menjadikan hal itu sebagai kebiasaan hingga ia menunaikan apa yang menjadi tanggungannya, maka tidak mengapa, karena tidak ada syarat berturut-turut dalam memberi makan.
ولو اختلف ما يكفر به وذلك باختلاف أحوال الملتزِم بأن كان موسراً في كفارة ومعسراً في أخرى قادراً على صوم الشهرين ومُفْنِداً عاجزاً في أخرى فأعتق رقبة عن كفارة وصام شهرين عن كفارة أو أطعم مطلقاً كذلك صح منه ما جاء به وانصرف كل واجبٍ إلى جهةٍ
Jika jenis kafarat yang harus dilakukan berbeda karena perbedaan keadaan orang yang berkewajiban, misalnya ia mampu secara finansial untuk satu kafarat namun tidak mampu untuk kafarat yang lain, atau ia mampu berpuasa dua bulan berturut-turut untuk satu kafarat namun sudah lanjut usia dan tidak mampu untuk kafarat yang lain, lalu ia membebaskan budak untuk satu kafarat dan berpuasa dua bulan untuk kafarat yang lain, atau ia memberi makan secara mutlak untuk keduanya, maka sah apa yang telah ia lakukan dan setiap kewajiban diarahkan kepada sebabnya masing-masing.
ومما ذكره الأصحاب في ذلك أَنْ قالوا نحن وإن لم نوجب التعيين بالنية في الكفارات فلو عيّن فهو مؤاخذ بالإصابة وبيان ذلك أنه لو كان عليه كفارة القتل في علم الله تعالى وتقدس فحَسِب أن عليه كفارة الظهار فلو أعتق رقبة عن الكفارة أجزأه العتق وإن لم يتعرّض للتعيين
Dan di antara hal yang disebutkan oleh para ulama dalam hal ini adalah bahwa mereka berkata: Meskipun kami tidak mewajibkan penentuan secara spesifik dalam niat pada kafarat, namun jika seseorang menetapkan secara spesifik, maka ia terikat dengan ketepatan penetapannya. Penjelasannya adalah, jika seseorang sebenarnya wajib membayar kafarat pembunuhan menurut ilmu Allah Ta‘ala, namun ia mengira bahwa yang wajib atasnya adalah kafarat zhihār, lalu ia memerdekakan seorang budak untuk kafarat tersebut, maka memerdekakan budak itu tetap sah sebagai pelaksanaan kafarat, meskipun ia tidak menyebutkan penentuan secara spesifik.
ولو أعتق رقبة عن كفارة الظهار بناء على ظنه ثم تبيّن أن الواجب عليه سببُه القتل فالعتق نافذ وذمته لا تبرأ عمّا عليه فإنه صرف الإعتاق قصداً عما عليه فانصرف عنه
Jika seseorang membebaskan budak sebagai kafarat zhihar berdasarkan dugaannya, kemudian ternyata yang wajib atasnya sebabnya adalah pembunuhan, maka pembebasan budak tersebut tetap sah, namun tanggungannya belum gugur dari kewajibannya. Sebab, ia telah memaksudkan pembebasan itu untuk sesuatu yang ia yakini sebagai kewajibannya, sehingga pembebasan itu pun berlaku untuk hal tersebut, bukan untuk kewajiban yang sebenarnya.
ونحن وإن كنا لا نوجب التعيين فيشترط أن يكون الواجب مندرجاً تحت عموم النية ومقتضاها فإذا انصرفت النية عن الجهة الثانية لم يقع الاعتداد بالمؤدّى أصلاً وقد ذكرنا نظائر ذلك في ربط نية الزكاة بمالٍ هو معدومٌ حالةَ إخراج الزكاة وذكرنا تعيين الإمام الذي به الاقتداء والحاضرُ غير المنوي وذكرنا في الصلاة على الجنازة التعيين مع الخطأ وجمعنا هذه الفصول في أقسامٍ ضابطة في باب نية الطهارة
Meskipun kami tidak mewajibkan penentuan secara spesifik, disyaratkan bahwa kewajiban tersebut termasuk dalam cakupan umum niat dan konsekuensinya. Maka jika niat berpaling dari tujuan yang kedua, maka apa yang dilakukan sama sekali tidak dianggap sah. Kami telah menyebutkan hal-hal serupa dalam mengaitkan niat zakat dengan harta yang tidak ada pada saat zakat dikeluarkan, dan kami juga telah menyebutkan tentang penentuan imam yang diikutkan dalam shalat, sementara yang hadir bukanlah yang diniatkan, serta kami telah menyebutkan dalam shalat jenazah tentang penentuan dengan kesalahan. Kami telah mengumpulkan semua pembahasan ini dalam beberapa bagian yang menjadi pedoman dalam bab niat thaharah.
فصل قال ولو ارتد قبل أن يكفّر إلى آخره
Bab: Ia berkata, “Dan jika seseorang murtad sebelum membayar kafarat, hingga akhir.”
من لزمته الكفارة فارتد قبل التكفير ثم كفّر بالعتق قال الأصحاب أجزأه وبرئت ذمته ولو أسلم لم يكن مخاطباً بإعادة التكفير وهذا ليس بدعاً والمرتد على علائق ثابتة في الإسلام وأصلُنا أن الكافر الأصلي يلتزم الكفارة ويؤديها والمرتدّ لا يصوم عن الكفارة في حالة ردته فإن الصوم عبادة بدنية غيرُ نازعة إلى غرض آخر سوى الامتحان في البدن والكفارات المالية تنزِع إلى الغرامات وقد ذكرنا أن الزكاة تخرج من مال المرتد وترددنا في وجوب الزكاة في ماله ابتداء كما تفضل في كتاب الزكاة
Barang siapa yang wajib membayar kafarat lalu ia murtad sebelum menunaikan kafarat, kemudian ia menunaikan kafarat dengan memerdekakan budak, para ulama mengatakan: itu sah dan gugurlah tanggungannya. Jika ia masuk Islam kembali, ia tidak diwajibkan mengulangi pembayaran kafarat. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena orang murtad masih memiliki keterikatan yang tetap dalam Islam. Prinsip kami adalah bahwa orang kafir asli pun wajib membayar kafarat dan boleh menunaikannya. Sedangkan orang murtad tidak boleh berpuasa sebagai kafarat dalam keadaan murtad, karena puasa adalah ibadah badaniyah yang tidak bertujuan selain sebagai ujian bagi tubuh, sedangkan kafarat maliyah (kafarat berupa harta) mengarah pada denda. Kami juga telah menyebutkan bahwa zakat dikeluarkan dari harta orang murtad, dan kami masih ragu tentang kewajiban zakat atas hartanya sejak awal, sebagaimana telah dijelaskan dalam Kitab Zakat.
ثم قال الأصحاب العبادات المالية يتعلق بها غرض الإرفاق وسدّ الحاجات والتقرّب إلى الله تعالى والغرض الأظهر منها الإرفاق وما نيط بسببين قد يستقل بأحدهما كالحدِّ يُمَحِّص ويزجر ثم يثبت على الكافر زاجراً وإن لم يكن ممحِّصاً
Kemudian para ulama berkata, ibadah-ibadah yang bersifat maliyah (berkaitan dengan harta) memiliki tujuan untuk memberikan kemudahan, memenuhi kebutuhan, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala. Tujuan yang paling tampak darinya adalah memberikan kemudahan. Sesuatu yang dikaitkan dengan dua sebab, terkadang salah satunya sudah cukup, seperti hudud yang berfungsi sebagai pembersih (memurnikan) dan pencegah, kemudian tetap berlaku atas orang kafir sebagai pencegah meskipun tidak berfungsi sebagai pembersih.
وهذا يثبت على مراتب فالزكاة يظهر قصد الإرفاق بها ولكنها وظيفة وطريحةٌ للمحاويج على أغنياء المسلمين فلا تطّرد على الكفار فإنهم بالتزام الجزية لم يتطوّقوا أن يسدّوا حاجات محاويج المسلمين فلم يخاطَبوا بالزكاة ولم يطوّقوا تحمّل كَلّ المسلمين وليست الزكاة متعلقة بجريمة أو ما يجري مجرى الجريمة بل هي محض حق المال وهم بالذمة صانوا أموالهم عن مطالبات الشرع والكفاراتُ ضاهت الحدود
Hal ini terbagi dalam beberapa tingkatan. Zakat tampak dimaksudkan sebagai bentuk keringanan, namun ia merupakan kewajiban dan ditetapkan untuk orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang kaya Muslim, sehingga tidak diberlakukan kepada orang kafir. Sebab, dengan membayar jizyah, mereka tidak dibebani untuk memenuhi kebutuhan orang-orang miskin Muslim, sehingga mereka tidak diperintahkan untuk membayar zakat dan tidak dibebani untuk menanggung beban kaum Muslimin. Zakat juga tidak berkaitan dengan tindak kejahatan atau sesuatu yang serupa dengan kejahatan, melainkan semata-mata merupakan hak atas harta. Dengan adanya perjanjian dzimmah, mereka telah menjaga harta mereka dari tuntutan syariat, sedangkan kafarat menyerupai hudud.
هذا وضع المذهب وعلى الأصحاب تقريره
Inilah kedudukan mazhab, dan para pengikutnya bertugas untuk menegaskannya.
ثم لا يصح من الكافر والمرتد إلا إخراج الأموال في الكفارات فحسب والمرتد تميز عن الكافر الأصلي لما فيه من عُلقة الإسلام ولهذا تَخْرجُ عن ماله الزكاةُ التي وجبت في الإسلام على الرأي الظاهر وقد نقول تجب الزكاة في ماله إذا لم نحكم بزوال ملكه
Kemudian, tidak sah dari orang kafir dan murtad kecuali mengeluarkan harta dalam pembayaran kafarat saja. Adapun murtad dibedakan dari kafir asli karena masih ada keterkaitan dengan Islam. Oleh karena itu, zakat yang telah diwajibkan dalam Islam tetap dikeluarkan dari hartanya menurut pendapat yang paling kuat. Bahkan, bisa dikatakan zakat tetap wajib atas hartanya jika kita tidak memutuskan hilangnya kepemilikannya.
وهذا لا يتصوّر في حق الكافر الأصلي وإن شملهما الكفر فإن الكافر الأصلي لم يلتزم موجب شَرْعنا في الحقوق المالية والمرتدُّ سبق منه الالتزام وقد يطّرد عليه حكمُه وهذا مع اختلافٍ قدمناه في المرتد في كتاب الزكاة
Hal ini tidak dapat dibayangkan berlaku bagi orang kafir asli, meskipun keduanya sama-sama disebut kafir, karena orang kafir asli tidak pernah berkomitmen terhadap konsekuensi syariat kita dalam hak-hak keuangan, sedangkan murtad sebelumnya telah berkomitmen, sehingga hukum tersebut dapat diterapkan padanya. Namun, hal ini tetap terdapat perbedaan yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai murtad dalam Kitab Zakat.
فأنتظم مما ذكرناه أن المرتد على ظاهر المذهب يُخرج الكفارة بالمال فيُعتق ويُطعم ولا يصوم
Maka, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa murtad menurut pendapat yang zahir dalam mazhab, membayar kafarat dengan harta, yaitu dengan memerdekakan (budak) dan memberi makan (orang miskin), dan tidak berpuasa.
ثم قال جمهور الأصحاب هذا تفريع على قولنا إن الردة لا توجب زوال الملك فإن قضينا بأنها توجب زواله فلا يتصور من المرتد أن يكفر إذ لا ملك له ولا يصح منه الصوم
Kemudian mayoritas para sahabat berpendapat, ini merupakan cabang dari pendapat kami bahwa riddah tidak menyebabkan hilangnya kepemilikan. Jika kami memutuskan bahwa riddah menyebabkan hilangnya kepemilikan, maka tidak mungkin bagi seorang murtad untuk melakukan kafārah karena ia tidak memiliki harta, dan puasanya pun tidak sah.
وذهب بعض أصحابنا إلى أنا وإن حكمنا بأن الردة تزيل الملك فإذا كانت عليه كفارة فارتد فما تتعلق الكفارة به يُستثنى من الحكم بزوال ملكه عنه فيُعتق عبداً من عبيده أو يُحصّل عبداً بدراهمه وإن كان بحيث يصح منه الإطعام فيُخرج الإطعام والحكمُ بزوال الملك يقع وراء ذلك
Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa meskipun kami menetapkan bahwa riddah (kemurtadan) menghilangkan kepemilikan, jika seseorang memiliki kewajiban kafarat lalu ia murtad, maka apa yang berkaitan dengan kafarat dikecualikan dari hukum hilangnya kepemilikan tersebut. Maka ia dapat memerdekakan salah satu budaknya, atau membeli seorang budak dengan uangnya, dan jika memungkinkan baginya untuk memberi makan (sebagai kafarat), maka ia mengeluarkan makanan tersebut, dan hukum hilangnya kepemilikan berlaku setelah itu.
وهذا اختاره صاحب التقريب ورآه الأصحَّ ولفظه في الكتاب إن المذهب أن الأمر كذلك ولو حكمنا بزوال ملكه واحتج على ذلك بالديون فإن من ارتد وعليه ديون أُديت الديون من ماله وإن حكمنا بزوال ملكه
Ini yang dipilih oleh penulis kitab at-Taqrīb dan ia memandangnya sebagai pendapat yang paling sahih. Lafaznya dalam kitab tersebut: Sesungguhnya mazhabnya adalah demikian, meskipun kita memutuskan bahwa kepemilikannya telah hilang. Ia berdalil atas hal itu dengan hutang, yaitu bahwa siapa saja yang murtad dan memiliki hutang, maka hutang-hutangnya dibayarkan dari hartanya, meskipun kita memutuskan bahwa kepemilikannya telah hilang.
قال صاحب التقريب هذا ما ذهب إليه الأصحاب أجمعون يعني قضاء الديون إلا الإصطخري فإنه قال إذا فرعنا على قول زوال الملك لا تُقضَى ديونُه ويجعل كأن أمواله تلفت
Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Inilah pendapat yang dianut oleh seluruh ulama mazhab, yaitu tentang pelunasan utang, kecuali al-Ishthakhri. Ia berpendapat, jika kita berpegang pada pendapat bahwa kepemilikan telah hilang, maka utangnya tidak dilunasi dan dianggap seolah-olah hartanya telah musnah.
وهذا إن قاله في الديون التي وجبت في الإسلام فهو سرف عظيم وهو خروج عما عليه الناس وإن كان هذا يليق بتصرفاته فإن من شيمه الاستجراء وترك المبالاة وإن كان يريد به أن الديون التي توجد أسبابها في حالة الردة لا تؤدَّى ممّا كان مالاً له على قولنا بزوال الملك فهذا سديد ولا يجب أن يخالَف فيه ولا يصح استثناء هذا المذهب في معرض الاستبعاد
Jika ia mengatakan hal ini tentang utang-utang yang wajib dibayar dalam Islam, maka itu adalah tindakan yang sangat berlebihan dan menyimpang dari kebiasaan masyarakat. Meskipun hal ini sesuai dengan perilakunya, karena di antara tabiatnya adalah berani bertindak dan tidak peduli. Namun, jika yang dimaksud adalah utang-utang yang sebab-sebabnya terjadi pada masa riddah (kemurtadan) tidak dibayarkan dari harta yang sebelumnya dimilikinya menurut pendapat kami tentang hilangnya kepemilikan, maka itu adalah pendapat yang tepat dan tidak perlu diselisihi, serta tidak benar untuk mengecualikan mazhab ini dalam konteks pengingkaran.
وذكر صاحب التقريب وجهاً آخر أنه إذا ارتد لم يُخرَج من ماله إلا أدنى الدرجات وظني أنه قال هذا في الكفارات المخيّرة وهي كفارة اليمين
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain, yaitu apabila seseorang murtad, maka yang diambil dari hartanya hanyalah yang paling rendah derajatnya. Saya kira ia mengatakan hal ini dalam konteks kafarat yang bersifat pilihan, yaitu kafarat sumpah.
فخرج مما ذكرناه أن الصوم لا يصح من المرتد والتكفير بالمال يصح إذا قلنا ملكه لا يزول وإن قلنا يزول ملكه فهل يُخرج الكفارةَ فعلى الخلاف الذي ذكرناه
Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa puasa tidak sah dari seorang murtad, dan pembayaran kafarat dengan harta tetap sah jika kita berpendapat bahwa kepemilikannya tidak hilang. Namun, jika kita berpendapat bahwa kepemilikannya hilang, maka apakah ia tetap mengeluarkan kafarat, hal ini kembali kepada perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.
باب ما يجزىء من العيوب في الرقاب الواجبة
Bab tentang cacat-cacat yang diperbolehkan pada budak yang wajib dibebaskan
أجمع العلماء المعتبرون على أن العيوب في الرقاب تنقسم فمنها ما يمنع من الإجزاء ومنها ما لا يمنع وقال داود ليس فيها ما يمنع وتعلّق باسم الرقبة
Para ulama yang terkemuka telah berijmā‘ bahwa cacat pada budak (yang akan dibebaskan) terbagi menjadi dua: ada yang menghalangi keabsahan (ibadah) dan ada yang tidak menghalangi. Namun, Dawud berpendapat bahwa tidak ada cacat yang menghalangi, selama masih disebut sebagai “riqabah” (budak).
وقال الشافعي لم أعلم أحداً ممن مضى من أهل العلم ولا ذُكر لي ولا بقي أحدٌ إلاّ يقسّم العيوب إلى آخره وهذا داود نشأ بعده وعندي أنه لو عاصره لما عدّه من العلماء
Syafi‘i berkata, “Aku tidak mengetahui seorang pun dari ulama terdahulu, tidak pula disebutkan kepadaku, dan tidak ada seorang pun yang tersisa kecuali membagi cacat (dalam jual beli) hingga akhirnya. Dan ini adalah Dawud yang muncul setelahnya, dan menurutku jika ia hidup sezaman dengannya, niscaya ia tidak akan menganggapnya sebagai ulama.”
فإذا تبين أن العيوب مُنقسمة فمذهب الشافعي أن ما يَنقُص العمل نقصاناً بيّناً ويضر به ضرراً ظاهراً فهو يمنع من الإجزاء وعقْدُ الباب تخليصُ مملوكٍ من أسْر الرق حتى يستقلَّ ثم الذي يليق بهذه القُربة أن يكون مستقلاً بما يُقيمه منبسطاً في عمله فيتخلصَ عن العمل لغيره وإذا كان زَمِناً مثلاً فالرق أجدى عليه إذ عليه كافل يكفيه مُؤَنَه فأقرب معنى في الاستنباط ما راعاه الشافعي رضي الله عنه ولا يُنظر إلى العيوب المؤثرة في المالية فإن العتق إزالةُ المالية بخلاف العبد المأخوذ في غُرة الجنين فإنه يُقْصد مالاً ويؤخَذ مالاً فيراعى فيه المقاصدُ المالية على ما سيأتي شرحها في باب الجنين إن شاء الله عز وجل فأحرى معتبرٍ في الباب ما ذكرناه من التأثير في العمل والإضرار الظاهر به
Jika telah jelas bahwa cacat-cacat itu terbagi-bagi, maka menurut mazhab Syafi‘i, apa saja yang secara nyata mengurangi pekerjaan dan membahayakannya dengan kerusakan yang jelas, maka hal itu mencegah keabsahan (ibadah). Pokok pembahasan ini adalah membebaskan seorang budak dari belenggu perbudakan hingga ia menjadi mandiri. Maka, yang sesuai dengan ibadah ini adalah budak yang mandiri dalam menjalankan pekerjaannya, bebas dalam aktivitasnya, sehingga ia terbebas dari bekerja untuk orang lain. Jika ia, misalnya, cacat fisik, maka perbudakan justru lebih bermanfaat baginya, karena ada penanggung jawab yang mencukupi kebutuhannya. Maka, makna yang paling dekat dalam istinbath adalah apa yang diperhatikan oleh Imam Syafi‘i, semoga Allah meridhainya. Tidak perlu memperhatikan cacat yang berpengaruh pada nilai harta, karena pembebasan budak adalah menghilangkan status harta, berbeda dengan budak yang diambil sebagai diyat janin, karena di situ tujuannya adalah harta dan diambil sebagai harta, sehingga dalam hal itu dipertimbangkan tujuan-tujuan finansial, sebagaimana akan dijelaskan pada bab janin, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, hal yang paling layak dipertimbangkan dalam bab ini adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu pengaruhnya terhadap pekerjaan dan kerusakan yang nyata padanya.
وقد يزداد العقد وضوحاً بذكر مذهب يخالف المذهب المختار قال أبو حنيفة كل عيب يفوّت جنساً من المنفعة أو معظمَها يمنع الإجزاء وما لا فلا فالذي سقطت أسنانه لا يجزىء عنده وكذلك الأخرس والأصم ومقطوعُ اليد والرجل من الخلاف يجزىءُ ومقطوعُ اليد والرجل من الوفاق لا يجزىء
Akad dapat menjadi lebih jelas dengan menyebutkan mazhab yang berbeda dengan mazhab yang dipilih. Abu Hanifah berkata: Setiap cacat yang menghilangkan satu jenis manfaat atau sebagian besarnya, maka itu mencegah keabsahan; sedangkan yang tidak demikian, maka tidak mencegah. Maka hewan yang telah tanggal giginya tidak sah menurut beliau, demikian pula yang bisu, tuli, dan yang terpotong tangan atau kakinya karena perselisihan, itu sah; sedangkan yang terpotong tangan atau kakinya karena kesepakatan, itu tidak sah.
فإذا تبين أصل مذهبنا فإنا نفصله بالمسائل فالأعمى لا يجزىء ومن قطعت إحدى يديه أو إحدى رجليه لا يجزىء فإن النقص يظهر والضرر يتبيّن فإذا كنا نتكلم وظهر أن المرعي بالإعتاق الإطلاقُ عن الوِثاق ففوات المقصود ليس شرطاً في تحقيق العيب بل نقصانُه البيّنُ كافٍ والعورُ لا يمنع بل يجزىء الأعور فإن النقصان لا يبين وهو بفَرْد عينٍ يعمل قريباً مما يعمله ذو العينين وكذلك يجزىء الأحول والأعرج إذا لم يكن قريباً من الزمانة ولا يؤثر البَهَق والبَرَص والوكع والكوع والقرع وضعفُ الرأي والخَرَق
Jika telah jelas pokok mazhab kami, maka kami akan merincinya dalam permasalahan-permasalahan: orang buta tidak sah (dijadikan sebagai budak yang dimerdekakan untuk membayar kafarat), dan orang yang terpotong salah satu tangan atau salah satu kakinya juga tidak sah, karena kekurangannya tampak jelas dan kerusakannya nyata. Jika kita berbicara dan tampak bahwa yang menjadi perhatian dalam pembebasan budak adalah melepaskannya dari belenggu, maka hilangnya tujuan utama bukanlah syarat dalam penetapan cacat, tetapi kekurangan yang jelas sudah cukup. Adapun orang yang bermata satu (a‘war) tidak menghalangi, bahkan sah (dijadikan budak untuk kafarat), karena kekurangannya tidak tampak jelas, dan dengan satu mata ia masih dapat berbuat hampir seperti orang yang bermata dua. Demikian pula, orang yang juling (aḥwal) dan pincang (a‘raj) juga sah, selama tidak mendekati kondisi lumpuh total dan tidak berpengaruh penyakit vitiligo (bahak), belang (barash), bengkak sendi (waka‘), menonjol tulang pergelangan (kū‘), kebotakan (qur‘), kelemahan akal, dan ketidakcakapan.
ولو قطعت إبهامُه أو مُسبِّحتُه أو الوسطى من يده لم يجز إعتاقه وقطعُ الخنصر لا يَظهر أثرُه وكذلك قطع البِنصر ولو قطعت الخِنصر والبِنصر فإن قطعتا من يد واحدة مَنَعَ الإجزاءَ وإن كان القطع من يدين فلا يمنع فإن الضرر لا يظهر
Jika ibu jari, jari telunjuk, atau jari tengah tangannya terpotong, maka tidak sah memerdekakannya. Sedangkan pemotongan jari kelingking tidak tampak pengaruhnya, demikian pula pemotongan jari manis. Jika jari kelingking dan jari manis terpotong, maka jika keduanya terpotong dari satu tangan, hal itu menghalangi keabsahan (memerdekakan), namun jika terpotong dari dua tangan, maka tidak menghalangi, karena kerusakannya tidak tampak.
وقطعُ الأنملة لا يؤثر إلا إذا قطعت من الإبهام فإن قطع أنملة منها بمثابة قطعها وقطع أنملتين في كل إصبع بمثابة قطع ذلك الإصبع هكذا قال العراقيون واستهانتُهم بقطع أنملة واحدةٍ محتملةٌ من غير الإبهام كما فصّلوا
Memotong ruas jari tidak berpengaruh kecuali jika dipotong dari ibu jari; maka memotong satu ruas darinya sama dengan memotong seluruh ibu jari, dan memotong dua ruas pada setiap jari sama dengan memotong jari tersebut. Demikianlah pendapat para ulama Irak, dan sikap mereka yang menganggap ringan pemotongan satu ruas saja (selain ibu jari) masih dapat diterima, sebagaimana telah mereka rinci.
فأما إذا قطعت الأنامل العليا من الأصابع فلعل هذا يحوج إلى مزيد نظر والعلم عند الله
Adapun jika ruas-ruas jari bagian atas yang terpotong, maka hal ini mungkin memerlukan kajian lebih lanjut, dan ilmu itu milik Allah.
وفقد أصابع الرجلين لا أثر له وفاقاً هكذا ذكره القاضي وغيره
Kehilangan jari-jari kaki tidak berpengaruh apa pun menurut kesepakatan, sebagaimana disebutkan oleh al-Qadhi dan yang lainnya.
والمجنون لا يجزىء إذا كان الجنون مطبقاً والمريض يفصّل الأمرُ فيه فإن كان المرض المانع من العمل مرجوّ الزوال فلا مبالاة به وهو كالصبي فإن ابن اليوم يجزىء لأنا على رجاءٍ من كبره فليكن المرض كذلك وإن كان المرض بحيث لا يرجى زواله فهو مانع من الإجزاء
Orang gila tidak mencukupi jika kegilaannya terus-menerus, sedangkan untuk orang sakit, perkaranya dirinci: jika penyakit yang menghalangi untuk bekerja itu diharapkan sembuh, maka tidak mengapa dan keadaannya seperti anak kecil; sebab anak kecil hari ini dianggap mencukupi karena kita berharap ia akan dewasa, maka demikian pula dengan penyakit yang diharapkan sembuh. Namun, jika penyakit tersebut tidak diharapkan sembuh, maka itu menjadi penghalang dari keabsahan.
ثم لا بدّ وراء ذلك من مزيد فإذا أَعْتَقَ المريضَ الذي لا يُرجى برؤه فتمادى المرض ومات فلا إشكال أنه غير مجزىء وإن استبلّ وأفاق فهل نتبيّن أن العتق مجزىء أم نقول برؤه حادثُ نعمةٍ بعد العتق ولم يكن مقترناً بالإعتاق الرأي الظاهر الإجزاء لأنا كنا نبني المنع على أنه لا يبرأ فإن برأ فالحكم كذلك والمسألة من طريق الترتيب والتلقيب لا من جهة الفقه تلتفت على المعضوب يَستأجِر على الحج ثم يبرأ
Kemudian, setelah itu, masih diperlukan penjelasan lebih lanjut. Jika seseorang memerdekakan seorang yang sakit parah yang tidak diharapkan sembuh, lalu penyakitnya berlanjut dan ia meninggal, maka tidak diragukan lagi bahwa pemerdekaan tersebut tidak sah sebagai pelaksanaan kewajiban. Namun, jika ia sembuh dan pulih, apakah kita menetapkan bahwa pemerdekaan itu sah sebagai pelaksanaan kewajiban, ataukah kita mengatakan bahwa kesembuhan itu merupakan nikmat baru yang terjadi setelah pemerdekaan dan tidak bersamaan dengan pemerdekaan? Pendapat yang paling kuat adalah pemerdekaan itu sah, karena sebelumnya kita membangun larangan atas dasar bahwa ia tidak akan sembuh; maka jika ia sembuh, hukumnya tetap demikian. Permasalahan ini, dari segi urutan dan penamaan, bukan dari sisi fiqh, berkaitan dengan orang yang tidak mampu (ma‘dūb) yang menyewa orang lain untuk berhaji, kemudian ia sembuh.
وإذا أعتق مريضاً مرجوّاً ثم تمادى المرض به ومات فهذا فيه احتمال متردّد أيضاًً والتنبيه فيه كافٍ ولعل الأوجه الإجزاءُ نظراً إلى الرجاء المقترن بحالة الإعتاق وحملاً لما كان من الموت على حادثِ مرضٍ
Jika seseorang memerdekakan budak dalam keadaan sakit yang masih diharapkan sembuh, kemudian penyakit itu berlanjut hingga ia meninggal, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang masih diperdebatkan juga, dan penjelasan singkat sudah cukup. Barangkali pendapat yang lebih kuat adalah bahwa pemerdekaan itu sah, dengan mempertimbangkan adanya harapan sembuh pada saat pemerdekaan dilakukan, serta menganggap kematian yang terjadi sebagai akibat dari penyakit yang datang kemudian.
واختلف نص الشافعي رضي الله عنه في الأخرس واضطرب الأصحاب فأجرى بعضهم قولين أصحهما الإجزاء لأن الخرس لا يظهر أثره في العمل
Teks Imam Syafi‘i rahimahullah berbeda pendapat mengenai orang bisu, dan para sahabatnya pun berselisih pendapat sehingga sebagian mereka mengemukakan dua pendapat, yang paling sahih di antaranya adalah sahnya (ibadahnya), karena kebisuan tidak tampak pengaruhnya dalam amal.
والثاني أنه لا يجزىء فإن مناطقته عسرةٌ وهذا يعسّر اختلاطه بالناس وينعطف على تعذر عمله واكتسابه وهذا تكلفٌ والحق يناطق الفقيه بغيره
Kedua, bahwa hal itu tidak mencukupi, karena keterbatasannya dalam berinteraksi sangat sulit, dan ini menyulitkan pergaulannya dengan manusia serta berimbas pada kesulitan dalam bekerja dan mencari penghasilan. Ini merupakan suatu bentuk pembebanan yang berlebihan, sedangkan kebenaran menuntut agar seorang faqih berbicara dengan selain dirinya.
ومن أصحابنا من نزّل النصين على حالين فقال حيث مَنَع أراد إذا كان لا يُفهِم بإشارته وحيث أجاز أراد إذا كان يُفهِم بالإشارات
Sebagian ulama dari kalangan kami menafsirkan dua nash tersebut pada dua keadaan: mereka mengatakan bahwa larangan dimaksudkan jika seseorang tidak dapat memberi pengertian dengan isyaratnya, dan kebolehan dimaksudkan jika ia dapat memberi pengertian dengan isyarat.
وذكر بعض الأصحاب طريقة ثالثة فقالوا البكم والصمم إذا اجتمعا منعا وهذا يغلب في الذي يولد أصمّ فإنه لا ينطق إذا لم يسمع ولا يَفهم ولا يُفهم
Sebagian ulama menyebutkan cara ketiga, mereka berkata: jika bisu dan tuli berkumpul, maka keduanya menjadi penghalang. Hal ini lebih sering terjadi pada seseorang yang lahir dalam keadaan tuli, karena ia tidak dapat berbicara jika tidak mendengar, tidak dapat memahami, dan tidak dapat dipahami.
ومن أجرى القولين في الأخرس طردوا القولين في الأصم الأصلخ وهو بعيد لا يليق بقاعدة الشافعي رضي الله عنه في مراعاة العمل
Dan siapa yang menerapkan dua pendapat pada orang bisu, mereka juga menerapkan dua pendapat itu pada orang tuli sekaligus tidak bertelinga, namun hal ini jauh dan tidak sesuai dengan kaidah Imam Syafi‘i ra. dalam memperhatikan amal (perbuatan).
ونص الشافعي على من كان يُجن ويُفيق فإعتاقه مجزىء وهذا ظاهر إن قل زمان الجنون وكثر زمان الإفاقة فأما إذا كان زمان الجنون أكثر فما نرى الشافعيَّ يقول ذلك رضي الله عنه وإن استوى الزمانان في النُّوَب فظاهر النص الإجزاءُ وفيه احتمالٌ من طريق المعنى
Syafi‘i menegaskan bahwa bagi orang yang mengalami gila dan sadar secara bergantian, maka membebaskan budak tetap sah. Hal ini jelas jika masa gilanya sedikit dan masa sadarnya lebih banyak. Adapun jika masa gilanya lebih banyak, maka kami tidak melihat Syafi‘i berpendapat demikian, semoga Allah meridhainya. Jika kedua masa itu sama dalam pergiliran, maka secara lahiriah teks menunjukkan keabsahan, namun masih ada kemungkinan lain dari sisi makna.
والذي نختم الباب به أن النقصان في العمل لم يُجْره الشافعي رضي الله عنه على قياس النقصان في المالية حيث تُرعى المالية فإن النقصان وإن قل إذا أثر في المالية كفى في كونه عيباً وهاهنا شَرَطَ الظهورَ كما شرط أبو حنيفةَ الظهورَ في عيب الصداق والسبب فيما ذكره الشافعي أن الناس أنفسهم يتفاوتون في القوى ثم لا يشترط أن يكون العبد المعتَق قويّاً ذا مِرّةً فقد نجد ذا مرّة ضعيفَ الكسب ونصادف ضعيفاً قويّ الكسب وبالجملة لا ضبط فلو اعتبرنا أدنى النقصان من العمل لم يكن لائقاً فهذا الأصل مما نبهنا عليه
Penutup dari pembahasan ini adalah bahwa kekurangan dalam pekerjaan tidak diperlakukan oleh Imam Syafi‘i, semoga Allah meridhainya, sebagaimana kekurangan dalam hal finansial. Dalam hal finansial, kekurangan sekecil apa pun jika berpengaruh pada harta, sudah cukup dianggap sebagai cacat. Namun, dalam hal ini, Imam Syafi‘i mensyaratkan adanya kejelasan (zhuhur), sebagaimana Abu Hanifah juga mensyaratkan kejelasan dalam cacat pada mahar. Alasan yang dikemukakan oleh Imam Syafi‘i adalah bahwa manusia sendiri berbeda-beda dalam hal kekuatan, dan tidak disyaratkan bahwa budak yang dimerdekakan haruslah kuat dan bertenaga. Sebab, terkadang kita mendapati orang yang tampak kuat namun lemah dalam mencari nafkah, dan sebaliknya, ada yang tampak lemah namun kuat dalam mencari nafkah. Secara umum, tidak ada standar yang pasti. Maka, jika kita memperhitungkan kekurangan sekecil apa pun dalam pekerjaan, itu tidaklah tepat. Inilah prinsip yang kami tekankan.
و أما المالية فإنّ ضبطها هيّن فاعتُبر ما ينقصها نعم النقصان الذي يُتغابن في مثله لا اعتبار به أيضاًً من حيث إنه لا يظهر به المقصود فالمرعيُّ ظهور الغرض في كل باب على حسب ما يليق به والهَرِم الذي ظهر عجزه عن العمل لا يجزىء والصغر لا يمنع الإجزاء فإنه إلى الزوال
Adapun mengenai aspek finansial, penetapannya mudah, yaitu dengan mempertimbangkan apa yang menguranginya. Namun, kekurangan yang biasa diabaikan dalam transaksi (yang dianggap wajar) juga tidak dianggap, karena tidak tampak maksud yang diinginkan darinya. Maka yang diperhatikan adalah tampaknya tujuan dalam setiap bab sesuai dengan yang layak baginya. Hewan yang sudah tua renta dan tampak tidak mampu bekerja tidak sah, sedangkan hewan yang masih kecil tidak menghalangi keabsahan karena keadaannya akan berubah.
ورأيت في كلام العراقيين ما يشير إلى تردد في أن إعتاق الحمل هل يجزىء وهذا فيه إذا تحققنا وجوده مع انسلاك الروح فيه وطريق استبانة ذلك بيّن فلا شك أنا لا نحكم في الحال بحصول براءة الذمة فلا يسلّط المظاهر على الغِشيان وإن قلنا الحمل يُعرف هذا لا خلاف فيه فإنا لا نتحقق الحياة إلا بتقدير الانفصال على حدٍّ يستند علمُنا معه بحياة الجنين إلى وقت الإعتاق
Saya menemukan dalam pendapat para ulama Irak adanya isyarat keraguan tentang apakah memerdekakan janin itu sah atau tidak. Hal ini terjadi jika kita telah memastikan keberadaannya beserta masuknya ruh ke dalamnya, dan cara untuk mengetahui hal itu sudah jelas. Maka tidak diragukan lagi bahwa kita tidak dapat langsung memutuskan bahwa tanggungan telah gugur, sehingga orang yang melakukan zhihar tidak diperbolehkan untuk berhubungan suami istri. Namun, jika kita mengatakan bahwa janin dapat diketahui keberadaannya, maka tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, karena kita tidak dapat memastikan kehidupan janin kecuali dengan memperkirakan terpisahnya janin pada batas yang dengannya pengetahuan kita tentang kehidupan janin itu bersandar pada waktu pembebasan.
والذي رأيت فحوى كلام الأئمة عليه في طرق المراوزة أن الحمل لا يجزىء وإن تحققنا بطريق الاستناد وجود حياته حالة الإعتاق وهذا ما يجب التعويلُ عليه وتركُ الاعتداد بما سواه والله المعين
Menurut yang saya pahami dari inti perkataan para imam mengenai metode para ulama Marw, bahwa janin tidak mencukupi (sebagai pengganti) meskipun kita telah memastikan dengan cara yang dapat diandalkan adanya kehidupan pada saat pembebasan (budak). Inilah yang seharusnya dijadikan pegangan dan meninggalkan pendapat selainnya. Allah-lah yang memberi pertolongan.
باب من له الكفارة بالصيام
Bab tentang siapa yang boleh membayar kafarat dengan puasa
قال الشافعي رحمه الله من كان له مسكن وخادم لا يملك غيره إلى آخره
Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Barang siapa yang memiliki tempat tinggal dan seorang pembantu, dan tidak memiliki selain itu, hingga akhir.
لما ذكر الشافعي في الباب المقدّم العتقَ ومايتعلق به ثم عقبه بصفة المعتق وذكر انقسام العيوب إلى ما يمنع من الإجزاءِ وإلى ما لا يمنع منه وانتجز غرضُه في العتق استفتح باب الصيام فإنّ كفارة الظهار مبدوءةٌ بالعتق فمن لم يتمكن صامَ شهرين متتابعين فجرى على مقتضى ترتيب الكفارة وخاض في الصوم
Setelah asy-Syafi‘i menyebutkan dalam bab sebelumnya tentang pembebasan budak dan hal-hal yang berkaitan dengannya, kemudian diikuti dengan penjelasan tentang sifat orang yang membebaskan budak serta pembagian cacat menjadi yang menghalangi keabsahan dan yang tidak menghalanginya, dan setelah tujuannya dalam pembahasan pembebasan budak tercapai, ia membuka bab puasa. Sebab, kafarat zhihar dimulai dengan pembebasan budak; maka siapa yang tidak mampu, ia berpuasa dua bulan berturut-turut. Dengan demikian, ia mengikuti urutan kafarat dan membahas tentang puasa.
وأول ما يجب الاعتناء به بيانُ العجز الذي يسوغ لأجله الانتقالُ إلى الصوم قال الله تعالى فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ هذا يشعر بالإمكان ومقتضاه التضييق حتى إذا كان للوجدان وجه فلا سبيل إلى الحَيْدِ عن الرقبة والتعلّقِ بالصيام ولكن اتفق الأصحاب على ضربٍ من الاتساع لا يلائم عندي ظاهرَ القرآن ولكنا نطرد المذهب على وجهه نقلاً ثم ننظر فيما نبهنا عليه
Hal pertama yang wajib diperhatikan adalah penjelasan tentang ketidakmampuan yang membolehkan seseorang beralih kepada puasa. Allah Ta‘ala berfirman: “Maka barang siapa tidak mendapatkannya, maka (wajib) berpuasa dua bulan…” Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan (untuk melaksanakan) dan mengandung makna pembatasan, sehingga jika masih ada kemungkinan untuk mendapatkan (hamba sahaya), maka tidak boleh berpaling dari (membebaskan) budak dan langsung beralih kepada puasa. Namun, para ulama sepakat pada suatu bentuk keringanan yang menurut saya tidak sesuai dengan makna lahiriah Al-Qur’an. Akan tetapi, kita tetap mengikuti mazhab sebagaimana yang telah dinukil, kemudian kita akan meninjau kembali apa yang telah kami isyaratkan.
قال الشافعي رضي الله عنه إذا ملك رقبة غيرَ أنها مستغرَقةٌ بحاجته بأن كان مريضاً زَمِناً لا يستطيع الاستقلال فلا نكلفه أن يُعتقه بل له الانتقال إلى الصوم وكذلك لو كان قادراً على أن يقوم بحاجات نفسه ويتبذلَ في تصرفاته ولكن كان لا يليق ذلك بمنصبه ولو انتشر بنفسه لكان ذلك غضّاً من مروءته فله أن يُمسك العبدَ قِواماً بهذه الأمور فنزّل الأصحاب الحاجة الحاقّة في البدن وما يؤدّي إلى غض المروءة منزلة عدم الرقبة في قول
Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang memiliki budak, namun budak tersebut sangat dibutuhkan olehnya, misalnya ia sedang sakit parah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri, maka kita tidak mewajibkannya untuk memerdekakan budak itu, melainkan ia boleh beralih kepada puasa. Demikian pula jika ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan melakukan berbagai urusan, tetapi hal itu tidak pantas dengan kedudukannya, dan jika ia sendiri yang melakukannya akan merendahkan martabatnya, maka ia boleh mempertahankan budak itu demi menjaga hal-hal tersebut. Para ulama menempatkan kebutuhan yang sangat mendesak pada tubuh dan hal-hal yang dapat merendahkan martabat seseorang pada posisi yang sama dengan tidak adanya budak, menurut pendapat ini.
وأبو حنيفة خالف في هذا
Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini.
ولو ملك مسكناً فسيحاً وكان يكتفي ببعضه فعليه إن أراد الخلاص من الكفارة أن يصرف البعضَ إلى الرقبة
Jika seseorang memiliki tempat tinggal yang luas dan ia merasa cukup dengan sebagian darinya, maka jika ia ingin terbebas dari kewajiban kafarat, ia harus mengalokasikan sebagian tempat tinggal itu untuk membebaskan budak.
وإن كان لا يتأتى ذلك والمسكنُ في نفسه على قدر الحاجة فلا نكلفه بيعَه إذ الحاجةُ إليه أمسُّ منه إلى العبد الخادم فيما يتعلق بحفظ المروءة
Jika hal itu tidak memungkinkan dan tempat tinggal itu sendiri sesuai dengan kebutuhan, maka kita tidak membebani seseorang untuk menjualnya, karena kebutuhannya terhadap tempat tinggal itu lebih mendesak daripada kebutuhan terhadap budak pelayan dalam hal menjaga kehormatan diri.
ولو كان المسكن ضيقاً لا يمكنه بيعَ بعضه ولكنه كان نفيساً ولو باعه أمكنه أن يشتري ببعض الثمن عبداً وبالبعض منه مسكناً في محِلّةٍ أخرى فهل نكلفه ذلك فعلى وجهين قال القاضي أظهرهما أنا لا نكلفه ويسوغ له الانتقال إلى الصوم فإن المسكن المألوف يصعب مفارقته ويكون ضرباً من الجلاء
Jika tempat tinggal itu sempit sehingga ia tidak bisa menjual sebagian darinya, namun tempat tinggal itu berharga, dan jika ia menjualnya, ia bisa membeli dengan sebagian harganya seorang budak dan dengan sebagian lainnya tempat tinggal di daerah lain, maka apakah kita mewajibkannya melakukan hal itu? Ada dua pendapat. Al-Qadhi berkata, pendapat yang lebih kuat adalah kita tidak mewajibkannya, dan diperbolehkan baginya untuk beralih kepada puasa, karena tempat tinggal yang sudah menjadi kebiasaan sulit untuk ditinggalkan, dan hal itu merupakan semacam pengusiran.
والوجه الثاني نكلفه ذلك فإن ضرر الجلاء إنما يظهر في مفارقة البلدة وتخليف الأهلين والمعارف
Adapun sisi kedua, kita membebankan hal itu kepadanya, karena mudarat pengusiran itu baru tampak ketika harus meninggalkan kota serta berpisah dengan keluarga dan kenalan.
ولو ملك عبداً ثميناً وكانت الحاجةُ تمَسُّ إلى اقتناء عبد ولو باع هذا العبدَ لأمكنه أن يشتري ببعض ثمنه عبداً يُجزىء في الكفارة ثم كان يتسع باقي الثمن لعبدٍ يخدمه فهل نكلفه أن يبيع ذلك العبدَ ويفعل ما وصفناه فعلى وجهين مأخوذين من بيع المسكن والجامعُ الإلفُ
Jika seseorang memiliki seorang budak yang mahal, dan ada kebutuhan mendesak untuk memiliki seorang budak, lalu jika ia menjual budak tersebut, ia dapat membeli dengan sebagian harganya seorang budak yang sah untuk digunakan sebagai kafarat, dan sisa harganya masih cukup untuk membeli budak lain yang dapat melayaninya, maka apakah kita mewajibkan dia untuk menjual budak itu dan melakukan apa yang telah kami sebutkan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diambil dari kasus penjualan rumah tinggal, dan yang menjadi titik persamaannya adalah adanya keterikatan (kebiasaan atau keakraban).
ولو لم يكن ذلك العبد مألوفاً بل كان حصل له من عهد قريب فعليه أن يفعل ما وصفناه وكذلك القول في المسكن إذا لم يُؤْلف
Dan jika budak tersebut belum terbiasa, melainkan baru saja didapatkan dalam waktu dekat, maka ia wajib melakukan seperti yang telah kami jelaskan. Demikian pula halnya dengan tempat tinggal jika belum terbiasa.
فهذا ما ذكره الأئمة وقياسهم هذا يقتضي ضرباً من التوسعة فيما نصفه فلو كان في يد الرجل من المال ما يستقلّ به ولو أُخذ بعضُه لاسْتحق بالمسكنة وصار بحيث يجوز صرف سهم المساكين إليه فالذي يقتضيه قياس الأصحاب أنا لا نُلزمه هذا فإن الانتقال من الاستقلال إلى اختلال الحال حتى يصير بحيث لا يفي دخلُه بخرْجه عظيمُ الوقع وهو لا محالةَ فوق ترك المروءة ومخالفةِ المنصب مع العلم بأن معظم ما يعدّه الناس من المروءات هو عند ذوي الألباب من رعونات الأنفس
Inilah yang disebutkan oleh para imam, dan qiyās mereka ini mengandung suatu bentuk kelonggaran dalam hal yang akan kami uraikan. Jika seseorang memiliki harta yang cukup untuk mencukupi dirinya, namun jika sebagian hartanya diambil maka ia akan menjadi miskin dan berhak menerima bagian zakat untuk orang miskin, maka menurut qiyās para sahabat (ulama), kami tidak mewajibkan hal tersebut kepadanya. Sebab, perubahan dari keadaan cukup menjadi keadaan kekurangan hingga penghasilannya tidak lagi mencukupi kebutuhannya adalah sesuatu yang sangat berat, dan hal itu jelas lebih berat daripada sekadar meninggalkan muru’ah (kehormatan diri) atau bertentangan dengan kedudukan, dengan mengetahui bahwa kebanyakan hal yang dianggap orang sebagai muru’ah, menurut orang-orang yang berakal hanyalah sikap berlebihan dari jiwa semata.
وكذلك لو كان مسكيناً فلا نكلفه أن يشتري عبداً فإنه يناله بما يخرجه ضررٌ بيّن وهو أوقع من الانتقال من الاستقلال إلى أول حدّ المسكنة هذا هو الذي تحققناه نقلاً واستنباطاً من قول الأصحاب
Demikian pula, jika seseorang itu miskin, maka kita tidak membebaninya untuk membeli seorang budak, karena hal itu akan menimbulkan bahaya yang nyata baginya, dan hal itu lebih berat daripada berpindah dari keadaan mandiri ke batas awal kemiskinan. Inilah yang kami yakini berdasarkan riwayat dan istinbat dari pendapat para ulama.
ومما ذكره أنه لو كان له مال غائب فأراد الانتقال إلى الصوم في الكفارة المرتبة لم يكن له ذلك وليس كالمسافر لا يصحبه من المال ما يشتري به ماءَ الوضوء وكان له مال في الغيبة فالوجه أن يتيمم فإن الصلاة لا تقبل التأخير وماله في الغيبة لا يُغني عنه شيئاً وهذا لا يتحقق في الكفارة فإنها تقبل التأخير وليس وجوبُها على الفور
Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seseorang memiliki harta yang berada di tempat jauh, lalu ia ingin beralih kepada puasa dalam pelaksanaan kafarat yang berurutan, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya. Ini berbeda dengan musafir yang tidak membawa harta untuk membeli air wudu, sementara ia memiliki harta di tempat jauh; maka yang tepat adalah ia bertayamum, karena salat tidak boleh ditunda dan hartanya yang berada di tempat jauh tidak dapat memberinya manfaat apa pun. Hal ini tidak berlaku dalam kafarat, karena kafarat boleh ditunda dan kewajibannya tidak harus segera dilaksanakan.
قال العراقيون لو كانت المسألة مفروضة في كفارة الظهار فلا يكاد يخفى أن تحليله زوجته يتوقف على التكفير فإذا كان ماله غائباً ولم يجد من يقرضه فلو كلفناه أن يؤخر التكفير لاستمرّ التحريم فماذا يصنع والحالة هذه فعلى وجهين ذكروهما أحدهما أنه يؤخر طرداً للقياس
Orang-orang Irak berkata, jika persoalan ini diasumsikan terjadi pada kafarat zhihar, maka hampir tidak tersembunyi lagi bahwa halalnya istri baginya bergantung pada pelaksanaan kafarat. Jika hartanya sedang tidak ada dan ia tidak menemukan orang yang dapat meminjaminya, maka jika kita mewajibkannya untuk menunda pelaksanaan kafarat, larangan (berhubungan) akan terus berlanjut. Lalu apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini? Maka ada dua pendapat yang mereka sebutkan; salah satunya adalah ia menunda (pelaksanaan kafarat) sesuai dengan qiyās.
والثاني أنه ينتقل إلى الصيام فإن الضرر قد يظهر عليه بترك الغِشيان وقد يخاف الوقوع في الوقاع قبل التكفير
Kedua, ia berpindah kepada puasa, karena bahaya dapat muncul padanya jika meninggalkan hubungan suami istri, dan ia mungkin khawatir terjatuh dalam perbuatan tersebut sebelum melakukan kaffārah.
ومما نُلحقه بما ذكرناه أن زكاة الفطر لم يُرْعَ فيها إلا ما يفضل من القوت كما مضى مفصلاً في صدقة الفطر وقد نُحوج إلى الفرق بين صدقة الفطر وبين ترتب البدل على المُبدَل في الكفارة ويتجه أن نقول صدقة الفطر قريبة المأخذ قليلة المقدار سهلة المحتمل فلم يبعد نزعها إلى الوجوب وهي تجب أيضاًً على الفور وهذا يؤكدها ويوضح الفرق بينها وبين الكفارة وهي أيضاًً شديدة الشبه بالنفقات ولهذا تتبعها
Termasuk hal yang kami kaitkan dengan apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa zakat fitri tidak diperhatikan kecuali apa yang melebihi kebutuhan pokok, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam pembahasan sedekah fitri. Kita mungkin perlu membedakan antara sedekah fitri dan penggantian yang ditetapkan atas sesuatu yang diganti dalam kafarah. Tampaknya dapat dikatakan bahwa sedekah fitri itu mudah asal-usulnya, sedikit kadarnya, dan ringan bebannya, sehingga tidaklah jauh jika ia diwajibkan. Ia juga wajib ditunaikan segera, dan hal ini semakin menegaskan kewajibannya serta memperjelas perbedaannya dengan kafarah. Ia juga sangat mirip dengan nafkah, oleh karena itu ia mengikuti hukum nafkah.
وقد نجز الغرض في هذا المقام وبقي ما أبديناه إشكالاً في أول المسألة إذ نبهنا على الظاهر وما فيه من الإشكال
Tujuan pada bagian ini telah tercapai, dan masih tersisa apa yang telah kami kemukakan sebagai permasalahan di awal pembahasan ini, ketika kami menunjukkan pendapat yang zahir beserta permasalahan yang terkandung di dalamnya.
والممكنُ في دفع ذلك والله أعلم الالتفاتُ إلى ما يحِل محلَّ الإجماع فإن الذين كفَّروا بالصيام كانوا أصحاب مساكن يأوون إليها وهم يصومون عن الكفارة ومن ادّعى أن أحداً لم يصم في كفارة إلا وهو خليٌّ عن ملك المسكن فقد ادعى بعيداً
Yang mungkin dilakukan untuk menolak hal itu—dan Allah lebih mengetahui—adalah memperhatikan apa yang menempati posisi ijmā‘, karena orang-orang yang mengkafirkan dengan puasa adalah para pemilik tempat tinggal yang mereka tempati, dan mereka berpuasa sebagai kafarat. Barang siapa yang mengklaim bahwa tidak ada seorang pun yang berpuasa sebagai kafarat kecuali ia tidak memiliki tempat tinggal, maka ia telah mengklaim sesuatu yang jauh dari kenyataan.
وأيضاًً فإن البدل والمبدل في الكفارات وجدناهما في مراتب الشرع قريبين ولعل صوم الشهرين أوْقع من إعتاق عبد على أقل المراتب سيّما في حق أصحاب النعم وإذا كانت لا تتفاوت فالترتب فيها يجب أن يُقرَّبَ أمرُه وليس كترتب التيمم في الوضوء فإن الوضوء يرفع الحدث ويفيد النظافة ولا معنىً للتيمم يقرُب دَرْكه بالعقل إلاّ استدامةُ تمرين النفس فكان التيمم في حقّ الترك للوضوء وفي الكفاراتِ يفيد كلُّ بدلٍ عينَ ما يفيده المبدلُ فلا يبعد أن يَقْرُبَ الأمر في هذا حتى يدار الأمر على العسر واليسر والمشقة وعدمها
Selain itu, kami mendapati bahwa pengganti dan yang digantikan dalam kafarat berada pada tingkatan yang berdekatan dalam syariat. Mungkin saja puasa dua bulan lebih berat daripada memerdekakan seorang budak pada tingkatan yang paling rendah, terutama bagi orang-orang yang memiliki harta. Jika memang tidak ada perbedaan yang signifikan, maka urutan dalam hal ini harus didekatkan maknanya. Hal ini tidak seperti urutan tayammum dalam wudhu, karena wudhu menghilangkan hadats dan memberikan kebersihan, sedangkan tayammum tidak memiliki makna yang dapat dipahami secara rasional kecuali sebagai latihan terus-menerus bagi jiwa. Maka, tayammum itu berlaku ketika meninggalkan wudhu. Adapun dalam kafarat, setiap pengganti memberikan manfaat yang sama dengan yang digantikan, sehingga tidak mustahil jika urusan ini didekatkan, sehingga perkara kafarat itu dipertimbangkan berdasarkan kesulitan, kemudahan, adanya kesulitan atau tidak.
فإذا تبين هذا فالخوض بعده في بيان الصيام
Jika hal ini telah jelas, maka setelahnya akan dibahas mengenai penjelasan tentang puasa.
قال الشافعي رحمه الله إن أفطر من عذرٍ أو غيره إلى آخره
Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang berbuka karena uzur atau sebab lainnya, dan seterusnya.
صوم الشهرين مقيدٌ مشروطٌ بالوِلاء والتتابع في كفارة الظهار وكفارةِ القتل والوقاعِ في رمضان فيجب رعايةُ التتابع فلو أفطر في اليوم الأخير عمداً فسد عليه الاعتداد بجميع ما قدمه
Puasa dua bulan dalam kafarat zhihar, kafarat pembunuhan, dan pelanggaran (berhubungan) di bulan Ramadan disyaratkan harus berurutan dan berturut-turut, sehingga wajib menjaga kesinambungan tersebut. Jika seseorang berbuka dengan sengaja pada hari terakhir, maka batal perhitungan seluruh puasa yang telah dilakukannya sebelumnya.
وهل نحكم بفساد الصوم أم نقضي بانقلابه نفلاً تبَيُّناً فعلى قولين أجريناهما في نظائر ذلك فكل من نوى عبادة مفروضة وكان المفروض مفتقراً إلى شرط والنفلُ من قبيله ونوعه لا يفتقر إلى ذلك الشرط فإذا تخلف الشرط ففي حصول النفل قولين قدمناهما مقرّرين في كتاب الصلاة
Apakah kita memutuskan batalnya puasa ataukah kita menetapkan bahwa puasanya berubah menjadi puasa sunnah secara otomatis? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang juga kami terapkan pada kasus-kasus serupa. Setiap orang yang berniat melakukan ibadah wajib, sementara ibadah wajib tersebut memerlukan suatu syarat, sedangkan ibadah sunnah dari jenis yang sama tidak memerlukan syarat tersebut, maka apabila syarat itu tidak terpenuhi, terdapat dua pendapat mengenai apakah ibadah sunnah tetap sah atau tidak. Kedua pendapat ini telah kami jelaskan sebelumnya dalam Kitab Shalat.
وكذلك لو ترك النية ناسياً في اليوم الأخير حتى أصبح فلا سبيل إلى الصوم في هذا اليوم عن جهة الكفارة ثم يتبين خروج ما مضى من الاعتداد
Demikian pula, jika seseorang lupa berniat pada hari terakhir hingga pagi tiba, maka tidak ada jalan untuk berpuasa pada hari itu sebagai kafarat, kemudian menjadi jelas bahwa hari-hari sebelumnya tidak dihitung.
ولو أنشأ صومَ الشهرين في وقت يتخلله يومُ العيد لم يصحّ صومه وأول عقده لا ينعقد من غير حاجة إلى التبيّن فإنه أنشاه في وقتٍ لا يتأتَّى فيه الوفاء بالتتابع ويعود القولان في انعقاد الصوم نفلاً كما قدمناهما
Jika seseorang memulai puasa dua bulan pada waktu yang di dalamnya terdapat hari raya, maka puasanya tidak sah dan permulaan niatnya pun tidak teranggap tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, karena ia memulai puasa pada waktu yang tidak memungkinkan untuk memenuhi syarat berpuasa secara berturut-turut. Dua pendapat mengenai keabsahan puasa sunnah juga kembali berlaku di sini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وإن كانت المرأة تصوم الشهرين عن كفارة قتلٍ فطريان الحيض لا يقطع تتابعهما فإنّ هذا الزمان لا يخلو في الغالب عن طريان الحيض
Jika seorang wanita berpuasa dua bulan sebagai kafarat pembunuhan, maka datangnya haid tidak memutuskan kesinambungan puasanya, karena waktu tersebut pada umumnya tidak lepas dari kemungkinan datangnya haid.
ولو طرى مرض يبيح مثلُه الفطرَ في رمضان فأفطر لأجله ففي انقطاع التتابع قولان مشهوران أحدهما أنه لا ينقطع لظهور العذر والتتابع في صوم الكفارة لا يزيد على أداء صوم رمضان في وقته فإذا جاز الإفطار في رمضان بعذر المرض وجب أن ينتهض عُذراً في ترك التتابع
Jika seseorang tertimpa sakit yang membolehkan berbuka puasa di bulan Ramadan, lalu ia berbuka karena sakit tersebut, maka dalam hal terputusnya keharusan berturut-turut (dalam puasa kafarat) terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa keharusan berturut-turut tidak terputus karena adanya uzur yang jelas, dan berturut-turut dalam puasa kafarat tidak lebih berat daripada menunaikan puasa Ramadan pada waktunya. Maka jika berbuka puasa di bulan Ramadan karena uzur sakit itu dibolehkan, seharusnya uzur tersebut juga dianggap sah untuk meninggalkan keharusan berturut-turut.
والقول الثاني أن التتابع ينقطع لأن من الممكن أن يصوم شهرين من غير قطع الوِلاء وليس هذا بتجويز الإفطار فإن المرض يقتضيه ولو مَنَعْنا من الفطر كان إرهاقاً عظيماً والذي نحن فيه ليس من قبيل المنع والجواز وإنما هو نظرٌ في الاعتداد والاحتساب هذا قولنا في المرض
Pendapat kedua menyatakan bahwa keterpautan (tataabu‘) terputus karena memungkinkan seseorang berpuasa dua bulan tanpa memutus kesinambungan, dan hal ini bukan berarti membolehkan berbuka, sebab sakit memang menuntutnya. Jika kita melarang berbuka, itu akan menjadi beban yang sangat berat. Adapun yang sedang kita bahas bukanlah soal larangan atau kebolehan, melainkan tentang pertimbangan dalam pengakuan dan perhitungan (puasa). Inilah pendapat kami mengenai sakit.
فأما إذا سافر وأفطر بعذر السفر فقد ذكر أصحابنا في ذلك قولين مرتبين على القولين في المرض وجعلوا الإفطار بعذر السفر لقطع التتابع أولى والرأي الظاهر أن التتابع ينقطع فإن تجويز الإفطار بعذر السفر رخصة لا تناط بمشقة ولا حاجة فكيف يجوز أن يعدّى بمثل هذه الرخصة موضعها ومحلّها
Adapun jika seseorang melakukan perjalanan dan berbuka puasa karena uzur safar, para ulama mazhab kami menyebutkan dua pendapat yang diurutkan berdasarkan dua pendapat dalam kasus sakit. Mereka menganggap bahwa berbuka puasa karena uzur safar lebih utama untuk memutuskan kontinuitas (puasa berturut-turut). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kontinuitas itu terputus, karena membolehkan berbuka puasa karena uzur safar merupakan rukhṣah (keringanan) yang tidak dikaitkan dengan kesulitan atau kebutuhan. Maka bagaimana mungkin keringanan seperti ini boleh diterapkan di luar tempat dan konteksnya?
ومما يجب التفطّن له أنا لو روجعنا فقيل لنا الخائض في صوم الشهرين هل يجوز له أن يتركه عازماً على أن يبتدىء صومَ شهرين بعد هذا من غير عذر فإنه يجوز له تأخير الكفارة قبل الخوض فهل يخرّج اختيار قطع الوِلاء تعمّداً على تجويز تأخير الكفارة
Hal yang perlu diperhatikan adalah, seandainya ada yang bertanya kepada kita: Orang yang sedang menjalani puasa dua bulan berturut-turut, apakah boleh baginya untuk menghentikannya dengan sengaja, dengan niat akan memulai kembali puasa dua bulan setelah itu tanpa ada uzur? Sebab, ia memang diperbolehkan menunda pelaksanaan kafarat sebelum memulai pelanggaran. Maka, apakah pilihan untuk memutuskan berturut-turutnya puasa dengan sengaja dapat dianalogikan dengan kebolehan menunda kafarat?
هذا فيه احتمال ظاهر يجوز أن يقال له أن يفعل هذا بأنْ لا ينوي صومَ غده فأما إذا خاض في صوم يومٍ فيبعد أن يتسلط على إبطاله فأما ترك الصوم في بقية الشهرين فليس اعتراضاً منه على عبادة بالإفساد
Dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas bahwa boleh dikatakan kepadanya untuk melakukan hal tersebut dengan cara tidak berniat puasa untuk esok harinya. Adapun jika ia telah memulai puasa pada suatu hari, maka kecil kemungkinan baginya untuk berkuasa membatalkannya. Adapun meninggalkan puasa pada sisa dua bulan tersebut, itu bukanlah bentuk penolakan terhadap ibadah dengan cara merusaknya.
ويتجه أن يقال ليس له ترك الوفاء بالتتابع فإن ما قدمه يخرج عن الفرضية فيكون معترضاً على فرضٍ بالرفع ويقوَى هذا على قولنا ببطلان الصوم تبيناً
Pendapat yang kuat adalah bahwa tidak boleh baginya meninggalkan kewajiban melaksanakan puasa secara berturut-turut, karena apa yang telah dia lakukan keluar dari sifat wajib, sehingga menjadi sesuatu yang menentang kewajiban dengan membatalkannya. Pendapat ini semakin kuat jika kita berpegang pada pendapat bahwa puasa menjadi batal secara jelas.
ويجوز أن يجاب عنه بأن قطعَ التتابعِ لا يفسد الفرضيةَ بل إذا انقطع التتابعُ تبين أن الذي مضى لم يكن فرضاً وليس يقطع عبادة شرع فيها فإن القطع إفسادٌ لها بعد القطع بالانعقاد
Dan boleh dijawab bahwa terputusnya kontinuitas (tataabu‘) tidak membatalkan kefarduan, melainkan jika kontinuitas itu terputus, maka yang telah berlalu menjadi jelas bukanlah fardhu. Hal itu juga tidak membatalkan ibadah yang telah dimulai, karena pembatalan adalah merusaknya setelah diyakini telah terjadi akad (pengikatan ibadah).
ويجوز أن يقال ما مضى وقع حقاً عن الكفارة ثم بطل وقوعُها عن الكفارة فإن الذي ينوي الصوم عن الكفارة جازمٌ نيته غيرَ أن ارتباط التتابع لا بد من رعايته فإذا قطعه بطل ما تقدم عن جهة الكفارة بطلانَ الصلاة بعد انعقادها
Boleh dikatakan bahwa apa yang telah lalu itu sah sebagai pelaksanaan kafarat, kemudian batal pelaksanaannya sebagai kafarat. Sebab orang yang berniat puasa untuk kafarat, niatnya sudah pasti, hanya saja keterkaitan antara puasa yang berurutan harus dijaga. Jika ia memutusnya, maka yang telah dilakukan sebelumnya batal sebagai kafarat, sebagaimana batalnya salat setelah ia terlanjur dimulai.
فإذا رأينا جوازَ تركِ الصيام عزماً على افتتاح الشهرين من بعدُ فلا كلام وإن لم نجوّز وقلنا المرض لا يقطع التتابع فيجوز الإفطار بسببه وإن قلنا المرض يقطع التتابع فيجوز الفطر أيضاًَ بسببه كما يجوز الفطر في رمضان على التزام القضاء من بعدُ وكذلك يجوز الفطر بعذر السفر على التزام الاستئناف من بعدُ
Jika kita memandang bolehnya meninggalkan puasa dengan niat untuk memulai dua bulan berturut-turut setelahnya, maka tidak ada masalah. Namun jika kita tidak membolehkannya dan berpendapat bahwa sakit tidak memutuskan kontinuitas (tatawu‘), maka boleh berbuka karena sakit. Dan jika kita berpendapat bahwa sakit memutuskan kontinuitas, maka juga boleh berbuka karena sakit, sebagaimana diperbolehkan berbuka di bulan Ramadan dengan kewajiban menggantinya di kemudian hari. Demikian pula, diperbolehkan berbuka karena uzur safar dengan kewajiban memulai kembali setelahnya.
وهذه الأمور على وضوحها لا يضر التنبيه لها
Hal-hal ini, meskipun sudah jelas, tidak mengapa untuk tetap diingatkan.
ومما يليق بتمام القول في هذا أنا قدمنا أن من نسي النيةَ ليلاً وأصبح غيرَ صائم فهذا يقطع التتابع ولا يبعد عن القياس إلحاق هذا بالمعاذير وإن كان تَرْكُ المأمور به لا ينتهض عذراً وإنما النسيان عذر في مظان النهي ولكن إذا كان السفر عذراً على رأيٍ حتى لا ينقطع التتابع بالفطر فيه فقد يقرب بعضُ القرب ما ذكرناه والأظهر ما قطع به الأصحاب فإن النسيان لا يقام عذراً في ترك المأمورات ويشهد لهذا أن من نسي النية في رمضان وأصبح فيلزمه الإمساك على الرأي الأصح وإن كان الإمساك في حكم التغليظ على من يترك صوماً مستحَقاً في رمضان فألحقنا الناسي بالذي يتعمد إفطاراً من غير عذر
Dan termasuk hal yang patut untuk melengkapi pembahasan ini adalah bahwa kami telah sebutkan sebelumnya bahwa siapa saja yang lupa berniat pada malam hari dan paginya tidak dalam keadaan berpuasa, maka hal ini memutuskan kesinambungan (tataabu‘) puasa. Tidak jauh dari qiyās untuk mengaitkan hal ini dengan uzur-uzur, meskipun meninggalkan sesuatu yang diperintahkan tidak cukup menjadi uzur, dan sesungguhnya lupa hanya menjadi uzur dalam perkara-perkara yang dilarang. Namun, jika safar dianggap sebagai uzur menurut suatu pendapat sehingga tidak memutus kesinambungan puasa meskipun berbuka di dalamnya, maka bisa jadi sebagian keadaan mendekati apa yang telah kami sebutkan. Namun pendapat yang lebih kuat adalah apa yang ditegaskan oleh para ashhab, yaitu bahwa lupa tidak dianggap sebagai uzur dalam meninggalkan perkara-perkara yang diperintahkan. Hal ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa siapa saja yang lupa berniat di bulan Ramadan dan paginya tidak berpuasa, maka ia wajib menahan diri (imsak) menurut pendapat yang paling sahih, meskipun imsak tersebut pada hakikatnya adalah bentuk penegasan hukuman bagi orang yang meninggalkan puasa yang wajib di bulan Ramadan. Maka kami menyamakan orang yang lupa dengan orang yang sengaja berbuka tanpa uzur.
ومن تمام القول في التتابع اختلافُ الأصحاب في أن نيّة التتابع هل تشترط أم لا فمنهم من قال لا تجب نية التتابع فإنه هيئةُ العبادة ومن نوى العبادة لم يلزمه التعرض لبيانها في نيتها
Sebagai pelengkap pembahasan tentang tata cara berturut-turut (tataabu‘), para ulama berbeda pendapat mengenai apakah niat berturut-turut itu disyaratkan atau tidak. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa niat berturut-turut tidak wajib, karena ia merupakan bentuk (hai’ah) ibadah, dan barang siapa telah meniatkan ibadah maka tidak wajib baginya untuk menyebutkan bentuknya dalam niatnya.
ومن أصحابنا من أوجب نية التتابع كما يوجب نية الجمع بين الصلوات وهذا بعيد فإن الأصل إقامة الصلوات في مواقيتها ورخصة الجمع تخالف هذا الوضع فاشترط الأكثرون من الأصحاب قصداً إلى ذلك
Sebagian dari ulama kami mewajibkan niat untuk melaksanakan secara berturut-turut, sebagaimana mewajibkan niat untuk menggabungkan antara dua salat. Namun, pendapat ini jauh (dari kebenaran), karena pada dasarnya salat-salat itu didirikan pada waktunya masing-masing, sedangkan rukhsah untuk menjamak salat bertentangan dengan ketentuan ini. Oleh karena itu, mayoritas ulama dari kalangan kami mensyaratkan adanya maksud (niat) khusus untuk melakukan hal tersebut.
ثم إن شرطنا نية التتابع فهل يجب الإتيان بها كلَّ ليلة أو يكفي الإتيان بها في الليلة الأولى فعلى وجهين ذكرهما العراقيون والمسألة محتملة إن صح اشتراط نية التتابع والخلاف في ذلك عندنا يقرب من الخلاف في اشتراط نية التمتع من حيث إن النسكين مجموعان على وجه مخصوص
Kemudian, jika kita mensyaratkan niat untuk berturut-turut (niyyah at-tatābu‘), apakah wajib melakukannya setiap malam atau cukup pada malam pertama saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak, dan masalah ini masih memungkinkan untuk diperdebatkan jika memang disyaratkan niat berturut-turut. Perselisihan dalam hal ini di kalangan kami hampir sama dengan perselisihan tentang disyaratkannya niat tamattu‘, karena kedua manasik tersebut digabungkan dengan cara tertentu.
ثم قال وإذا صام بالأهلّة إلى آخره
Kemudian beliau berkata, “Dan apabila berpuasa berdasarkan hilal hingga akhirnya.”
إذا ابتدأ الصوم في أول الهلال صام شهرين بالأهلة ووقع الاعتداد بما جاء به سواء نقص الشهران أو كملا أو نقص أحدهما وكمل الثاني
Jika seseorang mulai berpuasa pada awal bulan hijriah, maka ia berpuasa dua bulan berdasarkan perhitungan hilal, dan perhitungannya dianggap sah dengan apa yang telah dilakukan, baik kedua bulan tersebut kurang, atau sempurna, atau salah satunya kurang dan yang lainnya sempurna.
وإن استفتح الصوم في أثناء شهرٍ صام بقية ذلك الشهر وصام الشهرَ الذي يليه بالهلال ثم استكمل صومَ الشهر الأول ثلاثين يوماً ولا فرق بين أن ينقص ذلك الشهر أو يكمل وقد ذكرنا هذا في مواضع
Jika seseorang mulai berpuasa di tengah-tengah suatu bulan, maka ia berpuasa sisa bulan tersebut dan berpuasa bulan berikutnya berdasarkan rukyat hilal, kemudian ia menyempurnakan puasa bulan pertama menjadi tiga puluh hari. Tidak ada perbedaan apakah bulan tersebut kurang dari tiga puluh hari atau genap tiga puluh hari, dan hal ini telah kami sebutkan di beberapa tempat.
وقال أبو حنيفة إذا انكسر الشهر الأول بطل اعتبار الأهلة بالكلية واعتلّ بأَنْ قال لو كملنا نقص الشهر الأول بأيام من الشهر الثالث لكان ذلك مناقضاً لقاعدة التتابع ولأدّى إلى تخلل الشهرِ بَيْنَ كسرِ الشهر الأول وتكملته في الشهر الثالث
Abu Hanifah berkata, jika bulan pertama terputus, maka pertimbangan hilal menjadi batal seluruhnya. Ia beralasan bahwa jika kita menyempurnakan kekurangan bulan pertama dengan hari-hari dari bulan ketiga, maka hal itu bertentangan dengan kaidah tataabu‘ (berturut-turut) dan akan menyebabkan adanya bulan yang menyela antara kekurangan bulan pertama dan penyempurnaannya di bulan ketiga.
وهذا لا بأس به وقد مال إليه بعض الأصحاب وقد سبق منّا رمزٌ إليه في تعليق الطلاق بمضي الأشهر والمذهب ما قدمناه وهو النص ولا اعتداد بما سواه
Hal ini tidak mengapa, dan sebagian ulama cenderung kepadanya. Kami sebelumnya telah memberi isyarat tentang hal ini dalam pembahasan talak yang digantungkan pada berlalu bulan-bulan. Adapun pendapat mazhab adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan, yaitu berdasarkan nash, dan tidak dianggap pendapat selainnya.
ثم قال ولو نوى صوم يوم فأُغمي عليه إلى آخره
Kemudian beliau berkata: “Dan jika seseorang berniat puasa pada suatu hari lalu ia pingsan hingga akhir hari itu…”
أشار إلى الإغماء وحكمه وقد سبق على أبلغ وجهٍ في البيان في كتاب الصوم والذي يتعلق بهذا الكتاب أنه إذا حصل الفطر بعذر الإغماء فهو كحصوله بسائر أنواع المعاذير وفي انقطاع التتابع قولان كما قدمناه
Telah disebutkan tentang pingsan dan hukumnya, dan hal ini telah dijelaskan dengan sangat gamblang dalam Kitab Puasa. Adapun yang berkaitan dengan kitab ini adalah bahwa jika terjadi pembatalan puasa karena uzur pingsan, maka hukumnya sama dengan pembatalan puasa karena berbagai macam uzur lainnya. Mengenai terputusnya kontinuitas (tataabu‘) puasa, terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya.
فصل قال وإنما حكمه في الكفارات حين يكفر إلى آخره
Bagian: Ia berkata, “Dan sesungguhnya hukum mengenai kafarat adalah ketika seseorang melakukan kafarat hingga selesai.”
اختلف قول الشافعي في الحالة المعتبرة في صفة الكفارة المرتَّبة فقال في قولٍ الاعتبار بحالة الوجوب فإن كان موسراً كانت كفارته كفارة الموسرين وإن أعسر من بعدُ لم يجزه الصوم وصار العتق دَيْناً في ذمته إلى أن يجد وفاءً به
Imam Syafi‘i berbeda pendapat mengenai keadaan yang diperhitungkan dalam sifat kafarat yang berurutan. Dalam salah satu pendapatnya, yang diperhitungkan adalah keadaan saat kewajiban itu muncul. Jika seseorang dalam keadaan mampu, maka kafaratnya adalah kafarat bagi orang yang mampu. Jika kemudian ia menjadi tidak mampu, maka puasa tidak mencukupinya dan membebaskan budak tetap menjadi utang dalam tanggungannya hingga ia mampu melaksanakannya.
والقول الثاني أن الاعتبار بحالة الأداء والإقدام على التكفير فلو كان موسراً حالة الوجوب فأعسر وأراد التكفير فله أن يصوم نظراً إلى حالة الأداء
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang menjadi acuan adalah keadaan saat pelaksanaan dan ketika hendak melakukan kafarat. Jika seseorang mampu pada saat kewajiban itu muncul, lalu kemudian menjadi tidak mampu dan ingin melakukan kafarat, maka ia boleh berpuasa dengan mempertimbangkan keadaan saat pelaksanaan.
وفي المسألة قول ثالث أنا نراعي أغلظ الطرفين وأشدَّهما فإن كان موسراً يوم الوجوب ففرضه الإعتاق وإن كان مُعسراً يوم الوجوب وكان موسراً حالة الهم بالأداء لم يُجْزه إلا الإعتاق
Dalam masalah ini terdapat pendapat ketiga, yaitu kita mempertimbangkan sisi yang paling berat dan paling ketat di antara keduanya. Jika seseorang mampu pada hari kewajiban, maka yang diwajibkan baginya adalah memerdekakan budak. Namun jika ia tidak mampu pada hari kewajiban, lalu ia menjadi mampu pada saat hendak melaksanakan kewajiban, maka tidak sah baginya kecuali dengan memerdekakan budak.
توجيه الأقوال من قال الاعتبار بحالة الوجوب قال نوع تكفير يختلف بالرق والحرية فالاعتبار فيه بحالة الوجوب كالحدود والمعنى أنه إذا ثبت موجِب الكفارة وجب القضاء بوجوب الكفارة فإن الموجَب لا يستأخر عن الموجِب وإذا قضينا بوجوب العتق استحال الخروج عن الكفارة إلا به
Penjelasan pendapat: Barang siapa yang mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah keadaan saat kewajiban, ia berpendapat bahwa jenis kafarat berbeda antara budak dan orang merdeka, sehingga acuannya adalah keadaan saat kewajiban, seperti pada hudud. Maksudnya adalah, apabila sebab yang mewajibkan kafarat telah tetap, maka wajib menetapkan kewajiban kafarat, karena sesuatu yang diwajibkan tidak boleh ditunda dari sebab yang mewajibkannya. Jika kita telah menetapkan kewajiban memerdekakan budak, maka tidak mungkin keluar dari kewajiban kafarat kecuali dengan melakukannya.
ومن قال بالقول الثاني احتج بأن الاعتبار في العبادات بوقت أدائها قياساً على الصلاة فإن من فاتته صلاة في حالة عجزه عن القيام ثم أراد إقامتها في وقت القدرة فإنه يقيمها قائماً ولو كان الأمر على العكس أقام الصلاة عاجزاً قاعداً وإن كان التزمها قادراً على القيام
Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa yang menjadi acuan dalam ibadah adalah waktu pelaksanaannya, dengan melakukan qiyās terhadap salat. Maka, siapa yang terlewatkan salat pada saat ia tidak mampu berdiri, lalu ia ingin menunaikannya di waktu ia mampu, maka ia menunaikannya dengan berdiri. Namun, jika keadaannya sebaliknya, ia menunaikan salat dalam keadaan tidak mampu, yaitu duduk, meskipun ia telah mewajibkannya ketika ia mampu berdiri.
قال القاضي القولان مأخوذان من أن المغلَّب في الكفارة العبادةُ أو جهةُ العقوبة فإن غلبنا جهةَ العبادة شبهناها بالصلاة فاقتضى ذلك اعتبارَ حالة الأداء وإن غلبنا شَبَهَ العقوبات اعتبرنا حالة الوجوب
Kata al-qadhi, kedua pendapat tersebut diambil dari pertimbangan apakah yang lebih dominan dalam kafarat adalah sisi ibadah atau sisi hukuman. Jika kita lebih mengutamakan sisi ibadah, maka kita menyerupakannya dengan shalat, sehingga hal itu menuntut untuk mempertimbangkan keadaan saat pelaksanaan. Namun jika kita lebih mengutamakan kemiripan dengan hukuman, maka yang dipertimbangkan adalah keadaan saat kewajiban itu muncul.
وهذا فيه نظر مع إيجابنا الكفارة على من لا نُؤثِّمُه وقَطْعِنا بانقطاع العقوبة عمن هو في مثل حاله
Hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena kita mewajibkan kafarat atas orang yang tidak kita anggap berdosa, dan kita memastikan terputusnya hukuman dari orang yang berada dalam keadaan serupa.
واعتبارُ الأغلظ والأشد ينزع إلى رعاية الاحتياط
Mempertimbangkan yang lebih berat dan lebih keras cenderung kepada menjaga sikap kehati-hatian.
التفريع على الأقوال
Penjabaran berdasarkan pendapat-pendapat
إن قلنا الاعتبار بحالة الوجوب فلو كان معسراً في تلك الحالة كفاه الصوم ولو أيسر وأراد أن يعتق فالذي ذهب إليه الأصحاب أن له أن يعتق فإن العتق هو الأصل وهو في الرتبة العليا والصوم دونه فإن كان يُجزىء الأدنى فلأن يجزىء الأعلى أولى وذكر صاحب التقريب في ذلك وجهين أحدهما ما ذكرناه وهو الرأي
Jika kita mengatakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keadaan saat kewajiban itu muncul, maka jika seseorang dalam keadaan tidak mampu pada saat itu, maka cukup baginya berpuasa. Namun, jika kemudian ia menjadi mampu dan ingin memerdekakan budak, menurut pendapat yang dianut oleh para ulama, ia boleh memerdekakan budak, karena memerdekakan budak adalah asal (hukum) dan berada pada tingkatan yang lebih tinggi, sedangkan puasa berada di bawahnya. Jika yang lebih rendah saja sudah mencukupi, maka yang lebih tinggi tentu lebih utama untuk mencukupi. Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dalam hal ini dua pendapat, salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan, dan itulah pendapat yang benar.
والثاني لا يجزئه إلا الصوم فإنه تعيّن في ذمته وهذا وإن كان بعيداً في الحكاية فإنه يقوى بالمعنى الذي أشرت إليه في صدر الباب من أن المبدل والأبدال ليست متفاوتة في الرتب وإنما قُدِّم بعضُها وأُخِّر وفاقاً تعبداً فإذا وقع الحكم بالوجوب فلا معدل عن الواجب
Dan yang kedua, tidak cukup baginya kecuali puasa, karena puasa telah menjadi ketetapan di dalam tanggungannya. Meskipun hal ini tampak jauh dalam kisahnya, namun hal ini menjadi kuat dengan makna yang telah saya isyaratkan di awal bab, yaitu bahwa pengganti dan yang digantikan tidak berbeda dalam tingkatan, hanya saja sebagian didahulukan dan sebagian diakhirkan sebagai bentuk kepatuhan. Maka apabila hukum kewajiban telah ditetapkan, tidak ada pilihan selain melaksanakan yang wajib.
ومعظم الأئمة قطعوا بإجزاء الإعتاق وحكَوْا الوجهين فيه إذا كان ملتزمُ الكفارة عبداً وكان الواجب عليه الصوم تفريعاً على أنه لا يملك فلو عَتَق وملك فأراد أن يعتق فهل يُجزئه العتقُ فعلى وجهين أحدهما يُجزئه فإن البدل إذا أجزاً فالمبدل بالإجزاء أولى
Mayoritas imam berpendapat tegas bahwa membebaskan budak itu sah sebagai pelaksanaan kafarat, dan mereka juga meriwayatkan dua pendapat dalam hal ini jika orang yang wajib membayar kafarat itu adalah seorang budak, dan kewajiban baginya adalah puasa, berdasarkan cabang bahwa ia tidak memiliki (harta). Maka jika ia dimerdekakan dan kemudian memiliki (harta), lalu ia ingin membebaskan budak, apakah pembebasan budak itu sah baginya? Ada dua pendapat: salah satunya, sah baginya, karena jika pengganti itu sah, maka yang diganti dengan sahnya lebih utama.
والثاني لا يجزئه فإنه التزم الصوم في وقتٍ لا يتأتى منه غيرُه فكأنه لم يكن الصوم في حقه على حقائق الأبدال فإذا تعين الصوم فلا معدل عنه
Dan yang kedua, puasanya tidak sah baginya, karena ia telah mewajibkan puasa pada waktu yang tidak memungkinkan dilakukan selain puasa, sehingga seolah-olah puasa baginya bukan termasuk dalam hakikat-hakikat pengganti. Maka apabila puasa telah ditetapkan, tidak ada pilihan lain selain melaksanakannya.
وذكر صاحب التقريب في الحرّ المعسر الوجهين وهذا بعيد والفرق أن العتق يتصوّر وقوعه من المعسر على الجملة بخلاف العبد
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam masalah orang yang tidak mampu membayar kafarat karena membebaskan budak, dan ini adalah pendapat yang lemah. Perbedaannya adalah bahwa pembebasan budak dapat dibayangkan terjadi dari orang yang tidak mampu secara umum, berbeda halnya dengan budak.
وإذا فرعنا على أن الاعتبار بحالة الأداء فليس يخفى تفصيله فمهما أقدم على التكفير اعتبرت صفةُ حالة الأداء
Jika kita membangun pendapat berdasarkan bahwa yang dijadikan acuan adalah keadaan saat pelaksanaan, maka tidaklah samar perinciannya; kapan pun seseorang melaksanakan kafarat, maka yang diperhitungkan adalah sifat keadaan saat pelaksanaan.
ومن راعى الأشد فمعناه أنه إن كان موسراً وقت الوجوب فلا يجزئه إلا الإعتاق ولو فقد يساره صَبَرَ إلى الوجدان وإن كان مُعسراً حالة الوجوب ثم أيسر فأراد الصومَ نظراً إلى حالة الوجوب لم يكن له ذلك
Dan barang siapa yang mempertimbangkan yang lebih berat, maksudnya adalah jika seseorang mampu pada saat kewajiban itu muncul, maka tidak sah baginya kecuali membebaskan budak, dan jika kemudian ia kehilangan kemampuannya, maka ia harus bersabar sampai mampu kembali. Namun jika ia tidak mampu pada saat kewajiban itu muncul, lalu kemudian menjadi mampu dan ingin memilih puasa dengan mempertimbangkan keadaan saat kewajiban itu muncul, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya.
هذا بيان الأقوال
Ini adalah penjelasan pendapat-pendapat.
وقد قال الأصحاب لو شرع في صوم الشهرين ثم أيسر وقلنا الاعتبار بحالة الأداء فلا يقطع صومَ الشهرين بعد الخوض فيه وإنما يعتبر الأداء إذا أيسر قبل الخوض في الصوم هذا ما وجدته للأصحاب رضي الله عنهم
Para ulama berkata: Jika seseorang telah mulai berpuasa dua bulan, kemudian ia menjadi mampu (membayar kafarat), dan kita berpendapat bahwa yang menjadi acuan adalah keadaan saat pelaksanaan, maka puasa dua bulan tersebut tidak terputus setelah ia memulainya. Yang dijadikan acuan adalah pelaksanaan jika ia menjadi mampu sebelum memulai puasa. Inilah yang aku temukan dari para ulama, semoga Allah meridai mereka.
وما يدور في الخَلَدِ من المسألة أنا إذا اعتبرنا الأشدّ والأغلظَ فتعتبر الطرفين في الشدة فلو كان معسراً حالة الوجوب وكان معسراً حالة الأداء أيضاًً ولكن تخلل بينهما حالةُ يسار فلم أر أحداً من الأصحاب يعتبر تلك الحالةَ المتوسطةَ وقد يظن الناظرُ ذلك محتملاً ولكن المذهب على خلافه
Apa yang terlintas dalam benak mengenai masalah ini adalah, jika kita mempertimbangkan yang paling berat dan paling keras, maka kedua sisi dalam hal beratnya harus diperhatikan. Jika seseorang dalam keadaan sulit (miskin) pada saat kewajiban (zakat) itu ditetapkan, dan juga dalam keadaan sulit pada saat pelaksanaan (pembayaran), namun di antara kedua waktu itu terdapat masa di mana ia mampu (kaya), aku tidak menemukan seorang pun dari para sahabat (ulama) yang mempertimbangkan keadaan tengah tersebut. Mungkin saja ada yang mengira hal itu memungkinkan, namun mazhab (pendapat yang dipegang) adalah sebaliknya.
والسبب فيه أن الوجوب على الحقيقة يضاف إلى وقت وجوب الكفارة ثم وقت الأداء منتظر فلا يتبدل الوجوب من غير تقدير أداء فإن اليسار لا يوجب شيئاً بل إذا أدى الموسر فينبغي أن يؤدي ما يليق بحاله
Penyebabnya adalah karena kewajiban yang sebenarnya disandarkan pada waktu wajibnya kafarat, kemudian waktu pelaksanaan hanya menunggu, sehingga kewajiban itu tidak berubah tanpa adanya takaran pelaksanaan. Sesungguhnya, kemampuan (kaya) tidak mewajibkan sesuatu, melainkan jika orang yang mampu itu melaksanakan, maka seharusnya ia melaksanakan sesuai dengan keadaannya.
هذا بيانُ الأقوال والتفريع عليها
Ini adalah penjelasan mengenai pendapat-pendapat dan rincian yang berkaitan dengannya.
وذهب أبو حنيفة والمزني إلى أنه لا حكم للشروع في الصوم فلو شرع فيه ثم أيسر وقلنا الاعتبار بحالة الوجوب لزمه أن ينتقل إلى الإعتاق وهذا طرده المزني على أصله في وجود الماء في خلال الصلاة حيث قطع بانقطاع التيمم وبطلانِ الصلاة ونزّل وجدان الماءِ في الصلاة منزلةَ وجدانه قبل الشروع في الصلاة
Abu Hanifah dan al-Muzani berpendapat bahwa tidak ada hukum bagi memulai puasa, sehingga jika seseorang telah memulai puasa lalu menjadi mampu (secara finansial), dan kita mengatakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keadaan saat kewajiban (puasa) itu muncul, maka ia wajib beralih kepada membebaskan budak. Al-Muzani menerapkan hal ini secara konsisten menurut pendapat dasarnya tentang ditemukannya air di tengah-tengah salat, di mana ia memutuskan bahwa tayammum menjadi batal dan salat pun batal, serta menyamakan ditemukannya air saat salat dengan ditemukannya air sebelum memulai salat.
وقد سمعت شيخي غير مرّة يحكي عن بعض الأصحاب موافقةَ المزني في مذهبه
Aku telah mendengar guruku beberapa kali menceritakan tentang sebagian sahabat yang sependapat dengan al-Muzani dalam mazhabnya.
وهذا له اتّجاه وإن كان بعيداً في الحكاية
Hal ini memiliki arah tertentu, meskipun agak jauh dalam penyampaiannya.
ومما يجب التنبه له أنا إذا قلنا الاعتبار بحالة الأداء فالتعبير عن الواجب قبل اتفاق الأداء قد يغمض فإنا لو قلنا الواجب ما يقتضيه الحالة التي عنها نُعبِّر أو حالة الوجوب فتبديل الواجب بعيد وإن قلنا لا تجب الكفارة كان خرقاً للإجماع
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika kita mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah keadaan saat pelaksanaan, maka ungkapan tentang kewajiban sebelum terjadinya pelaksanaan bisa menjadi samar. Sebab, jika kita mengatakan bahwa yang wajib adalah apa yang dituntut oleh keadaan yang kita ungkapkan, atau keadaan saat kewajiban itu muncul, maka mengganti kewajiban menjadi sesuatu yang jauh. Dan jika kita mengatakan bahwa kafarat tidak wajib, maka itu berarti menyalahi ijmā‘.
وفي نقل مذاهب العلماء في هذه المسألة ما يدل على خلاف هذا فإنهم قالوا اختلفت المذاهب في أن الاعتبار بحالة الوجوب أم بحالة الأداء فأثبتوا حالة الوجوب فلا يتجه إذاً إلا مسلكان أحدهما أن نقول تجب الكفارة ولا يتعيّن صنفها وإنما تتعين حالة الأداء ولا يمتنع هذا النوع من الإبهام وهو بمثابة إيجابنا كفارة اليمين على الموسر مع أنا لا نعيّن خصلة من الخصال الثلاث فإذا اتفق أداء بعضها فالمؤدّى هو الواجب هذا مسلك
Dalam mengutip pendapat para ulama mengenai masalah ini, terdapat indikasi adanya perbedaan pendapat. Mereka mengatakan bahwa mazhab-mazhab berbeda pendapat tentang apakah yang menjadi acuan adalah keadaan saat kewajiban itu ditetapkan atau keadaan saat pelaksanaan. Maka mereka menetapkan keadaan saat kewajiban itu muncul. Oleh karena itu, hanya ada dua pendekatan: salah satunya adalah kita mengatakan bahwa kafarat itu wajib, namun jenisnya belum ditentukan, dan baru akan ditentukan saat pelaksanaan. Jenis ketidakjelasan seperti ini tidaklah terlarang, dan hal ini serupa dengan kewajiban kafarat sumpah bagi orang yang mampu, di mana kita tidak menentukan salah satu dari tiga pilihan yang ada. Jika salah satu di antaranya dilaksanakan, maka yang dilakukan itulah yang menjadi kewajiban. Inilah salah satu pendekatan.
ويجوز أن يقال يجب ما يليق بحالة الوجوب ثم إذا تبدل الحال تبدل الواجب وهذا ليس بدعاً كالصلاة تجب على القادر ثم يعجز فتتبدل صفة الصلاة
Boleh dikatakan bahwa yang wajib adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan ketika kewajiban itu ada, kemudian jika keadaan berubah maka yang wajib pun berubah. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, seperti shalat yang wajib atas orang yang mampu, lalu jika ia menjadi tidak mampu maka sifat shalat pun berubah.
باب الكفارة بالطعام
Bab Kafarat dengan Makanan
نصدر هذا الباب بالسبب الذي يجوّز الانتقالَ من الصيام إلى الإطعام كما صدرنا باب الصيام بمعنى العجز عن الإعتاق فإن عجز من فرضُه الصيام لهَرمٍ أو مرض يجوز الإفطار بمثله في رمضان فله الانتقال إلى الإطعام
Kami memulai bab ini dengan sebab yang membolehkan beralih dari puasa ke memberi makan, sebagaimana kami memulai bab puasa dengan makna ketidakmampuan untuk membebaskan budak. Jika seseorang yang diwajibkan puasa tidak mampu melakukannya karena usia tua atau sakit yang membolehkan berbuka di bulan Ramadan, maka ia boleh beralih kepada memberi makan.
ومن أسرار ذلك أنا لا نشترط أن يكون المرض لازماً بحيث يبعد عن الظن زواله بناء على أن الكفارة تقبل التأخير وقد يتأكد هذا السؤال بشيء وهو أن من ماله غائب لا ينتقل إلى الصيام لعجزه عن العتق في الحال وهذا فيه بعض الإعواص فإن الفرق بينهما متعذر والمرض مرجوّ الزوال وحضور المال والانتهاء إلى المال ليس بعيداً عن الرجاء والكفارة ليست على التضييق
Di antara rahasianya adalah bahwa kami tidak mensyaratkan penyakit itu harus menetap sehingga kecil kemungkinan sembuhnya, berdasarkan bahwa kafarat boleh ditunda. Pertanyaan ini bisa semakin kuat dengan sesuatu, yaitu bahwa seseorang yang hartanya sedang tidak ada (tidak bisa diakses) tidak langsung berpindah ke puasa karena ia tidak mampu memerdekakan budak saat itu. Dalam hal ini terdapat sedikit kesulitan, sebab perbedaan antara keduanya sulit dibedakan; penyakit masih diharapkan sembuh, dan kehadiran harta atau memperoleh harta juga tidak mustahil untuk diharapkan, sedangkan kafarat tidak bersifat ketat (tidak harus segera dilakukan).
ولعل الممكنَ فيه التعلُّقُ بالظاهر وهو المعتمد وإليه الرجوع قال الله تعالى في الانتقال إلى الإطعام فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا وهذا المرض الناجز والعجز العاجل غير مستطيع وقال تعالى في الرقبة فَمَنْ لَمْ يَجِدْ والمراد فمن يجد رقبة أو مالاً يشتري به رقبة ومن ماله غائب لا يسمى فاقداً للمال
Mungkin yang memungkinkan dalam hal ini adalah berpegang pada makna lahiriah, dan itulah yang dijadikan sandaran serta tempat kembali. Allah Ta‘ala berfirman dalam hal peralihan kepada memberi makan: “Barang siapa yang tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.” Penyakit yang sudah jelas dan ketidakmampuan yang nyata termasuk dalam kategori tidak mampu. Allah Ta‘ala juga berfirman tentang (membebaskan) budak: “Barang siapa yang tidak mendapatkannya,” yang dimaksud adalah barang siapa yang tidak mendapatkan budak atau tidak memiliki harta untuk membeli budak. Adapun orang yang hartanya sedang tidak ada (tidak di tangan), ia tidak disebut sebagai orang yang kehilangan harta.
ويجوز أن يقال إحضار المال والمصيرُ إليه متعلق بالاختيار والاختيارُ في مقدمات الشيء والتسبّب إليه كالاختيار في عينه والمرض خارج عن الاختيار والأولى اعتماد الظاهر كما ذكرته
Boleh dikatakan bahwa menghadirkan harta dan beralih kepadanya berkaitan dengan pilihan, dan pilihan dalam hal-hal pendahuluan suatu perkara serta usaha untuk mencapainya sama dengan pilihan pada inti perkara itu sendiri, sedangkan sakit berada di luar pilihan. Namun yang lebih utama adalah berpegang pada yang tampak, sebagaimana telah saya sebutkan.
وقال الأصحاب إذا سافر من عليه الكفارة وأراد الإطعام في سفره بسبب أن السفر الذي هو ملابسه مما يجوز ترك صوم رمضان به إلى القضاء فقد صار طوائف من أصحابنا إلى جوازِ ذلك وتشبيهِ السفر بالمرض وهو الذي ذكره القاضي ولم ينقل غيرَه وطرد ما ذكرناه من أن كل ما يجوز الإفطار به في رمضان يجوز الانتقال به إلى الإطعام
Para ulama mazhab kami berkata: Jika seseorang yang wajib membayar kafarat melakukan perjalanan, lalu ia ingin memilih memberi makan (sebagai bentuk kafarat) dalam perjalanannya, karena perjalanan yang sedang ia lakukan adalah jenis perjalanan yang membolehkan meninggalkan puasa Ramadan dan menggantinya di waktu lain, maka sebagian kelompok dari ulama kami membolehkan hal itu dan menyamakan perjalanan dengan sakit. Inilah yang disebutkan oleh al-Qadhi dan tidak dinukil pendapat lain darinya. Hal ini sejalan dengan apa yang telah kami sebutkan, bahwa setiap hal yang membolehkan berbuka puasa di bulan Ramadan, maka boleh juga beralih kepada memberi makan (sebagai kafarat).
وهذا فيه إشكال فإن المسافر قادرُ على الصيام والفطرُ المثبَتُ رخصةٌ في حقه غيرُ منوطة بالعجز والفطرُ بالمرض منوطٌ بالحاجة الحاقة فلا يقع الاكتفاء باسم المرض واسمُ السفر الطويل كافٍ إذا لم يكن سفرَ معصية في الترخّص بالرخص
Hal ini mengandung permasalahan, karena musafir mampu berpuasa, sedangkan berbuka yang ditetapkan merupakan rukhṣah baginya dan tidak terkait dengan ketidakmampuan. Adapun berbuka karena sakit, maka dikaitkan dengan kebutuhan yang mendesak, sehingga tidak cukup hanya dengan menyebutkan nama penyakit. Nama safar yang panjang sudah cukup, selama bukan safar maksiat, untuk mendapatkan keringanan rukhṣah.
والانتقالُ إلى الإطعام منوط بعدم الاستطاعة في نص القرآن فلا وجه لهذا
Perpindahan kepada memberi makan tergantung pada ketidakmampuan, sebagaimana disebutkan dalam nash Al-Qur’an, maka tidak ada alasan untuk hal ini.
والذي يدور في الخلد أن المرض الذي أطلقه الأصحاب ليس على ما أطلقوه فإن الإنسان قد يطرأ عليه عارض يعلم أنه لا يدوم يوماً أو يومين فيجوز الإفطار بمثله ولا يجوز عندي الانتقال بمثله إلى الإطعام ولو كان المرض بحيث يتوقع دوامه واستمراره لشهرين فهذا هو الذي يجوز الانتقال بسببه ثم الظنُّ يكتفى به
Yang terlintas dalam benak adalah bahwa penyakit yang disebutkan oleh para ulama tidaklah sebagaimana yang mereka maksudkan secara mutlak, karena seseorang bisa saja mengalami suatu kondisi yang diketahui tidak akan berlangsung lebih dari satu atau dua hari, maka boleh baginya berbuka puasa dalam kondisi seperti itu, namun menurutku tidak boleh berpindah dalam kondisi seperti itu kepada kewajiban memberi makan. Tetapi jika penyakit tersebut diperkirakan akan terus-menerus dan berlangsung selama dua bulan, maka inilah yang membolehkan berpindah karenanya, dan cukup dengan adanya dugaan kuat (zhann) dalam hal ini.
ولو أطعم ثم اتفق زوال المرض وتعجّل الشفاء على القرب فالإطعام مجزىء والقضاء به غير ممتنع وهذا لا بد منه
Jika seseorang telah membayar fidyah dengan memberi makan, kemudian ternyata penyakitnya hilang dan ia segera sembuh dalam waktu dekat, maka memberi makan tersebut sudah mencukupi dan mengganti kewajiban, serta tidak terlarang baginya untuk mengqadha (mengganti) puasanya dengan itu. Hal ini memang harus demikian.
ومما يتعلق بهذا أن الصيدلاني رحمه الله نقل عن الشيخ القفال أنه قال قال بعض أصحابنا الشبق المفرط والغُلْمة الهائجة عذرٌ في الانتقال إلى الإطعام
Terkait dengan hal ini, asy-Syaidilani rahimahullah meriwayatkan dari asy-Syaikh al-Qaffal bahwa beliau berkata, sebagian ulama kami mengatakan bahwa syahwat yang sangat kuat dan gairah yang membara merupakan uzur untuk beralih kepada memberi makan.
وكان يستشهد بحديث الأعرابي إذ قال في القصة المشهورة وهل أُتيت إلا من جهة الصوم فقال صلى الله عليه وسلم أطعم
Ia juga mengutip hadis tentang seorang Arab Badui ketika ia berkata dalam kisah yang masyhur, “Bukankah aku tertimpa (dosa) ini kecuali karena (gagal) berpuasa?” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Berikanlah makan (sebagai kafarat).”
سبَّبَ الأعرابي بما ذكرناه فقدّره رسول الله صلى الله عليه وسلم عذراً ونقله إلى الإطعام
Orang Arab Badui itu mengemukakan alasan sebagaimana telah kami sebutkan, maka Rasulullah saw. menganggapnya sebagai uzur dan memindahkannya kepada kewajiban membayar fidyah berupa memberi makan.
وذكر القاضي هذا الوجهَ ولم يذكر غيره وذكر صاحب التقريب وجهين أصحهما أن الغُلمةَ لا تكون عذراً فإن الليالي متخللة وفيها مقنع ومندوحة وقصة الأعرابي مشكلةٌ مِنْ وجوهٍ تعرضنا لها في كتاب الصيام
Qadhi menyebutkan pendapat ini dan tidak menyebutkan selainnya, sedangkan penulis kitab at-Taqrib menyebutkan dua pendapat, yang paling shahih di antaranya adalah bahwa ghulmah (dorongan syahwat yang kuat) tidak dapat dijadikan uzur, karena malam-malam di bulan Ramadhan berselang-seling dan di dalamnya terdapat kecukupan serta kelonggaran. Adapun kisah seorang Arab Badui adalah masalah yang rumit dari beberapa sisi yang telah kami bahas dalam kitab Shaum.
وقد أجمع الأصحاب على أن فرط الشَّبَق لا يرخِّص في الفطر في رمضان وإنما هذا التردد في الانتقال إلى الإطعام ولعل من قال ذلك اعتلّ بطول مدة الامتناع نهاراً عنها وهذا ينقضه طولُ مدةِ رمضان وما أوضحناه من تخلل الليالي يُبطل هذا الخيال
Para ulama sepakat bahwa dorongan syahwat yang sangat kuat tidak membolehkan berbuka puasa di bulan Ramadan. Keraguan yang ada hanyalah terkait peralihan kepada kewajiban memberi makan (fidyah). Barangkali yang berpendapat demikian beralasan karena lamanya waktu menahan diri dari hubungan tersebut di siang hari. Namun, alasan ini dibantah oleh lamanya waktu Ramadan itu sendiri, dan penjelasan kami tentang adanya malam-malam yang menyela membatalkan anggapan tersebut.
وقد انتجز القول في العجز المعتبر للانتقال من الصيام إلى الإطعام
Telah selesai pembahasan mengenai uzur yang dianggap sah untuk beralih dari puasa ke pembayaran fidyah (memberi makan).
فصل
Bab
قال ولا يُجزئه أقلُّ من ستين مسكيناً كل مسكين مداً إلى آخره
Ia berkata: Tidak cukup baginya memberi kurang dari enam puluh orang miskin, setiap orang miskin masing-masing satu mud hingga selesai.
القول في ذلك يتعلق بالمخرَج والمخرَج إليه فأما المخرَج فالكلام في مقداره وجنسِه أما المقدارُ فستون مُدّاً وأما الجنسُ فالقول فيه كالقول في صدقة الفطر
Pembahasan mengenai hal ini berkaitan dengan apa yang dikeluarkan dan kepada siapa dikeluarkan. Adapun mengenai apa yang dikeluarkan, maka pembicaraan mencakup jumlah dan jenisnya. Mengenai jumlahnya adalah enam puluh mud, sedangkan mengenai jenisnya, maka pembahasannya sama seperti pembahasan pada zakat fitrah.
أما المخرَج إليه فالكلام في عددهم وصفتهم فأما العدد فليكونوا ستين ولا ينقص حصة كلِّ واحدٍ عن مُدّ فلو صرف أمداداً إلى مسكين في أيامٍ صائراً إلى إقامة سدِّ الجَوْعاتِ في الشخص الواحد مقامَ أعداد المساكين لم يجز خلافاً لأبي حنيفة
Adapun mengenai pihak yang menerima (fidyah), maka pembahasan berkaitan dengan jumlah dan sifat mereka. Mengenai jumlah, hendaknya mereka berjumlah enam puluh orang dan bagian masing-masing tidak kurang dari satu mud. Jika seseorang memberikan beberapa mud kepada satu orang miskin dalam beberapa hari, sehingga mencukupi kebutuhan makan satu orang saja sebagai pengganti jumlah para miskin, maka hal itu tidak diperbolehkan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
وأما صفتهم فليكونوا مساكين بحيث يجوز للمكفر صرفُ الزكاة إليهم ولا يجزىء التغذيةُ والتعشيةُ إذ لا تمليك فيها والتمليك مرعيٌّ عندنا في إخراج الكفارة كما نرعاه في إخراج الزكاة ولو أحضر الطعام وقد شهد ستون مسكيناً فقال خذوه فأخذوه وجَهِلْنا مقدارَ ما أخذه كلُّ واحد منهم واستبهم الأمرُ فلا نحكم إلا بإجزاء مُدٍّ واحدٍ فإن واحداً منهم لا بد وأن يكون أخذ مدّاً أو أكثر فهذا القدر مستيقنٌ فيحصل براءة الذمة عن هذا المقدار وهذا بيّن
Adapun sifat mereka, hendaknya mereka adalah orang-orang miskin sehingga orang yang membayar kafarat boleh memberikan zakat kepada mereka. Tidak sah memberi makan siang atau makan malam saja, karena di dalamnya tidak ada unsur pemilikan, sedangkan pemilikan adalah syarat menurut kami dalam pelaksanaan kafarat, sebagaimana kami mensyaratkannya dalam penyaluran zakat. Jika seseorang menyediakan makanan dan enam puluh orang miskin hadir, lalu ia berkata, “Ambillah,” kemudian mereka mengambilnya, namun kita tidak mengetahui berapa banyak yang diambil masing-masing dari mereka dan perkara itu menjadi samar, maka kita hanya memutuskan sahnya satu mud saja. Sebab, pasti ada salah satu dari mereka yang mengambil satu mud atau lebih. Maka, jumlah itu sudah diyakini, sehingga tanggungan telah gugur untuk jumlah tersebut. Hal ini jelas.
فروع شذت عن الأصول نأتي بها مجموعة إن شاء الله
Cabang-cabang yang menyimpang dari kaidah-kaidah pokok akan kami sebutkan secara terhimpun, insya Allah.
إذا قال لامرأته إن دخلت الدار فأنت عليّ كظهر أمي فالظهار مما يصح تعليقه كالطلاق فلو أعتق عبداً عن كفارته قبل أن تدخل الدار فقد قال ابنُ الحداد تقع الكفارة موقعَها وبنى هذا على أن تعليق الظهار أحدُ سببي الكفارة وتقديمُ الكفارة على أحد سببيها جائز
Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu bagiku seperti punggung ibuku,” maka zhihar termasuk perkara yang sah untuk digantungkan (dengan syarat), seperti halnya talak. Jika ia memerdekakan seorang budak sebagai kafarat sebelum istrinya masuk ke dalam rumah, maka menurut pendapat Ibnu al-Haddad, kafarat tersebut tetap sah pada tempatnya. Pendapat ini didasarkan pada bahwa penggantungan zhihar merupakan salah satu dari dua sebab kafarat, dan mendahulukan kafarat atas salah satu dari dua sebabnya adalah diperbolehkan.
وقد خالفه معظم الأصحاب فقالوا هذا تقديمٌ للكفارة على سببيها جميعاًً فإن كفارة الظهار لها سببان أحدهما الظهار والثاني العودُ ولا يحصل الظهار قبل دخول الدار
Namun, mayoritas ulama berbeda pendapat dengannya. Mereka mengatakan bahwa ini merupakan pendahuluan kafarat sebelum kedua sebabnya terpenuhi, karena kafarat zhihar memiliki dua sebab: yang pertama adalah zhihar itu sendiri, dan yang kedua adalah ‘aud (kembali). Tidaklah terjadi zhihar sebelum masuk ke dalam rumah.
ونظير المسألة التي ذكرناها ما لو قال إن دخلت الدار فوالله لا أضربك ثم قدّم التكفير على دخول الدار لم يُجْزه
Dan serupa dengan permasalahan yang telah kami sebutkan adalah apabila seseorang berkata, “Jika aku masuk ke rumah, demi Allah aku tidak akan memukulmu,” kemudian ia mendahulukan kafarat sebelum masuk ke rumah, maka itu tidak sah baginya.
ووافقه بعضُ الأصحاب وجعلوا تعليق الظهار بمثابة الظهار وهذا بعيد ثم هؤلاء لا يسلمون المسألةَ التي وقع الاستشهادُ بها في اليمين فلو قال لامرأته إن دخلت الدار فأنت عليّ كظهر أمي ثم قال إن دخلت الدار فعبدي حر عن ظهاري فلا يخفى تفريع المسألة على رأي ابن الحداد والعتق ينصرف لا شك فيه إلى الظهار على طريقته فإنه إذا جوّز تنجيز العتق قبل الدخول فما ذكرناه أولى بالجواز
Sebagian sahabat sependapat dengannya dan menganggap taklik zihar sama dengan zihar itu sendiri, namun pendapat ini jauh (dari kebenaran). Kemudian, mereka ini pun tidak menerima masalah yang dijadikan dalil dalam kasus sumpah. Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu bagiku seperti punggung ibuku,” lalu ia berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka budakku merdeka karena zihar-ku,” maka tidak samar lagi bahwa rincian masalah ini mengikuti pendapat Ibnu al-Haddad. Pembebasan budak tersebut, tanpa diragukan lagi, kembali kepada zihar menurut metodenya, karena jika ia membolehkan pelaksanaan pembebasan budak sebelum masuk (rumah), maka apa yang kami sebutkan lebih utama untuk dibolehkan.
ومن خالفه من أصحابنا منع هذا أيضاًً لأن تقديم العتق قبل الظهار ممتنع وهكذا جرى الأمر
Dan siapa pun dari kalangan ulama kami yang berbeda pendapat dengannya juga melarang hal ini, karena mendahulukan pembebasan budak sebelum zhihār adalah tidak diperbolehkan, dan demikianlah yang berlaku.
ولو قال عبدي هذا حر عن ظهاري إذا تظاهرت لم يقع العتق عن ظهاره وقد مهدنا هذا فيما تقدم من المسائل
Jika seseorang berkata, “Budakku ini merdeka sebagai tebusan dari zihar-ku jika aku melakukan zihar,” maka kemerdekaan budak tersebut tidak terjadi sebagai tebusan dari zihar-nya. Hal ini telah kami jelaskan sebelumnya dalam pembahasan masalah-masalah terdahulu.
فرع
Cabang
إذا قال الرجل لامرأته أنت علي كظهر أمي ثم جن عقيب اللفظ أو مات فالذي أطلقه الأصحاب أنه لا يكون عائداً فإنه لم يمسكها مع التمكن من الطلاقِ تاركاً الطلاق
Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” lalu setelah mengucapkan itu ia menjadi gila atau meninggal dunia, maka menurut pendapat yang dikemukakan oleh para ulama, ia tidak dianggap sebagai ‘ā’id, karena ia tidak mempertahankan istrinya dalam keadaan mampu untuk menceraikannya dengan sengaja meninggalkan talak.
ولو جُن عقيب الظهار كما صورناه فأفاق قال الشيخ سمعت بعضَ الأصحاب يقول نفسُ الإفاقة هل تكون عوداً فعلى وجهين كالوجهين في أن الرجعة هل تكون عوداً حكى هذا وزيفه والعجب منه كيف يحكي مثلَ هذا
Jika seseorang menjadi gila setelah melakukan zhihār sebagaimana yang telah kami gambarkan, lalu ia sadar kembali, Syekh berkata: Aku mendengar sebagian sahabat (ulama) berkata bahwa kesadaran itu sendiri apakah dianggap sebagai ‘aud (kembali) atau tidak, maka ada dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam masalah apakah ruju‘ (rujukan kepada istri) dianggap sebagai ‘aud atau tidak. Ia meriwayatkan hal ini dan melemahkannya, dan sungguh mengherankan bagaimana ia bisa meriwayatkan pendapat seperti itu.
ولو قال لامرأته إن لم أتزوج عليك فأنت عليَّ كظهر أمي فلا يثبت الظهار ما لم يتحقق اليأس من التزوج فلو مات فقد حصل الظهار قبل موته بلحظة هكذا قال ابن الحداد وهو سديد لا شك فيه ثم قال بعده وهو عائد يلزمه الكفارة فإنه ظاهر ولم يطلق
Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku tidak menikah lagi denganmu, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku,” maka zhihar tidaklah berlaku kecuali telah benar-benar putus harapan untuk menikah lagi. Jika ia meninggal dunia, maka zhihar terjadi sesaat sebelum kematiannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Haddad, dan pendapat ini memang kuat tanpa keraguan. Kemudian ia berkata setelah itu, bahwa jika ia kembali (rujuk), maka ia wajib membayar kafarat, karena ia telah melakukan zhihar dan tidak menceraikan.
وقد غلطه كافةُ الأصحاب فقالوا أما الظهار فقد ثبت ولم يثبت العود فإنه عقيب الظهار مات فإن كان يقول ابن الحداد من مات عقيب الظهار فهو عائد فقد خالف ما عليه الأصحاب والموتُ لا ينحط عن الطلاق والنكاحُ ينتهي به وإن قال هو لم يطلق لم يقبل منه هذا وقد ارتفع النكاح
Seluruh ulama mazhab telah menganggap pendapatnya keliru, mereka berkata: Adapun zhihar telah tetap, namun ‘aud (kembali) belum tetap, karena jika seseorang meninggal setelah zhihar, maka jika Ibn al-Haddad berpendapat bahwa siapa yang meninggal setelah zhihar berarti ia telah kembali (‘aud), maka ia telah menyelisihi pendapat para ulama mazhab. Kematian tidak menggugurkan talak, dan pernikahan pun berakhir dengan kematian. Jika ia berkata bahwa ia tidak menalak, maka pendapatnya itu tidak diterima, karena pernikahan telah berakhir.
هذا منتهى ما أردناه والله المستعان
Inilah akhir dari apa yang kami maksudkan, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.